Ceritasilat Novel Online

Pendekar Pemanah Rajawali 8

Eps 8 Pendekar Pemanah Rajawali - Jin Yong

Baca online Pendekar Pemanah Rajawali - Jin Yong

Cersil Pendekar Pemanah Rajawali - Jin Yong.

Segera ia lompat mundur.

"Sudah aneh yang ia tahu aku bakal menyerang, tetapi sekarang ia malah dapat mendahulukan aku, inilah terlebih aneh pula…."

Berpikir anak muda ini. Ia lantas menyerang untuk ketiga kalinya dan dengan "Hang Liong Ya Hui"

Atau "Naga Menyesal", pukulannya yang paling lihay. Kembali terdengar suara "Ser"

Seperti tadi, kembali tangan berkuku dari Tiauw Hong sudah menyambar ke lengan penyerangnya. Pengalaman membuat Kwee Ceng cerdik. Ia menduga kepada suara "Ser"

Itu.

Ia lalu menyerang pula untuk keempat kalinya, sembari menyerang ia melirik kepada si orang berbaju hijau itu.

Sekarang ia melihat nyata orang menyentil sebutir batu kecil, batu mana meleset ke udara, suara ser-nya terdengar pula.

"Ah, benar-benar dialah yang memberi petunjuk!"

Pikirnya.

"Hanya kenapa ia kenal ilmu silatku ini? Kenapa ia ketahui ke mana tinjuku bakal menuju…?"

Ia berpikir terus, hingga ia ingat.

"Ya, aku ingat sekarang. Tempo hari Yong-jie bertempur sama Nio Cu Ong, Ang Cit Kong saban-saban memecahkan dulu rahasia pukulannya Cu Ong itu, sekarang orang itu menggunai cara itu…. Baiklah setelah limajurus, aku mengaku kalah…."

Pertempuran itu berlangsung terus, selalu Kwe Ceng menjadi pihak si penyerang.

Kemudian terdengar tiga kali suara ser-ser, ialah sentilannya si baju hijau, atas itu, dari pihak diserang, Tiauw Hong berbalik menjadi pihak penyerang.

Tiga kali beruntun ia menyerang, Kwee Ceng bisa membebaskan diri, lalu dua kali ia membalas.

Sekarang para penonton pun dapat melihat si baju hijau itu memberi petunjuk kepada Bwee Tiauw Hong, mereka heran.

Pertempuran sendiri berjalan bertambah hebat, anginnya berdesir-desir, saban-saban dalam situ tercampur suara ser itu.

Oey Yong benar-benar cerdik, ia segera dapat memikir akal.

Dia-diam ia memungut hancuran bata, lantas ia menelad orang.

Ia berlaku licin, ialah ada kalanya ia menyerang ke udara, ke tempat kosong, di lain saat, ia serang lansung batunya si baju hijau.

Dengan ini ia hendak membikin kacau Tiauw Hong.

Tapi hebat si baju hijau, kapan batunya kena terpukul, batu itu justru mengasih dengar suara lebih nyaring, petunjuknya tidak terganggu.

Tuan rumah ayah dan anak dan Kanglam Liok Koay heran.

Kenapa sentilan itu demikian lihay?

Panah peluru pun tidak sehebat itu!

Bukankah celaka kalau orang kena tersentil?

Oey Yong berhenti mengacau, ia menjublak mengawasi si baju hijau.

Di gelangang pertempuran, Kwee Ceng sudah lantas kena terdesak, serangannya si Mayat Besi menjadi terlebih berbahaya.

Tiba-tiba ada terdengar dua suara nyaring, lalu terlihat dua butir batu menyerang ke udara -yang di depan rada kendor, yang di belakangnya lebih cepat, lantas yang di depan itu kena disusul, kena diserang, maka terdengarlah suara beradunya kedua batu itu, yang memancerkan lelatu api hancurannya terbang berhamburan.

Justru itu, Tiauw Hong lompat kepada lawannya untuk menubruk, sedang Kwee Ceng berlompat untuk menyingkir.

Sekonyong-konyong Oey Yong menjerit.

"Ayah!"

Lalu ia lari ke arah si baju hijau itu, yang ia terus tubruk untuk memernahkan diri dalam rangkulan orang itu. Ia menangis terus ketika ia berkata-kata.

"Ayah, kenapa, kenapa muka ayah berubah menjadi begini rupa…?"

Itulah kejadian diluar dugaan, karenanya si baju hijau itu berdiri menjublak Kwee Ceng lekas berpaling, ia dapatkan Tiauw Hong berdiri di hadapannya, kupingnya lagi dipasang untuk mendengari suara ser seperti tadi.

Inilah ketika baik, yang ia tak mau kasih lewat, maka ia ulur tangannya perlahan-lahan ke arah pundak wanita lihay itu.

Hanya ketika ia menepuk, ia menggunai tenaganya seluruhnya.

Ia menyerang dengan tangan kanan yang segera disusul dengan tangan kiri!

Tidak tempo lagi, Bwee Tiauw Hong roboh berjumpalitan, terus ia tebah, tak dapat ia berbangkit pula!

Seng Hong mendengar Oey Yong memanggil ayah, hanya sejenak ia berdiam, lalu ia menjadi kaget berbareng girang, sampai ia melupai kakinya yang sakit, ia mencelat dengan niat berlompat kepada si baju hijau itu.

Tapi celaka untuknya, ia terguling di tempat kosong.

Si baju hijau lantas merangkul Oey Yong dengan sebelah tangannya, tangannya yang lain dibawa ke mukanya, di situ ia menarik kulit mukanya, maka di lain saat ia telah memperlihatkan muka yang lain.

Nyatalah ia ada memakai topeng kulit yang tipis sekali.

Belum kering airmatanya Oey Yong atau ia berseru kegirangan, dia merampas topeng kulit itu untuk dipakai di mukanya, setelah mana ia merangkul pula ayahnya itu, sembari memeluki leher orang dia tertawa dan berjingkrakan.

Sebab baju hijau yang aneh kelakuannya, yang luar biasa sebat gerakan tubuhnya, adalah Oey Yok Su, tocu pemilik dari Tho Hoa To, pulau bunga Tho.

"Ayah, kenapa kau datang ke mari?"

Kemudian si anak menanya.

"Tadi si tua bangka she Kiu mencaci kau, kenapa kau tidak memberi hajaran padanya?"

"Kenapa aku datang ke mari?"

Balik menanya si ayah, romannya keren.

"Aku justru mencari kau!"

Oey Yong girang bukan kepalang.

"Ayah, maksud hatimu telah kesampaian!"

Serunya.

"Bagus! Bagus!"

Ia menepuk tangan.

"Maksud hati apakah?!"

Berkata si ayah.

"Apakah untuk mencari kau si budak!"

Oey Yong terharu hatinya.

Ia tahu ayahnya pernah mengangkat sumpah yang berat, ialah ayah itu telah mengambil ketetapan akan berdiam terus di Tho Hoa To untuk menyakinkan Kiu Im Cin-keng, supaya ia menjadi satu jago yang tak ada tandingannya di kolong langit ini, maka bukan main menyesalnya tempo ia mendapat kenyataan sebagian dari kitabnya itu dicuri Tan Hian Hong dan Bwee Tiauw Hong, keudua muridnya.

Tentu sekali dengan lenyapnya kitab itu menggagalkan peryakinannya.

Dalam murkanya ia bersumpah tidak akan meninggalkan pulaunya itu.

Tapi anak daranya itu nakal, anak itu buron, untuk mencari si anak, dia telah melangggar sumpahnya sendiri, dia meninggalkan pulaunya itu.

"Ayah,"

Berkata si anak kemudian.

"Ayah, selanjutnya aku akan menjadi anak yang baik, yang sampai matipun nanti mendengar katamu."

Mendapatkan putrinya tidak kurang suatu apa, Oey Yok Su sudha girang, sekarang ia mendengar janji anaknya itu, hatinya menjadi lega sekali.

"Kau pimpin bangun sucimu,"

Ia memerintahkan.

Oey Yong mengasih bangun pada Bwee Tiauw Hong.

Koan Eng pun segera mengangkat bangun pada ayahnya, untuk mereka berdua menagsih hormat kepada itu guru atau kakek guru.

Oey Yok Su menghela napas.

"Seng Honh, kau baik sekali, kau bangun,"

Katanya.

"Dulu hari itu aku sudah keburu nafsu, aku telah berbuat tidak pantas terhadapmu…."

Sang murid menangis sesegukan.

"Apakah guru baik?"

Tanyanya dengan susah.

"Syukur aku tidak mati karena orang membikin aku mendongkol,"

Sahut gurunya itu. Oey Yong memandang ayahnya, ia tertawa nakal.

"Toh ayah maksudnya bukan aku?"

Katanya.

"Kau pun termasuk sebagiannya!"

Kata ayah itu.

"Hm!"

Anak itu mengulur panjang lidahnya.

"Ayah, mari aku ajar kau kenal dengan beberapa sahabat!"

Katanya kemudian.

"Inilah Kanglam Liok Koay yang kesohor dalam dunia kangouw, merekalah gurunya engko Ceng."

Oey Yok membuka lebar matanya, ia tidak perdulikan Liok Koay.

"Aku tidak mau ketemu orang luar!"

Katanya kaku. Kanglam Liok Koay tidak puas untuk keangkuhan orang itu, tetapi karena orang terlalu besar namanya, mereka terpaksa berdiam. Kemudian Oey Yok Su berkata kepada anaknya.

"Kau ada barang apa hendak dibawa pulang! Pergilah lekas ambil, mari kita pulang bersama!"

"Tidak ada apa-apa,"

Sahut si anak tertawa.

"Ada juga hendak dipulangi kepada Liok Suko."

Ia merogoh sakunya, mengeluarkan obat Kiu-hoa Giok-louw-wan, yang ia terus angsurkan kepada Seng Hong. Ia kata.

"Suko, terimalah kembali obatmu ini. Tidak gampang untuk membikin ini, bersama engko Ceng aku telah menerima dua butir, itu pun sudah cukup, aku bersyukur sekali."

Seng Hong tidak menyambuti, ia hanya berkata pada gurunya.

"Hari ini teecu bertemu guru, hatiku girang bukan main. Obat ini hendka aku menghanturkan kepada suhu. Umpama suhu sudi berdiam di rumahku ini untuk beberapa waktu, aku terlebih-lebih…."

Oey Yok Su tidak menjawab, hanya ia menunjuk kepada Koan Eng.

"Inikah anakmu?"

Tanyanya.

"Ya,"

Sahut sang murid. Tanpa dititah lagi, Koan Eng memberi hormat pula dengan paykui empat kali seraya berkata;

"Cucu murid memberi hormat kepada sucouw!"

"Sudahlah!"

Kata kakek guru itu, ia bukannya memimpin orang bangun, ia justru menyambar ke punggung, mencekal bajunya, untuk mengangkat tubuhnya, lalu dengan tangannya yang lain ia memukul ke arah pundak.

Seng Hong kaget sekali.

"Suhu, inilah anakku satu-satunya…."

Ia kata. Hajaran Oey Yok Su ini membuatnya Koan Eng jumpalitan, terpelanting tujuh atau delapan tindak, lalu terjungkal.

"Kau baik,"

Ia terus berkata kepada muridnya.

"Kau tidak mewariskan kepandaiamu kepadanya! Adakah ia murid dari Hoat Hoa Cong?"

Hatinya Seng Hong lega. Ia tahu guru itu lagi menguji anaknya.

"Tidak berani teecu melanggar aturan suhu,"

Ia berkata cepat.

"Tanpa ijin dari suhu, tidak berani teecu mengajari kepandaian suhu kepada lain orang. Memang anak ini adalah muridnya Kouw Bok Taysu dari Hoat Hoa Cong…"

"Hm!"

Kata guru yang bengis itu.

"Kuow Bok dengan kepandaiannya semacam ini berani menyebutkan dirinya Taysu! Mulai besok kau sendiri yang mengajarkan anakmu ini!"

"Taysu"

Itu berarti guru besar. Bukan main girangnya Seng Hong.

"Lekas kau menghanturkan terima kasih kepada sucouw!"

Ia menyuruh kepada anaknya.

Koan Eng tahu diri, lekas-lekas ia memberi hormat pula, dengan berlutut empat kali lagi.

Oey Yok Su tidak melihat lagi kepada ini cucu murid, ia pun tidak memperdulikannya.

Melihat sikap gurunya ini, Seng Hong berdiam.

Sebenarnya ia girang bukan main.

Ia menyesal yang ia tidak dapat mengajari sendiri pada putranya ini, sampai ia kirim putranya itu pada lain guru.

Dengan tidak mewariskan kepandaiannya kepada anaknya, ia kecewa sekali.

Maka perkenanan suhunya ini membikin ia bersyukur.

"Siapa kesudian obatmu ini!"

Kata si guru, yang mendelik kepada muridnya.

"Kau ambillah ini!"

Oey Yok Su menggerakkan tangannya, dua lembar kertas putih lantas terbang ke arah muridnya itu.

Jarak di antara guru dan murid itu ada setombak lebih tetapi kertas itu melayang bagaikan layangan ke arah si murid, yang menyambutnya.

Menyaksikan itu, Kanglam Liok Koay kagum sekali.

Pun Oey Yong sangat puas.

"Engko Ceng, bagaimana kau lihat kepandaian ayahku ini?"

Ia berbisik kepada Kwee Ceng.

"Ayahmu hebat sekali,"

Sahut si engko Ceng itu.

"Yong-jie, kalau kau sudah pulang nanti, jangan kau termaha memain saja, kau mesti belajar dengan sungguh-sungguh."

"Kau toh turut bersama!"

Kata si nona, cemas hatinya.

"Mustahilkah kau tidak turut?"

"Aku hendak mengikuti suhuku,"

Sahut Kwee Ceng.

"Lewat sedikit waktu, aku akan pergi menjengukmu."

Oey Yong menjadi sangat gelisah.

"Tidak! Tidak!"

Katanya.

"Aku tidak mau berpisah denganmu!"

Kwee ceng menyeringai.

Sebenarnya ia pun berat akan berpisahan dari si nona.

Seng Hong sendiri lantas sudah membeber kertas yang ia sambuti itu, ia melihat banyak huruf-hurufnya.

Koan Eng lekas mengambilkanapi, untuk menyuluhi, maka ayahnya segera dapat kenyataan, itulah pengajaran ilmu silat.

Ayah ini pun masih mengenali tulisan tangan gurunya, yang sudha duapuluh tahun ia tak menampaknya.

Huruf-huruf gurunya itu masih tetap bagus dan keren.

Di lembar pertama, di sebelah kanan, yang paling atas, ada empat huruf "Sauw yap twie hoat".

Jadi itulah ilmu menendang.

Ia tahu, itulah ilmu yang bersama "Lok Eng Ciang"

Menjadi keistimewaan gurunya.

Dari enam murid, tidak ada satupun yang diwariskan ilmu itu.

Coba dulu ia dapatkan ilmu itu, alangkah girangnya, tetapi pun sekarang, ia pun sekarang masih bisa mengajari anaknya.

Maka ia simpan baik-baik kertas itu, kepada gurunya ia memberi hormat sambil menghanturkan terima kasih.

"Ilmu tendangan ini tidak sama dengan pengajaranku dulu, Oey Yok Su memberitahu.

"Jalannya mirip tetapi di mulai dengan latihan tenaga dalam. Kau menyakinkan ini sambil duduk bersemadhi, selang lima enam tahun, kau nanti dapat berjalan tanpa bantuannya tongkat!"

Seng Hong girang dan terharu, ia sangat bersyukur.

"Kakimu tidak dapat diobati lagi, bersilat di bawah pun kau tidak dapat,"

Berkata si guru itu.

"Tetapi jikalau kau bersungguh-sungguh mengikuti pelajaranku ini yang baru, kau nanti dapat berjalan tak sulit seperti orang yang kakinya tak bercacad. Ah…."

Ia menyesal yang dulu hari, karena menuruti hawa amarahnya, ia sudah siksa keempat muridnya tanpa mereka itu bersalah dosa.

Tapi dasar beradat keras, ia tidak sudi akui kekeliruannya itu.

Hanya ia memesan.

"Pergilah kau cari tiga adik seperguruanmu dan kau ajari mereka ilmu ini…"

Seng Hong menyahuti "ya", lalu ia menambahkan.

"Tentang sutee Leng Hong Kiok, tak pernah teecu mendengarnya. Tetapi kedua sutee Boe dan Phang, sudah lama mereka itu menutup mata…"

Oey Yok Su bersedih, lalu sinar matanya yang tajam itu beralih kepada Bwee Tiauw Hong. Lain orang melihat sinar mata itu, mereka terkejut. Syukur Tiauw Hong sendiri tidak melihatnya.

"Tiauw Hong!"

Berkata guru itu dingin.

"Kau sebenarny terlalu jahat, tapi kau juga telah menderita hebat. Tapi si tua bangka she Kiu ngoceh menyumpahi aku mati, kau mengucurkan air mata, kau juga hendak menuntut balas untukku, maka itu, dengan memandang beberapa tetes air matamu itu, suka aku membiarkan kau hidup lebih beberapa tahun lagi."

Tiauw Hong tidak menyangka gurunya dengan begitu gampang saja suka memberi ampun padanya, saking girang, ia lantas menjatuhkan diri ke tanah, untuk memberi hormat, buat menghanturkan terima kasih.

"Baik,baik,"

Kata guru itu yang dengan perlahan menepuk punggungnya tiga kali. Tiauw Hong merasakan sakit tidak terkira, hampir ia pingsan, dengan suara menggetar ia memohon.

"Suhu, teecu ketahui kedosaanku tak terampunkan, maka itu teecu mohon sekarang juga kau menghukum mati padaku, tetapi bebaskanlah teecu dari siksaan Hu-kut-ciam….."

Hu-kut-ciam itu adalah jarum rahasia yang ditusukkan ke tulang-tulang.

Tentang ini Tiauw Honjg pernah mendengar dariBtan Hian Hong.

Katanya itulah senjata rahasia guru mereka, bahwa asal tubuh lawan kena ditepuk perlahan, jarum itu akan masuk ke dalam daging dan nacap di sambungan tulang-tulang, sakitnya bukan main, sebab jarumnya dipakaikan racun.

Katanya pula, lambat jalannya racun itu, maka setiap hari enam kali orang akan tersiksa racun hebat, lalu selang lima bulan barulah sang kematian datang.

Semakin lihay ilmu silat orang, semakin hebat penderitaannya.

Mengetahui ini, Tiauw Hong berputus asa, maka itu habis mengeluh, mendadak ia menggeraki cambuknya buat menghajar kepalanya sendiri, untuk menghabiskan jiwanya.

Tapi Oey Yok Su sangat lihay, belum orang tahi apa-apa, cambuk itu sudah kena dia rampas.

Dengan dingin guru ini berkata.

"Kenapa tergesa-gesa? Untuk mati tidaklah gampang!"

Mendengar perkataan guru itu, Tiauw Hong menduga ia bakal disiksa, supaya ia menderita, karenanya ia menoleh kepada Kwee Ceng, samil tertawa meringis ia kata.

"Aku berterima kasih yang kau telah membunuh suamiku, dengan begitu lelaki busuk itu dapat kematiannya dengan enak sekali!"

Oey Yok Su tidak pedulikan apa yang muridnya itu bilang, ia hanya kata.

"Jarum Huu-kut-ciam ini baru bekerja sesudah lewat satu tahun, selama tempo satu tahun ini , aku berikan tiga macam tugas yang kau mesti rampungkan, habis itu kau boleh datang ke pulau Tho Hoa To untuk menemui aku, aku ada mempunyai daya untuk mencabut jarum itu."

Girang Tiauw Hng mendengar gurunya ini.

"Biar mesti menerjang api berkobar, teecu nanti lalukan titah suhu itu!"

Ia berkata. Tapi gurunya itu mengash dengar suara dingin sekali ketika ia berkata;

"Taukah kau apa yang hendak aku menitahkan kau melakukannya hingga kau dapat menerimanya begini cepat?"

Tiauw Hong tidak berani menyahuti, ia menunduk saja. Oey Yok Su segera memberitahukan tiga syaratnya itu.

"Yang pertama,"

Demikian katanya.

"Kiu Im Cin-keng yang kau bikin lenyap itu kau mesti cari dan mendapatinya kembali untuk dikembalikan padaku! Jikalau kitab itu dapat dilihat orang lain, dia mesti dibinasakan! Seorang yang melihat, seorang yang dibunuh, seratus orang melihat, seratus orang juga yang mesti dibunuh itu! Umapama kau cuma membunuh sembilanpuluh sembilan orang, jangan kau kembali padaku!"

Bergidik orang yang mendengar syarat itu. Kanglam Liok Koay berpikir.

"Orang menyebutnya Oey Yok Su sebagai Tong Shia, si Sesat dari Timur, kelakuannya ini benar-benar sesat sekali…."

"Sekarang yang kedua,"

Oey Yok Su berkata pula.

"Tiga saudaramu Boe, Phang dan Kiok telah menderita karena perbuatanmu, sekarang kau pergi cari Leng Hong, setelah itu kau cari tahu dua saudara Boe dan Phang itu ada mempunyai turunan atau tidak, semua turunan mereka itu kau bawa ke Kwie-in-chung ini, serahkan kepada Seng Hong, supaya ia yang mengurusnya."

Tiauw Hong memberikan janjinya.

Seng Hong pun berpikir, dapat ia berbuat untuk syarat yang kedua itu tetapi sebab ia kenal baik adat gurunya itu, ia berdiam saja.

Oey Yok Su angkat kepalanya mendongak ke langit, mengawasi bintang-bintang.

"Kitab Kiu Im Cin-keng itu kamulah yang mengambilnya sendiri,"

Ia berkata pula.

"Ilmu dalam kitab itu aku tidak mengajarkan kamu, kamu sendiri yang mempelajarinya. Kamu tahu apa yang harus kau perbuat?"

Ia berdiam sejenak.

"Nah, inilah yang ketiga."

Tiauw Hong tidak segera dapat menerk apa maksud gurunya, sekian lama ia berpikir keras. Akhirnya ia sadar juga. Maka dengar suara menggetar ia kata.

"Sesudah teecu berhasil membereskan yang pertama dan yang kedua itu, teecu ketahui bagaimana harus menghabiskan sendiri kedua ilmu Kiu Im Pek-kut Ciauw serta Cwie-sim-ciang yang teecu berhasil menyakinkannya. Kwee Ceng tidak mengerti, ia tarik tangan bajunya Oey Yong, dengan sinar matanya memain, ia tanya si nona. Oey Yong agaknya merasa berat tetapi dengan tangan kanannya ia membacok ke tangan kirinya. Melihat ini, pemuda itu mengerti, di dalam hatinya ia berkata.

"Oh, kiranya dia hendak mengutungi tangannya sendiri. Bwee Tiauw Hong ini memang jahat sekali, hanya setelah ia insyaf, kenapa ia mesti dihukum secara demikian hebat? Mesti aku minta Yong-jie memohonkan keampunannya…"

Tengah pemuda ini berpikir demikian, Oey Yok Su berpaling padanya seraya menggapaikan.

"Kaukah yang bernama Kwee Ceng?"

Ia menanya. Kwee Ceng segera maju untuk memberi hormatnya sambil menjura.

"Teecu Kwee Ceng menghadap Oey Locianpwee,"

Katanya hormat.

"Tan Hian Hong yang emnjadi murid kepalaku, kaulah yang membinasakan, kepandaianmu bukan main,"

Kata Oey Yok Su. Kwee Ceng terperanjat. Suara tak berkesan baik untunya. Tapi ia lekas menjawab.

"Ketika itu teecu masih muda sekali dan belum tahu apa-apa, teecu kena tertangkap oleh Tan Cianpwee, dalam ketakutan dan bingung, teecu kesalahan tangan telah membinasakan dia…."

"Hm!"

Oey Yok Su memperdengarkan suara yang dingin.

"Tan Hian Hong memang benar adalah murid murtad dari kalanganku, tetapi untuk membinasakannya, itulah hak kami. Apakah murid-murid dari Tho Hoa To boleh di bunuh orang luar?!"

Kwee Ceng tidak dapat menjawab, ia berdiam.

"Ayah,"

Oey Yong berkata.

"Ketika itu dia baru berumur enam tahu, tahu apa dia?"

Oey Yok Su tidak melayani putrinya itu, ia seperti tidak mendengar perkataan orang.

"Si pengemis tua she Ang itu biasanya tidak suka menerima murid,"

Katanya sejenak kemudian.

"Tetapi sekarang ia telah mengajarkan kau Hang Ling Sip-pat Ciang sampai limabelas jurus, itulah tentu kau ada punya sifat-sifat baik yang melebihkan lain-lain orang. Tidak demikian, pastilah kau sudah bujuk dia dengan akal apa, yang membuat hatinya girang, hingga ia suka menurunkan kepandaiannya itu. Kau telah menggunai kepandaiannya si pengemis tua untuk merobohkan -hm,hm! Kalau nanti si pengemis itu bertemu dengan aku, bukankah ia bakal banyak bacot?"

Kembali Oey Yong memotong perkataan ayahnya.

"Ayah, memang benar ada digunai bujukan!"

Katanya sambil tertawa.

"Tetapi bukannya dia yang mengakalinya, hanya aku! Dia seorang yang polos, jangan ayah berlaku galak dan membuatnya ketakutan."

Oey Yok Su tidak melayani gadisnya itu.

Sebenarnya semenjak istrinya menutup mata, ia sangat menyayangi gadisnya ini, karena itu anaknya menjadi termanjakan.

Demikian sudah terjadi, karena ditegur ayahnya, Oey Yong minggat.

Tadinya Oey Yok Su menyangka, sebagai seorang wanita, setelah buron, anaknya bakal menderita sekali, siapa tahu, anak itu sehat dan tetap manja seperti biasa.

Melihat anak itu agak rapat sekali pergaulannya sama Kwee Ceng, hingga seperti juga dia kurang rapat dengan ayahnya sendiri, ia tidak puas.

Maka itu, ia kata pula pada si anak muda.

"Dengan si pengemis tua mengajarkan kau ilmu silat, kau terang sudah dia menertawakan partaiku tidak ada orangnya, bahwa setiap muridku tidak punya guna…"

Oey Yong bisa menerka hati ayahnya itu, yang tidak senang Tiauw Hong kena dikalahkan dengan Hang Liong Sip-pat Ciang, kembali ia menyela.

"Ayah, siapakah bilang partai Tho Hoa To tidak ada orangnya? Dia ini beruntung sebab mata Bwee Suci buta! Nanti aku membikin ayah puas!"

Ia lantas lompat ke depan seraya berseru.

"Mari, mari! Nanti aku gunai kebisaan biasa saja yang ayah ajarkan aku melayani kepandaian istimewa Ang Cit Kong!"

Ia menantang Kwee ceng, yang ia tahu kepandaiannya sudah maju jauh sekali hingga hampir seimbang dengannya, kalau dalam beberapa puluh jurus mereka berdua bertanding seri, itu saja sudah cukup untuk membikin puas ayahnya.

Kwee Ceng dapat mengerti maskudnya si nona, justru Oey Yong tidak membilang suatu apa, ia menerima tantangan.

Tetapi ia kata.

"Biasanya aku aklah dari kau, baik aku membiarkan kau menghajar aku dengan beberapa gebukan lagi!"

Bahkan ia ayun tangan kanannya seraya berlompat maju.

"Lihat tanganku!"

Oey Yong pun berseru seraya ia membacok dengan tangannya.

Itulah bacokan dari samping, dengan satu jurus dari ilmu silat Lok Eng Ciang.

Kwee Ceng melayani dengan Hnag Liong Sip-pat Ciang, tetapi ia menyayangi Oey Yong, maka itu ia tidak berkelahi dengan sungguh-sungguh, di lain pihak, Lok Eng Ciang memangnya lihay, maka itu setelah banyak jurus, beberapa kali ia kena dihajar, malah untuk memuaskan ayahnya, si nona menggunai tenaga keras.

Oey Yong benari berbuat demikian karena ia tahu tubuh sahabatnya itu kuat.

"Kau masih tidak mau menyerah!"

Oey Yong berseru sambil ia menerjang tidak hentinya.

Kwee Ceng tidak menyahuti, ia hanya berkelahi terus.

Didesak, ia membela diri.

Disaat itu, mendadak Oey Yok Su mencelat ke arah mereka berdua.

Hebat gerakkannya itu, orang sampai tidak melihatnya, hanya tahu-tahu, kedua tanganya sudah diulur, dipakai menyambar masing-masing leher bajunya kedua bocah itu, lalu ia menggentak, melemparkan mereka itu.

Oey Yong disambar dengan tangan kiri, dia dilempar asal saja.

Kwee Ceng dicekal dengan tangan kanan, tangan itu dikerahkan tenaganya, maksudnya supaya si bocah roboh terbanting.

Kwee Ceng tidak berdaya atas sambaran itu, tubuhnya terlempar dingin kebelakang, akan tetapi ketika ia jatuh, kakinya turun lebih dulu, begitu kakinya itu mengenai tanah, ia seperti menancap diri, ia tidak roboh terguling.

Sebenarnya kalau bocah ini roboh dan mukanya babak belur atau ia tidak dapat bangun pula, itulah untungnya, tetapi sekarang, melihat ketangguhan kuda-kudanya itu, Oey Yok Su menjadi panas hatinya.

"Hai, kamu bermain sandiwara untuk aku menontonnya?!"

Dia berseru.

"Aku tidak mempunyai murid, mari, kau mencoba-coba menyambut kau beberapa jurus!"

Kwee Ceng terkejut, lekas-lekas ia menjura memberi hormat.

"Biarnya teecu bernyali sebesar langit, tidak nanti teecu berani melayani locianpwee,"

Katanya hormat.

"Hm, melayani aku!"

Kata Oey Yok Su tertawa dingin.

"Kau tidak tepat, bocah! Aku akan berdiri di sini tanpa bergerak, kau boleh menyerang aku dengan Hang Liong Sip-pat Ciang! Asal aku berkelit atau menangkis, hitunglah aku kalah!"

"Teecu tidak berani,"

Kwee Ceng berkata pula.

"Tidak berani kau juga mesti beranikan!"

Mendesak Oey Yok Su. Kwee Ceng menjadi serba salah.

"Kelihatannya tidak dapat aku tidak melayaninya,"

Pikirnya.

"Apa boleh buat. Dia tentu hendak meminjam tenagaku, untuk membikin aku roboh beberapa kali…?"

"Lekas kau menyerang!"

Oey Yok Su mendesak. Ia dapat kenyataan, walaupun bersangsi, orang sudah mempunyai niat.

"Jikalau tidak, aku akan menghajarmu!"

"Karena locianpwe menitahkannya, teecu tidak berani membantah,"

Menyahut Kwee Ceng kemudian.

Ia terus membungkuk seraya memutar tangannya melingkar.

Ia cuma memakai tenaga enam bagian.

Sebabnya ialah kesatu ia khawatir nanti melukai ayah kekasihnya itu dan kedua, umpama ia dibikin terjungkal, robohnya tidak hebat.

Ia menyerang ke dada.

Hanya aneh, ketika mengenai sasarannya, tangannya itu seperti licin, lewat dengan begitu saja.

"Apa? Kau tidak melihat mata padaku?!"

Menegur Oey Yok Su.

"Apakah kau takut aku tidak sanggup bertahan untuk pukulanmu? Benarkah?"

"Teecu tidak berani,"

Menyahut si anak muda.

Ia lantas menyerang untuk kedua kalinya.

Sekarang ia tidak menahan lagi tenaganya.

Serangannya itu dibarengi sama dikeluarkannya napas.

Dengan tangan kiri ia mengancam, dengan tangan kanan ia menyerang perut.

"Nah, inilah baru pukulan benar,"

Berkata Oey Yok Su.

Kwee Ceng kaget bukan main.

Serangannya hebat tetapi tidak mengenai sasarannya.

Sebaliknya tangannya itu seperti kena disedot, begitu keras hingga bagaikan tangannya itu copot.

Ia merasakan sakit bukan kepalang.

"Teecu kurang ajar, harap locianpwee memaafkan,"

Ia berkata.

Tangannya itu sementara itu sudah tidak diangkat.

Kanglam Liok Koay heran, kaget dan berkhawatir.

Sungguh hebat Tong Shia ini, tanpa berkelit tanpa menangkis, ia membikin lengan Kwee Ceng itu mati kutu.

"Kau pun rasai tanganku!"

Mendadak Oey Yok Su berseru.

"Biarlah kau ketahui, yang mana yang lebih lihay, Hang Liong Sip-pat Ciang dari si pengemis tua atau kepandaian dari Tho Hoa To!"

Belum berhenti suara itu, angin sudah menyambar, Kwee Ceng menahan sakit, ia mencelat, maksudnya untuk berkelit.

Di luar tahunya, belum tinju orang sampai, tinju itu telah didului gaetan kaki, maka sedetik itu juga, robohlah Kwee Ceng.

Oey Yong kaget.

"Jangan, ayah!"

Ia menjerit seraya berlompat menubruk Kwee Ceng, di atas tubuh siapa ia mendekam.

Oey Yok Su menyerang terus, tetapi melihat anaknya, tinjunya diubah menjadi cengkeraman dengan apa ia menjambak baju anak itu, untuk diangkat, kemudian tangan kirinya menggantikan menyerang terus.

Kanglam Liok Koay kaget sekali.

Mereka tahu itulah pukulan dari kematian.

Maka mereka maju dengan berbareng, untuk menolongi murid mereka.

Coan Kim Hoat berada paling depan, dengan dacinnya ia menghajar lengan kiri Tong Shia.

Oey Yok Su meletaki gadisnya di sampingnya.

Ia seperti tidak mengambil tahu serangannya Kim Hoat yang disusul pedangnya Han Siauw Eng.

Ketika kedua serangan itu mengenai sasaran, mendadak saja dacin dan pedang patah menjadi empat potong!

Oey Yong lantas saja menangis.

"Ayah, kau bunuhlah dia!"

Dia berteriak.

"Untuk selamanya aku tidak mau pula bertemu denganmu….!"

Tanpa menoleh lagi, ia lari ke arah telaga ke mana ia terjun! "Bur!"

Air itu berbunyi dan gusar berbareng.

Ia tahu putrinya itu pandai berenang dan selulup, semenjak kecil putri itu biasa mandi di Tang Hay, dapat ia tidak mendarat selama satu hari dan satu malam, akan tetapi kali ini sang putri bakal pergi entah untuk berapa lama, mungkin untuk tidak bertemu pula seperti kata si anak, maka itu dalam kagetnya, ia memburu ke tepi telaga, akan berdiri bengong mengawasi telaga itu.

Sampai sekian lama barulah Tong Shia si Sesat dari Timur itu berpaling, ia lihat Cu Cong tengah tolongi Kwee Ceng dengan menyambungi pula tangannya itu.

Mendadak ia menumpahkan hawa amarahnya terhadap mereka itu.

"Lekas kamu bertujuh membunuh diri!"

Ia membentak mereka itu, suaranya dingin.

"Tak usah sampai aku turun tangan hingga kau menjadi menderita!"

Kwa Tin Ok mengangkat tongkatnya.

"Satu laki-laki tidak takut mampus!"

Dia kata dengan nyaring.

"Apapula penderitaan!"

"Kanglam Liok Koay sudah pulang ke kampung asalnya,"

Cu Cong pun berkata.

"Kalau sekarang kita mengubur tulang-tulang kita di telaga Thay Ouw ini, apakah lagi yang diberati?"

Lantas mereka berenam, dengan senjata di tangan atau tangan kosong, memernahkan diri untuk melawan jago dari Laut Timur itu.

Kwee Ceng jadi berpikir keras.

Ia tahu keenam gurunya tidak bakalan sanggup melawan Oey Yok Su.

Ia tidak ingin, karena urusannya sendiri, mereka itu mengnatar jiwa percuma-cuma.

Maka itu ia lantas melompat untuk menyelak.

"Tan Hian Hong terbinasa di tangan teecu sendiri!"

Ia berseru.

"Kematiannya pun tidak ada sangkut pautnya dengan semua guruku ini! Aku sendiri yang akan mengganti jiwanya!"

Ia tahu gurunya yang nomor satu serta yang nomor tiga dan yang nomor tujuh beradat keras, kalau ia mati, mereka itu tentu nekat, maka itu ia menambahkan.

"Tapi sakit hati ayahku masih belum terbalas, maka itu apakah locianpwee suka memberi tempo satu bulan kepadaku? Selewatnya tigapuluh hari teecu bakal datang sendiri ke pulau Tho Hoa To untuk menerima binasa!"

Berat pikirannya Oey Yok Su, karena ia ingat anaknya, hawa amarahnya lantas turut menjadi kendor.

Tanpa membilang suatu apa, ia mengebas tangannya, ia memutar tubuhnya, terus ia ngeloyor pergi.

Kanglam Liok Koay heran, kenapa kata-kata muridnya itu dapat membikin jago Tang Hay itu mengangkat kaki.

Mereka bercuriga, maka itu mereka tetap memasang mata.

Tapi benar-benar orang telah pergi.

Seng Hong pun menjublak sekian lama.

Kemudian barulah ia mengundang semua tetamunya kembali ke dalam.

Bwee Tiauw Hong tertawa dengan mendadak, ia mengebasi tangan bajunya, lalu tubuhnya mencelat setombak lebih, ketika tubuhnya itu diputar, ia pun lenyap dalam gelap gulita.

"Bwee Suci, bawalah muridmu!"

Seng Hong berteriak.

Tidak ada jawaban, sekitar mereka tetap sunyi, maka teranglah sudah, si Mayat Besi pun telah pergi jauh.

Sampai di situ Liok Koan Eng mengasih bangun pada Wanyen Kang.

Tapi orang berdiam saja.

Sebab ia telah terkena totokan, tinggal kedua matanya saja yang dapat bergerak-gerak.

"Aku telah terima baik permintaan gurumu, kau pergilah!"

Berkata Seng Hong.

Tapi ia tak dapat membebaskan orang dari totokan, karena itu bukablah totokan dari partainya, kalau ia berbuat demikian, ia jdai berlaku tidak manis terhadap si penotok.

Ia mengawasi semua tetamunya, hendak ia berbicara.

Justru itu Cu Cong menghampirkan Wanyen Kang, tanpa membilang apa-apa, ia totok pangeran itu beberapa kali.

Sebat totokannya itu, di pinggang beberapa kali disusul sama tepukan beberapa kali di punggung.

Melihat itu Seng ong kagum.

"Dia lihay sekali,"

Pikirnya mengenai Cu Cong.

"Wanyen Kang bukan sembarang orang tetapi ia dapat ditotok tanpa berbuat apa-apa."

Ia tidak tahu, Cu Cong dapat menotok dengan hasil bagus, karena keadaan lagi kacau sekali. Wanyen Kang merasa sangat malu, tanpa memberi hormat, tanpa membilang suatu apa, ia hendak mengangkat kaki.

"Orang ini siapà"

Berkata Cu Cong.

"Kau bawalah dia pergi!"

Ia pun lantas membebaskan Toan Tayjin.

Komandan tentara itu menduga jiwanya bakal hilang, maka itu bukan main girangnya ia yang ia ditolongi dan dimerdekakan juga.

Dengan tergesa-gesa ia memberi hormatnya.

"Enghiong, untuk budi pertolonganmu ini, aku Toan Thian Tek tidak akan melupakan sekali pun sampai akhir ajalku!"

Katanya. Kapan Kwee Ceng mendapat dengar itu nama Toan Thian Tek, ia terkejut ia tercengang. Nama itu seperti mengaung di kupingnya.

"Kau…kau bernama Toan Thian Tek?"

Ia menanya.

"Benar,"

Komandan itu menyahut.

"Enghiong kecil, kau ada punya pengajaran apa untukku?"

"Bukankah delapanbelas tahun yang lampau selama di Lim-an, kau ada menjadi opsir tentara?"

Kwee Ceng menanya pula.

"Benar, enghiong kecil. Bagaimana kau ketahui itu?"

Kembali Thian Tek menyahuti. Kemudian ia memandang pada Koan Eng, sebab barusan ia mendengar keterangannya Seng Hong bahwa pemuda itu muridnya Kouw Bok Taysu. Ia berkata.

"Aku adalah keponakan yang tidak menyucikan diri dari Kouw Bok Taysu itu, karenanya kita menjadi orang sendiri, Haha!"

Ia senang sekali, ia menjadi tertawa girang. Kwee Ceng tidak menanya pula, ia hanya menoleh kepada tuan rumah.

"Liok Chungcu,"

Katanya.

"Aku yang rendah memohon pinjam ruangan belakang dari rumahmu ini."

"Tentu saja boleh,"

Sahut Seng Hong.

Kwee Ceng mengucap terima kasih, lalu ia tuntun Toan Thian Tek, buat diajak ke belakang.

Cepat tindakannya itu.

Kanglam Liok Koay saling memandang, di dalam hatinya masing-masing mereka berkata.

"Thian sungguh adil, Siapa nyana justru di sini kita dapat menemui si manusia jahat! Coba bukan dia menyebut namanya sendiri, siapa yang tahu dialah yang dicari ubak-ubakan dan jauh laksaan lie selama tujuh tahun…..?"

Bab 32. Musuh besar!!! Liok Seng Hong dan putranya serta Wanyen Kang tidak mengerti, mereka mengikuti si anak muda. Tiba di ruang belakang, di sana api dipasang terang-terang.

"Aku pinjam pit dan kertas,"

Kwee Ceng memohon pula. Seorang bujang sudah lantas menyerahkan perabot tulis yang di minta itu. Kwee Ceng segera menulis di atas sehelai kertas, bunyinya.

"sincie dari ayah almarhum, Kwee Siauw Thian."

Semua huruf itu besar-besar, lantas itu di taruh di tengah-tengah ruangan.

Sampai sebegeitu jauh Toan Thian Tek tidak tahu apa yang orang hendak perbuat, begitu lekas ia membaca nama Kwee Siauw Thian, barulah ia kaget hingga umpama kata semangatnya terbang.

Ia segera melihat kelilingnya, lalu ia menjadi terlebih kaget lagi.

Ia seperti terkurung Kanglam Liok Koay yang semuanya beroman keren.

Tanpa merasa, celananya basah sendirinya.

Lebih-lebih ia tidak dapat melupakan Han Po Kie, si kate gemuk, yang matanya tajam itu.

tadi karena kaget dan ketakutan, ia tidak memperhatikannya.

Sekarang tubuhnya bergemetaran.

Tiba-tiba tangannya Kwee Ceng terangkat dan turun dengan cepat.

Satu suara nyaring menyusul itu.

Itulah pecahnya sebuah meja di depan mereka.

"Bilanglah, kau mau mampus cepat dan senang atau kau menghendaki tubuhmu dibikin berkeping-keping hingga kau merasakan penderitaan?!"

Berkata si anak muda, suaranya bengis. Ia berbicara seraya mengawasi tajam musuh besarnya itu. Sampai di situ Toan Thian Tek merasa bahwa ia tidak bakal hidup pula.

"Memang benar ayahmu itu akulah yang membunuhnya,"

Ia berkata.

"Tetapi aku diperintah oleh atasanku, aku tak bisa berbuat lain."

Matanya Kwee Ceng bersinar, biji mata itu seperti mau melompat keluar.

"Siapakah itu yang memerintah kau?!"

Ia tanya.

"Siapa mengirim kau untuk membinasakan ayahku itu! Lekas bilang, lekas!"

"Itulah Liok-ongya Wanyen Lieh, putra keenam dari negera Kim!"

Sahut Toan Thian Tek. Mendengar itu Wanyen Kang terkejut.

"Apa kau bilang?"

Dia menanya.

Toan Thian Tek memang mengharap-harap dapat menyeret orang, supaya dosanya menjadi terlebih ringan.

Maka itu ia lantas membeber, membuka rahasia bagaimana itu hari Wanyen Lieh tertarik pada Pauw Sek Yok, istrinya Yo Tiat Sim, untuk mendapatkannya, orang bekerja sama tentara kerajaan Song, dusun Gu-kee-cung didatangi, diserbu, kedua keluarga Yo dan Kwee dibikin celaka.

Tapi dengan berpura-pura baik hati, dia sendiri menolongi Pauw Sek Yok.

Hanya kemudian ia berpisah dari ibunya Kwee Ceng itu dalam kekalutan tentara, ia kabur pulang ke Lim-an.

Kemudian dengan perlahan-lahan ia mendapat kenaikan pangkat sampai pada pangkatnya yang sekarang ini.

Ia menutur jelas perasaannya itu.

Diakhirnya ia berlutut di depan Kwee Ceng.

"Kwee Enghiong, Kwee Tayjin,"

Ia berkata.

"Hamba yang rendah menerima titah orang, itulah bukan kedosaanku…."

Ia pun mengangguk-angguk di meja sincie dari Kwee Siauw Thian.

"Kwee Looya,"

Ia berkata pula.

"Arwahmu di langit mengerti, orang yang membikin celaka keluargamu itu, ialah musuhmu Wanyen Lieh adanya, si pangeran keenam, bukannya aku yang berjiwa semut. Kwee Looya, hari ini putramu sudah menjdai begini besar dan gagah, kau tentunya girang dan puas, maka itu aku mohon dengan perlindunganmu, supaya sukalah putramu ini memberi ampun pada jiwa anjingku ini…."

Selagi orang mengoceh itu, mendadak Wanyen Kang lompat padanya, menghajar batok kepalanya, yang lantas saja hancur pecah, tubuhnya roboh dan jiwanya melayang.

Kwee Ceng mendekam di tanah, ia menangis tersedu-sedu.

Baru sekarang Seng Hong mengerti jelas, maka bersama anaknya ia menjalankan kehormatan di depan sincie, perbuatannya ini dituruti oleh Kanglam Liok Koay.

Juga Wanyen Kang turut memberi hormat, beberapa kali ia mengangguk-angguk, kemudian ia berkata.

"Saudara Kwee, baru sekarang aku ketahui…. Wanyen Lieh adalah musuh besarmu. Tadinya aku tidak ketahui peristiwa ini, aku telah melakukan segala apa yang bertentangan, sungguh aku berdosa."

Ia pun lantas menangis karena ingat penderitaan ibunya. Kwee Ceng mengangkat kepalanya.

"Kau hendak perbuat apa sekarang?"

Ia tanya pada pangeran muda itu.

"Hari ini barulah aku tahu, aku adalah orang she Yo, maka itu untuk selanjutnya aku akan memakai namaku, Yo Kang,"

Menyahut Wanyen Kang.

"Bagus!"

Kata Kwee Ceng.

"Dengan begini barulah kau menjadi satu laki-laki sejati! Besok aku hendak pergi ke Pak-hia, untuk membunuh Wanyen Lieh, kau hendak turut atau tidak?"

Yo Kang tidak lantas bisa memberikan jawabannya.

Ia ingat budinya pangeran Kim itu yang telah merawat ia semenjak masih kecil.

Kapan ia lihat sinar matanya pemuda she Kwee itu, yang agaknya kurang puas, ia menyahuti juga.

"Siauwtee akan iku toako menuntut balas!"

Yo Kang menyebut dirinya siauwtee (adik) dan memanggilnya toako (kakak), sedang tadi ia hampir memanggil ayah angkat diwaktu menyebutkan namanya Wanyen Lieh itu. Kwee Ceng girang sekali.

"Bagus saudara!"

Berseru dia.

"Almarhum ayahmu dan ibuku pun pernah membilangi aku bahwa dulu hari ayahmu dan ayahku telah membuat perjanjian untuk kita mengangkat saudara. Aku ingin mewujudkan peasn itu, bagaimana pikiranmu?"

"Itulah yang aku harap,"

Menyahut Yo Kang.

Lantas keduanya menjalankan kehormatan di depan sincie, ini kali untuk mengangkat saudara.

Sampai di situ, bereslah segala apa, maka tuan rumah mempersilahkan semua tamunya beristirahat.

Besoknya pagi, Kanglam Liok Koay pamitan dari tuan rumah dengan mengajak Kwee Ceng dan Yo Kang.

Seng Hong membekalkan sesuatu kepada tetamunya itu, yang ia antar sampai di luar rumahnya.

Kwee Ceng memberitahukan gurunya bahwa bersama Yo Kang ia hendak pergi ke Utara untuk membunuh Wanyen Lieh, ia minta petunjuk dari mereka itu.

"Janji di harian Tiong Ciu masih lama, karena kami tidak punya urusan apa-apa, mari kami antar kamu,"

Kata Kwa Tin Ok.

"Begitupun baik,"

Menyatakan Cu Cong dan yang lainnya.

Kwee Ceng bukannya menampik tetapi ia menegaskan sebenarnya tidak perlu gurunya turut dia.

Ia kata ilmu silatnya Wanyen Lieh biasa saja, dengan adanya Yo Kang sebagai pembantu, ia sudah merasa cukup.

Ia sebaliknya memperingatkan bahwa guru-gurunya itu baru saja kembali, sudah seharusnya mereka beristirahat di kampung halaman mereka.

Ia pun tidak berani membikin pusing gurunya itu, yang budinya sangat besar sekali.

Kanglam Liok Koay memikir alasan muridnya ini pantas, mereka tidak memaksa untuk turut, mereka jadi memberikan pesan saja.

"Janji untuk pergi ke Thoa Hoa To tidak usah kau penuhkan,"

Kata Han Siauw Eng kemudian. Ia memesan begini sebab ia tahu muridnya jujur dan berkhawatir muridnya pergi ke pulau Tho Hoa To sedang Tong Sia Oey Yok Su itu telengas dan tabiatnya sangat aneh.

"Jikalau teecu tidak pergi, apakah itu bukan berarti tidak menepati janji?"

Tanya si murid.

"Sama hantu itu mana dapat kita bicara perihal kepercayaan!"

Kata Yo Kang.

"Toako, kau terlalu kukuh!"

Tapi Kwa Tin Ok berpikir lain. Atas suaranya Yo Kang itu ia memperdengarkan "Hm!"

Kemudian ia bilang.

"Anak Ceng, kata-kata kami bangsa laki-laki tidak boleh dibuat permainan! Sekarang ini ada bulan enam tanggal lima, nanti pada bulan tujuh tanggal satu kita bertemu di Cui Sian Lauw di Kee-hin, dari san akita boleh berangkat bersama-sama ke Tho Hoa To. Sekarang pergilah kau menaiki kuda merahmu menuju Pak-khia untuk mencari balas. syukurlah jikalau kau berhasil, kalau tidak, kita boleh minta bantuannya semua totiang dari Coan Cin Pay. Mereka adalah orang-orang yang memuliakan perkebajikan, pastilah mereka tidak akan menapik permohonan kita."

Kwee Ceng bersyukur sangat akan semua gurunya begitu bersungguh-sungguh, ia menghanturkan terima kasih seraya menjatuhkan diri berlutut di tanah.

"Adik angkatmu adalah dari keluarga agung, aku mesti hati-hati,"

Lam Hie Jin memesan. Kwee Ceng tidak mengerti, ia mengawasi. Cu Cong tertawa, ia pun berkata.

"Putrinya Oey Yok Su beda dari ayahnya, kami selanjutnya jangan membikin ia mendongkol pula. Benar bukan, shatee?"

Han Po Kie membuat main kumisnya.

"Anak busuk itu mengatai aku di labu, rupanya dialah yang paling cantik!"

Kata si kate terokmok ini, yang akhirnya tertawa sendirinya.

Hatinya Kwee Ceng menjadi lega sekali.

Itu artinya gurunya tidak membenci pula Oey Yong.

Hanya kapan ia ingat si nona, yang entah dimana adanya, ia jadi berduka.

"Nah, anak Ceng, kau lekas pergi lekas kembali!"

Berkata Coan Kim Hoat.

"Kami menantikan kabar baik dari kau di Kee-hin!"

Samapi disitu, kanglam Liok Koay lantas berangkat.

Kwee Ceng berdiri di tepi jalanan sambil memegangi les kudanya, ia mengawasi sampai semua gurunya itu sudah tidak nampak lagi, baru ia menoleh kepada Yo Kang sambil berkata.

"Yo hiantee, kudaku ini bisa lari keras, untuk ke Pak-khia pergi dan pulang, cukup dengan belasan hari, maka itu marilah aku temani kau jalna-jalan dulu untuk beberapa hari."

Yo Kang menurut, maka itu mereka melakukan perjalanan dengan perlahan-lahan.

Kalut pikirannya Yo Kang.

Ia membayangai baru berselang sebulan yang ia hidup mewah dan mulia, datang ke Kanglam dengan diiringi secara besar.

Bagaimana agung kedudukannya utusan dari negara Kim yang tangguh itu.

Sekarang?

Sekarang ia menuju ke kota raja seorang diri, dalam keadaan sangat sepi.

Tidakkah ia tengah bermimpi dan impiannya itu buyar dengan tiba-tiba?

Kwee Ceng dapat melihat perubahan roman orang itu, ia hanya menyangka orang tengah berduka karena mengingat ayah dan ibunya.

Ia lantas menghiburi.

Tengah hari itu mereka tiba di Lie-yang.

Lantas mereka mencari tempat pemondokan.

Justru itu satu pelayan penginapan menghampirkan mereka.

"Apakah tuan-tuan adalah tuan Kwee dan tuan Yo?"

Dia menanya sembari memberi hormat dan tertawa.

"Barang santapan sudah siap sedia, silahkan tuan-tuan turut aku pergi bersantap dulu."

Dua-dua pemuda itu terkejut.

"Kenapa kau mengenali kami?"

Menanya Yo Kang.

"Aku menerima pesan, tuan-tuan,"

Sahut pelayan itu, tetap smabil tertawa.

"Tadi seorang tuan datang padaku mengasih tahu perihal bakal datangnya tuan-tuan. Aku pun diberi lukisan tentang roman dan potongan tubuh tuan-tuan."

Semabri berkata, ia menuntun kuda orang untuk dirawat.

"Sungguh baik tuan dari Kwie-in-chung itu,"

Kwee Ceng memuji.

Mereka duduk di meja menghadapi barang masakan pilihan yang mahal harganya, begitu pun araknya.

Kwee Ceng mendapati masakan ayam yang ia paling doyan.

Mereka bersantap dengan bernafsu, habis dahar mereka hendak membayar uangnya.

"Tidak usah tuan-tuan, semuanya sudah dibayar,"

Si pelayan menerangkan.

Kwee Ceng tertawa, ia memberi upah kepada pelayan itu, yang mengucap terima kasih berulang-ulang dan dengan hormat mengantari keluar.

Di tengah jalan, Kwee Ceng memuji pula Liok Chungcu, tetapi Yo Kang, yang masih mendongkol bekas dikalahkan dan ditawan, mengatakan,.

"Teranglah ia menggunai muslihat ini untuk membaiki semua orang gagah, pantas dia menjadi kepala di Thay Ouw!"

"Hiantee, bukankah chungcu itu paman gurumu?"

Tanya Kwee Ceng heran.

"Benar Bwee Tiauw Hong pernah mengajarkan ilmu silat pada saya tetapi dia bukanlah guruku,"

Menjawab orang yang ditanya.

"Coba aku mengetahui mereka itu ada dari golongan sesat, tidak nanti aku kesudian belajar, hingga tak usahlah hari ini aku mengalami kejadian ini….."

Kwee Ceng jadi semakin heran.

"Hiantee, bagaimana sebenarnya?"

Ia menanya. Yo Kang merasa ia kelepasan omong, mukanya menjadi merah.

"Aku merasa Kiu Im Pek-kut Jiauw bukanlah pelajaran murni,"

Ia menyahut.

"Kau benar, hiantee,"

Kwee Ceng mengangguk.

"Tian Cun Cinjin ada lihay sekali, ia pun dari kalangan ilmu silat sejati, kalau kau menghanturkan maaf padanya, tentulah ia dapat memaafkan padamu."

Yo Kang berdiam.

Malam itu mereka tiba di Kim-tan, di sana pun ada pelayan penginapan yang menyambutnya, yang menyiapkan barang makanan dan penginapan tanpa bayaran, sebab sudah ada yang memesan dan membayarinya.

Mereka menerima itu tanpa banyak bertanya-tanya.

Kemudian, beruntun tiga hari, mereka mendapat pengalaman serupa.

Mereka menjadi heran sekali hingga mereka menyangsikan chungcu dari Kwie-in-chung.

Tatkala mereka melewati Ko-yu dan masih ada serupa penyambutan, denagn menyindir Yo Kang berkata.

"Hendak aku melihat sampai di mana Kwie-in-chung akan mengantar tetamunya…."

Kwee Ceng lebih curiga lagi, sebab pada setiap barang santapan tentu ada satu dua rupa santapan yang ia paling gemari, kalau itu adalah perbuatan Liok Koan Eng, sungguh luar biasa.

Habis bersantap, ia kata.

"Hiantee, nanti aku jalan lebih dulu, untuk mencari tahu."

Yo Kang menurut, ia membiarkan orang melarikan kudanya seorang diri.

Beruntun tiga perhentian telah dilewati, setibanya di Po-eng, tidak ada lagi penyambutan serupa itu.

Sengaja Kwee Ceng memilih penginapan yang paling besar serta minta kamar yang paling mewah juga.

Sore itu, selagi ia berada di dalam kamarnya, ia dengar suara kuda dilarikan, kelenengannya berbunyi nyaring.

Penunggang kuda itu berhenti di depan penginapan, dia masuk ke dalam, dia lantas memesan makanan untuk besok, katanya untuk tuan Kwee dan tuan Yo.

Kwee Ceng telah menduga kepada Oey Yong, tetapi mendengar suara orang, ia heran juga.

Ia girang sekali.

Ia tak mau lantas menemui.

Ia hendakmain-main.

Maka ia menunggu sampai jam dua, diam-diam ia keluar dari kamarnya.

Ia naik ke atas genting, terus ke kamarnya si nona.

Tiba-tiba ia tampak bayangan orang berkelebat, malah ia kenali Oey Yong adanya.

"Heran, malam-malam begini ia hendak kemana?"

Pikirnya.

Ia membungkam, terus ia menguntit.

Oey Yong lari ke luar kota.

Ia rupanya tidak tahu ada orang yang membayanginya.

Ia pergi ke tepinya sebuah kali kecil.

Dibawah satu pohon yangliu ia duduk numprah.

Dari sakunya ia keluarkan serupa barang, terus ia buat main di tangannya, tubuhnya dibungkukkan.

Malam itu terang bulan, angin berdesir, meniup daun-daun yangliu dan juga ikat pinggangnya si nona.

Air kali mengalir terus.

Di sana sini terdengar suara rupa-rupa serangga.

"Ini engko Ceng….ini Yong-jie…"

Terdengar nona itu mengoceh sendirian.

Heran Kwee Ceng.

Ia berindap-indap, menghampirkan ke belakang orang.

Di bawah terangnya sinar rembulan, ia melihat tegas dua buah boneka, satu laki-laki dan satu perempuan, keduanya gemuk dan mungil.

Itulah boneka buatan Bu-sek yang kesohor, ynag pun kesohor di Thay Ouw.

Ia menjadi ketarik hatinya.

Ia maju lagi beberapa tindak.

Di depan boneka itu ada ditaruhkan beberapa mangkok dan cawan kecil, ynag berisi macam-macam bunga.

Kembali terdengar suara perlahan dan halus dari nona itu;

"Mangkok ini engko Ceng yang dahar, cawan ini ilah Yong-jie. Semua ini Yong-jie yang masak sendiri. Enak tidak?"

"Enak! Enak sekali!"

Kwee Ceng menyahuti.

Oey Yong terperanjat, ia menoleh dengan cepat.

Lalu ia tertawa, memperlihatkan wajahnya yang manis.

Dengan gesit ia berlompat menghanpiri kepada anak muda itu.

Mereka lalu berduduk di bawah pohon di tepian kali itu.

Lantas mereka berbicara dengan asyik mengenai urusan mereka sejak perpisahan beberapa hari itu, tetapi yang mereka rasakan seperti sudah bulanan atau tahunan.

Si nona saban-saban tertawa, hingga si pemuda menjadi berdiam saja.

Katanya dalam hati.

"Yong-jie begini mencintai aku, kalau di belakang hari kita tidak hidup bersama, bagaimana rasanya…?"

Ketika malam itu Oey Yong menceburkan diri, ia bersembunyi lama, sesudah menduga ayahnya telah pergi, barulah ia kembali ke Kwie-in-chung.

Ia girang akan mendapatkan pemuda pujaannya itu tak kurang suatu apa.

Ia menyesal juga ynag ia telah berlaku keras terhadap ayahnya.

Ia terus menyembunyikan diri.

Ketika besoknya pagi, ia lihat Kwee Ceng berangkat berdua dengan Yo Kang, ia lantas mendahului, untuk seterusnya saban-saban ia memesan barang makanan dan rumah penginapan.

Ia tahu barang santapan yang digemari Kwee Ceng, selalu ia menyelipkan satu atau dua rupa.

Tentu saja ia tidak tahu yang Kwee Ceng curiga dan lantas mendahului, hingga ia kepergok.

Tapi ini cuma membuatnya gembira sekali.

Asyik mereka pasang omong, sampai jauh malam, sampai si nona datang kantuknya, tanpa merasa ia kepulasan di pangkuannya anak muda itu.

Kwee Ceng khawatir orang mendusin, ia tidak berani bergerak, ia diam menyanderkan diri di bongkol pohon yangliu.

Tanpa merasa, ia pun ketiduran.

Ketika itu ada di bulan keenam, hawa malam sejuk, sedang rembulan bercahaya terus.

Kwee Ceng yang mendusin paling dulu tatkala kupingnya mendengar burung-burung berkicau, membuka matanya, ia mendapatkan sang fajar sudah mulai menyingsing.

Ia pun dapat mencium semerbaknya bunga-bunga.

Oey Yong tidur nyenyak, napasnya berjalan perlahan.

Ia mengerutkan alisnya, tapi mukanya dadu, mulutnya yang mungil tersenyum, maka itu ia nampaknya manis sekali.

Rupanya ia tengah bermimpi.

"Biarlah ia tidur terus, aku tidak boleh menganggunya,"

Kwee Ceng berpikir.

Pemuda ini mengawasi muka orang, ia seperti mau menghitungi bulu alisnya yang bagus dari si nona itu tatkala mendadak ia mendengar suara orang lain, datangnya kira-kira dua tombak lebih di sebelah kirinya.

"Telah aku ketahui kamarnya nona Thia itu, ialah itu kamar di dalam taman yang letaknya di belakang rumah gadai Tong Jin,"

Demikian suara itu.

"Baiklah, sebentar malam kita bekerja,"

Kata suara lain, terang suaranya orang tua.

Mereka bicara dengan perlahan, tetapi di pagi yang sunyi itu nyata terdengarnya.

Kwee Ceng terperanjat.

Ia lantas menyangka pada penjahat tukang petik bunga, yang gemar mengganggu kesucian kaum wanita.

Ingin ia melihat mereka itu.

Tiba-tiba Oey Yong mencelat bangun.

"Engko Ceng, hayo tangkap aku!"

Katanya.

Terus ia lari ke sebuah pohon besar.

Kwee Cneg dapat menerka maksudnya nona cerdik ini, ia lantas mengejar, malah sambil tertawa geli, bagaikan mereka itu tengah bermain petak.

Hanya larinya mereka dibikin berat, seperti larinya orang yang tidak mengerti ilmu silat.

Dua orang itu terkejut, tidak mereka menyangka di pagi hari itu sudah ada orang lain di situ, bahkan dekat mereka, tetapi kapan mereka melihat dua muda-mudi, yang main lari-larian, mereka tidak bercuriga.

Hanya karena itu, mereka lantas ngeloyor pergi.

Kwee Ceng dan Oey Yong melihat belakang orang, yang pakaiannya compang-camping, tanda dandanan pengemis.

Mereka menanti sampai orang sudah cukup pergi jauh, si nona tanya si pemuda, apa maunya dua orang itu mencari nona Thia.

"Kebanyakan maksudnya tidak baik. Kita menolong orang, baik atau tidak?"

Kata Kwee Ceng.

"Memang baik sekali. Cuma kita tidak tahu dua pengemis itu orang-orangnya Ang Cit Kong atau bukan."

Kata si nona.

"Aku rasa bukan,"

Jawab si pemuda.

Mereka lantas pulang ke penginapan untuk bersantap, habis itu mereka pergi pesiar, sampai ke kota barat.

Di situ mereka mendapatkan rumah gadai Tong Jin, dengan huruf-hurufnya yang tinggi dan besar.

Benar di belakang situ ada sebuah taman serta lauwtengnya yang tinggi, yang dialingi kere bambu bercat hijau.

Memandang lauwteng itu mereka tersenyum, lantas mereka berjalan terus, akan pesiar ke lain bagian kota.

Sorenya mereka pulang, untuk bersantap, akan kemudian beristirahat di kamar masing-masing.

Lewat sedikit satu jam, keduanya keluar dari kamar, untuk lari ke kota barat.

Mereka melompati taman, hingga mereka dapat memandang lauwteng dimana ada sinar api.

Mereka terus naik ke atas lauwteng, akan menyangkel di payon, untuk mengintip ke dalam.

Hawa malam panas, jendela tidak ditutup.

Apa yang mereka lihat membikin mereka terperanjat.

Di dalam kamar itu ada tujuh orang, semuanya wanita.

Seorang nona umur delapan atau sembilanbelas tahun, yang cantik, lagi membaca buku di terangnya lampu.

Mungkin dia si nona Thia, Thia Toa siocia yang dimaksudkan kedua pengemis itu.

Enam lainnya dandan sebagai budak, tetapi mereka pada mencekal senjata, tiga memegang golok sebatang, tiga lainnya masing-masing pedang, sepasang roda serta sebatang tongkat besar yang panjang.

Melihat keadaan mereka itu, Kwee Ceng dan Oey Yong mendugai si nona lihay.

Sekarang keduannya berpikir lain.

Hendak mereka menonton dulu.

Mestinya ada apa-apa yang aneh mengenai si nona dan si pengemis.

Tidak lama mereka mengintai, mereka mendengar satu suara di luar pekarangan.

Oey Yong tarik tangan Kwee Ceng, buat diajak bersembunyi.

Segera mereka melihat dua bayangan, yang benar ada dari si pengemis tadi.

Mereka ini langsung ke bawah lauwteng dimana mereka memperdengarkan siulannya perlahan.

"Orang-orang gagah dari Kay Pang di sana?"

Menanya satu budak seraya menyingkap kere.

"Silahkan naik."

Dua pengemis itu menggenjot tubuh mereka untuk naik ke lauwteng. Si nona sudah lantas menyambut. Ia memberi horamt sambil menanyakan she dan nama kedua tetamunya itu.

"Aku yang rendah she Lee,"

Menyahuti si pengemis tua.

"Ini keponakan muridku, Ie Tiauw Hin."

Melihat muka orang yang penuh luka, Nona Thia mengingat sesuatu.

"Bukankah locianpwee ada Hang Liong Ciu Lee Seng?"

Ia menanya.

"Tajam matamu, nona!"

Tertawa si pengemis.

"Aku yang rendah dan gurumu, Ceng Ceng Sanjin, pernah berjodoh bertemu satu kali, walaupun kita tidak bersahabat rapat, kita saling menghormati."

Mendengar nama Ceng Ceng Sanjin itu, Kwee Ceng ingat orang adalah yang disebut Sun Put Jie Sun Siang-kouw, salah satu dari Coan Cin Cit Cu. Karenanya, nona Thia ini bukanlah orang luar.

"Locianpwee baik sekali hendak menolongi, boanpwee sangat bersyukur,"

Berkata pula si nona.

"Di dalam segala hal, boanpwee akan mendengar kata locianpwee."

"Nona ada seorang terhormat, kalau kau dipandang lebih banyak oelh itu binatang, itu pun sudah hebat,"

Berkata Hang Liong Ciu Lee Seng si Penakluk Naga. Mendengar itu merah mukanya si nona.

"Sekarang, silahkan nona beristirahat di kamar ibumu, di sini jangan ditinggalkan beberapa pelayanmu ini,"

Lee Seng memberi petunjuk.

"Aku yang rendah ada mempunyai daya untuk menghadapi binatang itu."

"Boanpwee tidak gagah, tetapi boanpwee tidak jeri terhadap binatang itu,"

Berkata si nona.

"Loacianpwee hendak bertanggungjawab sendiri, sungguh aku malu…."

"Jangan berkata demikian, nona,"

Berkata pula Lee Seng.

"Ang Pangcu kami ada bersahabat kental dengan Ong Tiong Yang Cinjin dari Coan Cin Pay kamu, kita dengan begitu menjadi seperti orang sendiri."

Sebenarnya nona Thia ingin sekali mencoba ilmu silatnya, tetapi menampak mata tajam dari Lee Seng, ia tidak berani membantah, maka ia lantas memberi hormat.

"Baiklah, aku menurut saja kepada locianpwee,"

Bilangnya.

Lantas ia turun dari lauwtengnya.

Lee Seng segera menghampirkan pembaringannya si nona, akan menyingkap kelambunya.

Pembaringan itu indah segalanya, tetapi ia naik ke atas itu tanpa membuka sapatu lagi, tak peduli sepatu dan pakaiannya dekil, ia terus merebahkan diri.

"Pergi kau turun,"

Ia menitahkan Ie Tiauw Hin.

"Ramai-ramai kamu menjaga di bawah. Tanpa titahku, aku larang kamu lancang turun tangan!"

Tiauw Hin menurut, ia lantas berlalu.

Lee Seng menutup diri dengan selimut indah, ia suruh budak-budak menurunkan kelambu dan memadam api juga.

Kemudian barulah mereka itu mengundurkan diri pula.

Oey Yong tertawa di dalam hatinya menyaksikan kelakuan Lee Seng itu.

"Semua orang Kay Pang telah meneladan tingkah pola pemimpinnya,"

Semua suka berbuat jenaka, tidak peduli di tempat apa."

Karena sudah ketahui ada penjagaan, nona ini bersama Kwee Ceng mendekam terus di bawah payon, berdiam menanti dengan mulut bungkam.

Lantas terdengar suara kentongan orang ronda tanda jam tiga.

Menyusul itu terdengar suara membeletuknya batu masuk ke dalam taman.

Itulah batu tanda menanya dari orang yang biasa keluar malam.

Oey Yong menarik ujung baju Kwe Ceng untuk memberitahu.

Hanya sebentar, di luar tembok terlihat melompat masuknya tujuh atau delapan orang, yang semuanya lompat lebih jauh naik ke atas lauwteng.

Mereka itu menyalakan api sebentar, habis itu mereka menuju ke pembaringan.

Hanya sejenak itu, Oey Yong telah dapat melihat mukanya orang-orang itu.

Dua yang menjadi kepala adalah orang-orangnya Auwyang Kongcu, yaitu dua pria yang biasa membawa-bawa galah panjang peranti menggiring ular.

Enam yang lain adalah murid-murid wanita Auwyang Kongcu itu.

Si dua pria berdiri di kiri kanan pembaringan, empat wanita menungkrup tubuh Lee Seng dengan sehelai selimut lebar.

Lalu dua yang lain mementang sebuah kantung besar ke dalam tubuh Lee Seng dibelesaki, lalu karung itu di ikat kuat-kuat.

Semua mereka bekerja sebat sekali, seperti sudah terlatih mahir, tanpa ada yang bersuara.

Dua wanita menggendong kantung itu, lantas mereka lompat turun dari lauwteng.

Kwee Ceng hendak berbangkit, untuk menyusul, Oey Yong mencegah padanya.

"Biarkan orang-orang Kay Pang jalan lebih dulu,"

Si nona membisiki.

Kwee Ceng menurut, ia mengawasi.

Kantung berisi manusia itu digotong berdelapan.

Di belakang mereka itu lalu mengiringi lebih dari sepuluh orang lainnya, mereka itu mencekal tongkat bambu, rupanya mereka adalah orang-orang Kay Pang.

Menanti sampai orang sudah berpisah beberapa tombak dari mereka, baru Oey Yong dan Kwee Ceng keluar dari tempat persembunyian mereka, untuk menguntit.

Seorang pengemis berjalan di paling belakang.

Kedua rombongan itu menuju ke luar kota, pergi ke sebuah rumah besar.

Rombongan Auwyang Kongcu terus masuk ke dalam rumah, rombongan pengemis lantas memencarkan diri mengurung.

Oey Yong menarik tangan Kwee Ceng, buat diajak ke belakang, dari mana mereka melompat tembok masuk ke pekarangan dalam.

Sekarang ketahuan rumah besar itu adalah rumah abu satu keluarga Lauw, di pendopo ada sejumlah sincie, dan ada pian-pian yang besar memutar nama-nama almarhum yang dihormati itu, semunya pernah memangku pangkat.

Pendopo diterangi lima batang lilin besar.

Duduk di tengah ada satu orang, yang tangannya mengipas perlahan-lahan.

Menduga ialah Auwyang Kongcu, Oey Yong dan Kwee Ceng berlaku hati-hati.

Mereka bersembunyi dan mengintai di bawah jendela, hati mereka menduga-duga, apa Lee Seng sanggup melayani pemuda yang lihay itu.

Sebentar kemudian muncullah delapan penggotong kantung manusia itu.

"Kongcu, nona Thia sudah disambut!"

Kata satu di antaranya. Auwyang Kongcu mengasih dengar suara tertawa dingin, bukannya ia menyambuti orangnya itu, hanya ia memandang ke luar pendopo seraya berkata.

"Sahabat, setelah dengan baik hati kamu datang berkunjung kemari, kenapa kamu tidak masuk saja untuk minum teh?"

"Hebat orang ini,"

Pikir Kwee Ceng. Orang-orang Kay Pang tetap bersembunyi. Tanpa tanda dari Lee Seng, tidak berani mereka lancang bertindak. Auwyang Kongcu tidak berkata pula, hanya ia memandang kepada kantung.

"Aku tidak sangka si nona Thia begini gampang diundangnya!"

Katanya.

Ia bertindak menghampirkan, perlahan tindakannya.

Ketika ia mengibaskan kipasnya, kipas itu tertutup rapat merupakan sepotong besi mirip dengan pit (alat tulis tionghoa) Kwee Ceng dan Oey Yong terkejut.

Mereka menduga orang sudah ketahui musuhlah yang berada di dalam kantung itu.

Diam-diam mereka menyiapkan kong-piauw, bersedia menolongi Lee Seng.

Mendadak ada terdengar suara sar-ser dari jendela, lalu dua batang panah tangan menyambar ke arah Auwyang Kongcu.

Rupanya orang-orang Kay Pang sudah merasakan pemimpim mereka terancam bahaya.

Auwyang Kongcu membawa tangan kirinya ke samping lantas telunjuk dan jari tengahnya menjepit, sebatang panah tangan itu patah seketika.

Orang-orang Kay Pang terkejut, malah Ie Tiauw Hin lantas berseru.

"Paman Lee, keluarlah!"

Menyambut seruan itu, tiba-tiba terdengar suara memberebet pecahnya kantung, lantas dua batang golok menyambar, disusul mana bergelinding keluarnya tubuh Lee Seng, tangan siapa terus memegangi kantung sebagai daya pembelaan diri.

Sesudah itu pengemis ini berlompat berdiri.

Lee Seng ketahui Auwyang Kongcu lihay, ia menggunai akalnya ini, untuk membokong, tapi ternyata ia gagal.

Auwyang Kongcu bebas dari sambaran golok, bukannya kaget, ia justru tertawa.

"Si nona cantik berubah menjadi pengemis tua, sungguh ilmu sulap kantong yang jempolan!"

Katanya tertawa. Lee Seng tidak menggubris ejekan itu.

"Selama tiga hari ini, tempat ini beruntun kehilangan empat nona-nona, bukankah itu perbuatan bagus dari kau, tuan yang terhormat?"

Ia balas mengejek. Kongcu itu tertawa pula.

"Kota Po-eng ini bukannya kota melarat miskin, kenapa sih orang-orang polisi dapat berubha menjadi segala tukang minta-minta?"

Ia berkata dengan ejekannya. Lee Seng pun tidak menjadi gusar.

"Sebenarnya aku pun tidak mengemis nasi di sini,"

Menyahut Lee Seng.

"Tetapi kemarin ini aku mendengar pembilangnya beberapa pengemis cilik tentang lenyapnya tak berbekas dari beberapa nona cantik manis, adri itu timbullah kegembiraan aku si pengemis tua, maka aku jadi datang melongok!"

Dengan ogah-ogahan Auwyang Kongcu berkata.

"Sebenarnya beberapa nona itu tidak cantik luar biasa, kalau kau menginginkannya, dengan memandang mukamu, sukalah aku membayarnya pulang!"

Ia pun terus mengebasi tangannya, maka beberapa murid perempuannya lantas masuk ke dalam untuk mengajak keluar empat nona.

Mereka ini kusut pakaiannya, kucal romannya, semuanya pada menangis.

Murka Lee Seng menyaksikan keadaannya keempat nona itu.

"Tuan yang terhormat, apakah shemu yang mulia dan namamu yang besar?"

Ia menanya.

"Murid siapakah kau ini?"

Auwyang Kongcu tetap membawa sikapnya acuh tak acuh.

"Aku she Auwyang. Saudara, kau ada pengajaran apakah untukku?"

"Mari kita main-main!"

Lee Seng berkata keras.

"Tidak ada yang terlbeih baik dari itu!"

Kata si anak muda menyambut.

"Silahkan kau mulia dulu!"

"Bagus!"

Seru Lee Seng, yang segera menggeraki tangan kanannya.

Tapi belum sempat ia menyerang, di depan matanya berkelebat satu bayangan putih dan angin pun mendesir.

Ia menjadi sangat kaget, ia mencelat.

Tidak urung, lehernya terlanggar juga satu jari tangan.

Syukur ia cukup sebat, kalau tidak, lehernya itu bisa tercekuk!

Lee Seng ini berkedudukan tinggi di dalam partainya, Kay Pang, Partai Pengemis, dia lihay.

Semua pengemis di empat propinsi Ouwlam dan Ouwpak serta Ciat-kang dan Kangsouw tunduk dibawah perintahnya.

Siapa tahu dalam satu gebrak saja, hampir ia celaka.

Maka mukanya menjadi merah.

Begitu ia hendak memutar tubuh, tangannya sudah mendahului melayang.

"Dia juga mengerti Hang Liong Sip-pat Ciang."

Oey Yong berbisik pada Kwee Ceng.

Dan si anak muda mengangguk.

Auwyang Kongcu tidak berani menangkis serangan itu, yang ia lihat hebat sekali.

Selagi ia berkelit, Lee Seng memutar tubuhnya.

Lantas ini pengemis meju satu tindak, kedua tangannya di angkat ke depan dada, untuk kembali menyerang, menyusul penyerangannya yang gagal itu.

"Itulah jurus dari ilmu silat Po-giok-kun,"

Kwee Ceng berbisik pada kekasihnya.

Si nona pun mengangguk.

Mendapat kenyataan orang lihay, Auwyang Kongcu tidak berani berlaku acuh tak acuh seperti semula lagi.

Ia selipkan kipasnya dipinggang, setelah berkelit, ia membalas menyerang, menghajar pundak orang itu.

Lee Seng menangkis, habis mana ia menyerang pula, tetap dengan satu jurus dari Po-giok-kun.

Kali ini Auwyang Kongcu memperlihatkan kepandaiannya.

Ia menangkis dengan tangan kiri, sembari menangkis tubuhnya mencelat ke samping lawan, terus ke belakang lawan itu.

Luar biasa gesit gerakkannya itu.

Maka juga segera ia dapat menyerang ke arah punggung lawan ini.

Dua-dua Kwee Ceng dan Oey Yong terkejut.

"Inilah serangan yang sukar di tangkis…!"

Kata mereka dalam hati, kaget.

Ketika itu orang-orangnya Lee Seng, yang tadinya mengurung di luar, sudah pada masuk ke dalam.

Mereka melihat pemimpin mereka terancam bahaya, di antaranya ada yang berniat berlompat membantu.

Lee Seng sendiri merasakan ancaman bahaya.

Desiran angin sudah mengenai bajunya.

Tapi ia pun gesit sekali.

Ia memutar tubuhnya sambil menangkis.

Kembali ia menggunai ilmu silat Hang Liong Sip-pat Ciang, jrus "Naga Sakti menggoyang ekor".

Auwyang Kongcu tidak berani menangkis serangan itu, ia melenggakkan tubuh, terus dia berlompat mundur.

"Sungguh berbahaya!"

Kata Lee Seng dalam hatinya.

Sekarang dia sudah memutar tubuh, untuk menghadapi pula lawannya.

Tapi segera ternyata, dalam ilmu silat ia kalah unggul, selama tigapuluh jurus lebih, saban-saban ia terancam bahaya.

Syukur untuknya ia selalu ketolongan sama jurusnya "Sin liong pa bwee" -"Naga Sakti memgoyang ekor itu"

Itu.

"Rupanya Ang Cit Kong baru mengajari ia ini satu jurus pembela diri,"

Oey Yong berbisik pada Kwee Ceng. Anak muda ini mengangguk. Ia lantas ingat lelakonnya sendiri ketika melayani Nio Cu Ong dengan "Hang liong yu hui"

Atau "Naga menyesal".

Mengingat ini, ia jadi sangat bersyukur kepada Ang Cit Kong.

Lee Seng yang menjadi salah satu pemimpin baru diajari satu jurus yang lihay itu, ia sendiri dalam tempo satu bulan sudah dapat limabelas jurus.

Pertempuran itu berjalan terus.

Auwyang Kongcu mendesak lawannya hingga dipojok.

Lee Seng sudah berpengalaman, ia dapat menerka maksud lawannya.mMaka ia lantas berdaya akan menggelakkan diri, guna kembali ke tengah ruangan.

Sekonyong-konyong Auwyang Kongcu tertawa lama, selagi tertawa kepalannya menyambar, tepat menggenai janggut lawannya itu.

Lee Sneg terkejut, ia mengulur tangannya, untuk membalas, tetapi ia telah kena didului.

Tangan kiri Auwyang Kongcu sudah menemui pula sasarannya.

Habis itu beruntun tiga empat kali lagi ia kena tertinju pula, kepalanya dan dadanya.

Ia menjadi sakit, kepalanya pusing, ia begitu terhuyung, ia roboh.

Beberapa pengemis berlompat maju untuk menolongi pemimpinnya itu, tetapi Auwyang Kongcu menyambar dua orang, yang ia angkat dengan membentrokkan kepalanya satu dengan lainnya, menampak mana, yang lain-lainnya menjadi keder.

"Kau kira aku ini siapa yang dapat kena terjebak kaum bangsa pengemis busuk?!"

Berkata Auwyang Kongcu tertawa mengejek.

Ia terus menepuk kedua tangannya, maka dari dalam lantas keluar dua murid wanitanya, mendorong tubuhnya seorang nona yang tertelikung kedua tangannya, yang romannya kucal sekali.

Dialah si nona Thia yang hendak dilundungi oleh kawanan pengemis itu.

Semua orang terkejut, tak terkecuali Oey Yong dan Kwee Ceng.

Auwyang Kongcu mengebasi tangannya, atas itu nona Thia dibawa masuk pula.

Dengan roman sangat bangga ia berkata pula.

"Selagi si pengemis tua nelusup masuk ke dalam kantong, aku yang rendah menantikan di bawah lauwteng, lantas aku mengundang nona Thia, terus aku pulang terlebih dahulu untuk menunggui kamu di sini!"

Semua pengemis itu terbengong, mereka saling mangawasi. Pikir mereka, mereka benar-benar roboh. Auwyang Kongcu mengipasi dirinya, ia tertawa ketika ia berkata pula.

"Nama Partai Pengemis sangat kesohor sehingga nama itu membuatnya orang tertawa hingga giginya copot! Apa yang dinamakan ilmu silat mencuri ayam dan meraba-raba anjing, apa ynag disebut pukulan mengemis nasi dan menangkap ular, semua itu telah dikeluarkan! Dibelakang hari, masihkah kau berani usilan urusan kongcu kamu? Sekarang ini suka aku memberi ampun pada jiwanya ini pengemis bangkotan, asal aku dapat meminjam dia punya kedua cahaya terang sebagai tanda mata…!"

Sembari berkata begitu, pemuda ini mengulur tangannya, untuk dengan kedua jerijinya mencongkel mata orang yang ia menyebutnya "Cahaya terang"

Kalau mata Lee Seng kena dicongkel, butlah dia.

"Tahan!"

Mendadak terdengar satu seruan, disusul sama orangnya, yang berlompat masuk ke dalam ruangan, untuk terus menolak ke arah Auwyang Kongcu.

Pemuda ini terperanjat, ia telah merasakan sambaran angin hingga ia terhuyung.

Inilah hebat sebab semenjak ia keluar dari wilayah Barat, sering ia menghadapi lawan yang berat tetapi belum pernah seberat ini.

Ketika ia sudah melihat orangnya, ia menjadi heran sekali.

Sebab orang itu ialah si anak muda bernama Kwee Ceng, dengan siapa ia pernah hadir bersama dalam pestanya Chao Wang.

Ia tahu orang berkepandaian biasa saja.

Kenapa ia sekarang menjadi begini lihay.

"Kau sesat dan buruk, bukannya kau mencoba mengubah kelakuan, kau justru mencelaki orang!"

Orang itu menegur.

"Apakah kau benar-benar tidak memlihat mata pada semua orang gagah di kolong langit ini?"

Dia memang Kwee Ceng, yang melihat saat untuk tak berdiam lebih lama pula. Auwyang Kongcu melirik, ia tertawa.

"Jadi kaukah si orang gagah di kolong langitnini?"

Dia mengejek.

"Aku yang muda tidak berani menyebut diriku orang gagah,"

Manyahut Kwee Ceng denagn merendah.

"Aku hanya hendak membesarkan nyaliku untuk memberi nasehat kepada kau, kongcu. Aku minta sukalah kau memerdekakannya nona Thia, habis itu lekas-lekas kau pulang ke Wilayah Barat!"

Auwyang Kongcu tertawa pula.

"Jikalau aku tidak sudi dengar nasehatmu, sabahat cilik?"

Dia menanya. Belum lagi Kwee Ceng menyahuti, Oey Yong dari luar jendela telah mendahului. Katanya;

"Engo Ceng, kau hajarlah ini telur busuk!"

Auwyang Ongcu terperanjat. Ia dengar suara orang dan mengenali.

"Nona Oey!"

Ia lantas berkata.

"Kau menghendaki aku memerdekakan Nona Thia, inilah tidak susah, asal kau sendiri yang sudi ikut padaku! Jikalau kau sudi, bukan melainkan Nona Thia, juga wanita-wanita disampingku, akan aku merdekakan semuanya! Bahkan aku akan berjanji, selanjutnya di belakang hari aku tidak akan cari lain wanita lagi! Tidakkah ini bagus?"

"Itulah bagus!"

Menyahut Oey Yong, yang lompat masuk sambil tertawa.

"Kita pergi ke Wilayah Barat untuk pesiar, sungguh menarik! engko Ceng, bukankah bagus begitu?"

Belum lagi Kwee Ceng menyahuti, Auwyang Kongcu sudah mendahului.

"Aku hanya menghendaki kau sendiri yang turut aku pergi bersama,"

Katanya.

"Buat apa inibocah busuk turut bersama?!"

Mendadak Oey Yong menjadi gusar, tangannya menyambar.

"Kau berani memaki dia?!"

Serunya.

"Kaulah si bocah busuk!"

Auwyang Kongcu kesemsem melihat Oey Yong datang dengan senyumannya berseri-seri, orang nampaknya boto dan manis sekali, maka itu ia berlaku ceriwis, ia pun tidak menyangka si nona bisa gusar secara tiba-tiba itu.

Ia pun tidak bersiaga, maka "Plok!"

Pipi kirinya kena ditampar. Sebab si nona menggunai jurus dari "Lok Eng Ciang"

Yang lihay itu. Beruntung untuknya, si nona tidak menggunai seluruh tenaganya, ia hanya merasa pipinya itu panas dan sakit.

"Fui!"

Berseru si kongcu yang menjadi penasaran, seraya tangannya menjambak ke dada si nona.

Oey Yong tidak mau menyingkir dari tangan si pemuda itu, sebaliknya dengan kedua tangannya ia menyerang ke arah kepala orang.

Auwyang Kongcu adalah satu pemuda ceriwis, melihat nona itu menangkis taua berkelit, ia girang bukan main.

Begitulah tanpa pedulikan kepalanya, ia mengulur terus tangannya itu.

Hanya ketika jari tangannya mengenakan dada orang, ia kaget sekali.

Tangannya itu terasa tertusuk dan sakit.

"Oh!"

Ia menjerit.

"Dia mengenakan baju lapis berduri"

Baru sekarang ia ingat. Maka syukur untuknya, karena berlaku ceriwis, ia tidak menjambak keras, ia cuma meraba. Karena ini ia lekas-lekas menangkis kedua tangan si nona.

"Tidak gampang untuk kau menghajar aku!"

Kata Oey Yong tertawa.

"Cuma kau yang verhak menghajar kau, kau sebaliknya tidak!"

Auwyang Kongcu kewalahan, karena ini, ia tumplak kedongkolannya terhadap Kwee Ceng, yang berdiam saja mengawasi aksi mereka berdua.

"Biarlah aku mampuskan dulu bocah ini, supaya dia mati hatinya!"

Pikirnya. Dengan "dia"

Ia maksudkan si nona manis itu.

Ia mengawasi Oey Yong tetapi kakinya bergerak menyentil ke belakang di mana Kwee Ceng berdiri, mengarah dada si anak muda.

Itulah tendangannya yang lihay, ajarannya SeeTok Auwyang Hong, pamannya yang kesohor itu.

Kwee Ceng seperti terbokong, tidak dapat ia mengelakkan diri.

Tapi ia tak sudi mandah saja dihajar, ia segera membalas menyerang.

Jadi keras lawan keras.

Maka berbareng dua-dua serangan mereka berhasil.

Yang satu tertendang kempungannya, yang lainnya terhajar pahanya yang dipakai menendang itu.

Dua-dua lantas merasakan sangat sakit.

Akan tetapi dua-duanya penasaran, maka itu, bukannya mereka mundur, mereka malah maju pula.

Karena itu keduanya jadi bertempur.

Semua orang Kay Pang heran, apapula mereka mengenali pukulannya Kwee Ceng.

"Itulah jurus istimewa dari Lee Seng yang biasa dipakai untuk menolong diri…."

Kata mereka.

"Kenapa dia pun mengerti dan gerakannya cepat melebihkan Lee Seng?"

Kwee Ceng memang menyerang dengan "Sin liong bwee"

Dilain pihak sudah ada beberapa pengemis yang menolongi Lee Seng, yang mereka angkat bangun, maka itu, pemimpin pengemis itu pun jadi bisa menyaksikan pertempuran orang itu, hingga ia pun heran.

"Hang Liong Sip-pat Ciang itu adalah ilmu rahasia Ang Pangcu ynag tidak sembarangan diturunkan,"

Memikir pemimpin pengemis ini.

"Aku sudah berjasa untuk partai, aku cuma diajarkan satu jurus, tetapi anak muda ini lain, agaknya ia mengerti banyak. Mungkinkah ia telah dapat mewariskannya semua?"

Juga Auwyang Kongcu sendiri heran bukan main.

Baru berselang dua bulan atau pemuda ini telah maju demikian pesat.

Cepat sekali mereka sudah ebrtempur empatpuluh jurus.

Kwee Ceng telah gunai semua limabelas jurusnya Hang Liong Sip-pat Ciang, ia telah memutar balik itu.

Dasar kalah jauh dari Auwyang Kongcu, ia tidak dapat merobohkannya, ia cuma dapat bertahan.

Maka itu, lewat lagi belasan jurus, ia kewalahan.

Auwyang Kongcu berlaku sangat gesit, ia berlompatan ke segela penjuru, tinjunya saban-saban menyambar.

Satu kali Kwee Ceng kena didupak kempolannya hingga ia terhuyung.

Syukur ia tangguh, ia tidak dapat celaka.

Ia melawan terus, ia mengulangi jurus-jurusnya.

Untuk sementara ini Auwyang Kongcu tidak berani mendesak, berselang lagi sepuluh jurus lebih, setelah ia dapat memahami ilmu silat orang, baru ia merangsak pula.

Karena ini ia mulai mencari lowongan untuk turun tangan.

Kwee Ceng sudah habis menjalankan limabelas jurus, ia lantas memulai lagi pula dari seperti semula.

Inilah ketika yang justru ditunggu Auwyang Kongcu.

Kongcu ini lantas mendahulukan menyambar ke pundak lawannya itu.

Kaget sekali Kwee Ceng.

Tidak ada jalan untuk dia melindungi diri dengan limabelas jurusnya itu.

Disaat sangat berbahaya itu, ia berlaku nekat.

Ia menubruk seraya menepuk tangannya lawan.

Itulah ilmu silat menurut caranya sendiri.

Ini justru diluar terkaan Auwyang Kongcu yang menjadi kaget, karena ia tidak menyangka bakal disambut secara demikian.

Tidak ampun lagi, lengannya kena dihajar.

Bahna kaget, ia lompat mundur ke belakang beberapa tindak.

Syukur untuknya, ia melainkan merasakan sakit, tulang lengannya tidak panah atau remuk.

Kwee Ceng girang melihat hasilnya itu, yang pun diluar dugaannya.

Ia bahkan jadi insyaf akan dapat diputarbalikkannya ilmu silat itu tanpa menurut aturannya.

Ia hanya menginsyafi, karena belum terlatih, tenaganya jadi berkurang banyak.

Tidak demikian, celakalah tangannya pemuda dari Wilayah Barat itu.

Karena ini, hendak ia mencoba terus.

Lagi sekali mereka mulai bergerak pula, selagi Kwee Ceng hendak mencoba, Auwyang Kongcu sebaliknya penasaran dan hendak menuntut balas.

Kesudahannya, pemuda she Auwyang ini menjadi heran sekali.

Ia mendapatkan kenyataan, disebelah jurus-jurus yang biasa, lawannya mempunyai tiga jurus tambahan lainnnya, hingga sulit untuk dia memberi hajaran tepat seperti tadi.

Sekarang ini Kwee Ceng dapat menutup kempolan kirinya dan pinggangnya kanannya, dua lowongan yang diarah oleh lawannya.

Kwee Ceng berkelahi dengan bernapsu, ia mengulangi dan mengulangi tambahan tiga jurusnya itu hingga ia seperti telah membikin lengkap delapanbelas jurus Hang Liong Sip-pat Ciang.

Ia pun menjadi semakin hapal, pertempuran itu seperti merupakan latihannya.

Segera Auwyang Kongcu melayani dengan sabar, gerakannya jadi rada kendor.

Ia memikir hendak menanti musuhnya itu letih sendirinya.

Dangan berkelahi secara begini, berbareng ia memahami pula cara berkelahinya musuhnya.

Ia cerdik, belum lama ia sudah dapat melihat kekosongannya musuhnya itu.

Atas ini, ia tidak mau mensia-siakan ketika lagi, mendadak ia mengirim serangannya.

Dengan tangan kiri ia menggertak dengan menjambak, diam-diam kakinya melayang naik!

Kwee Ceng terkejut.

Sulit untuk ia menangkis atau berkelit.

Oey Yong menonton dengan waspada, ia melihat pemudanya itu terancam bahaya, karena ia senantiasa siap sedia, segera ia mengayun sebelah tanganya, maka tujuh atau delapan jarum kongcian menyambar kepada Auwyang Kongcu.

Kaget itu pemuda dari Wailayah Barat, tetapi ia masih sampat menebas denagn kipasnya.

Hanya selagi ia merasa berhasil menyingkirkan semua jarum, kakinya toh dirasai sakit dengan mendadak, seperti ada benda yang menancap di jalan darahnya.

Karena ini, meskipun tendangannya mengenai sasarn, kenanya tidak hebat.

Dengan kaget ia melompat mundur.

"Tikus mana membokong kongcumu!"

Ia membentak.

"Kalau kau berani, mari berlaku terus terang…."

Belum lagi pemuda ini menutup mulutnya, satu benda berkelebat menyambar kepadanya, sia-sia belaka ia hendak berkelit, tahu-tahu mulutnya kemasukan serupa barang yang memberi rasa sari asin dan keras.

Ia kaget dan gusar, lekak-lekas ia melepehkannya.

Untuk kemendongkolannya, ia melihat sepotong tulang ayam.

Karena ia tahu darimana datangnya sambaran, ia lantas angkat kepalanya, dongak melihat ke penglari.

Justru ia mengangkat kepalanya, justru ada debu yang meluruk jatuh.

Ia berlompat ke samping, terus ia dongak pula, seraya membuka mulutnya untuk mendamprat.

Kali ini belum sempat ia bersuara, mulutnya itu kembali kemasukan tulang -tulang kaki ayam, maka juga giginya kebentur hingga ia merasakan sakit pada giginya itu!

Bukan alang kepalang mendongkolnya pemuda ini, yang seumurnya belum peranh ada orang hinakan atau mempermainkan secara demikian.

Lekas-lekas ia membuang tulang dari mulutnya itu.

Diwaktu itu dia melihat berkelebatnya suatu bayangan, ynag lompat turun dari penglari itu.

Dalam murkanya, ia pun berlompat untuk memapakinya, guna menyerang bayangan itu.

Tapi heran, bukannnya ia dapat menyerang, ia justru kena memegang serupa barang.

Tempo ia sudah melihat barang itu, mendongkolnya bukan kepalang.

Itu adalah dua potong ceker ayam yang besar digeragoti, yang sudah tidak ada dagingnya!

Berbareng dengan itu, di atas penglari itu terdengar suara orang tertawa lebar yang disusul dengan pertanyaan.

"Bagaimana? Bagaimana dengan ilmu silat mencuri ayam dan meraba-raba anjing dari si pengemis tua?"

Kapan Kwee Ceng dan Oey Yong mendengar suara itu, keduanya girang bukan main.

"Cit Kong!"

Mereka berseru tanpa tertahan lagi.

Semua orang lantas mengangkat kepalanya, maka di atas penglari itu mereka lihat Ang Cit Kong tengah duduk dengan enteng sekali, mulutnya lagi mengegerogoti sepaha ayam berikut dadanya, ynag dipegangi sebelah tangannya.

Mengenali orang tua itu, hatinya Auwyang Kongcu menjadi dingin sekali.

"Ang Siepee di sana?"

Ia berkata.

"Di sini titjie memberi hormat!"

Benar-benar ia lantas menekuk kedua lututnya dan mengangguk-angguk.

"Oh, kau mengenal si pengemis tua?"

Tanya Ang Cit Kong seraya terus menggayam ayamnya. Ia menanya acuh tak acuh.

"Memang pernah titjie bertemu sama Ang siepee,"

Menyahut Auwyang Kongcu, yang menyebut dirinya titjie, keponakan.

"Titjie ada punya mata tetapi titjie tidak mengenal gunung Tay San, seharusnya titjie mati saja. Dahulu hari itu titjie sudah lantas mengirim pesuruh burung ke Barat, akan memohon petunjuk dari pamanku, setelah itu barulah titjie mengetahui siepee. Pamanku itu memesan, apabila titjie bertemu pula sama siepee, mesti titjie menyampaikan hormatnya seraya mengharap kesehatan siepee."

"Si Racun Tua itu pandai sekali berpura-puar!"

Berkata Ang Cit Kong, yang menyebut si racun Tua kepada See Tok Auwyang Hong.

"Dia pun banyak mulutnya! Aku si pengemis tua, dapat aku mencuri, dapat aku gegares, tetapi aku tidak merampas anak dara orang, maka kenapa aku bolehnya tidak sehat? Bukankah pamanmu tidak sakit dan tidak tumbuhan juga?"

Auwyang Kongcu malu dan jengah, ia menyahuti sembarangan saja.

"Barusan aku mendengar kata-katamu,"

Berkata lagi Ang Cit Kong.

"Bukankah kau menyebut-nyebut tentang ilmu silat mencuri ayam dan meraba-raba anjing, tentang pukulan mengemis nasi dan menangkap ular? Bukankah kau sangat memandang enteng kepada semua ilmu silat itu?"

Di dalam hatinya Auwyang Kongcu kata.

"Aku tidak menyangka bahwa dia telah bersembunyi di atas penglari…"

Tapi toh ia menyahuti.

"Siepee, aku mohon sukalah siepee memaafkan keponakanmu ini. Tadi aku telah mengoceh tidak karuan karena aku tidak mengetahui ketua Partai lo-enghiong ini justru siepee adanya…"

Ang Cit Kong tertawa terkakak, selagi tertawa, tubuhnya berlompat turun.

"Kau menyebut dia lo-enghiong, tetapi dia tidak sanggup melawan kau, maka itu kaulah si enghong!"

Berkata ketua pengemis itu.

"Apakah kau tidak malu? Haha-haha!"

Enghiong ialah pendekar dan lo-enghiopng adalah pendekar tua.

Auwyang Kongcu malu sekali dengan hatinya mendongkol bukan main, tetapi ia insyaf orang bukanlah tandingannya, tidak berani ia turun tangan, tidak berani ia lancang mulut, maka ia terpaksa merendahkan diri.

"Kau mengandalkan ilmu silatnya si Racun Tua, kau datang ke Tionggoan, ke tenggara ini untuk malang melintang! Hm! Hm! Tapi ketahui olehmu, selama si pengemis belum mampus, aku khawatir kau tidak akan mendapatkan tempatmu di sini!"

Berkata pula si pengemis tua itu. Auwyang Kongcu terus mesti mengendalikan diri.

"Siepee bersama pamanku ada sama kesohornya, maka itu aku menurut saja segala perintah siepee,"

Ia berkata, merendah.

"Bagus, ya!"

Berseru Cit Kong.

"Kau maksudkan aku si besar menghina si kecil, si tua menghina kamu si anak muda?"

Bab 33. Kemaruk Kebesaran Auwyang Kongcu tidak membuka suara, ia melawan diam.

"Dibawah perintahku si pengemis tua,"

Berkata Cit Kong.

"Meski benar ada si pengemis besar, si pengemis pertengahan dan si pengemis kecil, mereka itu bukanlah murid-muridku! sekalipun ini si orang she Lee, dia barulah belajar serupa ilmu silatku yang kasar, ia masih bukan muridku yang dapat menjadi ahli warisku! Bukankah kau memandang enteng ilmu silatku mencuri ayam dan meraba anjing? Bukankah aku si pengemis bangkotan omong besar, apabila aku hendak mengangkat satu murid langsung, belum tentu ia seperti kau!"

"Itulah sudah sewajarnya,"

Menyahut Auwyang Kongcu.

"Di mulut kau mengatakan begini, di dalam hatimu kau mencaci aku,"

Kata pula Ang Cit Kong.

"Itulah keponakanku tidak berani,"

Membilang Auwyang Kongcu.

"Cit Kong jangan percaya obrolannya!"

Oey Yong menyelak.

"Di dalam hatinya dia memang sedang mencaci kau, malah mencaci lebih hebat sekali!"

"Bagus ya, bocah ini berani mencaci aku!"

Seru Cit Kong dengan gusar.

Mendadak ia mengulur tangannya, bagaikan kilat, kipas di tangan si anak muda telah kena dirampas, hingga orang melengak.

Dia membeber kipas itu, di situ terlihat lukisan beberapa tangkai bunga bouwtan serta tulisannya Cie Hie dari jaman Song Utara, di samping mana ada lagi sebaris tulisan, bunyinya "Pek To San Cu", artinya tuan dari Pek To San.

Itulah tulisannya Auwyang Kongcu sendiri.

"Hm!"

Cit Kong memperdengarkan suara dingin. Kemudian ia menanya Oey Yong.

"Bagaimana kau lihat ini beberapa huruf?"

Sepasang alis matanya si nona terangkat. Ia menjawab.

"Sungguh menyebalkan! Itulah mirip tulisannya kuasa dari toko penukar uang perak!"

Auwyang Kongcu biasa mengagulkan diri sebagai pemuda yang pandai ilmu silat dan ilmu surat, sekarang ia mendengar celaannya Oey Yong, ia mendongkol bukan main, dengan mata melotot ia memandang si nona.

Tapi ia melihat wajah orang yang terang, yang seperti tertawa bukannya tertawa, ia menjadi tercengang.

Ang Cit Kong membeber kipas di telapakan tangannya yang satu, ia bawa itu ke mulutnya untuk dipakai menyusuti beberapa kali.

Ia baru saja habis menggerogoti ayam, di bibirnya masih berbelepotan minyak, maka bisa di mengerti kalau kipas indah itu bukannya menjadi kipas lagi, setelah mana ia merangkap jari-jari tangannya, hingga kipas itu jadi teremas menjadi sehelai kertas rongsokkan, sesudah mana ia melemparkannya!

Untuk lain orangm kejadian itu bukan berarti apa-apa, untuk Auwyang Kongcu, itulah hebat sekali.

Itulah kipas yang menjadi alat senjatanya untuk bertempur, tulang-tulangnya terbuat dari baja pilihan, dengan diremas itu, baja itu turut menjadi tidak karuan.

Hanya di sebelah itu, ia pun kagum untuk tenaga besar dari si pengemis tua, yang dengan gampang saja dapat meremas remuk itu!

"Jikalau aku sendiri yang melawan kau, sampai mampus juga kau tentu tidak puas,"

Berkata Ang Cit Kong.

"Maka sekarang juga hendak aku mengangkat seoarng murid supaya segera dia melawan kau….."

Benar-benar Auwyang Kongcu penasaran, dengan berani ia pun berkata.

"Saudara ini barusan telah bertempur beberapa puluh jurus denganku, jikalau siepe tidak turun tangan, sudah tentu keponakanmu yang beruntung memperoleh kedudukan di atas angin."

Sembar tertawa, ia menunjuk kepada Kwee Ceng. Cit Kong mendongak ke langit, ia tertawa terbahak-bahak.

"Anak Ceng, adakah kau muridku?"

Ia menanya.

Kwee Ceng ingat itu hari ia berlutut kepada orang tua ini, untuk memberi hormat tetapi si orang tua dengan tersipu-sipu membalas berlutut dan mengangguk-angguk kepadanya, maka itu ia lekas-lekas menjawab.

"Aku yang muda tidak mempunyai rejeki untuk menjadi muridmu."

"Nah, kau telah dengar, bukan?"

Berkata Cit Kong kepada pemuda she Auwyang itu. Auwyang Kongcu menjadi heran sekali.

"Pengemis bangka ini pastilah tidak memperdaya orang,"

Pikirnya.

"Habis bocah ini, darimanakah dia mendapatkan kepandaiannya itu?"

Cit Kong tidak mengambil tahu apa yang orang pikir. Ia memandang Kwee Ceng.

"Sekarang hendak aku mengambil kau sebagai murid, kau senang atau tidak?"

Dia tanya.

"Apakah kau tidak mencele aku si pengemis tua? Apakah enak mendengarnya kau kalau orang katakan gurumu adalah aku si pengemis tua?"

Tapi Kwee Ceng girang bukan kepalang, lantas saja ia menjatuhkan diri di depan si raja pengemis itu, untuk paykui delapan kali.

"Hai, anak tolo!"

Kata si guru.

"Mengapa kau tidak memanggil suhu?"

"Sebenarnya teecu sudah mempunyai enam guru, maka itu teecu pikir…."

Untuk sejenak bocah ini merandak, ia bersangsi.

"Teecu memikir untuk menanyakan dulu pikirannya keenam guruku itu…"

"Benar-benar!"

Berkata Ang Cit Kong.

"Seorang kuncu memang tidak melupakan asal usulnya! Baiklah, sekarang aku mengajarkan kau dulu dengan tiga jurus."

Lalu di depan Auwyang Kongcu sendiri, Cit Kong mengajarkan Kwee Ceng sisanya tiga jurus lagi Hang Liong Sip-pat Ciang.

Sudah tentu ketiga jurus itu beda dengan tiga jurus ciptaan Kwee Ceng sendiri.

Cit Kong tunggu sampai Kwee Ceng sudah dapat menghapalkan tiga jurus itu, abru ia kata.

"Baik, anak yang baik, cukup sudah! Sekarang kau tolongi aku mengajar adat pada ini bandit cabul!"

Kwee Ceng memang sangat sebal terhadap itu pemuda ceriwis dan jumawa, tanpa membilang apa-apa lagi, ia lansung meninju.

Auwyang Kong tidak takut, ia pun lagi mendongkol, maka habis berkelit, lantas ia balas menyerang, maka kembali di situ keduanya bertarung.

Rahasianya Hang Liong Sip-pat Ciang adalah tenaga yang dikerahkan di satu saat, tentang ilmu silatnya sendiri sangatlah sederhana, dipelajarinya pun gampang, yang sulit adalah melatihnya hingga mahir.

Orang-orang seperti Nio Cu Ong, Bwee Tiauw Hong dan Auwyang Kongcu, itu bukanlah tandingannya Kwee ceng, tetapi kenapa ia sanggup melayani mereka bertiga?

Itulah rahasianya.

Pula kali ini.

Auwyang Kongcu menghadapi sendiri si pengemis tua mengajari Kwee Ceng, kalau perlu ia dapat menyangkoknya, tetapi sekarang setelah bergebrak, ia merasakan kesulitannya.

Sekarang Kwee Ceng dapat menggunai delapanbelas jurus, ia dapat menyambung itu kepala dengan buntut dan buntut dengan kepala.

Karena ia telah pandai menjalankan limabelas jurus, mendapat tambahan tiga jurus yang terakhir ini, tenaganya lantas saja bertambah.

Auwyang Kongcu melayani bekas tandingannya ini dengan bersungguh-sungguh, dia sudah menggunai empat macam ilmu silat, ia tapinya cuma dapat berimbang saja -mereka ini jadi sama tangguhnya, sedang tadinya ia terlebih unggul.

Sesudah lewat lagi beberapa jurus tanpa hasil, ia menjadi bingung.

"Jikalau hari ini aku tidak memperlihatkan ilmu silat istimewa dari keluargaku, pasti sekali sukar untuk aku merebut kemenangan."

Ia berpikir.

"Semenjak masih kecil aku telah dididik pamanku, kenapa aku tidak dapat merobohkan muridnya si pengemis tua ini -murid yang baru saja diberi pengajaran? Tidakkah dengan begitu aku akan meruntuhkan kesohoran dari pamanku di tangannya si pengemis bangkotan ini?"

Karena ini, mendadak ia mengirim tinjunya yang hebat.

Melihat serangan itu, Kwee Ceng segera menangkis.

Tapi mendadak ia seperti kehilangan tangan lawan, yang menjadi lemas dengan sekonyong-konyong, atau dilain saat "Plok!"

Batang lehernya telah kena ditinju tanpa ia dapat berdaya.

Ia menjadi kaget sekali, sambil tunduk ia lompat, tangannya membalas menyambar.

Auwyang Kongcu berkelit sambil menggeser kaki, sambil berkelit, ia juga menyerang.

Kali ini Kwee Ceng tidak berani menangkis, ia berkelit dengan cepat.

Tapi aneh gerakan tangannya kongcu ini, entah bagaimana, tangannya seperti menuju ke kiri, tahunya ke kanan, maka "Plok!"

Lagi sekali tangannya ini mengenakan pundak. Hebat untuk Kwee Ceng, lekas juga ia terhajar untuk ketiga kalinya.

"Anak Ceng, tahan!"

Berkata Ang Cit Kong.

"Hitunglah kau yang kalah satu kali ini."

Kwee Ceng menurut, ia lompat keluar gelanggang. Ia merasakan sakit pada tempat-tempat yang terpukul, tapi ia pun memberi hormat pada lawannya seraya berkata.

"Benar kau lihay, aku bukanlah tandinganmu."

Auwyang Kongcu puas sekali, ia lantas melirik Oey Yong. Ang Cit Kong lantas berkata.

"Si Racun tua setiap hari memelihara ular, ini ilmu silatnya Kulit Ular Emas tentulah ia ciptakan dari tubuhnya ular berbisa. Kau beruntung sekali, karena sekarang belum aku si pengemis tua dapat memikir daya untuk memecahkannya. Nah, kau pergilah baik-baik."

Auwyang Kongcu tercekat hatinya. Ia pikir.

"Paman telah pesan wanta-wanti padaku, kalau bukan menghadapi bencana kematian, tidak boleh aku menggunai ini tiou silatnya yang diberi nama Kim Coa Kun, Kuntauw Ular Emas, sekarang si pengemis tua mengetahuinya, apabila pamanku mengetahui juga, aku bisa di hukum berat."

Karena ini lenyaplah kepuasan hatinya. Ia memberi hormat kepada Ang Cit Kong, lantas ia bertindak keluar dari rumah abu itu.

"Eh, tunggu dulu, hendak aku bicara denganmu!"

Oey Yong mencegah. Auwyang Kongcu menghentukan tindakannya, ia menoleh. Oey Yong memberi hormat dan menjura kepada Ang Cit Kong.

"Cit Kong,"

Katanya.

"Baiklah hari ini kau menerima dua murid. Kau sekarang berat sebelah, aku tidak mau mengerti!"

Ang Cit Kong menggeleng kepala tetapi ia tertawa.

"Sebenarnya aku telah melanggar aturan dengan menerima murid,"

Katanya.

"Maka itu tidak dapat dalam satu hari aku melanggar pula aturan dengan menerima dua murid. Ayahmu sendiri sangat lihay, mana dapat ia membiarkan kau mengangkat aku si pengemis tua menjadi gurumu…"

Oey Yong menunjuki rupa kaget dan sadar.

"Oh, kau jeri terhadap ayahku!"

Katanya. Cit Kong kena dibikin panas hatinya.

"Takut?"

Katanya.

"Hm! Baiklah, aku terima kau sebagai murid! Mustahil Oey Lao Shia di Bangkotan Tersesat nanti gegares tubuhku!"

Oey Yong girang, ia tertawa.

"Baiklah, satu patah menjadi kepastian"

Ujarnya.

"Jangan kau menyesali! Suhu, kamu kaum pengemis, bagaimana caranya kamu menangkap ular? Coba suhu mengajari aku."

Cit Kong berpikir. Ia tak tahu maksudnya nona ini tetapi ia tahu orang sangat cerdik, ia menduga tentulah putrinya Tong Shia Oey Yok Su ini mengandung sesuatu maksud.

"Menangkap ular menangkap di tempat tujuh dim,"

Ia memberi keterangan.

"Kedua jeriji tangan mesti merupakan sebagai sepit. Asal tepat kenanya, ular bagaimana beracun juga tidak bakalan bergeming lagi."

"Kalau ular yang kasar sekali?"

Tanya pula si nona. Ia maksudkan ular besar.

"Ajukan tangan kiri, untuk memancing ia menggigit jari tangan kiri kita,"

Cit Kong mengajari.

"Lalu dengan tangan kanan menghajar dia di tempat tujuh dim juga."

"Apakah menhajarnya mesti cepat sekali?"

"Tentu saja. Tangan kiri itu mesti dipakaikan obat, supaya toh kalau kena digigit, akibatnya tidak membahayakan."

Oey Yong mengangguk, ia melirik kepada si pengemis tua itu, ia mengedipi matanya.

"Suhu, sekarang kau boleh torehkan obat padaku."

Ia minta.

Ia memanggil suhu, guru.

Biasanya Ang Cit Kong ini, kalau ia menghadapi ular, biar yang sangat beracun, ia mengeemplangnya dengan tongkatnya, dari itu ia tidak seia obat, akan tetapi si nona melirik padanya, mengedipi mata, ia lantas mengasih turun cupu-cupu di bebekongnya, dari dalam itu, ia menuang sedikit arak, dengan itu ia menorehkan kedua tangan ini murid yang baru.

Oey Yong membawa kedua tangannya ke hidungnya, untuk menciumny, lantas ia memperlihatkan wajah yang luar biasa.

Ia pun segera menghadapi Auwyang Kongcu.

"Hallo!"

Tegurnya.

"Aku ini muridnya Ang Cit Kong, sekarang aku ingin belajar kenal dengan ilmu silatnya Kulit Ular Lemas! Paling dulu hendak aku menjelaskan padamu, tanganku ini sudah ditorehkan obat pemunah racun ularmu, dari itu kau haruslah waspada!"

Auwyang Kongcu tidak takut. Pikirnya.

"Dengan menempur kau, bukannya dengan segebrakan saja dapat aku mencekukmu! Tidak peduli tanganmu ada apanya yang aneh, cukup untukku asal aku tidak membenturnya!"

Maka ia tertawa dan menyahuti.

"Jikalau aku sampai terbinasa di tanganmu, aku puas!"

"Semua ilmu silatmu yang lainnya biasa saja,"

Berkata si nona.

"Karena aku cuma mau belajar kenal sama kutauw ularmu yang bau busuk itu, maka jikalau kau menggunakan kainnya macam ilmu silat, kau terhitung kalah!"

"Apa yang kau bilang Nona, aku mengiringi saja,"

Sahut Auwyang Kongcu Oey Yong tertawa.

"Aku tidak sangka, kau telur busuk, pandai sekali kau bicara!"

Katanya.

"Lihat tanganku!"

Kata-kata ini disusul serangannya, dengan jurus po-giok-kun ajarannya Ang Cit Kong.

Auwyang Kongcu sudah lantas berkelit ke samping.

Oey Yong menyerang terus, mulanya dengan tendangan kaki kiri, lalu itu disusul dengan bangkolan tangan kanan.

Ini pun ada ajarannya karena namanya pukulan "Sutera Terbang".

Melihat orang gesit, Auwyang Kongcu tidak berani memandang enteng.

Ia mengulur tangan kanannya, ia tekuk itu, lalu mendadak ia menhajar ke pundak si nona.

Inilah jurus dari Kim Coa Kun, Kuntauw Ular Emas itu.

Sungguh sebat serangannya itu.

Hampir tangannya mengenakan sasarannya, mendadak ia sadar, cepat-cepat ia menarik pulang.

Sejenak itu ia ingat si nona mengenakan baju lapis berduri, kalau serangannya mengenai, tangannya pasti berdarah.

Justru orang membatalkan serangannya itu, justru Oey Yong menyerang.

Dua-dua tangannya melayang ke arah muka.

Auwyang Kongcu mengebaskan tangan bajunya, dengan itu ia menangkis serangan si nona.

Oey Yong mengenakan baju lapis dan kedua tangannya dipakaikan obat, maka itu kecuali mukanya, tidak ada lain anggota tubuhnya yang dapat dijadikan sasarn.

Karena itu Auwyang Kongcu menjadi mendapat rintangan.

Untuk menyerang ke bawah, ia tidak mempunyai harapannya, karena ini, ia jadi kena terdesak, ia mesti main berkelit atau lompat sana lompat sini saja.

"Kalau aku serang mukanya dan berhasil, aku berlaku lancang,"

Pikirnya ini anak muda.

"Kalau aku jambak rambutnya, itulah terlebih hebat lagi, aku jadi berlaku kasar. Habis, kemana aku mesti menyerang…?"

Tetapi ia cerdik, ia lantas mendapat akal.

Selagi berkelit, ia merobek ujung bajunya, ia pakai itu untuk membalut kedua tangannya, maka sebentar kemudian, ia mulai berkelahi dengan mencoba untuk menangkap tangan lawannya.

Tiba-tiba Oey Yong lompat keluar gelanggang.

"Kau kalah!"

Serunya.

"Itulah bukan ilmu silatmu yang bau!"

"Oh, aku lupa..!"

Berkata si anak muda, jengah.

"Sekarang teranglah ilmu silat ularmu yang bau itu tak dapat berbuat apa-apa terhadap muridnya Ang Cit Kong,"

Kata si nona yang licin itu.

"Itu artinya ilmu silat itu tak ada keanehannya. Selama di istana Chao Wang, kita pun pernah bertempur, itu waktu aku malas mengeluarkan tenaga, aku kalah. Karena itu, kita sekarang seri. Mari kita bertempur lagi, untuk memastikan menang atau kalah!"

Mendengar itu Lee Seng semua heran. Mereka berpikir.

"Ini nona memang lihay tetapi dia tak dapat melawan musuhnya, barusan ia menang karena menggunai akal, tidakkah itu bagus? Kenapa dia mau bertempur lagi, seperti orang melukiskan ular di tambah kaki?"

Ang Cit Kong sebaliknya tertawa haha-hihi.

Ia tahu nona ini sangat pintar dan nakal, dia rupanya hendak menggunai hadirnya ia disitu untuk mempermainkan keponakannya Auwyang Hong itu.

Maka ia membiarkan saja, ia lebih perlu menggerogoti sisa ayamnya….

"Ah, kenapa kita mesti main sungguh-sungguhan?"

Tertawa Auwyang Kongcu.

"Kau yang kalah atau aku yang menang toh sama saja, bukan? Tapi, kalau ada mempunyai kegembiraan, baiklah aku yang rendah suka menemani kau main-main."

Oey Yong berkata pula;

"Selama di istana pangeran Chao Wang itu, di kiri kananmu semua ialah sahabat-sahabatmu, andaikata aku menang, terang sudah mereka bakal menolongi kau. Itulah sebabnya kenapa aku malas melayani kau. Tapi disini ada sahabat-sahabatmu…"

Ia menunjuk kepada semua gundik orang yang mengenakan pakaian serba putih itu.

"Dan aku pun ada kawan-kawanku. Memang benar sahabatmu berjumlah lebih banyak, tetapi tidak apa, aku dapat melayani kerugian di pihakku itu. Sekarang begini saja, mari kita menggurat satu lingkaran bulat. Siapa yang lebih dulu keluar dari lingkaran, dia yang kalah!"

Mendengar suara orang yang agaknya mendesak itu, tetapi toh ada pantasnya, Auwyang Kongcu mendongkol berbareng geli di hatinya.

Ia suka menerima baik usul itu, bahkan ialah yang segera membikin lingkaran itu.

Ia menggurat dengan kakinya.

Ialah kaki kiri ditancap di tengah-tengah, kaki kanannya berputar mengikuti tubuhnya.

Ia membuat lingkaran lebar bundar enam kaki.

Rombongan Kay Pang bensi ini anak muda, tetapi melihat kepandaian orang itu, mereka kagu dan memuji dalam hati.

Oey Yong lantas bertindak masuk ke dalam lingkaran itu.

"Kita bertempur secara bun atau secara bu?"

Dia tanya. Bun itu berarti lunak dan Bu itu berarti keras.

"Hebat kau, banyak keanehanmu…"

Pikir Auwyang Kongcu. Ia menanya.

"Bagaimana caranya bun dan bagaimana caranya bu?"

"Cara bun itu ialah aku menyerang kau tiga kali, kau tidak boleh membalas,"

Menerangkan si nona.

"Kau juga menyerang kepadaku dan aku pun tidak boleh membalasi. Kalau cara bu ialah kita bertarung sesuka kita, kau boleh pakai ilmu silat ular mampus atau kuntauw tikus hidup, sesukamu, asal siapa yang keluar terlebih dahlulu dari lingkaran, dialah yang kalah!"

"Aku pikir baiklah kita ambil cara bun,"

Berkata si anak muda.

"Dengan begitu kita tidak menggangu persahabatan kita…"

"Kalau cara bu, sudah pasti kau bakal kalah!"

Berkata si nona.

"Kau pilih cara bun, kau masih mempunyai harapan. Baiklah, aku memberi keleluasan padamu, kita pakai cara bun. Siapa yang menyerang lebih dulu, kau atau aku?"

Auwyang Kongcu malu menyerang lebih dulu.

"Tentu saja kau yang mulai lebih dulu,"

Ia memberikan penyahutannya.

"Kau licin sekali!"

Tertawa Oey Yong.

"Kau memilih belakangan, karena kau tahu, jikalau kau lebih dulu, kau bakal tampak kerugian, kau jadi berpura ngalah terhadap aku! Baiklah, hari ini aku yang akan terus bersikap seorang kesatria, aku akan mengalah sampai di akhirnya!"

Auwyang Kongcu pun berpikir.

"Sebenarnya tidak apa yang aku menyerang terlebih dulu."

Tapi ketika ia hendak mengucapkan itu, si nona sudah mendahului padanya.

"Lihat serangan!"

Nona ini benar-benar menyerang, dihadapannya terlihat sinar berkeredepan menyambar lawannya.

Ia ternyata memegang senjata rahasia di dalam tangannya.

Auwyang Kongcu terkejut.

Untuk menangkis sama kipasnya, kipasnya itu sudah dirusak Ang Cit Kong.

Ia dapat menggunai ujung bajunya, untuk mengebas, tangan ujung bajunya baru disobek.

Ia tidak menangkis, ia pun tidak bisa mundur.

Sebab mundur berarti keluar dari lingkaran.

Tidak ada pilihan lain, terpaksa ia menjejak kedua kakinya, untuk mencelat mengapungi diri, tingginya setombak lebih, dengan begitu semua senjata rahasia itu lewat di bawahan kakinya.

Si nona telah menimpuk dengan beberapa puluh jarumnya.

"Serangan yang kedua!"

Si nona berseru.

Ia menyerang pula disaat orang terapung habis dan tinggal turunnya saja.

Serangannya kali ini ke kiri dan ke kanan, ke atas dan ke bawah.

Itulah ilmu melepaskan jarum ajaran Ang Cit Kong yang bernama "Boan-thian hoa ie teng kim ciam"

Atau melempar jarum memebuhi langit bagaikan hujan bunga.

"Habislah aku!"

Mengeluh Auwyang Kongcu saking kagetnya.

"Perempuan ini sungguh kejam…"

Justru itu ia merasakan ada orang mencekal leher bajunya di bagian dan belakang dan terus kakinya terangangkat lebih tinggi, berberang dengan mana, ia mebdengar suara sar-ser dari lewatnya semua jarum rahasia, yang terus jatuh ke tanah.

Ia mengerti bahwa ada orang yang sudah menolongi padanya, hanya belum sempat ia melihat penolong itu, ia merasa tubuhnya sudah dilemparkan.

Sebenarnya ia tidak dilempar keras, akan tetapi lihaynya orang yang melemparkannya itu, ketika tubuhnya tiba di tanah, yang mendahului jatuh adalah lengan kirinya, maka sebelum dapat berlompat bangun, ia terbanting keras juga.

Ia menduga kepada Ang Cit Kong, sebab di situ tidak ada orang lain yang terlebih pandai.

Ia mendongkol sekali, tanpa menoleh lagi, ia ngeloyor keluar dari rumah abu itu, semua gundiknya melerot mengikuti padanya.

"Suhu, kenapa kau menolongi mahkluk busuk itu?!"

Oey Yong tanya gurunya. Ang Cit Kong tertawa.

"Dengan pamannya itu aku bersahabat kekal!"

Sahutnya.

"Dia memang jahat, dia bagiannya mampus, tetapi kalau dia mampus di tangan muridku, jelek di muka pamannya itu."

Ia terus menepuk-nepuk pundak muridnya yang cerdik itu.

"Anak manis, hari ini kau telah membikin terang muka gurumu. Dengan apa aku harus memberi upah kepadamu?"

Oey Yong mengulur lidahnya.

"Aku tidak menghendaki tongkatmu, suhu!"

Katanya.

"Walaupun kau menghendaki, tidak dapat aku memberikannya itu!"

Kata sang guru.

"Aku memikir untuk mengajari kau satu atau dua tipu silat, tetapi dalam beberapa hari ini aku sangat malas bergerak, aku tidak mempunyakan kegembiraanku!"

"Aku nanti memasaki kau beberapa macam sayur untuk membangkitkan semangatmu,"

Berkata Oey Yong.

"Sekarang aku tak sempat berdahar."

Ia menunjuk Lee Seng serta rombongannya.

"Kami kaum Kay Pang ada mempunyai banyak urusan untuk dibicarakan."

Lee Seng dan kawan-kawannya menghampirkan Kwee Ceng dan Oey Yong, untuk menghanturkan terima kasih.

Nona Thia pun meloloskan diri dari belenggunya, ia dekati Oey Yong, tangan siapa ia tarik, ia mengutarakan rasa syukurnya.

Oey Yong menujuk kepada Kwee Ceng, ia berkata kepada si nona.

"Ma Totiang, yang menjadi paman gurmu yang nomor satu, pernah mengajarkan ilmu silat, dan lain-lain paman gurumu, seperti Khu Supee dan Ong Supee, semua memandang tinggi kepadanya. Sebenarnya kita adalah orang sendiri."

Setelah Lee Seng mengasih selamat kepada Ang Cit Kong, Kwee Ceng dan Oey Yong.

Mereka memang tahu, ketua itu tidak pernah menerima murid tetapi entah bagaimana, kali ini kebiasaan itu tidak dapat dipertahankan.

Tentu saja ia, yang diajar, hanya beberapa jurus, menjadi kagum sekali.

Ia pun berkata, besok hendak ia mengadakan perjamuan guna pemberian selamat itu.

"Aku khawatir mereka jijik dengan kedekilan kita, mereka tidak akan sudi dahar makanan kita kaum pengemis!"

Berkata Cit Kong sambil tertawa.

"Besok pasti kita akan hadir,"

Berkata Kwee Ceng lekas.

"Lee Toako ada cianpwee kami, aku justru ingin sekali mempererat persahabatan kita!"

Senang Lee Seng mendapat perkataan anak muda ini. Ia memang suka ini anak muda yang lihay dan sifatnya sangat merendah.

"Kamu bersahabat erat, inlah bagus,"

Kata Cit Kong.

"Tapi ingat, jangan kau membujuk murid kepalaku ini menjadi pengemis. Kau, muridku yang kecil, pergi kau mengantarkan Nona Thia pulang. Kami bangsa pengemis, sekarang kami hendak pergi mencuri ayam dan mengemis nasi…!"

Habis berkata begitu, pangcu dari Kay Pang itu, Partai Pengemis, sudah lantas ngeloyor pergi.

Lee Seng beramai mengikuti, tetapi sebelum, pergi Lee Seng memberitahukan, pesat besok bakal dibikin di rumah abu itu.

Oey Yong mengantarkan Nona Thia pulang, Kwee Ceng juga turut mengantar karena ia khawatir mereka itu nanti bertemu Auwyang Kongcu di tengah jalan, itulah berabe.

Di tengah jalan itu, Nona Thia perkenalkan dirinya pada Oey Yong.

Ia ternyata bernama Yauw Kee.

Ia memang pernah belajar silat pada Ceng Ceng Sanjin Sun Put Jie tetapi dasar dari keluarga hartawan, ia tidak bisa membuang semua sifatnya si orang hartawan, maka itu ia beda dadri Oey Yong yang polos dan sederhana, meskipun sebenarnya Oey Yong termanjakan oleh ayahnya.

Sekembalinya dari rumah Thia Yauw Kee, Kwee Ceng dan Oey Yong hendak pulang ke penginapannya untuk beristirahat, mereka merasa letih, akan tetapi mendadak mereka mendengar tindakan kaki kuda mendatangi dari arah selatan ke utara, setelah datang hampir dekat, penunggang kuda itu menghentikan binatang tunggangannya.

Oey Yong ingin ketahui siapa pengunggang kuda itu, ia lari menghampirkan, Kwee Ceng mengikuti dia.

Untuk herannya muda-muda ini, mereka mengenali Yo Kang, yang tangannya menuntun seekor kuda.

Dan, berdiri di tepi jalan, orang she Yo itu asyik pasang omong dengan Auwyang Kongcu.

Sebenarnya mereka ini ingin mendengar pembicaraan orang tetapi mereka tidak berani datang terlalu dekat, khawatir nanti kepergok.

Maka itu apa yang terdengar adalah Auwyang Kongcu menyebut-nyebut "Gak Hui"

Dan kota "Lim-an"

Dan Yo Kang mengatakan "ayahku".

Setelah itu, Auwyang Kongcu memberi hormat, bersama murid-muridnya, dan gundik-gundiknya, ia berlalu.

Yo Kang berdiri menjublak, lalu ia menghela napas, kemudain ia berlompat naik ke atas kudanya.

"Yo Hiantee, aku ada di sini!"

Kwee Ceng memanggil. Yo Kang terkejut, tetapi segera ia lari menghampirkan "Toako, kau ada di sini?"

Tanya heran.

"Di sini aku bertemu bersama Nona Oey, kita pun bentrok sama Auwyang Kongcu, kerananya perjalananku terlambat,"

Kwee Ceng menyahut. Mukanya Yo Kang merah dan dirasakan panas, tetapi Kwee Ceng tidak dapat melihatnya.

"Toako, kita jalan terus sekarang atau singgah dulu?"

Yo Kang tanya.

"Apakah Nona Oey akan turut bersama pergi ke Pak-khia?"

"Bukannya aku mengikut kamu, tetapi kaulah yang mengikuti kami,"

Kata Oey Yong.

"Toh, tidak ada perbedaannya!"

Kwee Cneg tertawa.

"Mari kita pergi ke rumah abu untuk beristirahat, setelah terang tanah kita melanjutkan perjalanan kita."

Yo Kang menurut, maka mereka balik ke rumah abu keluarga Lauw itu.

Kwee Ceng menyalakan sisa lilinya Auwyang Kongcu.

Oey Yong membawa sebuah ciaktay, dengan menyuluh, ia punguti semua jarumnya.

Hawa malam itu panas mengkedus, maka ketiganya merebahkan diri di depan ruang dimana mereka meletakkan daun pintu.

Hampir mereka kepulasan, kuping mereka mendengar tindakan kaki kuda.

Lantas mereka bangun untuk berduduk, untuk memasang kuping.

Terang itu bukannya seekor kuda, dan suaranya pun makin nyata.

"Yang di depan tiga orang, yang di belakang, yang mengejar belasan,"

Berkata Oey Yong. Kwee Cneg seperti hidup di punggung kuda, ia lebih berpengalaman daripada si nona. Ia kata.

"Inilah aneh! Pengejar itu terdiri dari enambelas orang!"

"Apa katamu!"

"Yang di depan itu semua kuda Mongolia, yang di belakangnya bukan. Heran, kenapa kuda Mongolia dari gurun pasir lari-larian di sini?"

Oey Yong berbangkit, ia menarik tangan Kwee Ceng buat diajak ke pintu.

Mendadak saja sebatang anak panah lewat di atasan kepala mereka.

Ketiga penunggang kuda sudah lantas sampai di depan rumah abu, hanya celaka penunggang kuda yang paling belakang, ketika sebatang panah menyambar pula, kudanya terpanah kempolannya, binatang itu meringkik, lalu roboh.

Syukur untuknya, dia kaget, dia dapat berlompat turun dari kudanya itu, hanya ia tidak mengerti ilmu ringan tubuh, turunnya dengan tubuh yang berat.

Dua kawannya berdiri bengong dan saling mengawasi.

"Aku tidak kurang suatu apa!"

Berkata yang kudanya roboh itu.

"Kau lekas berangkat terus, nanti aku merintangi mereka itu!"

"Nanti aku membantui kau merintangi mereka,"

Kata yang satunya.

"Su-ongya boleh lekas menyingkir!"

"Mana bisa?!"

Berkata orang yang dipanggil su-ongya itu, pangeran keempat.

Mereka itu bicara dalam bahasa Mongolia dan Kwee Ceng merasa mengenali mereka, ialah Tuli, Jebe dan Boroul.

Tentu saja ia menjadi bertambah heran, hingga ia menduga-duga, kenapa mereka itu berada di tempat ini.

Tadinya ia berniat pergi menemui mereka atau kaum pengejarnya keburu sampai dan sudah lantas mulai mengurung.

Ketiga orang Mongolia itu membuat perlawanan dengan panah mereka.

Nyata mereka pandai sekali menggunai senjatanya itu.

Pihak pengurung tidak berani datang mendekat, mereka menyerang dengan anak panah dari kejauhan.

"Naik!"

Berseru seorang Mongolia, tangannya menunjuk ke tiang bendera.

Bagaikan kera, mereka itu berlompat naik, maka itu, sebentar kemudia mereka dapat memernahkan diri di tempat tinggi.

Pihak pengurung mendesak lebih jauh, semua mereka turun dari kudanya masing-masing.

"Engko Ceng, kau keliru,"

Kata Oey Yong.

"Mereka berlimabelas."

"Tidak bisa salah. Salah satunya telah kena terpanah!"

Benar saja, seekor kuda yang lain mendatangi dengan perlahan, di pelananya ada penunggangnya yang tergantung kaki kirinya dan terseret, di dadanya ada panag panjang yang menancap.

Diam-diam Kwee Ceng merayap menghampiri penunggang kuda itu, yang sudha mati.

Ia mencabut anak panahnya.

Ia mendapat kenyataan, gagang panah tersalut besi matang.

Bahkan di situ ada ukiran seekor macan tutul, ialah tanda dari panahnya Jebe.

Anak panah itu lebih berat dari anak panah biasa.

Sekarang ia tidak bersangsi pula.

Maka ia berteriak menanya;

"Yang di atas itu suhu Jebe dan adik Tuli?"

Tiga orang itu terdengar berseru kegirangan.

Berbareng dengan itu dua bayangan putih melayang turun ke arah pemuda she Kwee itu.

Kwee Ceng mendengar suara sayap burung atau ia segera mengenali kedua ekor burung rajawali piarannya putri Gochin Baki.

Kedua ekor burung itu sangat tajam matanya, walaupun dalam gelap, mereka mengenali majikan mereka, maka ini mereka lantas terbang turun.

Smabil berpekik mereka hingga di pundak majikannya itu.

Oey Yong kagum sekali.

Memang pernah ia mendengar Kwee Ceng bercerita halnya memanah burung rajawali dan mendapatkan anaknya yang terus dipiara, hingga ia pun memikir, kalau ia dapat pergi ke gurun pasir, hendak ia memelihara burung itu.

"Mari kasih aku bermain-main dengannya!"

Ia kata tanpa menghiraukan musuh semakin mendekati.

Ia mengulur tangannya, untuk memegang burung itu, guna mengusap-usap bulunya.

Tapi burung itu lihay, ia tidak kenal si nona, ia mematok.

Syukur si nona keburu tarik pulang tangannya itu.

"Jangan!"

Kwee Ceng mencegah.

"Burung ini busuk!"

Kata si nona, yang tertawa. Biar bagaimana ia suka burung itu, yang ia terus awasi.

"Yong-jie, awas!"

Mendadak Kwee Ceng berseru.

Itu waktu dua batang anak panah menyambar ke arah dadanya si nona.

Oey Yong acuh tak acuh atas datangnya anak panah itu, akan tetapi dengan sebat ia menyembat tubuhnya si penunggang kuda yang sudah mati itu, maka kedua anak panah lantas mengenakan tubuh orang itu, yang ternyata adalah serdadu Kim, cuma sebab ia mengenakan baju lapis, anak panah itu jatuh ke tanah.

Lantas si nona merogoh kantungnya si serdadu, ia keluarkan rangsum keringnya, yang mana ia pakai untuk memberi makan kepada kedua ekor rajawali itu.

"Yong-jie, kau memainlah dengan burung ini, nanti aku menghajar tentara Kim itu!"

Berkata Kwee Ceng, yang segera lompat maju, tepat menghadapi satu musuh, yang memanah kepadanya.

Ia sampok anak panah itu dengan tangan kiri lalu dengan tangan kanan ia cekal tangan orang, yang ia terus tekuk patah.

"Hai, bangsat anjing dari mana berani banyak tingkah di sini?!"

Berteriak seseorang dari tempat yang gelap.

Ia bicara dalam bahasa Tionghoa, malah suaranya dikenali Kwee Ceng, sehingga pemuda ini heran.

Tengah ia tercengang, sepasang kampak sudah menyambar kepadanya, cahaya senjata itu bergemerlapan.

Melihat serangan bukan sembarang serangan, Kwee Ceng mendak, sembari mendak ia membalas menyerang, segera dengan jurus "Naga sakti menggoyang ekor"

Dari Hap Liong Sip-pat Ciang!

Tidak tempo lagi musuh itu terhajar pundaknya, tulang-tulangnya pada patah dan remuk, tubuhnya terpental jatuh sambil ia mengeluarkan jeritan yang menyayatkan.

Maka sekarang Kwee Ceng ingat salah sau dari Hong HO Su Koay, yaitu Song-bun-hu Cian Ceng Kian.

Menyesal juga pemuda itu yang ia telah berlaku secepat itu, ia khawatir Ceng Kian terbinasa.

Ia hanya tidak menyangka, baru beberapa bulan atau ia sekarang dapat mengalahkan Siluman dari Sungai Hong Hoo itu demikian gampang.

Tengah ia menyesal, mendadak datang lagi serangan -sebuah golok dan sebatang tombak.

Ia segera menduga kepada Toan-hun-to Sim Ceng Kong dan Twie-beng-chio Gouw Ceng Liat.

Ia membangkol tombak orang dan menarik, maka tubuh si penyerang menjadi terjerunuk maju, tempat menjadi sasarannya golok kawannya, tetapi dengan satu tendangan, Kwee Ceng menghalau golok yang terbang melayang.

Habis itu, dengan kesebatannya, pemuda ini mengangkat tubuh orang, untuk dilemparkan, maka itu Ceng Kong dan Ceng Liat saling bentur dengan keras, hingga keduanya pingsan.

Hong Ho Su Koay ini tinggal bertiga sebab Siluman yang satu lagi, yaitu Toat-pek-pian Ma Ceng Hiong telah terbinasa di tanganya Liok Koan Eng ketika ia nelusup masuk ke dalam rombongan perampok Thay Ouw itu.

Mereka bertigalah orang-orang lihay dari rombongan serdadu-serdadu Kim yang mengejar Tuli bertiga itu.

Mereka roboh tanpa diketahui rombongannya, maka serdadu-serdadu Kim itu masih tetap menyerang Tuli, Jebe dan Boroul.

"Masih kamu tidak mau menyingkir! Apakah kamu ingin mampus semua di sini?!"

Membentak Kwee Ceng, yang segera maju menyerbu, menyerang kalang-kabutan kepada serdadu-serdadu itu, hingga sebentar kemudian mereka itu menjadi kacau dan kabur.

Sim Ceng Kong dan Gouw Ceng Liat sadar saling susul, melihat ancaman bahaya, mereka kabur tanpa berayal lagi, Jebe bersama Boroul lihay ilmu panahnya, mereka dapat membinasakan tiga serdadu.

Tuli mengawasi ke bawah, ia menyaksikan Kwee Ceng menghajar musuh, ia girang bukan main.

"Anda, kau baik?"

Ia menanya.

Terus dengan memeluk tiang bendera, ia merosot turun, setibanya di tanah, si sambar tangan Kwee Ceng, untuk mereka saling jabat dengan keras, mata mereka saling tatap.

Menyusul itu, Jebe dan Boroul pun merosot tutun.

"Tiga orang itu melawan kami dengan tamengnya, tidak dapat kami memanah mereka,"

Berkata Jebe.

"Coba tidak Ceng-jie datang menolong, pastilah kami tak bakal dapat minum pula airnya sungai Onom yang jernih!"

Jago panah ini berbicara separuh bergurau hingga orang tertawa. Kwee Ceng lantas menghampirkan Oey Yong, untuk ditarik menghampirkan Tuli bertiga.

"Inilah adik angkatku,"

Ia perkenalkan nona itu. Oey Yong yang lucu dan berani, sembari tertawa ia lantas berkata.

"Sepasang burung ini dapatkah diberikan kepadaku?"

Tuli berdiam mengawasi si nona, ia tidak mengerti bahasa Tionghoa dan peterjemahnya telah mati terbinasa si tangan musuh. Ia cuma mendengar suara orang halus dan merdu dan wajahnya manis.

"Eh, anda, mengapa kau membawa-bawa burung ini?"

Kwee Ceng tanya. Ia pun tidak mengambil peduli perkatannya si nona.

"Ayahanda menitahkan kaisar Song,"

Menyahut Tuli.

"Kami berjanji bersama-sama mengerahkan angkatan perang kita guna menggenjet pasukan perang Kim. Adikku bilang, mungkin nanti aku ketemu kau, maka ia menyuruh aku membawa burung ini."

Kwee Ceng berdiam mendengar orang menyebut putri Gochin. Ia berpikir.

"Dalam satu bulan aku mesti memenuhi janji pergi ke pulau Tho Hoa To, mungkin sekali ayahnya Yong-jie bakal membunuh aku, maka itu tiba-tiba dapat aku perdulikan lagi dia itu…"

Maka itu ia berpaling kepada Oey Yong dan berkata.

"Sepasang burung ini menjadi kepunyaanku, kau boleh ambil buat main!"

Oey Yong girang bukan main, ia lantas pula mengambi daging kering untuk mengasih makan pada burung itu.

Tuli lantas bercerita bagaimana ayahnya, Jenghiz Khan menang berperang melawan bangsa Kim, bagaimana ia diutus kepada raja Song untuk membeuat perserikatan, akan tetapi di tengah jalan ia berpapasan sama tentara Kim, yang merintanginya, hingga mereka bertempur, hingga habislah barisan pengiringnya, hingga mereka tinggal bertiga saja.

Maka ysukur di sini ia bertemu ini saudara angkat, yang dapat menolongi mereka.

Mendengar keterangan Tuli ini, Kwee Ceng menjadi ingat apa yang ia dengar di Kwie-in-chung tempo Yo Kang menyuruh Bok Liam Cu pergi ke Lim-an untuk menemui Perdana Menteri Su Bie Wan, untuk memesan agar perdana menteri itu membinasakan utusan Mongolia itu.

Ketika itu ia belum tahu apa-apa, tidak tahunya, negera Kim sudah mengetahui rahasia itu, dari itu dengan Yo Kang diutus raja Kim ke Selatan, maksudnya pun tak lain tak bukan guna merintangi perserikatan Song dan Mongolia itu.

"Pihak Kim itu rupanya berkeputusan tetap untuk menawan aku,"

Tuli berkata pula.

"Maka juga adik rajanya sendiri, yaitu pangeran yang nomor enam, yang memimpin pasukannya memegat kami."

"Adakah ia Wanyen Lieh?"

Tanya Kwee Ceng.

"Benar! Dia memakai kopiah emas, inilah aku lihat jelas. Sayang sekali, tiga kali aku panah dia, saban-saban panahku dirintangi tameng pengiring-pengiringnya."

Kwee Ceng girang sekali hingga ia berseru.

"Yong-jie, adik Kang! Wanyen Lieh ada di sini, mari kita lekas cari dia!"

Oey Yong menyahuti tetapi Yo Kang tidak, malah orangnya pun tidak nampak. Kwee Ceng heran.

"Yong-jie pergi ke timur, aku ke barat!"

Katanya cepat.

Lantas keduanya lari pesat sekali.

Setelah berlari-lari beberapa lie, Kwee Ceng dapat menyandak beberapa serdadu Kim yang lagi kabur, ia menawan satu diantaranya, maka ia mendapat kepastian, benarlah pemimpin tentara pengepung Tuli adalah Wanyen Lieh sendiri, hanya disaat itu, ini serdadu tidak ketahui di mana beradanya pangerannya itu.

"Kita sudah meninggalkan pangeran dan kabur, kalau kita pulang, kita ada bagian dipotong kepala kami,"

Kata si serdadu.

"Karena itu kami hendak meloloskan seragam kami untuk kabur dan menyembunyikan diri."

Kwee Ceng penasaran, ia masih mencari, tetapi sia-sia saja.

Ketika itu fajar mulai menyingsing.

Ia bergelisah sendirinya.

Maka ia terus lari, akan mencari.

Ketika ia tiba di sebuah hutan kecil di depannya, di sana berkelebat seseorang dengan pakaian putih.

Itulah Oey Yong yang pun tidak memperoleh hasil.

Maka dengan masgul, mereka kembali ke rumah abu di mana mereka menemui Tuli bertiga.

"Mungkin Wanyen Lieh itu pulang untuk mengambil bala bantuan!"

Tuli berkata.

"Anda, aku lagi bertugas, tidak dapat aku ayal-ayalan, maka di sini saja kita berpisahan."

Kwee Ceng berduka, khawatir nanti ia tak dapat bertemu pula dengan tiga orang itu.

Berempat mereka saling rangkul, lalu mereka berpisahan.

Ia mengawasi kepergian mereka itu, sampai orang lenyap dan tindakan kaki kudanya pun tak terdengar.

"Engko Ceng, mari kita menyembunyikan diri,"

Oey Yong mengajaki.

"Kita menanti sampai Wanyen Lieh datang bersama pasukannya, itu waktu tentu kita bakal menemui dia. Kalau jumlahnya besar sekali, kita menguntit saja, malamnya baru kita menyatroni, untuk membunuh padanya. Tidakkah itu bagus?"

Kwee Ceng girang, ia puji si nona. Oey Yong pun sangat girang.

"Sebenarnya ini tiou daya lumrah saja, namanya berpindah dari gili-gili menaik perahu,"

Katanya tertawa.

"Nanti aku pergi ke dalam rimba untuk menyembunyikan kuda kita,"

Kata Kwee Ceng, yang terus menuntun kudanya.

Ketika ia tiba di belakang rumah abu, ia lihat satu benda bersinar keemas-emasan yang bertojoh matahari.

Ia lantas menghampirkan dan memungutnya.

Nyata itu ada sebuah kopiah bersalut emas dan di situ pun tertabur dua butir batu permata sebesar buah kelengkeng.

Ia lantas lari kepada Oey Yong.

"Yong-jie, lihat apa ini?"

Ia berkata separuh berbisik. Oey Yong terkejut.

"Inilah kopiahnya Wanyen Lieh,"

Sahutnya.

"Benar! Kebanyakan dia masih bersembunyi di dekat-dekat sini, mari kita cari pula!"

Mengajak Kwee Ceng. Oey Yong memutar tubuhnya, tangannya menekan tembok, maka sekejap saja ia sudah berada di atas tembok itu.

"Aku mencari dari atas, kau di bawah!"

Katanya. Kwee Ceng menyahuti, lantas ia masuk ke dalam pekarangan rumah.

"Engko Ceng, barusan ilmu ringan tubuhku bagus atau tidak?"

Si nona menanya. Kwee Ceng menghentikan tindakannya, ia melongo.

"Bagus!"

Sahutnya.

"Kenapa?"

Nona itu tertawa.

"Kalau bagus, kenapa kau tidak memuji aku?"

Tanyanya. Kwee Ceng membanting kakinya.

"Anak, anak nakal!"

Katanya.

"Diwaktu begini kau masih bergurau!"

Oey Yong tertawa, terus ia lari ke belakang.

Selagi Kwee Ceng membantu Tuli melawan seradau-serdadu Kim, Yo Kang yang matanya jeli sekali telah lantas dapat melihat Wanyen Lieh yang mengepalai tentara Kim itu.

Biar ia bukannya anak pangeran itu, ia tetapi ingat budi orang yang sudah merawat ia belasan tahun.

Ia memandangnya sebagai ayahnya sendiri, dari itu ia mengerti.

lambat sedikit saja, pangeran itu bisa dapat susah.

Tanpa pikir lagi, ia berlompat untuk menolongi, justru itu Kwee Ceng telah melontarkan seorang serdadu, Wanyen Lieh berkelit tetapi sia-sia, ia kena ditubruk serdadu itu, ia roboh dari kudanya.

Yo Kang lompat, untuk merangkul seraya ia berbisik di kupingnya pangeran itu.

"Hu-ong, inilah anak Kang, jangan bersuara!"

Kwee Ceng lagi bertempur dan Oey Yong lagi membuat main burung, maka itu tidak ada yang melihat Yo Kang mengajak ayah angkatnya itu menyingkir ke belakang rumah abu.

Keduanya masuk ke dalam rumah dan sembunyi di sebuah kamar barat.

Mereka mendengar pertempuran menjadi reda, serdadu-serdadu Kim lari serabutan, begitupun pembicaraan Kwee Ceng dengan tiga orang Mongolia itu.

Wanyen Lieh merasa ia tengah bermimpi.

"Anak Kang kenapa kau berada di sini?"

Ia menanya perlahan.

"Siapa orang kosen itu?"

"Dia Kwee Ceng, anaknya Kwee Siauw Thian dari dusun Gu-kee-cun di Lim-an,"

Yo Kang memberitahu.

Dingin Wanyen Lieh merasakan bebokongnya.

Di otaknya berkelebat kejadian pada sembilanbelas tahun yang lampau itu.

Ia membungkam.

Segera setelah itu, ia mendengar suara Kwee Ceng dan Oey Yong mencari padanya.

Ia bergidik.

Ia telah menyaksikan kegagahan orang tadi diwaktu ketiga Siluman dari Hong Hoo dihajar dan tentaranya dilbrak.

"Hu-ong, mari sembunyi terus di sini,"

Berkata Yo Kang.

"Kalau kita keluar sekarang, ada kemungkinan kita terlihat mereka. Tidak nanti mereka menyangka kita berada di sini. Sebentar setelah mereka pergi jauh barulah kita mengangkat kaki."

Wanyen Lieh mengangguk.

"Benar anak Kang,"

Ia menyahuti.

"Kenapa kau memanggil aku hu-ong dan bukannya ayah?"

Yo Kang tidak menjawab. Ia ingat almarhum ibunya, pikiriannya bekerja keras.

"Apakah kau lagi memikirkan ibumu?"

Wanyen Lieh tanya.

"Benarkah?"

Ia memegang tangan orang dan tangan itu dingin bagaikan es. Dengan perlahan-lahan Yo Kang meloloskan tangannya.

"Pemuda she Kwee itu bernama Kwee Ceng, ia gagah sekali,"

Ia memberitahu.

"Untuk membalas sakit hati ayahnya, ia bakal mencelakai hu-ong. Untuk itu, dia dapat menggunai segala daya upaya. Dia pun mempunyai banyak sahabat. Maka itu dalam setengah tahun ini baiklah hu-ong jangan pulang ke Pak-khia…"

"Benar, baiklah kalau aku menyingkir daripadanya,"

Menyahut pangeran itu.

"Apakah kau pernah pergi ke Lim-an? Apakah katanya Perdana Menteri Su itu?"

"Aku belum pergi ke sana,"

Menjawab Yo Kang lagu suaranya tawar.

Mendengar suara orang itu, Wanyen Lieh menduga anak ini telah mengetahui asal-usul dirinya, hanya heran ia, mengapa ia telah ditolongi.

Untuk delapanbelas tahun, keduanya ini menjadi ayah dan anak yang saling menyinta dan menyayangi, akan tetapi pada detik ini, berada dalam sebuah kamar, Yo Kang merasakan di antara mereka ada permusuhan hebat sekali.

Yo Kang bersangsi, terombang-ambing di antara kecintaan dan kebencian.

"Asal aku menggeraki tanganku, pasti sudah dapat aku membalas sakit hati ibuku,"

Berkata si anak dalam hati.

"Tetapi, bagaimana dapat aku turun tangan ? Laginya, apakah benar aku selamanya tidak sudi menjadi putra raja? Apakah aku mesti hidup seperti Kwee Ceng, yang mesti merantau saja?"

Wanyen Lieh seperti dapat menerka hati orang.

"Anak Kang, kita pernah menjadi ayah dan anak, maka itu untuk selamanya, kau tetap anakku yang aku cintai,"

Ia berkata.

"Negara Kim kita, tak usah sampai sepuluh tahun, bakal dapat merampas kerajaan Song, maka itu waktu dengan kekuasaan besar berada di tanganku, kebahagiaan kita tidak ada batasnya. egara ini yang luas dan indah adalah kepunyaanmu!"

Yo Kang dapat menangkap maksud ayah itu, yang hendak mengangkangi kerajaan. Ia goncang hatinya akan mendengar kata-kata "Kebahagiaan yang tak ada batasnya". Ia pikir.

"Dengan ketangguhan kerajaan Kim sekarang, memang gampang untuk menakluki kerajaan Song. Hu-ong pun sangat cerdas dan pandai bekerja, sekalipun raja sekarang, tidak dapat melawannya. Kalau usaha hu-ong ini berhasil, bukankah aku akan menjadi raja di kolong langit ini?"

Maka dengan begini, ia merasakan darahnya mendidih. Dengan keras ia mencekal tangan Wanyen Lieh.

"Ayah, anakmu akan membnatu kau membangun usahamu yang besar!"

Ia memberikan kata-katanya. Wanyen Lieh merasakan tangan bocah itu panas, ia girang bukan buatan.

"Aku menjadi Lie Yan, kau menjadi Lie Sie Bin!"

Katanya.

Lie Yan dan Lie Sie Bin adalah ayah dan anak dalam pembangun kerajaan Tong.

Selagi Yo Kang hendak menjawab, tiba-tiba ia mendengar suara berkeresek di belakangny.

Dua-duanya terkejut, dua-duanya segera berpaling.

Nyata cahaya terang sudah mulai menembusi jendela, maka terlihatlah di belakang mereka tujuh atau delapan peti mati, yang sudah terisi mayat, yang lagi menanti tanggal penguburannya.

Jadi bagian belakang rumah abu ini dipakai sebagai kamar penyimpan jenazah.

"Suara apakah itu?"

Tanya Wanyen Lieh, hatinya berdebar.

"Rupanya tikus,"

Menyahut anaknya.

Tapi segera terdengar suara bicara dan tertawanya Oey Yong dan Kwee Ceng, yang lewat di luar kamar itu.

Mereka mencari Wanyen Lieh sambil membicarakan kopiah emas yang mereka ketemukan.

"Celaka!"

Pikir Yo Kang.

"Kenapa aku tidak ketahui kopiahnya hu-ong trejatuh?"

Ia lantas membisiki ayahnya itu.

"Hendak aku memancing mereka pergi."

Lantas ia menolak daun pintu dan berlompat keluar, untuk berlompat terus naik ke genting. Oey Yong dapat melihat bayangan orang berkelebat.

"Bagus! Dia di sini!"

Serunya, lantas ia berlompat menyusul. Tetapi tiba di ujung rumah, bayangan itu lenyap. Kwee Ceng mendengar suara si nona, ia lari menghampirkan.

"Dia tidak bakal lolos, tentu dia sembunyi di dalam sana,"

Kata si nona. Selagi keduanya hendak menerobos masuk ke dalam pepohonan lebat, justru itu terdengar pepohonan kecil bergerak dan tersingkap, di situ muncul Yo Kang. Kwee ceng jaget dan heran.

"Eh, adik, kau pergi ke mana?"

Dia menanya.

"Apakah kau dapat melihat Wanyen Lieh?"

"Kenapa Wanyen Lieh ada di sini?"

Yo Kang balik menanya, agaknya ia heran.

"Dia datang ke mari memimpin pasukan serdadunya,"

Sahut Kwee Ceng.

"ini kopiahnya."

"Oh, begitu!"

Yo Kang berpura-pura. Oey Yong mengawasi wajah orang, ia curiga.

"Kita mencari kau, ke mana kau pergi?"

Ia tanya.

"Kemaren aku salah makan barang, perutku mulas,"

Menyahut Yo Kang.

"aku buang air di sana."

Ia menunjuk ke dalam gombolan. Oey Yong tidak menanya pula, tetapi ia tetap bercuriga.

"Adik Kang, mari kita lekas mencari!"

Kwee Ceng mengajak. Hati Yo Kang berdebar-debar. Ia menduga-duga apakah Wanyen Lieh sudah kabur atau belum. Ia menenangkan dirinya, untuk tidak mengetarakan kecemasan pada parasnya.

"Dia datang mengantarkan jiwa, itulah bagus!"

Katanya.

"Pergilah Toako bersama nona Oey mencarinya ke timur, aku akan mencari ke barat."

"baik,"

Sahut Kwee Ceng yang terus pergi ke jurusan timur. Di sana ia menolak daun pintu kamar Ciat-hauw-tong, ruang kebaktian dan kesucian diri. Tapi Oey Yong berkata.

"Yo Toako, mungkin ia sembunyi di barat, mari aku turut kau memeriksa ke sana."

Yo Kang berkhawatir bukan main, tapi ia menjawab.

"Mari lekas, jangan memberinya waktu ketika untuk kabur!"

Ia lantas mendahului, untuk menggeledah setiap kamar.

Tentu saja ia menyingkir dari kamar untuk menyimpan jenazah itu.

Keluarga Lauw di Po-eng adalah keluarga besar di jaman Song, maka rumah abunya pun besar luar biasa.

Hanya karena peperangan, gedung itu telah mengalamai kerusakan.

Adem hati Oey Yong memandangi rumah abu itu.

Ia melihat Yo Kang memasuki kamar-kamar yang berdebu atau banyak kabang-kabangnya, dia memeriksa dengan teliti, ia mulai mengerti ketika sampai si kamar barat, yang debunya tebal, di mana ada banyak tapak kaki dan tapak tangan di pintu, mendadak ia berseru.

"Di sini!"

Kwee Ceng dan Yo Kang mendengar suaranya, yang satu menjadi girang, yang lain kaget.

Mereka lari memburu.

Oey Yong membuka pintu dengan satu jejakan, tetapi ketika pintu kamar itu terpentang, ia berdiri melongo.

Ia bukannya melihat orang yang dicarinya, hanya ia nampak beberapa peti mati tampak di situ.

Yo Kang lega hatinya.

Ia percaya Wanyen Lieh sudah lolos.

Tetapi ia beraksi, ia maju ke depan sambil berseru.

"Wanyen Lieh, manusia licin, di mana kau bersembunyi? Lekas keluar!"

"Yo Toako, siang-siang dia sudah mendengar suara kita!"

Kata Oey Yong denagn tertawa.

"Tak usah kau begitu baik hati memberitahukan kedatangan kita kepadanya!"

Yo Kang gusar, bahwa rahasia hatinya dibongkar.

"Nona Oey, kenapa kau bergurau begini padaku?"

Katanya, mukanya merah. Kwee Ceng tertawa.

"Jangan dibuat pikiran, adikku,"

Katanya.

"Yong-jie main-main saja…."

Ia lantas menuju ke lantai.

"Lihat, itulah bekasnya orang duduk! Benar-benar ia pernah datang kemari!"

"Lekas kejar!"

Oey Yong berseru.

Ia lantas memutar tubuhnya, atau mendadak terdengar bunyi nyaring di belakang mereka.

Ketiganya terkejut, semua berbalik lantas.

Mereka melihat sebuah peti mati bergerak-gerak.

Oey Yong nyali besarnya tetapi terhadap peti mati, hatinya gentar, maka itu ia sudah lantas memegangi tangan Kwee Ceng.

Pemuda ini tercengang sebentar, lantas ia berkata.

"Jangan takut, Yong-jie, si jahanam berada di dalam peti mati!"

"Lihat, ia lari ke sana!"

Berseru Yo Kang sambil tangannya menunjuk keluar. Dia pintar sekali, ia lantas lompat untuk mengubar. Oey Yong tetap mencurigai orang, ia menyambar tangan Yo Kang, akan mencekal nadinya.

"Jangan kau main gila!"

Katanya, tertawa dingin. Nona Oey ini jauh terlebih lihay, dicekal tangannya, Yo Kang merasakan tubuhnya lemas, hingga tidak dapat ia bergerak. Tapi ia tetap tenang.

"Eh, kau bikin apa?"

Ia menanya, berpura-pura.

"Engko Ceng, apakah itu di dalam peti mati?"

Oey Yong tanya kawannya tanpa memperdulikan orang yang dicurigainya itu.

"Aku rasa dialah si jahanam!"

Menyahut Kwee Ceng.

"Kau menakuti-nakuti aku?"

Kata Oey Yong pada Yo Kang tangan siapa ia sampar. Ia masih penasaran. Tapi mengenai peti mati, ia tetap bersangsi, ia khawatir orang adalah mayat hidup….Maka ia memberi ingat.

"Hati-hati engko Ceng….."

Kwee Ceng sudah bertindak menghampirkan ketika ia menghentikan tindakannya itu.

"Apa katamu?"

Ia tanya.

"Kau tutup saja peti itu, supaya mahkluk di dalamnya tak dapat keluar,"

Oey Yong memberi pikiran.

"Mana ada mayat hidup?"

Kata Kwee Ceng tertawa. Ia tahu kekasihnya itu jeri. Ia pun berkata sambil lompat ke peti mati itu.

"Dia tidak bisa merapa keluar!"

Di jaman Song umumnya orang sangat percaya pada hantu atau setan.

"Engko Ceng,"

Berkata si nona, masih dalam kesangsian.

"Nanti aku coba menyerang dengan pukulan Memukul Udara, tidak peduli dia mayat hidup atau Wanyen Lieh, mari kita dengar jeritan atau tangisannya…."

Sembari berkata si nona maju dua tindak, tenaganya di kerahkan.

Di dalam halnya ilmu pukulan Pek-hong-ciang, ia belum semahir Liok Seng Hong, kerana itu, ia perlu memernahkan diri lebih dekat.

Belum lagi serangannya dikeluarkan, mendadak ia mendengar tangisan bayi dari dalam peti itu.

Ia kaget hingga ia berlompat mundur, tubuhnya menggigil, mulutnya mengeluarkan seruan tertahan.

"Setan perempuan….!"

Kwee Ceng tapinya berani.

"Adik Yo, mari kita buka tutupnya peti!"

Ia mengajak.

Yo Kang tengah mandi keringat dingin, saking khawatirnya, sedang untuk membantui Wanyen Lieh, ia jeri terhadap ini muda-mudi yang lihay, maka itu, bukan main lega hatinya akan mendengar tangisan itu.

Tanpa ayal ia berlompat maju.

Maka sesaat kemudian, berdua mereka sudah dapat mengangkat tutup peti yang belum dipantek paku itu.

Kwee Ceng mengangkat tutup petinya sambil siap sedia akan menyerang kapan ia dapatkan mayat hidup, kemudian untuk herannya, ia melihat Bok Liam Cu yang rebah di dalam peti mati itu.

Yo Kang pun heran, lekas-lekas ia mengulur tangannya untuk membantui orang berbangkit.

"Yong-jie, mari!"

Kata Kwee Ceng.

"Kau lihat siapa ini…."

"Tidak, aku tidak mau melihat-lihat!"

Sahut si nona.

"Tapi ialah enci Bok!"

Kwee Ceng mendesak.

Baru sekarang Oey Yong mau berpaling.

Ia melihat Yo Kang mengempo seorang bayi, yang romannya mirip Liam Cu, maka ia maju ke arah peti, akan melihat Liam Cu sendiri rebah dengan muka kucal dan air matanya meleleh, tubuhnya tidak bergeming.

Sebagai ahli menotok jalan, Oey Yong lekas menolongi Nona Bok itu.

Ia menotok sana-sini.

"Enci Bok, kenapa kau berada di sini?"

Tanya Oey Yong kemudian.

Rupanya sudah lama Liam Cu tertotok, hingga jalan darahnya tertahan, sudah tubuhnya kaku, napasnya pun tidak lurus, maka itu Oey Yong mambantui ia dengan mengurat-urat juga.

Selang sedikit lama, baru nona itu bisa membuka mulutnya.

"Aku kena ditawan orang,"

Katanya.

Oey Yong mendapat tahu Liam Cu ditotok jalan darahnya di telapakan kaki, yaitu jalan darah yongcoan-hiat.

Ahli silat Tionghoa jarang yang menggunai ilmu totok semacam ini, maka itu ia dapat menduga siapa si penyerang itu.

"Bukankah telur busuk itu Auwyang Kongcu dari Wilayah Barat itu?"

Ia menanya.

Liam Cu tidak menyahuti, ia cuma mengangguk.

Ketika itu hari Liam Cu menolongi Yo Kang pergi mengasih kabar pada Bwee Tiauw Hong, dia ditawan Auwyang Kongcu dan dibawa pergi pemuda itu, yang kena diusir oleh Oey Yok Su.

Beberapa kali ia dipaksa konngcu itu, ia melawan, hanya kemudian, setelah si kongcu menggunai ilmu lunak dan ia telah dibujuk pergi datang, ia kalah hati juga, ia menyerah.

Kemudian datang saatnya Auwyang Konngcu menggilai Nona Thia, sampai ia kena diusir.

Diwaktu kabur, tak sempat ia membawa Bok Liam Cu.

Maka itu syukur Kwee Ceng bertiga, yang mencari Wanyen Lieh, dengam begitu ia jadi ketolongan, kalau tidak, pasti ia terbinasa di dalam peti mati itu.

Bab 34.

Orang aneh di dalam kurungan Yo Kang senang melihat kekasihnya itu.

"Adikku, kau beistirahatlah,"

Katanya kemudian.

"Nanti aku masak air untuk kau mencuci muka!"

"Mana kau bisa memasak air!"

Oey Yong menyelak.

"Aku yang nanti pergi masak. Engko Ceng, mari!"

Nona ini ingin berduaan dengan kekasihnya itu. Tapi, belum lagi ia berlalu, Liam Cu sudah berkata kepada si orang she Yo itu. Ia tidak tersenyum seperti Yo Kang, romannya pun dingin.

"Tunggu dulu!"

Demikian katanya.

"Orang she Yo, aku beri selamat padamu! Di belakang hari tak terbatas kebahagiaan dan keagunganmu!"

Muka Yo Kang menjadi panas. Sebaliknya punggungnya dirasakan dingin. Ia menjublak, tetapi di dalam hatinya ia berkata.

"Rupanya dia telah mendapat dengar apa yang tadi aku bicarakan dengan hu-ong…"

Liam Cu melihat muka orang agak berduka, hatinya lemah, tidak tega ia membuka rahasia bahwa orang she Yo inilah yang melepaskan Wanyen Lieh.

Ia tahu, dalam gusarnya Oey Yong bisa membinasakan tunangannya itu.

"Kau memanggil ia ayah, bukankah itu bagus sekali?"

Ia berkata, dingin.

"Tidakkah itu terdengarnya lebih erat? Kenapa justru kau memanggil hu-ong?"

Yo Kang tunduk, ia malu sekali, hatinya berdebaran. Oey Yong tidak bercuriga, ia menyangka sepasang kekasih itu lagi berselisih, maka itu ia tarik ujung baju Kwee Ceng.

"Mari kita pergi, aku tanggung sebentar lagi mereka akan akur pula…"

Bisiknya. Kwee Ceng tertawa, ia mengikut keluar. Sampai di depan Oey Yong berkata dengan perlahan.

"Engko Ceng, mari kita curi dengar pembicaraan mereka."

"Jangan bergurau, aku tidak mau pergi!"

Kata si pemuda.

"Kau tidak mau pergi, jangan kau menyesal, kalau ada kejenakaan, sebentar aku tidak akan membilangimu!"

Ia lantas lompat naik ke atas genting, untuk dengan berhati-hati belok ke kamar barat peranti menimbun jenazah itu. Justru itu terdengar suara Lim Cu.

"Kau mengakui bangsat menjadi ayahmu, itulah masih bisa dimengerti, sebab di antara kamu ada rasa cinta lama dan kau pun belum dapat berbalik hati, tetapi sekarang niatmu tidak benar, itulah yang bukan-bukan! Kau hendak membikin musnah negara sendiri…! Ini, ini….!"

Saking murka dan pepat hati, Liam Cu tidak dapat berbicara lebih jauh.

"Adikku, aku…"

Berkata Yo Kang sambil tertawa. Tapi ia dibentak nona Bok.

"Siapa adikmu?! Jangan pegang aku!"

Lalu terdengar suara "Plak!"

Maka muka Yo Kang kena ditampar. Oey Yong tertawa, dia berlompat turun, terus masuk di jendela.

"Kalau ada bicara, bicaralah baik-baik!"

Ia berkata, tertawa.

Ia tidak menduga jelek.

Ia melihat muka Liam Cu merah gusar dan paras Yo Kang pucat berkhawatir, ia menjadi terkejut, ia menduga perselisihan menjadi hebat.

Ia memikir untuk mengakuri.

Baru ia hendak membuka mulutnya, atau Yo Kang sudah berkata terlebih dahulu.

"Bagus!"

Kata orang she Yo itu.

"Kau menyambut yang baru dan membuang yang lama! Di dalam hatimu sudah ada orang lain, maka begitulah kau berlaku terhadap aku!"

"Kau, kau bilang apa?!"

Kata nona Bok.

"Kau telah ikut Auwyang Kongcu itu! Dia pintar surat dan pandai silat, dia menangi aku sepuluh kali lipat! Mana kau melihat mata lagi padaku!"

Liam Cu mendongkol hingga kaki tangannya dingin, hampir ia pingsan.

"Yo Toako, jangan kau omong sembarangan,"

Berkata Oey Yong.

"Kalau enci Bok menyukai telur busuk itu, mustahil dia menaruh enci di dalam peti mati ini?"

"Palsu atau bukan, sama saja!"

Berkata Yo Kang.

"Dia kena ditawan, dia kehilangan kesucian dirinya, mana bisa aku hidup bersama pula dengannya?!"

"Aku kehilangan kesucian apa?!"

Tanya Liam Cu sengit.

"Kau telah terjatuh di tangan orang untuk banyak hari, kau dipeluk dan dirangkul pulang pergi! Bisakah kau masih suci bersih?!"

Jawab pemuda itu.

Liam Cu begitu mendongkol hingga ia memuntahkan darah hidup, tubuhnya roboh ke belakang.

Hampir Yo Kang berlompat untuk menubruk atau dia ingat, Liam Cu sudah ketahui rahasianya, kalau mereka berselisih terus, mungkin rahasianya itu pecah di hadapan Oey Yong, dari itu ia terus bertindak keluar, pergi ke belakang di mana ia melompat tembok untuk menyingkir terus.

Oey Yong menguruti Liam Cu sekian lama, baru nona itu sadar.

Ia berdiam sebentar, lantas ia tidak menangis pula, sikapnya pun tenang.

"Adik, hendak aku meminjam pisau belati yang baru-baru ini aku serahkan padamu!"

Katanya kemudia.

"Engko Ceng, mari!"

Oey Yong memanggil sebelum ia sahuti si nona. Kwee Ceng dengar panggilan itu, ia lantas muncul.

"Coba kasihkan enci Bok pisau belatinya Yo Toako,"

Kata nona Oey.

Kwee Ceng menurut, ia keluarkan pisau belati yang Cu Cong ambil dari tubuhnya Bwee Tiauw Hong, pisau mana dibungkus dengan kulit, yang ada ukiran huruf-hurufnya, yang terukir dengan jarum.

Ia tidak tahu, itulah rahasianya Kiu Im Cin Keng.

Ia simpan kulit itu di dalam sakunya, dan pisaunya ia serahkan kepada Liam Cu.

Oey Yong pun mengeluarkan pisau belatinya, ia berkata perlahan.

"Pisaunya engko Ceng ada padaku, mana itu kepunyaannya Yo Toako yang aku berikan pada kau. Enci, inilah jodoh yang sudah ditulis. Tadi kamu telah berselisih, itulah tidak ada artinya, jangan kau berbuat duka. Aku pun sering bercedera dengan ayahku. Sekarang ini bersama engko Ceng, aku mau pergi ke Pak-hia untuk mencari Wanyen Lieh, maka itu enci, jikalau kau senang, mari kau turut bersama kami pesiar. Aku percaya, Yo Toako pun bakal turut bersama."

"Ya, mana saudara Yo?"

Kwee Ceng tanya. Oey Yong mengulur lidahnya, lekas ia berkata.

"Barusan ia berselisih dengan enci, dalam gusarnya enci telah menabok dia, lantas ia ngeloyor pergi…"

"Aku tidak mau pergi ke Pak-khia, kamu juga tidak usah pergi ke sana,"

Berkata Liam Cu.

"Dalam tempo setengah tahun ini, jahanam Wanyen Liah itu tidak nanti berada di Pak-khia. Dia takut nanti kamu pergi mencarinya untuk menuntut balas! Engko Kwee, adik Oey, kamu berdua orang-orang baik, beruntungan kamu pun bagus…."

Ia berhenti tiba-tiba, mulutnya seperti tersumbat, lantas ia lari keluar, dimana ia mengenjot tubuhnya, ia berlompat naik ke atas genting.

Melihat orang muntah darah, hati Oey Yong tidak tenang.

Lantas ia menyusul.

Ia masih sempat melihat nona Bok berada di bawah sebuah pohon besar, tangan kiriny diangkat tinggi, tangan kanannya diangkat ke atas kepalanya dan sinar pisau belati berkelebat di cahaya matahari.

Ia terkejut.

"Enci, jangan!"

Ia berteriak.

Tentu ia tak dapat mencegah orang membunuh diri karena jarak di antara mereka jauh sekali, ia cuma bisa berlari-lari untuk menghampirkan.

Liam Cu tidak menikam lehernya atau dadanya, hanya dengan piasu belati itu ia membabat kutung rambutnya, lalu ia membuangnya, terus kakinya berlari-lari.

"Enci! Enci!"

Oey Yong berteriak-teriak memanggil.

Liam Cu tidak memperdulikannya, ia lari terus sampai ia lenyap dari pandangan mata, sedang Oey Yong cuma bisa melihat rambut berterbangan berhamburan ke selokan, ke sawah dan pepohonan di dekat-dekat situ.

Semenjak kecil Oey Yong selalu dimanjakan, tak pernah ia menginsyafi apa yang dinamakan kedukaan.

Senang ia tertawa lebar, jengkel ia menangis menggerung-gerung, sejenak kejengkelan itu hilang.

Tetapi sekarang ia menyaksikan peristiwa hebat itu di depan matanya, ia dapat merasainya untuk pertama kalinya.

Ia jadi berduka dan terharu.

Dengan perlahan-lahan ia kembali ke rumah abu.

Kepada Kwee Ceng ia beritahukan perbuatannya Liam Cu itu, yang terus menghilang.

"Entah kenapa enci Bok berlaku demikian,"

Berkata Kwee Ceng, yang tidak mengerti duduknya hal.

"Dia beradat keras sekali."

Oey Yong heran hingga ia berpikir.

"Mustahilkah seorang perempuan yang dirangkul-rangkul dan dipeluk-peluk hilang kesucian dirinya? Hingga sekalipun orang yang mencintainya dan menghormatinya pun menjadi tidak memandang mata kepadanya, sampai ia tidak diambil peduli lagi?"

Terus si nona ini tidak mengerti, ketika ia sampai di dalam ruang, dia duduk menyender di tiang dengan mata dimeramkan, hingga akhirnya ia tertidur pulas.

Ketika sang malam tiba, Lee Seng dan rombongannya mempersiapkan meja perjamuan seperti yang dijanjikan, untuk menghormati Ang Cit Kong, pemimpin besarnya itu, serta Kwee Ceng dan Oey Yong, hanya ditunggu hingga tengah malam, Cit Kong masih tetap tidak muncul.

Lee Seng ketahui tabiat aneh dari pangcu itu, ia tidak mengambil peduli, ia terus jamu sepasang muda-mudi itu.

Semua orang sangat menyukai anak-anak muda itu.

Bahkan nona Thia turut mematangi beberapa rupa barang santapan dan memerintahkan budaknya mengantarinya tempat pesta itu.

Habis berjamu, yang ditutup dengan kegembiraan, Kwee Ceng dan Oey Yong berdamai.

Wanyen Lieh tidak pulang ke Pak-khia, sukar untuk menacri padanya, dari itu perlu mereka memenuhkan janji pergi ke Tho Hoa To.

Untuk itu, tentu saja mereka mesti pergi dulu ke Kee-hin, guna mencari Kanglam Liok Koay, untuk berembuk terlebih jauh.

Oey Yong akur, maka itu besoknya pagi mereka berdua melanjutkan perjalanan mereka ke Selatan.

Itu waktu, di permulaan tanggal sepuluhan bulan enam, hawa udara panas terik.

Maka cocok pepatah orang Kanglam yang membilang;

"Bulan enam tanggal enam, telur bebek terjemur hingga matang!"

Walaupun orang mempunyai payung, panas tetap menyiksa.

Pada suatu hari tibalah Kwee Ceng di Kee-hin.

Gurunya masih belum datang.

Maka itu iamenulis surat kepada keenam gurunya itu serta suratnya dititipkan kepada kuasa rumah maka Ciu Sian Lauw dengan pesan, kalau Kanglam Liok Koay tiba, supaya suratnya itu diserahkan.

Ia menulis halnya bersama Oey Yong ia mau pergi ke Tho Hoa To.

Ia membilang terima kasih seraya memberi hormat.

Oey Yong girang bukan main tiba di kampung halamannya sendiri.

"Ayah, ayah!"

Dia berteriak-teriak.

"Yong-jie pulang!" . Ia berlari-lari sambil terus menggapai-gapai kepada Kwee Ceng. Kwee Ceng melihat orang lari ke timur dan ke barat tak ketentuan, atau dilain saat nona itu lenyap dari pandangan matanya. Ia heran, ia lekas lari menyusul. Baru lari belasan tembok, ai sudah kesasar. Ia melihat jalan kecil diempat penjuru, tak tahu ia jalan mana yang ia mesti ambil. Tempo ia memaksa maju terus, sebentar kemudian ia kembali ditempat asal. Ia lantas ingat sama keadaan di Kwie-in-chung, yang menurut Oey Yong diatur luar biasa, dari itu, pulau ini mestinya sama mempunyai jalanan rahasia, yang merupakan tin atau barisan istimewa. Untuk tidak usah berlari-lari tidak ada tuasnya, akhirnya Kwee Ceng duduk di bawah sebuah pohon tho, untuk menanti Oey Yong kembali untuk menyambut padanya. Tapi ia menanti sekian lama, si nona belum muncul juga. Ia jadi tidak sabaran. Ia memanjat sebuah pohon tinggi, akan memandang ke seputarnya. Di Selatan ada laut, di barat ada batu gundul. Di timur dan utara, semuanya pohon bunga dengan bunganya warna merah atau kuning, atau hijau atau ungu. Tak nampak tembok, tak terlihat asap mengepul. Sunyi disekeliling situ. Tanpa merasa, hati Kwee Ceng menjadi tidak tenang. Lantas ia lari ke depan, masuk antara pepohonan lebat. Atau mendadak ia merandak, separuh berseru, ia kata dalam hatinya.

"Celaka! Aku pergi tanpa tujuan! Kalau Yong-jie mencari aku, mungkin dia tidak dapat menemuinya!"

Maka ia lari balik.

Apa mau, ia tidak menemui jalanan tadi, ia kesasar ke tempat lain.

Pemuda ini pun lantas kehilangan kuda merahnya, yang sejak tadi mengikuti padanya.

Inilah sebabnya ia mencoba naik ke atas pohon, hingga kudanya menjadi ketinggalan.

ketika sang sore mendatangi, ia putus asa, ia duduk mendeprok di tanah.

Hendak ia menantikan si nona….

Senang ia duduk di tanah yang berumput tebal, tinggal rasa berdahaga dan laparnya, yang mengganggu.

Gangguan lapar jadi semakin hebat kapan ia ingat masakan yang lezat-lezat yang Oey Yong bikin untuk Ang Cit Kong… Tiba-tiba pemuda ini kaget dan bergelisah hatinya.

"Kalau Oey Yong dikurung ayahnya dan dia tidak dapat menolongi aku, bukankah aku bakal mati kelaparan di sini?"

Pikirnya.

Ia menyesal kapan ia ingat yang sakit hati ayahnya belum terbalas.

Ia pun ingat ibunya, yang berada sendirian di gurun pasir.

Kalau ia mati, sama siapa ibunya itu akan mengandal?

Letih ia berpikir, lama-lama ia kepulasan sendirinya.

Sampai tengah malam, Kwee Ceng bermimpi bersama Oey Yong pesiar ke kota raja Pak-khia, sama-sama dahar barang hidangan yang lezat dan si nona bernyanyi merdu untuknya.

Tiba-tiba ia berdusin mendengar suara seruling.

Ia memasang kuping, matanya pun melihat sinar rembulan indah.

Ia tahu yang ia tidak tidur lagi.

Ia hanya dengar, seruling datang dari tempat jauh.

Ia menjadi mendapat hati, maka ia berbangkit, terus ia bertindak ke arah darimana suara itu datang.

Ketika ia mendapatkan jalanan buntu, suara seruling tetap ada di depan.

Kemudian pemuda ini ingat jalanan rahasia di Kwie-in-chung, lantas ia berjalan terus, kalau jalanan buntu, ia naik ke atas pohon.

Kali ini ia mendengar suara semakin nyata, maka ia jalan semakin cepat.

Akhirnya, ketika ia menikung, ia melihat satu tempat di mana bunga-bunga berwarna putih, pohon bunga bergumpal mirip sebuah telaga kecil.

Di sini suara seruling sebentar tinggi dan sebentar rendah.

Anehnya, kalau ia dengar suara di timur dan pergi ke sana, suara itu pindah ke barat, kalau ia pergi ke selatan, suara berada di utara.

Demikian berulangkali.

Atau mendadak seperti ada belasan orang yang meniup seruling berbareng dan berada di sekitarnya.

Ia bagaikan dipermainkan.

Kwee Ceng merasakan kepalanya pusing setelah ia lari mondar-mandir sekian lama.

Sekarang ia tidak pedulikan suara lagi, ia lari ke tengah gumpalan bunga di mana ada tanah munjul.

Kiranya itu adalah sebuah kuburan dengan batu nisannya bertuliskan catatan.

"Kuburan dari Phang-sie, nyonya pemilik dari Tho Hoa To"

"Inilah tentu kuburan ibunya Oey Yong;"

Kwee Ceng berpikir.

"Yong-jie kehilangan ibu sejak ia kecil, kasihan dia…"

Ia lantas berlutut di depan kuburan itu, untuk memberi hormat berlutut empat kali.

Tengah ia paykui itu, seruling berhenti secara toba-tiba, hingga suasana menjadi sunyi.

Tempo ia berbangkit, seruling berbunyi pula, terdengarnya di sebelah depan.

"Biarpun ada ancaman bencana, akan aku mengikutinya,"

Kwee Ceng pikir.

Ia bertindak ke arah suara itu, ia tidak pedulikan pepohonan lebat.

Ia baru berdiri menjublak kapan suara seruling bersalin rupa, sekarang semangatnya seperti tertarik, hatinya berdebaran.

"Hebat, lagu apakah itu?"

Ia tanya dirinya sendiri.

Mulainya kendor, suara seruling itu jadi cepat, seperti memaksa orang menari-nari, iramanya seperti mengandung kecabulan, menyebabkan kuping orang merah dan urat-urat tegang.

Ia lantas menjatuhkan diri, untuk duduk bersemadhi seperti ajaran Ma Giok.

Mulanya ia masih terpengaruh, hampir ia berlompat bangun, untuk menari, baru belakangan, hatinya jadi tetap dan mantap.

Setelah mendapat ketenangan, hatinya menjadi lega dan kosong, tidak lagi ia terpengaruh suara seruling itu, ia sekarang seperti mendengar suara gelombang, suara angin di pohon, bahkan dahaga dan laparny apun lenyap.

Ia merasa bahwa ia tidak bakal terpengaruh lagi gangguan, maka ia berani membuka matanya.

Maka ia melihat di depannya, sepjarak dua tombak, sepasang sinar tajam berkilauan.

"Entah binatang apakah itu?"

Ia menduga. Ia lompat mundur beberapa tindak. Sekonyong-koyong sinar itu lenyap.

"Benar aneh pulau Tho Hoa To ini,"

Pikirnya.

"Macan tutul atau rase yang bagaimana gesit pun tidak dapat bergerak sepesat ini."

Ia tengah berpikir, lantas ia mendengar suara napas memburu.

"Ah, itulah orang, tadi itu ialah matanya! Rupanya ia belum pergi jauh…"

Ia tertawa sendirinya.

Hanya sekarang ia tidak tahu, orang itu musuh atau bukan.

Suara seruling masih saja terdengar, sekarang iramanya berubah menjadi seperti suara penasaran atau kenang-kenangan, atau sebagai hati muda dan panas dari seorang wanita muda, yang seperti menanti-nanti saja di sebuah kamar… Kwee Ceng tidak kena dipengaruhi lagu itu.

Ia masih muda sekali dan semenjak kecil ia giat belajar silat, mengenai soal kewanitaan, ia belum mengerti.

ia hanya heran mendengar suara napas yang memburu itu yang tercampur rintihan, seperti orang tengah mempertahankan diri melawan gangguan seruling itu.

Merasa kasihan terhadap orang itu, Kwee Ceng bertindak menghampirkan.

Sinar bulan terang tetapi tempat kealingan cabang-cabang dan daun-daunnya.

Ketika sudah datang mendekat beberapa kaki, baru ia dapat melihat orang itu, yang lagi duduk di bersila, rambutnya panjang terurai ke tanah, alis dan kumisnya pun panjang, hingga lubang hidung dan mulutnya ketutupan.

Satu tangannya ia letaki di depan dadanya, yang lainnya di belakangnya.

Ia tercekat hati.

Ia ingat dulu diajarakan semadhi dengan sikap begitu oleh Tan Yang Cu Ma Giok ketika ia berada di gurun pasir, di puncak bukit.

Itulah ilmu untuk menutup hati sendiri, siapa sudah mahir peryakinannya, ia dapat tak memperdulikan suara guntur atau air bah.

Ia hanya heran, kenapa orang takut pada suara seruling itu.

Suara seruling semakin hebat, tubuh orang itu bergerak-gerak, hendak melompat, beberapa kali ia sudah mencelat sekaki lebih, kelihatannya ia masih dapat mempertahankan diri.

Tapi Kwee Ceng mengerti, orang tak akan bertahan lama.

Ia cemas sendirinya.

Irama seruling terdengar terus, ada kalanya perlahan dan bertukar dua kali.

"Sudah, sudah!"

Bersuara orang itu, agaknya hendak ia berlompat bangun.

Kwee Ceng kaget, tanpa berpikir lagi, ia lompat maju, tangan kirinya dilomjorkan, untuk mencelat bahu orang itu, sedang tangan kanannya dipakai menepuk pundak, di jalan darah tay-cui-hiat.

Ia ingat dulu, setiap kali semadhinya kalut, Ma Giok tentu meraba jalan darahnya itu, untuk mengasi hawa panas dari tangan.

Ia masih rendah pelajarannya, ia tidak dapat hanya meraba, ia perlu menepuk.

Tapi ini menolong.

Orang itu tampaknya tenang, dapat ia berdiam dan memeramkan mata.

Tengah Kwee Ceng bergirang sendirinya, mendadak dari belakangnya, ada yang membentak padanya.

"Binatang cilik, kau merusak usahaku!"

Suara seruling itu pun berhenti. Si anak muda terkejut, cepat ia berpaling. Ia tidak melihat orang, ia hanya seperti mengenali suaranya Oey Yok Su. Ia menjadi masgul. Sejenak itu ia menyesal.

"Entah orang tua ini manusia baik atau jahat,"

Demikian pikirnya.

"Kenapa aku lancang menolongi dia… Pantas saja ayahnya Yong-jie gusar….Kalau nanti dia ini satu iblis, bukankah aku jadi melakukan kesalahan besar?"

Ia menjadi bergelisah sendirinya.

Orang tua itu bernapas reda, ia mulai meluruskannya.

Kwee Ceng tidak menanya apa-apa, ia duduk di depan orang tua itu, ia pun bersemadhi.

Ia baru membuka matanya ketika fajar sudah menyingsing dan embun telah turun.

Di antara sinar matahari, yang molos dari sela-sela pohon bunga, terlihat wajah orang tua itu dimana bunga-bunga terbayang.

Nyata kumisnya belum putih semua, cuma entah sudah berapa tahun tak pernah dicukur, hingga ia mirip orang hutan.

Tiba-tiba kedua matanya orang itu dibuka, lalu terlihat sinarnya yang tajam sekali.

Ia lantas saja tersenyum dan bertanya.

"Kau muridnya salah satu dari Coan Cin Cit Cu yang mana?"

Mendengar suara orang itu sabar, hati Kwee Ceng lega. Ia berbangkit untuk menjura. Ia memperkenalkan diri dan menyebut Kanglam Cit Koay sebagai gurunya. Orang tua itu heran, ia tidak percaya.

"Kenapa Kanglam Cit Koay mengerti ilmunya Coan Cin Pay?"

Tanyanya.

"Sebenarnya Tan Yang Cinjin Ma Totiang pernah ajarkan ilmu selama dua tahun tetapi ia belum menerima teecu sebagai murid,"

Kwee Ceng menjelaskan. Orang tua itu tertawa, lalu mukanya nampak lucu. Ia mirip bocah yang lagi bergurau.

"Aku mengerti sekarang! Kenapa kau dapat datang ke Tho Hoa To ini?"

Dia tanya.

"Oey Tocu dari Tho Hoa To yang menitahkan teecu datang kemari."

"Untuk apakah?"

Orang tua itu agaknya terkejut, air mukanya sampai berubah.

"Teecu berbuat salah dan teecu hendak menerima binasa…"

"Apakah kau tidak mendusta?"

Menegaskan orang tua itu.

"Tidak berani teecu mendusta,"

Sahut Kwee Ceng hormat sekali. Terus ia membahasakan diri teecu (murid). Orang tua itu mengangguk-angguk.

"Bagus, kai duduklah."

Kwee Ceng menurut, ia duduk di sebuah batu besar. Sekarang ia melihat tegas si orang tua bercokol di dalam sebuah gua dan di depannya terhalang beberapa lembar kawat. Entah apa perlunya kawat itu.

"Siapakah yang lainnya yang pernah mengajarkan kau ilmu lagi?"

Tanya si orang tua.

"Ialah guruku yang baik budi Ang Kiu Cie Sin Kay,"

Menyahut Kwee Ceng sejujurnya. Orang tua itu agaknya merasa heran, ia juga mengasih lihat roman tertawa bukannya tertawa.

"Apakah Ang Cit Kong telah ajarkan kau ilmu?"

Tanyanya cepat.

"Ya,"

Menyahut Kwee Ceng, yang omong terus terang.

"Ia pernah mengajarkan Hang Liong Sip-pat Ciang."

"Apakah dia tidak mengajarkan juga ilmu dalam?"

"Tidak."

Orang tua itu dongak mengawasi langit langit, lalu ia berkata seorang diri.

"Dia masih begini muda, umpama kata dia belajar semenjak dalam kandungan, dia toh baru belajar delapan atau sembilanbelas tahun, maka heran, kenapa aku tidak sanggup melawan suara seruling tapi dia sanggup?"

Dia benar-benar heran, maka ia mengawasi pemuda di hadapannya itu, dari atas ke bawah, dari bawah ke atas. Lantas ia mengulur keluar tangan kanannya di antara kawat kurungan. Ia kata.

"Coba kau mendorong telapakan tanganku, hendak aku mencoba tenagamu."

Kwee Ceng menurut, ia mengulur tangannya, menempel tangan si orang tua.

"Kerahkanlah tenagamu,"

Kata orang tua itu. Kwee Ceng menurut, ia mengerahkan tenaganya.

"Hati-hati,"

Si orang tua memperingatkan.

Selagi orang bersiap, ia pun mengerahkan tenaganya.

Kwee Ceng merasakan penolakan keras, tak sanggup ia menahannya, maka hendak ia membnatu dengan tangan kirinya, atau mendadak si orang tua membalik tangannya, telunjuknya mengenakan lengannya.

Cuma sekali ia tertekan, tubuhnya lantas mencelat ke belakang tujuh atau delapan kaki, punggungnya membentur sebuah pohon.

Di situ barulah ia bisa berdiri tetap.

Lantas orang tua itu berkata lagi seorang diri.

"Ia tak ada celaannya, kecuali belum mahir betul. Heran kenapa ia dapat bertahan dari lagu Thian-mo-bu?"

"Thian-mo-bu"

Itu adalah lagu seruling tadi, artinya Tarian Hantu Langit. Kwee Ceng mengeluarkan napas lega. Ia juga mengawasi orang tua itu, sangking heran, ia berpikir.

"Orang tua ini berimbang kepandaiannya dengan Ang Cit Kong dan Oey Yok Su. Kenapa di Thoa Hoa To ini orang semacam ini? Adakah ia See Tok atau Lam Tee?"

Mengingat nama See Tok, si Racun dari Barat, ia terkejut.

"Jangan-jangan aku terpedaya,"

Pikirnya. Maka ia angkat tangannya untuk diperiksa. Tangan itu tidak bengkak atau merah, hatinya menjadi lega pula. Orang tua itu tertawa.

"Kau badelah, siapa aku ini?"

Ia bertanya. Kwee Ceng menyahuti.

"Menurut apa yang teecu dengar, orang yang paling gagah sekarang ini cuma ada lima orang. Coan Cin Kauwcu Ong Totiang telah menutup mata, Kiu Cie Sin Kay yang menjadi guruku dan Oey Tocu teecu kenal, maka itu mungkinkah cianpwee ada Auwyang Cianpwee atau Toan Hongya?"

Orang tua itu tertawa.

"Bukankah kau merasakan ilmu kepandaianku berimbang sama Tong Shia dan Pak Kay?"

Ia tanya.

"Pelajaranku masih sangat rendah, tidak berani teecu bicara sembarangan,"

Sahut Kwee Ceng berhati-hati.

"Barusan cianpwee menolak padaku, dari itu teecu merasa, kalau bukan Ang Ingsu dan Oey Tocu, belum pernah ada orang ketiganya."

Itulah pujian, senang si orang tua. Ia mengasih lihat roman jenaka yang kebocah-bocahan.

"Aku bukannya See Tok Auwyang Hong dan bukan juga entah apa Hongya, maka itu cobalah kau menerka lagi sekali."

Katanya. Kwee Ceng berpikir, baru ia menyahut.

"Pernah teecu bertemu dengan seorang yang namanya berimbang sama pemimpin dari Coan Cin Pay yaitu Kiu Cian Jin, tetapi ia cuma menang nama, kepandaiannya biasa saja,"

Sahut nya.

"Sebenarnya pengetahuan teecu masih sangat cetek, teecu tidak ingat nama cianpwee."

Orang tua itu tertawa.

"Aku she Ciu! Kau ingatkah sekarang?"

Dia tanya.

"Cianpwee ialah Ciu Pek Thong?"

Tanya Kwee Ceng cepat. Tetapi ia terkejut. ia sudah menyebut langsung nama orang tua itu. Maka lekas-lekas ia memberi hormat seraya berkata.

"Teecu sudah berlaku tidak hormat, harap cianpwee suka memberi maaf."

Orang tua itu tertawa pula.

"Tidak salah, tidak salah, akulah Ciu Pek Thong!"

Katanya.

"Kau menyebut namaku, apakah yang tidak hormat? Kauwcu dari Coan Cin Pay, Ong Tiong Yang, ialah kakak seperguruanku, dan Ma Giok serta Khu Cie Kee lainnya, mereka semuanya keponakan muridku. Kau bukannya orang Coan Cin Pay, tidak usah kau menyebut-nyebut cianpwee, kau panggil saja aku Pek Thong!"

"Itulah aku tidak berani,"

Kata Kwee Ceng heran tetapi tetap hormat.

Tinggi usianya, tetap Ciu Pek Thong mirip bocah.

Untuk apa yang ia kehendaki, ia tak kenal kebiasaan atau adat istiadat, pasti ia langgar.

Begitulah ketika ia ingat suatu apa, ia lantas kata.

"Saudara Kwee, bagaimana kalau kita mengangkat saudara?"

Kwee Ceng heran hingga ia menjublak.

"Teecu adalah sebawahan Ma Totiang dan Khu Totiang, seharusnya teecu menghormati cianpwee sebagai sucouw-ya!"

Katanya. Sucouw-ya adalah kakek guru. Ciu Pek Thong menggoyangi tangannya berulang-ulang.

"Kepandaianku adalah kakak seperguruanku yang mengajarinya,"

Ia bilang.

"Ma Giok dan Khu Cie Kee semua tidak memandang aku sebagai yang terlebih tua, mereka pun tidak menghormati aku sebagai yang terlebih tua itu…"

Berkata sampai disitu, suaranya Pek Thong tertunda. Ke situ ada datang satu bujang tua, yang tindakan kakinya terdengar terlebih dahulu. Dia membawa barang makanan.

"Ada makanan untuk didahar!"

Kata Ciu Pek Thong.

Ia tertawa.

Bujang itu menyajikan barang bawaannya, yang terdiri dari empat rupa sayur, dua poci arak serta sepanci nasi.

Dia pun menuangi dua cawan arak.

kemudian ia berdiri menantikan di pinggiran.

"Mana nona Oey?"

Kwee Ceng tanya.

"Kenapa dia tidak datang kemari?"

Bujang itu menggeleng kepala, ia menunjuki pada kuping dan mulutnya, suatu tanda ia tuli dan gagu. Ciu Pek Thong tertawa, dia kata.

"Kuping orang ini ditusuk hingga tuli oleh Oey Yok Su. Coba kau suruh dia membuka mulutnya."

Kwee Ceng menurut, dengan gerakan tangannya, ia minta bujang itu membuka mulutnya. Kesudahannya dia terkejut. Lidah orang buntung.

"Semua bujang di pulau ini sama saja."

Pek Thong memberitahukan.

"Kau telah datang ke mari, jikalau kau tidak mati, di belakang hari kau bakal jadi seperti dia ini."

Kwee Ceng berdiam, hatinya mengatakan.

"Kenapa ayahnya Yong-jie begitu kejam?"

Pek Thong berkata pula.

"Setiap malam Oey Lao Shia menyiksa aku, tetapi aku tidak sudi menyerah kalah! Tadi hampir aku roboh di tangannya, jikalau tidak kau datang membantu aku, saudara kecil, dan mungkin tabiatku suka menang sendiri selama belasan tahun akan runtuh dalam satu malaman! Mari, mari disini ada arak dan barang santapan, mari kita mengangkat saudara, di belakang hari, ada untung kita cicipi bersama, ada kesusahan kita tanggung bersama juga! Ketika dulu hari aku mengangkat saudara sama Ong Tiong Yang, ia pun mula.mula main tolak-tolak. Bagaimana, eh apakah benar-benar katu tidak sudi?"

Kwee Ceng melihat muka orang berubah, lekas-lekas ia menyahuti;

"Bukannya begitu, cianpwee. Sebenarnya tingkatku beda hingga dua tingkat, jikalau teecu menerima kehendak cianpwee, pasti orang akan tertawa dan mencaci teecu tidak tahu diri! Dan kalau nanti teecu bertemu sama Ma Totiang dan Khu Totiang, apakah teecu tak malu juga?"

"Ah, kenapa kau memikir begitu jauh?"

Kata Pek Thong masgul.

"Kau tidak sudi mengangkat saudara, apakah kau mencela usiaku yang sudah lanjut? Oh…."

Mendadak orang tua itu menangis sesegukan, mukanya ditutupi, kumisnya dikacau pergi datang. Kwee Ceng heran dan kaget. Ia bingung.

"Baik, baik, cianpwee teecu menurut…"

Katanya gugup. Pek Thong masih menangis ketika ia berkata.

"Kau menuruti karena aku paksa, kalau lain hari ada orang menanyakan kau, kau bakal timpakan kesalahan padaku! Aku tahu kau tidak sudi angkat saudara denganku!"

Kwee Ceng merasa lucu berbareng heran.

Kenapa ada orang tua yang begini tidak mengindahkan ketuaannya sendiri?

Ia tidak ketahui bahwa Ciu Pek Thong itu, dalam kalangan Rimba Persilatan, bergelar Loo Boan Tong, Bocah Tua Nakal, tabiatnya memang sangat ku-koay bin ajaib, walaupun berusia lanjut dan tingkat derajatnya tinggi, tapi sepak terjangnya mirip dengan bocah alias anak-anak.

Begitu ia jumput sepiring sayur, dia lemparkan itu keluar kurungan, tak mau ia dahar.

Si bujang tua bingung, lekas-lekas ia memunguti.

Meyaksikan itu Kwee Ceng tertawa, lantas ia berkata.

"Kakak begini baik hati, bagaimana teecu bisa menampik itu? Mari, kakak, marilah kita mengangkat saudara! Mari kita gunai tanah sebagai gantinya hio!"

Mendengar itu, tiba-tiba saja Ciu Pek Thong tertawa.

"Aku berada di dalam gua, tecegah kawat ini,"

Ia berkata.

"Karena aku tidak bisa keluar, aku akan paykui di dalam kurungan ini dan kau di sebelah luar!"

Kwee Ceng mengawasi kawat kurungan itu sekian lama, ia tidak mengerti kenapa Pek thong bisa terkurung di situ.

Tetapi ia menurut, ia menjalankan kehormatana dari luar kurungan itu.

Pek Thong benar-benar berlutut, hingga mereka paykui sambil berendeng di antara kawat kurungan itu.

Berkatalah si orang tua.

"Teecu Ciu Pek Thong, hari ini teecu mengangkat saudara dengan saudara Kwee Ceng, di belakang hari, senang atau susah, kita sama-sama mencicipinya, siapa yang kemudian menyalahkan janji, biar Thian kutuk padanya!"

Kwee Ceng mengikuti mengangkat sumpah itu. Setelah itu keduanya menyiram arak ke tanah dan Kwee Ceng lalu paykui kepada kakak angkatnya itu. Pek Thong puas hingga ia tertawa terkakak.

"Sudah, sudah!"

Katanya. Ia menuang araknya , ia menenggak sendiri. Ia menambahkan.

"Oey Lao Shia itu cupat sekali pandangannya. Dia memberikan arak yang begini tawar! Hanya perah ada satu hari, si nona kecil menyuguhkan aku arak, araknya jempol, cuma sayang semenjak itu dia tidak pernah datang pula…"

Kwee Ceng tahu, si nona yang disebutkan itu ialah Oey Yong.

Bukankah si nona pernah memberitahukan dia, sebab ia mengantar arak kepada Ciu Pek Thong, dia ditegur dan dimarahi oleh ayahnya, maka ia kabur.

Tentulah Pek Thong tidak ketahui sebabnya si nona tidak pernah datang pula.

Kwee Ceng sudah lapar, ia tidak pikirkan arak, ia hanya menyendok nasi dan memakannya, sampai ia menghabiskan lima mangkok.

Si bujang tua menanti sampai orang dahar cukup, ia benahkan segala apa dan berlalu.

"Eh, adik kenapa kau bersalah terhadap Oey Lao Shia?"

Kemudain Pek Thong tanya.

"Coba kau tuturkan itu pada kakakmu."

Kwee Ceng tuturkan halnya ia sudah membinasakan Tan Hian Hong dan di Kwie-in-chung bertempur sama Bwee Tiauw Hong, bagaimana Oey Yok Su hendak mencelakai Kanglam Liok Koay, maka itu ia berjanji untuk dalam tempo satu bulan datang ke pulau ini untuk terima binasa.

Loo Boan Tongp paling gemar mendengar orang bercerita, demikian kali ini, ia memasang kuping sambil merem melek, asal si adik angkat berlambat, lantas ia memotong dengan pertanyaannya.

"Kemudian bagaimana?"

Tanya dia akhirnya.

"Kemudian ialah sekarang ini, adikmu berada disini,"

Kwee Ceng menjawab. Pek Thong lantas berdiam, agaknya ia berpikir.

"Kiranya budak cantik itu baik denganmu,"

Katanya.

"Kenapa sepulangnya ini dia menghilang? Mesti ada sebabnya, mungkin dia kena dikurung oleh Oey Lao Shia…"

"Teecu pun menduga demikian,"

Kata Kwee Ceng masgul.

"Apa kau bilang?"

Tanya Pek Thong, mukanya merah. Kwee Ceng tahu, ia salah menggunakan bahasa "teecu"

Ituz, ia lekas menyahuti.

"Adikmu kesalahan, harap toako jangan berkecil hati."

Pek Thong tertawa. Ia berkata.

"Perkara panggilan jangan kau bikin susah! Umpama kata kau lagi main sandiwara, kau memanggil ibu padaku boleh saja, nona juga boleh!"

"Baik, baik, toako,"

Sahut adik angkat itu. Pek Thong mengangguk.

"Coba kau terka, kenapa aku berada di sini?"

Tanyanya kemudian.

"Justru inilah adikmu hendak menanyakannya,"

Sahut Kwee Ceng.

"Ceritanya panjang, nanti aku menutur perlahan-lahan,"

Menyahuti si kakak jenaka ini.

"Kau toh ketahui hal ikhwalnya dulu hari itu Tong Shia, See Tok, Lam Tee, Pak Kay dan Tiong Sin Thong berlima mengadu kepandaian di puncah gunung Hoa San?"

Kwee Ceng mengangguk.

"Pernah adikmu mendengar itu,"

Sahutnya.

"Ketika itu akhirnya musim dingin, di gunung Hoa San itu salju seperti membungkus puncak,"

Sang kakak bercerita.

"Mereka berlima itu mulut berunding, tangan mengadu pedang, lamanya tujuh hari tujuh malam. Di akhirnya Tong Shia, See Tok, Lam Tee dan Pak Kay berempat mengakui kakak seperguruanku itu, Ong Tiong Yang sebagai orang gagah nomor satu di kolong langit ini. Taukah kamu mengapa mereka membuat pertemuan di Hoa San itu?"

"Tentang itu adikmu belum pernah mendengarnya."

"Itulah buat gunanya sebuah kitab…."

"Kitab Kiu Im Cin-keng!"

Kwee Ceng memotong.

"Benar! Adikku, kau muda tetapi sudah banyak pendengaranmu! Untuk kaum persilatan, Kiu Im Cin-keng adalah kitab luar biasa yang nomor satu. Menurut penuturan, kitab itu dikumpul dan ditulis oleh Tat Mo Couwsu setelah ia datang ke negeri kita ini dan sesudah ia bertanding mengadu kepandaian sama sahli-ahli silat kita, diwaktu mana, mereka menang dan kalah bergantian, lantas ia duduk bersemadhi menghadapi tembok selama sembilan tahun. Setahu mana, suatu tahun, kitab itu muncul di luaran, maka itu, timbulah perebutan di antara ahli-ahli silat. Tidak seorang pun yang tidak menghendakinya. Kakak seperguruanku bilang, karena perebutan itu, tidak sedikit ahli silat yang roboh sebagai korban, lebih daripada seratus orang. Umpama kata seorang mendapati itu, lantas ia menyakinkannya, belum satu tahun, lain orang mengetahuinya, lain orang itu merampasnya. Perampasan itu terjadi berulangkali. Maka siapa yang mendapatkan kitab itu, dia terpaksa menyembunyikan diri. Karena itu juga, orang pun menggunai banyak akal muslihat…"

Kwee Ceng menghela napas.

"Kalau beigitu, kitab itu adalah kitab celaka dalam dunia kita ini,"

Katanya.

"Kalau Tan Hian Hong tidak mendapatkan itu, tentulah ia bisa hidup berbahagia dengan Bwee Tiauw Hong di dalam desa di mana mereka mengumpatkan diri dan Oey Tocu tidak nanti menghendakinya…."

"Tetapi ilmu silat tidak boleh tidak dipelajari!"

Sambung si kakak angkat. Kwee Ceng menyahutinya, hanya di dalam hatinya ia mengatakan.

"Kalau begitu ini kakak tua sudah kegilaan ilmu silat. Sebenarnya belum pernah aku mendengar lain orang yang seperti dia gilanya…."

"Eh, tadi aku bercerita sampai di mana?"

Pek Thong tanya, rupanya ia lupa.

"Sampai di bagian orang-orang kosen di kolong langit ini hendak merampas kitab Kiu Im Cin-keng itu."

"Benar, urusan lantas jadi makin hebat. Bahkan kauwcu dari Coan Cin Kauw, tuan dari Tho Hoa To, Ang Pangcu dari Kay Pang dan lainnya, ikut campur tangan. Berlima mereka itu merundingkan ilmu silat dengan perjanjian, siapa yang paling lihay, ialah yang mendapatkan kitab itu.

"Akhirnya kitab itu terjatuh dalam tangan kakak seperguruanmu,"

Kata Kwee Ceng.

"Memang!"

Jawab Ciu Pek Thong dengan sangat gembira.

"Persahabatanku dengan Ong Suko memang erat sekali, sebelum ia menjadi imam, kita memang sudha bergaul rapat. Belakangan ia ajarkan aku ilmu silat. Dia mengatakan aku berlajar ilmu silat. Berlebihan dan kukuh sekali, hingga jadi seperti tolol, katanya itulah bukan syaratnya kaum imam. Karena itu, aku tidak menjadi murid Coan Cin Kauw. Di antara dia, katanya sebab terlalu mengutamakan ilmu silat, ia jadi mengabaikan agama. Kalau belajar silat orang mesti sungguh-sungguh, belajar ilmu To Kauw mestilah hati orang tawar. Jadi kedua ilmu itu bertentangan satu dengan lainnya. Ma Giok yang mewariskan pelajaran agamanya suheng dan Khu Cie Kee yang ilmu silatnya sempurna."

"Jikalau demikian adanya, kenapa Ong Cinjin dapat menjadi orang suci sejati berbareng lihay juga ilmu silatnya?"

Tanya Kwee Ceng tidak mengerti.

"Itulah disebabkan pada dasarnya suko memang berbakat baik dan ia gampang mempelajari segala macam ilmu. Dia bukanlah seperti kita yang memerlukan latihan mendalam. Eh ya, tadi ceritaku sampai dimana? Kenapa kau memegatnya?"

"Sampai di bagian sukomu mendapatkan kitab Kiu Im Cin-keng."

"Benar! Setelah mendapatkan kitab itu suka tidak memahamkan apa bunyinya, dia hanya menyimpan buku itu di dalam kotak yang kotaknya ia tindihkan batu di bekalang kuil. Aku heran sekali, aku telah menanyakan sebab dari perbuatannya itu. Suka tidak mau memberikan keterangannya, ia jawab aku dengan tersenyum saja. Ketika aku mendesak, dia menyuruhku menerka sendiri. Sekarang cobalah kau yang menerka, apakah sebabnya itu?"

"Tentulah itu disebabkan ia khawatir kitab itu ada yang curi?"

Menerka Kwee Ceng.

"Bukan, bukan,"

Pek Thong menggelengkan kepalanya berulang-ulang.

"Siapakah yang berani mencuri barangnya kangzusi.com kaucu dari Coan Cin Kauw? Siapa berani berbuat begitu, itulah tandanya dia sudah bosan hidup!"

Kwee Ceng perpikir pula, lalu ia lompat berjingkrak.

"Benar memang pantaslah kitab itu disimpan di bawah batu!"

Katanya.

"Sebetulnya. lebih baik lagi kalau dibakar habis saja…"

Pek Thong heran, ia menatap adik angkatnya itu.

"Memang dulu hari suko pun pernah mengatakan demikian,"

Katanya.

"Hanya tidak dapat ia melakukan itu, beberapa kali sudah ia mencoba, saban-saban gagal karena kesangsiannya. Ah, adikku, kau nampaknya tolol, mengapa kau dapat membadenya?"

Merah mukanya Kwee Ceng.

"Aku pikir, sukomu itu sudah lihay, walaupun ia belajar lebih jauh, dia tetap nomor satu,"

Menyahut Kwee Ceng.

"Aku pikir pula, dia tentunya pergi ke Hoa San bukan untuk mendapatkan nama jago nomor satu, hanya semata-mata untuk mendapatkan kitab itu, dan dia mendapatkan bukan untuk belajar lebih jauh, hanya untuk menolong orang-orang gagah di kolong langit supaya mereka tak usah terus-menerus saling membunuh."

Bab 35.

Main gundu.......

Pek Thong dongak mengawasi langit, ia berdiam.

Menampak demikian, tak tenang hatinya Kwee Ceng, ia khawatir ia nanti salah bicara dan menyinggung kakak yang aneh tabiatnya itu.

Pek Thong menghela napas.

"Mengapa kau dapat memikir demikian?"

Tanyanya kemudian. Adik angkat itu menggeleng kepala.

"Aku sendiri tidak tahu,"

Jawabnya.

"Aku hanya memikir, setelah kitab itu mencelakai banyak orang, walaupun benar-benar mustika adanya sudah seharusnya dimusnahkan saja."

"Kau benar, alasanmu pun sederhana sekali,"

Bilang Pek Thong.

"Cumalah aku itu waktu tidak dapat memikirkannya. Dulu hari suko pernah membilangi aku bahwa aku berbakat baik dan ulet, tetapi akuüun terlalu kukuh. Disebelah itu katanya aku kekurangan sifat wales asih, kurang kedermawaan, maka itu, bagaimana pun aku rajin, aku tidak bakal menyampaikan puncak kemahiran. Ketika itu aku tidak percaya suko, aku pikir apa sangkutannya pelajaran silat sama sifat prikemanusiaan? Hanya sekarang, adikku, setelah berselang belasan tahun, barulah aku mempercayainya. Adikku, dalam ilmu silat kau kalah dengan aku, tetapi dalam hal kejujuran, hati lapang, kau menang daripada aku, maka itu dibelakang hari, kau akan memperoleh hasil sepuluh lipat lebih banyak! Sayang suko sudah menutup mata, kalau tidak, pelajaran suko semua bisa diwariskan kepadamu. Suko, oh, suko, kau benar…."

Mengingat kebaikan kakak seperguruannya itu, tiba-tiba Pek Thong menangis sedih sekali. Ia mendekam di batu. Kwee Ceng menjadi terharu. Setelah menangis serintasan, Pek Thong angkat kepalanya.

"Ah, ceritaku belum berakhir,"

Katanya.

"Nanti habis bercerita, aku boleh menangis pula. Ya, kita sudah bercerita sampai di mana? Kenapa kau tidak membujuki aku supaya aku jangan menangis?"

Aneh benar kakak angkat ini, Kwee Ceng tertawa.

"Koko bercerita sampai Ong Cinjin menyembunyikan kitab di bawah batu,"

Katanya. Pek Thong menepuk pahanya.

"Benar!"

Ia berseru.

"Setelah ia menaruh kitab di bawah batu itu, aku minta suko memperlihatkan kitab itu padaku. Kau tahu, suko marah terhadap aku! Maka semenjak itu, aku tidak menyebut-nyebutnya pula. Benar saja, setelah itu dunia Rimba Persilatan menjadi tenang tentram. Adalah kemudian, setelah suko menutup mata, atau lebih benar disaat ia hendak meninggal dunia, telah timbul pula gelombang. Keras suaranya Pek Thong ketika ia mengucapkan kata-katanya itu, Kwee Ceng menjadi ketarik hatinya, karena ia percaya gelombang itu pastilah bukan gelombang kecil. Ia lantas memasang kuping.

"Suko tahu saatnya sudah tiba, sesudah lantas mengurus segala apa mengenai partainya dan meninggalkan pesannya, ia suruh aku mengambil kitab Kiu Im Cin-keng itu,"

Pek thong melanjuti ceritanya.

"Ia pun menitahkan menyalakan api di perapian, ia niat membakar itu. Selagi menantikan api marong, ia pegangi kitab itu, ia mengusap-usapnya, sembari menghela napas panjang, ia berkata, 'Inilah hasil cape hatinya cianpwee, mana dapat kitab ini termusnah di tanganku? Air itu dapat menampung perahu tetapi dapat juga mengaramkannya, maka itu haruslah dilihat, bagaimana orang-orang di jaman belakangan dapat mempergunakan kitab ini. Cuma orang-orang partai kita, siapa pun tidak dapat menyakinkan ilmu ini, supaya jangan sampai orang luar mengatakan aku merampas kitab ini sebab aku sekaker'. Habis berkata begitu, suko menutup mata. Malam itu jenazahnya ditunda di dalam kuil. Belum sampai jam tiga, terjadilah onar…."

Kwee Ceng terkejut hingga ia berseru.

"Oh…!"

"Malam itu aku berada bersama-sama tujuh murid Coan Cin Pay menemani jenazah,"

Pek Thong melanjuti pula.

"Tepat tengah malam, musuh datang menyerbu. Semua mereka orang-orang lihay. Ketujuh murid itu memecah diri untuk menyambut serangan. Untuk mencegah musuh bisa merusaki jenazah gurunya, semua muridnya itu memancing musuh keluar kuil. Aku sendiri yang menjaga jenazah suko, tiba-tiba aku mendengar bentakan dari luar kuil, menyuruh kita menyerahkan kitab. Musuh itu mengancam hendak membakar kuil. Aku melongok keluar, aku mengeluarkan peluh dingin. Aku melihat seorang berdiri di atas pohon. Teranglah ia lihay daripada aku dalam hal enteng tubuh. Walaupun demikian, terpaksa aku melawan dia. Aku berlompat keluar. Di atas pohon itu kita bertempur sampai kira-kira empatpuluh jurus. Musuh itu lebih muda beberapa tahun daripada aku tetapi ia lihay dan telangas. Aku melawan keras dengan keras. Akhirnya pundakku kena dihajar dia, aku terjatuh dari atas pohon…."

Kwee Ceng heran.

"Suko sudah begini lihay, aku masih tetap tidak sanggup melawan dia. Siapakah dia itu?"

"Cobalah kau terka, dia itu siapa?"

Pek Thong membaliki. Kwee Ceng berpikir sejenak.

"See Tok!"

Sahutnya.

"Eh, mengapa kau mengetahuinya?"

Tanya sang kakak heran.

"Sebab adikmu berpikir, orang yang terlebih lihay daripada toako adalah cuma mereka berlima yang mengadu pedang di Hoa San,"

Menerangkan Kwee Ceng.

"Guruku Ang Cit Kong orang terhormat, Toan Hongya adalah hongya, satu raja, mesti ia menghormati dirinya sendiri. Pemilik dari Tho Hoa To itu adikmu tidak kenal baik tetapi melihat romannya, dialah bukan satu manusia rendah yang suka menyerang orang yang lagi dirundung malang!"

Baru Kwee Ceng menutup mulutnya, dari dalam pepohonan yang lebat terdengar suara bentakan.

"Binatang cilik, kau masih mempunyai matamu!"

Hanya dengan sekali mencelat, Kwee Ceng sudah tiba di tempat darimana suara itu datang, akan tetapi orang itu lenyap dalam sekejap. Ia menjadi heran sekali.

"Adik, mari kembali!"

Pek Thong memanggil.

"Itulah Oey Lao Shia, dia sudah pergi jauh!"

Kwee Ceng kembali kepada kakak angkatnya itu.

"Oey Lao Shia itu pandai ilmu gaib, maka itu tamannya ini diatur menurut barisan rahasia Pat Tin Touw dari Cu-kat Bu Houw,"

Pek Thong mengulangi.

"Cu-kat Bu Houw?"

"Benar,"

Menyahut Pek Thong yang terus menghela napas.

"Oey Lao Shia itu sangat cerdas, dia pandai main tetabuan, main catur dan menulis surat indah dan menggambar, dia juga mengerti obat-obatan dan ilmu alam, tak terkecuali ilmu pertanian serta ilmu memeriksa keletakan tempat yang indah. Juga ia paham ilmu perusahaan dan ilmu perang. Pendeknya, tidak ada ilmu yang ia tidak paham, maka sayang sekali jalannya sesat. Kalau dia mondar-mandir di tamannya ini, lain orang tidak akan dapat menyusul atau mencari padanya."

Kwee Ceng berdiam, ia kagum memikirkan kepandaian Oey Lao Shia itu.

"Toako, bagaimana sehabisnya kau dirobohkan oleh See Tok?"

Ia tanya kemudian.

"Bagus!"

Pek Thong berseru seraya menepuk pahanya.

"Kali ini kau tidak lupa menyadarkan aku kepada ceritaku! Kena diserang See Tok, aku merasakan sakit hingga ke ulu hati, aku pun tak dapat bergerak, tetapi melihat ia menerbos ke dalam, aku paksakan mengejar. Di depan meja jenazah suko, dia sambar kitab Kiu Im Cin-keng. Aku bingung bukan main, sudah aku kalah, di situ pun tak ada lain orang. Justru itu mendadak aku mendengar satu suara keras, lantas terlihat tutup peti mati berlubang, hancuran kayunya berhamburan…"

Kwee Ceng kaget.

"Apakah dia menghajar rusak peti mati Ong Cinjin?"

Dia menanya.

"Oh, tidak, tidak!"

Menyahuti Pek Thong lekas.

"Adalah suko sendiri yang menhajar tutup petinya itu."

Kwee Ceng heran bukan main. Ia seperti mendengar dongeng dari kitab San Hay Keng. Ia mengawasi kakak angkatnya itu dengan mulut celengap.

"Apakah kau pikir?"

Sang kakak angkat tanya.

"Apakah suko terbangun arwahnya? Apakah dia hidup pula? Bukan, semuanya itu bukan! Suko hanya pura-pura mati!"

Kwee Ceng berseru pula.

"Pura-pura mati?"

Ia mengulangi.

"Benar! Beberapa hari sebelumnya suko menutup mata, ia sudah ketahui See Tok senantiasa berkeliaran di luar kuilnya, untuk menanti begitu lekas ia meninggal dunia, hendak ia merampas kitab Kiu Im Cin-keng itu. Maka itu, malam itu, suko berpura-pura mati. Dengan ilmu kepandaiannya, suko dapat menahan jalan napasnya. Kalau ia membuka rahasia pada semua muridnya, pasti mereka tidak akan sangat berduka. Bukankah See Tok sangat licin? Dari itu ia menutup rahasia. Habis menggempur tutup peti mati, suko meloncat keluar untuk terus menotok See Tok dengan totokannya It-yang-cie. See Tok kaget tidak terkira. Ia melihat tegas dari jendela suko telah menutup mata, sekarang suko bisa berlompat keluar dari peti mati. Dia memangnya jeri terhadap suko, sekarang ia kaget, tidak sempat ia membela diri. Maka ia terkena totokan It-yang-cie pada alisnya, dengan begitu pecahnya ilmu yang dinamakan 'Kap Moa Kang', atau Ilmu Kodok. Dia lari pulang ke Wilayah Barat, kabarnya tidak pernah dia datang pula ke Tionggoan. Suko tertawa panjang, terus ia duduk bersemadhi di atas meja. Aku tahu, dengan menggunai It-yang-cie, Telunjuk Matahari, suko telah menggunai tenaga terlalu banyak, maka aku tidak ganggu padanya, aku hanya lari keluar untuk menyambut ketujuh muridnya, untuk memukul mundur semua musuh. Ketika semua keponakanku itu mendapat tahu gurunya belum menutup mata, girangnya bukan kepalang, semua lantas lari pulang. Hanya ketika mereka jadi kaget sekali, semua mengeluh kecele…."

"Apakah yang sudah terjadi?"

Memotong Kwee Ceng heran.

"Tubuh suko rebah miring, wajahnya beda daripada biasanya,"

Menyahut Pek Thong.

"Aku lantas menghampirkan dan meraba tubuhnya. Nyata tubuh itu dingin bagaikan es. Sekarang barulah suko berpulang ke alam baka. Kita lantas melaksanakan pesan suko, ialah kitab dipecah menjadi dua, bagian atas dan bagian bawah. Suko ingin, kalau kitab sampai lenyap tercuri orang, tidaklah tercuri semaunya. Aku yang menyimpan bagian atas, lalu bagian bawah aku bawa ke sebuah gunung kesohor di selatan. Aku hendak menyembunyikan itu ketika di tengah jalan aku bertemu dengan Oey Lao Shia…."

"Oh!"

Berseru Kwee Ceng kaget.

"Oey Lao Shia itu aneh tabiatnya tetapi dengan aku dia berjodoh bertemu beberapa kali, dia tidak nanti kemaruk kitab seperti See Tok. Celakanya itu waktu dia tengah bersama pengantin barunya…"

"Tentulah dia itu ibunya Yong-jie,"

Berpikir si anak muda.

"Apa sangkutannya dia dengan kitab itu….?"

"Aku mendapatkan terang sekali cahaya mukanya Oey Lao Shia itu, maka untuk memberi selamat kepadanya sebagai mempelai, aku undang dia untuk berjamu. Aku pun menuturkan halnya suko pura-pura mati dan sudha menghajar Auwyang Hong. Mendengar ceritaku itu, istrinya Oey Lao Shia minta pinjam lihat kitab itu. Dia mengaku bahwa dia tidak mengerti ilmu silat, dia mau melihat saking ingin tahu saja. Dia ingin melihat kitab yang sudah menyebabkan kebinasaan begitu banyak ahli silat kenamaan. Oey Lao Shia sangat menyintai istrinya itu, tak ingin ia menolak keinginan orang, ketika ia mendapatkan aku agaknya keberatan. Dia kata padaku, 'Pek Thong, istriku benar-benar tidak mengerti silat. Dia masih muda sekali, dia gemar melihat apa yang baru, maka itu kau kasihlah ia melihat.lihat. Ada apakah halangannya? Jikalau aku sendiri, melirik saja kitabmu itu, aku nanti korek biji mataku untuk diserahkan padamu!' Oey Lao Shia ada satu jago, pasti aku percaya padanya, tetapi kitab itu sangat penting, terpaksa aku menggoyangi kepala terhadapnya. Dia menjadi tidak senang, dia kata, 'Mustahil aku tidak menginsyafi kesulitanmu? Kalau kau memberi lihat pada istriku ini, satu kali saja, nanti akan datang harinya aku membalas budi kamu pihak Coan Cin Pay! Jikalau kau tetap menampik, terserah padamu! Siapa suruh kita bersahabat! Dengan pihak Coan Cin Pay, semua anggotanya tidak aku kenal! ' Aku mengerti maksudnya itu. Dia biasa lakukan apa yang dia katakan. Dia tidak enak mengganggu aku tetapi dia dapat mencari alasan untuk mengganggu Ma Giok dan Khu Cie Kee semua. Dia lihay sekali, sungguh berbahaya kalau-kalau ia sampai bergusar. Maka itu aku kata padanya; 'Oey Lao Shia, jikalau kau hendak melampiaskan penasaranmu, kamu carilah aku Loo Boan Tong Ciu Pek Thong. Perlu apa pula kau cari segala keponakan itu?' Istrinya itu tertawa waktu dia mendengar aku menyebutkan julukanku Loo Boan Tong itu, ia lantas berkata, 'Ciu Toako, kau gemar sekali berkelakar! Baiklah kita jangan ngotot saja, lebih baik kita pelesiran. Tentang kitab mustikamu itu tak apalah aku tidak melihatnya!' Ia menoleh kepada Oey Lao Shia untuk berkata terus; 'Rupanya kitab Kiu Im Cin-keng itu sudah kena dirampas si orang she Auwyang, maka itu Ciu Toako tidak sanggup melihat padaku. Maka juga, apa perlunya kita memaksa dia, juga boleh-boleh dia menjadi hilang muka?' Oey Lao Shia tertawa, dia kata; 'Kau benar! Eh, Pek Thong, marilah, mari aku membantu kau mencari si tua bangka berbisa itu untuk membuat perhitungan!"

"Kalau begitu, ibunya Yong-jie sama cerdiknya seperti putrinya,"

Kwee Ceng berpikir. Ia lantas memotong.

"Mereka itu tengah memancing kemendongkolan kau, toako!"

"Itulah aku ketahui,"

Kata Pek Thong.

"Hanya aku pun tidak mau mengalah. Maka itu aku kata padanya, 'Kitab itu ada paku sekarang! Pula tidak ada halangannya untuk memberi lihat itu pada engso! Tapi kau tidak memandang muka padaku, kau membilangnya aku tidak sanggup melindungi kitab itu, itulah aku tidak mengerti. Coba kau jelaskan, apakah syaratmu?' Oey Lao Shia tertawa, dia kata; 'Kalau kita bertempur, kita jadi renggang. Kaulah si tua bangka nakal seperti bocah, aku pikir baiklah kita mengadu sesuatu seperti bocah-bocah tengah bermain-main…!' Belum lagi aku memberikan jawabanku, istrinya sudah bertepuk-tepuk tangan dan mengatakan. 'Bagus, bagus! Baiklah berdua kau mengadu gundu!'"

Mendengar itu Kwee Ceng tertawa.

"Main gundu adalah kepandaianku,"

Kata Pek Thong.

"Maka itu aku menjawab; 'Mengadu gundu ya mengadu gundu! Mustahil aku takut!' Nyonya Oey itu tertawa, ia kata. 'Ciu Toako, jikalau kau kalah, kau kasih lihat kitab itu padaku? Jikalau kau yang menang, kau menghendaki apa?'. Atas kata-kata istrinya, Oey Lao Shia membilang, 'Coan Cin Kauw ada mempunyai mustika, mustahil Tho Hoa To tidak?'. Ia terus membuka buntalanny adan mengeluarkan serupa barang hitam, semacam baju yang ada durinya. Coba bade, barang apakah itu?"

"Itulah Joan-wie-kah, baju lapis duri,"

Sahut Kwee Ceng.

"Oh, kiranya kau tahu itu?"

Kata kakak angkat ini.

"Oey Lao Shia kata padaku. 'Pek Thong, kau bilang, kau tidak membutuhkan ini untuk melindungi dirimu, hanya kalau dibelakang hari kau menikah sama si bocah wanita nakal dan dia melahirkan bocah yang nakal, kalau bocah nakal itu mengenakan baju lapis ini, faedahnya bukan kepalang! Jikalau kau menang, pusaka Tho Hoa To ini menjadi kepunyaanmu!' Aku menjawab, 'Si bocah nakal tidak bakal terlahir, tetapi baju lapismu ini sangst kesohor di dalam kalangan Rimba Persilatan, kalau aku mengenakannya, pastilah aku aksi sekali! Dengan begitupun biarlah diketahui, tocu dari Tho Hoa To telah roboh di tangannya Loo Boan Tong di Bocah Tua Nakal!' Lantas Nyonya Oey memotong aku, katanya. 'Kau jangan omong saja! Sekarang mulailah kamu berdua!' Sampai disitu cocoklah sudah. Lantas kita mulai. Kita memegang masing-masing sembilan biji gundu, kita membuat delapan belas lubang. Dialah yang menang siapa yang gundunya masuk paling dulu."

Mendengar itu Kwee Ceng mennjadi ingat kepada halnya tempo sendiri bersama Tuli, saudara angkatnya, main gundu di gurun pasir. Maka itu ia bersenyum.

"Gundu itu aku selalu sediakan di sakuku,"

Pek Thong berkata pula.

"Bertiga kita pergi ke luar, ke latar. Selagi keluar aku perhatikan gerak-gerik istrinya Oey lao Shia, aku dapat kenyataan dia benar tidak mengerti ilmu silat. Akulah yang membuat lubang di tanah, lalu aku menyuruh Oey Lao Shia yang mulai. Dalam hal menggunai senjata rahasia. Oey Lao Shia lihay istimewa, dia mestinya menang daripada aku, tetapi dalam hal main gundu, ada lain tipunya. Aku membuat lubang yang istimewa. Kalau gundu masuk ke dalam situ, gundu itu bisa keluar pula. Untuk itu aku mesti pandai mengimbangi menyentil gundu itu, dengan begitu gundu jadi dapat berdiam terus di dalam lubang. Tiga kali Oey lao Shia menyentil, tiga-tiga gundunya masuk tepat, hanya begitu masuk, ketiganya lompat pula keluar. Aku telah memasuki lima biji, semuanya tidak keluar lagi. Oey Lao Shia lihay, ia mencoba menyusul tetapi gagal. Kembali satu gunduku masuk. Aku girang bukan main, aku percaya aku bakal menang, dia bakal kalah, dewa pun tidak bakal berhasil membantui dia. Ah, siapa tahu Oey Lao Shia main curang, dia menggunai akal! Coba bade, apakah akal liciknya itu?"

"Adakah dia melukai tanganmu, toako?"

"Bukan, bukan! Oey Lao Shia busuk sekali, tidak nanti dia pakai akal sekasar semacam itu. Dia tahu dia bakal kalah, mendadak dia mengerahkan tenaganya dan menghajar tiga gunduku hingga habislah sisa semua gunduku, gundunya sendiri lantas masuk ke dalam lubang…."

"Jadi toako kehabisan gundumu?"

"Ya, aku cuma bisa melihat dia main sendiri. Demikianlah aku kalah…!"

"Toh itu tidak masuk dalam hitungan!"

Kata Kwee Ceng.

"Mestinya begitu tetapi Oey Lao Shia berkeras. Memang, umpama kata aku memukkul gundunya, dua-dua gundu mesti pecah. Aku tidak dapat memukul seperti dia itu, yang hancur melainkan gunduku. Terpaksa aku menyerah. Aku kata pada istrinya. 'Enso Oey, sekarang aku berikan kitabku padamu, tapi sebentar, sebelum malam, kau mesti mengasih pulang padaku.' Kemudian dengan main-main aku menambahkan; 'Bukankah kita tidak menetapkan waktu lamanya kau meminjam? Maka itu, kau sudah melihat semua atau belum, kau mesti kembalikan.' Aku khawatir mereka tidak sudi membayar pulang, bisa-bisa dia meminjamnya sampai sepuluh tahun atau seratus tahun. Atas itu sambil tertawa, Nyonya Oey kata padaku, 'Ciu Toako, kau dijuluki Loo Boan Tong si Bocah Tua Nakal, tapi kau www.kangzusi.com tidak tolol! Bukankah kau khawatirkan aku nanti jadi seperti Lauw Pie yang meminjam kota Kengciu, yang meminjam untuk selamanya? Baiklah, aku duduk di sini, segera aku membaca, segera aku membayar pulang, tidak usah juga sampai malam! kau jangan khawatir, kau boleh duduk nantikan!' "

Mendengar perkataannya itu, aku keluarkan kitab Kiu Im Cin-keng itu dan aku serahkan padanya.

Dia menyambuti, dia bawa itu ke bawah satunya pohon.

Di situ ia duduk di atas sebuah batu, lalu ia mulai membalik-baliki lembarannya.

Oey Lao Shia mengawasi aku, ia dapat kenyataan hatiku tidak tentram, ia kata padaku; 'Eh, Lao Boan Tong, di jaman sekarang ini ada berapa orangkah yang dapat mengalahkan kita berdua?' Aku menjawab, 'Yang dapat mengalahkan kau, belum tentu ada, tetapi yang dapat mengalahkan aku, terhitung kau sendiri, ada empat atau lima orang!' kataku.

'Tong Shia, See Tok, Lam Tee dan Pak Kay, berempat mereka mempunyai kepandaian sendiri-sendiri, mereka tidak dapat saling mengalahkan.

Auwyang Hong telah dirusak ilmunya Kap-mao-kang, dalam waktu sepuluh tahun, ia tidak bisa berbuat apa-apa terhadap kita.

Di dalam dunia kangouw terkabar ada Tiat-ciang Sui-siang piauw Kiu Cian Jin, tempo pertemuan di Hoa San, dia tidak hadir, biarnya dia lihay, aku tidak percaya dia lihay luar biasa.

Loo Boan Tong, bagaimana adanya ilmu silatmu, aku tahu baik sekali, selain beberapa orang yang sudah disebutkan barusan, kaulah yang nomor satu.

Maka itu kalau kita berserikat, siapapun tidak bisa melawan kita!' Atas pendapat itu aku menjawab, 'Memang!' Oey lao Shia berkata pula.

'Maka itu, kenapa hatimu tidak tentram?

Dengan adanya kita berdua di sini, siapakah di kolong langit ini sanggup merampas kitab itu?"

"Aku pikir, dia benar juga, dari itu hatiku menjadi sedikit lega. Ketika aku mengawasi Nyonya Oey, ia tetap masih membalik-balik lembaran kitab. Terang ia membaca dari bermula. Mulutnya berkelemik tak hentinya. Melihat lagaknya itu, aku merasa lucu. Isinya Kiu Im Cin-keng rahasia semuanya, meski ia pandai surat, dengan kita tidak mengerti ilmu silat, tidak nanti ia dapat menangkap artinya. Ia membaca dengan perlahan, aku menjadi tidak sabaran. Ketika ia sudah membaca habis halaman terakhir, aku anggap, habis sudah ia membacanya. Siapa tahu, ia lantas mengulanginya dari mula pula. Hanya kali ini ia membacanya denagn cepat sekali, boleh dikata selama semakaman the saja, habislah sudah. Ia pulangi buku padaku, sembari tertawa ia berkata. 'Ciu Toako, kau kena diperdayakan See Tok. Kitab ini bukannya Kiu Im Cin-keng!' Aku kaget juga. 'Kenapa bukan?' aku menanya. 'Inilah kitab warisan kakak seperguruanku. Bukupun serupa macamnya.' Nyonya Oey itu kata. 'Apa gunanya kalau romannya saja yang sama? Kitab mu ini ada kitab tenungannya si tukang meramakan!'"

Baca Juga: Pedang Wucisan 1

Baca Juga: Pendekar Lembah Naga Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert