Ceritasilat Novel Online

Perintah Maut 6

Eps 6 Perintah Maut - Buyung Hok

Baca online Perintah Maut - Buyung Hok

Cersil Perintah Maut - Buyung Hok.

Kang Han Cing yang mengikuti percakapan tadi memaki didalam hati.

"Bah ! Hendak memancing diair keruh, rencana melempar batu menyembunyikan tangan? Enak saja. Kalian hendak menggunakan diriku? Mimpi !"

Terdengar lagi suara Sam kiongcu.

"Apa pula hasil yang sudah kau kerjakan?"

Lengcu Panji Putih berkata.

"Kedatangan si Hakim bermuka merah Yen Yu San ke daerah Kim-leng disertai dengan putrinya, disaat Yen Yu San berangkat, maka teecu sekalian telah menyeret putri Cin Jin Cin ini........" (Bersambung 12) ***

Jilid 12

"OH....."

Sam kiongcu menganggukkan kepala. Atas hasil ini ia agak puas.

"Baik juga. Kita bisa menggunakan putri Cin Jin Cin menyingkirkan Yen Yu San."

Sesudah itu ia menoleh ke arah si orang berbaju putih yang berada disebelahnya dan berkata.

"Mau menyingkirkan Yen Yu San, kukira harus Kwee hu-huat turun tangan sendiri. Dimisalkan masih kekurangan tenaga, orang2 yang ada disini bisa diminta bantuannya. Tinggal Kwee hu-huat pilih."

"Hamba selalu siap."

Berkata Kwee Hu-huat.

Si topeng perunggu hijau Sam-kiongcu mengulapkan tangan, itulah perintah agar lengcu Panji Putih mengundurkan diri.

Dan sesudah itu ia melirik pula kearah dayang protokolnya.

Maka sang protokol perempuan itu berteriak kembali .

"Dipersilahkan lengcu panji hijau menghadap."

Suto Lan meninggalkan rombongan, memberi hormat kepada orang yang menggunakan topeng perunggu yang menyeramkan.

"Bagaimana keadaan Datuk Utara ?"

Bertanya Sam kiongcu. Suto Lan berkata .

"Lie Kong Tie sudah jatuh kedalam tangan kita, dengan menggunakan sedikit akal, kita berhasil....."

"Apa sudah dibawa pergi ?"

Bertanya lagi Sam kiongcu.

"Sudah !"

Suto Lan menganggukkan kepala.

Tentang cerita datuk timur Lie Kong Tie jatuh kedalam Perintah Maut, Kang Han Cing pernah mendengar keterangan Goan Tian Hoat.

Disaat Lie Kong Tie meminta pengobatan di kelenteng Pek-yun-kuan, Lie Wie Neng sangat ceroboh, hanya dengan menggunakan sedikit politik, lengcu Panji Hijau berhasil menerima Lie Kong Tie dari sang putranya sendiri, itu waktu Lie Wie Neng mencopot kedok kulit Lie Kong Tie, setelah kedok itu copot itulah bukan wajah ayahnya, disinilah kecerobohan Lie Wie Neng.

Ia tidak memeriksa wajah itu lagi.

Dibalik kedok kulit Lie Kong Tie terdapat kedok kulit lain, sayang sekali Lie Wie Neng kurang perhatian, ia tidak mencopot kedok itu lagi.

Maka dianggapnya orang lain, sang ayah yang sakit diserahkan kepada musuh.

Disinilah letak kesalahan Lie Wie Neng karena didalam kebimbangan, ia kurang menyelidik, maka dengan mudah menyerahkan sang ayah ke tangan sang musuh.

Mengikuti dan mendengar tanya jawab tadi, Kang Han Cing memastikan kalau dugaan Goan Tian Hoat itu tidak salah, Lie Kong Tie sudah dibawa pergi, tentunya dibawa ke markas besar Perintah Maut.

Atas hasil prestasi Panji Hijau, Sam-kiongcu sangat puas, ia menganggukkan kepala dan mengulapkan tangan.

"Kau boleh mundur !"

Lengcu Panji Hijau Suto Lan memberi hormat dan mengundurkan diri.

Dari ketiga lengcu tadi, lengcu Panji Merah mendapat tugas untuk menghadapi Datuk Timur, Lengcu Panji Putih mendapat tugas untuk menghadapi Datuk Barat dan Lengcu Panji Hijau menghadapi Datuk Utara.

Giliran lengcu Panji Hitam yang menghadapi Datuk Selatan, bagaimana ia memberi laporan ?

Hati Kang Han Cing ber-debar2, ia hendak mengetahui dari usaha Perintah Maut di bagian lengcu Panji hitam ini.

Disaat yang sama, dayang protokol Sam kiongcu sudah berteriak keras .

"Dipersilahkan lengcu Panji Hitam menghadap."

Lengcu Panji Hitam meninggalkan rombongan, memberi hormat kepada Sam kiongcu.

Dengan secara panjang lebar dan terperinci, Lengcu Panji Hitam menceritakan jalan penyerangannya perintah Maut kepada Datuk Selatan.

Sam-kiongcu mendengar dengan penuh perhatian.

Kang Han Cing juga memanjangkan kuping.

Sesudah lengcu Panji Hitam itu selesai memberi laporan, Sam-kiongcu mengangguk-anggukan kepala, ia berkata .

"Dimarkas besar aku telah mendengar laporan. Diantara kalian empat Panji hasil Panji Hitamlah yang terbaik. Toa Kiongcu telah berpesan kepadaku untuk memberi hadiah2 tertentu !"

"Terima kasih susiok."

Berkata lengcu Panji Hitam.

Ternyata mereka mempunyai hubungan keponakan dan paman murid.

Hati Kang Han Cing semakin berdebar, dari keterangan itu, ia bisa memahami tugas dari keempat lengcu adalah menghadapi keempat Datuk2 Persilatan, dan diantaranya hasil dari prestasi Panji Hitamlah yang terbaik.

Ini berarti dari keempat Datuk, Datuk selatanlah yang paling celaka !

Tentu saja !

Mengingat bagaimana si lengcu Panji Hitam menyamar menjadi Kang Puh Cing menculik sang toako selama tiga bulan, terakhir dengan datangnya Kang Han Cing, dan menolong Kang Puh Cing, baru mereka berhasil menyingkirkan Hu Cun Cay dan Cu Ju Hung.

Mengapa mengatakan prestasi Panji Hitam sebagai prestasi yang terbaik ?

Inilah yang membingungkan Kang Han Cing.

Betul !

Ayahnya sudah binasa.

Jenasah itu hilang tanpa bekas.

Tokh bukan lengcu Panji Hitam yang berhasil ?

Sang toako berhasil ditolong keluar, Cu Ju Hung dan Hu Cun Cay sudah terusir pergi.

Mengapa mengatakan prestasi lengcu Panji Hitam sebagai prestasi terbaik ?

Terdengar lagi suara Sam kiongcu .

"Bagaimana hasil penyelidikan kalian? Betulkah Kang Sang Fung sudah mati ?"

Mendengar kata2 suara Sam kiongcu tadi, hati Kang Han Cing tercekat, ia mengeluh.

"Mereka masih kurang yakin kalau ayah itu sudah meninggal dunia......"

Terdengar suara jawaban lengcu Panji hitam.

"Menurut penyelidikan teecu, betul2 Kang Sang Fung sudah meninggal dunia. Sekarang Kang-jiekongcu sedang menyelidiki siapa orang yang telah membawa lari jenazah ayahnya itu."

"Penyelidikanmu ini salah !"

Berkata Sam kiongcu.

"Menurut laporan2 yang kudapat, Kang Sang Fung masih belum mati. Beberapa orang melihat tanda pengenal Datuk Selatan itu, dengan adanya tanda pengenal ini, adalah suatu bukti kalau Kang Sang Fung masih berkeliaran diatas bumi. Dimanakah Kang Sang Fung ?"

Hati Kang Han Cing juga tercekat, tanda pengenalnya masih berkeliaran di rimba persilatan?

Siapa yang menggunakan tanda pengenal itu?

Oh !

Tentunya orang2 pengecut yang telah menggunakan tanda pengenal ayahnya.

Demikian putusan Kang Han Cing !

Terdengar suara lengcu Panji Hitam.

"Teecu masih belum dapat laporan ini."

"Maka..."

Berkata Sam-kiongcu.

"Kau harus mengadakan hubungan kontak dengan anggota2 lainnya."

"Akan teecu perhatikan."

Berkata Lengcu Panji Hitam. Sam-kiongcu berkata lagi.

"Masih ada urusan lain. Disaat aku datang, pernah mendengar cerita seseorang yang memalsukan nama Jie-kongcu, ilmu kepandaiannya tinggi dan hebat. Ia bisa mengalahkan Yen Yu San, pejabat ketua Penganungan Jaya Yen Yu San ! Mengalahkan Ciok Beng taysu dari Siauw-lim-sie, dan mengalahkan Ciok Sim taysu dari Ceng-lian-sie, Put-im suthay dari Ciok-cuk-am. Tahukah kau, siapa orang yang menyamar sebagai Kang Han Cing itu ?"

Lengcu Panji Hitam menjawab.

"Menurut dan mengikuti petunjuk Suto pangcu, urusan Kang Jie kongcu sudah diserahkan kepada Sam sumoay. Kejadian itu teecu belum tahu."

Yang disebut Sam sumoay adalah Suto Lan ! Sam-kiongcu memandang ke arah lengcu Panji Hijau Suto Lan. Inilah suatu pertanyaan. Suto Lan maju dan berkata.

"Menurut apa yang teecu tahu, orang yang menyamar sebagai Kang Jiekongcu itu memiliki ilmu kepandaian silat tinggi, teecu tidak berani terlalu dekat, hanya mengikutinya dari jarak jauh. Yang teecu tahu adalah orang itu mempunyai hubungan baik dengan sepasang dewa dari daerah Tong-hay. Dan lain2nya, teecu belum tahu."

"Nah !"

Berkata Sam-kiongcu.

"Dengar baik2, kau harus menyelidiki asal usul orang itu."

"Teecu siap."

Berkata Lengcu Panji Hijau Suto Lan. Sam-kiongcu berkata lagi.

"Kecuali kau memalsu Kang jiekongcu, kau harus menyelidiki Kang Han Cing juga, menurut cerita, ilmu kepandaiannya juga cukup tinggi. Kalau saja bisa mengajak ia menjadi salah satu anggota kita, itulah yang baik, tapi.....kalau ia kukuh kepala, kita juga tidak membiarkan ia mengganggu usaha."

"Baik."

Suto Lan menerima perintah.

Sampai disini, secara resmi, si topeng perunggu hijau telah menggantikan Suto Cang, mengambil alih kekuasaan.

Perintah Maut !

Inilah kekuasaan partay Ngo-hong-bun !

Laporan2 dari Panji Berwarna telah selesai.

Tiba2 diatas bangunan itu menyelonong masuk seekor burung merpati, Sam-kiongcu mendongakkan kepala, menoleh ke arah satu dayang perempuan dan berkata .

"Ceng Loan, lekas sambut perintah dari markas besar !"

Dayang perempuan yang dipanggil Ceng Loan itu segera lari kedepan, mengeluarkan sebuah panji berbentuk merah, dikibarkannya beberapa kali.

Maka burung merpati yang berwarna putih itu menclok diatas panji tadi.

Dayang perempuan Sam kiongcu yang bernama Ceng Loan itu menyanggahkan tangan kiri, maka sang burung lompat ke-arah tangan tadi.

Dari kaki sang burung merpati diloloskan sebuah tabung kecil yang berisi surat, surat ini diambilnya.

Sesudah itu Ceng Loan melepas kembali burung pos tersebut.

Maka burung itu meng-gibrik2kan sayap, terbang meluncur meninggalkan tempat itu.

Dengan kedua tangan, Ceng Loan menyerahkan surat kepada Sam-kiongcu.

*** Bab 37 SAM-KIONGCU membaca surat, diulang lagi, demikian sampai beberapa kali.

Tokh ia tidak berhasil menyelami isi surat, maka dimasukkan kedalam kantong sakunya, dan ia menoleh ke arah si pengawal pribadi Kwee hu-huat, bertanya kepadanya .

"Kwee Hu-huat, pengalamanmu luas, sudah berkecimpungan lama didalam dunia persilatan, apa pernah mendengar sesuatu lembah yang bernama Lembah baru ?"

Kwee hu-huat berkerut alis, berpikir beberapa saat, dan akhirnya ia menggeleng kepala, memberi jawaban .

"Nama Lembah itu terlalu banyak, tapi belum pernah ada yang menyebut sebagai lembah baru. Kukira sesuatu yang baru saja digunakan ?"

"Kukira demikian."

Berkata Sam-kiongcu.

"Ada hubungan eratkah lembah baru dengan golongan kita ?"

Bertanya Kwee hu-huat. Sam-kiongcu berkata .

"Toa-kongcu memberi berita baru, dikatakan ada sesuatu golongan yang mengatakan Lembah Baru, mengambil tindakan dan langkah kebijaksanaan yang bertentangan dengan golongan kita. Toa kongcu memberi tugas untuk menyelidiki, dimana letaknya lembah baru itu."

"Lembah Baru ? Lembah Baru ?"

Kwee hu-huat mengulang kata2 itu.

"Mungkinkah nama sesuatu golongan ?"

Lengcu Panji Hijau Suto Lan maju selangkah, memberi hormat dan berkata.

"Lapor kepada Sam susiok, teecu pernah bertemu dengan orang2 dari Lembah itu."

Sam-kiongcu memandang Suto Lan diperhatikannya beberapa saat dan bertanya.

"Coba ceritakan menurut apa yang kau tahu, dimana Lembah Baru? Dan siapa yang menjadi pimpinan2 golongan itu."

Lengcu Panji Hijau Suto Lan berkata.

"Lembah Baru telah mengumpulkan jago2 silat yang hebat. Dimana adanya lembah baru? Teecu belum berhasil membuat penyelidikan. Beberapa hari yang lalu, didalam kota Kim-leng pernah muncul serombongan orang2 misterius, dan munculnya mendadak, lenyapnya pun mendadak pula. Mereka tiada kabar berita. Kemarin orang2 itu menyerang markas kita, menculik dan melarikan Kang jiekongcu. Sesudah terjadi kejar mengejar, teecu berhasil menyelidiki dan mengubar orang2 itu. Mereka mengajak Kang jiekongcu ke suatu kereta, melarikannya jauh. Teecu mengikuti dari jarak jauh, salah seorang dari golongan itu seperti bernama Tan Siao Tian...."

"Tan Siao Tian?"

Sam-kiongcu mengulang nama si Jaksa Bermata Satu.

"Tan Siao Tian ?!"

Kwee hu-huat juga terjengkit.

"Apa orang itu mempunyai mata yang rusak sebelah? Mungkinkah si Jaksa bermata satu Tan Siao Tian? Bagaimana keadaan matanya? Apa mata orang itu rusak sebelah ?"

Kata2 yang terakhir ditujukan ke arah Suto Lan, Suto Lan menganggukkan kepala dan berkata.

"Betul. Orang yang bernama Tan Siao Tian itu seperti mempunyai julukan Jaksa Bermata Satu. Dikarenakan ia sebelah matanya kerusakan."

"Betul2 dia ! Betul2 dia !"

Kwee hu-huat mengulang beberapa kali.

"Ajaib ! Heran...!"

Sam-kiongcu menoleh dan bertanya.

"Kwew hu-huat kenal kepada orang itu?"

Kwee hu-huat berkata.

"Hamba pernah bertemu ia beberapa kali. Tan Siao Tian mempunyai gelar jaksa bermata satu. Ilmu silatnya tinggi, otaknya cerdik. Orang ini menguasai daerah Coan Sau dan Han, tiga daerah, orang menyebutnya juga sebagai Pendekar Tiga Daerah. Boleh dikata sebagai raja dari ketiga daerah itu, mengapa ia mau bernaung dibawah kekuasaan orang lain? Menjadi anak buah Partay Baru yang tidak dikenal orang?"

"Partai baru !"

Sam-kiongcu bergumam.

"Kekuatan baru yang tak bisa diremehkan."

"Partai baru? Kekuatan yang tidak bisa diremehkan."

Kang Han Cing juga turut mengingat kata2 itu. Partay Baru memang tidak bisa diremehkan. Partay inilah yang paling gigih menentang Partay Ngo-hong Bun ! Lengcu Panji Hijau Suto Lan berkata .

"Teecu telah mendengar Ciok Beng taysu memberi peringatan kepada Ciok Sim taysu, katanya.

"Siecu ini adalah Tan tayhiap, pendekar dari tiga daerah Coan, Sau dan Hiat yang ternama."

Dari balik lobang topeng perunggunya yang menyeramkan, Sam-kiongcu berkata.

"Jelas partai baru mengambil pendirian yang bertentangan dengan pendirian kita. Mereka adalah musuh. Kita harus berhati-hati. Apapun yang terjadi, kita akan menempurnya."

Sesudah itu sam kiongcu memandang kepada empat baris panji2 berwarna dan berkata.

"Lengcu Panji Hijau, Lengcu Panji Putih, Lengcu Panji Merah dan Lengcu Panji Hitam. Dengar baik2. Segera kalian menyelidiki jejak dari partai baru. Dan beri laporan secepatnya!"

Secara serentak, keempat lengcu itu berkata.

"Teecu siap menjalankan perintah susiok."

"Tunggu dulu."

Berkata Sam kiongcu.

"Sebentar lagi Kwee hu-huat bisa mengatur sesuatu, menggantikan Yen Yu San. Dan untuk usaha ini, barisan panji putih harus membuat persiapan2 !"

Lengcu Panji Putih membungkukan setengah badan dan berkata .

"Siap !"

"Wah ! Rencana apalagi nih ?"

Kang Han Cing berpikir didalam hati .

"Sam-kiongcu menyuruh Kwee-hu-huat ingin menggantikan Yen Yu San. Tentunya ingin membunuh wakil ketua benteng Penganungan Jaya itu. Bakal celakalah Yen Yu San."

Masih terdengar suara Sam kiongcu .

"Bukan Yen Yu San saja yang harus disingkirkan. Ketua Ciok-cuk-am Put-im suthay dan ketua Ceng-lian sie Ciok-sim taysu juga harus dilenyapkan dari permukaan bumi. Hanya satu yang harus diperhatikan, kalian harus memberi kesempatan hidup kepada Ciok Beng."

Kwee hu-huat tertawa, ia berkata.

"Sam kiongcu memang mempunyai penilaian yang tepat ! Tentu saja ! Rombongan ini telah berani memegat rombongan dari partai baru. Kalau saja kita kasih sedikit kesempatan kepada Ciok Beng, tentu ia membuat pengaduan yang bukan2, kita menggunakan tutup kerudung, orang kita belum dikenal oleh mereka. Perhitungan ini bisa langsung jatuh ke atas kepala Partai Baru. Biar Siauw-lim-pay dan Ngo-bie-pay yang meng-aduk2 Partai Baru."

Sebetulnya Kang Han Cing masih memikir-mikir, dengan alasan apa Sam kiongcu membebaskan Ciok Beng taysu?

Mungkinkah Ciok Beng taysu menjadi mata2 mereka?

Mendengar suara Kwee hu-huat yang seperti ini, ia sadar.

Lagi2 golongan jahat menggunakan taktik melempar batu sembunyi tangan, hendak membunuh Yen Yu San dkk dan memfitnah partai baru !

"Permainan licik !"

Kang Han Cing memaki didalam hati.

Terdengar suara tertawa cekikikan Sam-kiongcu dari balik topeng perunggunya yang hijau dan seram itu, suara tertawa si gadis membangunkan bulu roma.

Betapa menarik suara seorang gadis, tapi tidak bisa disamakan dengan suara Sam kiongcu, suara ini penuh keseraman bisa membangunkan bulu roma.

Penuh hawa pembunuhan, bisa menciutkan nyali seseorang.

"Legakan hati Sam-kiongcu."

Berkata Kwee hu-huat.

"Serahkan urusan ini kepada hamba."

Sam-kiongcu menganggukkan kepala dan berkata .

"Baiklah."

Sam kiongcu menganggukkan kepala.

Kemudian dia memberi isyarat kepada empat dayangnya bersama2 meninggalkan tempat itu.

Kepergiannya Sam kiongcu dihormati oleh ampat barisan panji berwarna.

Kang Han Cing juga turut membungkukkan badan, hatinya berpikir.

"Cara2nya si topeng perunggu hijau ini lebih hebat dengan ayah Suto Lan. Wah ! Kalau begini kejadiannya celakalah tokoh2 silat di rimba persilatan. Beruntung aku bisa mengetahui rencana mereka, tapi bagaimana harus mencegah?"

Kang Han Cing me-mikir2 bagaimana harus mengatasi bencana rimba persilatan dari kehancuran tangan jahat ?

Yang jelas, golongan Perintah Maut adalah satu perkumpulan yang bernaung dibawah panji partai Ngo-hong-bun.

Maksud tujuan partai Ngo-hong-bun terbagi dua pokok persoalan.

Kesatu, menyatukan dan menarik Empat Datuk persilatan ke pihaknya.

Kedua, membuat gaduh dialam rimba persilatan.

Mengacau-balaukan suasana percekcokan.

Teristimewa menarik kekuatan Siauw-lim-pay dan Ngo-bie-pay untuk bentrok dengan partai baru.

Hasil2 lainnya yang Kang Han Cing bisa menarik kesimpulan dari perjalanan tersebut ialah.

Kesatu .

Golongan Partai Maut yang terdiri dari intisari partai Ngo hong-bun, hendak menyingkirkan Yen Yu San, kemudian memalsukan Yen Yu San, mengambil alih benteng Penganungan Jaya.

Kedua .

membunuh Put-im suthay dari Ciok-cuk-am, menyingkirkan Ciok Sim taysu.

Gerakan2 yang hendak mereka lakukan ialah .

Kesatu .

Barisan Panji Merah bersedia untuk menghadapi Datuk Timur.

Kedua .

Barisan Panji Putih disediakan untuk menghadapi Datuk Barat.

Ketiga .

Barisan Panji Hijau khusus disediakau untuk menghadapi Datuk Utara.

Keempat .

barisan Panji Hitam disediakan untuk menghadapi Datuk Selatan.

Menggunakan empat barisan berwarna untuk menghadapi empat Datuk Persilatan.

Kang Han Cing lebih mengutamakan gerakan barisan Panji Hijau.

Salah satu dari barisan Panji berwarna yang hendak menghadapi keluarganya.

Selain itu Panji Hijau juga bertugas menyelidiki asal usul Tong Jie Peng.

Orang yang telah berulang kali menolong dirinya, sesudah itu lengcu Panji Hijau Suto Lan dapat tugas untuk membujuk dirinya, memasuki partai Ngo-hong-bun.

Sesudah keberangkatan si Topeng Perunggu Hijau Sam-kiongcu, maka wakil pimpinan jatuh kepada Kwee hu-huat.

Kwee hu-huat menoleh kepada Lengcu Panji Putih dan bertanya.

"Liok hiangcu, apakah sudah menyelidiki di mana Yen Yu San bermalam?"

Lengcu Panji Putih menjawab .

"Rombongan dari Benteng Penganungan Jaya itu mengambil tempat dirumah penginapan Seng-kie kek-ciam."

Kwee hu-huat memberi perintah .

"Lekas kirim surat tantangan, ajak diri untuk bertemu dibagian barat Tay biao hong."

Lengcu Panji Putih membungkuk setengah badan, ia menerima perintah dan mengundurkan diri. Sesudah itu Kwee hu-huat memandang kepada empat barisan panji berwarna, ia memberi perintah .

"Semua boleh istirahat."

Maka keempat barisan Panji berwarna itu mengundurkan diri.

Kang Han Cing mengikuti barisan Panji Hijau, mereka berjalan ber-lerot2 keluar bangunan itu, dan di kala melewati semak2 dia menyelinap masuk kesana, membuka tutup kerudung dan pakaian hijaunya meninggalkan penyamaran itu, dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang luar biasa, ia kembali ke kota Kim-leng.

Kang Han Cing memisahkan diri dari rombongan itu !

Tiba digedung keluarga Kang, pemuda kita mencopot kedok kulit pemberian Tong Jie Peng, dan ia berjalan masuk.

Orang pertama yang menjumpai Kang Han Cing adalah Kang Seng.

Kang Seng terkejut, segera ia membungkukkan badan memberi hormat dan berkata.

"Jie kongcu baru kembali?"

Kang Han Cing memberi perintah.

"Lekas undang tuan pengurus ke kamarku. Ada sesuatu yang hendak kurundingkan."

Tanpa menoleh lagi Kang Han Cing menuju ke arah kamarnya. Baru saja Kang Han Cing berganti pakaian, terdengar pelayan Siao Tian diluar pintu berkata .

"Jie kongcu, tuan pengurus sudah datang."

"Silahkan masuk."

Berkata Kang Han Cing. Goan Tian Hoat dengan sikap ter-gesa2 masuk, ia berkata .

"Dua hari jiekongcu tidak kembali, menurut pendapatku tentu berhasil mencari jejak2 musuh itu."

Kang Han Cing menggelengkan kepala, ia berkata.

"Sangat panjang ceritanya, mari kita ke kamar toako untuk mengajak ia berunding."

Goan Tian Hoat berkata.

"Toa kongcu sedang bepergian."

Kang Han Cing terkejut.

"Kemana ?"

Ia bertanya. Goan Tian Hoat menjawab.

"Kemarin malam pemimpin perusahaan Cen yen piauwki yang bernama Ban Cen San mengutus orang datang, mengundang Toa kongcu ke tempatnya dikatakan ada urusan penting yang mau dibicarakan, maka itu malam juga toa kongcu berangkat."

Kang Han Cing semakin terkejut, ia berteriak.

"Ban Cen San sudah mati. Ban Cen San yang mengundang toako adalah Ban Cen San palsu."

"Sudah kuberitahu pada toa kongcu."

Berkata Goan Tian Hoat.

"Agar dia bisa lebih ber-hati2. Tapi tidak apalah, biar toakongcu menghadapi sedikit persoalan. Sampai sekarang, kita tidak bisa tahu dimana markas mereka, dengan adanya kejadian ini, toa kongcu bisa membongkar penyamaran penjahat......"

Mereka ber-cakap2 dengan dilayani oleh si gadis pelayan Siao Tian, sampai disini Goan Tian Hoat melirik ke arah Siao Tian.

Kang Han Cing mengerti, Goan Tian Hoat tidak mau pembicaraannya turut didengar oleh gadis pelayan itu, maka ia menggebah Siao Tian.

"Siao Tian, kau tunggu diluar !"

Setiap orang harus dicurigai ! Gadis Siao Tian mengundurkan diri. Dan dengan suara perlahan dan bisik2, Goan Tian Hoat berkata.

"Beberapa hari yang lalu aku sudah menitip surat kepada suhu untuk minta bantuan. Maka suhu mengirim jie-suheng datang untuk memberi bantuan. Sesudah toa kongcu meninggalkan gedung, kuberitahu kepada jie-suheng untuk mengikuti dari belakang guna menjaga keamanan toa kongcu, bilamana menghadapi sesuatu, harus segera memberitahu kepada kita."

Jie suheng Goan Tian Hoat bernama Cau Yun Tai, murid kedua dari Kuo Se Fen, juga termasuk salah seorang anak murid Hai-yang-pay yang luar biasa !

Dengan mendapat dukungan2 dari Hai-yang-pay, usaha Kang Han Cing lebih mudah berhasil.

Kang Han Cing menjadi bergirang hati.

Ilmu kepandaian Kang Puh Cing tidak lemah, kecerdikan Cau Yun Tai cukup luar biasa.

Maka mereka itu bisa diajak kerja sama.

Hatinya agak lega.

Tapi Goan Tian Hoat meminta bantuan Cau Yun Tai untuk membuntuti Kang Puh Cing, mengapa tidak berjalan ber-sama2 ?

*** Bab 38 MEMANDANG ke arah Goan Tian Hoat, cahaya mata Kang Han Cing bersinar terang, bertanya dengan perlahan .

"Saudara Goan, apa kau masih meragukan kepribadian toako ?"

Goan Tian Hoat berat untuk mengutarakan isi hatinya, termangu sebentar dan menjawab .

"Bukan meragukan toa kongcu, tapi ada lebih baik kalau mereka terpisah, untuk menjaga sesuatu yang tidak diinginkan, dimisalkan salah seorang masuk kedalam perangkap musuh, satunya masih bisa balik kembali."

Kang Han Cing bisa diberi mengerti.

"Jie kongcu."

Berkata lagi Goan Tian Hoat.

"Tiga hari kau tidak kembali, apa saja yang dilakukan olehmu."

Kang Han Cing menceritakan pengalaman2nya, pengalaman yang penuh kemisteriusan dan penuh dengan kesuksesan.

Ternyata hanya didalam waktu tiga hari itu, Kang Han Cing telah mendapatkan penemuan yang terbesar.

Pendekar Cendikiawan Goan Tian Hoat menggunakan otak yang lihai, mengilmiah kejadian2 yang terkembang di dalam rimba persilatan.

Berkerut alis beberapa saat, Goan Tian Hoat berkata .

"Partai Ngo-hong-bun telah melakukan sesuatu yang menyimpang dari hak azasi manusia, mereka hendak berkuasa dan menjadi raja di rimba persilatan, hendak menundukkan empat Datuk persilatan. Sayangnya ke empat Datuk Persilatan itu juga masing2 memegang kekuasaan tersendiri, masing2 mau menang sendiri, satu sama lain tidak mau berkenalan. Susah dikoordinir, tidak mau bersatu, sok jago, dan ini sudah masuk ke dalam perhitungan Ngo hong-bun. Satu persatu lebih mudah dihancurkan."

Kang Han Cing juga mengutarakan pendapatnya, ia berkata .

"Inilah yang kukawatirkan, maka cepat2 balik kembali, dengan maksud mencari toako dan mencari jalan keluar."

Goan Tian Hoat berkemak kemik lama, sepatahpun tidak diucapkan.

Menyaksikan keadaan yang seperti itu, Kang Han Cing tidak mendesak.

Iapun diam.

Demikian kesunyian terjadi beberapa saat, akhirnya Goan Tian Hoat membuka kembali mata yang belum lama dipejamkan, ia berkata .

"Kalau saja jie-kongcu bersedia menjadi menteri koordinator, inilah kesempatan yang baik."

"Apa itu artinya menteri koordinator ?"

Bertanya Kang Han Cing. Goan Tian Hoat berkata.

"Sekarang pihak si Hakim bermuka merah Yen Yu San sudah berada dikota Kim-leng. Menginap dan bermalam di rumah penginapan Seng-kie-kek-ciam. Ia hanya pejabat ketua Penganungan Jaya tapi kedudukannya tidak berbeda dengan wakil Datuk Barat. Karena itulah kedudukannya yang paling berbahaya."

"Berbahaya bagaimana?"

"Hubungan Yen Yu San sangat luas. Juga mudah mengikat tali perserikatan dengan Datuk2 lainnya. Asal saja jiekongcu bisa mengajak Yen Yu San bekerja sama, menghubungi datuk timur dan datuk barat, maka keempat datuk persilatan pasti bisa kompak."

"Mungkinkah....?"

Kang Han Cing ragu2.

Goan Tian Hoat tersenyum, ia mendekati telinga Kang Han Cing dan mengutarakan rencananya.

Rencana apa yang Goan Tian Hoat usulkan ?

Berhasilkah Kang Han Cing menyatukan Datuk Persilatan yang mau saling berkuasa itu ?

Bagaimana mereka mengelakan serangan golongan Perintah Maut yang menjadi anak perserikatan dari partai Ngo hong-bun?

Mari kita mengikuti cerita berikutnya.

*** Matahari mencorong keras, bergantung di-tengah2 langit.

Dijalan raya kota Kim leng, seorang pemuda sastrawan dengan kipas di tangan berjalan lenggang menuju ke rumah penginapan Seng-kie-kek-ciam.

Begitu berada dipintu rumah penginapan, beberapa pelayan segera menyambut dengan ramah, salah seorang bertanya.

"Kongcu hendak bermalam ?"

Pemuda sastrawan itu memutarkan kedua matanya dan ia bertanya.

"Apa ada kamar yang besar yang paling bersih ?"

"Ada.....ada......"

Cepat2 pelayan rumah penginapan itu menjawab.

Diajaknya si pelajar berbaju putih masuk ke dalam.

Pemuda pelajar ini terus menerus bergoyang kipas, ia berjalan dibelakang pelayan dan tidak henti2 berkata.

"He, ada beberapa kamarkah di tempatmu ini ? Terbagi berapa ruangan ?"

"Kami mempunyai enampuluh kamar, masing2 terbagi dari ruangan."

"Ruangan mana yang terbaik?"

Tanya si pemuda pelajar.

"Ruangan timur."

"Baik. Ajak aku ke ruangan timur. Apa keadaan rumah penginapan ini ramai atau sepi ?"

"Agak lumayan."

"Aku hendak memilih tempat yang agak sepi, untuk membaca-baca buku, tanpa mendapat gangguan, untuk sewa kamar, mahal sedikitpun tidak apa."

Setelah berkata begitu, pemuda pelajar memperhatikan kamar2, lalu menunjuk ke arah salah satu kamar sambil berkata .

"Aku mau kamar ini !"

"Oh !"

Pelayan itu terkejut.

"Maaf, kamar ini sudah ada penghuninya !"

"Yang itupun boleh."

Berkata si pemuda sambil menunjuk ke arah kamar sebelah.

"Maaf kongcu, untuk barisan kamar2 ini sudah diborong orang."

"Siapa yang memborong?"

"Seorang tua bermuka merah dengan rombongannya,"

Menjelaskan si pelayan.

Disaat ini dari luar memasuki dua orang laki berpakaian ringkas, langkahnya tegap dan keras memasuki kamar yang ditunjuk pemuda tadi.

Disaat mereka bersampokan, si pelayan memberi hormat dan berkata.

"Jiwie sudah kembali, biar hamba bawakan air."

Kedua laki berpakaian ringkas itu tanpa menyahut si pelayan, terus jalan menuju kamarnya dan langsung menggabrukkan pintu.

Si pemuda memandang kedua orang tadi dan menoleh ke arah si pelayan dan bertanya.

"Kedua orang itu...."

"Mereka baru saja ber-jalan2 juga termasuk rombongan orang tua bermuka merah."

Akhirnya si pemuda sastrawan memilih kamar2 yang tidak berjauhan dari kamar2 itu.

Sampai disini, kita boleh membuka kartu, pemuda sastrawan adalah samaran Kang Han Cing.

Dan orang bermuka merah yang memborong barisan2 kamar itu adalah si Hakim Bermuka Merah Yen Yu San.

Untuk sementara kita tinggalkan Kang Han Cing.

*** Diluar rumah penginapan Seng-kie-kek-ciam.

Pemandangan seperti biasa, tenang, awan putih di langit yang tidak berumbang.

Di jalan raya dari jauh mengepul debu tinggi, empat ekor penunggang lari mendatangi ke arah rumah penginapan Seng-kie-kek-ciam.

Seorang yang didepan adalah orang tua bermuka merah, inilah pejabat ketua Penganungan jaya Yen Yu San.

Di sebelahnya adalah lak2 berbaju biru, inilah Yen Siu Hiat.

Di belakang mereka turut mengiringi dua laki-laki berbadan tegap, dua orang yang dibawa dari benteng penganungan jaya.

Secepat itu pula, keempat kuda itu berhenti didepan rumah penginapan Seng-kie kek-ciam, Yen Yu San dan Yen Siu Hiat lari masuk kedalam.

Diikuti oleh dua orang mereka.

Yen Yu San adalah cukong besar, para pelayan rumah penginapan segera menyambut mereka.

Membungkukkan badan dan menyilakan mereka lewat cepat.

Alis Yen Yu San berkerut, ada sesuatu yang merundungi dirinya, ia hanya membalas hormat para pelayan itu dengan satu anggukkan kepala, dengan langkah lebar menuju kearah kamar.

Disaat ini, dari depan Yen Yu San berlari datang seorang sastrawan berbaju putih, bergegas terhuyung2 menubruk Yen Yu San, dengan mulut ber-teriak2 pemuda itu berkoar.

"Hantu..... hantu.....rumah penginapan ini ada hantu !"

Saking takutnya, sastrawan berbaju putih itu menubruk ke arah si Hakim bermuka merah Yen Yu San.

Yen Yu San meraihkan tangan, dengan cepat menyanggah jatuhnya sastrawan berbaju putih itu, sesudah menenangkannya, ia berkata.

"Tenang....tenang.....apa yang telah terjadi?"

Berkat bantuan Yen Yu San, si pemuda sastrawan nyaris dari jatuh terjerembab.

Ia berhasil menenangkan hatinya yang dirundung penuh rasa ketakutan.

Siapakah si pemuda sastrawan itu, tidak lain tidak bukan dia adalah penyamaran Kang Han Cing, dengan menggunakan kedok kulit pemberian Tong Jie Peng, ia menyamar sebagai seorang sastrawan baru.

Pelayan rumah penginapan segera mengenali tamu yang baru saja masuk tadi, tamu yang memilih kamar Yen Yu San.

"Kongcu bagaimana?"

Si pelayan bertanya. Terengah si pemuda sastrawan istirahat sebentar, ia memberi hormat kepada Yen Yu San dan berkata.

"Maaf. Maaf. Boanseng meminta maaf."

Boanseng berarti aku yang rendah.

Boanseng khusus menyebut diri sendiri kepada orang lain yang memiliki kedudukan lebih tinggi.

Umumnya digunakan oleh kaum sastrawan.

Yen Yu San membalas hormat Kang Han Cing, diperhatikannya baik2 pemuda itu, ia tidak kenal lagi kepada Kang Han Cing, karena si pemuda sudah mengubah wajahnya.

"Eh."

Ia bertanya.

"Apa yang terjadi ?"

Dengan membawakan lenggang lenggok seorang sastrawan yang tidak mengerti silat, Kang Han Cing berkata.

"Oh...oh....tidak apa2.....mungkin mata boanpww sedang lamur....... sungguh boanpwe melihat seorang."

Wajah Yen Yu San yang merah bercahaya terang, ia bertanya .

"Orang bagaimanakah yang lotee lihat ?"

Lotee berarti saudara. Sebutan menghormat kepada kaum yang lebih rendah. Kang Han Cing memperlihatkan sikapnya yang ketakutan, dengan pelegap pelegup ia menjawab.

"Seseorang yang berpakaian baju putih......oh ! Bukan ! Sesosok bayangan mayat yang terbungkus kain putih."

Mendengar ucapan itu si pelayan menjadi gugup, mana mungkin dalam rumah penginapannya ada hantu disiang hari bolong ? Karena itu cepat2 ia berkata .

"Kongcu jangan bergurau. Rumah penginapan kami aman dan tentram. Apa lagi pada siang hari bolong, dari mana datangnya mayat berkerudung putih?"

Yen Yu San mengibaskan pelayan rumah penginapan, menghadapi Kang Han Cing dan bertanya .

"Dimana bayangan itu sekarang ?"

Kan Han Cing berkata .

"Orang itu... makhluk itu...makhluk itu berdiri...."

Kang Han Cing menunjuk ke arah deretan kamar2 yang sudah diborong oleh Yen Yu San. Wajah Yen Yu San berubah, ia berteriak keras .

"Apa yang dikerjakan ?"

"Boanseng melihat ia ber-goyang2, longak longok disana. Sebentar kemudian, benda tadi lenyap mendadak."

Wajah Yen Yu San semakin berubah, menoleh ke arah Yen Siu Hiat dan berkata .

"Lekas kalian periksa !"

Ternyata Yen Yu San saat itu baru saja kembali dari mencegat Kang Han Cing beserta rombongan partai baru.

Ketika ia menerima laporan dari seseorang bahwa putri Cin Jin Cin yang juga turut melakukan perjalanan dan menginap dalam rumah penginapan itu yang bernama Cin Siok Tin telah lenyap tanpa bekas.

Lenyap diculik orang dari kamar penginapannya.

Maka cepat2 ia meninggalkan orang2 tersebut.

Begitu tiba, sekarang lagi2 ada seseorang yang mengintip dikamarnya, bagaimana ia tidak menjadi ber-debar2 ?

Keterangan Kang Han Cing tepat memasuki hatinya.

Karena itu ia memberi perintah kepada Yen Siu Hiat dan orang2 untuk memeriksa.

Yen Siu Hiat mengajak dua orangnya memeriksa kamar2 mereka.

Yen Yu San menepuk pundak Kang Han Cing, ia berkata.

"Mungkin laotee salah mata, mungkin juga ada pancalongok yang hendak mencuri sesuatu. Menggunakan kesempatan kita tidak berada didalam kamar, hendak mencuri benda berharga. Jangan takut, mari kita periksa."

Menggandeng tangan Kang Han Cing, Yen Yu San mengajak si pemuda memeriksa.

Ditengah jalan, mata Yen Yu San yang lihai sudah menaruh curiga, pakaian dan gerak gerik Kang Han Cing dilakukan seperti seorang sastrawan yang tidak mengerti ilmu silat, tapi dari cahaya sinar matanya yang begitu bening, orang ini pasti memiliki latihan tenaga dalam tinggi, bukan seorang yang tidak pandai silat, karena itu ia menjadi curiga, menyelidik dan bertanya.

"Bagaimana sebutan lotee ?"

Kang Han Cing menjawab.

"Boanseng bernama Lie Siauw San."

"Tentunya orang dari jauh ?"

Bertanya lagi Yen Yu San. Kang Han Cing berkata .

"Boanseng sedang menuntut pelajaran, karena itu ter-lunta2 sampai di tempat ini."

"Namaku Yen Yu San."

Si Hakim bermuka merah memperkenalkan diri.

"Kita boleh berkenalan."

"Oh Tuan Yen Yu San,"

Kang Han Cing memberi hormat.

Cara2 Kang Han Cing mendengar disebutnya nama Yen Yu San itu tidak seperti cara2 orang lain, biasa dan datar, tentu saja ia sedang menyamar sebagai seorang sastrawan muda, bukan seorang jago silat, karena ia harus pandai membawa diri, ber-pura2 tidak tahu betapa hebat dan betapa besarnya nama pejabat ketua benteng penganungan jaya.

Nama Yen Yu San adalah wakil dari ketua benteng Penganungan jaya, bayangan dari Datuk barat.

Namanya terkenal kemana2, tapi sikap Kang Han Cing yang seperti itu membuat hatinya tidak menaruh curiga.

"Mungkinkah betul2 seorang sastrawan muda?"

Hati Yen Yu San bergumam. Kedatangan Yen Yu San dan Kang Han Cing disambut oleh Yen Siu Hiat, ia berdiri didepan sang paman tanpa bicara. Yen Yu San bertanya.

"Apa sudah diperiksa? Ada kekurangan apa ?"

"Tidak apa2."

Berkata Yen Siu Hiat.

"Tidak ketemu jejak maling itu."

"Mari kuperkenalkan."

Berkata Yen Yu San.

"inilah keponakanku yang bernama Yen Siu Hiat. Inilah tuan Lie Siauw San."

Yen Siu Hiat dan Kang Han Cing saling memberi hormat.

Yen Yu San mengajak Kang Han Cing ke ruang tengah, sesudah menyuruh orangnya menyediakan the, dimana mereka ber-cakap2.

Yen Siu Hiat turut mendampingi, ia selalu memalingkan pandangan matanya ke arah sang paman, se-olah2 hendak mengutarakan sesuatu, disitu hadir seorang tamu asing yang bernama Lie Siauw San, mereka tidak kenal kepada sastrawan Lie Siauw San ini, mereka menaruh curiga kepada si sastrawan Lie Siauw San, karena itu mereka tidak berani memperbicarakan persoalan-persoalan yang rahasia.

Kang Han Cing bisa melihat pada keragu-raguan dan kecurigaan dari Yen Siu Hiat tadi, memandang kearah Yen Yu San dan ia berkata .

"Apa lotiang kalian tidak letih ?"

Lotiang adalah bahasa sebutan seorang muda kepada golongan yang lebih tua. Di dalam rimba persilatan, lebih terkenal dengan istilah cianpwee.

"Tidak apa,"

Berkata Yen Yu San. Ia menoleh ke arah Yen Siu Hiat dan bertanya.

"Bagaimana hasilnya ? Apa semua orang sudah kembali ?"

"Sudah."

Yen Siu Hiat memberi jawaban singkat.

"Hasilnya ?"

"Mereka...."

Yen Siu Hiat menggelengkan kepala, inilah suatu tanda kalau orang2 mereka yang mencari jejak Cin Siok Tin tiada hasil.

Sesudah Cin Siok Tin diculik penjahat, seluruh anak buah benteng penganungan jaya menjadi sangat gelisah.

Termasuk Yen Yu San dan Yen Siu Hiat.

Bagaimana tidak, kalau putri dari junjungan mereka yang dipercayakan itu lenyap tanpa bekas?

Yen Yu San memancarkan sinar kebuasan, ia berkata .

"Betul2 kita jatuh di bawah tangan cecunguk-cecunguk itu."

Nah !

Sampai disini sandiwara Kang Han Cing sudah waktunya untuk ganti upacara, ia tidak boleh terlalu menyolok mata, karena itu wajib mengelakan rahasia2 yang baru saja diketahuinya, ia meminta diri, katanya.

"Lotiang masih banyak urusan. Sampai disini dahulu perkenalan kita. Boanseng meminta diri."

Disaat Kang Han Cing hendak berbangkit Yen Yu San sudah menekan pundak si sastrawan palsu itu dengan tertawa dan berkata.

"Duduk dulu ! Urusan kita hanya urusan biasa. Perkenalan kita adalah jodoh, aku senang bercampur gaul dengan para sastrawan. Teristimewa sangat tertarik kepadamu."

Sesudah itu Yen Yu San berpaling kepada Yen Siu Hiat meng-edip2kan mata isyarat.

Yen Siu Hiat segera mengundurkan diri, meninggalkan Yen Yu San dan Kang Han Cing.

Kang Han Cing duduk kembali, ia mengucapkan terima kasih dan berkata .

"Atas kebaikan hati lotiang, boanpwe hanya bisa menurut saja."

Menunjuk kearah minuman di meja, Yen Yu San berkata .

"Lotee, silahkan minum."

Yen Yu San memegang minuman itu. Diikuti juga oleh Kang Han Cing.

"Lotee,"

Berkata Yen Yu San.

"Kau menetap didaerah Tin-kang. Suatu tempat yang tidak jauh dari sini, bukan ? Apakah maksud tujuan lotee ke tempat ini....."

"Boan-seng hendak menemui seseorang kawan, bagaimana usaha totiang?"

Balik tanya Kang Han Cing. Yen Yu San menghela napas panjang, per-lahan2 berkata .

"Urusanku ke daerah Kim-leng untuk mengurus sesuatu urusan pribadi......"

"Oh ! Maaf,"

Berkata Kang Han Cing.

"Maaf !"

"Tidak apa2."

"Pantas saja lotiang seperti sangat berduka. Se-olah2 baru dirundung kemalangan."

Kata2 ini tepat memasuki lubuk hari Yen Yu San, sepasang matanya bercahaya terang.

"Hebat. Lotee memang hebat."

Yen Yu San mengeluarkan pujian.

"Puluhan tahun aku malang melintang dirimba persilatan belum pernah menemukan urusan yang seperti ini. Tidak disangka hari ini aku betul-betul terjungkir dibawah mereka."

"Oh !"

Kang Han Cing memperlihatkan sikapnya yang terkejut.

"Ternyata lotiang adalah seorang pendekar ternama dari rimba persilatan. Maaf, boanseng tidak tahu. Tapi urusan apakah yang menyulitkan lotiang?"

Didalam hati Yen Yu San berkeluh dingin pikirnya .

"Entah siapa anak muda ini ? Kukira kau pandai sekali ber-pura2 ! Betapapun penyamaranmu, mana bisa menandingi diriku ?"

Dan untuk menjajal kebenarannya, ia berkata .

"Lotee bukan orang dari rimba persilatan, tapi tentunya pernah mendengar tentang beberapa tokoh2 silat ternama pada masa ini ? Dimisalkan datuk timur Sie See Ouw, Datuk selatan Kang Sang Fung dan Datuk Barat Cin Jin Cin dan Datuk Utara Lie Kong Tie ?"

"Ya..Ya..."

Jawab Kang Han Cing.

"Dari salah seorang guru silat boanseng pernah mendengar nama2 harum dari keempat Datuk persilatan itu !"

"Nah ! Aku adalah salah seorang anak buah dari datuk Barat Cin Jin Cin, datang ke Kim-leng untuk mengurus sesuatu, mencari jejaknya seseorang pemuda hidung belang. Pemuda hidung belang itu telah membunuh dan memperkosa keponakan perempuanku."

Yen Yu San merendah diri, menggunakan istilah salah seorang anak buah Cin Jin Cin.

"Oh ....."

Kang Han Cing mengeluh.

"Datuk Barat Cin Jin Cin menpunyai seorang putri yang bernama Cin Siok Tin. Karena dibenteng Penganungan Jaya tidak ada orang, ia memaksa untuk turut serta melakukan perjalanan. Apa boleh buat, kuajak juga kemari. Nah ! Disinilah letak kesalahanku, baru kemarin malam ia mendadak lenyap tanpa bekas."

"Lenyap didalam kota Kim-leng?"

Bertanya Kang Han Cing.

"Inilah yang membingungkan orang."

Berkata Yen Yu San.

"Lenyap dari kamarnya. Aku telah menyebar orang2 untuk menyelidiki, tapi tiada hasil sama sekali."

"Gila ! Sungguh2 penjahat gila !"

Berkata Kang Han Cing.

"Dalam kota yang begini ramai, berani mereka menculik orang?"

"Lotee, aku membutuhkan sedikit keteranganmu."

Berkata Yen Yu San.

"Silahkan lotiang katakan."

"Pernahkah lotee mendengar sesuatu komplotan jahat yang berada dikota Kim-leng?"

"Boanseng jarang sekali berhubungan dengan jago2 rimba persilatan. Belum pernah dengar,"

Berkata Kang Han Cing.

"Tapi...."

"Tapi apa?"

Yen Yu San mulai ketarik. Kang Han Cing memperlihatkan sikapnya yang lambat2an, kemudian ia berkata.

"Tetapi apa urusan ini mempunyai sangkut paut dengan lenyapnya putri Datuk Barat."

"Coba kau katakan."

Berkata Yen Yu San. Kang Han Cing berkata .

"Disaat boanseng bermalam disuatu rumah penginapan, terdengar percakapan2 di kamar sebelah, suara mereka sangat perlahan, mereka ada me-nyebut2 nama nona Cin Siok Tin, dan banyak sekali yang diucapkan oleh mereka, sayang boanseng tidak bisa menangkap semua..."

"Apa lagi yang dikatakan oleh orang2 itu ?"

Kang Han Cing menelengkan kepalanya beberapa saat baru berkata.

"Menurut apa yang boanseng bisa tangkap, orang2 itu telah menculik nona Cin Siok Tin, hanya karena urusan seorang yang mempunyai julukan si pendekar Hakim bermuka merah. Asal saja bisa membunuh pendekar hakim bermuka merah ini, maka mereka bisa merampas harta kekayaannya."

Mendengar sampai disini, tiba2 saja Yen Yu San tertawa berkakakan. Kang Han Cing seperti tertegun sebentar, ia berkata .

"Mungkin ada yang salah ?"

Yen Yu San menghentikan suara tertawanya per-lahan2 ia bertanya .

"Apa lotee pernah bertemu dengan si pendekar Hakim muka merah ?"

Kang Han Cing meng-geleng2kan kepala.

"Itulah aku sendiri."

Berkata Yen Yu San.

"Oh ! Maaf !"

"Penjahat2 itu hendak menghadapi diriku? Hu,"

Yen Yu San memperlihatkan sikapnya yang berwibawa.

"Apa yang mereka hendak lakukan ?"

"Apa yang mereka bisa lakukan ?"

Bertanya Kang Han Cing.

*** Didalam, Yen Yu San sedang ber-cakap2 dengan Kang Han Cing.

Dan diluar, Yen Siu Hiat sedang men-jaga2 agar tidak ada orang yang mengganggu ketenangan pembicaraan itu.

Seorang pelayan berjalan menghampiri kamar mereka, karena itu Yen Siu Hiat membentak .

"Ada apa ?"

"Ada surat yang hendak diserahkan kepada tuan besar,"

Jawab pelayan itu.

"Serahkan saja kepadaku !"

Kata Yen Siu Hiat. Pelayan itu menyerahkan sepucuk surat. Diatas sampul bertulisan . Diserahkan kepada yang terhormat Pengurus Benteng Penganungan Jaya tuan Yen Yu San.

"Siapa yang memberi surat ini ?"

Bertanya Yen Siu Hiat.

"Seorang laki2 berbaju kelabu."

Yen Siu Hiat mengucapkan terima kasih dan pelayan itu berjalan pergi.

Yen Siu Hiat memasuki ruangan dan menjumpai Yen Yu San.

*** Bab 39 YEN YU SAN yang sedang ber-cakap2 dengan Kang Han Cing terputus, menoleh ke arah Yen Siu Hiat, bertanya .

"Ada apa?"

"Ada sepucuk surat."

Jawab Yen Siu Hiat.

"Dari mana?"

Yen Siu Hiat menjawab .

"Menurut keterangan si pelayan, seorang yang berbaju kelabu mengantarkan, sesudah menyerahkan surat ini, orang itu berjalan pergi lagi."

Yen Yu San menerima surat itu, tapi tidak segera dibaca didepan Kang Han Cing. Ia menyimpannya didalam saku. Kang Han Cing juga tahu diri, segera ia meminta diri .

"Lotiang masih ada urusan, untuk sementara boanseng meminta diri."

"Baiklah,"

Yen Yu San tidak mencegah.

"Kita orang tinggal didalam satu rumah penginapan, kalau ada waktu boleh berkunjung lagi."

Yen Yu San mengantar Kang Han Cing meninggalkan ruangannya. Dengan sudut ekor matanya, Yen Siu Hiat melirik kearah lenyapnya bayangan Kang Han Cing, ia berkata kepada sang paman .

"Jie-siok, bagaimana penilaianmu tentang orang itu ?"

"Sangat mencurigakan."

Jawab Yen Yu San.

"Aku juga tidak berhasil menyelidikinya. Coba kau lebih ber-hati2 dan meng-amat2i dia."

Yen Siu Hiat menerima perintah dan berjalan keluar. Baru sekarang Yen Yu San membuka isi surat, demikian bunyi surat itu .

"Disampaikan kepada tuan pengurus benteng Penganungan Jaya, tuan Yen Yu San. Partai kami bermaksud berkenalan dengan seluruh pendekar2 ternama, sayang sekali maksud itu tidak mudah terlaksana. Putri benteng Penganungan Jaya sudah berada ditempat kami. Karena itu kami mengharapkan kedatangan tuan untuk mengurusnya. Tempat dibawah kaki gunung Tay-biao-hong dibagian barat. Jam dua malam. Nantikanlah kami diantara kedua pohon besar, tentu ada orang yang menyambut. Cabang partai Ngo-hong-bun. Perintah Maut. Membaca surat itu, wajah Yen Yu San berubah.

"Bah !"

Dia memaki kalang kabutan.

"Berani menghina diriku?"

Disaat ia, Yen Siu Hiat sudah mengutus orangnya untuk meng-amat2i Kang Han Cing, ia balik kembali, menyaksikan keadaan sang paman yang begitu uring2an, dia menegur pelahan.

"Jiesiok, bagaimana isi bunyi surat?"

"Bacalah sendiri !"

Yen Yu San melemparkan surat itu kepada sang keponakan. Yen Siu Hiat membaca tulisan itu beberapa waktu, dengan heran ia berkata .

"Perintah Maut ? Partai Ngo-hong-bun ? Nama gelar apa nama golongan yang diberi nama Perintah Maut ?"

"Hanya satu partai cecunguk saja berani menantang diriku ?"

Kemarahan Yen Yu San masih belum mereda.

"Apa jie-siok betul2 hendak pergi kesana ?"

Bertanya Yen Siu Hiat.

"Apa kau pernah melihat pamanmu takut pada sesuatu. Tentu saja aku pergi. Lekas sediakan aku kuda !"

Yen Siu Hiat berkata .

"Biar aku yang menyertai jie-siok."

"Tidak perlu. Kau harus mengawasi gerak-gerik perkembangan ini. Biar aku pergi sendiri."

"Baik."

Yen Siu Hiat mengundurkan diri.

Sesudah mengenakan pakaian ringkas, mempernakan dirinya dengan baik, Yen Yu San meninggalkan kamar itu.

Diluar, Yen Siu Hiat sudah menunggu dengan seekor kuda jempolan, kuda yang berwarna merah.

Yen Yu San menerima kuda itu, ia siap2 berangkat.

Yen Siu Hiat bertanya .

"Apa jie-siok masih ada pesanan lain ?"

"Perhatikan baik2 pemuda sastrawan yang bernama Lie Siauw San itu."

Lie Siauw San adalah nama samaran Kang Han Cing !

Dengan satu kali pecut kuda itu dilarikan.

Kuda yang tersedia bagi orang2 benteng Penganungan Jaya itu adalah kuda2 jempolan, hanya beberapa kali keprukkan sudah meninggalkan rumah penginapan.

Waktu yang dijanjikan golongan Perintah Maut untuknya menjumpai Cin Siok Tin adalah jam dua pagi, sekarang baru saja hari menjadi gelap, Yen Yu San menjadi tidak sabaran.

Untuk melewatkan waktu, ia memasuki sebuah rumah makan dibawah kaki gunung Tay-biao-san.

Seorang diri Yen Yu San menenggak arak didalam rumah makan itu, per-lahan2 tokh lama juga, ia mulai berada dalam keadaan setengah mabok.

Tiba2 seorang pelayan rumah makan datang menghampirinya, pada tangan si pelayan terbawa sepucuk surat, dengan bibir tersungging senyuman, pelayan itu berkata.

"Tuan, ada titipan surat untuk tuan !"

"Surat ?"

Yen Yu San tercetak. Ia berpikir.

"Seorang diri ia minum ditempat ini, tokh berjalan belum beberapa lama, bagaimana orang bisa tahu kehadirannya ditempat ini ? Darimana datang surat?"

Ia menyambuti surat tersebut, pada sampul surat bertulisan. Dipersembahkan kepada tuan Yen Yu San. Hati Yen Yu San berpikir.

"Tentu surat dari komplotan penjahat."

Memandang ke arah pelayan itu dan berkata.

"Siapa yang mengantar surat ini?"

Si pelayan menjawab.

"Seorang tuan. Belum lama ia minum di dalam rumah makan ini, sebelum berangkat memberitahu kepada hamba untuk menyerahkan surat itu kepada tuan."

Yen Yu San menganggukkan kepala berkata.

"Oh! Mungkin salah seorang kawanku, tadi terlalu banyak orang, aku tidak melihat dirinya."

Si pelayan berkata.

"Tuan tadi juga berkata seperti itu. Ia sangat ter-buru2, tidak ada waktu untuk banyak bicara lagi, maka meninggalkan surat ini."

Yen Yu San mengeluarkan beberapa uang recehan, diserahkan kepada si pelayan sebagai hadiah. Sesudah menunggu pelayan itu berangkat, Yen Yu San membuka isi surat, demikian bunyi isi surat.

"Apa Yen lo-enghiong ingin tahu rahasia komplotan orang jahat ? Lekas meninggalkan tempat ini. Akan ditunggu dibawah pintu kota bagian utara. Tapi ber-hati2, disekitar rumah makan itu sudah banyak mata-mata musuh. Lebih baik keluar dari pintu belakang, agar tidak diketahui mereka."

Tulisan itu sangat indah dan menarik, tidak ada tanda tangan dan tidak identitas. Yen Yu San berkerutkan alis dan berpikir.

"Siapa orang ini ? Dari lagu2nya bukan salah satu dari anggota komplotan jahat, tapi dari mana pula? Baik ! Akan kulihat siapa dia ?"

Sesudah mengambil putusan yang seperti itu Yen Yu San menyimpan kembali surat, dia meninggalkan tempat duduknya, menuju ke arah belakang rumah makan.

Kejadian ini tidak banyak menimbulkan kecurigaan, ia ke belakang, semua orang menduga kalau Yen Yu San ke W.C atau cuci tangan.

Beberapa saat kemudian, seorang Hakim bermuka merah Yen Yu San menyeret kakinya keluar kembali, duduk diatas tempat dimana meja yang ditinggalkan Yen Yu San tadi.

Dia minum pula seorang diri.

Waktu yang ditetapkan pertemuan Yen Yu San masih cukup lama, Yen Yu San menenggak arak di rumah penginapan itu untuk meliwati waktu.

Tentu saja tidak ada yang tau kalau sudab terjadi dua pertukaran Yen Yu San.

Siapa orang yang memalsukan Yen Yu San ini?

Untuk sementara cerita kita gelapkan.

Kita menyusul Yen Yu San yang asli, melalui pintu belakang rumah makan ia meninggalkan banyak orang.

Juga meninggalkan mata2 golongan Perintah Maut.

Tiba dibagian pintu utara kota betul saja berdiri seseorang, dari jauh orang itu sudah mengirimkan gelombang suara tekanan tinggi berkata .

"Yen lo-enghiong yang datang?"

Yen Yu San memperhatikan orang itu, dedak perawakannya yang tidak terlalu tinggi juga tidak kecil, orang itu juga menggunakan tutup kerudung hitam. Tidak bisa dilihat wajahnya.

"Siapa tuan?"

Ia bertanya. Orang tadi tidak menjawab, ia hanya berkata singkat.

"Silahkan ikut segera !"

Tiba2 orang berkerudung hitam itu membalikkan badan melejit dan menuju ke depan.

Gerakan orang itu sangat cekatan dan hebat, dalam sekejap mata sudah meluncur jauh.

Si Hakim bermuka merah Yen Yu San beradat keras, mana bisa ia ditinggalkan begitu saja, ia membentak.

"Tunggu dulu !"

Mengempos tenaganya, Yen Yu San mengejar orang tersebut.

Orang yang didepan tidak menghiraukan panggilan Yen Yu San, meluncur semakin cepat.

Demikian kedua orang itu saling susul, menuju kearah utara.

Hanya sekali loncatan, Yen Yu San sudah menempatkan dirinya diatas benteng tembok kota.

Ia melongok kebawah, tampak orang berkerudung hitam sudah melayang turun, bergendong tangan, se-olah2 menunggu dirinya.

Si Hakim bermuka merah Yen Yu San menjabat wakil ketua benteng Penganungan Jaya, menjadi pembantu utama dari Datuk Barat Cin Jin Cin, mempunyai hubungan baik dengan tokoh2 silat di rimba persilatan, belum pernah dia dipermainkan orang seperti itu.

Hatinya terasa meringkal, dengan satu dengusan dingin, seperti seekor alap2 melayang turun, dia menubruk kebawah.

Inilah yang diharapkan oleh orang itu, begitu Yen Yu San meluncur dari atas tembok kota, dia membalikkan badan dan berlari lagi.

Hati Yen Yu San tergerak, hatinya berpikir .

"Kemana kau hendak ajak diriku ?"

Sudah tahu mau diakali, tokh Yen Yu San tidak takut, siapa yang bisa menyengkelit Hakim bermuka merah Yen Yu San ?

Karena itu, ia mengempos tenaga dan mengejar.

Diantara cahaya malam, kedua bayangan itu saling kejar, bagaikan bintik2 yang bergemilapan, menempur semak2, meluncur diatas daratan2.

Yen Yu San sudah memforsir semua ilmu meringankan tubuh, tapi dia belum berhasil menyandak orang yang berada di depan, tiga puluh lie telah dilewatkan kini mereka memasuki daerah pegunungan, itulah pegunungan Tay-biao-san.

Yen Yu San tertawa dingin, ia bergumam .

"Aku memang hendak ke tempat ini. Pancinganmu memang kebetulan sekali. Hendak kulihat, ada permainan apa lagi?"

Disaat ini, orang itu menghentikan gerakan, ia berbalik, tangannya digerakkan kemudian menunjuk keatas, membarengi gerakan itu, tubuh si bayangan hitam lompat dan bersembunyi diatas pohon yang rimbun.

Yen Yu San masih belum mengerti aba2 yang diberi oleh orang itu, ia meluncur datang.

Disaat ini terdengar satu suara halus yang seperti suara semut.

"Lo-enghiong, lekas naik ke atas pohon."

Yen Yu San menengadahkan kepala, memandang ke tempat persembunyian orang itu dan berkata.

"Siapa ? Dengan maksud apa mengajak diriku ke tempat ini?"

Orang diatas pohon menggunakan tekanan suara tinggi, disalurkan ke telinga Yen Yu San, katanya .

"Disekitar daerah ini, mungkin masih ada mata2 musuh, kalau ada sesuatu yang Lo-enghiong ingin ketahui, naiklah diatas pohon bersembunyi. Itu waktu kita masih bisa ber-cakap2, bukan?"

Menyaksikan keadaan orang itu bersungguh-sungguh, hati Yen Yu San tertarik, betul-betul dia melejitkan diri, berlompat keatas pohon besar yang berada tidak jauh dari pohon persembunyian orang itu.

*** Bab 40 SESUDAH menyembunyikan diri baik2, dengan gelombang suara tekanan tinggi, ia bertanya kepada orang tersebut .

"Nah! Sekarang kau bisa memberi keterangan itu !"

Orang itu dengan suara tekanan gelombang tingginya berkata .

"Orang yang berperang tentu membuat persiapan, apalagi menghadapi musuh kuat dan jahat, lo-enghiong hendak menghadapi sesuatu komplotan jahat, sudahkah mengetahui rencana busuk lawan itu?"

Yen Yu San tertegun, ternyata orang ini sudah tau kalau dirinya menerima surat tantangan, tapi ia tidak gentar, dengan congkak berkata .

"Biarpun musuh mempunyai rencana busuk apa yang harus kutakuti?"

Orang itu berkata.

"Betul ! Ilmu kepandaian silat lo-enghiong boleh dikata sudah hampir tidak ada tandingan. Tapi musuh mempunyai rencana keji, kalau hanya mengandalkan ilmu kepandaian saja, pihak musuhpun banyak jago kuat. Dimisalkan mereka tidak bisa memenangkan ilmu silat lo-enghiong, menarik kesimpulan karena adanya nona Cin Siok Tin di tangan mereka, apa yang lo-enghiong bisa lakukan? Membiarkan putri ketua itu tersiksa? Berpikirlah sekali lagi, salah set berarti berantakan!"

Yen Yu San semakin heran, kemisteriusan orang ini betul2 diluar dugaannya, ia bertanya.

"Menurut pendapatmu, bagaimana?"

Orang itu berkata.

"Maksud pancingan boanpwe ke tempat ini adalah memberi gambaran yang jelas agar lo-enghiong bisa mengerti duduk perkara dari semula."

"Bagaimana asal usulnya musuh itu?"

Orang itu berkata.

"Sebelumnya, bisakah lo-enghiong berjanji ?"

"Berjanji apa?"

Bertanya Yen Yu San.

"Boanpwee sudah mempunyai rencana, boanpwee harap lo-enghiong menonton segala sesuatu yang terjadi dengan pikiran tenang, jangan sekali2 terpancing."

"Baiklah."

"Nah. Kalau begitu, nona Cin Siok Tin pasti bisa dikembalikan."

Yen Yu San bertanya .

"Siapakah tayhiap ?"

Orang itu berkata .

"Untuk sementara, lo-enghiong jangan banyak tanya, kalau sudah waktunya, lo-enghiong bisa tahu sendiri."

"Kau tidak mau memberi nama dan asal usulmu, bagaimana aku bisa percaya kepada keteranganmu ?"

Orang itu berkata .

"Sesudah lo-enghiong berada ditempat ini, semua bisa disaksikan dengan mata sendiri, percaya atau tidak, terserah kepada penilaian lo-enghiong pribadi."

"Kalau begitu, kau bukan komplotan penjahat ?"

Orang itu berkata.

"Kalau boanpwe salah satu dari anggota komplotan penjahat, tidak mungkin mengajak lo-enghiong seperti ini."

"Baiklah. Untuk sementara aku percaya kepadamu."

"Ingat betul2, jangan sekali2 lo-enghiong turun bergebrak."

"Kau melarang aku turun tangan ? Tidak boleh melabrak orang ?"

"Hanya untuk sementara."

Berkata orang itu.

"Kalau aku bertanding dengan orang, bagaimana ?"

"Celakalah rencana boanpwe, berantakan semua, kucar kacir."

"Huh,"

Yen Yu San berdengus dingin hatinya berpikir.

"Kemisteriusanmu begitu luar biasa. Baik! Hendak kulihat, apa yang hendak kau permainkan ?"

"Sekali lagi boanpwe minta dengan hormat,"

Berkata orang itu.

"Jangan sekali2 lo-enghiong cepat naik darah. Gunakanlah pikiran yang tenang. Jangan sekali2 menuruti hawa nafsu, apapun yang terjadi, jangan lo-enghiong cepat panas hati."

"Aku tahu."

Berkata Yen Yu San.

"Tapi ada sesuatu yang mengherankan, bisakah aku minta penjelasannya ?"

"Penjelasan bagaimana yang lo-enghiong kehendaki ?"

"Janji dimalam ini adalah urusan pribadi. Mengapa tayhiap menalangi dan mengeluarkan rencana, apa maksud tujuan yang sebenarnya?"

"Maksud lo-enghiong, perjanjian dimalam ini adalah urusan pribadi ?"

"Memang urusan pribadi."

"Salah."

Berkata orang itu.

"Paling2 menyangkut urusan benteng penganungan jaya dan partai Ngo-hong-bun."

"Masih kurang tepat!"

"Dimana letak kekurangan tepatannya?"

Bertanya Yen Yu San. Orang itu berkata.

"Urusan dihari ini se-olah2 hanya menyangkut urusan partai Ngo-hong-bun yang menculik nona Cin Siok Tin, se-olah2 hanya urusan partai Ngo-hong-bun dengan benteng Penganungan Jaya. Sebetulnya tidak demikian..."

"Aku tidak mengerti."

Berkata Yen Yu San.

"Baiklah. Kalau tidak dikasih sedikit penjelasan, mungkin lo-enghiong masih kurang yakin. Pertemuan lo-enghiong hanya lembaran pertama dari rangkaian jahat partai Ngo hong-bun. Singkatnya, bukanlah hanya menyangkut bangun runtuhnya benteng penganungan jaya, atau bisa tidaknya datuk barat menancap kaki. Dan berkembangan berikutnya. Tapi hal ini juga mempunyai hubungan erat dengan ketiga datuk persilatan lainnya, kalau saja lo-enghiong mengalami kegagalan, berarti diturut hancur pula usaha datuk persilatan lainnya, gagal pula usaha Siauw-lim-pay dan Ngo-bie-pay untuk menenangkan rimba persilatan dari kekacauan !"

"Begitu hebat? Begitu panjang?"

Yen Yu San masih ragu2.

"Untuk jelasnya...."

Tiba2 orang itu terhenti.

"Nah ! Mereka sudah datang ! Lain kali saja, boanpwee beri penjelasan yang lebih terperinci."

Mereka ber-cakap2 dengan gelombang tekanan suara tinggi, masing2 menyalurkan suara dengan tenaga dalamnya ditujukan kepada telinga orang yang bersangkutan.

Tidak bisa didengar oleh orang ketiga.

Sampai disini, percakapan terhenti.

Yen Yu San memasang kuping panjang2, masih tidak terdengar sesuatu yang mencurigakan, bagaimana orang itu mengatakan mereka sudah datang?

Menggunakan mata Yen Yu San celingak celinguk mencari rombongan yang dimaksud.

Betul saja !

Dari jauh tampak didalam kegelapan malam bintik2 yang bergerak, semakin lama semakin besar itulah gerak beberapa orang yang bergerak datang.

Hati Yen Yu San memuji kehebatan mata orang yang misterius itu, ia baru melihat bintik2, tapi si orang misterius sudah menyebutnya lebih dahulu.

Suatu tanda kalau mata orang tersebut lebih lihay.

Bukan matanya saja yang lebih lihai, ilmu meringankan tubuhnya pun hebat.

Otaknya luar biasa.

Yen Yu San mengakui bahwa ia tidak unggulan.

Tidak lama, orang2 yang datang itu sudah terpeta jelas, jumlahnya enam orang.

Orang yang didepan adalah seorang kakek berpakaian putih, hidungnya bengkung.

Itulah Kwee hu-huat dari partai Ngo-hong bun.

Dibelakang Kwee hu-huat turut serta empat orang, masing2 mengenakan pakaian merah, putih, hijau dan hitam, juga mengenakan kerudung muka yang sama warna, mereka adalah lengcu Panji Merah, Lengcu Panji Putih, Lengcu Panji Hijau dan lengcu Panji Hitam.

Seorang lagi adalah komplotan mereka, orang ini berbadan tinggi dan besar, kekar dan kuat, mengenakan pakaian warna biru, mempunyai bentuk potongan yang seperti Yen Yu San, berjenggot panjang seperti Yen Yu San, wajahnya belum terlihat, karena orang ini menggunakan tutup kerudung muka.

Ya !

Ditempat itu, kecuali Kwee hu-huat, kelima orang lainnya menutup wajah2 mereka !

Yen Yu San tidak kenal kepada Kwee hu-huat, tapi ciri2 keempat macam warna pakaian orang yang datang itu membuatnya menduga, kalau ia sedang menghadapi anak buah perintah maut.

Begitu Kwee hu-huat berenam tiba, tidak jauh dari pohon tempat persembunyian Yen Yu San dan si tokoh misterius, tiba2 muncul dua bayangan hitam, memberi hormat kepada Yen Yu San dan berkata.

"Hamba A Coan dan A Tek memberi hormat kepada Kwee hu-huat."

Munculnya kedua bayangan yang bernama A Tek dan A Coan itu membuat Yen Yu San terkejut, kedua orang tadi sudah bersembunyi dirimba, mengapa dia tidak bisa mengetahui kapan datangnya dua orang itu?

Beruntung Yen Yu San berbicara dengan si tokoh misterius secara menyalurkan suara dengan gelombang tekanan tinggi.

Sehingga tidak bisa terdengar oleh kedua orang tadi.

Kwee hu-huat mengulapkan tangan, ia bertanya kepada A Coan dan A tek, katanya.

"Kalian mendapat tugas jaga ditempat ini, apa ada sesuatu yang mencurigakan?"

"Tidak ada."

Hampir berbareng A Coan dan A Tek menjawab.

"Cukup !"

Berkata Kwee hu-huat.

"Kalian boleh kembali menjalankan tugas masing2."

A Coan dan A Tek mengundurkan diri, lenyap pula dibalik semak2 itu. Kwee hu-huat memandang langit, mengurut jenggot dan berkata.

"Waktu baru saja kentongan dipukul satu kali, Yen Yu San sangat sok, tidak mungkin datang pagi2."

Diatas pohon, hati Yen Yu San berkata.

"Orang ini betul2 bisa menyelami sifat dan adat2ku, kalau bukannya ada seorang misterius yang memancing aku ke tempat ini, pasti harus menunggu tepat jam dua baru aku datang."

Tiba2....

Dari jauh terdengar suara ketoprakannya kaki kuda, memang seekor kuda tunggangan meluncur datang, diatas kuda itu bercokol seorang, menuju ke arah Kwee hu-huat si penunggang kuda lompat turun dan berkata.

"A Guk memberi hormat kepada Kwee hu-huat."

Kwee hu-huat memandang orang itu dan bertanya.

"Apa Yen Yu San sudah berangkat?"

A Guk menjawab.

"Baru saju hamba menerima laporan burung pos yang mengatakan Yen Yu San masih menenggak arak dirumah makan Kie-biao. Masih belum berangkat."

"Bagus."

Berkata Kwee hu-huat.

"Terus awasi dirinya, begitu ada gerakan, segera beri laporan."

Orang itu mengiyakan, lalu melompat keatas kuda tunggangannya dan meluncur pergi lagi.

Yen Yu San menjadi heran, sudah terang ia tidak berada dirumah makan itu, mengapa orang tadi mengatakan masih menenggak arak seorang diri?

Pengalaman Yen Yu San juga pengalaman diplomatik ulung, berpikir sebentar dan ia bisa menduga sesuatu.

Oh, ternyata orang misterius itu pula yang memegang lakon, pantas saja dia menyuruh aku keluar dari pintu belakang.

Ternyata diapun sudah menyediakan komplotannya yang menyamar menjadi diriku, entah sandiwara apa pula yang hendak dipertontonkan?

Untuk memastikan dugaannya, menggunakan seluruh gelombang tekanan tinggi, Yen Yu San bertanya kepada si orang misterius di sebelah pohon.

"Hei, apa tayhiap yang menyuruh orang menyamar menjadi diriku ?"

Terdengar suara jawaban si orang misterius .

"Kalau tidak menggunakan taktik ini, bagaimana bisa mengakali mereka ?"

Tidak jauh dibawah Yen Yu San dan orang misterius itu, berdiri Kwee hu-huat dan empat lengcu Panji berwarna beserta seorang berkerudung pula.

Ini waktu tiba2 Kwee hu-huat mendongakkan kepala dan berkata keras .

"Yen Yu San !"

Yen Yu San kaget, tubuhnya ber-goyang2, hampir ia jatuh dari atas pohon, sangkanya Kwee hu-huat sudah mengetahui kalau dia bersembunyi diatas pohon.

Dan ini waktu, dari semak lompat keluar seorang yang mengenakan jubah biru, orang yang mempunyai jenggot dan dedak perawakan seperti Yen Yu San membungkukkan badan, ia segera menyahut.

"Hamba siap !"

Yen Yu San yang diatas pohon menjadi bingung, ia bergumam .

"Masih ada lagi orang yang bernama Yen Yu San? Oh ! Ternyata si jubah biru itu mempunyai nama yang sama dengan namaku."

Kwee hu-huat memandang ke si jubah biru dan berkata .

"Apa lengcu Panji Putih sudah menjelaskan urusan2 berikutnya ?"

"Sudah."

Berkata si jubah biru. Kwee hu-huat menganggukkan kepala, ia sangat puas, dan ia berkata .

"Nah ! Kau boleh bersembunyi dibelakang pohon, nanti sesudah berhasil membunuh Yen Yu San, kau harus segera pergi ke kota Kim-leng, menggantikan kedudukan dirinya !"

"Baik."

Orang yang mengenakan jubah biru itu segera mengundurkan diri, menghilang dari pandangan mata. (Bersambung 13) ***

Jilid 13 MENGIKUTI percakapan sampai disitu kemarahan Yen Yu San me-luap2, dengan mengertek gigi otaknya bekerja .

"Apa yang dikatakan oleh orang misterius tadi menjadi kenyataan. Komplotan jahat dari partai Ngo-hong-bun ini hendak mencelakakan diriku. Ternyata sudah menyiapkan orang untuk menyamar menjadi diriku. Bah ! Hendak kulihat bagaimana kalian mengerjai diriku ?"

Tidak lama kemudian, lagi2 terdengar derap kaki kuda mendatangi, itulah seorang anggota partai Ngo-hong-bun, lompat turun dan memberi laporan .

"Lapor kepada Kwee hu-huat, Yen Yu San sudah meninggalkan rumah makan. Sedang menuju ke tempat ini."

Kwee hu-huat menganggukkan kepala, suatu tanda bahwa ia mengerti.

Sesudah memberi laporan, orang tersebut mencongklang kudanya, dan mengundurkan diri.

Kwee hu-huat memandang kearah empat panji berwarna, ia berkata .

"Nah ! Sudah waktunya membuat persiapan, urusan boleh diserahkan kepada lengcu Panji Putih. Yang lain2nya boleh bersembunyi."

Sesudah berkata seperti itu, Kwee hu-huat mengajak Lengcu Panji Hijau, lengcu Panji Merah dan Lengcu Panji Hitam mengundurkan diri, bersembunyi di-semak2.

Membiarkan lengcu Panji Putih menghadapi Yen Yu San.

Tentu saja Yen Yu San yang akan datang hanya seorang Yen Yu San imitasi tiruan, Yen Yu San yang asli berada tidak jauh dari atas kepala mereka.

Yen Yu San memasang mata lebar2, dari posisi yang diambil oleh lengcu panji putih, mudah untuk dibayangkan apa akibatnya kalau dia yang menghadiri pertemuan ini.

Disana hanya Lengcu Panji Putih seorang, tapi begitu masuk, maka dari keempat penjuru berlompatan dan disergap musuh, kalau dia kurang siap siaga pasti celaka !

Dari atas pohon, Yen Yu San bisa menyaksikan persiapan2 dari orang2 Ngo-hong-bun itu.

Demikian juga si orang misterius diatas pohon satunya lagi, tentu bisa mengetahui persiapan mereka.

Tapi Yen Yu San palsu yang masih berada jauh disana belum mengetahui akan adanya perangkap tentunya mudah terjebak.

Mengingat keamanan orang yang memalsukan dirinya, Yen Yu San menoleh ke arah pohon bersembunyinya si orang misterius, dengan menggunakan gelombang tekanan tingginya ia bertanya .

"Bu-beng tayhiap, bagaimana memberi kisikan kepada kawanmu?"

Bu-beng tayhiap berarti pendekar tanpa nama. Tidak ada jawaban ! Yen Yu San berkerut alis. Mungkinkah si orang misterius sudah pergi ? Karena itu ia memanggil sekali lagi .

"Bu-beng tayhiap !"

Masih tidak ada jawaban.

Betul2 orang misterius itu sudah pergi !

Tentunya memberi tahu rencana komplotan partai Ngo-hong-bun kepada kawannya, agar Yen Yu San palsu kedua lebih ber-hati2 tidak terjerumus ke dalam perangkap musuh.

Yen Yu San memuji ilmu meringankan tubuh si orang misterius itu, betul2 hebat !

Tanpa diketahui olehnya, tanpa diketahui oleh beberapa orang yang berada dibawahnya, ia bisa meninggalkan pohon tempat persembunyiannya.

Yen Yu San pernah berjanji kepada si orang misterius, ia tidak akan menggagalkan rencana manusia aneh itu, dia diam diatas pohon.

Memperhatikan gerak-gerik lengcu Panji Putih di bawah.

Lengcu Panji Hijau, Lengcu Panji Merah, dan Lengcu Panji Hitam, Yen Yu San palsu dan Kwee hu-huat sudah bersembunyi dibalik semak2 dalam kegelapan malam.

Detik2 yang tegang berlalu.

Waktu segera mendekati jam dua pagi, suasana hening dan sepi, hanya tampak lengcu Panji Putih yang berjalan mundar mandir dibawah pohon.

Diwaktu yang seperti inilah terdengar derap suara langkah kaki kuda, tujuannya adalah rimba itu.

Lengcu Panji Putih yang menunggu kedatangannya, Kwee hu-huat yang bersembunyi dibalik semak2, dan Yen Yu San yang bersembunyi diatas pohon sudah menduga akan kehadiran Yen Yu San imitasi.

Betul saja !

Suatu bayangan meluncur datang, jenggotnya panjang, menggembol pedang, lompat turun dari kuda tunggangan, berjalan ke arah yang ditunjuk.

Orang itu juga berupa si Hakim bermuka merah, Yen Yu San !

Lengcu Panji Putih telah menyongsong kehadirannya, memberi hormat dan berkata .

"Yen tayhiap betul2 menepati janji, sudah lama kami tunggu ditempat ini."

Yen Yu San imitasi masih duduk diatas kuda tunggangannya, dengan suara geram membentak.

"Tuan inikah yang menantang diriku kemari?"

Kini ia lompat turun dari kuda tunggangannya. Yen Yu San asli yang nongkrong diatas pohon dalam hati tertawa geli. Katanya berpikir .

"Siapa orang ini ? Pandai sekali dia membawa diriku, heh! Sampaipun logat2 suaranyapun mirip."

Terdengar suara lengcu Panji Putih .

"Aku adalah lengcu Panji Putih dari golongan Perintah Maut!"

Yen Yu San imitasi membentak.

"Dimana ketua golonganmu ?"

Lengcu panji putih berkata.

"Akulah yang diutus untuk berbicara dengan Yen tayhiap."

Yen Yu San imitasi mengeluarkan suara dihidung, ia berkata.

"Oh! Ketua kalian mempunyai kedudukan yang sangat tinggi? Memandang rendah diriku, heh?"

Yen Yu San asli yang nangkring diatas pohon tertawa geli, ia berpikir .

"Apa yang disuarakan oleh orang itu adalah suaraku, kalau aku yang menghadapi mereka, aku juga berkata seperti itu."

Terdengar suara lengcu Panji Putih berkata.

"Yen tayhiap jangan berkata seperti itu."

"Mengapa ?"

Bentak Yen Yu San. Lengcu Panji Putih berkata.

"Rimba persilatan dimasa ini telah berada dibawah tangan Ngo hong bun, dan kami mendapat tugas didaerah ini, tentu saja kami yang keluar berbicara dengan Yen tayhiap."

"Bah ! Aku sudah lama tidak dengar nama pantai Ngo-hong-bun."

"Yen tayhiap kurang pengalaman,"

Berkata lengcu panji putih.

"Apa kalian yang sudah menculik Cin Siok Tin ?"

"Bukan menculik,"

Berkata lengcu Panji putih.

"Hanya menjamu untuk beberapa hari. Kami jamin, nona Cin Siok Tin berada dalam keadaan sehat walafiat."

"Katakan maksudmu !"

Bentak Yen Yu San.

"Partai Ngo-hong-bun tampil kembali sebagai salah satu partai besar, karena itu Ngo-hong-bun ingin berkuasa diatas takhta, kami mendapat tugas untuk bicara langsung dengan Yen tayhiap, bisakah Yen tayhiap bernaung di bawah panji kebesaran kami ?"

"Maksudmu, hendak menaklukkan benteng Penganungan Jaya?"

"Yen tayhiap harus ingat kepada keselamatan nona Cin Siok Tin,"

Lengcu Panji Putih memberi ancaman. Yen Yu San bergeram .

"Eh, mau menekan orang ? Biar kucekuk dulu barang lehermu, sesudah itu, baru aku mencari pemimpin golonganmu."

"Mau mencekuk batang leher orang?"

Lengcu Panji Putih juga tertawa dingin.

"Boleh ! Mari kita main2 untuk beberapa jurus. Batang leher siapa yang akan dicekek ?" *** Bab 41 LENGCU PANJI PUTIH tidak perlu gentar kepada keangkeran Yen Yu San, walau si hakim bermuka merah terkenal lama di rimba persilatan. Hal ini bisa dimengerti, karena bala bantuan yang masih cukup banyak. Alis dan jenggot Yen Yu San kembaran ber-kibar2, kemarahannya semakin meningkat, ia membentak .

"Bah ! Mentang2 menjadi anggota Ngo-hong-bun, berani petantang petenteng di hadapanku? Sini ! Keluarkan senjatamu, kalau tidak kutunjukkan, kau tidak tahu sampai dimana lihainya benteng Penganungan Jaya."

"Mau main senjata ? Boleh !"

Lengcu Panji Putih mengeluarkan pedang dan ia menantang.

"Yen tayhiap hendak ber-main2. Silahkan. Silahkan keluarkan senjata."

Yen Yu San imitasi itu tertawa ngakak, ia berkata.

"Puluhan tahun aku berkelana dirimba persilatan, belum pernah menggunakan senjata untuk melawan cecunguk yang tidak ternama."

Yen Yu San asli yang mendengar ucapan tekebur seperti itu, hatinya menjadi bangga. Ia menganggukan kepala beberapa kali. Lengcu Panji Putih melintangkan pedang didada, ia berkata.

"Kalau Yen tayhiap kukuh tidak mau menggunakan senjata, baik, boleh menyerang dahulu."

Ilmu kepandaian lengcu Panji Putih juga bukan ilmu kepandaian biasa, maka ia tidak segan berhadapan dengan seorang ternama yang seperti Yen Yu San. Yen Yu San imitasi berkata.

"Aku tidak menggunakan senjata juga tidak akan menyerang lebih dahulu. Jangan banyak mulut! Lekaslah mulai !"

"Baik,"

Berkata lengcu Panji Putih.

"Yen tayhiap adalah jago kawakan. Tentu tidak mau menyerang orang lebih dahulu. Awas ! Aku menyerang !"

Tangan si lengcu Panji Putih tersentak, membuat dengungan suara pedang, terlihat kilauan cahaya yang terang menembusi kegelapan, menyerang dan membacok kearah Yen Yu San imitasi.

Gerakan dan serangan lengcu panji putih memang hebat, suatu tanda kalau orang inipun memiliki ilmu kepandaian yang lihai.

Yen Yu San imitasi tertawa.

"Serangan yang bagus !"

Ia mengeluarkan pujian.

Tubuhnya tidak menyingkir, juga tidak mengelakkan datangnya bacokan pedang, tangannya terangkat, memapaki serangan itu.

Inilah cara2 pertahanan yang luar biasa, dengan tangan hendak melawan pedang, kecuali meremehkan ilmu kepandaian lawan, juga mengagulkan diri sendiri.

Gerakan pedang si lengcu Panji Putih memang cepat, gerakan tangan Yen Yu San palsu lebih cepat lagi, disaat tangan dan pedang beradu, dibalikkannya cepat, trang, punggung pedang terpukul pergi dan gagallah serangan lengcu panji putih.

Yen Yu San asli yang menonton jalannya pertandingan terkejut.

"Eh, ilmu silat apakah ini ?"

Ia mengeluh didalam hati.

Pedang lengcu Panji Putih dipukul pergi tangannya kesemutan, hampir tidak kuat memegang senjata itu.

Cepat2 lompat ke belakang, membuat posisi baru.

Yen Yu San imitasi tidak membiarkan lawan itu mencari kedudukan yang lebih baik, ia tertawa panjang, membayangi gerakan lawannya, ia menubruk kedepan, mulutnya membentak.

"Nah ! Terima pukulanku !"

Dengan tangan kiri Yen Yu San imitasi ini memukul lengcu Panji Putih.

Lengcu Panji Putih mengalami kegagalan, ia kalah gesit karena itu harus mundur kebelakang, kini diuber pula kedepan, kemarahannya me-luap2, pedangnya di-sentak2 menusuk dan menyabet.

Yen Yu San imitasi tidak memandang mata pada ilmu kepandaian tadi, tangannya masih diluruskan, lagi2 kejadian aneh, tangan Yen Yu San yang membentur pedang tidak terluka, karena ia memapaki datangnya punggung pedang menyentilnya pergi.

Terdengar dengungan pedang yang terpukul, tubuh lengcu Panji Putih terpental ke belakang termundur lagi sampai lima langkah, baru ia bisa berdiri tetap.

Yen Yu San imitasi tidak mengejar, ia tertawa berkakakan dan berkata.

"Huah, huah, huah...bagaimana ilmu pukulanku?"

Dua kali gempuran membuat lengcu Panji Putih mundur sampai dua kali, kedudukannya sudah berada di posisi didepan rimba dimana terpasang perangkap, tapi Yen Yu San yang berada didepannya tidak mengejar.

Mengetahui belum berhasil memikat hati lawannya untuk memasuki basis perangkapnya, Lengcu Panji Putih membentak .

"Biar aku mengadu jiwa."

Pedangnya dilengkungkan, menubruk kembali, menabas, membacok, menusuk dan menancap, terjadi kilatan sinar pedang memecah kegelapan, berbayang2 banyak perobahan mengurung Yen Yu San ditengah.

Diterjang seperti tadi, Yen Yu San imitasi termundur juga selangkah.

Lengcu Panji Putih meneruskan penyerangan2nya, mengurung Yen Yu San imitasi kedalam cahaya kilauan pedang.

Tiba2...

terdengar suara lengkingan panjang, dari kurungan bayangan pedang tadi, si Yen Yu San imitasi berhasil mencelat keluar tapi ia tidak meneruskan pertempuran itu, berdiri dengan ringan, dengan congkak membentak .

"Nah ! Sudah kau saksikan, kalau aku mau membunuh dirimu, terlalu mudah, bukan ? Hayo ! Suruh pemimpinmu keluar !"

Lengcu Panji Putih tidak kena gertakan, walau ilmu kepandaiannya bukan tandingan Yen Yu San itu, tokh ia tidak mau mundur.

Kini menerjang lagi berulang kali, malah makin nekad dan semakin cekatan.

Yen Yu San menghadapi setiap serangan dengan situasi yang tenang, satu saat ia menyentil ujung pedang seraya membentak .

"Lepas !"

Tring......

Pedang Lengcu Panji Putih terpental keatas, inilah kejadian yang sudah berada dibawah perhitungan.

Setelah mengukur ilmu kepandaian penjabat ketua Penganungan Jaya Yen Yu San, hal itu sudah pasti terjadi.

Lengcu Panji Putih membalikkan badan, meninggalkan pedangnya, meninggalkan Yen Yu San imitasi, ia masuk kedalam rimba melarikan diri.

"Selamat tinggal !"

Sebelum bayangan itu lenyap lengcu Panji Putih masih sempat mengeluarkan suara cemoohan.

"Tunggu dulu !"

Yen Yu San imitasi membentak, tubuhnya juga melejit, memasuki rimba jebakan. Wah ! Menerjang api kematian ! Yen Yu San asli yang sembunyi diatas pohon terkejut, hatinya berpikir .

"Sudah tahu kalau di dalam rimba itu ada persembunyian musuh, mengapa dia masuk juga?"

Diatas pohon Yen Yu San sudah bisa membedakan, Yen Yu San yang di bawah adalah jelmaan si orang misterius tadi.

Ilmu silatnya memang tinggi, bagaimana ia menghadapi kepungan musuh2 dari Perintah Maut ?

Betul saja !

Terjadi perubahan yang luar biasa.

Lengcu Panji Hijau, Lengcu Panji Merah, lengcu Panji Hitam dan Kwee hu-huat yang bersembunyi dibalik rimba bergerak, terjadi suara bentakan2, terjadi desingan2 senjata rahasia, semua ditujukan ke arah orang misterius yang menyamar menjadi Yen Yu San.

Berbareng, terdengar suatu lengkingan panjang yang menyayatkan hati, suatu tubuh yang mumbul keatas gemeletuk, tubuh itu jatuh ditanah.

Terjadi korban !

Kejadian tadi berlangsung sangat cepat, Yen Yu San asli menjadi tertekan, sangkanya tentu si orang misterius yang dibokong musuh, kakinya bersiap untuk lompat turun, melihat situasi keadaan.

Tiba2 disaat ini, terdengar lagi dengungan suara si orang misterius yang seperti semut.

"Sudah lupa kepada janji Loenghiong ?"

Rasa kaget Yen Yu San lebih2 lagi, ternyata si orang misterius memiliki ilmu silat yang begitu tinggi, jelas sudah dilihat olehnya bagaimana Yen Yu San imitasi itu masuk ke dalam rimba, dengan cara bagaimana pula sudah nangkring diatas pohon disebelah?

Betul2 menakjubkan!

Perkembangan berikutnya lebih mengherankan Yen Yu San lagi, terdengar Kwee hu-huat tertawa seram berkata.

"Lekas tanam orang ini !"

Terdengar suara keresak keresek, tak lama muncul lengcu panji putih, lengcu panji merah, lengcu panji hijau dan lengcu panji hitam.

"Liok hiangcu kau boleh beri perintah untuk Yen Yu San pergi."

Berkata Kwee hu-huat. Ternyata lengcu Panji putih she Liok ! "Baik,"

Lengcu panji putih membungkukkan badan menerima perintah. Kwee hu-huat mengurut jenggotnya dan berkata .

"Sampai disini, urusan untuk tahap pertama sudah beres, kalian boleh kembali ke masing2 tempat."

Tubuh Kwee hu-huat melejit, meninggalkan keempat lengcu panji berwarna.

Lengcu Panji merah, lengcu Panji hitam juga berangkat.

Gerakan mereka gesit2, hal ini mengejutkan Yen Yu San asli yang masih sembunyi diatas pohon, yang sudah disaksikan bukan saja lengcu Panji putih yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, ketiga Panji lainnyapun demikian juga.

Begitu juga Kwee hu-huat, memiliki ilmu meringankan tubuh yang hebat.

Tampak lengcu Panji putih, sesudah mengantar kepergian Kwee hu-huat dan ketiga lengcu lainnya, lengcu panji putih memasuki rimba, ia berteriak .

"Dimana Han Sie Yong?"

Dari balik semak2 rimba sebelah kanan terdengar suara yang menyahut.

"Hamba sudah berada disini."

Han Sie Yong adalah nama dari orang yang berkerudung mengenakan jubah biru itu, orang yang siap memalsukan Yeu Yu San, cepat2 ia menghampiri lengcu Panji Putih dan memberi hormat.

Memandang kearah orang berkerudung Han Sie Yong, lengcu panji putih berkata.

"Yen Yu San sudah berhasil disingkirkan. Mulai saat ini, kau adalah si Hakim bermuka merah Yen Yu San! Tidak perlu menggunakan tutup kerudung muka lagi."

Han Sie Yong membungkukkan setengah badan, mencopot kerudung mukanya.

"Aaaaa....."

Seorang wajah Yen Yu San lagi berada di tempat itu !

Tentu saja perkembangan sampai disini tidak mengejutkan Yen Yu San lagi, adanya Yen Yu San dirumah makan adalah kawan si orang misterius, Yen Yu San yang menempur lengcu panji putih adalah si orang misterius pribadi, dan Yen Yu San imitasi yang di bawah ini pula adalah samaran Han Sie Yong.

Disana hadir keempat manusia yang menggunakan wajah Yen Yu San.

Tiga manusia imitasi dan seorang Yen Yu San asli.

Rencana apa yang hendak digunakan oleh partai Ngo-hong-bun menggunakan wajah Yen Yu San ?

Mudah diterka, Dengan menyamar menjadi seorang Yen Yu San, berarti benteng penganungan Jaya sudah terjatuh kedalam tangan mereka.

Beruntung Yen Yu San asli masih bersembunyi diatas pohon, dia bisa menonton adanya sandiwara2 itu.

Dibawah Yen Yu San asli, Yen Yu San palsu sedang ber-hadap2an dan Lengcu Panji Putih, terdengar perintah lengcu Panji Putih .

"Nah! Kau boleh ajak Cin Siok Tin kembali menunggu perintah dikemudian hari."

"Baik."

Han Sie Yong yang menyamar menjadi Yen Yu San itu menerima perintah.

Lengcu Panji Putih sudah membuat segala persiapan, maka ia bertepuk tangan tiga kali.

Itulah code2 rahasia.

Suara tepukan itu bergema jauh, maka jauh didepan mereka tampak api penerangan yang berkelap kelip.

Itulah sambutan dari kode rahasia !

Menunggu lagi beberapa saat, empat orang berpakaian abu2 menggotong sebuah tandu lari ke arah mereka.

Sebentar kemudian, tandu itu sudah berada didepan mata mereka.

*** Bab 42 TERDENGAR SUARA lengcu Panji Putih tertawa berkakakan, ia memandang Han Sie Yong dan berkata .

"Yen tayhiap, sudah kujanjikan kalau kami menjamin keselamatan nona Cin Siok Tin, nah! Itulah nona Cin Siok Tin !"

Kain tandu tersingkap, dari sana loncat keluar seorang gadis berpakaian merah, itulah putri tunggal Datuk Barat Cin Jin Cin, namanya Cin Siok Tin.

Han Sie Yong memberi hormat kepada lengcu Panji Putih dan berkata .

"Lengcu betul2 seorang yang boleh dipercaya, dengan ini aku mengucapkan banyak terima kasih."

"Dia membawakan lakon Yen Yu San ! Diatas pohon, Yen Yu San asli tertawa dingin ! "Sandiwara yang baik ! Kalian pandai bermain eh?"

Cin Siok Tin segera melihat hadirnya sang paman, tentu saja ia tidak tahu kalau itu paman palsu, ia lari dan menubruk ke arah Yen Yu San imitasi, ia berteriak.

"Paman Yen Yu San....."

Han Sie Yong menyambut kedatangan Cin Siok Tin, merangkulnya, bagaikan seorang paman yang betul2 mengasihi, mengelusi rambut gadis itu dan berkata.

"Kau tidak menderita sesuatu?"

Dari kedua kelopak mata Cin Siok Tin mengucur tetesan2 bening, ia menangis dan menunjuk ke arah lengcu panji putih, berkata kepada Han Sie Yong.

"Mereka semua adalah perampok2......"

Dengan tertawa lengcu Panji Putih berkata.

"Maaf ! Sebelum kami mendapat penyelesaian, nona menjadi tamu agung kita, kini urusan sudah beres, harap jangan taruh dalam hati."

Sesudah itu, ia memberi hormat kepada Han Sie Yong dan berkata .

"Yen tayhiap, kuharap saja bisa memegang janji, mulai saat ini, partai Ngo hong-bun dan benteng Penganungan Jaya tetap bekerja sama."

Tanpa menunggu jawaban Han Sie Yong, lengcu Panji Putih mengajak ke empat anak buahnya yang menggotong joli tadi berangkat dan meninggalkan Cin Siok Tin.

Han Sie Yong menowel janggut sang keponakan, ia berkata .

"Siok Tin, mari kita berangkat pulang."

Cin Siok Tin meng-edip2kan matanya, menunjuk kearah lenyapnya bayangan rombongan lengcu panji putih dan bertanya.

"Paman Yen Yu San, dari golongan manakah orang2 itu ?"

Han Sie Yong mengurut2 jenggot berkata .

"Mari kita kembali dahulu !"

Disaat itu, lengcu Panji putih sudah menyiapkan kuda tunggangan untuk Cin Siok Tin.

Maka Han Sie Yong menaiki kuda merah milik Yen Yu San, Cin Siok Tin menaiki kuda putih yang ditinggalkan oleh partai Ngo-hong-bun, ber-sama2 meninggalkan Tay-biao-hong.

Menyaksikan kepergiannya manusia palsu itu, Yen Yu San hendak membuka suara.

Tapi dicegah oleh suara kecil dari orang misterius dari sebelah pohonnya.

"Lo-enghiong, belum waktunya bergerak."

Yen Yu San tertegun sebentar, dengan gelombang tekanan suara tinggi, ia bertanya.

"Mungkinkah masih ada komplotan penjahat bersembunyi?"

"Betul,"

Berkata orang misterius itu.

"Dari enam anak buah lengcu Panji Putih, mereka hanya berangkat empat orang, masih ada dua yang belum pergi!"

"Apa kita harus menunggu kepergian mereka?"

Bertanya Yen Yu San.

"Tentu."

"Sampai kapan kita harus menunggu?"

"Sabarlah sebentar. Tidak lama lagi."

Yen Yu San berkata.

"Bu-beng tayhiap, terima kasih kepada bantuanmu, tapi komplotan penjahat sudah menyamar menjadi diriku, mereka membawa keponakan muridku itu."

Orang misterius berkata .

"Jangan khawatir, kujamin nona Cin Siok Tin bisa balik kedalam tangan lo-enghiong."

Yen Yu San bertanya lagi .

"Masih ada sesuatu yang membingungkan, bisakah enghiong memberi tahu sesuatu keterangan ?"

"Tentang apa?"

Jawab orang misterius.

"Siapakah orang yang menjadi korban tangan mereka ?"

Tanya Yen Yu San. Si orang misterius tertawa kecil dan bertanya .

"Bagaimana dugaan lo-enghiong ?"

"Tidak tahu."

Berkata Yen Yu San.

"Tindak tanduk tayhiap memang misterius sekali."

"Lo-enghiong memuji. Sebentar lagi akan terbukti siapa orang itu. Untuk sementara tidak kujawab dahulu....."

Disaat mereka sedang ber-cakap2 ini, tentu saja dengan gelombang suara tekanan tinggi, terdengar suara gemeresek mencelat dua bayangan meninggalkan rimba, dua bayangan itupun turun gunung.

Mereka adalah dua orang anggota lengcu Panji Putih.

"Oh !"

Yen Yu San mengeluarkan keluhan napas lega.

Beruntung ia tidak ter-gesa2, nyatanya lawan sangat ber-hati2, gerak-gerik komplotan Ngo-hong-bun itu memang hebat, lengah berarti kehancuran.

Sampai disini, terdengar lagi suara si orang misterius.

"Lo-enghiong, mari kita berangkat pulang !"

Dari pohon sebelah, lompat turun seorang, itulah seorang misterius dengan wajah Yen Yu San.

Yen Yu San masih menguatirkan keponakan perempuannya, ia juga lompat turun, berjalan berendeng, kedua wajah Yen Yu San itu turun gunung.

Tidak lama kemudian, mereka sudah berada tidak jauh dari kota Kim-leng.

Disaat ini si orang misterius yang masih menggunakan wajah Yen Yu San menudingkan telunjuk ke arah suatu tempat, ia berkata.

"Lo enghiong, lihat ! Mereka menunggu di sana!"

Yen Yu San asli melongok kearah tempat yang ditunjuk, betul saja, dimuka rumah makan disana tertambat dua ekor kuda, berwarna merah dan seekor kuda putih.

Yang merah adalah kuda tunggangannya, yang putih adalah kuda yang disediakan oleh partai Ngo-hong-bun yang khusus untuk Cin Siok Tin.

Yen Yu San berpikir.

"Eh, mengapa mereka berhenti disini, tidak langsung memasuki kota?"

Mereka menghampiri kuda itu, dalam rumah makan terdengar suara seorang gadis yang garing merdu.

"Paman Yen Yu San, apalagi yang harus ditunggu ditempat ini ?"

Itulah suara puteri benteng Penganungan Jaya Cin Siok Tin. Terdengar suara Yen Yu San yang dicetuskan oleh Han Sie Yong.

"Kita harus menunggu mereka."

"Siapa orang yang ditunggu?"

Bertanya nona Cin Siok Tin. Han Sie Yong menunjuk dan berkata.

"Nah ! Mereka sudah datang."

Han Sie Yong menggunakan wajah Yen Yu San, maka Cin Siok Tin memanggil paman kepadanya. Dari luar rumah makan itu, muncul dua orang Yen Yu San. Kini hadir 3 wajah Yen Yu San.

"Ha, ha, ha...."

Terdengar suara Yen Yu San yang disebelah kiri. Inilah Yen Yu San imitasi, ia berkata kepada Han Sie Yong.

"Saudara Goan, banyak menyusahkan dirimu. Sudah waktunya kita berangkat."

Han Sie Yong juga tertawa, ia mencelat meninggalkan rumah makan, ber-sama2 si orang misterius meninggalkan tempat itu.

Han Sie Yong dipanggil saudara Goan?

Yen Yu San ditinggalkan terlongong-longong berpikir beberapa waktu, akhirnya ia sadar, orang yang dipanggil saudara Goan ini orang yang telah menyamar menjadi Han Sie Yong.

Orang ini pula yang menyamar menjadi dirinya dirumah makan.

Dan orang misterius adalah komplotannya dua Yen Yu San.

Sekarang, Yen Yu San sudah mendapat gambaran yang lebih dalam.

Tentunya orang she Goan inilah yang menyamar menjadi dirinya, menunggang kuda merah menuju ke arah Tay-biao-hong, itu waktu si orang misterius meninggalkan tempat persembunyian di atas pohon, tentu turun gunung mengambil kuda, menyamar pula menalangi dirinya menepati janji.

Orang she Goan segera membekuk batang leher Han Sie Yong yang sembunyi, diangkatnya keatas pohon, menunggu si orang misterius menguber lengcu Panji Putih, dengan kecepatan yang tiada tara telah menukar Han Sie Yong menjadi Yen Yu San, maka dilemparkannya tubuh Han Sie Yong menjadi sarang senjata rahasia.

Han Sie Yong asli menjadi korban senjata rahasia kawan sendiri.

Dan orang she Goan ini menyamar menjadi Han Sie Yong.

Dugaan2 Yen Yu San memang tidak meleset jauh.

Karena itu segera ia berteriak .

"Hei, jiwie tayhiap tunggu dulu !"

Tapi si orang misterius dan si orang she Goan sudah lenyap jauh, mereka tidak menghiraukan panggilan itu.

Cin Siok Tin masih bingung menghadapi kedua Yen Yu San, baru sekarang ia menghampiri sang paman asli, ia berkata .

"Hei, berapa banyak paman Yen Yu San, siapa pula kedua orang itu?"

Yen Yu San tertawa menyengir, mempaparkan kedua tangan berkata .

"Aku sendiripun tidak tahu siapa kedua orang itu."

Nona Cin Siok Tin menjebikan bibir, dengan kolokan dan manja ia berkata .

"Ah, paman Yen Yu San selalu menganggap aku masih kanak2, banyak sekali yang disembunyikan." *** Bab 43 KINI SADARLAH DIA, Yen Yu San yang satu inilah Yen Yu San asli. Yen Yu San tertawa, memberi hiburan kepada sang keponakan berkata .

"Siok Tin, kapankah aku membohongi dirimu ?"

Cin Siok Tin semakin manja, ia berkata .

"Yang seorang menggunakan wajah paman, yang seorang lain juga berwajah paman, sesudah menolong diriku dari tangan penjahat, kita mau menunggu orang disini, ternyata dua orang berwajah sama lagi yang datang, mereka berkomplot, kalian datang ber-sama2. Mengapa bisa tidak kenal kepada mereka. Aku tidak percaya."

Yen Yu San mengurut-urut jenggot, dengan pelahan2 berkata .

"Betul2 aku tidak tahu, siapa dan bagaimana asal usul mereka? Masih dalam suasana teka teki. Mari kita pulang, nanti saja aku ceritakan."

Dengan bujukan2 akhirnya Cin Siok Tin yang manja mau mengerti.

Yen Yu San mengajak putri ketua Penganungan Jaya ini balik kembali ke kota.

Didepan rumah penginapan, seorang pelayan menyambut kedatangan mereka .

"Lo-enghiong, nona sudah kembali ?"

Yen Yu San menganggukkan kepala, memasuki kamar2 yang mereka pesan.

Yen Siu Hiat dan anak buah benteng penganungan jaya tidak tidur, begitu melihat kedatangan Yen Yu San, semua orang bersorak.

Dengan girang Yen Siu Hiat berkata.

"Jiesiok, kau berhasil menolong nona Cin Siok Tin dari tangan mereka ? Bagaimanakah tokoh2 partai Ngo-hong-bun itu?"

Berulang kali Yen Yu San menggelengkan kepala, inipun suatu tanda bahwa dia pun tidak mengerti jelas. Memandang ke arah Yen Siu Hiat dan bertanya .

"Siu Hiat, pemuda sastrawan yang bernama Lie Siauw San itu masih berada dirumah penginapan ?"

Wajib curiga kepada pemuda itu !

Yen Siu Hiat tertegun, hatinya ber-pikir2, mengapa sang jiesiok segera menanyakan seorang pemuda sastrawan yang baru dikenal ?

Ia biasa menghormati paman itu, segera menjawab .

"Sudah kusuruh Beng Hu yang menjaga, Beng Hu melihat dua kali, pemuda she Lie itu sudah tidur."

Yen Yu San bertanya lagi .

"Apa kau sudah melihat sendiri ?"

Yen Siu Hiat berkata .

"Pintu dan jendela didepan dan belakang sudah dipasang orang. Keponakanmu tidak melihat sendiri."

Yen Yu San mengeluarkan suara dengusan dari hidung, suatu tanda bahwa tidak puas pada sikap Yen Siu Hiat. Tiba2 Cin Siok Tin turut bicara.

"Paman Yen Yu San, ada urusan apa dengan Lie Siauw San yang kau tanyakan? Dan siapa orang itu?"

Yen Yu San berkata .

"Aku mempunyai kecurigaan besar, kalau si orang misterius mempunyai hubungan erat dengan pemuda sastrawan yang mengaku Lie Siauw San ini."

Cin Siok Tin bertanya lagi .

"Maksud paman, mereka dari komplotan penjahat?"

"Bukan."

Yen Yu San menggelengkan kepala. Yen Siu Hiat sudah membawakan cangkir teh, diserahkan kepada Yen Yu San, dan ia bertanya.

"Bagaimana pengalaman jiesiok tadi ?"

Berulang sampai tiga kali Yen Yu San menarik napas, dengan lesu ia berkata .

"Pengalamanku dimalam ini adalah pengalaman yang tergetir, belum pernah aku menemukan kejadian yang seperti ini dan belum pernah kubayangkan pada sebelumnya."

Sepasang sinar mata jeli Cin Siok Tin memandang kearah Yen Yu San, ia berkata .

"Paman Yen Yu San, hayo ! Ceritakan pengalaman tadi."

Per-lahan2 Yen Yu San berkata .

"Orang yang menolong dirimu dari kaum penculik itu bukanlah aku."

"Aku tahu."

Berkata Cin Siok Tin.

"Tentunya dua orang yang menyamar menjadi paman tadi, bukan?"

Yen Yu San tertawa dan berkata.

"Ya! Orang yang menyamar menjadi diriku lebih dari dua orang, masih ada dua wajah Yen Yu San lainnya, itulah komplotan penjahat yang bernama Han Sie Yong, jumlah Yen Yu San palsu ada tiga orang. Ditambah aku yang asli, wajah Yen Yu San total jendral 4 lembar!"

Hati Cin Siok Tin tercekat, a berteriak.

"Begitu banyak yang menyamar menjadi paman Yen Yu San?"

"Ya."

Yen Yu San menganggukan kepala.

"Terus terang kuceritakan, kepergianku tadi bukan berusaha. Aku hanya menjadi seorang penonton."

Semakin lama, perasaan heran Yen Siu Hiat semakin menjadi, ia berkata.

"Tentunya ada musuh pula dari kaum penculik itu?"

"Paman Yen Yu San,"

Cin Siok Tin juga turut bicara.

"Lekaslah, ceritakanlah !"

Yen Yu San mengeringkan minumannya kemudian ia bercerita dari asal mula, sehingga terakhir berhasil membawa Cin Siok Tin pulang. Sepasang mata Cin Siok Tin ter-putar2, ia berkata .

"Dari cerita paman Yen Yu San tadi, si orang misterius memiliki ilmu kepandaian tinggi. Hebat sekali."

"Ya,"

Berkata Yen Yu San mengelus jenggot.

"Ilmu kepandaian orang ini mungkin berada diatas ketua partai Siauw-lim-pay Tay ciok taysu."

"Bagaimana kalau dibandingkan dengan ilmu kepandaian paman Yen Yu San ?"

Bertanya Cin Siok Tin. Yen Yu San menyengir.

"Aku mana bisa ditandingkan dengan dirinya."

Ia berkata. Cin Siok Tin meng-geleng2kan kepala berkata .

"Bohong ! Menurut keterangan ayah ilmu kepandaian paman sudah mencapai taraf tertinggi, kecuali dua tiga orang, tidak ada yang bisa menandingi lagi."

"Dan orang misterius ini termasuk salah satu dari orang yang berada diatas diriku."

"Aku tidak percaya."

Berkata Cin Siok Tin. Dengan sungguh2 Yen Yu San berkata .

"Sungguh !"

"Suatu saat, akan kujajal orang itu,"

Berkata Cin Siok Tin.

"Kau jangan mencoba menjajalnya."

Yen Yu San menggelengkan kepala. Yen Siu Hiat turut bicara .

"Jiesiok curiga kalau si orang misterius adalah samaran Lie Siauw San ?"

Yen Yu San ragu2 untuk beberapa waktu, ia berkata .

"Inilah kecurigaanku, munculnya Lie Siauw San ini sangat mendadak, ia pandai membawa diri, dedak dan potongan badan mereka agak bersamaan, tapi...."

Yen Siu Hiat segera berkata .

"Biar kulihat, apa dia masih tidur di-sana."

Cepat2 Yen Yu San mencegah dan berkata .

"Jangan ! Kalau betul samarannya, dia pun sudah kembali. Mengapa harus diganggu lagi? Sudahlah! Kalian boleh tidur." *** Hari kedua, baru saja Lie Siauw San selesai bercuci muka, terdengar derap langkah kaki cepat, kemudian berhenti didepan pintu.

"Tok ! Tok ! Tok !"

Terdengar suara ketukan.

"Apa saudara Lie Siauw San sudah bangun?"

"Siapa ?"

Bertanya Lie Siauw San. Tampak pintu terdorong, seorang sastrawan berdiri disana, itulah si sastrawan besi Yen Siu Hiat, memberi hormat dan berkata.

"Selamat pagi !"

"Oh !"

Lie Siauw San tidak mencela kecerobohan orang yang mendorong pintu mendadak.

"Selamat pagi, silahkan duduk !"

Yen Siu Hiat berkata .

"Kemarin pamanku mendapat kecocokan dengan saudara Lie Siauw San. Karena itu pagi-pagi memberi perintah kepadaku untuk memberi tahu, mengajak makan sebentar. Takut kalau saudara ada urusan dan keluar, maka pagi2 datang mengganggu."

"Tidak apa."

Berkata Lie Siauw San.

"Paman saudara adalah tokoh rimba persilatan yang ternama, kalau ada panggilan, tentu wajib menerima panggilan. Apa lagi berupa undangan makan, lebih2 tidak bisa diabaikan."

Yen Siu Hiat mengajak Lie Siauw San meninggalkan kamar itu, orang yang dicurigai tidak memperlihatkan tanda2 lain, hal ini semakin menyulitkan Yen Siu Hiat.

Mereka tiba ditempat Yen Yu San, si-jago tua bangkit berdiri, tertawa berkakakan dan berkata.

"Selamat pagi, saudara Lie Siauw San."

Lie Siauw San membalas hormat itu.

"Selamat pagi."

Disebelah Yen Yu San duduk seorang gadis, inilah putri ketua Penganungan Jaya Cin Siok Tin. Sambil menunjuk ke arah si gadis, Yen Yu San berkata .

"Mari kuperkenalkan, itulah putri ketua kami, nona Cin Siok Tin."

Lie Siauw San menganggukkan kepala, memberi penghormatan kepada gadis itu. Setelah itu Yen Yu San menunjuk ke arah Lie Siauw San berkata .

"Inilah saudara Lie Siauw San."

Cin Siok Tin juga membalas hormat.

"Silahkan duduk !"

Berkata Yen Yu San, ia sedang menyelidik gerak prilaku dan suara nada Lie Siauw San.

Lie Siauw San membawakan sikapnya yang biasa, se-olah2 tidak tahu kalau dirinya itu sedang mendapat sorotan.

Yen Yu San mengadakan perjamuan makan.

Sesudah mereka ber-cakap2 kebarat dan ketimur, Yen Yu San berkata .

"Nona Cin Siok Tin inilah yang baru saja lolos dari tangan kaum penjahat, baru saja pulang kembali."

"Lotiang mempunyai nama besar dalam kalangan rimba persilatan, betapapun beraninya kaum penjahat itu, tentulah mereka tidak berani tidak mengembalikan nona Cin dengan selamat, hal ini sudah didalam perhitungan."

Yen Yu San masih memperhatikan gerak-gerik Lie Siauw San yang dicurigakan, ia hendak mencari persamaan2 suara2 Lie Siauw San dengan suara si pendekar misterius tadi malam.

Tapi tidak mudah untuk menemukan persamaan2 tersebut, suaranya berbeda.

"Ha, ha...."

Yen Yu San tertawa.

"Ada sesuatu yang saudara Lie Siauw San tidak tahu, kemenangan kami malam hari bukan atas kekuatan ilmu silatku, kami mendapat bantuan dan dukungan tokoh silat hebat. Semalam disini telah terjadi sesuatu."

"Terjadi sesuatu?"

Berkata Lie Siauw San kaget.

"Apakah yang terjadi ? Boan-seng tidur terlalu pulas. Tidak mendengar suara apa2."

Yen Yu San tertawa dingin, hatinya bergumam .

"Masih hendak berlagu ? Huh ! Hendak kulihat, sampai dimana kau bisa ber-pura2."

Dan sambil berpikir begitu, Yen Yu San berkata .

"Kejadian bukan disini....."

Dan diceritakan jalannya keanehan2 sehingga Cin Siok Tin berhasil diterima pulang dengan selamat.

Lie Siauw San mendengar dengan penuh minat, menunggu sampai Yen Yu San selesai bertutur, kemudian berkata .

"Betul tokoh silat yang misterius, lo-tiang mempunyai pengalaman luas, mungkinkah tidak bisa melihat jurus2 tipu silatnya dari aliran mana ?"

Sepasang mata Yen Yu San bersinar terang, hatinya bergumam .

"Nah ! Akhirnya beber juga penyamaranmu. Seorang sastrawan mana mungkin bisa mengetahui tentang jurus2 tipu silat?"

Memperhatikan Lie Siauw San beberapa waktu, Yen Yu San berkata .

"Aku belum bisa menduga asal usul pendekar misterius itu, tapi yang menjadi kawan seperjoangannya adalah seorang she Goan, dia memanggil dengan sebutan saudara Goan. Didalam rimba persilatan, orang she Goan tidak terlalu banyak. Kalau saja bisa menyelidiki asal usul kawannya itu, tidak sulit menyelidiki asal usulnya pula."

Hati Lie Siauw San tercekat, mulutnya melompong. Hal ini tidak lepas dari penilaian Yen Yu San, ia berkata lagi.

"Menurut keterangan Yen Siu Hiat, tadi malam diatas wuwungan kamar saudara seperti ada bayangan bergerak, itu waktu aku belum kembali, Siu Hiat menyuruh orang membikin penyelidikan..."

Rasa kaget Lie Siauw San semakin menjadi, cepat2 ia bertanya .

"Apa berhasil menemukan sesuatu ?"

Yen Yu San berkata.

"Gerakan bayangan itu terlalu gesit, sekali berkelebat, diapun lenyap."

Lie Siauw San meng-gosok2 kedua tangannya, me-remas2nya pula, sesudah itu ia berkata .

"Mungkinkah bayangan dari komplotan penjahat?"

Yen Yu San tertawa, dengan bangga ia berkata .

"Dan waktu itu akupun kembali. Perselisihan yang tidak terlalu jauh. Menurut dugaanku, pendekar misterius yang membantu itu juga mengambil rumah penginapan yang sama......."

Lie Siauw San tertawa nyengir dan berkata .

"Rumah penginapan ini cukup luas, banyak kamarnya. Orang2 dari beberapa golongan bisa saja menetap disini. Kalau ada jago silat yang lihay, tentu tidak sangat mengherankan. Sukur saja kalau ada seseorang yang selalu bersedia membuat pembelaan."

"Oh ! Begitu ?"

Berkata Yen Yu San.

"Kalau penilaianku tidak salah, saudara Lie Siauw San juga mengerti sedikit ilmu silat."

Lie Siauw San tertegun untuk beberapa waktu, kemudian ia tertawa ngakak, katanya.

"Inilah penilaian yang kurang tepat, boan-seng hanya mempelajari ilmu yang tercatat didalam buku pelajaran biasa saja. Tidak ada hubungannya dengan ilmu pedang dan golok."

Sedari tadi, Cin Siok Tin memperhatikan gerak-gerik Lie Siauw San, sepasang mata si gadis belum pernah lepas dari wajah pemuda itu, sekarang ia tertawa dan turut serta didalam perdebatan itu katanya.

"Saudara Lie Siauw San, apa hanya buku buku pelajaran biasa saja yang dibaca?"

"Tentu saja hanya pelajaran biasa."

Jawab Lie Siauw San.

"Aku tidak percaya."

Berkata Cin Siok Tin.

"Biasanya penilaian paman Yen Yu San itu belum pernah meleset."

"Uh......."

Lie Siauw San gelagapan. Cin Siok Tin menoleh kearah Yen Yu San dan berkata.

"Paman Yen Yu San, apa kau tidak bisa membedakan suara orang?"

Muka Cin Siok Tin tertuju kearah Yen Yu San, secara diam2 tangannya merogoh kantong, secepat itu pula dikibaskan kearah Lie Siauw San, sebatang jarum halus meluncur kearah alis si pemuda sastrawan.

Yen Yu San menjadi kaget, cepat2 ia berteriak.

"Jangan !"

Disaat Yen Yu San hendak menepuk jarum itu, ia sudah terlambat !

Dengan sangat kebetulan pada saat jarum menyambar alisnya, Lie Siauw San mengangkat cangkir teh, menenggaknya sambil menundukkan kepala, demikianlah serangan jarum Cin Siok Tin lewat beberapa dim di daun telinga.

Langsung menoblos tembok, ia nyaris dari bahaya kematian.

Dari teriakan Yen Yu San tadi, Lie Siauw Sian juga terkejut, tangannya menjadi gemetaran cepat2 ia berteriak .

"Ada apa ?"

Cin Siok Tin menjebikan mulutnya yang kecil mungil, ia tidak puas atas teriakan sang paman, katanya manja .

"Paman Yen Yu San, mengapa kau bingung tidak keruan, aku hanya hendak menjadikannya sebagai kelinci percobaan." *** Bab 44 SEOLAH-OLAH tidak tahu kalau jiwanya itu terancam bahaya maut, Lie Siauw San memperlihatkan rasa bingungnya yang tidak terhingga, ia bertanya lagi .

"Lotiang ada urusan apakah ?"

Yen Yu San menarik napas lega, tanpa disadari oleh orang yang bersangkutan, Lie Siauw San berhasil menolong jiwa sendiri. Karena itu cepat2 ia berkata .

"Keponakanku ini memang ada sedikit nakal, ia hendak menjajal, apa betul2 kau tidak berkepandaian silat."

"Oh...jangan! Jangan!"

Berkata Lie Siauw San.

"Mana boleh di-coba2? Betul2 boanseng tidak berkepandaian silat."

"Karena itulah aku melarang ia menjajal lagi,"

Berkata Yen Yu San. Cin Siok Tin menoleh kearah Yen Siu Hiat, ia berkata .

"Yen-toako, apa yang semalam dikatakan oleh paman Yen Yu San, bukankah saudara Lie Siauw San ini mempunyai dedak perawakan yang sama dengan tokoh misterius yang pernah menolongnya?"

Sambil berkata seperti itu, tidak henti2nya Cin Siok Tin meng-edip2kan mata.

Yen Siu Hiat masih belum mengerti akan makna arti putri ketua Penganungan Jaya itu, ia tertegun beberapa saat.

Cepat2 Lie Siauw San berkata .

"Masakan seorang sastrawan tolol yang sepertiku ini hendak di-banding2kan dengan seorang jago hebat?"

Cin Siok Tin tidak menggubris ucapan Lie Siauw San, ia cepat berkata .

"Hayo! Coba katakan, apa yang paman Yen Yu San ceritakan?"

Yen Siu Hiat berkata.

"Menurut keterangan jie-siok, dedak perawakan si pendekar misterius agak mirip dengan saudara Lie Siauw San."

Lie Siauw San tertawa tawar, menyeringai dan berkata.

"Keterangan itu memang masuk diakal, lotiang tentu bisa membedakan, kalau pendekar misterius itu mempunyai dedak perawakan yang mirip dengan boan-seng, hal itu tidak akan salah lagi. Boan-seng percaya. Tapi...bentuk2 tubuh dan dedak perawakan orang, belum tentu harus berbeda, orang yang mempunyai dedak perawakan hampir sama dengan dedak perawakan boan-seng bukan satu saja, belum tentu boan-seng seorang."

Cin Siok Tin menoleh kearah Yen Yu San, ia mendesak .

"Paman si pendekar misterius apa tidak mempunyai ciri2 lain ?"

"Kukira hanya dedak perawakannya yang hampir sama."

Jawab Yen Yu San.

"Apa kau yakin bukan saudara Lie Siauw San ?"

Cin Siok Tin tidak mau menyerah kalah.

"Memang mirip sekali."

Berkata Yen Yu San.

"Tapi saudara Lie Siauw San sudah menyangkal. Kukira betul2 bukan dia."

Cin Siok Tin tertawa ewah, dengan nakal dan binal ia berkata .

"Aku bisa membuktikan bahwa pendekar misterius itu adalah jelmaan saudara Lie Siauw San."

Mata Yen Yu San terbelalak, ia bertanya.

"Maksudmu ?"

Cin Siok Tin memandang kearah Lie Siauw San, ia berkata .

"Kalau bukti sudah berada didepan mata, kuharap saudara tidak membuat penyangkalan."

"Silahkan."

Berkata Lie Siauw San menantang.

"Menurut cerita paman, si pendekar misterius pernah bersembunyi disuatu pohon tinggi ber-sama2 paman bukan?"

"Pohon itu tentu sangat besar dan tinggi."

Berkata Cin Siok Tin lagi.

"Ya."

"Itulah pohon tua yang sudah berumur ratusan tahun."

"Ngg......"

Cin Siok Tin semakin puas, ia berkata .

"Maka keadaan pohon itu bukan pohon biasa, sebuah pohon yang tak pernah terpijak binatang atau manusia manapun juga, tentu banyak lumutnya, betapa hebat ilmu kepandaian si pendekar misterius, lama kelamaan, lumut2 itu bisa saja nyangkut beberapa......."

Sengaja atau tidak disengaja, mata Cin Siok Tin memeriksa kearah sepatu Lie Siauw San.

Tepat !

Penilaian seorang wanita memang banyak mempunyai keistimewaan.

Karena itulah, pandangan Yen Yu San dan Yen Siu Hiat juga ditujukan kearah sepatu Lie Siauw San.

Betul saja !

Dibagian pinggiran sepatu itu terdapat lumut-lumut hijau.

Lie Siauw San menundukkan kepala memandang sepatu tersebut, mulutnya berteriak .

"Aaaah.....oh.......lumut hijau ini yang nona maksudkan? Disaat aku jalan diluar kota, sebelum memasuki rumah penginapan pernah terpeleset, maka terdapat cepretan2 lumut."

Yen Yu San sudah memastikan, kalau pemuda misterius yang menolong dirinya adalah sastrawan muda yang mengaku bernama Lie Siauw San ini, tapi caranya tidak sekasar Cin Siok Tin, berbeda dengan cara Cin Siok Tin, ia tidak mau membuat orang semakin canggung, karena itu tertawa puas dan diam saja.

Cin Siok Tin tidak mau menyerah seperti pamannya, mulutnya digigit keras2, ia berkata lagi.

"Satu fakta lain yang tidak bisa disangkal."

Lie Siauw San mulai kewalahan, ia memandang gadis pandai itu. Cin Siok Tin berkata .

"Paman Yen Yu San, disaat si pemuda misterius mengejar lengcu Panji Putih memasuki rimba, pernah terjadi hujan senjata gelap, bukan ? Nah ! mungkinkah kalau beberapa senjata gelap itu menyangkut di-baju2nya ?"

Hal itu mungkin saja terjadi !

Lie Siauw San masih mengenakan pakaian panjang yang kemarin, ia duduk tidak jauh dari Yen Yu San, maka baju panjang itu ber-kibar2, betul saja, dibeberapa tempat tertembus oleh senjata2 yang halus.

Bukan Cin Siok Tin saja yang bisa melihat adanya tanda2 itu, Yen Yu San juga bisa melihat adanya lubang2 kecil tertembus oleh jarum2 halus senjata rahasia.

Lie Siauw San memang lihai, dalam keadaan yang terjepit seperti itu, tokh ia masih mau menyangkal, katanya .

"Nona Cin Siok Tin, masih ada sesuatu yang kurang diperhatikan olehmu."

"Dibagian mana?"

Bertanya Cin Siok Tin. Lie Siauw San berkata .

"Menurut cerita Yen lotiang, si pendekar misterius telah keluar, dirinya menempur musuh, ia mengenakan pakaian panjang biru, tapi aku tidak mengenakan pakaian itu."

Cin Siok Tin berkata .

"Tidak guna untuk memperdebatkan warna pakaian, dalam malam gelap, warna2 pakaian itu mudah disarukan. Biru atau hijau, putih atau kelabu, sepintas selalu hampir sama saja ! Apalagi orang pun mudah menggunakan pakaian rangkap, bukan? Bisa saja seseorang mengenakan pakaian hijau didalam, mengenakan pakaian biru diluar ?"

Menghadapi seorang gadis pandai yang seperti Cin Siok Tin, Lie Siauw San tidak berdaya, mengangkat pundak berkata .

"Kalau nona Cin hendak memaksakan aku sebagai seorang pendekar, apa boleh buat. Sebagai seorang sastrawan tolol yang sepertiku, sangat senang sekali mendapat pujian2 yang seperti itu."

"Tidak menyangkal lagi, bukan?"

Berkata Cin Siok Tin.

"Kalau betul2 pendekar misterius itu adalah jelmaan boan-seng, buat apa disangkal?"

Berkata Lie Siauw San.

"Itulah. Bagaimana harus menyangkal? Akui saja."

Berkata Cin Siok Tin.

"Sayang sekali."

Berkata Lie Siauw San.

"Boan-seng bukanlah pendekar misterius itu."

Sesudah mana ia menoleh Yen Yu San, mulutnya ber-gerak2, menggunakan gelombang tekanan suara tinggi, suaranya yang hanya bisa ditangkap oleh Yen Yu San seorang, ia mengucapkan beberapa patah kata, kata2 ini tidak bisa ditangkap oleh Cin Siok Tin, juga tidak diketahui oleh Cin Siok Tin, karena mulut Lie Siauw San tidak tertujukan kepadanya.

Mendengar suara yang seperti semut itu wajah Yen Yu San tertegun.

Cin Siok Tin hendak memaksakan Lie Siauw San agar mengakui penyamarannya.

Disaat ini Yen Yu San sudah mengulapkan tangan, ia berkata .

"Siok Tin, sudahlah ! Kukira pendekar misterius berkepandaian silat tinggi itu bukanlah jelmaan saudara Lie Siauw San. Kalau betul sebagai jelmaannya, mengapa ia harus menyangkal terus menerus ? Sudahlah ! Tidak perlu kita berdebatan."

Nada suara Yen Yu San berubah, berubah karena sudah mendengar suara2 yang seperti semut halus tadi.

Kalau sebelumnya ia memihak kepada Cin Siok Tin, kini ia memihak kepada Lie Siauw San.

Cin Siok Tin menjadi heran, ia memandang kearah sang paman, dengan tidak mengerti berkata.

"Eh, bagaimana paman bisa merubah haluan ?"

Yen Yu San tidak menjawab teguran Cin Siok Tin, menoleh kearah Yen Siu Hiat dan berkata.

"Siu Hiat, beritahu kepada tuan pengurus, semua rekening saudara Lie Siauw San ini masukkan ke dalam rekening kita, dan jangan lupa, minta tambahan arak dan makanan lagi."

Yen Siu Hiat menerima perintah, ia meninggalkan meja perjamuan. *** Bab 45

"OH !"

Berkata Lie Siauw San.

"Mana boleh ? Jangan...."

"Aku paling tidak suka kepada orang yang banyak mengunakan peradatan."

Berkata Yen Yu San. Lie Siauw San bungkam.

"Sudahlah, kita makan minum lagi,"

Berkata Yen Yu San. Apa boleh buat, Lie Siauw San harus menerima kebaikan2 itu. Makan dan minum lagi beberapa waktu, tiba-tiba Lie Siauw San seperti teringat sesuatu, ia berkata .

"Oh......"

"Ada apa?"

Bertanya Yen Yu San.

"Pagi2 sekali, boanseng menemukan sesuatu....."

"Apakah yang saudara temukan?"

Bertanya Yen Yu San.

"Sebelumnya,"

Berkata Lie Siauw San perlahan.

"Bisakah boanseng mendapat sedikit keterangan ?"

"Keterangan apa ?"

"Untuk mengirim dan menerima berita, apakah benteng Penganungan Jaya menggunakan burung merpati ?"

Yen Yu San berkerut alis, lagi2 suara yang mengandung kemisteriusan.

Dari mana Lie Siauw San tahu kalau benteng Penganungan Jaya menggunakan burung merpati sebagai penyebar dan penerima berita ?

Karena mengingat bahwa pemuda ini telah menolong dirinya, Yen Yu San tidak perlu sungkan2 lagi, ia menganggukkan kepala dan berkata .

"Saudara memang hebat ! Tepat ! Kadang kala benteng Penganungan menggunakan burung merpati sebagai penyebar dan penerima berita."

Lie Siauw San bertepuk tangan dan berkata .

"Nah ! Tepat. Tidak salah lagi !"

"Dari mana saudara bisa menduga kalau kami menggunakan burung merpati ?"

Bertanya Yen Yu San. Dengan tenang, sepatah demi sepatah Lie Siauw San berkata .

"Boanseng tidak biasa bangun siang, setiap pagi sebelum matahari terbit, boan-seng gerak jalan, hari ini tidak terkecuali, disaat boanseng jalan2, tiba2 terbang mendatangi seekor burung merpati, keluarnya dari deretan kamar lotiang, dari burung inilah pula terjatuh sebuah bungbung kecil. Boanseng segera menduga kepada surat2 penting, dari arah dan datangnya burung merpati ini, boanseng menduga kepada burung merpati benteng Penganungan Jaya. Betul2 saja burung merpati kepunyaan lotiang."

Dengan heran Yen Yu San berkata .

"Eh! Kita tidak melepas burung merpati. Darimana pula munculnya burung itu?"

Lie Siauw San berkata .

"Boanseng takut surat itu dipungut orang yang tidak wajib memungut. Demikianlah maka boanseng bawa surat itu kalau saja lotiang membacanya pasti tahu isi berita."

Dari dalam saku bajunya, Lie Siauw San menyerahkan sebuah tabung kecil. Yen Yu San menerima tabung itu, alisnya berkerut semakin dalam, ia berkata .

"Tabung ini bukanlah milik benteng kami."

Lie Siauw San tertawa dan berkata .

"Terbang burung merpati dari daerah sini, walau bukan burung merpati benteng penganungan Jaya, mungkin sedikit banyak ada hubungan dengan benteng lotiang, apa salahnya memeriksa."

Anjuran Lie Siauw San mengandung arti dalam. Yen Yu San bisa menerima, menganggukkan kepala berkata .

"Betul juga."

Membuka tabung itu, Yen Yu San bisa membaca isi surat, wajahnya berubah.

Apa yang tertulis pada catatan2 itu adalah keterangan jelas dan terperinci dari jalanannya pertempuran2 dimalam hari, itulah surat laporan kepada partai Ngo-hong bun, tentunya dari salah satu dari anggota Perintah maut.

Tidak ada tanda tangan.

Hanya menggunakan code-code, code itu menggunakan tanda Duta Keliling, tulisan itu mungil dan baik, tulisan dari buah tangan wanita.

Tanpa melepas surat laporan sang Duta Keliling kepada partai Ngo-hong-bun, Yen Yu San mematung di tempat.

Lie Siauw San bertanya .

"Lotiang, apa yang tertulis disana ?"

Yen Yu San menyerahkan laporan itu dan berkata .

"Lihatlah !"

Lie Siauw San menerima surat itu, dan ia mulai membaca dengan teliti, sesudah selesai membaca, mendongakkan kepala dan memandang Yen Yu San, dengan tertawa ia berkata.

"Ahh, inilah jalannya kejadian dimalam hari. Tentunya surat lotiang untuk ketua benteng Penganungan Jaya. Sangat beruntung sekali jatuh ditangan boanseng, sehingga rahasia tidak jatuh ke tangan orang lain, kalau saya lotiang mau mengirim lain burung merpati, tentu beres."

Yen Yu San meng-geleng2kan kepala dan berkata.

"Lote bukan orang dari rimba persilatan, tidak begitu mengetahui selak seluk diantara golongan kita. Inilah surat laporan untuk Ngo-hong-bun."

Dengan membelalakkan mata, Lie Siauw San berkata .

"Eh, mengapa lotiang mau mengirim surat laporan kepada partai Ngo hong-bun? Ha, hua, haaa....boanseng mengerti, tentunya lotiang hendak meng-olok2 partai tersebut, hendak mencemoohkan mereka. Rencana memalsukan pengurus Benteng Penganungan Jaya mengalami kegagalan !" (Bersambung 14) ***

Jilid 14 LAGI2 Yen Yu San bergeleng kepala, ia berkata .

"Surat ini bukan surat laporanku, inilah surat laporan dari anak buah mereka kepada pucuk pimpinannya."

"Oh! Begitu?"

Akhirnya Lie Siauw San seperti mengerti.

"Didalam rumah makan ini masih ada anggota musuh ?"

"Ya !"

Yen Yu San menggebrak meja.

"Masih ada musuh didalam selimut."

Ini waktu Yen Siu Hiat turut bicara.

"Jiesiok, mungkinkah pembicaraan kita dapat ditangkap mata2 musuh ?"

Sepasang alis Yen Yu San ber-kerut2 dalam2, ia sedang memecahkan problem yang tersulit.

Dari mana pihak musuh bisa menangkap pembicaraan2 itu dengan jelas ?

Lie Siauw San masih membolak-balik surat laporan itu, ber-geleng2 sebentar, ia mengemukakan pendapat .

"Dari corak dan bentuk tulisan ini, boan-seng kira adalah tulisan seorang wanita, mungkinkah musuh menyuruh mengutus seorang gadis menyelinap kesini ?"

Sedari tadi, Cin Siok Tin tidak turut ambil bagian, tiba2 saja ia berkata .

"Dugaan saudara Lie Siauw San memang tepat !"

Lie Siauw San menjadi heran, ia menoleh dan memandang gadis itu, kemudian bertanya .

"Apa nona Tin sudah tahu siapa yang menggunakan nama samaran Duta Keliling itu ?"

Cin Siok Tin tertawa manis, ia berkata .

"Tentu saja aku tahu."

Lie Siauw San semakin heran, ia bertanya .

"Ternyata nona Cin sudah mengetahui adanya komplotan ini?"

Yen Yu San juga memandangnya dengan tegang, ia bertanya.

"Siok Tin, siapa mata2 musuh?"

Menunjukkan jarinya ke hidung sendiri, Cin Siok Tin berkata.

"Itulah aku !"

"Kau ???"

Wajah Yen Yu San berubah. Dengan ber-sungguh2, dengan membawakan sikapnya yang keren, Cin Siok Tin tiba2 berkata.

"Yen tayhiap, apa kau kira aku ini betul-betul keponakanmu yang bernama Cin Siok Tin ?"

Menengok kearah puteri Penganungan Jaya itu, Yen Yu San menganggukkan kepala dan berkata.

"Ya ! Seharusnya aku bisa menduga, kau adalah samaran dari orang2 partai Ngo-hong bun."

"Tepat !"

Si gadis menganggukkan kepala.

"Sayang sekali! Pikiranmu itu bekerja terlalu lambat, sudah terlambat!"

Lie Siauw San memperlihatkan sikapnya yang bingung, memandang kearah Cin Siok Tin dan bertanya.

"Nona berpihak kepada musuh?"

Meng-geleng2kan kepala beberapa saat Lie Siauw San berkata lagi.

"Tidak mungkin, tidak mungkin... masa seorang putri benteng Penganungan Jaya mengabdi kepada kepentingan musuh?"

"Hie hie hie..."

Cin Siok Tin tertawa ngikik.

"Kalian sudah terlambat, otak kalian bekerja terlalu lamban."

"Apa yang terlambat ?"

Bentak Yen Yu San.

Ia sudah siap untuk meringkus gadis ini, gadis musuh yang diselundupkan dengan wajah Cin Siok Tin.

Tanpa gentar oleh kewibawaan Yen Yu San, gadis yang menyamar menjadi Cin Siok Tin itu berkata.

"Minuman yang kalian minum telah kutaburi dengan racun, racun2 itu kusimpan dijari kuku, tiada warna, tiada bau dan tiada asap, kalian sudah keracunan, jangan harap bisa bergerak."

"Kau ....kau...."

Lie Siauw San memperlihatkan wajah yang gugup.

"Tidak percaya ?"

Berkata Cin Siok Tin palsu.

"Cobalah !"

"Nona,"

Berkata Lie Siauw San.

"Aku tidak mempunyai permusuhan denganmu, mengapa turun tangan begitu jahat ?"

Si gadis yang menyamar menjadi Cin Siok Tin itu menoleh kearah Lie Siauw San, dengan ekor matanya yang dingin berkata .

"Kau turut serta didalam persengketaan ini, salahmu sendiri, kalau kau sampai celaka."

Tiba2 terdengar suara Yen Yu San yang galak tertawa besar dan berkata .

"Budak hina, kau kira aku orang apa, mana bisa ditipu olehmu ?"

Mulut Yen Yu San dipentangkan, dari sana menyembur arak dan makanan, ditujukan kearah gadis yang menyamar menjadi Cin Siok Tin itu.

Inilah orang yang menggunakan nama samaran Duta Keliling dari partay Ngo-hong bun !

Orang yang diselundupkan kedalam organisasi Benteng Penganungan Jaya.

Semburan Yen Yu San meluruk kearah si Duta Keliling Ngo-hong-bun.

Hal ini mengejutkan gadis tersebut, ia memiringkan tubuh, dengan maksud mengelakkan semburan hujan arak tadi.

Gerakannya memang hebat.

Dengan lincah arak itu berhasil dielakkan.

Yen Yu San mengibaskan lengan baju menutup jalan lari musuhnya.

Serta merta ia berteriak.

"Siu Hiat, jaga pintu, jangan biarkan dia melarikan diri."

Secepat itu pula, sreet, Yen Siu Hiat telah mengeluarkan pedang, ia mengundurkan diri dan menjaga dipintu. Dengan ewah ia berkata .

"Perempuan jalang, arak yang sudah kau taburi racun itu tidak pernah kuminum, kita telah mengetahui penyamaranmu, hayo ! menyerah !"

Lie Siauw San tertawa nyengir, ia ber-teriak2 .

"Nona....nona...eh ! Bagaimana dengan keadaanku ? Mereka tidak pernah minum arak beracunmu, hanya aku seorang diri saja yang...."

Sambil mengoceh kian kemari, tangan Lie Siauw San mengambil cawan arak kembali, kroook, ia mengeluarkan arak yang sudah diminum tadi, memenuhi cawan, tidak lebih tidak kurang, pas satu cawan.

Sepasang mata gadis yang menyamar menjadi Cin Siok Tin ber-kilat2, dengan dingin dan meng-angguk2kan kepala, ia berkata .

"Dugaanku tidak salah ! Kau adalah orang berkerudung dimalam hari!"

Lie Siauw San adalah si pendekar misterius yang pernah menolong Yen Yu San dari kesusahan. Dengan tertawa Lie Siauw San berkata .

"Mata nona memang hebat. Tapi nona sudah terlambat."

Yen Yu San tertawa berkakakan dan berkata .

"Lote, kau memang hebat ! Kalau bukan dengan pesanmu tadi, aku bisa mengambil langkah ceroboh. Hampir saja kita tidak berhasil menangkap mata-mata musuh."

"Maaf !"

Berkata Lie Siauw San.

"Untuk menghadapi musuh didalam selimut, terpaksa mengambil langkah-langkah yang seperti tadi."

Disaat Lie Siauw San dan Yen Yu San ber-cakap2, gadis yang menyamar menjadi Cin Siok Tin itu bergerak, secepat kilat sudah berada didepan Yen Siu Hiat, menyerang dan membentak .

"Minggir !"

Yen Siu Hiat selalu bersiap siaga, pedangnya dijatuhkan, menyabet kearah gadis tersebut.

Luar biasa !

Luar biasa cepat gerakan Yen Siu Hiat, lebih luar biasa cepat lagi dari gerakan si gadis, tanpa disangka, bayangannya lenyap mendadak, tangannya masih menjulur, kini menepuk kearah pundak Yen Siu Hiat.

Hal ini membingungkan Yen Siu Hiat, untuk mengelakkan serangan itu memang agak sulit, terpaksa dan apa boleh buat, ia lompat kesamping, dan itulah maksud dan tujuan si gadis, maka ia bisa bebas lompat meninggalkan ruangan tadi.

Jangan terlalu cepat bergirang hati !

Si gadis menjadi gelagapan karena ada sesuatu bayangan yang menghadang didepan, disaat ia mementang lebar2 kedua matanya, itulah si pemuda sastrawan tolol Lie Siauw San yang sudah melintang, jaraknya begitu dekat, hampir saja mereka saling tumbuk.

Gerakan Lie Siauw San tiada tara, terlalu cepat, inilah yang membingungkan si gadis samaran.

Si gadis juga memiliki ilmu kepandaian hebat, tangannya berputar, kelima jari disentilkan, bagaikan bunga bwee menyodok kearah dada Lie Siauw San.

Gerakannya seperti gerakan biasa, cukup indah dan sangat menarik, tapi itulah ilmu kepandaian yang tercatat didalam pusaka goa siluman, ilmu kepandaian ganas yang bisa menghancurkan urat nadi.

Lie Siauw San tertawa ringan, katanya.

"Ilmu kepandaian dari pusaka goa siluman! Hei, nona cukup kejam !"

Tangan kirinya dijulurkan, siap memegang pergelangan tangan si gadis.

Orang yang memalsukan Cin Siok Tin adalah gadis muda belia, tentu saja tidak membiarkan tangannya yang putih mulus dipegang oleh tangan laki2, ditarik kembali, ia mengelakan cengkeraman.

Gerakan Lie Siauw San cukup lincah, selalu membayangi serangan lawan.

Gadis itu adalah akhli waris penghuni goa siluman, tujuh kali mengelak dan tujuh kali pula ia menotok ke-bagian2 yang lemah.

Betapa cepatpun gerakannya, ia belum berhasil melepaskan diri, Lie Siauw San memiliki gerakan yang lebih cepat dan mengubah jurus2 yang tadi cepat seperti hendak memegang pergelangan tangan orang, membayanginya dan mengelakkan serangan.

Setiap serangan gadis seperti datang menyodorkan diri !

Gadis ini mengenakan kedok kulit tipis, didalam kemarahan yang meluap-luap, wajahnya tidak memperlihatkan perobahan.

Lie Siauw San memaparkan kedua tangan, dilintangkan dan berkata.

"Lebih baik nona tau diri. Marilah kembali atau terpaksa dan apa boleh buat kuringkus secara paksa!"

Si gadis memperlihatkan matanya yang mendelik, ia berkata marah.

"Baiklah! Aku menyerah."

Tapi menyerahnya gadis ini bukan menyerah tanpa syarat, tiba2 sang tangan terayun, senjata rahasia menyerang Lie Siauw San.

"Ett,"

Tangan Lie Siauw San telah menangkap datangnya senjata rahasia itu, dengan dingin ia berkata.

"Lebih baik nona tahu diri, jangan sekali2 mengulang permainan yang seperti ini."

Gadis itu memperhatikan Lie Siauw San beberapa waktu, ia berkata .

"Baiklah. Tapi ingat ! Putri ketua benteng Penganungan Jaya masih berada di tangan kami."

Lie Siauw San berkata .

"Dikarenakan adanya putri Penganungan jaya itu berada dipihakmu, maka kami memaksa kau masuk kembali."

Demikianlah, gadis itu digiring masuk. Dibawah kurungan Lie Siauw San, Yen Yu San dan Yen Siu Hiat, gadis itu tidak berdaya. Yen Yu San membentak .

"Dibawa kemanakah Cin Siok Tin ?"

"Tentu saja dimarkas partai,"

Jawab gadis itu.

"Dimana markas partai kalian?"

Tanya Yen Yu San.

"Markas partai masih bersifat sementara. Dimana pimpinan kami berada itulah markas partai."

"Dimana sekarang pemimpin kalian berada ?"

Bertanya Yen Yu San.

"Tidak tahu."

Jawab si gadis.

"Eh, tidak mau bicara ?"

Yen Yu San mengancam.

"Kecuali pemimpin Ngo-hong-bun, tidak ada orang yang tahu dimana markas partai berada."

Jawab si gadis.

"Siapa nama pemimpinmu ?"

Bertanya Yen Yu San.

"Kau kira, bisa kuberitahu ?"

Jawab si gadis menantang. *** Bab 46

"EHEM.....didalam keadaan seperti ini, masih berani kau tidak mau berterus terang ?"

Disaat ini, Lie Siauw San turut bicara.

"Ia memang tidak perlu bicara, aku tahu dimana markasnya, aku tahu dimana dan siapa nama pemimpinnya."

Yen Yu San menoleh kearah Lie Siauw San dan bertanya .

"Lote tahu siapa pemimpin mereka?"

"Seorang bertopeng perunggu yang bernama Sam-kiongcu."

Jawab Lie Siauw San. Gadis yang tertawan itu terbelalak, memandang kearah Lie Siauw San dan berteriak .

"Ih, siapa kau ?"

Si gadis heran atas reaksi Lie Siauw San yang begitu kontras, jawaban Lie Siauw San yang begitu tepat. Lie Siauw San tertawa, ia berkata berkelakar.

"Aku she Lie namanya Siauw San. Sudahkah nona ketahui bukan ?"

Si gadis menundukkan kepala, ia harus mengakui kesalahannya. Tapi ia memang bersifat kepala batu, memandang kepada Yen Yu San dan Lie Siauw San, ia bertanya .

"Apa maksud kalian?"

"Apa maksud Ngo-hong-bun menangkap Cin Siok Tin, begitu pula tujuan kita."

"Hmmm...."

Lie Siauw San berkata .

"Untuk pertanyaan ini, aku bisa memberi kepastian. Jawaban sangat singkat, ialah. Sebelum nona Cin Siok Tin bisa kembali, untuk sementara kau adalah wakilnya."

Gadis tersebut tertawa dingin tanpa membawakan sikap gentar ia berkata .

"Hendak menggunakan diriku ditukar dengan Cin Siok Tin. Huh ! Jangan mengimpi."

Lie Siauw San tertawa berkata .

"Biar bagaimana, kau adalah orang yang terdekat dengan Sam-kiongcu, sedikit banyak harus mengetahui partai Ngo-hong-bun, kukira kau harus maklum."

Wajah gadis tersebut berubah, ia membentak.

"Kalian hendak menyiksa orang?"

Lie Siauw San tertawa tawar, katanya.

"Rencana partai Ngo-hong-bun sudah bukan rahasia lagi. Aku tahu lebih banyak dari apa yang hendak kau katakan. Tidak guna mengompres. Hanya dengan sepucuk surat, kukira Sam-kiongcu bersedia menukar Cin Siok Tin dengan dirimu."

Gadis yang menggunakan wajah Cin Siok Tin ini memandang lawan2nya yang tangguh, ia berkata lagi.

"Bagaimana rencanamu untuk melepas diriku?"

Lie Siauw San berkata.

"Sebelum nona Cin Siok Tin yang asli balik kembali, Cin Siok Tin palsupun tidak apalah. Kau boleh menjadi raja untuk beberapa hari."

Disamping mereka, tidak henti2nya Yen Yu San menganggukkan kepala, menyetujui dan memuji jawaban2 Lie Siauw San. Ia tidak mengemukakan komentar. Gadis yang memalsukan Cin Siok Tin itu bertanya lagi .

"Kalian tidak takut aku melarikan diri ?"

"Inilah yang kukawatirkan."

Berkata Lie Siauw San.

"Tapi tidak apa, untuk sementara aku bisa menotok jalan darahmu, seperti ini !"

Cees.......cret.......

Hanya beberapa ketokan jari, Lie Siauw San telah menutup peredaran jalan darah si gadis.

Gadis itu menggigil dingin, memandang Lie Siauw San dengan sinar mata gemas, ia berkata dengan suara ancaman.

"Lie Siauw San, pada suatu hari kau akan bisa merasakan pembalasanku, itu waktu jangan harap kau bisa lolos dari kekejamanku."

Lie Siauw San tidak takut segala ancaman, ia berkata.

"Tunggu saja sampai itu waktu, tapi sekarang kau sudah jatuh ditangan kami, jangan men-coba2 untuk membebaskan totokan itu karena bisa merusak urat nadi dan menghancurkan hari depanmu."

Gadis tersebut menundukkan kepala, dia harus menyerah. Lie Siauw San menoleh dan memandang Yen Yu San, ia bertanya.

"Apa ada anggota wanita lain yang menyertai rombongan benteng Penganungan Jaya ?"

"Ada."

Jawab Yen Yu San.

"Seorang dayang perempuan yang bernama Kui Hoa. Ia memang disediakan untuk menyertai dan melayani Cin Siok Tin."

"Sukurlah,"

Berkata Lie Siauw San.

"Tolong lotiang beri tugas kepada Kui Hoa untuk menemani nona ini."

Si gadis yang memalsukan Cin Siok Tin mengeluarkan suara dengusan dari hidung ia berkata .

"Huh ! Mengapa kau tidak bicara berterus terang, menyuruh Kui Hoa meng-amat2i diriku?"

Yen Yu San sudah menoleh kearah Yen Siu Hiat, ia memberi perintah .

"Panggil si Kui Hoa."

Yen Siu Hiat mengiyakan perintah paman itu, ia mengundurkan diri.

Tidak seberapa lama kemudian, Yen Siu Hiat balik kembali, dibelakangnya turut serta seorang dayang perempuan yang berbaju hijau, umurnya diperkirakan diantara delapan belasan.

Gadis ini segera memberi hormat kepada Yen Yu San dan berkata .

"Ada sesuatu yang Kui Hoa harus kerjakan ?"

Yen Yu San mengurut jenggot, mendekati Kui Hoa dan membisiki. Kui Hoa menoleh ke arah Cin Siok Tin, meng-angguk2kan kepala dan berkata .

"Hamba tahu."

Lie Siauw San menoleh kepada Cin Siok Tin dan berkata .

"Nona manis, silahkan balik ke kamar."

Maka dengan digiring oleh Kui Hoa, sang nona manis itu menuju ke kamar Cin Siok Tin. Sesudah kepergian mereka, lagi2 Yen Yu San mengurut jenggot, ia berkakakan dan berkata .

"Lote, hebat ! Kau betul2 hebat. Ternyata kau telah mengetahui betul selak beluk keadaan partai Ngo-hong-bun."

"Hanya kebetulan saja,"

Lie Siauw San merendah diri. Yen Yu San menatapnya dalam2 dan bertanya .

"Siapakah yang menjadi pimpinan tertinggi partai Ngo-hong-bun ? Siapa pula Pemimpin golongan Perintah Maut ?"

Lie Siauw San berkata .

"Pemimpin golongan Perintah Maut bernama Suto Cang. Golongan Perintah Maut telah menggabungkan diri dengan partai Ngo-hong-bun. Dan orang yang mengepalai partai Ngo-hong-bun bernama Toa kiongcu. Dibantu oleh Sam-kiongcu."

"Apa lote bisa menceritakan sedikit tentang mereka ?"

Bertanya Yen Yu San. Lie Siauw San tertawa nyengir, jawabnya .

"Hanya didalam suatu kebetulan, boanseng bisa menyelidiki dan mengetahui hal ini, sedangkan asal usul Sam-kiongcu dan Toa-kiongcu, boanpwe masih belum jelas. Burung merpati yang boanseng tangkap itu masih berada dikamar boanseng, ada baiknya kalau diserahkan kepada lotiang, besar sekali kegunaannya."

Dengan tertawa besar Yen Yu San berkata .

"Sudah berada didalam dugaanku, kalau burung merpati itu sengaja ditangkap olehmu."

Kemudian ia menoleh dan memberi perintah kepada Yen Siu Hiat .

"Su Hiat, lekas ambil burung merpati itu."

"Burung merpati diikat pada tiang jendela."

Tambah Lie Siauw San.

Yen Siu Hiat segera menjalankan perintah untuk mengambil burung merpati dari partai Ngo hong-bun.

Sambil menunggu kembalinya Yen Siu Hiat, Lie Siauw San dan Yen Yu San merundingkan acara selanjutnya, taktik perang untuk menghadapi partai Ngo-hong bun.

Tidak lama kemudian, Yen Siu Hiat balik kembali dengan burung merpati di tangan.

Yen Yu San sudah mengeluarkan alat2 tulis dan kertas, diserahkan kepada Lie Siauw San.

Dengan mengikuti dan mencontoh tulisan2 gadis yang menyamar menjadi Cin Siok Tin itu, Lie Siauw San memberi laporan palsu, digulungnya kembali surat kecil itu, dimasukkan kedalam tabung, dan diikat kembali ke kaki burung merpati.

Burung merpati itu dilepas, gibrik2 sebentar, membelah angkasa meninggalkan mereka.

Dengan tujuan markas partai Ngo-hong-bun.

Sesudah selesai dengan pekerjaan2 tadi, Lie Siauw San memberi hormat dan meminta diri.

Yen Yu San telah mendapat kisikan-kisikan dan petunjuk2 yang penting, ia mengantarkan Lie Siauw San.

Membisiki sesuatu ditelinga Yen Siu Hiat.

Wajah Yen Siu Hiat berubah, dengan ragu2 bertanya .

"Jiesiok, apa berita ini bisa dipercaya?"

"Tentu saja."

Berkata Yen Yu San.

"Lekas kerjakan !"

"Baik."

Yen Siu Hiat meninggalkan sang paman. Sesudah itu, Yen Yu San meng-urut2 jenggot, ia segera keluar dan memanggil.

"Dimana Beng-bu ?"

"Siap !"

Seorang laki2 dari benteng Penganungan Jaya berlari masuk.

"Apa congkoan ada lain perintah ?"

Yen Yu San memberi perintah.

"Beritahu kepada semua orang, kita siap berangkat."

Laki2 yang bernama Beng-bu itu mengundurkan diri.

Kini Yen Yu San telah mempernahkan orang2nya, menuju ke kamar Cin Siok Tin, disini seorang anggota partai Ngo-hong-bun yang menyamar menjadi putri penganungan jaya masih dikawal oleh Kui Hoa.

Melihat sang pengurus benteng datang, cepat2 Kui Hoa menyambut dan berkata.

"Congkoan!"

Yen Yu San memberi perintah.

"Lekas ber-siap2, kita segera berangkat."

Gadis yang menyamar menjadi Cin Siok Tin itu memandang Yen Yu San dan bertanya.

"Hendak kemana kau bawa diriku ?"

"Akan kuantar ke suatu tempat yang baik."

Berkata Yen Yu San.

Sesudah itu ia melirik ke arah Kui Hoa memberi perintah agar Kui Hoa ini memayang dan mengawal orang tawanannya.

Kui Hoa mengerti, segera sesudah ia memberesi perbekalan mereka, menggandeng tangan orang tawanannya dan berkata .

"Nona, biar hamba membantu kau berjalan."

Tidak menunggu kerelaan Cin Siok Tin palsu, dengan setengah menyeret Kui Hoa mendorongnya. Gadis itu beradat keras, mengibaskan diri dan membentak.

"Tidak perlu kau pepayang, aku bisa berjalan seorang diri."

Sepasang sinar mata Yen Yu San memancarkan kemarahan, ia membentak.

"Lebih baik nona tahu diri, aku bukanlah seorang yang mudah diperlakukan seperti itu."

Mendapat dukungan pengurusnya, Kui Hoa tidak sungkan2 lagi menyeret dan mendorong gadis tersebut, dianggap seperti majikan sendiri, mereka berjalan bersama-sama.

"Lebih baik hamba yang membantumu."

Mereka keluar dan sesudah membikin perhitungan makan dan sewa kamar, tiba diluar dipenginapan, disana sudah tersedia kereta.

Beng-bu bekerja gesit, segera membuka pintu kereta, membiarkan Kui Hoa yang memayang gadis tawanan itu menaiki kereta.

Kuda tunggangan Yen Yu San yang berwarna merah sudah tersedia, begitu mengetahui mereka sudah menaiki kereta, dengan sekali congklang, Yen Yu San berangkat.

Iring2an benteng Penganungan jaya meninggalkan rumah penginapan.

*** Iring2an kereta dari rombongan benteng Penganungan jaya menuju kearah vihara Ciok-cuk-am.

Beberapa saat kemudian kereta mereka tiba ditempat tujuan.

Didepan pintu vihara, Yen Yu San menoleh kearah Beng-bu dan berkata.

"Beritahu kedatangan kita."

Beng-bu menunggang seekor kuda yang berwarna putih, ia adalah anak buah Yen Yu San yang boleh dipercaya, kini ia lompat turun dari kuda tunggangan, berjalan kearah pintu dan mengetuk pintu vihara.

Beberapa saat kemudian, pintu terbuka per-lahan2, satu kepala nongol disana, itulah kepala Liauw-in-nikouw, murid kesayangan Put-im Suthay.

Tidak menunggu teguran, Beng-bu berkata .

"Tolong beritahu kepada ketua vihara bahwa Pengurus benteng Penganungan Jaya Yen Yu San beserta rombongan berkunjung datang."

Liauw-in-nikouw segera mengenali orang-orang dari benteng Penganungan Jaya, dan dia juga melihat hadirnya si Hakim bermuka merah Yen Yu San, cepat2 membuka pintu memberi hormat dan berkata .

"Silahkan masuk !"

Beng-bu segera lari kearah kereta, membuka pintu. Disana Kui Hoa sudah memayang orang tawanannya turun dari kereta. Yen Yu San segera memberi perintah kepada rombongannya.

"Kecuali Kui Hoa bersama nona Cin Siok Tin, yang lain2 tunggu saja disini."

Maka dengan mengajak Kui Hoa dan Cin Siok Tin palsu, Yen Yu San memasuki vihara Ciok-cuk-am. Liauw in nikauw segera mempernahkan mereka diruang tamu, memberi hormat dan berkata .

"Silahkan tunggu sebentar, biar kami beritahu kepada suhu." *** Bab 47 KEPERGIAN Liauw in nikauw tidak terlalu lama, Put-im suthay tampil ditempat itu, tangannya me-megang2 biji tasbih, wajahnya dingin dan kaku, ia merangkap kedua tangan memberi hormat dan berkata .

"Omitohud, sudah lamakah Yen tayhiap menunggu ?"

Yen Yu San membalas hormat itu, dia berkata .

"Rombongan kami sedang sengaja membikin kunjungan ke sini."

Put im taysu menoleh kearah Cin Siok Tin palsu, menudingkan jarinya dan bertanya.

"Siapa nona ini ?"

"Putri ketua kami."

Jawab Yen Yu San. Cin Siok Tin palsu itu tiba2 turut menyelak bicara, dengan dingin berkata .

"Mengapa Yen Tayhiap membohongi orang dan membohongi diri sendiri, terus terang saja beritahu kepada nikouw tua, aku adalah Duta Keliling dari partay Ngo hong-bun dan aku menjadi orang tawanan."

Liauw In yang menyertai Put-im-suthay tertegun, dengan heran memandang kearah Cin Siok Tin imitasi.

Wajah Put-im-suthay yang kaku dan dingin menoleh kearah Yen Yu San, dengan nada yang tak sedap ia bertanya .

"Yen tayhiap, siapa orang ini ?"

Dengan canggung sekali Yen Yu San terpaksa berkata .

"Betul2 dia adalah anggota partay Ngo-hong-bun yang sudah jadi tawanan."

Dengan tidak puas, Put-im-suthay membikin teguran .

"Tadi dikatakan sebagai putri ketua Benteng Penganungan Jaya Cin Siok Tin?"

"Benar !"

Yen Yu San memberi pembelaan.

"Ceritanya sangat panjang, putri ketua kami telah menjadi orang tawanan partai Ngo-hong-bun. Dan orang ini telah memalsukannya, dan dapat diketahui oleh kita....."

Wajah Put-im Suthay semakin masam, ia membentak .

"Apa maksudmu menggiringnya ke tempat ini? Apakah hendak mencari putri ketua kalian yang hilang itu? Eh ! vihara Ciok-cuk-am tidak ada hubungan dengan partai Ngo-hong-bun, Yen tayhiap salah alamat."

Beginilah kira2 sikap dan tabiat Put-im Suthay, mau menang sendiri, sombong dan angkuh, tidak perduli berhadapan dengan si hakim bermuka merah Yen Yu San yang ternama, tidak perduli orang dari benteng Penganungan Jaya, tidak segan2 lagi ia menceplos.

Yen Yu San tertawa berkakakan, dengan sabar ia berkata .

"Oh ! Suthay salah menduga maksud baik pihak kita."

"Katakan maksud baik itu!"

Berkata Put im Suthay singkat. Yen Yu San berkata.

"Kedatanganku ke tempat ini adalah membawa berita penting, ada sesuatu yang mau dirundingkan."

"Soal apa yang mau dirundingkan?"

Bertanya Put-im suthay. Yen Yu San menunjuk kearah Cin Siok Tin, sesudah itu baru berkata.

"Maksudku, orang tawanan ini hendak dititipkan sebentar, sesudah itu..."

"Tidak bisa."

Put-im suthay menolak.

"Vihara Ciok-cuk am tidak menerima tamu, kalau yang mau dirundingkan oleh Yen layhiap itu menyangkut urusan orang tahanan, aku menolak. Jangan terlalu lama disini !"

Inilah pengusiran !

Yen Yu San menyabarkan diri, ia mempunyai adat yang boleh dikata beringas dan cepat marah, tapi disini masih ada orang yang lebih cepat marah darinya.

Didalam soal ini, ia harus menyerah kepada Put-im suthay.

Sedapat mungkin menyabarkan diri, ia berkata.

"Kedatanganku ke tempat ini, adalah menyangkut lain urusan yang lebih penting...."

"Urusan penting yang bagaimana ?"

Suara Put-im Suthay begitu kurang menyedapkan.

"Tidak baik bicara ditempat ini,"

Berkata Yen Yu San.

"Adakah tempat yang lebih tenang ?"

Put-im Suthay memandang sang tamu itu beberapa waktu, dengan setengah terpaksa ia menganggukkan kepala, katanya .

"Baiklah. Mari kita ke belakang."

Sesudah itu Put-im suthay berbalik badan, meninggalkan Yen Yu San cs, dan berjalan ke belakang.

Yen Yu San lebih kenal kepada sifat2 Put-im suthay, ia tidak menganggap perlakuan itu sebagai kekurang ajaran, memandang kearah Kui Hoa dan berkata .

"Kui Hoa, kalian berdua disini saja."

Inilah suatu pesan agar Kui Hoa bisa mengawasi sang orang tawanan dengan lebih teliti.

Sesudah memberi pesan tadi, Yen Yu San mengejar Put-im suthay, menuju ke arah ruang belakang.

Put-im suthay mengajak Yen Yu San ke suatu tempat ruangan yang agak kecil, disana terdapat sebuah meja dan dua bangku, dia menyilahkan tamunya duduk.

Liauw in nikauw segera membawakan teh untuk Yen Yu San.

Memandang hadirnya Liauw in nikauw, hati Yen Yu San tergerak, ia berkata.

"Suthay, bisakah kau memberi perintah kepadanya untuk menjaga dipintu?"

Jawaban Put-im suthay sangat singkat, katanya .

"Ciok cuk-am selalu aman. Hanya ada seorang nenek tua tukang sapu dan muridku ini. Jangan takut pembicaraan didengar oleh orang lain."

Yen Yu San berkata.

"Urusan ini terlalu besar. Lebih baik kita ber-hati2."

Put-im suthay berkerut alis dan berkata .

"Hei, orang menggembar-gemborkan si hakim bermuka merah begini jago, karena adanya kau duduk sebagai pengurus benteng Penganungan Jaya, maka partai itu juga disegani orang, berapa gelintir orang yang berani menempur Hakim bermuka merah, tidak disangka, apa yang digembar-gemborkan orang itu sangat jauh dari kenyataan, pembicaraan mereka itu ber-lebih2an."

Inilah suatu penghinaan, mencemoohkan si Hakim bermuka merah Yen Yu San yang mempunyai nyali kecil. Yen Yu San hanya tertawa meringis, dengan menyabarkan diri berkata .

"Urusan ini menyangkut hari depan rimba persilatan, juga menyangkut vihara Ciok cuk-am, kemudian Ngo-bie-pay dam Siauw-lim-pay....."

Hati Put-im suthay mulai tergerak, ia bertanya .

"Begitu hebat? Baiklah! Liauw-in, jaga dipintu, tidak perduli siapa, jangan kasih mereka masuk."

Kata yang terakhir ditujukan kepada Liauw-in-nikauw. Terdapat sedikit perobahan pada wajah Liauw in-nikauw.

"Baik,"

Ia menjawab perintah sang guru. Meninggalkan ruangan itu pergi ke pintu, menjaga sesuatu yang tidak diinginkan. Sesudah selesai dengan Liauw-in-nikauw, Put-im suthay berkata .

"Nah! Kita sudah boleh mulai, bukan?"

Per-lahan2 Yen Yu San berkata .

"Duduk persoalan dimulai dari munculnya sesuatu partai yang bernama partai Ngo-hong-bun."

"Partai Ngo-hong-bun ?"

Put-im suthay berkerut alis.

"Partai apakah yang menamakan partai Ngo-hong-bun ?"

Yen Yu San berkata .

"Aku sendiripun masih gelap. Adanya partai yang bernama partai Ngo-hong-bun lebih berbahaya dari golongan Perintah Maut. Sebelumnya mana kutahu kalau ada sesuatu golongan yang bernama partai Ngo-hong-bun. Jangan coba meremehkan kekuatannya. Hanya salah satu cabang partai Ngo-hong-bun, golongan yang bernama Perintah Maut memiliki empat Lengcu Panji berwarna, tiap lengcu panji memiliki ilmu kepandaian silat tinggi........"

Tiba2 Put-im suthay memotong pembicaraan, katanya.

"Yen tayhiap telah membuktikan sendiri ? Atau hanya mendengar cerita orang saja ?"

"Inilah pengalaman2ku semalam."

Berkata Yen Yu San.

Sesudah itu diceritakan bagaimana golongan Perintah Maut telah menculik Cin Siok Tin, inilah yang menyebabkan Yen Yu San mengundurkan diri didalam persengketaan Kang Han Cing.

Dijelaskan pula secara terperinci, bagaimana ia ditantang oleh partai Ngo-hong bun, bagaimana ada seseorang yang memalsukan dirinya, bagaimana Lie Siauw San membantu menangkap Cin Siok Tin palsu, dan berikutnya.

Put im suthay berpikir sebentar, baru mengajukan pertanyaan.

"Dari keterangan Yen tayhiap, partai Ngo-hong-bun memiliki jago2 kelas satu, Suto Cang dan keempat lengcu panji berwarna itu berkepandaian silat tinggi, tentu bukan ilmu silat kampungan, dari ilmu silat golongan manakah ilmu kepandaian mereka itu ?"

Yen Yu San berkata .

"Aku sudah tua. Sulit membedakan aliran dari mana."

Put-im suthay bertanya lagi.

"tentang sastrawan muda yang bernama Lie Siauw San, ilmu kepandaiannya juga hebat, mana mungkin seorang biasa, apa Yen tayhiap bisa menduga asal usulnya ?"

Rasa tinggi hati Yen Yu San hampir tertekan, ia harus mengakui kekalahannya, menggeleng-gelengkan kepala dan menarik napas.

"Ilmu kepandaian sastrawan muda yang bernama Lie Siauw San itu terlalu liehay, jauh berada diatas diriku."

"Bagaimana kalau dibandingkan dengan bocah yang memalsukan Kang Han Cing beberapa hari yang lalu?"

Bertanya lagi Put-im-suthay. Yen Yu San sulit memberi jawaban, berkemak-kemik beberapa saat, baru ia menjawab .

"Kedua2nya berada diatas diriku. Entahlah."

Put-im suthay bertanya lagi .

"Yen tayhiap mengatakan kita hendak merundingkan sesuatu, urusan apakah yang hendak dirundingkan ?"

Dengan bersungguh2 Yen Yu San berkata .

"Baru saja aku mendapat info rencana partai Ngo-hong-bun, sesudah memalsukan diriku, langkah berikutnya, mereka menghantarkan kelenteng Ceng-lian-sie dan Ciok-cuk-am, suthay dan Ciok-Sim taysu adalah dua tokoh yang mereka harus coret dari....."

"Bagus !"

Put-im suthay mengebrak meja.

"Biarkan saja mereka datang, hendak kulihat, apa yang mereka bisa lakukan?"

"Sabar,"

Berkata Yen Yu San.

"Menurut rencana mereka, hanya Ciok Beng taysu yang diberi kesempatan hidup."

"Huh ! Mengapa ?"

Bertanya Put-im suthay.

"Takut sama Siauw lim sie?"

"Bukan itu."

Berkata Yen Yu San.

"Hanya disebabkan oleh unsur lain, beberapa hari yang lalu kita telah mencegah Kang Han Cing, dan pernah cekcok mulut dengan orang2 dari Partai Baru. Disinilah kehebatan Ngo-hong-bun. Dengan menyarukan diri sebagai orang2 dari Partai Baru dan memberi kesempatan kepada Ciok Beng taysu memberi laporan, Siauw lim pay akan bentrok dengan partai baru, Siauw lim pay dan Ngo-bie-pay pasti menjatuhkan kemarahannya kepada partai baru. Dan akan terjadi pertarungan besar-besaran, partai Ngo-hong-bun akan bisa menarik keuntungan dari kekeruhan itu."

Put-im suthay bisa diberi mengerti, berulang kali ia menganggukkan kepala .

"Memang rencana luar biasa, tentunya Yen tayhiap mendapat info dari si pemuda sastrawan yang bernama Lie Siauw San itu ?"

"Ya,"

Yen Yu San menganggukkan kepala.

"Lie Siauw San mendengar keterangan tadi dari perintah2 Sam-kiongcu."

"Kapan gerakan partai Ngo-hong-bun untuk menjalankan rencananya ?"

Bertanya Put-im suthay.

"Pada malam ini."

Berkata Yen Yu San. *** Bab 48

"BAGUS."

Berkata Put-im suthay.

"Hendak kulihat, sampai dimana tingginya ilmu kepandaian silat mereka."

"Hari ini Kwee hu-huat mengajak empat panji berwarna, sesudah menghancurkan Ceng-lian-sie....."

"Mereka menyerang Ceng-lian-sie lebih dulu ?"

Bertanya Put-im suthay.

"Apa suthay bisa berpeluk tangan ?"

"Tentu saja tidak."

Jawaban Put-im suthay spontan. Yen Yu San berkata .

"Mereka telah merencanakan gerakan masak2, jumlah partai Ngo-hong-bun tidak sedikit. Karena itulah aku tidak bisa berpeluk tangan, aku juga harus menempur mereka, tapi bagaimana dengan orang tawanan perempuan itu ? Bisakah dikirim untuk sementara ?"

"Baiklah."

Put-im suthay akhirnya ngalah.

"Tinggal saja disini."

"Terima kasih sebelumnya."

Berkata Yen Yu San.

"Kapan kita menuju ke Ceng-lian sie ?"

Bertanya Put-im suthay. Yen Yu San berkata .

"Partai Ngo-hong bun belum tahu kalau Yen Yu San itu Yen Yu San asli, sangka mereka adalah samaran dari Han Sie Yong. Karena itu berita ini, kita berangkat tepat pada waktunya, jam dua, bagaimana ?"

"Baiklah."

Put-im suthay setuju.

"Makanlah disini dahulu, kemudian kita sama2 berangkat."

Sesudah itu Put-im suthay memanggil Liauw in .

"Liauw in, siapkan makanan."

Liauw in nikauw berdiri di pintu, semua percakapan dari Yen Yu San dan gurunya dapat ditangkap, mendapat perintah tadi, segera ia membungkuk dan menyiapkan makanan.

Yen Yu San dan Put im suthay merencanakan, bagaimana mereka akan menghadapi partai Ngo-hong-bun dan melanjutkan perundingannya.

Tidak lama kemudian, Liauw-in balik kembali dan menyatakan kalau makanan sudah tersedia.

Alhasil, terjadi persepakatan, Put-im suthay setuju memberikan bantuan kepada Ceng-lian-sie, apalagi ada kelebihan tenaga dari si hakim bermuka merah Yen Yu San, siapa yang harus mereka takutkan?

Putusan berikutnya adalah mereka tidak menggunakan banyak tenaga, Put im suthay dan Yen Yu San berdua sudah cukup.

Meninggalkan beberapa orang-orang benteng penganungan jaya dengan maksud agar orang2 itu bisa membantu Kui Hoa mengawasi orang tawanannya.

Ketua vihara Ciok-cuk-am Put-im suthay bersama Hakim bermuka merah Yen Yu San meninggalkan tempat itu, menuju ke arah kelenteng Ceng-lian-sie.

*** Dengan Beng-bu sebagai pemimpin utama benteng Penganungan Jaya, membuat penjagaan divihara Ciok-cuk-am.

Kui Hoa dan Liauw-in nikauw mengawasi orang tawanan mereka.

Sebelum berangkat, Yen Yu San meninggalkan pesan kepada Beng-bu agar mereka bisa ber-hati2 karena itulah penjagaan tidak pernah lengah!

Para jago benteng Penganungan Jaya bersembunyi di-semak2 gelap, mengawasi keadaan disekitar vihara Ciok-cuk-am.

Dibelakang vihara, tiga baris ruangan2 terang benderang.

Disalah satu ruangan itu, terdapat tiga wanita, mereka adalah Kui Hoa, Liauw-in nikauw dan Duta Keliling Ngo-hong-bun yang sudah tertawan.

Tiga perempuan muda yang cantik jelita.

Masing2 memikirkan urusan sendiri, tidak seorangpun yang bicara.

Waktu2 yang tegang berlalu....

Beberapa lama kemudian, tiba2 saja Liauw In nikauw berjalan mundar-mandir, ia berpantun.

"Dari mana datangnya lintah, dari sawah turun ke kali."

Eh!

Seorang biarawati juga melagukan dendang asmara cinta ?

Kalau saja ditempat indehoy, suara itu akan mendapat sambutan spontan dari sang pria, jawabannya sangat mudah.

Dan kini juga ada jawaban-yawaban suara keluar dari mulut Cin Siok Tin palsu .

"Dimana adanya orang kita, disitulah musuh mati."

Jawaban yang tidak sesuai dengan jawaban aslinya !

Pantun cinta kasih remaja ini diselewengkan ?

Kui Hoa tidak mengerti akan adanya penyelewengan2 pantun itu, tapi sebagai seorang pelayan dari benteng Penganungan jaya yang terkenal, pengalaman Kang-ouwnya cukup kuat.

Dia bisa menangkap sesuatu yang kurang beres, hatinya tergerak, memandang ke arah Liauw-in nikauw, juga kearah orang tawanannya, ia bertanya .

"Hei apa yang sedang kalian permainkan ? Aku tidak mengerti."

Liauw in nikauw yang tadinya sedang berhadapan dengan Cin Siok Tin palsu itu tiba2 menolehkan kepala, memandang ke arah Kui Hoa dan menjawab .

"Tentu saja kau tidak bisa mengerti."

"Kalian seperti......"

Kui Hoa tidak meneruskan suaranya.

"Ya !"

Berkata Liauw in nikauw.

"Kami adalah satu golongan. Tentu saja kau tidak mengerti."

"Satu golongan? Ah.....kau...."

Hati Kui Hoa tercekat. Dia tersadar, hatinya semakin was2. Liauw in nikauw tertawa cekikikan, katanya .

"Baru mengerti? He, he......"

"Apa kau bukan murid Put-im suthay?"

Berteriak Kui Hoa.

"Siapa yang bilang bukan murid Put-im suthay ! Sayang sekali ! Nenek tua itu lebih goblok sepuluh kali dari dirimu."

Sreet......Kui Hoa mengeluarkan pedang, mundur ke belakang dua langkah, ia membentak.

"Berani kau berhianat ? Kau membangkang perintah guru sendiri ?"

Liauw in nikauw berkata .

"Tidak lama lagi dunia ini akan berubah menjadi dunia partai Ngo-hong-bun. Dan kau menyebut2 nama Put-im suthay, tidak guna, he, he, lebih baik menyerahlah. Ayo ! ber-sama2 meninggalkan tempat ini, mungkin kami bisa memberi pengampunan kepada dirimu."

Kui Hoa melintangkan pedang didepan dada, dengan dingin ia berkata .

"Kalian mengimpi ! Disekeliling tempat ini masih banyak orang benteng penganungan jaya, hanya sekali teriak, mereka bisa mengepung kalian."

Liauw in nikouw tidak menjadi gentar ia berkata .

"Mereka ? Huh! Tidak satupun yang kupandang mata."

Secepat itu pula tangan Liauw in nikouw bergerak, dari sana melepus segumpalan asap putih, menyerang kearah Kui Hoa.

Kui Hoa sudah siap sedia, menyabetkan pedang dan mengelak kesamping, tapi terlambat !

Semacam bau harum semerbak menyerang hidungnya, kedua kakinya menjadi lemas, gedubrak....ia jatuh dan tidak sadarkan diri.

Ternyata Liauw-in nikauw adalah satu komplotan dengan partai Ngo-hong-bun !

Jatuhnya Kui Hoa sudah berada didalam perhitungan.

Tanpa menoleh lagi, ia membungkukkan badan dan memberi hormat kepada Cin Siok Tin dan berkata.

"Hamba Sim Siang memberi hormat kepada Sie-cia."

Sie-cia berarti utusan partai. Orang yang memalsukan kedudukan Cin Siok Tin itu mempunyai kedudukan diatas Liauw-in nikauw. Dia adalah Duta Keliling! Sang utusan partai segera bertanya.

"Kau menjadi anggota dari mana?"

"Anak buah lengcu panji hijau,"

Jawab Sim Siang. Cin Siok Tin palsu berkata.

"Jalan darah2ku telah ditotok oleh Lie Siauw San, ilmu silatku tidak bisa digunakan. Lekas gendong diriku meninggalkan tempat ini. Sebentar malam, kita berkumpul dikota Kui-lian-sha. Disana masih banyak orang kita."

"Baik."

Liauw-in nikauw menerima perintah. Menoleh kearah Kui Hoa dan bertanya.

"Bagaimana mempernahkan dirinya?"

"Aku takut ia membocorkan rahasia,"

Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok Kho Ping Hoo

Baca Juga: Wanita Iblis Pencabut Nyawa 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert