Ceritasilat Novel Online

Pedang Ular Emas 5

Eps 5 Pedang Ular Emas - Yin Yong

Baca online Pedang Ular Emas - Yin Yong

Cersil Pedang Ular Emas - Yin Yong.

Oey Tjin semua tahu orang sangat berduka, dan percuma saja untuk hiburkan atau nasihati padanya, dari itu semua berdiam, mengantapkan dia umbar kedukaannya itu.

Banyak waktu dilewatkan untuk tunggu pembakaran mayat selesai.

Sin Tjie telah cari sebuah guci, maka setelah api padam, ia kumpuli abu dan sisa tulang-tulang, untuk dimasuki kedalam guci itu, buat ditutup rapat.

Ia menjura dua kali kepada abu itu dan kata dalam hatinya .

"Pehbo, aku harap kau tenangkan hatimu, pasti sekali aku nanti antar pehbo ke Hoa San untuk dikubur bersama dengan baik-baik, tidak nanti aku sia-siakan pesan pehbo...."

Oey Tjin lihat segala apa telah selesai, lalu ia kata pada Sin Tjie.

"Kita hendak antar emas ini ke Kioe-kang, Kangsee. Selama ini Giam-ong sudah kirim sejumlah saudara ke Kang-souw, Tjiatkang, seluruh Kangsee dan An-hoei untuk mencari hubungan disana, untuk persiapan mereka diselatan nanti menyambut begitu lekas kita di Tionggoan sudah mulai angkat senjata. Kau berhasil merampas pulang emas ini, soetee, tak kecil jasamu ini."

"Tadinya aku tak tahu bahwa emas ini demikian berharga,"

Kata Tjeng Tjeng.

"Coba tidak djiewie toako datang sendiri, pastilah aku telah membikin gagal usaha besar dari Giam Ong."

"Asal kau ketahui itu, itulah bagus,"

Hie Bin campur bicara. Tidak biasanya Tjeng Tjeng nyerah kalah bicara, ia tahu pemuda itu maksudkan dia, maka wajahnya jadi berubah. Lantas dia kata pula .

"Jikalau bukan Oey Toako sendiri yang antar emas ini, aku kuatir ditengah jalan nanti terbit onar pula!"

Inilah sindiran hebat untuk Hie Bin, yang dianggapnya tidak berguna, sudah tidak mampu lindungi emas itu.

Masih Hie Bin hendak melawan bicara akan tetapi Oey Tjin deliki ia, untuk cegah ia banyak mulut.

"Jikalau Wan Soetee dan Oen Kohnio tidak punya urusan penting, bagaimana andainya kita pergi bersama ke Kioe-kang?"

Tanya Oey Tjin kemudian.

"Siauwtee memikir untuk pergi dulu ke Lamkhia untuk menemui soehoe sekalian mohon pengunjukannya,"

Sahut Sin Tjie.

"Di Lamkhia juga aku hendak menemui Tjoei Siokhoe."

"Soehoe bersama saudara Tjioe San sudah kembali ke Siamsay,"

Oey Tjin menerangkan.

"Sekarang ini suasana sudah genting sekali, mungkin pergerakannya Giam Ong tinggal menunggu waktunya saja."

Hatinya Sin Tjie tergerak.

"Dengan begitu telah sampailah saatnya sakit hati ayah dibalaskan!"

Pikir dia, yang kedua matanya lantas menjadi merah. Segera ia kata .

"Jikalau begitu, siauwtee hendak lantas pergi ke Siamsay untuk menemui soehoe, tidak jadi siauwtee pergi ke Kioe-kang. Bagaimana pikiran toako?"

Soetee ini hargakan toakonya itu maka ia menanya demikian.

"Giam Ong hendak bergerak, dia sedang membutuhkan banyak pembantu,"

Sahut Oey Tjin.

"Soetee mempunyai kepandaian begini sempurna, dengan soetee pergi ke Siamsay, untuk bantu dia, itulah bagus sekali. Aku percaya, soetee, dibelakang hari kau akan berbuat banyak untuk rakyat."

"Dalam hal itu aku mengharap pimpinan soeheng,"

Kata soetee ini, yang halus sekali budi pekertinya. Oey Tjin tertawa menampak sikap yang halus itu.

"Tak dapat aku telad kau,"

Katanya.

"Disini saja kita berpisah!"

Soeheng ini berbangkit, ia angkat kedua tangannya, lantas ia memutar tubuh, untuk bertindak pergi. Hie Bin kasi hormat pada paman ciliknya, untuk pamitan.

"Engko Sin Tjie, rawat dirimu baik-baik,"

Siauw Hoei pesan ketika ia pun pamitan dari itu kawan semasa kecil. Si anak muda manggut.

"Tolong sampaikan hormatku kepada encim,"

Ia pesan.

"Tolong sampaikan pada encim bahwa aku senantiasa ingat dia."

"Ibu juga sering sebut kau, engko,"

Bilang si nona.

"Apabila ibu tahu kau sudah jadi begini besar, pasti ia akan jadi sangat girang. Nah, aku pergi!"

Nona ini memberi hormat, segera ia susul Oey Tjin.

Mereka menuju ke selatan.

Beberapa kali ini nona masih menoleh, untuk lambai-lambaikan tangannya, sehingga Sin Tjie sabansaban membalasnya, sampai tiga orang itu sudah lenyap dari pandangan matanya.

"Hm!"

Tiba-tiba terdengar suaranya Tjeng Tjeng.

"Kenapa kau tidak susul dia untuk lambaikan tangan pula?"

Sin Tjie melengak. Inilah ia tidak sangka. Ia pun tidak tahu hatinya nona ini.

"Kenapa kau tidak turut dia pergi bersama?"

Tjeng Tjeng kata.

"Dengan susul dia, bukankah kau tak akan merasa berat sebagai ini....?"

Baru sekarang Sin Tjie insyaf sebab-musabab marahnya nona ini. Ia tidak jadi gusar, sebaliknya, ia tertawa.

"Kau belum tahu,"

Katanya.

"Ketika aku masih kecil, aku hadapi ancaman bahaya besar, itu waktu adalah ibunya nona itu yang tolong aku. Sejak masih kecil itu kami biasa bermain berdua saja."

Tjeng Tjeng jadi semakin mendongkol, ia jumput sepotong batu dan timpuki itu secara sembarangan kepada tangga batu, sehingga muncratlah lelatu api.

"Itulah persahabatan rapat sekali!"

Katanya kemudian, dengan dingin. Sin Tjie tahu adat koekoay si nona, ia antapkan saja. Tapi ini justru membuat nona itu makin panas hatinya.

"Dengan dia kau bicara dengan gembira, sambil tertawa-tawa, tapi melihat aku, kau masgul!"

Katanya.

"Kapannya aku masgul, tak gembira bicara denganmu?"

Sin Tjie tanya.

"Ya, itu orang manis-budi, selagi kau kecil, kau sangat disayangi, akan tetapi aku, aku tidak punya ibu...."

Lantas ia menangis.

"Ah, jangan kau turuti saja adatmu,"

Kata Sin Tjie dengan masgul.

"Sekarang harus kita berdamai, bagaimana kita mesti berbuat selanjutnya."

Mendengar begitu, mukanya Tjeng Tjeng berubah menjadi merah-dadu.

"Apakah yang hendak didamaikan lagi?"

Katanya.

"Pergi kau susul adikmu Siauw Hoei itu! Aku ada satu anak sengsara, biarkan aku terumbang-ambing diujung langit dan pojok laut..."

Bingung Sin Tjie untuk menjawab.

Iapun mesti pikirkan, bagaimana hendak diatur mengenai nona ini.

Ia merasa sulit hingga ia diam saja.

Tjeng Tjeng lihat orang bungkam dan bengong saja, ia jumput guci abu dan tulang ibunya, ia lantas bertindak pergi.

"Kau hendak pergi kemana?"

Tanya si anak muda.

"Perlu apa kau perdulikan aku?"

Balik tanya si nona.

Ia bertindak terus kearah utara.

Dengan terpaksa Sin Tjie mengikuti.

Nona itu tetap diam saja, Sin Tjie coba mengajaknya bicara, dia itu tidak memperdulikannya.

Akhirnya sampailah mereka dikota Kim-hoa.

Setelah ambil pondokan, Tjeng Tjeng pergi akan beli seperangkat pakaian orang lelaki, berikut sepatu dan ikat kepalanya, untuk ia menyamar sebagai satu pemuda.

Sin Tjie tahu, karena berlalunya dengan kesusu, nona itu tidak bekal banyak uang, maka selagi si nona keluar, ia selipkan dua potong emas dalam saku bajunya.

Tapi kapan Tjeng Tjeng kembali dan dapati uang itu, iabawa kekamarnya si anak muda, untuk dikembalikan.

Dan malam itu ia keluar seorang diri, untuk "bekerja"

Dirumahnya satu penduduk hartawan, hingga ia jadi mempunyai lima-ratus tail perak.

Besok paginya, kota jadi gempar karena kecuriannya si hartawan itu.

Segera Sin Tjie ketahui itu tentu ada perbuatan kawan wanitanya, ia jadi kerutkan alis.

Ia cerdik dan gagah tapi ia seperti habis daya akan layani ini nona luar biasa.

Untuk memohon, ia tak mau, ia sungkan, akan tetapi untuk tinggal pergi nona itu, ia tidak tega, itulah tak dapat dilakukan.

Ia ada satu gadis remaja dan sekarang yatim-piatu, sebatang kara.

Apa bisa ia antapkan dia berkelana seorang diri?

Ia jadi sangat bingung!

Dihari besoknya itu, dua anak muda ini meninggalkan Kim-hoa, akan menuju ke Gie-ouw.

Si nona masih mendongkol, ia jalan didepan, hingga si pemuda mesti ikuti dia.

Mereka sudah lalui tiga puluh lie lebih tatkala cuaca menjadi buruk dengan tiba-tiba, awan mendatangi secara cepat, udara jadi mendung tandanya sang hujan bakal segera turun membasahi bumi.

Keduanya lantas cepatkan tindakan mereka, akan tetapi belum sampai lima lie, air langit itu sudah turun juga, malah lantas dengan lebat.

Sin Tjie sedia payung, ia tidak kuatirkan air hujan, tapi Tjeng Tjeng tidak, dari itu, ia lantas saja lari keras, untuk cari tempat meneduh.

Apa lacur, disitu tidak ada rumah orang, tidak ada kuil atau paseban umum dimana orang bisa berlindung dari serangan air langit itu.

Sin Tjie bisa lari lebih pesat, dengan cepat ia dapat menyusulnya, ia sengaja melewati, untuk dari sebelah depan, ia serahkan payungnya.

"Pakai ini,"

Katanya. Tanpa menjawab, Tjeng Tjeng tolak payung itu.

"Adik Tjeng,"

Berkata si anak muda,"

Kita berdua sudah angkat saudara, kita telah bersumpah untuk hidup dan mati bersama, untuk senang dan susah dipikul bersama juga, kenapa sekarang kau gusari kokomu?"

Mendengar demikian, nona ini menjadi lebih sabar.

"Jikalau kau tidak ingin bikin aku gusar, kau mesti turut aku dalam satu hal,"

Kata dia.

"Sebutkan itu,"

Bilang Sin Tjie.

"Jangan kata Baru satu, sepuluh juga dapat aku menerimanya!"

"Baik, kau dengar,"

Kata nona itu.

"Sejak hari ini kau jangan ketemui pula nona An dan ibunya! Jikalau kau terima baik permintaanku ini, aku segera akan hatur maaf terhadapmu...."

Kata-kata ini ditutup dengan tertawa yang manis.

Sin Tjie menjadi sulit sekali.

Ia berhutang budi pada An Toanio, ia mesti balas budi itu, maka kenapa sekarang, tak ada sebab tak ada lantaran, tak dapat ia menemui nyonya yang budiman itu?

Sebagai seorang jujur dan kenal budi, tak dapat ia sembarang mengiakan si nona.

Selagi orang terbenam dalam keragu-raguan, Tjeng Tjeng kata .

"Memang aku sudah duga tak nanti kau tega meninggalkan itu adik Siauw Hoei...."

Ia lantas putar tubuhnya dan lari dengan pesat.

"Adik Tjeng! Adik Tjeng !"

Sin Tjie terperanjat dan memanggil-manggil.

Si nona tidak meperdulikannya, dia lari terus.

Sukur untuk mereka, sesudah beberapa pengkolan, mereka dapati sebuah paseban.

Si nona lantas singgah di paseban itu, si anak muda susul dia.

Pakaian Tjeng Tjeng kuyup basah semua.

Itu waktu musim panas, dia memakai pakaian yang tipis, tapi setelah sekarang pakaiannya lepek, maka berpeta tegaslah potongan tubuhnya.

Ia merasa tidak enak sendirinya apabila ia tampak si anak muda turut masuk bersama, sedang anak muda itu pun likat.

Lantas saja ia menangis.

"Kau menghina aku, kau menghina aku...."

Katanya sambil menangis terus.

"Inilah aneh! Kapannya aku hinakan kau?"

Pikir si anak muda.

Ia tidak bilang apa-apa, ia buka baju luarnya, untuk kerebongi itu pada tubuh si nona.

Ia pakai payung, bajunya itu tidak basah.

Tjeng Tjeng ingat kebinasaan ibunya, dengan tiba-tiba saja ia menangis, ia menangis menggerung-gerung.

Sin Tjie sibuk sendirinya, tak tahu apa ia mesti buat untuk mendiamkan nona ini, terpaksa ia berdiam saja.

Untung berselang tidak lama, hujan mulai redah dan akhirnya berhenti.

Tjeng Tjeng masih saja menangis, akan tetapi sambil menangis itu, satu kali ia melirik si anak muda.

Justru itu, Sin Tjie sedang mengawasinya, hingga dengan sendirinya, sinar mata mereka bentrok satu dengan lain.

Ia lekas berpaling, kembali ia menangis keras.

Sin Tjie jadi habis sabar.

"Aku hendak lihat, berapa banyaknya sih air matamu!"

Pikir dia.

Dan dia mengantapkannya.

Ketegangan itu berjalan terus sampai sekian lama, sampai mendadak terdengar tindakan kaki, yang datangnya dari arah utara, apabila keduanya menoleh, mereka tampak satu petani muda sedang tuntun satu nyonya muda memasuki paseban itu.

Si nyonya rupanya sedang sakit, ia merintih saja.

Rupanya si petani ada suaminya nyonya itu, nampaknya ia sangat merasa kasihan, berulang-ulang ia menghiburkannya.

Oleh karena disitu ada orang asing, Tjeng Tjeng berhenti menangis.

"Baik, aku nanti mencoba,"

Pikir Sin Tjie, yang dengan tiba-tiba dapat satu pikiran.

Tidak lama, pasangan suami-isteri muda itu meninggalkan paseban.

Tjeng Tjeng lihat hujan sudah berhenti betul, ia berniat melanjutkan perjalanannya, akan tetapi disaat ia berbangkit, untuk bertindak keluar, sekonyong-konyong Sin Tjie menjerit.

"Aduh! Aduh!...."

Ia kaget sekali, segera ia menoleh, hingga ia tampak si anak muda, dengan terbungkuk-bungkuk sedang pegangi perutnya, anak muda itu lantas mendeplok di lantai.

Masih saja ia teraduh-aduh dan pegangi perutnya, mukanya meringis menahan sakit.

Dalam kagetnya, Tjeng Tjeng lompat mendekati.

Ia lihat jidatnya Sin Tjie mandi keringat!

"Kau kenapa?"

Tanyanya.

"Apakah perutmu sakit?"

Sin Tjie tidak menyahuti, sedang dalam hatinya, ia berpikir .

"Bersandiwara tidak boleh kepalang-tanggung...."

Dan ia tahan ambekannya, hingga ketika si nona raba tangannya, tangannya itu dingin bagaikan es.

"Kau kenapa, kenapa?"

Tanya pemudi ini, yang jadi sibuk bukan main. Si anak muda merintih, ia tidak menjawab. Tanpa merasa, nona itu menangis, saking bingung dan berkuatir.

"Adik Tjeng, sakitku ini tak dapat disembuhkan,"

Kemudian kata Sin Tjie dengan suara lemah.

"Tidak usah kau perdulikan aku, pergilah kau berangkat...."

"Tapi kenapa, tidak keruan-keruan kau sakit?"

Tanya si nona.

"Sejak masih kecil aku ada punya serupa penyakit,"

Sahut Sin Tjie dengan susah,"

Ialah tak dapat aku dibikin mendongkol atau gusar, asal orang menerbitkannya, hatiku pepat, lantas penyakitku itu kumat, perutku sakit....Aduh!.....Aduh!....Sakit amat!..."

Tjeng Tjeng jadi demikian sibuk hingga lupa dia pada adat sopan-santun, ia tubruk si anak muda untuk dirangkul, dipeluki, lalu ia urut-urut dada si anak muda.

Sin Tjie merasa likat sendirinya karena orang peluki ia.

"Engko Sin Tjie, dasar aku yang salah..."

Nona itu mengaku kemudian.

"Sudah, engko, aku minta kau jangan bergusar lagi..."

Sin Tjie pikir .

"Apabila aku tidak terus bersandiwara, dia bisa sangka aku ada satu pemuda ceriwis..."

Maka ia tunduk terus, ia merintih.

"Aku bakal tidak hidup lebih lama pula,"

Ia mengeluh,"

Kalau nanti aku menutup mata, tolong kau kubur mayatku, habis itu tolong kau beri kabar pada Oey Toako..."

Ia merintih pula, ia mengeluh, akan tetapi dalam hatinya, ia tertawa geli.

"Tak dapat kau mati,"

Tjeng Tjeng menangis.

"Kau tidak tahu, aku bergusar secara mainmain saja, aku gusar bohong, sengaja aku hendak gaduh padamu, sedang hatiku, sebenarnya, aku suka, aku sangat sukai kau....Jikalau kau mesti mati, mari kita mati bersama...."

Heran Sin Tjie, kaget dia.

"Ah, kiranya dia menyintai aku...."

Pikirnya.

Hatinya lantas memukul.

Ia girang, Ia pun likat, dalam bimbang, ia jadi berdiam saja.

Tjeng Tjeng masih saja berkuatir, ia sangka si pemuda benar-benar bakal mati, maka ia merangkul dengan keras sekali.

"Engko, engko, tak dapat kau mati!...."

Katanya. Mereka berada demikian dekat, Sin Tjie membaui harum istimewa, hatinya goncang. Tapi mendadak ia seperti sadar.

"Sakit hatiku belum terbalas, cara bagaimana aku sudah main cinta?"

Demikian ia pikir.

"Satu laki-laki mesti berlaku terus-terang! Bagaimana aku dapat pedayakan satu anak dara?"

"Aku bergusar bohong, jangan kau anggap sebenar-benarnya,"

Kembali si pemuda berikan pengakuannya. Tiba-tiba saja Sin Tjie tertawa.

"Sakitku juga sakit bohong, jangan kau anggap sebenar-benarnya!..."

Kata dia, yang kembali tertawa berkakakan.

Tjeng Tjeng terperanjat, hingga ia melengak.

Dengan tiba-tiba ia lepaskan rangkulannya, dia lompat bangun, menyusul mana sebelah tangannya melayang kekupingnya si anak muda, hingga Sin Tjie rasai kepalanya pusing, matanya berkunang-kunang.

Tjeng Tjeng tutupi mukanya, terus dia lari.

Sin Tjie bingung sekali.

"Tadi dia bilang dia menyayangi aku, dia tak dapat hidup tanpa aku, kenapa sekarang dia gusar dan pukul aku?"

Pikirnya.

Dalam bingungnya, Sin Tjie lompat bangun, untuk susul si nona, akan mengikuti dibelakangnya.

Tjeng Tjeng sudah umbar adatnya, habis itu hatinya lega, ketika ia menoleh, ia lihat tanda merah bergelang dipipi kiri si anak muda, bekas gaplokannya, lantas hatinya jadi lemah.

Tapi ia masih likat.

Tanpa kehendaknya, ia telah beberkan rahasia hatinya, ia malu sendirinya, ia jengah sekali.

Itu magrib mereka sampai di Gie-ouw, lantas mereka cari hotel.

Tjeng Tjeng lantas minta disediakan barang makanan, Sin Tjie duduk di satu meja, untuk bersantap bersama-sama.

Tiba-tiba si pemudi tertawa sendirinya.

"Mau apa ikuti orang saja, sungguh menjemukan...."

Katanya. Sin Tjie raba pipinya, ia pun tertawa.

"Perutku sakit, itulah sakit bohong,"

Katanya.

"Yang benar-benar sakit adalah ini...."

Ia maksudkan pipinya sasaran gaplokan itu.

Tjeng Tjeng tertawa pula.

Itulah tertawa yang membuat mereka berdua akur pula, hingga mereka bisa bersantap dengan bernapsu, kemudian mereka pasang omong dengan asyik.

Malam itu mereka tidur dalam kamar masing-masing.

Puas hatinya Tjeng Tjeng akan saksikan pemuda itu ada satu laki-laki terhormat.

Besoknya pagi, Sin Tjie kata pada si nona .

"Adik Tjeng, pekerjaan kita paling penting sekarang ini adalah antar abu ibumu ke gunung Hoa San untuk dikubur disana."

"Benar,"

Sahut si nona.

"Sebenarnya, bagaimana duduknya maka kau dapat menemui kuburan ayahku?' "

Nanti kita bicara ditengah jalan saja,"

Jawab pemuda itu.

Si pemudi menuruti, dari itu, setelah sarapan, mereka melanjuti perjalanan, menuju keutara.

Adalah selagi berjalan, Sin Tjie tuturkan kejadiannya bagaimana ia ketemukan tulang-tulangnya Kim Coa Long-koen didalam gua, bagaimana ia dapati peti besi yang berisi kitab atau peta berharga.

Ia tuturkan semua dengan jelas.

Tjeng Tjeng girang berbareng berduka.

Sin Tjie lanjuti penuturannya tentang sepak-terjangnya Thio Tjoen Kioe dan si pendeta, yang datang dan bekerja bersama tapi akhirnya saling menjahati.

Bergidik Tjeng Tjeng mendengar cerita itu.

"Thio Tjoen Kioe itu ada muridnya Soe-yaya,"

Terangkan ia kemudian.

"Dia ada seorang yang jahat sekali. Dan itu hweeshio, bukankah pada mukanya ada tanda bekas satu luka?"

"Benar, itu benar,"

Sin Tjie mengasi kepastian.

"Dia ada Goh In, ia muridnya djie-yaya,"

Tjeng Tjeng kasi keterangan lebih jauh.

"Sejak ayah lenyap, yaya semua kirim belasan muridnya kesegala penjuru untuk mencari, telah ditetapkan setiap tiga tahun mereka mesti memberi kabar berhasil-tidaknya penyelidikan mereka. Dua binatang itu ada sangat jahat, pantas mereka terima kebinasaan mereka secara demikian rupa!"

Nona ini berhenti sebentar, lalu ia menambahkan .

"Ayah telah menutup mata, setelah mati, dia masih bisa atur daya untuk binasakan musuh-musuhnya, sungguh luar biasa sekali!"

Ia jadi bangga sekali.

"Yayamu semua tahu ada hubungan diantara aku dan ayahmu itu, aku percaya mereka bakal berdaya lebih keras untuk mencari tahu hal harta besar itu dan kuburan ayahmu,"

Sin Tjie utarakan kemudian.

"Tapi mereka tahu juga mereka tidak sanggup lawan kau, percuma saja mereka bikin dirinya tambah sibuk saja,"

Kata si nona.

"Coba ayah masih hidup dan ia tahu kau telah hajar mereka kucar-kacir begini rupa, entah betapa girangnya ayah!...Tapi ibu telah menyaksikannya sendiri kau labrak mereka, tentu ibu akan menyampaikannya kepada ayah.... Coba kau kasih lihat pula tulisannya ayah kepadaku."

Sin Tjie perlihatkan apa yang diminta si nona.

"Ini ada barang ayahmu, harus ini dipulangi kepadamu,"

Ia bilang.

Tjeng Tjeng tidak menjawab, dengan penuh perhatian ia awasi peta dan tulisan ayahnya itu, nampaknya ia berduka berbareng bersuka-ria juga.

Sejak itu, setiap ada kesempatan, selagi singgah dipemondokan, ia suka keluarkan peta itu, untuk diawasi, untuk dibuat main.

Pada suatu hari dua anak muda ini sampai di Siong-kang, tiba-tiba si pemudi kata .

"Engko, begitu lekas kita sampai di Lam-khia, paling dulu kita cari itu mustika berharga!"

Sin Tjie heran.

"Kau maksudkan apa?"

Tanyanya.

"Bukankah dalam peta ayah ada disebutkan hal mustika berharga?"

Si nona baliki.

"Bukankah ayah telah menulis, siapa dapatkan mustika itu, ia mesti berikan itu sepuluh laksa tail emas? Maka teranglah sudah, mustika itu mesti berharga besar sekali."

Rupanya Sin Tjie Baru ingat.

"Kau benar, akan tetapi mengurus urusan kita ada lebih penting,"

Ujarnya dengan perlahan. Pemuda ini senantiasa ingat gurunya dan habis menemui gurunya, hendak ia menuntut balas untuk ayahnya.

"Kita telah punyakan petanya, aku pikir, dengan cari mustika itu, tidak nanti kita sia-siakan banyak tempo,"

Si nona utarakan.

"Habis, buat apa kita punya harta besar itu?"

Sin Tjie tanya.

"Adik Tjeng, aku harap sukalah kau menjadi orang baik-baik, jangan kau terpancing oleh harta besar...."

Tapi Tjeng Tjeng menjebikan bibir, waktu dia masih juga dinasehati, dia jadi tidak puas hingga itu malam tak mau dia dahar.... Dihari kedua, perjalanan dilanjutkan.

"Engko,"

Kata si nona, selagi berjalan,"

Aku cuma ambil emasnya Giam Ong dua ribu tail, mereka itu jadi sibuk luar biasa, sampai toasoehengmu turun tangan sendiri untuk merampas pulang emas itu. Kenapa sikapnya Giam Ong demikian cupat?"

"Keliru jikalau kau anggap Giam Ong cupat pikiran,"

Sin Tjie kasi mengerti.

"Aku pernah bertemu sendiri dengannya, dia ramah tamah dan budiman, ia tak sayang uangnya untuk menolong mereka yang membutuhkannya. Dia lagi berdaya untuk membebaskan rakyat jelata dari kesengsaraan, karenanya ia jadi sangat hemat. Dia adalah satu enghiong, satu hookiat terbesar! Emas dua ribu tail itu ia sangat butuhkan, pasti sekali tak bisa ia antapkan lenyap."

"Kalau demikian, itulah lain,"

Tjeng Tjeng bilang.

"Sekarang umpamakan kita hadiahkan Giam Ong dengan dua-puluh laksa tail emas, sampai dua ratus laksa tail emas, bagaimana kau pikir, tidakkah itu bagus?"

Sin Tjie sadar dengan tiba-tiba, hingga dia lupa akan dirinya. Dia sambar tangannya si nona dan cekal itu dengan keras.

"Adik Tjeng, kenapa pikiranku jadi begini butek?"

Berseru dia.

"Syukur kau memperingatinya!"

Tjeng Tjeng lepaskan tangannya.

"Tak perlu aku dengan pujianmu,"

Katanya.

"sudah cukup bagiku asal kemudian kau kurangi teguranmu."

Pemuda itu tertawa.

"Umpama berhasil kita mencari harta besar itu dan kita menghadiahkannya kepada Giam Ong, sungguh itu ada satu berkah besar untuk rakyat jelata!"

Katanya dengan girang.

Maka keduanya lantas numprah ditepi jalanan, mereka beber petanya Kim Tjoa Long-koen, untuk diperdatakan dengan seksama.

(Bersambung bab ke 10) Ditengah-tengah peta itu ada satu bundaran kecil warna merah, disamping itu diberi tanda antaranya empat huruf halus, bunyinya .

"Goei Kok Kong Hoe" , yang berarti "Istana Goei Kok-Kong" . Goei Kok-Kong itu adalah "Pangeran (hertog) Goei". Masih saja mereka menelitinya.

"Menurut bunyinya keterangan,"

Berkata lagi Sin Tjie kemudian.

"harta besar itu disimpannya didalam tanah dari sebuah kamar yang mencil didalam pekarangan istana pangeran Goei itu., jikalau disitu kita menggali kita akan dapati suatu lapis lembaran besi dibawah mana akan kedapatan sepuluh peti besi yang besar. Itulah dia harta besar itu."

"Maka kalu nanti kita sampai di Lamkhia, baik kita lantas cari istana Goei Kok-kong itu,"

Sarankan si pemudi.

"Asal kita berhasil mendapati istana itu, selanjutnya mesti kita punyakan daya lain!"

"Goei Kok-kong itu ada gelaran kebangsawanan dari Tay-tjiangkoen Tjie Tat,"

Sin Tjie terangkan pula.

"Jendral itu ada salah satu menteri besar dari kerajaan Beng. Istananya mestinya luar biasa sekali, umpama kata kita dapat memasukinya, pasti sulit untuk menggali sana dan menggali sini untuk cari harta itu..."

"Sekarang ini tak ada gunanya kita pikirkan itu terlalu jauh,"

Tjeng Tjeng bilang.

"Buat apa kita menduga-duga saja? Nanti setelah sampai di Lamkhia Barulah kita berdaya pula."

Sin Tjie anggap si nona benar, ia menurut.

Kembali mereka lakukan perjalanan mereka, sampai lewat pula beberapa hari, sampailah mereka di Lamkhia, kota yang dituju itu, yang dengan lain nama disebut Kim-leng, satu kota bertembok batu yang dipandang sebagai kota paling besar di "kolong langit", sedang disanapun adanya Beng Hauw-leng, ialah makam raja-raja ahala Beng.

Itulah ibukota pertama sejak dibangunnya kerajaan Beng oleh Beng Tha-tjouw, kaisar Beng yang pertama.

Walau kota itu pernah mengalami kekalutan besar, kotanya masih tetap indah dan ramai.

Sin Tjie berdua Tjeng Tjeng ambil tempat di hotel dengan mengaku mereka datang ke Lamkhia untuk mencari sahabat , dari itu dihari kedua, si anak muda panggil jongos untuk dimintai keterangan dimana pernahnya istana Goei Kok-kong.

Jongos itu bingung.

Ia bilang tak tahu ia perihal istana itu.

Tjeng Tjeng sangka orang mendusta, ia jadi gusar.

"Goei Kok-kong ada menteri nomor satu yang besar jasanya dari kerajaan kita, kenapa kau bilang tidak ada istana Goei Kok-kong disini?"

Ia bentak.

"Jikalau memang benar ada istana itu silakan siangkong cari sendiri,"

Jawab si jongos.

"Benar-benar aku tidak tahu."

Tjeng Tjeng anggap jongos itu kurang ajar, ia ayun tangannya untuk memberi bogem mentah, tetapi Sin Tjie cegah dia, hingga kesudahannya si jongos ngeloyor pergi sambil menggerutu sendiri...

"Mari kita cari,"

Mengajak Sin Tjie pada kawannya.

Tjeng Tjeng menurut, berdua mereka keluar dari hotel itu.

Itu hari mereka mengidar dengan sia-sia saja, tak dapat mereka peroleh keterangan perihal istana Pangeran Goei itu.

Mereka ulangi mencari dihari kedua, hasilnya tetap sia-sia saja, demikianpun ketika mereka lanjuti penyelidikan sampai tujuh atau delapan hari.

Sin Tjie berniat keras mencari balas, ia ingin tunda dulu menyelidiki tentang istana itu, akan tetapi kawannya penasaran.

"Mari kita cari terus,"

Tjeng Tjeng bilang.

Mereka kembali putar-putaran didalam kota beberapa hari lamanya, tapi hasilnya tetap tidak ada kecuali capai-lelah.

Menurut keterangan yang mereka peroleh sampai sebegitu jauh, katanya turunan dari Taytjiangkoen Tjie Tat atau Goei Kok-kong itu adalah raja muda dengan kekuasaan atas bala tentara didalam kota Lamkhia, bahwa istananya Baru beberapa tahun yang lalu dibangunkannya, sedang tentang istananya Goei Kok-kong, tak ada yang mengetahuinya.

Saking penasaran, Tjeng Tjeng usulkan untuk diwaktu malam satroni onghoe atau istananya raja muda she Tjie itu.

Sin Tjie tidak setuju, ia tentang usul itu dengan bilang, karena istana ada pendirian baru, tak mungkin harta karun didapatkan disana, atau umpama kata benar harta tersimpan disana, dengan berdua saja, apa mereka bisa buat?

Sebaliknya apabila mereka gagal, rahasia jadi ketahuan oleh raja muda itu, yang pastinya akan cari sendiri harta itu.

Istana pasti terjaga kuat sekali.

Puterinya Kim Coa Long-koen itu dapat dikasi mengerti.

Dilain harinya, diwaktu sore dua orang ini pergi kesungai Tjin Hoay Hoo yang kesohor , untuk menyewa perahu pelesiran, buat mencoba menghibur diri setelah buat banyak hari mereka putar-kayun dengan siasia.

"Ayahmu ada satu enghiong, setelah mendapati peta, dia sendiri masih belum berhasil mencari tempatnya harta karun itu, inilah benar sulit,"

Si pemuda nyatakan.

"Akan tetapi ayah menulis dengan jelas sekali, mustahil ia keliru,"

Si pemudi bertahan.

"Karena harta itu bukan cuma satu tail atau dua tail emas, pasti sekali tempat simpannya sulit untuk gampang-gampang dicari sembarang orang..."

"Kalau begitu, mari kita cari lagi satu hari, apabila tetap kita gagal, kita berangkat dari sini,"

Sin Tjie bilang akhirnya.

"Kita mencari sampai lagi tiga hari!"

Kata Tjeng-Tjeng.

Di sungai itu, dari beberapa penjuru, terdengar suara seruling yang diiringi dengan nyanyian-nyanyian.

Selain itu, terdengar juga suaranya penggayu-penggayu dari pelbagai perahu pelesiran lainnya, sedang cahaya api memain sebagai bajangan di permukaan air.

Tjeng Tjeng tenggak beberapa cawan arak, mukanya yang dadu jadi bersemu lebih merah, hingga diantara sinar api, ia nampaknya jadi bertambah-tambah cantik.

Sin Tjie tertawa.

"Baik aku turut kau, kita mencari lagi tiga hari!"

Kata Sin Tjie.

Nampaknya si nona puas.

Itu waktu dari perahu tetangga terdengar suara nyanyian bercampur tertawa dan omongan gembira, bukan main tertarik hatinya si nona.

Pengaruh air kata-kata pun sudah mulai menarinya.

"Engko,"

Kata Tjeng Tjeng sembari tertawa.

"bagaimana jikalau kita panggil dua nona untuk mereka nyanyi, akan temani kita minum?"

Mukanya Sin Tjie merah dengan tiba-tiba mendengar pertanyaan itu. Bukankah ia ada satu pemuda alim? "Apakah kau sudah sinting?"

Tanyanya.

"Kenapa kau ngaco?"

Anak-anak perahu paling girang kalau penumpangnya berpelesiran dengan nona-nona tukang nyanyi, dengan itu mereka mengharapi hadiah, maka itu, mendengar perkataan penumpang yang satunya itu, tanpa tunggu si penumpang lain sahuti kawannya, dia sudah nyelak.

"Semua siangkong yang pelesiran di Tjin Hoay Hoo, tidak ada satu yang tidak undang nona-nona tukang nyanyi untuk menemaninya,"

Katanya.

"Jikalau siangkong kenal salah satu tukang nyanyi, nanti aku panggil dia..."

"Jangan, jangan,"

Sin Tjie goyangi tangan.

"Disini ada berapa nona yang paling kesohor?"

Tjeng Tjeng sebaliknya menanya.

"Ada, ada, siangkong !"

Sahut tukang perahu itu.

"Seperti Pian Giok Keng, Lioe Djie Sie, Tang Siauw Wan dan Lie Hiang Koen. Mereka ini pandai juga ilmu surat dan bersyair, mereka adalah sioetjay-sioetjay wanita!"

"Nah, kau coba panggil Lioe Djie Sie dan Tang Siauw Wan berdua!"

Tjeng Tjeng menyuruh. Ia tidak perdulikan kawannya. Tukang perahu itu celangap.

"Rupa-rupanya siangkong Baru untuk pertama kali ini datang ke Lamkhia?"

Bilangnya.

"Habis kenapa?"

"Nona-nona yang kenamaan itu, pergaulannya cuma dengan pemuda-pemuda bangsawan atau sedikitnya sioetjay,"

Sahut tukang perahu itu.

"Umpama orang dagang biasa saja, apabila dia hendak menemui nona-nona itu, kendati dia angkut semua hartanya, tidak nanti si nona sudi melayaninya. Jangan kata mengundang datang, melihat romannya saja tak dapat..."

"Cis, segala bunga raya saja demikian bertingkah!"

Kata Tjeng Tjeng. Dia dipanggil siangkong karena tetap dia dandan sebagai pria.

"Disini ada nona-nona lainnya yang eilok, baik aku panggil dua saja diantaranya,"

Kata tukang perahu kemudian.

"Sekarang kami hendak pulang, lain hari saja,"

Sin Tjie bilang.

"Aku belum puas!"

Kata Tjeng Tjeng sambil tertawa. Ia memandang si tukang perahu dan lalu kata .

"Pergi kau panggil mereka."

Selagi Sin Tjie bungkam, tukang perahu itu, yang girang tak kepalang, sudah lantas buka suara nyaring beberapa kali, untuk memanggil dua nona yang ia kenal.

Sebentar saja, sebuah perahu terhias datang menghampirkan, dari situ lantas muncul dua nona, yang terus naik keperahunya Tjeng Tjeng.

Mereka kasi hormat kepada kedua anak muda.

Sin Tjie berbangkit, untuk memberi hormat, mukanya merah padam bahna jengah.

Tjeng Tjeng lihat perubahan air muka kawan itu dalam hatinya ia tertawa geli.

Kedua nona tukang nyanyi itu tidak cantik tetapi mereka dibikin bersinar oleh yantjie dan pupur.

Segera yang satu meniup seruling dan yang lain bernyanyi.

Tjeng Tjeng kerutkan alis mendengar suara seruling dan nyanyian itu, tak sedap dia mendengarnya.

Sin Tjie pun kerutkan alis.

"Dasar kau!"

Katanya, menyesali kawannya.

"Makin lama kau jadi makin angot!"

Tjeng Tjeng tertawa.

"Sudah, sudah!"

Katanya.

"Apa belum cukup kau tegur aku? Nanti aku meniup seruling untuk kau dengar..."

Ia ambil seruling dari tangannya si nona manis, ia celup saputangannya kedalam arak, lalu saputangan itu dipakai menyusuti seruling itu, sampai sekian lama, Barulah ia masuki kedalam mulutnya sendiri, untuk dicoba pelahan-lahan.

Atau dilain saat, ia telah mulai perdengarkan sebuah lagu.

Segeralah terdengar sebuah lagu yang lain sekali dari lagunya si bunga raya barusan!

Di Tjio-liang, diatas bukit bunga mawar, Sin Tjie pernah dengar lagu yang mnearik hati ini, maka teringatlah ia dengan kejadian diatas bukit itu, sedang sekarang, suasana ada lain -sungai ada indah, dihadapan mereka ada arak wangi, ada nona-nona manis...

Kedua nona manis itu duduk bengong apabila mereka dengar tiupan lagu itu.

Sin Tjie mendengari dengan asyik sekali, sampai ia tidak tahu sebuah perahu pelesiran yang besar yang mendekati perahunya sendiri, tahu-tahu ada suara tertawa nyaring disusul pujian .

"Sungguh merdu! Sungguh merdu!"

Menyusul itu, tiga orang lelaki pun lantas naik keperahunya pemuda dan pemudi ini tanpa mereka itu minta perkenan lagi.

Tjeng Tjeng tidak suka atas kelakuan orang itu, yang ia pandang sebagai gangguan.

Ia letaki serulingnya, ia lirik mereka itu dengan mata tajam.

Dari tiga tetamu yang tidak diundang itu, yang jalan ditengah ada seorang dengan kipas ditangan, bajunya tersulam, umurnya kira-kira tiga-puluh tahun, alisnya kasar, matanya kecil, mukanya pun kasar.

Dibelakang dia ini ada dua kee-teng atau hamba, yang membawa lentera atau tengloleng yang bertuliskan tiga huruf .

"Tjong Tok Hoe"

Atau artinya "Gedung Tjong Tok".

Sin Tjie berbangkit, ia menyambut sambil memberi hormat.

Kedua bunga raya itu memberi hormat sambil menjura.

Cuma Tjeng Tjeng yang duduk tetap, tidak bergeming.

Orang itu tertawa, ia bertindak masuk ke ruangan dalam perahu.

"Maaf, maaf!"

Katanya dengan gembira, lalu ia jatuhkan diri atas sebuah kursi, untuk mana ia tidak nantikan undangan lagi.

"Maaf tuan, apa she dan namamu yang besar?"

Sin Tjie tanya. Pemuda ini sabar dan selalu berlaku manis-budi. Orang yang ditanya belum menyahuti, atau salah satu bunga raya dului ia dengan berkata .

"Inilah Ma Kongtjoe dari Tjongtok-hoe dari Hong-yang."

Kongtjoe ini tidak jawab Sin Tjie, dia hanya mengawasi Tjeng Tjeng dengan kedua matanya yang sipit.

"Kau dari rombongan wayang mana?"

Ia tanya nona kita, yang ia sangka ada satu pemuda.

"Merdu sekali tiupan serulingmu! Kenapa kau tidak hendak layani toa-ya-mu ini? Ha-ha-ha!"

Sepasang alisnya Tjeng Tjeng bangun. Ia gusar orang anggap dia ada satu anak wayang. Sebenarnya ia hendak tegur kongtjoe itu tetapi Sin Tjie kedipi dia.

"Inilah saudaraku, kami datang ke Lamkhia untuk cari sahabat,"

Anak muda kita menjawab.

"Kamu cari sahabat, siapa itu?"

Tanya Ma Kongtjoe.

"Ini hari kamu telah bertemu denganku, mari kita bersahabat! Dengan bersahabat dengan aku, aku tanggung kamu nanti tidak kekurangan makan dan pakai!"

Ia tertawa pula. Sin Tjie jadi mendongkol, akan tetapi ia masih dapat mengatasi dirinya. Ia tidak perlihatkan roman gusar.

"Taydjin Ma Soe Eng itu pernah apa dengan tuan?"

Tanyanya.

"Ma Taydjin itu adalah pamanku!"

Sahut Ma Kongtjoe dengan roman sangat bangga.

Itu waktu dari perahu pelesirannya si kongtjoe ini muncul pula seorang lain, pakaiannya perlente tetapi kepalanya kecil dengan mata kecil juga, sedang kumisnya caplang.

Ia lantas menjura kepada Ma Kongtjoe.

"Kongtjoe-ya,"

Katanya sambil tertawa.

"saudara ini pandai sekali meniup seruling."

Melihat dandanan orang, Sin Tjie merasa pasti orang ini gundalnya pemuda itu.

"Keng Teng, pergi kau bicara dengan mereka,"

Kata Ma Kongtjoe. Itulah titah yang cuma dimengerti orang yang dipanggil Keng Teng itu, yang sebenarnya ada orang she Yo. Dia ini lantas hadapi Sin Tjie dan Tjeng Tjeng untuk terus berkata .

"Ma Kongtjoe ini adalah keponakannya Ma Taydjin, Tjongtok dari Hongyang, dan dia sangat gemar ikat persahabatan. Ma Taydjin sangat sayang keponakannya ini, hingga dia perlakukannya sebagai puteranya sendiri saja. Djiewie, baiklah kamu pindah, untuk tinggal bersama-sama Ma Kongtjoe!"

Sin Tjie tdiak enak hati mendengar kata-kata itu, terutama ia kuatir Tjeng-Tjeng gusar, akan tetapi diluar sangkaanya, ia lihat nona itu tertawa dengan ramah-tamah.

"Itulah bagus sekali,"

Katanya Tjeng Tjeng.

"Mari kita berangkat sekarang!"

Ma Kongtjoe girang seperti ia mendapati mustika yang terjatuh dari langit, dia sambar tangannya Tjeng Tjeng untuk ditarik.

Tapi Tjeng Tjeng mendahului tarik tangannya sendiri, untuk dipakai membetot satu bunga raya, tubuh siapa ditolak kepada Kongtjoe itu, hingga mereka itu jadi saling tabrak!

Sin Tjie heran, ia diam saja.

Tjeng Tjeng segera berbangkit.

"Aku lagi memberi hadiah kepada dua nona ini dan tukang perahu,"

Katanya.

"seorangnya lima tail perak..."

"Jangan, nanti akulah yang menghadiahkannya!"

Berkata Ma Kongtjoe itu.

"Besok kamu pergi kepada tukang uangku untuk terima hadiahmu ini!"

Ia tambahkan kepada bunga raya itu dan tukang perahu.

"Apakah bukan lebih baik hadiahkan sekarang saja?"

Tanya Tjeng Tjeng dengan tertawa manis.

"Ya, ya , sekarang pun boleh!"

Kata Ma Kongtjoe hampir berseru, lantas ia ulapi tangannya kepada salah satu orangnya, maka satu kee-teng lantas keluarkan uang lima-belas tail, yang dia letaki diatas meja.

Tukang perahu dan kedua nona bunga raya itu menghaturkan terima kasih, kemudian si tukang perahu kembali pada penggayunya.

Ma Kongtjoe terus menatap Tjeng Tjeng, sampai sebentar kemudian perahu sudah sampai di tepi.

"Nanti aku cari joli,"

Keng Teng bilang.

"Eh, tunggu dulu,"

Tiba-tiba Tjeng Tjeng kata, romannya agak terperanjat.

"Aku kelupaan serupa barang di tempatku, perlu aku pulang dulu untuk mengambilnya."

"Nanti aku titahkan orangku yang pergi ambil,"

Ma Kongtjoe bilang.

"Tak usah kau yang pulang sendiri. Saudara yang baik, dimana kau tinggal?"

"Aku mondok di kuil Hoat Hoa Sie diluar pintu kota Kim-Coan-moei,"

Sahut Tjeng Tjeng.

"Tapi barangku itu tak dapat lain orang yang mengambilnya."

Yo Keng Teng sudah lantas bisiki Ma Kongtjoe.

"Awasi dia, jangan kasi dia molos!"

"Benar, benar!"

Kata Kongtjoe itu dengan mata membelalak. Terus ia pandang "pemuda"

Itu dan kata.

"Kalau begitu, saudara yang baik, aku nanti temani kau pergi bersama!"

Ma Kongtjoe ulur tangannya, untuk sengklek bahu orang. Tjeng Tjeng tertawa geli, tapi ia menyingkir kesamping.

"Tidak, aku tidak ingin kau turut!"

Ia menolak. Semangatnya Ma Kongtjoe seperti meninggalkan pergi raganya melihat kelakuan yang menggiurkan itu.

"Kau lihat, Keng Teng,"

Katanya .

"apabila saudara yang baik ini dandan sebagai satu nona, pastilah didalam kota Kimleng ini tidak ada satu gadis jua yang nempil dengannya!..."

"Engko, mari kita pergi,"

Tjeng Tjeng mengajak kawannya.

Dan ia sambar tangannya Sin Tjie, untuk dituntun pergi.

Ma Kongtjoe melirik kepada Keng Teng, ia lantas mengikutnya, maka gundalnya itu, bersama dua pengiringnya, turut mengikuti ia, hingga berempat mereka berjalan dibelakang dua pemuda itu.

Si Kongtjoe sendiri kemudian cepati langkahnya, untuk susul Tjeng Tjeng, supaya berdua mereka berada berdampingan, untuk bicara sambil ter-tawatawa.

Tjeng Tjeng melayaninya seperti acuh tak acuh.

Sudah lebih dari sepuluh hari Tjeng Tjeng dan Sin Tjie putar-kayun dikota Kimleng, luar dan dalam, maka itu, mereka ingat baik letaknya tempat.

Sekarang Tjeng Tjeng, yang jalan didepan, menuju ke tempat yang makin lama makin sepi, Sin Tjie segera bisa duga pikiran si nona.

"Ma Kongtjoe ini benar ceriwis tetapi kesalahannya tak demikian besar hingga ia harus menemukan kematiannya,"

Pikir anak muda she Wan ini.

"Soehoe sering bilang padaku, siapa yakinkan ilmu silat, tak dapat ia membinasakan orang yang tak selayaknya binasa. Inilah pantangan untuk kita. Bagaimana aku dapat cegah si Tjeng Tjeng?"

Dengan tiba-tiba, pemuda ini hentikan tindakannya.

"Saudara Tjeng, mari kita pulang!"

Ajak ia. Tjeng Tjeng menyambutnya sambil tertawa manis.

"Pergi kau pulang sendiri,"

Sahutnya. Ma Kongtjoe girang bukan buatan.

"Benar, benar!"

Katanya nimbrung.

"Pergi kau pulang sendiri!"

Kongtjoe ini demikian tertarik hatinya, ia tak dapat artikan ajakan "pulang"

Dari si anak muda. Bukankah mereka sedang menuju kepondokannya si anak muda (Tjeng Tjeng)? Kenapa sekarang anak muda lainnya mengajak pulang lagi? Sin Tjie menggeleng kepala, ia pun menghela napas.

"Dia lagi menghadapi saat mampusnya, dia masih belum menyadarinya..."

Pikirnya.

Selama itu mereka telah sampai ditempat dimana terdapat hanya kuburan.

Ma Kongtjoe mulai berat tindakannya karena mereka sudah jalan jauh.

Tidak biasanya keponakan tjongtok itu jalan kaki demikian lama.

Napasnya pun mulai sengal-sengal.

"Apa sudah dekat?"

Tanyanya.

"Sudah sampai!"

Sahut Tjeng Tjeng dengan suara nyaring, yang disusul sama tertawanya yang panjang. Ma Kongtjoe tercengang, dia melengak.

"Sudah sampai? Ini toh kuburan?"

Pikirnya. Yo Keng Teng si gundal menjadi curiga, hatinya jadi tidak tenteram. Akan tetapi mereka berempat, dan dua pengiringnya itu -ia tahu -ada bertenaga, karenanya, dapat ia hiburkan diri juga.

"Apa yang mereka berdua, anak-anak sekolah, dapat perbuat?"

Pikirnya pula.

"Saudara, sudahlah!"

Katanya kemudian.

"Sudah, tak usah kamu pulang lagi. Mari kita beramai pergi ke gedung kongtjoe kami, disana bisa kita duduk minum..."

Tjeng Tjeng tertawa dingin.

"Pergilah kamu pulang sendiri!"

Sin Tjie bilang maksudnya baik.

"Baik kau jangan turut kami!"

Pemuda ini membuka jalan hidup. Tapi Ma Kongtjoe berempat adalah bangsa gentong kosong, otak mereka tak dapat tangkap nasihat yang diberikan secara samar-samar itu. Malah si kongtjoe bawa aksinya.

"Saudara, aku sudah letih sekali,"

Katanya, dengan tingkah dibikin-bikin.

"Tolong, kau pegangi aku..."

Kongtjoe ini berada didamping Tjeng Tjeng, ia bisa ulur tangannya kepundak nona kita, untuk menggelendotkan dirinya.

Se-konyong-konyong saja, satu cahaya putih berkelebat.

Sin Tjie mengeluh dalam hatinya, ingin ia mencegah, akan tetapi kepalanya Ma Kongtjoe sudah mendahului jatuh ketanah dan menggelinding, darah muncrat, membasahkan tubuhnya, yang lantas turut rubuh juga.

Keng Teng kaget hingga ia berdiri menjublak, demikian juga kedua pengikutnya.

Tjeng Tjeng lompat kepada gundal itu dan dua kawannya, satu kali dengan satu kali, ia babat batang leher mereka, sebelum mereka sempat sadar dari tercengangnya, hingga roh mereka pergi susul rohnya kongtjoe mereka.

Sin Tjie tidak mencegah lagi, karena ia pikir, si kongtjoe sudah binasa, perlu mereka singkirkan saksi-saksi, untuk mencegah ancaman bencana dibelakang hari.

Menghapus rumput mesti dicabut berikut akar-akarnya.

Tjeng Tjeng susuti pedangnya dibajunya Ma Kongtjoe, ia bersenyum saking puas hatinya.

"Orang-orang sebangsa mereka ini cukup diberi hajaran, perbuatan kau ini rada bengis,"

Kata Sin Tjie. Tapi si nona mendelik.

"Tak dapat aku terima keceriwisannya!"

Jawabnya.

"Siapa tahu, kejahatan apa mereka sudah perbuat dan apa lagi yang akan terjadi dibelakang hari?"

Sin Tjie anggap si nona benar juga. Memang Ma Kongtjoe tentu siap sedia mencelakai orang apabila napsu-hatinya tak tercapai. Akan tetapi, ia toh kata .

"Memang sesuatu telur busuk mesti dibunuh mati, tetapi aku ingin kau mengatasi diri sendiri. Bagaimana apabila keliru terbunuh satu orang baik-baik? Apakah itu tidak hebat? Bisa-bisa pergaulan kita putus..."

Tjeng Tjeng tertawa.

"Itulah tak nanti aku lakukan,"

Katanya.

"Mari bantui aku."

Dengan cara mendupak, Tjeng Tjeng singkirkan mayat Ma Kongtjoe kedalam gombolan, perbuatan diturut oleh Sin Tjie, hingga keempat mayat tak kelihatan lagi.

"Mari kita pulang,"

Si nona mengajak. Tiba-tiba Sin Tjie tarik ujung baju kawannya.

"Sembunyi!"

Katanya.

Mereka lantas lompat, untuk sembunyi dibelakang sebuah kuburan.

Suara tindakan dari banyak kaki terdengar, datangnya dari arah timur dan barat.

Cuaca yang gelap pun lantas menjadi terang, karena orang-orang yang datang -jumlahnya belasan -membawa tengloleng.

Selagi rombonga itu mendatangi dekat satu pada lain, yang di timur perdengarkan tepukan tangan tiga kali, lantas datang sambutan dua kali dari rombongan barat, disusul dengan dua kali lagi.

Setelah ini, mereka bergabung menjadi satu, tanpa sepatah kata juga, mereka lantas duduk didepan sebuah kuburan.

Jarak diantara mereka ini dengan Sin Tjie berdua kira-kira sepuluh tumbak, tak dapat Tjeng Tjeng dengar suara bicara, karena ia ingin mengetahuinya, ia bertindak, untuk mendekatinya.

"Tunggu dulu..."

Sin Tjie mencegah seraya ia tarik ujung baju si nona.

"Tunggu apa lagi?"

Nona itu tanya.

Sin Tjie ulapkan tangannya, untuk cegah kawan itu bicara.

Tjeng Tjeng menanti, dengan tidak sabaran.

Disaat seperti itu, detik-detik waktu dirasakan lambat jalannya.

Tapi segera datang sambaran angin, yang cukup besar, hingga daun-daun pohon dan rumput perdengarkan suara berisik.

Berbareng dengan suara berisik itu, Sin Tjie sambar lengan si nona, untuk diajak berlompat, hingga dilain saat, mereka sudah berada dibelakang kuburan tanpa ada seorang juga dari antara rombongan itu yang dapat lihat mereka berdua.

Disini mereka lantas mendekam, untuk pasang kuping sambil pasang mata.

Tjeng Tjeng sementara itu kagumi kawannya itu, terutama kegesitannya dan tenaganya.

Ia pun merasai sopannya ini anak muda, sebab tangannya segera dilepaskan dari cekalannya dia itu.

"Dia benar ada satu koentjoe, cuma dia rada kering..."

Pikir nona ini, yang sendirinya sangat bergembira. Segera mereka dengar satu suara sedikit serak .

"Saudara-saudara perlukan datang dari tempat yang jauh, untuk membantu kepadaku, aku sangat berterima kasih."

Satu suara lain jawab pengutaraan bersyukur itu .

"Guruku sedang sakit, sudah kira-kira sebulan ia tak dapat bangkit dari pembaringan, dari itu dia telah minta Twie-hong-kiam Ban Hong Ban Soesiok pimpin kami dua-belas muridnya datang kemari untuk disuruh

KANG ZUSI -

http.//cerita-silat.co.cc/ suruh oleh Bin Loosoe."

"Gurumu itu, Liong Ya-tjoe, sudi bantu aku, aku sangat berterima kasih kepadanya."

Kata pula si suara rada serak.

"Pedang Twie-hong-kiam Ban Soeheng telah menggetarkan wilayah selatan, sekarang soeheng telah datang sendiri ke Kimleng ini, mustahil kita nanti tak berhasil? Begitu lekas aku melihatmu, Ban Soeheng, hatiku lantas saja lega tak terkira."

"Itulah pujian belaka!"

Terdengar suara orang yang ketiga.

"Kami dari Tiam Tjhong Pay justru kuatirkan kami nanti tak dapat berbuat suatu apa untuk membantu Bin loosoe..."

Suara orang ini kecil tetapi terang.

Hatinya Sin Tjie tergetar juga.

Ia ingat, di waktu-waktu senggang gurunya suka rundingkan ilmu pedang dari pelbagai partai, atau kaum persilatan lainnya, diantaranya empat partai terbesar ialah Boe Tong Pay, Koen Loen Pay, Hoa San Pay dan Tiam Tjhong Pay, bahwa setiap partai punyakan ilmu-ilmu silatnya yang istimewa.

Sekarang ini yang datang, si orang she Ban, ada dari Tiam Tjhong Pay.

Jauh dari tempat ribuan lie, orang datang ke Kimleng ini, apakah maksud mereka itu?

Setelah kedua saling bicara secara sungkan itu, kembali terdengar tepukan tangan dari kejauhan, suara mana disambut oleh rombongan dimuka kuburan ini.

Atas sambutan itu, lalu muncul lagi tiga rombongan lain, yang datangnya saling susul.

Mendengar dari pembicaraan mereka, Sin Tjie ketahui dia ini ada dari kalangan mana.

Rombongan yang pertama adalah rombongan Siauw Lim Sie dari Pouw-thian, Hokkian, yang dipimpin oleh Sip Lek Taysoe, kam-ih atau kepala dari ruang Tat Mo In dari kuil partai Siauw Lim Pay.

Rombongan yang kedua adalah kawanan bajak dari sepanjang pesisir Tjiatkang dari Hokkian, yang dipimpin sendiri oleh Pek-hay Tiat-keng The Kie In si ikan lodan, yang jadi Tjong-bengtjoe atau ketua dari bajak-bajak dari tujuh puluh dua pulau di sepanjang propinsi-propinsi tersebut.

Dan rombongan yang ketiga adalah partai Tiang Pek Pay dari gunung Tiang Pek San di Liauw-tong dengan dipimpin sendiri oleh ketiga ketuanya, yang dikenal dengan julukannya jaitu Tiang Pek Sam Eng atau tiga jago Tiang Pek ialah Soe Peng Kong, Soe Peng Boen dan Lie Kong.

Sin Tjie jadi makin heran.

Mereka itu, semuanya ada orang-orang kang-ouw kenamaan.

Apa perlunya mereka berkumpul di Lamkhia?

Mereka hendak bantu si orang she Bin dalam urusan apa?

Orang she Bin ini hampir tak hentinya menghaturkan terima kasihnya kepada mereka itu.

Teranglah sudah, mereka itu sengaja diundang datang.

Tjeng Tjeng pun heran, ingin ia tanya Sin Tjie, tapi untuk ber-hati-hati, ia coba atasi diri sendiri.

Ia insyaf, dimuka orang-orang liehay itu, sedikit saja ia berkelisik, mereka bakal dapat tahu, atau sedikitnya mereka bakal bercuriga.

Segera terdengar pula suaranya si orang she Bin .

"Aku Bin Tjoe Hoa...."

"Inilah nama yang aku pernah dengar,"

Berpikir Sin Tjie.

"Tidak salah, aku dengarnya dari soehoe. Dia ini orang macam apa? Ah, kenapa aku bolehnya lupa?"

Si orang she Bin lanjuti omongannya .

"Saudara-saudara, aku sangat bersyukur yang saudara-saudara telah datang untuk membantu aku, karena itu, harap saudara-saudara suka terima hormatku..."

Sin Tjie percaya orang she Bin itu berlutut untuk hunjuk terima kasihnya itu, karena ia dengar suara-suara yang merendah dan yang mempersilakan orang berbangkit.

"Jangan berbuat begini, Bin Djieko, tak sanggup siauwtee menerimanya,"

Demikian terdengar juga. Kemudian terdengar pula suaranya Bin Tjoe Hoa itu .

"Selama beberapa hari ini, Thio Sim It soeheng dari Koen Loen Pay, beberapa tootiang dari Ngo Bie Pay, dan beberapa soeheng dari Hoa San Pay juga pasti bakal datang semuanya..."

"Oh, dari Hoa San Pay juga bakal ada yang datang?"

Tanya satu suara.

"Inilah bagus sekali! Murid siapakah dia itu?"

Sin Tjie heran, tapi ia kata dalam hatinya.

"Bagus pertanyaan ini! Aku memang ingin menanyakannya..."

Segera terdengar jawabannya Bin Tjoe Hoa .

"Mereka adalah beberapa soeheng muridmuridnya Tjio Poan San Long...."

"Kalu begitu, mereka adalah muridnya djie-soeheng,"

Pikir Sin Tjie.

"Apakah Bin Djieko bersahabat kekal dengan Kwie Sin Sie suami isteri?"

Ada suara yang menanya pula.

"Inilah bagus! Dengan adanya mereka itu, tak usah kita kuatirkan lagi kepada kan-tjat she Tjiauw itu!"

"Mana dapat aku sendiri yang bersahabat dengan suami-isteri she Kwie itu?"

Ada jawabannya Bin Tjoe Hoa.

"Adalah murid kepalanya, Bwee Kiam Hoo, yang bersahabat karib denganku."

"Bwee Kiam Hoo?"

Tanya satu suara lain.

"Dia toh Boe Eng Tjoe si Bajangan Tak Ada yang dengan sebatang pedangnya telah taklukkan tujuh jago di jalanan propinsi Shoatang, bukankah?"

"Tidak salah, benarkah dia?"

Bin Tjoe Hoa berikan kepastian. Sin Tjie masih heran akan tetapi sekarang hatinya lega.

"Disini turut orang dari pihakku, rupanya mereka ini berada di pihak benar,"

Pikir ia.

"Baik aku jangan muncul diantara mereka, apabila ada ketikanya , aku nanti bantu mereka secara diam-diam saja."

Lalu kembali terdengar suaranya Bin Tjoe Hoa .

"ketika dulu hari kandaku terbinasa teraniaya secara hebat itu, untuk lebih daripada sepuluh tahun aku telah berkelana kesegala tempat untuk cari musuhku itu, tak juga aku berhasil mengetahui, siapa sebenarnya dia. Adalah baru-baru ini, aku memperoleh penghunjukkan dari persaudaraaan Soe dan Tiang Pek San kandaku telah terbinasa ditangannya kantjat she Tjiauw itu! Aku sumpah, apabila tidak dapat aku balaskan sakit hati kandaku itu, tak sudi aku jadi manusia!"

Menjusul itu terdengarlah suatu suara keras.

Rupanya dengan semacam senjata, Bin Tjoe Hoa perkuatkan sumpahnya dengan membacok atau memukul batu bongpay dari kuburan.

Lantas terdengar suara seorang lain .

"Tiat-pwee Kim Go Tjiauw Kong Lee si Buaya Emas Berbokong Besi adalah seorang kang-ouw yang juga berkenamaan, aku tidak sangka dia bisa berbuat demikian macam. Entah dari mana kedua saudara Soe itu ketahui rahasia pembunuhan itu?"

Mendengar lagu-suaranya, orang ini menyatakan kesangsian. Bin Tjoe Hoa tidak tunggu Soe Peng Kong dan Soe Peng Boen menjawab sendiri, ia mendahuluinya .

"Kedua saudara Soe telah tuturkan jelas kepadaku duduknya penganiayaan terhadap kandaku itu di Shoa-tang, untuk itu ada buktinya, maka haraplah Taysoe tidak usah sangsi lagi."

Orang yang menyatakan ke-ragu-raguan nya itu tidak menanya lebih jauh, lalu terdengar suaranya seorang lain lagi .

"Tjiauw Kong Lee itu telah berdiam untuk puluhan tahun dikota Kimleng ini, pengaruhnya telah mendalam dan kuat, sekarang kita hendak gempur dia, harus kita ber-hati-hati...."

"Memang kita harus ber-hati-hati,"

Jawab Bin Tjoe Hoa.

"Aku tahu, dengan seorang diri saja, tak dapat aku gempur dia, maka itu aku telah besarkan hati mengundang saudarasaudara sekalian. Besok pada jam yoe-sie tepat aku undang saudara-saudara untuk menghadiri satu perjamuan sederhana dirumahku di gang Tjhia-lam diluar kota Selatan, aku harap sangat kedatangan saudara-saudara."

Suara jawaban ramai menerima undangan itu; ada yang mengucap terima kasih, ada yang minta orang she Bin itu tak sungkan-sungkan. Kemudian Bin Tjoe Hoa berkata pula .

"Kali ini jumlah sahabat-sahabatku ada banyak, tak usah disangsikan lagi yang pihak musuh tak mengetahuinya, maka kalau besok saudarasaudara datang, baik kita menggunai tanda, ialah sesuatu saudara angkat tangan terhadap orang-orang ku yang menyambut dimuka pintu, dengan tunjuki tiga jari tangan kanan ialah jeriji-jeriji tengah, manis dan kelingking, yang dikasi turun sambil dengan pelahan pun mengucapkan "

Kang-ouw gie khie, poat too siang tjie."

Dengan cara ini dapat kita cegah seumpama musuh kirim mata-matanya."

"Itu benar!"

Menyatakan beberapa suara setuju.

"Kita semua datang dari empat penjuru, banyak diantara kita yang belum kenal betul satu dengan lain, maka untuk selanjutnya, baik tetap kita gunai pertandaan ini."

Usul ini pun telah dapat persetujuan.

Kemudian, setelah ditetapkan juga, siapa mesti dikirim kerumah keluarga Tjiauw, untuk membuat penyelidikan, me-nyerep-nyerepi kabar, pertemuan rahasia itu ditutup, lalu mereka bubaran.

Setelah orang sudah pergi jauh, Barulah Sin Tjie berdua berani bergerak, untuk duduk beristirahat.

Tjeng Tjeng merasa kakinya pada kaku.

"Toako, besok kita pergi menonton keramaian, bukan?"

Si nona tanya.

"Pergi menonton sih boleh, akan tetapi kau mesti dengar perkataanku,"

Jawab Sin Tjie.

"Tak dapat kau timbulkan gara-gara."

"Memangnya siapa yang hendak membikin ribut?"

Tjeng Tjeng menjawab.

Habis itu, mereka berlalu, untuk pulang.

Besoknya tengah-hari, seluruh kota Kimleng menjadi gempar karena perkara pembunuhan gelap atas dirinya Ma Kongtjoe serta gundal dan pengiring-pengiringnya.

Sin Tjie berdua dengar kabar itu, berdua Tjeng Tjeng, ia keram diri dalam kamar.

Akan tetapi kapan sang magrib datang, setelah salin pakaian, mereka pergi keluar, ke gang Tjhia-lam dimana, dengan tindakan lambat, mereka perhatikan sebuah rumah besar yang muka pintunya diterangi tengloleng, banyak tetamu yang datang saling susul.

Dengan berani, tapi dengan sikap biasa, Sin Tjie dan Tjeng Tjeng bertindak kepintu, kepada penjaga pintu, mereka tunjuki tiga jari mereka seraya menyebut "Kang-ouw gie khie, poat too siang tjie" , dengan begitu, satu penyambut beri hormat pada mereka dan seorang lainnya lagi antar mereka kedalam dimana mereka disuguhkan teh, lantas she dan nama mereka ditanyai.

Dengan enak saja mereka ngaku she Thia dan Boen.

"Sudah lama kau dengar nama besar dari djiewie,"

Kata penyambut itu dengan pujiannya, walaupun ia sebenarnya tak kenal kedua tetamu ini. Tjeng Tjeng geli didalam hatinya, ia berpikir .

"Aku sendiri Baru pertama kali denga she-ku ini, kau sebaliknya telah dengar sejak lama..."

Sementara itu, tetamu yang datang semakin banyak, maka untuk menyambut mereka, penyambut ini mohon diri, untuk layani mereka.

Didalam hatinya ia anggap, mereka ini berdua entah muridnya siapa.

Sin Tjie berdua tidak usah menunggu lama, lantas orang semua diundang duduk berkumpul, karena rapat hendak dimulai.

Mereka duduk di pinggiran dengan ditemani oleh murid kelima dari Bin Tjoe Hoa.

Yang lainnya juga ada anak-anak muda.

Hati mereka lega karena orang tidak perhatikan mereka.

Pertemuan dibuka dengan keringkan arak tiga idaran, Bin Tjoe Hoa hampirkan sesuatu tetamunya, untuk memberi selamat datang kepada mereka dengan secawan arak.

Kapan tuan rumah ini hampirkan meja mereka, Sin Tjie dapat lihat tegas tuan rumah ini, seorang umur empat puluh delapan atau sembilan tahun, lengannya berurat kasar, romannya cerdik, tindakannya gagah, tanda ilmu silatnya tinggi, akan tetapi kedua matanya bengul dan merah, suatu tanda ia sedang bersedih untuk kandanya, rupanya selama beberapa hari ini, ia menangis saja.

"Dia sangat mencintai saudaranya, dia harus dihormati,"

Pikir Sin Tjie.

"Dia bikin undangan kepada begini banyak sahabatnya, mestinya si orang she Tjiauw itu, musuhnya, berpengaruh besar sekali."

Bin Tjoe Hoa menjura tiga kali kepada semua tetamunya, ia ber-ulang-ulang menghaturkan terima kasih, ia undang pula sekalian tetamu keringkan cawan mereka.

Rombongannya Sin Tjie membalas hormat, terutama karena mereka dari golongan muda.

Mendadak salah seorang muridnya Bin Tjoe Hoa muncul dengan kesusu, ia hampirkan gurunya, untuk berbisik, setelah mana, kelihatan tuan rumah itu jadi sangat girang, lekaslekas ia letaki cangkirnya diatas meja, lantas ia lari kearah pintu, kapan sebentar kemudian ia kembali, ia berserta tiga orang yang ia perlakukan hormat sekali.

Ia juga undang ketiga tetamu itu duduk dikepala meja.

"Pasti mereka ini adalah orang-orang kenamaan,"

Pikir Sin Tjie, yang awasi mereka.

Orang pertama, yang dandan sebagai satu pelajar, menggendol sebatang pedang panjang dibelakangnya, kedua matanya bersinar dan sikap-dedeknya angkuh.

Orang kedua berumur tiga-puluh lebih.

Dan yang ketiga, umur dua puluh dua atau dua puluh tiga tahun, adalah sorang perempuan yang eilok parasnya, tapi sikapnya adem.

"Bwee toako datang tepat sekali, aku sangat bersukur."

Terdengar suaranya Bin Tjoe Hoa. Pelajar itu tertawa.

"Urusan Bin Djieko mana dapat kami tak campur tahu?"

Kata dia.

"Kalau begitu, dia pasti ada Bwee Kiam Hoo, muridnya Djie-soeheng kwie Sin Sie,"

Pikir Sin Tjie.

"Kenapa dia begini jumawa?"

Bwee Kiam Hoo berkata pula .

"Dalam urusan sebagai ini, guruku tentu tak berkeinginan untuk mencampur tahu, tetapi aku sendiri adalah lain, maka itu, aku telah undang dua orang lain untuk bantu kau, Bin Djieko. Ini adalah sam-soeteeku Lauw Pwee Seng dan ini ngo-soemoay Soen Tiong Koen."

"Sungguh aku beruntung,"

Mengucap Bin Tjoe Hoa.

"Memang sudah sejak lama aku dengar namanya Sin-koen Thaypo dan Soen Liehiap!"

Orang she Bin ini tidak berani sebut gelarannya Soen Tiong Koen, maka ia memanggil "liehiap" (wanita gagah). Kaum kang-ouw djuluki si nona "Hoei Thian Mo-lie"

Atau "Hantu perempuan yang terbang kelangit", atau ringkasnya, Hantu Perempuan.

Sebab Soen Tiong Koen terlalu disayang gurunya, dan karena mengandali boegeenya yang liehay, ia jadi galak dan telengas juga, hingga umumnya orang jadi jeri terhadapnya.

Kemudian Bin Tjoe Hoa perkenalkan Sip Lek Taysoe, Tiang Pek Sam Eng, Pek-hay Tiang Keng dan Twie-hong kiam Ban Hong, juga yang lain-lain, kepada tiga tetamu yang terbelakang ini.

Perjamuan dilanjuti pula, sampai satu muridnya Bin Tjoe Hoa hampirkan gurunya untuk serahkan dua lembar ang-tiap lebar, membaca surat mana, mulanya orang she Bin itu berubah wajahnya, lalu kemudian ia tertawa kering.

"Tjiauw Loodjie benar-benar liehay!"

Berkata dia dengan nyaring.

"Pihak kami belum sempat cari dia, dia sudah mendahului datang kepada kami. Bwee toako, Baru kamu sampai, dia sudah lantas dapat tahu?"

Ia serahkan angtiap itu kepada orang she Bwee ini. Surat yang satu bertuliskan kata-kata.

"Hormatnya adik yang muda, Tjiauw Kong Lee,"

Sedang yang kedua memuat nama-namanya Bin Tjoe Hoa, Sip Lek Taysoe, Tiang Pek Sam Eng dan yang lain-lain, tak terkecuali nama Bwee Kiam Hoo bertiga.

Mereka semua diundang untuk besok sore berkunjung kerumahnya orang she Tjiauw itu, untuk hadirkan perjamuan.

"Sebagai tee-tauw-Coa, Tjiauw Loo-djie benar-benar liehay,"

Kata orang she Bwee ini.

"kita orang tak dapat menjadi kiang-liong akan tetapi boleh juga kita mencoba-coba melawannya!"

"Tee-tauw-Coa"

Berarti "ular setempat", yang dimaksudkan sebagai tuan rumah, dan "kiang-liong"

Adalah "naga yang tangguh", yang sebagai tetamu endonan.

Tegasnya, walaupun kosen, tak dapat layani ular setempat....

Kemudian Bin Tjoe Hoa kata pada muridnya .

Pergi kau undang masuk pada pembawa surat undangan ini!"

Murid yang diperintah itu lantas pergi keluar.

Semua orang menunda cawan arak mereka, semua mata diarahkan kepintu, darimana si murid tadi kembali dengan diikuti seorang laki-laki, berumur kurang lebih tiga puluh tahun, bajunya baju panjang, tindakannya sabar, romannya tenang, sesampai didepan Bin Tjoe Hoa, ia itu memberi hormat sambil menjura, terus ia berkata .

"Guruku dengar kabar para tjianpwee telah datang ke Kimleng ini, ia undang para tjianpwee untuk besuk datang, beromong-omong dengannya, maka teetjoe ini dikirim untuk mengundangnya."

Bwee Kiam Hoo tertawa dingin.

"Tjiauw Loo-djie mengadakan pesta Hong-boen!"

Katanya. Lalu ia menoleh pada pembawa surat undangan itu dan kata .

"Eh, apa namamu?"

Meski juga ia diperlakukan tak dengan hormat, utusan itu tetap berlaku sopan santun.

"Teetjoe bernama Lo Lip Djie,"

Sahutnya. Bwee Kiam Hoo membentak dengan pertanyaannya pula.

"Tjiauw Loodjie undang kita, dia mengatur tipu daya keji macam apa? Apakah kau ketahui itu?"

Tetap dengan hormat, Lip Djie menyahuti .

"Guruku dengar para Tjianpwee telah datang dikota Lamkhia, ia sangat kagum dan menghargainya, ingin dia bertemu dengan tjianpwee semua, dari itu ia tidak kandung maksud lainnya."

"Hm, bagus benar kata-katamu!"

Kata pula Kiam Hoo.

"Aku tanya kau. Ketika dulu Tjiauw Kong Lee aniaya kandanya saudara Bin Tjoe Hoa ini, kau turut saksikan sendiri kejadian itu atau tidak?"

"Itulah urusan sangat panjang, maka guruku undang para tjianpwee,"

Sahut Lip Djie.

"Adalah maksud guruku, kesatu untuk memberi penjelasan kepada para tjianpwee, dan kedua, ingin dia menghaturkan maaf kepada Bin Djie-ya."

"Bagus betul!"

Berseru Kiam Hoo.

"Orang telah dibunuh mati, apa itu dapat dihabiskan dengan penghaturan maaf saja?"

"Pada waktu itu, guruku telah didesak sampai ia habis daya, karenanya ia kesalahan turun tangan,"

Kata pula Lip Djie.

"Sejak itu hari, sampai sekarang ini guruku masih tetap menyesal...."

"Kalau begitu, pada waktu kejadian kau menghadapinya sendiri!"

Berteriak Hoei Thian Molie Soen Tiong Koen.

"Aku tidak saksikan itu sendiri,"

Jawab Lip Djie.

"akan tetapi guruku ada seorang baik, tidak nanti dia membunuh secara sembarangan..."

"Celaka, kau masih membantah!"

Berseru pula si Hantu Wanita, yang tubuhnya mendadakan mencelat dari kursinya, kearah pembawa surat itu, selagi dia berlompat, pedangnya berkelebat, lalu dengan tangan kirinya, dia tekan dadanya utusan ini.

Lo Lip Djie terkejut, dengan tangan kanan, ia tolak tangan kiri si nona.

Ia gunai tipu gerakan "Tiat boen soe"

Atau "Palang pintu besi."

"Celaka, tangan kanannya itu bakal kutung!"

Kata Sin Tjie kepada Tjeng Tjeng. Ia terkejut melihat sikapnya Soen Tiong Koen dan daya pembelaan si utusan.

"Apa kau bilang?"

Tanya Tjeng Tjeng.

Belum sempat Sin Tjie menyahuti si nona, atau Lo Lip Djie sudah perdengarkan seruan hebat, bahu kanannya telah terbacok sapat.

Semua hadirin jadi kaget, semua berbangkit.

Lo Lip Djie berdiri dengan muka pucat, akan tetapi ia tidak rubuh, dengan tangan kiri ia beset ujung bajunya, untuk dipakai membalut lukanya, kemudian ia membungkuk, akan jumput lengannya yang kutung itu, buat dibawa pergi dengan tindakannya yang lebar.

Para hadirin tercengang melihat orang sedemikian tangguh, hingga mereka berdiam seraya saling mengawasi saja.

Soen Tiong Koen susuti darah pada pedangnya, dengan tenang ia kembali ke kursinya, untuk duduk dengan anteng, akan minum araknya seperti biasa saja.

"Orang ini bandel dan bertingkah, gurunya tentu galak dan jahat melebihkan dia,"

Berkata Kiam Hoo.

"Bagaimana besok, kita hadirkan pesta perjamuannya atau tidak?"

"Pasti kita mesti pergi!"

Kata Ban Hong.

"Jikalau kita tidak pergi, tentu dia akan pandang sebelah mata pada kita!"

"Baiklah malam ini kita kirim orang untuk membuat penyelidikan,"

Usulkan Pek-hay Tiang Keng The Kie In si Ikan Lodan.

"Kita cari tahu secara rahasia, dia sebenarnya undang siapa-siapa untuk bantui pihak dan besok dia telah atur tipu-daya atau tidak..."

"The totjoe benar!"

Bin Tjoe Hoa puji tetamunya itu., ketua umum kawanan bajak.

"Turut dugaaanku, tentunya Tjiauw Kong Lee telah mengatur persiapan kuat. Maka dari pihak kita, saudara-saudara siapa yang sudi bercape-lelah akan intai musuh kita itu?"

"Siauwtee suka pergi!"

Mengatakan Twie-hong-kiam Ban Hong si Pedang Angin. Bin Tjoe Hoa berbangkit, ia isikan satu cawan arak, yang ia bawa kepada tetamunya itu.

"Silakan minum, toako!"

Ia memberi selamat.

Ban Hong menyambuti dan meminumnya kering sekali cegluk.

Sampai disitu, pembicaraan telah selesai, maka setelah perjamuan dilanjuti lagi sekian lama, orang semua bubaran.

Sin Tjie kasi tanda gerakan tangan kepada Tjeng Tjeng, terus ia ikuti Ban Hong dengan si nona mengiringi ia.

Perbuatan mereka tak diketahui oleh orang Tiam Tjhong Pay itu.

Itu waktu sudah kira-kira jam dua.

Ban Hong pulang kehotelnya untuk salin pakaian, lantas ia keluar pula, menuju ketimur.

Sin Tjie berdua terus menguntit hingga mereka dapati orang she Ban itu menikung dan menembusi tujuh atau delapan pengkolan jalan besar, kemudian, setelah mengitari sebuah rumah besar, dia lompat naik untuk memasuki pekarangan.

Sin Tjie saksikan gerakan pesat orang itu.

"Tidak kecewa dia dijuluki Twie-hong-kiam,"

Pikirnya.

Mereka juga berlompat, untuk menguntit terus.

Dari sebuah kamar tampak sinar terang.

Kamar itu dilewati oleh Ban Hong.

Tapi Sin Tjie ingin tahu, berdua Tjeng Tjeng, ia hampirkan jendela, dari sela-sela, ia mengintip kedalam.

Didalam kamar itu kedapatan tiga orang yang sedang duduk, yang duduk madap keluar ada seorang usia lima-puluh lebih, sepasang alisnya mengkerut, wajahnya berduka.

"Lip Djie bagaimana?"

Tanya dia setelah menghela napas.

"Lo Soeko telah pingsan beberapa kali, tapi sekarang darahnya sudah berhenti keluar,"

Sahut orang yang duduk dibawahannya.

Sin Tjie lantas menduga, orang tua itu tentulah Tjiauw Kong Lee bersama dua muridnya.

Mereka pun lagi omong hal lukanya Lo Lip Djie, si utusan pembawa surat.

Terdengar orang yang ketiga berkata.

"Soehoe, baik kita minta beberapa saudara untuk mengadakan perondaan disekitar rumah kita ini, aku kuatir musuh nanti kirim orang untuk intai kita..."

Orang tua itu menghela napas pula.

"Dirondai atau tidak, sama saja,"

Jawabnya.

"Sekarang ini aku sudah peserah kepada takdir. Besok pagi kamu antar soebo, soemoay serta soeteemu yang kecil kerumah keluarga Gouw di Ouw-tjioe."

"Soehoe, harap kau tidak putus asa!"

Berkata murid itu tanpa ia mengiakan titah gurunya itu.

"Kita didalam kota Lamkhia ini toh mempunyai lebih daripada dua ribu saudara, jikalau kita lakukan perlawanan, apa musuh bisa berbuat terhadap kita?"

Masih orang tua itu menghela napas.

"Lawan kita telah undang orang-orang kang-ouw yang sangat kenamaan,"

Katanya.

"Percuma-cuma saja , kita akan buang jiwa jikalau kita lawan keras kepada mereka itu. Maka, kalau nanti aku terbinasa, aku minta sukalah kamu rawat baik-baik pada soeboe, soemoay dan soeteemu itu. Mereka semua mengandal atas tunjangan kamu beramai..."

Lantas orang tua itu mengucurkan air mata.

"Soehoe, jangan soehoe mengucapkan begitu,"

Kata murid yang lainnya.

"Ilmu silat soehoe tinggi, hingga soehoe bis amenjagoi di kanglam, umpama kata soehoe tak dapat memenangkan mereka, toh tidak nanti soehoe bakal kena dikalahkan. Kita terdiri dari dua puluh lima soeheng-tee, kecuali Lo Soeko, masih ada dua puluh empat, mustahil kita tidak sanggup lawan mereka itu? Kenapa soehoe tidak mau undang sahabat-sahabat soehoe dipelbagai tempat, supaya mereka datang membantu?"

"Dulu dimasa muda, aku pun berdarah panas sebagai kamu,"

Kata guru itu.

"kesudahannya, seperti kau lihat, onar menjadi begini rupa. Sekarang ini aku terserah, aku hendak kasi diriku dibunuh mereka, untuk membayar hutang jiwa, dengan begitu urusan menjadi beres...."

Terharu Sin Tjie dan Tjeng Tjeng dengar pembicaraan guru dan murid-muridnya itu.

"Kelihatannya Tjiauw Kong Lee ini bukan seorang jahat,"

Memikir pemuda kita.

"Mungkin dulu dia telah berbuat salah tetapi sekarang ia sudah insaf dan menyesal...."

"Soehoe!"

Tiba-tiba seru seorang murid.

"Oleh karena soehoe berkeputusan tidak hendak lawan mereka,"

Berkata murid ini dengan jawabannya.

"marilah malam ini juga kita berangkat untuk menyingkirkan diri, sedikitnya untuk sementara waktu..."

"Mana dapat tindakan itu diambil?"

Berseru seorang murid yang lainnya.

"Soehoe kenamaan, apa mungkin kita jeri terhadap musuh?"

"Apa sih kenamaan atau tidak kenamaan?"

Kata Tjiauw Kong Lee, orang tua itu.

"Sekarang ini aku tidak pikiri soal kenamaan lagi. Menyingkir juga tak dapat kita menyingkir untuk selama-lamanya. Maka besok pagi, kamu semua berangkat, aku akan berdiam sendirian disini, untuk layani mereka!"

Kedua murid itu menjadi sibuk.

"Aku suka temani soehoe!"

Berseru mereka.

"Apa?"

Berseru juga sang guru.

"Selagi ancaman malapetaka mendatangi, kau tak suka dengar perkataanku?"

Dua murid itu tunduk, mereka bungkam.

"Pergilah, kamu bantui soebo berkemas-kemas,"

Tjiauw Kong Lee menitah.

"Juga lihat, kereta sudah siap atau belum."

"Baik soehoe,"

Sahut kedua murid, akan tetapi kaki mereka tidak bergerak. Mereka seperti terpaku disitu. Tjiauw Kong Lee awasi mereka itu, ia menghela napas pula.

"Baik, kamu suruh semua berkumpul disini!"

Akhirnya guru ini.

Baru setelah titah ini, kedua murid itu bertindak keluar.

Sin Tjie ajak Tjeng Tjeng segrea menyingkir kepojok yang gelap.

Tapi justeru karena menyingkir kesitu , selagi pasang mata, mereka lihat dua tubuh sedang mendekam dipojok tembok sebelah barat.

Sin Tjie mengawasi, hingga samar-samar ia kenali tubuh seperti tubuhnya Ban Hong, sedang yang satunya lagi adalah satu tubuh langsing dengan baju merah, hingga ia pun kenali Hoei Thian Mo-lie Soen Tiong Koen.

Jadi rupanya, setelah tadi menuju kebelakang, orang she Ban itu pergi sambut kawan perempuan itu.

Gemas Sin Tjie apabila ia ingat ketelengasan si Hantu Wanita tadi, yang secara getas membabat kutung sebelah lengannya Lo Lip Djie.

Orang Hoa San Pay tak selayaknya berbuat demikian bengis dan kejam.

Maka mau ia memberi ajaran.

"Kau berdiam disini, aku larang kau bergerak!"

Pemuda ini pesan Tjeng Tjeng, dikuping siapa ia berbisik. Nona itu geraki tubuhnya, ia bersenyum.

"Aku justru ingin bergerak..."

Katanya.

Sin Tjie tidak menegur, ia malah bersenyum juga.

Lantas ia menyelinap ditempat gelap itu, ia jalan mutar, hingga ia berada di sebelah belakangnya Ban Hong dan Soen Tiong Koen.

Dua pengintai itu sedang memasang mata kedalam kamar, perhatian mereka dipusatkan, hingga mereka tidak tahu orang membayangi mereka.

Rupanya mereka tak curiga sedikit juga.

Sin Tjie hunjukkan kegesitannya.

Setelah datang dekat, dia lompat melesat kebelakang nona Soen itu, selagi lewat, tangannya diulur, akan menyambar pedang, sehingga pedang itu sekejab saja berpindah tangan tanpa si nona engah!

Tjeng Tjeng lihat kawannya kembali kepadanya, tapi kapan ia tampak kawan ini curi pedangnya Soen Tiong Koen, ia tidak puas.

"Kau simpan ini!"

Kata Sin Tjie dengan pelahan seraya sodorkan pedang curian itu.

Melihat ini, Barulah Tjeng Tjeng girang.

Ia lantas sambuti pedang itu.

Kemudian berdua mereka mengintai pula di jendela.

Selama itu, hampir beruntun, datang dua-puluh orang lebih.

Karena mereka terlihat tegas, kenyataan yang paling tua berusia kira-kira empat puluh dan yang termuda Baru belasan tahun.

Tidak salah lagi, mereka adalah murid-muridnya Tjiauw Kong Lee ini.

Sesampainya didalam kamar, semua murid itu beri hormat pada guru mereka, lantas mereka berdiam diri, tidak ada yang buka suara.

Tjiauw Kong Lee awasi mereka semua, ia perlihatkan air muka guram.

"Dimasa mudaku, aku hidup dalam dunia Rimba Hijau,"

Kata guru ini.

"Sekarang ini tak perlu aku umpatkan apa jua terhadap kamu semua."

Sin Tjie pandang semua murid itu, mereka angkat kepala, tapi masih mereka berdiam saja. Terang sudah, semua murid itu benar-benar tidak ketahui hal-ikhwal guru mereka itu.

"Sekarang musuh telah datang, ingin aku jelaskan kamu semua duduknya permusuhan,"

Kata pula guru itu. (Bersambung bab ke 11) Lagi-lagi Tjiauw Kong Lee menghela napas.

"Sebagai orang rimba hijau, aku ambil kedudukan diatas bukit Siang Liong Kong,"

Demikian ia mulai.

"Pada tahun itu, pada suatu hari aku terima laporan dari beberapa saudara pengawas tentang bakal lewatnya serombongan "

Minyak air"

Dibawah gunungku.

Itulah rombongannya bekas tootay dari Souwtjioe dan Siongkang, yang bersama keluarganya dalam perjalanan pulang kekampung halaman mereka.

Adalah kebiasaan kita kaum rimba hijau, kita hidup dari pembegalan atau perampasan, apapula hartanya pembesar-pembesar jahat, yang makin tak dapat dikasi hati.

Laginya, dengan membegal satu lepasan pembesar, hasilnya berlipat seratus kali daripada kita ganggu rombongan saudagar, sedang harta mereka biasanya harta tidak halal dan pantaslah bila kita merampasnya.

Maka bulatlah tekadku untuk merampasnya.

Turut keterangan lebih jelas, bekas tootay itu ada orang she Khoe dan rombongannya bakal lewat diwaktu lohor.

Apa yang menyulitkan kita, terkabar bekas tootay itu pakai pelindung yang bukan orang sembarangan, sebab dia adalah Bin Tjoe Yap, pemimpin Hwee Yoe Piauw Kiok dari Tjeelam, Shoatang.

Bin Tjoe Yap itu adalah kandanya Bin Tjoe Hoa ini."

Baru mendengar sampai disitu, Sin Tjie dan Tjeng Tjeng lantas saja mengerti duduknya hal.

"Beginilah kiranya,"

Pikir pemuda kita.

"Tjiauw Kong Lee hendak merampas, Bin Tjoe Yap hendak membelainya. Sebagai piauwsoe, itulah kewajibannya Bin Tjoe Yap. Rupanya mereka telah bertempur, Bin Tjoe Yap kalah, dia mati terbunuh...."

Sembari pasang kuping, Sin Tjie juga tidak lepas mata terhadap Ban Hong dan Soen Tiong Koen, maka itu ia dapat melihat ketika nona Soen satu kali meraba bebokongnya, dia terperanjat karena pedangnya tak ada ditempatnya, hingga dia kaget dan berjingkrak karenanya, segera dia memberi tanda pada Ban Hong, lantas keduanya angkat kaki dari rumahnya si orang she Tjiauw itu.

Diam-diam Sin Tjie tertawa dalam hatinya.

Ia terus mendengari .

"Bin Tjoe Yap itu, dalam kalangan kang-ouw, ada kenamaan,"

Tjiauw Kong Lee melanjuti.

"Dia ada satu ahli silat dari Boe Tong Pay...."

"Oh, persaudaraaan Bin itu ada dari Boe Tong Pay,"

Sin Tjie pikir.

"Menurut soehoe, Boe Tong Pay adalah pusat utama dari pelajaran ilmu silat pedang diseluruh negara dan ketuanya ada punya pergaulan luas dengan lain-lain kaum persilatan. Pantas sekarang Bin Tjoe Hoa bisa undang demikian banyak orang kosen."

"Mulanya tak berani aku segera turun tangan,"

Tjiauw Kong Lee bercerita pula.

"malah aku segera turun gunung untuk membikin penyelidikan sendiri. Malam itu aku mengintai dirumah penginapan. Apa yang aku saksikan membuat perutku hendak meledak saking gusar dan mendongkol. Diluar dugaan, Bin Tjoe Yap ada seorang yang kemaruk paras eilok, dan dia telah incar puteri kedua dari Khoe-Tootay. Untuk ini, dia telah bersekongkol sama Thio Tjeetjoe, pemimpin Hoei Houw Tjee. Rencana mereka adalah Thio Tjeetjoe akan turun tangan didekat Hoei Houw Tjee, selagi perampasan dilakukan, Bin Tjoe Yap nanti berpura-pura melakukan perlawanan, tapi dia akan berpura-pura kalah , supaya Thio Tjeetjoe dapat binasakan Khoe Tootay sekeluarga kecuali gadisnya yang kedua itu, yang mesti dirampas bersama semua hartanya. Setelah itu, Bin Tjoe Yap akan berpura-pura berlaku nekat, untuk tolong nona Khoe itu. Apabila si nona sudah dapat ditolong, kata Bin Tjoe Yap, dia pasti jadi sebatang kara, tidak ada pelindungnya lagi, hingga ia percaya, nona itu akan berhutang budi padanya dan nanti suka serahkan diri untuk menjadi isterinya. Thio Tjeetjoe bersedia melakukan rencana itu, karena ia pun temahai hartanya tootay itu. Aku dengar semua itu, aku gusar, lantas aku pulang, untuk ajak sekalian saudara bersiap didekat Hoei Houw Tjee, guna rintangi rencana itu. Benarlah, pada jam yang disebutkan, rombongan Khoe Tootay sampai di jalanan gunung bagian kiri dari Hoei Houw Tjee, sarangnya Thio Tjeetjoe itu."

"Ah, inilah lain,"

Pikir Sin Tjie. Tadinya ia menduga, begal dan piauwsoe perebuti harta saja. Ia mendengari terus .

"Waktu itu tak dapat aku sabarkan diri,"

Kata Tjiauw Kong Lee yang melanjuti.

"Aku junjung pantang kita kaum Rimba Hijau mengenai soal paras eilok. Kita boleh buntu jalan, kita boleh menjadi begal, tapi kita tetap mesti jadi satu laki-laki, tidak demikian ada Bin Tjoe Yap. Kenapa dia jadi begitu hina, sedang dia ada satu piauwsoe? Sebagai piauwsoe, dia menyalahi tugas, dia bikin turun derajatnya, dan sebagai orang gagah, dia perhina martabat sendiri! Segera setelah munculnya rombongan Khoe Tootay, Thio Tjeetjoe dan laskarnya pun keluar, dengan banyak berisik, mereka mengancam hendak membegal. Bin Tjoe Yap maju kemuka, dengan tingkahnya yang tengik, ia berlagak hendak melindungi keluarga Khoe itu. Aku habis sabar, tidak tunggu sampai mereka lanjuti sandiwara mereka, aku keluar dari tempat tersembunyi. Adalah maksudku untuk cegah kejadian busuk itu, akan tetapi kita kedua pihak tak mendapat kecocokan, hingga kita jadi bentrok. Dengan pedangnya, Bin Tjoe Yap benar-benar liehay, untungnya bagiku, dia sedang gusar dan kalap, dia seperti tak dapat kendalikan diri, maka kebetulan aku dapat ketika, aku telah kena bacok dia sehingga dia binasa...."

"Soehoe, manusia keji semacam dia pantas dibinasakan!"

Berseru satu murid, yang potong omongan gurunya.

"Kenapa kita mesti jeri? Kalau besok mereka datang, kita bongkar rahasianya Bin Tjoe Yap ini, umpama dia norek hendak menuntut balas juga, mustahil diantara rombongannya tidak ada orang-orang yang jujur ?"

"Kau benar,"

Sin Tjie kata dalam hatinya, mendengar kata-katanya murid itu.

"Umpama benar keterangannya orang she Tjiauw ini, dia pantas dihargai. Aku kuatir masih ada lain urusan lagi diantara mereka itu...."

Tjiauw Kong Lee menghela napas pula sebelum ia menutur lebih jauh.

"Setelah membinasakan Bin Tjoe Yap, aku menginsyafi bahaya yang bakal ancam aku,"

Demikian guru itu.

"Gurunya Bin Tjoe Yap ada Oey Bok Toodjin, bersama guru ini ada banyak saudara-saudaranya seperguruan, diaorang itu tentunya tidak mau mengerti dan bakal menuntut balas. Bagaimana aku sanggup lawan mereka semua? Beruntung untuk aku, saudara-saudaraku dapat pengaruhi Thio Tjeetjoe, lantas aku paksa dia untuk menulis surat keterangan yang menuturkan persekutuan mereka, bahwa maksud Bin Tjoe Yap ada untuk ganggu nona Khoe itu. Thio Tjeetjoe telah tulis surat pengakuannya itu."

"Khoe Tootay merasa sangat bersyukur yang aku telah tolongi dia, dia sampai menulis sehelai kertas dalam mana ia juga tuturkan dengan jelas duduknya perkara itu, untuk mana dia paksa dua piauwsoe dari Hwee Yoe Piauw Kok bubuhkan tanda-tangannya, untuk menguatkan surat keterangan itu. Kedua piauwsoe itu tidak tahu maksudnya Bin Tjoe Yap, mereka tidak mendendam sakit hati padaku, sebaliknya, mereka bersyukur, karena kalau tidak, tentu nama mereka akan turut bercacat. Karenanya, kita menjadi sahabat-sahabat. Karena kejadian itu, tak dapat aku terus menduduki Siang Liong Kong, terpaksa aku membubarkan diri, kemudian dengan bawa itu dua surat bukti, aku pergi ke Boe Tong San, untuk menemui Oey Bok Toodjin, guna jelaskan duduknya hal."

"Diluar dugaanku, pihak Boe Tong Pay telah terlebih siang mendengar kabar perihal kebinasaannya Bin Tjoe Yap, mereka telah berpapasan denganku selagi aku Baru ditengah perjalanan. Mereka berniat ganggu aku, baiknya aku dapat pertolongan seorang kang-ouw yang luar biasa, siapa terus antar aku naik ke Boe Tong San hingga aku dapat menemui Oey Bok Toodjin. Dibantu oleh penolong itu, aku ceritakan duduknya kejadian. Oey Bok Toodjin ada seorang jujur, ia suka percaya keteranganku, maka ia larang murid-muridnya musuhkan aku. Akan tetapi, untuk nama baiknya Boe Tong Pay, ia kehendaki aku jangan uwarkan hal itu kepada umum. Aku berikan janjiku. Maka setelah turun gunung, terus aku tutup mulut. Inilah sebabnya kenapa hampir tidak ada orang kang-ouw yang ketahui rahasia itu. Pada waktu itu, Bin Tjoe Hoa masih kecil. Aku percaya, dia pun tidak tahu halihwalnya engko itu."

"Apakah kedua surat keterangan itu masih ada, soehoe?"

Tanya satu murid.

"Justru kedua surat itu yang membuat sulit padaku,"

Sahut sang guru.

"Duduknya begini. Pertama-tama aku mesti sesalkan mataku, yang seperti buta, hingga aku tak dapat kenali wajah manusia. Baru pada musim rontok tahun yang lalu, satu sahabat menyampaikan berita kepadaku bahwa adiknya Bin Tjoe Yap sudah rampungkan pelajaran silatnya, bahwa adik ini, mengetahu kandanya binasa ditangan aku, dia hendak cari aku untuk menuntut balas. Tentu saja, aku lantas berdaya untuk selamatkan diriku. Turut penyelidikanku, Tiang Pek Sam Eng bersahabat rapat dengan Bin Tjoe Hoa itu. Tiga jago dari Tiang Pek San itu ada kenalanku untuk banyak tahun, kami bersahabat rapat, cuma sudah belasan tahun, kami tak bertemu satu sama lain. Aku masih ingat bagaimana diwaktu muda kami bekerja dan hidup bersama dalam dunia Rimba Hijau, maka itu, ingin aku minta perantaraannya. Demikian, aku telah berangkat mencari Tiang Pek Sam Eng...."

Salah satu murid menyelak.

"Jadi ketika tahun lalu soehoe pergi ke Liauwtong, hingga seantero tahun Soehoe tidak berada di rumah, sebenarnya soehoe lagi urus perkara ini?"

"Benar,"

Tjiauw Kong Lee manggut.

"Aku telah pergi ke Liauwtong untuk cari Tiang Pek Sam Eng dirumahnya. Ketika itu adalah akhir tahun, hawa udara sangat dingin, aku duga dua saudara Soe mesti berada dirumahnya. Tidak kebetulan untuk aku, aku tidak lantas dapat menemui kedua saudara itu. Turut keterangan orang dirumahnya, mereka kebetulan dipanggil oleh Kioe Ong-ya di Kian-tjioe-wie. Tapi sudah telanjur, terpaksa aku menantikan. Selang beberapa hari Soe Peng Kong dan Soe Peng Boen Barulah pulang. Bukan main girangku bertemu sama sahabat-sahabat lama, demikian juga dua saudara itu."

"Tidak ayal lagi, aku tuturkan maksud kedatanganku. Untuk itu, perlu aku jelaskan duduknya permusuhanku dengan keluarga Bin itu. Soe Peng Kong berjanji suka menolong aku, malah ia bertepuk dada memastikan urusan bakal beres. Karenanya, aku serahkan dia dua surat keterangan itu. Peng Kong bilang, kedua surat itu perlu diperlihatkan kepada Bin Tjoe Hoa. Ia malah kata, pabila Tjoe Hoa sudah lihat surat-surat itu, tidak nanti dia punya muka untuk menuntut balas lebih jauh, mungkin dia akan minta orang perantaraan untuk menghaturkan maaf padaku, serta untuk mohon agar aku tidak siarkan cerita kebusukan kakaknya itu. Alasannya Peng Kong itu masuk diakal, aku percaya padanya."

"Dua saudara itu layani aku dengan telaten dan gembira sekali, hingga aku suka berdiam lamaan dirumahnya. Aku pun sedang punyakan tempo terluang. Setiap hari kami pergi berburu atau pergi menonton wayang. Kemudian pada suatu hari, Peng Kong omong kepadaku bahwa bintangnya kerajaan Beng sudah guram, selagi kami mempunyai kepandaian silat, kenapa kami tidak mau mencari junjungan baru, katanya. Dia hunjuk, kami bakal peroleh pangkat besar, anak-isteri hidup mewah dan agung. Tidakkah kami bakal jadi menteri pendiri kerajaan? Aku tercengang mendengar ajakan itu. Aku tanya apa kami bakal pergi menghamba kepada Giam Ong ? Peng Kong tertawakan aku, dia bilang Giam Ong adalah berandal rumput dan tidak bakal peroleh kemajuan. Dia lalu menjebutkan kerajaan Boan, yang katanya angkatan perangnya kuat, rangsumnya banyak, bahwa bangsa asing itu bakal segera datang menyerbu. Dia kata, kalau aku suka terima ajakannya, dia dua saudara bakal pujikan aku kepada Kioe Ongya, supaya aku diterima bekerja. Mendengar itu, tiba-tiba saja aku jadi gusar, hingga aku tegur mereka, mereka sebenarnya bangsa apa, kenapa sebagai cucu Oey Tee, mereka suka menjadi kacung bangsa asing! Aku katakan, apa dengan begitu kami tidak akan jadi cucu yang berdosa besar dan setelah mati, mana kami ada muka untuk bertemu dengan leluhur kita?"

Mendengar ini, Sin Tjie manggut-manggut sendirinya.

"Dia seorang cerdas, dia dapat bedakan yang benar dan tidak benar,"

Pikirnya. Maka ia kagumi orang she Tjiauw ini.

"Untuk sementara itu, kami bentrok,"

Tjiauw Kong Lee melanjutkan penuturannya itu.

"Di hari kedua, kami baik pula seperti biasa dan mereka berdua kembali berlaku ramah-tamah dan perlu. Peng Kong akui kemarin ia sinting, tak tahu dia, dia sudah ngoceh apa, dia minta aku tidak buat pikiran. Kami adalah sahabat-sahabat dari belasan tahun, tentu saja urusan demikian dapat kami bikin habis. Lagi belasan hari aku berdiam di Liauwtong, Baru aku pulang."

"Benar-benar aku tidak sangka, dua saudara Soe itu adalah dua ekor srigala atau anjing! Teranglah, bukan mereka pergi pada Bin Tjoe Hoa untuk akuri kita, mereka justru ciptakan gelombang, mereka sengaja ogok orang she Bin itu, hingga Bin Tjoe Hoa bersiap sedia untuk satroni aku. Selama setengah tahun, aku masih belum ketahui rahasianya dua saudara Soe itu, sampai sekarang ini, mereka muncul dengan mendadakan dikota Lamkhia ini, malah Bin Tjoe Hoa telah undang orang-orang liehay untuk bantu dia. Aku percaya, dua surat keterangan itu tentu masih berada pada dua saudara Soe itu. Sudah berselang banyak tahun sejak kejadian itu, maka sekarang ini, mereka yang menjadi saksi, yang ketahui perkara, tentu sudah menutup mata atau entah dimana tinggalnya mereka sekarang apabila mereka masih hidup. Tanpa bukti dan saksi, bagaimana aku bisa bela diri? Tentu sekali, Bin Tjoe Hoa tidak nanti percaya aku. Malah mungkin, dia bakal jadi semakin gusar dan akan tuduh aku mengarang cerita untuk fitnah kandanya itu. Aku heran sikapnya dua saudara Soe itu. Kami toh bersahabat kekal, umpama mereka ingat bentrokan, tapi kami sudah baik pula. Kenapa sekarang mereka datang bersama Bin Tjoe Hoa ? Aku duga mereka semua ingin tumpas pihakku."

Mendengar keterangan itu, dua puluh empat muridnya Tjiau Kong Lee jadi sangat gusar, gusar terutama terhadap dua saudara Soe, sehingga ingin diaorang tempur mereka itu.

"Sabar,"

Tjiauw Kong Lee bilang.

"Sekarang pergi kamu undurkan diri. Ingat, apa yang aku terangkan kepada kamu ini, jangan kamu bikin bocor. Saking terpaksa saja, aku telah buka rahasia ini kepada kamu semua. Aku sudah berjanji sama Oey Bok Toodjin, untuk tutup rahasianya Bin Tjoe Yap, aku hendak menetapkan janji. Lebih suka aku merekalah yang tak berkepantasan daripada aku yang menyalahi janji!"

Ia menghela napas.

"Pergi kamu panggil soemoay dan soeteemu!"

Dengan wajah masih gusar, murid-murid itu pergi keluar.

Tapi menyusul keluarnya mereka, moielie lantas tersingkap pula dan sekarang datangnya satu nona umur enam atau tujuh belas tahun serta satu bocah usia delapan atau sembilan tahun.

Si nona bercucuran air mata, ia berseru memanggil "Ayah!"

Lantas ia tubruk Tjiauw Kong Lee.

Ayah itu usap-usap rambut gadisnya, untuk sekian lama, ia tak dapat bicara.

Si anak sendiri telah menangis sesenggukan.

Si bocah mengawasi dengan pentang mata lebar-lebar, tak tahu ia kenapa encienya itu menangis.

"Apakah ibumu telah siapkan segala apa?"

Kong Lee tanya kemudian. Nona itu tidak menjawab, ia cuma manggut.

"Jikalau nanti adikmu tambah usianya, kau baik-baik ajari dia bersekolah dan meluku,"

Kata ayah itu pula.

"Tetapi ingat, jangan perkenankan dia turut dalam ujian untuk memperoleh pangkat. Juga jangan kau ajarkan pula dia ilmu silat."

"Adik justeru perlu belajar ilmu silat, supaya dibelakang hari dia dapat menuntut balas,"

Kata si nona.

"Ngaco!"

Kong Lee membentak.

"Apakah kau hendak gaduh aku hingga aku mati gusar!"

Tapi cuma sedetik saja, dia melanjuti dengan sabar .

"Didalam Rimba Persilatan, saling mendendam dan saling membalas, entah sampai kapan habisnya! Maka itu tak ada lebih baik daripada menjadi rakyat jelata yang lurus dan damai selama hidup kita. Dasarnya adikmu tidak sempurna, jikalau dia belajar silat, tidak nanti dia mendapat kepandaian yang berarti, tidak separuh dari semua kepandaianku. Lihat contohnya aku sendiri, aku telah terdesak begini rupa, sehingga aku tidak bakal akhirkan usiaku secara damai. ....Ah, tak dapat aku tunggu kau hingga kau berumah-tangga, ini adalah ganjalan untuk hatiku....Pergi kau beritahukan mereka semua, setelah aku mati nanti, urusan Kim Liong Pang kita baik semuanya diserahkan kepada Kho Siokhoemu yang menjadi Hoe-pangtjoe, biar mereka semua dengar titahnya...."

Sin Tjie heran.

"Aku dengar Kim Liong Pang adalah satu partai besar diwilayah Kanglam ini, siapa tahu, Tjiauw Kong Lee adalah yang menjadi pangtjoe, ketua. Mereka beranggauta banyak dan besar pengaruhnya, kenapa sekarang Tjiauw Kong lee bersikap begini lemah? Benarbenar aneh!"

"Sekarang aku pergi cari Kho Siokhoe,"

Berkata si nona.

"He, kenapa kau masih tidak ketahui sikapku?"

Sang ayah menegur.

"Pamanmu itu bertabeat keras, jikalau dia datang dan ketahui urusanku ini, apa kau anggap dia mau sudah saja orang perhina aku begini rupa? Satu kali dia datang, perang bakal segera terbit, entah berapa banyak jiwa akan melayang! Diumpamakan aku ketolongan, luput dari bahaya kematian, akan tetapi karena itu, mungkin beberapa ratus saudara kita bakal terbinasa, apabila sampai terjadi demikian, mana bisa hatiku tenang? Tidak, aku tidak tega! Hayolah kau lekas pergi!"

Nona itu menangis, tapi ia paykoei kepada ayahnya dua kali, sesudah mana, ia tuntun tangan adiknya, untuk diajak pergi. Ketika ia sampai dipintu, tiba-tiba ia berhenti dan menoleh.

"Ayah!"

Katanya.

"Apa mungkin, kecuali dari mati, tidak ada jalan yang kedua untuk menghindarinya?"

"Tentang itu aku telah pikirkan selama beberapa hari dan malam,"

Sahut sang ayah.

"Apakah aku tidak bakal bergirang andaikata bisa aku terluput daripada kematian? Didalam dunia ini, cuma ada satu orang yang bisa tolong aku, akan tetapi orang itu kebanyakan sudah tidak berada lagi didalam dunia..."

Kong Lee menghela napas pula. Wajahnya si nona bercahaya dengan tiba-tiba, ia hampirkan ayahnya dua tindak.

"Ayah, siapakah orang itu?"

Tanyanya."

Siapa tahu kalau-kalau dia belum meninggal dunia...."

"Dia orang she Hee,"

Sahut ayah itu.

"gelarannya ialah Kim Coa Long-koen."

Selagi gadisnya masih berdiam, Tjiauw Kong Lee menambahkan.

"Dialah orang yang aku maksudkan si orang kang-ouw yang luar biasa. Dialah juga yang ketahui jelas perkaraku dengan Bin Tjoe Yap. Ketika dulu dua-belas murid kepala dari Boe Tong Pay hendak ganggu aku, dialah yang sendirian saja mundurkan jago Boe Tong San, untuk tuturkan duduknya hal, hingga perkara jadi dapat dibikin habis. Sekarang ini Oey Bok Toodjin sudah meninggal dunia dan Kim Coa Long-koen sendiri katanya pada belasan tahun telah orang aniaya hingga sekarang dia pun tak berada dalam dunia lagi. Coba dia masih hidup....Ah, sudahlah, pergilah kamu....."

Dengan sangat berduka, si nona berlalu.

Sin Tjie beri tanda pada Tjeng Tjeng, mereka tinggalkan jendela, untuk kuntit nona Tjiauw itu, kapan mereka telah sampai ditaman bunga, dimana tidak ada lain orang, mendadakan pemuda kita berlompat, akan lombai nona itu, untuk berdiri didepannya.

"Nona Tjiauw, mau atau tidak kau tolongi ayahmu?"

Tanya ia secara mendadakan. Nona itu terkejut, hingga ia melengak, atau segera ia hunus pedangnya.

"Siapa kau?"

Ia membentak.

"Jikalau kau hendak tolong ayahmu, mari ikut aku!"

Kata Sin Tjie, yang tidak jawab teguran orang. Lantas dengan satu loncatan tinggi dan jauh, dengan "It Hoo Tjiong Thian"

Ia mencelat untuk lewati tembok pekarangan.

Tjeng Tjeng, yang berdiam saja, telad contoh kawannya itu.

Nona Tjiauw kembali melengak, terutama ia tidak sangka orang itu demikian liehay ilmu entengkan tubuh, maka kemudian, tanpa ayal lagi, ia pergi susul mereka.

Ia telah mengubar sejurus tempo ia lihat orang masih terus lari keras, hingga ia bersangsi dan hentikan tindakannya, lantas ia memutar tubuh, untuk pulang.

Tapi Baru ia berbalik, mendadak ia rasakan sampokan angin dipinggangnya, tali pedang dipinggangnya kendor dan terlepas, menyusul mana, ia pun rasakan sebelah tangannya sesemutan, cekalannya lepas sendirinya, hingga dilain saat pedangnya sudah terampas orang yang ia tak kenal itu.

Sin Tjie pun sudah lantas berdiri didepan nona ini.

Bukan main kaget dan herannya nona Tjiauw.

"Jangan takut, nona,"

Sin Tjie berkata.

"Jikalau ada niatku mencelakai kau, aku dapat lakukan itu secara gampang sekali. Aku ada sahabat dari keluargamu, maka kau mesti dengar perkataanku apa yang aku bilang!"

Nona itu manggut, tapi Sin Tjie lihat orang masih ragu-ragu.

"Ayahmu sedang terancam bahaya maut, kau berani tidak menempuh bahaya untuk tolong dia?"

Sin Tjie tanya. Ia tidak perduli orang bersangsi atau curiga.

"Asal ayah dapat tertolong, walaupun tubuhku hancur-lebur, aku membelainya,"

Kata si nona kemudian.

"Ayahmu itu seorang baik,"

Sin Tjie bilang.

"Dia lebih suka korbankan diri sendiri daripada mesti lakukan pertempuran besar yang bakal meminta banyak korban. Orang semacam dia, langka, dari itu aku suka bantu dia. Aku pastikan ini!"

Melihat sikap orang dan mendengar perkataannya, nona Tjiauw tidak bersangsi lagi, malah ia lantas tekuk lututnya, untuk paykoei.

"Jangan nona!"

Sin Tjie mencegah.

"Perlu aku jelaskan padamu, walau begini, aku tidak merasa pasti kita bakal berhasil atau tidak."

Nona Tjiauw itu tidak dapat tekuk lutut, lengannya dicekal si anak muda, ia merasai satu tenaga yang besar, hingga tubuhnya seperti terangkat naik. Karena ini, semakin kuatlah kepercayaannya.

"Sekarang mari ajak kami ke kamar tulis,"

Sin Tjie minta.

"Disana aku hendak menulis sepucuk surat untuk ayahmu."

"Sebenarnya siapa djiewie berdua?"

Tanya nona Tjiauw.

"Apa tidak lebih baik djiewie bicara langsung sama ayah?"

"Kita pasti bekerja cepat,"

Sin Tjie bilang.

"Kapan sebentar ayahmu baca suratku, tidak nanti dia berputus asa terus, tidak nanti dia hendak cari kematiannya pula! Kita tak boleh ayal-ayalan, inilah tindakan yang pertama."

Entah bagaimana, Nona Tjiauw lantas saja mempercayai habis.

"Kalau begitu djiewie, marilah!"

Ia mengundang.

"Inilah rahasia,"

Sin Tjie peringati."

Kecuali kau sendiri, lain orang tak boleh lihat kita!"

Nona itu manggut.

Bertiga mereka loncati tembok pekarangan, untuk masuk kedalam.

Nona rumah ajak kedua tetamunya kedalam sebuah kamar yang kecil dimana ia keluarkan kertas dan pit, ia gosoki juga baknya.

Kemudian ia mundur, akan duduk disedikit jauh.

Sin Tjie sudah lantas menulis.

Tjeng Tjeng berada didampingnya kawan ini, melihat "surat"

Yang ditulis Sin Tjie ia terperanjat. Sin Tjie lipat surat itu, untuk dimasuki kedalam sampul, yang ia tutup rapat.

"Besok pagi tepat jam sin-sie,"

Ia pesan si nona.

"kau pergi ke hotel Hin Liong kamar no.3 huruf Oey, disana aku nanti tunggui kau."

Nona Tjiauw manggut. Sekarang Sin Tjie serahkan suratnya.

"Sampaikan surat ini segera pada ayahmu,"

Ia kasi tahu.

"Tapi kau mesti janji satu hal kepadaku."

"Aku nanti turut pesanmu,"

Sahut si nona.

"Tidak perduli apa yang ayahmu tanyakan, terutama jangan kau beritahu dia tentang roman dan usiaku!"

Pesan pemuda kita. Nona Tjiauw heran sekali.

"Kenapa begitu?"

Tanyanya.

"Asal kau beritahu, tak dapat aku bantu kau!"

Ada jawaban si anak muda. Nona itu melengak tapi ia lantas manggut.

"Baik, aku turut kau,"

Jawabnya. Sin Tjie tarik tangannya Tjeng Tjeng.

"Sudah cukup, mari kita pergi!"

Nona Tjiauw lihat orang berlompat keluar pekarangan, gesitnya bagaikan burung terbang, hingga kembali ia jadi kagum.

Tapi ia beragu-ragu ketika ia berlari-lari kekamar ayahnya, yang pintunya sudah ditutup.

Ia coba menolaknya dengan sekuat tenaga, tidak ada hasilnya.

Ia jadi heran dan kuatir.

Ia lari ke jendela, dengan satu toyoran, ia bikin daun jendela menjeblak terbuka, terus saja ia berloncat masuk, justru ayahnya lagi bawa satu cawan kebibirnya.

"Ayah!"

Berseu gadis ini, yang kaget tak terkira. Ia bisa duga perbuatannya ayah itu.

"Ayah, lihat ini dulu!"

Tjiauw Kong Lee menunda cawannya, ia mengawasi dengan mendelong. Nona itu buka sampul surat, ia sodorkan suratnya kepada ayahnya itu.

"Baca ini, ayah!"

Kata dia.

Kong Lee tidak lihat surat hanya lukisan serupa pedang.

Dengan mendadakan saja, cawannya terlepas dari cekalannya, sehingga cawan itu jatuh kelantai dan hancur bergomprangan!

Si nona kaget sehingga ia berjingkrak.

Tapi segera ia tampak perubahan air mukanya ayahnya itu, yang dari duka dan suram mendadakan jadi bercahaya kegirangan.

"Dari mana datangnya surat ini?"

Ayah itu tanya, kedua tangannya bergemetar.

"Siapa berikan ini padaku? Apakah dia sendiri yang datang? Ah, apakah benar-benar dia telah datang?"

Nona itu tidak lantas jawab ayahnya, ia hanya mendekati, untuk turut lihat bunyinya surat.

Ia pun tidak lihat lain daripada gambarnya sebatang pedang yang panjang, yang romannya luar biasa, pedang berkepala ular-ularan, lidahnya bercabang dua bagaikan cagak.

Ia tidak mengerti, pedang itu ada punya khasiat apa hingga ayahnya mendadakan jadi demikian girang.

"Ayah, apakah ini?"

Akhirnya dia balik tanya ayah itu.

"Asal dia datang, jiwa tua dari ayahmu akan ketolongan!"

Berkata ayah itu.

"Apakah kau telah bertemu dengannya?"

Masih si anak dara heran.

"Dia siapa, ayah?"

Tegasinya.

"Dia yang melukiskan gambar pedang ini?"

Sahut ayah itu. Baru sekarang gadis itu manggut.

"Dia pesan aku akan besok pergi cari dia ditempatnya,"

Ia terangkan.

"Apakah dia tidak bilang bahwa aku pun perlu turut bersama?"

"Dia tidak bilang itu."

"Orang gagah luar biasa itu memang aneh perangainya,"

Kong Lee bilang.

"Siapa juga mesti dengar perkataannya. Maka pergilah besok kau seorang diri!....Ah sedetik saja kau terlambat datang ayah akan sudah tidak dapat lihat pula padamu..."

Nona Tjiauw terkejut. Sekarang ia ingat cawan yang ayahnya bawa kemulutnya. Jadi itulah cawan berisikan racun. Lantas saja ia ambil sesapu, akan sapui pecahan cawan, akan keringkan racunnya.

"Sekarang baik ayah tidur,"

Kata ia, yang terus layani orang tua itu. Sebentar kemudian nyonya Tjiauw dan semua muridnya Kong Lee dengar kabar yang melegakan hati itu, semuanya bergirang, walau mereka masih belum pasti.

"tuan penolong"

Itu akan berhasil atau tidak menolong mereka.

Tapi mengingat ketua Kim Liong Pang itu berlega hati, mereka mau percaya ancaman bahaya sudah dapat diredakan.

Karena ini batallah orang menyingkir pergi dan bubaran....

Ketika itu, Sin Tjie dan Tjeng Tjeng sudah berlalu dari rumahnya Tjiauw Kong Lee.

"Kau melukis pedang, apakah artinya itu?"

Tjeng Tjeng tanya.

"Apakah kau telah tidak dengar sendiri?"

Sin Tjie baliki.

"Dia sendiri bilang, didalam dunia ini, asal ayahmu datang, jiwanya bakal ketolongan. Gambar pedang itu adalah gambarnya Kim Coa Kiam kepunyaan ayahmu."

Tjeng Tjeng manggut, tetapi ia berdiam.

"Kenapa kau hendak tolongi dia?"

Sesaat kemudian ia tanya.

"Aku lihat Tjiauw Kong Lee itu seorang baik,"

Jawab Sin Tjie.

"Dia telah dibikin celaka oleh sahabatnya yang busuk. Apa mungkin kita melihat kematian dan tak menolongnya? Apalagi dia adalah sahabatnya ayahmu."

"Ah, aku menyangka kau melihat gadisnya cantik, jadi kau hendak menolong dia...."

Kata si nona.

"Adik Tjeng, kau pandang aku orang macam apa?"

Sin Tjie gusar.

"Oh, oh, jangan gusar!"

Tjeng Tjeng tertawa.

"Kenapa dan kau suruh gadis orang datang kehotel kita untuk cari padamu?"

Mau atau tidak, si anak muda turut tertawa.

"Matamu picik, tak tahu aku bagaimana harus mengobatinya,"

Katanya.

"Hayo sudah, mari turut aku!"

"Hm!"

Si nona bersuara tetapi kembali dia tertawa.

Ia lari keras kearah barat, untuk menyusul.

Sin Tjie tahu tenaganya nona itu, ia sengaja lari sedang-sedang saja, untuk bikin mereka lari berendeng.

Mereka berlari-lari tidak seberapa lama, sampailah mereka dirumah Bin Tjoe Hoa.

Sin Tjie tarik tangan si nona, untuk ajak dia lompati tembok pekarangan, buat masuk kesebelah dalam.

Dipojok tembok, mereka umpetkan diri.

"Didalam rumah ini banyak sekali orang-orang liehay, asal mereka dapat pergoki kita, gagallah usaha kita,"

Sin Tjie bisiki kawannya.

"Jikalau kau hendak bantui nona cantik itu, aku tidak ijinkan!"

Kata Tjeng Tjeng tapi sambil tertawa.

"Sebaliknya, aku nanti mengacau, aku nanti berteriak-teriak, berkaok-kaok!"

Sin Tjie tertawa, dia tak memperdulikannya.

Keduanya mendekam sekian lama, apabila mereka dapati suasana tetap sunyi, mereka bertindak maju dengan pelahan-lahan.

Kebetulan sekali untuk mereka, satu bujang lelaki melintas sendirian, dengan tiba-tiba saja dia itu dibekuk seraya diancam untuk tutup mulut.

"Dimana kamarnya tetamu-tetamu she Soe?"

Sin Tjie tanya. Bujang itu ketakutan, ia berikan keterangannya.

"Baik, kau tunggu disini,"

Sin Tjie bilang.

Ia totok urat gagu orang itu habis dia melemparkannya ketempat pepohonan yang lebat.

Dengan hati-hati, mereka cari kamarnya dua saudara Soe.

Langsung mereka menuju ke jendela.

Dengan pakai tenaganya tetapi pun dengan hati-hati, Sin Tjie bongkar daun jendela.

Ia bisa bekerja tanpa menerbitkan suara, setelah mana, ia loncat masuk.

Tjeng Tjeng pun turut masuk.

Peng Kong dan Peng Boen liehay, mereka sedang tidur tapi mereka segera mendusi.

Celakanya untuk mereka, mereka kalah sebat, Baru mereka hendak menegur, jari tangannya Sin Tjie sudah menotok jalan darah mereka sehingga mereka jadi mati daya.

Begitulah mereka cuma bisa lihat, api dinyalakan, orang merogo kebawah bantal mereka.

Sin Tjie rasai tangannya membentur benda dingin, ia tahu, itulah senjata tajam, maka itu, berdua mereka lantas geledah latji dan lemari.

Mereka dapati beberapa potong pakaian dan uang, juga senjata rahasia.

Masih mereka mencari terus tatkala mereka dengar tindakan kaki diluar kamar.

Maka lekas-lekas Sin Tjie tiup padam apinya.

Didalam gelap mereka mencari terus, malah Sin Tjie geledah saku bajunya orang itu.

Untuk kegirangannya, ia dapati segumpal kertas.

Ia ambil semua itu, yang ia masukkan kedalam sakunya.

"Sudah dapat!"

Ia bisiki Tjeng Tjeng.

"Mari kita pergi,"

Mengajak si nona.

"Rupanya diluar ada orang."

"Tunggu sebentar,"

Sahut Sin Tjie, yang lantas meraba ke meja dengan jeriji tangannya yang kanan. Nyatalah, dengan jeriji tangan, ia menulis enam huruf besar yang berarti.

"Hormat dari adikmu Tjiauw Kong Lee" . Ia menekan keras, enam huruf itu melesak seperti pahatan pada batu! Dengan loncati pula jendela, dua kawan ini berlalu dari dalam kamarnya dua saudara Soe itu. Cuaca diluar ada gelap seperti tadinya. Sekonyong-konyong ada angin berkesiur, lalu sebatang pedang menyambar kearah si pemuda. Sin Tjie tidak lompat, tanpa kelit ia ulur tangan kirinya, untuk memapaki, cekal lengannya si penyerang. Tapi penyerang itu sebat sekali, ujung pedangnya mendahului mengenai ulu hati. Sin Tjie tidak takut, karena ia pakai baju kaos mustika Bhok Siang Toodjin, ia tidak terluka sedikit juga. Penjerang itu terperanjat apabila ia rasai ujung pedangnya mengenai barang yang empuk, ia pun kaget akan rasai lengannya tercengkeram lima jari tangan yang kuat bagaikan sepit besi, sedang dilain pihak, satu tamparan menyambar kearah mukanya. Dia lekas berontak sambil berkelit, tapi pedangnya sudah kena terampas. Dalam kagetnya, dia loncat mundur, terus dia kabur. Penyerang gelap ini ada Twie-hong-kiam Ban Hong. Dia telah dapat tugas dari Bin Tjoe Hoa, untuk intai Tjiauw Kong Lee, ia pergi seorang diri. Tapi Hoei Thian Mo-lie Soen Tiong Koen juga pergi dengan diam-diam, untuk turut mengintai, maka itu, mereka jadi bekerja sama-sama. Mereka sedang memasang mata ketika tanpa ketahuan lagi, pedangnya nona Soen disambar Sin Tjie. Mereka kaget, meski mereka tahu, pihak pencuri itu tidak bermaksud jahat. Coba mereka dibokong, tentu celakalah mereka. Karena ini, keduanya lantas kabur pulang. Ban Hong mendongkol bukan main, ia malu sekali, sebab Baru saja keluar, Baru melakukan pengintaian, orang telah rubuhkan dia. Dan Soen Tiong Koen lebih-lebih mendongkolnya, nona ini gusar sekali, sebab pedangnya hilang. Twie-hong-kiam tidak dapat tidur, maka itu, ia pergi keluar kamarnya, untuk mencari angin, guna legakan pikiran. Tiba-tiba ia lihat api berkelebat didalam kamarnya dua saudara Soe. Ia kenali, api apa adanya itu. Ia lantas menghampirkan, ia sembunyi diluar jendela, untuk serang dengan mendadakan pada orang didalam itu sebentar selagi dia keluar. Ia percaya, dengan satu gebrak saja, ia bakal berhasil. Tapi ia gagal, malah ia dapat malu, karena pedangnya pun kena dirampas. Didalam partai Tiam Tjhong Pay, Ban Hong adalah yang paling liehay untuk ilmu pedangnya Twie-hong-kiam yang semuanya terdiri dari enam puluh empat jurus, hingga di Selatan, ia sangat dimalui. Didalam ilmu silat, malah dia melebihi toasoehengnya Liong Tit yang menjadi tjiang-boen-djin, ahliwaris partainya. Sekarang ia menghadapi orang yang tidak mempan senjata, ia sampai mau menduga apa ia sedang layani hantu. Tidak ayal lagi, ia bertepuk tangan keras-keras untuk memberi tanda kepada kawankawannya. Sin Tjei dan Tjeng Tjeng tinggalkan si penyerang yang kabur setelah anak muda itu berhasil selamatkan diri dari penyerangan gelap, mereka loncati tembok untuk menyingkir, tapi mereka segera dengar tepukan tangan riuh di empat penjuru, tandanya orang-orang kaumnya Bin Tjoe Hoa sudah bergerak.

"Mari kita sembunyi,"

Sin Tjie ajak kawannya.

Ia tidak mau berlaku semberono ditempat dimana ada berkumpul banyak orang liehay itu.

Mereka lantas mendekam dikaki tembok.

Diatas genteng segeralah terdengar suara kaki dari orang-orang yang mundar-mandir.

"Eh, apakah ini?"

Kata Tjeng Tjeng kepada kawannya.

"Coba kau raba!"

Ia pegang tangannya Sin Tjie, untuk dibawa ketempat yang ia suruhnya meraba.

Sin Tjie raba kaki tembok, yang sudah penuh lumut.

Ia kena pegang batu yang berlobang disana-sini, seperti ukiran.

Ia mengusut-usut dengan ikuti jalannya ukiran itu.

"Inilah huruf Tee,"

Pikirnya.

Ia meraba lebih jauh, ia meng-usut-usut pula.

Ia menemui huruf "Soe".

Maka ia meraba terus.

Sebagai huruf ketiga, ia dapati huruf "Kong", lalu huruf keempat huruf "Kok".

Masih ia meraba terus, hingga ia menemui huruf terakhir, jaitu huruf "Goei".

Tjeng Tjeng juga turut meraba-raba terus.

Sebagai kesudahan, bukan main girangnya Sin Tjie.

Untuk banyak hari, mereka sudah mencari istana Goei Kok-kong, hasilnya sia-sia belaka, siapa tahu sekarang, diluar sangkaan, dengan tiba-tiba mereka menemuinya.

Inilah yang dibilang .

"Orang mencari sampai sepatu besi yang dipakainya rusak, tak nampak, sekalinya ketemu, begini sedetik saja."

Sebab apabila digabung, kelima huruf itu berbunyi "

Goei Kok Kong Soe Tee", artinya "Istana Goei Kok-kong hadiah kaisar"

Rupa-rupanya, setelah turun menurun banyak tahun, Goei Kok-kong pindah rumah, rumah yang lama telah dijualnya kepada orang lain, kemudian orang tak ingat lagi istana lama itu.

Selagi Sin Tjie berdiam dengan kegirangan, ia rasai gatal atau geli pada pundaknya, hingga ia egos lehernya itu.

Itulah Tjeng Tjeng, yang saking girang, sampai lupa segala apa, dia bernapas dari hidungnya di pundak si pemuda sekali.

"Hus, jangan nakal!"

Sin Tjie bentak, tapi dengan pelahan. 'Lihat, musuh datang!"

Benarlah, tiga bajangan lompat lewati tembok, masuk kedalam rumahnya si orang she Bin itu.

"Mari!"

Pemuda ini mengajak. 'Lekas!"

Menggunai kesempatan tidak ada orang datang kearah mereka, mereka keluar dari tempat sembunyi, mereka lari dengan keras, hingga dilain saat sampailah mereka dihotel mereka dengan tidak kurang suatu apa.

Tatkala itu sudah jam empat, semua penumpang hotel lainnya sudah pada tidur, seluruh hotel jadi sunyi-tenteram.

Tjeng Tjeng lantas nyalakan lilin, dan Sin Tjie rogo keluar surat-surat yang ia rampas dari sakunya dua saudara Soe.

Paling dulu ia jumput dua sampul, yang sudah kuning menandakan tuanya, suratnya dikeluarkan satu persatu.

Untuk kegirangan mereka, benarlah itu ada surat-surat keterangannya Thio Tjeetjoe dan Khoe Tootay, ialah suratsurat yang membuat Tjiauw Kong Lee jadi putus asa dan nekat.

Tjeng Tjeng tertawa.

"Sekali ini kau berhasil menolong jiwa ayahnya,"

Katanya,"

Entah dengan apa dia nanti balas budimu ini...."

"Dia! Dia siapa?"

Tanya Sin Tjie heran. Masih Tjeng Tjeng tertawa, malah tertawa geli.

"Siapa lagi, tentunya nona puterinya Tjiauw Kong Lee!"

Sahutnya. Tak mau Sin Tjie meladeni orang yang bersifat ke-kanak-kanakan itu. Ia gunai ketikanya untuk membaca dua surat keterangan itu.

"Apa yang Tjiauw Kong Lee katakan, benar semuanya."

Kata dia habis membaca.

"Coba dia mendusta sedikit saja, tidak nanti aku sudi bantu dia, supaya aku tidak usah bentrok dengan banyak orang kang-ouw apapula dari angkatan tertua, apalagi diantara mereka termasuk murid-muridnya djie soeheng."

Tjeng Tjeng tertawa pula.

"Dan itu yang dipanggil Hoe Thian Mo-lie sungguh cantik!"

Menggoda ia.

"Dia itu telengas,"

Sin Tjie bilang.

"Dia berbuat tak berkepantasan! Kenapa tidak keru

KANG ZUSI -

http.//cerita-silat.co.cc/ keruan dia tabas kutung lengan orang?"

Dia berdiam sebentar.

"Apabila aku tidak kuatir djie-soeheng berkecil hati, pasti aku sudah ajar adat padanya."

Kembali ia berdiam, lalu ia menambahkan .

"Sebabnya aku minta nona Tjiauw datang kemari adalah untuk sembunyikan sepak-terjang kita ini. Apabila diantara kita saudara-saudara seperguruan terbit sengketa, itu sungguh tidak bagus terhadap soehoe yang telah rawat dan didik aku."

Sekarang Sin Tjie periksa surat-surat yang lainnya, tiba-tiba saja ia jadi sangat gusar, air mukanya suram.

"Kau lihat!"

Katanya kepada si nona.

Belum pernah Tjeng Tjeng lihat pemuda ini demikian gusar, malah waktu menghadapi lawan tangguh, dia ada tenang sekali.

Sekarang muka orang merah-padam, urat-uratnya seperti melingkar keluar.

Hingga mau atau tidak, ia heran dan kaget sekali.

Buru-buru ia menyambuti surat yang diangsurkan dan baca itu.

Itulah suratnya Kioe-Ong-ya To Djie Koen, pangeran Boan yang disebut-sebut persaudaraan Soe.

Itulah surat rahasia untuk dua saudara Soe itu.

Mereka ini diberi perintah, sesudah memfitnah Tjiauw Kong Lee hingga Kong Lee tumpas, mereka mesti gunai ketika untuk merampas kekuasaan dalam Kim Liong Pang, supaya anggautaanggauta perkumpulan rahasia ini bisa dijadikan pekakas, penyambut dari dalam, bagi penyerbuan bangsa Boan kepada Tionggoan.

Peng Kong dan Peng Boen dianjurkan akan tancap kekuasaan di Kanglam, supaya sambil selidiki rahasia negara, mereka cari kawankawan orang-orang kang-ouw, untuk bekerja bersama.

Mereka mesti sambut serbuan angkatan perang Boan agar serbuan itu pasti berhasil.

Tjeng Tjeng begitu murka hingga tak dapat ia mengucapkan kata-kata.

Ia muda dan besar kepala, tapi ia mencintai negerinya.

Dalam murkanya, setelah sadar, ia hendak robek surat rahasia itu.

Sin Tjie sambar surat penting itu.

"Hei, adik Tjeng, kenapa kau begini semberono?"

Menegur dia. Tjeng Tjeng sadar dengan cepat.

"Kau benar,"

Katanya.

"Inilah surat bukti!"

"Apakah kau tahu, kenapa dua saudara Soe tidak hapuskan surat ini?"

Sin Tjie tanya.

"Aku tahu,"

Jawab si pemudi.

"Dia hendak pakai ini untuk pengaruhi Bin Tjoe Hoa!"

"Begitulah pasti,"

Sin Tjie membenarkan,"

Aku telah pikir, habis menolongi Tjiauw Kong Lee, aku hendak lepas tangan, untuk tidak campur lebih jauh urusan mengenai mereka, siapa tahu disini menyelip urusan amat besar ini.

Jangan kata Baru bentrok dengan djiesoeko, biar ada rintangan lain yang terlebih besar, aku tidak takut."

Bukan main kagumnya Tjeng Tjeng terhadap pemuda ini.

"Memang kita harus campur tangan,"

Iapun kata.

"Umpama kata djie-soeheng itu mengadu kepada gurumu, aku percaya gurumu bakal benarkan pihakmu. Toako, aku bersalah...."

"Apa?"

Pemudi ini tunduk.

"Aku telah goda padamu...."

Katanya. Mendengar itu, Sin Tjie tertawa.

"Sudah, pergilah kau tidur!"

Kata dia.

"Sekarang aku hendak memikirkan daya upaya dengan cara bagaimana kita bisa hadapi kawanan pengkhianat itu."

Tjeng Tjeng menjadi jinak, ia menurut.

Besoknya pagi, kapan ia mendusi dari tidurnya, Sin Tjie terus bercokol diatas pembaringan, untuk bersamedhi, akan pelihara napasnya, akan bikin jalan darahnya sempurna.

Diam-diam ia merasa sangat gembira karena semakin lama ia rasai kemajuannya terus bertambah.

Kapan kemudian ia turun dari pembaringan, ia lihat diatas meja sudah disajikan dua mangkok lektauw serta sepiring yoetiauw.

Ia tahu itu ada sajiannya Tjeng Tjeng hanya ia tidak tahu, kapan itu disiapkannya.

Tiba-tiba saja si nona muncul sambil terus tertawa.

"Hweeshio tua, apa kau sudah selesai sembahyang?"

Tanyanya.

"Ah, kau bangun pagi-pagi sekali!"

Kata Sin Tjie sambil tertawa juga.

"Kau lihat ini!"

Kata si nona, yang tidak sahuti pemuda itu. Dari belakangnya, ia tunjuki satu bungkusan besar, yang ia letaki dimeja, untuk terus dibuka. Itulah dua perangkat pakaian baru. Ia tambahkan.

"Kita telah bunuh Ma Kongtjoe, perlu kita tukar pakaian."

"Kau memikir sempurna,"

Sin Tjie puji. Berdua mereka lantas duduk, untuk bersantap. Belum lama habis dahar, satu jongos datang bersama satu orang, jongos itu lantas kata .

"Apakah kau cari kedua tetamu ini? Aku tanyakan she dan namanya orang, kau tak dapat menyebutnya...."

Sin Tjie dan Tjeng Tjeng lihat nona Tjiauw.

Nona itu tunggu sampai jongos sudah berlalu, ia lantas berlutut didepan pemuda kita.

Sin Tjie membalas hormat, sedang Tjeng Tjeng mengangkat bangun.

Nona itu likat bukan main menampak satu "pemuda"

Cekal lengannya, untuk kasi ia bangun, mukanya merah, akan tetapi karena ingat, mereka adalah penolong ayahnya, ia tidak berontak.

"Nona Tjiauw, apakah namamu?"

Tjeng Tjeng tanya.

"Namaku Wan Djie,"

Sahut nona itu.

"Djiewie sendiri?"

Tjeng Tjeng tunjuk kawannya, dia tertawa ketika ia menyahuti.

"Kau tanya dia saja! Dia sangat galak, dia larang aku bicara!"

Mengetahui orang bergurau, Wan Djie bersenyum.

"Djiewie telah tolong ayahku, budi ini yang sangat besar, walau tubuhku hancur-lebur, masih tak dapat dibalas,"

Katanya.

"Ayahmu ada satu tjianpwee,"

Sin Tjie bilang.

"sudah seharusnya kami dari angkatan muda melakukan sesuatu apa untuknya. Tak usah kau pikirkan itu. Tolong sampaikan kepada ayahmu untuk sebentar sore ia melanjuti mengadakan perjamuannya yang sudah ditetapkan itu. Disini ada dua bungkusan, tolong kau bawa pulang untuk diserahkan pada ayahmu itu, bilang apabila sudah sampai saatnya yang genting, Baru dia buka untuk umumkan kepada orang banyak, tentu akan ada buah-hasilnya yang istimewa. Karena dua rupa barang ini sangat penting, jagalah supaya tidak ada orang yang pegat dan rampas ditengah jalan!"

Tjiauw Wan Djie lihat kepadanya diserahkan dua bungkusan, yang satu panjang dan romannya berat, mirip dengan alat senjata, yang lainnya kecil dan enteng sekali.

Ia menyambutinya dengan kedua tangan dengan sikap menghormat sekali, lalu ia memberi hormat seraya menghaturkan terima kasih.

Habis itu Barulah ia pamitan dan bertindak keluar.

"Mari kita kuntit dia, untuk melindunginya secara diam-diam,"

Sin Tjie kata pada kawannya.

"Kita mesti jaga supaya kawanan telur busuk itu tak dapat merampasnya kembali."

Tjeng Tjeng manggut.

Mereka lantas siap, setelah menutup pintu, mereka bertindak keluar.

Mendekati thia, mereka lantas umpatkan diri.

Disitu masih ada si nona Tjiauw, entah kenapa, dia tidak segera pulang.

"Suruh kuasa hotel datang!"

Terdengar kata nona itu.

"Naga emas ulur kukunya, mega hitam memenuhi langit!"

"He, apakah dia bilang?"

Tanya Sin Tjie pada Tjeng Tjeng. Muda ia ada, nona Hee luas pengetahuannya mengenai dunia kang-ouw.

"Mungkin itu kata-kata rahasia kaumnya,"

Ia menyahut. Wan Djie bicara sama jongos yang tadi, yang romannya rada katak, tapi sekarang dia berubah sikap dan menyahuti ber-ulang-ulang.

"Ya, ya!"

Terus saja ia undurkan diri. Tidak lama muncul kuasa hotel, dia menjura dalam kepada si nona.

"Nona hendak menitah apa?"

Tanyanya.

"Aku akan segera melakukannya."

"Aku adalah Tjiauw Toa-kohnio"

Nona itu perkenalkan diri.

"Pergi kau kerumahku, bilang aku ada punya urusan penting disini, kau minta semua soeko-ku datang kemari!"

Kaget kuasa itu mengetahui ia berhadapan sama Tjiauw Toa-kohnio, nona besar she Tjiauw, segera saja ia lari keluar, untuk loncat naik atas kudanya, yang ia kasi lari pergi.

Ia sendiri yang jalankan titah itu.

Selang lama juga, kuasa hotel itu sudah balik lagi bersama dua puluh lebih orang yang dandan seperti guru silat, yang semuanya bekal senjata.

Mereka lantas hampirkan nona Tjiauw.

"Aku tidak sangka begini besar pengaruhnya Kim Liong Pang disini,"

Kata Sin Tjie.

"Sekarang tak usah kita turut mengantari. Sebentar saja kita hadirkan perjamuan dirumah orang she Tjiauw itu."

Berdua mereka masuk pula kedalam, sedang Tjiauw Wan Djie dan rombongannya berangkat pulang.

Sesudah siang Barulah Sin Tjie ajak kawannya pergi kerumah Kong Lee dimana ternyata sudah mulai banyak orang datang berkumpul.

Mereka ikut sekalian tetamu itu masuk ke dalam thia.

Tjiauw Kong Lee sambut tetamunya dimuka pintu, ia manggut kepada dua anak muda ini, yang ia sangka ada murid-muridnya musuh, ia tidak memperhatikannya.

Begitu lekas semua tetamu sudah datang lengkap, tuan rumah undang mereka ambil tempat duduk, ia lantas membuka pertemuan.

Caranya ini beda dengan cara pertemuannya Bin Tjoe Hoa kemarin ini.

Tuan rumah pun ada ketua Kim Liong Pang.

Barang santapan sangat istimewa, kokinya pun koki yang kesohor dari kota Kimleng, sedang araknya ada arak Lie-tjeng Tin-siauw simpanan dua puluh tahun.

Bin Tjoe Hoa bersama Sip Lek Taysoe, Tiang Pek Sam Eng, Boe-eng-tjoe Bwee Kiam Hoo, Hoei-thian Mo-lie Soen Tiong Koen dan sejumlah yang lain lagi, duduk dimeja pertama.

Tjiauw Kong Lee sendiri yang layani sesuatu tetamu itu, sikapnya ramah-tamah.

"Silakan minum!"

Kata dia. Bin Tjoe Hoa angkat cawannya, dengan tiba-tiba saja ia banting itu kelantai, hingga arak berhamburan, cawannya pecah hancur sambil menerbitkan suara berisik! "Orang she Tjiauw!"

Dia berkata dengan bengis.

"Disini telah hadir sahabat-sahabat karib dari Rimba persilatan, mereka semua telah memberi mukanya, maka didepan mereka, ingin aku tanya, bagaimana hendak diatur mengenai sakit hatinya saudaraku yang kau telah bunuh? Bilanglah!"

Pertanyaan dimajukan secara sangat terkonyong-konyong, dan caranya pun garang sekali, hal ini membuat sukar kepada Tjiauw Kong Lee.

Justru itu berbangkitlah Gouw Peng, murid kepala ketua Kim Liong Pang ini.

"Orang she Bin,"

Berkata Gouw Peng, yang hendak wakilkan gurunya.

"Baik kau mengerti duduknya hal. Kandamu itu kemaruk paras eilok, dia bermaksud jahat, karenanya dia telah merusak undang-undang dari kita kaum Rimba Persilatan. Guruku..."

Belum habis Gouw Peng ber-kata-kata, mendadak ada sambaran angin kearah mukanya, maka lekas ia berkelit sambil tunduk, menyusul mana, dengan memberikan suara keras, sebatang paku tiga persegi panjangnya lima dim nancap di meja!

Gouw Peng segera hunus goloknya.

"Bagus betul!"

Muridnya Kong Lee berseru.

"Kau telah bokong Lo Soetee kami, yang kau telah babat kutung sebelah lengannya, sekarang kau kembali membokong aku, oh, perempuan bangsat!"

Dia lantas bertindak maju, untuk tempur penyerangnya, ialah Hoei-thian Mo-lie Soen Tiong Koen, si Hantu Wanita.

"Jangan!"

Tjiauw Kong Lee cegah muridnya. Kemudian sambil tertawa, ia menoleh kepada nona Soen itu seraya bilang.

"Nona Soen ada ahli dari Hoa San Pay, mengapa kau berpadu pandangan dengan muridku?...."

Bin Tjoe Hoa pun gusar, biji matanya menjadi merah, selagi tuan rumah ber-kata-kata, dia jumput sepasang sumpitnya, dengan itu ia timpuk sepasang mata tuan rumah.

"Bangsat tua, hari ini aku akan adu jiwa denganmu!"

Dia mendamprat.

Tjiauw Kong Lee lihat serangan itu, ia lantas sambar sumpitnya sendiri, dengan itu ia sambut serangan sumpit sambil sumpit lawan itu dijepit, untuk terus diletaki diatas meja.

Sikapnya tuan rumah tenang dan sabar sekali.

"Saudara Bin, mengapa kau begini murka?"

Tanyanya.

"Disini masih ada ketika untuk kitaorang omong dengan baik-baik. Mana orang? Lekas ambilkan Bin Djie-ya sepasang sumpit baru!"

Bin Tjoe Hoa terperanjat dalam hatinya apabila ia saksikan musuh itu demikian liehay.

"Pantas kandaku terbinasa ditangannya...."

Pikir dia.

Bwee Kiam Hoo lihat Bin Tjoe Hoa keok dalam satu jurus, dimana dia berada dekat dengan tuan rumah, dengan tiba-tiba ia ulur tangan kanannya, akan sambar lengannya tuan rumah itu, sembari berbuat demikian, dia bilang .

"Tjiauw Toaya, sungguh kau liehay! Mari kita ikat persahabatan...."

Tjiauw Kong Lee lihat tangan orang diulur, cepat luar biasa ia egos tubuhnya, sambil berkelit, ia pun lompat minggir.

Tangannya tetamu itu tidak ditarik pulang, atau dia tak dapat lakukan itu, tangan itu kena sambar belakang kursi, hingga diantara suara berkeresek yang nyaring, patahlah belakang kursi itu!

Sibuk juga Tjiauw Kong Lee menampak pihak musuh demikian galak, diantaranya ada yang sudah pale kepalannya dan cabut senjatanya, sedang dipihaknya sendiri, semua murid dan beberapa sahabatnya sudah lantas siap sedia.

Ia sibuk karena kuatir pertempuran akan segera mengambil tempat sementara Kim Coa Long-koen, yang ia harap-harap, masih juga belum muncul, untuk datang sama tengah.

Ia kuatir banyak jiwa bakal dikorban dalam pesta perjamuan ini.

Karenanya ia melirik kepada gadisnya, yang duduk disamping.

Tjiauw Wan Djie sedang pegangi dua bungkusan pemberiannya dua pemuda yang dia Baru kenal, ia pun tidak kurang sibuknya, kapan ia lihat tanda dari ayahnya, ia segera buka bungkusan yang panjang itu, yang ternyata ada dua batang pedang.

Tidak ayal lagi, ia bawa itu kehadapan ayahnya, untuk diletaki diatas meja.

Tjiauw Kong Lee lihat kedua pedang itu, ia bingung, karena ia tidak tahu apa artinya itu.

Bukan main ia ragu-ragu.

Dipihak lawan, Twie-hong-kiam Ban Hong kenali pedangnya, dan pedangnya Soen Tiong Koen, bukan main malunya ia.

Ia jumput kedua pedang itu, satu diantaranya ia lantas serahkan pada Hoei-thian Mo-lie.

Soen Tiong Koen sambuti pedangnya sambil terus menantang.

"Siapa mempunyai kepandaian, mari kita bertempur secara terus-terang! Mencuri pedang orang, apakah itu perbuatan satu hoohan?"

Tjaiuw Kong Lee diam saja, ia mengawasi si nona.

Benar-benar ia tidak tahu duduknya hal.

Nona Soen garang sekali, ia maju dua tindak, dengan ujung pedangnya yang tajam, ia tusuk dadanya tuan rumah.

Tjiauw Kong Lee mundur dua tindak, menyusul itu murid yang kedua telah serahkan padanya goloknya, yang ia terus sambuti, akan tetapi ia tidak gunai itu untuk balas menyerang.

Soen Tiong Koen penasaran yang serangannya kena dikelit, ia maju pula, sambil ia tusuk pundak kiri orang.

Ketua Kim Liong Pang jadi putus asa, dengan terpaksa ia geraki goloknya untuk membacok pedangnya si penyerang.

Kalau si nona menusuk dengan terusan tipu-silat "Heng in lioe soei" , atau "Mega berjalan bagaikan air mengalir" , adalah dia gunai tipu bacokan "Tiang khong lok goan", atau "Dari udara jatuhlah seekor burung belibis".

Jikalau bacokan ini mengenai sasarannya, tak dapat tidak, pedangnya Soen Tiong Koen mesti terlepas dari tangannya dan terlempar jatuh, akan tetapi dia liehay, dia turunkan pedangnya kebawah dan luputlah dia dari ancaman bencana mendapat malu.

Akan tetapi ini bukan tindakan berkelit melulu, karena pedangnya turun, ia pun mendak pedang itu lantas diteruskan, untuk dipakai menikam perutnya tuan rumah.

Ini ada semacam tipu silat yang liehay sekali.

Tidak perduli Tjiauw Kong Lee telah punyakan latihan beberapa puluh tahun, tak menyangka ia untuk serangan yang berbahaya itu, hingga tak sempat ia menangkisnya, maka tidak ada jalan lain, ia enjot kakinya akan berlompat tinggi, mencelat melewati kepalanya si nona.

Ia berhasil meluputkan perutnya dari tikaman, akan tetapi celana disebelah pahanya kena terobek ujung pedang!

"Sungguh berbahaya...."

Kata dia dalam hatinya, selagi ia putar tubuh dengan cepat, kuatir lawan nanti lanjuti serangan susulannya.

Akan tetapi Soen Tiong Koen tidak dapat desak dia, sebab dua muridnya sudah maju, akan menahan si nona.

Dilain pihak, ia girang sekali kapan gadisnya telah buka dan beber bungkusan yang kedua, karena ia kenali kedua surat penting yang "lenyap"

Ditangannya dua saudara Soe!

Soen Tiong Koen telah tempur dua musuh, yang menbenci sangat padanya, hingga mereka ini berkelahi dengan sangat sengit.

Mereka sangat ingin membalas sakit hatinya Lo Lip Djie, soeheng mereka.

Si nona bertempur dengan tabah, tidak perduli dia dikepung berdua.

Dia masih bisa bersenyum ewa.

Dia melayani dengan sebelah tangan -tangan kiri -dipakai menolak pinggang.

Sebab dialah yang dapat mendesak dua musuhnya itu.

Tjiauw Kong Lee sambuti dua lembar surat dari tangan gadisnya.

"Tahan! Tahan!"

Ia berseru berulang-ulang.

"Aku hendak bicara!"

Mendengar perkataan gurunya, kedua muridnya, yang sedang terdesak, mendengar kata, akan tetapi satu diantaranya, lambat mundurnya.

"Duk!"

Demikian satu suara, dia kena didupak dadanya oleh Soen Tiong Koen, yang menyerang tak perduli pertempuran sudah ditunda.

Segera dia muntahkan darah hidup, mukanya menjadi pucat sekali.

Soen Tiong Koen gusar sekali yang orang telah sambar pedangnya, ia anggap itu ada satu hinaan besar bagi dirinya, maka ia jadi sengit luar biasa.

Maka sekarang ia berlaku bengis sekali.

Tjiauw Kong Lee atasi diri sebisa-bisanya.

"Sahabat-sahabat, tolong dengar dahulu padaku!"

Ia berseru. Suasana sudah tegang sekali, akan tetapi orang toh mulai jadi sabar pula. Tjiauw Kong Lee lihat keadaan reda, dia bicara pula .

"Sahabat she Bin ini sesalkan aku yang aku telah bunuh kandanya, penyesalannya itu tepat. Memang kandanya itu, Bin Tjoe Yap, telah terbinasa ditanganku!...."

Ruangan yang sunyi senyap jadi terganggu pula dengan tangisannya Bin Tjoe Hoa, yang menangis dengan tiba-tiba.

"Hutang uang bayar uang, hutang jiwa bayar jiwa!"

Berteriak ia sambil sesenggukan.

"Benar, hutang jiwa bayar jiwa!"

Beberapa sahabatnya tetamu ini berseru, suara mereka nyaring, hingga ruangan jadi berisik pula.

"Sahabat-sahabat, sabar!"

Tjiauw Kong Lee serukan.

"Disini dua pucuk surat, aku minta sukalah beberapa lootjianpwee yang terhormat membacanya, habis itu, umpama mereka anggap aku benar-benar mesti mengganti jiwa, aku segera akan bunuh diriku sendiri, jikalau aku kerutkan alisku, aku bukan satu hoohan lagi!"

Kata-kata ini membuat orang heran, hingga ingin sesuatunya melihat surat-surat itu, hingga untuk sesaat, suara mereka jadi bergemuruh pula.

"Sabar, sahabat-sahabat!"

Tjiauw Kong Lee bilang.

"Aku silakan Bin Djie-ya pilih tiga lootjianpwee, untuk mereka baca surat ini!"

Bin Tjoe Hoa tidak tahu surat itu apa bunyinya, tanpa bersangsi lagi, ia terima baik sarannya tuan rumah.

"Baik!"

Menyambut dia.

"Aku mohon Sip Lek Taysoe, Totjoe The Kie In dan Boe-eng-tjoe Bwee Toako bertiga yang membacanya!"

Sip Lek Taysoe bertiga terima baik tugas itu, mereka sambuti kedua surat, lalu berdiri disamping meja, mereka sama-sama membaca, dengan pelahan.

Tiang Pek Sam Eng kasak-kusuk bertiga, muka mereka pias.

Sip Lek Taysoe adalah yang pertama membaca habis, lanats saja dia berkata.

"Menurut pendapat pinceng, Bin Djie-ya, baiklah permusuhan ini dibikin habis sampai disini, kamu kedua musuh harus menjadi sahabat satu dengan lain!"

Pendeta ini ada Kam-ih dari ruang Tat Mo Ih dari Siauw Lim Sie, kepandaiannya dalam ilmu silat Gwa-kee, bagian luar, sudah sempurna sekali, ia pun kenamaan, maka itu,mendengar perkataannya itu, semua orang tercengang.

Bin Tjoe Hoa heran dan penasaran dengan berbareng, maka ia majukan dirinya, untuk dapat baca juga kedua surat itu.

Membaca surat pengakuan Thio Tjeetjoe, masih tidak seberapa, akan tetapi setelah baca habis surat Khoe Tootay, ia jadi melengak.

Ia malu bercampur bingung, ia pun bersusah hati, hingga karenanya, ia jadi berdiam menjublek, mulutnya bungkam.

Tiba-tiba terdengar suara nyaring dari Bwee Kiam Hoo.

"Inilah surat-surat palsu! Siapakah yang hendak dipedayakannya!"

Menyusul itu, dengan mendadak, ia robek kedua surat!

Bukan kepalang kagetnya Tjiauw Kong Lee.

Ia tidak sangka, di hadapan demikian banyak orang, Bwee Kiam Hoo berani berbuat demikian rupa.

Bukankah itu bagaikan surat jimat untuknya?

Ia juga jadi sangat gusar, hingga tak dapat ia bersabar pula.

Sambil angkat goloknya, dia berseru.

"Orang she Bwee, apa benar kau begini tidak tahu malu?"

"Entah siapalah yang tidak tahu malu!"

Bwee Kiam Hoo jawab dengan dingin.

"Kau telah bunuh kanda orang, sekarang kau ciptakan ini surat-surat palsu untuk membikin orang sangat penasaran! Surat-surat semacam ini, apabila aku keram diri didalam rumah, dalam satu hari aku bisa tulis banyaknya seratus pucuk!"

Sip Lek Taysoe, juga The Kie In, percaya kesalahan ada di pihaknya Bin Tjoe Hoa, akan tetapi mendengar kata-katanya Bwee Kiam Hoo, mereka jadi bimbang.

Apakah tak mungkin kedua surat itu palsu adanya?

Untuk sesaat, ruangan jadi sunyi senyap.

Gouw Peng Kong murid kepalanya Tjiauw Kong Lee jadi meluap darahnya karena gurunya diperhina demikiam macam, merah mukanya, kedua matanya hampir loncat melejit, dia berlompat, dengan goloknya, dia bacok orang she Bwee itu.

Boe-eng-tjoe si Bajangan Tak Ada egos sedikit tubuhnya, berbareng dengan itu, pedangnya telah tercekal dengan terhunus ditangannya, selagi sinar pedang berkelebat, Gouw Peng menjerit.

Goloknya kena ditangkis keras hingga terlepas dan terlempar, menyusul mana, ujung pedang mengancam tenggorokannya.

Itulah menyatakan liehaynya murid Hoa San Pay ini.

"Kau tekuk lutut!"

Kiam Hoo berseru dengan titahnya yang bengis.

"Dengan berlutut, Bwee Toaya akan beri ampun kepada sepotong jiwamu!""

Murid-murid lain dari Tjiauw Kong Lee tidak senang toako mereka diperhina secara demikian, mereka hunus senjata dan maju ke tengah ruangan.

Dipihak Bin Tjoe Hoa, sejumlah guru silat dan sahabat-sahabat undangannya juga maju, maka tak dapat dicegah lagi, kedua pihak lantas bertempur.

Berisik suara beradunya pelbagai alat-senjata.

Gouw Peng mundur sampai tiga tindak, tapi ujung pedang senantiasa iringi dia.

Musuh itu pun mengancam.

"Jikalau kau tidak tekuk lutut, aku akan tikam padamu!"

"Kau tikamlah!"

Gouw Peng menantang.

"Tikamlah! Buat apa bersikap sebagai orang perempuan!"

Tjiauw Kong Lee mencelat ke atas kursi.

"Semua tahan!"

Ia berseru dengan suara nyaring.

"Lihat aku!"

Ia geraki tangannya, yang memegang golok, maka golok itu lantas mengancam batang lehernya sendiri.

"Hutang jiwa mesti dibayar dengan jiwa!"

Ia berteriak pula.

"Maka aku nanti bayar jiwanya Bin Tjoe Yap! Murid-muridku, kamu semua mundur!"

Semua murid itu taat kepada guru mereka, dengan menyesal mereka mundur, dengan roman sedih, mereka awasi guru mereka itu.

Karena pertempuran telah berhenti, ruangan jadi tenang pula.

Tjiauw Kong Lee telah menjadi putus asa, benar-benar dia hendak habisi jiwa sendiri.

Tapi mendadakan, ia dengar suara gadisnya.

"Ayah!"

Berseru Tjiauw Wan Djie.

"Ayah, mana itu surat lainnya? Dia bilang dia bakal datang untuk tolong kau!"

Kong Lee merogo keluar selembar kertas tanpa tulisan, dia beber itu, untuk ditunjuki kepada semua hadirin di pihak musuhnya, ia ulapkan itu beberapa kali, hingga semua orang dapat lihat, disitu ada terlukis gambar sebatang pedang yang luar biasa.

Mereka itu tidak mengerti, mereka mengawasi seperti tercengang.

Tjiauw Kong Lee lihat orang berdiam, dia berseru.

"Kim Coa Tayhiap, kau datang terlambat!"

Menyusul itu, dia ayun goloknya ke arah tenggorokannya!

Dalam saat yang sangat genting ini, mendadakan terdengar satu suara berkontrang, seperti suatu benda membentur golok, lantas goloknya ketua Kim Liong Pang itu terlepas dari cekalan, jatuh ke lantai hingga bersuara nyaring!

Dan tahu-tahu, disampingnya Tjiauw Kong Lee berdiri seorang anak muda yang romannya cakap-ganteng, usianya kira-kira duapuluh tahun lebih.

Semua orang pihak tetamu tidak lihat tegas munculnya pemuda ini, yang Sin Tjie adanya.

Bersama-sama Tjeng Tjeng, pemuda ini diam menyaksikan jalannya pertempuran itu, yang diseling dengan pelbagai pertempuran.

Ia mulanya percaya, dengan diperlihatkannya kedua surat keterangan itu, urusan bakal dapat dibereskan, persengketaan akan dapat didamaikan, hingga tak usah ia tonjolkan diri didepan orang banyak itu, terutama untuk cegah perselisihan atau bentrokan dengan muridnya djie-soehengnya.

Maka adalah di luar dugaannya, justru Bwee Kiam Hoo yang telah mengacau.

Tidak ada jalan lain, terpaksa ia mesti muncul juga.

Jiwanya Tjiauw Kong Lee terancam, untuk cegah ketua Kim Liong Pang itu dari kematian, ia timpuk golok dengan sebutir biji caturnya.

Selagi orang keheran-heranan, Sin Tjie berkata dengan nyaring.

"Kim Coa Long Koen sedang berhalangan, tak dapat dia datang sendiri kemari, dari itu dia melainkan utus puteranya serta saudaranya dia ini, untuk mendamaikan kamu kedua pihak!"

Semua orang yang tertua dari pihaknya Bin Tjoe Hoa melengak sejak tadi.

Mereka semua tahu, siapa adanya Kim Coa Long-koen yang kenamaan, yang sepak-terjangnya tak ketahuan, tapi yang katanya sudah lama menutup mata, hingga mereka heran, kenapa mendadak dia muncul di sini, walau cuma wakilnya.

Wan Djie sementara itu telah hampirkan ayahnya.

"Ayah, inilah dia!"

Dia bisiki orang tua itu. Tjiauw Kong Lee juga tergugu, kapan ia telah pandang itu anak muda, ia mendelong, pikirannya bekerja keras. Ia juga ragu-ragu.

"Siapa kau?"

Berteriak Soen Tiong Koen dengan tegurannya.

"Siapa yang perintah kau datang kemari untuk mengadu-biru?"

Didalam hatinya, Sin Tjie kata.

"Benar aku berusia lebih muda daripadamu, akan tetapi derajatku lebih tinggi satu tingkat! Tunggu sebentar, apabila aku telah perkenalkan diri, aku mau lihat, apa kau tetap ada begini kurang ajar....."

Tapi ia menjawab dengan tenang.

"Aku ada orang she Wan,"

Sahutnya dengan sabar.

"Kim Coa Long-koen Hee Toa-hiap utus aku menemui soehoe Tjiauw Kong Lee ini. Aku punyakan sedikit urusan ditengah jalan, lantaran itu aku tertangguh beberapa hari, sehingga aku terlambat sampainya disini. Aku menyesal sekali."

Soen Tiong Koen baru berumur dua puluh lebih, tak tahu ia tentang nama besar dari Kim Coa Long Koen Hee Soat Gie, ia pun bertabeat aseran, maka ia sudah lantas berteriak.

"Apakah itu Kim Coa, Tiat Coa, si ular emas, si ular besi? Lekas kau turun, jangan kau menggerecok hingga menjadi perintang!"

Tjeng Tjeng perdengarkan suara di hidung, dia ulur lidahnya.

Soen Tiong Koen lihat dia dihinakan, dia jadi mendongkol.

Dengan tiba-tiba saja ia lompat mencelat, dengan pedangnya ia tikam perutnya nona itu.

Hebat sekali serangannya ini, karena itu adalah tipu silat pedang Hoa San Pay "In lie tiauw toh"

Atau "Di dalam mega menyolok buah toh".

Inilah ilmu pedang ciptaan Pat-tjhioe Sian Wan Bok Djin Tjeng, ketua dari Hoa San Pay.

Mana sanggup Tjeng Tjeng kelit tikaman itu?

Sin Tjie kenal baik tipu tikaman itu, ia gusar bukan main terhadap Soen Tiong Koen.

Kenapa nona ini demikian kejam, menyerang secara demikian telengas kepada orang bukannya musuh?

Itulah serangan yang akan membawa kebinasaan.

"Kau terlalu!"

Kata ia di dalam hatinya, seraya ia berlompat ke depan Tjeng Tjeng, kaki kanannya terus terangkat, untuk dipakai menjejak, hingga pedang Hoei Thian Mo-lie jadi terinjak ujungnya, terinjak terus di lantai!

Sin Tjie gunai ilmu jejakan dari Kim Coa Long-koen, yang ia dapat cangkok dari kitab Kim Coa Pit Kip, hingga tak seorang juga didalam ruangan itu yang mengenalnya.

Banyak orang menjadi heran, tanpa merasa ada yang berseru kagum, ada juga yang saling mengawasi satu pada lain.

Soen Tiong Koen kerahkan tenaganya, untuk tarik pulang pedangnya itu, akan tetapi maksud hatinya tak kesampaian.

Injakan anak muda yang ia tidak kenal itu seperti nancap di lantai.

Justru begitu, tangan kiri si anak muda menyambar ke arah mukanya, tak dapat ia luputkan diri dengan cuma pelengoskan muka, terpaksa ia lepaskan cekalannya, ia lompat mundur.

Sin Tjie masih mendongkol, ia jumput pedang dikakinya itu, dengan satu gerakan dari kedua tangannya, ia bikin patah senjata itu, terus ia lemparkan ke lantai!

Boe-eng-tjoe Bwee Kiam Hoo dan Sin-koen Thaypo Lauw Pwee Seng adalah dua soeheng Soen Tiong Koen, mereka ini saksikan sang soemoay dipecundangi, mereka murka.

Pwee Seng hendak lantas turun tangan, akan tetapi Kiam Hoo yang licik tarik dia.

"Tunggu sebentar, tunggu apa yang dia hendak bilang!"

Kata soeheng ini. Benar-benar Sin Tjie lantas bicara.

"Kandanya Bin-ya Tjoe Hoa dahulu, kelakuannya tak dapat dibenarkan, karena itu dia kena dibinasakan oleh Tjiauw soehoe, yang tak bisa antap saja perbuatan busuk. Kejadian itu diketahui jelas sekali oleh Kim Coa Long-koen, siapa juga bilang, untuk ketahui duduknya perkara, dua pucuk surat telah ditulis untuk membuktikannya. Kim Coa Long-koen juga telah ajak Tjiauw Soehoe pergi ke Boe Tong San untuk menghadap sendiri kepada Oey Bok Toodjin, ketua dari Boe Tong Pay, untuk menjelaskan duduknya perkara. Itulah pun menjadi sebab kenapa Oey Bok Toodjin telah sudahi perkara itu. Dua surat yang dimaksudkan itu mestinya inilah adanya....."

Dia menundjuk kepada robekan kertas di lantai.

"Barusan tuan ini telah robek surat-surat berharga itu, entah apa maksudnya?"

Dia tambahkan seraya tunjuk juga Bwee Kiam Hoo.

Puas Tjiauw Kong Lee mendenagr perkataan-perkataan itu, hingga ia mau percaya, pemuda ini benarlah diutus Kim Coa Long-koen.

Ia cekal tangan gadisnya, hatinya sendiri memukul keras.

Bwee Kiam Hoo tapinya tertawa dingin.

"Itulah dua pucuk surat palsu!"

Berkata dia.

"Si orang she Tjiauw telah berpikir yang bukan-bukan untuk mengelabui orang! Buat apa kalau dua pucuk surat itu tidak dirobek?"

Sin Tjie masih berlaku sabar.

"Ketika kami berdua hendak berangkat kemari, Kim Coa Long-koen telah beritahukan kami tentang bunyinya dua surat itu,"

Kata ia.

"Dua surat yang dirobek itu, bukankah ini Taysoe dan loosoe itu telah membacanya sendiri?"

Tambahkan ia, seraya ia memberi hormat pada Sip Lek Taysoe dan The Kie In.

"Mari kita bicarakan isinya surat itu, itu benar dusta atau tidak, nanti akan dapat diketahui."

"Baik, bicaralah!"

Berkata Sip Lek Taysoe dan The Kie In. Sin Tjie berpaling kepada Bin Tjoe Hoa.

"Bin-ya,"

Katanya.

"jikalau aku bicara, kesudahannya sungguh tidak akan membikin bercahaya muka kandamu, dari itu, apa aku mesti bicara terus atau jangan?"

Urat-urat dikepalanya Tjoe Hoa pada bangun.

"Kandaku bukan orang semacam yang kau hendak sebutkan!"

Dia berseru bahna gusar.

"Pasti sekali inilah surat palsu!"

Sin Tjie tidak hendak berbantah pula. Ia menoleh pada kawannya.

"Adik Tjeng, silakan kau bacakan bunyinya kedua surat itu!"

Ia minta.

Tjeng Tjeng terima perintah itu tanpa bilang suatu apa, mulanya ia mendehem beberapa kali, lantas ia mulai membacakan, diluar kepala.

Ia berotak sangat terang, satu kali saja ia baca kedua surat itu selama di hotel, segera ia ingat semuanya.

Ia baca lebih dahulu surat pengakuannya Thio Tjeetjoe, lalu surat tanda terima kasih dari Khoe Tootay.

Ia membaca dengan tenang, suaranya halus tetapi terang.

Orang-orang dalam rombongan Bin Tjoe Hoa sudah lantas kasak-kusuk apabila "pemuda"

Ini telah membacakan beberapa puluh huruf , terang mereka itu mulai rundingkan isi surat, dan ketika baru saja pembacaan dilakukan separuh, Bin Tjoe Hoa sudah menjerit.

"Berhenti!"

Teriak dia.

"Bocah, siapakah kau?"

Tjeng Tjeng belum sempat menjawab, Bwee Kiam Hoo sudah nyelah.

"Bocah ini kebanyakan ada orangnya si orang she Tjiauw!"

Kata Boe-eng-tjoe si Bajangan Tak Ada.

"Atau dia adalah orang yang diundang untuk membantu pihaknya. Siapa berani pastikan jikalau tidak lebih dahulu mereka bersekongkol?"

Bin Tjoe Hoa seperti sadar mendengar kata-kata itu.

"Kau bilang kau adalah orang suruhannya Kim Coa Long-koen!"

Dia berseru.

"Siapa bisa buktikan kau bukannya orang palsu yang datang kemari untuk ngaco-belo saja?"

"Habis apa kau inginkan untuk bikin kau percaya betul?"

Sin Tjie tanya. Bin Tjoe Hoa balingkan pedangnya yang panjang.

"Banyak orang kang-ouw bilang Kim Coa Long-koen liehay boegeenya,"

Berkata dia.

"itu melainkan kata-kata saja dan belum pernah ada orang yang menyaksikannya, apabila kau benar ada turunan dari Kim Coa Long-koen itu, pasti kau telah mewarisi kepandaiannya itu. Asal kau dapat menangkis pedangku ini, Baru aku mau percaya!"

Orang she Bin ini memandang enteng Sin Tjie yang masih berusia demikian muda.

Umpama kata benar si pemuda ada anaknya Kim Coa Long-koen, pasti dia belum dapat wariskan semua kepandaiannya orang kang-ouw luar biasa itu.

Berapa liehaynya orang muda ini?

Ia percaya, dalam beberapa gebrak saja, ia akan dapat merubuhkannya, hingga orang akan percaya surat-surat itu adalah surat-surat palsu belaka.

Sin Tjie jatuhkan diri di atas kursi, untuk berduduk.

Ia cegluk araknya, ia jumput sumpit untuk jepit sepotong daging, buat dikasi masuk kedalam mulutnya, untuk dikunyah.

"Untuk menangkan pedang di tanganmu itu, buat apa sampai mesti dapatkan warisan kepandaiannya Kim Coa Long-koen...."

Katanya sambil tertawa.

"Orang telah permainkan padamu, kau masih tidak insyaf, sayang, sungguh sayang....."

Bin Tjoe Hoa jadi bertambah-tambah mendongkol.

"Kapan orang permainkan aku?"

Dia berteriak.

"Eh, bocah, apakah kau berani pieboe denganku? Jikalau kau takut, pergilah kau menggelinding dari sini!"

Kembali Sin Tjie cegluk araknya, sikapnya sangat tenang.

"Sudah lama aku dengar ilmu pedang Boe Tong Pay adalah yang tunggal didalam dunia Kang-ouw, maka hari ini marilah aku belajar kenal dengannya,"

Kata ia dengan tetap sabar.

"Akan tetapi, sebelumnya main-main, perlu kita bicara dahulu. Jikalau aku dapat menangkan kau, perselisihanmu ini dengan pihak Tjiauw Loosoe mesti dibikin habis, tidak dapat diungkat-ungkat pula, umpama kata kau tetap memusuhinya, maka semua tjianpwee yang hadir disini harus perdengarkan suaranya yang adil!"

"Itulah pasti!"

Berseru Bin Tjoe Hoa dengan bernapsu.

"Disini ada Sip Lek Taysoe, The Tjeetjoe dan yang lain-lain, yang menjadi saksi! Tapi jikalau kau tak dapat menangkan aku?"

"Aku nanti menjura kepadamu untuk menghaturkan maaf,"

Jawab si anak muda dengan lantas.

"Selanjutnya aku tidak akan campur tahu pula urusan ini."

"Baik!"

Berseru Bin Tjoe Hoa.

"Nah, kau majulah!"

Tjoe Hoa segera putar pedangnya, hingga anginnya berbunyi "swing, swing!"

Teranglah ia ada sangat sengit hingga ia sengaja pertontonkan tenaganya. Didalam hatinya, ia pun pikir.

"Jikalau aku tidak berikan tanda mata kepadamu, ditubuhmu, pasti kau tidak insyaf liehaynya Boe Tong Pay!"

Sin Tjie masih tetap tenang seperti tadinya.

"Kim Coa Tayhiap telah bilang padaku,"

Ia berkata pula.

"didalam Boe Tong Pay, ilmu pedangnya yang paling liehay adalah Liang Gie Kiam-hoat. Ia pesan padaku, katanya, dengan kepergianmu ini, apabila si orang she Bin tidak sudi mengerti, hingga pertempuran mesti terjadi, kau mesti perhatikan ilmu pedangnya itu. Yang lain-lainnya tak usah diperdulikan. Sekarang mari aku ajarkan kau beberapa tipu pukulannya untuk memecahkannya."

Pemuda ini belum bicara habis atau dari antara rombongan tetamu, seorang usia pertengahan lompat maju kearahnya sambil berseru.

"Baik! Aku ingin saksikan bagaimana Kim Coa Long-koen ajari kau memecahkan Liang Gie Kiam-hoat!"

Seruan itu disusul sama tusukan pedang ke muka Sin Tjie.

Anak muda ini egos mukanya ke kiri, terus ia loncat ke tengah-tengah ruangan.

Sementara itu, tangan kirinya masih cekali cawan araknya, tangan kanannya, dengan sumpit, sedang menjepit sepotong paha ayam.

"Aku mohon tanya gelaranmu, tootiang?"

Katanya. Penyerang itu memang ada satu toodjin, satu imam.

"Pintoo ada Tong Hian Toodjin,"

Jawab imam itu.

"Pintoo adalah murid Boe Tong Pay angkatan kedua puluh tiga. Bin Tjoe Hoa ini adalah soeteeku!"

"Bagus, tootiang,"

Kata pula Sin Tjie.

"Dulu Kim Coa Tayhiap dan Oey Bok Tootiang telah merundingkan tentang ilmu silat pedang di atas gunung Boe Tong San, itu waktu Oey Bok Tootiang telah unjuk bahwa Liang Gie Kiam-hoat tjiptaannya itu tidak ada tandingannya di dalam dunia ini, atas itu Kim Coa Tayhiap cuma tertawa saja, ia tidak membantahnya. Maka beruntunglah hari ini kita bertemu disini, hingga kita dari angkatan muda bisa dapat ketika untuk merundingkannya dan mencoba-coba."

Tong Hian Toodjin tidak bilang apa-apa lagi, ia beri tanda pada Bin Tjoe Hoa, lantas keduanya menyerang dengan berbareng. Sebab "Liang Gie Kiam-hoat"

Seperti namanya menunjuki "liang-gie" , adalah ilmu berkelahi yang selamanya mesti dilakukan oleh dua orang melawan satu atau lebih musuh.

Gesit luar biasa, Sin Tjie melejit dari dua tikaman itu yang hebat sekali, atas mana, ia dirangsek pula.

"Tahan, tahan!"

Tjeng Tjeng berseru.

"Dengar dulu!"

Bin Tjoe Hoa dan Tong Hian hentikan serangan mereka, lantas mereka berdiri berendeng dengan masing-masing pedangnya di depan dada. Ini dia yang dinamakan sikap "lianggie". Mereka awasi pemuda ini.

"Wan Toako menerima baik untuk bertempur dengan Bin-ya satu orang, kenapa sekarang ditambah satu tooya lagi?"

Tanya Tjeng Tjeng. Matanya Tong Hian Toodjin mencilak.

"Engko kecil, teranglah kau ada merek palsu!"

Berkata imam ini dengan ejekannya. Tjeng Tjeng tetap dandan sebagai satu pemuda.

"Siapa sih yang tidak ketahui Liang Gie kiamhoat mesti dilakukan berbareng oleh dua orang? Kau tidak tahu suatu apa, apa mungkin Kim Coa Long-koen yang kenamaan juga tak tahu ini?"

Disengapi secara demikian, merah muka nona kita. Sin Tjie segera datang sama tengah dengan kata-katanya.

"Liang Gie kiam-hoatmu ini memang didasarkan atas Im dan Yang, yang saling menghidupkan dan saling menaklukkan. Siapa yang latihannya masih jauh daripada kesempurnaan, memang digunainya itu harus dengan berdua, akan tetapi untuk ahli sejati, pasti cukup dengan satu orang saja!"

Tjeng Tjeng tidak kenal Liang Gie kiam-hoat, karenanya ia telah menanyakannya.

Tentu saja ia tidak senang yang Sin Tjie mesti dikerubuti dua orang.

Tapi ia tidak tahu, karena pertanyaannya ini yang tolol, ia jadi sudah membuka rahasia sendiri.

Karena ini juga, Sin Tjie lekas-lekas tolongi kawannya ini.

Tong Hian dan Bin Tjoe Hoa saling mengawasi, dalam hatinya mereka pikir.

"Tidak pernah soehoe omong bahwa ilmu pedang ini bisa dipakai berkelahi dengan satu orang saja, maka apa mungkin bocah ini cuma ngoceh tak keruan?"

Tjeng Tjeng sendiri telah lantas dapat pulang ketenangan dirinya. Ia lantas tertawa gembira sekali terhadap kedua jago Boe Tong Pay itu. Ia kata.

"Oleh karena djiewie maju berdua dengan berbareng, aku anggap syarat taruhannya perlu ditambah berlipat!"

"Kau hendak bertaruh apa?"

Tanya Bin Tjoe Hoa.

"Aku inginkan,"

Sahut Tjeng Tjeng.

"umpama kata pihakmu yang kalah maka kecuali dibulatkan janji kau tidak akan musuhkan pula kepada Tjiauw Loosoe ini, kau juga mesti serahkan pada Wan Toako gedung besarmu di luar pintu Kim Coan-moe. Apa kau akur?"

Bin Tjoe Hoa pikir.

"Sekarang ini, apa juga baiklah aku terima baik! Umpama bocah ini tidak terbinasa di ujung pedangku, sedikitnya dia bakal terluka parah."

Dia merasa pasti sekali. Maka dia lantas berikan jawabannya.

"Baik, aku terima pertaruhan ini! Umpamanya kau juga hendak turut maju, hingga kita jadi dua pasang kami akur, supaya tidak usah kamu nanti katakan kita yang tua menghina yang muda dan yang banyak curangi yang sedikit!"

"Bagaimana kau bisa bilang yang banyak curangi yang sedikit?"

Tanya Tjeng Tjeng.

"Sungguh kau tidak tahu tingginya langit dan dalamnya bumi!"

Naik darahnya Bin Tjoe Hoa karena hinaan ini.

"Orang she Wan!"

Ia berseru kepada Sin Tjie.

"Bagaimana jikalau kau kena kami lukakan?"

Tidak lantas pemuda kita berikan jawabannya, karena usul keluar dari Tjeng Tjeng tetapi dialah yang ditanya. Tapi Tjiauw Kong Lee sudah lantas menalangi dia.

"Bin Djieko, gedungmu itu berapa harganya?"

Tanya ketua Kim Liong Pang ini.

"Baru pada bulan yang lalu aku beli gedung itu,"

Sahut Bin Tjoe Hoa.

"Aku beli itu dengan harga delapan ribu tiga ratus tail."

"Kalau begitu, aku suka wakilkan Wan Toako."

Bilang Kong Lee.

"Kau tunggu sebentar."

Tuan rumah ini lantas bicara pelahan sekali pada gadisnya.

Tjiauw Wan Djie segera lari kedalam, untuk keluar pula dengan cepat dengan membawa selembar kertas berharga dari bank.

Tjiauw Kong Lee lantas berkata pula.

"Wan Toako ini hendak keluarkan tenaganya untuk aku, aku sangat bersyukur kepadanya. Disini ada itu jumlah delapan ribu tiga ratus tail. Umpama Wan Toako dengan sepasang tangannya tidak sanggup layani empat tangan dari kamu, maka Bin Djie-ko boleh ambil cek ini. Dan kalau ada urusannya lain lagi, lain kali Bin Djieko boleh cari aku. Siapa berhutang, dia mesti membayar!"

Ketua Kim Liong Pang ini pikir, umpama Sin Tjie tidak sanggup menangi lawan, tidak apa, asal dia jangan jadi korban untuknya.

The Kie In, tjong-bengtjoe atau ketua pusat dari kawanan bajak dari tujuh puluh dua pulau gembira dengan macam pertaruhan itu, dia lantas turut campur bicara.

"Bagus!"

Serunya.

"Inilah pertaruhan yang maha adil, adil sekali! Bin-djieko, aku juga hendak turut ambil bagian!"

Dia lantas rogoh sakunya, akan keluarkan sepotong uang goanpo emas, yang ia terus lemparkan ke atas meja, sambil ia tambahkan.

"Mari kita bertaruh tiga lawan satu! Goanpo itu berharga tiga ribu tail! Hayo, siapa berani lawan dengan seribu tail saja?"

Tantangan itu tidak ada yang jawab, walau kembali pemimpin bajak itu ulangi sampai beberapa kali.

Sin Tjie masih demikian muda, mana dia sanggup lawan dua jago Boe Tong pay?

Tidak ada orang yang niat korbankan uang secara cuma-cuma.

Tapi Tjiauw Wan Djie muncul dengan tiba-tiba.

"The toapeh, suka aku terima pertaruhanmu ini!"

Katanya.

Malah lantas dia loloskan gelang emas yang sedang dipakai, ia letaki itu diatas meja.

Itulah gelang emas yang tertabur permata, sinarnya sampai memain berkeredepan.

The Kie In angkat gelang itu untuk diperiksa, kemudian ia kata.

"Gelangmu ini berharga tiga ribu tail, maka itu tidak sudi aku akan akali satu bocah. Aku akan tambah uangku lagi enam ribu tail!"

Memang ia janjikan tiga lawan satu. Pemimpin bajak ini lantas teriaki orangnya untuk letaki lagi dua potong goanpo emas diatas meja.

"Aku pujikan supaya kaulah yang menang!"

Kata pula tjong-bengtjoe ini sambil tertawa. Ia berkata-kata seraya hadapi nona Tjiauw.

"Ini uang bisa dijadikan pesalinmu!"

Soen Tiong Koen panas hati menyaksikan semua itu.

"Aku pertaruhkan pedangku ini!"

Ia berseru. Ia lemparkan pedangnya yang tinggal sepotong keatas meja. (Bersambung bab ke 12) "Siapa kesudian pedang patah itu!"

Tjeng Tjeng bilang. Semua orang pun heran.

"Aku bukan pertaruhkan pedangnya saja!"

Soen Tiong Koen berteriak memberi keterangan.

"Aku juga bertaruh tiga lawan satu! Begini. Umpama kata ini bocah yang beruntung memperoleh kemenangan, kau boleh tusuk aku tiga kali, akan tetapi sebaliknya apabila dia yang kalah, dengan pedang buntung ini, aku nanti tikam kau satu kali saja! Kau mengerti sekarang?"

Kembali semua orang merasa heran, apapula dipihak tuan rumah.

Itu adalah pertaruhan yang mereka belum pernah mengalami, walaupun banyak diantara mereka adalah jagojago ulung.

Antaranya ada yang sudah meleletkan lidah terlebih dahulu.

Tjeng Tjeng tertawa dengan manis sekali, sikapnya wajar.

"Kau begini cantik-molek, mana tega aku untuk tikam padamu?"

Berkata dia. Tentu saja itu hanya ejekan belaka. Lauw Pwee Seng jadi sengit.

"Bocah kurang ajar, jangan ngaco-belo!"

Dia membentak. Tjeng Tjeng tidak gusar, dia tertawa terus. Soen Tiong Koen awasi Tjiauw Kong Lee serta semua orangnya.

"Tadinya aku percaya Kim Liong Pang sedikitnya mempunyai beberapa orang liehay, siapa tahu buktinya sekarang semuanya terdiri dari segala perempuan, segala bantong!"

Baca Juga: Pendekar Patung Emas 6

Baca Juga: Satria Gunung Kidul 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert