Ceritasilat Novel Online

Pedang Ular Emas 7

Eps 7 Pedang Ular Emas - Yin Yong

Baca online Pedang Ular Emas - Yin Yong

Cersil Pedang Ular Emas - Yin Yong.

"Pergilah kau ke Pakkhia bersama-sama sahabat mudamu ini, disana kamu musti serepserepi gerak-geriknya pemerintah, tetapi ingat, janganlah keprak rumput hingga kau membikin ular kaget, terutama jangan sembarang bunuh menteri-menteri di istana. Jikalau ada kabar yang penting, segera berangkat ke Siamsay untuk memberi laporan!"

"Baik, soehoe,"

Sin Tjie jawab.

"Sekarang aku hendak pergi menemui Tjit tjap djie to -totjoe The Kie In serta Sip Lek Taysoe dari Siauw Liem Sie,"

Bok Djin Tjeng kata pula.

"Bhok Siang Tooheng, kau hendak pergi kemana?"

"Kami orang-orang gagah pencinta Negara, yang senantiasa pikirkan Negara dan rakyat, pantas kamu repot terus-terusan seluruh hari,"

Tertawa Bhok Siang Toodjin.

"tidak demikian denganku, aku adalah seumpama si burung hoo liar yang pesiar di tengah udara. Aku pikir akan berdiam lagi beberapa hari di sini dengan muridmu ini, kau akur atau tidak?"

Bok Djin Tjeng tertawa.

"Sin Tjie telah janjikan orang untuk memberi pelajaran, di Lamkhia ini ia masih mesti berdiam untuk beberapa hari,"

Ia jawab.

"maka pergi kamu main catur selama beberapa hari ini! Kau sendiri masih punyakan banyak ilmu kepandaian, bolehlah sekalian saja kau wariskan semuanya kepadanya!"

Sambil tertawa berkakakan, Bok Djin Tjeng putar tubuhnya untuk berlalu, atas mana Oey Tjin dan Tjioe San lantas mengikuti.

A Pa berdiri tegak di tempatnya, ia gerak-gerikkan kedua tangannya kepada ketua dari Hoa San Pay, melihat mana, Bok Djin Tjeng tertawa.

"Baiklah,"

Katanya.

"Kau kangen dengan sahabat cilikmu, pergi kau berdiam sama dia!"

Ia juga beri tanda dengan gerakan tangannya.

A Pa sangat girang, ia lari pada Sin Tjie tubuh siapa ia tubruk, untuk dipeluk dan diangkat!

Tjeng Tjeng kaget hingga ia mencelat, tapi kapan ia tampak wajah kegirangan orang, hatinya menjadi lega, ia menjadi tenang pula.

Sin Tjie girang berbareng masgul.

Baru ia bertemu gurunya, lantas mereka berpisah pula.

Ia pun berat akan berpisah dari Tjioe San dan Oey Tjin, malah dengan sang toasoeheng ia sampai tak sempat pasang omong lagi.

"Kau baik, tak kecewa banyak orang ajari kau,"

Demikian terdengar suaranya Bok Djin Tjeng, yang tubuhnya lantas lenyap di tempat gelap, lenyap bersama Oey Tjin dan Tjioe San, meninggalkan si murid yang bengong mengawasi kearahnya.

Kwie Sin Sie dan isterinya juga, sambil memberi hormat, awasi guru dan soehengnya itu, kemudian mereka menjura pada Bhok Siang Toodjin, akan lantas ajak tiga murid mereka berlalu.

"Mereka itu mendendam terhadap kau,"

Bhok Siang kata pada Sin Tjie.

"Mereka berkepandaian tinggi, dibelakang hari apabila kau bertemu dengan mereka, waspadalah! -Sekarang, aku pun hendak pergi!"

Sin Tjie manggut berbareng terperanjat.

Ia terima nasehat itu tapi ia tak sangka guru ini mau berangkat demikian lekas.

Ia pun menyesal sudah bentrok dengan soehengnya suami-istri.

Lebih menyesal lagi, tak dapat ia tahan Bhok Siang Toodjin, yang lantas saja berlalu.

Maka ia pun ajak A Pa dan Tjeng Tjeng berlalu dan sepulangnya ke rumah Kong Lee, ia terus masuk tidur.

Besoknya pagi Baru pemuda ini mendusi, atau Tjeng Tjeng sudah berlari-lari masuk kedalam kamarnya sambil mulutnya berseru dengan berisik -berseru kegirangan -sebab tangannya menggenggam sebuah peti kayu yang kecil, semacam lopa-lopa.

"Terkalah, apa ini?"

Ia berseru dengan pertanyaannya.

"Apakah ada tetamu?"

Sin Tjie tanya.

Tjeng Tjeng tidak menjawab, ia hanya buka peti kecil itu.

Ia berbuat demikian dengan air mukanya tersungging senyuman, umpama bunga sedang mekar.

Dari dalam peti itu, ia jumput keluar selembar kertas merah, atau angtiap lebar, yang bertuliskan.

"Hormat dari adikmu yang bodoh, Bin Tjoe Hoa."

Terus si nona beber lembaran kertas merah itu, yang di dalamnya memuat selembar surat rumah berikut sepotong catatan lengkap dari semua barang yang berada di dalam rumah yang dimaksudkan itu.

Sin Tjie jadi kurang enak hati melihat Bin Tjoe Hoa buktikan janjinya dengan serahkan rumah yang dibuat pertaruhan itu berikut segala isinya.

Maka lekas-lekas ia salin pakaian, ia lantas pergi ke rumah orang she Bin itu, dengan maksud menemui, untuk menghaturkan terima kasih.

Akan tetapi kapan ia sampai di rumah itu, tuan rumah semua sudah pergi, di situ tinggal dua bujang yang asyik sapui kotoran.

Atas pertanyaan anak muda ini, dua orang itu bilang bahwa Bin Tjoe Hoa serumah-tangga sudah pergi sejak tadi pagi-pagi, entah ke mana tujuannya.

Terpaksa Sin Tjie terima rumah itu, yang segera ia tempatkan.

Tjiauw Wan Djie telah lantas kirim beberapa orangnya berikut bujang perempuan, guna bantu mengatur lebih jauh rumah gedung itu.

Kedua bujang perempuan bantui Tjeng Tjeng.

Di antara beberapa orang lelaki itu juga termasuk koki, tukang kebun, pesuruh, kusir dan cinteng, untuk jaga malam.

Dengan sendirinya, Ang Seng Hay diangkat jadi tjongkoan, kuasa rumah.

"Nona Tjiauw masih berusia sangat muda akan tetapi untuk urus rumah-tangga, ia ingat segala apa,"

Sin Tjie puji Wan Djie. Tjeng Tjeng tertawa.

"Maka jikalau dia bisa menjadi nyonya rumah ini, sungguh bagus!"

Katanya.

Sin Tjie awasi nona itu, ia tidak kata suatu apa.

Tjeng Tjeng baik segala-galanya, kecuali dalam hal hati-kecilnya, ia terpengaruh kejelusannya, cemburunya.

Pada malam pertama di gedungnya itu, tengah malam, Sin Tjie dan Tjeng Tjeng berkumpul di dalam kamarnya, mereka keluarkan peta bumi dari Kim Coa Long-koen, untuk periksa peta itu, guna diakurkan dengan macamnya gedung itu.

Disana-sini sudah ada beberapa perubahan akan tetapi pokoknya tetap, cocok dengan lukisan peta, dari itu keduanya jadi sangat girang.

Sekarang mereka fahamkan pengunjukan tanda-tanda, yang membawa mereka keluar taman, terus ke dalam taman, sampai disamping taman di mana ada sebuah gudang kayu.

Mereka masuk ke dalam gudang ini.

Sin Tjie ajak A Pa, si empeh gagu, untuk dia ini bantui singkirkan semua kayu dan rumput yang memenuhkan gudang itu, sesudah mana, mereka kerjakan pacul, untuk menggali tanah.

Tjeng Tjeng berdiri di luar pintu gudang, tangannya menyekal pedang, karena ia bertugas berjaga-jaga.

A Pa adalah yang menggali lobang, ia telah bekerja kira setengah jam, lantas paculnya membentur suatu barang keras hingga menerbitkan suara nyaring, rupanya ada batu di dalam lobang galian itu.

A Pa tuli, ia tidak dengar suatu apa, maka Sin Tjie lantas cegah ia, supaya penggalian dilakukan saja untuk gali keluar batu itu, yang merupakan sepotong batu besar bagaikan papan.

Berdua mereka angkat batu itu, hingga kelihatan satu lobang di bawahnya.

Sin Tjie berseru saking kegirangan, hingga Tjeng Tjeng dapat dengar suaranya, nona ini segera memburu ke dalam, hingga ia pun saksikan lobang itu.

"Di sini!"

Sin Tjie bilang.

"Pergi kau menjaga pula di luar, sebentar Baru masuk lagi."

Nona Oen menurut.

Sin Tjie bikin dua batang obor, untuk itu di situ tersedia rumput keringnya, setelah ia sulut obor itu, ia lemparkan ke dalam lobang, untuk singkirkan hawa busuk, kemudian Baru ia turun ke dalam lobang dimana antara cahaya api, tertampak undakan tangga batu.

Berbaris rapi, di dalam ruangan dalam tanah itu kedapatan sepuluh peti besar yang diatur rapi, setiap petinya dirantai dengan rantai yang besar.

Cuma di situ tidak kedapatan anak kunci.

A Pa bertenaga besar, ia coba dukung sebuah peti, untuk diangkat, ia dapatkan peti besi itu sangat berat.

Sin Tjie keluarkan petanya, untuk periksa lebih jauh.

Di pinggir tempat simpan harta itu, ialah di pojok kiri, ada lukisan seekor naga kecil.

Menduga apa-apa, ia sambar pacul untuk dipakai memaculi tanah di tempat yang dilukiskan itu.

Baru ia memacul beberapa kali, lantas ia dapatkan sebuah lopa-lopa besi, yang tidak dikunci, maka dengan gampang lopalopa itu dapat dibuka tutupnya.

Tapi untuk buka itu, ia gunai tali, ia menariknya pelahanlahan.

Ia ingat panah rahasia dari Kim Coa Long-koen, dari itu ia bekerja dengan waspada.

Peti itu terbuka dengan tidak mengakibatkan suatu apa, lalu Sin Tjie dekati obornya, untuk memandang ke dalam peti, yang isinya ada serenceng anak kunci berikut dua lembar kertas yang ada tulisannya.

Surat yang pertama berbunyi.

"Berhubung dengan pemberontakan pamanku, tidak ada menteri militer yang tidak menakluk kepadanya, tidak demikian dengan Goei-Kok-Kong Tjie Hoei Tjouw. Tjie Hoei Tjouw adalah menteri turunan, yang setia, yang harus dipuji. Barang-barang berharga dari istana, karena sangat kesusu, tak dapat dibawa pergi semua, dari itu Goei-Kok-Kong, tolong kau wakilkan tim menjaganya. Di belakang hari, apabila ada gerakan akan menghidupkan Negara, pakailah harta ini. Tahun Kian-boen ke-4, bulan enam"

"Jadi inilah harta peninggalannya Sri Baginda Kian Boen,"

Kata Sin Tjie dalam hatinya.

Ketika Pangeran Yan Ong berontak, dia rampas kerajaan, Tjie Hoei Tjouw tak sudi menakluk kepada raja pemberontak itu, sampai Yan Ong ketemui sendiri padanya dan menegurnya tetapi dia tak suka bicara, tak sepatah kata keluar dari mulutnya, kata-kata menyatakan suka menunjang raja pemberontak ini, hingga karenanya, ia telah dihadapkan kepada pengadilan, yang coba paksa padanya.

Ata situ, Hoei Tjouw tulis sepuluh huruf yang berarti.

"Ayahku adalah menteri berjasa yang bantu mendirikan Negara, anakcucunya luput dari kematian."

Tjie Hoei Tjouw ini adalah putera Pangeran Tiong-san-ong Tjie Tat dan Tjie Tat ini adalah menteri nomor satu yang berjasa ketika permulaan dibangunkan kerajaan Beng.

Ketika Tjie Tat berperang ke Timur dan Barat, ia telah wakilkan Kaisar Beng Thay Tjouw meluaskan daerah, menetapkan Negara, hingga jasanya dianggap paling besar.

Tapi ia tahu Beng Thay Tjouw kejam, ia turut mengendalikan Negara dengan hati-hati dengan hati kebat-kebit, sedikit juga ia tak mau menerbitkan kesalahan.

Kaisar sebaliknya tak tenteram hatinya mengadapi menteri-menterinya yang berjasa, tiap hari ia mencari jalan untuk persalahkan Tjie Tat.

Sampai pada suatu hari Tjie Tat dapat sakit tumbuhan di bebokongnya.

Kaisar Beng itu tahu, siapa dapat sakit tumbuhan, dia mesti pantang makan angsa tim, atau dia segera akan binasa.

Maka ia lantas perintahkan kirimkan angsa tim pada Tjie Tat.

Melihat masakan itu, Tjie Tat mengucurkan air mata, dengan berdiam tetap atas pembaringannya, ia dahar habis angsa tim itu.

Maka pada malam itu juga ia mati keracunan.

Atas kejadian ini, semua menteri jadi ketakutan sendirinya.

Setelah Yan Ong naik atas tahta, puteranya Tjie Tat, ialah Tjie Hoei Tjouw, tidak suka menakluk, hingga Yan Ong jadi gusar dan hendak binasakan padanya.

Tapi Yan Ong cerdik, di waktu ia mulai bertahta ia ingin ambil hati orang, maka dengan alasan Tjie Hoei Tjouw adalah puteranya menteri berjasa dan juga pernah kok-kioe, ipar raja, ia batalkan niatnya, cuma dia itu dipecat, diperintah pulang ke gedungnya, dikurangi gajinya.

Tjie Hoei Tjouw tetap setia kepada Baginda Kian Boen, dari itu selama-lamanya dia kandung harapan untuk membangun pula junjungannya itu.

Mengetahu hal ihwalnya Tjie Hoei Tjouw ini, Sin Tjie menghela napas.

Habis itu, ia baca surat yang kedua, yang memuat syair karangan Baginda Kian Boen sendiri, yang menguraikan kesannya yang menyedihkan, yang ditulis sepulangnya dia pesiar di propinsi-propinsi Hokkian, Kwietang, Soetjoan dan Inlam, sekembalinya dia ke kotaraja, ibukota Kimleng (Lamkhia).

Selama itu, raja ini telah berumur enam-puluh lebih, lenyap sudah harapannya untuk bisa naik kembali atas tahta, maka kemudian ia pergi tanpa tujuan.

Entah bagaimana, peta dari hartanya itu telah terjatuh ke dalam tangan Kim Coa Long-koen.

Dengan gunai anak kunci, Sin Tjie buka satu peti besi dan matanya lantas kesilauan, sebab peti itu penuh dengan pelbagai macam kumala dan permata lainnya, begitupun satu peti yang lainnya, hingga ia berdiri ternganga.

Sebentar saja, setelah sadar, Sin Tjie pergi keluar.

"Pergi kau lihat di dalam,"

Ia kata pada Tjeng Tjeng, yang tugasnya ia gantikan. Tjeng Tjeng pun tercengang, sampai ia keluarkan seruan, kemudian ia keluar, tampangnya bercampur wajah keheranan dan kegirangan.

"Harta ini ada harta peresan dari rakyat, untuk apa kita ambil?"

Kata Sin Tjie. Tjeng Tjeng tahu sekarang kejantanan si anak muda, ia pun tak mau unjuk ketemahaannya seperti dulu, untuk cegah dirinya dipandang enteng, ia kata.

"Harta ini diambil dari rakyat, harta ini mesti dikembalikan pada rakyat juga!"

Tak kepalang girangnya Sin Tjie, hingga ia sambar tangannya si nona, untuk dicekal dengan keras.

"Adik Tjeng, sungguh kau kenal aku!"

Katanya memuji. Tentu saja, si nona pun puas, hatinya lega bahwa ia dapat memahami pemuda itu.

"Kita sekarang punyai harta besar ini, dapat kita bertingkah sebagai puteranya satu orang berpangkat besar,"

Kata Sin Tjie kemudian.

"Mari kita pergi ke kota raja, untuk suatu usaha besar. Kita nanti bantu Giam Ong dengan harta ini, guna rubuhkan kerajaan Beng. Apakah namanya usaha ini?"

"Itu artinya, dengan tumbaknya sendiri, kita tusuk tamengnya!"

Jawab Tjeng Tjeng.

"Atau dengan gayanya sendiri, kita tindih padanya!"

"Benar, benar!"

Sin Tjie tertawa.

"Sekarang hayo kita berkemas-kemas!"

Dengan dibantui si empeh gagu, Sin Tjie bertiga angkut harta itu ke dalam kamarnya, lobang harta sendiri diuruk pula.

Mereka mandi keringat karena kerja terlalu keras tapi mereka puas.

Sampai fajar Barulah mereka selesai.

(Bersambung bab ke 14) Besoknya lohor, Sin Tjie titahkan Ang Seng Hay pergi ke rumah Tjiauw Kong Lee untuk panggil Lo Lip Djie.

Dia ini masih sangat menderita karena lenyapnya sebelah tangannya, tapi mendengar Sin Tjie panggil ia, bukan main girangnya, segera ia minta orang pepayang padanya, untuk memenuhi panggilan itu.

"Kau duduk,"

Perintah Sin Tjie, yang terus ajarkan bagaimana harus bersilat dengan tangan sebelah -tangan kiri.

Lip Djie berotak terang, ia gampang ingat, apapula setelah si anak muda yang liehay petahkan latihannya.

Untuk ini Sin Tjie pakai tempo sepuluh hari, setelah Lip Djie ingat semua, dia dipesan untuk berlatih nanti, setelah lukanya sembuh.

Pelajaran ini beda daripada yang umum, karena Sin Tjie wariskan dari dalam kitab Kim Tjoa Pit Kip.

Maka itu, walaupun ia tercelaka, Lip Djie girang tak kepalang, karena ia sangat bahagia memperoleh ilmu golok yang liehay itu.

Sin Tjie sudah lantas siapkan belasan kereta sewaan, untuk angkut hartanya ke kota raja.

Untuk keberangkatannya itu, Kong Lee adakan satu perjamuan meriah sekali yang dihadiri oleh gadisnya dan sekalian muridnya.

Di pihak lain, Sin Tjie minta tolong supaya gedung Kokkong-hoe itu dikembalikan kepada Bin Tjoe Hoa, sedang Tiang Pek Sam Eng diserahkan kepada pembesar negeri.

Selagi cuaca musim rontok menyenangi hati, Sin Tjie berangkat bersama-sama Tjeng Tjeng, A Pa dan Ang Seng Hay, mengiringi belasan kereta harta karun itu, menuju ke Utara, Kong Lee dan gadisnya serta murid-muridnya mengantari sampai di seberang sungai Tiang Kang, sampai jauhnya tiga-puluh lie lebih.

Daerah sebelah utara sungai ada daerah pengaruh Kim Liong Pang, dari itu siang-siang Kong Lee telah atur warta berita kepada pelbagai pelabuhan atau pos partainya, supaya di setiap tempat, rombongan Sin Tjie disambut dengan baik dan dilindungi di sepanjang jalan.

Selang lebih dari sepuluh hari, sampailah rombongan ini di batas propinsi Shoatang.

"Tuan Wan, sejak ini, daerah bukan daerah pengaruh Kim Liong Pang lagi,"

Menerangkan Ang Seng Hay.

"karenanya, mulai hari ini, harus kita berlaku sedikit lebih hati-hati."

"Apa? Apa ada orang berani main gila terhadap kita?"

Tanya Tjeng Tjeng.

"Itulah tak dapat dibilang.

"sahut Seng Hay.

"Sekarang ini jalanan tidak aman, terutama di Shoatang, orang jahat terlebih banyak daripada tempat lainnya. Di daerah ini ada dua partai yang liehay."

"Kau toh dari partai Poet Hay Pay?"

Tjeng Tjeng tegasi. Seng Hay tertawa.

"Poet Hay Pay berkuasa di lautan,"

Kata dia.

"maka juga kalau di darat, umpama emas dan permata kedapatan di tengah jalan, menjemputnya pun kami tidak lakukan!"

"Siapa itu dua partai di Shoatang?"

Sin Tjie tanya.

"Yang pertama ada rombongan Tie Hong Lioe Tie Toaya di Tjhongtjioe,"

Jawab Seng Hay. Sin Tjie manggut.

"Ya, aku pernah dengar guruku omong tentang Tie Toaya itu,"

Kata ia.

"Dia kesohor untuk tangan-pasir-besinya Tiat-seetjiang dan ilmu silat toya Thay-tjouw-koen."

"Itulah benar. Partai yang satu lagi adalah yang berkedudukan di ok-houw-kauw,"

Seng Hay terangkan lebih jauh.

"Partai ini mempunyai enam pemimpin yang semuanya liehay."

Sin Tjie manggut pula.

"Baiklah, kita harus berhati-hati,"

Katanya.

"Setiap malam baik kita bergiliran menjaga."

Perjalanan dilanjuti. Selang dua hari, mereka berpapasan dengan dua penunggang kuda, yang kudanya dikaburan, sehingga suara kelenengannya terdengar dari jauh-jauh.

"Inilah dia!"

Kata Seng Hay setelah dua penunggang kuda itu lewat di samping mereka.

Sebagai orang kang-ouw ulung, Seng Hay luas pengetahuannya.

Ia tidak kuatir, karena ia tahu Sin Tjie liehay dan ia sendiri pun tak dapat dipandang ringan.

Selang satu jam, dua penunggang kuda tadi telah kembali dan lantas melewatkan pula.

Tjeng Tjeng tertawa dingin.

"Tidak sampai sempuluh lie, bakal ada yang pegat kita,"

Seng Hay kasih tahu. Akan tetapi sangkaan ini keliru. Lebih dari sepuluh lie dilewatkan, mereka tidak kurang suatu apa, hingga mereka singgah di Siang-tjio-hoe.

"Heran! Mungkin mataku lamur?"

Kata Seng Hay. Besoknya pagi, jalan belum lima lie, di sebelah belakang mereka, empat penunggang kuda menguntit dari kejauhan.

"Aku mengerti,"

Kata Seng Hay.

"Kemarin mereka belum siap, hari ini tentu mereka akan bekerja."

Tengah hari, sehabis singgah, lagi dua penunggang kuda menyusul rombongan ini.

"Aneh!"

Kata Seng Hay.

"Kenapa begini banyak orang?"

Dan menambah keheranannya ini, beberapa jam kemudian, dua penunggang kuda lain lewatkan mereka.

Sin Tjie masih hijau di kalangan kang-ouw, ia tidak merasakan apa-apa, tapi juga Tjeng Tjeng, pengalamannya masih kurang, tidak demikian dengan Seng Hay.

"Aku mengerti sekarang,"

Kata dia.

"Wan Siangkong, malam ini kita mesti singgah di tempat yang besar."

"Kenapa begitu?"

Sin Tjie tanya.

"Sebab yang kuntit kita bukannya orang-orang dari satu partai saja."

"Begitu? Berapa partai kiranya?"

Tanya Tjeng Tjeng.

"Jikalau setiap partai kirim dua orang, itu berarti, di depan dan belakang, sudah tujuh...."

Tjeng Tjeng tertawa.

"Kalau begitu, bakal ramai!"

Katanya.

"Tetapi siotjia, satu orang tak dapat lawan orang yang banyak,"

Seng Hay peringati.

"Kita sendiri boleh tak takut tetapi bagaimana kita dapat bela barang-barang kita? Ini sulit..."

"Kau benar juga,"

Sin Tjie manggut.

"Malam ini kita singgah di Tjio-liauw-tin saja."

Benar-benar mereka singgah di Tjio-liauw-tin dimana mereka pilih sebuah hotel besar, malah Sin Tjie peirntah turunkan semua peti, untuk ditumpuk di dalam kamarnya dimana ia hendak tidur berdua si empeh gagu.

Baru Sin Tjie selesai mengangkut, dua orang dengan tubuh besar datang ke hotel itu.

Lebih dulu mereka awasi anak muda kita, lantas mereka nyatakan pada kuasa hotel bahwa mereka berniat bermalam.

Karena ini, satu jongos diperintah antar mereka masuk, untuk ambil kamar.

Sin Tjie manggut-manggut dengan diam-diam, ia tahu apa yang harus diperbuat.

Habis bersantap ia perintah semua orang masuk ke dalam kamar, untuk beristirahat.

Kira tengah malam, pemuda kita dengar suara berkelidik di atas genteng, bukan dia lantas bersiap, dia malah bangun untuk nyalakan lilin secara terang-terang, kemudian ia buka sebuah petinya, untuk keluarkan seraup mutiara dan batu permata lainnya, yang ia letaki di atas meja, antaranya ada yang ia pandangi pulang-pergi, hingga di antara sinar api, semua permata itu terang-gemilang berkilauan.

Di luar jendela, entah berapa banyak pasang mata yang kesilauan juga.

Seng Hay pun dengar apa-apa, hatinya jadi tidak tenang, maka ia keluar dari kamarnya akan menghampiri Sin Tjie.

Di luar, ia lihat belasan tubuh berebut umpetkan diri, maka ia bersenyum ewa.

Ia ketok kamarnya si anak muda.

"Masuk!"

Terdengar suara Sin Tjie.

Seng Hay tolak daun pintu yang menjeblak.

Nyata pintu tak dikunci.

Begitu melangkah di pintu dan lihat barang-barang permata itu, orang she Ang ini melengak, saking heran, karena matanya silau.

Belum pernah ia lihat barang permata demikian banyak, banyak rupanya dan bear-besar juga.

Ia heran ia tak tahu dari mana si anak muda perolehnya.

Kemudian lekas-lekas ia dekati anak muda itu.

"Wan Siangkong, apa boleh aku bantui kau simpan barang permata ini?"

Kata dia, suaranya sangat pelahan.

"Di luar kamar banyak orang sedang intai kita...."

"Aku justeru hendak bikin mereka buka mata mereka,"

Sahut si anak muda, dengan pelahan juga. Ia lantas angkat serenceng mutiara, lalu ia tanya.

"Kalau kita bawa mutiara ini ke kota raja, berapa kau taksir harga penjualannya?"

"Aku tidak tahu,"

Sahut pengiring itu.

"Sebutirnya tiga-ratus tail perak, tak kurang lagi,"

Si anak muda bersenyum. Dan rencengan ini terdiri dari dua-puluh empat butir."

"Jadi harganya sepuluh ribu tail...."

Seng Hay bilang.

"Eh, kenapa jadi sepuluh ribu?"

Tegasi Sin Tjie heran.

"Sebab sukar akan cari mutiara sebesar ini, begitu bundar, begini jernih cahayanya, malah semuanya, sama besarnya!"

Kata pengikut ini.

Pembicaraan ini terdengar sampai keluar jendela, orang-orang jahat yang lagi mengintai jadi merah matanya, hati mereka jadi gatal, hampir mereka tak sanggup mengatasi diri sendiri.

Tapi mereka ditugaskan untuk mengintai saja, buat lekas pulang dengan laporan, supaya ketua mereka bisa berdamai dulu, agar dia orang tak bentrok satu dengan lain.

Begitulah, lekas-lekas mereka berlalu dengan berpencaran.

Kapan Sin Tjie telah duga orang sudah pergi semua, ia goyang-goyang tangan kepada Seng Hay, untuk menitahkan orang itu tidur, ia sendiri tertawa, ia naik ke pembaringan tanpa benahkan lagi mutiara itu.

Besoknya pagi, perjalanan dilanjuti, terus sampai dua hari, mereka tidak tampak rintangan suatu apa.

Ketika itu mereka sudah lewati batas wilayah kota Tjeelam.

Sementara itu Sin Tjie dapat kenyataan, orang-orang jahat yang arah dia jadi semakin banyak, hingga Seng Hay, yang tadinya tenang, jadi tak tenteram juga hatinya.

Ia ini pun bingung, kenapa orang masih belum mau turun tangan.

Maka akhirnya, ia usulkan si anak muda akan tukar jalan darat dengan jalan air.

"Di air aku mempunyai banyak sahabat,"

Ia mendesak.

"Kita naik perahu sampai di Thiantjin, di sana kita mendarat, untuk melanjuti sampai di Pakkhia. Dengan begini benar kita ambil jalan mutar dan memakan tempo jauh lebih banyak akan tetapi keselamatan kita lebih terjamin."

Sin Tjie tertawa atas usul itu.

"Aku justeru hendak serahkan harta ini kepada orang-orang gagah kita dan pencintapencinta Negara!"

Katanya.

"Umpama harta ini habis tersebar, masih tidak apa! Bukankah harta ada benda sampiran belaka? Untuk kita, kewajiban membela Negara adalah yang utama!"

Mendengar itu, Ang Seng Hay lantas tidak banyak omong lagi.

Itu hari sampailah mereka di Ie-shia, dimana mereka cari hotel.

Tjeng Tjeng tidak betah berdiam saja, seorang diri ia pergi pesiar di sekeliling kota.

Tidak demikian Sin Tjie, yang insyaf entah berapa banyak mata yang incar harta-karunnya itu, dari itu bersama-sama A Pa, ia tak mau meninggalkan hotelnya.

Berselang kira-kira satu jam, Tjeng Tjeng pulang dengan wajah berseri-seri, tangannya menenteng dua bumbung bambu kecil dalam mana masing-masing terdapat seekor jangkrik, yang masing-masing sedang mengasi dengar suara ngeringnya tak sudahnya.

Yang seekor ia terus serahkan pada Sin Tjie seraya bilang.

"Aku beli dua-puluh tjhie seekornya. Sebentar malam kau gantung di kelambumu, pasti suaranya enak didengarnya..."

Sin Tjie tertawa, dia menyambutinya. Tapi segera ia tertawa pula.

"Eh, adik Tjeng, tadi ditengah jalan kau ketemu siapa?"

Tanyanya. Tjeng Tjeng agaknya tercengang.

"Tidak....."

Jawabnya.

"Bebokongmu orang telah berikan tanda,"

Sin Tjie kasih tahu.

Tidak tempo lagi, Tjeng Tjeng lari kedalam kamarnya, untuk buka bajunya, guna periksa tanda yang dihunjuki itu.

Ia telah lihat satu bundaran kapur.

Mungkin tanda itu diberikan selagi tadi ia membeli jangkrik, saking gembira, ia sampai tidak merasakannya.

Maka itu, ia puji kelicinannya orang yang memberikan tanda itu tapi ia pun mendongkol.

"Tolong kau bantu aku cekuk orang itu, untuk hajar dia!"

Kata ia pada Sin Tjie setelah ia ketemui pula si anak muda.

"Kemana aku mesti cari dia?"

Tanya Sin Tjie sambil tertawa. Tjeng Tjeng berpikir, tapi segera ia dapat jalan.

"Pergilah kau pesiar sendirian, berlagaklah sebagai orang tolol,"

Ia kata kemudian.

"Jadi aku mesti pesiar seperti kau tadi, supaya orang pun datang untuk beri tanda di bebokongku?"

Sin Tjie tegaskan sambil tertawa.

"Benar!"

Si nona pun tertawa.

"Lekaslah pergi!"

Anak muda ini tak tega untuk menampik, maka ia pergis etelah pesan nona ini bersama Seng Hay untuk waspada menjaga harta mereka.

Ie-shia ada sebuah kota yang ramai, walaupun sudah mendekati malam, orang-orang banyak yang berdagang dan berbelanja, pelbagai kereta dan kuli-kuli masih saja berjuang untuk masing-masing kehidupannya atau pekerjaannya.

Sin Tjie berjalan dengan sewajarnya sebagai seorang asing, akan tetapi dengan diamdiam, ia telah memasang mata, karenanya tak nanti orang curigai dia kendatipun ia sering celingukan.

Demikian ia dapat tahu ada seorang menguntit ia sejak ia mulai keluar dari pekarangan hotel.

"Bagus, kau jadi makin kurang ajar!"

Kata ia dalam hatinya.

"Tidak saja hartaku, diriku pun kau awasi! Kau beri tanda dibelakangnya adik Tjeng, apakah artinya itu! Tidakkah dengan begitu kau seperti keprak rumput hingga ular mabur, hingga aku jadi dapat ketika untuk berjaga-jaga?"

Tidak usah pemuda ini berpikir lama, untuk ambil kesimpulan.

"Rupanya ada rombongan yang ingin temahai sendiri hartaku ini,"

Pikir ia.

"Mereka telah beri tanda supaya lain orang melihatnya dan lain orang tak berani mengganggu."

Sin Tjie jalan terus, dengan sikapnya seperti tak ada perhatian, tapi sekarang ia telah ambil putusan akan bertindak bagaimana.

Ia tetap masih dibayangi, ia menuju ke sebuah bengkel besi akan tonton tukang-tukang sedang bikin golok.

Ia berdiri diam bagaikan orang kesengsam, tapi ia tahu, si penguntit dekati padanya.

Mendadakan saja ia berpaling seraya tangannya menyambar tangan orang itu di bagian nadi.

Orang itu kaget, apapula segera ia merasakan sebelah tangannya seperti mati, maka tempo pemuda kita tarik tangannya, untuk dituntun dengan perlahan-lahan, ia mengikuti tanpa buka suara, seperti ia sudah tak dapat kuasai diri sendiri.

Ia dituntun sampai di sebuah gang kecil dan sepi.

"Kau orang siapa?"

Tanya Sin Tjie. Orang itu ketakutan dan kesakitan, sampai ia mandi keringat.

"Tolong lepaskan tanganku, tuan, nanti tanganku patah,"

Dia memohon.

"Jiaklau kau tidak mau bicara, batang lehermu pun aku nanti potes!"

Sin Tjie bilang.

"Aku nanti bicara, aku nanti bicara, tuan,"

Sahut orang itu ketakutan.

"Aku adalah orang sebawahan See TJeetjoe dari Ok Houw Kauw."

"Bukankah kau hendak memberi tanda bundaran di bebokongku? Apakah artinya itu?"

"See Tjeetjoe titahkan aku berbuat demikian, apa maksudnya, aku tidak tahu."

"Dimana adanya sekarang See Tjeetjoemu itu?"

Orang itu celingukan, agaknya ia jeri untuk mengasih tahu. Sin Tjie gunai tenaganya, hingga orang itu meringis, ia takut bukan main.

"See Tjeetjoe pesan aku untuk malam ini pergi ke kuil Sam Kong Sie di luar kota untuk menemui dia,"

Ia buka rahasia.

"Baik, hayo kau antar aku kesana."

Benar-benar orang ini takut, ia mengantarinya, terus sampai di kuil.

Ketika itu, di rumah berhala masih sepi, belum ada seorang lain.

Itulah sebuah kuil tua sekali dan sudah rusak, tidak ada penghuninya.

Sin Tjie periksa semua ruangan, juga depan dan belakang, akhirnya ia totok urat gagu dari bajingan itu tubuh siapa ia lantas lemparkan ke dalam kotak patung.

Kemudian lagi ia tak usah menunggu terlalu lama, akan dengar suara banyak orang lagi mendatangi.

Maka segera ia sembunyikan diri diantara patung sang Buddha yang besar.

Yang datang itu ada beberapa puluh orang, mereka duduk berkerumun di ruang pendopo.

Segeralah terdengar suaranya seorang perempuan.

"Giam Loo-sie, Loo-ngo, pergi kamu berdua saudara membawa empat saudara, untuk menjaga di empat penjuru, di atas genteng juga!"

Demikian satu titah.

Dua orang yang dipanggil dua saudara she Giam yang keempat dan kelima sudah lantas bertindak keluar, untuk jalankan titah itu, maka di lain saat, Sin Tjie pun dengar suara di atas genteng.

"Kamu boleh cerdik tapi sekarang aku sudah ada di sini!"

Ia tertawa dalam hatinya.

Sebentar lagi datang pula serombongan orang, suara mereka berisik ketika suara mereka saling menegur, saling berbahasa saudara satu dengan lain.

Turut apa yang Sin Tjie dengar, mereka adalah dari delapan rombongan atau delapan gunung dari wilayah Shoatang, karenanya dia tak berani berlaku sembarangan.

"Tentang barang-barang yang diangkut telah didapatkan penjelasan,"

Terdengar suara perempuan yang bermula tadi.

"Barang-barang itu adalah permata-permata yang tak dapat ditaksir harganya, pengiringnya ada dua anak muda yang tak tahu apa-apa tetapi pembelanya adalah Ang Seng Hay, satu anggota dari Poet Hay Pay. Dia ini tak ada kecelanya tapi sepasang tangan mana sanggup layani dua pasang? Hanya, memandang muka sesama kaum, jangan kita ganggu jiwanya."

"Untuk merampas harta itu, tak usah See Tjeetjoe pusing memikirkannya,"

Kata satu suara.

"Apa yang penting adalah cara pembagiannya. Kita perlu mengatur terlebih dahulu, supaya kita tak usah merusak persahabatan."

"Aku adalah yang pertama mengetahui harta itu,"

Kata satu suara keras dan kasar,"

Maka menurut aku, setelah barang itu berada di tangan kita, di dalam sepuluh, Ok Houw Kauw dapat dua bagian, Sat Pa Kong juga dapat dua bagian, lalu yang lainnya masing-masing satu bagian."

"Bagus benar!"

Pikir Sin Tjie.

"Kamu telah pandang barangku seperti milikmu sendiri dan sekarang asyik mengatur pembagiannya, untuk dipesta-pora!"

Lalu terdengar satu suara lagi.

"Kenapa kau masing-masing menghendaki dua bagian? Menurut aku, baik kita bagi rata saja, seorang satu bagian."

Sampai di sini, suara jadi ramai, masing-masing memberi usulnya.

"Dibagi sepuluh bagian tidak adil, dibagi delapan tidak adil juga,"

Kemudian kata satu suara tua tetapi keren.

"Ok Houw Kauw terdiri dari beberapa ribu jiwa saudara, tapi Sat Pa Kong dan Loan Sek Tjay cuma terdiri dari tiga-ratus orang. Apakah mereka mesti mendapat bagian rata? Maka usulku adalah Ok Houw Kauw ambil dua bagian, yang lainlain masing-masing satu bagian. Aku minta See Tjeetjoe yang atur cara bekerja kita."

Kebanyakan orang anggap usul ini pantas, mereka suka menerimanya, karena itu, sisa yang lainnya lantas menurut saja.

"Sekarang sudah ada kecocokan, maka baik ditetapkan, besok kita turun tangan,"

Berkata orang yang dipanggil See Tjeetjoe, ketua she Tjee.

"Aku memikir desa Thio-tjhung, dari itu baiklah masing-masing rombongan berkumpul di sana."

Usul ini dapat persetujuan, dari itu tak ayal lagi, mereka saling pamitan dan lantas bubaran, hingga sebentar kemudian, kuil tua itu jadi sunyi senyap pula.

Sin Tjie muncul dari tempat sembunyinya, tanpa perdulikan pula bandit atau orangnya See Tjeetjoe, ia langsung menuju hotelnya, kepada Tjeng Tjeng ia tuturkan hasil "pesiarnya"

Itu. Tjeng Tjeng bengong berpikir.

"Jumlah mereka besar sekali, pasti mereka tak dapat dipukul rubuh semua, tak bisa dibunuh habis,"

Katanya.

"Bagaimana pikiranmu?"

"Jikalau nanti mereka pegat kita, kita bersikap tenang-tenang saja,"

Sin Tjie bilang.

"Kita mesti cari tahu, siapa kepalanya di antara mereka, lantas paling dulu kita cekuk padanya. Aku percaya rombongan mereka tidak berani turun tangan terus."

Tjeng Tjeng tepuk-tepuk tangan, ia tertawa.

"Inilah pikiran bagus!"

Ia memuji.

Besoknya pagi mereka berangkat pagi-pagi.

Segera ternyata, mereka telah dikuntit dengan berani, seperti juga Sin Tjie semua tidak ada lagi di mata mereka.

Seng Hay lihat itu, dia sangat berduka.

"Kelihatannya, Wan Siangkong, hari ini tak dapat dilewatkan lagi,"

Kata dia secara diam

KANG ZUSI -

http.//cerita-silat.co.cc/ diam kepada Sin Tjie.

"Kau jangan kuatir,"

Pesan si anak muda.

"Tugasmu adalah jaga semua kereta, supaya keledai-keledai jangan kaget dan kabur. Untuk layani orang-orang jahat, serahkan itu kepada kita bertiga."

Seng Hay menurut, ia coba menenteramkan diri.

Sin Tjie lantas bicara dengan si empeh gagu, dengan gerak-gerakan tangannya.

Ia pesan, kalau ia sudah turun tangan, A Pa Barulah bekerja, dan yang bakal dibekuk adalah kepalanya penjahat.

A Pa manggut, tandanya ia mengerti.

Di waktu lohor jam tiga atau empat, rombongan kereta keledai yang angkut harta karun sampai di desa Thio-tjhung.

Di muka itu ada segumpal pepohonan lebat.

Segera terdengar suara anak panah mengaung dan muncul beberapa ratus orang yang pada ikat kepala dengan pelangi hijau, pakaian mereka serbat hitam, senjata mereka pelbagai macam, semuanya mengkilap tajam.

Tapi mereka tidak menerbitkan suara berisik, mereka cuma menghadang di tengah jalan.

Tukang-tukang kereta lihat gelagat tidak baik, dengan lantas mereka hentikan keretakereta mereka, habis itu mereka berjongkok sambil tutupi kepala mereka.

Inilah aturan mereka, sebab asal mereka tidak lari serabutan, orang jahat tidak bakal ganggu mereka.

Adalah setelah itu lalu terdengar suara suitan beruntun-runtun, menyusul mana beberapa puluh penunggang kuda muncul dari dalam rimba, menuju ke belakang rombongan kereta, untuk menjaga jalan mundur orang.

Selama di dalam kuil Sam Kong Sie, Sin Tjie tidak lihat nyata roman orang, sekarang Barulah ia melihat tegas tujuh orang yang berbaris di paling muka, orangnya tinggi dan kate, satu di antaranya, yang berumur tiga-puluh lebih, maju pula kesebelah depan sekali.

Dia ini tidak menyekal senjata, dia cuma menggoyang kipas dengan secara tenang.

"Wan Siangkong!"

Ia menegur, suaranya halus.

Sin Tjie kenali suaranya See Tjeetjoe dari Ok Houw Kauw, ia lihat orang itu sikapnya tenang, dan tindakan kakinya tetap, maka ia mengerti kepala berandal ini pasti seorang yang liehay.

Ia pun tidak sangka, dalam kalangan Tjauw-bong, Hutan Rumput, ada orang semacam tjeetjoe ini.

Ia lekas memberi hormat.

"See Tjeetjoe!"

Katanya. Kepala berandal itu heran, inilah ternyata dari romannya.

"Eh, mengapa dia kenal aku?"

Pikirnya.

"Wan Siangkong telah bikin perjalanan jauh, banyak cape, tentu,"

Katanya kemudian. Sin Tjie awasi muka lawan, ia tahu tjeetjoe itu heran bahwa ia ketahui namanya, maka itu ia memikir untuk bikin orang lebih heran.

"Perjalanan jauh tidak melelahkan aku,"

Demikian jawabnya.

"aku hanya sebal sebab barang-barang bawaanku ini terlalu banyak, terlalu berat....."

See Tjeetjoe tertawa.

"Apakah siangkong hendak pergi ke ke kota raja untuk turut dalam ujian ilmu surat?"

Tanyanya.

"Oh, bukan, tjeetjoe,"

Sahut Sin TJie.

"Ayahku titahkan aku pergi ke kota raja untuk menyerahkan uang, guna mendapatkan pangkat."

Kembali kepala berandal itu tertawa.

"Siangkong seorang jujur, tak miripnya kau dengan anak sekolahan yang kebanyakan,"

Katanya. Sin Tjie pun tertawa. Kemudian ia kata.

"Tadi malam satu sahabatku datang memberi tahu padaku, katanya hari ini satu See Tjeetjoe bakal menantikan aku di tengah jalan. Ia pesan aku untuk waspada, maka itu, aku tidak berani berlaku alpa, kuatir aku nanti tak dapat bertemu sama See Tjeetjoe. Sungguh, benar-benar disini kita bertemu! Melihat dandanan tjeetjoe, apakah tjeetjoe juga hendak menuju ke kota raja? Bagaimana jikalau kita jalan sama?"

See Tjeetjoe itu tertawa geli di dalam hatinya.

"Kiranya dia satu pitik yang tak tahu apa-apa!"

Pikirnya. Ia tertawa pula. Ia kata.

"Apakah tidak baik siangkong hidup senang di dalam rumah? Untuk apa siangkong melakukan satu perjalanan begini jauh? Siangkong harus ketahui, diluaran banyak kejahatan...."

Dengan sikap wajar, Sin TJie menyahut.

"Selama di rumah, pernah aku dengar orangorang tua omong tentang penipu dan bunga raya, siapa tahu sesudah aku jalan seribu lie, aku tidak menemui apa juga, dari itu aku beranggapan, omongan itu kebanyakan hanya omongan untuk mendustai orang saja."

Ketujuh tjeetjoe lainnya tak sabaran mendengar bicaranya si anak muda, mereka awasi See Tjeetjoe, mereka kedip-kedipi mata, untuk menganjuri akan turun tangan dengan segera.

See Tjeetjoe rupanya berpikir sama seperti sekalian rekannya itu, mendadakan lenyap wajah berseri-serinya, sebagai gantinya, dia berseru nyaring dan panjang, lantas ia kibaskan, buka kipasnya, hingga pada daun kipas itu tertampak lukisan putih dari sebuah tengkorak dengan mulutnya tengkorak lagi menggigit sebatang golok, hingga romannya jadi sangat menakuti, menggiriskan.

Tjeng Tjeng yang berandalan terkejut juga dalam hatinya, malah Sin Tjie sendiri merasakan hebatnya gambaran tengkorak itu, akan tetapi pemuda ini tetap tenang.

Habis itu, See Tjeetjoe perdengarkan lagi suara tertawa, yang aneh, Baru suaranya berhenti, atau tangannya yang memegang kipas digeraki atas mana, beberapa ratus berandal lantas saja bergerak, untuk maju menyerang.

Sin Tjie mengerti saatnya untuk bertindak, akan tetapi di saat ia hendak berlompat, guna bekuk See Tjeetjoe, dengan tiba-tiba terdengar suara suitan yang nyaring dan tajam dari dalam rimba, hingga tjeetjoe she Tjee itu menjadi kaget, segera kibaskan pula kipasnya, melihat mana, semua berandal berhenti beraksi, semua lantas berdiri diam.

Segera muncul dua penunggang kuda dari dalam rimba itu.

Penunggang kuda yang pertama adalah seorang tua dengan rambut, alis dan kumis-jenggotnya telah putih semua, sedang yang belakangan adalah satu nona dengan baju hijau, tangganya menyekal suitan.

Mereka ini majukan kuda mereka di antara See Tjeetjoe dan Sin TJie, Baru mereka berhenti.

"Inilah perbatasan Shoatang,"

Kata See Tjeetjoe.

"Memang. Siapa yang bilang bukan?"

Sahut orang tua itu.

"Apa yang telah diputuskan ketika dulu kita membuat pertemuan di gunung Tay San?"

See Tjeetjoe tanya pula.

"Itu waktu telah ditetapkan, kami dari pihak Tjeng Tiok Pay tidak akan memasuki daerah Shoatang untuk bekerja, dan kamu tidak dapat bekerja di Hoopak,"

Si orang tua menjawab pula.

"Bagus!"

Kata See Tjeetjoe.

"Habis angin apakah sudah tiup Thia Loo-ya-tjoe datang kemari?"

Orang tua itu menyahuti dengan tenang.

"Aku dengar kabar suatu barang-barang bakal dibawa masuk ke Hoopak, katanya tak sedikit terdiri dari barang baik, karenanya kita datang dulu untuk melihat."

Wajahnya See Tjeetjoe berubah.

"Jikalau ditunggu sampai barang sudah sampai di daerah Hoopak, Baru dilihat, toh masih belum terlambat?"

Dia tanya. Si orang tua tertawa berkakakan.

"Bagaimana tidak terlambat?"

Katanya.

"Jikalau barang sudah terjatuh ke dalam tangan pihakmu, gilirannya untuk melihat saja sudah tidak ada!"

Sin Tjie bertiga Tjeng Tjeng dan Ang Seng Hay saling memandang di dalam hati mereka, mereka berpendapat bagaimana cepatnya orang-orang Hoopak dengar kabar hal angkutan harta karun itu, hingga mereka sudah lantas datang untuk mendahulukan turun tanagan, atau untuk mendapati sebagian saja.

Mereka pun pikir, baik mereka "tonton"

Sepak-terjang lebih jauh dari mereka itu.

Di pihak Shoatang, orang lantas bicara dengan seru, umumnya meeka katakan si orang tua bersikap tak tahu aturan.

Menurut suara mereka, orang tua ini rupanya bernama Thia Tjeng Tiok.

"He, apa yang kamu bicarakan demikian berisik?"

Si orang tua tanya rombongan Shoatang itu.

"Aku sudah tua, kupingku tak dengar nyata...."

See Tjeetjoe kibas-kibaskan kipasnya, untuk cegah rombongannya.

"Kita telah membuat perjanjian, Thia Loo-ya-tjoe, mengapa kau tidak hendak menepati janji?"

See Tjeetjoe tanya pula.

"Ia tak dapat dipercaya, apakah dia tak bakal ditertawai orang-orang gagah kaum kang-ouw?"

Ditegur secara demikian, si orang tua tidak menjawab, ia hanya menoleh kepada si nona di sampingnya, akan tanya.

"Eh, A Kioe, ketika masih di rumah, apakah kataku kepadamu?"

Si nona jawab.

"Kau bilang, mari kita pergi ke Shoatang untuk lihat barang-barang berharga."

Tjeng Tjeng ada satu nona akan tetapi ia kagum mendengar suaranya nona ini.

Itulah suara yang halus, jernih, sedap didengarnya.

Maka ia menoleh kepada nona itu, yang ia awasi, hingga ia tampak lebih jelas wajah orang, muka yang bersemu dadu, segar dan manis.

Dia adalah satu nona muda yang eilok dan menarik.

"Apakah kita pernah omong bahwa kita hendak ulur tangan kita untuk ambil barang itu?"

Thia Tjeng Tiok tanya pula, sambil tertawa.

"Tidak,"

Sahut si A Kioe itu.

"Sekarang pun kita tidak bicara sebagai itu."

Baru sekarang si orang she Thia berpaling pada See Tjeetjoe.

"Lauwtee, kau dengar atau tidak?"

Ia tanya.

"Kapan aku pernah bilang hendak bekerja dalam daerah Shoatang?"

See Tjeetjoe berubah wajahnya, ia bersenyum.

"Bagus, itu Barulah namanya sahabat!"

Dia bilang.

"Thia Loo-ya-tjoe datang dari tempat jauh, sebentar kau akan dapat satu bagian!"

Orang she Thia itu tak ambil mumet akan kata-katanya tjeetjoe ini, ia hanya berpaling pula kepada si nona.

"Eh, A kioe, apa saja yang kita katakan pula di rumah?"

Tanya ia.

"Kau bilang, barang permata itu tak sedikit, jangan kita biarkan lain orang mengambilnya,"

Sahut orang yang ditanya.

"Hm!"

Bersuara Thia Tjeng Tiok.

"Umpama orang hendak mengambilnya?"

"Kalau sampai terjadi demikian, kami harus turun tangan untuk melindunginya,"

Sahut pula si nona. Tjeng Tiok tertawa.

"Bagus, ingatannya anak muda tak jelek!"

Serunya.

"Ya, aku ingat telah mengucapkan demikian."

Lalu ia menoleh kepada si See Tjeetjoe, dan kata.

"Apa kau sekarang telah mengerti, lauwtee! Kami tak dapat bekerja di Shoatang, itu benar, akan tetapi kami hendak melindunginya! Tidakkah untuk ini tidak ada perjanjiannya?"

Mukanya tjeetjoe she See ini menjadi pias-padam.

"Sekarang kau larang kita turun tangan!"

Katanya dengan sengit.

"akan tetapi nanti, setelah barang sampai di dalam daerah Hoopak, disana kaulah yang nanti lonjorkan tanganmu, bukan?"

"Benar,"

Aku Thia Tjeng Tion.

"Bukankah ini tidak merusak persahabatan? Bukankah ini tidak melanggar perjanjian kita di Tay San?"

Semua berandal itu menjadi sangat gusar.

Itulah alasan yang dipaksakan, yang dicari-cari.

Dari murka, mereka jadi niat menyerang ayah dan gadisnya itu.

Bukankah mereka Cuma berdua saja?

Selagi orang berdiam, A KIoe bawa dua lembar daun bambu ke dalam mulutnya, untuk tiup itu.

Itulah suitan istimewa, yang memberikan pertandaan rahasia.

Menyusul bunyinya suitan, dari dalam rimba muncul beberapa ratus orang yang pakaiannya tak berseragam, kecuali di kopiah mereka, masing-masing mereka menyelipkan selembar daun bambu yang hijau.

See Tjeetjoe terkejut dalam hati.

"Ah, kiranya dia telah bikin persiapan....."

Pikirnya.

"Nyatalah saudara-saudara kita yang ditugaskan sebagai mata-mata, buta matanya! Kenapa mereka tidak ketahui orang datang dalam jumlah begini besar?"

Tidak ayal lagi, See Tjeetjoe memberikan isyaratnya, maka lantas semua tujuh tjeetjoe lainnya serta Tam Hoe Tjeetjoe, ketua muda dari Ok Houw Kauw, lantas atur barisan mereka masing-masing.

Tak gentar hatinya Thia Tjeng Tiok menampak persiapan pihak delapan tjeetjoe itu, inilah disebabkan ia percaya orang-orangnya sendiri, yang ia rasa telah ia atur dengan sempurna.

Sin Tjie tarik tangannya Tjeng Tjeng, si nona berpaling kepadanya, keduanya lantas bersenyum.

"Barang masih belum didapatkan, mereka sudah berkeras di antara kawan sendiri, sungguh lucu!"

Kata si nona dengan perlahan. Ia pun tidak jeri.

"Biar saja!"

Kata Sin Tjie.

"Kita jadi si nelayan yang peroleh hasil! Tak jelek, bukan?"

Walaupun mereka bersiap untuk bertempur, kawanan begal Shoatang itu masih sempat pisahkan sejumlah kecil, ialah beberapa puluh orangnya, untuk jaga kereta-kereta barang, rupanya mereka kuatir, selagi mereka adu jiwa, kereta-kereta nanti kabur.

Sin Tjie lambaikan Seng Hay.

"Tjeng Tiok Pay itu golongan apa?"

Tanya ia pada pengikut itu.

"Di wilayah Hoopak, Tjeng Tiok Pay berpengaruh sendiri,"

Seng Hay terangkan.

"Orang tua itu, Thia Tjeng Tiok, adalah ketuanya. Jangan kita lihat dia dari kurus tubuhnya dan tua usianya, ilmu silatnya liehay sekali!"

"Dan itu anak kecil?"

Tjeng Tjeng tanya.

"Dia cucunya atau gadisnya?"

"Turut apa yang aku dengar, tabeatnya Thia Tjeng Tiok aneh sekali,"

Sahut Seng Hay.

"Seumur hidupnya, dia tidak pernah menikah, dari itu tak mungkin nona itu ada cucu atau anaknya. Mungkin dia kemenakan atau anak pungut...."

Tjeng Tjeng manggut-manggut.

Nona A Kioe itu bersikap tenang sekali, tak sedikit jua kentara ia berkuatir, maka Tjeng Tjeng sangka dia liehay boegeenya.

Ia terus mengawasi kawanan begal itu.

Di pihak Tjeng Tiok Pay, berulang-ulang terdengar suitan., lalu jumlah mereka yang terdiri dari beberapa ratus jiwa lantas pusatkan diri dalam empat pasukan, sesudah mana, Tjeng Tiok dan A Kioe tempatkan diri di muka barisannya itu.

Mereka masing-masing menunggang kuda.

Mereka hendak bertempur akan tetapi mereka tidak menyekal senjata.

Dimana kedua pihak sudah siap, pertempuran akan meletus sembarang waktu, selagi begitu, di arah selatan, terdengar suara kelenengan nyaring, lalu tertampak tiga penunggang kuda mendatangi dengan cepat sekali, kemudian satu diantaranya, yang maju paling depan berseru.

"Sama-sama sahabat sendiri, tolong kamu pandang mukaku!"

"Hei, heran!"

Pikir Sin Tjie.

"Mengapa muncul pula satu tukang mendamaikan?...."

Ia lantas mengawasi.

Sebentar saja, ketiga penunggang kuda itu telah datang dekat.

Orang yang pertama berumur lima-puluh lebih, roman mereka mirip dengan seorang hartawan bekas pembesar negeri, sebab ia pakai baju panjang tersulam dan tangannya menyekal sebatang hoentjwee besar.

Dua yang lain, yang tubuhnya jangkung dan kate, sangat sederhana dandanannya.

Begitu lekas sudah tempatkan diri diantara kedua pihak rombongan yang hendak adu tenaga itu, orang itu angkat hoentjweenya, ia tertawa, lalu dengan nyaring, ia kata.

"Kita ada diantara saudara-saudara sendiri, omongan apa yang tak dapat diucapkan? Kenapa kita mesti angkat senjata? Apakah kamu tak kuatir nanti ditertawai kaum kang-ouw umumnya?"

"Thie Tjhungtjoe, bagus kau telah datang!"

Berkata See Tjeetjoe.

"Tolong kau berikan pemandanganmu, untuk ketahui siapa benar dan siapa keliru...."

Tjeetjoe ini lantas bentangkan sikapnya Thia Tjeng Tiok.

Orang she Thia itu tidak perdulikan apa yang orang bilang, ia cuma tertawa saja dengan dingin.

Selagi orang bicara, Ang Seng Hay kata pada Sin Tjie.

"Wan Siangkong, See Tjeetjoe itu bernama See Thian Kong, gelarannya Im-yangsie, si Kipas Imyang. Bersama-sama Thie Tjhungtjoe itu, yang bernama Tie Hong Lioe, mereka menjadi dua cabang atas didalam propinsi Shoatang."

"Jadi mereka inilah yang dulu kau sebut-sebut?"

Kata Tjeng Tjeng.

"Dan kenapa dia dipanggil tjhungtjoe?"

Tanya Sin Tjie. Tjhungtjoe adalah hartawan atau pemilik sebuah kampung dimana dia berpengaruh seorang diri. ("Tjhung"

Dari tjhungtjoe baca mirip "tjeng"

Dari "cengkeram").

"Bedanya ialah,"

Menerangkan Ang Seng Hay.

"kalau See Tjeetjoe berkedudukan di atas gunung dengan pesanggrahannya, Tie Hong Lioe hidup sebagai satu wan-gwee, hartawan yang berumah-tangga dalam sebuah kampung, sebab di depan dan belakang kampung itu ditanami ribuan pohon yanglioe merah, kampungnya itu diberi nama Tjian-lioe-tjhung. Tapi sebenarnya dia adalah begal tunggal, dia bisa membegal atau merampas sendirian, kalau dia "

Bekerja", dia cuma ajak dua atau tiga pembantunya."

Dalam hatinya, Tjeng Tjeng bilang.

"Dia jadinya mirip dengan cara hidupnya beberapa yayaku dari Tjio Liang Pay..."

Segera terdengar suaranya Tie Hong Lioe.

"Thia Toako, di dalam hal ini, toakolah yang kurang tepat. Ketika dahulu dibikin rapat besar di gunung Tay San, dengan kebaikannya semua saudara, yang masih memandang mata kepadaku, aku telah diundang hadir, itu waktu telah ditetapkan bahwa kita masing-masing tak dapat bekerja di luar batas wilayah pengaruh sendiri!"

"Itulah benar, Tie Tjhungtjoe,"

Shaut Thia Tjeng Tiok dengan tenang.

"tapi sekarang aku bukannya hendak bekerja, aku hanya bermaksud baik, niat melindungi rombongan kereta barang-barang ini. Tie Lauwko, kupingmu terang sekali, di mana saja kau dengar ada 'airminyak', lantas kesana kau sodorkan hoentjweemu!...."

Orang she Tie itu tertawa terbahak-bahak, terus ia tunjuk dua orang yang iringi padanya.

"Kedua tuan ini adalah Hoey-im Siang Kiat, Goe Hoa Seng dan Thio Hin. Mereka yang sengaja bergegas-gegas datang ke kampungku akan memberitahukan bahwa mereka mempunyai satu bahagian harta kegirangan untuk dipersembahkan kepadaku. Tubuhku telah jadi begini gemuk, aku malas untuk bekerja pula, akan tetapi mereka dua saudara demikian sungguh-sungguh, terpaksa aku tak dapat tampik kecintaan mereka, terpaksa aku keluar, untuk melihat, aku tidak sangka disini aku bertemu dengan saudara beramai. Sungguh, inilah ramai sekali!"

Sin Tjie pandang Tjeng Tjeng, dalam hatinya, ia kata.

"Bagus, sekarang tambah tiga ekor kucing!"

See Thian Kong sebaliknya pikir.

"Orang she Tie ini liehay, baik aku rombak aturan pembagian, aku bagi dia satu bagian, supaya kita bisa bekerja sama-sama untuk hadapkan Tjeng Tiok Pay."

Karena ini, dia kata kepada tjhungtjoe itu.

"Tie Tjhungtjoe adalah orang dari wilayah Shoatang, umpamanya Tie Tjhungtjoe kehendaki satu bahagian, kami tidak bisa bilang satu apa, tetapi jikalau orang dari lain wilayah masuk kemari, lalu kita mengalah, habis dari mana kita punyakan nasi untuk didahar?"

Tie Hong Lioe tidak bilang suatu apa kepada orang she See itu, dia hanya pandang Thia Tjeng Tiok untuk tanya.

"Nah, Thia Toako, apa katamu?"

"Urusan hari ini terang tak dapat diselesaikan secara baik,"

Sahut orang she Thia itu.

"Baiklah, mari kita bicara secara terbuka, kita cari kemenangan atau kekalahan di ujung golok dan tumbak saja!"

Nyata ketua dari Tjeng Tiok Pay ini bernyali sangat besar, tidak perduli dia lagi hadapi musuh demikian banyak.

"Dan kau, See Lauwtee, bagaimana dengan kau?"

Tie Hong Lioe menoleh pada See Thian Kong yang menjawab dengan lantas.

"Kami orang laki-laki dari Shoatang, tak dapat kami mengalah untuk diperhina orang lain daerah yang datang cari rumah kita!"

Dengan jawabannya itu, terang See Thian Kong sudah tarik Tie Hong Lioe kepada pihaknya. Thia Tjeng Tiok mengulet, ia pun menguap.

"Sekarang bagaimana, kita maju semua berbareng atau satu demi satu?"

Tanya dia dengan tantangannya.

"Silahkan See Tjeetjoe mengaturnya, pihakku yang rendah bersedia untuk turut segala titahmu."

See Thian Kong goyang-goyang kipas Im-yang-sienya, ia pun berulang-ulang perdengarkan suara menghina.

"Hm! Hm!"

"Dan kau, Tie Toako, bagaimana pikiranmu?"

Dia tanya.

Ketika pertama kali Tie Hong Lioe terima laporan Hoay-im Siang Kiat, sepasang jago dari Hoa-im, dia telah memikir untuk telan sendiri harta karun itu, maka ia sudah berangkat dengan cepat, ia tidak sangka, dia telah datang terlambat, dari itu, dia memikir boleh jugalah ia mendapat hanya satu bagian.

Tapi ia juga insyaf di pihak Tjeng Tiok Pay ada banyak orang liehay.Thia Pangtjoe sendiri telah kesohor untuk banyak tahun, dia itu bukan orang sembarangan, tak dapat dia cari gara-gara dengan orang she Thia itu.

Maka setelah berpikir sebentar, ia utarakan pikirannya.

"Jikalau begini duduknya hal, sulit untuk mencari pemecahan, satu pertempuran tak dapat dielakkan lagi,"

Katanya.

"Kalau kita bertempur secara merabuh, mesti banyak orang terluka dan terbinasa. Kenapa kita mesti minta banyak korban, hingga persahabatan jadi terganggu hebat? Bagaimana jikalau aku majukan satu usul?"

"Silakan kau mengutarakannya, Tie Tjhungtjoe,"

Kata Thia Tjeng Tiok dan See Thian Kong hampir berbareng. Dengan hoentjweenya, Tie Hong Lioe menunjuk kepada sepuluh buah kereta-kereta harta karun. Dia kata.

"Disana ada sepuluh peti besi, maka itu, kita baik majukan saja sepuluh orang masing-masing, dengan begitu, pertempuran pun berarti sepuluh kali juga, batasnya yaitu sampai saling towel saja, jangan kita meminta jiwa. Siapa menang satu kali, dia dapat satu peti. Tidakkah ini paling adil? Anggap saja kita sedang sempat, hitung-hitung kita berlatih di sini, untuk menambah pengetahuan, siapa dapati barang permata, dia dapat hadiah kepala. Siapa tidak peroleh pahala, jangan dia berkecil hati, karena toh asalnya bukan kepunyaan kita sendiri! Bagaimana djiewie pikir?"

Mendengar usul itu, Thia Tjeng Tiok paling dulu nyatakan akur. See Thian Kong juga nyatakan akur, karena ia pikir.

"Biar aku antap setiap rombongan majukan orang-orangnya, umpama mereka masing-masing menang, itu pun memang hak mereka, tapi umpama mereka kalah, kekalahan mereka tidak ada ruginya untuk aku. Jikalau dari pihakku, aku sendiri yang keluar bersama Tam Loo-djie, pasti kita tidak akan kalah, tentu kita bakal dapat dua buah peti."

Sampai di situ, kedua pihak lantas balik kedalam masing-masing barisannya, yang pun berbareng mereka tarik pulang, setelah mana, mereka mulai pilih orang-orang sendiri yang bakal dimajukan dalam pertandingan.

Tie Hong Lioe sendiri lantas perintah orang beri tanda dengan coretan huruf-huruf kepada sepuluh peti itu, alat pencoretnya adalah tanah lempung kuning.

Sin Tjie dan Tjeng Tjeng antap saja orang cumprang-compreng peti mereka.

Thia Tjeng Tiok lihat dua anak muda itu tenang-tenang saja, sedikit juga tidak tertampak mereka berkuatir, ia heran, karenanya, beberapa kali ia melirik ke arah mereka itu.

Kemudian kawanan berandal itu berkerumun mengurung Tie Hong Lioe, yang menjadi seperti saksi atau wasit.

Mulanya pihak Shoatang majukan jagonya, disusul sama jago pihak Hoopak; mereka ini bertubuh besar dan kasar, terang mereka bertenaga besar, maka itu, perkelahian mereka seru.

Pihak Hoopak kurang waspada, satu kali kakinya kena direngkas, dia jatuh, rubuh terbanting.

Dia hendak bangun, untuk berkelahi pula.

Tapi Tie Hong Lioe, sang wasit, goyangi tangan padanya dan tulisan huruf "Lou" (Shoatang) pada peti pertama yang bertanda huruf "Kak", itu berarti pihak Shoatang yang rebut kemenangan pertama.

Pertandingan ini disambut dengan tampik-surak.

Sebagai jagonya yang kedua, pihak Hoopak majukan seorang yang See Thian Kong kenal sebagai ahli tangan-pasir Tiat-see-tjiang, maka itu, ia suruh ketua mudanya, Tam Tjeetjoe, untuk layani musuh itu.

Kedua jago tak berbeda banyak kepandaiannya, tapi Tam Hoe-tjeetjoe lebih terlatih, selang beberapa puluh jurus, dia berhasil hajar lengan lawan hingga lengannya jago Hoopak itu tak dapat diangkat.

Maka untuk kedua kalinya, pihak Shoatang yang menang.

Bukan main girangnya pihak Shoatang.

Tapi di babak ketiga, keempat, kelima dan keenam, mereka kalah dengan beruntun, hati mereka juga goncang.

Kapan sampai waktunya babak ketujuh, kedua jago yang maju masing-masing bekal senjata.

Di pihak Shoatang maju tjeetjoe dari Sat Pa Kong, bukit Sembelih Macan Tutul, yang bergegaman golok besar Poat-hong Kioe-hoan-too.

Dia ini gagah, dia berhasil membacok sebelah bahu lawannya.

Melihat sampai di situ, Tie Hong Lioe berpikir.

Peti tinggal tiga buah, apabila ia tidak lantas turun tangan, dia bisa kehabisan, dia bakal dapat tangan kosong, maka ia ingin majukan orangnya sendiri guna layani pihak Tjeng Tiok Pay.

Dia anggap cukup asal ia dapatkan satu peti saja....

"See Lauwtee,"

Kata dia pada See Thian Kong, sesudah dia berdehem-dehem.

"pihak sana itu, makin lama jadi makin hebta, maka itu kali ini, biarlah aku yang sambut padanya."

See Thian Kong mengerti, wasit ini tak boleh pulang dengan tangan kosong, ia suka mengalah.

"Aku harap bantuan Tie Tjhungtjoe untuk lindungi nama baik kita,"

Katanya.

Tapi kapan telah sampai waktunya pihak Tjeng Tiok Pay majukan jagonya, tjhungtjoe dari Tjian-lioe-tjhung jadi melongo, ia berdiri tercengang.

Karena yang maju itu adalah A Kioe, si nona muda, yang umurnya tidak lebih dari lima-belas atau enam-belas tahun!

Dan tangannya pun tidak menyekal senjata tajam, melainkan dua batang bambu yang kecil.

"Aku adalah satu jago Rimba Persilatan, mana dapat aku perhina diri dengan layani satu nona cilik?"

Pikir dia. Dia sudah maju beberapa tindak, atau mendadakan dia merandek, lantas dia kembali.

"Lauwtee, kau majukan lain orang saja,"

Katanya pada See Thian Kong.

"Aku nanti maju di babak lainnya...."

See Tjeetjoe tahu, tjhungtjoe itu tidak mau lawan satu nona, maka ia serukan orangorangnya.

"Saudara yang mana yang mempunyai kegembiraan hati akan temani nona kecil itu memain?"

Segera maju satu orang yang tubuhnya tinggi dan romannya gagah, mukanya putih, senjatanya sepasang poan-koan-pit, gegaman mirip pit peranti menotok jalan darah.

Dialah Tjin Tong, tjeetjoe dari Oey Sek Po, dia gemar pelesiran, dari itu dia ketarik sama si nona Thia, yang romannya cantik manis dan menggiurkan.

Dia maju sambil menyahuti seruannya See Thian Kong.

Melihat orang yang maju itu, See Tjeetjoe bersenyum.

"Memang, di antara kita, lauwtee adalah yang paling cocok!"

Katanya.

Tjin Tong hendak banggakan kepandaiannya, dia berlompat ke depan si nona.

Dia benarbenar bertubuh enteng, gesit sekali gerakannya.

Diapun telah pikir untuk bicara dengan nona itu, untuk membikin senang hati si nona.

Tapi, Baru saja ia menaruh kaki, atau tangannya A Kioe telah bergerak, bambu di tangan kanannya sudah sambut ia dengan satu tusukan, yang arah dadanya.

Dia satu ahli menotok jalan darah, sudah wajarnya dia gesit, akan tetapi sekjarang, dipapaki secara demikian, dia terkejut sekali, tidak ayal lagi, dia menangkis dengan poankoanpit kiri.

Tapi menyusul tangan kanannya itu, tangan kiri si nona menusuk secara cepat luar biasa sampai, saking sibuk, tjeetjoe ini mesti tolong diri dengan jatuhkan tubuhnya untuk terus bergulingan di tanah, hingga kepalanya penuh debu, hingga dia keluarkan keringat dingin.

Semua berandal dari Shoatang terperanjat, mereka tak menyangka nona itu begitu muda tapi demikian liehay, malah Sin Tjie dan Tjeng Tjeng turut merasa heran juga, hingga kedua pemuda dan pemudi ini saling melirik.

Tjin Tong sudah berlompat bangun, akan layani pula A Kioe, dengan begitu, keduanya sudah mulai bertempur, hingga tertampak lebih jauh, nona Thia telah gunakan dua batang bambunya bagaikan tumbak, gegamannya itu lemas tetapi bisa dibikin kaku.

Dalam tempo yang pendek, Tjin Tong telah kena dibikin berpikir keras, sebab kadangkadang ujung bambunya si nona juga mencari jalan darahnya.

Dia pun pikirkan apabila dia tak sanggup rubuhkan si nona, bagaimana dengan nama besarnya di Shoatang sebagai seorang tjeetjoe yang kesohor?

Maka dalam sibuknya, dia bikin perlawanan dengan sungguh-sungguh.

A Kioe berkelahi secara luar biasa.

Satu kali ia renggang dari lawan, dengan bambu kiri dia menekan tanah, lalu tubuhnya mencelat naik, berlompat ke arah musuh, bambu kanannya, dari atas, menyerang turun; kapan serangannya ini gagal, bambu kanan itu diteruskan dibikin mengenai tanah, hingga di lain saat, tubuhnya mencelat naik pula, hingga sekarang ia bisa menyerang pula dengan tangan kiri.

Tak tahu Tjin Tong, bagaimana dia harus layani penyerangan macam ini, karena sibuk, dia terpaksa main menangkis saja sambil saban-saban mundur.

Tetapi A Kioe terus desak dia, hingga dia jadi repot sekali dan berkuatir dia tak dapat ketika, untuk balas menyerang.

Dalam repotnya, tahu-tahu ujung bambu telah mengenai bahu kirinya, di bagian jalan darah "kin-tjeng-hiat" , maka tak ampun lagi, lengan kirinya jadi kaku, poankoanpitnya terlepas dari cekalan dan jatuh ke tanah, berbareng dengan itu, mukanya jadi bersemu merah!

Mau atau tidak, dia mesti mengaku kalah, dia mundur sambil tunduki kepala....

A Kioe antapkan lawan itu mundur, dia berniat undurkan diri, tapi segera ia tampak Tie Hong Lioe bertindak menghampiri padanya sambil jago dari Tjian-lioe-tjhung itu terus berkata.

"Nona, tunggu dulu! Nona sungguh liehay, benar-benar, di bawahannya satu jenderal perang ternama, tidak ada serdadu yang lemah! Umpama kata nona masih belum letih, aku suka main-main denganmu beberapa jurus. Bagaimana?"

A Kioe tertawa gembira.

"Sebenarnya aku belum memain!"

Sahutnya.

"Jikalau Tie Pehhoe hendak berikan pengajaran kepadaku, itulah baik sekali. Pehhoe hendak gunai senjata apa?"

Tie Hong Lioe tertawa.

"Orang tua layani anak kecil memain, mustahil aku mesti pakai gegaman?"

Katanya.

"Aku akan bertangan kosong!"

Hong Lioe telah saksikan orang bertempur, ia terperanjat akan dapatkan nona muda itu demikian liehay, hingga ia percaya, disebelah si nona, dipihaknya nona ini, mesti ada lainlain orang yang tak kurang liehaynya, maka itu, dari sungkan turun tangan, dia pikir baik ia mendahului maju, akan rintangi nona ini, asal dia telah dapati sebuah peti, urusan lainnya boleh lihat belakangan....

Di pihak Tjeng Tiok Pay, tiga orang hendak majukan diri, karena mereka kuatir si nona menjadi terlalu lelah, akan tetapi A Kioe besar nyalinya, dia beri tanda kepada tiga kawan itu sambil berkata.

"Aku telah beri kata-kataku kepada Tie Pehhoe!"

Maka itu, tiga orang itu terpaksa mundur pula.

Tie Hong Lioe bertindak dengan perlahan menghampirkan si nona di tengah-tengah kalangan, sembari bertindak, dia telah kerahkan semangatnya, tenaga khie-kang, maka di lain saat, mukanya yang tadinya putih lantas saja berubah menjadi bersemu dadu.

Tjeng Tiok saksikan perubahan muka itu, dia gapekan puterinya, atas mana, sambil berlompat, A Kioe hampiri sang ayah.

Segera Tjeng Tiok bisiki gadisnya, siapa manggut-manggut, sesudah itu, si nona kembali ke dalam kalangan, di depan Hong Lioe, dia membungkuk, untuk memberi hormat, habis itu, ia putar sepasang tumbak bambunya itu, untuk mengurung diri.

Ia tidak segera menyerang.

Dengan tindakan ayal sekali, Hong Lioe dekati si nona, lalu dengan sekonyong-konyong, ia menyerang.

A Kioe menangkis dengan pentang kedua tumbaknya, apabila ia sudah menarik pulang, lantas ia mulai dengan serangannya membalas, dimulai dengan tangan kanan, disusul sama tangan kiri, kemudian kedua batang bambu itu diteruskan, dipakai menyerang saling susul tak hentinya, ia mendesak bagaikan serangan badai.

Di pihak Tjeng Tiok Pay orang bertampik-surak melihat cara berkelahinya pahlawan mereka.

Tie Hong Lioe berlaku tenang walaupun ia telah dicecar secara demikian, di lain bagian, mukanya jadi semakin merah dan semakin merah, hingga sinar merah itu sampai kepada batang lehernya, Ia masih main maju saja, kedua tangannya bergerak-gerak menghalau sesuatu tusukan.

Ia bertubuh besar dan tangguh, hatinya mantap, disebelah ia ada satu nona muda, yang tubuhnya kecil-langsing, yang sedang hunjuk kegesitannya.

Sin Tjie tonton pertempuran itu.

"Dia tua-bangka tetapi dia sudi layani satu nona-remaja,"

Kemudian ia kata kepada Tjeng Tjeng, kawannya.

"Kau lihat, dia berniat turunkan tangan jahat."

"Nanti aku tolong nona itu!"

Sahut Tjeng Tjeng. Sin Tjie tertawa.

"Dua-dua mereka hendak rampas harta kita, untuk apa tolongi dia?"

Ia tanya.

"Tapi nona itu manis, dia sangat simpatik!"

Kata Tjeng Tjeng.

"Baik kita tolong dia , urusan di belakang, ada lain. Toako, pergi kau yang turun tangan!"

Sin Tjie tertawa pula, ia manggut-manggut. Pertempuran masih berjalan, mukanya Hong Lioe tetap merah, tapi cahaya merah itu sudah melulahan ke seluruh lengannya.

"Kalau sebentar cahaya merah itu sampai di tangannya, celakalah si nona,"

Kata Sin Tjie pada kawannya.

Dia berlaku tenang, dia telah pikir bagaimana harus bertindak.

A Kioe telah berhasil menotok atau menusuk Hong Lioe, sampai beberapa kali, akan tetapi ia tidak peroleh hasil sebagaimana tadi ia lawan Tjin Tong.

Hong Lioe tidak perdulikan serangan itu, ia tetap berlaku tenang, ia maju dengan perlahan, Cuma setiap herakannya jadi makin berat dan makin berat.

Di samping dia, pada A Kioe pun terjadi perubahan karena ia ini sibuk sendirinya melihat serangan-serangannya yang tidak memberi hasil, walaupun ia bisa menusuk dengan tepat, hingga di lain saat, kegesitannya mulai berkurang, napasnya pun mulai memburu.

Thia Tjeng Tiok pun telah perhatikan jalannya pertempuran.

"A Kioe, kembali!"

Ia teriaki gadisnya.

"Tie Pehhoe telah menang!"

Nona itu dengar kata, ia lantas putar tubuhnya, untuk mundur. Tetapi Tie Hong Lioe desak ia.

"Setelah kau tusuk aku berulang-ulang, kau masih berniat menyingkir?"

Dia membentak.

Dia tetap bergerak ayal akan tetapi A Kioe toh seperti kena dikurung, ia tak dapat terus mundur.

Tangannya jago she Tie ini pun mulai merah sekarang.

Tjeng Tiok ambil sebatang bamboo dari tangannya satu orangnya, dia serukan.

"Semua berhenti!"

Justeru itu, See Thian Kong yang geraki kipasnya, maju, untuk serang ketua Tjeng Tiok Pay ini, malah dia arah jalan darah, hingga mau atau tidak, Tjeng Tiok mesti tangkis serangan mendadak ini.

Malah ia mesti melayani terus, hingga ia tak bisa pecah tubuh, untuk tolongi puterinya.

Ia tahu, orang she See ini liehay, ia mesti waspada.

Di pihak sana, A Kioe sudah mandi keringat, bertetes-tetes, air keringat jatuh dari kepalanya, sedang kedua tangannya sangat repot membela diri dari desakannya Hong Lioe.

Sekonyong-konyong saja Sin Tjie menjerit-jerit bagaikan orang edan-tolol.

"Ayo! Tolong! Tolong!"

Dan kudanya kabur ke tengah kalangan, kea rah Thia Tjeng Tiok dan See Thian Kong, hingga mereka ini, mau atau tidak, mesti pisahkan diri.

Sin Tjie bercokol di atas kuda dengan tubuh limbung, kedua tangannya dipakai memeluki leher kuda, agaknya ia seperti mau jatuh, akan tetapi, sesudah miring dan merosot ke bawah perut kuda, ia berhasil perbaiki diri, duduk pula di atas bebokong kudanya.

Kuda itu sendiri terus berlarian, seperti lagi kalap.

Kemudian binatang itu lari ke arah A Kioe dan Hong Lioe, hingga sekejab saja, dia telah pisahkan kedua orang yang lagi bertempur seru itu, malah sekarang, dia mau berhenti berlari-lari, berdiri di antara kedua musuh itu.

Sin Tjie lekas-lekas merosot turun dari kudanya.

"Sungguh berbahaya! Sungguh berbahaya!"

Ia ngoceh sendirinya.

"Inilah yang dibilang lolos dari kematian...Eh, binatang, apakah benar kau maui jiwanya majikanmu?"

Sementara itu, dengan jengah, A Kioe telah gunai kesempatan, untuk kembali ke dalam barisannya.

Dalam keadaan seperti itu, Hong Lioe tidak dapat kejar dia.

Tapi Thia Tjeng Tiok sendiri tidak mau berhenti sampai di situ.

"See Tjeetjoe, aku masih ingin belajar kenal dengan Im-yang Poo-sie!"

Ia tantang pula See Thian Kong.

"Ya, ini pun untuk pertandingan peti terakhir!"

Sahut orang she See itu.

Maka tak tempo lagi, keduanya bertempur pula.

Tadi mereka bertempur sampai beberapa puluh jurus tanpa ada keputusannya, sekarang ini mereka cari keputusan itu.

Maka keduanya bertarung dengan hebat sekali.

Sepasang toya bamboo dari Thia Tjeng Tiok ada panjang, permainan silatnya pun liehya, ia mmembuat lawannya dengan senjata kipasnya tak mampu dekati padanya.

Tatkala itu matahari yang merah sudah mulai doyong ke barat, beberapa rombongan gaok, dengan suaranya yang berisik, mulai terbang pulang ke hutan.

Setelah berjalan lagi beberapa puluh jurus, See Thian Kong mulai keteter, gerak-gerakan kakinya telah menjadi kacau.

Tie Hong Lioe lihat keadaan itu, ia lantas berseru.

"Kedua pihak sama tangguhnya, keputusan menang dan kalah sukar diambil, maka itu peti ini baiklah dibagi dua saja dengan rata!"

Justeru itu, Thia Tjeng Tiok telah perdengarkan suara tawa yang panjang membarengi sapuan senjatanya yang istimewa itu.

Atas serangan ke bawah itu, See Thian Kong apungi diri untuk berlompat menyingkir, akan tetapi Tjeng Tiok berlaku sangat sebat, setelah gagal sapuan yang pertama, ia ulangi itu selagi lawannya belum sempat injak tanah, dari itu tak ampun lagi, sebelah kakinya lawan itu kena tersapu, tubuhnya menjadi limbung, lantas saja dia rubuh.

Sesudah sang lawan jatuh, Thia Tjeng Tiok tidak menyerang lebih jauh, dia malah tarik pulang senjatanya.

Tapi See Thian Kong telah kertak gigi saking malu dan mendongkol, sambil rebah ia tekan pesawat rahasia pada kipasnya itu, yang ia tujukan ke bebokongnya si orang she Thia, yang telah memutar tubuh, maka lima batang paku rahasia lantas menyerang ketua dari Tjeng Tiok Pay itu tanpa dia ini ketahui atau sempat berkelit, hingga semua lima-limanya paku nancap di bebokongnya itu.

Tjeng Tiok kaget, apapula kapan ia rasai bebokongnya lantas ngilu dan baal, insyaf pada bahaya, ia segera menahan napas, ia tak mau bicara, kemudian dengan satu lompatan, ia dekati lawannya itu yang curang, untuk totok dia dua kali dengan ujung galanya.

Ia arah perut lawan, ia telah gunai sisa tenaganya, atas mana, See Thian Kong semaput seketika itu juga.

Sejumlah berandal dari Shoatang hunus senjata mereka, mereka maju untuk tolongi ketua mereka, akan tetapi belum sampai mereka datang dekat, Thian Tjeng Tiok sudah tak kuat pertahankan diri, dia rubuh celentang.

Hebat adalah kesudahan dari itu, sebab lima batang paku rahasia di bebokongnya mengenai tanah, hingga dia jadi tertumblas lebih dalam.

A Kioe lompat kepada ayahnya, untuk mengasih bangun.

Melihat tubuhnya ketua mereka, yang tak ketahuan masih hidup atau sudah terbinasa, orang-orang Tjeng Tiok Pay jadi kalap, tidak ayal lagi, mereka maju menyerang rombongan berandak dari Shoatang itu, hingga mereka jadi bertempur secara hebat dan kalut.

"Lekas suruh saudara-saudara itu berhenti bertempur!"

Serukan Tie Hong Lioe kepada hoe-tjeetjoe dari Ok Houw Kauw, yang lengannya ia sambar.

Tam Hoo-tjeetjoe menurut, ia perdengarkan terompetnya.

Titah ini ditaati kawan-kawan, sekejab saja semua berandal dari Shoatang undurkan diri.

Pihak Tjeng Tiok Pay juga bunyikan pertandaan mereka, yang membikin anggautaanggauta mereka mundur juga.

Itulah A Kioe, yang beirkan tandanya, karena itu waktu, ia dapatkan ayahnya sudah sadar, hingga ia anggap, satu pertarungan kacau balau tidak ada faedahnya, sedang juga pihak sana sudah bunyikan terompet.

Tie Hong Lioe lantas majukan diri, akan berdiri di tengah-tengah kedua pihak.

"Baiklah kedua pihak jangan merusak perdamaian!"

Dia berseru.

"Mari kita mulai membagi bagian! Tentang perselisihan, kita akan damaikan secara perlahan-lahan!"

Tam Hoo-tjeetjoe segera perdengarkan suaranya.

"Peti terakhir ini ada bagian kami!"

"Muka tebal!"

Berseru pihak Tjeng Tiok Pay.

"Sudah kalah bertempur, masih berlaku curang! Apakah ini namanya satu enghiong?"

Kedua pihak lantas saling damprat, lalu akhirnya mereka hunus pula senjata masingmasing.

"Baiklah, peti itu dibuka, isinya dibagi rata!"

Lagi-lagi Tie Hong Lioe berseru. Ata situ, orang-orang kedua pihak hendak maju berbareng.

"Tunggu dulu!"

A Kioe berseru.

"Peti yang kedelapan akulah yang menangkan akan tetapi aku tak inginkan itu, aku hendak hadiahkan kepada itu tuan tetamu! Aku larang siapa juga raba peti itu!"

"Eh, kenapa begitu?"

Tanya Tie Hong Lioe.

"Apabila kudanya dia itu tidak binal, pasti aku telah rubuh di tangan kau, Tie Pehhoe,"

Sahut si nona.

"Maka hendak aku menghadiahkannya kepadanya!"

Tie Hong Lioe tertawa.

"Nyata kau kenal budi-kebaikan!"

Kata dia.

"Baik, kau ambillah itu! Ingat, semua peti sudah ada tandanya, jangan salah ambil!"

Selagi orang hendak angkut peti-peti, mendadak Sin Tjie berseru.

"Hai, tuan-tuan, kamu hendak perbuat apa?"

Demikian suaranya. A Kioe tertawa cekikikan.

"Eh, kau masih belum tahu?"

Katanya.

"Kita hendak angkut peti-peti itu!"

"Oh, begitu?"

Kata Sin Tjie.

"Tak sanggup aku terima budi-kebaikan itu! Kamu lihat sendiri, aku telah sewa kereta yang besar untuk mengangkutnya!..."

"Tetapi kita bukannya hendak tolongi kau mengangkutnya!"

Kata A Kioe, yang tertawa pula.

"Kita hendak mengangkut untuk kita sendiri!..."

"Hei, inilah aneh!"

Seru Sin Tjie.

"Peti ini toh kepunyaanku?"

Lalu terdengar ejekannya seorang Shoatang.

"Ini anak muda bangsawan cuma kenal gegares, buat apa dia banyak omong?"

Dan dia maju, untuk angkat peti yang menjadi bagiannya.

"Eh, tunggu dulu!"

Sin Tjie mencegah.

"Tak dapat kau ambil ini!"

Ia terus loncat naik ke atas peti itu, ketika sebelah kakinya digeraki, orang itu, yang tubuhnya besar, terpelanting rubuh! Ia pun lantas menjerit-jerit.

"Tolong! Tolong!"

Tubuhnya sendiri limbung, seperti yang hendak terpelanting dari atas peti.

A Kioe sangka orang ini semberono, dia lompat maju untuk sambar tangan orang, guna ditarik, dan cegah dia itu jatuh, separuh mengomeli, dia kata.

"Ah, kau sangat semberono!...."

Kawanan berandal menyangka pemuda ini benar-benar semberono, bahwa tendangannya tadi bukan disengaja, dari itu, mereka hendak maju pula, guna ambil peti bagian mereka masing-masing.

"Sabar, sabar!"

Sin Tjie berseru pula, seraya ia ulap-ulapkan kedua tangannya.

"Tuan-tuan hendak ambil semua petiku ini, hendak diangkut kemanakah?"

"Kami hendak bawa pulang masing-masing!"

Jawab A Kioe.

"Habis, bagaimana dengan aku?"

Tanya Sin Tjie pula, dengan sikapnya tolol-tololan.

"Hai, mengapa kau begini bodoh?"

Kata si nona sambil tertawa.

"Baiklah kau lekas berangkat pulang, jangan kau mencoba antari jiwamu di sini...."

"Kau benar juga,"

Jawab Sin Tjie seraya manggut.

"Baiklah, aku nanti bawa pulang sepuluh petiku ini...."

Tapi sikapnya ini membuat gusar orang yang tadi ia kena tendang.

"Kau pergilah!"

Dia membentak seraya dia tolak pundaknya si pemuda.

Tapi, belum dia tutup mulutnya, atau tahu-tahu bebokongnya telah kena dijambak Sin Tjie, dengan satu semparan saja, tubuhnya terlempar ke atas sebuah pohon, hingga dia mesti rangkul cabang-cabang pohon itu apabila ia tak ingin terjatuh.

Saking ketakutan, dia lantas menjerit-jerit.

Baru sekarang semua penjahat melongo, karena nyatanya, pemuda tolol itu berkepandaian tinggi.

Ketika itu, Thia Tjeng Tiok telah sadar benar-benar, ia insyaf lukanya hebat, maka ia sudah pikir untuk angkat kaki dengan bawa peti-peti bahagian pihaknya sendiri, akan tetapi kapan ia saksikan liehaynya si anak muda, ia terperanjat.

"Mari!"

Ia panggil A Kioe, gadisnya, kepada siapa ia terus berbisik.

"Jangan pandang enteng pada dia itu, kau waspadalah."

A Kioe manggut. Ia pun memang merasa heran. Segera setelah itu, terdengar suaranya si anak muda.

"Kamu kedua pihak sudah berkelahi setengah harian! Kamu perebuti petiku, di atas itu kamu tuliskan tanda huruf-huruf, maka sekarang hendak aku hapuskan semua tanda itu!"

Sambil tertawa besar, pemuda ini sambar satu orang yang berdiri paling dekat dengan dia, dia tekan jalan darah orang hingga orang itu menjadi mati kutunya, dari itu dengan gampang ia angkat melintang tubuhnya, buat dibawa jalan mengitari semua petinya, buat pakai tubuh atau bajunya untuk menghilangkan semua coretan huruf-huruf di atas peti, kemudian dengan kedua tangannya, ia lemparkan tubuh itu ke atas pohon!

Kawanan dari Shoatang menjadi gusar, mereka maju, akan serang anak muda ini, akan tetapi si anak muda dengan sabar layani mereka, tidak peduli ia bertangan kosong, tujuh atau delapan penyerangnya dengan gampang kena dibikin terpelanting rubuh.

Setelah ini, semua penyerang mundur sendirinya.

Sebab dua-dua See Thian Kong dan Thia Tjeng Tiok terluka parah, mereka lantas hadapi Tie Hong Lioe.

"Kiranya tuan satu ahli silat!"

Kata ketua dari Tjian-lioe-tjhung akhirnya.

"Apakah tuan sudi beritahukan aku she dan namamu dan kau murid siapa?"

"Aku she Wan dan guruku Ong Lie Soe Ong Loo-soehoe,"

Sahut Sin Tjie.

"Guruku itu ahli urusan kitab-kitab dan ia paling faham kedua kitab Lee Kie dan Tjoe Tjioe. Ada lagi satu guruku ialah Lie Loosoehoe yang biasa ajarkan aku ilmu karang-mengarang...."

"Cukup!"

Memotong Tie Hong Lioe.

"Sekarang ini bukan waktunya bicara tentang pelbagai kitab dan ilmu mengarang! Sekarang sebutkan saja tentang gurumu, supaya kalau kita mempunyai hubungan satu sama lain, kita mesti hormati persahabatan...."

"Itulah bagus sekali!"

Kata Sin Tjie dengan cepat.

"Sekarang sudah tidak siang lagi, silakan, silakan! Kami hendak berangkat...."

Hauw Tjeetjoe dari Sat Pa Kong tidak sabaran, mendengar ocehan si anak muda, ia ayun goloknya yang besar, dipakai menabas anak muda ini. Ia telah menyerang dengan "Hong sauw pay yap"

Atau "angin menyapu daun rusak".

Sin Tjie berkelit untuk serangan itu, golok lewat di sampingnya dimana Tie Hong Lioe berdiri, hingga ketua dari Tjian-lioe-tjhung ini yang terbabat, akan tetapi orang she Tie ini liehay, dengan gunai dua jari tangannya, telunjuk dan tengah, dia jepit bebokong golok, dia menahan, lantas bacokan itu berhenti sendirinya.

Mukanya Hauw Tjeetjoe menjadi merah, tetapi si orang she Tie ini cuma bersenyum, terus saja dia menoleh kepada Sin Tjie dan kata.

"Dengan kepandaianku ini, bukankah ada harganya untuk aku mendapati salah satu petimu?"

"Apakah namanya kepandaianmu ini?"

Tanya Sin Tjie.

"Inilah ilmu silat Kepiting Menjepit,"

Sahut Hong Lioe.

"Jikalau kau pun mengerti ilmu silat ini, Baru aku takluk kepadamu...."

"Apa sih cepit kepiting, cepit kura-kura? Belum pernah aku lihat!"

Ujar si anak muda. Tie Hong Lioe jadi gusar.

"Bukankah aku telah jepit golok yang lagi menyambar?"

Tanyanya.

"Apakah kau buta melek?"

"Oh, begitu?"

Jawab Sin Tjie dengan tenang.

"Tapi kamu berdua bersekongkol, apa anehnya? Adik Tjeng, mari! Mari kita main-main sebentar!"

Tjeng Tjeng tertawa geli, ia jumput sebatang golok, yang terletak di tanah, lalu ia mengancam hendak membacok si anak muda, ketika golok dikasi turun, ia sengaja turunkan ayal-ayalan, hingga secara gampang saja, Sin Tjie bisa tanggapi itu, atas mana kawan itu berpura-pura kerahkan tenaga, untuk berontak, buat loloskan golok dari jepitan, tapi walaupun sampai ia berjingkrakan, golok masih tak dapat diloloskan.

A Kioe tertawa melihat dua orang itu permainkan Tie Hong Lioe, ia anggap pemandangan itu lucu.

Malah kedua pihak berandal turut tertawa juga, suara mereka riuh-rendah!

Bukan kepalang mendongkolnya Tie Hong Lioe yang dua anak muda berani permainkan ia secara demikian -ia juga dibuat bahan lelucon -maka dengan tiba-tiba ia sambar golok besar di tangannya Hauw Tjeetjoe dari Sat Pa Kong, untuk angsurkan itu kepada si anak muda sambil terus menantang.

"Nah, kau cobalah bacok aku, pasti kali ini aku tidak berkongkol!"

"Baik, aku nanti bacok kau!"

Sin Tjie jawab.

"Tapi ingat, apabila aku bunuh orang sampai mati, tak usah aku ganti jiwa!"

"Baik! Hati-hatilah, golok datang!"

Berseru Sin Tjie, yang terus saja putar tangannya untuk membabat dengan tiba-tiba. Hong Lioe bertambah gusar, ia lupa segala apa.

"Siapa juga yang terbinasa, dia tak usah diganti jiwanya,"

Ia berikan perkataannya.

Tie Hong Lioe kaget bukan main, ia tak mengira golok bisa dipakai menyerang secara demikian, walau ia sangat awas dan gesit dan bisa berkelit, tidak urung ia masih kalah sebat, hanya untung bagi ia, yang terbabat kutung adalah kopiahnya saja.

Oleh karena anggap pemandangan itu lucu, semua berandal tertawa berkakakan.

Sin Tjie pun tertawa.

"Mana cepit kura-kuramu -eh, cingkong kepiting?..."

Pemuda ini tidak cuma tertawa, tapi juga menanya, hanya belum sampai dia menutup mulutnya atau dia telah menyerang pula, kali ini bacokannya dari atas turun ke bawah.

Hong Lioe berkelit sambil berlompat, tapi ia masih kurang gesit, karena sesampainya di bawah, goloknya disimpangkan sedikit, hingga sebagai kesudahan, sol sepatunya kena terpapas kutung, hingga karenanya, ia kaget berbareng gusar.

"Aku mengerti sekarang!"

Berseru Sin Tjie.

"Terlalu tinggi salah, terlalu rendah salah juga, dan terlalu cepat pun kau gagal! Baiklah, aku akan menyerang di sama tengah, dengan perlahan...."

Dan benar-benar ia membacok pula, dengan perlahan, seperti Tjeng Tjeng tadi.

Hong Lioe sodorkan tangannya yang kiri, untuk jepit golok itu, selagi berbuat demikian, dia memikir akan gunai tangan kanannya, untuk membarengi menyerang dengan cepat, supaya ia bisa ajar adat kepada anak muda ini.

Akan tetapi dia berpikir demikian, orang lain juga berpikir lain.

Di saat goloknya hampir dijepit, dengan mendadak saja Sin Tjie balik goloknya bagian yang tajam lalu ia menarik, maka tidak ampun lagi, dua jari tangannya orang she Tie ini kena tergurat, darahnya lantas mengucur, coba dia tidak cepat menarik pulang, dua jarinya itu tentulah bakal sapat kutung!

"Bagus!"

A Kioe berseru sambil tepuk tangan.

"Tikus!"

Membentak Hong Lioe saking gusar.

"Kau berani main-main denganku!"

Sin Tjie tidak menjawab, hanya dia lemparkan golok di tangannya itu.

Tapi dia melempar kea rah pohon dimana tadi dia lemparkan orang, orang itu lagi pegangi satu cabang, untuk meroyot turun, tepat sekali, golok itu mengenai cabang tersebut, hingga cabang itu kutung, hingga karenanya, orang itu jadi jatuh terguling!

Semua orang kaget dan kagum, suara mereka berisik.

Selagi begitu, Sin Tjie hampirkan petinya, untuk dilemparkan, satu persatu dan disusun, maka di lain saat, semua peti telah merupakan satu tumpukan tinggi beberapa tumbak.

"Aku suka main-main denganmu tetapi hatiku tidak tenteram,"

Katanya kepada Tie Hong Lioe.

"Kamu semua bangsa bangsat, aku hendak cegah kamu selagi aku berkelahi, nanti kamu rampas peti ini!"

Lantas saja ia lompat naik ke atas susunan peti itu, dari mana sambil memandang ke bawah, ia menantang.

"Mari naik, di sini kita main-main!" (Bersambung bab ke 15)Tie Hong Lioe kaget disusun kaget. Mulanya ia lihat orang lemparlemparkan peti-peti yang berat, ia heran untuk tenaga besar dari si anak muda. Habis itu ia saksikan cara berlompatnya Sin Tjie, yang demikian enteng dan pesat, ia kagum tak terkira. Dia tidak tahu anak muda itu, yang lihat dirinya menghadapi terlalu banyak lawan, sengaja pertontonkan ilmu entengkan tubuhnya yang sempurna yang ia peroleh dari Bhok Siang Toodjin. Itulah dia ilmu "Pek pian kwie eng"

Atau "bajangan iblis berubah seratus macam".

"Jikalau kau berani, kau turunlah!"

Hong Lioe tantang pemuda itu. Ia berbuat begini karena ia insyaf ia tak sanggup lawan ilmu entengkan tubuh orang yang sempurna itu.

"Jikalau kau berani, kau naiklah!"

Sin Tjie balas menantang.

Hong Lioe bertindak menghampirkan peti-peti besi itu, ia lantas memeluk, untuk digoyang, dengan pengharapan peti-peti itu bergoyang-goyang, supaya si anak muda limbung dan jatuh karenanya.

Benar-benar tubuhnya anak muda itu menjadi limbung, lantas saja dia terjatuh, akan tetapi begitu lekas kakinya injak tanah, ia menyambar Hong Lioe dengan gerakan "Tjhong eng kim touw"

Atau "Garuda terkam kelinci".

Ia gunai tangannya yang kiri.

Hong Lioe tangkis serangan itu, dia pakai tangan kanan.

Tapi justeru tangan kanannya diulur, Sin Tjie sambar itu, dicekal di bagian nadinya, lalu sebelum dia tahu apa-apa, tubuhnya telah terangkat naik, dari mulut si anak muda pun terdengar seruan.

"Bangun!"

Dia sebenarnya bertubuh besar, tubuhnya itu berat sekali, akan tetapi dia jadi seperti dengar kata, tubuhnya terangkat naik, terlempar ke atas susunan peti-peti di atas mana lantas saja ia berdiri dengan limbung, sebab peti pun bergoyang-goyang....

Kawanan penjahat kaget berbareng merasa lucu, hingga akhirnya mereka pada tertawa, sedang si orang she Tie sendiri nampaknya sangat bingung dan kuatir, dengan susah payah dia mencoba akan mengatasi diri, supaya ia bisa berdiri tetap.

"Jikalau kau berani, kau turunlah!"

Tjeng Tjeng menggoda. A Kioe ingat, itu adalah kata-katanya Hong Lioe tadi. Ia bersenyum. Melihat semua itu, See Thian Kong lantas berseru.

"Tam Hiantee, kurunglah itu bocah! -lebih dahulu, singkirkan dia!"

Hoe-tjeetjoe itu kena disadarkan seruan orang she See ini, tidak lambat lagi, ia tiup terompetnya, maka semua berandal dari Shoatang hunus senjata mereka masing-masing, semua maju ke arah Sin Tjie, untuk kepung anak muda ini.

Menampak ancaman itu, A Pa bersama-sama Tjeng Tjeng dan Ang Seng Hay dekati si anak muda, maka itu ketika kawanan berandal mulai menyerang, mereka bisa lantas menangkis.

Seng Hay bersenjatakan golok, Tjeng Tjeng bergegaman pedang, tetapi A Pa, si empeh gagu, bertangan kosong, dan yang belakangan ini main cekuk sesuatu penyerangnya, untuk lempar-lemparkan tubuh mereka satu demi satu, hingga semua berandal jadi heran, hingga mereka jeri untuk mendekatinya.

Mereka pun takut serang Sin Tjie, yang berkelahi seperti si empeh gagu itu -dengan tangan kosong juga!

Sambil berkelahi, Sin Tjie berlompat, hingga ia dapati See Thian Kong, siapa sedang rebah di tanah dengan dua orang jagai padanya.

Dua orang ini lihat musuh datang, yang satu menyambut dengan goloknya, yang satu lagi segera gendong ketuanya, untuk diajak menyingkir.

Atas serangan golok, Sin Tjie berkelit sambil mendak, kakinya bertindak terus, setelah molos dari serangan, ia sampai kepada penjahat yang satunya, yang gendong Thian Kong, begitu lekas ia jambret pundak orang, penjahat itu menjerit kesakitan, hingga lantas saja dia lepaskan ketuanya, maka dengan leluasa, pemuda kita tanggapi si orang she See, tubuh siapa ia kempit, untuk dibawa lari ke kereta besar, ke atas mana dia lompat bersama.

"Hai, kamu sayangi atau tidak jiwanya dia ini?"

Dia berseru pada semua berandal.

Semua berandal itu menjadi melongo, tidak ada satu juga yang berani bergerak.

Sin Tjie memberi tanda kepada A Pa, lantas si empeh gagu menyerbu ke kalangan Tjeng Tiok Pay.

Orang-orang Tjeng Tiok Pay berdiam sedari tadi, menampak datangnya orang ini, mereka angkat senjata mereka, untuk meirntangi, akan tetapi A Pa telah dapatkan pelajarannya Bok Djin Tjeng, dia tak takuti alat-senjata orang banyak itu, dia maju terus hingga ia dapat dekati Thia Tjeng Tiok.

Dari tempatnya yang tinggi, Sin Tjie awasi A Pa, yang segera bakal berhasil, ia merasa girang, akan tetapi tiba-tiba, ia tampak A Kioe, yang peluki tubuh ayahnya, numprah di tanah sambil menangis menggerung-gerung, hingga ia berbalik menjadi kaget.

Ia insyaf, apabila si ketua menutup mata, sulit untuk ia urus anggauta-anggauta Tjeng Tiok Pay itu.

Maka ia lantas berseru.

"Seng Hay! Lekas panggil pulang saudara A Pa!"

Seng Hay menurut, segera ia tinggalkan musuh-musuhnya, akan hampirkan si empeh gagu, di depannya dia ini, dia pun buat main kedua tangannya, atas maa A Pa segera menoleh kepada si anak muda.

Sin Tjie geraki tangannya dengan cepat.

Melihat tanda itu, A Pa lantas kembali, akan hampirkan si anak muda.

"Pegang dia ini!"

Kata Sin Tjie, yang serahkan See Thian Kong yang keadaannya seperti setengah hidup dan setengah mati. A Pa sambuti itu orang tawanan. Sin Tjie terus lari kepada A Kioe.

"Bagaimana?"

Tanyanya.

"Soehoe mati!...."

Jawab si nona sambil menangis. Sin Tjie periksa hidung orang, yang telah tidak bernapas, akan tetapi kapan ia pegang dadanya ia rasai jantung yang masih memukul perlahan-lahan.

"Jangan kuatir, aku nanti tolong dia!"

Ia bilang.

Sin Tjie baliki tubuhnya Thia Tjeng Tiok, hingga ia bisa lihat lima batang paku yang nancap di bebokongnya, ialah sebab utama dari kecelakaannya jago itu tak perduli dia sebenarnya liehay dan tangguh.

Untungnya darah sudah tidak keluar lagi.

Tidak ayal lagi Sin Tjie totok jalan darah thian-hoe-hiat dan yong-tjoan-hiat orang, menyusul mana darahnya jago itu lantas mulai jalan pula, maka selang sedikit lama, ia mulai sadar, kedua matanya bisa dibuka.

Bukan kepalang girangnya A Kioe.

"Soehoe! Soehoe!"

Ia memanggil, berulang-ulang. Tjeng Tiok dengar itu, ia ingat akan dirinya, ia manggut-manggut.

"Jadi dialah gurumu?"

Tanya Sin Tjie.

"Aku sangka dia adalah ayahmu."

Si nona manggut.

"Terima kasih untuk pertolongan kau,"

Ia mengucapkan.

Sementara itu, A Pa dengan diikuti Tjeng Tjeng dan Ang Seng Hay dengan pondong tubuhnya See Thian Kong, sudah campuri diri dalam rombongan Tjeng Tiok Pay.

Kawanan berandal Shoatang yang lihat pemimpinnya kena ditawan, sudah lantas maju untuk menolongi, akan tetapi percobaan mereka dirintangi oleh pihak Tjeng Tiok Pay, hingga karenanya, mereka kedua pihak jadi bertempur dengan hebat, hingga dalam tempo pendek telah ada korban-korban jiwa dan terluka.

"Jikalau pertempuran ini berlanjut lagi sekian lama, mesti rubuh lebih banyak korban,"

Kata Tjeng Tjeng kepada Sin Tjie.

Si anak muda tidak menyahuti, dia Cuma bersenyum.

Sedang asyiknya pertempuran berlangsung, Tie Hong Lioe yang masih berada di atas susunan peti besi telah terdengar seruannya.

"Celaka! Tentara negeri mendatangi! Ribuan jumlah mereka! Lekas mundur! Oh, puluhan ribu jumlah mereka! Mundur, lekas mundur! Lekas!"

Tjhungtjoe dari Tjian-lioe-tjhung ini berada di tempat tinggi, tidak heran apabila dialah yang dapat melihat paling dulu.

Semua orang kaget, dengan sendirinya berhentilah mereka berkelahi, semua mengawasi dengan bengong ke arah dari mana katanya tentara negeri mendatangi.

Dari jurusan tersebut segera tertampak mendatangnya tiga penunggang kuda, kemudian ternyata, mereka ini terdiri dua dari pihak berandal Shoatang, yang satu dari Tjeng Tiok Pay.

Hampir berbareng, bertiga mereka perdengarkan seruan.

"Tentara negeri mendatangi!"

Tie Hong Lioe jadi nekat, dengan beranikan diri, dia lompat turun dari susunan peti besi, sesampainya ia di tanah, ia rubuh hingga ia bergulingan tiga kali, Baru ia dapat bangkit berdiri, dengan merasai sakit sekali kepada kedua kakinya, tetapi tanpa perdulikan itu, ia sambar seekor kuda untuk dinaiki, untuk segera ajak kawan-kawannya angkat kaki dari situ.

Sin Tjie sambar tubuhnya See Thian Kong, untuk dilemparkan kepada kawan-kawannya, maka kawanan berandal itu tolongi pemimpinnya, untuk dikasih naik di atas bebokong kuda, buat segera dibawa kabur ke dalam rimba.

Pihak Tjeng Tiok Pay juga perdengarkan suitan berulang-ulang, habis itu mereka tolongi kawan-kawan mereka yang terluka, lalu tetap dalam empat barisan, mereka undurkan diri dengan lekas.

Maka di lain saat, sunyi-senyaplah medan pertempuran itu dimana ketinggalan saja Sin Tjie serta rombongannya.

Lantas si anak muda berlaku sebat.

Ia lompat naik ke atas susunan peti, untuk lempar itu turun satu demi satu, di bawah, A Pa menyambutinya, untuk dimuatkan ke kereta mereka.

Tjeng Tjeng tertawa atas kesudahannya kekalutan itu.

"Banyak orang telah menjadi korban, tetapi uang kita, satu tjhie pun tidak lenyap!"

Katanya dengan gembira dan puas. Tidak antara lama terdengarlah suara terompet disusul berisiknya banyak kuda, kemudian terlihat satu pasukan tentara lagi mendatangi.

"Di sana ada tentara negeri, kawanan berandal tentu tak berani muncul pula,"

Kata Sin Tjie.

"Mari kita lanjuti perjalanan kita!"

Walaupun ia mengucapkan demikian, pemuda ini toh mesti periksa dulu rombongannya, yang tidak kurang suatu apa, dari itu sebelum mereka sempat berangkat, pasukan negeri mendahului sampai di antara mereka.

"Kamu bikin apa?"

Tanya satu perwira yang bersenjatakan golok panjang. Dia ini pimpin dua ratus serdadu, yang terpecah dalam dua barisan.

"Kami penduduk baik-baik yang sedang bikin perjalanan,"

Sahut Sin Tjie.

"Kenapa di sini ada tanda-tanda darah, dan pelbagai alat-senjata?"

Tanya pula perwira itu.

"Barusan ada penjahat pegat kita, lantaran datangnya tentara negeri, mereka kabur sendirinya,"

Sahut Sin Tjie pula.

Sementara itu, muncul satu pasukan tentara lain, yang lantas menyerbu ke dalam rimba, untuk kejar kawanan berandal.

Perwira tadi melirik kedalam kereta dimana mereka lihat peti-peti besar.

"Barang-barang apakah itu?"

Tanyanya dengan tawar.

"Itulah barang-barang keperluan kami sehari-hari."

"Coba buka, aku hendak lihat!"

"Semuanya pakaian, tidak ada lainnya."

"Aku perintah buka, kau mesti buka! Perlu apa banyak mulut?"

"Kami tak bawa barang-barang haram, untuk apa dilihat?"

Tjeng Tjeng campur bicara.

"Hei, bocah, kau kurang ajar!"

Bentak perwira itu. Dan cambuknya melayang. Tjeng Tjeng berkelit untuk sabetan itu. Perwira itu percaya, isinya peti mesti barang-barang berharga, dalam sedetik itu muncullah hatinya yang temaha.

"Hei, bocah, kau berani melawan?"

Dia bentak pula, untuk gunai ketikanya.

"Hayo, saudara-saudara, sita barang-barang itu!"

Untuk rampas milik rakyat jelata, tentara itu biasanya tidak berayal, maka itu begitu dengar titah "mensita", segera mereka meluruk ke arah kereta.

Si perwira tak berhenti sampai di situ, karena ia tahu, ada kemungkinan Sin Tjie beramai nanti majukan pengaduan kepada pembesar terlebih atas, maka kembali dia berseru.

"Kawanan berandal ini berani lawan tentara negeri, bunuh mereka semua!"

Lalu ia mendahului angkat goloknya, untuk dipakai menyerang. Sin Tjie jadi gusar.

"Coba kita bangsa lemah, apa kita tidak bercelaka?"

Dia pikir sambil kelit dari bacokan, setelah mana ia membarengi lompat untuk hajar bebokong orang.

Perwira itu hanya satu orang peperangan biasa saja, dalam kesebatan ia kalah jauh dari si anak muda, maka itu, dengan gampang ia kena dihajar, hingga tubuhnya lantas rubuh terjungkal dari atas kudanya, malah jiwanya pun melayang dalam sekejab!

Menampak itu, semua serdadu menjadi kaget, lantas mereka berteriak-teriak.

"Penyamun merampas angkutan! Penyamun rampas angkutan!"

Sementara itu Tjeng Tjeng bersama A Pa dan Seng Hay telah labrak buyar barisan serdadu itu, yang lari serabutan ke empat penjuru, akan tetapi di belakang mereka itu ada lagi satu pasukan besar, maka Sin Tjie, yang rampas goloknya si perwira, maju untuk mencoba menahan, sedang Tjeng Tjeng bertiga ia perintah lindungi kereta-kereta mereka untuk berlindung masuk ke dalam rimba.

Di dalam rimba sendiri, sementara itu, telah terjadi pertempuran di antara tentara negeri dan kawanan penyamun dari Shoatang yang bersatu dengan rombongan Tjeng Tiok Pay, akan tetapi belum terlalu lama, pihak negeri bisa mendesak, hingga musuh-musuhnya terpaksa mundur.

Sambil bereskan kereta-keretanya Sin Tjie saksikan pihaknya See Thian Kong dan Thia Tjeng Tiok lagi terancam bahaya, terutama disebabkan kedua pemimpin itu sendiri tidak berdaya.

"Bagaimana?"

Tanya Tjeng Tjeng.

"Kita bantu berandal! Kita basmi tentara negeri!"

Sin Tjie menjawab dengan cepat.

"Benar!"

Berseru si nona dalam penyamaran.

"Tetapi kau berdiam di sini, untuk lindungi harta kita,"

Sin Tjie bilang. Tjeng Tjeng menjadi dengar kata.

"Baik!"

Ia manggut.

Maka bertiga bersama A Pa dan Ang Seng Hay, ia kitari kereta-kereta mereka, untuk dilindungi, tatkala tentara negeri datang menyerbu, mereka pukul mundur, hingga kesudahannya, tentara negeri itu jadi jeri, mereka tak berani merangsek pula.

Sin Tjie panjat pohon, akan mengawasi ke arah kawanan berandal, dengan begitu ia bisa saksikan A Kioe serta beberapa tauwbak dari Tjeng Tiok Pay sedang terkurung hebat oleh tentara negeri, maka untuk tolong mereka, ia loncat turun dari pohon, ia menyerbu ke dalam medan pergulatan, sampai ia berhasil mendekati si nona, malah ia datang disaat yang tepat, selagi dua batang tumbak menikam nona itu, dari itu dengan sebat ia menalangi menangkis.

"Lekas mundur ke bukit sebelah barat!"

Ia teriaki.

A Kioe melengak atas datangnya bantuan ini, hingga ia tak tahu satu perwira bacok ia secara hebat.

Kembali Sin Tjie tolong si nona.

Dia rampas golok musuh, untuk dipatahkan, si perwira sendiri ia tonjok dadanya hingga dia muntah darah, tubuhnya rubuh seketika.

A Kioe sadar, segera ia tiup suitannya, kemudian ia beri tanda untuk kawan-kawannya mundur ke arah barat, seperti ditunjuki Sin Tjie.

Si anak muda sendiri mondar-mandir dengan bengis, untuk tahan tentara negeri yang mencoba mendesak.

Kawanan penyamun dari Shoatang juga turut mundur ke barat, setiap kali ada diantaranya yang dirintangi tentara negeri, Sin Tjie maju menolongi, dengan begitu, mereka bertempur sambil mundur, hingga mereka sanggup mendaki bukit.

Kemudian, dibantu oleh sejumlah berandal, Sin Tjie pergi sambut Tjeng Tjeng bertiga serta kereta mereka, untuk menyingkir ke bukit barat itu, hingga mereka ketiga pihak, jadi bersatu.

Tentara negeri cuma bisa kurung mereka dari bawah bukit, mengurung sambil berteriak-teriak saja.

Sin Tjie mengatur terlebih jauh.

Ia pasang barisan panah di sebelah depan.

Kawanan berandal, dengan sendirinya, suka taati segala titahnya.

Maka itu, ketika tentara negeri mencoba mendaki gunung, mereka dipukul mundur dengan hujan anak panah, hingga selanjutnya mereka tidak berani mencoba naik pula.

Dengan titahnya Sin Tjie, Hoe-tjeetjoe Tam Boen Lie bersama-sama Tie Hong Lioe dan A Kioe pergi bantui Seng Hay beramai membikin penjagaan.

Semua berandal telah dipecah dalam dua rombongan, hingga ada sebagian yang dapat beristirahat, untuk sekalian tolongi mereka yang terluka.

Sin Tjie lantas tolongi Thia Tjeng Tiok dan See Thian Kong, dengan bergantian, ia uruti mereka itu hingga mereka tertolong dari ancaman bahaya maut, darah mereka jalan pula seperti biasa begitupun napas mereka, yang tadinya sudah sesak.

Karena ini, berdua mereka dapat rebahkan diri dan tidur dengan nyenyak.

Kedua pihak berandal jadi bersyukur kepada anak muda ini, yang tolongi pemimpinpemimpin mereka.

"Jumlah tentara negeri terlalu besar untuk kita, tak dapat mereka dilayani dengan tenaga, mesti dengan daya-upaya,"

Kemudian Sin Tjie bilang kepada Tjeng Tjeng.

"Benar!"

Sahut si nona.

"Habis kau hendak gunai daya apa?"

Sin Tjie tidak menyahuti, dia hanya berpikir, akan akhirnya dia panggil satu penyamun yang kenal baik keletakan tempat mereka ini; sembari tanya ini dan itu, iapun senantiasa mengawasi ke arah tentara negeri.

Maka kesudahannya ia dapat lihat, di arah belakang dari tentara negeri itu, ada sejumlah besar kereta-kereta yang rupanya bermuatan berat.

Tiba-tiba saja ia ingat suatu apa, lantas ia lompat kepada Tjeng Tjeng.

"Bukankah tadi tentara negeri itu sebut-sebut angkutan?"

Ia tanya. Sebelum si nona menjawab, Tie Hong Lioe sudah mendahului. Dia ini Baru saja datang untuk beristirahat.

"Itulah artinya angkutan uang untuk ke Pakkhia,"

Demikian jawabannya.

"Sungguh tidak beruntung bagi kita, di sini kita bertemu mereka itu..."

"Mengapa angkutan uang Negara memerlukan tentara pengiring demikian besar?"

Tanya Sin Tjie. Sekarang ini keamanan sedang sangat terganggu, di pelbagai gunung ada saja penyamunnya, maka itu, untuk angkutan yang selamat, iring-iringannya mesti besar,"

Hong Lioe terangkan lebih jauh.

"Sekarang pemerintah sangat memerlukan uang dan rangsum dari Kanglam, terutama sebab Kaisar Tjong Tjeng mesti hadapi musuh bangsa Boan di Liauw-tong dan pemberontakannya Giam Ong dan lainnya. Maka juga angkutan uang ini adalah jiwanya...."

"Jikalau begini, barisan serdadu iring-iringan ini terlalu usil,"

Sin Tjie bilang.

"Tugas mereka berat, mengapa mereka masih ambil kesempatan untuk ganggu kita?...."

"Mestinya mereka anggap kita gampang dikalahkan,"

Hong Lioe bilang.

"Jikalau mereka bisa labrak kita atau menawan beberapa di antara kita, bukankah itu artinya jasa besar?"

Sin Tjie manggut-manggut.

"Di barat-utara sana ada satu mulut selat,"

Kata ia kemudian.

"mari kita nerobos keluar dari sana."

Tie Hong Lioe bersedia untuk turut usul itu.

"Silahkan Wan Siangkong menitahkannya,"

Katanya.

Sin Tjie mencorat-coret di tanah, ia berpikir, habis itu, ia lantas berikan titah-titahnya buat bersiap untuk sebentar malam.

Tepat pada jam yang telah ditetapkan, dibarengi teriakan mereka riuh-rendah, kawanan berandal bergerak untuk turun bukit, buat menerjang turun.

Sebagai pembuka jalan adalah Sin Tjie berdua A Pa, si empeh gagu.

Tentara negeri sudah lelah, kapan mereka lihat serbuan, mereka coba merintangi, tetapi sebentar saja, barisan mereka sudah dapat ditobloskan, dengan begitu, rombongannya Sin Tjie semua bisa molos.

Masih mereka mencoba mengejar, atau segera mereka dilawan oleh barisan belakang penyamun.

Nyata ini adalah siasat saja, untuk mencegah tentara negeri itu, sebab apabila semua rombongan sudah memasuki selat, sejumlah penyamun itu lari kabur, akan susul rombongan mereka.

Tentara negeri menguber sampai di mulut selat, lantas mereka tidak berani mengejar terus akan masuk terlebih dalam, sebab orang yang menjadi pemimpinnya dapatkan, kedua belah selat tinggi dan berbahaya, hingga mereka jadi kuatirkan tentara sembunyi musuh.

Selagi tentara negeri berkumpul dan mengawasi ke dalam selat, tiba-tiba sebuah peti besar jatuh dari sisi lamping bukit, jatuhnya dengan terbuka tutupnya, maka isinya lantas saja terlempar berantakan.

Yang membuat kaget dan herannya tentara negeri adalah isi itu yang banyak sekali barang permata, yang berkilauan di antara cahaya obor.

Pemimpin tentara negeri itu adalah satu tjongpeng atau brigade-jenderal, dia pun kaget tetapi kaget berbareng girang.

"Lekas maju!"

Ia titahkan.

"Rampas semua peti itu!"

Perwira ini timbul keserakahannya hingga ia lupakan bahaya.

Tentara negeri itu lantas maju, bukan untuk mengejar, hanya untuk berebutan memunguti pelbagai barang permata dan uang, hingga barisan mereka menjadi kalut tanpa pemimpinnya dapat kendalikan pula mereka.

Sin Tjie sendiri, yang ambil jalan di atas lamping, telah menuju ke arah belakang pasukan Negara, hingga ia bisa datang dekat kepada rombongan kereta-kereta angkutan yang berlerot.

Semua kereta dikerudungi tutup kain kuning tebal, samara-samar kelihatan tulisan huruf-huruf yang menandakan itu adalah angkutan barang pemerintah dari Kanglam.

Mengawasi lerotan kereta itu, Sin Tjie girang berbareng ragu-ragu.

Ia girang sebab jumlah yang besar itu, yang pasti akan berguna besar untuk pergerakan Giam Ong.

Ia ragu-ragu kapan ia ingat jumlah besar dari tentara negeri yang menjadi barisan pengiring angkutan itu.

Dengan hati-hati pemuda ini maju lebih jauh.

Karena ia sembunyikan diri di antara pepohonan, tidak satu serdadu juga yang dapat pergoki padanya.

Ia datang begitu dekat hingga kecuali bisa melihat tegas, ia juga bisa dengar pembicaraan mereka.

Kemudian ia dengar suara lebih jelas dari kereta-kereta terbelakang, maka ia percaya, muatan keretakereta itu bukannya uang seperti kereta-kereta terdepan.

Kapan ia telah perhatikan lebih jauh, ia dapat kenyataan itulah kereta orang-orang tawanan, dan si orang-orang tawanan sendiri, dengan kedua tangan mereka masing-masing tertelikung ke belakang, lagi duduk di dalam kereta kerangkeng mereka.

Di atas setiap kereta nampak selembar bendera putih yang muat tulisan yang menyebutkan nama-nama si orang perantaian, yang telah dapat hukuman mati.

Pun dibelakang setiap nama dijelaskan perantaian itu penyamun atau pemberontak atau pengkhianat.

"Mereka harus ditolongi...."

Pikir Sin Tjie.

"Bagaimana aku dapat menolonginya?"

Selagi ia berpikir, ia lihat sebuah kereta kerangkeng di mana pada benderanya ada tulisan yang memuat nama Tjouw Tiong Sioe, hingga Sin Tjie jadi kaget tidak terkira.

Ia pun lantas lihat orang yang bernama Tjouw Tiong Sioe itu ialah seorang umur lima-puluh lebih, dandanannya sebagai sasterawan, rambutnya telah ubanan.

Dia itu adalah bekas ponggawa ayahnya almarhum, yang telah bergerak dan berkedudukan di Lauw Ya San.

Di belakang dia ini, di dalam beberapa kereta lainnya, ia tampak Nie Ho, Tjoe An Kok dan Lo Tay Kan bertiga.

Eng Siong tidak ada di antara mereka itu.

Selagi Sin Tjie mengawasi, kereta-kereta pesakitan itu sudah lewati dia, maka sebagai orang Baru sadar dengan tiba-tiba, dia lari mengejar, hingga sekarang ia terlihat oleh serdadu-serdadu pengiring.

Di antara sedadu-serdadu itu sudah lantas ada yang memanah.

Dengan kesebatannya, Sin Tjie selamatkan diri dari pelbagai anak panah itu, ia maju terus, sampai ia dekati satu perwira yang bersenjatakan golok, yang berjalan paling belakang.

"Baik aku bekuk perwira ini untuk bikin kacau barisannya,"

Pikir anak muda kita.

"Dengan menawan dia aku akan bisa tolongi Tjouw Siokhoe beramai..."

Belum sempat Sin Tjie bertindak, atau ia lihat debu mengepul di sebelah belakangnya dan kupingnya dengar suara berisik dari berlari-larinya beberapa ekor kuda, karena mana, ia lantas mengawasi, hingga ia tampak lima penunggang kuda sedang mendatangi.

"Kiranya barisan ini ada barisan penolongnya...."

Pikir ia.

Dari lima penunggang kuda itu, yang kabur di muka adalah seorang perempuan.

Karena mereka datang dengan cepat, selagi dia itu lewat di sampingnya, Sin Tjie kenali Hoei-thianmo-lie Soen Tiong Koen serta Kwie Sin Sie suami-isteri bersama Bwee Kiam Hoo dan Lauw Pwee Seng.

Ia jadi girang.

"Djie-soeko!"

Ia memanggil sambil lompat ke depan kudanya suami-isteri itu. Kwie djie-nio lihat si anak muda, ia tertawa dingin.

"Oh, kau?"

Katanya.

"Kau bikin apa di sini?"

Soen Tiong Koen dengar soebonya bicara, ia tahan kudanya dan menoleh ke belakang.

"Ada urusan penting untuk mana aku hendak mohon bantuan soeko dan soeso,"

Sahut Sin Tjie tanpa perhatikan sikap mengejek dari si ipar perempuan itu.

"Kami juga mempunyai urusan sangat penting, kami tak sempat!"

Kata nyonya Kwie seraya terus keprak kudanya, untuk dikasih lari pula, melewati si anak muda.

"Soe-siok!"

Memanggil Bwee Kiam Hoo sambil beri hormat kepada paman-guru yang muda itu, lantas ia ikuti itu guru lelaki dan perempuan. Beda dari Kiam Hoo, Pwee Seng loncat turun dari kudanya.

"Soehoe dan soebo lagi hadapi urusan sangat penting,"

Ia memberi tahu.

"Soesiok ada urusan apa? Baik tunggu sampai soehoe dan soebo sudah selesai, nanti aku bantui soesiok..."

"Kalau begitu, tidak apa,"

Jawab Sin Tjie.

"Aku ingin pinjam saja kudamu, Lauw Toako."

"Silakan, soesiok,"

Menyahut Pwee Seng dengan hormat, sambil tarik kudanya. Ia terus berdiri di pinggiran.

"Kita naik berdua, untuk susul tentara negeri itu,"

Sin Tjie bilang seraya terus lompat naik ke punggung kuda, diturut oleh Pwee Seng. Maka sebentar saja, mereka sudah kabur ke depan.

"Ada urusan apa soesiok kejar tentara negeri?"

Pwee Seng tanya.

"Untuk tolong orang!"

Sin Tjie jawab.

"Bagus! Kami juga hendak hajar tentara itu!"

Berkata Pwee Seng.

Sin Tjie kaburkan kudanya sampai ia dapat candak dan lombai Soen Tiong Koen dan lihat tentara negeri yang iringi kereta-kereta kerangkeng, masih ia jepit perut kudanya, untuk menyusul tentara itu.

Perwira yang pimpin barisannya dengar tindakan kaki kuda di arah belakang, dia lantas menoleh.

Akan tetapi dia menoleh sesudah terlambat, karena tahu-tahu satu bajangan menyambar ke arahnya.

Dalam gugupnya, dia membabat dengan goloknya yang besar, harapannya adalah bisa menabas kutung tubuh orang, siapa tahu Sin Tjie telah ulur tangan kanannya, akan sambut gagang golok bagian ujung, tubuhnya sendiri mencelat naik di bebokong kudanya si opsir, siapa ia totok dengan tangan kirinya sambil ia pun membentak.

"Kau sayangi jiwamu atau tidak?"

Opsir itu rasai ia kehabisan tenaga dalam sekejab, hingga tak dapat ia membikin perlawanan lebih jauh.

"Kau mau hidup atau mati?"

Sin Tjie ulangi bentakannya.

"Ampun, tay-ong...."

Memohon si opsir.

"Kalau begitu, lekas titahkan supaya semua kereta pesakitan itu berhenti!"

Sin Tjie titahkan.

Opsir itu menurut, selagi ia berikan titahnya, rombongannya Kwie Sin Sie pun sampai, malah mereka ini berlima sudah lantas serang tentara negeri, hingga barisannya menjadi kalut.

Kejadian ini membuat Sin Tjie menyesal, sebab tadinya ia tidak niat gunai kekerasan terhadap pasukan tentara itu.

Sekarang terpaksa ia rampas dua buah kampak besar, dengan bawa itu, ia memburu ke kereta kerangkeng dari Tjouw Tiong Sioe, untuk kampaki pintunya hingga menjeblak.

"Tjouw Siokhoe, aku Sin Tjie!"

Pemuda ini perkenalkan diri.

Tiong Sioe seperti sedang bermimpi, hingga ia berdiam diri.

Sin Tjie lantas tolongi juga Tjoe An Kok dan Nie Hoo, hingga mereka ini dapat tolongi yang lain-lain, dan yang lain-lain lagi berebut tolongi semua perantaian lainnya, yang berjumlah seratus orang lebih, diantara siapa lebih dari tiga-puluh orang ada anggauta-anggauta golongan San Tjong, bekas orang-orang sebawahannya almarhum Wan Tjong Hoan.

Mereka ini girang bukan main kapan mereka dapat tahu orang yang tolongi mereka adalah putera pemimpin mereka, maka dengan sengit mereka labrak tentara negeri, yang tadinya iringi mereka.

Maka kesudahannya, tentara negeri itu kena dipukul buyar.

Di sebelah depan, jalanan telah dirintangi dengan batu-batu besar, sukar untuk tentara negeri lolos dari sana.

Sin Tjie ketahui ini.

Ia juga tahu, biar bagaimana, jumlah tentara negeri lebih besar daripada jumlah rombongan mereka sendiri, seandai-kata tentara itu nekat, dia orang bisa berkelahi mati-matian dan ini berarti ancaman hebat bagi mereka sendiri, dari itu ia lantas pikir jalan pemecahan.

Sin Tjie lemparkan kampaknya, ia loncat ke atas lerotan kereta, ia berlari-lari di atasnya, untuk maju ke depan.

Ia telah lari sekira satu lie ketika ia lihat satu ponggawa, ialah tjongpeng yang tadi, di atas kudanya sedang pimpin perlawanan.

Ia cepat maju ke arah pembesar militer itu.

Dua serdadu rintangi ia tapi ia cekuk mereka, yang ia terus lemparkan ke jurang.

Kemudian, dengan kegesitannya, ia loncat ke bokong kudanya tjongpeng itu.

Ponggawa itu tampak orang menyerbu, ia membacok, tapi sambil berkelit, anak muda kita coba rampas goloknya.

Tjongpeng ini liehay, ia jatuhkan dirinya ke tanah, dengan begitu, goloknya tidak kena dirampas.

"Aku tidak sangka dia liehay,"

Kata Sintjie dalam hati.

Tapi untuk tidak perlambat tempo, ia segera menyerang dengan tiga butir biji caturnya.

Tjongpeng itu benar-benar liehay, dengan goloknya ia berhasil menyampok jatuh tiga biji catur itu, hingga ia terlolos dari ancaman bahaya.

"Kau benar liehay! Mari coba lagi!"

Pikir Sin Tjie.

Dan sekali ini ia menyerang pula, dengan dua tangannya saling-susul.

Kedua tangannya menggenggam tiga kali sembilan biji, hingga tjongpeng itu diserang terus-terusan dengan dua-puluh tujuh biji.

Pasti sekali ia menjadi sibuk, mulanya ia masih bisa menangkis, lantas goloknya terlepas, segera pahanya, pinggangnya, bebokongnya, sambungan kakinya, kena tertimpuk, hingga kesudahannya, ia rubuh dengan lutut tertekuk!

"Tak usah pakai banyak adapt-peradatan!"

Sin Tjie menggoda sambil tertawa. Ia maju, untuk sambar bahu kiri orang, tapi dengan kepalan kanannya, tjongpeng itu menyerang kea rah dada.

"Biarlah kau hajar aku satu kali, untuk puasi hatimu!"

Tertawa si anak muda.

Dan ia antapkan dadanya ditoyor.

Serangan itu tepat, akan tetapi tjongpeng itu merasakan ia lagi toyor kapas, dan ketika Sin Tjie empos semangatnya, tenaga berbaliknya membikin tubuhnya terpental sendirinya, terapung tinggi!

Banyak serdadu menjerit melihat keadaannya pembesar itu.

Sang tjongpeng sendiri anggap dia bakal terbinasa sendirinya, ia sudah lantas tutup rapat kedua matanya, akan tetapi segera ia merasa ada orang cekal kedua belah bahunya, apabila ia buka matanya, ia lihat lawannya adalah satu mahasiswa muda.

Ia lantas insyaf bahwa ia telah rubuh di tangannya seorang liehay.

Ia jadi putus asa.

"Kau perintahkan semua serdadu letaki senjata, kau akan dikasih ampun!"

Kata Sin Tjie. Tjongpeng ini tahu, dengan angkutannya lenyap, hukuman mati ada bagiannya, karena ini, ia jadi nekat. Ia berseru.

"Jikalau kau hendak bunuh, bunuhlah aku, tak usah kau banyak omong!"

Sin Tjie tertawa, ia kerahkan pula tenaganya.

Lagi satu kali, tubuhnya tjongpeng itu terpental tinggi, di waktu jatuh, si anak muda tanggapi seperti tadi.

Dan ia ulangi sampai tiga kali melempar tubuh opsir itu, hingga kesudahannya, opsir ini pusing kepalanya, berkunang-kunang matanya, sampai tak tahu ia, dirinya berada di mana....

"Jikalau kau tidak berikan titahmu, kau bakal mampus!"

Sin Tjie beri ingat.

"Dengan begitu, tentaramu juga tidak bakal turut hidup! Maka baiklah kau menakluk kepada kami!"

Dalam keadaan sulit seperti itu, tjongpeng ini menyerah. Ia manggut.

"Ini dia yang dibilang orang yang kenal selatan!"

Bilang Sin Tjie. Tjongpeng itu lantas teriaki tiga sebawahannya, untuk beritahukan mereka niatnya untuk menakluk. Tiga sebawahan itu kaget, muka mereka pucat.

"Kau makan gaji Negara, kau poet-tiong, poet-hauw!"

Satu di antaranya berseru saking gusar.

Tapi ia tak sempat bicara banyak, Sin Tjie sambar lengannya, terus dia dibanting hingga dia rebah dengan pingsan!

Melihat demikian, dua sebawahan itu menyatakan suka menurut.

"Nah, perintahkanlah hentikan pertempuran!"

Si tjongpeng memerintahkan. Sin Tjie juga lantas kasih tanda supaya kawanan penyamun berhenti berkelahi.

"Titahkan mereka letaki senjata mereka!"

Kemudian Sin Tjie perintah si tjongpeng.

Dengan terpaksa, tjongpeng itu menurut, maka itu, selainnya pertempuran berakhir, semua serdadu juga letaki senjata mereka.

Menyusul itu, lima orang menerjang kalang-kabutan, mereka serbu pelbagai peti, untuk dibuka dengan paksa, apabila mereka dapati isinya uang belaka, mereka lemparkan itu ke samping, mereka menggeratak terus.

Tidak ada satu serdadu juga yang berani rintangi mereka.

Lima orang itu adalah Kwie Sin Sie suami-isteri serta tiga muridnya.

"Djie-soeheng, kau cari apa?"

Sin Tjie tanya selahi orang dekati dia.

"Nanti aku perintah mereka kasi keluar!"

Kwie Sin Sie angkat kepalanya, ia lantas tampak tiga opsir berdiri di antara Sin Tjie, ia lompat ke arah mereka, dengan tiga loncatan, ia sudah datang dekat, lalu dengan tiba-tiba, ia jambak si tjongpeng.

Pembesar militer ini kaget, apapula kapan ternyata, tak sanggup ia lepaskan diri dari jambakan itu, hingga ia mengerti, kembali ia hadapi seorang liehay.

"Dimana adanya upeti hok-leng dan hoo-sioe-ouw dari Ma Tok-boe?"

Tanya Kwie Sin Sie dengan bengis.

"Karena anggap jalan kita ayal, Ma Tok-boe telah perintah lain orang bawa itu terlebih dahulu ke kota raja,"

Sahut tjongpeng itu.

"Apakah kau tidak mendusta?"

Tanya Kwie Sin Sie.

"Jiwaku ada di tangan kau, untuk apa aku mendusta?"

Sang tjongpeng menjawab. Sin Sie percaya orang omong benar, tapi toh ia masih banting tjongpeng itu.

"Jikalau kemudian ternyata kau main gila, aku nanti kembali untuk ambil jiwamu!"

Dia mengancam. Kemudian ia berpaling kepada isterinya.

"Mari lekas kita susul!"

Habis mengucapkan demikian, Sin Sie segeral berlari pergi.

Nyonya Kwie empo anaknya, dia susul suaminya, selagi berlari, dia hajar beberapa sedadu yang melintang di depannya.

Soen Tiong Koen bertiga pun segera susul gurunya itu.

Sin Tjie tahu orang sedang berpikiran kalut, ia antapkan saja soeko itu beramai berlalu.

Kemudian Baru ia tanya si tjongpeng tentang obat yang dicari soehengnya yang kedua itu.

"Itulah hok-leng dan hoo-sioe-ouw,"

Sahut perwira itu.

"Hok-leng itu besar sekali dan didapatinya belum lama ini di dalam sebuah gunung di propinsi An-hoei diduga usianya telah dua-ribu tahun. Dan hoo-sioe-ouw itu, yang telah berpeta manusia, yang umurnya pun tua sekali, dapat digali di suatu tempat di Tjiatkang timur. Maka itu adalah dua macam obat yang dipandang sebagai mustika. Ketika Tjongtok Ma Soe Eng dari Hong-yang dengar hal kedua obat itu, dia perintah wakilnya pergi beli secara separuh paksa, kemudian ia perintahkan satu ahli obat bikin itu menjadi dua-puluh butir obat pulung, katanya campuran obat lainnya adalah jinsom, mutiara dan lainnya obat mahal, hingga ongkos pembuatannya sama sekali tiga-puluh ribu tail perak. Tentang obat ini sudah menggemparkan seluruh wilayah Kanglam, hingga banyak orang yang mengetahuinya.

"Untuk penyakit apa obat itu?"

Sin Tjie tanya pula.

"Aku sendiri tidak ketahui jelas, melainkan orang bilang mustajab sekali hingga bisa hidupkan kembali orang yang sudah mati. Juga dikatakan, siapa bertubuh lemah, asal makan sebutir saja dari obat itu, tubuhnya akan lantas jadi sehat dan kuat."

"Inilah dia!"

Pikir Sin Tjie.

"Anaknya djie-soeko sakit sudah lama dan belum dapat obat yang manjur, pantaslah dia ingin dapatkan obat ini....."

Lalu ia tanya pula.

"Jadi obat itu hendak dijadikan upeti oleh Ma Tjongtok?"

"Benar. Mulanya akulah yang ditugaskan bawa itu, tetapi kemudian karena aku jalan lambat dan aku mesti antar banyak pesakitan, dia titahkan lain orang ialah Tang Piauwsoe dari Eng Seng Piauw Kiok dari Kimleng. Itulah upeti untuk Sri Baginda."

Mendengar itu, Sin Tjie harap-harap soekonya berhasil mendapati obat itu untuk obati puteranya yang sakitan itu.

"Sudah berapa hari sejak berangkatnya piauwsoe itu?"

"Kita berangkat bersamaan, tapi rombongan mereka Cuma belasan, mereka bisa jalan jauh terlebih cepat. Mungkin mereka telah dului kita delapan atau sembilan hari."

Itu waktu Tjouw Tiong Sioe bersama Tjoe An Kok, Nie Hoo dan Lo Tay Kan serta orangorang mereka telah datang berkumpul, girang mereka bukan kepalang, apapula akan saksikan ahli warisnya Wan Tjong Hoan demikian cakap dan gagah.

Sin Tjie lantas tanyakan mereka itu tentang tertawannya mereka.

Menurut Tiong Sioe, ketika mereka dibokong di Lauw Ya San, sudah banyak orang mereka yang bubaran, mereka sendiri bisa lolos, kecuali Eng Siong, yang mendapat kebinasaan.

Kemudian mereka berkumpul pula, untuk lanjuti usaha mereka.

Tapi rahasia bocor dan Ma Soe Eng liehay sekali, selagi berapat, mereka disergap hingga mereka kena ditawan.

Mereka hendak dikirim ke Pakkhia dimana mereka bakal jalankan hukuman mati.

Maka beruntung sekali, di sini mereka bertemu dengan Sin Tjie dan dapat ditolongi.

Setelah itu Sin Tjie tuturkan hal perkenalannya dengan Giam Ong.

"Ini bagus, Wan Kongtjoe,"

Berkata Tiong Sioe.

"Disini ada kawanan penyamun dan sejumlah tentara taklukan, maka baik kau tunda dulu perjalananmu ke Pakkhia, untuk pernahkan mereka ini. Sin Tjie nyatakan setuju, malah ia sarankan untuk cari tempat untuk satu pertemuan besar.

"Tay San bagaimana?"

Tiong Sioe usulkan.

"Tay San ada yang utama di antara lima gunung, kita pilih Tay San, tepat!"

Sin Tjie nyatakan akur.

Pemuda ini lantas perintah kumpulkan isinya peti yang ia titahkan "obral" , sedang dari uang angkatan Negara, ia pisahkan sejumlah dua-puluh laksa tail perak, yang ia bagi rata di antara rombongan Tjeng Tiok Pay dan kawanan berandal dari Shoatang itu.

Untuk Tie Hong Lioe, ia pisahkan lagi lima-ribu tail.

Dan untuk tentara negeri yang menakluk itu, ia kasikan dua-puluh laksa tail.

Maka selat itu bergemuruh dengan tampik-surak pelbagai rombongan yang merasa sangat girang dengan tindakannya si anak muda.

Habis itu Sin Tjie titahkan sejumlah orang dari kaum San Tjong, Tjeng Tiok Pay dan berandal Shoatang, untuk mereka pergi ke berbagai tempat, guna menyampaikan undangan supaya nanti orang berkumpul di atas gunung Tay San untuk berapat, tanggalbulannya ialah pehgwee Tiong Tjioe.

Untuk pernahkan Tjouw Tiong Sioe beramai bersama tentara negeri taklukan itu, Sin Tjie minta orang she Tjouw itu pergi cari suatu gunung, untuk dirikan pesanggrahan, buat mereka tempatkan diri sampai datang saatnya untuk bergerak menyambut Giam Ong.

Tentang lenyapnya uang Negara itu, yang berjumlah lebih dari dua juta tail perak, dan menakluknya tentara pengiringnya, telah menggemparkan wilayah Shoatang dan kota raja, dan kapan kemudian Tjongtok Ma Soe Eng datang bersama satu pasukan perang besar, untuk mencari dan membasmi, di selat itu mereka tidak dapatkan satu penyamun juga, hingga mereka mesti pulang kembali dengan tangan kosong.

Sementara itu, sang hari lewat dengan cepat, selagi mendekati harian tanggal lima-belas bulan delapan, ke gunung Tay San telah datang orang-orang, dengan bersendirian dan berombongan, hingga mereka telah memenuhi pelbagai kelenteng di atas gunung yang suci itu, sebab jumlah mereka adalah beberapa ratus orang.

Pada malaman tanggal lima-belas, cuaca terang, rembulan indah-permai, dan pada paginya tanggal yang dipilih itu, hawa pagi sangat nyaman.

Semua orang berkumpul di lembah Sek Keng Kok dimana ada sebuah tegalan yang luas beberapa bauw, yang terdiri dari batu yang bersih dan mengkilap, katanya itu dahulu adalah tempat peranti berkotbah dari suatu pendeta yang berilmu tinggi, sedang di atas gunungnya ada ukiran sebagian kitab Kim Kong Keng dengan huruf-hurufnya sebesar gantang dan bagus.

Pada waktu itu di antara hadirin, kecuali Wan Sin Tjie bersama Oen Tjeng Tjeng, si empeh gagu A Pa dan Ang Seng Hay, pun terdapat rombongan dari Tjouw Tiong Sioe seperti Tjoe An Kok, Nie Hoo dan Lo Tay Kan.

Dari pihaknya Kim Liong Pay di Kangsouw datang Tjiauw Kong Lee bersama gadisnya, Tjiauw Wan Djie, Lo Lip Djie dan lainnya.

Dari Tjeng Tiok Pay datang Thia Tjeng Tiok beramai.

Dari kawanan berandal Shoatang hadir See Thian Kong bersama Tam Boen Lie dan rombongannya.

Dari Liong Yoe Pang di Tjiatkang, Eng Tjay telah ajak semua kawan-kawannya.

Dari pihak Siauw Lim Sie dari Hokkian, Sip Lek Taysoe, perlukan datang sendiri.

The Kie In dari Tjit-tjap-djie-Too, tujuh-puluh dua pulau-pula pun datang bersama kawan-kawannya.

Dari antara pesakitan, yang Sin Tjie tolong merdekakan, ada Tjeetjoe Liap Thian Kong dari lembah Hoei Houw Kok dari Hoay -lam dan Pangtjoe Nio Gin Liong dari Po Yang Pang dari Kangsee utara.

Begitupun sejumlah orang kang-ouw lainnya.

Dari pihak tentara negeri yang menakluk hadir Tjongpeng Soei Tjee Boe serta perwira-perwira sebawahannya.

Maka itu, jumlah mereka sangat besar, ramailah selat gunung Tay San itu.

Di waktu fajar, orang telah berkumpul untuk menghadap ke timur, untuk saksikan munculnya Tay Yang Seng-koen atau Batara Surya, di waktu mana, cuaca indah luar biasa, langit di arah timur itu merupakan aneka-warna yang permai, hingga orang menyambutnya dengan tampik-surak ramai.

Selagi orang ramai duduk, Im-yang-sie See Thian Kong, yang lukanya telah sembuh, berbangkit untuk beri hormat kepada semua hadirin, guna angkat bicara.

Ia memberi tahu bahwa penyambutannya tidak sempurna, maka itu, ia mohon diberi maaf.

Lalu sekali lagi, ia menjura kepada semua tetamu.

Dengan hampir berbareng, semua hadirin mengucapkan terima kasih.

"Aku adalah seorang kasar, aku tak tahu apa-apa, maka sekarang aku persilahkan tjianpwee dari Tjeng Tiok Pay yang bicara lebih jauh,"

Kemudian kata pula orang she See ini.

Thia Tjeng Tiok merendahkan diri, dia menampik, hingga keduanya saling tolak.

Demikian mereka ramah-tamah, beda daripada waktu mereka adu jiwa secara mati-matian untuk perebuti hartanya Sin Tjie.

Hal ini membuat girang dan kagum semua hadirin lainnya, karena, dari musuh, mereka kini jadi sahabat kekal.

Akhir-akhirnya Thia Tjeng Tiok, dengan sebatang bamboo di tangannya, berbangkit sambil tertawa.

"Kita kaum rimba persilatan, sebenarnya dahulu pun pernah satu kali berkumpul di atas gunung Tay San ini,"

Berkata dia, memulai.

"Cuma itu waktu, jumlah kita tak ada sebanyak kali ini. Dan itu waktu, aku tidak malu akan mengatakannya, apakah maksud rapat kita itu? Tak lain tak lebih, melulu untuk membagi daerah bekerja, guna memecah uang rampasan...."

Mendengar itu, semua orang tertawa.

"Sekarang ini telah hadir banyak enghiong, maka tak dapat kita berlaku lagi tak tahu malu seperti dulu itu!"

Melanjuti ketua Tjeng Tiok Pay itu.

"Sekarang ini dunia sedang kacau, sekarang adalah saatnya untuk orang-orang yang bersemangat mendirikan usaha yang berarti, untuk angkat nama! Kaisar sedang gelap pikiran, kusut segala aturannya! Di dalam pemerintahan hanya terdapat segala pembesar rakus dan busuk! Dan di luar tapal batas, kacung-kacung Boan di Kwan-gwa sering-sering menyerbu perbatasan kita, hingga karenanya, rakyat bercelaka, mereka mengeluh sampai suaranya terdengar di langit. Kita sendiri, siapakah di antara kita yang tidak pernah terdesak sampai kita berada di pojokan seperti sekarang ini? Maka sekarang haruslah kita berempuk, untuk membangun suatu usaha besar!"

Kembali orang bersurak-riuh, semua menyatakan setuju.

"Yang hadir hari ini semuanya sahabat-sahabat karib,"

Menambahkan Thia Tjeng Tiok.

"maka dari kita bersumpah dengan darah kita, untuk dimana ada kesusahan saling membantu, guna bekerja sama-sama. Dan andaikata, ada yang rakus, yang silau dengan harta dan kemuliaan hingga dia jual sahabatnya, atau dia takut mati saking kouw-ka-tie, mari kita ramai-ramai habiskan dia!"

"Bagus! Akur!"

Demikian kembali sambutan orang banyak.

"Di dalam satu pertemuan besar sebagai ini, tak dapat tidak ada beng-tjoe, ketuanya, maka itu, mari kita angkat satu pemimpin, satu saudara enghiong yang disegani semua orang,"

Berkata pula See Thian Kong.

"Terdapat beng-tjoe itu, kita semua mesti mendengar kata! Bagiku, tak perduli saudara mana yang diangkat, aku nanti selalu ikuti dia!"

Sampai di situ, Sip Lek Taysoe berbangkit.

"Memangnya, kawanan naga tidak ada kepalanya, tak nanti mereka bisa bangunkan usaha besar,"

Kata pendeta ini.

"Loo-lap setuju untuk kita pilih satu beng-tjoe, asal beng-tjoe itu mesti pintar dan gagah berbareng, welas-asih dan budiman, supaya ia bisa menakluki semua orang."

"Itu benar!"

The Kie In menyambut.

"Menurut aku, Tay-soe setimpal untuk jadi pemimpin kita."

Sip Lek Taysoe tertawa.

"Jangan main-main, tootjoe! Loolap adalah sebagai lilin diantara angina, loolap sedang tungkuli sisa umurku....Mana loolap sanggup terima tugas penting itu?"

Orang ramai lantas kasak-kusuk, berbisik satu dengan lain, untuk damaikan siapa harus dipilih dan diangkat menjadi beng-tjoe mereka.

Pemilihan ini perlu, untuk persatukan golongan mereka, yang terpencar di pelbagai tempat, agar mereka semua ada yang pimpin dan bersatu.

Hal ini perlu, untuk cegah bentrokan di dalam kalangan sendiri, guna bikin jeri pembesar negeri.

Thia Tjeng Tiok tunggu orang saling berdamai sekian lama, lalu ia tepuk tangannya beberapa kali, setelah semua orang sirap, dia tanya apa mereka itu sudah dapat pikir orang yang cocok, yang bakal dipilih.

Seorang, yang tubuhnya besar dan tingginya tujuh kaki, berbangkit.

Suaranya pun nyaring ketika ia buka mulutnya.

Ia kata.

"Loo-ya-tjoe Beng Pek Hoei adalah orang yang dihormati oleh kaum Rimba Persilatan, benar dia hari ini tidak turut hadir, akan tetapi kedudukan beng-tjoe ini harus diberikan kepadanya. Maka itu aku anggap baik kita jangan pilih lain orang lagi."

Usul ini segera dapat kesetujuannya beberapa orang.

"Siapakah itu Beng Pek Hoei?"

Tanya Sin Tjie pada Seng Hay, yang duduk di sebelahnya. Orang yang ditanya agaknya heran.

"Apakah Wan Siangkong tidak kenal orang she Beng itu? Dia balik tanya.

"Ada sedikit sekali sahabatku dalam rimba persilatan,"

Sahut si anak muda.

"Beng Loo-ya-tjoe itu ada orang juluki Kay Beng Siang, jadi dia dibandingi dengan Beng Siang Koen,"

Terangkan Seng Hay.

"Dia adalah seorang yang mulia hatinya, giat menderma, gemar bergaul. Dalam kalangan ilmu silat, dia telah ciptakan ilmu silat 'Sin Koen'. Banyak orang gagah yang menjadi muridnya. Untuk di utara, tidak ada yang tidak kenal nama Kay Beng Siang. Orang yang bicara barusan adalah Teng-kah-sin Teng Yoe, si Malaikat Teng Kah, yang jadi murid kepalanya."

"Begitu,"

Kata Sin Tjie kemudian.

"Kalau begitu, baik juga dia dipilih jadi beng-tjoe...."

Itu waktu, Tjit tjap djie too Tootjoe The Kie In berkata pula.

"Namanya Loo-ya-tjoe Beng Pek Hoei terkenal hingga di tempat jauh, sampai aku yang tinggal jauh dari daratan, telah pernah mendengarnya, aku turut kagumi dia. Dia bijaksana, kepandaiannya pun sempurna, memang pantas dia dipilih. Tapi aku memikir satu hal, boleh atau tidak apabila aku utarakan itu?"

"Tidak ada halangannya, The Tootjoe,"

Bilang Teng Yoe.

"Beng Loo-ya-tjoe telah tinggal di Po-teng untuk banyak tahun,"

Menyatakan tootjoe ini.

"harta-benda dan kedudukannya, besar bukan main. Kita sebaliknya, apakah yang kita kerjalan? Kita berkumpul, untuk melakukan usaha pemberontakan! Apabila Beng Loo-yatjoe menjadi pemimpin kita, kemudian dia kena terembet-rembet, apakah bisa senang hati kita?"

Kata-kata ini beralasan, maka itu semua orang berdiam.

"Aku hendak pujikan satu orang lain,"

Berkata Tjiauw Kong Lee, ketua dari Kim Liong Pay dari Kim-leng.

"Dia ini satu enghiong, dia tidak saja pandai ilmu silat, sifatnya pun welasasih dan budiman. Melainkan dia masih berusia sangat muda dan banyak sahabat-sahabat Rimba Persilatan yang belum mengenalnya. Walaupun demikian, aku suka pujikan dia. Dan asal dia suka menerima keangkatan, dia pasti bakal pegang pimpinan dengan adil, dia pasti bakal angkat nama kita hingga pihak pembesar negeri niscaya tak nanti pandang ringan kepada kita."

Sebelum orang banyak tegaskan Kong Lee, siapa pilihannya itu, See Thian Kong sudah turut berkata pula.

Dia punyakan suara kecil akan tetapi dia coba keluarkan dengan keras, hingga terdengarnya menyolok di kuping.

"Di dalam hatiku, aku juga memikir satu orang, satu enghiong yang usianya masih sangat muda,"

Katanya.

"Aku percaya dia tidak bakal beda jauh dengan enghiong yang dipujikan Tjiauw Pangtjoe."

"Aku tidak berani menyebutkan usiaku yang tinggi,"

Berkata pula Tjiauw Kong Lee, seperti ia menyambung See Thian Kong.

"akan tetapi usiaku sekarang ini sudah lebih dari limapuluh tahun, dan tak berani aku membilang, pengetahuan dan pengalamanku telah luas, akan tetapi pernah aku menemui tak sedikit orang-orang gagah, walaupun itu semua, sahabat muda yang aku sebutkan itu telah membuat aku takluk setakluk-takluknya, seumurku, belum pernah aku menemui orang yang melebihkan dia."

Sampai di situ, Thia Tjeng Tiok turut bicara. Tapi ia bicara dengan tawar.

"Aku kenal tabeatnya Tjeetjoe See Thian Kong,"

Demikian katanya.

"dan kipas Im-yang-sienya yang bisa dipakai menotok jalan darah, walaupun bukan tak ada keduanya, sudah sempurna sekali, maka seorang yang membuat dia kagum, pastilah bukan orang sembarang. Maka itu aku dari Tjeng Tiok Pay, aku setuju dengannya."

Mendengar ini, mukanya Tjiauw Kong Lee menjadi merah.

"Habis bagaimana caranya beng-tjoe hendak dipilih?"

Tegaskan ketua Kim Liong Pang ini.

"Orang-orang Kim Liong Pang memang tak punya guna, akan tetapi jumlah kami terlebih banyak daripada jumlah orang-orang Tjeng Tiok Pay...."

Suasana lantas saja menjadi hangat. Menampak demikian, Sip Lek Taysoe lantas mendahului.

"Sabar, Tjiauw Pangtjoe,"

Berkata dia.

"Siapa itu sahabat yang pangtjoe hendak pujikan? Menurut aku, dalam sembilan bagian, dugaanku tidak bakal meleset. Aku pun minta supaya See Tjeetjoe menyebutkannya orang yang dia hendak pujikan itu, supaya semua hadirin bisa berikan pertimbangannya yang sama tengah. Ada kemungkinan yang orang banyak tak menyetujui mereka itu...."

See Thian Kong lantas saja tunjuk Wan Sin Tjie.

"Orang yang aku maksudkan adalah Wan Siangkong!"

Sahutnya.

"Jangan saudarasaudara lihat saja usianya yang masih sangat muda, sebenarnya kepandaiannya terlebih tinggi daripada orang yang kebanyakan. Baik aku jelaskan, dengan Wan Siangkong ini aku Baru saja berkenalan, dengannya aku bukan pernah saudara seperguruan, bukan juga sahabat karib, bahwa aku pujikan dia, itulah disebabkan melulu karena aku kagumi kepandaiannya."

Baru saja See Tjeetjoe tutup mulutnya atau rombongan berandal dari Shoatang serta orang-orang Tjeng Tiok Pay bertampik-surak semua hingga suara mereka jadi bergemuruh.

Hal ini di luar dugaan Sin Tjie, maka lekas-lekas ia berbangkit, ia lantas ulap-ulapkan kedua tangannya.

"Jangan! Jangan!"

Katanya gugup.

Orang-orangnya Tjiauw Kong Lee tunggu sampai tampik-surak sudah reda, lalu mereka semua tertawa berkakakan, bergelak-gelak, kepala mereka ditegaki, kembali terdengar suara bergemuruh riuh.

See Thian Kong menjadi tidak senang.

"Tjiauw Pangtjoe, tolong kamu jelaskan, adakah kamu tertawai aku?"

Tanya dia. Kong Lee rangkap kedua tangannya, akan beri hormat kepada tjeetjoe ini.

"Mana berani aku tertawai kau, See Tjeetjoe?"

Katanya.

"Ketahuikah Tjeetjoe, siapa orang yang aku hendak pujikan?"

Thian Kong menggeleng kepala.

"Aku tidak tahu,"

Jawabnya. Kong Lee bersenyum "Lain daripada Wan Siangkong ini, siapa lagi?"

Katanya.

Tanpa merasa, orang semua tertawa besar.

Sebab sekian lama orang adu urat syaraf, tidak tahunya, jago yang mereka pujikan adalah satu orang!

Sin Tjie menjadi sangat sibuk, kembali ia bangkit berdiri.

"Aku masih terlalu muda, pengetahuanku pun sangat cetek,"

Katanya.

"Sebenarnya dengan dapat turut hadir di sini saja aku sudah bukan main bersyukurnya. Di sini aku mengharap semua loocianpwee nanti sudi pimpin aku, supaya aku bisa membantu sedikit, maka itu mana aku sanggup terima pujian kamu! Tak sanggup aku terima tugas berat ini, maka aku harap loocianpwee beramai pilih lain orang saja."

Tapi Tjouw Tiong Sioe turut bicara.

"Wan Kongtjoe adalah putera Wan Tayswee,"

Katanya.

"oleh karena kami kaum San Tjong tidak memilih kasih, dengan kongtjoe yang terpilih, inilah paling tepat!"

"Siapa dimaksudkan dengan Wan Tayswee itu?"

Tanya The Kie In.

"Ialah Tayswee Wan Tjong Hoan, panglima gagah yang di Liauwtong telah lawan angkatan perang Boan, yang belakangan tanpa sebab tanpa dosa telah dibikin celaka hingga dia menemui kebinasaannya,"

Tiong Sioe terangkan.

Semua orang tahu Wan Tjong Hoan gagah dan setia, bagaimana sebagai pahlawan dia bela negaranya, tapi dia terbinasa teraniaya, hingga orang rata-rata penasaran, maka sekarang, setelah dengar keterangannya Tjouw Tiong Sioe, tidak saja The Kie In, pemimpin dari tujuh-puluh-dua pulau, juga yang lain-lain jadi tergerak hatinya, berbareng berduka mereka atas nasibnya Wan Tayswee itu, mereka girang menemui puteranya.

Maka seperti satu suara, semua orang menyatakan setuju atas pilihan itu.

Sin Tjie masih mencoba menampik, ia tidak berhasil.

Malah Soei Tjongpeng, perwira taklukan itu, dan Nio Gin Liong dan Liap Thian Hong serta lainnya yang ditolongi dari kerangkeng perantaian, turut berikan suara menunjang, hingga tak dapat tidak, pemilihan lantas ditetapkan.

Ketua dari Liong Yoe Pang, Eng Tjay, sebenarnya mempunyai sangkutan dengan Sin Tjie, disebabkan kejadian di perahu waktu dia bentrok dengan Oen Tjeng Tjeng, akan tetapi dia ingat pertolongannya pemuda ini, yang berikan dia papan yang membuat dia tak sampai tercebur ke sungai, maka dia pun berikan tunjangannya.

Sambil berbangkit, dia berkata.

"Wan Siangkong mempunyai boegee yang liehay, pasti banyak saudara hadirin disini mengetahuinya. Aku sendiri, pernah rubuh di tangannya...."

Mendengar ini, sejumlah orang menjadi tercengang.

"Walaupun aku telah dirubuhkan, aku toh ditolongi,"

Eng Tjay menyambungi.

"karena itu sekarang aku setuju dia dipilih menjadi bengtjoe, aku tunjang pemilihannya ini."

Orang bersorak untuk sikap laki-laki dari ketua Liong Yoe Pang itu.

Teng-kah-sin Teng Yoe dekati Sin Tjie, untuk diawasi, hingga ia tampak tegas romannya Sin Tjie yang cakap, sikap halus, tak ada tanda-tandanya dari seorang dengan dengan boegee yang liehay, karenanya, ia menjadi heran.

Ia tidak puas karena namanya orang ini melewati nama gurunya.

"Kionghie, Wan Siangkong,"

Kata dia, memberi hormat, tapi berbareng ia ulur tangannya, untuk jabat pemuda ini.

"Dengan sebenarnya, tak sanggup aku terima tugas berat ini,"

Berkata Sin Tjie. Belum lagi anak muda ini tutup mulutnya, atau ia rasai cekalan yang keras sekali. Tetapi, dengand iam-diam, Teng Yoe sudah kerahkan tenaga "Pa Ong Kong Teng"

Atau "Tjouw Pa Ong angkat perapian kaki tiga,"

Semacam ilmu tenaga besar warisan dari gurunya.

Dengan jalan ini, ia niat angkat tubuhnya Sin Tjie, untuk lalu dilepaskan, supaya pemuda ini rubuh setengah binasa, agar bengtjoe ini mendapat malu.

Sin Tjie segera insyaf bahwa orang lagi mencoba dia, dia diam saja, tapi dengan diamdiam, dia kerahkan tenaga "Tjian kin tjoei" , atau "rubuhnya seribu kati" , hingga dia bisa tancap kaki dengan tubuhnya dibikin berat, karena mana, sampai tiga kali Teng Yoe kumpul tenaganya, untuk angkat ia masih tidak berhasil, tubuhnya seperti nancap di tanah.

Dia pun lantas berkata.

"Mana aku sanggup terima tugas begini berat? Gurumu terkenal di kolong langit, saudara Teng, gurumu itu jauh terlebih cocok daripada aku untuk dipilih!"

Masih Teng Yoe kerahkan tenaganya, tetap ia tidak memperoleh hasil, malah pada lengan kanannya itu terdengar suara urat-uratnya, maka akhirnya terpaksa ia lepaskan cekalannya, karena ia tahu, ia telah gunai tenaga melebihi batas.

Masih Sin Tjie berpura-pura seperti tak ada kejadian suatu apa, begitu orang lepaskan cekalannya, ia lantas tarik pulang tangannya.

Teng Yoe sembrono tetapi ia jujur dan polos, Ia tahu orang telah berbuat baik terhadapnya, karena apabila si anak muda melakukan pembalasan, lengannya bisa patah atau tangannya remuk.

Karena ini, ia jadi berterima kasih.

"Baik, kau pantas menjadi bengtjoe!"

Dia lantas serukan.

Lalu ia memberi hormat sambil menjura.

Sin Tjie lekas-lekas membalas hormat, hatinya girang karena orang berhati polos.

Ia jadi sangat suka pada orang sembrono ini.

Ketika itu orang lantas siapkan lilin dan hio, untuk menjalankan kehormatan kepada langit dan bumi, yang menyaksikan pemilihan dan keangkatan bengtjoe itu.

"Kita telah adakan perserikatan, kita sudah mempunyai bengtjoe, karenanya tak boleh kita tidak punyakan undang-undang,"

Berkata Thia Tjeng Tiok.

"Maka sekarang aku mohon bengtjoe maklumkan undang-undang itu, untuk kita rundingkan dan tetapkan."

Sebenarnya Sin Tjie masih hendak menolak, tapi Tiong Sioe bisiki dia, katanya.

"Kongtjoe, jangan kau tampik lagi. Apabila kedudukan bengtjoe ini terjatuh kepada satu manusia licik, besar sekali bencananya di belakang hari. Umpama kau bisa pegang kendali, besar faedahnya untuk melampiaskan sakit hatinya Tayswee!"

Tertarik hatinya Sin Tjie mendengar nasehat ini. Lantas ia berbangkit, akan menjura kepada orang banyak.

"Karena saudara-saudara demikian menyinta aku, baiklah, terpaksa aku turut titah kalian,"

Katanya.

"Karena pengetahuanku cetek, aku mohon supaya semua cianpwee dan kanda sudi bantui aku, aku senantiasa bersedia untuk terima pelbagai pengajaran."

Tampik surak riuh-rendah menyambut pengutaraan itu.

"Untuk undang-undang, aku minta Tjouw Siokhoe saja yang mengarangnya,"

Kemudian Sin Tjie minta Tiong Sioe.

Tjouw Tiong Sioe tidak menolak, ia malah lantas kembali ke kuil, untuk tugasnya itu.

Ia tahu semua orang sederhana, ia pun mengatur rencana secara ringkas.

Maka belum terlalu lama, ia sudah siap dengan undang-undangnya, yang ia terus serahkan pada Sin Tjie, untuk diumumkan kepada orang banyak itu, habis mana mereka mengadakan sumpah, minum arak tercampur darah, untuk janji bekerja sama-sama tidak ada yang boleh undurkan diri atau melanggar sumpah.

Secara demikian selesailah pertemuan besar di Tay San itu.

Belum berselang setengah tahun sejak Sin Tjie muncul karena ilmu silatnya yang liehay, sebabnya ramah tamah dan kepintaran, ia telah membuat kemajuan ini, hingga ia sekarang menjadi bengtjoe dari Titlee, Shoatang, Kangouw, Tjiatkang, Hokkian, Kangsee dan Anhoei, dari orang-orang gagah dari tujuh propinsi itu.

Tiga hari lamanya orang berkumpul di Tay San, berunding dan berpesta, lalu dengan bergantian mereka turun gunung, akan pulang ke masing-masing wilayahnya.

Selama itu, kecuali sebagai pemimpin, Sin Tjie juga telah ikat persahabatan kekal dengan orang-orang tang tadinya ia tak kenal.

Di waktu orang berpisahan, ia bekali mereka uang, yang ia ambil dari harta karunnya itu, tak saying ia memberikan masing-masing sejumlah besar.

Secara begini, ia pun menambah menarik simpati orang banyak itu.

Setelah semua sudah bubar, Sin Tjie bersama Tjeng Tjeng, A Pa dan Seng Hay melanjuti mengangkut harta mereka menuju ke Pakkhia.

Adalah Thia Tjeng Tiok dan See Thian Kong, yang tidak lantas pisahkan diri, karena mereka ini ingin mengantar sampai di kota raja, katanya untuk sekalian pesiar.

Sin Tjie terima baik kehendak dua sahabat ini, terutama karena ia tahu, dua sahabat itu mempunyai ilmu silat yang sempurna.

Sementara itu Ang Seng Hay terbukti berlaku jujur dan setia, dia rajin dan waspada dalam mengantar harta itu, hingga Sin Tjie percaya dia tak nanti berontak atau berkhianat terhadapnya, maka ia lantas sembuhkan luka dalam tubuhnya.

Pertolongan ini justru membikin orang she Ang itu menjadi bersyukur sekali, hatinya lega sebab ia tak usah dukai lagi lukanya ity.

Melakoni perjalanan di tanah dataran Shoatang, rombongan ini merasa aman sekali.

Shoatang adalah daerah pengaruhnya See Thian Kong, orang-orangnya pemimpin ini telah atur segala apa untuk memudahkan mereka.

Dan kapan mereka memasuki daerah Hoopak, di sana pun mereka mendapat pelayanan tak kurang sempurnanya dari orang-orangnya Thia Tjeng Tiok.

Oen Tjeng Tjeng puas sekali melihat amannya perjalanan itu, mendapati segala apa leluasa bagi mereka, maka akhirnya ia kagumi si anak muda, orang yang ia puja itu.

Karena ini, kalau tadinya ia gemar "ngadat", dengan sendirinya ia bisa bawa diri, hingga ia pun menjadi jinak....

Pada suatu hari sampailah rombongan ini di Hoo-kan, disana ketua setempat dari Tjeng Tiok Pay menyambut dengan mengadakan satu perjamuan, di antara hadirin ada orangorang Rimba persilatan yang kenamaan dari kota itu, kecuali menemani, mereka ini memberi selamat kepada bengtjoe mereka.

Selagi bersantap dan minum, orang pun pasang omong mengenai kaum kang-ouw.

"Thia Pangtjoe,"

Berkata satu orang selagi perjamuan berjalan.

"lagi sebelas hari adalah hari ulang tahun ke-enam-puluh dari Loo-ya-tjoe Beng Pek Hoei, pasti kau tak dapat pergi untuk menghadiri pestanya itu, bukan?"

"Aku mesti turut bengtjoe ke kota raja, pasti aku tak dapat pergi,"

Sahut Thia Tjeng Tiok.

"walaupun demikian, sumbangan tak dapat aku lupakan, aku telah perintah orang untuk menyampaikannya."

"Aku juga sudah kirimkan barang antaranku,"

See Thian Kong turut bicara.

"Beng Loo-yatjoe ada satu sahabat baik, melihat kita tidak datang, tentu ia ketahui kita punyakan urusan penting, pasti ia tidak bakal jadi tidak senang."

Sin Tjie dengar pembicaraan itu, hatinya tergerak.

"Kay Beng Siang tersohor di lima propinsi Utara, selagi sekarang dia hendak rayakan hari ulang tahunnya, kenapa aku tidak mau ikat persahabatan dengannya?"

Dia berpikir. Maka ia turut bicara. Ia kata.

"Aku pun telah dengar namanya Beng Loo-ya-tjoe, kebetulan sekarang dia hendak rayakan shedjitnya yang ke enam-puluh, aku ingin pergi memberi selamat padanya. Bagaimana pikiran saudara-saudara?"

Mendengar ini, semua orang akur, sampai mereka tepuk-tepuk tangan.

"Bengtjoe niat berikan dia muka terang, pasti dia bakal jadi sangat girang!"

Berkata orang banyak itu.

Sin Tjie lantas pastikan untuk kunjungi Beng Pek Hoei.

Sembari bicara, ia menanyakan terlebih jauh tentang jago tua dari Utara itu.

Ia dapat kenyataan, Kay Beng Siang itu seorang budiman dan gemar bergaul.

"Dengan jalan mutar sedikit ke Poo-teng, aku anggap kita tidak sampai mensia-siakan banyak tempo untuk sampai di Pakkhia,"

Kata Sin Tjie kemudian.

"Kita cuma akan terlambat beberapa hari saja."

Banyak hadirin menyatakan, memang mereka tak terlalu mensia-siakan tempo.

Karena ini urusan baru, ketika besoknya perjalanan dilanjuti, tujuan diubah ke Barat.

Kapan mereka telah sampai di Kho-yang, dari mana untuk sampai ke Poo-teng tinggal perjalanan satu hari lagi, Seng Hay lantas ambil tempat di hotel Hoat Lay.

Sesudah taruh rapi peti-peti besi dan buntalan mereka, mereka pergi duduk berkumpul di ruang besar, untuk bersantap.

Ketika itu di satu meja sebelah timur berduduk satu tauwtoo atau imam yang tubuhnya besar dan gemuk, kepalanya, atau rambutnya, dilibat dengan sebuah gelang kepala yang terbuat dari tembaga.

Dia beroman keren.

Di atas meja di depannya sudah menggeletak tujuh atau delapan poci arak yang kosong.

Ketika satu jongos menambahi air kata-kata, ia mencegluknya dari satu mangkok besar.

Dia pun dahar daging dengan main cabak dengan kedua tangannya.

Dan dia dahar dengan cepat, hingga piringnya jadi kosong, mangkoknya jadi kering.

"Tambah lagi arak dan daging! Lekasan!"

Demikian ia perdengarkan suaranya yang nyaring, sampai berulang-ulang. Jongos sedang melayani rombongan Sin Tjie, ia jadi tak sempat.

"Kurang ajar!"

Menjerit tauwtoo itu, sambil keprak meja dengan keras, sampai poci arak dan mangkoknya berlompatan.

Karena meja bergerak keras, cawan arak dari lain tetamu, yang duduk di ujung dari meja itu, telah terbalik, hingga araknya tumpah dan mengalir di atas meja.

"Aya!"

Berseru si tetamu sambil berjingkrak.

Dia ini adalah seorang dengan tubuh kecil dan kurus, kumisnya dua baris, apa yang dinamakan kumis tikus saking jarangnya akan tetapi sepasang matanya bersinar tajam dan berpengaruh.

"Soehoe,"

Katanya.

"kau ingin minum arak, orang lain juga!"

Tauwtoo itu sedang gusar, teguran itu menambah kegusarannya. Ia gebrak meja.

"Aku panggil jongos, apa sangkutannya denganmu?"

Dia balik menegur.

"Belum pernah aku menemui orang suci sekasar kau!"

Kata orang kurus itu.

"Dan hari ini aku bikin kau menemuinya!"

Sahut si imam. Tjeng Tjeng pun tidak puas.

"Nanti aku ajar adat padanya!"

Katanya pada Sin Tjie.

"Ah, kau nonton saja,"

Jawab si anak muda.

"Jangan pandang ringan orang kecil dan kate itu, dia tak dapat dibuat permainan."

Tjeng Tjeng dengar kata, tapi keras keinginannya untuk saksikan pertempuran. Tapi si orang kurus seperti jeri terhadap si imam.

"Baik, baik, aku mengaku salah. Tak apa, bukan?"

Katanya.

Melihat orang ngaku salah, justru waktu itu jongos datang dengan arak, si imam tidak menarik panjang, ia minum pula sendirian saja.

Si kurus berlalu, tapi tak lama ia sudah kembali.

Sin Tjie dan kawan-kawannya, yang tidak jadi saksikan "keramaian", minum pula sendirinya.

Tiba-tiba saja ada angina menyambar, membawa bau keras yang menyampok hidung, hingga Tjeng Tjeng lekas sembat keluar saputangannya, untuk tekapi hidungnya.

Sin Tjie menoleh, atau segera ia tampak di mejanya si imam, di depannya, ada satu pispot, hingga Sin Tjie tertawa dengan tak tertahan.

Dia menoleh pada Tjeng Tjeng, akan bersenyum, lalu melirik ke arah si imam.

Tjeng Tjeng pun lihat pispot itu, tapi si imam seperti tak melihatnya, maka nona ini tertawa sendirinya.

Juga lain-lain tetamu tidak lihat pot tempat kotoran itu.

"Bau! Bau!"

Kata beberapa orang kemudian.

"Wangi! Wangi!"

Sebaliknya si kurus kering, dengan suaranya yang nyaring.

"Itu pasti perbuatannya si kurus ini,"

Tjeng Tjeng bilang sambil bersenyum.

"Dia sungguh sangat sebat! Kenapa aku tak lihat perbuatannya itu?"

Baru sekarang hidung si imam mencium bau busuk, tapi tanpa melihat lagi, ia ulur tangannya, akan jumput poci arak, akan tetapi kapan ia melihatnya, ia terperanjat.

Ia bukan angkat poci arak hanya pispot dimana bertumpuk najis.

Dengan tiba-tiba saja ia menjadi gusar, tangannya menyampok ke samping.

"Aduh!"

Menjerit si jongos, yang tubuhnya terpelanting rubuh, jauhnya setumbak lebih.

"Arak yang bagus, arak yang bagus! Wangi! Wangi!"

Kembali si kurus perdengarkan suaranya yang nyaring.

Sekarang si imam duga siapa yang main gila terhadapnya, dengan satu kali ayun saja, pispot itu menyambar kea rah si kurus.

Tapi dia ini agaknya telah siap, dia berkelit dengan lincah, dengan nyelusup ke kolong meja, ketika ia muncul pula, tahu-tahu ia sudah berada di belakang si imam.

Pispot mengenai meja dan hancur, kotorannya muncrat berhamburan, baunya berkesiur keras ke empat penjuru, hingga lain-lainnya tetamu lantas saja lekas-lekas menyingkir!

(Bersambung bab ke 16) Murkanya si imam bukan kepalang, terutama kapan ia ketahui si kurus berada di belakangnya, sambil putar tubuh, ia menyambar dengan sebelah tangannya.

Si kurus awas dan licin, dia berkelit sambil nyelusup pula ke kolong meja.

Dalam murkanya, imam itu dupak meja hingga terbalik.

Sedetik saja, ruang makan itu jadi kacau.

Semua tetamu lainnya pada berdiri di kedua pinggiran.

Lincah luar biasa ada si kurus, ketika si imam serang pula padanya, dia berkelit, lalu dia loncat sana dan lompat sini, hingga tidak ada kepalan atau dupakan yang mengenai tubuhnya.

Meja-meja lainnya, berikut kursinya, turut terbalik-balik, karena disempar dan dibentur, poci arak, cawan dan sumpit, jatuh berhamburan.

Si kurus membalas menyerang, tetapi dengan poci arak dan lainnya, yang ia jumput dari lantai.

Si imam menjerit-jerit, ia berkelit, ia menanggapi, untuk balas menimpuk.

Dengan begitu terlihatlah kepandaian mereka berdua.

Karena meja dan kursi pun disempar pergi datang, ruang itu lantas menjadi ruang kosong, hingga si kurus tak dapat jalan untuk main berkelit atau berlari lagi, maka ia terpaksa mesti layani si imam yang serang ia tak hentinya.

Ia melayani sambil perlihatkan kesebatannya, kegesitan tubuhnya.

Si imam bertenaga besar.

Segera kelihatan dia bersilat dengan ilmu silat "Tay Ang Koen"

Berasal dari Tjhong-tjioe, atau Tjhong Tjioe Pay.

Sesuatu serangannya menerbitkan sambaran angin yang keras.

Si kurus sendiri bersilat tetap sebagai bermulanya, tubuhnya gesit, gerakannya sebat.

Dia lebih banyak berkelit, dengan buang diri atau berlompat, atau kadang-kadang ia terhuyung-huyung, nampaknya lucu, hingga Tjeng Tjeng, yang menyaksikan dengan penuh perhatian, tak tahan untuk tidak tertawa geli.

"Inilah tak enak dilihat!"

Katanya.

"Macam apa ilmu silat ini?"

Sin Tjie juga tidak kenal ilmu silat itu, yang ia belum pernah lihat, ia melainkan saksikan kelincahan dan gerak-gerakan yang aneh. Rupanya itu ada ilmu kepandaian suatu golongan tersendiri.

"Inilah Ap Heng Koen,"

Kata Thia Tjeng Tiok, yang luas pengetahuannya.

"Dalam kalangan kaum kang-ouw, tidak banyak orang yang mengerti ilmu silat ini."

Tjeng Tjeng tertawa pula.

Nama ilmu silat itu, yang berarti "Koentauw Bebek", sungguh luar biasa.

Tapi sekarang ia bisa lihat tegas, gerakan kaki dan tangan benar-benar seperti gerak-geriknya bebek gemuk....

Si imam, yang tak bisa rubuhkan si kurus, lalu menjadi sibuk sendirinya.

Sia -sia saja pelbagai toyoran dan tendangannya.

Maka akhir-akhirnya, tubuhnya jadi terhuyunghuyung, sempoyongan, bagaikan orang bertubuh limbung dan tak kuat berdiri.

Tapi ini adalah ilmu silat "Lou Tie Tjim Tjoei Pa San-boen"

Atau "Lou Tie Tjim sedang mabuk arak pukul pintu kuil".

Tubunya terumbang-ambing tidak keruan, kaki tangannya sambar sanasini, ada kalanya dia rubuh terbanting sendirinya, lalu bergulingan, tapi serangannya ada hebat, terutama sehabis jatuh, apabila musuh hampirkan dia, dia bisa berlompat bangun dengan cepat sekali.

Kali ini, Baru dia jalankan separuh dari ilmu silatnya itu, atau si kurus-kecil sudah repot sendirinya.

Oleh karena itu, ia sering jatuh dan bergulingan, tubuh si iman telah berlepotan nasi dan kuah sayuran, malah juga kotoran dari pispot, tapi ia tak perdulikan itu, untuk bisa kalahkan musuhnya, ia masih suka bergulingan.

Rupa-rupanya imam ini lihat ketikanya yang baik sudah datang, dengan sekonyongkonyong dia lompat mendesak, selagi kakinya sebelah maju, tangan kirinya menggertak, tangan kanannya menyerang dada, dengan tipu-pukulannya "Pay san to hay", atau "menggempur gunung untuk menguruk lautan".

Ini adalah satu serangan liehay.

Si kurus juga insyaf itu, maka dia lekas-lekas empos semangatnya, kedua tangannya ditaruh di depan dada, selagi serangan datang, ia berseru keras.

"Bagus!"

Tidak tempo lagi, kedua tangan serta satu kepalan bentrok satu dengan lain.

Kepalannya si imam besar dan antap, kedua tangannya si kurus kecil dan kurus, tapi kedua tangan itu tepat menyambuti, sesudah mana, keduanya saling dorong.

Si imam menyerang dengan kepalan kanan, karena itu, kepalan kirinya merdeka, akan tetapi karena dia kumpul tenaga di tangan kanan, tangan kiri itu tak dapat dipakai membantu.

Dia bertenaga besar, dia kerahkan semua tenaganya, tapi tak dapat ia tolak tubuh musuh, yang pertahankan diri dengan kokoh-teguh, hingga keduanya jadi berkutetan, tak ada yang dapat maju, tak ada yang bisa mundur.

Sebab siapa berani mundur, celakalah dia.

Keduanya, si imam dan si kurus, menjadi menyesal sendirinya.

Mereka tidak bermusuhan satu dengan lain, tidak keruan, mereka bertarung secara hebat itu, mereka seperti adu jiwa.

Tidak lama kemudian, mereka masing-masing menjadi mandi keringat, air keringat sebesar kacang kedele mengetel dari jidat mereka...

"Thia Lauw-hia,"

Kata See Thian Kong, setelah mereka menyaksikan sampai sebegitu jauh.

"coba kau pakai tongkatnya si pengemis untuk pisahkan mereka, kalau tidak, lagi sedikit lama, mereka dua-dua bakal celaka..."

"Aku sendirian tidak sanggup, mari kita berdua,"

Mengajak Tjeng Tiok.

"Baik, marilah,"

Jawab Thian Kong.

"Jikalau kita tolak mereka mungkin mereka sama-sama terluka di dalam, cumalah tak sampai membahayakan jiwa..."

Belum sampai dua orang itu maju, Sin Tjie sudah campur bicara.

"Mari aku yang mencoba!"

Katanya sambil berbangkit.

Lalu, dengan tindakan pelahan, ia hampirkan dua jago itu, yang sudah mandi keringat.

Ia berdiri di tengah, di samping mereka, lantas pentang kedua tangannya, akan buka kedua orang itu terpisah masingmasing tangannya, hanya karena mereka dipisahkan secara tiba-tiba, tubuh mereka maju ngusruk, tangan mereka maju ke depan tepat mengenai dada Sin Tjie.

"Celaka!"

Berseru Tjeng Tiok dan Thian Kong, sambil mereka lompat, dengan niat tolongi si anak muda.

Tapi kapan mereka sudah datang dekat, mereka dapati si anak muda tidak terluka, romannya tenang seperti biasa.

Mereka tahu, Sin Tjie sudah bersiap mengerahkan tenaga di dalam tubuhnya, untuk sambuti serangan yang tidak disengaja itu, hingga ia jadi tak kurang suatu apa.

Tidak demikian adalah si kurus dan si tauwtoo.

Mereka telah kehabisan tenaga, setelah mereka dapat dipisahkan, saking lemasnya, dua-dua rubuh, mendeprok di lantai di tengahtengah ruang itu.

Baca Juga: Raja Silat 6

Baca Juga: Si Tangan Sakti Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert