Eps 5 Perintah Maut - Buyung Hok
Baca online Perintah Maut - Buyung Hok
Cersil Perintah Maut - Buyung Hok.
Disaat itu, tubuh Kang Han Cing sedang melengkung kebelakang, datangnya serangan belati sangat mendadak, sulit mengelakkannya, hal ini sudah termasuk salah satu perhitungan si gadis berbaju hijau, maka ia menusuk dengan pisau belati.
Ada dua cara untuk menangkis datangnya serangan itu.
Cara yang pertama adalah menggunakan senjata memukul pergi belati lawan, cara yang kedua adalah bergulingan ditanah, menjatuhkan diri, tapi cara ini lebih celaka.
Kang Han Cing tidak menggunakan cara2 yang lazim, tiba2 saja badannya yang melengkung itu ditempangkan kembali !
Celaka !
Ini berani memajukan perutnya untuk ditublas oleh belati si gadis berbaju hijau.
Si gadis berbaju hijau menjadi kaget, mana mungkin ada cara perlawanan yang seperti itu?
Menjerit keras.
Ia bingung untuk meneruskan serangan belatinya yang sudah disodorkan ke depan itu.
Tak.......
Didalam situasi kebingungan itu, tiba2 jari Kang Han Cing menyentil belati si-gadis.
Belati itu jatuh terbang.
Kang Han Cing sudah berdiri berhadap-hadapan, jarak mereka cukup dekat, hampir bersampokkan kulit.
Dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi, Kang Han Cing berhasil mengelakan segala macam bahaya.
Ia sudah berada diambang pintu kemenangan, dengan sombong berkata .
"Nona, apa lagi permainanmu ? Silahkan..."
Sebelum kata2 Kang Han Cing dilepas habis, lain senjata rahasia lagi melepus, tangan kiri si gadis terayun, benda merah menghampiri Kang Han Cing.
Kang Han Cing sedang ber-pikir2 senjata rahasia macam apa lagi yang dikeluarkan ?
Tangannya menyaup, menerima datangnya gumpalan merah itu.
Aaaaa ....
Ternyata selembar saputangan merah, bau harum parfum seorang gadis menusuk hidung.
Hanya selembar saputangan merah yang digunakan untuk menyerang ?
Saputangan merah ini bukan saputangan biasa, hawa bau harum itu telah mendapat olahan2 istimewa pula, disaat Kang Han Cing mengendus bau harum itu, tiba2 sepasang kakinya menjadi lemas, ia terjatuh duduk.
Kang Han Cing keracunan secara halus.
Giliran gadis berbaju hijau yang tertawa cekikikan, katanya .
"Hi, Hi......... Kang-jie kongcu, sampai disini sajakah pertempuran kita?"
Kedua tangan dan kedua kaki Kang Han Cing tidak bertenaga lagi, ia bisa melihat ia bisa mendengar, bisa bersuara, tapi tidak bisa menggerakan tenaga.
Kekuatannya telah dihancurluluhkan oleh gumpalan racun itu.
Si gadis berbaju hijau memandang ke arah Kang Han Cing, kemudian menoleh kearah pelayannya dan berkata.
"Siao Siang, Kang jiekongcu adalah tamu kita, mana pantas membiarkan seorang tamu duduk numprah ditanah, Hayo ! Lekas bawakan kursi ! Bangunkan dan dudukkan diatas kursi."
Si pelayan Siao Siang bisa bekerja cepat menyeret sebuah kursi, diletakkan di-tengah2 lalu memayang Kang Han Cing yang sudah tiada daya, didudukkan diatas kursi itu.
Sesudah selesai, Siao Siang mengeluarkan keluhan dan berkata.
"Uh, orang ini berat sekali !"
Si gadis berbaju hijau mendelikkan mata, mendatangi Kang Han Cing dan berdiri didepan si pemuda, ia tertawa.
"Jiekongcu, apa masih ingin menyeret aku ke Ciok-cuk-am ?"
Kang Han Cing mengatupkan mata, tidak menggubris cemoohan tadi. Si gadis berbaju hijau berkata lagi .
"Saputangan merahku tidak mempunyai daya bius, hanya bisa menjinakkan seseorang yang galak. Mengapa Kang jiekongcu menutup mata, tidak berani menerima kenyataan ?"
Suaranya merdu, sangat menarik hati. Kang Han Cing merentangkan kedua mata, ia membentak .
"Bah! Mengapa tidak berani ?"
"Hi, hi....."
Gadis itu tertawa lagi.
"Ilmu kepandaian Kang jiekongcu memang hebat. Sudah boleh membanggakan diri di dalam dunia Kang-ouw."
Dengan marah Kang Han Cing membentak.
"Aku telah tertipu olehmu, kalau mau bunuh lekas bunuh, jangan banyak cingcong."
"Maaf !"
Berkata si gadis berbaju hijau.
"Tidak seharusnya aku menggunakan obat pelemas itu menjatuhkan jiekongcu. Tapi.....tidak ada jalan lain. Terpaksa aku harus menahan jiekongcu."
"Kau hendak menahan aku disini?"
Bertanya Kang Han Cing. Gadis berbaju hijau itu menganggukkan kepala.
"Maksudmu ?"
"Ayah angkatku ingin bertemu."
Hati Kang Han Cing tergerak, ternyata si gadis berbaju hijau hanya dalang, ia masih mempunyai seorang ayah angkat.
Ayah angkat itu hendak bertemu ?
Apa maksud tujuannya ?
Siapakah orang yang menjadi ayah angkat si gadis ?
Mungkinkah lengcu Panji Hitam?
Kang Han Cing menentang sepasang sinar mata si gadis yang jeli, ia bertanya.
"Lengcu Panji Hitam yang kau maksudkan ?"
"Tidak perlu ter-buru2,"
Berkata si gadis.
"Sebentar lagi kalian segera bertemu."
"Siapa nama ayah angkatmu ?"
Bertanya Kang Han Cing.
"Tanya saja kepadanya, kalau ayah angkatku bersedia memberi tahu, ia bisa bicara sendiri. Tidak perlu meminta keteranganku."
Hati Kang Han Cing tergerak, dari pembicaraan tadi, ia bisa membuktikan bahwa ayah si gadis berbaju hijau bukanlah lengcu Panji Hitam.
Siapa ?
Oh!...mungkinkah orang yang menjadi pemimpin dari lengcu Panji Hitam ?
Sekali lagi Kang Han Cing menatap gadis didepannya, gadis itu sangat cantik, cukup menarik, badannya padat dan gempal, memiliki ilmu kepandaian silat yang cukup tinggi.
Berani menyamar dirinya, membuat fitnah yang jahat.
Rasa sakit hati Kang Han Cing itu segera mereda.
Mereka saling pandang sebentar, cepat2 Kang Han Cing bertanya .
"Bagaimana sebutan nona?"
"Ouw ..... aku lupa memberi tahu."
Berkata si gadis.
"Aku Suto Lan."
Nama si gadis berbaju hijau adalah Suto Lan ! Apa maksud tujuan Suto Lan menggunakan wajah Kang Han Cing, mencelakakan Kang Han Cing? Inilah yang harus diselidiki.
"Kapan aku bisa bertemu dengan ayah angkat nona ?"
Bertanya lagi Kang Han Cing. Gadis berbaju hijau Suto Lan berkata.
"Tidak lama. Tunggulah beritanya. Lebih baik jiekongcu menetap disini dahulu, sesudah kuberi tahu ayah angkatku itu, nanti jiekongcu akan mendapat panggilan."
Sesudah itu, dari dalam saku bajunya, Suto Lan mengeluarkan sebuah botol obat, dituangnya, dari sana meluncur sebutir obat berwarna putih, diletakkan ditangan dan diserahkan kepada Kang Han Cing, ia berkata .
"Inilah obat, agar kau bisa bebas dari pengaruh racun lemas itu !"
Kang Han Cing memandang obat itu dan bertanya .
"Apa kau tidak takut aku melarikan diri ?"
Dengan tertawa Suto Lan berkata.
"Obat lemas itu sangat istimewa, tidak bisa membius orang, kerjanya juga sangat lambat, tapi penyembuhannya pun sangat lambat. Kau harus membutuhkan waktu tiga hari, maka kau baru bisa bebas kembali. Sekarang obat yang kuberikan hanya sebutir, kau hanya bisa menyembuhkan sepertiga dari kelumpuhan2 itu. Kau bisa bergerak, tapi tidak bisa mengerahkan tenaga. Belum boleh menggunakan tenaga."
Dengan dingin Kang Han Cing berkata.
"Pantas saja nona begitu royal !"
"Jangan salahkan aku."
Berkata Suto Lan.
"Kau boleh menjadi tamu ditempat ini."
Suto Lan menjulurkan tangannya, menjudukan obat itu dan berkata .
"Bersediakah kau makan obat ini ?"
Keadaan Kang Han Cing begitu mengenaskan, ia duduk numprah dibangku, mengangkat tangannya saja sudah tidak bisa, apalagi untuk berjalan ?
Mendapat sodoran obat, ia segera merentangkan mulut.
Per-lahan2 Suto Lan meletakkan obat itu kedalam mulut Kang Han Cing, diberi minum dan ia berkata .
"Maafkan ! Aku masih ada lain urusan. Disini ada Siao Siang yang melayani segala kebutuhan jiekongcu, kalau perlu sesuatu, panggil saja dirinya."
Sesudah itu, ia berpesan kepada Siao Siang .
"Siao Siang, jiekongcu masih belum makan. Lekas siapkan barang santapan."
Siao Siang segera mengiyakan perintah itu, lari keluar untuk membuat makanan.
Suto Lan meninggalkan tempat itu !
Bekerjanya obat tadi sangat cepat sebentar kemudian Kang Han Cing bisa menggerakkan tangan dan kaki.
Tapi ia masih tidak bisa menggunakan tenaga, pengaruh bau harum semerbak dari saputangan merah itu memang hebat.
Kang Han Cing tidak menjadi khawatir atas kesulitan dirinya, ia harus membongkar rahasia, siapa orang yang membuat fitnah jahat itu?
Bintik2 terang mulai menampak, kalau saja ia meneruskan penyelidikannya, tidak sulit menemukan biang keladi dari segala biang kekerokan.
Si gadis berbaju hijau Suto Lan hanya sebuah pion, orang telah memalsukan dirinya, dengan maksud memperdalam fitnah-fitnah itu.
Kang Han Cing berjalan mundar-mandir diruangan tadi.
Ia sedang berusaha, bagaimana membebaskan diri dari kehilangan tenaga?
Tidak lama kemudian, tampak pintu terbuka, Siao Siang berjalan masuk dengan makanan.
Pelayan itu berkata .
"Jiekongcu, silahkan makan !"
Kang Han Cing memang mulai merasakan perutnya keroncongan, tidak segan2 melahap semua makanan itu. Siao Siang menantikan disamping, menunggu sampai selesai, si pelayan bertanya .
"Jie-kongcu masih mau tambah apa lagi ?"
"Tidak. Sudah cukup."
Siao Siang memberesi sisa2 makanan. Menggunakan kesempatan ini, Kang Han Cing mengajukan pertanyaan .
"Siao Siang, apakah ditugaskan melayani kebutuhan nona Suto Lan tadi ?"
"Sekarang ditugaskan untuk melayani jie kongcu,"
Berkata Siao Siang tertawa.
"Karena majikanmu takut aku melarikan diri, maka kau mendapat tugas untuk mengawasiku, bukan ?"
"Jie kongcu jangan sampai memikir kesitu."
Berkata Siao Siang.
"Nonaku berlaku baik budi, sampaipun kamarnya diserahkan kepadamu. Terus terang saja aku bicara padamu, biasanya nona Suto Lan itu dingin dan angkuh, belum pernah berlaku baik kepada siapapun juga. Walau saudara2 seperguruannya, iapun acuh tak acuh. Terkecuali kau ! Jie-kongcu !"
Dari pembicaraan ini, Kang Han Cing bisa mengetahui lain rahasia, ternyata Suto Lan bukan seorang diri, si gadis berbaju hijau itu masih mempunyai banyak saudara seperguruan.
Siapakah saudara2 seperguruannya ?
Inilah yang perlu diselidiki.
*** Bab 25
"OH....."
Berkata Kang Han Cing, membawakan sikapnya yang terkejut.
"Tempat ini menjadi kamar nona Suto Lan ?"
"Tentu saja kamar nona Suto Lan. Apa kau tidak mempunyai mata melihat?"
Berkerutkan alis, Kang Han Cing berkata .
"Oh! Maaf! Mana baik mengangkangi kamar orang, lebih baik aku dipindahkan ke kamar lain saja."
Dengan tertawa misterius Siao Siang berkata .
"Inilah perintah nona Suto Lan. Dikatakan olehnya, waktu sudah malam. Mencari kamar lain tidak mudah, juga harus mem-beres2kan. Takut kalau Jiekongiyu tidak betah maka ia menjediakan kamar ini."
"Sebelumnya, aku Kang Han Cing mengucapkan banyak terima kasih."
"Nanti saja, berterima kasih kepada nona Suto Lan,"
Berkata Siao Siang tertawa kecil.
"Oh ! Gedong ini apa milik ayah angkat nona Suto Lan ?"
"Boleh dianggap seperti itu."
Jawab Siao Siang dengan nada diplomatik.
"Aku belum pernah bertemu dengannya, tentunya jago silat luar biasa."
"Entah ya."
"Apa hartawan kaya?"
"Majikan tua kami..."
Tiba2 Siao Siang merasakan keceplosan bicara, ia menutup suaranya.
Hati Kang Han Cing memaki, pikirnya pelayan ini sangat ber-hati2.
Dan ia tidak bicara lagi.
Sesudah memberesi sisa makanan, Siao Siang meninggalkan kamar itu.
Menunggu kepergiannya Siao Siang, Kang Han Cing mengunci pintu, dan ia membaringkan diri ditempat tidur.
Inilah pembaringan yang biasa digunakan oleh Suto Lan, bau parfum dari seorang gadis terasa hangat merangsang.
Harumnya bedak dan gincu, terus menerus menyerang hidung Kang Han Cing.
Paling susah menerima kebaikan budi seorang gadis.
Demikianlah istilah ini bisa Kang Han Cing rasakan.
Tidur ditempat yang begitu empuk, dengan bau2 harum yang semerbak membuat pikirannya melayang2 jauh.
Berkresak-kresek setengah malaman, Kang Han Cing belum bisa tertidur.
Karena itu akhirnya ia meninggalkan pembaringan, per-lahan2 memeriksa didalam kegelapan.
Waktu kentongan kedua sudah lewat, sebentar lagi kentongan ketiga akan dipukul.
Gedung itu sangat sunyi dan sepi, tenang tidak terdengar sedikit suarapun.
Kang Han Cing tidak menyalakan lampu, matanya yang lihai sudah biasa memeriksa sesuatu di tempat kegelapan.
Ia mem-buka2 laci, memeriksa kalau2 menemukan obat pemunah pelemas badan itu.
Setengah malaman Kang Han Cing ngaduk kamar Suto Lan, tentu saja ia tidak berhasil mendapatkan benda yang dicari, Suto Lan itu menggunakan obat pelemas melenyapkan kekuatan menjatuhkan Kang Han Cing, tentu ia tidak menaruh obat penawar racun tersebut didalam kamarnya.
Mengetahui akan hal ini, akhirnya Kang Han Cing berbaring kembali di tempat tidur.
Kang Han Cing berusaha menenangkan pikirannya, sedapat mungkin ia memeramkan mata, mata meram dengan pikiran yang melayang-layang, tentu saja ia tidak mudah tidur.
Beberapa saat kemudian terdengar ayam berkokok.
Tanpa disadari baru Kang Han Cing jatuh tertidur.
Kang Han Cing bangun sesudah matahari di-tengah2 langit, ia turun dari pembaringan dan membuka pintu.
Dipintu kamar Siao Siang sudah menanti, melihat Kang Han Cing yang sudah bangun, pelayan itu memberi hormat, dengan tertawa berkata .
"Jiekongcu bisa tidur nyenyak ?"
Wajah Kang Han Cing menjadi merah kalau saja teringat bagaimana ia gulang-guling ditempat tidur yang banyak pikiran kusut itu, ia menjadi malu kepada diri sendiri, dengan cengar-cengir berkata .
"Nonamu sudah kembali ?"
"Lebih dari satu kali."
Jawab Siao Siang.
"Kami takut mengganggu ketenangan jie-kongcu, maka tidak membangunkan."
"Eh, mengapa tidak mau mengetok pintu ?"
Dengan tertawa misterius Siao Siang berkata .
"Inilah perintah nona Suto Lan. Dia melarang hamba mengganggu ketenangan jie-kongcu."
Dengan masih tertawa misterius, Siao Siang berkata .
"Inilah perintah nona, hamba dilarang mengganggu kesenangan tidur Kongcu."
Sesudah itu, Siao Siang berkata lagi.
"Biar hamba ambilkan air buat cuci muka."
Pinggulnya diputarkan, meninggalkan Kang Han Cing.
Tidak lama kemudian Siao Siang membawa air buat cuci muka.
Sesudah itu ia mengundurkan diri.
Tak lama kembali dengan ransum makanan.
Kang Han Cing bercuci muka, membersihkan diri.
Setelah selesai membersihkan diri ia duduk dimuka meja menghabisi makanan pagi yang tersedia.
"Dimana nonamu ?"
Begitu Siao Siang menongolkan kepala, Kang Han Cing mengajukan pertanyaan.
Sebelum Siao Siang menjawab, dipintu telah menongol seorang, itulah gadis berbaju hijau Suto Lan.
Hari ini Suto Lan mengenakan pakaian yang ketat, juga berwarna hijau muda, tepat di bagian dada terlukis sepasang burung Hong, indah sedang menari2.
Berbeda dengan semalam, kalau itu waktu Suto Lan mengenakan pakaian ringkas, gagah dan keren, ini kali Suto Lan membawakan sikapnya seorang gadis remaja, seorang gadis putri hartawan.
Mukanya dipupur, bibirnya dipoles merah, semakin cantik, semakin menarik.
Kedua sinar mata saling bertumbukkan, Suto Lan menundukkan kepala dan bertanya .
"Jiekongcu bisa tidur pulas ?"
Kang Han Cing mengelakkan lirikan mata itu, tertawa tawar berkata .
"Terima kasih. Bagaimana ? Apa nona sudah bertemu dengan ayah angkat nona?"
"Mengapa begitu ter-buru2 ?"
Bertanya Suto Lan.
"Tidak betah disini ?"
"Urusanku masih banyak."
Berkata Kang Han Cing.
"Secepat mungkin bisa menemui ayah angkat nona ! Dan cepat nona berikan obat penawar racun lemas itu."
"Tidak lama lagi. Sesudah bertemu dengan ayah angkatku, tentu saja kuberi obat penawar racun lemas itu."
Tiba2 Kang Han Cing teringat sesuatu, mengangkat kepala, memandang dengan berani pada wajah yang menarik itu, ia bertanya.
"Ada sesuatu yang aku tidak mengerti, bisakah nona memberi keterangan?"
"Keterangan apa?"
"Tentang perkosaan dan pembunuhan di vihara Ciok-cuk-am. Siapakah yang sudah melakukannya?"
Dengan tertawa kecil Suto Lan berkata.
"Oh! Tidak enak didengar."
"Mungkinkah bukan perkosaan?"
"Apa kau sudah melihat dengan mata sendiri ?"
Balik tanya Suto Lan. Selembar wajah si gadis menjadi merah. Kang Han Cing masih belum bisa men-duga2, bagaimana hal itu bisa terjadi ? Segera ia berkata .
"Disaat aku tiba ditempat itu, Yen Siu Lan sudah terbaring didalam keadaan telanjang, ia mati. Inilah yang kusaksikan."
"Kau hendak tahu urusan kematian Yen Siu Lan?"
"Didalam soal ini menyangkut nama baikku. Tentu saja harus tahu."
Suto Lan berkata.
"Yen Siu Lan mati dibawah kami."
Kang Han Cing merentangkan sepasang matanya lebar2, gadis secantik inikah yang membunuh orang? Dia hampir tidak percaya karena itu meminta ketegasan, katanya.
"Nona yang membunuh Yen Siu Lan?"
"Eh, tidak percaya ?"
Bertanya Suto Lan.
"Betul2 sulit diterima."
"Dengar."
Berkata Suto Lan perlahan.
"Karena Yen Siu Lan sudah berkhianat kepada golongan, karena itu harus mendapat hukuman kematian."
"Oh !"
Kang Han Cing terkejut.
"Yen Siu Lan juga termasuk salah satu dari anggota kalian?"
Suto Lan memberikan satu kerlingan mata yang menarik, ia berkata.
"Hanya ini yang bisa kuberitahu kepadamu. Lain tidak."
"Golongan apakah nama golongan kalian itu ?"
Bertanya Kang Han Cing.
"Maaf ! Untuk sementara masih harus dirahasiakan !"
Berkata Suto Lan.
"Belum waktunya memberitahu kepadamu."
Hati Kang Han Cing mengeluh, ia sedang berhadapan dengan sesuatu golongan yang misterius, golongan baru yang tidak dikenal olehnya.
Suto Lan membiarkan Kang Han Cing termenung seperti itu, beberapa saat kemudian ia bertanya perlahan.
"Aku juga ada sesuatu yang hendak ditanyakan, bisakah kau memberi jawaban yang memuaskan?"
"Urusan apa?"
Bertanya Kang Han Cing. Sepasang mata Suto Lan yang jeli terputar, tidak henti2nya mengirim kerlingan mata. Ia berkata.
"Ilmu kepandaian jiekongcu betul menakjubkan. Orang pertama yang mendapatkan pujianku, siapakah yang berhasil mendidik kongcu seperti itu, bagaimana sebutan dan nama suhu jiekongcu ?"
Kang Han Cing berkata .
"Suhu tidak berkelana didalam rimba persilatan, namanya tidak mau diketahui orang. Sampaipun aku juga tidak mengetahui jelasnya."
"Bohong !"
Berkata Suto Lan tertawa.
"Mana ada murid yang tidak tahu nama gurunya ? Tentu jiekongcu tidak mau memberitahu."
"Sungguh."
Berkata Kang Han Cing.
"bukan tidak mau memberitahu. Kenyataan memang tidak tahu. Bilamana nona bertanya kepada toako, ia juga memberi keterangan yang seperti ini."
Suto Lan melicini bibirnya dan berkata .
"Hi, hi....kau pandai bicara."
Pembicaraan itu terputus kembali. Mereka duduk berhadap2an. Beberapa lama kejadian yang canggung itu diputuskan oleh tertawanya Suto Lan, ia berkata .
"Jiekongcu, kita mengganti bahan pembicaraan, bagaimana ?"
"Apa yang nona hendak percakapkan ?"
Bertanya Kang Han Cing.
"Apa saja, seperti........"
Tiba2 terdengar suara derap langkah kaki yang bergerak cepat tiba di pintu dan ter-batuk2. Itulah suara Siao Siang.
"Nona Suto Lan......"
Panggil Siao Siang perlahan.
"Ada apa?"
Bentak Suto Lan. Horden tersingkap, Siao Siang berjalan masuk, ia memberi hormat dan berkata.
"Baru saja hamba menerima perintah khungcu, ia memberitahu kalau mengharap kedatangan nona dan jiekongcu. Segera !"
Suto Lan memperlihatkan sikapnya yang terkejut, dengan heran berkata.
"Biasanya ayah jarang mau menemui tamu. Baru saja ia melatih diri, hendak bertemu dengan Kang jiekongcu ?"
Sesudah itu ia bangkit dari tempat duduknya, berkata kepada Kang Han Cing.
"Mungkin ayah kangen kepada nama besar Kang jiekongcu, maka pagi2 sudah hendak bertemu. Mari kuajak."
Pikiran Kang Han Cing juga masih kacau, tenaganya juga sudah tiada, ia menjadi tawanan halus.
Dari rombongan baru yang tidak diketahui asal usulnya ini, karena itu ingin sekali bisa mengetahui yang lebih banyak .
Siapa ayah Suto Lan yang misterius ?
*** Bab 26 SUTO LAN mengajak Kang Han Cing meninggalkan kamar itu.
Mereka melalui lorong-lorong panjang, tiba disebuah ruangan.
Dan disini Suto Lan berkata .
"Inilah kamar ayah angkatku."
Didepan pintu berdiri dua orang gadis, masing2 menyoren pedang dipinggang, melihat kedatangan Suto Lan, kedua gadis pelayan itu memberi hormat.
Suto Lan menganggukkan kepala, mengajak Kang Han Cing memasuki ruangan tengah.
Dari dalam terdengar satu suara yang sangat dingin dan kaku.
"Suto Lan yang datang?"
"Ya."
Jawab Suto Lan.
"Anakmu telah membawa Kang jiekongcu."
"Suruh dia masuk."
Suara dingin dan ketus itu berkata. Suto Lan menoleh kearah Kang Han Cing dan berkata .
"Itulah ayah angkatku. Mari masuk."
Ruangan itu serba sederhana, diatas sebuah bangku panjang yang terbuat dari kayu jati, dikedua ujung terdapat pot bunga, dengan bunga lain yang semerbak, meresap dan menusuk hidung.
Didepan bangku panjang itu terdapat empat kursi, terukir dengan baik.
Kini, diatas bangku panjang berduduk seorang tua bermuka keren, ia mengenakan pakaian hijau.
Tubuhnya tinggi besar, jenggotnya yang putih terurai panjang ke bawah.
Matanya bercahaya, menyorot ke arah Kang Han Cing.
"Kau inikah Kang jiekongcu ?"
Ia bertanya. Kang Han Cing menganggukkan kepala dan berkata .
"Betul. Boanpwee Kang Han Cing."
Dengan nada yang dingin dan kaku, orang tua itu berkata.
"Silahkan duduk !"
Tanpa diperintah kedua kali, Kang Han Cing mengambil kursi dan duduk disana.
Suto Lan juga mengambil kursi lain dan merendengi Kang Han Cing, mereka duduk berhadapan dengan orang tua itu.
Orang tua bermuka keren itu berkata .
"Selamat datang atas kunjungan Kang-jie kongcu ke rumah ini, aku mengucapkan selamat."
Kang Han Cing memperhatikannya beberapa saat, ia bertanya .
"Bolehkah boanpwee bertanya ? Bagaimana sebutan cianpwee yang mulia ?"
Dengan dingin dan ketus orang tua berbaju hijau itu berkata .
"Aku tidak suka memberitahu kepada orang lain."
Jawabnya temberang.
"Ho, ho......."
Kang Han Cing mengeluarkan dengusan dari hidung.
"Aku paling tidak suka bicara dengan orang yang tak mempunyai nama."
Wajah orang tua itu berubah, ia berkata keras .
"Hei, berani kau berlaku kurang ajar ?"
"Kukira, orang yang kurang ajar itu adalah orang yang tidak bernama."
"Dihadapanku, kau berani mengucapkan kata2 ini lagi ?"
Dengan menantang Kang Han Cing berkata .
"Mengapa tidak? Ambil saja golok, pasang dileherku, akan kuucapkan lagi seribu kali, mau?"
"Bagus....bagus...."
Orang tua itu merengus.
"Hendak kulaksanakan permintaanmu itu."
Mendengar kata2 tadi, cepat2 Suto Lan berteriak .
"Ayah....."
Si orang tua berbaju hijau melirik ke arah Suto Lan, ia berkata .
"Ada urusan apa ?"
Suto Lan berkata .
"Bukankah kau hendak merundingkan sesuatu dengan Kang jiekongcu?"
"Uh !"
Orang tua berbaju hijau itu menganggukkan kepala. Dengan perlahan Suto Lan berkata .
"Maka bercakaplah baik2. Jangan bersitegang."
Orang tua berbaju hijau tertegun, sepasang sinar mata yang tajam menatap kearah sang puteri, dan pindah ke wajah Kang Han Cing, wajah itu sangat tampan, orangnya gagah, sikapnya baik.
Kedua muda mudi dihadapannya adalah pasangan yang setimpal, tanpa terasa, ia menganggukkan kepala, mengurut jenggotnya dan berkata .
"Ho, ho... ayahmu bukan bermaksud mengganggunya."
Selembar wajah Suto Lan menjadi merah menoleh kearah Kang Han Cing dan berkata .
"Jiekongcu, bisakah kau bersabar sedikit. Kita bercakap2 secara ramah tamah, bukankah lebih baik dari pada bersitegang."
Terdengar suara Kang Han Cing .
"Ada urusan apa yang hendak dirundingkan oleh ayah angkatmu, silahkan saja katakan."
Kini wajah orang berbaju hijau yang marah tadi mereda kembali, suaranyapun didatarkan serata mungkin, per-lahan2 berkata .
"Aku ada sedikit kesulitan yang hendak meminta keterangan Kang jiekongcu, kuharap saja kau bisa berterus terang."
"Urusan apakah itu ?"
Bertanya Kang Han Cing. Orang tua berbaju hijau berkata.
"Aku juga pernah bertemu muka beberapa kali dengan ayahmu. tiga bulan yang lalu tersebar berita tentang kematiannya. Dikatakan dia sudah almarhum. Apa betul ada kejadian yang seperti ini ?"
Kang Han Cing terpaksa berpikir sekali lagi, hatinya mengeluh.
"Dia masih menganggap ayah belum mati."
Untuk menjaga kehormatan dirinya, ia menjawab pertanyaan itu.
"Kesehatan ayah belum pernah terganggu. Mendadak ia menghembuskan napas yang terakhir, memang keadaan ini sangat membingungkan orang. Aku dan toako mendampinginya, mana mungkin bisa kematian palsu?"
Tampak sinar mata orang tua berbaju hijau itu menatap Kang Han Cing tajam-tajam, ia hendak menimbang2 benar tidaknya dari keterangan yang diberikan oleh si pemuda, mulutnya berdehem sebentar, ia berkata .
"Betul2 Kang toa sianseng sudah meninggal dunia !"
Hati Kang Han Cing berkata sendiri .
"Dari kata2nya ia masih meragukan kematian ayah. Mungkinkah orang2 ini mempunyai hubungan erat dengan hilangnya mayat ayah."
Dugaan Kang Han Cing tepat !
Sedari ia meninggalkan gedung keluarga Kang bersama2 Goan Tian Hoat, berulang kali mendengar cerita tentang manusia2 palsu.
Dari yang pertama2 manusia imitasi Ban Ceng San, dari manusia palsu Than Hoa Toh, dan manusia palsu dari si gadis berbaju hijau Suto Lan yang menyamar menjadi dirinya, dan hubungan2 itu ternyata mengkaitkan dirinya dalam serentetan pemalsuan-pemalsuan besar.
Orang2 pemalsu ini adalah turunan Su-khong Eng, tokoh misterius berkerudung hitam didalam cerita Pembunuh Gelap.
Untuk mengetahui cara2 pemalsuan, para pembaca bisa mencari buku cerita dengan judul PEMBUNUH GELAP, dimana dituturkan dengan terperinci, partai Raja Gunung menyamar diri mereka, dan mengubah wajah mereka.
Kang Han Cing menantang sepasang sinar mata orang tua berbaju hijau itu, dengan dingin ia berkata .
"Lotiang masih meragukan kematian ayah ? Alasan apa kalau kematian ayah itu adalah kematian palsu ?"
Wajah orang tua berbaju hijau tetap dingin beku, sepatah demi sepatah ia berkata .
"Orang yang mempunyai pikiran ini bukan aku seorang, kukira merekapun mempunyai pikiran yang sama."
Alis Kang Han Cing yang lentik terangkat, dengan marah ia bergeram.
"Dugaan yang tidak masuk diakal."
Orang tua berbaju hijau itu mengurut jenggot, ia berkata .
"Dimana yang tidak masuk akal. Sesudah kematian ayahmu, peti mati itu kosong. Inilah kenyataan."
Sepasang mata Kang Han Cing ber-kilat2, ia membentak .
"Ternyata tindakan lengcu Panji Hitam yang membongkar peti mati ayahku adalah instruksimu!"
Nah!
Orang tua berbaju hijau ini adalah salah satu tokoh penting dari golongan Perintah Maut.
Orang inilah yang sudah menyuruh lengcu Panji Hitam membongkar peti mati Datuk selatan Kang Sang Fung.
Orang ini juga yang menyuruh Suto Lan menyamar Kang Han Cing mempermainkan Put-im suthay dan Ciok Sim taysu.
Orang tua berbaju hijau itu tertawa tawar, ia berkata .
"Sesudah kematian ayahmu, peti mati itu kosong melompong. Apa salahnya aku menyuruh orang memeriksa?"
"Memeriksa ? Apa lagi yang diperiksa di kelenteng Ciok-cuk-am ? Mengapa menyuruh orang mencelakakan diriku ? Mengapa menyuruh orang memancing aku ke tempat itu? Sesudah membunuh Yen Siu Lan ! Mengapa mengundang Put-im suthay dan Ciok-sim taysu, menjebak diriku ?"
"Terlalu banyak sekali pertanyaan itu."
Berkata orang tua berbaju hijau.
"Kematian Yen Siu Lan hanya suatu kebetulan, kebetulan kau datang kesana. Salahmu sendiri."
"Dengan alasan apa kalian membunuh Yen Siu Lan ?"
Bentak Kang Han Cing.
"Yen Siu Lan adalah salah satu anggota kami yang sudah berkhianat. Kematian Yen Siu Lan tidak ada hubungannya denganmu, Kang jie-kongcu."
"Huh !"
Kang Han Cing mengeluarkan dengusan dari hidung. Terdengar lagi suara orang tua berbaju hijau .
"Undanganku kepadamu adalah untuk merundingkan sesuatu."
"Katakan lekas !"
"Kudengar cerita tentang ilmu kepandaianmu yang hebat, bagaimana kalau kau masuk menjadi anggota kita? Aku mendapat tugas untuk mengajak dirimu."
Hati Kang Han Cing tergerak, ternyata orang tua berbaju hijau ini juga bukan pimpinan tertinggi, ia hanya mendapat perintah saja. Memandang kepadanya dan bertanya .
"Siapakah yang memberi instruksi untuk mengajak aku?"
"Ketua Perintah Maut."
"Siapa yang menjadi ketua perintah Maut ?"
"Sebelum kau bersumpah menjadi anggota Perintah Maut, urusan ini tetap menjadi suatu rahasia."
"Bagaimana anggaran dasar dan anggaran rumah tangga Perintah Maut? Apa yang menjadi panji hidup Perintah Maut ?! Bagaimana haluan politik Perintah Maut ?"
"Legakan hatimu, golongan Perintah Maut adalah wadah untuk menampung semua tokoh-tokoh silat yang ada, menyatukan persengketaan2 yang terjadi didalam rimba persilatan. Kalau saja kau mau menjadi salah satu anggota, tidak nanti mengecewakan. Kukira kedudukanmu tidak berada dibawahku."
Kang Han Cing tidak segera memberikan jawaban, ia sedang memikir, golongan Perintah Maut adalah golongan baru, semboyannya masih gelap, dari tindak-tanduk yang dilakukan orang2 itu, golongan ini bukanlah golongan betul.
Ia tidak mau terjerumus kedalam kehinaan, sudah seharusnya ia menolak.
Sebelum Kang Han Cing membuka suara, orang tua berbaju hijau itu berkata lagi .
"Bagaimana ?"
Kang Han Cing mendongakkan kepala dan bertanya .
"Aku dipaksa harus masuk ?"
Orang tua berbaju hijau masih merocos terus, katanya .
"Bukan paksaan, hanya berapa anjuran. Kalau saja kau menerima tawaran ini, kedudukanmu sangat baik. Kedudukan hu-huat !"
"Apa artinya huhuat ?"
Bertanya Kang Han Cing.
"Huhuat hanya berada dibawah ketua, sama saja dengan wakil ketua, kecuali ketua pribadi, kau bisa menggerakkan seluruh anggota kita."
"Oh......"
Orang tua berbaju hijau berkata lagi .
"Lebih jelas lagi kuceritakan. Beberapa tahun yang lalu, aku juga yang mendapat tugas menyambangi ayahmu, kukatakan kepada ayahmu, golongan kita menyediakan tempat huhoat kepadanya, dengan maksud agar ia bisa menerima jabatan itu........."
"Ayah tidak akan menerima tawaran itu !"
Potong Kang Han Cing singkat. (Bersambung 10) ***
Jilid 10 ORANG TUA berbaju hijau itu berkata .
"Ya ! Ayahmu tidak segera menerima tawaran itu, tapi.....dia juga tidak menolak !"
"Dia tidak akan menerima."
Berkata Kang Han Cing.
"Tentu saja. Kita harus memberi waktu agar ia berpikir......."
Didalam hati Kang Han Cing berkata .
"Huh ! Dengan jiwa kepribadian ayah, mana mau berkomplotan dengan kalian ?"
Terdengar suara orang tua berbaju hijau itu berkata .
"Tunggu punya tunggu, kita orang belum menerima keputusan ayahmu, dan berita yang didapat adalah berita kematiannya. Sayang ! Maka kedudukan hu-huat ini masih kosong. Kalau saja jiekongcu bersedia menerima kedudukan itu, tetap dipertahankan kedudukan hu-huat, kedudukan yang disediakan untuk datuk selatan jatuh kepadamu, ahli waris Kang Sang Fung yang ternama."
Hati Kang Han Cing tergerak, pikirnya .
"Oh.....pantas saja berulang kali ia menanyakan kematian ayah, mereka masih meragukan kematian ayah. Dugaan mereka ialah ayah tidak mau menerima jabatan hu-huat golongan Perintah Maut. Juga tidak berani menolak tegas, karena itu menyingkirkan diri berpura2 mati dan entah lari kemana."
"Bagaimana ?"
Desak lagi si orang tua berbaju hijau.
"Sangat menyesal,"
Berkata Kang Han Cing.
"Aku tidak mempunyai minat untuk menduduki kursi empuk itu."
Wajah orang tua berbaju hijau berubah, menengok kepada Suto Lan, hem....hem......ia berdengus. Kemudian mengeluarkan suara ancaman, katanya .
"Lebih baik berpikirlah sekali lagi."
Suara tadi begitu dingin dan kaku, mengandung ancaman serta kekerasan.
"Golongan Perintah Maut adalah golongan baru. Aku tidak kenal sama sekali. Karena itu aku menolak."
Jawab Kang Han Cing.
"He, he..."
Orang tua berbaju hijau tertawa seram.
"Hanya dua jalan tersedia, jalan hidup adalah menerima kedudukan hu-huat. Dan menolak berarti jalan Kematian."
Hati Suto Lan juga kebat-kebit, cepat mengirim lirikan kearah Kang Han Cing, dengan maksud membantu si pemuda agar tidak terlalu tegas memberi putusan yang mengakibatkan buruk.
Kang Han Cing melihat adanya kedipan mata itu, tokh ia berpura2 tidak tahu.
Hal ini lebih membingungkan Suto Lan, cepat2 ia bangkit dari tempat duduknya, menghampiri sang ayah angkat .
"Ayah, jiekongcu masih belum paham seluk-beluk golongan kita, biar aku yang membujuknya...."
Akhirnya orang tua berbaju hijau itu mau mengalah, ia berkata .
"Baiklah. Biarkan saja ia berpikir tenang satu malam, besok aku minta putusannya."
"Besok."
Berkata Suto Lan. Orang tua berbaju hijau berkata .
"Nah! Kalian boleh keluar."
Suto Lan mendekati Kang Han Cing dan berkata .
"Kang jiekongcu, turut aku."
Tanpa diperintah kedua kali Kang Han Cing mengikuti Suto Lan. Mereka meninggalkan kamar orang tua berbaju hijau. Ditengah jalan, setengah berpikir Suto Lan berkata .
"Hei, mengapa kau tarik urat dengan ayahku ?"
Dengan dingin Kang Han Cing berkata.
"Maksudmu ?"
Suto Lan berkata .
"Tidak bisakah berunding secara baik2 ?"
"Aku bukanlah seorang yang mudah dipaksakan,"
Jawab Kang Han Cing. Dengan perlahan Suto Lan berkata .
"Demi kepentingan, demi hari depanmu, demi hubungan kita, ada baiknya juga...."
Kang Han Cing menggelengkan kepala. Inilah penolakan. Suto Lan menghela napas, ia berkata perlahan .
"Kau masih belum kenal peraturan golongan Perintah Maut. Peraturan disini tidak mengenal istilah kawan, kita semua adalah lawan ! Istilah kawan berarti menurut perintah. Karena itu golongan kita dinamakan golongan Perintah Maut. Dan bagi orang yang tidak bisa diajak berkawan, orang itu adalah musuh, bagi seorang musuh, hanya jalan kematian yang tersedia."
"Oh ! Begitu ?"
Jawaban Kang Han Cing acuh tak acuh.
Demikian mereka bercakap2, dan tiba dikamar Suto Lan.
Sebelum memasuki kamar itu, tiba2 terdengar suara bentrokan senjata, datangnya dari arah jauh.
Itulah suara pertempuran !
Suto Lan berkerut alis, ia memasang kupingnya panjang2, sayup2 terdengar lagi suara benturan senjata.
Kang Han Cing juga bisa merasakan adanya hawa mesiu digedung besar itu, ia memperhatikan dengan seksama, kecuali suara benturan terdengar juga suara bentakan2.
Ada juga suara pekikan panjang.
"Oh !"
Kang Han Cing berpikir didalam hati.
"Seperti ada pertempuran besar !"
Wajah Suto Lan semakin berkerut, ia menoleh kearah Kang Han Cing dan berkata .
"Jiekongcu, masuklah ke kamar. Aku hendak memeriksa sebentar."
Sesudah itu Suto Lan meninggalkan Kang Han Cing.
Kang Han Cing masuk ke dalam kamar Suto Lan, keadaannya tidak ubah seperti seorang anak kecil.
Ia berkepandaian silat, tapi tidak bertenaga.
Percuma saja ilmu2 yang lihai dan hebat itu.
Suara pertempuran2 itu datang semakin keras, suatu tanda bahwa ada penyerangan dari luar, tentu orang2 yang menyadi musuh dari golongan Perintah Maut.
"Siapa yang datang?"
Hati Kang Han Cing berpikir.
"Toako yang hendak menolong aku ? Oh ! Mungkinkah Put-im suthay dan Ciok Sim taysu?"
Kalau menurut hati kecil Kang Han Cing, ia hendak mendatangi datangnya suara pertempuran itu.
Tapi ia belum tahu golongan mana yang datang.
Mungkin juga kawan, mungkin juga lawan.
Mengingat ilmu kepandaiannya sudah tidak bisa digunakan, Kang Han Cing mengeluarkan keluhan panjang, ia menemplokkan badan, duduk dibangku kamar.
Semakin lama, suara pertempuran semakin dekat.
Suara beradunya senjata semakin gencar.
Sebagai seorang ahli silat, walau ia tidak bertenaga, rasa ingin tahunya bertambah.
Kang Han Cing bangkit berdiri, ia membuka pintu kamar.
Tiba2 terasa satu jalur hawa dingin yang menyerang.
Gedebuk...Kang Han Cing jatuh ditotok orang.
Tidak sadarkan diri lagi.
Ada seseorang yang menyerang pemuda itu, menotoknya sehingga merobohkan Kang Han Cing.
Tentu saja, didalam keadaan tiada daya Kang Han Cing tidak bisa mengelakan serangan totokan itu.
*** Berapa lama Kang Han Cing tidak sadarkan diri?
Hal ini tidak diketahui pasti.
Di saat si pemuda siuman, ia mendapatkan dirinya ditempat lain, itulah ruangan pendopo, ruangan pendopo dari sebuah kelenteng yang sudah rusak, ia tidak berada di dalam kamar Suto Lan lagi.
Seorang tosu berjubah hijau, dengan jenggot panjang, berdiri didepan Kang Han Cing, melihat pemuda itu sudah sadarkan diri, ia memberi hormat berkata .
"Jiekongcu !"
Kang Han Cing lompat duduk, terasa kedua tangannya masih ditotok orang, tidak bisa digerakkan, didalam kemarahan, ia berkata .
"Apa artinya permainan ini ?"
Tosu berjubah hijau ini menjawab .
"Maaf ! Hamba hanya mendapat perintah."
Dengan warna pakaian yang berbentuk hijau, Kang Han Cing menduga kepada komplotan ayah angkat Suto Lan dkk itu, segera ia membentak .
"Apa ? Kau mendapat perintah si kakek itu ? Jangan mengimpi ! Sudah kukatakan kepadanya, aku tidak bisa menerima tawarannya."
Tosu berjubah hijau tertegun sebentar, kemudian dia sadar akan kesalahannya, dengan tertawa berkata .
"Jiekongcu salah paham, kami bukanlah orang2 dari gedung Liong-tan."
"Gedung Liong-tan ?"
Kang Han Cing tidak mengerti.
"Gedung Liong-tan adalah gedung yang belum lama Jiekongcu tempati, itulah gedung penjahat. Dari tempat itulah kami menolong jiekongcu,"
Tosu berjubah hijau memberi keterangan. Ternyata mereka adalah rombongan baru, orang2 yang menolong Kang Han Cing dari golongan Perintah Maut. Dengan berkerutkan alis, Kang Han Cing bertanya lagi .
"Kalian bukan satu golongan ?"
Tosu berjubah hijau berkata .
"Kita orang dari Lembah Baru. Tidak bisa disamakan dengan orang2 ini."
"Lembah Baru ?"
Kang Han Cing semakin bingung, lagi2 suatu nama yang masih asing.
"Dimanakah letak lembah baru itu ?"
Tosu berjubah hijau dari lembah baru tersenyum2. Kang Han Cing bertanya lagi .
"Bagaimana asal usulnya orang2 Perintah Maut itu?"
Tosu berjubah hijau menjawab.
"Munculnya mereka masih sangat misterius, pinto juga belum tahu jelas. Menurut cerita, tokoh2 pimpinan mereka sangat dirahasiakan. Kini sedang mengundang banyak jago2 silat yang bisa digunakan....."
"Bagaimana keadaan Lembah Baru?"
Tosu berjubah hijau menjawab .
"Partai lembah baru tidak bisa disamakan dengan golongan Perintah Maut. Lembah baru adalah wadah untuk penegak keadilan dan kebenaran. Jangan disamakan dengan mereka."
Dengan dingin Kang Han Cing bertanya .
"Kalian telah menculik diriku ketempat ini, apalagi maunya ?"
"Jiekongcu salah paham,"
Berkata tosu berjubah hijau.
"Untuk jelasnya, Tan Siao Tian tongcu berada diruang tengah, biar kuantar jiekongcu. Ia bisa memberikan keterangan yang lebih jelas."
"Baik."
Berkata Kang Han Cing.
"Pertemukan aku kepada pemimpin kalian."
"Silahkan,"
Berkata tosu berbaju hijau mengajak Kang Han Cing meninggalkan ruangan kelenteng.
*** Bab 27 KANG HAN CING berjalan di belakang si tosu dari lembah baru, ia melangkahkan kakinya keluar, matanya memeriksa sekitar tempat itu.
Dipekarangan terdapat tanaman2 bunga dan pepohonan teratur rapi, jauh didalam kelenteng terdapat hiolo dan ukiran naga.
Tosu dari Lembah baru itu melewati jalan kecil yang terbuat dari batu, dan akhirnya berhenti disebuah bangunan, menoleh kebelakang, memandang Kang Han Cing dan berkata .
"Jiekongcu, silahkan !"
Memasuki bangunan ini, disana sudah berduduk seorang tinggi besar, matanya rusak sebelah.
Pada kursi sebelah kiri dari orang tua bermata satu itu, duduk seorang laki2 setengah umur, wajahnya ke-kuning2an.
Dan disebelah kanan juga terdapat beberapa buah kursi, kursi itu kosong, tidak diduduki orang.
Dari jauh sudah terdengar suara orang tua bermata satu yang keras .
"Jiekongcu sudah datang."
Si tosu memberi hormat dan menjawab.
"Sudah !"
Dan ini waktu Kang Han Cing menampilkan diri. Maka tosu berjubah hijau berkata kepada Kang Han Cing.
"Inilah pimpinan kami, Tan Siao Tian tongcu."
Ia menunjuk kearah si-laki2 berwajah ke-kuning2an itu, serta berkata .
"Inilah wakil pimpinan kami, Kong Kun Bu tongcu."
Laki2 berwajah ke-kuning2an Kong Kun Bu menganggukkan kepala kepada Kang Han Cing, inilah tanda penghormatan.
Kedua tangan Kang Han Cing masih berada didalam keadaan tertotok, ia hanya menganggukkan kepala, membalas hormat itu.
Orang tua bermata satu menoleh kearah si baju hijau dan bertanya .
"Sudah kau ceritakan maksud tujuan kita kepada jiekongcu ?"
Tosu berjubah hijau menjawab .
"Belum sempat hamba beritahu."
Orang yang bernama Tan Siao Tian memancarkan cahayanya terang.
Wah !
Kalau begini naga2nya Kang Han Cing jatuh kedalam satu komplotan baru, komplotan lain yang lebih misterius dari komplotan Perintah Maut.
Di dalam hati Kang Han Cing berpikir .
"Urusan apa lagi yang mereka hendak rundingkan? Mungkinkah kematian ayah ? Atau menawarkan kedudukan lain dari golongan partai baru?"
Disaat ini, orang tua bermata satu memandang kearah Kang Han Cing, per-lahan2 ia berkata .
"Mendapat perintah kokcu, kami ditugaskan untuk menyambut jiekongcu."
Kokcu berarti ketua lembah.
Ternyata orang tua bermata satu dan kawan2 mendapat tugas dari seseorang, mendapat tugas untuk menyambut kedatangan Kang Han Cing.
Kang Han Cing mengkerut alis, ia berkata .
"Siapa kokcu kalian itu ?"
Tentu saja mereka hanya menyebutnya sebagai Kokcu, sedangkan Kang Han Cing tidak tahu dimana adanya Lembah Baru.
Siapa yang menduduki kursi kokcu ?
Karena itulah ia wajib mendapat penjelasan.
Orang tua bermata satu berkata .
"Kita sekalian hanya mendapat tugas, inilah yang bisa diterangkan. Lain tidak."
"Maksudnya ?"
Berkata Kang Han Cing.
"Kokcu hendak merundingkan sesuatu dengan jie kongcu."
"Urusan apa?"
"Maaf. Kami belum tahu."
"Uh ! Lembah baru masih terlalu asing. Apa lembah yang menghasilkan Lengcu Panji Hitam dan lengcu Panji Hijau?"
"Jie kongcu salah paham."
Berkata si kakek bermata satu Tan Siao Tian.
"Orang2 itu tidak sependapat dengan kita."
"Tongcu bisa mengetahui asal usul mereka?"
Bertanya Kang Han Cing.
Ia wajib meminta sedikit keterangan dari adanya golongan Perintah Maut, ia tersiksa dan terfitnah oleh golongan2 itu.
Orang tua bermata satu Tan Siao Tian menggelengkan kepala berkata .
"Belum tahu."
"Apa tongcu belum pernah mendengar cerita tentang munculnya orang yang bernama lengcu Panji Hitam dan lengcu Panji Hijau?"
"Pada hari2 terakhir ini, memang betul ada sesuatu komplotan yang sering berkeliaran disekitar kota Kim-leng, baru semalam kita tahu kalau kongcu jatuh kedalam tangan mereka. Demikianlah kita menolongmu dan dibawa kesini."
Kang Han Cing berkata .
"Kalian bisa menolong aku dari tangan mereka, mana mungkin tidak mengetahui asal usul orang itu ?"
Orang tua bermata satu Tan Siao Tian menjadi tidak sabaran, ia berkata .
"Sudah kukatakan. Asal usul mereka masih serius. Jangan banyak tanya lagi !"
Hati Kang Han Cing tercekat, dari logat suara Tan Siao Tian ia tahu banyak tentang adanya orang2 dari golongan Perintah Maut. Dan tidak mau bicara dengannya lagi. Karena itulah ia berpikir .
"Aku sedang berhadapan dengan dua kekuatan baru, satu kekuatan dari golongan Perintah Maut, lainnya adalah golongan orang2 ini dari Lembah Baru."
Kang Han Cing bingung memikirkan hari depannya.
Menurut cerita Goan Tian Hoat, lengcu Panji Hitam mengorek peti mati sang ayah, peti mati itu adalah peti mati kosong !
Kemana perginya jenazah sang ayah ?
Suatu bukti kalau mayat itu sudah dicuri golongan lain.
Mungkinkah dicuri oleh golongan dari Lembah Baru ?
Hanya golongan Perintah Maut dan golongan Lembah Buru yang masih asing bagi penilaian Kang Han Cing, karena itulah ia berkata .
"Masih ada satu pertanyaan, bisakah tongcu sekalian menjawab ?"
"Katakan !"
Berkata si kakek bermata satu Tan Siao Tian.
"Mayat ayah almarhum dicuri orang. Mungkinkah tongcu bisa memberi keterangan ?"
Orang tua bermata satu Tan Siao Tian terkejut sebentar, menganggukkan kepala berkata .
"Menurut cerita yang tersebar, jenazah Datuk Selatan Kang taysianseng, telah lenyap dari tempatnya. Keadaan yang jelas kami tidak tahu sama sekali. Hanya itu saja yang bisa diberi tahu."
Dengan sepasang sinar mata yang ber-kilat2 Kang Han Cing memperhatikan orang2 didepannya, ia membentak .
"Apa bukan perbuatan kalian ?"
Wajah orang tua bermata satu berubah, wajah laki2 berwajah kuning Kong Kun Bu juga berubah, segera ia membentak .
"Tidak baik menduga sembarangan. Kami dari Partai Baru tidak akan melakukan perbuatan yang seperti itu."
Betul2 Kang Han Cing pemberani, ia berkata menantang .
"Dua kekuatan baru yang belum lama hadir didalam rimba persilatan adalah kekuatan Perintah Maut dan kekuatan Lembah Baru. Dua kekuatan yang masih belum diketahui jelas tujuan hidupnya. Lengcu Panji Hitam membuka peti. Dan mendapatkan peti itu sudah kosong ! Suatu bukti kalau orang yang mencuri mayat ayah bukanlah dari golongan Perintah Maut, maka kalau bukan perbuatan mereka, perbuatan siapa lagi ? Kecuali golongan Lembah Baru, mungkinkah ada kekuatan besar yang ketiga ?"
"Hua, hua, haaa, haaaa....."
Orang tua bermata satu Tan Siao Tian tertawa berkakakan.
"Penilaian yang salah. Penilaian yang egoistis. Kita orang tidak mempunyai dendam permusuhan dengan Kang taysianseng. Mengapa harus mencuri mayatnya ? Tiada guna."
Menyaksikan sikap orang yang bersungguh-sungguh, Kang Han Cing harus bisa percaya kepada keterangannya, ia semakin bingung, tiada henti2nya berpikir, siapa orang yang mencuri mayat ayah ?
Bukan rombongan lengcu Panji Hitam.
Juga bukan rombongan si kakek bermata satu.
Siapa lagi?
Menurut apa yang dia tahu, untuk rimba persilatan dimasa itu, dua kekuatan baru yang baru menongolkan kepala adalah kekuatan Perintah Maut dan kekuatan lembah baru.
Mungkinkah masih ada kekuatan ketiga?
Oh......Apa betul seperti apa yang didesas-desuskan, ayah itu belum mati ?
Tidak mungkin !
Telah disaksikan dan dibuktikan sang ayah terbaring, terlena didalam peti mati.
Tiada napas, tiada nadi, mungkinkah orang yang sudah mati bisa bangkit kembali?
Mungkinkah terjadi pembangkitan orang mati hidup baru?
Disaat Kang Han Cing sedang memikirkan dengan cara bagaimana sang ayah bisa hidup bangkit kembali, orang tua bermata tunggal Tan Siao Tian berkata .
"Bencana rimba persilatan diambang pintu, kekuatan jahat mulai berkuasa. Karena itulah kokcu kami mengundang keempat Datuk persilatan dan anak murid keempat Datuk persilatan berkumpul menjadi satu. Merundingkan cara untuk mengatasi kesulitan-kesulitan ini. Kalau saja jiekongcu mempunyai usul baru, beritahu kepada kokcu kami."
"Ah..."
Kang Han Cing mengeluh di dalam hati.
"Mengapa mereka juga hendak mengundang empat Datuk Persilatan ? Kecuali mereka juga sudah mengundang Datuk Timur, Datuk Utara?"
Orang2 dari Lembah baru itu menantikan jawaban Kang Han Cing. Kang Han Cing mengajukan pertanyaan .
"Dimana kokcu kalian berada ?"
Orang tua bermata satu Tau Siao Tian berkata .
"Perintah kokcu agar kita tidak boleh bentrok dengan golongan Perintah Maut. Tujuan utama adalah mengundang dirimu ke lembah baru. Tapi apa boleh buat ! Kau jatuh kedalam tangan mereka, terpaksa kami menggunakan kekerasan, menyatroni dan menyerbu markas mereka untuk daerah Kang-lam. Menolong dirimu. Karena itulah, tentu menimbulkan efek2 yang tidak baik. Aku tidak berdiam lama2 disini, maksudku segera mengajak kau menemukan kokcu, marilah. Marilah, kita menuju ke lembah Baru."
Sesudah itu, Tan Siao Tian memandang kearah Sitosu berjubah hijau dan berkata .
"Silahkan ajak jiekongcu ber-kemas2 siap berangkat. Aku juga masih harus mengurus sesuatu lagi."
Betul2 orang tua bermata satu Tan Siao Tian mengajak laki2 berwajah kuning Kong Kun Bu meninggalkan ruangan.
Tan Siao Tian dan Kong Kun Bu adalah pemimpin dan wakil pemimpin gerakan partai baru di tempat itu, mereka meninggalkan Kang Han Cing.
Tosu berbaju hijau memberi hormat kepada Kang Han Cing dan berkata .
"Silahkan jiekongcu."
Kang Han Cing hendak membebaskan diri tapi tenaganya sudah hilang karena adanya obat pembuyar tenaga dari Suto Lan.
Kini ia juga mendapat totok2an lemah, apa boleh buat, ia harus menurut mereka.
*** Pada sore harinya, Kang Han Cing yang sedang istirahat mendapat kunjungan dari tosu berbaju hijau, tosu itu berkata .
"Tan Siao Tian tongcu hendak segera berangkat. Maka pinto diharuskan berunding dengan jiekongcu."
"Runding apa ?"
Tanya Kang Han Cing. Tosu berbaju hijau mengeluarkan sapu tangan hitam, dengan nada suara menyesal ia berkata .
"Untuk dicetuskan memang terlalu kurang ajar, tapi apa boleh buat, sebelum jie kongcu meninggalkan ruangan ini ada lebih baik mendapat penutupan mata."
Dengan dingin Kang Han Cing berkata .
"Huh! Takut aku menyatroni kelentengmu dikemudian hari?"
"Bukan itu."
Berkata sitosu.
"Inilah perintah atasan. Untuk sementara masih harus dirahasiakan. Di antara kita belum tentu menjadi musuh. Mungkin juga kawan."
"Silahkan !"
Kang Han Cing memasang badan.
"Maaf !"
Dan betul tosu itu menutup kedua mata Kang Han Cing, diajaknya mereka keluar meninggalkan kelenteng.
Diluar kelenteng sudah tersedia sebuah kereta.
Dengan mata tertutup Kang Han Cing dipepayang masuk kedalam kereta itu, begitu tutup kereta tersingkap, terdengar suara si tosu.
"Tongcu, sampai disini saja."
"Silahkan !"
Inilah suara Tan Siao Tian.
Terdengar suara roda kereta bergerak, dan kereta itu meninggalkan kelenteng sitosu berbaju hijau.
Goncangan2 kereta membuat Kang Han Cing tidak tenang, dari napas yang ada ia tahu kalau didepannya terdapat Tan Siao Tian.
Karena itu ia bertanya .
"Tan Siao Tian tongcu, sudah boleh membuka tutup kerudung mata ini ?"
"Sebentar lagi."
Berkata Tan Siao Tian.
"Tidak lama akan kubuka."
"Mungkinkah harus menunggu diluar kota ?"
Bertanya Kang Han Cing.
Tan Siao Tian tidak menjawab, dan Kang Han Cing juga turut istirahat.
Ketoprak....
ketoprak...ketoprak...Suara derap langkah kaki kuda mengiringi gelinding2 roda kereta keluar kota.
Satu jam kemudian, terdengar suara Tan Siao Tian .
"Jiekongcu, kain penutup mala jie-kongcu sudah boleh dibuka."
Sreet......penutup mata Kang Han Cing terbuka.
Waktu sudah menjadi malam, keadaan gelap gulita, maka walau dengan mata terbuka Kang Han Cing juga tak bisa melihat dimana ia berada.
Kereta itu masih berjalan terus.
Kang Han Cing memperhatikan jalan kereta didalam kegelapan, tampak tiga mata menyorot terang, itulah sepasang mata Kong Kun Bu dan mata tunggal Tan Siao Tian.
Ketiga sinar itu bercahaya kemilauan, sedang memperhatikan dirinya.
Teristimewa mata tunggal Tan Siao Tian, didalam kegelapan seperti itu seolah-olah bintang fajar yang berkelap kelip.
Bercahaya dan berbinar.
Hati Kang Hin Cing terkejut, ia berpikir .
"Latihan tenaga orang ini pasti hebat."
Tentu saja Kang Han Cing tidak menjadi takut.
Ia tertawa kepada orang yang menjaga dirinya baik2 itu.
Tan Siao Tian dan Kong Kun Bu tidak tahu kalau Kang Han Cing sudah terkena racun pelemas tenaga, karena itu Kang Han Cing tidak bisa menggunakan ilmu kepandaiannya, maka kedua jago tadi menjaga dengan baik2, tidak lepas dari hadapannya.
Demikianlah, Kang Han Cing diajak ke suatu tempat yang masih asing, tempat yang dikatakan bernama Lembah Baru.
Sebentar kemudian, kereta yang berjalan terasa terhenti.
Terdengar suara Tan Siao Tian berkata.
"Jiekongcu, mari kita turun."
"Apa sudah sampai ?"
Bertanya Kang Han Cing.
Tan Siao Tian dan Kong Kun Bu tidak menjawab, satu persatu keluar dari kereta.
Menunggu turunnya Kang Han Cing.
Kang Han Cing juga melangkahkan kaki menuruni kereta.
*** Bab 28 DIDEPANNYA adalah sebuah rimba gelap, rimba belukar.
Di-sana sudah tersedia sebuah kereta lain, seorang laki2 dengan menyoren pedang membukakan pintu kereta itu.
Tan Siao Tian memandang kearah Kang Han Cing dan berkata .
"Silahkan jiekongcu ganti kereta."
Pertukaran kereta terjadi.
Mereka meninggalkan kereta lama, dan duduk dikereta yang baru itu.
Kereta yang sudah tersedia.
Secepat mereka menaiki kereta itu, kuda terkejut, taarrrrr.....gelinding kereta berjalan cepat.
Dan sesudah itu, sayup2 Kang Han Cing masih bisa menangkap deru kereta yang lain, itulah suara kereta lama.
Kaburnya bertentangan dengan arah mereka.
Kedua kereta mengambil arah yang bertentangan, masing2 berjalan pergi.
Semakin lama semakin jauh, akhirnya tidak terdengar suaranya sama sekali.
Kang Han Cing masih bisa memperhatikan deru suara kereta itu, hatinya bergumam .
"Sengaja mereka berganti kereta untuk menghindari penguntitan orang. Mengelakkan pengejaran. Dengan adanya penggantian kereta yang seperti ini, kalau ada orang yang hendak menolong, tentu mengejar kereta pertama. Dengan demikian mereka dapat mengelakan banyak kerewelan. Lembah Baru juga komplotan yang misterius, entah golongan baru dari mana !"
Pada malam harinya Kang Han Cing melewatkan waktu didalam kereta.
Hari menjadi pagi, kereta masih belum dihentikan, tidak lama kemudian terdengar suara hiruk pikuk orang, gerak kereta juga diperlambat.
Berjalan lagi beberapa saat suara hiruk pikuk kian ramai, tanpa membuka matanya Kang Han Cing bisa menduga2, tentunya sudah tiba disebuah kota yang besar dan ramai.
Akhirnya kereta terhenti, terdengar langkah orang yang mendekati kereta, dengan hormat ia berkata .
"Tuan Tan Siao Tian, sudah lama hamba menunggu ditempat ini."
Tan Siao Tian membuka pintu kereta, ia berjalan keluar, dan mengajukan pertanyaan kepada orang yang membuat penyambutan .
"Apa sudah menyediakan kamar?"
Orang itu menjawab .
"Semalam sudah kami borong."
"Oh....."
Kang Han Cing menganggukkan kepala.
"Ternyata mereka hendak menggunakan penginapan ini untuk istirahat, melakukan perjalanan malam dan istirahat diwaktu siang."
Dugaan Kang Han Cing tidak salah, orang2 dari Lembah Baru membawa Kang Han Cing menuju ketempat markas besar mereka.
Dengan melakukan perjalanan malam dan istirahat diwaktu siang.
Untuk mengelakan banyak gangguan.
Tan Siao Tian menoleh kearah Kong Kun Bu, ia berkata .
"Saudara Kong Kun Bu, boleh persilahkan jiekongcu turun kereta."
Kang Han Cing meninggalkan kereta itu dengan dipepayang oleh Kong Kun Bu. Tan Siao Tian berkata .
"Jiekongcu, tentunya kau sudah sangat letih. Kita istirahat ditempat ini untuk selanjutnya melakukan perjalanan."
Disana sudah bertambah seorang laki2 berbadan besar dan tegap, orang itu memberi petunjuk dimana mereka harus bermalam.
Di tempat mereka berada adalah jalan yang agak sepi, dengan diapit oleh Tan Siao Tian dan Kong Kun Bu, dengan diantar oleh laki2 berbadan tegap itu, mereka memasuki ke sebuah rumah penginapan.
Rumah penginapan itu bertingkat dua, terdiri dari lima baris ruangan2, masing2 baris terpisah dan tersendiri.
Dua pelayan rumah penginapan menyambut datang, mereka mengantar ke-kamar2 yang sudah diborong oleh rombongan tersebut.
Sesudah mempersilahkan tamu2nya memilih kamar masing-masing, seorang pelayan datang dan berkata .
"Tuan2 sekalian hendak membersihkan badan ?"
Tan Siao Tian menolak penawaran itu, ia berkata .
"Tidak perlu ! Semalam suntuk kami tidak istirahat, sangat letih, kami membutuhkan waktu istirahat."
Pelayan itu segera memperlihatkan wajahnya yang merah, ia berkata .
"Baik......biar hamba bawakan air minum saja."
Sesudah itu, betul2 si pelayan rumah penginapan berjalan pergi. Tan Siao Tian menoleh kearah Kong Kun Bu dan berkata .
"Saudara Kong Kun Bu, tentunya jie-kongcu sangat letih, ajaklah istirahat di kamar sebelah."
Kong Kun Bu mengiyakan perintah itu, menoleh kearah Kang Han Cing dan berkata.
"Jie Kongcu, biar aku yang menemani."
Hati Kang Han Cing berdengus dingin .
"Huh? Menemani? Bilang saja mengawal diriku. Takut aku kabur."
Tapi ia tidak mengutarakan perasaan itu, menganggukkan kepala dan berkata.
"Baik, aku juga sangat letih sekali."
Kang Han Cing dan Kong Kun Bu mendapat satu kamar tersendiri, kamar ini tersedia dua tempat tidur, adalah kamar yang besar, sangat bersih.
Diantara kedua tempat pembaringan terdapat meja, meja itu tidak jauh dari jendela, Kang Han Cing dan Kong Kun Bu mengambil tempat2 tersendiri.
Ini waktu seorang pelayan berjalan masuk, ia membawa sebuah nampan, disana berisi teko dan cangkir.
Meletakan minuman itu dimeja, ia berkata kepada Kang Han Cing dan Kong Kun Bu.
"Silahkan tuan2 minum."
Servise si pelayan memang agak memuaskan, diambil dua cawan teh, diisi dengan teh. Sambil menuang minuman itu si pelayan berkata .
"Kamar ini adalah kamar yang terbersih dari rumah penginapan kami, kami juga menyediakan teh-teh liongkin yang istimewa, sesudah tuan2 meminum akan bisa merasakan keistimewaan dari teh kami ini."
Ia menyodorkan cangkir kearah Kong Kun Bu dan menyodorkan kearah Kang Han Cing.
Disaat ini si pelayan mengedip2kan mata pada Kang Han Cing.
Dengan membelakangi Kong Kun Bu.
Sepasang sinar mata itu bercahaya bening dan jeli.
Hati Kang Han Cing tergerak, sepasang sinar mata yang tidak asing.
Ia berpikir sebentar, dan disaat ini terdengar satu suara yang persis seperti suara semut.
"Lekas minum teh ini !"
Itulah suara Suto Lan !
Hati Kang Han Cing semakin tergerak, ia memperhatikan betul2, dan betul saja si pelayan adalah penyamaran Suto Lan.
Pantas saja sinar mata itu tidak asing baginya.
Suto Lan mengenakan pakaian pelayan rumah penginapan, sesudah memberi teh kepada Kang Han Cing, ia menghadap Kong Kun Bu dan berkata .
"Tuan masih membutuhkan tenaga hamba?"
"Tidak."
Berkata Kong Kun Bu.
"kalau kuperlu aku bisa panggil."
Suto Lan mengundurkan diri. Mengantar kepergian Suto Lan, hati Kang Han Cing berpikir.
"Ia menyamar menjadi seorang pelayan, menyerahkan teh minuman kepadaku. Mungkinkah mengandung obat penawar racun lumpuh ?"
Tidak salah lagi !
Dengan alasan apa ia memberi kisikan kepadaku agar cepat segera minum teh pemberiannya?
Disaat Suto Lan memberikan teh kepada Kang Han Cing, dengan tekanan gelombang suara tinggi, Suto Lan telah menyuruh Kang Han Cing cepat meminum minuman itu, tentunya mengandung arti penting.
Hati Kang Han Cing masih berpikir terus.
"Beberapa hari dari gerak-gerik partai baru, orang2 ini mempunyai kekuatan yang tidak kecil. Mereka bisa mengambil dirinya dari komplotan perintah Maut tentu mempunyai keistimewaan tersendiri."
Tan Siao Tian dan Kong Kun Bu tidak tahu kalau Kang Han Cing itu sudah terkena racun pelemas badan, tenaganya tidak bisa digunakan, maka mereka membuat penjagaan yang ketat.
Dan sekarang Suto Lan membikin pengejaran, Suto Lan hendak menolong dirinya.
Kang Han Cing mengeringkan cawan teh pemberian Suto Lan.
Kong Kun Bu memiliki pengalaman Kang-ouw yang luas, mendapat tawaran minuman teh, ia tak segera meminum.
Diperhatikannya beberapa saat, di-cium2 beberapa waktu, dan dia betul2 membuktikan kalau teh itu tidak mengandung racun baru menganggukan kepala berkata .
"Daun teh ini memang betul daun teh Liongkin yang istimewa."
Dan ia juga mengeringkannya.
Kang Han Cing memuji kecerdikan Kong Kun Bu, pantas saja Tan Siao Tian memberi tugas pengawalan dirinya kepada Kong Kun Bu.
Ternyata jago partai baru ini memang memiliki ketajaman yang luar biasa.
Mereka sama2 letih, melakukan perjalanan terus menerus.
Dan kini Kang Han Cing harus membebaskan diri dari pengawasan Kong Kun Bu.
Tapi semua itu tidak mudah dilakukan.
Berbaring beberapa saat, sengaja Kang Han Cing menguap.
Memandang kearah Kong Kun Bu, ia berkata.
"Kong Kun Bu tongcu, apa kau tidak letih? Aku sangat mengantuk mau tidur dahulu."
"Silahkan !"
Berkata Kong Kun Bu.
"Jie kongcu bebas bergerak. Lebih baik memang kita istirahat, untuk menyiapkan perjalanan lagi disore hari."
Tanpa banyak bicara lagi, Kang Han Cing membaringkan diri.
Ia sedang me-mikir2 tentunya Suto Lan sedang merencanakan sesuatu yang bisa membantu usaha dirinya.
Air minum sudah bercampur obat penawar racun lemas.
Ia harus menyembuhkannya cepat.
Membelakangi Kong Kun Bu, Kang Han Cing mengatur peredaran jalan darahnya, betul saja.
Beberapa saat kemudian, kekuatan yang lenyap itu pulih kembali, peredaran jalan darah berputar dengan bebas, tiada gangguan.
Air minum pemberian Suto Lan mempunyai unsur penawar racun pelemas.
Kang Han Cing yang pernah istirahat dan mendapatkan pengobatan racun jahat dari komplotan Perintah Maut dikelenteng Pek-yun-koan, ia telah meminum banyak obat Swat-ci-tan.
Obat Swat-ci tan adalah hasil ramuan buatan Tian Hung totiang yang mujarab, memakan jerih payahnya belasan tahun, tokh hanya menelorkan duaratus empat puluh butir, separuh dari jumlah ini telah dimakan oleh Kang Han Cing dalam waktu empat hari berturut2, bagaimana ia tidak mendapat kemajuan cepat ?
Maka sesudah mendapat obat penawar racun lemas yang tepat, dibantu dengan tenaga latihan Kang Han Cing, sebentar saja ia bisa memulihkan kekuatannya yang lenyap.
*** Bab 29 KONG KUN BU selalu memperhatikan gerak-gerik Kang Han Cing, tampak putra datuk selatan itu sedang terbaring, sangkanya sangat letih, apalagi telah ditotok jalan darahnya, tentu lebih letih lagi, ia tidak banyak membikin perhatian, dan ia duduk melatih diri.
Kang Han Cing bukan pemuda biasa.
Tanpa banyak kesulitan, sebenarnya ia bisa menembus totokan-totokan yang mengekang kebebasannya.
Inilah hasil dari latihan2 dan hasil dari obat Swat-ci-tan.
Pada tengah hari, laki2 berbadan tegap yang menyambut mereka itu masuk ke kamar menyilakan Kang Han Cing dan Kong Kun Bu bersantap siang.
Kong Kun Bu dan Kang Han Cing serta laki2 itu keluar, mereka bersantap diruang tengah disana Tan Siao Tian sudah menunggu.
Begitu melihat kedatangan Kang Han Cing, cepat2 Tan Siao Tian berkata .
"Jiekongcu, mari kita makan."
Kang Han Cing tidak banyak tawar ia melahap apa yang tersedia. Ditengah perjamuan, Tan Siao Tian menunjuk kearah laki2 berbadan tegap itu dan berkata.
"Inilah hiangcu kami yang bernama Pok Tay Goan. Kuperkenalkan."
Kang Han Cing dan Pok Tay Goan saling menganggukkan kepala. Sesudah mereka hampir selesai makan, Tan Siao Tian berkata lagi .
"Sesudah makan sore, sebentar kita harus melanjutkan perjalanan. Maka semua orang boleh istirahat."
Kang Han Cing memandang Tan Siao Tian dan bertanya .
"Ada sesuatu hal yang hendak kutanyakan !"
Tan Siao Tian berkata .
"Katakanlah."
Kang Han Cing memandang kepada ketiga jago dari partai baru itu baru bertanya .
"Kita telah melakukan perjalanan satu malam, dimanakah Lembah Baru itu berada ?"
Tan Siao Tian tertawa, katanya .
"Jiekongcu tidak perlu terburu-buru, jiekongcu akan segera tahu."
Kang Han Cing mengajukan pertanyaan lain .
"Bagaimana keadaan Kokcu kalian? Dimanakah dia berada ?"
Tan Siao Tian berkata .
"Disaat kami mendapatkan tugas menyambut Jiekongcu, Kokcu tidak keluar dari lembah. Tentu saja masih berada di lembah Baru."
Dimana ada Lembah Baru? Kang Han Cing tidak tahu. Jawaban itu sama saja tidak menjawab.
"Berapa lamakah harus melakukan perjalanan menuju Lembah Baru?"
Bertanya Kang Han Cing.
"Dari sini ke lembah baru, masih memakan waktu empat atau lima hari lagi !"
"Ho...."
Kang Han Cing membelalakan mata.
"Begitu jauh ?"
Dan disaat ini, mereka sudah selesai makan siang.
Tiba2 seorang laki2 berpakaian ringkas lari masuk.
Pok Tay Goan adalah pemimpin cabang partai baru untuk daerah itu, ia meninggalkan kursinya, menyambuti orang tersebut dan bertanya perlahan .
"Ada apa ?"
Orang tersebut dengan membungkukkan setengah badan lalu berkata .
"Si kusir kereta Tee Lo Liok memberitahu kepada hamba agar memberi laporan kepada hiancu. Tadi ia melihat seorang hweeshio yang mundar-mandir didepan rumah penginapan, gerak-geriknya sangat mencurigakan."
Pok Tay Goan berkata .
"Para hweeshio sering meminta derma, biasa saja. Kau boleh keluar."
"Baik."
Jawab orang itu, sebelum ia berjalan keluar tiba2 berkata lagi.
"Hiancu, hweeshio itu langak-longok di sekitar kita. Kukira mata2 musuh."
"Aku tahu,"
Pok Tay Goan berkata singkat.
Sesudah memberi laporan, anak buah itu mengundurkan diri.
Pok Tay Goan kembali lagi.
Percakapan mereka itu sudah dapat didengar oleh Kang Han Cing, juga didengar oleh Tan Siao Tian dan Kong Kun Bu.
Masing2 memikirkan cara untuk menghadapi kedatangannya hweeshio misterius itu.
*** Sore harinya.
Rombongan dari partai baru yang mengundang Kang Han Cing ke lembah baru itu meninggalkan kamar masing2 siap meneruskan perjalanan.
Dengan diapit oleh Kong Kun Bu dan Tan Siao Tian, Kang Han Cing berjalan, didepannya menggunakan langkah lebar Pok Tay Goan sebagai perintis.
Begitu keluar dari rumah penginapan, mata Kang Han Cing yang tajam ini bisa melihat adanya seorang hweeshio berjubah abu2 berdiri jauh, melihat munculnya Kang Han Cing, hweeshio itu cepat2 membalikan badan dan meninggalkan tempat tadi.
Itulah hweeshio yang mencurigakan !
hweeshio yang dilaporkan oleh anak buah dari partai baru sebagai hweeshio yang longak longok memperhatikan gerak-gerik mereka.
Kang Han Cing tidak berhasil menemukan bayangan si gadis berbaju hijau Suto Lan, maka ia menduga bahwa hweeshio itu adalah salah satu dari rombongan Suto Lan.
Kang Han Cing naik kereta maka kain penutup kereta ditutup.
Tan Siao Tian menoleh kearah Pok Tay Goan.
Orang yang kita sebut belakangan menganggukkan kepala, memonyongkan mulut kearah bayangan hweeshio berjubah abu2 itu.
Sebelah mata Tan Siao Tian yang masih bisa melihat memancarkan cahaya tajam, ia tertawa dingin.
Tidak lama kemudian, kereta diberangkatkan.
Karena kain penutup diturunkan, maka Kang Han Cing tidak bisa melihat jalan-jalan yang dilewati.
Beberapa saat kemudian kereta dikaburkan lebih cepat, suatu tanda mereka telah meninggalkan kota tadi.
Kang Han Cing masih ber-pikir2, Suto Lan berani menyamar menjadi pelayan rumah penginapan dan memberi obat penawar racun lemas, suatu bukti bahwa gadis itu memiliki rencana2 yang baik.
Adanya hweshio berjubah abu-abu itu adalah suatu bukti bahwa mereka juga sudah berada didalam kota.
Dan karena tidak membuat pencegatan didalam kota, pasti mereka akan melakukan pencegatan disuatu tempat strategis diluar kota.
Kang Han Cing masih mengharapkan datangnya pertolongan.
Kang Han Cing sebagai seorang laki-laki tentu mempunyai kelemahan didalam persoalan wanita.
Kalau saja ia bisa menggunakan kecerdikannya, dengan adanya golongan perintah maut ia tidak akan mengharapkan pertolongan Suto Lan.
Kemisteriusan Pok Tay Goan, Kong Kun Bu dan Tan Siao Tian membuat rasa antipati, mereka tidak berkata secara terus terang2, karena itu Kang Han Cing menduga etikat tidak baik dari partay ini.
Ia hendak membebaskan diri dari undangan mereka.
Kang Han Cing masih mengharap2kan datangnya pertolongan.
Tapi harapan itu menjadi kecewa, tiada tanda2 penyergapan.
Ketoprak....ketoprak.....
Kereta berjalan terus.
Puluhan lie lagi dilewatkan, tiba2 terdengar suara Pok Tay Goan diluar kereta.
"Kong Kun Bu tongcu, didepan adalah jalan pegunungan, disana berdiri dua orang hweeshio berjubah abu2. Se-olah2 sedang menunggu sesuatu."
"Jalan terus !"
Kong Kun Bu memberi perintah. Pok Tay Goan memberi laporan baru, katanya .
"Kedua hweeshio sudah berdiri dari tempat duduk mereka."
Tidak ada instruksi dari Kong Kun Bu, begitu juga dari Tan Siao Tian.
Karena itu kereta yang membawa Kang Han Cing meluncur terus, mereka hendak meliwati dua hweeshio yang melintang di jalan.
Begitu tiba disana, terdengar bentakan dua hweeshio tersebut.
"Hentikan kereta !"
Tanpa dihentikan, karena datangnya secara mendadak kedua hweeshio tadi mencegat kuda2, maka terdengar ringkikan, sret, sret...........
kereta terhenti dengan paksa.
Terdengar suara bentakan Pok Tay Goan yang marah.
"Keledai gundul, apa mau kalian?"
Seorang hweeshio yang dikiri dengar sabar berkata.
"Omitohud, mengapa siecu begitu kotor mulut? Memaki orang sembarangan?"
Dengan masih marah Pok Tay Goan membentak.
"Apa maksud kalian?"
Seorang hweeshio yang dikiri membentak.
"Atas perintah atasan, kami mendapat tugas untuk menunggu ditempat ini."
"Kalian hweeshio dari mana ?"
Bentak Pok Tay Goan.
"Kami dari Siauw-lim-pay...."
"Huh ! Siauw-lim-pay ?"
Pok Tay Goan tertawa dingin.
"Nama Siauw-lim pay boleh menakutkan orang. Tapi tidak bisa menggentarkan kita."
Ini waktu, Kang Han Cing, Kong Kun Bu dan Tan Siao Tian masih berada didalam kereta. Mengikuti perdebatan2 itu Tan Siao Tian menoleh ke arah Kong Kun Bu, ia memberi perintah .
"Saudara Kong Kun Bu, coba kau lihat keadaan !"
Kong Kun Bu lompat keluar dari kereta, ia menghadapi rintangan kedua hweesio Siauw-lim-pay.
Didalam kereta Tan Siao Tian masih menunggu Kang Han Cing.
Pok Tay Goan segera memberi laporan pada Kong Kun Bu.
"Lapor kepada tongcu, dua hweeshio ini menyebut diri mereka hweeshio Siauw lim-pay, mereka menghadang perjalanan kita."
Kong Kun Bu menghadapi kedua hweeshio dan berkata.
"Siapa yang memberi perintah kepada kalian?"
Sebelum kedua hweeshio itu menjawab, dari dalam semak2 muncul seorang biarawati tua, dan dua orang hweesio tua.
Dibelakang ketiga orang itu, turut pula seorang lak2 berpakaian ringkas dan empat orang hweeshio membawa golok.
Jumlah pencegat menjadi besar !
Rombongan yang baru datang adalah ketua Ceng-lian-sie Ciok-sim Taysu dan ketua Ciok cuk-am Put-im Suthay dan muridnya Liauw-in nikauw, pendekar sastrawan besi Yen Siu Hiat beserta seorang hweeshio lagi adalah hweeshio Siauw lim-pay ketua pengurus Lo-han-tong Ciok Beng Taysu.
Juga turut serta beberapa murid jago Siauw lim-pay.
Menyaksikan kehadiran orang2 itu, Kong Kun Bu mengeluh.
Seperti apa yang sudah mereka rencanakan perjalanan yang membawa Kang Han Cing sangat dirahasiakan.
Tokh masih bisa diketahui orang dan mereka membuat pencegatan.
Put-im suthay langsung kedepan, menghadapi Kong Kun Bu dan membentak .
"Hei, kalian datang dari kota Kim-leng?"
Dengan nada yang tidak kalah dinginnya Kong Kun Bu menjawab pertanyaan itu.
"Tidak salah. Apa maksud kalian ?"
Put-im suthay tidak segera menjawab pertanyaan itu, ia balik bertanya lagi.
"Siapa yang berada di dalam kereta ?"
"Tidak perlu tahu !"
Bentak Kong Kun Bu.
"Huh ! Apa kau tahu, dengan siapa kau sedang berhadapan?"
Bentak Put-im suthay. Kong Kun Bu menjawab.
"Ketua Ciok-cuk-am, Put-im suthay !"
Hal ini mengejutkan Put-im suthay, ia sedang berpikir2, bagaimana musuh itu bisa mengetahui asal-usulnya ? Tapi ia tidak gentar, segera mengulang pertanyaannya .
"Aku hendak mengetahui siapa lagi yang berada didalam kereta."
Kong Kun Bu menjawab .
"Tongcu Lembah kami."
"Suruh dia turun !"
Bentak Pui-im suthay. Inilah perintah.
"Hei..."
Kong Kun Bu berdengus.
"Hanya karena sepatah ucapan suthay, maka tongcu kita diharuskan menerima perintah itu ?"
"Menurut pendapatmu, bagaimana ?"
Bentak Put-im suthay. Dengan tenang Kong Kun Bu menjawab.
"Sebelum suthay membuat pencegatan, apa suthay sudah membuat penyelidikan bagaimana asal usul kami ?"
"Tidak perlu tahu. Tugasku adalah menyeret keluar dirinya. Cukup !"
Kong Kun Bu berkata.
"Suthay belum tahu partai kami, tidak seharusnya menghalang ditengah perjalanan."
"Partai apa ?"
Bertanya Put-im suthay.
"Paling-paling partai yang tidak mendapat suara dan dukungan. Aku tidak perlu mau tahu, maksudku adalah orang yang berada didalam kereta."
"Hua, haa, haa, haaaa..."
Kong Kun Bu tertawa berkakakan.
"Kata2 Suthay ini sangat keterlaluan. Ketahuilah, partai kami tidak pernah menampilkan diri didalam rimba persilatan. Hal ini bukan berarti takut kepada sengketa rimba persilatan. Kami tidak pernah mempunyai kamus istilah takut itu."
Baju Put-im Suthuy ber-kibar2 suatu tanda bahwa ia hendak mulai bergerak.
Tiba2 Ciok Beng taysu dari Siauw-lim pay teringat sesuatu, ia menoleh kearah Ciok Sim taysu dan ber-bisik2.
Wajah Ciok Sim taysu berubah.
Cepat2 ia lompat kedepan, merangkapkan kedua tangan dan berkata .
"Omitohud, bisakah kami bertanya ? Dari partai mana tuan2 sekalian ?"
Sebelum Kong Kun Bu menjawab pertanyaan itu, terdengar satu jawaban dari dalam kereta.
"Partai Baru dari Lembah Baru !"
Seorang bermata satu keluar dari kereta suaranya gagah orangnyapun gagah.
Inilah Tongcu dari partai baru yang bernama Tan Siao Tian.
Karena mengetahui musuh datang dengan berjumlah besar, Tan Siao Tian meninggalkan Kang Han Cing di dalam kereta dan siap menghadapi tantangan orang itu.
Tan Siao Tian memicingkan sebelah matanya yang masih bisa digerakkan, maka kedua mata Tan Siao Can itupun lenyap, tersenyum mengejek dan berkata .
"Kukira cecunguk2 dari mana yang berani menghalang kereta partai baru, ternyata jago2 silat dari Siauw-lim-pay dan Ngo-bie-pay. Selamat bertemu !"
Ciok Beng taysu yang mendengar disebutnya nama partai baru, hatinya berkata.
"Seperti apa yang sudah kuduga...seperti apa yang sudah kuduga..."
Lain Ciok Beng taysu, lain pula Ciok Sim taysu, ia mempunyai pikiran tersendiri, ia memuji kecepatan gerakan Tan Siao Tian, dan memuji kehebatan dan kecekatan jago silat bermata satu itu.
Ciok Sim taysu merangkapkan kedua tangan menyebut nama Budha dan berkata.
"Omitohud. Siecu memiliki kepandaian yang hebat, bagaimanakah sebutan siecu yang mulia?"
Saat ini, Ciok Beng taysu segera mencegah saudaranya.
"Sute, jangan kau berlaku kurang ajar. Siecu ini adalah pemimpin rimba persilatan untuk dari daerah Boan, Coan dan Hiap, jago tiga daerah yang ternama Tan Siao Tian."
"Aaahhh..."
Ciok Sim taysu terkejut hatinya bergumam.
"Jago tiga daerah pendekar Tan Siao Tian, dengan gelar Jaksa bermata Satu, pernah menggemparkan rimba persilatan, boleh dikata raja daerah untuk daerah Boan, Coan dan Hiap, Tan Siao Tian menjadi pemimpin rimba persilatan. Bagaimana bisa menjadi salah satu tongcu dari partai baru?"
Berpikir seperti itu, cepat2 Ciok Sim taysu berkata.
"Maaf. Ternyata Tan Siao Tian siecu, maaf kepada kelancanganku."
Terdengar suara Tan Siao Tian yang berbatuk kering, ia berkata.
"Siauw-lim-pay dan Ngo bie-pay adalah partai2 kesatria, siecu sekalian juga termasuk jago2 panca guna dari partai2 kalian, sungguh membuat aku tidak mengerti. Mengapa menghadang kereta kami ?"
Giliran Put-im suthay yang maju kedepan, ia berkata.
"Pertanyaan Tan tayhiap ini biar aku yang menjawab, didalam kereta kalian adakah putra kedua Kang toakong ? Orang yang bernama Kang Han Cing ?"
Pendekar tiga daerah Tan Siao Tian tidak menyangkal pertanyaan itu, ia menganggukkan kepala dan berkata.
"Betul. Kang jiekongcu memang berada didalam kereta."
Put-im suthay berkata.
"Nah ! Apa Tan-tayhiap pernah mendengar drama pembunuhan di Ciok-cuk-am ?"
"Kami baru mendengar berita itu belum lama,"
Berkata Tan Siao Tian. Pul im taysu berkata .
"Orang yang sudah melakukan perkosaan dan pembunuhan kepada muridku itu adalah Kang Han Cing, bagaimana penilaian Tan tayhiap?"
"Oh........bersedih atas kematian murid sendiri. Sudah seharusnya suthay membalaskan."
Berkata Tan Siao Tian.
"Nah ! Kuharap saja Tan tayhiap bisa menyerahkan Kang Han Cing."
Put-im suthay mengira dapat angin baru.
"Ha, ha, ha......."
Tan Siao Tian tertawa berkakakan.
"Apa yang terjadi di dalam Ciok-cuk am, partai baru tidak tahu menahu, kami mendapat perintah Kok-cu kami untuk mengajak Kang Jie kong-cu, lain urusan kami tidak tahu. Cukup."
Sepasang sinar mata Put-im suthay berkilat, ia membentak.
"Serahkan Kang Han Cing kepadaku !"
Tan Siao Tian berkata .
"Kuharap saja suthay tidak menentang langkah kebijaksanaan Partai Baru....!"
"Kesabaranku sangat terbatas."
Berkata Put-im suthay.
"Kalau Tan tayhiap hendak menjadi orang penengah, baiklah mari kita bertanding."
Wajah Tan Siao Tian menjadi begitu masam, sikapnya menjadi dingin, dengan kaku dan sombong ia berkata .
"Langkah kebiyaksanaan suthay seorang? Atau termasuk hasil perundingan kedua tokoh Siauw lim-pay juga ?"
Put-im suthay masih sangat marah, ia membentak .
"Kau boleh hitung pula rekeningku. Tidak ada hubungan dengan Siauw-lim-pay !"
Maka, Ciok Sim Taysu turut bicara, ia berkata .
"Omitohud. Ada sesuatu hal yang Tan tayhiap belum ketahui, orang yang menjadi korban di Ciok-cuk-am bernama Yen Siu lan. Yen Siu Lan adalah murid Put-im suthay, Yen Siu Lan juga menjadi keponakan muridku. Bagaimana lolap bisa melepaskan diri? Bagaimana Siauw-lim-pay bisa berpeluk tangan ?"
Ciok Beng taysu juga memberi keterangan .
"Ya. Yen Siu Lan adalah adik kandung Yen Siu Hiat, Yen Siu Hiat adalah muridku. Bukan saja melibatkan partay kami ke dalam persengketaan itu, kami kira akan turut pula partay Ngo-bie-pay !"
Ketiga orang itu sudah bertekad untuk merebut Kang Han Cing dari tangan Tan Siao Tian dkk.
Di saat ini, tiba2 terdengar satu tertawa garing, dari dalam kereta berjalan turun seorang, itulah Kang Han Cing yang menampilkan diri.
Memberi hormat kepada orang2 yang berada ditempat itu, Kang Han Cing berkata terang .
"Kang Han Cing berada ditempat ini apa yang para suhu hendak lakukan?" *** Bab 30 HATI Tan Siao Tian tercekat, sebelum ia meninggalkan kereta, ia telah menotok beberapa jalan darah Kang Han Cing. Dengan maksud mencegah terjadinya sesuatu yang berada diluar dugaan. Sesudah menerima totokan2 itu, Kang Han Cing bisa membebaskannya, betapa hebat ilmu kepandaian si pemuda. Ia bingung, siapa pula yang membebaskan totokan itu ? Munculnya Kang Han Cing membuat Put-im suthay semakin liar, ia membentak .
"Pemuda bergajul, kau sudah bersedia menyerahkan diri ?"
Kang Han Cing ter-senyum2 memperhatikan wajah jago2 yang berada di tempat itu beberapa saat, dan terakhir berhenti diwajah Put-im suthay, ia berkata .
"Suthay hendak mencari Kang Han Cing atau mencari orang yang membunuh nona Yen Siu Lan?"
"Yang membunuh muridku adalah Kang Han Cing. Siapa lagi kalau bukan mencari kau?"
Kang Han Cing memberi keterangan.
"Nah! Silahkan kalian2 menjadi saksi, aku Kang Han Cing berada didepan kalian, kalau kalian hendak mencari setori, silahkan, tapi Kang Han Cing bukanlah orang yang melakukan perkosaan dan pembunuhan di Ciok-cuk-am. Kalau saja kalian hendak mencari si pembunuh Yen Siu Lan dan dijatuhkan ke atas kepala Kang Han Cing, inilah suatu kesalahan yang terbesar."
Put-im suthay membentak keras.
"Tutup mulut ! Muridku Liauw-in telah melihat dengan mata sendiri. Tidak bisa salah lagi."
Liauw-in nikauw juga berada ditempat itu, ia menganggukkan kepala dan membenarkan keterangan Put-im suthay.
Ini berarti bahwa ia telah melihat dengan mata sendiri, bagaimana Kang Han Cing membunuh Yen Siu Lan.
Betulkah Liauw-in nikauw melihat Kang Han Cing melakukan pembunuhan?
Jawaban tidak lama lagi !
Kang Han Cing berkata .
"Liauw-in nikauw salah mata."
"Mungkinkah muridku sudah buta ?"
Put-im suthay mem-bentak2.
"Murid suthay tidak buta. Tapi salah mata."
Berkata Kang Han Cing.
"Bukan Liauw-in nikauw saja yang salah mata. Begitu juga suthay dan Ciok-sim taysu berdua, orang yang kalian temukan di kota Kui-lien-shia adalah Kang Han Cing, tapi itulah Kang Han Cing palsu. Apa kalian masih belum bisa membedakan ?"
Disebutnya nama Kui-lien-shia membuat Put-im suthay semakin ber-jingkrak2, di tempat itu ia dipermainkan oleh Suto Lan yang menyamar jadi Kang Han Cing.
Inilah kekalahan untuk pertama kalinya yang pernah dialami olehnya.
Kekalahan bukan dikarenakan kekalahan ilmu silat, karena Suto Lan menaburkan racun2 pelemas yang membuat mereka tidak berdaya.
"Tutup mulut."
Put-im suthay membentak.
"Asam yang kutelan lebih banyak dari nasi yang kau makan. Bagaimana kau hendak mengakali aku?"
"Tapi sudah menjadi kenyataan kalau suthay diakali orang."
Berkata Kang Han Cing.
Ciok Beng taysu menjabat ketua Lo-han-tong dari gereja Siauw-lim-sie, bagian Lo-han-tong adalah wakil dari ketua partai, mengurus keributan dan kericuhan2 di-dalam gereja dan diluar gereja.
Karena itu pengalamannya sangat luas, ia memperhatikan Kang Han Cing beberapa waktu dan bisa menilai sampai dimana kejujuran pemuda itu, semakin diperhatikan, keyakinannya semakin tebal.
Si pemuda bukanlah seperti orang yang bergajul, dan mendengar sangkalan2 Kang Han Cing yang diperkuat, iapun turut bicara .
"Kalau menurut keterangan Kang siecu, tentunya sudah bisa mengetahui siapa orang yang membunuh Yen Siu Lan."
Kang Han Cing berkata .
"Aku belum tahu asal usul orang itu, tapi sedikit banyak sudah bisa memberi gambaran."
Ciok Beng taysu me-muntir2 biji tasbihnya, ia berkata .
"Bisakah Kang siecu memberi keterangan ?"
"Sudahkah taysu mendengar cerita tentang Lengcu Panji Hitam yang menyerang gedung Hai-yang-pay ? Dan tentunya sudah mendengar lengcu panji hijau membuat penyerangan dikelenteng Pak-yun-kuan ? Bagaimana lengcu panji hitam memaksa Datuk Utara ?"
Put-im suthay membentak.
"Ada hubungan apa urusan2 itu dengan dirimu ?"
Kang Han Cing berkata .
"Diatas pimpinan lengcu Panji Hitam dan Lengcu Panji Hijau masih ada seseorang yang lebih berkuasa, mereka mengumpulkan jago2 silat, tindak-tanduknya sangat misterius..."
Kang Han Cing menceritakan pengalamannya. Ciok Beng Taysu, Ciok Sim taysu, dan Put-im suthay mendengarkan keterangan Kang Han Cing. Menutup ceritanya, Kang Han Cing berkata .
"Nah ! Orang yang pernah mengirim surat kepada Put-im suthay dan Ciok Sim taysu, yang mengaku dirinya Kang Han Cing adalah perbuatan orang jahat yang menyamar diri boanpwe, waktu itu boanpwe bersembunyi di-semak2 pohon, sesudah orang yang memalsukan boanpwe itu melarikan diri, boanpwe mengejar dan membuntuti sehingga tiba disekitar daerah Liong-tan, disuatu gedung besar, boanpwe terkena obat racun jahat dan tertangkap musuh. Baru kemarin pagi ditolong oleh Tan Siao Tian tongcu dari Partai Baru..."
Ciok Beng taysu bertanya .
"Apa yang Kang siecu ketahui tentang mereka ?"
Kang Han Cing berkata .
"Penghuni gedung besar itu adalah seorang tua berbaju hijau, mereka menawarkan jabatan huhoat kepadaku...."
"Mereka yang membunuh Yen Siu Lan?"
"Ya. Dikatakan kalau nona Yen Siu Lan telah menghianati golongannya, maka mereka memberikan hukuman....."
Tiba2 terdengar suara bentakan Yen Siu Hiat .
"Tutup mulut ! Mana mungkin adikku mau berkomplot dengan musuh? Bohong ! Semua ini hanya berupa kebohongan ! Fitnah !"
Liauw In nikouw berdiri disamping Put-im suthay, matanya yang lentik terangkat sedikit, wajahnya yang hitam itu tampak senyum dingin, tidak ada orang yang tahu, apa yang sedang dipikirkan olehnya ?
Wajah Put-im suthay seperti jeruk peras yang asam, menoleh kearah Ciok Beng taysu dan berkata .
"Lebih baik taysu jangan mendengar obrolan bocah ini, ia pandai memutar lidah."
Sepasang mata Kang Han Cing bersinar, ia berkata dingin .
"Dimana aku berputar lidah ?"
Put-im suthay berkata dingin.
"Daerah disekitar Liong-tan adalah suatu gedung yang besar, itulah gedung dari perusahaan Cen-Yen piauwki. Mana mungkin Cen-Yen piauwki menjadi sarang musuh? Keteranganmu ini tidak masuk diakal."
Ciok Sim taysu menganggukkan kepala dan berkata.
"Keterangan suthay memang betul. Di-sekitar daerah Liong tan adalah daerah miskin. Rata2 penduduknya hanya petani biasa, di sana hanya terdapat sebuah gedung yang megah dan besar, itulah gedung Ban-Cen-San dari Cen-Yen piauwki, sudah lama gedung besar itu dikosongkan."
Put-im suthay juga berkata.
"Kebohongan yang kedua, kebohongan yang mengatakan kalau Yen Siu lan menjadi salah satu anggota komplotan jahat, ketahuilah, sifat Yen Siu Lan itu sangat halus perangainya, selama ia berguru kepadaku belum pernah meninggalkan Ciok-cuk-am, bagaimana bisa memihak kepada musuh ? Inilah kebohongan kedua ! Dia sudah memperkosa Yen Siu Lan, dia sudah membunuh Yen Siu Lan. Anak bergajul biar bagaimana aku tidak bisa melepaskan dirimu, semua keterangan2nya hanya berupa keterangan palsu, keterangan bohong !"
Kata2 yang tadinya ditujukan kepada Kang Han Cing, terakhir ditujukan kepada Ciok Beng taysu.
Tiba2.....
Dari semak2 rimba terdengar suara tertawa berkakakan, suara itu garing dan merdu, dan demikian katanya .
"Keterangannya tidak bohong !"
Semua mata ditolehkan kearah datangnya suara itu, disana tampak seorang pemuda berpakaian hijau, orang ini mempunyai dedak perawakan Kang Han Cing, berpakaian Kang Han Cing, dan berdandan seperti Kang Han Cing, yang lebih aneh lagi adalah muka orang ini adalah muka Kang Han Cing !
Aha !!!
Dua Kang Han Cing kembar berada disatu tempat yang sama !
Semua mata terbelalak, menduga kepada saudara kembar Kang Han Cing.
Tapi saudara Kang Han Cing adalah Kang Puh Cing, meskipun demikian Kang Puh Cing tidak memiliki wajah yang serupa dengan Kang Han Cing.
Bukan saja Put-im taysu, Ciok Beng taysu, Ciok Sim taysu den lain2nya, orang2 dari partai baru, seperti Tan Siao Tian, Kong Kun Bu, Pok Tay Goan dan lain2nya juga berubah, mereka bingung menghadapi situasi yang seperti itu.
Hanya Kang Han Cing yang tidak menjadi heran, tentunya Suto Lan yang menyamar menjadi dirinya.
Put-im suthay mengganti arah, sepasang matanya menjadi liar kembali, ia membentak kepada Kang Han Cing yang baru datang.
"Hei, kau siapa ?"
Kang Han Cing yang baru datang tertawa kecil, memperlihatkan dua baris gigi yang putih, ia berkata tenang .
"Boanpwe bernama Kang Han Cing !"
Put-im suthay membentak lagi .
"Kau yang membunuh Yen Siu Lan ?"
Kang Han Cing yang baru datang menantang sepasang sinar mata Put-im suthay dan balik bertanya .
"Bagaimana suthay tahu kalau aku yang membunuh orang ? Apa suthay melihat dengan mata sendiri ?"
Tanpa mengucapkan ba dan bu, tangan Put-im suthay bergerak, sejulur kekuatan keras menyambar kearah Kang Han Cing yang baru datang itu, inilah seluruh kekuatan Put-im suthay yang ada, gerakannya cepat tangannya kuat, meluncur kearah dada si Kang Han Cing yang baru datang.
Kang Han Cing yang baru datang mengibaskan lengan baju, dengan mudah ia mengelakan serangan Put-im suthay, serangan kekuatan yang seperti membelah gunung itu lenyap tanpa bekas !
Orang2 yang berada ditempat itu terdiri dari jago2 kelas satu, siapa Put-im suthay dari Ciok-cuk-am semua orang mengerti, Put-im suthay adalah kakak seperguruan dari ketua Ngo-bie-pay Bu Houw suthay yang ternama.
Untuk rimba persilatan di-masa ini, para ketua partaipun harus menjunjung tinggi martabatnya, tidak berani sembarang berkata, ini suatu bukti betapa hebat ilmu kepandaian Put-im suthay, tokh bisa dielakkan dengan mudah oleh seorang yang tidak ternama.
Betulkah seorang yang baru datang itu adalah Kang Han Cing palsu ?
*** Bab 31 SEMUA orang kagum atas ilmu kepandaian Kang Han Cing yang baru datang.
Semua orang kagum atas kepandaian si pemuda yang bisa menelan kekuatan raksasa Put-im suthay.
Diantaranya termasuk juga putra kedua datuk selatan Kang Han Cing.
Ia berpikir.
"Hebat! Tidak kusangka Suto Lan memiliki ilmu kepandaian yang begitu tinggi."
Sangka Kang Hai Cing, orang yang menyamar itu adalah si gadis berbaju hijau Suto Lan.
Ciok Sim taysu dan Ciok Beng taysu saling pandang, mereka sedang me-mikir2, bagaimana asal-usul Kang Han Cing yang baru datang?
"Suheng,"
Berkata Ciok Sim-taysu perlahan.
"Bisa melihat ilmu kepandaiannya?"
Wajah Ciok Beng taysu juga menjadi tegang, ia berkata perlahan.
"Kalau mataku tidak lamur, pemuda ini adalah ahli waris Liu Ang Ciauw."
"Aaaa......."
Ciok Sim taysu melompongkan mulut.
"Mungkinkah....."
Sedikit petikan tentang cerita Liu Ang Ciauw.
Liu Ang Ciauw adalah cucu murid si-kakek Botani, di masa mudanya pernah ter-gila2 kepada Lu Cu Kok, Lu Cu Kok mendapat didikan2 dari banyak tokoh silat, Lu Cu Kok telah mendapat pelajaran dari Tay-pek-sian-ong.
Karena itu ilmu kepandaiannya hebat dan tinggi.
Cinta Liu Ang Ciauw hanya cinta sepihak, hati Lu Cu Kok sudah diserahkan kepada Cie Ceng Khiu.
Dan mengabaikan cinta Liu Ang Ciauw.
Karena itulah, Liu Ang Ciauw patah hati, kabur dan menuju kedaerah Tong-hay.
Didaerah Tong-hay, Liu Ang Ciauw mendapat penemuan2 ajaib, menciptakan dirinya sebagai suatu tokoh mandraguna tiada tandingan.
Karena itulah, si gadis mengoordinir Barisan Pendukung Liu Ang Ciauw, dengan membawa orang2 daerah Tong-hay, Liu Ang Ciauw membuat penyerangan ke daerah Tionggoan, mencari Lu Cu Kok untuk membikin perhitungan lama.
Cerita ini terdapat dalam judul yang berbunyi PENYERANGAN DARI LUAR DAERAH.
Dan tentang cinta kasih Lu Cu Kok dan Liu Ang Ciauw, para pembaca dipersilahkan membaca cerita dengan judul ANAK PENDEKAR.
Demikianlah sedikit banyak tentang Liu Ang Ciauw.
Ciok Sim Taysu dan Ciok Beng taysu mencurigakan kalau Kang Han Cing yang baru datang adalah ahli waris keturunan Liu Ang Ciauw.
Wajah Put-im suthay ber-ubah2, marah dan kesal, penasaran dan sakit hati.
Srettt...ia mengeluarkan pedangnya, dengan harapan bisa mengimbangi keuletan tenaga lawan.
Sebelum Put-im suthay bergerak menyerang Kang Han Cing yang baru datang, Ciok Beng taysu menyelak cepat, merangkapkan kedua tangannya dan berkata.
"Tunggu dulu! Ada beberapa patah kata yang hendak lolap ajukan."
"Huh !"
Put-im suthay mengeluarkan suara dingin.
"Tanyalah dahulu."
Jaksa Bermata Satu Tan Siao Tian cs.
Ber-jaga2, ia kuatir Kang Han Cing dicelakai oleh rombongan Ngo-bie-pay dan Siauw lim-pay.
Entah dari mana muncul pula seorang Kang Han Cing, ilmu kepandaian Kang Han Cing yang baru datang ini lebih lihay dari Kang Han Cing aselinya, begitu mudah menyengkelit ilmu kepandaian Put-im suthay.
Seperti dugaan Kang Han Cing, Tan Siao Tian juga menduga jago dari Perintah Maut.
Tan Siao Tian belum tahu, kalau ada seorang gadis yang berbaju hijau yang bernama Suto Lan pernah menyamar Kang Han Cing, karena itu ia tidak tahu bahwa ilmu kepandaian Suto Lan masih berada di bawah Kan Han Cing, sedangkan orang yang baru datang adalah Suto Lan.
Begitu juga sangka Tan Siao Tian, orang yang datang juga dari golongan Perintah Maut, karena itu ia membiarkan terjadi pertempuran, kalau golongan Perintah Maut menggempur Siauw-lim-pay dan Ngo-bie-pay, maka yang untung adalah Partai Baru.
Dengan mudah ia bisa meneruskan perjalanan ber-sama2 Kang Han Cing menuju ke lembah baru.
Tan Siao Tian mengharapkan cepat2 terjadi bentrokan.
Ciok Beng taysu menggagalkan maksud Tan Siao Tian, sesudah berhasil meredakan kemarahan Put-im taysu, ia menghadapi Kang Han Cing imitasi, per-lahan2 berkata .
"Ilmu kepandaian Siecu memang hebat. Mengapa harus memalsukan Kang jiekongcu? Membunuh Yen Siu Lan?"
Tentu saja Kang Han Cing imitasi tidak bisa menjawab pertanyaan itu, dengan tawar ia mengelakkan inti persoalan katanya .
"Hari ini aku mempunyai urusan penting dengan saudara Kang, kalau kalian ada urusan, lain kali sajalah kita sambung."
Dengan sungguh2 Ciok Beng taysu berkata .
"Jiwa manusia tidak bisa disamakan dengan jiwa semut, sebelum siecu memberi pertanggungan jawaban, jangan harap meninggalkan tempat ini."
"Oh....begitu?"
Berkata Kang Han Cing imitasi.
"Baiklah. Siapa diantara kalian yang berada ditempat ini yang bisa menandingi diriku ? Nah ! Kalau saja bisa, tentu saja aku mendengar perintah."
Kata2 ini sungguh temberang !
Apalagi diucapkan didepan Ciok Beng taysu yang menjadi pemimpin bagian Lo-han-tong Siauw lim-pay.
Didepan ketua Ciok-cuk-am Put-im taysu dan kawan2.
Betul Put-im suthay menjadi naik darah ia membentak .
"Belum pernah aku melihat manusia congkak yang seperti ini."
Wajah Ciok Beng taysu juga berubah. Tapi ia bisa menekan gejolak hati itu, katanya .
"Menurut pendapat lolap, asal usul siecu bukan asal usul biasa, bisakah memberi sedikit keterangan?"
Kang Han Cing imitasi berkata.
"Aku masih banyak urusan. Lain kali sajalah."
Ciok Beng taysu adalah jago terkuat dari partai Siauw-lim-pay, karena ia memiliki ilmu kepandaian silat yang betul2 tinggi.
Ia berusaha menekan gejolak jiwa, tokh tidak bisa dihina terus menerus.
Karena itu ia menghadapi Kang Han Cing itu dan berkata .
"Siecu terlalu sombong. Apa boleh buat lolap tidak bisa berpeluk tangan."
Kang Han Cing imitasi berkata .
"Sudah kukatakan, kita menentukan sesuatu diatas ilmu silat. Siapa yang kuat ia berkuasa. Yang harus tunduk dibawah kakinya. Setuju ?"
"Ho, ho, ho..."
Ciok Beng taysu tertawa, ia menggebrak tongkat besinya dan berkata.
"Baiklah, biar aku yang melayanimu."
Tiba2 Put-im taysu menyelak lagi, ia berkata .
"Tunggu dulu ! Serahkan kepadaku saja."
Dan betul Put-im Taysu menghadapi Kang Han Cing imitasi. Ketegangan memuncak lagi. Tiba2 ......."Hua, hua, hua....."
Terdengar satu suara tertawa besar, terdengar dari tempat jauh, tapi menggema seperti guntur di siang hari bolong.
Seolah memecah belah dan mengacaki keramaian ditempat itu !
Semakin lama suara tertawa itu semakin mengakak, se-olah2 hendak menenggelamkan bumi, memecahkan langit.
Satu bayangan besar bagaikan jatuh dari awang2 terbang meluncur datang, dan sebentar kemudian disana telah bertambah seorang tua berwajah merah, mukanya lebar, kepalanya besar, ia menggembol pedang sikapnya gagah dan agung.
Inilah wakil ketua benteng Penganungan jaya Yen Yu San.
Sebagai ketua benteng Penganungan Jaya, Yen Yu San mewakili Cin Jin Cin didalam segala urusan.
Termasuk urusan benteng Penganungan Jaya, termasuk urusan2 Datuk Barat itu.
Sama saja dengan duplikat Cin Jin Cin.
Orang selalu menghubungkan Yen Yu San dengan datuk Barat Cin Jin Cin.
Kedudukan Yen Yu San berarti kedudukan merangkap dengan Cin Jin Cin.
(Bersambung 11) ***
Jilid 11 Bab 32 DATANGNYA Yen Yu San ditempat itu menambah ramainya suasana.
Kematian Yen Siu Lan juga melibatkan Benteng Penganungan Jaya !
Pendekar sastrawan besi Yen Siu Hiat berlompat girang, menyongsong kedatangan sang paman dan memberi hormat.
Si Hakim bermuka merah Yen Yu San membangunkan Yen Siu Hiat, kemudian memberi hormat kepada Put-im Suthay dan Ciok Beng Taysu.
Put-im Suthay, Ciok Beng Taysu dan Ciok Sim taysu membalas hormat itu.
Pul-im Suthay berkata .
"Kedatangan Yen tayhiap kebetulan sekali, orang yang membunuh Yen Siu Lan sudah berada disini."
Si Hakim bermuka merah Yen Yu San mengalihkan pandangan matanya, tiba2 ia terbelalak, disaat melihat hadirnya si Jaksa bermata Satu Tan Siao Tian dengan gelar pendekar tiga daerah itu.
"Oh......"
Yen Yu San memberi hormat kepada Tan Siao Tian.
"Saudara Tan Siao Tian juga berada disini ?"
Nah !
Merekapun kenalan lama.
Yen Yu San dengan gelar Hakim bertemu Tan Siao Tian dengan gelar jaksa.
Kalau Hakim bertemu dengan jaksa, biasanya lebih cepat terjadi keberesan !
Sebagai wakil Cin Jin Cin, Yen Yu San juga mengurus sesuatu yang berhubungan dengan benteng Penganungan Jaya.
Lebih urusan2 sang datuk barat.
Karena itulah ia sering berkelana dan banyak kenalan-kenalan diluar.
Salah satu orang yang dikenal adalah Jaksa bermata satu Tan Siao Tian.
Tan Siao Tian merajai rimba persilatan untuk tiga daerah, karena itu namanyapun tersohor.
Ia juga tidak bisa melupakan nama wakil dari benteng Penganungan Jaya.
Membalas hormat Yen Yu San, Tan Siao Tian berkata.
"Saudara Yen Yu San, bagaimana keadaanmu selama ini ?"
"Terima kasih."
Berkata Yen Yu San.
"Sama2 baik."
Sesudah itu, Yen Yu San menatap ke-arah Kang Han Cing imitasi, ia membentak keras.
"Hei kau ini yang bernama Kang Han Cing ?"
Tanpa gentar sedikitpun Kang Han Cing imitasi menganggukkan kepala dan menjawab.
"Tidak salah, inilah aku."
Yen Yu San melirik lagi kearah Kang Han Cing, bergantian.
Disana ada dua Kang Han Cing, wajah mereka sama, potongan tubuh mereka sama, pakaian yang dikenakan sama, dan suaranyapun sama.
Karena itu si Hakim bermuka merah Yen Yu San menjadi bingung, Menoleh lagi kearah Kang Han Cing imitasi, dia bertanya.
"Siapa lagi orang ini?"
Kang Han Cing imitasi tertawa kecil memperlihatkan dua baris giginya, dan berkata.
"Ia juga bernama Kang Han Cing."
Sepasang mati Yen Yu San dipelototkan, ia membentak .
"Hei berani memper-olok2 diriku?"
Huttt......tangannya terayun dan mengeluarkan pukulan bacokan kearah Kang Han Cing imitasi.
Kedua kaki Kang Han Cing imitasi tidak bergerak dari posisi semula, ia hanya menggeser sedikit pundak, dan dengan cara yang aneh luar biasa itu, ia berhasil mengesampingkan serangan Yen Yu San yang luar biasa.
Kemarahan Yen Yu San semakin meluap-luap membentak keras dan berteriak .
"Terima lagi serangan ini !"
Tangannya yang dibawah itu ditarik sebentar dan dijotoskan kedepan, kini mengancam ke arah dada Kang Han Cing imitasi.
Sebagai orang kepercayaan Datuk Barat Cin Jin Cin, kekuatan Yen Yu San bisa mengimbangi kekuatan Datuk itu, adatnya juga berangasan dan cepat naik darah, diperolokan didepan orang banyak, kemarahannya me-luap2, serangannya selalu jitu dan cepat, kini ancaman itu luar biasa cepatnya.
Kang Han Cing imitasi tertawa dingin, ia tidak menjadi gentar.
Juga tidak menjadi gugup.
Tubuhnya bergeser kesamping, dengan tangan kanan menggunakan jurus Teng-tong yang-ho yang berarti air menutup sungai dan kali, menyodok serangan Yen Yu San dan dengan tangan kirinya, berulang menepok sampai tiga kali.
Tepokan tiga kali tangan itu terjadi saling susul menyusul, kecepatannya luar biasa, sehingga membuat orang bingung, yang mana datang lebih dulu dan yang mana datang belakangan ?
Arahnya tidak sama, membingungkan orang.
Yen Yu San memiliki pengalaman2 tempur yang mahir, tapi belum pernah menghadapi tokoh silat seperti Kang Han Cing ini, ia terkejut, kedua pundaknya terangkat, dan lompat kebelakang.
Inilah kejadian yang belum pernah dialami oleh Yen Yu San.
Ia terdesak dalam waktu yang hanya dua gebrakan.
Kemarahan Yen Yu San meluap-luap.
"Puih !"
Ia membentak, srettt.......mengeluarkan pedang dan ditusukan ke arah Kang Han Cing yang baru datang itu, ujung pedang itu ber-goyang2, telah mengancam sekitar kepala si pemuda berbaju hijau.
Kemanapun si Kang Han Cing imitasi mengelakan serangan, ujung pedang bisa membayangi dirinya.
Orang2 yang menonton segera memuji kehebatan si Hakim muka merah, rata2 mengeluarkan pujian.
Pujian di dalam hati ini cepat menjadi lumer, mana kala menyaksikan gerakan Kang Han Cing yang lebih hebat lagi, wing.....
mereka kehilangan tubuh si pemuda, dan entah dengan cara bagaimana bayangan itu lenyap dari tempat asalnya, timbul kembali dibelakang Yen Yu San !
Bayangan yang baru itu tetap bergerak, memukul ke arah pundak Yen Yu San.
Yen Yu San juga lihay !
Tanpa melihat dengan mata, ia bisa menduga kalau musuh itu sudah berada dibelakang.
Demikianlah untuk mengelakan sesuatu yang berada diluar dugaan, tubuh Yen Yu San melejit menjauhi Kang Han Cing, maka serangan Kang Han Cing imitasi mengenai tempat kosong.
Tapi Kang Han Cing imitasi ini bergerak cepat, bersamaan dengan itu ia sudah mendampingi Kang Han Cing asli, menggandeng tangan si pemuda dan berkata.
"Saudara Kang mari berangkat."
Tanpa permisi kepada orang yang bersangkutan, Kang Han Cing imitasi ini menenteng Kang Han Cing asli, kedua bayangan itu meluncur, hanya tiga kali tutulan, dua bayangan sudah jauh dari orang2 tadi.
Yen Yu San membentak keras, tubuhnya mumbul tinggi meluncur dan mengarah si Kang Han Cing imitasi, ia berteriak.
"Jangan lari !"
Put-im-suthay juga menggerakkan pedang, ia memberi komando kepada kawan-kawannya .
"Kejar !"
Berlari dibelakang Yen Yu San, Put-im suthay bergerak, turut mengejar Kang Han Cing.
Ciok Beng taysu dan Ciok Sim taysu saling pandang, mereka juga turut meninggalkan tempat itu.
Pengejaran kepada kedua Kang Han Cing saling susul, gerakan mereka sama cepat, tapi ada yang dimuka mendahului ada yang dibelakang.
Tubuh Yen Yu San tinggi besar, tapi hal ini tidak mengurangi kecepatan, pedangnya membelah angkasa, pedang itu se-akan2 mengajak sang majikan mengejar dan menusuk ke arah Kang Han Cing imitasi.
Kang Han Cing yang ditusuk mengibaskan lengan baju, menggelintir pedang Yen Yu San.
Disaat pedang Yen Yu San hendak mengenai sasaran, satu kekuatan yang hebat mengenyimpangkan tenaganya, dan arah pedang menggeser kesamping kiri.
Kalau disamping kiri tidak ada sesuatu apa, hal itu tidak mengejutkan Yen Yu San, tapi disaat ini, Put-im taysu yang mengejar sudah tiba, pedang Yen Yu San terarah kepada Put-im taysu.
Tubuh Yen Yu San masih berada ditengah udara, bagaimana ia bisa menghindari bentrokan senjata, terpaksa dan apa boleh buat ia berteriak .
"Suthay, awas !"
Kecepatan jago2 kelas satu itu adalah kecepatan angin puyuh, begitu teriakan Yen Yu San dicetuskan, kedua pedangpun sudah terbentur beberapa kali, trang....
tubuh pejabat ketua Penganungan itu terdorong, begitu juga sang ketua Ciok-cuk-am, masing2 termundur dua langkah.
Dengan menenteng Kang Han Cing, maka bobot berat si Kang Han Cing palsu menjadi bertambah, dan sesudah itu ia harus mengusir serangan Yen Yu San, kekuatan ini berkurang pula, mengurangi meluncurnya kaki, larinya agak lambat.
Ciok Beng taysu dan Ciok sim taysu tiba.
Dari kanan dan kiri, mereka menggulung dan menghadang kepergiannya dua Kang Han Cing itu.
"Jangan pergi dulu !"
Bentak Ciok Beng taysu. Alis mata Kang Han Cing imitasi yang lentik terangkat sedikit, ia membentak.
"Minggir !"
Tangan kanannya terjelujur, cress....
membawa desiran angin yang tiada terhingga membuat serangan kearah Ciok Beng taysu.
Ciok Beng taysu mengangkat tangan kiri, membantu serangan tongkatnya ditangan kanan, tongkat itu tergetar hampir lepas.
Kekuatan serangan dari Kang Han Cing imitasi memang betul2 mengejutkan.
Kang Han Cing imitasi menoleh kearah Kang Han Cing asli, pandangan matanya bening dan jernih, ia berkata.
"Saudara Kang, berangkat !"
Dengan tangan kiri masih menjinjing Kang Han Cing, ia melejit tinggi dan lompat melewati pertahanan Ciok Beng taysu dan Ciok Sim taysu.
Ciok Sim taysu memukul, Ciok Beng taysu mengayun tongkat, deru angin ini menambah kecepatan kedua Kang Han Cing, dua bayangan hijau meluncur melewati bayangan mereka, lenyap dibalik rimba.
Mengimpipun tidak pernah dibayangkan oleh Ciok Beng taysu, kalau kedua Kang Han Cing itu memiliki ilmu meringankan tubuh kelas satu, pukulannya berarti membantu usaha lawan melarikan diri, ia kemekmek dan kesima, melompongkan mulutnya.
Disaat ini, pedang Yen Yu San dan Put im taysu baru saja bentrok, kedua tubuh itu terpisah, terjadinya kejadian adalah di-saat2 yang bersamaan.
Sepasang mata Yen Yu San memancarkan sinar ke-api2an, ia membentak.
"Uber lagi !"
Ciok Beng taysu sadar dari lamunannya, ia mencegah dan berkata.
"Saudara Yen Yu San, percuma saja mengejarnya."
Put-im suthay mem-banting2 kaki berkata.
"Masakan membiarkannya pergi begitu saja?"
Ciok Beng taysu merangkapkan kedua tangan, berkata.
"Omitohud, jiewie berdua melupakan sesuatu ilmu kepandaian Kang Han Cing yang baru datang betul2 menakjubkan, bukan kita melemahkan kekuatan sendiri. Kalau betul2 bertempur, meskipun menggabung kekuatan2 kita yang ada di tempat ini, belum tentu bisa menandingi dirinya, ia adalah salah satu dari Barisan Pendukung Liu Ang Ciauw lama, mungkin juga keturunannya Liu Ang Ciauw."
Liu Ang Ciauw adalah salah satu tokoh silat dari cerita ANAK PENDEKAR.
Untuk mengenal tokoh2 silat dijaman silam, yang menjadi kakek moyang Kang Han Cing imitasi itu, para pembaca dipersilahkan mencari judul cerita ANAK PENDEKAR.
Yen Yu San bisa menyelami arti kata2 Ciok Beng taysu, kalau seorang jago Siauw-lim-pay yang mengatakan seperti itu, hal tadi bukanlah isapan jempol.
Ia juga sudah menjajal kekuatan Kang Han Cing imitasi, berulang kali ia tidak berdaya sama sekali.
Ilmu kepandaiannya jauh lebih tinggi di-awang2, bukanlah ilmu kepandaian yang bisa ditandingi oleh mereka.
Kemarahan Yen Yu San dan Put-im taysu berubah seperti balon yang kempes.
Disaat ini mereka menoleh kebelakang dimana dari rombongan partai2 baru itu berada.
*** Bab 33
"Eh,"
CIOK BENG TAYSU terkejut. Memandang kearah Ciok Sim Taysu bertanya .
"Orang dari Partai Baru juga sudah berangkat?"
Ciok Sim Taysu merangkapkan kedua tangan dan berkata .
"Orang yang bermata satu Tan Siao Tian itu sudah mengajak orang2nya berangkat. Karena suheng tidak memberitahu sesuatu, mereka tidak mengganggu usaha kita, aku juga membiarkan kepergian mereka."
Ciok Beng Taysu menganggukkan kepala dan berkata .
"Cara ini adalah cara yang terbaik."
Disaat ini tiba2 satu bayangan meluncur datang, orang itu adalah laki berpakaian ringkas, langsung menghadap Yen Yu San memberi hormat dan berkata .
"Lapor kepada cong-koan, dari daerah Kim-leng ada surat penting yang datang. Silahkan."
Kedua tangan orang itu mempersembahkan sepucuk surat kecil.
Cepat Yen Yu San menerima surat tadi, membaca secara tergesa2, tiba2 wajahnya berubah.
Ia memberi hormat kepada jago yang berada di tempat itu dan berkata .
"Maaf ! Yen Yu San meminta diri."
Sesudah berkata tadi, mengajak si laki2 berpakaian ringkas yang baru datang, si Hakim bermuka merah Yen Yu San meninggalkan orang2 ditempat itu.
Hanya seorang yang masih mempunyai rasa penasaran, inilah ketua Ciok-cuk-am Put im taysu.
Dia uring2an karena orang yang membunuh Yen Siu Lan tidak bisa dibekuk.
Membanting2 kaki dan berkata.
"Kalau begini lagu2nya muridku itu menjadi korban percuma."
Ciok Beng-taysu merangkapkan kedua tangan dan berkata.
"Jangan suthay cepat naik darah, urusan ini harus diteliti sekali lagi. Untuk rimba persilatan diwaktu ini, bendung2 kebanjiran bahaya telah ada gejala yang kurang baik, mungkin kita harus menyerahkan kekuasaan kepada golongan tertentu....."
Ciok Sim taysu memandang kearahCiok Beng taysu dan berkata.
"Golongan dari partai baru yang suheng maksudkan ?"
Ciok Beng taysu berkata perlahan .
"Partai Baru bukanlah kekuatan yang boleh dipandang ringan, tapi kekuatan ini bukanlah musuh kita. Menurut petuah ketua partai, beliau memberi pesan, kalau saja bertemu dengan jago2 dari Partai Baru, jangan sekali2 Siauw-lim-pay melibatkan diri, lebih baik jangan bentrok dengan mereka..."
Put-im suthay mengeluarkan dengusan dari hidung, tidak henti2nya tertawa dingin. Ciok Beng taysu melanjutkan ceritanya .
"Yang harus kita perhatikan adalah kekuatan dari golongan Perintah Maut itu."
Ciok Sim taysu bertanya .
"Dari golongan mana pula kedua Kang Han Cing tadi?"
Ciok Beng taysu berkata.
"Orang yang memalsukan diri sebagai Kang Han Cing tadi memiliki ilmu kepandaian tiga kali Kang Han Cing, para datuk2 selatanpun belum tentu mempunyai itu kekuatan. Kalau saja salah satu anggota atau Barisan Pendukung Liu Ang Ciauw meninggalkan daerah Tong-hay, wah ! Kita ....."
Wajah semua orang berubah. Ciok Beng taysu berkata lagi.
"Mari kita kembali ke gereja, memberi tahu kejadian ini kepada ketua."
Demikian perkumpulan itu bubar.
*** Menceritakan kedua Kang Han Cing.
Yang kita maksud dengan Kang Han Cing asli, tentu saja Kang jiekongcu, putra kedua dari datuk selatan Kang Sang Fung.
Tangannya digandeng oleh Kang Han Cing imitasi, sebentar kemudian mereka sudah meluncur puluhan lie.
Disaat ini, Kang Han Cing berkata .
"Nona, sudah boleh lepaskan peganganmu."
Kang Han Cing imitasi terkejut, matanya terbelalak, tangan yang memegang Kang Han Cing mengendur, dua sinar mata yang bening seperti kaca itu menatap wajah Kang Han Cing, ia berkata heran.
"Kau....."
Inilah sepasang mata yang serupa dengan sinar mata si gadis berbaju hijau Suto Lan. Tidak berani menantang terlalu lama, Kang Han Cing menundukkan kepala, ia berkata.
"Nona Suto Lan hendak membawa aku ke tempat apa?"
Kang Han Cing imitasi tertawa cekikikan, sesudah itu baru ia berkata.
"Oh, yang dimaksudkan dengan nona Suto Lan tentunya kekasihmu, bukan?"
Kang Han Cing menatap Kang Han Cing imitasi itu, dengan geram bertanya.
"Kau bukan Suto Lan?"
Lagi2 Kang Han Cing imitasi itu tertawa, tanpa mengurangi cahaya sinar matanya, ia berkata.
"Kukira saudara Kang salah mata, aku bukanlah orang yang saudara duga."
Baru sekarang Kang Han Cing sadar dari kesalahannya, Suto Lan menyamar menjadi wajah Kang Han Cing, orang ini juga menyamar menjadi Kang Han Cing.
Sulit membedakan yang mana Kang Han Cing Suto Lan, dan yang mana Kang Han Cing yang baru.
Yang jelas, orang ini memiliki ilmu kepandaian silat yang jauh berada diatas dirinya.
Hal mana tidak mungkin bisa disamakan dengan ilmu kepandaian Suto Lan.
Ilmu kepandaian Suto Lan masih berada dibawah dirinya.
Memandang kepada orang itu, Kang Han Cing bertanya .
"Siapa saudara? Mengapa mengubah diri menyamar diriku ? Apa maksud tujuan itu ?"
Kang Han Cing imitasi itu tertawa dan berkata.
"Disaat aku liwat ditempat tadi, kulihat kau berada didalam posisi terjepit, karena itu aku membuat penyamaran dan menolong dirimu."
Kang Han Cing menjadi ragu.
"Kau kenal kepadaku?"
Ia bertanya. Kang Han Cing imitasi itu tertawa lagi, memperlihatkan kedua baris giginya yang putih dan berkata .
"Kang jiekongcu mempunyai banyak kenalan, siapakah yang tidak kenal kepada jiekongcu ? Apalagi aku telah bertemu muka beberapa kali, masakan sudah lupa ? Beberapa kali kita sudah bertemu bukan ? Lupa kepada suaraku ?"
Kang Han Cing tidak bisa membedakan penyamaran jago silat luar biasa itu, ia bertanya lagi .
"Siapakah saudara ? Betul2 aku tidak ingat."
Kang Han Cing imitasi itu menelepek selembar kulit tipis yang ditempelkan pada wajahnya, maka terpetalah wajah putih dan tampan, alis lentik, bibir mungil dan hidung mancung dengan kedua baris gigi yang putih, lagi-lagi ia tertawa.
Inilah pemuda luar biasa, orang yang pernah menyembuhkan Kang Han Cing di-kelenteng Pek-yun-kuan, orang yang mengaku bernama Tong Jie Peng!
Ternyata orang yang menyamar Kang Han Cing di tempat ini adalah Tong Jie Peng !
Bukanlah Kang Han Cing palsu yang dia lihat.
Kang Han Cing palsu yang jahat adalah samaran Suto Lan !
Dan Kang Han Cing ketiga adalah penyamaran Tong Jie Peng !
Memandang kearah Tong Jie Peng beberapa saat Kang Han Cing berlompat girang, menyekal kedua tangan kawan itu dan berkata .
"Aaa......saudara Tong Jie Peng, aku sudah kangen sekali."
Tong Jie Peng telah mengobati luka lemes Kang Han Cing, karena itu sedikit banyak Kang Han Cing tidak bisa melupakannya.
Membiarkan kedua tangan dipegang oleh Kang Han Cing, selebar muka Tong Jie Peng menjadi merah, ia berkata.
"Kukira jiekongcu sudah lupa kepadaku."
Per-lahan2 Kang Han Cing melepaskan pegangannya, ia berkata.
"Budi saudara Tong Jie Peng mana bisa kulupakan? Dibalas beberapa kali pun tidak cukup."
"Jangan berkata seperti itu."
Berkata Tong Jie Peng tawar. Kang Han Cing berkata.
"Pertemuan kita yang pertama adalah dikota Koa-cou, diperahu itu, walau hanya berpapasan muka sepintas lalu, mulai saat itulah, hatiku tidak bisa tenang."
Tong Jie Peng mengalihkan posisi ke-samping, ia bertanya .
"Apa keterangan jiekongcu keluar dari hati yang tulus ?"
"Tentu saja dari hati yang tulus."
Berkata Kang Han Cing. Wajah Tong Jie Peng memperlihatkan sikap yang senang, tapi alisnya masih dikerutkan, per-lahan2 ia berkata .
"Perasaan yang sama pula terkandung didalam hatiku."
"Itu yang dinamakan jodoh."
Berkata Kang Han Cing.
"Orang yang berjodoh memang cepat berkenalan."
Tong Jie Peng menundukkan kepala !
Disaat terjadinya perpaduan kedua pasang mata, Kang Han Cing merasakan adanya daya tarik yang seperti ia pernah alami pada Suto Lan, bahkan lebih bersinar dari Suto Lan, dan lebih bermagnit dari pada daya tarik Suto Lan.
Banyak sekali kata2 yang hendak diucapkan, tapi begitu membentur sinar cahaya mata Tong Jie Peng, maksud tujuan Kang Han Cing kandas di tengah jalan.
Tong Jie Peng bisa melihat gerak mimik mulut Kang Han Cing, mulut ini sedianya sudah terbuka hendak mengucapkan sesuatu, tapi batal kembali.
Karena itu, ia tersenyum sedikit dan berkata .
"Saudara Kang Han Cing seperti hendak mengucapkan sesuatu, apakah yang terkandung didalam hatimu?"
Maka dengan memberanikan diri, Kang Han Cing berkata .
"Siauwte hendak mengusulkan sesuatu."
"Katakanlah."
Berkata Tong Jie Peng tertawa kecil. Kang Han Cing berkata .
"Budi saudara Tong Jie Peng besar laksana gunung, dalam laksana lautan, karena itu......"
"Cukup,"
Memotong Tong Jie Peng perlahan.
"Sudah menjadi kewajiban manusia untuk saling tolong menolong, mengapa harus di-sebut2 terus menerus?"
Selebar wajah Kang Han Cing menjadi merah, menganggukkan kepala dan berkata .
"Siauwte mempunyai perasaan kecocokan. Begitu kita bertemu, ada niatku untuk mengangkat saudara, entah bagaimana pendapat saudara Tong Jie Peng ?"
Tong Jie Peng menggigit bibir, berpikir beberapa saat, dan ia berkata.
"Manusia hidup didalam dunia seperti air diatas daun, tak bisa bertahan lama, seperti perahu disungai, sebentar kemari, sebentar kesana, hidup tiada berketentuan, tapi kalau saudara ada niatan seperti itu, aku juga tidak akan menolak."
Hampir Kang Han Cing bersorak girang, ia berkata cepat.
"Siauwte mempunyai harapan dengan harapan penuh ini bisa mengangkat tali persaudaraan. Inilah keberuntungan yang luar biasa."
Demikianlah, kedua orang itu mengangkat saudara.
Mengikuti umur masing2.
Kang Han Cing delapan belas tahun, Tong Jie Peng juga delapan belas tahun.
Hanya selisih perbedaan bulan, Tong Jie Peng lebih tua tiga bulan.
Karena itu Kang Han Cing menjadi adik dan Tong Jie Peng menjadi kakaknya.
Kang Han Cing memberi hormat dan berkata.
"Toako !"
"Jie-te !"
Tong Jie Peng membalas hormat itu. Mereka merasakan kebanggaan tidak terhingga, perpaduan hati dan kecocokan. Satu saat Tong Jie Peng berkata.
"Jiete, bagaimana keadaan nona Sutomu itu? Kukira sangat cantik, bukan ?"
"Toako jangan menggoda."
Wajah Kang Han Cing menjadi merah.
"Tunggu,"
Berkata Tong Jie Peng.
"Aku hendak mengetahui sedikit tentang dirinya."
Kang Han Cing berkata.
"Siauwtee tadi menjatuhkan dugaan kepada Suto Lan, karena nona Suto Lan itu pernah menyamar menjadi diriku. Membunuh Yen Siu Lan didalam Ciok-cuk-am. Kemudian mengirim surat tantangan dan memancing Put-im suthay beserta Ciok Sim taysu, menghina kedua jago silat itu dikota Topeng Setan Kui-lien-san. Beruntung bisa siauwte saksikan, membikin pengejaran, di saat bergebrak dengan dirinya, siauwte terkena obat jahat. Dia melempar sapu tangan yang dipupuri obat pelemas badan, siauwte tertawan. Maka kedudukanku dengan dirinya adalah kedudukan musuh, bukan kawan."
Tong Jie Peng meng-edip2kan mata dan berkata.
"Aku tidak menanyakan musuh atau kawan. Yang kuingin ketahui ialah . Cantikkah nona itu?"
Kang Han Cing berkata.
"Terus terang saja kecantikannya memang lumayan."
Tong Jie Peng tertawa, katanya .
"Tentunya dia sudah terpikat kepadamu?"
Kang Han Cing meng-geleng2kan kepala berkata.
"Mereka adalah anak buah Perintah Maut, golongan baru yang mempunyai pikiran sesat. Mengacaukan rimba persilatan. Nona itu pernah membujuk diriku untuk masuk jadi anggota mereka. Hal itu sudah kutolak. Kedudukanku tidak segaris dengan kedudukannya."
Tong Jie Peng berkata.
"Kalau nona Suto suka kepadamu, tidak perduli benar atau salah, mengapa harus mengambil sikap bertentangan?"
Kang Han Cing menundukkan kepala. Beberapa saat mereka membeku, tiba2 Tong Jie Peng berkata.
"Sayang sekali, guruku berpesan dan memberi perintah agar aku cepat kembali. Kalau tidak, ingin sekali kubisa menemui nona itu."
"Eh,"
Kang Han Cing terkejut.
"Toako hendak berangkat sekarang ?"
"Inilah perintah guruku, terpaksa harus berangkat sekarang."
"Sesudah keberangkatanmu ini, bila kita bisa berjumpa kembali?"
Kang Han Cing merasa berat untuk berpisah. Tong Jie Peng berkata.
"Paling lama tiga bulan, kukira kita bisa berjumpa kembali."
"Begitu lama?"
Berkata Kang Han Cing.
"Kau sudah mewarisi sebagian besar dari ilmu kepandaian Pendekar Bambu Kuning. Untuk rimba persilatan di masa ini, tidak mudah untuk mengalahkan dirimu. Tapi ingat, masih tidak sedikit tokoh2 silat mandraguna dari golongan tua yang berkepandaian lihay, mereka itu menyembunyikan diri di-gunung2 dan di-lembah2, sesudah menyekap diri sekian lama, ada gelagat yang menyatakan mereka bosan kesepian, beberapa diantaranya tampil kembali. Tokoh2 silat penting inilah yang harus kau perhatikan."
Kang Han Cing terkejut, disebutnya nama Pendekar Bambu Kuning membuat ia berpikir beberapa kali, nama kependekaran sang guru baru diketahui sesudah ia hendak turun gunung, dan ia belum pernah menceritakan pada siapa pun tentang nama gurunya bagaimana sang toako bisa mencetuskan nama gurunya?
Ternyata Kang Han Cing adalah ahli waris dari Pendekar Bambu Kuning yang ternama.
Tong Jie Peng memancarkan cahaya sinar matanya yang bening dan jeli, ia berkata lagi.
"Menurut perkiraanku, mereka masih belum tahu asal usulnya. Hanya mereka tertarik kepada ilmu kepandaianmu yang lihai, mereka hendak menambah kekuatan2 dan mengajakmu menjadi salah satu anggota mereka. Karena itulah sengaja mereka membuat fitnah memilih Yen Siu Lan untuk dijadikan korban, tentunya Put-im suthay ber-jingkrak2, kematian Yen Siu Lan yang difitnahkan atas dirimu membawa ekor yang panjang, tiga ekor kekuatan raksasa dari tiga golongan kuat dirimba persilatan. Ekor pertama adalah gangguan ketua Ciok-cuk-am Put-im suthay, beserta dengan jago2 Ngo-bie-pay yang berdiri di belakangnya. Ekor kedua adalah kekuatan ketua Ceng-lian-sie Ciok Sim taysu beserta barisan Siauw-lim-pay yang berdiri dibelakangnya. Dan ekor ketiga adalah tekanan dari Yen Yu San beserta benteng Penganungan Jaya di belakang. Dengan adanya gencetan2 tadi, mereka memaksa dirimu mengasingkan diri, karena itu hanya ada satu jalan yang bisa mengelakan gencatan mereka, kau dipaksa memasuki anggota perkumpulan Perintah Maut......"
"Inilah rencana musuh yang jahat."
Berkata Kang Han Cing.
"Ya! Rencana jahat !"
Berkata Tong Jie Peng. Kang Han Cing menundukan kepala.
"Nah ! terimalah ini."
Tong Jie Peng mengeluarkan sesuatu, diserahkan kepada Kang Han Cing, itulah berupa kedok kulit manusia yang sangat tipis.
"Benda ini penting bagi penyamaranmu."
Tong Jie Peng memberi keterangan.
"Wajah Kang Han Cing sudah harus lenyap dari permukaan rimba persilatan, gunakanlah wajah ini, maka kau bisa bebas bergerak, jangan sampai ekor2 panjang dan kuat itu menggencet dirimu, jangan sampai mereka mengetahui, dimana bersembunyinya Kang Han Cing."
Kang Han Cing menerima pemberian sang toako angkat, dibulak baliknya kedok tipis itu, maka dengan adanya kedok ini ia bisa melakukan penyamaran, ia bisa mengubah diri, melenyapkan Kang Han Cing dari tekanan2 Perintah Maut !
"Terima kasih....."
Dengan rasa terharu Kang Han Cing bersyukur kepada bantuan2 Tong Jie Peng. Yang sudah menyembuhkan luka2 lemasnya, kembali kini Tong Jie Peng memberikan bantuannya yang besar.
"Nah ! Selamat bertemu dilain waktu."
Tong Jie Peng tertawa, dan meninggalkan Kang Han Cing.
"Toako....."
Kang Han Cing berteriak dibelakang sang kakak angkat itu.
"Biar kuantar sebentar!"
Tong Jie Peng membalikan kepala, tersenyum sebentar dan berkata .
"Waktu masih panjang, lain kali kita pasti berjumpa kembali."
Sesudah itu tubuhnya melejit dan terjadilah kilatan bayangan hijau, Tong Jie Peng lenyap di balik semak dan lenyap didepan pandangan mata Kang Han Cing.
Kang Han Cing mematung lama ditempat itu, memandang kearah lenyapnya Tong Jie Peng.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu, cepat2 mengenakan kedok penyamarannya, sesudah ini meluncur dan menggunakan ilmu meringankan tubuh, balik ke tempat penghadangan tadi.
*** Bab 34 DISANA, tidak satu bayanganpun yang tampak.
Orang2 dari partai baru sudah tiada.
Rombongan dari Put-im Suthay dan kawan2 juga sudah tiada.
Kang Han Cing berkerutkan alis dan berkata .
"Oh.......kemana pula kepergian mereka?"
Kang Han Cing harus menjauhi diri dari rombongan Put-im Suthay dan kawan2 tapi ia harus berusaha membongkar fitnah2 jahat itu.
Fitnah lebih jahat dari pada pembunuhan biar bagaimana ia harus mencuci bersih fitnah tersebut.
Siapa yang menjadi musuh utama ?
Golongan Perintah Maut ?!
Ya !
Ia harus menyelidiki kemisteriusan dari golongan Perintah Maut.
Dua kekuatan baru didalam rimba persilatan itu adalah golongan Perintah Maut dan Partai Baru.
Partai Baru mengambil markas di lembah baru, kalau saja ia tidak bisa menemukan lembah yang bernama Lembah baru itu, tidak mudah mencari markas besar kekuatan tersebut.
Jenazah ayahnya hilang.
Dan hal ini tidak mungkin buah tangan dari golongan Perintah Maut.
Hanya ada satu kemungkinan, pasti mempunyai hubungan erat dengan partai baru.
Ia harus menyelidiki di mana adanya rombongan yang bernama Partai Baru itu.
Kang Han Cing memeriksa bekas2 tapak roda, jejak itu menuju kearah barat, inilah jejak kereta partai baru.
Hati Kang Han Cing bersorak girang, dengan adanya jejak tadi mungkinkah dia tidak bisa menemukan jejak partai baru ?
Demikianlah Kang Han Cing mengikuti jejak kereta itu, membayangi gerak gerik partai baru.
Pada masa itu, jarang sekali ada jalan aspal, ter-lebih2 diluar kota, tidak mudah menemukan jalan yang baik.
Kereta yang hendak membawa Kang Han Cing ke lembah baru berjalan diatas semak2 rumput, rumput2 itu masih basah, maka terdapat bekas gelinding roda.
Mengikuti adanya garis ini, Kang Han Cing meluncur cepat.
Belasan lie kemudian, jejak roda kereta masih menuju ke arah barat, berjalan ke jalan raya.
Kang Han Cing tidak mau ambil pusing, kemana larinya kereta itu, kembali melewati kota dan melewati gunung, ia memperhatikannya dengan baik2 dan meneliti jejak2 tadi.
Hari menjelang sore, jejak kereta menuju kearah sebuah desa.
Kang Han Cing mendongakkan kepala, dia sudah berada didaerah Kui-lien-shia.
Wah !
Kang Han Cing menjadi pusing kepala, jejak itu menuju kearah barat, ke arah kota Kim-leng.
Mungkinkah kembali ke kota Kim-leng kembali ?
Kemarin hari, Kang Han Cing memperhatikan baik2, mereka baru saja meninggalkan kota Kim-leng dan tiba di tempat yang ia tidak ketahui, dan mungkinkah desa Kui lien-shia ?
Kalau betul dari Kim-leng ke Kui-lien-shia, dan melakukan perjalanan sehingga dicegat oleh rombongan Put-im suthay dan kawan2, tentunya mereka itu menuju Lembah Baru.
Dimana letak Lembah Baru ?
Kang Han Cing belum tahu.
Karena ter-buru2 Kang Han Cing telah mengikuti jejak kereta ini, terakhir jejak kereta kembali ke desa Kui-lien shia.
Mungkinkan salah raba?
Ia memilih jejak kereta menuju ke tempat itu ?
Tidak mungkin !
Kang Han Cing mengingat betul2 hanya ada sebuah jejak ini.
Maka jawabannya tidak sulit, tentu kereta itu balik kembali !
Mengapa balik kembali ?
Karena sudah kehilangan Kang Han Cing?
Mengapa harus kembali ke desa Kiu-lien-shia?
Sampai ditempat ini, Kang Han Cing tidak menemukan jejak kereta tadi, jejak itu lenyap tanpa bekas.
Kang Han Cing putus asa.
Tapi timbul pikiran lain, ia tidak bisa menyanggah si Jaksa Bermata Satu, Tan Siao Tian.
Timbul pikiran lain, Kang Han Cing pernah terjebak di gedung Liong-tan dan menurut cerita Put-im suthay gedung Liong-tan ini adalah salah satu tempat eks warisan Cen-yen piauwki, sesudah pemimpin piauwki Ban Cen San meninggal dunia, tempat ini sangat misterius sekali.
Menurut pengalaman Kang Han Cing, gedung Liong-tan itu, adalah sarang dari golongan Perintah Maut.
Mengapa tidak kembali ke tempat itu?
Atau menyelidiki jejak rombongan dari Partai Baru?
Boleh juga sekalian menyelidiki golongan Perintah Maut ?
Karena sudah menggunakan kedok kulit pemberian Tong Jie Peng, Kang Han Cing tidak segan2 memasuki kota.
Sesudah menangsal perutnya, sebelum hari menjadi gelap sekali, ia melangkahkan kaki menuju ke arah gedung Liong-tan.
Dengan ilmu lari cepat Kang Han Cing yang tiada tara, jarak itu tidak terlalu jauh.
Sebentar kemudian ia sudah balik kembali ke gedung Liong-tan.
Terbentang di muka mata Kang Han Cing, sebuah gedung yang megah di tengah2 kegelapan, tidak ada api penerangan dan tidak ada cahaya lampu.
Kang Han Cing memiliki kecerdikan, ia tidak segera memasuki gedung itu, dengan memperhatikan keadaan gedung itu, hatinya berpikir .
"Aku harus hati2. Daerah ini berada di bawah kekuatan musuh. Tentu banyak mata2 mereka."
Dengan setengah merayap, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun Kang Han Cing mendekati gedung Liong-tan.
Kang Han Cing melewati rimba di muka gedung Liong-tan itu tanpa ada gangguan.
Hal ini mengherankan Kang Han Cing, bagaimana tidak ada gerakan musuh ?
Kang Han Cing betul2 berada dimuka gedung, ia bisa memasang telinga dengan teliti, kecuali angin malam, tidak sedikit suara terdengar di tempat itu.
Menyesuaikan keadaan dengan kegelapan, tanpa adanya penerangan, menambah seramnya gedung.
Pemuda kita bernyali besar, dia menyedot napasnya dalam2, memumbulkan badan dan melompati tembok gedung itu kemudian melejit, dan berada diatas wuwungan rumah, per-lahan2 melongok kebawah.
Disana terdapat kamar kecil, inilah kamar yang pernah digunakan oleh Suto Lan.
Tapi tidak ada lampu penerangan.
Hati Kang Han Cing masih ber-pikir2, mungkinkah Suto Lan belum balik ke rumah ?
Ia lompat ke bawah, betul2 tidak ada orang.
Mendorong pintu kamar, dan di sana ia berdiri.
Keadaan gelap gulita, tapi hal itu tidak mengganggu Kang Han Cing, matanya yang lihai menyapu ke seluruh kamar.
"Aaaaah...."
Hampir Kang Han Cing berteriak, karena apa yang disaksikannya, jauh dengan apa yang sudah dibayangkannya.
Mengapa ?
Kamar ini adalah kamar yang pernah digunakan olehnya, kamar yang telah diteliti dengan seksama, kamar yang tidak asing.
Itulah kamar yang telah digunakan oleh Suto Lan, kamar yang telah dihuni olehnya.
Keadaan kamar memang tidak berbeda, seperti apa yang telah Kang Han Cing saksikan dan sesudah Kang Han Cing bayangkan.
Toilet, meja dan kursi masih ada.
Tapi yang membuat bulu tengkuk Kang Han Cing bangun menggerinding, bukanlah benda2 tersebut, karena pada permukaan tempat tidur, permukaan meja dan permukaan kursi penuh dengan debu tebal melapisi tempat itu.
Suatu tanda bahwa tempat ini tidak pernah ditiduri dan kamar ini tidak pernah terpakai dalam waktu2 yang cukup lama.
Paling sedikit setengah tahun !
Dan yang lebih luar biasa lagi, disana sini timbul galagasi, kawa2 berkerayap diatas sarang2 itu.
Mungkinkah kumasuki rumah setan?
Bulu2 roma Kang Han Cing bangun kembali, terlebih takut.
Teringat akan rumah setan itu, bagaimana ada seorang wanita cantik yang menjelma hidup menggunakan kamar setannya, mengemasi laki2, mungkinkah Suto Lan mengemasi dirinya?
Suto Lan itu bukan manusia?
Tapi Kang Han Cing bukan Kang Han Cing kalau ia seorang penakut, otaknya mengilmiah sesuatu dengan tepat, maka jelaslah sudah, permainan apa yang dipertontonkan oleh golongan Perintah Maut itu, maka para penjahat menggunakan gedung ini untuk membuat fitnah.
Tentu saja harus diketahui jelas mereka harus menutupi semua jejak2 itu dan merubah tempat yang ada.
Untuk membuktikan dugaannya, Kang Han Cing meninggalkan kamar Suto Lan yang sudah lama tidak digunakan, maka menuju ke arah ruangan si orang tua berbaju hijau.
Orang tua itu adalah ayah angkat Suto Lan, dan dikatakan sebagai pemimpin gedung ini.
Seperti keadaan kamar Suto Lan, ruangan yang pernah digunakan oleh orang tua berbaju hijau juga penuh dengan debu, suatu tanda bahwa tempat ini lama tidak dihuni.
Bukan lama tidak digunakan.
Sesudah Suto Lan dan ayah angkatnya berangkat, mereka mengembalikan keadaan seperti asal mulanya, se-olah2 tempat ini lama tidak digunakan.
Rencana pembunuhan Yen Siu Lan untuk membuat air keruh, menarik kekuatan Siauw-lim-pay, Ngo-bie-pay dan Benteng Penganungan Jaya untuk menggencet Kang Han Cing.
Tentu saja harus membuat situasi yang sempurna harus memaksa Kang Han Cing mempernahkan diri agar tergencet keluar, dan menyerah kepada Perintah Maut.
Nah !
Disini letak kepintaran rombongan Perintah Maut.
Bisakah Kang Han Cing yang mengadakan pembelaan dan mengatakan kepada Put-im Suthay membuktikan kalau ia telah ditawan dalam gedung ini.
Siapa yang percaya kalau menyaksikan keadaan gedung itu seperti keadaan sudah lama tidak terpakai?
Kang Han Cing mengertek gigi, golongan Perintah Maut dengan fakta2 yang seperti itu telah menjerumuskan dirinya kedalam lembah kenistaan.
Bagaimana Put-im Suthay dan kawan2 bisa percaya kepada keterangannya?
Dengan bukti2 yang ada itu?
Disaat Kang Han Cing sedang berdaya upaya untuk memecahkan problim yang sulit itu, telinganya yang tajam dapat menangkap suara sesuatu, itulah suasa kiplikan sayap burung.
Betul saja !
Seekor burung merpati baru saja berjalan dan mengibrik2kan kedua sayapnya dengan maksud terbang pergi.
Kang Han Cing melejit, tangannya diraihkan, gerakan si pemuda lebih cepat lagi dari pada gerakan burung itu, baru saja burung merpati melayang terbang, kecepatan tangan Kang Han Cing menyusulnya, meraih dan berhasil menangkap kaki burung tersebut.
Dengan membawa burung merpatinya, Kang Han Cing memperhatikan baik2.
Betul saja, dugaannya tidak salah, pada ujung kaki sang burung terikat sebuah tabung kecil, didalam tabung terdapat gulungan kertas.
Dan ketika Kang Han Cing membuka kertas tadi, terbacalah tulisan yang berbunyi seperti ini.
"Sebelum jam lima pagi, dengan mengajak semua anak buah, harus berkumpul di puncak Tay-biao-hong."
Tidak ada tanda tangan, dan juga tidak ada identitas, pada ujung surat itu hanya ada sebuah tanda code merah.
Kang Han Cing menggunakan otaknya mengilmiah kejadian itu, ternyata ayah angkat Suto Lan telah memberi perintah kepada rombongan yang berada di gedung ini, agar mereka bisa berkumpul di puncak Tay biao-hong sebelum hari menjadi pagi.
"Tay-biao-hong !"
Kang Han Cing meng-ingat2 nama ini.
Dimanakah letak Tay-biau hong ?
Ia harus bisa tiba dipuncak Tay biao-hong sebelum jam lima pagi mengikuti jejak mereka dan mencari tahu keadaan mereka.
Karena adanya penemuan yang seperti itu tubuh Kang Han Cing melejit dan meninggalkan gedung Liong-tan.
Baru saja Kang Han Cing lompat turun dari tembok gedung, baru saja ia meletakkan kakinya di semak2 pohon, daya tangkap pendengarannya yang lihai segera tahu bahwa ada sesuatu pendatang baru.
Karena itu cepat2 bersembunyi, dengan menahan napasnya memperhatikan keara pendatang2 baru itu.
Betul saja !
Lima bayangan meluncur dengan kecepatan kilat, sebentar kemudian sudah berada tidak jauh dari Kang Han cing berada.
Rombongan itu menghampiri gedung Liong-tan, orang yang berada di paling depan adalah Put-im Suthay, kemudian Ciok Beng taysu dan Ciok Sim taysu, dua lagi adalah Yen Siu Hiat dan Liauw In nikouw.
Mereka tidak segera memasuki gedung Liong-tan, memperhatikan gedung dalam malam gelap itu.
"Heran !"
Terdengar suara Ciok Sim taysu.
"Kalau saja ada orang didalam gedung tentunya mereka membuat kesiap siagaan, mengapa begitu sunyi ?"
Terdengar Put-im taysu berkata.
"Mengapa Ciok-sim taysu percaya kepada obrolan si Maling tukang petik daun muda itu ? Menurut hematku, berita ini hanya isapan jempol. Didalam gedung tidak ada orang."
Ciok Sim taysu berkata.
"Mari kita masuk kedalam, kita saksikan apa yang ada disana."
Dengan dingin Put-im suthay berkata .
"Tentu saja harus masuk ke dalam."
Kang Han Cing berkerut alis.
Kedatangan rombongan Put-im suthay ditempat ini akan lebih mempersulit kedudukannya.
Kalau saja dirinya dipergoki, apa yang hendak dikatakan kepada mereka ?
Rasa takut Kang Han Cing itu membuat ia gelisah.
Dan Ciok Beng taysu memang lihay, ia bisa menangkap adanya tanda2 yang mencurigakan dibalik semak2 pohon itu, terdengar Ciok Beng membentak.
"Siapa !?"
Mengetahui jejaknya sudah didengar orang, Kang Han Cing melejitkan kaki.
Tanpa menolehkan kepala, menggunakan segala kesempatan yang ada, Kang Han Cing meninggalkan gedung Liong-tan menuju ke arah puncak Tay-biao-hong.
Puncak Tay biao-hong adalah tempat yang ditunjuk oleh pimpinan Perintah Maut kepada rombongan Suto Lan.
Kang Han Cing harus menyelidiki tempat tersebut.
Kecepatan lari Kang Han Cing lebih cepat dari seekor burung, begitu bentakan Ciok Beng taysu dicetuskan, secepat itu pula tubuhnya terbang.
Manakala rombongan Put-im taysu dan kawan2 sadar akan kekurangannya, bayangan tadi sudah meluncur jauh.
Tidak bisa dikejar lagi.
Put-im suthay, Ciok Sim taysu dan Ciok Beng taysu tidak membikin pengeyaran.
Disebabkan karena.
Kesatu, mereka hendak menyelidiki gedung Liong-tan dari perusahaan Cen-yen piauwki.
Kedua, gerakan Kang Han Cing terlalu gesit, mereka tidak mengetahui siapa orang itu.
Ketiga, walaupun mereka mengejar, dengan kegesitan demikian itu tidak mungkin dicapai, karena itulah mereka membiarkan kepergian Kang Han Cing, walaupun dengan rasa penuh kemasgulan dan tidak puas.
Kang Han Cing berhasil menghindari kerewelan.
Put-im suthay dan kawan2, walau pertemuan itu terjadi, tokh mereka tidak bisa mengenali wajahnya, mengingat ia telah menggunakan kedok kulit muka pemberian Tong Jie Peng.
Yang penting, ia harus segera berada di puncak Tay-biao-hong.
Menyelidiki jejak golongan Perintah Maut.
Dengan kecepatan lari Kang Han Cing, sebentar kemudian ia sudah berada dibawah gunung Tay-biao-hong.
Puncak Tay-biao-hong bukanlah daerah sempit, sangat luas dan banyak pepohonan, di sini Kang Han Cing mengalami kesulitan pula, kemana ia harus mencari tempat yang dituju?
Tiba2....
Dari jauh tampak bayangan bergerak dengan cepat menaiki puncak Tay-biao-hong.
Kang Han Cing menduga kepada anak buah Perintah Maut.
Karena itu cepat2 ia bersembunyi.
Betul saja !
Orang2 yang datang adalah orang2 berseragam baju hijau, dibawah pimpinan seorang yang juga mengenakan pakaian hijau, menggunakan tutup kerudung hijau.
Semua orang menggunakan tutup kerudung muka, maka tidak bisa menyaksikan wajah2 mereka.
Gerakan rombongan dari orang2 berbaju hijau sungguh gesit, sebentar kemudian mereka lewat di muka tempat sembunyi Kang Han Cing.
Hampir Kang Han Cing berteriak girang, ia segera menduga kepada lengcu Panji hijau.
Ternyata lengcu Panji Hijau mendapat tugas untuk berkumpul di puncak Tay biao hong, bertemu dengan pimpinan2 tertinggi mereka.
Sebentar kemudian iring2an lengcu Panji Hijau itu sudah melewati tempat sembunyinya.
Jumlah mereka 24 orang, semua berseragam hijau.
Gerakan mereka sangat cekatan, tapi tidak menimbulkan banyak suara.
Menunggu sampai sembilan belas orang itu lewat Kang Han Cing mendekati orang yang berjalan paling terakhir, dengan gerak kaki yang tiada tara ia menubruk dan menotok.
Tanpa bisa dielakan, menyeret orang tersebut ke balik semak2, cepat2 ia menerotoli pakaian orang itu, membuka tutup kerudung lalu dipakainya sendiri.
Iring2an itu mempunyai tugas penting, mereka bergerak tanpa menoleh kanan dan kiri, mereka bergerak cepat, mereka tidak mengetahui kalau salah satu anggotanya telah dipereteli orang.
Sesudah selesai mengenakan pakaian hijau dan berkerudung hijau, Kang Han Cing lari menyusul.
Ia mengikuti iring2an itu.
Orang2 itu berada dibawah pimpinan lengcu Panji Hijau, mereka bergerak cepat tanpa menengok kanan dan ke kiri, ter-lebih2 tidak pernah menengok ke belakang.
Hal ini memudahkan Kang Han Cing melakukan penggantian orang.
Belasan lie dilewatkan, mereka melewati dua puncak, di suatu pohon yang agak besar, lengcu Panji Hijau memperlambat langkahnya.
Ternyata semua anak buah itu turut berhenti, semua berbaris rapi, menunggu perintah lengcu Panji hijau.
Lengcu Panji Hijau menyapu kepada anak buahnya, sinar matanya melewati lubang yang berada pada tutup kerudung itu, ia memperhatikan kesemua anak buahnya, se-olah2 menghitung jumlah yang datang.
Tampak ia sangat puas, menganggukkan kepala dan berkata.
"Nah ! Kita istirahat disini."
Suara itu adalah suara seorang wanita, suara yang tidak asing bagi Kang Han Cing, itulah suara si gadis berbaju hijau Suto Lan !
Ternyata lengcu Panji Hijau adalah Suto Lan !
Semua anak buah Suto Lan berdiri tegak, siapapun tidak berani banyak bersuara.
Kang Han Cing turut diantara rombongan itu, dia juga tidak berani berteriak.
Lengcu Panji Hijau Suto Lan celinguk ke kanan dan celinguk ke kiri, se-olah2 menunggu sesuatu.
Beberapa waktu dilewatkan, jauh didepan rombongan itu tampak cahaya sinar hijau.
Cahaya lampu hijau itu bisa dilihat oleh Suto Lan, ia mengulapkan tangan memberi komando dan menggerakan pula pasukannya, mereka menuju ke arah cahaya lampu.
Cahaya lampu hijau seperti lampu bantu, menuntun rombongan dari lengcu Panji Hijau dan dua puluh empat orang itu secara berbaris rapi, menuju kearah puncak.
Sebentar kemudian mereka telah berada diatas puncak Tay-biao-hong.
Dan lampu hijau itupun padam tiba2.
Lengcu Panji Hijau Suto Lan menghentikan langkahnya, diikuti oleh anak buahnya.
Semua berbaris kembali.
Rombongan orang2 berbaju hijau kini sudah berada di depan sebuah bangunan yang berbentuk kelenteng dikelilingi oleh pohon2 yang seperti pohon cemara.
Angin men-deru2 diatas puncak Tay-biao hong, malam masih gelap pekat.
Tiba2 terdengar suara bentakan, dibarengi dengan munculnya seseorang.
"Ada membawa tanda pengenal ?"
"Pengenal Panji Hijau,"
Jawab Suto Lan dan menyerahkan sesuatu kepada orang itu.
Karena semua orang mengenakan pakaian serba hijau dan mengenakan tutup kerudung muka, kemisteriusan ini semakin bertambah, mereka hanya membutuhkan tanda pengenal dan tidak memperlihatkan wajahnya.
Sesudah memeriksa tanda pengenal Panji Hijau, orang itu bertanya lagi.
"Berapa orang yang dibawa?"
"Jumlah anggota Panji Hijau berjumlah duapuluh tiga orang."
"Baik."
Berkata orang itu.
"masuk !"
Maka iring2an duapuluh tiga orang panji hijau, satu persatu memasuki bangunan kelenteng.
Kang Han Cing adalah orang yang terakhir memasuki bangunan tersebut, melewati pelataran yang luas, melewati pohon2 yang ditanam dalam bangunan itu, akhirnya tiba diruangan bangunan dalam, disana terdapat jalan2 batu menuju ke ruangan besar.
Untuk masuk ke tempat ini bukanlah suatu yang mudah, empat orang berseragam yang juga mengenakan tutup kerudung muka, memeriksa dan meneliti, se-olah2 menghitung jumlah yang dibawa oleh Suto Lan.
Memeriksa tanda2 pengenal yang tergembol pada pinggang masing2, dan kedua puluh empat orang itu bebas untuk masuk ke dalam ruang besar.
Beruntung Kang Han Cing tidak melempar sesuatu dari pakaian orang yang disergapnya, ia mencopot pakaian orang itu dan mengenakannya semua, terdapat juga tanda pengenal yang berada dipinggang.
Ia lolos ujian.
Sesudah memasuki ruang besar itu, dari lubang tutup kerudung mukanya, Kang Han Cing bisa menampak dua barisan yang sudah berada disana.
Barisan pertama adalah orang2 yang mengenakan pakaian seragam berwarna merah, berpakaian merah dan berkerudung merah.
Tentunya lengcu Panji Merah.
Barisan lainnya adalah orang2 yang mengenakan pakaian serba putih berkerudung putih, tentunya lengcu Panji Putih.
Baru sekarang Kang Han Cing sadar, bukan saja ada lengcu Panji Hijau, lengcu Panji Hitam, juga tersedia lengcu Panji Putih dan Lengcu Panji Merah.
Kini rombongan Suto Lan dengan Panji hijaunya berdiri berbaris diantara kedua barisan yang sudah ada.
Jauh didepan ketiga barisan itu terpasang empat lilin besar, menerangi ruangan disana.
Tiga kursi kebesaran terpasang pada panggung, kursi2 itu tersedia untuk para pemimpin Perintah Maut.
Kang Han Cing memasang mata lebar, dari ketiga kursi hanya satu yang terisi seorang tua berhidung bengkung duduk pada kursi di sebelah kiri.
Itulah ayah angkat Suto Lan.
Dan kedua kursi lainnya masih kosong.
Suatu tanda kalau pimpinan tertinggi dari Perintah Maut belum datang.
Barisan Panji Hijau, Panji Putih dan Panji Merah masih menunggu kehadiran sang pemimpin.
Tidak seorangpun yang bersuara.
Beberapa waktu lagi, terdengar suara derap kaki banyak orang memasuki ruangan besar, yang datang adalah rombongan berbaju hitam, juga berkerudung hitam, itulah barisan dari Panji Hitam.
Seperti juga barisan Panji Hijau, barisan Panji Hitam mengikuti garis2 yang sudah ditentukan, menanti disana.
Empat barisan dengan empat warna seragam berdiri didepan ayah angkat Suto Lan, orang tua ini menjadi pimpinan sementara untuk golongannya.
Setengah jam kemudian...
Dari luar kelenteng terdengar suara berteriak.
"Bikin penyambutan atas kedatangan Sam-kiongcu."
Maka semua orang berdiri dengan lebih tegap, ayah angkat Suto Lan juga meninggalkan tempat duduknya menyambut didepan.
Dari depan kelenteng berjalan datang memasuki ruangan empat dayang perempuan, dua dikanan dan dua dikiri, masing2 menenteng lampu gantung, per-lahan2 mendekati tempat yang tersedia.
Di-tengah2 empat dayang perempuan itu berjalan seorang berkerudung berbaju hijau, orang ini lebih aneh lagi, mukanya tidak tertutup oleh kerudung hijau, tapi menggunakan topeng perunggu yang berwarna hijau.
Semua orang membungkukkan badan, tidak berani memandang kehadirannya si orang bertopeng perunggu hijau.
Itulah Sam-kiongcu !
Kang Han Cing juga tidak berani memandang terlalu lama, mengikuti gerakan semua orang, ia membungkukkan badan, matanya masih bisa melirik kearah si gadis bertopeng perunggu, orang yang mempunyai kedudukan lebih tinggi dari pemimpin Perintah Maut itu.
Badan orang tadi tidak tinggi, tapi gerakannya sangat cekatan, topeng perunggu berwarna hijau itu sangat menakutkan, se-olah2 hantu jejadian.
Dan dibelakang orang bertopeng perunggu hijau turut seorang kakek berpakaian putih tapi tidak mengenakan tutup kerudung muka, dari cara2nya dan sinar mata orang itu membuktikan bahwa ia memiliki sifat2 yang ganas.
Ayah Suto Lan segera memberi hormat kepada si topeng perunggu hijau dan berkata .
"Hamba memberi hormat kepada Sam-kiongcu."
Orang bertopeng perunggu hijau membalas hormat itu dengan setengah bungkukkan badan, ia berkata.
"Suto pangcu tidak perlu menggunakan banyak peradatan."
Suara si topeng perunggu hijau sangat garing dan merdu, itulah suara seorang gadis yang baru meningkat dewasa.
*** Bab 35 TERNYATA pucuk pimpinan tertinggi dari Perintah Maut adalah seorang gadis cantik, belia, seorang gadis yang mengenakan topeng menutupi wajah cantiknya, topeng perunggu berwarna hijau yang sangat menakutkan !
Ayah angkat Suto Lan menoleh kearah orang tua berbaju putih, ia juga memberi hormat.
"Oh! Kwee hu-huat juga turut serta?"
"Sama2."
Orang tua berbaju putih yang dipanggil Kwee hu-huat itu membalas hormat ayah angkat Suto Lan. Dari percakapan mereka, Kang Han Cing berpikir .
"Si kakek yang baru datang berkedudukan hu-huat, ayah angkat Suto Lan berkedudukan pangcu, tapi kedudukan mereka hampir seimbang."
Maka si topeng perunggu hijau Sam-kiongcu duduk di-tengah2 diapit oleh Suto Cang dan dua orang tua berbaju putih yang dipanggil Kwee hu-huat itu.
Suto Cang adalah ayah Suto Lan.
Empat dayang gadis berdiri dibelakang mereka.
Kini terdengar suara pangcu Perintah Maut Suto Cang berkata .
"Suto Cang tidak tahu atas kedatangan Sam-kiongcu, maaf atas penyambutan yang kurang sempurna."
Si topeng perunggu hijau berkata.
"Tahukah tancu apa maksud undangan ke tempat ini?"
"Hamba belum tahu,"
Jawab Suto Cang.
"Aku mendapat tugas dari Toa kiongcu...."
Berkata si kerudung topeng perunggu hijau.
"Oh...."
Orang tua berbaju hijau, ayah angkat Suto Lan yang bernama Suto Cang memandang dengan sinar penuh tanda tanya.
"Oh..."
Kang Han Cing juga mengeluh. Ternyata Sam Kiongcu bukan pimpinan tertinggi. Diatasnya masih ada seseorang yang bernama Toa Kiongcu ! Sam-kiongcu berkata lagi .
"Toa kiongcu menganggap usaha Suto pangcu sangat berat. Selama setahun tugas telah dilaksanakan dengan baik. Karena itu aku mengucapkan banyak terima kasih."
Dan sesudah itu, dari dalam saku bajunya Sam kiongcu mengeluarkan sepucuk surat, diserahkan kepada Suto Cang dan berkata .
"Petunjuk2 berikutnya dari Toakongcu berada disini, silahkan Suto pangcu membaca sendiri."
Suto Cang sangat menghormat kepada Sam kiongcu, dengan kedua tangan menyambut surat tadi, per-lahan2 mengambil isi dan membaca, wajahnya segera berubah, membungkukkan badan dan berkata.
"Hamba akan segera menjalankan perintah."
Mengikuti pembicaraan mereka sampai disini, Kang Han Cing mendapat gambaran yang lain, gambaran dari seluk beluk perkumpulan rahasia yang berada didepannya.
Ketua Perintah Maut bernama Suto Cang !
Perintah Maut masih bernaung di bawah lain kekuasaan yang lebih besar.
Itulah kekuasaan Sam Kiongcu dan Toa Kiongcu.
Siapa Toa Kongcu dan siapa Sam kiongcu?
Organisasi apa lagi yang bisa mengendalikan Perintah Maut dengan Empat Panji Berwarnanya.
Ayah Suto Lan yang bernama Suto Cang mendapat tugas ditempat ini, dan kini mendapat perintah baru dari pimpinan Toa-kiongcu.
Perintah apakah itu?
Kang Han Cing memasang kuping lebih panjang.
Terdengar lagi suara si topeng perunggu hijau Sam-kiongcu berkata.
"Toa kiongcu sangat percaya kepadamu. Karena itu ia memberi tugas rangkap sebagai pimpinan daerah Kang-lam. Hanya sifatnya sementara, sekarang tugas Suto pangcu masih dibutuhkan di pusat, Toa kiongcu masih mengharapkan kehadiranmu. Disana masih ada tugas2 baru."
Terjadi pergeseran mutasi kekuasaan.
Pengambil alihan kekuasaan !
Kang Han Cing masih berpikir2, pimpinan tertinggi daerah sini adalah Suto Cang.
Sesudah Suto Cang digeser pergi, siapa yang menggantikan kedudukannya ?
Bisakah Suto Cang menerima begitu saja?
Tanpa pertempuran?
Tanpa pengorbanan berdarah?
Ketua Perintah Maut Suto Cang mengangkat kepala.
"Baik."
Ia berkata.
"Hamba segera menyalankan perintah."
Dia rela menyerahkan kekuasaan. Sam-kiongcu bangkit dari tempat duduk, ia berkata .
"Biar kuantar Suto pangcu ke markas besar."
"Terima kasih."
Berkata Suto Cang.
Sesudah itu, lagi2 ia memberi hormat, lalu mengundurkan diri.
Disaat yang sama, pengawal pribadi Sam kiongcu, seorang tua berbaju putih yang dipanggil Kwee hu-huat bangkit dari tempat duduknya, ia memberi komando kepada semua orang .
"Semua anak buah Perintah Maut berdiri tegak !"
Maka semua orang yang berada di tempat itu menghormati pengunduran diri Suto Cang.
Keempat pimpinan panji berwarna, panji merah, panji putih, panji hijau dan panji hitam turut mengantar Suto Cang sehingga di luar.
Sesudah ketua Perintah Maut Suto Cang meninggalkan ruangan itu, para pemimpin panji kembali ke tempatnya lagi.
Si topeng perunggu duduk kembali ditempat kursi kebesarannya, memandang kepada keempat barisan panji2.
Sesudah itu ia menoleh ke belakang, membisiki sesuatu kepada salah satu dayang perempuannya.
Maka dayang perempuan itu tampil kedepan, ia memberi komando.
"Sam-kiongcu mempersilahkan lengcu Panji Merah tampil ke depan."
Lengcu Panji Merah mengiakan perintah tersebut, berjalan beberapa tapak, memberi hormat dan berdiri dihadapan si topeng perunggu hijau.
"Teecu memberi hormat kepada Sam susiok."
Demikian ia berkata.
Lengcu Panji Merah menjadi keponakan murid si topeng perunggu hijau Sam-kiongcu ?
Inilah rahasia baru.
Rahasia yang Kang Han Cing baru saja ketahui.
Terdengar suara Sam-kiongcu yang sangat dingin .
"Bangun !"
Lengcu panji Merah itu bangkit, siap menerima petuah2. Sam-kiongcu berkata .
"Ceritakan keadaan di Datuk timur." *** Bab 36 NAH ! UPACARA MULAI menyingkap tabir-tabir yang lebih misterius. Kang Han Cing memasang kuping lebih tajam. Datuk Timur, bernama Sie See Ouw, kedudukannya seimbang dengan Datuk Selatan dan Datuk Utara. Terdengar suara si Lengcu Panji Merah dari balik kerudung mukanya.
"Datuk Timur Sie See Ouw menutup pintu. Tidak menerima tamu. Mengurung dirinya membuat lingkungan kecil. Sebulan sekali mengadakan pembelian barang-barang makanan, sesudah itu mengurung diri dalam perkampungan Sie pula. Tidak pernah keluar, dan tidak berhubungan dengan dunia luar......"
Sam kiongcu berkata .
"Lebih singkat lagi !"
Lengcu Panji Merah menyambung laporannya yang terputus tadi .
"Dari keempat Datuk Persilatan, hanya datuk timur Sie See Ouw yang sulit dijejaki. Menurut cerita orang, Sie See Ouw sangat mahir didalam bentuk2 bangunan, kampungnya dipagari dengan barisan2 tin. Karena itulah, Suto pangcu pernah memberi instruksi agar kita bisa menyelaminya. Agar......."
"Huh !"
Sam kiongcu mengeluarkan suara dengusan dari hidung.
"Inilah rencana Suto pangcu yang salah. Terlalu yakin dan percaya kepada kekuasaan Datuk Timur. Tapi terlalu ber-hati2, karena itu kita memutasikan dirinya, kau sebagai murid tertua dari partai Ngo-hong-bun tentunya mengerti kesulitan2 kita, kalau saja tidak bisa menyelidiki benih2 empat Datuk Persilatan, kalau saja tidak bisa menguasai keempat Datuk2 itu, tidak mungkin kita bisa menguasai daerah Tiong-goan."
Lain rahasia baru.
Lengcu Panji Merah adalah murid tertua dari partai Ngo-hong-bun.
Kekuatan yang mendalangi Perintah Maut adalah Partai Ngo hong-bun !
Golongan Perintah Maut adalah golongan dari suatu organisasi yang dibangun oleh partai Ngo-hong-bun.
Kang Han Cing bergumam seorang diri.
"Ternyata mereka adalah anak buah partai Ngo-hong-bun. Mereka ingin menguasai empat datuk persilatan? Wah ! Betul2 mereka mempunyai hasrat2 yang tidak baik."
Lengcu panji Merah menundukkan kepala. Dengan wajah topeng perunggu hijaunya, Sam kiongcu memancarkan kilatan cahaya mata, ia bertanya kepada lengcu Panji Merah.
"Berapa lama waktu yang kau butuhkan ?"
Lengcu Panji Merah semakin gugup, ia berkata .
"Teecu telah ber-siap2 lama, mempernahkan orang2 pada toko dan orang2nya yang menjadi relasi datuk timur, begitu orang mereka mengadakan kontak, kita bisa memasuki perkampungan Datuk Timur, tapi........"
"Tapi apa hasilnya ?"
Sam kiongcu memotong pembicaraan orang.
"Kapan kau bisa berhasil? Terlalu lambat ! Tidak mungkin. Toa Kiongcu memberi intruksi baru. Bereskan saja siapa yang tidak bisa kita gunakan. Siapa yang tidak bisa dirangkul menjadi kawan, itulah lawan ! Kepada lawan kita tidak perlu sungkan2 lagi, bunuh saja ! Beres ! Perkampungan Datuk timur mempunyai kekuasaan apa ? Kuberi jangka waktu sebulan untuk membikin pemberesan. Hancurkan kampung Datuk Timur."
Lengcu Panji Merah membungkuk setengah badan, ia menerima perintah itu.
"Baik !"
Si topeng perunggu hijau Sam-kiongcu mengibaskan tangan.
"Nah ! Kau boleh mengundurkan diri."
Ia memberi perintah.
Lengcu Panji Merah mengundurkan diri, balik ke barisannya.
Berdiri dihadapan anak buah berseragam dan berkerudung merah.
Sam-kiongcu, menoleh kearah dayang perempuannya yang menjadi protokol dan dengan cara itu ia berkata perlahan.
Dan dayang perempuan ini segera berteriak kearah keempat barisan .
"Dipersilahkan Lengcu Panji Putih menghadap."
Lengcu Panji Putih meninggalkan rombongan, memberi hormat kepada Sam-kiongcu. Si topeng perunggu hijau Sam-kiongcu menatap Lengcu Panji Putih itu, ia berkata .
"Bagaimana keadaan didatuk barat ?"
Dengan hormat dan patuh, lengcu Panji Putih memberi laporan.
"Datuk Barat Cin Jin Cin mengurung diri didalam benteng Penganungan Jaya. Tiga tahun yang lalu Cin Jin Cin meninggalkan benteng dan melenyapkan diri, entah kemana kepergiannya. Demikian sehingga hari ini. Belum ada berita tentang ketua benteng itu. Semua kekuasaan dipegang oleh si Hakim bermuka merah Yen Yu San.."
Dengan sikap yang tidak sabaran, Sam-kiongcu membentak .
"Cukup ! Aku tidak membutuhkan keterangan panjang lebar. Hendak kuketahui, bagaimana hasil tugasmu?"
Lengcu Panji Putih berkata.
"Karena kekuasaan Datuk Barat ditangan si hakim bermuka merah Yen Yu San, Suto pangcu tidak berani bergerak banyak. Teecu diperintahkan untuk membawakan sikap yang lebih ber-hati2, menurut info yang kita dapat, Yen Yu San memiliki ilmu silat yang tinggi dan mempunyai hubungan baik dengan Ngo-bie-pay dan Siauw-lim-pay, maka sesudah terjadi perundingan, Suto pangcu juga setuju, kalau...."
"Mengulur waktu ?"
Potong Sam-kiongcu dingin. Lengcu Panji Putih menganggukkan kepala dan berkata .
"Panji Putih memberi usul lain,"
Berkata lengcu panji itu.
"Dan juga telah disetujui oleh Suto pangcu. Rencana ini mengikuti perkembangan didaerah kita. Seperti apa yang kami ketahui, ilmu kepandaian Kang jiekongcu dari Datuk Selatan terlalu tinggi, karena itu kita bisa menggunakan tenaganya menghancurkan Datuk Barat. Sehingga mereka saling gebrak, inilah yang dinamakan tipu muslihat melempar batu berpeluk tangan. Sesudah mereka terjadi saling bentrok, maka hasil dari melempar batu sembunyi tangan ini lebih baik dari pada langsung bergebrak. Lebih mudah memancing diair keruh."
Baca Juga: Sakit Hati Seorang Wanita Kho Ping Hoo
Baca Juga: Si Rajawali Sakti 3