Eps 6 Pedang Ular Emas - Yin Yong
Baca online Pedang Ular Emas - Yin Yong
Cersil Pedang Ular Emas - Yin Yong.
Tjiauw Wan Djie tidak dapat antap orang pentang bacot lebar.
"Kalau perempuan, bagaimana?"
Tanya dia.
"Aku terima tantanganmu!"
Empat atau lima muridnya Tjiauw Kong Lee lantas berbangkit.
"Soemoay, kita juga turut bertaruh!"
Kata mereka.
"Tidak usah, cukup aku sendiri!"
Wan Djie menolak. Soen Tiong Koen tertawa mengejek.
"Baik!"
Berseru dia.
"The Totjoe, sukalah kau menjadi saksi!"
The Kie In adalah kepala bajak yang tak segan membunuh orang, akan tetapi menghadapi ini macam pertaruhan, hatinya toh giris.
"Nona. Nona,"
Katanya, untuk mencegah.
"jikalau kamu hendak bertaruh, baiklah kamu gunai segala yantjie atau pupur, buat apa kamu pakai cara ini?"
Wan Djie mendahului menjawab.
"Dia telah babat kutung sebelah tangannya Lo Soekoku, maka sebentar aku hendak bikin picak kedua matanya!"
Mendengar begitu, The Kie In lantas tutup mulut. Bwee Kiam Hoo, dengan dingin turut bicara.
"Nona Tjiauw, kau baik sekali terhadap muridnya Kim Coa Long Koen,"
Ia menjindir.
"sehingga kau sudi menggantikan jiwanya...."
Merah mukanya nona Tjiauw itu tapi ia dapat menahan sabar.
"Kau sendiri hendak bertaruh atau tidak?"
Ia tanya. Ia menantang. Tjeng Tjeng pun gusar terhadap orang Hoa San Pay itu. Maka ia menyelah.
"Kasihlah aku yang bertaruh dengan Boe-eng-tjoe!"
Katanya.
"Kau hendak bertaruh apa?"
Tanya Kiam Hoo.
"Aku juga hendak bertaruh tiga lawan satu!"
Jawab nona ini.
"Ya, bertaruh apa?"
Kiam Hoo tegasi.
"Jikalau dia kalah, disini juga dimuka umum aku nanti panggil engkong tiga kali padamu,"
Jawab Tjeng Tjeng.
"Jikalau dia yang menang, untukmu cukup memanggil aku satu kali saja!"
Mendengar ini, semua orang, kawan dan lawan, pada tertawa. Semua orang anggap "pemuda"
Ini benar-benar nakal.
"Siapa mau bergurau denganmu?"
Kata Kiam Hoo.
"Mari kita nantikan saja, apabila dia yang menang, aku nanti minta pengajaran dari kau!"
Masih Tjeng Tjeng menggoda.
"Dengan begitu, sebatangmu itu menjadi terlebih liehay daripada Liang Gie Kiam-hoat dari Boe Tong Pay!....."
Katanya.
"Aku dari Hoa San Pay,"
Kiam Hoo kasi keterangan.
"Mereka itu benar dari Boe Tong Pay. Sesuatu kaum mempunyai ilmu kepandaiannya sendiri, jangan kau mencoba mengadu dan merenggangkan kami!"
Tong Hian jadi jemu mendengari orang adu mulut saja.
"Sudah, cukup!"
Ia berseru.
"Eh, bocah, kau lihat!"
Ia bicara kepada Sin Tjie, yang ia segera serang pula.
Perbuatan ini diturut oleh Bin Tjoe Hoa, yang terus menikam dengan kakinya maju menginjak apa yang dinamai pintu "hong-boen".
Mereka berdua menggunai masing-masing tangan kiri dan kanan, untuk bergerak menuruti garis-garis patkwa delapan kali delapan menjadi enam puluh empat, gerakannya saling menghidupkan, saling mematikan juga, sambaran anginnya bersiur-siur.
Ketika dahulu Kim Coa Long-koen rundingkan ilmu pedang dengan Oey Bok Toodjin dari Boe Tong Pay itu, dia telah hunjuk bahwa Liang Gie Kiam-hoat masih ada bagianbagiannya yang lemah, akan tetapi imam itu percaya benar ilmu pedang ciptaannya itu, ia bersikap kukuh, sehingga ia kata.
"Taruh kata benar masih ada kelemahannya pada ilmu pedangku ini akan tetapi di kolong langit ini tidak ada orang yang sanggup memecahkannya."
Atas pengutaraan itu, Kim Coa Long-koen tidak bilang apa-apa.
Kemudian, ketika Ngo-tjouw dari Tjio Liang Pay seterukan Kim Coa Long-koen, diantara orang-orang liehay yang mereka undang untuk membantu pihak mereka, ada juga ahli-ahli pedang dari Boe Tong Pay, diwaktu menghadapi mereka ini, Kim Coa Long-koen tahu pasti bagaimana mesti melayani diaorang itu.
Benar saja, dalam beberapa gebrak saja, ia telah berhasil pecahkan Liang Gie Kiam-hoat.
Didalam Kim Coa Pit Kip, tentang Liang Gie Kiam-hoat itu ditulis jelas, kelemahannya, cara menyerangnya, maka itu sekarang Sin Tjie tidak berkuatir sama sekali.
Demikian, atas serangan, dia berkelit, terus dia main berkelit saja, dia gunai kegesitannya, kelicinannya.
Tong Hian Toodjin dan Bin Tjoe Hoa merangsek terus, satu tikaman demi satu tikaman, akan tetapi sampai beberapa jurus, tidak juga mereka berhasil dapat menikam lawan yang muda belia itu, sehingga selain mereka sendiri, para penonton pun menjadi heran, ratarata orang mengagumi si anak muda.
"Ilmu entengkan tubuh dari anak muda ini benar-benar sempurna, boleh jadi sekali benarlah dia ada murid Kim Coa Long-koen,"
Menyatakan Tjit-tjap-djie-to Totjoe The Kie In kepada Sip Lek Taysoe, pendeta dari Siauw Lim Sie. Pendeta itu manggut-manggut.
"Dalam angkatan muda ada orang liehay sebagai dia, sungguh jarang didapat,"
Ia menyatakan akur.
Pertempuran berjalan semakin seru, karena Bin Tjoe Hoa telah jadi semakin sengit.
Satu kali ia injak garis tiong-kiong, ia tikam dada lawannya.
Tong Hian Toodjin dilain pihak menusuk kekiri, untuk disusul sama tikaman kearah kanan.
Sin Tjie kena terjepit, tak ada lowongan lagi untuk ia egos tubuhnya.
Akan tetapi ia tidak gugup, ia tidak kehabisan daya.
Dengan tiba-tiba saja ia mendak, sebelah kakinya dimajukan.
Ia mendak demikian rendah, kepalanya pun dikasi tunduk, maka tahu-tahu kepalanya itu sudah seruduk perutnya Tjoe Hoa.
Ia masih tidak gunai tenaga penuh tetapi jago Boe Tong Pay itu terpelanting mundur, terhujung-hujung, hampir dia rubuh terjengkang.
Tong Hian Toodjin terperanjat, untuk cegah kawannya nanti diserbu, dia merangsek, dia menyerang beruntun-runtun hingga tiga kali, selama mana, Sin Tjie kembali main mundur atau berkelit.
Bin Tjoe Hoa pertahankan diri, ia gusar tak kepalang.
"Binatang,"
Ia mendamprat.
Sin Tjie berkelahi dengan sikap damai, ia masih mengharap untuk redakan ketegangan, supaya terciptalah perdamaian, akan tetapi Tjoe Hoa damprat ia secara demikian, tiba-tiba saja hawa-amarahnya naik.
"Jikalau aku tidak perlihatkan kepandaianku, akan tindih mereka ini, urusan sukar dibereskan,"
Pikir dia.
"Aku pun mesti cari ketika untuk hadapi Tiang Pek Sam Eng, jikalau tidak, pasti orang tidak akan tunduk kepadaku....."
Maka ia lantas mencelat kesamping meja, akan sambar cawannya sendiri, untuk segera cegluk isinya, sesudah mana, ia berseru berulang-ulang.
"Lekas, lekas serang aku, aku masih belum dahar kenyang!"
Kemurkaan Bin Tjoe Hoa bertambah-tambah, terang sekali orang telah sangat menghina dia. Dalam murkanya itu, ia perhebat serangannya sehingga pedangnya perdengarkan angin menderu-deru.
"Bin Soetee, sabar!"
Tong Hian peringati.
"Dia sedang pancing hawa-amarahmu!"
Tjoe Hoa insyaf, maka ia jadi sabar pula.
Tapi berdua, mereka terus menyerang dengan keras, mereka tetap merangsek, cahaya pedang mereka berkelebatan seperti mengurung tubuh lawan.
Lagi beberapa jurus telah dikasi lewat.
Dengan mendadak, dengan kelicinannya, Sin Tjie dapat loncat keluar kepungan, untuk letaki cangkirnya diatas meja.
"Adik Tjeng, tambahkan arakku!"
Ia teriaki kawannya.
"Baik!"
Jawab Tjeng Tjeng.
Sin Tjie sambar sebuah kursi, ia sendiri berdiri ditepi meja, dengan kursi itu, ia rintangi pelbagai tusukan pedang, sampai si nona sudah isikan cawannya, Baru ia sambar cawan itu, lalu melepaskan kursinya, ia lompat pula ketengah ruangan.
Disini ia makan ayamnya.
"Memang pada dasarnya Liang Gie Kiam-hoatmu ini ada bagiannya yang lemah,"
Berkata dia.
"sudah begitu, tidak sempurna kamu menjalankannya, maka bagaimana dapat kamu melukai aku?"
Ia hirup araknya.
"Ketika kau masih kecil, guruku suruh aku membuat karangan. Sekarang aku sedang bergembira, mau juga aku membuat karangan pula!"
"Bocah, lihat pedang!"
Tong Hian berseru. Tapi ia tidak menyerang.
"Utusan Kim Coa Long-koen sambil tertawa melayani berkelahi dua si tolol,"
Sin Tjie terusi godaannya, untuk membangkitkan hawa-amarah mereka. Tjeng Tjeng tertawa.
"Toako, apakah katamu?"
Tanyanya.
"Itulah kalimat karanganku,"
Sahut Sin Tjie.
"Baik!"
Kata si nona.
"Hayo kau membacakannya, aku akan mengingatinya, sebentar aku nanti buat catatannya."
Nona ini tahu maksud kawannya itu, ia pun melayaninya.
"Pedang mustika itu adalah senjata untuk membunuh manusia,"
Sin Tjie lantas menyebutkan karangannya.
"Dan tolol adalah lain gelarannya si dungu. Satu ketololan membuat berubah orang empunya wajah muka, dua ketololan bisa membikin orang tertawa terpingkal-pingkal sambil menekan perut, akan tetapi dua si tolol yang memainkan pedangnya dengan niatan membunuh orang, dia membuat aku menyemburkan arak hingga air mataku keluar hingga aku berseru panjang!"
"Semburkan arak, keluarkan air mata, bagian itu perlu ditandai koma dan titik,"
Tjeng Tjeng bilang. Sementara itu Sin Tjie telah berkelit dari tiga tusukan berbareng dari kedua lawannya, tidak pernah ia balas menyerang, ia main egos tubuh atau melejit saja.
"Aku adalah utusan Kim Coa Long-koen,"
Ia lanjutkan.
"aku suka tempatkan diriku sebagai si pendamai Lou Tiong Lian, akan tetapi tuan berkukuh, tak mau sadar, terus-terusan mengacau saja, hingga karenanya di empat penjuru, semua tuan-tuan telah menunda cawannya, untuk menonton pertempuran. Sementara itu tiga pengkhianat bimbang dan berduka hatinya, mereka memikirkan cara bagaimana mereka bisa meluputkan diri dari ancaman bencana! Mereka itu justru harus dihajar rubuh!....."
Dengan tiba-tiba saja, Sin Tjie menimpuk Bin Tjoe Hoa dengan paha ayam yang tadi ia jepit dengan sumpitnya, sumpitnya itu segera dipakai menyambut-menjepit pedangnya Tong Hian yang dipakai menikam dia.
Dia menjepit dengan keras, lantas ia menyempar dengan keras juga.
"Lepaskan pedangmu!"
Dia pun berseru.
Berbareng dengan seruan itu, pedangnya Tong Hian kena tertarik hingga terlepas dari tangannya dan jatuh kelantai, si imam sendiri sampai jatuh terjerunuk karena ia mencoba menahannya.
Karena ini, berbareng kaget dan malu, ia menyerang dengan tangan kanannya, ia menyapu dengan kaki kirinya.
Ia pikir akan gunai saat itu untuk rebut kemenangan!
Sin Tjie menjejak dengan kedua kakinya, tubuhnya mencelat, akan menyingkir dari ancaman bahaya itu, berbareng dengan itu, cangkir araknya terbang melayang, karena dengan itu ia menimpuk kepada Bin Tjoe Hoa, mengenai tepat jalan darah kiok-tjie-hiat tangan kiri dari orang she Bin itu, hingga segera dia ini merasakan tangannya itu baal, hingga pedangnya terlepas dari cekalan dan terlepas seketika.
Menyusul itu dengan satu sambaran "Han yap ok tjoei"
Atau "Gowak menyambar air" , ia jumput kedua pedangnya lawan, untuk ia cekal dengan kedua tangannya, sembari pentang itu, ia berseru.
"Kamu belum pernah lihat satu orang mainkan Liang Gie Kiam-hoat bukan? Nah, sekarang saksikanlah dengan perdata!"
Pemuda ini segera juga bersilat seorang diri ditengah-tengah ruangan itu, ia menyerang kekiri, ia menyerang kekanan, ia membela dikiri, sesuatu jurusnya benar-benar cocok sama ilmu pedang Liang Gie kiam-hoat yang disebutkan itu, gerakan kedua pedangnya itu nampak kusut sekali, akan tetapi toh, sesuatunya sangat membahayakan pihak lawan.
Tidaklah aneh jikalau angkatan muda yang hadir disitu menjadi terheran-heran, tetapi juga Sip Lek Taysoe, Twie-hong-kiam Ban Hong, The Kie In, Tiang Pek Sam Eng, Thio Sim It dari Koen Loen Pay dan rombongan Bwee Kiam Hoo dari Hoa San Pay, turut mendelong juga.
Inilah pemandangan yang tak pernah mereka sangka-sangka.
Kedua pedang berseliweran, cahayanya yang mengkilap berkredepan, anginnya menyambar-nyambar tidak berhentinya.
Dan ketika enam puluh empat jurus telah habis dijalankan, terdengar seruannya si anak muda, kedua pedang itu melesat keatas, nancap di penglari wuwungan rumah, nancap dalam sekali!
Itulah ilmu timpukan pedang Hoa San Pay warisan istimewa Pat-tjhioe Sian Wan, yang Sin Tjie dapat pelajarkan dengan sempurna.
Sampai disitu, Barulah pemuda ini undurkan diri.
Ruang pesta atau pertempuran itu jadi bergemuruh dengan sorakan dan tepukan tangan riuh, karena kawan maupun lawan, semua memujinya.
Kapan gemuruh mulai reda, terdengarlah seruan gembira dari Tjeng Tjeng seorang, suaranya nyaring dan terang.
"Ha-ha! Bakal ada orang memanggil engkong padaku!"
Bwee Kiam Hoo, yang berdiri dengan pegangi pedangnya, bermuka merah-biru, saking mendongkol dan malu. The Kie In lantas saja tertawa.
"Nona Tjiauw, kau telah menang, kau terimalah ini!"
Berkata dia, yang dorong emas goanpo diatas meja kepada Tjiauw Wan Djie. Nona itu memberi hormat.
"The Pehhoe, aku akan wakilkan kau memberi persen,"
Katanya. Lantas dia kata dengan suaranya yang nyaring.
"Disini ada uang banyaknya sembilan ribu tail! Inilah uangnya The Totjoe yang dibuat bertaruh secara main-main denganku! Tuan-tuan telah datang dari tempat yang jauh sekali, menyesal tak dapat kami dari Kim Liong Pang melayaninya dengan sempurna, kami malu sekali, maka itu, dengan jalan ini kami hendak 'pinjam bunga untuk menghormati Sang Buddha'. Kamu semua pengiring dari pelbagai tjianpwee, mamak dan paman, kanda dan kakak, kamu masing-masing, seorangnya, aku akan hadiahkan banyaknya seratus tail! Hadiah ini besok hari aku akan perintah orangku mengantarkannya kehotel kamu masing-masing!"
Dipihak tetamu, orang puas dengan cara penyelesaiannya pihak Kim Liong Pang ini, akan tetapi Bin Tjoe Hoa dan Tong Hian Toodjin, yang kena dipecundangi, tampangnya lenyap cahaya terangnya.
Mereka malu dan mendongkol bukan main.
Habis puterinya bicara, Tjiauw Kong Lee hadapi para tetamunya.
"Dahulu hari itu, karena perangaiku keras dan perbuatanku semberono, aku telah kesalahan tangan hingga mencelakai kandanya Bin Djie-ko,"
Berkata dia.
"Kejadian itu sesungguhnya membuat aku malu dan menyesal, maka itu sekarang dihadapan semua enghiong yang hadir disini, aku hendak menghaturkan maaf kepada Bin Djieko. Wan Djie, kau beri hormat pada Bin Siokhoe."
Sembari membilang demikian, Kong Lee sendiri menjura pada Bin Tjoe Hoa, yang sejak tadi berdiri diam saja.
Wan Djie turut titah ayahnya, malah sebagai yang termuda, ia memberi hormat sambil paykoei.
Bin Tjoe Hoa balas kehormatan itu.
Mereka telah membuat janji, ia kalah, ia mesti menetapi janji itu.
Pun, dari bunyinya kedua surat wasiat, sudah terang kesalahan ada di pihak kandanya.
Dimana untuk melanjuti permusuhan adalah sulit untuk pihaknya, ia anggap ini adalah ketika untuk penyelesaian yang terhormat itu.
Tapi ia ingat kandanya telah binasa, air matanya turun mengucur.
"Bin Djieko, aku sangat bersyukur kepadamu,"
Berkata pula Tjiauw Kong Lee, yang manis budi itu.
"Mengenai pertaruhan rumah, mungkin ini tuan muda main-main saja, aku pikir baik itu tak usah ditimbulkan lagi. Besok dengan lantas aku nanti perintah siapkan lain rumah untuk tuan berdua."
"Itu tak dapat dilakukan,"
Berkata Tjeng Tjeng.
"Kita ada bangsa koentjoe, satu kali perkataan kita telah dikeluarkan, empat ekor kuda tak dapat mengejarnya. Kata-kata telah diucapkan, mengapa mesti dibuat menyesal dan hendak ditarik pulang?"
Orang semua melengak, mereka heran.
Tjiauw Kong Lee telah janjikan sebuah rumah yang Baru, pasti itu akan terlebih indah daripada rumah Bin Tjoe Hoa, maka heran, kenapa pemuda itu menampik, kenapa dia masih hendak membuat malu kepada Bin Tjoe Hoa?
Tjiauw Kong Lee menjura pada "si anak muda".
"Loo-teetay, budimu berdua tak nanti aku lupakan,"
Berkata dia dengan sangat.
"tapi sekarang aku minta sukalah kamu bantu lagi sedikit kepadaku. Dipintu kota Selatan, aku mempunyai satu pekarangan yang luas,aku minta sukalah kamu terima itu sebagai gantinya. Aku percaya kamu akan puas dengan pekarangan itu."
Tjeng Tjeng bersikap sabar, tapi ia jawab.
"Barusan Bin Djieya hendak binasakan kau untuk membalas sakit hati, umpama kata kau bilang padanya supaya dia jangan bunuh padamu, kau mengatakan mana kau tanggung dia akan peroleh kepuasan, coba kau pikir, dapatkah dia terima itu atau tidak?"
Bungkam ketua Kim Liong Pang ini dijawab secara demikian, ia likat sendirinya. Alasan si anak muda memang kuat sekali. Maka akhirnya, ia berpaling kepada gadisnya.
"Tuan ini penujui rumah Bin Djieya itu,"
Katanya.
"maka itu sebentar pergi kau perintah antar itu uang delapan ribu tiga ratus tail kerumahnya Bin Siokhoe."
"Sudah, sudah,"
Mencegah Bin Tjoe Hoa.
"Buat apa aku uang itu? Satu laki-laki telah keluarkan kata-katanya, empat ekor kuda tak dapat candak itu! Tjiauw-ya, permusuhanku denganmu, sampai disini aku bikin habis. Besok aku hendak pulang kekampung halamanku, aku tidak punya muka untuk lebih lama pula didalam kalangan kang-ouw. Biarlah rumahku dipunyai oleh kedua tuan ini."
Ia lantas menjura kepada semua hadirin dan berkata.
"Semua sahabatku, jauh dari tempat ribuan lie kamu telah datang kemari untuk mebantu aku, siapa tahu aku justru tidak punya guna, tak dapat aku membalas sakit hati kandaku, hingga karenanya, aku membuat kamu semua datang dengan sia-sia saja. Sahabat-sahabatku, biar lain kali saja aku balas budimu ini."
Melihat orang bisa ubah sikapnya itu, Sin Tjie lantas kata kepada jago Boe Tong Pay itu.
"Bin Djieya, walaupun kau kalah dari aku, sebenarnya kepandaianku masih kalah jauh dengan kepandaianmu, apapula kalau dipadu dengan kepandaian Tong Hian Tootiang. Aku harap djiewie tidak berkecil hati. Djiewie, terimalah hormatku yang muda."
Orang semua melengak.
Toh dia yang menang, dan menangnya secara cemerlang sekali.
Siapa bisa bertanding sambil minum arak dan membuat karangan sebagai dia?
Siapa dapat gampang-gampang dengan tangan kosong mengalahkan dua musuh tangguh yang bersenjatakan pedang?
Toh sekarang ini anak muda suka mengalah, suka dia memberi hormat kepada pecundang-pecundangnya!
"Djiewie bukannya kalah ditanganku,"
Sin Tjie melanjuti.
"Sebenarnya djiewie kalah ditangan Kim Coa Tayhiap. Dia telah menduga siang-siang untuk caranya djiewie bertempur, maka itu Tayhiap telah pesan aku untuk aku bersikap berandalan, guna pancing meluapnya hawa-amarah djiewie, setelah itu, dengan satu akal, aku mesti rebut kemenangan. Kim Coa Tayhiap adalah orang pandai nomor satu dalam dunia Rimba Persilatan jaman ini, kepandaiannya itu tidak dapat didjejaki. Aku sendiri bukan muridnya, secara kebetulan saja aku bertemu dengannya, lantas dia ajari aku ilmu silat ini, untuk dipakai menyelesaikan persengketaan ini. Djiewie kalah ditangan Tayhiap, tak usah djiewie merasa malu. Ingin aku mengatakan sesuatu yang tak sedap untuk kuping, tapi harap djiewie tak buat kecil hati. Jangan kata Baru djiewie, juga pada waktu itu, Oey Bok Toodjin sendiri bukan tandingan Kim Coa Tayhiap....."
Tong Hian Toodjin dan Bin Tjoe Hoa sangsikan kata-kata terakhir ini, akan tetapi, sementara itu mereka telah dapat dibikin tenang. Tong Hian membalas hormat sambil menjura.
"Sie-tjoe telah membikin terang muka kami, pinto haturkan banyak-banyak terima kasih,"
Kata dia.
"Maukah sie-tjoe beritahukan she dan nama besar sie-tjoe kepadaku?"
Sin Tjie segera tunjuk Tjeng Tjeng.
"Inilah turunan langsung dari Kim Coa Tayhiap,"
Jawab dia.
"Dia she Hee. Dan aku yang muda, she Wan."
Banyak orang belum tahu shenya Kim Coa Long-koen, Baru sekarang mereka ketahui jago itu she Hee. Bin Tjoe Hoa menjura pada Tjiauw Kong Lee.
"Aku telah gerecoki Tjiauw-ya,"
Katanya.
"Selamat tinggal!"
Tjiauw Kong Lee balas hormat itu.
"Besok aku akan kunjungi Bin Djie-ko untuk haturkan maaf,"
Katanya.
"Tak sanggup aku terima itu,"
Tjoe Hoa menampik. Selagi orang hendak angkat kaki, terdengar suaranya Tjeng Tjeng.
"Eh, bagaimana dengan pertaruhan pedang buntung?"
Katanya. Wan Djie lihat ayahnya Baru terlolos dari mara-bahaya besar, maka ia tak sudi menghadapi lagi lain ancaman malapetaka. Maka lekas ia perdengarkan suaranya.
"Tuan Hee, mari masuk kedalam, aku akan menyuguhkan teh,"
Katanya.
"Aku harap urusan kecil itu tidak disebut-sebut pula."
"Dia masih satu bocah, dia belum panggil aku engkong!"
Kata lagi Tjeng Tjeng.
"Ini tak dapat disudahi saja!"
Bwee Kiam Hoo dan Soen Tiong Koen tak dapat menahan sabar lagi, keduanya lompat maju ketengah kalangan.
Tapi Kiam Hoo bukan hampirkan nona kita, yang ia sangka ada satu pemuda, ia hanya tuding Sin Tjie.
"Kau sebenarnya siapa?"
Ia menegur.
"Kau timpuki pedang ke atas penglari, itulah ilmu kepandaian menimpuk dari Hoa San Pay! Dari mana kau curi pelajaran itu?"
Lauw Pwee Seng menyusul dibelakang soehengnya, dia pun turut bicara.
"Kau juga barusan gunakan Hok-houw-tjiang dari kaum kita!"
Dia turut menegur.
"Dari mana kau curi itu? Lekas bilang!"
Sin Tjie tidak sangka bakal muncul ekor ini, tapi ia tertawa.
"Mencuri?"
Tanyanya.
"Buat apa aku mencuri?"
"Cis, bangsat cilik!"
Soen Tiong Koen mendamprat sambil meludah.
"Sudah mencuri, kau masih menyangkal!"
Bwee Kiam Hoo tertawa secara dingin sekali.
"Habis, dari mana kau pelajarinya itu?"
Tanya dia. Sin Tjie menjawab dengan langsung.
"Aku adalah murid Hoa San Pay,"
Sahutnya. Murid-murid Hoa San Pay itu tercengang tetapi Soen Tiong Koen maju setindak. Dia menuding secara sengit sekali.
"Hei, bocah, kau gila!"
Katanya.
"Sudah kau temberang sambil panggul-panggul mereknya Kim Coa Long-koen, sekarang kau sebut-sebut Hoa San Pay! Apakah kau tahu, nonamu ini dari golongan mana? Hm! Ini dia yang dibilang, Lie Koei tetiron menemui Lie Koei sejati! Baik kau ketahui, kita bertiga ada dari Hoa San Pay!"
Sin Tjie tidak gusar, dia tetap sabar.
"Seperti aku sudah bilang, dengan Kim Coa Long-koen itu aku tidak punya sangkutan apaapa,"
Ia kasi keterangan.
"Aku melainkan bersahabat dengan puteranya Tayhiap itu. Tentang kamu, sam-wie, dari siang-siang memang aku sudah ketahui kamu ada orangorang Hoa San Pay. Kita sebetulnya dari satu golongan."
Lauw Pwee Seng bisa sabarkan diri.
"Semua muridnya Tong-pit Thie-shoeiphoa Oey Soepeh aku kenal, akan tetapi diantaranya tidak ada kau, lauwko,"
Kata dia.
"Soen Soemoay, adakah kau dengar kalau-kalau paling belakang ini Oey Soepeh terima murid baru?"
"Matanya Oey Soepeh bagaimana tinggi, mustahil dia sudi terima murid sebagai tukang tipu ini?"
Jawab Soen Tiong Koen dengan ketus. Dia masih sangat panas karena pedangnya telah dipatahkan. Dia memang aseran dan pikirannya cupat sekali. Sin Tjie tetap sabar saja.
"Memang Oey Tjin Soeheng bermata tinggi sekali, tidak nanti dia sembarang menerima murid,"
Dia bilang. Semua orang heran mendengar pemuda ini panggil soeheng kepada Oey Tjin. Bwee Kiam Hoo bertiga tercengang.
"Sebenarnya dari mana kau dapatkan kepandaian Hoa San Pay ini?"
Lauw Pwee Seng tegasi, suaranya keras. Ia tetap sangsi.
"Lekas kau bilang!"
Dengan sama sabarnya seperti tadi, Sin Tjie menjawab.
"Guruku she Bok, namanya di atas, Djin, di bawah Tjeng,"
Demikian penyahutannya dengan tenang.
"Guruku itu adalah yang dunia kangouw gelarkan 'Pat-tjhioe Sian-wan' si Lutung Sakti Tangan Delapan...."
Bwee Kiam Hoo saksikan boegee orang yang liehay, mendengar orang aku diri murid Hoa San Pay, ia sangsi, hingga maulah ia menduga, mungkin Oey Tjin, sang soepeh, telah memungut satu murid baru, tetapi sekarang dia dengar pemuda ini mengaku ia adalah murid soe-tjouwnya, keragu-raguannya jadi lenyap.
Benar-benar ia tidak percaya soetjouw itu, yang tidak ketentuan tempat mengembaranya, masih mau menerima murid lagi.
Ia sendiri cuma pernah dua kali menemui soetjouw itu.
Gurunya sendiri, Sin-koen Boe Tek Kwie Sin Sie suami-isteri sudah berusia lima-puluh tahun, tapi pemuda ini sangat muda usianya, mana mungkin dia jadi murid soetjouwnya itu?
Sekarang orang aku diri sebagai paman-guru mereka, dia anggap.
pemuda ini benar-benar tidak tahu hidup atau mati!
"Menurut keterangan ini, jadinya, kaulah soesiok kita?"
Akhirnya dia tanya. (Soesiok ialah paman guru).
"Aku juga tidak berani aku kamu bertiga, enghiong-enghiong besar, hookiat-hookiat besar, sebagai soetitku,"
Sahut Sin Tjie dengan sama tenangnya. (Enghiong dan hookiat ada orang-orang gagah. Soetit ialah keponakan murid). Dikuping Bwee Kiam Hoo, jawaban itu berbau ejekan.
"Apakah mungkin kami telah membuat malu Hoa San Pay?"
Ia tegaskan.
"Soesiok Taydjin, tolong kau memberi nasihat kepada kami tiga soetit kecil yang harus dikasihani....Ha-haha!"
Bwee Kiam Hoo sudah berusia tiga puluh tujuh atau tiga puluh delapan tahun.
Perkataannya ini membuat tertawa berkakakan semua orang-orang undangan Bin Tjoe Hoa.
Baru sekarang Sin Tjie perlihatkan roman sungguh-sungguh.
"Jikalau Djie-soeheng Kwie Sin Sie ada disini, pasti dia akan beri nasihatnya sendiri kepadamu!"
Kata dia, suaranya keren. Tapi Bwee Kiam Hoo jadi sangat gusar, sekali sambar saja, pedangnya sudah lantas terhunus hingga menerbitkan suara "Sret!"
"Anak tolol, apakah disini kau ngaco-belo?"
Ia membentak, mendamprat. Tjiauw Kong Lee menjadi sibuk, karena urusan jadi ada ekornya. Lekas-lekas ia menyelah diantara mereka.
"Tuan Wan ini main-main saja, Tuan Bwee, harap kau jangan gusar,"
Ia mohon.
"Mari, mari ramai-ramai kita keringkan cawan!"
Dengan kata-katanya ini Kong Lee juga tidak percaya Sin Tjie benar ada paman guru dari Bwee Kiam Hoo bertiga. Usia mereka kedua pihak tak memungkinkan itu. Tapi Kiam Hoo masih panas hatinya.
"Anak tolol, walaupun kau paykoei di depanku dan manggut-manggut dan memanggil aku soesiok tiga kali, masih aku Boe-eng-tjoe tak sudi aku padamu!"
Katanya. Tjeng Tjeng jadi panas hati, ia pun campur bicara.
"Eh, Boe Eng Tjoe, kau mesti panggil engkong dulu padaku!"
Kata dia. Sin Tjie berpaling kepada kawannnya itu.
"Adik Tjeng, jangan bergurau,"
Ia bilang. Ia terus menoleh pada Bwee Kiam Hoo, akan kata.
"Sebetulnya aku belum pernah bertemu sama Kwie Djie-soeheng. Kamu sendiri, samwie, kamu ada terlebih tua daripadaku, turut pantas, tak tepat aku menjadi paman gurumu. Akan tetapi, perbuatan kamu bertiga, sesungguhnya tidak selayaknya."
Alisnya Bwee Kiam Hoo bangun berdiri, ia tertawa berkakakan. Ia gusar bukan kepalang.
"Ah, bocah, kau jadinya hendak beri nasihat kepadaku?"
Katanya dengan nyaring.
"Mohon aku tanya, dimanakah kesalahannya kami bertiga? Sahabatku ada urusan, mustahil kami tak dapat bantu padanya?"
Sin Tjie tidak lantas menjawab langsung.
"Tjouwsoe kami dari Hoa San Pay telah meninggalkan dua belas macam pantangan,"
Katanya, dengan sabar, tapi dengan sungguh-sungguh.
"Kau tahu, apa bunyinya pantangan yang ketiga, kelima, keenam, dan kesebelas?"
Ditanya begitu, Bwee Kiam Hoo melengak. Soen Tiong Koen tidak tunggu saudara itu menjawab, dia timpuk muka Sin Tjie dengan pedang buntungnya.
"Aku hendak coba kepandaian Hoa San Paymu!"
Serunya.
Sin Tjie tunggu sampainya pedang itu, ia angkat tangan kirinya,ia balikkan telapakannya ke atas, lalu ia menepok, menakup dengan telapakan tangan kanan yang dibalik kebawah, maka pedang bunting itu lantas kena dibekap dengan kedua telapakan tangannya itu.
Ini ada tipu silat "Heng Pay Koan Im"
Atau "Memuja Dewi Koan Im dengan tangan miring".
"Ini Heng Pay Koan Im, cocok atau tidak?"
Ia tanya. Bwee Kiam Hoo kembali melengak, juga Lauw Pwee Seng. Dalam hatinya, mereka kata.
"Memang ini ada ilmu silat Hoa San Pay, melainkan dia gunainya secara sangat sempurna, soehoe sendiri belum tentu sanggup berbuat begini...."
Soen Tiong Koen juga tercengang, hingga ia diam saja. Lauw Pwee Seng mendekati pemuda kita.
"Benar, barusan kau telah gunai tipu-silat kaum kita,"
Katanya.
"Sekarang aku yang ingin mohon pelajaran lebih dahulu daripadamu...."
"Lauw Toako,"
Sahut Sin Tjie dengan sabar.
"Kau bergelar Sin-koen Thay-po, dengan begitu pastinya kau paham benar ilmu silat kita Hok-houw-tjiang serta ilmu membelah batu dan menghancurkan kumala...."
Sekarang ini Lauw Pwee Seng tidak berani memandang enteng lagi seperti mulanya.
"Aku Baru meyakinkan kulit dan bulunya saja, tak berani aku membilang sudah mempelajarinya dengan sempurna,"
Ia jawab.
"Tidak usah terlalu merendah, Lauw Toako,"
Sin Tjie bilang.
"Umpama kau sedang berlatih tangan dengan Kwie djie-soeheng, umpama dia benar-benar gunai kepandaiannya, seandainya dia serang kau dengan Pauw-goan-keng atau Koen-goan-kang, apakah bisa toako menyambutnya?"
"Sepuluh jurus yang pertama, masih bisa aku melayaninya, lantas sepuluh jurus yang bawah, sukar sekali,"
Pwee Seng jawab.
"Aha,"
Kata Sin Tjie.
"Aku dengar gelaran Kwie Djie-soeheng ada Sin-koen Boe-tek, kepandaiannya menggunai kepalan pastilah sangat sempurna sekali, maka dengan Lauw Toako sanggup melayani dia sampai sepuluh jurus, itulah sudah bagus sekali. Lauw toako, tidaklah kecewa kau dengan gelaranmu Sin-koen Thay-po itu."
"Itulah gelaran yang orang berikan aku secara main-main, yang benar adalah kepandaianku masih beda jauh dari soehoe,"
Pwee Seng bilang.
Ia pun jadi bisa merendahkan diri sekarang.
Soen Tiong Koen tidak puas terhadap sikapnya saudara seperguruan ini.
Dari suaranya ini saudara, nyatalah Pwee Seng telah jadi semakin lunak, agaknya dia suka aku Sin Tjie sebagai paman gurunya.
"Eh, Lauw Soeko, bagaimana?"
Dia menegur.
"Apakah kau kena digertak dengan ocehan belaka?"
"Habis kau mau bagaimana Baru kau hendak percaya aku ada paman gurumu?"
Sin Tjie tanya.
"Aku ingin kau dan aku berlatih sebentar,"
Pwee Seng bilang.
"Umpama kata kepandaian ilmu silatmu Hoa San Pay ada terlebih sempurna....."
"Itulah gampang,"
Bilang Sin Tjie.
"Asal kau sanggup layani aku lima jurus, kau boleh bilang aku palsu. Kau setuju?"
Mendengar itu, Bwee Kiam Hoo heran berbareng lega hatinya. Dia pikir.
"Tentulah dia cuma ngoceh! Mustahil dia sanggup rubuhkan Lauw Soetee dalam lima jurus saja?"
Maka ia lantas bilang.
"Baiklah! Nanti aku yang menghitung!"
Lauw Pwee Seng memberi hormat sambil menjura. Agaknya ia kenal aturan sekarang. Katanya.
"Dimana ada kelemahanku, tolong kau menaruh belas kasihan....."
Sin Tjie lantas menghampirkan dengan tindakannya pelahan. Ia bersiap.
"Jurusku yang pertama ada 'Tjio po thian keng',"
Katanya.
"kau sambutlah."
"Baik,"
Sahut Pwee Seng, yang didalam hatinya sendiri lantas berkata.
"Siapa sih yang hendak bertempur memberi tahu lebih dahulu kepada musuh tipu-pukulannya yang hendak dipakai menyerang? Tentu dia menggunai akal, dia ingin aku bersiap menjaga di atas, tahu-tahu dia serang aku dibawah."
Maka ia siapkan tangan kanannya didepan mukanya, tangan kiri dibetulan perut, asal orang mulai menyerang, ia hendak membarengi menyerang juga. Segera terdengar suaranya Sin Tjie.
"Awas serangan yang pertama!"
Dan serangannya dilakukan.
Dengan tangan kiri dia mengancam, dengan tangan kanan ia menyerang dengan benar-benar.
Dan benar-benar ia menyerang dengan tipu-silat Hoa San Pay yang ia sebutkan, jaitu 'Tjio po thian keng' atau "Batu meledak, langit gempar."
Lauw Pwee Seng geraki tangan kanannya, untuk menangkis. Pukulannya Sin Tjie belum lagi sampai, atau ia sudah cegah itu.
"Hei, kenapa kau tidak percaya aku?"
Tanya dia.
"Sebuah tangan saja tak cukup untuk menjaga, mesti dua tangan dengan berbareng."
Pwee Seng terperanjat.
Ia pun insyaf, ia bakalan tak sanggup menangkis, atau sedikitnya hidungnya bakal muncratkan darah.
Maka melihat orang menunda penyerangan, ia segera geraki juga tangan kirinya, dengan kedua tangan ia geraki "pay boen twie san", atau "mengatur pintu, menolak gunung".
Ia menolak seraya perdengarkan seruan.
Sin Tjie lanjuti serangannya, hingga tangannya jadi bentrok dengan dua tangannya lawan, setelah mana, ia menarik pulang lagi.
"Aku hendak menyerang pula, sekali ini dengan tiga jurus dibarengi,"
Kata dia, menerangkan.
"Itulah Lek-pek sam koan, Pauw Coan in giok dan Kim-kong tjie bwee. Bagaimana kau akan melawannya?"
Tanpa berpikir lagi, Pwee Seng jawab.
"Aku akan gunai Hong pie-tjhioe, Pek in tjoet sioe dan Pang hoa hoet lioe."
"Dua yang pertama benar, yang ketiga tidak tepat,"
Sin Tjie bilang.
"Kau harus ketahui, Pang hoa hoet lioe adalah penjagaan di tengah berbareng menyerang. Jikalau kau adu tenaga dengan lawan, itulah baik, akan tetapi kau perlu membalik tangan, buat balas menyerang, dengan begitu, tenaga pembelaanmu jadi berkurang separuh, dengan begitu, kau akan tak sanggup menahan aku punya Kim kong tjie bwee."
"Kalau begitu, aku akan gunai Tjian kin tjwie tee,"
Lauw Pwee Seng membetuli.
"Itu benar. Kau sambutlah!"
Sambil mengucap demikian, Sin Tjie geraki tangan kanannya.
Pwee Seng pun bersiap, untuk menangkis.
Akan tetapi tangan kanan Sin Tjie cuma terangkat keatas, yang menerjang adalah tangan kirinya, kebawah.
Sembari berbuat demikian, dia kata.
"Dalam ilmu silat, tak boleh orang berkukuh. Gurumu ajarkan kau Lek pek sam koan dengan tangan kanan tetapi kita bisa melihat gelagat, memakai tangan kiri pun boleh."
Sembari berkata,ia menyerang terus, tanpa tunggu orang menutup diri, untuk menangkis, ia mendahului menyambar lengan orang, untuk ditarik.
Lauw Pwee Seng menggunai 'Pek in tjoet sioe' atau 'awan putih keluar dari sela gunung', ia melonjorkan tangannya untuk mengikuti, diam-diam ia gunai tenaganya, apapula lawan tidak siap-sedia, dadanya bisa kena ditotok celaka.
Tapi ia pun tidak berani balas menyerang, begitu lekas tangannya dilepaskan dari cekalan lawan, ia menahan diri, dengan perkuatkan bahagian bawah, ia tancap kedua kakinya.
Sin Tjie tidak berdiam sajda begitu lekas ia lepaskan cekalannya terhadap lengan lawan, gesit luar biasa, ia mencelat kesamping, terus kebelakang musuh dari mana, tangan kirinya segera mendorong bebokong lawan itu, sebelum Pwee Seng sempat memutar tubuh atau berkelit, kuda-kudanya sudah gempur, hingga ia terjerunuk dua tindak kedepan, dengan susah-payah Barulah dia bisa berbalik.
"Bagus!"
Berkata Sin Tjie.
"Sekarang ini pukulanku yang kelima. Ini ada Kie-tjhioe-sie dari Po-giok-koen."
Pwee Seng merasa heran, hingga ia berdiam saja.
"Apakah kau sangka Kie-tjhioe-sie hanya untuk upacara saja, buat memberi hormat?"
Tanya Sin Tjie.
"Apa kau kira kie-tjhioe-sie tak ada faedahnya dipakai menghadapi musuh? Kau mesti insyaf maksud Tjouwsoe menciptakan tipu-silatnya ini. Tidak ada satu jua dari jurus-jurusnya Tjouwsoe yang tidak disiapkan untuk melumpuhkan musuh, guna merebut kemenangan. Kau lihat saja!"
Lantas Sin Tjie mendak sedikit, tubuhnya rada melengkung bagaikan biang panah, kepalan tangannya ditekap dengan tangan kiri, menjusul mana ia membuat gerakan sebagai lagi menjura, lantas saja tubuhnya itu bergerak maju, kedua tangannya pun menyerang dengan berbareng.
Selagi Pwee Seng sibuk hendak menangkis, karena serangan itu sangat diluar dugaan, paha kirinya sudah kena dijotos, hingga tubuhnya itu menjadi limbung, terus saja ia rubuh!
Justru orang rubuh, Sin Tjie berlompat menghampirkan, untuk sambar tubuh lawan dengan dua tangannya, buat dikasi bangun, buat direbahkan dengan hati-hati.
Lauw Pwee Seng segera geraki tubuhnya, untuk berbangkit dan berlutut, buat lantas memberi hormat sambil paykoei.
"Aku yang muda tidak kenal soesiok, barusan aku telah berlaku kurang ajar,"
Kata ia.
"maka dengan memandang kepada guruku, aku minta soesiok sudi mengasi maaf padaku."
Sin Tjie lekas-lekas membalas hormatnya.
"Lauw Toako ada terlebih tua daripada aku, baik kita berbasa engko dan adik saja,"
Kata ia.
"Tak berani aku berbuat begitu, soesiok,"
Pwee Seng menampik.
"Ilmu silat soesiok benarbenar luar biasa. Lima jurus barusan memang ada ilmu pukulan kita kaum Hoa San Pay, dengan itu soesiok beri pengajaran padaku, aku merasa sangat berterima kasih, kelak kemudian pasti aku akan yakinkan itu dengan sungguh-sungguh."
Sin Tjie tidak menjawab, ia melainkan bersenyum.
Pwee Seng buktikan janjinya ini, karena dibelakang hari, ia yakinkan sungguh-sungguh hingga ia peroleh kemajuan yang berarti.
Karena mana ia hormati betul paman guru cilik ini.
Sampai disitu, Bwee Kiam Hoo dan Soen Tiong Koen tidak bisa beragu-ragu lebih jauh, akan tetapi orang she Bwee ini percaya betul ketangguhan ilmu pedangnya, maka ia telah berpikir.
"Dalam ilmu silat tangan kosong, kau liehay, dalam ilmu pedang, belum tentu kau nanti dapat menangi aku."
Selagi ia berpikir demikian, ia dengar seruannya Tiong Koen.
"Bwee Soeko, hayo coba ilmu pedangnya!"
"Baik!"
Jawab soeheng ini, yang terus pandang Sin Tjie dan kata.
"Aku niat di ujung pedang tuan mencoba menerima pelajaran beberapa jurus."
Dia omong dengan sabar dan halus,akan tetapi air mukanya tetap membayangi kejumawaannya. Ia pun memanggil tuan. Sin Tjie berpikir.
"Rupanya dia ini telah dapatkan ilmu pelajaran sempurna dalam ilmu pedang Hoa San Pay, pasti selama berkelana belum pernah dia menemui tandingan, hingga karena pujian muluk di sana-sini, ia jadi berkepala besar, tekeburnya bukan buatan, sehingga sepak terjangnya jadi berlebih-lebihan. Dia beda daripada Lauw Pwee Seng, perlu aku ajar adat padanya, supaya dibelakang hari dia tidak membuat malu kepada Hoa San Pay. Ajaran pun akan membuat kebaikan untuk dirinya sendiri."
Maka lantas ia menyahuti.
"Untuk mengadu pedang, tidak ada halangannya, akan tetapi kapan sebentar telah ada keputusan menang dan kalah, kau mesti dengar sedikit nasihatku yang tentunya tidak sedap untuk kupingmu."
"Sekarang masih belum ada keputusannya menang atau kalah, kalau kau hendak bicara, itulah masih terlalu pagi!"
Kata Kiam Hoo dengan kejumawaannya tidak berkurang. Malah dia segera lintangi pedangnya didepan dada, dia ambil tempat disebelah kiri, di atas.
"Bwee Soeko, baik kau berdiri disebelah bawah!"
Lauw Pwee Seng teriaki soeheng itu.
Kiam Hoo tidak gubris itu nasihat, ia seperti tidak mendengarnya.
Adalah aturan dari Hoa San Pay, apabila angkatan muda berlatih pedang dengan angkatan tua, yang muda mesti ambil tempat disebelah bawah.
Itu ada tanda bahwa bukan si muda berani terhadap si tua, itu adalah si muda mohon pengajaran.
Tapi Bwee Kiam Hoo, dengan berdiri di kiri, jadi anggap dirinya sepantaran dengan orang yang terlebih tua derajatnya, tingkatannya, terang ia tidak sudi akui Sin Tjie sebagai paman guru.
Dengan tangan kiri, dia genggam gagang pedang, sembari rangkap kedua tangan, dia menantang.
"Tuan, silakan!"
Sin Tjie tidak puas terhadap sikap lawan ini, akan tetapi ia punyakan kesabaran luar biasa. Ia tidak lantas terima tantangan itu, hanya lebih dahulu ia menoleh kepada Tjiauw Kong Lee.
"Tjiauw Loopeh, tolong kau minta orangmu bawa kemari sepuluh bilah pedang,"
Ia minta.
"Ah, Wan Siangkong, jangan panggil loopeh padaku, tak berani aku menerimanya,"
Berkata tuan rumah itu.
Selagi orang-tuanya bicara, Tjiauw Wan Djie memberi tanda kepada pihaknya, maka lantas ada beberapa muridnya Kong Lee yang membawa datang sepuluh bilah pedang yang diminta.
Malah mengingat orang telah menolong guru mereka, mereka sengaja pilih pedang yang bagus, yang semua diletaki diatas meja.
Semua mata ditujukan kepada Sin Tjie, ingin orang ketahui, pedang yang mana satu yang bakal ia pilih.
Akan tetapi, selagi sepuluh pedang sudah siap, dia justru jumput pedang buntung dari Soen Tiong Koen.
"Aku pakai ini pedang buntung saja!"
Katanya sambil tertawa. Semua orang melongo. Bagaimana pedang buntung dapat dipakai mengadu silat? Sin Tjie jepit pedang buntung itu diantara jempol dan telunjuknya.
"Sekarang kau boleh menyerang!"
Kemudian ia kata kepada Kiam Hoo. Orang she Bwee itu menjadi sangat gusar.
"Kau sangat memandang enteng kepadaku, jikalau sebentar kau mampus, jangan kau sesalkan aku!"
Kata dia dalam hatinya. Ia lantas putar pedangnya, hingga cahayanya berkilauan dan suaranya mengaung.
"Awas!"
Dia berseru. Segera dia tikam bahu kanan Sin Tjie. Dia pikir.
"Kau cekal pedangmu secara begini, tentulah tangan kananmu tak leluasa bergerak! Aku serang bagianmu yang lemah, aku mau lihat, bagaimana kau layani aku...."
Didalam ruangan itu hadir dua ratus orang lebih tapi semuanya bungkam, cuma mata mereka mengawasi kearah medan perang pedang, dari itu, suasana tenang sekali.
Serangan Kiam Hoo cepat dan hebat, tatkala ujung pedang hampir sampai pada sasaran dengan tiba-tiba saja Sin Tjie menangkis dengan pedangnya yang buntung.
Kedua pedangnya beradu keras.
"Tak! Trang!"
Suara nyaring yang belakangan adalah suaranya pedang jatuh kelantai, sebab pedangnya Kiam Hoo patah dengan mendadak, hingga ia cekal hanya gagangnya pedang!
Semua orang tercengang, tak ada yang tahu, ilmu tangkisan apa itu yang membuat pedang lawan patah secara demikian.
Selagi orang terheran-heran Sin Tjie menunjuk ke meja.
"Aku telah minta disiapkan sepuluh bilah pedang, maka pergilah kau lantas menukar pedangmu!"
Kata ia kepada lawan itu, tenang.
Baru sekarang semua hadirin mengerti apa keperluannya persiapan sepuluh bilah pedang itu.
Kiam Hoo kaget berbareng gusar sekali.
Ia lompat kemeja, untuk sambar sebilah pedang, setelah mana, ia menerjang dengan tiba-tiba.
Dengan pedang yang baru, ia membabat kebawah.
Sin Tjie menduga orang cuma gertak ia, ia tidak menangkis atau berkelit sambil melompat.
Benar saja, Kiam Hoo tidak terus babat kakinya, hanya setelah ditarik pulang, ujung pedang dipakai menikam perutnya!
Dari samping, pemuda ini tangkis serangan hebat itu.
"Trang!"
Kembali suara nyaring.
Untuk kedua kalinya, pedang Kiam Hoo kena dibikin kutung.
Dalam penasarannya, orang she Bwee ini sambar pedang yang kedua, dengan sama sengitnya, ia ulangi serangannya yang dahsyat.
Akan tetapi untuk ketiga kalinya, tetap cuma dengan satu kali tangkisan, lagi-lagi pedangnya kena dibikin sapat, sehingga ia jadi berdiri tak dapat dia membuka mulut.
"Kau bilang ilmu pedang, kenapa kau gunai ilmu siluman?"
Soen Tiong Koen menegur. Ia pun tercengang tapi ia lekas ingat pula akan dirinya.
"Apakah ini namanya adu silat?"
Sin Tjie lempar pedang buntungnya, ia bertindak kemeja, untuk ambil dua batang, satu diantaranya ia sodorkan pada Kiam Hoo. Ia bersenyum. Ia terus berpaling kepada nona garang itu.
"Kecewa kau namakan dirimu kaum Hoa San Pay!"
Katanya.
"Kenapa kau tidak kenal Koen-thian-kang? Kenapa kau sebut-sebut ilmu siluman?"
Sedangnya orang berpaling, dengan kecepatan bagai kilat,Bwee Kiam Hoo bokong itu anak muda, justru setelah ujung pedang hampir mengenai bebokong, Baru dia berseru.
"Lihat pedang!"
Sin Tjie mengegos ke samping.
"Lihat pedang!"
Dia pun berseru. Kiam Hoo menyerang dengan tipu tikaman "Tjhong-eng-kim-touw"
Atau "garuda menyambar kelinci" , tapi juga Sin Tjie gunai serupa gerakan, maka itu, lekas-lekas ia egos tubuh seperti si anak muda, ia memikir akan kasi lewat pedang lawan seperti tadi pedangnya dikelit.
Akan tetapi pedangnya Sin Tjie itu, setelah ditusukkan, segera diteruskan, diputar, dan selagi Kiam Hoo berkelit, dia ini merasakan bebokongnya kelanggar suatu apa, sehingga ia kaget sekali, sampai ia keluarkan keringat dingin, buru-buru ia buang tubuhnya kedepan, setelah menubruk tanah, ia lantas mencelat bangun.
Diluar sangkaannya, ujung pedang Sin Tjie masih membayangi bebokongnya, sehingga dalam sibuknya, tak sempat ia menangkis.
Ia berkelit, ia berkelit pula, tidak urung ujung pedang terus ancam dia, ujung pedang itu seperti tidak mau berpisah darinya!
Ujung pedang cuma nempel dengan baju, maka coba tikaman dilanjuti, habislah selembar jiwanya orang jumawa ini.
Kiam Hoo yang didjuluki "Boe Eng Tjoe"
Si Bajangan Tak Ada, artinya, ia tidak punyakan bajangan, itu menandakan liehaynya ilmu entengkan tubuh, kegesitannya, akan tetapi sekarang, pedang Sin Tjie justru menjadi bajangannya, tidak heran kalau ia terbenam dalam kaget dan takut.
Tujuh atau delapan kali ia berkelit, ia tetap masih belum bisa loloskan diri dari ancaman ujung pedang lawannya itu.
Sin Tjie tampak muka orang pucat dan kepala bermandikan keringat, ia ingat lawan itu adalah soetitnya, keponakan murid, ia anggap tak boleh ia berlaku keterlaluan.
Maka ia berhenti membayangi, ia tarik pulang pedangnya.
"Inilah ilmu silat pedang Hoa San Pay, apakah kau belum pernah mempelajarinya?"
Tanyanya. Setelah tidak dibayangi lebih jauh, Bwee Kiam Hoo bisa tenangi diri. Ia tunduk.
"Inilah yang dibilang Hoe-koet tjie tjie,"
Jawab ia. Sin Tjie tertawa pula.
"Kau benar,"
Ia bilang.
"Nama ilmu pedang ini tak sedap didengarnya akan tetapi kefaedahannya besar sekali!"
"Hoe koet tjie tjie"
Berarti "Lalat ikuti tulang". Dari antara hadirin segera terdengar suara nyaring dari Tjeng Tjeng.
"Kau digelarkan Boe Eng Tjoe, hei, kenapa bebokongmu selalu diiringi pedang orang?"
Demikian suara nona djail itu.
"Aku sendiri, aku lebih suka bajangan sendiri yang mengikuti belakangku!"
Kiam Hoo mencoba mengatasi diri, ia tidak layani nona itu. Tapi ia tetap masih belum puas. Ia sudah yakinkan pedangnya belasan tahun, ia heran kenapa ia tak dapat gunai itu seperti biasanya.
"Marilah kita adu pedang menurut cara biasa,"
Kata ia pula kemudian.
"Kepandaianmu terlalu campur-aduk, aku tidak sanggup melayaninya....."
"Ini adalah pelajaran aseli dari Hoa San Pay, mengapa kau menyebutnya campur aduk?"
Sin Tjie tanya.
"Baiklah! Kau lihat!"
Ia lantas menyerang, lempang didada.
Kiam Hoo angkat pedangnya, untuk menangkis, habis mana, niat ia melakukan pembalasan, akan tetapi anak muda itu menekan, ketika ia hendak menarik pulang, ia tidak bisa lakukan itu, sebab entah kenapa, pedangnya bagaikan nempel sama pedang lawannya itu.
Sesudah menekan, Sin Tjie lalu memutar pedangnya, sampai dua kali, sama sekali ia tidak kasi ketika untuk orang menarik pulang pedangnya itu, malah tangannya Kiam Hoo terpaksa turut berputar, setelah mana, cuma terasa satu tarikan kaget, pedangnya Boe Eng Tjoe terlepas dari cekalannya dan terlempar!
"Apakah kau masih hendak mencoba pula?"
Sin Tjie tanya.
Kiam Hoo menjadi nekat, tanpa menjawab, ia sambar sebatang pedang lain dari atas meja, begitu lekas ia berpaling, ia terus menyerang, kearah pundak kiri si anak muda.
Ia berlaku cerdik sekarang, ketika Sin Tjie menangkis, dengan cepat ia tarik pulang pedangnya itu.
Tak sudi ia membikin pedangnya terlilit pula dan terpental.
Sin Tjie juga tidak putar pedangnya seperti tadi, setelah tangkisannya kosong, ia teruskan pedangnya untuk menikam dada si orang bandel itu!
Inilah serangan hebat, tak dapat tidak, serangan ini mesti ditangkis, sebab untuk berkelit, ia tidak punyakan ketika lagi.
Begitulah ia menangkis.
Begitu lekas kedua pedang bentrok, dengan menerbitkan suara nyaring, Kiam Hoo rasai lengannya menggetar dan terputar, menyusul itu, cekalannya terlepas, pedangnya mental ke udara.
Ia terkejut, tapi ia masih ingat akan dirinya, masih saja ia penasaran, maka hendak ia berlompat pula ke meja, untuk sambar sebatang pedang lain.
"Apakah kau masih tidak hendak menyerah?"
Membentak Sin Tjie, yang bisa duga maksud orang, karena mana, ia balingkan pedangnya dua kali kearah ponakan murid ini, untuk tidak mengasi ketika.
Mau atau tidak, Kiam Hoo mesti batalkan maksudnya.
Untuk luputkan diri dari ancaman pedang, ia berkelit, tubuhnya dikasi mundur dengan berlenggak.
Justru ia lindungi tubuhnya, kakinya kena disambar kaki si anak muda, pelahan saja, tetapi itu cukup buat menyebabkan dia rubuh terjengkang!
Masih Sin Tjie belum mau berhenti.
Sambil maju, ia mengancam dengan ujung pedangnya pada tenggorokannya.
"Apa benar kau tak hendak menyerah?"
Tegaskan dia.
Seumurnya, Kiam Hoo belum pernah menampak hinaan semacam ini, bisa dimengerti hebatnya kemendongkolan dan gusarnya, sebab ia tidak sanggup lampiaskan itu, mendadak saja ia pingsan.
Soen Tiong Koen saksikan itu kejadian, kapan ia lihat soehengnya rebah celentang tak berkutik, matanya mendelik dan lantas dirapatkan, dia jadi lupa daratan, karena ia menyangka, soeheng itu binasa ditangan pemuda ini.
Sambil berlompat ia menyerang dengan tangan kosong, mulutnya berteriak.
"Kau bunuh juga aku!"
Sin Tjie juga terkejut melihat orang pingsan.
"Jikalau dia binasa, bagaimana aku bisa menemui soehoe dan djie-soeheng?"
Pikir dia.
Lantas ia membungkuk, akan raba dada Kiam Hoo, sehingga ia merasai memukulnya jantung, karena mana, legalah hatinya.
Ia lantas tepuk orang punya batang leher dan jalan darah, buat bikin darahnya jalan benar.
Ketika itu Soen Tiong Koen sudah sampai dengan lompatannya, ia lantas saja hajar bebokongnya Sin Tjie dengan kepalannya, berulang-ulang, sebab ia sudah kalap.
Sin Tjie tidak perdulikan serangan itu, ia antap saja.
Tjeng Tjeng dan Lauw Pwee Seng lompat maju, yang pertama berseru, untuk cegah nona Soen turun tangan lebih jauh, yang belakangan untuk tarik saudara seperguruannya.
Soen Tiong Koen jatuhkan dirinya, mendelepok dilantai, ia menangis menggerung-gerung.
Tidak antara lama, Kiam Hoo sadar akan dirinya.
"Kau bunuh saja aku!"
Ia berseru tetapi suaranya lemah.
"Soeheng,"
Pwee Seng kata pada saudara itu.
"kita mesti dengar nasihat soesiok, jangan kau turuti adatmu....."
Tjeng Tjeng awasi Tiong Koen.
"Dia tidak mati, kenapa kau nangis?"
Katanya sambil tertawa.
Gusar Tiong Koen, ia lompat bangun, kepalannya menyambar pada nona Hee.
Ia ada satu wanita jago dari Hoa San Pay, ia pun sedang murka, tidak heran kalau serangannya itu ada luar biasa cepat.
Tjeng Tjeng tidak menyangka, siasia ia berkelit, pundak kirinya kena terjotos, sehingga ia merasai sakit, karena mana, ia jadi gusar, hendak ia melakukan pembalasan.
Tapi Baru ia hendak ayunkan tangannya, tiba-tiba Tiong Koen menjerit.
"Aduh! Aduh!"
Lalu tubuhnya nona itu terbungkuk-bungkuk. Ia heran sehingga ia melengak.
"Kau yang serang aku, kenapa kau yang kesakitan?"
Ia tegur.
Ia hendak menegur terus tetapi Sin Tjie kedipi matanya, hingga walaupun ia heran, ia urungi niatnya itu.
Soen Tiong Koen masih menangis, ia usut-usut kedua kepalannya yang merah dan bengkak.
Itulah yang membuat ia menjerit dan menangis, sebab tangan itu sakit bukan main.
Dalam kalapnya, barusan ia serang Sin Tjie kalang-kabutan, setiap kali ia memukul, kepalannya membal balik.
Ia tidak perdulikan itu, ia masih tidak merasakan sakit, adalah setelah ia jotos Tjeng Tjeng, Baru ia merasakan sakit, sakit sekali, seperti ditusuk-tusuk jarum.
Sekarang pun ia lihat, kedua kepalannya bengkak dan merah, saking menahan sakit, air matanya meleleh terus.
Sengaja Sin Tjie mengajar adat, sebab ia gemas sekali terhadap murid dari djiesoehengnya, karena nona ini sangat garang dan telengas, tanpa sebab ia sudah tabas kutung lengan Lip Djie, dan saban-saban ia perlihatkan kegagahannya.
Orang banyak tidak tahu duduknya perkara, maka rata-rata mereka menyangka Tjeng Tjeng adalah yang liehay sekali.
Bukankah pemuda ini diajar kenal sebagai puteranya Kim Coa Long-koen Hee Soat Gie?
Apa heran bila orang menyangka dia terlebih liehay daripada Sin Tjie, hingga Soen Tiong Koen yang menyerang, Soen Tiong Koen sendiri yang kesakitan.....
Cuma Sip Lek Taysoe, The Kie In dan Ban Hong yang ketahui, nona Soen sudah jadi korban dari tenaga membal, bahwa untuk tolong si nona, obatnya gampang, ialah kepalannya mesti diuruti dan jalan darahnya ditotok, nanti sakitnya lenyap, bengkaknya kempes.
Tapi mereka tidak berani turun tangan, untuk tolongi si nona, mereka jeri terhadap Sin Tjie, boegee siapa sekarang mereka malui.
Akhir-akhirnya Bwe Kiam Hoo berbangkit, ia hadapi Sin Tjie untuk menjura tiga kali.
"Wan Soesiok, menyesal aku tidak kenal padamu hingga aku berlaku kurang ajar,"
Katanya.
"Aku minta sukalah soesiok tolong Soen Soemoay."
Sin Tjie tidak lantas menyahut, ia mengawasi dengan keren.
"Kau insyaf kesalahanmu atau tidak?"
Tanya dia. Kiam Hoo tidak berani berkeras kepala lagi, ia tunduk.
"Tidak selayaknya aku yang muda robek surat-suratnya Tjiauw Toaya,"
Ia akui.
"juga tidak seharusnya aku memaksa akan membelai Bin Djieko."
"Aku harap selanjutnya Bwee Toako suka berlaku hati-hati,"
Kata Sin Tjie kemudian, setelah orang mengaku salah.
"Aku nanti dengar nasihat soesiok,"
Kiam Hoo bilang.
"Bin Djieya tidak ketahui duduknya yang benar perihal kandanya, dia hendak menuntut balas, tindakannya itu bukan tidak selayaknya,"
Kata pula Sin Tjie.
"Bahwa orang banyak datang untuk membantu dia, itu juga adalah perbuatan yang harus dipuji. Itulah sikap sewajarnya dari orang-orang kangouw sedjati. Sekarang duduknya perkara telah jadi terang sekali, aku harap supaya semua pihak suka membikin habis salah faham ini, biarlah lawan menjadi kawan. Kau hendak bantu Bin Djieko, aku tidak persalahkan padamu, tetapi kau pun sudah lakukan satu perbuatan yang sangat tidak selayaknya. Aku kuatir, Bwee Toako, kau masih belum menginsyafinya."
Kiam Hoo heran hingga ia tercengang.
"Apakah itu, soesiok?"
Tanyanya, menegasi.
"Kita kaum Hoa San Pay mempunyai dua belas pantangan,"
Berkata Sin Tjie.
"Apakah bunyinya pantangan yang kelima?"
"Tadi pun soesiok telah tanyakan yang keempat dan ketiga,"
Kata Kiam Hoo.
"Yang ketiga itu adalah 'lancang membunuh tanpa sebab-musabab'. Soen soemoay telah langgar pantangan itu, maka baiklah, sebentar dia harus menghaturkan maaf kepada Lo Toako, kemudian kita nanti membayar kerugian....."
"Siapa kesudian uang busukmu?"
Berseru satu muridnya Tjiauw Kong Lee.
"Tangan orang telah ditabas kutung, apakah itu bisa diganti dengan tambalan uang?"
Kiam Hoo tahu pihaknya bersalah, terpaksa ia tutup mulut. Sin Tjie menoleh kearah murid-murid tuan rumah, kepada murid yang barusan bicara, ia kata.
"Memang perbuatan soetitku ini sangat semberono, aku menyesal sekali. Tunggulah sampai lukanya Lo Soeko sudah sembuh, nanti aku dayakan terhadapnya supaya ia bisa gunai sebelah tangannya dengan sempurna. Itulah ilmu silat bukan kepunyaan Hoa San Pay, dari itu dapat aku menurunkannya tanpa tunggu aku peroleh perkenan lagi dari guruku."
Orang tahu anak muda ini liehay sekali, walaupun dia membilang hendak 'mendayakan', itu berarti memberi pelajaran, maka itu, janji itu diterima dengan girang.
Orang pun puas yang anak muda ini suka menanggung dosanya Soen Tiong Koen.
"Pantang yang keenam adalah 'Tidak menghormati yang tua',"
Kata pula Kiam Hoo.
"Mengenai ini, teetjoe ketahui kesalahanku. Yang kesebelas jaitu, 'Tidak selidiki duduknya perkara', dalam hal ini, teetjoe pun mengaku bersalah. Pantangan yang kelima berbunyi 'Bergaul dengan orang jahat', dalam hal ini teetjoe lihat Bin Djieko adalah satu laki-laki...."
Umumnya disitu orang tidak tahu hal dua belas pantangan dari Hoa San Pay, Baru sekarang, mendengar keterangan Bwee Kiam Hoo, orang dengar itu. Bin Tjoe Hoa terkejut, ia berjingkrak.
"Apa? Apakah aku orang jahat?"
Serunya.
"Jangan salah mengerti, Bin Djieya, kami bukan maksudkannya,"
Sin Tjie terangkan.
"Habis, kau maksudkan siapakah?"
Tjoe Hoa tegasi.
Sin Tjie hendak berikan jawabannya ketika dua muridnya Tjiauw Kong Lee muncul diantara mereka sambil pepayang Lo Lip Djie, yang tangannya hilang sebelah, yang lukanya masih belum sembuh.
Mereka berdua sengadja lari kedalam, untuk kabarkan soeheng itu yang tetamu pemuda itu hendak tolong padanya.
Lip Djie lantas saja menjura kepada Sin Tjie, untuk haturkan terima kasih.
Sin Tjie lekas-lekas balas hormat itu.
Ia lihat Lip Djie bermuka pias, akan tetapi sikapnya tetap gagah.
Dengan suara jelas, Lip Djie bilang.
"Wan Toa-hiap sudah tolong guruku, Toa-hiap juga hendak berikan pelajaran silat padaku, aku sangat berterima kasih."
"Jangan kau ucapkan itu,"
Sin Tjie merendah. The Kie In menyaksikan itu sambil tertawa, ia kata.
"Loa Tjiauw, muridmu ini cerdik sekali! Dia kuatir orang nanti menyesal dan menarik pulang kata-katanya, dia lantas saja mendahului menghaturkan terima kasih!"
Tjiauw Kong Lee tertawa.
"Bisa saja, tootjoe, kau bisa saja!"
Katanya.
Habis menghaturkan terima kasih, Lip Djie undurkan diri pula.
Itu waktu Soen Tiong Koen masih terus mengucurkan keringat, ia masih merasakan sakit, sehingga bibirnya pada matang biru saking ia menahan sakit.
Sin Tjie hampirkan dia, karena pemuda ini merasa, orang telah cukup menderita.
"Jangan raba aku!"
Tiong Koen berseru. Nyata ia masih gusar, ia belum mau menyerah.
"Biar aku mati, tak suka aku ditolong olehmu!"
Mukanya Sin Tjie merah, ia jengah.
Ia memikir untuk minta Tjeng Tjeng yang menolongi, untuk itu ia hendak ajarkan caranya kepada kawan ini, akan tetapi si nona dandan sebagai satu pemuda.
Tentu saja ini pun sulit.
Maka itu, ia menoleh kepada Wan Djie.
"Nona Tjiauw!"
Ia memanggil.
Pada saat itu, dua kali terdengar suara pintu digedor, kemudian menyusul suara menjeblak.
Nyata kedua daun pintu telah terbuka dengan paksa akibat tendangan.
Semua orang terkejut, semua berpaling keluar.
Dimulut pintu bertindak masuk dua orang.
Orang yang jalan didepan berumur lima puluh lebih, dandannya sebagai orang tani saja.
Orang yang kedua seorang perempuan berumur empat puluh lebih, ia dandan sebagai orang tani juga.
Dia ini mengempo satu anak kecil.
Soen Tiong Koen lantas saja berseru.
"Soehoe! Soehoe!"
Lantas ia lari kearah dua orang tani itu.
Mendengar suaranya Tiong Koen, semua orang lantas ketahui, itulah suami-isteri Tjio-Poan-San-Long Kwie Sin Sie, si suami-isteri orang tani dari Tjio Poan San.
Kwie Djie-nio lantas serahkan anak yang diemponya kepada suaminya, dengan muka merah-padam, ia lantas uruti jalan darahnya Soen Tiong Koen.
Bwee Kiam Hoo dan Lauw Pwee Seng hampirkan guru mereka suami-isteri itu, untuk menjalankan kehormatan.
Sin Tjie lihat Kwie Sin Sie beroman sederhana sekali, Kwie Djie-nio, si djie-soso, atau ensonya yang kedua itu, wajahnya keren.
Ia mengikuti Kiam Hoo dan Pwee Seng, habis mereka berdua, ia pun memberi hormat sambil paykoei.
Kwie Sin Sie kasi bangun pada anak muda ini, ia cuma mengucap "Tak usah", lantas ia bungkam.
Kwie Djie-so terus uruti muridnya, sembari berbuat demikian, ia berpaling, akan awasi Sin Tjie, sikapnya sangat tawar.
Setelah ditolong gurunya, Tiong Koen merasakan tak terlalu sakit lagi, bengkak ditangannya pun mulai kempes.
"Soe-bo,"
Katanya.
"dia itu mengaku menjadi soesiok, dia telah bikin tanganku jadi begini rupa, malah pedang yang soe-bo kasikan padaku, dia telah bikin patah!"
Terkejut Sin Tjie apabila dengar pengaduan itu.
"Inilah hebat!"
Pikirnya.
"Coba aku tahu pedangnya itu adalah pedang pemberian djiesoeso, biar bagaimana juga, tidak nanti aku bikin patah."
Maka lekas-lekas ia memberi hormat pada enso itu dan kata.
"Siauwtee tidak mengetahui itu, untuk kelancanganku harap soeheng dan soeso maafkan aku....."
Kwie Djie-so tidak sahuti anak muda ini, ia hanya berpaling kepada suaminya.
"Eh, djieko, katanya soehoe telah terima satu murid yang masiih muda sekali, apakah ini dianya?"
Tanya dia.
"Kenapa dia begini tidak tahu aturan?"
"Aku belum pernah ketemu dengannya,"
Sahut sang suami, yang berbareng pun menjadi djie soeheng isterinya itu, kanda seperguruan yang kedua.
"Orang mesti ketahui, ilmu pelajaran tiada batas habisnya,"
Berkata Kwie Djie-so, seperti pada dirinya sendiri.
"Orang pun mesti ingat, diluar langit ada langit lainnya, di atas orang, ada orang lagi! Baru dapat pelajarkan sedikit ilmu, sudah lantas dengan sembarang saja menghina orang lain! Hm! Taruh kata muridku salah, toh ada aku yang nanti menegurnya, tidak usah ada soesioknya yang menggantikan aku mengajar adat!"
Sin Tjie tahu, kata-kata itu ditujukan kepadanya.
"Ya, ya, siauwtee insaf kesemberonoanku,"
Ia akui.
"Kau telah patahkan pedangku, apakah dimatamu masih ada orang yang lebih tinggi derajatnya?"
Tegur Kwie Djie-so.
"Taruh kata soehoe sangat sayang padamu, mustahil terhadap soeheng sendiri kau dapat berbuat kurang ajar seperti ini?"
Para hadirin jadi merasa tidak enak.
Nyonya petani ini makin lama jadi makin sengit.
Itulah perbuatan yang keterlaluan, sebab dia belum tahu duduknya hal.
Tapi Sin Tjie lain, ia terus bersikap sabar, ia mengalah saja.
Dipihaknya Tjiauw Kong Lee, orang tidak puas dengan sikapnya Kwie Djie-so, adalah Bin Tjoe Hoa, Tong Hian, dan Ban Hong merasa puas sekali.
"Soehoe, soebo,"
Kata pula Soen Tiong Koen.
"dia ini bilang ada satu Kim Coa Long-koen yang menjadi tulang punggungnya, begitulah Bwee Soeheng dan Lauw Soeheng dia telah rubuhkan!....."
Mendengar perkataan muridnya ini, tak kepalang gusarnya Kwie Djie-so.
Kwie Sin Sie dan isterinya ini sedang dalam perjalanan untuk mencari obat guna tolong anak meraka.
Anak itu adalah anak satu-satunya, namanya Tjin Tiong, sakitnya berat, maka juga, sebagai ayah dan ibu, mereka berkelana, untuk cari tabib yang pandai, yang sanggup mengobatinya.
Menurut beberapa tabib terkenal, yang telah periksa penyakitnya anak itu, sebabnya penyakit adalah luka sejak didalam kandungan, yaitu selagi hamil, Kwie Djie-so telah bertempur dan hamilannya dapat goncangan hebat, yang berakibat menganggu kesehatannya bayi dalam kandungan.
Untuk bisa tolong anak itu, obat yang dibutuhkan adalah campuran dari Tay-hok-leng dan Ho-sioe-ouw yang sudah seribu tahun tuanya, kalau tidak, lagi satu atau dua tahun, anak ini bakal jadi demikian kurus-kering dan akhirnya akan mati meroyan.
Tentu sekali, karenanya, ayah dan ibu itu menjadi sangat sibuk dan kuatir.
Maka mereka coba cari kedua macam obat itu, sampai mereka mohon bantuan sahabat-sahabat dan kenalan dari rimba persilatan.
Tay-hok-leng saja sudah susah dicari, apalagi Ho-sioe-ouw.
Kemana kedua obat mesti dicari?
Mereka sudah berkelana lebih daripada satu tahun, masih sia-sia saja usaha mereka.
Disebelah itu, mereka dapati anak mereka semakin kurus, semakin kurus, maka bisalah dimengerti kekuatiran mereka.
Suami-isteri itu sangat berduka.
Kwie Sin Sie sendiri masih dapat tenangkan diri, tapi isterinya sering-sering melepas air mata.
Begitulah, dalam usaha mencari obat, mereka menuju ke Lam-khia.
Kota ini kota tua dan kota raja, mereka harap didalam kota ini nanti menemui kedua rupa obat yang dibutuhkan itu.
Kebetulan sekali, mereka dengar kabar tiga murid mereka ada di Lam-khia juga, mereka memang tahu ketiga murid itu cerdik, ingin mereka minta bantuan tiga murid itu.
Maka itu, langsung mereka menuju ke rumah Tjiauw Kong Lee.
Apa mau, disini mereka ketemukan Soen Tiong Koen dalam keadaan hebat itu.
Kwie Djie-soe memang aseran tabiatnya, ia pun lagi bersusah hati karena anaknya itu, tidak heran kalau ia jadi mendongkol dan gusar, hingga ia umbar hawa-amarahnya.
Ia pun tidak puas murid-murid itu 'diperhina' soeteenya.
Begitulah, ia cuma dengar saja satu pihak.
Ia jadi bertambah gusar mendengar Soen Tiong Koen sebut Sin Tjie ada punya 'tulang punggung'.
"Apakah benar Kim Coa si mahluk aneh itu masih hidup?"
Ia tanya suaminya seraya ia berpaling pada suami itu.
"Kabarnya dia sudah menutup mata, akan tetapi siapa pun tidak dapat memastikannya,"
Kwie Sin Sie jawab.
Suami ini masih tetap tenang, ia ada lebih berduka daripada bergusar.
Tjeng Tjeng sudah tidak puas melihat Sin Tjie ditegur pulang-pergi dan diperlakukan sekasar itu, sekarang ia dengar ayahnya dikatakan 'mahluk aneh', tak dapat ia menahan sabar lagi.
"Perempuan jahat, perempuan jahat!"
Ia berseru.
"Kenapa kau sembarang mendamprat orang?"
Tapi juga Kwie Djieso gusar.
"Kau siapa?"
Dia bentak.
"Dialah anaknya si Kim Coa mahluk aneh itu!"
Soen Tiong Koen kasih tahu guru perempuannya.
Sebelah tangannya Kwie Djie-so tiba-tiba berkelebat, lalu satu sinar menyambar, ke arah nona Hee.
Sin Tjie terperanjat, hendak dia mencegah, tapi serangannya enso itu hebat sekali, tak keburu dia berbuat apa-apa.
Tjeng Tjeng menjerit, karena pundak kirinya kena terserang, walau ia mencoba untuk berkelit.
Dalam kagetnya, Sin Tjie lompat pada kawannya untuk cekal bahu tangannya.
Ia lihat sebatang paku shong-boen-teng nancap di pundak.
Tjeng Tjeng kesakitan akan tetapi ia gusar, tak perduli mukanya pias.
"Jangan bergerak!"
Sin Tjie peringati.
Dengan dua jari tangan telunjuk dan tengah, anak muda ini pegang ujung paku, ia mencabut dengan pelahan tetapi tetap, setelah kira tiga-empat bagian dan dapatkan paku itu tidak bercagak, dengan mendadak ia kerahkan tenaganya, untuk mencabut terus dengan tiba-tiba, maka dilain saat, paku itu telah tercabut dan jatuh ke lantai dengan berbunyi nyaring.
Wan Djie telah menghampirkan mereka, segera ia berikan bantuannya.
Ia telah lantas siapkan dua potong saputangan yang bersih dengan apa Sin Tjie susuti lukanya Tjeng Tjeng, yang ia terus balut.
"Dengar aku, adik Tjeng,"
Sin Tji berbisik.
"Jangan layani dia."
"Kenapa?"
Tanya si nona dengan murka.
"Kita mesti hormati soehengku, tak dapat aku turun tangan,"
Sin Tjie kasi mengerti, sikapnya sungguh-sungguh.
Tjeng Tjeng manggut dengan lesu, karena ia mesti tindas penasarannya.
Lega hati Sin Tjie, sebab ia tahu, kawan itu aseran dan kukuh, tapi sekarang, walaupun dia dilukai dan dibikin marah, masih dia suka dengar nasihatnya.
Ia girang sang kawan jadi lunak, ia bersenyum.
Kwie Djie-nio tunggu sampai Sin Tjie sudah membalut selesai, sambil tertawa dingin, ia kata.
"Namanya Kim Coa Long-koen nama kosong belaka! Jikalau dia benar liehay, kenapa puteranya tak dapat kelit pakuku yang aku sengaja gunai untuk mencobanya?"
Sin Tjie berdiam, didalam hatinya ia kata.
"Djie-soeso terbenam dalam salah faham hebat, apabila aku bantah dia, itu melulu akan menambah kemurkaannya."
Melihat orang berdiam, nyonya Sin Sie kata pula.
"Disini ada terlalu banyak orang, tak dapat kami omong banyak tentang Hoa San Pay kita, maka itu besok malam, jam tiga, kami suami-isteri berdua suka menantikan kau disamping panggung Ie Hoa Tay dibukit Tjie Kim San. Kami undang kau, tuan Wan, untuk kitaorang mencoba-coba, untuk buktikan kau benar atau bukan soeteeku."
Biarnya njonya ini mengucapkan demikian, semua hadirin tahu itulah tantangan belaka, maka juga Tjiauw Kong Lee jadi sibuk sekali, ia berkuatir.
"Kwie-sie suami-isteri telah kenamaan sekali di Kanglam, terutama nama besar dari Sinkoen Boe-tek telah membuat aku sangat kagum,"
Berkata dia.
"maka itu, djiewie, bukan main girangku atas kedatangan djiewie kemari. Sebenarnya, mengundang pun tak dapat aku lakukannya."
"Hm!"
Kwie Djie-so perdengarkan suara dihidung. Kwie Sin Sie berdiam, ia masih empo anaknya, ia merasa tak enak sendirinya.
"Saudara Wan ini,"
Berkata pula Tjiauw Kong Lee.
"dia ketahui aku menghadapi kesulitan, dengan kebaikan hatinya, dia datang untuk mendamaikan. Mengenai ini, Bwee Toako, Lauw Toako dan Soen Toa-tjia bertiga telah mengetahuinya dengan jelas. Biarlah besok malam, sebagai tuan rumah, aku undang Kwie-sie berdua hadirkan perjamukanku, sekalian aku hendak memberi selamat yang sam-wie tiga saudara telah bertemu satu dengan lain....."
Kwie Djie-so tidak tunggu tuan rumah bicara habis, dia berpaling kepada Sin Tjie dan tanya dengan getas.
"Bagaimana? Kau pergi atau tidak?"
"Soeheng dan soeso tinggal dimana?"
Tanya Sin Tjie tanpa perdulikan tantangan orang.
"Besok pagi aku nanti datang kepada soeheng dan soeso untuk menerima nasihat, bagaimana juga soeheng dan soeso menegur aku, tidak nanti aku berani untuk egoskan diri......"
"Hm!"
Terdengar pula sang enso kedua.
"Siapa ketahui kau tulen atau palsu? Jangan kau panggil soeheng atau soeso dulu kepada kami! Tunggu sampai besok, setelah kita mencoba-coba, Baru kita bicara pula! Tiong Koen, mari kita pergi!"
Guru perempuan ini tarik tangan muridnya, untuk diajak berlalu.
Selama itu Tiang pek Sam Eng, yaitu tiga jago dari Tiang Pek San -Soe Peng Kong, Soe Peng Boen dan Lie Kong -goncang hatinya.
Diluar dugaan mereka, Sin Tjie muncul untuk menyulitkan mereka.
Mereka insyaf bahwa rahasia mereka sudah bocor, sehingga mereka jadi berkuatir sekali.
Sekarang mereka bisa duga pasti, Sin Tjie adalah orang yang tadi malam satroni mereka dan rampas surat-surat mereka, hingga mereka kuatir Sin Tjie nanti buka rahasia mereka dimuka umum itu.
Maka itu mereka girang dengan munculnya Kwie Sin Sie suami-isteri, karena rewelnya nyonya yang aseran ini membuat Sin Tjie jadi "jinak".
Mereka harap-harap nyonya itu membuat onar, supaya bisa datang ketikanya yang baik untuk mereka mencari keuntungan karenanya.
Tapi mereka kecele apabila mereka dengar, nyonya Kwie cuma tantang Sin Tjie akan bertanding di Tjie Kim San besok malam.
Itulah berarti, mereka terancam bahaya pula, dari itu, setelah satu sama lain kedipi mata, ketiganya bertindak, untuk ngeloyor pergi dengan diam-diam dengan dului nyonya Kwie, selagi dia ini Baru memutar tubuh.
"Hei, tunggu dulu!"
Berseru Sin Tjie, yang lihat gerakan orang itu.
Sebab walaupun ia sibuk menghadapi si enso kedua, ia tidak pernah alpa memasang mata kepada tiga jago Tiang Pek San itu.
Pun, sambil berseru, dia berlompat maju, akan halangi mereka bertiga.
Kwie Djie-nio menjadi gusar, ia menyangka soetee ini hendak rintangi dia.
"Anak kurang ajar! Kau berani pegat aku?"
Dia membentak seraya sebelah tangannya dikasih melayang, untuk hajar kepala pemuda kita.
Sin Tjie berkelit, hingga tangannya enso itu lewat diatasan pundaknya, hingga ia kena keserempet sedikit, hingga ia merasakan pedas sekali.
Karena ini, ia jadi insyaf liehaynya enso ini.
Memang Kwie Djie-nio belum pernah kasih lewat ketika yang senggang untuk tidak berlatih, untuk itu, ia bisa senantiasa berlatih dengan suaminya, hingga kepandaian mereka berdua tidak pernah mundur hanya malah maju terus.
Akan tetapi sekarang, melihat si anak muda luput dari serangan, enso yang kedua ini jadi naik darah.
Sudah belasan tahun, belum pernah ia menemui orang yang bisa lolos dari serangannya ini.
Maka tidak tempo lagi, ia ulangi serangannya dengan babat pinggang si anak muda dengan telapakan tangannya yang dikasih miring.
Sin Tjie mengerti selatan, ia mendahului lompat, melewati meja, dengan begitu, tak bisa si enso itu susul ia.
Sedang si enso sendiri, entah bagaimana, kembali tarik tangannya Soen Tiong Koen, untuk diajak pergi, dengan begitu suaminya, berikut Bwee Kiam Hoo dan Lauw Pwee Seng, lantas ikut mereka berlalu dari rumah Tjiauw Kong Lee.
Tiang Pek Sam Eng lihat ketikanya, kembali mereka pergi keluar, sekali ini bukan dengan bertindak saja hanya sambil berlari.
"Hei, tahan!"
Sin Tjie berteriak pula dengan cegahannya, terus ia berlompat, mencelat bagaikan burung terbang, hingga ia dapat jambak Lie Kong, yang kabur paling belakang.
Tidak ampun lagi, ia totok jago Tiang Pek San ini, tubuh siapa terus ia lemparkan ke lantai.
Dua saudara Soe berlaku licik, mereka kabur terus, hingga mereka lenyap ditempat gelap.
Karena itu malam, cuaca gelap sekali.
Sin Tjie juga tidak mengubar terus.
Ia pikir, ia sudah bekuk satu orang, orang ini pun bisa diminta keterangannya.
Selagi ia memutar tubuh, untuk kembali ke dalam, tiba-tiba ia dengar suara nyaring dibelakangnya, suaranya orang tua.
"Hai sahabat kecil, Baru sepuluh tahun lebih kita tidak bertemu, kepandaianmu telah maju begini bagus!"
Sin Tjie goncang hatinya apabila ia dengar suara itu, yang ia kenali, sehingga dengan cepat sekali, ia berpaling, untuk melihat.
Itu waktu, ia sudah berjalan melewati pintu.
Bertindak dipintu ada dua orang, sebelah tangannya masing-masing mengempit Soe Peng Kong dan Soe Peng Boen, kedua jago Tiang Pek San yang Baru saja lolos.
Melihat tegas romannya orang yang jalan dimuka, bukan buatan girangnya anak muda ini.
Sebab orang itu adalah seorang tua dengan alis dan kumis-jenggot sudah ubanan dan dibelakangnya menggemblok selembar papan pesegi warna hitam!
Sebab orang itu adalah yang pernah berikan ia pelajaran entengkan tubuh dan senjata rahasia, ialah Bhok Siang Toodjin.
Benar dia bukannya gurunya yang resmi, toh Sin Tjie ingat budinya yang besar, hingga ia pandang orang tua ini bagaikan guru sejati.
Dengan kegirangan ia lompat menghampirkan orang tua itu didepan siapa segera ia jatuhkan diri untuk berlutut, untuk manggutmanggut.
Bhok Siang Toodjin tertawa bergelak-gelak.
"Bangun, bangun!"
Katanya dengan ramah-tamah.
"Kau lihat, siapa dia ini!"
Dan ia berpaling, akan tunjuk orang yang kedua, yang datang bersama ia, siapa sekarang sudah berada disampingnya.
Sin Tjie awasi seorang usia pertengahan, yang rambutnya sudah mulai bersemu, yang wajahnya menyatakan dia kenyang berkelana.
Kembali ia jadi sangat girang, karena ia kenali gurunya dimasa ia masih kecil sekali, orang yang pernah secara mati-matian tolong jiwanya, ialah Tjoei Tjioe San.
Bhok Siang Toodjin sudah lanjut usianya, selama belasan tahun tampangnya tidak berubah, tidak demikian dengan Tjoei Tjioe San, yang didalam tangsi tentera Giam Ong sudah keluarkan banyak tenaga.
Dalam girangnya, Sin Tjie tubruk guru ini, yang ia rangkul lehernya.
"Tjoei Siokhoe, kiranya kau!"
Ia berseru berulang-ulang.
Kemudian tanpa merasa, air matanya mengalir turun.
Dengan mata berlinangan, Tjioe San pun sangat terharu dengan pertemuannya dengan bocah itu.
Mungkin guru dan murid masih sibuk sendirinya kalau tidak mendadak terdengar suara Bin Tjoe Hoa, siapa sejak tadi tercengang karena sepak-terjangnya Sin Tjie.
"Hai!"
Serunya.
"Kedua Soe Toako dan Lie Toako ini ada orang-orang undanganku, kenapa kamu tawan mereka? Kenapa?"
Sin Tjie tidak lantas jawab teguran itu, dia hanya menunjuk pada gurunya tak resmi, 'sahabatnya' main catur, dia kata.
"Inilah Bhok Siang Toodjin, salah satu guruku!"
Kemudian ia menoleh, akan tunjuk Tjioe San, akan perkenalkan pula.
"Dan ini aku punya Tjoei Siokhoe yang kesohor untuk ilmu silat Hok-houw-tjiangnya! Ini ada guruku ketika untuk pertama kali aku belajar silat!"
Tidak tanggung-tanggung pemuda ini perkenalkan gurunya itu.
Diantara para hadirin yang tertua tidak ada yang tidak pernah dengar nama Bhok Siang Toodjin, cuma imam ini tak ketentuan tempat berkelananya, gerak-geriknya bagaikan iblis saja, karena mana, orang juluki dia "Kwie Eng Tjoe", si Bajangan Iblis.
Kira-kira delapan bagian dari hadirin yang tertua itu pernah lihat atau bertemu sama imam itu.
Begitulah Sip Lek Taysoe serta Thio Sim It dari Koen Loen Pay kenal ini imam, malah mereka masih terhitung pihak angkatan muda, maka keduanya lantas saja menghampirkan untuk memberi hormat.
Semua hadirin lainnya tercengang melihat pendeta dari Siauw Lim Sie itu dan jago dari Koen Loen Pay menghormati itu imam, maka dengan sendirinya, mereka juga tidak berani memandang enteng, semua turut memberi hormat.
Bhok Siang Toodjin angkat tangan kepada semua orang.
"Gawenya pinto ini,"
Katanya.
"kecuali gegares nasi adalah main tiokie melulu, lainnya urusan, apapula yang menyulitkan, tak pernah pinto pusingi. Tapi sekali ini, hal adalah lain. Baru pada bulan yang lalu, pinto dengar selentingan halnya orang bangsa kita, yang sudah bersekongkol sama bangsa asing, dan orang itu katanya sudah datang ke kota Lamkhia ini untuk beraksi, melakukan usaha besar untuk menjual Negara! Pasti sekali, mengenai urusan ini, pinto tak dapat menonton saja dari samping. Maka itu,lantas pinto menyusul kemari....."
"Siapakah pengkhianat itu?"
Tanya Bin Tjoe Hoa.
"Mustahil mereka ada Tiang Pek Sam Eng?"
"Tidak salah!"
Jawab Bhok Siang Toodjin.
"Benar ini tiga enghiong dan hookiat yang namanya sangat kenamaan!"
"Ketiga tuan ini ada sahabat kekalku, kenapa mereka bisa lakukan perbuatan tidak tahu malu itu?"
Tanya pula Bin Tjoe Hoa.
"Janganlah kau semprot orang dengan darah!"
Bhok Siang bersikap tenang ketika ia menjawab pula.
"Pintoo adalah orang yang biasa berbuat murah hati, karena dengan mereka ini belum pernah pinto bertemu, diantara kita tidak ada dendaman atau permusuhan maka kenapa pinto mesti fitnah mereka? Tapi selagi pinto berada di Kwan Gwa, dengan mataku sendiri pinto lihat mereka kasak-kusuk dengan orang Boan-tjioe, dari itu, disepanjang jalan terus pinto ikuti mereka."
"Bukti apakah kau ada punya?"
Tanya pula Bin Tjoe Hoa. Ia malu apabila sampai orang fitnah tiga sahabatnya itu. Bhok Siang Toodjin tertawa berkakakan.
"Bukti?"
Tanyanya.
"Buat apakah masih belum cukup?"
"Siapa yang dapat percaya itu?"
Baliki Bin Tjoe Hoa. Dia tetap masih penasaran. Tidak senang Bhok Siang Toodjin terhadap sikap kasar itu, ia gusar.
"Walaupun Oey Bok Toodjin, gurumu, dia tidak berani mengucap sepatah kata didepanku!"
Dia menegur.
"Kau bocah, kau punya nyali besar berani tidak mempercayai pinto?"
"Mendengar ini, sebagian orang kurang puas, karena mereka anggap, mentang-mentang orang tua dan kesohor, imam ini hendak berlaku demikian getas. Itulah, mereka pikir, ada sikap sewenang-wenang. Bhok Siang mendongkol, hingga ia urut-urut kumisnya. Sin Tjie tidak mau lihat gurunya itu menjadi kalap, lekas-lekas ia keluarkan dua lembar surat dari sakunya, ia lantas tunjuki itu pada Bin Tjoe Hoa.
"Bin Djie-ya, tolong kau bacakan ini untuk semua hadirin mendengarnya!"
Kata dia.
Bin Tjoe Hoa sambuti dua lembar surat itu, Baru ia baca beberapa baris, sudah ia lompat berjingkrak bahna kaget, tapi ia teruskan membaca dengan suara nyaring.
Itulah suratnya Kioe-ong-ya To Djie Koen dari Manchuria yang ditulis untuk Tiang Pek Sam Eng, buat suruh dan anjurkan tiga jago dari Tiang Pek Sam Eng itu rampas dan kangkangi partai-partai di Kanglam, buat mengadu-dombakan pelbagai jago Rimba Persilatan, supaya diaorang ini saling bunuh, supaya berbareng mereka memelihara tenaga, guna nanti menyambut penyerbuannya tentara Boan terhadap Tionggoan.
Surat itu dibubuhi capnya pangeran Boan itu serta tanda tangan huruf Boan juga.
Bin Tjoe Hoa belum habis membaca, para hadirin sudah gempar saking murkanya mereka.
Tjit-tjap-djie-to Tootjoe The Kie In lompat kepada Lie Kong, untuk totok sadar orang tawanannya Sin Tjie.
"Kau mempunyai kejahatan apa lagi? Lekas aku!"
Ia bentak.
Lie Kong melongo, tak dapat ia buka mulutnya.
Dalam sengitnya, The Kie In hajar pulang pergi kedua kuping orang, hingga jago Tiang Pek San ini merah dan bengap juga kedua belah pipinya.
Sin Tjie gunai ketikanya itu akan tuturkan bagaimana ia dapatkan surat rahasia itu.
Lie Kong tahu dia tidak bisa diam lebih lama, tapi dia berkukuh kepada cita-citanya, maka juga dengan berani, dengan nyaring, ia kata.
"Tidak lama lagi angkatan perang Boantjioe bakal datang menyerbu, maka juga wilayah Tionggoan ini bakal segera menjadi negaranya bangsa Boan! Jikalau kamu semua menakluk dari sekarang, kamu bakal menjadi menterimenteri berjasa yang membangunkan Negara! Jikalau......"
Kata-kata ini tidak habis diucapkan, karena kepalannya The Kie In sudah mampir didadanya Lie Kong, hingga dia rubuh dengan tak sadar akan dirinya.
Dua saudara Soe dengar perkataan Lie Kong, mereka saksikan kejadian itu, akan tetapi mereka sedang dalam totokan, tak dapat mereka membuka mulut atau bergerak.
Mereka insyaf bahaya yang mengancam diri mereka, hingga meeka jadi putus asa.
"Tootiang,"
Berkata The Kie In.
"Kejahatan pengkhianat-pengkhianat ini sudah terang, buat apa kasih mereka hidup lebih lama pula? Baik bikin habis saja pada mereka!"
"Biar mereka tinggal hidup, pinto masih membutuhkannya,"
Sahut Bhok Siang sambil tertawa.
"Sekarang sudah tidak siang lagi, lain hari saja pinto nanti undang tuan-tuan untuk kita berunding. Haruslah diketahui, pengkhianat ini mestinya mempunyai konco!"
Perkataan imam ini dianggap benar, maka orang suka mendengarnya.
Sampai disitu, orang lantas bubaran.
Bin Tjoe Hoa menyesal bukan main, karena sekarang mengertilah ia duduknya perkara semua.
Ia menghaturkan maaf dengan sungguh-sungguh kepada Tjiauw Kong Lee, ia juga menghaturkan terima kasih kepada Sin Tjie.
Ia inysaf bencananya apabila ia kerembetrembet Tiang Pek Sam Eng itu.
"Coba tidak Wan Siangkong yang datang mendamaikan, pastilah dosaku ada dosa tak berampun,"
Ia mengaku. Sin Tjie hiburkan orang she Bin ini. Begitu lekas orang sudah bubaran, Bhok Siang Toodjin kasih turun papan hitam dibelakangnya, ia juga keluarkan biji-biji caturnya.
"Selama beberapa tahun ini senantiasa aku ingat kau,"
Katanya pada Sin Tjie.
"tidak lain kehendakku adalah supaya kau bisa temani aku main catur!"
Sin Tjie bersenyum.
Ia lihat gurunya itu demikian gembira, tidak mau ia menampik, maka begitu lekas guru itu telah ambil tempat duduk, ia duduk didepannya.
Bhok Siang Toodjin kata pada semua orang lainnya.
"Silahkan kamu semua beristirahat!"
Tjiauw Kong Lee lantas ajak Tjoei Tjioe San masuk kedalam, untuk diantar kekamar yang disiapkan.
Tjeng Tjeng tidak mau undurkan diri, ia mau nonton orang main catur, maka ia tempatkan diri didamping guru dan murid itu.
Wan Djie sendiri lantas repot menyuguhkan arak dan sayurannya serta bebuahan juga.
Kong Lee pun pergi tidur.
(Bersambung bab ke 13) Tjeng Tjeng tidak bisa main tiokie, setelah menonton sekian lama, ia jadi kehilangan kegembiraannya, sedang waktu itu, ia masih menderita dari lukanya, dari lesu, ia jadi ngantuk, akhirnya ia taruh kepalanya diatas meja dan pulas sendirinya.
"Nona Tjiauw, pergi kau pepayang ia untuk ia tidur dikamarmu,"
Kata Bhok Siang Toodjin pada Tjiauw Wan Djie. Mukanya Nona Tjiauw menjadi merah dengan tiba-tiba, ia berpura-pura tak dengar imam itu. Didalam hatinya, dia kata.
"Kenapa tootiang ini jadi seperti orang tidak keruan omongannya?"
Bhok Siang lihat sikap orang, ia tertawa berkakakan.
"Dia pun satu nona, kau malu apa?"
Kata dia pula.
"Bagaimana, Wan Siangkong?"
Akhirnya Wan Djie tanya si anak muda. Sin Tjie pun tertawa, tapi ia lekas menyahuti.
"Benar, dia pun satu nona. Tidak leluasa untuk ia berkelana, dari itu ia menyamar."
Wan Djie percaya anak muda itu, ia tertawa, lantas ia pegangi Tjeng Tjeng, untuk diangkat bangun, buat dipepayang kedalam kamarnya. Nona Hee mendusin.
"Aku tidak ngantuk, aku masih hendak menonton,"
Katanya. Tapi ia tidak buka matanya, ia meram terus, tandanya ia masih ngantuk. Wan Djie terlebih muda, akan tetapi ia biasa ikuti ayahnya, ia sudah berpengalaman.
"Baik encie beristirahat dulu, sebentar nonton lagi,"
Ia membujuk.
Ia pepayang terus tetamu itu, sampai didalam kamarnya, ia buka kopiahnya Tjeng Tjeng, maka ia lihat rambut yang panjang dan hitam mengkilap, ditengahnya ditancapi dua potong tusuk konde.
Sin Tjie layani gurunya dengan sungguh-sungguh, akan tetapi dua kali dia jalan keliru.
Ia ingat tantangannya Kwie Djie-so untuk besok malam, pikirannya jadi tidak tenteram.
Bagaimana ia harus layani enso yang aseran itu?
Ia mencoba akan tenangkan diri.
Tibatiba ia ingat suatu apa.
"Tootiang, cara bagaimana kau ketahui dia seorang wanita?"
Tanya dia akhirnya. Bhok Siang Toodjin tertawa.
"Bersama-sama dengan Siokhoemu itu, pada lima hari yang sudah telah aku bertemu denganmu,"
Menyahut guru ini.
"Aku ingin ketahui kemajuan boegeemu dan tingkahlakumu juga, dari itu sengaja aku tidak mau lantas perlihatkan diri. -Kau hati-hati, aku hendak makan bijimu ini....."
Ia lantas jalankan sebuah bijinya. Lalu ia menambahkan.
"Kepandaianmu telah jadi apa yang dibilang, hijau itu asalnya dari biru, akan tetapi mungkin kau belum bisa lombai gurumu, hanya aku si imam tua, aku bukanlah tandinganmu."
Sin Tjie lekas berbangkit dengan sikapnya yang sangat menghormat.
"Tapi semua itu berkat pengajaran soehoe dan tootiang,"
Kata ia.
"Selama beberapa hari ini, umpama tootiang mempunyai waktu yang luang, teetjoe harap tootiang sudi ajari pula aku beberapa rupa ilmu pukulan lainnya."
Imam itu tertawa.
"Sampai sebegitu jauh, selama kau temani aku main tiokie, belum pernah tempo itu dilewatkan dengan cuma-cuma,"
Kata dia.
"Habis apa lagi aku mesti ajari kau? Kepandaianmu sudah menyusuli kebisaanku. Justeru kaulah yang mesti ajarkan beberapa jurus kepadaku! -Ha-ha bentengmu kena aku serbu!"
Imam ini girang sekali.
"Kepandaian yang tinggi memang sukar didapatkannya,"
Berkata ia pula.
"Akan tetapi dalam halnya kau, sifatmu baik sekali, itulah terlebih sukar untuk didapatinya. Kau masih muda sekali akan tetapi hatimu lurus, terhadap kawan wanita, kau berlaku tepat dan hormat, atas itu aku dan Tjoe Siokhoemu sangat kagumi kepadamu!"
Sin Tjie jengah sendirinya, mukanya menjadi bersemu merah, ia rasakan panas.
Apakah tak mungkin, imam ini telah lihat bagaimana ia bergaul rapat sekali dengan Tjeng Tjeng?
Ia malu sendirinya, kenapa imam itu bisa intip ia tanpa ia dapat ketahui.
Itu menyatakan ilmu entengkan tubuh dari ini guru tak resmi sangat tinggi.
Ketika itu keduanya berhenti bicara, ruangan jadi sangat sunyi.
Tiba-tiba terdengar suara perlahan di luar ruangan.
Sin Tjie tahu sedikitnya datang tiga orang entah siapa, akan tetapi karena Bhok Siang Toodjin diam saja, ia pun tidak ambil sesuatu tindakan, ia melanjuti jalankan biji-biji caturnya seperti si imam sendiri.
"Sepak-terjangnya Djiesoesomu barusan aku telah dapat lihat,"
Berkata Bhok Siang kemudian.
"Kau jangan kuatir, besok aku nanti bantu kau untuk menghadapi dia."
"Justeru tak ingin teetjoe turun tangan terhadapnya,"
Sin Tjie kata.
"Paling baik apabila tootiang bisa damaikan kita."
"Kau takut apa?"
Bhok Siang bilang.
"Kau lawan, kau hajar padanya! Umpama gurumu tegur padamu, katakan saja, aku yang anjurkan kau hajar padanya!"
Menyusul kata-katanya si imam, dari atas genteng loncat turun empat orang pula yang dibarengi dengan empat buah piauw menyambar ke arah Bhok Siang Toodjin dan Sin Tjie berdua.
Imam itu geraki kedua tangannya kebelakang, dengan gapah ia tanggapi empat batang senjata rahasia itu, lalu dengan tidak dilihat lagi, ia letaki itu diatas meja.
Tujuh orang diluar itu menjadi gusar, dengan berbareng mereka singkap sero untuk lompat masuk kedalam ruangan.
Mereka semua menyekal senjata, agaknya mereka berniat menyerang.
"Bisa apa tidak kau makan ini tujuh biji semuanya?"
Si imam tanya kawan main catur itu.
"Teetjoe akan coba-coba,"
Sahut Sin Tjie yang mengerti masuk perkataan itu.
Sementara itu, dua dari tujuh orang tidak dikenal itu hampirkan Tiang Pek Sam Eng, untuk kasi bangun pada mereka itu, dan lima yang lain maju terus kepada dua orang yang asik main catur itu, untuk serang mereka ini dengan golok dan pedang.
Sebat luar biasa, Sin Tjie raup biji catur, terus ia menyambit kebelakang, hingga sambaran anginnya terdengar nyata, menyusul mana tujuh orang itu mendadakan rubuh terjungkal, senjata mereka terlepas dan jatuh kelantai dengan terbitkan suara nyaring dan berisik.
Wan Djie Baru selesai urus Tjeng Tjeng, ia dengar suara berisik itu, ia kaget, ia lari keluar, maka ia saksikan Bhok Siang Toodjin dan Sin Tjie sedang asik lanjutkan permainannya, akan tetapi didalam thia itu, tujuh orang lain lagi meringkuk.
Ia segera mengerti duduknya hal, tapi ia tidak mau ganggu dua orang itu, maka ia tepuk kedua tangannya tiga kali, atas mana muncullah enam orangnya.
Dengan suara perlahan, ia suruh mereka ambil tambang, akan ringkus tujuh orang itu berikut Tiang Pek Sam Eng juga.
Selang setengah jam kemudian, Barulah dua orang itu akhirkan pertempuran mereka diatas papan catur, kesudahannya Sin Tjie kalah tiga kali.
Bukan main girangnya si imam.
"Dalam beberapa tahun ini, ilmu silat caturmu mundur, tak ada kemajuannya!"
Katanya.
"Dasar tipu-tipu tootiang yang liehay dan teetjoe tidak sanggup melawannya,"
Sin Tjie aku. Bhok Siang lantas menoleh kepada Wan Djie.
"Nona, coba tolong geledah mereka!"
Ia minta.
Wan Djie menurut, akan tetapi ia tidak turun tangan sendiri, ia suruh orang-orangnya yang bekerja.
Sebagai kesudahan dari penggeledahan itu, kecuali senjata-senjata rahasia, diketemukan beberapa lembar surat serta beberapa buku kecil yang memuat pelbagai tanda rahasia.
Salah satu surat itu adalah suratnya si pangeran Boan, Kioe-ong-ya To Djie Koen, untuk Soelee Thaykam Tjo Hoa Soen di kota raja.
Kepada thaykam ini, thaykam, telah diberitahukan, oleh karena penjagaan di Sanhaykwan keras sekali, utusannya ini sampai mesti jalan mutar, dengan jalan laut.
Kioe-ong-ya pesan, segala urusan besar, boleh didamaikan dengan pembawa suratnya itu, bernama Ang Seng Hay.
Bhok Siang gusar apabila ia ketahui siapa mereka itu.
"Semakin lama kawanan dorna ini jadi makin bernyali besar!"
Katanya dengan sengit.
"Hm! Di hadapanku mereka berani mencoba merampas orang!"
Masih imam ini sengit, hingga ia dupak kepalanya satu orang tangkapan, hingga tidak ampun lagi, kepala itu pecah, polonya berantakan. Masih Bhok Siang hendak menendang pula tapi Sin Tjie mencegah.
"Sabar, tootiang. Mungkin mereka itu ada faedahnya untuk kita. Nanti teetjoe periksa mereka."
Bhok Siang demikian mendongkol, hingga ia hendak robek-robek surat itu.
"Jangan, tootiang,"
Sin Tjie mencegah pula.
"Baik aku suka dengar kau,"
Kata si imam kemudian.
"Tapi ingat, besok kau mesti layani aku main lagi sampai tiga babakan!"
"Asal tootiang mempunyai kegembiraan, sampai sepuluh babak pun boleh,"
Jawab Sin Tjie.
Ia sukai imam ini tak perduli tabeatnya aneh.
Sampai disitu, Wan Djie undang imam itu pergi beristirahat, untuk mana, satu bujang layani dia.
Sin Tjie perhatikan surat-surat dan buku itu, mendadakan ia dapat pikiran.
"Sakit hatinya ayahku belum terbalas, surat-surat ini seumpama hadiah Thian kepadaku,"
Demikian ia pikir.
"Baik aku nelusup masuk kedalam istana raja, untuk wujudkan pembalasanku."
Tidak ayal lagi, ia totok sadar satu orang.
"Katakan padaku, yang mana diantara kamu yang bernama Ang Seng Hay?"
Tanya dia. Orang itu menunjuk salah satu kawannya, yang berumur tiga-puluh lebih, yang romannya cakap. Sin Tjie lantas totok sadar orang she Ang itu.
"Kau beri keterangan padaku,"
Ia kata. Ang Seng Hay berkepala batu, ia tidak suka bicara. Anggap orang tak suka bicara karena mereka bicara didepan satu kawannya, Sin Tjie perintah orang angkat Seng Hay untuk dibawa kekamar tulis.
"Kau adalah utusan Kioe-ong-ya, kau mestinya satu laki-laki sejati,"
Kata dia.
"Aku hendak minta keterangan dari kau, maka aku Tanya satu, kau mesti jawab satu. Jikalau kau tetap tidak hendak bicara, aku nanti tahan terus padamu sampai beberapa hari, supaya kau nanti mati secara perlahan-lahan!"
Ang Seng Hay murka.
"Imammu itu gunai ilmu siluman, walaupun binasa, aku tidak puas!"
Kata dia.
"Rupanya kau anggap boegeemu liehay,"
Sin Tjie bilang.
"Kau dengar aku! Kau orang Han, kau kesudian menjadi kacung Boan, itu artinya dosa untuk mana pantas kau mendapat hukuman, bagianmu adalah kematian. Kau tidak puas, baik, mari, aku nanti layani kau pieboe! Tapi ingat, satu kali kau kalah, kau mesti jawab aku dengan sebenarbenarnya, jangan ada yang kau sembunyikan! Akur?"
Sin Tjie hendak uji kepandaiannya, ia harap nanti ia bisa pakai tenaganya orang ini. Ang Seng Hay girang dengan tawaran itu. Didalam hatinya, ia pun berkata.
"Entah kenapa tadi, tahu-tahu aku merasai jalan darahku tertotok, lantas aku rubuh. Mungkin itu karena si imam telah gunai ilmu gaibnya. Sekarang si imam tidak ada, anak muda ini mana dapat menjadi tandinganku? Baik aku terima tantangannya!"
Lantas saja ia menjawab.
"Baik! Asal kau sanggup kalahkan aku, apa juga yang kau tanyakan, aku nanti jawab!"
Tanpa sangsi lagi, Sin Tjie hampirkan orang tawanannya itu, untuk bukakan tambang belengguannya.
Ia membuka dengan jalan putuskan tambang itu, agaknya ia cuma pakai tenaga sedikit sekali.
Seng Hay heran, hingga ia terperanjat.
Ketika tadi ia Baru diikat, ia telah mencoba kerahkan tenaganya, untuk berontak, buat loloskan diri dari belengguan dengan jalan amuk putus tambang itu, tetapi ia tidak berhasil, bukan saja tambang tidak putus malah ia merasa, ikatannya jadi semakin keras, siapa tahu sekarang, secara sembarangan saja, anak muda ini dapat bikin putus tambang itu.
Tanpa merasa, ia jadi jeri sendirinya.
"Kau hendak pieboe cara apa?"
Bertanya dia.
"Mari kita pergi keluar. Kau hendak gunai senjata tajam atau kepalan saja?"
Sin Tjie tertawa.
"Aku timpuk kau dengan biji catur, kau sangka si imam gunai ilmu gaib!"
Katanya.
"Melihat caranya kau lompat masuk kedalam thia tadi, kau mungkin satu ahli lweekee."
Kembali Seng Hay heran.
Ia ingat, ketika tadi ia menerjang masuk ke thia, dua-dua pemuda ini dan imam tidak menoleh untuk awasi dia, maka kenapa orang justeru bisa lihat dia dan segera kenali cara bergeraknya itu.
Tapi ia manggut, untuk benarkan pernyataan itu.
"Karena itu,"
Berkata Sin Tjie.
"mari disini saja kita main saling tolak."
"Baik,"
Sahut Seng Hay tanpa ragu-ragu.
"Apakah aku boleh dapat ketahui she dan nama besar tuan?"
Sin Tjie tertawa.
"Kau tunggu saja sampai kau nanti sudah dapat menangkan aku, nanti aku sendiri yang memberitahukan,"
Jawabnya. Seng Hay manggut.
"Silakan!"
Kata dia, yang terus pasang kuda-kudanya dengan kedua tangan dibawa kedepan dada.
Tubuhnya sedikit doyong kedepan.
Sin Tjie tidak lantas terima tantangan itu.
Ia hanya gosok bak, ia siapkan selembar kertas.
"Aku nanti menulis disini,"
Katanya.
"Kau tahu, apa yang aku akan tulis? Itulah syairnya Touw Kong-pou, syair "Peng Kie Hang"."
Seng Hay heran. Orang ajak dia pieboe, habis orang hendak tulis surat dulu. Maka ia lantas saja ambil tempat duduk, niatnya untuk menantikan.
"Eh, kau jangan duduk!"
Sin Tjie mencegah. Ia ulur tangan kirinya.
"Sekarang aku hendak menulis, selagi aku menulis, kau dorong tanganku ini. Umpama kata tangan kananku tergerak dan tulisannya jadi mengok atau tak keruan macam, aku anggap kau yang menang, segera kau boleh angkat kaki dari sini. Tapi umpama kata aku berhasil menulis selesai syair yang panjang itu tetapi kau tetap tidak mampu tolak aku, kaulah yang kalah, maka itu, apa juga yang aku tanyakan, aku larang kau umpetkan walau sepatah kata juga!"
Ang Seng Hay tertawa berkakakan.
"Bocah ini masih hijau, dia Baru pernah muncul dia tak tahu langit itu tinggi dan bumi tebal, hingga dia terlalu sombongkan boegee sendiri, lalu dia pandang sebelah mata kepadaku! Oh, mungkin ini disebabkan karena ia lihat aku beroman cakap dan bertubuh tidak kekar, hingga dia anggap aku tidak punya guna. Baik, aku nanti coba padanya."
Maka ia terus jawab.
"Aku lihat pieboe seperti ini sangat tidak adil...."
Sin Tjie tertawa.
"Tapi inilah buah-hasilnya usulku sendiri!"
Ia bilang.
"Sekarang aku hendak mulai menulis, kau boleh maju!"
Lantas saja ia duduk menulis, mulanya tiga huruf "
Kie lin lin."
Ang Seng Hay tidak bilang apa-apa lagi, ia terima baik pieboe semacam itu.
Ia pasang kuda-kudanya dengan tegak, lalu ia kumpulkan tenaganya pada kedua bahu tangannya.
Habis itu, dengan gerakan "Pay san to hay"
Atau "Menolak gunung untuk menguruk lautan" , ia menolak dengan keras dengan dua tangannya kepada tangan kirinya si anak muda yang diulur kebelakang, kearahnya.
Sebab untuk menulis di meja, pemuda ini berdiri menghadapi meja, karena ia menulis dengan tangan kanan, tangan kirinya jadi dikeluarkan kesebelah belakang.
Hingga sama sekali ia membelakangi lawannya itu.
Begitu lekas Seng Hay menolak dengan sekuat tenaga, Sin Tjie egoskan tangan kirinya, maka lenyaplah tenaga mendorong orang she Ang ini.
Ia jadi penasaran, untuk mendorong satu kali lagi, kedua tangannya dipasang diatas dan bawah, sebagai menjepit.
Dengan gerakan ini, mungkin juga tangan kiri si anak muda kena tertekuk hingga patah.
Tangan kanannya Sin Tjie menulis pula, dari mulutnya keluar kata-kata.
"Seranganmu ini adalah 'Seng thian djip tee' -'Naik kelangit, masuk kebumi'. Itulah, turut pendengaranku, adalah tipu silat Poet Hay Pay dari Shoatang. Maka, tuan Ang, kau mestinya dari partai Poet Hay Pay itu."
Ia menulis terus, tangan kirinya digeraki bagaikan bergeraknya ekor ikan, maka kedua tangannya Seng Hay bentrok sendirinya satu pada lain sambil menerbitkan tepokan tangan yang nyaring.
Mengalami ini, Seng Hay jadi panas.
Maka ia menyerang pula dengan sengit, dengan keluarkan kepandaiannya.
Sin Tjie tetap menulis terus, disebelah itu, tangan kirinya digerak-geraki terus juga, untuk membebaskan diri dari sesuatu serangan, hingga ia tak dapat ditolak atau didorong.
Sebaliknya tangan kiri itu seperti mempunyai tenaga menolak, membal balik.
Dengan sengitnya Seng Hay menyerang dengan tipu silatnya "Tjan kauw koen"
Atau pukulan "menyembelih naga". Baru saja ia habis menyerang, dengan kegagalan, Sin Tjie telah berkata padanya.
"Tjan kauw koenmu ini masih mempunyai sembilan jurus lainnya, sedang tulisan syairku 'Peng Kie Hang' bakal lekas sampai diakhirnya. Maka sekarang aku atur begini. Aku tunggui kau, setiap kali kau menyerang, setiap kali juga aku menulis satu huruf saja."
Kembali Seng Hay menjadi heran.
Kenapa orang kenali ilmu silatnya itu?
Apa mungkin pemuda ini adalah orang satu kaum dengannya?
Toh ia tidak kenal pemuda ini dan gerakgerik tangan dan tubuhnya beda dengan Poet Hay Pay.
Dengan penasaran berbareng ragu-ragu itu, ia lanjuti penyerangannya, dengan terlebih hebat dan liehay.
Ia tidak harap lagi bisa berkisar saja, pasti tulisannya akan kacau.
Sin Tjie menulis terus, ia membacakan.
"Thian im ie sip seng tjioe tjioe" . Huruf tjioe yang terakhir masih belum tertulis habis, serangannya Seng Hay masih ada dua jurus lagi, ialah dua jurus terakhir dari Tjan Kauw Koen. Karena berulang-ulang dia gagal. Seng Hay ubah pula cara menyerangnya, ialah ia mendak dan kedua tangannya dikasi melengkung, ia menubruk dengan pakai tubuh juga, agaknya ia hendak peluk tubuh anak muda itu. Ang Seng Hay sangat bernapsu, sampai ia lupai pantangan ahli silat untuk bisa kendalikan diri. Ia telah bergerak dengan ceroboh sekali. Dengan bersikap merangkul secara demikian, ia seperti lupai tangan Sin Tjie. Maka Baru ia maju atau si anak muda sudah mengenai dadanya, sehingga bukannya Sin Tjie atau kursinya yang berkisar, adalah ia sendiri yang kena tertolak mundur, demikian keras, sehingga ia jumpalitan tiga kali, percuma ia pertahankan diri, ia rubuh juga, jatuh duduk dilantai bagaikan patung. Sehingga ia membutuhkan sekian saat untuk bisa lompat bangun. Ia pun berlompat bangun selagi ia Baru sadar bahwa ia sudah kena dirubuhkan! Adalah disaat itu, Tjiauw Wan Djie bertindak masuk kedalam kamar tulis dengan membawa tehkoan buatan Gie-hin, yang warnanya merah tua.
"Wan Siangkong, inilah teh Liong-tjeng yang kesohor,"
Katanya sambil menawarkan.
"Silakan minum!"
Ia pun segera tuang air teh itu kedalam sebuah cangkir, sehingga Sin Tjie lantas mencium bau wangi dari teh itu. Ia tidak sungkan-sungkan lagi, ia sambuti teh itu dan terus diminum.
"Benar-benar teh bagus!"
Ia memuji. Ia angkat tulisannya.
"Peng Kie Hang", akan tunjuki si nona seraya kata.
"Nona Tjiauw, tolong lihat ini, apakah tulisan ini ada yang kacau dan kotor?"
Wan Djie periksa syair itu, lalu ia tertawa.
"Siangkong benar-benar boen boe tjoan tjay!"
Memuji dia.
"Tulisan ini baik diberikan kepadaku saja!" (Boen boe tjoan tjay berarti mengerti berbareng dua-dua ilmu surat dan ilmu silat).
"Tapi tulisanku jelek,"
Si pemuda bilang.
"Barusan aku telah bertaruh sama sahabat baik ini, maka tulisan ini Baru saja ditulis rampung. Jikalau nona inginkan ini, baik, tapi jangan nona perlihatkan kepada orang lain, agar orang tidak tertawai aku!"
Wan Djie bersenyum, ia gulung tulisan itu, lantas ia ngeloyor pergi. Setelah si nona keluar, Sin Tjie Tanya Ang Seng Hay.
"Kioe-ongya utus kau kepada Tjo Hoa Soen, untuk urusan apakah itu?"
Seng Hay ragu-ragu, sehingga berulang-ulang ia tidak bisa menyahuti, sehingga ia cuma kemak-kemik saja.
"Bukankah barusan kita telah bertaruh?"
Sin Tjie tegasi.
"Bukankah kau tidak sanggup tolak aku sehingga berkisar?"
Ang Seng Hay jengah, ia tunduk.
"Boegee Wan Siangkong sangat mengagumkan, inilah ilmu kepandaian yang belum pernah aku dengar, yang belum pernah aku saksikan,"
Katanya dengan perlahan.
"Sekarang coba kau raba tubuhmu, dibawah tetek kiri,"
Sin Tjie kata.
"Coba periksa tulang rahang yang kedua. Apakah yang kau rasai?......"
Ang Seng Hay menurut, ia raba tempat yang ditunjuki itu. Tiba-tiba ia terkejut. Bagian tubuh itu menjadi baal, ia tak rasakan apa-apa! "Sekarang kau raba pula, tengah-tengah pinggang bagian kanan,"
Sin Tjie menyuruh pula. Ang Seng Hay meraba, ia menekan, lantas ia menjerit.
"Aduh!". Ia pun kaget sekali, herannya bukan buatan. Tapi segera ia kata.
"Jikalau tidak diraba, aku tidak rasakan apajuga, begitu kebentur tangan, sakitnya bukan main...."
Sin Tjie bersenyum.
"Itulah dia!"
Ia bilang.
Ia isikan cangkir tehnya, ia hirup air teh itu, kemudian ia membalikbalik lembarannya satu buku diatas meja, tidak lagi ia perhatikan orang didekatnya itu.
Seng Hay berdiri diam dengan serba salah.
Ia berniat angkat kaki akan tetapi tak berani ia pergi.
Dengan begitu, ia pun terus berdiam saja.
Tidak lama, anak muda kita berpaling.
"Eh, kau masih belum pergi?"
Tanyanya. Seng Hay terperanjat, tetapi ia girang sekali.
"Kau perkenankan aku pergi?"
Tegasi ia.
"Kau sendiri datang kemari, aku tidak undang kau,"
Berkata si anak muda,"
Maka jikalau kau hendak pergi, tak dapat aku tahan padamu."
Bukan kepalang girangnya Seng Hay, ia segera berbangkit, untuk memberi hormat sambil menjura.
"Tidak nanti aku berani lupakan budimu, siangkong,"
Kata ia.
Sin Tjie manggut, kembali ia baca bukunya.
Seng Hay bertindak kepintu, ketika ia merandek di depan itu.
Dengan tiba-tiba ia berkuatir orang nanti rintangi ia.
Lantas ia hampirkan jendela, ia tolak kedua daunnya, tubuhnya menyusul loncat keluar.
Sebelum ia angkat kaki terus, ia menoleh kebelakang, ia dapatkan si anak muda masih saja baca buku, jadi orang tidak susul ia, hatinya menjadi lega.
Sekarang Barulah ia loncat naik keatas genteng, untuk angkat kaki.
Sementara itu, walaupun sang malam sudah larut, Tjiauw Wan Djie masih belum tidur.
Ia tak dapat lupakan Sin Tjie, tetamunya, penolongnya itu, budi siapa ia ingat betul.
Sampai mendekati fajar, anak muda itu masih berdiam di dalam kamarnya, membaca kitab, beberapa kali ia telah mondar-mandir, akan melihat, tetap anak muda itu bercokol di kursinya.
Akhirnya ia panggil bujang perempuannya, akan titahkan membuat beberapa rupa tiamsim, barang makanan, yang ia sendiri lantas bawa kekamarnya pemuda itu.
Mulanya ia mengetok pintu dengan perlahan, sampai beberapa kali, Barulah ia tolak daunnya untuk masuk kedalam.
Sin Tjie lagi membaca kita "Han Sie" , cerita atau riwayat kerajaan Han, agaknya dia sedang sangat tertarik hatinya, sampai ia diam saja atas datangnya nona rumah.
"Wan Siangkong kau masih belum masuk tidur?"
Nona Tjiauw Tanya.
"Baik siangkong coba dulu tiamsim ini, habis kau masuk untuk beristirahat....."
Baru sekarang anak muda kita berbangkit, untuk haturkan terima kasih.
"Baik nona tidur, tidak usah kau perhatikan aku,"
Katanya.
"Aku masih menantikan satu orang....."
Baru pemuda ini mengucap demikian atau mendadak daun jendela menjeblak sehingga menerbitkan suara, menyusul itu, satu tubuh lompat masuk.
Wan Djie kaget hingga ia lompat berjingkrak, akan tetapi segera ia tampak Ang Seng Hay.
Orang she Ang ini manggut kepada si nona, lantas ia hampirkan Sin Tjie didepan siapa ia tekuk lutut.
"Wan siangkong, siauwdjin tahu diriku bersalah,"
Katanya. Ia membahasakan diri "siauwdjin"
Atau orang rendah.
"Tolong siangkong, jiwaku....."
Sin Tjie ulur kedua tangannya, untuk memimpin bangun, akan tetapi Seng Hay tidak mau berbangkit.
"Mulai hari ini dan selanjutnya, siauwdjin nanti ubah kelakuanku,"
Berkata ia pula.
"Aku minta dengan sangat supaya siangkong tolongi aku."
Tjiauw Wan Djie mengawasi dengan kedua mata dipentang lebar, ia tak mengerti atas apa yang ia pandang itu.
Sin Tjie ulur pula kedua tangannya, ketika ia kerahkan tenaganya, tahu-tahu tubuhnya Seng Hay terangkat terus jumpalitan, sehingga dilain saat, pahlawan atau utusannya Kioeong-ya itu telah rubuh duduk di jubin, tapi ketika ia raba ketiaknya, wajahnya menjadi terang, satu tanda bahwa hatinya lega, ia girang.
Tapi waktu ia usut dadanya, ia kerutkan alis hingga kedua alisnya hampir menyambung satu pada lain.
"Mengertikah kau sekarang?"
Tanya Sin Tjie. Seng Hay adalah seorang sangat cerdik dan tangkas, kalau tidak, tidak nanti Kioe-Ong-Ya To Djie Koen kirim ia selaku mata-mata, maka atas pertanyaan si anak muda, segera ia insaf.
"Siangkong, apakah kau hendak tanya aku?"
Katanya.
"Silakan, siauwdjin nanti menjawab dengan sebenar-benarnya."
Wan Djie duga orang hendak omong rahasia, ia lantas undurkan diri, keluar dari kamar tulis itu.
Ketika tadi ia lari pulang ke hotelnya, Seng Hay telah buka bajunya, untuk periksa tubuhnya.
Di dadanya ada sebuah bentol merah sebesar uang tangtjhie, ketika ia raba itu, ia tidak rasakan apa-apa.
Dibawah ketiaknya, ia dapatkan, ada tiga titik hitam seperti kacang, apabila ia kena langgar itu, ia merasakan sangat sakit.
Ia mengerti, itulah luka yang ia dapatkan tadi selagi ia bertolak tenaga kekuatan berbalik dari Sin Tjie.
Maka lekaslekas ia duduk bersila di atas pembaringannya, untuk menyedot dan mengeluarkan napas dengan peraturan, untuk perbaiki jalan napasnya, ia merasakan sakit.
Maka ia lekas rebahkan diri, rasa sakit itu lantas lenyap sendirinya.
Tiga kali ia mencoba perbaiki jalan napasnya, selalu ia gagal.
Mata-mata Kioe-ong-ya ini tidak berpikir lama akan ingat ilmu silat yang dinamakan "Koenthian-kang" , ialah tenaga yang memukul berbalik siapa terluka karena serangan itu, apabila tidak dapat obat yang tepat dalam seratus hari dia bakal mati meroyan.
Ingat ini, ia jadi takut sendirinya.
Di situ tidak ada orang lain yang bisa tolongi ia, kecuali Sin Tjie, si anak muda.
"Ah, aku mesti pergi padanya...."
Lantas dia pakai bajunya, ia keluar dari hotel, akan berlari-lari ke rumahnya Tjiauw Kong Lee, akan lompat masuk kedalam kamarnya si anak muda dengan jeblaki jendela.
Sin Tjie lantas berkata pada orang she Ang ini.
"Kau telah dapat dua luka di tubuhmu, yang satu tadi aku telah sembuhkan, tinggal yang satu lagi. Sekarang ini, luka itu tidak memberi rasa apa-apa, akan tetapi berselang tiga bulan, baal itu bakal bertambah luas, bisa menjalar sampai di dada, di ulu hati, maka itulah artinya sampailah batas umurmu!"
Kembali Seng Hay kaget. Jadi benarlah dugaannya tentang lukanya itu. Maka ia jatuhkan diri, ia berlutut sambil manggut berulang-ulang. Karena ia minta dengan sangat untuk ditolong.
"Kau telah menjadi harimau yang mengganas, kau akui dorna sebagai ayahmu!"
Sin Tjie bilang, dengan roman yang keren.
"Itulah dosamu yang tak berampun! Sekarang aku tanya kau, kau mau atau tidak untuk gunai jasamu menebus dosa?"
Seng Hay takut benar-benar, hingga ia menangis, air matanya meleleh.
"Memang siauwdjin tahu, perbuatanku ini sesat,"
Kata ia dengan pengakuannya.
"Ada kalanya di waktu malam siauwdjin pikirkan itu dan insaf sendiri, hingga siauwdjin mengerti, perbuatan itu hina dan sangat memalukan leluhurku. Inilah gara-garanya satu kejadian pada tahun yang lampau, yang membuat siauwdjin buntu jalan hingga terpaksa siauwdjin berlaku begini hina."
Sin Tjie awasi wajah orang, ia mau percaya bahwa orang omong dengan sejujurnya.
Ia menduga pada satu kejadian penting.
Ia hendak menanya akan tetapi ia tidak lantas lakukan itu.
Ia mengerti, orang ini sangat membutuhkan pertolongannya.
Orang pun masih tetap paykoei.
"Mari bangun dan duduk,"
Ia kata kemudian.
"Mari kita bicara dengan perlahan-lahan. Siapa sudah paksa kau berbuat begini macam, sampai kau buntu jalan?"
"Aku telah didesak oleh Hoei thian Mo Lie Soen Tiong Koen dan Kwie Djie Nio-tjoe, keduanya dari Hoa San Pay,"
Sahut Seng Hay. Inilah jawaban diluar sangkaan Sin Tjie, sampai hatinya bercekat.
"Apa? Mereka yang desak kau?"
Ia tegasi. Wajahnya Seng Hay pun berubah, nampaknya ia berkuatir.
"Apakah siangkong kenal mereka?"
Ia balik tanya.
"Baru tadi aku bertempur dengan mereka,"
Sahut Sin Tjie.
Mendengar itu, Seng Hay girang berbareng masgul.
Ia masgul karena kekuatirannya, sebab kedua musuhnya itu berada di Lamkhia ini, di satu tempat dengan ia, Seng Hay takut nanti ketemu mereka itu di tengah jalan, itu berarti bencana untuknya.
Ia girang sebab nyata anak muda ini telah bertempur dengan mereka itu, ia duga pemuda yang kosen ini adalah musuh mereka.
"Dua orang itu,"
Katanya melanjuti,"
Walau kepandaian mereka tinggi, mereka bukannya tandingan siangkong. Cuma mereka berdua telengas sekali, apa juga mereka berani lakukan, dari itu siangkong harus waspada."
Sin Tjie perdengarkan suara yang memandang enteng.
"Kenapa mereka desak kau?"
Ia tanya. Seng Hay berdiam sebentar, lalu ia menyahut.
"Tidak berani aku dustakan kau, siangkong,"
Katanya.
"Tadinya siauwdjin berdiam di laut di Shoatang melakukan pekerjaan tidak memakai modal. Pada suatu hari, satu saudara angkat lihat Soen Tiong Koen, ia ketarik, ia lantas majukan lamaran kepada nona itu. Soen Tiong Koen tampik lamaran itu. Sebenarnya dengan penampikan saja sudah cukup, akan tetapi ia tidak berhenti sampai disitu, tanpa mengucap sepatah kata, dia hunus pedangnya, dan babat kedua kupingnya saudara angkat itu. Tentu sekali aku tidak puas dengan perbuatan galak itu, yang keterlaluan dan kejam itu, lantas aku ajak belasan kawan, untuk satroni dia. Maksudku adalah untuk culik dia, supaya dia menikah dengan saudara angkat itu. Tegasnya kita hendak paksa padanya. Celakanya untuk kita, gurunya Soen Tiong Koen, yaitu Kwie Djie Nio, sudah susul kita, dia tolongi muridnya itu. Dengan satu tabasan, dia bunuh saudara angkatku itu dengan pedangnya. Beberapa kawanku telah kena dibikin bubar, antaranya ada yang terluka. Untung bagiku, aku bisa loloskan diri, hingga jiwaku ketolongan...."
"Dalam hal itu, kaulah yang bersalah,"
Sin Tjie bilang.
"Siauwdjin pun insyaf yang siauwdjin sudah sembrono, hingga satu bahaya besar diciptakan,"
Seng Hay akui.
"karenanya siauwdjin tidak berani munculkan diri di muka umum. Benar-benar Soen Tiong Koen tidak mau sudah, entah bagaimana jalannya, dia dapat tahu kampung halamanku, mereka susul aku. Oleh karena tak dapat ketemui aku, mereka binasakan ibuku yang sudah tua, yang telah berumur tujuhpuluh tahun, juga isteriku serta tiga anakku, lelaki dan perempuan, tidak ada satu yang dikasih tinggal hidup...."
Seng Hay mengucurkan air mata, hingga kata-katanya jadi tergetar, karenanya Sin Tjie anggap orang bicara dengan sebenarnya.
Ia manggut-manggut walaupun hatinya bercekat untuk ketelengasan Soen Tiong Koen dan gurunya itu.
"Tak dapat siauwdjin lawan mereka itu,"
Seng Hay tambahkan kemudian,"
Akan tetapi tanpa sakit hati terbalas lampias, tak puas hatiku.... Oleh karena putus daya, pikiranku jadi sesat, siauwdjin lantas kabur ke Liauwtong dimana siauwdjin menghamba kepada Kioeong-ya....."
Seng Hay bersedih berbareng gusar.
"Mereka binasakan ibumu dan anak-isterimu juga, perbuatan itu memang keterlaluan,"
Nyatakan si anak muda kemudian.
"Semuanya adalah karena salahmu sendiri. Semua itu toh ada urusan pribadi, kenapa kau menghamba kepada bangsa asing? Kenapa kau kesudian menjadi pengkhianat bangsa?"
"Itulah kesalahanku, siangkong,"
Seng Hay akui.
"Asal siangkong bisa balaskan sakit hatiku itu, apa juga siangkong titahkan aku, aku akan lakukan...."
"Mencari balas?"
Sin Tjie tegaskan.
"Itulah kau jangan pikir. Kwie Djie-nio itu sangat liehay, aku bukanlah tandingannya. Yang benar adalah kau ubah kelakuanmu, supaya kau selanjutnya menjadi orang baik-baik. Aku tanya kau, Kioen-ong-ya kirim kau kepada Tjo Thaykam, untuk apa?"
Seng Hay tidak berani mendusta, ia menjawab dengan membuka rahasia.
Ia kata Kioe-ongya janjikan Tjo Hoa Soen untuk menjadi penyambut sebelah dalam kalau nanti bangsa Boan kerahkan angkatan perangnya untuk gempur kota Pakkhia, supaya thaykam itu -thaykam -pentang pintu kota.
Pun telah diatur tanda-tanda rahasia supaya orangorangnya Kioe-ong-ya nyelundup masuk kedalam kota, ke dalam istana, untuk bantu turun tangan.
Diam-diam Sin Tjie girang sekali, tapi ia tak utarakan itu pada wajahnya.
"Sebenarnya mau atau tidak kau ubah kelakuanmu, untuk selanjutnya kau jadi orang baikbaik?"
Ia tegaskan.
"Atau apakah kau lebih suka menderita siksaan hingga nanti, selang tiga bulan, kau mati tanpa ampun lagi?"
"Siangkong boleh tunjuki aku satu jalan hidup, selanjutnya aku nanti pandang kau sebagai ayah dan ibuku yang telah hidup pula!"
Sahut Ang Seng Hay.
"Baik!"
Kata Sin Tjie.
"Bersediakah kau untuk jadi pengikutku?"
Seng Hay girang bukan kepalang, lantas saja ia berlutut pula, akan paykoei tiga kali kepada tuannya yang baru ini.
Ia girang karena ia berhati lega, karena selanjutnya tak usah ia berjeri lagi terhadap Kwie Djie Nio dan Soen Tiong Koen.
Ia pun percaya, kalau nanti selang tiga bulan lukanya kumat, pasti majikan ini akan tolong obati dia.
Perubahan cara hidup ini membuat Seng Hay tenang melebihkan tenangnya diwaktu ia ikuti Kioe-ong-ya pangeran Boan itu.
Habis itu, setelah "repot"
Satu malaman, Barulah Sin Tjie beristirahat.
Seng Hay tidur dalam satu kamar bersama ia.
Pengikut ini tidak pernah pikir untuk menuntut balas, sebaliknya dia berterima kasih karena si anak muda percaya dia.
Sin Tjie tidak kuatir, sebab ia tahu benar, untuk hidupnya Seng Hay membutuhkan pertolongannya.
Maka juga ia dapat tidur nyenyak, sampai besoknya pagi, setelah matahari naik tinggi, Baru ia mendusi.
Segera juga muncul Nona Wan Djie dengan bin-tang (baskom) terisi air dan handuk untuk pemuda ini cuci muka, begitupun beberapa rupa barang makanan untuk sarapan pagi.
"Terima kasih,"
Sin Tjie mengucapkan.
Tidak lama sehabisnya pemuda ini selesai cuci muka dan rapikan pakaiannya, Bhok Siang Toodjin muncul bersama papan caturnya.
Tjeng Tjeng adalah yang bawa biji-biji catur.
Berdua mereka masuk berbareng.
"Ha, begini hari baru bangun!"
Kata si pemudi sambil tertawa riang.
"Tootiang sudah menunggui lama sekali, sampai ia tak sabaran! Hayo lekas mulai, lekas mulai!"
Sin Tjie pandang si nona, akan tatap wajahnya, tiba-tiba ia tertawa. Tjeng Tjeng pun tertawa.
"Kenapa kau tertawa?"
Tanya nona ini sambil balik mengawasi. Masih saja si pemuda tertawa.
"Tootiang janjikan apa kepadamu hingga kau sekarang jadi begini rajin?"
Ia tanya.
"Begini perlu kau carikan tootiang lawan main catur!"
Tjeng Tjeng tertawa pula.
"Tootiang hunjuki aku semacam ilmu silat,"
Ia aku.
"Itulah semacam ilmu silat entengkan tubuh yang sangat luar biasa. Umpama orang toyor padamu dan dupak, kau boleh layani ia dengan main berkelit saja sebagai orang lagi main petak, mengegos ke timur, ngeles ke barat, jangan harap dia bakal kena menyerang padamu!"
Mendengar itu, pemuda ini tergerak hatinya, diam-diam ia lirik guru sampiran itu, siapa sebaliknya dengan tenang lagi taruh dua biji putih dan dua biji hitam di keempat pojok papan caturnya, lalu sebiji putih dipegang di tangannya, dipakai mengetok-ngetok papan caturnya sehingga papan itu menerbitkan suara nyaring.
Berbareng dengan itu, imam ini pun bersenyum.
Menampak sikap yang luar biasa dari Bhok Siang Toodjin, Sin Tjie ingat suatu apa.
"Tootiang ajarkan ilmu silat entengkan tubuh kepada Tjeng Tjeng, itu mesti ada maksudnya,"
Ia lantas berpikir.
"Sebentar adalah malaman janjiku dengan Djie Soeko dan Djie-Soeso, akan bertanding di panggung Ie Hoa Tay, tak dapat aku tidak pergi menetapkan janji itu. Inilah sulit, sebab dilihat dari romannya, Djie-soeso tak puas sebelum ia layani aku. Mana dapat aku layani mereka dengan sungguh-sungguh? Djiesoeko pun sangat kesohor, melayani dia saja, belum tentu aku sanggup peroleh kemenangan, maka jikalau aku melayani dengan main-main, ada kemungkinan aku bakal terluka di tangannya, atau mungkin juga, karena alpa, aku bakal terbinasa.... Apa ini sebabnya kenapa tootiang ajarkan ilmu entengkan tubuh itu kepada Tjeng Tjeng?"
Karena memikir begini, pemuda ini lantas kata kepada si nona.
"Kau inginkan aku main tiokie dengan tootiang, baiklah, akan tetapi kau mesti ajarkan ilmu silat itu kepadaku!"
"Baik!"
Tjeng Tjeng jawab sambil tertawa.
"Ini dia yang dibilang, barang siapa dapat melihat, dia mesti menerima bagian!"
Ia tertawa pula, begitupun si anak muda.
Setelah itu, Sin Tjie temani gurunya itu main tiokie.
Sampai waktunya bersantap, tengah-hari, Barulah orang berhenti adu otak, diwaktu itu, Sin Tjie ambil kesempatan akan pasang omong dengan Tjoei Tjioe San, sang paman atau guru.
Pembicaraan mereka ialah mengenai persiapannya Giam Ong, yang tentunya tak lama lagi akan mulai turun tangan menggempur musuh Negara, katanya, pergerakan kemerdekaan itu memperoleh dukungan dari segenap rakyat.
Di pihak lain, Tjioe San puji anak muda ini, yang pelajaran silatnya maju dengan pesat sekali.
Kedua pihak bicara secara gembira dan asik sekali, sebab dua-dua sangat bergembira.
Selama itu beberapa kali Tjeng Tjeng mengasi tanda dengan tangan kepada si anak muda, untuk anjuri dia keluar, Tjioe San lihat itu, ia tertawa.
"Sahabat cilikmu itu memanggil, pergilah lekas!"
Kata dia. Tampangnya si anak muda merah sendirinya, ia jengah, tapi ia tidak segera berbangkit, ia malu hati.
"Kau pergilah!"
Kata pula Tjioe San, yang terus berbangkit, untuk mendahului pergi keluar. Tjeng Tjeng lari ke dalam begitu lekas orang she Tjioe itu sudah tidak ada.
"Lekas, lekas!"
Katanya.
"Aku nanti beritahukan kau tentang ilmu silat yang tootiang ajari aku, karena diwaktu tootiang mengajarinya, ada bagian-bagian yang aku tidak mengerti. Tootiang melainkan kata padaku.
"Kau ingat-ingat saja, nanti juga kau mengerti."
Tentu saja, kalau ditinggal lama-lama, aku nanti lupa semua."
Sin Tjie iringi kehendak si nona maka di lain saat, mereka sudah berlatih, atau lebih benar, Tjeng Tjeng menyebutkan ilmu silat itu, Sin Tjie yang mendengari, habis itu, si anak muda coba menjalaninya.
Itulah ilmu pukulan yang dinamakan "Pek pian kwie eng"
Atau "Bajangan setan yang berubah seratus kali".
Kepandaian entengkan tubuh Bhok Siang Toodjin dan senjata rahasianya menjagoi di kolong langit, lebih-lebih ini "Pek pian kwie eng".
Selama masih di puncak Hoa San, Bhok Siang tidak ajari Sin Tjie, sebab anak muda ini masih dalam permulaan, sulit untuk dia punyakan ilmu itu, tapi sekarang, setelah terlatih baik dan peroleh pengalaman, itulah waktunya untuk si anak muda diajarkan.
Akan tetapi Bhok Siang mempunyai maksudnya sendiri, ia mengajari dengan perantaraan mulutnya Tjeng Tjeng.
Nona ini tidak terlalu tinggi ilmu silatnya, akan tetapi otaknya sangat terang, kuat ingatannya, ia sangat cerdas.
Maka hal yang sebenarnya adalah, tidak benar Bhok Siang mengajari Tjeng Tjeng, yang benar adalah ia mengajari Sin Tjie.
Tjeng Tjeng memberi penuturan jelas sekali, dari gerakan tubuh dan kaki, hal itu membuat si anak muda jadi sangat girang, karena ia pun berotak terang dan segera ingat dengan baik.
Benar kalau Tjeng Tjeng kata ada bagian-bagian yang ia tidak mengerti, maka atas desakan Sin Tjie, beberapa kali ia lari bulak-balik pada si imam, untuk minta penjelasan, hingga di lain saat, Sin Tjie telah ingat semua, hingga ketika ia mencoba menjalaninya, lantas saja ia bisa jalani dengan baik.
Maka itu, ia lantas meyakinkan terus-terusan.
Mengenai ilmu silatnya djie-soeko dan djie-soeso, Sin Tjie ingat baik-baik kata-katanya sang guru dahulu.
"Toasoekomu jenaka, satu waktu ia tak terluput dari kealpaan. Djiesoekomu pendiam, dia belajar dengan sungguh-sungguh."
Itu berarti, kepandaiannya djiesoeko sangat berada di atasan kepandaiannya sang toa-soeko, saudara tertua itu.
"Sekarang aku peroleh ini Pek pian kwie eng, apa mungkin aku tak dapat layani djiesoeko?"
Pikir dia, yang untuk sesaat bersangsi. Tapi anak muda ini berpikir terus.
"Soehoe pernah ajarkan aku Sip-toan-kim, ketika itu soehoe jalankan ilmu entengkan tubuh itu, aku serang ia dengan seantero kebisaanku, tak dapat aku serang dia walaupun ujung bajunya saja,"
Demikian ia berpikir.
"Sekarang Bhok Siang Toodjin ajarkan ilmu ini, apa tidak baik aku gabung ini dengan Sip-toan-kim? Tidakkah ini berarti, kepandaiannya dua kaum aku persatukan?"
Sin Tjie lantas ambil keputusan, dari itu terus ia bersamedhi di kamar tulis itu, bukan untuk mengaso, hanya tubuhnya yang beristirahat, otaknya tetap bekerja, akan pikirkan jalan untuk gabung kedua ilmu entengkan tubuh itu.
Tjeng Tjeng semua ketahui pemuda ini sedang beristirahat, maka tidak ada yang berani ganggu.
Sin Tjie bersamedhi sampai jam Sin-sie, pukul tiga atau empat lohor, ia berhasil, tetapi untuk memperoleh kepastian, ia hendak coba dulu.
Maka ia ajak Wan Djie pergi ke lapangan peranti belajar silat, ia minta disediakan sepuluh saudara seperguruan si nona, dengan persiapan seorangnya setahang air, mereka itu diminta berkumpul di empat penjuru, untuk nanti seblok atau siram ia dengan air selagi ia bersilat.
Latihan telah dimulai dengan segera, dari pelbagai jurusan, saudara-saudara seperguruan Nona Tjiauw Wan Djie lantas siram si anak muda dengan air, selama itu, Sin Tjie mencelat, melesat ke sana-sini, gerakannya gesit dan cepat.
Ketika kemudian sepuluh tahang air telah habis, Sin Tjie cuma basah ujung tangan bajunya yang kanan dan kakinya yang kiri.
Sebagai kesudahan, semua orang puji pemuda ini.
Di lapangan itu orang bergembira, suaranya bergemuruh, akan tetapi Bhok Siang Toodjin sendiri lagi rebah menggeros di dalam kamarnya, ia seperti tak tahu menahu....
Sorenya, habis bersantap, Sin Tjie lantas bersiap-siap untuk pergi ke panggung Ie Hoa Tay yang kesohor.
Tjiauw Kong Lee dan Tjiauw Wan Djie menyatakan suka turut, katanya untuk sebisa-bisanya mengakurkan itu kedua saudara seperguruan.
Tjeng Tjeng juga ingin turut, dengan maksud membantui sahabat ini.
Sin Tjie tampik semua kebaikan itu.
Kong Lee dan puterinya dapat dikasi mengerti, tidak demikian dengan Tjeng Tjeng, yang lantas saja menjebi dan merengut.
"Mereka itu adalah djiesoeko dan djiesoesoku,"
Sin Tjie kasi mengerti.
"aku telah ambil putusan, lebih suka aku kena dihajar tapi tidak nanti aku akan balas menyerang, maka itu, apabila kau saksikan itu, pasti kau tak senang dan gusar, satu kali kau gusar, apakah kau tidak jadi bikin kacau urusanku?"
"Kau boleh mengalah sampai tiga serangan, mengapa kau tidak hendak membalasnya?"
Tanya Tjeng Tjeng, yang penasaran.
"Aku hendak coba pelajaran yang kau ajari aku, aku ingin saksikan mereka mampu atau tidak menyerang kepadaku,"
Sin Tjie bilang.
"Jikalau begitu, lebih-lebih aku ingin menyaksikannya!"
Si nona mendesak.
"Aku janji padamu aku tidak akan turut bicara."
"Bagaimana kalau kau berpura-pura gagu?"
Tanya Sin Tjie sambil tertawa. Nona itu manggut.
"Baik, aku akan berpura-pura gagu!"
Katanya.
Tak dapat Sin Tjie tolak nona yang biasa dimanjakan ini, terpaksa ia mengajaknya.
Waktu ia mau pergi, ia cari Bhok Siang Toodjin dikamarnya, untuk pamitan, akan tetapi si imam masih saja tidur, beberapa kali dia dipanggil-panggil, tidak juga dia mendusi, hingga kedua anak muda ini terpaksa tinggalkan dia.
Tjioe San juga entah telah pergi kemana.
Dua-dua, Sin Tjie dan Tjeng Tjeng sudah kenal baik kota Lamkhia, tak susah mereka cari panggung Ie Hoa Tay.
Mereka pun pergi dengan menunggang kudam dengan meminjam dua ekor kudanya keluarga Tjiauw.
Pada kira-kira jam sebelas malam Barulah dua pemuda ini sampai di Ie Hoa Tay, di situ mereka tidak lihat seorangpun, maka mereka duga, Kwie Sin Sie masih belum sampai.
Mereka turun dari kuda, untuk duduk di tanah, akan menanti.
Selang kira-kira setengah jam, dari arah timur kelihatan berkelebatan dua bajangan manusia, yang lari mendatangi, lalu mereka itu menepuk tangan dua kali.
Dengan lantas Sin Tjie tepuk tangannya, untuk menyambuti.
Satu bajangan, yang segera sampai, lantas menanya.
"Apakah Wan Soesiok sudah sampai?"
"Aku sudah menantikan Djie-soeko dan Djie-soeso,"
Sahut Sin Tjie, yang kenali Lauw Pwee Seng, muridnya sang kanda seperguruan yang kedua.
Nyata Pwee Seng datang bersama-sama Bwee Kiam Hoo, yang belakangan ini segera mendekati.
Lagi sesaat, dari kejauhan terdengar satu suara nyaring.
"Dia sudah datang! Bagus!"
Baru suara itu berhenti atau dua orang mencelat muncul di depan Sin Tjie berempat.
Tjeng Tjeng terperanjat, karena ia kagumi ilmu entengkan tubuh yang sempurna itu.
Pwee Seng dan Kiam Hoo minggir, untuk buka jalan bagi kedua orang yang Baru datang itu, ialah kedua guru mereka.
Masih kelihatan satu bajangan berlari-lari mendatangi, apabila dia sudah datang dekat dia ternyata adalah Soen Tiong Koen, yang tangannya mengempo satu anak kecil.
Dia ketinggalan, terang itulah bedanya kepandaiannya lari keras dari kedua gurunya suamiisteri itu.
Itu bocah adalah bocah kesajangan Kwie Sin Sie suami-isteri.
"Sungguh Tuan Wan harus dipercaya!"
Kata Kwie Djie-nio dengan dingin.
"Kita berdua mempunyai lain urusan penting, supaya tidak buang-buang tempo percuma, silakan kau mulai menyerang."
Sin Tjie bukannya lantas menyerang, ia hanya angkat kedua tangannya untuk memberi hormat.
"Kedatanganku ini kemari adalah untuk haturkan maaf kepada soeko dan soeso"
Kata ia dengan sabar.
"Siauwtee telah bikin patah pedang soeso, itu telah dilakukan karena siauwtee tak mengetahuinya terlebih dahulu, untuk kelancanganku ini, dengan memandang kepada soehoe, harap soeko dan soeso suka maafkan aku."
Masih Kwie Djie-nio bersikap keras.
"Kau benar soetee kita atau bukan, siapakah yang ketahui?"
Kata dia dengan dingin.
"Baik kita bertanding dulu, Baru kita bicara pula!"
Sin Tjie tetap dengan sikapnya mengalah, ia tak mau turun tangan.
Kwie Djie-nio mengawasi, melihat orang mengalah terus, ia anggap orang jeri terhadapnya, ia menyambar dengan tangannya yang kiri, dari samping.
Sin Tjie lenggakkan kepala, dengan begitu tangan sang soeso lewat tepat di depan hidungnya.
Ia bebas dari serangan akan tetapi ia terperanjat.
"Siapa sangka, mesti dia hanya seorang perempuan, serangannya sebat sekali,"
Pikir Sin Tjie. Kwie Djie-nio dapatkan tangan kirinya tak memberi hasil, segera ia menyusuli dengan tangan kanan. Ia gunai ilmu pukulan "Sin Koen"
Atau "Kepalan Malaikat"
Dari Hoa San Pay.
Sin Tjie kenal baik ilmu pukulan ini, ia berkelit sambil kasi turun kedua tangannya, lurus sampai dipaha, dikasi rapat dengan pahanya itu.
Inilah tanda bahwa ia suka mengalah, tak ingin ia balas menyerang.
Kwie Djie-nio jadi sangat penasaran,maka ia ulangi serangannya, malah terus-menerus, sampai lebih dari sepuluh kali.
Bisa dimengerti jikalau sesuatu gerakannya cepat sekali dan setiap pukulannya berat, hebat apabila mengenai sasarannya.
Tapi semua itu Sin Tjie dapat egoskan dengan gerakan tubuhnya yang pesat dan lincah.
Tetap anak muda ini tak hendak menangkis atau balas menyerang.
Kwie Sin Sie saksikan pertempuran itu, hatinya bercekat, ia pun gegetun.
"Anak muda ini liehay sekali,"
Pikir ia.
Tapi yang membuat ia heran adalah gerakan si pemuda, sebagian mirip dengan ilmu silat Hoa San Pay, sebagian besar lagi berbeda.
Hingga akhirnya ia mau menduga, entah siapa dia ini yang berpura-pura jadi murid gurunya, untuk bisa mencuri pelajaran saja.
Karena ini, ia memasang mata dengan tajam, untuk memperhatikan terlebih jauh, ia kuatir isterinya nanti gagal karena isteri itu berkelahi dengan sangat bernapsu.
"Kau tidak mau balas menyerang, kau sangat pandang enteng kepadaku, aku nanti kasi kau kenal liehaynya Kwie Djie-nio!"
Kata si nyonya yang keras perangainya sesudah berulang-ulang ia gagal dengan pelbagai serangannya.
Ia lantas menyerang, kali ini dengan kedua tangan yang saling susul, makin lama makin seru.
Karena ini, ia sampai lupa bagian penjagaan diri.
Sin Tjie mengeluh didalam hatinya karena desakan hebat dari ini enso, yang di lain pihak ia pun kagumi, karena sang enso benar-benar liehay.
"Inilah berbahaya untukku, apabila terpaksa, aku mesti tangkis dia,"
Akhirnya ia ambil putusan.
Soen Tiong Koen saksikan pertempuran guru perempuannya dengan hati panas dan mendongkol, karena sampai sebegitu jauh ia saksikan tetap saja Sin Tjie main berkelit saja.
Ia juga heran kenapa gurunya belum pernah berhasil menyerang jitu kepada anak muda itu.
Selagi hatinya panas, ia tampak Tjeng Tjeng sedang menonton dengan wajah riang gembira, air mukanya ramai dengan senyuman bersero-seri.
Mendadak dia menjadi naik darah.
Tidak tempo lagi, ia serahkan anak kecil dalam empoannya kepada Bwee Kiam Hoo, lantas ia cabut pedangnya dengan apa ia berloncat kepada Tjeng Tjeng, yang ia serang dadanya tanpa bilang suatu apa!
Nona Oen kaget sekali, cepat-cepat ia berkelit.
Ia bingung, karena ia datang -dengan penuhkan keinginannya Sin Tjie -tanpa membawa senjata tajam.
Sekarang ia diserang oleh seorang aseran dan ia segera diserang berulang-ulang, hingga, mulai dari terdesak, ia jadi repot.
Ia memang bukan tandingan nona Soen itu, sekarang pun ia bertangan kosong, pasti sekali ia jadi sangat sibuk.
Sin Tjie, yang lagi layani ensonya, lihat Tjeng Tjeng diserang Tiong Koen, ia jadi berkuatir, karena ia tahu, Tjeng Tjeng bukan tandingan Hoei-Thian Mo Lie yang telengas.
Ia ingin tolongi si nona akan tetapi ia sendiri lagi didesak Kwie Djie-nio.
"Jangan kau lukai orang!"
Kwie Sin Sie peringati Tiong Koen.
"Dia puteranya Kim Coa Long-koen, dialah si biang keladi!"
Tiong Koen bilang.
Kwie Sin Sie dengar Kim Coa Long-koen kejam, dia anggap orang bukan orang baik, maka ia lantas tutup mulut.
Soen Tiong Koen anggap gurunya itu terima baik alasannya itu, ia lantas melanjuti menyerang dengan pedangnya dengan terlebih-lebih hebat, hingga diantara berkilaukilaunya pedang, jiwanya Tjeng Tjeng sangat terancam bahaya maut.
Dalam sibuknya Sin Tjie mengerti itulah ancaman hebat bagi Tjeng Tjeng, lalu ia paksakan diri akan cari ketikanya akan menyingkir dari sang enso.
Masih ia lonjorkan kedua tangannya, tapi sekarang ia coba tendang ensonya itu dengan kaki kiri dan kanan bergantian, begitu ada ketikanya yang baik.
Beruntun ia menendang sampai enam kali, tapi setiap kali kakinya hampir mengenai sasaran, segera kaki itu ditarik pulang.
Secara begini ia berhasil akan desak mundur nyonya yang berhati panas itu.
Sin Tjie gunai ketikanya dengan baik sekali, dengan tiba-tiba ia berlompat ke arah Soen Tiong Koen, guna dengan tangan kirinya totok bebokongnya si nona, maksudnya adalah untuk merampas pedangnya.
Dalam saat itu Tiong Koen menghadapi bencana, tiba-tiba terdengar seruan keras dan panjang dari samping, tahu-tahu tubuhnya Kwie Sin Sie sudah mencelat ke arah soeteenya pinggang siapa ia ancam dengan satu serangan hebat.
Sin Tjie ketahui datangnya serangan itu, untuk tolong diri, ia batalkan serangannya kepada Nona Soen.
Ia tidak berkelit, ia hanya gunai tangan kanannya, untuk menangkis, guna sekalian gaet tangannya sang soeko.
Ketika kedua tangan bentrok, tubuh Sin Tjie tertolak ke belakang, hingga ia terperanjat.
Sebab sejak turun gunung, belum pernah ia ketemui lawan setangguh soeko ini.
"Aku tahu djie-soeko liehay, tetapi ia bertubuh begini kurus-kering, siapa tahu tenaganya begini besar?"
Ia berpikir. Karena ini, soeko itu cocok sama julukannya.
"Sin-koen Boetek,"
Atau "Kepalan Dewa Tanpa Tandingan".
Habis itu, Sin Tjie berdiri tegak, hingga untuk kedua kalinya datanglah sambaran tangan kiri dari kanda seperguruan yang kedua itu.
Sementara itu, Kwie Djie-nio sendiri sudah berdiri di pinggiran.
Sekarang Sin Tjie sudah siap, ia berkelit dengan pundak kiri diegoskan, hingga serangan kedua dari sang soeko gagal pula.
Ia telah coba satu jurus dari "Pek pian kwie eng".
Kwie Sin Sie menyerang pundak, akan tetapi ia tidak berlaku sungguh-sungguh, ia niat lantas tarik pulang tangannya itu.
Biar bagaimana, ia masih hormati gurunya, tidak mau ia lukai soetee itu.
Di luar sangkaannya, serangannya yang hebat itu dapat dikelit Sin Tjie, hingga tanpa menginsafi, ia berseru.
"Kau gesit sekali!"
Seruan ini disusul dengan serangan yang ketiga, gerakannya sama dengan gerakan tangannya Kwie Djienio tadi, hanya serangan ini lebih cepat lagi, lebih berat pula.
"Tidak heran djie-soeko jadi sangat kesohor,"
Pikir Sin Tjie, yang kagum tak terkira.
"Pantaslah murid-muridnya pun sangat dimalui, kiranya dia telah peroleh kesempurnaan pelajarannya soehoe."
Terus Sin Tjie gunai "Pek pian kwie eng"
Untuk layani saudara seperguruan ini, tapi ia masih belum punyakan latihan yang cukup. Maka kadang-kadang ia campur itu dengan "Hok houw koen" -"Kepalan Takluki harimau"
Dari Hoa San Pay, buat menangkis, hingga berdua mereka bisa bertempur dengan seru.
Soen Tiong Koen di lain pihak masih desak terus pada Tjeng Tjeng.
Seperti juga ia telah peroleh perkenan dari gurunya, ia jadi bisa bertindak dengan merdeka.
Ia girang melihat lawannya repot melayaninya.
"Soemoay, jangan lancang melukai orang!"
Pwee Seng dan Kiam Hoo memperingati.
Baru nasihat itu diperdengarkan atau pedangnya Tiong Koen sudah sambar dadanya Tjeng Tjeng.
Dia ini mati jalan, terpaksa ia buang diri dengan melenggak, dengan lompat jumpalitan, akan terus bergulingan di tanah.
Masih saja Tiong Koen menyerang, selagi orang berguling, ia membabat.
Tjeng Tjeng lolos, ikat kepalanya kena ditabas, karena mana, terlepaslah rambutnya yang panjang dan hitam sampai menutupi mukanya.
Menampak itu, Soen Tiong Koen tercengang.
Tidak pernah ia sangka, si pemuda sebenarnya adalah satu pemudi.
Tapi karena ia penasaran, ia maju pula, akan lanjuti serangannya.
Selagi Tjeng Tjeng terancam bahaya, dengan sekonyong-konyong terdengar seruan nyaring dan bengis yang datangnya dari atas pohon di samping mereka.
"Oh, nona yang kejam!"
Lantas seruan itu disusul dengan melayang turunnya satu tubuh, sebelum Tiong Koen tahu apa-apa, pedangnya sudah kena ditendang hingga terlepas, dan tentu saja ia jadi kaget sekali.
Orang asing itu adalah satu imam, alis dan kumis-jenggotnya telah putih semua, dia berdiri melintang di depan Tjeng Tjeng.
Soen Tiong Koen mengawasi dengan tecengang, bersama-sama dengan Pwee Seng dan Kiam Hoo, ia tidak kenal imam itu.
Akan tetapi Kwie Djie-nio kenali Bhok Siang Toodjin, sahabat kekal dari gurunya, ia lekaslekas menghampirkan, untuk memberi hormat.
"Jangan repot dengan cara-hormat saja, lihatlah itu soeheng dan soetee sedang berlatih!"
Katanya sambil tertawa.
Kwie Djie-nio lantas berpaling kepada suaminya, siapa lagi tempur Sin Tjie dengan tubuh mereka bergerak bagaikan dua bajangan berkelebatan, anginnya menderu-deru.
Sin Sie pesat tapi Sin Tjie gesit, kalau yang satu mewariskan satu guru, yang lain adalah ahli warisnya tiga guru yang liehay....
Makin lama pertempuran jadi makin seru, walau demikian, Sin Tjie berada di pihak lebih lemah.
Dia berkelahi dengan gunai ilmu silat Hoa San Pay, benar ia pandai menggunainya, akan tetapi dari Sin Sie, ia kalah latihan, kalah pengalaman.
Di lain pihak, ia lebih banyak menangkis, tidak berani ia keluarkan seantero kepandaiannya.
Kwie Djie-nio girang melihat suaminya menang di atas angin, tetapi meski demikian, sekarang tidak lagi ia sangsikan Sin Tjie sebagai soeteenya, karena ia telah saksikan baik
KANG ZUSI -
http.//cerita-silat.co.cc/ baik, ilmu silat Sin Tjie tulen dari Hoa San Pay.
Sin Tjie terdesak terus, untuk menyingkirkan ancaman bahaya, tiba-tiba ia ubah caranya bersilat, maka selanjutnya, tubuhnya bergerak-gerak licin bagaikan ular air.
Sebab sekarang terpaksa ia gunai ilmu silatnya Kim Coa Long-koen, ialah "Kim Tjoa Yoe-sintjiang"
Atau "Ular Emas main-main".
Itulah ilmu entengkan tubuh yang dicangkok dari ular yang lagi berenang memain di muka iar.
Untuk ini, Sin Tjie boleh tak usah balas menyerang lagi.
Dengan gunai "Pek pian kwie eng"
Tubuhnya jadi bertambah licin....
Kwie Sin Sie boleh liehay sekali, akan tetapi sekarang ia putus asa untuk berikan serangan berarti terhadap soetee itu, hingga ia pun jadi kagum berbareng heran.
Pertempuran dilanjuti sampai beberapa puluh jurus lagi dengan hasilnya tetap masih tidak ada, sekonyong-konyong Sin-koen Boe-tek berlompat keluar dari kalangan sambil serukan.
"Tahan!"
Sin Tjie heran, akan tetapi ia berhenti bergerak, di dalam hatinya, ia kata.
"Dia tak berhasil memukul aku, ini artinya kita seri, kedua pihak telah dapat lindungi muka mereka, pantaslah pertempuran habis sampai di sini..."
Setelah berdiri di pinggiran, Kwie Sin Sie dongak sambil terus menjura kearah atas, ke arah satu pohon.
"Soehoe, soehoe telah datang!"
Katanya.
Mendengar ini, Sin Tjie terperanjat, ia heran.
Ia mengawasi ke pohon, ke arah mana Sin Sie memberi hormat, dari situ ia tampak empat bajangan berlompat turun saling-susul, hingga di lain saat ia telah dapat lihat tegas empat orang itu, yang pertama ialah gurunya, Pattjhioe Sian wan Bok Djin Tjeng, hingga tak ayal lagi, ia lari mendekati, untuk memberi hormat sambil paykoei.
Kemudian Barulah ia berbangkit, akan awasi tiga yang lain.
Ialah Tjoei Tjioe San, Toasoehengnya Tong-pit Thie-shoeiphoa Oey Tjin dan di paling belakang, A Pa, si empeh gagu, sahabat karibnya di dalam guha.
Dalam kegirangannya yang luar biasa itu, Sin Tjie segera bicara sama A Pa, sudah tentu dengan main gerak-gerik tangan mereka.
"Dasar aku kurang pengalaman, aku layani soeko tanpa aku perhatikan segala apa di sekelilingku,"
Pikir pemuda ini.
"Coba yang sembunyi di atas itu bukannya soehoe, hanya orang lain, apa aku tidak bakal celaka karena bokongan?"
Karena ini, ia kagumi Kwie Sin Sie. Bok Djin Tjeng usap-usap kepala muridnya yang bungsu.
"Toasoekomu telah tuturkan aku perihal perbuatanmu di Kie-tjioe, Tjiatkang, perbuatanmu itu tak dapat dicela,"
Berkata guru ini sambil tertawa. Setelah itu, mendadak tampangnya jadi sungguh-sungguh ketika ia kata dengan keras.
"Kau, seorang anak muda, mengapa kau tidak hormati orang yang terlebih tua? Kenapa kau lawan soekomu?"
Sin Tjie terkejut, lekas-lekas ia tunduk.
"Teetjoe bersalah, lain kali teetjoe tak berani pula,"
Kata ia. Terus ia hampirkan Kwie Sin Sie dan Kwie Djie-nio, untuk menjura kepada mereka seraya berkata.
"Siauwtee haturkan maaf kepada soeko dan soeso."
Meskipun Kwie Djie-nio aseran akan tetapi jujur.
"Soehoe, jangan soehoe tegur soetee,"
Ia bilang.
"Adalah aku dan suamiku yang paksa ia melayani berkelahi. Yang aku sesalkan adalah soetee sudah gunai ilmu silatnya lain kaum untuk menghina kepada beberapa muridku yang tidak berharga..."
Nyonya Kwie lantas tunjuk Pwee Seng tiga saudara seperguruan.
"Bicara tentang pelbagai kaum persilatan, hatiku tawar,"
Berkata Bok Djin Tjeng dengan sabar. Lalu terus ia menoleh pada Kiam Hoo.
"Eh, Kiam Hoo, mari!"
Ia panggil cucu muridnya yang berangasan itu.
"Aku hendak tanya kau. Dia ini sudah berani lawan soehengnya bertempur, dialah yang salah! Akan tetapi kamu bertiga, kenapa kamu berani lawan soesiokmu? Didalam kalangan kita mempunyai aturan yang tertua dan yang termuda, apakah kamus udah tidak hormati tingkatan derajat itu?"
Kiam Hoo, begitu juga Pwee Seng, tidak berani mendusta terhadap soe-tjouw itu, si kakek guru, maka mereka akui kesalahan mereka, untuk itu Kiam Hoo tuturkan asal mulanya, ketika mereka bantui Bin Tjoe Hoa yang memusuhkan Tjiauw Kong Lee.
Ia tuturkan semua dengan jelas, kecuali di bagian Soen Tiong Koen tabas tangannya Lo Lip Djie, ia lewatkan itu.
Tjeng Tjeng tidak puas dengan cerita tak lengkap itu.
"Dengan telengas dia telah tabas kutung sebelah tangan orang!"
Ia campur bicara, suaranya keras.
"Wan Toako tidak puas dengan perbuatan kejam itu, karenanya ia campur tangan!"
Wajahnya Bok Djin Tjeng jadi guram.
"Apakah itu benar?"
Ia tanya. Kwie Sin Sie dan isterinya masih belum tahu hal itu, maka keduanya awasi Soen Tiong Koen, si nona yang disebut sebagai si "dia"
Oleh nona Oen. Kiam Hoo jawab gurunya, dengan pelahan.
"Soen Soemoay kira dia seorang jahat, maka ia turun tangan dengan tidak mengenal ampun lagi,"
Katanya.
"Sekarang soemoay telah jadi sangat menyesal. Harap soetjouw suka mengasi ampun..."
"Pantangan paling besar dari kaum kita Hoa San Pay adalah melukai atau membunuh tanpa sebab!"
Berseru dia.
"Sin Sie, ketika kau mulai terima murid, apakah kau tidak jelaskan pantangan kita itu kepadanya?"
Belum pernah Sin Sie dapatkan gurunya gusar demikian rupa, lekas-lekas ia berlutut di depan guru itu.
"Teetjoe telah keliru mendidik, harap soehoe jangan gusar,"
Ia mohon.
"Nanti teetjoe tegur padanya."
Kwie Djie-nio pun lantas berlutut di depan guru itu, maka perbuatannya lantas diturut oleh Lauw Pwee Seng, Bwee Kiam Hood an Soen Tiong Koen.
Ketiga murid ini berlutut dibelakang Kwie Sin Sie.
Bok Djin Tjeng masih gusar.
Ia tegur Sin Tjie.
"Kau telah saksikan kejadian itu, kenapa kau sudah saja dengan cuma patahkan pedang? Kenapa kau juga tidak tabas kutung sebelah lengannya? Kita tidak jaga baik nama kita, kita tidak taat kepada pantangan sendiri, apakah kita tak bakal ditertawai, dihinai sesama sahabat kang-ouw?"
Sin Tjie pun lekas-lekas berlutut, ia manggut-manggut.
"Teetjoe bersalah, soehoe,"
Ia akui. Ia tak mau omong banyak. Pat-tjhioe Sian Wan si Lutung Sakti Tangan Delapan tertawa dingin.
"Mari kau!"
Ia panggil Soen Tiong Koen. Nona itu takut bukan main, tidak berani ia menghampirkan kakek guru itu, ia terus mendekam di tempatnya, ia manggut berulang-ulang.
"Apakah kau tidak mau menghampirkan?"
Tanya Bok Djin Tjeng.
Kwie Djie-nio sangat takut, ia tahu maksud gurunya itu, ialah sang guru hendak bikin Soen Tiong Koen menjadi satu manusia bercacat.
Tapi Tiong Koen ada murid kesajangannya, bagaimana ia tega.
Maka ia lantas manggut-manggut pada guru itu.
"Soehoe, harap soehoe jangan gusar,"
Memohon dia.
"Sepulangnya nanti teetjoe beri ajaran keapdanya."
"Kau juga kutungi sebelah tangannya, besok kau ajak dia pergi kepada keluarga Tjiauw untuk menghaturkan maaf!"
Kata guru itu. Dalam takut dan kekuatirannya yang sangat, Kwie Djie-nio bungkam. Tapi Sin Tjie segera berkata.
"Mengenai urusan dengan keluarga Tjiauw itu, teetjoe sudah menghaturkan maaf. Lalu dari itu teetjoe juga telah janjikan orang yang dikutungi sebelah tangannya itu pelajaran silat dengan sebelah tangan. Karena itu, pihak Tjiauw sudah terima baik perdamaian, sekarang sudah tidak ada urusan apa-apa lagi."
"Hm!"
Berseru guru itu.
"Sekarang bangunlah semua! Sukur Bhok Siang Toodjin bukannya orang luar, apabila tidak, dia boleh tertawai kita hingga kita mati semua! Dasar Bhok Tooyoe yang cerdik, setelah dapat pengalaman buruk dari muridnya, selanjutnya tak mau ia menerima murid pula, hingga tak usah ia mendapati hal-hal yang memalukan."
Kwie Sin Die semua berbangkit.
Bok Djin Tjeng melirik kepada Soen Tiong Koen, justeru itu cucu murid lagi memandang dia, cucu murid ini kaget, lekas-lekas ia berlutut pula, karena ia jeri untuk sinar mata berpengaruh dari si kakek guru.
"Mari pedangmu, serahkan padaku!"
Bok Djin Tjeng kata pada cucu-murid itu.
Soen Tiong Koen terima perintah dengan hati memukul keras, dengan kedua tangannya ia persembahkan pedang yang diminta, kedua tangannya diangkat sampai diatasan kepalanya.
Soetjouw itu sambuti gagang golok, ketika ia menarik, Tiong Koen menjerit dengan tibatiba.
"Aduh!"
Lantas saja darah mengucur dari tangannya yang kiri, di mana jari kelingking telah tertabas kutung pedangnya sendiri, hingga ia merasakan sakit bukan main.
Bok Djin Tjeng geraki pula tangannya yang memegang pedang itu, untuk mana tangan kanannya dibantu tangan kiri, atas mana, pedang itu terpatah dua dengan menerbitkan suara nyaring.
"Mulai hari ini sampai selanjutnya, aku larang kau gunai pedang!"
Berkata sang kakek guru dengan suaranya yang bengis.
"Teetjoe terima,"
Sahut Tiong Koen dengan menahan sakit. Ia malu dan kaget, air matanya sampai mengucur keluar. Kwie Djie-nio robek ujung bajunya, untuk pakai itu membungkus luka jeriji muridnya itu.
"Bagus, tak nanti kau dihukum pula,"
Ia bisiki sang murid.
Tiong Koen berdiam, ia cuma bisa menangis.
Bwee Kiam Hoo saksikan caranya sang kakek guru patahkan pedang, sekarang Barulah ia percaya habis kepandaian Sin Tjie, ketika pemuda ini patahkan pedangnya Tiong Koen.
Karena ini ia pun jadi insyaf, ilmu silat Hoa San Pay sangat liehay, bahwa ia Baru dapat pelajarkan kulitnya saja, hingga tidak ada alasan untuk ia menantang di luar, untuk menjagoi.
Ia menyesal, ia pun kuatir nanti dihukum kakek itu, diam-diam ia kucurkan keringat dingin di bebokongnya.
Bok Djin Tjeng deliki cucu murid ini tapi ia diam saja.
"Kau telah janjikan orang itu pelajaran silat, kau mesti ajarkan dia baik-baik,"
Tjouwsoe ini kata kepada Sin Tjie, kepada siapa ia berpaling.
"Kau hendak ajarkan apa padanya?"
Mukanya Sin Tjie menjadi merah.
"Teetjoe belum dapat perkenan dari soehoe, tidak berani teetjoe sembarang turunkan pelajaran kita kepada lain orang,"
Ia jawab.
"Tadinya teetjoe memikir untuk ajari dia ilmu golok tunggal Tok-pie-too-hoat, ialah semacam pelajaran yang teetjoe ciptakan sendiri dari hasil campur-baur."
"Pelajaran campur-baurmu terlalu sedikit kelebihan!"
Berkata sang guru, yang tapinya tidak gusar.
"Ketika kau barusan layani djie-soekomu, kau seperti gunai ilmu silat istimewa Pek pian kwie eng dari Bhok Siang Tooyoe. Kau telah dapatkan satu sahabatkarib tukang main tiokie, yang suka membantu kepadamu, maka itu pasti sekali djiesoekomu tidak sanggup berbuat suatu apa atas dirimu!....."
Lalu jago tua ini tertawa terbahak-bahak. Bhok Siang Toodjin juga tertawa lebar.
"Eh, Sin Tjie,"
Katanya kepada si anak muda,"
Brani atau tidak kau mendusta didepan gurumu?"
"Teetjoe tidak berani, tootiang,"
Sin Tjie jawab.
"Kau tidak berani, bagus!"
Imam itu kata.
"Sekarang aku hendak tanya kau. Sejak kau meninggalkan Hoa San, pernah atau tidak aku mengajarkan pula ilmu silat kepadamu? Dengar biar tegas, aku maksudkan, benar atau tidak aku sendiri yang mengajarkan pula padamu?"
Sin Tjie bercekat. Baru sekarang ia mengerti kenapa imam itu, untuk ajarkan ia "Pek pian kwie eng"
Mesti pakai perantaraannya Tjeng Tjeng.
Jadi inilah maksudnya, untuk cegah Djie-soekonya Kwie Sin Sie nanti mengiri dan menegur gurunya berat sebelah.
Sungguh si imam sangat licik, hingga siang-siang ia sudah sedia tameng!
"Tootiang belum pernah ajarkan sendiri ilmu silat lainnya kepadaku,"
Ia jawab imam itu.
"Sejak pertemuan kita paling belakang, begitu bertemu kita berdua lantas main catur."
"Nah, itulah dia!"
Berseru Bhok Siang Toodjin, yang tertawa pula.
"Sekarang kau coba berlatih pula dengan soehengmu ini, aku larang kau gunai semua ilmu silat yang dahulu pernah aku ajarkan padamu."
"Djie-soeko tersohor dengan julukannya Sin-koen Boe-tek, itulah pujianyang sebenarbenarnya,"
Sin Tjie bilang.
"tadi pun teetjoe sudah kewalahan, selagi teetjoe berniat minta pertandingan dihentikan saja, sukur soehoe keburu datang. Coba temponya terlambat, tentulah teetjoe habis daya...."
Bok Djin Tjeng tertawa. Ia puas karena murid muda ini pandai sekali bawa dirinya.
"Sudah, sudah,"
Kata dia.
"Tootiang ingin kau berlatih pula, cobalah lagi sekali kau pertontonkan keburukanmu....."
Sin Tjie terdesak, tak berani ia membantah pula. Maka setelah rapikan pakaiannya, ia hampirkan Kwie Sin Sie untuk menjura kepada djie-soeheng itu.
"Djie-soeko, aku mohon kau beri pimpinan padaku,"
Ia minta. Kembali ia unjuki sifat halusnya, yang suka merendah.
"Jangan ucapkan itu,"
Kata Kwie Sin Sie, yang terus berpaling kepada gurunya, untuk kata.
"Jikalau ada yang salah, tolong soehoe unjuki."
Begitulah kedua soeheng dan soetee ini berdiri berhadapan, untuk "berlatih"
Pula, dalam satu pertempuran yang beda daripada yang tadi.
Sebab Kwie Sin Sie, di depan gurunya, dimuka orang-orang lainnya, tak ingin mendapat malu.
Ia menyerang dengan sebat dan keras, tapi ia juga membela diri dengan waspada dan teguh.
Di hadapan Sin-koen Boe-tek, Wan Sin Tjie berkelahi dengan tenang tetapi cepat, akan imbangi sang soeheng.
Sekarang ia mau menyerang, tidak lagi main menangkis atau berkelit saja seperti tadi.
Ia taat kepada pesannya Bhok Siang Toodjin, ia terus gunai pelbagai tipu dari Hoa San Pay.
Maka itu bisa dimengerti, bagaimana hebatnya latihan ini.
Dengan cepat, seratus jurus telah dilalui, selama itu, tidak pernah salah satu pihak berbuat keliru atau keteter, hingga Kwie Sin Sie heran dan penasaran yang ia tak mampu rubuhkan atau desak saja sang soetee yang usianya masih demikian muda.
Baru sekarang ia insaf benar-benar liehaynya soetee ini.
Bok Djin Tjeng dan Bhok Siang Toodjin tonton pertandingan itu, keduanya bersenyum sambil urut-urut jenggot mereka.
"Memang benar, guru terkenal menciptakan murid pandai!"
Bhok Siang memuji.
"Ini dia yang dibilang, di bawah pimpinan panglima perang pandai tidak ada tentara yang lemah. Melihat dua muridmu ini, aku bisa mengiri, menyesal kenapa dulu aku tidak mengajarkan beberapa muridku dengan sungguh-sungguh...."
Bok Djin Tjeng Cuma bersenyum atas pengutaraan sahabatnya itu.
Pertandingan berjalan lagi beberapa jurus, masih Sin Sie tak dapat menangkan soeteenya itu, ia menjadi sibuk bukan main, hingga karenanya, ia lantas mengadakan perubahan.
Sin Tjie menginsyafi desakannya soeheng itu, ia berpikir sebaliknya.
"Setelah sampai disini, aku mesti mengalah terhadap soeheng,"
Demikian pikirnya.
"Tapi mengalah adalah sangat sulit, karena soeheng liehay, apabila aku berayal sedikit saja, bisa aku nampak bahaya. Bagaimana sekarang?"
Sin Tjie lantas asah otaknya.
"Dari ucapan soehoe tadi, nampaknya ia kurang puas kepadaku karena pelajaranku terlampau campur aduk,"
Demikian ia ingat.
"Tadi aku gunai tiga macam kepandaian untuk layani djie-soeko, aku lantas menang di atas angin, sekarang aku gunai satu kepandaian saja kita berimbang. Apakah itu bukannya alasan untuk bilang, pelajaran lain kaum menangkan kaum kita? Baik aku gunai akal...."
Pikiran ini lantas diwujudkan, anak muda ini segera bersilat dengan "Kim Tjoa kim hoo koen,"
Atau ilmu silat "Ular emas menawan burung hoo."
Inilah pelajarannya Kim Tjoa Long-koen.
Kwie Sin Sie terperanjat begitu lekas ia kenali lawan gunai ilmu pukulan yang asing baginya, sebab didalam Hoa San Pay tidak ada gerak-gerakan yang mirip dengan itu.
Setelah empat jurus serangannya sang soetee, ia berlaku waspada, untuk lindungi diri.
Sin Tjie lihat perubahan sikapnya sang soeheng, ia bernapas lega, lalu sembari berkelahi terus, ia empos tenaganya ke bebokongnya.
Gerakan ini pun memperlambat gerakannya, hingga Sin Sie lantas lihat satu lowongan dibelakangnya sang soetee.
Seperti biasanya satu ahli silat, tak suka ia mensia-siakan lowongan, malah tanpa sangsi lagi, ia lantas kirim serangannya.
Sin Tjie sudah siap, ia antap bebokongnya kena dihajar, selagi terhuyung, hingga ia sempoyongan empat-lima tindak.
"Aku kalah,"
Kata ia selagi ia membalik tubuh.
Kwie Sin Sie menyesal setelah ia serang jitu soeteenya itu, ia kuatir sang soetee terluka parah, maka ia lompat maju, dengan niat mengasi bangun, akan tetapi bukan kepalang herannya apabila ia tampak soetee itu tidak kurang suatu apa!
Benar-benar ia tidak mengerti.
Ia tidak tahu, disamping mengatur tenaganya, untuk lawan serangan, Sin Tjie juga andali baju kaos suci dari Bhok Siang Toodjin.
Tatkala si anak muda memutar tubuh, untuk bertindak, Baru ketahuan, bajunya di bagian bebokong telah hancur dan beterbangan sepotong demi sepotong!
Tjeng Tjeng berkuatir sekali, hingga ia lari menghampiri.
"Kau tidak apa-apa?"
Tanyanya.
"Jangan kuatir,"
Sahut Sin Tjie dengan tenang. Bok Djin Tjeng sendiri sudah lantas pandang muridnya yang kedua.
"Pelajaranmu telah peroleh kemajuan, akan tetapi barusan seranganmu terlalu keras, kau tahu?"
Tanya guru ini.
"Teetjoe mengerti, soehoe,"
Sahut sang murid.
"Pelajaran Wan Soetee adalah di atasanku, aku takluk padanya."
"Selama yang belakangan ini sering aku dengar tentang kamu berdua suami dan isteri,"
Kata pula sang guru.
"aku dengar kamu berdua telah terlalu umbar murid-muridmu, hingga mereka jadi petantang-petenteng, menarik perhatian umum. Aku pikir, isterimu mungkin seorang yang kurang sadar, akan tetapi kau bukan seperti dia. Sekarang aku lihat sikapmu terhadap soeteemu begini rupa, hm!....."
Kwie Sin Sie tunduk.
"Aku menerima salah, soehoe,"
Dia bilang.
"Sudahlah,"
Bhok Siang menyelak.
"Di dalam pieboe, siapa juga tak dapat berhati mulia. Sin Tjie toh tidak terluka, kau orang tua buat apa kau omong banyak-banyak?"
Ditegur demikian rupa, Bok Djin Tjeng berdiam.
Sementara itu, Kwie Sin Sie dan isterinya jadi tidak puas terhadap Sin Tjie.
Mereka sudah lama memperoleh nama, untuk di Kanglam, mereka seperti memimpin dengan diam-diam kaum Rimba Persilatan, sekarang mereka ditegur di muka umum oleh guru mereka, mereka jadi malu dan tak senang.
Kemudian Bok Djin Tjeng ubah haluan.
"Giam Ong akan mulai bergerak di dalam musim rontok ini,"
Demikian katanya.
"maka lekas kamu pergi ikat perhubungan dengan saudara-saudara rimba persilatan di wilayah kanglam, untuk sambut gerakan mulia itu."
Kwie Sin Sie dan isterinya, kepada siapa kata-kata itu diucapkan, menyahuti bahwa mereka bersedia akan jalankan titah itu. Lantas Bok Djin Tjeng kata pada Sin Tjie dan Tjeng Tjeng.
Baca Juga: Keris Maut Kho Ping Hoo
Baca Juga: Pendekar Pemanah Rajawali 8