Eps 10 Pedang Ular Emas - Yin Yong
Baca online Pedang Ular Emas - Yin Yong
Cersil Pedang Ular Emas - Yin Yong.
Sekarang nampaknya imam itu berhati lega, bisa ia bersenyum.
"Dimasa hidupnya guruku, Oey Bok Toodjin,"
Katanya.
"dia bersahabat dengan Kim Tjoa Long-koen, gurumu itu, Wan Siangkong. Ketika Hee Lootjianpwee datang ke Boe Tong San, untuk merundingkan ilmu silat pedang, aku dapat kesempatan untuk melayani dia. Apakah ada banyak baik lootjianpwee itu?"
Sin Tjie anggap tak usah ia sembunyikan apa-apa lagi.
"Guruku itu telah menutup mata,"
Ia jawab. Tjoei In Toodjin lantas saja menghela napas, ia terus berdiam, air mukanya menjadi suram pula, tandanya ia berduka. Karena ini, semua orang turut berdiam.
"Ketika barusan Tong Hian Soetee menyebutkan siangkong adalah murid dari Kim Tjoa Long-koen, aku girang bukan kepalang,"
Kata pula si imam "mayat hidup"
Itu sesaat kemudian.
"Aku telah memikir, asal Hee Lootjianpwee suka turun tangan untuk membantu, pastilah sakit hatinya guruku akan dapat terbalas. Ah, siapa sangka, Hee Lootjianpwee telah meninggal dunia... Benar-benar aku kuatir orang jahat itu nanti malang-melintang didunia ini tanpa ada orang yang sanggup mencegahnya!"
Didalam hatinya, Wan Djie kata .
"Aku datang untuk urusan pembalasan sakit hati ayahku, siapa tahu di sini muncul urusan sakit hati guru..."
Sin Tjie sebaliknya berpikir.
"Siapa sih musuh mereka ini, yang agaknya demikian liehay, hingga sampai, tanpa Kim Tjoa Long-koen, tidak ada orang lainnya lagi yang sanggup mengendalikannya?"
Sampai disitu, Tong Hian Toodjin lantas bicara sama soehengnya, kakak seperguruan itu. Dia tuturkan urusan pihak Kim Liong Pang menyeterukan Bin Tjoe Hoa.
"Aku minta soeheng suka menjelaskannya kepada Nona Tjiauw ini,"
Katanya kemudian.
"Hai!"
Mendadak Tjoei In Toodjin berseru.
Memangnya, selama memasang kuping, ia sudah panas hatinya, makin mendengar, ia jadi makin gusar.
Diakhirnya, tiba-tiba saja ia ayun tangannya, ia hajar pinggiran peti mati.
"Prak!"
Demikian satu suara nyaring, dan peti itu sempal! Sin Tjie terkejut dalam hatinya.
"Teranglah kepandaiannya imam ini jauh lebih tinggi daripada kedua soeteenya ini,"
Pikirnya.
"Dia berkepandaian begini liehay, kenapa dia sebaliknya sangat jeri terhadap musuhnya, hingga ia rela sembunyikan diri di dalam peti ini bagaikan mayat saja?"
"Nona Tjiauw,"
Tjoei In kemudian kata kepada Wan Djie.
"sukalah kau dengar keteranganku. Adalah aturan di dalam kalangan Boe Tong Pay kami, sesuatu murid yang telah lulus pelajarannya, hingga ia boleh turun gunung, ia selalu mesti dibekali sebilah pisau belati oleh guru kami. Pintoo telah diangkat sebagai ketua Boe Tong Pay, untuk menggantikan guru kami itu, benar kepandaianku tidak berharga, sampai pintoo mesti menelan malu, merawat diri dengan sembunyi didalam peti mati secara begini, tetapi terhadap sahabat-sahabat tak dapat pintoo omong dusta. Nona, tahukah kau, apa keperluannya pisau belati kami itu?"
"Aku tidak tahu,"
Wan Djie menggeleng kepala. Tjoei In Toodjin dongak, akan memandang si Puteri Malam, lalu ia menghela napas.
"Tjouwsoe kami dari tingkat ke-empatbelas ada Hie Hian Tootiang,"
Berkata dia, melanjuti.
"kepandaian ilmu silat pedangnya tidak ada tandingannya di kolong langit ini, maka sayang sekali, dia bertabeat keras dan jumawa juga, karenanya, tak sedikit sudah ia membunuh orang, hingga tak sedikit musuh-musuhnya. Maka kejadianlah dia diundang dalam satu rapat besar di atas gunung Heng San, di sini dia tempur jago-jago dari pelbagai kaum, yang lawan ia secara bergiliran, maka walaupun dia berhasil merubuhkan delapanbelas musuh, akhirnja ia sendiri kehabisan tenaga, dengan kesudahan ia mendapat lukaluka parah. Setelah itu, dia gunai pisau belati, untuk membunuh diri, karena tak sudi dia terbinasa di tangan musuh. Sejak kejadian itu, maka mulai Tjouwsoe kami yang kelimabelas, Boe Tong Pay telah mengadakan aturan setiap lulusan murid dihadiahkan sebilah pisau belati. Tong Hian Soetee, pergi kau kesana!"
Tjoei In menunjuk. Tong Hian bingung, tetapi ia toh bertindak, sampai beberapa ratus tindak, diwaktu mana.
"Cukup!"
Sang soeheng bilang. Soetee itu hentikan tindakannya Tjoei In lantas memandang kepada Bin Tjoe Hoa.
"Bin Soetee,"
Katanya dengan pelahan.
"ketika soehoe hadiahkan pisau belati kepadamu, apakah pesanannya?"
"Pesan soehoe adalah pantangan keras untuk membunuh karena urusan pribadi, bahwa pisau belati itu mesti dirawat dan disimpan hati-hati,"
Sahut Bin Tjoe Hoa.
"Soehoe pesan, apabila didalam satu pertempuran kita terang sudah tak dapat melawan lebih jauh, kita mesti bunuh diri dengan pisau itu."
Tjoei In Toodjin manggut-manggut.
"Nah, pergilah kau kesana,"
Menitah dia seraya menunjuk ke lain jurusan dari Tong Hian Toodjin. Bin Tjoe Hoa menurut. Ketua Boe Tong Pay itu kemudian panggil balik pada Tong Hian Toodjin.
"Tong Hian Soetee,"
Katanya.
"ketika soehoe hadiahkan kau pisau belati, apakah pesannya?"
Tong Hian unjuk sikapnya sungguh-sungguh.
"Itulah,"
Sahutnya.
"aku dilarang keras membunuh karena urusan pribadi, pisau mesti dirawat dan disimpan hati-hati, apabila kita tak berdaya dalam satu pertempuran, dengan pisau itu kita mesti bunuh diri!"
Soeheng itu manggut, lantas ia panggil balik pada Bin Tjoe Hoa. Setelah adik seperguruan itu sudah datang dekat, Tjoei In pandang Sin Tjie dan Wan Djie.
"Sekarang tentu djiewie percaya bahwa Boe Tong Pay mempunyai pesan terakhir itu,"
Katanya.."
Maka juga orang-orang anggauta kita, tidak perduli bagaimana tersesatnya, tidak nanti mereka gunai kay-sat-too untuk bunuh orang."
"Jadi pisau belati itu dinamakan kay-sat-too?"
Sin Tjie tegaskan.
"Kay-sat-too"
Berarti "pisau yang dilarang dipakai membunuh orang lain."
"Benar,"
Tjoei In Toodjin manggut.
"Pisau belati adalah alat tajam untuk membunuh manusia, akan tetapi sejak contoh dari Hie Hian Soe-tjouw itu, mulai soetjouw tingkat kelimabelas, kami telah mengadakan aturan keras ini. Semenjak itu, apabila ada murid yang hendak menyingkirkan orang jahat, dia Baru boleh lakukan itu setelah peroleh ijin dari ketua, kecuali apabila dia kena dikepung dan terpaksa mesti membela diri. Apabila ada murid yang lancang membunuh, tidak perduli si kurban bagaimana besar kejahatannya, jikalau itu dilakukan tanpa perkenan atau setahu ketua, maka perkaranya itu mesti ditangguhi sampai rapat besar di Boe Tong San yang biasa diadakan setiap dua tahun sekali, diwaktu itu perkara bakal diperiksa dan diputuskan, siapa bersalah, dia mesti bunuh dirinya dengan kay-sat-too itu. Ketika dahulu Bin Soetee hendak bunuh Tjiauw Soehoe, untuk pembalasan sakit hati bagi kakaknya, ia telah peroleh perkenanku, akan tetapi belakangan, setelah ketahuan dia telah dipermainkan oleh orang jahat, apabila setelah itu dia masih membunuh juga Tjiauw Soehoe, maka dia telah langgar aturan kami!"
Imam ini menghela napas.
"Kay-sat-too adalah alat untuk membunuh diri sendiri,"
Ia menambahkan, menjelaskan.
"Umpama ada murid Boe Tong Pay yang menghadapi musuh tangguh, hingga tak sanggup dia melawannya, dan musuh itu masih terus mendesak dia, sampai dia tak bisa loloskan diri lagi, maka dia mesti gunai pisau belati ini, untuk membunuh diri, supaya dengan begitu bisa dicegah rubuhnya nama baik dari Boe Tong Pay. Mengenai Bin Soetee ini, diumpamakan benar dia sudah langgar pesan, akan tetapi dikolong langit ini ada banyak macam senjata lain, mengapa dia demikian tolol hingga dia sudah menggunakan kay-sat-too? Dan kenapa, sesudah dia melakukan pembunuhan, dia masih tidak bawa kabur pisau belatinya itu?"
Mendengar ini, Sin. Tjie dan Wan Djie manggut-manggut.
"Nona Tjiauw, aku akan kasikan kau sepucuk surat,"
Kata Tjoei In Toodjin.
Dari dalam peti, imam ini angkat satu bungkusan, yang ia terus buka, disitu ada sesusun surat-surat tapi ia hanya ambil satu di antaranya, yang ia terus angsurkan kepada si nona.
Wan Djie berpaling kepada Sin Tjie.
Anak muda kita manggut, maka ia lantas sambuti surat itu dari tangan si imam.
Diantara cahaya rembulan, ia baca alamat dan alamat si pengirim.
Itulah surat dari Bin Tjoe Hoa untuk Tjoei In Toodjin, sang soeheng.
Ia lantas tarik keluar suratnya, yang kertasnya ada kertas-tulis dari hotel "Thong Siang"
Di Pangpouw, ia beber itu, untuk dibaca. Huruf-huruf tidak keruan, tata-bahasanya pun kalut. Ia terus baca.
"Tjoei In Toasoeheng yth., Dalam perkara dengan Tjiauw Kong Lee, Baru sekarang siauwtee ketahui bahwa siauwtee telah dipermainkan orang. Sudah begitu, apa celaka tadi malam pun siauwtee punya kaysat-too telah dicuri orang jahat. Siauwtee merasa malu sekali karena kecurian ini. Maka, kalau tak berhasil siauwtee mencari pulang pisau itu, tidak ada muka siauwtee akan menemui pula Toasoeheng. Harap Toasoeheng mengetahui adanya. Hormat dari siauwtee, Bin Tjoe Hoa."
Bergemetar kedua tangannya Wan Djie setelah ia membaca habis, lantas saja ia berbalik untuk menghadapi Bin Tjoe Hoa, buat memberi hormat sambil menjura.
"Bin Siok-hoe,"
Katanya.
"aku telah keliru menyangka kepada kau, aku telah berbuat kurang ajar terhadapmu..."
Lantas ia pun memberi hormat pada Tong Hian Toodjin. Soeheng dan soetee itu lekas-lekas balas kehormatan itu.
"Entah bangsat anjing yang mana sudah curi pisauku ini yang ia pakai membunuh Tjiauw Soehoe,"
Kata Tjoe Hoa kemudian.
"Dia telah tinggalkan pisau ini, terang maksudnya supaya ia bisa timpahkan kedosaan atas diriku."
"Ya, aku semberono sekali, tak sampai aku memikir kesitu,"
Wan Djie akui.
"Aku tadinya kira, setelah Bin Siok-hoe bunuh ayahku, kau sengaja tinggalkan pisau itu, untuk banggakan bahwa kau adalah satu laki-laki sejati."
"Sebenarnya bersama-sama Tong Hian Soeheng, aku telah cari pisau itu kemana-mana,"
Menerangkan Bin Tjoe Hoa.
"sampai sebegitu jauh belum pernah kami peroleh endusan. Belakangan kami terima surat dari Toasoeheng, yang memanggil kami datang ke kota raja, maka itu, kami lantas berangkat menuju kemari; adalah diluar sangkaanku, di sepanjang jalan, kami dipegat dan dirintangi oleh rombongan kau, Nona Tjiauw, sampai tadi kamu telah kepung aku. Syukur ada Wan Siangkong, maka sekarang urusan telah menjadi terang."
Sin Tjie merendahkan diri, tak mau ia menerima pujian.
"Sekarang tunggulah sampai aku sudah sembuh dan urusanku telah dapat dibereskan,"
Kata Tjoei In Toodjin kemudian.
"selama itu, asal ada untung hingga jiwaku masih ada, aku nanti bantu kau, Nona Tjiauw, untuk cari si pencuri kay-sat-too, yang telah bunuh ayahmu itu."
Kembali Wan Djie memberi hormat seraya haturkan terima kasih pada imam ketua dari Boe Tong Pay itu, kemudian ia pulangkan kay-sat-too pada Bin Tjoe Hoa.
Sin Tjie bisa duga, soeheng dan soetee itu bertiga tentu bakal berempuk, untuk mendamaikan urusan mereka; yang mestinya ada satu rahasia untuk pihak luar, hingga tak dapat ia mencampurinya, dari itu ia ajak Wan Djie untuk memberi hormat kepada mereka itu.
"Ijinkan kami undurkan diri!"
Kata pemuda kita, yang terus memutar tubuh, untuk berjalan pergi.
"Djiewie, tunggu dulu!"
Tiba-tiba berseru Tong Hian Toodjin, selagi dua orang itu Baru jalani beberapa ratus tindak. Sin Tjie dan Wan Djie lantas merandak. Tong Hian berlari-lari, untuk menghampirkan.
"Wan Siangkong, Nona Tjiauw,"
Kata imam ini.
"ada satu hal untuk mana aku hendak memohon, tapi lebih dahulu aku harap kamu tidak buat kecil hati..."
"Bicaralah, tootiang,"
Sin Tjie jawab.
"Aku ingin bicara hal kami disini,"
Kata Tong Hian.
"Kami mohon supaya siangkong berdua tidak sampai membocorkannya. Tidak selayaknya aku banyak omong, akan tetapi urusan mengenai keselamatan jiwa soehengku, terpaksa aku majukan juga permohonan ini kepada djiewie..."
Tentu saja Sin Tjie mengerti kebiasaan kaum kang-ouw, untuk tidak banyak omong mengenai rahasia dari masing-masing partai, dan ia pun mengerti, urusan mesti sangat penting maka Tong Hian sampai berikan pesannya itu.
Urusan mereka itu tidak mengenai urusannya sendiri, Sin Tjie tidak berkeberatan untuk berikan janjinya.
Tapi barusan ia saksikan ketangguhan tangan dari Tjoei In Toodjin, ia jadi ketarik.
Ia bersimpati kepada imam itu.
"Sebenarnya saudaramu itu sedang menghadapi urusan besar bagaimana?"
Ia tanya.
"Aku tidak punya pengertian apa-apa akan tetapi suka aku memberikan bantuan sebelah lenganku."
To-ng Hian tahu pemuda ini liehay sekali, yang pasti melebihkan juga toasoehengnya, maka mendengar perkataan itu, ia girang sekali.
"Siangkong sudi membantu kami, ini adalah hal yang untuk memintanya pun kami tidak berani,"
Ia lekas bilang.
"Baik, aku nanti beritahukan dulu toasoeheng."
Dengan lantas Tong Hian lari kepada Tjoei In, untuk menyampaikan tawaran Sin Tjie, hal mana, Tjoei In Toodjin segera damaikan bersama Tjoe Hoa juga.
Agaknya urusan ada ruwet, sampai sekian lama masih belum ada keputusannya.
"Tentu ada keberatannya bagi mereka, tak suka mereka orang luar campur tahu urusan mereka, baiklah aku tidak memaksa,"
Pikir Sin Tjie. Maka ia lantas kata dengan nyaring.
"Djiewie tootiang, saudara Bin ijinkan aku berangkat lebih dulu! Sampai ketemu pula!"
Bersama Wan Djie, ia angkat tangan, untuk memberi hormat, setelah itu mereka memutar tubuh. Tapi, belum sampai mereka bertindak, Tjoei In Toodjin sudah memanggil.
"Wan Siangkong, mari sebentar, mari kita bicara!"
Sin Tjie terima baik undangan itu, ia kembali kepada mereka.
"Wan Siangkong sudi membantu kami, kami bertiga sangat bersyukur,"
Berkata ketua dari Boe Tong Pay itu.
.Akan tetapi baiklah kami menjelaskannya.
Urusan kami adalah urusan pribadi dan bahayanya pun sangat besar, karena mana dengan sesungguhnya, tak ingin kami bahwa Wan Siangkong, dengan tak ada sebab-musababnya, nanti kena kerembetrembet dan mendapat kesukaran karenanya.
Maka itu kami mohon supaya Siangkong jangan jadi kecil hati dan jangan mengatakan kami tidak tahu diri...."
Habis berkata, imam itu menjura dengan dalam. Sin Tjie percaya orang bicara dengan jujur, ia tidak berkecil hati, sebaliknya, ia puji imam ini.
"Jangan menyebut demikian, tootiang,"
Ia bilang.
"Jikalau demikian tootiang bilang, baik, ijinkan kami berlalu. Tapi ingin aku menerangkan, andaikata dibutuhkannya, umpama uang, Baru jumlah sepuluh laksa tail saja, sanggup aku menyediakannya, sedang dalam hal tenaga, dapat aku mengumpulkan saudara-saudaraku dari enam atau tujuh propinsi. Apabila ada surat-surat, tolong tootiang segera kirim itu kepada kami di gang Tjeng-tiauwtjoe."
Mendengar itu, Tjoei In Toodjin berdiam, lalu ia menarik napas panjang.
"Wan Siangkong, sungguh mulia hatimu,"
Kata dia kemudian.
"Sebenarnya urusan kami sangat memalukan, akan tetapi, apabila tetap kami menutupinya, benar-benar kami jadi tidak menghargai sahabat-sahabat sejati. Djiewie, silahkan duduk! Tong Hian Soetee, silahkan kau menjelaskannya."
Tong Hian tunggu sampai itu pemuda dan pemudi telah duduk di batu, ia pun cari sebuah batu lagi, untuk duduk diatasnya.
"Guru kami, Oey Bok Toodjin tak betah berdiam saja, ia gemar sekali pesiar,"
Lantas imam itu mulai dengan keterangannya.
"maka itu kecuali satu kali setiap dua tahun, di waktu rapat besar di Boe Tong Sam, jarang sekali ia berada di gunung. Pada lima tahun yang lampau musim Rontok ada saat untuk rapat besar dua tahun sekali itu, ketika itu soehoe tidak pulang, dia juga tidak mengirimkan surat pemberian tahu. Hal itu adalah hal yang belum pernah terjadi. Semua murid menjadi heran dan berkuatir. Apa yang kau tahu, kali itu soehoe pesiar ke Selatan untuk sekalian mencari bahan obat-obatan. Dengan segera kami memecah diri, untuk mencari, ke Inlam, Kwietjioe, Kwiesay dan Kwietang. Sampai lama, masih kami tidak peroleh kabar suatu apa. Kemudian adalah aku yang bersama Bin Soetee menerima kabar panggilan dari Twie-hong kiam Ban Hong. Dia itu adalah dari partai Tiam Tjhong Pay di Tay-lie. Ketika pada suatu hari kami sampai di rumah Ban Toako, dia bilang ada urusan sangat penting. Berdua kami segera berangkat ke Tay-lie. Ketika pada suatu hari kami sampai dirumah Ban Toako, dia sedang rebah dipembaringan karena luka hebat. Baru setelah kami menanyakan sebabnya Ban Toako terluka, kami mendapat tahu bahwa itu disebabkan urusan guru kami."
Mendengar sampai di sini, Sin Tjie segera ingat keterangannya Thia Tjeng Tiok bahwa Oey Bok Toodjin telah terbinasa di tangannya kaum Ngo Tok Kauw. Diam-diam dia manggut.
"Menurut Twie-hong-kiam Ban Toako itu,"
Tong Hian Toodjin melanjuti.
"ketika hari kejadian itu, dia pergi keluar kota untuk mengunjungi satu sahabatnya, di luar kota itu dengan kebetulan ia saksikan soehoe sedang dikepung oleh sejumlah orang. Antara Tiam Tjhong Pay dan Boe Tong Pay terdapat hubungan yang erat sekali, dari itu Ban Toako tidak bersangsi akan segera hunus pedangnya akan bantui soehoe. Diluar sangkaan, pihak musuh liehay sekali, walaupun berdua, tak dapat Ban Toako berbuat suatu apa, malah segera dialah yang terluka paling dulu, hingga dia rubuh pingsan. Belakangan Barulah ada orang yang tolongi Ban Toako, buat dibawa pulang. Mengenai soehoe, ketenangan rada gelap, tak ada yang tahu ia masih hidup atau sudah mati, tak tahu dia pergi atau dibawa kemana. Ban Toako terluka dipundak dan iganya, bekas cengkeraman kuku-kuku besi, lukanya sangat hebat. Kami semua percaya dia terluka oleh orang-orang Ngo Tok Kauw. Syukur untuk Ban Toako, ia bertemu sama tabib yang liehay, hingga jiwanya ketolongan. Pihak kami. semua tiga-puluh-dua murid, lantas dikirim ke Inlam, untuk cari soehoe, untuk sekalian cari Ngo Tok Kauw guna mencari balas. Sudah empat tahun kami mencari terus-terusan, tidak juga kami peroleh hasil, tetap tak ada kabar tentang soehoe, tidak ada endusan mengenai Ngo Tok Kauw. Setelah lebih dari tiga tahun, kami meninggalkan wilayah Inlam. Barulah paling belakang ini, kami dengar selentingan dari Utara bahwa rombongan dari Ho Tiat Tjhioe, kauwtjoe dari Ngo Tok Kauw, telah datang berbondong ke Pakkhia...."
"Oh...."
Sin Tjie perdengarkan suara tertahan. Tong Hian heran.
"Apakah Wan Siangkong kenal kauwtjoe itu?"
Tanyanya.
"Baru saja kemarin beberapa sahabatku menjadi kurbannya mereka punya tangan-tangan yang jahat,"
Jawab Sin Tjie.
"Aku sendiri turut terlibat dalam pertempuran itu."
"Apakah tak berbahaya sahabat-sahabatmu itu?"
Tong Hian tanya pula.
"Syukur, semua telah bebas dari ancaman malapetaka,"
Sahut Sin Tjie.
"Sungguh beruntung!"
Tong Hian memuji. Lalu ia meneruskan penuturannya.
"Begitu lekas kami dengar warta itu, toasoeheng lantas keluarkan perintah untuk semua murid Boe Tong Pay kumpul di Pakkhia. Adalah karena ini, ditengah perjalanan, kami telah bertemu sama nona Tjiauw serta sekalian saudara-saudara dari Kim Liong Pang. Tentang ini, tak usah aku menceritakannya pula. Toasoeheng sampai terlebih dahulu daripada kita, kebetulan sekali, dia lantas bertemu sama Ho Tiat Tjhioe. Selama pembicaraan, perempuan hina itu mencuci diri bersih sekali, katanya belum pernah dia bertemu sama soehoe. Dimana pembicaraan tidak berjalan lancar, pertarungan menggantikannya. Perempuan hina itu benar-benar liehay. Karena kurang waspada, jidat toasoeheng kena kegaruk gaetan besi tangan kiri dari musuh, lalu tubuhnya terserang lima potong senjata rahasia. Perempuan itu tahu baik, gaetannya, senjata rahasianya, ada racunnya, dia duga toasoeheng bakal tidak hidup lebih lama, sambil tertawa menghina, ia ajak kawankawannya angkat kaki. Toasoeheng mempunyai lweekang yang sempuma, dia juga bekal banyak macam obat untuk punahkan segala rupa racun, malah sebelumnya dia bertempur, dia sudah makan obat-obat pencegahan, maka itu, meskipun dia telah terluka, dia bisa obati dirinya sendiri, hingga karenanya tak usahlah dia nampak bahaya maut."
Tjoei In Toodjin menghela napas.
"Pintoo kuatir dia mendapat tahu pintoo tidak mati,"
Katanya.
"pintoo kuatir dia nanti datang pula untuk ulangi serangannya, dari itu tak berani pintoo ambil rumah penginapan, dengan terpaksa pintoo cari tempat perlindungan ini, untuk sekalian merawat diri. Aku percaya, selang lagi tiga bulan, sisa racun dalam tubuhku akan sudah dapat dibikin bersih. Mengenai guru kami, pintoo percaya bahwa benar soehoe telah terbinasa ditangannya perempuan busuk itu, hingga sakit hati itu tak dapat tidak dibalas. Sayang sekali musuh kami liehay luar biasa. Inilah sebabnya, siangkong, mengapa kami segan merembetrembet sahabat baik dalam urusan kami ini..."
"Wan Siangkong,"
Bin Tjoe Hoa menyela.
"apa sebabnya maka pihakmu pun bentrok sama Ngo Tok Kauw?"
Sin Tjie jawab pertanyaan ini dengan keterangan mulanya ia dan Tjeng Tjeng bertemu sama si pengemis tukang tangkap ular, Tjeng Tiok dilukai oleh si pengemis wanita tua, sampai mereka dikepung didalam balai istirahatnya Pangeran Seng Ong.
"Kalau begitu, Wan Siangkong, permusuhanmu dengan Ngo Tok Kauw tidak hebat,"
Kata Tjoei In Toodjin.
"pun tidak apalah yang pihakmu nampak kerugian kecil. Kau ada sangat berharga, selanjutnya tidak ada perlunya untuk kamu berurusan lebih jauh dengan bangsa telengas itu yang bagaikan ular dan kelabang ganasnya."
Sin Tjie anggap kata-katanya imam ini benar adanya.
Bukankah ia sendiri sedang mengandung sakit hati ayahnya?
Bukankah iapun bertugas berat untuk membantu Giam Ong membela negara?
Memang, urusan kang-ouw itu boleh dikesampingkan dulu, urusan itu sukar menemui penyelesaiannya.
"Tootiang benar,"
Kata ia sambil manggut.
"Di sini aku mempunyai mustika, mari aku coba menolongi tootiang membersihkan racun pada luka-lukamu itu."
Tjoei In Toodjin suka terima pertolongan itu, maka Tong Hian dan Tjoe Hoa segera bantui ia, untuk keluar dari dalam peti-mati itu.
Sin Tjie lantas keluarkan mustikanya, ia tempel itu pada luka-lukanya si imam.
Baru saja satu kali sedot, si imam sudah merasa ringan sakitnya.
Disitu tidak ada arak, untuk dipakai merendam mustika, sebaliknya, Tjoei In membutuhkan mustika itu terlebih jauh, karena terpaksa, Sin Tjie serahkan mustikanya pada Tong Hian seraya ajari bagaimana mustika itu mesti saban-saban direndam dalam arak, untuk bisa sedot bersih semua sisa racun.
"Kalau sudah dipakai, Baru kau nanti antarkan itu kembali padaku,"
Ia pesan.
Tong Hian terima itu sambil mengucap terima kasih, iapun menjura berulang-ulang.
Sampai disitu, mereka berpisahan.
Sm Tjie ajak Wan Djie jalan turun bukit dengan perlahan-lahan.
Baru jalan kira-kira setengah, tiba-tiba Wan Djie berhenti, akan duduk atas sebuah batu, terus ia nangis dengan perlahan.
"Kenapa, nona?"
Tanya Sin Tjie kaget.
"Apakah kau kurang sehat?"
Wan Djie menggeleng kepala, ia susuti air matanya, lantas ia bangun untuk berdiri, akan jalan pula, seperti tidak ada terjadi suatu apa.
Sin Tjie tidak menanya lebih jauh, akan tetapi ia sudah mengerti.
Tentulah si nona bersedih karena musuhnya tak dapat dicari karena "musuh"
Boe Tong Pay berubah menjadi sahabat, dia sangat cerdas, bisa sekali dia menguasakan diri.
Maka ia jadi sangat kagum.
Terus mereka pulang, ketika mereka sampai didalam kota, langit sudah mulai terang.
Nona ini masih muda sekali, toh langsung Sin Tjie antar si nona kepondokannya, sesudah mana Baru ia menuju pulang kerumahnya didalam gang Tjeng-tiauw-tjoe.
Ia gunai ilmu entengkan tubuh, karena ia berjalan diatas genteng dari banyak rumah orang, ia lompati pelbagai gang.
Ia ingin lekas sampai.
Dalam gembiranya, ia telah gunai Bhok Siang Toodjin punya ilmu entengkan tubuh "Pek pian kwie eng,"
Hingga ia bisa bergerak dengan sangat gesit dan cepat.
"Sungguh suatu kepandaian luar biasa!"
Sekonyong-konyong Sin Tjie dengar pujian selagi ia berlari-lari terus. Sekejab saja, ia berhenti berlari, menyusul mana, satu bajangan putih melesat lewat disampingnya sebelah kiri.
"Apakah dapat kau kejar aku?"
Demikian ia dengar pula. Itulah suara si bajangan, yang bicara sambil tertawa. Sedetik saja, bajangan itu sudah lewat tujuh atau delapan tumbak jauhnya. Itulah gerakan tubuh sebat luar biasa.
"Siapakah dia ini?", pikir pemuda kita, yang kaget dan heran dengan berbareng.
"Kenapa ilmu entengkan tubuhnya begini sempurna?"
Karena ia ingin tahu, Sin Tjie batal pulang, ia lantas lompat, untuk mengejar.
Bajangan di depan itu kabur terus, tanpa menoleh lagi.
Biar bagaimana, ilmu entengkan tubuh dari Sin Tjie ada setingkat lebih tinggi, belum terlalu lama, ia dapat menyusul, maka ia melombai, sampai beberapa tumbak, Baru ia berhenti, akan putar tubuh, untuk menunggu.
Bajangan itupun berhenti berlari, ia tertawa haha-hihi.
"Wan Siangkong, kali ini Baru aku takluk padamu!"
Katanya.
Sin Tjie lihat seorang dengan tangan baju panjang, bajunya indah, tubuhnya langsing bagaikan cabang bunga.
Dia itu adalah Ho Tiat Tjhioe, kauwtjoe dari Ngo Tok Kauw, yang dandan serba putih.
Cuma sepatunya berwarna hitam mulus.
Adalah kebiasaan dalam kalangan Rimba Persilatan, orang keluar dengan pakaian serba hitam atau abu-abu, supaya pakaiannya samar-samar ditempat gelap, supaya kalau ada serangan senjata rahasia, tubuhnya bisa seperti menghilang.
Tapi nona ini memakai serba putih, jikalau dia tidak liehay tidak nanti dia dandan secara begini menantang.
Sambil mengawasi, Sin Tjie memberi hormat.
"Ho Kauwtjoe, ada pengajaran apakah darimu untuk aku?"
Tanyanya. Kepala agama itu tertawa manis.
"Ketika kemarin ini Wan Siangkong berkunjung kepadaku, di sana ada banyak sekali orangku, yang seperti merintangi kita, yang memecah pemusatan pikiran kita, hingga karenanya, tak dapat kita berdua mendapatkan keputusan, siapa terlebih tinggi, siapa terlebih rendah,"
Jawab dia.
"maka itu sekarang ini sengaja siauwmoay datang kemari untuk memohon pengajaran beberapa jurus dari siangkong..."
Kembali ia bahasakan dirinya "siauw moay", adik perempuan. Dan habis berkata-kata, ia bersenyum-senyum pula. Ia bicara dengan halus, gerak-gerik tubuhnya pun halus dan menarik hati.
"Orang dengan kepandaian tinggi sebagai kauw-tjoe didalam kalangan pria pun jarang sekali ada,"
Sin Tjie bilang.
"Kagum sekali aku terhadap kepandaian kauwtjoe itu."
Masih si nona tertawa.
"Kemarin ini siangkong perlihatkan kepandaianmu dengan tangan kosong,"
Katanya.
"pukulan-pukulanmu itu telah membawa angin yang menyambar-nyambar, sampai siauwmoay, yang tenaganya tidak cukup, tidak berani menyambutnya. Bagaimana kalau sekarang kita main-main dengan senjata tajam?"
Dan tak tunggu jawaban lagi, nona ini meraba kepinggangnya, begitu lekas ia menarik kembali tangannya, bersama itu tertarik keluar sebatang djoan-pian, ruyung lemas seperti tungkat panjang, yang sebagian batangnya mempunyai gaetan-gaetan halus, maka siapa tak beruntung terkena ruyung itu, mesti -sedikitnya -dagingnya bakal terbetot sepotong demi sepotong.
"Wan Siangkong, inilah yang disebut Kat bwee-pian,"
Kata si nona, yang perkenalkan ruyungnya sebagai ruyung Ekor Kala.
"Diujung semua duri ini ada racunnya, maka itu, harus siangkong berlaku waspada sekali. Sudah siapkah?"
Mau atau tidak, dalam hatinya, Sin Tjie bergidik.
Begitu merdu suara si nona, begitu manis lagunya, demikian cantik-molek orangnya, siapa sangka, sikapnya sebaliknya sangat ganas.
Itulah suatu hal yang sangat bertentangan satu dengan lain!
Tentu saja tak sudi Sin Tjie melayani ular cantik Ini.
Maka ia segera rangkap kedua tangannya, untuk memberi hormat.
"Maaf!"
Katanya seraya ia hendak memutar tubuh, untuk undurkan diri.
Ho Tiat Tjhioe tidak tunggu orang pergi, dengan sebat ia menyabet dengan djoanpian istimewanya itu, berbareng mana, sambaran anginnya sampai terdengar nyata.
Rupanja Sin Tjie telah bisa menduga, maka atas datangnya serangan, kepada dadanya, ia segera mengelak sambil bersenyum, hingga serangan melewati sasarannya, menyusul mana, ia berlompat mundur, untuk lompat terus, hingga sekejab saja, ia sudah jauhkan diri beberapa tumbak.
Ho Tiat Tjhioe pasti merasa ia tidak bakal sanggup susul si anak muda, dari itu ia perdengarkan suaranya yang nyaring.
"Begini saja muridnya Kim Tjoa Long-koen? Sungguh dia membikin merosot derajat gurunya, yang namanya sangat kesohor! Ha-haha!"
Diperhina secara demikian, Sin Tjie melengak "Senantiasa aku mengalah saja, dia rupanya jadi kepala besar?"
Demikian ia pikir.
"Kaum Ngo Tok Kauw ini jumawa sekali! Apakah mungkin aku jeri terhadapnya?"
Karena memikir demikian, Sin Tjie berdiri diam, ketika ini digunai si nona, untuk berlompatan menyusul dia, malah segera, berbareng sama berkelebatnya cahaya putih, nona itu menyambar dengan ruyungnya.
Sin Tjie kerutkan alis.
"Kenapa dia menggunai senjata terkutuk ini?"
Pikir dia.
"Dia begini eilok, kenapa dia tersesat?"
Ia lantas saja berkelit, untuk menyingkir dari serangan itu.
Oleh karena lawan menggunai senjata yang banyak durinya dan beracun juga, Sin Tjie tidak berani melayani sebagaimana biasanya ia melawan musuh bersenjata dengan tangan kosong, tapi juga ia tidak mau lekas-lekas gunai senjatanya, dari itu, ia berkelahi dengan kedua kepalannya dikasi masuk dalam ujung tangan bajunya.
Ia berkelahi dengan senantiasa berkelit dari sesuatu serangan, untuk ini ia andalkan kelincahannya.
Ho Tiat Tjhioe gesit sekali, cepat sesuatu serangannya, akan tetapi kemplangannya, sabetannya, ataupun sodokannya, tidak pernah mengenai sasarannya, malah melanggar ujung baju pun tidak bisa.
Dua-puluh jurus telah dikasi lewat dengan cepat, tidak pernah Ho Tiat Tjhioe peroleh hasil, akhirnya ia jadi sengit nampaknya, hingga ia menegur.
"Kau main berkelit saja, apakah kau masih terhitung satu hoohan?"
Sin Tjie tertawa.
"Bukankah kau hendak bikin panas hatiku, supaya aku rampas senjatamu?"
Ia tegaskan.
"Itulah tak sukar!"
Pemuda ini segera jumput dua potong genteng, yang ia pegang dengan masing-masing sebelah tangannya. Ia masih berkelit saja, tapi kali ini ia memasang mata kepada djoanpian orang itu.
"Lepas ruyungmu!"
Tiba-tiba ia berseru membarengi iapunya dua potong genteng yang dipakai menyambut ujung ruyung yang dipakai menyerang kepadanya, sambil terus ia membetot, sementara kaki kanannya diangkat, untuk dupak kakinya si nona.
Kaget Ho Tiat Tjhioe.
Tidak ia sangka, musuhnya demikian liehay.
Tentu saja ia menjadi repot.
Mana ia hendak tarik pulang ruyungnya, mana ia hendak lindungi kakinya.
Ia lantas lepaskan ruyungnya sambil mundur.
Tapi ia telah berdiri di pinggiran genteng, inilah ia tidak ketahui, tidak ampun lagi ia kejeblos, tubuhnya turut melayang jatuh kebawah!
Sin Tjie cekal ruyung orang, ia tertawa.
"Bagaimana kau lihat muridnya Kim Tjoa Long-koen?"
Tanyanya.
"Bagus!"
Seru si nona selagi tubuhnya jatuh.
Benar-benar dia gesit luar biasa, sebab begitu mengenai tanah -ia tidak rubuh, hanya dapat menaruh kaki -tubuhnya sudah mencelat pula naik keatas genteng!
Menampak ini, meski juga ia sendiri sangat liehay, Sin Tjie kagum tidak kepalang.
"Sekarang aku hendak belajar kenal sama senjata rahasiamu, Wan Siangkong,"
Kata pula si nona, yang sangat bandel.
"Kami dari kaum Ngo Tok Kauw ada punya pasir Tok-siamsee...."
Itulah "pasir kodok beracun"...
Sin Tjie dengar suara orang yang nyaring tetapi empuk, ia tidak dapat lihat orang mengayun tangan, tapi tahu-tahu di hadapannya ada berkelebat sinar-sinar kuning emas, hingga ia jadi sangat kaget.
Ia insyaf, itulah senjata rahasia si nona.
Dalam keadaan terhimpit seperti itu, ia lantas apungi tubuhnya, akan berlompat tinggi!
Segeralah terdengar suara merotok pelahan diatas genteng, itulah senjata rahasianya Ho Tiat Tjhioe, diapunya "pasir pasir"
Yang beracun, sedikitnya belasan biji.
Sebenarnya itu bukannya pasir tulen, itu adalah jarum baja halus, yang digunainya bukan dengan disambitkan.
Jarum-jarum itu termuat dalam satu pipa atau bungbung, yang dia cantel di dadanya.
Untuk kasi kerja itu, cukup asal dengan tangan kanannya dia tepuk pinggangnya dimana ada dipasang alat rahasianya.
Untuk melepaskan jarum ini, iapun tak usah main mengincar lagi, cukup asal dia berdiri menghadapi sasarannya.
Jadi senjata ini beda dengan senjata rahasia lainnya yang memerlukan ayunan tangan.
Maka tidak heran kalau Sin Tjie terkejut.
Memangnya hampir tak ada orang yang ketahui, kauwtjoe dari Ngo Tok Kauw ini mempunyai semacam senjata rahasia.
Akan tetapi pemuda kita juga tidak diam saja, selagi dia berlompat, belum sampai tubuhnya turun pula, tangannya telah diayun, tiga biji caturnya dikasi menyambar kearah jalan darah yang lemah dari si nona.
Dan ia pun sambil membentak.
"Aku tidak bermusuh denganmu, kenapa kau berlaku begini telengas?"
Ho Tiat Tjhioe berkelit untuk dua biji catur, sedang yang ketiga ia sambut dengan tangannya.
"Ayo, sungguh liehay!"
Dia menjerit.
"Sakit tanganku!...."
Lalu, dengan melihat turunnya tubuh, ia balas menyerang dengan biji catur itu.
Sin Tjie lihat serangan itu, tangannya si nona toh diayun.
Ia bisa duga, serangan pasti tak kena.
Tadinya ia niat sambuti biji caturnya itu, tetapi sekicapan mata ia ingat, mungkin tangannya si nona ada racunnya, maka ia lantas gunai tangan bajunya, untuk menyampok, hingga biji catur terlempar kesamping.
Habis menyerang dengan biji catur itu, Ho Tiat Tjhioe tidak berhenti untuk beristirahat, dia hanya masuki sebelah tangannya kedalam sakunya.
Ketika ia sudah tarik itu keluar, ia terus ayun itu.
Maka lantas, belasan tali yang bukan tali sutera atau tali air emas, menyambar kearah kepalanya si anak muda, yang hendak ditungkrap!
"Hebat!"
Pikir Sin Tjie, yang terus waspada untuk orang punya pelbagai alat yang ada racunnya.
Karena ia tidak mau menyingkir, ia ajun djoanpian lawannya, untuk dipakai menangkis serangan tali-tali istimewa itu.
Sebat luar biasa, Ho Tiat Tjhioe tarik pulang tali-talinya itu.
Iapun tertawa.
"Kat-bwee-pian itu ada kepunyaanku!"
Katanya.
"Kau pakai senjataku itu, kau malu atau tidak?"
Teranglah nona ini mengejek. Pun terang juga iapunya lagu-suara orang Inlam asli. Sin Tjie lemparkan djoanpian keatas wuwungan.
"Jikalau aku bisa rampas beberapa lembar talimu itu, maukah kau berjanji yang kau bersama semua orang Ngo Tok Kauw tidak akan grembengi aku pula?"
Tanya dia.
"Inilah bukannya tali,"
Sahut si nona.
"Inilah tali yang terlalai dari galagasi si kawa-kawa. Jikalau kau menghendaki untuk merampas, silakan, kau boleh coba!"
Nona itu menantang, dengan talinja itu ia segera menyambar, kearah pinggang si anak muda.
Sin Tjie segera berkelit, ia niat menyambar benang itu tapi ia batalkan niatnya dengan tibatiba.
Sebab tiba-tiba saja ia ingat pada racun!
Ho Tiat Tjioe melanjuti serangannya, berulang-ulang, atas mana, si anak muda melayani terus dengan unjuk kegesitannya, yaitu ia senantiasa main berkelit, ke samping atau mundur, secara begini ia bisa berbareng perhatikan gerak-gerik orang.
Nona itu hebat menyerangnya, pandai juga pembelaannya.
Selang sepuluh jurus, Sin Tjie berpikir.
"Ngo Tok Kauw gemar memelihara binatangbinatang beracun, antaranya kawa-kawa, sekarang permainan silat tali si nona ini mirip dengan terkaman-terkamannya sang kawa-kawa itu. Bisa sekali ia menelad kawa-kawa, untuk menciptakan ilmu silat ini."
Lantas pemuda ini menunggu ketika lowongan, untuk turun tangan.
Segera datang saatnya Ho Kauwtjoe menyerang secara hebat, apabila si anak muda berkelit ke samping, serangannya gagal, tangannya terlonjor kedepan.
Inilah ketikanya Sin Tjie, sebelum orang sempat perbaiki diri, ia maju, untuk merangsak, guna totok iga si nona.
Ho Tiat Tjhioe tampak ia terancam bahaya, tidak sempat ia menarik pulang senjatanya, maka untuk tolong diri, ia egos tubuhnya kesamping.
Dengan tiba-tiba saja muka Sin Tjie merah sendirinya, ia tidak sangka serangannya ini bakal memberikan hasil, hingga ia pikir, bagaimana ia dapat meletaki tangannya ditubuh satu wanita.
Kesangsiannya ini membuat gerakannya menjadi ayal.
Ho Tiat Tjhioe mendapat ketika karena kesangsiannya lawan, yang ia tak tahu disebabkan apa, ia lantas gunai ketika ini, akan memutar tubuh, akan terus menyambar dengan tangan kirinya, dengan gaetannya.
Sin Tjie terperanjat, lekas-lekas ia tarik pulang tangannya.
Ia batal menyerang terus.
"Bret!"
Demikian satu suara nyaring. Gaetannya si nona menyambar baju si anak muda, baju itu robek! "Ayo!"
Berseru Ho Kauw-tjoe."
Celaka betul! Bajumu pecah, Wan Siangkong! Mari buka bajumu itu, nanti aku bawa pulang untuk dijahiti!...."
Mendongkol juga Sin Tjie menampak orang demikian licik, karena ini, sedang si nona goda ia, dengan cepat ia menyerang dengan tangan kanannya, ujung bajunya dipakai menyampok, tatkala si nona berkelit, ia merangsek, ia ulangi serangannya secara beruntun.
Dalam keadaan terdesak itu, Ho Tiat Tjhioe lompat mundur, lalu ia menyabet dengan talinya, tapi Sin Tjie papaki dengan tangan bajunya yang robek tadi, yang sekarang bergeliwiran, hingga ujung baju itu terlibat tali, setelah itu, ia membetot dengan kaget.
Ho Kauw-tjoe tarik pulang talinya, ia terlambat, malah cekalannya terlepas, talinya jatuh ke tanah, berbareng sama ujung baju, yang pun robek lebih jauh, terputus dari bajunya.
"Bagaimana sekarang?"
Tanya Sin Tjie.
Nona itu tidak menjawab, hanya tangan kanannya dipakai meraba ke bebokongnya hingga dilain saat, ia sudah tarik keluar sebatang Kim-kauw ialah gaetan terbuat atau tercampur emas, hingga kelihatannya bercahaya berkilau-kilau.
Heran juga Sin Tjie menyaksikan alat-senjata orang yang seperti tak habis-habisnya, banyak macamnya.
Ia juga tak mengerti maksud si nona.
"Aku telah rampas talimu. kau tak boleh ganggu aku lebih lama!"
Katanya, untuk memperingati janji.
"Kau bicara sendiri! Kapan aku telah berjanji?"
Balik tanya si nona.
Sin Tjie bungkam.
Memang juga, si nona belum pernah terima baik perjanjian yang ia kemukakan tadi, hanya si nona malah menantang ia untuk coba rampas senjatanya dia itu.
Ia jadi masgul.
Kalau terus-terusan ia melayani, sampai kapan gangguan ini bisa dibikin tamat.
"Hm!"
Akhirnya ia bersuara.
"Aku mau lihat, berapa banyak macamnya gegamanmu!"
Ia memikir untuk rampas sesuatu senjatanya si nona, supaya dia tahu rasa dan akan mundur sendirinya.
"Ini dia jang dinamakan Kim-gia-kauw!"
Kata Ho Kauw-tjoe.
"Kim-gia-kauw"
Berarti "gaetan kelabang emas."
Lantas ia tonjolkan tangan kirinya, yang merupakan gaetan hitam.
"Dan ini Tiat-gia-kauw!"
Ia menambahkan.
"Tiat-gia-kauw"
Berarti "gaetan kelabang besi."
Dan ia menambahkan terlebih jauh.
"Untuk meyakinkan ini macam gaetan, ayahku telah kutungi tanganku yang kiri ini. Ayah bilang, daripada memegang senjata, lebih baik senjata dipasang tetap ditangan. Aku telah yakinkan gaetan ini untuk tigabelas tahun, masih juga belum sempurna. Wan Siangkong, gaetan ini ada racunnya, awas, jangan kau merampasnya dengan tanganmu!"
Sin Tjie lihat orang bicara sambil tertawa, sambil bersenyum berseri-seri.
Tabah sekali nona ini.
Lalu si nona maju menghampirkan, dengan tindakannya pelahan-lahan.
Kuatir orang nanti menggunai tipudaya, Sin Tjie memasang mata, ia berlaku waspada.
Mendadak saja di kejauhan terdengar suara suitan, suara yang sayup-sayup.
Mendadak Sin Tjie, ingat suatu apa, hingga ia berseru dalam hatinya.
"Celaka! Apa mungkin dia ini sengaja tahan aku di sini sedang konco-konconya dia perintah pergi serbu Tjeng Tjeng!"
Tidak ayal lagi, pemuda kita putar tubuhnya, untuk lari pulang. Ho Tiat Tjhioe tertawa berkakakan.
"Baru sekarang kau pulang, kau terlambat!"
Katanya.
Walaupun dia mengucap demikian, nona ini pun berlompat, untuk sambar si anak muda, bebokong siapa ia hajar dengan gaetan besinya.
Masih Sin Tjie lihat gerakan si nona, ia berlompat, berkelit kesamping, sembari membaliki tubuh, sebelah kakinya menyapu.
Ho Kauw-tjoe lompat, akan hindarkan diri dari sapuan itu, tetapi hampir berbareng dengan itu, ia barengi menyerang dengan dua-dua gaetannya.
Itu waktu ada diwaktu fajar, sinar matahari pertama Baru saja mulai muncul, maka diantara sorotannya sinar sang Batara Surya itu, kedua gaetan berkilauan hitam dan kuning emas, memain di depan mukanya si anak muda.
Bercekat hatinya Sin Tjie.
Segera ia dapat kenyataan, ilmu silat dari kepala agama Ngo Tok Kauw ini tidak saja berada di atas dari Tong Hian Toodjin dan Bin Tjoe Hoa.
malah masih di atasannya Ngo-tjouw dari Tjio Liang Pay.
Maka itu, melayani si nona, ia sibuk juga, sebab pikirannya terpecah dua.
Di sana ada Tjeng Tjeng yang keselamatannya ia kuatirkan, meskipun masih belum tentu Nona Hee berada dalam bahaya.
Beberapa kali pemuda ini berniat rampas Kim-gia kauw, senantiasa ia gagal, sebab sambil menarik pulang gaetannya itu, Ho Tiat Tjhioe berbareng melindungi dengan Tiat-gia-kauw, gaetannya yang lain yang dipasang di tangan.
Yang lebih menyulitkan dia, dia kuatirkan racun di kedua ujungnya gaetan yang liehay itu.
Sampai di jurus yang ketiga-puluh, masih Sin Tjie belum berhasil dengan pelbagai dayanya untuk merampas gaetan orang itu, untuk memunahkan Tiat-gia-kauw.
Itu berarti ia mensiasiakan ketika.
Itu pun mungkin membahayakan Tjeng Tjeng andai-kata benar puterinya Kim Tjoa Long-koen diserbu orang-orang Ngo Tok Kauw Akhir-akhirnya, dalam sibuknya itu, pemuda ini menjadi putus asa, maka terpaksa ia lantas raba Kim Tjoa Kiam, untuk hunus itu pedang mustika, yang sejak turun gunung, belum pernah ia pakai secara sungguh-sungguh.
Baru saja tadi ia pakai itu untuk memapas senjatanya Tong Hian Toodjin dan Bin Tjoe Hoa serta beberapa anggauta Kim Liong Pang.
Kapan Ho Tiat Tjhioe tampak senjata ular-ularan itu, dia kaget hingga mukanya pias.
"Bagus!"
Serunya.
"Kiranja Kim Tjoa Kiam terjatuh dalam tanganmu!"
"Ya, habis apakah kau mau?"
Menantang si pemuda, yang terus saja maju menyerang, beberapa kali ia menabas pulang-pergi.
Ho Tiat Tjhioe sibuk dalam sekejab.
Terpaksa ia main mundur saja, tak sempat ia membalas menggaet, sedang tadi, ia ada leluasa merangsak lawannya ini.
Sin Tjie tidak mau mengasi ketika, maka akhirnya datanglah saatnya ia tabas kutung ujungnya Kim gia-kauw, hingga si nona kaget tak terkira.
Lantas si anak muda mengancam.
"Jikalau tetap kau ganggu aku, aku nanti tabas juga Tiat-gia kauw!"
Demikian serunya.
Benar-benar Ho Tiat Tjhioe tidak berani maju pula, ia cuma bisa mengawasi dengan mendelong.
Sin Tjie masuki pedangnya ke dalam sarung, ia putar tubuhnya, terus ia lari pulang.
Ia lari dengan keras sekali, hingga sebentar kemudian, ia telah sampai di mulut gang.
Justru ia sampai di situ, lantas ia saksikan hal yang mengejutkan dia.
Di situ Ang Seng Hay rebah di antara kobakan darah!
Lekas-lekas ia mengangkat bangun.
Syukur sekali, pengiring itu masih bernapas, tapi karena dia terluka pada lehernya, dia tidak dapat bicara, sebagai gantinya omongan, dia lantas menunjuk berulang-ulang ke dalam rumah.
Sin Tjie pondong tubuh orangnya itu, untuk dibawa masuk.
Kapan ia sampai di dalam, rumahnya menjadi kacau tidak keruan-macam.
Kursi dan meja terbalik-balik, rusak, rusak juga daun-daun pintu dan jendela, begitupun perabotan lainnya.
Itulah bukti dari bekas pertempuran hebat, bekas serbuan membabi-buta.
Dengan hati berkuatir, Sin Tjie robek tangan bajunya, untuk balut lukanya Seng Hay, untuk mencegah darah keluar terus, habis itu ia lari kesebelah dalam.
Pemandangan di sini tak kurang hebatnya, kerusakan terdapat pada segala bagian.
Paling hebat adalah ketika ia tampak Ouw Koei Lam dan Thia Tjeng Tiok pun rebah dilantai dengan masing-masing sedang merintih.
"Apakah sudah terjadi?"
Tanya Sin Tjie.
"Nona Tjeng Tjeng, Nona Tjeng Tjeng..."
Kata Koei Lam dengan susah.
"Dia dibawah lari orang-orang Ngo Tok-Kauw!..."
Inilah puncaknya kehebatan.
"Mana See Thian Kong dan yang lain-lain?"
Masih pemuda itu dapat tetapkan hati, untuk menanyakan lain-lain kawannya itu.
Ouw Koei Lam tidak menyahut, dia cuma menunjuk keatas, ke wuwungan rumah.
Sin Tjie tidak menanya lagi, ia lari ke tjimtjhee, untuk lompat naik ke atas genteng, maka di sana, yang paling pertama, ia tampak Tay Wie dan Siauw Koay sedang peluki A Pa, si empeh gagu, kedua binatang itu memekik-mekik tak hentinya, terang mereka lagi tidak berdaya.
Akan tetapi, kapan mereka lihat majikannya, mereka lompat untuk menubruk, suaranya dibuka lebih besar, agaknya mereka hendak mengadu.
Sayang mereka tidak mampu bicara.
See Thiah Kong juga berada diatas genteng, mukanya bersemu hitam, suatu tanda dia pun telah terluka, malah terluka hebat.
A Pa sendiri terluka pada tubuhnya.
Menampak semua itu, Sin Tjie kertak gigi.
Meluaplah hawa-amarahnya.
"Kenapa aku jadi tolol sekali!"
Dia sesalkan diri sendiri.
"Kenapa aku kasi diriku dicantel oleh itu perempuan hina?"
Ketika itu, sang pagi sudah datang, maka semua bujang, yang tadinya lari kalang-kabutan, akan singkirkan diri, mulai pada pulang.
Sin Tjie pondong A Pa dan See Thian Kong, untuk dibawa turun dengan bergantian, kemudian lekas-lekas ia tulis surat untuk Tjiauw Wan Djie, buat minta si nona lekas minta pulang mustika kodok es, guna ia tolongi See Thian Kong semua.
Satu bujang diperintah lekas sampaikan surat itu ditempat penginapan si nona.
Kemudian ia mulai tolongi See Thian Kong dan yang lain-lain, untuk balut luka mereka.
Sembari menolongi, ia tanyakan duduknya kejadian.
Thie Lo Han belum sembuh dari lukanya, ia belum bisa bangun dari pembaringannya, karena ini, ia tidak terlibat dalam pertempuran hebat ini, ia jadi luput dari bahaya, maka cuma ia yang bisa lantas bicara.
"Pada kira-kira jam tiga, Tay Wie dan Siauw Koay adalah yang mulai sadar akan ancaman bahaya,"
Kata tauwto ini.
"Mereka itu bersuara tidak sudahnya, mereka tarik-tarik A Pa untuk naik ke atas genteng. Begitu A Pa naik, ia segera dikepung belasan musuh. A Pa tidak bisa bicara, dari itu, dia tendangi genteng, sebagai tanda untuk kita pun naik untuk sambut musuh. Aku berada di mulut jendela, aku bisa menyaksikan dengan tegas. Karena aku tidak berdaya, aku cuma bisa sibuk sendiri. Aku lihat A Pa bersama saudara-saudara See dan Thia bisa rubuhkan beberapa musuh, akan tetapi jumlah musuh ada terlalu besar, pihak kita akhirnya kena terdesak mundur, Pertempuran pun dilanjuti di bawah, di dalam rumah, di setiap kamar. Di akhirnya, semua orang telah kena dilukai dan rubuh, adalah sesudah itu Tjeng Tjeng kena ditawan dan dibawa pergi. Wan Siangkong, kami menyesal sekali buat kejadian ini...."
"Semua ini disebabkan aku telah kena dipancing musuh,"
Kata Sin Tjie, untuk menghibur.
"Mereka menggunai tipu memancing harimau meninggalkan gunung. Sekarang ini menolong ada paling penting."
Lantas ini anak muda lari ke luar, ke istal, untuk tuntun keluar seekor kuda, kapan ia sudah lompat naik ke bebokong kuda itu, ia kabur ke luar kota.
Ia menuju langsung ke itu rumah luar biasa, balai istirahat dari Pangeran Seng Ong.
Begitu ia sampai, ia lompat turun dari kudanya, setelah tambat binatang itu di sebuah pohon, ia lari ke depan rumah, untuk terus lompat naik ke tembok, akan lompat turun ke dalamnya.
Dia masih tetap murka dan sibuk.
"Ho Kauwtjoe!"
Dia berteriak.
"Ho Kauwtjoe, silakan keluar! Aku hendak bicara denganmu!"
Jawaban tidak ada, kecuali dari kumandang yang nyaring, ketika toh datang juga jawaban, adalah terpentangnya pintu rahasia dari mana lantas merubul keluar belasan ekor anjing yang bengis-bengis, di belakang semua binatang galak itu mengikuti beberapa belas orang.
"Sekarang ini tak dapat aku berlaku sungkan-sungkan lagi,"
Pikir Sin Tjie, yang tidak kenal takut "Aku mesti bikin ambruk dulu semangat mereka!"
Segera juga pemuda ini ayun tangan kirinya, berulang tali, maka sebagai kesudahan dari itu, belasan potong Kim-tjoa-tjoei, bor-bor Ular Emas, menyambar-nyambar kearah rombongan anjing galak itu.
Beberapa ekor lantas saja rubuh binasa begitu lekas mereka keluarkan jeritan, lalu menyusul yang lainnya, sebab semua bor tidak ada yang lolos.
Kemudian dengan sebat, ia lompat kepada bangkai anjing itu, untuk dengan kedua tangannya lekas cabuti semua bornya itu.
Orang-orang Ngo Tok Kauw pada melongo, mereka kaget dan kagum.
Tadinya mereka ini sudah merencanakan, selagi si anak muda bergulat dengan anjing mereka, mereka hendak menyemprot dengan racun mereka di dalam bungbung, mereka tidak nyana, semua anjing mereka bisa dibikin mati dalam tempo demikian pendek.
Apabila kemudian mereka sadar, perasaan mereka yang pertama adalah takut, hingga batal mereka hendak menyerang dengan semprotan, mereka putar tubuh, lantas lari.
Orang yang pertama telah lari sambil menjerit-jerit.
Sin Tjie lompat, untuk nerobos masuk ke dalam pintu rahasia itu.
Beberapa orang telah membalik tubuh, dengan niatan menutup pintu tapi mereka kalah sebat.
Pintu merah terpentang, rupanya bekas tadi dipakai keluar oleh rombongan Ngo Tok Kauw itu, Sin Tjie lihat ini, dengan satu lompatan luar biasa, ia lombai semua musuh, maka ia telah mendahului masuk di pintu rahasia itu.
Itu berarti ia sudah masuk semakin dalam di sarang musuh, di tempat yang berbahaya, akan tetapi justru karena ini, hatinya jadi semakin tenang.
"Ho Kauw-tjoe, apabila kau tetap tidak hendak keluar, maka jangan kau nanti katakan aku keterlaluan!"
Dia berseru pula dengan ancamannya.
Sebagai jawaban, Sin Tjie dengar suara suitan, sebagai kesudahan dari itu, segera tertampak munculnya orang-orang Ngo Tok Kauw, yang terus berbaris dikiri-kanan, habis itu dari sebelah dalam, berlerot keluar belasan orang, yang bertindak dimuka adalah Ho Ang Yo, wanita tua yang jelek itu, dibelakangnya mengapit Phoa Sioe Tat dan Thia Kie Soe berikut Kim-ie Tok Kay Tjee In Go.
Di belakang si pengemis tukang tangkap ular ini Barulah lain-lain orang liehay dari kawanan Ngo Tok Kauw itu.
Sin Tjie mendahului membuka mulut.
Ia berkata.
"Aku tidak kenal tuan-tuan, kitaorang tidak punya dendaman lama, tidak punya permusuhan baru, maka itu, kenapa tuan-tuan sudah datangi rumahku dimana kamu telah lukai sahabatku serta culik adikku? Apakah sebabnya semua itu? Aku minta supaya sukalah Ho Kauwtjoe memberikan penjelasannya!"
"Orang-orang dirumahmu tidak bermusuhan dengan kami, itulah tidak salah,"
Menyahut Ho Ang Yo.
"itu pun sebabnya kenapa kami sudah berlaku murah hati, yaitu tidak ada satu diantaranya yang kami lantas bikin mati! Bukankah kau mempunyai obat mustika? Dengan itu dengan gampang kau bisa sembuhkan mereka. Tapi mengenai itu bocah she Hee? Hm! Dengan cara pelahan-lahan, kami hendak beri pengajaran kepadanya!"
"Dia masih sangat muda, apakah dia telah berbuat terhadap kamu yang membikin kamu mendendam?"
Tanja Sin Tjie. Ia masih belum tahu hubungannya kawanan ini dengan Tjeng Tjeng. Ho Ang Yo tertawa dingin.
"Siapa suruh dia terlahir sebagai puteranya Kim Tjoa Long-koen?"
Jawabnya.
"Hm! Siapa suruh dia bolehnya dilahirkan oleh itu perempuan hina she Oen?"
Sin Tjie terperanjat. Heran dia kenapa wanita tua ini ketahui ibunya Tjeng Tjeng ada seorang she Oen. Karenanya, ia jadi berdiam. Ho Ang Yo tampak orang diam saja, ia menegur, suaranya seram.
"Apa kau mau maka kau datang mengacau di sini?"
"Jikalau kamu ada punya sangkutan sama Kim Tjoa Long-koen,"
Jawab Sin Tjie.
"kenapa kau tidak mau cari dia sendiri untuk balas lakukan pembalasan sakit hatimu?"
"Bapaknya hendak aku bunuh, anaknya juga hendak aku binasakan!"
Bentak Ho Ang Yo.
"Kau ada punya sangkutan dengan dia itu, kau juga hendak aku bunuh!"
Bukan main bengisnya pengemis wanita ini, akan tetapi Sin Tjie tak gentar terhadapnya, malah tak sudi dia berurusan dengannya terlebih lama pula.
"Ho Kauw-tjoe!"
Segera ia teriaki pula Tiat Tjhioe.
"Sebenarnya kau hendak keluar atau tidak? Mau kau lepaskan orang tawananmu atau tidak?"
Dari dalam tetap tidak ada jawaban, hanya ada juga jawaban ialah suara kumandang.
Habis sabarnya ini anak muda, tiba-tiba saja ia lompat maju, akan lewati Ho Ang Yo.
Ia berlompat disampingnya wanita tua yang romannya menyeramkan itu.
Di depan ia ada sebuah pintu.
Dua orang Ngo Tok Kauw di belakang si nyonya tua lompat maju, untuk merintangi, tetaipi Sin Tjie sambut mereka dengan gerakan kedua tangannya ke kiri dan kanan, atas mana dua orang itu terpental rubuh terbanting.
Setelah itu, pemuda ini lompat lebih jauh masuk ke dalam pintu.
Nyata kamar yang Baru dimasuki ini kosong.
Karena ini Sin Tjie lari ke kamar sebelah timur, di situ ia mendupak pintu hingga daunnya menjeblak.
Di dalam sini ada dua anggauta Ngo Tok Kauw sedang rebah, ialah dua orang yang kemarin ini kena dilukai dan sekarang sedang beristirahat.
Melihat si anak muda, mereka kaget hingga mereka lompat berjingkrak.
Sin Tjie tidak perdulikan orang ini, ia pergi ke lain kamar, tidak juga ia ketemukan Ho Tiat Tjhioe atau Tjeng Tjeng, maka ia cari terus di lain-lain kamar atau ruangan.
Ada orangorang Ngo Tok Kauw yang mencoba merintangi tetapi mereka tidak berani menyerang.
Dalam tempo yang pendek, Sin Tjie sudah periksa semua kamar, tetap tidak ada Tjeng Tjeng, tidak ada Ho Tiat Tjhioe, dalam sengitnya, ia ubrak-abrik semua jambangan, guci dan peti, hingga banyak macam binatang beracun, yang dikurung atau dipiara di situ, pada terlepas, lari merayap ke segala penjuru.
Orang-orang Ngo Tok Kauw menjadi kaget, di satu pihak mereka coba menyerang, di pihak lain ada yang menangkap-nangkapi pula rupa-rupa binatang piaraan mereka itu.
Didalam pertempuran kalut seperti itu, pihak Ngo Tok Kauw tidak berani gunai semprotan racun mereka, rupanya mereka takut nanti mencelakai orang sendiri.
"Jikalau benar kau satu laki-laki, mari kita pergi keluar, untuk pertempuran yang memutuskan!"
Phoa Sioe Tat akhirnya menantang. Sin Tjie tahu orang ini mempunyai kedudukan penting, maka ia pikir, baik ia bekuk orang ini, untuk nanti ia korek keterangan dari mulut dia itu.
"Baik!"
Ia menyambut.
"Baik, aku nanti coba belajar kenal dengan tuan punya Tok-seetjiang!"
Dengan satu loncatan dari Pek-pian Kwie-eng, Sin Tjie sudah melesat ke depan pahlawan Ngo Tok Kauw ini.
Phoa Sioe Tat terkejut, inilah ia tidak sangka, tetapi ia sudah lantas memapaki, dengan serangan kedua tangannya saling susul.
"Lain orang takuti tanganmu yang beracun, aku tidak!"
Seru Sin Tjie, yang menghalau diri dari dua sambutan musuh itu.
"Baiik, kau cobalah!"
Seru Sioe Tat juga, sambil ia menyerang pula. Sin Tjie angkat tangan kanannya., untuk menangkis. Girang sekali Sioe Tat melihat tangkisan orang, di dalam hatinya, ia kata.
"Jikalau kita saling serang, mungkin aku sukar menangi kau, akan tetapi sekarang kau berani bentrok tangan dengan tangan, kau seperti cari mampusmu sendiri, maka janganlah kau sesalkan aku!"
Lalu dua-dua tangannya dimajukan dengan tenaga penuh, sepuluh jarinya terbuka, untuk dipakai mencengkeram tangan musuh.
Di saat kedua tangan hampir bentrok satu dengan lain, girangnya Sioe Tat sudah bukan alang-kepalang, karena ia merasa, segera ia akan bikin terluka musuhnya itu.
Akan tetapi justru di saat itu, mendadak ia dapatkan musuh tarik pulang kepalannya, belum sempat ia melihat nyata, ia tampak bajangan berkelebat kesampingnya, hingga ia menjadi kaget, sehingga ia niat berkelit, untuk menyingkirkan diri, kedua tangannya sendiri mendahului ditarik pulang juga.
Tapi ia telah terlambat, ia menjadi kaget ketika tahu-tahu, batang lehernya tercekal keras, dan belum ia sempat berdaya, tubuhnya sudah kena diangkat tinggi!
Orang-orang Ngo Tok Kauw pun kaget, sampai mereka berseru, lantas mereka merangsak, akan tolongi pahlawan mereka, akan tetapi mereka disambut Sin Tjie dengan si anak muda putarkan diri sambil tubuhnya Sioe Tat diputarkan juga, dipakai sebagai alat untuk menangkis serangan!
Semua orang Ngo Tok Kauw merandak, tidak ada satu juga yang berani maju akan serang si anak muda, sebab mereka kuatir nanti mereka melukai "hoe-hoat"
Mereka atau pelindung agamanya. Sin Tjie lantas saja berseru.
"Dimana adanya orang yang kau culik? Lekas bilang!"
Phoa Sioe Tat meramkan mata, tak sudi ia memberikan jawaban. Sin Tjie gunai jeriji tangannya, akan menotok jalan darah di tulang bebokongnya orang tawanannya itu.
"Aduh, aduh!"
Sioe Tat menjerit-jerit.
Tak tahan ia akan sakitnya totokan itu, hingga ia mencoba berontak-rontak.
Sin Tjie membarengi, akan lepaskan cekalannya, akan banting tubuhnya pahlawan musuh itu.
Sioe Tat benar-benar seorang berani dan beradat keras, walaupun ia mesti rebah bergulingan berulang-ulang, tak mau ia memberi jawaban, hingga pemuda kita jadi kewalahan.
"Baik!"
Pikir Sin Tjie.
"Kau tidak sudi bicara, mustahil lain orang tidak?"
Ia segera ingat kepada ilmu totokan jalan darahnya yang liehay, asal dia gunai itu, siapa juga tak akan dapat menyadarkan korbannya.
"Aku mau lihat, kalau mereka sudah ditotok semua, Ho Tiat Tjhioe masih berani ganggu Tjeng Tjeng atau tidak?"
Demikian pikirnya akhirnya.
Orang-orang Ngo Tok Kauw segera maju pula begitu lekas mereka lihat pahlawannya sudah dilepaskan, tetapi justru mereka merangsak, musuh pun menerjang mereka.
Tapi Sin Tjie maju untuk perlihatkan kelincahannya, ia berlompat kesana-sini, untuk kelit sesuatu serangan, dilain pihak, saban ia menyerang, ia membuat sesuatu sasarannya rubuh tak berdaya.
Beberapa orang Ngo Tok Kauw yang cukup liehay masih bisa berkelahi dua-tiga jurus, Baru mereka rubuh, tidak demikian dengan yang kebanyakan, maka dalam tempo yang cepat, sudah kira-kira tiga-puluh orang pada rebah bagaikan mayat.
Ho Ang Yo kaget tidak terkira, ia lantas berseru, ia terus lompat ke pintu, untuk menyingkirkan diri, perbuatannya ini dicontoh oleh sisa kawan-kawannya.
Maka sekejab saja, ruangan yang lebar itu kosong dari anggauta-anggauta Ngo Tok Kauw itu kecuali mereka yang bergeletakan dilantai, yang pada keluarkan rintihan, cuma mata mereka, dengan sorot membenci, mengawasi kearah musuh mereka.
"Adik Tjeng! Adik Tjeng 1"
Sin Tjie memanggil-manggil.
"Adik Tjeng, kau dimana?"
Kecuali sambutan kumandang, tidak ada jawaban.
Dalam penasaran, Sin Tjie ma-sesuatu kamar pula, akan mencari, hasilnya siasia saja.
Ia coba desak tanya beberapa orang Ngo Tok Kauw, mereka ini diam saja bagaikan gagu, mata mereka mereka rapatkan.
Ketika itu, gedung itu telah kosong dari orang-orang Ngo Tok Kauw kecuali mereka ini yang rebah semua.
Saking kewalahan, Sin Tjie keluar dari gedung, akan naik pula atas kudanya, buat kabur pulang.
Ketika ia sampai dirumah di gang Tjeng-tiauw-tjoe, ia dapatkan Tjiauw Wan Djie sudah datang bersama beberapa murid kepala dari Kim Liong Pang, nona itu sudah tolongi See Thian Kong semua, malah lukanya mereka ini pun sudah dibalut rapi.
Sin Tjie periksa sesuatu dari sahabatnya itu, apabila ia dapati mereka sudah bebas dari ancaman malaikat elmaut, Baru hatinya lega, sehingga sekarang ia pikirkan Tjeng Tjeng saja, juwitanya.
Wan Djie coba hiburkan ini anak muda, dilain pihak, ia kirim beberapa anggotanya untuk pergi keempat penjuru kota, guna menyerep-nyerepi kabar.
Selama itu, rumah menjadi sunyi.
Tidak ada orang yang bicara.
Berselang kira-kira setengah jam, mendadak ada suara menggabruk diatas genteng dibetulan tjimtjhee, lantas satu bungkusan besar menggelinding jatuh.
Semua orang menjadi kaget, malah Sin Tjie sangat bergelisah.
Ia lompat pada bungkusan itu, dengan kedua tangannya, ia putuskan tambang ikatannya.
Belum sampai ia buka bungkusan itu, hidungnya sudah diserang bau bacin, bau darah yang amis, hingga hatinya memukul keras, kedua tangannya mengeluarkan keringat dingin.
Begitu lekas bungkusan telah dibuka, disitu tertampak satu tubuh mayat seperti tercincang, karena telah menjadi delapan potong.
Kepala mayat kelihatan hitam mukanya, tetapi rambutnya, kumis dan jenggotnya, tetap putih.
Maka dengan mengawasi sedikit lama saja, Sin Tjie segera kenali Tok-gan Sin-liong Sian Tiat Seng si Naga Sakti Mata Satu!
Bukan main kagetnya anak muda ini, berbareng pun ia jadi sangat gusar karena pemandangan yang menyayatkan itu, tanpa bilang suatu apa, ia loncat naik keatas genteng, kewuwungan, akan memandang kesekitarnya.
Ia masih lihat satu tubuh bagaikan bajangan yang lagi berlari-lari diarah selatan-barat.
Ia menduga pada orang Ngo Tok Kauw yang barusan membawa mayatnya Sian Tiat Seng, tidak ayal lagi, ia lompat turun ketanah, untuk mengejar.
Kali ini ia telah keluarkan kepandaiannya, untuk bisa menyandak orang yang telah lari jauh itu.
Pengejaran dilakukan sampai disuatu tempat dimana ada banyak pepohonan lebat, kedalam situ bajangan tadi lari masuk.
Ada pantangan didalam kalangan kaum kangouw, apabila kita menemui rimba, kita dilarang memasukinya, akan tetapi Sin Tjie langgar pantangan ini, karena keras sangat tekadnya untuk cari Tjeng Tjeng, untuk tolongi Nona Hee itu.
Demikian ia lompat masuk ketempat lebat itu, akan susul orang yang dikejarnya itu.
Tidak ada rintangan untuk anak muda ini, sampai setelah masuk sedikit jauh, ia lihat beberapa puluh orang asik berkumpul merubungi segundukan api tabunan, kelihatannya mereka sedang pasang omong dengan asik sekali, rupanya mereka tidak menyangka bahwa ada orang telah susul kawannya tadi dan sekarang lagi terus mencari mereka.
Seorang kebetulan menoleh ke belakang, kaget ia kapan ia lihat Sin Tjie lagi mendatangi, dalam kagetnya itu, ia lantas berteriak, terus ia bangun berdiri, untuk lari.
Perbuatan ini diturut oleh kawannya, yang pun kaget bukan main, semua lari serabutan.
Sin Tjie menyerbu, ia hajar sesuatu orang yang dapat ia susul, ia menoyor, ia menendang, ia totok mereka, hingga siapa menjadi kurban sasaran, tentulah dia rubuh tak berdaya.
Malah siapa lari sedikit jauh, ia rubuhkan dengan biji-biji caturnya.
Ia bisa berkelahi dengan leluasa, karena hampir tidak ada perlawanan.
Semua musuh itu perdengarkan suara berisik, tapi sedetik saja rimba menjadi sirap, tidak ada lagi satu musuh jua disitu.
Maka Sin Tjie kebuti pakaiannya, ia bertindak keluar.
Diantara korban-korban itu kedapatan Thia Kie Soe, Tjee In Go dan beberapa lagi orang liehay dari Ngo Tok Kauw, yang tidak ada adalah Ho Tiat Tjhioe dan Ho Ang Yo.
"Mungkin Tjeng Tjeng belum terganggu,"
Pikir pemuda ini, yang hatinya mulai tenteraman.
"Aku percaya selanjutnya dia tidak bakal diganggu..."
Lantas setelah itu, pemuda ini berjalan pulang.
Sampai magrib itu hari, orang-orangnya Wan Djie masih belum berhasil memperoleh endusan apa juga.
Atas permintaannya Sin Tjie, Gouw Peng dan Lo Lip Djie antar mayatnja Sian Tiat Seng ke kantor pembesar yang menjadi seatasannya Tok-gan Sin-liong.
Di sini orang tidak berdaya kapan mereka saksikan keadaan mayat, karena bukti terang kepala oppas ini telah menjadi korbannya Ngo-Tok Kauw.
Cuma orang tidak mengerti, bagaimana hebatnya pekerjaannya kawanan orang dari Inlam itu.
Malam, itu Tjiauw Wan Djie tidak pulang, bersama beberapa anggauta Kim Liong Pang ia wajibkan diri untuk merawat dan menjagai orang-orang yang terluka, sebab benar diaorang ini sudah bebas dari ancaman kematian, tetapi diaorang masih lelah, perlu rawatan dan istirahat.
Sin Tjie sangat masgul, sampai ia tak dapat tidur.
Ia duduk di atas pembaringannya, memikirkan daya bagaimana untuk cari Tjeng Tjeng.
Sudah satu jam Sin Tjie duduk diam, pikirannya masih terbenam dalam kepepatan, meski begitu, karena rumah dan sekitarnya sunyi-senyap, ia dapat dengar suara anjing menggonggong dua kali sedikit jauh di dalam gang.
Ia juga dengar suara kentongan, yang suaranya datang semakin dekat, tandanya orang ronda lagi mendatangi.
"Benar-benar kali ini aku terpedaya,"
Pikir ini anak muda.
Ia ingat bagaimana ia telah makan pancingannya Ho Tiat Tjhioe.
Ia anggap itu adalah kekalahannya yang pertama, yang paling besar.
Tiba-tiba saja, dalam kesunyian itu, ia dengar suara ketokan pelahan pada tembok.
"Inilah bukannya Gouw Peng dan Lip Djie jang kembali,"
Ia menduga-duga.
"Ilmu entengkan tubuh dari mereka tidak begini sempurna. Mestinya telah datang musuh..."
Kendati juga ia telah menerka kepada musuh, Sin Tjie tidak bergerak dari tempatnya bercokol, ia duduk terus dengan tenang, melainkan kali ini, ia memasang mata, ia waspada luar biasa.
Segera terdengar suara enteng di luar jendela, seperti suara jatuhnya daun rontok, suara mana disusul sama tertawa pelahan tetapi tedas sekali di malam yang sunyi itu.
Itulah tertawa manis yang diikuti dengan kata-kata yang halus.
"Wan Siangkong, ada tetamu!..."
"Oh, Ho Kauw-tjoe yang datang!"
Sahut Sin Tjie.
"Silakan masuk!"
Baru sekarang pemuda ini berbangkit, untuk nyalakan lilin, sesudah mana ia bertindak ke pintu, untuk membukai, akan sambut tetamunya itu yang cantik-manis, yang nyalinya besar.
Ho Tiat Tjhioe muncul tetap dengan dandanannya serba putih, ia pun bertindak masuk dengan tindakan tenang, air mukanya bersenyum-senyum.
Sekelebatan saja ia telah lihat orang punya seluruh kamar di mana, kecuali pembaringan dan kursi-meja, tidak ada lainnya perabotan lagi.
"Sungguh, Wan Siangkong hidup sangat sederhana!"
Katanya sambil tertawa. Sin Tjie bersenyum, ia tidak menjawab.
"Kali ini aku datang ke mari, Wan Siangkong tentulah telah ketahui maksudnya,"
Kata pula si nona, yang tak ketinggalan tertawanya yang manis.
"Dalam hal itu aku ingin Ho Kauw-tjoe menjelaskannya,"
Sahut pemuda kita.
"Kau kehendaki suatu apa dari aku, aku juga hendak memohon apa-apa dari kau,"
Berkata kepala agama dari Ngo Tok Kauw.
"Dalam satu jurus ini, pertempuran kita menghasilkan tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah...."
Sin Tjie tertawa.
"Aku pikir tak usah kita lanjuti pertempuran kita ini,"
Ia biang.
"Ho Kauw-tjoe sangat cerdik dan kosen, aku sangat mengaguminya."
Kepala agama itu tertawa.
"Ini adalah babak yang pertama,"
Ia menetapinya.
"Kecuali kau musnahkan semua anggauta Ngo Tok Kauw kami, Wan Siangkong, maka di belakang hari masih ada saja kejadian-kejadian yang akan membuat kau sakit kepala "
Kaget juga Sin Tjie. Ia anggap hebat benar kauwtjoe ini. Dialah satu wanita yang tak dapat dipandang ringan. Berani dan bandel! "Ho Kauw-tjoe,"
Katanya kemudian.
"karena kau bermusuh dengan ayahnya sahabatku itu, baiklah kau cari saja ayahnya itu. Kenapa sih kau hendak bikin susah pada seorang anak muda yang belum tahu apa-apa? Laginya ada pri bahasa yang berkata, permusuhan itu lebih baik didamaikan tetapi jangan tambah diperhebat..."
Nona Ho itu tertawa geli hihi-hihi.
"Hal itu baiklah kita bicarakan belakangan,"
Katanya.
"Sekarang aku ingin minum arak!"
"Sungguh aneh orang ini,"
Pikir Sin Tjie yang toh teriaki kacungnya untuk lekas sediakan arak dan sayurannya.
Wan Djie berkuatir, untuk penjagaan, ia lekas dandan untuk menyamar sebagai kacung, kemudian ialah yang keluar membawa nenampan arak serta beberapa rupa sayurannya.
Ho Tiat Tjhioe tertawa apabila ia lihat kacung itu.
"Benarlah, dibawah perintahnya satu jenderal jempolan tidak ada serdadu yang lemah!"
Katanya.
"Kacung Wan Siangkong saja begini hebat tampangnya!"
Sin Tjie tidak meladeni, ia hanya isikan dua cawan.
"Silakan!"
Ia mengundang. Ho Tiat Tjhioe angkat cawannya, ia tenggak isinya, lalu ia minum pula, hingga ia keringkan dua cawan beruntun.
"Wan Siangkong tidak memberi muka kepadaku dengan tak sudi minum arakku,"
Kata dia sambil bersenyum.
"siauwmoay sendiri sebaliknya sangat lancang dan bernyali besar...".
"Arak kami tidak ada racunnya,"
Kata Wan Djie, yang tak dapat mengendalikan diri untuk tidak turut bicara.
"Bagus, bagus!"
Ho Kauwtjoe tertawa pula.
"Sungguh satu pengurus rumah muda yang cerdik! Mari keringi!"
Ia minum pula araknya.
Sin Tjie minum, untuk menemani.
Diantara terangnya sinar lilin, pemuda kita lihat sepasang mata yang tajam dari kepala agama Ngo Tok Kauw itu, satu wajah yang eilok, sepasang sujen yang manis sekali, hingga ia berpikir.
"Diantara nona-nona yang aku kenal, mengenai kecantikan A Kioe adalah yang nomor satu, Siauw Hoei ada manis dan polos, Wan Djie terbuka dan cerdas. Tjeng Tjeng benar berandalan, akan tetapi terhadap aku, ia tulus dan lemah-lembut. Maka sungguh aku tidak sangka, disebelah mereka semua, masih ada ini satu kauwtjoe yang eilok bagaikan bunga-bunga toh dan lie yang indah-permai tetapi yang hatinya berbisa bagaikan ular dan kala! Benar-benar, dikolong langit yang luas ini, orang aneh, orang luar biasa ada dimana-mana!"
Ho Tiat Tjhioe lihat orang awasi dia, ia diam saja, ia melainkan bersenyum. Adalah selang sekian lama, Baru ia buka mulut pula.
"Wan Siangkong,"
Katanya.
"dengan sesungguhnya siauwmoay takluk sekali untuk siangkong punya kepandaian ilmu silat. Turut apa yang aku dengar, gurumu itu, Kim Tjoa Long-koen, tidak punyakan ilmu menotok jalan darah tiam-hiat-hoat seliehay kau ini. Apa mungkin siangkong ada punya lain guru lagi?"
"Kau benar. Aku masih punyakan dua guru lainnya,"
Sin Tjie jawab dengan jujur.
"Ehm! Siangkong telah gabung kepandaiannya tiga guru, pantas kau jadi liehay begini!"
Memuji nona itu.
"Siangkong, malam ini aku datang mengunjungi kau, maksudku yang utama adalah untuk minta berguru kepadamu..."
Sin Tjie benar-benar heran.
"Aku tidak mengerti, kauwtjoe,"
Sahutnya.
"Aku mohon kauwtjoe memberi penjelasan kepadaku."
Ho Tiat Tjhioe tertawa.
"Wan Siangkong,"
Katanya.
"apabila kau tidak cela siauwmoay punya bakat tolol, aku minta sukalah kau terima aku sebagai muridmu."
Sin Tjie tertawa bergelak-gelak.
"Ho Kauwtjoe ada ketua dari satu perkumpulan besar, kepandaian kauwtjoe sudah sangat liehay, cara bagaimana kau boleh berguyon denganku?"
Tanyanya.
"Jikalau kau tidak ajarkan aku ilmu menotok jalan darah,"
Kata kepala agama itu.
"habis apa itu beberapa puluh orangku yang sekarang sedang rebah tidak berdaya mesti diantapkan saja jiwa mereka melayang?"
Baru sekarang kauwtjoe ini omong dengan jelas.
"Asal kau antarkan pulang sahabatku itu dan kau suka berjanji untuk selama-lamanya tidak mengganggu pula pada pihakku, tentu sekali aku suka menolong mereka,"
Sahut Sin Tjie, yang pun omong terus-terang.
"Ini jadinya berarti, kau tak sudi terima semacam murid sebagai aku ini?"
Tegaskan Ho Tiat Tjhioe.
"Pelajaranku masih belum sempurna,"
Jawab Sin Tjie dengan merendah.
"Sebenarnya aku masih hendak mencari guru pula, maka bagaimana aku berani menerima murid? Kauwtjoe, mari kita omong dengan terbuka, mari kita menghabiskan urusan kita dengan baik, kita lupakan yang sudah lewat. Kau akur bukan?"
Kauwtjoe itu tertawa.
"Aku nanti antarkan sahabatmu itu, kau nanti tolongi orang-orangku!"
Katanya.
"Urusan di belakang hari, kita nanti lihat saja!"
Menampak orang tetap tak sudi berdamai, Sin Tjie mendongkol juga.
"Kamu dari Ngo Tok Kauw boleh malang-melintang di Selatan, tetapi aku orang-orang gagah dari tujuh propinsi, mustahil kami jeri terhadapmu!"
Demikian pikir ia. Karena memikir demikian, pemuda ini cuma angkat kedua tangannya, ia tidak bilang suatu apa. Ho Tiat Tjhioe berbangkit sambil tertawa manis.
"Aha, Wan Toa-bengtjoe kami gusar!"
Katanya. Lantas ia pun angkat kedua tangannya, untuk liam-djim, memberi hormat. Masih ia tertawa hihi-hihi ketika ia menambahkan.
"Baik, baik, di sini aku menghaturkan maafku."
Sin Tjie membalas hormat, tapi hatinya tetap tak senang. Ia sangat tak setuju tindaktanduk lawan itu.
"Besok aku nanti antarkan sahabatmu she Hee itu,"
Kata Tiat Tjhioe kemudian.
"setelah itu aku nanti undang kau, tuan, untuk kau tolongi orang-orangku."
"Aku beri janjiku,"
Sin Tjie bilang.
Tiat Tjhioe menjura, lalu ia membaliki tubuh.
Ia tidak mau loncat naik keatas genteng, ia menindak ke pintu depan, maka Sin Tjie mesti antar dia, untuk mana ia perintah kacungnya nyalakan lilin dan membukai pintu.
Wan Djie mengikuti di belakang mereka itu.
"Wanita ini sangat licin,"
Pikirnya.
"mungkin dia sembunyikan orang-orangnya diluar rumah, ia pancing Wan Siangkong untuk kemudian dibokong, Nanti aku periksa dulu!"
Karena memikir begini, ia antap orang jalan terus, ia kasi dirinya ketinggalan, lantas ia sembat tempuling Ngo-bietjie, dengan bawa itu ia loncat naik keatas genteng, akan hampirkan tembok diujung mana ia sembunyikan diri, untuk memasang mata keluar.
Dimuka pintu ada sebuah joli, tukang gotongnya empat orang, mereka ini sedang berdiri menantikan di muka joli.
Kecuali mereka itu, tidak ada orang lain pula.
Dengan kelincahannya, dengan ati-ati, Wan Djie keluar dari tempat sembunyinya, akan dengan diam-diam hampirkan joli dari arah belakang, setelah datang dekat, ia pegang ujung gotongan, untuk angkat dengan pelahan-lahan.
Ia merasai angkatan yang enteng sekali, itu artinya tidak ada orang lain di dalam joli, maka hatinya menjadi lega.
Benar ketika ia hendak undurkan diri, pintu depan telah dipentang, kacung membawa obor yang terang sekaili.
Sin Tjie bertindak mengantar tetamunya yang istimewa itu.
Mendadak saja nona Tjiauw mendapat satu pikiran.
"Dia tidak sudi berdamai, ini berarti, di belakang hari, kesulitan masih banyak sekali,"
Demikian pikirnya.
"Kenapa aku tidak mau kuntit dia, untuk ketahui di mana dia bersarang? Dengan ketahui tempat sembunyinya, apabila kemudian dia datang mengganggu pula, Wan Siangkong bisa satroni dia, untuk serbu padanya."
Setelah berpikir begini, tanpa bersangsi pula, Wan Djie batalkan niatnya undurkan diri, sebaliknja, ia nyelusup ke kolong joli, dengan berpegang kedua tangan dan kedua kaki dicantel, ia bergelayutan di kolong joli itu.
Secara begini ia bertindak, untuk balas budinya Sin Tjie.
Joli memakai tenda yang tebal, malam itu pun gelap, tidak ada orang yang lihat sepakterjangnya nona Tjiauw ini.
Keempat tukang joli pun sedang mengawasi pemimpinnya, untuk disambut.
Sambil tertawa manis, Ho Tiat Tjhioe masuk kedalam jolinya, atas mana empat tukang gotongnya segera panggul joli itu, buat dibawa pergi.
Yang luar biasa adalah mereka ini menggotong sambil berlari-lari, umpama kata laksana terbang.
(Bersambung bab ke 21) Heran Wan Djie karena orang gotong joli secara demikian rupa, dari heran, hatinya lantas kebat-kebit, ia berkuatir juga sedikit.
Ia tidak menduga bahwa keempat tukang gotong itu adalah orang yang bertenaga besar dan berkepandaian silat.
Pun dengan menangkel di kolong joli, ia merasakan hawa yang sangat dingin.
Itu waktu ada di musim dingin, ada salju yang nempel di joli, sekarang salju itu jatuh ke mukanya, disebabkan hawa panas pada mukanya itu, salju lumer menjadi air.
Tidaik berani ia susut mukanya, ia kuatir dengan geraki tangannya, ia akan menerbitkan goncangan hingga orang bisa timbul kecurigaannya.
Perjalanan Baru dilakukan kira setengah jam, mendadak Wan Djie dengar suara bentakan keras, menyusul mana, joli dihentikan dengan tiba-tiba.
Tentu saja keempat tukang joli dan nona di dalamnya dengar bentakan itu.
Segera menyusul bentakan lain, suaranya seorang lelaki.
"Kacung she Ho yang hina-dina, lekas kau keluar untuk terima binasa!"
"Aneh!"
Pikir Wan Djie.
"Aku rasa kenali suara ini....Siapa dia?"
Habis itu, menyusul bentakan lain lagi.
"Kamu kaum Ngo Tok Kauw malang-melintang di dunia, siapa tahu kamu toh ketemu harimu ini!"
"Itulah Bin Tjoe Hoa!"
Ingat si nona Tjiauw.
"Ya, suara yang pertama ada suara soehengnya, Tong Hian Toodjin..."
Segera terdengar tindakan kaki berisik disekitar joli, rupanya ada sejumlah orang yang datang mengurung.
Joli segera dikasi turun, keempat tukang gotongnya lantas hunus senjata.
Wan Djie singkap ujung tenda, untuk mengintai, Di arah timur terlihat lima orang, semua memakai jubah suci, tangan mereka menyekal pedang.
Yang berada di depan nampaknya ada Tong Hian Toodjin.
"Di arah barat, utara dan selatan, tentu ada kawan-kawan mereka..."
Pikir pula nona Tjiauw.
"Rombongan Boe Tong Pay ini rupanya berniat mencari balas untuk guru mereka."
Selagi ia memikir demikian, Wan Djie rasai joli bergoyang. Itulah gerakan disebabkan Ho Tiat Tjhioe telah berloncat keluar dari jolinya itu.
"Bukankah Tjoei In si imam telah mampus?"
Demikian bentakannya pemimpin Ngo Tok Kauw ini.
"Sungguh besar nyali kamu semua? Apakah kamu mau?"
"Kasi tahu kami, sebenarnya dimana adanya guru kami, Oey Bok Too-tiang?"
Tong Hian tanya "Lekas bicara, supaya kau bisa bebas dari siksaan!"
Ho Tiat Tjhioe tertawa terbahak-bahak.
"Guru kamu bukannya bocah cilik umur tiga tahun,"
Katanya.
"Gurumu hilang, kenapa kamu menanyakannya kepadaku? Apa memangnya gurumu itu diserahkan dibawah penilikanku? Baiklah, kita sama-sama kaum Rimba Persilatan, aku nanti bantu kamu mencari dia! Kasihan kalau sampai dia terlantar diluaran, tidak ada yang urus!..."
"Hai, suaranya orang ini benar-benar halus dan merdu..."
Pikir Wan Djie.
"Dia omong keras tetapi manis didengarnya... Tadinya aku sangka dia bicara sama Wan Siangkong dengan lagu-suara dibikin-bikin, untuk menarik hati orang..."
Lalu terdengar suara penuh kemurkaan dari Tong Hian Toodjin.
"Kamu kaum Ngo Tok Kauw telah malang-melintang dimana-mana!"
Demikian suaranya imam ini.
"Sekarang kami hendak bikin kamu insyaf, perbuatan jahat mesti terima pembalasan jahat juga!"
Tong Hian geraki pedangnya, tubuhnya juga, agaknya ia hendak lantas menyerang. Masih Ho Tiat Tjhioe tertawa manis.
"Boe Tong Pay kesohor sebagai partai jantan,"
Katanya.
"tapi buktinya kamu tidak pernah secara terang-terangan mencari aku! Begitulah sekarang, selagi orang aku banyak yang terluka, diam-diam bagaikan hantu-hantu, kamu sembunyi di sini untuk memegat aku!..... Ha-ha-ha-ha!"
Beraneka warna suara tertawanya ketua Ngo Tok Kauw ini, lalu sebelum berhenti suara tertawanya itu, diarah barat utara terdengar satu suara jeritan hebat.
"Aduh!"
Nyatalah nona ini sudah lantas mendahului turun-tangan, karena mana, ia menambah membangkitkan hawa-amarah musuh-musuhnya, maka tidak ampun lagi, orang lantas maju, untuk terjang padanya.
Pertempuran sudah lantas terjadi, Ho Tiat Tjhioe berlima segera kena dikurung.
Sebab kali ini orang-orang Boe Tong Pay telah kumpul dalam jumlah besar, berikut semua anggautanya yang liehay.
Keempat tukang gotong telah terluka dan rubuh saling susul saking hebatnya kepungan, walaupun pertempuran berjalan belum seberapa lama.
Wan Djie mengintai terus, hingga ia bisa saksikan cara berkelahinya orang-orang Boe Tong Pay itu.
Ilmu silat pedang mereka benar-benar liehay.
Ia tetap berdiam di kolong joli, tak mau ia lantas keluar.
Kalau ia muncul, ia kuatir ia nanti disangka ada orangnya Ngo Tok Kauw.
Berkilau-kilaulah kira-kira duapuluh batang pedang yang lagi kurung Ho Tiat Tjhioe, siapa benar-benar liehay.
Dia benar tidak bisa lantas pecahkan kurungan, akan tetapi dia bisa berkelahi dengan baik.
Satu imam muda sangat bernapsu, dia lompat maju kepada si nona, untuk menyerang dengan hebat, tetapi pedangnya ditangkis dengan gaetan, gaetan mana terus mampir di pundaknya.
Maka tidak ampun lagi, ia menjerit dan rubuh pingsan, hingga ia perlu digotong keluar kawan-kawannya.
Kembali lewat beberapa puluh jurus, setelah ini Barulah kelihatan Ho Tiat Tjhioe kena terdesak.
Bin Tjioe Hoa merangsak hebat, sampai mendadak pedangnya menyambar batang lehernya ketua Ngo Tok Kauw itu.
Tiat Tjhioe berkelit, menyusul mana, dua pedang lain membarengi menikam dia.
Maka sibuklah dia dengan tangkisannya.
Tiba-tiba Wan Djie dengar suara nyaring pelahan, lalu serupa barang jatuh menggelinding ke kolong joli, kearah dia.
Dia jumput itu, ialah sebuah anting-anting.
Menampak ini, Wan Djie girang berbareng kuatir.
Ia girang karena ia percaya, kali ini Ho Tiat Tjhioe tidak bakal lolos dari kebinasaan, apabila dia mati, itu artinya Sin Tjie jadi bebas dari gangguan nona liehay ini.
Tapi ia berkuatir andai-kata Tiat Tjhioe terbinasa, nanti nasibnya Tjeng Tjeng tak ketahuan.
Ada kemungkinan sisa orang-orang Ngo Tok Kauw tidak sudi menyerahkannya.
Masih Ho Tiat Tjhioe melakukan perlawanan.
Selang lagi dua-puluh jurus, Barulah ia lelah benar-benar, rambutnya terlepas dan kusut, nampaknya tidak lagi ia mampu membalas menyerang.
Tong Hian Toodjin rupanya bisa lihat nyata keadaannya lawan, sampai di situ, ia perdengarkan seruannya, maka beberapa puluh pedang segera perkeras kurungan mereka.
"Dimana adanya guru kami?"
Tong Hian tanya.
"Dia masih hidup atau sudah meninggal dunia? Lekas bilang!"
Ho Tiat Tjhioe kempit gaetan emasnya, ia pakai tangannya untuk singkap rambutnya yang riap-riapan, setelah itu, mendadak ia tertawa, gaetannya berkelebat, maka di pihak lawan, satu imam telah terluka pula!
Hal ini membikin semua imam jadi gusar sekali, kembali mereka menyerang, secara hebat.
Dalam saat sangat terancam dari Ho Tiat Tjhioe itu, dari kejauhan terdengar suara suitan istimewa, mendengar mana, ketua Ngo Tok Kauw itu tertawa pula.
"Dengar, itulah orang-orangku datang!"
Ia berseru.
"Baik kamu lekas menyingkir, atau kamu nanti dapat susah!...."
Wan Djie dengar ancaman yang berupa nasihat itu.
"Jikalau ini bukannya saat mati atau hidup,"
Pikirnya "mendengar suaranya ini, yang begini halus, orang pasti mengira ia sedang pasang omong dengan kekasihnya..."
Ia kagumi suara orang yang merdu itu. Tong Hian tidak gubris nasihat itu.
"Baik bereskan dulu ini kacung hina!"
Katanya kepada kawan-kawannya. Serangan diperkeras dengan kesudahan Tiat Tjhioe mendapat dua luka enteng pada kakinya. Meski begitu, ia masih melawan dengan tampangnya bersenyum-senyum.
"Jangan kau tertawa saja!"
Seru satu imam muda, yang hatinya tak tega kalau nona begini cantik-manis mesti terbinasa di ujungnya puluhan pedang yang tajam.
"Kau menyerah atau tidak?"
"Eh, tootiang, apa katamu?"
Tanja Tiat Tjhioe, menegasi. Masih ia tertawa. Ditanya begitu, imam muda itu tercengang, selagi ia hendak menjawab, mendadak ada sinar berkelebat.
"Awas!"
Seru Bin Tjoe Hoa.
Sia-sia saja pemberian ingat ini, gaetan emas dari Ho Tiat Tjhioe telah mampir ditubuh si imam.
Selagi kepungan diperkeras, Tong Hian pecah delapan orangnya, akan sambut balabantuannya pemimpin Ngo Tok Kauw itu.
Maka tak jauh dari mereka, segera terdengar suara beradunya pelbagai alat-senjata, suatu tanda, pihak Boe Tong Pay sudah mulai bentrok sama bala-bantuannya Tiat Tjhioe.
Kembali Tong Hian memecah orangnya, guna bantu delapan kawannya itu.
Tiat Tjhioe dapat juga bernapas sedikit karena dipecahnya kekuatan yang mengepung dia, akan tetapi kendati demikian, ia tidak sanggup toblos kurungan, untuk persatukan diri dengan kawan-kawannya itu.
Selagi orang bertempur seru, mendadak terdengar suaranya satu imam.
"Bagus, bagus! Tiang Pek Sam Eng, tiga dorna penjual negara, kamu juga datang?"
"Habis bagaimana?"
Jawab satu suara kasar dan bengis.
"Kau tahu kami liehay, lekas kamu pergi semua!"
Heran Tjiauw Wan Djie mendengar suara si imam, yang menyebut Tiang Pek Sam Eng, ialah tiga jago dari Tiang Pek San.
Mereka bertiga adalah yang mengadu-biru dalam hal membikin celaka ayahnya, mereka sudah ditawan Sin Tjie, oleh ayahnya mereka telah dikirim pada kantor negeri di Lamkhia, maka heran, kenapa mereka itu sekarang datang kemari.
"Apa mungkin mereka itu buron dari penjara? Atau apa mereka sudah sogok pembesar negeri, untuk kebebasan mereka?"
Pikir si nona, yang menduga-duga.
Selama itu, desakan Ngo Tok Kauw menjadi hebat, segera ternyata, pihak Boe Tong Pay kena terdesak.
Maka tidak ayal lagi, Tong Hian Toodjin beri tanda untuk pihaknya mundur.
Dalam hal ini, mereka ini bisa bekerja dengan sempurna, mereka dapat mundur dengan teratur.
Ho Tiat Tjhioe tampak orang mundur dengan rapih, ia cegah pihaknya mengejar, sembari tertawa, ia ejek musuh-musuhnya itu, katanya.
"Jikalau ada waktu yang senggang, lain kali kamu boleh datang pula untuk main-main lagi! Siauwmoay tak dapat antar padamu!..."
Ia menggunakan kata-kata "siauwmoay," -adik yang rendah.
Pihak Boe Tong Pay tidak perdulikan ejekan itu.
Mereka muncul dengan mendadak, mundurnya pun secara cepat sekali.
Maka dilain saat, kesunyian datang kembali, tak lagi ada suara bentrokan senjata, cuma ada siurannya angin malam yang membawa datangnya sang salju.
Wan Djie mengintai pula, ia lihat beberapa puluh orang, yang berkumpul bergunduk
KANG ZUSI -
http.//cerita-silat.co.cc/ gundukan. Seorang perempuan tua, yang dandan sebagai pengemis, kata.
"Pandai sekali mereka itu serep-serepi kabar! Mereka tahu orang-orang kita sedang terluka, mereka datang membokong!"
"Syukur bibi telah dapat lekas mengumpul bala-bantuan,"
Berkata Ho Tiat Tjhioe.
"Lebih syukur keempat loopeh Keluarga Oen dan Tiang Pek Sam Eng pun kumpul bersama, coba tidak, rada sulit untuk memukul mundur mereka itu."
Seorang tua, yang kumis-jenggotnya putih, menanya.
"Apakah pihak Boe Tong Pay itu berserikat sama Hoa San Pay?"
Seorang lain, yang suaranya kasar, menyahuti.
"Kim Liong Pang berkonco sama si binatang she Wan! Kami bertiga saudara telah gunai akal merenggangkan, untuk membunuh orang sambil meminjam golok, maka orang she Wan itu pasti bakal hajar pihak Boe Tong Pay!"
Si orang tua lantas tertawa besar.
"Bagus! Biar mereka saling bunuh!"
Katanya. Mendengar pembicaraan itu, Wan Djie di kolong joli mengeluarkan keringat dingin.
"Hm, jadi tiga jahanam inilah yang telah bunuh ayahku!"
Katanya di dalam hati. Sampai di situ, terdengarlah suaranya Ho Tiat Tjhioe.
"Sekarang mari kita pergi ke istana! Tak usah duduk joli lagi...."
Maka pergilah rombongan orang itu.
Yang jalan di depan ada Ho Tiat Tjhioe bersama Tiang Pek Sam Eng dan empat orang tua.
Tjiauw Wan Djie tunggu sampai orang sudah melalui beberapa puluh tindak, Baru ia keluar dari kolong joli, kapan ia telah melihat ke sekitarnya, ia terperanjat sendirinya.
Nyata ia telah berada diluar Kota Terlarang.
Ia pun bisa lihat rombongan Ho Tiat Tjhioe memasuki istana.
Tidak berani Nona Tjiauw berdiam lebih lama di tempat sunyi itu, dengan berlari-lari, ia berangkat pulang, langsung ke gang Tjeng-tiauw-tjoe.
Ia segera ketemui Sin Tjie, akan tuturkan pengalamannya barusan.
Sin Tjie awasi nona ini sekian lama, akhirnya ia tunjuki jempolnya.
"Nona Tjiauw, besar nyalimu, dan kau cerdik sekali!"
Ia memuji.
Merah mukanya si nona, ia tidak bilang suatu apa, hanya ia beri hormatnya.
Tidak berani Sin Tjie ulur kedua tangannya, akan angkat bangun si nona, ia malah bertindak ke pinggir, untuk tidak terima pemberian hormat itu.
Tapi ia mengerti maksud Nona Tjiauw, maka ia kata.
"Tentang sakit hati ayahmu, nona, kau letaki itu dibahuku, tetapi dengan menjalankan ini kehormatan besar, nona seperti tidak memandang mata kepadaku...."
Kemudian setelah berpikir sedetik, ia tambahkan .
"Tak dapat kita berayal lagi, sekarang juga aku mesti pergi ke istana!"
"Entah bagaimana duduknya, kawanan jahanam itu bisa masuk dalam istana kaisar."
Kata Wan Djie.
"Istana ada terjaga kuat sekali, aku rasa kurang tepat untuk kau memasukinya, Wan Siangkong...."
"Jangan kuatir, tidak ada halangannya,"
Sin Tjie bilang.
"Aku mempunyai suatu barang berharga. Sebenarnya aku sudah mesti gunai itu sedari siang-siang, siapa tahu setibanya di kota raja ini, kejadian-kejadian saling-susul sampai aku tidak punya tempo senggang lagi..."
Ia rogo sakunya, akan tarik keluar sesampul surat.
Itulah suratnya To Djie Koen, pangeran Kioe Ong dari Boan-tjioe, yang dialamatkan kepada Soe-lee Thaykam Tjio Hoa Soen didalam istana, yang tadinja dibawa oleh Ang Seng Hay tapi tak sempat Seng Hay menyerahkannya.
Ia percaya, surat itu bakal ada faedahnya, maka Sin Tjie simpan itu.
Sekarang surat ini hendak digunakan.
"Bagus!"
Menyatakan si nona.
"Aku akan turut kau, Wan Siangkong. Aku nanti menyamar sebagai kacungmu."
Sin Tjie tahu orang hendak membalas sakit hati dengan tangan sendiri, itu artinya kebaktian, tak suka ia merintanginya.
"Baiklah,"
Ia manggut.
Wan Djie lantas masuk ke dalam, untuk bersihkan tubuh dan tukar pakaiannya.
Memangnya pakaiannya sudah kotor sebab tadi ia keluar-masuk di kolong joli.
Ia dandan pantas sekali sebagai seorang kacung.
"Sekarang tak dapat aku panggil kau Nona Tjiauw!"
Kata Sin Tjie sambil tertawa.
"Panggil saja aku Wan-djie,"
Kata si nona, yang pun tertawa."
Mungkin lain orang sangka aku pwee-djie atau wan-djie...."
Namanya si nona memang bersuara sama dengan "wan-djie" -"mangkok". Dan "pwee-djie"
Artinya "cawan."
Sin Tjie bersenyum.
Selagi dua orang ini hendak keluar, mendadak Gouw Peng dan Lo Lip Djie datang masuk, agaknya mereka kesusu.
Mereka bawa warta bahwa penjagaan di kantor ada keras sekali, hingga mereka mesti tunggu sampai datang giliran tukar orang, Baru mereka bisa lemparkan tubuhnya Sian Tiat Seng.
"Bagus""
Kata Sin Tjie sambil manggut.
"Wan Siangkong, soe-moay, apa aku boleh turut kamu?"
Kemudian tanya Lip Djie setelah ia dapat tahu kemana dua orang ini hendak pergi. Wan Djie awasi Sin Tjie, tak berani ia lancang mengajak. Anak muda kita berpikir.
"Memasuki istana ada tindakan berbahaya, penjagaan di sana kuat, di sana pun terdapat banyak orang liehay, untuk lindungi Wan Djie, aku repot, bagaimana lagi aku bisa ajak lain orang?"
Selagi Sin Tjie berpikir, Gouw Peng tarik ujung bajunya Lip Djie, sambil mengedipi, ia bilang.
"Lo Soetee, luka tanganmu Baru sembuh, kesehatanmu belum kembali seluruhnya, maka biarlah Wan Siangkong ajak soemoay saja...."
Mendengar itu, Sin Tjie lalu berpikir.
"Agaknya Gouw Peng ingin mengantapkan aku berada berdua dengan Wan Djie. Ketika kemarin malam aku pergi kepada Tjoei In Toodjin, aku pun berdua saja sama Nona Tjiauw, mungkin itu menyebabkan timbulnya kecurigaan mereka. Aku boleh tak usah kuatir, akan tetapi menyingkirkan curiga ada terlebih baik lagi ."
Maka itu, ia lantas jawab Lip Djie.
"Lo Toako suka turut, itu berarti tambahan pembantu untuk aku. Nah, pergilah kau lekas salin pakaian!"
Lip Djie jadi sangat girang, ia lari ke dalam, untuk mengenakan dandanan sebagai kacung. Gouw Peng turut masuk.
"Lo Soetee, kali ini kau berlaku tolol!"
Katanya sambil tertawa.
"Apa soeheng bilang?"
Lip Djie heran, ia sampai tercengang.
"Wan Siangkong telah melepas budi sangat besar terhadap Kim Liong Pang kita,"
Kata Gouw Peng.
"dan terhadap dia, agaknya soe-moay ada menaruh hati..."
"Jadi kau maksudkan biar soemoay berjodoh dengan Wan Siangkong?"
Lip Djie tegaskan.
"Roh soehoe didunia baka pasti sangat girang,"
Kata pula Gouw Peng.
"Kau hendak turut mereka, apa perlunya?"
Lip Djie sadar.
"Soeheng benar!"
Katanya.
"Ya, aku tak jadi pergi."
"Tapi sekarang, kalau kau batal pergi, kau bakal mendatangkan kecurigaan,"
Gouw Peng bilang.
"Kau boleh pergi, asal kau bisa lihat selatan. Tidak ada urusan yang terlebih baik daripada terangkapnya jodoh mereka!"
Lip Djie manggut, walaupun hatinya tak keruan rasa.
Sebenarnja sudah sejak beberapa tahun lip Djie menaruh hati pada Wan Djie, hanya sebegitu lama belum berani dia mengutarakannya, si nona elok dan manis, suka ia tertawa atau bersenyum, tetapi dalam semua tindakannya, ia bersungguh-sungguh, terutama selama ada urusan ayahnya, nona ini repot sekali, sikapnya keren.
Sementara itu, Lip Djie pun dibikin bersangsi dengan tangannya, yang kutung sebelah, dia malu sendirinya, sampai omong pun ia tidak berani omong banyak sama si nona.
Maka itu, mendengar perkataan Gouw Peng, dia jadi putus asa.
Tapi ia bisa berpikir.
"Wan Siangkong gagah, dengan soemoay dia sembabat sekali, dengan soemoay bisa pernahkan diri untuk hari kemudiannya, mesti aku bergirang untuknya!"
Karena ini, ia keluar dengan hati tetap dan tenang.
Dari dalam peti besi, Sin Tjie keluarkan banyak rupa barang permata, ia membuat satu bungkusan besar, ia minta Lip Djie yang bawa, lalu bersama-sama Wan Djie, ia berangkat ke istana.
Dimuka pintu istana ia ucapkan tanda rahasia pada serdadu pengawal, kapan pengawal tahu, orang ada tetamunya Tjo Thaykam, ia menyambut dengan sangat hormat, ia pimpin tetamunya kedalam, setelah mana, ia undurkan diri, sebab di sini ada satu thaykam muda yang gantikan ia antar Sin Tjie kedalam.
Sampai tiga kali Sin Tjie dapatkan pergantian tiga thaykam, selama itu ia perhatikan jalanan atau bagian-bagian perdalaman istana yang ia lewati.
Paling belakang ia diajak ke taman, dimana ada jalanan yang banyak tikungannya, terus sampai disebuah kamar yang kecil tapi indah perlengkapannya.
Di sini ia dipersilakan duduk dan disuguhkan teh wangi.
Kira-kira dua jam Sin Tjie sudah duduk menantikan, Tjo Thaykam masih belum juga muncul.
Selama itu, orang kebiri yang temani dia juga tidak omong suatu apa kecuali ia mengundang minum teh.
Adalah selang lagi sekian lama, Baru datang satu orang kebiri lain, umurnya kira-kira tiga-puluh tahun.
Ia ini majukan beberapa pertanyaan, dalam katakata rahasia Sin Tjie menyahuti menurut pengajaran Ang Seng Hay.
Habis itu, thaykam manggut-manggut, lantas ia masuk pula kedalam.
Selang tidak lama, thaykam itu balik lagi bersama satu orang kebiri yang usianya tinggi, tubuhnya gemuk, mukanya putih.
Sin Tjie lantas menduga kepada Tjo Hoa Soen apabila ia lihat orang itu berpakaian mewah dan roman agung-agungan.
Inilah orang kedua yang paling berpengaruh di dalam keraton disampingnya kaisar.
"Inilah Tjo Kong-kong!"
Kata thaykam yang tadi Sin Tjie, bersama-sama Lip Djie dan Wan Djie, tekuk lutut untuk memberi hormat. Pemuda ini sedang membawa lelakon, ia mesti bawa sikap wajar.
"Jangan pakai banyak adat-peradatan!"
Kata Tjo Thaykam sambil tertawa.
"Silakan duduk. Apakah Kioe Ong-ya banyak baik?"
"Ong-ya ada baik,"
Sahut Sin Tjie.
"Ong-ya titahkan siauwdjin menanyakan kewarasan kong-kong."
Ketawa orang kebiri yang usianya tinggi itu.
"Beberapa potong tulang tua dari aku masih mendapat perhatiannya Ong-ya!"
Katanya sambil tertawa, tandanya ia puas sekali.
"Ang Lauwko, kau datang dari tempat demikian jauh, entah kau bawa pesan apa dari Ong-ya?"
"Ong-ya hendak tanya kong-kong kalau-kalau kong-kong sudah mengatur sempurna rencana,"
Kata Sin Tjie, yang pakai namanya Ang Seng Hay.
"Junjungan kami bertabeat keras dan kukuh,"
Jawab thaykam itu.
"Beberapa kali telah aku kemukakan usul kepadanya tetapi ia bilang, meminjam angkatan perang untuk menindas pemberontak adalah pekerjaan yang banyak bahayanya kelak di belakang hari. Baginda cuma mengharapkan kedua negara bebaskan diri dari bahaya perang. Baginda bilang, kalau nanti kerajaan Beng sudah dapat tindas huru-hara, dia akan menghaturkan terima kasih pada Kioe Ong-ya."
Sebenarnya Sin Tjie tidak tahu jelas hubungan diantara Kioe Ong-ya dari Boantjioe itu serta ini Thaykam Tjo Hoa Soen.
Ang Seng Hay juga tidak tahu betul, sebab kedudukan Seng Hay rendah sekali, tetapi setelah ia bicara sama orang kebiri ini, ia me-raba-raba, maka itu, goncanglah hatinya.
Jadi orang bersekongkol dan raja hendak dijerumuskan, untuk pinjam angkatan perang Boan, guna dipakai menindas huru-hara didalam negeri.
Terang sudah, Kioe Ong-ya itu, atau bangsa Boan, mengandung maksud tidak baik terhadap Tiong-goan, untuk itu, Tjo Thaykam yang dipakai sebagai pekakas.
Itulah urusan penting sekali, yang bisa mencelakai negara.
Sin Tjie tabah, ia bisa berpikir, akan tetapi karena urusan demi kian besar, wajahnya berubah juga sedikit...!
Tjo Thaykam lihat air muka orang, akan tetapi ia menyangka lain.
Ia menduga Ang Seng Hay tidak puas karena ia belum bekerja sempurna.
Maka lekas-lekas ia kata.
"Saudara Ang, jangan sibuk! Satu jalan tidak memberi hasil, masih ada lain jalan lagi!"
"Ya, ya, kong-kong,"
Sin Tjie bersandiwara.
"Kong-kong cerdik, inilah ongya ketahui, ongya sangat mengaguminya."
Atas pujian itu, Tjo Thaykam tidak bilang suatu apa, ia cuma tertawa. Kemudian Sin Tjie bertkata.
"Ongya menitahkan siauwdjin membawa bingkisan yang tidak berharga, harap kongkong suka terima."
Ia lantas menunjuk ke bebokongnya Lip Djie, maka Wan Djie lantas turunkan bungkusan di belakang saudara seperguruan itu, untuk diletaki di atas meja untuk segera dibuka juga.
Matanja Tjo Hoa Soen bersinar, lantas ia berdiri diam.
Ia biasa hidup di dalam keraton, ia pernah lihat banyak permata mulia, akan tetapi apa yang sekarang ia tampak di depan matanya, membikin ia kagum, karena ini terutama ada untuk ia sendiri.
Serenceng dari seratus butir mutiara saja, yang besar, harganya sudah bukan main besarnya, belum batu pualam dan lainnya, yang banyak sekali.
Yang aneh adalah singa-singaan dari batu hoeitjoei serta sebuah bola dari batu mirah merah.
Lantas orang kebiri ini periksa satu demi satu permata itu, ia seperti tidak hendak melepaskannya.
Ia ingin kasi presen pada Sin Tjie tapi ia sangsi akan memberikan yang mana, ia angkat yang satu, ia tukar dengan yang lainnya.
"Baik aku beri hadiah uang saja,"
Akhirnya ia bilang.
"Kenapa ongya menghadiahkan begini banyak barang?"
Katanya, berpura-pura. Sin Tjie pandai berpikir, tahu ia bagaimana harus mainkan peranan.
"Ongya juga tahu Baginda bijaksana dan urusan pinjam tentera ada sulit,"
Katanya.
"akan tetapi ongya percaya betul pada kongkong dan mengharap kong-kong berdaya sebisabisanya."
Bukan kepalang puasnya orang kebiri ini, ia tertawa girang.
"Pergi kamu beristirahat di luar,"
Kemudian ia kata pada Lip Djie dan Wan Djie.
Sin Tjie manggut, maka kedua kacung itu menurut ketika ada thaykam muda yang ajak mereka keluar.
Tjo Hoa Soen sendiri yang menutup pintu, setelah itu, ia cekal tangannya pemuda kita.
"Apakah kau tahu apa syaratnya untuk Ongya kerahkan angkatan perangnya?"
Ia tanya dengan pelahan.
"Aku hendak korek rahasia dari mulutnya, aku mesti buka rahasia padanya,"
Pikir Sin Tjie.
"Kenapa aku tidak hendak ngaco-belo?"
Maka ia lantas jawab.
"Kong-kong ada orang sendiri, tidak ada halangannya untuk aku beri tahu, tetapi urusan ada sangat besar, maka urusan ini kecuali Ongya, cuma kongkong dan aku yang mengetahuinya."
Kedua matanya thaykam itu bersinar. Sin Tjie maju mendekati, ia kata dengan pelahan.
"Aku pikir, walaupun Kioe Ongya hargakan aku, dia tetap ada orang asing, maka itu, biar bagaimana, aku mengharap bantuan kongkong juga, supaya kemudian aku bisa angkat kehormatan leluhurku..."
Tjo Hoa Soen bisa menduga hati orang.
"Tentu dia inginkan pangkat,"
Pikirnya. Maka ia tertawa, ia kata.
"Saudara Ang, kau percayakan saja urusanmu kepadaku!"
Sin Tjie pikir, main sandiwara tidak boleh kepalang tanggung, maka terus ia berlutut, untuk haturkan terima kasihnya. Melihat orang punya kelakuan itu, Tjo Hoa Soen pun pikir.
"Ini orang sangat lincah, dia ada orang kepercayaan Kioe Ongya, aku mesti dapatkan dia sebagai orangku sendiri. Maka ia lantas tanya.
"Ang Lauwtee, kau ada asal mana?"
Asal Kwie-tang,"
Sahut Sin Tjie.
"Jikalau nanti kita sudah berhasil, bagaimana jikalau aku angkat kau menjadi tjongpeng dari Kwietang?"
Tanya dia.
"Kongkong ada baik sekali,"
Kata Sin Tjie, yang kembali haturkan terima kasihnya.
"Terhadap kongkong, tak dapat aku sembunyikan apa-apa. Pikirannya Kioe Ongya adalah..."
Ia berhenti, akan celingukan kekanan-kiri, Baru ia melanjuti, dengan pelahan sekali.
"Aku harap kongkong bisa pegang rahasia, jikalau tidak, jiwaku tidak bakal tertanggung pula..."
"Kau jangan takut, aku jamin padamu,"
Kata thaykam itu. Sin Tjie unjuk roman berhati lega, tetapi ketika ia bicara lagi, ia tetap bicara dengan sangat pelahan. Ia kata.
"Setelah angkatan perang Boan memasuki kota perbatasan, pasti sekali kaum pemberontak akan dapat ditindas. Syarat dari Kioe Ongya adalah supaya sri baginda kerajaan Beng hadiahkan dia semua daerah di Hoopak dan Shoatang kearah utaranya, tapal batas negara adalah sungai Hong Hoo, agar selanjutnya kedua negara jadi negaranegara persaudaraan."
Pemuda kita sudah karang cerita akan tetapi Tjo Hoa Soen percaya, tidak ia sangsi sedikit juga, sebab kesatu ia terima suratnya To Djie Koen, kedua ia telah dibekali banyak barang permata.
Ia tahu, bangsa Boan memangnya liehay.
Sekian lama orang kebiri ini berpikir, lalu ia manggut-manggut.
"Sekarang ini keamanan sedang sangat terganggu,"
Katanya kemudian.
"Turut kabar pagi ini, kota Tong-kwan sudah dipukul pecah pemberontak Lie Giam dan Peng-pou Siangsie Soen Toan Teng telah binasa berkorban, dengan kebinasaannya menteri perang itu, kerajaan Beng mempunyai panglima perang siapa lagi? Memang, kalau tidak sekarang Kioe Ongya bergerak, kota Pakkhia ini tentulah bakal diserbu pemberontak."
Diam-diam Sin Tjie bergirang mendengar Tongkwan sudah jatuh dan Soen Toan Teng, kepala perang kesohor itu, telah terbinasa. Untuk sembunyikan wajahnya, yang bercahaya, ia lekas-lekas tunduk.
"Sebentar malam aku nanti majukan pula usulku kepada Sri Baginda,"
Berkata Tjo Thaykam.
"jikalau dia tetap berkukuh, maka untuk kebaikan negara aku nanti...."
Goncang hatinya Sin Tjie mendengar perkataannya orang kebiri ini.
"Seharusnya kongkong menggunai segala daya dahulu Barulah kongkong turun tangan,"
Ia kata, Tapi keraslah sudah pikirannya Tjo Thaykam.
"Hum! Jikalau Sri Baginda tetap tidak berdaya menindas pemberontakan, terpaksa mesti diangkat satu raja baru!"
Kata dia.
"Kerajaan Beng boleh musna, negara boleh terjatuh ke tangan lain orang, tidak apa, tetapi mustahil kita mesti antari jiwa karenanya?"
"Sebenarnya kongkong mempunyai daya apa?"
Sin Tjie tanya.
"Tetap hatiku apabila aku bisa dapat mengetahui..."
"Sungai Hong Hoo menjadi tapal batas negara ada terlebih baik daripada kerajaan terjatuh ke dalam tangan pemberontak,"
Kata thaykam itu.
"Apabila dia tetap berkeras, apa mungkin..."
Tilbaa saja orang kebiri ini merandak. Ia dapat ingat.
"Meskipun orang ini ada orang kepercayaannya Kioe Ongya, aku toh Baru pertama kali ini bertemu padanya, apa boleh aku beber seluruh rahasia terhadapnya?"
Dengan tiba-tiba, ia tertawa.
"Ang Lauwtee,"
Katanya, melanjuti.
"dalam tempo tiga hari, aku nanti berikan kabar baik pada Kioe Ongya! Kau tunggu saja di sini..."
Thaykam ini lantas menepuk tangan, lantas muncul empat thaykam muda, mereka benahkan barang-barang permata, setelah mana dengan iringi thaykam tua itu, mereka kembali kedalam.
Dilain pihak, empat thaykam kecil lainnya lantas pimpin Sin Tjie serta dua kacungnya ke sebuah kamar disebelah kiri dimana mereka lantas disuguhkan barang-barang santapan sore yang terpilih, karena cuaca pun sudah lantas mulai gelap.
Kemudian lagi, setelah memberi selamat malam, keempat thaykam kecil itu undurkan, diri.
"Tjo Thaykam ini sedang mengatur suatu rencana besar,"
Sin Tjie beritahu kedua kawannya.
"Urusan hebat sekali, sebab ini mengenai keselamatan negara. Kamu berdua tunggu di sini, aku hendak mencari rahasia sekalian untuk cari tahu apa Nona Hee ditahan didalam istana atau bukan..."
"Aku turut kau, Wan Siangkong,"
Wan Djie meminta.
"Jangan, kau tunggu disini bersama Lo Toako,"
Sin Tjie bilang.
"Ada kemungkinan Tjo Thaykam kurang percaya atau hatinya tak tenteram hingga ia bisa kirim orang akan melihat kita."
"Aku kira cukup aku berdiam sendiri di sini,"
Menyatakan Lo Lip Djie.
"Ada baiknya untuk siangkong dapat tambahan satu tenaga."
Sin Tjie lihat Wan Djie sangat bernapsu, ia merasa berat untuk menampik lebih jauh, maka ia manggut.
Setelah itu keduanya pergi ke kamar sebelah dimana berdiam empat thaykam muda yang tadi.
Sebelum mereka tahu apa-apa, Sin Tjie sudah totok yang dua hingga mereka jadi seperti gagu.
Dua yang lain kaget, sampai mereka lompat turun dari pembaringan mereka, mereka mengawasi dengan buka mata lebar-lebar.
Wan Djie keluarkan tempuling ngo-bie-tjie yang tajam-mengkilap, ia ancam itu di dada kedua thaykam ini.
"Asal kamu buka mulut, aku nanti kirim kamu menghadap Goei Tiong Hian."
Kata nona ini, suaranya pelahan tetapi berpengaruh.
Ujung senjata itu mengenai baju sampai terus nempel dikulit dada.
Sin Tjie bersenyum.
Tak ia sangka, dalam keadaan seperti itu, si nona masih bisa guyon.
Goei Tiong Hian adalah thaykam jahat di jaman Kaisar Hie Tjong dan telah terbunuh mati.
Lantas Sin Tjie buka bajunya kedua thaykam itu, untuk ia pakai berdua Wan Djie.
Untuk ia salin pakaian Wan Djie tiup lilin, hingga kamar jadi gelap.
Sin Tjie totok thaykam yang satunya lagi, sedang yang keempat, ia cekal nadinya, lantas ia tuntun keluar.
"Jangan bicara!"
Ia ancam.
"Kau bawa kami kepada Tjo Kongkong."
Thaykam itu tidak berdaya, ia rasai separuh tubuhnya kaku, terpaksa ia tutup mulut, akan antar orang ke kamar thaykam kepala.
Mereka jalan lama juga, beberapa kali mereka nikung, Baru mereka sampai di depan sebuah lauwteng besar.
"Tjo Kong-kong tinggal disana,"
Thaykam ini kasi tahu.
Sin Tjie tidak tunggu orang bicara lebih jauh, segera ia menotok untuk bikin orang kebiri itu tak dapat berkutik, kemudian ia angkat tubuhnya thaykam itu, untuk diletaki di tempat lebat dengan pepohonan bunga.
Kemudian bersama Wan Djie, dengan berindap-indap, ia maju ke lauwteng sekali.
Di tingkat kedua kelihatan api terang-terang.
Selagi Sin Tjie hendak tarik tangan Wan Djie, untuk diajak lompat naik ke atas lauwteng, ia dengar suara tindakan kaki di belakang mereka, lantas ia dengar suara orang menanya.
"Apakah Tjo Kong-kong ada di atas lauwteng?"
"Aku pun Baru sampai. Mungkin kong-kong ada di atas,"
Ia jawab, seraya menoleh ke belakang, akan lihat lima orang lagi mendatangi, seorang yang jalan di depan menenteng sebuah lentera merah.
Lima orang itu dandan sebagai orang-orang kebiri.
Orang yang tadi menanya sedang mendumal.
Mereka jalan dengan pelahan.
Sin Tjie dan Wan Djie tunduk, supaya orang tak lihat muka mereka.
Di waktu melewati pintu, mukanya lima orang itu terkena sinar api berbalik dari daun pintu yang dicat mengkilap.
Sin Tjie yang awas dapat lihat muka mereka, ia terkejut.
Lekas ia tarik ujung bajunya Wan Djie, untuk ayalkan tindakan.
"Itulah Tiang Pek Sam Eng,"
Kemudian Sin Tjie bisiki kawannya setelah lima orang itu mendaki tangga lauwteng. Nona Tjiauw kaget.
"Orang-orang jahat yang membunuh ayahku?"
Tanya dia.
"Jadi mereka sudah jadi thaykam?"
"Sama sebagai kita, melainkan lagi menyamar,"
Sin Tjie bilang.
"Mari kita naik!"
Wan Djie ikuti kawannya ini.
Di lauwteng pertama ada thaykam yang menjaga tetapi mereka tidak merintangi, hingga Sin Tjie berdua pun dapat lewat dengan merdeka.
Di lauwteng kedua, dua thaykam pengantar ajak Tiang Pek Sam Eng masuk dalam sebuah kamar.
Sin Tjie ajak Wan Djie berhenti di luar sebuah pintu kamar itu, hingga mereka dengar orang kebiri yang bawa lentera kata.
"Silakan tunggu di sini, Tjo Kong-kong akan lantas...."
Selanjutnya, suara mereka tidak terdengar nyata.
Habis itu, kedua thaykam itu turun dari lauwteng.
Lantas Sin Tjie tarik tangan Nona Tjiauw, untuk diajak masuk ke dalam kamar itu, ialah sebuah kamar tulis, karena disitu, sekitar tembok ada digantungi gambar-gambar dan pigura-pigura tulisan.
Tiang Pek Sam Eng duduk di tengah ruangan.
Diaorang ini lihat masuknya dua thaykam tetapi diaorang tidak menaruh perhatian.
Sin Tjie dan Wan Djie sengaja jalan kedepan tiga jago dari Tiang Pek San itu, Baru sekarang mereka angkat kepala, akan awasi kedua orang kebiri ini.
Wan Djie, sambil tertawa dingin, lantas menegur.
"Soe Siok-hoe, Lie Siok-hoe, ayahku undang kamu bertiga bersantap!..."
Tiga orang itu kaget apabila mereka kenali nona Tjiauw, malah Lie Kong mencelat berjingkrak.
"Bukan...bukankah ayahmu telah meninggal dunia?"
Tanyanya.
"Benar! Makanya ayah undang siok-hoe bertiga bersantap!"
Sahut Wan Djie. Soe Peng Boen kerutkan alis, dengan mendadak saja ia cabut goloknya hingga menerbitkan suara "Sret!"
Tetapi Sin Tjie berlaku sangat gesit, begitu ia lompat, kedua tangannya telah cekuk masing-masing batang lehernya Peng Boen serta saudaranya, sedang kakinya mendupak bebokong dari Lie Kong, di betulan jalan darah hong-bwee-hiat.
Soe Peng Kong mencoba memutar tubuh, ia jotos dadanya pemuda kita.
Sin Tjie tidak perdulikan jotosan, ia hanya lebih perlukan rangkap kedua tangannya dengan kaget, hingga kepalanya dua saudara Soe saling bentur dengan keras, hingga sekejab saja, keduanya tak sadar akan dirinya.
Tubuhnya Lie Kong pun rubuh.
Wan Djie sangat kagum.
Sebelum ia melihat tegas, Tiang Pek Sam Eng sudah kena dibikin tidak berdaya.
Ia lantas keluarkan senjatanya, untuk tikam dadanya Soe Peng Kong.
Sin Tjie lekas tahan tangan orang.
"Lekas sembunyi, ada orang!"
Katanya berbisik.
Benar-benar di tangga terdengar tindakan kaki.
Dengan sebat Sin Tjie tengteng dua-dua Peng Boen dan Peng Kong, untuk letaki tubuhnya di belakang para-para buku, kemudian ia pondong tubuhnya Lie Kong, untuk bersama Wan Djie pun sembunyi di belakang para-para itu.
Segera setelah itu, muncullah beberapa orang.
"Silakan tuan-tuan menanti di sini,"
Kata satu orang.
"Tjo Kongkong akan segera keluar."
"Kau banyak cape!"
Terdengar satu suara wanita, satu suara yang merdu.
Dua-dua Sin Tjie dan Wan Djie kenali suaranya Ho Tiat Tjhioe, pemimpin dari Ngo Tok Kauw.
Berdua mereka saling memegang tangan dengan keras, tandanya mereka samasama kenali orang she Ho itu.
Sebentar lagi datang pula beberapa orang, mereka ini lantas bicara sama pihak Ho Tiat Tjhioe.
Kembali Sin Tjie terkejut.
"Kiranya empat jago tua Keluarga Oen dari Tjio Liang Pay dari Kietjioe pun datang kemari...."
Pikirnya.
"Rupanya merekalah itu empat orang tua yang tadi malam Wan Djie lihat membantu pihak Ho Tiat Tjhioe, pantas Tong Hian beramai tak sanggup lawan mereka. Apa perlunya mereka datang kemari?"
Baru habis mereka itu bicara, untuk belajar kenal juga, lantas terdengar datangnya Tjo Hoa Soen bersama beberapa orang lainnya lagi -orang-orang kang-ouw, sebagaimana Sin Tjie ketahui ketika ia dengar Tjo Thaykam perkenalkan mereka dengan rombongannya Ho Tiat Tjhioe dan empat jago dari Tjio Liang Pay, di antaranya ada Lu Djie Sianseng.
"Dengan anggauta keluarganya tidak lengkap,"
Pikir Sin Tjie.
"Keluarga Oen tidak lagi bisa berkelahi dengan gunai Ngo Heng Tin. Akan tetapi di sini ada rombongannya Ho Tiat Tjhioe, seorang diri tidaklah sanggup aku melayani mereka...."
"Eh, mana Tiang Pek Sam Eng?"
Tiba-tiba pertanyaan Tjo Hoa Soen.
"Tuan Soe bertiga sudah datang,"
Sahut satu thaykam.
"entah mereka pergi kemana...."
"Coba cari,"
Tjo Thaykam menitah.
Sin Tjie lantas totok tiga jago dari Tiang Pek San, maka umpama kata mereka sadar, tak dapat mereka buka mulut mereka.
Beberapa thaykam, yang diperintah cari Tiang Pek Sam Eng, balik dengan sia-sia, katanya tak dapat mereka cari tiga orang itu.
"Sudahlah, tak usah kita tunggui mereka,"
Kata Tjo Thaykam.
"Mereka sendiri yang siasiakan ketika baik ini, tak dapat mereka sesalkan kita."
Lantas terdengar suara berisik dari digesernya kursi-kursi, tandanya orang mulai duduk berkumpul.
Tjo Hoa Soen batuk-batuk dua kali, seperti ia hendak legakan tenggorokannya.
Sin Tjie pasang kuping.
Ia menduga orang hendak bicarakan urusan rahasia.
"Pemberontak Lie Giam sudah pukul pecah kota Tong-kwan, Peng-pou Siang-sie Soen Toan Teng telah binasa di medan perang,"
Demikian Tjo Thaykam mulai bicara. Beberapa suara terdengar sebagai gerutuan, rupanya ada orang-orang yang kaget mendengar berita perang itu.
"Maka itu,"
Tjo Thaykam melanjuti.
"jikalau kita tidak lekas bertindak, nanti keburu pemberontak merangsak ke Pakkhia ini. Aku telah pikir, apabila tetap Sri Baginda tidak sudi pinjam bantuan tentara asing, guna tindas huru-hara, baiklah kita angkat satu raja lain untuk melindungi Kerajaan Beng..."
"Jikalau begitu, Seng ongya yang harus diangkat!"
Kata Ho Tiat Tjhioe sambil tertawa.
"Betul!"
Tjo Thaykam membenarkan.
"Maka itu aku hendak andali bantuan tuan-tuan untuk tunjang raja yang baru. Mengenai ini, aku yang akan bertanggung jawab, akan tetapi hasilnya, kita beramai yang icipi bersama-sama!"
Nyata semua hadirin setuju sama pikirannya orang kebiri itu, maka tanpa ambil tempo lagi, mereka itu lantas rencanakan pembagian tugas.
"Lagi satu jam,"
Kata kemudian Tjo Thaykam dengan titah-titahnya.
"aku minta keempat loosianseng dari Keluarga Oen nanti bawa saudara-saudara yang boleh dipercaya untuk pergi ke keraton, akan sembunyi di sekitar kamar raja, untuk cegah orang luar memasuki keraton. Aku minta Hoo Kauw-tjoe beramai sembunyi di luar kamar tulis. Nanti Seng Ong sendiri yang menghadap raja, untuk beri nasihatnya yang terakhir."
"Tjioe Taytjiangkoen berkuasa atas tentara,"
Tanya Lu Djie Sianseng;
"dia setia kepada raja; perlu atau tidak untuk lebih dulu singkirkan dia?"
Tjo Hoa Soen tertawa.
"Tjioe Taytjiangkoen itu bersama Hok Siangsie,"
Katanya;
"dengan sedikit tipu-dayaku, sudah aku singkirkan! Ho Kauw-tjoe, cobalah kau berikan penuturanmu...."
Ho Tiat Tjhioe tertawa.
"Siang-siang telah diketahui baik-baik oleh Tjo Kongkong, apabila Seng Ong hendak ditunjang menaiki singgasana kerajaan, Tjioe Taytjiangkoen dan Hok Siang-sie adalah rintangan-rintangan paling besar,"
Berkata dia;
"maka itu siauw-moay telah diberi tugas untuk melumpuhkan mereka. Begitulah selama beberapa hari, siauw-moay sudah perintah orang pergi curi uang negara yang menjadi tanggung-jawab mereka itu. Tentu saja itu adalah kejadian yang paling tidak disukai sri baginda. Kabarnya tadi sri baginda sudah keluarkan perintah memecat dan menangkap kedua menteri itu, untuk perkaranya diperiksa lebih jauh."
Orang banyak itu tertawa riuh, luar biasa kegirangan mereka.
Untuk Sin Tjie, Baru sekarang ia ketahui sepak-terjangnya si bocah-bocah serba merah, jadi mereka itu mencuri bukan karena kemaruk uang, pada itu ada rahasia di belakang layer.
Itulah daya busuk untuk mencelakai Negara.
Tidak heran kalau kaisar Tjong Tjeng kena dikelabui, sebab tindak-tanduk pengkhianat ada licin sekali.
"Nah, sekarang silakan tuan-tuan pergi beristirahat,"
Kemudian kata Tjo Thaykam.
"sebentar lagi aku nanti mengundang berkumpul pula."
Lu Djie Sianseng bersama empat jago Keluarga Oen dan lainnya lantas berbangkit, untuk undurkan diri. Ho Tiat Tjhioe jalan paling belakang.
"Heran, kenapa Tiang Pek Sam Eng tidak hadir!"
Kata dia sesampainya di pintu.
"Mungkinkah mereka pergi ke istana untuk membocorkan rahasia?"
"Ho Kauw-tjoe pandai berpikir,"
Kata Tjo Thaykam.
"Tapi mereka itu ada orang-orang kepercayaan Kioe Oengya, malah paling belakang ini mereka sudah mendirikan jasa besar sekali, untuk mereka berkhianat terhadap Kioe Ongya, rasanya tak mungkin...."
"Apakah jasa besarnya mereka itu?"
Tiat Tjhioe Tanya.
"Mereka telah berhasil mencuri pisau-pusaka dari seorang she Bin dari Boe Tong Pay,"
Sahut Tjo Hoa Soen.
"dengan gunai pisau-pusaka itu, mereka sudah pergi bunuh Tjiauw Kong Lee, ketua dari Kim Liong Pang. Karena ini pastilah kaum Rimba Persilatan di Kanglam bakal saling bunuh sendirinya, hingga kalau di belakang hari kita menyingkir ke Kanglam, keselamatan kita jadi terlebih terjamin..."
Wan Djie telah percaya sembilan bahagian bahwa pembunuh ayahnya mesti ada Tiang Pek Sam Eng, maka sekarang, kepercayaannya itu jadi terpenuhi seluruhnya.
Sin Tjie kuatir nona ini nanti tak dapat kendalikan diri, dengan lancang ia ulur tangannya, akan bekap mulutnya si nona.
Pemuda ini kuatir beradanya mereka di dalam kamar itu nanti diketahui Ho Tiat Tjhioe, sebab ketua Ngo Tok Kauw ini ada sangat liehay, asal orang berkerisik sedikit saja, mungkin dia curiga.
Terdengarlah tawanya Ho Tiat Tjhioe.
"Kongkong sangat cerdik,"
Memuji pemimpin Ngo Tok Kauw itu kepada thaykam.
"Kongkong berdiam di dalam keraton tetapi mengenai sepak-terjang kaum kang-ouw, kongkong ketahuinya dengan jelas."
Tjo Hoa Soen tertawa puas.
"Tentang segala apa di dalam istana, aku ketahui banyak sekali,"
Katanya.
"Di dalam istana, tidak ada satu orang yang tidak kemaruk sama harta dan pangkat, maka siapakah yang bicara tentang pri-kemanusiaan dan kehormatan? Lain adalah sahabat-sahabat kaum kang-ouw! Mereka ini, satu dibilang satu, dua dibilang dua. Begitulah dalam usahaku yang besar ini, aku tidak berdamai sama menteri yang mana juga, aku hanya justru berurusan sama kamu semua, untuk mohon bantuan kamu...."
Begitulah mereka keluar sambil bicara.
Tegang sekali perasaannya Sin Tjie.
Urusan ada sangat penting.
Ia tidak cuma menghadapi urusan golongan kang-ouw saja, sekarang ia menghadapi ancaman untuk Negara.
Apa ia mesti perbuat?
Dalam sesaat itu, tak dapat ia lantas memikir daya yang sempurna.
Wan Djie lihat orang sedang berpikir keras.
"Apa mesti diperbuat terhadap tiga jahanam ini?"
Tanyanya.
"Ingin aku segera membinasakan mereka!"
Nona ini bicara pelahan sekali.
"Baiklah,"
Sahut Sin Tjie.
"Tapi jangan keja mereka keluarkan darah, nanti kita kepergok."
Ia angkat kepalanya Soe Peng Kong, akan tunjuki kedua pilingannya.
"Apakah kau mengerti tipu-pukulan Tjiong kouw tjee-beng?"
Tanyanya.
"Tjiong kouw tjee beng"
Berarti "Lonceng dan tambur berbunyi dengan berbareng". Tjiauw Wan Djie manggut. Meski demikian, Sin Tjie toh petakan cara menyerangnya.
"Ya, begitu,"
Katanya pula, setelah si nona beraksi.
Wan Djie lakukan serangannya hingga ia perdengarkan juga sedikit suara, dengan begitu, tanpa bersuara lagi, binasalah orang she Soe itu.
Maka sehabis itu, dengan tipu-pukulan yang serupa, Wan Djie bikin tamat lelakon hidupnya Soe Peng Boen dan Lie Kong.
Puas hatinya nona ini karena telah berhasil mencari balas dengan tangannya sendiri, dengan tiba-tiba saja ia terharu, sehingga tanpa likat lagi, ia mendekam di pundaknya Sin Tjie untuk menangis dengan menahan suara.
"Sekarang mari kita lekas keluar,"
Sin Tjie mengajak.
"Mari kita lihat kemana perginya Ho Tiat Tjhioe."
Wan Djie angkat kepalanya, dan tangannya juga, dari pundaknya si pemuda, untuk susuti air matanya, lalu tanpa bilang suatu apa, ia ikut pemuda itu keluar dari kamar tulis itu.
Masih mereka dapat lihat Tjo Thaykam dan ketua Ngo Tok Kauw lagi menikung di sebuah pengkolan yang bercabang dua dimana keduanya berpisah, sedang dua thaykam muda, yang membawa lentera, jalan terus di muka Ho Tiat Tjhioe beramai, menuju ke barat.
Sin Tjie berdua Wan Djie terus mengikuti dari kejauhan.
Mereka masih tetap dandan sebagai orang kebiri, hati mereka tenang, sebab mereka tidak kuatir nanti ada yang pergoki, tak takut mereka ada yang kenali andaikata mereka berpapasan dengan lain-lain orang kebiri.
Ho Tiat Tjhioe jalan terus melewati beberapa pekarangan, sampai ia masuk dalam sebuah rumah.
Dengan berani Sin Tjie ajak Wan Djie turut masuk ke dalam rumah itu.
Begitu lekas mereka menindak di pintu, mereka segera dengar cacian nyaring dari Tjeng Tjeng, yang keluar dari sebuah kamar sebelah timur.
Nona itu asyik mencuci-maki Ngo Tok Kauw dan Ho Tiat Tjhioe.
Tanpa sangsi lagi, Sin Tjie memburu ke kamar timur itu, langsung ia nerobos masuk, hingga ia tampak dua thaykam muda sedang layani Tjeng Tjeng masak obat, nona itu sendiri sedang rebah di pembaringan.
Dengan totokannya yang liehay, Sin Tjie bikin kedua thaykam muda mati daya.
Segera Tjeng Tjeng kenali pemuda itu.
"Engko!"
Dia memanggil. Sin Tjie menghampirkan ke pembaringan.
"Bagaimana dengan lukamu?"
Ia tanya.
"Tidak seberapa,"
Sahut si nona.
"Oh, kau pun datang?"
Tanyanya, kapan ia lihat Wan Djie di belakang si anak muda. Nona Tjiauw manggut.
"Apakah lukamu tidak berbahaya, nona Hee?"
Ia Tanya.
"Hum!"
Bersuara Tjeng Tjeng, yang tidak menjawab. Tapi pada Sin Tjie, ia bilang.
"Engko, kalau sebentar Ho Tiat Tjhioe datang, kau hajar padanya!"
Sin Tjie sendiri memikir lain.
"Mereka itu sedang bekerja, untuk sementara baik aku sembunyi dulu...."
Maka ia lekas kata pada si nona.
"Adik Tjeng, sekarang tak dapat aku turun tangan terhadapnya. Baik kau pancing dia supaya dia jelaskan apa perlunya dia culik kau dan membawanya ke istana."
"Apa, istana?"
Tjeng Tjeng tanya.
"Oh, jadinya kau masih belum tahu kau sekarang berada di dalam istana?"
Sin Tjie balik tanya.
Justru itu ada terdengar suara tindakan kaki di luar, karena di situ tidak ada tempat sembunyi, Sin Tjie sambar kedua thaykam, untuk dibleseki ke dalam lemari, ia sendiri, dengan tarik tangannya Wan Djie, segera nyelusup masuk ke kolong pembaringan.
Selagi Tjeng Tjeng melengak, Ho Tiat Tjhioe kelihatan bertindak masuk, wajahnya ramai dengan senyuman.
Di belakangnya ada si uwah jelek.
"Banyak baik, Hee Kongtjoe?"
Tanya dia sambil tertawa.
"Eh, mana orang-orang yang layani kau? Pasti mereka malas!"
"Aku yang suruh mereka pergi!"
Jawab Tjeng Tjeng.
"Siapa kesudian dirawati mereka?"
Tiat Tjhioe tak ambil mumat senggapan itu, ia masih tertawa.
"Adat bocah!"
Katanya, sambil ia bertindak menghampirkan obat.
"Eh, obat sudah matang!"
Ia ambil sepotong kain kecil yang putih meletak seperti salju, ia pakai itu untuk alaskan cangkir perak, lalu ia tuangkan obatnya ke dalam cangkir itu. Habis itu, ia singkirkan saringan itu.
"Inilah obat paling manjur untuk luka-luka,"
Kata dia sambil tertawa pula.
"Jangan kau kuatir, umpama obat ini dicampuri racun, cangkirnya bakal berubah menjadi hitam."
Tjeng Tjeng awasi pemimpin Ngo Tok Kauw ini, hatinya bekerja keras.
Ia girang pertama kali melihat Sin Tjie, menyusul itu hatinya adem karena Wan Djie ada bersama si anak muda, apapula kapan ia tampak Sin Tjie tarik tangan si nona, untuk diajak masuk ke bawah pembaringan.
Sekarang ia hadapi Ho Tiat Tjhioe, ia dapat alasan untuk udal kemendongkolannya.
"Kamu main muslihat, apa kamu kira aku tidak tahu?"
Demikian katanya.
"Muslihat apa sih?"
Tanya Tiat Tjhioe sambil terus tertawa.
"Kamu permainkan aku!"
Kata Tjeng Tjeng.
"Kamu sedang perhina aku yang bersengsara karena tidak punya ayah dan ibu! Kau tidak punya liangsim, setan...."
Sin Tjie dengar itu.
"Dia caci siapa itu?"
Ia menduga-duga.
Wan Djie sebaliknya masgul.
Ia merasa, Tjeng Tjeng sedang menyindir terhadapnya.
Karena masgul, ia sampai menggigil sendirinya.
Sin Tjie rasai gerakan tubuh si nona, tiba-tiba ia mengerti maksudnya Tjeng Tjeng.
Karena ini, ia jadi menyesal untuk Nona Tjiauw.
Ia pun tak dapat bicara, untuk menghibur.
Maka dengan pelahan-lahan, ia tepuk-tepuk pundak si nona.
"Ah, jangan kau bawa adat!"
Kata Tiat Tjhioe sambil tertawa. Ia masih tak tahu hatinya Tjeng Tjeng.
"Sebentar lagi aku akan antar kau pulang."
"Siapa kesudian kau yang antarkan?"
Tjeng Tjeng membentak.
"Apa kau kira aku sendiri tak kenali jalanan?"
Tiat Tjhioe terus tertawa.
"Eh, bocah she Hee!"
Campur bicara Ho Ang Yo, dengan suaranya yang bengis, dengan romannya yang menyeramkan.
"Kau telah terjatuh ke dalam tangan kami, apakah kau kira Ho Ang Yo bisa antap kau pulang secara baik-baik? Di mana adanya ayahmu? Di mana adanya itu perempuan hina yang melahirkanmu?"
Meluap kemurkaannya Tjeng Tjeng karena orang perhina ibunya, ia sambar cawan obat di atas meja kecil, dengan itu ia sambit wanita jelek itu.
Ho Ang Yo berkelit, maka cawan itu, berikut obatnya, mengenai tembok, cawannya hancur, obatnya berhamburan.
Masih ada sedikit air obat, yang muncrat ke mukanya ini uwah, hingga ia jadi gusar.
"Anak celaka, kau tak inginkan lagi jiwamu?"
Ia membentak.
Sin Tjie di kolong pembaringan dengar semua pembicaraan itu, iapun bisa lihat gerakgeriknya Ho Ang Yo, maka ia sudah pikir, asal wanita itu lompat kepada Tjeng Tjeng, ia hendak membarengi hajar kaki orang.
Sebelum si wanita tua lompat, satu bajangan putih telah berkelebat mendahulukan ia, maka kesudahannya, Ho Tiat Tjhioe ada di antara ia dan pembaringan.
"Bibi,"
Katanya nona ini.
"aku telah janjikan si orang she Wan akan antarkan dia ini pulang, tak dapat aku membikin hilang kepercayaan kita."
Ho Ang Yo tertawa dingin.
"Untuk apakah itu?"
Tanyanya.
"Banyak orang kita telah ditotok dia, tanpa dia datang sendiri, mereka tak dapat ditolong,"
Tiat Tjhioe terangkan. Ang Yo berpikir.
"Baik!"
Katanya.
"Kita tidak dapat bikin dia mampus, tapi kita mesti kasi dia merasai kesengsaraan! He, bocah she Hee, kau lihat aku, aku cantik atau tidak?"
Tjeng Tjeng perdengarkan suara kaget, di matanya, roman wanita ini jadi semakin jelek, sedang muka itu dibawa semakin dekat kepadanya, hingga ia bergidik.
"Bibi, buat apa takut-takuti dia?"
Kata Tiat Tjhioe. Suaranya pemimpin ini menyatakan hatinya tidak puas.
"Hm!"
Bersuara si jelek itu.
"Ya, bocah ini cakap sekali, kau hendak lindungi dia!..."
"Apa kau bilang?"
Mendadak Ho Tiat Tjhioe jadi gusar.
"Apakah kau sangka aku tak tahu hatinya satu pemudi?"
Ho Ang Yo baliki.
"Aku juga pernah muda! Kau lihat, inilah aku di masa dahulu!"
Ia merogo ke dalam sakunya di mana segera terdengar suara berkeresekan, entah barang apa itu yang dia rogo. Dua-dua Tiat Tjhioe dan Tjeng Tjeng kaget, keduanya berkuatir.
"Kamu merasa aneh, bukankah?"
Kata Ho Ang Yo sambil tertawa, tertawa meringis.
"Haha-ha! Ha-ha-ha! Aku pun dulu pernah cantik!"
Ia rogo keluar tangannya, ia lemparkan segulung kain kecil, yang ternyata ada gambar sulaman, gambar mana lantas terbeber sendirinya di atas lantai.
Dari kolong pembaringan, Sin Tjie bisa lihat sulaman itu, yang berpetakan satu nona umur kurang lebih dua-puluh tahun, kedua pipinya merah-dadu, tetapi dia dandan sebagai seorang suku-bangsa Ie, dan kepalanya pun digubat dengan pelangi, romannya sangat cantik, potongan mukanya mirip sama potongan mukanya si uwah jelek yang menyeramkan ini.
Segera terdengar pula suaranya Ho Ang Yo.
"Kenapa sekarang aku jadi begini jelek? Kenapa? Kenapa?"
Tanyanya berulang-ulang.
"Itulah disebabkan ayahmu yang tidak punyakan pri-kemanusiaan!"
"Ah......"
Tjeng Tjeng bersuara tertahan.
"Ada hubungan apa di antara ayahku dengan kau? Ayah ada seorang baik, tidak nanti dia perlakukan orang secara tak selayaknya....."
Ho Ang Yo jadi sangat gusar.
"Hai, hantu cilik, ketika itu kau masih belum terlahir!"
Serunya.
"Kau tahu apa? Jikalau dia punya perasaan pri-kemanusiaan, tidak nanti dia berlaku tak pantas kepadaku! Bagaimana bisa aku jadi begini? Bagaimana kemudian bisa terlahir kau, hantu cilik?"
"Makin lama kau bicara, kau makin aneh!"
Kata Tjeng Tjeng.
"Kamu kaum Ngo Tok Kauw berada di Inlam, ayah dan ibuku menikah di Tjiatkang -terpisahnya tempat ada ribuan lie, maka, ada apa hubungannya dengan kau?"
Ho Ang Yo jadi semakin gusar, hingga ia ayun tangannya ke arah mukanya Tjeng Tjeng. Dengan tangan kanannya, Ho Tiat Tjhioe mencegah.
"Jangan gusar, bibi."
Kata nona ini.
"Bicaralah dengan sabar."
Ang Yo menjadi sengit.
"Ayah kandungmu mati mendongkol karena Kim Tjoa Long-koen!"
Serunya.
"Kau sekarang lindungi dia ini! Apakah kau tidak malu?"
"Siapakah yang lindungi dia?"
Seru Ho Tiat Tjhioe, yang pun menjadi murka.
"Jikalau kau bikin celaka dia ini, itu artinya mencelakai juga jiwanya empat-puluh orang anggauta kita! Kau tahu tidak? Aku pandang kau sebagai orang dari tingkatan lebih tua, karena aku memandang kau, aku mengalah, jikalau kau langgar aturan kita, bisa aku tak memberi keringanan kepadamu!"
Melihat orang tonjolkan diri sebagai pemimpin, Ho Ang Yo jadi sangat mendongkol, akan tetapi ia toh kuncup, maka juga ia jatuhkan diri di kursi dengan roman lesu sekali, dengan kedua tangannya, ia pegangi kepalanya.
Lama ia berdiam secara demikian, ketika kemudian ia bicara pula, ia bisa berlaku tenang.
"Ibumu?"
Tanyanya kepada Tjeng Tjeng.
"Ibumu pasti eilok dan manis luar biasa maka juga ia bisa bikin tergila-gila pada ayahmu, bukankah?"
Ia lantas menghela napas.
"Beberapa kali aku telah bermimpi, dalam impian aku telah lihat ibumu, akan tetapi mengenai roman mukanya, aku tidak dapat melihat jelas, cuma samar-samar..... Benarbenar ingin aku melihat dia...."
"Ibu telah menutup mata,"
Tjeng Tjeng kasi tahu.
"Apa, mati?"
Ho Ang Yo terkejut.
"Ya,"
Tjeng Tjeng pastikan. Lantas suaranya si uwah jelek jadi sedih, tetapi tajam.
"Aku telah desak dia untuk kasi tahu dimana adanya ibumu, biar bagaimana, tak mau dia menyebutkannya,"
Katanya pula.
"Kiranya ibumu itu sudah menutup mata. Baik, baik, sakit hatiku ini tak bakal terbalas untuk selama-lamanya..... Sekarang aku bebaskan kau, binatang, tetapi mesti ada harinya yang kau bakal terjatuh pula ke dalam tanganku! Bukankah ibumu itu mirip dengan kau?"
Oleh karena orang berlaku kasar begitu, Tjeng Tjeng balikkan tubuh, untuk madap ke dalam. Tak mau ia meladeninya. Ho Ang Yo lantas berpaling kepada pemimpinnya.
"Kauw-tjoe,"
Katanya.
"si orang she Wan itu mesti terlebih dahulu tolong orang-orang kita, Baru bocah ini boleh dilepas pulang!"
"Itulah pasti!"
Ho Tiat Tjhioe jawab.
Ho Ang Yo lantas membungkuk, hingga dua-dua Sin Tjie dan Wan Djie jadi kaget sekali, tapi sukur dia tidak mendapat lihat, dia cuma gunai jeriji tangannya akan mencoret beberapa huruf di atas lantai.
Sin Tjie lihat orang menulis enam buah huruf yang artinya.
"Bisa kawa-kawa yang bekerjanya selang tiga tahun kemudian."
Heran pemuda ini.
"Apakah artinya ini?"
Tanya ia kepada dirinya sendiri, berulang-ulang. Kemudian.
"Ah, aku mengerti sekarang!"
Dan ia bergidik sendirinya.
"Sebelum dia merdekakan Tjeng Tjeng, dia hendak racuni dulu dengan bisa kawa-kawa yang bekerjanya nanti sesudah lewat tiga tahun, tentu itu waktu, tidak ada obat untuk punahkan bisa itu, secara begitu, ia jadi telah bisa balas sakit hatinya. Ha, inilah hebat! Kenapa dia begini telengas? Sukur aku dapat tahu, jikalau tidak...."
Tanpa merasa, pemuda ini keluarkan keringat dingin. Habis itu, Ho Ang Yo bertindak keluar, selagi melangkah di pintu, rupanya dia bersangsi, maka ia membaliki tubuh.
"Apakah kau benar-benar dengar perkataanku?"
Dia tegasi Ho Tiat Tjhioe.
"Tentu,"
Sahut pemimpin itu.
"Cuma...tak dapat kita hilangi kepercayaan kita terhadap orang lain...."
Suaranya Ho Ang Yo menunjuki kemurkaan ketika ia bilang.
"Aku tahu, kau jatuh hati terhadapnya! Teranglah kau tidak kandung niatan akan membalaskan sakit hatinya ayahmu yang telah menutup mata!...."
Dia lantas kembali, untuk jatuhkan diri di kursi, mungkin untuk tenangkan diri, mungkin guna pikirkan daya-upaya lain akan bikin celaka Tjeng Tjeng.
Maka itu, kamar jadi sunyi sekali.
Sin Tjie berdua Wan Djie menahan napas.
Memang sejak tadi, mereka tidak berani berkutik sama sekali.
Dalam kesunyian itu, mendadak Tjeng Tjeng berseru.
"Kamu tidak mau keluar, kamu hendak tunggu apa?"
Ia pun tumbuk pembaringan. Sin Tjie kaget, ia menyangka jelek, hampir ia munculkan diri, sukur Wan Djie tarik dia. Lalu terdengar suaranya Ho Tiat Tjhioe, dengan pelahan.
"Sekarang kau boleh tenangi diri dan tidur, sebentar setelah terang tanah, aku nanti antar kau pulang...."
Tjeng Tjeng bersuara "Hm!"
Seraya kembali tumbuki pembaringan, hingga debu di kayu pembaringan itu meluruk ke kepala, ke leher dan tubuhnya dua orang yang lagi mendekam sembunyi.
Hampir Sin Tjie berbangkis, baiknya ia bisa cepat bernapas dengan beraturan.
Sebenarnya Tjeng Tjeng habis sabar, di dalam hatinya, ia kata.
"Ho Tiat Tjhioe dan Ho Ang Yo bukan tandingan kau, kenapa kau masih sembunyi saja? Sebenarnya apa yang kamu berdua pikir?"
Ia jadi pikirkan Sin Tjie dan Wan Djie.
Ia tidak tahu, Sin Tjie mempunyai pikiran lain.
Tanggung jawab pemuda ini sekarang ditambah sama soal keselamatannya negara.
Kalau Tjeng Tjeng habis sabar, Ho Ang Yo adalah mendongkol sangat.
"Kau ada kauwtjoe!"
Katanya pada Tiat Tjhioe.
"semua urusan Ngo Tok Kauw berada dalam kekuasaanmu, malah dengan gaetan emas Kim-kauw diwariskan kepadamu, kau berhak untuk menghukum mati atau menghidupkan orang! Namun walaupun demikian, ingin aku bicara padamu! Memang partai kita tidak melarang soal mengendalikan napsubirahi, akan tetapi pengalamanku, apakah pengalamanku tidak cukup hebat untuk menyadarkan kepadamu?"
Ditegur begitu macam, Ho Tiat Tjhioe tertawa.
"Bibi menemui lelaki yang tidak ingat budi,"
Katanya.
"lantas bibi samakan, semua lelaki di kolong langit tidak berbudi juga...."
"Pasti ada orang-orang lelaki yang baik hatinya,"
Sahut Ho Ang Yo.
"Tetapi kau tengoklah ini puteranya Kim Tjoa Long-koen! Lihat, dia beroman sangat mirip dengan ayahnya, tidak ada bedanya, maka siapa bisa bilang tabeatnya juga tidak akan sama dengan tabeat ayahnya?"
"Jadinya ayahnya sama cakapnya dengan puteranya ini?"
Kata Ho Tiat Tjhioe.
"Pantaslah bibi jadi demikian jatuh hati terhadap ayahnya itu!"
Sampai sebegitu jauh, Sin Tjie dapat perasaan Ho Tiat Tjhioe pun ketarik hati terhadap Tjeng Tjeng.
Ia anggap ini ada lucu, sebab sebagai seorang kosen dan cerdik, kenapa pemimpin Ngo Tok Kauw ini tidak dapat bedakan kelaminnya Nona Hee itu.
"Kau kukuh, kau tetap tak sadar akan dirimu,"
Kata Ho Ang Yo kemudian sambil menghela napas.
"Aku nanti tuturkan hal-ichwalku kepadamu, agar selanjutnya, kebaikan atau kecelakaan, semua terserah kepadamu sendiri...."
"Memang aku paling gemar dengar kau dongeng, bibi,"
Kata Tiat Tjhioe.
"sekarang kau hendak bercerita di depan ini anak muda, apakah itu tidak ada halangannya untuk rahasiamu itu?"
"Aku sengaja hendak bercerita supaya dia tahu perbuatan busuk dari ayahnya, supaya kalau kemudian dia mati, dia akan mati puas!"
Si uwah jelek bilang. Tjeng Tjeng berteriak bahna gusar.
"Kau karang cerita yang bukan-bukan!"
Dia berseru.
"Ayahku ada satu enghiong terbesar, satu laki-laki sejati, mana sudi dia berbuat demikian busuk? Tidak, aku tidak sudi dengar, aku tidak sudi dengar!"
Ho Tiat Tjhioe tertawa, agaknya ia girang sekali.
"Nah, kau dengar, bibi,"
Katanya.
"Dia tidak suka dengar ceritamu. Bagaimana?"
"Aku hendak bercerita untukmu,"
Sahut sang bibi.
"Dia suka dengar atau tidak, masa bodoh!"
Tjeng Tjeng tutupi kepalanya dengan selimut, akan tetapi kemudian, ia kalah dengan perasaannya ingin tahu, ia singkap juga sedikit ujung selimutnya, untuk mendengari Ho Ang Yo tuturkan lelakonnya dengan Kim Tjoa Long-koen.
"Inilah kejadian pada dua-puluh tahun dulu,"
Demikian si uwah jelek dengan penuturannya.
"Ketika itu, usiaku berimbang dengan usiamu sekarang. Dan ayahmu, dia Baru saja menggantikan memangku kedudukan sebagai kauwtjoe baru. Dia telah angkat aku menjadi tjhungtjoe, ketua, dari dusun Ban Biauw San-tjhung, tugasku adalah menjaga kita-punya guha ular. Pada suatu hari selagi senggang, aku pergi ke bukit belakang, untuk berburu burung, untuk dibuat main....."
"Aneh, bibi,"
Tiat Tjhioe memotong.
"Kau menjadi tjhungtjoe tapi toh kau sempat menangkap burung...."
"Hum,"
Bersuara sang bibi.
"Seperti aku telah bilang, ketika itu usiaku masih muda, aku mirip dengan bocah saja. Aku berhasil menangkap dua ekor burung ikan-ikanan, bukan main girangku. Dalam perjalanan pulang, aku lewat di guha ular kita. Tiba-tiba saja aku dengar suara 'ser! ser!' yang datangnya dari arah pepohonan. Aku tahu itulah suara ular, mestinya ada ular yang minggat, maka aku lantas susul. Benar-benar aku dapati seekor ular belang. Aku heran! Biasanya semua ular kita jinak, maka tak mengerti aku, kenapa ini seekor bolehnya buron. Aku tidak lantas menangkap, diam-diam aku menguntit. Ular itu menggeleser ke belakang pepohonan lebat, ia menghampirkan ke arah satu orang. Kapan aku lihat orang itu, aku terkejut."
"Kenapa, bibi?"
Tiat Tjhioe tanya. Ho Ang Yo kertak giginya.
"Itulah si manusia celaka!"
Katanya.
"Dia ada satu hantu bagiku!"
"Bibi maksudkan Kim Tjoa Long-koen?"
Sang kauwtjoe tegaskan.
"Pada ketika itu, aku belum tahu siapa dia,"
Sahut sang bibi.
"Aku cuma lihat dia bermuka putih dan cakap, tubuhnya tinggi. Dia sedang pegangi sebatang hio wangi, yang ada apinya. Jadinya ular itu dapat cium bau wnagi itu dan dia pergi menghampirkannya. Anak muda itu lihat aku, ia pandang aku sambil bersenyum."
Ho Tiat Tjhioe tertawa.
"Ketika itu bibi ada eilok sekali, dia lihat bibi, pasti dia jadi tersengsam!...."
"Foei!"
Sang bibi berludah.
"Aku sedang cerita dari hal benar, siapa guyon-guyon denganmu?"
Ia terus melanjuti.
"Aku lihat dia seorang asing, aku kuatir dia nanti dipagut ular itu, maka aku lantas teriaki padanya.
"Hai, awas! Ular itu berbisa, jangan kau ganggu dia! Nanti aku tangkap."
"Mendengar aku, orang itu tertawa. Dari bebokongnya, dia kasi turun sebuah peti kayu. Di ujung peti kayu itu dicangcang seekor kodok, kodok itu berloncatan tetapi tidak dapat loloskan diri. Tentu saja, menampak kodok itu, ular kita hendak menerkamnya, untuk dimakannya. Dengan merayap pelahan, dia dekati peti kayu itu, kemudian ia ulur kepalanya, untuk santok sang kodok. Tiba-tiba saja orang itu tarik tali yang melekat pada peti, dan peti itu lantas terbalik tutupnya. Ular itu mencoba berhenti merayap tapi sekarang sudah kasep. Orang muda itu ulur tangannya yang kiri, dua jarinya terus menjepit leher ular, Dia sangat sebat dan jitu tangkapannya. Aku lihat, gerakan tangannya itu beda dari gerakan tangan kita. Begitu lekas dijepit, ular belang itu lantas diam saja, agaknya dia jadi jinak sekali. Aku tahu, pemuda itu seorang ahli, aku tidak berkuatir lagi untuknya.
"Aneh, aneh!"
Tertawa Ho Tiat Tjhioe.
"Bibi Baru pernah lihat orang itu, lantas saja bibi sangat memperhatikan dia!"
"Hai, jangan kau potong ceritanya!"
Tjeng Tjeng nyeletuk, sedang tadi katanya tak suka ia mendengari cerita.
"Kau dengari saja!"
Tiat Tjhioe kembali tertawa.
"Tadi kau sendiri yang bilang tak sudi mendengari?"
Dia baliki.
"Sekarang aku jadi suka mendengarnya!"
Nona Hee akui.
"Toh boleh, bukan?"
Untuk kesekian lamanya, Tiat Tjhioe tertawa.
"Baiklah, aku tidak akan memotong-motong lagi!"
Katanya. Ho Ang Yo deliki kauwtjoe yang jail itu.
"Itu waktu aku mulai curiga,"
Dia menyambungi.
"Aku pikir-pikir, siapa dia? Kenapa dia bernyali demikian besar, berani datang ke tempat kita untuk menangkap ular berbisa? Mustahil dia tidak pernah dengar nama Ngo Tok Kauw? Aku terus awasi dia. Setelah itu tangan kanannya mengeluarkan sebatang besi kecil, mirip ruyung, ujung besi itu ia sodorkan ke muka ular. San ular lantas saja menyamber, akan santok ujung besi itu. Aku mengawasi dengan teliti. Aku pun datang lebih dekat. Nyata ruyung itu kosong dalamnya, kapan bisa ular keluar, bisa itu mengalir masuk ke dalam bungbung besi itu. Sekarang Baru aku mengerti! Hm! Nyata dia datang untuk curi bisa ular! Pantas selama beberapa hari ini, beberapa ularku sungkan dahar, tubuhnya kurus dan menjadi malasmalasan! Lantas aku teriaki dia.
"Hai, lepas ular itu!"
Berbareng dengan itu, aku keluarkan suitanku peranti menakluki ular, aku terus tiup.
Rupanya dia tidak sangka, suitanku ada punya suara yang luar biasa, dia menoleh karenanya.
Justru itu, si belang lepaskan catolannya pada pipa dan berbalik santok dia!
Dia lekas-lekas lemparkan ular itu, dia hendak buka peti kayunya, mungkin untuk ambil obat pemunah bisa.
Aku tidak kasi ketika padanya, aku berlompat dan serang mukanya.
Di luar dugaan, liehay ilmu silatnya, Cuma dengan satu kali tangkis, ia bikin aku terpelanting jatuh...."
"Pasti sekali, mana kau bisa jadi tandingannya!"
Tjeng Tjeng bilang. Ho Ang Yo mendelik.
"Walaupun aku tidak bisa menangi dia, aku toh bisa libat padanya!"
Katanya dengan sengit.
"Aku ganggu dia hingga dia tak punyakan kesempatan akan keluarkan obatnya. Aku tunggu sampai dia rubuhkan aku yang ketiga kali, lantas bisa ular bekerja, tanpa ampun, dia rubuh dengan pingsan. Selagi aku hampirkan dia, tiba-tiba aku merasa tak tega, aku anggap sayang sekali kalau dia, dalam usianya begitu muda, binasa secara demikian kecewa. Ia pun ada punya ilmu silat yang bagus sekali...."
"Maka itu bibi lantas tolongi dia!"
Kata Ho Tiat Tjhioe.
"Bibi bawa dia pulang secara diamdiam, disembunyikan, dia diobati, setelah dia sembuh, lantas bibi menyintai dia...."
Ho Ang Yo menghela napas.
"Tidak tunggu sampai ia sembuh, aku sudah menyintai dia,"
Bibi ini aku.
"Tatkala itu aku maish berusia muda, semua soeheng dan soetee perlakukan aku baik sekali, entah kenapa, tidak ada satu di antara mereka yang memperoleh perhatianku, dan dia itu, di luar kekuasaanku, dia bikin aku jatuh hati. Selang tiga hari, dia telah mulai sembuh dari lukanya, Barulah itu waktu aku tanya dia, apa perlunya dia datang ke wilayah kami. Dia jwab, karena aku telah tolong jiwanya, apa juga dia suka kasi tahu aku. Dia bilang dia orang she Hee, dia ada punya dendaman yang hebat, benar ilmu silatnya sudah sempurna, akan tetapi musuhnya tangguh dan besar jumlahnya, ia jadi sangsi akan berhasil dengan pembalasannya. Maka itu, ketika ia dengar kabar Ngo Tok Kauw ada utamakan bisa ular, ia sengaja datang ke Inlam untuk mendapatkan bisa itu...."
Mendengar sampai di sini, Sin Tjie dan Tjeng Tjeng Barulah mengerti apa hubungannya Kim Tjoa Long-koen dengan Ngo Tok Kauw. Ho Ang Yo lanjuti penuturannya.
"Setelah berselang sekian lama bekerja dengan diamdiam dia bilang, dia mulai mengerti dalam hal mengerjakan bisa, maka itu dia lantas datangi guha ular kita, untuk mencuri bisa. Dia kata dia hendak bikin semacam senjata rahasia guna nanti dipakai menghadapi musuh-musuhnya. Lewat lagi dua hari, sesudah merasa segar, dia menghaturkan terima kasih padaku, dia pamitan, untuk pulang. Berat bagiku untuk membiarkan dia pergi. Begitulah aku berikan dia dua botol bisa ular. Untuk balas budiku, dia lantas bikin ini gambarku, sebagai tanda peringatan. Aku telah tanya dia, apa lagi kesukarannya dalam hal mencari balasnya itu, apa dia membutuhkan aku, untuk membantu. Sambil tertawa dia bilang, ilmu kepandaianku masih jauh dari sempurna, bahwa aku tak dapat membantu dia. Aku lantas minta supaya dia kembali sehabisnya dia mencari balas. Dia manggut, dia berikan janjinya. Aku tanya dia, kapan kiranya dia bakal kembali, dia menjawab bahwa dia tak dapat menentukannya. Dia bilang juga, untuk mewujudkan pembalasannya itu, dia masih membutuhkan serupa senjata tajam. Katanya di Ngo Bie San ada sebuah pedang pusaka, maka lebih dahulu dia mau pergi ke gunung itu, akan coba curi pedang itu. Dia sangsi apa benar-benar ada pedang yang dimaksudkan itu. Umpama ada, dia bilang, masih belum bisa dipastikan ia bakal dapat curi itu atau tidak."
Mendengar sampai di situ, Sin Tjie kata dalam hatinya.
"Kim Tjoa Long-koen sungguh norek! Untuk mencari balas, dia tidak perdulikan apa juga, tanpa pikir panjang, dia lakukan apa jua!...."
Kembali Ho Ang Yo menghela napas ketika ia melanjuti pula.
"Pada waktu itu, aku benarbenar telah sangat tersesat, disebabkan aku amat tergila-gila terhadapnya. Keinginanku satu-satunya adalah supaya ia suka tinggal lebih lama pula sama aku, Aku ada bagaikan gila, sampai apa juga, aku tak takuti, sampaipun hal yang aku tahu tak dapat aku lakukan, aku berani melakukannya. Aku merasa, untuk dia, semakin berbahayanya urusan, semakin itu menyenangkan hatiku. Hingga pun aku berpikir, rela aku mati, asal untuk dia. Ya, benar-benar waktu itu, aku seperti dipengaruhi iblis. Begitulah aku beritahukan dia bahwa aku tahu hal sebatang pedang mustika, yang tajam luar biasa, yang bisa dipakai membabat kutung senjata lainnya macam apa juga. Dia girang tidak kepalang mendengar hal pedang itu, sampai dia berjingkrakan. Lantas saja dia tanya aku, dimana adanya pedang itu. Tanpa pikir lagi, aku kasi dia tahu bahwa pedang itu adalah pedang Pek-hiat Kim-tjoa-kiam kepunyaan Ngo Tok Kauw!"
Terkejut Sin Tjie akan dengar kata-kata terakhir ini, hingga tanpa merasa ia raba pedangnya.
"Jadi inilah pedang mustika Ngo Tok Kauw itu?"
Tanyanya pada dirinya sendiri. Masih Ho Ang Yo meneruskan penuturannya.
"Aku telah beritahu dia, pedang itu ada satu di antara tiga mustika Ngo Tok Kauw, bahwa disimpannya di dalam Tok-liong-tong, guha Naga Beracun di Leng Tjoa San, gunung Ular Sakti, di distrik Tay-lie, bahwa guha itu dijaga oleh delapan-belas murid Ngo Tok Kauw. Dia lantas saja desak aku, dia minta aku antar padanya, untuk dia curi pedang itu. Dia bilang, dia hendak pakai pedang itu untuk satu kali saja, sehabis dia berhasil menuntut balas, dia nanti kasi kembali. Ia sangat mendesak aku, sampai hatiku jadi lemah. Begitulah telah terjadi, aku curi leng-pay dari koko. Dengan bawa itu, aku ajak dia pergi ke Leng Tjoa San. Karena adanya lengpay dan yang antar pun aku sendiri, penjaga-penjaga guha ijinkan kita masuk ke dalam guha."
"Bibi,"
Tanya Tiat Tjhioe.
"apa mungkin kau berani memasuki guha itu dengan berpakai pakaian?"
"Meski juga nyaliku besar, aturan kita itu tak berani aku langgar,"
Jawab Ho Ang Yo.
"Aku telah buka semua pakaianku, dengan telanjang bulat, sambil separuh merayap, aku masuk ke dalam guha. Dia turut masuk dengan menelad contohku. Pedang dan dua mustika lainnya ditaruh di atas naga-nagaan batu. Dia pandai berlompat tinggi, dengan gampang dia bisa naik ke atas naga-nagaan. Begitulah dia ambil pedang mustika itu. Aku tidak sangka, dia kandung hati yang kurang lurus, kecuali pedang Pek-hiat Kim Tjoa Kiam, sekalian dia ambil dua mustika lainnya, ialah dua-puluh empat batang bor ular emas Kimtjoa-tjoei serta peta bumi kita." (Bersambung bab ke 22)Si uwah jelek berhenti sebentar, untuk menghela napas, guna entengi hatinya.
"Begitu aku dapat tahu dia ambil tiga-tiganya mustika, segera aku merasakan firasat jelek,"
Dia melanjuti selang sesaat.
"Maka aku lantas desak dia supaya dia tinggalkan Kimtjoa-tjoei dan peta bumi itu...."
"Peta apakah itu?"
Tjeng Tjeng memotong.
"Ayahku cuma berniat keras mencari balas, mustahil dia kehendaki juga peta bumi kamu?"
"Aku sendiri tidak tahu, peta itu ada peta apa,"
Sahut Ho Ang Yo.
"Apa yang kami tahu itu adalah mustika yang telah diwariskan sejak beberapa puluh turunan. Hm! Dia benar-benar kandung maksud tidak baik! Dia tidak perdulikan permintaanku, dia cuma awasi aku sambil tertawa. Sudah disebutkan, adalah aturan Ngo Tok Kauw kita, siapa memasuki guha Tok-liong-tong, kita dilarang mengenakan pakaian meski cuma selembar, maka bisalah dimengerti keadaan kita berdua pada waktu itu. Demikian aku, tanpa aku sadar, aku telah lantas serahkan diri kepada dia. Sejak itu, aku tidak tanyakan suatu apa lagi terhadapnya. Secara demikian, kita telah curi ketiga mustika. Dia sudah bilang padaku, setelah selesai mencari balas, dia bakal kembali, untuk kembalikan tiga mustika itu. Setelah dia pergi, setiap hari aku harap-harap kembalinya, tetapi, sampai dua tahun, dari dia tidak ada kabarceritanya. Baru belakangan aku dengar cerita antara kaum kang-ouw bahwa di Kanglam telah muncul satu pendekar luar biasa yang bersenjatakan sebatang pedang aneh serta bor emas, karena mana, dia dijuluki Kim Tjoa Long-koen, Pendekar Ular Emas. Aku percaya betul, pendekar itu mesti dianya. Aku terus pikiri dia, aku menduga-duga, sudahkah dia menuntut balas atau belum. Lewat lagi sekian lama, kauwtjoe bercuriga, dia lantas periksa guha Tok-liong-tong, dengan kesudahannya pecahlah rahasia pencurian ketiga mustika. Atas itu, kauwtjoe wajibkan aku menghukum diriku sendiri. Dan sebagai kesudahan beginilah jadinya rupaku....."
"Kenapa kau jadi begini?"
Tjeng Tjeng tegasi. Ho Ang Yo ada sangat murka, tak sudi ia menjawabnya. Tapi Ho Tiat Tjhioe, dengan pelahan dia kata kepada ahliwarisnya Kim Tjoa Long-koen.
"Ketika itu yang menjadi kauw-tjoe ada ayahku, Ayah sangat berduka yang adiknya sendiri melakukan pelanggaran hebat itu, saking malu dan berduka, ia dapat sakit, terus dia menutup mata. Bibi telah jalankan aturan agama kita, ia hukum diri dengan masuk ke dalam guha ular, hingga ribuan ular gigiti dia. Begitulah, rusaknya muka bibi."
Tjeng Tjeng menggigil, dia jeri sendirinya, akan tetapi berbareng, terhadap si uwah dia tidak lagi membenci seperti tadinya.
"Setelah bibi obati diri dan sembuh,"
Ho Tiat Tjhioe terangkan lebih jauh.
"ia lantas bikin perjalanan sebagai pengemis. Adalah aturan perkumpulan kita, siapa lakukan pelanggaran hebat, dia mesti hidup sebagai pengemis lamanya tiga-puluh tahun, selama mana dia dilarang mencuri uang baik satu boen atau mencuri nasi satu butir, malah dia dilarang juga menerima tunjangan dari sesama kaum Rimba Persilatan."
Ho Ang Yo perdengarkan suara di hidung.
"Mulanya masih saja aku ingat dia, maka itu sembari mengemis di sepanjang jalan, aku susul dia di Kanglam,"
Cerita terus uwah ini.
"Begitu lekas aku memasuki wilayah Tjiatkang, aku lantas dengar kabar hal dia sudah bunuh orang di Kie-tjioe, untuk pembalasannya. Ingin aku menemui dia, maka aku cari padanya. Tapi ia tidak punyakan tempat kediaman yang tentu maka adalah sulit untuk cari ketemu padanya. Ketika akhirnya aku bertemu juga dengannya di Kim-hoa, waktu itu dia telah kena ditawan orang. Beberapa kali aku mencoba menolongi dia, selalu aku tidak berhasil. Musuh-musuhnya telah jaga dia kuat sekali hingga tak bisa aku turun tangan. Dia telah dibawa ke Utara. Aku merasa sangat heran, aku tidak tahu, kenapa dia ditangkap dan dibawa pergi. Baru kemudian aku dengar kabar, orang hendak paksa dia supaya dia serahkan peta yang dicurinya. Nyata peta itu ada peta lukisan dari suatu tempat simpan harta besar. Pada satu wkatu, bisa juga aku dapatkan ketika akan bicara sama dia. Dia kasi tahu aku bahwa orang telah bikin putus semua urat-uratnya, hingga ia jadi seorang yang bercacat. Menurut dia, semua pengantarnya ada orang-orang liehay, maka sendirian saja, tidak nanti aku bisa tolongi dia. Dia bilang, dia punya cuma satu harapan untuk bisa hidup terus. Ialah kapan ia bisa pancing musuh-musuhnya pergi ke puncak gunung Hoa San. Dan itu waktu, dia sedang memancingnya."
"Bibi,"
Tanya Ho Tiat Tjhioe.
"kejadian selanjutnya lebih-lebih aku tidak tahu. Apa maksud sebenarnya memancing musuh ke gunung Hoa San itu?"
"Dia bilang di kolong langit ini cuma satu orang yang bisa tolong dia,"
Sahut Ho Ang Yo.
"Orang itu ada Pat-tjhioe Sian Wan Bok Djin Tjeng si Lutung Sakti Tangan Delapan dari Hoa San Pay."
Gegetun Sin Tjie akan dengari penuturan orang itu, sampai ia tak tahu, berhubung sama sepak-terjangnya Kim Tjoa Long-koen itu, ia mesti membencinya atau mengasihaninya.
Di lain sebelah, ia jadi sangat ketarik akan dengar disebut-sebutnya nama gurunya.
Juga Tjeng Tjeng sangat ketarik mendengar namanya Bok Djin Tjeng, gurunya pemuda pujaannya itu.
Demikian semua orang pasang kuping mendengari Ho Ang Yo mulai pula dengan perlanjutan penuturannya.
"Aku tanya dia, siapa itu Bok Djin Tjeng. Dia bilang, orang she Bok itu ada ahli pedang yang di kolong langit ini tidak ada tandingannya. Menurut dia, sebenarnya dia tidak kenal Bok Djin Tjeng, dia belum pernah menemuinya juga, dia melainkan dengar, orang she Bok itu ada satu orang jujur dan pembela keadilan, Dia percaya, asal Bok Djin Tjeng dapat tahu bagaimana dia telah dipersakiti, pendekar itu pasti akan suka tolongi dia. Katanya Ngo Heng Tin dari lima persaudaraan Oen ada sangat liehay, sudah begitu, mereka dibantu oleh imam-imam dari Ngo Bie Pay, maka kecuali Bok Djin Tjeng, lain orang tak dapat mengalahkan mereka. Maka itu dia suruh aku lekas-lekas pergi ke Hoa San, akan cari Bok Tayhiap, untuk minta bantuan. Ia anjurkan aku untuk memohon sambil menangis, supaya Bok Tayhiap suka menolong. Aku telah terima baik permintaannya itu, aku malah sudah lantas ambil putusan, umpama kata Bok Tayhiap tidak sudi meluluskan, akan membantu, aku hendak bunuh diri di depannya. Aku telah berkeputusan akan tolongi dia. Karena penjagaan kuat sekali, tidak berani aku bicara lama dengannya. Ketika aku hendak berlalu, aku rangkul dia. Dengan tiba-tiba aku dapat cium bau harum pada dadanya, bau dari wewangian orang perempuan, maka aku merogo ke dalam sakunya, hingga aku tarik keluar satu kantong sulam hiang-ho-pauw dalam mana ada termuat segumpal rambut wanita serta sebuah tusuk konde emas yang mungil. Tubuhku sampai menggigil saking ku gusar. Aku tanya, siapa yang berikan itu kepadanya, dia tidak mau memberitahukan. Aku telah ancam dia, apabila dia tetap tidak mau beritahu, aku tidak mau cari Bok Tay-hiap, tapi dia tetap tutup mulutnya. Dia telah perlihatkan sikapnya yang angkuh. Dan, lihat, lihat! Sikapnya bocah ini juga sama angkuhnya dengan dia!"
Dan si uwah jelek ini tuding Tjeng Tjeng. Ia bicara dengan suara keras, akan tetapi pada itu ada tercampur irama kedukaan hebat. Habis itu, ia melanjuti.
"Tadinya aku hendak desak dia, untuk paksa dia memberitahukannya, apamau orang Tjio Liang Pay yang menjaga dia telah keburu balik, dengan terpaksa, aku tinggalkan dia. Bukan main masgulnya hatiku. Aku telah menderita untuk dia, siapa tahu, dia justru siasiakan aku dan punyakan lain kekasih. Ketika kemudian dia telah sampai di Hoa San, aku tidak pergi cari Bok Tayhiap. Dengan bisaku sendiri, aku telah racuni dua imam yang jagai dia. Rupanya pihak Oen tidak menyangka bahwa diam-diam ada orang mencoba tolongi orang tawanannya itu. Begitulah, selagi mereka beralpa, aku bawa dia lari, aku sembunyikan dia di dalam sebuah guha. Ketika keluarga Oen mendapat tahu dia terhilang, mereka jadi heran dan sibuk, mereka mencari ubak-ubakan tanpa hasil, hingga kesudahannya mereka saling curigai orang sendiri, sampai mereka berselisih. Di akhirnya, mereka memencar diri, untuk geledah seluruh gunung Hoa San. Kesudahannya, mereka membangkitkan amarahnya Bok Tay-hiap, hingga Tay-hiap telah gunai akal, membikin mereka ketakutan sendiri dan lantas lari kabur. Pada malam itu, aku desak dia untuk beritahu aku she dan namanya kekasihnya itu. Dia tetap menolak, mungkin dia insaf, satu kali aku mendapat tahu, aku bisa pergi cari kekasihnya itu, untuk dibunuh. Dia sendiri sudah tidak punya guna, tidak nanti bisa susul aku, dia kuatir nanti tak dapat dia melindungi kekasihnya itu. Karena dia terus tutup mulut, aku jadi sangat murka, beruntun selama tiga hari, setiap pagi aku rangket dia dengan rotan, begitupun setiap tengah-hari dan sore...."
"Hai, perempuan jahat!"
Teriak Tjeng Tjeng.
"Bagaimana kau tega menyiksa ayahku!..."
"Dia yang berbuat, dia mesti terima bagiannya!"
Kata Ho Ang Yo dengan sengit.
Baca Juga: Raja Silat Chin Hung
Baca Juga: Bukit Pemakan Manusia 12