Eps 3 Pedang Ular Emas - Yin Yong
Baca online Pedang Ular Emas - Yin Yong
Cersil Pedang Ular Emas - Yin Yong.
"Loo-ya-tjoe, marilah!"
Si nyonya segera mengajak.
"Dengan memandang mata kepada sahabat she Wan ini, hari ini kita kasih ampun pada bocah ini..."
"Hm!"
Oen Tjeng menghina, selagi si orang tua belum sempat buka mulutnya.
"Melihat orang liehay, lantas hendak angkat kaki! Jadi tukang menghina si lemah tapi jeri kepada si kuat -tak malu?"
Sin Tjie kerutkan alis.
"Anak licik,"
Memikir ia "
Diri sendiri Baru lolos dari bahaya besar, sekarang kembali sudah mengeluarkan kata-kata tajam, sedikit juga tidak mau memandang orang...."
Benar-benar wanita itu menjadi sangat mendelu karena perkataan si orang muda ini, tapi ia pun berdiam, karena ia insyaf, melayani salah, tidak melayani salah juga...
Sampai disitu, si orang tua buka mulutnya.
Dasar ia berpengalaman.
"Lauwtee, kau liehay,"
Berkata dia kepada Sin Tjie.
"Rembulan permai, cuaca indah, angin pun sejuk, bagaimana jikalau kita berdua main-main sebentar?"
Pangtjoe dari Liong Yoe Pang menantang.
Dia ingin coba-coba Eng-djiauw-kangnya yang telah dia yakinkan lebih dari dua-puluh tahun lamanya.
Dia mau percaya, melihat usia muda orang, jikalau bertanding, tidak nanti dia kalah dari si anak muda.
Sin Tjie bersangsi.
Ia telah pikir.
"Jikalau aku layani dia, walaupun belum pasti aku kalah, tapi setelah bergebrak, itu artinya aku bantu Oen Tjeng. Dia ini tua, nampaknya dia berpandangan cupat, dia pun licin, pertempuran tentu tidak ada faedahnya. Kenapa aku mesti tanam bibit permusuhan?"
Maka itu lekas-lekas ia memberi hormat.
"Aku yang muda Baru pertama kali ini menginjak dunia kang-ouw, belum tahu aku tingginya langit dan tebalnya bumi,"
Berkata ia.
"maka itu, dengan kebisaanku ini yang tidak berarti, cara bagaimana aku berani melayani lootjianpwee?"
Eng Tjay bersenyum.
"Aku tidak sangka, dia begini muda tapi bisa sekali dia bawa diri,"
Pikirnya. Ia gunai ketika ini, untuk undurkan diri. Maka ia kata saja .
"Sahabat Wan, kau sungkan sekali..."
Tiba-tiba matanya mendelik, mendekati Oen Tjeng. Dia kata.
"Dibelakang hari mesti ada satu waktu yang aku si orang tua kasih rasa liehaynya kepadamu, bocah nakal!"
Terus ia menoleh kepada kawannya, yang bertubuh besar.
"Mari kita pergi!"
Ia mengajak.
"Berapa besar juga liehaymu, aku sudah tahu!"
Mendadak Oen Tjeng buka mulut pula.
"Kau lihat orang liehay, terang kau tidak berani melayaninya!"
Anak muda ini sengaja mengejek, untuk menghina, buat puaskan kemendongkolannya.
Ia pun sangat ingin saksikan pertempuran diantara mereka berdua.
Ia percaya si anak muda liehay dan si orang tua bukan tandingannya, toh ia hendak memaksakan.
Eng Tjay jadi serba salah.
Dan Sin Tjie jadi tidak senang untuk sikap orang itu.
Dalam murkanya, ketua Liong Yoe Pang kendalikan diri.
"Saudara Wan, walaupun kau masih muda sekali tetapi kau kenal persahabatan,"
Berkata dia. Lebih dahulu daripada itu kembali dia mendekati kepada si anak muda yang mulutnya liehay itu.
"Sahabat, mari kita main-main segebrak saja, supaja itu bocah tidak tahu diri tidak katakan aku tak punya nyali!"
"Oh, lootjianpwee, mengapa kau bersatu pandangan sebagai dia?"
Kata Sin Tjie sambil bersenyum.
"Dia omong main-main saja..."
"Kau jangan kuatir, aku pun tidak sungguh-sungguh,"
Eng Tjay mendesak. Kembali Oen Tjeng perdengarkan kata-katanya yang dingin dan tajam .
"Bilangnya tidak takut tapi masih tidak mau turun tangan! Masih omong tentang persahabatan saja! Ah, lebih baik jangan bertempur, dah! Sampai umurku begini besar, belum pernah aku tampak kejadian semacam ini! Maka aku bilang, lebih baik jangan bertempur!..."
Luber hawa-murka Eng Tjay, hingga dengan tiba-tiba dia sampok muka Sin Tjie, akan tetapi belum sampai serangan itu pada sasarannya, dia sudah tarik pulang kembali tangannya. Lantas dia kata.
"Sahabat Wan, mari, mari, aku ingin belajar kenal dengan kepandaianmu!"
Melihat demikian, Sin Tjie tidak bisa mundur pula. Tanpa loloskan bajunya, jang panjang, dia lompat ketengah kalangan.
"Aku harap lootjianpwee berkasihan terhadapku..."
Memohon dia.
"Kau baik sekali, sahabat Wan. Silakan!"
Sahut Eng Tjay tapi sambil menantang.
Sin Tjie tahu, apabila ia terus merendahkan diri, itu berarti penghinaan kepada si orang tua, dari itu, tanpa bilang suatu apa, ia segera kirim kepalannya jang pertama.
Ia bersilat dengan ilmu pukulan "Ngo-heng-koen"
Atau "Koentauw Panca logam".Ia serang dada sebagai sasaran.
Eng Tjay bertiga kawannya sangka si anak muda liehay sekali, maka itu, melihat orang datang-datang menyerang dengan Ngo-heng-koen, mereka lantas saja memandang enteng.
Oen Tjeng sendiri kecele bukan main, mukanya sampai pucat.
Ketua Liong Yoe Pang menjadi girang, lantas dia balas menyerang, dengan seru, hingga setiap pukulannya mengeluarkan sambaran angin menderu-deru.
Ia percaya, sebagai jago Eng-djiauw-kong, dengan tiga jurus saja, ia akan dapat rubuhkan pemuda ini atau sedikitnya ia bakal dapat pukul pecah Ngo-heng-koen.
Diluar dugaan dengan sederhana, melainkan dengan andali keentengan tubuh, Sin Tjie luputkan diri dari pelbagai serangan yang berbahaya, hingga karenanya, sekarang ia membuat terkejut dan heran kepada lawan yang tua itu.
Ia merasa aneh, ilmu silat umum sebagai Ngo-heng-koen itu bisa diubah menjadi kegesitan tubuh demikian rupa.
Biasanya Ngo-heng-koen dipakai secara keras, untuk menyerang hebat.
Lantas pertempuran berlanjut, sebagai kesudahan dari mana, ketua Liong Yoe Pang itu jadi semakin heran.
Tak dapat dia desak, untuk mendekati tubuh pemuda itu, hingga akhirnya, dia menjadi sibuk sendirinya.
"Teranglah orang ini mengalah terhadapku..."
Pikir dia.
"Kalau terus berlangsung begini, tentu Oen Tjeng bakal perhina kembali padaku..."
Inilah yang membuat ia sibuk dan kuatir.
Maka kembali ia mencoba menyerang, ia berlaku sungguh-sungguh ketika ia keluarkan jurus Eng-djiauw-kong.
Ia berlaku cepat, semua sasarannya ada tempat-tempat berbahaya.
"Eng-djiauw-kangnya ada begini rupa, inilah bukannya hasil dari satu hari satu malam,"
Pikir dia.
"Aku harus berikan muka padanya, jikalau aku tidak mengalah, Oen Tjeng tentu bakal buka pula bacotnya..."
Oleh karena memikir begini satu kali Sin Tjie sengaja berlaku ayal.
Eng Tjay girang sebab ia bakal dapat lowongan, tetapi ia juga tidak berniat mencelakai pemuda itu, ia ingin robek saja baju orang, karena ini juga sudah berarti kemenangan.
Demikian ia telah jambak pundak lawan.
Ia telah mengenai sasarannya, akan tetapi segera ia menjadi heran luar biasa.
Ia kena pegang sepotong daging yang menjadi keras dan licin dengan tiba-tiba, hingga ia mirip dengan nelayan yang menangkap ikan tapi lolos pula saking licinnya sang ikan.
Hal ini membuat ia heran dan terkejut.
Sin Tjie berkelit untuk segera lompat mundur dua tindak.
"Aku menyerah,"
Kata dia.
"Kau sengaja mengalah!"
Kata Eng Tjay sambil memberi hormat. Tapi Oen Tjeng segera nyelah, katanya .
"Dia benar-benar mengalah kepadamu, kau tahu tidak? Jikalau kau tahu, ja sudah!"
Padam wajahnya jago Liong Yoe Pang itu.
Ia merasa tersinggung.
Disaat ia hendak buka mulut, mendadak ada terlihat cahaya obor terang-terang didarat, beberapa puluh orang nampak sedang mendatangi, diantaranya ada yang ber-teriak-teriak.
"Eng Loo-ya-tjoe, apa bocah itu sudah kena dibekuk? Kami hendak iris-iris dia, untuk balaskan sakit hati See Loo Toa!"
Oen Tjeng lihat orang datang dalam jumlah besar sekali, mau atau tidak, hatinya ciut juga.
"Saudara-saudara Lauw, kamu berdua kemari!"
Ada jawaban pangtjoe dari Liong Yoe Pang.
Segera rombongan itu telah sampai ditepian, akan tetapi perahu berlabuh jauh dari mereka, maka dua diantaranya segera terjun keair, akan selulup dan berenang menghampirkan perahu, cepatnya seperti ikan berenang.
Begitu lekas mereka raba tepi kendaraan air, keduanya sudah loncat naik.
"Bungkusan berharga itu sudah dibuang bocah ini kedalam sungai, pergi kamu engko dan adik selulup dan cari!"
Eng Tjay kasi keterangan.
Ia menunjuk kearah mana tadi Oen Tjeng lemparkan bungkusannya.
Dua saudara Lauw itu lantas terjun pula kesungai, dalam sejenak, mereka sudah lenyap dari permukaan air.
Oen Tjeng masih ada dibelakang Sin Tjie, ia betot tangan baju orang.
"Tolong aku, mereka hendak bunuh padaku..."
Ia memohon sambil berbisik. Pemuda kita menoleh, ia lihat roman yang berduka, hingga ia jadi merasa kasihan, tanpa berayal, ia manggut.
"Kau tarik jangkar,"
Oen Tjeng minta pula.
Belum Sin Tjie menyahuti atau ia telah merasai lemasnya tangan Oen Tjeng, tangan yang halus dan lemah seperti tak ada tulang-tulangnya....
Eng Tjay lihat anak muda itu berbisik kepada si orang she Wan, ia lantas memasang mata, akan tetapi, dia masih kalah sebat.
Dengan sekonyong-konyong Oen Tjeng sambar meja, dengan itu ia menimpuk kepada ketiga musuhnya.
Si orang tubuh besar dan nyonya tidak menyangka, tak ampun lagi, keduanya rubuh kecebur ke air.
Eng Tjay masih sempat sambuti meja, ia telah menyambarnya sambil lompat berkelit.
Ia menyekal meja demikian keras, hingga kaki meja itu perdengarkan suara patah berkerekekan.
Ia luput dari bahaya tetapi ia bingung terhadap dua kawannya yang kecebur itu, karena ia tahu, mereka tak bisa berenang, sedang dua saudara Lauw -itu waktu -sudah berenang ketengah untuk selulupi bungkusan emas.
Ia lempar meja kesungai, supaya dua kawannya pakai untuk pepegangan.
Tapi ia gusar sekali, lantas saja ia serang si anak muda.
Oen Tjeng masih cekali dua potong kaki meja, ia tangkis serangan dengan gunai sepasang kaki meja itu sebagai senjata.
Ia terutama lindungi mukanya.
"Lekas!"
Ia teriaki Sin Tjie.
Cepat luar biasa, pemuda kita sambar rantai jangkar, ia menarik dengan kaget dan keras, hingga dilain saat, jangkar itu terangkat dari gili-gili, melayang pulang keperahu.
Melihat demikian, Eng Tjay kaget, tapi segera ia lompat menyingkir.
Oen Tjeng pun kaget dan turut menyingkir juga dari sambaran jangkar itu, dengan begini, ia jadi terpisah dari jago tua itu.
Akan tetapi Sin Tjie sendiri berlaku tenang, ia sambuti jangkar, untuk diletaki perlahanlahan dikepala perahu.
Justru karena jangkar diangkat, perahu itu segera saja hanyut dibawa air deras, dengan lekas orang-orang didarat ditinggalkan kendaraan air ini.
Selagi ia kagumi si pemuda, Eng Tjay pun kaget melihat jalannya perahu, tanpa berani banyak omong pula, ia menjejak perahu, untuk loncat kearah darat.
Sin Tjie tahu maksudnya, ia tahu juga, tak nanti orang tua itu sampai ditepi, lekas-lekas ia angkat papan jembatan perahu, ia lempar itu ke air disebelah depan si djago tua.
Eng Tjay sedang bingung, dia merasa pasti yang dia bakal kecebur keair, maka bagaimana lega hatinya, akan tampak selembar papan jatuh didepannya, ngambang dimuka air, maka segera dia injak itu, untuk dipakai menjejak pula, akan berlompat terus, dengan begitu, bisalah ia sampai dipinggiran sungai, kakinya menginjak daratan.
Berbareng berhati lega dan girang, ia pun jadi bersyukur kepada si pemuda, yang telah menunjukkan kebaikan hati kepadanya.
Ia juga kagumi liehaynya pemuda ini.
"Ah!"
Oen Tjeng berseru, dengan lesu.
"Kembali kau berbuat baik terhadap dia!....Sebenarnya kau bantui aku atau dia itu? Apakah bukan lebih baik akan antap dia kecebur? Dia toh tidak bakal kelelap mampus..."
Sin Tjie tahu orang beradat aneh, ia tidak mau melayani bicara, ia hanya bertindak kedalam perahu, akan rebahkan diri, buat tidur.
Oen Tjeng kecele, dengan masgul, ia pun masuk.
Perahunya sendiri hanyut terus...
Dihari kedua, tengah hari, perahu sampai di Kie-tjioe.
Sin Tjie menghaturkan terima kasih pada Liong Tek Lin, ia kasih persen sepotong perak pada tukang perahu.
"Jangan, biar aku yang berikan sekalian,"
Tek Lin mencegah. Saudagar ini insyaf, si pemuda adalah yang hindarkan bahaya, karenanya, ia berterima kasih kepadanya. Sin Tjie tidak hendak memaksa, ia membilang terima kasih pula, lalu ia pamitan.
"Aku tahu, kau juga tak nanti ijinkan aku bayar uang sewa perahu tapi aku tak sudi kau yang bayarkan,"
Berkata Oen Tjeng, yang lantas rogoh buntalannya, akan keluarkan sepotong perak beratnya kira-kira sepuluh tail.
"Ini untuk kau!"
Katanya pada tukang perahu kepada siapa ia lempar uang perak itu. Tukang perahu itu tercengang.
"Aku tak punya uang kecil...."katanya.
"Siapa ingin kau mengembalikannya?"
Jawab si anak muda.
"Itu semua untukmu!"
Tukang perahu itu sangsi.
"Tak usah demikian banyak...."katanya.
"He, banyak bacot!"
Bentak Oen Tjeng.
"Berapa aku suka kasih, aku kasih, buat apa kau ngoceh saja! Nanti aku bolongi perahumu sehingga tenggelam, Baru kau tahu!"
"Terima kasih, terima kasih, tuan,"
Kata tukang perahu itu kemudian.
Ia tahu orang telengas, ia tak berani membantah pula.
Ia jumput uang itu.
Oen Tjeng lantas buka bungkusannya, sehingga berkilauan cahaya kuning-emas dari kirakira tiga-ratus potong emas yang tiap potong terdiri dari kira-kira sepuluh tail.
Dengan tangan kanannya, si anak muda pecah uang itu jadi dua tumpukan, yang setumpuk diantap diatas meja, yang setumpuk lagi, ia bungkus pula, bungkusannya terus ia gendol dibelakangnya.
Dengan kedua tangan, ia tolak tumpukan yang satu itu kedepan Sin Tjie.
"Untuk kau!"
Katanya.
"Apa?"
Tanya Sin Tjie. Ia tidak mengerti. Oen Tjeng tertawa dengan manis.
"Apakah kau sangka benar-benar aku buang harta ini kedalam kali?"
Tanyanya.
"Itulah tolol! Biar mereka selulup timbul, untuk mencarinya, jikalau mereka berhasil, tentu mereka akan pungut sebungkusan batu saja!"
Lalu ia tertawa geli sekali.
Sin Tjie menghela napas.
Anak muda ini lebih muda daripada ia, toh satu tua-bangka sebagai Eng Tjay masih kena diperdayakan!
"Aku tidak membutuhkan ini, kau ambil sendiri,"
Ia menampik.
"Aku bantui kau bukan karena uang."
"Tetapi inilah pemberianku kepadamu,"
Si anak muda mendesak.
"Uang ini bukannya kau yang ambil sendiri! Kenapa berpura-pura jadi koentjoe palsu?"
Sin Tjie menggeleng kepala. Tek Lin ada satu saudagar yang banyak hartanya, tetapi menghadapi dua orang itu, ia heran sekali.
"Yang satu tak menghargai uang, yang lain tak memandangnya. Yang satu mendesak mengasih, yang lain keras menolak."
"Tidak peduli kau suka atau tidak, aku mesti berikan padamu!"
Kata si anak muda akhirnya, suaranya keras, tandanya ia gusar.
Lalu dengan sekonyong-konyong ia lompat kedarat!
Sin Tjie tercengang, tapi segera ia mendusin, ia pun lompat, untuk menyusul.
Oen Tjeng bisa lari keras, akan tetapi sejenak saja, ia dapat didahului.
"Tunggu!"
Sin Tjie kata sambil ia pentang kedua tangannya, untuk menghalangi.
"Kau bawa emasmu itu!"
Anak muda itu coba nerobos, kekiri dan kanan, sia-sia saja, tak mampu ia lewati si pemuda, dalam sengitnya, mendadakan ia serang mukanya pemuda itu.
Sin Tjie tangkis serangan itu, ia menolak dengan tangan kiri.
Sebenarnya ia tidak gunai tenaga, akan tetapi si anak muda mundur tiga tindak.
Menampak bahwa ia tak sanggup tobloskan cegatan, mendadak Oen Tjeng jatuhkan diri, untuk duduk ditanah, dengan tiba-tiba juga ia menangis sesenggukan.
"Kau sakit?"
Tanya Sin Tjie, jang heran dan kuatir. Ia sangka tangkisannya membuat anak muda itu merasai sakit pada lengannya.
"Foei!"
Berseru Oen Tjeng, yang lompat bangun dengan tiba-tiba, terus ia loncat lagi, untuk menyingkir.
Sin Tjie melongo ia awasi Oen Tjeng lenyap dari pandangan matanya.
(Bersambung bab ke 6) "Benar-benar koekoay!"
Kata ia sambil ngeloyor balik ke perahu.
Ia kagumi kepandaian anak muda itu, tetapi ia heran tabeat yang mendelukan tapi juga menggelikan.
Terpaksa ia bungkus tumpukan uang itu, untuk dibawa pergi, dari Tek Lin, ia ambil selamat berpisah.
Ia pergi kekota, akan cari sebuah hotel.
"Tak lega hatiku jikalau uang ini aku tidak dapat kembalikan kepada si anak muda,"
Ia berpikir selagi ia duduk terpekur dalam kamarnya.
"Aku kasihan padanya, sebab itu aku bantu dia,maka jikalau aku terima pemberiannya itu, tidakkah namaku jadi jelek? Dia bilang dia ada orang Tjioliang, kenapa aku tidak susul dia dirumahnya? Jikalau dia tetap menolak, aku nanti letaki uang di rumahnya itu dan tinggal pergi!...."
Karena ini besokannya, setelah cari keterangan tentang jalanan ke Tjio-liang, Sin Tjie gendol bungkusannya, ia menuju ketempat itu, jang terpisahnya dari kota Kietjioe cuma dua-puluh lie, hingga tak ada setengah jam, ia sudah sampai.
Tjio-liang ada satu dusun kecil, yang berdampingan sama bukit Lan Ko San.
Nama dusun itu, dan bukitnya juga, mempunyai cerita dongeng sebagai berikut .
Di jaman purbakala ada satu tukang kayu yang pergi ke bukit itu mencari kayu bakar.
Dia ketemu dua dewa asyik main catur.
Dia menonton.
Ketika satu babak berakhir dan ia menoleh pada kampaknya, kampak itu "bonyok"
Sendirinya. Dan ketika ia pulang, rumahnya, orangnya semua, sudah berubah, karena ternyata, dia telah pergi untuk lamanya beberapa puluh tahun.
"Lan Ko"
Berarti "kampak bonyok" , demikianlah, gunung itu ada dua puncak yang tersambung satu pada lain dengan satu batu besar dan panjang, yang merupakan penglari.
Itu pasti bukan batu buatan manusia dan terpalangnya disitu bukan pekerjaan manusia juga, maka orang-orang tua anggap itu ada buah-kesaktian dewa.
Maka itu, tempat itu dipanggil "Tjio-liang"
Yang berarti "penglari". Selagi berjalan untuk cari rumah orang she Oen, Sin Tjie berpapasan dengan seorang tani perempuan.
"Enso, numpang tanya, disini dimana tinggalnya keluarga Oen?"
Tanyanya. Orang perempuan itu terkejut nampaknya.
"Tidak tahu!"
Sahutnya. Dan air mukanya berubah tak senang, dia pun lantas berjalan pergi dengan cepat. Sin Tjie heran, akan tetapi ia jalan terus. Ia sampai pada sebuah toko.
"Numpang tanya disini dimana tinggalnya keluarga Oen?"
Ia tanya pemilik toko.
"Ada apa saudara tanya keluarga Oen?"
Balik tanya si tuan toko dengan tawar.
"Aku hendak kembalikan serupa barang,"
Sin Tjie terangkan.
"Kalau begitu, kau ada sahabatnya si orang she Oen! Habis, untuk apa kau menanyakannya kepadaku?"
Kata tuan toko itu. Sin Tjie heran berbareng jengah.
"Kenapa seorang dagang begini kasar kelakuannya?"
Tanya ia kepada diri sendiri. Ia ngeloyor, lalu ia hampirkan dua bocah yang lagi memain diujung jalanan. Ia keluarkan sepuluh uang tangtjhie, ia sesapkan itu dalam tangannya satu bocah.
"Saudara kecil, mari antar aku kerumah keluarga Oen!"
Minta dia. Bocah itu sudah genggam uang yang diberikan padanya, atau ia segera kembalikan.
"Rumah keluarga Oen? Itu dia yang besar!"
Jawabnya.
"Aku tak sudi pergi kerumah itu!"
Kembali Sin Tjie menjadi heran, akan tetapi segera ia mengerti, rupanya keluarga Oen itu tak disukai sesama penduduk sehingga tak ada orang yang ingin bergaul dengannya.
Ia hanya tidak tahu, apa yang menyebabkan kesungkanan itu.
Ia segera bertindak kearah rumah besar yang ditunjuk si bocah.
Dari jauh-jauh sudah terdengar suara riuh dari banyak orang, yang datang dari arah rumah keluarga Oen itu, dimana pun berkerumun puluhan orang tani yang pada bawa pacul dan garu.
Selagi mendekati, Sin Tjie dengar nyata teriakan mereka .
"Kamu telah aniaya tiga orang, apa boleh dengan begitu saja? Orang she Oen, lekas keluar, ganti jiwa!"
Diantara mereka itu ada tujuh atau delapan orang perempuan dengan rambut riap-riapan yang sambil duduk ditanah, menangis menggerung-gerung, dan menjerit-jerit.
"Saudara, kau sedang bikin apa?"
Tanya Sin Tjie pada satu orang.
"Siangkong ada orang asing, kau tentu tidak tahu kejadian ini,"
Sahut orang yang ditanya itu.
"Keluarga Oen ini ada cabang atas disini, mereka menjagoi. Kemarin mereka pergi menagih sewa tanah kekampung. Empeh Thia minta tempo, buat beberapa hari saja, tapi si empeh dijoroki, dia rubuh, kepalanya, kena batu, terus dia binasa. Anak dan keponakan empeh Thia gusar, mereka membelai, tetapi mereka kena dilabrak hingga luka-luka. Coba pikir, siangkong, apa tuan tanah begitu tidak kejam?"
Selagi petani itu memberi keterangan kepada pemuda kita, suara riuh bertambah-tambah, ada orang tani yang gunai garunya menyerang pintu, ada yang jumput batu-batu untuk dipakai menimpuk kedalam pekarangan.
Sekonyong-konyong pintu pekarangan terbuka lebar, satu bajangan melesat keluar, sebelum orang melihat tegas, sudah ada tujuh atau delapan petani yang terpelanting, rubuh jauhnya dua-tiga tumbak, sehingga kepala mereka mengeluarkan darah!
"Dia gesit sekali,"
Pikir Sin Tjie. Ia lantas mengawasi. Bajangan itu ada seorang dengan tubuh kurus dan jangkung, kulit mukanya semu kuning tetapi sepasang alisnya berdiri. Kelihatan nyata, dia mestinya pandai silat.
"Hai, kamu, mahluk-mahluk seperti anjing dan babi!"
Membentak orang itu.
"Kenapa kamu datang mengacau kemari?"
Orang ini menanya demikian, akan tetapi, belum sempat orang jawab dia, dia sudah menyerang pula, hingga lagi beberapa orang terjatuh sungsang-sumbal.
Sin Tjie lihat orang bertenaga besar, dia melempar-lempari orang seperti sedang melempar-lemparkan ikatan-ikatan jerami.
"Entah terkena apa dia dengan Oen Tjeng?..."
Pikirnya.
"Coba itu malam dia ada beserta Oen Tjeng, tentu leluasalah mereka melayani Eng Tjay, sehingga tak perlu aku berikan bantuanku..."
Itu waktu seorang tani dari usia pertengahan dan dua orang muda majukan diri.
"Kamu telah bunuh orang, apa itu dapat disudahi secara begini saja?"
Tanya mereka.
"Memang benar kami ada orang-orang melarat akan tetapi sekalipun melarat, kami mempunyai jiwa!"
Si jangkung-kurus itu tertawa dingin.
"Hm! Hm! Jikalau belum aku mampusi lagi beberapa jiwa, tentu kamu belum tahu rasa!"
Berseru dia.
Mendadak tubuhnya mencelat maju, lantas si orang usia pertengahan kena dicekuk pada bebokongnya, kapan tubuhnya telah diangkat, tubuh itu segera terlempar ke ujung tembok timur!
Kedua petani muda menjadi sangat gusar, dengan berbareng mereka menyerang dengan pacul mereka.
Si kurus menangkis dengan tangannya yang kiri, sekejab saja kedua batang pacul kena tersampok lepas dan terpental, menyusul mana, tubuhnya dua petani itu disambar seorang dengan sebelah tangan, lantas diangkat untuk dilemparkan keatas batu besar yang menjadi tunggul tiang bendera dimuka pintu pekarangan.
Sebegitu jauh dia menyaksikan, hati Sin Tjie panas, tetapi ia masih dapat berlaku sabar.
Ia pikir tak boleh ia lancang mencampuri urusan yang ia belum tahu duduknya.
"Baik aku tunggu sebentar, nati aku minta bertemu dengan Oen Tjeng, untuk kembalikan uangnya, lantas aku pergi pula,"
Pikirnya.
Siapa tahu setelah lihat nasibnya si orang usia pertengahan, ia pun tampak bencana yang mengancam kedua pemuda tani itu, dengan mendadak saja ia ubah pikirannya.
Lupa ia segala apa.
Mendadak ia berlompat, dengan sangat sebat ia sambuti tubuhnya kedua petani muda itu hingga tak usahlah mereka jatuh terbanting!
Kemudian dengan pelahan-lahan, ia turunkan tubuh mereka itu.
Gerak sebat dan luar biasa itu ada "Gak Ong Sin Tjiang" , atau "Panah gaib dari Gak Hoei" , ialah salah satu pelajaran yang Sin Tjie peroleh dari Bhok Siang Toodjin.
Sebenarnya dia tak pikir untuk pertontonkan kepandaian yang istimewa itu, tetapi untuk tolong kedua pemuda tani, ia tak dapat berbuat lain.
Ia pun sudah pikir setelah ketahui rumah si orang she Oeng, baik sebentar malam saja ia datang pula, untuk kembalikan emasnya Oen Tjeng.
Ia pun tahu, si jangkung-kurus akan jadi tidak senang, maka untuk singkirkan kerewelan, lantas ia memutar tubuh, akan bertindak pergi.
Kedua petani muda, yang ketolongan, berdiri bengong bahna kaget dan heran.
Si jangkung kurus tak terkecuali, ia heran dan kagumi kegesitan dan tenaga besar dari pemuda tak dikenal ini.
Tapi kapan ia lihat orang hendak pergi, ia memburu.
"Sahabat, tunggu dulu!"
Menegur dia sambil tepuk pundaknya pemuda kita.
Ia menepak bukan menepak belaka, berbareng ia telah gunai ilmu mengerahkan tenaga "Tjian kin lat" -"Tenaga seribu kati".
Sin Tjie tidak berkelit, cuma dengan turunkan sedikit pundaknya, ia sudah bebas dari tepakan yang akan merupakan bandulan seribu kati itu.
Iapun tidak lakukan serangan membalas, Ia cuma memutar tubuh.
Kembali si jangkung-kurus terkejut.
"Apakah tuan ada undangan mereka itu untuk mempersulit aku?"
Tanya dia. Ditanya begitu, Sin Tjie lekas memberi hormat.
"Maafkan aku,"
Ia mohon.
"Aku kuatir nanti terbit perkara jiwa, yang bisa membuat banyak berabe, maka dengan lancang aku tolongi mereka. Lauwhia mempunyai kepandaian begini rupa, kenapa kau berpandangan sama seperti orang-orang dusun ini?"
Melihat sikap menghormat dan perkataan itu halus, sedang kepandaian orang pun ia puji, si jangkung-kurus ini surut separuh hawa-amarahnya.
"Kau she apa , tuan? Ada urusan apa kau datang ketempat kami ini?"
Ia tanya.
"Aku she Wan,"
Sin Tjie sahuti.
"Ada satu sahabatku yang she Oen, apa dia tinggal disini?"
"Aku pun orang she Oen. Siapa itu yang tuan cari?"
"Sahabat itu berumur delapan atau sembilan belas tahun, romannya cakap sekali, ia dandan sebagai mahasiswa,"
Sin Tjie terangkan. Si jangkung-kurus manggut-manggut. Lantas ia hadapi beberapa puluh orang tani itu, yang masih belum bubaran.
"Apakah kamu cari mampus? Buat apa kamu masih berdiam disini?"
Ia tanya mereka, suaranya, sikapnya, bengis sekali.
Melihat orang asing itu bicara bagaikan sahabat dengan si orang she Oen itu, sedang keduanya mereka ini berilmu silat tinggi, orang banyak itu lantas saja ngeloyor pergi.
"Silakan masuk, tuan. Mari minum teh!"
Si jangkung-kurus lantas undang tetamu asing itu.
Sin Tjie terima baik undangan itu, ia turut masuk, maka ia dapati sebuah rumah jang besar, dengan thia jang lebar, dibagian tengah ia lihat pian dengan empat huruf besar .
"Sie Tek Bian Tiang" . Itu adalah pujian untuk kebijaksanaan kekal-abadi bagi keluarga itu. Perabotan lainnya menunjukkan bahwa keluarga Oen ada satu keluarga besar dan berharta. Tuan rumah undang tetamunya duduk dan orangnya segera suguhi mereka air teh, kemudian ia tanya siapa gurunya tetamu ini, menanya secara berulang-ulang. Sin Tjie merasa, walau sikapnya ramah-tamah, tuan rumah itu masih kandung perasaan tak puas terhadapnya, dari itu, ia berlaku hati-hati.
"Tolong minta Oen Tjeng Siangkong keluar, aku hendak serahkan serupa barang kepadanya,"
Ia minta tanpa jawab pertanyaan orang.
"Oen Tjeng itu ada adikku,"
Sahut si jangkung-kurus.
"Aku sendiri ada Oen Tjheng. Adikku sedang pergi keluar, baik saudara tunggu sebentar."
Sebenarnya tak ingin Sin Tjie bergaul dengan tuan rumah ini, yang ia duga ada bangsa cabang atas yang galak dan jahat, tetapi karena Oen Tjeng tidak ada, terpaksa ia menunggu juga.
Sampai tengah-hari, Oen Tjeng masih belum kembali.
Tak suka Sin Tjie serahkan emas ditangan orang lain, terpaksa ia menunggu terus.
Selama itu, Oen Tjheng telah perintah siapkan barang hidangan yang lezat, terdiri dari masakan daging, ayam, ikan dan sayur, hingga mau atau tidak, tetamu ini mesti turut dahar.
Sampai mulai lohor, selagi matahari mulai doyong ke Barat, masih Oen Tjeng belum pulang.
Sampai itu waktu, habis sudah kesabaran Sin Tjie.
Ia lantas letaki bungkusannya diatas meja.
Sekarang ia pikir, karena itu ada rumahnya Oen Tjeng, tak perlu ia bersangsi pula.
"Inilah barang adikmu itu, tolong saudara sampaikan kepadanya,"
Ia bilang.
"Ijinkan aku pamitan...."
Justru itu, dari luar rumah terdengar suara tertawa riuh, suaranya orang-orang perempuan. Sin Tjie kenali, diantaranya ada suara tertawanya Oen Tjeng.
"Nah, itu adikku pulang!"
Berkata Oen Tjheng, yang segera berbangkit, untuk pergi keluar. Sin Tjie putar tubuhja, untuk turut, tetapi tuan rumah mencegah.
"Harap saudara Wan duduk saja dulu,"
Ia minta. Sin Tjie heran, akan tetapi ia batal ikut keluar. Aneh, ia menunggu sekian lama, tidak juga Oen Tjeng muncul. Oen Tjheng adalah yang kembali sendirian.
"Adikku hendak salin pakaian, sebentar ia keluar,"
Kata tuan rumah ini. Masih pemuda ini menantikan sekian lama, Baru kelihatan Oen Tjeng muncul, dengan wajah berseri-seri.
"Saudara Wan, aku sangat bersyukur dengan kunjunganmu ini!"
Katanya.
"Kau lupai barang ini, saudara Oen, aku bawakan,"
Bilang Sin Tjie. Ia tunjuk bungkusan emas diatas meja.
"Kau tak lihat mata padaku, bukan?"
Oen Tjeng tanya, tampangnya berubah.
"Tidak, itulah aku tak berani,"
Sahut Sin Tjie.
"Aku hendak pergi sekarang."
Ia memberi hormat kepada dua saudara itu. Oen Tjeng tidak membalas hormat, ia hanya cekal tangan baju orang.
"Aku larang kau pergi!"
Katanya. Pemuda itu melengak. Oen Tjheng nampaknya heran, wajahnya pun berubah.
"Ada satu hal aku hendak tanyakan kepada kau, Wan Toako,"
Oen Tjeng, menambahkan.
"Maka aku harap hari ini kau berdiam sama kami disini."
"Aku mempunyai urusan penting di kota Kie-tjioe, lain hari saja aku mampir pula kemari,"
Sin Tjie menampik.
"Ah, tidak,"
Oen Tjeng mencegah, dengan memaksa.
"Kalau Wan toako mempunyai urusan penting, tak dapat kita halangi dia,"
Oen Tjheng turut bicara.
"Jangan kita menghambat dia."
"Baik!"
Kata Oen Tjeng akhirnya.
"Jikalau kau tetap hendak pergi, bawalah ini bungkusan bersamamu! Kau tak sudi berdiam di rumahku, terang kau tak pandang mata kepadaku!"
Sin Tjie berdiam.
"Kau baik sekali, saudara Oen,baiklah,"
Sahut ia akhir-akhirnya. Dengan tiba-tiba, Oen Tjeng jadi sangat girang.
"Lekas siapkan kue!"
Ia menitah kepada bujang.
Oen Tjheng nampaknya tak senang, tetapi ia tidak meninggalkan mereka, ia terus duduk menemani, hanya selama itu, ia bicara kadang-kadang saja.
Oen Tjeng ajak tetamunya bicara tentang pelbagai kitab.
Mengenai ilmu syair, Sin Tjie merasa asing, tapi mengenai ilmu perang, itu adalah keyakinannya sejak masih kecil.
Tuan rumah bisa imbangi kegemaran tetamunya, ia lantas omong banyak tentang peperangan.
"Heran,"
Pikir Sin Tjie.
"Dia bertabeat aneh akan tetapi pembacaannya luas."
Dipihak lain, Oen Tjheng beda dari adiknya itu.
Dia mengerti ilmu silat dengan baik akan tetapi budek atau buta mengenai ilmu surat.
Nampaknya ia sebal mendengari orang bicara hal sastera tetapi toh ia tidak hendak undurkan diri...
Karena merasa tak enak hati sendirinya, Sin Tjie ajak si jangkung-kurus itu bicara tentang ilmu silat, suka dia melayani, akan tetapi belum mereka bicara banyak, Oen Tjeng sudah lantas menyelak dan geser pembicaraan ke lain soal.
Dimata Sin Tjie, dua saudara itu beda satu dari lain.
Dan juga, walaupun Oen Tjheng ada sang kakak, nampaknya dia jeri terhadap adiknya, sama sekali dia sungkan bentrok.
Malah kalau kena disenggapi, kakak ini tertawa....
Sementara itu juga kelihatan nyata, Oen Tjeng bermaksud baik, kecuali sangat ramahtamah, dia senantiasa berseri-seri, dia gembira sekali.
Kapan sang sore tiba, orang menghadapi pula barang hidangan, kali ini, semua-semua ada lebih hebat daripada yang disuguhkan tadi tengah hari.
"Aku merasa lelah, ingin aku tidur siang-siang,"
Kata Sin Tjie sehabis bersantap.
"Tempat kediamanku ini ada satu tempat kecil, maka adalah sukar untuk mendapat kunjungan tetamu sebagai kau ini, saudara Wan,"
Berkata Oen Tjeng.
"Sebenarnya aku ingin sekali kita menghadapi lampu untuk pasang omong tentang pelbagai soal, tetapi sebab kau lelah dan ngantuk, baiklah, besok saja kita bicara lebih jauh."
"Saudara Wan, mari tidur dikamarku,"
Berkata Oen Tjheng.
"Dikamarmu mana bisa ketempatan tetamu?"
Kata Oen Tjeng.
"Tentu saja kamarku!"
Wajah Oen Tjheng, sang kanda, berubah.
"Apa?"
Tegasi dia.
"Ada apa sih jeleknya?"
Oen Tjeng tanya.
"Aku sendiri akan tidur sama ibu!"
Bukan kepalang tak senangnya Oen Tjheng, tetapi tanpa bilang suatu apa, malah tanpa permisi lagi dari Sin Tjie, dia ngeloyor pergi.
"Hm, tak tahu aturan!"
Oen Tjeng , sang adik, ngoceh sendirian.
"Dia tak kuatir orang nanti tertawai!"
Tak enak hatinya Sin Tjie karena engko dan adik itu bentrok karena urusannya.
"Sudah biasa bagi aku akan tinggal ditempat sunyi, untukku tak usah saudara terlalu memusinginya,"
Kata dia. Oen Tjeng lantas saja bersenyum.
"Baik, aku tak akan terlalu memusingi!"
Katanya. Tapi toh ia sembat tjiaktay, ia bawa itu .
"Mari turut aku!"
Sin Tjie mengikuti.
Mereka melewati dua pekarangan dalam, sampai diruangan ketiga dimana dari arah timur mereka mendaki tangga lauwteng.
Dimuka kamar, tuan rumah menolak daun pintunya.
Sekelebatan, mata Sin Tjie kesilauan.
Hidungnya pun segera terserang serupa bau harum.
Kamar itu diterangi sebatang lilin besar, yang apinya terang.
Kelambu terbuat dari kain mahal, sedang sprei tersulam burung hong warna kuning.
Ditembok ada gambar seorang wanita lukisannya Tong In.
Didepan pembaringan ada satu meja yang lengkap dengan bakhie, kertas dan lainnya perabot-tulis, malah pitnya sampai enam-tujuh batang.
Diujung meja sebelah barat ada satu pot bunga soei-sian, sedang diatas para-para ada seekor burung nuri putih.
Dia datang dari gunung, tak heran Sin Tjie kagum dengan kamar ini, hingga ia tercengang.
"Inilah kamarku,"
Oen Tjeng beritahu. Ia tertawa.
"Baik saudara beristirahat disini satu malam ini."
Tanpa tunggu tetamunya menyahuti, Oen Tjeng singkap moeilie, akan berlalu pergi.
Sin Tjie periksa seluruh ruangan, sampai ia tak dapatkan sesuatu apa jang mencurigai, Baru ia tutup pintu.
Selagi ia hendak buka baju, untuk naik tidur, tiba-tiba ia dengar ketokan pada pintu, ketokan yang pelahan sekali.
"Siapa?"
Tanya ia. Pertanyaan itu dijawab sama tertolaknya daun pintu dan muncullah satu bujang perempuan umur enam atau tujuh belas tahun, romannya cantik dan cerdik, ditangannya ada sebuah nampan.
"Wan siauwya, silakan dahar tiat-sim,"
Ia mengundang.
Ia letaki nampan diatas meja.
Itu adalah semangkok yan-oh.
Pemuda ini ada puteranya satu kepala perang, akan tetapi sejak masih kecil sekali, ia telah tinggal didalam desa, diatas gunung jang sunyi, maka itu, belum pernah ia tampak minuman istimewa itu, tidak heran, ia tak tahu apa itu yan-oh.
Ia pun Baru pernah kali ini bicara dengan orang perempuan remaja, ia likat sendirinya, wajahnya menjadi bersemu dadu.
"Namaku Goat Hoa, Wan Siauwya,"
Kata si kacung sembari tertawa manis.
"Siauwya yang tugaskan aku melayani kepadamu. Jika Siauwya perlu apa-apa, perintah saja aku, nanti aku kerjakan."
"Tidak apa-apa lagi,"
Bilang Sin Tjie dengan ringkas. Ia pun memang tak tahu apa lagi yang ia butuhkan. Goat Hoa undurkan diri pelahan-lahan.
"Itulah buatan siauwya sendiri istimewa untuk Wan Siauwya!"
Kata dia.
Sin Tjie melengak, tak tahu apa ia mesti bilang.
Goat Hoa bertindak keluar sembari tertawa, dengan pelahan ia tarik rapat daun pintu.
Sin Tjie buka bajunya, ia singkap selimut dan naik keatas pembaringan.
Itu adalah satu pembaringan yang harum sekali sehingga bisa bikin orang tak sadar akan dirinya....
Tanpa curiga, Sin Tjie jatuh pulas.
Akan tetapi tengah malam, ia sadar karena ia dengar suara tertawa pelahan diarah jendela -tertawa cekikikan.
Ia memang waspada dan getap.
Tiba-tiba terdengar ketokan pelahan pada jendela, dua kali, yang segera disusul dengan suara tertawa empuk dan kata-kata.
"Rembulan bercahaya, angin sejuk, malam indah....Saudara Wan, tak kuatirkah kau akan mensia-siakan waktu yang begitu bagus?"
Sin Tjie kenali suaranya Oen Tjeng.
Ia menoleh kearah jendela.
Diantara kelambu, ia tampak sinar rembulan yang permai.
Ia pun lihat bajangan orang bergelantungan didepan jendela, kaki diatas kepala dibawah.
Orang itu sedang mengintai kedalam kamar.
"Baik, aku nanti pakai baju dan keluar,"
Pemuda ini menyahuti.
Tertarik rasa heran Sin Tjie, ia jadi sangat ingin tahu kelakuannya tuan rumah yang luar biasa itu.
Hendak ia ketahui, sebenarnya tuan rumah itu ada orang macam apa.
Setelah pakai baju, ia selipkan pisau belati di pinggangnya.
Begitu pentang daun jendela, bau wangi menyerang hidungnya.
Nyatalah kamar itu mempunyai jendela yang menghadap taman bunga.
Oen Tjeng sendiri sudah mendahului loncat turun dari payon rumah dimana ia barusan bergelantungan.
"Mari turut aku!"
Ia mengundang sambil terus bertindak lebih dahulu.
Ditangannya, ia menenteng sebuah naya.
Tanpa bilang suatu apa, Sin Tjie mengikuti.
Tuan rumah itu keluar dari dalam taman dengan jalan loncati tembok pekarangan, sesampainya diluar, ia berlari-lari dengan cepat menuju kebukit dan lalu mendakinya.
Sin Tjie terus mengikuti sambil berlari-lari juga.
Hampir sampai dipuncak, Oen Tjeng menikung, sampai dua kali, lantas mereka sampai disatu tempat dimana angin halus mendesir-desir, bau harum datang dari empat penjuru dimana terdapat pohon-pohon bunga.
Sinar rembulan ada indah sekali, mirip dengan salju putih, hingga tertampak nyata bunga-bunga mawar putih dan kuning.
"Mirip dengan tempat pertapaan!"
Sin Tjie memuji saking kagum.
"Semua pohon bunga ini adalah hasil tanamanku sendiri,"
Oen Tjeng kasi keterangan.
"Kecuali ibu dan bujang-bujang perempuan, lain orang, siapapun dilarang datang kemari!"
Dengan tenteng terus nayanya, Oen Tjeng jalan didepan, pelahan-lahan.
Sin Tjie mengikuti terus, dengan perasaan seperti melayang-layang.
Tanpa merasa, sekarang hilanglah sikap berhati-hatinya.
Mereka sampai disebuah paseban kecil mungil.
"Silakan duduk,"
Oen Tjeng mempersilakan seraya ia turunkan nayanya, untuk buka itu, akan keluarkan satu poci arak berikut dua cangkirnya, cangkir-cangkir mana terus ia tuangi penuh arak dari potji tersebut.
"Disini orang dilarang dahar barang berjiwa,"
Kata pemuda she Oen ini.
Dan ia keluarkan beberapa rupa sayur.
Sin Tjie dapatkan semua itu adalah terbuat dari jamur, bokdjie dan lainnya.
Masih Oen Tjeng keluarkan serupa barang dari dalam nayanya itu, ialah sebatang seruling kuningan.
"Aku nanti tiup serupa lagu untuk kau dengar,"
Kata dia.
Sin Tjie manggut.
Segera anak muda itu tiup alat musiknya itu, suaranya pelahan.
Sin Tjie asing dengan alat-alat tetabuhan akan tetapi waktu itu ia rasai dirinya bagaikan terapung-apung diawang-awang, ia seperti merasa berada diwilayah dewa-dewa, bukan lagi didalam dunia...
Oen Tjeng meniup habis satu lagu, ia tertawa.
"Kau gemar lagu apa?"
Tanyanya.
"Nanti aku mainkan untukmu..."
"Ah, kau tahu banyak sekali?"
Kata Sin Tjie.
"Mengapa kau begini cerdas?"
Pemuda itu angkat dahinya, ia tertawa.
"Apa benar?"
Katanya. Ia angkat pula serulingnya, ia tiup lagi sebuah lagu, yang tekukannya terlebih halus dan merdu. Sejak dia dilahirkan, belum pernah Sin Tjie mengalami suasana sebagai ini.
"Apakah lagu ini enak didengarnya?"
Tanya pula Oen Tjeng sehabis meniup.
"Didalam dunia ada lagu begini merdu, mimpi pun aku tak pernah,"
Sahut pemuda she Wan ini.
Kedua mata Oen Tjeng memain, ia bersenyum.
Mereka duduk dekat satu dengan lain, hidungnya Sin Tjie dapat tangkap bau harum, kecuali harumnya bunga mawar juga sedikit wangi yantjie dan pupur, hingga kembali ia merasa, anak muda disampingnya ini benar-benar tak punyakan sifat keperwiraan...
"Kau suka dengar atau tidak aku meniup seruling?"
Oen Tjeng tanya selagi orang berpikir.
Sin Tjie manggut.
Kembali Oen Tjeng bawa seruling kepinggir mulutnya, akan mulai meniup pula.
Kembali Sin Tjie mendengari dengan pikiran turut melayang-layang pula.Sedangnya begitu, mendadak suara seruling berhenti, disusul sama suara patahnya alat musik tiup itu.
Pemuda kita terkejut.
"Eh, eh, kenapa? Kenapa?"
Tanyanya.
"Bukankah kau...kau meniupnya dengan baik-baik."
Oen Tjeng tunduk.
"Biasanya tak pernah aku tiup seruling untuk lain orang dengari..."
Sahutnya dengan pelahan.
"Mereka semua cuma gemar geraki golok, mainkan pedang. Mereka tak suka dengar lagu..."
"Tapi aku tidak dustakan kau, sesungguhnya aku suka mendengari,"
Sin Tjie bilang.
"Toh besok kau bakal pergi! Begitu kau pergi, kau tidak bakal kembali. Untuk apa aku tiup pula serulingku?"
Dalam herannya, Sin Tjie mengawasi. Oen Tjeng berhenti sebentar, lalu ia menambahkan .
"Aku insyaf tabeatku buruk, akan tetapi tak dapat aku atasi diriku... Aku tahu kau sebal terhadapku, didalam hatimu, kau tak melihat mata padaku..."
Heran dan bingung adalah si anak muda, hingga ia diam saja.
"Itulah sebabnya mengapa kau selanjutnya tak bakal datang pula,"
Kata lagi Oen Tjeng.
"Ini adalah untuk pertama kali aku berkelana,"
Berkata Sin Tjie kemudian.
"Tak bisa aku mendusta. Kau bilang, didalam hatiku, aku tak memandang mata kepadamu, bahwa aku sebal terhadapmu. Bicara hal yang benar, tadinya benar aku beranggapan demikian, akan tetapi sekarang adalah lain."
"Apa?"
Tanya Oen Tjeng, dengan pelahan.
"Ya. Aku lihat, tentu ada apa-apa yang mendukakanmu, maka juga tabeatmu jadi luar biasa begini. Apakah itu? Apa bisa kau tuturkan itu kepadaku?"
Sahabat itu berdiam, sampai sekian lama, sampai mendadak ia angkat kepalanya.
"Suka aku memberitahukan kepadamu, namun aku kuatir kau nanti tak memandang mata kepadaku,"
Kata dia.
"Itulah tak akan terjadi!"
Sin Tjie memastikannya. Oen Tjeng kertak giginya.
"Baiklah!"
Katanya kemudian.
"Aku nanti beri keterangan padamu!"
Sin Tjie mengawasi, ia mendengari.
"Ketika dahulu ibuku masih muda remaja, ia telah kena diperhina oleh satu manusia busuk, karenanya, terlahirlah aku,"
Demikian pemuda itu menerangkan.
"Celakanya, engkong luarku, yang hendak labrak orang busuk itu, sudah tidak sanggup lakukan itu, karena ia tak dapat memenangkannya. Baru belakangan engkong dapat kumpul lebih dari sepuluh kawan yang liehay, bersama-sama mereka barulah manusia busuk itu dapat dibikin kabur. Begitulah maka aku tidak punyakan ayah...."
Bicara sampai disitu, Oen Tjeng berhenti, air matanya lantas mengalir.
"Kalau begitu, tak dapat kau dipersalahkan, tak dapat juga ibumu disesalkan,"
Kata Sin Tjie, yang menghibur.
"Jang salah adalah manusia busuk itu."
"Akan tetapi lain orang tak sependapat sebagai kau,"
Kata Oen Tjeng.
"Di depan, mereka tak berani bilang suatu apa, dibelakang, diam-diam mereka caci aku, mereka pun caci ibu..."
"Hm, siapa si manusianya yang demikian hina-dina?"
Seru Sin Tjie.
"Baik, aku janji padamu, aku nanti bantu kau menghajar manusia jahil mulut itu! Sekarang tak lagi aku jemu terhadapmu, umpama kau suka anggap aku sebagai sahabat, pasti aku akan datang pula kepadamu!"
Oen Tjeng girang hingga ia loncat berjingkrak. Melihat tingkah orang itu, Sin Tjie tertawa.
"Aku janji untuk kembali, kau girang bukan?"
Tanyanya, tertawa.
"Kau toh bilang, kau bakal datang kembali."
"Memang tidak nanti aku memperdayakan kau."
Sekonyong-konyong ada suara berkeresek dibelakang mereka. Sin Tjie menduga ada orang, ia segera berbangkit sambil putar tubuh. Ia pun segera dengar suara yang dingin sekali. Katanya .
"Tengah malam buta-rata kasak-kusuk disini, kamu bikin apa, he?"
Orang itu jangkung dan kurus.
Dia adalah Oen Tjheng.
Wajahnya suram-guram karena hawa amarah yang meluap-luap.
Dia berdiri tegak dengan kedua tangan dipinggang.
Oen Tjeng pun kaget, akan tetapi kapan ia kenali Oen Tjheng, sang kakak, ia gusar.
"Perlu apa kau datang kemari?"
Dia menegur.
"Tanyalah dirimu sendiri!"
Oen Tjheng membalas.
"Aku sedang gadangi rembulan bersama saudara Wan ini! Siapa undang kau?"
Sang adik menegur pula.
"Siapa juga dilarang datang kemari, kecuali ibuku! Samyaya bilang ini! Kau berani melanggarnya?"
Oen Tjheng tunjuk Sin Tjie.
"Dia ini? Kenapa dia datang kemari?"
Ia balik tanya.
"Aku undang dia! Kau tak berhak mencampurinya!"
Tak enak hatinya Sin Tjie karena engko dan adik itu bentrok karena dia.
"Sudah cukup kita gadangi rembulan, mari kita pulang,"
Katanya.
"Aku tidak sudi pulang!"
Kata Oen Tjeng.
"Kau duduk!"
Sin Tjie duduk pula. Oen Tjheng berdiri diam, tapi hatinya terang tak tenteram.
"Semua bunga ini adalah tanaman tanganku sendiri, aku larang kau melihatnya!"
Kata Oen Tjeng dengan gusar kepada kandanya itu.
"Aku telah lihat semuanya, sekarang aku hendak cium baunya,"
Oen Tjheng jawab.
Benar-benar ia dekati beberapa tangkai bunga, untuk dicium berulang-ulang.
Meluap hawa-amarahnya Oen Tjeng, dia berloncat bangun, dia sambar pohon bunga, dia cabuti itu dengan kedua tangannya, setiap kali ia mencabut, ia terus lemparkan.
Ia berbuat itu sambil menangis.
"Baik, baik, kau menghina aku, kau menghina aku!"
Dia berteriak-terial.
"Sekarang aku cabut pohon-pohon mawar ini, siapa pun tak bisa melihatnya lagi! Sekarang tentu Barulah kau puas!"
Lebih daripada dua-puluh pohon mawar telah menjadi korban.
Oen Tjheng tetap sangat gusar, akan tetapi dia bungkam, ia putar tubuhnya dan bertindak dengan mengarungi penasaran.
Baru beberapa tindak, ia toh menoleh dan berkata .
"Aku berlaku baik terhadapmu, begini rupa kau perlakukan aku. Coba pikir sendiri olehmu, kau punyai liangsim atau tidak?"
Oen Tjeng menangis.
"Siapa kesudian kau berlaku baik kepadaku?"
Kata dia.
"Jikalau kau tidak suka lihat padaku, pergi kau minta semua yaya usir aku dari sini! Aku akan berdiam disini bersama saudara Wan ini! Pergi kau mengadu kepada yaya semua, aku tak takut!"
Oen Tjheng menghela napas, lantas ia ngeloyor pergi. Ia tunduk, nampaknya ia berduka sekali. Oen Tjeng kembali kedalam paseban dan duduk.
"Kenapa kau bersikap begini kepada kandamu?"
Tanya Sin Tjie.
"Dia bukannya engko kandungku!"
Sahut Oen Tjeng.
"Ibuku ada dari keluarga Oen, dan disini ada rumahnya engkong luarku. Dia adalah anaknya engko tjintong ibu. Maka benarnya dia adalah kakak misanku. Coba aku punyakan ayah, pasti kami punyakan rumah sendiri, tak usah kami tinggal dirumah lain orang dimana kita jadi terima penghinaan."
Ia menangis pula. Sin Tjie tetap heran, terutama atas perangainya yang aneh ini.
"Aku lihat dia bersikap baik terhadapmu, adalah kau, kau yang berlaku galak terhadapnya..."
Katanya. Oen Tjeng angkat kepalanya, tiba-tiba ia tertawa.
"Jikalau aku tidak galaki dia, dia bakal lakukan segala apa yang bukan-bukan!"
Jawabnya. Walaupun ia merasa aneh atas kelakuan lucu tapi aneh ini, sebentar nangis, sebentar tertawa, kapan Sin Tjie ingat dirinya, yang juga sebatang kara, ia jadi bersimpati terhadap pemuda ini.
"Juga ayahku orang telah aniaya hingga binasa,"
Katanya.
"Ketika itu aku Baru berumur tujuh tahun. Ibuku pun meninggal dalam tahun itu..."
"Apakah kau telah menuntut balas?"
Tanya Oen Tjeng.
"Malu aku menerangkan, aku tak beruntung..."
"Jikalau kau hendak menuntut balas, aku nanti bantu padamu!"
Menyatakan Oen Tjeng.
"Tidak perduli musuhmu itu bagaimana liehay, aku pasti bantu kau!"
Sin Tjie sangat bersyukur, hingga ia cekal keras tangan orang.
"Terima kasih,"
Kata dia. Oen Tjeng tarik tangannya akan tetapi toh kena dicekal juga. Ia antapkan.
"Dalam hal boegee kau terlebih pandai sepuluh lipat daripadaku,"
Kata pemuda she Oen.
"Akan tetapi mengenai penghidupan dalam kalangan sungai telaga, kau rupanya masih asing sekali, maka itu dibelakang hari, aku nanti bantu kau dengan pikiran."
"Kau baik sekali. Aku tak punya kawan yang usianya berimbang, Baru sekarang aku menemui kau..."
"Melainkan adatku jelek,"
Mengakui Oen Tjeng sambil tunduk.
"Aku kuatir nanti datang suatu hari yang aku berbuat salah terhadapmu..."
"Aku pandang kau sebagai sahabat, aku tahu tabeatmu ini, umpama kau kejadian berbuat salah, aku tak akan buat perhatian,"
Sin Tjie bilang. Oen Tjeng jadi sangat girang, ia menghela napas lega.
"Adalah didalam hal ini yang hatiku tak tenang,"
Ia bilang. Sin Tjie lihat perubahan sikap orang. Sekarang Oen Tjeng jadi sangat lemah-lembut, lenyap ketelengasannya waktu ditengah sungai.
"Aku hendak bicara sama kau, saudara Oen, entah kau suka dengar atau tidak..."
Katanya.
"Didalam dunia ini, cuma tiga orang jang aku dengar perkataannya,"
Sahut anak muda itu.
"Yang pertama adalah yayaku, yang kedua ibuku, dan yang ketiga...kau!"
Hatinya Sin Tjie tergerak.
"Nyata kau hargai aku,"
Katanya.
"Sebenarnya, perkataan siapa juga, asal yang pantas, harus kita dengar."
"Hm, tak mau aku sembarang dengar! Siapa perlakukan baik padaku, asal aku...aku suka padanya, tidak perduli kata-katanya pantas atau tidak, aku suka dengar dia. Jikalau manusia yang aku jemu, biar dia omong pantas, tidak nanti aku dengar!"
Sin Tjie tertawa.
"Kau bertabeat bocah! Berapa usiamu sekarang?"
"Delapan belas tahun. Kau?"
"Aku lebih tua dua tahun."
Oen Tjeng tunduk, mendadak wajahnya berubah merah.
"Aku tidak punya engko, apa tidak baik jikalau kita angkat saudara?"
Ia bicara dengan pelahan, masih ia tunduk.
Sin Tjie ada terlalu teliti untuk segera terima baik tawaran itu.
Ia masih belum ketahui jelas pemuda ini sekalipun orang sendirinya telah mempercayainya.
Oen Tjeng tidak dapat jawaban, ia bangun berdiri, mendadak ia lari.
Sin Tjie terkejut, ia memburu.
Ia lihat orang lari keatas puncak.
"Ia beradat keras sekali. Tak dapat dia disinggung, tak boleh dia tak terkabul keinginannya..."
Ia jadi kuatir pemuda itu nampak bencana, maka ia memburu dengan cepat, kali ini ia gunai ilmu entengi tubuh, atau ilmu lari keras, ajaran Bhok Siang Toodjin.
Maka dalam beberapa rintasan saja, sudah dapat ia menyandak, malah ia segera mendahului, akan menghalang disebelah depan.
"Adik Oen, kau gusar kepadaku?"
Tanyanya. Mendengar ia dipanggil "adik", Oen Tjeng girang dengan tiba-tiba. Ia berhenti lari, lantas ia duduk.
"Kau tidak lihat mata padaku, kenapa kau panggil aku adik?"
Tanya dia.
"Kapan aku tak lihat mata padamu?"
Balas tanya Sin Tjie.
"Mari, mari, mari, disini saja kita angkat saudara!"
Benar-benar keduanya berdiri berendeng, lalu mereka paykoei dengan berbareng, menghadap si Puteri Malam, akan angkat sumpah sebagai saudara, untuk hidup senang dan susah ber-sama-sama.
Kemudian mereka berbangkit.
Lantas kepada Sin Tjie, Oen Tjeng memberi hormat sambil menjura seraya memanggil.
"Toako!"
Suaranya pelahan. Sin Tjie balas hormat itu.
"Baik aku panggil kau djie-tee,"
Ia bilang. Djie-tee adalah adik.
"Sekarang sudah jauh malam, mari kita pulang dan tidur."
Oen Tjeng menurut lantas mereka balik ke paseban, untuk benahkan naya, lalu dengan bergandengan tangan, mereka lari pulang.
"Jangan kau banguni ibu, kita tidur disini saja,"
Kata Sin Tjie sesampainya mereka didalam kamar. Mukanya Oen Tjeng merah mendadak, tangannya menolak.
"Kau....kau...."
Katanya yang terus tertawa.
"Sampai besok..."
Dia lari keluar kamar, hingga anak muda kita menjadi melengak.
"Aneh!"
Pikirnya. Besoknya pagi-pagi, Sin Tjie sudah bangun seperti biasa, terus ia bercokol diatas pembaringan, untuk bersamedi, tapi ketika Goat Hoa muncul dengan tiamsim dan air, ia loncat turun.
"Terima kasih,"
Kata ia kepada kacung itu. Kemudian, selagi anak muda ini dahar tiamsim, Oen Tjeng muncul didalam kamarnya.
"Toako, di luar ada datang satu nona.
"katanya sambil tertawa.
"Katanya dia datang untuk menagih emas. Mari kita lihat."
"Baik,"
Sahut Sin Tjie.
Maka keduanya lantas pergi keluar, ke thia besar.
Disini mereka saksikan satu pertempuran dahsyat .
Oen Tjheng sedang layani satu nona.
Dikedua pinggiran dua orang tua asyik menonton sambil duduk.
Orang tua yang satu menyekal sebatang tongkat, yang lain bertangan kosong.
Oen Tjeng hampirkan orang tua yang memegang tongkat dikuping siapa ia terus berbisik, atas mana orang tua itu menoleh kepada Sin Tjie, untuk dipandang dengan perhatian, sesudah mana, dia manggut-manggut.
Sin Tjie lihat wanita yang lagi bertanding itu, yang ia taksir umurnya delapan atau sembilan-belas tahun, kedua belah pipinya bersemu merah, parasnya cantik sekali.
Ia menduga-duga, siapa nona itu.
Pertempuran itu berlangsung sepuluh jurus lebih, dua-dua tetap tangguh nampaknya.
Sekonyong-konyong hati Sin Tjie tergerak, ia bersangsi.
Nona itu tiba-tiba merangsek, ujung pedangnya menyambar kearah pundak Oen Tjheng.
Mereka memang berkelahi dengan gunai senjata tajam.
Gegaman Oen Tjheng adalah tantoo, golok sebatang.
Tusukan itu hebat sekali, tapi yang ditusuk segera menangkis.
Jikalau pedang kena tertangkis, mestinya terpental.
Tapi si nona gesit dan liehay, tak tunggu pedangnya disampok, dia telah putar itu, untuk dikelitkan akan diteruskan menusuk leher!
Oen Tjheng kaget, ia mencelat mundur tiga tindak.
Masih si nona tak mau berhenti, dia juga loncat akan menyusul, akan menusuk pula, buat menabas beberapa kali ketika tusukannya lolos dan beberapa tabasannya tidak memberi hasil.
Desakannya itu ada sangat membahayakan.
Sekarang Sin Tjie sudah lihat nyata gerak-gerakan tubuh orang, kaki dan tangan.
Nona itu bukan murid dari Hoa San Pay akan tetapi sedikitnya dia mesti pernah terima didikan dari salah satu murid Hoa San Pay itu, kalau tidak, tidak nanti dia sanggup layani terus pada Oen Tjheng.
Tidak perduli dia garang, pedangnya liehay, akan tetapi didalam hal latihan dan ketenangan, dia bukan tandingannya pemuda she Oen ini, yang hatinya mantap.
Oen Tjeng pun lihat si nona bukan lawannya itu kakak misan, maka sambil bersenyum tawar, dia kata seorang diri .
"Hm, dengan kepandaian seperti ini berani datang untuk menagih emas!..."
Memang, setelah gagalnya desakannya itu, si nona mulai kendor gerakannya, tetapi didepan ia, Oen Tjheng tetap seperti biasa, malah sekarang, pemuda ini mulai mendesak, satu bacokan demi satu bacokan yang mengancam sekali.
Sin Tjie lihat keadaan telah sampai disaat paling genting, mendadakan ia lompat maju kedalam kalangan, menyelak diantara kedua orang yang lagi bertempur itu.
Ia menempuh bahaya, karena justru itu, pedang dan golok lagi saling sambar, hingga dia mesti menjadi talenan.
Oen Tjeng kaget hingga ia menjerit.
Kedua orang tua juga loncat bangun dari kursi mereka, akan tetapi mereka masih tak sempat memburu untuk mencegah perbuatan berbahaya itu.
Akan tetapi Sin Tjie tak tampak bencana walaupun golok dan pedang sambar ia.
Dengan tangan kanan, dengan pelahan, ia tolak lengannya Oen Tjheng.
Dengan tangan kiri, dengan pelahan juga, ia sambuti lengannya si nona.
Ia bebas dari serangan sebab segera ia mendak diantara mereka, cuma kedua tangannya membujur keatas.
Dengan tangkisan semacam ini, tidak ampun lagi, kedua tangan dari dua-dua penyerang kena tertolak mundur, dengan begitu, dengan sendirinya juga, pedang dan golok mereka tak dapat meminta korban.
Coba ia inginkan itu, dengan leluasa Sin Tjie bisa teruskan merampas pedang dan golok orang itu, tapi ia sudah tidak berbuat demikian, ia kuatir Oen Tjheng mendapat malu dan menjadi tak senang.
Juga dengan cara ini, ia telah membuat kaget dua orang yang adu jiwa itu, sebab tidak saja tangan mereka tertolak, tubuh mereka juga mesti mundur beberapa tindak, supaja mereka tak usah rubuh terbalik.
Tanpa merasa, tangkisan Sin Tjie telah menggempur juga kuda-kuda mereka itu.
Maka mereka menjadi kaget dan heran, mereka menjadi gusar juga.
Oen Tjheng gusar berhubung dengan kejadian semalam dipuncak dimana ia tak dapat muka dari adik misannya ia malu sendirinya terhadap pemuda tetamunya itu.
Si nona tak dikenal menjadi gusar karena ia menyangka Sin Tjie, yang keluar dari dalam, adalah konconya lawan itu.
Akan tetapi ia insyaf kegagahan orang itu, ia tahu ia tak bakal berhasil, dari itu bukannya ia menegur atau menyerang, ia hanya loncat pula, mundur, untuk angkat kaki.
"Nona, tunggu dulu!"
Sin Tjie mencegah apabila ia lihat sikap orang.
"Aku hendak bicara!"
"Tak dapat aku lawan kamu!"
Berseru nona itu dalam murkanya.
"Bakal ada lain orang yang terlebih pandai dariku, yang akan datang pula akan menagih emas! Kau ingin apa?"
Sin Tjie menjura kepada nona itu.
"Jangan gusar, nona,"
Berkata dia.
"Aku ingin ketahui she dan namamu yang terhormat..."
"Foei!"
Si nona berludah.
"Siapa sudi ngobrol denganmu!"
Dengan satu loncatan, nona ini mencelat keluar pintu. Sin Tjie menjejak dengan kaki kirinya, tubuhnya mencelat hingga ia dapat lewati nona itu, didepan siapa ia menghalang.
"Jangan pergi dulu!"
Kata dia.
"Aku bantu padamu!"
Nona itu melengak, ia mengawasi.
"Kau siapa?"
Tanya dia.
"Aku orang she Wan,"
Jawab Sin Tjie. Nona itu berdiam, ia mengawasi dengan matanya mencilak.
"Apakah kau kenal An Toa-nio?"
Tanya si nona. Sin Tjie rasai tubuhnya seperti menggigil, telapakan tangannya panas.
"Aku Sin Tjie!"
Ia memperkenalkan diri.
"Kau toh Siauw Hoei?"
Mendadak si nona kegirangan hingga ia lupa akan dirinya. Ia sambar tangannya si anak muda dan tarik itu.
"Benar, benar!"
Serunya.
"Kau benar-benar Wan Toako!"
Tapi segera si nona lepas pula cekalannya, mukanya menjadi merah. Ia jengah. Oen Tjeng saksikan itu semua, ia menjadi tak leluasa sendirinya. Oen Tjheng sebaliknya lantas berseru .
"Aku kira kau siapa, saudara Wan, kau kiranya ada mata-matanya Lie Tjoe Seng yang dikirim kepada kami disini!"
Sin Tjie tertjengang. Ia benar-benar tak mengerti.
"Aku kenal Giam Ong, itulah benar,"
Kata dia.
"Tapi itu tak dapat diartikan aku adalah mata-mata dia. Nona ini ada sahabat lamaku, sudah lebih dari sepuluh tahun kami berpisah dan tak pernah bertemu satu dengan lain. Kenapa kamu berdua bentrok? Bagaimana jikalau aku beranikan diri untuk damaikan kamu kedua pihak."
"Jikalau dia keluarkan emas yang aku minta, baru urusan dapat diselesaikan,"
Kata Siauw Hoei.
"Apakah demikian gampang?"
Kata Oen Tjheng dengan mengejek.
"Saudara, mari aku ajar kenal,"
Berkata Sin Tjie.
"Nona ini ada nona An Siauw Hoei. Ketika kami masih kecil, kami tinggal bersama. Sampai sekarang ini, sudah sepuluh tahun kami tak pernah saling bertemu."
Dengan dingin Oen Tjheng awasi si nona, ia tidak memberi hormat, ia pun diam saja. Tak enak hatinya Sin Tjie karena sikap orang itu.
"Bagaimana kau kenali aku?"
Pemuda ini lalu tanya si nona An.
"Itulah tanda diatas jidatmu!"
Jawab Siauw Hoei.
"Bagaimana aku bisa lupakan itu? Ketika kita masih kecil, ada datang orang hendak culik aku, dengan mati-matian kau tolong padaku dan kau kena dilukai. Apakah kau telah lupa?"
Memang dijidatnya Sin Tjie ada sedikit tanda luka. Anak muda ini tertawa, dia kata.
"Pada hari itu kita sedang main masak-masakan dengan pakai mangkok dan kwali kecil!"
Wajahnya Oen Tjeng menjadi berubah.
"Pergilah kamu pasang omong, aku hendak masuk kedalam..."
Kata dia. Terang dia tidak puas.
"Tunggu sebentar!"
Sin Tjie mencegah. Ia kaget untuk sikapnya pemuda itu.
"Siauw Hoei, bagaimana duduknya maka kau jadi bentrok dengan Oen Toako ini?"
"Aku bersama...bersama Tjoei Soeheng..."
Kata Siauw Hoei. Tapi segera ia dipegat.
"Tjoei Soeheng?"
Demikian Sin Tjie.
"Apa bukannya Siokhoe Tjoei Tjioe San?"
"Dia ada cucu keponakannya Siokhoe Tjoei Tjioe San,"
Siauw Hoei terangkan.
"Kami mengantari sejumlah uangnya Giam Ong untuk propinsi Tjiatkang. Dia ini orang busuk, ditengah jalan dia merampasnya!..."
Dia tuding Oen Tjeng.
Baru sekarang Sin Tjie ketahui, emasnya Oen Tjeng itu ada hartanya Giam Ong.
Jangan kata Giam Ong pernah sambut ia secara terhormat, dan gurunya -Tjoei Tjioe San -sedang bantui Giam Ong itu, walaupun hanya karena Tjoei Tjio San, An Toa-nio dan Siauw Hoei bertiga saja, pasti dia bantui pihaknya Siauw Hoei ini.
Lain dari itu, emas itu Giam Ong kirim jauh dari Siamsay ke Tjiatkang, mestinya itu ada penting sekali.
Bukankah Giam Ong lagi bergerak untuk tolong rakyat?
Bagaimana ia bisa tak berikan bantuannya?
Maka lantas ia ambil putusannya, ia kata kepada Oen Tjeng .
"Saudara, tolong kau lihat aku, baik kau kembalikan emasnya itu."
"Hm!"
Oen Tjeng jawab.
"Kau ketemui dulu kedua yayaku ini, Baru kita bicara."
Mendengar kedua orang tua itu adalah yayanya Oen Tjeng (engkong), Sin Tjie pikir, harus ia beri hormatnya, sebab ia toh telah angkat saudara dengan cucu mereka itu.
Tidak ayal lagi, ia hampirkan mereka didepan siapa ia paykoei.
Si orang tua, yang memegang tongkat, berseru .
"Ah, mana aku sanggup terima kehormatan ini? Saudara Wan, silakan bangun!"
Dimulut orang tua ini mengucap demikian, akan tetapi dengan kedua tangannya -setelah ia senderkan tongkatnya dipinggiran kursi -ia pegang kedua ujung bahu si anak muda, untuk dikasih bangun, untuk mana ia telah kerahkan tenaga khie-kangnya.
Sin tjie terkejut kapan ia rasai cekalan yang keras, yang membikin tubuhnya seperti hendak terangkat, apabila ia diam saja, tentu tubuhnya bakal terapung tinggi.
Maka untuk mencegah, ia lekas-lekas kerahkan juga tenaganya.
Secara begini, tanpa terganggu, ia bisa manggut terus sampai empat kali.
Oran tua itu kaget dalam hatinya.
"Liehay khiekangnya anak ini,"
Berpikir ia.
"Dengan latihanku dari puluhan tahun masih aku tidak sanggup angkat tubuhnya..."
Maka ia lantas saja tertawa berkakakan dan terus kata.
"Tjeng-djie bilang saudara Wan mempunyai boegee liehay, itulah benar!"
Artinya Tjeng-djie adalah "anak Tjeng"
Atau "si Tjeng".
"Inilah sam-yaya.
"Oen Tjeng terangkan. Kemudian ia menunjuk kepada orang tua yang bertangan kosong.
"Ini adalah Ngo-yaya,"
Ia tambahkan.
"Rupanya mereka ini adalah dua diantara Ngo-tjouw dari Tjio Liang Pay,"
Pikir Sin Tjie.
"Tjouw"
Berarti ketua atau leluhur kaum. Maka itu, ia pun memanggil .
"Yaya". Sam-yaya itu.
"engkong"
Ketiga, ada Oen Beng San, dan Ngo-yaya, ada Oen Beng Go. Mereka tidak senang dipanggil "yaya", maka itu mereka diam saja. Sin Tjie heran atas kelakuan itu, ia pun jadi tak senang.
"Ayahku ialah panglima pahlawan penentang musuh, jenderal di Liauwtong, dengan aku angkat saudara dengan cucu kamu, itu toh tak merendahkan derajatmu?"
Kata dia dalam hatinya. Tapi segera ia menoleh kepada Oen Tjeng.
"Aku minta saudaraku, kau kembalikanlah emasnya nona ini."
"Kau senantiasa menyebut nona, nona saja, tetapi lain orang, tak kau perhatikan!"
Membalas Oen Tjeng.
"Saudara, kita yang meyakinkan ilmu silat, kita harus hargakan kehormatan,"
Berkata pula Sin Tjie.
"Emas itu ada kepunyaan Giam Ong, waktu kau rampas, kau tidak ketahui, karenanya, itu tak menjadi soal. Sekarang kita telah mengetahuinya, apabila kita tidak mengembalikannya, itu artinya kita tak me-mandang-mandang."
Oen Beng San dan Oen Beng Go juga tidak tahu suatu apa mengenai emas itu, mereka sangka itu ada satu kepunyaan suatu saudagar besar, Baru sekarang mereka ketahui dari keterangan Siauw Hoei dan Sin Tjie, dengan sendirinya mereka pun merasa tak enak.Memang mereka tahu pengaruhnya Giam Ong , yang ditunjang oleh banyak sekali orang-orang kang-ouw kenamaan.
Mereka mengerti, apabila mereka tetap tidak mengembalikannya, dibelakang hari mesti tak henti-hentinya datang orang-orang yang akan menagihnya.
Dan inilah berbahaya untuk keselamatan mereka.
Oen Beng San lantas tertawa.
Dia berkata kepada Sin Tjie .
"Dengan memandang kepada saudara Wan, pulangilah!"
Kata-kata ini ditujukan kepada Oen Tjeng.
"Tidak, Sam-yaya, itu tak bisa jadi!"
Kata cucu ini.
"Kau telah berikan separuh kepadaku, yang separuh itu aku akan kembalikan lebih dahulu.
"kata Sin Tjie pada adik angkat ini.
"Jikalau kau sendiri yang inginkan itu, aku punya yang separuh lagi pun aku akan serahkan padamu,"
Jawab Oen Tjeng.
"Siapa sih yang sudi berpandangan cupat? Siapa sudi anggap emas beberapa ribu tail itu sebagai mustika? Tapi kalau dia yang inginkan, tak suka aku menyerahkannya!"
Dan dia tunjuk Siauw Hoei. Nona An maju setindak. Ia jadi sangat gusar.
"Habis kau ingin bagaimana untuk kembalikan itu?"
Tanya dia dengan bengis.
"Kau sebutkan saja!"
Oen Tjeng tidak jawab nona itu, ia hanya pandang Sin Tjie.
"Sebenarnya, kau hendak bantu dia atau aku?"
Dia tegaskan toako itu. Sin Tjie bersangsi tapi ia menjawab .
"Aku tidak bantu siapa juga, aku cuma hendak turut perkataan guruku..."
"Gurumu? Siapa itu gurumu?"
Oen Tjeng tanya.
"Guruku ada orang penting dalam angkatan perangnya Giam Ong."
"Hm!"
Oen Tjeng perdengarkan ejekannya.
"Pulang pergi, kau toh bantui dia! Baik emas itu ada disini! Dengan akal aku telah curi itu, maka juga, kau pun mesti gunai akal untuk mencuri kembali! Aku kasi tempo tiga hari! Jikalau kau mempunyai kepandaian, kau ambillah! Jikalau lewat tiga hari, aku tak akan sungkan-sungkan lagi!"
Sin Tjie segera tarik tangan baju Oen Tjeng.
"Adikku, mari!"
Berkata dia, jang terus mengajak orang ke satu pojok.
"Tadi malam kau bilang kau dengar perkataanku, kenapa sekarang, belum selang setengah harian, kau sudah berubah?"
"Jikalau kau perlakukan aku baik, aku pasti dengar kata-katamu,"
Sahut Oen Tjeng.
"Kenapa aku tak perlakukan baik padamu?"
Tanya Sin Tjie.
"Apa benar tak dapat aku ambil emas itu?"
Kedua matanya pemuda Oen itu menjadi merah.
"Kau bertemu sama sahabat lama, lantas kau tidak pandang ornag lagi,"
Dia kata."
Bisa apa jikalau aku kangkangi harta Giam Ong? Paling juga orang bunuh aku! Ya, memang dalam hidupku ini, tak ada orang mengasihani aku..."
Hampir airmatanya pemuda ini keluar meleleh. Sin Tjie berkasihan tapi ia tidak puas.
"Kau adalah saudara angkatku, dia adalah anaknya sahabatku,"
Kata dia dengan penjelasannya.
"Dua-dua aku pandang sama, tidak ada yang aku bedakan lebih tebal atau lebih tipis, kenapa kau jadi begini rupa?"
"Sudahlah, jangan banyak omong, dalam tempo tiga hari, kau datanglah curi emas itu!"
Oen Tjeng pegat.
Masih Sin Tjie hendak tarik tangan orang akan tetapi kali ini Oen Tjeng halau tangannya dan lantas lari kedalam.
Oleh karena perdamaian gagal, terpaksa Sin Tjie ajak Siauw Hoei berlalu dari rumah keluarga Oen itu, bersama-sama mereka pergi kerumahnya seorang tani untuk menumpang nginap.
Disini Sin Tjie tanya duduknya emas itu.
Siauw Hoei ceritakan dia antar bertiga, entah bagaimana, ditengah jalan mereka terpisah, hingga akhirnya emas didapati Oen Tjeng.
Siauw Hoei cerita tidak terlalu jelas, agaknya dia ragu-ragu maka Sin Tjie tidak tanya melitmelit.
Pada malam hari itu, kira-kira jam dua, Sin Tjie ajak nona An pergi kerumah keluarga Oen.
Begitu ia lompat naik keatas genteng, ia dapatkan api dipasang terang-terang diseluruh thia yang lebar.
Oen Beng San dan Oen Beng Go, dua saudara, duduk makan-minum bersama, Oen Tjheng dan Oen Tjeng dampingi mereka.
Ia tidak tahu emas disimpan dimana, ia mencoba pasang kuping, supaya ia bisa peroleh sedikit penghunjukkan.
Tiba-tiba Oen Tjeng, dengan tertawa dingin, kata seorang diri .
"Emas ada disini! Siapa punyakan kepandaian, dia boleh ambil!"
Siauw Hoei betot Sin Tjie yang berada disebelah depannya.
"Rupanya dia tahu kita sudah berada disini,"
Ia berbisik.
Sin Tjie manggut akan tetapi matanya terus mengawasi kearah thia.
Maka ia bisa lihat Oen Tjeng keluarkan dua bungkusan, untuk diletaki diatas meja, buat segera dibuka, dibeber, hingga diantara sinar api bergemirlapanlah cahaya emas berkilau-kilau.
Sesudah beber emas itu, Oen Tjeng duduk, dituruti oleh Oen Tjheng, kakaknya.
Mereka juga letaki golok dan pedang mereka, untuk gantikan itu dengan cawan arak, buat mereka turut minum dan makan.
"Begini rupa mereka bikin penjagaan, tanpa kekerasan, cara bagaimana emas itu bisa dapat dirampas?"
Pikir Sin Tjie.
Siauw Hoei pun terdiam.
Lebih dari setengah jam mereka sudah menantikan, orang-orang dibawah itu masih tidak hendak berlalu, maka akhirnya Sin Tjie tarik tangannya Siauw Hoei , untuk diajak pulang kerumah penginapan mereka.
Ia tahu, malam itu mereka tidak berdaya...
Dihari kedua, paginya, Siauw Hoei pasang omong dengan Sin Tjie.
Ia beritahukan bahwa ibunya ada sehat walafiat dan ibu itu sering ingat si anak muda.
Sin Tjie rogoh sakunya, akan keluarkan sepotong gelang emas yang kecil.
"Inilah pemberian ibumu kepadaku,"
Kata dia.
"Kau lihat, dulu lenganku ada sebesar gelang ini tetapi sekarang?...."
Siauw Hoei tertawa. Ia awasi lengan orang.
"Engko Sin Tjie, selama ini kau kerjakan apa saja?"
Tanya dia.
"Setiap hari aku belajar silat, lain kerjaan tak ada,"
Sin Tjie sahuti.
"Pantas ilmu silatmu liehay sekali!"
Si nona memuji.
"Ketika kemarin kau tolak aku, kudakudaku turut gempur..."
"Tapi, kenapa kau pun gunai ilmu pedang Hoa San Pay?"
Sin Tjie tanya.
"Siapa ajarkan itu padamu?"
Matanya si nona merah dengan tiba-tiba, ia berpaling kelain arah.
"Tjoei Soeko yang ajari..."sahut ia selang sesaat.
"Dia ada dari Hoa San Pay."
"Apakah dia mendapat luka?"
Sin Tjie tanya.
"Mengapa kau berduka?"
"Mana dia mendapat luka?"
Balik si nona.
"Dia tidak perdulikan orang, dia pisahkan diri ditengah jalan..."
Malamnya, kedua anak muda ini berangkat pula kerumah keluarga Oen.
Di thia besar tetap ada menanti empat orang, melainkan si orang-orang tua telah bertukar orang-orangnya.
Mestinya mereka ini berdua ada yang lain-lainnya dari Ngo-tjouw, kelima tetuanya keluarga itu.
Dan tentunya, tiga yang lain lagi sembunyi.
"Ada orang-orang liehay bersembunyi disini, kita mesti waspada,"
Sin Tjie kisiki Siauw Hoei.
Si nona manggut, alisnya mengkerut.
Tiba-tiba ia dapat pikir sesuatu, lantas saja ia loncat turun.
Sin Tjie berkuatir untuk nona ini, ia segera menyusul, mengikuti.
Siauw Hoei pergi kebelakang dapur.
Disini ia nyalakan api, lantas ia sulut setumpuk kayu bakar, maka tak berselang lama, api itu lantas berkobar-kobar, menjilat-jilat keatas.
Sekejab saja keluarga Oen menjadi kacau.
Sejumlah tjhungteng, dengan membawa air dan gala, lari kearah dapur, untuk padamkan api.
Siauw Hoei lari balik kedepan, Sin Tjie bersama dia.
Pemuda ini ketahui akalnya si pemudi.
Di dalam thia, api lilin terus menyala terang, tetapi empat penjaganya telah tidak ada.
Siauw Hoei girang tak kepalang.
"Mereka pergi padamkan api!"
Berseru dia.
Dengan bergelantungan dipayon, nona ini loncat turun kebawah, dari antara jendela, ia loncat masuk kedalam thia.
Sin Tjie telad contohnya nona ini.
Sebentar saja mereka berdua sudah sampai dipinggir meja.
Siauw Hoei maju lagi setindak, tangannya berbareng diulur, untuk jumput emas.
Sin Tjie kaget ketika ia menaruh kakinya, ia rasai menginjak tempat yang tak berdasar kuat.
Segera ia insyaf kepada lobang jebakan.
Ia menyambar dengan tangan kanannya, untuk tolong Siauw Hoei, sembari menyambar, ia pun berloncat.
Tapi ia sudah terlambat, sambarannya gagal.
Ia sendiri telah sampai di tiang tengah, dengan tangan kiri, ia sambar tiang itu, kaki kirinya diletaki didasarnya tiang.
Sedetik saja, papan jebakan telah membalik diri, dengan Siauw Hoei telah kejeblos kedalam, lenyap dari muka lantai.
Kaget dan berkuatir, Sin Tjie loncat ke jendela.
Adalah niatan dia untuk cari pesawat rahasianya jebakan itu, untuk tolongi Siauw Hoei.
Ia Baru sampai diluar jendela atau ada angin sambar ia.
Ia mengerti, ada orang bokong padanya.
Dengan sebat ia menangkis dengan tangan kanan, hingga tangannya itu bentrok dengan tangan si penyerang, yang belum dikenal siapa.
Penyerang itu agaknya mencoba membetot tapi, penyerangnya itu, yang tersempar, rubuh tubuhnya, hanya saking gesit, dia ini bisa berlompat bangun dengan cepat, malah dia segera lompat naik ke genteng juga, untuk menyusul.
Begitu lekas ia ada diatas genteng dan memandang kesekitarnya, Sin Tjie bergidik tanpa kedinginan.
Nyata ia telah dikurung oleh sejumlah orang, yang tubuhnya kate dan jangkung tidak merata.
Iapun lihat, orang yang barusan ia kena sempar rubuh Oen Tjheng adanya.
Ia insyaf bahwa ia sedang terancam melainkan ia belum tahu, bagaimana sikap keluarga Oen itu.
Maka dengan berdiam diri, ia awasi mereka itu -ia berlaku tenang dan waspada.
Dari lima tertua pemuda kita sudah kenal dua, ialah Sam-tjouw Oen Beng San dan Ngotjouw Oen Beng Go.
Dari tiga yang lian, ia lihat satu yang bertubuh kekar luar biasa, siapa sekarang berdiri ditengah-tengah.
Dia ini jauh lebih tinggi-besar dari empat lainnya.
Ketika dia tertawa dengan mendadak, suaranya pun nyaring sekali.
"Kami berlima saudara tinggal didusun yang sepi tetapi sekarang ada orang sebawahan yang liehay dari Giam Ong berkunjung kepada kami, inilah ada satu kehormatan yang besar sekali!"
Demikian suaranya, yang tak kalah nyaringnya, bagaikan suara lonceng saja. Segera Sin Tjie maju setindak, untuk beri hormat sambil menjura kepada orang tua itu.
"Aku yang muda menghadap tjianpwee,"
Kata dia.
Ia tidak mau berlutut, karena ia kuatir nanti ada yang bokong.
Ia memberi hormat supaya orang tidak katakan dia tidak kenal adat sopan-santun.
Oen Tjeng berada diantara pihak pengurung, ia majukan diri.
"Ini Toa-yaya!"
Kata dia, dengan suaranya yang cempreng.
"Ini djie-yaya. Dan ini Soeyaya."
Sin Tjie menjura kepada sesuatu yaya yang disebutkan.
Yang tertua dari Ngo Tjouw dari Tjio Liang Pay ialah Oen Beng Tat, yang kedua Oen Beng Gie, dan yang keempat Oen Beng Sie.
Mereka ini, bersama Sam-yaya dan Ngo-yaya balas hormat itu.
Walaupun begitu, mereka mengawasi dengan tajam.
Diantara kelima Ngo-tjouw, Oen Beng Gie yang kedua, adalah yang paling keras perangainya.
Begitulah dia ini menegur.
"Kau masih muda sekali tapi nyalimu nyata tak kecil, kau berani melepas api membakar rumahku!"
"Itulah perbuatan sembrono dari kawanku,"
Mengaku Sin Tjie dengan sikapnya yang menghormat.
"Aku merasa sangat menyesal. Syukur api tak membahayakan hebat. Biarlah besok aku yang muda datang pula kemari untuk minta maaf."
Dengan sebenarnya, api telah lantas dapat dibikin padam, tak menjalar lebih jauh.
Oen Beng Sie, tertua yang keempat, bertubuh jangkung dan kurus, dia adalah engkongnya Oen Tjheng, potongan tubuhnya romannya, mirip benar dengan cucunya itu.
Dia ini menyambungi saudaranya bicara.
"Kami tinggal disini sudah beberapa puluh tahun,"
Demikian katanya.
"Selama sekian lama itu, cuma ada orang-orang yang datang kemari untuk menghunjuk hormat, belum pernah ada satu bocah yang berani berlaku kurang ajar! Siapa itu gurumu? Kenapa kau begini tak tahu aturan?"
"Guruku sekarang berada dalam pasukan perangnya Giam Ong,"
Sin Tjie jawab, tetap dengan hormat, tak perduli orang tegur ia secara bengis.
"Aku mohon tjianpwee beramai sudi kembalikan emasnya Giam Ong itu. Aku janji lain hari akan minta guruku menulis surat kepada tjianpwee untuk haturkan terima kasihnya."
Pemuda ini tidak hendak sebutkan nama gurunya.
"Siapa itu gurumu?"
Tanya Oen Beng Tat, tertua yang pertama.
"Guruku itu jarang sekali berkelana dalam dunia Kang-ouw, karena itu tak berani aku yang muda menyebutkan namanya,"
Sin Tjie jawab dengan hormatnya tak pernah ketinggalan.
"Hm!"
Berseru Oen Beng Gie, tertua yang kedua.
"Dengan kau tidak sudi menyebutkannya, mustahil kami tak mendapat tahu? Lam Yang, coba kau main-main dengan bocah ini!"
Dari antara rombongan itu keluar satu orang umur empat-puluh lebih, mukanya berewokan.
Dia adalah putera kedua dari Djie-yaya Oen Beng Gie ini.
Dalam angkatan kedua dari Tjio Liang Pay, dia ternama.
Dia sudah lantas lompat kedepan Sin Tjie, untuk terus kirim tonjokannya kearah muka.
Sin Tjie berkelit, atas mana menyusullah kepalan kiri orang she Oen itu.
Pemuda kita lantas berpikir.
"Mereka berjumlah banyak, jikalau mereka maju satu persatu, aku bisa celaka karena lelah. Jikalau aku tidak berlaku cepat, sulit untuk aku loloskan diri."
Maka itu, ketika kepalan kiri lawan sampai, mendadak Sin Tjie angkat tangan kanannya, untuk menangkis sambil teruskan menyekal kepalan itu, setelah mana, ia menyempar kebelakang sambil tubuhnya sendiri menyamping.
Lam Yang tidak sempat lepaskan kepalannya itu, belum sampai ia menancap kaki, tubuhnya sudah terbetot kedepan, nyelonong, ketika kakinya injak genteng, genteng itu pecah dan ia terjeblos dan rubuh.
Sukur untuk dia, Beng Go, sang paman yang kelima, masih keburu lompat untuk menarik dia, kalau tidak, tidak ampun lagi, dia pasti ngusruk kebawah genteng.
Mukanya menjadi merah bahna malu dan gusar, tidak ayal lagi, ia maju menyerang pula.
Ia menjadi sangat penasaran.
Sin Tjie sudah bersiap.
Tak bergeming dia ketika lawan mengancam.
Hanya ketika serangan datang, ia putar tubuhnya, ia melengak, sambil berbuat mana, kakinya yang kiri berbareng terangkat!
Segera, Oen Lam Yang rubuh tengkurap!
Menyusul sontekan kaki kirinya itu, Sin Tjie pun ulur tangan kanannya, selagi kaki kirinya ditarik pulang, tangan kanannya sudah sambar baju dibelakang penyerangnya itu, ia menjambak, ia mengangkat.
Maka tak sampailah mukanya Lam Yang beradu dengan genteng, malah dia terangkat hingga dia dapat berdiri pula.
Bukan main mendongkolnya orang she Oen ini, tetapi tak dapat ia berkelahi lebih jauh, maka setelah awasi si anak muda dengan mata melotot, ia mundur sendirinya.
"Ha, bocah ini benar-benar liehay!"
Berseru Beng Gie dalam gusarnya.
"Biarlah loohoe mencoba-coba main-main dengan muridnya seorang liehay!"
Djie-yaya ini segera juga geraki kedua tangannya, untuk mulai maju. Dengan tiba-tiba, Oen Tjeng lompat kesamping orang tua itu, untuk berbisik .
"Djie-yaya, dia telah angkat saudara denganku, jangan kau lukai dia...."
"Setan cilik!"
Orang tua itu kata dengan sengit. Masih Oen Tjeng cekal tangannya Beng Gie.
"Kau toh mengabulkan, Djie-yaya?"
Katanya.
"Kau lihat saja!"
Kata si orang tua dengan keras seraya tangannya menyempar, atas mana pemuda itu terpelanting beberapa tindak, hampir saja dia rubuh tegruling. Oen Beng Gie maju dua tindak kearah pemuda kita.
"Kau maju!"
Ia membentak.
"Aku tak berani,"
Sahut Sin Tjie seraya ia rangkap kedua tangannya.
"Kau tak hendak menyebutkan nama gurumu, maka kau seranglah aku tiga jurus,"
Beng Gie kata.
"Nanti aku lihat, bisa atau tidak aku kenali siapa gurumu itu."
Panas juga hatinya Sin Tjie melihat kejumawaan orang tua ini.
"Jikalau begitu, biarlah aku berlaku kurang ajar,"
Kata dia akhirnya.
"Apa jang aku bisa ada sangat berbatas, karena itu, aku minta tjianpwee menaruh belas kasihan terhadapku..."
"Lekas mulai!"
Membentak pula Oen Beng Gie.
"Siapa kesudian ngobrol denganmu!"
Sin Tjie segera menjura hingga dalam, sampai tangan bajunya mengenai genteng, kemudian setelah ia mulai berbangkit, dengan tiba-tiba tangan bajunya itu menyambar kearah si orang tua agung-agungan itu.
Serangan itu mendatangkan siuran angin keras.
Beng Gie terperanjat.
Inilah ia tidak sangka.
Segera ia ulur tangannya, akan sambar tangan baju itu.
Sin Tjie menyambar dengan tangan kiri, ketika ia disambar, ia berjingkrak, tangan kirinya itu ditarik pulang, akan tetapi sebagai gantinya, tangan bajunya yang kanan menyambar pula dengan tak kalah sebatnya, mengarah kemuka!
Kembali Beng Gie terperanjat.
Kembali satu serangan sebat diluar dugaan.
Tak sempat dia menangkis.
Sedang dia mempunyai latihan dari beberapa puluh tahun, selama separuh umurnya, ia hidup diantara "gunung golok dan rimba tumbak,"
Pengalamannya ada banyak sekali.
Terpaksa ia ngelengak kebelakang untuk luputkan diri dari sambaran itu.
Sin Tjie tidak mau kasih ketika untuk orang balas serang dia, segera dia memutar tubuh.
Oen Beng Gie sudah berdiri pula dengan tetap, ia lihat gerakan orang ia duga anak muda ini hendak angkat langkah panjang, maka ia memikir untuk menghajar supaya pemuda itu tak dapat lolos.
Belum sampai tangan kanannya dikeluarkan, mendadak ia rasai pula sambaran angin, kali ini ia tampak, kedua tangan Sin Tjie bergerak dengan berbareng, mirip dengan sambaran ular, kedua tangan itu nyelusup kearah dua iganya!
"Itulah tangan baju belaka, apa artinya umpama kena terserang?"
Pikir jago tua ini.
Maka ia ulur kedua tangannya, dengan niat sambar tangan baju orang itu, untuk digentak.
Cepat luar biasa, kedua ujung tangan baju dari Sin Tjie sudah sampai pada sasarannya, mengenai dengan jitu kepada atasan pinggang Djie-yaya dari Oen Tjeng.
Dua kali telah terdengar siara nyaring karena sambaran jitu itu.
Berbareng dengan kaget, Oen Beng Gie rasai ia sesemutan.
Dilain pihak, lawannya sudah loncat mundur.
Setelah putar tubuhnya, anak muda ini mengawasi sambil berdiri tegak.
Oen Tjeng telah saksikan gerakan tubuh yang sangat gesit dan luar biasa itu, ia heran hingga hampir ia berseru.
Oen Beng Gie malu dan mendongkol sekali.
Tidak perduli ia adalah seorang dengan banyak pengalaman, ia masih tidak bisa kenali, ilmu silat apa itu yang digunai si anak muda, yang main ujung baju...
Sebenarnya, pada pertama kali, Sin Tjie sudah gunai ilmu silat Hok-houw-tjiang dari Bok Djin Tjeng, yang kedua kali , itulah ilmu mengentengkan tubuh pengajaran Bhok Siang Toodjin, dan yang ketiga kali adalah buah-hasil peryakinan dari "Kim Coa Pit Kip"
Peninggalan Kim Coa Long-koen. Ini ada ilmu pukulan "Siang Coa Coan ek"
Atau "Sepasang ular nyelusup ke ketiak" , sedang kedua tangannya sengaja diumpati didalam ujung tangan baju.
Tentu sekali Oen Beng Gie bingung karenanya, sedang pertempuran mereka ada seperti sejurus demi sejurus dan tak ambil tempo lama.
Juga Oen Beng Tat dan tiga saudara lainnya berdiri bengong, mereka saling mengawasi, hati mereka penuh dengan keheranan.
Dalam murkanya, Oen Beng Gie menyerang pula secara sangat mendadak.
Wajah masih merah-padam, alis dan kumisnya bagaikan bangun berdiri.
Tangannya menyambar seraya perdengarkan angin berkesiur.
Dibawah sinar si Puteri Malam, Sin Tjie lihat kepala musuh seperti mengebulkan uap, suatu tanda jago tua itu dikrumuni hawa-amarah meluap-luap, dan gerakan kakinya ayal akan tetapi mantap, menunjuki lweekang yang telah mentjapai puncak kesempurnaan.
Melihat demikian, tak berani ia untuk permainkan pula orang tua itu.
Atas serangan hebat itu, pemuda ini berkelit sambil mendak kate.
Dua kali ia bebaskan diri secara demikian ketika serangan lain menyusul dengan tangan yang sebelahnya.
Ia pun secara diam-diam sudah lantas gulung tangan bajunya.
Selanjutnya ia melayani dengan Hok-houw-tjiang, ilmu pukulan "Menakluki harimau".
Setelah penyerangannya yang pertama dan kedua itu, serangan-serangan Oen Beng Gie tak lagi sesebat sebagai semula, akan tetapi setiap pukulannya hebat, berat, saban-saban ada angin yang mengikutinya atau mendahului.
Sin Tjie terperanjat apabila satu kali ia tampak tegas telapakan tangannya.
Tangan itu bersinarkan cahaya merah bagaikan darah.
"Ha, kiranya dia ahli tangan jahat!..."
Katanya dalam hati.
Itulah "Tjoe-see-tjiang" (tangan Tjoe-see) atau "Ang-see tjhioe" (tangan Pasir Merah).
Ia ingat keterangan gurunya perihal liehaynya ilmu pukulan itu, yang tak boleh mengenai sasaran atau orang akan bercelaka.
Karena ini, lantas ia ubah sikapnya.
Ia berkelahi dengan kedua tangannya digeraki pergi dan pulang dengan pesat sekali, dengan tak ada putusnya, untuk cegah desakan berulang-ulang lawannya.
Selagi pertempuran berjalan sangat seru, mendadak Oen Beng Gie rasai sakit pada lengan kanannya, tidak tempo lagi ia mencelat jauh, akan pisahkan diri, setelah mana, ia lihat bagian tangannya yang sakit itu.
Lengan itu merah dan bengkak!
Ia mengerti bahwa ia telah kena dibentur, tapi ia pun segera mengerti, orang telah berlaku baik kepadanya, kalau tidak, tangan itu bisa bercelaka.
Walaupun begini, ia mendongkol, cuma sekarang tak lagi ia hendak lanjuti pertempuran itu.
Selagi pertempuran tertunda itu, Oen Beng San, Sam-yaya, maju hampirkan anak muda kita.
"Wan Lian-hia,"
Katanya dengan tenang.
"begini muda usia kaum boegeemu liehay sekali. Marilah, loohoe ingin sekali belajar kenal dengan menggunai alat-senjata!"
Lekas-lekas Sin Tjie berikan jawabannya.
"Tak berani aku yang muda datang kesini dengan membekal senjata,"
Ia menampik. Sam-yaya itu tertawa besar.
"Kau kenal baik adat istiadat,"
Katanya.
"Tentang kau bisalah dibilang, karena boegee liehay, nyalimu jadi besar. Tidak apa. Mari kita pergi ke lian-boe-thia!"
Lain-boe-thia itu adalah thia atau ruangan untuk belajar silat.
Sembari mengundang, Oen Beng San loncat turun kebawah genteng.
Tindakan ini diturut oleh semua rombongannya.
Sin Tjie loncat turun , ia ikut masuk kedalam rumah.
Selagi mereka itu berjalan, Oen Tjeng dekati si anak muda, akan kisiki dia .
"Didalam tongkat ada senjata rahasianya!"
Bercekat hatinya Sin Tjie.
Tidak lama sampailah mereka di lian-boe-thia.
Sin Tjie tampak tiga thia yang besar ditengah-tengah mana ada satu pekarangan yang lebar.
Kesitu pun lantas berkumpul lainlain anggauta dari keluarga Oen yang besar itu, karena keluarga ini punyakan anggotaanggota, lelaki dan perempuan, yang semua gemar ilmu silat.
Semua mereka hendak nonton pertandingan.
Malah diantara mereka kedapatan bocah-bocah umur tujuh atau delapan tahun.
Orang-orang yang muncul paling belakang ada satu nyonya umur kurang-lebih empatpuluh tahun, dia didampingi Goat Hoa, itu kacung perempuan yang ditugaskan melayani si tetamu anak muda.
"Ibu!"
Oen Tjeng memanggil seraya maju menghampirkan apabila ia lihat nyonya itu.
Njonya itu mempunyai wajah yang eilok tetapi ia nampaknya berduka, ia tidak sahuti Oen Tjeng, ia cuma melirik, kelihatannya ia tidak gembira.
"Kau hendak gunai senjata apa, kau boleh pilih sendiri!"
Berkata Oen Beng San setelah mereka sudah berkumpul.
Ia menunjuk kesekitarnya dimana ada terdapat para-para serta pelbagai gegaman.
Sin Tjie mengerti, urusan ada sangat sulit untuk diselesaikan, tetapi disebelah itu, tak ingin ia melukai orang.
Ini adalah pengalamannya yang pertama, baru mulai berkelana sudah menghadapi kesulitan.
Ia berpikir bagaimana ia harus ambil putusan.
Oen Tjeng lihat kesangsian Sin Tjie, ia kata .
"Sam yayaku ini paling suka anak-anak muda, tidak nanti dia lukai padamu..."
Tapi dia disenggapi ibunya .
"Tjeng Tjeng, jangan banyak mulut!"
Kelihatan ibu itu gusar. Oen Beng San menoleh kepada Oen Tjeng, dia kata .
"Kita lihat saja masing-masing punya untung!"
Lalu ia tambahan pada Sin Tjie .
"Saudara Wan, kau gunai pedang atau golok?"
Sin Tjie terdesak, ia mesti berikan jawabannya.
Ia melihat ke sekitarnya.
Tiba-tiba ia tampak satu bocah lelaki umur enam atau tujuh tahun, yang sedang dituntun oleh Goat Hoa.
Mestinya bocah itu ada anggauta keluarga yang termuda.
Anak itu lagi pegangi sebatang pedang kayu jang dicat beraneka warna.
Pasti itu ada pedang yang menjadi alat permainan bocah itu.
Lantas saja ia hampirkan bocah itu.
"Saudara cilik, mari kasi aku pinjam pakai pedangmu, sebentar saja,"
Ia minta. Bocah itu berani, ia tertawa, ia serahkan pedang-pedangannya itu. Setelah sambuti itu pedang kayu, Sin Tjie hampirkan Oen Beng San.
"Tidak berani aku yang muda menghadapi lootjianpwee dengan golok atau tumbak tulen, dari itu aku pinjam pakai ini pedang kayu, untuk kita berlatih beberapa jurus saja."
Berkata dia.
Pemuda ini bicara merendah dan halus, tetapi ia nampaknya sabar dan tenang.
(Bersambung bab ke 7) Oen Beng San murka sampai hampir dia tak sanggup kendalikan diri lagi, maka sebagai pelabi, dia tertawa ter-bahak-bahak.
"Sudah beberapa puluh tahun loohoe berkelana didunia kang-ouw, belum pernah loohoe ketemui siapa juga yang berani memandang enteng tongkatku Liong-tauw Koay-thung!"
Kata dia.
"Baiklah! Apabila kau benar punyakan kepandaian, hayo dengan pedang kau, kau tabas kutung tongkatku ini!"
Liong-tauw Koay-thung ada tongkat berkepala naga-nagaan.
Berbareng dengan berhentinya kata-kata jumawa itu, tongkat tersebut dipakai membabat kepinggang Sin Tjie.
Sambaran itu diiringi dengan sambarannya angin juga, yang bersuara nyaring.
Oen Tjeng menjerit ketika ia lihat serangan yaya-nya itu.
Ia tampak tubuh Sin Tjie seperti terbawa tongkat yang liehay itu.
Akan tetapi belum sampai tubuhnya anak muda ini terlempar, atau tahu-tahu pedang kayunya sudah menyambar lempang kemuka si penyerang.
Oen Beng San mundur seraya tarik pulang tongkatnya, tetapi ia tidak cuma menarik saja, sebaliknya, ia segera dapat juga maju pula, untuk totok ulu-hati orang!
"Ha, kiranya tongkat ini dapat juga dipakai sebagai alat penotok jalan darah!"
Pikir Sin Tjie sambil ia berkelit.
"Aku mesti waspada!"
Sambil berkelit, pemuda ini lantas membabat dengan pedang-pedangannya itu.
Kalau itu ada pedang benar dan mengenai dengan tepat, tangan lawan yang menyekal tongkat mesti sapat semua jarinya.
Akan tetapi Oen Beng San bukannya lawan lemah.
Dia tahu baik sekali, sekalipun hanya pedang-pedangan, kalau ia terbacok, ia bakal terluka juga.
Maka segera ia lepaskan tangannya yang kanan, hingga ujung tongkat jatuh ketanah dan tinggal pangkalnya yang lain jang tercekal di tangan kiri, lalu dengan dibantu lagi tangan kanan, ia ulangi serangan susulannya yang tidak kalah berbahayanya.
Ditangan orang liehay, tongkat itu jadi seperti bertambah-tambah beratnya, maka siapa lacur kena terserang, celakalah dia.
Sin Tjie kagum melihat kegesitan dan keliehayan lawan itu, karenanya, ia jadi bertanding dengan terlebih hati-hati.
Setiap serangan Oen Beng San menerbitkan sambaran angin keras, malah kalau kebetulan ia mengemplang tempat kosong, batu lantai hancur terlabrak dan muncrat meletik berhamburan.
Coba itu mengenai tubuh manusia, bagaimana hebatnya.
Sin Tjie tidak perdulikan liehaynya tongkat, dia melayani dengan tubuhnya yang enteng, dengan gerakannya yang cepat dan pesat, sehingga ia bagaikan kupu-kupu yang terbang molos sana molos sini.
Disebelah itu, pedangnya pun saban-saban mencari bagian-bagian yang lowong dari anggauta-anggauta lawannya, untuk membalas.
Tanpa merasa, saking cepatnya, pertempuran telah melalui banyak jurus, sesudah mana, Oen Beng San menjadi kelabakan sendirinya.
Ia sudah buka mulut besar tetapi buktinya, belum dapat ia rubuhkan lawan ini.
Ia jadi ingat bagaimana tongkatnya ini yang dia buat andalan, sudah angkat namanya di Kanglam, belum pernah dia menemui tandingan, tetapi sekarang, ia seperti dilece-lece bocah cilik.
Apakah nama baiknya tak akan runtuh karenanya?
Oleh karena memikir begini, dalam penasarannya, Beng San ubah caranya berkelahi.
Ia jadi berlaku sangat gesit, hingga ia seperti libat lawannya ini dengan tongkatnya itu.
Semua penonton mundur sedikit, mereka merasai sambaran angin tak hentinya.
Ada diantaranya yang nyender pada tembok thia, supaya tidak sampai kena kelanggar....
Setelah perubahan sikapnya jago tua itu, Sin Tjie merasa inilah musuh pertama yang paling tangguh yang ia pernah ketemukan.
Tak dapat ia dekati lawan, sedang dengan pedang kayunya, tak bisa ia tabas tongkat itu.
"Tidak bisa lain, mesti aku gunai ajaran soehoe,"
Pikir dia akhirnya.
Dan lantas ia mulai dengan perubahannya, hingga sekarang ia tampaknya bergerak lambat atau ayal.
Sebagai ahli, Oen Beng San bisa lihat kelambatan bergerak dari lawannya yang muda ini.
Ia jadi sangat girang.
Ia tidak hendak mensia-siakan ketika lagi.
Begitu terbuka ketikanya, ia menyapu dengan hebat.
Nampaknya Sin Tjie sudah lelah, ayal segala gerak-geriknya, akan tetapi ketika pinggangnya disapu, mendadak ia sambar ujung tongkat.
Ia menggunai tangan kiri, ia menyekal dengan keras, ia menarik dengan kaget sambil menekan, berbareng dengan mana tangannya yang kanan, yang menyekal pedang-pedangan, menyambar langsung kedepan.
"Bret!"
Demikian satu suara nyaring, dari pecahnya cita.
Dan bajunya Oen Beng San, tertua ketiga dari Tjio Liang Pay, robek karenanya!
Masih Sin Tjie berlaku murah hati, jikalau tidak, ujung pedang pasti sudah menyambar terus kedada!
Oen Beng San kaget berbareng ia rasai telapakan tangannya sakit disebabkan gentakan Sin Tjie, karena ia berbelit, ia terpaksa lepaskan tongkatnya jang tercekal keras lawannya itu.
Sin Tjie ada berhati mulia, tak mau ia bikin malu jago tua itu, selagi menarik pulang pedangnya, ia sodorkan tangan kirinya, berikut tongkat ditangannya, akan kembalikan tongkat itu.
Kejadian ini dilakukan dengan cepat luar biasa, kecuali ahli silat, jarang ada yang bisa lihat pertukaran tongkat itu.
Sam-yaya itu mendongkol sangat, begitu ia sambuti tongkatnya, begitu ia menyerang pula!
Sin Tjie terkejut, ia heran.
Orang sudah kalah, kenapa orang masih berlaku begini tidak berkepantasan?
Tetapi tidak sempat ia berpikir.
Dengan sebat ia egos tubuh kebelakang, dengan lompat mundur sedikit untuk bebeaskan diri dari serangan seumpama bokongan itu.
Masih jago tua itu tidak mau mengerti, ia tarik tongkatnya untuk lagi sekali dipakai menyerang pula.
Tapi sekarang berbareng terdengar suara "Ser!"
Tiga kali, dari mulut naga2an dari tongkat itu melesatlah tiga batang paku baja, menherang kearah tiga penjuru.
atas, tengah dan bawah!
Djarak diantara kedua orang itu ada dekat, karena serangan senjata rahasia itu membarengi totokan tongkat.
Oen Tjeng kaget, sampai ia berseru diluar keinginannya, hampir ia berlompat kalau tidak ibunya tarik tangannya.
Sin Tjie terkejut, inilah ia tidak sangka.
Tapi ia tidak menjadi gugup.
Ia lantas menyampok, beruntun tiga kali.
Ia telah menggunai tipu silat "Kong tjiak kay peng"
Atau "Burung merak buka sajap".
Dengan tangkisannya ini semua tiga paku jatuh ketanah.
Inilah salah satu kepandaian istimewa dari Hoa San Pay.
Setelah itu, ia tidak diam saja, sambil maju setindak, ia tekan ujung tongkat dengan pedang-pedangannya.
Dengan tiba-tiba Oen Beng San merasai tenaga menekan yang berat sekali, sedang itu waktu, ia belum sempat tarik pulang tongkatnya.
Rupanya tadi ia percaya ia pasti akan berhasil dengan serangan senjata rahasia itu.
Ia mundur, akan tancap kaki, untuk pasang kuda-kuda, guna pertahankan diri.
Sin Tjie menekan terus, sampai ujung tongkat mengenai tanah, sesudah mana, mendadak ia angkat sebelah kakinya yang kiri, akan injak ujung tongkat.
Jago tua itu kerahkan tenaganya, untuk tarik pulang tongkatnya.
Sin Tjie tidak menginjak lama, dengan sekonyong-konyong ia angkat kakinya, sambil terus mencelat mundur, maka itu, dengan gampang sekarang Beng San bisa angkat dan tarik tongkatnya itu.
Akan tetapi pada lantai, yang terbuat dari batu hijau, ada lobang bekas kepala tongkat itu!
Semua hadirin terperanjat; mereka saling mengawasi dengan tercengang.
Oen Beng San kena dipecundangi, ia mendongkol bukan buatan.
Dengan kedua tangannya, ia lemparkan tongkatnya keatas wuwungan dari thia itu, hingga dilain saat terdengarlah satu suara nyaring yang dahsyat, sebab tongkat itu membuat satu lobang dan nembus keluar wuwungan!
"Alat ini kena dikalahkan pedang kayumu, buat apa dipakai lagi!"
Kata jago tua itu. Sin Tjie tampak orang murka besar, didalam hatinya dia berkata.
"Sebenarnya kau yang kalah dari aku, bukannya tongkatmu yang kalah dari pedang-pedanganku!"
Memang tak ada faedahnya akan jago tua itu ngambul secara demikian.
Diantara Ngo Tjouw dari Tjio Liang Pay, yang paling liehay dengan senjata rahasianya adalah Soe-yaya Oen Beng Sie.
Jago tua jang keempat ini mempunyai dua puluh empat batang hoei-too, golok terbang, dalam hal menggunai senjata mana, tak pernah ia gagal.
"Seratus kali lepas, seratus kali kena."
Demikian istilahnya.
Setiap hoei-too itu beratnya setengah kati saja, semuanya disimpan dalam satu kantong kulit yang digendol dibelakang.
Lain orang gunai senjata rahasia secara menggelap atau diam-diam, tetapi hoei-too dari Soe-yaya ini menyambar sambil berusara mengaung, mirip dengan rayuan seruling.
Jadi suara itu seperti merupakan pemberian ingat terdahulu untuk lawan, sedang sebenarnya, suara itu justru untuk membikin lawan menjadi bingung dan gugup.
Oen Beng Sie lihat kakaknya itu gagal, tanpa bicara lagi, ia lompat kedalam kalangan.
"Saudara Wan, permainan senjatamu untuk memunahkan senjata rahasia bagus sekali,"
Berkata dia.
"Bagaimana kalau sekarang kau sambut juga golok terbangku?"
Habis mengucap demikian, jago tua ini lolosi kantong kulitnya, jang dicantel dipinggangnya, untuk dipindahkan kebebokongnya.
Sin Tjie mengerti bahwa akan percuma saja ia mengalah, dari itu, ia manggut.
"Harap saja lootjianpwee berlaku murah hati,"
Jawabnya.
Lantas ia hampirkan bocah tadi, untuk kembalikan pedang kayu, setelah mana, ia kembali ketengah lian-boe-thia.
Semua penonton undurkan diri, antaranya ada yang menyingkir ke pintu.
Suasana ada tegang.
Orang menginsafi liehaynya golok dari Soe-yaya itu, yang tak pernah gagal.
Umpama kata Sin Tjie sanggup menanggapinya, soal ada lain, akan tetapi apabila dia mencoba berkelit selalu, dia mesti terancam malapetaka...
"Lihat golok!"
Mendadak terdengar seruan Oen Beng Sie. Karena dua pihak sudah lantas siap, jago tua ini tak sia-siakan ketika lagi. Golok menyambar sambil berkelebatan dan bersuara juga.
"Swing!"
Selama itu Sin Tjie sudah pikir , golok terbang dari jago tua itu mestinya istimewa.
"Jikalau aku tanggapi, tak akan terlihat kepandaianku,"
Demikian ia pikir.
"Dengan jalan itu, tak bisa aku takluki dia. Dia mesti dibikin menyerah dengan begitu rupa Barulah dia nanti suka lepaskan Siauw Hoei dan kembalikan emas itu."
Karena ini, diam-diam ia telah keluarkan dua butir biji caturnya.
Ketika golok menyambar, ia kagumi ketangkasannya si jago tua.
Ia tak berayal, untuk gunai biji caturnya.
Tangan kirinya lantas menimpuk, disusul dengan tangan kanan.
Segera sebutir biji catur tangan kiri itu mengenai golok dengan terbitkan suara pelahan, berhentilah suara mengaung nyaring tadi dari golok tersebut.
Sebab biji ini tepat nancap dilobang kecil diujung golok.
Segera setelah itu, terdengar suara nyaring lain.
Ini kali ada suara dihajarnya golok dengan biji catur dari tangan kanan, menyusul mana, hoei-too itu terhalang menyambarnya dan terus jatuh kelantai.
Golok terbang berat setengah kati dan biji catur kecil dan enteng sekali, toh golok itu kalah tenaga, maka ini telah menyatakan, bentrokan diantara dua senjata itu berbareng juga membuktikan tenaga dari kedua orang yang lagi adu kepandaian itu.
Tenaga Sin Tjie ternyata berlipat lebih besar daripada tenaga Oen Beng Sie.
Wajah Soe-yaya dari Oen Tjeng ini berubah dengan sekejab, tetapi berbareng dengan ini, dua batang goloknya sudah melayang pula, dengan berbareng.
Sin Tjie sudah siap pula dengan biji-biji caturnya, karena ia telah duga sikap lawan, maka ketika ia diserang lagi, dengan dua golok, dengan cepat ia menimpuk dengan empat biji catur, dengan berturut-turut.
Maka dengan saling-susul, kedua golok pun jatuh seperti yang pertama.
"Hm!"
Berseru Beng Sie.
"Liehay! Liehay!"
Dimulut Soe-yaya itu perdengarkan pujiannya, tangannya sebaliknya dikerjakan terus, malah kali ini enam batang golok dikasih menyambar.
Dia pun sengaja sebar golok-golok terbangnya itu kesegala penjuru.
Ia insyaf, disatu arah saja, akan sia-sia penyerangannya itu.
Selagi menyerang, didalam hatinya, ia kata.
"Apa mungkin kau sanggup pukul jatuh pula sesuatu dari golokku ini?"
Oleh karena enam batang hoei-too yang terbang berhamburan, suara swingnya pun ramai sekali.
Akan tetapi suara itu berhenti dalam sekejab.
Karena dua belas biji catur dari Sin Tjie sudah bekerja pula, untuk memukul rubuh.
"Bagus!"
Oen Beng Sie berseru pula, tapi dengan hati mendongkol sangat, dengan penasaran.
Dan kedua tangannya digeraki dengan hampir berbareng, menyambarkan enam batang golok pula masing-masing.
Maka itu, Baru enam hoei-too serang si anak muda, atau enam yang lain sudah menyusul dengan segera.
Serangan ini juga dilakukan dengan tenaga penuh dan semangat bernyala-nyala.
Oen Beng Tat ada seorang yang berpengalaman, ia segera dapay kenyataan, anak muda didepan mereka itu mesti ada muridnya seorang yang liehay sekali, maka itu ia kaget tak terkira apabila ia saksikan saudaranya yang keempat menyerang secara demikian.
"Soetee, jangan celakai dia!"
Dia berseru, untuk mencegah.
Tapi cegahan ini sia-sia saja, karena hoeitoo sudah saling susul menyerang si anak muda.
Sin Tjie tidak menjadi bingung karena serangan hoeitoo yang seperti berantai itu, ia berlompat sambil kerahkan kedua tangannya secara sangat cepat, ia bukannya menangkis dan berkelit, ia hanya tanggapi setiap golok.
Maka dilain saat, dua-belas batang golok terbang itu telah bersarang diantara kedua tangannya kiri dan kanan, enam buah disetiap tangan!
Akan tetapi anak muda ini tidak cuma tangkap semua golok yang menyerang dia, dia tidak pegang itu lama-lama, dengan lantas dia melempar-lemparkannya, dengan kedua tangannya, hingga dalam beberapa kali saja, kedua tangannya sudah kosong pula.
Dilain pihak, semua hadirin menjerit bahna heran dan lalu melengak karenanya.
Sebab keduabelas golok itu menyambar kearah para-para senjata dan disana sejumlah tumbaktumbak biasa dan tumbak cagak -pada terputus ujungnya terkena sambaran hoeitoohoeitoo itu!
Menyusul ini, semua lima Ngo Tjouw matanya bernyala-nyala, saking mendongkolnya.
"Apakah kau dikirim oleh si Kim Coa Kan-tjat?"
Berseru mereka dengan suara jang sangat bengis.
"Kim Coa Kan-tjat"
Berarti "Kim Coa si bangsat".
Lima jago itu menegur secara demikian karena mereka saksikan caranya Sin Tjie menanggapi golok-golok terbang itu.
Dengan sebenarnya, Sin Tjie sudah lakukan perlawanan dengan keluarkan ilmu silat yang ia peroleh dari Kim Coa Pit Kip, kitab warisan Kim Coa Long-koen.
Tatkala dulu Kim Coa Long-koen Hee Soat Gie layani jago-jago Tjio Liang Pay itu, selagi Oen Beng Sie serang dia dengan dua belas Hoeitoo, dia telah menyambuti semua golok dengan tangan kosong, gerakannya mirip dengan gerakan Sin Tjie ini.
Maka itu, mereka ini jadi ingat kepada Kim Coa Long-koen itu, si Ular Emas.
Sin Tjie masih belum tahu, ada sangkutan apa diantara Kim Coa Long-koen dan jago-jago Tjio Liang Pay ini, dari itu, ia tidak lantas keluarkan kepandaiannya menurut ajaran si Ular Emas, adalah barusan, karena terancam bahaya, ia gunai itu diluar keinginannya.
Itu adalah ilmu silat yang dinamai "Tjian Tjhioe Koan Im Sioe-Ban po", atau "Koan Im Tangan Seribu Menyambut selaksa Mustika".
Sebenarnya, atas pertanyaan itu, pemuda ini hendak berikan jawaban, akan tetapi sebelum ia buka mulut, ia lihat dari luar paseban bertindak masuk tiga orang, diantara siapa ada Siauw Hoei, yang ternyata telah ditelikung oleh dua orangnya Tjio Liang Pay.
Teranglah si nona Baru saja dikeluarkan dari lobang jebakan, untuk dihadapi kepada ketua mereka.
Melihat nona itu, tidak ayal lagi, Sin Tjie lompat jauh, akan pergi keluar paseban, guna papaki nona itu.
Ia berlompat dengan gerakan "It hong tjiong thian", atau "Burung hoo terjang langit".
Menampak demikian, dengan masing-masing hunus senjatanya, Oen Beng Tat dan Oen Beng Gie lari mengejar.
Sin Tjie tidak perdulikan orang susul ia, ia memburu terus kearah Siauw Hoei, Baru ia datang dekat, ia sudah lantas disambut oleh dua orang yang iringi si nona, mereka ini masing-masing gunai golok dan pedangnya.
Segeralah terdengar suara nyaring dua kali beruntun, golok dan pedangnya dua penyerang itu terlepas dari cekalan mereka, terpental keras, sehingga mereka jadi tercengang dan kaget.
Sebab senjata mereka sudah bentrok dengan senjata toalooya dan djilooya mereka!
"Tolol!"
Kedua ketua itu mendamprat.
Sin Tjie sudah berlaku cerdik, ketika ia dipapaki serangan, ia bukan tangkis serangan itu, ia hanya nelusup kebawah, justru itu Beng Tat dan Beng Gie sampai, mereka ini sudah lantas serang si anak muda, hingga tak dapat dicegah lagi, senjata mereka berempat bentrok satu dengan lain.
Lolos dari serangan, Sin Tjie sudah lantas sambar Siauw Hoei, akan bikin putus tambang belenggu nona ini.
"Engko Sin Tjie!"
Nona An berseru saking girang.
"Sambut ini!"
Kata Sin Tjie, yang lemparkan pedang si nona yang pun terikat tambang, yang ia sudah lantas loloskan.
Siauw Hoei ulur tangannya, akan sambuti senjata itu.
Baru si nona pegang senjatanya, atau dua tumbak pendek dari Oen Beng Tat telah sambar dia, hingga ia jadi kaget.
"Aduh!Aduh!...."
Demikian dua teriakan menyusul, teriakan dari kehebatan.
Dalam ancaman bahaya itu, mendadak didepannya Siauw Hoei menghalang dua tubuh manusia, hingga tidak ampun lagi, mereka ini kena disapu Beng Gie, hingga keduanya rubuh dengan berteriak kesakitan.
Mereka nyata ada dua orang yang barusan iringi Siauw Hoei, mereka melintang karena dijoroki Sin Tjie.
Beruntung mereka, ketuanya keburu urungi serangan tumbaknya dan cuma dupak mereka.
Dua-dua Siauw Hoei dan Sin Tjie mundur, akan tetapi Beng Tat tidak mau sudah.
Toa looya ini melanjuti menyerang lebih jauh dengan tumbaknya.
Tiba-tiba tumbaknya kena terlibat tambang, hingga ia terkejut.
Untuk melepaskan diri, terutama untuk cegah orang tarik dia, ia barengi maju,akan menikam terus!
Sin Tjie masih belum lepaskan tambang bekas membelenggu Siauw Hoei ketika si nona terancam bahaya, ia gunai itu untuk sambar dan lilit senjata Toa-yaya.
Sebenarnya ia niat membetot tapi ia telah didahului Beng Tat, maka menggunai ketikanya itu, ia kendorkan cekalannya hingga tambang jadi terlepas dari tangannya, karena mana, Beng Tat ngusruk sendirinya, sukur setelah dua tindak, jago tua ini bisa pertahankan diri.
Selagi orang terjerunuk, Sin Tjie tarik tangan Siauw Hoei, untuk ajak si nona lari kedalam paseban dimana, bukannya ia menyerang atau menyingkir lebih jauh, ia hanya berdiri diam.
Oen Beng Tat telah jadi sangat gusar, karena ia merasa sudah dipermainkan orang, ia memburu kedalam paseban dengan diturut saudaranya.
Semua orang keluarga Oen juga telah berkumpul jadi satu.
Mereka berdiri dibelakang Ngo Tjouw mereka.
Beng Tat dan Beng Gie persatukan diri kepada tiga saudara mereka apabila mereka lihat si anak muda tidak lari menjingkir.
"Dimana adanya Kim Coa Kan-tjat?"
Beng Tat tanya sambil menuding dengan tangan kanan, karena tangan kirinya dipakai memegang tumbak pendeknya.
"Lekas bilang!"
"Jikalau ada bicara, lootjianpwee, mari kita omong secara baik, tak usah kau bergusar."
Sahut Sin Tjie dengan sabar.
"Pernah apa kau dengan Kim Coa Long-koen Hee Soat Gie?"
Tanya Beng Gie, dengan suara menyatakan kemurkaannya.
"Dia ada dimana sekarang? Apakah dia yang perintah kau datang kemari?"
"Seumurku, belum pernah aku lihat mukanya Kim Coa Long-koen,"
Jawab Sin Tjie, dengan tetap tenang.
"maka cara bagaimana dia bisa perintah-perintah aku?"
"Apakah katamu ini?"
Beng San, sam-yaya , tegaskan.
"Apa gunanya aku dustakan kamu?"
Sahut anak muda itu.
"Secara kebetulan saja aku bertemu sama ini saudara Oen Tjeng diatas sebuah perahu, berterima kasih atas kebaikannya, kita berdua lantas ikat tali persahabatan. Ada hubungan apa kamu dengan Kim Coa Long-koen?"
Ngo Tjouw nampaknya jadi lebih tenang, akan tetapi kecurigaannya masih belum lenyap.
"Apabila kau tidak sebutkan tempat sembunyinya Kim Coa Long-koen, hari ini jangan kau harap bisa keluar dari Tjio-liang!"
Beng Tat mengancam. Ia tidak jawab pertanyaan orang.
"Dengan andali kepandaian kamu ini kamu hendak menahan aku?"
Si anak muda tegasi.
"Aku kuatir kau tak nanti mampu berbuat demikian..."
Masih Sin Tjie berlaku sabar sekali, sikapnya menghormat. Lalu ia menambahkan .
"Dengan Kim Coa Long-koen itu, aku tidak bersanak tidak berkadang, sama sekali kita berdua belum pernah bertemu muka. Cuma, untuk bicara terus-terang, dimana adanya dia sekarang, aku tahu, melainkan aku kuatir disini tak ada seorangpun yang berani pergi menemukan dia...?"
Dengan mendadak, kumat pula kemurkaan Ngo Tjouw dari Tjio Liang Pay itu.
"Siapa bilang kami tidak berani?"
Seru Beng Tat, si Toa-yaya.
"Selama sepuluh tahun ini, tidak ada satu hari yang kami tidak cari dia! Kami berlima saudara, satu persatu jiwa kami, suka kami antarkan ketangannya dia itu! Biar dia ada diujung langit, pasti kami akan cari padanya! Dimana dia ada?"
Sin Tjie tertawa dengan tawar.
"Apa benar-benar kamu hendak pergi ketemui dia?"
Ia tanya. Beng Tat maju setindak.
"Tidak salah!"
Jawabnya.
"Ada apa faedahnya akan bertemu dengannya?"
Tanyanya.
"He, sahabat kecil, siapa hendak main-main denganmu?"
Beng Tat menegur.
"Lekas kau omong!"
Anak muda itu bersemu.
"Lootjianpwee semua ada bertubuh sehat wal'afiat,"
Katanya.
"masih mesti ditunggu lagi banyak tahun untuk lootjianpwee menemui dia itu. Dia telah menutup mata!"
Mendengar jawaban ini, semua orang tertjengang, hingga mereka pada berdiri menjublak, hanya adalah Oen Tjeng yang terdengar menjerit dan terus memanggil-manggil .
"Ibu! Ibu! Ibu, bangun!"
Sin Tjie heran, ia segan menoleh, maka terlihatlah olehnya, si nyonya usia pertengahan sudah rubuh pingsan, tubuhnya berada dalam pangkuan si anak muda Oen Tjeng.
Nyonya itu tutup rapat mulutnya, mukanya pucat sekali.
Ngo Tjouw pun terkejut.
"Dosa!"
Kata Oen Beng San ber-ulang-ulang. Beng Gie segera kata pada Oen Tjeng .
"Tjeng Tjeng, lekas pondong ibumu kedalam! Jangan kau mendatangkan malu, hingga orang nanti menertawainya!"
Oen Tjeng menangis dengan tiba-tiba, tapi ia menjawab dengan sengit.
"Malu apa? Ibu dengar ayah menutup mata, tentu saja ia kaget dan jadi bersusah hati karenanya!..."
"Nyonya eilok itu jadi ada isterinya Kim Coa Long-koen?"
Tanyanya dalam hatinya.
"Dan Oen Tjeng ini puteranya..."
Beng Gie gusar bukan main mendengar perkataan Oen Tjeng hingga ia kertak giginya berulang-ulang.
"Toako, jikalau masih kau sayangi bocah ini, nanti aku yang ajar padanya!"
Kata ia dengan keras pada Beng Tat, sang kanda.
"Siapa itu ayahmu?"
Beng Tat bentak sang cucu.
"Kau tidak mau lekas masuk?"
Oen Tjeng lantas pepayang si nyonya eilok, untuk diajak masuk kedalam. Nyonya itu sudah sadar tapi ia masih sangat lemah.
"Kau minta Wan Siangkong menemui aku besok malam,"
Ibu ini kata dengan pelahan.
"Aku hendak tanyakan dia."
Oen Tjeng manggut, terus ia menoleh pada Sin Tjie.
"Masih ada satu hari!"
Katanya.
"Besok malam kau boleh datang pula untuk curi emas, aku ingin lihat kau mampu atau tidak!"
Dengan roman sengit, ia lirik Siauw Hoei, habis itu ia pepayang ibunya dan bertindak masuk.
"Mari kita pergi!"
Sin Tjie ajak Siauw Hoei. Lantas keduanya bertindak keluar.
"Pelahan dulu!"
Tiba-tiba Ngo-yaya Oen Beng Go mencegah sambil kedua tangannya dipakai menghalangi.
"Aku masih ingin tanya kau."
Sin Tjie rangkap kedua tangannya, untuk memberi hormat.
"Sekarang sudah jauh malam, lain hari saja aku kunjungi lootjianpwee,"
Katanya.
"Kim Coa Kan-tjat itu dimana matinya? "Beng Go tanya.
"Ketika dia mati, siapa yang lihat padanya?"
Ditanya begitu, berpetalah dimatanya Sin Tjie kejadian itu malam didalam gua diatas puncak gunung Hoa San ketika Thio Tjoen Kioe serang si pendeta.
"Terang sudah, kamu sedang cari warisan Kim Coa Long-koen,"
Pikir dia.
"Tidak, aku tidak bisa kasi keterangan!"
Maka ia jawab.
"Aku ketahui itu dari pendengaran satu sahabat. Jikalau tidak keliru, Kim Coa Long-koen meninggal dunia disebuah pulau diluar propinsi Kwietang."
Ngo Tjouw saling mengawasi, nampaknya mereka heran.
"Maka itu pergilah kamu kepulau itu dilaut Kwietang!"
Sin Tjie kata. Terus ia memberi hormat pula,dan tambahkan .
"Aku yang muda tak dapat menemani lebih lama pula...."
"Jangan kesusu!"
Oen Beng Go mencegah pula.
Dia masih mau menanya melit-melit, kembali dia lintangi kedua tangannya.
Sin Tjie keluarkan tangannya, untuk tolak lengan orang, tapi Beng Go segera tekuk lengannya itu, untuk dipakai menggaet.
Ia gunai tipu "Kim-na-hoat"
Akan cekal tangan si anak muda.
Sin Tjie tidak niat bertempur pula, selagi kedua tangan mereka beradu, ia tarik Siauw Hoei dengan tangan kiri, ia ajak si nona loncat akan lewati jago tua ini yang kelima.
Si nona adalah yang loncat lebih dahulu, akan lewat disamping jago tua itu, baju siapa pun tidak sampai terlanggar.
Oen Beng jadi panas, hingga selagi tarik pulang tangan kanannya, ia bawa itu kepinggangnya, maka dilain saat ia sudah tarik keluar sepotong cambuk lemas terbuat dari kulit kerbau, senjatanya yang istimewa.
Dengan itu, ia lantas serang bebokong si anak muda dengan tipu pukulannya "Tjoen Ma toat kiang"
Atau "Kuda jempol meloloskan pelana".
Jikalau lain orang bergegaman cambuk dari baja atau lain logam, Beng Go gunai bahan kulit, yang lemas tapi ulet, yang ia biasa gunai sama hebatnya seperti logam.
Sin Tjie dengar suara angin dibelakangnya, sambil masih tarik tangan si nona An, ia mendak seraya terus berlompat, dengan begitu, serangan cambuk jadi mengenai sasaran kosong.
Habis itu ia berlompat kearah tembok.
Oen Beng Go jadi sangat penasaran.
Ia punyakan latihan dari beberapa puluh tahun dengan cambuknya itu, siapa tahu, dengan gampang saja si anak muda lolos dari serangannya.
Maka tak mau ia berhenti dengan begitu saja.
Meneruskan gerakan tangannya, yang ia tarik pulang, ia rabih kaki Siauw Hoei.
Jago tua ini tahu, kepandaian si nona masih sangat berbatas, ia percaya ia akan berhasil merubuhkan nona itu.
Ia tidak pikir bahwa si anak muda ada bersama si nona.
Sin Tjie dengar suara anginnya cambuk lemas itu, sambil menoleh ia ulur tangan kirinya, untuk menanggapi, guna lindungi Nona An.
Ia berhasil dengan dayanya ini.
Justru ia sudah injak tembok, ia segera kerahkan tenaganya, akan tarik cambuk itu.
Beng Go menyerang sambil berlompat maju, tentang gerakannya si anak muda, ia tidak pernah sangka, maka itu, ia kaget tidak terkira ketika cambuknya kena ditangkap dan terus ditarik, percuma ia mencoba akan pertahankan diri, tubuhnya kena tertarik hingga terangkat, hingga kedua kakinya tak menginjak tanah.
Maka dengan tergantung sedemikian rupa, tak mampu lagi ia kerahkan tenaganya.
Ngo-yaya ini ingin bikin terang mukanya, ia pasti akan berhasil jika ia sanggup bikin Siauw Hoei rubuh, siapa nyana, ia justru jadi bertambah malu karena si anak muda pecundangi padanya.
Malah dengan tergelantung demikian rupa, ia sekarang terancam bahaya.
Oen Beng Sie kuatirkan saudaranya itu, ia ayun tangannya akan terbangkan dua buah goloknya, hingga dengan perdengarkan suara "Swing!
Swing!"
Kedua hoeitoo menyambar kearah bebokongnya si anak muda.
Sie-yaya ini hendak tolongi adiknya, tidak niat ia mencelakai orang.
Melihat ada serangan golok, Sin Tjie lepaskan cekalannya kepada cambuk lemas, ia tarik Siauw Hoei, buat diajak terus lompat turun keluar tembok.
Akan tetapi sebuah golok sudah mendekati kakinya, dengan gesit ia jejak itu, hingga golok jadi berbalik, membentur golok yang kedua, hingga dua-duanya lantas jatuh kebawah.
Sementara itu Beng Go ada di kaki tembok, kemana ia jatuh tanpa bahaya ketika Sin Tjie lepaskan cekalan cambuk.
Kapan ia lihat turunnya golok, ia sambar dengan cambuknya, dengan niat dililit.
Apamau, selagi ia menyabet, cambuknya itu putus sendirinya, hingga ia jadi kaget.
Maka untuk luputkan diri dari sambaran golok, ia rubuhkan diri untuk bergulingan dengan gerakannya "Lay louw ta koen"
Atau "keledai malas bergulingan".
Ia sudah berlaku cepat sekali tetapi tidak urung ujung golok mengenai ujung bajunya hingga baju itu robek.
Maka itu, waktu ia bangkit bangun, ia keluarkan keringat dingin, mulutnya ternganga.
Tidak pernah ia sangka, dalam keadaaan seperti itu Sin Tjie telah bisa bikin cambuknya tertekuk patah hingga jadi hilang kekuatannya.
Oen Beng Tat saksikan itu semua, ia menggeleng-geleng kepala.
Lain-lain saudaranya pun heran dan kagum.
"Bocah itu Baru berumur kurang-lebih dua-puluh tahun, umpama kata ia belajar silat sejak dalam kandungan, temponya toh tak lebih dari dua-puluh tahun, maka heran sekali, kenapa dia ada begini liehay?"
Kata Oen Beng Gie si Djie-yaya. Akan tetapi Oen Beng San sangat penasaran.
"Si bangsat Kim Tjoa ada sangat liehay, dia toh rubuh ditangan kita!"
Katanya.
"Besok malam bocah itu bakal datang pula, besok nanti kita layani dia pula!"
Sampai disitu, keluarga Oen itu bubaran, sedang Sin Tjie dan Siauw Hoei dengan tidak kurang suatu apa sudah kembali kepondok mereka dirumahnya si orang tani.
Nona An sangat kagumi ini sahabat sejak kecil, ia memuji tidak putusnya.
"Tjoei Soeko biasa puji tinggi gurunya,"
Katanya "tapi aku percaya gurunya itu tak nanti sanggup tandingi kau!"
"Apa sih namanya Tjoei Soekomu itu?"
Sin Tjie tanya.
"Dan siapakah gurunya?"
"Gurunya itu adalah murid dari Bok Loo-tjouwsoe dari Hoa San Pay, katanya gelarannya ada Tong-pit-Thie-shoei-phoa. Mendengar gelaran itu, yang berarti pit kuningan dan shoeiphoa besi, pada mula kalinya aku tertawa tak hentinya. Tak ingat aku akan tanyakan soeko tentang nama gurunya itu."
Sin Tjie manggut, didalam hatinya, ia kata.
"Kiranya Tjoei Soeko itu ada muridnya Toasoeheng, maka dia mesti panggil soesiok padaku..."
Ia tidak beritahukan Siauw Hoei tentang hubungannya ini dengan Hie Bin atau Tong-pit-Thie-shoei-phoa.
Kemudian keduanya masuk tidur.
Dimalam kedua, Sin Tjie minta Siauw Hoei menanti saja di pondokan.
Siauw Hoei insaf, kepandaiannya masih belum berarti, malah tadi malam, ia seperti bantu merintangi kawan ini, maka ia menurut akan berdiam di rumah meski sebenarnya sangat ingin ia turut.
Sin Tjie tunggu sampai sudah tengah malam, Baru ia berangkat.
Ia ambil jalan seperti kemarinnya untuk pergi kerumah keluarga Oen itu.
Ketika ia sampai diluar tembok, ia lihat di-mana-mana gelap, tidak ada cahaya api seperti kemarinnya.
Tadinya ia mau terus masuk ketika dengan tiba-tiba ia dengar seruling merayu tiga kali, berhenti sedetik setiap rintasan.
"Itulah Oen Tjeng memanggil aku,"
Pikir anak muda ini yang otaknya tajam.
"Ngo Tjouw ada licin tapi Oen Tjeng masih ingat persahabatan."
Maka ia, urung lompat naik keatas tembok, anak muda ini memutar tubuh, akan bertindak kearah dari mana suara seruling datang.
Ialah dari Bwee Koei San, bukit yang bertaman bunga mawar.
Selagi ia mendaki, dari jauh-jauh ia sudah tampak dua orang sedang duduk didalam paseban, ketika ia mendekati, ia lihat mereka itu adalah orang-orang perempuan.
Diantara sinarnya si Puteri Malam, kelihatan juga, satu diantaranya lagi tempeli seruling kepada bibirnya, hingga segera terdengar irama merayu-rayu.
"Itu toh suara serulingnya Oen Tjeng?..."
Pikir pemuda ini, yang menjadi heran dan curiga.
Karena ini, selagi mendekati, ia bertindak dengan pelahan-lahan.
Orang perempuan yang meniup seruling itu bertindak keluar paseban, untuk papaki si anak muda.
"Toako!..."
Katanya dengan pelahan. Sin Tjie terkejut, hingga ia berdiri melongo. Nona itu Oen Tjeng adanya, anak muda yang ia anggap sebagai sahabatnya! Ia masih berdiam sekian lama, Baru ia tanya .
"Kau....kau...."
Katanya tak lancar. Oen Tjeng tertawa geli, suaranya pelahan.
"Sebenarnya aku adalah seorang perempuan,"
Ia kasi keterangan.
"Sampai sebegitu jauh aku telah abui kau, toako, harap kau jangan buat kecil hati."
Lantas ia memberi hormat sambil menjura. Sin Tjie balas hormat itu. Sekarang Barulah lenyap kecurigaannya sekian lama mengenai perangainya Oen Tjeng, tentang sifat-sifat kewanitaannya.
"Namaku adalah Oen Tjeng,"
Berkata pula si nona. Ia rupanya dapat mengerti keheranan si anak muda.
"Sebegitu jauh aku perkenalkan diri Tjeng, sebenarnya masih kurang satu huruf Tjeng lagi..."
Dan ia tertawa dengan manis. Dengan dandan sebagai satu nona, Oen Tjeng Tjneg benar elok dan manis sekali, alisnya bagus, matanya jernih, pipinya dadu, bibirnya seperti buah engtoh.
"Dasar aku yang tolol, orang perempuan tak aku kenali..."
Pikir Sin Tjie.
"Disana ibu; ibu ingin bicara denganmu,"
Kemudian berkata pula si nona.
"Mari!"
Sin Tjie bertindak kedalam paseban, terus ia memberi hormat.
"Pehbo,"
Ia memanggil sambil ia perkenalkan diri. Nyonya itu berbangkit untuk membalas hormat.
"Jangan pakai adat-peradatan,"
Katanya. Sin Tjie lihat kedua matanya nyonya itu merah dan bengul, romannya sangat lesu, tanda dari kedukaan hati yang hebat.
"Menurut Tjeng Tjeng, ibunya ini telah diganggu orang jahat hingga terlahirlah dia,"
Pikir anak muda kita.
"Orang jahat itu tentu Kim Tjoa Long-koen adanya. Kelihatan nyata sekali, lima ketua dari keluarga Oen sangat benci pada Kim Tjoa Long-koen, sebab ketika Tjeng Tjeng sebut dia itu sebagai ayah, ia ditegur oleh Djie-yaya. Sebaliknya ibunya mendengar hal kematiannya Kim Tjoa Long-koen, telah pingsan karenanya, tanda kedukaan yang hebat. Bukankah disini mesti ada terselip suatu rahasia? Apakah adanya itu? Baik aku hiburkan dia..."
Nyonya itu berdiam sekian lama, Baru ia bicara pula.
"Dia.....apakah benar dia telah menutup mata?"
Tanyanya.
"Wan Siangkong, apakah kau lihat sendiri dia meninggal?"
Anak muda itu manggut.
"Wan Siangkong baik terhadap Tjeng Tjeng, inilah aku tahu,"
Kata pula si nyonya yang elok tetapi laju itu.
"Maka itu pasti aku tidak akan berlaku sebagai sekalian yayanya itu, yang anggap kau sebagai musuh. Aku minta sukalah kau tuturkan aku tentang meninggalnya dia..."
Mengenai sifatnya Kim Tjoa Long-koen, Sin Tjie masih gelap dan ragu-ragu.
Gurunya sendiri, yang bicara dengan Bhok Siang Toodjin, mengatakan si ular emas ada seorang berperangai luar biasa, cara hidupnya ada diantara sesat dan tak sesat.
Akan tetapi, sejak ia dapatkan "Kim Tjoa Pit Kip"
Dan peroleh ilmu silat dari kitab pusaka itu, diam-diam ia kagumi orang luar biasa itu, yang otaknya sangat cerdas, dan diam-diam juga ia pandang si orang aneh sebagai gurunya.
Biar tidak langsung dia toh dappat pelajaran berharga dari Kim Tjoa Long-koen.
Maka itu, mendengar Ngo Tjoue mendamprat Kim Tjoa Long-koen sebagai "kan-tjat" , bangsat yang hina dan licik, ia jadi gusar sekali, cuma karena ia belum tahu duduknya hal, tak bisa ia bilang suatu apa.
Sekarang ia dengar suaranya ibu dari Tjeng Tjeng, ia kembali dapat pemandangan lain.
"Belum pernah aku bertemu dengan Kim Tjoa Long-koen,"
Ia jawab pertanyaan si nyonya.
"akan tetapi walaupun demikian, dia dan aku ada sebagai guru dan murid, karena sebagian dari ilmu silatku aku dapat pelajarkan dari beliau. Aku pikir tidak leluasa untuk tuturkan jelas hal Kim Tjoa Long-koen setelah ia menutup mata, aku kuatir orang jahat nanti pergi menyatroni dan merusak kuburannya itu...."
Baru si nyonya mendengar kata terakhir dari si anak muda, ia lantas saja tergeletak rubuh, sehingga Tjeng Tjeng mesti sambar tubuhnya,untuk ditolongi.
"Ibu, Ibu!"
Memanggil si nona.
"Keraskan hatimu, ibu...."
Tidak lama pingsannya nyonya ini, lalu ia sadar pula. Ia lantas menangis.
"Delapan-belas tahun lamanya aku nantikan dia, aku harap dengan sangat dia datang untuk sambut kami ibu dan anak, supaya kami bisa berlalu dari sini, siapa sangka justru dialah sendiri yang sudah pergi lebih dahulu..."
Mengeluh nyonya Kim Tjoa Long-koen ini.
"Dan Tjeng Tjeng sama sekali belum pernah lihat muka ayahnya..."
"Jangan berduka, pehbo,"
Sin Tjie menghibur.
"Sekarang ini Hee lootjianpwee sedang tidur dengan senang dialam baka. Tulang-tulangnya semua akulah yang kubur dengan baik-baik."
"Oh, kau yang menguburnya, Wan Siangkong?"
Kata si nyonya.
"Budimu ini ada sangat besar, aku tidak tahu bagaimana nanti aku membalasnya."
Ia segera berbangkit, untuk memberi hormat. Sin Tjie sibuk, untuk mencegah.
"Tjeng Tjeng, hayo kau paykoei kepada Wan Toako!"
Nyonya ini titahkan gadisnya.
Tanpa bilang suatu apa, Tjeng Tjeng lantas jatuhkan diri berlutut didepan si anak muda, sehingga dia ini repot berlutut juga untuk membalas hormat, buat sekalian mengasih bangun kepada nona itu.
"Apakah dia meninggalkan surat untuk kami?"
Kemudian nyonya itu tanya pula.
Ditanya begitu, Sin Tjie ingat pesan dari Kim Tjoa Long-koen bahwa siapa "dapatkan warisannya, dia mesti pergi ke Tjio-liang di Kie-tjioe, Tjiatkang untuk cari Oen Gie, untuk serahkan emas banyaknya sepuluh laksa tail."
Pesan itu membikin ia bingung, lalu ia tak perhatikan lebih jauh.
Ia sendiri pun tidak tergiur hatinya oleh itu harta besar, malah ia bayangi, jangan-jangan Kim Tjoa Long-koen bercelaka karena harta besar itu.
Ia juga ingat baik-baik kata-kata gurunya bahwa harta besar bisa mendatangkan malapetaka.
Karena ini, ia rada jemu dengan petanya Kim Tjoa Long-koen itu.
Sampai sekarang nyonya ini menanyakannya.
"Maaf, pehbo,"
Katanya.
"aku memberanikan diri untuk tanya apa pehbo bernama Gie?"
Ibunya Tjeng Tjeng nampaknya terperanjat.
"Benar,"
Jawabnya.
"Bagaimana kau ketahui itu?"
Belum sampai si anak muda sahuti ia, ia sudah tambahkan .
"Tentu kau ketahui itu dari surat peninggalannya! Apakah Wan Siangkong bawa suratnya itu sekarang?"
Tegang sekali sikapnya si nyonya selagi ia menanyakan demikian.
Disaat Sin Tjie hendak jawab nyonya itu, mendadak ia menjejak dengan kaki kanannya, segera tubuhnya lompat mencelat melewati lankan, menyambar kesuatu gerombolan pohon mawar.
Oen Gie danTjeng Tjeng, ibu dan anak, kaget dan heran, keduanya segera mengawasi anak muda itu.
Tiba-tiba terdengar satu jeritan "Aduh!"
Kemudian tertampak Sin Tjie gusur keluar satu orang, tubuh siapa diam saja, karena rupanya dia telah ditotok jalan darahnya.
Dengan jambak bebokongnya, pemuda ini bawa orang itu kedalam paseban dimana dia itu digabruki kelantai.
"Eh, inilah tjit-pehhoe!"
Tjeng Tjeng bersuara tertahan. Oen Gie pun mengenalinya, ia lantas menghela napas panjang.
"Wan Siangkong, tolong kau merdekakan dia,"
Mintanya.
"Didalam rumah keluarga Oen ini, kecuali kita berdua ibu dan anak, tidak ada orang lain lagi yang pandang kami sebagai orang dalam..."
Sin Tjie lihat sikap lesu nyonya itu, ia dengar suara yang lemah bersedih.
Lantas saja ia tepuk jalan darahnya orang tawanannya itu, atas mana dia ini keluarkan jeritan perlahan, lalu mendusin.
Nyatalah orang ini ada Oen Lam Yang dengan siapa Sin Tjie pernah bertempur.
Dia adalah anak Oen Beng Gie dan turut runtunan, dia ada anak ketujuh dalam keluarga Oen itu.
"Tjit-pehhoe!"
Oen Tjeng tegur mamaknya itu..
"kami sedang bicara di sini,mengapa kau mencuri mendengari? Sama sekali kau tidak hargai derajatmu sebagai orang yang terlebih tua!"
Kedua matanya Oen Lam Yang bersinar, rupanya ia mendongkol, tapi sebentar saja, lantas ia ngeloyor pergi dengan tak bilang suatu apa.
Rupanya ia jeri atas keliehayan si anak muda, yang barusan cekuk ia dengan gampang, sedang kemarinnya, ia pun gagal layani anak muda itu.
Akan tetapi, setelah beberapa tindak diluar paseban, dia menoleh dan kata dengan sengit .
"Perempuan tidak tahu malu pasti bisa melahirkan satu anak perempuan tidak tahu malu juga! Sudah sendiri mencuri lelaki, sekarang pun anak sendiri diajari curi lelaki juga!"
Tapi Tjeng Tjeng tidak bisa antap hinaan itu, sambil hunus pedangnya ia loncat keluar paseban, untuk menyusul.
"Eh, tjit-pehhoe, mulutmu kotor sekali!"
Ia berseru.
"Apa kau bilang?"
Oen Lam Yang putar tubuhnya lalu ia berdiri tegak.
"Eh, kacung hina, kau hendak berontak?"
Tanyanya.
"Yaya semua yang perintah aku datang kemari! Habis kau mau apa?"
"Jikalau kau hendak bicara dengan kita, kau boleh bicara terus-terang!"
Tjeng Tjeng tegur.
"Kenapa kau curi dengar pembicaraan kita?"
"Kita? Hm!"
Oen Lam Yang menghina, sambil tertawa dingin.
"Entah orang hutan dari mana datang kemari yang lantas dimasuki dalam lingkungan kita! Muka terang delapanbelas turunan dari keluarga Oen telah kau bikin malu!"
Mukanya Tjeng Tjeng menjadi merah saking malu. Ia menoleh pada ibunya.
"Ibu, dengarlah kata-katanya itu!"
Katanya.
"Tjit-ko, mari, aku hendak bicara denganmu,"
Kata Oen Gie dengan pelahan. Oen Lam Yang kasih dengar suara ."
Hm!"
Lantas ia bertindak menghampiri, sikapnya jumawa sekali.
"Kita ibu dan anak hidup menderita,"
Berkata si nyonya kemudian.
"Kita berterima kasih kepada lima yaya dan semua saudara, yang masih mengijinkan kita tinggal belasan tahun dalam rumah keluarga Oen ini. Tentang urusan si orang she Hee, belum pernah aku omong suatu apa terhadap Tjeng Tjeng, tetapi sekarang setelah dia menutup mata, selagi tjitko ketahui semua dengan baik, tolong kau tuturkan itu kepada Wan Siangkong dan Tjeng Tjeng...."
"Kenapa aku yang mesti menuturkan?"
Tanya Oen Lam Yang dengan mendongkol.
"Inilah urusan kamu, kamu sendiri yang harus menceritakan asal jangan kamu tahu malu!"
Nyonya itu menghela napas.
"Baiklah,"
Sahut dia.
"Aku tahu, dia pernah tolongi jiwamu, aku percaya, sedikitnya kau masih bersukur terhadapnya, siapa tahu kau sama saja dengan semua anggauta keluarga Oen ini, semuanya bong in pwee gie -semua tidak kenal budi-kebaikan!"
Oen Lam Yang jadi sangat gusar.
"Dia pernah tolong jiwaku, itu benar!"
Katanya dengan sengit.
"Tapi kenapa dia tolongi aku? Baiklah, aku nanti tuturkan semua, supaya kalau kau yang menceritakannya, tak bisa kau menambahi bumbu hingga aku akan jadi orang macam apa tahu!"
Ini mamak yang ketujuh lantas duduk.
"Orang she Wan, Tjeng Tjeng,"
Katanya, mulai.
"nanti aku tuturkan bagaimana duduknya hingga kami kenal Kim Tjoa Kan-tjat, aku nanti jelaskan semua dengan terang supaya kamu ketahui bagaimana jahatnya kantjat itu!"
"Jikalau kau omong jelek tentang dia, tak suka aku mendengari!"
Memotong Tjeng Tjeng.Dan ia tutupi kupingnya.
"Tjeng Tjeng, kau dengarilah!"
Berkata sang ibu.
"Ayahmu yang telah meninggal dunia ini, walaupun dia tak dapat dikatakan orang baik seluruhnya, akan tetapi apabila dia dipadu dengan keluarga Oen, dia masih terlebih baik beratus lipat!"
"Hm, kau lupa bahwa kau pun she Oen!"
Mengejek Oen Lam Yang sambil tertawa dingin. Oen Gie tidak perdulikan ejekan kakak itu. Maka Oen Lam Yang segera mulai dengan penuturannya .
"Itu adalah kejadian pada duapuluh tahun yang telah lampau. Ketika itu aku baru berumur dua puluh satu tahum. Ayah telah utus aku ke Yang-tjioe untuk bantui liok-siokhoe..."
"Kiranya,"
Pikir Sin Tjie,"
Ngo Tjouw dari Tjio Liang Pay bukan cuma berlima saudara hanya berenam..."
Liok-siokhoe adalah paman yang keenam.
"Ketika aku sampai di Yang-tjioe, aku tak dapat menemui Liok-siokhoe,"
Lam Yang melanjuti.
"Pada suatu malam aku pergi keluar, untuk bekerja, apa celaka, karena kurang waspada, aku gagal..."
"Kau tidak jelaskan, kerjaan apa itu yang kau lakukan,"
Kata Oen Gie dengan dingin. Lam Yang mendongkol, ia gusar.
"Aku toh satu laki-laki, aku berani berbuat, mustahil aku takut menyebutkannya?"
Katanya dengan sengit.
"Aku telah dapat lihat satu nona yang cantik sekali, aku lompat masuk kedalam pekarangannya , untuk memetik bunga. Nona itu tolak aku, maka aku lantas bunuh dia. Nona itu masih dapat ketika untuk menjerit dan jeritannya itu terdengar orang. Ada beberapa guru silat yang menjadi tjinteng rumah itu, mereka itu keluar mengepung aku. Aku tidak sanggup layani begitu banyak orang, akhirnya aku kena ditangkap...."
Sin Tjie bergidik sendirinya mendengar orang cerita tentang kekedjian dan kekejamannya sendiri tanpa merasa jengah atau malu. Istilah "petik bunga"
Itu adalah perkosaan terhadap orang perempuan. Ia pikir, kenapa Oen Lam Yang sedemikian jahat.
"Orang lantas kirim aku kepenjara,"
Mamaknya Oen Tjeng Tjeng itu melanjuti.
"Aku tidak takut. Aku ingat, liok-siokhoe toh ada di kota Yang-tjioe. Untuk seluruh Kanglam, boegeenya paman itu tidak ada tandingannya. Aku percaya, asal paman ketahui kegagalanku, pasti dia bakal datang menolongi aku. Akan tetapi sepuluh hari sudah aku menanti-nanti, tidak juga paman muncul. Sementara itu surat keputusan telah datang dari pembesar lebih atas, aku telah diputuskan hukuman mati, yang mesti dijalankan didalam kota Yangtjioe juga. Satu pegawai penjara beritahukan aku keputusan itu. Sampai itu waktu Barulah aku ketakutan..."
"Hm! Aku menyangka kau tak kenal takut!..."
Tjeng Tjeng mengejek. Lam Yang tidak gubris keponakannya ini.
"Selang tiga hari, sipir bui datang dengan arak secawan besar dan sepiring daging,"
Demikian ia meneruskan ceritanya.
"Aku tahu artinya makan besar ini, ialah besok aku bakal jalankan hukumanku. Aku pikir, semua orang memang satu kali mesti mati, hanya aku, aku merasa sayang atas diriku sendiri. Aku masih muda dan belum cukup merasai kesenangan....Tapi aku keraskan hati, aku dahar, aku minum, aku habiskan daging dan arak itu, sesudah mana, aku pergi tidur. Tepat pada tengah malam, aku tersedar karena ada orang tepuk-tepuk pundakku dengan pelahan. Aku segera geraki tubuh, untuk bangun. Lantas aku dengar kisikan di kupingku .
"Jangan bersuara! Aku akan tolong padamu!"
Orang itu lantas gunai senjatanya, akan tabas kutung pesawat borgolan di tangan dan kakiku.
Itulah senjata yang tajam luar biasa, karena borgolan besi terpapas dengan beberapa bacokan saja.
Habis itu dia tarik tanganku, dia ajak aku menyingkir dari penjara.
Kita kabur sampai diluar kota, disebuah kuil tua.
Selama diajak lari, aku turut saja.
Memang aku tak dapat berbuat lain.
Dia itu larinya pesat sekali, tenaganya pun besar luar biasa, tak bisa aku lepaskan diri dari cekalannya.
Karena separuh ditarik, aku jadi tidak terlalu cape.
Setelah dia nyalakan lilin diatas meja suci, Baru aku dapat lihat tegas romannya, ialah satu pemuda yang cakap-ganteng, usianya lebih muda beberapa tahun daripadaku, mukanya putih-bersih.
Hm!"
Lantas saja ia berpaling kepada Oen Gie dan Tjeng Tjeng bergantian, akan lirik itu ibu dan anak.
"Aku lantas kasih hormat pada pemuda itu seraya menghaturkan terima kasih."
Lam Yang cerita lebih jauh setelah ia mengejek ibu dan anak itu dengan lirikannya.
"Dia sangat jumawa, dia tak balas hormatku itu. Dia kata .
"aku seorang she Hee, apa kau ada orang she Oen dari Tjio Liang Pay?"
Aku manggut.
Sementara itu aku lihat dia masih cekal senjata tajamnya yang tadi dipakai menabas kutung rantai borgolanku.
Itu adalah pedang warna hitam, anehnya adalah ujung pedang terpecah dua sebagai cagak."
Didalam hatinya, Sin Tjie kata .
"Itulah dia pedang Kim Tjoa Kiam yang aku dapatkan."
Ia diam saja, ia mendengari terus.
"Habis itu aku tanya namanya,"
Oen Lan Yang bercerita terus.
"Tak usah kau ketahui namaku!"
Jawabnya.
"Biar bagaimana, dibelakang hari, tidak nanti kau berterima kasih kepadaku!"
Aku jadi sangat heran. Pikirku, dia telah tolongi jiwaku, tentu saja aku mesti senantiasa ingat budinya itu, ingat seumur hidupku.
"Aku tolong kau untuk kepentingan pamanmu yang keenam,"
Ia menambahkan.
"Mari turut aku!"
"Dengan keheran-heranan, aku ikuti dia. Kita pergi ketepi sungai Oen Hoo, kita naik atas sebuah perahu dan masuk kedalamnya. Dengan ringkas dia suruh tukang perahu berangkat, keselatan. Sesudah menyingkir dari Yangtjioe lebih dari sepuluh lie, Baru hatiku mulai lega. Itu artinya, pembesar negeri tidak akan mampu susul pula padaku."
Dari sakunya, anak muda itu keluarkan sepasang ngo-bie-tjie, ialah semacam senjata mirip dengan tempuling.
Aku kenali itu sebagai gegaman liok-siokhoe.
Biasanya tidak pernah liok-siokhoe terpisah dari gegamannya itu, maka aku heran, kenapa ngo-bie-tjie itu berada ditangannya penolongku yang tidak dikenal itu.
"Liok-siokhoemu itu adalah sahabat karibku!"
Kata dia sambil tertawa. Ia tertawa beberapa kali, lalu dengan tiba-tiba mukanya jadi berperongos bengis. Tanpa merasa, aku menggigil saking heran, kaget dan jeri.
"Disini ada sebuah peti,"
Katanya kemudian.
"Aku ingin kau bawa pulang itu kerumah.Dan ini surat kau serahkan pada ayahmu, pada mamak dan pamanmu semua!"
Dia menunjuk pada sebuah peti didalam perahu itu. Itulah peti yang besar sekali yang ditutup dan dipaku keras, lalu dilibat dengan dadung.
"Kau mesti pulang dengan lekas, jangan kau singgah ditengah jalan,"
Dia pesan.
"Peti ini mesti dibuka dengan tangan sendiri oleh mamakmu yang pertama!"
Aku terima baik pesan itu.
"Dalam satu bulan ini, aku akan datang berkunjung kerumahmu,"
Dia berkata pula.
"Kasih tahu pada semua tertua dirumahmu supaya mereka sambut aku secara baik-baik!"
"Itulah kata-kata tidak keruan juntrungannya, akan tetapi aku toh terima juga. Setelah memesan dan aku menerimanya, se-konyong-konyong dia sambar jangkar rantai dari atas perahu, hingga rantainya berbunyi berisik. Segera ia lemparkan itu, malah beruntun semua empat-empatnya jangkar."
"Bagus!"
Berseru Tjeng Tjeng tanpa ia merasa.
"Cis!"
Meludah Lam Yang, hingga ludahnya itu menodai lantai paseban,yang sangat bersih.
Sekitar paseban ditanami pohon kembang mawar, Tjeng Tjeng tanam itu dengan tangannya sendiri.
Paseban itu, terutama lantainya, sangat bersih karena si nona sangat resik.
Sekarang ia lihat paseban diludahi, ia jadi berduka.
Sin Tjie tampak roman menyesal sahabatnya, ia ulur sebelah kakinya, akan gusak-gusak ludah itu.
Melihat kelakuan itu, si nona menoleh pada pemuda ini, agaknya ia sangat berterima kasih.
Oen Gie lihat kelakuan dua anak muda itu, ia manggut dengan pelahan.
Nyata ia puas dengan tingkah-laku pemuda itu.
"Terang dia telah perlihatkan tenaga besarnya padaku, tetapi aku tidak dapat terka apa artinya itu,"
Oen Lam Yang melanjutkan untuk kesekian kalinya.
"Dengan kekuatannya itu, dia telah bikin putus rantai-rantai jangkar. Kemudian Baru dia kata padaku.
"Jikalau kau tidak lakukan pesanku ini, contohnya adalah ini jangkar!"
"Setelah itu, dia rogo sakunya, akan keluarkan sepotong goan-po kelantai perahu sambil berkata .
"Inilah ongkos jalanmu!"
Tanpa tunggu jawabanku, dia sambar dua potong gala, sepotong ditiap tangan.
Ketika dengan tangan kiri ia tancapkan gala kedalam sungai, tubuhnya segera turut terangkat naik dan melayang ketengah air.
Menyusul itu ia tancapkan gala yang kanan, tubuhnya turut melayang juga, sedang gala kiri, ia cabut, ia angkat, untuk ditancapkan pula kearah depan.
Secara demikian, dalam beberapa gerakan saja, ia sudah sampai ditepian dimana ia letaki kaki seraya memutar tubuh.
"Kau sambut ini!"
Ia berseru, menyusul mana dua batang gala ditimpuki kearah perahu.
Aku tidak berani sambuti kedua gala itu, yang jadi nancap digubuk perahu.
Selagi aku kaget dan kagum, dari tepian aku dengar seruannya yang panjang, lantas tubuhnya lenyap ditempat gelap."
"Sungguh gagah Kim Tjoa Long-koen,"
Pikir Sin Tjie. Pemuda ini cuma memikir didalam hati, tidak demikian dengan si pemudi.
"Dia ada satu enghiong, satu hoo-kiat!"
Tjeng Tjeng berseru dengan pujiannya. Enghiong atau hookiat adalah satu pahlawan atau orang gagah.
"Satu Enghiong ? Cis!"
Oen Lam Yang mengejek.
Ketika itu aku pandang dia sebagai tuan penolong.
Melihat sinar matanya, yang tajam dan bengis, dia rupanya sangat benci aku, akan tetapi aku mau percaya itulah tabeatnya yang koekoay, maka aku tidak memperdulikannya lebih jauh.
Setelah itu aku lanjuti perjalanan pulang.
Semua kuli, yang aku suruh gotong peti bilang, peti itu berat sekali.
Aku duga, tentunya liok-siokhoe peroleh untung besar, bahwa peti itu terisi emas dan perak dan mustika lainnya.
Aku pun percaya, setelah dengan susah payah aku bawa pulang itu, semua paman dan mamak akan hadiahkan aku sedikitnya satu bagian dari harta itu.
Maka juga, aku sangat bergembira.
Ketika akhirnya aku sampai dirumah, yah, mamak dan paman, semua puji aku, mereka katakan, Baru pertama kali aku pergi bekerja, aku telah peroleh hasil yang tidak dapat dicela..."
"Memang tidak dapat dicela!"
Tjeng Tjeng menyelak dengan ejekannya.
"Sudah kau bunuh satu nona remaja, kau juga pulang dengan gondola sebuah peti besar!"
"Tjeng Tjeng, diam!"
Oen Gie melarang.
"Kau dengarkan cerita pehhoe."
Oen Lam Yang tidak ladeni keponakannya itu.
"Malam itu kami berkumpul,"
Demikian lanjutan penuturannya.
"Lilin dinyalakan terangterang di seluruh thia. Empat bujang gotong peti besar. Ayah beserta keempat mamak duduk ditengah ruangan. Aku sendiri adalah yang loloskan semua dadung, kemudian aku cabut setiap pakunya. Aku masih ingat benar ketika toapehhoe sambil tertawa berkata .
"Entah lauwliok kepincuk oleh si cantik siapa, ia sampai lupa daratan dan tak mau pulang, dia cuma suruh ini bocah bawa pulang petinya ini! Mari! Mari kita lihat mustika apa yang dia antar pulang!"
Aku lantas buka tutup peti, diatas mana ada sepotong sampul surat yang ada tulisannya, yang berbunyi .
'Lima saudara Oen harus buka bersama' Itulah huruf-huruf yang indah, yang bukan buah-kalam liok-siokhoe.
Aku serahkan surat itu pada toa pehhoe.
"Toa pehhoe sambuti surat tetapi ia tidak lantas buka untuk dibaca.
"Coba lihat dulu, apa isinya bungkusan!"
Kata dia. Peti besar itu memang berisikan sebuah bungkusan besar sekali, yang atasnya diampar kertas. Bungkusan itu dijahit rapat.
"Liok-teehoe, coba ambil gunting, guntingi benang itu,"
Toa pehhoe kata pada encim yang keenam.
"Aku heran, liok-tee boleh menjadi begini terliti..."
"Encim lantas ambil gunting, akan putuskan semua benang, sesudah mana, ia buka bungkusan itu. Dengan tiba-tiba dari dalam bungkusa menyambar tujuh atau delapan batang anak panah beracun..."
Tjeng Tjeng menjerit sendiri saking kaget.
"Itulah kepandaian yang umum dari Kim Tjoa Long-koen,"
Kata Sin Tjie dalam hatinya. Ia tidak jadi heran dan kagum seperti si nona.
"Mengingat kejadian itu, aku bersuku kepada Thian,"
Oen Lam Yang kata dengan pujiannya.
"Coba aku keburu napsu, aku yang buka bungkusan itu, mana jiwaku masih dapat hidup sampai sekarang ini? Semua gandewa itu mengenai dengan telak kepada tubuh encim keenam. Semua ada gandewa beracun yang liehay sekali, yang mengenai darah lantas menutup tenggorokan. Hampir tidak berseru lagi, encim keenam rubuh, anggauta tubuhnya semua berubah menjadi hitam. Dan ia mati tak berampun lagi!..."
Berkata demikian, Lam Yang menoleh pada Tjeng Tjeng.
"Itulah perbuatan bagus dari ayahmu!"
Kata dia dengan ejekannya.
"Karena kejadian itu, seluruh thia menjadi gempar. Ngo-siok lantas menyangka jelek padaku, dia suruh aku yang buka bungkusan besar itu. Dengan terpaksa, aku menurut. Aku berdiri jauh-jauh, aku buka bungkusan dengan pakai gala untuk menggaet dan menggower. Sukur tidak ada gandewa lainnya yang menyambar. Kau tahu, apa isinya bungkusan itu?"
Ia tanya si nona.
"Apakah itu?"
Tjeng Tjeng balik tanya. Oen Lam Yang kasi dengar suara nyaring ketika ia menjawab .
"Itulah mayat entjek keenam!"
Tjeng Tjeng kaget hingga parasnya menjadi pucat. Oen Gie rangkul puterinya itu, untuk dipeluki, untuk tetapkan hatinya. Untuk sesaat, keempat orang berdiam semua.
"Coba bilang, dia kejam atau tidak?"
Kemudian Oen Lam Yang mulai lagi, dengan pertanyaannya.
"Sebenarnya sudah cukup dia bunuh lioksiokhoe, maka apa perlunya dia bungkus mayatnya dan dikirim pulang secara demikian?"
"Kau tidak hendak sebutkan sebabnya kenapa dia berbuat demikian!"
Oen Gie sahuti kakak itu.
"Hm, kau tentunya anggap harus demikian,"
Lam Yang balas. Oen Gie memandang kelangit yang luas akan lihat bintang-bintang, agaknya ia tersemsem. Kemudian, sembari memandang puterinya, ia kata dengan pelahan .
"Ketika itu, Tjeng Tjeng, aku berusia lebih tua satu tahun daripadamu sekarang ini. Akan tetapi aku masih bersifat seperti kanak-kanak, apa juga aku tak mengerti. Dirumah ini, semua mamak dan paman, tidak ada kejahatan yang mereka tidak lakukan. Aku tidak sukai mereka itu. Melihat mayat liok-siokhoe, aku tidak berduka. Inilah aku bicara terus-terang. Aku melainkan heran, dia yang ilmu silatnya liehay, cara bagaimana dia kena dibinasakan! Aku umpatkan diri dibelakang ibu, aku tidak berani mengucap apa-apa. Kemudian adalah toapehhoe yang membuka surat, untuk dibacakan dengan nyaring. Dua-puluh tahun sudah lewat tetapi aku masih dapat bayangi kejadian malam itu, toapehhoe gusar hingga mukanya pucat, hingga suaranya menggetar. Aku ingat, beginilah dia membaca .
"Kepada yang terhormat, Tujuh saudara Oen dari Tjio Liang Pay! Aku kirimkan bersama ini satu mayat lengkap, harap kamu suka terima dengan gembira. Orang ini sudah perkosa encie kandungku, habis itu dia bunuh encieku itu, kemudian lagi, dia juga binasakan ayah, ibu dan dua saudara tuaku, hingga semua lima anggauta dari keluargaku mati terbunuh ditangannya! Melainkan aku sebatang kara yang bisa kabur meloloskan diri dari ancaman malapetaka hebat itu, untuk terus berkelana. Baru sekarang aku pulang, untuk menuntut balas! Hutang darah itu mesti ditebus sepuluh lipat, dengan cara demikian Barulah aku bisa puaskan hatiku. Aku mesti bisa bunuh lima-puluh jiwa anggauta keluargamu yang lelaki dan perkosa sepuluh anggauta perempuan ! Jikalau jumlah ini tak dapat aku penuhkan, aku sumpah tak mau aku menjadi manusia! Hormatnya Kim Tjoa Long-koen Hee Soat Gie."
Habis membaca, Oen Gie menghela napas lega.
"Engko Lam Yang, benar atau tidak liok-siokhoe, telah bunuh semua anggauta keluarganya?"
Dia tanya Lam Yang. Orang yang ditanya manggut.
"Kami ada bangsa laki-laki, kami sudah masuk Jalan Hitam,"
Jawabnya dengan bangga,"
Maka untuk kami, merampas harta-benda, membunuh orang dan membakar rumah adalah pekerjaan biasa!
Liok-siokhoe lihat wanita cantik, dengan jalan perkosa dia masih tak dapatkan maksudnya, kalau karenanya dia cabut golok dan membunuhnya, itu mungkin terjadi."
Oen Gie menarik napas panjang.
"Kamu orang-orang lagi, diluaran kamu sudah lakukan kedosaan besar, kita orang-orang perempuan didalam rumah, mana kita dapat tahu?...."
"Sesudah baca surat itu, toapehhoe tertawa berkakakan,"
Demikian Oen Lam Yang mulai pula dengan ceritanya.
"Dia kata ."
Dia hendak datang kemari, itulah bagus! Kalau tidak, kita mesti pergi cari dia! Kalau dia umpatkan diri, kemana kita mencarinya?"
"Walaupun toapehhoe bilang demikian, ia tapinya berlaku teliti. Sejak malam itu, penjagaan diperkeras. Malah dua orang segera diutus ke Kim-hoa dan Giam-tjioe untuk panggil pulang tjit-siokhoe dan pat-siokhoe."
Sin Tjie heran.
"He, kenapa mereka bersaudara sedemikian banyak?"
Pikirnya.
"Ibu,"
Tjeng Tjeng juga tanya,"
Kiranya kami masih punyakan Tjit-yaya dan Pat-yaya? Kenapa aku tidak tahu?..."
"Mereka adalah saudara tjintong dari yayamu,"
Terangkan Oen Gie.
"Memang, mereka itu tidak tinggal disini."
"Tjit-siokhoe tinggal di Kim-hoa, pat-siokhoe di Giamtjioe,"
Kata Lam Yang.
"Mereka ada keluarga kita tetapi orang luar jarang yang ketahui. Akan tetapi Kim Tjoa Long-koen benar liehay. Begitu lekas tjit-siokhoe dan pat-siokhoe berangkat menudju kemari, ditengah jalan mereka dipegat dan dibinasakan oleh dia. Dia sungguh seperti malaikat muncul dan hantu selam, entah kapan terjadinya, pada suatu malam dia telah masuk kedalam rumah kita, dia telah curi lima-puluh batang tjiam yang kita biasa pakai diwaktu pungut panen. Setiap kali dia bunuh satu orang kita, ditubuh korbannya itu dia tancap sebatang tjiam. Rupanya dia hendak wujudkan sumpahnya, sebelum dia binasakan lima-puluh orang kita, dia tidak mau berhenti...."
"Dirumah kita ini sama sekali ada seratus orang lebih, cara bagaimana tak mampu kita melawan dia?"
Tanya Tjeng Tjeng.
"Dia berjumlah berapa banyak orang?"
"Dia bersendirian saja,"
Sahut Oen Lam Yang.
"Kantjat itu belum pernah berani perlihatkan diri, kita juga tidak tahu dimana dia sembunyikan diri. Terang dia menantikan,asal ada orang kita yang mencil sendirian, lantas dia bunuh mati. Ayah jadi gusar berbareng sibuk, sampai ayah undang belasan orang Kang-ouw datang ke Tjio-liang ini, untuk setiap hari atau malam berpesta besar disini, guna tunggui kantjat itu. Diluaran juga kita sudah tempelkan surat-surat pengumuman, akan tantang dia secara berterang, untuk satu pertempuran yang memutuskan. Akan tetapi tak mau dia terima tantangan kita itu. Melihat kita berjumlah banyak, dia tidak pernah datang-datangpula. Maka itu, selang setengah tahun, sahabat-sahabat kang-ouw itu pada pamitan pulang satu demi satu. Tapi, begitu lekas rumah kita sepi, engkoh yang ketiga dari kamar kedua dan adik lelaki kesembilan dari kamar kelima telah kedapatan mati tenggelam didalam empang, pada tubuh mereka tertancap masing-masing sebatang tjiam. Nyata sekali, kantjat itu pandai sekali mengatasi diri, ia bisa menanti dengan sabar sampai berbulan-bulan, akan datang pula disaat pilihannya. Sejak itu beruntun selama sepuluh hari, setiap harinya ada saja orang kita yang binasa sebagai korbannya, sampai di Tjio-liang ini, tukang-tukang peti-mati kehabisan peti untuk merawat korban-korban itu, hingga kita mesti pergi beli peti dikota Kie-tjioe. Tentu saja, terhadap orang luar, kita siarkan berita bahwa kita terganggu iblis jahat dan penyakit hebat. Adik Gie, kau tentunya masih ingat baik-baik itu hari-hari yang menggiriskan?"
"Ketika itu, seluruh desa pun gempar saking ketal,"
Oen Gie jawab.
"Rumah kita telah dijaga dan dirondai setiap siang dan malam, malah ayah bersama semua yaya meronda juga dengan bergiliran, sedang semua orang perempuan dan anak-anak pada sembunyikan diri didalam rumah, tidak ada yang berani keluar dari pintu hek sekalipun satu tindak."
"Walaupun demikian,"
Menyambung Lam Yang dengan gigi bertjatrukan,"
Kedua enso dari kamar keempat, pada suatu malam lenyap dua-duanya, diculik diluar tahu kita.
Kita sudah menduga, mereka itu tentu bakal terbinasa ditangan si kantjat, siapa tahu selang satu bulan lebih, kedua enso itu telah berkirim surat dari Yangtjioe dalam mana mereka memberi tahu bahwa oleh si kantjat mereka sudah dijual dirumah hina dimana mereka dipaksa mesti melayani tetamu-tetamu lelaki selama satu bulan.
Soe-yaya menjadi demikian mendongkol, sehingga ia rubuh pingsan.
Tidak bisa lain, terpaksa kita kirim orang dan uang ke Yangtjioe untuk tebus kedua enso itu..."
Sin Tjie bergidik sendirinya.
"Hebat pembalasannya Kim Tjoa Long-koen,"
Pikir ia.
"Memang ia harus balaskan sakit hati ayah, ibu, encie dan kedua engkohnya, akan tetapi setelah musuh besarnya sudah terbinasa, sikap selanjutnya ini rada keterlaluan..."
Pemuda ini goyang-goyang kepala.
"Yang paling hebat,"
Menyambung pula Oen Lam Yang,"
Setiap perajaan Toan-ngo, Tiong Tjioe dan penutup tahun, dia tentu-tentu kirimkan kami sepucuk surat berikut sepotong surat perhitungan dalam mana dia peringati bahwa kami masih berhutang beberapa jiwa lelaki dan beberapa orang perempuan.
Tjio Liang Pay telah malang-melintang di Kanglam beberapa puluh tahun lamanya, sekarang mereka dipermainkan secara begini rupa oleh dia satu orang, bagaimana kami tidak berduka dan lelah?
Mau kita menuntut balas, akan tetapi musuh sangat licin dan gagah.
Ayah dan beberapa paman pernah tempur dia secara perseorangan, semuanya bukan tandingan dia itu.
Maka juga pihak kami jadi putus asa, kita cuma bisa ambil putusan akan bela diri secara beramai-ramai.
Asal kita menjaga dengan keras, dia tidak pernah muncul, sampai bulanan pun tidak.
Kalau kita alpa, lantas dia muncul dan bekerja.
Demikian selama dua tahun, besar dan kecil, sama sekali dia telah binasakan tigapuluh delapan jiwa.
Tjeng Tjeng, hayo bilang, pantas atau tidak kita benci dia?"
"Kemudian bagaimana?"
Tanya si nona, yang tidak jawab pertanyaan mamak itu.
Baca Juga: Perintah Maut 6
Baca Juga: Pengelana Rimba Persilatan 2