Eps 2 Pedang Ular Emas - Yin Yong
Baca online Pedang Ular Emas - Yin Yong
Cersil Pedang Ular Emas - Yin Yong.
Dia tak ingin apa-apa lagi....
Besoknya pagi, Baru saja orang bangun, Siauw Hoei sudah tarik tangannya Sin Tjie.
"Mari cuci muka!"
Kata si nona cilik.
"Aku hendak lihat dulu Tjoei Siokhoe, bagaimana lukanya..."
Kata si bocah.
"Empeh gagu telah bawa dia pergi sejak pagi,"
Siauw Hoei kasih tahu. Sin Tjie terperanjat.
"Dibawa pergi? Apa benar?"
Tanya dia, hatinya mencelos. Nona itu manggut. Lantas Sin Tjie lari kedalam kamar, yang kosong. Tidak ada Tjioe San dan si gagu disitu. Tiba-tiba saja ia menjerit, nangis.
"Ibu, ibu, lekas!"
Siauw Hoei teriaki ibunya berulang-ulang. An toa-nio datang dengan cepat.
"Ibu, dia lihat entjek Tjoei semua pergi, dia menangis,"
Si anak memberitahukan.
"Jangan sibuk, anak yang baik,"
Nyonya An lantas menghibur.
"Pamanmu terluka, lukanya parah, bukan?"
Sin Tjie manggut.
"Aku cuma bisa berikan dia pertolongan pertama,"
Nyonya itu terangkan.
"Dia sudah terserang racunnya senjata rahasia, kalau dia tidak cepat dapat perobatan yang sempurna, sebelah kakinya itu bisa mati seterusnya, maka itu empeh gagu bawa dia pergi kepada satu orang lain, yang sanggup mengobatinya. Kau tunggu saja, kalau nanti dia sudah sembuh, pamanmu itu bakal datang pula kemari melihat kau..."
Sin Tjie dapat dikasih mengerti, dengan pelahan, ia berhenti menangis.
"Pasti pamanmu akan sembuh,"
Toa-nio kata pula.
"Sekarang pergi cuci muka, habis cuci muka, kita dahar."
Sin Tjie menurut, maka sebentar kemudian, ia sudah duduk bersantap bersama itu ibu dan anak.
Setelah dahar, An Toa-nio tanya lebih jelas tentang bocah ini.
Sin Tjie tuturkan segala apa, yang ia tahu mengenai dirinya.
Mendengar itu, nyonya rumah menghela napas.
"Sekarang tinggallah kau sama kami, jangan kuatir apa-apa,"
Ia menghibur.
"Kau tunggu saja, tak lama pamanmu sembuh dan akan kembali."
Sin Tjie cuma bisa menurut.
Sejak masih kecil sekali, Sin Tjie sudah berpisah dari ibunya, selama itu, ia berada dibawah asuhannya Eng Siong dan Tjoe An Kok beramai, walaupun mereka merawatnya dengan sungguh-sungguh, sekarang, dibanding sama perawatannya An Toa-nio, ia merasakan perbedaannya.
Nyonya An merupakan sebagai ibu sejati, sedang disebelah si nyonya, ada Siauw Hoei yang manis, yang jelita, yang senantiasa menjadi kawannya.
Baru beberapa hari, Sin Tjie sudah betah.
An Toa-nio satu kali suruh Sin Tjie jalankan semua ilmu silat yang pernah dipelajarkannya.
Sin Tjie menurut, setelah lihat itu, nyonya ini memuji, ia agaknya insaf sempurnanya pelajaran itu.
Berselang sepuluh hari, An Toa-nio anjurkan Sin Tjie berlatih silat setiap hari, akan tetapi, diwaktu melakukan itu benar atau salah, ia antap saja, tidak pernah ia bilang suatu apa, malah selagi si bocah berlatih, jarang sekali ia menyaksikannya.
Siauw Hoei senantiasa temani Sin Tjie, tapi disaat si bocah berlatih silat, ia dipanggil ibunya.
Pada suatu hari, An Toa-nio pergi kepasar, untuk belanja.
Ia pun niat beli cita, guna bikinkan baju dan celana untuk Sin Tjie, pakaian siapa sudah korat-karit, pecah disana-sini bekas dipakai buron dari Lauw Ya San.
"Kamu memain didalam rumah saja, jangan keluar, nanti ada srigala,"
Pesan si nyonya ketika ia hendak pergi. Siauw Hoei dan Sin Tjie terima pesan itu, seperginya si nyonya mereka main masakmasakan. Siauw Hoei keluarkan mangkok dan sumpit kecil.
"Kau potong ayam disini, aku hendak beli daging,"
Kata si nona cilik. Yang dinamakan "ayam"
Adalah sepotong lobak, yang di-potong-potong, dan "daging"
Adalah semacam ubi hutan, yang ada di pekarangan depan, untuk mana, Siauw Hoei pergi keluar. Tapi dia pergi sekian lama, hingga Sin Tjie tidak sabaran.
"Siauw Hoei! Siauw Hoei!"
Bocah ini memanggil-manggil akhirnya.
Panggilan ini tidak dapat jawaban, hingga akhirnya si bocah ingat serigala, sebagaimana pesannya An Toa-nio.
Ia lantas ambil korekan barah didapur, dengan bawa itu, ia lari keluar.
Bukan main kagetnya Sin Tjie begitu lekas ia muncul diambang pintu, karena ia tampak Siauw Hoei dikempit seorang lelaki bertubuh besar, yang sedang memutar tubuh untuk lari pergi.
"Hei, hei!"
Berteriak bocah ini sambil mengubar.
"Kemana kau hendak pergi?"
Tapi Sin Tjie tidak mengubar saja, ia pun menyerang dengan korekan barah.
Culik itu tidak menyangka, ia kena ditikam Sin Tjie.
Sukur untuk dia, dia jangkung dan Sin Tjie kate, lukanya tidak dibelakang hanya dikempolan.
Dia kaget, dia merasa sakit, karenanya dia jadi gusar.
"Kurang ajar!"
Dia berseru.
Dia turunkan Siauw Hoei, lalu dia hunus goloknya, untuk dipakai menyerang.
Sin Tjie tidak takut, dia menangkis dengan korekan barahnya itu.
Ia keluarkan pelajaran silat ajarannya Nie Hoo, ialah Gak Kee Sin-tjhio, ilmu silat tombak keluarga Gak (Gak Hoei).
Malah dengan ini, ia pun bisa balas menyerang.
Heran orang bertubuh besar itu, terpaksa ia melayani, hingga disitu terjadilah pertempuran kipa -seorang dewasa dan tubuh besar melayani satu bocah cilik.
Dia ini pun mainkan Lohan-too, ilmu golok dari Siauw Lim Pay.
Dia ada bertenaga besar, goloknya sampai menderu-derukan angin keras.
Sin Tjie berkelahi sambil hunjuk kegesitannya, ia menyingkir dari bentrokan senjata, ia main kelit saja, dilain saat, ia menikam berulang-ulang.
Selang belasan jurus, orang dewasa itu sibuk sendirinya.
Ia heran, ia penasaran, kenapa ia tidak sanggup rubuhkan satu bocah cilik!
Karena ini, ia jadi berkelahi dengan sengit, ia ubah cara penyerangannya.
Sekarang ia lebih banyak membabat kaki.
Untuk menyerang kaki, penyerangan mesti dilakukan dengan "Tee-tong-too" , ialah permainan golok sambil bergulingan ditanah, tapi si culik tidak bertindak sampai begitu jauh, ia main jongkok atau mendak saja.
Perubahannya lawan itu membuat Sin Tjie sibuk, dilain saat, ia mesti main mundur.
Ia terancam bahaya.
Siauw Hoei, yang dilepaskan dari cekalan, tidak diam menonton, dia lari kedalam rumah, darimana ia kembali dengan pedang panjang ditangannya, dengan senjata ini ia serang culik itu, akan bantui kawannya.
Ia menyerang dengan tusukan "Sian-djin tjie lou"
Atau "Dewa menunjuki jalanan".
"Foei, perempuan cilik, kau pun hendak cari mati!"
Berseru culik itu.
Ia berbalik, ia bacok si nona, Ia tidak gunai tenaga keras, ia tidak inginkan jiwa orang, ia cuma hendak sampok terlepas pedangnya nona itu.
Tapi si nona cerdik, gerakannya pun gesit.
Dia berkelit dari serangan itu, dia menyingkir kebelakang, dari mana dia menyerang pula, dengan tikamannya "Sam-poo lian-tay"
Atau "panggung teratai mestika". Berbareng dengan itu, Sin Tjie menyerang dengan "Tok liong tjoet tong"
Atau "Naga jahat keluar dari kedung".
Repot culik itu diserang dari dua pihak, ia mesti berlaku sebat sekali.
Tadinya Sin Tjie berkuatir menampak majunya si nona cilik, tapi setelah lihat penyerangan orang beberapa kali, ia jadi girang.
Nona itu bersilat dengan "Tat Mo Kiam-hoat", ilmu silat dari guru besar Tat Mo.
Untuk tidak kalah pengaruh, ia menyerang dengan lebih seru.
Mengetahui orang desak ia, culik itu menjadi girang.
Ia tahu bocah-bocah tidak ulet, tidak perduli ilmu silat mereka ada cukup untuk menjelamatkan dirinya dari pelbagai serangan.
Benar dugaan culik ini, selang sedikit lama, dua-dua Sin Tjie dan Siauw Hoei mulai jadi lemah, maka sekarang adalah giliran dia untuk mendesak.
Siauw Hoei menikam, culik itu menangkis, demikian sebat, si nona sampai tidak keburu menarik pulang senjatanya untuk hindarkan bentrokan, maka begitu kedua senjata beradu, pedangnya terlepas, terlempar.
Sin Tjie lihat kawannya terancam, ia menikam, tapi culik itu, sembari menangkis, angkat sebelah kakinya, akan tendang si nona, hingga dia ini terguling karena dia tak sempat egos tubuh.
Dalam kaget dan kuatirnya, Sin Tjie lupa segala apa, waktu ia menikam pula, ia berlaku sembrono sekali.
Melihat sikap orang itu, culik itu tertawa menyengir.
Ia berkelit dari tikaman, lalu ia merangsang goloknya diayun.
Sin Tjie angkat korekan barahnya, untuk menangkis, tapi selagi kedua senjata hendak beradu, si culik sambar ujung korekan, untuk ditarik sambil diputar.
Sin Tjie kesakitan pada tangannya, karena bentrokan kedua senjata, karena putaran itu, tak lagi ia bisa mencekal terus senjatanya itu, yang terlepas dengan segera.
Melihat orang telah tidak berdaya, culik itu lemparkan korekan barah,ia loncat pada Siauw Hoei, tubuh siapa ia sambar, untuk dikempit, buat lantas dibawa lari!
Walaupun dia sedang kesakitan, melihat Siauw Hoei kena dibawa lari, Sin Tjie lupai sakitnya itu.
Ia jumput korekan barahnya, ia lari, akan mengejar.
"He, setan cilik, apakah kau tidak sayang dengan jiwamu?"
Membentak si culik , yang lihat bocah itu demikian bandel.
Ia kempit Siauw Hoei dengan tangan kiri, dengan tangan kanan cekal goloknya, ia balik tubuh, akan layani pula bocah itu.
Setelah bertempur lima-enam jurus, Sin Tjie kena terbacok pada pundaknya, sia-sia ia berkelit, bajunya robek, pundaknya terkena sedikit, hingga darahnya mengucur keluar.
"Setan cilik, apa kau masih berani?"
Mengejek culik itu. Sin Tjie benar-benar besar nyalinya.
"Lepaskan Siauw Hoei, aku tidak akan susul pula padamu!"
Ia jawab sambil ia menahan sakit. Ia jumput korekannya, kembali ia mengejar musuh, yang sudah lantas kabur pula. Akhirnya culik itu habis sabar.
"Jikalau aku tidak bunuh dia, dia terang bakal ganggu aku,"
Pikir dia.
Maka ia berhenti lari, ia sambut serangannya Sin Tjie.
Baru beberapa gebrak, korekan Sin Tjie kena disampok, dia terus ditendang hingga rubuh berguling, sesudah mana, tidak berayal lagi, culik itu lompat maju seraya kirim bacokannya.
Siauw Hoei dalam kempitan lihat bahaya mengancam Sin Tjie, ia geraki kedua tangannya, akan jambret lengannya culik itu, terus ia gigit lengan itu.
Culik itu kaget, dia kesakitan, karena mana, bacokannya jadi salah.
Sin Tjie sendiri berkelit dengan buang diri, akan bergulingan di tanah.
Dalam sengitnya, culik itu sentil kupingnya Siauw Hoei, kemudian ia maju pula, lagi sekali, ia serang Sin Tjie.
Bocah itu, yang belum sempat berbangkit, berguling lagi, tapi ujung golok mengenai jidatnya, hingga di jidat itu, diatasan alis sedikit, terluka dan mengeluarkan darah.
Percaya bahwa orang akan mati kutunya, culik itu hendak kabur pula bersama korbannya.
Sin Tjie benar berani dan bandel, ia berlompat, akan tubruk orang punya kaki kiri, yang ia peluki dengan keras, lalu dengan tipu silat "To tioe kim tjiang"
Atau "merubuhkan lonceng emas", ia tekuk kaki itu menurut sekuat tenaganya.
Sengit culik itu, walaupun ia tidak rubuh, ia toh merasakan sakit pada kaki kirinya itu, maka ia angkat kaki kanannya, untuk injak si bocah, atas mana, Sin Tjie terpental terguling.
Ia lantas maju pula seraja membacok.
Belum sampai golok turun, atau culik itu terkejut dan merasakan sakit pada kepalanya, karena batok kepalanya menerbitkan satu suara membeletuk, apabila ia menoleh, ia tampak An Toa-nio sedang ayun kedua tangannya.
Ia jadi jeri, ia tinggalkan Sin Tjie, lantas ia lari.
Tapi Siauw Hoei ia kempit terus.
An Toa-nio ayun tangan kanannya beruntun tiga kali, tiga butir telur menyambar culik itu, dia bisa kelit dua serangan tapi yang ketiga mengenai batang hidungnya, hingga disebelah merasa sakit, mukanya mandi putih dan merah telur.
Masih nyonya An menimpuk dengan sebutir telur yang lain, yang kali ini mengenai mata kiri si culik, hingga dia gelagapan.
Walaupun hanya telur, toh timpukan ini ada cukup keras.
Dalam gusarnya, culik ini lepaskan Siauw Hoei, dengan tangan kirinya, ia usap mukanya, kemudian ia maju, akan serang si nyonya.
An Toa-nio tidak bersenjata, ia melayani sambil senantiasa berkelit.
Sin Tjie sudah bangun, ia telah pungut korekan barahnya, dengan tidak pedulikan lukanya, ia maju, akan serang culik itu, guna bantu nyonya penolongnya.
Ia jadi tambah semangat, berulang-ulang ia menikam dengan ilmu tumbaknya Gak Hoei.
Karena didesak Sin Tjie, culik itu tak bisa desak An Toa-nio seperti bermula, hingga nyonya ini dapat sedikit waktu senggang, sebab mana, ia jadi ingat cita yang Baru saja ia beli untuk Sin Tjie.
Segera ia keluarkan cita itu dari dalam rantangnya, terus ia lempar kekali kecil didekatnya untuk dibasahkan.
Ia pun gunai kesempatan menjumput tiga buah batu, yang dipakai menimpuk, hingga culik itu jadi repot juga, karena mana, Sin Tjie tidak sampai kena terlalu terdesak.
Selagi si culik terpaksa mundur, An Toa-nio sudah angkat citanya, untuk dibuka hingga mirip dengan angkin atau sabuk, lalu ia maju lagi, akan dekati orang itu.
"Ouw Loo Sam!"
Berseru nyonya ini.
"Selagi aku tidak ada dirumah, kau datang menyatroni, kau perhina segala bocah cilik! Adakah kau satu laki-laki?"
Teguran itu ditutup berbareng dengan serangan dengan sepotong cita itu, yang digunakan sebagai djoan-pian atau cambuk lemas.
Setelah basah, cita itu dapat digunakan bagaikan toya juga.
Culik itu, yang dipanggil Ouw Loo Sam, nampaknya sibuk.
Ia tendang rubuh pada Sin Tjie, lantas ia layani sungguh-sungguh pada si nyonya.
An Toa-nio sedang gusar, ia berkelahi dengan hebat, setelah mendesak, dua kali berhasil ia menyerang dengan toya atau cambuknya yang istimewa itu.
Ouw Loo Sam tidak sampai terluka, tetapi ia merasakan sakit pada bebokongnya, yang kena terpukul.
Karena ini, gerakannya jadi lambat sendirinya.
Masih An Toa-nio mendesak, akan akhirnya, ia dapat libat golok lawan, maka lantas saja ia menarik dengan kaget dan keras!
Ouw Loo Sam terkejut, tak dapat ia mencekal keras, goloknya terlepas dan terbetot oleh si nyonya, tapi ia tertawa dingin.
Ia telah lompat dua tindak, lalu ia kata sambil bersenyum iblis.
"Aku adalah orang yang terima pesan dari suamimu! Selama alusku belum buyar, maka ada satu hari yang aku nanti cari pula padamu...!"
Alisnya si nyonya berdiri, ia sahuti ancaman itu dengan sabatan cambuk istimewanya.
Loo Sam telah bersedia agaknya, sebelum serangan sampai, ia sudah putar tubuh dan lari, lari turun gunung dengan lekas.
Melihat orang angkat kaki, An Toa-nio tidak mengejar, hanya ia balik, untuk lekas-lekas lihat Siauw Hoei dan Sin Tjie.
Siauw Hoei tidak terluka, dia melainkan kaget, ia tubruk ibunya lantas ia menangis.
Dasar bocah cilik!
Sin Tjie berlumuran darah, ia diajak pulang untuk lantas dipetali darahnya, sesudah bersih, lukanya diobati, dibungkus dengan rapi.
Dia peroleh dua luka, syukur tidak berbahaya; benar ia keluarkan banyak darah tetapi itu tidak sampai membahayakan jiwanya.
Ia dipondong, untuk direbahkan di pembaringan.
Sampai disitu, Siauw Hoei cerita pada ibunya bagaimana, selagi keluar sebentar, ia ketemu Ouw Loo Sam, yang terus tawan ia, buat dibawa lari, bagaimana Sin Tjie pergoki mereka, lantas bocah itu lawan Loo Sam, untuk tolongi padanya.
"Aku tidak sangka, begini muda usianya, dia berhati mulia, dia gagah sekali,"
Berkata An Toa-nio.
"Tak dapat kita berayal pula, aku mesti tolong ia supaya jadi seorang sempurna."
Kemudian nyonya ini lanjuti pada puterinya.
"Kau pun pergi tidur, sebentar malam kita berangkat."
Siauw Hoei tidak heran atas kata-kata ibunya itu, ia lantas beristirahat.
An Toa-nio lantas berkemas, ia siapkan dua buntalan, kemudian ia tunggu datangnya sang sore.
Habis bersantap, bertiga mereka duduk menghadapi pelita.
Nyonya ini tidak kunci pintu, ia tidak jeri.
Benar kira-kira jam dua, diluar terdengar tindakan kaki, yang terus masuk kedalam.
Itulah si gagu, yang telah kembali.
Ia bertubuh besar dan keren tapi tindakannya enteng, suatu bukti bahwa kepandaian entengi tubuhnya telah sempurna.
An Toa-nio menyambut sambil berbangkit, ia bicara sama si gagu itu dengan mainkan kedua belah tangannya, dengan mainkan juga mulutnya.
Si gagu rupanya mengerti, dia manggut-manggut.
"Mana Tjoei Siokhoe?"
Sin Tjie tanya.
"Apa dia baik?"
"Dia baik, kau jangan kuatir,"
An Toa-nio menghibur.
"Mari, aku hendak omong sama kau."
Nyonya itu masuk kedalam kamar dimana ia duduk atas pembaringan. Sin Tjie mengikuti, si nyonya lantas tarik tangannya.
"Sin Tjie!"
Katanya dengan manis-budi.
"begitu lihat kau, aku suka padamu, dari itu, aku pandang kau sebagai anak sendiri. Tadi kau telah berkorban untuk Siauw Hoei, itulah budimu yang aku tidak nanti lupakan. Malam ini kami hendak pergi kesuatu tempat jauh, maka itu, pergilah kau ikut empeh gagu."
"Tidak, aku ingin ikut kau bersama,"
Kata Sin Tjie.
"Aku pun tidak tega berpisah dari kau,"
Terangkan An Toa-nio.
"Aku ingin empeh gagu bawa kau kepada satu orang, dia adalah guru Baru namanya saja dari Tjoei Soesiokmu. Baru beberapa bulan Tjoei Soesiok belajar silat pada orang itu, ilmu silatnya sudah liehay sekali. Lootjianpwee itu ada punya ilmu silat yang tidak ada tandingannya, dari itu aku ingin kau berguru kepadanya."
Mendengar itu Sin Tjie berdiam, agaknya dia ketarik.
"Seumur hidupnya, lootjianpwee itu cuma terima dua murid,"
An Toa-nio terangkan lebih jauh.
"Itu adalah kejadian pada belasan tahun yang lampau. Meskipun demikian, masih belum tentu dia suka menerima murid pula. Tapi aku ada berbakat baik, hatimu pun mulia, aku percaya dia pasti akan suka padamu. Empeh gagu ada bujangnya lootjianpwee itu, aku ingin dia ajak kau untuk minta lootjianpwee terima padamu. Maka pergilah kau dengan baik-baik. Umpama kejadian lootjianpwee tidak suka terima kau, empeh gagu nanti bawa kau kembali padaku."
Sampai disitu, Sin Tjie telah ambil putusannya. Dia manggut.
"Bagus!"
Kata nyonya An.
"Sekarang baik kau ketahui tabiatnya lootjianpwee itu. Dia adalah seorang aneh. Umpama kau tidak suka dengar perkataannya, lantas dia tidak sukai padamu. Umpama kau terlalu dengar kata, dia juga akan cela kau terlalu tolol dan tidak punya semangat! Maka segala-galanya tinggal terserah kepada peruntunganmu sendiri!"
Dari lengannya, nyonya itu loloskan sepotong gelang emas, ia masuki itu kelengannya bocah ini, apabila ia lengkuk sedikit, gelang itu menjadi kecil dan tidak akan lolos lagi.
"Jikalau nanti kau sudah rampungkan pelajaran ilmu silatmu, apabila kau telah menjadi satu bocah besar, jangan kau lupakan encim Anmu ini dan Siauw Hoei!"
Kata nyonya yang baik budi itu sambil tertawa.
"Andaikata lootjianpwee sudi terima aku,"
Berkata Sin Tjie,"
Apabila ada ketika senggang, aku minta encim suka ajak Siauw Hoei datang melongok aku!"
Matanya nyonya itu menjadi merah, saking hatinya terharu.
"Baik, aku akan senantiasa ingat kau,"
Ia jawab. Lantas An Toa-nio menulis sepucuk surat, yang ia serahkan pada si gagu.
"Sekarang kita berangkat,"
Kata ia sambil ia bawa dua buntalannya.
Berempat mereka keluar dari rumah, sesampainya diluar, mereka berpisah dalam dua rombongan, masing-masing dengan tujuannya sendiri.
Sin Tjie berkumpul Baru beberapa hari dengan An Toa-nio dan Siauw Hoei, akan tetapi perpisahan itu membuat ia merasa sangat berat.
Ia senantiasa ingat itu bibi dan puterinya.
Si gagu tahu bocah ini telah keluarkan banyak darah karena luka-lukanya, dari itu, ia angkat tubuh orang untuk dipondong, sesudah mana, segeralah ia buka tindakannya yang lebar, ia jalan cepat sekali tak peduli jalanan ada jalanan pegunungan yang sukar.
Ia lakukan perjalanan siang, setiap malam mereka mondok ditempat dimana mereka sampai sorenya, tetapi bukannya dihotel atau rumah orang, hanya didalam gua-gua atau rumah berhala.
Kalau toh mereka singgah di hotel, melulu untuk beristirahatnya si bocah, untuk beli barang makanan.
Dalam halnya sendiri, si gagu dahar secara sembarangan, melainkan sekali tangsel perut, sedikitnya mesti dua kati mie!
Sering Sin Tjie tanya, mereka telah sampai ditempat apa, jawabannya adalah menunjuk jari tangannya kearah depan.
Lagi tiga hari telah dilewatkan, jalanan jadi bertambah sukar, makin sukar, hingga lebih benar disebut, sudah tidak ada jalanan lagi, untuk maju terus, si gagu gunai kedua tangannya, akan merayap naik atau merambat antara pepohonan oyot.
Sebab mereka sedang mendaki gunung.
Selama itu, lukanya Sin Tjie telah jadi sembuh, cuma diatasan alisnya ada ketinggalan tanda cacat kecil.
Dia menggemblok di bebokongnya empeh gagu itu, kedua tangannya merangkul leher orang dengan keras.
Ia jeri kapan ia lihat tempat yang curam.
Kalau mereka terpeleset dan jatuh, habislah.......
Satu hari lamanya si gagu mesti manjat, sampailah ia diatas puncaknya gunung yang tinggi dimana tepinya ada sebidang tanah yang lebar dimanapun ada tumbuh banyak pohon cemara yang tinggi-tinggi, yang merupakan rimba saja.
Disini si gagu jalan melewati lima atau enam rumah batu, melihat mana, ia bersenyum sendirinya, hingga dia mirip seorang perantauan lama yang Baru kembali ke kampung asalnya sendiri.
Didepan sebuah rumah batu, si gagu tuntun Sin Tjie untuk masuk kedalamnya, Galagasi malang melintang, sebagai tanda rumah itu sudah lama tidak diisi, tetapi dengan bantuannya sesapu, si gagu bersihkan itu, malah ia terus sapui semua, dalam dan luar, sesudah mana, ia nyalakan api untuk masak air dan nasi.
Gunung ada demikian tinggi, entah bagaimana caranya si gagu sediakan beras dan lainnya itu.
Ada sulit untuk Sin Tjie bicara sama empehnya ini, tetapi ia tidak banyak cerewet, ada selang tiga hari, ia sibuk juga.
Dengan gerakan tangan, ia tanya si gagu, mana dia si lootjianpwee yang katanya dia bakal angkat jadi gurunya.
Si gagu mengerti pertanyaan itu, dia menunjuk kebawah gunung.
"Mari kita turun,"
Sin Tjie mengajak.
Ia memberi tanda-tanda pula.
Si gagu menggeleng-geleng kepala, ia tak mau meluluskannya.
Dengan terpaksa, Sin Tjie diam saja.
Ia jadi sangat masgul.
Ia pun kesepian.
Tidak dapat ia pasang omong dengan si empeh itu.
Pada suatu malam, selagi Sin Tjie sedang tidur, ia mendusin dengan tiba-tiba.
Didepan matanya berkelebat cahaya terang, yang membuat ia terperanjat.
Ia geraki tubuhnya, untuk berbangkit, duduk diatas pembaringan, sebelah tangannya mencekal lilin yang apinya menyala.
Orang tua itu perlihatkan roman berseri-seri, tandanya ia girang.
Dasar otaknya cerdas, Sin Tjie lekas-lekas turun dari pembaringan, lantas saja ia paykoei empat kali.
"Soehoe!"
Berkata dia.
"Akhirnya soehoe datang juga!"
Orang tua itu tertawa terbahak-bahak.
"Eh, anak, siapa suruh kau panggil soehoe padaku?"
Tanya dia.
"Cara bagaimana kau ketahui bahwa pasti aku akan terima kau sebagai murid?"
Sin Tjie girang bukan kepalang. Dari kata-katanya orang tua itu, benar-benar dia bakal diterima sebagai murid. Segeralah ia berikan jawabannya .
"Inilah encim An yang ajari aku!"
"Artinya itu dia telah menambah kesulitan untukku!"
Kata si orang tua, sambil bersenyum.
"Baiklah, memandang kepada mendiang ayahmu, aku terima kau sebagai murid!"
Lantas saja Sin Tjie hendak paykoei pula, tetapi si orang tua cegah.
"Sudah cukup, sudah cukup!"
Katanya.
"Sampai besok saja."
Besoknya pagi, sebelum terang tanah, Sin Tjie sudah bangun dari tidurnya, lantas ia pergi pada si empeh gagu diluar, dia ini rupanya sudah dapat tahu juga yang orang tua itu suka terima bocah ini sebagai murid, dalam kegirangannya yang meluap-luap, dia angkat tubuhnya si bocah, dia lemparkan ke atas, lalu dia tanggapi dengan tangannya.
Hingga empat-lima kali tubuh Sin Tjie terapung-apung, sehingga bocah itu, yang pun girang sekali, tertawa dengan berisik.
Si orang tua di dalam kamarnya dengar suara riuh diluar, ia bertindak menghampirkan, hingga ia saksikan laga-lagunya si gagu dan bocah itu.
"Bagus!"
Berkata ia.
"Kau masih begini muda, kau mengerti perbuatan-perbuatan mulia dan gagah, kau telah tolongi seorang perempuan. Hayo, kepandaian apa kau punyai, pertunjuki semua itu, kasi aku lihat!"
Sin Tjie jengah, hingga wajahnya menjadi merah.
"Jikalau kau tidak perlihatkan semua kepandaianmu, cara bagaimana aku bisa ajarkan kau silat?"
Kata si orang tua sambil tertawa. Sekarang Barulah si bocah tahu, orang tua itu tidak main-main dengannya.
"Baiklah, soehoe,"
Kata ia kemudian, sesudah mana, ia mulai bersilat.
Ia jalankan Hokhouw-tjiang ajaran Tjoei Tjioe San dari permulaan sampai diakhirnya.
Orang tua itu mengawasi dengan air muka berseri-seri, ia tunggu sampai si bocah selesaikan jurus terakhir, ia tertawa.
"Tak habisnya Tjioe San puji kecerdasanmu, mulanya aku tidak percaya,"
Kata dia.
"Dia ajarkan kau ilmu silat ini Baru beberapa hari saja, sekarang kau bisa jalankan itu begini rupa, dia benar."
Mendengar disebutnya nama gurunya, Sin Tjie sangat tertarik, tergerak hatinya, akan tetapi orang tua itu masih bicara, ia tidak berani memutuskannya.
"Tjoei Siokhoe dimana?"
Begitu ia tanya, begitu lekas si orang tua berhenti bicara.
"Apa ia baik?"
Terang sudah ia sangat perhatikan keselamatan orang she Tjoei itu.
"Ia tak kurang suatu apa, ia sudah kembali kepada Lie Tjiangkoen,"
Jawab si orang tua.
Sin Tjie girang sekali, walaupun ia ada sedikit menyesal yang ia tak sampai bertemu pula dengan guru Hok-houw-tjiang itu.
Si gagu sendiri sudah lantas siapkan meja sembahyang.
Si orang tua keluarkan selembar gambar dimana ada lukisannya satu sasterawan, yang romannya alim dan agung.
Ia sulut lilin, ia pasang hio, lantas ia memberi hormat sambil menjura.
Kemudian Barulah ia kata pada Sin Tjie .
"Inilah gambarnya Tjie Tjouw-soeya, pendiri dari kaum kita Hoa San Pay. Hayo kau jalankan kehormatan!"
Sin Tjie menurut, ia lantas paykoei , tapi ia tak tahu, berapa kali ia mesti manggutmanggut, ia terus paykoei tak hentinya, hingga si orang tua tertawai padanya.
"Sudah cukup!"
Kata si orang tua itu. Masih saja orang tua itu ketawa ketika tahu-tahu si bocah paykoei terhadapnya.
"Soehoe!"
Memanggil murid cilik ini, yang sangat cerdik. Sambil bersenyum orang tua itu terima pemberian hormat ini.
"Mulai hari ini, kau adalah murid yang sah dari Hoa San Pay kita,"
Kata si orang tua kemudian.
"Lebih dahulu daripada kau, aku telah punyakan dua murid, sejak itu, karena tidak ada orang yang berbakat, aku belum pernah terima murid lainnya lagi, belasan tahun telah lewat, baru sekarang kau datang. Kau ada murid yang ketiga,kau juga ada murid penutup, maka itu, kau mesti belajar dengan sungguh-sungguh, supaya tidak sampai kau menerbitkan malu untuk kaum kita!"
Sin Tjie manggut berulang-ulang.
"Aku janji, soehoe,"
Ia berikan perkataannya.
"Aku adalah orang she Bok,"
Sang guru berkata pula."
Dalam kalangan kang-ouw, sahabat-sahabatku panggil aku Pat Tjhioe Sian-wan.
Kau harus ingat baik-baik, kau harus jaga supaja lain kali, apabila ada orang tanya kau tentang nama gurumu, nanti kau menyahuti.
"Oh, oh, aku tak tahu....."
Mendengar itu, tak dapat ditahan lagi, Sin Tjie tertawa.
Tapi segera ia berhenti.
Ia ingat pesannya An Toa-nio bahwa si orang tua bertabiat koe-koay; ingat itu, hatinya kecil, ia jeri, akan tetapi sekarang ternyata, guru ini bukannya seorang aneh, dia hanya satu tukang guyon!
Pat Tjhioe Sian-wan Bok Djin Tjeng, si Lutung Sakti Tangan Delapan, sudah malang-melintang dua-puluh tahun lebih dalam dunia kang-ouw, belum pernah dia ketemukan tandingannya, karena ia tidak suka jual lagak, namanya tidak terlalu tersohor.
Memang benar ia mempunyai sifat yang luar biasa, ialah suka menyendiri.
Tapi terhadap Sin Tjie, segera timbul perasaan kasihannya.
Bocah ini, yang yatim-piatu, harus dikasihani, sedang disebelah itu, Djin Tjeng hargakan sangat Wan Tjong Hoan sebagai panglima perang yang gagah, sebagai jenderal yang setia, terutama disayangi kebinasaannya secara menyedihkan.
Sin Tjie sendiri ada berbakat baik, cerdas, kelakuannya sangat menyukai orang.
Maka itu, lenyap keanehannya, Djin Tjeng suka terima bocah ini, malah ia telah berguyon dengannya.
"Kedua soehengmu ada jauh lebih tua daripadamu, dua atau tiga-puluh tahun lebih,"
Berkata sang guru kepada muridnya.
"Murid-murid mereka juga ada jauh terlebih tua daripada kau. Maka bisa kejadian, mereka akan sesalkan aku, yang aku telah terima kau, satu murid begini muda! Dan umpama kata kau belajar tidak berhasil, apabila nanti kau dipadu dengan murid-murid mereka dan kau kalah, ada alasan untuk mereka itu cela aku..."
"Pasti aku belajar sungguh-sungguh, soehoe,"
Sin Tjie pastikan. Lalu ia tanya.
"Tjoei Siokhoe itu ada murid soehoe juga?"
"Ia hendak turut Lie Tjiangkoen berperang, ia tidak punya tempo akan belajar dengan tetap padaku,"
Sahut Bok Djin Tjeng.
"Aku cuma ajarkan ia ilmu pukulan Hok-houw-tjiang, tak dapat ia dipandang sebagai muridku."
Lalu ia tunjuk si gagu dan melanjuti .
"Lihat ia! Setiap hari ia saksikan kita berlatih, dengan sendirinya ia dapatkan bukan sedikit kepandaian, akan tetapi apabila ia dipadu dengan dua muridku, bedanya bagaikan langit dan bumi saja!"
Sin Tjie kagum, hingga ia melengak. Ia telah saksikan kekuatan dan liehaynya si empeh gagu, toh ia ini cuma satu pelajan dan kepandaiannya didapat, katanya.
"boleh mencuri lihat saja."
Tjioe San pun gagah sekali, toh ia cuma peroleh satu Hok-houw-tjiang. Semua itu adalah bukti-bukti yang menunjuki liehaynya guru ini.
"Maka jikalau aku belajar sungguh-sungguh, walaupun aku tak dapat susul kedua soeheng, tentu sedikitnya aku bisa dapat kepandaian sebagai si gagu ini."
Pikir ia. Dan pikiran ini membikin ia girang sekali.
"Kami kaum Hoa San Pay mempunyai beberapa aturan,"
Bok Djin Tjeng berkata lebih jauh.
"Itu mengenai pantangan berbuat cabul, melakukan pekerjaan sebagai piauwsoe dan lainlain, sekarang belum dapat aku jelaskan kepada kau, karena kau tentunya tidak mengerti. Melainkan kau hendak pesan dua rupa kepada kau, yaitu kau mesti dengan kata guru, kau mesti jangan lakukan apa-apa yang buruk! Kau mengerti?"
"Pasti aku akan dengar perkataan soehoe, tidak nanti aku berbuat buruk,"
Jawab sang murid.
"Bagus!"
Berkata guru itu.
"Sekarang mari kita mulai berlatih. Karena temponya sangat mendesak, Tjoei Siokhoemu ajarkan kau Hok-houw-tjiang secara sekelebatan saja. Sebenarnya, ilmu pukulan itu mempunyai kefaedahan yang utama, usiamu masih terlalu muda, apabila kau terus yakinkan itu, kau tak akan dapatkan kesempurnaan. Maka sekarang aku nanti mulai kau dengan Tiang-koen Sip-toan-kim."
"Dulu pernah Nie Siokhoe ajarkan aku pukulan itu,"
Sin Tjie terangkan.
"Ya, tetapi itu belum berarti!"
Kata sang guru.
"Apa kau rasa kau sudah pandai gunai itu? Kau keliru jauh! Jikalau kau telah sempurnakan Tiang-koen Sip-toan-kim, didalam kalangan kang-ouw, tentulah tak banyak orang lagi yang sanggup kalahkan padamu!......."
Sin Tjie melengak pula.
"Ya, ya, soehoe,"
Kata ia, yang tak berani banyak omong lagi.
"Sekarang kau lihat, habis itu, kau turuti,"
Kata sang guru.
Bok Djin Tjeng lantas jalankan Tiang-koen Sip-toan-kim, muridnya mengawasi.
Sin Tjie heran, ilmu silat yang guru ini jalankan, semua mirip dengan yang ia peroleh dari Nie Hoo.
Ia jadi tidak mengerti, apakah kefaedahannya ilmu pukulan itu........
Sedang bocah ini berpikir keras, sang guru tegur padanya.
"Apakah kau sangka gurumu perdayakan kau? "tanya Bok Djin Tjeng.
"Mari, mari, kau coba serang aku, asal kau bisa jambret saja baju atau langgar ujung bajuku, anggaplah kau benar sudah pandai!"
Bocah itu tidak berani serang gurunya, ia cuma bersenyum saja, tak bergerak ia dari tempatnya berdiri.
"Hayo maju, aku sedang ajarkan kau ilmu silat!"
Guru itu mendesak.
Mendengar bahwa ia hendak diberi pelajaran, Sin Tjie lantas maju, dengan satu lompatan, ia sambar baju gurunya, yang memakai tungsha, baju panjang.
Ia rasa ia bakal berhasil menjambret, tidak tahunya, Baru ia hampir mengenai atau ujung baju itu seperti mundur sendirinya.
Ia maju pula, atau lantas, ia kehilangan gurunya itu.
"Aku disini!"
Kata si guru sambil tertawa, dengan tangannya ia tekan pundak orang. Ia ada dibelakang si murid. Sin Tjie berdiam, tetapi dia geraki tubuhnya dengan gerakan "Auw tjoe hoan sin"
Atau burung elang jumpalitan".
Ia bergerak dengan gesit sekali, kedua tangannya dipentang, untuk merangkul.
Tapi ia merangkul tempat kosong, ia tak lihat gurunya.
Apabila ia berpaling, ia tampak gurunya itu berdiri dari dia jauhnya kira-kira tiga tumbak!
"Aku mesti bisa jambak padamu!"
Pikirnya, yang jadi sangat penasaran.
Ia lompat pula, secara sangat gesit, tangannya diulur.
Tangan bajunya Bok Djin Tjeng dikibaskan, tubuhnya ikut mencelat, dengan begitu, ia hindarkan dari terkaman, hingga kembali sang murid tangkap angin.
Sin Tjie tidak jadi putus asa, dia malah tidak mendongkol, sebaliknya, ia tertawa hi-hi-hi, menandakan kegembiraannya.
Ia mengejar, ia membiluk kemana si guru putar tubuh.
Tibatiba ia lihat si gagu gerak-gerakan tangannya sebagai tanda untuknya.
Diam-diam ia menaruh perhatian, mendadakan hatinya tergerak.
"Benar-benar soehoe gunakan Tiang-koen Sip-toan-kim",ia memikir.
"Kenapa soehoe ada begini gesit?"
Ia masih mengubar terus, tapi sekarang dengan perhatikan gerak-gerik gurunya itu.
Ia sudah paham benar sekali semua gerakannya.
Ia terus menaruh perhatian, akan setelah itu, ia pun menelad gerakan gurunya, hingga lantaslah terlihat, dia pun jadi gesit beberapa lipat.
Bok Djin Tjeng senantiasa awasi sang murid, diam-diam dia manggut-manggut.
"Anak ini benar-benar bisa terima pelajaran,"
Pikir dia.
Sin Tjie perhebat pengejarannya, karena ia bisa bergerak terlebih sebat pula, akan tetapi didepan dia, gurunya pun bertambah-tambah gesit, hingga sia-sia saja pengejarannya.
Hingga berdua mereka seperti merupakan bajangan saja.
Lagi sekian lama, mendadakan Bok Djin Tjeng berlompat, akan tubruk muridnya, tubuh siapa ia angkat tinggi-tinggi.
"Murid yang baik, anak yang manis!"
Berkata dia sambil tertawa berkakakan.
"Soehoe!"
Kata sang murid, yang girang luar biasa, karena sekarang ia insaf kemujijatan Tiang-koen Sip-toan-kim.
"Bagus, anak, sebegini sudah cukup untuk latihanmu!"
Kata sang guru. Ia turunkan tubuh Sin Tjie, ia lepaskan cekalannya.
"Sekarang kau ulangilah sendiri!"
Sin Tjie menurut, ia lantas jalankan Tiang-koen Sip-toan-kim.
Setelah mengawasi beberapa ulangan, Bok Djin Tjeng masuk kedalam.
Sin Tjie tidak turut gurunya beristirahat, ia masih berlatih terus, sampai belasan kali, hingga ia tambah mengerti kefaedahannya ilmu silat itu, yang berpokok pada kegesitan.
Ia ada demikian kegirangan, hingga malam itu tak dapat ia tidur dengan nyenyak, terus ia bayangi itu ilmu pukulan, sampai mimpi pun ia masih berlatih....
Besoknya pagi, Baru saja fajar, bocah ini sudah bangun, untuk berlatih, karena ia kuatir pengajarannya kemarin nanti terlupa.
Ia belajar seorang diri, dengan sungguh-sungguh.
Berselang belum lama, selagi bocah ini sangat bersemangat, ia dengar suara batuk-batuk dibelakangnya, apabila ia berpaling, ia lihat gurunya.
Bok Djin Tjeng berada dibelakang muridnya, sambil tertawa.
"Soehoe!"
Ia memanggil, terus ia berdiri diam, kedua tangannya dikasih turun.
"Kau telah mengerti dengan cepat, inilah bagus,"
Berkata sang guru.
"Tapi kau Baru mengerti bagian atas, bagian bawahnya belum, dibagian bawah, kau masih kosong, apabila kau hadapi lawan liehay, kau bakal celaka. Kau mesti bersikap begini...."
Guru itu lantas mengasi contoh.
"Sekarang hayo kau turut!"
Sin Tjie menelad gurunya, ia mengerti dengan cepat, setelah mana, terus ia jakinkan ini ajaran baru, hingga ia kembali dapat tambah pengertian.
Selanjutnya, tidak pernah Sin Tjie abaikan ajaran-ajaran gurunya.
Sang tempo lewat dengan cepat, selang tiga tahun, bocah ini telah masuk usia dua-belas tahun.
Ia berlatih dari kecil, sekarang tubuhnya jadi kuat sekali, pasek dan gesit.
Seperti biasanya, Bok Djin Tjeng suka turun gunung, untuk pesiar, kalau ia pergi, ia pergi untuk dua atau tiga bulan.
Setiap kali ia pergi, ia ajarkan muridnya pelbagai ilmu, apabila ia pulang, ia lantas menilik, untuk mengajarkan terlebih jauh.
Ia puas mendapati muridnya belajar rajin sekali dan pesat kemajuannya.
Pada suatu harian Toan-ngo-tjiat, sehabisnya minum arak Hiong-hong-tjioe, dengan tibatiba saja Bok Djin Tjeng keluarkan gambarnya Tjouwsoe-ya, ia memberi hormat sambil paykoei, ia perintah Sin Tjie turut menghormatinya sebagai dia.
Kemudian dia kata pada muridnya.
"Sin Tjie, tahukah kau, apa sebabnya hari ini aku suruh kau menghormati Tjouwsoe-ya?"
Murid ini goyang kepala.
Bok Djin Tjeng masuk kedalam kamarnya, akan keluar pula dengan satu peti kayu kecil tetapi pandang, yang ia letaki diatas meja, apabila ia telah buka tutup peti itu, nyata didalamnya terletak sebilah pedang yang sinarnya bergemirlapan menyilaukan mata.
Pedang itu pandangnya tiga kaki.
Sin Tjie terkaget!
"Apa soehoe hendak ajarkan pedang padaku?"
Tanya dia. Sang guru manggut, ia jumput keluar pedang tajam itu.
"Kau berlutut, dengar perkataanku,"
Tiba-tiba kata dia, suaranya keras, sikapnya keren dengan mendadakan. Tanpa banyak omong, murid itu tekuk kedua lututnya.
"Pedang adalah rajanya ratusan macam alat-senjata,"
Berkata Bok Djin Tjeng.
"pedang ada gegaman paling sukar untuk dipelajarkan. Tapi kau ada berotak terang, kau pun berhati keras, aku percaya kau akan sanggup mempelajarinya. Ilmu pedang kaum kita, Hoa San Pay, yang diwariskan berulang-ulang, mengandal kepada si ahliwaris, tetapi buktinya sampai sebegitu jauh, senantiasa tambah saja kemajuannya. Dikalangan lain, ada umum sang guru tinggalkan satu ilmu pukulan yang dirahasiakan, karena ini, satu angkatan dengan satu angkatan, murid-muridnya tambah kurang kepandaiannya, tetapi kita, kita tidak berbuat demikian. Benar kita memilih murid dengan keras, tetapi setelah dipilih, kita berikan dia semua pelajaran, malah dibagian ilmu pedang, setiap achliwaris menambah kepandaiannya. Ilmu pedang kita sulit untuk dipelajarkan, hanya setekah mengerti, orang akan insaf itu dengan sempurna, dan asal orang bisa wariskan, dia sudah seperti tidak ada tandingannya. Sekarang aku hendak ajarkan kau ilmu pedang tapi kau mesti sumpah dahulu bahwa kau tidak nanti bunuh sekalipun satu orang yang tidak bersalah-dosa!"
Sin Tjie jawab gurunya itu, ia kata .
"Ini hari soehoe ajarkan teetjoe ilmu pedang, apabila dibelakang hari aku binasakan seorang yang tidak bersalah, maka pasti aku pun bakal binasa terbunuh orang!"
"Bagus! Hayo bangun!"
Sin Tjie berbangkit, untuk berdiri.
"Aku tahu kau berhati mulia, tidak nanti kau bunuh orang tanpa alasan,"
Kata guru ini,"
Akan tetapi saat ada berlainan, ada saatnya untuk silat membedakan kebenaran dari kepalsuan, inilah yang harus dijaga.
Asal kau senantiasa berpokok pada kejujuran dan belas-kasihan, aku percaya tidak nanti kau membunuh secara keliru.
Maka hal ini mesti kau ingat baik-baik."
Sin Tjie manggut, ia beri pula janjinya.
"Sekarang kau lihat,"
Berkata sang guru akhirnya.
Ia cekal pedang dengan tangan kanan, tangan kirinya diletaki diatas itu, habis itu ia mulai bersilat, hingga sinar pedang memain, me-nyambar-bagaikan naga dan ular, cahayanya seperti bianglala.
(Bersambung bab ke 4) Sin Tjie sudah ikuti Bok Djin Tjeng tiga tahun, pandangan matanya telah jadi beda sekali, sekalipun demikian, sekarang tak bisa ia ikuti gerak tangan dan kakinya sang guru, sedangnya ia kagum, tiba-tiba guru itu berseru, pedangnya melesat kedepan, nancap dibongkotnya satu pohon besar.
Itulah tenaga yang besar luar biasa, karena mana, Sin Tjie menjadi bengong dan nganga saja!
"Bagus!"
Demikian satu suara pujian, yang datangnya dari arah belakang si bocah.
Selama tiga tahun berdiam diatas gunung, belum pernah Sin Tjie dengar suara lain orang kecuali gurunya, atau hanya suara ah-ah-uh-uh dari si empeh gagu, sekarang mendadakan ia dengar satu suara asing -memangnya ia sedang tercengang -ia jadi heran sekali.
Cepat luar biasa, ia menoleh kebelakang, hingga didepan matanya, ia tampak satu toodjin atau imam yang bersenyum berseri-seri seraja usut-usut kumis dan jenggotnya.
Imam itu berjubah kuning, mukanya bersemu merah, rambutnya sudah putih semua.
Habis memuji, ia berkata .
"Sudah lebih dari sepuluh tahun aku tidak lihat kau gunai pedangmu, tidak disangka kau telah peroleh kemajuan begini rupa!"
Bok Djin Tjeng telah menoleh pada tetamunya itu, ia tertawa berkakakan.
"Bhok Siang Tooyoe, angin apa sudah tiup kau sampai disini?"
Tanya dia.
"Sin Tjie, hayo kau kasi hormat pada too-tiang!"
Sin Tjie menurut, ia hampirkan itu imam akan berlutut dan manggut didepannya.
"Jangan, jangan!"
Tertawa si imam, seraya ia membungkuk, untuk angkat bangun bocah itu.
Sin Tjie tidak mau diangkat, dan, sebagai biasanya orang yang mengerti silat, ia gunai tenaganya, maka itu, tidak gampang untuk si imam cegah pemberian hormat itu.
Dia juga memang cuma mau mencoba saja.
"Lauw Bok!"
Berkata ia kemudian.
"selama beberapa tahun ini, jarang sekali aku bertemu dengan kau, tidak tahunya kau keram diri disini untuk mendidik muridmu ini. Sungguh, peruntunganmu tidak buruk, di saat-saat dari hari akhirmu, kau masih mendapatkan satu bahan yang baik sekali!"
Bok Djin Tjeng girang atas pujian sahabat itu dengan siapa ia biasa berguyon.
"Aya!"
Bhok Siang Toodjin berseru sendirinya.
"Hari ini aku tidak bawa uang, jadi dengan Cuma-cuma saja aku terima hormatmu ini, anak! Bagaimana sekarang?......."
Mendengar kata-katanya si imam, hatinya Bok Djin Tjeng tergerak, mendadakan, ia ingat suatu apa. Ia berpikir.
"Imam setan tua ini ada punya kepandaian luar biasa, karenanya, kaum kang-ouw djuluki ia Kwi-eng-tjoe si Bajangan Iblis. Coba dia suka wariskan salah satu pelajarannya kepada Sin Tjie, alangkah baiknya! Hanya ia biasanya tak suka terima murid, maka perlu aku cari akal untuk ia keluarkan kepandaiannya itu...."
Segera juga guru ini kata pada muridnya .
"Sin Tjie, tootiang telah berikan janji hadiah bagimu, lekas kau memberi hormat dan haturkan terima kasihmu!"
Sin Tjie benar-benar cerdik, dengan lantas ia dapat mengerti maksud gurunya, maka segera ia paykoei pula, ia ucapkan terima kasihnya. Bhok Siang Toodjin tertawa terbahak-bahak.
"Ya, bagus, bagus, bagus!"
Kata ia.
"He, bocah cilik, kau dengar aku, untuk jadi manusia, orang mesti jujur dan polos, maka jangan kau telad gurumu ini yang kulit mukanya sangat tebal! Masa, begitu dengar orang hendak memberikan barang, dia lantas ketok besi panas! Mustahil aku si tua-bangka nanti perdayakan kau satu bocah? Mustahil, bukan? Nah, begini saja, justru sekarang aku si tua-bangka lagi bergembira, aku berikan kau ini saja!"
Dari bebokongnya, dimana ada tergendol satu kantong, imam ini rogoh keluar segumpal barang, apabila Sin Tjie buka itu, itu adalah baju kaos hitam, melainkan ia tak tahu, bahannya terbuat daripada sutera atau kulit.
Tentu saja, ia terima hadiah barang itu dengan tergugu.
"Eh, tooheng, jangan kau main-main!"
Bok Djin Tjeng kata pada sahabatnya itu, gangguan siapa tadi ia tak gubris.
"Bagaimana kau dapat berikan dia mustika ini?"
Mendengar kata-kata gurunya itu, karena itu baju kaos katanya ada mustika, Sin Tjie ulur kedua tangannya, akan angsurkan itu kepada si imam. Tapi si imam menolak.
"Aku tak demikian kikir sebagai gurumu!"
Kata dia.
"Tidak biasanya aku, sudah memberi barang, barang itu diminta pulang! Kau ambillah!"
Masih Sin Tjie tidak berani menerima, ia awasi gurunya.
"Jikalau begitu, kau terimalah,"
Kata sang guru.
"Lekas kau bilang terima kasih."
Sin Tjie menurut, ia mengucap terima kasih sambil paykoei pula. Lalu, dengan roman sungguh-sungguh, Bok Djin Tjeng kata pada muridnya.
"Ini adalah sepotong baju mustika! Untuk mendapatkan ini, dahulu tootiang sudah keluarkan banyak keringat-daki, ia telah membahayakan jiwanya sendiri! Nah, kau pakailah!"
Sin Tjie turut perkataan gurunya, ia lantas pakai baju kaos itu.
Bok Djin Tjeng bertindak kepohon, untuk cabut pedangnya, ia cuma gunai dua jerijinya, nampaknya ia dapat menyabut dengan gampang sekali.
"Baju kaos ini terbuat dari sutera emas putih, rambut dan bulunya kera-kuning, yang disulam menjadi satu, senjata tajam bagaimana juga tak dapat merusaknya,"
Menjelaskan ia, menyusul mana, ia bacok pundak muridnya.
Sin Tjie kaget, ia hendak berkelit tapi sudah kasep, ia kalah sebat dengan gurunya itu, selagi ia berlompat, pundaknya sudah jadi sasaran.
Akan tetapi, buat keheranannya, ia tidak terluka, bacokan terasa enteng sekali, pedang itu terpental balik.
Ia jadi sangat girang, hingga lagi-lagi ia paykoei didepan si imam!
Bhok Siang Toodjin tertawa; katanya pada si bocah.
"Kau lihat barang ini hitam-legam, jelek dipandangnya. Ketika pertama kali kau paykoei, mestinya kau belum punya kepercayaan, kau tidak puas, tetapi sekali ini kau paykoei, tentu kau sudah puas benar!"
Mukanya Sin Tjie jadi merah karena godaan itu, hingga ia diam saja. Bhol Siang toodjin tidak perdulikan orang jengah atau tidak, ia melanjutkan .
"Dahulu pernah beberapa kali baju kaos ini tolong jiwaku,"
Katanya.
"tetapi sekarang, asal saja gurumu tidak ganggu aku, mungkin sekalipun tak memakai baju ini, dikolong langit tidak ada lagi orang yang mampu celakai aku!"
Habis mengucap demikian, imam itu tertawa berkakakan, nampaknya ia sangat puas dan jumawa. Bok Djin Tjeng pun tertawa, dan berkata.
"Eh, imam bangkotan jangan tjampur aduk, kau mengebul didepannya satu bocah! Dalam hal ilmu kepandaian, tak dapat aku lawan kau, tetapi dikolong langit ini, ada banyak sekali orang pandai!"
Bhok Siang Toodjin tersenyum.
"Sudah, sudah, kita berdua tak boleh gunai golok dan pedang!"
Berkata dia.
"Mari, mari, lebih baik kita......."
"Kita adu kepandaian diatas papan catur!"
Tertawa Bok Djin Tjeng.
"Benar!"
Bhok Siang Toodjin pun tertawa.
"Kau memangnya adalah cacing kamcekan dalam perutku!"
"Ya!"
Kembali tertawa Bok Djin Tjeng.
"kau juga, jikalau ketagihan main caturmu, tidak kumat, tidak nanti kau datang cari aku diatas gunung sebagai ini! Apakah kau bawa alat peranti makan nasi?"
Bhok Siang Toodjin tertawa sembari tertawa ia meraba bebokongnya, akan kasih turun papan caturnya (tio-kie) beserta dua bungkus biji tiokienya, sedang si gagu, tanpa diperintah lagi, sudah lantas gotong keluar meja dan kursi untuk dua orang itu adu otak.
Maka kedua orang tua itu lantas duduk dibawahnya sebuah pohon, akan mulai atur biji, untuk segera jalankan itu sambil saban-saban berpikir.
Wan Sin Tjie berdiri disamping, ia tidak mengerti permainan itu, maka, sambil ia jalankan biji-bijinya, Bhok Siang Toodjin ajari dia aturan bertindaknya sesuatu biji.
Imam ini pun kebulkan tentang kepandaiannya main tiokie itu, bahwa Bok Djin Tjeng bukanlah tandingannya.
Bok Djin Tjeng cuma bersenyum saja, ia terus pikirkan biji-bijinya sendiri ia antapkan orang sombongi diri.
Catur ada permainan yang gampang dipelajari tetapi sulit untuk menjadi ahli, tetapi lain dengan Sin Tjie, dengan lekas ia mengerti aturan mainnya, malah berkat kecerdasannya, ia mulai mengerti tipu-tipunya.
Dalam babak pertama, Bhok Siang Toodjin adalah yang mendapat kemenangan, demikian juga pada babak kedua, setelah itu, pertarungan dilanjutkan, terus sampai cuaca mulai gelap.
Mereka mainkan tiga babak, dibabak ketiga, Bok Djin Tjeng menang.
"Mari kita main terus!"
Mengajak si imam, yang tidak kenal lelah.
"Aku tidak mempunyai kegembiraan untuk layani kau terus-menerus!"
Kata Bok Djin Tjeng.
Karena ini, terpaksa Bhok Siang Toodjin pergi beristirahat.
Untuk ia, si gagu telah siapkan pembaringannya.
Sejak itu, beruntun tiga hari, tuan rumah dan tetamunya terus terusan main catur, karena si tetamu tidak mau mengerti jikalau ia tidak dilayani.
Maka dihari keempat, tuan rumah kata.
"Hari ini kita mengasoh satu hari, aku mesti ajarkan ilmu pedang dulu kepada muridku."
Alasan itu ada kuat, Bhok Siang Toodjin tidak menghalangi.
Tapi sangat sulit untuk ia tungkuli diri hari itu, maka juga, begitu lekas Bok Djin Tjeng sudah selesai mengajari muridnya, dia lantas tarik tangannya sahabat itu.
"Mari, mari, kita bertempur lagi sampai tiga jurus!"
Kata ia dengan bernapsu.
Bok Djin Tjeng merasa lelah, karena setengah-harian lamanya ia layani Sin Tjie, tapi sahabatnya sedang ketagihan, apabila ia tidak tungkuli, satu malam itu tentu sahabat ini tidak bisa tidur, terpaksa ia duduk juga menghadapi papan catur berhadapan dengan tetamu yang sedang keranjingan itu.
Sebab ia sedang lelah dan tidak bernapsu, hampir saja salah satu bijinya kena dirampas.
Dengan susah payah ia perbaiki diri, tidak urung, ia masih kalah angin.
Sin Tjie dampingi gurunya, ia tak sampai hati menampak guru itu terdesak.
"Soehoe, menyerang kemari,"
Kata ia akhirnya, hingga ia tak ingat bahwa ia telah mentjampuri urusan orang tua-tua.
"Habis itu, soehoe jalan disini, tentu soehoe bisa lolos dari kepungan..."
Anak luar biasa ini dengan cepat telah mengerti baik tipu-tipunya permainan catur, penunjukannya itu memang ada jalan untuk hindarkan diri dari ancaman.
Bok Djin Tjeng juga tidak beradat mau menang melulu sebagai Bhok Siang Toodjin, ia tidak keberatan akan turuti pengundjukan muridnya itu.
Benar saja, setelah ia jalankan biji-bijinya menuruti sang murid, segera ia terlepas dari pengurungan, malah dilain pihak, ia dapat makan satu biji hitam.
Ia sendiri pegang biji putih.
Habis itu, Bhok Siang Toodjin berbalik kena terdesak, malah akhirnya, dia cuma bisa menangi tiga biji.
"Dia benar cerdik,"
Kata Bhok Siang Toodjin, yang puji bocah itu.
"Coba biarkan dia lawan aku, ganda enam biji!"
Bok Djin Tjeng lulusi permintaan itu, ia ijinkan muridnya lawan sang soepeh.
Sin Tjie belum pandai betul tapi kecerdasannya membantu banyak sekali.
Ia masih muda sekali, tapi otaknya kuat.
Dalam kalangan tiokie ada pepatah.
"Didalam usia dua-puluh tidak menjadi kampiun, hilanglah harapan" . Ini menandakan, tiokie mesti dipelajari sejak masih anak-anak. Souw Tong Po ada sasterawan termashur tetapi main tiokie, melawan seorang biasa, ia tak peroleh kemenangan. Hal itu membuat ia menyesal, hingga dia tulis sairnya .
"Menang girang, kalah pun gembira" . Bok Djin Tjeng sabar dan sederhana, tidak demikian dengan Bhok Siang Toodjin, yang gemar akan kemenangan. Ia tidak lihat mata pada si bocah cilik, tetapi, sesudah biji-biji dijalankan, ia lantas merasai satu tandingan bukan sembarangan. Dasar anak kecil, Sin Tjie ingin menangkan soepehnya itu, ia bermain dengan sungguh-sungguh. Diakhirnya, Bhok Siang Toodjin menang tetapi bukan tak dengan susah-payah. Besoknya, pagi-pagi, Bhok Siang Toodjin telah cari Sin Tjie, buat ditarik tangannya, untuk diajak bertanding pula, tanpa bocah ini bisa menampik. Kali ini, dua kali Sin Tjie menang dengan beruntun, maka ganda diubah, dari enam biji, jadi lima. Dapat ganti si bocah cilik, Bhok Siang abaikan tuan rumahnya, terus setiap hari, ia ajak Sin Tjie "bertempur" , hingga tahu-tahu, sudah hampir sepuluh hari mereka main terus, hingga selanjutnya, dari diganda, keduanya main seperti biasa. Sin Tjie peroleh kemajuan sangat pesat, hingga dia berani melayani tanpa diganda lagi. Malah sekarang, sering mereka kalah dan menang bergantian! Begitu lekas Sin Tjie utamakan tiokie, ilmu silatnya kena diterlantarkan juga. Bok Djin Tjeng ketahui ini, tapi dia antap saja. Baru belakangan, melihat si tua bangka dan si bocah seperti lupa tidur dan makan -mereka bertempur tanpa batas tempo -ia jadi kuatir juga. Diam-diam ia kisiki muridnya ini supaja selanjutnya dia ini layani soepehnya satu hari satu kali saja, sebab dia tidak boleh alpai ilmu silatnya. Atas kisikan itu, Sin Tjie malu sendirinya. Memang benar, hampir sepuluh hari, ia sudah siasiakan pelajarannya. Maka besoknya, waktu Bhok Siang Toodjin ajaki dia main catur, dia menolak dengan manis, katanya ia mesti berlatih. Dihari kedua juga dia kembali menampik.
"Kau temani aku main, habis main, aku nanti ajarkan kau semacam ilmu silat, dengan itu, pasti gurumu girang,"
Kata Bhok Siang membujuk.
"Nanti aku tanya soehoe dulu,"
Kata Sin Tjie, yang tidak berani lancang.
"Baik, pergilah tanya!"
Si imam menganjurkan.
Sin Tjie lari mencari gurunya.
Ia beritahukan janjinya Bhok Siang.
Bok Djin Tjeng girang.
Ia memang tahu, imam itu liehay, melainkan adatnya aneh, dia tak suka menerima murid, tapi sekali ini dia kasih janjinya, itu tentu disebabkan pengaruh ketagihannya main catur.
Lantas ia tarik tangan muridnya untuk dibawa kepada si imam, kepada siapa lantas saja ia menjura .
"Kau hendak sempurnakan muridku ini, disini kuhaturkan terima kasih padamu!"
Lantas ia suruh muridnya paykoei. Sin Tjie menurut, ia paykoei dengan segera.
"Jangan, jangan!"
Ia menolak, tangannya digoyang berulang-ulang.
"Aku tidak terima murid! Jikalau dia hendak minta pelajaran dari aku, dia mesti dapatkan itu dengan menangkan aku dengan kepandaiannya!"
"Apakah caranya itu?"
Tanya Bok Djin Tjeng.
"Dalam hal ilmu pedang dan ilmu kepalan, Lo Bok, dikolong dunia ini kau tidak ada lawannya, aku si imam tua takluk kepadamu,"
Berkata imam itu.
"maka bocah ini, asal dia sanggup wariskan dua atau tiga bagian dari kepandaianmu, sukar dicari tandingannya dalam kalangan kang-ouw. Tetapi bicara tentang senjata rahasia, aku kira aku si imam tua mempunyakan dua kemungkinan!"
"Memang siapa tak tahu kau si Bajangan Iblis mempunyai kepandaianmu yang istimewa itu, jangan kau coba mengebul!"
"Ya, kau memang utamakan kaummu, segala apa kau hendak main terus-terang, hingga segala senjata rahasia kau tidak hendak dijakinkan dengan sungguh-sungguh,"
Kata si imam.
"Mengenai Sin Tjie, aku hendak atur begini. Kau antap dia lajani aku main tiokie, dua dalam satu hari, jikalau aku yang menang, kau mesti biarkan dia kawani aku melewatkan waktu yang senggang. Asal dia menangkan aku satu babak saja, aku nanti ajarkan dia semacam ilmu entengi tubuh, tapi kapan dia bisa menang beruntun dua kali, disebelah ilmu entengi tubuh itu, aku ajarkan lagi serupa senjata rahasia. Coba timbang, pertaruhanku ini adil atau tidak?"
"Imam tua ini benar licik dan lucu,"
Pikir Bok Djin Tjeng.
"Tapi dia ada satu laki-laki sejati, sekali dia berkata, dia tidak pernah tarik pulang lagi" . Maka ia lantas jawab .
"Baik, baiklah diatur begini. Aku memangnya kuatirkan Sin Tjie sia-siakan waktunya yang berharga, sekarang ada ini ketika yang baik, aku terima baik permintaanmu. Sekarang kau boleh main, sesukanya, setiap hari delapan kali, sepuluh kali, masa bodo!"
Bhok Siang jadi sangat girang, demikian juga Sin Tjie.
Tidak tempo lagi, keduanya lantas duduk berhadapan, untuk mulai dengan pertempurannya.....
Hari itu juga mereka main dua kali juga.
Habis main, dia menetapi janji, dia kata pada bocah she Wan itu .
"Sekarang aku ajarkan kau satu jurus ilmu entengi tubuh. Ya, cuma satu jurus saja, tapi jikalau kau yakinkan dengan sungguh-sungguh, faedahnya kau akan dapatkan seumur hidupmu. Nah, kau lihatlah dengan waspada."
Baru habis dia mengucapkan, tak tertampak lagi gerakan kakinya, tahu-tahu tubuh imam itu sudah mencelat keatas sebuah pohon didekat mereka, ketika ia lompat dengan jumpalitan, tahu-tahu ia sudah kembali berada didepannya si bocah.
Sin Tjie kagum hingga ia melengak, setelah sadar ia tepuk-tepuk tangan, ia bersorak.
"Sekarang hayo kau mulai pelajarkan,"
Bhok Siang kata. Dan ia terus ajarkan ilmu entengi tubuh itu yang dinamakan "Poan in seng liong"
Atau "Naga naik merayap dimega".
Untuk itu, Sin Tjie mesti berlompatan dengan enjot tubuh.
Dihari kedua, Sin Tjie kalah dua kali berturut-turut, maka pada hari itu seperti bunyinya perjanjian, ia tidak peroleh pengajaran apa juga.
Tapi di hari ketiga, ia main bagus sekali.
Ia lepaskan kedua sayap, ia menyerang di tengah dan ia menang dua-dua kalinya.
Tak puas Bhok Siang Toodjin.
"Mari lagi!"
Ia mengajak.
Mereka main pula dua kali, dengan kesudahan seri, satu kalah, satu menang.
Turut jumlah, si imam kalah tiga.
Atas ini, imam itu ajarkan si bocah dua rupa ilmu entengi tubuh.
Sin Tjie turut ajaran itu, ia terus berlatih, sampai ia pandai jalankan.
"Kau tahu, apabila aku menghadapi lawan, aku gunai senjata apa?"
Tiba-tiba tanya guru istimewa ini. Sin Tjie tidak tahu, ia menggeleng-gelengkan kepala. Bhok Siang Toodjin jumput papan caturnya, untuk diangkat.
"Inilah senjatanya! Menerangkan dia. Anak itu heran, walaupun ia tahu, papan catur itu terbuat dari baja. Ia menyangka, karena sangat gemar main tiokie, imam ini sengaja bikin papan catur luar biasa itu, dan papan catur ini terus dibawa-bawa, mungkin dikuatirkan rusak, dibuatnya dari logam kuat itu. Siapa sangka, itu adalah alat-senjata. Bhok Siang jumput seraupan biji catur.
"Dan ini adalah senjata rahasiaku!"
Ia tunjuki si bocah.
Ia tertawa.
Belum sempat Sin Tjie menanya atau si imam telah lemparkan biji-biji catur itu, belasan biji, kemudian ia angkat papannya, untuk dipakai menanggapi.
Aneh sekali, dengan menerbitkan suara nyaring, semua biji catur itu jatuh kedalam papan catur itu.
Lebih aneh pula, jatuhnya tidak beruntun, hanya berbareng semua, tanpa meletik lagi.
Si imam tertawa, lalu ia kata .
"Buat bisa menggunai senjata rahasia, paling dulu orang mesti melatih tenaga, lalu belajar menyerang dengan tepat, supaya penyerangan tentu cepat dan pelahannya, berat dan entengnya. Sekarang mari kau mulai!"
Bhok Siang benar-benar ajarkan Sin Tjie bagaimana mesti menimpuk, bagaimana tenaga mesti dikumpul ditangan, bagaimana harus mengincar sasaran.
Bukan main girang Sin Tjie, ia belajar dengan rajin.
Tanpa terasa, setengah tahun Bhok Siang Toodjin menenamu di atas gunung -gunung Hoa San -selama itu setiap hari dia main tiokie dengan Sin Tjie, berbareng dia ajari bocah itu menggunai senjata rahasianya -biji-biji catur serta ilmu entengi tubuh.
Ia seperti lupa pulang.
Ia pun mengajari dengan sungguh-sungguh.
Selama Bhok Siang Toodjin berdiam di Hoa San, kebetulan musim panas, maka itu telah diatur, pagi sampai siang, Sin Tjie belajar silat, tengah-hari sampai lohor, mereka berdua bertempur atas papan tiokie.
Dan selama itu, permainan catur Sin Tjie jadi liehay sekali, hingga ia telah melebihi gurunya ini.
Tapi dasar si imam "suka menang" , dia selalu suruh Sin Tjie pegang biji putih dan jalan terlebih dahulu, tapi ini justru mengakibatkan, ia lebih banyak kalah daripada menang....
Sin Tjie gunai biji jalan bukan untuk serang serampangan saja, hanya Bhok Siang Toodjin didik ia untuk serang jalan darah, sekali timpuk, dengan belasan biji, dia mesti bisa mengenai sasaran dengan jitu.
Ilmu senjata rahasia jang aneh itu dipanggil "Boan thian hoa ie", atau "Hujan bunga diseluruh langit".
Ini ada pelajaran sangat sulit.
Ia mulai dari satu biji, lalu ditambah, ia sudah belajar empat bulan, Baru ia bisa gunai tiga atau empat biji, dan yang kena, Baru satu atau dua.
Sebagai sasaran ada selembar papan dimana dilukiskan tubuh manusia dengan tanda-tanda jalan darah, diwaktu diserang, papan itu tidak dipancar hanya dipegangi oleh si empeh gagu, untuk dilarikan, setiap sang guru serukan jalan darah mana yang musti diserang.
Pada suatu hari, sedang Sin Tjie berlatih, si gagu berlari-larian dengan papannya, dan si guru sedang berseru dengan pengunjukan-pengunjukannya; ketika Sin Tjie sudah menimpuk jitu tiga biji, dan hendak menimpuk terus, sekonyong-konyong ia terkejut, hingga ia serukan jeritan tertahan.
Ia lari kepada si gagu, untuk tarik dia ini!
Si gagu kaget, segera ia menoleh.
Tidak tahunya, dibelakangnya, tahu-tahu berdiri orang hutan, yang bersikap hendak menerkam dia.
Ia menjadi tidak senang, ia ayun papan jang dipegangnya, untuk dipakai menyerang.
Cepat luar biasa, Bhok Siang Toodjin mencelat kepada si gagu ini, tubuh siapa ia tarik mundur, berbareng dengan mana, ia serukan muridnya .
"Sin Tjie, kau jang layani dia!"
Anak ini tahu, guru itu hendak uji dia, dia tidak menolak, malah segera dia lompat kedepan orang hutan itu.
Entah kenapa, berhadapan dengan orang, orang-hutan itu putar tubuhnya, untuk ngeloyor pergi, maka melihat demikian, Sin Tjie gerakan sebelah tangannya, akan tepuk bebokongnya, hingga saking kesakitan, binatang liar itu perdengarkan pekiknya berulangulang.
Dia menjadi gusar, dia berbalik, lalu tangannya jang panjang dan berbulu, menyambar!
Sin Tjie berkelit, dengan lompat kesamping, dari mana ia berniat menyerang, tetapi mendadakan, dibelakangnya ada menyambar angin.
Ia tahu, tentu ada lain musuh yang bokong padanya.
Tak keburu ia memutar tubuh, maka itu, ia menjejak tanah, untuk berlompat tinggi sambil jumpalitan, dengan begitu, apabila ia sudah berbalik, ia dapati si pembokong adalah satu orang-hutan lain, yang sama besarnya.
Sebenarnya, sejak belajar silat, belum pernah ia berkelahi dengan lain orang, namun demikian, tak jeri ia menghadapi dua binatang buas itu.
Segera ia menyerang, dengan mainkan tipu-tipu dari Hok-houw-tjiang, Tangan harimau.
Suara berisik membuat Bok Djin Tjeng muncul.
Ia saksikan pertempuran itu, ia lihat bagaimana beberapa kali orang-orang hutan itu kena dihajar, saban-saban keduanya perdengarkan pekikan-pekikan dari kesakitan.
"Bocah ini tidak mensia-siakan cape-lelahku,"
Pikir guru ini, jang merasa puas.
Setelah berulang-ulang merasai pukulan-pukulan jang menyakiti tubuh, kedua orang-hutan itu tidak berani berkelahi rapat, keduanya main lompat-lompatan, kadang-kadang saja mereka menubruk.
Sesudah mengawasi sekian lama, Bok Djin Tjeng dapat kenyataan, walaupun ilmu silatnya telah digunai dengan baik, tenaganya Sin Tjie kurang sekali, semua pukulannya melainkan menerbitkan rasa sakit, tidak bisa melukai, maka itu, ia masuk kedalam, untuk ambil pedang.
"Sambut ini!"
Kata ia ketika ia keluar pula, seraya lemparkan pedang kepada muridnya.
Sin Tjie berlompat, akan papaki pedang, untuk disambar dengan tangannya, setelah mana, ia bisa berkelahi dengan terlebih gesit pula.
Saban-saban ia membacok atau menikam, untuk mana, kedua binatang hutan itu pun berlaku gesit, senantiasa mereka lompat menyingkir.
"Jangan binasakan mereka!"
Bhok Siang serukan anak muda itu.
Sin Tjie menyahuti, lalu ia mendesak hebat.
Kali ini, asal ia mau, ia bisa tikam sesuatu dari binatang itu, akan tetapi sekarang ia melainkan mengancam, cuma ia lukai sedikit lengan, pundak dan kepala orang hutan itu.
Kelihatannya kedua binatang itu mempunyai perasaan.
Mereka mengerti orang tidak hendak binasakan mereka.
Ini terbukti, kapan mereka lompat jauh, Sin Tjie tidak mengejar, anak itu malah berhenti bersilat, dia mengawasi saja mereka.
Mereka insyaf bahwa orang mengasihani kepada mereka, maka kemudian mereka berpekik, lalu keduanya rubuhkan diri, sepasang tangan mereka dipakai menutup kepala mereka masing-masing, cuma mata mereka mengawasi si anak muda, dengan sinar mohon diberi ampun....
Sin Tjie berhenti menyerang, ia mengerti orang sudah menyerah.
Si gagu girang, ia lari kedalam, untuk ambil dadung, buat belenggu kedua binatang itu.
Mulanya kedua orang-hutan coba berontak, mereka berpikir dan pertontonkan gigi mereka, tapi tenaganya si gagu kuat sekali, diakhirnya, mereka menyerah, mereka tidak berani melawan lebih jauh.
Dua-dua Bok Djin Tjeng dan Bhok Siang Toodjin puji Sin Tjie, jang lantas dianjurkan untuk belajar lebih jauh dengan sungguh-sungguh.
Bukan kepalang girang Sin Tjie.
Ia pun merasakan bagaimana hasilnya latihan kerasnya.
Disebelah itu, girang ia mendapati dua orang hutan itu, ia sendiri mencarikan buahbuahan, untuk piara mereka.
Selang tujuh atau delapan hari, kedua orang-hutan itu jadi jinak sekali, keduanya mengerti kesajangan si anak muda terhadap mereka, maka itu, walaupun tidak lagi dicangcang, mereka tidak mau kabur.
Sin Tjie lantas beri nama "Tay Wie"
Kepada yang lelaki dan "Siauw Koay"
Kepada yang perempuan, ia biasakan memanggil mereka hingga keduanya tahu namanya masingmasing.
Bok Djin Tjeng dan Bhok Siang Toodjin tertawa melihat kedua binatang itu jadi demikian jinak dan mengerti maksud orang.
Setelah binatang itu tahu rumah, jinak dan mendengar kata, Sin Tjie lepaskan mereka hingga mereka merdeka untuk pergi cari makan sendiri, mencari bebuahan diatas gunung.
Pada suatu hari terjadilah suatu hal kebetulan.
Tay Wie dan Siauw Koay pergi mendaki gunung, untuk cari makanan.
Dengan berani Siauw Koay merambat ditembok gunung, atau mendadakan kakinya terpeleset, tiada ampun lagi, pegangannya terlepas, dia jatuh.
Tembok gunung itu adalah jurang dalamnya empat puluh tumbak lebih.
Tay Wie kaget, tapi kapan dia mengawasi lebih jauh, dia lihat kawannya tidak jatuh terus ke jurang hanya nyangkut pada suatu cabang pohon dimana kebetulan ada sebuah gua kosong, jang mulut guanya sudah lumutan.
Disini Siauw Koay berpegangan pada mulut gua, naik tidak bisa, turun juga tidak bisa.
Dalam sibuknya, Tay Wie lari pulang, untuk cari Sin Tjie, buat beri kabar.
Ketika itu, sang majikan lagi berlatih dengan pedang.
Binatang ini tidak bisa bicara, maka juga ia berpekik tak hentinya.
Sin Tjie heran, apabila ia lihat tubuhnya orang hutan itu lecet disana-sini, berdarah bekas kena tusukan duri pepohonan, sedang romannya seperti ketakutan.
Tidak tempo lagi, ia cari A Pa, si gagu, untuk diajak bersama, mengikuti binatang piaraan itu pergi kejurang.
Sesampainya di tepi jurang, Tay Wie menunjuk-nunjuk kearah Siauw Koay, ia berpekik tak sudahnya, kaki tangannya digeraki berulang-ulang.
Karena ini, Sin Tjie dan A Pa segera dapat lihat si orang-hutan betina dalam bahaya itu.
Tidak tempo lagi, Sin Tjie lari pulang untuk ambil dadung, yang ia lemparkan kearah binatang piaraannya itu, ia sendiri lalu memegangi ujungnya bersama A Pa.
Siauw Koay sudah lelah sangat, ketika ia lihat dadung, ia jambret, ia pegangi dengan keras, dengan begitu, sebentar kemudian ia dapat ditarik naik.
Ia terluka dibeberapa tempat, syukur tidak hebat.
Kemudian, dengan perdengarkan pekikan berulang-ulang, ia tunjuki tangannya kepada Sin Tjie.
Sin Tjie heran apabila ia dapati ditelapakan tangan kedua orang hutan itu nancap dua rupa benda luar biasa, ketika ia coba cabut, benda itu nancap keras, Siauw Koay sendiri menjerit-jerit keras, rupanya sangat kesakitan.
Benda itu susah dicabut.
"Apa mungkin ada musuh disini?"
Sin Tjie tanya dirinya sendiri.
Ia menjadi curiga dengan tiba-tiba.
Lalu, dengan tanda-tanda tangan, ia tanya Siauw Koay, siapa yang sudah serang padanya.
Dengan menggerak-gerakkan kedua tangannya, Siauw Koay beritahu bahwa ketika ia ulur tangannya kearah dalam gua, ia kena sambar atau tertusuk benda itu.
Bukan main herannya ini anak muda.
Bagaimana dalam gua itu ada senjata rahasia?
Sebab benda luar biasa itu tak lain tak bukan, mesti senjata rahasia adanya.
Tidakkah gua itu jauh dari sana-sini?
Dengan masih terus merasa aneh, Sin Tjie ajak A Pa dan dua binatang piaraannya itu untuk cabut benda aneh itu, yang pun ia kasih lihat.
Dua-dua Bok Djin Tjeng dan Bhok Siang turut merasa aneh.
"Aku gemari senjata rahasia, pernah aku lihat pelbagai bentuk senjata rahasia dari lain-lain orang, tetapi yang seperti ini, mirip ular, inilah yang pertama kali,"
Menyatakan Bhok Siang.
"Lao Bok, kali ini runtuhlah aku dari ujian..."
"Coba keluarkan dulu,"
Usulkan Bok Djin Tjeng.
Bhok Siang masuk kekamarnya, untuk ambil pisau kecil, dengan itu ia potong daging telapakan tangannya Siauw Koay, untuk keluarkan benda aneh itu.
Siauw Koay tahu orang hendak tolong dia, dia tidak berontak.
Setelah benda dicabut, lukanya diobati dan dibungkus.
Ia nampaknya merasa puas, sedang Tay Wie lantas usapusap dia dan carikan dia kutu.....
Dua potong senjata rahasia itu panjangnya masing-masing dua tjoen delapan hoen, berbentuk kepala ular dengan lidah diulur keluar, lidahnya bercagak tiga, setiap cagaknya tajam.
Seluruh tubuh ular berwarna hitam gelap, kotor dengan lumut, tapi kapan Bhok Siang telah keriki lumutnya, tertampaklah sepotong benda mengkilap -emas!
"Pantas timbangannya berat, kiranya terbuat dari emas,"
Kata imam ini.
"Sungguh berbahagia orang yang menjadi pemilik senjata rahasia ini! Sekali menggunai, dia buang emas beberapa tail..."
Sekonyong-konyong Bok Djin Tjeng terperanjat sendirinya, lalu ia berseru.
"Inilah senjata rahasia Kim Coa Long-koen!"
"Kim Coa Long-koen?"
Menegaskan Bhok Siang sambil melengak. Ia berdiam sebentar, akan melanjuti sesaat kemudian.
"Kau maksudkan Hee Soat Gie? Bukankah, kabarnya, dia telah meninggal dunia sejak belasan tahun jang lampau?"
Dia Baru mengucap demikian, atau dengan roman kaget, dia berseru.
"Tidak salah, benar dia!"
Imam ini lantas bulak-balik senjata rahasia model ular itu, lalu dibagian perutnya ia tampak satu ukiran huruf "Soat". Huruf ini kedapatan pada senjata rahasia yang kedua.
"Soehoe, siapa itu Kim Coa Long-koen?"
Tanya Sin Tjie pada gurunya, yang masih tercengang, hingga sejak tadi, guru ini diam saja.
"Nanti saja aku beri keterangan kepadamu,"
Sahut sang guru kemudian.
"Tootiang, coba bilang, kenapa senjata rahasianya bisa berada dalam gua itu?"
Bhok Siang Toodjin tidak menjawab, dia hanya berdiam berpikir.
Disebelahnya merasa aneh, dua sahabat itu nampaknya jadi tegang sendirinya.
Karena ini, Sin Tjie tidak berani menanyakan terlebih jauh.
Malam itu, habis bersantap, Bok Djin Tjeng dan Bhok Siang duduk pasang omong.
Sin Tjie mendengari dengan diam saja, karena ia tak mengerti apa yang diomongi itu.
Ia melainkan perhatikan kata-kata "pembunuhan karena permusuhan"
Dan "pembalasan dendaman". Pun ada kata-kata rahasia lainnya, yang gelap untuknya.
"Jadinya,"
Kemudian kata si imam tiba-tiba,"
Kim Coa Long-koen telah datang kemari untuk menyingkir dari musuh-musuhnya?"
Jawaban Bok Djin Tjeng ada menyimpang.
"Melihat kepandaiannya, sebenarnya tak ada perlunya dia jauh-jauh dari Kanglam menyingkir dan sembunyikan diri ketempat sunyi ini."
"Apa mungkin dia masih belum mati?"
Bhok Siang tanya pula.
"Dia adalah seorang luar biasa,"
Sahut Bok Djin Tjeng.
"Selama ini kita cuma dengar namanya belum pernah kita menemui sendiri kepadanya. Orang bilang dia telah meninggal dunia tetapi siapa juga tidak tahu kenapa dan cara bagaimana dia meninggalnya."
"Dia memang aneh sepak terjangnya...."
Sang imam menghela napas.
"Ada kalanya dia telengas sekali, ada kalanya dia mulia dan berbudi, sehingga apa dia jahat, apa dia baik, orang melainkan bisa menduga-duga saja. Beberapa kali pernah aku mencoba cari dia, tetapi senantiasa gagal..."
"Sudah, tak perlu kita main duga-duga saja,"
Memutus Bok Djin Tjeng.
"Besok kita pergi ke guanya untuk melihat-lihat!"
Dan besok paginya Bok Djin Tjeng ajak Bhok Siang Toodjin, Sin Tjie dan A Pa, dengan membekal senjata dan dadung, pergi kejurang yang kemarin. Sin Tjie hunjuki dimana letaknya gua.
"Hati-hati,"
Pesan Bok Djin Tjeng, ketika Bhok Siang nyatakan dia suka turun untuk memasuki gua itu.
Kemudian si imam libat pinggangnya dengan dadung dan kawannya, bersama si gagu, kerek dia turun secara pelahan-lahan.
Didepan mulut gua, Bhok Siang berhenti, segera ia mengawasi kedalamnya.
Ia tampak kabut, hingga sekalipun tanah tak terlihat tegas.
Diam-diam hatinya bercekat walaupun dia ada satu jago, jang telah luas pengalamannya.
Ia mengawasi terus.
Biasanya, di tempat gelap, lamaan mata orang menjadi biasa, tetapi disini, imam itu rasai malah semakin guram.
Ia hanya merasa, gua ini mestinya dalam sekali.
Ia pun menduga-duga apa tubuhnya muat apabila ia coba memasuki gua itu....
Bhok Siang tak mau mundur dengan begitu saja.
Ia lantas bungkus sebelah tangannya, lalu ia ulur itu kedalam gua.
Ia memasukinya dengan pelahan-lahan.
Segera ia merasakan tangannya membentur suatu benda tajam dimulut gua -benda yang nancap dimulut gua itu.
Ia duga itu adalah Kim-Coa-tjoei -"bor ular emas".
Ia mencabut semuanya, jang berjumlah empat belas biji.
Ia ulur tangannya lebih jauh, sampai pipinya mengenai mulut gua, ia tidak meraba lain benda.
Sampai disitu Barulah ia kuatir, orang-orang diatas, yang menahani tubuhnya, nanti lelah.
"Tarik aku!"
Ia perdengarkan suara seraya ia mengedut.
Bok Djin Tjeng dengar suara itu, ia menarik dengan pelahan-lahan.
Lagi kira dua tumbak sampai diatas, setelah kakinya dapat injak batu dilamping jurang itu, Bhok Siang menjejak, dengan begitu, cepat sekali ia telah sampai diantara kawankawannya.
"Lihat ini!"
Berseru ia kepada Bok Djin Tjeng, sambil ia perlihatkan tangannya dalam mana tergenggam empat-belas benda tajam, dan aneh jang seperti didapati Siauw Koay.
"Lauw Bok, kita dapat harta karun! Emas begini banyak!..."
Ia tertawa. Sebaliknya dari sahabat itu, Bok Djin Tjeng perlihatkan wajah sungguh2.
"Ini hantu simpan bendanya di dalam gua, apakah maksudnya?"
Kata dia kemudian.
"Ada benda apa lagi didalam gua itu? Nanti aku pergi lihat...."
"Percuma kau pergi melihat,"
Kata Bhok Siang.
"Mulut gua ada terlalu kecil, tubuhmu tak muat dalam itu!"
Bok Djin Tjeng berpikir, ia diam saja. Ia tunduk.
"Soepeh, apakah bisa aku yang pergi?"
Tiba-tiba Sin Tjie tanya.
"Mungkin kau bisa,"
Sahut Bhok Siang sambil tertawa.
"Jurang ada begini dalam, apa kau berani?"
"Aku berani, soepeh,"
Jawab bocah itu.
"Soehoe, aku yang pergi boleh tidak?"
Bok Djin Tjeng masih asyik berpikir dalam hatinya ia bilang .
"Orang kang-ouw gaib itu simpan senjata rahasianya didalam gua sini, mesti ada maksudnya, maka jikalau gua itu tidak dicari tahu terlebih jauh, sungguh sayang...Akan tetapi siapa tahu, ada tersembunyi ancaman bencana apa didalamnya? Kalau bocah ini diantap pergi seorang diri, tidakkah itu ada menguatirkan?...."
Kemudian ia jawab muridnya .
"Aku kuatirkan bencana dalam gua..."
"Aku bisa waspada, soehoe,"
Sang murid mendesak. Melihat murid itu demikian berani dan bernapsu, akhirnya sang guru manggut.
"Baiklah,"
Ia beri ijin akhirnya.
"Tapi kau mesti coba dulu. Kau nyalakan api, umpama api itu mati, jangan kau paksa masuk!"
"Aku mengerti, soehoe,"
Kata sang murid, yang segera persiapkan sebatang obor, sedang pedangnya ia tidak lupakan.
Ia cekal pedang ditangan kanan dan obor ditangan kiri.
Lebih dahulu daripada itu, ia ikat pinggangnya dengan dadung.
Kapan dadung telah diulur turun, cepat sekali Sin Tjie telah sampai dimulut gua.
Ia turut pesan gurunya, paling dulu ia sodorkan obor kedalam gua.
Ia dapatkan obornya tidak padam, hal ini membuat ia girang.
Maka lantas, dengan hati-hati, ia merayap masuk kedalam gua itu.
Dadung dipinggangnya ia tidak loloskan.
Ia mesti jalan sambil merayap, setelah kira sepuluh tumbak lebih, terowongan mulai mendaki.
Ia maju terus, kira setumbak lebih, Baru ia sampai ditempat terbuka dimana ia bisa bangkit berdiri.
Ia tidak takut, ia maju terus.
Sebentar saja, anak ini lihat jalan menikung.
Ia semakin waspada, ia maju sambil cekal keras pedangnya.
Ketika ia telah lalui tiga tumbak, ia menghadapi sebuah kamar batu.
Ia hampirkan mulut pintu, ia menyuluhi dengan obornya.
Tiba-tiba ia terperanjat, sampai ia keluarkan keringat dingin.
Duduk diatas batu, ditengah-tengah kamar, ada satu rerongkong manusia, lengkap dengan kepala dan tangannya, dan kedua tangannya rebah diatas pangkuan.
Dengan hati memukul, Sin Tjie awasi tulang-ulang manusia itu, setelah itu baru ia memandang kesekitar kamar.
Syukur untuk ia, disitu tidak ada lagi lain pemandangan yang mengerikan.
Malang-melintang ditanah didepan rerongkong itu ada belasan kim-coa-tjoei.
Disamping rerongkong ada terletak sebuah pedang.
Ditembok kamar ada sederetan gambar ukiran dari tubuh manusia lengkap, cuma sikapnya berlainan, kakinya dipakai menendang, mirip dengan orang yang lagi berlatih silat.
Ia awasi semua gambar itu, ia perhatikan, tak mengertilah ia.
Entah apa maksudnya gambar-gambar itu.
Di ujung dari gambar ukiran yang penghabisan, dengan diukir juga, ada beberapa baris dari enambelas huruf.
Sin Tjie dekati, lalu ia membaca.
Begini bunyinya.
"Mustika berharga, ilmu rahasia, diberikan kepada yang berjodoh. Siapa masuk dalam pintuku, menemui bencana jangan penasaran."
Sin Tjie masih hendak perhatikan kamar itu ketika ia dengar samar-samar suara orang memanggil, lantas ia bertindak keluar, tempo ia sampai ditikungan, ia kenali suaranya Bhok Siang Toodjin, yang masih memanggil-manggil namanya.
Lantas ia menyahuti, terus ia merayap keluar.
Bok Djin Tjeng dan Bhok Siang, diatas jurang, menantikan sekian lama, selama itu, mereka pun ulur dadung makin lama makin panjang, karena itu, setelah menantikan pula sekian lama, sang murid masih belum kembali, keduanya berkuatir.
"Nanti aku lihat,"
Kata Bhok Siang, yang lantas saja merayap turun.
Ia tidak bisa masuki terowongan, maka dari mulut itu, ia teriaki muridnya berulang-ulang.
Ia merasa hatinya lega kapan ia dengar jawaban muridnya, yang pun lantas keluar.
Dengan satu tanda, Bok Djin Tjeng dan A Pa tarik dadung, maka dilain saat, dua-dua Bhok Siang dan Sin Tjie kembali diantara mereka, tetapi Sin Tjie dengan pakaiannya kotor dan mukanya berlepotan debu dan lumut.
Bocah ini pun perlihatkan roman tegang.
Dua-dua Bok Djin Tjeng dan Bhok Siang duga anak ini menghadapi suatu apa yang luar biasa, dari itu mereka antap orang tetapkan hati.
Lagi sesaat Barulah Sin Tjie bisa tuturkan apa yang ia tampak dalam kamar batu gua itu.
"Tidak salah lagi, rerongkong itu mesti ada rerongkong Hee Soat Gie,"
Berkata Bok Djin Tjeng.
"Aku tidak sangka, seorang kosen luar biasa bisa akhirkan penghidupannya ditempat ini. Sungguh sayang...."
"Apakah artinya pesanannya enam-belas huruf itu?"
Tanya Bhok Siang. Bok Djin Tjeng berdiam sesaat, Baru ia menjawab.
"Kelihatannya Kim Coa Long-koen mesti simpan benda berharga, entah mustika apa,"
Berkata dia.
"Dia mempunyai ilmu silat yang liehay sekali, mestinya ia tinggalkan itu dalam guanya, setahu dengan cara apa. Mungkin dia nantikan orang jang berjodoh dengannya untuk hadiahkan warisannya itu. Dia ada seorang dengan tabiat koekoay sekali, rupanya dia anggap, siapa nanti peroleh warisannya itu, ialah jang dianggap sebagai muridnya. Dengan kata 'pintuku', tentu dia maksudkan golongannya. Tapi mungkin juga, didalam kamarnya itu ada suatu ancaman malapetaka...."
"Melihat bunyinya pesan, itu mungkin benar,"
Kata Bhok Siang.
"Hanya entah keanehan apa adanya itu..."
Bok Djin Tjeng menghela napas, lalu ia kata.
"Kita tak harap warisan ilmu silat dan mustikanya itu, tetapi, Sin Tjie, besok pergilah kau memasuki pula gua ini, kau mesti galikan lobang, untuk kubur rerongkong Kim Coa Long-koen, yang kita hormati sebagai tjianpwee, orang yang tertua. Kau mesti nyalakan lilin dan pasang hio dan hunjuk hormatmu sambil berlutut. Secara begini kita jadi hormati dia."
Sin Tjie manggut, ia suka dengar perkataan gurunya itu.
Bhok Siang Toodjin pun setuju pikiran sahabatnya itu.
Besoknya pagi Sin Tjie pergi pula kejurang dengan bekal juga pacul.
Ia pergi berdua saja sama A Pa, si gagu.
Bok Djin Tjeng dan Bhok Siang tidak turut, karena mereka anggap, gua itu tidak ada bahayanya.
Sin Tjie bekal tiga batang obor, karena ia tahu ia bakal berdiam lama didalam gua.
A Pa kerek turun anak ini.
Dengan cepat Sin Tjie dapat merayap ke tikungan dimana ia bisa bangun untuk berdiri, terus saja ia hampirkan kamar.
Paling dulu ia gali lobang didekat pintu, untuk pendam obornya, supaya ia tak usah pegangi terus obornya itu, dengan begitu, ia bisa bergerak dengan leluasa.
Habis itu Barulah ia hadapi rerongkong Kim Coa Long-koen.
"Soehoe bilang dia ada seorang kosen luar biasa, entah kenapa dia menutup mata disini,"
Ia berpikir.
"Setelah dia meninggal dunia, tak ada orang kubur mayatnya, sungguh kasihan...."
Bocah ini lantas jatuhkan diri didepan rerongkong itu, untuk paykoei.
"Teetjoe ada Wan Sin Tjie,"
Berkata ia dalam hatinya, setelah ia manggut beberapa kali.
"dengan kebetulan saja, teetjoe dapat menemui jenasah tayhiap ini. Hari ini ingin teetjoe kubur jenasah tayhiap, harap tayhiap nanti beristirahat dengan tenang dan kekal disini..."
Baru habis Sin Tjie hunjuk hormat itu, dari arah luar gua telah mengembus angin dingin, yang rupanya meniup dari dalam jurang, sampai hawa dinginnya membuat ia bergidik, bulu romanya pada bangun berdiri.
Habis itu, Sin Tjie lantas mulai menggali lobang.
Ia tadinya duga, tanah didalam kamar itu mestinya keras, siapa tahu, begitu ujung pacul mengenai tanah, hatinya menjadi lega.
Tanah itu empuk.
Karena ini, ia bisa bekerja dengan cepat.
Tiba-tiba terdengar satu kali suara membeletuk.
Itulah tanda udjung pacul mengenai barang keras, mungkin besi.
Untuk dapat kepastian, Sin Tjie ambil obor, untuk dipakai menyuluhi dekat-dekat.
Segera ia dapatkan selembar papan besi.
Ia memacul terus tanah disekitar besi lembaran itu, kemudian ia angkat besinya.
Dibawah lembaran besi itu ada sebuah peti besar dua kaki persegi.
Dengan dorongan perasaan ingin tahu, Sin Tjie angkat peti besi itu, yang tingginya kirakira satu kaki.
Beratnya peti itu tidak luar biasa, maka itu bisa diduga, isinya mesti tak banyak.
Oleh karena tutup peti tidak dikunci, dengan gampang Sin Tjie dapat buka itu.
Peti itu cetek sekali, hingga Sin Tjie menjadi heran.
"Heran,"
Pikir si anak muda.
"Peti besar dan tinggi, kenapa dalamnya cetek?"
Didalam peti terletak selembar sampul diatas mana ada tulisan delapan huruf besar, yang berbunyi .
"Siapa dapati petiku, boleh buka surat ini."
Melihat demikian, Sin Tjie jumput sampul itu, untuk dibuka dan keluarkan suratnya, yang warnanya sudah berubah menjadi kuning-dekil. Ia beber surat itu, lantas ia baca.
"Barang dalam peti ini, diwariskan kepada yang berjodoh. Hanya siapa dapatkan peti, mesti lebih dahulu kubur tulang-tulangku."
Bersama surat itu, didalam sampul, ada dua sampul lain, sampul-sampul yang lebih kecil. Diatas sampul yang satu tertulis.
"Aturan membuka peti". Diatas sampul yang kedua ada tulisan .
"Cara-cara mengubur tulang-tulangku" . Setelah membaca ini Baru Sin Tjie tahu, peti itu ada lapisannya. Lantas ia angkat peti itu untuk digoyang-goyang. Sekali ini, ia dengar suara apa-apa dari dalam peti. Didalam hatinya, bocah ini kata .
"Aku melainkan berkasihan rerongkongnya terlantar, maka aku kubur padanya, sama sekali aku tidak ingin temahai barang-barangnya."
Lantas Sin Tjie buka sampul jang bertulisan "Cara-cara mengubur tulang-tulangku". Didalam situ ada selembar kertas putih dengan tulisannya .
"Djikalau kamu bersungguhsungguh hati hendak mengubur tulang-tulangku, setelah menggali lobang, tolong gali lebih jauh tiga kaki dalamnya, disitu Barulah pendam aku. Dengan aku berdiam lebih dalam ditanah, dapatlah aku bebas dari gangguannya segala kutu dan semut."
Setelah membaca, Sin Tjie berkata dalam hatinya.
"Aku hendak jadi orang baik, tak boleh aku kepalang tanggung, baik aku turuti pesannya."
Dan ia angkat pula paculnya, untuk menggali lebih jauh.
Kali ini tanah itu kecampuran batu, tidak gampang untuk memacul leluasa seperti tadi, maka tak perduli dia telah berlatih, bocah ini toh mandi keringat.
Ketika ia menggali dalam hampir tiga kaki, mendadakan ujung paculnya membentur pula suatu benda keras, hingga terdengarlah suara nyaring.
Karena tadi telah dapati pengalaman, walaupun ia merasa heran, Sin Tjie gali terus tanah itu.
Kembali ia dapati sebuah peti besi, jang terlebih kecil, cuma satu kaki persegi.
"Orang gagah luar biasa ini benar-benar koekoay,"
Pikir dia.
"Entah apa lagi dia simpan dalam peti ini."
Ia angkat peti, yang ia bisa buka dengan gampang.
Kembali ia lihat selembar kertas jang ada tulisannya.
Apabila ia sudah baca bunyinya, ia kaget hingga ia mandi keringat dingin.
Surat dari peti yang kecilan berbunyi sebagai berikut.
"Kau benar-benar ada seorang baik hati dan jujur. Karena kau urus penguburanku, sudah selayaknya aku balas kebaikanmu dengan barang mustika dan ilmu kepandaian rahasia. Jikalau peti jang besar dibuka, dari dalamnya bakal menyambar keluar anak-anak panah beracun. Surat dan peta yang berada didalam peti itu pun palsu semuanya, malah ada racunnya juga. Itu semua ialah untuk ajar adat kepada orang-orang jahat. Barang yang tulen berada dalam peti kecil ini."
Sin Tjie insyaf, ia tidak mau sia-siakan tempo lagi.
Ia letaki kedua peti dipinggiran, ia rapikan lobang galiannya itu, lalu dengan sikap menghormat, ia pindahkan tulangtulangnya Kim Coa Long-koen, akan diletaki dengan hati-hati, sesudah mana, ia uruki dengan tanah, atasnya ia bikin rata, setelah ini, ia kembali soja-koei beberapa kali.
Sampai disitu, selesailah sudah ia dengan kewajibannya sebagai "ahli waris" , maka dengan pondong kedua peti, Sin Tjie bertindak keluar kamar, terus sampai ditikungan.
Disini sekarang ia bisa lihat segala apa dengan nyata, karena hatinya lega bukan main.
Ia dapatkan mulut gua tersusun batu, rupanya sengaja Kim Coa Long Koen atur demikian, untuk mencegah orang masuk kedalam guanya ini.
Ia lantas singkirkan semua batu itu, hingga disitu jadi terbuka satu terowongan yang cukup lega.
Ia buka gua ini supaya besok lusa ia bisa ajak kedua gurunya masuk kesitu untuk memeriksa.
Sesampainya dimulut terowongan, Sin Tjie memanggil A Pa sambil tarik dadung, maka dilain saat ia sudah dikerek naik oleh si gagu.
Lekas-lekas ia lari pulang, untuk menemui kedua gurunya.
Ketika itu Bok Djin Tjeng dan Bhok Siang Toodjin sedang main catur, mereka tunda permainannya, akan dengari penuturannya murid mereka.
Sin Tjie menuturkan segala apa dengan jelas.
Bhok Siang lihat surat-surat itu, diam-diam dia terperanjat dalam hatinya.
Bok Djin Tjeng pun dapat perasaan sebagai dia.
Kemudian ia buka sampul yang bertuliskan "Aturan membuka peti", ia ambil suratnya, untuk dibaca, begini.
"Dikiri dan kanan peti ini ada pesawat rahasianya, maka itu, untuk membukanya, peti mesti dipegang dengan kedua tangan dan dibukanya dengan keras dan berbareng, Baru tutupnya akan terbuka."
Bhok Siang Toodjin dan Bok Djin Tjeng mengulurkan lidah mereka saking kagum. Itulah hebat.
"Jiwanya Sin Tjie seperti telah dihidupkan pula!"
Berkata imam itu.
"Coba dia temaha sedikit saja, dia tidak kubur dulu jenasah dan lantas mendahului membuka peti, tentu anak-anak panah beracun tidak akan beri dia ampun!...."
Ia lantas suruh si gagu ambil sebuah tong besar, dikiri dan kanan itu, kira sebatas peti besi, dia bikin dua lobang, kemudian peti itu diletaki dalam tong itu, terus atasnya tong ditutup dengan papan tutupannya.
"Mari,"
Bhok Siang mengajak Sin Tjie.
Berdua mereka masuki sebelah tangan mereka masing-masing kedalam lobang tong, untuk pegangi peti dibagian pentolannya, lalu dengan beri tanda, keduanya menarik dengan berbareng, dengan dikageti.
Menyusul itu terdengarlah satu suara menjeblak.
Itulah rupanya, ada tanda dari terbukanya lapisan yang kedua.
Lalu menyusul itu terdengar dua rupa suara beruntun, berbunyi seperti barang nancap dan nyaring "dung,dung", hingga tong itu sedikit menggetar.
Sin Tjie tunggu sampai suara sudah berhenti, ia hendak buka tutup tong itu.
"Tunggu!"
Bok Djin Tjeng mencegah sambil tarik lengan muridnya.
Baru guru ini tutup mulutnya atau segera terdengar suara susulan seperti barusan.
Masih Bok Djin Tjeng menunggu sekian lama, Baru ia buka tutup tong, untuk dibalik, maka untuk keheranan mereka, mereka dapati tutup tong itu tertancap banyak anak panah, sampai beberapa puluh batang.
Pat Tjhioe Sian-wan Bok Djin Tjeng ambil jepitan, untuk jepit dan cabut bergantian semua gandewa itu, yang ia letaki dipinggiran.
Ia takut untuk cekal semua senjata itu.
Melihat semua itu, Bhok Siang Toodjin menghela napas.
"Ini orang pandai memikir dalam sekali,"
Memuji dia.
"Rupanya dia kuatir, dengan penyerangan pertama saja, penyerangannya itu nanti gagal, maka ia atur serangan susulannya yang kedua kali...."
Lantas imam ini, Kwie-Eng-Tjoe si Bajangan Iblis, jumput keluar peti besi dari dalam tong itu, maka dapatlah mereka lihat, setelah lapis yang kedua terbuka, didalam situ ada kawatkawat malang-melintang.
Terang itu ada kawat-kawat yang merupakan pesawat, yang membikin anak-anak panah bisa melesat menyambar sendirinya sebagai kesudahan dari ditariknya per rahasia.
Dengan gunai jepitan, Kwie-Eng-Tjoe Bhok Siang Toodjin singkirkan semua kawat itu, disebelah bawah itu ia tampak se
Jilid buku dengan kalimatnya "Kim Coa Pit Kip", atau "Kitab Rahasia Kim Coa".
Dengan "Kim Coa", Ular emas, pasti dimaksudkan Kim Coa Long-koen.
Dengan terus gunai jepitan itu, Bhok Siang balik beberapa halaman dari kitab rahasia itu, didalamnya kedapatan tulisan huruf-huruf kecil berikut rupa-rupa gambar atau peta, juga peta bumi.
Sejumlah gambar orang memperlihatkan pelbagai sikap latihan silat.
Gambargambar lainnya adalah contoh rupa-rupa alat senjata.
Semua orang tonton kitab itu dengan kekaguman.
Habis itu, Bhok Siang buka peti besi yang kecil, yang tidak pakai pesawat rahasia lagi, isinya adalah sebuah kitab serupa seperti kitab yang pertama itu, sama ukuran dan romannya, sama kalimatnya, akan tetapi kapan telah dibalik-balik lembarannya, isinya beda dari kitab yang pertama itu.
beda tulisannya, gambarnya, petanya.
Yang belakangan ini adalah kitab yang sejati.
"Benar-benar Kim Coa Long-koen sangat luar biasa,"
Memudji Bok Djin Tjeng, si Lutung Sakti Tangan Delapan.
"Untuk menghadapi orang jang tak sudi kubur rerongkongnya, dia telah asah otaknya membuat ini kitab palsu serta panah rahasianya yang beracun. Bukankah ia telah menutup mata? Kenapa ia bersiaga begini rupa terhadap orang yang masih belum diketahui bermaksud buruk atau baik?"
"Dia adalah seorang, yang bisa dianggap cupat pandangannya,"
Menyatakan Bhok Siang Toodjin.
"maka juga ia telah dapatkan hari akhirnya begini rupa."
Bok Djin Tjeng manggut-manggut, ia menghela napas pula.
"Sin Tjie, pergi simpan kedua peti besi ini berikut semua isinya,"
Kemudian kata sang guru kepada muridnya.
"Kim Coa Longkoen berpemandangan sempit, kitabnya ini tidak ada faedahnya untuk dibaca."
Sin Tjie turut kata gurunya, ia benakan kedua buku, ia tutup kedua peti, lalu ia bawa pergi untuk disimpan.
Sejak itu bocah ini lanjuti latihan silatnya dengan ber-tambah-tambah rajin, Bhok Siang sangat sayangi dia hingga dia diwariskan kepandaian ilmu entengkan tubuh dan senjata rahasia, tak ada yang guru kedua ini sembunyikan.
Karena habis itu, selang beberapa bulan, imam ini pamitan untuk turun gunung, buat kembali hidup berkelana.
Sin Tjie merasa berat untuk berpisahan tapi tak dapat ia mentjegah guru ini.
Maka selanjutnya, ia belajar terus dibawah pimpinan tunggal dari gurunya.
Bok Djin Tjeng juga telah wariskan kepandaiannya kepada muridnya ini yang berbakat dan rajin dan ulet, hingga beberapa tahun telah lewat seperti tanpa dirasai.
Maka akhirnya, ketika sampai ditahun keenam-belas dari Kaisar Tjong Tjeng dari ahala Beng, Sin Tjie telah masuk usia dua-puluh tahun.
Setelah sepuluh tahun lebih terlatih, sekarang Sin Tjie telah punyakan kepandaian yang berarti.
Dari Bok Djin Tjeng ia peroleh terutama ilmu silat pedang Hoa San Pay, sedang dari Bhok Siang Toodjin, ia dapatkan ilmu entengkan tubuh dan senjata rahasia biji catur (wie-kie-tjoe).
Ia jadi telah gabung-warisan ilmu kedua kaum.
Tapi sementara itu, sudah belasan tahun ia tak pernah turun gunung, maka mengenai urusan dunia, ia ada gelap sekali, kecuali jang ia dapat dari penuturan-penuturan kedua gurunya, sedang sebaliknya, dunia kang-ouw juga tak tahu yang kaum Hoa San Pay telah punyakan satu murid-penutup seperti anak muda ini.
Pada suatu pagi dari permulaan musim semi, selagi Sin Tjie berlatih silat dengan Tay Wie dan Siauw Koay temani dia, tiba-tiba A Pa muntjul dari dalam seraya terus gerak-gerakkan tangannya.
Ia mengerti, tentulah gurunya panggil padanya, tidak ayal lagi, ia berhenti berlatih, dengan cepat ia bertindak masuk kedalam kamar gurunya.
Untuk keheranannya, ia dapati dua orang asing, yang tubuhnya besar, berdiri disamping gurunya itu.
Ia heran karena ia tahu, kecuali Bhok Siang Toodjin, lain orang belum pernah mendaki puncak tertinggi dari gunung Hoa San ini.
Ia pun tidak kenal dua orang itu.
"Sin Tjie, inilah Ong Toako dan ini Kho Toako,"
Berkata sang guru begitu ia tampak munculnya murid itu.
"Mari kamu bikin pertemuan."
Karena disebutnya panggilan "toako" , Sin Tjie duga dua orang itu adalah sahabat-sahabat gurunya, ia lantas maju mendekati untuk memberi hormat sambil bersoja-koei seraya memanggil .
"soesiok!"
Tapi dua orang itu lekas-lekas paykoei, untuk balas kehormatan itu, seraya ber-ulangulang mereka kata.
"Tak berani aku terima hormat ini, Wan Soesiok, silakan bangun!"
Sin Tjie melengak. Dia panggil mereka soesiok (paman guru), sekarang mereka panggil dia soesiok juga! Tidakkah itu aneh? Bok Djin Tjeng tertawa berkakakan.
"Kamu semua bangun!"
Berkata dia.
Anak muda itu lantas berbangkit, untuk pandang dua tetamu itu, hingga sekarang ia bisa melihat lebih tegas.
Mereka dandan sebagai orang tani, nampaknya mereka gesit, melainkan wajahnya tegang atau likat.
Pat Tjhioe Sian-wan tertawa pula, tapi sekarang sambil terus berkata kepada muridnya itu.
"Belum pernah kau turut aku turun gunung, karena itu kau tidak tahu berapa tinggi tingkat
KANG ZUSI -
http.//cerita-silat.co.cc/ derajatmu.
Kamu bertiga tak usah seedjie dan main soja-koei terhadap satu dengan lain, tak usah juga kamu saling memanggil soesiok.
Baiklah kamu memanggil saudara satu sama lain menuruti usia kamu masing-masing."
Nyata kedua orang she Ong dan she Kho itu ada saudara-saudara seperguruan, Bok Djin Tjeng itu ada soesiok, paman guru mereka, meski benar mereka terlebih tua sedikit daripada Sin Tjie; dalam hal derajat, Sin Tjie ada lebih tinggi setingkat.
"Kedua toakomu ini datang dari Shoasay atas titahnya Tjiangkoen Lie Tjoe Seng,"
Sang guru menerangkan pula.
"Di Shoasay ada urusan penting yang mesti dirundingkan, maka itu besok aku mesti turun gunung."
Sin Tjie heran tapi ia tidak mencegah.
"Soehoe, aku toh boleh turut, supaya aku bisa lihat Tjoei Siokhoe?"
Mohon dia , yang tidak bisa lupai paman-angkat itu.
Pernah beberapa kali ia minta turun gunung akan sambangi sang paman, saban-saban gurunya ini mentjegah.
Mendengar permintaan muridnya itu, Bok Djin Tjeng tertawa.
Kedua pemuda she Ong dan Kho itu duga guru dan murid itu hendak bicara, mereka minta perkenan, lantas mereka pergi keluar.
Segera juga sang guru berkata pada muridnya.
"Sekarang ini tentara rakyat sedang maju, kedua propinsi Siamsay dan Shoasay bakal lekas dirampas pihak kita, maka itu sekarang ada ketikanya untuk kau turun gunung, buat sekalian menuntut balas kepada musuh ayahmu. Kau telah minta perkenan buat kau pergi bunuh kaisar Tjong Tjeng, aku selalu menolaknya, kau tahu apa sebabnya?"
"Mungkin, karena kepandaianku belum cukup,"
Sahut sang murid.
"Itu ada salah satu sebab,"
Jawab sang guru.
"Masih ada satu sebab lain, jang terlebih penting. Kau duduk, mari kita bicara pelahan-lahan."
Sin Tjie menurut, ia duduk didepan gurunya.
"Selama beberapa tahun ini, suasana di tapal batas ada tegang sekali,"
Menerangkan Bok Djin Tjeng.
"Bangsa Boan kandung maksud jang tak dapat kita duga-duga, tidak ada satu hari yang mereka lewatkan tanpa niat menerjang masuk ke Tionggoan. Kaisar Tjong Tjeng memang senantiasa bersangsi, akan tetapi dibanding dengan kaisar-kaisar yang telah marhum, Kee Tjeng atau Thian Kee, dia masih terlebih baik. Umpama karena dendaman pribadi , kau nerobos kedalam istana, kau bunuh dia, maka penggantinya tentu puteranya yang belum dewasa. Dengan putera mahkota belum tahu apa-apa, pemerintahan pasti bakal terjatuh kedalam tangannya menteri kebiri. Apabila ini sampai terjadi, aku kuatir Negara kita bakal terampas lain bangsa. Dengan begitu, tidakkah kau bakal jadi rakyat yang paling berdosa? Marhum ayahmu berkorban selagi menangkis serangan bangsa Boan, cita-citanya adalah merampas Liauw-tong, sekarang didunia baka, apabila dia ketahui perbuatanmu, pasti dia akan murka dan akan kutuk kau sebagai anak poet-tiong poet-hauw!" (tak setia dan tak berbakti). Sin Tjie terkejut, hingga ia mandi keringat dingin.
"Urusan Negara adalah urusan besar, urusan pribadi adalah urusan kecil,"
Menjelaskan pula sang guru.
"inilah sebabnya kenapa aku cegah kau pergi bunuh kaisar Tjong Tjeng. Akan tetapi keadaan sekarang ada lain. Giam Ong bakal segera rampas Siamsay dan Shoasay, mungkin dalam satu atau dua tahun dia akan duduki ibu kota Pakkhia. Apabila cita-cita ini tercapai, Giam Ong yang bakal pegang pimpinan. Setelah rakyat semua bersatu padu, kenapa kita mesti kuatirkan lagi bangsa Boan di Liauw Tong nanti terjang kita?"
Bergolak darah Sin Tjie mendengar kata-kata yang bersemangat dari gurunya itu.
"Sekarang ilmu silatmu telah ada dasarnya,"
Berkata pula sang guru.
"Memang ilmu silat tidak ada batasnya, akan tetapi semua kepandaianku, aku telah wariskan kepadamu, maka mengandal kepada dirimu sendiri, aku percaya kau akan bisa berbuat banyak. Kau tinggal membutuhkan latihan lebih jauh dan pengalaman, kau sudah boleh turun gunung. Besok aku akan berangkat, tak dapat kau turut langsung bersama, kau harus tunggu sampai satu bulan, lantas kau boleh berangkat sendiri, kau menuju langsung kedalam angkatan perang Giam Ong di Shoasay untuk cari aku."
Sin Tjie girang, ia terima baik pesan guru itu.
"Baik soehoe, aku menurut,"
Kata dia. Bok Djin Tjeng telah beritahu banyak kepada muridnya ini tentang segala-galanya kaum kang-ouw, tapi sekarang , ia telah ulangi itu agar murid ini ingat poma-poma, kemudian ia tambahkan.
"Kau jujur dan berhati-hati, aku percaya kepadamu, tetapi kau masih muda, semangatmu sedang ber-kobar-kobar, maka pesanku sekarang adalah mengenai paras eilok, kau mesti waspada luar biasa. Sudah banyak buktinya bagaimana orang gagahperkasa rubuh ditangan orang perempuan, hingga tubuhnya bercelaka dan namanya rusak! Kau ingat ini baik-baik!"
Sin Tjie terima pesan penting dari gurunya ini.
Besoknya pagi, belum terang tanah, Sin Tjie sudah bangun dari tidurnya, ia minta A Pa nyalakan api dan masak nasi, sesudah barang makanan siap, ia pergi kekamar gurunya, untuk undang guru itu dahar, akan tetapi kapan ia sampai didalam kamar, ia dapatkan sebuah kamar kosong.
Diluar tahunya, tadi tengah malam, guru itu sudah berangkat bersama-sama si Ong dan Kho, kedua soeheng itu.
Bengong ia mengawasi pembaringan tak ada isinya dari gurunya.
Tapi kapan ia ingat, segera juga ia bakal turun gunung, ia lari ke dapur, untuk beritahukan itu kepada A Pa, si empeh gagu.
Ia ada sangat gembira, siapa tahu, A Pa sebaliknya berduka, dia putar tubuhnya dan ngeloyor keluar, meninggalkan kawan ini.
Menampak demikian, Sin Tjie jadi terharu.
Si gagu ini ada kawannya sepuluh tahun lebih, mereka hidup rukun bagaikan saudara kandung, sekarang tiba-tiba mereka bakal berpisah, tidak heran A Pa lesu dan berduka.
Ia pun, dengan memikir sekelebatan saja, tak ingin berpisah dari kawan ini....
Dengan cepat, delapan hari telah berselang, selama itu tetap Sin Tjie berlatih dengan rajin, hanya sekarang, kapan ia memandang sekitarnya, ia merasa berat akan tinggalkan gunungnya itu.
Malam itu, habis bersantap, ia duduk seorang diri menghadapi api.
Ia pilih se
Jilid kitab gurunya, ia baca itu.
Kira-kira satu jam kemudian, selagi ia hendak padamkan api, untuk tidur, A Pa bertindak masuk kedalam kamarnya, terus si gagu bicara dengan gerakan tangan kaki.
Itu artinya, ada orang asing jang telah datangi tempat mereka.
"Nanti aku lihat,"
Kata Sin Tjie jang berniat keluar, tetapi A Pa cegah ia seraya beri tanda bahwa dia sudah memeriksa tapi orang asing itu tidak kelihatan bekas-bekasnya.
Ia masih kuatir, ia keluar juga dengan ajak dua orang-hutannya.
Ia meronda tanpa hasil, sekembalinya, ia lantas masuk tidur.
Kira tengah malam, anak muda ini mendusin dengan kaget.
Ia dengar suara berpekiknya Tay Wie dan Siauw Koay.
Ia lantas berbangkit, akan duduk untuk pasang kuping.
Mendadakan ia cium bau hio wangi, hingga ia terkejut dan dalam hatinya, berteriak.
"Celaka."
Segera ia menahan napas, ia berloncat turun.
Apamau, kedua kakinya hilang tenaganya, ia injak tanah dengan tubuh terhuyung-huyung, hampir saja ia rubuh.
Berbareng dengan itu, pintu kamar tertembrak dari luar, terpentang karena satu dupakan keras, lalu satu bajangan lompat masuk, menyusul mana, sebuah golok menyambar kearah si anak muda.
Sin Tjie rasai kepalanya pusing sekali, akan tetapi ia masih sadar, ia mencoba kuati diri, maka itu, ia dapat berkelit, akan egos bacokan, berbareng dengan mana, ia balas menyerang dengan tangan kanannya.
Bajangan itu putar tangannya, untuk balik babat lengan lawan.
Menghadapi musuh gesit itu, Sin Tjie tidak mau memberi ketika, ia nyamping dan menyerang pula dengan tangan kiri, hingga mengenai pundak orang itu.
Dia telah gunai tenaga besar.
Penyerang itu merasa kesakitan, tubuhnya limbung.
Nampaknya ia heran, musuh jang telah terkena asap hio pulas, masih demikian gagah.
Ia tentu telah rubuh jikalau tidak satu kawannya, yang menyusul masuk, tahan tubuhnya.
"Dia gagah?"
Kawan ini tanya.
Sin Tjie tidak perdulikan musuh ada berdua, ia hendak menyerang terus, tetapi sekonyong-konyong kepalanya jadi sangat pusing, tidak ampun lagi, ia rubuh pingsan.
Entah berapa waktu telah lewat, waktu ia mendusin, ia rasai seluruh tubuhnya lemas dan ngilu, ketika ia coba geraki tangan dan kakinya, ia kaget tidak terkira.
Ia telah terbelenggu seluruh tubuhnya?
Api dalam kamarnya terang, ia lihat dua musuhnya asyik geledah kamarnya, peti pakaiannya dibongkar.
"Celaka,"
Pikir ia, yang jadi mendongkol, berbareng masgul dan menyesal.
Ia sesalkan diri tidak punya guna.
Baru beberapa hari gurunya meninggalkan dia, dia sudah kena orang serbu, dia kena dirubuhkan....Bagaimana nanti dia mampu menuntut balas untuk ayahnya?
Tapi ia sadar, maka ia lantas tutup kedua matanya, untuk berpura-pura belum mendusin dari gangguan hio pulas, untuk mengawasi gerak-gerik orang, ia buka sedikit matanya.
Orang yang satu kurus kering, usianya lima-puluh lebih, kulit mukanya kering.
Orang yang kedua ada satu pendeta yang tubuhnya besar dan gemuk.
Melihat potongan tubuh dia ini, ia percaya dia adalah yang barusan bertempur dengannya.
"Di gunungku ini ada barang berharga apa maka mereka datangi untuk dirampok?"
Pikir dia.
"Ada juga uang lima-puluh perak peninggalan soehoe, buat bekal aku dijalan? Jangan-jangan mereka bukannya penjahat biasa....Pendeta ini kosen, si kurus juga tidak lemah, mungkin mereka hendak mencari balas, tetapi kenapa mereka tak lantas binasakan aku? Apa perlunya mereka menggeledah?"
Sembari berpikir, Sin Tjie coba kerahkan tenaganya, untuk bikin putus pengikat tubuhnya.
Ia tahu, dalam keadaan biasa, dadung itu tidak bisa rampas kemerdekaannya untuk selamanya.
Baru ia mencoba atau ia mundur sendirinya, hatinya mendongkol dan kecewa.
Dua orang tidak dikenal itu ada bangsa ahli, mereka tahu lawan liehay, diwaktu membelenggu, mereka seling itu dengan sepotong bambu diantara kedua tangan, jikalau si korban berontak, sebelum dadung putus, bambu itu akan pecah terlebih dahulu, suaranya pasti meletak dan berisik, hingga orang akan ketahui percobaannya itu.
Maka ia lantas berdiam, untuk cari daya lain.
Sekonyong-konyong si hweeshio jadi kegirangan.
"Disini!"
Ia berseru.
Sin Tjie lihat, dari kolong pembaringan, pendeta itu seret keluar peti besi yang besar, peti besi warisan Kim Coa Long-koen.
Si kurus-kering menoleh, ia pun nampaknya jadi sangat girang.
Berdua mereka lantas duduk disamping meja, mereka buka tutup peti, untuk keluarkan isinya, itu
Jilid kitab jang berkalimat "Kim Coa Pit Kip". Membaca kalimat itu, si gundul tertawa terbahak-bahak.
"Benar-benar disini!"
Kata dia dengan nyaring.
"Soeko, tak kecewalah usaha kita selama lima-belas tahun mencari ini!"
Lantas dia balik lembarannya kitab itu, dia dapati banyak gambar lukisan serta huruf-huruf halus yang merupakan keterangannya, saking girang, kepalanya digoyang-goyang, dia garuk-garuk belakang kupingnya.
Mendadak si kurus berseru.
"Eh, dia mau lari?"
Dia menunjuk kepada Sin Tjie.
Anak muda ini terkejut, ia menduga orang pergoki ia telah sadar.
Si hweeshio agaknya kaget, ia menoleh dengan segera.
Sekonyong-konyong si kurus geraki sebelah tangannya, lalu sejenak saja, bebokongnya si kepala gundul tertuncap pisau belati, yang masuk dalam sampai dibatas gagangnya, sesudah mana, dia loncat minggir, untuk segera hunus pedangnya.
Ia bersikap untuk bela diri, terutama mukanya, yang dialingi pedangnya itu.
Si pendeta kaget, dia menoleh, dia tertawa meringis.
"Kita berdua saudara telah mencari lamanya lima-belas tahun, sekarang kita berhasil, lantas kau hendak kangkangi sendiri, kau turunkan tangan jahat....Ha-ha-ha-ha! Ha-ha-ha!"
Itulah suara tertawa hebat dan seram sekali, sampai pun Sin Tjie bergidik.
Hweeshio itu ulur tangannya kebelakang, dia berniat mencabut pisau belati itu, akan tetapi tangannya itu tak dapat menyampaikannya.
Mendadak dia menjerit, lantas dia rubuh terguling, dia berkelejatan, lalu seluruh tubuhnya diam....
Si kurus kuatir kepada gundul ini belum mati, ia maju untuk menikam dua kali.
Sin Tjie kaget, hatinya mencelos, menampak orang demikian telengas terhadap saudara seperguruan sendiri.
"Jikalau aku tidak bunuh kau, apa mungkin kau tak nanti bunuh aku? Hm!"
Demikian si kurus perdengarkan suaranya.
Rupanya ia curigai kawan itu, makanya ia turun tangan lebih dulu.
Habis itu ia dupak dua kali tubuh gemuk dari si hweeshio...
(Bersambung bab ke 5) Si kurus ini tidak lihat Sin Tjie sudah sadar, dua kali dia perdengarkan tertawanya yang seram, lantas dia sentil sumbu lilin, untuk dibuang ujungnya, hingga apinya menjadi menyala terang sekali.
Dia hampirkan meja, untuk balik lembarannya kitab "Kim Coa Pit Kip", lantas ia membaca.
Suara bacaannya menyatakan ia ada sangat gembira dan puas, tubuhnya pun bergerak-gerak sedikit.
Beberapa lembaran pula dibalik, antaranya ada halaman yang seperti nempel, lantas ia tempelkan jari tangannya di lidahnya, untuk dengan jari yang basah, bisa ia buka lembaran itu.
Ia menyolet ludah di lidahnya sampai beberapa kali.
Sin Tjie tetap mengintai, sampai tiba-tiba ia ingat, kitab itu ada racunnya.
Dia duga, si kurus ini tentu bakal keracunan.
Tanpa merasa, saking kaget, ia perdengarkan seruan tertahan.
Si kurus dengar suara orang, ia menoleh dengan segera justru Sin Tjie sedang buka kedua matanya, maka dapatlah ia lihat sinar mata yang seperti ketakutan dari si anak muda.
Ia lantas berbangkit, dengan tindakan pelahan, ia hampirkan tubuhnya si kepala gundul, untuk cabut pisau belati dari bebokongnya korban itu.
Habis ini, dia dekati dua tindak pada Sin Tjie.
"Kita berdua tidak bermusuhan akan tetapi hari ini tak dapat aku beri ampun padamu!"
Kata dia dengan suara bengis, kedua matanya pun bersinar mengancam, kemudian sembari angkat pisau belatinya, ia tertawa secara iblis, sampai dua kali.
"Jikalau aku lantas bunuh kepadamu, sampai di akhirat, kau nanti belum tahu sebabmusababnya,"
Berkata dia, yang sikapnya sangat mengancam.
"Aku ada Thio Tjoen Kioe dari Tjio Liang Pay dari Kie-tjioe, Tjiatkang. Pihak kami Tjio Liang Pay dengan Kim Coa Long-koen ada musuh mati-hidup. Dia telah perkosa satu adik perguruan kita jang perempuan, dia kabur kemari, untuk belasan tahun kami cari dia ubak-ubakan, siapa tahu, warisannya telah terjatuh kedalam tanganmu, bocah! Entah ada hubungan apa kau dengan Kim Coa Long-koen, yang terang kau pasti bukan orang baik-baik, maka itu, jikalau aku binasakan kau, tak nanti kau penasaran, tapi umpama kau hendak menuntut balas setelah kau jadi hantu, kau boleh cari aku di Kie-tjioe! Ha-ha-ha-ha!..."
Si kurus ini belum tutup mulutnya atau sekonyong-konyong dia limbung, tubuhnya sempoyongan kearah si anak muda.
Sin Tjie kaget, ia tahu ini adalah saat mati atau hidupnya, dalam saat bahaya itu, ia kerahkan tenaganya, ia berontak, hingga belengguannya pada putus, bambunya menerbitkan suara nyaring, setelah mana dia berlompat maju, untuk mendahului menyerang.
Tiba-tiba orang itu terjengkang, terus tubuhnya rubuh sendirinya.
Sin Tjie heran, walaupun ia batal menyerang, ia toh lantas bersiap.
Ia cekal sisa tambang, untuk digunakan sebagai senjata.
Ia bertindak mendekati, untuk melihat tegas.
Si kurus-kering itu kejutkan dua kakinya, lantas seluruh tubuhnya diam, tak berkutik lagi, menyusul mana dari kedua matanya, dari hidungnya, dan kupingnya, terutama dari mulutnya, lantas mengalir keluar darah hidup yang hitam.
Maka sekarang teranglah dia telah mati keracunan, racun yang berbisa dari halaman-halaman kitab Kim Coa Long-koen, yang tadi dikenakan jari tangannya si kurus sendiri.
Segera Sin Tjie loloskan semua libatan tambangnya, lantas ia lari keluar kamarnya, kekamar luar dimana ia dapatkan A Pa sedang terbelenggu, kedua matanya terbuka lebar, tubuhnya tak bergeming.
Maka ia lantas tolong si gagu itu.
Juga disitu Tay Wie dan Siauw Koay pada menggeletak, melihat mana, Sin Tjie berkuatir sekali, ia kuatir kedua binatang piaraannya itu telah terbinasa karena tangan jahat musuh.
Ia lantas cari air, dengan itu ia banjur dua orang hutan itu.
Tidak antara lama, kedua binatang itu mulai berkutik kaki tangannya, tandanya keduanya sudah sadar, hingga hati majikannya jadi lega.
"Apa jang telah terjadi?"
Tanya Sin Tjie kepada A Pa.
Si empeh gagu, dengan tanda-tanda tangannya, tuturkan bahwa ia kena dibokong hingga ia jadi tertawan tanpa berdaya.
Sin Tjie mengerti, ia tidak bilang suatu apa.
Besoknya, setelah terang tanah, kedua mayat dibawa keluar, untuk dikubur, sesudah mana, Sin Tjie pun lempar peti besi yang besar itu kedalam lobang kuburan itu.
Ia anggap itu adalah peti pembawa bencana.
Malamnya, sedang beristirahat, Sin Tjie bergidik sendirinya apabila ia bayangi pengalamannya yang sangat berbahaya itu.
Tatkala peti besi didapatkan, bocah ini baru berumur dua-belas tahun, berselang delapan tahun, hingga sekarang ia jadi satu pemuda, ia telah lupakan peti besi itu, akan tetapi sekarang, melihat si pendeta dan si kurus demikian inginkan peti besi itu, hatinya jadi bercekat.
"Mestinya Kim Coa Pit Kip ada berharga sekali,"
Ia menduga-duga.
"Kenapa mereka mencari terus-terusan sampai lima-belas tahun? Kenapa mereka jadi adu jiwa karenanya? Apakah itu yang tertulis dalam kitab tersebut?"
Lama Sin Tjie terganggu oleh semua itu, akhirnya ia seret keluar peti besi yang kecil, jang ia letaki dikolong pembaringan, disebelah dalaman peti jang besar.
Sebab ditaruh disebelah dalaman, peti ini kealingan dan jadi tak terlihat si pendeta, perhatian siapa sebaliknya telah ditumplak semua kepada peti yang besar itu terutama isinya.
Peti ini telah bergala gasi dan berdebu.
Dari dalam peti ini, ia keluarkan kitab yang tulen.
Ia balik-balik halamannya, untuk memperhatikan semuanya dengan sungguh-sungguh.
Dalam hal ilmu pukulan dan mainkan senjata rahasia, buku itu beda dari pelajarannya Bok Djin Tjeng dan Bhok Siang Toodjin, beda dalam hal "kelicinannya".
"Hampir saja aku bercelaka ditangan manusia jahat,"
Pikir dia sambil terus perhatikan isi kitab itu.
"Kalau nanti aku berkelana, bagaimana aku mesti layani orang-orang semacam si kurus dan si gundul ini? Kenapa aku tak mau yakinkan ini, sedikitnya untuk pembelaan diri? Sebagai tambahan pengetahuan, ini pun pasti ada berharga sekali?..."
Karena memikir begini, Sin Tjie segera membaca dengan teliti, ia perhatikan gerak geriknya peta.
Tiga hari ia membaca terus menerus, ia dapat kenyataan bagaimana bedanya itu dengan pengajaran gurunya, malah tak pernah ia dengar gurunya menuturkan tentang ini macam ilmu silat yang asing baginya.
Tapi ia cerdik, otaknya cerdas, walaupun tanpa guru dengan membaca saja, kemudian ia dapat jalankan pelbagai ilmu pukulan menurut kitab tersebut.
Hanya ketika ia menyakini sampai dihari kelima, ia hadapi kesukaran, ialah dibagian pelajaran tanpa peta.
"Baik aku menunda dulu,"
Pikir Sin Tjie.
Dan ia baca bagian ilmu silat pedang "Kim Coa Kiam-hoat", terus ia melatih diri.
Mulanya ia dapatkan jalan dengan baik, hanya lama-lama, ia tidak ketemu jalan.
Mendadakan ia ingat ukiran gambar-gambar ditembok kamar Kim Coa Long Koen, si Ular Emas.
Tidakkah semua gambar itu ada hubungannya sama ini?
Ingat ini, tak peduli waktu lagi, Sin Tjie cari A Pa.
Ia bekal tambang dan obor, ia ajak kawan itu pergi ke jurang, hingga dilain saat, ia sudah berada di dalam gua Kim Coa Long-koen.
Karena mulut terowongan telah dibesarkan, dengan gampang ia bisa masuki tubuhnya.
Sampai didalam gua, Sin Tjie suluhi tembok, terus ia awasi, ia perhatikan sesuatu gerakan tangan dan kaki.
Dasar ia berotak terang, lantas ia dapat kenyataan, itulah ada gambar penjelasan untuk bunyinya kitab bagian yang ia tidak mengerti.
Maka bukan main girangnya ia.
Tak tempo lagi, pemuda ini berlatih didalam kamar itu sambil ia ikuti sesuatu petunjuk dari setiap ukiran.
Kesudahannya ia jadi sangat girang.
Satu kali ia dapat menjalankannya, terus ia ulangi dan ulangi lagi, sampai ia ingat betul.
"Terima kasih!"
Kata ia kepada Kim Coa Long-koen, dimuka kuburan siapa ia bersoja koei dua kali.
Pemuda ini hendak berlalu ketika ia tampak pedang aneh dari Kim Coa Long-koen, jang masih menggeletak dipinggiran, yang tadinya ia tidak perhatikan.
Pedang itu rada bengkung bagaikan ular melilit diri, ekornya adalah yang merupakan gagangnya, sedang ujungnya, jang tajam, bercagak dua seperti lidah ular.
Cagak ini bisa dipakai menikam berbareng menggaet senjata lawan.
"Tentu A Pa pikiri aku,"
Pikir Sin Tjie, jang terus jumput pedang itu, untuk dibawa keluar, begitu juga sejumlah Kim Coa Tjoei, senjata rahasia jang merupakan sebagai bor istimewa.
Dimuka terowongan masih ada melintang sepotong batu, yang agak menyulitkan untuk orang merayap keluar, iseng-iseng Sin Tjie gunai pedangnya akan bacok batu itu.
Untuk keheranannya, untuk kegirangannya, begitu ditabas, batu itu sapat!
"Aha!"
Berseru pemuda ini.
Itulah sebatang pedang mustika!
Ketika ia coba menusuk, batu pun dapat ditikam bagaikan kayu saja!
Bukan main girangnya pemuda ini, maka itu, ketika ia telah kembali kerumah, tidak buang tempo lagi, ia terus berlatih pula dilapangan peranti dia belajar silat.
Mulanya ia jalankan ilmu pedang Hoa San Pay ajaran gurunya, nyata pedang aneh itu cocok untuk dipakai, akan tetapi kapan ia telah mencoba Kim Coa Kiam-hoat, kegirangannya meluap.
Selanjutnya, untuk belasan hari, tak ada bosannya, Sin Tjie yakinkan semua pengajaran dalam kitab dari Kim Coa Long-koen, pelajaran senjata rahasia Kim-Coa-tjoei pun tak dilupakan, yang tak kalah liehaynya dengan ajaran Bhok Siang Toodjin.
"Mungkin Kim Coa Long-koen tersesat tapi ia harus dikagumi,"
Pikir Sin Tjie, jang jadi menaruh harga kepada jago yang telah marhum itu.
Mempelajari kitab terlebih jauh, tiga halaman yang terakhir membuat Sin Tjie pusing kepala.
Ia membaca, ia melatih, tidak juga ia ketemu jalan.
Ia memahami, ia tidak berhasil.
Toh ia merasa, ia tak salah mengertikannya.
Begitu beda itu dengan pelajaran gurunya...
Malamnya, selagi rebahkan diri diatas pembaringannya, Sin Tjie pikirkan kitab rahasia itu.
Ia lihat sinar rembulan yang indah masuk dari jendela.
Ia menghitung-hitung.
Duapuluh delapan hari telah lewat dengan lekas sejak pergi gurunya.
"Lagi dua hari, aku mesti susul soehoe,"
Ia pikir. Tiba-tiba ia ingat sikap Thio Tjoen Kioe yang telengas.
"Kitab ini sangat luar biasa, apabila ini terjatuh dalam tangan orang jahat, bahayanya untuk umum besar sekali. Kenapa aku tidak bakar saja?"
Sin Tjie tidak berpikir lama dan segera ia ambil putusan.
Ia turun dari pembaringan, akan sulut lampu, lalu ia ambil Kim Coa Pit-kip, tidak sangsi lagi, ia bakar itu.
Sekian lama, api menyala, membakar kitab, akan tetapi aneh, selagi semua lembaran habis hangus menjadi abu, adalah halaman kulitnya utuh, cuma hitam saja.
"Aneh,"
Pikir pemuda ini, apapula ketika ia coba beset, ia tak berhasil, sedang kedua tangannya kuat.
Karena ini, ia perhatikan lebih jauh kulit buku itu, dipencet-pencet, disentil-sentil.
Segera ternyata, kulit buku itu terbuat dari tembaga campur emas dan dilapis entah dengan bulu apa dan juga lapis dua, mirip dengan baju kaos pelindung diri dari Bhok Siang Toodjin, hanya ini ada terlebih tipis.
Dengan gunai pisau, Sin Tjie coba korek akan buka kedua lapisan kulit buku itu.
Untuk keheranannya, didalam situ ia dapatkan dua lembar kertas, yang ia lantas tarik keluar.
Dihalaman depan, ia lihat tulisan bunyinya .
"Gambar dari barang berharga."
Dipinggiran itu ada peta-bumi serta banyak tanda-tanda. Dibelakang peta itu terdapat tulisan yang sebagai berikut bunyinya .
"Siapa dapatkan harta, diminta dia pergi ke Tjio-liang di Kietjioe, Tjiatkang, untuk cari Oen Gie, untuk dihadiahkan uang sepuluh ribu tail."
"Sungguh jumawa!"
Pikir Sin Tjie, karena jumlah itu besar sekali.
Sekarang pemuda ini periksa kertas yang kedua, yang memuat gambar ilmu pukulan, apabila ia telah periksa dengan hati-hati, ia sadar.
Ini adalah gambar penjelasan untuk bagian ilmu silat didalam "Kim Coa Pit Kip" , yang sampai sebegitu jauh masih kurang jelas untuknya, hingga tak dapat ia melatih diri dengan itu.
Maka sekarang kegirangannya jadi meluap, hingga ia akhirnya menghela napas saking kagumi silat yang terrahasia itu.
Terang telah disengaja, penjelasan didalam kitab dibikin kurang jelas dan itu Barulah terang apabila ini penjelasan dalam lipatan kulit halaman sudah diketemukan.
Bagaimana hebat!
"Coba peta bumi ini tak didapatkan, atau didapatkannya oleh orang tolol, bukankah harta besar itu bakal terus tak kedapatan?"
Pikir Sin Tjie.
Dua lembar kertas itu diselipkan pula kedalam kulit kitab dan disimpan.
Masih Sin Tjie radjin berlatih, sampai lewat lagi dua hari, sesudah mana, ia siapkan satu buntalan sederhana, untuk ia berangkat susul gurunya.
Ia ambil selamat berpisah dari A Pa, siapa antar ia sampai ditengah gunung.
Si empeh gagu ajak kedua orang hutan.
Berat Sin Tjie merasa akan, setelah sepuluh tahun, mesti berpisah dari A Pa, dari kedua binatang piaraannya juga.
A Pa sendiri ada masgul.
Tapi juga kedua orang-hutan itu mengerti, keduanya pegangi tangannya si anak muda, keduanya berpekik.
Mereka ini menahan orang berangkat.
Sin Tjie terharu.
"Aku mesti bawa mereka!"
Pikir dia, setelah mana, ia bicara dengan tangan pada A Pa.
A Pa merasa berat tetapi ia kasih kedua binatang itu dibawa, maka itu, ketika ia turun gunung, Sin Tjie diiring oleh dua binatang liar itu.
Inilah untuk pertama kali Sin Tjie turun gunung, tidak heran apabila ia merasa asing dan lihat segala apa seperti baru baginya.
Ketika pada suatu hari ia sampai di Shoasay, ia lihat gerakan tentara disana-sini dan disetiap tempat penting ada penjagaan tentara sukarela, yang melakukan pemeriksaan keras kepada orang-orang yang berlalu-lintas.
Di sebuah pos, apabila tentara yang menjaga dapat tahu, pemuda ini hendak menghadap Giam Ong, tak ayal lagi, satu serdadu diperintah mengantarnya ke markas besar dari Lie Tjoe Seng, sang jenderal.
Sebab Sin Tjie sebut dia muridnya Bok Djin Tjeng, Lie Tjoe Seng keluar sendiri untuk menyambut, walaupun ia sedang repot.
Sin Tjie kagum akan lihat pemimpin tentara ini mengenakan pakaian sederhana tetapi romannya gagah.
Ia pun puas akan penyambutan manis dari pemimpin ini.
Rupanya Bok Djin Tjeng telah pujikan muridnya ini kepada kepala perang itu, hingga dia ini tidak berani mengabaikannya.
"Sayang gurumu sedang pergi ke Kanglam,"
Giam Ong terangkan kapan tetamunya tanya tentang Bok Djin Tjeng.
Sin Tjie menyesal, lantas hilang kegembiraannya, apalagi sesudah ia tanyakan Tjoei Tjioe San, sahabat atau gurunya yang pertama itu, ia diberi keterangan, Tjioe San pun ikut Djin Tjeng ke Kanglam, untuk kumpul rangsum tentara.
"Hendak aku susul soehoe,"
Sin Tjie nyatakan.
"Nanti, setelah bertemu sama soehoe, aku akan kembali kemari untuk membantu."
Lie Tjoe Seng lihat orang berniat tetap, ia tidak mencegah.
"Kau temani dia bersantap,"
Kepala perang ini kata pada Lie Gam, sebawahannya yang berpangkat Tie-tjiangkoen.
Ia pun bekalkan uang sepuluh tail, uang mana Sin Tjie tak berdaya menampiknya maka ia haturkan terima kasih.
Lie Gam ada ramah-tamah, melihat orang bawa-bawa orang-hutan dan pedangnya pun luar biasa, pedang mana bisa menarik perhatian orang, sedang cara dandannya si anak muda pun tak seperti orang kebanyakan, ia kasih pedang itu dititipkan didalam tangsi, sementara dilain pihak, ia lantas siapkan dua perangkat pakaian peranti mahasiswa.
Sin Tjie anggap pikiran itu baik, ia suka menurut, maka demikian ia tukar dandanan dalam perjalanannya ke selatan.
Pada suatu hari sampailah pemuda kita di Giok San sebelah timur dari Kangsay, habis bersantap, ia pergi kepelabuhan, akan sewa perahu untuk melanjutkan perjalanan kearah timur.
Ia dapati sebuah perahu besar, yang tukang perahunya doyan persenan, sedang penyewanya, saudagar Liong Tek Lin asal Siang-djiauw, Tjiatkang, untuk beli barang, tak keberatan, karena dia lihat, pemuda itu ada satu sioetjay.
Disaat tukang perahu hendak jalankan perahunya, ditepian berlari-lari seorang anak muda sambil dia berkaok-kaok minta dikasi menumpang untuk ke Kie-tjioe, katanya dia ada urusan sangat penting dikota itu.
Sin Tjie ketarik mendengar suara nyaring orang tetapi halus.
Iapun heran akan tampak wajah orang itu.
"Apa benar ada satu pemuda begini ganteng romannya?"
Memikir dia.
Pemuda itu berumur delapan atau sembilan-belas tahun, kulitnya putih halus, mukanya bersemu dadu, buntalannya tergendol dibelakangnya.
Liong Tek Lin merasa suka kepada anak muda itu, ia berikan perkenannya, maka tukang perahu lantas pasang papan tangga, untuk orang naik kedalam perahunya.
Begitu lekas orang menaruh kedua kakinya diatas perahu, Sin Tjie terkejut.
Ia merasakan bagaimana perahu mendadakan seperti melesak kedalam air.
Ia heran sebab si pemuda itu kurus dan berat tubuhnya tak ada seratus kati.
Kenapa dia ada begitu berat?
Buntalannya juga tak besar.
Sesampainya didalam perahu, pemuda itu beri hormat pada Tek Lin dan Sin Tjie, ia menghaturkan terima kasih.
Ia bilang she-nya Oen dan namanya Tjeng, bahwa ibunya dikabarkan sakit, ia hendak lekas-lekas pulang untuk menyambanginya.
Nampaknya pemuda ini menaruh perhatian kepada Sin Tjie.
"Mendengar suaramu, saudara Wan, kau mestinya bukan penduduk sini?"
Tanyanya kemudian.
"Aku asal Kwietang, tetapi dibesarkan di Siamsay,"
Sahuti pemuda kita.
"Inilah untuk pertama kali aku pergi ke Kanglam."
"Ada urusan apa saudara datang ke Tjiatkang?"
Tanyanya pula.
"Untuk menyambangi sanak saja,"
Terang Sin Tjie.
Selama itu perahu mereka asyik berlayar.
Tiba-tiba dua buah perahu kecil, jang dikayuh cepat, lewat melesat dikedua samping.
Oen Tjeng awasi kedua perahu itu, yang lenyap disebelah depan diantara tikungan, lalu kealingan bukit.
Disaatnya bersantap tengah hari, saudagar Liong baik budi, ia undang kedua anak muda itu dahar bersama, Sin Tjie makan tiga mangkok, Oen Tjeng cuma satu.
Selama itu, gerakgerik pemuda she Oen ini ada halus.
Boleh dibilang Baru mereka habis bersantap, terdengarlah suara air dikayuh, lalu terlihat dua buah perahu lewat disamping, dari sebuah diantaranya, seorang yang bertubuh besar, yang berdiri dikepala perahu, melirik beberapa kali.
Menampak sikapnya orang diperahu kecil itu, alisnya Oen Tjeng berdiri dengan tiba-tiba, matanya bersinar, wajahnya berubah menjadi padam.
Heran Sin Tjie akan lihat wajah orang itu.
"Dia begini muda dan cakap, mengapa romannya berubah sengit begini?"
Pikirnya.
Oen Tjeng dapat lihat keheranannya ini kenalan Baru, ia bersenyum, lantas wajahnya pulang asal, sikapnya tetap lemah-lembut.
Sebentar kemudian, tukang perahu datang menyuguhi air teh.
Oen Tjeng minum secegluk, mungkin ia anggap teh itu kasar, ia kerutkan alis, lalu cawan teh diletakinya diatas meja.
Sin Tjie keluar merantau untuk pertama kalinya, kecuali segala pengetahuan yang didengar dari penuturan kedua gurunya, serta nasehat-nasehatnya mereka ini, begitupun sedikit pengalaman diwaktu belum berusia sepuluh tahun, ia belum punyakan pengalaman lainnya, akan tetapi disebelah itu, ia cerdik, otaknya hidup.
Maka itu, ia duga, mungkin ada hubungan apa-apa diantara pemuda itu serta keempat buah perahu kecil, entah urusan apa itu.
Kedua perahu kecil itu lewat terus.
Mendekati sore, perahu besar berlabuh disebuah dusun.
Sin Tjie ingin mendarat, untuk pesiar.
Tek Lin menolak, katanya tak dapat dia tinggalkan barang-barangnya.
"Ditempat tegalan sebagai ini, apa yang bisa dilihat?"
Nyatakan Oen Tjeng seraya ia mainkan bibirnya secara memandang enteng, agaknya ia hendak menyindir.
Sin Tjie jujur, ia anggap orang jumawa, ia tidak memperdulikannya, malah ia bersenyum, lalu ia mendarat seorang diri.
Ia jalan-jalan sebentar, ia minum beberapa cawan arak, setelah beli sedikit bebuahan, ia pulang keperahu, niatnya mengundang Tek Lin dan Oen Tjeng, tapi dua orang itu sudah masuk tidur, maka iapun lantas rebahkan diri.
Pada tengah malam, dari kejauhan terdengar suara suitan samara-samar.
Sin Tjie getap, ia lantas mendusin.
Diam-diam ia rapikan pakaiannya.
Tidak lama dari arah hilir terdengar suara pengayuh mengenai air, terang ada perahu lagi mendatangi.
Tiba-tiba Oen Tjeng mendusin, ia berbangkit akan duduk dengan mendadak.
Nyata ia tidur tanpa buka pakaian.
Dari bawah selimut, dia hunus sebatang pedang jang panjang.
Dengan membawa itu, ia memburu ke kepala perahu.
Sin Tjie terkejut dan heran.
"Apa mungkin dia pengintai bajak?"
Menduga dia.
"Mungkin orang hendak kerjakan saudagar she Liong ini? Aku tidak boleh peluk tangan saja...."
Sin Tjie titip pedangnya kepada Lie Gam, dia cuma bekal pisau belati dan biji-biji caturnya, maka itu ia turun dari pembaringan dengan bawa pisaunya itu.
Segera ternyata, perahu yang mendatangi sudah datang dekat.
Dari perahu itu lantas terdengar satu suara kasar .
"Orang she Oen, apa benar kau tidak hargakan persahabatan kang-ouw?"
"Kalau hargakan bagaimana? Kalau tidak, bagaimana?"
Tanya si anak muda.
"Dengan susah payah kami menguntitnya dari Boe-han, kau sendiri enak-enakan memegat ditengah jalan dan memakannya sendiri!"
Jawab orang itu.
Liong Tek Lin mendusin karena suara berisik itu, ia mengintip keluar, untuk kagetnya, sampai tubuhnya bergemetar, ia tampak empat buah perahu kecil, yang obornya dipasang terang-terang.
Ia tampak orang-orang dengan pelbagai alat-senjata terhunus.
"Jangan takut, inilah bukan urusanmu,"
Sin Tjie menghibur. Ia lantas menduga kepada duduknya perselisihan itu.
"Apa...apa mereka bukannya bajak?"
Tegasi Tek Lin. Ia tidak dapat jawaban hanya ia dengar suara nyaring dari Oen Tjeng.
"Harta dikolong langit ada kepunyaan umum! Mungkin emas ini kepunyaanmu sendiri?"
Demikian pemuda ini.
"Kau keluarkan itu dua ribu tail emas, kita bagi dua, perkara habis,"
Bilang orang didalam perahu kecil.
"Kami suka berbuat baik kepadamu..."
"Foei!"
Oen Tjeng menghina.
"Kau mengharap demikian? Hm!"
Dua orang lain, yang romannya pun gusar, berkata pada orang yang pertama bicara.
"See Toako, buat apa adu mulut dengan anak biadab itu?"
Lalu keduanya loncat naik ke perahu besar. Tek Lin sedang ketakutan, melihat orang bersenjata naik keperahunya, ia kaget tak terkira.
"Wan...Wan Siangkong, mereka turun tangan!..."
Menjerit dia. Sin Tjie tarik mundur saudagar itu.
"Jangan takut, ada aku,"
Ia menghibur.
Justru itu Oen Tjeng telah bergerak untuk papaki kedua orang itu, kaki kirinya menendang seorang, sehingga dia itu terlempar kecebur kedalam sungai, sedang pedangnya menyambar orang yang kedua.
Dia ini menangkis dengan goloknya, tapi pedang ada tajam luar biasa, golok terbacok kutung, menyambar terus kearah pundak, maka penyerang itu tak ampun lagi rubuh mandi darah diatas perahu.
"See Loo Toa, jangan pertontonkan ini segala gentong kosong!"
Oen Tjeng mengejek sambil tertawa dingin.
"Hm!"
Bersuara si orang she See.
"Gotong Lauw Lie kemari!"
Dari sebuah perahu kecil, dua orang naik keperahu besar, akan gotong si orang yang dikatakan she Lie itu, jang luka hebat lengan kanannya.
Orang yang ditendang kecebur pun sudah berenang naik perahunya.
Segera terdengar suara nyaring dari si orang she See.
"Kami dari pihak Liong Yoe Pang tak pernah bentrok dengan kamu dari Tjio Liang Pay, pemimpin kami menghargai Ngotjouwmu, tak ingin kami ganggu padamu, maka itu, jangan kau anggap kami dapat dibuat permainan!"
Sin Tjie bercekat akan dengar disebutnya Tjio Liang Pay. Ia ingat.
"Itu Thio Tjoen Kioe yang datang mencuri kitab dipuncak Hoa San bukankah menyebut dirinya dari Tjio Liang Pay?"
Sebagai jawaban, terdengarlah suaranya Oen Tjeng.
"Jangan kau baiki aku! Kamu tak menang, apa kamu hendak meng-ambil-ambil hati?"
See Loo Toa itu jadi gusar sekali.
"Kau bilang, kau hargakan aturan kang-ouw atau tidak?"
Dia tegaskan.
"Aku lakukan apa yang aku suka, aku tak memusingkan kamu!"
Ada jawaban si pemuda.
"Ingin aku omong jelas lebih dahulu,"
Kata orang she See itu.
"Kami gunai lebih dahulu adat sopan-santun, habis itu Barulah senjata! Tak sudi aku nanti dikatai Ngo-tjouwmu bahwa yang banyak menghina yang sedikit, yang tua mempermainkan yang muda!"
Kata-kata ini menunjuki pihak Liong Yoe Pang itu menghargai jang dikatakan Ngo-tjouw, Lima tertua, dari pihak Oen Tjeng si anak muda bernyali besar itu. Oen Tjeng tertawa dingin.
"Dengan kepandaian macam kepunyaanmu ini kau anggap dapat menghina aku?"
Dia mengejek pula.
Mendengar sampai disitu, Sin Tjie percaya, senjatalah yang akan bicara terlebih jauh.
Ia mengerti sekarang .
Liong Yoe Pang hendak membegal harta, Oen Tjeng mendahului, Liong Yoe Pang jadi tidak senang, dia menyusul, tapi masih minta sebagian saja.
Tubuhnya Oen Tjeng kecil tapi berat, harta itu pasti berada dalam buntalannya.
"Kelihatannya mereka berdua sama-sama bukan orang baik-baik, baiklah aku berpura-pura tak mengerti ilmu silat, aku tak bantu pihak mana saja..."
Pikir Sin Tjie.
Selagi Sin Tjie memikir demikian, pertempuran sudah lantas dimulai.
See Loo Toa berseru, lantas kira-kira sepuluh orangnya loncat naik ke perahu besar.
Ia pun turut naik dengan tangannya menyekal sebatang golok besar, ia berdiri didepan mereka ini, terus ia angkat tangan, untuk memberi hormat.
"Saudara-saudaraku ini bukan tandingan kau,"
Kata dia dengan merendah tapi sifatnya menantang,"
Maka itu biarlah aku See Loo Toa yang menggantikan mereka menyambut pedangmu, pedang Ngo-hong-kiam dari Tjio Liang Pay yang menjagoi di Kanglam!"
"Hm!"
Oen Tjeng bersuara.
"Kau hendak maju sendiri atau berbareng beramai-ramai?"
See Loo Toa melengak, ia tertawa terbahak-bahak.
"Kau terlalu tak melihat mata!"
Katanya.
"Masih ada sahabat siapa lagi dalam perahumu ini? Undang dia keluar, untuk minta dia menjadi saksi. Tak suka aku apabila kemudian kaum kang-ouw yang mengatakan See Loo Toa tak punya muka!"
Lantas ia menambahkan .
"Sahabat dalam perahu, silakan kau keluar!"
Dua orang bertindak kedalam perahu, akan kata pada Tek Lin dan Sin Tjie .
"Toako kami undang djiewie!"
Tek Lin bergemetaran, tak dapat ia menjawab.
"Mereka melainkan inginkan kita sebagai saksi, tidak apa, mari kita keluar,"
Kata Sin Tjie. Dan ia tarik tangannya saudagar itu. Oen Tjeng menjadi tak sabaran.
"Kau hendak pertontonkan kejelekanmu sendiri, jangan katai aku keterlaluan,"
Kata dia.
"Mari mulai!"
Lantas dia mulai menyerang, membabat ke iga kiri lawan.
See Loo Toa bertubuh besar tetapi gesit, dengan goloknya, dia menangkis, lalu dengan belakang golok, dia teruskan balas menyerang.
Ini adalah serangan cepat sekali.
Oen Tjeng tidak sudi terima kebaikan hati lawan, yang serang ia hanya dengan belakang golok.
"Jikalau kau mempunyai kepandaian, keluarkan semua itu!"
Dia berteriak.
"Aku tak sudi terima kebaikan hatimu!"
Ucapan congkak dan menantang ini diikuti dengan serangan pula, demikian sebat sampai See Loo Toa, yang tidak menyangka dan karenanya jadi kurang waspada kaget tak terkira ketika ujung pedang merobek baju di pundaknya sebab hampir ia tak keburu berkelit.
Dia tergetar hatinya mengingat ancaman bencana itu, tapi segera dia balas menyerang dengan sengit.
Si anak muda sangat gesit, pesat gerak-geriknya, sambil menyingkir dari sesuatu bacokan, berbareng ia seperti kurung lawannya dengan pedangnya senantiasa berkelebatan disekitar tubuh lawan itu.
Setelah menyaksikan beberapa jurus, Sin Tjie segera dapat kenyataan, ilmu silat Oen Tjeng terlebih tinggi daripada ilmu See Loo Toa, tak perduli orang ini mencoba pertunjuki keulungannya, tanda dari banyak pengalaman, tak perduli goloknya berat dan pedang enteng, dia kewalahan melayani kegesitan si anak muda.
Selang sekian lama, dia mulai bernapas mengorong dan keringatnya pun mulai membasahkan jidatnya, menyusul mana, gerakannya juga tak lagi sepesat mulanya.
Di sebelah dia, sianak muda perhebat desakannya.
Sekonyong-konyong, berbareng dengan seruan Oen Tjeng, See Loo Toa merasai pahanya tertusuk pedang, sehingga dengan muka pucat, dia lompat mundur, sembari lompat, sebelah tangannya diayun, hingga tiga buah senjata rahasia berupa paku Touw-koet-tjiam menyambar kearah lawan.
Si anak muda bulang-baling pedangnya dua kali, untuk sampok jatuh dua potong paku berbahaya itu, sedang paku yang ketiga ia halau dengan egos diri.
Dua potong paku yang disampok terbang ke jurusan Sin Tjie, kearah dadanya.
Melihat demikian, Oen Tjeng menjerit.
"Celaka,"
Pikir dia, jang menyangka dia akan celakai anak muda itu.
Tadinya dia menyangka Sin Tjie mengerti silat, akan tetapi ketika dua paku menyambar, pemuda itu tidak berkelit dan juga tidak menangkis.
Ia kuatir sekali menampak paku menjuju dada.
Dia Baru berteriak, dia hendak loncat untuk menolongi, atau kedua paku itu, setelah mengenai dada si pemuda, runtuh sendirinya, jatuh tanpa menerbitkan bencana.
Si pemuda sendiri berdiam saja, seperti ia tak lagi diancam marah-bahaya.
Orang-orangnya See Loo Toa memasang banyak obor terang-terang, mereka semua saksikan senjata rahasia menyambar kearah si pemuda, akan tetapi, melihat kesudahannya, mereka melengak, saling mengawasi.
Mereka anggap si pemuda liehay walaupun romannya mirip satu sioetjay lemah tak berdaya...
Tentu sekali orang tidak tahu yang didadanya Sin Tjie dipasang baju kaos pemberian Bhok Siang Toodjin mustika Kimsie Pwee-sim, yang tak mempan senjata tajam.
See Loo Toa heran melihat si pemuda tak rubuh karena pakunya itu, ia pun lihat si anak muda lawannya tercengang; menggunai waktu yang baik itu, ia menimpuk pula dengan lagi tiga batang pakunya.
Oen Tjeng menjerit bahna kaget karena bokongan tiga batang paku itu, dengan hati terkesiap, ia mendak, untuk menyingkir dari paku yang arah kepalanya akan tetapi dua yang menyambar kebawah, membuat ia bingung.
Tak sempat dia berkelit, tak keburu dia menangkis.
Justru itu terdengarlah suara nyaring dua kali, seperti barang keras bentrok barang keras, lalu kedua batang paku itu jatuh sendirinya ke lantai perahu sebelum mengenai sasarannya.
Anak muda ini bermata celi, ia dapat tahu, orang yang runtuhkan dua batang paku itu adalah si pemuda yang ia sangka satu anak sekolah belaka.
Sebab Sin Tjie tak puas See Loo Toa berlaku curang, dengan diam-diam tetapi dengan cepat sekali, dia telah jumput dua batang paku yang jatuh didepannya dan gunai itu untuk punahkan dua serangan yang terakhir dari orang tua itu.
Oen Tjeng manggut, untuk haturkan terima kasihnya kepada pemuda ini, setelah mana, ia berlompat untuk menyerang lawannya.
Ia menjadi sengit karena si orang tua bokong padanya.
Walaupun dia heran atas gagalnya serangannya, See Loo Toa toh tidak alpa, maka itu, begitu diserang, dia sudah siap, malah dengan satu bacokan yang hebat, ia mendahului.
Si anak muda jadi sangat mendelu karena melihat lawan demikian telengas, ia batal menyerang, ia berkelit, Baru ia menyerang pula, dengan dahsyat sekali.
Begitulah satu tikamannya mengenai iga kanan See Loo Toa, hingga, bahna sakitnya, orang tua ini tak dapat cekal lebih lama goloknya yang besar.
Golok itu terlepas jatuh kelantai perahu.
Masih Oen Tjeng tidak puas dengan serangan yang kedua yang berhasil ini, justru senjata lawan jatuh, dia lompat mendesak, untuk membacok kaki kanan orang.
"Aduh!"
Menjerit See Loo Toa, yang segera rubuh dengan pingsan.
Orang-orangnya orang she See itu menjadi kaget berbareng gusar, mereka lompat maju untuk menolongi ketua itu, sekalian serang si anak muda.
Dalam sengitnya, anak muda itu tangkis semua penyerang, ia balas menikam dan membabat, hingga lagi tujuh atau delapan orang rubuh karenanya.
Sin Tjie jadi tidak tega hati.
"Sudahlah, Oen Toako!"
Ia berseru.
"Kasihlah mereka ampun."
Tapi Oen Tjeng lagi sengit, ia masih melukai dua orang lagi, hingga sisanya yang lain-lain lompat keperahu mereka masing-masing, untuk tolong diri.
Tak sanggup mereka melayani si anak muda, yang seperti sudah kalap.
Oleh karena sudah tak ada musuh lagi, tiba-tiba Oen Tjeng tabaskan pedangnya kebatang leher See Loo Toa, hingga kepala dan tubuh menjadi terpisah, menyusul mana kaki kirinya mendupak, membikin tubuhnya Loo Toa terpental kedalam sungai!
Kepala dia ini pun dilempar bersama keair!
Tak puas hati Sin Tjie akan tampak ketelengasan itu.
Dia anggap si anak muda keterlaluan, sebab setelah peroleh kemenangan, tak perlu ia ini berlaku menuruti panasnya hati.
Sementara itu, ketika ia menoleh kepada Liong Tek Lin, Sin Tjie dapati saudagar besar ini sedang mendelepok dilantai perahu saking kaget dan takut.
Itu ada pemandangan hebat dan mengerikan yang belum pernah ia tampak.
Sisa-sisa orang Liong Yoe Pang, yang kabur keperahu mereka, kabur terus bersama masing-masing kendaraannya dengan tinggalkan kawan-kawan mereka yang menjadi korban pedangnya si anak muda.
"Mereka hendak rampas uangmu, mereka gagal, sudah saja,"
Kata Sin Tjie kepada si anak muda.
"Kenapa kau mesti kurbankan demikian banyak jiwa?"
Oen Tjeng mendelik kepada pemuda kita.
"Apakah kau tidak lihat bagaimana hinanya sikap mereka barusan?"
Anak muda ini menjawab.
"Mereka bokong aku, mereka mengepung, jikalau aku terjatuh dalam tangan mereka, entah kekejaman bagaimana yang berlebih-lebihan mereka bakal limpahkan atas diriku? Jangan kau anggap, karena kau telah tolongi aku, kau dapat sembarang memberi nasihat kepadaku!"
Sin Tjie ketemu batunya, dia bungkam. Melainkan dalam hatinya, dia kata .
"Ini anak tidak kenal cenglie dan budi..."
Oen Tjeng sendiri lantas susut bersih pedangnya, untuk dimasuki dalam sarungnya, setelah mana ia menjura kepada si pemuda. Tiba-tiba dia tertawa manis sekali dan kata .
"Wan Toako, kau telah tolong aku, aku berterima kasih kepadamu!"
Sin Tjie jengah, toh dia balas hormat itu.
Ia manggut dengan tak dapat buka mulutnya.
Ia heran orang demikian muda dan lemah lembut sikapnya tapi demikian telengas hatinya, bagaikan serigala atau harimau; tetapi sekarang dia jadi begini manis budi, sejenak saja lenyap kebengisannya itu.
Oen Tjeng panggil tukang-tukang perahu, jang ia perintah cuci bersih lantai perahu, untuk singkirkan tanda-tanda darah.
Semua tubuh musuh telah terjatuh kedalam air, hanyut atau tenggelam.
"Tolong sediakan aku barang makanan,"
Oen Tjeng menitah lebih jauh kepada anak-buah perahu, sesudah mana, dia undang Sin Tjie dahar dan minum bersama diatas perahu itu sambil gadangi si Puteri Malam jang permai.
Sembari bersantap, dia tidak omong tentang pertempuran barusan, dia tidak timbulkan juga soal ilmu silat.
Beberapa cawan air kata-kata telah turun lewat di tenggorokan mereka.
"Besok hari entah jam berapa saja, menghadapi arak menanyakan langit baru, aku kuatir langit biru tak akan memperdulikannya!"
Kata anak muda ini selagi minum. Sin Tjie heran mendengar orang mendadakan menggunakan kata-kata bentuk sajak, ia menyahuti tetapi dengan "ya, ya"
Saja dan manggut-manggut.
Dimasa kecil, pemuda ini ikuti Eng Siong belajar surat beberapa tahun, lalu setelah terdidik lebih jauh oleh Bok Djin Tjeng, walaupun ia masih gemar membaca, ia tak berkesempatan belajar lebih jauh dengan mendalam, dari itu, ada sangat berbatas pengetahuannya tentang ilmu surat.
"Saudara Wan,"
Berkata pula si anak muda.
"rembulan indah, angin sejuk, malam ada begini permai, apakah tak baik kita bersyair saling sambut?"
"Aku tidak mengerti ilmu sajak,"
Sahut Sin Tjie dengan cepat. Oen Tjeng bersenyum, dia berdiam.
"Mari minum!"
Demikian undangnya kemudian.
Kendaraan air jalan terus, kedua anak muda itu belum berhenti minum dan makan.
Tiba-tiba terlihat mendatangi sebuah perahu kecil, yang melawan air, akan tetapi pesat lajunya.
Oen Tjeng lihat perahu itu, tiba-tiba wajahnya berubah, lalu ia perdengarkan tertawa dingin beberapa kali, kemudian ia keringi pula cawannya.
Perahunya Liong Tek Lin besar dan memakai layar, jalannya menuruti aliran, lajunya sangat pesat, maka itu, selagi perahu kecil pun mendatangi cepat, sebentar kemudian, keduanya sudah saling mendekati.
Sekonyong-konyong Oen Tjeng lemparkan cawan araknya, tubuhnya turut mencelat, hingga dilain saat, ia sudah sampai dibelakang pada jurumudi.
Tanpa kata apa-apa, ia rampas pengayuh kemudi, ia uwit itu, hingga kepala perahu lantas bergeser kearah kiri, menghadapi tepat perahu kecil yang lagi mendatangi itu.
Sia-sia saja anak buah perahu kecil egos diri, perahunya sudah ketabrak, hingga terdengarlah satu suara berisik, kepala perahu dongak keatas.
"Celaka!"
Sin Tjie berseru, bahna kaget.
Tiga bajangan mencelat dari perahu kecil itu, naik keperahu saudagar yang besar.
Gerakan tubuh mereka menandakan mereka mengerti ilmu silat baik sekali.
Didalam perahu kecil ada lima orang, kecuali ini tiga, yang berhasil tolong diri, masih ada si jurumudi dan satu anak buahnya, yang mengayuh perahu.
Mereka ini tak dapat loncat seperti itu tiga orang, mereka kecebur air sambil menjerit.
"Tolong!"
Air dibahagian sungai itu deras sekali, karena kecebur, dua tukang perahu itu lebih banyak menghadapi bencana daripada keselamatan.
"Anak muda ini kejam,"
Pikir Sin Tjie, yang terus bekerja.
Ia masih sempat lihat kedua tukang perahu timbul pula, mendadak ia putuskan dadung lajar, ia gigit ujungnya, lantas ia menjejak keras, tubuhnya melayang kedalam sungai, tergantung oleh dadung layar itu.
Ia gunai kedua tangannya, akan sambar masing-masing satu orang.
Sang dadung bawa ia terayun kembali keperahu, bersama dua tukang perahu itu.
"Bagus!"
Berseru empat orang dengan pujiannya.
Mereka ini ada Oen Tjeng si anak muda dan itu tiga orang yang Baru loncat naik dari perahu kecil, yang menjadi sangat kagum.
Sin Tjie letaki kedua orang diatas perahu, lantas ia hampirkan kursinya, akan duduk pula dengan tenang, hingga dengan demikian, ia dapat ketika akan awasi tiga orang asing itu.
Yang pertama ada seorang tua diatas usia lima-puluh tahun, tubuhnya kurus kering, kumisnya jarang.
Yang kedua, umur empat-puluh lebih, bertubuh besar dan kasar.
Yang ketiga ada seorang perempuan umur kurang lebih tiga-puluh tahun.
Sambil tertawa suram, si orang tua kata pada pemuda kita.
"Tuan, kau liehay sekali, bolehkah aku tanya she dan namamu yang mulia dan siapa gurumu?"
Sin Tjie berbangkit, ia manggut dengan halus.
"Boanseng adalah she Wan,"
Ia menyahut dengan manis.
"Kedua tuan ini terancam bahaya, tak tega aku melihatnya, maka itu boanseng telah angkat mereka dari permukaan air. Sama sekali tak berani boanseng sengaja banggakan kepandaian dihadapan lootjianpwee, maka mohon lootjianpwee maafkan."
Orang tua ini heran menampak pemuda ini demikian halus gerak-geriknya, lalu ia hadapi Oen Tjeng dan tertawa dingin.
"Tak heran kau, bocah cilik, makin menjadi-jadi nyali besarmu, kiranya kau punyakan pembantu yang begini liehay!"
Berkata dia, suaranya tajam.
"Adakah dia ini sahabatmu yang baik?"
Wadjahnya Oen Tjeng menjadi merah.
"Aku pandang kau sebagai orang tertua jang dihormati, aku minta sukalah kau hargai sedikit dirimu!"
Ia menegur. Hatinya Sin Tjie tak enak.
"Nampaknya mereka bukan orang-orang baik-baik, tak dapat aku antap diriku terseret kedalam arus mereka,"
Ia berpikir. Karena ini, ia lantas kata pada si orang tua.
"Aku dan saudara she Oen ini tak kenal satu dengan lain, secara kebetulan saja kami bertemu disini, jadi tak ada bicara hal persahabatan diantara kami berdua. Ingin aku mengucapkan sepatah dua patah kata, jikalau ada urusan diantara kamu berdua pihak, baiklah itu didamaikan agar kerukunan tak sampai terusak..."
Belum sempat si orang tua menyahuti, atau Oen Tjeng, dengan matanya mendelik, berkata pada pemuda kita .
"Jikalau kau takut, pergilah kau naik kedarat!"
Sin Tjie berdiam, tetapi didalam hatinya, dia kata .
"Belum pernah aku menemui orang kasar semacam dia ini!"
Si orang tua sementara itu dapat duga pemuda ini bukanlah kawannya si anak muda, karena mana, ia menjadi girang sendirinya.
"Sahabat Wan,"
Berkata dia "kau tidak punyakan hubungan dengan si orang she Oen ini, itulah bagus!
Harap kau tunggu sampai aku sudah beres berurusan dengannya ini, nanti kita pasang omong, bolehlah kita ikat tali persahabatan!"
Sin Tjie tidak menjawab, dia cuma manggut, lantas ia mundur kebelakang Oen Tjeng. Lantas si orang tua hadapi Oen Tjeng dan kata .
"Kau masih berusia sangat muda, perbuatan kau telengas sekali. See Loo Toa bukan tandinganmu, itu pun sudah cukup, kenapa dan kau kehendaki jiwanya?"
"Tapi aku bersendirian saja, kamu ada orang-orang lelaki bertubuh besar dan berjumlah banyak, kamu maju dengan berbareng, tanpa aku berlaku bengis, apa mungkin terjadi?"
Balas si anak muda.
"Kau masih menegur aku, apakah kau tak takut orang nanti katakan kamu si tua menghina si kecil, yang banyak kepung yang sedikit? Jikalau kamu punya kepandaian, pungutlah emas orang, kenapa mesti tunggu aku? Apakah kamu hendak serakahi yang sudah sedia saja? Apakah itu bukannya tak tahu malu?"
Sin Tjie dengar suaranya terang dan halus, kata-kata yang tajam sehingga si orang tua bungkam karenanya. Tiba-tiba si orang perempuan, yang alisnya berdiri dengan mendadakan, turut bicara.
"Kacung cilik, orang tuamu manjai kau hingga kau makin tak tahu aturan!"
Dia membentak.
"Sungguh ingin aku tanya yayamu, ibumu juga, siapa sudah ajar kau hingga dimatamu ini tak lagi ada orang yang terlebih lanjut usianya!"
"Orang tua yang ingin dihormati juga mesti ada sertanya!"
Kata Oen Tjeng.
"Orang tua yang hendak menang sendiri, dia tak berharga untuk dihormati!"
Orang tua itu menjadi sangat mendongkol hingga dia keprak meja dikepala perahu dan meja itu menjadi melesak, apabila dia telah angkat tangannya, tangan itu menjumput potongan-potongan kayu meja, yang menjadi hancur bekas tercengkeram.
Nyata tangan orang tua ini kuat bagaikan besi.
"Eng Loo-ya-tjoe!"
Berkata Oen Tjeng.
"tentang kepandaianmu yang liehay, aku sudah tahu, maka tak usahlah kau jual lagak didepan yang mudaan! Jikalau kau hendak pertontonkan kepandaianmu itu, pergi kau pertontonkan kepada sekalian yayaku!"
Kembali orang tua itu gusar.
"Jangan kau coba gertak aku dengan sebut-sebut beberapa yayamu itu!"
Ia membentak.
"Siapa yayamu itu? Jikalau mereka punyakan kepandaian, tak nanti mereka antap anakgadisnya diperkosa orang, sehingga tak nanti anak-gadisnya itu lahirkan bocah haram seperti kau ini!"
Meluap hawa amarahnya Oen Tjeng, yang berbareng pun jadi sangat berduka, hingga wajahnya menjadi merah padam, gusar, malu dan bersedih.
Sekelebatan, cahaya matanya menyala bagaikan api.
Si orang bertubuh besar dan si orang perempuan lihat itu, mereka tertawa berkakakan.
Sin Tjie awasi si anak muda, kedua matanya dia ini mengalirkan air mata.
Ia heran dan terharu dengan berbareng.
"Nampaknya dia jauh lebih berpengalaman daripadaku, mengapa sekarang dia menangis?"
Dia berpikir.
Biar bagaimana, anak muda ini kena diperhina -dia bersendirian, dia diperhina juga.
Karena ini, semangatnya Sin Tjie jadi terbangun, berniat ia membantu anak muda ini, apabila saatnya sudah sampai.
"Apakah faedahnya untuk menangis?"
Kata si orang tua, dengan tajam, lagu-suaranya mengejek.
"Kau lekas keluarkan emas itu. Kami juga tidak serakahi, dari uang itu, kami nanti pisahkan sejumlah untuk tunjang jandanya See Loo Toa..."
Tubuhnya Oen Tjeng bergemetar.
"Jikalau kau hendak bunuh, bunuhlah!"
Ia menantang, sambil menangis.
"Aku tidak hendak menyerahkannya!"
"Hm!"
Berseru si orang tua, yang sementara itu lihat perahu besar itu laju terus dengan cepat, maka ia lantas jumput jangkar besar yang terikat rantai, ia lempar itu jauh ketepian, hingga dilain saat, perahu berhenti dengan tiba-tiba.
Berat jangkar kira-kira dua ratus kati maka bisalah diduga besarnya tenaga orang tua ini, siapa lantas tegaskan Oen Tjeng .
"Kau hendak serahkan atau tidak?"
Anak muda itu angkat tangan kirinya, akan susuti air matanya.
"Baiklah, aku nanti serahkan!"
Katanya, yang segera lari kedalam perahu, akan sedetik kemudian keluar pula, sambil kedua tangannya membawa satu bungkusan, yang mestinya berat.
Si orang tua ulur tangannya, untuk sambuti bungkusan itu.
"Foei! Begini gampang!"
Mendadak si anak muda berseru. Dengan sekonyong-konyong ia menimpuk dengan bungkusan itu, kearah sungai, hingga dilain saat terdengarlah suara tercebur jang nyaring. Lantas dia menantang .
"Jikalau kau berani, bunuhlah aku! Jikalau kau menghendaki emas, jangan harap!"
Tidak terkira kemurkaannya si orang tubuh besar, ia menjerit, ia angkat goloknya membacok anak muda jang licik itu, yang berbareng pun mempermainkan kepadanya.
Habis membuang bungkusan, Oen Tjeng pun segera hunus pedangnya, maka itu, setelah diserang dan berkelit, dia balas menerjang, beruntun sampai dua kali.
"Tahan ! Tahan!"
Berseru si orang tua. Si orang bertubuh besar, kawannya orang tua ini, lompat mundur dua tindak, Si orang tua sendiri terus awasi anak muda itu.
"Benar-benar, naga melahirkan naga, burung hong menetaskan burung hong!"
Kata dia.
"Ada orang semacam ayahnya, ada anaknya semacam dia ini! Kalau hari ini aku antap terus kau main gila dihadapanku si orang tua, bocah cilik, aku bukan si orang she Eng lagi!"
Hampir tak kelihatan lagi, orang tua ini tutup kata-katanya dengan tahu-tahu tubuhnya sudah berada didepannya si anak muda.
Oen Tjeng rupanya telah siap, ia menyambut dengan satu tusukan hebat.
Tapi si orang tua benar-benar liehay.
Dia bertangan kosong, dia berkelit dari tikaman itu, lantas dia merangsak.
Mau atau tidak, anak muda itu mundur.
Malah ia mesti mundur terus, karena desakannya si orang tua, jang gerakannya membuat si anak muda tak sempat menyerang dia.
Sia-sia saja Oen Tjeng menyekal pedang panjang, tak mampu ia gunai itu.
Sedetik saja, Sin Tjie telah dapat lihat bahwa Oen Tjeng bukan tandingan orang tua itu, yang sangat gesit.
Dengan ini pun telah dibuktikan dengan segera.
Baru bisa luputkan diri dari sepuluh gebrak lebih, atau lengan kanan si anak muda sudah kena ditotok, atas mana dia rasai tangannya kesemutan dan kaku, hingga pedangnya lantas terlepas dari cekalan dan jatuh dilantai perahu.
Begitu pedang jatuh, si orang tua menyontek dengan kakinya yang kiri, hingga pedang terangkat mumbul, hingga gampang saja dia menanggapinya dengan tangannya yang kiri, lalu dengan menyekal ujungnya pedang itu, dengan tangan kanan dengan satu gerakan saja, dia bikin senjata itu patah dua!
Oen Tjeng kaget hingga mukanya pucat.
Si orang tua masih berkata .
"Jikalau aku tidak tinggalkan suatu tanda dalam tubuhmu, aku kuatir kau nanti melupakan liehaynya aku si orang tua!"
Dan lalu, dengan ujung pedang yang patah itu, dia menggurat kemukanya si anak muda!
Oen Tjeng kaget dan ketakutan, mukanya pucat, cepat-cepat dia mundur, untuk menyingkir dari serangan itu, atas mana, si orang tua desak padanya, hingga dilain saat, ujung pedang, yang dipegang dengan tangan kiri, hampir mampir dimuka orang.
"Celaka dia...."
Pikir Sin Tjie, yang merasa sayang muka demikian cakap dan putih nanti meninggalkan cacat.
Oen Tjeng sendiri, dalam takutnya, telah keluarkan jeritan.
Dengan sebat Sin Tjie rogo sebutir biji caturnya dengan apa ia lantas menimpuk kearah pedang si orang tua.
"Trang!"
Demikian satu suara nyaring.
Si orang tua terkejut, justru waktu itu ia sedang kegirangan karena segera ia bakal dapat coret muka orang yang cakap-ganteng, sedang tangannya pun tergetar, sesemutan sakit, hingga tak sanggup dia cekal lebih lama pedangnya itu, yang lantas terlepas dan jatuh.
Melihat demikian, dari ketakutan, Oen Tjeng menjadi girang sekali, hatinya lega dengan tiba-tiba.
Tidak buang tempo lagi, ia loncat kearah Sin Tjie, untuk berlindung dibelakang dia ini, lengan siapa ia pegangi dengan keras, agaknya ia hendak memohon perlindungan.
Orang tua itu, orang she Eng seperti dia telah perkenalkan diri, bernama Tjay.
Dia adalah pangtjoe, atau ketua, dari Liong Yoe Pang, satu kawanan di Tjiat-kang Selatan dimana, kecuali Ngo-tjouw dari Tjio Liang Pay, dia adalah orang tertangguh satu-satunya.
Adalah biasanya bagi dia, apabila dia bertempur dia tak suka gunai senjata.
Inilah disebabkan dia telah yakin ilmu silat Eng-djiauw-kang, Kuku Garuda, sehingga tangannya jadi kuat melebihi golok atau pedang yang biasa.
Maka itu, ia tak kepalang kagetnya apabila ia dapatkan, pedangnya dilepaskan orang hanya dengan timpukan sebutir biji catur.
Ia kaget berbareng malu, hingga mukanya menjadi merah.
Seumur hidupnya, ini adalah malu besar pertama yang ia pernah alami.
"Kenapa bocah ini besar sekali tenaganya?"
Pikir dia, jang masih tertjengang.
Si orang tubuh besar dan wanita pun segera lihat liehaynya Sin Tjie, mereka merasa bahwa dilanjutinya pertempuran tidak akan membawa bahagia untuk mereka, maka justru emas telah dibuang ke sungai, mereka anggap baiklah sudahi urusan sebelum perkara berlanjut hebat.
Baca Juga: Si Kaki Sakti Menggemparkan Dunia 0384779408
Baca Juga: Pedang Langit Dan Golok Naga 23