Ceritasilat Novel Online

Pedang Ular Emas 4

Eps 4 Pedang Ular Emas - Yin Yong

Baca online Pedang Ular Emas - Yin Yong

Cersil Pedang Ular Emas - Yin Yong.

"Baik ibumu saja yang melanjuti,"

Sahut sang mamak dengan lesu. Sampai disitu, Oen Gie awasi Sin Tjie, wajahnya berduka.

"Wan siangkong,"

Katanya dengan pelahan,"

Kau telah rawat jenasah dia, maka sekarang, apa jua boleh aku tak usah sembunyikan kepadamu.

Hanya aku minta sebentar, tolong kau tuturkan aku perihal meninggalnya dia itu, supaya kita ibu dan anak mendapat tahu, dengan begitu...."

Nyonya ini tidak bisa bicara terus, ia menangis sesenggukan, sehingga ia mesti menunda beberapa detik untuk legakan hati.

"Ketika itu aku tidak tahu kenapa dia demikian kejam, malah aku tidak ingin mengetahuinya,"

Kemudian nyonya Hee ini mulai dengan keterangannya.

"Ayah larang aku keluar dari pekarangan rumah walaupun setindak juga, aku jadi sangat masgul. Maka itu setiap hari aku cuma bisa memain didalam taman. Malah ayah bilang, tanpa ada beberapa engko yang temani, siang pun orang perempuan dilarang berkeliaran didalam pekarangan."

"Dalam bulan ketiga, selagi bunga-bunga mekar indah dan harum baunya, ingin aku pergi kebukit untuk tengok pohon-pohon bungaku, apamau disebabkan sepak terjangnya Kim Tjoa Long-koen itu, tak dapat aku puasi hatiku, aku mesti dikeram didalam rumah. Pernah aku memikir untuk membolos sendirian akan tetapi aku tidak berani karena bengisnya ayah."

"Pada suatu hari aku pergi memain didalam taman, bersama encie ketiga dari kamar kedua serta enso dari kamar kelima. Bersama kita ada engko Lam Yang serta kaupunya engko Liam Tjoe. Jadi kita ada berlima. Dengan gembira kita main ayunan, yang diayun makin lama makin tinggi, hingga kita bisa melihat keluar tembok pekarangan dimana tertampak pohon-pohon yanglioe yang hijau-segar serta bunga-bunga toh yang gompiok-indah."

"Disaat kita sedang bergembira, se-konyong-konyong engko Liam Tjoe menjerit sekali, Begitu lekas kita memeriksa, nyata dadanya engko Liam Tjoe itu telah tertikam sebatang bor Kim-tjoa-tjoie, hingga ia habis nyawanya seketika juga. Engko Lam Yang! Aku ingat betul, kau sudah lantas lari masuk kedalam rumah, kau tinggalkan kita bertiga berada didalam taman!"

Mukanya Lam Yang menjadi merah.

"Seorang diri aku tidak dapat lawan dia, apa itu bukan berarti aku akan antari jiwa secara kecewa?"

Katanya, untuk bela diri.

"Aku lari ke dalamuntuk minta bantuan..."

Oen Gie tidak gubris bantahan saudara itu, ia lanjuti ceritanya.

"Selagi aku bingung karena belum tahu duduknya perkara, tiba-tiba seorang berkelebat diatas tembok, dia lompat turun kebawah, tepat kepadaku, yang masih berdiri diatas ayunan. Dengan sekuat tenaga, ia ayun ayunan itu, lalu ia peluk pinggangku. Aku rasakan seperti aku terbang melayang ditengah udara, aku percaya kita berdua bakal jatuh mati. Kakiku tidak injak lagi papan ayunan."

"Orang itu cekal aku dengan tangan kiri, ketika ia turun diluar tembok, tangan kanannya sambar secabang pohon yanglioe, habis mana, dengan turuti cabang yang meroyot turun, ia turun ketanah, dengan begitu, aku terhindar dari bahaya. Dalam bingung, aku pukuli dia pada mukanya. Ketika ia tekan pundakku, lantas seluruh tubuhku jadi lemas, akan kemudian lenyaplah tenagaku. Tapi aku dengar suara berisik dibelakangku. Itulah orangorang yang susul aku.

"Tidak antara lama, siraplah suaranya sekalian pengejar itu. Terang mereka telah ketinggalan jauh. Masih aku dibawa lari terus, sampai akhirnya kita berhenti disebuah gua dilamping jurang yang nampaknya seperti jurang tergantung. Sampai disitu, dia totok pula padaku, hingga aku jadi dapat pulang tenagaku. Ia awasi aku sambil bersenyum menyengir."

"Tiba-tiba aku ingat kedua enso yang bernasib malang. Maka aku pikir, daripada terhina, lebih baik aku binasa. Begitulah aku loncat, akan benturkan kepalaku kebatu gunung. Dia lihat sikapku itu, dia kaget, dia lantas jambret bebokongku. Cegahan ini membikin gagal kenekatanku itu. Tapi aku telah kena bentur juga batu, tidak keras, karena mana, aku jadi dapat ini tanda...."

Oen Gie tunjuki jidatnya, dibagian ujung, yang ketutupan rambut, dimana ada satu cacat, melihat mana, waktu itu lukanya itu tentu bukan enteng. Ia menghela napas.

"Coba itu waktu dia tidak jambret aku, coba dia antap aku benturkan diri, hingga aku terbinasa, urusan tidak bakal jadi berlarut-larut. Untuk dia sendiri, mungkin itu ada banyak baiknya. Tapi karena dia berhasil mencegah aku, dia justru jadi terancam, Karena lukaku itu, aku pingsan, ketika kemudian aku sadar, aku dapati aku sedang rebah diatas sepotong permadani didalam gua itu. Aku kaget hingga hampir aku pingsan pula, Baru hatiku lega apabila aku dapati kenyataan, pakaiannya rapi seperti tadinya. Mungkin karena melihat aku nekat, jangkitlah yang jernih, dia tidak ganggu aku,"

Kata nyonya ini. (Bersambung bab ke 8) "Rupa-rupanya dia kuatir aku nanti berlaku nekat pula, selama dua hari terus-terusan dia jaga aku,"

Oen Gie bercerita lebih jauh.

"Dia matangi sendiri bahan makanan, untuk aku dahar. Aku melainkan menangis, tidak sudi aku layani dia. Hari ketiga lewat, datang hari keempat. Dalam empat hari saja, aku telah jadi kurus bukan main. Ia masaki aku daging kuah, dengan sabar ia bujuki aku untuk dahar daging kuah itu. Tetap aku tidak perdulikan padanya. Tiba-tiba dia jambak aku, untuk bikin kepalaku melenggak, hidungku terus ditutup, sesudah mana, selagi mulutku terpentang, dia paksa cekoki kuah daging itu. Secara demikian, mau atau tidak, aku kena tenggak separuh dari isinya mangkok. Baru setelah itu, ia tidak jambak pula padaku. Dengan sengaja aku sembur mukanya, aku ingin bikin dia gusar, supaya dia bunuh aku, sebab tak ingin aku nanti diperkosa dia, tak sudi aku diperlakukan sebagai kedua enso, yang dijual pada rumah hina. Sedikitpun ia tidak gusar, ia tertawa saja. Dengan sabar ia susuti mukanya, ia awasi aku dengan diam saja, Baru kemudia dia menghela napas."

"Malam itu dia rebahkan diri dimulut gua.

"Aku hendak nyanyikan satu lagu, apa kau suka dengar?"

Dia kata padaku.

"Aku tidak suka dengar,"

Aku jawab dia. Dengan tiba-tiba dia kegirangan hingga dia lompat berjingkrakan.

"Aku sangka kau gagu, kiranya kau bisa bicara!"

Katanya gembira.

"Diluar keinginannku, aku tertawa. Aku anggap lucu yang dia sangka aku tidak bisa bicara. Kemudian secara mendamprat, aku kata padanya.

"Siapa yang gagu? Bertemu sama orang jahat, aku memang tidak sudi bicara!"

"Dia tidak layani aku bicara, sebaliknya dengan suara muluk, dia nyanyikan satu lagu pegunungan. Dia nyanyi terus, sampai lanjut malam, hingga sang rembulan muncul dengan keindahannya. Masih saja dia bernyanyi. Seumurku, aku hidup terkurung didalam rumah, mana pernah aku dengar nyanyian semacam itu? Itulah nyanyian percintaan diantara orang-orang lelaki dan perempuan...."

"Kau tidak sudi dengarkan tapi toh kau dengari, bukan?"

Mendadakan Oen Lam Yang campur bicara.

"Siapa mempunyai kesabaran akan dengarkan cerita burukmu ini?"

Lantas dia bertindak keluar paseban, tindakannya lebar.

"Tentu dia pergi untuk mengadu pada yaya semua,"

Kata Tjeng Tjeng.

"Biar saja, aku tidak takut!"

Sahut Oen Gie.

"Kalau begitu,ibu, hayo lanjuti ceritamu,"

Sang puteri minta.

"Kemudian lagi, dengan lapat-lapat aku ketiduran sendiri,"

Oen Gie melanjuti.

"Besoknya pagi aku mendusi, aku tidak lihat dia. Aku lantas memikir untuk minggat. Tapi setelah aku melongok kemulut gua, aku putus asa. Gua itu berada dipuncak bukit, disebuah lamping, diempat penjurunya, tidak ada jalanan untuk turun. Cuma orang-orang sebagai dia, yang sempurna ilmu silatnya dan bisa ilmu mengentengkan tubuh, bisa naik dan turun dengan merdeka.

"Kira-kira tengah-hari, dia pulang. Dia bawakan aku banyak barang perhiasan, yantjie dan pupur. Aku tidak inginkan itu, aku jumput, aku lemparkan kedalam jurang. Dia tidak gusar, malah dia gembira sekali."

"Kapan sang malam sampai, kembali dia bernyanyi untukku."

"Dilain harinya, dia pergi untuk kembali dengan bawakan aku banyak barang mainan, antaranya anak ayam yang berciap-ciap dan anak kucing yang mengeong-ngeong, juga anak burung dan anak kura-kura yang merayap pergi-datang. Tentu saja tak tega aku akan lemparkan semua binatang itu kedalam jurang. Dia rupanya ketahui perasaanku itu. Maka hari itu, terus seantero hari, dia temani aku memain dengan keempat binatang itu, yang kita pun kasih makan. Malamnya, kembali dia nyanyi untuk aku dengari."

Melihat yang dia tidak niat ganggu aku, aku menjadi sedikit lega, hingga aku jadi suka juga dahar.

Hanya sampai lebih dari satu bulan, tetap aku tidak suka bicara dengannya.

Meskipun demikian rupa sikapku terhadapnya, tidak pernah dia hunjuk kegusarannya, terus-menerus dia bersikap lemah-lembut terhadapku.

Sekalipun ayah dan ibuku belum pernah berlaku baik sebagai dia terhadap aku."

"Adalah pada suatu hari ketika dengan sekonyong-konyong datang perubahan atas dirinya. Dengan tiba-tiba saja dia awasi aku dengan rupa bengis dan sikap mengancam, hingga aku jadi ketakutan, hingga aku menangis."

"Dia awasi aku sekian lama, lantas ia menghela napas sendirinya.

"Sudah, jangan nangis,"

Dia bujuk aku akhirnya.

"Pada malam itu aku pergoki dia menangis seorang diri, suaranya pelahan sekali, akan tetapi aku tahu, dia menangis dengan sangat sedih. Dia menangis diluar gua. Apamau, malam itu turun hujan. Dia tidak mau masuk kendati juga hujan turun dengan lebat. Aku jadi tidak tega.

"Mari masuk,"

Aku kata padanya. Dia tidak perdulikan ajakanku itu.

"Kenapa kau menangis?"

Aku tanya pula.

"Secara mendadak saja dia menyahuti, dengan bengis .

"Besok adalah hari ulang setahun dari matinya ayah, ibu, encie dan kedua kandaku! Dalam itu satu hari saja, seluruh keluargaku musnah terbinasa dalam tangannya seorang dari keluargamu! Maka besok aku mesti bunuh lagi orang keluargamu, sedikitnya mesti satu jiwa! Sekarang ini rumahmu dijaga sangat keras dan kuat! Keluargamu sudah minta bantuannya Lie Tjwee Toodjin dari Ngo Bie Pay dan Tjeng Beng Siansoe dari Siauw Lim Pay! Tapi aku tidak takut!"

"Habis mengucap demikian, dia lantas pergi. Dia pergi sampai magrib dihari yang kedua, masih dia belum kembali. Tanpa merasa aku jadi senantiasa ingat dia. Diam-diam aku meng-harap-harap pulangnya dia."

Diam-diam Tjeng Tjeng lirik Sin Tjie, akan lihat orang memandang hina atau tidak kepada ibunya itu,akan tetapi ia dapati pemuda itu duduk dengan tetap tenang dan perhatiannya sangat tertarik.

Menampak demikian, diam-diam ia merasa girang.

Oen Gie melanjuti .

"Selagi cuaca mulai menjadi gelap, dia masih belum kembali juga. Dua-tiga kali aku telah melongok kemulut gua. Ketika untuk keempat kalinya aku melongok pula, aku tampak tubuh empat orang diatas puncak, kelihatannya bagaikan bajangan saja. Mereka itu sedang saling kejar."

"Aku coba mengawasi dengan teliti, maka akhirnya, dengan samar-samar, bisa juga aku mengenalinya. Orang yang terdepan adalah dia, lalu satu imam, disusul sama satu pendeta yang menyekal sebatang sian-thung, tongkat yang panjang sebagai toya. Orang yang keempat ada ayah dengan senjatanya yang istimewa, tongkat berkepala naganagaan. Dia sendiri cekal pedang Kim Tjoa Kiam. Sendirian saja dia layani tiga lawan, nampaknya dia terancam bahaya. Sebab sesampainya dipuncak itu, mereka lantas bertempur."

"Sekarang aku dapat melihat terlebih tegas. Pendeta yang bersenjatakan tongkat itu liehay sekali, ia dapat mendesak, akan akhirnya mengemplang dengan tongkatnya itu. Aku kaget hingga aku menjerit, sebab aku lihat dia telah sangat terdesak, aku kuatir dia tak dapat menghalau bahaya. Tapi dengan pedangnya, dia bisa menangkis, malah tangkisa itu membuat sapat ujungnya tongkat."

"Ayah dapat dengar jeritanku, ia menoleh kearah aku, lantas ia tidak berkelahi lebih lama, ia berlari-lari menuju aku."

"Menampak sikap ayah, dia jadi sibuk sekali. Dia desak kedua lawannya, itu imam dan pendeta, lantas dia tinggalkan, untuk dia susul ayah. Karena ini, dia pun dikejar kedua orang beribadat itu."

"Tidak lama sampailah mereka dilembah dimana dia telah dapat mencandak ayah, untuk cegah ayah mendekati aku, dia serang ayah, hingga kembali mereka berdua jadi bertempur. Baru beberapa jurus, si imam dan si pendeta pun sudah datang, diaorang lalu mengepung pula padanya."

"Ayah lantas gunai ketika untuk menyingkir dari pertempuran itu, untuk ia ber-lari-lari pula kearah aku. Selama itu, mereka telah mendatangi aku semakin dekat. Aku girang sekali.

"Ayah, lekas!"

Aku teriaki ayahku.

"Sebagai orang kalap, dia desak kedua lawannya, lalu dia lari akan susul ayah. Dia berhasil dia serang ayah dengan hebat, hingga ayah terdesak mundur. Sebentar saja, ayah jadi terancam bahaya.

"Selagi aku berpikir untuk lari kepada ayah, untuk tolongi dia, si imam dan si pendeta sudah menyusul pula, maka kembali mereka bertempur pula."

"Eh, Gie, bagaimana dengan kau?"

Ayah teriaki aku.

"Aku tidak kurang suatu apa, ayah, jangan kuatir,"

Aku jawab.

"Baik!"

Ayah bilang.

"Nanti aku bereskan dahulu ini kantjat!"

Bertiga mereka kepung pula dia.

"Kim Tjoa Long Koen,"

Terdengar suaranya si imam dari Ngo Bie Pay,"

Aku hendak bicara denganmu supaya kau mengerti.

Kami dari Ngo Bie Pay tidak bermusuh denganmu, kita tidak punya sangkutan apa juga, tapi sekarang aku telah campur tahu urusanmu, ini melulu disebabkan perbuatanmu keterlaluan.

Aku janji akan tidak bantu siapa juga asal kau suka hentikan permusuhan, supaya selanjutnya kau tidak satroni pula keluarga Oen.

Aku ingin supaya urusan diselesaikan mulai hari ini."

"Sambil kertak gigi, aku dengar dia menjawab.

"Habis, apa aku tidak boleh balas sakit hatinya ayah dan ibuku, encie dan kandakandaku?"

Demikian tanyanya.

"Kau sudah binasakan banyak jiwa, aku anggap pantaslah kau merasa puas,"

Kata si imam.

"Aku minta, dengan memandang mukaku, sukalah kamu kedua pihak habiskan persengketaan ini."

"Tapi dia tidak menjawab, malah dengan tiba-tiba dia serang si pendeta. Karena ini, lagilagi mereka jadi bertempur."

"Senjatanya si imam ada liehay, imamnya sendiri berilmu silat tinggi. Disamping dia, tongkatnya si pendeta perdengarkan suara angina men-deru-deru. Tongkat itu masih bisa digunai dengan sempurna walaupun ujungnya sudah terkutung."

"Aku lihat dia terancam. Dia mandi keringat. Dia terdesak. Tiba-tiba aku tampak dia sempoyongan, hampir-hampir dia rubuh terguling. Justru itu, tongkatnya si pendeta menyambar. Masih dia bisa luputkan diri dari bahaya dengan berkelit miring."

"Justru karena dia berkelit, dia dapat lihat mukaku. Menurut keterangannya belakangan, hari itu dia sudah sangat letih, urat-uratnya lemas semua. Akan tetapi kapan dia dapat lihat aku, dan dia dapat perasaan aku sangat memperhatikan padanya, tiba-tiba bangkitlah semangatnya, tenaganya jadi kumpul pula. Maka ketika dia bikin perlawanan lebih jauh, Kim-tjoa-kiam jadi sangat berbahaya."

"Nona Oen, jangan takut!"

Dia serukan aku.

"Kau lihat!"

"Entah bagaimana dia telah gunai senjatanya, mendadak terdengar si pendeta keluarkan jeritan yang menyeramkan, tubuhnya rubuh, lalu bergelundungan kebawah. Kemudian ternyata, batok kepalanya yang gundul telah tertancap bor Kim-tjoa-tjoei."

"Ayah dan si imam jadi kaget."

"Segera datang saatnya dia serang ayah. Gunai ketika yang baik, si imam membokong dari belakang. Tapi dia tidak kena ditikam bebokongnya. Dalam ancaman bahaya itu, ia mendahulukan memutar tubuh, sambil berkelit, tangan kirinya diulur, dua jarinya menusuk kedua matanya si penyerang. Sambil berbuat demikian, dia berseru keras."

"Imam itu terkejut, lekas-lekas ia tunduk, untuk selamatkan diri dari totokan itu kearah mata. Selagi ia tunduk, lengan kanannya telah menyambar. Itulah lengan yang menyekal pedang. Tidak ampun lagi, tubuh si imam terbabat pedang, sehingga dengan satu jeritan mengerikan, dia rubuh binasa."

Tjeng Tjeng berseru mendengar cerita ibunya itu. Ia kagum.

"Habis itu, dia kembali serang ayah."

"Ketika itu muka ayah telah jadi pucat hingga seperti tak ada darahnya, terang ia kaget dan jeri karena dapatkan dua kawannya yang liehay telah dibinasakan dengan cepat. Ayah menangkis secara sembarangan. Tidak lagi ayah bisa mainkan tongkatnya dengan sempurna.

"Aku lantas lari keluar gua."

"Tahan! Tahan!"

Aku berseru berulang-ulang.

"Mendengar teriakan aku, dia berhenti menyerang."

"Inilah ayahku,"

Aku perkenalkan dia kepada ayah. Dia pandang ayah dengan mata bengis.

"Kau pergi, aku kasi ampun padamu!"

Ia kata pada ayah.

"Ayah tercengang, lalu ia putar tubuhnya, untuk pergi."

"Itu hari, seantero hari aku belum dahar, tubuhku lemas, ditambah dengan kaget karena menyaksikan pertempuran hebat itu, dan berbareng aku girang sekali karena ayah dikasih ampun, mendadak aku rubuh sendiri."

"Dia lihat aku rubuh, segera ia lompat untuk kasih bangun padaku. Aku tidak pingsan, selagi ia membungkuk, aku lihat ayah mengawasi dengan mata bersinar bengis. Tiba-tiba ayah ayun tongkatnya dipakai mengemplang bebokongnya. Tentu sekali dia tidak menyangka, karena perhatiannya ada padaku, yang dia hendak tolongi. Aku kaget, aku berseru."

Awas!"

"Dia pun kaget, segera dia putar tubuh. Akan tetapi tongkat sudah sampai, bebokongnya kena terhajar. Syukur untuk dia, dia telah berkelit, serangan itu tidak parah. Sambil putar tubuh, tangannya menyambar menyekal tongkat, yang dia dapat rampas, setelah mana, tongkat itu dilempar kelembah. Dia tidak berhenti sampai disitu, sambil merangsak, dia serang ayah, dengan kedua tangannya."

"Ayah gugup. Rupanya ia menyesal karena serangannya gagal dan ia kaget tongkatnya kena dirampas. Ketika serangan datang, ia putus asa, bukannya ia berkelit atau menangkis, ia justru berdiam seraya tutup kedua matanya.

"Dengan mendadak saja, dia tarik pulang serangannya. Dia menoleh kepadaku,lantas dia menghela napas. Kemudian dia pandang ayah dan kata .

"Lekas kau pergi, jangan tunggu sampai pikiranku berubah, nanti kau tak dapat ampun lagi!"

"Sampai disitu, tanpa bilang apa juga, ayah putar tubuhnya, akan angkat kaki sambil berlari-lari."

"Dia awasi ayah pergi, lantas dia menoleh kepadaku. Tiba-tiba ia muntahkan darah, darahnya menyemprot kebajuku..."

Tjeng Tjeng terkejut, hingga ia keluarkan seruan tertahan. Kemudian .

"Sam yaya tak tahu malu!"

Katanya.

"Depan berdepan dia tidak berani lawan musuh, dia membokong dengan tangannya yang jahat!"

Oen Gie menghela napas.

"Sebenarnya dia adalah musuh kita,"

Katanya, melanjuti.

"Dia pun telah binasakan beberapa puluh orang dari keluarga kita. Akan tetapi melihat dia dibokong, tak dapat aku diam saja, makanya aku sudah berseru. Mungkin ini yang dinamakan takdir celaka. Habis itu dengan sempoyongan, dia bertindak kedalam gua, lantas dia ambil obatnya untuk terus dimakan. Masih beberapa kali ia muntahkan darah. Aku kaget dan berkuatir, sehingga aku menangis sendiri."

"Dia terluka akan tetapi dia gembira."

"Kenapa kau menangis?"

Dia tanya aku.

"Sebab kau terluka parah,"

Jawabku. Dia tertawa.

"Jadi kau menangis untukku?"

Tanyanya pula.

"Aku berdiam aku tidak menjawab. Tetap aku berduka."

"Sebentar kemudian, dia kata padaku.

"Sejak semua anggauta keluargaku dibunuh oleh pamanmu yang keenam, sejak itu sudah tidak ada lagi orang yang menaruh perhatian atas diriku, yang menyayangi aku. Hari ini aku telah bunuh lagi satu kandamu tjintong, maka itu sama sekali sudah berjumlah empat-puluh orang yang aku binasakan. Sebenarnya masih ada sepuluh orang lagi, yang mesti jadi korban pembalasanku, akan tetapi sekarang, memandang kepada airmatamu, aku janji aku akan hentikan pembunuhan terlebih jauh. Nyata masih ada kau seorang yang memperhatikan aku."

"Aku menangis saja, aku tidak jawab dia."

"Juga orang-orang perempuan keluargamu, sejak hari ini aku tidak akan ganggu pula,"

Demikian dia kata lagi.

"Kau tunggu sampai lukaku ini sudah sembuh, aku nanti antar kau pulang..."

"Masih aku berdiam, tak tahu aku apa perasaanku saat itu. Aku cuma merasa lega yang dia telah berjanji untuk hentikan pembunuhan-pembunuhan terlebih jauh."

"Sdjak itu selanjutnya, beberapa hari, akulah yang masak nasi dan masak air, dengan sungguh-sungguh aku rawati dia,"

Oen Gie cerita lebih jauh.

"Pada suatu hari, dia pingsan, terus selama satu hari, dia tak sadar akan dirinya. Aku jadi berkuatir, aku kuatir dia bakal tak ketolongan. Aku lantas menangis, menangis saja, sampai kedua mataku pada merah dan bengul. Selagi aku menangis, sekonyong-konyong dia buka matanya, dia tertawa."

"Tidak apa, tak nanti aku mati,"

Katanya.

"Selang lagi dua hari, benar-benar kesehatannya mulai pulih. Dia bisa bangun dan jalanjalan. Itu malam dia beritahukan aku, sebetulnya luka bekas bokongan ayah ada hebat sekali, akan tetapi ia tertolong obat dan kuat hatinya. Dia bilang, asal dia mati, aku pun bakal mati kelaparan. Seorang diri, pasti aku tidak bisa berlalu dari gua itu, dilain pihak, tidak ada orang dari rumahku yang berani datang menyatroni., kalau tidak, selama itu tentulah sudah ada datang orang, entah siapa. Aku anggap dia omong dari hal yang benar."

"Ibu,"

Tjeng Tjeng kata,"

Dia berlaku baik sekali kepadamu, dia ada orang baik."

Setelah mengucap demikian, nona ini menoleh pada Sin Tjie. Anak muda ini merasakan mukanya panas, ia melengos kelain arah.

"Dengan pelahan-lahan kesehatannya maju terus,"

Oen Gie mulai pula.

"Selama itu, suka sekali dia bicara dengan aku tentang masanya kanak-kanak. Dia bilang bagaimana ayahnya, ibunya,s angat sayang dia, bagaimana kedua engkonya, encienya, sangat menyinta dia. Katanya pernah satu kali dia jatuh sakit sampai ibunya tidak tidur tiga hari tiga malam. Akan tetapi pada suatu malam, liok-siokhoe telah bunuh ibunya itu, ayahnya, saudara-saudaranya!"

"Diluar aku lihat dia kejam dan telengas, akan tetapi bicara tentang kekeluargaannya, nyata ia ada berbatin baik, halus martabatnya. Begitulah ia perlihatkan aku sepotong oto merah yang tersulam indah. Dia kata, itulah oto sulaman ibunya sendiri ketika dia masuk umur satu tahun..."

Selagi mengucap demikian, Oen Gie rogo sakunya dari mana ia keluarkan oto yang ia omongi itu, yang ia letaki diatas meja.

Sin Tjie lihat oto itu tersulam satu bayi montok tanpa pakaian, wajahnya manis dan sangat menyenangi.

Sulamannya sendiri benar-benar indah.

Tiba-tiba ia terharu sendirinya.

Ia jadi ingat, sejak masih sangat kecil, ia sudah tidak punya ayah dan ibu....

"Sering-sering dia nyanyikan lagu pegunungan untuk aku dengari,"

Kembali Oen Gie melanjuti.

"Diwaktu senggangnya, dia ambil kayu untuk dibikin menjadi barang-barang permainan untukku. Dia kata aku adalah satu bocah yang tak mengerti apa-apa..."

"Akhir-akhirnya dia sembuh seluruhnya. Akan tetapi, walaupun sudah sembuh, aku lihat dia tidak punya kegembiraan. Aku jadi heran. Pada suatu hari, aku tanyakan sebabnya. Jawabannya mengherankan aku. Dia bilang dia merasa tidak tegah meninggalkan aku."

"Kalau begitu baiklah aku berdiam terus disini menemani kau!"

Kataku tanpa berpikir lagi.

"Mendengar perkataanku itu, dia jadi girang bukan main. Dia pergi kepuncak, dia loncat naik turun disebuah pohon kayu besar, dia berjingkrakan, dia jumpalitan bagaikan kera. Kemudian dia beritahukan aku, dia telah dapatkan selembar peta dari suatu tempat dimana ada disimpan banyak emas dan barang permata. Katanya ketika dulu Pangeran Yan Ong rampas tahta-kerajaan, dari Pakkhia ia menerjang ke Lamkhia, Baginda Kian Boen kabur dari kota raja, sebelum kabur, raja itu telah pendam harta besarnya disuatu tempat rahasia. Setelah naik tachta, Yan Ong coba cari harta itu diseluruh kota Lamkhia, tidak ada hasilnya. Kemudian Yan Ong utus Sam Po Thaykam beberapa kali berlayar mengarungi samudera, ke Selatan, katanya untuk membuat penyelidikan dimana kaisar Kian Boen bersembunyi, tapi sebenarnya guna cari harta itu."

Diam-diam Sin Tjie manggut-manggut sendirinya.

"Jadi itulah peta yang aku dapatkan dalam kitab Kim Tjoa Pit Kip,"

Pikirnya.

"Itu jadi ada peta yang melukiskan tempat rahasia itu..."

"Dia ceritakan padaku bahwa seumur hidupnya Kaisar Beng Seng Tjouw tetap tak dapat cari peta itu -adalah setelah berselang beberapa ratus tahun, secara kebetulan saja, dialah yang mendapatinya. Setelah sekarang dia sudah puas menuntut balas, dia hendak mulai cari harta karun itu. Dia janji, begitu lekas dia berhasil mendapati harta besar itu, dia bakal kembali untuk sambut aku. Maka itu, katanya, sekarang dia hendak antarkan aku pulang."

Nyonya ini berhenti sebnetar, ketika sesaat kemudian ia melanjuti, ia ada sengit sekali. Dia kata .

"Ketika aku sampai dirumah, semua orang pandang hina kepadaku. Aku jadi mendongkol dan gusar sekali. Aku sebal terhadap mereka.Mereka tidak punya kemampuan untuk melindungi satu gadis keluarganya, setelah aku pulang dengan tubuh putih-bersih, mereka perhina aku. Maka itu selanjutnya aku tidak perdulikan mereka, tak suka aku bicara dengan mereka itu!"

"Ibu, kau berbuat benar!"

Kata Tjeng Tjeng.

"Setelah tiga bulan aku berada dirumah, selama mana aku harap-harap dia,"

Bercerita pula Oen Gie.

"Pada suatu malam aku dengar suara nyanyian lagu pegunungan diluar jendela kamarku. Aku kenali baik sekali suara nyanyian itu. Dia datang! Lekas-lekas aku buka jendela, aku kasih dia masuk. Pertemuan ini ada sangat menggirangkan aku, dan malam itu, kami berdua lantas hidup sebagai suami-isteri, hingga kemudian, anak, terlahirlah kau....Perangkapan jodoh itu telah terjadi karena keinginanku sendiri, sampai sekarang aku tidak menyesal karenanya. Orang bilang dia perkosa aku, itulah tidak benar! Tjeng Tjeng, selama sekian lama itu ayahmu tetap perlakukan baik padaku, kami berdua sangat saling menyinta. Selama itu dia selalu hormati aku, belum pernah dia paksa aku."

Diam-diam Sin Tjie puji keberaniannya nyonya ini. Ia pun terharu untuk dengar riwayat percintaan yang demikian sulit.

"Rupa-rupanya, dengan kedatangannya ini, Hee lootjianpwee telah dapatkan tempat rahasia dari harta besar itu,"

Kata Sin Tjie. Nyonya itu manggut.

"Dia bilang dia masih belum dapat cari,"

Sahutnya.

"Akan tetapi dia kata dia sudah dapatkan endusan hingga dia merasa, segera dia akan dapat mencarinya. Maka itu kami telah berdamai untuk dihari kedua, pagi-pagi, pergi minggat. Diluar tahu kami, pembicaraan kami itu ada yang curi dengar. Besoknya fajar sebelum terang tanah, aku sudah lantas siapkan pakaianku. Aku pun telah tinggalkan sepotong surat untuk ayah. Disaat kami hendak berangkat, tiba-tiba ada orang ketok pintu kamarku. Pasti sekali aku kaget dan takut.

"Jangan kuatir,"

Dia kata padaku,"

Biar dalam kepungan satu pasukan perang, kita kaan dapat noblos keluar!"

Lantas saja dia buka pintu.

"Yang ketok pintu itu ada ayah bersama toapeh dan djipeh bertiga. Mereka tidak bawa senjata, malah pakaiannya pun thungsha, baju panjang yang dilapis makwa, baju luar yang pendek. Kami heran memandang dandanan mereka itu.

"Urusan kamu berdua aku sudah tahu,"

Berkata ayah."

Inilah takdir celaka yang telah ditetapkan sebelum kamu terlahir. Biarlah selanjutnya kitaorang menjadi satu dengan lain, supaya tak usah lagi kita main angkat senjata."

"Dia menyangka ayah semua kuatir dia nanti melakukan pembunuhan pula, dia bilang .

"Kau jangan takut, aku telah berjanji dengannya untuk tidak bunuh lagi anggota-anggota keluargamu!"

"Walaupun demikian, tak dapat kamu berlalu dengan diam-diam,"

Ayah bilang.

"Adalah pantas apabila kau melamar dengan terang dan menikah dengan upacara."

"Dia girang sekali mendengar kata-kata ayah. Tidak tahunya dia kena terjebak ayah."

"Jadi ayahmu dustakan dia, bukankah?"

Sin Tjie tanya. Oen Gie manggut.

"Ayah lantas berikan dia tempat dikamar samping,"

Nyonya ini melanjuti.

"Segala apa segera diatur untuk perayaan pernikahan. Dia ada cerdik sekali. Semua arak, barang makanan dan air, yang ayah perintah suguhkan, lebih dahulu dia kasi anjing yang cobakan, tapi meski anjing makan itu tanpa akibat, dia masih tidak minum dan dahar itu, tidak dia cobai. Dia tunggu sampai malam, semua itu dia buang keluar. Untuk tangsel perutnya sendiri, dia pergi kepasar Tjio-liang dimana dia beli barang makanan dan dahar."

"Pada suatu malam ibu datang dengan semangkok bubur biji teratai.

"Suguhkan ini pada baba mantu,"

Ibu kata padaku."

"Aku benar-benar tidak menduga suatu apa, aku sangka ibu menyayangi dia, dengan gembira aku bawa bubur teratai itu kedalam kamarnya. Dia pun girang sekali melihat aku datang dengan barang makanan, dia sambuti itu, tanpa curiga, dia makan bubur itu. Dia Baru mengirup beberapa kali, selagi dia bicara denganku, mendadakan air mukanya berubah menjadi pucat. Segera ia berbangkit.

"Oh, A Gie, hatimu telengas!"

Dia tegur aku. Aku kaget tidak terkira.

"Apa?"

Aku tanya.

"Kenapa kau racuni aku?"

Tanya dia.

Sin Tjie dan Tjeng Tjeng bergidik sendirinya.

Sekejab saja, seluruh paseban dan sekitarnya jadi sangat sunyi.

Akan tetapi sekejab saja juga, atau mendadak terdengarlah suara tertawa ramai dan menyeramkan yang datangnya dari luar paseban.

Kapan Sin Tjie menoleh, dia tampak lima bersaudara Oen sedang berdiri diluar paseban.

"A Gie, bagus!"

Oen Beng San berseru.

"Urusanmu yang busuk kau tuturkan kepada orang luar! Apakah kau masih punyakan muka?"

Mukanya nyonya yang bernasib buruk itu menjadi pucat dan merah bergantian. Ingin dia bicara tetapi tercegah sendirinya. Maka ia lantas menoleh kepada Sin Tjie dan puterinya.

"Sudah sembilan belas tahun, belum pernah aku omong sepatah kata jua dengan ayah,"

Berkata dia,"

Dan selanjutnya, aku pun tidak nanti bicara pula dengannya! Aku tidak takut terhadap mereka! Kau sendiri, kau takut atau tidak?"

"Engko Sin Tjie tidak kenal takut!"

Tjeng Tjeng jawab.

"Bagus! Kalau begitu, aku nanti bercerita terus!"

Kata nyonya yang tak beruntung ini, yang sekarang tiba-tiba nyalinya jadi besar, dia tak lemah lagi sebagaimana biasanya. Malah dia sengaja perbesar suaranya.

"Aku lantas saja menangis. Aku tidak tahu bagaimana harus bicara, aku tidak tahu juga mesti berbuat apa. Dengan sebenarnya aku tak tahu suatu apa tentang racun itu. Aku bersusah hati karena dia menyangka jelek terhadapku. Selagi begitu, pintu kamar ada yang tendang dan gembrak, lantas menyerbu masuk banyak orang dengan pelbagai alatsenjatanya."

"Orang-orang yang berbaris dimuka pintu itu waktu adalah mereka ini semua!"

Melanjuti ia.

"Ditangannya itu telah tergenggam masing-masing senjata rahasia."

Ayah masih juga punya liang-sim.

"A Gie, kau keluar."

Dia panggil.

"Aku tahu mereka tunggu aku keluar, Baru mereka hendak menyerang dengan senjata rahasia mereka. Kamar ada sempit, kemana dia bisa singkirkan diri? Maka aku menjawab.

"Aku tidak mau keluar! Kamu baik bunuh juga aku!"

"Ketika itu, dia duduk diatas kursi dengan alis mengkeret. Dia menyangka aku bersekongkol dengan ayah semua, dia jadi sangat bersusah hati, hingga dia tak niat untuk melakukan perlawanan. Akan tetapi kapan dia dengar penolakanku untuk keluar, bahwa aku rela binasa bersama dia, sekonyong-konyong dia berlompat bangun."

"Apakah kau tahu bubur teratai ini dicampuri racun?"

Dia tanya aku, suaranya tak lagi sebengis tadi.

"Aku jumput mangkok bubur itu, aku lihat masih ada sisanya, lantas saja aku minum satu ceglukan.

"Jikalau bubur ini ada racunnya, mari kita mati bersama!"

Kataku.

"Dia sampok mangkok bubur itu hingga terlempar hancur, akan tetapi aku telah meminumnya. Lantas saja dia tertawa.

"Bagus!"

Katanya.

"Mari kita mati bersama!..."

Segera dia berpaling kepada ayah semua, dia menegur .

"Kamu gunakan cara rendah sekali, apa kamu tidak malu?"

Toapeh gusar sekali.

"Siapa racuni padamu?"

Katanya.

"Jikalau kau andali ilmu silatmu yang liehay, mari keluar, kita bertempur!"

"Baik!"

Dia jawab tantangan itu. Dia tuntun tanganku untuk diajak keluar dari kamar.

"Diluar telah diatur panggung pelatok Bwee-hoa-tjhung, diatas itu dia ditantang akan layani ayah bersama mamak dan paman semua bertempur. Dia tidak perdulikan yang dia bakal dikepung.

"Dia benar tidak diracuni dengan racun, tetapi kemudian aku dapat tahu, bubur teratai itu telah dicampuri Tjoei-sian-bit yaitu madu tercampur obat pulas, yang kekuatannya kendor, yang membuat orang yang memakannya jadi ber-angsur-angsur kehilangan tenaganya, akan akhirnya orang nanti rubuh dan tidur seperti mayat, selang satu hari satu malam Baru orang akan sadar sendirinya. Mereka itu tidak niat meracuni, mereka hendak merobohkan dengan pengaruh obat pulas itu, untuk selanjutnya mereka siksa padanya!"

Oen Gie bicara dengan sengit, menyatakan kemarahannya yang besar yang tertahan, yang Baru sekarang dapat dilampiaskan. Ketika itu Oen Beng San berseru,"

Eh, orang she Wan, kau berani atau tidak melayani berbareng kita berlima bersaudara?"

Pada dua hari yang sudah, karena ingat mereka adalah orang-orang tertua dari Tjeng Tjeng , Sin Tjie berlaku hormat terhadap mereka, akan tetapi sekarang, setelah mendengar penuturan Oen Gie dan mengetahui mereka ada orang-orang jahat, ia tidak sudi menghormati lagi, malah dia mendongkol dan gusar.

"Hm!"

Jawabnya.

"Kamu boleh maju berbareng sepuluh saudara, aku masih tidak jeri!...."

Belum sampai Sin Tjie tutup mulutnya, atau satu bajangan telah menerjang kedalam paseban.

"Bocah tidak tahu adat, menggelindinglah kau keluar!"

Bajangan itu membentak.

Sin Tjie lihat seorang dengan tubuh besar dan kekar, rambutnya yang riap-riapan dililit sepotong gelang tembaga yang berkilauan, sedang bajunya adalah jubahnya kasee, maka dia tahu, itu adalah satu pendeta tauwtoo.

Pada dua malam yang sudah, belum pernah dia lihat orang beribadat ini.

Tauwtoo itu adalah Teng Seng, satu bandit besar dari Hoolam.

Dia Baru datang, dia kunjungi lima saudara Oen untuk beritahu dia niat "bekerja"

Sama-sama jago-jago dari Tjio-liang itu.

Kapan dia ketahui keluarga Oen, yang kenamaan di Selatan dan Utara Sungai Besar jeri terhadap satu bocah, dia jadi panas hati, maka dia lantas maju paling dulu.

Ia ingin ajar adat pada bocah ini....

Sin Tjie lihat gerakan orang, dengan sebat ia berkelit kekanan, berbareng mana tangan kirinya menyambar, menjambak rambut panjang orang itu, setelah mana, ia menyempar, ia lepaskan cekalannya.

Tidak ampun lagi, tubuh besar dari si pendeta terlempar ke pohon mawar, yang banyak durinya, hingga mukanya, bahunya, pahanya, kena tertusuk duri pohon bunga itu, sehingga keluar darah!

Itulah bantingan atau hajaran yang si tauwtoo tidak pernah sangka.

Melihat demikian, Oen Gie tertawa dingin.

Dia berkata .

"Pada malam itu, mereka berlima bersaudara mengepung dia satu orang. Sebenarnya dia sanggup melayani, apa celaka, dia sudah minum madu obat pulas, makin lama, dia berkelahi makin lelah. Disebelah itu, lima saudara itu berkelahi secara mengepung yang dinamakan "

Oen-sie Ngo-heng-tin", maka dikepung secara demikian, sulit untuk dia meloloskan diri..."

"A Gie!"

Membentak Oen Beng San.

"Apakah kau buka rahasia kepada orang luar?"

Oen Gie tidak perdulikan lagi ayahnya itu, kepada Sin Tjie dia melanjuti penuturannya.

"Kelihatan nyata dia ingin lekas-lekas pukul rubuh salah satu musuhnya, dengan begitu, dia akan dapat pecahkan barisan pengurung itu. Akan tetapi dia berkelahi dengan semakin lama semakin kendor, tubuhnya sempoyongan semakin hebat. Maka itu, aku teriaki dia."

Kau pergi lekas! Untuk selamanya, aku tidak akan tinggalkan padamu!"

Suaranya nyonya ini menyedihkan secara dahsyat, melebihkan dahsyatnya jeritannya kemarin ini. Tjeng Tjeng kaget bukan main.

"Ibu!"

Dia memanggil. Sin Tjie lihat sinar mata si nyonya kabur dan napas memburu, ia tahu nyonya itu mendongkol dan berduka sangat. Terang sekali dia tak dapat bicara lebih jauh karenanya.

"Sudah, pehbo, silakan kau kembali kekamar untuk beristirahat,"

Kata anak muda ini.

"Sekarang aku hendak pasang omong dengan ayahmu beramai, besok aku nanti datang pula..."

"Tidak! Tidak!"

Kata Oen Gie seraya tarik ujung bajunya. Nyonya ini bisa pula bicara dengan lekas sekali.

"Sudah sembilanbelas tahun aku menahan didalam hatiku, tak dapat tidak, hari ini aku mesti keluarkan semua! Wan siangkong, kau dengari aku...."

Suara itu tercampur tangisan. Sin Tjie manggut.

"Aku akan mendengari,"

Ia jawab. Masih saja, nyonya ini pegangi ujung bajunya si anak muda.

"Mereka inginkan jiwanya!"

Berkata ia, meneruskan.

"Dan yang terlebih penting daripada itu, mereka juga mengharap harta karun! Terus dia layani mereka bertempur, lalu lagi sejurus, dia terluka, tak dapat dia menahan diri, dia rubuh dari pelatok-pelatok itu. Mereka tahu dia punyakan peta dari tempat rahasia harta karun disembunyikan, mereka memaksa dia untuk serahkan peta itu. Tapi dia jawab .

"Peta itu tidak ada padaku! Siapa berani, dia boleh ikut aku untuk mengambilnya!"

"Jawaban itu membuat mereka menghadapi kesulitan,"

Melanjuti si nyonya.

"Jikalau dia dimerdekakan, apabila sebentar dia sadar dari pengaruhnya obat pulas, lantas tidak ada orang yang sanggup kendalikan dia lagi! Jikalau dia dibinasakan saja, lantas peta itu untuk selama-lamanya bakal lenyap, harta karunnya tak akan ada orang yang akan dapatkan... Maka akhirnya ayahku adalah yang berikan pikirannya yang bagus! Ha,ha! Sungguh cerdik dia, bukankah?"

"Ketika itu dia mulai jatuh pulas, aku sendiri pingsan. Ketika ini digunai mereka untuk menggeledah tubuhnya. Inilah aku ketahui sebab aku sudah lantas ingat akan diriku. Mereka tidak dapatkan peta itu, yang tidak tersimpan ditubuhnya. Maka mereka jadi sengit, mereka melakukan penganiayaan hebat dan kejam, ialah urat-urat tangan dan kakinya telah dipotong putus!Dengan ini mereka hendak bikin percuma kepandaian ilmu silat liehay itu, supaya selanjutnya ilmu silat itu tak dapat digunakan pula! Habis itu Barulah dia dilepaskan dari belengguan. Dia masih dipaksa untuk serahkan peta bumi yang diarah sangat itu. Tidakkah itu ada cara cerdik sekali?"

Sin Tjie terkejut. Nyatalah pikirannya si nyonya menjadi waswas seketika.

"Pehbo, baiklah kembali saja, beristirahat,"

Katanya.

"Tidak!"

Jawab Oen Gie.

"Asal kau pergi, mereka bisa aniaya aku sampai binasa! Aku hendak tuturkan semua, Baru aku puas! Kau tahu, mereka bawa dia pergi! Lima bersaudara itu tidak percaya satu kepada lain! Bersama mereka ada turut dua jago dari Ngo Bie Pay. Mereka semua ingin peroleh harta karun! Entah bagaimana, kemudian ternyata, dia bisa loloskan diri dan kabur! Mungkin dia telah berikan mereka peta itu, hingga, begitu lekas mereka kegirangan, penjagaannya jadi kendor. Mereka semua ada cerdik sekali, akan tetapi Kim Tjoa Long-koen bukannya seorang tolol! Bertujuh mereka telah dapatkan selembar peta, mereka saling berebut. Lima saudara itu bersekongkol, mereka curangi kedua jago Ngo Bie Pay sampai dua-duanya binasa!....."

Oen Beng Gie dari luar paseban berseru dengan ancamannya .

"A Gie! Jikalau kau tetap ngaco-belo, awas!"

"Untuk apa aku mesti awas?"

Oen Gie balik menanya sambil tertawa.

"Apa kamu sangka aku masih takut mampus?"

Dia menoleh kepada si anak muda, akan berkata .

"Peta yang mereka dapati adalah yang palsu! Lima saudara itu pergi ke Lamkhia, mereka gali sana dan gali sini, sampai setengah tahun lamanya, mereka hamburkan lebih dari selaksa tail perak, tapi sepotong kecil perak jua mereka tak dapatkan! Ha-ha! Sungguh tak ada yang lebih memuaskan daripada ini!"

Siasia saja lima saudara Oen itu kertak gigi mereka diluar paseban.

Mereka jeri terhadap si anak muda, tidak berani mereka lancang menerjang kedalam paseban itu.

Habis berkata-kata demikian, Oen Gie berdiam melongo, kemudian dengan pelahan-lahan, Baru ia berkata pula.

Suaranya pelahan .

"Setelah kepergiannya itu, selanjutnya aku tak peroleh lagi kabar dari atau tentang dia....Urat-urat tangan dan kakinya telah diputuskan, dia mirip dengan satu manusia tapadaksa....Dia beradat tinggi dan keras, karenanya, apabila dia tidak mati lantaran lukalukanya itu, tentu mati karena mendongkol yang tak terlampias...."

Dari luar, Oen Beng Tat menantang .

"Orang she Wan!"

Katanya,"

Kau telah dengar perkataan dia tentang kami keluarga Oen mempunyai Ngo-heng-tin, jikalau kau benar satu laki-laki, mari keluar, kau coba terjang! "Kau pergilah!"

Oen Gie dului si anak muda menjawab. Nyonya ini hendak mencegah.

"Jangan kau layani mereka bertempur!"

Sin Tjie tahu,apabila mereka bertempur satu sama satu, tidak ada seorang juga dari lima saudara itu yang nempil terhadapnya, akan tetapi apabila berlima mereka maju berbareng, sedang mereka pun punyai Ngo-heng-tin, barisan "Panca-logam", itulah lain.

Menurut Oen Gie, Ngo-heng-tin itu berdasarkan Kim, Bok, Soei, Hoh dan Touw, ialah emas, kayu, air, api dan tanah (ngo-heng), yang berhubungan satu dengan yang lain, yang saling ganti perubahannya.

Maka itu, memang itu adalah "barisan"

Yang sulit untuk digempur.

Dan lagi, ketika pertama kali mereka bertanding, mereka tidak mendendam satu dengan lain, masing-masing bisa berlaku sungkan, akan tetapi sekarang dia tekah ketahui rahasia mereka, dan mereka menyangka ia punya hubungan dengan Kim Tjoa Long-koen, pasti sekali mereka akan pandang ia sebagai musuh besar.

Mereka bangsa telengas, mereka siap-sedia akan gunai segala tipu-daya, mungkin dia dibikin celaka.

Satu kali dia tak berhati-hati, dia bisa tak ketolongan.

Karena ini, sangsilah dia.

"Apa? Kau tidak berani?"

Oen Beng Gie tanya dengan ejekannya.

"Kalau begitu hayo kau berlutut tiga kali dan manggut-manggut kepada kami, nanti kami ijinkan kau pergi!..."

Itulah ejekan yang hebat. Oen Beng Sie, dengan suara seram, pun berkata .

"Sekarang ini walaupun kau berlutut dan manggut-manggut, sudah kasip!"

Lantas saja Sin Tjie berkata dengan nyaring .

"Katanya Ngo-heng-tin dari keluarga Oen ada liehay sekali tapi aku yang muda ingin mencoba-cobanya, untuk belajar kenal, namun saat ini aku letih sekali, maka kamu ijinkanlah aku beristirahat barang satu jam! Akur?"

Tanyanya.

"Satu jam ialah satu jam!"

Jawab Oen Beng Gie dengan mengejek.

"Walaupun kau beristirahat sampai delapan atau sepuluh hari, toh tak nanti kau mampu lolos!"

"Jangan-jangan binatang ini hendak menggunai akal-muslihat,"

Beng San kata dengan pelahan.

"Baik kita lantas kerjakan dia!"

"Djie-tee telah berikan perkataan padanya, biarlah dia hidup lebih lama satu jam,"

Beng Tat bilang.

"Biarlah dia beristirahat, supaya dia tak usah sampai mati menyesal! Melainkan kita harus jaga jangan sampai dia kabur!"

"Kasi dia beristirahat didalam thia,"

Oen Beng Go usulkan.

"Disana kita kurung padanya."

Oen Beng Tat akur, lalu dengan suara nyaring, dia kata.

"Orang she Wan, pergi kau ke Lian-boe-thia untuk beristirahat. Dengan berdiam disini, kami kuatir kau lolos...."

"Baik!"

Sahut Sin Tjie tak bersangsi sedikit jua.

Lantas dia berbangkit.

Oen Gie dan putrinya jadi bingung sekali, mereka tidak berdaya untuk mencegah.

Maka terpaksa mereka ikuti anak muda itu.

Didalam Lian-boe-thia , ruang latihan silat, Oen Beng Tat si Toa-yaya sudah lantas perintahkan orang-orangnya nyalakan puluhan batang lilin, dengan begitu, seluruh ruangan jadi terang sekali.

"Kapan nanti sebatang lilin ini telah menyala habis, bukankah telah cukup waktunya untukmu beristirahat?"

Tanya tertua Ngo Tjouw dari Tjio Liang Pay.

Sin Tjie tidak menjawab, dia melainkan manggut, habis itu dia lantas duduk atas sebuah kursi yang diletaki di-tengah-tengah ruangan itu.

Lima saudara Oen angkat masing-masing sebuah kursi, untuk mereka duduk sendiri.

Mereka mengurung di lima penjuru dengan sikapnya Ngo-heng.

Mereka juga duduk diam dan meram, untuk sekalian beristirahat juga.

Akan tetapi dibelakang mereka berkumpul enam belas orang lain diantara siapa ada Oen Lam Yang dan Oen Tjheng, semua orang angkatan terlebih muda, semuanya duduk atas masing-masing sebuah kursi kate.

Sin Tjie lihat kedudukannya enam belas orang itu, ia dapati mereka ambil sikap delapan penjuru, atau Pat-kwa, maka itu lengkaplah Ngo-tjouw punya barisan Ngo-heng Pat-kwa-tin itu, yang ringkasnya disebut Ngo-heng-tin.

"Benar-benar sulit untuk memecahkan barisan ini dan lolos,"

Pikir si anak muda, sambil duduk diam, kedua tangannya dikasi turun.

Ia merasa, dibawah kepungan dua puluh satu orang itu, paling bisa ia membela diri, untuk lolos, sukar sekali.

Ia pun insaf, jikalau lamalama ia dikurung, tenaganya bisa habis, hingga akhirnya, dia bakal dirubuhkan juga.

Kim Tjoa Long-koen yang demikian liehay masih tidak sanggup pecahkan Ngo-heng-tin ini, maka pasti tin ini ada punyakan perubahan-perubahan luar biasa.

Selagi sibuk berpikir, tiba-tiba si anak muda ingat beberapa halaman terakhir dari Kim Tjoa Pit Kip.

Itulah bagian-bagian yang pertama kali membingungkannya, karena ia tak dapat menginsyafi artinya, sampai perlu ia pergi pula kedalam gua untuk meyakinkan gambargambar di tembok gua, untuk diakuri dengan bunyinya kitab pusaka itu, sesudah mana, Barulah ia mengerti.

Melainkan itu waktu ia masih belum insaf, apa perlunya ilmu silat yang nampaknya kusut sekali itu.

Siapa bisa dengan satu gebrakan saja menyerang keempat atau ke delapan penjuru?

Toh ilmu itu ada untuk melayani serangan berbareng dari pelbagai penjuru itu?

Terus Sin Tjie memikir, hingga ia menduga, tentulah Kim Tjoa Long-koen, setelah lolos dari tangan musuh-musuhnya, telah sembunyikan diri untuk memikirkan jalan guna pecahkan ngo-heng-tin itu dan dia akhirnya berhasil menciptakan ilmu silat istimewa ini.

Tentu sekali maksud Kim Tjoa Long-koen untuk kembali ke Tjio-liang, guna menuntut balas, maka sayanglah urat-urat tangan dan kakinya telah terputus hingga dia tak dapat bersilat terlebih jauh.

Maka, untuk dijadikan warisan, ilmu silat itu dicatat rapi dalam kitabnya, dalam gambar-gambar ditembok gua.

Dan sengaja dia bikin kitab yang palsu, yang diperlengkapi dengan panah rahasia dan beracun, guna menjaga kalau-kalau pihak Tjio Liang Pay mencurinya.

"Syukur aku telah dapati kitab itu dan dapat memahamkan juga semua isinya,"

Pikir pemuda ini lebih jauh.

"Dengan gunai ilmu silat itu, kecuali dapat lolos dari bahaya, aku juga dapat tolong lampiaskan dendaman Kim Tjoa Long-koen, maka didunia baka, pastilah dia akan bersenyum puas, hingga tak sia-sialah capai lelahnya menciptakan ilmu silat itu...."

Sin Tjie menjadi gembira hingga ketika ia buka kedua matanya, wajahnya ada terang-riang.

Ia dapatkan lilin hampir habis terbakar, tinggal hanya satu dim saja.

Lima saudara Oen juga membuka mata, mereka heran apabila mereka tampak roman bergembira dari anak muda itu, tak dapat mereka menerka pikiran anak muda ini.

Akan tetapi mereka percaya betul ketangguannya Ngo-heng-tin, mereka tidak terlalu perhatikan sikap orang itu, mereka cuma membuka mata lebar-lebar, untuk bersiaga kalau-kalau orang lompat melesat untuk kabur....

Kembali Sin Tjie rapati kedua matanya.

Ia mencoba ingat diluar kepala segala pengunjukan Kim Tjoa Long-koen.

Kemudian ketika ia sampai dibahagian "Koay too tjhan loan ma"

Atau "Dengan golok cepat memotong guni awut-awutan" , mendadak ia keluarkan keringat dingin, ia terkejut sendirinya.

"Celaka!"

Demikian ia menjerit dalam hati.

"Habis ini, pertempuran membutuhkan golok atau pedang mustika, untuk bikin lawan tak berani datang dekat, senjata tajam itu perlu untuk membikin kalut kepungan , akan tetapi Kim Tjoa Kiam tidak ada padaku, bagaimana?"

Selama itu Tjeng Tjeng terus awasi si anak muda, hatinya lega melihat air muka terang dari pemuda itu, tapi sekarang ia pun terperanjat mendapati orang mandi keringat, romannya berkuatir.

"Belum sampai bertempur, hatinya sudah goncang, bagaimana nanti?"

Pikir dia.

Maka ia menjadi turut bingung sendirinya.

Sin Tjie awasi lilin, yang hampir padam, ia sendiri masih belum peroleh daya, bukan main sibuknya dia.

Itu waktu satu bujang perempuan bertindak kedalam ruangan, tangannya menyekal secawan air teh, ia hampirkan si anak muda.

"Wan siangkong, silakan minum teh,"

Katanya.

Selagi kusut pikiran itu, Sin Tjie sambuti cawan teh dengan tidak ragu-ragu, malah ia terus antar cawan kemulutnya, akan tetapi disaat bibir dan cawan hampir nempel, mendadakan terdengar suara nyaring didepan mukanya sendiri dan tangannya tergetar, untuk kagetnya, ia dapatkan cawan sudah terpukul terlepas panah-tangan, jatuh hancur dilantai.

Masih anak muda ini sempat lihat Tjeng Tjeng menarik pulang tangannya, maka ia tahu, adalah si nona yang sudah serang cawan itu.

Maka berbareng kaget, ia insaf.

"Sungguh berbahaya!"

Kata ia dalam hatinya.

"Kenapa aku jadi begini goblok? Kenapa tak ingat aku yang mereka juga bisa kasi aku minum obat pulas?"

Justru itu waktu, bagaikan guntur, Oen Beng Go mendamprat .

"Ada ibunya, ada gadisnya. Keluarga Oen telah tidak menumpuk jasa-jasa baik maka juga telah terlahirlah anak hinadina ini yang bersekongkol dengan orang luar!"

Tjeng Tjeng tahu, dialah yang dicaci, dia tidak mau mengalah.

"Ya, leluhur keluarga Oen telah menumpuk banyak sekali jasa-jasa baik! Mereka telah perbaiki jembatan-jembatan, jalan-jalan besar, mengamal terhadap orang-orang melarat! Segala macam perbuatan baik, mereka lakukan!"

Itulah sindiran belaka terhadap Ngo Tjouw yang tidak ada kejahatan yang tidak dilakukan mereka.

Oen Beng Go jadi demikian murka sehingga dia lompat bangun sambil berjingkrak, dia hendak hajar cucu atau cucu-keponakan itu, akan tetapi Oen Beng Tat menghalangi dia.

"Sabar, ngo-tee,"

Kata engko ini.

"Jaga itu bocah saja!"

Pada waktu itu, telah lenyap roman berkuatir dari Sin Tjie, sebagai gantinya, anak muda ini kembali berwajah riang-gembira.

Serangan Tjeng Tjeng dengan panah rahasia terhadap cawan seperti memberikan ia ilham.

"Kenapa aku tidak mau gunai senjata rahasia?"

Demikian pikirnya.

"Dalam hal senjata rahasia, walaupun Kim Tjoa Long Koen masih tak dapat menandingi aku! Bukankah pada tubuhku juga ada baju kaos istimewa hadiah dari Bhok Siang Toodjin? Kenapa aku tidak mau antap orang hajar beberapa kali bebokongku, supaya berbareng dengan itu aku bisa pecahkan Ngo-heng-tin ini?"

Sekejab saja, pemuda ini ambil putusannya. Tidak lagi dia tunggu habisnya sebatang lilin, segera ia berbangkit.

"Cukup!"

Katanya.

"Silakan kamu beri pengajaran kepadaku!"

Oen Beng Tat lantas perintah orang-orangnya tukar semua lilin.

"Ini kali, kalau ada keputusan menang atau kalah, bagaimana?"

Sin Tjie tegaskan.

"Jikalau kau menang, pergi kau bawa emas itu!"

Jawab Oen Beng Tat.

"Jikalau kau tidak berhasil, nah, tak usah omong banyak lagi!"

Sin Tjie mengerti, jikalau dia yang kalah, jiwanya tidak bakal tertolong lagi, akan tetapi apabila dia yang menang, orang masih bisa menyangkal. Maka ia kata pula .

"Kalau begitu, keluarkanlah emas itu! Begitu aku menang, aku hendak segera bawa pergi!"

Lima saudara Oen itu kagum.

Sudah terkepung, lagi menghadapi bahaya maut, anak muda ini masih berkeras kepala.

Tetntu sekali, mereka tidak kuatir.

Mereka tahu, Kim Tjoa Longkoen yang liehay masih tak mampu dobrak ngo-heng-tin, apapula bocah ini.

Setelah asah pikiran belasan tahun, Ngo Tjouw berhasil menciptakan Ngo-heng-tin, setelah itu, mereka melatih diri dengan sempurna.

Ngo-heng-tin ada pusaka bagi Tjio Liang Pay.

Buat layani tiga sampai empat-puluh musuh masih leluasa, apapula akan hadapi satu orang.

Biasanya tak sembarangan Ngo Tjouw gunai barisannya ini, ia kuatir orang lihat dan menirunya, sekarang terpaksa mereka pakai karena Sin Tjie terlalu tangguh untuk mereka, sehingga mereka tak kuatir nanti ditertawai orang banyak berkelahi dirumah sendiri secara mengeroyok.

"Kau keluarkan emas itu!"

Akhirnya Beng Tat titahkan Tjeng Tjeng.

Nona ini sangat menyesal, Jikalau ia tahu bakal jadi begini rupa, pasti dari siang-siang ia sudah kembalikan emas itu.

Ia tidak berani bantah yaya itu, terpaksa ia pergi ambil bungkusan emas itu, diletaki diatas meja dalam ruang itu.

"Jangan letaki secara demikian,"

Kata Oen Beng San.

"Tjheng, kau atur berdiri semua emas itu, bikin menjadi peta!"

Oen Tjheng menyahuti, ia ambil bungkusan emas itu, akan sepotong demi sepotong dia letaki di lantai, diatur semacam gambar Thay-kek (dunia bundar), hingga diluar itu, seputarnya, merupakan pat-kwa.

"Mari!"

Berseru lima saudara One begitu lekas sepuluh potong emas itu selesai diatur, mereka lantas bergerak, senjata mereka pun lalu dihunus.

Sin Tjie sambut tantangan itu, akan tetapi disaat ia hendak mulai lompat maju, sekonyongkonyong terdengar suara tertawa ber-gelak-gelak diatas rumah, disusul dengan kata .

"Orang-orang tua dari keluarga Oen! Aku Eng Tjay datang berkunjung untuk menanggung dosa!"

Lima saudara Oen terkejut.

"Silakan turun!"

Mereka mengundang.

Menyusul undangan itu, belasan orang lompat turun dengan saling susul dari atas genteng ruangan latihan silat itu, sesuatu orangnya tak rata tubuhnya, ada yang tinggi, ada yang kate, tetapi yang bertindak dimuka adalah Eng Tjay, pang-tjoe atau ketua dari partai Liong Yoe Pang.

Justru itu Sin Tjie berpaling kepada Tjeng Tjeng.

Ia tampak, biarpun si nona mencoba mentenangkan diri, pada wajahnya ada ketegangan.

Oen Beng Tat sudah lantas tanya tetamunya yang tak diundang itu.

"Lao Eng, sahabatku, tengah malam buta-rata kau berkunjung kegubukku ini, apakah maksudmu? Lu Djie Sianseng dari Hong-gam juga turut datang bersama!"

Sembari mengucap, Toa-yaya ini rangkap kedua tangannya untuk memberi hormat kepada satu orang yang berada dibelakang Eng Tjay.

Orang itu dandan sebagai seorang mahasiswa, usianya pertengahan.

Eng Tjay tidak jawab pertanyaan, atau teguran itu, hanya dia kata .

"Oen Loo-ya-tjoe, kau berbahagia sekali! Kau telah dapatkan seorang cucu perempuan yang ilmu silatnya sempurna, yang otaknya cerdas sekali, tidak saja See Loo-toa kami serta belasan saudara lainnya rubuh ditangannya, malah aku sendiri si tua-bangka turut mendapat malu juga!...."

Beng Tat heran.

Memang dia dan saudara-saudaranya belum tahu hal bentrokan diantara Tjeng Tjeng dan rombongan dari Liong Yoe Pang itu.

Yang pasti adalah, diantara Tjio Liang Pay dan Liong Yoe Pang, ada pergaulan.

Dimana sekarang mereka lagi menghadapi lawan tangguh, Ngo Tjouw tidak inginkan keruwetan baru.

"Lao Eng, apakah yang diperbuat cucu kami terhadapmu?"

Beng Tat tanya dengan sabar.

"Tidak nanti kami melindungi pihak yang bersalah. Siapa bunuh orang, dia berhutang jiwa, siapa berhutang uang, dia mesti membayar dengan uang juga! Tidakkah demikian?"

Ketua dari Liong Yoe Pang itu melengak.

"Heran!"

Pikirnya.

"Kenapa tua bangka ini yang biasa tekebur sekali hari ini jadi begini pandai omong? Mustahil dia jeri terhadap Lu Djie sianseng sampai begini macam jerinya?"

Tapi segera juga ia tampak Sin Tjie diantara rombongan tuan rumah itu, ia jadi bertambahtambah heran. Maka ia kembali berpikir.

"Tua bangka ini mempunyai pembantu yang liehay sekali, mungkin Lu Djie sianseng juga tak nanti sanggup lawan dia. Baiklah aku lihat selatan untuk menyimpan lajar...."

Maka ia lantas menyahut dengan tenang.

"Kami dari Liong Yoe Pang belum pernah bentrok dengan pihakmu, maka itu dengan memandang kepada kamu lima saudara, sukalah aku bikin habis kematian See Loo Toa, anggap saja dia mesti sesalkan kepandaiannya sendiri yang cetek, melainkan mengenai emas itu...."

Dia menyapu dengan matanya kepada sepuluh potong emas dilantai, lalu dia melanjuti.

"Kami telah mengikuti jalanan jauhnya beberapa ratus lie, kami telah bercape-lelah dan bercape-hati, buang ongkos juga, malah ada orang kami yang sampai mengantari jiwanya, semua itu adalah usaha kami untuk hidup dalam dunia kang-ouw...."

Eng Tjay berhenti sampai disitu. Oen Beng Tat heran, ia mengawasi. Segera hatinya menjadi lebih tenteram. Teranglah sudah, Eng Tjay datang bukan untuk pembalasan hanya guna emas itu.

"Semua emas itu ada disini, jikalau kau menginginkannya, pergilah ambil, tidak ada halangannya,"

Berkata dia.

Eng Tjay heran hingga ia menatap wajah tuan rumahnya.

Kenapa ketua Tjio Liang Pay itu jadi demikian baik budi?

Ia tadinya mau menyangka orang hendak mengejek padanya, tetapi ia dapati air muka tenang dan biasa, tidak ada bajangan kepalsuan.

Maka ia kata.

"Oen Toaya, jikalau kau sudi memberikannya separuh saja dari jumlah itu, untuk kami pakai menunjang korban-korban yang terbinasa dan terluka, bukan main berterima kasihnya aku...."

"Silakan kau ambil sendiri,"

Beng Tat berikan persetujuannya. Eng Tjay angkat kedua tangannya untuk memberi hormat.

"Terima kasih!"

Ujarnya, terus ia memberi tanda kepada orangnya, maka dua orang segera maju kearah emas, mereka ini membungkuk untuk jumput potongan-potongan emas itu.

Akan tetapi, Baru tangan mereka raba emas atau mereka telah rasai pundak mereka masing-masing ada yang tolak dengan pelahan, atas mana tubuh mereka jadi terdorong kebelakang, hingga mereka mesti mundur beberapa tindak, kalau tidak, tentu mereka rubuh.

Lekas-lekas mereka angkat muka, akan memandang, maka tampaklah mereka Sin Tjie berdiri didepan mereka.

Dengan tenang, pemuda ini segera berkata kepada ketua Liong Yoe Pang .

"Eng Loo-ya-tjoe, emas ini adalah uang belanja tentaranya Giam Ong, maka jikalau kau ambil, pastilah itu kurang sempurna!"

Nama Giam Ong di utara ada menggetarkan, adalah di Selatan, kaum kang-ouw tak terlalu memperdulikannya, maka itu, Eng Tjay lantas menoleh pada Lu Djie Sianseng.

"Lihat, dia sebut-sebut nama Giam Ong untuk gertak kita!"

Katanya sambil tertawa.

Lu Djie Sianseng itu ada menyekal sebatang hoentjwee yang besar, dia menyedot satu kali, dia kebulkan asapnya, dia ulangi dan ulangi itu, gerak-geriknya ada tenang sekali.

Sebelum jawab ketua Liong Yoe Pang itu, ia melirik pada si anak muda, ia menatapnya.

Sin Tjie dapat kenyataan, tenang dia ada, mahasiswa itu tapinya ada angkuh atau agungagungan, dari itu tak puaslah hatinya.

Kapan ia lihat sinar matanya, dan kulit mukanya yang bersemu dadu, ia percaya dia mestinya ada seorang kang-ouw kenamaan, mungkin dia mempunyai kepandaian istimewa karenanya, tak berani ia memandang enteng.

Malah ia lantas saja menjura.

"Apakah tjianpwee she Lu?"

Tanya ia.

"Akuyang muda Baru kali ini mulai berkelana, dari itu maafkanlah aku tidak kenal tjianpwee..."

Lu Djie Sianseng kepulkan pula asap hoentjweenya, sekali ini tepat kearah muka si anak muda, kemudian kapan ia menyedot lagi, ia keluarkan asapnya diantara kedua lobang hidungnya.

Maka bagaikan sepasang naga melilit, asap itu bergulung-gulung melayang....

Sin Tjie tidak murka karena lagak orang itu, tidak demikian dengan Tjeng Tjeng, yang hatinya panas, hingga mau ia menegurnya.

Tapi Oen Gie lihat sikap puterinya, dia tekan pundaknya.

Tjeng Tjeng menoleh dengan cepat, ia lihat ibunya meng-geleng-geleng kepala dengan pelahan.

Ia mengerti cegahannya sang ibu, ia terpaksa telan pula kemendongkolannya.

Lu Djie Sianseng ketruk-ketruki hoentjweenya, akan buang bersih sisa-sisa abu dan tembakau, lalu dengan pelahan-lahan, ia mengisi pula.

Juga Ngo Tjouw nampaknya tak sabaran mengawasi tingkah-laku dibuat-buat itu, akan tetapi mereka tahu, mahasiswa ini adalah seorang kang-ouw kenamaan selama beberapa puluh tahun, sebisa-bisa mereka kendalikan diri.

Mereka pernah dengar bagaimana dengan ilmu silatnya Hoo Koen, koentauw burung Hoo, Lu Djie Sianseng tidak punyakan tandingan di Selatan dan Utara Sungai Besar, sedang hoentjwee itu adalah senjatanya yang istimewa, senjata mana selain bisa dipakai menotok jalan darah juga bisa dibuat menggaet senjata lawan.

Namun mereka belum pernah saksikan sendiri kegagahannya.

Maka meng-harap-haraplah mereka yang jago itu nanti bentrok sama Sin Tjie, sukur kalau si anak muda kena dipecundangi, dengan begitu, pekerjaan mereka akan jadi lebih ringan.

Lu Djie Sianseng keluarkan tekesan api dari sakunya, ia menekes-nekes, akan tetapi ia masih tidak hendak lantas sulut hoentjweenya itu.

Selagi jago Hoo Koen itu ayal-ayalan, tiba-tiba diatas genteng muncul seorang lain, malah dia ini segera berseru .

"Kembalikan emasku!"

Menyusul itu seorang perempuan muda loncat turun.

Tetapi dia tidak bersendirian, dia segera diikut oleh seorang muda yang sifatnya kasar, dibelakang siapa ada lagi seorang usia pertengahan, umur lima puluh tahun lebih, yang dandan sebagai seorang dagang, tangan kirinya memegang shoei-phoa, tangan kanannya menyekal sebatang pit, sedang romannya lucu....

Sin Tjie kenali Siauw Hoei, ia girang berbareng kaget, ia kuatir juga.

Ia girang karena datangnya bala-bantuan, melainkan ia belum tahu, bagaimana dengan kepandaiannya dua kawan dari nona An itu.

Dilain pihak, ia berkuatir untuk Oen Gie dan Tjeng Tjeng.

Dipihak sana, ialah Tjio Liang Pay, ada pula Liong Yoe Pang, itu artinya ia menghadap dua lawan tangguh.

Ia mesti bela diri, ia pun perlu lindungi ibu dan gadisnya.

Atau kalau kawankawannya Siauw Hoei lemah sebagai si nona sendiri, ia pun sibuki mereka itu....

Suasana sungguh-sungguh tidak menggembirakan pemuda ini.

Itu waktu dari pihak Tjio Liang Pay sudah lantas ada yang maju untuk rintangi Siauw Hoei, yang mereka tegur.

"Lekas kembalikan emasnya tuan-tuan besarmu!"

Kata si anak muda yang romannya kasar itu seraya terus saja membungkuk, akan jumput emas dilantai itu. Sin Tjie kerutkan alis mengawasi kesembronoannya.

"Dia begini sembrono, tentu dia tak dapat diharap,"

Pikirnya. Oen Lam Yang lihat orang hendak jumput uang, ia ayun kakinya untuk tendang tangannya si anak muda.

"Tjoei Soeko, awas!"

Siauw Hoei berseru.

Ia lihat gerakan si orang she Oen itu.

Walaupun ia sembrono, pemuda itu tapinya awas dan sebat.

Ia berkelit kesamping, untuk elakkan tendangan, setelah itu sambil merangsak, ia balas menyerang, dengan dua tangan berbareng.

Oen Lam Yang tidak sudi mengalah, ia keluarkan dua-dua tangannya, untuk menangkis, hingga empat tangan bentrok, setelah mana, keduanya terdampar mundur sendirinya sampai beberapa tindak.

Si anak muda penasaran, ia maju pula.

"Hie Bin, tahan!"

Berseru kawannya yang mirip saudagar.

Sekarang Sin Tjie ingat kepada kawannya Siauw Hoei, dengan siapa si nona sama-sama mengantar emas itu.

Bukankah Siauw Hoei bilang, sebab ia berpisah dari sang kawan, emas jadi kena disambar Tjeng Tjeng?

Anak muda sembrono itu jadinya ada Giok-bin Kimkong Tjoei Hie Bin, keponakan Tjoei Tjioe San.

Karena itu, apa mungkin si orang dagang ada toasoehengnya sendiri, Tong-pit Thie-shoeiphoa Oey Tjin?

Maka ia lantas awasi senjata ditangannya orang dagang itu.

Itulah sebatang pit yang bergemirlapan, maka tak salah lagi, pit terbuat dari tembaga tulen.

Karena ia tidak bersangsi pula, dengan gembira ia maju kepada si orang dagang itu, ia mendekati sambil berlompat, tanpa siasiakan tempo lagi, ia tekuk lututnya sambil manggut.

"Toasoeheng, terimalah hormatnya siauwtee Wan Sin Tjie!"

Katanya. Saudagar itu ulur kedua tangannya untuk mengangkat bangun, ia awasi anak muda ini, lantas saja ia jadi girang sangat.

"Oh, soetee!"

Katanya.

"Kau masih begini muda? Sungguh tak disangka-sangka olehku kita dapat bertemu disini!"

Siauw Hoei maju selagi orang bicara.

"Engko Sin Tjie, itulah dia Tjoei Soeko!"

Ia perkenalkan si anak muda sembrono.

Sin Tjie menoleh pada si anak muda, ia manggut.

Siauw Hoei lihat bebokongnya pemuda she Wan itu ketempelan rumput kering, ia ulurkan tangannya akan kepriki itu pelahan-lahan.

Atas ini Sin Tjie bersenyum, tanda terima kasihnya.

Hie Bin lihat kelakuan pemudi dan pemuda itu, ia tak puas.

"Eh, Hie Bin, kenapa kau tidak tahu aturan?"

Tiba-tiba Oey Tjin tegur muridnya itu.

"Lekas kau kasi hormat pada soesiokmu ini!"

Kembali orang she Tjoei itu tak puas. Bukankah Sin Tjie lebih muda daripadanya? Maka ia menghampirkan dengan tindakan pelahan, dengan ayal-ayalan juga ia hendak paykoei.

"Jangan, jangan, tak usah!"

Sin Tjie lekas-lekas mencegah, ia menghalangi dengan kedua tangannya. Hie Bin batal berlutut, ia menjura saja.

"Siauw-soesiok!"

Ia memanggil. Ia membahasakan "Siauw-soesiok"

Atau paman kecil.

"Apa sih siauw soesiok toa-soesiok?"

Oey Tjin menegur pula.

"Biarpun kau terlebih tua, soesiok tetap terlebih tua tingkatnya!"

Sin Tjie tertawa pada soe-tit itu, atau "murid keponakan".

"Panggil saja aku siok-siok!"

Katanya dengan manis.

"Siok-siok baik.....?"

Kata Hie Bin.

Lu Djie Sianseng mesti menonton saja orang menjalankan tata-hormat soetee dengan soeheng dan soe-tit dengan soesiok, kalau tadi dia yang membuat orang tak sabaran, sekarang dialah yang habis sabarnya sendiri.

Dia anggap orang seperti tak pandang mata sekali kepadanya.

Maka juga kedua matanya lantas mencilak.

"Kamu semua orang-orang apa?"

Tegur ia dengan jumawa.

Teguran ini membuat orang kaget.

Bahwa sekarang ia buka mulut, kiranya ia mempunyai suara yang nyaring sekali, seperti suara burung hantu yang menciutkan nyali.

Suara itu pun tajam sekali.

Akan tetapi Hie Bin tidak takut.

Dia maju satu tindak.

"Emas ini ada emas kami!"

Kata dia.

"Emas ini telah kena kamu curi! Guruku telah ajak aku kemari untuk mengambilnya kembali!"

Lu Djie Sianseng tidak segera menjawab, sambil dongak kewuwungan, ia kebul-kebulkan asap hoentjweenya.

"Hm! Hm!"

Dia perdengarkan tertawa dingin. Hie Bin mendongkol atas lagak orang itu.

"Sebenarnya emas ini hendak kau pulangkan atau tidak?"

Ia tegaskan.

"Jikalau kau tidak dapat mengambil putusan, hayo titahkan maju orang yang berhaknya!"

Lu Djie Sianseng tertawa dua kali, suara tertawanya pun aneh. Kemudian ia menoleh pada Eng Tjay, untuk kata dengan jumawa.

"Kau beritahukan bocahh ini, siapa adanya aku!"

Eng Tjay turut titah itu.

"Inilah Lu Djie Sianseng yang termashyur namanya!"

Katanya.

"Kau jangan kaget! Kau masih muda sekali, jangan kau tidak tahu adat!"

Tentu sekali Hie Bin tidak kenal Lu Djie Sianseng ini.

"Aku tidak perduli entah dia sianseng apa!"

Katanya dengan mendelu dan sikap memandang enteng.

"Kami datang untuk ambil pulang emas kami!"

Tiba-tiba maju pula Oen Lam Yang, yang hatinya masih panas.

"Ambil kembali emas? Tak demikian gampang!"

Ia mengejek.

"Jikalau kau ada punya kepandaian, mari layani aku dahulu, Baru kita bicara pula!"

Orang she Oen ini menantang, akan tetapi belum dia sampai dapat jawaban, tangannya sudah melayang.

Itulah serangan tidak di-sangka-sangka, maka pundaknya Hie Bin terhajar bogem-mentah.

Dia jadi sangat gusar, dia segera menyerang, untuk membalas.

Tangan kirinya menyambar cepat sekali.

Serangan ini mengenai perut, hingga Lam Yang merasai sakit.

Buat sedetik, kedua mundur, akan saling mengawasi dengan mata mendelik, habis itu, mereka sama-sama maju pula, akan mulai bertempur.

Segera juga terdengar suara dakduk atau bakbuk beberapa kali.

Itulah suara dari kepalan yang mampir dikepala atau tubuh masing-masing.

Mereka berkelahi dengan sengit sekali, sampai mereka alpa dengan pembelaan diri, dari itu, kepalan masing-masing dapat mengenai sasarannya.

Sin Tjie saksikan perkelahian itu, diam-diam ia menghela napas.

"Kenapa muridnya Toasoeheng begini tak punya guna?"

Pikir dia.

"Jikalau dia hadapi musuh tangguh, dengan satu dua tonjokan saja dia tentu sudah tak tahan...Apakah mungkin Tjoei Siokhoe juga tidak pernah berikan dia suatu pengunjukan?"

Hie Bin itu djudjur, cuma adatnya keras dan semberono, karena itu, biarnya dia belajar silat, perhatiannya kurang.

Dua bagian saja dari kepandaiannya Oey Tjin, belum ia dapatkan.

Cuma karena bertubuh kuat yang membikin ia sanggup pertahankan diri dari beberapa tonjokan.

Tetapi ia berkelahi dengan hebat.

Kemudian datanglah saatnya pertempuran berakhir.

Dengan kepalan kanan, Hie Bin mengancam.

Lam Yang berkelit kekanan.

Dengan cepat luar biasa, tangan kiri Hie Bin menyambar.

Serangan ini tidak dapat dielakkan Lam Yang, dia kena dihajar keras, menyusul suara tonjokan, tubuhnya yang besar rubuh terbanting, hingga dia pingsan.

Kemenangan ini membikin Hie Bin girang sekali, dengan bangga ia menoleh kearah gurunya, ia harap gurunya nanti puji padanya.

Diluar harapan, ia dapati sang guru merah wajahnya karena murka, hingga ia jadi heran.

"Aku menang, kenapa soehoe gusari aku?"

Pikir dia. Siauw Hoei hampirkan kakak seperguruan itu, muka siapa bengap dan kuping kanannya berdarah, dengan sapu tangannya, dia menyusuti.

"Kenapa kau tidak kelit sesuatu pukulannya?"

Nona ini kata dengan pelahan.

"Kenapa kau melawan dengan keras saja?"

"Untuk apa berkelit?"

Hie Bin jawab.

"Dengan main berkelit, tidak nanti aku berhasil menghajar dia!"

Tiba-tiba terdengar suara hebat dari Lu Djie Sianseng.

"Jangan kau berjumawa karena kau dapat rubuhkan satu lawan!"

Kata orang dengan dandanan mahasiswa itu.

"Kau inginkan emas?"

Se-konyong-konyong dia berlompat, kedua kakinya diletaki atas dua potong emas, sedang hoentjweenya ditekankan kesepotong emas lainnya.

"Tidak perduli kau menjotos atau mendupak,"

Katanya,"

Asal kau mampu geser emas ini dari kakiku, kau boleh ambil semua!"

Para hadirin melengak atas kata-kata ini, melengak karena Lu Djie sianseng terlalu jumawa. Hie Bin jadi mendongkol sekali.

"Jangan kau menyesal!"

Katanya dengan sengit. Lu Djie Sianseng tertawa besar sambil melengak.

"Kau dengar, dia kuatir aku menyesal!"

Katanya kepada Eng Tjay, tetap dia dengan sikapnya yang jumawa itu. Eng Tjay menjawab hanya dengan tertawa kering.

"Baik, aku nanti coba!"

Berseru Hie Bin.

Orang semberono ini lompat tiga tindak, hingga ia datang dekat pada si tekebur itu, lantas dia ayun kaki kanannya dan menyapu kearah potongan emas yang ditekan hoentjwee.

Dimatanya Sin Tjie, tendangan itu ada tendangan berat dua-tiga ratus kati.

Ia percaya, tidak perduli bagaimana kuatnya Lu Djie Sianseng, emas itu mesti kena tergeser, kecuali dia itu gunai ilmu gaib.

Maka ingin ia menyaksikan kesudahan pertaruhan itu.

Disaat kakinya Hie Bin sampai, belum sampai potongan emas kena ditendang, tiba-tiba, dengan sebat sekali, Lu Djie Sianseng angkat hoentjweenya, dipakai memapaki kaki dengan ujung hoentjwee itu, tepat mengenai dengkul.

Dengan mendadakan Hie Bin rasai kakinya itu kaku dan tak bertenaga, tidak ampun lagi, dengkulnya tertekuk, hingga dia rubuh dengan berlutut!

Lu Djie sianseng segera rangkap kedua tangannya, ber-ulang-ulang ia tertawa besar sambil ia berkata.

"Ah, jangan, tak sanggup aku terima!"

Dia memberi hormat untuk tampik kehormatan.

Dia anggap Hie Bin berlutut untuk beri kehormatan padanya!

Itulah sebenarnya suatu penghinaan.

Siauw Hoei terperanjat, dia lari pada Hie Bin, untuk kasih bangun pemuda itu, buat dipepayang sampai didepannya Oey Tjin.

"Oey soepeh, dia main gila, lekas soepeh ajar adat padanya!"

Nona ini minta. Dalam gusarnya, Hie Bin mendamprat .

"Kau gunai akal busuk! Kau bukannya satu hoohan!"

Oey Tjin menotok pada pinggang muridnya, lalu pada pahanya, sembari berbuat demikian, dia kata dengan pelahan .

"Apa lain kali kau berani pula berlaku semberono begini?"

Murid itu berdiam, hatinya bersyukur.

Lu Djie Sianseng tercengang kapan ia saksikan korbannya dapat ditolong secara demikian cepat.

Ia tidak mengerti kenapa ditempat begini sepi sebagai Tjio-liang ada ahli ilmu totok yang demikian liehay.

Selagi orang berdiam, Oey Tjin ketek shoeiphoanya.

"Perhitungan ini telah dimasuki buku!"

Kata dia. Lalu dia geraki tangan kanannya, yang menyekal pit. Terang dia hendak maju, untuk cuci malu muridnya. Sin Tjie lihat sikap Toa-soeheng itu, dia berpikir.

"Dia adalah murid kepala dari Hoa San Pay, aku adalah soeteenya maka sudah selayaknya aku mesti mendului maju!"

Maka ia lantas berseru.

"Toa-soeheng, biar siauwtee yang maju lebih dulu! Jikalau aku tidak berhasil, Baru soeheng yang menggantikan!"

"Soetee, baik aku saja yang maju,"

Jawab Oey Tjin dengan pelahan.

Soeheng ini ragu-ragu untuk ijinkan adik seperguruan itu wakilkan dia.

Soetee ini masih terlalu muda, meskipun gurunya telah berikan pelajaran sempurna, ia kuatir sang soetee kurang latihan, kurang pengalaman, hingga ia kuatir, soetee ini bukan tandingan Lu Djie Sianseng yang liehay itu.

Dia pun percaya, dengan terima murid terakhir itu, yang masih "kecil" , tentunya sang guru sangat sayangi murid bungsu itu, apabila karena pertempuran ini Sin Tjie terluka, gurunya tentu berduka, dia bakal ditegur, dia bakal malu sendirinya.

Kalau tadi dia antapkan Hie Bin maju, itulah sekalian untuk beri ajaran pada murid semberono ini agar ia selanjutnya bisa berhati-hati.

Dia harap Hie Bin insyaf dan nanti belajar lebih jauh dengan sungguh-sungguh.

Akan tetapi Sin Tjie tidak mau mengerti.

"Toasoeheng,"

Katanya dengan pelahan juga,"

Dipihak mereka ada banyak orang liehay, sedang lima orang tua itu mempunyai barisan Ngo-heng-tin yang berbahaya sekali, mungkin sebentar bakal terjadi pertempuran dahsyat.

Soeheng sebagai kepala perang, maka biar siauwtee yang maju lebih dulu."

Oey Tjin kagum untuk soetee ini, yang tahu aturan, yang hendak menghormati kakak seperguruan. Ia juga lihat kesungguan hati soetee itu.

"Baik, soetee,"

Kata ia akhirnya.

"Harap kau hati-hati."

Sin Tjie manggut pada soeheng itu, lalu ia memutar tubuh, untuk hampirkan Lu Djie Sianseng.

"Aku juga hendak menendang emas ini, apa boleh?"

Dia tanya ahli silat Hoo Koen itu.

Ia bersikap tenang sekali.

Lu Djie Sianseng dan kawan-kawannya dari Liong Yoe Pang heran.

Barusan si anak muda bertubuh kekar dan semberono tekah dapat ajaran getir, kenapa sekarang ada pemuda lain yang tidak tahu mampus?

Melihat orang jauh terlebih muda daripada Hie Bin, Lu Djie Sianseng makin memandang rendah.

"Baik,"

Sahut dia.

"Ingin aku jelaskan dahulu, jikalau nanti kau jalankan kehormatan besar kepadaku, tak berani aku terima itu!"

Kata-kata yang terakhir ini mengandung ejekan.

Habis itu, jago Hoo Koen itu tekan emas dengan hoentjweenya.

Sin Tjie ambil sikap sama seperti Hie Bin, dia maju tiga tindak, lantas dia angkat kakinya yang kanan, untuk menyapu.

Hie Bin menonton, dia kaget, dia menjerit.

"Siauw-soesiok, jangan! Dia nanti totok kakimu!"

Ngo Tjouw dari Tjio Liang Pay sebaliknya tak mengerti.

Dia tahu pemuda ini liehay, akan tetapi cara sapuannya itu semberono.

Maka mereka menduga, apa mungkin pemuda ini mengerti ilmu menghentikan jalan darahnya hingga dia tak jeri untuk ditotok?

(Bersambung bab ke 9) Semua mata ditujukan kepada Sin Tjie, kearah kakinya.

Malah Oey Tjin sudah bersiap, andaikata Lu Djie Sianseng kembali totok dengkul orang, dia hendak turun tangan guna bantu soetee itu, sesudah mana, mau dia terus serang musuh jumawa itu.

Selagi kakinya Sin Tjie bergerak maju, cepat luar biasa, Lu Djie Sianseng pun geraki hoentjweenya untuk dipakai menyerang, seperti tadi dia totok dengkulnya Hie Bin.

Akan tetapi si anak muda ini cuma menggertak, selagi tangannya si mahasiswa bergerak, dia pun segera tarik pulang kakinya itu, dengan begitu totokan Lu Djie Sianseng mengenai sasaran kosong.

Justru disaat itu pemuda kita menyapu pula dengan kaki kirinya itu, yang tadi ia tekuk balik, maka sekejab saja, emas potongan itu kena tersempar.

Sampai disitu, Sin Tjie tidak lantas berhenti.

Sebaliknya, dia bergerak terus.

Kembali kaki kanannya menyambar.

Lu Djie Sianseng menjadi mendongkol sekali, dia totok bebokong orang.

Sin Tjie egos tubuh kekanan, sambil membungkuk, sembari berbuat demikian, tangan kirinya menyambar.

Ia berhasil menyampok kekanan kepada emas itu disaat kakinya Lu Djie Sianseng diangkat, karena untuk totok si anak muda, ia mesti bergerak.

Bergerak terlebih jauh, Sin Tjie kerjakan kaki kirinya.

Ia mendahului, akan gunai ketika selagi tubuh lawan itu digeser, kakinya diangkat.

Ini kali pun ia berhasil karena emas tersempar, disambut oleh tangan kanannya.

Dalam tempo yang pendek, tiga potong emas tersimpan dalam tangan baju yang kanan dari anak muda ini, sesudah mana ia berdiri dengan tenang.

"Aku hendak ambil semua emas ini,"

Berkata dia.

"Lu Lootjianpwee toh menetapkan janji?"

Kata-kata ini ditutup dengan satu gerakan yang sebat, selagi orang tunggui jawabannya sianseng itu, sedangnya si sianseng sendiri belum sempat menjawabnya.

Semua orang kagum, karena tahu-tahu Sin Tjie sudah kantongi semuanya sepuluh potong emas itu, malah orang-orang Liong Yoe Pang dan Tjio Liang Pay serukan pujian mereka tanpa merasa.

Mukanya Lu Djie Sianseng jadi merah-padam, tanpa bilang suatu apa tangan kirinya lantas melayang, menyambar si anak muda, menyusul mana, kaki kanannya menjejak ugalugalan kaki Sin Tjie.

Inilah serangan istimewa menurut ilmu silat Hoo Koen.

Sin Tjie berkelit dari dua-dua serangan itu, kapan ia lantas didesak, ia cepat mundur.

Ia lihat lawan itu geraki kedua tangannya, kedua kakinya, tubuhnya dipasang mendak, dibangunkan berdiri.

Itulah gerakannya burung hoo menyambar-nyambar.

Menghadapi ilmu silat lawan yang luar biasa itu, Sin Tjie tidak berani rapatkan diri, ia main berputaran, untuk setiap kali menyingkir.

Secara begini, diam-diam ia bisa perhatikan sesuatu serangan atau gerakan lawan itu.

Makin hebat ia diserang, makin cepat ia luputkan diri.

Lu Djie Sianseng lihat orang selalu menyingkir, tak berani lawan dekati dia, dia percaya, bocah itu cuma gesit tubuhnya, kepandaian silatnya tidak seberapa, dengan sendirinya, dia jadi memandang enteng, hingga sembari berkelahi, dia tertawa ter-bahak-bahak.

Lupa dia bagaimana tadi emasnya telah disambar dengan kecepatan istimewa.

Begitulah dia gunai kesempatan untuk sedot hoentjweenya, akan kepulkan asapnya.

Selama ber-putar-putar, Sin Tjie mulai mengerti ilmu silat lawan itu, dari itu ia girang sekali menonton kejumawaan lawan, bertempur sambil sedot hoentjwee dan kepulkan asap.

Secara mendadak dia merangsak mendekati, tangan kirinya diulur kebatang hidung lawan kepala besar itu, untuk disampok.

Lu Djie Sianseng terperanjat.

Inilah serangan yang ia tidak sangka-sangka.

Tapi ia tidak mau berlaku ayal-ayalan, sambil kelit hidungnya, ia pun menangkis dengan hoentjweenya, yang ia lekas-lekas geraki dari bawah keatas.

Sin Tjie tidak singkirkan kepalannya dari serangan hoentjwee itu, ia buka kepalannya, ia sambuti senjata lawan itu dengan satu sambaran, untuk menyekal.

Oleh karena Lu Djie Sianseng sedang menyerang, tak sempat ia tarik pulang hoentjweenya itu.

Ia kaget, segera ia menarik dengan keras.

Inilah apa yang Sin Tjie duga.

Selagi si sianseng menarik dengan keras, untuk mana dia pakai kedua tangannya, dia bikin iga kanannya kosong.

Ketika yang baik ini tidak disiasiakan lagi oleh si anak muda.

Sebat luar biasa, ia menotok ke jalan darah thian-hoehiat.

Lu Djie Sianseng terkejut sesudah kasip, tahu-tahu dia rasai tubuhnya sebelah kanan gemetar dan habis tenaganya, hingga hoentjweenya terlepas diluar keinginannya.

Selagi begitu, Sin Tjie lihat Tjeng Tjeng tertawa hihi-hihi.

Ia senang lihat si nona bergirang, lantas saja ia sodorkan hoentjwee kearah mulutnya lawan itu.

Tapi yang ia sodorkan bukan ujung hoentjwee piranti menyedot, hanya ujung tempat tembakau, yang apinya sedang menyala, sebab Baru saja tadi disedot pemiliknya.

Lu Djie Sianseng sedang tercengang, ia kaget ketika api membakar kumisnya, sampai mengeluarkan asap.

"Soetee, jangan bersenda-gurau!"

Oey Tjin teriaki adik seperguruan itu.

Diam-diam ia kagumi keliehayan soetee itu.

Sin Tjie tarik pulang ujung hoentjwee, untuk ditiup apinya, tapi justru karena ini, sebab ia meniup dengan keras, api meletik berhamburan, abu tembakau turut terbang juga, hingga antaranya ada api yang menyambar muka Lu Djie Sianseng.

Menampak demikian, Oey Tjin lompat kearah orang she Lu itu.

Tak dapat ia tak tertawa memandang kejadian lucu itu, akan tetapi lekas-lekas ia totok jalan darahnya si lawan, yang sudah tidak berdaya disebabkan totokannya Sin Tjie.

Disebelah itu, ia sambar hoentjwee dari tangan Sin Tjie, untuk dikembalikan pada pemiliknya, ia jejalkan ditangannya dia itu.

Lu Djie Sianseng masih tercengang ketika ia lihat semua orang memandang dia sambil tertawa, tidak tempo lagi, dia lemparkan hoentjweenya, lantas dia memutar tubuh, untuk lari pergi.

Eng Tjay memburu kawan itu, yang ia sambar tangan bajunya, untuk ditarik, buat dicegah kepergiannya, akan tetapi Lu Djie Sianseng tolak dia hingga dia terpelanting terhuyunghuyung.

Tak hentikan tindakannya, kawan itu lari terus sehingga dilain saat dia sudah menghilang.

Pihak Tjio Liang Pay saksikan liehaynya Sin Tjie, mereka kagum tetapi tidak kaget, memang mereka tahu pemuda ini tak dapat dibuat permainan, tidak demikian pandangannya pihak Liong Yoe Pang.

Mereka ini pandang jagonya -Lu Djie Siansengbagaikan malaikat, tidak tahunya sekarang, satu bocah permainkan dia mirip sebagai anak kecil.

Oey Tjin sendiri kagumi soetee itu, akan tetapi dia bukan melainkan kagum saja, berbareng ia heran.

Soetee itu menotok jalan darah.

Ia tahu itu.

Itulah totokan "It-tjie-sian"

Atau "Satu Jeriji"

Dari Hoa San Pay.

Yang aneh adalah caranya Sin Tjie berkelit, berputarputar, demikian juga caranya dia kower emas untuk dilemparkan masuk kedalam saku baju.

Itulah pelajaran yang ia tidak pernah dapatkan dari gurunya.

"Tidak mungkin soehoe sayangi ini murid bungsu dan karenanya dia diajarkan ilmu yang ber-beda-beda,"

Pikir ia.

Itu adalah gerakan yang berlainan sekali dengan semua gerakan ilmu silat Hoa San Pay.

Hie Bin adalah yang merasa paling aneh, karena ia tidak sempat lihat bergeraknya tangan si anak muda, si paman cilik itu.

Dan Tjeng Tjeng dan Siauw Hoei, mereka tertawa haha-hihi hingga mereka merasai perut mereka mulas tanpa sakit, saking lucunya pemandangan barusan itu.

Oey Tjin ketek pula shoeiphoa, terus dia kata.

"Tadi telah dijanjikan, kalau tiga potong emas yang diinjak dan ditindih dapat digeser, semua emas itu akan dikembalikan kepada kami, maka itu disini aku haturkan banyak-banyak terima kasih!"

Ia terus saja beri hormat, lalu ia titahkan Hie Bin .

"Punguti semua emas itu!"

Memang, selagi Sin Tjie hendak layani Lu Djie Sianseng, semua potongan emas telah dikeluarkan dari dalam tangan bajunya.

Eng Tjay saksikan Hie Bin hendak pungut uang, kedua matanya bersinar diantara berkilauannya emas itu.

Mana ia rela membiarkan harta itu terjatuh kedalam tangan lain orang?

Maka ia maju untuk terus tolak tubuhnya Hie Bin, hingga dia ini mundur dengan sempoyongan.

"Eh, apa kau mau?"

Tanya Hie Bin, dengan gusar.

"Apa kau juga hendak coba-coba?"

Menampak demikian, Oey Tjin maju.

"Hie Bin, mundur!"

Ia serukan. Terus ia kasi hormat pada Eng Tjay, pada siapa, sambil tertawa, ia bilang .

"Selamat berbahagia! Tuan, tokomu itu apa mereknya? Tuan biasanya berdagang apa? Pasti sekali kau peroleh kemajuan hingga meluas keempat penjuru lautan dan hartamu berjumlah besar sampai memenuhi tiga sungai!"

Oey Tjin ini memang asal saudagar, dia adalah seorang jenaka, maka itu sekalipun sedang menghadapi pertempuran, dia masih sempat ngoceh tidak keruan.

"Siapa bergurau denganmu?"

Eng Tjay membentak dengan murka.

"Aku adalah Eng Tjay, ketua dari Liong Yoe Pang. Aku masih belum belajar kenal dengan she dan namamu, tuan?"

"Sheku yang rendah ada Oey dan namaku melainkan satu huruf Tjin,"

Sahut toasoeheng dari Sin Tjie.

"Itulah huruf Tjin yang berarti 'tulen', tulen yang tidak ada keduanya. Harga barang-barangku adalah harga tetap tulen, hingga barang seharga satu tail tidak nanti aku jual dengan satu tail satu boen, sedang pembeli anak kecil dan tua, tidak nanti aku perdayakan! Tuan berdagang apa, sukakah kau membantu dengan berhubungan denganku?"

Eng Tjay sebal dengan ocehan itu, ia jadi semakin mendongkol dan gusar.

"Ambil senjataku!"

Dia berseru kepada rombongannya.

Lantas salah satu orangnya bawakan tumbaknya yang besar, ia sambuti itu, untuk segera ditarik kebelakang, lalu diteruskan menikam orang didepannya.

Oey Tjin lompat berkelit kekiri.

"Ayo!"

Dia berseru.

"Kami orang dagang, emas itu tak suka kami tidak mendapatkannya!"

Dia lantas simpan pesawat hitungnya, dia membungkuk akan punguti emas dilantai.

Ngo Tjouw insaf orang ini liehay dan Eng Tjay bukan tandingannya, tetapi juga mereka tidak sudi kehilangan emas itu, maka Beng Gie dan Beng Go segera lompat maju kedalam kalangan.

"Untuk punyakan uang tak demikian gampang!"

Mereka berseru. Oey Tjin lihat rangsekan hebat, sambil mendak, ia menggeser kekanan, dari sini tangan kirinya dipakai menyerang dengan pukulannya "Keng Tek kwa pian"

Atau "Oet-tie Kiong menggantung ruyung".

Ini adalah serangan dari samping.

Serangannya Beng Gie dan Beng Go adalah turut runtunan Ngo-heng-tin.

Mereka tampak bahaya, tidak ajal lagi, mereka mundur sendirinya.

Tapi justru mereka mundur, Beng Tat dan Beng San menggantikan maju.

Dengan tangan kanan, Beng San tangkis serangannya Oey Tjin tadi, sedang Beng Tat hajar bebokong lawan.

Sejak Oey Tjin keluar dari perguruan dan berkelana, belum pernah ia menemui tandingan yang liehay, dan walaupun ia suka bergurau, ia teliti dan hati-hati.

Inilah sifatnya yang membikin ia belum pernah gagal.

Barulah sekarang, menyerbu Ngo-heng-tin, ia menghadapi lawan-lawan yang tidak boleh dipandang ringan.

Ia bisa egos tubuh dari serangan Beng Tat, atau kedua lawan itu mundur, lalu Beng Sie menyusul serang ia.

Begitu selanjutnya, lima saudara itu maju dan mundur saling ganti, sebentar berdua, sebentar sendiri, hingga kendatipun mereka cuma berlima, gerakan mereka mirip dengan gerakan beberapa puluh orang.

Mau atau tidak, Tong-pit Thie-shoeiphoa menjadi terkejut.

Ia tidak mengerti, ilmu berkelahi cara apa itu yang lawan-lawannya gunai.

Benar-benar serangan mereka, atau lebih benar pengurungan mereka, merupakan sebagai tin, barisan istimewa.

Kalut serangan itu tapi rapi maju dan mundurnya.

Sesudah melayani sekian lama, tanpa ia bisa serang secara berarti kepada musuhmusuhnya, atau satu diantaranya, Oey Tjin lantas ubah sikap.

Ialah ia berlaku tenang, ia tempatkan diri ditengah.

Ia sambut sesuatu serangan, tidak mau ia balas merangsak.

Tentu saja, dengan begini, ia jadi kena dikurung.

Eng Tjay girang sekali mendapati orang kena dikepung, cuma bisa beladiri, tidak bisa membalas.

Ia anggap ini adalah ketikanya untuk ia turun tangan terlebih jauh.

Maka ia tunggu saatnya, lalu ia menusuk dengan hebat dengan serbuan "Leng tjoa pok kie" , atau "Ular menubruk", salah satu ilmu silat tumbak Yoo-kee-tjhio, ilmu tumbak keluarga Yo.

Ia menikam bebokong.

"Oey soepeh, awas!"

Berseru Siauw Hoei, memperingati.

Nona ini kaget atas bokongan itu.

Oey Tjin adalah murid kepala dari Bok Djin Tjeng, dia telah wariskan ilmu silat Hoa San Pay, coba lima saudara Oen tidak gunai Ngo-heng-tin, walaupun mereka mengepung berlima, tidak nanti mereka berhasil.

Demikianpun bokongan Eng Tjay, tak perduli dia menjadi ketua Liong Yoe Pang.

Begitu lekas serangan sampai, mendadak Oey Tjin putar tubuhnya, berbareng dengan itu, tangannya pun bergerak.

Tepat sekali, tumbak kena ditangkis sambil terus dicekal.

Itu adalah gerakan ilmu silat tangan kosong melawan senjata, yang sukar dijakinkannya, tapi Oey Tjin tekah berlatih beberapa puluh tahun.

Maka begitu lekas dapat menyekal, dia terusi membetot tumbak itu.

Berbareng membetot lawan, dia pun menoleh kesamping sambil dengan tangan kirinya menangksi serangan Beng San, sedang kaki kanannya digeser setengah tindak, guna menghindari jejakan Beng Gie, yang datang dari belakang.

Menyusul betotannya Oey Tjin, Eng Tjay terdengar menjerit keras.

Dia tak mau lepaskan tumbaknya, maka itu tubuhnya kena terangkat naik, terlempar melewati kepala orang, terus jatuh terbanting dilantai.

Akan tetapi jeritannya bukan disebabkan terbantingnya itu.

Hanya selagi dia terbetot, ketika tubuhnya mendekati Oey Tjin, lawannya ini lepaskan tumbak yang dicekal, pundaknya kiri dipakai menggempur iga kanan lawan hingga ketua Liong Yoe Pang itu merasakan sakit hebat sampai kesumsumnya.

Segera beberapa orang Liong Yoe Pang maju untuk tolongi ketua itu.

Dalam rombongan Liong Yoe Pang itu ada ketua mudanya, Boe-pangtjoe Khoe Kak Lian, murid kepala Eng Tjay yang bernama Boen Hoa dan murid kedua bernama Tjhio Thong Tjouw.

Mereka ini jadi sangat gusar, hingga tanpa bilang suatu apa, mereka lompat menyerang.

Oey Tjin layani tiga musuh baru itu, Baru beberapa jurus, ia telah berhasil membanting mereka satu demi satu, malah Boen Hoa patah lengan kanannya, hingga dia terluka parah.

Setelah itu, tidak ada lagi orang Liong Yoe Pang yang berani maju.

Maka selanjutnya, Oey Tjin terus melayani Ngo Tjouw dari Tjio Liang Pay.

Pertempuran seru sekali, hingga keenam orang tertampak bagaikan bajangan saja yang saling sambar.

Ada kalanya Oey Tjin dapat lolos dari kepungan atau segera ia terkurung pula, saking gesitnya kelima lawan, yang cara pengepungannya tak pernah menjadi rancu.

"Benar hebat,"

Memikir Oey Tjin akhirnya, sesudah lama juga ia berkelahi dengan tidak ada hasilnya.

Tidak pernah ada satu diantara musuh yang dapat ia serang.

Mau atau tidak, ia sibuk sendirinya.

Juga lima saudara Oen menjadi heran dan kagum.

Tidak mereka sangka lawan ini, yang mirip dengan satu pedagang atau orang biasa saja, demikian liehay.

Sudah dikepung hebat, pembelaannya tetap rapat dan rapi.

Selagi pertempuran berlangsung makin seru, Oey Tjin lihat tegas cara penyerangan lawanlawannya.

Ada kalanya seorang hendak menendang, atau mendadakan dia berkelit kesampung dari mana menyeranglah lain kawannya.

Ada waktunya seorang mementang kedua tangan untuk rangkul dia, hingga dia mesti mundur, atau dari belakangnya, satu kaki mendupak dia!

Selagi penyerangan lawan jadi semakin hebat, macamnya serangan pun bertambah beraneka-warna, hal ini membuat ia jadi repot, maka untuk tidak menempuh bencana siasia, mendadakan ia keluarkan seruan panjang, kedua tangannya lantas keluarkan pit dan shoeiphoa -Tong-pit Thie-shoeiphoa.

Didalam hatinya dia pikir .

"Kamu berlima, aku sendirian, tidak ada halangannya akan aku gunai senjata."

Maka itu sekarang selagi menyerang, saban-saban ia cari jalan darah lawan-lawannya.

Belum terlalu lama, lima saudara Oen telah menjadi repot, maka mereka tidak sudi mensiasiakan tempo, dengan mendadak Oen Beng Tat berseru dengan suitannya.

Oen Tjheng dan Oen Lam Yang mengerti tanda dari ketua itu, dengan bergantian mereka lempar-lemparkan gegamannya masing-masing ketua itu, yang menyambuti dengan baik, hingga selanjutnya mereka juga bersenjata semua.

Hingga karena itu, golok kongtoo, ruyung joanpian, tongkat besi dan lainnya, saling sambar.

Pertempuran kali ini berlanjut tidak saja lebih seru malah terlebih berbahaya, sebab semuanya menyekal senjatanya masing-masing.

Dari itu, para hadirin menjadi tercengang, mereka gembira tapi hati mereka berkedutan.

Tjoei Hie Bin sibuk bukan main melihat gurunya terancam bahaya kepungan yang sangat kuat itu, ia tahu ia tidak punya guna akan tetapi ia sayang sekali gurunya, maka dengan melupakan segala apa, ia berseru dengan putar goloknya, ia lompat, untuk menyerbu kedalam Ngo-heng-tin.

Ia Baru loncat tiga tindak atau didepannya ada berkelebat satu bajangan, yang tangannya segera menekan pundaknya.

Ia kaget, ia ayun goloknya, untuk membacok, tapi apamau, tekanan orang itu begitu berat sehingga ia tak sanggup geraki pundaknya.

"Tjoei Toako, tak dapat kau pergi, sia-sia kau antarkan jiwamu!"

Demikian satu suara cegahan.

Kapan pemuda she Tjoei ini mengawasi, ia kenali Sin Tjie sebagai penghalang itu.

Tadi ia telah saksikan pemuda itu pecundangi Lu Djie Sianseng, masih ia kurang percaya akan kegagahan orang, tetapi sekarang Barulah ia menginsafi tenaganya yang besar luar biasa.

Tak dapat ia tak dengar kata lagi.

Sin Tjie tarik pulang tangannya seraya terus berkata .

"Jangan kau sibuk! Gurumu masih sanggup layani mereka!"

Lantas anak muda ini awasi pula pertempuran, sedang Hie Bin terpaksa berdiri melongo, untuk turut menonton terus.

Sin Tjie perhatikan jalannya pertempuran tapi kadang-kadang ia dongak keatas genteng, diwaktu begitu agaknya dia berada dalam kesulitan pikiran.

Segera Siauw Hoei datang mendekati.

"Engko Sin Tjie, pergi tolongi Oey Soepeh,"

Kata nona ini.

"Berlima mereka kepung satu orang, sungguh mereka tak tahu malu!"

Sin Tjie tidak menjawab, dengan satu gerakan tangan, ia suruh nona itu mundur.

Siauw Hoei tidak dapat muka, ia mundur dengan lesu.

Tjeng Tjeng saksikan lagaknya nona An itu, diam-diam ia bergirang.

Selama pertempuran berjalan dengan seru itu, Oey Tjin tidak pernah berhasil dengan pitnya, dengan shoeiphoanya, untuk menotok atau sambar senjatanya lawan.

Malah senjata mereka tidak pernah bentrok satu dengan lain.

Lima saudara itu singkirkan bentrokan, sebagaimana Oey Tjin pun tak inginkan itu.

Lagi sesaat, sekonyong-konyong Sin Tjie lompat menghampiri Siauw Hoei.

"Adik Siauw Hoei, maafkan perbuatan tadi,"

Kata dia.

"Tadi aku sedang memikirkan sesuatu. Sekarang aku berhasil memecahkan pikiranku itu."

"Disaat sebagai ini apa masih ada soal maaf?"

Jawab si nona.

"Lekas kau pergi bantui Oey Soepeh!"

Sin Tjie tertawa.

"Aku telah berhasil memecahkan pikiranku, aku tidak kuatir lagi!"

Katanya.

"Kau benar aneh! Kenapa kau tidak bedakan urusan enteng dan berat, penting dan tidak penting? Kalau ada kesukaran, apa kau tidak bisa tunggu sampai pertempuran sudah selesai Baru kau memikirkannya pula?"

Tanya Siauw Hoei. Kembali Sin Tjie tertawa.

"Yang aku pikirkan justru ada soal pertempuran ini!"

Sahutnya.

"Aku pikirkan bagaimana aku bisa pecahkan barisan Ngo-heng-tin ini. Apakah kau tidak dapat ingat atau lihat bagaimana senjata mereka tidak pernah bentrok satu pada lain?"

"Ja, aku pun herani itu,"

Jawab Siauw Hoei.

"Pokoknya tin mereka ada kecepatan,"

Sin Tjie menjawab.

"Sesuatu bentrok senjata berarti mensia-siakan tempo. Maka itu, untuk melawannya, guna memecahkan, kecepatan juga yang dibutuhkan. Kita mesti menangkan kecepatan mereka itu, Baru kita akan berhasil."

"Mereka telah terlatih sempurna, mereka sangat gesit, bagaimana dapat kita lombainya?"

Tanyanya. Sin Tjie bersenyum.

"Lihat saja, aku akan coba-coba!"

Sahutnya. Ia menoleh pada Siauw Hoei dan berkata .

"Coba pinjamkan aku tusukan rambutmu!"

Siauw Hoei loloskan tusukan rambutnya yang terbuat dari batu pualam dan serahkan itu. Sin Tjie menyambuti, ia dapatkan satu tusuk konde yang bagus sekali.

"Aku akan gunai tusuk konde ini untuk layani mereka,"

Katanya.

Hie Bin dan Siauw Hoei tertawa.

Mereka anggap orang lagi main-main.

Tidakkah tusukan batu kumala itu regas sekali, gampang patah?

Bagaimana itu dapat dipakai sebagai alatsenjata?

Sin Tjie tidak ambil mumet dua orang itu terheran-heran, ia hanya awasi pertempuran, lalu ia teriaki Toa-soehengnya itu .

"Toasoeheng, soet-touw menciptakan it-bok, maka injaklah kian-kiong dan jalan di kam-wie!"

Itulah istilah-istilah dari Pat-kwa.

Oey Tjin dengar itu, ia melengak sendirinya, tak dapat ia lantas mengerti itu.

Tidak demikian dengan Oen-sie Ngo Loo, lima ketua keluarga Oen itu, mereka ini terperanjat.

"He, kenapa bocah itu bisa ketahui rahasia Ngo-heng-tin?"

Pikir mereka. Mereka anggap temponya terlalu singkat untuk menginsafi itu. Sin Tjie tidak perdulikan kakak seperguruan itu mengerti atau tidak, kembali ia perdengarkan suaranya .

"Toasoeheng, phia-hoh menakluki khe-kim, maka jalanlah di Tjinkiong, keluar dari lie-wie!"

Selama pertempuran yang telah berjalan lama itu, Oey Tjin pun gunai pikirannya, sebab ia dapat kenyataan, secara keras, secara halus, masih ia tak dapat pecahkan Ngo-heng-tin.

Ia ingat lawan-lawannya kurung ia menuruti garis-garis Pat-kwa, akan tetapi beberapa kali ia sudah coba mendobrak, saban-saban ia gagal.

Tapi setelah dengar suara soeteenya yang kedua kali, ia pikir pula.

"Baik aku mencoba,"

Ia ambil putusan.

Ia lantas menunggu.

Sebentar kemudian, datanglah saat yang baik.

Dengan tiba-tiba ia ambil jalan tjin-kiong, untuk keluar dari lie-wie.

Dan ia berhasil!

Ia dapatkan satu lowongan!

Segera ia hendak nyeplos.

Mendadakan Sin Tjie serukan pula .

"Jalan ke kian-wie! Jalan ke kian-wie!"

Dikedudukan kian-wie itu ada menjaga dua saudara Oen, Beng San dan Beng Sie.

Tapi Oey Tjin percaya soeteenya itu, ia tidak mau sia-siakan waktu, tanpa berpikir lagi, ia menerjang kearah kian-wie itu.

Beng San dan Beng Sie Baru menjaga, lantas mereka mesti pecah diri, untuk lowongan mereka diisi oleh Beng Tat dan Beng Go.

Itu adalah menurut cara-cara kepungan mereka.

Justru mereka hendak memecah diri, disaat itulah Oey Tjin menerjang kearah mereka.

Maka itu, selagi lowongan sedang terbuka, Oey Tjin geraki pitnya dan alat penghitungnya kekiri dan kanan, untuk cegah dua saudara itu merintangi dia.

Dia berlompat dengan luar biasa pesat, hingga tahu-tahu dia sudah lolos dari kurungan dan segera berdiri didamping Sin Tjie!

Lima saudara Oen tercengang, lekas-lekas mereka undurkan diri, akan berdiri berbaris.

Nampaknya mereka menyesal.

Tapi Oen Beng Tat segera bicara.

"Kau bisa lolos dari Ngo-heng-tin, kepandaianmu bukan kepandaian sembarang,"

Kata ketua Ngo-tjouw dari Tjio Liang Pay.

"Apakah tuan ada dari Hoa San Pay? Bagaimana tuan membahasakannya terhadap Lootjianpwee Bok Djin Tjeng?"

Begitu lekas ia sudah merdeka, kumat pula kejenakaannya Oey Tjin. Begitulah ia tertawa geli seorang diri.

"Bok Lootjianpwee itu adalah guruku yang bidjaksana,"

Ia menyahut.

"Kenapa? Apakah aku sebagai murid telah membuat malu kepada guruku itu?"

Beng Tat tidak gubris orang menggoda dia.

"Pantas, pantas!"

Katanya.

"Memang aku telah lihat, ilmu silatmu ada dari Hoa San Pay."

Oey Tjin tidak hiraukan pengutaraan itu. Dia kata .

"Kita sudah bertempur! Kamu berlima telah kepung aku satu orang, aku tidak sanggup pukul rubuh kepadamu, kamu sendiri tidak mampu jambak kepadaku! Inilah dia yang dibilang cara berdagang yang maha adil, atau setengah kati itu ialah delapan tail! Sekarang bagaimana hendak diaturnya dengan emas ini?"

Ia tidak tunggu jawabannya Ngo Tjouw, ia menoleh kepada Eng Tjay ketua Liong Yoe Pang dan kata .

"Tuan saudagar, perhubungan dagang kita berdua sudah putus pembicaraannya, mengenai emas ini, bagianmu sudah tidak ada lagi!"

Eng Tjay malu sekali, ia insaf tak dapat ia lawan dia itu, akan tetapi ia toh menyahuti.

"Orang she Oey, jangan kau tekebur! Nanti datang satu hari yang kau toh bakal terjatuh dalam tanganku!"

Oey Tjin tertawa, dia kata .

"Jikalau ditoko tuan ada lain barang lagi, silakan berhubungan dengan tokoku, perkara rugi tidak menjadikan soal! Kita toh ada langganan-langganan lama! Perkara harganya barang, kita nanti boleh damaikan pula secara istimewa...."

Bukan kepalang mendongkolnya ketua Liong Yoe Pang.

Berkelahi dia kalah, adu mulut pun ia tak ungkulan, maka dengan terpaksa, ia ajak rombongannya ngeloyor pergi.

Rombongannya Beng Tat juga tidak perdulikan berlalunya orang-orang Liong Yoe Pang itu, Beng Tat sendiri lantas kata kepada lawannya yang tangguh itu .

"Melihat kepandaian kau, kau adalah seorang gagah dari jaman ini, maka mengenai emas ini, dengan memandang kepadamu aku hendak atur begini. Kami suka menyerahkannya separuh..."

Jago Tjio Liang Pay ini takut juga terhadap Hoa San Pay, ia jadi tak ingin menambah musuh. Ia anggap pertimbangannya itu pantas. Oey Tjin tertawa.

"Coba uang ini ada kepunyaanku sendiri,"

Jawabnya.

"walaupun sekarang ada masa tidak aman dan mencari uang bukannya gampang, asal sahabat membutuhkannya, tak halangannya untuk diambil semua sekalipun. Akan tetapi aku harap saudara mengetahuinya. Uang ini ada uang belanja tentaranya Giam Ong! Muridku yang tolol ini diberi tugas mengantarnya, emas itu kena diambil oleh orangmu, saudara, maka kalau sekarang aku pulang dengan tidak bersama emas yang utuh, bagaimana aku dapat memberi tanggung-jawabnya?"

Belum lagi Beng Tat beri penyahutan, Beng Gie sudah tak dapat kendalikan diri.

"Untuk kembalikan emas kepadamu, itu pun boleh!"

Serunya dengan murka.

"Tapi mesti dengan dua syarat!"

"Jikalau barang ada harganya, shoeiphoa boleh dikeluarkan untuk menghitungnya,"

Kata Oey Tjin dengan tenang.

"Bukankah segala apa dapat didamaikan? Bukankah tak ada halangannya untuk kita saling tawar dengan pelahan-lahan? Karena aku hendak membayar kontan, tolong kau sebutkan harganya, nanti kami timbang pula...."

"Tidak ada tawar-menawar lagi!"

Kata Beng Gie dengan sengit.

"Syarat yang pertama, untuk mendapati emas ini, kamu mesti mengantar barang kepada kami. Tentang barang antarannya, banyak atau sedikit tidak menjadi soal. Inilah aturan kami, satu kali kami telah dapatkan suatu barang tak dapat itu dikembalikan secara gampang-gampang!"

Oey Tjin bersenyum.

Ia tahu inilah soal muka, soal kehormatan.

Tjio Liang Pay suka mengembalikan emas, itu artinya segala apa sudah beres.

Maka tidak lagi ia hendak bersenda-gurau, sebaliknya, dengan sungguh-sungguh dia menyahuti.

"Kalau tuan-tuan bilang demikian, dengan segala senang hati aku suka menerimanya. Besok pagi aku nanti pergi kekota Kie-tjioe untuk membeli, mempersiapkan barang-barang persembahan itu, nanti aku sendiri yang mengantarkannya. Aku pun masih hendak sajikan beberapa meja hidangan untuk undang tuan-tuan serta beberapa saudara penduduk sini untuk menemaninya."

Mendengar itu, Beng Gie nampaknya puas.

"Baik!"

Berkata dia.

"Sekarang syarat kedua. Bocah she Wan ini mesti ditinggalkan disini!"

Oey Tjin terkejut.

"Kamu sudi pulangi emas, aku berikan kamu muka terang,"

Pikirnya.

"Kenapa kamu hendak timbulkan urusan lain lagi?"

Toasoeheng ini masih belum tahu jelas duduknya hubungan diantara keluarga Oen dan soeteenya itu, perihal Kim Tjoa Long-koen dan Oen Gi.

Sin Tjie tahu rahasia orang, cara bagaimana dia bisa dilepaskan secara begitu saja?

Adalah keinginannya Ngo Tjouw untuk binasakan pemuda ini, guna lampiaskan hati mereka.

Terutama adalah keinginan Ngo Tjouw mendapati peta harta karunnya Kim Tjoa Long-koen, yang mereka sangka disimpan si anak muda.

Dan mereka masih percaya, tidak perduli Sin Tjie gagah, Ngo-heng tin tentu bakal dapat rubuhkan padanya.

Itulah syarat yang hebat, tapi mendengar itu, Oey Tjin tertawa.

"Soeteeku ini ada seorang yang gembul sekali gegaresnya,"

Berkata dia.

"dengan kamu suka beri tempat dia disini, itulah bagus sekali, hanya saja, nasi untuk satu tahun, dia bakal gegares habis dalam tempo enam bulan, aku kuatir tuan-tuan nanti rugi!...."

Hie Bin kenal baik tabiat gurunya, mendengar perkataan gurunya yang belakangan ini, ia percaya pertempuran bakal diulangi lagi, maka itu ia cekal keras-keras senjatanya.

Dengan mata tajam ia pandang musuh.

Beng Tat tak perdulikan godaan itu, ia gusar.

"Saudara mudamu tadi ajarkan kau bagaimana harus loloskan diri dari Ngo-heng-tin,"

Katanya sambil tertawa dingin.

"Kelihatannya dia ketahui baik tentang tin kami ini, maka itu, baik kami undang dia untuk mencoba-coba kepandaiannya itu!"

Ketua Tjio Liang Pay ini andali betul Ngo-heng-tin.

Sebenarnya tin itu terdiri dari lima rintasan, tapi menghadapi Oey Tjin, Baru digunai sampai yang kedua, jadi masih ada tiga rintasan lainnya.

Oey Tjin telah rasai hebatnya tin, maka ia pikir.

"Aku dengan pengalamanku beberapa puluh tahun, tak dapat aku menoblos keluar, bagaimana lagi dengan soeteeku ini? Benar dia dapat tunjuki jalan padaku tetapi dia hanya sebagai orang diluar kalangan, pikirannya tentu sehat, dia dapat melihat jalan. Kalau dia disuruh maju, aku kuatir dia gagal...."

Karena ini, ia jawab.

"Ngo-heng-tin ada sangat liehay, barusan aku telah mengalaminya sendiri. Soeteeku ini berumur tak setua cucumu, tuan-tuan, kenapa kamu hendak mempersulit dia? Umpama tuan-tuan tak puas terhadapnya, baik majukan siapa saja untuk ajar adat kepadanya!"

Oey Tjin bicara mengalah tapi maksudnya justru berkeras. Ia percaya, jikalau satu lawan satu, Sin Tjie tak akan dapat dikalahkan mereka berlima. Oen Beng San tertawa dingin.

"Hoa San Pay sangat kenamaan, siapa tahu Baru lihat Ngo-heng-tin yang tidak berarti, orangnya sudah ketakutan hingga dia umpatkan kepala dan sembunyikan ekor!"

Katanya.

"Kalau begitu, sejak hari ini, apa Hoa San Pay masih bisa angkat namanya dalam dunia kang-ouw?"

Hie Bin jadi sangat gusar, ia muncul tanpa perkenan.

"Siapa bilang Hoa San Pay jeri terhadapmu?"

Dia berteriak.

"Kalau demikian, kau saja yang maju!"

Beng San mengejek sambil tertawa. Hie Bin benar tidak tahu takut, dia hendak maju lebih jauh. Sin Tjie tarik keponakan-murid itu.

"Tjoei Toako, kasi aku yang maju lebih dahulu,"

Paman cilik ini kata dengan pelahan,"

Apabila aku gagal, Baru kau membantui..."

Hie Bin manggut.

"Baik,"

Jawabnya.

"Begitu lekas kau membutuhkan bantuan, panggillah aku dengan namaku, aku akan lantas maju, tidak usah kau sebut-sebut Tjoei Toako atau Tjoei Djieko!"

Sin Tjie bersenyum, ia manggut. Siauw Hoei merasa lucu, dia tertawa geli.

"Eh, kau tertawakan apa?"

Hie Bin menegur sambil melotot.

"Tidak apa-apa, aku merasa lucu sendiri,"

Sahut si nona. Masih Hie Bin hendak menegasi, tapi Sin Tjie sudah lompat kedepan, sebelah tangannya memegangi tusukan rambutnya Siauw Hoei.

"Ngo-heng-tin dari Tjio Liang Pay begini liehay tapi seumur hidupku belum pernah aku melihatnya!"

Kata dia.

"Pupukmu masih belum kering, kau tahu apa?"

Berseru Beng Gie.

"Bagaimana kau bisa kenali Ngo-heng-tin kita?"

Sin Tjie berlaku tenang.

"Loo-ya-tjoe semua hendak menahan aku, inilah soal yang minta pun aku tak berani,"

Katanya pula.

"Baiklah, mari kita gunai ketika baik ini supaya aku bisa belajar kenal dengan keliehayan Ngo-heng-tin!"

"Hati-hati, siauw-soesiok!"

Hie Bin berteriak, memperingati.

"Mana mereka kandung maksud baik!"

Sin Tjie menoleh pada si semberono, ia tertawa.

"Mereka orang-orang tua, tidak nanti mereka perdayakan kita anak-anak dengan usia muda!"

Katanya.

"Jangan kuatir, Tjoei Toako!"

Ia terus menoleh kepada Ngo Tjouw, akan lanjuti .

"Aku hendak maju sekarang, harap looyatjoe semua menaruh belas kasihan..."

Orang-orang Tjio Liang Pay heran.

Dari kata-katanya, terang anak muda itu jeri, akan tetapi sikapnya sangat tenang, tindakannya pelahan dan tetap, tak tertampak roman kuatir atau bingung.

Mereka jadi tak dapat menerka hati orang.

Ngo Tjouw tahu orang liehay, mereka tidak berani memandang enteng.

Dengan satu tanda gerakan tangan, mereka mulai bersiap.

Beng Gie dan Beng San mencelat kekanan, ketiga saudaranya turut, akan ambil kedudukannya masing-masing, maka sebentar saja, si anak muda sudah dikurung.

Sin Tjie bawa sikap seperti ia tidak engah, dia malah memberi hormat ketika dia tanya .

"Apakah kita orang main-main dilantai datar?"

"Ya, tak usah dipanggung Bwee-hoa-tjhung lagi!"

Sahut Beng Tat.

"Kau keluarkan senjatamu!"

Sin Tjie perlihatkan tusuk kondenya.

"Tuan-tuan ada dari angkatan tua, aku yang muda mana berani berbuat tidak hormat dengan menggunai senjata tajam?"

Katanya.

"Dengan kumala ini saja aku mohon pengajaran dari kamu semua!"

Kata-kata ini membuat semua orang, sahabat dan lawan, menjadi heran.

Ada yang anggap anak muda ini sangat tekebur.

Apa artinya sebatang tusuk konde?

Kebentur sedikit saja tentu bakal patah!

Bagaimana itu bisa diadu dengan senjata Ngo Tjouw?

Oey Tjin berdiam sedari tadi.

Ia tahu, percuma saja ia turut bicara.

Diam-diam ia siapkan kedua rupa senjatanya, untuk menolong disaat sutee itu terancam bahaya.

Pada Hie Bin dan Siauw Hoei ia beri kisikan.

"Musuh kita terlalu kuat, jumlah kita juga terlalu sedikit, apabila sebentar aku beri tanda, kamu mesti loncat naik keatas genteng untuk menyingkir, aku dan Wan Soetee akan memegat dibelakang. Tidak perduli kami berdua menghadapi ancaman hebat, jangan kamu bantu kami!"

Dua orang yang dipesan itu berikan janji mereka.

Oey Tjin memesan demikian untuk lindungi dua anak muda itu, supaya mereka pun tidak merintangi ia dan soeteenya itu.

Ia percaya, ia dan sang soetee pasti dapat loloskan diri andaikata mereka menghadapi bahaya.

Dia juga memikir, andaikata dia gagal mendapat pulang emas itu, dilain hari dia akan kembali bersama lebih banyak pembantu, ialah djiesoeteenya, Poan-sek-san-long Kwie Sin Sie suami-isteri, sahabatnya, Pouw Sian Taysoe dari kuil Hoa Giam Sie di Hoopak, dan gurunya, Bok Djin Tjeng, atau Bhok Siang Toodjin.

Asal seorang tandingi satu orang, lima saudara Oen itu tentu mati daya, Ngo-heng-tin akan pecah.

Nampaknya Oey Tjin lucu, sebenarnya dia bisa berpikir jauh.

Dia tak pilih Sin Tjie sebab dia kuatir soetee ini kurang latihan.

Walaupun semua sudah siap sedia, Sin Tjie masih kata pada lima jago keluarga Oen itu .

"Looyatjoe semua sudi beri pengajaran padaku, kenapa masih ada yang ditahan, sehingga aku merasa tin ini belum lengkap?"

Beng Tat heran.

"Apakah yang kurang lengkap?"

Tanya dia.

"Disebelah Ngo-heng-tin, masih ada barisan pembantu sebelah luar yaitu Pat-kwa-tin."

Sahut Sin Tjie.

"Kenapa Pat-kwa-tin juga tidak diatur sekalian, supaya aku bisa menambah puas pemandangan mataku?"

Beng Gie lantas saja membentak .

"Inilah kau yang mengatakannya, maka kalau sebentar kau mati jangan kau menyesal!"

Terus dia berpaling pada Oen Lam Yang.

"Lam Yang, mari maju semua!"

Oen Lam Yang ada ketua dari angkatan kedua dari Tjio Liang Pay, dengan suatu tanda, muncullah lima-belas kawannya yang tadi disiapkan untuk kepung Sin Tjie.

Oey Tjin lihat rombongan itu terdiri dari lelaki dan perempuan, diantaranya ada dua pendeta.

Mereka semua mengatur diri disebelah belakang Ngo Tjouw, mereka bergerakgerak, ber-putar-putar, gerakan mereka semua beres dan rapi, sehingga Oey Tjin yang luas pengalamannya jadi heran dan kagum.

Orang berlari-lari tetapi tidak terdengar suara tindakan mereka.

"Wan Soetee tidak tahu urusan,"

Pikir toasoeheng ini.

"Dengan dia layani Ngo Tjouw saja, umpama ia terancam, aku bisa nyerbu untuk menolongi, sekarang barisan ditambah dengan lapis yang kedua, dengan jumlah sampai enam-belas orang, mana ada lowongan lagi untuk menerjang masuk? Jangan-jangan seekor lalat juga sukar molos...."

Soeheng ini terus berdiam, ia terbenam dalam keragu-raguan.

Sin Tjie didalam kurungan tetap berlaku tenang.

Ia jepit tusuk konde kumala dengan jempol dan jeriji tengah kanan, tangan kirinya diangsurkan kedepan, ia pasang kuda-kuda dengan kaki kiri didepan, setelah itu, ia geraki tubuhnya lebih jauh, akan lari berputaran, setelah empat atau lima balik, ia teruskan.

Ngo Tjouw juga lantas bersiap, semua mata mereka dipakai mengawasi anak mdua dalam kurungan itu.

Sin Tjie berputaran saja, ia tidak lantas menyerang.

Ketika dahulu Kim Tjoa Long-koen lolos dari tangannya Ngo Tjouw dari Tjio Liang Pay ia keram diri didalam guanya, setiap saat, setiap waktu, ia asah otak memikiri jalan untuk pecahkan Pat-kwa Ngo-heng-tin.

Ia tidak mengerti, kenapa kurungan Ngo-heng-tin tidak dapat digempur, dan asal yang satu bergerak, empat yang lainnya lantas menyusul, menyusul tak hentinya, sampai lawan sudah kena dirubuhkan.

Beberapa tahun telah dilewati, hasilnya tetap tidak ada, jalan tidak didapati.

Pada suatu pagi Kim Tjoa Long-koen mencari hawa dipuncak Hoa San, tiba-tiba ia lihat seekor ular merayap berliku-liku, kapan binatang itu dengar tindakan orang, dia berhenti berjalan, dia melingkar, kepalanya diangkat.

Itulah kebiasaan ular, untuk bersiap melawan atau menyerang musuh, tanpa diserang lebih dahulu, ia tidak akan mendahului.

Tiba-tiba saja, Kim Tjoa Long-koen sadar.

Inilah caranya untuk pecahkan Ngo-heng-tin!

Sehingga bukan main girangnya dia.

Itulah gerakan .

"Bergerak belakangan, menindas lawan" . Ia lantas pulang, kembali ia asah otak. Ia gunai tempo satu bulan, Baru ia insyaf kelemahan Ngo-heng-tin, dan bagaimana caranya harus menerjang pecah. Semua ini lantas dicatat dalam Kim Tjoa Pit Kip, sebab walaupun ia telah dapatkan rahasia itu, ia sendiri tak dapat menuntut balas. Dengan urat-uratnya telah dibikin putus, ia tidak bisa bersilat lagi seperti dulu. Ia sukar percaya akan ada orang yang nanti dapatkan kitabnya ini atau umpama kata itu diketemukan seratus tahun atau seribu tahun kemudian, pasti Ngo Tjouw sudah lama mati dan tulang-tulangnya telah lebur menjadi tanah. Biar bagaimana, ia pun masih mengharap-harap. Jikalau Ngo-heng-tin tidak terpecahkan, pasti Ngo Tjouw akan menjagoi untuk selama-lamanya, sedang mereka ada orang-orang jahat. Sekarang Sin Tjie hendak gunai daya "bergerak belakangan, menindas lawan"

Itu, maka itu, ia melanjuti berputaran terus, tidak henti-hentinya, sehingga semua lawannya turuti ia ber-putar-putar juga akan awasi dia.

Dari bergerak pelahan pada mulanya, anak muda ini bergerak pesat, setelah sekian lama, ia mulai jadi pelahan pula, jadi kendor, selama itu tetap tidak terlihat sikapnya hendak mulai menerjang.

Sebaliknya, dia lantas berhenti berputaran, dia duduk, kedua tangannya dikasih turun kedengkul, tubuhnya diam, cuma tampangnya berseri-seri.

Semua orang menjadi heran.

Pihak Oen tidak tahu, inilah tipu-daya, guna mengabaikan penjagaan lawan, untuk bikin lawan habis sabar.

Benar saja, Oen Beng Gie tidak puas, sehingga ia geraki kedua tangannya untuk menyerang.

Ia berada dibelakang Sin Tjie, ia bisa membokong si anak muda.

"Djieko, jangan bikin kacau tin!"

Beng Go cegah kandanya itu.

Beng Gie dapat dicegah, maka itu, berlima mereka masih berputaran, selalu siap-sedia untuk menerjang begitu lekas lawan bergerak.

Belum lama dia duduk diam, Sin Tjie menguap, terus ia rebahkan diri, tidur celentang, kedua tangannya ditekuk, dipakai sebagai bantal, untuk mengalaskan kepalanya.

Ngo Tjouw masih terus berputaran, meskipun mereka merasa aneh.

Mereka jadi bertambah waspada.

Mereka mau menyangka, anak muda itu bakal gunai entah akal apa.

Disebelah belakang, enam belas orang dibawah pimpinannya Oen Lam Yang turut bergerak-gerak terus juga, akan tetapi mereka tak seulet lima ketua mereka, sesudah lewat banyak tempo beberapa diantara mereka jadi letih, keringat mereka mengucur keluar, napas mereka mengorong.

"Aku hendak lihat, tua-bangka, sampai kapan kamu dapat bersabar,"

Kata Sin Tjie dalam hatinya, mendapati tidak ada orang yang hendak serang ia.

Selagi rebah, ia curi lihat gerakan lawan.

Mendadak anak muda ini membalik tubuh, sehingga ia jadi rebah tengkurap, kedua tangannya ketindihan tubuhnya.

Kemudian lagi, terdengarlah suara menggerosnya, sebagai tanda bahwa ia ketiduran, tidur pulas.

Inilah kejadian aneh dalam medan pertempuran.

Ini pun lucu.

Hie Bin, Siauw Hoei, Tjeng Tjeng, dan Oen Gie juga, hampir tertawa, tapi juga hati mereka kebat-kebit, saking kuatir.

Umpamanya Ngo Tjouw menyerang, celakalah anak muda itu, yang memasang bebokong.

Cuma Oey Tjin yang mengerti soetee itu sedang uji kesabarannya lawan, untuk pancing lawan itu, meski begitu, ia juga berkuatir untuk nyali besar dari soetee itu.

Itulah keberanian melewati batas.

Apabila serangan datang, bagaimana itu dapat dielakkan?

Benar-benar Beng Tat tidak bersabar lagi, ia hendak gunai ketikanya yang baik ini.

Begitu lekas ia memberi tanda, dengan tangan kiri dikibaskan kekanan, menyambarlah empat batang hoei-too dari Beng Sie, adiknya yang ketiga.

Empat hoeitoo itu terbang menyambar kebebokong Sin Tjie.

Semua orang pihak si anak muda terperanjat, malah ketika empat hoeitoo mengenai sasarannya, Oen Gie tutupi muka, hatinya mencelos.

Dipihak Oen, semua orang bergirang, ada yang bersorak, sehingga dari enam-belas anggauta Pat-kwa-tin, tujuh atau delapan antaranya berhenti berputaran.

Justru disaat itu, dengan sekonyong-konyong tubuhnya Sin Tjie mencelat bangun, empat golok terbang dibelakangnya meluruk jatuh kelantai, kemudian terlihat tubuhnya melesat, melewati sela-sela lima saudara Oen, selagi mereka ini mengawasi dengan heran kepada bekerjanya hoeitoo yang memberi akibat luar biasa itu.

Tahu-tahu Sin Tjie telah sampai dibelakang Oen Lam Yang, bebokong siapa ia tepuk keras sehingga menerbitkan suara nyaring, atas mana orang she Oen itu berteriak-teriak segera dia muntahkan darah hidup, belum sempat dia tahu apa-apa, tubuhnya disambar si anak muda, diangkat, dilempar kedalam Ngo-heng-tin!

Setelah ini, Sin Tjie tidak hentikan gerakannya.

Selagi lima-belas orang Pat-kwa-tin bingung, ia serang mereka satu demi satu, dengan kepalan, dengan tendangan, dengan totokan juga, dan setiap korbannya, tubuhnya ia sambar, ia balingkan kedalam tin.

Oen Tjheng dan beberapa orang lagi mempunyai boegee cukup baik tapi Baru dua tiga gebrak, mereka pun kena dirubuhkan dan dilemparkan, sehingga didalam tin, bukan musuh yang terkurung, tetapi orang sendiri yang rebah malang-melintang.

Secara begitu, Pat-kwa-tin telah terpukul pecah, tidak terkecuali Ngo-heng-tin sendiri.

Selama keadaan katjau itu, lima saudara Oen pun repot, akan tanggapi orang-orangnya, yang dilempar-lemparkan kearah mereka.

Waktu yang baik itu digunai Sin Tjie untuk lompat maju akan totok Oen Beng Sie, siapa kecuali sedang repot juga masih terheranheran karena golok terbangnya tidak membinasakan lawan, sehingga hatinya ciut sendirinya.

Tapi sekarang ia diserang, dengan sebat ia memapaki lawan dengan empat buah goloknya yang liehay, yang menjurus kearah dada.

Sin Tjie tidak perdulikan datangnya empat hoeitoo, ia tidak berkelit, malah ia antapkan dadanya terbuka, tangannya lurus kedepan, tiga jarinya menjuju tenggorokannya penyerang dengan hoeitoo itu, benar selagi golok-golok terbang mengenai sasaran dan jatuh sendirinya, jerijinya mengenai jalan darah soan-kie-hiat sehingga lawannya rubuh.

Oen Beng San lihat saudaranya terancam bahaya, ia hendak menolongi, ia menyerang dengan tongkatnya kearah kempolan kanan.

Sin Tjie lihat tongkat menyambar, ia tertawa dan berkata.

"Tongkat ini sudah dibuang tetapi sekarang diambil pula!"

Selagi mulut bersuara, tangannya tidak diam saja, ia maju akan sambar tubuhnya satu kawannya Lam Yang, akan pakai tubuhnya dia ini akan papaki tongkat!

Beng San anggap lawannya tidak bisa menyingkir lagi, maka itu ia terperanjat melihat ia ditangkis dengan orangnya sendiri, syukur ia masih keburu menarik pulang tongkatnya itu, serta buang dengan kaget kesamping, dimana ada Beng Tat.

"Toako, awas!"

Ia berseru.

Beng Tat lihat sambaran tongkat adiknya, ia menangkis dengan sepasang tumbak pendeknya, sehingga kedua senjata bentrok keras dan menerbitkan lelatu api!

Selagi dua saudara itu repot sendirinya, Sin Tjie menerjang Beng Go, mulanya tangannya yang kiri menyambar, lalu menyusul tangan kanannya, dengan tusuk konde kumala, ia arah kedua matanya musuh itu.

Beng Go mundur, dengan cambuk kulitnya, ia lindungi diri; ia sudah mesti lantas menangkis berulang-ulang, sebab serangannya si anak muda saling susul, karena ia lantas didesak keras.

Ia sibuk melihat cahaya kumala berkeredepan, Baru sekarang ia mengerti liehaynya senjata istimewa itu, yang seperti tak hendak berpisah dari kedua matanya.

Dua kali ujung tusuk konde sudah mengenai kulit mata, untung karena sebatnya dia berkelit, Oen Beng Go masih bisa hindarkan bahaya, akan tetapi karenanya, semangatnya hampir terbang pergi.

Dalam ancaman bahaya itu, ia tidak sempat menyingkir, ia terlalu repot dengan dayanya melindungi matanya itu.

Maka akhir-akhirnya, tusukan mengenai juga matanya, tidak perduli ia coba egoskan kepala itu.

Ia lepaskan cambuk kulitnya, ia tutup matanya dengan kedua tangannya.

Baru sekarang ia jatuhkan diri, untuk menyingkir sambil bergulingan, akan tetapi jari tangannya si anak muda toh telah keburu mampir dibelakangnya, sehingga ia lantas rubuh tak berkutik lagi.

Ngo Tjouw yang kelima ini ada sangat kenamaan, dengan cambuk kulit itu, diwaktu bertempur diatas loeitay di Oen-tjioe, dengan beruntun dia telah rubuhkan dua-belas orang kosen dari Tjiatkang, sehingga untuk beberapa puluh tahun, orang malui ia.

Apa lacur, sekali ini ia jatuh merek ditangannya seorang anak muda sehingga selain ia sendiri malu, para penonton pun heran dan kaget sekali.

Oey Tjin tidak menjadi kecuali, dia heran melihat liehaynya soetee ini.

Itulah gerakan tangan yang ia belum pernah lihat.

Ia merasa, sekalipun disaat mudanya guru mereka, masih guru itu tak bisa bersilat seperti anak muda ini.

Ilmu silat apakah itu?

Dari mana soetee ini dapat pelajarinya?

Hie Bin ada begitu girang sehingga ia bersorak sendirinya.

Siauw Hoei, yang pun bergirang, cuma bersenyum.

Oen Gie dan Tjeng Tjeng bergirang dalam hati saja.

Sudah terlalu lama mereka dikekang sehingga tak berani mereka sembarangan perlihatkan wajah kegirangan.

Untuk Sin Tjie, inilah pertempuran pertama melayani orang-orang kenamaan, ia empos semangatnya, ia berlaku sungguh-sungguh.

Ia pun tidak main pandang-pandang lagi.

Maka itu dengan tangan kiri ia mainkan tipu-tipu daya dari Hok-houw-tjiang, Tangan Menakluki Harimau dari Hoa San Pay, dengan tangan kanan ia bersilat dengan gerakgerakan "Kim-coa-ciam".

"Jarum ular emas" , dari Kim Tjoa Pit Kip. Yang pertama adalah pelajaran Pat-tjhioe Sian-wan Bok Djin Tjeng si Lutung Sakti Tangan Delapan, yang belakangan adalah dari Kim Coa Long Koen Hee Soat Gie, hingga umpama kata kedua orang liehay itu hadir bersama, mereka juga cuma mengenali separuh saja. Maka tidaklah heran apabila Ngo Tjouw dari Tjio Liang Pay kena dibikin terbenam dalam keheranan. Sehabis merubuhkan Oen Beng Go, Sin Tjie lantas terjang Oen Beng Gie. Ia gunai siasatnya yang tadi, akan tetap serang satu lawan, akan bulang-balingkan tusukan rambut dimatanya lawan itu, yang saban-saban ia tusuk, sehingga Ngo Tjouw yang kedua lantas saja jadi repot seperti adiknya tadi. Oen Beng Tat saksikan ancaman bahaya itu, mendadak ia berseru nyaring, lantas ia tolak terpelanting satu muridnya yang ada didepannya, sehingga si murid keluar dari kalangan, sedang Oen Beng San, yang mengerti maksud kanda tua itu, gunai kakinya akan dupak dan sempar sesuatu orangnya yang bergeletakan dilantai. Dengan tindakan ini, mereka bikin lantai bersih dari segala perintang, secara begitu, hendak mereka lanjutkan kepungannya menurut gerak-gerakan Ngo-heng-tin, tidak perduli jumlah mereka sudah kurang dua. Sin Tjie lanjuti desakannya terhadap Oen Beng Gie, tidak pernah ia hendak memberi kelonggaran, secara begini tetap tidak berjalan lancarlah Ngo-heng-tin itu. Selagi Beng Tat dan dua saudaranya bingung, Beng Gie sudah kena dihajar pundak kirinya. Oen Beng San hendak tolong kakaknya itu, dengan tongkatnya, dengan serangan "Lie Kong shia tjio"

Atau "Lie Kong memanah batu", ia menghajar kearah bebokong.

Berbareng dengan dia, Oen Beng Tat dengan sepasang siang-kek, tumbak cagaknya, menyerang kekiri dan kanan lawan.

Beng Gie sendiri, dengan menahan sakit mencoba melayani terus, tak ingin dia bikin kacau gaya tinnya.

Sin Tjie berkelit dari bokongan kedua lawan dibelakang dan sampingnya itu, ia masih mendesak Beng Gie, tapi karena musuh-musuh geraki Ngo-heng-tin, ia kembali tunjuki kegesitannya, kelincahannya.

Ia senantiasa mengegos tubuh, berkelebatan sana dan sini, sampai mendadak ia apungi tubuhnya itu, mencelat tinggi, tusukan rambutnya diselipkan dikepalanya, sebelah tangannya dipakai menjambret penglari dimana ia bergelantungan.

Tiga jago dari Tjio Liang Pay lagi mengepung dengan seru apabila mereka dapati lawan hilang dalam sekejab, hingga mereka jadi sangat heran.

Sama sekali mereka tak tampak tubuh lawan itu mencelat ketinggi.

Justru itu, sekonyong-konyong ada angin menyambar diatas kepala mereka, sehingga mereka terperanjat, sebab mereka duga, itulah bukan angin sembarangan.

Mereka lantas geraki tubuh, untuk berkelit, tapi sudah kasep, dua-dua Beng San dan Beng Gie telah terkena timpukan, keduanya rubuh rebah dilantai tanpa berkutik.

Beng Tat loncat kepada ketiga saudaranya, terus ia membungkuk.

Ia niat tolong mereka itu, yang terserang jalan darahnya.

Selagi ia membungkuk serangan datang pula.

Ia ada dari Tjio Liang Pay, ia liehay sekali, maka dengan putar sepasang tumbak cagaknya diatasan kepalanya, ia cegah biji-biji catur mengenai tubuhnya.

Begitulah belasan biji catur kena disampok jatuh, hingga menerbitkan suara tingtong-tingtong.

Ia putar terus siangkeknya, sebab ia kuatir lawannya melanjuti menyerang ia dengan senjata rahasia yang istimewa itu.

Selagi ketua Ngo Tjouw ini geraki siangkeknya itu, mendadak ia dengar seruan kaget pada pihaknya, lalu ia rasai tangannya tergetar, sepasang tumbaknya seperti tertahan atau tersangkut entah barang apa.

Iapun menjadi kaget, dengan segera ia kerahkan tenaganya, untuk menarik dengan keras.

Justru ia berbuat demikian, justru siangkek itu terlepas dari cekalannya.

Maka berbareng kaget, ia lompat kesamping hingga tiga tindak, kedua tangannya dipakai melindungi mukanya.

Ternyata siangkek bukannya terlepas terlempar hanya pindah kedalam tangannya Sin Tjie, yang telah lompat turun dari penglari selagi jago tua itu repot membela diri.

Dengan ayun kedua siangkek dengan kedua tangannya, anak muda itu berseru .

"Lihat!"

Sekejab saja, kedua tumbak cagak melesat, kearah kedua tiang yang besar didalam lianboe-thia itu, nancap melesak hampir separuhnya, hingga kedua tiang tergentar, sampai genteng-genteng diatasnya bersuara berkresekan, hingga beberapa orang yang berdiri dipintu lari keluar, mereka kuatir ruang itu rubuh ambruk...

Ketika dahulu Bok Djin Tjeng ajarkan Sin Tjie ilmu pedang, dia pernah menimpuk dengan pedang sampai pedangnya masuk nancap kedalam batang pohon.

Itulah ilmu pedang yang Bhok Siang Toodjin puji tak ada tandingannya.

Dan sekarang ini, Sin Tjie perlihatkan kepandaiannya itu, melainkan ia tak gunai pedang hanya tumbak cagak.

Oey Tjin kenal baik ilmu pedang itu, dia begitu kagum hingga dia serukan .

"Wan Soetee, sungguh sempurna timpukanmu "Sin Liong Hoan Bwee!" (Naga sakti perlihatkan ekor)."

Sin Tjie menoleh, sambil tertawa.

Beng Tat sendiri berdiri tercengang, karena dihadapannya, empat saudaranya sudah rebah tidak berdaya.

Sin Tjie bertindak menghampirkan soehengnya, ia cabut tusukan rambut dari kepalanya, untuk dikembalikan kepada Siauw Hoei, siapa menyambutinya dengan girang sekali.

Oen Beng Tat tidak berdiam lama-lama.

Tjio Liang Pay yang demikian kesohor, sekarang runtuh ditangannya satu bocah.

Sekejab saja, ia niat berlaku nekat, dengan benturkan kepala ke tiang rumah, akan tetapi sekejab kemudian ia berpikir lain.

"Aku sudah berusia lanjut, tak dapat aku membalas sakit hati ini,"

Pikirnya,"

Akan tetapi selama masih ada secarik napasku, pastilah aku tak mau sudah saja!...."

Maka itu, ia lantas hadapi Oey Tjin.

"Semua emas disana, kamu boleh ambil dan bawa pergi!"

Katanya.

Mendengar perkataannya orang tua itu, tanpa tunggu ulangan lagi, Hie Bin maju akan jumputi semua potongan emas, untuk dimasuki kedalam kantong kulitnya, perbuatannya itu diawasi oleh beberapa puluh orang-orang Tjio Liang Pay, tak satu diantaranya berani maju mencegah.

Karena Sin Tjie telah bikin mereka tunduk, semangat mereka gempur.

Oen Beng Tat hampirkan Beng Gie, dia ini rebah tanpa bisa bergerak sedikit juga, kecuali matanya yang masih bisa berjelilatan.

Sebagai ahli tiam-hiat, tukang totok jalan darah, ia segera totok jalan darah "in-thay-hiat"

Dari adik itu, lalu ia mengurut-urut.

Akan tetapi tak dapat ia sadarkan saudaranya itu, walau ia sudah ulangi percobaannya menolongi lagi.

Ia jadi heran sekali.

Kemudian Beng Go, Beng San dan Beng Sie pun didekati, untuk ditolong, akan tetapi totokannya, urutannya terhadap tiga saudara itu, tidak memberikan hasil seperti terhadap Beng Gie.

Maka sekarang insyaflah ia, totokannya Sin Tjie adalah dari lain golongan, yang beda daripada kebisaannya sendiri.

Ia pikir untuk minta tolong Sin Tjie tetapi ia segan membuka mulut, dari itu dengan terpaksa, ia menoleh pada Tjeng Tjeng, ia memberi tanda dengan gerakan bibir.

Tjeng Tjeng bisa duga, toa-yaya itu mohon ia mintakan pertolongannya Sin Tjie, tetapi ia berpura-pura tidak mengerti.

"Toa-yaya memanggil aku?"

Ia tanya, ia menegasi.

"Setan alas, kacung licin!"

Beng Tat mendamprat dalam hati, ia mendongkol bukan kepalang.

"Sampai disaat ini, kau masih main gila terhadapku! Kau lihat, habis ini, aku nanti hukum kamu ibu dan anak!"

Sambil kertak gigi, ia terpaksa kata.

"Kau harus minta dia sadarkan keempat yayamu..."

Tjeng Tjeng lantas hampirkan Sin Tjie, ia memberi hormat, lalu dengan suara nyaring , ia kata pada anak muda itu .

"Toayayaku mohon kau suka sadarkan empat yayaku itu!"

"Baiklah,"

Jawab Sin Tjie tanpa berpikir pula. Dan lantas ia bertindak maju. Benar sedangnya ia hendak membungkuk, kupingnya dengar ketikan shoeiphoa dari toasoehengnya yang terus kata padanya.

"Wan soetee, benar-benar kau tidak mengerti barang sedikit juga kitab ilmu dagang! Saat ini ada saatnya harga barang bisa dikasi naik, kenapa kau tidak hendak gunai ketika menaikinya? Coba kau menghitung....Jangan kuatir kau menyebutkan harga berapa juga, orang toh bakal memakannya!"

Sin Tjie tahu, toasoeheng itu sangat jemu terhadap Tjio Liang Pay dan sekarang saudara ini hendak lampiaskan hatinya, walaupun ia kurang setuju, akan tetapi dimana toasoeheng itu ada beserta, ia mesti beri kemerdekaan kepada toasoeheng itu.

"Baiklah toasoeheng, aku turut kau,"

Ia bilang. Ia batal menotok sadar empat korbannya itu.

"Keluarga Oen ini, ditempat kediamannya ini, telah menganggu sangat pada sesama penduduknya,"

Oey Tjin lantas berkata.

"mereka melepas hutang dengan bunga berat, mereka memeras juga. Diempat dusun dari Kie-tjioe ini, suara penasaran memenuhi jalanan! Selama dua hari ini aku telah bikin penyelidikan dengan jelas sekali. Maka itu Wan soetee, jikalau kau hendak obati orang, kau mesti minta angtiap berisi. Tentu sekali, jumlah uang itu kita sendiri tidak inginkan, aku hanya hendak gunai itu untuk tolong penduduk sini yang pernah dan sedang menderita karena keluarga Oen ini!"

Sin Tjie percaya perkataannya sang toasoeheng mengenai kejahatannya keluarga Oen, ia sendiri telah membuktikannya disaat pertama kali ia sampai di Tjio-liang.

Tidak ada orang yang sudi berikan ia keterangan waktu ia tanyakan alamatnya keluarga itu, agaknya semua orang sangat jemu dan jeri.

Ia juga telah saksikan bagaimana Oen Tjheng labrak orangorang yang minta keadilan dari pihak mereka.

"Benar, toasoeheng!"

Sahutnya, yang hatinya tergerak.

"Memang penduduk sini telah menderita sangat. Bagaimana soeheng hendak berbuat?"

Oey Tjin mengetik atas biji-biji shoeiphoanya, yang dikasi turun dan naik, mulutnya pun mengoceh.

"Liok siang it kie ngo tjin it, sam it sam sip it, djie it tiam tjok ngo,"

Demikian seterusnya.

Siauw Hoei rupanya telah biasa dengan lagak lagunya soepeh itu, ia melainkan bersenyum, tidak demikian dengan Sin Tjie yang Baru pertama kali ia bertemu soehengnya, walau ia merasa lucu, ia diam saja.

Adalah pihak Tjio Liang Pay, yang jadi sangat mendongkol, kemendongkolan mana tak dapat mereka lampiaskan.

Tjeng Tjeng adalah satu kecuali, meski juga ia ada anggauta asli dari keluarga Oen, ia sampai tertawa cekikikan.

Oey Tjin telah habis mengitung, ia goyang kepalanya.

"Wan Soetee, aku telah hitung uang pengobatanmu,"

Katanya.

"Menolong satu jiwa, ongkosnya empat-ratus pikul beras putih."

"Empat ratus pikul?"

Sin Tjie tegasi.

"Tidak salah! Empat ratus pikul beras putih nomor satu yang mulus, tidak boleh kecampuran kendati juga sebutir pasir dan sepotong pesak hancur, dan dacinnya, gantangnya, batoknya, tidak boleh ada yang dipalsukan!"

Soeheng itu beri kepastian. Ia bicara tanpa perdulikan Beng Tat setuju atau tidak, senang atau tidak.

"Disini ada empat orang, maka jumlah semua jadi seribu enam ratus pikul?"

Sin Tjie tegaskan pula. Oey Tjin tertawa.

"Wan Soetee, kau pandai menghitung didalam hati!"

Kata dia.

"Kau menghitung tanpa pakai shoeiphoa, kau bisa lantas menjumlahkan, seorang empat ratus pikul, empat orang jadi seribu enam ratus pikul."

Mendengar kata guru itu, Hie Bin kata dalam hatinya .

"Apanya yang aneh? Aku juga bisa menjumlahkan itu tanpa pakai pesawat hitung lagi!"

Si semberono ini tidak tahu gurunya lagi bergurau. Kemudian Oey Tjin awasi Beng Tat dan kata pada jago tua itu.

"Besok pagi kau sediakan itu beras seribu enam ratus pikul, aku ingin bagi-bagikan itu kepada penduduk sekitar sini, satu orangnya stau gantang. Begitu lekas kau telah sediakan cukup seribu enam ratus pikul maka soeteeku ini bakal bikin sadar empat adikmu itu!"

Disini tidak ada perdamaian lagi dan Beng Tat cuma tahu menurut.

"Dalam tempo begini pendek bagaimana bisa dikumpulkan beras demikian banyak?"

Berkata ketua Tjio Liang Pay itu.

"Semua persediaan didalam rumahku juga tak lebih dari tujuh -atau delapan puluh pikul."

"Ongkos pemeriksaan penyakit sudah ditetapkan, pemotongan harga tidak dapat diberikan,"

Oey Tjin bilang.

"Akan tetapi aku suka memandang kepadamu, aku suka beri keringanan ialah pembayaran dengan angsuran. Begini, asal kau selesai membagi empat ratus pikul, kami tolong satu orang, kau membagi sampai delapan ratus pikul, kami tolongi orang yang kedua, demikian seterusnya. Umpama kau tidak sanggup membuat persediaan, kami suka memberi tempo sampai sepuluh hari atau setengah bulan, atau setengah tahun sampai satu tahun. Soeteeku ini, asal dia diundang, tentu dia bakal datang untuk menolong, tidak nanti dia main beri alasan ini dan itu."

"Empat saudaraku ini, bergerak pun tidak mampu, cara bagaimana mereka dapat menanti sampai setengah bulan?"

Pikir Beng Tat.

"Tidak bisa lain, aku mesti turuti kehendaknya."

Maka ia lantas berikan jawabannya .

"Baik, besok aku akan mulai membagi beras itu!"

Oey Tjin tertawa.

"Tuan, kau sungguh seorang dagang yang baik sekali!"

Ia memuji.

"Sedikitpun kau tidak meminta pengurangan. Maka jikalau lain kali ada barang baik, aku minta sukalah sembarang waktu kau berhubungan denganku!"

Beng Tat berdiam saja walaupun orang terus menerus permainkan ia, tapi karena pembicaraan sudah beres, ia lantas saja ngeloyor kedalam meninggalkan tetamu-tetamu tak diingini itu.

Sin Tjie lantas kasi hormat pada Oen Gie dan Tjeng Tjeng.

"Sampai besok!"

Katanya.

Pemuda ini tahu, Beng Tat membutuhkan pertolongannya, hatinya tenteram akan antapkan ibu dan anak itu berdiam terus dirumahnya itu.

Kemudian empat orang itu, dengan gembira, dengan bawa emas, meninggalkan rumahnya Beng Tat, akan kembali kepondokan mereka dirumah si orang tani.

Tatkala itu sudah fajar,mereka tidak lantas masuk tidur, hanya Siauw Hoei terus pergi kedapur, untuk siapkan barang hidangan, kemudian sambil bersantap, mereka duduk pasang omong tentang kemenangan mereka, semuanya gembira sekali.

"Wan Soetee,"

Berkata Oey Tjin sambil angkat mangkok mie-nya.

"baru-baru ini aku dengan soehoe omong bahwa soehoe telah terima satu murid baru, yang usianya masih sangat muda, berhubung dengan itu, aku telah bicara main-main dengan djie soehengmu Poan Sek San-long Kwie Sin Sie suami-isteri, bahwa murid-murid kami, umpama murid kepala, sudah berusia tiga-puluh lebih, sekarang dengan tiba-tiba soehoe berikan mereka satu siauw-soesiok, paman kecil, tidakkah mereka nanti pada merasa likat dan itu akan mengakibatkan kesulitan? Aku tak sangka soetee, kau begini liehay, jangan kata aku, toasoehengmu, telah ketinggalan jauh, juga djie-soehengmu, yang didelapan belas propinsi belum pernah ada tandingannya, turut penglihatanku, masih tak dapat tandingkan kau. Maka dibelakang hari, kemajuannya Hoa San Pay kita, kebesarannya akan mengandal kepada kau seorang. Disini tidak ada arak, baik aku berikan selamat dengan kuah mie ini saja!"

Benar-benar toasoeheng yang jenaka ini bawa mangkok mie kemulutnya, akan hirup kuahnya! Sin Tjie berbangkit dengan tergesa-gesa, diapun segera minum kuah mie-nya.

"Dengan kebetulan saja hari ini aku beruntung peroleh kemenangan,"

Berkata ia,"

Maka toasoeheng, tidak berani aku terima pujianmu ini. Malah aku hendak minta agar selanjutnya sukalah kau berikan aku pelbagai pengunjukan."

"Sikapmu yang merendah dan berhati-hati ini, untuk dalam Rimba Persilatan, sukar didapat,"

Berkata dia.

"Lekas duduk, mari kita dahar!"

Oey Tjin gunai sumpitnya beberapa kali, lalu ia berpaling kepada Hie Bin.

"Asal kau peroleh satu bagian saja dari kepandaiannya pamanmu,"

Katanya,"

Kau akan dapat gunai itu untuk seumur hidupmu!"

Hie Bin telah saksikan liehaynya Sin Tjie, sejak itu ia telah kagumi sangat pamannya ini, benar ia semberono, akan tetapi mendengar kata-kata gurunya, mendadakan ia dapat satu ingatan baru, lalu dengan tiba-tiba ia berlutut didepan paman cilik itu, akan manggut beberapa kali.

"Aku mohon siauw-soesiok berikan pengajaran kepadaku,"

Ia memohon. Dengan tergesa-gesa, Sin Tjie berlutut juga, untuk membalas hormat.

"Jangan, jangan, tak berani aku terima hormatmu ini!"

Kata ia.

Ia pun lantas angkat bangun soetit itu.

(Dibelakang hari, karena ingat budinya Tjoei Tjioe San, yang telah ajarkan ia silat dan tolong jiwanya, Sin Tjie ajarkan juga Hie Bin beberapa rupa ilmu kepandaian, setelah mana, orang semberono ini selanjutnya telah jadi berubah bagaikan seorang lain).

Habis bersantap, empat orang ini masuk juga untuk tidur, tapi mereka tak dapat beristirahat lama, sang pagi sudah lantas datang, Baru saja mereka bangun, diluar sudah ada suara orang mengetok pintu, kemudian masuklah satu orang yang membawa karcis namanya Oen Beng Tat.

Dia ini undang Oey Tjin berempat.

"Kamu pandai sekali membikin penyelidikan,"

Kata Tong-pit Thie-shoeiphoa sambil tertawa.

"Dengan lekas sekali kamu telah dapat ketahui tempat mondok kami!"

Lantas mereka dandan dan ikut utusan Beng Tat itu.

Ketika sebentar kemudian mereka tiba dirumah keluarga Oen, disana sudah berkumpul banyak sekali penduduk kampung, sedang dilain pihak, dengan saling-susul, datang tukang-tukang pikul dari dalam kota yang angkut beras.

Beng Tat sudah kirim orang-orangnya kedalam kota Kie-tjioe, untuk beli beras itu.

Kota Kie-tjioe ada sebuah kota besar di Tjiatkang timur, kotanya pun makmur, akan tetapi untuk beli beras mendadak demikian banyak, sulit juga.

Beras ada tapi segera orang menaiki harga, hingga Beng Tat mesti membayar lebih mahal beberapa ratus tail perak.

Lebih dahulu Toayaya ini minta Oey Tjin periksa jumlah berasnya, habis itu, ia mulai membagi-bagikannya kepada sekalian penduduk kampung.

Mereka ini belum tahu duduknya hal, mereka semua heran kenapa tidak hujan tidak angin, jago-jago yang jahat dan kejam itu mendadak-sontak menjadi dermawan dan mengamal beras demikian banyak.

Oey Tjin saksikan Beng Tat membagi beras dengan rapi, walaupun itu dilakukan dengan sangat terpaksa, karena ini, tidak lagi ia menggoda jago tua itu, ia tidak mau mengejek.

Begitu lekas empat ratus pikul beras telah terbagi habis, tanpa ajal lagi, Sin Tjie totok Beng Gie dan urut-urut padanya, hingga jago she Oen yang kedua ini lantas saja sadar, cuma sebab ia telah ditotok sejak tadi malam dan diantapkan telalu lama, ia masih lemah, hingga ia cuma dapat menungkuli saja kemendongkolannya.

Pembagian beras dilakukan terus, sampai magrib, sampai habis semuanya seribu enam ratus pikul, selama mana, setiap empat ratus pikul, dengan menetapi janji, Sin Tjie totok sadar tiap jago she Oen itu hingga akhirnya, sadarlah semuanya empat jago.

Diakhirnya anak muda ini menjura kepada Ngo Tjouw dari Tjio Liang Pay itu.

"Harap dimaafkan, aku yang muda telah berbuat banyak kesalahan,"

Katanya. Oey Tjin tertawa, dia kata kepada kelima tuan rumahnya.

"Walaupun kamu telah hamburkan seribu enam ratus pikul beras, hal mana tentunya membikin sedikit sakit hatimu, akan tetapi karena itu namamu telah dapat diperbaiki tidak sedikit. Inilah satu perbuatan amal yang untuk kamu ada banyak kebaikannya. Maka janganlah kamu tidak menginsyafinya!"

Habis itu, Oey Tjin hendak ajak kawan-kawannya berlalu dari rumah keluarga Oen itu tetapi justru waktu itu, dari dalam bertindak keluar sambil berlari-lari dua orang perempuan, yang didepan Oen Gie, yang dibelakang gadisnya, Tjeng Tjeng.

"Wan Siangkong, apa kau hendak pergi sekarang?"

Oen Gie tanya. Anak muda itu manggut.

"Benar pehbo, siauwtit hendak berangkat sekarang,"

Jawabnya seraya terus minta pamit. Tubuhnya Oen Gie gemetar dengan tiba-tiba.

"Dimana sebenarnya kuburan dia?"

Nyonya ini tanya.

"Wan siangkong, tolong kau ajak aku pergi melihat kuburannya itu..."

Sin Tjie belum sempat menjawab atau ia dengar suara angin menyambar, hingga ia terperanjat.

Segera ia menoleh dan berlompat, dan dilain saat dengan beruntun ia dapat sanggapi empat potong hoeitoo, golok terbang.

Akan tetapi menyusul itu, Oen Gie menjerit keras,lalu tubuhnya terhuyung rubuh.

Dibelakangnya kelihatan tertancap sebatang golok terbang, nancapnya dalam sekali, karena hampir gagang golok turut terpendam!

Nyonya yang naas itu rubuh tanpa berkutik pula.

Tjeng Tjeng menjerit, ia tubruk ibunya itu, tangannya diulur, untuk cabut golok itu.

"Jangan cabut!"

Oey Tjin mencegah.

"Djika dicabut, dia akan menutup mata!"

Sin Tjie segera ketahui, siapa yang sudah lakukan pembokongan itu, maka tanpa bilang suatu apa, ia menimpuk dengan empat hoeitoo ditangannya terhadap Oen Beng Sie.

Soe-yaya itu telah umbar napsu amarahnya, ia mendongkol yang Sin Tjie tidak rubuh karena bokongannya tetapi ia puas dengan rubuhnya Oen Gie.

Habis menyerang, ia berdiri mengawasi dengan senyuman iblisnya, maka itu, ia bisa lihat si anak muda serang ia.

Untuk luputkan diri dari hoeitoo, yang bisa makan tuan, ia berkelit sambil gulingkan tubuhnya.

Ia berhasil.

Habis diserang, dia lompat bangun.Akan tetapi berbareng dengan itu, ia rasai bebokongnya, juga paha kanannya, menjadi baal dengan tiba-tiba, menyusul mana ia rubuh sendirinya.

Sin Tjie tahu, jago Tjio Liang Pay ini ahli golok terbang, sudah sewajarnya saja dia akan pandai menyelamatkan diri dari golok-goloknya yang liehay itu, maka itu, ia sudah lantas bertindak.

Begitu lekas ia menimpuk dengan empat ia susul serangannya dengan dua butir biji caturnya.

Malah karena ia gusar untuk ketelengasannya jago tua itu, ia menimpuk secara hebat.

Beng Sie tidak dapat tolong dirinya, ia rubuh seketika, napasnya berhenti....

Kapan si anak muda memandang Tjeng Tjeng, ia tampak si nona numprah ditanah sambil peluki tubuh ibunya, saking sedih, nona ini menangis tanpa mengeluarkan suara.

Ia lantas menghampirkannya, hingga ia lihat tegas sipatnya golok terbang itu, yang masih nancap dibelakang si nyonya.

Ia insyaf nyonya itu sukar dapat ditolong pula.

Maka tidak ayal lagi, ia menotok dua kali, setiap kalinya didekat iga, untuk menutup jalan darah, secara demikian, nyonya yang malang nasibnya itu jadi tak usah menderita lebih lama lagi.

Karena totokan itu, Oen Gie bisa buka kedua matanya.

Ia lagi menanggung sakit, ia meringis karena mencoba melawan itu, akan tetapi ia bisa pandang gadisnya sambil bersenyum.

"Jangan bersusah hati, Tjeng,"

Katanya kepada anak daranya itu.

"Sekarang aku dapat susul ayahmu, untuk menemuinya, dengan berada didamping ayahmu itu, tidak akan ada lagi orang yang berani menghina aku...."

Tjeng Tjeng menangis tersedu-sedu, ia manggut tetapi tak dapat ia mengucapkan katakata. Oen Gie memandang Sin Tjie, ia berkata pula .

"Wan Siangkong, ada satu hal tentang mana mesti kau beritahu aku dengan sebenar-benarnya, tak dapat kau menyembunyikannya sedikit juga..."

"Apakah itu, pehbo?"

Tanya si anak muda. Ia ini mengucurkan air mata saking terharu.

"Dia meninggalkan surat wasiat atau tidak?"

Oen Gie tanya.

"Dia pernah menyebut-nyebut aku atau tidak?"

"Hee Lootjianpwee telah meninggalkan seperangkat peta ilmu silat,"

Sin Tjie jawab.

"Ketika kemarin aku pecahkan Ngo-heng-tin, aku telah gunakan ilmu silat yang didapatinya dari peta itu. Dengan begitu bisalah dianggap aku telah balaskan dia punya sakit hati, hingga dendamannya terlampias sudah."

"Apakah dia tidak meninggalkan surat untukku?"

Oen Gie tanya pula. Sin Tjie menggelengkan kepala.

"Tidak,"

Sahutnya dengan pelahan. Nyonya itu nampaknya putus asa.

"Setelah dia minum itu racun, habislah tenaganya,"

Berkata nyonya ini dengan lemah.

"Diatas langit, rohnya lootjianpwee tentu ketahui itu,"

Sin Tjie menghibur,"

Tentu ia tidak akan sesalkan pehbo."

"Tentu dia telah menutup mata karena sakit dan berduka,"

Oen Gie kata pula.

"Pada mulanya, tentu sekali dia menyangka akulah yang racuni dia. Maka sekarang, walau duduknya perkara sudah jadi terang, toh sudah kasep..."

Sin Tjie sangat berduka, apapula kapan ia lihat kedua tangannya si nyonya telah dilonjorkan dan wajahnya berubah.

Tiba-tiba ia ingat pesannya Kim Tjoa Long-koen yang termuat didalam peta dalam Kim Tjoa Pit Kip.

Didalam kitab itu toh ada disebut namanya Oen Gie.

Maka lekas-lekas ia rogoh sakunya.

"Pehbo, lihat ini!"

Berkata ia seraya perlihatkan tulisannya Kim Tjoa Long-koen. Oen Gie sudah mulai rapatkan kedua matanya ketika ia lantas membukanya pula. Sesaat itu, mendadak saja ia jadi segar pula.

"Ya, inilah tulisan dia, tulisan dia!"

Katanya separuh berseru.

"Aku kenali tulisan dia!"

Bukan main terharunya Sin Tjie akan tampak kegirangan si nyonya mirip dengan kegirangan satu bocah. Oen Gie baca tulisan dipinggir peta itu .

"Siapa dapati mestika, dia mesti pergi ke Tjioliang di Kie-tjioe, Tjiatkang, untuk cari Oen Gie. Kepadanya harus diserahkan uang emas sejumlah sepuluh laksa tail...."

"Itulah dimaksudkan aku!"

Berseru pula si nyonya. Tiba-tiba saja ia tertawa, air mukanya jadi terang dan ramai. Ia sambar tangannya si anak muda, untuk dicekal dengan keras.

"Nyata dia tidak sesalkan aku!....Aku tak mau menerima uangnya itu.... Asal aku ketahui dia masih ingat aku, dia masih pikiri aku....Sekarang aku hendak pergi, aku hendak pergi menemui dia..."

Sin Tjie tahu tenaga si nyonya sudah hampir habis, maka ia ingin menghiburi Tjeng Tjeng. Oen Gie sudah tutup kedua matanya, atau tiba-tiba ia buka pula.

"Wan Siangkong, lagi dua hal aku hendak minta dari kau,"

Katanya.

"Dan aku ingin kau menerimanya dengan baik."

"Silahkan sebutkan itu, pehbo,"

Sin Tjie lantas berikan jawabannya.

"Segala apa yang aku sanggup, pasti aku akan menyanggupinya."

"Yang pertama-tama aku ingin kau nanti kubur aku didampingnya,"

Berkata nyonya yang bernasib buruk itu.

"Dan kedua....kedua...."

Sekonyong-konyong ia berhenti.

"Yang kedua.....apakah itu, pehbo?"

Sin Tjie tegaskan.

"Silahkan pehbo menyebutkannya...."

"Yang kedua itu....Kamu....kamu...."

Ia lantas tunjuk Tjeng Tjeng.

Tak dapat ia meneruskannya, lantas kedua matanya ditutup rapat, kepalanya teklok, dan ia tidak berkutik lagi.

Sin Tjie segera raba dada orang, napasnya si nyonya sudah berhenti jalan.

Tjeng Tjeng mendekam ditubuh ibunya, ia menangis meng-gerung-gerung.

Tapi ia tak menangis lama, segera ia pingsan.

Sin Tjie terkejut.

"Adik Tjeng, adik Tjeng!"

Ia memanggil, berulang-ulang.

"Tidak apa-apa,"

Oey Tjin bilang.

"Itulah disebabkan kedukaannya yang sangat...."

Soeheng ini nyalakan api tekesan, ia sulut sepotong sumbu, dengan itu ia asapkan hidungnya si nona, maka tidak lama, setelah berbangkis, Tjeng Tjeng ingat akan dirinya.

Ia buka kedua matanya dengan pelahan-lahan, nampaknya ia seperti hilang ingatannya.

"Bagaimana rasamu, adik Tjeng?"

Sin Tjie tanya, dengan pelahan.

Nona itu tidak menjawab.

Oey Tjin dan Siauw Hoei merasa aneh.

Mereka tidak tahu hubungan diantara Sin Tjie dan Oen Gie dan gadisnya nyonya ini.

Dimata mereka, ibu dan anak itu mesti ada anggauta keluarga Oen akan tetapi kenapa mereka justeru dicelakakan Ngo Tjouw dari Tjio Liang Pay?

"Adik Tjeng, mari kau turut kami,"

Kata Sin Tjie dengan air mata bercucuran.

"Tak dapat kau tinggal disini lebih lama pula..."

Tjeng Tjeng masih bungkam tetapi ia dapat manggut.

Tanpa bilang suatu apa, tanpa likat juga, Sin Tjie pondong tubuhnya Oen Gie, untuk terus dibawa bertindak keluar.

Diwaktu begitu, ia tidak ambil mumet lagi kepada keluarga Oen.

Tjeng Tjeng berbangkit, ia ikuti anak muda itu.

Oey Tjin, bersama-sama Siauw Hoei dan Hie Bin, pun segera bertindak akan tinggalkan tuan rumah.

Beng Tat dan tiga saudaranya dan yang lainnya pula, berdiri melongo, hati mereka panas.

Bukankah mereka telah dianggap sebagai bukan manusia lagi?

Tidak satu diantara rombongannya si anak muda gubris mereka dan mereka mesti antapkan saja orang bawa pergi dua anggauta keluarganya itu -anak perempuan, keponakan dan cucu!

Mereka menginsyafi liehaynya si anak muda dan soehengnya dia ini, mereka jeri, hingga tak berani mereka maju untuk menghalangi.

Sekeluarnya dari pekarangan, Oey Tjin berikan seratus tail perak pada Hie Bin, muridnya.

"Kau bawa uang ini kepada petani yang rumahnya kita tumpangi,"

Kata dia.

"Kau berikan uang ini kepada mereka, lalu kau minta mereka pindah malam ini juga!"

Hie Bin sambuti uang itu tetapi ia awasi gurunya, agaknya ia heran.

"Kenapa dia mesti pindah sekarang juga?"

Tanyanya.

"Pihak Tjio Liang Pay tidak dapat berbuat apa jua terhadap kita, pasti sekali mereka akan tumpleki kemendongkolannya terhadap lain orang,"

Sang guru menerangkan.

"Petani itu beri tempat menumpang kepada kita, pasti sekali diaorang bakal disatroni keluarga Oen itu."

Baru sekarang sang murid mengerti.

"Soehoe benar,"

Ia memuji.

Dan ia lantas lari kerumahnya si orang tani, untuk serahkan uang itu, buat minta mereka pindah lantas.

Sin Tjie tunggu sampai orang she Tjoei itu kembali, Baru mereka melanjuti perjalanan, akan tinggalkan desa Tjio Liang itu.

Mereka lakoni perjalanan terus selama tigapuluh lie lebih, Baru mereka singgah disebuah kuil tua dan rusak diatas satu bukit.

Tiga huruf "Leng Koan Bio"

Yang sudah hampir hapus adalah namanya kuil yang tak terawat itu.

"Disini kita beristirahat,"

Oey Tjin bilang. Mereka memasuki ruangan rusak dan kotor disana-sini, dengan gala-gasinya juga. Mereka duduk diruang tengah dimana tubuhnya Oen Gie diletaki didamping mereka.

"Bagaimana hendak kita urus jenazah nyonya ini?"

Tanya Oey Tjin. Itu adalah soal paling penting.

"Apakah kita kubur disini saja atau kita pergi kekota untuk merawatnya dahulu dengan baik?"

Sin Tjie tidak menjawab, ia kerutkan alisnya.

"Umpama kita pergi kekota untuk merawatnya dahulu,"

Menyatakan Oey Tjin.

"Aku kuatir kita tidak merdeka. Pembesar negeri tentu akan menanyakannya dengan melit. Kita boleh tidak usah kuatir tapi pasti sudah kita bakal ngalami kesulitan dan berabeh."

Dengan pikirannya ini, Oey Tjin menginginkan nyonya itu dikubur disitu saja.

"Tidak, itu tak dapat dilakukan!"

Tjeng Tjeng nyatakan tak setuju.

"Ibu telah menyatakan ia ingin dikubur bersama-sama ayah..."

"Dimanakah dikuburnya ayahmu itu?"

Tanya Oey Tjin. Tjeng Tjeng diam. Tak dapat ia menjawabnya. Ia tidak tahu dimana letaknya kuburan ayahnya itu. Maka ia awasi Sin Tjie.

"Digunung Hoa San kita!"

Kata Sin Tjie tanpa tunggu ditanya lagi. Oey Tjin heran, tak terkecuali Tjeng Tjeng sendiri.

"Ayahnya itu adalah Kim Tjoa Long-koen Hee Lootjianpwee, itu orang kang-ouw gagah dan aneh,"

Sin Tjie terangkan pula.

Usianya Oey Tjin tak berjauhan dengan usianya Kim Tjoa Long-koen, ketika ia mulai dapat perkenan akan berkelana, namanya Kim Tjoa Long-koen sudah menggetarkan dunia Rimba Persilatan, maka itu, berbareng heran ia pun menjadi kagum, hingga dengan sendirinya, ia tambah menghormati nyonya yang rebah didamping mereka.

"Aku mempunyai satu usul,"

Kata ia kemudian setelah ia berpikir sekian lama.

"Aku harap nona tidak buat kecil hati..."

Tjeng Tjeng lihat Oey Tjin sudah berusia lanjut.

"Silakan utarakan itu, loopeh,"

Kata dia. Oey Tjin tunjuk Sin Tjie.

"Dia ini ada soeteeku, dari itu tak dapat aku terima kau panggil loopeh padaku,"

Kata ia.

"Kau memanggil toako saja."

Hie Bin segera melirik pada Tjeng Tjeng.

"Begini gayanya, apa aku bukan mesti panggil koh padamu?"

Pikir dia.

"Kau toh cuma satu bocah perempuan..."

Tjeng Tjeng menoleh pada Sin Tjie, Baru ia menjawab.

"Apa yang toako bilang pasti aku akan dengar,"

Sahut ia, yang lantas ubah panggilannya.

"Ah, benar-benar celaka!"

Pikir pula Hie Bin, hatinya gentar, ia tergugu.

"Dengan tidak malu-malu lagi dia panggil toako pada soehoe!"

Si tolol ini sibuk memikirkannya, sudah punya paman cilik, sekarang ia bakal punyai lagi satu bibi demikian muda-belia...

Tentu sekali Oey Tjin tidak pernah sangka apa yang dipikirkan muridnya itu yang berdiri dengan melongo.

"Ibumu ingin dikubur bersama ayahmu, pasti mesti kita wujudkan keinginannya itu,"

Berkata pula Oey Tjin pada si nona, yang dalam sedetik saja menjadi adik perempuannya.

"Tapi pelaksanaannya itu sulit sekali. Jangan kita sebut-sebut dahulu halnya perjalanan dari sini ke Hoa San yang ribuan lie jauhnya, hingga untuk angkut layon saja sudah sukar. Umpamakan saja kita bisa sampaikan gunung Hoa San. Adik tentu tidak ketahui berapa tingginya gunung itu. Dari kaki gunung saja layon tak dapat dibawa naik kepuncak..."

Tjeng Tjeng mengawasi dengan tercengang.

"Begitu?"

Tanyanya.

"Habis bagaimana?"

"Masih ada satu jalan lain,"

Sahut Oey Tjin.

"Kita sambut tulang-tulang mendiang ayahmu itu, untuk dibawa kemari, untuk dikubur bersama jenazah ibumu. Jalan ini aku rasa ada kurang tepat. Sekarang ini ayahmu sudah berdiam dengan tenang, adalah kurang sempurna untuk ganggu ia dengan kepindahan tempat kuburannya."

Tjeng Tjeng bingung, hingga ia menangis pula.

"Habis?"

Tanya dia.

"Oleh karena semua kesulitan itu,"

Ujar pula Oey Tjin.

"aku pikir baiklah jenazah ibumu dibakar, lantas tulang dan abunya kita antar ke Hoa San untuk dikubur bersama ayahmu..."

Tjeng Tjeng tercengang.

Kurang setuju ia dengan usul itu.

Akan tetapi, apa daya?

Maka diakhirnya, selang beberapa saat, ia manggut, tapi air matanya mengucur dengan deras.

Oey Tjin lantas ajak Sin Tjie dan Hie Bin pergi keluar, untuk kumpuli rumput dan kayu bakar sedapat-dapatnya, untuk mengumpulkan itu, mereka ambil tempo sekian lama, setelah itu, tubuhnya Oen Gie dibawa keluar, akan dilain saat, pembakaran telah dimulai.

Sakit hatinya Tjeng Tjeng, ia mendekam ditanah dan menangis mengulun.

Sejak dilahirkan, ia seperti hidup menyendiri disebuah rumah-tangga yang istimewa, kecuali ibunya, tidak ada seorang lain juga yang menyayangi dia, sebaliknya, senantiasa orang tertawakan dia, sindir padanya, atau paling ringan, orang lirik ia secara dingin.

Suasana keluarga yang luar biasa itu membuat ia mempunyai tabeat yang luar biasa itu, ia jadi aneh dan bandel.

Sekarang, setelah ibunya meninggalkan ia sebatang-kara, ia pun mesti lihat tubuh ibunya diantara api yang berkobar-kobar besar.

Baca Juga: Kisah Si Naga Langit Kho Ping Hoo

Baca Juga: Bagus Sajiwo 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert