Ceritasilat Novel Online

Pedang Langit Dan Golok Naga 7

Eps 7 Pedang Langit Dan Golok Naga - Chin Yung

Baca online Pedang Langit Dan Golok Naga - Chin Yung

Cersil Pedang Langit Dan Golok Naga - Chin Yung.

"Delapan orang mengerubuti satu orang, terlalu tak mengenal malu."

Gie Coen berkata seorang diri.

"Siapa mereka?"

"Yang wanita dari Go bie pay,"

Bisik Boe Kie.

"Hm... dua pendeta itu orang Siauw Lim sie."

Sesudah mengawasi pertempuran beberapa saat, dia berkata pula "Si toosoe orang Koen loan pay.

Lihatlah!

Pukulan Tay mo Hoei soe (Tay mo Hoe see artinya Pasir beterbangan di gurun pasir) itu sungguh amat hebat.

Itulah pukulan simpanan dari Koen loen pay.

Tapi siapakah lelaki yang menggunakan ilmu silat Tee tong To hoat?"

"Apa bukan dari Khong tong pay ?"

Tanya si brewok.

"Bukan,"

Jawabnya.

"Dalam Tee tong to hoat Khong thong pay, orang halus menggunakan sebatang golok yang dicekal di tangan karan, dan sebatang toya ditangan kiri. Orang itu menggunakan sepasang golok."

Mendengar keterangan si bocah, Siang Gie Coen merasa kagum.

"Setiap murid Boe tong benar-benar berpengetahuan luas,"

Pikirnya.

Tapi ia tak tahu bahwa pengetahuan itu didapat Boe Kie bukan dari Boe tong tapi dari ayah angkatnya.

Sebagaimana diketahui, di dalam tekad untuk membalas sakit hatinya, Cia Soen telah mempelajari hampir semua ilmu-ilmu silat yapg dikenal didalam Rimba Persilatan.

Pertempuran berlangsung terus dengan hebatnya, akan tetapi pendeta jubah putih itu masih tetap dapat mempertahankan diri.

Tubuhnya berkelebat kelebat bagaikan kilat, tenaganya dahsyat luar biasa, sedang gerakan tangannya hampir tak bisa dilihat tegas, karena terlampau cepat.

Tiba-tiba terdengar bentakan salah seorang.

"Gunakan senjata rahasia !"

Si kate kecil dan si imam lantas saja melompat keluar dari gelanggang pertempuran, disusul dengan menyambarnya nyambrnya peluru serta Hoei to (golok terbang) ke arah si pendeta.

Diserang secara begitu, dia mulai keteter.

"Pheng Hweeshio !"

Bentak si imam.

"Kami bukan maui jiwamu, perlu apa kau nekad-nekadan? Serahkan Pek Kwie Sioe dan kita akan berpisahan sebagai sahabat."

Siang Gie Coen terkesiap.

"Pheng Hweeshio"

Bisiknya.

Boe Kie pun tidak kurang kagetnya.

Waktu berada dalam perjalanan pulaing ke Boe tong bersama kedua orang tuanya dan Jie Lian Cioe ia pernah mendengar, bahwa Pek Kwie Sioe adalah orang Peh bie kauw satu satunya yang bisa pulang dengan selamat dari pulau Ong poan San.

Dan murid murid Koen loan juga terlolos dari kebinasaan, tapi mereka hilang ingatan karena teriakan Cia Soen.

Maka itu, selama belasan tahun, dalam pertempuran dangan Peh bie kauw tujuan jago-jago berbagai partai adalah untuk mendesak supaya Pek Kwie Sioe memberitahukan dimana adanya Cia Soen "Apakah Pheng Hweeshio segolongan dengan ibuku?"

Tanya Boe Kie didalam hati. Sementara itu, Pheng Hweeshio sudah menjawab dengan suara Iantang.

"Pak Tancoe sudah dilukakan berat oleh kamu. Jangankan aku dan dia-masih sama-sama orang-orang segolongan, terhadap orang luar sekalipun, aku tak bisa mengawasi kebinasaan dengan berpeluk tangan."

"Omong apa kau!"

Bentak si imam.

"Mengawasi kebinasaan dengan berpeluk tangan? Kau tahu, tujuan kami bukan mengnendaki jiwanya. Kami hanya menyelidiki tempat bersembunyinya seorang."

"Kalau kamu mau menyelidiki dimana adanya Cia Soen, mengapa kamu tidak mau pergi kepada Hong thio Siauw lim sie?"

Tanya si pendeta.

"Tutup bacotmu!"

Bentak si pendeta Siauw lim.

"Apa kau tidak tahu, bahwa itu hanya tipu busuk dari perempuan siluman In So So?"

Mendengar disebutkannya nama mendiang ibunya, Boe Kie merasa bangga agak bercampur duka."Hm .... sesudah meninggal dunia, ibu masih bisa membuat kalian semua pusing kepala,"

Katanya di dalam hati Sambil bicara, pertempuran berlangsung terus dengan dahsyatnya.

Si toosoe mengajak, bicara dengan tujuan untuk memecah pemusatan pikiran Pheng Hweeshio.

Tapi pendeta itu yang cerdas otaknya dan tinggi ilmu silatnya, tidak kena diakali.

Biarpun mulutnya bicara, kewaspadaannya sedikitpun tidak jadi berkurang.

Tapi, karena jumlah musuh terlalu besar dan musuh-musuh itu pun bukan sembarang orang, maka ia tetap tidak berhasil dalam usahanya untuk menerjang keluar dari kepungan.

Sekonyong-konyong, si imam yang melepaskan senjata rahasia dengan berdiri diluar gelanggang, berteriak.

"Celaka! Senjata rahasia habis!"

Berbareng dengan teriakan itu, semua kawannya menggulingkan diri ditanah dan lima batang golok terbang menyambar bagaikan kilat. Ternyata kata kata "senjata rahasia habis"

Adalah semacaan isyarat supaya semua orang bergulingan untuk menyingkirkan diri dari sambaran lima batang Hoeito yang menyambar dalam bentuk bunga bwee.

Dalam keadaan biasa, dengan menundukkan kepala, membungkuk, melompat kedepan atau menjengkangkan diri, Pheng Hweeshio akan dapat mengelakkan lima golok itu yang menyambar dadanya.

Tapi sekarang, sebab sambil bergulingan, keenam musuhnya juga menyerang dengan senjata mereka, maka bagian bawah badannya tertutup semua.

Boe Kie mencelos hatinya.

Mendadak tubuh Pheng Hweeshio meleset keatas kira-kira setombak tingginya, dan lima buah golok terbang lewat di bawah kakinya.

Tapi, meskipun senjata rahasia sudah dielakkan, Sianthung dan golok kedua pendeta Siauw lim serta pedang dari toesoe Koen loan pay sudah manyambar lututnya dengan berbareng.

Sesaat itu tubuh Pheng Hwee shio masih di tengah udara, sehingga, mau tidak mau, ia terpaksa menggunakan pukulan yang berbahaya dan membinasakan.

"Ptak!" , telapak tangan kirinya menghantam kepala seorang pendeta Siauw lim dan dengan sekali menjambret, tangan kanannya sudah merampas golok pendeta itu, yang lalu digunakan untuk menangkis Sianthung. Dengan meminjam tenaga dari bentrokan kedua senjata itu, badannya "terbang"

Beberapa tombak jauhnya.

Pendeta Siauw lim yang ditepuk kepalanya, sudah binasa seketika itu juga.

Sambil berteriak-teriak, tujuh kawannya mengubar Pheng Hweeshio.

Di lain saat, badan Pheng Hweeshio kelihataan bergoyang-goyang, hampir-hampir jatuh terguling, dan ketujuh musuhnya lantas saja mengurung.

Sambil memutar Sianthung, si pendeta Siauw lim menerjang dan berteriak "Pheng Hweeshio!

Kau membinasakan Soeteeku.

Mari kita mengadu jiwa !"

"Lututnya sudah kena Sia wie kauw (Gaetan buntut kalajengking. semacam senjata rahasia) !"

Teriak si toosoe Koen loen.

"Tak lama lagi, dia akan mampus keracunan!"

Benar saja, tindakan Pheng Hweeshio kelihatan limbung dan perlawanannya terhadap si pendenta Siauw lim, sudah kalut.

"Celaka!"

Bisik Siang Gie Coen.

"Ia adalah guru Cioe Toako. Bagaimana aku harus menolongnya?"

Boe Kie tahu, bahwa si brewok adalah manusia yang tidak bisa menonton kecelakaan kawan sambil berpeluk tangan.

Biarpun dirinya sendiri terluka berat, ia masih mau menolong orang.

Andai kata ia sampai menerjang keluar, ia hanya akan mengantarkan jiwa dengan cuma-cuma.

Tiba-tiba Boe Kie mendapatkan serupa ingatan dan ia lantas saja berkata.

"Siang Toako, kau ingin menolong Pheng Hweeshio bukan?"

"Tidak bisa tidak ditolong!"

Jawabnya.

"Ia kena senjata beracun, Tapi, aku sendiri .... aku sendiri ...."

"Aku mempunyai serupa daya untuk memulihkan tenagamu,"

Memutus si bocah.

"Kau akan bisa bertahan selama setengah jam, tapi dengan demikian, kau akan merusak tenaga dalammu."

Sesudah mendengar keterangan si bocah mengenai limu silat berbagai partai, Gie Coen percaya, bahwa anak yang sangat pintar itu adalah murid istimewa dari Thio Sam Hong, sehingga ia tidak menyangsikan omongan itu.

"Untuk menolong jiwa manusia, aku rela merusak tenaga dalamku sendiri."

"Ambillah dua butir batu yang tajam,"

Bisik Boe Kie. Gie Coen segera melakukan apa yang diminta.

"Apa ini boleh?"

Tanyanya sambil mengangsurkan kedua batu itu.

"Boleh,"

Jawab si bocah sambil mengangguk.

"Dengan tajamnya batu, totoklah samping pahamu, dibawah pinggang."

"Disini?"

Tanya Gie Coen sambil menunjuk samping pahanya.

"Lebih bawah sedikit,"

Kata si bocah.

"Ya! benar disitu. Kesebelah dikit, setengah coan. Bagus! Nah, sekarang totoklah."

Si berewok lantas saja menotok paha kanannya dengan batu itu dan hampir berbareng, ia merasa pahanya kesemutan.

"Inilah ilmu yang dinamakan Tie sin Tah hiat hoat (ilmu menotok jalan darah untuk mempertinggi semangat),"

Menerangkan Boe Kie.

"Totoklah paha kirimu."

Si berewok agak bersangsi.

Walaupun belum pernah belajar, ia tahu bahwa dalam Rimba Persilatan terdapat ilmu Tiam hiat yang dapat melumpuhkan anggauta badan manusia.

Akan tetapi, meskipun mengingat itu, ia tetap percaya omongan Boe Kie, karena menurut anggapannya, sebagai sebuah partai persilatan yang namanya menggetarkan dunia, Boe tong pay tentunya juga mempunyai cara-cara yang lain dari pada yang lain.

Demikianlah, ia segera menotok lagi pada paha kirinya.

Tapi, di luar dugaan, begitu paha kirinya tertotok, separuh badannya, mulai dari pinggang ke bawah, tidak dapat digerakkan pula.

Sementara itu, sesudah melompat beberapa tombak jauhnya, Pheng Hweeshio lalu roboh di tanah.

"Saudara Thio!"

Kata si brewok dengan bingung.

"Mengapa.... badanku seperti mati separoh ?"

Boe Kie tertawa geli di dalam hati, karena Siang Gie Coen sudah tertipu, tapi ia pura pura kaget dan mengeluarkan seruan tertahan.

"Celaka! Kau tidak mengerti Tiam hiat, mungkin sekali kau salah dalam menggunakan tenaga. Tunggulah sebentar."

Siang Gie Coen bukan seorang tolol.

Di lain saat ia sudah mengerti, bahwa ia terjebak oleh muslihat si bocah nakal.

Tapi ia pun tahu, bahwa dengan berbuat begitu, Boe Kie bermaksud baik sekali.

Ia tidak dapat berbuat lain daripada menghela napas dengan perasaan mendongkol tercampur geli.

Pheng Hweeshio menggeletak di tanah tanpa bengerak, seolah olah ia sudah menghembuskan napasnya yang penghabisan.

Akan tetapi biarpun begitu, musuh musuhnya masih belum berani mendekati.

"Kouw Soetee, cobalah kau menimpuk lagi dengan dua buah golok terbangmu, untuk mencoba-coba,"

Kata si toosoe Koen loen pay. Too jin yang dipanggil "Kouw Soetee,"

Segera mengayun tangan kanannya dan dua Hoeito menyambar, yang satu menancap di pundak kanan Pheng Hweeshio, sedang yang lain mengenakan paha kirinya.

Tapi pendeta jubah putih itu tetap tidak bergerak, suatu bukti, bahwa dia benar benar sudah binasa.

"Sayang ! Sayang dia sudah mati,"

Kata si too soe Koen loen.

"Sekarang sukar diselidiki, dimana dia menyembunyikan Pek Kwie Sioe."

Semua lalu mendekati "mayat"

Pheng Hweesio. Mendadak, mendadakan saja, terdengar Suara "plak... plak.... plak ...."

Lima kali beruntun, dan lima orang roboh terguling!

Hampir berbareng, dengan semangat bergelora, Pheng Hweeshio bangun berdiri, dengan pundak dan paha masih tertancap golok.

Ternyata, sesudah kena senjata beracun dan yakin, bahwa jiwanya tidak akan dapat ditolong lagi, Pheng Hweesio lalu pura-pura mati.

Begitu lawannya mendekati, ia segera menghantam lima orang musuh lelaki dengan pukulan Ngoheng ciang.

Ia sengaja mengampuni dua orang lawan wanita, yaitu Kie Siauw Hoe dan Soecienya yang bernamar Teng Bin Koen.

Dalam kagetnya, kedua murid Go bie pay itu melompat mundur.

Mereka melihat, bahwa kelima kawannya muntahkan darah dan dua antaranya yang Lweekangnya agak lemah, sudah jatuh berlutut.

Sesudah mengeluarkan banyak tenaga, tubuh Pheng Hweeshio pun bergoyang-goyang.

"Teng Kouwnio, Kie Kouwnio!"

Teriak si too soe Koen loen.

"Tikamlah bangsat gundul itu!"

Antara sembilan orang yang tadi bertempur, seorang pendeta Siauw lim sudah binasa, sedang Pheng Hweeshio dan lima lawannya mendapat luka berat, sehingga hanya Teng Bin Koen dan Kie Siauw Hoe yang tidak kurang suatu apa.

Mendengar teriakan si toosoe Koen loen, Teng Bin Koen segera mengangkat pedang dan menyabet kaki si pendeta.

Pheng Hweeshio mengeluh.

"Karena merasa kasihan terhadap orang perempuan, aku tidak berlalu kejam terhadap kamu, tapi tidak dinyana, rasa kasihanku berbalik mencelakakan diriku sendiri"

Katanya didalam hati. Ia meramkan kedua matanya untuk menunggu kebinasaan. Tiba-tiba terdengar suara "trang!"

Suara benturan senjata. Pheng Hweeshio membuka mata dan mendapat kenyataan, bahwa yang menolongnya ialah Kie Siauw Hoe.

"Eh, mengapa kau begitu?"

Tanya Teng Bin Koen dengan kaget. Nona Kie tertawa.

"Soecie,"

Katanya.

"Pheng Hweeshio tidak berlaku kejam terhadap kita dan kitapun tidak boleh membunuh dia."

"Aku juga bukan mau mengambil jiwanya,"

Kata Teng Bin Koen.

"Aku hanya ingin memaksa supaya dia memberitahukan tempat sembunyinya Pek Kwie Sioe."

"Dia telah keracunan hebat, paling dulu kita harus memunahkan racun itu,"

Kata Kie Siauw Hoe seraya mendekati si toosoe Koen loen dan berkata.

"Saudara See leng, berikanlah obat pemunah Sie wie kauw kepadaku."

Too ho (nama sebagai orang pertapaan) dari toojin itu ialah See leng coe, sedang toojin yang melepaskan golok terbang bernama See ciat coe dan mereka kedua duanya adik sepenguruan See hoa coe.

"Belenggu dulu padanya,"

Kata See leng coe.

"Hweeshio ltu banyak akal bulusnya...."

Ia bicara dengan napas tersengal-sengal karena pukulan Ngo beng ciang telah membuatnya terluka berat. Kie Siauw Hoe mengangguk dan sesudah mengambil seutas tambang, ia menghampiri Pheng Hweeshio.

"Pheng Taysoe"

Katanya dengan suara lemah lembut.

"aku mohon maaf untuk kekurangan ajarku."

Karena tak ada jalan lain, mau tak mau si pendeta membiarkan kaki tangarnya dibelenggu.

Sesudah itu barulah See leng coe mengeluarkan obat yang lalu diserahkan kepada nona Kie dengan memberitahukan juga cara-cara menggunakannya.

Siauw Hoe lalu mencabut dua Hoeito yang menancap dipundak dan paha Pheng Hweeshio dan kemudian menaruh obat dilubang-lubang.

"Pheng Hweeshio!"

Bentak Teng Bin Koen.

"Soe moyku berhati murah dan sudah menotong jiwamu. Sekarang beritahukanlah dimana adanya Pek Kwie Sioe."

Peng Hweeshio tertawa terbahak-bahak.

"Teng Kouwnio,"

Katanya.

"dengan berkata begitu, kau memandang aku terlalu rendah. Thio Ngohiap dari Boe tong pay lebih suka bunuh diri daripada memberitahukan tempat tinggal saudara angkatnya. Pribudi Thio Ngohiap yang luhur itu dikagumi sungguh oleh Pheng Eng Giok. Maka itu biarpun aku bukan seorang ternama, aku ingin mengikut perbuatan Thio Ngohiap."

Mendengar itu, bukan main rasa bangganya Boe Kie.

Kematian Coei San sangat disayangkan oleh orang-orang Rimba Persilatan dan mereka menganggap, bahwa kebinasaan Thio Ngohiap adalah karena menikah dengan seorang wanita "siluman"

Dari partai yang sesat.

Sebagai anak yang cerdas, Boe Kie tahu, bahwa dalam omong omong antara kakek guru dan para pamannya, mereka sangat berduka akan kematian ayahnya, tetapi mendongkol terhadap mendiang ibunya.

Tapi dari semua pembicaraan yang pernah didengarnya, belum pernah ada seorang yang mengutarakan rasa hormat begitu besar terbadap ayahnya seperti pengutaraan Pheng Hweeshio.

Teng Bin Koen tertawa dingin.

"Dengan menikah dengan perempuan siluman, Thio Coei San seperti juga sudah buta matanya,"

Katanya.

"Dia sendiri juga yang rela menjadi seorang hina dina. Apa orang begitu pantas dibuat contoh? Boe tong pay...."

"Soecie!"

Memutus Kie Siauw Hoe.

"Jangan kuatir,"

Kata sang kakak sepenguruan "Aku tak akan menyeret nama In Liok hiap,"

Ia mengibas pedangnya yang lalu ditudingkan kemata kanan si pendeta.

"Kalau kau tidak bicara, lebih dulu kutusuk mata kananmu."

Ia mengancam dengan suara bengis.

"Kemudian kutikam mata kirimu. Sesudah itu, kusodok kuping kanan dan kuping kirimu dan akhirnya kupapas hidungmu. Tapi kau tak usah kuatir. Biar bagaimanapun juga, aku tak akan mengambil jiwamu."

Ujung pedang yang berkilauan dan menggetar tak hentinya itu hanya terpisah setengah dim dari mata kanan Pheng Hweeshio.

Tetapi Pheng Hweeshio sedikitpun tidak menjadi gentar.

Dengan mata tak berkedip, ia berkata.

"Sudah lama kudengar, bahwa Biat coat Soethay dari Go bie pay seorang kejam. Sekarang aku mendapat kenyataan, bahwa si murid tidak banyak berbeda dengan sang guru. Hari ini Pheng Eng Giok sudah jatuh kedalam tanganmu dan kau boleh berbuat sesukamu."

"Bangsat gundul!"

Teriak Teng Bin Koen.

"Kau berani menghina guruku?"

Dengan sekali mendorong pedangnya, mata kanan Pheng Hweeshio sudah menjadi buta dan kemudian ia menempelkan ujung pedang dikelopak mata kiri si pendeta.

Tapi pendeta itu tertawa terbabak-babak sedang mata kirinya yang terbuka lebar menatap muka musuhnya.

Ditatap begitu, dengan sinar mata yang berkeredepan, jantung Teng Bin Koen memukul keras.

"Kepala gundul !"

Bentaknya pula.

"Aku sungguh tak mengerti akan sikapmu. Kau bukan anggauta Peh bie kauw, tapi mengapa kau rela membuang jiwamu untuk manusia seperti Pek Kwie Sioe ?"

"Biarpun aku menerangkan kepadamu tentang cara-caranya seorang kesatria, kau tentu tak akan mengerti."

Jawabnya dengan suara duka.

Melihat paras muka si pendeta yang seolah-olah memandang rendah kepadanya, Teng Bin Koen meluap darahnya dan sekali lagi ia menggerakkan pedang untuk menusuk mata kiri Pheng Hweeshio.

Dengan cepat Kie Siauw Hoe menangkis dengan senjatanya.

"Soecie. Dia keras kepala dan biar bagaimanapun jua, ia pasti tidak akan membuka mulut,"

Katanya.

"Meskipun dibinasakan tiada guna nya."

"Dia mencaci Soehoe sebagai seorang kejam, maka biarlah dia menyaksikan kekejamanku."

Kata Teng Bin Koen.

"Siluman Mo kauw semacam dia hanya bisa mencelakakan manusia baik-baik. Maka itu, jikalau kita menyingkirkannya dari muka bumi ini berarti kita terbuat baik terhadap sesama manusia,"

"Tapi tidak bisa disangkal, bahwa dia seorang gagah yang tidak takut mati,"

Siauw Hoe coba membujuk lagi.

"Soecie, menurut pendapatku, sebaiknya kita memberi ampun kepadanja."

"Tidak bisa !"

Bentak sang kakak sepenguruan "Dua Soeheng dari Siauw lim pay yang satu binasa, satu terluka.

Sedang dua Tootiang dari Koen loen Pay mendapat luka barat, sedang dua saudara dari Hay see pay terluka lebih hebat juga.

Apa tangannya tidak cukup kejam ?

Sekarang biarlah aku menusuk mata kirinya.

Sesudah itu, baru kita menanyakan lagi tempat sembunyinya Pek Kwie Sioe."

Sehabis berkata begitu, bagaikan kilat pedangnya lantas menyambar mata kiri Pheng Hweeshio. Sekali lagi Kie Siauw Hoe menangkis pedang Soecienya.

"Soecie,"

Katanya dengan suara memohon.

"Dia sudah tidak bisa melawan lagi dan jika kita menganiaya dia, aku kuatir partai kita akin mendapat nama jelek dalam Rimba Persilatan."

Teng Bin Koen mendelik.

"Minggir! Jangan perdulikan aku,"

Bentaknya. Kie Siauw Hoe kelihatan bingung dan berkata pula.

"Soecie...."

"Jangan rewel!"

Memutus Bin Koen.

"Kalau kau menganggap aku sebagai kakak seperguruan, kau harus mendengar omonganku."' "Baiklah,"

Kata nona Kie. Sekali lagi pedang Teng Bin Koen menyambar mata kiri Pheng Hweeshio. Kali ini ia menggunakan tiga bagian tenaga Lweekang. Iapun mengerakkan tenaga dalam.

"Trang!"

Kedua senjata kebentrok dan kedua saudari sepenguruan terhuyung beberapa tindak. Teng Bin Koen marah besar.

"Soemoay !"

Bentaknya.

"beberapa kali dengan mati-matian kau melindungi pendeta siluman itu. Apa sebenarnya maksudmu ?"

Kie Siauw Hoe tertawa.

"Aku hanya ingin meminta supaya Soecie jangan menganiayanya."

Jawabnya dengan sabar.

"Jikalau kita ingin menyelidiki dimana tempat sembunyinya Pek Kwie Sioe, kita hanya bisa menanyakan nanti secara perlahan lahan."

Teng Bin Koen tertawa dingin.

"Huh ! Apakah kau kira aku tak tahu jalan pikiranmu ?"

Tanyanya dengan nada mengejek.

"Berapa kali In Liokhiap dari Boe tong pay mendesak supaya kau menikah dengannya. Mengapa kau selalu menolak dengan memberikan rupa-rupa alasan? Waktu ayahmu turut mendesak, mengapa kau kabur dari rumahmu ?"

"Soecie itu adalah urusan soemoay pribadi,"

Kata nona Kie "Mengapa Soecie jadi menyebut nyebut hal itu ?"

Sang kakak mengeluarkan suara dihidung.

"kita sama tahu."

Katanya.

"Di hadapan orang luar, memang kurang baik jika aku membuka topengmu. Huh! Badanmu berada di Go bie, tapi hatimu di pihak Mo kauw !"

Mendengar perkataan itu, Siauw Hoe gusar tak kepalang, sehingga paras mukanya berubah pucat.

"Aku selalu menghormati kau sebagai seorang kakak dan belum pernah aku berbuat kesalahan terhadapmu,"

Katanya dengan suara gemetar "Tapi mengapa hari ini kau menghina aku sedemikian hebat?"

"Kalau benar-benar hatimu tidak condong, kepada Mo kauw, coba tusaklah mata kiri pendeta siluman itu."

Kata Teng Bin Koen.

"Soecie,"

Kata nona Kie dengan suara duka.

"Sebagaimana kau tahu, semenjak jaman Siauw ong-sia Kwee Soecouw (Kwee Siang), di dalam partai kita terdapat banyak sekali wanita yang tidak mau menikah seumur hidupnya. Oleh karena mengagumi kemuliaan mendiang guru besar kita, siauwmoaypun telah mengambil keputusan untuk tidak menikah. Siauwmoay menganggap, hal itu hal yang lumrah saja. Mengapa Soecie mendesak begitu hebat ?"

"Sudah! Aku tak suka dengar segala omonganmu!"

Bentak Bien Koen.

"Jika kau tidak mau menikam mata pendeta siluman itu, aku akan mencopoti topengmu."

Mendengar ancaman itu, Siauw Hoe kelihatannya tak berani berkeras lagi.

"Soecie,"

Katanya dengan suara halus.

"aku memohon kepadamu, soecie, dengan mengingat kecintaan antara sesama saudara sepenguruan, janganlah kau mendesak aku terlalu hebat."

Wanita she Teng itu tertawa.

"Aku bukan memaksa kau mengerjakan pekerjaan yang sulit,"

Katanya.

"Sebagaimana kau tahu, Soehoe telah memerintahkan kita untuk menyelidiki tempat bersembunyinya Kim mo Say ong Cie Soen. Sekarang, pendeta itu adalah orang satu-satunya yang bisa memberi penerangan kepada kita, tapi dia bukan saja sungkan membantu kita, malah sudah melukakan juga kawan-kawan kita. Kalau aku menikam mata kanannya dan kau menikam mata kirinya, bukankah merupakan suatu hal yang sangat wajar ? Mengapa kau merasa segan tidak mau turun tangan ?"

"Hati siauw moay lembek, tidak bisa turun tangan,"

Jawabnya.

"Apa? Hatimu lembek ?"

Menyindir Teng Bin Koen.

"Soehoe sering memuji kau sebagai murid yang ilmu pedangnya hebat dan adatnya keras. Sangat menyerupai adat soehoe sehingga beliau mempunyai niatan untuk mengangkat kau sebagai akhliwarisnya. Mana boleh hatimu lembek ?"

Apabila dua saudara bertengkar, maka hal itu akan sangat membingungkan orang-orang yang mendengarkannya, karena mereka tak mengetahui sebab musabab yang sebenarnya dari percekcokan antara keduanya.

Sesudah mendengar perkataan Teng Bin Koen yang paling belakangan, barulah mereka bisa meraba-raba.

Rupanya, Ciang boen jin Go Bie pay Biat coat Soethay sangat menyayang Kie Siauw Hoe dan berniat untuk mengangkat murid itu menjadi ahli warisnya.

Hal ini kelihatannya sudah menimbulkan rasa jelus dalam hati Teng Bin Koen yang entah sudah memegang rahasia apa dari adik sepenguruannya sekarang ingin menghilangkan muka nona Kie di hadapan orang banyak.

Boe Kie yang menyaksikan kejadian itu dari tempat bersembunyinya, merasa gusar sekali.

Ia ingat perlakuan nona Kie yang sangat baik terhadapnya pada hari itu, pada harian kedua orang tuanya membunuh diri.

Ia bergusar dan berduka.

Kalau dapat, ia ingin sekali menerjang keluar dan menggaplok muka si wanita she Teng yang tidak mengenal kasihan.

"Kie Soemoay, aku ingin mengajukan Iagi satu pertanyaan,"

Kata Teng Bin Koen.

"Pada tiga tahun berselang, Soehoe telah mengumpulkan semua murid dipuncak Kim teng, dipuncak gunung Go bie san dengan maksud untuk mengajar ilmu pedang Bit kiam dan Coat kiam kepada semua saudara sepenguruan kita. Coba jawab. Kenapa kau tidak hadir dalam pertemuan besar itu? Mengapa beliau jadi begitu gusar sehingga beliau mematahkan pedangnya sendiri dan mengatakan bahwa dunia tidak akan mengenal lagi kedua ilmu pedang itu?"

"Ketika itu, siauwmoay tiba-tiba mendapat sakit berat di Kam cioe, sehingga tak bisa bangun,"

Jawabnya.

"Hal ini siauwmoay sudah memberitahukan kepada Soehoe. Mengapa Soecie menanyakan pedang itu?"

Teng Bin Koen tertawa dingin.

"Hmm!"

Ia mengeluarkan suara dihidung.

"Kau bisa memperdayai Soehoe, tapi tak dapat mengabui aku. Aku masih ingin mengajukan sebuah pertanyaan. Tapi jika kau menikam mata si kepala gundul, pertanyaan itu tidak diajukan olehku."

Kie Siauw Hoe menundukkan kepala. Ia berduka bukan main.

"Soecie,"

Katanya dengan suara perlahan.

"apakah kau tidak ingat Iagi kecintaan antara sesama saudara sepenguruan?"

"Kau mau tikam atau tidak?"

Tanya sang kakak dengan bengis "Soecie, kau tak usah kuatir,"

Kata nona Kie dangan suara memohon.

"Andaikata aku mau di jadikan ahliwaris oleh Soehoe, aku tentu akan menolak."

"Bagus"

Bentak Tang Bin Koen dengan gusar.

"Dengan berkata begitu, kau seperti juga mau mengatakan, bahwa aku menerima budimu yang besar. Cobalah kau unjuk. Dibagian mana yang aku kalah dari kau? Aku tidak perlu menerima budimu ! Tidak perlu kau mengalah! Eh! Katakan sekarang. Kau mau tikam atau tidak?"

"Jika Siauwmoay bersalah, Soecie boleh menegur atau menjatuhkan hukuman dan Siauwmoay akan menerimanya dengan segala senang hati,"

Kata Siauw Hoe.

"Disini terdapat sahabat-sahabat dari lain partai, sehingga kumohon Soecie jangan mendesak terlalu...."

Berkata sampai disitu, ia tidak dapat meneruskan perkataannya, karena air matanya sudah mulai mengucur. Teng Bin Koen tertawa dingin.

"Huh! Jangan kau berlagak sedih, sedang didalam hati kau mencaci aku,"

Ejeknya.

"Pada tiga tahun yang lalu, apa benar-benar kau mendapat sakit di Lam cioe? Perkataan dapat memang tak salah, tapi bukan mendapat sakit, hanya mendapat anak !"

Mendengar kata-kata yang sehebat itu, Kie Siauw Hoe mengeluarkan teriakan menyayat hati.

Ia memutar badan dan terus kabur sekeras-kerasnya.

Tapi Teng Bin Koen juga sudah menduga lebih dulu, lantas saja mengubar dan mencegatnya "Soemoay, lebih baik kau tikam mata kiri pendeta siluman itu,"

Katanya sambil mengibas pedang.

"Jika kau tetap membantah, aku akan menanya siapa adanya ayah anak itu dan aku akan menanya, mengapa sebagai murid dari sebuah partai yang lurus bersih, kau melindungi seorang pendeta siluman dari agama Mokauw secara begitu mati-matian"

"Kau .... kau .... minggir!"

Bentak nona Kie dengan napas tersengal-sengal. Sambil menudingkan pedang didada adik seperguruan itu, Teng Bin Koen membentak.

"Jawab pertanyaanku. Dimana kau titip bayimu ? Kau adalah tunangan In Lie heng, In Liokhiap, tapi mengapa kau melahirkan anak ?"

Kata kata itu, mengejutkan semua orang.

Bahkan Boe Kie yang masih kecil juga merasa, bahwat Kie Siauw Hoe telah dituduh melakukan perbuatan hebat yang menyinggung kehormatan In Lie Heng.

Paras muka nona Kie berubah pucat bagaikan kertas dan ia menerjang untuk coba meloloskan diri.

Diluar dugaannya, Teng Bin Koen membuktikan ancamannya.

Dengan sekali menyodok, pedangnya amblas di lengan Siauw Hoe, sehingga ujung pedang mengenakan tulang.

Sambil menahan sakit, nona Kie terpaksa menghunus senjatanya dengan tangan kiri.

"Soecie,"

Katanya dengan suara parau.

"jikalau kau mendesak terus, aku terpaksa akan berlaku kurang ajar."

Teng Bin Koen merasa, bahwa sesudah ia membuka rahasia si adik sepenguruan, tentu akan berusaha untuk membinasakannya guna menutup mulutnya.

Maka itu, dengan mengetahui, bahwa bekal ilmu silatnya masih kalah dari Siauw Hoe, dia segera mengambil suatu keputusan untuk turun tangan lebih dulu.

Sesudah menikam lengan si adik dalam serangan susulan, ia menusuk kempungan Siauw Hoe.

Melihat Soecienya menyerang pula dengan pukulan yang membinasakan, sambil menahan sakit, nona Kie menangkis dengan pedang yang dicekal dalam tangan kirinya.

Di lain saat mereka sudah bertempur seru dengan gerakan-gerakan yang luar biasa cepat.

Semua orang yang ada di situ adalah ahli-ahli silat yang berkepandaian tinggi.

Akan tetapi, karena semua sudah mendapat luka berat, mereka tak berdaya untuk memisahkannya.

Diam-diam mereka merasa kagum akan lihaynya ilmu pedang Go bie pay, yang dikenal sebagai salah satu dari empat partai besar dalam Rimba Persilatan.

Kie Siauw Hoe bertempur dengan lengan kanan terus mengucurkan darah.

Beberapa kali Kie Siauw Hoe menerjang dengan pukulan hebat, dalam usaha untuk mundurkan Soecienya supaya ia bisa melarikan diri, tapi usahanya selalu gagal.

Ia gagal karena tidak biasa menggunakan pedang dengan tangan kiri dan juga karena, sesudah mengeluarkan banyak darah, tenaganya berkurang.

Untung juga, Teng Bin Koen selamanya merasa jerih terhadap adik seperguruannya, sehingga ia tidak berani terlalu mendesak.

Ia berkelahi dengan hati-hati sekali sambil menunggu lelahnya Siauw Hoe.

Memang juga, makin lama tindakan nona Kie jadi makin limbung dan gerakan-gerakannya makin lambat.

Sesudah lewat beberapa jurus lagi, lengan kanan Siauw Hoe kembali tertikam dan darah mengucur makin deras.

"Kie Koauwnio!"

Tiba-tiba Pheng Eng Giok berteriak.

"Tikamlah mataku! Kie Kouwnio, budimu yang sangat besar tak akan dapat dibalas oleb Pheng Eng Giok !"

Memang juga, rasa terima kasihnya Pheng Hweeshio tidak dapat dilukiskan lagi.

Bahwa, dengan menempuh bahaya Siauw Hoe melindungi seorang musuh, sudah merupakan suatu perbuatan yang sukar dilakukan.

Dan dalam usaha untuk melindungi musuh, ia telah dicaci dengan kata-kata yang menodakan nama baik seorang wanita, nama baik yang dipandang lebih penting daripada jiwa.

Tapi kalau sekarang Siauw Hoe menurut perintah dan menusuk mata Pheng Hweesbio, Teng Bin Koen juga tak akan memberi ampun kepadanya.

Kakak seperguruan itu mengerti bahwa kalau sekarang dia tidak membinasakan si adik seperguruan ia seperti juga menanam bibit penyakit untuk dikemudikan hari.

Teng Bin Koen menyerang Siauw Hoe.

Pheng Hweeshio yang melihat itu segera berteriak "Teng Bin Koen.

kau sungguh manusia tak kenai malu!

Tak heran jika orang Kang ouw memberi gelaran Tok chioe Boe yam kepadamu.

Sekarang aku menyaksikan dengan mata sendiri, bahwa hatimu benar jahat seperti ular dan kalajengking.

Huh !

Mukamu jelek seperti muka Boe yam!

Jika semua wanita separti kau, semua lelaki dunia tentu buru-buru mencukur rambut !"

Sebenarnya, biarpun tidak bias disebut cantik, Teng Bin Koen bukan seorang wanita yang jelek. Pheng Hweeshio sudah sengaja mencaci begitu dan memberi gelaran "Tok chioe Boe yam"

Kepadanya untuk menolong Kie Siauw Hoe.

Ia tahu bahwa seorang wanita bisa mata gelap, jika disinggung kejelekan mukanya.

Ia mengharap supaya dalam gusarnya, Teng Bin Koen membunuh ia sendiri dan Kie Siauw Hoe bisa mendapat kesempatan untuk melarikan diri.

Tapi wanita she Teng itu ternyata bukan manusia tolol.

Ia berpendapat, bahwa sesudah membinasakan adik seperguruannya, ia masih mempunyai banyak tempo untuk mengambil jiwa pendeta itu.

Maka itulah, tanpa meladeni cacian orang, ia terus menyerang dengan hebat.

"Dalam dunia Kang ouw, siapakah yang tak tahu kesucian Kie Liehiap,"

Teriak pula Pheng Hweeshio.

"Teng Bin Koen, sekarang aku mau membuka rahasiamu. Kaulah, manusia muka jelek, yang sebenarnya maui In Lie Heng ! Karena In Liokhiap tidak meladeni, kau memfitnah Kie Liehiap. Ha ha ha! Tulang pipimu begitu tinggi ! Mulutmu sebesar panci! Kulitmu kering dan kuning, sedang badanmu kurus jangkung seperti gala jemuran! Ha ha ha ! In Liokhiap yang begitu tampan mana mau mengambil kau sebagai isterinya? Kau sebenarnya harus lebih sering berkaca ...."

Meskipun pintar, Teng Bin Koen kalap juga.

Mendengar sampai disitu, ia tidak dapat mempertahankan ketenangannya lagi.

Ia melompat sambil mengayun pedang yang diturunkan kemulut Pheng Hweeshio.

Memang benar tulang pipi nona Teng agak tinggi, mulutnya agak besar, kulitnya agak hitam sedang badannya agak jangkung.

Tapi kekurangan-kekurangan itu, yang tidak banyak, tidak terlihat nyata, jika tidak diperhatikan.

Tapi Pheng Hweeshio yang bermata tajam sudah bisa melihat itu semua dan ia lalu mengejek secara berlebih-lebihan.

Apa yang membuat Teng Bin Koen kalap ialah disebut-sebutnya nama In Lie Heng, yang belum pernah dikenal olehnya.

Mendadak dari dalam hutan berkelebat satu bayangan manusia yang sambil membentak keras, mengadang didepan Pheng Hweeshio, sehingga pedang Teng Bin Koen yang tengah menyambar menancap tepat dilehernya.

Hampir berbareng tangan orang itu menghantam dan "buk!"

Mengenakan dada Teng Bin Koen yang lantas saja terhuyung beberapa tindak dan mulutnya memuntahkan darah.

Pedang yang dilepaskan oleh nona Teng tetap menancap dileher orang itu yang rupanya sudah tak bisa hidup lebih lama lagi.

See Leng coo maju dua tindak dan mengawasi orang itu.

"Pek Kwie Sioe"

Teriaknya.

Orang itu memang Pek Kwie Sioe, Tancoe dari Hian boe tan.

Sesudah terluka berat, ia mendapat tahu, bahwa untuk melindungi dirinya, Pheng Hweeshio telah dikepung oleh orang-orang Siauw lim, Koen loan, Go bie dan Hay see pay.

Maka itu, dengan sekuat tenaga ia datang ketempat pertempuran dan menggantikan Hweeshio itu untuk menerima tikaman Teng Bin Koen.

Tapi pukulannya yang terakhir masih hebat luar biasa, sehingga beberapa tulang rusuk Teng Bin Koen menjadi patah.

Sesudah menenteramkar hatinya.

Kie Siauw Hoe lalu merobek tangan bajunya untuk membalut luka dilengannya dan kemudian, dengan pedangnya, ia memutuskan tambang yang membelenggu kaki tangan Pheng Hweeshio.

Sesudah itu, tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia memutar badan dan berjalan pergi.

"Kie Kouwnio, tahan!"

Seru si pendeta.

"Terimalah hormatnya Pheng Hweeshio."

Buru-buru Kie Slauw Hoe melompat kesamping untuk menolak pemberian hormat pendeta itu yang berlutut ditanah. Begitu bangun berdiri si pendeta segera menjemput pedang See long coe dan berkata.

"Manusia yang sudah merusak nama baik Kie Kouw nio tidak boleh dibiarkan hidup terus."

Seraya berkata begitu, ia mengayun pedang dan menikam tenggorokan Teng Bin Koen. Bagaikan kilat nona Kie menangkis pedang itu.

"Dia adalah kakak seperguruanku,"

Katanya "Biarpun dia tidak menyintai aku, aku sendiri tak bisa tidak mengenal pribudi."

"Kalau sekarang tidak dibunuh, dibelakang hari dia bisa menyebabkan munculnya banyak kesukaran bagi Kie Kouwnio,"

Kata si pendeta. Air mata Siauw Hoe lantas saja mengucur.

"Aku seorang wanita yang bernasib paling buruk dalam dunia ini,"

Katanya dengan suara sedih.

"Biarlah, biarlah aku menyerahkan saja segala apa kepada nasib. Pheng Soehoe, jangan kau melukakan Soe cieku!"

"Perintah Kie Lihiap sudah tentu tidak akan dilanggar olehku,"

Kata Pheng Hweeshio sambil membungkuk.

"Soecie, kuharap kau bisa menjaga diri baik baik"

Kata Kie Siauw Hoe dengan suara perlahan-lahan kemudian, sesudah memasukkan pedangnya kedalam sarung, ia segera berlalu tanpa menengok lagi.

Sesudah nona Kie pergi jauh, Pheng Hweeshio segera berkata kepada See leng coe dan yang lain lain .

"Aku siorang she Pheng sebenarnya tidak mempunyai permusuhan apapun jua dengan kamu sekalian. Akan tetapi, fitnah hebat yang dilontar kan oleh si perempuan she Teng telah didengar oleh kamu semua. Kalau cerita ini sampai tersiar diluaran, bagaimana Kie Kouwnio bisa berdiri terus diatas bumi ini? Maka itu, tak bisa aku membiarkan kamu hidup terus. Hal ini sudah terjadi lantaran terpaksa dan aku harap kamu jangan menyalahkan aku."

Sehabis berkata begitu, dengan beruntun ia menikam See leng coe, See ciat coe, seorang pendeta Siauw lim dan dua jago Hay see pay.

Kemudian barulah ia menggores muka Teng Bin Koen dengan pedangnya, sehingga wanita she Teng itu menjadi kalap, tap i tidak bisa berbuat banyak, karena ia sudah terluka hebat.

"Bangsat gundut !"

Teriaknya.

"Jangan kau menyiksa aku ! Bunuhlah !"

Pheng Hweeshio tertawa nyaring.

"Aku tidak berani membunuh perempuan jelek yang kulitnya kering dan mulutnya lebar,"

Ejeknya.

"Kalau kau mampus aku kuatir begitu lekas rohmu masuk di akhirat, berlaksa laksa setan akan kabur kedunia sebab ketakutan. Akupun kuatir Giam Loo Ong berak-berak bahna kagetnya !"

Sehabis berkata begitu, ia tertawa nyaring dan melemparkan pedang ditanah dan sesudah menanggul mayat Pek Kwie Sioe, ia menangis keras akan kemudian berlalu dengan tindakan cepat.

Untuk beberapa lama Teng Bin Koen mengaso dengan napas tersengal-sengal.

Kemudian deegan menggunakan sarung pedang sebagai tongkat, iapun berlalu dengan tindakan limbung.

Peristiwa yang hebat itu telah disaksikan semua oleh Siang Gie Coen dan Boe Kie.

Sesudah Teng Bin Koen berlalu, barulah mereka menarik napas lega.

"Siang Toako,"

Kata Boe Kie.

"Kie Kouwnio adalah tunangan In Lioksiok. Perempuan she Teng itu mengatakan, mendapat anak. Siang Toako, bagaimana pendapatmu, apa benar atau tidak'?"

"Dia omong kosong, jangan dipercaya!"

Jawabnya.

"Benar!"

Kata Boe Kie.

"Kalau bertemu In Liok siok, aku akan memberitahukan kekurang ajaran perempuan she Teng itu, supaya Lioksiok bisa menghajarnya."

"Jangan! Jangan !"

Cegah Gie Coen tergesa gesa.

"Hal itu kau sekali-kali tidak boleh memberitahukan In Lioksiok. Kau mengerti!"

"mengapa?"

Tanya si bocah.

"Omongan-omongan yang tidak sedap itu tidak boleh diberitahukan kepada siapapun juga,"

Jawabnya.

"Ingatlah. Kau tidak boleh bicara dengan siapapun juga."

Boe Kie mengangguk sambil mengawasi muka Gie Coen. Beberapa saat kemudian, ia berkata pula.

"Siang Toako, apa kau kuatir tuduhan Teng Bin Koen suatu kenyataan ?"

Gie Coen menghela napas.

"Tak tahu,"

Jawabnya.

Pada keesokan paginyaq jalanan darah Gie Coen yang tertotok terbuka sendirinya dan ia lalu mendukung Boe Kie, siap sedia untuk meneruskan perjalanan.

Sambil mengawasi mayat mayat yang menggeletak ditanah, ia berkata didalam hati.

"Sesudah belasan tahun, Cia Soen menghilang, tapi karena gara-garanya, orang-orang Rimba Persilatan masih terus mengorbankan jiwa. Hai! Sampai kapan urusan ini baru menjadi beres ?"

Sesudah banyak mengasoh, sebagian tenaga Gie Coen pulih kembali.

Rasa sakit dalam badannya banyak berkurang dan ia bisa berjalan terlebih cepat.

Sesudah melalui beberapa li mereka bertemu jalanan raya.

Gie Coen agak terkejut.

"Ouw Soe peh berdiam di tempat yang sepi. tapi mengapa aku bertemu dengan jalanan raya?"

Tanyanya di dalam hati.

"Apa nyasar?"

Baru saja ia mau mencari penduduk dusun untuk menanyakan, tiba tiba terdengar suara tindakan kuda dan empat orang serdadu Mongol mengubar dari belakang.

"Lekas jalan! Lekas jalan!"

Teriak mereka sambil mengacung acungkan senjata seolah olah menggebah binatang.

"Tak dinyana aku mesti mati ditempat ini,"

Mengeluh Gie Coen.

Karena lukanya, ilmu silatnya sudah musnah semua.

Sekarang ia malah tidak dapat melawan seorang serdadu Mongol biasa.

Maka itu sambil menahan amarah, ia terpaksa berjalan terus.

Tak lama kemudian, mereka bertemu dengan sejumlah penduduk yang juga digiring oleh serdadu serdadu Mongol.

Dalam hati mereka lantas saja muncul sedikit harapan.

Sekarang ternyata, bahwa serdadu-serdadu itu sedang memperlihatkan kekejamannya terhadap rakyat jelata dan bukan mereka yang dijadikan bulan-bulanan.

Melihat bahaya, Boe Kie segera berbisik.

"Siang Toako, lekas kau berlagak jatuh dan buang golokmu."

Gie Coen tersadar.

Sesudah berjalan beberapa tindak lagi, ia pura-pura terpeleset dan menggulingkan diri dirumput sambil melepaskan golok yang disisipkan dipinggangnya.

Sesudah itu, ia merangkak bangun dan berjalan lagi dengan napas tersengal sengal.

Selagi ia lewat didepan seorang perwira Mongol, seorang Han yang jadi juru bahasa berteriak.

"Bangsat! Kau sungguh tidak tahu adat. Lekas berlutut dihadapan Tayjin!"

Mengingat Cioe Coe Ong serumah tangga telah dibinasakan oleh tentara Mongol, darah Siang Gie Coen lantas saja naik tinggi dan biarpun mesti mati, ia tak sudi menekuk lutut.

Ia jalan terus dengan berlagak tuli.

Seorang serdadu Mongol mengudak dan menyapu kakinya sehingga ia jatuh terguling.

"She apa kau?"

Bentak si juru bahasa. Sebelum Gie Coen sempat memberi jawaban, Boe Kie sudah mendahului berkata.

"She Cia, dia kakakku"

Serdadu itu lalu menendang punggung Boe Kie seraya membentak.

"Pergi!"

Bukan main gusarnya Gie Coen.

Sambil merangkak bangun, ia bersumpah didalam hati, bahwa sebegitu lama ia masih hidup, ia akan berusaha dengan seantero tenaganya untuk mengusir bangsa Mongol dari daerah Tionggoan.

Dalam keadaan tidak berdaya, buru-buru ia mendukung pula Boe Kie dan berlalu cepat-cepat.

Baru berjalan beberapa puluh tombak, tiba tiba mereka mendengar teriakan teriakan menyayat hati.

Mereka menengok dan melihat puluhan rakyat sedang dibunuh oleh tentara Mongol.

Sepanjang sejarah, selama penjajahan kerajaan Goan (Mongol), rakyat banyak memberontak.

Belakangan, seorang pembesar tinggi Mongol telah mengeluarkan perintah untuk membunuh orang orang Han, yang she Thio, Ong, Lauw, Lie dan Tio.

Semuanya lima she.

Pada jaman itu, orang she Thio, Ong, Lauw dan Lie yang paling banyak terdapat di Tionggoan, sedang she Tio adalah she dari kaizar-kaizar Song.

Maka itu, menurut jalan pikiran si pembesar Mongol, bangsa Han akan runtuh semangatnya jika orang-orang dari kelima she itu dibunuh.

Untung juga, perintah yang sangat kejam itu cepat diketahui oleh kaizar Mongol yang segera mengeluarkan larangannya.

Tapi sementara itu, banyak juga orang Han yang dibunuh mati.

Gie Coen tidak berani berdiam lama lama lagi dan lalu berjalan secepat cepatnya.

Sesudah melalui beberapa mereka bertemu dengan seorang penjual kayu bakar dan mereka lalu menanyakan dimana letaknya Ouw tiap kok.

Orang itu meng gelengkan kepala.

Tapi Gie Coen segera mengetahui, bahwa Soepehnya mesti berdiam disekitar tempat itu.

Dengan sabar ia lantas saja mencari-cari.

Di sepanjang jalan mereka melihat ratusan macam bunga yang menghiasi daerah pegunungan itu.

Tapi sesudah menyaksikan peristiwa yang menyedihkan itu, mereka tak punya kegembiraan Iagi untuk menikmati pemandangan alam yang sangat indah.

Sesudah membelok dibeberapa tikungan, disebelah depan menghadang sebuah tembok gunung dan jalanan putus disitu.

Selagi mereka kebingungan, mendadak muncul beberapa ekor kupu-kupu yang terbang masuk kesebuah gerombolan pohon-pohon kembang.

"Tempat ini dinamakan Ouw tiap kok, atau Selat Kupu-kupu,"

Kata Boe Kie.

"Apa tidak baik kita mengikuti kupu-kupu itu?"

"Baiklah,"

Kata Gie Coen yang lalu turut masuk kegerombolan pohon itu.

Sesudah melewati gerombolan pohon bunga, mereka bertemu dengan sebuah jalanan kecil yang tertutup rumput hijau.

Setelah berjalan beberapa jauh, jumlah kupu kupu yang beterbangan disekitar situ jadi makin banyak.

Hidung mereka mengendus harumnya bunga-bunga.

Kembang-kembang yang tumbuh disekitar situ sangat berbeda dengan apa yang terlihat ditempat lain.

Makin jauh mereka maju kupu-kupu makin tidak takut manusia.

Mereka terbang mendekati seolah olah menyambut kedatangan tamu-tamu dan hinggap dikepala, dipundak, dilengan Gie Coen dan Boe Kie.

Gie Coen dan Boe Kie jadi bersemangat, karena mereka tahu, bahwa mereka sudah berada dalam selat Ouw tiap kok.

Lewat tengah hari, mereka melihat tujuh-delapan rumah gubuk dipinggir sebuah solokan yang airnyàjernih.

Didepan, dibelakang dan dikiri kanan setiap gubuk ada dikurung dengan kebun kembang yang terawat baik.

Gie Coen berlari-lari kedepan gubuk-gubuk itu dan berkata dengan suara menghormat.

"Teecoe Siang Gie Coen ingin berjumpa dengan Ouw Soepeh."

Selang beberapa saat, dari sebuah gubuk keluar seorang kacung yang berkata.

"Masuklah."

Sambil mendukung Boe Kie, Gie Coen segera bertindak masuk.

Disatu sudut dari ruangan tengah kelihatan berdiri seorang lelaki setengah tua yang berparas agung.

Ia ternyata sedang menilik seorang kacung yang lagi memasak obat.

Seluruh ruangan itu penuh dengan macam-macam daun obat yang aneh aneh.

Buru-buru Gie Coen menaruh Boe Kie diatas kursi dan lalu berlutut di hadapan orang itu.

"Ouw Soepeh, Gie Coen memberi hormat,"

Katanya. Boe Kie mengawasi orang itu yang tentulah juga bukan lain daripada Tiap kok Ie sian Ouw Ceng Goe. Tabib malaikat itu manggut-manggutkan kepalanya dan berkata .

"Urusan Cioe Coe Ong, aku sudah tahu. Itulah nasib. Mungkin sekali, rejeki Tatcoe masih belum habis dan agama kita belum sampai waktunya untuk bisa memperoleh kemakmuran"

Sehabis berkata begitu, ia memegang nadi Gie Coen dan membuka baju pemuda itu. Sambil mengawasi dada si berewok, ia berkata.

"Kau kena pukulan Ciat sim ciang dari Hoan ceng. Pada hakekatnya, pukulan itu tidak sukar di obati. Tapi sesudah terpukul, kau menggunakan terlalu banyak tenaga, sehingga hawa dingin menyerang jantungmu dan sebagai akibatnya, aku memerlukan agak lebih banyak tempo untuk menyembuhkannya."

Sesudah memberi penjelasan, ia meraba-raba sekujur badan Gie Coen.

"Dengan siapa kau bertempur tadi malam?"

Tanya Ceng Goe secara tiba-tiba.

"Dengan murid Boe tong pay?"

"Tidak,"

Jawabnya. Sang paman segera meraba-raba kedua paha Si brewok. Sekonyong-konyong paras mukanya berubah dan membentak.

"Gie Coen! Tujuh delapan tahun kita tidak pernah bertemu muka. Sekali bertemu, kau coba memperdayai Soepehmu. Sudahlah! Aku tidak bisa mengobati lukamu. Pergi!"

Gie Coen jadi bingung.

"Ouw Soepeh,"

Katanya.

"mana berani aku mendustai kau? Dengan sesungguhnya, sepanjang malam aku tidak pernah bertempur dengan siapapun jua. Tenagaku sudah habis semua. Andaikata aku ingin, akupun tidak bisa berkelahi!"

"Omong kosong!"

Bentak sang paman guru "Terang-terang, Hoan tiauw hiat dikedua pahamu telah ditotok orang.

Dan totokan itu dilakukan dengan ilmu menotok dari Boe tong pay.

Tempo nya yalah antara Coe sie dan Tio sie," (Coe sie antara jam 11 malam dan jam 1.

Tio sie Antara jam 1 dan jam 3 pagi).

Mendadak si brewok tertawa.

"Ah ! Kalau begitu, yang dimaksudkan Soepeh yalah jalanan darah yang ditotok olehku sendiri,"

Katanya.

Dengan ringkas ia lalu menceritakan kejadian semalam.

Waktu Gie Coen menuturkan cara bagaimana ia sudah diabui Boe Kie, Ceng Goe melirik bocah itu dan waktu ia menceritakan cara bagaimana mata kanan Pheng Hweeshio telah ditusuk oleh Teng Bin Koen, sang paman guru menghela napas berulang ulang dan berkata.

"Pheng Eng Giok Hweeshio adalah seorang gagah sejati dari agama kita. Biarpun kita tidak segolongan dengan dia, tapi kita harus mengaku, bahwa dia itu seorang manusia yang jarang terdapat dalam dunia ini. Kalau begitu ditusuk, ia bisa segera datang kepadaku, mungkin sekali mata kanannya tidak sampai menjadi buta. Tapi sekarang sudah tidak dapat diobati lagi."

Ia menengok kepada Boe Kie dan berkata pula.

"Dari mana kau belajar ilmu Tiam Toat Boe tong pay?"

"Soepeh."

Kata Gie Coen.

"saudara kecil itu adalah putera Thio Ngohiap dari Boe tong pay."

Ouw Ceng Goe kaget dan paras makanya lantas saja berubah gusar.

"Murid Boe tong pay?"

La menegas.

"Perlu apa kau membawa dia kemari?"

Gie Coen lantas saja menuturkan cara bagaimans Thio Sam Hong telah menolong dia dan puteri Cioe Coe Ong waktu mereka diubar-ubar oleh kaki tangannya kaizar Goan disungai Han soei.

Sesudah selesai bercerita, ia akhirnya berkata.

"Sesudah menanggung budi yang begitu besar teecoe memohon supaya Soepeh suka membuat kecualian dan sudilah Soepeh menolong jiwa saudara kecil ini."

Sang paman guru mengeluarkan suara dihidung.

"Gie Coen, kau sungguh seorang yang royal dengan janji-janjimu,"

Ejeknya.

"Hem.... yang ditolong Thio Sam Hong adalah kau, bukan aku. Lagi kapan aku pernah membuat kecualian dalam kebiasaanku?"

Gie Coen segera berlutut dan manggutkan kepalanya berulang-ulang.

"Soepeh."

Katanya.

"ayah saudara kecil itu adalah seorang laki-laki sejati yang lebih suka menggorok leher dari pada menjual sahabat. Dia sendiri, meskipun masih kecil, mempunyai jiwa seorang kesatria. Teeeoe menjamin, bahwa dia seorang baik."

"Apa? Orang baik?"

Ceng Goe mengejek pula.

"Ada berapa banyak orang baik dalam dunia? Kalau dia bukan murid Boe tong pay, masih tidak apa. Dia murid sebuah partai yang lurus bersih, mengapa dia harus meminta pertolongan dari agama sesat ?"

"Ibu saudara Thio adalah puteri Peh bie Eng ong In Kauwcoe,"

Kata Gie Coen.

"Dengan demikian, dapatlah dikatakan, separuh badannya adalah dari agama kita."

Mendengar keterangan itu, hati Ouw Ceng Goe tergerak juga.

"Oh, begitu. Kau bangunlah."

Kataanya.

"Dia putera In So So dari Peh bie kauw. Kalau begitu lain urusan."

Ia lalu mendekati Boe Kie dan berkata dengan suara hangat.

"Anak, aku selamanya mentaati peraturan bahwa aku tidak akan menolong orang orang dari partai lurus bersih. Ibumu adalah anggauta dari agama kita. Tapi sebelum mengobati, aku ingin kau berjanji, bahwa sesudah sembih, kau harus pulang ketempat kakekmu, yaitu Peh bie Eng ong ln Kauwcoe, dan kau harus masuk kedalam agama Peh bie kauw. Dengan lain perkataan, kau harus meninggalkan partai Boe tong pay"

Sebelum Boe Kie menjawab, Gie Coen sudah mendahului.

"Soepeh, hal itu tidak bisa kejadian. Sebelum menyerahkan saudara Thio kepada Teecoe, Thio Sam Hong Thio Cinjin sudah mengatakan terang terangan, bahwa kita tidak boleh memaksa dia masuk kedalam agama kita dan juga andaikata dia sembuh, Boe tong pay tidak menanggung budi dari agama kita"

Kedua mata Ouw Ceng Goe lantas saja mendelik dan darahnya naik.

"Huh ! Manusia apa Thio Sam Hong !"

Bentaknya.

"Dia begitu memandang rendah kepada kita, perlu apa kau membantu dia. Anak, bagaimana keputusanmu sendiri ?"

Boe Kie mengerti bahwa ia sedang menghadapi soal mati atau hidap.

Sesudah kakek gurunya tidak berdaya untuk menolong harapan satu-satu nya ialah Ouw Ceng Goe.

la tahu, kalau ia tidak dapat meluluskan apa yang diminta oleh Tiap kok Ie Sian, jiwanya pasti tak akan bisa ditolong lagi.

Ia sendiri sebenarnya masih tak tahu apa kejelekan atau kebusukan "agama"

Sesat yang begitu di benci oleh sang kakek guru dan semua paman pamannya.

Tapi karena ia sangat mencintai dan menghormati kakek gurunya, maka ia lantas saja mengambil keputusan, bahwa ia lebih baik mati dari pada melanggar pesanan orang tua itu.

Tanpa bersangsi lagi, dengan suara lantang ia menjawab.

"Ouw Sinshe, ibuku ialah Hio coe dari Peh bie kauw dan aku pribadi menganggap bahwa Peb bie kauw adalah agama baik. Akan tetapi, sebab Thay soehoe melarang aku masuk kedalam Mo kauw dan aku sendiri sudah menyanggupi, maka sebagai laki laki, tak dapat aku menarik pulang janjiku itu. Jika kau tak sudi mengobati aku, akupun tidak bisa berbuat apa apa. Kalau lantaran takut mati, aku menurut apa yang diminta olehmu, maka aku akan menjadi seorang manusia yang tidak mempunyai kepercayaan, dan dari pada jadi manusia semacam itu, lebih baik aku berpulang ke alam baka."

Ouw Ceng Goe mendongkol bukan main.

"Gie Coen,"

Katanya.

"Bawa, dia pergi! Didalam rumah Ouw Ceng Goe tidak boleh ada orang mati lantaran sakit."

Gie Coen jadi bingung. Ia mengenal benar adat Soepehnya Jika ia telah berkata "tidak", perkataannya tidak bisa diubah lagi.

"Saudara kecil,"

Katanya dengan suara membujuk.

"Biarpun Mo kauw agak berbeda dengan partai-partai yang lurus bersih, akan tetapi, semenjak jaman kerajaan Tong sampai sekarang, dalam kalangan kami setiap turunan selalu muncul orang gagah sejati. Apa pula kakek luarmu adalah Kauwcoe dari Peh bie kauw sedang ibumu sendiri Hio coe dari agama tersebut. Saudara kecil, luluskanlah permintaan Ouw Soepeh. Di hari kemudian aku akan bertanggung jawab dihadapan Thio Cinjin."

"Baiklah,"

Kata Boe Kie.

"Siang Toako, ketuklah tulang punggungku yang kedelapan dan ketiga belas dengan kuku jarimu, ketuklah beberapa kali"

Gie Coen menjadi girang dan lalu melakukan apa yang diminta.

Di luar dugaannya begitu kedua tulang punggungnya diketuk, si bocah lantas saja menggerakkan kedua kakinya.

Ia bangun berdiri seraya berkata kepadanya "Siang Toako.

Kau telah berbuat apa yang kau bisa.

Dibelakang hari Thay Soehoe tak bisa menyesalkan kau."

Ia memutar badan dan berjalan keluar dengan tindakan lebar. Si brewok kaget.

"Mau kemana kau?"

Teriaknya.

"Kalau aku mati di Ouw tiap kok, bukankah nama Tiap kok Ie sian akan menjadi rusak?"

Jawabnya. Sambil berkata begitu, ia kabur dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan. Ouw Ceng Goe tertawa dingin.

"Nama Kian sie Poet kioe Ouw Ceng Goe sudah kesohor di kolong langit."

Katanya.

"Bukan baru satu orang yang roboh binasa diluar rumahnya." (Kian sie Poet kioe artinya Melihat kebinasaan tetap tidak menolong). Tanpa menghiraukan perkataan Soepehnya, Gie Coen segera mengubar. Mereka kedua duanya sama sama mendapat luka, tapi luka Cie Goan banyak lebih enteng dan tenaganya pun banyak lebih besar. Maka itu, dalam beberapa saat saja ia sudah bisa menyandak Boe Kie yang lalu dipeluknya dan dibawa balik kerumah paman guruya. Dengan kedua tangan belum bisa bergerak, si bocah tidak berdaya lagi.

"Ouw Soepeh apa benar benar kau tidak mau menolong?"

Tanya Gie Coen dengan napas tersengal sengal.

"Apa kau tidak tahu, bahwa aku bergelar Kian sie Poet kioe?"

Sang paman balas menanya.

"Perlu apa kau melit melit?"

"Tapi apakah Soepeh bersedia untuk mengobati luka didalam tubuhku?"

Tanya pula Siang Gie Coen.

"Tentu."

Jawabnya.

"Bagus!"

Kata si brewok girang.

"'Teecoe telah berjanji kepada Thio Cinjin nntuk menolong saudara kecil ini. Sesudah memberi janji itu, tee coe tak mau orang-orang partai sana mengatakan bahwa murid-murid Mo kauw tidak boleh dipercaya. Maka itu, begini saja, Teecoe tak usah di obati oleh Soepeh, tapi teecoe memohon supaya Soepeh sudi mengobati saudara kecil dengan demikian, satu ditukar dengan satu dan Soepeh tidak jadi rugi."

"Kau tahu bagaimana hebatnya Ciat sim ciang ?"

Tanya sang paman guru dengan paras sunguh-sungguh.

"Sesudah kena pukulan itu, jika didalam tempo tujuh hari, kau mendapat pertolongan seorang tabib kelas satu, maka lukamu akan menjadi sembuh. Sesudah lewat tujuh hari, hanya jiwamu yang dapat ditolong, sedang ilmu silatmu akan musna seanteronya. Sesudah lewat empat belas hari, tak satu tabibpun yang akan bisa menolong jiwamu."

"Ya, itulah karena meskipun melihat kebinasaan, Soepeh tidak sudi menolong,"

Jawabnya.

"Teecoe rela mati dan takkan merasa menyesal."

"Aku tak sudi ditolong olehmu!"

Teriak Boe Kie.

"Tak sudi! Kau mengerti?"

La menengok kearah siberewok dan berkata.

"Siang Toako, apa kah kau rasa Boe Kie manusia rendah? Kau menukar jiwamu dengan jiwaku. Andaikan aku hidup, aku akan hidup menderita. Tak bisa ada kejadian begitu !"

Gie Coen adalah laki-laki tulen. Tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi, ia membuka tali pinggangnya yang lalu digunakan untuk membelenggu kaki tangan Boe Kie dan kemudian mengikatkan kesebuah kursi.

"Lepas ! Lepas !"

Teriak bocah itu.

"Kalau kau tidak lepas, aku akan mencaci."

Si berewok tidak menggubris.

"Kian sie Poet kioe Ouw Ceng Goe!"

Teriak Boe Kie.

"Kau sungguh seperti kerbau tolol! Kau lebih rendah daripada binatang. Aku sedih, bahwa didalam Mo kauw terdapat manusia yang tidak bersifat manusia. Dan kau masih begitu tak mengenal malu, kau masih ada muka untuk membujuk aku masuk kedalam agamamu. Entah dosa apa yang ditumpuk oleh delapan belas leluhurmu, sehingga pada akhirnya, mereka mendapat turunan seperti kau, manusia yang lebih rendah dari pada anjing dan babi !"

Sesudah selesai mengikat Boe Kie, Gie Coen segera berkata .

"Ouw Soepeh, saudara Thio, selamat tinggal! Aku sekarang ingin mencari tabib."

"Di seluruh propinsi An hoei tidak terdapat tabib yang pandai,"

Kata Ceng Goa.

"Dan didalam tujuh hari, belum tentu kau bisa keluar dari propinsi ini."

Si brewok tertawa terbahak-bahak.

"Aku mempunyai Soepeh melihat kebinasaan, tak sudi menolong,"

Katanya.

"Dan kau mempunyai Soetit (keponakan murid) yang tidak mengenal mampus."

Seraya berkata begitu, dengar tindakan lebar ia berjalan keluar.

"Ouw Ceng Goe !"

Bentak Boe Kie.

"Kalau kau tidak mengobati Siang Toako, satu hari kau pasti akan binasa didalam tanganku ! Aku...aku.."

Ia tidak dapat meneruskan perkataannya, karena ia sudah pingsan. Ceng Goe mengeluarkan suara dihidung.

"Tak perlu kau mampus diluar rumahku,"

Katanya seraya mengambil sebatang daun obat yang lain di timpukkan kearah Gie Coen.

Batang daun obat itu menyambar bagaikan kilat dan mengenakan tepat dilutut si berewok, yang tanpa mengeluarkan suara, segera roboh terguling dan tidak bisa bangun lagi.

Memang aneh sungguh adat Ouw Ceng Coe.

Kalau dia kata "tidak"

Tetap tidak, kalau dia "mau", dia tetap mau.

Perkataan Boe Kie yang paling belakang, yakni aneaman "kalau kau tidak mengobati Siang Toako, satu hari kau pasti akan binasa didalam tanganku" , agak mengejutkan hatinya.

Melihat kegagahan Boe Kie dan mengingat bahwa anak itu murid Thio Sam Hong, ia merasa bahwa ancaman itu bukan ancaman kosong.

Ia seorang yang sangat berhati-hati.

Sesudah memikir sejenak berkata dalam hatinya.

"Biarlah, kedua-duanya tidak ditolong olehku. Perduli apa jika di Ouw tiap kok bertambah dengan dua setan penasaran"

Sesudah menimpuk Gie Coen, ia segera membuka ikatan Boe Kie dan mencekal kedua pergelangan tangan anak itu untuk dilontarkan sejauh jauhnya keluar.

Mendadak Ceng Goe terkejut, karena denyutan nadi si bocah sangat luar biasa.

Ia segera memeriksa lebih teliti dan rasa kagetnya bertambah tambah.

"Apakah bocah sekecil dia sudah bisa membuka Kie keng Pat meh"

Tanyanya dalam hati.

"Puluhan tahun aku berlatih, tapi belum dapat aku membuka pembuluh darahku. Oh, aku tahu! Tak salah lagi, inilah akibat bantuan Thio Sam Hong. Dia rupanya sangat sayang bocah itu dan rela mengorbankan sebagian Lweekangnya."

Ia lalu membuka pakaian Boe Kie dan memeriksa seluruh badannya. Sesudah itu, ia menekan tantian, dada, embun-embunan dan hati si bocah. Akhirnya ia tertawa dingin seraya berkata .

"Thio Sam Hong berlagak pintar, tapi dia jadi bodoh. Lantaran menyayang, dia mencelakakan cucu muridnya. Jikalau Kie keng Pat meh anak ini belum terbuka, jiwanya masih dapat ditolong. Tapi sekarang, racun dingin sudah buyar dan masuk ke dalam isi perutnya. Kecuali dewa, manusia biasa tak berdaya lagi. Huh huh! Kata orang, Boe tong Thio Sam Hong berkepandaian luar biasa tinggi. Tapi menurut penglihatanku, dia goblok berlapis dungu."

Beberaga saat kemudian, Boe Kie tersadar, dan melihat Ouw Ceng Goe sedang mengawasi api dapur obat dengan mata membelalak, sedangkan Siang Gie Coen masih juga menggeletak di jalanan berumput, diluar rumah.

Keadaan begitu sunyi senyap untuk beberapa lama, tak seorangpun membuka mulut.

Ouw Ceng Goe adalah seorang tabib yang telah mencurahkan seluruh penghidupannya untuk mempelajari ilmu ketabiban.

Kalau dia senang dengan mudah dia dapat menyembuhkan penyakit yang aneh-aneh.

Oleh karena itu, ia mendapat gelaran "Ie sian,"

Atau "Tabib Dewa."

Tapi, ia sekarang menghadapi racun yang sangat langka, yaitu racun dingin dari pukulan Hian beng Sin ciang.

Apa yang lebih luar biasa lagi, yalah pembuluh darah dari orang yang terkena racun itu, terbuka semuanya, sehingga racun tersebut sudah masuk kedalam perutnya.

Sebagaimana diketahui, dalam dunia ini, orang orang sangat sukar mendapat lawan yang setimpal.

Seorang ahli catur jempoan sukar mendapat lawan yang seimbang.

Jika menemui lawan begitu, ia bisa lupa makan dan lupa tidur.

Seorang ahli hitung juga pasti tak akan menyerah kalah sebelum dapat memecahkan teka teki hitungan yang sulit.

Hal yang sama sekarang dihadapi oleh Ouw Ceng Coe.

Penyakit Boe Kie merupakan tantangan baginya.

Ia sungkan mengobati Boe Kie tapi tantangan itu terlalu hebat untuk bisa dielakkan dengan begitu saja.

Tanpa merasa, ia mengasah otak, Beberapa lama, ia mengasah otak, tanpa berbasil.

Akhirnya dengan geregetan, ia berkata didalam hatinya.

"Baiklah. Lebih dulu aku akan menyembuhkan penyakitnya. Aku pasti bisa menyembuhkannya. Sesudah dia sembuh, masih banyak tempo untuk membinasakannya."

Sesudah memeras pikiran sejam lebih, ia mengeluarkan dua belas kepingan kecil tembaga dari sakunya.

Sambil mengerahkan Lweekang, ia menancapkan kepingan-kepingan logam tembaga itu di Tiongkie hiat (sebelah bawah tantian), di Thian touw hiat (sebelah bawah leher), di Cian keng hiat (dipundak) dan dilain lain jalan darah disekujur badan Boe Kie.

Sesudah kepingan tembaga itu ditancapkan, maka duabelas Keng siang meh terputus hubungannya dengan Kie keng Pat meh.

Keng siang meh ialah hati, paru paru, nyal i ginjal , usus besar, usus kecil dan lain lain, ialah dua belas macam isi perut dalam tubuh manusia.

Sesudah Keng siang meh terputus hubungannya dengan Kie keng Pat meh, maka racun dingin yang sudah masuk kedalam isi perut Boe Kie tidak bisa naik lagi kepembuluh darah dan untuk sementara, tidak berbahaya lagi.

Sesudah membuka semua jalanan darah yang tertotok di kaki tangan Boe Kie, dengan menggunakan batang rumput Tin ngay, Ouw Ceng Goe lalu membakar In boen hiat dan Tiang hoe hiat dipundak sibocah.

Kemudian, ia lalu membakar berbagai jalanan darah dari lengan sampai dijempol tangan, seperti Thian hoe hiat, Hiap pek hiat, Cek tek hiat dan sebagainya.

Setiap pembakaran disaban jalanan darah mengurangi racun dingin yang mengeram dalam isi perut Boe Kie.

Tapi cara itu, yaitu menggunakan hawa panas untuk melawan hawa dingin, menimbulkan kesakitan luar biasa dan penderitaan Boe Kie lebih hebat dari pada waktu mengamuknya racun dingin itu.

Tanpa mengenal kasihan, si tabib malaikat membakar terus dengan batang Tin ngay yang menyala nyala.

Sesudah selang beberapa lama, tubuh si bocah penuh dengan totol totolan hitam akibat pembakaran itu.

Boe Kie yang keras kepala sedikitpun sungkan memperlihatkan kelemahannya.

Jangankan berterlak kesakitan, merintihpun tidak.

Sebaliknya dari itu, ia masih bisa bicara dengan sang tabib sambil bersenyum senyum.

Meskipun tidak mengerti ilmu ketabiban, tetapi sesudah belajar ilmu Tiam hiat dari Cia soen, ia paham akan letaknya berbagai jalanan darah disekujur badan manusia.

Maka itu, waktu Ouw Ceng Goe bicara tentang soal ketabiban sambil membakar jalanan darahnya, sedikit-sedikit ia masih bisa melayaninya, Kadang kadang berdasarkan pengetahuannya akan ilmu Tiam hiat, ia malah memberi tafsiran atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tepat.

Hal ini menggembirakan sangat hati Tiap kok Ie sian.

Sebagaimana diketahui, ia hidup menyendiri disebuah selat yang terpencil dari dunia luar.

Manusia yang mengawaninya hanya kacung kacung yang membantunya mencari daun obat atau memasak obat.

Maka dapatlah dimengerti kalau sekarang kegembiraannya timbul sebab ia bisa bicara dengan seorang yang kelihatannya mengerti akan apa yang dibentangkan olehnya.

Setelah beberapa ratus jalanan darah yang bersangkut paut dengan Keng sian meh selesai di bakar, siang sudah berganti dengan malam.

Tak lama kemudian, seorang kacung membawa nasi dan sayur yang lalu ditaruh diatas meja dan kemudian ia membawa juga barang santapan keluar rumah untuk diberikan kepada Siang Gie Coen yang masih terus menggeletak diatas rumput.

Malam itu si berewok tidur diudara terbuka.

Waktu tiba temponya untuk mengaso, tanpa mengeluarkan sepatah kata, Boe Kie berjalan keluar rumah dan membaringkan dirinya diatas rumput, disamping Toako, sebagai tanda bahwa ia bersamaan nasib dengan si berewok.

Ouw Ceng Goe tidak memperdulikan, ia malah berlagak tidak melihat perbuatan Boe Kie.

Tapi didalam hati, diam-diam ia merasa heran dam kagum akan cara-caranya bocah cilik Itu.

Pada keesokan harinya, si tabib malaikat menggunakan tempo setengah hari untuk membakar "hiat"

Dari Kie keng Pat meh.

Keng siang meh adalah seperti sungai yang terus mengalir tak henti-hentinya, sedang Kie keng Pat meh seolah-olah telaga atau lautan yang menerima semua aliran itu.

Maka itu, usaha untuk mengusir racun dingin yang berkumpul di Kie keng Pat meh banyak sukar daripada usaha mengusir racun itu dari Keng Pat meh.

Sesudah selesai membakar berbagal "hiat"

Dari Kie keng pat meh, Ceng Goe segera memerintahkan kacungnya memasak semacam ramuan obat yang kemudian lalu diberikan kepada Boe Kie.

Obat itu dingin sifatnya dan dalam usaha babak kedua itu ia menggunakan dingin membasmi dingin.

Sehabis makan obat itu, Boe Kie mengigil hebat, tapi sesudah serangan itu mereda, ia merasakan badannya banyak lebih baik, lebih nyaman dan lebih segar.

Di waktu lohor si tabib malaikat meneruskan usahanya dengan menusuk berbagai jalanan darah Boe Kie dengan mengunakan jarum emas.

Selagi diobati dengan rupa rupa daya Boe Kie coba membujuk Ceng Goe, supaya dia suka mengobati Gie Coen, tapi orang aneh itu tidak meladeni dan hanya berkata.

"Gelar Tiap kok ie sian untukku sebenarnya kurang tepat dan aku tidak menyuka julukan itu. Gelar Kian sie Poet kioe barulah menyenangkan hatiku."

Sambil berkata begitu, ia menusuk Ngo kit hiat, diantara pinggang dan paha dengan jarum emas nya. Jalanan darah itu adalah tempat bertemunya Siauw yang dan Tay yang.

"Tay meh dalam tubuh manusia merupakan pembuluh darah yang paling aneh,"

Kata Boe Kie.

"Ouw Sinshe, apa kau tahu bahwa ada beberapa orang yang tidak mempunyai Tay meh ?"

Ceng Goe kaget.

"Omong kosong ! Tak bisa jadi!"

Bentaknya. Memang benar, Boe Kie hanya bicara sembarangan. Tapi ia berkata pula.

"Ouw Sinshe, dunia ini luas sekali dan didalam dunia terdapat banyak yang aneh aneh. Apalagi menurut katanya orang, Tay meh sebenarnya tidak memegang peranan penting dalam tubuh manusia."

"Aku mengakui, bahwa Tay meh adalah pembuluh darah yang agak aneh,"

Kata sitabib.

"Tapi jutsa besar, jika orang mengatakan, babwa Tay meh tidak berguna besar. Dalam dunia terdapat banyak tabib tolol yang tidak mengerti kegunaan dan pentingnya Tay meh. Aku mempunyai se

Jilid Kitab Tay meh. Kau bacalah sendiri,"

Ia segera masuk kedalam dan keluar lagi dengan membawa se

Jilid Buku tipis yang ditulis dengan tulisan tangannya sendiri, dan lalu menyerabkan kepada si bocah. Boe Kie membuka halaman yang pertama, dimana tertulis seperti berikut.

"Dua belas Keng siang meh dan Kie keng cit meh semua mengalir dari atas kebawah. Hanya Tay meh yang terletak di samping kempungan, mengalir dengan memutari pinggang, seperti juga sehelai ikatan pinggang. Dalam beberapa kitab pengobatan terdapat keterangan, bahwa Tay meh mempunyai empat hiat atau enam hiat. Itu semua salah. Tay meh sebenarnya mempunyai sepuluh hiat, dua di antaranya kadang kadang muncul, kadang kadang menghilang, sehingga sukar sekali dapat diraba"

Boe Kie membaca terus dengan teliti dan diam diam mengingat-ingat semua apa yang dibacanya.

Tiba-tiba ia teringat peristiwa Tan Yoe Liang yang coba mengabui kakek gurunya.

Kitab Tay meh itu tidak seberapa banyak isinya dan apa yang tertulis didalamnya ternyata sangat mudah dimengerti, sehingga jika dibandingkan dengan Kouw koat ilmu silat, kitab tersebut sepuluh kali lebih mudah dihafal.

Sesudah selesai membaca, si bocah lalu mengembalikan kitab itu kepada Ouw Ceng Gee.

"Kitab itu sudah pernah dibaca olehku,"

Katanya dengan suara tawar.

Pada waktu berusia tigapuluh tahun, Thay soehoe pernah menulis Coe hak Tay meh Jip boen Cian swee, yang bersamaan isinya dengan hubungan itu.

Entah Thay soehoe yang menelad (peep.

what is menelad?"

Keteranganmu atau kau yang menyontoh gubahan Thay soehoe,"

Ouw Ceng Goe tercengang, akan kemudian marah besar.

"Tahun ini aku baru berusia lima puluh satu tahun,"

Katanya didalam hati.

"Kau mengatakan, bahwa Thio Sam Hong menulis buku itu waktu ia berusia tiga puluh tahun dan karena ia sekarang sudah berumur seratus tahun lebih, maka ia menulis itu pada tujuhpuluh tahun berselang. Dengan lain perkataan lagi, akulah yang sudah mencuri buah kalamnya Thio Sam Hong. Kurang ajar! Kitab Tay-meh itu adalah hasil jerih-pajahku dan belum pernah didapat oleh siapapun jua dalam dunia ini. Kurang ajar ! Kau mengatakan Coe hak Tay meh Jip boen Cian swee, sudah 'Coe hak', 'Jip boen', sudah 'Jip boen', 'Cian swee' lagi! Kunyuk kecil ini benar-benar kurang ajar!" (Coe hak, artinya pelajaran permulaan, Jip boen adalah pendahuluan, Cian swee berarti perundingan yang cetek, tidak mendalam). Dalam gusarnya, ia menancapkan jarum emas dalam-dalam di pinggir jalanan darah, sehingga darah lantas saja keluar berketel ketel. Boe Kie kesakitan, hampir-hampir ia berteriak, tapi sambil menggigit bibir, ia menahan rasa sakit itu.

"Kalau kau tidak percaya, biarlah aku menghafal Coe hak Tay meh Jip boen Cian swee itu, yang digubah oleh Thay Soehoe,"

Katanya dengan tenang.

"Baiklah !"

Bentak Ceng Goe.

"Kalau salah sehuruf saja, tahu sendiri, aku akan segera mengambil jiwamu "

Selama di Pheng hwee to, semenjak berusia tima tahun, Boe Kie telah dipaksa menghafal Kouw koat ilmu silat oleh ayah angkatnya.

Salah sedikit saja, ia digaplok oleh ayah angkat yang galak itu.

Maka itulah, sesudah berlatih selama lima tahun, ia boleh dikatakan sudah menjadi ahli dalam ilmu menghafal.

Akan tetapi, mendengar ancaman Ouw Ceng Goe in keder juga.

Ia yakin, bahwa orang aneh itu dapat membuktikan ancamannya.

Diam diam ia merasa menyesal, bahwa ia berguyon guyon secara melampaui batas.

Tapi sekarang ia sudah tidak bisa mundur lagi.

Sambil mengempos semangat untuk mengumpulkan semua tenaga otak nya, ia mulai menghafal dengan suara nyaring .

"Duabelas Keng siang meh dan Kie keng Cit meh semua mengalir dari atas kebawah. Hanya Tay meh, yang terletak disamping kempungan, mengalir memutari pinggang, seperti sehelai ikatan pinggang..."

Makin lama, ia makin bersemangat dam akhirnya ia mendapat menyelesaikan hafalan itu dengan sempurna. Bukan main kagetnya Ceng Goa. Untuk beberapa saat, ia mengawasi si bocah dengan mata membelalak.

"Sungguh luar biasa"

Pikirnya.

"Anak itu mempunyai bakat K wee bak poet bong, Manusia yang seperti dia sukar dicari keduanya didalam dunia,"

Kwee bak poet bong artinya begitu melihat tidak bisa lupa Iagi.).

Ia tak tahu, bahwa dalam kuil Siauw lim sie terdapat Tan Yoe Liang yang kecerdasannya tidak berada di sebelah bawah Boe Kie.

Sesudah hilang kagetnya, tanpa merasa ia memuji.

"Pintar! Kau sungguh pintar !"

Sehabis berkata begitu, ia segera menusuk sepuluh "hiat"

Dari Tay meh Boe Kie dengan jarum emasnya. Sehabis mengaso sebentar, Ceng Goe mendapat ingatan untuk mencoba lagi.

"Disamping kitab Tay meh, aku memiliki kitab Coe ngo Ciam cie keng,"

Katanya.

"Coba kau lihat. Apakah Thio Sim Hong juga sudah pernah menggubah kitab yang seperti itu ?"

Ia segera masuk kedalam dan keluar lagi dengan membawa 12

Jilid kitab tulisan tangan.

Boe Kie segera membalik-balik lembarannya.

Setiap halamannya penuh huruf-huruf kecil yang menerangkan kedudukan jalanan darah, beratnya timbangan obat, waktu dan cetek dalamnya tusukan jarum emas.

Semua diterangkan dengan jelas sekali.

"Untuk membaca dua belas

Jilid sedikitnya memerlukan tempo tiga atau empat hari,"

Pikirnya.

"Bagaimana aku dapat menghafal dalam tempo cepat? Biarlah aku coba saja mencari ilmu untuk mengobati luka Siang Toako."

Dengan cepat ia membalik-balik lembaran kitab-kitab itu dengan hanya memperhatikan judulnya. Waktu memeriksa

Jilid kesembilan, dibagian Ciang siang Cie hoat (Cara mengobati luka pukulan telapak tangan), ia melihat petunjuk-petunjuk untuk mengobati luka Tiat see ciang, Tok ciang, Kay san ciang dan sebagainya.

Waktu ia meneliti lagi sampai di halaman seratus delapanpuluh, barulah ia bertemu dengan cara pengobatan luka terkena pukulan Ciat sim ciang.

Ia jadi sangat girang.

Ia lalu membaca dan mempelajari apa yang tertulis disitu.

Ia mendapat kenyataan bahwa keterangan mengenai pukulan itu diberikan jelas sekali, tapi cara mengobatinya sangat sederhana dan ringkas.

Mengenai itu hanya ditulis seperti berikut "Turun tangan mulai dari Cie kiong hiat, Tiong tseg hiat.

Koan goan hiat dan Thian tie hiat.

Sesudah itu, memberi obat dengan melihat perubahan Im yang dan Ngoheng, meninjau lima hawa udara yaitu.

dingin, panas, kering, basah dan angin dan memperlihatkan lima perasaan girang, gusar, jengkel, banyak pikiran dan bersemangat dari si sakit.

"Dalam ilmu pengobatan Tionghoa terdapat banyak perubahan dan tidak ada peraturan yang tentu. Untuk mengobati serupa penyakit si tabib biasa memberi obat dengan memperhatikan hawa udara, siang atau malam, lelaki atau perempuan, besar atau keci dan sebagainya. Sementara itu, sesudah membaca beberapa kali, Boe Kie berkata dalam hatinya.

"Yang paling penting yalah coba menolong Siang Toako. Aku tidak boleh mengejek tabib malaikat ini."

Di bagian terakhir Ciang siang Cie hoat, ada tertulis Hian beng Sin ciang. Kehebatan pukulan itu diterangkan jelas, tapi dibagian cara pengobatan tertulis.

"Tidak ada."

Ia lalu menutup kitab itu dan dengan sikap hormat menaruhnya diatas meja.

"Dalam ilmu silat, Ouw Sinshe tidak dapat menandingi Tay soehoe, tetapi di dalam ilmu ketabiban, Tay Soe hoe tidak bisa melawan Ouw Sinshe,"

Katanya.

"Coe ngo ciam cie keng luas dan dalam, Tay Soehoe tak akan dapat menggubah kitab seperti itu. Akan tetapi, mengenai pengobatan pukulan telapak tangan, apa yang dipelajari Ouw Sinshe belum dapat melampaui pelajaran Tay Soehoe."

Sehabis berkata begitu, ia segera menghafal Ciang Siang Cie hiat yang terdiri dari mengobati seratus lebih macam pukulan telapak tangan, dan dalam menghafal itu, tidak sehuruf pun yang salah atau ketinggalan.

Akhirnya ia berkata.

"Luka boanpwee akibat pukulan Hian beng Sin ciang tak dapat diobati oleh Tay soehoe. Mungkin sekali Ouw Sinshepun tidak berdaya"

Ouw Ceng Goe tertawa dingin.

"Tak usah kau memanaskan hatiku,"

Katanya.

"Kau saksikan saja sendiri apa benar aku tidak berdaya. Tapi sesudah aku menyembuhkan kau, belum tentu kau bisa hidup lama."

Walaupun Boe Kie pintar luar biasa, ia tidak mengerti maksud sebenarnya dari perkataan si tabib yang ingin membinasakannya sesudah menyembuhkannya, supaya sesuai dengan kebiasaannya, bahwa ia tidak pernah menolong orang yang diluar lingkungan "agama"

Sesat. Dengan tujuan satu-satunya untuk menolong Siang Gie Coen. sibocah lantas saja berkata.

"Ouw Sinshe, jika boanpwee tidak bisa hidup lama, boanpwee ingin sekali bisa membaca lagi kitab Coe ngo Ciam cie keng yang sangat luar biasa itu."

Ouw Ceng Goe tidak lantas menjawab.

Sesudah menimbang sejenak, ia menganggap tidak halangan jika ia meluluskan permintaan itu, sebab biar bagaimana juapun, bocah itu tidak akan bisa keluar dari Ouw tiap kok dengan masih bernyawa.

Ia mengangguk seraya berkata "Boleh, kau boleh membaca sesukamu."

Biarpun adatnya aneh, tidak dapat disangkat lagi bahwa Ouw Ceng Goe adalah salah seorang manusia luar biasa yang berkepandaian tinggi dan berpengetahuan luas. Hanya sesudah masuk kedalam "agama"

Sesat, ia membenci manusia biasa dan lebih membenci lagi orang orang Rimba Persilatan yang menjadi anggauta dari partai-partai lurus bersih.

Makin lama, adatnya jadi makin aneh dan ia hidup menyendiri ditempat yang terpencil.

Tapi, sebagai manusia biasa kadang-kadang ia merasa manyesal, bahwa ia tidak mempunyai kawan untuk bersama-sama merundingkan atau mempelajari ilmu ketabiban dan iapun merasa sangat kesepian.

Oleh sabab itu, maka kedatangan Boe Kie, yang sangat pintar dan yang kagum akan kepandaiannya, pada hakekatnya menyenangkan hatinya yang kosong sunyi.

Sesudah mendapat perkenan, siang malam Boe Kie mempelajari isi kitab-kitab Ceng Goe.

Sering sering ia lupa makan dan lupa tidur.

Ia bukan saja membaca belasan macam kitab yang ditulis oleh Ouw Ceng Goe sendiri, tapi juga banyak kitab lain, sepetti Oay Tee Lweekang, Hoa To, Lwee ciauw touw, Cian kim ek dan sebagainya.

Tujuan si bocah yang sesungguhnya, tidak dapat ditebak oleh Ouw Ceng Gee yang menganggap, bahwa karena tidak mengerti kitab gubahannya sendiri, maka Boe Kie yang sungkan menanya secara langsung, sudah membongkar kitab-kitab ketabiban kuno untuk mencari penjelasannya.

Beberapa hari telah lewat.

Selama beberapa hari itu, Boe Kie telah bisa menghafal banyak kitab, akan tetapi, ilmu pengobatan yang dalam dan luas mana bisa dipahamkannya dalam beberapa hari saja?

Ia menghitung hitung dan ternyata ia sudah berdiam di Ouw tiap kok enam hari lamanya.

Ia jadi bingung.

Menurut katanya Ouw Ceng Goe, jika didalam tempo tujuh hari, Cie Coen bisa mendapat pertolongan tabib yang pandai, maka lukanya akan sembuh seanteronya.

Jika lewat tujuh hari, andaikata bisa sembuh, ilmu silat Gie Coen akan musnah semuanya.

Dan sekarang, si berewok sudah menggeletak diluar rumah enam hari enam malam lamanya.

Apakah ia akan bisa menolong jiwa Siang Toako?

Hari itu turun hujan besar dan Gie Coen separuh terendam diair, tapi sang paman guru tak menghiraukannya.

Melihat begitu, Boe Kie mendongkol bukan main dan didalam hati, ia mencaci si tabib malaikat yang berhati kejam.

Malamnya hujan turun makin besar.

Kilat menyambar nyambar, diiringi guntur dan petir yang menggetarkan bumi.

Boe Kie tak bisa mempertahankan diri lagi.

Sambil mengertak gigi, ia berkata dalam hatinya.

"Biarpun aku mesti membunuh Siang Toako, tak dapat aku mengawasi penderitaannya dengan berpeluk tangan."

Dari laci obat Ouw Ceng Goe, ia segera mengambil delapan batang jarum emas dan lalu menghampiri Gie Coen.

"Siang Toako,"

Katanya dengan suara parau.

"Selama beberapa hari siauwtee telah mempelajari kitab-kitab Ouw Sinshe dan biarpun belum mengerti benar, tapi karena keadaan memaksa, siauwtee ingin coba menggunakan jarum untuk mengobati Toako. Andaikata terjadi kejadian yang tidak di harapkan, siauwteepun tidak bisa hidup sendirian dalam dunia ini."

Gie Coen tertawa terbabak bahak.

"Saudara kecil jangan kau mengatakan begitu,"

Katanya.

"Lekas gunakan jarum itu. Kalau kau berhasil, Soe peh akan merasa malu sekali. Andaikata aku mati, aku memang lebih suka mati daripada berendam dikobakan ini."

Dengan tangan gemetar Boe Kie mencari jalan darah Gie Coen dan kemudian menancapkan sebatang jarum emas di Koan goan hiat.

Tapi, begitu ditacapkan, jarum itu bengkok dan tidak bisa masuk terus ke dalam daging.

Hal ini bisa dimengerti, karena bukan saja si bocah belum pemah menggunakan jarum tersebut, tapi jarum itupun lemas luar biasa, sehingga untuk memasukkannya ke dalam daging, orang harus menggunakan Lweekang yang tinggi.

Boe Kie terpaksa mencabutnya lagi.

Menurut biasa, jika jarum masuk tepat di jalanan darah, darah tidak keluar.

Tapi sekarang, sebab si bocah menusuk salah, maka begitu jarum tercabut, darah Gio Coen lantas saja keluar berketel-ketel.

Koan goan hiat yang terletak dikempungan manusia, merupakan salah satu "hiat"

Yang paling berbahaya.

Melihat darah merembas keluar tak hentinya, Boe Kie jadi bingung.

Sekonyong-konyong di belakangnya terdengar suara orang tertawa berkakakan.

Ia menengok dan melihat Ouw Ceng Goe yang berdiri sambil menggendong tangan, dengan paras muka berseri seri.

"Ouw Sinshe,"

Kata Boe Kie dengan suara bingung.

"Koan goan hiat Siang Toako mengeluarkan darah. Bagaimana baiknya ?"

"Tentu saja aku tahu bagaimana baiknya,"

Jawabnya.

"Tapi perlu apa aku memberitahukan kau ?"

"Ouw Sinshe, mengapa kau begitu kejam?"

Kata Boe Kie dengan suara keras.

"Begini saja. Satu jiwa ditukar dengan satu jiwa. Tolonglah Siang Toako. Sesudah kau menolong, aku akan segera binasa dihadapanmu."

"Kalau aku kata tidak, tetap tidak,"

Kata Ceng Goe dengan suara tawar.

"Aku hanya Kian sie Poet kioe Ouw Ceng Goe. Aku bukan Boe siang (setan yang biasa membetot jiwa orang). Kalau kau mampus, sedikitpun tiada sangkut pautnya dengan aku. Andaikata sepuluh Boe Kie mati, akupun tidak akan menolong satu Siang Gie Coen."

Boe Kie mengerti, tiada gunanya ia memohon mohon lagi.

Ia tahu, bahwa ia tak akan bisa menggunakan jarum emas itu yang terlampau lemas.

Mencari jarum baja atau jarum besi sudah tidak keburu lagi.

Sesudah memikir sejenak, buru buru ia mematahkan sebatang bambu.

Dengan menggunakan pisau, ia membuat beberapa biting bambu dan kemudian, tanpa memikir lagi ia menancapkannya di Cie kiong, Siong tong, Koen goan dan Tian tie hiat.

Sesaat kemudian Gie Coen muntahkan darah hitam beberapa kali.

Boe Kie jadi bingung.

Sesudah menusuk jalanan darah orang, ia tak tahu apa penyakitnya jadi lebih enteng atau lebih berat.

Ia mengawasi muka Ouw Ceng Goe dan melihat, bahwa, meskipun sikapnya acuh tak acuh, paras muka sitabib malaikat menunjuk rasa kagum.

Ia sekarang tabu, bahwa usahanya yang pertama telah berhasil dan hatinya girang.

Buru-buru ia masuk kedalam rumah dan sambil membaca beberapa kitab, ia mengasah otak untuk coba menulis surat obat.

Ia tahu obat apa bisa digunakan untuk menyembuhkan penyakit apa, tapi ia belum pemah melihat macamnya obat itu dan juga tidak mengerti, berapa banyak si sakit barus diberikan.

Sesudah berpikir beberapa lama dengan nekat ia lalu menulis surat obat yang lalu diserahkan kepada sikacung tukang masak obat dengan berkata.

"Masaklah obat ini"

Si kacung membawa surat obat itu kepada majikannya dan menanya, apakah ia boleh turut perintah Boe Kie. Ceng Goe mengeluarkan suara dihidung dan berkata pada dirinya sendiri.

"Hmm ! Benar benar gila !"

Ia berpaling kepada kacungnya dan berkata.

"Boleh. Masaklah obat menurut timbangannya. Kalau dia tidak mati, benar-benar rejekinya besar."

Boe Kie mongerti apa maksudnya perkataan itu.

Cepat-cepat ia merebut pulang surat obat itu, mengurangkan timbangannya dan kemudian baru menyerahkannya kembali kepada si kacung.

Sesudah dimasak, Boe Kie membawa obat itu kepada Gie Coen dan berkata dengau air mata berlinang-linang.

"Siang Toako, minumlah obat ini. Apa untung, apa celaka, siauwtee sendiri tak tahu"

"Bagus! Bagus!"

Kata siberewok sambil tertawa "Inilah yang dikatakan, tabib buta mengobati kuda picek."

Sambil meramkan mata ia segera minum habis semangkok obat itu.

Malam itu Gie Coen menggelisah.

Ia merasa perutnya seperti disayat pisau dan dari mulutnya terus mengeluarkan darah.

Tanpa menghiraukan hujan dan hawa dingin, semalaman suntuk Boe Kie menemani sisakit.

Pada esokan paginya, hujan berhenti dan darah yang dimuntahkan Gie Coen makin lama jadi makin sedikit.

Warna darah juga berubah, dari hitam menjadi ungu, dari ungu berubah merah.

"Saudara kecil,"

Kata Siang Gie Coen dengan girang.

"Obatmu teryata tidak membinasakan manusia. Aku merasa badanku banyak lebih enak, lebih nyaman."

"Bagaimana? Obat siauwtee boleh juga bukan?"

Kata sibocah sambil menyengir.

"Lebih dari boleh juga!"

Memuji Gie Coen.

"Hanya obatmu mungkin terlalu keras, perutku seperti diiris-iris pisau."

"Ya, mungkin terlalu keras,"

Kata Boe Kie dengan rasa jengah.

Sebenarnya, obat yang diberikan oleh Boe Kie kepada Gie Coen bukan hanya terlalu keras, tapi beberapa lipat kali terlalu keras.

Kalau Gie Coen tidak mempunyai badan yang sangat kuat, siang siang ia sudah binasa.

Sesudah membersihkan badan, Ouw Ceng Goe berjalan keluar.

Melihat paras muka Siang Gie Coen ia terkesiap.

Ia tak nyana, bahwa Boe Kie benar-benar sudah berhasil menyembuhkan luka si borewok.

Sementara itu, sibocah sudah menulis surat obat untuk menguatkan badan dan lain menyerahkannya kepada sikacung untuk dimasak.

Ia memasukkan segala macam obat kuat, seperti Jinsom, Lok jiong, Souw ouw dan sebagainya.

Dalam rumah Ouw Ceng Goe terdapat rupa rupa obat, dari yang paling murah sampai yang paling mahal harganya.

Sesudah minum obat kuat enam tujuh hari beruntun, bukan saja kesehatannya, tapi kepandaian silat Gie Coen juga sudah pulih kembali.

Beberapa hari kemudian, ia berkata begini kepada Boe Kie.

"Saudara kecil, lukaku sudah sembuh Sekarang saja kita berpisahan "

Selama kurang lebih sebulan Boe Kie telah berkawan dengan pemuda itu dan mereka berdua sama-sama merasakan banyak penderitaan.

Mereka telah menjadi seperti saudara kandung dan dapatlah dimengerti, jika sibocah merasa sedih waktu mendengar perkataan sang kakak.

Ia tak dapat mengeluarkan sepatah kata.

Ia hanya mengangguk dengan air mata berlinang-linang.

"Saudara kecil, jangan kau bersusah hati,"

Membujuk Gie Coen.

"TIga bulan kemudian, aku akan kembali untuk menengokmu. Kalau racun dingin sudah diusir bersih dari badanmu, aku akan segera mengantarkan kau pulang ke Boe tong."

Ia masuk kedalam rumah dan berlutut dihadapan Ouw Ceng Goe.

"Ouw Soepeh,"

Katanya.

"sekarang teecoe sudah sembuh sama sekali. Biarpun benar saudara Thio yang mengobati, akan tetapi, pengobatan itu diberikan berdasarkan petunjuk kitab kitab Ouw Soepeh. Disamping itu, teecoe juga telah menghabiskan banyak sekali obat-obatan Soepeh yang berhanga mahal. Untuk itu semua, teecoe hanya bisa menghaturkan banyak-banyak terima kasih."

Sang paman guru manggut manggutkan kepalanya.

"Tak apa,"

Katanya.

"Lukamu memang sudah sembuh, hanya sayang, usiamu berkurang dengan tigapuluh tahun."

Gie Coen tidak mengerti.

"Apa yang dimaksudkan Soepeh ?"

Tanyanya.

"Dilihat dari kekuatan badanmu, paling sedikit kau bisa hidup sampai usia delapanpuluh tahun,"

Menerangkan sang paman guru.

"Tapi karena bocah itu membuat kesalahan dalam memberi obat dan membuat kesalahan pula waktu menusuk jalanan darahmu, maka, setiap kali bertemu delapan musim hujan angin, sekujur badanmu akan dirasakan sakit. Menurut taksiranku, kau hanya bisa berusia sampai lima puluh tahun."

Si berewok tertawa terbabak-bahak.

"Ouw Soe peh,"

Katanya dengan suara lantang.

"jika seorang laki-laki bisa menolong sesama manusia dan mengabdi kepada negara, berusia sampai empat puluh tahun saja kurasa sudah cukup. Jika seorang hidup tanpa tujuan, maka biarpun ia bisa berumur seratus tahun, hidupnya percuma saja."

Ceng Goe tidak mengatakan suatu apa, ia hanya mengangguk beberapa kali.

Boe Kie mengantar Gie Coen sampai dimulut selat Ouw tiap kok den kemudian mereka berpisahan sesudah memeras banyak air mata.

Sambil mengawasi bayangan si barewok yang makin lama jadi makin jauh, Boe Kie bertekad untuk mempelajari ilmu pengobatan, supaya dibelakang hari ia dapat memulihkan usia Gie Coen, yang menurut katanya Ouw Ceng Goa, akan berkurang tigapuluh tahun.

Setiap hari dengan telaten, Ceng Goe menggunakan jarum emas dan memberi obat untuk mengusir semua racun dingin yang masih mengeram dalam tubuh sibocah.

Sementara itu, diwaktu luang, Boe Kie tidak menyia-nyiakan tempo.

Tanpa kenal capai, ia membaca dan mempelajari kitab kitab ketabiban.

Jika ada bagian yang tidak dimengerti, ia memohon petunjuk dari Ouw Ceng Goe yang memberinya dengan segala senang hati.

Perlahan-lahan tabib malaikat itu mulai merasa suka terhadap sibocah pintar itu.

sekali hatinya terbuka, tanpa sangsi-sangsi, ia memberi segala pelajaran yang dimilikinya.

Kadang-kadang bocah itu mengajukan pertanyaan mengenai hal-hal yang belum pemah dipikir olehnya sendiri.

Rasa kagum orang tua itu terhadap Boe Kie jadi makin besar.

Semula, ia berminat membinasakan Boe Kie begitu lekas lukanya sembuh.

Tapi sekarang ia merasa, bahwa jika sibocah binasa, ia akan hidup kesepian.

Maka itulah, waktu memberi obat, ia sengaja mengurangkan timbangannya untuk menunda penyembuhan dan penunda pula kebinasaan anak itu.

Sesudah lewat satu dua bulan, dengan rasa heran Ceng Goe mendapat kenyataan, bahwa sesudah menggunakan rupa-rupa cara, ia masih belum juga bisa mengusir racun dingin yang berkumpul di Sam cauw.

Belasan hari ia memeras pikiran dan bekerja keras, tapi hasilnya nihil sehingga rambutnya bertambah uban.

( Samcouw -Hormon).

Pada suatu hari, sambil menghela napas ia berkata.

"Ilmu silat Thay soehoemu sangat tinggi, tapi dalam ilmu ketabiban, ia mencelakakan kau. Sesudah kau kena pukulan Hian beng Sin ciang, ia membuka Kie keng Pat mehmu. Betul-betul gila!"

"Bukan, bukan Thay soehoe yang membuka pembuluh darahku,"

Membantah Boe Kie.

Sesudah berkumpul dengan Ouw Ceng Goe beberapa bulan, ia merasa bahwa meskipun beradat aneh, tabib melaikat itu bukan manusia jahat.

Maka itu, tanpa diminta, ia lantas saja meneceritakan riwayat hidupnya.

Ia juga menuturkan pengalamannya dikuil Siauw lim sie, ketika ia datang untuk belajar Siauw lim Kioe yang kang.

Sesudah menunduk beberapa saat, tiba-tiba saja Ceng Goe menepuk paha dan berkata.

"Boe Kie, pendeta Siauw lim itu pasti dengan sengaja mencelakakan kau !"

Si bocah terkejut.

"Aku belum pernah mengenalnya, ada perlu apa dia harus mencelakakan aku?"

Tanyanya.

"Hal........ hal ini sungguh aneh,"

Kata pula Ceng Goa.

"Coba kau ceritakan terlebih jelas semua pengalamanmu di Siauw sit san."

Boe Kie menurut dan lantas saja mengulang penuturannya secara lebib jelas. Tiap kok Ie sian tampak berjalan mundar mandir sambil menggendong kedua tangannya. Sekonyong konyong ia berteriak.

"Tidak bisa salah lagi. Pendeta itu memang sengaja mencelakakan kau. Thay soehoemu tidak mengerti ilmu ketabiban dan juga ia adalah seorang yang sangat percaya segala manusia. Maka itu, ia tidak bercuriga. Coba kau pikir, Goan tin adalah seorang yang mahir dalam ilmu Siauw lim Kioe yang kang dan ia juga bisa membantu kau dalam membuka Kie keng Pat mehmu. Dengan lain perkataan, ia sudah memiliki Lweekang sangat tinggi. Maka itu, begitu lekas kedua telapak tangannya menempel dengan telapak tanganmu, ia pasti tahu, bahwa dalam tubuhmu mengeram racun dingin. Tapi, ia malah sengaja membuka pembuluh darahmu. Apakah, dengan begitu, ia bukan sengaja mencelakakan kau?"

"Tapi, dari sebelum menobloskan tembok, ia memang sudah berniat untuk bantu membuka Kie keng pat mehku,"

Kata Boe Kie.

"Waktu ia belum tahu, bahwa aku kena pukulan Hian beng Sin ciang."

Ceng Goe geleng gelengkan kepalanya.

"Sebab apa Goan tin mau mencelakakan kau, aku masih belum tahu,"

Katanya.

"Kau mengatakan, bahwa sebab belum pernah kenal satu sama lain, maka tak mungkin ia mencelakakan kau. Akan tetapi, kau harus ingat, bahwa kau sudah belajar Siauw Lim Kioe yang kang, yang mungkin dianggap olehnya sebagai miliknya sendiri. Hal ini sudah cukup untuk menimbulkan niatan membunuh kau di dalam hatinya"

"Menurut katanya Thay Soehoe Siauw lim sie dan Boe tong adalah pemimpin dari partai partai yang lurus bersih"

Kata Boe Kie.

"Menurut pendapatku biarpun dalam kuil Siauw lim sie terdapat orang orang yang berpemandangan sempit, akan tetapi, mereka pasti tidak akan bertindak secara begitu hina dina. Apa pula Thay soehoe sendiri telah menyerahkan Thay kek Sip sam sit dan Boe tong kioe yang kang kepada mereka sebagai penukaran. Dalam hal ini pada hakekatnya pihak Siauw lim yang lebih untung."

Ouw Ceng Goe tertawa dingin.

"Lurus bersih!", menegasnya.

"Apakah ayah dan ibumu bukan didesak sehingga binasa oleh orang orang dari partai lurus bersih? Dengan menganggap, bahwa mereka putih bersih, mereka berlaku sangat kejam terhadap orang orang dari partai yang dianggapnya sesat. Padahal, orang orang partai lurus bersih belum tentu baik semuanya, sedang orang dari partai sesat belum tentu jahat seanteronya."

Kata kata itu menyentuh hati Boe Kie.

Ia ingat, bahwa yang mendesak hebat sehingga mengakibatkan binasanya kedua orang tuanya, sebagian besar terdiri dari orang orang partai lurus bersih, seperti Siauw lim, Koen loan dan Khong tong pay.

Bahkan paman pamannya dari Boe tong pay telah menyaksikan pembunuhan diri kedua orang tuanya dengan berpeluk tangan.

Memang benar mereka berduka, akan tetapi, didalam hati menganggap bahwa binasanya kedua orang tuanya adalah kebinasaan yang sepantasnya.

Pendapat itu sudah lama sekali terkandung dalam lubuk hatinya, tapi sebegitu jauh, ia belum pernah berani mengatakan secara terang terangan.

Sekarang, begitu mendengar perkataan Ouw Ceng Goe, ia menggigil dan menangis keras.

"Ya, dunia memang begitu,"

Kata Ceng Goe dengan suara tawar.

"Baru menemui satu soal saja, kau sudah menangis. Jika kau tidak mati hari ini, dihari kemudian kau bakal mengalami banyak sekali kejadian kejadian yang dapat mengucurkan air matamu. Boe Kie buru buru menyusut air matanya.

"Kau mengatakan, bahwa kau belum pernah melihat muka Goan tin,"

Kata pula si tabib malaikat "Tapi bagimana kau tahu, bahwa dia tidak mengenal kau?

Suara orang dapat diubah bahkan muka masih bisa diubah.

Dia tidak mau menemui kau.

Hal ini saja sudah menerbitkan kecurigaan.

Kau mengatakan, bahwa tanpa sebab, seseorang pasti takkan mencelakakan kau.

Apa kau tahu pasti, bahwa aku tidak ingin membunuh kau?

Biarlah aku berterus terang.

Karena melihat penyakitmu sangat aneh, maka aku sudah mau berusaha untuk mengobati kau.

Tapi berbareng dengan itu, akupun telah mengambil keputusan, bahwa begitu lekas kau sembuh, aku akan segera mengambil jiwamu!"

Boe Kie bergidik. Ia mengerti, bahwa apa yang dikatakan oleh si orang aneh tidak mudah dapat dirubah lagi. Ia menghela napas seraya berkata.

"Racun dingin dalam tubuhku tak dapat diusir keluar lagi seanteronya. Tanpa kau turun tangan, aku akau mati sendiri. Hai! Manusia di dunia agaknya merasa senang jika melihat orang lain celaka atau mati. Bukankah orang yang belajar silat bertujuan untuk membunuh sesama manusia?"

Ouw Ceng Goe mendongak dan dengan mata membelakak ia mengawasi langit. Sesudah lewat kian lama, ia berkata dengan suara parau.

"Di waktu masih muda aku mempelajari ilmu ketabiban dengan tekad untuk menolong sesama manusia. Akan tetapi, orang-orang yang ditolong berbalik mencelakakan aku. Aku pernah menolong jiwa seorang yang mendapat tujuhbelas lubang luka bacokan. Dia sebenarnya sudah mesti mati. Tiga hari tiga malam aku tidak tidur dan dengan seantero kepandaian, aku berhasil menyembuhkannya. Belakangan aku mengangkat saudara dengannya. Tak dinyana, ia akhimya membinasakan adik perempuanku, adik kandungku. Siapa dia? Dia sekarang seorang tokoh besar yang namanya besar pula dari sebuah partai lurus bersih."

Dengan rasa kasihan, Boe Kie mengawasi muka Ceng Goe yang diliputi dengan sinar kedukaan.

"Kalau begitu ia mendapat gelaran Kian sie poet kioe karena ia telah mengalami kejadian hebat,"

Katanya didalam hati. Darahnya lantas saja meluap dan ia menanya.

"Siapa adanya manusia binatang itu? Mengapa kau tidak cari padanya untuk membalas sakit hati?"

"Pada waktu mau meninggal dunia.

"adikku telah memaksa aku bersumpah, bahwa aku tak akan coba membalas sakit hati,"

Jawabnya.

"Lebih gila lagi, ia minta aku berjanji bahwa kalau manusia itu berada dalam bahaya, aku mesti menolong. Dapat dimengerti jika aku menolak tuntutan itu. Tapi, sebelum aku meluluskan adikku tidak akan mati dengan mata meram. Hati Adikku....hatinya terlalu mulia. Akhirnya aku tak dapat tidak meluluskan permintaannya yang paling penghabisan itu."

Sehabis berkata begitu air matanya berlinang-linang.

Baru sekarang Boe Kie insyaf, bahwa Ouw Ceng Goe bukan manusia yang tak punya perasaan.

Tak bisa salah, antara saudara angkatnya dan adik perempuannya mempunyai hubungan yang sangat erat, kalau bukan suami isteri, tentulah juga sepasang kecintaan.

Tiba-tiba Ceng Goe berkata dengan suara keras "Ingatlah apa yang dikatakan olehku, tak boleh kau menyebut-nyebut lagi dihadapanku.

Jika kau membocorkan pembicaraan ini kepada orang lain, aku akan membuat kau hidup tidak, matipun tidak."

Boe Kie sebenarnya ingin menjawab dengan beberapa perkataan tajam, tapi ia segera mengurungkan niatnya, karena ia merasa bahwa pada hakekatnya Ouw Ceng Goe adalah seorang yang harus dikasihani.

"Baiklah, aku berjanji tak akan bicara lagi mengenai hal itu."

Katanya. Tabib malaikat itu kemudian mengusap-ngusap rambut si bocah dan berkata sesudah menghela napas berulang-ulang.

"Kasihan! Kasihan!"

Sehabis berkata begitu, ia masuk keruang dalam.

Sesudah terjadi pembicaraan diatas, berulang kali Ceng Goe memeriksa tubuh Boe Kie dan siang malam is mengasah otak, tapi ia tidak mendapat jalan untuk membasmi racun dingin yang sudah masuk kedalam Sam ciauw.

Ia sekarang yakin, bahwa biarpun ia berusaha sebisa bisa dengan menggunakan ilmu pengobatan yang paling tinggi, paling banyak ia bisa-bisa memperpanjang umur si bocah dengan beberapa tahun saja.

Sementara itu, karena berada dipergunungan yang sepi, Boe Kie merupakan seorang kawan yang sangat menyenangkan, maka diwaktu-waktu luang Ceng Goe memberi petunjuk dan pelajaran ilmu ketabiban kepada si bocah yang terus belajar dengan rajin dan tak mengenal capai.

Melihat kecerdasan bocah itu yang dalam tempo singkat sudah dapat memahami kitab-kitab Oey te Ha mo keng, See hong Coe beng tong Cie keng, Tay peng seng Hoei hong dan sebagainya, Ceng Goe menghela napas seraya berkata.

"Dengan kecerdasanmu, dibantu olehku sendiri, sebelum berusia duabelas tahun, kau sudah akan hisa merendengi Hoa To atau Pian Ciak. Hanya sayang ....sungguh sayang!"

Ia merasa sayang, karena dengan berusia pendek, semua kecerdasan dan kepandaian itu, tiada gunanya.

Tapi Boe Kie mempunyai lain tujuan.

Ia belajar ilmu ketabiban dengan tekad untuk memulihkan usia Siang Gie Coen yang menurut Ouw Ceng Goe, akan berkurang dengan tigapuluh tahun.

Hari berlalu laksana terbang dan tanpa terasa, dua tahun sudah berselang, Boe Kie sekarang sudah berusia empat belas tahun.

Selama dua tabuh itu beberapa kali Gie Coen datang menengoknya.

Ia memberitahukan, bahwa Thio Sam Hong memperkenankannya, untuk berdiam lebih lama di Ouw tiap kok, sampai racun dingin dalam tubuhnya dapat dibasmi seluruhnya.

Ia juga menyampaikan warta bahwa makin lima orang Mongol jadi ganas, bahwa rakyat menderita dan permusuhan antara partai lurus bersih dan partai sesat makin menghebat dan jumlah manusia yang menjadi korban makin meningkat.

Setiap kali datang di Ouw tiap kok, Siang Gie Coen berdiam beberapa hari dan kemudian pergi lagi.

Pada kedatangannya yang terakhir, Boe Kie telah mendapat kemajuan pesat dalam pelajaran ilmu ketabiban.

Ia memeriksa nadi Siang Gie Coen dan kemudian menulis obat yang lalu diberikan kepada si berewok dengan pesanan bahwa ia harus sering-sering minum obat itu.

Gie Coen menghaturkan banyak terima kasih dan lalu memasukkan surat obat itu kedalam sakunya.

Kali ini, dalam kamar paman gurunya, Gie Coen beromong-omong dengan orang tua itu sehingga jauh malam.

Malam itu dia tidak bisa tidur dan gelisah.

Boe Kie merasa heran.

Si berewok tidak begitu akur dengan paman gurunya.

Mengapa ia bicara begitu lama?

Boe Kie menduga, bahwa didalam kalangan Mo kauw timbul gelombang dan sebab ia sendiri bukan anggauta "agama"

Itu, maka ia tidak mau menyelidiki. Esok paginya, Gie Coen berpamitan dan Boe Kie mengantarnya sampai dimulut selat.

"Saudara."

Kata si berewok waktu mereka berpisahan.

"dalam beberapa hari ini seorang musuh yang sangat lihay akan menyateroni Ouw Soepeh. Sebenarnya aku ingin mengajak kau pergi kelain tempat untuk sementara waktu, akan tetapi Ouw Soepeh mengatakan, bahwa musuh itu tak akan bisa berbuat banyak. Ia mengatakan, aku tak usah takut. Tapi aku harap, kau suka berlaku hati-hati."

"Musuh siapa?"

Tanya Boe Kie.

"Akupun tak tahu,"

Jawabnya.

"Aku mendengar Warta itu ditengah jalan dan buru-buru aku datang kemari untuk memberitahukan Ouw Soepeh. Saudara, Ouw Soepeh seorang pintar yang sangat berhati-hati. Kalau ia mengatakan tak usah kuatir, ia tentu sudah mempunyai pegangan. Hanya aku yang masih berkuatir."

Melihat kecintaan si berewok terhadap dirinya, Boe Kie merasa sangat terharu dan sesudah beromong-omong lagi beberapa lama, mereka lalu berpisahan.

Sekembalinya dirumah Ceng Goe, ia melihat orang tua itu tenang—tenang saja.

Beberapa kali ia coba menanya, tapi pertanyaan selalu diputuskan ditengah jalan.

Enam tujuh hari telah lewat dengan tenang.

Malam itu, selagi Boe Kia membaca se

Jilid kitab obat, mendadak ia merasa kepalanya berat dan badannya lelah.

Ia lantas saja naik kepembaringan.

Esok harinya, ketika tersadar, ia merasa kepalanya sakit sekali.

Ia segera pengi kebelakang untuk mengambil obat.

Tapi, baru berjalan puluhan tindak, ia mendapat kenyataan, bahwa ia baru tersadar diwaktu lohor.

"Mengapa aku tidur begitu lama? Apa aku sakit?"

Tanyanya didalam hati.

Ia segera memegang nadi, tapi ketukan nadi tidak mengunjuk hal yang luar biasa.

ia jadi semakin kaget.

Apakah racun dingin itu mengamuk dan ia sudah mendekati ajalnya?

Buru buru ia mencari Ouc Ceng Goe, tapi orang tua itu tidak kelihatan hidungnya.

Selama beberapa hari ia selalu berkuatir dan sekarang karena orang tua itu tidak berada didalam rumah, sambil berlari lari i apergi kekebun untuk mencarinya.

Di kebun ia bertemu dengan seorang kacung yang sedang mencangkul tanah.

"Mana Ouw Sinshe?"

Tanyanya.

"Apa ia tidak berada dikamarnya?"

Si kacung balas menanya.

"Baru saja aku membawa teh. Ouw Sinshe memesan supaya ia tidak diganggu". Boe Kie tertawa.

"Aku benar tolol."

Katanya didalam hati dan lalu kembali kerumah. Waktu tiba di depan kamar Ceng Goe, ia melihat pintu dikunci. Mengingat perkataan sikacung ia tidak berani mengetuk dan hanya batuk-batuk beberapa kali.

"Boe Kie,"

Kata orang tua itu.

"hari ini badanku kurang enak. Leherku sakit. Kau belajar saja sendiri."

"Baiklah,"

Jawabnya. Sesaat kemudian, sebab kuatir penyakit orang tua itu lebih berat, ia berkata.

"SinShe, boleh kuperiksa lehermu?"

"Tak usah,"

Jawabnya dengan suara dalam.

"Aku sendiri sudah memeriksa dari kaaa. Tak apa apa. Aku sendiri sudah minum obat."

Malam itu, waktu kacung membawa nasi, Boe Kie turut masuk kekamar Ceng Goe. Ia melihat, bahwa muka orang tua itu yang rebah dipembaringan pucat pasi. Ia kaget.

"Apakah semalam, selagi aku tidur, musuh sudah datang menyatroni?"

Tanyanya dalam hati.

"Mungkin sekali, biarpun berhasil mengusirnya, Ouw Sinshe sendiri terluka berat."

Begitu melihat Boe Kie, Ceng Goe mengibas tangannya.

"Pergi!"

Bentaknya.

"Kau tahu aku sakit apa? Sakit cacar."

Si bocah mengawasi dan benar saja, tangan dan muka orang tua itu penuh dengan titik-titik hebat.

Kalau salah pengobatannya, orang bisa mati, atau sedikitnya bakal bermuka bopeng.

Tapi mengingat Ceng Goe seorang tabib malaikat, ia tidak merasa kuatir.

Hatinya lega sebab ia yakin, bahwa orang tua itu bukan dilukakan musuh.

"Kau dan si kacung tidak boleh masuk lagi kedalam kamarku,"

Kata pula Ceng Goe.

"Semua perabot makan, sesudah digunakan olehku, harus diseduh dengan air panas. Kau tidak boleh menggunakan itu....hm..."

Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata lagi.

"Boe Kie, begini saja. Menyingkirlah dari Ouw tiap kok untuk sementara waktu. kau boleh menumpang di salah sebuah rumah penduduk kira kira setengah bulan. Aku kuatir kau ketularan cacar!"

"Tidak!"

Kata si bocah.

"Sinshe sedang sakit, kalau aku pergi, siapa yang harus merawatmu. Biar bagaimanapun jua, aku lebih mengenal ilmu pengobatan dari pada kedu akacung itu."

"Tapi lebih baik kau menyingkir,"

Kata orang tua itu. Ia membujuk beberapa kali, tapi si bocah tetap pada pendiriannya. Akhirnya Ceng Goe berkata.

"Baiklah. Tapi biar bagaimanapun jua, aku melarang kau masuk lagi kekamarku"

Tiga hari telah lewat.

Setiap pagi dan malam Boe Kie selalu menanyakan kesehatan orang tua itu dari luar kamar.

Ia mendapat kenyataan bahwa biarpun suara Ceng Goe masih agak parau, tapi semangatnya sudah cukup baik dan nafsu makannyapun bertambah besar.

Setiap kali, dari dalam kamar, Ceng Goe menyebutkan nama nama obat dan timbangannya yang harus dimasak untuknya oleh sikacung.

Pada hari keempat, diwaktu lohor, Boe Kie membaca bagian Soe Kie Tauw sia Tay Loen (Perundingan mengenai peranan empat hawa dalam memperkuat semangat) dari Oey Tee Lwee keng (Kitab obat obatan dari Kaizar Oey Teng).

Di bagian itu antara lain tertulis seperti berikut.

"Maka itulah, seorang pandai tidak mengobati penyakit, tapi menjaga supaya penyakit itu jangan sampai timbul. Ia tidak membereskan kekacauan, tapi menjaga jangan sampai kekacauan muncul. Inilah jalan yang paling baik. Kalau menunggu sampai penyakit timbul dan baru mengobatinya, sampai kekacauan muncul dan baru mengobatinya, sampai kekacauan muncul dan baru membereskannya, maka usaha itu adalah seperti menggali sumur sesudah haus atau membuat senjata sesudah menghadapi musuh. Apakah itu bukan sudah terlambat ?"

Tanpa merasa, Boe Kie mengangguk beberapa kali.

"Memang sudah terlambat, kalau menggali sumur sesudah haus dan membuat senjata sesudah berhadapan dengan musuh,"

Katanya didalam hati.

"Membereskan negara sesudah terbit kekacauan juga sudah terlambat. Biarpun andaikata keamanan dapat dipulihkan, akan tetapi negara tetap mendapat kerugian. Mengobati penyakit juga tiada bedanya. Lebih baik menjaga sebelum penyakit mengamuk dari pada mengobati sesudah penyakit itu menjadi berat,"

Ia ingat dibagian lain dari kitab tersebut terdapat kata kata seperti berikut.

"Seorang tabib yang pandai, paling senang mengobati kulit dan bulu, kemudian mengobati otot otot, lalu mengobati urat urat, dan akhirnya baru mengobati isi perut. Jika ia harus mengobati isi perut, maka kemungkinan sembuhnya si sakit hanya separuh separuh."

"Benar, memang benar apa yang dikatakan dalam kitab itu,"

Pikir Boe Kie.

"Seorang tabib pandai selalu mengobati pada waktu penyakit baru saja muncul. Kalau penyakit sudab masuk ke isi perut biar bagaimana pandaipun jua, ia tidak mempunyai pegangan lagi. Seperti aku, racun sudah masuk ke dalam isi perutku. Keadaanku sudah sembilan bagian mati dan hanya satu bagian hidup."

Selagi memikir begitu, tiba tiba terdengar suara tindakan kuda.

Boe Kie buru buru menutup bukunya dan berbangkit.

Ia bingung sebab kuatir kedatangan musuh.

Sambil berlari lari ia pengi kekamar Ceng Goe.

"Ouw Sinshe,"

Katanya.

"Kudengar suara tindakan bebrapa ekor kuda yang masuk ke selat ini. Bagaimana baiknya?"

Sebeleum orang tua itu keburu menjawab, kuda kuda itu yang ternyata bisa lari luar biasa cepatnya, sudah tiba didepan rumah.

"Sesama orang Rimba Persilatan mohon bertemu dengan Ie Sian Ouw Sinshe!"

Demikian terdengar teriakan seorang.

"Kami ingin memohon belas kasih Ouw Sinshe untuk mengobati penyakit"

Mendengar itu, hati Boe Kie agak lega.

Ia bertindak keluar dan melihat seorang bermuka hitam berdiri didepan pintu.

Tangan orang itu menuntun tiga ekor kuda.

Di punggung dua diantara hewan hewan itu kelihatan rebah dua orang yang pakaiannya berlepotan darah.

Penunggang kuda itu sendiri berdiri dengan kepala dibalut dengan kain putih bernoda darah, sedang tangan kanannya dimasukkan dalam selembar kain yang diikatkan keleher.

Di lihat dari romannya, iapun mendapat luka yang tidak enteng.

"Kedatangan kalian sungguh sangat tidak kebetulan,"

Kata Boe Kie.

"Ouw Sinshe sedang sakit dan tidak bisa bangun. Harap kalian suka cari lain tabib saja."

"Celaka!"

Kata orang itu dengan suara kaget.

"Kami melalui perjalanan ratusan li dengan harapan bisa mendapat pertolongan Ie sian"

"Ouw Sinshe mendapat sakit cacar,"

Boe Kie menerangkan.

"Dalam beberapa hari ini, keadaannya sangat buruk. Inilah suatu kenyataan dan aku tidak berjusta."

Orang itu menghela napas.

"Kami bertiga adalah saudara seperguruan dan kami mendapat luka yang sangat berat,"

Katanya dengan suara duka.

"Kalau tidak ditolong Ie sian, kami pasti akan meninggal dunia. Kuharap saudara suka melaporkan kepada Ouw Sinshe."

"Kalau begitu, bolehkah aku tahu she dan nama Toako yang mulia?"

Tanya Boe Kie.

"Nama kami tidak cukup berharga untuk disebut-sebut,"

Jawabnya.

"Tolong beritahukan saja bahwa murid-murid Sian-ie Ciang-boen dari Hoa San-pay memohon pertolongan."

Sehabis berkata begitu, badannya bengoyang-goyang, paras mukanya jadi lebih pucat dan mulutnya agak terbuka seperti mau muntahkan darah.

Boe Kie melompat dan menotok beberapa jalan darah di dada dan punggung orang itu.

Begitu tertotok, darah yang sudah meluap turun kembali dan orang itu merasa dadanya agak lega.

Melihat kepandaian si bocah, ia kelihatan kaget dan kagum.

Boe Kie segera masuk kedalam.

"Sinshe,"

Katanya.

"di luar menunggu tiga orang yang mendapat luka berat dan minta pertolonganmu. Mereka mengatakan bahwa mereka adalah murid-murid dari Sian ie Ciang boen Hoa-san-pay."

Ouw Ceng Goe mengeluarkan suara "ih!"

Dan kemudian, ia berteriak dengan gusar.

"Tidak! Tidak! Usir mereka!"

"Baiklah,"

Kata Boe Kie yang dengan cepat lalu berjalan keluar.

"Ouw Sinshe tak bisa menemui kalian karena penyakitnya masih belum mendingan,"

Kata Boe Kie.

"Harap kalian suka memaafkan."

Orang itu mengerutkan alis.

Selagi ia mau memohon lagi, tiba-tiba salah seorang yang bertubuh kurus kecil dan rebah diatas punggung kuda mengangkat kepalanya dan mengayun tangannya.

Hampir berbareng sehelai sinar emas menyambar dan serupa benda jatuh di atas meja di dalam rumah.

"Saudara, bawalah bunga emas itu kepada Kian sie poet kioe,"

Kata si kurus.

"Beritahukanlah bahwa kami bertiga telah dilukakan oleh majikan dari bunga emas itu. Dia akan segera mencari le sian sendiri. Jika Kian sie Poet kioe suka mengobati kami, sesudah sembuh kami akan tetap berdiam disini untuk bantu melawan musuh. Biarpun kepandaian kami tidak berarti, tapi masih merupakan tiga tenaga bantuan"

Boe Kie menghampiri meja.

Ia melihat, bahwa senjata rahasia itu menyerupai sekuntum bunga bwee yang terbuat dari pada emas tulen, dengan sari bunga dibuat dari perak putih, sehingga Kim hoa (bunga emas) itu indah sekali kelibatannya.

Boe Kie mengulurkan tangan dan coba menjemputnya, tapi diluar dugaan bunga emas itu menancap dimeja dan ia tidak dapat mencabutnya lagi.

Dengan mengunakan jepitan obat, barulah ia berhasil.

"Orang kurus itu memiliki kepandaian yang cukup tinggi, tapi dia masih kena dilukakan oleh majikan bunga emas itu."

Pikirnya.

"Siang Toako mengatakan bahwa seorang musuh akan menyatroni Ouw Sinshe. Mungkin sekali musuh Ouw Sinshe adalah orang itu."

Sambil mambawa senjata rahasia tersebut, ia segrera masuk dan menyampaikan perkataan si kurus kepada Ouw Ceng Goe.

"Coba aku lihat,"

Kata orang tua itu.

Boe Kie menolak pintu dan menyingkap tirai.

Kamar itu sangat gelap.

Seorang yang kena penyakit cacar memang takut dengan sinar terang, maka pintu dan jendela kamar itu ditutup dengan tirai.

Ia melihat muka Ouw Ceng Goe ditutup dengan kain dan hanya kedua matanya yang bisa dilihat orang.

Hati Boe Kie berdebaran.

Bagaimana macamnya bisul bisul dimuka orang tua itu.

Apa sesudah sembuh, dia bakal bopeng?

"Taruh bunga emas itu diatas meja dan lekas keluar,"

Perintah si tabib malaikat. Boe Kie menurut.

"Mati hidup mereka bertiga tiada sangkut paut nya dengan aku,"

Demikian terdengar suara Tiap kok ie sian.

"Soal mati hidupku juga tak usah diributi mereka."

"Ptak!" , bunga emas itu terbang keluar sesudah menobloskan tirai dan kemudian jatuh ditanah. Biarpun daun bunga dari senjata rahasia itu sangat tipis dan tajam, tapi karena tirai adalah lemas dan alot, maka dicobloskannya kain jang tebal itu mengejutkan Boe Kie. Selama berdiam dua tahun dirumah Tiap kok Ie sian, Boe Kie belum pernah melihat ilmu silat orang tua itu. Baru sekarang ia mendapat bukti, bahwa si tabib malaikat juga memiliki ilmu silat yang sangat tinggi. Ia menjemput Kim hoa itu dan menghampiri lelaki yang kurus itu. Sambil menggelengkan kepala, ia berkata.

"Sakitnya Ouw Sianshe sangat berat."

Mendadak dari sebelah kejauhan terdengar suara roda kereta yang tengah memasuki selat Ouw tiap kok.

Perkataan Boe Kie terhenti dan semua orang memasang kuping.

Kereta itu cepat sekali jalannya, dan tak lama kemudian sudah berada diluar rumah.

Dari dalam kereta keluarlah seorang pemuda yaug kuning kulit mukanya sambil melompat.

Begitu turun ia mendukung seorang kakek yang gundul kepalanya "Apa Tiap kok Ie sian Ouw Sinshe ada?"

Tanyanya.

"Murid Khong tong pay... ."

Baru ia ber kata begitu, badannya bergoyang goyang dan ia lalu roboh bersama sama si kakek.

Dua ekor kuda yang menarik kereta, yang mulutnya mengeluarkan busa, juga berlutut dengan berbareng.

Rupanya kedua binatang itu kehabisan tenaga.

Melihat romannya dua orang itu, tanpa ditanya lagi ketahuanlah sudah bahwa mereka itu baru saja melakukan perjalanan cepat satu sampai dua ratus li tanpa beristirahat ditengah jalan.

Sudah begitu Boe Kie pun mendengar di sebutnya "Murid murid Khong Tong pay" , maka ingatlah ia akan halnya, diantara orang-orang yang memaksakan kematian ayah dan ibunya diatas gunung Boe tong san ada tianglo atau tertua dari partai itu.

Ia melihat si orang tua kepala gundul lantang yang disebut Seng Cioe Ka Lam Kao Ciat.

Orang tua ini tidak hadir digunung ketika itu, akan tetapi mau ia menduga bahwa dia ini mestinya bukan manusia baik baik.

Karena itu ingin ia menolak mereka itu atau ia segera melihat munculnya lagi empat atau lima orang ada yang dingkluk-dingkluk sambil memegangi tongkat, ada yang saling menuntun, dan semua mereka itu mempunyai luka-luka di tubuh mereka.

Ia mengerutkan alisnya.

Tidak menanti sampai mereka itu datang dekat, ia lantas berkata nyaring.

"Ouw Sinshe kena penyakit cacar, karena dirinya sendiri belum tentu dapat ditolong, ia jadinya tidak dapat mengobati kalian, tuan-tuan! Maka itu, silahkan tuan-tuan sekalian lekas mencari lain tabib saja supaya kamu tidak digagalkan luka luka kau" (Pep. this paragraph does not make any sense) Sementara itu, orang orang itu yang berjumlah berlima sudah datang dekat. Nyata mereka itn mengenakan pakaian yang bagus bagus, mereka mirip dengan saudagar saudagar besar, melainkan muka mereka semua pucat pasi, bagaikan kertas putih polos, sedikit juga tidak ada sinar darahnya. Ditubuh mereka tidak tampak tanda tanda bekas luka, dari itu teranglah sudah bahwa mereka mendapat luka-luka hebat didalam. Orang yang berjalan dimuka, yang tubuhnya jangkung dan gemuk, mengangguk terhadap Kan Ciat serta si pria kurus dan kecil, atas mana, mereka itu saling menyeringai. Jadinya, tiga rombongan orang itu, semua kenal satu dengan lain. Boe kie heran, tertarik rasa ingin tahunya.

"Apakah kamu semua terlukanya si pemilik bungga emas?"

Ia tanya.

"Benar."

Menjawab si gemuk, yang terus berpaling kepada Kan Ciat, untuk menanya.

"Saudara Kan, apakah kau telah bertemu sama Ouw Sinshe?"

Kan Ciat nuenggeleng kepala.

"Saudara Nio, mukamu lebih terang. Mungkin kau dapat mengundang Ouw Sinsbe,"

Katanya "Siapakah itu si pemilik bunga emas?"

Tanya Boe Kie menyelak.

"Kenapa dia demikian galak?"

"Saudara kecil,"

Berkata orang yang dipanggii saudara Nio oleh Kan Ciat tanpa dia menjawab pertanyaan si anak tanggung.

"tolong kau menyampaikan kepada Ouw Sinshe bahwa aku si orang she Nio dari Toko Emas Goan Sang di Boe hoe telah datang dari tempat yang jauh memohon berobat"

Si orang yang muntah darah hidup, yang tiba paling dulu, menduga Boe Kio muda sekali tetapi bukannya sembarangan orang, maka dia bertanya.

"Saudara kecil, kau she apa? Apakah hubungan sama Ouw Sinshe?"

"Aku juga pasien dari Ouw Sinshe."

Boe Kie menyahut.

"Sudah dua tahun lebih Ouw Sinshe mengobati aku. Aku masih belum sembuh betul, Ouw Sinshe telah membilang, dia tidak dapat mengobati. Maka itu, sudah pasti dia tidak bakal mengobatinya. Karenanya, tidak ada gunanya untuk kamu berdiam lama-lama disini."

Selagi mereka berbicara, dengan beruntun kembali datang empat orang.

Ada yang naik kereta, ada yang menunggang kuda, dan mereka ini juga datang untuk minta ditolong diobati, mereka memintanya dengan sangat.

Boe Kie menjadi heran sekali hingga ia berpikir.

"Lembah Ouw tiap kok ini sepi luar biasa. Kecuali orang-orang partai agama sesat, orang Kang-ouw juga sedikit yang sekali mengetahuinya. Maka itu mereka ini yalah orang-orang Khong Tong pay dan lainnya, yang bukan kaum sesat. Kenapa mereka berbareng pada datang kemari untuk berobat? Pula, kenapa mereka juga terluka berbareng? Dan itu pemilik bunga emas, dia lihay sekali! Untuknya jikalau dia mau mengambil jiwa mereka ini, itulah bukan pekerjaan sulit. Kenapa dia justeru melukai orang orang ini hebat begini macam?"

Di antara semua orang itu, yang berjumlah empat belas, ada yang pandai bicara, ada yang diam saja, tetapi mereka semua bersatu hati tak mau mengangkat kaki walaupun mereka sudah ditolak.

Ketika itu sudah magrib, mereka seperti memenuhi sebuah ruang.

Kacung tukang masak nasi sudah lantas menyajikan barang makanannya Boe Kie, dan Boe Kie tanpa sungkan lagi lantas berdahar seorang diri.

Kemudian ia duduk menghadapi meja dan dengan terangnya pelita, ia membaca buku tentang ilmu ketabiban.

Semua orang itu ia tidak ambil peduli.

Ia telah berpikir.

"Aku telah dapat mempelajari ilmu tabib dari Ouw Sinshe, maka itu akupun boleh mempelajari ilmunya, melihat kematian tidak menolong."

Malam telah tiba.

Malam itu sunyi sekali.

Didalam rumah gubuk itu tidak terdengar suara apa apa lagi kecuali suara Boe Me membalik balik halaman bukunya serta suara bernapas keras dari mereka yang terluka.

Justeru suasana sedang sunyi sunyinya itu, dari luar gubuk terdengar tindakan kaki dari dua orang.

Boe Kie heran.

Ia lantas_mengangkat kepalanya.

Ia memasang kuping.

Tindakan tadi perlahan, selagi mendekati, semakin perlahan terdengarnya.

Terang orang lagi menghampirkan kerumah gubuk.

Tak lama, atau lantas terdengar suara yang halus tetapi terang.

"Ibu, disana ada sinar api di dalam rumah. Kita sudah sampai!"

Didengar dari suaranya itu, orang itu mestinya seorang anak kecil.

"Anak, kau capai atau tidak?"

Lalu terdengar suara lain, lebih keras tetapi toh dari seorang wanita juga.

"Aku tidak capai."

Sahut si anak barusan.

"Ibu jikalau tabib sudah mengobati kau, kau tentunya tidak sakit lagi."

Si wanita terdengar menjawab.

"Ya... Tapi entahlah dia suka menolong atau tidak!"

Hati Boe Kie tergerak.

"Ah, rasanya aku kenal baik suara ini ..."

Pikirnya.

"Rupanya dia Nona Kie Siauw Hoe."

"Pasti tabib akan mengobati ibu,"

Kata pula si anak perempuan.

"Jangan kuatir. Apakah nyeri ibu sudah mendingan?"

"Sedikit mendingan?"

Menyahut si nyonya yang dipanggil ibu itu.

"Ah, anak yang bersengsara......"

Mendengar pula suara orang itu, Boe Kie tak sangsi lagi. Ia lantas lompat keambang pintu.

"Toh Kie Kouwkouw disana", ia menanya "Apakah kaupun terluka?"

Lalu dibawah terangnya sang Puteri Malam ia melihat seorang wanita yang sebelah tangannya menuntun seorang nona kecil, seorang anak perempuan juga.

Wanita itu yang dipanggil Kouwkouw, atau bibi, benarlah Kie Siauw Hoe adanya.

Akan tetapi Siauw Hoe tidak mengenalinya sebab ketika diatas gunung Boe tong san mereka bertemu, Boe Kie baru berumur sepuluh tahun, dan sekarang, sang waktu sudah lewat lima tahun.

"Kau... kau..."

Tanyanya heran.

"Kouwkouw, kau telah tidak mengenali aku, bukan?"

Kata Boe Kie.

"Aku Thio Boe Kie. Ketika dulu hari di Boe tong san ayah dan ibuku membunuh diri, aku melihat kau."

Siauw Hoe berseru saking herannya.

Inilah ia sama sekali tidak menyangka.

Berbareng dengan itu, ia menjadi kaget sendirinya dan likat.

Ia seorang nona yang belum menikah, membawa-bawa seorang anak perempuan....

Sekarang ia berhadapan dengan Boe Kie, keponakan dari In Lie Heng bakal suaminya itu.

Sebagai bocah tanggung, Boe Kie tentulah sulit untuk diberi penjeasan tentang keganjilan itu.

Maka mukanya menjadi merah.

Karena ia lagi terluka serta lukanya bukan enteng, kagetnya itu membuat tubuhnya terhuyung.

Anak perempuan itu, yang umurnya baru enam atau tujuh tahun, melihat ibunya mau jatuh, ia lantas menjambret tangannya, akan tetapi ia bertenaga lemah, ia dapat berbuat apa?

Boe Kie melihat Siauw Hoe mau jatuh, karena mana si nona cilikpun bakal roboh juga, ia lantas menahan pundaknya bibi itu.

"Kouwkouw, silahkan masuk kedalam untuk beristirahat,"

Ia mengundang.

Ia berkata begitu ia toh memimpin orang masuk kedalam ruang.

Karena ini, dengan pertolongan cahaya api, ia lantas melihat luka si bibi, luka dipundak kiri dan dibahu kanan, bekas golok atau pedang.

Melihat darah yang menembus dari balutan, luka itu mestinya parah.

Pula si nona merintih beberapa kali, tandanya hebat menahan rasa nyerinya.

Mendengar rintihan atau batuk-batuk si nona, Boe Kie mengerti hebatnya luka si bibi.

Didalam halnya ilmu ketabiban, sekarang ini Boe Kie telah dapat melawan sembarang "tabib kenamaan".

Suara batuk itu menadakan si nona telah mendapat goncangan pada pinggiran peparunya yang kiri.

"Kouwkouw,"

Katanya.

"tangan kananmu telah bentrok sama tangan orang dan karena itu kau terluka pada bagian peparumu they im hie."

Ia berkata begitu, tetapi tanpa menanti jawaban, ia lantas mengeluarkan tujuh batang jarum emas.

Dengan itu, tanpa membukai baju si nona, ia menusuk ditujuh jalan darah in-boen dipundak, hoa kay di dada cie-tek dan lain-lain.

Kepandaian dari Boe Kie ini sekarang beda jauh dari waktu dulu hari ia mengobati Siang Gie Coen.

Selama dua tahun ia belajar dibawah pimpinan Tiap kok Ie sian Ouw Ceng Goe, ia sudah mendapat kemajuan pesat.

Penghalang satu satunya yalah usianya yang masih terlalu muda.

Jadi kalau dibandingkan dengan gurunya, ia masih ketinggalan jauh sekali.

Hanya didalam ilmu menusuk jalanan darah dengan jarum emas saja, ia sudah mendapatkan tujuh atau delapan bagiannya.

Kie Siauw Hoe melihat anak tanggung itu mengambil jarum, ia tidak tahu apa perlunya itu, maka ia heran dan kagum ketika tahu-tahu dia telah ditusuk berulang-ulang secara demikian hebat dan tepat.

Begitu lekas sudah ditusuk, ia merasakan dadanya tidak terlalu sesak lagi.

"Anak yang baik!"

Ia berseru dalam girangnya "Aku tidak sangka kau berada disini dan juga telah dapat mempelajari ilmu tabib begini sempurna!"

Siauw Hoe lantas ingat kejadian di Boe tong san itu hari, ketika ia menghadapi Thio Coei San dan In So So, suami isteri itu, saling beegantian membunuh diri, hingga mayat mereka dipeluki Boe Kie.

Ia merasa terharu sekali, ia berkasihan terhadap anak itu, maka ia telah membujuk dan menghiburinya seraya memberikan juga kalungnya yang terbuat daripada emas.

Hanya ketika itu Boe Kie sudah menampik pemberian itu sebab dia lagi sangat berduka dan gusar, hingga dia memandang semua tetamu yang hadir disitu adalah musuh-musuh yang mendesak kebinasaan ayah dan ibunya.

Atas penampikan itu, Siauw Hoe jadi malu sekali, tetapi ia tidak dapat berbuat apa apa.

Kemudian pikiran Boe Kie berubah.

Inilah disebabkan ketika dia terlukakan serangam ilmu Hian beng Sin ciang, dia sudah ditolong mati matian oleh In Lie Heng, yang sudah mengorbankan banyak tenaga dalamnya.

Perto1ongan itu dia ingat betul.

Dia merasa berhutang budi, Maka juga, karena mengingat budinya In Lie Heng dia menjadi ingat juga kebaikan Ki Siauw Hoe dan untuk membalas budinya si paman guru, pantas dia memberikan kesan baik terhadap si tunangan si paman.

Semakin usianya bertambah semakin dia dapat berpikir, membedakan yang benar dan yang salah.

Dia juga ingat tempo dulu kala ,sekalian paman gurunya telah membicarkan persoalan minta Go bie pay bekerja sama menentang musuh.

Jadi Go bie pay bukanlah musuh utama bahkan sama sekali bukanlah musuh Boe tong pay.

Pada dua tahun dulu, ketika Boe Kie bertemu sama Siang Gie Coen di diluar rimba, disana is menyaksikan Kie Siauw Hoe menolongi Pheng Hweeshio.

Perbuatan mulia nona itu membikin ia beranggapan si nona ialah orang baik.

Hanya sekarang ini ia belum dapat memikir kenapa Siauw Hoe, si bibi yang belum menikah, telah mempunyai anak perempuan umur lebih daripada lima tahun itu ....

Cuma Siauw Hoe yang lihat sendirinya.

Selama ini Boe Kie dapat melihat jelas anaknya bibi itu.

Nona cilik itu berdiri diam disisi ibunya.

Dia masih kecil tetapi nyata dia cantik sekali.

Sepasang alisnya bagaikan dilukis, sepasang matanya hitam dan celi, dan dengan mata tajam mengawasi padanya.

"Ibu, apakah anak ini sitabib?"

Kemudian anak itu berbisik dikuping ibunya.

"Apakah rasa nyeri ibu sudah baik?"

Mendengar panggilan "Ibu"

Mukanya Siauw Hoe menjadi merah pula, tak dapat ia mencegah jengahnya.

"Inilah kakakmu, kakak Boe Kie,"

Ia menyahuti.

"Ayah kakakmu ini ialah sahabat ibumu. Kemudian ia meneruskan pada Boe Kie, perlahan "

Dia... dia bernama Poet Hwie...."

Ia berhenti pula sejenak.

"Dia she Yo.... Yo Poet Hwie..."

Boe Kie girang, dia tertawa.

"Bagus!"

Dia berseru.

"Aku Thio Boe Kie dan kau Yo Poet Hwie!"

Senang Siauw Hoe melihat sikap wajar dari Boe Kie, tak sedikit juga sikap si anak yang hendak menegur kepadanya. Hatinya menjadi lega.

"Anak, kepandaian kakakmu hebat,"

Ia kata pada anaknya.

"Sekarang ini rasa nyeriku sudah berkurang"

Poet Hwie memainkan matanya yang celi itu.

Ia mengawasi ibunya, terus ia mengawasi Boe Kie.

Sekonyong-konyong ia maju kepada bocah didepannya, untuk merangkul, untuk mencium pipinya.

Bukan main terkejutnya Boe Kie.

Nona Poet Hwie ini adatnya sangat polos dan wajar.

Sedari masih kecil sekali, kecuali ibu dan pengasuhnya, ia tidak pernah bertemu sama lain orang.

Sekarang ibunya terluka parah, mereka pun dalam kesukaran besar, sekarang ia menyaksikan Boe Kie menolongi ibunya itu yang nyerinya menjadi ringan sekali.

Ia bersyukur bukan main.

Adalah kebiasaannya, kalau ia mengutarakan kegirangan dan rasa syukurnya, suka ia berlompat kepada mereka, untuk memeluk atau merangkul, untuk mencium pipi mereka.

Kebiasaan ini sekarang ia melakukannya terhadap Boe Kie tanpa malu.

"Hus!"

Siauw Hoe berseru.

"Jangan begitu Hwie-jie Kakak Boe Kie tidak senang nanti!"

Poet Hwie mementang kedua matanya, ia heran.

"Apakah kau tidak senang padaku?"

Ia tanya Boe Kie.

"Kenapa aku tidak boleh berlaku baik kepadamu?"

Boe Kie tertawa.

"Aku girang!"

Sambutnya.

"Aku suka berbuat baik terhadapmu!"

Dan ia membalas mencium pipi yang halus dari nona cilik itu. Poet Hwie girang bukan main, ia menepuk nepuk tangan.

"Hai, tabib kecil, lekas kau obati ibu, supaya ibu sembuh seluruhnya!"

Ia berseru.

"Nanti aku cium pula padamu!"

Tidak kepalang girangnya Boe Kie mendapatkan orang demikian manja dan lincah.

Selama belasan tahun hidupnya, ia telah bergaul sama banyak orang, tetapi mereka itu adalah paman pamannya dan Siang Gie Coen juga masih lebih tua delapan tahun daripadanya.

Didalam perahu ia pernah bertemu sama Coe Tit Jiak, akan tetapi pertemuan itu sangat pendek, belum ada satu hari mereka sudah mesti berpisah pula.

Jadi belum pernah ia bergaul sama sahabat-sahabat cilik sebayanya.

Maka itu, mendapati nona ini, ia berpikir.

"Jikalau aku mempunyai adik benar sekecil ini, yang begini menarik hati, pastilah aku sering mengajak dia pergi bermain-main...."

Dalam usia empat belas tahun, anak yatim piatu ini masih kekanak-kanakan.

Ia kehilangan ketikanya untuk bermain-main seperti anak-anak yang kebanyakan.

Sementara itu Kie Siauw Hoe telah menyaksikan semua hadirin yang pada terluka.

Ia merasa malu untuk mendahului mereka.

"Tuan-tuan ini datang terlebih dulu daripada aku, pergi kau periksa mereka lebih dulu,"

Ia kata pada Boe Kie. Ia tidak ketahui duduknya hal.

"Sekarang ini sakitpun berkurang banyak."

"Mereka datang untuk berobat kepada Ouw Sin she,"

Boe Kie mengasi tahu.

"Cuma sekarang ini Ouw Sinshe sendiri lagi sakit. Mana dia bisa mengobati orang? Mereka tidak mau berlalu, maka itu biarlah mereka terus menunggu. Kouwkouw, kau bukannya mencari Sinshe, jikalau kau percaya keponakanmu ini, mari sini, biar aku periksa lebih jauh lukamu. Sudah lama juga aku berdiam di sini, tentang luka-luka aku mengetahui sedikit."

Sebenarnya Kie Siauw Hoe yang mendapat suatu petunjuk, datang ke lembah ini untuk mencari Tiap kok Ie sian Ouw Ceng Goe.

Ia datang dengan serapa maksud dengan Kan Ciat beramai itu.

Maka itu, melihat keadaannya Kan Ciat semua, ia heran siapa tahu duduknya hal sederhana saja.

Ia lantas mengerti bahwa Ouw Ceng Goe tidak berniat menolongi mereka itu.

Tapi mengenai Boe Kie, kepercayaannya lantas muncul.

Bukankah ia telah ditusuk berulang-ulang dan sekarang rasa nyerinya telah berkurang banyak?

Ia jadi tidak boleh memandang enteng kepada usia bocah ini.

"Baiklah."

Katanya kemudian.

"Aku terima kasih padamu ! Tidak apa tabib besar tidak mau mengobati aku, asal ada kau si tabib kecil..."

Boe Kie lantas minta bibi itu masuk ke kamar samping dimana ia lantas bekerja.

Lebih dulu ia guntingi bajunya si bibi dibagian tubuhnya yang terluka.

Ia mendapatkan tiga luka bacokan golok dibahu, sambungan pundaknya telah menggeser dari tempatnya.

Di lengan juga ada tulang yang remuk.

Di matanya tabib yang kebanyakan, luka luka itu ialah luka luka yang sukar untuk di obati, tetapi dimata muridnya Ouw Ceng Goe, itulah luka luka biasa.

Maka Boe Kie lebih dulu menyambung rapi dulu, tulang yang berkisar itu, habis mana ia memborehkan obat.

Kemudian lagi, ia membuat surat obat, yang obatnya ia suruh kacung memasaknya matang.

Ia belum biasa membalut luka tapi toh, walaupun rada lambat, dapat menyelesaikan juga tugas ketabibannya itu.

"Kouwkouw, sekarang silahkan kau beristirahat dulu,"

Katanya akhirnya.

"Sebentar, setelah habis kekuatan baal dari obat ini, kau akan merasa sakit luar biasa."

"Terima kasih!"

Menyahut bibi itu.

Boe Kie pergi ke kamar obat untuk mencari buah ongoo dan buah heng.

Ia bawa itu untuk dikasihkan pada Poet Hwie.

Ketika ia kembali, si nona sudah tidur menyender kepada ibunya sebab dia telah tidak tidur satu malaman.

Dari itu ia masuki saja buah buahan itu ke dalam saku sinona.

Lantas ia kembali ke depan.

Pria yang muntah darah itu, orang Hoa san pay, lantas berbangkit.

Ia menjura dalam terhadap si anak tanggung.

"Siauw Sinshe."

Katanya. Ia memanggil "Siauw Sinshe"

Atau tabib kecil.

"Oleh karena Ouw Sin she lagi sakit, kau saja yang menolong mengobati kami. Pasti kami akan sangat bersyukur terhadap mu..."

Boe Kie mengawasi orang itu dan kawan kawannya.

Sebenarnya semenjak ia belajar ilmu kecuali mengobati Siang Gie Coen dan Kie Siauw Hoe ini, belum pernah ia mencoba terlebih jauh kepandaiannya itu.

Akan tetapi ia ingat kata katanya Ouw Sinshe, ia menguasai dirinya.

"Rumah ini rumah Ouw Sinshe,"

Ia berkata.

"Dan aku sendiri, adalah orang yang menderita sakit yang berada dibawah rawatannya, mana berani aku melancangi tuan rumah ?"

Orang Hoa San Pay itu mengawasi si bocah, ia seperti dapat membade hati orang.

"Memang umumnya, seorang tabib kenamaan mesti telah berusia lima atau enam puluh tahun."

Ia berkata untuk mengumpak.

"Maka itu luar biasa Siauw Sinshe, yang usianya masih muda sekali tetapi kepandaiannya kau sangat langka. Maka itu. Sinshe, aku mohon sukalah kau menolongi kami?"

Si orang terokmok she Nio yang romannya seperti hartawan turut bicara.

"Kami empat belas orang, didalam kalangan kang ouw, kami mempunyai juga sedikit nama,"

Katanya.

"Maka itu, jikalau kami dapat ditolong oleh Siauw Sinshe, setelah kami pulang nanti, pasti kami akan menguwarkan kepandaian Sinshe ini supaya namanya menjadi kesohor hingga di dalam satu malam, kau akan jadi terkenal diseluruh negeri!"

Dasar masih terlalu muda, dan tidak punya pengalaman, Boe Kie tertarik kata-kata yang mengumpak-umpak itu, hatinya menjadi girang.

"Apakah bagusnya nama kesohor diseluruh negeri ?"

Katanya.

"Ouw Sinshe sendiri tidak dapat menolong kalian, apalagi aku ? Apakah yang aku bisa bikin ? Agaknya luka kamu bukannya enteng, maka begini saja, aku akan membantu meringankan rasa nyerimu"

Lantas ia mengambil obat obatan guna memberi pertolongannya.

Ketika ia sudah melihat luka orang orang itu, ia menjadi heran.

Nyata, setiap luka itu beda satu dari lain, semuanya luka luka biasa.

Belum pernah Ouw Ceng Goe mengajari ia tentang bermacam macam luka semacam ini.

Ada seorang yang rupanya telah dipaksa menelan beberapa puluh batang jarum, ada orang perutnya tengoncang, tergempur tenaga dalam, ada yang beberapa jalan darahnya telah terlukakan racikan pisau.

Semua itu menandakan, si pembuat luka juga mengerti itu tabib baik sekali.

Semua itu ialah luka luka yang sangat sukar diobatinya.

Ada lagi orang yang pinggiran peparunya terpaku hingga tak hentinya dia batuk batuk dan mengeluarkan darah, ada pula orang yang tulang tulang iganya pada patah tetapi luka itu tidak mengganggu peparu atau jantungnya.

Seorang lagi terkutungkan kedua ujung tangannya lalu tangan tangan yang buntung itu, yang kiri ditaruh kebahu kanan, yang kanan ditaruh dibahu kiri.

Masih ada pula yang bengkak selurub tubuhnya seperti bekas dipagut kelabang atau binatang berbisa lainnya.

"Semua luka mereka luar biasa. Tidak satu juga yang aku bisa obati,"

Pikirnya.

"Orang yang membuatnya luka itu hebat sekali, dia liehay. Kenapa dia menyiksa orang sampai begini?"

Karena memikir begini, ia menjadi ingat luka nya Kie Siauw Hoe.

"Luka bibi terlihat biasa saja, a pakah bibipun mendapat luka di dalam ?"

Pikirnya pula kaget.

"Kalau tidak, mengapa bibi seorang yang dikecualikan?"

Lekas lekas ia meninggalkan Kan Ciat semua.

Ia lari kedalam.

Segera ia memeriksa nadinya Siauw Hoe.

Ia menjadi kaget.

Ia mendapatkan nadi si bibi bergerak gerak, sebentar keras, sebentar kendor, atau sebentar lagi jalannya lurus dan serat bergantian.

Pasti itu disebabkan sesuatu dari dalam tubuh.

Ia kaget sebab ia tidak mengerti akan perubahan itu.

Keempat belas orang itu aneh lukanya, ia tidak memikirkannya.

Diantara mereka itu ada orang Khong tong pay, yang ada sangkut pautnya dengan kebinasaan ayah dan ibunya, jikalau mereka tersiksa, pantaslah juga.

Akan tetapi Kie Siauw Hoe, bibinya ini, tidak dapat ia tidak menolongnya.

Maka lekas-lekas ia pergi ke kamarnya Ouw Ceng Goe.

"Sinshe! Apa sinshe sudah tidur ?"

Ia tanya perlahan.

"Ada apa?"

Ia mendapat jawaban.

"Tidak peduli siapa, aku tidak akan mengobatinya!"

"Ya, sinshe. Hanya luka mereka itu, semuanya luka yang aneh-aneh ...."

Boe Kie lantas saja menurunkan tentang semua luka itu.

Ouw Ceng Goa, yang teraling dengan sekosol mendengari.

Kalau ada yang ia tidak mengerti ia menanya tegas, untuk itu.

Boa Kie mesti pergi keluar kepada orang-orang yang luka itu, untuk memeriksa pula selanjutnya untuk ia memberikan jawabannya yang terang kepada Tiap kok Ie sian.

Oleh karena ini, setengah jam tempo dibutuhkan untuk mendapat tahu jelas lukanya semua limabelas orang itu berikut Siauw Hoe.

Beberapa kali Ouw Sinshe mengasih dengar suara tidak terang, agaknya ia terang berpikir, banyak kemudian, ia kata "Hm semua luka itu tidak akan dapat menyulitkan aku !"

Belum lagi Boe Kie sempat menanya, tiba-tiba ada orang yang bersuara di belakangnya katanya.

"Ouw Sinshe, pemilik bunga emas itu telah membilangi aku, untuk aku menyampaikan kepada kau. Dia bilang.

"Kecewa kau dipanggil Tiap kok Ie sian, sebab limabelas macam luka ini, aku menduga tidak satu yang kau sanggup sembuhkan."

Haha ! Benar-benar sekarang kau menyembunyikan diri, kau berpura-pura sakit!"

Boe Kie berpaling.

Ia mengenali si orang tua berkepala lanang Seng Cioe Ka lam Kan Ciat dari Khong tong pay.

Tadinya ia menyangka rambut orang rontok wajar, kemudian ia mendapat tahu, rambut itu rontok sebab kepalanya si gundul pernah dilabur obat yang sifatnya keras oleh sipemilik bunga emas atau Kim hoa hingga rambutnya habis.

Bahkan sisa obat beracun menempel dan menembusi kulit, hingga selanjutnya kepala menjadi gatal terus-terusan, hingga ada kekuatiran, selewatnya beberapa hari, racun yang jahat itu nanti menyerang polo atau otak, hingga orang bisa menjadi gila.

Sekarangpun kedua tangannya dirantai oleh kawan-kawannya, supaya tidak dapat menggaruk, kalau tidak, tidak nanti dia dapat melawan rasa gatalnya itu.

Atas kata-kata jago Khong tong pay itu, Ouw Ceng Goe kata dengan tawar.

"Untukku, aku dapat menyembuhkan syukur, tidak dapatpun tidak apa. Ringkasnya, aku tidak mau mengobati kau! Aku lihat kau masih dapat hidup sampai tujuh atau delapan hari lagi, karena itu baiklah kau lekas pulang untuk menemui isteri dan anak anakmu, orang sedalam rumah tangga ! Apa perlunya kau banyak omong di sini? Apakah faedah nya itu ?"

Kan Ciat menggoyang goyangkan kepalanya.

Selagi mendongkol, berduka dan berkuatir, rasa gatalnya menyerang hebat sekali.

Karena ia tidak bisa menggaruk, ia membenturkan kepalanya berulang ulang kepada tembok, sedang kedua tangannya, yang digerak-gerakkan, mendatangkan suara berkelontrangan yang berisik.

Dan terdengar jelas napasnya yang memburu.

"Ouw Sinshe, orang yang menggunakan bunga emas itu, siang atau malam, bakal datang kemari!"

Ia berkata dengan sengit.

"Aku juga telah melihat bahwa kaupun tidak bakalan mati secara baik, maka itu, aku pikir baiklah kita bergabung bekerja sama melawan dia. Bukankah ada terlebih baik begitu dari pada kau nantikan kematianmu dengan tidak berdaya?"

"Jikalau kamu semua masih dapat melawan dia, siang siang kamu telah membunuh mampus padanya,"

Kata Ouw Ceng Goe "Apakah perlunya aku mendapatkan lima belas kantong nasi yang tidak mempunyai guna?"

Kan Ciat menjadi putus asa.

Dari omong keras, ia menjadi merendah, memohon pertolongan tabib pandai itu.

Tetapi Ouw Ceng Goe sudah bertekad dengan keputusannya, bahwa ia tidak mau ambil perduli.

Akhirnya Kan Ciat menjadi gusar, hingga ia berjingkrakan.

"Baiklah!"

Serunya saking nekad "

Ke kiri dan ke kanan toh bakal mampus, maka kalau benar benar musti mampus, baiklah, aku akan menggunakan api membakar kandang anjingmu ini.

Kami yang biasa memasuki golok putih bersih dan mengeluarkan golok berdarah merah, biar kami membikin terjungkal kau.

pendeta bangsat!

Biarlah kita sama sama mengantarkan jiwa kita di tempat ini!"

Saat itu, dari luar masuk lagi seorang lain, yaitu orang yang ditolong Boe Kie waktu mau muntahkan darah.

Melihat kekalapan Kan Ciat ia meraba pinggang dan mengeluarkan sebatang Go bie Kong-cek (senjata semacam pusut).

Sambil monotol dada Kan Ciat dengan pusutnya, ia berkata .

"Kau berdosa terhadap Ouw Cianpwee, dan aku si-orang she Sie, merasa sangat tidak enak. Kau ingin yang masuk pisau putih, yang keluar pisau merah? Baiklah! Aku akan mengiringi keinginanmu."

Ilmu silat Kan Ciat sebenarnya tebih tingga daripada si orang she Sie. Tapi karena kedua tangannya diikat dengan rantai besi, maka ia tak melawan dan hanya mengawasi dengan mata membelalak.

"Ouw Cianpwee,"

Kata si orang she Sie dengan suara nyaring.

"boanpwee Sie Kong Wan murid Sian ia Sianseng dari Hoan san memberi hormat."

Seraya berkata begitu, ia menekuk lutut dan manggutkan kepala empat kali.

Melihat begitu, dalam hati Kan Ciat lantas saja timbul sedikit harapan.

Ouw Ceng Goe yang tidak dapat dipaksa dengan kekerasan, mungkin dapat ditataki dengan kelembekan.

Sesudahnya menjalankan peradatan besar, Sie Kong Wan berkata pula.

"Kami sungguh bernasib sial, karena justeru pada waktu kami memerlukan pertolongan, Ouw Siashe sakit. Tapi kami tahu, bahwa disini terdapat seorang saudara kecil yang mempunyai kepandaian tinggi dalam ilmu pengobatan. Maka itu, kami memohon Ouw Cianpwee suka memberi permisi supaya saudara kecil itu mengobati luka kami yang sangat luar biasa. Dikolong langit, kecuali murid Tiap kok le Sian tiada orang lain yang dapat menyembuh kan luka kami."

"Anak itu bernama Thio Boe Kie,"

Kata si tabib malaikat dengan suara tawar.

"Dia putera Thio Sam Hong. Aku Ouw Ceng Goe manusia jahat dari agama siluman tak ada sangkut pautnya dengan murid dari partai yang lurus bersih. Dia sendiri kena racun dingin dan meminta pertolonganku, Tapi aku sudah bersumpah, bahwa kecuali anggota Beng kauw, anak she thio itu tak sudi menjadi anggauta agama kami, mana biasa aku menolongnya?"

Hati Sie Kong Wan mencelos. Semula ia menduga, Boe Kie murid Tiap kok Ie sian. Sesudah berdiam sejenak, si tabib berkata pala.

"Mengapa kamu tidak mau lantas berlalu dari situ? Huh-huh! Apa kamu kira aku akan merasa kasihan? Tanyakanlah anak itu. Tanya dia berapa lama dia sudah berdiam dirumahku."

Sie Kong Wan dan Kan Ciat lantas saja mengawasi Boe Kie yang lalu mengacungkan dua jari tangannya.

"Duapuluh hari?"

Tanya Sie Kong Wan.

"Dua tahun dua bulan tepat"

Jawabnya. Kan Ciat dan Sie Kong Wan merasa kepala mereka seperti disiram air es. Mereka saling mengawasi dengan mulut ternganga.

"Biarpun dia berdiam disini sepuluh tahun, aku tetap tidak menolongnya,"

Kata Ceng Goa.

"Hanya sayang didalam tempo satu tahun, racun dingin yang mengeram dalam isi perutnya akan mengamuk, sehingga biar bagaimanapun jua, dia tak bisa hidup setahun lagi. Aku pernah bersumpah dihadapan leluhur agama kami, bahwa biarpun ayah sendiri, biarpun anak kandungku sendiri, aku tetap tak akan menolong, jika ia bukan murid Beng keuw."

Dengan putus harapan Kan Cat dan Sie Kong Wan menghela napes berulang-ulang.

Tapi baru saja mereka mau berjalan keluar, tiba-tiba Ouw Ceng Goe berkata "Bocah Boe tong pay itu mengerti juga sedikit ilmu pengobatan.

Meskipun ilmu pengobatan Boe tong tidak dapat menandingi ilmu ketabiban Beng kauw, kurasa dia tidak akan membinasakan kamu dengan pengobatan yang keliru.

Apa dia suka monolong atau tidak, bukan urusanku"

Sie Kong Wan agak terkelut. Didengar dari pada suaranya, si tabib malaikat seperti juga memberi isyarat supaya Boe Kie memberikan pertolongan. Maka itu, ia lantas saja berkata.

"Jika Thio Siauw hiap sudi menolong, kami mempunyai haranan lagi untuk bisa hidup terus."

"Bukan urusanku!"

Bentak Ceng Goa.

"Boe Kie kau dengarlah. Aku melarang kau mengobati mereka dalam rumahku. Kalau kamu tidak berada dalam rumah ini, aku tidak perduli."

Kan Ciat dan Sie Kong Wan kaget dan heran. Mereka sungguh tak mengerti apa maksudnya si tabib malaikat yang beradat aneh. Tapi Boe Kie yang sangat pintar lantas saja tahu apa maunya Ceng Goe.

"Kalian jangan mengganggu Ouw Sinshe yang sedang sakit,"

Katanya.

"Ikutlah aku."

Mereka lalu mengikutt Boe Kie keruang depan.

"Pengetahuanku tentang ilmu ketabiban sebenarnya sangat cetek dan luka kalian sangat luar biasa,"

Kata si bocah.

"Maka itu.. aku tidak mempunyai pegangan, apa aku akan berhasil atau tidak. Jika kalian percaya dan rela diobati olehku, bolehlah aku mencoba-coba. Tapi aku tidak bertanggung jawab akan keselamatan jiwa kalian."

Waktu itu, mereka sedang menderita hebat.

Rasa sakit gatal, meluang dan kesemutan tercampur menjadi satu.

Mereka mau mati tidak bisa mau hidup pun tidak dapat.

Maka itu, begitu mendengar perkataan Boe Kie, mereka segera menyetujui untuk menerima pertolongan bocah itu dengan rela hati.

Sesudah mendapat jawaban, Boe Kie lalu berkata pula.

"Sebagaimana kalian tahu, Ouw Sinshe tidak mengijinkan aku mengobati kalian didalam rumahnya. Ia merasa kuatir, bahwa kalian mati disini, nama harumnya sebagai Ie Sian (tabib malaikat) akan ternoda. Maka itu, marilah kita keluar."

Mendengar perkataan Boe Kie, mereka bersangsi.

Apakah kepandaiannya seorang anak-anak yang baru berusia belasan tahun?

Kalau dia salah mengobati, tentu penderitaan akan ditambah dengan penderitaan lain.

Tapi Kan Ciat sudah lantas berteriak.

"Kulit kepalaku gatal bukan main. Saudara kecil, kau boleh mengobati aku lebih dulu."

Sehabis berkata begitu, ia segera bertindak keluar.

Boe Kie memikir sejenak dan lalu masuk kekamar obat, dimana dia mengambil Lam seng, Hong-hong, Pek tit, Thiam ma, Kiang ho, Pek hoe coe, Cie souw dan lain-lain, semuanya belasan macam bahan obat.

Sesudah itu, ia memerintahkan seorang kacung mengilingnya dan mencampurnya dengan sedikit arak untuk membuat koyo yang lalu ditempelkan dikepala Kan Ciat yang gundul.

Begitu kena, dia mengeluarkan teriakan kesakitan dan melompat-lompat.

"Aduh! Aduh!"

Teriaknya.

"Sakit sungguh... tapi... tapi... mendingan daripada gatal."

Sambil mengertak gigi, ia berlari lari dan berteriak-teriak seperti seorang edan. Beberapa lama kemudian, kecepatan larinya jadi terlebih perlahan dan teriakannya mereda.

"Enakan... mendingan,.."

Katanya dengan napas tersengal sengal.

"Bocah itu memiliki kepandaian lumayan.... eh, salah! Thio Siauw hiap, kau memiliki ilmu yang sangat tinggi dan aku merasa sangat berterima kasih sekali kepadamu!"

Melihat hasil itu, semua orang segera memohon pertolongan Boe Kie.

Diantara mereka yang paling menderita adalah seorang yang terus bergulingan ditanah sambil mencekal perut.

Dia ternyata telah dipaksa untuk menelan tiga puluh lebih lintah hidup yang sekarang menghisap darahnya didalam perut.

Untung juga Boe Kie segera ingat, bahwa dalam salah sebuah kitab, ia pernah membaca lintah dalam harus ditaklukkan dengan madu.

Buru-buru ia memerintankan seorang kacung mengambil semangkok madu yang lalu di berikan kepada orang itu.

Dan sekali lagi ia berhasil.

Dengan demikian, ia terus bekerja keras sehingga fajar menyingsing.

Tak lama kemudian, Kie Sianw Hoe dan putrinya keluar dari kamar.

Melihat Boe Kie masih repot mengobati orang, Siauw Hoe segera memberi bantuan apa yang ia bisa.

Delasan orang ini sebenarnya jago-jago yang pernah malang-melintang dalam dunia Kangouw, tapi sekarang mereka jadi jinak sekali.

Dengan sabar mereka menunggu giliran dan tak berani membantah apa yang dikatakan oleh si bocah.

Antara mereka hanya Yo Poet Hwie yang bebas dari rasa jengkel atau bingung.

Sambil mengunyah buah angco ia berlari lari kian kemari untuk menangkap kupu-kupu yang berterbangan didalam kebun.

Sesudah lewat tengah hari barulah Boe Kie mulai mengobati luka diluar.

Dengan dibantu Siauw Hoe ia menghentikan keluarnya darah, memberi obat untuk meredakan rasa sakit, membalut luka dan sebagainya.

Sesudah selesai, ia segera pergi mengasoh dalam kamarnya.

Baru saja pulas beberapa jam, ia disadarkan oleh suara ribut ribut.

Buru-buru ia bangun dan pergi keluar untuk menengok para penderita.

Ternyata keadaan sebagian penderita itu cukup memuaskan tapi keadaan yang sebagian lagi berbalik menghebat.

Boe Kie jadi bingung, ia tak tahu apa yang harus diperbuat.

Akhirnya, karena tidak berdaya, ia terpaksa menemui Ouw Ceng Goe dan menceritakan keadaan mereka.

"Mereka bukan anggauta Bang kauw, perduli apa mereka mampus,"

Kata Tiap kok Ie sian dengan suara tawar. Mendadak Boe Me mendapat serupa ingatan dan ia lantas saja berkata.

"Andaikata ada seorang murid Beng kauw yang sedangkan diluar badannya tidak terdapat luka, perutnya kembung bengkak, warna kulitnya hitam biru dan terus menerus berada dalam keadaan pingsan, cara bagaimana Sinshe akan mengobatinya?"

"Kalau benar dia murid Beng kauw, aku akan mengobatinya dengan menggunakan San ka, Liong bwee, Ang hoa, Seng tee, Leng sian, To Ouw "

Kata Ceng Goe.

"Obat-obatan itu aku masak dengan arak encer dan kemudian menambahkannya dengan sedikit To pian. Sesudah minum godokan tersebut si sakit akan buang buang air dan mengeluarkan darah beracun dari kotorannya."

"Ouw Sinshe bagaimana aku akan berbuat jika kuping kiri seorang muiid Beng kauw dituangi timah cair, kuping kanan dituangi dengan air perak dan kedua matanya dilabur dengan cat, sehingga ia menderita kesakitan hebat dan matanya tak bisa melihat lagi" ' tanya pula si bocah. (Air perak = Air raksa) Ouw Ceng Goe naik darah.

"Siapa berani berlaku begitu kejam terhadap murid Beng kauw?"

Bentaknya.

"Musuhnya itu memang kejam luar biasa,"

Kata Boe Kie.

"Tapi menurut pendapatku, yang paling perlu yalah mengobati lebih dulu dan kemudian barulah kita menanyakan siapa adanya musuh itu."

Sesudah memikir sejenak, Tiap kok Ie sian ber kata.

"Kalau dia memang murid Beng kauw, aku akan menuang air perak kedalam kuping kiri nya. Timah akan lumer dan bercampur dengan air perak, sehingga cairan itu akan mengalir ke luar dari kupingnya. Kemudian, aku akan memasukkan jarum emas kedalam kuping kanannya. Air perak akan menempel pada jarum itu yang dengan perlahan bisa ditarik keluar. Mengenai cat yang masuk dikedua matanya, kurasa akan dapat dipunahkan dengan kepiting yang ditumbuk hancur dan kemudian dibalut pada matanya itu."

Demikianlah, untuk setiap luka yang aneh, Boe Kie meminta pertolongan Ouw Ceng Goe dengan menggunakan nama "murid Beng kauw"

Dan sang tabibpun memberikan bantuannya dengan segala senang hati.

Jika lukanya terlampau aneh dan si penderita tidak jadi mendingan dengan pertolongan pertama, Boe Kie segera menanyakan lagi pendapat Tiap-kok Ie-sian yang lalu mengasah otak dan mencoba pula dengan lain cara pengobatan.

Sesudah berselang lima enam hari, semua orang dapat dikatakan sudah mulai sembuh seluruhnya.

Luka yang diderita Kie Siauw Hoe adalah luka di dalam, tercampur dengan racun.

Tenaga pukulan musuh sudah melukakan perutnya, sedang racunpun sudah masuk kedalam tubuhnya.

Sesudah memeriksa dengan teliti, Boe Kie segera memberi obat pemunah racun kepadanya dan selang beberapa hari, keadaannya sudah banyak baik.

Sementara itu, para penderita telah mendirikan sebuah gubuk di depan rumah Ouw Ceng Goe dan mereka tidur menggeletak di tanah dengan hanya dialaskan dengan rumput kering.

Beberapa tombak dari gubuk itu, Kie Siauw Hoe juga membuat sebuah gubuk yang lebih kecil untuk ia dan puterinya.

Boe Me capai dan lelah.

Tapi ia sangat bergembira dan bersemangat, karena ia bukan saja bisa menolong sesama manusia, tapi juga sudah memperoleh resep-resep mujijat dan cara-cara pengobatan yang biasa dari Tiap kok Ie sian.

Tapi pagi itu ia kaget bukan main, sebab waktu bertemu dengan Kie Siauw Hoe, ia melihat sinar hitam pada alis nona Kie.

Apa penyakitnya kumat lagi?

Apa racun mengamuk pula?

Cepat-cepat ia memeriksa nadi Siauw Hoe.

Sesudah itu, ia mencampur ludah Siauw Hoe dengan bubuk obat Pek hap san dan begitu lekas melihat campuran itu, ia bisa lantas memberi kepastian bahwa benar racun mengamuk lagi.

Ia mengasah otak mati matian, tapi tidak bisa memecahkan sebab musabab dari perubahan itu.

Maka itu, ia selalu meminta pertolongan Ouw Ceng Goe yang segera memberitahukan lain cara pengobatan kepadanya.

Benar saja, sesudah diobati menurut petunjuk baru itu, keadaan Siauw Hoe jadi terlebih baik.

Tapi, sungguh heran, sehabis Siauw Hoe, perubahan luar biasa mendadak datang kepada dirinya Kan Ciat.

Kepala gundulnya yang sudah mulai sembuh mendadak borokan lagi dan mengeluarkan bau yang tak sedap.

Perubahan itu terjadi silih berganti atas dirinya kelimabelas orang itu.

yang satu mendingan, yang lain menghebat lagi penyakitnya.!

Boe Kie bingung bukan main.

Ia pergi menemui Tiap kok Ia sian dan menuturkad kejadian yang luar biasa itu.

"Sebab musabab dari perubahan itu yalah karena luka mereka sangat aneh, berbeda dengan luka biasa,"

Menerangkan sang tabib malaikat.

"Kalau mereka dapat disembuhkan oleb tabib biasa, tak perlu mereka datang kemari."

Malam itu Boa Kie tak bisa pules. Ia berduka dan coba memecahkan teka-teki yang rumit "Perubahan penyakit itu adalah kejadian biasa,"

Pikirnya.

"Tapi walaupun begitu tak bisa jadi semua penderita itu mengalami perubahan sampai berkali-kali, sebentar baik, sebentar hebat,"

Ia gelisah dan bergolak gulik diatas pembaringan.

Kira-kira tengah maiam, tiba-tiba ia mendengar suara tindakan kaki yang sangat enteng dan lewat didepan kamarnya.

Ia melompat bangun dam mengintip dari cela-cela jendela.

Ia melihat berkelebatnya bayangan manusia yang segera menghilang dibelakang pohon kuil.

Dilihat dari pakaian dan gerak-geriknya orang itu bulan lain dari pada Ouw Ceng Goe.

"Eh-eh! .. Mengapa Ouw Sinahe berkeliaran ditengah malam buta?"

Tanyanya didalam hati.

"Apa cacarnya sudah sembuh?"

Sesaat kemudian, ia melihat masuknya Tiap kok Ie sian kedalam gubuk Kie Siauw Hoe. Jantungnya berdebar keras dan jiwa kesatrianya tampil kemuka.

"Apa dia mau menganiaya atau menghina Kie Kouw kouw?"

Tanyanya pada diri sendiri.

"Meskipun aku bukan tandingannya, tak dapat aku mengawasi dengan berpeluk tangan. Ia melompat keluar jendela dan indap indap, ia mendekatii gubuk Kie Siauw hoe. Gubuk tersebut yang terbuat dari alang-alang hanya untuk menedeng angin dan embun, didalamnya kosong melompong, tiada sekosol, tiada aling aling apapun jua. Dengan hati bergoncang, Boe Kie mengintip dari belakang gubuk. Ia melihat sang bibi bersama puterinya sedang pulas nyenyak diatas setumpuk rumput rumput kering. Sekonyong Ouw Ceng Goe merogo saku dan mengeluarkan sebutir pel, yang lalu dicemplungkan kedalam mangkok obat Siauw Hoe. Sesudah itu ia memutar badan dan terus berjalan keluar. Sekelebatan Boe Kie melihat, bahwa muka orang tua itu masih ditutup dengan topeng kain hijau. Boe Kie mengeluarkan keringat dingin. Baru sekarang ia tahu, bahwa Ouw Ceng Goe lah yang sudah menaruh racun, sehingga para penderita tak bisa menjadi sembuh. Sesudah keluar dari gubuk Siauw Hoe, Ceng Goe masuk kegubuk yang lain, dimana dia berdiam agak lama. Boe Kie mengerti, bahwa untuk meracuni keempatbelas orang dengan racun yang berbeda-beda, si tua memerlukan tempo yang lebih banyak. Dilain saat si bocah sudah masuk kedalam gubuk dan mencium mangkok obat Siauw Hoe. Di dalam mangkok terisi godokan Pat sian thung dan ia telah memesan supaya begitu bangun tidur, Kouw-kouw segera minum obat itu. Tapi sekarang godokan itu mengeluarkan bau-bauan yang masuk hidung. Sekonyong-konyong terdengar pula suara tindakan kaki. Buru buru Boe Kie merebahkan diri diatas tanah. Ia tahu, bahwa Ouw Ceng Goe sudah kembali kekamar tidurnya. Sesudah menunggu beberapa lama, ia segera menaruh mangkuk obat keluar dari gubuk itu.

"Kie Kouw-kouw! Kie Kouw-kouw!"

Ia memanggil manggil dengan suara perlahan.

Sebagai seorang ahli silat, menurut pantas Siauw Hoe mudah tersadar, tapi sesudah si bocah memanggil berulang-ulang, ia masih pulas terus.

Karena terpaksa, Boe Kie lalu masuk pula dan menggoyang-goyangkan badan bibinya berulang kali.

Dengan kaget Siauw Hoe tersadar.

"Siapa?"

Tanyanya.

"Kouw-kouw, aku...."

Bisiknya.

"Mari kita keluar."

Siauw Hoe mengerti, bahwa kedatangan Boe Kie ditengah malam tentulah disebabkan oleh kejadian penting.

Perlahan-lahan ia menarik lengannya yang ditandalkan dibawah kepala puterinya dan kemudian keluar dari gubuknya bersama sama si bocah.

"Kie Kouw-kouw,"

Bisik Boe Kie.

"orang telah menaruh racun dimangkok obatmu. Buanglah obat itu, tapi jagalah, jangan sampai diketahui orang. Besok aku akan memberi penjelasan kepadamu"

Siauw Hoe manggutkan kepalanya dan Boe Kie segera kembali kekamarnya.

Karena kuatir ketahuan, ia masuk dengan melompati jendela.

Pada esokan paginya, sesudah sarapan.

Boe Kie mengajak Yo Poet Hwie pergi menangkap kupu kupu.

Mereka berlari lari, makin lama makin jauh dari rumah Ouw Ceng Goe.

Siauw Hoe yang mengerti maksud si bocah, lantas saja mengikuti dari belakang.

Selama beberapa bari, Boe Kie sering bermain-main dengan sinona ciiik, sehingga perginya ketiga orang itu sama sekali tak menimbulkan kecurigaan.

Sesudah melalui kira kira satu li mereka tiba disatu tanjakan gunung.

Boe Kie menghentikan tindakannya dan segera duduk diatas rumput, sedang Siauw Hoe segera berkata kepada puterinya.

"Poet-jie sekarang jangan mengubar kupu kupu lagi. Pergi petik bunga-bunga dan buatlah tiga buah topi bunga untuk kita bertiga. Si nona kecil jadi girang sekali dan sambil tertawa nyaring, ia berlari-lari untuk mencari bunga.

"Kouw kouw,"

Boe Kie mulai.

"apakah kau mempunyai permusuhan dengan Ouw Ceng Goe? Dialah yang sudah menaruh racun kedalam mangkok obatmu."

Siauw Hoe terkejut.

"Aku belum pernah mengenal Ouw Ceng Goe dan sehingga hari ini aku belum pernah bertemu muka dengannya,"

Jawabnya. Ia berdiam sejenak seperti orang sedang berpikir dan kemudian berkata pu1a.

"Saban kali bicara mengenai Ouw Sinshe, Thia thia (ayah) dan Soehoe selalu mengatakan, bahwa dia adalah seorang tabib nomor satu didalam dunia pada jaman ini. Merekapun tidak mengenal Ouw Sinshe. Aku sungguh tidak mengerti, mengapa Ouw Sinshe coba mencelakakan aku."

Sibocah lalu menuturkan kejadian semalam dan menambahkan.

"Dalam godokan Pat sian thung itu, aku mengendus bau rumput Pat sian co dan Touw koet koen yang sangat tajam. Kedua daun obat itu memang dapat mengobati luka, tapi racun nya sangat hebat dan tidak boleh digunakan terlalu banyak."

"Selain begitu, sifat kedua daun obat tersebut juga bertentangan dengan delapan macam obat yang terdapat dalam Pat sian thung. Maka itu biarpun tidak membahayakan jiwa, luka Kouw kouw jadi makin sukar disembuhkannya."

Siauw Hoe bersenyum.

"Kau mengatakan bahwa Ouw Sinshe juga meracuni empat belas penderita yang lain,"

Katanya.

"Hal ini lebih mengherankan lagi. Terhadap aku, kita dapat mengandalkan saja, bahwa secara tidak disengaja, ayah atau Go bie pay pernah menyinggung Ouw Sinshe. Tapi bagaimana terhadap yang lainnya? Apa mungkin keempat belas orang itu semuanya berdosa terhadap Ouw Sinshe?"

Boe Kie mengangouk.

"Memang! Memang sangat mengherankan,"

Katanya sambil menghela napas.

"Kie Kouwkouw, selat Ouw tiap kok adalah sebuah tempat yang mencil dan tidak banyak diketahui orang. Cara bagaimana kau dan yang lain-lain bisa datang kemari? Siapa adanya Kim hoa Coe jin (Majikan Bunga emas) yang telah melukakan kau? Urusan ini sebenarnya tiada sangkut pautnya dengan aku dan menurut pantas, aku sebenarnya tidak boleh menanya melit-melit. Akan tetapi, karena persoalan berbelit-belit, maka aku harap kau tidak menjadi kecil hatinya"

Paras mukanya Siauw Hoe lantas saja berubah merah.

Ia mengerti maksud si bocah yang rupa rupanya kuatir, bahwa pertanyaan itu akan menyentuh persoalan puterinya.

Persoalan mengapa sebelum menikah ia sudah mempunyai anak.

Sesudah memikir sejenak, ia berkata dengan suara parau.

"Kau sudah menolong jiwaku, tak dapat aku menyembunyikan sesuatu terhadapmu. Disamping itu, meskipun masih kanak-kanak, kau memperlakukan aku dan Poet jie luar biasa baik. Baiklah, aku akan menceritakan segala penderitaanku kepadamu, orang satu-satunya didalam dunia yang boleh mendengar rahasiaku."

Sehabis berkata begitu, air matanya mengucur. Ia mengambil saputangan dan sesudah menyusut air mata, ia berkata pula.

"Sedari aku kebentrok dengan seorang kakak seperguruan pada dua tahun lebih yang lalu, aku tidak berani menemui Soe hoe lagi... aku tidak berani pulang..."

"Hmm! Teng Bin Koen! ...... Kouwkouw kau tidak usah takut,"

Kata Boe Kie.

"Bagaimana kau tau?"

Tanya Siauw Hoe dengan rasa terkejut dan heran.

Boe Me segera memberitahukan, bahwa pada malam itu, bersama Siang Gie Coen ia telah menyaksikan peristiwa menolong Pheng Hweeshio.

Siauw Hoe menghela napas.

"Memang.... rahasia memang tak mungkin ditutup,"

Katanya.

"Kouwkouw, kau tak usah terlalu berduka."

Kata Boe Kie.

"In Lioksiok adalah seorang baik. Kalau kau tidak suka menikah dengannya, urusan itu bukan urusan yang terlalu besar. Begini saja, kalau bertemu dengan Lioksiok, aku akan memberitahukannya, bahwa kau tidak suka menikah dan dia merdeka untuk mencari lain isteri!"

Mendengar perkataan yang polos-jujur itu, yang keluar dari otak sederhana, Siauw Hoe tertawa getir.

"Anak,"

Katanya dengan suara bergemetar.

"Percayalah, bahwa aku bukan sengaja berbuat kedosaan terhadap pamanmu. Waktu itu aku...aku.... tidak ada lain jalan.... dan akupun sudah merasa menyesal sekali...."

Ia tidak meneruskan perkataannya dan air matanya kembali mengucur.

Ia mengawasi si bocah dan berkata dalam hatinya "Anak ini masih suci bersih, bagaikan selembar kertas putih.

Ah Lebih baik aku tidak menceriterakan segala hal percintaan kepadanya.

Apa pula urusan pribadi ini tiada sangkut pautnya dengan dia."

Memikir begitu, ia lantas saja berkata .

"Sesudah bercekcok dengan Teng Soecie, dengan membawa Poet jie aku bertani dan hidup mengasingkan diri disuatu tempat yang terpisah kira-kira tiga ratus lie disebelah barat Ouw tiap kok ini. Selama dua tahun lebih aku hanya bergaul dengan kaum petani dan aku dapat melewati hari dengan tidak banyak pikiran. Setengah bulan yang lalu, aku mengajak Poet jie kekota untuk membeli kain guna pakaian anakku itu. Di luar dugaan, di atas sebuah tembok, secara kebetulan aku melihat gambar sebuah lingkaran Hoed kong (lingkaran sinar Buddha yang suci) dan sebatang pedang."

"Itulah tanda rahasia memanggil kawan dari partai Go bie pay. Aku binguog dan sangat bersangsi. Sesudah menimbang-nimbang aku menganggap, bahwa meskipun aku telah kebentrok dengan Teng Soecie, tapi aku belum pernah me lakukan perbuatan yang menghina guru atau menghianati partai. Disamping itu, bentrokan tersebut juga tak ada sangkut pautnya dengan Soehoe dan lain-lain saudara seperguruan. Tanda itu mungkim diberikan oleh salah seorang saudara seperguruanku yang tengah menghadapi bahaya besar dan jika benar begitu, aku merasa tidak pantas untuk berpeluk tangan. Demikianlah, dengan menuruti petunjuk dari tanda rahasia itu, aku pergi ke Hong yang."

"Di kota Hong yang aku kembali melihat tanda itu yang memberi petunjuk, supaya kawan-kawan datang di rumah makan Lim hway kok. Sudah ketelanjuran datang, aku segera menyusul kesitu. Ternyata dalam rumah makan sudah berkumpul tujuh delapan orang, antaranya terdapat Seng cioe Ka lam Kan ciat dari Khong tong pay, Sie Kong Wan dari Hwa san pay dan lain-lain. Anggauta Goe bie pay hanya aku seorang. Aku mengenal Kan Ciat dan Sie Kong Wan dan lalu menanyakan sebab musabab dari berkumpulnya mereka dirumah makan itu. Mereka memberitahukan, bahwa mereka datang karena melihat tanda rahasia partainya, tapi seperti juga aku mereka tak tahu sebab musabab dari panggilan itu. Sehari suntuk kami menunggu tapi tak ada yang datang lagi. Pada esokan harinya, dengan beruntun datang pula beberapa orang lain, ada orang Sin koen boen, ada orang Siauw lim pay bagian selatan dan lain lain. Mereka juga mengatakan bahwa kedatangan mereka adalah karena melihat tanda rahasia. Tak satupun diantara mereka yang mendapat urusan secara langsung. Semua orang heran dan bercuriga. Apa tidak bisa jadi kami semua tengah dipermainkan oleh seorang musuh?"

"Ketika itu, diloteng rumah makan berkumpul lima belas orang dari sembilan buah partai. Tanda rahasia setiap partai bukan saja berbeda satu sama lain, tapi juga sangat dirahasiakan, sehingga kalau bukan murid partai yang tersangkut, seorang luar tentu tak mengerti artinya tanda itu. Jika seseorang ingin main gila, apakah ia bisa tahu tanda rahasia dari sembilan partai? Mengingat bahwa aku membawa Poet jie dan kalau bisa, aku tak mau anak itu menghadapi bahaya dan mengingat puta bahwa panggilan itu bukan tantaran saudara seperguruanku ada yang tengah menghadapi bencana besar, maka aku segera mengambil keputusan untuk pulang saja. Tapi baru saja aku mau turun tangan, tiba-tiba ditangga loteng terdengar suara keras, seperti juga undakan tangga dipukul orang dengan menggunakan toya. Suara itu disusul denggn suara batuk-batuk dan seorang nenek yang rambutnya sudah putih semua, mendaki undakan tangga. Ia naik setindak demi setindak sambil batuk-batuk dan kelihatannya lelah sekali. Disampingnya terdapat seorang nona kecil yang berusia kira kira dua belas tahun dan yang memapah si nenek."

"Melihat nenek yang sudah bagitu tigggi usianya dan juga kelihatannya sedang sakit, aku segera minggir, supaya ia bisa naik lebih dulu. Nona kecil itu ternyata cantik sekali, meskipun usianya masih sangat muda, belum pernah aku melihat wanita yang seayu dia, sehingga tanpa merasa aku mengawasinya beberapa kali. Tangan kanan si nenek mencekal sebatang tongkat dari kayu Pek bok dan dari pakaiannya, ia seperti juga seorang wanita miskin. Tangan kirinya memegang serenceng biji tasbih yang mengeluarkan sinar kuning berkilauan. Ketika aku memperhatikan, rencengan itu ternyata bukan biji biji tasbih, tap i bunga bunga bwee yang terbuat dari pada emas tulen..."

"Aha!"

Memutus Boe Kie.

"Perempuan tuaa itu tidak bisa lain dari pada majikan Kim hoa."

"Benar. Tapi pada waktu itu, siapakah yang bisa menduga jelek kepadanya?"

Kata Siauw Hoe.

Sehabis berkata begitu, ia merogoh saku dan mengeluarkan sekuntum bunga bwee emas yang menyerupai Kim Hoa yang pernah diserahkan kepada Ceng Goe oleh Boa Kie.

Si bocah tertegun.

Tadinya ia menduga, bahwa Kim hoa Coe jie adalah saorang lelaki yang bertubuh tinggi besar dan bermuka menakutkan.

Tak dinyana, majikan bunga emas itu hanyalah seorang nenek tua.

"Sesudah berada di atas loteng, nenek itu kembali batuk batuk. Siauw Hoe melanjutkan penuturannya.

"Sinona cilik berbisik.

"Popo makan obat ya?"

Sinenek mengangguk dan nona kecil itu selanjutnya sudah mengeluarkan sebutir yo-wan dari dalam sebuah peles kristal. Sambil mengunyah yo-wan, nenek itu berkata.

"O mie to hoed..... O mie to hoed ..."

Dengan mata separuh tertutup, ia mengawasi kami dan berkata pula dengan suara perlahan.

"Hm ... hanya lima belas orang. Coba tanya, apakah orang Koen loen pay dan Boe tong pay sudah pada datang semuanya?"

"Kedatangan kedua wanita itu tidak diperhatikan oleh kami. Tapi, begitu sinenek mengucapkan perkataan itu, beberapa orang yang kupingnya lebih tajam segera menengok dan mengawasinya. Melihat nenek itu, hati mereka lega dan menganggap mereka salah dengar.

"Tiba-tiba si nona cilik berkata dengan suara nyaring.

"Hai! Popoku menanya kepada kalian. Apakah orang-orang Koen loen pay dan Boe tong pay sudah pada datang semuanya?"

Semua orang terkejut, untuk sejenak mereka tak dapat mengeluarkan sepatah katapun. Sesaat kemudian, barulah Kan Ciat berkata.

"Adik kecil, apa katamu?"

Jawab nona itu.

"Popoku menanya. Mengapa ia tidak melihat murid Boe tong dan Koen loen?"

Alis Kan Ciat berkerut dan lalu menanya pula "Siapa kalian ?"

"Nenek itu kembali batuk-batuk sambil membungkuk-bungkuk. Mendadak.... mendadak saja, aku merasa semacam angin menyambar dadaku, entah dari mana. Sambaran itu hebat luar biasa dan buru buru aku mengibaskan tangan untuk menangkis. Tiba tiba aku merasa dadaku menyesak, darahku bergolak golak, kedua lututku lemas dan aku jatuh duduk sambil muntahkan darah."

"Dalam keadaan setengah pingsan, aku melihat badan si nenek bergrrak gerak, ia menggaplok atau meninju seraya batuk batuk tak hentinya. Dalam sekejap, empat belas orang sudah rebah di atas loteng Kecepatan bergeraknya dan hebatnya tenaganya tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Seumur hidup, belum pernah kulihat manusia yang bisa bergerak begitu cepat dan mempunyai tenaga Lweekang yang sedemikian hebat. Di antara kami, sejurus pun tak ada yang mampu melawan. Kalau bukan tertotok jalan darah, isi perut mereka terluka karena pukulan Lweekang."

"Tiba-tiba si nenek mengayun tangan kirinya dan lima belas bunga emas menyambar kebahu atau tangan kelimabelas orang. Kali ini dia tidak mencelakakan orang, sebab meskipun limabelas bunga emas itu mengenai tepat pada sasarannya, tak seorangpun yang mendapat luka. Sesudah itu, dia memutar tubuh dan dengan dipapah oleh si nona kecil, ia berkata "

O mie to hoed! O mie to hoed !"

Tanpa menengok lagi mereka turun kebawah loteng.

Beberapa saat kemudian, kami men dengar suara totokan tongkat ditanah, diseling seling dengan suara batuk-batuk Bicara sampai disitu, Yo Poet Hwie mendatangi dengan tangan mencekal sebuah karangan bunga yang merupakan topi.

Sambil tertawa ha ha hi hi, ia berkata.

"bu, kau pakailah topi ini,"

Dengan sikap aleman, ia lalu menaruh topi bunga itu dikepala sang ibu. Siauw Hoe tertawa sambil manggut manggutkan kepalanya dan kemudian melanjutkan penuturannya.

"Kami semua rebah diatas papan loteng tanpa berkutik, sebagian pingsan, sebagian bernapas sengal-sengal dan sebagian pula merintih dengan perlahan...."

"Ibu,"

Memutus Poet Hwie.

"Apakah kau sedang menceritakan perempuan jahat itu ? Jangan! Aku takut."

"Nak,"

Kata sang ibu sambil bersenyum.

"Pergilah kau memetik bunga lagi dan buatlah sebuah topi untuk kakak Boe Kie"

Poet Hwie mengawasi Boe Kie.

"Waena apa yang kau suka ?"

Tanyanya.

"Merah dan campur sedikit dengan warna putih, lebih besar topinya lebih baik lagi,"

Jawabnya.

"Sebesar ini?"

Tanyanya pula si nona sambil membuat sebuah lingkaran dengan kedua tangannyaa.

"Ya, sebesar itu,"

Jawabnya. Poet Hwie segera berlari-lari dengan menepuk nepuk tangan sambil tertawa-tawa.

"Kalau sudah jadi kau harus memakainya !"

Teriaknya.

"Beberapa lama kemudian, dalam keadaan lupa ingat, aku melihat belasan orang naik keloteng," ' Siauw Hoe melanjutkan penuturannya.

"Mereke itu adalah pelayan, tukang masak dan pengurus rumah makan. Mereka menggotong kami kedapur. Tak usah dikatakan lagi, Poet jie ketakutan setengah mati dan sambil menangis keras, ia mengikuti orang-orang yang menggotong aku. Setibanya didapur, si pengurus rumah makan membaca tulisan diselembar kertas. Seraya menuding Kan Ciat, ia memerintah. Labur koyo dikepalanya. Seorang pelayan segera membuka sebuah kotak koyo dan melebur isinya dikepala Kan Ciat. Sesudah itu, sambil membaca pula tulisan itu, dia menuding seorang lain dan berkata. Putuskan tangan kanannya dan tempelkan lengan itu dikaki kirinya! Siksaan itu lantas saja dijalankan oleh dua orang pelayan. Waktu giliranku tiba, untung juga aku tidak mendapat hukuman aneh. Aku hanya diperintah minum semangkoh air yang rasanya manis. Aku mengerti, bahwa air itu tentu mengandung racun, tapi aku tidak berdaya."

"Sesudah kami semua mendapat hukuman yang luar biasa, si pengurus rumah makan berkata.

"Kamu semua sudah mendapat luka yang tak mungkin disembuhkan lagi. Tak seorangpun diantara kamu yang bisa hidup sepuluh hari atau setengah bulan lagi. Tapi pemilik bunga emas mengatakan, bahwa ia sama sekali tidak bermusuhan dengan kamu. Maka itu, ia menaruh rasa belas kasihan dan membuka suatu jalan hidup untuk kamu. Sekarang pergilah kamu lekas-lekas ke Ouw tiap kok yang terletak ditepi telaga Lie san Ouw dan mintalah pertolongan dari Ouw Ceng Goe yang bergelar Tiap kok Ie sian. Kalau dia sudi menotong, maka kamu semua ada harapan hidup, tapi manakala dia menolak, dalam dunia tak ada orang yang bisa menolong kamu lagi. Tapi Ouw Ceng Goe mempunyai lain julukan, yaitu Kian sie Poet kioe. Kalau kamu tidak berusaha mati matian, dia pasti tak akan mengulurkan tangan. Jika kamu bertemu dengan Ouw Ceng Goe katakanlah bahwa tak lama lagi Kim hoa Coejin aku akan mencari dia dan dia harus siang siang mempersiapkan penguburan mayatnya sendiri. Sesudah berkata begitu dia segera menyediakan kerata dan kudakuda, memberi petunjuk mengenai jalanan yang harus diambil, dan kemudian mengusir kami."

Boe Kie mendengari cerita itu dengan mata tidak berkedip.

"Kie Kouwkouw,"

Katanya.

"Didengar dari penuturanmu, pengurus Lim hway kok, tukang masak dan pelayan-pelayannya semua kaki tangan perempuan jahat itu,"

"Akupun menduga begitu,"

Kata Siauw Hoe.

"Si pengurus rumah makan memerintahkan dijalankannya siksaan itu menurut surat catatan yang rasanya ditinggalkan oleh perempuan kejam itu. Tapi dalam peristiwa terdapat beberapa teka teki yang sehingga sekarang masih belum dapat dipecahkan olehku. Mengapa nenek itu melakukan perbuatan yang begitu kejam? Kalau dia mendendam sakit hati dan mau mengambil jiwa kami, dia dapat melakukannya dengan mudah sekali. Jika dia hanya ingin menyiksa orang orang dengan rupa-rupa jalan yang kejam mengapa dia mengirim kami kepada Ouw Sinshe ? Dia mengatakan bahwa tak lama lagi dia akan mencari Ouw Sinshe untuk membalas sakit hati, Apakah penyiksaannya terhadap kami hanya untuk menjajal kepandaiannya Ouw Sinshe?"

Boe Kie menundukkan kepala, memikir sejenak, ia berkata.

"Menurut katanya Siang Gie Coen Toako, Ouw Sinshe mempunyai seorang musuh yang akan datang untuk membalas sakit hati. Musuh itulah Kim hoa Coejie. Menurut pantas Ouw Sinshe seharusnya mengobati kalian dengan sungguh hati, supaya kalian bisa membantu dia dalam menghadapi musuh berat itu. Sesuai dengan julukan Kian sie Poet kioe, ia menolak untuk mengobati. Tapi mengapa, sesudah menolak, ia memberi berbagai resep kepadaku dan mengajarkan aku macam macam cara pengobatan untuk menolong kalian? Resep obat itu manjur sekali. Tapi mengapa ditengah malam buta ia menggerayang dan memberi racun kepada kalian? Ah! Sikap Ouw Sinshe sungguh aneh? Dalam peristiwa ini muncul banyak cangkriman yang tak akan bisa ditembus olehku."

Lama sekali mereka berunding, tapi mereka tak juga dapat menebak artinya banyak teka teki itu.

Tak lama kemudian, Poet Hwie kembali dengan sebuah topi bunga yang lalu ditaruhnya diatas kepala Boe Kie dan kemudian pergi lagi untuk membuat topinya sendiri.

"Kie kouwkouw,"

Kata pula Boe Kie.

"Mulai dari sekarang kau tidak boleh minum apapun juga kecuali jika obat itu diberikan olehku sendiri. Diwaktu malam sebaiknya kau siap sedia dengan senjata untuk menjaga sesuatu yang tidak diinginkan. Sekarang kau masih belum boleh pulang karena aku masih perlu memberi obat untuk menyembuhkan luka didalam badanmu. Begitu lekas lukamu tidak berbahaya lagi, kau harus buru buru pulang dengan membawa Poet Hwie."

Siauw Hoe mengangguk dengan rasa sangat ber terima kasih.

"Manusia she Ouw itu sungguh aneh dan hatinya sukar ditebak,"

Katanya.

"Boe Kie, akupun merasa kuatir akan keselamatanmu jika kau berdiam lama-lama disini. Lebih baik kita menyingkir bersama sama."

Boe Kie yang dikuatirkan keselamatannya jika berada lama-lama di lembah Ouw-tiap-kok sudah menyatakan kesediaannya untuk ikut menyingkir dari lembah itu bersama-sama Kie Siauw Hoe dan puterinya.

"Boe kie,"

Kata Kin Siauw Hoe.

"bila kau mau ikut dengan aku, kita boleh jalan bersama sama. Aku sendiri akan segera pergi menemui soehoe ke Go bie san. Kalau nasib baik dan beliau tidak mendengar hasutan Soecieku, maka untukmu masih ada sedikit harapan hidup karena beliau memang mempunyai niatan untuk menurunkan semua kepandaiannya kepadaku, bahkan akan mengambil aku sebagai ahil warisnya. Manakala niatan itu dilaksanakan, beliau terutama tentu akan menurunkan Go bie Kioe yang kang kepadaku. Selanjutnya aku bisa ajarkan ilmu itu kepadamu. Dengan memiliki Go bie Kioe yang kang, kau bisa menggabungkannya dsngan Siauwlim dan Boe tong Kioe yang kang sehingga rasanya racun dingin Hian beng Sin ciang bisa dengan gampang terusir keluar dari badanmu. Tapi, aih..., sesudah aku melakukan perbuatan yang tidak panta, mana aku ada muka untuk bertemu lagi dengan Soehoe? Mana bisa belia mengangkat aku menjadi ahli warisnya lagi?"

Semula sang bibi bicara dengan semangat berapi-api karena memikiri penyakit yang diderita Boe Kie.

Tapi, manakala teringat olehnya akan dirinya yang telah ternoda, ia jadi tampak bermuram durja.

Melihat paras sang bibi yang sangat berduka, Boe Kie segera menghibur.

"Kie Kouw kouw, kau tak usah bersedih. Ouw Sinshe mengatakan bahwa paling lama aku hanya bisa hidup setahun lagi. Akupun sering memeriksa keadaan badanku dan aku yakin, bahwa apa yang dikatakan Ouw Sinshe bukan omong kosong. Andaikata gurumu mengajar Go bie Kioe yang kang kepadamu, kurasa kaupun tak akan keburu menolong aku. Memang benar juga, jalan yang paling baik adalah kita menyingkir sekarang juga. Tapi dalam cara mengobati lukamu, masih ada beberapa bagian yang belum begitu terang bagiku. Untuk itu, aku masih perlu minta petunjuk Ouw Sinshe,"

SiauwHoe tertawa dan menanya.

"Apa tak bisa jadi ia akan sengaja memberi petunjuk yang salah. Kau tidak boleh lupa, bahwa ia sudah berusaha untuk meracuni aku."

"Tidak, kurasa ia tak akan berbuat sedemikian,"

Membantah Boe Kie.

"Sebegitu jauh, obat-obat atau cara mengobati yang diberikan oleh Ouw Sinshe, sangat mustajab dan tepat. Disamping itu, akupun dapat membedakan jika ia sengaja memberikan obat yang salah. Dan.... inilah justeru yang aku tidak mengerti!"

Sesaat itu, Poet Hwie sudah kembali dengan kepala memakai topi rangkaian bunga.

Mereka bertiga sudah mempunyai topi, perundinganpun sudah selesai dan mereka lalu kembali kerumah Ouw Ceng Goe.

Malam itu, Boe Kie tak bisa pulas lagi.

Kira kira tengah malam Ouw Ceng Goe menggerayang lagi kegubuk Siauw Hoe, gubuk Kan Ciat dan kawan-kawannya untuk menaruh racun.

Tiga hari telah lewat tanpa terjadi sesuatu yang luar biasa.

Karena tidak pernah kena racun lagi, kesehatan Siauw Hoe pulih dengan cepat.

Keadaan Sie Kong Wan dan yang lain-lain masih tetap seperti biasa, sebentar mendingan, sebentar hebat.

Beberapa orang sudah mulai mengeluh dan mengatakan, bahwa kepandaian Boe Kie masih terlalu rendah, tapi si bocah tidak menggubris.

Malam itu, sambil berbaring dipembaringan, Boe Kie berkata dalam hatinya.

"Sesudah lewat malam ini, aku sudah mengikut Kie Kouw-kouw menyingkirkan diri. Karena racun dalam tubuhku tak bisa dipunahkan, lebih baik aku tidak pulang ke Boe tong, supaya Thay soe-hoe dan paman paman jangan berubah hati. Aku akan pergi ketempat yang sepi dan mati dengan diam-diam."

Mengingat bahwa ia akan segera meninggalkan Ouw tiap kok, hatinya terharu.

Walaupun Ceng Goe beradat aneh, ia telah memperlakukannya baik sekali dan selama kurang lebih dua tahun, orang tua itu menurunkan banyak ilmu ketabiban kepadanya.

Sesudah berkumpul begitu lama, di dalami hatinya sudah bersemi rasa cinta terhadap orang tua itu.

Maka itu, perlahan-lahan ia bangun, dan pergi kekamar si tabib malaikat dan menanyakan kesehatan orang tua itu dari luar kamar.

Tiba-tiba ia ingat bahwa Kim Hoa Coe jin akan segera menyateroni.

Apa Ouw Sinshe mampu melawan perempuan jahat itu?

Ia merasa kasihan dan segara berkata "Ouw Sinshe, kau sudah berdiam di Ouw tiap kok begini lama, apa kau tidak merasa sebal?

Mengapa kau tidak mau pergi pelesir ketempat lain?"

Ceng Goe terkejut.

"Aku sedang sakit, mana bisa aku pergi ketempat lain?"

Jawabnya.

"Tapi Sinshe dapat mengunakan kereta,"

Kata pula Boe Kie.

"Dengan menutup jendela kereta dengan tirai supaya tidak masuk angin, kau bisa pergi kemanapun juga"

Tiap kok Ie sian menghela napas.

"Anak hatimu mulia sekali,"

Ia memuji.

"Dunia sedemikin lebar, dimanapun sama saja. Bagaimana keadaanmu selama beberapa hari ini? Bagaimana dadamu? Apakah hawa dingin masih bergolak di tantianmu?"

"Makin lama hawa itu makin bertambah", jawabnya.

"Sudahlah! Biarkan saja. Aka toh sudah tak bisa ditolong lagi."

Untuk beberapa saat Ceng Goe tidak mengatakan suatu apa.

"Anak, sekarang aku ingin memberi obat yang akan bisa menolong jiwamu,"

Katanya.

"Gunakanlah Tong kwie, Wan cie, Seng tee, Tok ho dan Hong hong, lima macam. Ditengah malam, minumlah obat itu cepat-cepat, dengan menggunakan Coan san ka sebagai penuntun."

Boe Kie kaget.

Lima macam bahan obat itu sama sekali tiada sangkut pautnya dengan penyakit yang dideritanya.

Bukan saja begitu, sifat kelima macam bahan obat itu malah berbahaya untuk dirinya.

Ditambah dengan Coan san ka, bahaya itu jadi makin besar.

"Sinshe, berapa timbangannya?"

Tanyanya dengan rasa heran.

"Jangan rewel!"

Bentak Ceng Goe dengan suara gusar.

"Aku sudah memberitahukan kau. Sudah cukup. Pergi!"

Si bocah gusar.

Semenjak berdiam di Ouw tiap kok, orang tua itu memperlakukannya secara sopan-santun dan mereka sering kali merundingkan soal ketabiban sebagai sahabat.

Tak dinyana, hari ini Ceng Goe berlaku begitu kasar terhadapnya.

Dengan rasa mendongkol, ia kembali kekamarnya.

Sambil bergulik-gulik dipembaringan ia berkata di dalam hati.

"Dengan baik hati aku menasehati supaya kau menyingkir, tapi aku berbalik di hina olehmu. Hm ! ... Kau juga coba memberi obat yang tidak-tidak kepadaku. Apa kau kira aku akan kena diakali?" . Makin lama hatinya jadi makin panas. Ia tak mengerti mengapa si tua begitu berani mati dan memberikannya resep obat yang begitu gila-gilaan. Beberapa lama kemudian, ia merasa lelah dan maramkan kedua matanya. Mendadak, dalam keadaan layap layap, serupa ingatan berkelebat dalam otaknya. Ah! Tong kwie, Wan cie, resep tanpa diberi timbangan obatnya... Dalam dunia tak ada resep yang sedemikian. Aha! Apa tak bisa jadi Tong kwie dimaksudkan kay tong kwie kie? Mungkin! (Tong kwie adalah namanya serupa obat. Tapi "Tong kwie"

Atau "kay tong kwie kie"

Juga berarti "harus pulang" ) Sesudah memikir beberapa saat, tiba-tiba ia melompat bangun dan berkata dalam hatinya.

"Benar! Resep itu mengandung maksud lain. Dengan Wan cie, ia rupanya ingin menyuruh aku 'cie cay wan hang' (ingatan berada ditempat jauh) atau dengan lain perkataan, ia ingin aku 'ko hoei wan coew' (pergi ketempat yang jauh). Ia menyebutnya Seng tee (tanah hidup) dan Tok ho (hidup sendirian). Mungkin sekali, Seng tee berarti 'Seng louw' (jalanan hidup) dan sesudah mengambil jalanan hidup barulah aku bisa 'hidup sendirian'. Apa arti Hong hang (menjawab angin)? Ouw Sin she maksudkan supaya aku menutup rahasja, jangan sampai 'membocorkan angin'."

"Obat itu harus diminum cepat-cepat diwaktu tengah malam buta dengan menggunakan Coan san ka sebagai penuntun. 'Cepat cepat', 'tengah malam buta', 'Coan san ka' .... Apakah Ouw Sinshd maksudkan, bahwa aku harus cepat-cepat kabur ditengah malam buta dengan menembus jalanan gunung dan tidak boleh mengambil jalanan raya? Tak salah! Itulah tentu maksud yang sebenarnya." (Coan san ka berarti tenggiling. Arti huruf`-huruf itu sendiri ialah 'menembus gunung'). Berpikir begitu, ia segera menghampiri pintu. Sebelumnya membukanya, ia merendek.

"Sekarangi musuh belum tiba, tapi mengapa Ouw Sinshe tidak memberitahukan aku secara teang-terangan?"

Tanyanya didalam hati.

"Mengapa ia mengeluarkan cangkeriman itu? Kalau aku tidak dapat menebaknya, bukankah aku bisa celaka? Ah! Sekarang sudah lewat tengah malam, aku mesti menyingkir secepat mungkin."

Walaupun baru berusia belasan tahun, Boe Kie sudah mempunyai jiwa ksatria.

Ia ingin segera menyingkir, tapi ia memikiri nasib Ouw Sinshe.

Di lain saat ia ingat, bahwa si tabib malaikat tentu lah juga sudah mempunyai pegangan untuk melawan musuh karena sesudah tahu bakal datangnya musuh itu, ia tetap tidak mau menyingkir.

Tapi biar bagaimanapun juga, meskipun Ceng Goe sudah memesan supaya ia menutup rahasia, ia tak bisa tidak menolong Siauw Hoe dan puterinya.

Perlahan-lahan ia keluar dari kamarnya dan pergi ke gubuk Siauw Hoe.

Ia menepuk-nepuk tangan seraya memanggil manggil dengan suara perlahan.

"Kie Kouwkouw .... Kie Kouwkouw ..... bangun!"

Siauw Hoe tersadar "Siapa? Boe Kie ?"

Tanyanya.

Sesaat itu, sekonyong konyong si bocah merasa sambaran angin yang sangat halus dipunggungnya dan baru saja ia memutar badan, pundak dan pinggangnya sudah kesemutan dan ia roboh tanpa berkutik lagi.

Gerakan penyerang itu cepat luar biasa.

Di lain saat, iapun sudah merobohkan Siauw Hoe dengan totokan.

Dengan bantuan sinar bulan sisir, Boe Kie melihat, bahwa orang itu mengenakan topeng kain hijau.

Ouw Ceng Goe!

Sedang berbagai pertanyaan berkelebat-kelebat dalam otak Boe Kie, tangan kiri si tabib malaikat sudah mencengkeram pipi Siauw Hoe untuk memaksanya membuka mulut, sedang tangan kanannya coba memasukkan sebutir yo wan.

Sebelum pel itu masuk kedalam mulutnya, Siauw Hoe sudah mengendus bebauan yang sangat tak enak.

Ia mengerti, bahwa pel itu adalah racun yang sangat hebat, tapi ia tidak berdaya, kaki tangannya tidak bisa bergerak lagi.

Dengan sorot mata putus harapan, ia mengawasi puterinya.

"Poet jie !"

Ia mengeluh di dalam hati.

"Ibumu bernasib celaka, kaupun jelek peruntungan. Mulai dari sekarang, ibumu tak bisa merawatmu lagi."

Tiba tiba pada detik yang sangat berbahaya, Boe Kie melompat bangun.

Orang itu kaget dan menengok, tapi punggungnya sudah dihantam Boe Kie dengan sekuat tenaga.

Ternyata, sesudah ditotok jalanan darah pada pundak dan pinggangnya, untuk sementara Boe Kie rebah dengan tidak berdaya.

Tapi, sebagai ahli waris Cia Soen, selang beberapa saat, ia berhasil membuka jalan darahnya dengan menggunakan Lweekang.

Ia melompat bangun dan pada detik yang sangat genting, ia menghantam jalanan darah Kin soe hiat dipunggung Ouw Ceng Goe dengan pukulan Sin liong Pa bwee, yaitu salah satu jurus dari Hang liong Sip pat ciang.

Meskipun ia hanya mengenal bagian kulit dari pukulan itu, tapi karena jurus tersebut adalah jurus yang sangat luar biasa dan juga sebab Ouw Ceng Goe sama sekali tidak menduga bakal dibokong cara begitu, maka, begitu lekas pukulan Boe Kie mengenai Kin soe hiat, ia roboh tanpa mengeluarkan suara.

Berbareng dengan robohnya, topeng kain tersingkap separuh dan begitu melihat, Boe Kie mengeluarkan teriakan tertahan.

"Ah !"

Mengapa? Karena muka itu bukan muka Ouw Ceng Goe, tapi muka seorang wanita setengah tua yang berparas cantik.

"Siapa kau?"

Bentak Boe Kie.

Sesudah terpukul, wanita itu merasakan kesakitan hebat, mukanya pucat pasi, sehingga ia tidak dapat menjawab pertanyaan si bocah.

Buru-buru Boe Kie membuka jalanan darah Kie Siauw Hoe dan berkata.

"Kie Kouwkouw, tempelkan ujung pedangmu didadanya, supaya dia tidak bisa berkutik. Aku mau menengok Ouw Sinshe."

Ia berkuatir akan keselamatannya Ouw Ceng Goe.

Ia menduga bahwa wanita itu adalah konco Kim hoa Coe jin.

Jika perempuan jahat itu keburu datang, maka dia dan Siauw Hce serta puterinya pasti akan celaka.

Dengan lari seperti terbang ia pergi ke kamar Ceng Goa dan tanpa banyak rewal, ia memukul pintu yang lantas saja terpentang.

"Ouw Sinshe!"

Teriaknya, tapi tak ada jawaban.

Ia segera mengeluarkan bahan api dan menyulut lilin.

Kasur terbuka, tapi orang tua itu tak kelihatan bayang -bayangannya.

Melihat kamar itu kosong, hatinya agak lega, karena ia semula menduga bahwa Ouw Ceng Goe sudah dibinasakan.

"Ouw Sinshe rupanya diculik musuh,"

Pikirnya.

Baru saja ia mau keluar, di bawah ranjang tiba tiba terdengar suara helaan napas.

Ia segera mengangkat ciak-tak (tempat tancapan lilin) dan menyuluhi kolong ranjang.

Ia girang bukan main, karena melihat Ouw Ceng Goe rebah disitu dengan kaki tangan terikat.

"Ouw Sinshe, jangan khawatir!"

Katanya dan lalu merangkak ke kolong ranjang untuk menyeretnya keluar.

Ternyata, orang tua itu tidak bisa bicara sebab mulutnya disumbat dengan buah toh dan Boe Kie segera mengorek keluar buah itu.

Waktu mau membuka ikatan, ia mendapat kenyataan, kaki tangan Ceng Goe diikat dengan tambang urat kerbau, sehingga ia tidak dapat memutuskannya dan lalu mecari pisau.

"Mana perempuan itu?"

Tanya Ceng Goe selagi Boe Kie mau memotong tambang.

"Jangan kuatir, ia sudah ditakluki dan tak akan bisa lari,"

Jawabnya.

"Jangan putuskan dulu tambang ini!"

Kata Ceng Goe tergesa.

"Lekas bawa dia kemari. Lekas kalau terlambat, aku kuatir tak keburu lagi."

Boe Kie heran.

"Mengapa begitu?"

Tanyanya "Lekas bawa dia kemari!"

Bentak orang tua "Tidak!.... Begini saja. Lebih dulu, berikan padanya tiga butir Goe hong Hiat ciat tan. Ambillah dari laci ketiga. Lekas...! Lekas .."

Ia berkata begitu dengan paras muka bingung dan pucat.

Boe Kie tahu, bahWa Goe hong Hiat ciat tan adalah pel untuk memunahkan racun dan dibuat dengan menggunakan macam-macam bahan yang sangat mahal harganya.

Untuk memunahkan racun yarg sangat hebat, sebutir saja sudah lebih dari cukup.

Tapi Ouw Ceng Goe menyuruhnya untuk memberikan tiga butir.

Siapa wanita itu?

Ia heran tak kepalang, tapi melihat sikap orang tua itu, ia tidak berani menanya melit-melit.

Buru buru ia mengambil pel itu dan berlari-lari ke gubuk Siauw Hoe.

"Lekas telan!"

Bentaknya sambil menyodorkan tiga butir Goe hong Hiat ciat tan kepada tawanannya.

"Pergi! Aku tak perlu dengan pertolonganmu!"

Teriak wanita itu. Begitu mengendus bau Goe hong Hiat ciat tan, ia lantas saja mengetahui, bahwa Boe Kie datang dengan membawa obat.

"Ouw Sinshe yang menyuruh aku membawa obat ini,"

Kata Boe Kie dengan mendongkol.

"Pergi!... pergi!..pergi....!"

Teriak pula wanita itu.

Sesudah kena pukulan Boe Kie, teriakannya lemah sekali.

Si bocah bingung dan hanya bisa menebak-nebak.

Ia menduga, bahwa waktu mengikat Ceng Goe wanita itu kena senjata racun.

Untuk korek keterangan mengenal musuhnya, Tiap kok Ie sian rupanya sengaja memberi obat pemunah kepadanya.

Memikir begitu, ia lantas saja menotok jalanan darah Kian tin hiat, sehingga wanita itu tak bisa melawan dan kemudian memasukkan tiga butir pel itu kedalam mulutnya.

Karena suara ribut-ribut, Poet Hwie mendusin dan mengawasi wanita itu dengan perasaan heran.

"Kouw-kouw mari kita membawa dia kepada Ouw Sinshe,"

Kata Boe Kie. Mereka lantas saja mencekal tangan wanita itu yang lalu diseret ke kamar Tiap kok Ie sian. Begitu mereka masuk, Ouw Ceng Goe menanya "Sudah makan obat?"

"Sudah,"

Jawab Boe Kie.

Paras muka Ceng Goe jadi lebih tenang dan Boe Kie segera memotong tambang yang mengikat kaki tangannya.

Sesudah kaki tangannya merdeka, Tian kok Ie sian segera menghampiri wanita itu, membuka kelopak matanya dam memegang nadinya.

"Eh...eh!"

Katanya dengan suara kaget.

"Mengapa kau mendapat luka? Siapa yang sudah melukakan kau?"

Wanita itu menjebi.

"Tanya muridmu!"

Bentaknya. Ouw Ceng Goe memutar badannya dan menanya Boe Kie .

"Apa kau yang memukul?"

"Benar,"

Jawabnya.

"waktu dia mau....."

Plok! Plok! Orang tua itu menggaplok Boe Kie keras keras, sehingga mata si bocah berkunang kunang. Siauw Hoe menghunus pedang dan membentak.

"Kurang ajar!"

Tapi, tanpa menghiraukannya, Ceng Goe lalu menanya wanita itu.

"Bagaimana rasanya dadamu? Aku pasti akan menyembuhkan kau."

Sikap dan perkataannya berbeda jauh, bagaikan langit dan bumi dengan kebiasaan Kian sie Poet kioe Ouw Ceng Goe.

Tapi si wanita tetap tidak mengubris dan terus bersikap tawar.

Dengan rasa heran yang sangat besar, Boe Kie mengawasi kejadian itu sambil mengusap-usap pipinya yang bengkak.

Dengan sikap menyayang Tiap kok Ie sian lalu membuka jalanan darah si wanita, mengurut-urutnya, mengambil beberapa macam daun obat yang lalu dimasukkan kedalam mulut wanita itu, memondongnya dan menaruhnya diatas pembaringan, akan kemudian menyelimutinya dengan selimut tebal.

Semua itu dilakukan si-tua secara lemah lembut dan penuh kecintaan.

Boe Kie menggeleng-gelengkan kepala.

Benar benar otaknya pusing.

Sesudah berdiri beberapa saat didepan pembaringan, Ceng Goe berkata dengan suara halus.

"Sekarang selain racun, kaupun mendapat luka. Jika aku dapat menyembuhkan, kita jangan menjajal-jalal kepandaian lagi."

Wanita itu tertaWa.

"Apa artinya luka ini?"

Katanya.

"Tapi apakah kau tahu, racun apa yang ditelan olehku? Jika kau bisa menyembuhkan aku, aku akan mengaku kalah. Hm! .... Tetapi belum tentu kepandaian Ie sian (tabib malaikat atau tabib dewa) bisa menandingi kepandaian Tok sian (si dewi racun)."

Sehabis berkata begitu, ia bersenyum dan senyumnya itu menggairahkan.

Dalam usia belasan tahun, Boe Kie belum mengerti soal percintaan.

Tapi b iarpun begitu, ia bisa merasakan, bahwa diantara kedua orang tua itu terdapat kasih sayang yang tiada batasnya.

"Semenjak sepuluh tahun berselarg, aku sudah mengatakan, bahwa Ie Sian tak akan bisa menandingi Tok sian."

Kata Ceng Goe.

"Tapi kau tak percaya. Kau terlalu suka menjajal ilmu. Aku sungglth tidak mengerti, mengapa kau begitu gila sehingga kau meracuni diri sendiri. Sekarang aku mengharap, bahwa Ia sian akan menang dari Tok Sian. Jika aku gagal, akupun tak sudi hidup sendirian didalam dunia."

Wanita itu bersenyum pula.

"Jika aku meracuni orang lain, kau bisa berlagak kalah."

Katanya.

"Ha ha!... Dengan meracuni diri sendiri, kau tentu akan mengeluarkan seantero kepandaianmu."

Ceng Goe mengusap-ngusap rambut wanita itu dan berkata deagan suara nyaring.

"Hatiku sangat berkuatir. Sudahlah ! Jangan kau bicara banyak banyak. Meramkan matamu dan mengaso. Tapi ingatlah. kalau dengan diam-diam kau mengerahkan Lweekang untuk mencelakakan diri sendiri, kau berbuat curang dalam pertandingan ilmu ini."

"Aku tidak begitu rendah,"

Kata wanita itu sambil tertawa.

Ia segera memeramkan kedua matanya dan pada bibirnya tersungging senyuman.

Untuk beberapa saat, kamar itu sunyi-senyap.

Siauw Hoe dan Boe Kie menyaksikan itu semua dengan mata membelalak.

Tiba-tiba Tiap kok Ie sian memutar badan dan menyoja kepada Boe Kie.

"Saudara kecil,"

Katanya.

"dalam kebingungan aku telah berbuat kesalahan terhadapmu. Aku harap kau sudi memaafkan."

"Sedikitpun aku tidak mengerti, apa artinya ini semua,"

Kata Si bocah dengan mendongkol. Sekonyong-konyong si tua mengangkat tangan kanannya dan menggapelok dua kali pipi seniri keras-keras.

"Saudara, kecil,"

Katanya Pula.

"Kau adalah tuan penolongku. Hanya karena aku sangat memikiri keselamnatan isteriku, maka aku sudah berbuat kedosaan terhadapmu."

"Dia..... dia isterimu?"

Menegas si bocah dengan suara heran. Ceng Goe mengangguk.

"Benar, dia isteriku!"

Jawabnya.

Melihat sikap orang tua itu dan mendengar bahwa wanita itu adalah isterinya, semua kedongkolan Boe Kie lantas menghilang.

Ceng Goe mengambil kursi dan lalu mempersilakan Siauw Hoe dan Boe Kie duduk.

"Kalian tentu merasa heran melihat kejadian dihari ini."

Katanya.

"Baiklah! Aku akan menceritakan latar belakangnya tanpa tedeng tedeng. Isteriku seorang she Ong namanya Lan Kouw. Kami berdua adalah saudara seperguruan. Pada waktu kami masih berada dalam rumah perguruan, disamping belajar ilmu silat, aku mempelajari ilmu ketabiban, sedang dia mempelajari Tok soet (ilmu menggunakan racun). Menurut pendapatnya, tujuan belajar ilmu silat adalah untuk membunuh orang dan tujuan Tok soet juga untuk membunuh orang. Boe soet (Ilmu silat) dan Tok soet merupakan dua macam ilmu yang berdiri berendeng. Maka itu, jika seorang mahir dalam Boe soet dan Tok soet, maka kepandaiannya bertambah dengan satu kali lipat. Ilmu ketabiban adalah untuk menolong manusia, sehingga pada hakekatnya, ilmu ketabiban dan ilmu silat bertentangan satu sama lain. Itulah jalan pikiran isteriku. Tapi karena bakatku terletak dalam ilmu ketabiban, aku tak dapat mengubah kesukaan itu."

"Meskipun apa yang dipelajari kami berdua, perhubungan kami sangat erat dan diantara kami telah timbul perasaan cinta. Belakangan, Soehoe telah menikahkan kami berdua. Perlahan-lahan nama kami mulai terkenal dalam dunia kangouw, sehingga banyak orang memberi gelaran Ie Sian kepadaku dan julukan Tok Sian kepada isteriku. Kepandaiannya dalam soal racun sungguh-sungguh lihay. Ia sudah melebihi kepandaian Soehoe sendiri dan mungkin sekali didalam dunia sukar dicari tandingannya. Bahwa dia telah medapat gelaran Sian atau Dewi, merupakan bukti nyata dari kepandaiannya.

"Dasar aku yang tolol, yang bertindak tanpa dipikir lagi. Berapa kali isteriku telah meracuni orang, dan orang itu telah datang kepadaku untuk meminta pertolongan. Tanpa memikir panjang aku segera menolong mereka. Pada waktu itu hatiku malah merasa senang. Sedikitpun aku tidak merasa bahwa tindakanku itu sangat menyinggung perasaan isteriku. Aku sama sekali tak ingat, bahwa jika menyembuhkan orang yang diracuni olehnya, maka itu berarti bahwa kepandaian Ie sian adalah lebih unggul dari pada Tok sian"

Siauw Hoe menggeleng-gelengkan kepala dan menghela napas. Sepasang suami isteri itu benar benar manusia aneh. Sementara itu Ceng Goe melanjutkan penuturannya.

"Isteriku sangat mencintai aku. Di dalam dunia sukar dicari tandingannya. Tapi aku sendiri? Dengan di dorong oleh napsu mau menang, berulang kali aku menyinggung perasaannya. Cobalah kalian pikir. Meskipun dia patung, satu waktu dia bisa habis kesabarannya. Akhirnya aku tersadar. Aku bersumpah, bahwa aku tak akan menolong lagi orang yang telah diracuni olehnya. Lantaran begitu, lama-lama orang memberi gelaran Kian sie Poet kioe atau melihat kebinasaan tak sudi menolong padaku. Melihat aku berubah, isterikupun merasa senang. Tapi baru saja beberapa tahun aku mengambil jalan yang benar, muncullah peristiwa adik perempuanku."

"Kehormatan adikku telah dilanggar oleh bangsat Sian Ie Thong dari Hwa san pay dan akhirnya binasa dalam tangannya. Tapi, samoai pada detik mau menghembuskan napasnya yang penghabisan, adikku masih mencintai bangsat itu. Pesannya yang terakhir supaya aku berjanji, bahwa selama hidup aku akan menolongnya, jika ia memerlukan pertolongan. Karena melihat adikku tidak akan mati dengan mata meram jika aku tidak meluluskan permintaannya, maka mau tidak mau, dengan hati penasaran, aku terpaksa memberikan janjiku itu."

"Diluar tahuku, isteriku telah menaruh racun yang sangat hebat dibadan Sian Ie Thong. Racun itu yang jalannya sangat perlahan, akan merusak seluruh tubuh bangsat yang sesudah menderita hebat selama tiga tahun, akan mampus dengan dagingnya membusuk. Sian Ie Tong mengetahui janjiku yang diberikan kepada adikku. Begitu melihat keadaannya berbahaya, ia segera meminta pertolongan kepadaku. Hai!.. Otakku benar-benar pusing. Kalau aku menolong, aku menyinggung isteri sendiri. Kalau tidak menolong aku melanggar janji."

"Sian Ie Tong adalah Ciangboenjin Hwa san pay. Ilmu silatnya tinggi dan dalam kalangan kangouw, ia dikenal sebagai seorang pendekar,"

Kata Siauw Hoe.

"Sungguh tak dinyana dia sebenarnya manusia rendah. Ouw Sinshe sesudah adikmu binasa dalam tangannya, kaupun tak perlu menolong dia. Apa pula adikmu yang sudah meninggal dunia tidak tahu lagi urusan itu."

"Tidak!"

Membantah Boe Kie.

"Kie Kouwkouw, kau salah. Roh seorang yang sudah meninggal dunia masih bisa mengetahui apa yang terjadi didalam dunia,"

Waktu mengatakan begitu ia ingat kedua orang tuanya.

Ia mengharap supaya roh ayah dan ibunya masih tetap berada dilam baka dan nanti kalau ia sendiri menginggal dunia, ia akan bisa berkumpul lagi dengan kedua orang itu.

Tiap kok ie sian menghela napas.

"Apa yang terjadi dialam baka tidak diketahui oleh manusia,"

Katanya.

"Pada waktu itu, jalan pikiranku adalah begini. jika aku berdosa terhadap isteriku, dialam kemudian aku masih dapat memperbaikinya. Tapi jika aku melanggar janji ... hai!... Selama hidupnya, adikku selalu menderita... Bagaimana aka tega untuk menyakiti rohnya?"

"Demikianlah, dengan menggunakan seluruh kepandaian, aku akhirnya berhasil menyembubkan sibangsat Sian Ie thong. Isteriku tidak ribut-tibut lagi, ia hanya berkata dengan suara dingin. Bagus. Kepandaian Tiap kok ie sian Ouw Ceng Goe benar-benar tinggi. Tapi Tok Sian Ong Lan Kauw tak sudi menakluk. Sekarang marilah kita menjajal ilmu, untuk mendapat keputusan, Ie Sian atau Tok sian yang lebih tingggi! Mati matian aku memohon maaf, tapi ia tidak meladeni."

"Beberapa tahun isteriku memperdalami ilmunya dan telah maracuni beberapa orang Kangouw yang ternama.Sesudah meracuni, ia memberi petunjuk supaya orang-orang itu datang kepadaku. Tok soet isteriku ternyata sudah banyak lebih lihay, sehingga tempo-tempo aku tidak mendapat jalan untuk mengobati orang yang kena racunnya. Ditambah lagi dengan rasa sungkan untuk membangkitkan amarah isteriku, maka dalam menghadapi keracunan yang hebat, sudah gagal satu dua kali, aku menghentikan usahaku dan mengatakan saja bahwa aku tak mampu menolong lagi."

Baca Juga: Bajak Laut Kertapati 1

Baca Juga: Ilmu Golok Keramat 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert