Ceritasilat Novel Online

Pedang Langit Dan Golok Naga 6

Eps 6 Pedang Langit Dan Golok Naga - Chin Yung

Baca online Pedang Langit Dan Golok Naga - Chin Yung

Cersil Pedang Langit Dan Golok Naga - Chin Yung.

"Sekarang ini kita berhati-hati saja,"

Sahutnya.

"Cukup asal kita bersatu padu, Boe tong Cit hiap sudah kenyang menghadapi badai dan gelombang dahsyat, dari itu mana kita jeri terhadap mereka ini?"

Siong Kee tetap menyebut Boe tong Cit hiap, tujuh jago dari Boe tong pay, walaupun Jie Thay Giam telah bercacad.

Ia tidak ingin gurunya sampai turun tangan, terutama sebab guru itu lagi merayakan ulang tahunnya yang keseratus.

la menghibur saudaranya itu meski ia merasa urusan sulit sekali.

Selanjutnya, Wan Kiauw bertiga Jie Lian Cioe dan In Lie Heng yang melayani tetamu-tetamu di toathia, ruang besar.

Mereka merasa semakin pasti bahwa sikap sekalian tetamu itu luar biasa.

Selagi orang berbicara, kembali ada kacung yang masuk dengan wartanya.

'Murid kepala dari Go bie pay, Ceng hian Soe thay, datang bersama lima Soetee dan Soemaynya untuk memberi selamat kepada Soe couw !"

Mendengar warta itu, Wan Kiauw dan Lian Cioe bersenyum.

Keduanya memandang Lie Heng.

Justeru itu Boh Seng Kok pun tampak masuk bersama sembilan tetamunya yang baru tiba, sedang Thio Siong Kee dan Thio Coei San baru muncul dari dalam.

Mereka ini juga mendengar warta itu, mereka turut memandang Lie Heng sambil bersenyum.

Saudara she In ini menjadi merah mukanya, likat sikapnya.

Tapi tanpa memperhatikan itu, Coei-San menarik tangannya Soe tee itu, untuk diajak keluar sambil tertawa, ia kata.

"Mari, mari... Mar i kita menyambut tetamu!"

Diluar terlihat Ceng hian Soe Thay tengah menanti bersama lima adik seperguruannnya.

Bhiksuni itu berusia empatpuluh lebih, tubuhnya tinggi dan besar, romannya gagah.

Ia seorang wanita, tetapi tubuhnya lebih tinggi daripada kebanyakan pria.

Dari lima saudara seperguruannya, satu adalah seorang pria kurus, usia tigapuluh tahun, dua yang wanita, satu antaranya yalah Ceng hie Soe thay, yang Coei San pernah ketemukan didalam perahu ditengah laut.

Dua wanita lainnya, yang satu yalah nona umur kurang lebih duapuluh tahun, yang mulutnya senantiasa tersungging senyuman, dan yang lainnya berkulit halus, tubuhnya jangkung, romannya cantik.

Dia ini, terus menunduk kan kepala dan tangannya selalu membuat main ujung bajunya.

Sebab ialah Nona Kie yang menjadi tunangannya In Lie Heng.

Bersama Lie Heng, Coei San menyambut tetamu dari Go bie san yang mereka pimpin masuk ke dalam.

Selama itu, Lie Heng tidak berani mengawasi Siauw Hoe, tunangannya.

Hanya setibanya dipaseban, selagi yang lainnya sudah berada disebelah depan, baru ia berpaling, justeru si nona pun melirik kearahnya.

Dengan begitu bentroklah sinar mata mereka.

Adik seperguruan Siauw Hoe melihat langak soe cienya ini, dia berdehem, sehingga kedua muda mudi itu menjadi kemalu-maluan, keduanya lantas berpaling kelain arah.

Soemoay itu tertawa geli dan berkata.

"Soecie, lihat, In Soeko lebih pemaluan dari padamu!"

Hati Siong Kee lega juga karena datangnya rombongan Go Bie pay.

Ia percaya, kalau sampai terjadi sesuatu, Ceng hian Soe thay tentu bakal membantu pihaknya, mengingat Nona Kie tunangannya Lie Heng.

Sedang tetamu datang begitu banyak, pihak Giok hie koan tidak bersiap siaga.

Mana bisa di adakan perjamuan besar?

Maka juga pihak imam ini hanya bisa menyuguhkan masing-masing tetamu semangkok nasi putih campur sayur tauwhoe dan kwacay.

Wan Kiauw berulang ulang minta maaf karena dia tidak dapat menjamu semua tetamunya lebih dari pada itu.

Sebaliknya kawanan tetamu itu sembari dahar mereka saban-saban memandang ke arah luar seperti juga mereka lagi menantikan orang.

Diam diam Song Wan Kiauw dan saudara saudaranya memperhatikan gerak gerik mereka.

Semua ciang boen jin atau Pangcoe tidak ada yang membekal senjara, tetapi banyak murid mereka membawa senjata.

Hanya murid-murid Go bie pay, Koen loan pay dan Khong tong pay yang bertangan kosong.

Boe tong pay belum lama didirikan, di kaki gunung belum dipasang "Kay Kiam Giam", yaitu batu tanda untuk meletakkan pedang.

Dengan "pedang"

Diartikan pelbagai macam senjata tajam.

Karena itu, meskipun ada yang membawa pedang naik kegunung dan termasuk perbuatan kurang pantas, sekalian tetamu itu tidak dapat dilarang kedatangannya.

Tuan rumah sendiripun tidak dapat menegur.

Cuma di dalam hati merasa tidak puas.

Kata Wan Kiauw didalam hatinya.

"Kalian datang untuk memberi selamat pada guruku, mengapa kalian diam-diam membekal senjata?"

Ada lagi yang tidak memuaskan pihak Boe tong pay, yang membikin terlebih nyata bahwa tetamu-tetamu itu mengandung sesuatu maksud.

Pelbagai bingkisan yang dibawa oleh mereka, mieshoa dan lainnya, semua barang pembelian sambil lalu disusun di kaki gunung Boe tong san, semua dibeli secara kesusu.

Bingkisan semacam itu tidak saja tidak tepat untuk Thio Sam Hong, juga tidak sesuai dengan derajatnya pelbagai tetamu golongan ketua itu.

Melainkan bingkisan Go bie pay yang tepat, ialah enam belas perabot kumala berikut sepotong jubah warna merah yang sekalian disulamkan seratus huruf "Sioe" (umur) pelbagai model.

Thio Sam Hong girang sekali.

Ia mengucapkan terima kasih.

Ia memuji kepandaian menyulam itu.

Murid murid Go bie pay bukan hanya pandai silat, katanya.

Selagi gurunya itu berkata kata, Siong Kee terus berpikir.

"Entah semua orang ini masih menantikan siapa lagi.... Soehoe tidak gemar akan keramaian. Maka juga sahabat-sahabat Boe tong pay tidak ada yang diundang. Kalau tidak, tidaklah kita menjadi mencil semacam ini hingga kita tidak mempunyai bala bantuan....."

Thio Sam Hong biasa merantau.

Tujuh murid nya juga banyak perbuatan baiknya.

Jikalau melepas undangan mendatanglah banyak sahabat yang liehay.

Jie Lian Cioe, yang berpikir seperti Siong Kee, berbisik pada adik seperguruannya itu.

"Kita sudah pikir sehabis ulang tahun Soehoe, akan melepas undangan guna rapat orang gagah di Lauw teng Hong ho lauw, siapa tahu karena kita berayal, sekarang kita mengalami kegagalan ini."

Ia bermaksud didalam rapat itu memberi ketika kepada Thio Coei San untuk menjelaskan, bahwa Coei San tidak menjual sahabat agar dia bebas, atau kalau ada yang mendesaknya, pihaknya mungkin memperoleh simpati dan bantuan dari banyak hadirin lainnya.

Diluar dugaan, pihak "musuh"

Telah mendahului, sekarang mereka meluruk datang.

"Sekarang kita cuma dapat berkelahi mati-matian,"

Berbisik Siong Kee kemudian.

Diantara Boe tong Cit hiap, Siong Kee yang paling pandai berpikir.

Setiap ada kesulitan, saban-saban ialah yang memperoleh pikiran baik.

Maka itu, mendengar suaranya Soetee ini, Jie Lian Cioe kata didalam hatinya.

"Sampaipun Soetee tidak berdaya, rupanya enam murid Boe tong pay harus mengucurkan darahnya diatas gunungnya ini."

Coba orang berkelahi satu demi satu, hanya Thie khiem Siang seng Ho Thay Ciong yang dapat menandingi Boe tong Liok hiap.

Tetapi orang pasti akan mengepung, itu artinya bukan satu lawan duapuluh tetapi satu lawan empatpuluh.

Siong Kee menarik ujung baju Lian Cioe untuk diajak kebelakang ruang.

Ia kata pada kakaknya yang nomor dua itu.

"Kalau sebentar pembicaraan memuncak kesuasana buruk, kita mesti menantang satu lawan satu. Syukur kalau siasat kita ini kesampaian. Kalau tidak, terang mereka bakal main keroyok ...."

Lian Cioe mengangguk.

"Dalam kesulitan ini, paling perlu kita menolong Shatee,"

Katanya.

"Kita mesti jaga hingga ia tidak terjatuh kedalam tangan musuh, supaya ia tidak menderita pula, baik bathin maupun lahir. Tugas ini aku serahkan padamu. Ngo teehoe telah sembuh tetapi ia belum pulih benar kesehatannya, maka itu kau mintalah Ngotee yang melindunginya. Untuk menyambut, tugasnya terjatuh padaku dan Toako berempat."

Siong Kee mengangguk.

"baik,"

Katanya. Ia berdiam sejenak, lantas ia berkata pula.

"Mungkin ada jalan untuk kita lolos dari bahaya..."

"Apakah itu, Soetee? Biar kita mesti menerjang bahaya dulu, tidak apa."

"Aku memikir untuk menggunakan siasat, ialah kita berenam masing-masing meyerbu satu lawan"

Siang Kee mengutarakan pikirannya.

"Didalam satu jurus, kita mesti berhasil membekuk musuh itu agar musuh lainnya menjadi jeri dan tidak berani mendesak kita..."

Lian Cioe ragu ragu.

"Yang lainnya tetntulah bakalan mengepung kita. Juga umpamanya kita berhasil, masih ...."

"Dalam saat berbahaya begini, jangan pikir banyak banyak,"

Kata Siong Kee.

"Kita gunakan saja jurus cengkeraman naga Liong jiauw Ciat hoe cioe!"

"Hari ini hari ulang tahun Soehoe,"

Kata Lian Cioe.

"artinya hari ini hari baik. Apakah tidak terlalu telengas untuk menggunakan jurus itu?"

Jago Boe tong yang nomor dua itu bersangsi oleh kerena ia mengenal baik jurusnya itu, semacam jurus Kim na Coei hoat atau menangkap tangan sedang Liong jiauw Ciat hoat cioe itu berarti "kuku naga memutuskan."

Itulah jurus paling lihay dalam Boe tong pay.

Ketika Lian Cioe berhasil dengan jurus itu, ia masih kurang puas.

Sebahnya ialah kalau musuh lihay, masih dapat meloloskan tangannya dari tangkapan, maka dengan kecerdikannya, ia mengolahnya.

Dan ia berhasil menambah itu, menciptakan duabelas jurus hubungannya.

Dalam memilih murid, Thio Sam Hong memperhatikan juga kecerdasan setiap murid.

Maka itu murid-muridnya dapat menggunakan otak mereka, dimana perlu mereka bisa mengubah ilmu silat yang diajarkan gurunya untuk disempurnakan.

Ketika Lian Cioe berhasil dengan ciptaannya, ia menjalankan itu didepan gurunya.

Sang guru cuma mengangguk, tidak mengiakan juga tidak menolak.

Melihat sikap guru itu Lima Cioe tahu rupanya masih ada cacad dalam ciptaannya itu, ia lantas meyakinkan terus.

Selang beberapa bulan, kembali ia mempertunjukkannya didepan gurunya.

Kali ini Thio Sam Hong menghela napas dan berkata.

"Lian Cioe, ciptaanmu ini jauh lebih lihay dari pada jurus yang aku ajarkan, hanya sambaranmu pata pinggang tidak peduli siapa yang menjadi korban, dia bakal terluka didalam hingga putus daya turunannya. Apakah kau menganggap ajaranku, yaitu ilmu silat sejati masih kurang, hingga kau menghendaki jurus yang membikin, hanya dengan satu serangan, lawan lantas tidak berkutik pula?"

Mendengar perunturan itu.

Lian Coe mengeluaran keringat dingin, ia bergidik seorang diri.

Seberapa hari selewat itu, Thio Sam Hong mengumpulkan ketujuh muridnya dan bicara kepada mereka tentang ciptaan Lian Cioe itu, kemudian dia menambahkan.

"Ciptaan Lian Cioe yang menjadi duabelas jurus berkat ketekunannya adalah suatu ilmu pukulan yang istimewa. Kalau ilmu itu dibuang karena kata-kataku satu orang, itulah sayang, maka itu kamu pergilah belajar pada Lian Cioe, untuk mempelajari itu, supaya masing-masing bisa menggunakannya. Aku melainkan hendak memesan, kecuali kalau bertemu saat mati hidup, janganlah itu sembarang dipakai. Sekarang di bawah nama Liong Jiauw itu, aku menambahkan dua huruf 'Ciat hoe', yang berarti 'menutup pintu'. Ingatlah kamu, akibatnya serangan pukulan ini dapat membuat musuh putus turunannya, jadi inilah jurus yang mematikan!"

Semua murid itu menerima baik pesanan guru mereka.

Maka yang enam lantas belajar pada Lian Cioe.

Mereka telah meyakinkan ilmu itu, tetapi mereka belum pernah menggunakannya, sebab mereka taat kepada pesan guru mereka.

Adalah sekarang ini, karena keadaan sangat berbahaya, Siong Kee mengajukan pikirannya itu yang membuat si orang she Jie ragu-ragu.

"Memang dengan terkena serangan kita, lawan bakal putus turunannya,"

Kata Siong Kee kemudian.

"Tetapi kita masih mempunyai jalan lain. Ialah kita mencari lawan dalam dirinya seorang pendeta imam, atau kalau tidak, kita hajar lawan-lawan yang usianya sudah tujuh atau delapanpuluh tahun. Mendengar itu, Lian Cioe tertawa.

"Sungguh cerdik kau, Soetee!"

Ia memuji.

"Memang pendeta atau imam tidak bakal mempunyai anak!"

Sampai disitu, mereka sudah mencapai persetujuan, maka keduanya lantas mencari empat saudara yang lainnya, untuk mengisik, supaya mereka masing-masing menghadapi satu lawan yang tangguh atau kenamaan.

Tanda untuk turun tangan, ialah kalau Thio Siong Kee sudah berseru.

Jie Lian Cioe sendiri sudah lantas memilih bakal mangsanya yaitu anggauta paling tua dari Khong tong Ngo too, sedang Thio Coei San mengincar See hoa coe dari Koen loen pay.

Habis orang bersantap, semua mangkuk, sumpit dan cawan lantas dibenahkan.

Setelah itu Thio Siong Kee, dengan suaranya yang terang dan lancar, lalu berpidato.

Dia kata.

'"Cianpwee serta para sahabat!

Hari ini hari peringatan ulang tahun guru kami memasuki usia seratus tahun.

Atas kunjungan Cianpwee dan sahabat sekalian, kami sangat bersyukur, hanya kami mohon dimaafkan untuk pelayanan yang tidak sempurna ini.

Sebenarnya guru kami hendak mengundang para Cianpwee dan sahabat untuk pertemuan di Hong ho lauw, untuk minum bersama hingga puas, dari itu pelayanan bari ini biarlah diperbaiki kelak, dikemudian hari."

"Hari inipun saudara seperguruan kami, Thio Coei San, baru saja kembali dari perjalanan jauh yang memakan waktu sepuluh tahun. Dia belum sempat menuturkan kepada guru kami tentang parjalanan dan pengalamannya itu. Inilah di sebabkan pesta ulang tahun guru kami ini. Maka itu, kalau umpama dalam suasana begini kita berbicarakan tentang budi atau permusuhan kaum Rimba Persilatan, itulah tidak dapat, itulah juga alamat tidak bagus."

"Dengan begitu maksud para Cianpwee dan sahabat datang memberi selamat lantas dengan sendirinya berubah menjadi hal yang tidak-tidak. Maksud baik itu berubah menjadi masud buruk. Oleh karena itu, tuan-tuan, setelah tuan tuan datang ke Boe tong pai, mari aku yang rendah mengundang tuan-tuan melihat-lihat gunung ini bagian depan dan belakangnya."

Hebat siasatnya Siong Kee.

Pertama-tama ia telah lantas menyumbat mulut orang.

Dengan itu ia mau mengatakan, orang pastilah bermaksud bermusuh jika hendak membicarakan urusan Cia Soen dan Liong boen Piauw kiok.

Sebab hari itu, hari pesta ulang tahun, adalah hari baik.

Sekalian tetamu itu mendaki gunung Boe tong san untuk bicara, untuk mendesak menanyakan dimana adanya Kim mo Say ong Cia Soen.

Tapi nama Boe tong pay angker sekali.

Tidak ada yang berani memulai.

Siapa yang mengajukan diri, berarti dialah yang mengundang permusuhan.

Sebaliknya, untuk segera menyerang sendiri juga tidak ada yang berani memulai.

Itupun berarti, siapa maju paling dulu, ada harapan dialah yang celaka paling dulu juga.

Maka itu tidak ada yang mau menjadi musuh Boe tong pay serta tidak sudi juga menjadi korban pertama.

Mereka itu saling mengawasi satu pada yang lain.

Dengan sendirinya suasana menjadi tegang tidak keruan junterungannya.

Akibatnya See hoa coe dari Koen loen pay berbangkit untuk bicara.

Ia bukannya menerima undangan Siong Kee, hanya berkata nyaring.

"Thio Sie hiap, tidak usah kau mengatakan sesuatu yang artinya lain. Kita terang-terang tidak melakukan apa apa yang gelap. Kita mau bicara dengan mementang jendela lebar-lebar! Kali ini kami datang kemari dengan maksud, pertama tama yalah untuk memberi selamat kepada Thio Cinjin. Yang kedua yaitu guna mencari tahu tentang dimana beradanya Cia Soen sekarang ini."

Boh Seng Kok sudah lama sekali menahan hatinya. Mendengar perkataannya Sea hoa coe, ia tidak dapat pula menguasai dirinya.

"Bagus! Kiranya begitu!"

Katanya dengan tertawa dingin.

"Tidak heran ! Tidak heran."

See hoa coe mendelik.

"Apa yang tidak heran ?"

Tanyanya bengis. Dengan nyaring Seng Kok berkata.

"Tidak heran sebab mulanya aku menyangka tuan-tuan datang kemari untuk memberi selamat kepada guru. Tetapi ditubuh kamu masing-matsng disembunyikan senjata tajam. Mulanya aku heran sekali, di dalam hatiku aku bertanya tanya apakah tuan-tuan hendak menghadiahkan senjata tajam kepada guruku? Sekarang barulah terang duduknya hal! Kiranya bingkisan ini bingkisan macam begini!"

See hoa coe menjadi mendongkol sekali. Ia menepuk-nepuk tubuhnya, terus ia meloloskan jubahnya.

"Bok Cit hiap lihatlah biar terang!"

Ia berseru.

"Kau masih muda sekall, jangan kau menyembur orang dengan darah! Lihatlah tubuhku ini! Siapakah yang menyembunyikan senjata tajam?"

"Bagus! Memang tidak ada!"

Berkata Seng Kok dengan tertawa.

Dengan sebat, dengan jari tangannya ia sodok dua orang yang berada disamping, Ketika ia menarik, putuslah tali baju dua orang itu, karena mana dengan menerbitkan suara nyaring berisik jatuhlah dua batang golok pendek yang berkilauan.

Mereka benar telah menyembunyikan senjata disebelah dalam bajunya itu.

Menyaksikan itu, banyak hadirin yang air mukanya menjadi berubah.

"Benar!"

See hoa coe berseru. Sekarang ini ia tidak main pernik lagi.

"Thio Ngo hiap jikalau kau tidak menunjukkan kami dimana adanya Cia Soen, maka entah kita bakal menggerakkan golok atau pedang!"

Thio Siong Kee tengah menantikan ketika untuk mengasi dengar seruan. Ia melihat ketikanya itu telah sampai. Hanya disaat itu hendak membuka mulutnya, tiba-tiba terdengar suara pujian "Omie too hoed!"

Yang datangnya dari arah luar pintu.

Suara itu tegas sekali dan halus nadanya masuk ketelinga orang.

Suara itu datang dari tempat jauh akan tetapi seperti dari sampingnya setiap orang.

Thio Sam Hong yang semenjak tadi berdiam saja lantas berkata.

"Kiranya Kong tie Siansoe dari Siauw Lim pay datang! Lekas sambut!"

Ketika itu dipintu luar lantas terdengar pula suara.

"Hong thio Kong boen dari Siauw lim sie dengan mengajak soeteenya, Kong tie dan Kong seng serta murid muridnya memujikan agar Thio Cinjin panjang umur!"

Kong boen bersama Kong tie dan Kong-seng adalah tiga diantara pendeta-pendeta kenamaan dari Siauw lim-sie.

Oleh karena saudara mereka yang tertua, Kong-Kian, telah berpulang ke Tanah Barat (meninggal) sekarang tinggal mereka saja.

Karena kedatangan mereka yang tiba tiba itu batal lah Siong Kee berseru.

Pula lantas ia mengerti, dengan datangnya ketiga pendeta Siauw lim-sie ini, gagallah rencananya untuk menyengap lawan.

Ho Thay Ciong dari Koen loen pay sudah lantas menyambut dengan berkata.

"Sudah lama aku mendengar nama besar dari keempat pendeta berilmu dari Siauw lim-sie. Sekarang kita dapat bertemu di sini, aku merasa beruntung sekali. Dengan begini berarti juga tidaklah sia sia belaka kedatanganku kemari!"

Dari luar lantas terdengar satu suara dalam, suatu tanda bahwa yang mengeluarkannya yalah seorang yang usianya telah lanjut. Katanya.

"Tuan tentunya Ho Sianseng yang menjadi Ciangboenjin dari Koen-loen-pay. Maka aku berbahagia sekali dengan pertemuan ini. Thio Cinjin, aku sipendeta tua telah datang terlambat untuk memberi selamat padamu, itulah perbuatan kurang hormat, maaf !"

Atas itu Thio Sam Hong berkata, dengan merendah.

"Hari ini di Boe tong san telah berkumpul hanyak tetamu tetamu ku yang mulia. Aku girang sekali! Aku si imam hanya berhasil hidup sampai umur seratus tahun. Bagaimana aku berani membuat Soehoe yang agung datang kemari...."

Sembari berkata begitu, ia mengajak murid muridnya pergi kepintu untuk menyambut tetamu tetamunya yang dipandang suci itu dan dihormati nya.

Kedatangan rombongan Siauw-lim pay ini luar biasa.

Pihak mereka dengan pihak Boe tong-pay tuan rumah, bicara dari jarak yang jauh.

Kedua pihak sudah menggunakan suara dari tenaga dalam.

Mereka masih terpisah jauh tetapi mereka bagaikan lagi bicara berhadapan.

Ceng hian Soethay dari Go bie pay kalah mahir tenaga dalamnya.

Dia tidak berani campur bicara.

Yang lain-lain terlebih pula sampai hati mereka ciut dan malu sendirinya.

Ketika Thio Sam Hong dan murid-muridnya muncul diluar, rombongan Siauw-lim-pay, yang jalannya perlahan, baru sampai didepan pintu.

Ketiga pendeta tua itu datang bersama sembilan murid mereka yang telah memasuki usia pertengahan.

Kong-boen Taysoe beralis putih yang panjang sampai turun kematanya, hingga dia mirip dengan Tiang-bie Loo-han, arhat yang alisnya panjang.

Kong-seng bertubuh besar dan romannya gagah.

Adalah Kong-tie yang beroman meringis dan mulutnya monyong kebawah.

Melihat romannya Kong-tie ini, Siong Kee heran, hingga dia berpikir;

"Aku dapat melihat wajah orang, siapa beroman seperti pendeta ini, kalau dia bukan umurnya pendek, pasti dia mati celaka, maka heran, kenapa dia dapat berumur panjang dan dihormati banyak orang? Mungkinkah ilmu khoamia dari aku masih sangat terbatas?"

Thio Sam Hong dan Kong-boen semua adalah guru-guru silat ternama dan asalnya satu golongan.

Akan tetapi mereka belum pernah mengenal satu dengan lain.

Didalam hal umur, Sam Hong lebih tua kira-kira tiga atau empat puluh tahun.

Ia berasal dari Siauw lim sie, karena gurunya yalah Kak wan Taysoe.

Ia berderajat atau bertingkat dua lipat lebih tinggi daripada Kong boen bertiga.

Hanya ia tidak menjadi pendeta dan masuknya menjadi murid Siauw lim sie pun tanpa upacara resmi.

Ia cuma murid perseorangan dari Kak wan.

Karena ini, pertemuan dengan Kong boen bertiga dilakukan sebagai orang-orang dari sesama derajat dan tingkat.

Karenanya, Wan Kiauw dan saudara saudaranya menjadi berada ditingkat sebelah bawah tetamu-tetamu itu.

Setelah kedua pihak saling memberi hormat, Sam Hong mengundang sekalian tetamunya ke dalam dimana mereka itu bertenau dengan Ho Thay Ciong dan Ceng hian Soethay sekalian.

Kong boen halus gerak geriknya.

Ia memberi hormat sekalipun terhadap anak-anak muda.

Habis minum teh, Kong boen berkata.

"Thio Cinjin, menurut usia dan tingkat loolap adlah pihak yang lebih muda. Akan tetapi mengingat kedudukan Boe tong dan Siauw lim sederajat, dan loolap justeru menjadi Ciangboenjin dan Siauw lim pay, harap kau mengijinkan loolap bicara terus terang dan sukalah loolap diberi maaf."

Thio Sam Hong dapat menduga maksud orang. Karena ia memang jujur, ia lantas berkata "Sam wie yang suci, apakah kedatangan Sam wie ini untuk Thio Coei San, muridku yang nomor lima?"

"Benar", menjawab Kong boen.

"Ada urusan yang hendak didamaikan dengan Thio Ngo hiap"

"Pertama yaitu halnya Thio Ngo hiap sudah membinasakan tujuh puluh dua jiwa keluanga Liong boen Piauwkiok serta enam jiwa murid Siauw lim sie. Bagaimana harus diputuskan mengenai tujuh puluh delapan jiwa itu? Yang kedua yaitu mengenai Soeheng kami, Kong kian Taysoe. Ialah seorang yang pemurah dan bijaksana, seumurnya belum pernah ia ribut dengan siapapun juga tetapi ia telah dicelakai Kim mo Say ong Cia Soen hingga ia mati secara sangat menyedihkan. Kami mendengar Thio Ngo-hiap mengetahui dimana beradanya Cia Soen itu, maka kami mohon sukalah Ngo hiap memberikan petunjuknya. Pasti kami dari Siauw lim sie akan mengingat budi itu."

Mendengar itu, Thio Coei San lantas berbangkit tanpa menanti gurunya bicara. Ia berkata tegas.

"Kong-boen Taysoe, tujuh puluh delapan jiwa keluanga Liong boen Piauwkiok dan pendeta Siauw lim sie yang dimaksudkan itu bukannya dibunuh olehku. Seumur hidupku, Coei San telah menerima budi dan ajaran guruku yang berbudi luhur. Walau pun aku bodoh, tidak berani aku mendusta. Hanya halnya siapa siapa yang telah menyebabkan lenyapnya tujuh puluh delapan jiwa itu, dapat aku terangkan bahwa aku mengetahui orangnya. Cumalah tidak ingin aku memberitahukannya. Inilah jawabanku untuk urusan yang pertama itu. Mengenai urusan yang kedua, kematiannya Kong kian Taysoe, siapapun di kolong langit ini tidak ada yang tidak merasa berduka akan tetapi Cia Soen itu yalah sahabat dan saudara angkatku, maka hal dimana beradanya dia sekarang, meski aku ketahui, tak dapat aku menerangkan. Kita kaum Rimba Persilatan, kita paling mengutamakan kehormatan. Dari itu aku Thio Coei San, leherku boleh kutung dan darahku boleh muncrat, tetapi alamatnya kakat angkatku itu tidak bisa aku menerangkannya. Urusanku ini tidak ada sangkut pautnya dengan guruku yang berbudi luhur, juga tidak ada hubungannya sama sekalian saudaraku sepenguruan. Jadi semua itu aku yang bertanggung jawab sendiri. Terserah kepada Taysoe bila hendak membinasakan aku, silahkan turun tangan! Aku si orang she Thio, seumurku aku belum pernah aku melakukan sesuatu yang dapat membikin malu guruku, juga belum pernah aku lancang membunuh seorang baik-baik. Jikalau tuan-tuan hendak memaksa aku melakukan perbuatan tidak terhormat, bagianku yalah mati, lain tidak!"

Coei San bicara dengan bersemangat sekali hingga Kong boen memuji.

"Omie toohoed!"

Dan berpikir.

"Mendengar suaranya, ia tidak mendusta. Bagaimana sekarang"

Justeru ruang sunyi, dari luar jendela terdengar suara bocah memanggil.

"Ayah!"

Coei Sin terkejut. Ia mengenali suara anaknya.

"Boe Kie, kau pulang!"

Serunya.

Dan ia berlompat untuk lari keluar.

Dua orang masing-masing dari Boe san pay dan Sin koen boen yang berdiri dimuka pintu, menduga orang hendak melarikan diri.

Sambil membentak "Kau hendak lari ke mana?"

Mereka mengulur tangannya, mencekuk.

Coei San keras memikirkan anaknya.

Ia mementang kedua tangannya, maka dua perintang itu lantas terpental ke samping kiri dan kanan dan roboh tenguling.

Ketika ia telah melompat keluar jendela, di situ ia tidak melihat suatu apa.

"Boe Kie!! Boe Kie!"

Ia terus memanggil berulang ulang kali. Tidak ada penyahutan. Dari dalam memburu belasan orang. Apabila mereka mendapatkan orang bukannya lari, merera berdiri diam mengawasi saja.

"Boe Kie ! Boe Kie !"

Coei San memanggil manggil lagi.

Tetapi ia tidak memperoleh jawaban, sebaliknya, sejenak kemudian, disitu muncul In So So.

Isteri itu baru sembuh dan berada diruangan dalam ketika ia mendengar suaminya memanggil manggil anak mereka.

"Boe Kie pulang?"

Tanya isteri ini kegirangan.

"Barusan aku seperti mendengar suaranya. Ketika aku memburu keluar, aku tidak melihatnya."

Sahut sang suami. So So kecele.

"Mungkin disebabkan kau terlalu memikirannya, barusan kau salah mendengar."

Katanya perlahan, Coei San berdiam, lalu ia menggelengkan kepana nya dengan keras.

"Terang aku mendengarnya,"

Katanya.

"Pergilah kau masuk!"

Coei San kuatir isterinya bertemu sama sekalian tetamu dan nanti ada ekornya.

Seberlalunya isteri itu, ia kembali ke dalam, terus ia memberi hormat pada Koen boen seraya meminta maaf untuk kepergiannya barusan tanpa perkenan lagi.

"Siancay, siancay!"

Kong tie memuji.

"Thio Ngohiap demikian menyayang anak. Kau sampai seperti lupa ingatan. Maka itu. begitu banyak jiwa yang dicelakai Cia Soen, apakah mereka itu tidak mempunyai ayah atau ibu, isteri atau anak ?"

Pendeta itu bertubuh kecil dan kurus akan tetapi suaranya nyaring bagaikan genta, menderu ditelinga para hadirin.

Coei San lagi kalut pikirannya, ia tidak memberikan penyahutannya.

Kong boen mengawasi kedua soeteenya, Kong tie dan Kong sang mengangguk.

Maka ia lantas menghadapi tuan rumah dan berkata.

"Thio Cinjin, bagaimana urusan ini hendak diputuskan, kami memohon petunjuk Cinjin saja."

"Muridku tidak mempunyai kepandaian apa-apa. Walaupun demikian tidaklah nanti dia berani memperdayai gurunya,"

Berkata Sam Hong.

"Maka itu, aku percaya tidak nanti dia berani mendustakan samwie. Seperti dia katakan, jiwanya orang-orang Liong boen Piauwkiok serta murid-muridmu itu bukanlah dia yang membunuhnya. Sedang tentang tempat kediamannya Cia Soen sudah terang dia tidak hendak memberitahukannya."

Kong tie tertawa dingin.

"Tetapi ada orang yang melihat dengan matanya sendiri Thio Ngo hiap membunuh murid murid kami itu!"

Katanya mengejek.

"Mustahilah murid-murid Boe tong pay tidak dapat mendusta tetapi murid Siauw lim pay dapat."

Dia lantas mengibas dengan tangan kirinya dan dua pendeta usia pertengahan dibelakangnya lantas maju kedepan Dibelakang dua pendeta ini mengintil seorang pendeta lain tetapi sebab ia bertubuh kecil dan kate tubuhnya itu teraling dan tidak segera terlihat.

Tiga-tiga mereka picak mata kanannya.

Mereka bukan lain daripada Goan sim, Goan im dan Goan hiap, ketiga pendeta Siauw lim pay yang ditepi telaga di Lim an telah terhajar jarum emasnya in So So.

Coei San telah melihat mereka itu dan mengenalinya.

Ia menduga pasti mereka bakal dijadikan saksi untuk peristiwa ditepi telaga Seeouw itu.

Sekarang dugaannya itu jitu.

Ia tidak takut.

Ialah bukan si pembunuh, si pembunuh adalah So So yang telah menjadi isterinya.

Bagaimana ia bisa tidak melindungi isterinya itu?

Hanya, bagaimana ia harus melindunginya ?

Diantara tiga pendeta itu yang bernama berhuruf 'Goan', Goan im yang tabiatnya paling keras.

Sebenarnya menurut adatnya, begitu bertemu Coei San, ingin ia menerjang.

Tetapi karena ada gurunya, ia menahan sewot.

Sekarang setelah gurunya memanggil, ia lantas muncul untuk terus berkata.

"Thio Coei San, ditepi telaga See ouw di Lim an, kau telah menerjang Hoei bong dengan jarummu. Jarum mana masuk dari mulut, mengambil jiwanya! Aku melihat itu dengan mataku sendiri! Apakah aku memfitaah kau? Dan mata kanan kamipun disarang jarum beracun itu. Apakah kau masih hendak menyangkal?"

Didalam keadaan seperti itu, Coei San mesti menyangkal terus. Ia kata.

"Kami dari kaum Boe tong pay, benar kami mempelajari senjata rahasia dan jumlah macamnya bukan sedikit. Akan tetapi semua itu sebangsa piauw dan panah tangan! Kami bertujuh sudah lama sering merantau, cobalah tanya, apa pernah ada yang melihat kami menggunakan jarum, baik jarum emas maupun jarum perak? Maka tentang jarum beracun tak usah disebut-sebut lagi!"

Dunia Rimba Persilatan memang tahu golongan Boe tong pay golongan lurus, maka itu banyak yang tidak percaya bahwa Thio Coei San menggunai jarum jahat seperti itu.

Tidak demikian dengan Goan im yang menjadi sangat gusar.

"Apakah kau tetap menyangkal""

Dia membentak.

"Bersama-sama soetee Goan giap aku melihat sendiri kau menyerang Hoei hong dengan jarum. Jikalau itu bukannya kau, habis siapakah?"

"Aku tahu siapa dia, tetapi aku tidak hendak memberitahukan kepada kamu!"

Menyahut Coei San.

"Apakah kau kira murid-murid Boe tong pay dapat kau main paksa "

Coei San pandai bicara. Ia membuatnya darah Goan im meluap. Maka itu, adu mulut mereka berkesudahan dari unggul si pendeta jatuh dibawah angin.

"Goan im Soeheng,"

Thio Siong Kee turut bicara,"

Tentang siapa sebenarnya yang membinasakan murid-murid Siauw lim itu, untuk sekarang ini sulit buat dibikin terang.

Akan tetapi Soe heng kami, Jie Thay Giam, terang sudah telah dilakukan dengan Kim kong cie dari Siauw Lim pay!

Maka itu kebetulan sekali kunjungan tuan tuan semua, sekarang aku mohon menanya, sebenarnya siapakah yang telah melukai Sam soe heng kami itu?"

"Itulah bukan aku,"

Goan sim menyangkal cepat.

"Aku juga tahu bukannya kau!"

Kata Siong Kee tertawa dingin.

"Aku juga tidak percaya kau mampu meyakinkan ilmu itu!"

Ia berdiam sejenak, lalu melanjuti.

"Jikalau Soeheng kami itu bertubuh sehat dan ia bertempur dengan orang partaimu yang kosen secara laki-laki, kalau ia sampai dilukakan dengan Kim kong cie, harus disesalkan saja kepandaiannya belum sempurna. Kalau pertempuran sampai terjadi orang terluka atau binasa apa mau dibilang lagi? Orang toh tidak biasanya membuat perjanjian sebelum pertandingan dimulai untuk mempertanggungkan keselamatan bulu atau rambutnya? "

"Akan tetapi Soeheng kami itu justeru lagi menderita sakit berat, tubuhnya tidak dapat digerakkan. Justeru begitu tuan pendeta itu sudah menggunakan pukulan Kim kong cie. Dia memaksa Soehengku menerangkan tentang golok mustika To liong to!"

Sampai disitu, dengan mengeraskan suaranya, Siong Kee menambahkan.

"ilmu silat Siauw lim pay telah menjagoi dikolong langit ini, Siauw lim pay telah menjadi jago Rimba Persilatan. Dari itu apa perlunya dia menghendaki juga golok mustika itu? Di sebelah itu, golok tersebut pernah dilihat satu kali oleh Soehengku itu! Kenyataannya ia telah dipaksa, bukankah perbuatan itu terlalu kejam? Jie Thay Giam mempunyai juga sedikit nama dalam Kang Ouw. Ia biasa melakukan perbuatan perbuatan mulis. Dengan begitu ia jadinya pernah melakukan jasa jasa baik untuk kaum Rimba Persilatan. Tetapi sekarang ia dianiaya pihak Siauw lim pay hingga ia bercacad seumur hidupnya. Untuk sepuluh tahun ia rebah saja diatas pembaringan. Maka itu sekarang kami mau memohon pertimbangan dari tiga Taysoe yang mulia"

Urusan terlukanya Jie Thay Giam dan kebinasaan keluarga Liong boen Piauw kiok itu telah menjadi bahan perselisihan selama sepuluh tahun.

Hanya karena lenyapnya Thio Coei San suami isteri perkara tinggal tengantung.

Sekarang pihak Siauw lim pay menimbulkannya pula dan Thio Siong Kee menggunakan ketikanya akan turut menggugatnya.

"Tentang itu pernah loolap menyelidiki,"

Berkata Kong boen.

"Loolap telah memeriksa sekalian murid Siauw lim sie, tapi tidak ada satupun yang melakukan penganiayan itu."

Mendengar jawaban itu, Thio Siong Kee merogo sakunya. untuk mengeluarkan sepotong emas goan po. Pada uang itu ada tapak jari tangan. Sambil menunjuki itu, ia berkata dengan nyaring.

"Baiklah semua orang gagah dikolong langat ini mengetahui. Orang yang menyiksa Soeheng kami itu yatah pendeta Siauw lim pay yang tapak jati tangannya berada diatas uang goanpo ini ! Kecuali dengan Kim kong cie, ada partai mana lagi yang dapat membikin tanda diatas uang seperti ini? Goan-im bertiga menuduh Thio Coei San hanya dengan kata-kata. Sekarang Siong Kee membalas dengan ada buktinya, inilah hebat.

"Siancay, siancay!"

Memuji Kong boen Taysoe.

"Diantara orang partai kami yang meyakinkan Kim kong cie, kecuali kami bertiga cuma lima Tiang Loo dari Tat mo tong. Akan tetapi, kelima Tiang loo itu tidak pernah keluar dari kuil kami lamanya sudah tiga sampai empat puluh tahun. Maka dari itu cara bagaimana mereka dapat melukai Jie Sam Hiap?"

Mendengar itu, Boh Seng Kok menyelak.

"Barusan Taysoe tidak percaya perkataannya Ngo Soeko kami. Taysoe mengatakannya omong disatu pihak saja. Habis bagaimana sekarang, apakah kata kata Taysoe juga bukan hanya kata kata sepihak?"

Kong boen sabar luar biasa, walaupun ditanggapi demikian rupa, ia tidak menjadi gusar.

"Jikalau Boh Cit hiap tidak percaya loolap, ya apa boleh buat!"

Katanya.

"Mana berani boanpwee tidak percaya Taysoe?"

Berkata Seng Kok.

"Hanyalah didalam dunia ini segala sesuatu gampang sekali berubab, sukar untuk menerkanya dan segala yang benar dan tidak benar tak dapat dipastikan. Tuan tuan cuma ketahui beberapa pendeta Siauw lim pay itu telah terbinasa ditangan Soeheng kami. Sebaliknya kami menyatakan, Sam Soeheng dianiaya pihak Siauw lim pay. Siapa tahu jikalau didalam perkara ini ada sesuatu yang tersembunyi? Maka kalau menurut Cianpwee urusan harus diurus dengan sabar, supaya tidak mengganggu persahabatan diantara kedua partai. Jikalau kita bertindak sembrono, kemudian dibelakang hari urusan dapat dibikin terang, bukankah kita akan menyesal sesudah kasep."

"Boh Cit hiap benar,"

Berkata Kong boen mengangguk. Sedang saudaranya itu berlaku demikian sabar, Kong tie berteriak dengan mendadak.

"Habis apa kah sakit hatinya Soeheng Kong kian dapat dibiarkan saja? Thio Ngohiap, urusan Liongboen Piauw kiok untuk sementara boleh kita biarkan saja, tetapi tentang Cia Soen si jahat itu, itulah lain! Mengenai dia itu, hari ini kami menghendaki kau memberitahukannya biarpun kau tidak suka, kau mesti bicara juga!"

Song Wan Kiauw membungkam sekian lama.

Sekarang ia melihat suasana tegang, terpaksa ia campur bicara.

Ia kata nyaring "Jikalau golok mustika itu tidak ada ditangannya Cia Soen, apa kah Taysoe tetap begini bernafsu hendak mengetahui dimana beradanya dia?"

Kata kata itu singkat tetapi maksudnya dalam sekali.

Kong tie telah ditegur dan dituduh ingin memiliki golok mustika itu.

Kong tie menjadi gusar sekali.

Tangannya menepuk meja!

Maka celakalah meja itu yang menjadi hancur!

Tapi inipun menandakan lihaynya tangan itu.

Ia sampai terkejut sendirinya.

Tapi ia lagi murka, ia tidak menghiraukannya.

Ia bahkan berkata nyaring.

"Sudah lama kami mendengar yang ilmu silatnya Thio Cinjin asalnya dari Siauw lim pay. Bahwa orang Rimba Persilatan mengatakan, hijau itu asalnya dari biru, tetapi yang hijau akhirnya menjadi lebih menang dari pada biru. Kamipun sudah lama mengaguminya, hanya kami tidak lagi tahu sampai dimana kebenarannya pembilangan itu. Apakah itu tidak melebihkan dari kenyataan hari itu? Hari ini dihadapan orang orang gagah diseluruh negara ini, ingin aku belajar kenal. Aku mengharap tidaklah Cinjin pelit untuk mengajarnya!"

Perkataan itu mengejutkan orang banyak berbareng menarik hati.

Thio Sam Hong menjagoi pada tujuh puluh tahun yang lampau.

Orang-orang sepantarannya yang pernah bertempur dengannya sudah pada mati.

Jadi sekarang ini belum ada yang mengetahui sampai dimana lihaynya dia.

Kecuali tujuh muridnya, belum pernah ada yang menyaksikan ia bersilat.

Hanya dengan melihat dari kegagahannya Song Wan Kiauw bertujuh, bisalah ditaksir kelihayannya itu.

Kali ini orang-orang mendengar ketua Boe tong pay itu ditantang, semua orang menjadi gembira, rata rata ingin menyaksikan pertempurannya jago jago utama.

Semua mata lantas saja diarahkan kepada Thio Sam Hong.

Semua orang ingin sekali mendengar tantangan itu diterima atau tidak.

Tapi orang mendapatkan orang tua itu melainkan hanya bersenyum.

Sekali tidak menolak tetapi juga tidak menerima.

"Ilmu silat Thio Cinjin sangat lihay. Dikolong langit ini tidak ada tandingannya,"

Berkata Kong boen Taysoe.

"Begitu juga kami ketiga pendeta dari Siauw lim sie. Kami bukannya tandingannya Cinjin, hanyalah sekarang, keadaan memaksa sekali! Perselisihan diantara murid kedua pihak, jikalau tidak dibereskan dengan kekuatan tenaga, untuk memastikan siapa kuat dan siapa lemah, sungguh sukar untuk diselesaikan. Maka itu kami bertiga menjadi tidak tau diri, kami bersedia bekerja sama bertiga meminta Cinjin sukalah memberi pengajaran kepada kami. Cinjin berderajat dua tingkat lebib tinggi dari pada kami. Jikalau kita bertempur satu lawan satu, itu artinya terhadap Cinjin kami berlaku sangat tidak hormat!"

Kata-kata ini didengar orang banyak, mereka itu pada berkata didalam hatinya.

"Perkataanmu sangat merendah, enak dldengarnya, tetapi itu artinya tiga melawan satu! Thio Sam Hong boleh liehay sekali, tetapi sekarang ia sudah berusia seratus tahun. Tenaganya tentu telah berkurang banyak sekali. Maka itu, dapatkah ia melayani tiga jago dari Siauw lim sie itu ?"

Song Wan Kiauw sudah lantas berbangkit.

"Hari ini adalah hari perayaan ulang tahun guruku. Mana dapat hari ini orang mengadu kepandaian ?"

Katanya. Mendengar sampai disitu para hadirin menduga Boe tong pay takut menyambut tantangan. Tapi orang belum bicara habis, Wan Kiauw berkata terus.

"Laginya benar seperti kata Kongboen Taysoe barusan. Tingkat derajat diantara guruku dan Taysoe bertiga berlainan, tidak seimbang. Jikalau pertempuran sampal terjadi, bukankah itu sama dengan yang tua menghina yang muda? Akan tetapi Siauw lim pay sudah menantang. Boe tong pay tidak dapat tidak menyambutnya. Pepatah membilang, kalau ada urusan, sang murid mengurusnya. Maka itu sekarang baiklah diatur begini, kami tujuh murid dari Boe tong pay, kami akan melawan dua belas pendeta lihay dari Siauw lim pay!"

Orang gempar sendirinya mendengar jawaban berani dari Wan kiauw ini.

Itulah bukan menyambut tantangan belaka bahkan berbalik menantang.

Kong boen, Kong tie,dan Kong Seng datang ke Boe tong san dengan mengajak masing masing tiga murid.

Dari itu jumlah mereka menjadi dua belas, dan ialah jumlah yang ditantang murid Boe tong pay itu.

Oleh karena Wan Kiauw menyebut jumlah tujuh, orang menjadi heran.

Bukankah Jie Thay Giam telah bercacad dan jumlah mereka menjadi tinggal enam orang.

Enam lawan dua belas, itu sama artinya satu melawan dua.

Bukankah dengan begitu dengan sendirinya Song Wan Kiauw menjadi telah mengangkat harga diri Boe tong pay?

Kelihatannya Song Wan Kiauw menyerbu bahaya dengan kata katanya itu.

Memang juga, terpaksa ia bersikap demikian.

Tapi sikapnya ini telah diperhitungkan.

Ia tahu baik Kong boen bertiga liehay melebihkan semua saudaranya.

Kalau satu lawan satu, hanya ia seorang yang dapat menandinginya secara berimbang.

Jie Thay Giam bercacad, sedang Jie Lian Cioe baru sembuh.

Tapi kalau mereka melawan dua belas orang, ia tahu sembilan murid tiga pendeta itu tidak harus dijerikan.

Maka namanya saja enam lawan dua belas, kenyataannya enam lawan tiga.

Kong tie Taysoe ketahui maksud hatinya Wan Kiauw.

Ia mengeluarkan suara dihidung.

Ia kata.

"Jikalau Thio Cinjin sendiri tidak sudi memberi pelajaran, baiklah, biar kami bertiga saja yang melawan tiga diantara keenam tuan dari Boe-tong pay. Dalam tiga pertandingan, siapa yang. menang dua kali dialah yang menang."

Thio Siong Kee dapat membade hati orang. Ia menggantikan kakaknya berbicara. Ia kata.

"Jikalau Kong-tie Taysoe menghendaki juga satu lawan satu, baiklah, dari kita tujuh saudara, Shako Jie Thay Giam tidak dapat turun dari pembaringan sebab ia telah dianiaya oleh pendeta Siauw lim sie. Meskipun begitu, tidak ada satu diantara kita berenam yang sudi ketinggalan. Maka baiklah kita bertempur dalam enam rombongan saja. Yalah enam murid Boe-tong-pay melawan enam pendeta gagah dari Siauw lim-pay, dan siapa yang menang dalam empat pertandingan, dialah yang menang."

"Benar begitu!"

Boh Seng Kok turut bicara.

"Jikalau pihak Boe-tong-pay yang kalah, Thio Ngoko akan memberitahukan tentang Kim mo Say ong Cia Soen. Dia akan memberitahukan kepada Hongthio dari Siauw-lim-sie. Umpama kata pihak Siauw-lim-pay yang mengalah, maka kami minta Taysoe bertiga lantas mengajak semua sababat ini, yang namanya saja datang untuk memberikan selamat ulang tahun kepada guruku, tetapi sebenarnya hendak mencari gara-gara, untuk turun dari gunung ini!"

Seng Kok mengatakan demikian sebab ia bisa mengerti maksud Siong Kee.

Dengan enam lawan enam, sudah terang Boe tong pay bakal tidak kalah.

Ia ketahui baik sekali kakaknya yang nomor satu dan nomor dua dapat menandingi ketiga musuh yang libay itu, tetapi ketiga murid mereka itu pasti bakal kena dikalahkan.

Kong-tie Taysoe cerdik, ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Tidak sempurna, itulah tidak sempurna!"

Katanya. Ia berkata begitu, lantas ia berhenti, tidak mau menjelaskan 'tidak sempurna' nya itu. Thio Siong Kee berkata pula.

"Taysoe bertiga menantang guru kami, katanya kamu mau bertanding tiga lawan satu. Setelah kami enam orang Boe tong pay bersedia melawan duabelas pendeta Siauw lim-pay, Kong-tie Taysoe menghendaki satu lawan satu. Kami menerima baik, tetapi Tay soe bilang tidak sempurna. Sekarang begini saja, biar boanpwee seorang diri melawan tiga pendeta yang lihay. Bukankah ini sempurna? Jikalau Taysoe bertiga dapat menghajar aku sampai mati, itu arti nya Siauw lim-pay yang menang! Tidaklah itu bagus?"

Mukanya Kong-tie menjadi berubah. Hebat ejekan itu. Tapi Kong Seng tertawa terbabak-babak, berulang kali dia memuji.

"Siancay ! Siancay!"

Semenjak datangnya, pendeta ini belum pernah membuka mulutnya. Inilah yang pertama kali. Lalu ia menambahkan.

"Soeheng berdua, Thio Sie hiap ini mau bersendirian melawan kami bertiga, mari kami maju bersama!"

Pendeta ini lihay ilmu silatnya, tetapi ia tidak menginsafi ejekannya Siong Kee itu.

"Jangan banyak omong, Soetee!"

Kong boen mencegah. Kemudian ia berpaling kepada Song Wan Kiauw dan berkata.

"Begini saja ! Kami enam pendeta Siauw lim melawan enam jago Boe tong, menang atau kalah diputuskan dengan ini satu kali pukul."

"Bukannya enam orang dari Boe tong melainkan tujuh!"

Berkata Wan Kiauw. Kong tie Taysoe terkejut.

"Jadi kalau begitu Thio Cinjin bakat turun tangan juga ?"

Tanyanya.

"Taysoe keliru,"

Sahut Wan Kiauw.

"Orang orang dengan siapa guru kami pernah bertempur semua sudah tidak ada lagi dalam dunia karena itu mana bisa lagi guru kami melakukan pertempuran? Sedang tentang Jie Shatee kami, dia bercacad, dia tidak dapat bengerak, dia juga tidak punya murid. Tetapi meski demikian, persaudaraan kami bertujuh sangat erat. Kami mau hidup dan mati bersama. Dari itu disaat mati hidup seperti ini, mana dapat kami berpeluk tangan menonton saja dipinggiran? Maka itu, untuk gantinya, aku hendak minta dia mencari wakil. Untuk ini biarlah dia diberi ketika untuk memberi petunjuk kepada wakilnya itu. Dengan begitu, tujuh murid Boe tong pay menempur pendeta-pendeta dari Siauw lim pay! Untuk pihak taysoe, maju tujuh baik, maju duabelas baik juga, untuk kami tidak ada halangannya!"

Kong boan heran. Ia berpikir.

"Sebegitu jauh yang aku tahu dipihak Boe tong pay kecuali Thio Cinjin dan tujuh muridnya, tidak ada lagi yang lihay. Maka sekarang dia mau mencari wakil mana dapat? Kalau mereka minta bantuan dari lain partai, itu bukan lagi namanya partai Boe tong pay Mengucapkan begini sebagai pelabi saja untuk memegang nama baiknya Boe tong Cit hiap ..."

Maka ia lantas mengangguk dan menyambut.

"Baiklah, tujuh pendeta Siauw lim akan melawan tujuh jago Boe tong!"

Dipihak Boe tong pay, Jie Lian Cioe, Thio Siong Kee dapat membade maksudnya Toako mereka. Thio Sam Hong mempunyai semacam ilmu silat istimewa yang diberi nama "Cit boe Cit cay tin"

Yalah semacam warisan, untuk mana tujuh orang meski bertempur bersatu padu melayani musuh.

Ilmu itu didapatkan Thio Sam Hong karena ilham yang muncul setelah ia melihat sesuatu.

Pujaan Boe tong pay yalah Cin Boe Tay tee, Pacungnya Tay tee didampingi oleh dua panglimanya, yalah Koe Ciang koen, dan Coa Ciang koen, malaikat kura-kura dan ular.

Kedua Ciang koen ini berkedudukan demikian rupa hingga mirip dengan letaknya Coa san dan Koe san.

Gunung Ular dan Gunung Kura-kura di sungai Tiangkang dan sungai Hansoei.

Sifatnya ular yalah lincah, dan sifatnya kura-kura pendiam.

Ular dan kura kuranya Cin Boe Tay tee justeru mencakup ke dua sifat itu.

Maka setelah mendapat ilham itu segera Thio Sam Hong pergi ke Han yang untuk memandang kedua Gunung Ular dan kura-kura itu, mengawasi terus-terusan.

Ia membayangi bagaimana Gunung Ular bagaikan berlegot-legot, dan Gunung Kura-kura numprak tegak dan agung.

Lantas setelah itu, ia melamuni ilmu silat yang hendak diciptakan itu.

Hebat usahanya Sam Hong ini.

Ia berdiri ditepi sungai selama tiga hari dan tiga malam tanpa minum dan dahar.

Dipagi hari keempat, ia menyaksikan munculnya Sang Surya yang merah marong.

Mendadak ia sadar.

Lantas ia tertawa lebar dan terus berangkat pulang ke Boe tong san untuk selanjutnya mengumpulkan tujuh muridnya untuk mengajar mereka ilmu silat istimewa itu.

Ilmu sitat itu mempunyali keistimewaan sendiri-sendiri bila digunakan oleh satu orang.

Kalau dengan dua orang, maka mereka berdua dapat saling membantu, baik maju baik mundur Kalau bertiga, maka itu menjadi terlebih hebat pula, hebatnya seperti tiga melawan empat orang liehay.

Dengan rajin ketujuh murid itu belajar.

Merekat menyakirkannya dengan sungguh-sungguh.

Mereka telah memperoleh hasil berlipat ganda.

Umpama empat dapat melawan delapan, lima dapat melawan enambelas, enam dapat melawan tiga puluh dua, dan tujuh dapat melawan enampuluh empat.

Dijaman itu, orang lihay cuma berjumlah kira kira tigapuluh orang.

Mereka pun terpecah diantara pelbagai partai dan golongan sejati dan sesat.

Maka kalau terjadi bertempuran, mereka tidak dapat besatu.

Maka itu Cinboe Cit cay tin jadi merupakan semacam barisan.

Sekarang, Song Wan Kiauw menghadapi lawan tangguh.

Ia ingat ilmu silat itu.

"Sekarang aku minta Taysoe suka menanti sebentar,"

Kemudian ia kata pada Kong boen beramai.

"Kami hendak menemui Jie Samtee untuk minta ia memilih wakilnya untuk menambah jumlah kami yang kurang satu."

Habis berkata, kakak sepenguruan itu mengedipkan mata pada lima saudaranya, lalu mereka memberi hormat pada guru mereka, terus mereka mengundurkan diri keperdalaman.

"Toako,"

Kata Seng Kok yang lantas mendahului membuka mulut.

"mari kita lawan pendeta pendeta Siauw lim itu dengan Cin cay tin supaya mereka menginsafi lihaynya ilmu silat Boe tong pay. Hanya siapakah yang bakal menggantikan Shako?"

"Hal itu kita putuskan dengan suara kita yang terbanyak,"

Kata Wan Kiauw mengangguk.

"Sekarang kita semua jangan bicara. Kita menulis satu nama ditelapak tangan kita. Nanti kita lihat siapa pilihan kita beramai"

"Bagus!"

Seru Seng Kok yang sangat setuju.

Ia lantas mengambil pit dan menyerahkannya kepada kakak yang tertua itu.

Wan Kiauw menulis satu nama lalu dia membekap tangannya itu.

Pitnya ia serahkan pada Lian Cioe.

Si adik lantas menulis ditelapakan tangannya.

Demikian seterusnya mereka berenam.

"Sekarang mari buka sama-sama!"

Kata Wan Kiauw kemudian. Segera ternyata Wan Kiauw bersama Lian Cioe dan Siong Kee menulis "Ngo Teehoe,"

Artinya ipar mereka, isteri Coei San. Coei San sendiri menulis nama So so, isterinya. Seng Kok pun menulis "Ngo so,"

Artinya isteri Coei San juga. In Lie Hong yang paling belakang. Dia tidak membuka telapak tangannya, cuma mukanya yang merah.

"Heran!"

Kata Seng Kok.

"Apanya yang aneh?"

Lantas ia memaksa membuka kepalan kakaknya itu. Ternyata saudara she In ini menulis "Nona Kie"

Yalah tunangannya. Coei San terharu. Ia menggenggam tangan adik seperguraan itu, sedang mulutnya mengucap.

"Oh, Lioktee"

Semua orang mengetahui mengapa Lie Hang sampai menulis nama tunangannya itu.

Ini adalah disebabkan karena ia mengasihani In So So yang belum lagi pulih benar kesehatannya, yang pada pikirnya tak seharusnya berkelahi mati-matian.

Seng Kok hendak menggoda, tapi Coei San lekas mencegah dengan kedipan mata.

"Karena semua sudah setuju Tee hoe, Ngotee, pergilah kau undang isterimu datang kemari,"

Kata Wan Kiauw. Coei San menurut. Ia segera pergi kekamarnya dan mengundang isterinya itu dengan sekalian menjelaskan duduk persoalan.

"Semua orang orang Liong boen Piauwkiok dan Hoei hong beramai, akulah yang membinasakannya" , kata So So.

"Ketika aku melakukan hal itu, aku belum berkenalan sama Ngo-ko. Maka itu urusan itu tidak selayaknya menyeret-nyeret Boe tong-pay. Baiklah aku menyuruh saja semua pendeta itu mencari Peh bie-kauw yalah ayahku untuk mereka membuat perhitungan disana."

"Teehoe, perkara telah terjadi. Kita tidak mestinya berhitungan,"

Kata Siong Kee.

"Laginya aku telah melihat jelas. katanya mereka itu datang untuk urusan Liong boen Piauw-kiok. Itu melainkan alasan yang benar yalah untuk urusannya Cia Soen. Mereka berpegangan kepada permusuhan, tapi sebenarnya mereka mencari golok mustika To-liong-to!"

"Sieko betul!"

Kata Seng Kok.

"Memang benar mereka mencari golok mustika itu. Maka biar bagaimana, mereka pasti tanya dimana tempat berdiamnya Cia Soen sekarang ini."

"Memang demikian adanya."

Kata Coei San.

"Kong-kian sendiri yang memberitahukan Cia Soen saudara-angkatku itu, bahwa didalam golok To liong-to itu ada tersimpan semacam ilmu silat yang dapat membikin orang menjagoi dikolong langit ini. Kong-kian ketahui itu, mesti Kong boen, Kong-tie dan Kong-seng mengetahuinya juga."

"Jikalau begitu, terserah kepada kalian,"

Kata So So akhirnya.

"Hanya ilmu silatku masih rendah sekali, didalam tempo pendek ini, mana dapat aku memahami Cin boe Cit tay tin?"

"Itulah gampang,"

Berkata Wan Kiauw.

"Sebenarnya dengan kita berlima melawan tujuh pendeta, kita merasa pasti bakal menang. Jikalau toh meminta bantuan kau, Teehoe, itulah sebab kita mendengar lihaynya senjata rahasiamu yang berupa jarum. Kita mengharap kapan perlu, agar kau membantu kita. Dengan begitupun pastilah Shatee bakal jadi terhibur hatinya"

Wan Kiauw benar. Ia memang memberati Jie Thay Giam yang tidak bisa turut bertempur hingga saudara itu pasti akan menyesal sekali. sedang penggunaan "tin"

Itu, inilah yang pertama kalinya. Bagaimana terhiburnya Thay Giam umpama kata dia bisa turut mengambil bagian dan mereka menang. In So So cerdas, ia lantas mengerti.

"Baik!"

Katanya.

"Sekarang juga aku pergi kepada Shako untuk minta petunjuknya. Aku hanya kuatir nanti tidak dapat memahaminya dengan baik."

"Jangan kuatir, enso"

Kata In Lie Hang.

"Itu lah gampang asal kau mengingat baik baik letak kedudukanmu dan gerakan kaki. Umpama kata kau mendadak lupa, kamipun dapat menyadarkan kau."

Karena ini, bertujuh mereka pergi kekamar Jie Thay Giam.

Semenjak pulang ke gunung, beberapa kali sudah Thio Coei San menemui kakak sepenguruannya itu, tapi untuk In So So, inilah yang pertama kali, sebab gangguan kesehatannya mencegah dia lantas menemui iparnya itu.

Melihat si nona muda cantik, gerak geriknya halus, Thay Giam merasa senang.

Tetapi ketika ia mendengar keterangannya Wan Kiauw hal datangnya musuh pendeta Siauw lim pay yang mau di lawan dengan Cin boe Cit cay tin, untuk mana ia harus diwakili oleh So So, ia terharu dan berduka sekali.

Pedih hatinya.

Tentu sekali ia menyesatkan sangat cacadnya hingga ia tidak dapat membantu semua saudaranya itu.

Tapi ia kuat hatinya.

Ia tertawa.

Sembari bersenyum, ia kata pada So So.

"Teehoe, Shapeh tidak dapat memberikan apa apa padamu untuk pertemuan pertama kali ini sebab kesusu. Maka baiklah, nanti aku mengajar kau tentang 'tin' kita itu. Nanti sesudah musuh mundur, akan kulatih kau terlebih jauh agar kau paham semuanya."

So So girang sekali.

"Terima kasih, Shapeh."

Ucapnya.

Inilah pertama kali Thay Giam mendengar suara iparnya itu.

Ia agaknya terkejut sekali, segera ia menatap muka orang.

Otaknyapun bekerja, memikirkan sesuatu yang telah dilupakan.

Wajahnya menunjuk rasa heran yang luar biasa.

Coei Sanpun heran.

"Shako, apakah kau merasa tubuhmu tidak enak?"

Tanyanya.

Thay Giam tidak menyahut, dari menatap ia bengong.

Matanya mendelong kedepan.

Mata itu bersinar sangat tajam.

Sekarang terlihat juga perubahan air mukanya yang menandakan ia menderita dan penasaran.

Habis memandang saudaranya itu, Coei San berpaling pada isterinya.

Juga isteri itu berubah air mukanya.

So So nampaknya sangat berkuatir dan Song Wan Kiauw dan yang lainnya juga turut merasa heran.

Bergantian mereka mengawasi saudara mereka itu serta sang ipar.

Hati mereka tidak tenang lagi.

Kamar menjadi sangat sunyi.

Semua hati orang berdebaran.

Selagi berdiam itu, Thay Giam nampak napasnya memburu, mukanya yang pucat bersemu merah.

"Ngo teehoe, coba kemari,"

Katanya perlahan.

"Mari aku lihat kau....."

Tubuh So So bengemeteran, ia tidak berani menghampiri, sebaliknya tangannya menyambar tangan suaminya. Kamar menjadi sunyi pula. Selang sesaat, terdengar Thay Giam menghela napas.

"Kau tidak sudi datang tidak apa,"

Katanya pula.

"Dulu, hari itupun aku tidak melihat wajahmu. Teehoe, aku minta sukalah kau menyebutkan kata kataku ini. Pertama, aku minta Congpiauw tauw sendiri yang mengantarkannya. Kedua, dari Lim an sampai di Sang yang, di propinsi Ouwpak, kau harus berjalan siang hari dan malam, supaya piauw bisa mencapai tempat tujuannya dalam tempo sepuluh hari. Syarat ketiga, kalau terjadi sedikit kesalahan saja, huh! huh! jangankan jiwa Cong piauw tauw sendiri, sedangkan ayam dan anjing dari Liong boen Piauwkiok pun tak akan terluput dari kebinasaan !"

Thay Giam bicara dengan perlahan, tetapi mendengar itu orang pada mengeluarkan peluh di punggungnya. So So maju satu tindak.

"Shapeh, kau benar-benar hebat!"

Katanya.

"Kau dapat mengenali suaraku.. Memang itu hari, didalam kantor Liong boen Piauwtiok, orang yang memesan Touw Thay Kim mengantarkan kau ke Boe tong san yalah adikmu adanya."

"Terima kasih untuk kebaikan hatimu Teehoe."

"Kemudian pihak Liong boen Piauw kiok itu telah membuat kegagalan ditengah jalan,"

So So berkata pula.

"Kegagalan itu menyebabkan kau menjadi bersengsara begini rupa. Karena itu adikmu ini telah membunuh habis semua keluarga Liong boen Piuaw kiok itu."

"Demikian rupa kau berlaku untukku, kenapa kah?"

Tanya Thay Giam dingin. Wajah So So menjadi guram. Ia menghela napas panjang.

"Shapeh, perkara telah berjalan sampai sebegini jauh. Tidak dapatlah aku menyembunyikan apa-apa lagi,"

Katanya kemudian.

"Hanya terlebih dulu hendak aku menjelaskan. semua-muanya Coei San tidak tahu menahu. Aku kuatir ... aku takut..... Setelah dia mengetahui itu, selanjutnya dia bakal tidak memperdulikan lagi padaku."

"Jikalau begitu, tak usahlah kau menyebutnya lagi."

Kata Thay Giam.

"Aku telah bercacad begini rupa, urusan yang sudah-sudah tidak usah ditimbulkan pula. Kejadian itu tidak perlu mengganggu kamu sebagai suami isteri. Nah, kamu pergilah! Boe tong Liok hiap melawan pendeta-pendeta dari Siauw lim pay kemenangannya sudah dapat dipastikan. Jadi tak usahlah aku mendapat nama kosong"

Karena lukanya itu, sebab keangkuhannya, Thay Giam tidak pernah mengeluh atau mengutarakan penasarannya.

Bahkan bicarapun ia tak dapat, tapi setelah dirawat sungguh sungguh oleh gurunya selama sepuluh tahun, perlahan-lahan ia bisa juga bicara.

Hanya mengenai urusannya itu atas pengalamannya, ia tetap menutup mulut.

Maka itu ini hari, yalah disaat ini, kira-kiranya itu membikin semua saudaranya menjadi kaget dan heran, akan akhirnya semuanya berduka, bahkan ln Lie Heng lantas menangis.

"Shapeh, sebenarnya kau telah mendapat atau menduga dari siang-siang,"

Berkata So So pula.

"melulu karena kau berat kepada Coei San sebagai Soeteemu, kau menahan sabar. Kau tidak sudi bicara. Memang itu hari disungai Cian tong, yang sembunyi didalam perahu, yang melukakan kau dengan jarum, yalah adikmu ini ...."

Coei San terkejut.

"So So!"

Serunya.

"Benarkah itu? Kau ...... mengapa kau tidak memberitahukan itu padaku?"

"Biang keladi segala kejadian dan orang yang mencelakai Soehengmu ini yalah So So isterimu ini. Cara bagaimana aku berani menerangkannya?"

Sahut sang isteri.

"Shako, orang yang melukai kau dengan paku Cit seng teng, yang memperdayakan golok To liong to dari tanganmu, dialah kakakku sendiri, In Ya Ong... Kami dari Peh bie kauw tidak bermusuhan dengan kamu dari Boe tong pay. Setelah kami mendapatkan golok mustika itu, sedang kamipun menghargai kau sebagai seorang gagah sejati. Maka kami telah menugaskan Liong boen Piauw kiok mengantarkan kau pulang ke Boe tong san. Perihal peristiwa ditengah jalan, sungguh aku tidak duga sama sekali."

Tubuh Coei San menggigil keras, matanya seperti menghamburkan marong. Ia lantas menuding isterinya.

"Kau.... kau mendustai aku hebat sekali!"

Katanya nyaring.

Mendadak Jie Thay Giam berseru keras, lantas tubuhnya mencelat dari atas pembaringannya dan roboh.

Tubuh itu jatuh dipapan pembaringan hingga papan itu tak kuat menahannya dan ambruk.

Thay Giam sendiri terus pingsan.

Menampak semua itu, So So menghunus pedang dipinggangnya.

Ia membalik itu gagangnya pedang.

Ia angsurkan pada suaminya.

"Ngo ko,"

Katanya.

"Sudah sepuluh tahun kita menjadi suami isteri, aku bersyukur sekali untuk kecintaanmu. Maka kalau sekarang aku mati, aku puas. Aku tidak menyesal. Dari itu kau tikamlah aku supaya dengan begitu kau dapat melindungi dan mempertahankan kehormatannya Boe tong Cit hiap....."

Coei San menyambuti pedang isterinya hendak ia meneruskan menikam dada isterinya.

Mendadak ia ingat akan cinta kasih mereka selama sepuluh tahun.

Hatinya menjadi lemah.

Segala apa lantas berbayang didepan matanya itu.

Untuk sejenak ia menjublak, diakhirnya ia berteriak, lalu ia lari keluar dari kamar, menuju kedepan !

So So dan Wan Kiauw semua tidak tahu apa yang bakal dilakukan.

Mereka lari menyusul.

Mereka dapat melihat Coei San pergi keruangan besar untuk lantas berlutut didepan gurunya untuk mengangguk angguk beberapa kali seraya berkata "Soehoe, kesalahanku telah menjadi begini hingga tidak dapat ditarik pulang lagi.

Maka itu muridmu hanya memohon satu hal....."

Thio Sam Hong tidak tahu apa yang telah terjadi. Karena ia sabar ia berkata dengan tenang.

"Apakah itu? Kau sebutkanlah! Pasti gurumu tidak akan menampik."

Coei San mengangguk pula tiga kali.

"Terima kasih, Soehoo,"

Katanya.

"Muridmu ada mempunyai seorang anak laki laki, ialah anak satu satunya. Dia sekarang masih berada didalam tangannya orang jahat. Maka itu muridmu mohon sukalah Soehoe menolongnya dari tangan iblis itu, kemudian tolong Soehoe merawatnya hingga dia menjadi besar."

Habis berkata begitu, Coei San memutar tubuh kearah Kong boen Taysoe dan lain tetamu terhitung Ceng hian Soe thay dari Go bie pay. Dengan nyaring ia berkata.

"Segala kesalahan, aku Thio Coei San yang melakukannya. Sebagai seorang laki laki, aku sendiri juga yang menanggungnya. Maka itu sekarang hendak aku membuat tuan tuan puas!"

Kata kata itu diakhiri dengan tebasan pedang nya kepada lehernya, hingga darahnya lantas muncrat dan tubuhnya roboh binasa.

Thio Sam Hong kaget bukun main.

Ia melompat untuk menolong.

Bersama ia melompat juga Jie Lian Cioe, Thio Siong kie dan In Lie Heng.

Semua mereka pada berseru.

Berbareng dengan mereka berempat, ada lima orang lain yang turut melompat maju, akan tetapi mereka telah dibikin terpental dengan sampokan guru dan tiga muridnya.

Justeru karena ini, mereka ini terlambat, Coei San keburu membunuh diri dan tubuhnya roboh.

Song Wan Kiauw, Boh Seng Kok dan In So So muncul paling belakang.

Justeru itu, dari luar jendela terdengar teriakan.

"Ayah! Ayah!"

Suara yang kedua kali itu tertahan seperti keluar dari mulut yang lantas tersumbat.

Hanya sekelebatan saja, Thio Sam Hong sudah mencelat keluar jendela, hingga ia dapat melihat seorang laki laki dengan dandanan seragam tentara Mongolia memeluki seorang bocah umur delapan atau sembilan tahun, bocah mana dibekap mulutnya tetapi ia coba meronta.

Hatinya Sam Hong tengah sakit dan pedih, maka itu tanpa berpikir lagi, ia membentak orang Mongolia itu.

"Kau masuk kedalam !"

Orang itu tidak menurut perintah, bahkan dia menggerakkan sebelah kakinya untuk menjejak tanah, guna melompat naik keatas genteng.

Selagi menjejak, ia mendak sedikit, si bocah tetap dipeluk.

Tapi ia tidak dapat berlompat.

Tubuhnya di rasakan berat.

Thio Sam Hong yang telah melompat kepadanya, telah menekan pundaknya !

Kaget orang itu, rupanya dia mengerti gelagat, tanpa membuka suara, dia bertindak kedalam, hingga batallah dia hendak melarikan diri.

Bocah itu memang Boe Kie, puteranya Coei San dan So So.

Ia telah ditotok urat gagunya.

Akan tetapi ia pernah mengikuti Cia Soen belajar silat.

Ia telah memperoleh kemajuan luar biasa, maka juga tidak lama habis ditotok, ia dapat dengan sendirinya membebaskan diri.

Ia melihat ayahnya membunuh diri.

Ia kaget luar biasa dan berteriak memanggil manggil ayahnya itu, atas mana ia segera dibekap pula, sampai kakek gurunya datang menolongnya.

In So So karam hatinya melihat suaminya membunuh diri.

Meski begitu, mendapatkan anaknya, kegirangannya muncul juga, maka segera ia menghampirkan, tetapi perkataannya yang pertama ialah pertanyaan ini.

"Anak, kau toh tidak menyebutkan tentang dimana adanya ayah angkatmu"

"Biarnya dia bunuh mati padaku, tidak nanti aku beritahu!"

Sahut si anak.

"Oh, anak yang baik", seru sang ibu.

"Mari aku memelukmu!"

"Serahkan anak itu!"

Sam Hong memerintah orang Mongolia. Orang itu menurut, tanpa bersuara, ia menyerahkan si bocah kepada ibunya. Boe Kie nelusup dalam rangkulan ibunya.

"Ibu,"

Katanya.

"Siapa yang memaksa ayah membunuh diri?"

"Disini ada begini banyak orang,"

Menyahut sang ibu.

"Merekalah yang naik kegunung ini dan memaksakan kematian ayahmu!"

Matanya Boe Kie lantas menyapu, dari kiri dan kekanan.

Dia masih kecil akan tetapi sinar matanya tajam sekali.

Sinar mata itu mengsandung kebencian dan kemarahan hebat, hingga siapa yang sinar matanya bentrok, hatinya terkesiap.

"Boe Kie, berjanjilah kepada ibumu!"

Kata So So "Titahkan, ibu!"

Sang anak menjawab.

"Kau jangan terburu napsu menuntut balas"

Katanya.

"Kau harus sabar. Perlahan-lahan saja kau menantikan, asal seorang jua jangan diberi lolos...."

Mendengar itu, orang pada merasakan tubuhnya bergidik, punggungnya dingin sendirinya.

"Baik, ibu!"

Boe Kie menjawab.

"Aku akan menantikan dengan perlahan-lahan, seorang jua aku tidak akan kasih lolos!"

Tubuh si nyonya tiba-tiba menggigil.

"Anak,"

Katanya.

"karena ayahmu sudah mati, baiklah kita menyebutkan tempat kediamannya ayahmu itu, supaya mereka ini mendapat tahu..."

"Jangan, ibu, jangan!"

Boe Kie mencegah. Tapi So So tidak memperdulikannya.

"Kong boen Taysoe, mari!"

Katanya.

"Aku hanya akan memberitahukan pada kau seorang. Mari kupingmu, akan aku bisiki...."

Semua orang heran. Inilah diluar dugaan mereka.

"Siancay ! Siancay!"

Kong boen memuji.

"Nyonya yang budiman, coba kau bicara tadian sedikit, pastilah Thio Ngo hiap tidak usah binasa...."

Ia lantas menghampiri So So untuk membungkuk memasang kupingnya. Nyonya Coei San menggerakkan kedua bibirnya, tetapi suaranya tidak terdengar.

"Apa?"

Kong boen tanya.

"Kim mo Say ong Cia Soen, dia bersembunyi di...."

Kata So So. Kata "bersembunyi di"

Itu diucapkan sangat perlahan dan samar samar hingga sukar terdengar tegas.

"Apa!"

Pendeta dari Siauw lim sie itu menegas.

"Ya, dia bersembunyi disana, pergilah kau mencari sendiri."

So So berkafa pula.

"Aku tidak mendengar nyata !"

Kata Kong boen yang menjadi gelisah sendirinya.

"Aku hanya bisa memberitahukan secara demikian maka pergilah kau kesana. Kau akan mendapatkannya sendiri...."

Katanya pula. Habis itu, ibu ini merangkul anaknya untuk berbisik.

"Anak, setelah dewasa nanti, jagalah dirimu agar tidak diperdayakan wanita! Makin seorang cantik dan manis dilihat, makin dia pandai memperdayakan orang ...."

Kupingnya ibu itu ditaruh ditelinga puteranya. Ia menambahkan.

"Aku tidak membilangi si pendata. aku cuma mendustakan dia!"

Lalu ia tertawa sendirinya, tertawa sedih.

"Nyonya yang baik!"

Kong-boen berseru.

Sekonyong-konyong rangkulannya So So terlepas dengan sendirinya.

Tubuhnya terhuyung, terus roboh celentang.

Maka terlihatlah didadanya tertancapnya sebilah pisau belati.

Karena selagi merangkul Boe Kie, puteranya, pisau belatinya sudah dipasang, dari itu tidak ada seorang juga yang melihat ia membunuh diri.

Boe Kie menubruk tubuh ibunya.

"Ibu! Ibu!"

Ia memanggil-manggilnya.

Tapi sang ibu telah lantas putus jiwanya.

Kedukaan Boa Kie melampaui batas, sampai ia tidak dapat menangis.

Ia mencabut pisau belati dari dada ibunya, ia mencekal pisau yang berlumuran darah itu.

Sambil memegangnya, ia memandang Kong boen Taysoe.

Ia tanya dengan dingin.

"Kaukah yang membunuh ibuku? Benar atau tidak?"

Kong-boen terperanjat.

Kematiannya sinyonya sampai membuatnya menjublak.

Biar bagaimana juga, ia adalah seorang Ciang boen jin, maka hatinya terharu juga menyaksikan sekaligus dua peristiwa berdarah yang terjadi secara beruntun dan menyayatkan hati itu.

Tanpa merasa, ia mundur setindak.

"Bukan....... bukan aku......."

Katanya menyangkal.

"Dia membunuh diri..."

Air matanya Boe Kie mengembang, tetapi ia mencoba menahan mengucurnya itu. Ia kata dalam hatinya.

"Aku tidak boleh menangis! Aku tidak boleh menangis! Aku tidak boleh mengasi lihat mereka ini aku menangis!"

Dengan tangan mencekal keras pisau belati berdarah itu, bocah ini lantas bertindak, dari kiri ruangan terus kesebelah kanan.

Dia berjalan dengan tindakan perlahan, matanya mengawasi tajam pada semua hadirin itu yang berjumlah tiga-ratus orang lebih untuk mengenali mereka satu demi satu, sedang dibatok kepalanya teringat pesan ibu nya barusan.

" ... perlahan-lahan saja kau menantikan, asal saja seorang juga jangan diberi lolos!"

Memang yang mendaki gunung Boe tong san itu, kalau bukannya ketua partai atau perkumpulan, tentu ahli silat dan bahwa mereka berani mengunjungi kuilnya Thio Sam Hong, menyatakan keberanian mereka.

Akan tetapi sekarang, ditatap Boe Kie demikian rupa, hati mereka terkesiap dan mencelos.

Jantung mereka berdenyutan memukul keras ..."

Akhir-akhirnya Kong boen Taysoe berbatuk batuk perlahan.

"Thio Cinjin,"

Katanya.

"peristiwa ini.... ah....sungguh diluar dugaan.... Thio Ngo hiap suami isteri telah menutup mata sendirinya. Maka itu semua urusan yang telah lampau, baiklah dibikin habis saja. Sekarang kami meminta diri"

Pendeta itu lantas memberi hormat. Thio Sam Hong membalas hormat itu.

"Maaf, tidak dapat aku mengantar sampai jauh"

Katanya tawar. Semua pendeta Siauw lim sie itu lantas bergerak untuk berlalu. Mendadak In Lie Heng berseru bengis.

"...kamu telah memaksa kematiannya saudaraku ....."

Tapi ia segera berhenti sendirinya, karena ia lantas ingat Ngoko telah membunuh diri sebab ia malu kepada Shako.

Mereka ini tidak ada sangkut pautnya.

Maka ia tidak melanjuti menegur, sebaiknya ia menubruk tubuhnya Coei San dan menangis menggerung-gerung.

Semua orang menjadi merasa tidak enak hati.

Lantas mereka menghampiri Thio Sam Hong untuk pamitan, sedang didalam hati mereka, mereka berpikir.

"Perkara ini hebat sekali, Boe tong pay tentulah tidak mau sudahan dengan gampang gampang...."

Hanya Song Wan Kiauw yang mengantar semua tetamunya sampai diluar pintu.

Selama itu mata nya sudah merah, ketika kemudian ia memutar tubuh, air matanya lantas nerobos keluar, sedang kupingnya mendengar tangisan riuh dan memedihkan dari ruangan dalam.

Rombongan Go bie pay yang paling belakang meminta diri.

Kie Siauw Hoe melihat In Lie Heng menangis demikian sedih, matanya menjadi merah sendirinya, lupa malu atau likat, ia menghampiri pemuda itu.

"Liok ko, aku mau pengi,"

Katanya perlahan sekali.

"Kau..... kau rawatiah dirimu baik baik."

Dengan air mata masih mengembang, In Lie Heng mengangkat kepalanya akan memandang si nona. Karena air matanya itu matanya seperti kabur. Ia masih sesenggukan ketika ia berkata.

"Kamu..... kamu kaum Go bie pay apakah kamupun datang untuk menyeterukan Ngoko ?"

"Bukan,"

Menyahut Siauw Hoe cepat.

"Hanya guruku mau meminta saudara Thio suka mengunjuk alamatnya Cia Soen."

Boe Kie mendengar pembicaraan itu, mendadak ia menyeletuk.

"Ibuku sudah memberitahukan itu kepada si pendeta, pergi kau tanya dia saja! Jikalau pendeta itu tidak sudi memberi tahu, pergi kamu rewel dengan mereka !"

Dalam kedukaannya, anak ini sudah mengerti maksud ibunya "Kau anak yang baik,"

Berkata Kie Siauw Hoe.

"Paman In mu tentulah akan bisa merawati kau terus ...."

Dengan kata katanya ini si nona mau maksudkan ia dan In Lie Heng pasti nanti memandang dia sebagai anak sendiri.

Kemudian ia meloloskan rantai emasnya dari lehernya.

Ia memasuki itu kekepalanya Boo Kie seraya berkata dengan halus .

"Ini untukmu ..."

Mendadak Boe Kie melompat sambil membentak.

"Aku tidak menghendaki barang musuh!"

Nona Kie berdiri menjublak likat, tangannya tetap memegangi kalungnya itu.

"Kamu lekas pergi !"

Kata Boe Kie berteriak.

"Aku hendak menangis! Seperginya semua musuh, baru aku menangis!"

"Anak, kami bukan musuhmu,"

Kata Kie Siauw Hoe perlahan. Boe Kie menggertak gigi. Mendadak ia berkata sengit.

"Semakin wanita cantik, semakin dia pandai menipu orang!"

Mukanya Kie Siatiw Hoe menjadi merah semua, hampir ia menangis. Wajahnja Ceng hian Soethay menjadi guram.

"Soemoay, buat apa banyak bicara sama anak kecil !"

Katanya.

"Mari kita pergi!"

Boe Kie mengawasi, ia menanti sampai Kie Siauw hoe semua sudah lenyap dari pintu ruang itu, baru ia hendak menangis, atau tiba tiba napasnya berhenti berjalan, tubuhnya roboh terkulai.

Jie Lian Cioe terkejut.

Ia lompat menubruk, untuk membangunkannya.

Ia menyangka, saking sedihnya, anak ini jadi pingsan.

Ia kata.

"Anak, kau menangislah!"

Iapun lantas mengurut tubuh si bocah.

Luar biala keadaannya Boe Kie.

Ia tidak siuman, bahkan sebaliknya tubuhnya menjadi dingin bagaikan es.

Melainkan dari hidungnya menghembuskan napas yang lemah sekali.

Lian Cioe terus mengurut, tapi ia tetap tidak tersadar.

Sekarang Wan Kiauw semua menjadi kaget.

"Anak ini keras hatinya, iapun telah mengerti segala apa."

Berkata Thio Sam Hong menghela napas.

Ia lantas menekan jalan darah Leng thay hiat dipunggung anak itu untuk menyalurkan hawanya sendiri ketubuh si anak.

Menurut tenaganya Thio Sam Hong, orang luka bagaimana berat juga, asal jiwanya belum putus, asal dia menyalurkan hawanya, dia bakal mendusin dari pingsannya dan keadaannya lantas menjadi baikan.

Akan tetapi tidak demikian dengan Boe Kie.

Anak ini mengasi lihat akibat yang luar biasa.

Mukanya lantas berubah jadi pucat menjadi biru, dari biru menjadi unggu, dan tubuhnyapun bengemetaran.

Ketika jidatnya diraba, jidat itu dingin seperti es.

Maka kagetlah kakek guru ini.

Lekas-lekas ia masuki tangannya kedalam baju di punggung untuk meraba-raba.

Disitu ada satu bagian yang mengeluarkan hawa panas, sedang disekitarnya semua dingin sekali.

Kalau bukannya Sam Hong, mungkin dia turut kedinginan juga.

"Wan Kiauw, lekas cari itu Tartar yang tadi membawa anak ini kemari!"

Guru ini menitahkan muridnya.

"Aku turut?"

Berkata Lian Cioe yang pun turut pengi.

Ketika tadi orang bingung, tanpa ketahuan, orang Mongolia itu telah mengangkat kakinya.

Thio Sam Hong sendiri sampai lupa memperhati kan dia.

Sam Hong lantas merobek baju Boe Kin, untuk memeriksa tubuhnya yang berkulit halus dan putih.

Dipunggung kedapatan tapak dari lima jari tangan, tapak mana bersemu hijau tua dan berbahaya.

Ketika diraba, tapak itu mengeluarkan hawa panas sekali.

Dilain pihak, disekitar, semua nya berhawa dingin.

Pantaslah, karenanya, Boe Kie pingsan bagaikan mayat.

Wan Kiauw dan Lian Cioe kembali dengan cepat dengan laporannya bahwa siorang Mongolia tidak kedapatan, bahwa mereka telah mencari dengan sia sia.Mereka inipun menjadi kaget sekali melihat tapak tangan dipunggung Boe Kie.

Thio Sam Hoag mengerutkan alisnya.

Tampaknya ia menyesal ketika mengucapkan katanya.

"Aku telah menyangka tigapuluh tahun yang lalu, dengan matinya Pek soe Tauwto, maka lenyaplah sudah ini ilmu Hian beng Sin cieng yang lihay luar biasa. Siapa sangka sebenarnya masih ada orang yang mempunyai kepandaian itu"

Wan Kiauw kaget bukan main.

"Jadi anak ini terluka dengan ilmu Hian beng Sin ciang?"

Tanyanya. Ia berusia paling tinggi dan ketahui perihal ilmu pukulan tangan kosong itu, Tangan Malaikat Air, Lian Cioe dan yang lain nya, mendengar pun belum.

"Warnanya tapak jari ini ya lah tanda utama dari pukulan jahat itu"

Thio Sam Hong menerangkan.

"Soehoe perlu obat apa?"

Tanya In Lie Heng.

"Nanti aku lantas ambil."

Guru itu menghela napas. Ia tidak menyahut, hanya kedua mata mengucarkan air. Ia mengangkat tubuh Boe Kie untuk di rangkul erat-erat, sedang matanya mengawasi mayat Coei San. Ia kata.

"Coei San, Coei San ! Kau mengangkat aku menjadi guru. Ketika kau mau pulang, kau menitipkan anakmu ini padaku, akan tetapi aku aku tidak sanggup melindungi anakmu ini! Maka apakah artinya aku hidup sampai umur seratus tahun? Apakah gunanya Boe tong pay terkenal di seluruh jagat? Lebin baik aku mati saja ...."

Wan Kiauw semua kaget tidak terkira. Semenjak mengikuti guru ini, mereka selalu mendapatkan si guru bergembira. Belum pernah ia bersusah hati atau berputus asa seperti ini.

"Soehoe, benarkah anak ini tidak dapat ditolong lagi ?"

Tanya Lie Heng penasaran. Sam Hong memeluk terus tubuh Boe Kie. Ia berjalan mundar-mandir diruang itu.

"Kecuali .... kecuali guruku Kak-wan hidup pula dan ia mengajar aku seluruh kitab Kioe yang Cin keng ....."

Semua murid Thio Sam Hong kaget. Semuanya berdiam. Kak wan Tay soe telah menutup mata pada delapan puluh tahun yang lampau. Mana dapat ia hidup pula? Itu artinya, Bor Kie tidak bisa ditolong lagi....

"Soehoe,"

Kata Lion Cioe tiba tiba "Aku ingat orang Mongolia tadi.

Dengannya pernah aku beradu tangan.

Memang tangannya lihay sekali, jarang orang selihay dia.

Tanganku telah terluka karena beradu tangan itu, tetapi sekarang tanganku telah sembuh seantengnya, rasanya bakal tidak ada akibatnya lebih jauh..."

"Didalam hal itu kau mengandal kepada nama besar Boe tong Cit hiap,"

Berkata sang guru "Hian beng Sin Ciang itu luar biasa.

Kalau melukai orang, celakalah korbannya.

Sebaliknya, kalau dia kalah tenaga dalam, dia bakal terluka sendirinya.

Ketika dia beradu tangan dengan kau, mungkin dia tidak bersungguh hati, rupanya dia jeri.

Maka ingat, kalau lain kali.

kau bertemu dia, berhati-hatilah."

Lian Cioe bergidik sendirinya.

"Jadi dia jeri kepada tenaga dalamku? Dia jadi tidak menggunakan seantero ilmunya yang liehay itu,"

Pikirnya.

"Coba lain kali dia bertemu pula denganku, tentu dia tidak akan memberi ampun lagi ...."

Keenam orang itu berdiam. Sekonyong-konyong terdengar jeritan Boe Kie.

"Ayah, ayah, aduh sakit!"

Dan ia membalas merangkul Thio Sam Hong keras-keras, kepalanya diselusupkan di dada si imam tua. Hati Sam Hong menggetar. Ia sangat menyayang anak itu. Dengan mengertak gigi ia berkata.

"Mari k ita gunakan semua tenaga kita untuk menolong bocah ini. Sampai berapa lama lagi dia dapat hidup, terserah kepada kemurahan hati Thian"

Ia lantas mengawasi mayat Coei San, air mata turun bercucuran ia berkata.

"Coei San, Coei San, oh, bagaimana sengsara anakmu ini!"

Kemudian ia bertindak kedalam, membawa bocah itu ke kamarnya sendiri, setelah meletakkan tubuh orang ia menotok berulang ulang delapan macam jalan darahnya.

Setelah ditotok pergi datang itu, tubuh Boe Kie tidak bergemetaran lebih jauh, hanya warna kulit mukanya, warna ungu itu, sudah menjadi bertambah gelap.

Sam Hong tahu baik sekali, bila warna itu berubah menjadi hitam, habislah sudah jiwa bocah yang malang ini.

Maka ia lekas-lekas meloloskan semua pakaian Boe Kie, dan membuka jubahnya sendiri, lalu punggung si anak ditempel rapat rapat pada dadanya sendiri.

Ketika itu diluar, Song Wan Kiauw beramai mengurus mayat Thio Coei San dan In So So.

Kemudian Jie Lian Cioe bersama Thio Siong Kee dan Boh Seng Kok bertiga menyusul guru mereka hingga mereka melihat sepak terjang guru itu, yang tengah mengerahkan tenaga dalamnya menurut ilmu "Soen-yang Boe kek kang"

Untuk menyedot hawa dingin dari tubuh Boe Kie.

Seumurnya Thio Sam Hong tidak menikah, maka sampai usianya seratus tahun, dia tetap perjaka sejati, karena mana juga dia berhasil meyakinkan ilmu tenaga dalamnya itu yang istimewa.

Hanya ilmu itu luar biasa sekali, kalau salah penggunaannya dapat mencelakakan diri sendiri.

Menyaksikan itu, ketiga murid ini berdebatati hatJnya.

Mereka menguatirkan gurunya.

Yang di kuatirkan, karena sudah tinggi usianya, tenaganya mungkin telah berkurang tanpa diketahui.

Selang setengah jam terlihat muka Thio Sam Hong berwarna semu hijau dan sepuluh jari tangannya bengemetaran.

Kemudian guru itu membuka matanya dan berkata.

"Lian Cioe mari kau gantikan aku. Kalau kau sudah tidak sanggup, lekas suruh Siong Kee menggantikannya. Ingat, jangan kau memaksakan diri."

Lian Cioe meloloskan jubahnya, menyambuti Boe Kie, untuk dipeluk erat erat.

Begitu tubuh mereka beradu, ia merasakan hawa dingin, seakan akan ia memeluk sebalok es.

Maka ia berkata "Cit tee, lekas kau suruh orang menyalakan beberapa dapur, makin marong apinya makin balik!"

Demikian, dengan mengandalkan tenaga dalam mereka, guru dan murid-muridnya itu menolong Boe Kie, si bocah keturunan satu-satunya dari Coei San dan So So.

Disini terlihat nyata perbedaan tingkat tenaga dalam antara guru dan murid itu.

Seng Kok tidak dapat bertahan lama-lama seperti saudara-saudaranya, ia hanya kuat bertahan selama sepanasnya air teh didalam cangkir, sedang Wan Kiauw kuat bertahan selama dua batang hii.

Ketika In Lie Heng yang menggantikan, seketika itu dia menjerit dan tubuhnya menggigil.

"Mari serahkan Boe Kie padaku!"

Kata Sam Hong kaget.

"Pergi kau bersamadhi!"

Ternyata Lie Heng menjadi lemah karena ia lah yang mendaratkan pukulan batin paling hebat karena kematian Coei San itu, hingga ia tidak dapat menguasai diri.

Usaha merampas jiwa Boe Kie dari tangan maut ini dilanjutkan terus dengan bergantian selama tiga hari dan tiga malam, maka bisalah dimengerti hebatnya penderitaan mereka.

Syukurnya yalah, hawa dingin ditubuh Boe Kie mulai berkurang, yang berarti juga berkurangnya racun dari Hian beng Sin ciang.

Baru dihari ke empat, mereka dapat senggang sedikit, untuk beristirahat dan tidur.

Sedang pada hari kedelapan, pembagian giliran dapat diatur lebih rapi, yalah seorang dapat menolong bergantian setiap dua jam.

Dengan begitu, mereka bisa beristiahat dengan baik dan teratur.

Boe Kie memperoleh kemajuan, hawa dinginnya berkurang setiap hari.

Ingatannya pun bertambah sadar, bahkan ia dapat dahar sedikit-sedikit.

Semua orang berlega hati.

Itulah bertanda bahwa anak ini akan dapat ditolong.

Maka bukan kepalang kagetnya orang ketika tiba pada hari yang ketigapuluh enam, Lian Cioe yang pertama mengetahui datangnya perubahan luar biasa mendapatkan bahwa hawa dingin ditubuh Boe Kie tidak dapat disedot pula.

Lian Cioe heran, ia menyangka bahwa tenaganya sendiri yang sudah habis, maka ia memberitahukan gurunya.

Thio Sam Hong segera mencoba sendiri, iapun gagal.

Semua orang menjadi gelisah lagi.

Lima hari dan lima malam mereka mencoba terus, tetapi hasilnya tetap tidak ada.

"Thay soe hoe,"

Berkata Boe Kie yang masih tetap sadar.

"tangan dan kakiku telah terasakan hangat, hanya embun-embunanku, hati dan perut ku bertambah dingin..."

Didalam hatinya, Thio Sam Hong kaget bukan "Lukamu telah sembuh banyak,"

Ia berkata meaghibur.

"Kamipun rasanya tidak usah selalu harus mendampingimu. Pergilah kau rebahkan diri sebentar dipembaringanku."

"baik, thaysoehoe,"

Kata bocah itu. Boe Kie terus berlutut didepan kakek gurunya, begitupun didepan Wan Kiauw berlima, untuk manggut-manggut beberapa kali. Ia berkata pula.

"Thay soehoe bersama paman semua telah menolong jiwa Boe Kie, maka selanjutnya Boe Kie mohon diajarkan ilmu silat supaya Boe Kie dapat membalaskan sakit hati ayah dan ibu kelak"

Sam Hong mengajak semua muridnya keruang dalam, disini ia berkata kepada mereka itu.

"Hawa dingin sudah masuk ke embun-embunan, hati dan perut, tak tertolong dengan tenaga luar. Kelihatannya sia sia belaka pengorbanan kita selama hampir empat puluh hari. Kenapa bisa terjadi begini, sungguh aku tidak mengerti...."

Semua orang mengasah otak, tapi sesudah sekian lama, belum juga ada yang bisa menebak sebab musababnya perubahan itu.

Jika mau dikatakan, bahwa Soen yang Boe kek kang tidak dapat mengusir hawa dingin itu, mengapa ilmu tersebut memperlihatkan kefaedahannya selama tiga puluh enam hari dan baru gagal pada hari ke tiga puluh tujuh?

Mengapa sedang lain-lain bagian tubuhnya hangat hanya di embun-embunan, hati, dan tantian (perut, tiga dim dibawah pusar) yang dingin luar biasa?

Selang beberapa saat lagi, tiba-tiba Jie Lian Cioe berkata.

"Soehoe, apa tidak bisa jadi, sesudah kena pukulan Hian beng Sin ciang, Boe Kie mengerahkan Lweekang untuk melawannya dan karena salah menggunakan tenaga dalam, racun dingin itu dan tenaga dalamnya melekat satu sama lain, sehingga tidak dapat disedot lagi?"

Sam Hong menggelengkan kepala.

"Tak mungkin,"

Jawabnya.

"Andai kata Coei San telah mengajarnya, anak yang masih begitu kecil pasti tidak mempunyai Lweekang yang begitu berarti."

"Soehoe keliru,"

Membantah Lian Cioe.

"Tenaga dalam Boe Kie tidak lemah."

Ia segera menceritakan, cara bagaimana dengan pukuan Sin Liong Pa bwee, bocah itu telah merobohkan seorang murid dari Boe san pang. Sang guru menepuk lututnya.

"Benar, kau benar!"

Katanya.

"Anak ini tentu sudah mempelajari ilmu silatnya Kim mo Say ong Cia Soen yang aneh aneh. Kalau Lweakangnya diperoleh dari Coei San, sehingga ia memiliki tenaga dalam dari partai kita sendiri, maka pengobatan dengan Soen yang Boe kek kang sudah pasti akan mempercepat kesembuhannya dan tak mungkin akan timbul perubahan yang sangat luar biasa, Tapi .... ilmu silat apakah yang dimiliki Cia Soen?"

Ia segera kembali kekamar Boe Kie dan berkata.

"Nak, Thay soe hoe ingin menyelidiki ilmu silat mu. Cobalah kau memukul aku tiga kali."

"Aku tidak berani memukul Thay soehoe,"

Kata Boe Kie. Sang kakek guru bersenyum.

"Jika kau tidak memukul, cara bagaimana aku bisa mendapat tahu cetek dalamnya ilmu silatmu?"

Katanya.

"Sebelum mengetahui itu, tak dapat aku menurunkan pelajaran yang lebih tinggi. Pukullah dengan seantero tenaga."

"Kalau begitu baiklah,"

Kata si bocah.

"Tapi Thay soehoe jangan membalas."

"Jangan kuatir,"

Kata Sam Hong.

Boe Kie lantas saja miringkan badannya, tangan kanannya dari atas menyabet kebawah, kesebelah kiri.

Itulah pukulan Kian liong Cay tian (Melihat naga disawah) dari Hang liong Sip pat ciang.

Sang kakek guru segera menyambut dengan tangan kirinya dan tenaga pukulan si bocah lantas saja punah.

Sam Hong manggut-manggutkan kepalanya.

"Tidak jelek,"

Katanya.

Begitu lekas pukulan pertama punah, Boe Kie memutar tubuh dan lalu menyabet pula dengan telapak tangannya, dengan jurus Sin liong Pa bwee.

Sam Hong menyambutnya dengan tangan kanan dan untuk kedua kalinya, pukulan Boe Kie punah seperti masuk kedalam laut.

"Bagus!"

Memuji sang kakek guru.

"Bahwa anak sekecil kau bisa mempunyai tenaga yang sebesar itu, sungguh-sungguh luar biasa."

Paras muka si bocah berubah merah.

"Thay soehoe, sudahlah! Aku tak mau memukul lagi"

"Kedua pukulanmu sangat bagus, coba lagi satu kali,"

Memerintah Sam Hong.

Boe Kie segera membuat sebuah lingkaran dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya mendorong kedepan.

Itulah pukulan Kang liong Yoe hwie (Penyesalan sang naga) dari Hang liong Sip pat ciang.

Waktu menyambutnya, Sam Hong merasa bahwa pukulan itu tidak selihay dua pukulan yang lebih dulu.

Ia menggelengkan kepala seraya berkata.

"Pukulan ini kurang bagus. Mungkin kau belum mahir."

"Bukan, bukan aku, tapi Giehoe yang belum mahir,"

Membantah Boe Kim.

"Gie hoe telah mengatakan, bahwa Hang liong sip pat ciang adalah salah satu ilmu pukulan yang terlihay didalam dunia. Sayang, ia hanya mengenal sebagian kecil saja. Giehoe juga mengatakan, bahwa ia sendiri masih belum dapat menyelami intisari dari pada Kang liong Yoe hwie, tapi ia mengajarkannya juga kepadaku, dengan pengharapan bahwa dikemudian hari aku sendiri bisa menyelaminya."

Sam Hang mengangguk "Ya."

Katanya.

"sekarang aku mengerti. Tapi dalam pertempuran, tak boleh kau menggunakan pukulan itu, karena kau sendiri bisa celaka."

"Thay soehoe, aku memohon kau untuk mengajar aku ilmu silat itu,"

Kata Boe Kie.

"Aku sandiri tak mampu,"

Jawabnya.

"Semenjak jaman Kwee Ceng, Kwee Thayhiap, membela kota Siangyang, kecuali Kwee Tayhiap sendiri, ilmu silat itu sudah menghilang dari Rimba Persilatan."

Sesudah itu ia lalu menanyakan semua ilmu yang sudah dipelajari Boe Kie dan anak itu menerangkan sejelas-jelasnya.

Sesudah mendengar habis, Sam Hong merasa kagum akan luasnya pengetahuan Cia Soen.

Dapat dikatakan, bahwa ia mengenal semua ilmu silat yang terdapat dalam Rimba Persilatan.

Hanya sayang, ia tidak menyelami ilmu-ilmu itu sampai didasarnya, akan kemudian mengubah ilmu silatnya sendiri, seperti lazimnya diperbuat oleh guru-guru besar.

Oleh karena begitu, biarpun ilmunya beraneka warna tak satupun yang dipelajari sampai dipuncaknya.

Tak usah dikatakan lagi, bahwa dalam usia yang semuda itu, Boe Kie belum bisa mewarisi kepandaian ayah angkatnya.

Apa yang sudah dilakukannya yalah menghafal kitab kitab dan Kouw koat (teori) dari macam-macam ilmu silat.

Ia menghafal dengan lancar sekali.

Beberapa macam ilmu silat bahkan belum pernah didengar oleh Sam Hong sendiri.

Dalam tekadnya yang bulat untnk membalas sakit hati terhadap Seng Koen, Cia Soen telah membinasakan banyak jago dari berbagai partai atau golongan persilatan.

Saban kali membunuh orang, ia selalu merampas kitab ilmu silat yang dimilik oleh korbannya itu, supaya kalau belakangan ia mesti bertempur dengan kawan-kawan sikorban.

Ia sudah mengenal ilmu silat musuhnya.

Itulah sebabnya mengapa ia memiliki ilmu silat yang begitu banyak corak ragamnya dan ilmu-ilmu itu semua diturunkan kepada Boe Kie.

Tapi Boe Kie hanya mempelajari teori dan tidak mengenal prakteknya.

Ia belum bisa bersilat berdasarkan teori itu dan masih gelap akan perubahan-perubahan yang tersebut dalam Kouw koat itu.

Sam Hong manggut-manggutkan kepalanya.

Ia mengerti, bahwa dengan berbuat begitu, Cia Soen memperlihatkan cintanya yang tidak terbatas terhadap anak pungutnya.

Cia Soen tahu, bahwa dalam tempo beberapa tahun, Boe Kie tak akan bisa mempelejari semua ilmu silatnya.

Sang tempo sudah sangat mendesak, karena Boe Kie mesti segera pulang ke Tionggoan.

Maka ia sudah menurunkan semua Kouw koat, dengan pengharapan bahwa dikemudian hari, dengan dibantu kecerdasannya, anak itu bisa mengerti sendiri teori-teori yang sudah dihapalnya.

Sesudah menyambut tiga pukulan Boe Kie, Sam Hong tahu, bahwa tenaga dalam bocah tidak murni.

Sebagai akibatnya, Lweekang dingin dari Hian beng Sin ciang tidak dapat disedot keluar lagi.

Dengan hati masgul kakek guru itu duduk terpekur sambil mengasah otak.

Selang sekian lama, ia berkata dengan suara perlahan.

"Untuk mengeluarkan racun itu, orang lain tidak akan dapat membantunya lagi. Jalan satu-satunya, ia harus melatih diri dengan Lweekang tertinggi dari Kioe yang Cin keng. Tapi sayang sungguh, bahwa pada waktu mendiang guruku yaitu Kak wan Taysoe, menghafal kitab tersebut, aku masih sangat muda dan tidak bisa ingat seanteronya. Biarpun sudah berulang kali aku menutup diri merenungkannya sekian lama, belum juga aku dapat menyelami seluruhnya. Sekarang, karena tiada jalan lain, biarlah ia berlatih sendiri dengan apa yang aku mampu. Jika ia bisa hidup lebih lama satu hari, biarlah ia hidup lebih lama satu hari."

Sesudah itu, ia segera mengajar Boe Kie dengan Kouw koat dan cara berlatih dari Kioe yang Cin-kang (Ilmu senjata dari Kioe yang).

Ilmu itu, yang kelihatannya sederhana, sangat dalam dan banyak sekali perubahannya.

Dengan menjalankan pernapasan menurut peraturan yang sudan ditetapkan, Cin kie (Hawa murni) yang hangat dari tantian mengalir keberbagai jalan darah dan kemudian kembali dan berkumpul pula sekitar tantian.

Pengaliran "Hawa murni"

Dari tantian ketantian merupakan satu putaran dan putaran itu diulang dan di ulang lagi. Sesudah selesai satu putaran, orang yang berlatih lantas saja merasa seluruh tubuhnya nyaman luar biasa.

"Hawa-murni"

Itu yang melayang-layang dan mengalir bagaikan asap rokok dinamakan juga In-Oen Cie kie (Hawa ungu dari Langit dan Bumi).

Jika latihan seseorang sudah capai tingkat yang tinggi, In oen Cie-kie bisa mengusir racun dingin ditatian dan diberbagai jalan darah.

Dalam Rimba Persilatan, azas-azas Lweekang dari berbaggai partai itu tidak banyak bedanya.

Yang berbeda yalah cara berlatihnya.

Sebegitu jauh mengenai tenaga, Boetong Sin-hoat dari Thio Sam Hong jarang tandingannya didalam dunia.

Sesudah berlatih dua tahun lebih, Boe Kie sudah dapat mengumpulkan banyak juga In oen Cin Kie ditantiannya.

Tapi karena racun dingin terlampau hebat, maka kehangatan dari "Hawa murni"

Itu tidak berhasil mengusirnya.

Sebaliknya dari pada sembuh, sinar hijau dimukanya kian hari kian tua dan setiap kali racun dingin itu mengamuk, ia menderita bukan main.

Selama dua tahun, Thio Sam Hong memeras tenaga dan pikiran untuk mengajar, menilik dan merawat cucu muridnya itu.

Song Wan Kiauw dan saudara-saudara sepenguruannya telah menjelajah keberbagai tempat untuk mencari obat obatan yang mujarab dan langka terdapat di dalam dunia.

Mereka membawa pulang Jin som yang sudah berusia lebih seratus tahun, Sioe ouw, Hok leng dari Soat san dan sebagainya untuk diberikan kepada bocah itu.

Tapi semua obat-obatan itu bagaikan batu yang dilemparkan kedalam lautan.

Makin hari anak itu jadi makin kurus dan pucat.

Guna menyenangkan orang-orang yang mencintainya, Boe Kie selalu memaksakan diri untuk bergembira.

Tapi sang kakek guru dan paman-paman itu merasa, bahwa turunan tunggal dari Thio Coei San sudah tak dapat ditolong lagi.

Selagi repot mengobati lukanya, tokoh-tokoh Boe tong pay tak punya tempo lagi untuk mencari musuh-musuh yang telah mencelakakan Jie Thay Giam dan Boe Kie.

Selama dua tahun itu, Kauw coe Peh bie kauw, In Thian Ceng, berulang kali mengirim utusan untuk menengok cucu luarnya dan menghadiahkan banyak barang-barang berharga.

Tapi mengingat bahwa secara tidak langsung Jie Thay Giam dan Thio Coei San celaka dalam tangan Peh bie kauw, pendekar-pendekar Boe tong selalu mengirim pulang barang-barang itu.

Bahkan satu kali Boh Seng Kok menghajar juga utusan In Thian Ceng.

Mulai waktu itu, In Thian Ceng tidak pernah mengirim orang lagi.

Tanpa terasa hari perayaan Tiong cioe tiba kembali.

Menurut kebiasaan, Thio Sam Hong dan murid muridnya merayakan hari itu.

Tapi pada kali sebelum mereka duduk dimeja perjamuan, penyakit Boe Kie mendadak kambuh lagi.

Selebar mukanya bersinar hijau dan tubuhnya menggigil.

Sebab kuatir merusak kegembiraan kakek guru dan paman-pamannya, sambil mengertak gigi, ia coba mempertahankan diri.

Tapi gejala kumatnya penyakit sudah tentu tidak dapat disembunyikan.

Dengan penuh rasa cinta, In Lie Heng mendukung keponakan itu kekamarnya, menyelimutinya dan membuat satu perapian.

Tiba tiba Thio Sam Hong berkata.

"Besok bersama Boe Kie, aku akan pergi ke Siauw lim sie di Siongsan"

Semua murid Thio Sam Hong tertegun.

Mereka mengerti, bahwa dalam keadaan mendesak dan karena cintanya terhadap si cucu murid, guru itu rela menundukkan kepala dihadapan Siaum Lim sie untuk meminta pertolongan.

Mereka mengerti bahwa sang guru mengharap, dengan Kioe yang Cin keng yang lengkap, jiwa Boe Kie akan bisa ditolong.

Sebagaimana diketahui, kioe yang Cin keng yang dimiliki Thio Sam Hong masih ada kekurangannya.

Dua tahun berselang, waktu Thio Sam Hong merayakan hari ulang tahunnya yang keseratus, perhubungan antara Siauw lim dan Boe tong telah menjadi retak.

Dengan kedudukannya sebagai seorang guru besar dari sebuah partai ternama, kepergian Thio Sam Hong ke Siauw lim sie untuk meminta pertolongan, sungguh akan menurunkan derajat Boe tong pay.

Akan tetapi, demi cinta yang tidak mengenal batas, guru besar itu telah menyampingkan segala nama kosong.

Sesudah tertegun, semua muridnya menghela napas dengan rasa kagum akan kebesaran jiwa sang guru.

Sebenarnya, Go bie paypun mengenal sebagian Kioe yang Cin-keng.

Akin tetapi, Biat coat Soe thay sungkan menemui orang luar.

Beberapa kali, Sam Hong telah memerintahkan in Lie Heng membawa suratnya ke gunung Go bie san.

Tapi pendeta wanita itu tidak menggubris dan memulangkan surat surat itu, tanpa dibuka.

Maka itulah jalan satu-satunya yang masih terbuka yalah minta pertolongan Siauw Lim sie.

Sam Hong mengerti, bahwa jika ia cuma mengutus murid-muridnya ke Siauw lim sie, Kong-boen Taysoe beramai pasti tidak akan meladeni.

Dari sebab itu, ia telah mengambil keputusan untuk pergi sendiri.

Demikianlah, perjamuan itu diliputi dengan kemasgulan dan sesudah meneguk beberapa cawan arak, mereka lalu bubar.

Pada keesokan barinya, pagi-pagi benar guru itu berangkat dengan mengajak Boe Kie, diantar oleh muridnya sampai dikaki gunung.

Song Wan Kiauw dan saudara saudaranya sebenarnya ingin turut serta, tetapi dilarang karena Sam Hong kuatir datangnya banyak orang akan menimbulkan kecurigaan bagi pihak Siauw lim.

Dengan masing-masing menunggang keledai, si kakek dan si bocah menuju ke arah utara.

Jarak antara Siauw Lim dan Boe-tong, dua pusat persilatan pada jaman itu, tidak terlalu jauh.

Dari Boe-tong-san Ouw-pak utara, ke Siong-san di Ho lam barat, hanya memerlukan pelayaran beberapa hari.

Sesudah menyeberangi sungai Han soe di Loo ho kow, mereka tiba di Lam yang.

Terus menuju ke utara sampai di Nie-coo dan sesudah membelok kearah barat, tibalah mereka digunung Siong san.

Sesudah mendaki Siauw sit san, mereka menambat keledai didahan pohon dan meneruskan perjalanan dengan jalan kaki.

Sambil berjalan, Sam Hong ingat kejadian pada delapanpuluh tahun lebih yang lalu, kapan dengan memikul dua tahang mendiang gurunya, Kak wan Taysoe mengajak ia dan Kwee Siang melarikan diri dari Siauw Lim sie.

Kejadian itu sudah hampir seabad, tapi seolah olah baru terjadi kemarin.

Ia menghela napas dan hatinya terharu bukan main, karena diluar semua perhitungan, hari ini ia kembali ketempat dulu.

Ia mengawasi puncak-puncak gunung dan kuil Siauw lim sie yang tiada berbeda seperti ada delapanpuluh tahun berselang.

Tapi orang orang yang dicintainya yaitu Kak wan dan Kwee Siang, sudah tidak ada lagi didalam dunia.

Tak lama kemudian, mereka tiba di pendopo Lip soat teng.

Kebetulan, dua pendeta kelihatan mendatangi.

Sam Hong menghampiri dan sesudah memberi hormat, ia berkata.

"Aku minta pertolongan soehoe (tuan pendeta) untuk melaporkan kepada Hong thio Taysoe (kepala kuil), bahwa Thio Sam Hong minta bertemu."

Mendengar nama "Thio Sam Hong,"

Kedua pendeta itu terkejut.

Dengan mata membelalak, mereka mengawasi kakek itu yang bertubuh tinggi besar, berambut dan berjenggot putih, sedang mukanya yang bersemu merah selalu bersenyum-senyum.

Dilain saat, mereka tercengang karena orang yang mengaku bernama Thio Sam Hong itu, mengenakan jubah imam yang mesum.

Mereka tak tahu, bahwa guru besar itu memang seorang sembarangan, sembarangan cara-caranya dan sembarangan pula dalam berpakaiannya.

Maka itulah, dibelakangnya sejumlah orang Kangouw menyulukinya sebagai "Tah-tah Toojin" (si imam mesum) dan ada juga orang yang menamakadnya "Thio Tah-tah"

Melihat begitu, kedua pendeta itu agak kurang percaya.

"Apa kau Thio ....Thio Cinjin dari Boe tong pay?"

Tanya salah seorang. Sam Hong tertawa.

"Apa ada Thio Sam Hong palsu?"

Tanyanya. Mendengar jawaban itu yang bernada guyon-guyon dan sama sekali bebas dari keangkeran seorang guru besar dari sebuah partai persilatan yang besar, sipendeta makin tidak percaya.

"Apa kau tidak main main ?"

Tanyanya pula. Sam Hong kembali tertawa.

"Apakah Thio Sam Hong berharga sedemikian besar, sehingga ia mesti dipalsukan?"

Tanyanya pula.

Dengan penuh kesangsian, kedua pendeta itu berlari-lari kearah kuil untuk melaporkan.

Sesudah lewat sekian lama, pintu ditengah kuil terbuka dan Hong thio Kong boen Taysoe muncul bersama-sama Kong tie dan Kong seng.

Dibelakang mereka mengikuti lima orang pendeta tua yang mengenakan jubah pertapaan warna kuning muda.

Sam Hong tahu, bahwa mereka, adalah anggauta angqauta dari Tat mo ih dan tingkatan mereka mungkin lebih tinggi daripada Kong boen dan saudara saudara sepenguruannya.

Mereka itu biasanya menyembunyikan diri didalam kuil untuk mempelajari dan merenungkan ilmu silat Siauw lim sie.

Sebegitu jauh, anggauta-anggauta tat mo ih tidak pernah mencampuri urusan lain.

Tapi sekarang, rupanya karena mendengar kedatangan orang orang Boe tong pay, Kong boen sudah merasa perlu untuk mengajak kelima tetua itu.

Sam Hong segera bertindak keluar dari pendopo Lip soat teng dan sambil memberi hormat, ia berkata.

"Siauwtoo merasa berat untuk menerima sambutan dari para Taysoe." (Siauwtoo -Aku si imam kecil) Kong boen dan yang lain-lain segera merangkap tangan.

"Kedatangan Thio Cinjin diluar dugaan siauwceng (aku sipendeta kecil),"

Kata Kong boen.

"'Apakah maksud kedatangan Cinjin?"

"Ingin minta pertolongan."

Jawabnya.

"Duduklah, duduklah,"

Mengundang Kong boen. Sesudah duduk dipendopo itu dan disuguhkan teh, didalam hati, Sam Hong merasa mendongkol.

"Biar bagaimanapun juga, aku adalah guru besar dari sebuah partai,"

Pikirnya.

"Tingkatanku lebih tinggi daripada kamu. Mengapa kamu tidak mengundang aku masuk dikuil?"

Tapi sebagai manusia yang sembarangan dan terbuka, perlakuan yang kurang pantas itu tidak dibuat pikiran olehnya. Tapi Kong boen sendiri rupanya sudah merasakan adanya ketidak pantasan. Katanya.

"Menurut adat istiadat, kami harus mengundang Thio Cin jin masuk kedalam kuil. Tapi hal itu tidak dapat dilakukan, karena dulu, diwaktu muda, Thio cin jin pernah meninggalkan Siauw lim sie tanpa pamitan. Peraturan kuil kami, yang sudah dipertahankan selama ratusan tahun, tentulah juga diketahui Thio Cinjin. Setiap murid yang melarikan diri atau murid yang berkhianat, seumur hidupnya tidak dipermisikan menginjak lagi kuil kami. Menurut peraturan itu, siapa yang melanggarnya harus di kutungkan kakinya."

Thio Sam Hong tertawa terbahak bahak.

"Oh, begitu "

Katanya.

"Memang benar, waktu masih kecil, Siauwtoo pernah berdiam di Siauw lim sie dan merawat Kak wan Taysoe. Akan tetapi, apa yang dilakukan Siauwtoo hanyalah menyapu lantai dan masak air. Siauwtoo belum pernah mencukur rambut dan juga belum pernah mengangkat guru. Maka itu, pada hakekatnya orang tidak dapat mengatakan, bahwa Siauwtoo adalah murid Siauw lim sie."

Kong tie tertawa dingin.

"Tapi tidak dapat disangkal bahwa ilmu silat Thio Cinjin adalah curian dari Siauw Lim sie,"

Katanya. Darah guru besar itu lantas saja naik, tapi di lain saat, ia dapat memulihkan ketenangannya. Pikirnya.

"Biarpun ilmu silat Boe tong adalah hasil jerih payahku selama empat puluh tahun, tapi jika mau diusut sumbernya, memang juga bersumber dari Siauw lim sie. Jika Kak wan Taysoe tidak menghadiahkan aku dengan sepasang Loohan besi, mungkin sekali aku tak akan bisa menjadi seorang ahli silat. Maka itu kalau dikatakan ilmu silatku bersumber dari Siauw lim sie, pernyataan itu tidak terlalu salah."

Memikir begitu, ia lantas saja berkata.

"Kedatangan Siauwtoo justeru untuk persoalan itu."

Kong boen dan Kong tie saling mengawasi.

"Aku mohon Thio Cinjin suka menjelaskannya."

Kata Kong boen.

"Barusan Kong tie Taysoe mengatakan, bahwa ilmu silat Siauwtoo didapat dari Siauw lim sie,"

Menerangkan Sam Hong.

"Pernyataan itu adalah benar. Dulu, Siauwtoo telah merawat Kak wan Taysoe dan beliau telah menurunkan ilmu dari kitab Kioe yang Cin keng yang ditulis sendiri oleh Tat mn Loocauw kepadaku. Akan tetapi, karena pada waktu itu Siauwtoo masih kecil, maka apa yang didapatkan masih banyak kekurangannya dan hal itu merupakan penyesalan besar dalam hatiku. Waktu Kak wan Taysoe menghafal Cin keng, ada tiga orang yang mendengarnya. Yang satu adalah pendiri Go bie pay, Kwee Siang Liehiap, yang lain Boe Sek Siansoe dan yang ketiga yalah Siauwtoo sendiri. Karena berusia paling muda, berotak paling timpul dan waktu itu Siauwtoo belum pernah belajar silat, maka ape yang didapatkan Siauwtoo paling sedikit."

"Wungkin sekali tidak sedemikian,"

Kata Kong tie dengan suara dingin.

"Sedari kecil Thio Cin jin merawat Kak wan. Selama beberapa tahun itu, apa tidak bisa jadi diam-diam Kak wan telah menurunkan banyak ilmu silat kepada Thio Cinjin? Sekarang, nama Boe tong pay menggetarkan seluruh jagat dan menurut pendapatku, semua itu yalah hadiah dari Kak wan."

Tingkatan Kak wan Taysoe Iebih tinggi tiga tingkat daripada Kong tie. Menutut pantas, ia harus menggunakan istilah "Toa soesiok couw."

Akan tetapi, lantaran Kak wan meninggalkan Siauw lim sie di tengah jalan dan namanya sudah dicoret, maka dalam pembicaraan, Kong tie sudah tidak menggunakan istilah yang menghormat.

Tapi Thio Sam Hong sendiri buru-buru bangun berdiri dan berkata sambil membungkuk "Budi Siansoe (mendiang guru) yang sangat besar, selalu tak dapat dilupakan Siauwtoo."

Sikapnya itu yalah untuk menghormat mendiang gurunya.

Diantara empat Seng ceng (pendeta suci) dari Siauw lim sie, yang berhati paling mulia yalah Kong kian Taysoe.

Hanya sayang siang-siang ia sudah meninggal dunia.

Kong boen seorang pintar dan bijaksana, rasa girang dan gusarnya jarang diutarakan pada paras mukanya.

Kong seng seorang sembrono dan polos sering sering bertindak atau berbicara seenaknya saja.

Antara mereka itu Kong tie lah yang berpemandangan paling sempit.

Sering-sering Kong tie merasa mendongkol, karena didalam Rimba Persilatan, nama Boe tong sudah berendeng dengan Siauw Lim, sedang menurut anggapannya, ilmu silat Boe tong adalah "curian"

Dari Siauw lim sie.

Kunjungan Sam Hong pada hari itu dianggapnya bertujuan untuk membalas sakit hati Thio Coei San.

Disamping itu, masih ada lain hal yang dibuat ganjalan olehnya.

Sebagaimana diketahui sebelum membunuh diri, In So So telah berlagak membisiki sembunyinya Cia Soen dikuping Kong boen.

Siasat itu siasat sangat beracun.

Selama dua tahun, tiada henti hentinya jago-jago Rimba Persilatan mengunjungi Siauw Lim sie untuk menanyakan dimana adanya Cia Soen.

Kong boen bersumpah keras keras bahwa ia tidak tahu.

Tapi pada hari itu, diruang besar "Giok hie koan", semua mata juga telah melihat, bahwa So So telah membisikkan sesuatu dikupingnya.

Siapa yang mau percaya keterangan Kong boen?

Selama dua tahun, sebab gara-gara itu, banyak pertempuran telah terjadi.

Tamu-tamu banyak yang binasa atau terluka, tapi pihak Siauw lim pun tidak bebas dari kerusakan.

Dan kalau di hitung hitung, menurut pendapat Kong tie yang menanam bibit penyakit yalah Boe tong pay.

Sekarang, diluar dugaan Thio Sam Hong datang sendiri.

Dapat dimengerti, jika Kong tie sungkan menyia-nyiakan kesempatan baik itu untuk melampiaskan rasa mendongkolnya.

"Thio Cinjin sudah mengaku, bahwa ilmu silat Boe tong adalah titian dari Siauw lim sir,"

Katanya pula.

"Hanya sayang pengakuan itu tidak didengar oleh lain orang."

Tapi, walaupun diejek, Sam Hong tenang luar biasa.

"Ilmu-ilmu silat dikolong langit sebenarnya bersumber satu,"

Katanya dengan suara sabar.

"Selama ratusan, selama ribuan tahun, tokoh-tokoh Rimba Persilatan memperkembangkan, memperbaiki dan menambal kekurangan-kekurangan yang terdapat dalm ilmu-ilmu silat. Maka itu, diwaktu sekarang, sukarlah dikatakan ilmu silat mana yang benar-benar merupakan sumber dari semua ilmu silat. Tapi, bahwa Siauw lim pay merupakan pemimpin dari Rimba Persilatan, adalah kenyataan yang diakui oleli semua orang. Hari ini, kedatangan Siauwtoo justeru karena mengagumi ilmu silat dari partai kalian. Siauwtoo mengakui kekurangan sendiri, makanya ingin minta pelajaran dari para Taysoe.."

Kong boen dan yang lain-lain terkejut. Mereka menafsirkan, bahwa kata-kata "meminta pelajaran"

Sebagai suatu tantangan. Paras muka mereka lantas saja berubah dan untuk beberapa saat, keadaan sunyi. Akhirnya, yang bicara paling dulu adalah Kong seng, sisembrono.

"Baiklah, toosoe tua,"

Katanya "Jika kau mau menjajal kepandaian kami, akupun tidak takut."

"Kalian hendaknya jangan salah mengerti "

Kata Sam Hong cepat-cepat.

"Siauwtoo mengatakan mau minta pelajaran, dan pernyataan itu adalah hal yang sesungguhnya. Dalam mempelajari Kioe yang Cin keng yang diturunkan oleh Siansoe, ada banyak bagian yang belum siauwtoo ketahui. Jika kalian sudi mengajar bagian bagian yang kurang itu, siauwtoo akan merasa berterima kasih tidak habisnya."

Sesudah berkata begitu, ia bangun berdiri dan membungkuk.

Pernyataan Thio Sam Hong mengejutkan semua orang.

Thio Sam Hong adalah pendiri partai yang ilmu silatnya tersohor di seluruh jagat.

Sesudah mencapai usia seratus tahun lebih, baik nama dan kepandaian maupun tingkatan, pada jaman itu tiada orang yang bisa merendenginya.

Maka itu, adalah suatu keanehan, bahwa guru besar itu meminta pelajaran dari pendeta-pendeta Siauw lim sie.

Kong boen buru-buru bangun berdiri dan membalas hormat.

"Thio Cinjin, janganlah Cinjin ber guyon guyon,"

Katanya.

"Kami adalah orang-oiang yang tingkatannya rendah dan pelajarannya cetek. Bagaimana kami bisa memberi pelajaran?"

Sam Hong mengerti, bahwa pernyataannya terlalu aneh.

Maka itu ia lantas saja menceriterakan sejelas-jelasnya duduknya persoalan.

Ia menandaskan, bahwa kedatangannya itu yalah untuk menolong jiwa Boe Kie.

la mengatakan bahwa ia bersedia memberitahukan pihak Siauw lim segala pelajaran yang telah diperolehnya dari Kioe yang Cin keng dengan harapan, bahwa pihak Siauw lim sudi memberitahukannya bagian bagian Kioe yang Cin keng yang belum dimengerti olehnya.

Sesudah berpikir agak Iama, Kong boen berkata.

"Semenjak ribuan tahun, diantara tujuhpuluh dua macam ilmu silat Siauw lim sie, belum pernah ada seorang murid yang berhasil mempelajari lebih daripada duabelas macam."

"Ilmu yang dimiliki Thio Cinjin memang ilmu yang sangat luar biasa. Akan tetapi, ilmu silat yang diwariskan oleh leluhur partai kami dengan sesungguhnya sudah terlalu banyak, sehingga, untuk mempelajari sepersepuluhnya saja, sudah tidak gampang. Thio Cinjin menyatakan bersedia untuk menukar ilmu dengan partai kami dan untuk kesudian itu, kami merasa berterima kasih. Tapi jika dipandang dari sudut kami, kami sebenarnya tak perlu menambah ilmu, sebab kami sendiri sudah memiliki terlampau banyak."

Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata pula.

"Ilmu silat Boe tong bersumber dari Siauw lim. Jika har i ini kedua belah pihak tukar menukar ilmu, maka dikemudian hari, orang orang yang tidak tahu duduknya persoalan, akan mengatakan, bahwa meskipun ilmu silat Boe tong bersumber dari Siauw lim, Siauw lim pay pun pernah memperoleh pelajaran dari Thio Cinjin. Sebagai Ciang boenjin dari Siauw lim pay, desas desus yang semacam itu benar-benar tidak bisa di pertanggung jawabkan oleh Siauw ceng."

Diam-diam Sam Hong menghela napas.

Ia merasa menyesal, bahwa Kong boen Taysoe, salah seorang dari empat pendeta suci, bisa mempunyai pemandangan yang sedemikian sempit.

Akan tetapi karena kedatangannya adalah untuk meminta bantuan orang, maka sebisa-bisanya ia menahan sabar dan tidak menegur.

"Sam wie adalah Seng Ceng (Pendeta suci), selalu menaruh belas kasihan terhadap segenap umat manusia"

Katanya dengan suara memohon.

"Jiwa anak ini tergantung atas selembar rambut. Maka itu, dengan mengingat welas asihnya Sang Buddha, siauwtoo memohon pertolongan dan untuk itu, siauwtoo berterima kasih tidak habisnya."

Kong tie tertawa dingin.

"Benar, memang benar seorang beribadat harus menaruh belas kasihan kepada, ummat manusia,"

Katanya dengan tawar.

"Tapi berapa banyak murid Siauw lim telah binasa didalam tangan Thio Coei San Thio Ngo hiap dan isterinya? Karena mereka berdua sudah membunuh diri sendiri, kamipun tidak mau menarik panjang urusan ini. Kalau mau ditarik panjang, kalau kami mau bersendirian, bahwa satu jiwa harus dibayar dengan satu jiwa pula, maka anak inipun harus diserahkan untuk membayar hutang."

Semenjak tadi, Boe Kie yang berdiri disamping kakek gurunya sudah naik darah.

Sebegitu jauh, sedapat dapatnya ia menekan hawa amarahtnya.

Sekarang begitu mendengar disebutkanaya ayah ibunya, ia tak bisa menahan sabar lagi.

"Thay soecouw,"

Katanya dengan suara nyaring.

"hweeshio hweeshio ini telah melaksanakan kematiannya ayah dan ibuku. Aku lebih suka lantas mati sekarang daripada memohon pertolongan mereka!"

"Diam!"

Bentak Sam Hong.

"Dihadapan orang orang tua, tak boleh kau ngaco-belo. Kematian ayah dan ibumu tiada sangkut pautnya dengan pendeta pendeta suci itu."

Boe Kie tidak berani membuka mulut lagi.

Tapi sebagai seorang yang beradaat angkuh, diam-diam ia mengambil keputusan untuk menolak pertolongan para pendeta itu, andaikata pertolongan itu mau diberikan.

Selagi Sam Hong menohon dan memohon lagi, tiba-tiba terdengar suara tindakan kuda dan lima orang penunggang kuda kelihatan mendatangi.

Orang yang berjalan paling depan bertubuh tinggi besar dan beroman garang, macamnya seperti satu pagoda besi.

Begitu tiba didepan Lip soat teng, ia menahan les dan berseru.

"Bagus!"

Teriakan "bagus!"

Itu bagaikan suara halilintar, sehingga semua orang terkejut. Sambil mengawasi Kong boen, orang itu berkata.

"Bwee Ciok Kian dari Boe san pang ingin bertemu dengan Hong thio Siauw lim Sie. Harap kalian sudi melaporkannya."

Kata kata itu yang diucapkan secara biasa, kedengaran sangat keras dan menusuk telinga.

Rupanya, sebab memiliki suara keras yang wajar, ditambah dengan daya Lweekang, maka suaranya begitu hebat.

Mendengar nama Bwee Ciok Kian, Boe Kie lantas saja ingat peristiwa yang dialaminya pada dua tahun berselang, yaitu waktu ia menghajar Ho Losam yang telah mengancamnya dengan ulat berbisa.

Melihat kegarangan orang itu, ia lalu bersembunyi dibelakang sang kakek guru, karena kuatir dikenali.

Kong boen mengerutkan alis.

Ia yakin, bahwa tujuan Bwee Ciok Kian adaiah untuk menyelidiki tempat sembunyinya Cia Soen.

Mengingat begitu, ia jadi lebih mendongkol terhadap Coei San dan isterinya yang dianggapnya sudah menyebar bibit penyakit.

"Ada urusan apa tuan mencari Hong thio kuil kami?"

Bwee Ciok Kian segera melompat turun dari tunggangannya, dan menjawab seraya merangkap kedua tangannya.

"Aku ingin menyelidiki kediamannya seorang."

"Seorang, pendeta tidak mencampuri urusan luar, ia hanya membaca kitab dan bersembahyang,"

Kata Kong tie.

"Jika Bwee Pangcoe ingin menyelidiki kediaman seseorang, Siauw lim sie bukan tempatnya."

"Bolehkah aku mendapat tahu, siapa adanya Taysoe ?"

Tanya Ciok Kian.

"She dan nama adalah sesuatu yang berada di luar badan dan seseorang boleh menggunakan ilmu apapun jua,"

Jawab Kong tie secara menyimpang.

"Hai! Nama saja Taysoe sungkan memberitahukan,"

Kata Bwee Ciok Kian dengan suara keras.

"Kalau begitu, perjalananku ke Siong san percuma saja."

Mendadak Kong tie mendapat serupa pikiran "Belum tentu percuma."

Katanya.

"Bukankah Pangcoe ingin menyelidiki tempat kediaman Kim mo Say ong Cia Soen ?"

"Benar, puteraku yang sulung telah dibinasakan oleh Cia Soen"

Jawabnya.

"Jika Taysoe dapat memberi petunjuk, segenap anggauta Boe san pang akan berterima kasih tidak habisnya."

"Kedatangan Pangcoe dihari ini dan diwaktu ini adalah kebetulan sekali,"

Kata Kong tie.

"Jika datang kemarin atau datang besok, kedatangan Pangcoe akan percuma saja"

Mendengar itu, bukan main girangnya Bwee Ciok Kian.

"Terima kasih atas petunjuk Tay-soe."

Katanya.

"Dalam dunia hanya seorang yang tahu tempat bersembunyinya Kim mo Say ong Cia Soen,"

Kata Kong tie dengan suara perlahan "Orang itu yalah saudara kecil yang berdiri disitu. Dia adalah putera dari Thio Coei San, Thio Ngohiap, dari Boe tong pay."

Seraya berkata begitu, ia menuding Boe Kie.

Waktu Bwee Ciok Kian baru datang, Boe Kie ketakutan dan bersembunyi dibelakang Thio Sam Hong.

Tapi sekarang, melihat bahaya sudah tidak dapat dielakkan lagi dan juga mendengar disebutkannya nama ayahnya, ia jadi nekat.

Ia merasa, bahwa sikap pengecut sangat menurunkan keangkeran mendiang ayahnya.

Ia segera maju ke depan seraya berkata.

"Bwee Pangcoe, kau sungguh tidak mengenal malu !"

Semua orang terkesiap. Siapapun juga tak pernah menduga, bahwa bocah kurus kering itu mempunyai nyali yang begitu besar.

"Bocah ! Apa kau mau mampus!"

Bentak Bwee Ciok Kian. Boe Kie keder, tapi sambil mengempos semangat, ia berkata.

"Dua tahun lebih yang lalu kau telah menyuruh seorang yang barnama Ho Loosam menyamar sebagai murid Kay pang dan Ho Loosam itu telah coba menawan aku. Benarkah begitu? Mengapa kau menggunakan nama Kay pang ? Benar-benar kau tidak mengenal malu!"

Paras muka Bwee Ciok Kian merah padam.

Ia mengangkat tangannya, dan lalu menggaplok Boe Kie.

Sebab kuatir membinasakan si bocah, ia hanya menggunakan sebagian tenaganya, tapi biarpun begitu, tenaganya yang memang besar sudah pasti tak akan dapat disambut oleh anak itu.

Boe Kie ingin melompat mundur, tapi sudah tidak keburu lagi sebab tenaga telapak tangan Bwee Ciok Kian sudah "menutup"

Seluruh tubuhnya dan napasnya lantas saja menyesak.

Karena tiada jalan, ia terpaksa mengangkat tangannya untuk menangkis.

Mendadak, ia merasa dari punggungnya masuk semacam hawa yang halus dan hangat.

Sesaat itu tangannya sudah kebentrok dengan tangan Bwee Pangcoe.

"Plak!"

Tubuh Bwee Ciok Kian terhuyung tiga tindak dan sesudah mengerahkan tenaga Ciang kin toei, barulah ia bisa berdiri tetap.

Bukan main rasa gusar dan malunya Bwee Pangcoe.

Mukanya yang merah padam berubah seperti warna hati babi.

Dengan mata seolah-olah mengeluarkan api, ia menacap wajah Boe Kie.

Waktu Ho Loosam melaporkan kecelakaan yang menimpa atas dirinya, ia tidak mau percaya.

Sekarangpun, bahkan sesudah mengalaminya sendiri, Ia masih tidak percaya, bahwa bocah seperti Boe Kie mempunyai tenaga yang begitu hebat.

Tafsiran satu-satunya yalah anak itu memiliki ilmu siluman.

Tapi para pendeta suci dari Siauw lim sie mengerti sebab musabab dari kejadian yang aneh itu.

Mereka tahu, bahwa Thio Sam Hong telah membantu cucu muridnya dengan ilmu Kat tee Coan kang (ilmu mengoperkan tenaga).

Dengan menggunakan ilmu tersebut, tangan Boe Kie menyerupai sebatang tongkat yang, digunakan oleh Thio Sam Hong untuk menangkis serangan lawan.

Kat tee Coan kang bukan ilmu yang terlalu sukar dipelajari.

Tapi penggunaan yang begitu bagus, sehingga tidak dapat dilihat lawan, sungguh-sungguh luar biasa.

Diam-diam ketiga pendeta suci mengakui, bahwa mereka tidak mampu melakuan apa yang dilakukan oleh Thio Sam Hong.

Dilain saat, Bwee Ciok Kian sudab membentak pula.

"Setan kecil! Sambut lagi pukulanku !"

Ia mengempos semangat dan menghantam dada Boe Kie dengan sepenuh tenaga.

Sambaran tenaga itu sedemikian hebat, sehingga pakaian semua orang jadi bergoyang-goyang.

Para pendeta yang kena disambar angin pukulan, merasa dada mereka menyesak dan buru-buru mengarahkan Lwee kang untuk memunahkan tenaga itu.

Selama beberapa tahun Thio Sam Hong menutup diri untuk merenungkan ilmu silat dan Ilmu Thay kek kang, yang digubahnya sendiri sangat berbeda dengan Lweekang dari partai mana pun jua.

Ia menggunakan kelemahan untuk melawan kekerasan, yang diam untuk menindas yang bergerak, yang sedikit untuk merebohkan yang banyak, yang kecil untuk menjatuhkan yang besar dan apa yang paling diutamakan yalah ilmu "meminjam tenaga, memukul tenaga."

Melihat pukulan Bwee Ciok Kian yang sehebat itu, Sam Hong jadi mendongkol.

"Kau sungguh kejam,"

Katanya didalam hati.

"Terhadap anak yang masih begitu kecil, kau turunkan tangan yang begitu berat. Jika aku tidak berada disini, bukan kah Boe Kie akan bancur luluh?"

Buru-buru ia menempelkan telapak tangannya dipunggung Boe Kie dan suatu daya Lweekang yang mahal dahsyat, yang dipatahkan dari latihan hampir seratus tahun, lantas saja menerobos masuk kedalam tubuh si bocah.

Sementara itu, Boe Kie sudah menyambut pukulan si raksasa dengan mengangkat tangan kanan nya mendorong dengan tangan kirinya, yaitu dengan menggunakan jurus Kian liong Cay tian "Plak!".

kedua lengan tangan kebentrok, disusul dengan.

"aaah!" , teriakan Bwee Ciok Kian yang tubuhnya terpental keluar bagaikan layangan putus. Sebelum orang tahu apa yang terjadi, badan si raksasa sudah jatuh diatas cabang pohon siong tua yang tingginya kira-kira lima tombak dari muka bumi. Begitu jatuh, si raksasa melupakan malu dan berteriak-teriak dengan ketakutan. Meskipun hebat tenaga Sam Hom adalah tenaga "lembek" , sehingga Bwee Ciok Kian tak terluka sedikitpun jua. Tapi ia tidak berani melompat turun, karena tidak mengerti ilmunya mengentengkan badan. Maka itu dengan jantung berdebar keras, ia memeluk cabang pohon itu erat-erat. Semua orang menyaksikan kejadian itu dengan rasa heran bercampur geli. Dua orang sebawahan Bwee Pangcoe yang mahir dalam ilmu ringan badan, lantas saja bergerak untuk menolong pemimpinnya. Sementara itu, Sam Hong kelihatan bicara bisik bisik dikuping Boe Kie yang manggut-manggutkan kepalanya. Si bocah lantas saja menjemput sebutir batu kecil dan lalu menyentilnya kearah cabang pohon yang sedang dipeluk Bwee Pangcoe. Batu itu terbang dengan mengeluarkan bunyi mengaung.

"Tak" .... cabang yang dipeluk si raksasa patah dan tubuhnya yang seperti pagoda besi segera ambruk kebawah! Boe Kie melompat dan menepuk punggung si korban. Waktu melayang jatuh, Ciok Kian merasa pasti, bahwa ia akan terluka berat. Tapi diluar dugaan, ia dipapaki dengan tepukan dan badannya lantas ngapung lagi keatas. Selagi melayang kebawah untuk kedua kalinya, ia berniat menggunakan gerakan Lee hie hoan sin (Ikan gabus membalik badan) agar ia bisa hinggap ditanah diatas kedua kakinya. Tapi heran sungguh, tepukan Boe Kie membuat kaki tangannya lemas semua, sedikitpun tak dapat digerakkan. Demikianlah, ia jatuh ambruk dan sesudah itu, barulah ia dapat merangkak bangun. Mimpipun ia tak pernah mimpi, bahwa itu semua adalah perbuatan Thio Sam Hong. Begitu bangun terdiri, ia mengangkat kedua tangannya seraya berkata.

"Enghiong kecil, aku merasa takluk terhadapmu."

Sehabis berkata begitu, buruburu ia menyemplak kudanya dan mengajak orang orangnya turun gunung secepat-cepatnya.

Kong boen dan yang lain-lain kaget tak kepalang.

Sudah lama mendengar kelihayan Thio Sam Hong, tapi baru sekarang mereka menyaksikannya dan apa yang barusan dipertunjukkan oleh pendiri Boe tong pay itu adalah lebih hebat dari pada dugaan maka.

Kong boen sebenarnya tak sudi saling menukar ilmu, tapi sesudah melihat kelihayan Sam Hong, ia berkata dalam hatinya.

"Biar pun aku berlatih lima puluh tahun lagi, aku tak akan dapat menandinginya. Ia ternyata memiliki ilmu yang luar biasa, ia berkepandaian jauh Iebih tinggi dari pada aku, sehingga kalau toh aku tukar-menukar dengannya, aku tak rugi."

Memikir begitu, in lantas saja bertanya.

"Thio Cinjin, apakah ilmu Kat te Coan kang itu didapat dari Kioe yang Cin keng?"

"Bukan,"

Jawabnya.

llmu ini dinamakan Thay kek kang, adalah ciptaan Siauwtoo.

Aku yang telah menggubahnya dengan semacam ilmu pukulan yang diberi nama Thay kek loan Sip sam sit (Tigabelas jurus ilmu pukulan Thay kek) dan ilmu pukulan itu tiada sangkut pautnya dengan Kioe yang Cin keng.

Manakala Thaysoe sudah menolong cucu muridku, aku tidak akan berlaku pelit dan bersedia untuk merundingkan ilmu pukulan itu bersama-sama kalian."

Kong boen melirik Kong tie yang lantas saja mengangguk.

"Kalau begitu, baiklah,"

Katanya.

"Kami akan membuka rahasia Kioe yang Cin keng kepada Thio Kongcoe. Akan tetapi, kami hanya menurunkan ilmu itu kepada Thio Kongcoe seorang dan Thio Kongcoe tidak dapat mengajarkannya lagi kepada siapapun jua. Disamping itu, Thio Kongcoe juga tidak boleh menggunakan ilmu tersebut untuk bertempur dengan murid-muridnya Siauw Iim sie. Dalam kedua perjanjian ini, kamimenuntut sumpah yang berat dari Thio Kong coe"

Thio Sam Hong jadi girang sekali.

"Boe Kie, kedua syarat itu boleh diterima baik,"

Katanya.

"Ayolah, kau boleh bersumpah !"

Tapi anak itu menggelengkan kepalanya.

"Tidak, aku tidak mau bersumpah dan akupun tak sudi belajar ilmu mereka,"

Katanya.

Sang kakek guru terkejut, tapi ia lantas saja mengerti perasaan anak itu.

Ia tahu, bahwa Boe Kie beradat keras dan lebih suka mati daripada memohon-mohon di hadapan musuhnya.

Maka itu, ia lantas saja menuntun anak itu dan mengajaknya keluar Lip soat teng.

Sesudah terpisah agak jauh dari pendeta-pendeta Siauw lim tie, ia berkata.

"Anak, waktu mau berangkat, kau sudah berjanji akan menerima pelajaran dari Siauw lim pay. Mengapa sekarang ini kau justeru melanggar janji?"

"Mereka ingin aku bersumpah untuk tidak menggunakan ilmu Kioe yang Cin keng terhadap murid-murid Siauw lim sie,"

Jawabnya.

"dengan adanya sumpah itu, cara bagaimana dibelakang hari aku bisa membalas dendam sakit hatinya kedua orang tuaku"

"Kalau sekarang ini kau menolak pelajaran Kioe yang Cin keng, dalam tempo setahun, kau akan meninggal dunia,"

Kata sang kakek guru.

"Sesudah mati, bagaimana kau bisa menuntut balas? Didalam dunia terdapat banyak sekali ilmu silat yang sangat lihay. Jika nanti kau sudah berhasil, kau bisa membales sakit hati dengan menggunakan ilmu silat yang lain. Tak perlu kau menggunakan ilmu Kioe yang Cin keng. Kalau sudah mencapai puncak ke sempurnaan, ilmu manapun jua cukup untuk membalas sakit hatimu."

Sesudah memikir sejenak, Boe Kie berkata "Baiklah, aku turut perintah Thay soehoe."

Mereka segera kembali ke Lip soat teng. Boe Kie lantas saja menekuk lutut dan berkata dengan suara nyaring.

"Hari ini teecoe Thio Boe Kie menerima pelajaran Kioe yang Cin keng dari pendeta suci Siauw lim pay, dengan tujuan untuk mengobati luka. Teecoe berjanji tidak akan mengajarkan ilmu tersebut kepada orang lain dan juga tidak akan menggunakan ilmu itu untuk bertempur dengan murid-murid Siauw lim sie. Kalau teecoe melanggar janji, biarlah teecoe mati membunuh diri sendiri, seperti apa yang dilakukan oleh ayah dan ibuku."

Sebagaimana diketahui, pada waktu baru terlahir, Boe Kie telah diberikan kepada Cia Soen dan ia menggunakan she Cia.

Coei San dan isteri nya ingin menunggu putera yang kedua guna menyambung turunan koluanga Thio.

Sesudah kedua suami isteri itu binasa dan mereka tak punya anak yang lain, maka atas anjuran Lian Cioe, Lie Heng dan lain-lain paman, Boe Kie menggunakan lagi she Thio.

Sesudah bersumpah, Boe Kie bangun berdiri.

"Dibelakang hari aku akan menggunakan lain ilmu untuk membasmi hweeshio-hweeshio itu,"

Pikirnya dengan mendongkol. Kong boen Thaysoe lantas saja merangkap kedua tangannya dan memuji.

"Siancay, siancay Siauw siecoe (tuan kecil) telah bersumpah terlampau berat!"

Ia berpaling kearah Thio Sam Hong dan berkata pula.

"Kami akan mengajak Siauw sie coe kedalam kuil untuk memberikan pelajaran Sin kang. Tapi bagaimana dengan Thay kek Sip sam sit?"

"Aku minta kertas dan perabot tulis, dan di sini serta sekarang juga aku akan menulis Thay kek sip sam sit serta bagian-bagian Kioe yang Cinkeng yang dikenal olehku,"

Jawabnya.

"Kalau begitu, baiklah,"

Kata Kong boen yang lalu memberi hormat dan kemudian bersama yang lainnya, kembali kekuil dengan mengajak Boe kie. Sambil berjalan, bukan main rasa mendongkolnya Boe Kie.

"Kioe yang kang Boe tong belum tentu kalah dari Kioe yang kang Siauw lim"

Pikirnya.

"Kalau Thay Soehoe hanya menukar Kioe yang kang dengan Kioe yang kang, itu baru namanya adil. Tapi kamu mau ditambahkan juga dengan Thay kek koen Sip sam sit. Di samping itu, sesudah mempelajari Kioe yang kang Boe tong, kamu boleh turunkan ilmu itu kepada orang lain dan juga boleh menggunakannya terhadap murid murid Boe tong. Tapi pihak Boe tong tidak boleh. Inilah sangat tidak adil. Karena gara garaku seorang, Song Soepeh, Jie Soepeh dan yang lain-lain tidak akan bisa mengangkat kepala lagi. Hai! Bagaimana baiknya ?"

La sangat berduka, tapi ia tidak berani membantah perintah sang kakek guru. Setibanya di dalam kuil, Kong boen mengantar kan Boe Kie kesebuah kamar kecil.

"Siauw Siecoo mengasolah disini,"

Katanya.

"Aku akan segera mengirim orang untuk mengajar ilmu kepadamu."

Sehabis berkata begitu, ia mengebas dangan tangan jubahnya dan jalanan darah Sweehiat (jalanan darah yang jika tertotok menyebabkan tidur pulas) Boe Kie lantas saja tertotok.

Kong boen Taysoe adalab salah seorang dari empat pendeta suci dari Siauw lim sie.

Tak usah dikatakan lagi, ia memiliki kepandaian yang sangat tinggi.

Begitu tertotok jalan darahnya, Boe Kie segera pulas dan menurut perhitungan, ia baru akan tersadar empat jam kemudian.

Tapi Kong boen tak tahu, bahwa anak itu memiliki Lweekang luar biasa yang diturunkan oleh Cia Soen.

Dan karena adanya Lweekang itu kedudukan jalan darahnya bisa berpindah-pindah.

Dua tahun berselang, pada waktu ia dibawa oleb penculik yang menyamar sebagai serdadu Goan, jalan darah Ah hiatnya (jalan darah gagu) telah ditotok.

Tapi toh, ia masih dapat berteriak "ayah!"

Sekarangpun demikian. Baru pulas beberapa saat, ia sudah tersadar kemball. Sesudah ingatannya pulih, ia mendengar suara Kong tie yang berkata.

"Thio Tah tah adalah guru besar dari sebuah partai sehingga kalau dia sudah menyanggupi, ilmu yang ditulisnya pasti tidak palsu. Andaikata dia sengaja tidak menulis terang, sesudah mempelajarinya, aku merasa pasti kita akan mengerti."

Kecurigaan Boe Kie lantas saja timbul.

Ia kuatir kalau-kalau pendeta-pendeta itu mau berlaku licik.

Maka itu, ia lantas saja memeramkan kedua matanya dan pura-pura pulas.

Tapi kecurigaan itu sebenarnya tidaklah perlu.

Biarpun perhubungan antara Siauw lim dan Boe tong sudah agak renggang, tapi Kong boen, Kong tie dan Kong seng adalah pendeta suci yang tak akan merusak nama baik Siauw lim sie dengan akal bulus.

"Thay kek Sip sam sit dan Boe tong Kioe yang kang yang ditulis Thio Sam Hong sudah pasti tak palsu,"

Kata Kong boen.

"Akan tetapi, kita sendiri belum pernah mempelajari Siauw lim Kioe yang kang. Apakah untuk kepentingan orang luar, kita harus memohon-mohon dihadapan Goan tin?"

Boe Kie kaget.

la tidak pernah menduga bahwa pendeta pendeta suci itu belum pernah mempelajari Siauw lim Kioe yang kang.

Kekuatirannya lantas saja timbul.

Ia kuatir mereka turunkan ilmu palsu.

Sementara itu, Kong tie sudah berkata pula.

"Soeheng, kau adalah Ciang boen Hong thio (pemimpin partai dan pemimpin kuil). Maka itu, menurut pendapatku, perintahmu tak dibantah oleh Goan tin, tindakanmu ini adalah untuk memperkaya Siauw lim pay dan bukan guna kepentingan sendiri."

Kong Soen menghela napas.

"Kalau Kong Kian Soeheng masih hidup, kita boleh tak usah menhadapi kesukaran ini,"

Katanya dengan suara meyesal.

Sesudah berhenti sejenak, ia berkata pula "Sam soetee, pergilah kau membawa Sek thungku (tongkat timah) dan memberi perintah kepada Goan tin, supaya ia turunkan ilmu Kioe yang kang kepada pemuda she Thio itu."

"Baiklah,"

Kata Kong tie.

Sebagaimana diketahui, waktu dulu Kak wan menghafal Kioe yang Cin keng ada tiga orang yang mendengarnya, yaitu Thio Sam Hong, Kwee Siang dan Boe sek Siansoe.

Belakangan Kioe yang kang yang diperkembangkan oleh Thio Sam Hong dinamakan Boe tong Kioe yang kang, yang diperkembangkan Kwee Siang dikenal sebegai Go bie Kioe yang kang, sedang yang diperkembangkan oleh Boe sek Siansoe yalah Siauw lim Kioe yang kang.

Karena sangat sulit, maka dalam tiap partai hanya beberapa orang saja yang mewarisi ilmu itu.

Dalam kalangan Siauw lim sie, tak pernah ada seorang pun yang memiliki tujuh puluh dua macam ilmu silat.

Jumlah yang mempelajari Siauw lim Kioe yang kang lebih sedikit lagi.

Dari jaman Boe sek sampai pada Kong kian, dalam setiap turunan hanyalah seorang saja yang belajar dalam ilmu tersebut.

Mengapa?

Karena, di samping memiliki banyak sekali ilmu, murid-murid Siauw Lim sie selalu menganggap Kak wan Taysoe sebagai murid pemburon, sehingga biarpun Kioe yang kang sangat tinggi mutunya, sedikit sekali yang suka mempelajarinya.

Hanya untuk menjaga supaya ilmu itu tidak menjadi hilang, maka pada setiap turunan selalu ada seorang murid yang mempelajarinya.

Pada jaman itu didalam kalangan Siauw lim sie hanya murid penutup (murid yang diterima paling belakang) dari Kong kian Taysoe yang mengerti Siauw Lim Kioe yang kang.

Tapi murid itu, yang bernama Goan tin, aneh sekali adatnya.

Ia tidak persudi keluar dari kamarnya dan kecuali tiga pendeta suci, tak seorangpun dalam kuil yang di ladeni olehnya.

Menurut kebiasaan, setiap tahun murid-murid Siauw lim sie dijajal kepandaiannya oleh ketiga pendeta suci.

Semua murid mengambil bagian.

Hanya Goan tin seorang yang saban-saban mengatakan sakit, entah benar, entah bohong, sehingga oleh karenanya, tak seorangpun yang tahu cetek dalamnya kepandaiannya.

Dan sekarang, karena Kioe yang kang hanya dimiliki Goan tin seorang dan harus diturunkan olehnya kepada Boe Kie, tidaklah heran kalau Kong boen bertiga merasa sangsi.

Beberapa saat kemudian Kong tie kembali dan berKata Goan tin sungguh aneh.

Dia mengatakan, bahwa sesudah mengabdi pada Sang Buddha, ia juga tidak mau bertemu dangan orang luar, tapi karena Hong thio sudah mengeluarkan perintah, maka ia bersedia untuk mengajar ilmu dengan cara Kay tiang Coan tang (Mengajar ilmu dengan teraling tirai).

"Sesukanyalah,"

Kata Kong boen.

"Soetee, bawalah pemuda ini kepada Goan tin. Sesudah itu, perintah pengurus dapur mengantarkan sebuah meja perjamuan ke Lip soat teng. Biar bagaimanapun jua, Thio Sam Hong adalah pemimpin dari sebuah partai besar dan kita tidak boleh tidak berlaku hormat."

Sementara itu, Boe Kie terus berlagak pulas. Sesudah lewat sekian lama, barulah datang seorang pendeta kecil yang membawa makanan dan sesudah ia selesai bersantap, pendeta itu lantas saja berkata.

"Siauwsiecoe, ikutlah aku."

"Kemana?"

Tanyanya.

"Hong thio memerintahkan aku membawamu kepada seseorang."

"Kepada siapa ?"

Tanya lagi Boe Kie.

"Hong thio memesan supaya aku jangan banyak bicara."

Jawabnya.

Boe Kie mengeluarkan suara dihidung.

Diam diam ia mentertawai Kong boen bertiga, sebab ia sendiri sudah tahu, bahwa ia bakal dibawa kepada Goan tin Hweshio.

Tanpa menanya lagi, ia lalu mengikuti pendeta kecil itu.

Sesudah melewati belasan gedung dan banyak pekarangan, sehingga Boe Kie merasa sangat kagum akan luas dan megahnya Siauw lim sie, barulah mereka tiba disebuah bangunan kecil yang dikurung dengan pohon pohon siong dan pek.

Sambil berdiri didepan tirai pintu, pendeta kecil itu berseru.

"Siauwsiecoe sudah tiba!"

"Masuk,"

Demikian terdengar suara seseorang.

Boe Kie lantas saja mendorong pintu dan bertindak masuk, sedang si pendeta kecil lalu mengunci pintu.

Si bocah mengawasi kesekitarnya.

Kamar itu ternyata sebuah kamar kosong.

Kecuali selembar tikar ditengah tengah, tidak terdapat apapun jua.

Sesudah mendengar bahwa Goan tin akan memberi pelajaran dengan cara "Kay tiang Coan kang", ia menduga bahwa dalam kamar itu dipasang semacam tirai.

Di luar dugaan, kamar itu bukan saja kosong melompong, tapi juga tidak mempunyai lain pintu sehingga tak dapat ditebak dari mana datangnya suara manusia yang barusan.

Selagi ia terheran-heran tiba-tiba terdengar pula suara itu.

"Duduk! Dengarlah aku segera menghafal Siauw lim Kioe yang kang. Aku hanya akan menghafal satu kali. Terserah kepadamu, berapa banyak yang bisa diingat olehmu. Hong thio telah memerintahkan aku memberi pelajaran itu kepadamu. Aku menurut perintah. Tapi apa kau mengerti atau tidak adalah urusanmu sendiri."

Boe Kie memasang kuping.

Sekarang barulah ia tahu bahwa suara itu datang dari tembok sebelah dan Goan tin hweeshio berdiam dikamar sebelah.

Pada hakekatnya, mengirim dari alingan tembok bukan kepandaian luar biasa.

Siapapun jua dapat melakukannya.

Apa yang luar biasa yalah suara Goan tin kedengarannya tegas sekali, seperti juga ia bicara berhadap hadapan.

"Lweekang pendeta itu sungguh hebat,"

Kata Boe Kie didalam hati. Sesaat kemudian, oraag itu berkata perlahan lahan.

"Tubuh berdiri tegak, kedua tangan yang dirangkapkan ditaruh didada, hawa tenang, semangat dipusatkan, hati tenteram, paras muka mengunjuk sikap menghormat. Inilah jurus pertama yang dinamakan Wie hok Yan couw (Wie Hok mempersembahkan gada). Ingatlah!"

Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata pula .

"Kedua tumit kaki ditancapkan diatas bumi. Kedua tangan dipentang keluar dengan rata. Hati tenang hawa tentaram mata membelalak mengawasi kedepan mulut ternganga. Ini jurus kedua, Hoen tan Hang mo couw ( Memikul gada untuk menakluki siluman ). Kau ingatlah."

Seterusnya ia menghafal jurus ketiga, keempat kelima sampai pada jurus keduabelas. Mengenai jurus keduabelas, ia berkata.

"Jurus ini dinamakan Tiauw wie Yauw tauw (Mengibas buntut, menggoyang kepala), dengan Kouwkoat seperti berikut. Lutut lurut, lengan dilonjorkan, mendorong dengan tangan sehingga mengenakan bumi. Mata membelalak, menggoyangkan kepala, semangat dipusatkan sehingga menjadi satu. Sesudah itu melempangkan tubuh dan menjejak tanah dengan kaki, mengendurkan bahu, memanjangkan lengan, menyabet tujuh kali kekiri kanan dan sekarang sudah selesai Ilmu Kioe yang Ie kin, dikolong langit tiada tandingan."

Hampir berbareng dengan perkataan "dikolong langit tiada tandingan", ia membentak.

"Siapa mencuri mendengar diluar? Masuk!"

"Brak!"

Pintu terpental dan sesosok tubuh manusia jatuh ngusruk.

Orang itu bukan lain daripada si pendeta kecil yang tadi mengantar Boe Kie kekamar itu.

Dia jatuh meringkuk, kedua matanya meram dan pada mukanya terlihat rasa sakit yang hebat.

Boe Kie terkejut buru-buru ia menghampiri untuk membangunkannya.

"Kau urus saja urusanmu sendiri,"

Kata orang dikamar sebelah.

"Sekarang kau memerlukan semua kekuatan otakmu untuk mengingat-ingat Kouw koat yang barusan dihafal olehlu. Tidak dapat kau memecah perhatianmu."

"Dua belas jurus itu sudah diingat olehku seanteronya,"

Kata si bocah.

"Apa benar? Coba kau hafal,"

Kata Goan tin.

Di dengar dari nada suaranya, ia merasa heran bukan main.

Boe Kie lantas saja menghafal Kouw koat yang barusan diturunkan kepadanya, dari jurus pertama Wie hok Hian couw sampai Tiauw wie Yauw tauw, jurus kedua belas.

Benar saja, dalam hafalan itu, tak satu perkataanpun yang salah.

Untuk sejenak Goan tin tak dapat mengeluarkan sepatah kata.

Waktu menerima perintah Kong boen untuk mengajarkan Kioe yang kang kepada orang luar, ia mendongkol dan jika mungkin, ia tentu sudah menolak.

Akan tetapi, peraturan dalam kuil Siauw lim sie selalu dipegang keras dan perintah seorang Hong thio, merangkap Ciangboenjin, tidak boleh dilanggar.

Di samping itu, perintah Kong boen hanya berbunyi "mengajar anak itu"

Dan bukan "mengajar anak itu sampai dia paham".

Maka itu, menurut anggapannya, jika ia menghafal Kouw koat cepat-cepat, paling banyak si bocah akan ingat satu dua perkataan.

Tapi diluar semua perhitungannya, Boe Kie sudah berhasil memasukkan Kouw koat selengkapnya kedalam otaknya.

Ia merasa kagum bukan main, karena kecerdasan dan bakat yang begitu luar biasa sungguh jarang terdapat dalam dunia ini.

Melihat si pendeta kecil terus meringkuk dilantai, Boe Kie merasa sangat tidak tega dan segera bertanya.

"Siansoe, apakah kedosaannya Siauw soehoe ini ?"

"Dia mencuri dengar pelajaran tadi dari luar pintu,"

Jawabnya, tawar.

"Aku telah menggunakan Kim kong Sian ciang untuk mengajar adat kepada nya. Jangan kuatir. Dalam beberapa saat, ia akan sembuh kembali."

Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata lagi.

"Aku tak tahu, mengapa Hong thio memerintahkan aku memberi pelajaran Kioe yang Sin kang kepadamu. Aku tidak tahu siapa namamu dan kaupun tak usah tanya namaku. Aku tidak tahu ilmu apa yang sudah pernah dipelajari olehmu. Akan tetapi, aku merasa kagum akan kepintaranmu. kemudian hari, kau mempunyai harapan yang tidak terbatas. Maka itu, aku berniat untuk membantu kau, untuk membuka Kie king Pat meh (pembuluh darah) diseluruh tubuhmu, supaya kalau nanti kau berlatih dengan Kioe yang Sin kang, kau tidak usah mengalami banyak kesukaran."

Sebelum Boe Kie sempat menjawab, mendadak tembok berlubang dan dua lengan muncul dari lubang itu! Boe Kie kaget tak kepalang, ia mencelat dari tempat duduknya dan berseru dengan suara tertahan.

"Kau ...kau!..."

Itulah kenyataan yang terlalu mustahil !

Tapi, dengan matanya sendiri, ia menyaksikan, bahwa tembok yang tebal itu sudah berlubang karena sodokan tangan Goan tin, seolah-olah tembok tidak lebih daripada tahu yang empuk.

"Tempelkan kedua telapak tanganmu dengan telapak tanganku."

Memerintah Goan tin.

"Aku tidak tahu she dan namamu, akupun tidak tahu kau murid siapa. Hari ini kita bertemu dan jodoh kita habis sampai disini."

Tahu maksud orang yang sangat baik. Pandangan Boe Kie terhadap Goan tin lantas berubah.

"Terima kasih atas bantuan Siansoe,"

Katanya seraya melonjorkan tangannya dan menempelkan telapak tangannya ketangan si orang aneh.

"Kendurkan tulang tulang dan otot-otot dalam tubuhmu dan bebaskan pikiranmu dari segala ingatan,"

Kata pula Goan tin.

"Baiklah,"

Kata Boe Kie.

Sesaat kemudian, dari kedua telapak tangan Goan tin keluar semacam hawa hangat yang terus menembus ketelapak tangannya, terus naik kelengan dan bahu.

Hawa itu halus bagaikan selembar benang, tapi ia dapat merasakan nyata sekali dan perlahan-lahan hawa tersebut masuk kepembuluh darah.

Jika menemui rintangan dan tidak dapat segera menembus, bawa itu berubah lemas dan menerjang berulang-ulang sehingga rintangan ditembuskan.

Sesudah lewat delapan pembunuh darah besar hawa itu makin cepat jalannya hingga Boe Kie merasa matanya berkunang-kunang, kepalanya terputar-putar dan berapa kali, ia seperti mau jatuh tenguling.

Akan tetapi dari telapak tangan si orang aneh keluar semacam tenaga menyedot, sehingga telapak tangan Boe Kie melekat keras pada telapak tangan Goan tin dan ia tak sampai tenguling.

Dilain saat, ia merasakan seluruh badannya seperti dibakar.

Kalau mungkin, ia tentu sudah kabur dan membuka baju untuk menerjun kedalam lautan es disekitar Pang hweeto.

Sesudah lewat sekian lama, bawa panas itu meninggalkan tubuhnya dan kembali ketelapak tangan Goan tin.

Sesudah menarik pulang kedua lengannya dari lubang itu, Goan tin berkata dengan suara dingin .

"Kau pergilah!"

Boe Kie melongok melalui lubang itu, tapi yang dilihatnya hanya kegelapan. Mengingat budi si orang aneh, ia lantas saja berkata.

"Terimakasih banyak atas budi Siansoe yang sangat besar."

Sehabis berkata begitu, ia menekuk kedua lututnya.

Mendadak lengan Goan tin muncul lagi di lubang itu dan mengibasnya.

Hampir berbareng, tubuh Boe Kie terpentaI dan jatuh diluar pintu.

Orang itu ternyata sungkan menerima kehormatan si bocah.

"Pergi kau beritahukan Hong thio, bahwa pelajaran Kioe yang Sin kang telah diturunkan semua kepada Siauw siecoe, juga bahwa Siauwsiecoe mempunyai peringatan yang sangat kuat dan semua pelajaran itu sudah diingat olehnya."

"Baiklah,"

Kata si pendeta kecil yang sudah tersadar dan dengan muka pucat lalu berjalan keluar dari kamar itu.

Boe Kie mengikuti dan mereka berdua lantas saja meninggalkan kuil.

Diberbagai ruangan mereka bertemu dengan banyak pendeta yang semua berjalan dengan menundukkan kepala dan tanpa mengeluarkan sepatah kata.

Didalam kuil terdapat ribuan orang, tapi suasana tetap tenang dan sunyi.

Boe Kie merasa kagum dan berkata dalam hatinya.

"Memang pantas sekali jika Siauw lim sie dikenal sebagai pemimpin dari Rimba Persilatan."

Jika dibandingkan dengan keadaan di kuil Siauw lim sie, Giok hie koan seolah-olah sebuah pasar, dimana semua orang bergerak dan berbicara secara bebas dan merdeka.

Hal ini sudah terjadi karena, pertama, agama Tookauw memang menganjurkan hidup bebas, dan kedua, sebab Thio Sam Hong sendiri seorang yang beradat sederhana dan sembarangan.

Setibanya mereka di Lip soat teng, Thio Sam Hong sudah menulis tigapuluh lembar lebih tapi masih menulis terus.

Melihat kerelaan dan pengorbanan guru besar itu Boe Kie merasa terharu, dan dengan air mata berlinang linang, ia berseru.

"Thay soehoe!"

Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata.

"Kioe yang kang Cap jie sit sudah seluruhnya diturunkan kepada anak oleh Siansoe,"

Sang kakek guru girang.

"Bagus,"

Katanya sambil tertawa.

Sesudah menulis lagi beberapa lama, Thio Sam Hong sudah menyelesaikan apa yang mau ditulisnya.

Pendeta yang melayani segera balik kekuil untuk memberi laporan dan tidak lama kemudian, Kong boen, Kong tie dan Kong seng datang di Lip soat teng, diikuti oleh seorang pemuda yang berusia kira-kira duapuluh lima tahun.

Pemuda itu mengenakan thungsha (jubah panjang) dan ia ternyata seorang murid Siauw lim sie yang tidak menyukur rambut.

Thio Sam Hong merasa heran.

Ia tahu bahwa menurut peraturan Siauw Lim sie, sebelum lulus seorang murid bukan pendeta tidak boleh keluar dari pintu kuil.

Bagi seorang biasa masuk di Siauw lim sie bukan gampang, tapi keluar dari kuil itu lebih sukar lagi.

Apa maksudnya Kong boen mengajak seorang murid bukan pendeta?

Tanpa merasa, ia mengawasi pemuda itu yang jangkung kurus, panjang lengannya dan pendek kakinya, sedang kedua matanya bersinar terang, sehingga tidak dapat ditebak, bahwa ia memiliki kecerdasan otak yang luar biasa.

"Kami telah membuat Thio Cinjin banyak capai,"

Kata Kong boen sambil merangkap kedua tangannya. Sam Hong bersenyum.

"Terima kasih atas belas kasihan Hong thio Soe heng, sehingga jiwa anak ini bisa ditolong,"

Jawabnya sambil membungkuk. Sehabis berkata begitu, ia menyodorkan tiga puluh lembar tulisan itu dan lalu berkata pula.

"Thay kek boen dan Sip sam sit dan Boe tong Kioe yang kang semua sudah ditulis disini. Aku harap Sam wie Soeheng suka memberi petunjuk petunjuk dan bahwa aku sudah berani memperlihatkan kebodohanku dihadapan kalian, kuharap kalian jangan mentertawai."

Kong boen menyambuti dan tanpa melihat lagi, ia segera menyerahkan tulisan itu kepada pemuda yang berdiri dibelakangnya.

Si pemuda segera membacanya dengan teliti, selembar demi selembar.

Sambil mencekal tangan Boe Kie, Sam Hong segera meminta diri.

"Dalam kedatangan kalian, loolap sebenarnya harus mengundang kalian berdiam disini beberapa hari, dan bahwa loolap tidak dapat berbuat begini hatiku merasa sangat tidak enak."

Kata Kong boen.

"Maka sebagai gantinya loolap hanya bisa mengundang Thio Cinjin meneguk tiga cawan arak untuk mengunjuk hormat kami."

Pendeta arak dan kedua orang berilmu itu lantas saja ber sama-sama mengeringkan tiga cawan dengan beruntun.

Sesudah itu Kong been, Kong tie dan Kong seng pun turut memberi selamat jalan dengan tiga cawan arak.

Sesudah selesai, Sam Hong dan Boe Kie segera memberi hormat dan memutar badan untuk berlalu.

Sebelum bertindak, sekonyong-konyong pemuda jangkung kurus itu berkata.

"Soepeh, ilmu silat yang ditulis Thio Cinjin tidak berbeda dengan pelajaran kita. Semua yang telah dibaca olehku, aku sudah belajar dari Soehoe."

Sam Hong terkejut.

"Omong kosong !"

Bentak Kong been.

"Thay kek Sip sam sit adalah mustika Boe tong pay yang digubah oleh Thio Cinjin sendiri. Bagaimana kau bisa mengatakan bahwa kau sudah pernah belajar ilmu itu?"

Si pemuda segera menyerahkan tulisan Thio Sam Hong itu kepada Kong boen dan berkata.

"Soepeh lihat saja sendiri."

Kong boen menyambuti dan lalu membalik-balik beberapa lembar dan kemudian menyerahkannya kepada Kong tie dan Kong seng. Kedua pendeta itu juga membalik-balik beberapa lembar.

"Soeheng, benar saja ilmu ini masih termasuk dalam lingkungan ilmu Siauw lim sie,"

Katanya dengan suara perlahan.

Sam Hong kaget bercampur gusar.

Thay kek Sip sam sit adalah hasil jerih payahnya selama tigapuluh tahun dan baru pada tahun yang lalu, ilmu itu menjadi sempurna.

Intisari daripada ilmu itu ialah dengan kelemahan melawan kekerasan, dengan bergerak lebih dulu.

Azas-azas tersebut justeru sebaliknya daripada azas azas ilmu silat Siauw lim sie.

Disamping itu, walaupun bersumber dari Kioe yang Cin keng gubahan Tat mo Loo couw, Boe tong Kioe yang kang sudah ditambah dengan banyak perobahan yang keluar dari otaknya Sam Hong.

Maka itulah, mendengar kata-kata si pemuda dan Kong tie, guru besar itu jadi sangat mendongkol.

Tapi dilain saat, ia sudah dapat menebak sebab musabab dari sikap Siauw lim.

Ia mengerti, bahwa ia kuatir dikatakan menerima pelajaran dari Bee tong pay maka pendeta-pendeta suci itu sudah mengeluarkan siasat tersebut.

Sementara itu, sambil mengangsurkan tulisan tulisan itu kepada Sam Hong, Kong boen berkata.

"limu silat Boe tong bersumber dari Siauw Lim. Benar saja, apa yang ditulis Thio Cinjin tidak banyak bedanya dari ilmu silat kami."

Sam Hong tertawa.

"Apa yang telah ditulis oleh si orang she Thio, sedikitpun aku tidak merasa menyesal,"

Katanya.

"Aku mengerti bahwa ilmuku itu sangat cetek dan tidak berharga. Jika Samwie tidak memerlukannya, sebaiknya dibuang saja."

Ia tidak menyambuti gabungan kertas itu yang diangsurkan kepadanya.

"Dari kata-katamu, Thio Cinjin, rupanya kau tidak percaya akan pengutaraan kami itu,"

Kata Kong tie. Ia berpaling kepada si pemuda seraya berkata pula.

"Yoe Liang, coba kau halal Thay kek Sip sam sit dan Kioe yang kang yang diturunkan olehku kepadamu "

"Baiklah,"

Jawab pemuda itu yang lantas saja menghafal tulisan Sam Hong selengkapnya, sehuruf pun tidak ada yang ketinggalan.

"Thay soehoe, orang itu menghafal dengan membaca tulisanmu,"

Boe Kie menyelak.

"Dan sekarang mereka mengatakan, ilmu Thay soehoe tiada berbeda dengan ilmu mereka. Sungguh tak mengenal malu"

Sam Hongpun tahu. Ia tertawa besar dan sambil mengawasi pemuda itu, ia berkata.

"Selagi ketiga pendeta suci mengajak aku minum arak, tuan sudah menghafalkan dua macam ilmu silatku. Kepintaran dan kecerdasan itu tidak dimiliki Sam Hong. Boleh aku mendapat tahu she dan nama tuan yang besar?"

"Cianpwee jangan memuji begitu tinggi,"

Jawabnya.

"Boanpwee she Tan, bernama Yoe Liang."

"Saudara Tan,"

Kata pula guru besar itu dengan suara sungguh-sungguh.

"Dengan kecerdasanmu, apapun jua yang dipelajari olehmu pasti akan berhasil. Aku hanya mengharap, kau jangan mengambil jalan yang salah. Dengan menggunakan kesempatan ini, aku ingin mempersembahkan kata-kata seperti berikut. Dengan kejujuran kita memperlakukan orang lain, dengan kerendahan hati, kita membatasi diri."

Melihat sinar mata orang tua itu yang tajam bagaikan pisau, Yoe Liang bergidik. Tapi dilain saat ia menjadi mendongkol dan berkata dengan suara kaku.

"Terima kasih atas petunjuk Thio Cinjin. Tapi Boanpwee adalah murid Siauw lim dan boan pwee mempunyai Soepeh, Soehoe dan Soesiok untuk mengajar boanpwe."

"Benar,"

Kata Sam Hong sambil tertawa.

"Memang aku si tua yang terlalu rewel."

Sesaat itu, Kong tie mengangsurkan gabungan kertas itu.

Hampir berbareng dengan itu si pendeta terhuyung dan Yoe Liang yang berdiri didampingnya segera coba memeluknya.

Tapi tenaga Kong tie besar luar biasa dan pemuda itu yang kena didorong, lantas saja terpental keluar pendopo dan jatuh ditanah.

Dalam mengirim Lweekang itu, Sam Hong hanya menggunakan sebagian tenaganya dan ia memang tidak berniat jahat.

Maka itu, begitu mengerahkan Lweekang kebagian kakinya, Kong tie sudah bisa berdiri tegah.

Sam Hong bersenyum seraya berkata.

"Itulah ilmu dari Thay kek Sip sam sit. Sekarang terbukti, bahwa walaupun kalian berdua paham akan ilmu itu, tapi kalian belum mempunyai tempo untuk berlatih. Selamat tinggal !"

Dengan sekali mengibas tangan, diudara beterbanganlah kepingan-kepingan kertas yang sangat halus, yaitu kertas yang berisi ilmu Thai kek dan Boe tong Kioe yang kang.

Sambil menuntun tangan Boe Kie, tanpa menengok lagi ia meninggalkan Siauw sit sat.

Kong boen bertiga saling mengawasi dengatl mulut ternganga.

Mereka merasa kagum dan takluk akan kepandaian orang tua itu.

Disamping itu, merekapun merasa agak menyesal.

"Ilmu itu begitu lihay,"

Kata Kong boen didalam hati."Apa Yoe Liang sudah menghafakan seanteronya? Jika satu huruf saja yang kelupaan, Siauw lim akan menderita kerugian besar."

Malam itu didalam rumah penginapan Sam Hong menyuruh Boe Kie berlatih menurut Kouw koat yang diturunkan oleh Goan tin.

Karena tidak ingin mendengar dan melihat cara berlatihnya si bocah, ia sendiri tidur disebuah kamar lain.

Sebagai seorang yang berilmu tinggi, jika ia melihat cara bersemedhi dan gerak-gerakannya serta mendengar jalan pernapasan cucu muridnya itu, ia sudah bisa mengetahui rahasia Siauw lim Kioe yang-kang.

Selama berada dalam perjalanan pulang, iapun belum pernah menanyakan kemajuan Boe Kie.

Meskipun ketiga pendeta suci Siauw lim pay berpemandangan agak sempit, akan tetapi mereka adalah orang-orang ternama dalam kalangan Rimba persilatan sehingga ia percaya, mereka tidak akan memberi pelajaran palsu.

Berselang beberapa hari, paras muka Boe kita sudah berubah agak merah sehingga sang kakek guru jadi merasa girang sekali.

Sam Hong tahu, bahwa Boe Kie sudah memiliki Kioe yang kang dari Boe tong dan Siauw lim yang saling menambah kekurangan masing-masing.

Ia percaya penuh, bahwa kedua macam Kioe yang kang itu akan cukup kuat untuk mengusir racun dingin Hianbeng Sin ciang yang mengeram dalam tubuh si bocah.

Hari itu, mereka tiba ditepi sungai Han soei dan lalu menyewa perahu untuk menyeberang.

Dengan rasa terharu, Sam Hong ingat pengalamannya yang lampau.

Ia ingat kesengsaraan dulu, pada waktu ia kabur dari Siauw lim sie dan mau menyeberang sungai itu.

Waktu usianya tidak banyak berbeda dengan usia Boe Kie sekarang.

Mimpipun ia tak pernah mimpi, bahwa pada akhirnya ia bisa menjadi pendiri Boe tong pay yang sekarang berdiri berendeng dengan Siauw lim pay.

Keadaan Boe Kie dihari ini lebih bagus dan lebih unggul daripada diwaktu dulu.

Ia percaya, bahwa dikemudian hari, kedudukan bocah itu akan lebih tinggi daripadanya.

Mengingat begitu, tanpa ia merasa ia bersenyum dan hatinya bunga.

Mendadak, lamunannya disadarkan oleh teriakan Boe Kie.

"Thay soehoe!.... Aku....aku...."

Suaranya bergemetaran dan mukanya pucat pasi. Sam Hong terkesiap. Muka anak itu merah dan pada warna kemerah-merahan itu terdapat sinar hijau.

"Thay soehoe!"

Teriak Boe kie.

"Aku....aku tak tahan!"

Badannya bergoyang-goyang.

Dengan cepat tangan kiri sang kakek guru mencekal pengelangan tangan Boe Kie sedang telapak tangan kanannya ditempekan dijalan darah Leng-tay hiat dipunggung si bocah.

Tapi begitu lekas ia mengirim tenaga dalam untuk membantu Boe Kie melawan racun dingin itu, sekali lagi ia terkesiap karena Lweekangnya lantas saja menerobos masuk ke Kie keng Pat meh.

Boe Kie mengeluarkan teriakan menyayat hati dan lalu pingsan.

Kaget orang tua itu bagaikan disambar halilintar.

Buru-buru ia menotok untuk menutup dua belas Thay hiat dibadan Boe Kie.

"Mengapa Kie keng Pat meh terbuka?"

Tanyanya didalam hati.

"Dengan terbukanya pembuluh darah, racun bisa lantas masuk kedalam isi perut dan kalau sudah masuk disitu maka sudah tentu tak akan bisa dibuyarkan lagi."

Sesudah berusia lebih dari satu abad dan sesudah ilmunya menecapai puncak kesempurnaan, guru besar itu tenang luar biasa.

Tapi kali ini, ia tak dapat mempertahankan ketenangannya.

Jantungnya berdebar keras dan keringat dingin mengucur dari dahinya "Apa bisa jadi, Siauw lim Kioe yang kang sedemikian hebat, sehingga dalam beberapa hari saja ilmu itu sudah dapat membuka pembuluh darah ?"

Ia tanya lagi dirinya sendiri.

"Tidak mungkin! Pasti tidak mungkin ! Lie Heng dan Seng Kok sudah berlatih belasan tahun, tapi latihan itu masih belum cukup untuk membuka pembuluh darah."

Dengan Lweekangnya yang sangat tinggi, jikamau, Sam Hong bisa membantu kedua muridnya untuk membuka Kie-keng pat-meh.

Akan tetapi, dalam memberi pelajaran, ia selalu berpendirian bahwa sesuatu yang didapat dengan latihan sendiri adalah lebih berhanga daripada yang diperoleh atas bantuan orang.

Dalam mengajar semua muridnya dia tak mau tergesa-gesa.

Ia membiarkan murid murid itu berlatih sendiri dan maju dengan per lahan tapi tentu.

Waktu itu, perahu yang ditumpangi mereka tiba ditengah tengah sungai dan karena terdampar ombak, kendaraan air yang kecil itu terombang ambing kian kemari tiada bedanya seperti hati Thio Sam Hong yang bergoncang keras.

Beberapa saat kemudian, Boe Kie tersadar.

Sesudah keduabelas Tayhiatnya ditotok, racun dingin tidak bisa masuk kedalam isi perutnya, akan tetapi, karena itu, ia tak dapat menggerakkan badan.

Sekarang Sam Hong tidak menggubris lagi soal pantas atau tidak pantas.

"Nak, bagaimana isi Siauw lim Kioe yang kang yang diturunkan kepadamu?"

Tanyanya.

"Mengapa semua pembuluh darahmu jadi terbuka?"

"Yang membuka yalah Goan tin Siansoe,"

Jawabnya.

"Ia mengatakan bahwa ia membantu supaya aku bisa berhasil terlebih siang dalam latihan Kioe yang Sin kang."

"Tapi bagaimana ia jadi membantu kau?"

Tanya Sam Hong, tergesa-gesa.

Boe Kie segera menceriterakan cara bagaimana ia mendengar pembicaraan antara Kong boen dan Kong tie, cara bagaimana Goan tin memberi pelajaran dengan teraling tembok dan cara bagaimana pendeta aneh itu sudah membantunya dalam membuka Kie keng Pat mah.

Untuk beberapa lama sang kakek guru tidak mengeluarkan sepatah kata.

"Kalau pembuluh darahmu perlu dibuka dengan segera, apakah aku tidak dapat melakukan itu?"

Katanya dengan suara perlahan.

"Apa maksud baik atau sengaja dia bermaksud jahat?"

"Goan tin Siansoe telah mengatakan berulang ulang bahwa ia tak tahu she dan namaku, ia tak tahu rumah perguruanku dan akupun tidak perlu tahu she dan namanya,"

Menerangkan Boe Kie.

"Goan tin .... Goan tin ...."

Sam Hong berkata, seperti pada dirinya sendiri.

"Belum ... belum pernah aku mendengar nama begitu diantara jago-jago Siauw lim sie. Hm ... Ia tak tahu namamu, tak mengenal partaimu. Kalau begitu, ia tak tahu perhubungan antara aku dan kau. Kalau begitu, bantuannya itu, keluar dari hati yang baik."

Sesudah berkata itu, Sam Hong lalu menanyakan Kouw koat Siauw Lim Kioe yang kang.

Boe Kie lantas saja menghafal, mulai dari jurus Wie hok Hian couw.

Baru saja ia menghafal sampai jurus ketiga.

Ciang to Thian boen (Dengan telapak tangan menyangga pintu langit), sang kakek guru sudah berkata.

"Cukup! Tak usah kau menghafal terus. Tujuanku hanyalah untuk mengetahui tulen palsunya ilmu yang diturunkan kepadamu. Mulai dari sekarang, kau tidak boleh memberitahukan Siauw lim Kioe yang Sin kang kepada siapapun jua. Kau mesti ingat, bahwa kau tidak boleh melanggar sumpahmu yang sangat berat "

Baik,"

Jawabnya sambil mengawasi muka sang kakek guru, karena Sam Hong telah mengucapkau kata-kata itu dengan suara gemetar.

Ia melihat bahwa dalam kedua mata orang tua itu mengembang air.

Sebagai seorang yang sangat pintar, ia mengerti, bahwa sang kakek guru sudah tak punya harapan untuk menolong jiwanya lagi.

Mendadak, serupa ingatan berkelebat dalam otaknya.

"Thay Soehoe,"

Katanya.

"Apakah aku masih bisa bertahan dan bisa pulang ke Boe tong san dengan masih bernyawa?"

"Jangan kau berkata begitu,"

Jawab guru besar itu sambil menahan mengucurnya air mata.

"Biar bagaimanapun jua, Thay soehoe akan berdaya untuk menolong jiwamu "

"Kalau aku masih bisa bertemu muka dengan Jie Shapeh, aku sudah merasa puas,"

Kata pula Boe Kie.

"Mengapa begitu?"

Tanya sang kakek guru.

"Sebab sesudah tidak bisa hidup, anak ingin membuka rahasia Siauw lim Kioe yang kang ke pada Jie Shapeh"

Jawabnya.

"Anak mengharap supaya dengan menggunakan Kioe yang kang dari Boe tong dan Siauw lim, Shapeh akan dapat menyembuhkan kaki tangannya yang bercacad. Sesuai dengan sumpah anak akan menggorok leher sendiri seperti yang telah dilakukan ayah, supaya dengan begitu, anak dapat menebus sebaglan kecil dari ke dosaan ibu."

Bukan main rasa kaget dan terharunya Sam Hong. Tak pernah ia menduga, bahwa bocah sekecil Boe Kie bisa mempunyai pikiran begitu.

"Ah ! ... Jangan kau .... bicara .... yang tidak-tidak."

Katanya dengan suara parau.

"Hari itu, aku sudah mengerti duduknya persoalan,"

Kata Boe Kie.

"Dengan menggunakan jarum beracun, ibu telah melukakan Jie Shapeh sehingga Shapeh bercacad untuk seumur hidupnya. Itulah sebabnya, mengapa ayah telah.. .."

Sam Hong tak dapat mempertahankan diri lagi. Air matanya lantas saja mengucur deras, sehingga membasahi jubah pertapaannya.

"Kau. .... kau tak boleh....memikir yang tidak-tidak."

Katanya sambil menangis sedu-sedan. Sesaat kemudian, sesudah menenteramkan hatinya, ia berkata pula dengan suara angker.

"Seorang laki laki harus berjalan dijalanan lurus. Kau sudah berjanji, dengan disertai sumpah berat, untuk tidak memberitahukan pelajaran Siauw lim Kioe yang kang kepada siapapun jua. Janji itu harus dipegang sampai pada akhirnya. Andaikata benar kau bakal mati, aku juga tidak boleh berlaku licik."

Boe Kie terkejut.

Ia mengawasi sang kakek guru dengan mulut ternganga, akan kemudian manggut kan kepalanya.

Semenjak kecil sehingga pulang ke Tionggoan, Boe Kie hidup bersama-sama kedua orang tua dan ayah angkatnya, So So dan Cia Soen, memang bukan manusia yang bersih, tapi bahkan Coei San sendiri belum pernah memberi pelajaran bathin kepadanya.

Maka itulah, ia belum mengerti soal kehormatan dalam Rimba Persilatan.

Sekarang untuk pertama kali, ia menerima nasehat dari kakek gurunya.

Dilain saat, Sam Hong berkata pula dalam hatinya.

"Sesudah tahu, bahwa jiwanya tidak bakal tertolong lagi, anak itu rela membunuh diri guna menolong Thay Giam. Jiwa yang sedemikian adalah sesuai dengan jiwa seorang pendekar Rimba Persilatan."

Memikir begitu, ia lantas berniat memberi sedikit pujian kepada Boe Kie, tapi, belum sampai ia membuka mulut, sudah terdengar teriakan seseorang.

"Hentikan perahu! Serahkan anak itu! Kalau kau tidak menurut, jangan katakan aku kejam."

Suara itu nyaring luar biasa, suatu pertanda bahwa orang yang berteriak memiliki Lweekang yang sangat tinggi. Sam Hong bersenyum lebar.

"Siapa yang bernyali begitu besar. berani memerintahkan aku menyerahkau cucu muridku ?"

Katanya didalam hati.

Ia mendongak dan melihat sebuah perahu kecil yang didayung oleh seorang lelaki brewokan dan dengan badannya, orang itu melindungi dua orang anak kecil, satu lelaki dan satu perempuan.

Dibelakang perahu kecil itu mengejar sebuah perahu yang lebih besar, yang ditumpangi oleh empat orang-orang Hoan ceng (Pendeta bukan golongan Han) dan tujuh delapan perwira Mongol yang mendayung perahu.

Lelaki brewokan itu bertenaga sangat besar dan perahunya laju pesat sekali.

Tapi perahu yang mengejar didayung oleh orang yang jumlahnya jauh terlebih banyak, sehingga makin lama jarak antara kedua perahu itu jadi semakin pendek.

Beberapa saat kemudian, tampak ke empat Hoan ceng dan perwira-perwira Mongol itu mulai melepaskan anak panah.

Sekarang Sam Hong tahu, bahwa yang dimaui oleh orang-orang itu adalah kedua anak kecil yang dilindungi oleh si orang brewokan.

Selama hidup, ia paling benci serdadu-serdadu Mongol yang berbuat sewenang-wenang terhadap orang Han dan seketika itu juga, didalam hatinya timbut niatan untuk menolong.

Tapi ia segera mengurung kan niatannya itu, karena ia sendiri harus melindungi Boe Kie yang sedang menderita penyakit berat.

Disamping itu, jarak antara perabunya dan kedua perahu yang sedang ubar-ubaran itu masih terlalu jauh, sehingga biarpun ingin, ia tak akan keburu menolong mereka.

Tapi dilain saat terjadi perkembangan yang di luar dugaan.

Dengan tangan kiri tetap mendayung perahu, tangan kanan si brewok mengibas anak anak panah yang menyambar dengan penggayuh yang satunya lagi.

Tanpa merasa, Sam Hong bersorak dan berkata dalam hatinya.

"Orang itu memiliki kepandaian luar biasa. Cara bagaimana aku bisa mengawasi kecelakaan yang menimpa dirinya seorang gagah dengan berpeluk tangan?"

Ia lantas saja berpaling kepada situkang perahu seraya berkata.

"Coan kee (tukang perahu), dayunglah perahumu kearah kedua perahu itu!"

Si tukang perahu kaget tak kepalang. Sambil mengawasi si kakek dengan mata membelalak ia berkata .

"Loo too ya... kau ... kau ... jangan guyon-guyon!"

Melihat keadaan sudah mendesak, tanpa mengeluarkan sepatah kata, Sam Hong menyentak dayung dan dengan sekali menggayuh, kepala perahu sudah terputar.

Sekonyong-konyong terdengar teriakan menyayat hati.

Teriakan itu keluar dari mulutnya salah seorang anak yang lelaki yang punggungnya tertancap sebatang anak panah.

Dalam kagetnya, si brewok membungkuk untuk memeriksa luka anak laki-laki tersebut itu, dan selagi ia membungkuk, dua batang anak panah mengenakan pundak dan punggungnya.

Ia mengeluar kan teriakan tertahan.

Badannya bengoyang-goyang dan dayung yang dicekalnya jatuh ke air, sehingga perahunya lantas saja berhenti.

Sesaat kemudian perahu yang mengejar sudah menyandak dan semua pengejar Ialu melompat keperahu si brewok.

Tapi dia laki-laki sejati.

Biarpun dikurung oleh begitu banyak.

musuh, secara nekat-nekatan in melawan dengan tangan kosong.

"Orang gagah, jangan takut !"

Teriak Thio Sam Hong.

"Aku akan datang menolong kau!"

Sambil menggenjot tubuhnya, ia melontarkan dua lembar papan ke air, kaki kirinya menotol papan pertama, kaki kanannya papan kedua dan bagaikan seekor burung raksasa, ia hinggap diatas perahu.

Selagi ia melompat, dua orang perwira dengan berbareng melepaskan anak panah, tapi kedua anak panah itu terpental dengan kibasan tangan.

Begitu lekas kedua kakinya menginjak geladak perahu, ia menghantam dengan telapak tangan kirinya dan dua Hoan ceng, terpental setombak lebih, akan kemudian tercebur didalam air.

Melihat kelihayan si kakek, semua orang kaget bukan main;

"Bangsat tua! Mau apa kau?"

Bentak perwira yang memimpin rombongan.

"Anjing Tat coe !"

Sam Hong balas mencaci.

"Lagi -lagi kamu mencelakakan rakyat baik baik. Pergi!' "Kau tahu siapa mereka?"

Tanya si perwira.

"Mereka adalah anak-anaknya penghianat dari Mokauw (agama siluman). Hong siang telah mengeluarkan firman untuk membekuk mereka!"

Mendengar "penghianat dari Mokauw", Thio Sam Hong rupanya terkejut juga.

"Apakah mereka orang-orangnya Tincoe Cioe Coe Ong?"

Tanyanya didalam hati. Ia menengok kepada sibrewok dan bertanya.

"Apa benar?"

Dengan tubuh berlumpuran darah dan sambil memeluk mayat anak lelaki itu, ia menangis dan berkata.

"Siauwcoekong (majikan kecil)... Siauw coekong binasa dipanah oleh meraka.."

Si kakek jadi makin kaget.

"Apakah anak itu puteranya Cioe Coe Ong?"

Tanyanya pula.

"Benar,"

Jawabnya "Aku sudah gagal menunaikan tugasku.

Biarlah aku mati bersama sama".

Perlahan-lahan ia menaruh mayat di atas geladak perahu dan kemudian menubruk perwira Mongol itu.

Tapi, sebab lukanya terlalu berat dan kedua anak panah itu belum dicabut dari pundak dan punggungnya, maka begitu melompat, ia roboh kembali.

Nona kecil itu, yang lengannya tertancap sebatang anak panah, menangis dan sesambat.

"Koko! Koko !..."

Didalam hati, Sam Hong merasa menyesal bahwa ia sudah mencampuri urusannya Cioe Coe Ong.

Akan tetapi, karena sudah terlanjur, ia tak bisa mundur ditengah jalan.

Maka itu, ia menengok kepada siperwira dan berkata.

"Anak itu sudah binasa dan mereka berdua telah mendapat luka berat, sehingga tak lama lagi merekapun akan turut binasa. Kalian sudah berpahala besar. Pergilah!"

"Tidak bisa!"

Kata perwira itu.

"Kami mesti memenggal kepala ketiga orang itu."

"Perlu apa kalian berlaku begitu kejam ?"

Kata pula Sam Hong.

"Siapa kau? Mengapa kau berani campur campur arusan kami ?"

Tanya siperwira dengan aseran. Sam Hong tertawa.

"Siapa yang bisa menolong sesama manusia, haruslah dia menolong,"

Jawabnya.

"Segala urusan dikolong langit boleh dicampuri oleh manusia di kolong langit."

Perwira itu melirik kawan-kawannya.

"Siapa adanya Tootiang dan di mana letak kuil mu?"

Tanyanya.

Mendadak, dua perwira lain mengangkat golok dan menyabet pundak Sam Hong.

Kedua senjata itu menyambar bagaikan kilat dan di atas perahu yang sempit, sungguh sukar untuk mengelakkannya.

Tapi dengan hanya sekali miringkan badan, guru besar itu sudah kelit senjata musuh.

Hampir berbareng, Sam Hong mengeluarkan kedua tangannya yang lalu ditempelkan di punggung kedua penyerang itu.

"Pergilah !"

Bentaknya seraya mendorong dan tubuh kedua perwira itu lantas saja "terbang", akan kemudian jatuh di atas perahu mereka sendiri.

Sesudah puluhan tahun Sam Hong belum pernah bertempur dan hari ini ia sebenarnya menghadapi jago-jago pilihan dari kaizar Mongol.

Semua jago itu kaget tak kepalang, sebab pihak mereka sedikitpun tak dapat berkutik.

Mendadak, seperti orang ingat sesuatu, pemimpin rombongan menatap wajah Sam Hong dengan mulut ternganga dan kemudian berkata dengan suara putus-putus.

"Kau ... kau .. a pa kau bukan ..."

"Aku adalah seorang yang biasa membunuh Tat coe,"

Kata sikakek seraya mengibas dengan lengan jubahnya.

Hampir berbarengan semua orang itu merasakan satu sambaran angin dan dada mereka menyesak, sehingga mereka tidak dapat mengetuarkan sepatah katapun.

Dilain saat, dengan muka pucat mereka berdulu dulu meninggalkan perahu itu dan sesudah menolong kedua Hoan ceng yang tercebur diair, mereka kabur secepat mungkin dengan ramai-ramai mendayung perahu.

Melihat sibrewok dan nona cilik itu dilukakan dengan anak panah beracun, Sam Hong segera mengeluarkan obat pemunah racun.

Sesudah itu ia mendayung perahu kecil Itu, mendekati perahunya sendiri.

Baru saja ia mau memapah sibrewok untuk berpindah keperahunya, orang itu sudah melompat dengan memeluk mayat dan tangan lain menyekel tangan si nona kecil.

Sam Hong manggut-manggutkan kepala.

"Benar-benar laki-laki sejati,"

Pujinya.

"Meskipun sudah menderita luka berat, ia tetap menunjuk kesetiaan kepada majikan kecilnya. Aku tak merasa menyesal sudah menolongnya."

Ia sendiri lalu melompat balik keperahunya, dimana ia segera mencabut anak panah yang menancap ditubuh si brewok dan si gadis cilik.

Sesudah menaruh obat luka dan membalut luka itu, Sam Hong tidak lantas mendarat, karena ia menghadapi keadaan yang agak sukar.

Boe Kie yang kedua belas Thay hiatnya ditotok, tidak bisa berjalan sendiri, sedang si brewok dan sinona kecil itu adalah pemburonan yang sedang dicari oleh kaki tangan kaizar Mongol.

Jika mereka menginap di Loa ho kouw, Sam Hong merasa agak berat untuk melindungi tiga orang itu.

Sesudah mengasah otak beberapa saat, ia merogoh saku bajunya, dan ia mengeluarkan beberara tahil perak yang lalu diserahkan kepada si tukang perahu.

"Saudara"

Katanya sambil bersenyum.

"Aku ingin meminta pertolonganmu untuk membawa mereka ke Thay peng tiam supaya mereka bisa menginap disitu."

Si tukang perahu sebenarnya sangat ketakutan tapi melihat jumlah uang yang begitu besar, ia lantas saja manggut-manggut kepala. Si brewok buru-buru berlutut diatas geladak perahu dan berkata.

"Budi Loo tooya yang sangat besar tak akan dapat dibelas oleh Siang Gie Coen."

Sam Hong membangunkan orang itu seraya berkata "Siang Enghiong, tak usah, tak usah kau jalankan peradatan besar."

Tiba-tiba ia terkejut, sebab waktu tangannya menyentuh tangan Siang Gie Coen, ia merasa tangan itu dingin luar biasa.

"Siang Enghiong apakah kau mendapat luka di dalam badan ?"

Tanyanya.

"Benar", jawabnya sambil mengangguk.

"Dengan membawa kedua majikan kecil ini, Siauw jin (aku yang rendah) berangkat dari Sin yang untuk pergi ke Selatan. Di sepanjang jalan empat kali siauwjin bertempur dengan kuku garuda (kaki tangan kaizar) yang dikirim oleh Tatcoe. Dada dan punggungku telah terkena pukulan seorang Hoan ceng."

Sam Hong segera memeriksa nadi Siang Gie Coen dan mendapat kenyataan, bahwa denyutan nadi sudah lemah sekali.

Kemudian ia membuka baju si brewok dan begitu melihat lukanya, ia terkejut, karena luka itu sudah bengkak dan sangat berat.

Ia mengerti, bahwa tanpa memiliki kekuatan badan yang luar biasa, Siang Gie Coen tentu sudah tidak dapat bertahan lagi.

Ia segera mempersilahkan Gie Coen mengaso digubuk perahu dan melarangnya banyak bicara.

Mereka tiba di Thay pang kiam diwaktu malam.

Sam Hong lantas saja pergi ke kota untuk membeli obat-obatan yang kemudian segera dimasak dan diberikan kepada Siang Gie Coen dan sinona kecil.

Gadis itu, yang baru berusia kira-kira sepuluh tahun dan yang paras mukanya mengunjuk, bahwa sesudah besar ia bakal jadi seorang wanita yang luar biasa cantik, duduk terpaku disamping mayat kakaknya.

Melihat begitu, Sam Hong merasa kasihan dan menanya dengan suara lemah lembut.

"Nona, siapa namamu?"

"Aku, Cioe Tit Jiak", jawabnya.

"Bolehkah aku mendapat tahu nama Too tiang?"

Rasa simpathi guru besar itu jadi makin besar karena dalam kedukaannya, anak itu masih tetap agung dan sopan.

"Aku, Thio Sam Hong."

Jawabnya.

"Ah!"

Demikian terdengar teriakan Siang Gie Coen yang lantas bangun duduk.

"Kalau begitu Tootiang adalah Thio Cinjin dari Boe tong san! Tak heran jika Tootiang memiliki kepandaian yang begitu tinggi. Aku merasa sangat beruntung, bahwa hari ini aku bisa bertemu muka dengan Sian tiang (dewa)"

"Jangan gunakan istilah dewa", kata si kakek seraya bersenyum.

"Aku hanya berumur lebih panjang dari manusia kebanyakan Siang Enghiong, tidurlah. Jangan banyak bergerak supaya lukamu tidak terbuka lagi."

Melihat kegagahan Siang Gie Coen dan sopan santunnya Cioe Tit Jiak, Sam Hong merasa senang sekali.

Tapi begitu mengingat bahwa mereka itu adalah orang-orang dari golongan sesat, hatinya lantas saja berubah dingin.

"Jie wie mendapat luka berat dan tidak boleh banyak bicara."

Katanya dengan suara tawar.

Dulu, Thio Sam Hong sebenarnya tidak begitu menghiraukan perbedaan antara golongan sesat dan lurus.

lapun pernah mengatakan kepada Coei San, bahwa "ceng" (lurus besar) dan "sia" (sesat kotor) sukar dibedakan.

Kalau berhati tidak baik, murid murid dari partai lurus bersih bisa melakukan perbuatan jahat, sedang murid-murid dari partai yang katanya sesat kotor dapat melakukan perbuatan mulia, jika hati mereka bersih.

Ia juga pernah mengatakan, biarpun angkuh dan beradat aneh, In Thian Ceng dari Peh bie kauw adalah laki laki yang bertanggung jawab atas segala perbuatan nya.

Akan tetapi, semenjak Coei San membunuh diri ia membenci Peh bie Kauw.

Ia menganggap, bahwa kebinasaan Coei San dan kecelakaan Jie Thay Giam adalah gara-gara Peh bie kauw.

Walaupun ia masih dapat menahan sabar dan tidak menuntut balas terhadap In Thian Ceng, tapi didalam hatinya sudah terdapat kebencian yang sangat terhadap partai golongan "sesat".

Cioe Coe Ong adalah murid terutama golongan Bie lek cong dari "agama"

Sesat.

Beberapa tahun yang lalu.

Cioe Coe Ong telah memberontak di Wan cioe dan mengangkat dirinya sendiri menjadi "kaizar", dengan kerajaan yang dinamakan "Cioe".

Tapi bala tentaranya telah dibasmi habis oleh tentara Goan, dan ia sendiri ditangkap dan di hukum mati.

Bie lek cong dan Peh bie kauw mempunyai hubungan erat.

Waktu Cioe Coe Ong memberontak, In Thian Ceng telah memberi banyak bantuan dari Ciat kang timur.

Bahwa Thio Sam Hong sudah menolong Siang Gie Coen dan Cioe Tit Jiak, adalah karena didorong oleh rasa kesatriaan dan juga sebab pada waktu turun tangan, ia masih belum tahu siapa adanya mereka itu.

Sekarang, mengingat nasib dua orang muridnya, tanpa merasa ia menghela napas panjang.

Tak lama kemudian, si tukang perahu sudah selasai masak dan menaruh empat macam makanan dengan daging ayam, daging babi, ikan dan sayur, bersama sebakul nasi dan diatas sebuah meja kecil.

Sam Hong segera menyilakan kedua tamunya makan lebih dulu, sebab ia sendiri ingin manyuapkan Boe Kie yang tidak bisa bergerak.

Atas pertanyaan Siang Gie Coen, ia menerangkan sebab musababnya.

Karena hatinya berduka, Boe Kie tidak bisa makan banyak.

Baru saja menelan satu dua suap, ia sudah menggeleng-gelengkan kepala.

Tiba tiba Tit Jiak mengambil mangkok nasi dan sumpit dari tangan Sam Hong.

"Too tiang, kau makan lebih dulu. Biar aku saja yang menyuapkan Toako,"

Katanya.

"Aku sudah kenyang,"

Kata Boe Kie.

"Toako, jika kau tak mau makan, Too tiang jadi kesal dan iapun tidak akan mau makan,"

Kata si nona dengan halus.

"Apa kau tega membiarkan orang tua itu kelaparan?"

Boe Kie merasa perkataan gadis itu ada benarnya juga.

Maka, waktu Tit Jiak mengangsurkan sendok nasi kemulutnya, ia lalu membuka mulut data memakannya.

Dengan hati-hati, si nona kecil mencabut tulang-tulang ikan dan ayam dan pada setiap sendok nasi, ia menambahkan kuah daging, sehingga menimbulkan napsu makan dan tidak lama kemudian, Boe Kie sudah menghabiskan semangkok nasi.

Melihat begitu, Sam Hong merasa terhibur, Diam-diam ia merasa bahwa dalam sakitnya yang begitu berat, Boe Kie memang harus dirawat oleh seorang wanita yang halus budi pekertinya.

Semeatara itu, Siang Gie Coen makan dengan bernapsu.

Ia telah menghabiskan semangkok sayur dan empat mangkok nasi, tapi daging dan ikan tidak disentuh olehnya.

Dilain pihak, meskipun ia seorang toosoe, Sam Hong sendiri makan makanan berjiwa.

Melihat nafsu makan Siang Gie Coen, ia segera menawarkan daging dan ikan kepada tamunya itu.

"Thio Cinjin,"

Kata si brewok.

"Sebagai orang yang memuja Po sat, aku tidak makan makanan berjiwa."

"Ah ! Aku lupa,"

Kata Sam Hong. Dalam kalangan "agama siluman", peraturan paling dipegang keras sekali. Anggauta "agama"

Itu setiap hari hanya diperbolehkan makan satu kali dan dilarang makan makanan berjiwa.

Peraturan itu sudah berjalan sedari jaman kerajaan Tong.

Oleh sebab sepanjang masa pemerintah selalu berusaha untuk membasminya, sedang orang-orang Rimba persilatan juga memandangnya rendah, maka anggauta-anggauta "agama"

Sesat sangat berhati hati dalam segala sepak terjangnya. Mereka tidak makan makanan berjiwa karena dilarang "agama"

Nya tapi terhadap dunia luar, mereka selalu mengatakan, bahwa mereka ciacay (hanya makan sayur sayur) sebab menyembah Po sat atau Sang Buddha. Mereka tidak berani mengakui siapa sebenarnya mereka.

"Thio Cinjin, kau adalah penolong jiwaku,"

Kata Siang Gie Coen sesudah selesai bersantap.

"Sesudah kau tahu siapa adanya aku, akupun tak perlu menggunakan tedeng-tedeng lagi. Aku adalah seorang anggauta Beng kauw yang mengabdi kepada Beng coen. Agama kami dibenci oleb kerajaan, dipandang rendah oleh partai-partai persilatan yang lurus dan bahkan diejek oleh orang-orang "

Sejalan hitam " (kawanan perampok).

Tapi Thio Cinjia sendiri, malah sesudah mengetahui asal usul kami, masih rela menyodorkan tangan untuk menolong kami.

Budi yang sangat besar itu tak akan dapat dibalas."

Pemimpin besar dari "agama"

Sesat itu dinamakan "Mo-ni", sedang para penganut memanggitnya dengan panggilan "Beng coen". Mereka menamakan "agama"

Mereka sebagai "Beng kauw." (Agama terang), sedang orang luar memberi nama "Mo kauw"

Atau Agama siluman. Sam Hong mengawasi Gie Coen dengan mata tajam dan berkata.

"Siang Enghiong...."

"Lo too ya,"

Memutus Gie Coen.

"janganlah kau menggunakan kata-kata enghiong. Panggil saja namaku, Gie Coen."

"Baiklah,"

Kata guru besar itu sambil mengangguk.

"Gie Coen, berapa usiamu sekarang?"

"Baru masuk duapuluh tahun,"

Jawabnya.

Sam Hong mengawasi pemuda itu.

Ia kelihatannya banyak lebih tua lantaran berewoknya yang tebal.

Dari suara dan gerak-geriknya, ia memang masih muda sekali.

Sam Hong manggut-manggutkan kepalanya.

"Kau baru saja masuk usia dewasa, masih muda sekali,"

Katanya.

"Biarpun kau sudah masuk kedalam agama sesat, masih belum terlalu dalam. Jika kau mau memutar kepala, masih belum terlambat. Aku ingin mempersembahkankan dengan beberapa perkataan dan aku harap kau tidak menjadi gusar."

"Ajaran Tootiang tentulah juga berharga seperti emas dan batu kumala,"

Kata pemuda itu sambil membungkuk.

"Mana bisa aku merasa gusar?"

"Baiklah", kata guru besar itu.

"Aku ingin menasehati supaya kau cepat-cepat mencuci hari dan mengubah muka supaya kau segera meninggalkan agama yang sesat itu. Manakala kau tidak mencela Boe tong pay yang ilmunya cetek, aku akan memerintahkan supaya muridku yang kepala, yaitu Song Wan Kiauw, menerima kau sebegai murid. Dihari kamudian kau akan bisa mengangkat muka dan tidak seorangpun berani memandang rendah lagi kepadamu."

Song Wan Kiauw adalah kepala dari Boe tong cit hiap dan namanya telah menggetarkan seluruh Rimba Persilatan.

Bagi ahli silat yang biasa untuk menemuinya saja, sudah bukan gampang.

Dalam beberapa tahun yang belakangan, baru Boe tong Cit hiap mulai menerima murid.

Tapi dalam penerimaan murid itu selalu dilakukan pemilihan dan penyaringan yang sangat keras.

Hanyalah orang orang yang berbakat dan beradat baik barulah di terima menjadi anggauta Boe tong pay.

Siang Gie Coen adalah seorang anggauta "agama"

Sesat. yang dipandang jijik oleh masyarakat seumumnya. Maka itu tawaran Thio Sam Hong merupakan juga rezeki luar biasa pemuda itu. Tapi, diluar dugaan, Gie Coen menjawab dengan sikap hormat.

"Bahwa aku, Siang Gie Coen telah mendapat penghargaan yang begitu tinggi dari Thio Cinjin, bukan main rasa terima kasihku. Akan tetapi, sesudah menjadi anggauta Beng kauw seumur hidup aku tak berani membelakangi agamaku itu"

Sam Hong coba membujuk lagi, tetapi pemuda itu tetap menolak dengan hormat dan tegas. beberapa saat kemudian, dengan rasa menyesal, ia lalu mendukung Boe Kie seraya berkata.

"Kalau begitu, biarlah kita berpisahan disini saja,"

Dalam kata-kata perpisahan itu, ia malah tidak mengucapkan perkataan.

"sampai bertemu lagi,"

Yang lazimnya digunakan. Sebelum tuan penolong itu meninggalkan perahu, sekali lagi Siang Gie Coen menghaturkan terima kasih dengan berlutut.

"Thio Toako,"

Kata si nona cilik kepada Boe Kie.

"setiap hari kau harus makan kenyang kenyang, supaya Loo too-ya jangan jengkel."

Air mata Boe Kie lantas saja mengembang dan dengan suara putus-putus ia menjawab.

"Terima kasih untuk kebaikanmu.... Tapi aku hanya bisa makan nasi beberapa hari saja."

Bukan main rasa dukanya kakek guru itu. Ia mengangkat lengannya dan menggunakan tangan jubah untuk menyusut air mata cucu muridnya.

"Apa?"

Menegas Tit Jiak dengan suara kaget "Kau...kau..."

"Nona kecil, hatimu sangat mulia,"

Kata Sam Hong.

"Aku mendoakan supaya dibelakang hari kau jalan dijalanan yang lurus"

"Terima kasih atas nasehat Loo too-ya,"

Jawab Cioe Tit Jiak.

"Thio Cinjin,"

Tiba-tiba Gie Coen berkata.

"kau memiliki Lweekang dan kepandaian yang sangat tinggi. Biarpun luka saudara kecil itu sangat berat, aku percaya kau akan dapat menyembuhkannya."

"Benar,"

Kata Sam Hong yang tanpa dilihat Boe Kie, sudah menggoyangkan tangan kirinya sebagai keterangan kepada Gie Coen, bahwa lukanya bocah itu tidak dapat diobati lagi. Gie Coen terkejut.

"Thio Cinjin,"

Katanya pula.

"aku sendiri telah mendapat luka yang sangat berat dan sekarang aku justeru ingin meminta pertolongan dari seorang tabib malaikat. Mengapa Thio Cinjin tidak mau mencoba-coba?"

Thio Sam Hong menundukkan kepala.

"Semua pembuluh darahnya telah terbuka, sehingga racun dingin bisa membuyar dan masuk kedalam perutnya,"

Katanya dengan suara perlahan.

"ia tidak akan dapat disembuhkan dengan memakai obat biasa dan didalam dunia, tak seorangpun bisa mengobatinya."

"Tapi,"

Kata Siang Gie Coan.

"tabib malaikat yang dimaksudkan olehku memiliki kepandaian luar biasa tinggi, sehingga kata orang ia malah mampu menghidupkan mayat."

Sam Hong terkejut dan mendadak saja, ia ingat satu orang.

"Apakah yang dimaksudkan olehmu bukan Tiap-kok Ie sian?"

Tanyanya.

"Benar,"

Jawabnya.

"Kalau begitu, Tootiang pun mengenal Ouw Soepehku."

Guru besar itu kelihatan agak bersangsi.

Memang sudah lama ia mendengar nama Tiap kok le Sian Ouw Ceng Goe yang dipandang rendah oleh orang Rimba Persilatan.

Ia mempunyai adat yang sangat aneh.

Kalau orang yang sakit atau terluka anggauta "agama"nya, ia segera menolongnya dengan sepenuh tenaga tanpa mau menerima bayaran apapun jua.

Tapi, kalau yang memohon pertolongan bukan pengikut "agama", biarpun dibayar dengan laksaan tail emas, ia tak akan meladeni.

"Aku lebih suka Boe Kie mati dari pada menyerahkan nya kepada orang dari agama sesat itu,"

Katanya didalam hati. Melihat kesangsian Sam Hong, pemuda itu dapat menebak apa yang dipikirnya dan ia lantas saja berkata.

"Thio Cinjin, meskipun Ouw Soepeh biasanya menolak untuk mengobati orang luar, tapi karena Thio Cinjin telah menolong jiwa Cioe Kouw nio, ia pasti akan membuat kecualian. Andaikata ia menolak, Gie Coen pasti tak mau mengerti."

Sam Hong menghela napas dan berkata dengan suara duka.

"Mengenai kepandaian Ouw Sinshe, sudah lama aku mendengarnya. Hanya sayangnya, racun dingin yang mengeram didalam tubuh Boe Kie sekarang ini tidak akan dapat disembuhkan dengan obat biasa...."

"Thio Cinjin!"

Teriak Gie Coen.

"Mengapa kau begitu bersangsi? Kalau diobati oleh Soepehku, paling banyak saudara kecil itu tidak sembuh. Kalau kekiri mati, kekananpun mati, perlu apa Tootiang memikir panjang?"

Sebagai orang yang beradat polos, ia bicara segala apa yang berkelebat diotaknya. Mendengar "kekiri mati, kekananpun mati", hati guru besar itu bergoncang keras.

"Apa yang dikatakan olehnya memang tidak salah,"

Pikirnya.

"Menurut penglihatanku, paling banyak Boe Kie bisa bertahan dalam tempo sebulan lagi."

Mengingat begitu, ia lantas saja berkata.

"Gie Coen, baiklah, aku minta pertolonganmu. Akan tetapi, sebelum pertolongan diberikan, aku ingin menjelaskan terlebih dulu, bahwa Sinshe tidak boleh membujuk atau memaksa Boe Kie masuk kedalam agama kalian. Disamping itu, jika Boe Kie benar menjadi sembuh, Boe tong pay tidak menanggung budi agama kalian."

"Thio Cinjin,"

Kata Gie Coen.

"dengan berkata begitu, kau jadi memandang terlalu rendah kepada orang-orang kami."

Ia berpaling kepada Cioe Tit Jiak dan berkata puta.

"Cioe Kauwnio, aku ingin kau mengikut Thio Cinjin untuk sementara waktu. Apa kau suka?"

Sebelum si nona menjawab, Sam Hong sudah mendahului.

"Apa?"

"Aku tahu bahwa Thio Cinjin tidak suka pergi kepada Ouw Soepehku,"

Kata Gie Coen.

"Dapat dimengerti, bahwa lurus dan sesat tidak bisa berdiri berendeng. Thio Cinjin adalah seorang guru besar pada jaman ini. Cara bagaimana Thio Cinjin bisa meminta pertolongan dari seorang anggauta agama sesat? Disamping itu, adat Ouw Soepeh juga aneh sekali. Jika ia bertemu dengan Thio Cinjin, mungkin sekali Ia tidak berlaku sopan santun, sehingga pertemuan itu bisa berakibat sebaliknya daripada apa yang diharap. Maka itu, menurut pendapatku, sebaiknya saudara Thio dibawa olehku sendiri. Tapi, akupun mengerti, bahwa Thio Cinjin merasa sangsi untuk menyerahkan saudara Thio kepadaku. Maka itulah, aku minta Cioe Kouwnio berdiam di Boe tong san untuk sementara waktu. Nanti, sesudah saudara Thio sembuh, aku akan mengantarkannya ke Boe tong san dan sekalian mengambil pulang Cioe Kouwnio. Dengan perkataan yang lebih tegas, aku ingin minta Cioe Kauwnio mengikut Thio Cinjin untuk dijadikan semacam tanggungan."

Dalam pergaulannya selama puluhan tahun, Thio Sam Hong selalu berterus terang dan menaruh kepercayaan kepada orang-orang Rimba Persilatan.

Akan tetapi, Thio Boe Kie adalah turunan tunggal dari muridnya yang tercinta, sehingga memang benar ia sangat bersangsi untuk menyerahkannya kepada seorang dari kalangan "agama"

Sesat.

Sebelumnya guru besar itu sempat menjawab, Siang Gie Coen sudah berkata pula "Cioe Cie Ong, Cioe Toako, adalah seorang yang bener-benar luhur pribudinya.

Sesudah gagal dalam gerakannya di Sin yan, duapuluh tiga anggauta keluanganya telah dibinasakan oleh Tat-coe.

Bahkan ibu Toako yang sudah berusia tujuhpuluh delapan tahun, tidak luput dari kebinasaan.

Sesudah bertempur mati-matian, barulah aku dapat menolong seorang putera dan seorang putrinya.

Tak dinyana, Siauw kongcoe telah binasa terpanah musuh sehingga Kauwnio merupakan turunan yang satu-satunya dari Ciao Toako.

Sebagai salah seorang pemimpin Beng kauw, Cioe Toako mempunyai banyak musuh.

Bukan saja Tat coe, tapi musuh musuh lainnya pun akan menyukarkan Thio Cinjin jika mereka tahu, bahwa Cioe Kauwnio berada di Boe tong..."

Tanpa merasa Sam Hong tertawa.

Sebelum ia menyanggupi untuk menerima Cioe Tit Jiak, pemuda yang polos itu sudah memperingatkannya.

Ia berdiri bengong beberapa saat.

Memang juga, lain jalan tidak ada, kekiri mati, kekananpun mati, jalan satu-satunya yalah mencoba coba kepandaian Tiap-kok Ie sian.

Mengingat begitu, ia lantas saja berkata.

"Gie Coen baiklah. Aku akan merawat Cioe Kauwnio baik baik dan kaupun harus merawat Boe Kie sebaik baiknya. Sesudah anak itu sembuh, kuharap kau lekas-lekas datang di Boe tong san."

"Thio Cinjin tak usah kuatir,"

Jawabnya dengan suara lantang.

"Aku pasti akan menunaikan tugas dengan sepenuh tenaga"

Sehabis berkata begitu, ia melompat kedarat dan membuat sebuah lubang ditanah dengan ujung golok, kemudian, sesudah membuka semua pakaian yang menempel dimayat majikan kecilnya, ia lalu menguburnya dalam keadaan telanjang.

Sesudah itu, bersama Cioe Tit Jiak, ia memberi hormat didepan kuburan.

Nona Cioe menangis sedih, sedang ia sendiri berdiri tegak sambil menahan mengucurnya air mata.

Mayat bocah itu dikubur dalam keadaan telanjang adalah sesuai dengan kebiasaan Bang kauw.

Menurut "agama"

Itu, seorang manusia yang dilahirkan kedalam dunia dengan tidak memakai pakaian, haruslah berpulang ke alam baka dalam keadaan begitu juga.

Sam Hong yang tidak tahu sebab musabab penguburan yang aneh itu, hanya menhela napas dengan perasaan, bahwa sepak terjang orang-orang "agama"

Sesat benar-benar sesat.

Pada keesokan paginya, sambil menuntun Tit Jiak, guru besar itu berpisahan dengan Gie Coen dan Boe Kie.

Semenjak kedua orang tuanya meninggal dunia, Boe Kie menganggap sang kakek guru seperti kakeknya sendiri.

Sekarang secara mendadak kakek guru itu meninggalkannya, sehingga tanpa tertahan lagi, air matanya mengucur deras.

"Boe Kie,"

Kata Sam Hong sambil mengusap usap kepala anak itu.

"Sesudah kau sembuh Siang Toako akan membawa kau pulang ke Boe tong. Kita hanya berpisahan untuk beberapa bulan dan kau tak perlu bersusah hati."

Anak itu yang kaki tangannya sudah tidak bisa bergerak akibat totokan sang kakek guru, hanya manggut-manggutkan kepala, sedang air matanya mengucur.

Melihat begitu, nona Cioe segera kembali keperahu.

Ia mengeluarkan sehelai sapu tangan kecil dari sakunya dan lalu menyusut air mata Boo Kie.

Ia bersenyum dan sesudah memasukkan sapu tangan itu ditangan baju Boe Kie, barulah ia melompat balik kedarat.

Hati Sam Hong bergoncang.

"Nona kecil itu, sangat cantik dan dihari kemudian, ia pasti akan menjadi seorang wanita yang ayu luar biasa,"

Pikirnya.

"Sesudah Boe Kie sembuh, aku tidak boleh membiarkan mereka bertemu muka lagi. Jika mereka sampai saling menyinta, hikayat Coei San mungkin akan terulang lagi."

Dengan hati duka, Boe Kie mengawasi bayangan sang kakek guru yang menuju ke arah barat sambil menuntun tangan nona Cioe, yang tidak berhentinya mengulap-ulapkan tangan, sehingga bayangannya menghilang diautara pohon-pohon.

Sesaat itu, hati si bocah mencelos, benar-benar ia merasa hidup sebatang kara dalam dunia yang lebar ini dan air matanya kembali mengucur.

Gie Coen mengerutkan alis.

"Saudara Thio, berapa usiamu?"

Tanyanya.

"Dua belas tahun,"

Jawabnya.

"Hm..."

Gie Coen mengeluarkan suara di hidung.

"Usia dua belas tahun bukan anak anak lagi. Apa kau tak malu, menangis? Waktu aku berusia duabelas tahun, aku sudah menerima pukulan ratusan kali, tapi tidak setetes air mata keluar dari mataku. Seorang laki-laki sejati hanya boleh mengucurkan darah, tak boleh mengucurkan air mata. Kalau kau terus menangis seperti bayi, aku akan hajar kau."

Melihat kegarangan si brewok, Boe Kie jadi agak keder.

"Baru saja Thay soehoe pergi, kau sudah begitu galak."

Pikirnya.

"Entah berapa besar kesengsaraan yang bakal diderita olehku."

Mengingat begitu, ia lantas saja berkata dengan suara nyaring.

"Aku menangis karena merasa sedih harus berpisahan dengan Thay soehoe. Aku belum pernah menangis sebab pukulan. Mau pukul boleh kau pukul. Kalau hari ini kau memukul aku satu kali, dihari kemudian nanti aku akan membalas sepuluh kali."

Gie Coen tertawa terbahak-bahak.

"Bagus! Bagus !"

Katanya.

"Itulah perkataan seorang laki laki. Kau begitu liehay, tak berani aku memukul kau."

"Mengapa ? Aku sedikitpun tidak bisa bergerak,"

Kata si bocah.

"Kalau hari ini aku memukul kau, dikemudian hari, sesudah kau memiliki kepandaian tinggi, bagaimana aku kuat menerima sepuluh kali pukulanmu ?"

Jawabnya.

Boe Kie tertawa.

Ia merasa bahwa meskipun garang, Siang Toako bukan seorang jahat.

Dengan mengunakan perahu, mereka menuju ke Han kouw dan sesudah tiba di Han kouw, Gie Coen menyewa lain perahu dan berlayar kealiran sebelah bawah dari Tiangkang timur.

Tiap kok, atau selat kupu kupu, tempat tinggal Tiap kok Ie sian terletak di pinggir telaga Lie san ouw, sebelah utara propinsi An hoei.

Sebagaimana diketahui, dari Han kouw sampai di Kioe kang, sungai Tiang kang mengalir kejurusan tenggara.

Sesudah melewati Kioe kang, sungai itu membelok kearah timur laut dan masuk ke propinsi An hoei.

Boe Kie berlayar dengan perasaan duka.

Ia ingat bahwa pada dua tahun berselang, ia pernah berlayar di sungai Tiangkang bersama sama kedua orangtuanya dan pa man Jie Lian Cioe.

Selama dalam pelayaran, ia gembira bukan main, tetapi sekarang, kedua orang tuanya sudah meninggal dunia secara mengenaskan, kaki tangannya tidak bisa bergerak dan ia sendiri berada dalam rawatan seorang sahabat baru dalam perjalanan untuk memohon pertolongan kepada seorang aneh.

Antara kedua pelayaran itu terdapat perbedaan seperti langit dan bumi.

Ia bersedih, tapi sebisa bisa ia menahan mengucurnya air mata, karena kuatir ditertawai olen Siang Toakoo.

Setiap hari, pada Coe sie (antara jam 11 malam dan jam 1 lewat tengah malam) dan Ngo sie (antara jam 1 siang sampai jam 1 lohor), racun dingin mengamuk dalam tubuhnya.

Sambil mengertak gigi dan menggigit bibir, ia menahan sakit, sehingga bibirnya sampai tertuka akibat gigitan.

Di samping itu, makin hari serangan racun makin hebat.

Pada suatu hari mereka tiba di Kwa po, sebelah bawah Cip keng (sekarang Nan king).

Dengan mendukung Boe Kie, Gie Coen mendarat dan lalu menyewa kereta untuk meneruskan perjalanan ke utara.

Beberapa hari kemudian, mereka tiba di Beng Kong, di sebelah timur Hong yang.

Gie Coen tahu bahwa Soepehnya yang beradat aneh itu paling tidak senang tempat tinggalnya di ketahui orang.

Maka itu, pada waktu kereta berada dalam jarak kira-kira dua puluh li dari Lie san ouw, ia segera turun dari kereta dan sambil menggendong Boe Kie, lalu melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki.

Tapi diluar dugaannya, baru saja ia berjalan kurang lebih satu li badannya lemas dan napasnya tersengal-sengal.

Ia terkejut dan mengerti, bahwa itulah akibat dari luka yang dideritanya karena pukulan im ciang dari dua pendeta asing.

Boe Kie merasa sangat tidak tega.

"Siang Toa ko."

Katanya.

"Jalan saja perlahan-lahan. Jangau kau merusak badan."

"Celaka sungguh!"

Kata Gie Coan dengan gusar.

"Menurut kebiasaan, sekali lari aku bisa melalui seratus li. Apakah pukulan kedua pendeta bangsat itu sedemikian hebat, sehingga aku tidak dapat berjalan lagi?"

Dengan amarah yang meluap-luap ia berjalan terus.

Baru jalan puluhan tombak, ia merasa tulang-tulangnya seperti mau copot.

Tapi Siang Gie Coen seorang keras kepala dan keras hati.

Sambil mengertak gigi, ia maju terus, setindak demi setindak.

Dengan kemajuan yang sangat lambat itu, sampai malam barulah mereka melalui separuh perjalanan.

Jalanan gunung yang berbelit belit dan turun naik menambah penderitaan pemuda itu.

Akhirnya, waktu tiba disebuah hutan ia tak dapat bertahan lagi.

Perlahan-lahan ia menaruh Boe Kie diatas tanah dan kemudian, ia merebahkan diri untuk mengaso.

Ia mengeluarkan kue phia dari sakunya dan membagi kue itu kepada Boe Kie untuk menangsal perut.

Sesudah mengaso kira-kira setengah jam, Gie Coen bangun berdiri untuk meneruskan perjalanan, tapi Boe yang merasa kasihan terhadapnya, berkeras untuk mengaso semalaman dihutan itu.

Sesudah berpikir sejenak, ia merasa pendirian si bocah ada benarnya juga.

Andaikata, mereka bisa tiba dirumah Ouw Ceng Goe pada malam itu, sang Soepeh yang beradat aneh mungkin bergusar karena diganggu tidurnya dan kalau dia bergusar, mungkin sekali dia akan menolak untuk mengobati.

Memikir begitu, ia lantas saja menyetujui usul Boe Kie.

Mereka tidur dengan menyender dikaki sebuah pohon besar.

Kira-kira tengah malain, racun dingin mengamuk lagi dan Boe Kie memanggil keras.

Karena sungkan mengganggu Gie Coen yang sudah capai lelah, ia menahan sakit sambil menggigit bibir.

Selagi ia bergulat melawan racun dingin itu, sekonyong-konyong terdengar suara beradunya senjata, disusul dengan suara bentakan seorang.

"Mau lari kemana kau?"

Bentakan, disusul pula dengan teriakan beberapa orang lain.

"Cegat ditimur ! Cepat ! Supaya dia masuk kehutan!"

"Bangsat gundul itu tidak boleh dilepaskan ! Cegat!"

Hampir berbareng terdengar tindakan sejumlah orang yang menuju kearah hutan.

Dengan kaget Siang Gie Coen tersadar.

Satu tangannya segera menghunus golok, lain tangan mendukung Boe Kie, siap sedia untuk melarikan diri sambil bertempur.

"Siang Toako, kurasa mereka bukan maui kita,"

Bisik Boe Kie.

Gie Coen mengangguk.

Di dalam hati ia sudah mengambil keputusan, bahwa meskipun mesti membuang jiwa, ia akan coba melindungi keselamatan bocah itu.

Hanya ia merasa menyesal, bahwa sesudahb mendapat luka, ilmu silatnya sekarang sudah musnah seanteronya.

Mereka mengintip dari belakang sebuah pohon besar.

Mereka melihat berkelebat-kelebatnya bayangan orang tujuh delapan orang sedang mengurung dan mengerubuti satu orang.

Karena gelap, mereka tak tahu siapa adanya orang-orang itu.

Mereka hanya tahu, bahwa orang yang dikepungnya melawan dengan tangan kosong dan bahwa orang itu lihay luar biasa, sehingga biarpun dikerubuti, ia masih dapat membela diri secara bagus sekali.

Sesudah bertempur beberapa lama, setindak demi setindak, orang-orang itu mendekati tempat bersembunyinya Gie Coen berdua.

Pada waktu sang rembulan muncul dari alingan awan hitam mereka melihat, bahwa orang yang dikepung yalah seorang pendeta yang berusia kira-kita lima puluh tahun, tubuhnya kurus jangkung data mengenakan jubah pertapaan serba putih.

Dipihak pengepung terdapat pendeta, imam, seorang lelaki yang memakai pakaian koan kee (pengurus rumah tangga) dan dua orang perempuan.

Makin lama Gie Coen makin merasa heran.

Delepan pengurung itu masing masing memiliki kepandaian tinggi.

Dua orang pendeta yang satu bersenjata Sian thung dan yang lain memegang golok menyerang dengan pukulan-pukulan yang disertai sambaran angin dahsyat, sehingga daun-daun pohon meluruk jatuh kebawah.

Si imam, toosoe yang bersenjatakan pedang panjang, aneh gerak-gerakannya.

Sebentar ia melompat kekiri, sebentar kekanan.

Sedang pedangnya yang menggetar tak henti-hentinya mengeluarkan sinar berkeredepan.

Lelaki yang berpakaian seperti koan kee, kate kecil tubuhnya.

berguling-guling ditanah dan menyerang bagian bawah sipendeta jubah putih dengan menggunakan ilmu golok Tee tong To hoat.

Kedua goloknya terputar putar bagaikan sebuah bola yang menggelinding di tanah.

Kedua wanita itu, yang bertubuh langsing dan masing masing mencekal sebatang pedang, juga menyerang dengan pukulan pukulan yang sangat lihay.

Selagi bertempur hebat, salah seorang wanita mendadak memutar badan, sehingga separuh mukanya disoroti sinar rembulan.

"Kie Kouwnio!"

Seru Boe Kie dengan suara tertahan.

Wanita itu bukan lain daripada Kie Siauw Hoe, tunangan In Lie Heng.

Tadi melihat pendeta si jubah putih dikerubuti oleh begitu banyak orang, Boe kie merasa mendongkol terhadap pihak pengepung.

Tapi sekarang sesudah melihat Kie Siauw Hoe, pandangannya berubah dan ia menganggap, bahwa pendeta itu manusia jahat.

Baca Juga: Nurseta Satria Karangtirta 5

Baca Juga: Kisah Sepasang Naga Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert