Ceritasilat Novel Online

Pedang Ular Emas 1

Eps 1 Pedang Ular Emas - Yin Yong

Baca online Pedang Ular Emas - Yin Yong

Cersil Pedang Ular Emas - Yin Yong.

PEDANG ULAR MAS *Kim Coa Kiam* Judul Asli . Bi Xue Jian Karya . Yin Yong Disadur . OKT

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com Bab 1 Kim Coa Kiam Di saat matahari sedang turun dan rombongan gowak terbang pulang, di satu jalanan dari pegunungan Tjin Nia di Siamsay, seorang anak muda lagi kasi kudanya jalan pelahan-lahan, karena ia sedang menikmati pemandangan alam mendekati magrib yang indah permai.

Mengikuti pemuda ini ada seorang kacung umur belasan tahun, kudanya pun kurus, dibelakang kudanya itu, kecuali bungkusan pakaian pun ada sebuntal pelbagai kitab.

Dia ini nampaknya sibuk, sebab mulai remang-remang, majikannya masih tidak percepat perjalanan mereka.

"Kongtjoe, jalanan disini tidak aman,"

Ia lalu mendesak.

"Nanti kita tidak dapatkan rumah penginapan. Kalau kita ketemu begal di tengah jalan......"

Si mahasiswa tidak menyawab, dia cuma tertawa, lantas ia keprak lari kudanya.

Pemuda itu ada Hauw Tiauw Tjong alias Hong Hek, asal Siang Kioe di propinsi Hoolam, turunan sasterawan.

Ketika itu ada di jaman kerajaan Beng, tahun kelima dari Kaisar Tjong Tjeng.

Dengan perkenan ayah-bundanya, dia pergi pesiar.

Pada waktu itu, pengkhianat Goei Hian Tiong, thaykam yang berpengaruh, sudah dihukum mati karena pemberontakannya, akan tetapi Negara belum seluruhnya aman-sentausa, malah disanasini muncul segala begal dan berandal.

Sebenarnya orang-tua itu tidak mufakat puteranya pesiar tetapi si anak memaksa, katanya, satu laki-laki mesti "dapat baca berlaksa kitab, dapat merantau berlaksa lie".

Dia pun ada satu anak pintar dan berani.

Tiauw Tjong berangkat dengan cuma ajak seorang kacungnya itu, Hauw Kong namanya.

Ia menuju ke arah Barat.

Di sepanyang jalan, ia mengicipi kepermaian gunung-gunung, sungai dan kali.

Kapan ia sampai dikaki gunung Tjiong Lam San, yang ia ketemui adalah penduduk bermuka pucat-kuning yang kurus-kering, malah kadang-kadang mayat-mayat kelaparan, di antara siapa pada mulutnya masih termamah sisa rumput hijau, keadaannya sangat menyedihkan dan merisaukan hati.

Mulanya, ia masih bisa menderma sejumlah uang, tapi lama-lama, ia kewalahan sendirinya.

Terlalu banyak yang mesti ditolong, dilain pihak, uang bekalannya sangat terbatas.

Tapi semua itu menginsafi ia bagaimana kemelaratan merajalela, kesengsaraan rakyat jelata hampir merata.

Walaupun semua itu, apabila ia tampak panorama indah, hatinya lega juga.

Baru setelah ditegur kacungnya, Hauw Kongtjoe sibuk juga.

Ia sudah larikan kudanya, ia belum ketemu pondokan, sedang cuaca berubah makin remang-remang, makin gelap.

Belasan lie sudah ia kaburkan kudanya, baru ia sampai di sebuah kampung.

Menampak kampung ia dan kacungnya girang bukan main, tapi kemudian, hati mereka cemas.

Kampung itu sangat sunyi.

"Mari kita cari rumah penginapan,"

Kata si kongtjoe.

Akhirnya Hauw Kong turun di depan sebuah pondokan, yang pakai merek Hotel Tjiang Lam, terus saja ia kaoki tuan rumah, pemilik hotel.

Ia tidak dapat jawaban, melainkan teriakannya berkumandang dibelakang hotel, yang letaknya berdampingan sama gunung.

Itulah sambutan dari dalam lembah.....

Kembali kacung ini memanggil berulang-ulang, saban-saban ia disambuti kumandangnya.

Hotel tetap sunyi, tidak ada penyahutan, tidak ada yang keluar.

Tiba-tiba berkesiur angin yang dingin.

Keduanya, majikan dan kacungnya, bergidik sendirinya.

Tiauw Tjong habis sabar, ia bertindak masuk kedalam hotel.

Untuk kagetnya, ia tampak dua tubuh mayat menggeletak dan darah hitam mengumpiang, bau amis engas menyambar-nyambar hidung, kawanan laler terbang pergi-datang.

Itulah mayat-mayat sejak beberapa hari.

Hauw Kong, yang ikuti majikannya masuk, menjerit dan lari keluar.

Tiauw Tjong melihat kesekitarnya.

Peti2 terbuka berhamburan, pintu dan jendela pecahrusak.

Teranglah sudah, hotel itu ada korbannya berandal.

Hauw Kong lihat majikannya belum juga keluar, ia masuk pula, memanggil.

"Mari kita lihat tempat lain,"

Kata Tiauw Tjong.

Nyata di lain-lain tempat, hasilnya sama.

Rumah-rumah kosong, ada juga mayat, malah ada mayat wanita dengan tubuh telanyang bulat, ialah korban perbuatan binatang.

Jadi itu adalah kampung kosong, merupakan sebagai noraka.....

Walaupun ia bernyali besar, akhirnya, Tiauw Tjong lekas-lekas berlalu dari kampung itu.

Tanpa bicara satu sama lain, majikan dan kacungnya kaburkan kuda mereka terus kearah Barat, sampai lagi belasan lie.

Mereka sibuk sekali.

Sekarang mereka merasa lapar.

Dimana mesti mondok?

Kemana mesti cari barang makanan?

Akhir-akhirnya, si kacung berseru.

"Kongtjoe, lihat!"

Dan ia menunjuk. Majikan itu memandang ketempat yang ditunjuk, ia lihat satu sinar terang, di tempat jauh.

"Mari kita mondok disana!"

Kata majikan ini, yang kembali kaburkan kudanya. Hauw Kong, dengan kudanya seperti tulang melulu, susul majikannya itu. Jalanan itu, makin jauh, makin sukar.

"Kalau itu ada sarang berandal, apa kita bukan cari mati sendiri?"

Akhirnya Tiauw Tjong bersangsi. Sang kacung terkejut.

"Kalau begitu, jangan kita pergi kesana!"

Katanya. Tiauw Tjong dongak, ia tampak awan gelap disekitarnya. Itulah mendung, tanda bakal turun hujan.

"Kita lihat dulu,"

Kata ia, yang segera turun dari kudanya, yang ia tambat pada sebuah pohon.

Kemudian, dengan tindakan pelahan, ia hampirkan cahaya terang itu.

Hauw Kong ikuti majikan itu.

Segera setelah datang dekat, pemuda ini dapati sebuah rumah dengan dua pintu, ia punya hati menyadi tetap.

Selagi ia mengintip dipintu pekarangan, seekor anjing besar lompat keluar, terus menggonggong, agaknya dia hendak menerjang.

Dengan bulang-balingkan cambuknya, Tiauw Tjong bikin anjing itu mundur, tapi binatang ini masih terus perdengarkan suaranya yang berisik, hingga akhirnya daun pintu terbuka, seorang perempuan tua muncul, sebelah tangannya mencekal pelita.

"Siapa?"

Tanya nyonya itu.

"Kami, orang pelancongan,"

Sahut Tiauw Tjong.

"Kami kemalaman, kami ingin minta numpang bermalam."

"Mari masuk!"

Mengundang nyonya itu.

Tiauw Tjong masuk, akan dapati sebuah rumah buruk, kecuali kong, jaitu pembaringan tanah, tak ada perabot lainnya lagi.

Satu penghuni lainnya ada seorang tua yang batukbatuk saja.

Tiauw Tjong suruh kacungnya ambil kuda mereka, tapi kacung ini takut -ia ingat mayatmayat tadi didalam hotel.

"Mari ikut aku,"

Kata si empeh yang turun dari pembaringannya.

Dengan begitu kuda mereka dapat dibawa kedalam pekarangan.

Si nyonya tua lantas suguhkan beberapa biji kue mo-mo dan masaki satu tehkoan air panas, tapi Tiauw Tjong tidak pernah makan santapan itu, baru beberapa gigitan saja, ia sudah letaki pula.

Ia lantas tanya, berandal siapa yang telah bunuh beberapa korban manusia di tempat yang ia lewati.

"Berandal? Mustahil berandal demikian kejam?"

Sahut si empeh, yang menghela napas.

"Itulah perbuatan bagus dari tentara negeri!"

Tiauw Tjong melengak.

"Tentara negeri? Tentara negeri demikian kejam?"

Ia tanya.

"Apa pembesarnya antap mereka mengganas?"

Orang tua itu tertawa tawar.

"Rupanya siangkong Baru ini kali pernah merantau!"

Berkata dia.

"Segala apa, siangkong tak tahu! Pembesar tentara? Dia justeru ambil apa yang paling bagus! Si cantik-manis mesti lebih dahulu diperlihatkan!"

"Kenapa rakyat tak mengadu ke kantor negeri?"

Tanya Tiauw Tjong.

"Apa gunanya? Itu artinya cari penyakit! Sekali kau mengadu, dalam sepuluh, delapan, atau sembilan bagian, jiwamu bakal hilang!..........."

"Eh, bagaimana bisa jadi demikian?"

Tiauw Tjong benar-benar tidak mengerti.

"Bukankah hamba negeri itu saling melindungi? Siapa mengadu, pengaduannya ditolak, orangnya dirangket, lalu ditahan! Siapa tidak mempersembahkan uang, dia jangan harap keluar dari penjara!"

Pemuda itu menggeleng kepala.

"Tak nyana aku, pangrepraja di Siamsay ini demikian buruk,"

Menyatakan ia. Ia lantas tanya pula.

"Apa perlunya tentara negeri pergi ke pegunungan?"

"Maksudnya untuk menindas berandal! Tapi sebenarnya, kebanyakan berandal jadi berandal karena desakannya tentara juga! Kalau tentara tak berhasil membekuk berandal, dia orang bunuh sejumlah penduduk, kepala mereka ini dihaturkan kepada seatasan mereka, untuk minta jasa. Mereka serbu rakyat, mereka merampok dan membunuh, dan pulangnya, bisa naik pangkat juga!"

Orang tua itu bicara makin lama makin sengit, sampai si uwah ulapi tangan berulangulang, untuk cegah dia.

Uwah ini kuatir Tiauw Tjong ada hamba negeri, itulah berbahaya.

Tiauw Tjong sendiri menghela napas, pikirannya pepat sekali.

Engkongnya ada satu Thaysiang, ayahnya adalah Soe-touw, semuanya berpangkat tinggi, ayahnya sudah letaki jabatan, tapi semua terkenal jujur, siapa sangka, sekarang ada pembesar2 demikian jahat.

Kabarnya tentara Boan-tjioe sering mengancam perbatasan, tentara negeri bukan tangkis musuh, akan bela Negara, mereka justeru celakai rakyat!

Akhirnya, saking lelah dan pusing memikirkan kejahatan tentara itu, Tiauw Tjong rebahkan diri niat tidur, tapi Baru dia layap-layap, dia terperanjat dengar suara berisik dari gonggongan anjing dan berbengernya kuda, disusul sama seruan-seruan dari kemurkaan, lantas gedoran hebat pada pintu!

Si nyonya tua hendak buka pintu, si orang tua cegah ia.

"Siangkong, pergi kebelakang untuk umpatkan diri,"

Kata orang tua itu.

Tiauw Tjong menurut, bersama Hauw Kong, ia menyingkir ke belakang dimana mereka dapat cium baunya batang-batang kaoliang, lalu mereka dapati tumpukan rumput.

Baru mereka sembunyi, atau mereka dengar suara pintu kena didobrak rubuh.

"Kenapa tidak lekas buka pintu?"

Demikian teguran bengis. Teguran ini disusul sama hajaran kepada kuping, suaranya nyata sekali.

"Oh, looya, kita.....kita ada suami-isteri sudah tua, kuping kita tuli, kita tidak dapat dengar......"

Terdengar jawaban si nyonya tua. Tapi kembali suaranya hajaran kepada kuping.

"Jikalau tidak kedengaran, kau mesti dihajar!"

Demikian teguran lagi.

"Lekas sembelih ayam, lekas siapkan nasi untuk empat orang!"

"Kita sendiri bakal mati kelaparan, dari mana kita dapat ayam?"

Demikian suara ratapan. Segera terdengar suara rubuh terbanting, rupanya si orang tua telah dijoroki hingga rubuh, menyusul mana terdengarlah tangisannya si perempuan tua.

"Sudahlah, Ong!"

Lalu terdengar satu suara lain."

Ini hari kita sudah idar2an satu harian, kita melainkan terima cukai dua-puluh tail lebih, memang sebenarnya kita orang tidak puas, tetapi percuma andai-kata kau hendak lampiaskan itu....."

"Tetapi orang ini, tanpa dipaksa, mana bisa jadi?"

Terdengar penyahutan, rupanya dari si orang she Ong itu.

"Mengenai dua-puluh tail itu, jikalau aku tidak kemplang patah kakinya si tua-bangka, mana dia sudi keluarkan uangnya?"

"Penduduk di sini sebenarnya melarat,"

Kata orang yang ketiga,"

Hanya kalau kita tidak paksa mereka, kita sendiri bakal dicaci maki oleh toa-looya......."

Selagi orang ini berkata-kata, kudanya Tiauw Tjong berbenger, beberapa hamba wet itu heran, lantas mereka pergi keluar, untuk melihat, hingga mereka dapati dua ekor kudanya si kongtjoe dan kacungnya.

"Si penunggang kuda tentu menginap di sini, inilah berarti hasil....."

Demikian kawanan opas itu bicara satu sama lain, kemudian mereka semua kembali ke dalam, dengan kegirangan.

Tiauw Tjong kaget, ia insaf ancaman bahaya, maka itu, ia tarik Hauw Kong, akan ajak kacung itu molos dari pintu belakang, akan menyingkir lebih jauh di jalanan ceglak-ceglok dan banyak batunya.

Hati mereka lega melihat tak ada orang kejar mereka, sedang uang bekalan mereka berada di bebokongnya Hauw Kong.

Mereka mendekam dalam pepohonan yang lebat, terus selama satu malam itu, besoknya terang tanah, mereka keluar, akan cari jalan besar, untuk lanjuti perjalanan.

Di tengah jalan, selagi melakoni perjalanan sepuluh lie lebih, majikan dan kacung itu rundingkan soal membeli lagi kuda, untuk perjalanan mereka itu.

Sementara itu, Hauw Kong senantiasa mendumal, mencaci maki kawanan hamba2 negeri yang jahat dan kejam, yang sudah siksa dan peras rakyat, hingga kejadiannya, kuda mereka pun turut lenyap.

Mereka sedang jalan terus ketika tiba-tiba, dari jalan kecil, muncul empat orang polisi, yang bersenjatakan thie-tjio, yang membekal borgolan, dan dua diantaranya sambil tuntun dua ekor kuda.

Berdua mereka saling mengawasi, dengan melongo.

Sebab itulah kuda mereka!

Jadi empat oppas itu adalah hamba2 negeri yang semalam mengganas si empeh dan uwah rakyat jelata yang melarat.

Di pihak lain, empat oppas itu juga mengawasi majikan dan bujang itu, yang sudah tidak keburu menyingkir, terpaksa keduanya mencoba jalan terus sambil bawa sikap sewajarnya.

"Eh, sahabat, kauorang kerja apa?"

Akhirnya satu oppas menegor. Itulah, Tiauw Tjong ingat, ada orang yang aniaja si empeh tadi malam.

"Bersama aku punya kongtjoe aku hendak pesiar ke Tjiong Lam San,"

Hauw Kong wakilkan kongtjoenya menjawab.

Ia pun maju kedepan majikannya itu.

Dengan tiba-tiba oppas, yang dipanggil si Ong itu, sambar Hauw Kong untuk dicekal, lalu dengan sebat, dia sambar bungkusan dibelakang orang, yang mana dia segera buka, hingga kelihatanlah isinya uang emas dan perak.

Dengan tiba-tiba juga dia jadi mata merah, romannya jadi bengis.

"Kongtjoe? Kongtjoe apa?"

Dia berseru.

"Kamu orang tentunya bukan orang baik2. Dari mana harta ini? Tentu hasil pencurian! Bagus, kita dapat bekuk pencuri berikut barang buktinya! Hayo ikut kita menghadap toa-looya!"

Terang oppas ini menghina pemuda dan bocah itu, yang dia hendak gertak, supaya uangnya itu bisa dikantongi. Tapi Hauw Kong cerdik, ia tidak jeri.

"Bagus!"

Ia bilang.

"Kongtjoe ada puteranya Taydjin Hauw Soe-touw, pergi kepada looyamu, itulah paling bagus!"

Si Ong melengak, hingga ia mundur. Mendadakan, ia tertawa.

"Aku main2 saja!"

Kata ia, yang romannya jadi ramah-tamah.

"Boleh toh kita main-tiba sedikit?"

Menampak orang jadi manis-budi, hatinya Hauw Kong jadi besar.

"Mari pulangi kuda kita,"

Kata ia.

"Atau sebentar, menghadap kepada toalooyamu, nanti aku mintakan presen seorang seratus rotan kepada kamu semuanya."

Semua orang terkejut. Semua oppas itu jadi terkejut, satu antaranya yang berusia pertengahan lantas kerutkan alis.

"Inilah bahaya,"

Ia pikir kemudian.

"Sudah terlanjur, baik aku binasakan dua pitik ini, uangnya kita rampas."

Ia telah lantas ambil putusan, mendadakan ia cabut goloknya dan bacok si bocah. Hauw Kong kaget, ia berkelit tidak urung, pundaknya kena kebacok, darahnya lantas ngucur.

"Kongtjoe, lekas lari,"

Berseru kacung ini, yang kecil tetapi hatinya tabah dan setia.

Tiauw Tjong pun kaget, lantas saja ia lari.

Oppas itu penasaran, ia membacok pula, tetapi sekali ini Hauw Kong bisa kelit, sesudah mana, ia putar tubuh, akan lari juga, akan susul kongtjoenya.

"Kejar mereka!"

Berseru oppas ganas itu, yang lalu bersama si Ong bertiga, kejar itu majikan dan kacung.

Bukan main kuatirnya Hauw Tiauw Tjong, ia pun tidak bisa lari keras sekali.

Disaat ia hampir kecandak, tiba-tiba dari arah depannya datang satu penunggang kuda, yang kudanya dikasi lari dengan keras.

Empat oppas itu lihat si penunggang kuda, yang satu segera berteriak.

"Kurang ajar! Kurang ajar! Bangsat besar, kau berani lawan kita?"

"Bekuk dia! Bekuk dia!"

Satu oppas yang lain berteriak-teriak.

"Bekuk itu penjahat!"

Kawanan oppas ini secara kedji tuduh Hauw Kongtjoe berdua sebagai penjahat.

Secara begini pun mereka mencari alasan untuk keganasan mereka.

Si penunggang kuda di depan datang semakin dekat, tidak saja ia telah lihat dua orang lagi lari dan empat oppas lagi mengejar, ia pun dengar teriakan-teriakannya si oppas, maka ia larikan kudanya kearah dua orang itu, setelah datang dekat, ia membungkukkan tubuh, ia ulur kedua tangannya, nampaknya gampang sekali, ia cekal Tiauw Tjong dan Hauw Kong, untuk diangkat naik ke belakang kudanya.

Empat oppas itu, dengan napas sengal-sengal, sudah lantas sampai kepada si penunggang kuda, yang telah tahan kudanya, dan dia ini sudah lantas turunkan dua orang itu sambil berkata.

"Inilah mereka, sudah ditangkap!"

Habis itu, ia pun loncat turun. Penunggang kuda ini bertubuh besar, suaranya nyaring, mukanya berewokan, umurnya kira-kira tiga puluh tahun.

"Terima kasih,"

Kata keempat oppas, yang berlaku ramah-tamah.

Mereka jerih terhadap orang beroman gagah.

Kemudian mereka angkat bangun Tiauw Tjong dan Hauw Kong, yang jatuh ke tanah.

Penunggang kuda itu awasi Hauw Kongtjoe, yang muda dan sebagai mahasiswa, serta kacungnya, yang melongo saja sebagai majikannya.

Sama sekali mereka berdua tidak mirip-miripnya dengan orang jahat.

Sekonyong-konyong Hauw Kong buka mulutnya.

"Enghiong, tolong! Mereka ini hendak merampas dan membunuh!"

"Kamu siapa?"

Tanya si penunggang kuda.

"Inilah kongtjoeku, Hauw Soe-touw punya......"

Hauw Kong belum sempat bicara terus atau satu oppas telah bekap mulutnya.

"Saudara, kau baik ambil jalanmu sendiri, jangan kau campur urusan kami orang kantor negeri,"

Oppas yang usia pertengahan mengasih nasihat. Tapi si penunggang kuda bersikap lain.

"Lepaskan tanganmu itu, biarkan dia bicara!"

Ia kata pada oppas yang tekap si bocah.

"Aku yang rendah ada satu anak sekolah, aku tidak bertenaga besar, mana mungkin aku jadi penjahat....."

Berkata Tiauw Tjong.

"Eh, kau berani banyak bacot?"

Satu oppas lain menegur.

Dan ia ayun sebelah tangannya, akan gaplok mukanya si anak muda.

Penunggang kuda itu gusar, ia ayun cambuknya dengan apa ia lilit lengannya si oppas galak, hingga gaplokannya batal.

Sebaliknya, kapan si penunggang kuda betot tangannya, dia terpelanting dan jatuh mencium bumi, hingga dua buah giginya gempur, mulutnya mengucurkan darah!

"Bagaimana sebenarnya duduknya perkara?"

Tegaskan si penunggang kuda.

"Kongtjoeku sedang pesiar,"

Hauw Kong gantikan tuannya,"

Lantas kami bertemu sama ini empat orang, mereka lihat uang kami, lantas mereka hendak binasakan dan rampas uang kami itu!"

Ia lantas berlutut.

"Enghiong, tolong kami....."

Ia memohon.

"Apakah ini benar?"

Si penunggang kuda tanya oppas di depannya.

Oppas itu belum menjawab atau si Ong, yang berada di belakangnya, membacok dengan goloknya!

Penunggang kuda itu dengar sambaran angin, tanpa menoleh lagi, ia berkelit kekiri, segera ia putarkan tubuhnya, sambil mendekam sedikit, ia kirimkan dupakannya kepada pahanya si Ong, hingga dia ini terpental dan rubuh.

"Inilah penyamun tulen!"

Berseru tiga oppas lainnya, sambil mereka maju menyerang.

Tiauw Tjong berkuatir, ia lihat orang tak bersenjata, akan tetapi si penunggang kuda tak jeri dikerubuti, dengan kelit sini dan egos sana, ia hindarkan sabetan atau kemplangan thietjio dan sabetan rantai borgolan yang digunai tiga pengepungnya.

Si Ong berbangkit, ia maju pula, ia membacok.

"Kurang ajar!"

Berseru penunggang kuda itu, yang kelit bacokan tapi tangannya melayang, hingga dengan keluarkan jeritan kesakitan, hidungnya si Ong muncratkan darah, goloknya pun terlepas, sebab segera ia tutupi mukanya dengan kedua tangannya.

Penunggang kuda itu jumput golok orang, malah terus ia pakai menyerang, atas mana, satu oppas terluka pundaknya, kemudian menyusul terbacok kaki kirinya oppas yang menggunai rantai, hingga dia rubuh.

Melihat demikian, oppas yang satunya lantas saja lari, disusul oleh si Ong, yang pun turut angkat kaki, sama sekali mereka lupa dua kawan mereka.....

Penunggang kuda itu tertawa berkakakan, ia lempar golok di tangannya, ia hampirkan kudanya untuk dinaiki.

"Tunggu dulu, inkong,"

Mencegah Tiauw Tjong pada tuan penulungnya itu, yang ia hampirkan.

Ia mengucap terima kasih, ia tanya she dan namanya orang itu.

Orang itu awasi kedua oppas yang terluka, yang rebah di tanah sambil merintih kesakitan, dengan mata bersorot kegusaran, mereka mengawasi.

"Disini bukan tempat bicara, mari kita pergi kesana,"

Kata si penunggang kuda.

"Kita naik kuda."

Ia lompat naik atas kudanya, perbuatannya ditelad oleh Tiauw Tjong dan Hauw Kong, yang pun naik atas kudanya masing-masing.Dengan berendeng, mereka pergi dari tempat kejadian itu, sembari jalan, Tiauw Tjong perkenalkan diri.

"Kau jadinya ada Hauw Kongtjoe,"

Kata penunggang kuda itu.

"Aku ada Yo Peng Kie yang dalam kalangan kang-ouw dikenal sebagai Mo-In Kim-tjie, Sayap emas beterbangan, aku bekerja sebagai piauwsoe kepala dari Boe Hwee Piauw-kiok."

Tiauw Tjong mengucap terima kasih. 'Coba tidak ada piauwtauw yang tolongi kami berdua, hari ini tentulah kami terbinasa ditangan orang jahat."

Ia kata.

"Sekarang, baiklah kongtjoe lekas pulang,"

Peng Kie anjurkan.

"Kau mesti beritahukan kejadian ini kepada ayahmu, supaya ayahmu urus lebih jauh, kalau tidak, tentu kawanan oppas itu bakal putar duduknya perkara. Terang sudah mereka ada jahat dan licik. Mereka tidak kenal aku, tentu mereka bakal berati kongtjoe seorang."

Mendengar nasihat itu, lenyap kegembiraannya kongtjoe ini.

"Kau benar, saudara Yo,"

Kata ia.

"Terima kasih untuk keterangan kau ini. Mari kita lakukan perjalanan ber-sama2."

Peng Kie setuju.

"Mari,"

Sahut ia.

Hatinya Tiauw Tjong lega.

Dengan dikawani itu piauwsoe, ia tak kuatir lagi.

Dua-puluh lie mereka sudah lalui, tidak juga mereka dapat pondokan.

Sukur Peng Kie ada bawa rangsum kering, ia keluarkan itu, untuk didahar bersama.

Mereka singgah sebentar, Hauw Kong cari kwali pecah, untuk masak air, supaya mereka bisa minum.

Ia kumpuli kayu kering, untuk nyalakan api.

"Si penjahat ada di sini!"

Tiba-tiba kacung ini dengar suara nyaring dibelakangnya.

Ia terkejut, hingga ia berjingkrak, karena mana, airnya tumpah, menyiram kayunya.

Peng Kie segera berpaling, hingga ia tampak, oppas tadi, yang kabur, telah balik bersama belasan serdadu, dia itu sendiri kaburkan kudanya paling depan.

"Lekas naik kuda!"

Piauwsoe ini serukan kawan2nya. Kemudian ia kasi majikan dan bujang itu lari didepan, ia sendiri dengan hunus golok tantoo, larikan kudanya disebelah belakang, untuk melindungi.

"Bekuk si penjahat!"

Beberapa serdadu ber-teriak2. Semua serdadu itu mengejar dengan keras. Peng Kie telah lari jauh juga, tetapi ia dapat kenyataan, ia terpisah semakin dekat dengan rombongan pengejarnya itu.

"Ambil jalan kecil!"

Ia teriaki dua kawannya. Tiauw Tjong membiluk kejalan kecil, dibelakang ia, Hauw Kong menyusul bersama si piauwsoe.

"Kejar terus! Siapa dapat membekuk, ia akan dapat upah besar!"

Si oppas berteriak-teriak, akan anjurkan belasan serdadu itu.

Melihat orang menyusul semakin dekat, terpaksa Peng Kie tahan kudanya, untuk diputar balik, guna tunggui barisan pengejar itu, kemudian ia maju memapaki, akan menyerang.

Si oppas kaget, ia lantas mundur, tetapi belasan serdadu maju menyerang.

Mereka bersenjatakan tumbak, yang panjang, dengan lekas Peng Kie jadi repot, belum sempat ia membacok salah satu musuh, karena goloknya pendek, pahanya telah kena tertusuk, hingga ia merasakan sakit walaupun lukanya tidak parah.

Karena ini, ia jadi kecil hati.

Ia keprak kudanya, ia berlompat kedepan, satu serdadu yang berada paling dekat, ia bacok pundak kirinya.

Hal ini membikin serdadu-serdadu yang lain kaget, mereka merandek, justeru itu, si piauwsoe kaburkan kudanya, untuk lari terus.

"Kejar!"

Berseru si oppas, yang maju pula, diikuti oleh kawan-kawannya.

Peng Kie sudah lantas dapat candak Tiauw Tjong dan Hauw Kong.

Jalanan di depan mulai jadi sempit, tapi sukar, serdadu-serdadu itu jeri terhadap si piauwsoe, mereka tak berani maju mendekati, mereka cuma mengejar saja.

Peng Kie dapat hati, ia ajak dua kawannya lari dengan keras.

Mereka jalan di tempat banyak tikungan, ini menolong mereka, sebab tidak lama lagi, mereka lenyap dari pemandangan matanya sekalian pengejar, yang cuma suara teriakteriakannya saja yang masih terdengar dengan nyata.

Segera mereka menghadapi jalan cagak tiga.

"Kita turun disini!"

Peng Kie kata. Ia mendahului loncat turun dari kudanya. Tiauw Tjong dan kacungnya menuruti, mereka pun turun.

"Mari!"

Mengajak piauwsoe itu.

Mereka tuntun kuda mereka, masuk kedalam pepohonan yang lebat, untuk sembunyi.

Tidak terlalu lama, muncullah rombongan tentara bersama si Ong.

Mereka ini agak bersangsi melihat jalan cagak itu.

Akhirnya, si Ong pilih satu diantaranya.

"Mereka tidak akan susul kita jauh-jauh, mereka bakal kembali,"

Kata Peng Kie.

"Mari lekas!"

Ia robek ujung bajunya, buat dipakai membungkus lukanya, habis itu mereka keluar dari tempat sembunyi, naik atas kuda masing-masing, lantas mereka ambil jalan yang lain yang diambil pengejar mereka.

Mereka sudah lari jauh juga ketika Peng Kie dengar suara berlari-larinya banyak kuda.

Ia mengerti, orang tentu sedang susul mereka.

Biar bagaimana, ia sibuk juga.

Tidak jauh dari mereka, mereka lihat tiga buah rumah gubuk, di depannya, ada penghuninya orang tani sedang bekerja.

Peng Kie hampirkan orang tani itu, sembari menjura, ia kata .

"Saudara, dibelakang kami ada tentara sedang mengejar yang hendak celakai kami, tolong kau carikan tempat sembunyi....."

Orang tani itu tetap memacul, ia seperti tidak dengar permintaan itu.

Tiauw Tjong turun dari kudanya, ia hampirkan orang tani itu, akan ulangi permintaannya Peng Kie.

Sekali ini, mendadakan orang tani itu mengawasi, dengan kedua matanya yang bersinar.

Ia mengawasi dari atas kebawah pada tiga orang itu.

Berbareng dengan itu dari antara pepohonan lebat terdengar suara suling merayu-rayu, lantas tertampak satu bocah bercokol dibelakang seekor kerbau.

Dia berumur delapan atau sembilan tahun, kuncirnya kecil pendek nyungcung di batok kepalanya.

Dia beroman manis dan cakap, membuat orang segera sukai dia.

Melihat bocah itu, si orang tani kata padanya,"

Sin Tjie, bawa kuda kedalam gunung, kasi makan rumput sepuasnya! Tunggu sampai sudah gelap, Baru kau bawa kembali."

Bocah itu pandang Tiauw Tjong bertiga.

"Baik!"

Ia menyahuti, terus ia hampirkan ketiga kuda orang-orang itu. Peng Kie tidak mengerti maksud orang, ia berikan kuda mereka. Sementara itu, suara pengejar datang semakin dekat, Tiauw Tjong sibuk.

"Mereka mendatangi...."kata ia.

"Bagaimana?"

"Mari turut aku,"

Mengajak si orang tani.

Tiauw Tjong bertiga ikut diajak masuk kedalam rumah, yang bersih keadaannya walaupun perabotan kebanyakan ada alat2 pertanian.

Mereka dibawa terus kepedalaman, sampai disebuah kamar tidur, ketika si orang tani singkap kelambu, dibelakang itu ada tembok.

Dia menekan dua kali kepada tembok atas mana tembok itu berbunyi dan terbukalah sebuah lobang, sehingga mereka terkejut.

"Masuklah!"

Kata si orang tani.

Peng Kie bertiga masuk.

Mereka dapati sebuah gua yang cukup lebar.

Nyata gua itu ada gua gunung, yang sengaja dibuka.

Tanpa menggempur rumah, tidak nanti diketahui, dibelakang rumah ada lobang gua.

Orang tani itu tekan pula tembok, setelah mana, pintu gua tertutup pula.

Ia terus pergi keluar, untuk bekerja pula dengan cangkulnya seperti tadi.

Belum terlalu lama, muncullah si Ong serta belasan serdadunya.

"Eh, apa tadi ada tiga penunggang kuda lewat di sini?"

Ong tanya dengan kasar.

"Baru saja dia lewat, kesana!"

Sahut si petani seraja menunjuk kesebuah jalan kecil.

Ong beramai larikan kudanya ketempat yang ditunjuk itu, disini mereka melalui tujuh atau delapan lie tanpa ada hasilnya, lantas mereka kembali.

Mereka hampirkan pula si petani, utk.

Ditanyakan, tapi dia ini menyahuti tidak jelas, dia mirip dengan seorang budek.

"Sudah, jangan layani si tolol!"

Kata beberapa serdadu.

"Mari!"

Mereka larikan kuda mereka kesebuah jalan kecil lainnya.

Tiauw Tjong bertiga, dari tempatnya sembunyi, dengar suara kaburnya banyak kuda, suaranya nyata dan lenyap, nyata pula, lenyap lagi.

Selama itu, mereka tetap sibuk, terutama sebab tuan rumah belum datang untuk membukai pintu.

Peng Kie coba tolak pintu gua, tidak ada hasilnya, sebab ia tak tahu rahasianya.

Daun pintu pun tak tergerak sedikit jua.

Gua ada gelap.

Terpaksa mereka duduk diam, kecuali Peng Kie, yang beberapa kali merintih karena lukanya, hingga ia kutuki pengejar-pengejarnya.

Entah berapa waktu telah lewat, mendadakan pintu gua terbuka sendirinya dengan menerbitkan suara, lebih dahulu muncul cahaya api kuning, lalu muncul si orang tani dengan tangannya menyekal tjiaktay yang lilinnya menyala.

"Marilah kita dahar!"

Ia mengundang.

Peng Kie berlompat bangun, akan mendahului keluar, Tiauw Tjong dan kacungnya susul dia.

Mereka pergi ke thia dimana ada sebuah meja yang sudah siap dengan nasi dan temannya, yang masih mengepul-ngepul,kecuali tauwhoe dan sayur, pun ada dua ekor ayam yang gemuk.

Didalam ruangan itu, kecuali si orang tani dan si bocah angon, ada lagi tiga petani lainnya, yang menantikan tetamu-tetamunya sambil berdiri.

Tiauw Tjong bertiga memberi hormat, mereka lantas perkenalkan diri.

Mendengar namanya Peng Kie sebagai piauwsoe, nampaknya orang-orang itu tak memperdulikannya, akan tetapi mengetahui si anak muda ada puteranya Hauw Soe-touw, semua saling memandang, lantas ada yang tanyakan halnya Hauw Soe-touw selama yang belakangan ini.

Tiauw Tjong berikan jawaban yang sebenarnya, sesudah mana, ia minta tanya namanya sekalian petani itu.

"Aku yang rendah she Eng,"

Jawab seorang umur lima-puluh lebih.

"Dia ini she Tjoe,"

Dia perkenalkan petani yang pertama.

"Dan dia ini she Nie."

Dia tunjuk seorang bertubuh jangkung tetapi kurus.

"Dan dia ini she Lo,"

Ia tambahkan kepada seorang yang kate dampak.

"Aku kira tuan-tuan dari satu keluarga, tak tahunya semua berlainan she,"

Kata Tiauw Tjong.

"Kita semua ada sahabat-sahabat baik,"

Terangkan si orang she Eng.

Segera Tiauw Tjong dapat kenyataan, semua tuan rumah tak gemar bicara tapi gerak-gerik mereka tak mirip dengan petani sejati; si orang she Tjoe dan Nie nampaknya keren, si orang she Eng agung-agungan, seperti satu sasterawan.

Dia coba bicara sama si orang she Eng itu, untuk cari kepastian, tapi ia ini tidak menjawab jelas, agaknya ia seperti mengerti dan tidak mengerti.

Habis berdahar, Baru si orang she Eng tanyakan bagaimana halnya tetamu-tetamu itu dikejar polisi dan serdadu.

Tiauw Tjong berikan keterangan dengan jelas, karena ia terpelajar, kata-katanya teratur sempurna dan menarik hati, apapula ketika ia menutur halnya rakyat jelata yang bersengsara dan mati terlantar, binasa teraniaya, hingga nyata sekali kekejamannya tentara negeri tukang rampok dan bunuh.

Semua pendengar membuka mata lebar2, si orang she Nie sampai keprak meja, alis dan kumisnya seperti bangun berdiri, ia tentu telah membuka mulut dan mendamprat jikalau tidak si orang she Eng lirik dia, terus ia bungkam.

Tiauw Tjong juga ceritakan halnya Yo Peng Kie tolongi ia, dengan itu ia hunjuk syukurnya dan pujian kepada itu piauwsoe, mendengar mana, piauwsoe ini nampaknya puas sekali.

"Itulah tidak berarti apa-apa,"

Kata Peng Kie.

"Yang berbahaya adalah dulu ketika di Shoasay, seorang diri aku bunuh Tjhin-pak Sam Hiong."

Lalu dengan bangga ia jelaskan bagaimana, dalam keteter, ia berbalik menang lawan Tjhin-pak Sam Hiong, tiga penjahat besar dari propinsi Shoasay sebelah utara, kemudian itu ditambah sama pelbagai pengalamannya selama sepuluh tahun, hingga katanya, banyak penjahat tidak berani pandang enteng kepadanya.

Sedangnya piauwsoe ini menutur dengan gembira, hingga ia seperti lupa daratan, tiba-tiba si bocah angon tertawa cekikikan.

Peng Kie pandang itu bocah, yang terus berdiam, maka ia lanjuti penuturannya, sekarang perihal pelbagai kejadian didalam kalangan kang-ouw.

Tiauw Tjong asing dengan kaum kang-ouw, ia jadi ketarik hati.

Hauw Kong pun belum tahu apa-apa, ia puji piauwsoe itu.

Peng Kie kemudian bicara tentang ilmu silat, ia sampai gerak-geraki tangan dan kakinya, nampaknya ia membuat gembira kepada si orang-orang tani, sampai akhirnya si orang she Lo menguap dan kata.

"Sudah tak siang lagi, marilah kita semua masuk tidur!"

Secara demikian, perjamuan ditutup, malah si bocah angon segera tutup pintu, sedang si orang she Tjoe angkat sepotong batu besar, yang ditaruh ditempat gelap, untuk dipakai mengganjal pintu.

Melihat batu besar itu, diam-diam Peng Kie ulur lidah.

"Ah, orang ini bertenaga besar sekali....,"

Pikir ia.

"Batu ini sedikitnya empat ratus kati beratnya...."

Si orang she Eng rupanya lihat keheranannya si tetamu.

"Ditanah pegunungan ada banyak harimau,"

Kata dia.

"Bisa kejadian ditengah malam, binatang buas itu datang dan menggempur pintu, maka pintu perlu diganjel..."

Belum berhenti suaranya si Eng ini atau mendadakan terdengar sampokan angin dahsyat di luar gubuk, diantara pepohonan, sampai daun-daun dan cabangnya perdengarkan suara menderu-deru, daun pintu dan jendela bagaikan tergetar, kemudian itu disusul sama gerungan panjang dan hebat, akan akhirnya terdengar juga suaranya kuda dan kerbau.

"Lihat, binatang itu datang pula untuk berkurang ajar!"

Kata si Eng. Si Nie berbangkit, dari belakang pintu, ia ambil sepotong kongtjee, cagak seperti tumbak.

"Sekali ini dia tak dapat dikasi lolos lagi!"

Kata ia bagaikan berseru.

"Sin Tjie, kau pun turut!"

Si bocah angon menyahuti, ia lari kedalam kamar sebelah kanan, dari mana ia keluar pula dengan tangan mencekal sebatang tumbak pendek dan dipinggan tergendol kantong kulit.

Si Tjoe sudah lantas geser batu besar, ia terus buka pintu, hingga berbareng dengan terpentangnya pintu itu, angin keras menghembus masuk, membawa juga daun-daun kering, hingga lilin lantas padam.

Hauw Kong kaget hingga ia menjerit.

Si Nie loncat keluar, diturut oleh si bocah angon, yang bernama Sin Tjie.

"Aku turut!"

Kata Peng Kie seraja ia djumput goloknya.

Tapi Baru ia bertindak selangkah atau mendadakan lengannya ada yang cekal,ketika ia coba tarik tangannya, ia rasai cekalan keras sekali, lima jari si pencekal bagaikan jari-jari besi saja.

"Jangan keluar, binatang buas itu ganas sekali!"

Demikian satu cegahan dengan suara serak.

Lagi sekali Peng Kie geraki tangannya, untuk loloskan cekalan, apamau, ia tidak berhasil, maka akhirnya, terpaksa ia duduk pula.

Baru setelah itu, cekalan kendor sendirinya.

Di luar, segera terdengar seruannya si Nie beberapa kali, bercampur sama gerungannya sang harimau, diantara mana, ada pula suaranya kongtjee, sedang angin masih menderuderu.

Juga ada terdengar seruan kecil tapi nyaring dari si bocah angon.

Itu semua menandakan bahwa pertempuran sedang berlangsung antara si raja hutan dan dua petani.

Adalah kemudian, suara berisik mulai berkurang, terdengarnya semakin jauh, makin jauh, rupanya binatang liar itu kabur dan dikejar lawannya.

Si Lo segera nyalakan batu tekesan, untuk sulut lilin, hingga kelihatan, ruangan tersebarkan banyak daun kering.

Hauw Kong duduk diam, mukanya sangat pucat, sedang Tiauw Tjong nampaknya jeri.

Malah Peng Kie, si piauwsoe yang tadi omong besar, sekarang nampak hatinya gentar, hingga ia diam saja.

Orang berada dalam kesunyian sekian lama, kemudian terdengar tindakan kaki cepat, yang segera disusul dengan masuknya si bocah angon, yang terus -sambil tertawa, wajahnya gembira -berkata separuh berseru .

"Kita makan daging harimau! Kita makan daging harimau!"

Tiauw Tjong lihat tumbak pendek orang berlepotan darah.

"Dia begini kecil, dia berani dan kosen,"

Pikir Hauw Kongtjoe.

"tapi aku, aku tidak punya tenaga untuk sembelih ayam saja....Sungguh malu!...."

Selagi pemuda ini berpikir, si Nie bertindak masuk dengan tindakan lebar, sebelah tangan mencekal kongtjee, sebelah yang lain menyeret harimau yang terus ia lemparkan ke tengah thia.

Tiauw Tjong kaget sampai ia dapati binatang itu tidak bergerak, tanda sudah mati.

"Sin Tjie, tadi kau menyerang setjara keliru, kau tahu tidak?"

Tiba-tiba si Nie kata pada si bocah angon, yang ia awasi dengan tayam. Bocah itu tunduk.

"Ya, tidak selajaknya aku menyerang dengan piauw depan-berdepan,"

Ia akui. Mendengar itu, wajahnya si Nie jadi sabar pula.

"Menyerang dari depan bukannya tak boleh,"

Kata dia."

Hanya jikalau kau hendak lepas sepasang piauw dengan berbareng, kau mesti arah dua-dua matanya, setelah piauw dilepaskan, kau sendiri mesti segera loncat kesamping, tetapi tadi kau gunai sebatang piauw saja, hingga saking kesakitan, harimau itu lompat menerjang padamu, coba aku tidak mencegah, apa jiwamu masih dapat ditolong?"

Bocah itu berdiam.

"Tapi piauwmu itu jitu sekali,"

Kata si Nie kemudian, sebagai pujian.

"apa yang kurang adalah tenagamu. Inilah tidak heran, kalau nanti kau telah jadi besar, tenagamu akan tambah sendirinya."

Ia angkat tubuhnya harimau, untuk dibalik, hingga kelihatan sebatang piauw lain nancap dilobang kotoran.

"Piauw ini,"

Katanya,"

Apabila digunakannya dengan tenaga besar,akan nembus sampai kedalam perut dan akan menyebabkan kematian."

"Mulai besok aku nanti berlatih dengan sungguh-sungguh,"

Kata Sin Tjie.

Si Nie manggut, lantas ia seret bangkai harimau itu kebelakang.

Hatinya Peng Kie jadi tidak tenteram.

Tadinya ia sangka mereka itu ada orang-orang tani biasa, tidak tahunya dua diantaranya, malah yang satu adalah satu bocah cilik, dalam sekejab saja bisa binasakan seekor harimau.

Ia jadi curiga, mereka itu adalah penyamunpenyamun dalam penyamaran rakyat jelata.

"Jikalau mereka turun tangan, mana sanggup aku lawan mereka?"

Pikir ia.

Sebaliknya dari si piauwsoe, Tiauw Tjong tidak curiga apa-apa, ia malah puji si bocah, yang tangannya ia cekal dan usap2.

Ia pun tanya she dan namanya.

Bocah itu melainkan tertawa, ia tak menjawab.

Malam itu, Tiauw Tjong tidur bertiga bersama Peng Kie dan Hauw Kong.

Si kacung pulas dengan cepat.

Tiauw Tjong sukar tidur, maka selang tak lama, ia dengar suara orang baca buku.

Ia lantas kenali suaranya si bocah angon.

Bocah itu membaca dalam dialek Kwietang, ia heran.

Lebih2 ia heran akan dapati, buku yang dibaca adalah buku yang ia tidak kenal.

Mungkin itu ada kitab ilmu perang.

Maka akhirnya ia berbangkit, ia turun dari pembaringan akan bertindak ke thia.

Duduk menghadapi api lilin, si bocah terus baca bukunya, disampingnya duduk si Eng, yang saban2 mengajari padanya.

Si Eng manggut melihat Hauw Kongtjoe.

Tiauw Tjong mendekati, ia lihat beberapa

Jilid buku diatas meja, kemudian ia djumput satu, yang berkalimat "Kie Kauw Sin Sie"

Ialah kitab ilmu perang karangannya jenderal Tjek Kee Kong.

"Saudara,"

Kata ia kemudian, saudara semua bukannya orang-orang biasa, kenapa saudara beramai hidup menyendiri disini? Maukah saudara kasi keterangan padaku?"

"Kita adalah petani biasa saja,"

Sahut si Eng.

"Kita hidup bertani sambil memburu, kalau kita pun baca buku. Itu biasa saja, bukan? Kenapa kongtjoe heran?"

Tiauw Tjong tak enak sendirinya.

"Maafkan aku, aku telah mengganggu,"

Kata ia, yang terus manggut, untuk kembali kekamarnya.

Sekali ini, rebahkan diri, Tiauw Tjong dapat tidur, tapi, sedang ia layap-layap, ia sedar pula, sebab Peng Kie goyang tubuhnya dengan piauwsoe itu terus berbisik.

"Mari kita pergi, inilah sarang penjahat!....."

Pemuda itu kaget.

"Bagaimana kau ketahui?"

Ia tanya "Mari lihat!"

Peng Kie berbisik pula. Ia nyalakan api, akan suluhi sebuah peti kayu, yang ia buka tutupnya.

"Lihat, kongtjoe!"

Kembali Tiauw Tjong kaget.

Ia lihat peti itu muat banyak sekali emas dan perak dan barang permata.

Ia sampai tergugu.

Peng Kie serahkan api pada si anak muda, ia sendiri angkat minggir peti itu, dibawah mana ada sebuah peti lain, yang dikunci, akan tetapi selagi ia berkutetan, Tiauw Tjong mencegah.

"Sudahlah, jangan bongkar lebih jauh rahasia orang,"

Kata pemuda ini.

"Kita bisa terbitkan onar....."

"Tetapi didalam sini ada bau luar biasa,"

Peng Kie bilang.

"Bau apakah itu?"

"Bau bacin amis!"

Tiauw Tjong berdiam.

Peng Kie patahkan rantai kuntji, lalu ia pasang kuping, apabila ia tidak dengar suara apaapa dari luar, ia buka tutup peti itu, ia sambuti api, untuk menyuluhi.

Kesudahannya ini, keduanya berdiri tercengang, mukanya Hauw Kongtjoe pucat.

Didalam peti itu ada dua kepala manusia, yang satu rupanya sudah sekian lama dikutungi batas lehernya, sebab darahnya sudah hitam, yang satunya pula, masih Baru, tapi duaduanya seperti telah dipakaikan obat, karena masih belum rusak.

Peng Kie ada orang kang-ouw, ia toh lemas kaki dan tangannya.

"Mari kita pergi!"

Kata pula si piauwsoe, sesudah ia dapat pulang ketabahannya dan kedua peti ia susun rapi seperti tadinya.

Habis itu, ia pun kasi bangun pada Hauw Kong, untuk ajak si kacung singkirkan diri.

Api telah dikasi padam, dengan raba sana-sini, bertiga mereka pergi ke thia, terus kepintu.

Disini Peng Kie dapat raba batu besar, memegang mana, ia mengeluh di dalam hati.

Ia coba gunai antero tenaganya, ia masih tak dapat geraki bergeming batu besar itu.

Sekonyong-konyong, menyalalah api di dalam thia itu!

Dengan tiba-tiba, si Tjoe muncul dengan tjiaktay di tangan, tjiaktay yang lilinnya menyala.

Dalam kagetnya, Peng Kie hunus goloknya.

Ia niat bikin perlawanan meskipun hatinya keder.

Tapi si Tjoe bersikap tenang.

"Kauorang hendak berlalu?"

Tanya dia, yang lantas hampirkan batu besar, untuk diangkat kesamping, lalu ia buka pintu."

Persilakan!"

Dengan kepala tunduk, Peng Kie bertiga keluar dari pintu, mereka hampirkan kuda mereka, akan buka tambatannya, lalu dengan menunggang binatang tunggangan itu, malam2 mereka kabur, kearah timur.

Tidak satu diantara mereka, yang buka mulut.

Mereka laratkan kuda mereka, sampai belasan lie jauhnya, Baru mereka mulai merasa legaan.

Tiba-tiba terdengar berketoprakannya kaki kuda disebelah belakang mereka, segera terdengar suara nyaring dari satu orang.

"Hei, berhenti! Berhenti!"

Mereka kaget, mereka jadi takut pula, mereka kabur terus, kuda mereka dikepraki.

Sekonyong-konyong satu orang melesat disampingnya tiga orang ini, untuk mendahului mereka.

Kudanya Peng Kie kaget, sampai binatang itu berjingkrak sendiri.

Peng Kie ayun goloknya, akan serang orang itu.

Dia ini bertangan kosong, dia kelit, lantas dia membalas menyerang.

Mereka bertempur dengan seru.

Sebelah tangan siorang tak dikenal menyambar tempilingan kanan dari Peng Kie, dia ini angkat goloknya, akan dipakai membabat, tapi orang nyata menggertak saja, serangannya ditarik setengah jalan, dikembalikan, buat dipakai mencekal lengan yang bersenjatakan golok itu.

"Turun!"

Demikian orang itu berseru sambil ia menarik dengan keras.

Peng Kie sedang membacok, tak keburu dia menarik pulang tangannya atau kelitkan itu, ia tercekal, ia tertarik, tidak ampun lagi, dia rubuh dari atas kudanya, sedang goloknya, tahu2 sudah kena dirampas lawannya.

Tapi si lawan tidak gunai senjata itu untuk balas membacok, dia lepaskan cekalannya kepada lengan si piauwsoe, dia pakai tangannya itu pegang golok dengan kedua tangannya, atau dilain saat, golok itu kena dipatahkan dua!

Diantara sinar guram dari bintang-bintang dilangit Peng Kie, yang dapat berdiri pula setelah ia rubuh dari kudanya, dapat kenali lawannya adalah si Tjoe, tuan rumahnya.

"Mari turut aku kembali!"

Kata si Tjoe dengan tenang.

Lalu, tanpa perduli apa juga, ia kasih kudanya jalan kembali.

Peng Kie mati daya, ia naik atas kudanya, kemudian dengan satu tanda, ia ajak Tiauw Tjong dan Hauw Kong balik.

Dua kawan ini, yang telah tahan kuda mereka selagi orang bertempur, juga tidak berdaya lagi, mereka turut tanpa bilang suatu apa.

Kapan Tiauw Tjong bertiga sampai dirumah si petani, kemana mereka lantas masuk, mereka lihat ruangan tengah terang sekali dengan api lilin.

Si bocah angon bertjokol ditengah-tengah,dikiri dan kanan, duduk empat orang lainnya ialah si Lo, si Eng, si Tjoe dan si Nie.

Semua mereka berdiam, roman mereka sungguh-sungguh, hingga nampaknya jadi keren.

Peng Kie percaya dia ada bakalan mati, maka ia jadi berani.

"Hari ini Yo Thayya terjatuh di tangan kamu, hayo jangan banyak omong lagi, hendak kamu bunuh, bunuh!"

Kata ia dengan gagah.

"Eng Toako, bagaimana?"

Tanya si Tjoe. Orang yang ditanya itu diam saja, cuma romannya tetap keren.

"Merdekakan Hauw Kongtjoe dan kacungnya, bunuh orang she Yo ini!"

Si Nie gantikan menjawab.

"Orang she Yo ini menjadi piauwsoe, dengan begitu ia jadi anjingnya segala hartawan,"

Kata si Eng akhirnya.

"pantas saja jikalau dia dibikin mampus. Tapi sekarang ini dia telah hunjuk perbuatan mulia dan gagah dengan membantu Hauw Kongtjoe, dia pun berani, baik kasi dia ampun. Saudara Lo, silakan kau bikin bercacat dua anggauta penggapeannya."

Si Lo lantas saja berbangkit. Mukanya Peng Kie jadi pucat, saking kaget. Tiauw Tjong tidak mengerti bahasa rahasia orang Kang-ouw, ia tak tahu, dengan "anggauta penggape"

Diartikan sepasang mata, yang mesti dikorek buta.

Ia cuma duga, orang hendak bikin celaka piauwsoe penolongnya itu.

Maka itu, ia ingin buka mulut, untuk mohonkan keampunan.

Tiba-tiba si bocah angon kata .

"Entjek Eng, kasihan aku melihat dia, kasi ampun saja padanya!"

Si Eng dan tiga kawannya saling memandang, semua berdiam, tapi akhirnya, dia kata pada Yo Peng Kie, si piauwsoe.

"Sekarang telah ada orang yang mohonkan keampunan bagimu, bisa atau tidak kau bersumpah akan tak bocorkan apa yang kau alami disini malam ini?"

"Sebenarnya tak niat aku menyelidiki segala apa disini, hanya kebetulan saja aku menemuinya,"

Sahut Yo Peng Kie.

"Aku harus sesalkan diriku, yang seperti tidak punya mata, hingga tak dapat aku kenali siapa adanya enghiong semua. Aku janji, sejak ini aku tidak nanti melangkah ke Siamsay ini sekalipun setengah tindak. Mengenai urusan saudara-saudara disini, aku sumpah akan tutup mulut seperti rapatnya botol. Dibelakang hari, apabila aku langgar sumpahku ini, Langit dan Bumi bakal binasakan aku!"

"Bagus!"

Berseru si Eng.

"Aku percaya kau ada satu laki2 sejati! Pergilah!"

Peng Kie angkat kedua tangannya, untuk memberi hormat, lalu ia memutar tubuh. Mendadakan, si Nie berbangkit dari kursinya.

"Apakah kau hendak pergi secara begini saja?"

Dia menegur. Peng Kie melengak, tapi segera ia mengerti maksud orang. Ia lantas tertawa meringis.

"Baiklah,"

Kata ia.

"Kasi aku pinjam golok!"

Si Tjoe keluarkan sebatang golok dari kolong meja, dengan dilintangi, dia lemparkan kepada piauwsoe itu.

Peng Kie sambuti golok itu, ia maju mendekati meja, diatas mana, ia letaki tangan kanannya dengan semua jarinya dibeber, kemudian cepat luar biasa, ia membacok dengan tangan kiri, hingga sapatlah empat buah djarinya.

"Seorang yang berbuat, seorang yang tanggung jawab!"

Kata dia sambil tertawa.

"Semua pekerjaanku tidak ada sangkutannya dengan si orang she Hauw!"

Semua orang kagum melihat ketangguhannya piauwsoe ini.

"Bagus!"

Berseru si Nie, yang perlihatkan jempolnya.

"Beginilah selesainya urusan malam ini!"

Terus ia bertindak kedalam, akan keluar pula dengan cepat bersama obat luka dan kain putih untuk obati dan bungkus tangannya piauwsoe she Yo itu.

Peng Kie tidak mau berdiam lama, setelah selesai pengobatan, ia kata pada Hauw Kongtjoe,"

Mari kita berangkat!"

Tiauw Tjong lihat muka orang pucat, ia mengerti penolongnya ini menahan sakit yang hebat, ia berniat mengajak menanti dahulu, tetapi ia tak bisa buka mulutnya untuk mengutarakan itu.

Si Eng lihat segala apa didepannya, ia kata.

"Hauw Kongtjoe, kalau dibicarakan, kau dan kita sebenarnya ada hubungan satu sama lain. Sahabat she Yo inipun ada satu laki-laki, maka baiklah, aku nanti berikan barang ini kepadamu!"

Dari sakunya, si Eng keluarkan serupa barang, yang dia terus serahkan pada si anak muda.

Kapan Tiauw Tjong sudah sambuti, dia lihat itu adalah sepotong tek-pay atau surat bambu dengan huruf-bakaran "San Tjong", sedang bagian belakangnya, pun dibakar hangus merupakan tali air.

Ia tidak tahu, apa artinya tek-pay itu.

"Sekarang ini Negara sedang kacau,"

Berkata si Eng pula.

"kau ada satu mahasiswa lemah, tak selayaknya kau berkelana, dari itu, aku kasi nasihat padamu, baik kau lekas pulang. Umpama kau hadapi bahaya ditengah jalan, kau keluarkan tek-pay ini, nanti ancaman bencana akan berubah menjadi keselamatan."

Tiauw Tjong periksa tek-pay itu, masih ia tak dapatkan keanehan atau kemujizatannya, maka itu, ia mau percaya, itu adalah benda yang cuma membawa alamat baik.....

"Terima kasih,"

Kata ia akhirnya seraya serahkan tekpay itu kepada Hauw Kong, untuk disimpan dalam buntalan.

Habis itu, tiga orang itu pamitan, mereka berlalu dengan naik kuda mereka.

Sekarang mereka jalan malam2, dengan pelahan-lahan, terus sampai terang tanah diwaktu mana mereka sampaikan sebuah kampung.

"Kita singgah disini,"

Mengajak Tiauw Tjong.

Mereka cari pondokan, untuk beristirahat satu hari dan satu malam, akan besoknya pagi, mereka lanjuti perjalanan mereka.

Kembali mereka lewati dusun dimana tentara negeri pernah rampok dan bunuh-bunuhi penduduk, tak tega melihat bekas-bekas kekejaman itu, Tiauw Tjong ajak dua kawannya jalan ngidar.

Diwaktu tengah hari, mereka singgah ditengah jalan, lalu kemudian berangkat lebih jauh melalui dua-puluh lie lebih.

Adalah diitu waktu, dari arah depan, ada mendatangi satu penunggang kuda, yang lewati mereka disamping mereka, selagi berpapasan, dia itu mengawasi Tiauw Tjong bertiga.

Debu mengepul selagi dia lewat.

Tiauw Tjong bertiga jalankan kuda mereka seperti biasa, tapi Baru lima atau enam lie, mereka dengar pula tindakan kaki kuda dibelakang mereka, makin lama datangnya makin dekat, akhirnya penunggang kuda itu lewati mereka, hingga mereka tampak orang ada bungkus kepala dengan cita hijau, romannya gagah.

"Ini orang aneh kelakuannya,"

Kata Tiauw Tjong.

"kenapa dia balik pula?"

Memang, itulah ada penunggang kuda yang tadi papaki mereka. Peng Kie tidak menjawab, hanya ia bilang.

"Sebentar lagi, Hauw Kongtjoe, kau lari sendiri saja!"

Pemuda itu terperanjat.

"Apa? Kembali ada penyamun?"

Tanya dia.

"Kita jalan tak usah sampai lima lie, bakal terbit lelakon,"

Kata Peng Kie.

"Kita tak dapat mundur, dari itu, kita mesti menerjang dan lolos!"

Hatinya Tiauw Tjong, juga kacungnya, jadi tidak tetap.

Peng Kie sendiri tegang sendirinya.

Tapi masih mereka jalankan kuda mereka dengan pelahan.

Mereka Baru lewat kira-kira tiga lie, tiba-tiba terdengarlah mengaungnya anak panah, yang melayang di udara, kemudian menyusul itu, tiga penunggang kuda, yang melintang ditengah jalan.

Peng Kie maju didepan dua kawannya, ia rangkap kedua tangannya.

"Aku ada si orang she Yo dari Boe Hwee Piauw Kiok,"

Ia perkenalkan diri,"

Tetapi aku bukannya sedang antar piauw, kita sedang bikin perjalanan saja, itulah sebabnya kenapa aku tidak kirim karcis nama untuk mengunjungi tjiongwie.

Ini ada Hauw Siangkong, yang sedang pesiar, dia adalah satu anak sekolah.

Aku harap kebaikan tjiongwie supaja kami diberi jalan lewat."

Peng Kie berpengalaman, namanya cukup terkenal, tapi karena tangannya terluka, dan menyangka rombongan didepannya ada punya hubungan sama rombongannya si Tjoe beramai ia sengaja berlaku merendah.

Satu diantara tiga pemegat itu, yang tangannya tak bersenjata, tertawa sendirinya.

"Kami kekurangan uang, kami mau minta pinjam seratus tail,"

Kata dia. Dia omong dengan lidah Amoy, Hokkian. Peng Kie dan Tiauw Tjong saling mengawasi dengan melengak, tak mengerti mereka akan kata-katanya orang itu.

"Kami hendak pinjam uang seratus tail, kamu mengerti atau tidak?"

Tegaskan si penunggang kuda dengan ikat kepala hijau, yang tadi mundar-mandir dengan kudanya. Menampak orang ganas, Peng Kie jadi gusar.

"Sudah belasan tahun aku si orang she Yo berkelana, belum pernah aku menemui orangorang begini kurang ajar!"

Ia berseru.

"Tapi hari ini aku akan bikin kauorang lihat!"

Kata orang yang pertama buka suara, yang lantas turunkan gandewa dan peluruh dari bebokongnya, lalu dengan beruntun, ia lepaskan tiga biji pelurunya keudara, menjusul mana, ia memanah pula, terhadap tiga peluru yang pertama, hingga semuanya mengenai dengan jitu, hingga kesudahannya, enam peluru runtuh sendirinya.

Peng Kie melongo menyaksikan keliehayan orang itu, tapi djusteru itu, mendadakan ia rasakan sakit pada lengannya kiri, hingga goloknya terlepas dan jatuh tanpa ia merasa.

Nyata ia telah dipanah peluru dengan ia tidak diketahui!

Orang yang ketiga segera maju dengan djoan-pian ditangan, dengan "Kouw teng bek sie" , atau "Rotan tua melilit pohon", segera saja ia sambar pinggangnya piauwsoe dari Boe Hwee Piauw Kiok.

Peng Kie majukan kudanya, akan menyingkir dari serangan itu.

Penjerang itu menyabat ketanah, untuk sambar dan lilit goloknya si piauwsoe, untuk ia ambil, selagi berbuat demikian, sembari tertawa, ia majukan kudanya melewati Hauw Kong, terhadap siapa, ia membacok, maka sekejab saja, buntalan dibelakangnya kacung itu terputus dan jatuh.

Habis membacok, dia kasi kudanya kabur terus.

Sementara itu, si tukang panah larikan kudanya, akan susul dia punya kawan, ia berlaku begitu cepat hingga dia dapat tanggapi buntalan yang lagi jatuh hingga buntalan itu tak sampai jatuh ketanah, cuma untuk itu, ia perlu cenderungkan tubuhnya.

"Terima kasih!"

Kata ia sembari tertawa, sebab ia rasakan buntalan itu antap.

Orang yang ketiga menyusul pergi, maka dilain saat, ketiganya sudah menghilang.

Peng Kie jadi sangat lesu, ia sangat berduka, karena mendongkol pun sia-sia saja, tak sanggup ia berbuat suatu apa menghadapi tiga orang liehay itu.

Hauw Kong bingung tidak kepalang.

"Mana bisa kita pulang?"

Katanya.

"Uang itu semua ada didalam buntalan itu...."

"Mari kita jalan,"

Mengajak Peng Kie, yang tetap lesu.

"Masih untung yang jiwa kita tidak turut lenyap!"

Tiauw Tjong tunduk, ia ikuti piauwsoe itu.

Ia lihat, memang mereka tak berdaya.

Kira setengah jam mereka sudah berjalan, lantas mereka dengar tindakan kaki kuda dibelakang mereka, berketoprakan sangat berisik, hingga mereka menoleh, dan mereka jadi sangat kaget.

Mereka tampak, tiga penyamun tadi balik kembali, debu mengepul naik tinggi.

Peng Kie bergidik sendirinya.

Entah apa maunya mereka itu.

Tiga orang itu dapat menyandak dengan cepat, selagi tiga korban mereka mengawasi dengan bengong, ketiganya loncat turun dari kuda mereka, lalu menghadapi diaorang itu, mereka memberi hormat.

"Nyata kita ada orang-orang sendiri!"

Kata satu diantaranya.

"Maaf, maafkan kami. Kami tak kenali djiewie, kami telah berbuat keliru, harap djiewie tidak buat kecil hati."

Lantas seorang diantaranya sodorkan bungkusan yang dirampasnya pada Hauw Kong.

Ia menyerahkan dengan kedua tangannya.

Hauw Kong tidak berani lantas menyambuti, ia awasi dulu kongtjoenya.

Tanpa bersangsi, Hauw Kongtjoe manggut, atas mana, kacungnya sambuti bungkusan itu.

"Aku minta tanya she dan nama djiewie?"

Lalu menanya orang yang bersenjatakan djoanpian, rujung lemas.

Tiauw Tjong sebutkan nama mereka, mendengar mana, orang itu mengawasi dua kawannya, sebab heran mereka dengar, dua orang itu ada satu piauwsoe dan satu mahasiswa putera seorang berpangkat.

"Aku sendiri she Thio dan ini dua saudara ada persaudaraan Lauw,"

Kemudian ia perkenalkan diri.

"Hauw Kongtjoe, coba setelah bertemu, kau perlihatkan tek-pay, tak nanti jadi terjadi salah mengerti ini. Beruntung kami tak sampai melukai kamu."

Mendengar itu, Baru Tiauw Tjong mengerti khasiatnya tek-pay itu, karena mana, ia tertawa sendirinya. Ia tetap tidak bilang suatu apa.

"Tentunya djiewie hendak pergi ke gunung Lauw Ya San,"

Kata pula si orang she Thio itu.

"Mari kita berjalan ber-sama2. Dua saudara Lauw ini ada asal Hokkian, mereka tak bisa bicara dialek utara, tetapi mereka dapat mengerti omongan kita."

Dua saudara Lauw itu manggut, untuk benarkan si Thio. Tiauw Tjong dan Peng Kie percaya mereka ini ada penyamun-penyamun besar, tetap hati mereka tidak tenteram.

"Bersama saudara Yo ini, aku hendak pulang ke Hoolam, kami tak pergi ke Lauw Ya San,"

Akhirnya Hauw Kongtjoe bilang. Mendengar jawaban ini, nampaknya si Thio gusar.

"Lagi tiga hari adalah Pee-gwee Tjap-lak,"

Kata dia.

"Dari tempat ribuan lie kami sengadja datang ke Siamsay ini, maka kenapa kamu, yang sudah sampai, tidak mau naik gunung?"

Bingung juga Tiauw Tjong dan kawannya.

Mereka tak tahu, apa perlunya mesti panjat gunung Lauw Ya San.

Mereka tak ketahui juga, apa bakal dilakukan Pee-gwee Tjap-lak -tanggal enambelas bulan delapan itu.

Tapi mereka tak sudi akui bahwa mereka tak tahu itu semua.

"Di rumahku ada urusan sangat penting hingga aku mesti segera pulang,"

Tiauw Tjong kata pula.

"Dengan panjat gunung, tempomu cuma terganggu dua hari!"

Kata pula si Thio, romannya tetap gusar. Dengan melewati gunung, kamu tidakhendak hunjuk hormatmu, apa dan artinya sahabat-sahabat dari San Tjong?"

Kembali Hauw Kongtjoe bingung.

Apakah itu "San Tjong"?

Benda apakah itu?

Peng Kie berpengalaman, ia mengerti, tak dapat mereka tak pergi ke Lauw Ya San.

Laginya, ia insaf, bencana lebih besar bagaimana juga, mereka mesti berani hadapi, sebab itu nampaknya mesti dihadapi.

Disebelah itu, nampaknya orang tidak bermaksud buruk.

"Kita orang Baru saja bertemu, samwie ada begini baik hati, baiklah, bersama-sama Hauw Kongtjoe, aku nanti turut samwie,"

Akhirnya dia kata. Dengan segera si Thio perlihatkan roman girang, dia tertawa.

"Mestinya telah aku duga, tak mestinya djiewie tak hargai persaudaraan,"

Kata ia.

Sampai disitu, berenam mereka jalan sama-sama.

Selama itu, si Thio jadi seperti pemimpin.

Dimana mereka sampai cuma dengan gerak-gerakan tangan, dengan kata-kata yang Tiauw Tjong tak mengerti, mereka lewat tanpa rintangan, semua rumah penginapan, semua rumah makan, tak sudi terima pembayaran penginapan dan makanan, sebaliknya, pelayanan ada perlu dan manis sekali.

Selang dua hari, mereka ini sudah mendekati kaki gunung Lauw Ya San, gunung Gaok Tua.

Disitu mereka lantas lihat banyak orang lain, yang berlerot seperti tak putusnya, dandanan mereka berlain-lainan, potongan orangnya pun berbeda, ada yang gemuk, ada yang kurus, yang jangkung dan kate, hanya yang sama, mereka semua seperti mengerti ilmu silat.

Dan kebanyakan dari mereka itu kenal dengan si Thio dan dua saudara she Lauw itu, mereka saling tegur.

Peng Kie dan Tiauw Tjong bersikap tak hendak cari tahu rahasia orang, maka itu, selagi orang bicara, mereka sengaja berdiri jauh-jauh, tapi mereka bisa dengar pembicaraan mereka, yang berlidah Selatan dan utara, Timur dan Barat, tidak ketentuan.

Mereka pun tahu pasti, diaorang datang dari tempat yang jauh.

Buat apa mereka datang kemari?

Ini ada hal yang gelap untuk Tiauw Tjong berdua.

Malam itu, Tiauw Tjong berenam mondok disebuah penginapan dikaki gunung, untuk siap akan besok pagi-pagi mandjat gunung Lauw Ya San.

Benar sedangnya orang bersantap sore, mendadakan ada datang satu orang yang terus memberi kabar.

"Tjouw Siangkong sampai!"

Ata situ, delapan atau sembilan bagian orang segera berbangkit dan merubul keluar dari penginapan.

"Mari kita pun melihat,"

Mengajak Yo Peng Kie kepada Tiauw Tjong, ujung baju siapa ia tarik.

Tiauw Tjong menurut, keduanya turut keluar.

Diluar hotel, semua orang berdiri dengan rapi dan tenang, mereka seperti lagi menantikan orang, entah siapa.

Tidak terlalu lama, terdengarlah tindakan kaki kuda diarah barat gunung, maka semua mata ditujukan kesana.

Segera juga tertampak datangnya seorang anak muda umur dua-puluh tujuh atau delapan tahun, yang kudanya dikasi jalan pelahan-lahan, tapi setelah dia lihat banyak orang menyambut, dia larikan kudanya, untuk menghampirkan, setelah sampai, dia loncat turun cepat sekali.

Dari antara orang banyak segera maju seorang bertubuh besar, akan sambuti kudanya si anak muda, siapa sendirinya bertindak, akan manggut kepada semua penyambutnya.

Ketika ia tampak seorang dengan dandanan sebagai mahasiswa, ia memberi hormat.

"Siapa tuan ini?"

Tanya dia.

"Aku yang rendah she Hauw,"

Sahut Tiauw Tjong.

"Bolehkah aku mengetahui she dan nama besar dari tuan?"

"Aku ada Tjouw Tiong Sioe,"

Jawab si anak muda, dengan lakunya hormat. Tiauw Tjong memberi hormat sambil memuji. Tiong Sioe bersenyum, terus ia bertindak kedalam rumah penginapan. Peng Kie tarik sahabatnya kepinggiran.

"Nampaknya mahasiswa she Tjouw ini ada berpengaruh,"

Berbisik dia.

"Pergi kau bicara dengannya, supaja dia ijinkan kita lanjuti perjalanan kita. Sama-sama orang sekolahan, tentu leluasa untuk kamu berbicara...."

Tiauw Tjong anggap pikiran sahabat ini benar, ia lantas bertindak kedalam, ke pintu kamar sianak muda, yang sudah lantas masuk kedalam sebuah kamar, Ia sengaja batuk-batuk, sesudah mana, ia mengetok dengan pelahan.

Ia pun dengar suaranya orang membaca buku didalam kamar, yang segera berhenti setelah ia mengetok beberapa kali, segera disusul sama terbukanya daun pintu.

"Didalam rumah penginapan ada sepi, saudara Hauw datang untuk bicara, inilah bagus!"

Kata si orang she Tjouw, yang sambut tetamunya. Tiauw Tjong masuk, segera ia tampak se

Jilid buku diatas meja dimana ada tulisan, rupanya ada rencana kerajaan.

Kuatir orang curiga, Tiauw Tjong tidak mengawasi lama2, terus saja ia duduk.

Mulai bicara, Tjouw Tiong Sioe tanya asal-usul orang, atas mana Tiauw Tjong tidak umpatkan dirinya.

"Oh!...."

Tiong Sioe keluarkan seruan tertahan, apabila ia ketahui, tetamunya ada puteranya Houw-pou Siang-sie Hauw Soen.

"Ayahmu itu ada satu menteri yang putihbersih, kami semua ada hargai dia."

"Tak berani aku terima pujian ini,"

Tiauw Tjong merendahkan diri.

Kemudian ia ceritakan bagaimana, sedang pesiar, ia bertemu sama oppas dan serdadu-serdadu yang jahat, bagaimana Peng Kie tolongi dia, sampai ia ketemui orang-orang yang berikan mereka tekpay.

Ia tidak tuturkan bahwa itu malam mereka pergoki banyak emas-perak dan kepala orang dalam peti kayu.

Tjouw Tiong Sioe tertawa.

"Inilah djodoh yang kita bertemu disini,"

Kata dia.

"Besok saudara boleh ikut aku naik kegunung, untuk belajar kenal dengan banyak orang gagah, pasti kau akan bergembira. Asal saudara tidak uwarkan pengalamanmu disini, aku tanggung kau tidak bakal hadapi ancaman malapetaka."

Lega juga hatinya Tiauw Tjong mendengar kata-kata itu, karena itu, ia suka pasang omong, terutama mengenai ilmu sastera, tetapi justeru karena ini, ia dapat kenyataan, orang she Touw itu tidak terlalu terpelajar, sebaliknya dilain pihak, Tjouw Siangkong ini kagumi dia.

Pasang omong sampai jam dua, Baru Tiauw Tjong kembali kekamarnya dimana Peng Kie sibuk menanti-nanti dia, piauwsoe ini sampai jalan mundar-mandir saja, dia lega hatinya melihat si anak muda berwajah terang.

(Bersambung bab ke 2)Besoknya ada Ting Tjioe, harian tanggal lima-belas bulan delapan yang indah, Tiauw Tjong bertiga turut Tjouw Tiong Sioe panjat gunung Lauw Ya San.

Mereka berangkat pagi-pagi, diwaktu tengah hari, sampailah mereka ditengah gunung dimana sudah menantikan belasan orang dengan barang hidangan, untuk semua orang berhenti sebentar, akan bersantap dan minum, untuk sekalian beristirahat, kemudian Baru mereka mendekati terlebih jauh.

Adalah sejak ini, seterusnya, saban-saban ada orangorang yang menjaga, yang menanya dan memeriksai sesuatu pengunjung.

Ketika gilirannya Tiauw Tjong bertiga dimintai keterangan, Tiong Sioe cuma manggut pada si petugas, lantas mereka dikasi lewat tanpa pertanyaan apa jua.

"Sungguh berbahaya!"

Kata si kongtjoe dalam hatinya.

Ia makin insaf pengaruhnya orang she Tjouw ini.

Ia girang semalam ia telah pasang omong dengan orang ini yang berpengaruh.

Ia hanya belum tahu, apa akan terjadi terlebih jauh.

Diwaktu magrib sampailah semua orang diatas gunung dimana ada beberapa ratus orang yang berbaris rapih, untuk menyambut, mereka itu jangkung dan kate, kurus dan gemuk, tidak rata, semua beroman keren.

Satu diantaranya, rupanya yang jadi kepala, maju untuk sambut Tiong Sioe,sesudah mana, sambil bergandengan tangan, mereka sama-sama masuk kedalam sebuah rumah yang besar.

Diatas gunung itu ada terdapat beberapa puluh rumah, yang letaknya berpencaran, yang paling besar adalah rumah tadi, yang mirip dengan sebuah kuil.

Tidak ada panggung atau pagar-pagar seperti benteng, hingga keadaan itu tak mirip-miripnya dengan sarang berandal.

Peng Kie tidak sangka bahwa rumah-rumah itu ada demikian sederhana.

Ini ada pengalaman Baru bagi ia, yang sudah belasan tahun berkelana.

Ia pun tidak mengerti mengenai wajahnya semua orang itu, yang datang dari pelbagai penjuru.

Mereka ada sahabat kekal satu dengan lain, pertemuan mestinya menggirangkan mereka, tapi buktinya, orang rata-rata ada berduka dan tak puas.....

Tiauw Tjong bertiga diantar kesebuah kamar kecil, untuk mereka sendiri, sebentar kemudian, ada orang mengantari barang hidangan, ialah nasi serta empat macam sayur dan dua-puluh lebih bahpauw.

"Entah apa yang mereka bakal bicarakan...."

Begitu Tiauw Tjong dan Peng Kie saling tanya malam itu.

Mereka tidak tahu juga, mereka itu bakal lakukan apa.

Besoknya ada Peegwee Tjaplak -tanggal enam-belas bulan delapan, Tiauw Tjong dan Peng Kie bangun pagi-pagi, setelah bersihkan diri dan sarapan, mereka keluar akan jalanjalan ditepi gunung.

Ini kali mereka lihat juga orang-orang dengan kepala atau muka bercacat, kurang tangan atau kaki, suatu tanda dari medan pertempuran.

Mereka tidak ingin terbitkan gara-gara, maka lekas-lekas mereka kembali kekamar mereka, terus mereka tak keluar lagi.

Siang itu, sampai sore, barang makanan tetap sama seperti paginya, sayur melulu, hingga Peng Kie mendumel dalam hatinya .

"Celaka, orang desak aku dengan ini macam hidangan yang tawar melulu!...."

Mendekati malam, seorang datang kekamarnya Tiauw Tjong.

"Tjouw Siangkong undang kamu ke pendopo untuk saksikan upacara,"

Kata dia, yang menyampaikan undangan. Tiauw Tjong dan Peng Kie, yang sudah dandan, lantas ikut keluar. Hauw Kong hendak turut majikannya, tapi si pengundang tolak dia.

"Saudara cilik, kau tidur saja siang-siang,"

Katanya. Tiauw Tjong lewati beberapa rumah batu, Baru mereka sampai di kuil, yang pakai nama Tiong Liat Soe, tulisannya bagus dan keren.

"Entah kuil siapa ini,"

Pikir Tiauw Tjong, menduga-duga.

Bersama Tiong Sioe ia ikut masuk terus kedalam.

Di serambi, dikiri dan kanan, ada banyak para-para senjata dengan pelbagai macam senjatanya, delapan-belas rupa, yang semua terawat baik, bersinar bergemirlapan.

Di pendopo sudah berkerumun banyak sekali orang, barangkali dua atau tiga-ribu, yang memenuhi ruangan yang luas.

Tiauw Tjong dan kawannya heran kenapa digunung itu bisa berkumpul demikian banyak orang.

Di tengah ruangan, Tiauw Tjong lihat satu patung yang beroman sebagai satu panglima perang, kopiahnya kopiah perang emas, jubahnya jubah perang berlapis baja, tangan kirinya mencekal pedang kebesaran, Siang-hong Poo-kiam, dan tangan kanannya memegang leng-kie, bendera titah.

Patung itu punyakan muka yang kecil dan bersih tapi keren romannya, kumis-jenggotnya tiga aliran,matanya memandang kedepan, sinarnya rada guram, seperti orang berduka.

Dikedua sampingnya ada masing-masing sebaris sin-wie.

Karena ia berdiri jauh, Tiauw Tjong tidak dapat baca tulisan namanya patung itu.

Diempat penjuru ruangan dikibarkan banyak bendera, disitu pun kedapatan banyak kopiah perang, pelbagai alat senjata dan pakaian kuda, dan benderanya beraneka-warna, ada yang bertuliskan huruf-huruf.

Disini pun semua roman ada berduka, hingga Hauw Kongtjoe jadi sangat bingung.

Akhir-akhirnya, berbangkitlah satu orang jangkung-kurus, yang duduk disamping patung, ia sulut lilin, ia pasang hio, lalu ia serukan .

"Mulai sembahyang!"

Semua orang berlutut serentak, maka Tiauw Tjong dan Peng Kie pun turut tekuk lutut.

Tjouw Tiong Sioe maju kemuka, untuk angkat tjee-boen, untuk dibacakan.

Peng Kie tidak mengerti bunjinya tjee-boen itu, tidak demikian dengan Tiauw Tjong, yang heran dan kaget, hingga ia keluarkan keringat dingin.

Disitu pemerintah Boan dicaci habis, dan kaisar Tjong Tjeng pun tidak dikasi hati, kaisar ini dkatakan tolol dan tak dapat membedakan kansin dari tiongsin, antara dorna dan menteri setia, merusak Negara, melulu menjadi orang berdosa antara cucu-cucunya Oey Tee.

Lebih jauh, Beng Thay-houw sendiri turut dicela sebab sudah membunuh Tjie Tat, Na Giok dan Lauw Kie, menteri2 berjasa.

Yan Ong pun dimaki sebagai penyiksa rakyat dan Hie Tjong sebagai pekakas orang kebiri, karena banyak menteri besar sebagai Him Teng Pek kena dihukum mati.

Tjong Tjeng dikatakan sewenang-wenang, sudah celakai "jendral"

Mereka, jendral (Goanswee) yang gagah dan berjasa besar.

Sampai disitu mengertilah Tiauw Tjong, patung itu ada patung sang jendral, ialah Tok-boe Wan Tjong Hoan dari Liauwtong yang sudah berjasa berulang-ulang melabrak angkatan perang Boan, membinasakan Tjeng Thay-tjouw Nuerhacha, hingga bangsa Boan sangat takut terhadapnya.

Setelah mendengar tjee-boen itu, Tiauw Tjong awasi patung, lalu ia merasakan melihat patung itu bagaikan hidup bersemangat.

Akhirnya tjee-boen, yang membuat Tiauw Tjong kembali kaget, adalah sumpah para hadirin untuk membasmi musuh Boan, guna melenyapkan penasaran jendral mereka supaja rohnya si jendral puas ditanah baka.

"Hormatilah Goanswee kita serta panglima yang turut dia berkorban!"

Tjouw Tiong Sioe akhirkan pembacaannya.

Semua orang lantas menjura, atas mana satu bocah yang berpakaian berkabung, yang telah maju kedepan, akan balas hormatnya orang banyak itu.

Melihat itu anak kecil, buat kesekian kalinya, Tiauw Tjong dan Peng Kie kaget, hatinya berdebaran.

Mereka kenali, bocah itu adalah si kacung yang berani lawan harimau, yang dipanggil Sin Tjie!

Habis pemberian hormat, semua orang berbangkit, muka mereka berlinangkan air mata.

"Saudara Hauw,"

Kata Tiong Sioe kemudian pada Tiauw Tjong.

"saudara terpelajar tinggi, bagaimana saudara lihat tjee-boen ini? Kalau ada yang tidak sempurna, tolong kau ubah!"

"Aku tak berani, saudara Tjouw,"

Jawab Hauw Kongtjoe. Tapi Tiong Sioe titahkan orang sediakan perabot tulis.

"Aku ajak saudara mendaki gunung ini justeru untuk mohon kau menulis suatu apa untuk tambah kegemilangan dari Wan Tay-goanswee!"

Ketua ini.

Tiauw Tjong jadi serba salah.

Ia ketahui baik penasarannya Wan Tjong Hoan, yang terbinasa sebagai korban dari tipu-muslihat merenggangkan dan mengadu-domba dari kaisar Boan, tapi karena goanswee itu dihukum mati kaisar, apabila dia dikatakan penasaran, itu berarti mencela kaisar, hukuman untuk ini perbuatan adalah leher kutung!

Tapi Tiong Sioe telah memohon, bagaimana itu dapat ditolak?

Dasar ia pintar, ia cuma berpikir sebentar, lantas ia angkat pit dan menulis.

"Naga kuning belum sempat dihajar, Boe Bok sudah mengandung penasaran. Kerajaan Han sedang menantikan kebangunan, Atau bintangnya Tjoe-kat telah guram padam. Bagaimana menyedihkan!"

Dengan "Naga Kuning" , (Oey Liong) diartikan bangsa Tartar (Liauw), sedang Boe Bok ada gelaran suci untuk Gak Hoei, dan dengan Tjoe-kat dimaksud Tjoe-kat Liang.

Setjara begini, Tiauw Tjong bisa egos diri umpama tjee-boen itu terjatuh kedalam tangan kaisar.

Tjong Sioe senang sekali dengan tulisan itu, yang huruf-hurufnya bagus, sedang dengan begitu, Wan Tjong Hoan dibandingkan dengan Gak Hoei dan Tjoe-kat Liang.

Ia lantas bacakan itu dan terangkan artinya pada semua hadirin, hingga mereka pun puas, semua menghaturkan terima kasih pada mahasiswa ini.

Dengan begitu, Tiauw Tjong dan Peng Kie tidak lagi dipandang sebagai orang luar.

"Surat dan pujian saudara ini sempurna sekali,"

Kata Tiong Sioe kemudian.

"Aku nanti perintah untuk ukir ini diatas batu disamping kuil ini."

Tiauw Tjong menjura, untuk merendahkan diri.

Habis itu, semua orang duduk kembali, lalu seorang berdiri, untuk membacakan laporan, maka Tiauw Tjong jadi ketahui, kebanyakan hadirin ada bekas sebawahan Wan Tjong Hoan, setelah terbinasanya Goanswee ini, mereka bubar-mencar tapi gunung Lauw Ya San dijadikan tempat berkumpul, untuk hormati kepala perang itu.

Hal yang belum jelas bagi Hauw Kongtjoe adalah maksud terlebih dalam dari ini macam pertempuran, rupa-rupanya mereka masih kandung maksud apa-apa.

Setelah laporan itu, pembaca acara memanggil .

"Hoe Tjongpeng Tjoe Kok An dari Keetin!"

Satu orang lantas berbangkit, tetapi melihat orang itu, Tiauw Tjong dan Peng Kie terkejut. Orang itu ada si petani she Tjoe, yang ajak ia masuk kedalam rumah gubuknya, ke gua rahasia di dalam gunung.

"Kiranya dia ada satu panglima ternama yang menentang bangsa Liauw,"

Pikir piauwsoe itu.

"Masih berharga bagiku yang aku kalah ditangannya...."

Tjoe Kok An berdiri buat terus berkata .

"Ilmu silat pemimpin muda kita selama satu tahun ini telah peroleh kemajuan pesat dan surat pun ia mengenal tambah banyak. Ilmu silatku, ilmu silatnya saudara-saudara Nie dan Lo, semua telah diwariskan kepadanya, maka itu sekarang aku hendak minta saudara-saudara pujikan lain guru untuk didik ia terlebih jauh."

"Bagus!"

Jawab Tjouw Tiong Sioe.

"Tentang itu, sebentar kita damaikan pula. Bagaimana urusan menyingkirkan orang jahat?"

Si Nie, si pembunuh harimau, berbangkit, menggantikan si Tjoe, yang telah berduduk pula. Kata ia .

"Si pengkhianat she Oen telah dibinasakan Lo Tjham-tjiang di propinsi Tjiatkang dalam bulan yang lalu, dan pengkhianat Doe akulah yang bunuh pada sepuluh hari yang lalu ketika aku susul dia di Tiang-an. Kepala mereka berdua ada disini."

Habis berkata, si Nie jumput satu kantong yang diletaki dilantai, ia buka itu, untuk keluarkan dua kepala orang.

"Bagus, bagus!"

Banyak orang berseru, kemudian pun terdengar cacian dan kutukan terhadap dua pengkhianat itu.

Tiong Sioe sambuti dua kepala orang itu, untuk diletaki diatas meja sembahyang, setelah mana, ia berlutut menjalankan kehormatan.

Tiauw Tjong kenali dua kepala itu, ialah yang Peng Kie pergoki didalam peti kayu.

Baru sekarang ia mengerti, itulah dua musuhnya Wan Tok-boe.

Setelah itu beberapa orang lain, dengan bergiliran, keluarkan masing-masing satu kepala orang, yang juga diletaki diatas meja sembahyang, hingga disitu semua ada belasan kepala tanpa tubuh.

Sesuatu dari orang-orang itu berikan laporannya seperti si Nie, dari situ jadi dapat diketahui, salah satu kepala adalah kepalanya satu giesoe yang Tiauw Tjong dengar dari ayahnya dulu pernah dakwa Wan Tjong Hoan, yang dituduh bersekongkol hendak menjual Negara, pantas sekarang dia dibinasakan.

"Sekarang tinggallah satu musuh besar kita terhadap siapa kita belum mencari balas!"

Kata Tiong Sioe setelah pelbagai laporan itu.

"Raja Tartar dan kaisar Tjong Tjeng masih bercokol atas tahtanya! Bagaimana kita mesti menuntut balas? Coba saudara-saudara utarakan pikiranmu masing-masing."

Seorang kate berbangkit.

"Tjouw Siangkong!"

Berkata ia dengan suaranya yang nyaring luar biasa, hingga Tiauw Tjong dan Peng Kie jadi heran, sebab itulah suara tak dinyana dari soerang kate sebagai dia.

"Tio Tjongpeng hendak bicara apa?"

Tanya Tiong Sioe.

"Silakan!"

"Menurut aku,"

Berkata si kate itu. Tapi dia belum sempat meneruskannya ketika dari luar muncul satu orang, sikapnya ter-gesa2, terus saja ia kata .

"Tjiangkoen Lie Tjoe Seng ada kirim utusan!...."

Mendengar ini, banyak orang perdengarkan suara tak nyata.

"Tio tjongpeng, mari kita sambut dulu utusannya Lie Tjiangkoen,"

Tiong Sioe mengajak.

"Baik,"

Jawab tjhamtjiang itu, malah dialah yang mendahului bertindak keluar.

Sekalian hadirin berbangkit, untuk pergi keluar.

Pintu besar sudah lantas dipentang, dua orang, dengan obor-obor besar ditangan, berdiri dikiri dan kanan, kemudian tertampak tiga orang bertindak masuk.

Selama ia berada di Siamsay, Peng Kie telah dengar nama besar dari Lie Tjoe Seng yang berani bunuh pembesar negeri dan berontak, maka sekarang ia ingin ketahui utusannya pemberontakan itu.

Dari tiga orang itu, yang jalan terdepan, ada seorang umur empat-puluh lebih, romannya bengis, tetapi dandanannya seperti rakyat jelata saja, sebab rambutnya kusut, kakinya bersepatu rumput saja, tanpa kaos, dan bajunya, yang kapas hitamnya molos keluar, tangan bajunya sudah pada pecah.

Itulah roman umum dari petani di Siamsay.

Dari dua yang lain, yang satu berumur tiga-puluh lebih, kulitnya putih, romannya cakap, tak miripnya dia dengan petani, dan kawannya, yang berusia dua-puluh lebih, bertubuh besar-kekar, kulit mukanya rada hitam, tapi dia mirip dengan petani.' Sampai di thia, orang yang pertama masih mengucap apa-apa, dimuka meja, ia berhenti untuk berdiri diam.

Adalah si muka putih, yang menggendol buntalan dibelakangnya, keluarkan lilin dan hio, untuk disulut dan dipasang, sesudah mana, bertiga mereka menjalankan kehormatan sambil berlutut dan manggut-manggut, atas mana si bocah pengangon kerbau turut tekuk kaki, untuk membalas hormat itu.

Setelah upacara ini, si rambut kusut kata dengan nyaring .

"Tjiangkoen kami Lie Tjoe Seng ketahui halnya Wan Taytjiangkoen telah labrak bangsa Tartar di Liauwtong, dia telah membuat jasa besar, tjiangkoen kami sangat kagum, maka sayang kemudian Wan tjiangkoen telah dihukum mati oleh raja, hingga rakyat menjadi gusar dan berontak karenanya. Kami, untuk dapat makan, sudah rampas rangsum Negara, kami bunuh pembesar negeri, untuk ini, kami mohon perlindungan roh suci Wan Tjiangkoen. Mari kita menerjang ke Pakkhia, buat bekuk raja dan menteri-menteri dorna, untuk bunuh mereka satu demi satu, supaja dengan demikian, bisa kita balas sakit hati Taygoanswee serta semua rakyat!"

Semua hadirin ketarik mengetahui Lie Tjoe Seng hargai jendral besar mereka (taygoanswee).

Mereka pun dapat kenyataan, walaupun suaranya kaku, utusan ini bicara dengan sungguh-sungguh.

Tiong Sioe menjura, untuk beri hormat pada utusan itu.

"Terima kasih, terima kasih,"

Kata ia, yang terus tanya she dan nama si utusan.

"Aku ada Lauw It Houw,"

Jawab si utusan.

"Lie Tjiangkoen ketahui saudara-saudara hendak rayakan peringatannya Wan Taygoanswee, ia telah utus kami datang kemari."

Kembali Tiong Sioe menghaturkan terima kasih, kemudian ia perkenalkan dirinya.

"Saudara jadinya ada saudara muda dari tjiangkoen Tjouw Tay Sioe,"

Kata si utusan.

"Kami ketahui nama besar dari Tjouw Tjiangkoen, kami semua kagumi dia...."

Selagi Tiong Sioe hendak pasang omong sama tetamunya ini, yang bermuka hitam si tetamu, kawannya yang telah awasi para hadirin, mendadakan berlompat kepintu besar dimuka mana segera ia berhenti, berdiri dengan membalik tubuh.

Semua orang heran, semua awasi tetamu ini.

Dengan tiba-tiba utusannya Lie Tjoe Seng itu tunjuk dua orang usia pertengahan diantara para hadirin, terus ia tanya.

"Kamu adalah orang-orang sebawahan Tjo Thaykam, apa kamu hendak perbuat disini?"

Kata-kata ini membuat kaget semua orang.

Kaisar Tjong Tjeng sudah binasakan Goei Tiong Hian dan keluarga Keh dan singkirkan kambratnya mereka ini, tetapi ia tetap curigai semua menteri besar, ia terus pakai orangorang kebiri sebagai orang-orang kepercayaannya, maka juga, ia andalkan Thaykam Tjo Hoa Soen siapa telah pimpin semua pahlawan rahasia dari kaisar, tugasnya melulu untuk selidiki berbagai menteri.

Inilah sebabnya kenapa semua hadirin heran.

Dua orang yang dituding itu, yang satu berumur kira-kira empat-puluh tahun, mukanya berewokan kuning, dan yang kedua, rupanya putih tak berkumis, tubuhnya kate-dampak.

Si kate-dampak ini terkejut tapi segera ia tenang pula.

"Kau maksudkan aku?"

Tanya dia sembari tertawa.

"Ah, jangan main-main...."

"Hm, main-main?"

Sahut si muka hitam.

"Aku tahu bagaimana kau kasak-kusuk di rumah penginapan, lalu kamu menyelusup masuk ke San-tjong ini. Tentu, kemudian kamu akan beri laporan kepada Tjo Thaykam, hingga akhirnya, balatentara akan dikirim untuk menyerbu kesini. Itulah buahnya kasak-kusuk kamu itu!"

Mendengar itu, si berewokan kuning hunus goloknya, dia hendak segera menyerang tapi si muka putih cegah dia. Si muka putih ini bersikap tenang.

"Lie Tjoe Seng hendak bereskan sahabat-sahabat dari San-tjong, siapa pun ketahui ini!"

Kata dia.

"kau berniat merenggangkan kami, itulah tak mungkin terjadi!"

Suara ini halus tetapi tajam, itulah terang suaranya seorang kebiri, tetapi walaupun demikian, suara ini memberi pengaruh, hingga banyak hadirin mengawasi si penuduh itu.

Lauw It Houw dandan sebagai petani, akan tetapi dia adalah seorang peperangan ulung, dia cerdik, dia lantas bisa lihat orang curigai pihaknya.

"Kau siapa, tuan? Adakah sahabat dari San-tjong?"

Ia tanya dengan tenang. Ditanya demikian, orang muka putih itu tergugu, dia berdiam. Tiong Sioe lantas mendekati, untuk tanya.

"Sahabat, adakah kau bekas sebawahan dari Wan Taygoanswee? Kenapa mataku yang lamur tak kenali kau? Kau sebenarnya ada sebawahan dari tjongpeng mana, dari kota mana?"

Si muka putih lihat tak dapat berpura-pura pilon lebih lama, ia lirik kawannya, ia kedipi mata, lantas ia loncat kepintu.

Perbuatannya ini segera disusul sahabatnya itu, malah dia ini segera membacok pada si muka hitam, penuduhnya.

Si muka putih mirip orang banci tetapi gerakannya pesat sekali, dengan cepat telah keluarkan senjatanya, sepasang poan-koanp-pit, yang mirip alat tulis, dengan itu, iapun serang si muka hitam, yang ia arah dadanya.

Senjata ini pun bisa dipakai menotok jalan darah.

Utusannya Lie Tjoe Seng datang untuk hunjuk hormat, ia tidak siapkan senjata, menampak dia diserang, semua hadirin kaget dan berkuatir.

Dua rupa senjata serang ia dengan berbareng.

Maka itu, beberapa orang lantas bersiap, untuk bantu padanya.

Akan tetapi segera ternyata, dia liehay.

Dengan kesebatan luar biasa, dengan tangan kirinya, utusan Lie Tjoe Seng ini mendahului sambar lengannya si berewokan kuning, tubuhnya cuma mendak sedikit, berbareng dengan itu, tangan kanannya, dengan dua jari, menyambar kearah sepasang matanya si penyerang dengan poan-koan-pit.

Karena ia telah mendak sambil mengegos sedikit, ia tidak kuatir senjata musuh mengenai sasarannya.

Utusan ini diserang terlebih dahulu, akan tetapi karena kegesitannya, kedua tangannya dapat melayani kedua musuh.

Dua-dua musuh lantas mundur sambil tarik pulang tangan mereka, si berewokan sambil lebih dahulu loloskan tangannya dari cekalan.

Semua hadirin berubah menjadi girang melihat utusan itu demikian liehay, mereka yang hendak membantu pun urungkan niatnya masing-masing.

Semua lantas menonton saja.

Selagi pertempuran berjalan, dua mata-matanya Tjo Thaykam sibuk sendirinya.

Mereka insyaf, walaupun mereka mengepung berdua, sebenarnya mereka sendiri berada didalam sarang harimau, mereka dengan sendirinya terancam bahaya.

Karena ini, mereka main mundur dengan pelahan-lahan, akan kemudian mendadakan merangsak, untuk mendesak.

Utusannya Lie Tjoe Seng berkelahi dengan hati-hati, tapi daripada membela diri, ia lebih banyak menyerang, tidak peduli ia bertangan kosong.

Dengan begini, ia pun bisa merintangi kedua musuh, yang berniat menghampirkan pintu, untuk loncat keluar, untuk lari.....

Dalam sibuknya, si muka putih mainkan poan-koan pit secara hebat, ia ingin bisa totok jalan darah lawan, untuk dibikin rubuh, sedang si berewokan kuning mendesak dengan ilmu goloknya Boe-Seng-Boen asal Shoasay, satu kali ia mendak dengan tiba-tiba tetapi goloknya membacok kebawah.

Ini kalipun desakan ada sangat berbahaya.

Akan tetapi, orang semua lihat, utusan itu tetap tenang saja, benar ia mundur tapi dengan teratur.

Pertempuran berlanjut.

Sebab pihak Tjo Thaykam ingin bisa angkat kaki, mereka coba merangsak terus.

Tapi mendadakan, si berewokan kuning terdengar menjerit, menjerit kesakitan, goloknya terpental diantara hadirin.

Melihat demikian, Tjoe An Kok maju, akan tanggapi gegaman itu.

Berbareng sama terlemparnya golok, utusan Lie Tjoe Seng kirim tendangan terhadap lawannya yang berewokan kuning itu, tidak ampun lagi, lawan itu terjungkal rubuh.

Tapi utusan itu tidak berhenti sampai disitu, Baru kaki kiri turun atau kaki kanannya menggantikan melayang akan tendang juga lawannya yang kedua, si muka putih.

Lawan yang kedua ini liehay, ia bisa loloskan diri dari ancaman kaki itu, dilain pihak, ia terus maju, akan balas menyerang.

Lagi-lagi ia menotok kedada musuh, sepasang poankoan-pit sengaja dimajukan silih-ganti.

Utusannya Lie Tjoe Seng berlaku gesit, ketika poan-koan-pit yang pertama, tangan kiri, hampir mengenai dadanya, dengan tiba-tiba ia miringkan tubuh dan tangannya dipakai menyambar ujung senjata musuh itu, begitu ia dapat mencekal, begitu ia membetot dengan dikageti, hingga dalam sekejab saja, ia telah rampas senjata itu.

Poan-koan-pit tangan kanan, yang dipakai menyusul, telah menyusul dengan tak dapat dibatalkan lagi, segera senjata ini diketok lawannya, yang gunakan poan-koan-pit kirinya itu, maka kedua senjata beradu keras, nyaring suaranya, muncrat lelatu apinya.

Celaka untuk si muka putih, selagi tangannya sesemutan dan sakit karena bentrokan yang hebat itu, ia juga tak dapat cekal lebih jauh sisa senjatanya itu, yang terlepas dan terpental!

Si muka hitam lantas saja tertawa pandang, sembari tertawa, tangan kanannya menyambar dada musuh, untuk segera diangkat, lalu menyusul tangan kirinya, menyambar celana musuh itu, sesudah mana, kedua tangannya, yang masing-masing masih mencekal, dipentang dengan keras, hingga belum orang tahu apa-apa, terdengarlah suara memberebet yang nyaring.

Ternyata celana si muka putih kena terbeset pecah dan tertarik hingga copot, hingga orangnya Tjo Thaykam itu menjadi telanjang sebatas pinggang kebawah, hingga dilain pihak, semua hadirin mengawasi dengan melongo.

Si muka hitam bicara.

"Kau ada orang kebiri atau bukan, biarlah orang banyak persaksikan!"

Berkata dia.

Baru sekarang semua orang seperti tersadar.

Memang benar, si muka putih adalah seorang kebiri, hingga -saking lucu -semua orang tertawa lebar, semua bertindak mendekati, mengurung thaykam itu, muka siapa pucat, bahna jengah.

Dilain pihak lagi, semua orang kagumi utusannya Lie Tjoe Seng itu untuk kegagahannya.

Sementara itu, dua-dua mata-matanya Tjo Thaykam telah ditelikung.

"Untuk apa Tjo Thaykam kirim kamu kemari?"

Tiong Sioe segera memeriksa.

"Kamu ada punya berapa kawan? Tjara bagaimana kamu bisa nyelundup masuk kesini?"

Dua orang itu bungkam.

Melihat orang membandel, Tiong Sioe kedipi Lo Tjhamtjiang, siapa sudah lantas datang mendekati, dengan goloknya, ia bacok bergantian dua mata-mata itu, hingga kepala mereka kutung, sesudah mana, kedua kepala diletaki diatas meja sembahyang.

"Jikalau tidak ada sam-wie, tentu sekali kami bakal alami bencana,"

Kata Tiong Sioe kemudian kepada utusannya Lie Tjoe Seng bertiga. Ia memberi hormat seraya terus mengucap terima kasih.

"Tapi ini pun terjadi karena kebetulan saja,"

Berkata Lauw It Houw.

"Selama ditengah jalan, kami lihat dua orang ini, yang sikapnya mencurigai, yang gerak-gerakannya gesit, karena itu, selagi mondok, kami intai mereka, kesudahannya kami ketahui siapa adanya mereka. Mereka rupanya tak sangka ada orang yang intai mereka, hingga mereka kasak-kusuk dengan leluasa."

Sampai disitu, Tiong Sioe tanya dua kawannya orang she Lauw ini.

Orang yang beroman cakap itu mengaku she Thian, dan kawannya yang mukanya hitam, she Tjoei.

Tjoe An Kok kagumi utusan yang gagah itu, sampai ia jabat orang punya tangan dan puji padanya.

Kemudian Lauw It Houw bersama-sama Tjouw Tiong Sioe dan beberapa orang lagi, pergi kebelakang, kekamar rahasia, untuk bicara.

Utusan ini sampaikan amanatnya Lie Tjoe Seng, yang suka bekerja sama-sama untuk gulingkan pemerintah.

Atas usul perserikatan itu, pihak Tjouw Tiong Sioe ragu-ragu, maka kemudian, Tiong Sioe bilang .

"Menurut aku, baiklah kitaorang bekerja sama-sama. Tjo Thaykam sudah ketahui gerakan kita, kita harus perbesar djumlah kita. Dimana tujuannya Lie Tjiang-koen ada sama dengan cita-cita kami, kita bisa bekerja sama-sama untuk lawan pemerintah dengan berbareng kita sendiri bisa balaskan sakit hatinya Wan Thaygoanswee. Apa yang aku buat kuatir adalah Tjo Thaykam nanti mendahului menyerang kita."

Pikiran ini dapat kesetujuan, maka putusan segera diambil.

Selagi didalam orang rundingkan cara-cara untuk bekerja sama-sama, diluar, Tjoe An Kok, bersama si Nie, yang bernama Hoo, tarik tangannya si anak muda muka hitam she Tjoei, yang bernama Tjioe San, untuk diajak ke tempat yang sepi.

"Tjoei Toako", kata An Kok.

"Walaupun kita Baru pernah bertemu hari ini, hari pertama, aku percaya kita sudah seperti sahabat kekal, maka itu harap kau tidak pandang kita sebagai orang luar."

"Djiewie toako, dulu kamu telah hajar bangsa Tartar, kamu telah lindungi rakyat negeri"

Berkata Tjioe San.

"perbuatan itu ada perbuatan yang membikin aku kagum, sekarang aku bisa bertemu sama sahabat-sahabat dari San-tjong, aku girang bukan main!"

"Aku ingin berlaku lancang aku ingin ketahui, guru toako itu siapa adanya?"

Tanya Nie Hoo. Ditanya tentang gurunya, matanya Tjioe San mendadakan menjadi merah.

"Guruku itu ada It-seng-loei Thio Pek Ya, sudah banyak tahun ia menutup mata,"

Ia jawab. Tjoe An Kok dan Nie Hoo saling mengawasi, terang mereka heran. Nie Hoo ada polos, ia segera berkata pula.

"Aku tahu It-seng-loei Thio Tjianpwee, namanya yang besar kita kagumi, akan tetapi, Tjoei Toako, harap kau tidak gusar, sekalipun Thio Tjianpwee berkepandaian tinggi, ia nampaknya masih beda jauh dengan kau."

Tjoei Tjioe San berdiam, ia tidak menyahuti.

"Memang benar, hijau asalnya dari biru,"

An Kok turut bicara.

"memang sering terjadi, murid suka melebihkan gurunya, akan tetapi barusan, melihat caranya toako kalahkan kedua mata-matanya Tjo Thaykam, pasti toako ada punya kepandaian lain...."

Tjioe San bersangsi, tapi kemudian ia menyahuti juga.

"Djiewie ada kedua sahabat baik, tidak selayaknya aku sembunyikan apa-apa terhadapmu,"

Demikian katanya.

"Memang, setelah soehoe menutup mata, aku telah ketemu jodoh lain, seorang aneh. Dia ini merasa kasihan melihat aku, dia ajarkan aku beberapa rupa ilmu pukulan yang menjadi kebiasaannya, tetapi ia telah suruh aku bersumpah untuk tidak sebutkan nama atau gelarannya. Maka itu, djiewie toako, harap kau maafkan aku."

Kedua orang she Tjoe dan Nie itu lihat orang bicara sungguh-sungguh.

"Jangan omong tentang maaf, toako,"

Berkata An Kok.

"Kalau aku sampai menanyakan jelas kepadamu, itu disebabkan ada satu urusan yang penting."

"Apakah itu, djiewie?"

Tjioe San tanya.

"Segala apa yang aku sanggup kerjakan, aku tentu suka lakukan untuk kamu. Diantara orang sendiri harap djiewie toako tidak sungkan2."

An Kok manggut.

"Harap tunggu sebentar, Tjoei Toako, kita hendak cari dua orang untuk bicara sebentar,"

Kata ia. Tjioe San lihat orang berlaku sesungguhnya, ia manggut. An Kok lantas pergi, bersama-sama si Nie. Mereka cari si Eng dan si Lo, yang diajak kesamping.

"Ada apa?"

Si Eng tanya.

"Aku mau bicara perihal utusan she Tjoei itu,"

Jawab An Kok.

"Tak satu dari kita sanggup lawan boegeenya, sedang menurut caranya ia bicara, dia ada seorang jujur...."

"Melainkan mengenai gurunya, dia ragu-ragu bicara terus terang,"

Nie Hoo timpalkan.

Tjoe An Kok lantas tuturkan hal pembicaraan mereka sama si Tjoei itu.

Ia pun kasi tahu ia dan maksudnya si Nie.

Si Eng, ketika pembuatan tembok kota di Leng-wan, itu adalah buah rencananya, pada itu, dia keluarkan tenaga tidak sedikit.

Sedang si Lo , yang bernama Tay Kan, ada satu tukang tembak meriam jempolan, selama peperangan di Leng-wan, dialah yang sulut meriam besar Ang-ie Toa Pauw, hingga bukan sedikit tentara Boan yang terbinasa.

Karena jasanya, ia telah diangkat jadi Tjham-tjiang, letnan kolonel.

"Tak ada halangannya kita omong terus-terang dengannya."

Kata Eng Siong kemudian.

"Setelah kita minta, kita lihat bagaimana sikapnya."

"Aku pikir baik kita tanya dulu pikirannya Tjouw Siangkong,"

Tjoe An Kok mengusulkan.

Usul ini dapat persetujuan, maka mereka lantas pergi kebelakang dimana Tjouw Tiong Sioe sedang bicara dengan asik sekali sama Lauw It Hauw.

Ketua itu dipanggil sebentar, untuk diajak berdamai.

"Eng Soeya,"

Berkata si siangkong,"

Urusan ini mengenai kepentingan seumur hidup dari tuan muda kita, sebelum kita ambil putusan, baiklah kau tanyakan dulu pikiran si orang she Tjoei itu."

Eng Siong setuju, maka ia lantas ajak Tjoe An Kok, Nie Hoo, dan Lo Tay Kan pergi pada Tjioe San.

"Tjoei toako, kami ada punya satu urusan untuk mana kami harap benar bantuanmu,"

Berkata Eng Siong.

"Maka itu....."

Tjoei San lihat orang ragu-ragu, ia jadi tidak sabar.

"Aku ada seorang kasar, jikalau ada apa-apa, titahkanlah aku,"

Kata ia.

"Asal apa yang aku bisa, tidak nanti aku tidak menurut."

"Saudara Tjoei jujur, baiklah, kita juga hendak bicara terus terang,"

Kata Eng Siong.

"Ketika Wan Taygoanswee teraniaya, ia ada meninggalkan satu putera, waktu itu, sang putera Baru berumur tujuh tahun. Untuk tolongi putera itu, kita telah lakukan perampasan, karena mana, tiga kali kami lakukan pertempuran, hingga dua saudara kami terbinasa. Syukur untuk kami, kami berhasil menolongi putera itu."

Tjioe San tidak bilang suatu apa, ia cuma perdengarkan suara tak nyata.

"Putera itu, yang menjadi tuan muda kita, bernama Wan Sin Tjie,"

Kata Eng Siong terangkan lebih jauh.

"Kami berempat adalah yang didik ia dalam ilmu surat dan ilmu silat. Dia ada berotak sangat terang, bahannya baik sekali, apa yang diajari dia lantas bisa, Baru dua tahun, hampir habis semua kebisaan kami diturunkan kepadanya. Dia masih sangat muda, ada beberapa rupa pelajaran yang ia masih belum menginsafinya, maka itu kami pikir, apabila ia tetap berada dibawah pimpinan kami, sukar untuk dia peroleh kemajuan terlebih jauh."

Mendengar sampai disitu Tjioe San segera mengerti maksud orang.

"Jadi saudara ingin aku yang teruskan mendidik dia?"

Ia tegasi. Tjoe An Kok manggut.

"Tadi kami saksikan toako layani itu dua mata-mata dorna, kami dapat kenyataan toako ada sepuluh kali lebih pandai daripada kami,"

Berkata dia,"

Maka jikalau toako sudi terima dia sebagai murid, untuk didik padanya, kami percaya rohnya Wan Thayswee didunia baka pasti akan sangat berterima kasih kepadamu...."

Lantas saja empat saudara itu menjura kepada sahabat baru ini. Dengan cepat-cepat, Tjoei Tjioe San membalas hormat. Segera ia berdiam.

"Saudara-saudara sangat menghargai aku, turut pantas, tak dapat aku menampiknya,"

Kata ia kemudian.

"Hanya sayang sekarang ini aku mesti berdiam didalam tangsinya Lie Tjiangkoen, siang dan malam, tidak ada ketentuannya waktu, saban-saban aku mesti keluar untuk lakukan tugas, malah satu waktu, kami mesti bertempur dengan tentara negeri, hingga tak dapat dipastikan, berapa hari lagi ada umurku. Maka itu, jikalau Wan Kongtjoe mesti tinggal bersamaku didalam tangsi, aku sangat kuatir kegagalannya, Tidak ada tempo senggang untuk aku mendidik dia, dilain pihak, keselamatannya berada dalam ancaman bencana."

Alasan itu ada beralasan, mendengar itu, Eng Siong berempat jadi putus asa. Tjioe San lihat orang berputus asa.

"Ada satu orang boegee siapa dapat menangkan aku berlipat-lipat,"

Kata dia kemudian,"

Jikalau dia suka terima Wan Kongtjoe, sungguh itu ada keberuntungan besar bagi kongtjoe itu..."

Tapi mendadakan ia goyang-goyang kepala, lalu ia ngoceh seorang diri.

"Tidak, tidak, inilah tak bisa menjadi...."

Eng Siong beramai heran.

"Siapa orang itu?"

Tanya dia begitupun Tjoe An Kok.

"Itulah si orang aneh yang aku sebutkan tadi,"

Jawab Tjioe San.

"Kepandaiannya tidak ada batasnya. Dia ajari aku Baru enam bulan, aku telah punyakan kebisaanku seperti sekarang ini, toh itu Baru kulitnya saja....."

"Siapa sebenarnya orang aneh itu?"

Tegaskan An Kok, yang girang tak kepalang.

"Dia ada seorang yang tabiatnya aneh,"

Terangkan Tjioe San.

"Dia telah ajarkan ilmu silat padaku tetapi dia larang aku panggil guru kepadanya dan dia pun larang aku beritahukan namanya kepada lain orang, maka itu, aku kuatir taklah bisa berhasil apabila Wan Kongtjoe disuruh pergi belajar padanya."

"Dimana tinggalnya orang aneh itu?"

Nie Hoo tanya.

"Dia juga tidak punya tempat kediaman yang pasti. Dia biasa pergi kesegala tempat, setiap kali dia pergi, dia tidak mau beritahukan kemana perginya."

Eng Siong berempat kewalahan, tapi si Eng ini terus panggil Wan Sin Tjie untuk bocah ini diperkenalkan kepada utusannya Lie Tjoe Seng itu.

Tjoei Tjioe San senang melihat ini anak, yang romannya cakap,yang tubuhnya sehat sekali, kapan ia tanyakan pelajarannya Sin Tjie, Sin Tjie menyahuti dengan rapi.

"Eh, entjek Tjoei,"

Tiba-tiba bocah ini tanya,"

Ketika tadi entjek rubuhkan kedua mata-mata, ilmu pukulan apakah yang entjek gunai?"

Tjioe San tertawa.

"Itu ada pukulan Hok Houw Tjiang, Harimau mendekam, salah satu petjahan dari Shatjaplak Lou Kim-na-hoat."

"Demikian cepat gerakan entjek, sampai aku tak melihat tegas!"

Bocah itu kata.

"Apakah kau ingin pelajarkan itu?"

Tanya Tjioe San. Sin Tjie sangat cerdik.

"Ja, entjek Tjoei, ajarkanlah aku!"

Ia lantas minta. Tjioe San menoleh pada Eng Siong.

"Pada Lie Tjiangkoen aku telah bicara akan berdiam disini beberapa hari, biar aku gunai ketikaku akan ajarkan ini anak,"

Ia bilang.

Tentu sekali, Eng Siong girang, sedang Sin Tjie sudah lantas menghaturkan terima kasih.

Pada waktu itu, Lauw It Hauw dan Tjouw Tiong Sioe telah mencapai permufakatan untuk perserikatan, maka juga dihari kedua, dihadapan patung Wan Tjong Hoan, kedua pihak resmikan itu dengan angkat sumpah, untuk mati dan hidup bersama.

Pun pagi-pagi, Tiong Sioe telah kasi selamat jalan pada Tiauw Tjong dan Peng Kie bertiga, selagi berpisahan , ia bilang pada mereka berdua.

"Kita telah bertemu secara kebetulan, inilah jodoh. Tentang kami disini, asal ada yang bocor, kesudahannya dua saudara harus ketahui sendiri, tak dapat aku jelaskan lagi!"

"Itulah pasti, kami sudah mengerti,"

Sahut Tiauw Tjong berdua.

Tiong Sioe bekali lima puluh tail perak dan perintah dua orang antar mereka ini turun gunung.

Sejak itu, sesampainya mereka dirumah masing-masing, selagi Tiauw Tjong rajin belajar surat dengan tak suka pesiar lagi, hingga kemudian ia jadi terpelajar tinggi.

Yo Peng Kie tutup Piauw-kioknya, akan hidup menyendiri, sebab ia insyaf, kepandaian tak ada ujung-pangkalnya, orang pandai ada yang lebih pandai, maka ia anggap lebih baik ia bertani, bercocok-tanam saja.

Lauw It Houw pulang berdua saja sama kawannya, si orang she Thian.

Dengan pertemuan telah sampai diakhirnya, kaum San-tjong pun bubaran, akan masingmasing pulang, tetapi diantaranya, ada yang kemudian pergi hubungi diri pada Lie Tjoe Seng.

Tjouw Tiong Sioe bersama Tjoe An Kok, Nie Hood an Eng Siong beramai masih terus berdiam diatas gunung.

Mereka masih mesti urus Wan Sin Tjie.

Sebaliknya, Sin Tjie sendiri seperti tak perdulikan hal-ikhwalnya sendiri saking kegirangan lantaran janjinya Tjoei Tjioe San akan ajarkan dia ilmu silat Hok-houw-tjiang.

Malam itu Sin Tjie tak dapat tidur nyenyak, sedang dihari besoknya, dia sibuk sendiri, karena belum sempat orang perhatikan dia.

Habis rapat, orang semua sibuk menjelesaikan ini dan itu, akan antar mereka yang berangkat pulang.

Mereka ini pun pada pamitan dari pemimpin muda ini.

Adalah setelah sore, Baru Tiong Sioe perintah siapkan sebuah meja serta satu kursinya, begitupun lilin dan hio.

Tjoei Tjioe San diminta duduk dikursi itu, untuk terima hormatnya Sin Tjie.

Disitu hendak diadakan upacara sederhana pengangkatan guru atau penerimaan murid.

"Saudara Wan kecil ini, sekali aku lihat, aku lantas suka padanya,"

Kata Tjioe San.

"Dia suka Hok-houw-tjiang, aku nanti pakai tempoku beberapa hari untuk ajarkan dia sekedarnya. Tentu saja, tempo hanya beberapa hari, tidak cukup, hingga harus disangsikan ia bisa gunakan itu atau tidak apabila ia sudah bisa melatihnya sendiri. Semua-semua ada bergantung dengan bakat, kerajinan, dan keuletannya. Biarlah kita menjadi sahabat-sahabat saja bukannya guru dan murid, suatu hal yang tak dapat dibicarakan."

"Asal dia diajari, walaupun cuma satu-dua gebrak, dia sudah berarti murid dan saudara adalah guru,"

Eng Siong bilang.

"Harap Tjoei Toako tidak terlalu merendah."

Tapi putusannya Tjioe San tak dapat diubah, hingga akhirnya orang mengalah.

Sama-sama ahli silat, Eng Siong semua ketahui baik aturan orang memberi pelajaran, apapula mengenai Tjioe San dan Sin Tjie, guru dan murid istimewa.

Tentu sekali, orang luar tak dapat tonton mereka.

Maka itu, semua lantas undurkan diri.

Tjioe San tunggu sampai semua orang sudah pergi, ia duduk dikursi yang disediakan tadi, untuk bicara sama ahli warisnya mendiang Wan Tjong Hoan.

"Sin Tjie,"

Katanya dengan sungguh-sungguh.

"Ini ilmu silat Hok-houw-tjiang aku peroleh dari seorang berilmu yang telah berusia lanjut, aku sendiri masih belum meyakinkannya sampai sempurna, akan tetapi, apabila dipakai melayani lawan yang umum, sudah cukup. Ketika aku diwariskan ilmu pukulan ini, orang berilmu itu wajibkan aku angkat sumpah, ialah tak boleh aku gunakan untuk menghina orang baik-baik atau mencelakai tanpa alasan...."

Sin Tjie ada sangat cerdik, segera ia mengerti maksud gurunya ini, lantas ia bertekuk lutut seraya katanya .

"Murid Wan Sin Tjie, apabila telah berhasil mempelajari Hok-houw-tjiang, tak akan gunakan itu untuk menghina orang baik-baik dan mencelakai tanpa alasan, Baru ia meneruskan .

".....biarlah soehoe nanti pukul mati padaku!"

Mendengar sumpah itu, Tjioe San tertawa.

"Bagus!"

Berkata dia, yang tubuhnya mencelat dengan mendadakan.

Sin Tjie angkat kepala dengan heran, karena sang guru lenyap dari hadapannya, kapan ia menoleh, guru itu kembali telah berada dibelakangnya dan pundaknya lantas ditepuk.

"Kau tangkap aku!"

Mengandjurkan guru ini.

Sin Tjie telah peroleh ajaran dari Tjoe An Kok dan Nie Hoo, kecuali dasarnya baik, dia pun cerdik, maka atas anjuran gurunya ini, ia tidak lantas memutar diri, hanya ia mendak dulu, sembari berbuat demikian, tangan kirinya digeraki, tangan kanannya menyusul -ia pun sembari dengari anginnya gerakan tubuh sang guru -lalu dengan tiba-tiba,ia menyambar kearah kaki.

"Inilah cara yang tidak bercela!"

Terdengar sang guru, kaki siapa tapinya tidak kena disambar.

Dilain pihak, pundaknya si murid kembali kena ditepuk.

Murid ini memutar tubuh dengan siasia, ia tak lihat gurunya itu.

Kembali Sin Tjie perlihatkan kecerdikannya, ia ingat baik-baik, ajarannya Nie Hoo.

Ia tidak membalik tubuh, ia tidak menyambar lagi, hanya ia jalan setindak demi setindak kearah tembok, begitu lekas sudah sampai, mendadakan ia putar tubuhnya seraja berseru.

"Entjek Tjoei, aku dapat lihat padamu!"

Dengan sebenarnya, diakui cara demikian, Tjioe San tak lagi bisa singkirkan diri.

"Bagus, bagus!"

Kata Tjioe San sambil tertawa.

"Kau cerdik, kau ada punya bakat, kau pasti bakal bisa jakinkan Hok-houw-tjiang!"

Lantas saja guru istimewa ini mulai berikan pelajarannya, sejurus dengan sejurus, sampai diakhirnya, yang semua terdiri dari seratus delapan gerakan, dan saban gerakan mempunyai lagi tiga perubahan, untuk mengelakkan diri dan menyerang saling ganti, hingga semuanya jadi jumlah tiga-ratus dua-puluh empat jurus.

Sin Tjie gunakan otaknya, ketika ia Baru diajari tiga kali, ia sudah lantas ingat semua, dengan pelahan-lahan, ia bisa jalankan Hok-houw-tjiang itu, maka dilain saat, sang guru mulai pecahkan artinya, keperluannya sesuatu jurus.

Sin Tjie ingat dengan baik semuanya itu, ia terus berlatih dengan sungguh-sungguh.

Ia ketarik hati, gurunya pun suka terhadapnya, yang demikian rajin dan ulet, guru ini tungkuli terus padanya, hingga malam pertama itu mereka berlatih terus sampai jauh malam, Baru berhenti.

Besoknya pagi-pagi, Tjioe San pergi keluar, untuk cari hawa fajar yang segar.

Betapa keheranannya, ia dapatkan Sin Tjie asyik berlatih seorang diri ditanah lapangan, dan untuk kekagumannya, murid itu bisa jalankan semua jurus dengan baik.

Ia jadi sangat girang.

Dengan diam-diam, ia mendekati murid itu, akan akhirnya lompat melesat, untuk dupak bebokong orang.

Sin Tjie sedang madap kelain jurusan, ia tidak lihat gurunya, akan tetapi ia dengar angin menyambar, segera ia egos tubuh kesamping, sembari berbalik, ia ulur tangan kanannya, untuk sambar kaki yang menendang ia, tapi kapan ia kenali gurunya, ia tarik pulang tangannya.

"Entjek Tjoei!"

Ia berseru. Tjioe San tertawa.

"Jangan berhenti, hayo menyerang terus!"

Kata guru ini sambil dia menyerang muka orang.

Sin Tjie kelitkan kepalanya, kakinya dimajukan satu tindak, sedikit kesamping, dari situ ia kirim kepalannya yang kecil kepada pinggangnya sang guru.

Inilah pukulan ke-89 dari Hok-houw-tjiang, yang dinamakan "Tjim djip houw hiat", atau "Masuk jauh dalam guha harimau".

"Bagus, begini memang maunya!"

Tjioe San memuji sambil ia berkelit.

Kemudian, kembali ia serang murid itu.

Sin Tjie layani guru itu, sampai sekian lama.

Beberapa kali ia berbuat keliru, sang guru lantas ajarkan, untuk dibenarkan, hingga ia jadi sangat gembira.

Terus-terusan ia layani gurunya, hingga habislah semua tiga-ratus dua-puluh empat jurus.

Malah itu diulangi dan diulangi.

Bocah ini girang bagaikan ia peroleh azimat atau mustika, ia dapat kenyataan, Hok-houwtjiang menggenggam banyak rupa rahasia pukulan.

"Mari beristirahat,"

Kata Tjioe San, sesudah lihat muridnya mandi keringat.

Tapi sambil berduduk, ia pun berikan pelbagai penjelasan.

Kemudian, habis mengaso, latihan diulangi.

Guru dan murid ini berhenti untuk bersantap pagi, sekian lama habis itu, mereka berlatih pula.

Hingga itu hari, dari pagi sampai jauh malam, mereka cuma berhenti untuk berdahar dan beristirahat saja.

Sin Tjie lanjuti cara belajarnya ini terus menerus sampai tujuh hari, selama itu, sang guru juga terus layani dia, kemudian dimalam kedelapan, Baru Tjio San kata pada muridnya.

"Aku telah ajarkan semua kepada kau, bagaimana nanti jadinya, segala itu terserah kepada peryakinanmu sendiri. Diwaktu menghadapi lawan, orang mengandal tujuh bagian pada latihannya, tiga bagian pada kecerdasannya, apabila orang andalkan melulu latihan, kemenangan sukar didapat."

Sin Tjie terima baik pesanan berarti ini.

"Besok aku hendak kembali kepada Lie Tjiangkoen,"

Tjioe San terangkan kemudian.

"Maka itu dibelakang hari, kau mesti berlatih sendiri saja."

Merah matanya Sin Tjie mendengar perkataan guru itu, air matanya berlinang.

Benar mereka berkumpul Baru beberapa hari tapi ia telah sangat sukai guru itu, yang manis-budi, yang mengajar ia dengan sungguh-sungguh.

Tjioe San ada seorang peperangan ulung, tapi melihat sikapnya murid ini, ia terharu, maka ia lantas usap-usap kepala orang.

"Jarang aku menemui orang berbakat dan cerdik sebagai kau,"

Kata guru ini.

"maka sayang sekali kita berdua tidak berjodoh untuk berkumpul lama-lama..."

"Bagaimana kalau aku ikut pergi pada Lie Tjiangkoen, entjek Tjoei?"

Sin Tjie tanya.

"Kau masih begini kecil, mana bisa?"

Sahut sang guru. Sin Tjie hendak jawab guru itu atau mendadakan mereka dengar suara binatang buas diluar rumah.

"Binatang apa itu?"

Tanya si bocah.

"Itu bukan suaranya harimau atau serigala...."

"Itulah suara harimau tutul,"

Tjioe San terangkan. Mendadakan, ia tambahkan .

"Mari kita tangkap binatang liar itu. Ada perlunya...."

"Perlu apa itu, soehoe?"

Tanya Sin Tjie, yang merasa heran. Tjioe San tidak menjawab, dia melainkan tertawa, segera ia bertindak keluar. Murid ini terpaksa lantas menyusul.

"Entjek Tjoei, senjata apa kau pakai untuk lawan macan tutul itu?"

Ia tanya kapan ia ingat gurunya tidak bekal senjata.

Tjioe San tidak menyahuti, dia cuma bersenjum.

Ia juga tidak ambil pintu depan hanya bertindak kesamping, diluar kamarnya Tjouw Tiong Sioe, ia memanggil .

"Tjoe Toako! Nie Toako!"

Dua orang yang dipanggil itu berada di dalam kamar, mereka lantas buka pintu.

"Tolong toako bantu aku,"

Kata Tjioe San sambil tertawa,"

Di luar ada seekor macan tutul , harap toako beramai usir dia masuk kedalam rumah, aku membutuhkan dia."

"Baik, baik,"

Jawab Nie Hoo, si tukang memburu harimau. Malah dia segera sambar cagaknya, untuk mendahului keluar.

"Nie Toako, jangan lukai binatang itu!"

Tjioe San pesan. Nie Hoo tidak menyahuti, ia keluar terus. Tjioe San menyusul bersama-sama Tjoe An Kok dan Lo Tay Kan. Sin Tjie bekal tumbak pendek, ia hendak turut.

"Sin Tjie, jangan kau ikut, tunggu disini saja gurunya mencegah. Bocah ini terpaksa menurut, maka itu, ia berdiam bersama Tiong Sioe dan Eng Siong. Mereka mengawasi dari jendela. Tjioe San bertiga membawa obor, masing-masing berdiam ditiga penjuru. Nie Hoo sendirian saja, ditepi gunung, lagi tempur sang binatang liar, tapi ia taat kepada pesannya si Tjoei, ia tidak mau lukai binatang itu, ia cuma menyerang mengancam sambil bela diri. Begitu lekas lihat api obor, macan tutul itu kaget, berniat melarikan diri, tetapi ketika dia mundur untuk lari, Tjoe An Kok bertiga pegat dia di tiga jurusan, hingga dia jadi makin bingung. Diantara tiga orang itu, Tjioe San tidak pegang senjata, dia lantas terjang gurunya Sin Tjie ini. Tjioe San tidak takut, ia tidak kaget mendengar gerungan, ketika ia ditubruk, ia egos tubuh sambil menyerang kepalanya binatang itu, atas mana si macan tutul rubuh bergulingan, saking kerasnya pukulan. Tapi dia lekas bangun pula, untuk terus lari, kearah selatan, yang tak ada yang jaga. Ini ada jalanan untuk masuk kedalam rumah, itulah pintu muka. Dia cerdik, dia urung memasuki pintu itu. Tapi ia telah dikurung dari segala penjuru, cahaya api bikin dia bingung. Tjioe San maju dengan berani, selagi berada dibelakangnya si macan tutul, ia lompat untuk menendang, hingga saking kaget dan kesakitan, binatang itu loncat kedepan. Maka sekali ini, mau atau tidak, ia masuk juga kedalam rumah. Eng Siong didalam rumah sudah siap, ia telah tutup semua pintu kecuali pintu barat, maka kesitu, macan itu lari. Binatang ini menyingkir tanpa pilih jalanan lagi. Begitulah dia memasuki pendopo barat, sesudah mana, Lo Tay Kan kuncikan dia pintu. Setelah berkumpul, semua orang, yang bergembira, awasi Tjioe San. Mereka masih belum tahu maksud utusan dari Lie Tjoe Seng itu. Tjioe San tertawa, ia kata pada muridnya .

"Sin Tjie, pergi masuk kedalam, kau hajar macan tutul itru!"

Ia menitah. Semua orang tercengang.

"Aku kuatir ini tak sempurna...."

Kata Tiong Sioe, yang berkuatir.

"Aku nanti mengawasi dari samping, tidak ada bahayanya,"

Tjioe San bilang, sikapnya tenang.

"Baik!"

Jawab Sin Tjie, yang terus bertindak kepintu, sambil bawa tumbaknya. Bocah itu tercengang, tapi segera ia mengerti, gurunya rupanya ingin dia gunai Hok-houwtjiang. Tentu saja ia bersangsi.

"Kau takut?"

Sang guru tanya.

Sin Tjie tidak menjawab, hanya ia cabut palangan pintu, terus ia buka daun pintu, akan nyeplos kedalam.

Segera juga terdengar suara menggeram, lalu satu bajangan berlompat nubruk.

Sin Tjie berkelit kesamping, sebelah tangannya dipakai menyerang, mengenai kuping si macan tutul, tetapi ia bertenaga kecil, binatang itu seperti tidak merasai sakit, tapi dia membalik tubuh, untuk menerjang pula.

Dengan gesit Sin Tjie lompat, kebelakang macan itu, akan betot ekornya.

Sementara itu, Tjoei Tjioe San juga sudah njeplos masuk, ia terus berdiri dipinggiran seraja pasang mata.

Sin Tjie tendang macan itu, atas mana, binatang ini tarik ekornya, hingga si bocah mesti lepaskan cekalannya.

Setelah memutar tubuh, harimau itu menubruk pula.

Dengan berkelit sambil mendekam, Sin Tjie selamatkan diri, karena ia berada disamping, kembali ia kirim kepalannya, hanya seperti tadi, binatang buas itu tidak bergeming karenanya.

Itu waktu Tjouw Tiong Sioe beramai turut menonton, biar bagaimana, mereka kuatirkan itu pemimpin cilik, yang masih terlalu muda usianya.

Mereka bantu menjaga, diantaranya ada yang terus pegangi obor, sedang An Kok dan Nie Hoo siapkan senjata rahasia mereka.

Segera juga mereka menyaksikan dengan kekaguman, mlihat bagaimana bocah she Wan itu bergerak gesit sekali.

Mulanya tertampak Sin Tjie masih ragu-ragu atau sedikit jeri, tetapi setelah pertarungan ganjil ini berjalan sekian lama, hatinya jadi mantap.

Nyata ia bisa gunai dengan sempurna Hok-houw-tjiang, itu ilmu pukulan "Menakluki Harimau".

Ia pun insaf, percuma ia main kelit, sia-sia saja ia mengajar dengan kepalannya, macan itu ada terlalu tangkas untuk dia, maka diakhirnya, ia pakai akal.

Ialah saban-saban ia loncat kebelakang macan tutul itu, ia membetot, habis itu, ia jambak bulunya, untuk dibetot copot.

Dicabuti bulunya, yang mana sering kejadiannya, lama-lama macan tutul itu berasa juga sakit, , maka saban-saban dia menderum, berbareng diapun jadi semakin gusar, tubrukantubrukannya jadi semakin sengit dan hebat.

Tapi tetap saja, tidak pernah dia mampu terkam itu bocah, yang tubuhnya sangat gesit dan licin.

Maka diakhirnya, dari kewalahan, dia mulai jeri juga, hingga dia lalu tukar siasat, dari saban-saban menerkam, dia main mundur, dia pentang mulutnya akan mengancam dengan giginya yang besar dan tayam.

Sin Tjie cerdik, ia ganggu macan itu, sampai dia saban-saban diterkam pula, saban diterkam, dia loncat kesamping , atau kebelakang, selalu dia cabut bulunya!

Tjouw Tiong Sioe beramai, dari berkuatir, jadi tertawa melihat lagak-lagunya bocah ini, kelincahan siapa mereka sangat kagumi.

Biar bagaimana, macan tutul itu tidak dapat dirubuhkan cuma karena bulunya dicabuti, pun sia-sia saja pukulan kepalan dan tendangannya Sin Tjie, dari itu, juga ini bocah lalu menukar siasat.

Sekonyong-konyong Sin Tjie mendekam, ia loncat kedepan macan tutul itu.

Gerakan ini membuat heran itu binatang buas, yang jadi melengak, tapi meski demikian, dia lantas ingat untuk lompat menerkam.

Gerakannya ada sangat gesit, sedang itu waktu, Sin Tjie sampai didepan binatang itu, hingga ia jadi berada dibawah perutnya si raja hutan.

Nie Hoo terkejut, tidak ayal lagi, ia menyerang dengan sepasang piauw.

Macan itu tidak kena terserang senjata rahasia itu, kaki depannya dapat menyampoknya hingga jatuh.

Berbareng itu, Sin Tjie lenyap dari kolong harimau, sebaliknya tubuhnya nempel sama perutnya binatang itu.

Entah bagaimana, kedua kakinya telah menyangkul keras kebebokong macan tutul, kepalanya sendiri menyundul janggutnya, hingga ia tidak bisa digigit binatang itu.

Kedua tangannya juga turut memeluk.

Macan tutul itu jadi kewalahan, untuk bikin orang terpelas, dia jatuhkan diri, bergulingan dilantai.

Sin Tjie tetap menjepit dan merangkul dengan keras, ia tidak kasih tubuhnya terpisah dari tubuh lawannya yang luar biasa itu.

Tapi ia insaf, lama-lama ia bisa habis tenaga, apabila ia pisahkan diri, ia bisa celaka diterkam binatang itu.

"Entjek Tjoei, mari lekas,"

Akhirnya ia memanggil.

"Matanya!"

Adalah jawaban Tjoei Tjioe San.

Ini pemberian ingat menyadarkan bocah itu, tidak ajal lagi, ia ulur tangan kanannya, beberapa jarinya mencari sebelah matanya yang terus ia korek dan betot keluar!

Binatang itu kaget dan kesakitan, dia berjingkrakan sambil menderum-derum, darah mengucur keluar dari matanya itu.

Menampak demikian, Tjioe San lompat maju, ia dekati macan tutul itu tanpa si binatang buas dapat lihat padanya, segera ia menyerang dengan keras dengan kedua tangannya kearah kepala, atas mana, macan itu jadi pusing, segera dia rubuh terguling.

Selagi si raja hutan rubuh, Tjioe San sambar Sin Tjie, untuk diangkat.

"Bagus,bagus!"

Ia puji murid itu. Kapan si Tjoei menoleh pada kawan-kawannya, Tiong Sioe semua berkuatir hingga mereka mandi keringat! Tjioe San pentang pintu, ia dekati macan itu pada belakangnya, lalu ia mendupak.

"Pergilah, aku merdekakan padamu!"

Kata ia.

Tendangan itu keras, sang harimau, yang mulai merangkak bangun, terjerunuk kedepan, sesudah mana, dia terus loncat, untuk kabur, Menyusul itu, diluar terdengar riuh jeritan kaget dari banyak orang.

Menyangka bahwa macan tutul itu menerbitkan kecelakaan, Tiong Sioe semua berlari keluar, untuk melihat, tapi begitu lekas mereka berada diluar, mereka juga kaget tidak terkira.

Seluruh gunung terang dengan api, yang mendatangi dari arah bawah, diantara itu, tertampak pelbagai senjata yang berkilatan.

Itulah tentara kerajaan Beng, yang mengurung Lauw Ya San dengan tiba-tiba!

Orang-orang Lauw Ya San Baru saja bubar, yang masih ada tinggal sedikit, ini menyulitkan mereka.

Mereka pun tidak dapat kabar lebih siang, karena mereka disergap dan penjaga-penjaga di saban pos telah terbunuh mati, sampai mereka ini tidak bisa memberi tanda bahaya.

Tjouw Tiong Sioe ada seorang peperangan ulung, walaupun ia kaget, hatinya tidak gentar.

Tadinya, dia pun adalah orang yang pangkatnya paling tinggi.

"Lo Tjiangkoen,"

Ia segera beri titah pada Lo Tay Kan.

"pergi kau pimpin saudara-saudara tukang masak, tukang sapu dan penjaga-penjaga kuil, lepaslah api digunung sebelah timur seraya berteriak-teriak, untuk menyesatkan musuh!"

Lo Tay Kan terima titah, ia berlalu dengan cepat.

"Tjoe Tjiangkoe, Nie Tjiangkoen!"

Tjouw Tiong Sioe panggil Nie Hoo dan Tjoe An Kok.

"Pergilah kedepan, masing-masing memanah belasan kali, untuk cegah tentara musuh terlalu mendesak, habis itu, lekas kembali!"

Dua punggawa itu berlalu dengan titah tersebut.

"Tjoei Toako, ada satu tugas penting aku mohon kau yang pegang!"

Kata Tiong Sioe pada Tjioe San.

"Kau ingin aku yang lindungi Sin Tjie?"

Tjioe San tegaskan.

"Benar,"

Jawab pemimpin itu. Lalu bersama-sama Eng Siong, dia menjura terhadap utusan Lie Tjoe Seng ini. Tjioe San kaget, dengan tersipu-sipu, ia membalas hormat.

"Bicaralah, djiewie, tapi jangan berbuat begini!"

Ia mencegah.

Suara gemuruh diluar bertambah besar, malah terdengar juga suara tambur dan gembreng tentara yang riuh, tapi itu datangnya dari atas gunung, maka Tiong Sioe menduga kepada perbuatannya Lo Tay Kan, ialah siasat akan mengelabui musuh.

"Inilah satu-satunya darah daging dari Wan Tayswee, tolong Tjoei Toako antar dia turun gunung!"

Tiong Sioe minta kepada Tjioe San.

"Aku nanti lakukan itu!"

Tjioe San berikan janjinya. Itu waktu, Tjoe An Kok dan Nie Hoo kembali habis melepas panah.

"Aku akan ambil jalan bersama Tjoe Tjaingkoen,"

Tiong Sioe mengatur diri.

"kami nanti gabungkan diri sama Lo Tjiangkoen, akan menerjang turun disebelah timur. Eng Sinshe bersama Nie Tjiangkoen boleh menerjang dari barat. Kita akan menerjang lebih dulu, buat tarik perhatiannya tentara musuh, supaja mereka tercegah, setelah itu, Tjoei Toako bersama Sin Tjie boleh nerobos turun dari gunung belakang. Biarlah kitaorang berkumpul ditempat Lie Tjiangkoen!"

Semua orang kagum, disaat segenting itu, Tjouw Tiong Sioe masih bisa mengatur diri demikian sebat dan tepat, coba mereka punyakan tentara, tentu keadaan mereka ada lain sifatnya.

Sin Tjie sedih bukan main, sebab telah begitu lama ikuti Eng Siong semua, yang pun telah didik dia, sekarang mereka mesti berpisahan secara demikian mendadakan dan dalam ancaman malapetaka hebat juga.

Ia paykoei berulang-ulang terhadap mereka.

"Tjouw Siokhoe, Eng Siokhoe, Tjoe Siokhoe, Nie Siokhoe,"

Kata ia.

"aku, aku...."

Ia tak dapat bicara lebih jauh, tenggorokannya seperti terkancing.

"Kau ikuti Tjoei Siokhoe, kau dengar perkataannya,"

Kata Tiong Sioe. Masih Sin Tjie tak dapat bicara, ia cuma bisa manggut. Suara berisik makin hebat, itulah tandanya tentara negeri sudah mulai mendaki tinggi.

"Marilah!"

Mengajak Eng Siong.

"Tjoei Toako, kau berangkat sebentar lagi sedikit..."

Lantas mereka itu bertindak keluar. Nie Hoo lihat Tjoe Tjio San tidak punya senjata, ia lemparkan kongtjee kepadanya.

"Tjoei Toako, sambut ini!"

Ia kata.

"Aku tak butuhkan itu,"

Sahut Tjioe San, yang menyambuti tapi terus hendak kembalikan, hanya Nie Hoo sudah lari jauh, ia jadi batalkan niatnya.

"Mari!"

Katanya, yang terus tarik tangannya Sin Tjie, sedang tangannya yang lain tetap pegangi tumbak cagak itu.

Berdua mereka pergi kebelakang dimanapun ada terang cahaya api, hingga kelihatan berlapis-lapis tentara, entah berapa djumlahnya.

Anak panah pun dipanahkan naik bagaikan hudjan.

Maka terpaksa Tjioe San lari balik kekuil, kedapur, akan cari dua buah kwali, yang satu besar, yang lain kecil yang kecil ia serahkan pada muridnya.

"Inilah tameng!"

Kata ia.

"Mari!"

Dengan berlompatan secara enteng, mereka lari kearah tempat gelap.

"Kejar, kejar!"

Begitu tentara kerajaan Beng berteriak-teriak, ketika mereka lihat dua orang berlari-lari.

Dan mereka segera mengejar seraya terus memanah juga.

Tjioe San lari dibelakang Sin Tjie, dengan kongtjee, dan tameng kwali, ia tangkis pelbagai gandewa, hingga kwalinya menerbitkan suara berisik berulang-ulang.

Disebelah depan mereka, ada beberapa serdadu, yang merayap naik, yang memegat, tapi berdua, guru dan murid itu, serang mereka, hingga belasan serdadu rubuh.

Sin Tjie bersenjatakan tumbak pendek, diwaktu demikian, senjata itu tidak leluasa dipakainya, karena itu, ia lebih banyak lindungi diri.

Tidak lama, mereka telah sampai ditengah gunung, Baru mereka bernapas lega sedikit, lantas terdengar suara riuh, disusul sama munculnya sebarisan serdadu Beng Tiauw dengan yang maju dimuka ada satu tjian-boe atau kapten, yang bersenjatakan sebatang golok besar, malah terus saja dia bacok Tjioe San.

Tjoe Tjioe San tangkis bacokan itu, ia merasakan tenaga musuh yang besar, maka dengan sebat, ia balas menyerang.

Kapten itu menangkis seraya ia serukan barisannya.

"Saudara-saudara, maju!"

Tjioe San tidak mau melayani lama-lama, dengan tamengnya, ia ancam kapten itu, dengan cagaknya, ia membarengi menikam, berbareng dengan mana, ia pun membentak.

Celaka adalah kapten itu, iganya kena tertusuk.

Selagi Tjioe San cabut senjatanya, ia menoleh, ia tidak lihat Sin Tjie, bukan main terkejutnya ia.

Disebelah kiri ada suara berisik, ia lihat serdadu-serdadu berkerumun, ia lari kesana.

Beberapa serdadu mundur sendirinya melihat ia merangsak.

Nyata disitu Sin Tjie sedang dikepung tiga serdadu, tumbak pendeknya sudah terlepas jatuh, maka dia melawan dengan gunai Hok-houw-tjiang, dengan tangan kosong.

Kelihatan nyata ia sedang terdesak.

Tanpa bersuara lagi, Tjioe San berlompat kepada musuh, terus ia menyerang.

Satu serdadu rubuh, menyusul yang lain, dengan begitu, Sin Tjie dapat ditolong.

"Mari!"

Mengajak sang guru.

"Kejar!"

Berseru serdadu yang ketiga.

Tidak jauh dari situ masih ada kawan mereka, dua diantaranya lantas maju.

Dengan satu loh-bee, gerakan berbalik, Tjioe San rubuhkan dua serdadu, kemudian ia terjang yang ketiga, yang coba merangsak.

Serdadu yang ketiga itu kena dilemparkan hingga dia rubuh terbanting sambil perdengarkan jeritan hebat.

Menampak demikian, serdadu-serdadu yang lainnya merandek, tak berani mereka mendesak.

Tjioe San sambar Sin Tjie, untuk dipondong, buat dibawa kabur dengan gunai ilmunya entengi tubuh.

Ia tunggu sampai ia sudah terpisah jauh dari tentara negeri, Baru ia lepas turun muridnya itu.

"Apakah kau terluka?"

Dia tanya.

Sin Tjie usap mukanya, ia kena raba barang bergenjik, waktu ia lihat tangannya antara cahaya rembulan, ia lihat barang cair merah, ialah darah.

Ia terkejut.

Ia pun kaget, akan lihat muka gurunya berlepotan darah juga.

"Entjek Tjoei, darah, darah....."

Ia berseru.

"Tidak apa, inilah darahnya lain orang,"

Sahut Tjioe San.

"Kau terluka atau tidak?"

"Tidak,"

Jawab sang murid.

"Bagus! Mari kita pergi!"

Guru itu mengajak.

Mereka lantas nyelusup antara pepohonan, akan pergi dari tempat berbahaya itu.

Mereka sudah jalan kira-kira setengah jam, sampai tidak ada pepohonan lagi, ketika Tiong Sioe melongok kebawah, ia tampak cahaya terang, ada beberapa ratus serdadu menjaga disitu.

"Kita tak dapat turun, mari mundur...."

Ia bilang.

Mereka jalan beberapa ratus tindak, sampai mereka lihat sebuah gua cetek yang tertutup pepohonan.

Keduanya masuk, untuk umpatkan diri.

Sin Tjie merasa sangat lelah, dasar anak kecil, ketika ia rebahkan diri, cepat sekali, ia jatuh pulas.

Tjioe San angkat tubuh orang, buat dipeluki, supaya murid itu tidur dipangkuannya, sembari berbuat begitu, ia pasang kuping, hingga ia dengar, suara riuh masih belum berhenti.

Kemudian ia dengar suara merotok keras, disusul sama naik tingginya cahaya api.

Teranglah sudah, kuilnya Wan Tjong Hoan telah dibakar tentara Beng.

Masih berselang sekian lama, Baru terdengar suara terompet tentara, tandanya mereka dititahkan berkumpul, untuk turun gunung, buat angkat kaki.

Tjioe San terus pasang kuping ketika kemudian ia mengeluh sendirinya.

Ia dengar tindakan kaki yang ramai, yang makin lama makin nyata.

Rupanya barisan serdadu mendatangi kearah guha yang mesti dilalui mereka.

Jikalau dia dipergoki.....

(Bersambung bab ke 3) Tiba-tiba terdengar suara orang duduk diluar gua, yang teraling pepohonan balabergombolan.

Dengan tangan kanan cekal senjatanya, dengan tangan kiri Tjioe San tekap mulutnya Sin Tjie.

Ia kuatir bocah ini mendusin dan menjadi kaget karenanya, dengan begitu dia bisa berteriak.

Untuk sesaat kesunyian berkuasa ditempat sunyi itu.

Lalu tiba-tiba.

"Pemberontak she Wan itu ada tinggalkan satu anak, kemana perginya bocah itu?"

Demikian satu suara yang keras. Benar-benar Sin Tjie tersadar karena suara itu, tapi Tjioe San telah siap, ia bisa cegah bocah ini buka mulutnya.

"Diam...."

Dia kisiki.

"Kau mau omong atau tidak?"

Kembali terdengar suara keras tadi. Itulah satu pertanyaan bengis.

"Jikalau tetap kau tutup mulut, lebih dahulu aku akan bacok kutung sebelah kakimu!"

"Jikalau kau hendak bacok, bacoklah!"

Terdengar satu suara lain, ialah suaranya orang yang diancam itu.

"Selama diperbatasan, dengan tumbak dan golok, aku biasa hajar bangsa Tartar, mustahil aku jeri terhadapmu, dorna!"

Itulah suaranya Eng Siong. Sin Tjie terkejut.

"Eng Siokhoe..."kata ia, tapi suaranya pelahan.

"Eh, apa benar kau tidak mau bicara?"

Teguran diulangi.

"Cis!"

Terdengar suaranya Eng Siong, yang ludahi orang yang ancam dia.

"Aduh!..."

Jeritan itu menyusuli suatu suara keras, rupanya benar-benar kakinya Eng Siong dibacok kutung! Tak bisa Sin Tjie bersabar lagi, ia berontak dari cekalannya Tjioe San.

"Eng Siokhoe!"

Ia menjerit sambil ia loncat keluar gua.

Maka ia bisa lihat, antara cahaya api, seorang yang bersenjatakan golok, lagi ayunkan senjatanya kearah tanah dimana ada seorang menggeletak.

Ia berlompat, ia menyerang dengan ilmu pukulan "Tjo Kie yo kim,"

Atau "kiri menyerang, kanan menangkap,"

Salah satu jurus dari Hok-houw-tjiang.

Orang dengan golok ditangan itu, yang kejam, menjerit bahna kesakitan, sebab tahu-tahu matanya kena toyoran, sedang selagi ia menjerit dan kesakitan itu, lengannya pun dirasai sakit, lantas goloknya kena dirampas!

Sin Tjie tidak bekerja sampai disitu saja, menyusuli dengan sebat, ia bacok pundak orang, benar tenaganya tidak cukup besar, pundak itu tidak sampai terbacok kutung, toh orang telah jadi pusing kepala dan matanya kabur saking sakitnya.

Disitu ada sejumlah serdadu lain, mereka kaget tapi mereka tidak berdaya untuk mencegah, setelah mereka dapati, penyerang gelap ini ada bocah, mereka lantas maju untuk menyerang.

Dalam saat Sin Tjie terancam bahaya, dari dalam gua loncat keluar satu orang lain dengan kongtjee ditangan, dia cuma berkelebat, lantas senjatanya iu menangkis berbagai senjata yang mengancam si bocah cilik, hingga sekalian penyerang itu terperanjat, tangannya kesakitan, ada antaranya, yang senjatanya terpental dan terlepas.

Selagi serdadu-serdadu itu kaget, Tjioe San sambar Sin Tjie untuk terus dibawa lari turun gunung, ketika kemudian mereka dihujani anak-panah, mereka keburu lari jauh.

Diantara serdadu-serdadu itu, yang atas titahnya Thaykam Tjo Hoa Soen, ada empat yang pandai silat, kapan mereka ini tampak Tjioe San mereka segera lompat mengejar, satu antaranya malah keluarkan tiga batang panah-tangan, sebab terdapat kenyataan, walaupun sedang kempit orang, Tjioe San bisa berlari-lari dan berlompatan dengan keras.

Tjioe San masih dengar sambaran angin, lekas-lekas ia mendak, dengan begitu, tiga batang anak panah lewat diatasan kepalanya.

Selagi Tjioe San mendak, karena mana ia mesti berhenti lari, satu musuh lain serang ia dengan tiga batang kong-piauw, yang dilepasnya dengan beruntun.

Ia lepaskan Sin Tjie, ia gunai tangannya itu menanggapi dua buah piauw, disaat ia hendak balas menyerang dengan piauw itu, datanglah panah-tangan dan batu hoei, hong tjio saling susul, hingga ia jadi repot, batal menyerang dengan piauw, ia menangkis dengan kongtjee.

"Mari!"

Ia teriaki Sin Tjie, untuk ajak bocah itu lari lebih jauh. Terpisahlah mereka ini dari tentara Beng adalah jauh, tidak demikian dari itu empat pengejar yang masih saja bayangi mereka.

"Sahabat baik, letaki senjatamu!"

Demikian salah satu pengejar berteriak, dengan lagu suaranya mengejek.

"Marilah baik-baik turut kita pulang, nanti kita bikin kamu kurangan menderita...."

Tjioe San paling sebal terhadap orang yang mulutnya enteng, dari itu, ia jadi mendongkol sekali.

Sembari lari, ia geser kongtjee ketangan kiri dan piauw ke tangan kanan, ia tunggu sampai orang telah datang lebih dekat, mendadakan ia menyambit, keatas dan kebawah.

Tukang menjengeki itu menjerit, pahanya tertancap sebatang piauw, tidak tempo lagi, ia rubuh.

Tetapi tiga kawannya tidak perdulikan ancaman, mereka mengejar terus.

Melihat orang datang semakin dekat, Tjioe San kata pada Sin Tjie.

"Siangtoo dari orang itu ada bagus, nanti aku rampas untuk diberikan kepadamu!"

Habis mengucap, Tjioe San tancap kongtjee ditanah, lantas ia berlompat maju, akan hampirkan musuh yang bergegaman siangtoo, golok sepasang.

Dia ini sambut musuh, malah dengan pukulan beruntun "In Ling sam hian" , atau "Naga tiga kali perlihatkan diri dalam awan" , dia mendahului menyerang berulang-ulang, karena mana, Tjioe San tidak lantas dapat mencapai maksudnya.

Dipihak lain, musuh yang kedua, yang bersenjatakan tiat-pian atau thie-phie, rujung besi, telah berlompat kepada Wan Sin Tjie.

Bocah ini bertangan kosong, segera ia menghadapi ancaman bahaya.

Tjioe San mendongkol, karena tak dapat ia segera rampas siangtoo lawan, dilain pihak, ia lihat muridnya terancam, maka juga sambil putar tubuh, ia berlompat kepada musuh dengan tiatpian ditangan itu, dengan ulur tangannya dengan "Kim liong tam djiauw"

Atau "Naga emas mencengkeram"

Ia sambar bebokongnya.

Musuh ini sedang hendak babat pinggangnya Sin Tjie, kapan ia dengar sambaran angin, ia lantas putar tubuhnya, berbalik, akan lihat si penyerang.

Tapi sambarannya Tjioe San sudah sampai, tidak sempat dia menangkis, terpaksa dia tolong diri dengan bertindak mundur.

Justru itu Sin Tjie dibelakangnya telah ayun kakinya, maka kenalah ia terdupak kempolannya.

Ia tidak rubuh, ia jadi gusar, ia menyabat kebelakang dengan tiatpian.

Tapi ia terlambat, Tjioe San telah sambar ruyungnya itu, untuk dicekal keras, buat dirampas.

Dalam saat kedua pihak bergujengan, orang yang bersenjatakan siangtoo telah datang, untuk menyerang lebih jauh, bersama ia ada kawannya yang ketiga, yang bergegaman golok kwie-tauw-too, ber-sama-sama, mereka berdua menyerang dari belakang.

Juga orang yang pertama, yang tadi rubuh terkena piauw, bisa bangun pula, dia memegang tumbak, dia maju untuk tikam Sin Tjie.

Itulah saat berbahaya untuk Tjioe San dan muridnya.

Walaupun demikian, orang she Tjoei ini tidak menjadi bingung atau putus asa.

Sambil berseru, dengan pukulannya "Hang liong hok houw"

Atau "Menakluki naga dan menundukkan harimau" , dia hajar dadanya orang yang pegang ruyung, sampai dia ini rubuh terjengkang, malah dia kena tubruk kawannya yang bergegaman tumbak, yang hendak tikam si bocah, hingga dia ini turut terguling.

Syukur untuk kawan ini dengan ruyung, dia tidak sampai tertikam tumbak teman.

Tjioe San berlompat, akan rampas tiatpian orang dengan itu ia tangkis serangan siangtoo dan kwietauwtoo, lalu ia tarik lengannya Sin Tjie, buat diajak lari lebih jauh.

Ia tidak punya ingatan akan layani terus empat musuh itu.

Baru sekarang empat lawan itu berhenti mengejar, mereka rupanya insyaf liehaynya satu musuh itu, sebagai gantinya, mereka keluarkan senjata rahasia masing-masing dengan apa mereka menyerang dari jauh.

Tjioe San sibuk sekali ketika ia dengar sambaran angin saling susul, ia tarik Sin Tjie kepada dadanya, untuk dipeluk, dengan ruyungnya, ia bikin penangkisan.

Ia pun sabansaban lompat berkelit, akan menyingkir dari perbagai serangan saling susul itu.

Karena adanya si bocah, gerakannya jadi terhambat.

Tiga biji pou-tee-tjoe datang menyambar, dua bisa dielakkan tapi yang satu mengenai paha kirinya Tjioe San.

Dia terkejut, sebab mulanya sakit sedikit, lukanya itu lantas jadi gatal.

Ia insyaf, pou-tee-tjoe itu telah dikenai racun.

Karena ini, dengan sekuat tenaganya, ia lari terus.

Tetapi ini justru melekaskan bekerjanya racun, kaki kirinya lantas saja jadi kaku, hingga tidak saja ia tak mampu lari lebih jauh, ia malah rubuh terguling.

"Tjoie Siokhoe!"

Memanggil Sin Tjie, yang kaget bukan main. Ia sendiri hampir turut terguling. Empat penyerang, dengan samar-samar, lihat orang rubuh, kapan mereka dengar suaranya Sin Tjie, mereka mengejar pula.

"Sin Tjie! Sin Tjie!"

Berseru sang guru.

"Lekas lari! Aku nanti tahan mereka!"

Sin Tjie masih bocah tapi ia cerdas, daripada lari, dia justru lompat kesampingnya guru itu, ia hendak bersiap melawan musuh-musuhnya.

"Dengan kepandaianmu ini, mana sanggup kau belai aku?"

Kata Tjioe San, yang terharu bukan main.

Murid ini sangat berani dan bakti.

Empat musuh sudah lantas datang dekat, apapula yang bersenjatakan siangtoo dan kwietauwtoo.

Yang pegang kwietauwtoo ini hendak menawan hidup-hidup, ia serang Sin Tjie dengan belakang goloknya.

Ia sengaja sambar bawah betisnya Sin Tjie.

Sin Tjie lihat serangan itu, ia berkelit sambil berlompat.

Tjioe San lihat serangan itu, ia paksa bangkit, untuk berdeku dengan sebelah kaki.

Dia masih pegang dia punya ruyung, dengan itu, ia timpuk orang yang pegang siangtoo.

Dia ini kaget, sampai tak sempat dia berkelit, maka kepalanya kena tiatpian, syukur tidak hebat.

Sedangnya dia melengak, Tjioe San enjot tubuh sekuat tenaga, akan tubruk musuh ini.

Beruntung untuk dia, dia bisa sambar tenggorokan orang.

Musuh kaget, dia membacok, tapi bacokan ditangkis dengan lengan oleh Tjioe San, siapa kerjakan tenaganya kepada semua jerijinya, maka dilain saat, musuhnya tecekek keras, tubuhnya rubuh, napasnya berhenti jalan tanpa berkaok lagi....

Inilah hebat, menampak itu, musuh dengan kwietauwtoo ditangan jadi jeri, lantas ia putar tubuh untuk lari.

Melihat ini, dua kawannya, yang menyusul belakangan, yang memang telah terluka, turut dia dan lari juga.....

Tjioe San sendiri mengeluarkan darah tak putusnya dari lukanya itu, kaki kanannya sudah lenyap rasa sakitnya, beku tanpa rasa apa juga.

Tapi ia kertak gigi, ia kumpul tenaga, dengan bantuan golok, yang ditandalkan ketanah, ia coba berbangkit.

Ia insyaf, musuh lari tentu akan sebentar kembali bersama pasukan tentaranya, jadi ia tak punya tempo untuk disia-siakan.

"Mari!"

Ia ajak muridnya.

Ia jalan dengan separuh merangkak, karena sebelah tangannya dipakai sebagai gantinya kaki.

Ia separuh menyeret tubuh.

Sin Tjie jalan disebelah kanan gurunya itu, ia pasang pundaknya untuk gurunya cekal dengan tangan kanan, akan kasi dirinya digelendoti.

Jadi, separuh dipepayang, Tjioe San paksa jalan, setindak demi setindak.

Jalan sekian lama, keadaannya Tjioe San tambah hebat.

Mulai dari kaki, bekunya naik ke tangan, hingga pelahan dengan pelahan, habislah tenaga tangannya itu -tangan kiri.

Sekarang ia mengandal pada tangan kanan saja.

Sin Tjie merasai bandulan makin berat pada pundaknya, ia lawan itu, ia diam saja.

Ia telah mandi keringat.

Mereka jalan terus, sampai si bocah pun lelah sekali.

"Tjoei Siokhoe, didepan ada rumah orang, mari kita pergi kesana,"

Kata sang murid, apabila ia tampak sebuah rumah.

"Kita beristirahat disana sambil umpatkan diri...."

Tjioe San manggut, ia paksa kumpul tenaganya. Adalah setelah sampai didepan pintu, tenaganya habis, terlepaslah cekalannya, hingga ia rubuh tanpa muridnya dapat mencegah.

"Tjoei Siokhoe!"

Sin Tjie menjerit, sambil ia lekas membungkuk.

"Tjoei Siokhoe!"

Hampir itu waktu, daun pintu rumah terpentang, seorang perempuan usia pertengahan muncul diambang pintu.

"Toa-nio,"

Berkata Sin Tjie.

"kami bertemu tentara negeri, pamanku ini terluka, tolong kau ijinkan kami menumpang bermalam, satu malam saja...."

Perempuan tani itu murah hati, ia manggut, lalu ia teriaki satu anak tanggung, umur delapan atau sembilan-belas tahun, untuk bantui si bocah angkat tubuhnya Tjioe San, buat diangkat kedalam, direbahkan atas kong.

Karena ia ada tangguh dan kuat semangatnya, walaupun kaki dan tangannya beku sebelah, Tjioe San tidak pingsan atau kalut pikirannya, sebaliknya, ia sadar benar-benar.

Ia lantas suruh Sin Tjie geser pelita, untuk ia periksa lukanya.

Kaget semua orang, akan tampak luka dikaki itu.

Sebab kaki kiri itu bengkak besar, yang sepotong sudah matang-biru, dilihatnya mengerikan.

"Tolong bungkus luka dipundakku,"

Tjioe San minta si tuan rumah muda.

Kemudian, ia minta dibungkus keras juga pahanya, guna cegah racun naik dan menyerang ke jantungnya.

Habis itu, ia cabut senjata yang melukai padanya.

Segera keluar darah hitam.

Tjioe San coba tunduk, ia niat isap darah dari lukanya, supaja racunnya tersedot, tapi bengkaknya demikian besar, mulutnya tak dapat sampaikan luka itu.

Melihat demikian, tanpa bersuara apa-apa, Sin Tjie gantikan gurunya sedot darah itu, ia menyedot berulang-ulang, saban-saban ia muntahkan darah hitam itu.

Setelah menyedot kira empat-puluh kali, Baru ia kena hisap darah bersemu merah.

Akhir-akhirnya djago itu menghela napas.

"Syukur ini bukannya racun yang sangat berbahaya,"

Kata ia.

"Sin Tjie, lekas kau kekumur!"

Nyonya rumah, yang mengawasi sedari tadi, lalu berdoa.

Besoknya, lohor, tuan rumah muda, yang dimintai pertolongannya, pulang dengan laporan bahwa tentara negeri sudah mundur dari gunung Lauw Ya San.

Disatu pihak, kabar itu melegakan hati.

Akan tetapi, dilain pihak, keadaannya Tjoei Tjioe San menguatirkan sekali.

Bengkaknya mulai kempes, tapi disebelah itu, tubuhnya menjadi panas, dia mulai mengaco-belo.

Sin Tjie ada satu bocah, walaupun ia cerdik, ia toh bingung, ia tidak bisa berbuat suatu apa.

"Tuan kecil,"

Berkata nyonya rumah,"

Aku lihat racun dalam kakinya pamanmu ini belum habis semua, perlu kau pergi kekota kepada tabib guna periksai lukanya itu."

Sin Tjie anggap usul itu baik.

"Aku nanti pergi,"

Kata ia.

Nyonya rumah, yang baik hati, pergi pinjam gerobak kerbau dari tetangganya, dengan naik itu, Sin Tjie pergi dengan diantar si anak tanggung.

Tjioe San direbahkan diatas gerobak.

Anak tanggung itu mengantari sampai dikota, sampai Sin Tjie telah dapati sebuah rumah penginapan, lantas ia berangkat pulang.

Sekarang, setelah berada dikota, Sin Tjie kembali bingung.

Mereka tidak punya uang.

Ia bengong mengawasi saja gurunya, hingga ketika jongos tanya, ia hendak dahar apa, ia tidak dapat menyahuti.

"Aku tidak lapar,"

Kemudian ia kasi alasan. Tapi, seperginya si jongos, ia nangis seorang diri. Selama itu, Tjioe San rebah tak ingat dirinya, adalah sesudah lewat sekian lama, ia mendusin juga.

"Bagaimana, siokhoe?"

Sin Tjie tanya.

"Apa siokhoe merasa baikan?"

Guru itu manggut.

"Apakah kau ada bawa barang berharga apa-apa?"

Tanya dia kemudian. Tiba-tiba Sin Tjie ingat suatu apa, lantas dia menjadi girang.

"Ada ini!"

Kata ia, yang terus keluarkan sarungnya.

Itu ada kalung emas tertabur delapan buah batu permata, dan dirantainya ada ukiran beberapa huruf, kapan Tjioe San baca itu, bunyinya ada empat huruf "Hoei Koan Hoan Tjiang"

Yang berarti "Kejayaan makmur". Dibawah itu ada lagi dua baris huruf-huruf kecil, yang berbunyi.

"Selamat bahagia ulang bulan Wan Kongtjoe"

Dan "Selamat dari Tjouw Tay Sioe".

Jadi itu ada tanda-mata dari Tjouw Tay Sioe, panglima nomor satu dari Wan Tjong Hoan, untuk peringatan usia sebulan dari Wan Sin Tjie.

Tjouw Tay Sioe ini, diwaktu mudanya, ada gagah dan berandalan, kemudian ia kena ditawan Tok-boe Soen Sin Tjong dari Kie-liauw, diwaktu ia hendak dihukum mati, Wan Tjong Hoan mintakan keampunan, dengan begitu, ia jadi sangat berterima kasih, keduanya jadi bersahabat bagaikan saudara, maka dikemudian hari, waktu Wan Tjong Hoan binasa teraniaya, Tjouw Tay Sioe jadi sangat gusar, dia bawa kabur tentaranya, dia tinggalkan kota raja tanpa pedulikan titah kaisar Beng.

Dikota raja, semua orang berkuatir, kuatirkan panglima ini, yang berkuasa atas tentara, nanti berontak, sukur ibu dan isterinya Tay Sioe ada orang-orang bijaksana, mereka bisa bujuk Tay Sioe jangan berkhianat, hingga kesudahannya, Tay Sioe ajak barisannya menentang desakan tentara Boan.

Pikirannya Tjioe San sedang kusut, ia tidak perhatikan bunyinya kata-kata pada kalung itu.

"Pergi ajak jongos gadai kalung ini."

Ia kata pada muridnya.

"Dibelakang hari, kita boleh datang pula kemari untuk menebusnya."

Sin Tjie juga tidak pikirkan huruf-huruf ukiran itu.

"Baik,"

Sahut ia, yang terus ajak satu jongos, untuk menggadai. Pengurus pegadaian terkejut ketika ia periksa kalung yang hendak digadaikan itu.

"Sahabat cilik, tunggu sebentar , ya?"

Kata ia. Pengurus ini masuk kedalam, sampai lama, hingga Sin Tjie dan si jongos tidak sabaran, baiknya kemudian, dia muncul juga.

"Sahabat cilik, kami terima gadai untuk dua-puluh tail."

Kata ia.

Sin Tjie tidak tahu apa-apa, ia mau terima, tapi jongos mintakan tambahan lagi lima tail, kalung itu jadi digadai buat dua-puluh lima tail.

Sambil bawa uang dan surat gadai, Sin Tjie ajak jongos mampir sekalian pada tabib.

Diluar tahu mereka, mereka sudah lantas dikuntit dua orang polisi, terus sampai dihotel.

Tjioe San sedang tidur, kepalanya panas seperti api.

Karena thabib, yang menyusul belakangan, belum juga sampai, Sin Tjie menjadi kuatir pula, hingga ia pergi keluar, akan melihat, mengharap-harap kedatangan sang tabib.

Belum lama, mendadakan datanglah delapan orang polisi ke hotel, mereka itu bekal thietjio dan rantai belengguan.

"Ini dia si bocah,"

Kata satu oppas seraya tunjuk Sin Tjie.

"Eh, anak, apa kau she Wan?"

Tanya oppas yang jadi kepala. Sin Tjie kaget, tak tahu ia mesti menjawab apa.

"Bukan,"

Jawab ia akhirnya, dalam bingungnya. Oppas itu tertawa, dari sakunya, ia keluarkan kalung emas tadi.

"Habis, kalung ini kau curi dari mana?"

Tanya dia.

"Itu bukan barang curian, itu ada barangku sendiri,"

Sahut Sin Tjie, yang dengan tidak langsung toh mengaku. Kembali oppas itu tertawa.

"Wan Tjong Hoan itu pernah apa denganmu?"

Tanya dia. Sin Tjie kaget, ia tidak berani menyahuti, hanya ia lari kedalam, ke kamarnya, akan segera gebrak bangun pada Tjioe San. Diluar segera terdengar teriakannnya kawanan oppas tadi .

"Berandalan dari Lauw Ya San bersembunyi dalam hotel ini! Jangan kasi mereka lolos!"

Sementara itu, Tjioe San mendusin dengan kaget, ia berbangkit, akan duduk, akan turunkan kakinya kelantai, tapi ia tidak dapat bergerak dengan leluasa, begitu kakinya diturunkan, bukannya ia berdiri, ia justru rubuh terguling.

Disaat itu, rombongan oppas telah nerobos kedalam hotel.

Dalam bingungnya, hingga ia tak keburu kasi bangun gurunya, Sin Tjie lompat kepintu, disini ia berdiri untuk merintang.

Hotel sendiri lantas jadi berisik, tetamu-tetamu lainnya jadi berkumpul di pekarangan, akan saksikan hamba-hamba negeri melakukan penangkapan pada penjahat pemburon.

Mereka jadi heran kapan mereka lihat, kawanan oppas itu justru menghadapi satu bocah cilik.

Satu orang polisi segera lemparkan rantai kelehernya Sin Tjie.

Bocah ini mundur, akan berkelit, tetapi ia masih berdiri diluar pintu, untuk cegah orang masuk.

Oppas itu jadi jengah, sebab ia, yang telah punyai pengalaman belasan tahun, tidak mampu bekuk seorang kacung, dari jengah, ia jadi gusar, maka ia ulur tangannya, akan sambar kuncirnya bocah itu.

Sin Tjie takut melihat rombongan oppas-oppas itu, ia sudah mau menangis, tapi melihat orang demikian garang, dan sekali ini ia hendak dijambak rambutnya, ia jadi gusar, ia sambar tangan orang untuk dibetot dengan kaget.

Ia gunai Hok-houw-tjiang punya jurus "Heng ho tan pian"

Atau "tarik melintang satu cambuk". Si oppas sempoyongan, ia jadi gusar, maka ia putar tubuhnya, akan tendang bocah itu. Ia pun mendamprat .

"Anak haram, kau lihat tuanmu!"

Tubuhnya Sin Tjie kecil dan kate, dengan mendak sedikit, ia kasi lewat tendangan itu, dengan kedua tangannya, ia tanggapi kaki dan kempolan orang, terus ia angkat dan mendorong dengan keras.

Tidak tempo lagi, tubuh besar dari oppas itu terlempar, jatuh terbanting dengan keras!

Sebenarnya Sin Tjie tidak punya tenaga demikian besar, ia sanggup berbuat demikian sebab ia berbareng pinjam tenaga tendangan dari si oppas sendiri.

Banya orang bersorak.

Mereka memang sebal melihat oppas-oppas itu, orang-orang dewasa dan tua, perhina satu bocah, tapi sekarang si bocah yang menang, mereka puas dan gembira, tanpa merasa lagi, mereka berikan pujian mereka!

Oppas-oppas lainnya melengak, mereka heran hingga mereka hendak sangka bocah itu punya ilmu gaib.

Tapi segera mereka saling melirik, lantas semuanya maju, dengan golok dan thietjio ditangan.

Menampak demikian, semua tetamu kaget dan takut, mereka pada mundur.

Biar bagaimana, Sin Tjie masih terlalu muda, saking bingung, ia repot, tapi dalam saat yang berbahaya itu, sekonyong-konyong dari kamar samping lompat keluar satu orang, yang tubuhnya besar, mencelat kedepannya si bocah, terus ia geraki kaki-tangannya, entah bagaimana, dengan gampang ia dapat rampas senjatanya sekalian hamba wet itu, selagi oppas-oppas itu mundur dengan kekuatiran, ia mendesak, ia menyerang dengan kepalannya sampai orang babak belur.

Habis itu, orang ini perdengarkan suara keras yang luar biasa.

"Siapa kau?"

Akhirnya satu oppas menegor.

"Kami hendak tangkap orang jahat, lekas mundur!"

Seperti juga orang yang tidak dengar pertanyaan, tubuhnya orang itu melesat kedepan oppas ini, tahu-tahu tangannya sudah menjambret dada, apabila ia mengangkat, tubuh si oppas dilemparkan, hingga tubuh itu melayang, bagaikan lajangan melewati tembok, ketika dia rubuh, dia terbanting keras, dia pingsan!

Melihat demikian, semua oppas lainnya lari sipat-kuping keluar.

Orang kuat itu lalu hadapi Sin Tjie, ia bicara, tangannya digerak-geraki, tapi suaranya "ahah oeh-oeh,"

Maka sekarang ternyata dia adalah seorang gagu.

Rupanya dia tanya si bocah, bagaimana duduknya hal.

Bingung Sin Tjie, sebab ia tidak tahu bagaimana harus berikan keterangan.

Selagi ia mengawasi dengan melongo, orang itu lantas saja angkat tangannya keatas, lalu kebawah, segera menyusul gerakan kakinya, maka tahu-tahu, dia sudah jalankan Hok-houw-tjiang, sampai jurus kesepuluh.

"Pek pok kie hie"

Jaitu "Egos serangan, tubruk kosong,"

Ia lantas berhenti. Baru sekarang Sin Tjie mengerti. Sebagai jawaban, ia melanjuti jurus kesebelas.

"Tek touw kwie,"

Atau "menendang betis".

Ia bersilat sampai empat jurus.

Si gagu menonton, lalu ia tertawa, ia manggut-manggut, kemudian ia ulur tangannya, akan tarik bocah itu, yang terus ia pondong.

Sin Tjie ingat gurunya, walaupun ia girang, ia menunjuk kedalam kamarnya.

Ia mau tunjuki bahwa dalam kamar itu ada orang.

Si gagu manggut, ia bertindak masuk kedalam kamar dengan masih empo bocah itu.

Ketika ia lihat Tjioe San numprah ditanah, mukanya pucat bagaikan mayat, ia kaget.

Lekaslekas ia turunkan Sin Tjie, ia hampirkan orang she Tjoei itu.

Tjioe San sadar, ia kenali si gagu ini, ia geraki kedua tangannya, ia tunjuk pahanya juga.

Si gagu itu mengerti, tidak tempo lagi, ia bekerja.

Dengan tangan kiri, ia tarik Sin Tjie, dengan tangan kanan, ia pondong Tjioe San.

Dengan tindakan lebar, ia lantas keluar dari kamar, dari hotel, akan lari sangat cepat, tidak peduli tubuhnya Tjioe San ada seratus kati lebih beratnya.

Tuan rumah atau jongos tidak berani rintangi si gagu ini.

Si gagu ini berlalu bukan tanpa ada yang kuntit.

Dua oppas, yang umpatkan diri diluar hotel, telah memasang mata, lalu mereka mengikuti dari jauh-jauh, pikir mereka akan cari tahu, dimana si gagu nanti taruh kaki, mereka akan cari bala bantuan untuk melakukan penangkapan terlebih jauh.

Tjioe San masih tak sadar akan dirinya, ia tak tahu suatu apa bahwa si gagu bawa dia kabur.

Si gagu sendiri tak tahu ada orang bayangi dia, ia tidak dengar suara apa-apa diarah belakangnya, karena kedua oppas terpisah jauh dari padanya.

Akan tetapi Sin Tjie, yang cerdik, lihat ada dua orang mengikuti saja, diam-diam ia tarik-tarik tangannya si gagu dan monjongi mulutnya, untuk mengasi tanda.

Atas ini si gagu berpaling, ia lantas lihat kedua oppas itu, tapi ia tak bikin gerakan apa-apa, ia bertindak terus dengan cepat.

Mereka melalui tempat yang berupa tegalan yang sepi, makin lama makin sunyi, selang dua-tiga lie, tiba-tiba si gagu letaki tubuhnya Tjioe San ditanah.

Nampaknya dia ingin berhenti, untuk menghilangi lelah, tidak tahunya, dengan sekonyong-konyong ia membalik tubuh, untuk berlompat, begitu pesat, hingga dalam dua-tiga enjotan saja, ia sudah sampai didepan kedua oppas itu tanpa mereka ini menduga suatu apa.

Tentu saja kedua hamba wet itu menjadi kaget dan takut, tidak tempo lagi, mereka berhenti jalan, mereka putar tubuh, dengan niat mengangkat kaki.

Tapi sudah kasep!

Si gagu ada terlalu sebat untuk mereka, sebelum mereka bisa angkat kaki, dia ini sudah sampai, kedua tangannya diulur, hingga tak ampun lagi, mereka kena terjambak masing-masing!

Si gagu tidak melainkan mencekuk kedua oppas itu, tanpa pikir pandang lagi, ia angkat kedua tangannya, ia ayun itu kesampingnya, dimana ada jurang, apabila ia telah lepaskan jambakannya, kedua tubuh terlempar melayang kedalam jurang.

"Aduh!...."

Adalah jeritan hebat, yang tertahan, lantas sunyi-senyap.

Sebab kedua oppas telah terbanting hebat didalam lembah, kepala mereka pecah, otak mereka hancur berantakan!

Habis tamatkan lelakon hidupnya kedua oppas itu, si gagu kembali kepada Tjioe San, tubuh siapa ia angkat pula, untuk dibawa pergi lagi, tetap dengan tindakannya yang lebar, cepatnya bagaikan terbang.

Sekali ini sibuk juga Sin Tjie, ia coba berlari-lari keras, tak dapat dia mengikuti dengan saksama, ia paksakan kedua kakinya lari sekeras bisa, tetapi Baru satu lie, sudah tak sanggup dia, napasnya lantas memburu sengal-sengal.....

Si gagu menoleh, dia lihat orang sudah kehabisan tenaga, ia bersenyum, lalu ia menyambar dengan tangannya yang sebelah lagi, akan kempit bocah itu, akan lari terus.

Malah sekarang dia bisa lari dengan terlebih keras lagi, sebab tak usah ia menantikan pula.

Setelah berlari-lari sekian lama, si gagu, yang tidak kenal lelah, membiluk kekiri, maka sekali ini, dia lari kearah gunung.

Ia mendaki.

Ia sudah sampaikan dua undakan, masih ia berlari-lari terus, hingga di depannya terlihat satu rumah gubuk dengan tiga ruangan.

Selagi mendekati rumah itu, seorang yang berada diambang pintu lantas lari keluar, untuk menghampirkan.

Dia ini ada seorang perempuan umur dua-puluh lebih.

Dia manggut terhadap si gagu, si gagu pun manggut terhadapnya, tetapi ia heran tampak si gagu mengempit dua orang.

Segera ia mengajak masuk.

"Siauw Hoei, lekas ambil tehkoan teh dan cangkirnya!"

Demikian si perempuan muda.

Dari kamar sebelah terdengar satu jawaban anak kecil, cepat sekali dia muncul, dengan membawa tempat air teh dan cangkirnya.

Ia nampaknya heran, hingga setelah memandang si gagu, dia pun awasi Tjioe San dan Sin Tjie.

Nyata dia ada punya sepasang mata yang celi.

Si perempuan muda, walaupun pakaiannya terdiri dari bahan cita kasar, ada punya kulit muka yang putih-bersih dan halus, sebagaimana si bocah sendiri nampaknya manis.

"Eh, anak, apa namamu?"

Tanya perempuan muda itu kepada Sin Tjie, yang sudah diturunkan dari kempitan si gagu.

"Bagaimana kau bisa bertemu sama dia ini?"

Sin Tjie percaya orang perempuan ini ada sahabatnya si gagu, lalu ia berikan jawabannya dengan jelas.

Perempuan muda itu lantas saja masuk kedalam, untuk kembali dengan teromol obatobatan, ia keluarkan dua rupa obat bubuk putih dan merah, ia ambil sedikit, untuk diaduk dengan air, setelah mana, Tjioe San dicekoki.

Habis itu, dia ambil satu pisau kecil dengan apa dia iris lukanya si Tjoei, sesudah mana, luka itu diborehkan obat bubuk kuning, lantas ditunggu sebentar, lalu dicuci dengan air, akan akhirnya diborehkan lagi.

Tiga kali luka itu dirawat secara demikian.

Selama itu, Tjioe San buka mulutnya, akan perdengarkan suara tidak jelas.

"Dia ketolongan!"

Kata si perempuan muda kepada Sin Tjie, ia bicara sambil tersenyum.

Lantas ia gerak-geraki tangannya terhadap si gagu, maksudnya supaja si gagu ini pondong orang yang luka kedalam, untuk antap dia beristirahat.

Selagi si gagu memondong kedalam, perempuan itu benahkan teromol obatnya.

"Aku ada orang she An, panggillah aku Encim An,"

Kata dia pada Sin Tjie.

"Ini ada anakku, namanya Siauw Hoei. Sekarang tinggallah kau sama kami disini."

Sin Tjie manggut.

An Toa-nio lalu masuk kebelakang, untuk membuat mie, malah ia pun sembelih ayam, guna santapan kedua tetamunya.

Sin Tjie dahar lebih dahulu, habis itu, saking lelah dan ngantuk, dia tidur dengan kepala diletaki diatas meja.

Baca Juga: Anak Rajawali 8

Baca Juga: Pendekar Misterius 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert