Eps 7 Pendekar Pemanah Rajawali - Jin Yong
Baca online Pendekar Pemanah Rajawali - Jin Yong
Cersil Pendekar Pemanah Rajawali - Jin Yong.
Kata Liam Cu tertawa. Ia pun likat, ia tidak berani bicara terus. Oey Yong mengitik.
"Kau berani menceritakan atau tidak?"
Katanya. Liam Cu mengulurkan lidahnya.
"Mana aku berani?"
Sahutnya.
"Maukah aku bersumpah?"
"Cis!"
Oey Yong berludah.
Tapi mukanya kembali menjadi merah.
Ia malu sendirinya kapan ia ingat tadi sudah memaksa nona itu bersumpah untuk dinikahi Kwee Ceng.
Kwee Ceng tidak tahu hati orang tapi ia senang melihat mereka rukun sekali.
Habis bersantap bertiga mereka pergi ke rimba berjalan-jalan.
Di sini Oey Yong tanya bagaimana caranya Liam Cu bertemu dengan Ang Cit Kong hingga ia diajarkan silat.
"Itu waktu aku masih kecil,"
Menyahut Liam Cu bercerita.
"Pada suatu hari ayah ajak aku pergi ke Pian-liang, di sana kita ambil tempat di penginapan. Itu hari aku keluar untuk main-main di depan pintu, aku lihat dua orang pengemis rebah di tanah, tubuh mereka berlumuran darah bekas bacokan, tidak ada orang yang memperdulikan, rupanya mereka jijik atau jeri…."
"Aku mengerti,"
Memotong Oey Yong.
"Kau tentu baik hati, kau rawat mereka."
"Aku tidak bisa mengobati mereka tetapi karena kasihan, aku pepayang mereka ke kamar ayah, aku cuci lukanya dan membalutnya,"
Liam Cu melanjutkan.
"Ktika ayah pulang dan aku tuturkan apa yang aku lakukan, ayah menghela napas dan memuji aku. Ia pun kata, dulu juga istrinya murah hati seperti aku. Kemudian ayah memberikan beberapa tail perak kepada kedua pengemis itu, untuk mereka membeli obat. Mereka menerima seraya mengucap terima kasih dan lantas pergi. Selang beberapa bulan, kami tiba di Sin-yang. Kebetulan sekali, aku bertemu kedua pengemis itu, waktu itu luka mereka sudah sembuh. Mereka mengajak aku ke sebuah kuil rusak, di sana aku bertemu sama Ang Cit Kong. Dia memuji aku, lantas ia mengajari ilmu silat Po-giok-kun itu. Baru tiga hari, aku sudah dapat memahamkan. Dihari keempat, aku pergi kek kuil tua itu, ternyata lojinkee sudah pergi, dan selanjutnya aku tidak pernah bertemu pula dengannya."
Oey Yong ketarik hatinya.
"Cit Kong telah mengajarkan banyak padaku, Enci,"
Ia berkata.
"Kalau kau suka, aku nanti turunkan beberapa di antaranya padamu. Mari kita berdiam di sini untuk belasan hari. Umpama kata Cit Kong ketahui perbuatanku, tidak nanti ia gusar."
"Terima kasih adik,"
Kata Liam Cu.
"Sekarang ini aku ada punya urusan sangat penting, tidak ada tempo luangku. Nanti saja, biarnya kau tidak mengajari, aku sendiri yang akan minta padamu."
Sabar dan lembut kelihatannya Liam Cu dari luar, tetapi sekali ia berkata, ia membuatnya orang bungkam.
Begitulah Oey Yong, tadinya ia ingin menanya keterangan, lalu ia batal sendirinya.
Pagi itu Liam Cu pergi seorang diri, ia pulang di waktu sore, romannya gembira.
Oey Yong lihat itu, ia pura-pura pilon.
Malam itu berdua mereka tidur dalam satu kamar.
Oey Yong naik lebih dulu ke atas pembaringannya.
Diam-diam mencuri lihat orang duduk menghadapai lampu seraya menunjang dagu, seperti lagi berpikir keras.
Ia menutup matanya rapat-rapat, untuk berpura-pura pulas.
Berselang beberapa saat, Liam Cu mengeluarkan serupa barang dari buntalannya, dengan lembut barang itu di ciumi berulang-ulang, dibuatnya main di tangannya, dipandangi lama.
Samar-samar Oey Yong melihat seperti sepotong sapu tangan sulam.
Tiba-tiba Liam berbalik, tangannya mengebaskan barang di tangannya itu.
Oey Yong kaget, lekas-lekas ia meram.
Ketika ia mendengar siuran angin perlahan-lahan, ia membuka matanya sedikit, akan mengintai.
Ia dapatkan Liam Cu jalan mundar-mandir di depan pembaringan, lengannya dilibatkan barang yang tadinya dia buat main itu.
Nyatalah itu adalah juwiran jubahnya Wanyen Kang, yang didapat pada harian mereka pibu.
Nona Bok tersenyum, rupanya dia membayangi kejadian di harian itu dan hatinya berbunga, begitulah satu kali ia menendang, lain kali kepalanya melayang, alisnya bergerak-gerak.
Oey Yong terus berpura pulas tapi setiap waktu ia mengintai.
Ia lihat orang datang dekat sekali padanya dan menatap mukanya.
Ia mendengar orang menghela napas dan berkata dengan perlahan.
"Kau cantik sekali…."
Mendadak nona itu membalik tubuh, ia pergi ke pintu dan membukanya, atau dilain saat ia sudah berada di luar, melompati tembok pekarangan dan pergi….."
Oey Yong heran bukan main.
Ia lompat turun, lantas ia keluar, untuk menyusul.
Ia lihat orang lari ke arah Barat.
Ia menguntit.
Tentu saja ia berhasil, karena ia dapat berlari-lari dengan cepat.
Ia hanya menjaga agar ia tidak diketahui nona she Bok itu.
Liam Cu pergi ke pasar, menaiki sebuah rumah, sesudah melihat keempat penjuru, dia pergi ke Selatan dimana ada sebuah lauwteng paling tinggi.
Setiap hari Oey Yong pergi berbelanja ke pasar, ia tahu itulah rumah keluarga Chio, hartawan terbesar di tempat itu.
Ia menjadi heran dan menduga-duga apa mungkin Liam Cu membutuhkan uang.
Sebentar saja keduanya sudah sampai di samping rumah keluarga Chio itu.
Dari situ terlihat di depan rumah ada sinar terang dari dua buah lentera besar, yang bertuliskan huruf-huruf air emas.
"Utusan Negara Kim" . Di bawah itu, di muka pintu, ada berjaga-jaga empat serdadu Kim dengan tangannya mencekal golok. Liam Cu pergi ke belakang dimana keadaan sunyi, tapi ia masih mencoba menimpuk dengan batu, untuk mencari tahu di situ ada orang yang jaga atau tidak. Setelah itu ia lompati tembok masuk ke pekarangan dalam. Ia jalan di antara pohon-pohon bunga, di gunung palsu. Oey Yong terus menguntit. Liam Cu pergi ke jendela sebuah kamar timur, di situ di kertas jendela terlihat bayangan seorang lelaki, yang tengah berjalan mondar-mandir. Si nona menjublak mengawasi bayangan orang itu. Oey Yong menduga, ia tapinya tidak sabaran.
"Baik aku masuk dari lain sebelah, aku totok roboh orang itu, supaya ia kaget,"
Pikirnya.
Ia anggap nona Bok terlalu ragu-ragu.
Disaat ia hendak membuka jendela, untuk berlompat masuk, ia dengar pintu dibuka, lalu seorang bertindak masuk.
Orang itu memberi kabar bahwa menurut warta, utusan raja yang bakal menyambut yaitu Toan Ciangkun yang berpangkat komandan tentera, akan tiba lusa.
Orang di dalam itu menyahuti, lalu si pembawa kabar mengundurkan diri pula.
"Terang ini adalah utusan negara Kim, kalau beitu enci Bok ada punya maksud lain,"
Oey Yong berpikir.
"Aku tidak boleh semberono."
Ia lantas membasahkan kertas jendela, buat membikin sebuah lobang kecil, untuk mengintai ke dalam.
Ia heran berbareng gembira.
Orang di dalam kamar itu adalah si pangeran muda Wanyen Kang, tangannya memegang serupa benda hitam yang tengah dibuat main sembari ia jalan mundar-mandir, matanya mengawasi wuwungan, entah apa yang dipikirkannya.
Tempo pangeran itu datang dekat ke api, Oey Yong melihat tegas barang itu adalah kepala tembok yang sudah karatan, masih ada sisa sedikit gagangnya.
Nona Oey ini tidak tahu tombak itu adalah tombak warisannya Yo Tiat Sim, ayahnya si pangeran, ia hanya menduga, Liam Cu tentu ada hubungannya dengan itu.
Ia tertawa di dalam hatinya dan berpikir.
"Kamu lucu! Yang satu membuat main juwiran jubah, ynag lain membuat main ujung tombak! Kamu berada begini dekat satu sama lain, kenapa kamu bagaikan terpisah antara ujung dunia?" . Tanpa merasa, ia tertawa. Wanyen Kang dapat dengar suara itu, ia terperanjat.
"Siapa?!"
Ia menanya seraya mengebas mati api lilin.
Oey Yong tidak menyahuti, hanya ia melompat kepada Liam Cu, sebelum nona Bok mendusin, ia sudah ditotok hingga tidak dapat bergerak lagi.
Baru setelah itu sembari tertawa ia berkata.
"Enci, jangan khawatir, jangan sibuk! Nanti aku antarkan kau kepada kekasihmu itu!"
Wanyen Kang telah membuka pintu untuk keluar ketika ia mendengar suara tertawa satu nona sambil terus berkata.
"Inilah kekasihmu datang, lekas menyambut dia!"
Ia terkejut, tapi ia mesati menantang kedua tangannya, karena ada tubuh yang ditolak kepadanya, hingga ia mesti memeluk orang itu juga.
Itulah tubuh yang lemas.
Si nona tadi lompat ke tembok, sembari tertawa, dia berkata pula.
"Enci, bagaimana nanti kau membalas budiku?"
Sesaat kemudian, suara itu lenyap, lenyap bersama orangnya.
Disaat itu juga, tubuh yang lemah itu bergerak, jatuh ke lantai.
Wanyen Kang heran, ia kaget hingga ia mundur.
Ia berkhawatir sudah melukai orang.
"Apakah kau masih ingat aku?"
Ia dapat jawaban, yang perlahan sekali. Ia kenali suara itu, ia terperanjat.
"Kau?"
Katanya.
"Oh!"
"Memang aku,"
Sahutnya Liam Cu.
"Apakah ada orang lain bersamamu?"
Tanya sang pangeran lagi.
"Yang tadi itu adalah sahbatku yang nakal dan jahil, dia menguntit aku di luar tahuku."
Jawab sang nona. Wanyen Kang masuk ke dalam, ia menyalakan api.
"Nona mari masuk!"
Ia mengundang.
Liam Cu bertindak masuk sambil bertunduk, terus ia duduk di sebuah kursi.
Ia tunduk terus dan membungkam, cuma hatinya berdebaran.
Wanyen Kang mengawasi orang yang agaknya kaget dan girang, mukanya sebentar pias sebentar merah.
Itulah kelikatannya seorang nona.
tentu saja hatinya pun memukul.
"Ada apa malam-malam kau datang mencari aku?"
Ia menanya akhirnya. Liam Cu tidak menyahuti. Wanyen Kang ingat kematian hebat dari ayah dan ibunya, tanpa merasa ia menjadi mengasihani nona ini.
"Adik,"
Katanya kemudian.
"Karena ayahmu telah menutup mata, selanjutnya kau baik tinggal bersama-sama aku. Aku nanti anggap kau sebagai adik kandungku."
"Aku adalah anka angkat ayah, bukan anak kandung…"
Kata Liam Cu. Wanyen Kang sadar.
"Dia bicara terhadap aku,"
Pikirnya.
"Diantara kita jadinya tidak ada hubungan darah…."
Ia ulur tangannya, mencekal tangan kanan si nona.
Ia tersenyum.
Liam Cu merah pula mukanya, ia berontak perlahan tetapi tangannya tak terlepaskan.
Ia tunduk , ia membiarkan tangannya itu terus dipegangi.
Hati Wanyen Kang berdebaran.
Ia ulur tangan kirinya, dan merangkul leher si nona.
"Inilah untuk ketiga kalinya aku memeluk kau,"
Ia berbisik di kuping orang.
"Yang pertama di gelanggang pibu, yang kedua kali di luar kamar. Adalah kali ini kita ada bersama tanpa orang ketiga…."
Liam Cu mengasih dengar suara perlahan, hatinya berdebar bukan main.
"Kenapa kau mencari aku?"
Ia mendengar pula si pangeran bertanya.
"Semenjak dari kota raja aku mengikuti kau,"
Menyahut si nona.
"Setaip malam aku mengawasi tubuhmu dari antara jendela, aku tidak berani…"
"Aku tidak mempunyai ayah dan ibu lagi, jangan kau siasiakan aku…"
Kata pula Liam Cu kemudian, suaranya sangat perlahan. Pangeran itu mengusap-usap rambut orang yang bagus.
"Kau jangan khawatir,"
Katanya.
"Untuk selama-lamanya aku adalah kepunyaanmu dan kau pun untuk selama-lamanya kepunyaanku. Tidakkah itu bagus?"
Liam Cu puas sekali, ia mendongak menatap wajah pemuda itu. Ia mengangguk.
"Pasti aku akan nikah dengan kau,"
Katanya.
"Kalau di belakang hari aku mensia-siakan kau, biar aku terbinasa di antara bacokan-bacokan golok, biar aku mati tidak utuh!"
Bersumpah sang pemuda. Liam Cu menangsi saking terharu.
"Meski aku adalah seorang nona kangouw, aku bukannya satu manusia rendah,"
Ia berkata.
"Jikalau kau benar mencintai aku, kau juga mesti menghargainya. Seumurku, aku tidak berpikiran lain, meskipun leherku ditandalkan golok, apsti aku akan mengikuti kau."
Perlahan suara si nona tetapi tetap. Mau tidak mau, Wanyen Kang jadi menaruh hormat.
"Adikku, kau baik sekali,"
Ia berkata. Terbuka hati Liam Cu, ia tertawa. Ia kata. Aku akan menantikan kau di rumah ayah angkatku di Gu-kee-cun di Liam-an, sembarang waktu kau boleh kirim orang perantaraanmu melamar diriku…."
Ia berhenti sebentar, baru ia meneruskan.
"Selama kau tidak datang, seumurku aku akan menantikan kau!"
"Jangan bersangsi, adikku,"
Kata Wanyen Kang.
"Setelah selesai tugasku, aku nanti menyambutmu untuk kita menikah."
Liam Cu tertawa, ia memutar tubuhnya, bertindak keluar.
"Jangan lantas pergi, adikku!"
Wanyen Kang memanggil.
"Mari kita beromong-omong dulu…."
Nona itu berpaling tetapi tindakannya tak dihentikannya.
Wanyen Kang mengantar dengan matanya sampai orang melompati tembok, ia berdiri menjublak, kemudian barulah ia balik ke kamarnya.
Ia lihat tombaknya dimana masih ada air mata si nona.
Ia merasakan dirinya sedang bermimpi.
Bab 27.
Orang Tapakdaksa Dari Danau Thay Ouw Oey Yong pulang ke pondokannya untuk terus tidur.
Ia puas karena ia merasa sudah melakukan sesuatu perbuatan yang baik.
Begitulah, ia tidur dengan nyenyak.
Ketika besok paginya ia mendusin, ia tuturkan pada Kwee Ceng apa yang ia lakukan itu.
Si anak muda pun senang.
Keduanya lantas sarapan, terus mereka memasang omong.
Tunggu punya tunggu, sampai bersantap tengah hari, Liam Cu masih belum kembali.
"Baiklah kita tidak usah menantikan dia, kita berangkat sekarang!"
Oey Yong mengajak akhirnya.
Kwee Ceng setuju.
Mereka pergi ke pasar, untuk membeli seekor kedelai, di waktu mereka mulai berangkat, sengaja mereka memutar ke rumah keluarga Chio, di sana sudah tidak ada lagi lentera tanda dari peruntusan negara Kim.
Rupanya Wanyen Kang sudah berangkat.
Hal ini melegakan hatinya kedua anak muda itu.
Dalam perjalanan ini, Oey Yong menyamar sebagai seorang pemuda, senang ia berpesiar.
Mengikuti saluran sunagi Oen Ho, mereka menuju ke Selatan.
Kuda mereka kuat jalannya, keledai yang mereka beli pun cukup tangguh, dengan begitu, walaupun tidak terburu-buru, mereka juga dapat berjalan lekas.
Pada suatu hari mereka tiba di Gie-hin, suatu tempat pembuatan barang tembikar yang kesohor, di situ mereka menyaksikan aneka warna barang-barang itu.
Inilah pemandangan yang lain dengan pemandangan di lain-lain tempat.
Jalan lebih jauh ke Timur, tak lama tibalah mereka di telaga Thay Ouw, pusat tumpahnya air dari tiga kota Timur dan Selatan.
Luasnya telaga sekitar lima ratus lie, maka itu juga dinamakan Ngo Ouw atau Danau Lima.
Hatinya Kwee Ceng tertarik.
Belum pernah ia melihat air seluas itu.
Ia berdiri berendeng bersama Oey Yong di tepian, tangan mereka berpegangan satu pada lain.
Tanpa merasa ia berseru kegirangan.
"Mari kita main-main di air,"
Oey Yong mengajak.
Pemuda itu setuju, dari itu mereka hampirkan perkampungan nelayan, di sebuah rumah mereka menitipkan kuda dan keledai mereka, lalu mereka meminjam sebuah perahu kecil, hingga di lain saat mereka sudah mengagayuh di permukaan air, meluncurkan perahu itu, meninggalkan tepian.
Dari perahu, mereka sekarang dapat melihat sekitarnya, yang agaknya jadi terlbeih luas lagi.
Rambut dan baju Oey Yong dipermainkan angin keras.
Ia gembira sekali, sambil tertawa ia berkata.
"Dulu hari Hoan Tayhu telah menaiki perahu bersama-sama See Sie pesiar di Danau Lima ini, dia sungguh cerdik sekali. Mati tua disini bukankah ada lebih menang daripada seumur tahun repot sebagai pembesar negeri?"
Kwee Ceng tidak tahu riwayatnya Hoan Tayhu itu.
"Yong-jie, coba kau tuturkan tentang Hoan Tayhu dan See Sie itu,"
Ia minta.
Oey Yong suka memberikan keterangan.
Maka ia menutur tentang Hoan Tayhu atau Menteri Hoan itu yang bernama Lee, yang pandai, hingga ia berhasil membantu Raja Wat menuntut balas membangun negara, tetapi sesuadh berhasil, ia kenal batas, dia mengundurkan diri bersama-sama See Sie, akan hidup dalam kesunyian dan ketenangan di telaga Thay Ouw ini.
Pandai ia menutur hingga pemudanya menjadi kesemsem saking tertarik harinya.
"Benar-benar Hoan Lee itu cerdik,"
Kata si pemuda kemudian.
"Tidaklah demikian dengan Ngouw Cu Sih dan Bun Ciong, sampai hari ajalnya mereka masih bekerja setia untuk negera. Sukar dicari orang-orang seperti mereka itu."
"Memang!"
Berkata si nona.
"Ini dia yang disebut, ‘Negara adil, tak berubah, itulah kegagahan, negera buruk, sampai mati tak berubah, itulah kegagahan.’"
Kwee Ceng tidak mengerti.
"Apakah artinya itu?"
Ia menanya.
"Itu artinya, di dalam negeri bejaksana, kau menjadi pembesar negeri, kau tetap tidak berubah kejujuranmu semenjak bermula, di dalam negara buruk, kau berkorban jiwa raga, kau tetap tidak merusak kehormatan dirimu, itu pun satu laki-laki sejati."
Kwee Ceng mengangguk.
"Yong-jie, cara bagaimana maka kau dapat memikir demikian?"
Ia bertanya pula.
"Aha!"
Oey Yong tertawa.
"Kalau aku yang dapat memikir begitu, bukankah aku telah berubah menjadi nabi? Itulah ujar-ujarnya Nabi Khong Hu-cu, diwaktu aku amsih kecil, ayah paksa aku membacanya."
"Sungguh banyak aku tidak mengerti,"
Kwee Ceng menghela napas.
"Coba aku bersekolah, pastilah aku ketahui itu semua."
"Sebaliknya aku menyesal telah belajar surat,"
Berkata Oey Yong.
"Coba ayah tidak memaksa aku bersekolah, melukis, menabuh khim, hanya aku dibiarkan menyakinkan ilmu silat, pasti kita tak usah takuti Bwee Tiauw Hong dan si siluman bangkotan she Nio itu!"
Asyik mereka pasang omong tanpa merasa perahu mereka sudah meninggalkan tepian belasan lie.
Di dekat mereka, mereka melihat sebuah perahu kecil dimana seoarng nelayan bercokol di kepala perahunya sedang mengail ikan sambil kepalanya ditunduki, hingga dia nampak seperti lukisan gambar saja.
Mereka bicara terus, ketika mereka berpaling kepada si nelayan, dia tetap duduk tak bergerak.
"Sungguh dia sabar dan ulet sekali!"
Kata Oey Yong tertawa.
Kemudian di antara desiran angin dia bernyanyi, dari gembira menjadi sedih.
Sebab ia menyanyikan "Syair Naga Air".
Ia bernyanyi baru separuh, tiba-tiba terdengar sambutan yangs erupa, yang kemudian ternyata adalah suara si tukang pancing ikan itu.
Oey Yong terbengong.
"Eh, kau kenapakah?"
Tanya Kwee Ceng heran.
"Itulah nyanyian yang sering dinyanyikan ayahku,"
Menyahut si nona.
"Aku heran seorang tukang pancing di sini pun dapat menyanyikan itu dan suaranya pun bersemangat tetapi pun bernada duka. Mari kita lihat."
Mereka mengayuh, akan menghampirkan tukang pancing itu, siapa justru telah berhenti memancing dan menyimpan pancingnya serta ia mengayuh perahunya pergi.
Ketika kenderaan air mereka berpisah beberapa tombak lagi, tukang pancing itu terdengar berkata.
"Di tengah telaga bertemu sama sepasang tetamu mulia, aku girang sekali! Sudikah kalau aku mengundang kalian bersama meminum arak?"
"Cuma kami khawatir mengganggu lotiang,"
Oey Yong menyahuti. Ia heran untuk kata-kata rapi dari si tukang pancing itu.
"Tidak sama sekali, malah aku bergirang. Silahkan!"
Dia itu mengundang pula.
Dengan beberapa kali mengayuh pula, Oey Yong merapatkan perahunya kepada perahu si nelayan itu, bersama Kwee Ceng ia pindah perahu, habis menambat perahunya sendiri kepada perahu orang, mereka memberi hormat.
Nelayan itu membalasi sambil berduduk terus.
"Maaf, jiwi, kakiku sakit, tidak dapat aku bangun berdiri."
Katanya.
"Jangan merendah, lotiang,"
Berkata muda-mudi itu.
Mereka mendapatkan orang berusia empatpuluh lebih, mukanya kurus, mirip orang yang lagi menderita sakit berat, tubuhnya jangkung, meski berduduk, ia jauh lebih tinggi dari Kwee Ceng.
Ia tidak bersendirian.
Di buntut perahu ada satu kacung lagi mengipasi perapian, dimana ia tengah memanasi arak.
Oey Yong perkenalkan she mereka, bahwa saking gembira mereka bermain perahu.
Ia memohon maaf yang mereka sudah mengganggu ketentraman si nelayan.
"Kau merendah,"
Kata si nelayan tertawa.
"Aku she Liok. Apa jiwi berdua baru pertama kali ini pesiar di telaga ini?"
"Benar,"
Sahut Kwee Ceng.
Kedua pemuda ini – sebab Oey Yong menyamar – lantas diundang minum dan dahar sayur mayur yang terdiri dari empat rupa.
Mereka mengucap teriam kasih, mereka minum dan dahar bersama.
Nyata araknya wangi dan sayurnya pun lezat, mesti itu masakan orang hartawan.
"Siauwko, kau muda sekali, tapi pandai kau menyanyikan syair Naga Air itu,"
Si orang she Liok itu memuji.
"Lotiang pun sama juga,"
Oey Yong membalasi.
Keduanya lantas bicara hal syair itu, dua-duanya gembira.
Kwee Ceng tidak mengerti hal syair, ia membungkam, ia cuma kagum.
Ketika itu terlihat mega berkumpul.
Si orang she Liok itu mengundang kedua tetamunya berkunjung ke rumahnya, untuk berdiam beberapa hari.
Ia kata rumahnya itu di tepi telaga.
"Bagaimana, engko Ceng?"
Oey Yong tanya kawannya. Belum lagi Kwee Ceng menyahuti, si orang she Liok itu sudah berkata pula bahwa rumahnya dekat dan di sana ada puncak yang indah.
"Jiwi tengah pesiar, maka itu, jangan kau menampik,"
Ia mendesak.
"Kalau begitu, Yong-jie, mari kita membikin berabe tuan Liok!"
Akhirnya Kwee Ceng menjawab kekasihnya.
Ia pun mengucapkan terima kasih.
Si orang she Liok itu girang, ia terus menyuruh kacungnya mengayuh.
Sampai di tepian, langit mulai gelap, Kwee Ceng kata ia hendak membayar pulang dulu perahunya, sedang di rumah si tukang perahu ada kuda dan keledainya, hendak binatang itu dititipkan terus.
"Tidak usah,"
Kata si orang she Liok mencegah.
"Disini semua kenal aku, hal itu biar dia saja yang mengurusinya."
Dia menunjuk kacungnya.
"Kudaku nakal,"
Kata Kwee Ceng.
"Kalau begitu baiklah, nanti aku menanti di gubukku,"
Kata si orang she Liok itu.
Dia tertawa, lantas dia mengayuh perahunya, lenyap di antara pohon-pohon yangliu.
Tapi kacungnya ikut Kwee Ceng dan Oey Yong memulangi perahu dan mengambil kuda serta keledai mereka.
Kemudian mereka mesti berjalan berliku-liku akan sampai di rumah si orang she Liok, yang merupakan suatu rumah besar dengan pekarangan yang lebar luas.
Untuk tiba di muka pekarangan, mereka mesti melintasi dulu sebuah jembatan tunggu.
Muda mudi itu saling mengawasi, kagum karena rumah orang itu.
Di muka pintu, kedua tetamu ini disambut seorang muda umur duapuluh lebih yang membawa empat budak.
Ia kata ia diutus ayahnya untuk menyambut.
Kwee Ceng membalas hormat, ia mengucap terima kasih.
Ia melihat pemuda itu mengenakan jubah panjang, wajahnya mirip ayahnya, cuma tubuhnya besar dan kekar.
Ia lantas minta belajar kenal.
Pemuda itu menyebutkan namanya, Koan Eng.
Sembari berbicara mereka bertindak masuk, memasuki hingga tiga ruangan.
Kedua tetamu ini menjadi terlebih kagum.
Rumah itu indah tiang-tiangnya terukir.
"Lekas silahkan tetamu masuk!"
Lantas terdengar suaranya si orang she Liok, yang berada di ruang belakang.
"Ayahku terganggu kakinya, sekarang ia menantikan di kamar tulis Timur,"
Koan Eng memberitahu.
Mereka melintasi pintu angin, lantas mereka lihat pintu kamar tulis yang dipentang.
Di dalam situ si nelayan duduk di atas pembaringannya.
Sekarang ia tidak dandan lagi sebagai tukang pancing, hanya mengenakan pakaian mahasiswa atau sastrawan, tangannya mencekal kipas.
Ia menyambut dengan gembira, sambil tersenyum, ia pun lantas mengundang duduk.
Koan Eng tidak berani duduk bersama, ia berdiri di samping.
Dua tetamu itu mengagumi kamar tulis itu, yang banyak kitabnya serta juga rupa-rupa barang kuno, tetapi Oey Yong terbengong ketika ia melihat sepasang lian di tembok, bunyinya "Dalam tumpukan pakaian menyimpan pedang mustika"
Dan "Dalam suara seruling dan tambur ada tetamu tua". Ia heran untuk kata-katanya. Itulah kata-kata yang suka disenandungkan ayahnya. Di bawah lian itu tertulis nama penulisnya berikut keterangannya.
"Coretan Ngo Ouw Hoat-jin selama dalam sakitnya". Kata-kata "Ngo Ouw Hoat-jin"
Itu berarti "Orang tapakdaksa dari Thay Ouw". Ia menduga, si orang tapakdaksa itu tentulah tuan rumah she Liok ini. Bukankah ia lagi menderita sakit kaki? Tuan rumah heran.
"Bagaimana pandanganmu tentang lian itu, laotee?"
Ia menanya.
"Kalau aku mengaco, harap chung-cu tidak buat kecil hati,"
Sahut Oey Yong.
Ia sekarang memanggil "chung-cu" = tuan rumah.
Ia kata lian itu mengandung kemurkaan dan penasaran, sedang tulisannya bagus dan keren.
Ia anggap orang telah menyimpan pedangnya untuk hidup menyendiri di tempat sepi.
Mendengar itu, tuan rumah menghela napas, ia berdiam.
"Aku masih muda dan tidak tahu apa-apa, aku telah sembarangan omong, harap chung-cu suka memaafkan,"
Berkata Oey Yong.
"Jangan mengucap demikian, Oey Laotee,"
Berkata Liok Chung-cu.
"Apa yang tersimpan di dalam hatiku berulah hari ini dapat dilihat orang seorang sebagai kau, maka bisalah dibilang, kaulah orang yang paling mengenal aku selama hidupku ini."
Lalu ia menoleh kepada putranya, menyuruh lekas menyiapkan barang hidangan. Oey Yong dan Kwee Ceng meminta tuan rumah jangan membikin berabe tetapi tuan rumah yang muda sudah lantas mengundurkan diri.
"Laotee, pandanganmu tajam, kau mestinya dari keluarga terpelajar, mungkin ayahmu ada seorang sastrawan besar,"
Berekat tuan rumah.
"Entah siapa ayahmu itu, bolehkah aku mengetahui nama besarnya yang mulia?"
"Aku tidak mengerti apa-apa, chung-cu terlalu memuji,"
Menyahut Oey Yong.
"Ayahku cuma membuka rumah perguruan di kampung halaman."
Tuan rumah itu menghela napas.
"Orang terpelajar tak menemui nasibnya yang baik, sejak dahulu hingga sekarang sama saja,"
Katanya.
"Oey Laotee, kita ada bagaikan sahabat lama, maka itu aku ingin minta kau melukis sesuatu untukku, sebagai tanda peringatan. Sudikah kau meluluskannya?"
Oey Yong tersenyum.
"Oh, chung-cu!"
Katanya.
"Coretan buruk, cuma-cuma akan membikin kotor mata chung-chu saja!"
Mengetahui orang suka meluluskan, tuan rumah menjadi sangat girang, ia suruh kacungnya lekas menyediakan perabot tulis.
Si kacung sendiri yang menggosokan baknya.
Oey Yong tidak menampik lagi, cuma berpikir sebentar, lantas ia melukiskan gambarnya seorang mahasiswa usia pertengahan lagi berdiri di latar tengah sedang berdongak sambil menghela napas memandangi si putri malam yang cahayanya terang permai, mahasiswa itu agaknya kesepian, tetapi tangannya dia memegangi gagang pedang, romannya keren.
Di samping lukisan itu dituliskan syair.
"Siauw Tiong San"
Dari Gak Hui.
Sebagai tanda tangan ia menyebutkan dirinya si anak muda she Oey.
Liok Chung-chu girang sekali, ia memuji dan mengucapkan terima kasih.
Ia senang dengan gmabar itu.
Habis bersantap, mereka kembali ke kamar tulis, akan pasang omong pula.
Tuan rumah menyebutkan halnya kedua gua Thio Kong dan Sian Koan.
Ia minta kedua tetamunya tinggal beberapa hari lagi untuk menjenguk kedua gua itu.
"Sekarang silahkan jiwi beristirahat,"
Katanya tuan rumah akhirnya.
Kwee Ceng dan Oey Yong mengucap terima kasih, mereka berbangkit, untuk mengikuti kedua bujang yang membawa lentera, yang hendak mengantar ke kamar yang telah disediakan untuk mereka.
Selagi lewat di ambang pintu, Oey Yong mendongak, maka terkejutlah ia menampak di atas pintu ada delapan lemabr besi merupakan patkwa.
Tapi ia tidak bilang suatu apa, ia mengikuti terus pengantarnya itu.
Kamar yang disediakan diperaboti lengkap, pembaringannya dua.
Kedua bujang menyediakan the, ketika hendak mengundurkan diri mereka memberitahu apabila perlu apa-apa, kedua tetamunya boleh membunyikan kelenengan, yang diikat di pinggiran pembaringan.
Kemudian mereka memesan agar diwaktu malam jangan kedua tetamunya itu pergi keluar.
"Engko Ceng, lihat, tempat apa ini,"
Berbisik Oey Yong setelah kedua bujang menutup pintu kamar dan berlalu.
"Kenapa kita dilarang keluar di waktu malam?"
"Rumah ini luas sekali pekarangannya, berliku-liku juga, mungkin dikhawatirkan kita kesasar,"
Sahut Kwee Ceng.
"Bagaimana engko lihat tuan rumah kita?"
Si nona menanya pula.
"Dia mirip perwira yang telah mengundurkan diri!"
Jawab si anak muda.
"Tidak salah! Dia tentu mengerti ilmu silat, bahkan lihay. Kau lihat tidak tadi itu patkwa besi di atas pintu kamar tulis?"
"Patkwa besi? Apakah itu?"
Tanya si pemuda.
"Itulah senjata yang menjadi alat untuk menyakinkan ilmu Pek-khong-ciang, latihan memukul udara kosong. Ayah pernah ajarkan aku ilmu itu, aku bosan, selang beberapa bulan, aku mengapalkannya siapa tahu, di sini aku melihat alat itu…"
"Kelihatannya Liok Chung-cu tidak bermaksud jahat, maka itu apabila dia tidak membilang sesuatu apa, kita baik perpura-pura pilon."
Oey Yong tersenyum, lalu tangannya mengebas ke lilin, memadamkan api.
"Tanganmu sungguh lihay!"
Kwee Ceng memuji perlahan.
"Yong-jie, adakah ini Pek-khong-ciang?"
"Cuma sebegini pelajaranku,"
Oey Yong tertawa.
"Ini ada untuk main-main, buat dipakai menyerang orang, tidak dapat."
Sampai di sini, keduanya tidur.
Mereka belum puas ketika kuping mereka dapat menangkap suara bagaikan orang meniup terompet kulit keong, terdengarnya samar-samar, tandanya jauh suara itu, kemudian datang suara yang menyambutnya, tanda terompet itu dibunyikan bukan oleh satu orang.
Suara menyambut itu pun samar-samar.
"Engko Ceng, mari kita lihat,"
Oey Yong mengajak, suaranya perlahan. Ia heran sebab terompet itu terang saling sahutan.
"Lebih baik kita jangan keluar, khawatir terbit gara-gara."
Sahut si pemuda.
"Siapa bilang untuk menerbitkan gara-gara? Aku mengatakan untuk melihat."
Jawab si nona bersikeras.
Kwee Ceng terpaksa menurut, maka dengan berhati-hati keduanya membuka jendela, untuk melongok dulu keluar.
Di paseban terlihat beberapa orang dengan lentera, beberapa lagi pergi datang, agaknya repot.
Di atas genteng pun ada tiga empat orang lagi mendekam.
Di antara terangnya lentera, terlihat nyata orang pada membekal senjata tajam.
Tidak lama, semua orang itu pergi keluar.
Oey Yong heran, ingin ia mencari tahu, dari itu ia tarik tangan Kwee Ceng pergi ke jendela sebelah barat.
Di luar situ tidak ada orang, keduanya lompat keluar.
Kerena kegesitannya, mereka tak terlihat orang-orang di atas genting itu.
Dengan memberi tanda dengan tangannya, si nona mengajak kawannya jalan mutar ke belakang.
Jalanan di situ dari timur belok ke barat, berliku-liku.
Heran adalah setiap paseban di tikungan, modelnya sama.
Maka dalam beberapa belokan saja, tak dapat dibedakan lagi mana timur mana barat, mana selatan mana utara.
Tapi si nona lihay, ia maju terus dengan cepat, tidak pernah ia bersangsi.
Pernah nampaknya di depan tidak ada jalanan tetapi ia menobloskan gunung-gunungan.
Heran Kwee Ceng setibanya mereka di sebuah lorong yang agaknya buntu tetapi si belakangnya pintu angin nyata ada sebuah tempat tenang dan indah, hingga ia kata pada kawannya.
"Yong-jie, rumah ini aneh, cara bagaimana kau kenal jalanannya semua?"
Oey Yong tidak menjawab, dengan tangannya ia memberi tanda supaya si pemuda tutup mulut.
Mereka melalui beberapa tikungan, baru mereka tiba di tembok belakang.
Di situ si nona menekuk-nekuk tangannya, ia maju beberapa tindak, kemudian Kwee Ceng dengar ia menyebutnya perlahan.
"Cit satu…tun tiga…ie lima…hiu tujuh…kun…."
Yang ia tak mengerti, akan akhirnya si nona kata sembari tersenyum.
"Cuma di sini ada jalan keluar, yang lainnya penuh dengan alat rahasia."
Habis berkata, ia lompat naik ke tembok. Kwee Ceng lantas mengikuti.
"Pekarangan ini diatur menurut patkwa,"
Oey Yong memberi keterangan.
"Inilah keahlian ayahku. Liok Chung-cu bisa menyulitkan orang lain, tidak aku!"
Dan ia agaknya puas sekali.
Keduanya naik di tanjakan bukit kecil di belakang, memandang ke arah timur, mereka mereka melihat sebarisan lentera obor yang menuju ke tepi telaga.
Oey Yong memberi tanda, ia lari ke arah timur itu, kawannya mengikuti terus.
Lantas mereka sembunyi si belakang satu batu besar, mengintai ke tepian.
Di situ berbaris perahu-perahu nelayan, orang semua menaiki itu.
Sejenak saja, semua api dipadamkan.
Oey Yong berdua menunggu naiknya rombongan paling belakang, di dalam gelap gulita mereka keluar dari tempat persembunyiannya, lari ke sebuah perahu yang paling besar, untuk lompat naik ke gubuk perahu.
Gesit dan enteng tubuh mereka, perbuatannya itu tidak ada yang ketahui.
Mereka lantas mengintai di sela-sela gubuk.
Segera ternyata, duduk di dalam perahu ada si chung-cu muda, Liok Koan Eng.
Semua perahu itu berlayar baru satu lie kira-kira, dari tengah telaga terdengar suara terompet.
Dari perahu besar itu terlihat keluar seseorang, dia terus meniup terompet sebagai balasan.
Masih perahu berlayar terus.
Selang beberapa lie lagi, terlihat di sebelah depan berbaris-baris perahu kecil berjalan bagaikan kawanan semut, atau titik-titik di atas kertas putih, entah berapa jumlahnya.
Tukang terompet di perahu besar meniup pula terompetnya, tiga kali, lantas perahu kecil segera datang menghampirkan dari perlbagai penjuru.
Oey Yong dan Kwee Ceng heran betul.
Agaknya bakal ada pertempuran, tetapi Koan Eng tetap tenang sikapnya, tak seperti ia lagi mengahadapi musuh besar.
Lekas sekali semua perahu sudah datang dekat, dari setiap perahu berlompat pindah satu orang, dua orang, tiga empat orang, tak tentu, di dalam, mereka memberi hormat kepada Koan Eng, terus mereka duduk, sikapnya tetap menghormat, duduknya rapi.
Tempat duduknya seperti sudah diatur, sebab ada yang datang duluan duduknya di belakang atau di tengah, ada yang datang belakangan justru duduk di kursi kepala.
Sebentar saja, semua sudah berduduk.
Mereka kelihatan keren, bukan seperti nelayan.
"Thio Toako, apa kabarmu?"
Tanya Liok Koan Eng seraya ia mengangkat tangannya. Ia memecahkan kesunyian setelah semua orang sudah duduk rapi itu. Seorang yang kurus tubuhnya berbangkit. Ia menyahuti.
"Peruntusan negara Kim itu sudah mengatur sebentar pagi-pagi akan melewati telaga dan Toan Cie-hui akan tiba lagi dua jam. Dengan alasan menyambut peruntusan itu, di sepanjang jalan Cie-hui itu sudah memeras harta benda. Ini pun sebabnya dia datang terlambat."
"Berapa banyak hasilnya itu?"
"Setiap kota ada bingkisannya. Serdadu-serdadunya pun merampas di perkampungan. Aku lihat, waktu turun ke perahu, pengikutnya menurunkan duapuluh peti lebih yang semua nampaknya sangat berat."
"Berapa banyak tentaranya itu?"
Koan Eng menanya pula.
"Dua ribu serdadu berkuda. Yang naik perahu semuanya adalah serdadu berjalan kaki. Karena perahu tidak banyak, yang ketinggalan ada sekitar seribu jiwa."
"Saudara semua, bagaimana pikiran kamu?"
Koan Eng tanya para hadiran.
"Kami menanti titah siauw chung-cu!"
Ia mendapat jawaban serempak. Koan Eng lantas bersidakep tangan, lalu ia berkata.
"Semua itu keringat darah rakyat, semuanya harta tak halal. Karena mereka lewat di sini, kalau kita tak ambil, kita menentang wet Tuhan! Mari kita ambil semunya, nati separuhnya kita amalkan kepada rakyat jelata, yang separuhnya kita bagi rata antara semua markas!"
"Bagus!"
Semua hadirin setuju.
Baru sekarang Oey Yong berdua ketahui, semua orang itu adalah kepala-kepala perampok dan Koan Eng rupanya adalah pemimpin umumnya!
"Kita tidak dapat berayal lagi, mari segera kita turun tangan!"
Berkata Koan Eng lagi.
"Thio Toako, tolong bawa lima buah perahu untuk membikin penyelidikan di depan!"
Si orang kurus menerima titah itu, ia berlalu paling dulu.
Setelah itu Koan Eng mengatur barisannya, siapa yang jadi pelopor, siapa penyambut atau pembantu, siapa mesti jadi "siluman air" , akan selulup di dalam air untuk memahat perahu-perahu musuh, dan siapa mesti jadi tukang angkut harta.
Bahkan ditetapkan siapa mesti membekuk si kepala pasukan musuh.
Dia kelihatan lemah tetatpi rapi pengaturannya itu.
Maka itu, Kwee Ceng berdua bertambah kagum.
Disaat orang hendak mulai berangkat, seorang hadirin berbangkit dan berkata dengan suara dingin.
"Kita yang bekerja tanpa modal ini, sudah cukup kalau kita makan dari kaum pedagang kaya raya, tetapi dengan menempur pembesar dan tentara negeri, apa selanjutnya kita masih bisa berdiam di telaga ini?"
Kwee Ceng dan Oey Yong mengawasi orang itu, ynag suaranya mereka rasa mengenalinya.
Tidak usah mereka memandang lama, lantas mereka kenali orang ini ialah Toat-pek-pian Ma Ceng Hiong, salah satu dari keempat Hong Ho Su Koay, Empat Iblis dari sungai Hong Ho, yang adalah muridnya See Thong Thian.
Maka heran mereka, kenapa iblis itu nelusup di antara kawanan dari Thay Ouw itu.
Wajahnya Liok Koan Eng menjadi merah padam.
Belum lagi ia membuka suara, sudah ada dua tiga orang yang menegur Ceng Hiong itu.
"Ma Toako baru datang, tidak heran kau tidak ketahui aturan kami di sini,"
Kata Koan Eng mencoba bersikap sabar.
"Bagi kami, satu kali semua orang sudah mengambil keputusan, kami mesti bekerja, biarnya kami semua ludas, kami tidak menyesal!"
"Baiklah!"
Kata Ceng Hiong.
"Kamu lakuan usahamu, aku tidak dapat mencampuri air keruh kamu!"
Ia terus memutar tubuhnya, berniat berlalu. Dua orang, yang tubuhnya besar, melintang di mulut perahu.
"Ma Toako!"
Kata mereka keras.
"Kau sudah bersumpah memotong kepala ayam! Sumpah kita adalah, rejeki sama dicicipi, bencana sama diderita!"
Ma Ceng Hiong tidak menggubris cegahan itu.
"Minggir!"
Ia membentak, kedua tangannya dikebaskan.
Sebagai kesudahannya, dua orang tinggi besar itu roboh terpelanting.
Disaat iblis ini hendak bertindak, ia merasakan sambaran angin pada punggungnya.
Segera ia berkelit ke samping, tangan kirinya mencabut semcama pusut dengan apa ia membalas menyerang dengan tikaman.
Penyerang yang gesit itu adalah Liok Koan Eng.
Dia menangkis, kakinya dimajukan, tangan kanannya menyerang terus.
Maka "Duk!"
Punggung Ceng Hiong kena terhajar hingga dia menjerit keras, memuntahkan darah, tubuhnya terus roboh binasa seketika.
"Bagus!"
Berseru semua hadirin, diantara siapa ada yang sambar tubuh Ceng Hiong itu, untuk digayor ke tengah telaga! "Semua saudara, berebutlah maju!"
Koan Eng menyerukan tanpa menghiraukan lagi apa yang ia barusan lakukan.
Semua orang menyahuti, lantas semua kembali ke perahu masing-masing.
Sebentar kemudian, semua kenderaan air itu sudah menuju ke timur.
Perahu besar Koan Eng mengiringi dari belakang.
Tidak lama terlihatlah jauh di sebelah depan beberapa puluh buah perahu besar, yang apinya terang-terang, tengah menuju ke barat.
Di antara perahu kecil lantas terdengar suara terompet keong.
Kwee Ceng dan Oey Yong memasang mata.
Mereka tidak usah menanti lama atau kedua pihak perahu sudah datang dekat satu pada lain, lanats terdengar suara bentakan-bentakan disusul mana beradunya senjata atau tubuh yang kecemplung ke muka air.
Selang tidak lama, di pihak perahu tentara terlihat api berkobar, hingga seluruh telaga menjadi merah marong.
"Tentu mereka sudah berhasil,"
Pikir Kwee Ceng berdua. Tidak seberapa lama, beberapa perahu datang mendekati perahu besar, dari dalam situ terdengar laporan.
"Semua musuh sudah musnah, kepala perangnya sudah tertawan!"
Koan Eng girang sekali, dai pergi ke kepala perahu. Dia berseru.
"Saudara-saudara, bercapai lelahlah sedikit lagi! Silahkan kamu membekuk utusan negera Kim!"
Pembawa kabar itu bersorak, mereka lantas berlalu pula, untuk menyampaikan titah itu.
Habis itu, terdengar suara terompet dari pelbagai perahu kecil, semua perahu memasang layar, menuju ke barat, bertiup keras angin timur.
Perahu besar Koan Eng, yang tadinya berada di belakang, sekarang maju mendahului ynag lain-lain, pesat sekali lajunya.
Kwee Ceng dan Oey Yong berdiam terus, mata mereka mengawasi ke depan.
Tidak peduli angin keras mendampar-dampar punggung mereka, mereka gembira sekali.
Coba tidak lagi sembunyi, tentulah si nona sudah bernyanyi.
Pula menarik akan melihat perahu-perahu kecil mencoba melombai perahu besar itu.
Berlayar kira-kira satu jam, di depan mulai tertampak cahaya terang.
Maka dua buah perahu kecil terlihat melesat mendatangi, lalu seorang dikepala salah satu perahu, dengan tangan memegang bendera merah berteriak nyaring.
"Kita sudah menemui perahu-perahu peruntusan negera Kim itu! Hoo Cecu sudah mulai menyerang!"
"Bagus!"
Koan Eng menyahuti. Lekas sekali ada datang sebuah perahu lain, seorang memberi laporan.
"Kaki tangan negera Kim itu lihay, Hoo Cecu telah terluka! Kedua cecu Pheng dan Tang tengah mengepung mereka!"
Kapan perahu itu sudah datang dekat, dua orang memanggul Hoo Cecu ynag terluka itu naik di perahu besar.
Selagi Koan Eng hendak mengeobati cecu itu, sudah lantas datang beberapa perahu lagi, yang membawa kedua cecu Pheng dan Tang yang tadi disebutkan, ynag pun telah terluka.
Pula dilaporkan yang.
"Kwee Tauwnia dari puncak Piauw Biauw Hong telah kena ditombak mati utusan negara Kim, mayatnya kecemplung ke telaga."
Mendengar itu Liok Koan Eng jadi gusar sekali.
"Anjing Kim itu demikian galak, nanti aku sendiri pergi membinasakan dia!"
Ia berseru.
Kwee Ceng dan Oey Yong sesalkan kegalakan Wanyen Kang itu, yang membunuh bangsanya, dilain pihak, mereka khawatirkan kebinasaan pangeran itu, yang tentu tidak snaggup melayani kawanan perampok yang besar jumlahnya itu, hingga kalau dia mati, bagaimana jadinya dengan Bok Liam Cu "Kita tolongi dia atau jangan?"
Oey Yong berbisik.
"Kita tolongi dia tetapi dia mesti dibikin insyaf dan menyesal,"
Sahut anak muda ini. Oey Yong mengangguk. Itu waktu Koan Eng sudah membawa sebuah golok yang tajam di dua mukanya, dai berlompat ke sebuah perahu kecil.
"Lekas!"
Dia berseru.
"Mari kita rampas itu perahu kecil di sampingnya!"
Oey Yong mengajak kawannya.
Disaat kedua hendak berlompat, tiba-tiba tempik sorak riuh kawanan perampok, kemudian tertampak perahu-perahu rombongan perutusan Kim itu pada karam.
Rupanya perahu mereka itu telah dipahat bolong dasarnya.
Kemudian, dengan bendera merahnya dikibar-kibarkan, dau perahu datang melapor.
"Anjing Kim itu kecemplung di air. Dia sudah dapat dibekuk!"
Koan Eng girang, dia berlompat kembali ke perahu besar.
Tidak lama, di antara berisiknya terompet, sejumlah perahu kecil datang membawa orang-orang tawanan mereka ialah si utusan Kim, sekalian pahlawan dan pengiringnya, semua sudah lantas digusur naik ke perahu besar.
Kwee Ceng dan Oey Yong mendapatkan Wanyen Kang dibelebat kaki tangannya, matanya meram saja, rupanya ia telah kena tenggak banyak air telaga.
Kebetulan itu sang fajar telah tiba, seluruh telaga mulai terang tertojohkan matahari dari timur, air telaga bersinaran, memain seperti berlugat-legotnya ular-ular emas.
Liok Koan Eng telah memberikan pengumumannya;
"Semua cecu berkumpul di Kwie-in-chung untuk berjamu! Semua tauwnia pulang ke markas, untuk menanti hadiah!"
Kaum perampok bersorak-sorai, lantas tertampak mereka berpencaran, lenyap di kejauhan.
Dimuka telaga terlihat burung-burung melayang-layang, pula terlihat layar-layar putih.
Segala apa tenang sekali, hingga orang tidak nanti menyangka bahwa baru saja dilakukan pertempuran mati hidup….
Kwee Ceng berdua menantikan orang sudah pada ke darat, baru dengan diam-diam mereka pun pulang, untuk berpura-pura tidur.
Beberapa kali dua bujang pelayannya datang ke pintu kamar, mereka ini menyangka tetamunya sedang tidur nyenyak bekas letih pesiar kemarin, mereka tidak berani mengasih bangun.
Lewat lagi sesaat barulah Kwee Ceng berdua membuka pintu.
Lantas mereka diberi selamat pagi oleh kedua pelayannya, yang pun cepat menyediakan sarapan pagi seraya memberitahukan bahwa chung-cu menantikan di kamar tulis.
Keduanya menangsal perut sekedarnya, kemudian mereka pergi ke kamar tulis, di mana Liok Chung-cu sambil berduduk di pembaringan, menyambut sambil tertawa;
"Angin besar di telaga, semalam gelombang mendampar-dampar gili-gili mengganggu orang tidur! Apakah semalam jiwi dapat tidur nyenyak?"
Kwee Ceng jujur, pertanyaan itu membuat ia bungkam, tetapi Oey Yong menyahuti.
"Tadi malam aku mendengar suara terompet kulit keong, rupanya paderi atau imam tengah membaca doa."
Tuan rumah tertawa. Lantas ia mengatakan ingin ia memperlihatkan kumpulan gambar lukisannya kepada kedua tetamunya.
"Tentu suka sekali kami melihat,"
Berkata Oey Yong.
"Pasti itu ada lukisan-lukisan yang sangat indah."
Liok Chung-cu menyuruh kacungnya mengambil gambarnya itu, maka sebentar kemudian Oey Yong sudah memandang menikmatinya.
Selagi hatinya sangat ketarik, mendadak Oey Yong mendengar bentakan-bentakan disusul berlari-larinya beberapa orang, seperti seorang lari dikejar beberapa orang.
Satu kali terdengar nyata bentakan.
"Kalau sudah masuk ke dalam Kwie-in-chung, untuk kabur dari sini lebih sukar daripada mendaki langit!"
Diam-diam Oey Yong melirik tuan rumah, ia mendapat kenyataan orang tenang seperti biasa, bagaikan dia tidak mendengar apa-apa, bahkan ia menanya, dari empat sastrawan besar di jamannya itu, tulisan siapa yang tetamunya paling digemari.
Selagi Oey Yong hendak memberikan jawabannya, tiba-tiba pintu kamar ada yang tabrak, seorang nerobos masuk, pakaian orang itu basah kuyup.
Ia lantas mengenali Wanyen Kang, maka ia tarik Kwee Ceng seraya membisiki.
"Lihat gambar, jangan pedulikan dia…"
Keduanya segera tunduk, terus mengawasi gambar-gambar lukisan serta perlbagai tulisan.
Tuan rumah mengawasi orang yang nerobos masuk itu.
Orang itu memang Wanyen Kang adanya.
Dia tertawan karena ia kecemplung dan kena meminum banyak air.
Tempo dia mendusin, dia mendapatkan kaki tangannya terbelenggu, dan Liok Koan Eng hendak memeriksa dia.
Segera dia mengerahkan tenaganya, sekali berontak, dia membuatnya belenggunya pada putus.
Orang semua kaget, lantas mereka bergerak untuk menangkap.
Dia membuka kedua tangannya, dua orang yang terdekat terpelanting roboh.
Dia terus nerobos, untuk lari.
Tapi Kwie-in-chung diatur menurut kedudukan patkwa, siapa tidak ketahui itu, jangan harap ia dapat lolos.
Demikian dia lari tanpa tujuan sambil dikejar-kejar, sampai ia menabrak justru pintu kamar tulis.
Liok Koan Eng tidak berkhawatir orang lolos, tetapi melihat orang tawanan masuk ke kamar ayahnya, khawatir ayahnya nanti diserang, dia lompat untuk menghalang di depan ayahnya itu.
Di muka pintu segera terlihat sejumlah cecu berdiri menghalang.
Dalam kesusu dan bingung seperti itu, Wanyen Kang tidak dapat memperhatikan Oey Yong berdua, dia menuding Liok Koan Eng dan menegor.
"Perampok sangat jahat, kau sudah menggunai akal busuk membocorkan perahu! Tidakkah kamu khawatir ditertawakan kaum kangouw?!"
Koan Eng tertawa lebar.
"Kau putra raja Kim, perlu apa kau menyebut-nyebut dua huruf kangouw itu?"
Ia membaliki.
"Selama di Pakhia aku telah mendengar nama besar kaum kangouw di Selatan,"
Berkata Wanyen Kang berani.
"Buktinya – hm – ternyata hari ini kamu hanya…."
"Hanya apa?!"
Koan Eng memotong.
"Hanya kamu kaum hina dina yang pandai mengandalkan orang banyak!"
Sahut pangeran muda iru. Koan Eng gusar sekali dihina secara demikian. Ia muda tetapi ialah kepala untuk kaum Rimba Persilatan di Kanglam. Ia kata.
"Kau ingin bertempur satu sama satu, baru kau mampus tidak menyesal?"
Inilah jawaban yang diharap Wanyen Kang. Memang ia sengaja memancing amarah orang. Maka ia kata;
"Kalau orang Kwie-in-chung ada yang sanggup mengalahkan aku, aku akan mandah dibelenggu, tidak nanti aku membilang suatu apa. Siapa yang hendak memberikan pelajaran kepadaku?!"
Ia pun bersikap temberang, matanya menyapu semua orang, kedua tangannya digendong di belakangnya.
Kata-kata tersebut itu membangkitkan amarah Cio Cecu dari puncak Bok Lie Hong, juga aseran tabiatnya, maka ia lantas majukan dirinya, malah segera dia menyerang dengan kedua tangannya.
Wanyen Kang berkelit, membikin serangan jatuh di tempat kosong, berbareng dengan itu, kedua tangannya bekerja.
Tangan kanan menyambar ke baju di punggung, tangan kiri membantui, maka tubuh cecu itu lantas terangkat, terus dilemparkan ke arah kawan-kawannya di ambang pintu!
Koan Eng terkejut.
Orang lihay, mungkin tidak ada cecu lawannya.
"Tuan, kau benar lihay!"
Katanya.
"Aku ingin meminta pengajaran beberapa jurus dari kau, mari kita pergi ke thia!"
Tuan rumah yang muda ini berkata demikian sebab ia duga pertandingan mesti hebat, di dalam kamar tulis itu ia khawatir nanti melukai ayahnya serta kedua tetamunya itu yang tidak mengenal ilmu silat… "Untuk pibu, di manapun sama saja!"
Kata Wanyen Kang jumawa.
"Apakah halangannya di sini? Silahkan cecu memberi pengajaranmu!"
Koan Eng terpaksa, tapi ia berlaku tenang.
"Baik!"
Katanya.
"Kau tetamu, kaulah yang mulai!"
Wanyen Kang benar lihay. Mendadak ia ulur tangan kirinya, mengancam, disusul sama dengan tangan kanannya, menjambak baju orang. Ia sudah lantas menggunai jurus dari Kiu Im Pek-kut Jiauw.
"Bocah kurang ajar, tahukah lihaynya chung-cu kamu!"
Kata Koan Eng di dalam hatinya.
Ia tidak berkelit, ia cuma mengkeratkan tubuhnya sedikit, untuk meluncurkan tangan kanannya menghajar lengan orang, sedang dua jari dari tangan kirinya menyambar ke sepasang mata.
Wanyen Kang pun terperanjat mengetahui orang lihay.
Inilah ia tidak sangka.
Ia lantas menarik pulang kedua tangannya, ia mundur setengah tindak, untuk memutar tangan menankap lengan lawan.
Tapi Koan Eng dapat membebaskan diri.
Melihat lihaynya tuan rumah, Wanyen Kang tidak berani memandang enteng.
Maka ia berkelahi dengan sungguh-sungguh.
Koan Eng itu sebenarnya ada murid kesayangan dari Kouw Bok Taysu dari kuil Kong Hauw Sie di Liman, ia pandai Gwa-kang yaitu ilmu luar Hoat Hoa Cong.
Ia pun mengetahui orang lihay, ia bersilat dengan hati-hati.
Ia tidak kasih tubuhnya dijambak.
Untuk Gwa-kang, kaum Gwa-kee, ialah ahli luar, ada pribahasa.
"Kepalan tiga bagian, kaki tujuh bagian", atau lagi.
"Tangan ialah kedua daun pintu, mengandal kaki menendang orang,"
Maka itu, Koan Eng bersilat mengaandal pada pribahasa itu.
Hebat pertarungan ini, sampai seratus jurus lebih belum ada yang menang atau kalah, Kwee Ceng dan Oey Yong diam-diam memuji Koan Eng demikian lihay.
Setelah bertempur lama, hati Wanyen Kang gentar.
Ia tahu, ia terkurung dan lama-lama ia bisa kehabisan tenaga, kalau ia mesti banyak menempur banyak musuh bergantian, celakalah dirinya.
Ia pun sebenarnya masih lemah bekas disebabkan menenggak terlalu banyak air.
Karena itu, ingin ia lekas mengakhirkan pertandingan itu, untuk menyingkirkan diri.
Lewat lagi beberapa jurus, Koan Eng merasa ia keteter.
Musuh telah mendesak sangat.
Satu kali ia terlambat, pundakny akena terhajar.
Tidak tempo lagi ia terhuyung mundur.
Wanyan Kang merangsak, untuk memberikan hajaran terakhir.
Justru ia maju, justru kaki kiri tuan rumah meleset ke arah dadanya.
Itulah dupakan "Kaki jahat"
Yang ebrbahaya sekali.
Wanyen Kang tidak menyangka selagi terhuyung musuh dapat mendupak, ia ketahui itu sesudah kasep, dadanya kena terhajar kaki musuhnya itu.
Ia lantas menrasakan dadanya itu sakit.
Tapi ia tidak menyerah dengan begitu saja.
Ia membalas dengan membareng menotok betis dengan lima jeriji kiri dan tangan kanannya dipakai menolak dengan keras seraya ia berseru.
"Pergilah!"
Koan Eng berdiri dengan sebelah kaki, tidak heran kalau ia kena tertolak hingga mental ke arah pembaringan ayahnya, disaat tubuhnya bakal membentur pembaringan, mendadak Liok Chung-cu mengulur tangan kirinya menahan punggungnya, lalu dengan perlahan tubuhnya dikasih turun.
tapi ayah itu terkejut melihat betis anaknya mengucurkan darah.
"Kurang ajar!"
Ia berseru.
"Pernah apa kau dengan Hek Hong Siang Sat?!"
Tanggapan dan seruan itu membikin heran semua orang tidak terkecuali Koan Eng sendiri, anaknya.
Sebab anak ini semenjak kecil ketahui ayahnya sudah bercacad kedua kakinya, setiap hari ayah itu berdiam di kamar tulis saja berteman dengan alat tetabuhan khim, gambar dan kitab.
Ia juga heran merasakan tanggapan ayah itu kepada tubuhnya.
Tapi masih ada juga orang yang tidak heran, mereka ini ialah Oey Yong dan Kwee Ceng.
Si nona karena ia melihat besi patkwa di pintu dan si pemuda karena mendengar keterangan kekasihnya.
Wanyen Kang melengak ditanyakan halnya Hek Hong Siang Sat.
"Makhluk apa Hek Hong Siang Sat itu?"
Ia balik menanya. Ia telah diajari silat oleh Bwee Tiauw Hong tetapi Tiauw Hong tidak pernah memberitahukan asal usul dan she serta namanya.
"Jangan berlagak pilon!"
Membentak pula Liok Chung-cu.
"Siapa yang ajarkan kau itu ilmu Kiu Im Pek-ku Jiauw ynag jahat?!"
Wanyen Kang bernyali besar.
"Tuan kecilmu tak sempat ngobrol denganmu, maaf tak dapat aku menemani kau!"
Katanya seraya ia memutar tubuh, bertindak ke arah pintu. Semua cecu gusar, mereka mengangkat golok merintangi.
"Bagaimana kata-katamu?!"
Wanyen Kang menoleh kepada Koan Eng, romannya bengis."
Kata-katamu berharga atau tidak?!"
Muka Koan Eng pucat. Ia mengangkat tangannya.
"Kami kaum Thay Ouw bangsa terhormat!"
Katanya.
"Saudara-saudara, lepaskan ia pergi! Thio Toako, tolong antar ia keluar!"
Semua cecu itu tidak puas tetapi mereka tidak berani membantah pemimpinnya itu. Thio cecu pun sudah lantas membentak.
"Mari turut aku! Sendiri saja tidak nanti kau menemani jalanan bocah!"
"Mana sekalian siwi dan pengiringku?"
Wanyen Kang tanya.
"Mereka semua pun dimerdekakan!"
Menyahut Koan Eng. Pangeran itu menunjuki jempolnya.
"Bagus, benar kau satu kuncu! Nah, sekalian cecu, sampai bertemu pula di belakang hari!"
Ia memutar tubuh untuk memberi hormatnya, romannya sangat puas.
"Tunggu dulu!"
Chung-cu tua membentak selagi orang hendak mengangkat kaki. Wanyen kang segera menoleh.
"Bagaimana?!"
Tanya ia.
"Aku si orang tua bodoh, ingin aku belajar kenal dengan Kiu Im Pek-ku Jiauwmu!"
Menyahut tuan rumah yang tua ini.
"Bagus! Bagus!"
Tertawa Wanyen Kang, sedang orang lainnya terperanjat. Koan Eng sangat berbakti, ia terkejut tetapi ia lantas menceagh.
"Ayah, jangan layani binatang ini!"
Katanya.
"Jangan khawatir!"
Berkata si ayah itu.
"Aku lihat belum sempurnya kepandaiannya itu."
Ia mengawasi dengan tajam kepada pangeran itu, lalu berkata pula.
"Kakiku sakit, aku tidak dapat berjalan. Kau maju ke mari!"
Wanyen kang tertawa, tetapi ia tidak menghampirkan. Koan Eng habis sabar, meskipun kakinya sakit, ia tidak mau membiarkan ayahnya bertempur, maka ia lompat maju sambil berkata;
"Hendak aku mewakilkan ayahku meminta pengajaran beberapa jurus dari kau!"
"Bagus, mari kita berlatih pula!"
Tertawa Wanyen Kang.
"Anak Eng, mundur!"
Mendadak Liong Chungcu berseru, sambil berseru tangan kanannya menekan pinggiran pembaringan, hingga tubuhnya mencelat maju, berbareng dengan mana dengan tangan kiri ia menyerang ke arah embun-embun si pangeran.
Semua orang terkejut, mereka berseru.
Wanyen Kang tidak takut, ia menangkis.
Tapi kesudahannya ia kaget bukan main.
Ketika kedua tangan beradu, ia merasa tangan kanannya terpegang keras, menyusul mana, tangan kanan si orang tua menyambar bahunya.
Ia lantas menangkis seraya berontak untuk melepaskan tangan kanannya itu dari cekalan lawan.
Tubuh Liok Chungcu tidak turun ke lantai, tubuh itu berdiam mengandal tenaga lengan si pangeran, yang ia terus mencekalnya dengan keras, tangan kanannya menyerang pula, beruntun hingga lima enam kali.
Wanyen Kang repot menangkis, ia berontak tapi siasia saja.
Ia mencoba menendang dengan kaki kirinya, juga tidak ada hasilnya.
Melihat itu, para cecu heran dan girang.
Semua mengawasi pertempuran ynag luar biasa itu, yang hebat sekali.
Lagi sekali tangan kanan Liok Chungcu menyerang.
Wanyen Kang menggunai lima jarinya, untuk membabat tangan lawan, atau mendadak lengan si orang tua ditekuk, sikutnya menggantikan menyerang, tepat mengenai jalan darah kinceng-hiat.
Pangeran itu kaget, ia merasakan tubuhnya seperti mati separuh hingga gerakannya menjadi lambat, karenanya, tangan kirinya lantas kena ditangkap lawannya, bahkan dengan suara meretek, sambungan tangannya kena dibikin terlepas!
Liok Chungcu benar-benar sebat, ia mengandali kedua tangannya saja, dapat ia bergerak dengan lincah.
Kembali tangan kirinya menyerang, menyambar ke pinggang orang, berbareng dengan mana, cekalan tangan kanannya dilepaskan, tangan itu dipakai menekan pundak si pangeran, maka pesat sekali ia mencelat balik ke pembaringannya di mana ia bercokol pula dengan tetap dan tenang.
Bab 28.
Ular-Ular Pada Menari Koan Eng lompat ke depan pembaringan.
"Ayah, kau tidak apa-apa?"
Ia menanya. Ayahnya itu tertawa.
"Binatang ini benar-benar lihay!"
Katanya. Dua tauwnia sudah lantas maju, untuk membelenggu kaki dan tangan Wanyen Kang.
"Dalam kantongnya perwira she Toan yang ditawan itu ada beberapa borgolan tembaga, itu dapat dipakai untuk membelenggu binatang ini, coba kita lihat, dia dapat berontak lagi atau tidak!"
Berkata Thio Cecu.
"Bagus!"
Sahut beberapa orang, diantaranya ada yang lantas pergi lari, untuk mengambil borgolan itu, maka dilain detik, pangeran itu sudah diborgol tangan dan kakinya.
"Mereka sediakan ini untuk menyusahkan rakyat jelata, sekarang biarlah ia yang mencicipi sendiri!"
Kata Liok Chungcu dengan tertawa. Wanyen Kang bermandikan peluh pada dahinya, ia menahan sakit, ia tidak mengeluh atau merintih.
"Bawa dia kemari!"
Kata Liok Chungcu, yang tahu orang kesakitan.
Dua tauwnia menggotong pangeran itu dekat kepada tuan rumah.
Liok Chungcu menotok tulang punggung serta dada kiri di beberapa tempat, setelah mana hilang rasa sakitnya Wanyen Kang, hingga pangeran itu mendongkol berbareng heran.
Katanya dalam hatinya.
"Gerakan tangannya orang ini sama dengan gerakan tangannya suhu, mungkinkah mereka daa hubungan satu sama lain?"
Tapi belum sempat ia bicara, Koan Eng sudah suruh orang bawa ia ke tempat tahanan.
Semua cecu pun pada lantas mengundurkan diri.
Baru setelah itu, Kwee Ceng dan Oey Yong memutar tubuhnya.
Semenjak tadi mereka berdiam saja, melainkan secara diam-diam mereka melirik.
"Anak-anak gemar berkelahi, jiwi tentu menertawakan mereka,"
Kata Liok Chungcu kepada tetamunya.
"Siapa dia itu?"
Tanya Oey Yong. Dia membawa sikap wajar.
"Apakah dia telah mencuri disini, maka chungcu menjadi gusar sekali?"
Di dalam hatinya, nona ini semakin curiga. Gerakan tangan dan totokannya tuan rumah ini sama dengan pelajarannya sendiri. Chungchu itu tertawa.
"Benar, dia telah mencuri tidak sedikit barang kami!"
Sahutnya.
"Mari, mari kita melihat gambar-gambar dan kitab, jangan kegembiraan kita diganggu pencuri itu."
Koan Eng sudah mengundurkan diri juga, maka dikamar tulis itu mereka tetap berada bertiga, tapi yang berbicara adalah tuan rumah dan Oey Yong berdua, Kwee Ceng tidak mengerti hal kitab dan gambar, pemuda itu tertarik sama huruf-huruf yang coret-coretannya tajam mirip dengan gerakan pedang.
Meski begitu ia berdiam saja.
Bukankah mereka toh sudah berpura-pura tidak mengerti silat?
Habis bersantap tengah hari, Liok Chungcu perintah kedua bujangnya mengantarkan kedua tetamunya pesiar kedua gua Thio Kong dan Sian Kong seperti ia telah menjanjikan.
Kedua gua itu kesohor untuk pemandangan alamnya yang indah.
Sampai sore baru mereka kembali dengan merasa senang.
"Bagaimana, Yong-jie, kita tolongi dia atau jangan?"
Tanya Kwee Ceng disaat mereka hendak masuk tidur.
"Kita baik tinggal dulu di sini beberapa hari,"
Sahut si nona.
"Kita masih belum ketahu jelas tentang tuan rumah kita ini."
"Ilmu silatnya sama dengan ilmu silatmu,"
Kwee Ceng memberitahukan. Oey Yong berpikir.
"Inilah anehnya,"
Katanya.
"Mungkinkah ia kenal Bwee Tiauw Hong?"
Keduanya tidak dapat menerka.
Mereka pun khawatirkan tembok ada kupingnya, lantas mereka memadamkan api dan tidur.
Pada tengah malama, keduanya mendusin karena kuping mereka mendengar suara perlahan di atas genting.
Keduanya lantas lompat bangun, untuk menghampirkan jendela.
Begitu mereka mementang daun jendela, mereka menampak berkelebatnya satu bayangan orang, yang terus bersembunyi di antara pohon-pohon bunga mawar.
Setelah celingukan, orang itu bertindak ke timur, hati-hati itu sekali sikapnya, menandakan ia bukannya salah seorang penghuni rumah.
Oey Yong menarik tangan Kwee Ceng, keduanya lompat keluar dari jendela, untuk menguntit bayangan itu.
Mereka bisa lantas bekerja karena tadi, diwaktu masuk tidur, mereka tidak membuka pakaian luar.
Belasan tindak kemudian, diantara cahya bintang-bintang, kelihatan nyata bayangan itu adalah seorang nona, yang ilmu silatnya lumayan juga.
Kerana ini Oey Yong bertindak mendekati,.
Tepat orang itu menoleh, ia lantas mengenali Bok Liam Cu.
Ia lantas saja tersenyum.
Di dalam hatinya ia berkata.
"Bagus, kau hendak menolong kekasihmu! Hendak aku melihat, bagaimana caramu bertindak!"
Bok Liam Cu jalan pergi datang di taman itu, lalu dilain saat ia tersesat jalan.
Oey Yong sebaliknya kenal taman itu, yang diatur menurut patkwa.
Inilah keistimewaannya Oey Yok Su, ayahnya.
Tentang patkwa ini, ayahnya telah mengajari padanya.
Jadi taman ini diatur menurut barisan rahasia Pat-kwa-tin.
"Dengan caramu ini berjalan, sampai seratus tahun pun tidak nanti kau dapat cari kekasihmu itu,"
Kata Oey Yong dalam hatinya. Tapi ia hendak membantu. Maka ia memungut segumpal tanah, ia menimpuk.
"Ambil jalan ke sana!"
Ia menunjuki, suaranya perlahan, ia sendiri bersembunyi di belakang pohon.
Nona Bom terperanjat.
Ia menoleh, ia tidak melihat siapa juga.
Ia pun bercuriga dan bersangsi.
Lantas ia melompat ke arah darimana timpukan datang.
Tentu sekali Oey Yong telah lenyap.
"Entah ia bermaksud baik atau jahat, tapi baiklah aku turuti pengunjukannya,"
Kemudian nona Bok berpikir.
Ia terus pergi ke kiri.
Lalu habis itu, setiap ia bersangsi, ada timpukan tanah yang memberi petunjuk padanya.
Ia telah berjalan berliku-liku, sampai mendadak ada timpukan yang jauh, yang bersuara di jendelanya sebuah kamar yang di depannya.
Berbareng dengan itu, dua bayangan berkelebat dan lenyap.
Cerdas Liam Cu, segera ia lari menghampiri jendela itu, jendela dari sebuah rumah kecil.
Setibanya di depan rumah itu, dua orang lelaki tergeletak di tanah, matanya mereka mengawasi dia.
Mereka itu masih mencekal senjata, tapi tak dapat bergerak.
Terang sudah mereka itu adalah korban-korban totokan di jalan darah.
"Pasti ada orang pandai yang membantu aku,"
Berpikir Liam Cu. Ia masuk ke dalam rumah itu, kuping dan matanya dipasang. Segera ia mendapat dengar suara orang bernapas.
"Engko Kang!"
Ia memanggil perlahan.
"Kau…!"
"Ya, aku!"
Ada jawaban untuk itu.
Itulah suara Wanyen Kang, yang sadar sebab barusan mendengar suara tubuh roboh di luar rumah.
Dia memang lagi memasang kuping.
Dia kenali suara si nona.
Dalam gelap gulita, Liam Cu segera menghampirkan.
"Ada dua orang pandai yang membantu aku, enath siapa mereka itu,"
Kata nona ini.
"Mari kita pergi!"
"Apakah kau membawa golok pedang mustika?"
Tanya pangeran itu.
"Kenapa?"
Balik tanya si noa. Wanyen Kang tidak menjawab, ia hanya perdengarkan suara borgolan. Liam Cu mengerti, ia menjadi sangat masgul.
"Menyesal pisau belati mustikaku itu telah aku berikan pada adik Oey,"
Ia menyesalkan diri. Oey Yong dan Kwee Ceng yang tetap bersembunyi, mereka dapat dengar suara si nona. Di dalam hatinya, nona Oey berkata.
"Sebentar akan aku serahkan pisau mustika itu."
"Nanti aku pergi curi kunci borgolnya!"
Kata Liam Cu akhirnya. Ia bingung dan berkhawatir.
"Jangan pergi, adik!"
Wanyen Kang mencegah.
"Orang disini lihay, percuma kau pergi."
"Bagaimana kalau aku gentong kau?"
Tanya si nona.
"Tidak dapat, orang ikat aku pada tiang."
Jawab sang pangeran.
"Habis bagaimana?"
Tanya si nona lagi. Lalu terdengar suara menangis perlahan dari nona itu.
"Mari kau dekati aku…."
Kata Wanyen Kang tertawa. Liam Cu membanting kaki.
"Orang tengah bergelisah, kau masih bisa bergurau!"
Tegurnya.
"Siapa bergurau?"
Wanyen Kang masih tertawa.
"Aku omong sebenarnya."
Liam Cu tidak memperdulikannya, ia mengasah otaknya.
"Kenapa kau ketahui aku berada disini?"
Wanyen Kang tanya kemudian.
"Aku mengikuti kau terus-menerus…"
Jawab si nona perlahan.
"Oh, adik, kau baik sekali."
Suara Wanyen Kang agak tergerak.
"Mari kau dekati aku, kau menyender di tubuhku, hendak aku bicara."
Liam Cu menjatuhkan diri dan duduk, ia menurut.
"Aku adalah utusan negeri Kim, tidak nanti mereka berani lancang membunuh aku,"
Berkata Wanyen Kang.
"Hanya dengan tertahan di sini, pastilah gagal urusan tentara dari ayahku. Aku bingung….Adik, baiklah kau tolongi aku?"
"Bagaimana?"
Tanya si nona.
"Di leherku ada cap emas, kau loloskan itu."
Liam Cu menurut.
"Inilah cap perutusan,"
Wanyen Kang memberitahukan.
"Sekarang kau lekas pergi ke Liman, di sana kau menemui Soe Mie Wan, itu perdana menteri kerajaan Song…."
Nona Bok terkejut.
"Aku seorang wanita biasa, cara bagaimana perdana menteri itu dapat menemui aku?"
Tanyannya.
"Kalau ia melihat cap ini, apsti ia repot sekali menyambut kau!"
Kata Wanyen Kang tertawa.
"Kau beritahu padanya bahwa aku ditawan perampok di Thay Ouw ini, hingga karenanya tidak dapat aku datang padanya. Kau pesan apabila ada utusan Mongolia yang datang, suruh ia jangan menerimanya hanya segera bunuh saja si utusan itu!"
"Eh, kenapa begitu?"
Si nona menanya heran.
"Inilah urusan besar dari tentara dan negera, dijelaskan pun kau tidak bakal mengerti! Pergi kau sampaikan pesanku ini kepada perdana menteri itu, itu artinya kau sudah mewakilkan aku melakukan satu pekerjaan yang besar. Jikalau utusan Mongolia itu keburu sampai dan dapat bicara dengan raja Song, itu artinya kerugian besar bagi kami negara Kim."
"Apa itu negara Kim?"
Liam Cu tanya.
"Aku adalah rakyatnya kerajaan Song! Sebelum kau omong jelas, tidak bisa aku bekerja".
"Bukankah nanti kau bakal menjadi permaisuri di negara Kim?"
Sembari berbicara, Wanyen Kang tersenyum.
"Ayah angkatku ialah ayahmu sejati, adalah orang Han. Apakah kau benar-benar sudi menjadi raja Kim?"
Tanya Liam Cu.
"Aku cuma tahu, cuma…."
"Kenapa?"
Wanyen Kang memotong.
"Sampai sebegitu jauh aku pandang kau sebagai orang pintar dan gagah,"
Kata Liam Cu.
"Dan aku menyangka kau berpura-pura saja menjadi pangeran, bahwa kau lagi menantikan ketikanya yang baik untuk berbuat sesuatu guna kerajaan Song! Kau benar-benarkah hendak mengakui musuh sebagai ayahmu!"
Wanyen Kang bediam. Ia dapat mendengar suara lagu orang berubah, kata-katanya seperti macet di tenggorokan. Itulah tandanya orang gusar dan menyesal. Maka ia berdiam.
"Negara yang indah dari kerajaan Song telah separuhnya dirampas orang asing!"
Berkata pula Liam Cu.
"Dan rakyat kita bangsa Han telah ditangkap-tangkapi, dibunuh dan dianiaya! Mustahilkah kau sendiri juga tidak memikirkan itu? Kau….kau….."
Berhenti si nona berbicara, ia lemparkan cap ke tanah, sambil menutup muka, ia bertindak pergi. Wanyen Kang terkejut, segera ia memanggil "Adik, aku salah!"
Katanya, memanggil.
"Mari kembali!"
Liam Cu berhendti bertindak, ia berpaling.
"Mau apa kau?!"
Ia tanya.
"Tunggulah sampai aku sudah lolos dari sini, aku akan tak lagi menjadi utusan negeri Kim,"
Berkata Wanyen Kang.
"Aku juga tidak akan kembali ke negera Kim itu, hanya bersama kau, aku akan hidup menyepi sebagai orang tani, supaya kita bisa hidup bersama dengan tenang dan berbahagia…."
Ona Bok menghela napas, ia berdiri menjublak.
Semenjak pibu, ia sudah pandang Wanyen Kang sebagai pemudanya yang paling gagah.
Bahwa Wanyen Kang tidak hendak mengakui ayahnya sendiri, ia masih menyangka pada itu ada sebabnya.
Ia pun menduga orang menjadi utusan negara Kim karena ada suatu maksud tersembunyi, guna nanti melakukan suatu usaha besar untuk kerajaan Song.
Tapi siapa tahu, sekarang sia-sia saja pengharapannya itu.
Ia dapatkan kenyataan orang hanya satu manusia sekakar, yang kemaruk sama harta dan kemuliaan….
"Adikku, kau kenapa?"
Wanyen Kang tanya. Liam Cu berdiam.
"Memang ibuku membilangi aku bahwa ayah angkatmu adalah ayahku yang sejati,"
Wanyen Kang berkata pula.
"Sayang sebelum aku menanya dengan jelas, keduanya mereka sudah menutup mata, karenanya sampai sekarang aku jadi ragu-ragu….."
Pikiran Liam Cu tergerak juga.
"Kalau ia belum mengetahui jelas, ia dapat diberi maaf…"
Pikirnya. Lalu ia berkata.
"Sekarang kau jangan sebut lagi hal aku harus pergi kepada perdana menteri Song untuk membawa capmu ini. Hendak aku mencari adik Oey untuk minta pisau mustika guna menolongi kau…"
Oey Yong mendengar itu semua, kalau tadinya ia hendak menyerahkan pisaunya, segera ia menubah maskdunya. Ia benci mendengar Wanyen Kang hendak berbuat sesuatu untuk tentara Kim. Ia pikir.
"Baiklah aku membiarkan dia tertutup lagi beberapa hari di sini…."
Ayahnya memang membenci sekali negera Kim itu.
"Taman ini aneh jalannya, kenapa kau ketahui jalanannya itu?"
Kemudian Wanyen Kang menanya.
"Ada seorang pandai yang memberi petunjuk padaku,"
Sahut Liam Cu.
"Dia menyembunyikan diri, aku belum tahu siapa dia."
Wanyen Kang mengasih dengar suara tidak tegas.
"Adikku,"
Katanya pula.
"Kalau lain kali kau datang pula, mungkin kau kepegrok penghuni rumah ini. Kalau benar kau hendak menolongi aku, pergi kau cari satu orang…"
"Aku tidak sudi mencari perdana menteri she Soe itu!"
Memotongi si nona.
"Bukannya Soe Sinsiang, hanya guruku,"
Wanyen Kang memberi tahu "Oh…"
Si nona terhenti suaranya.
"Kau pergi membawa ikat pinggangku ini,"
Wanyen Kang berkata pula.
"Di gelang emasnya ikat pinggang itu kau ukir kata-kata. ‘Wanyen Kang dapat susah di kwie-in-chung di tepi telaga Thay Ouw’ Tigapuluh lie di utara kota Souwciu ada sebuah bukit belukar, di sana kau cari sembilan buah tengkorak yang bertumpuk menjadi satu. Satu di atas, tiga di tengah dan lima di bawah. Ikat pinggangku ini, kau letakkan di bawah tenggorak itu. Liam Cu heran.
"Untuk apakah itu?"
Ia menanya.
"Guruku itu telah buta kedua matanya,"
Wanyen Kang memberi keterangan.
"Kalau ia dapat memegang ikat pinggang itu serta gelang emasnya, lantas ia bakal dapat mencari aku. Setelah meletaki ikat pinggang itu, jangan kau berlambat, kau mesti lekas-lekas mengangkat kaki. Aneh tabiat guruku, apabila ia mendapatkan ada orang di dekat tumpukan tengkorak itu, mungkin ia akan membunuhmu. Guruku lihay, pasti dia bakal dapat menolongi aku. Kau tunggui saja aku di kuil Hian Biauw Koan di kota Souwciu."
"Kau bersumpah dulu, bahwa kau tidak akan akui pula bangsat menjadi ayah dan tidak menjual negara ini untuk mencelakai rakyat!"
Berkata si nona. Mendengar itu, Wanyen Kang menjadi tidak senang. Ia kata.
"Setelah urusanku beres, sudah tentu aku akan bertindak menurut kata hatiku yang benar. Sekarang kau memaksa aku mengangkat sumpah, apakah mau?!"
Liam Cu lemah hatinya.
"Baik, aku akan pergi menyampaikan warta!"
Bilangnya. Ia meloloskan ikat pinggang si anak muda.
"Adikku, kau hendak pergi sekarang?"
Kata Wanyen Kang.
"Mari, adik!"
"Tidak!"
Kata si nona yang bertindak ke pintu.
"Aku khawatir belum lagi guruku datang menolongi aku, mereka sudah keburu membunuh aku,"
Kata pula Wanyen Kang.
"Maka itu untuk selama-lamanya aku tidak bakal melihat pula padamu…"
Liam Cu menjadi lemah hatinya. Ia kembali, ia senderkan tubuhnya dalam rangkulan pangeran itu. Ia pasrah. Kemudian, mendadak ia berkata dengan keras.
"Di belakang hari, jikalau kau tidak menjadi orang baik-baik, aku bakal mati di hadapanmu!"
Inilah Wanyen Kang tidak sangka, maka itu, ia menjadi melengak.
Liam Cu berlompat bangun, untuk berlalu.
Oey Yong sudah lantas menunjuki pula jalan secara diam-diam seperti tadi, maka setibanya di kaki tembok, Liam Cu bertekuk lutut, mengangguk tiga kali, katanya.
"Oleh karena cianpwee tidak sudi memperlihatkan diri, biarlah aku memberi hormatku ke udara saja."
"Oh, itulah aku tidak berani terima!"
Terdengar satu suara halus dibarengi sama tertawa geli.
Liam Cu segera mengangkat kepalanya tetapi tetap ia tidak melihat siapa juga kecuali bintang-bintang di langit.
Ia heran bukan main.
Ia seperti mengenali suara Oey Yong, hanya ia heran, kenapa orang berada di sini dan ketahui jalan rahasia itu.
Ia jalan belasan lie, lantas ia berhenti di bawah sebuah pohon besar untuk tidur, lalu besoknya, dengan menaik perahu, ia menyeberangi telaga Thay Ouw dan pergi ke kota Souwciu.
Souwciu adalah kota kota ramai di tenggara walaupun ia tidak dapat melawan Hangciu, di sini orang hidup secara mewah melupakan kekejaman bangsa Kim yang pernah menggilas-gilasnya.
Tapi Liam tidak pikirkan kepelesiran.
Habis bersantap di sebuah rumah makan, melihat matahari sudah doyong ke barat, ia lantas pergi keluar kota utara.
Dengan menuruti petunjuk Wanyen Kang, ia hendak mencari gurunya pemuda itu.
Makin lama jalanan makin sulit.
Matahari pun segera melenyap di belakang bukit.
Segera terdengar suara-suara aneh dari burung-burung hutan.
Sampai langit sudah gelap ia mencari di lembah, belum juga ia menemui tumpukan tengkorak seperti katanya Wanyan Kang.
"Baiklah aku cari pondokan, besok pagi aku mencari pula,"
Pikirnya.
Syukur di sebelah barat situ ada sebuah rumah, dengan kegirangan ia lari menghampirkan, hingga ia mendapatkan sebuah kuil tua dan rusak, namanya Yoh Ong Bio.
Ketika ia menolak pintu, pintu itu roboh menjeblak, debunya beterbangan.
Terang itulah sebuah kuli kosong.
Di dalamnya penuh kabang-kabang, segala apa tidak teratur.
Senang juga Liam Cu akan mendapati meja masih utuh, ia lantas bersihkan itu, untuk menempatkan diri.
Ia tutup pintu tadi, yang ia pasang pula, lantas ia mengeluarkan rangsum kering untuk menangsal perut.
Ia pakai buntalannya sebagai bantal waktu ia merebahkan diri.
Kapan ia ingat Wanyen Kang, ia menjadi berduka dan malu, tanpa merasa air matanya meleleh turun.
Karena ini, sampai kentongan yang kedua barulah ia dapat tidur.
Tiba-tiba saja ia mendusin.
Ada suara apa-apa di luar kuil, bukan suara angin, bukan suara air.
Ia berduduk untuk memasang kuping terlebih jauh.
Ketika ia mendengar suara bertambah nyaring, ia lompat ke pintu untuk melihat keluar.
Ia menjadi kaget sekali, hatinya memukul dengan keras.
Di bawah terangnya rembulan, terlihat ribuan, ya laksaan ular hijau, bergulat-legot menuju ke timur, bau amisnya masuk ke dalam kuil.
Menggelesernya ular itu, itulah yang menerbitkan suara luar biasa itu.
Di belakang pasukan ular itu nampak tiga orang pria dengan pakaian serba putih yang tangannya memegang galah panjang peranti menggiring ular itu.
Liam Cu tidak berani mengintai lebih lama, ia khawatir nan kepergok.
Sesudah mendengar suara orang pergi jauh, baru ia mengintai pula.
Sekitarnya jadi sepi pula, hingga ia merasa tengah bermimpi.
Ia membuka pintu, ai pergi ke luar.
Tidak lagi ia melihat ketiga orang dengan pakaian putih itu.
Ia merasa hatinya lega.
Ia jalan beberapa tindak ke jalan yang bekas diambil ular itu.
Disaat ia hendak membalik tubuh, untuk kembali ke kuil, ia melihat suatu barang putih tidak jauh dari dekatnya itu.
Warna putih itu bertojoh sinar rembulan, adanya di atas batu.
Ia heran, ia menghampirkan.
Ia segera melihat tumpukan tengkorak, malah bertumpuknya tepat seperti ditunjuk Wanyen Kang.
Ia kaget berbareng girang.
Dengan hati kebat-kebit, ia menghampirkan, untuk meletaki di bawah itu ikat pinggang Wanyen Kang.
Tangannya bergetar ketika ia meraba tengkorak itu.
Luar biasa sekali, lima jarinya tepat masuk ke dalam lima lubang di tulang tengkorak itu hingga ia menjerit seraya memutar tubuh untuk kabur.
Atau mendadak ia ingat tak perlu ia takut.
Ia ketakutan sendiri tanpa perlunya.
Maka sekarang ia dapat tersenyum.
Maka ia lantas merapikan menaruh ikat pinggangnya itu.
"Pasti benar gurunya luar biasa sekali, entah bagaimana romannya yang menakuti…"
Pikirnya.
Ia memang belum pernah melihat Bwee Tiauw Hong, dan tempo Tiauw Hong bertempur hebat di istana, dia dan ayahnya sudah kabur lebih dulu.
Habis itu ia memuji, mengharap gurunya Wanyan Kang itu menemui ikat pinggang ini nanti segera menolongi muridnya balik ke jalan yang lurus.
Tengah si nona memuji, ia merasai pundaknya ada yang pegang.
Ia kaget sekali.
Tanpa menoleh, ia berlompat ke depan, kemudian sambil meletaki kedua tangannya di depan dadanya, baru ia memutar tubuhnya.
Di luar dugaannya, orang sudah berada di belakangnya, kembali pundaknya di pegang.
Ia berlompat pula, kembali dia disusul, kembali pundaknya di pegang.
Kejadian ini terulang empat lima kali.
Ia bermandikan keringat dingin.
Tak tahu ia, ia lagi menghadapi manusia lihay atau hantu.
"Kau siapa?!"
Akhirnya ia menanya, suaranya bergemetar. Orang itu mencium ke lehernya.
"Harum!"
Katanya.
Liam Cu berbalik dengan cepat sekali, maka sekarang ia dapatkan di depannya berdiri seorang pemuda dengan dandanan sebagai mahasiswa, tangannya menggoyang-goyangkan kipas, gerak-geriknya halus.
Untuk kagetnya ia kenali Auwyang Kongcu, salah seorang yang memaksa kematian ayah dan ibu angkatnya.
Ia gusar tetapi ia tidak berdaya, maka itu ia memutar tubuhnya untuk lari.
Baru saja belasan tindak, atau Auwyang Kongcu sudah berada di hadapannya sembari tertawa haha-hihi, ia mementang kedua tangannya.
Asal ia maju lagi, ia tentu telah masuk ke dalam rangkulannya pemuda itu!
Maka ia menghentikan tindaknnya, untuk lari ke kiri.
Tapi baru beberapa tindak, kembali orang berada di hadapannya.
Ketika ia mengulangi lari beberapa kaki lagi, tetap pemuda itu menyaksikan orang kaget dan takut, saban-saban dia mengulur tangannya untuk umencekuk.
Rupanya senang dia mempermainkan nona itu.
Liam Cu menjadi nekat, ia menghunus goloknya dan menyerang.
Dua kali ia membacok, dua-dua kalinya gagal.
"Ah, jangan galak!"
Seru pemuda itu tertawa, habis ia membebaskan diri.
Ia mengegos ke kiri, tangan kanannya dikebaskan, tangan kirinya di ulur.
Maka si nona sudah lantas kena dipegang pinggangnya yang ceking ramping itu.
Liam Cu berontak tetapi cuma-cuma, ia merasakan tubuhnya sakit.
Goloknya pun sudha kena dirampas si pemuda.
Ia berontak pula tetapi hanya menyebabkan tubuhnya kena dipeluk.
Ia merasakan nadinya ditekan, habis mana habislah semua tenaganya, tubuhnya menjadi lemas, tidak bisa ia meronta pula.
Auwyang Kongcu mengasih dengar tertawa ceriwisnya.
"Kau angkat aku menjadi gurumu, segera aku merdekakan kau!"
Katanya.
Liam Cu merasakan mukanya diusap-usap, ia mengerti, orang bermaksud buruk terhadapnya, saking mendongkol dan takutnya, mendadak saja ia pingsan.
Beberapa lama ia tak sadarkan diri, ia tidak tahu, kapan kemudian ia mendusin perlahan-lahan, ia merasakan tubuhnya masih dipeluk orang.
Mulanya ia menyangka ia berada dalam rangkulan Wanyan Kang, ia girang, tetapi ia membuka matanya, ia dapatkan Auwyang Kongcu.
Ia kaget, ia malu, ia lantas berontak.
Hendak ia berteriak, mulutnya sudah disumpal dengan sapu tangan.
Sekarang ia mendapatkan dirinya diapit kiri dan kanan oleh masing-masing delapan wanita yang canti-cantik, yang semuanya pun serba putih pakaiannya, setiap wanita memegang alat senjata, hanya mata mereka mengawasi ke tengkorak-tengkorak di atas batu.
Heran nona Bok, tak tahu orang lagi berbuat apa.
Ia menyesal tak dapat menggerakkan tubuhnya, ia melainkan bisa menoleh.
Ia kaget luar biasa waktu ia berpaling ke Auwyang Kongcu.
Di belakang pemuda itu berkumpul ular-ular hijaunya, tubuh semua ular itu tidak bergerak, mulutnya terbuka, di situ terlihat lidahnya semua, warnanya merah, merupakan sebagai lautan lidah.
Di antara ribuan ular itu ada tiga pria dengan bjau putih dan tangan mencekal galah.
Ketika ia menoleh ke arah sembilan tengkorak, yang ia awasi, di sana terlihat gelang emas pada ikat pinggang mengasih lihat warna bergemerlapan, tiba-tiba ia ingat suatu apa.
"Mungkin mereka ini lagi menanti tibanya guru engko Kang,"
Ia berpikir.
"Mestinya mereka lagi bersiap dengan sikap bermusuh….. Kalau gurunya Wanyen Kang datang seorang diri, mana ia sanggup melawan mereka ini? Di sini pun ada ribuan ular hijau…."
Cemas hatinya si nona. Ia lalu berharap-harap supaya gurunya Wanyen Kang jangan datang. Selang tengah jam, rembulan tampak mulai naik, Auwyang Kongcu terlihat mendongak memandang si putri malam.
"Apakah mungkin guru Wanyen Kang baru akan datang sesudah rembulan naik?"
Nona Bok ini menduga-duga.
Rembulan terus naik perlahan-lahan, naik melintasi atas pepohonan.
Langit menjadi terang sekali dan bersih sekali.
Tidak ada suara lain, kecuali kutu-kutu dari empat penjuru atau suara burung malam.
Malam sunyi sekali……….
Auwyang kongcu masih memandangi putri malam.
Sekarang ia serahkan Liam Cu kepada satu nona, untuk nona itu yang memeluknya.
Ia sendiri mengeluarkan kipasnya, dicekal di tangan kanannya.
Matanya mengawasi ke sebuah pengkolan.
Liam Cu menduga bahwa orang yang dinanti-nanti bakal segera datang, dengan sendirinya hatinya tegang.
Apakah bakal terjadi?
Tidak lama dalam kesunyian itu, dari jauh terdengar suara tajam, lalu suara itu datang mendekat.
Maka sekarang terlihat seorang wanita dengan rambut riap-riapan muncul di pengkolan.
Dia sudah lantas bertindak dengan perlahan.
Mungkin ia sudah merasa ada orang di dekat-dekatnya.
Liam Cu menduga inilah gurunya Wanyen Kang.
Ia menjadi heran.
Ia telah menyangka kepada seorang luar biasa, tidak tahunya cuma wanita macam ini….
Bwee Tiauw Hong telah memperoleh kemajuan setelah di dalam istana ia mendapatkan beberapa petunjuk dari Kwee Ceng untuk melatih diri.
Ia menyakinkannya dengan sungguh-sungguh.
Hasilnya kedua kakinya dapat dipakai berjalan dengan cepat.
Ia tahu Kanglam Liok Koay sudah pulang ke Kanglam, ia hendak menyusul untuk membalas dendam.
Demikian ia menyusul selagi si pangeran muda menjadi utusan negara Kim, mengikuti ke Selatan.
Ia masih berlatih diri terus, karena itu ia tidak dapat naik perahu, ia ambil jalan darat, supaya nanti dapat ebrtemu di Souwciu.
Karena perpisahan ini, ia tidak tahu bahwa Wanyen Kang sudah terjatuh ke dalam tangan perampok.
Ia pun tidak tahu bahwa Auwyang Kongcu untuk membalas sakit hati gundiknya, telah menantikan ia di tempat ini.
Hanya saking lihaynya , ia segera mendengar suara orang bernapas.
Sekarang ia mendengar satu suara lain yang ia anggap luar biasa.
"Sungguh lihay!"
Kata Auwyang Kongcu dalam hatinya.
ia lihat berhenti bertindak.
Ia lantas mengebaskan kipasnya, ia berbangkit, berniat untuk segera menyerang.
Syukur sebelum ia melompat, tiba-tiba ia melihat satu orang muncul dari sebuah tikungan.
Ia mengawasi, orang itu tinggi dan kurus, pakaiannya sebagai seorang sastrawan, hanya mukanya belum tampak jelas.
Yang aneh, tindakan orang itu tidak bersuara.
Sekalipun Bwee Tiauw Hong, ia masih mengasih dengar tindakan perlahan.
Segera orang itu telah datang dekat.
Ia berdiri di belakang Bwee Tiauw Hong, matanya menyapu kepada pemuda she Auwyang itu.
Sekarang Auwyang Kongcu dapat melihat wajah orang, ia terkejut, tubuhnya menggigil.
Itulah muka dengan sepasang mata seperti berputaran, dengan warna kulit dari mayat, romannya tidak jelek amat tetapi diam dan dingin.
Karena ini, ia mesti mengatasi dirinya.
Ketika itu Bwee Tiauw Hong pun bertindak perlahan, setindak demi setindak.
Hatinya Auwyang Kongcu gentar.
"Baiklah aku turun tangan lebih dulu!"
Pikirnya.
Maka tangan kirinya dikibaskan sebagai tanda.
Menyusul itu tiga penggembala ular lantas membunyikan suitan.
Maka semua ular mulai bergerak-gerak.
Semua wanita berbaju putih itu duduk tidak bergeming.
Mungkin mereka semua membekal obat pemunah racun, semua ular berlegot melewati mereka, tidak ada yang melanggarnya.
Bwee Tiauw Hong mendengar suara bergeraknya ular-ular itu.
Ia berlompat mundur beberapa tombak.
Dengan petunjuk si penggembala, semua ular itu memisahkan diri memenuhi tegalan belukar.
Siapa kena tergigit, celakalah dia.
Semua binatang itu berbisa.
Liam Cu mengawasi dengan hati kebat-kebit.
Ia lihat Bwee Tiauw Hong beroman jeri, maka ia cemas hatinya untuk gurunya Wanyen Kang ini.
Hanya sedetik, Bwee Tiauw Hong telah lantas mengeluarkan cambuknya yang panjang, yang ia terus putar di sekitarnya.
Dilain pihak, semua ular sudah datang mendekat, sikapnya mengurung.
Beberapa ekor, menuruti titahnya siutan, berlompat menyerang, tetapi segera mereka terpental terbalik terkena angin cambuknya Tiauw Hong itu.
"Siluman wanita she Bwee!"
Berseru Auwyang Kongcu sesudah sekian lama ia membungkam saja.
"Ketahui olehmu, aku tidak menghendaki nyawamu! Kau keluarkan kitab Kiu Im Cin-keng, kongcumu akan segera membebaskanmu!"
Tiauw Hong tinggal mengambil mumat, ia terus putar cambuknya.
"Jikalau kau sanggup, kau putarlah cambukmu selama satu jam!"
Auwyang Kongcu berkata pula.
"Aku nanti menunggu kau sampai besok pagi. Aku mau lihat kau serahkan kitabmu itu atau tidak!"
Tiauw Hong tidak menyahuti, tetapi ia bergelisah, Ia memikir daya untuk meloloskan diri.
Ia pasang kupingnya.
Ia ketahui, disekitarnya ular belaka.
Ia tidak berani bertindak, ia khawatir nanti kena menginjak ular.
Hebat kalau ia kena dipagut walaupun cuma satu kali saja…..
Dari berdiri, Auwyang Kongcu lantas berduduk.
Ia berdiam lagi sekian lama, lalu dengan suara puas, ia mengasih dengar suaranya.
"Orang she Bwee, kitabmu itupun kau dapati dari mencuri, dan selama duapuluh tahun, kau pasti sudah menyakinkannya dengan seksama, maka itu, perlu apa kau peluki saja kitab itu hingga mampusmu? Kau pinjamkan itu kepadaku, untuk aku lihat, dengan begitu dari musuh kita menjadi sahabat, aku akan melupakan segala apa yang sudah lewat! Tidakkah itu bagus sekali?"
"Kalau begitu, bubarkan barisan ularmu ini!"
Menyahut Bwee Tiauw Hong. Auwyang Kongcu tertawa.
"Kau serahkan dulu kitabmu!"
Katanya. Kita "Kiu Im Cin-keng"
Di tangan Bwee Tiauw Hong hanya separuh tetapi ia pandang itu bagaikan nyawanya, dari itu tidak sudi ia menyerahkannya. Ia sudah mengambil keputusan.
"Kalau aku mati, aku akan merobek-robek ini!"
Liam Cu tegang hatinya, ia habis sabar.
"Lekas panjat pohon! Lekas panjat pohon!"
Ia berteriak menganjurkan.
Tapi mulutnya disumbat, tak dapat ia mengasih dengar teriakannya itu.
Tiauw Hong buta, tidak tahu ia di dekatnya ada sebuah pohon pohon kayu besar.
Ia pun percaya betul kepandaiannya, tidak suka ia mengangkat kaki.
Sebelah tangannya ia masuki ke dalam sakunya.
"Baiklah, hari ini nyonya besarmu menyerah!"
Katanya kemudian.
"Kau ambillah ini!"
"Kau lemparkan!"
Kata Auwyang Kongcu yang licik.
"Kau sambutlah!"
Seru Bwee Tiauw Hong, yang tangannya terayun.
Menyusul itu Auwyang Kongcu roboh.
Liam Cu mendengar suara sar ser, lantas dua orang wanita disampingnya turut roboh juga.
Hanya Auwyang Kongcu tetap bergulingan, di waktu mana ia dapat dengar robohnya lagi dua wanitanya.
Ia berlompat bangun dengan hatinya gentar, tubuhnya mandi keringat dingin.
Hebat senjata rahasia musuh, yang juga membikin ia menjadi sangat gusar.
"Perempuan siluman!"
Dia berteriak seraya mundur.
"Hendak aku membikin kau hidup tidak, mati pun tidak!"
Bwee Tiauw Hong itu menyerang dengan "bue-heng-teng", yaitu paku rahasia yang seperti tidak tampak wujudnya.
Ia kagum akan mendapatkan musuh dapat menolong diri.
Tentu saja, hatinya pun cemas.
Auwyang Kongcu mengawasi tajam kedua tangan orang, ia mau menunggu asal cambuk wanita itu kendor, ia akan menitahkan ularnya menyerbu.
Di sampingnya sudah ada bangkainya beberpaa puluh ularnya itu.
Tapi ia mempunyai ribuan, laksaan, mana orang bisa keluar dari kurungan?
Cuma, karena jeri pada cambuk perak lawannya, si pemuda juga tidak berani datang dekat.
Satu jam orang seperti saling berdiam, rembulan mulai doyong ke barat.
Inilah hebat untuk Tiauw Hong.
Mana ia mesti putar cambuknya, mana ia mesti memasang kuping.
Dengan terpaksa, kalangan cambuknya itu menjadi menciut.
Senang Auwyang Kongcu menyaksikan itu.
Ia perintahkan ularnya merangsak maju.
Ia hanya khawatir orang menjadi nekat dan merusak kitabnya.
Ia lantas bersiap sedia, asal Tiauw Hong mulai merobek, ia hendak merampasnya.
Tiauw Hong meraba ke dalam sakunya, kepada kitabnya, wajahnya berubah pucat.
Auwyang Kongcu tidak tahu bahwa musuhnya ini telah berkata di dalam hatinya.
"Sungguh aku tidak sangka, selagi sakit hatiku belum terbalas, aku mesti terbinasa di sini…."
Tepat tengah wanita ini berpikir keras, kupingnya mendengar suara seperti bunyinya burung hong di tengah udara, atau suara seperti ditabuhnya batu kumala.
Menyusul beberapa suara itu, terdengarlah suara seruling yang halus dan merdu.
Kedua pihak, yang "tengah"
Bertempur, menjadi terkejut.
Auwyang Kongcu yang mengangkat kepalanya untuk melihat, mendapatkan orang yang tadi, yang mengenakan baju hijau, lagi bercokol di atas pohon.
Dialah yang lagi meniup seruling itu.
Bukan main herannya pemuda ini.
Ia ketahui baik lihaynya matanya tetapi toh kali ini ia gagal.
Tak tahi ia kapannya si baju hijau itu berada di atasnya pohon itu.
Pula aneh, orang itu duduk dengan tenang sekali selagi pohon itu bergoyang-goyang.
Ia lihay ilmunya ringan tubuh tetapi tidak nanti ia dapat menyamai orang itu.
Ia sampai mau menerka hantu…..
Seruling masih berbunyi terus.
Hatinya Auwyang Kongcu goncang, tetapi wajahnya tersenyum.
Ia lantas merasakan tubuhnya panas, dengan sendirinya ia seperti hendak menari-nari.
Baru tangan dan kakinya bergerak, atau ia kaget sendirinya, lekas-lekas ia menetapkan hatinya.
Ia sekarang mendapatkan ular-ularnya pada mendekati bawah pohon itu, kepalanya diangkat tinggi-tinggi, bergerak-gerak mengikuti irama seruling itu.
Hampir di itu waktu, si penggembala ular, tiga pria itu, bersama-sama belasan wanita serba putih itu, sudah berada di bawah pohon, dimana mereka itu menari-nari.
Hebat caranya mereka menari, sebab selanjutnya mereka bukan cuma menari, mereka merobek-robek pakaian mereka dan mencakari kuka mereka, toh mereka pada tertawa.
Mereka menari bagaikan kalap, tak lagi mereka merasakan sakit.
Auwyang Kongcu kaget bukan main.
Tahulah ia bahwa ia telah bertemu musuh yang tangguh.
Ia lantas mengeluarkan enam biji senjata rahasianya, torak perak yang beracun, dengan sekuat tenaganya ia menyerang orang itu di tiga juruan.
kepala, dada dan perut.
Dalam hal senjata rahasia, ia adalah satu ahli, belum pernah ia gagal.
Tapi aneh kali ini, toraknya itu disampok ujung seruling dan jatuh, serulingnya tak pernah terpisah dari mulutnya orang itu.
Atau dilain pihak saat pemuda ini membeber kipasnya, ia pun menari-nari.
Dia kaget bukan main, ia mencoba untuk menguasai dirinya.
Dia menahan gerakan tangan dan kakinya.
Katanya itu dalam hati.
"Lekas robek baju, sumpal kupingmu, jangan dengari lagi serulingnya!"
Hanya luar biasa suara seruling itu, telinga telah disumbat tapi suaranya masih terdengar.
Maka pemuda itu kaget dan berkhawatir sekali.
Baru sekarang ia tahu takut.
Ia bermandikan keringat dingin.
Bwee Tiauw Hong sendiri duduk bercokol di tanah, kepalanya dikasih tunduk.
Terang ia tenagh bersemadhi, untuk menguasi dirinya.
Beberapa perempuan dari Auwyang Kongcu itu telah roboh di tanah, tubuhnya bergulingan.
Mereka itu telah merobek pakaian mereka.
Liam Cu tengah tertotok jalan darahnya, tidak bisa ia menggeraki kaki tangannya, tetapi mendengari suara seruling itu, hatinya goncang.
Ia sekarang rebah di tanah, hatinya tidak karuan rasa.
Auwyang Kongcu menderita hebat.
Kedua belah pipinya menjadi merah, kepalanya dirasakan panas sekali, lidah dan tenggorokannya kering.
Tapi ia masih ingat untuk membela diri.
Maka ia gigit lidahnya, diwaktu ia merasakan sakit, gangguan seruling itu menjadi berkurang sendirinya.
Lekas-lekas ia bergerak, ia lompat ke Liam Cu, tubuh siapa ia pondong, untuk dibawa lari.
Sebentar saja ia sudah berada jauh beberapa lie, di mana suara seruling tadi tidak terdengar pula.
Di sini ia merasa hatinya lega tetapi tenaganya habis, tubuhnya basah kuyup dengan keringatnya, ia seperti sakit berat.
Tapi ia menguati hati, ia mencoba lari terus.
Supaya tak usah berhenti di tengah jalan, ia bebaskan totokan pada tubuh Liam Cu, untuk menyuruh si nona turut lari masuk ke dalam kota Souwciu.
* * * Oey Yong sendiri bersama Kwee Ceng, sehabisnya menunjukkan jalan pada Liam Cu, sudah lantas pulang ke kamarnya untuk terus tidur.
Mereka tidak memikir untuk mencari tahu apa yang nona Bok itu perbuat.
Besoknya siangnya, mereka jalan-jalan di tepi telaga Thay Ouw.
Malamnya, mereka berkumpul dengan tuan rumah, melihat gambar-gambar dan berbicara tentang ilmu surat.
Biar bagaimana, hatinya Kwee Ceng tidak tenang.
Dengan kepergiannya Liam Cu, berarti Bwee Tiauw Hong bakal datang.
Ia tahu Tiauw Hong kejam, maka ada kemungkinan Kwie-in-chung nanti menampak bahaya.
Siapa di rumah ini yang sanggup melawan si Mayat Besi?
Karenanya, diwaktu ia berada berduaan dengan Oey Yong, ia utarakan kekhawatirannya itu.
"Apakah tidak lebih baik kita memberitahukan tuan rumah perihal Bwee Tiauw Hong, supaya Wanyen Kang dibebaskan, agar rumah ini lolos dari bahaya?"
Katanya kepada si nona.
"Jangan,"
Oey Yong menggoyangi tangan.
"Mulanya aku percaya Wanyen Kang itu baik hatinya, setelah mendengar suaranya enci Bok, biarlah ia mengalami lebih banyak penderitaan. Kalau tetap dia tidak mengubah kelakuannya, kita bunuh saja padanya!"
"Bagaimana kalau Bwee Tiauw Hong sampai datang?"
Tanya si pemuda lagi.
"Kita justru boleh mencoba kepandaian ajaran Ang Cit Kong terhadap dirinya!"
Sahut si nona, yang tertawa.
Oey Yok Su terkenal sebagai Tong Shia, si Sesat dari Timur, maka gadisnya ini, tak banyak tapi sedikit menerima warisan sifatnya yang kukuh dan keras itu dan luar biasa.
Kwee Ceng ketahui baik sifat ini, ia tidak mau membantah, bahkan ia tertawa.
Cuma di dalam hatinya ia sudah mengambil ketetapan, mengingat kebaikannya tuan rumah, layak saja apabila ia membantu melindungi tuan rumahnya itu.
Berselang dua hari, kedua tetamunya ini tidak mengutarakan bahwa mereka hendak pergi melanjuti perjalanan mereka.
Tuan rumah tetap melayani mereka dengan manis, bahkan tuan rumah ini mengharap-harap mereka berdiam lebih lama.
Dihari ketiga, pagi, selagi tuan rumah duduk pasang omong bersama Oey Yong dan Kwee Ceng di kamar tulis, Koan Eng muncul dengan air mukanya tak biasa, bersamanya ada satu chungteng yang membawa sebuah penampan, di atasnya itu ada serupa barang yang ditutupi kain hijau.
Anak itu memberitahukan baru saja ada yang mengantar barang itu, setelah mana ia menyingkap kain hijaunya, maka di situ terlihatlah sebuha tengkorak dengan lubang lima jari tangan.
Terang sudah, itulah tanda mata dari Bwee Tiauw Hong.
Oey Yong dan Kwee Ceng telah menduga bakal terjadi hal begini, paras mereka tidak berubah, sebaliknya tuan rumah, mukanya pucat dan suaranya tak lancar ketika ia menanya.
"Siapa…siapakah yang membawa ini kemari?"
Ia pun memcoba berbangkit dengan bantuan tangannya.
Bab 29.
Orang yang Berjalan di Atas Kali Sambil Menjunjung Jambangan Air...
Koan Eng dapat menduga tengkorak itu aneh tetapi percaya ada ketangguhannya sendiri, ia tidak begitu berkhawatir, maka itu heran ia mendapatkan perubahan sikap dari ayahnya itu.
"Barusan orang mengantarkan ini termuat dalam sebuah kotak,"
Ia menerangkan.
"Chunteng kita mengira pada bingkisan biasa saja, ia menerima dan memberi upah, tanpa meminta keterangan lagi, setelah dibawa ke dalam, baru ketahuan barang itu inilah adanya. Pembawa barang itu dicari tetapi ia sudah pergi entah kemana. Adapakah mengenai barang ini, ayah?"
Chungcu tidak menjawab, sebaliknya ia memasuki lima jari tangannya ke dalam lima lubang di tengkorak itu. Cocok lubang dan jari tangan itu. Koan Eng mengawasi, ia heran bukan kepalang.
"Adakah lubang ini dibikin dari tusukan jari tangan?"
Tanyanya. Sang ayah mengangguk, ia mengasih dengar suara tak tegas. Sesaat kemudian barulah ia bilang.
"Kau suruh orang menyiapkan semua barang berharga, lantas kau antarkan ibumu ke tempat sepi di dalam telaga, untuk menyembunyikan diri. Kau pun memerintahkan semua cecu supaya dalam tempo tiga hari janganlah mereka meninggalkan tempat mereka masing-masing walaupun satu tindak. Pesan mereka itu bahwa walaupun ada gerakan apapun di Kwie-in-chung ini, ada api atau kitar berkurang, jangan mereka datang menolongi….!"
"Ayah, apakah artinya ini?"
Koan Eng tanya, kaget. Liok Chungcu tertawa menyeringai. Bukan ia menjawab anaknya itu, hanya ia berpaling kepada kedua tetamunya untuk berkata.
"Kita baru bertemu tetapi kita cocok sekali satu dengan lain, sebenarnya adalah maksudku akan meminta jiwi berdiam lagi beberapa hari di sini, sayang itu tak dapat dilakukan. Dengan sebenarnya aku ada mempunyai dua musuh besar yang lihay sekali, mereka itu sekarang hendak datang mencari balas, karena itu, bukan aku tidak ingin ketumpangan jiwi tetapi sesungguhnya Kwie-in-chung terancam bahaya hebat. Kalau nanti aku lolos dari bahaya maut, di belakang hari pastilah kita akan bertemu pula…."
Terus ia menoleh kepada kacungnya dan kata.
"Pergi kau ambil uang emas empatpuluh tail."
Kacung itu sudah lantas mengundurkan diri, sedang Koan Eng tidak berani tanya-tanya lagi, ia pun mundur untuk melakukan titah ayahnya.
Sebentar kemudian kacung tadi muncul pula dengan uang emas di tangannya, Liok Chungcu menyambuti itu, untuk terus dihanturkan kepada Kwee Ceng.
Ia kata.
"Nona ini cantik luar biasa, dengan saudara Kwee ia berjodoh sekali, maka itu haraplah saudara sudi menerima bingkisan ini yang tidak berarti untuk saudara nanti gunai di hari pernikahanmu. Harap saja saudara tidak menertawainya."
Mendengar itu muka, Oey Yong merah sendirinya.
"Tajam sekali mata orang ini,"
Pikirnya.
"Kiranya ia telah mengetaui penyamaranku. Anehnya kenapa ia pun ketahui aku belum menikah sama engko Ceng?"
Kwee Ceng tiadk bisa berpura-pura, ia menerima bingkisan itu seraya menghanturkan terima kasih.
Di meja sampingnya ada sebuah gendul, dari situ Liok Chungcu menuang beberapa butir obat pulung warna merah, terus ia bungkus itu, kemudian ia kata pula.
"Aku tidak mempunyai kebisaan apa-apa, kecuali dulu pernah guruku mengajarkan ilmu obat-obatan. Inilah obat yang aku berhasil membuatnya. Khasiat obat ini ialah, setelah memakannya, orang akan dapat bertambah umur. Kita telah dapat berkenalan, inilah sedikit hormatku."
Obat itu menyiarkan bau harum, maka taulah Oey Yong bahwa itu ada obat yang dinamakan pil "Kiu-hoa Giok-louw-wan".
Semasa kecil pernah ia mambantui ayahnya mengumpuli sembilan rupa bunga yang tangkainya masih ada embunnya, untuk dibuat obat.
Memang tiadk gampang untuk membikin obat itu.
Maka itu ia kata.
"Tidak gampang untuk membikin obat Kiu-hoa Giok-louw-wan ini,"
Ia berkata.
"Dari itu sudah cukup jikalau kami menerima dua butir saja."
Herang chungcu ini, hingga keheranan itu terkentara pada wajahnya.
"Kenapa nona ketahui namanya obat ini?"
Tanyanya.
"Dimasa kecil tubuhku lemah sekali,"
Oey Yong mendusta.
"Kebetulan pandai kita bertemu dengan seorang pandai yang menghadiahkan tiga butir. Begitu makan obat itu, kesehatanku pulih."
Tuan rumah tertawa menyeringai pula.
"Jangan menampik, jiwi,"
Ia berkata.
"Sebenarnya sia-sia belaka untuk aku menyimpannya."
Oey Yong tahu orang sudah bersedia untuk binasa, percuma ia menampik lebih jauh, maka ia terima pemberian obat itu. Kembali ia menghanturkan terima kasih.
"Perahu telah disiapkan, maka itu silakan jiwi lekas berangkat meinggalkan telaga ini,"
Berkata lagi tuan rumah.
"Di tengah jalan, jikalau ada terjadi sesuatu, harap jiwi jangan mengambil peduli. Aku minta jiwi perhatikan pesanku ini."
Sebenarnya Kwee Ceng hendak memberitahukan bahwa mereka berdua hendak berdiam di telaga itu untuk memberikan bantuannya tetapi Oey Yong mengedipi mata padanya, terpaksa ia mengangguk.
"Aku lancang, ingin aku menanyakan suatu hal,"
Kata Oey Yong.
"Apakah itu, nona?"
Tanya si tuan rumah.
"Chungcu sudah ketahui musuh lihay dan tidak dapat dilawan, kenapa chungcu tidak hendak menyingkir daripadanya? Menyingkir untuk sementara waktu. Peribahasa membilang, seorang budiman tak akan menerima malu di depan mata…."
Chungcu itu menghela napas.
"Tapi dua orang itu telah membuatnya aku menderita,"
Katanya, masgul.
"Cacad tubuhku ini pun adalah pemberian mereka itu. Selama duapuluh tahun, karena aku tidak dapat berjalan, tidak dapat aku mencari mereka untuk membuat perhitungan, sekarang mereka itu datang sendiri, inilah ketika yang baik yang dihadiahkan Thian!"
Oey heran mendengar orang menyebut dua orang.
"Ah, ia tentunya masih menduga si Mayat Perunggu Tan Hian Hong masih hidup. Sebenarnya, apakah permusuhan mereka itu? Sayang aku tidak dapat menanyakannya…."
Tapi ia tertawa. Ia lantas menanya.
"Chungcu, kau mengenali penyamaranku, inilah tidak aneh. Kenapa kau pun ketahui kami belum menikah? Kita toh tinggal dalam sebuah kamar?"
Ditanya begitu tuan rumah melengak.
"Kau toh satu gadis putih bersih, mana aku tidak dapat melihatnya? Cuma, sulit untuk aku menjelaskannya…"
Pikirnya. Selagi ia bersangsi, Koan Eng datang, berbisik di kupingnya.
"Pesan ayah sudah disampaikan tetapi empat cecu Thio, Kouw, Ong dan Tam, tidak hendak pulang. Mereka kata biarnya mereka dipotong kepalanya disini, mereka tidak hendak meninggalkan Kwie-in-chung!"
Liok Chungcu menghela napas.
"Sungguh mereka baik sekali,"
Katanya.
"Nah, kau antarlah kedua tetamuku kita yang terhormat ini keluar dari telaga ini."
Oey Yong bersama Kwee Ceng lantas memberi hormat. Di luar mereka dapatkan kuda dan keledai mereka.
"Naik perahu atau tidak?"
Kwee Ceng berbisik.
"Kita pergi untuk kembali!"
Sahut Oey Yong, berbisik juga.
Koan Eng tengah bingung, ia cuma tahu harus lekas-lekas mengantar kedua tetamunya itu pergi, ia tidak memperhatikan sikapnya kedua tetamunya itu.
Disaat Oey Yong berua hendak naik di perahu yang sudah disediakan, mendadak saja ia menampak suatu pemandangan yang luar biasa, ialah dari satu orang yang berjalan cepat sekali di tepi telaga, di kepala itu ada dijunjung satu jambangan yang besar.
Kwee Ceng dan Koan Eng pun lantas dapat melihatnya maka mereka turut mengawasi seperti si nona.
Sebentas kemudian orang telah datang dekat.
Sekarang terlihat nyata, ia adalah seorang tua dengan kumis ubanan, bajunya kuning, tangan kanannya memegnag sebuah kipas yang besar.
Masih ia bertindak tetap dan cepat.
Jambangannya pun rupanya terbuat dari besi, beratnya mungkin beberapa ratus kati.
Ia lewat di samping Koan Eng semua tetapi ia seperti tidak melihatnya.
Beberapa tindak kemudian, ia terhuyung, lalu dari jambangan itu itu air mengeplok.
Air itu sendiri mungkin seratus kati atau lebih beratnya.
Seorang tua dapat membawa jambangan seberat itu benar-benar hebat.
"Apakah bisa menjadi dialah musuh ayah?"
Koan Eng menduga-duga.
Ia lanatas saja menyusul.
Oey Yong dan Kwee Ceng segera mengikuti.
Cepat jalannya si orang tua, sebentar saja sudah lewat beberapa lie.
Koan Eng dapat berjalan cepat, bisa ia menyusul.
Hanya ia heran untuk si orang tua.
Juga Oey Yong dan Kwee Ceng turut heran.
Kwee Ceng malah menyangsikan mungkin dia ini melebihkan lihaynya Khu Cie Kee.
Ia ingat cerita gurunya tentang pertandingan mereka dengan Tian Cun Cu, yang kuat mempermainkan jambangan besar tetapi jambangan ini jauh lebih besar.
Si orang tua berjalan ke tempat belukar, berliku-liku.
Koan Eng tinggal di tempat yang sunyi tetapi ia toh tidak kenal tempat ini.
Ia jadi bersangsi.
Ia pikir.
"Ini orang tua saja aku tidak dapat melayaninya, bagaimana kalau di sana ia menyembunyikan kawan-kawannya? Baiklah aku balik…"
Tapi di depannya ada kali, ia heran. Pikirnya pula.
"Di depan tidak ada jembatan, hendak aku lihat bagaimana dia melewatinya…. Atau dia jalan di tepian timur atau di tepian barat…"
Selagi ia menduga-duga.
Koan Eng lantas berdiri melengak.
Si orang tua itu jalan terus di kali itu, kakinya terpendam di air sebatas betisnya.
Dia jalan terus hingga di seberang.
Setibanya dia meletaki jambangan di rumput, dia sendiri kembali ke kali ke mana ia terjun, setelah mana, dia berjalan setindak demi setindak kembali ke darat.
Kwee Ceng dan Oey Yong, yang dapat menyusul, mengawasi dengan kekaguman.
Tiba-tiba si orang tua mengusut-usut kumisnya sambil tertawa lebar.
"Tuan, adakah kau chungcu muda yang menjadi pemimpin jago-jago dari Thay Ouw?"
Dia bertanya.
"Maaf,"
Kata Koan Eng merendahkan diri, lalu ia balik menanyakan she dan nama orang.
"Ah, masih ada dua engko kecil di sana!"
Kata si orang tua itu menunjuk Kwee Ceng dan Oey Yong.
"Marilah kamu sama-sama datang ke mari!"
Koan Eng menoleh.
Baru sekarang ia ketahui bahwa Kwee Ceng berdua telah mengikuti dia.
Dia menjadi heran.
Tidak dia sangka, orang dapat ebrlari keras seperti dia tanpa tindakannya bersuara.
Kwee Ceng dan Oey Yong memberi hormat sambil berjura.
Mereka menyebutkan dirinya orang-orang dari tingkat muda dan memanggil orang dengan sebutan -thay-kong -orang tua yang dihormati.
Orang tua itu tertawa pula;
"Sudah, Sudah!"
Ia mencegah orang menghormat. Kemudian ia mengawasi Koan Eng dan berkata.
"Di sini bukan tempat yang tepat untuk memasang omong, mari kita mencari tempatnya untuk berduduk-duduk."
Koan Eng tetap bersangsi orang ini musuh ayahnya atau bukan.
"Apakah thaykong kenal ayahku?"
Ia menanya.
"Kau maksudkan chungcu yang tua? Belum pernah aku bertemu dengannya."
Sahut si orang tua. Agaknya orang tidak berdusta, maka Koan Eng berkata pula.
"Hari ini ayah menerima serupa bingkisan luar biasa, adakah thaykong ketahui itu?"
"Bingkisan apakah itu yang aneh?"
Si orang tua balik menanya.
"Itulah sebuah tengkorak dengan lima lubang bekas jari tangan…."
Sahut Koan Eng.
"Benar-benar aneh! Apakah ada orang yang bergurau dengan ayahmu itu?"
Tanya si orang tua lagi.
Mendengar itu, Koan Eng mendapat kesan lain.
Maka ia pikir, baik ia undang orang ini ke rumahnya, dia tentu gagah, mungkin dia dapat membantu ayahnya.
Karena ini, ia lantas menunjuk wajah gembira.
"Jikalau thaykong tidak menampik, aku minta thaykong datang ke rumahku untuk minum the,"
Ia mengundang.
"begitupun baik,"
Shaut orang tua itu setelah berpikir sejenak. Buakn main girangnya Koan Eng. Ia lantas minta si orang tua jalan di muka.
"Apakah kedua engko kecil itu pun dari rumahmu?"
Tanya si orang tua seraya ia menunjuk Kwee Ceng dan Oey Yong.
"Kedua tuan ini adalah sahabat-sahabatnya ayahku,"
Menyahut Koan Eng.
Lantas orang tua itu tidak memperdulikan lagi, dia jalan cepat.
Kwee Ceng dan Oey Yong mengikuti di belakang Koan Yeng.
Lekas juga mereka tiba di Kwie-in-chung.
Tuan rumah yang muda minta tetamunya menanti di ruang tamu, ia sendiri lari ke dalam untuk mewartakan kepada ayahnya.
Tidak lama, tuan rumah telah muncul dengan digotong dua orangnya.
Ia numprah di atas pembaringan bambu, yang merupakan bale-bale.
Ia memberi hormat sambil menjura kepada tetamunya yang tua itu.
Ia kata.
"Maaf, tak tahu aku akan kedatangan tuan hingga tidak bisa aku menyambut dengan selayaknya."
Orang tua itu membalas hormat hanya dengan membungkuk sedikit. Suaranya pun tawar ketika ia berkata.
"Tak usah menggunai banyak adat peradatan, Liok Chungcu."
Tuan rumah tidak memperdulikan sikap orang, ia menanyakan she dan nama tetamunya itu.
"Aku she Kiu, namaku Cian Jin,"
Sahutnya. Tuan rumah terkejut.
"Jadinya locianpwee adalah Tiat-ciang Sui-siang-piauw!"
Katanya. Ia ketahui baik nama orang berikut gelarannya itu, yang berarti si Tangan Besi Mengambang di Air.
"Bagus sekali ingatanmu, Liok Chungcu, kau masih ingat julukanku itu! Sudah duapuluh tahun semenjak aku tidak muncul pula dalam dunia kangouw, aku menyangka orang telah melupai aku."
Memang pada duapuluh tahun yang lampau itu, nama Tiat-ciang Siu-siang-piauw kesohor sekali, kemudian ia tinggal menyendiri, hingga orang seperti melupai dia.
Liok Chungcu ingat nama orang, tidak heran kalau ia jadi terperanjat.
"Untuk apakah locianpwee datang ke sini?"
Ia menanya.
"Bila aku sanggup, suka sekali aku berbuat sesuatu untukmu."
"Tidak ada urusan yang penting,"
Sahut si orang tua tertawa.
"Atau mungkin aku bakal ditertawakan sahabat-sahabat kalangan Rimba Persilatan. Sebenarnya aku ingat meminjam suatu tempat yang sunyi untuk aku melatih diri. Tentang ini baiklah sebentar malam saja kita bicarakan dengan perlahan-lahan."
Liok Chungcu tidak melihat niat orang yang tidak baik pada wajah orang tua ini akan tetapi ia tetap kurang tenang hatinya.
"Apakah locinpwee pernah bertemu sama Hek Hong Siang Sat?"
Ia menanya.
"Hek Hong Siang Sat? Apakah kedua iblis itu belum mampus?"
Si orang tua balik menanya. Lega juga hatinya Liok Chungcu mendapat jawaban itu.
"Anak Eng, pergi kau minta locinpwee beristirahat di kamar tulis,"
Katanya kemudian.
Kiu Cian Jin mengangguk, terus ia mengikuti Koan Eng.
Liok Chungcu belum tahu kepandaiannya Kiu Cian Jin itu, hanya ia ketahu ketika dulu hari Tong Shia bersama See Tok, Lam Kay, Pak Tee dan Tiong Sin Thong berlima mengadu kepandaian di atas gunung Hoa San, dia telah diundang ikut hadir, hanya karena ada urusan, ia tak dapat datang.
Dia telah diundang, itu tandanya dia bukan sembarang orang.
Sekarang ia berada di sini, kalau Hek Hong Siang Sat datang, bolehlah tak usah ia terlalu berkhawatir.
"Jiwi belum berangkat, inilah bagus,"
Katanya kemudian kepada Kwee Ceng dan Oey Yong.
"Kiu locianpwee lihay sekali, sekarang kebetulan dia datang kemari, selanjutnya aku tidak mengkhawatirkan lagi kedua musuh besarku itu. Sebentar silkana jiwi beristirahat di dalam kamarmu, jangan jiwi keluar, selewatnya malam ini bahaya sudah tak ada lagi!"
Oey Yong tertawa.
"Aku ingin menonton keramaian, bolehkah?"
Ia bertanya lucu. Tuan rumah berpikir.
"Aku cuma khawatir musuh datang dalam jumlah banyak, aku jadi tidak bakal dapat melayani jiwi,"
Berkata dia.
"Tapi baiklah, asal jiwi berdiam saja disampingku, jangan kamu berkisar, dengan adanya Kiu locianpwee di sini, segala tikus tentulah tidak ada artinya!"
Oey Yong bertepuk tangan saking girangnya.
"Aku memang paling gemar menonton orang berkelahi!"
Katanya.
"Ketika kemarin ini kau menghajar pangeran cilik, sungguh senang untuk menyaksikannya!"
"Tapi yang bakal datang malam ini adalah gurunya pangeran cilik itu,"
Liok Chungcu memberitahu.
"Dia lihay sekali, karenanya aku berkhawatir."
"Ah, chungcu, mengapa kau bisa ketahui itu?"
Oey Yong tanya, ia heran.
"Nona tentang lihaynya ilmu silat kau belum mengerti,"
Berkata tuan rumah.
"Ketika si pangeran cilik melukai anakku dengan totokan jari tangannya, kepandaiannya itu sama denagn kepandaian totokan lima jari tangan pada tengkorak itu."
"Aku mengerti sekarang!"
Kata Oey Yong.
"Memang juga tulisan Souw Tong Po beda dengan tulisannya Oey San Kok, sama seperri bedanya lukisan Too Koen Hong dari lukisannya Cie Hie! Cuma ahli yang segera dapat menbedakannya!"
"Sungguh kau cerdas, nona!"
Tertawa tuan rumah. Oey Yong tarik tangan Kwee Ceng.
"Mari kita lihat itu orang tua yang kumisnya ubanan!"
Katanya.
"Sebenarnya ia tengah menyakinkan ilmu apa?"
"Eh, jangan nona!"
Mencegah tuan rumah, terkejut.
"Jangan kau membuatnya gusar!"
"Oh, tidak ada!"
Kata Oey Yong, tertawa. Ia berbangkit, untuk berlalu. Liok Chungcu bercokol saja, tak dapat ia bergerak dengan leluasa, ia menjadi bergelisah sendirinya.
"Nona ini sangat nakal!"
Katanya.
"Mana orang dapat diintai?"
Terpaksa ia suruh orangnya menggotongnya ke kamar tulis, untuk bisa mencegah Oey Yong itu.
Dari masih jauh ia sudah lihat Oey Yong dan Kwee Ceng lagi mengintai di jendela.
Oey Yong mendengar orang datang, ia menoleh, tangannya digoyang-goyangi, untuk mencegah orang menerbitkan suara berisik, dilain pihak ia menggapai kepada tuan rumah supaya tuan rumah itu datang padanya.
Liok Chungcu bersangsi, tetapi ia toh datang mendekati juga.
Ia berkhawatir, kalau ia menampik, nona itu nanti rewel.
Dibantu kedua chungtengnya, ia turut mengintai.
Oey Yong membikinkan ia sebuah lubang kecil di kertas jendela.
Ia lantas menjdai heran sekali.
Kiu Cian Jin duduk bersila dengan kedua matanya ditutup rapat.
Dari mulutnya menghembus keluar tak habisnya serupa hawa mirip asap atau kabut.
Ia luas pengetahuannya tetapi ia tidak mengerti ilmu apa itu.
Maka ia tarik ujung bajunya Kwee Ceng, untuk menyuruh orang jangan mengintai terlalu lama.
Kwee Ceng seorang terhormat, ia mengindahi tuan rumah, ia pun insyaf tak pantas ia mencuri melihat lain orang, dari itu ia terus tariknya Oey Yong.
Bersama-sama tuan rumah mereka masuk ke perdalaman.
"Bagus sekali permainannya tua bangka itu!"
Kata Oey Yong tertawa.
"Di dalam perutnya bisa api menyala!"
"Kau tidak tahu, nona,"
Kata tuan rumah.
"Itulah semacam ilmu yang lihay sekali!"
"Mustahilkah mulutnya nanti dapat menyemburkan api membuat orang terbakar mampus?"
Tanya Oey Yong. Ia menanya dengan sesungguhnya, sebab sebenarnya ia heran atas asap yang keluar dari mulutnya tetamu tua itu.
"Kalau itu benar api, itulah tidak mungkin,"
Berkata tuan rumah.
"Aku percaya, itulah semacam latihan tenaga dalam. Bukankah bunga dan daun pun dapat digunakan sebagai senjata rahasia untuk melukai orang?"
"Ya, dengan hancuran bunga menghajar orang!"
Seru Oey Yong.
"Benar-benar nona cerdas!"
Tuan rumah memuji pula.
Kemudian ia mengasih perintah kepada Koan Eng untuk meronda dengan hati-hati di sekitar rumahnya itu dengan pesan, kalau ada orang atau orang-orang yang sikapnya luar biasa, mereka itu mesti disambut dengan hormat dan diundang masuk untuk bertemu dengannya.
Setelah mulai sore, Liok Chungcu memerintahkan menyulut beberapa puluh lilin besar untuk membikin ruang besar menjadi terang sekali, di tengah itu disiapkan meja perjamuan.
Kiu Cian Jin lantas diundang dan dipersilahkan duduk di kursi kepala.
Kwee Ceng dan Oey Yong yang menemani.
Tuan rumah dan putranya duduk di paling bawah.
Liok Chungcu memberi hormat pada tetamunya dengan secawan arak, ia tidak berani menanyakan maksud kedatangan orang, ia hanya membicarakan lain urusan, yang tidak ada sangkut pautnya sama sekali.
"Liok Laotee,"
Kata Kiu Cian Jin kemudian.
"Kau menjadi pemimpin di Kwie-in-chung ini, ilmu silatpun bukan sembarang, apakah kau sudi memperlihatkan barang satu atau dua jurus kepadaku? Dengan begini mataku jadi dapat dibuka."
"Kepandaianku tidak berarti, tidak berani aku mempertunjuki itu dihadapan locianpwee,"
Kata tuan rumah menghormat.
"Laginya sudah lama aku bercacad, sedikit pelajaran yang aku dapatkan dari guruku sudah lama aku mengalpakannya."
"Siapakah itu gurumu, laotee?"
Tanya tetamu itu.
"Kalau kau menyebutkannya, mungkin aku si orang tua mengenalnya."
Liok Chungcu menghela napas panjang, lalu mukanya menjadi pias.
"Kelakuanku tidak selayaknya, tak dapat aku diterima guruku, karena itu malu untuk aku menyebutnya,"
Katanya selang sejenak.
Mendengar itu, Koan Eng berduka.
Baru sekarang ia ketahui ayahnya itu telah diusir gurunya.
Dengan sebenarnya ia tidak tahu yang ayahnya lihay ilmu silatnya.
Ia percaya ayahnya itu ada punya lelakon yang menyedihkan.
"Liok Chungcu,"
Berkata si orang tua.
"Kau menjadi pemimpin di sini, kenapa kau tidak hendak menggunai ketika ini untuk membangun diri, untuk melampiaskan tak kepuasanmu itu? Dengan jalan ini kau nantinya membikin tetua dari partaimu menjadi insyaf dan menyesal karenanya."
"Aku bercacad, aku bodoh, meskipun kata-kata cianpwee ada nasehat berharga sekali, menyesal aku tidak dapat menerimanya,"
Sahut Liok Chungcu. Ia selamanya bicara dengan merendah.
"Chungcu terlalu merendah. Di depan mataku ada satu jalan, hanya entahlah, chungcu memang tidak melihatnya atau memang tidak memikirkannya…."
"Tolong locianpwee memberi petunjuk"
Kiu Cian Jin tersenyum, ia santap lauk pauknya, ia tidak menyahuti.
Tuan rumah menduga pasti ada sebabnya kenapa orang tua ini muncul setelah ia mengundurkan diri duapuluh tahun lamanya, ia hanya tidak dapat menerka maksud orang itu.
Orang pun ada dari kalangan terlebih atas, tidak dapat ia menanyakannya, maka itu ia membiarkan saja sampai orang suka bicara sendiri.
"Tidak apalah Chunngcu tidak sudi memberitahukan guru atau rumah perguruanmu,"
Kata Kiu Cian Jin kemudian.
"Kwie-in-chung begini kesohor, yang mengurusnya mesti murid dari guru yang kenamaan…."
"Segala apa disini diurus oleh Koan Eng, anakku,"
Menerangkan tuan rumah.
"Ia adalah muridnya Kouw Bok Taysu dari kuil Kong Hauw Sie di kota Lim-an."
"Ah, Kouw Bok Taysu itu adalah ahli waris yang menjadi ketua dari cabang Selatan dari partai Hoat Hoa,"
Berkata Kiu Cian Jin.
"Dialah ahli luar. Maukah siauw-chungcu mempertunjuki sesuatu untuk aku meluaskan pandangan mataku?"
"Locianpwee sudi memberi petunjuk, inilah untungnya anakku,"
Kata Liok Chungcu. Koan Eng memang ingin sekali diberi petunjuk, maka itu ia sudah lantas pergi ke tengah ruang.
"Tolong thay-kong mengajari aku,"
Katanya.
Lalu ia mulai bersilat dengan tipu silatnya yang ia paling gemari, yaitu Loo-han Hok-houw-kun, kuntauw Arhat Menakluki Harimau.
Setiap kepalannya memperdengarkan suara angin santar, tindakannya pun gesit dan tetap.
Dekat penutupnya ia berseru keras, bagaikan harimau menderum, hingga api lilin pada bergoyang dan orang merasakan tersampar angin dingin.
Itulah artinya arhat bertempur sama raja hantu.
Diakhirnya ia menghajar batu sampai batu batanya hancur, lalu ia berdiri tegar, tangan kirinya diangkat tinggi menunjang langit, kaki kanannya ditendangkan ke depan.
Dengan begitu ia memperlihatkan sikap dari arhat atau loohan.
"Bagus! Bagus!"
Kwee Ceng dan Oey Yong berseru memuji.
Habis itu Koan Eng memberi hormat kepada Kiu Cian Jin.
Ketika ia kembali ke kursinya, air mukanya tidak berubah, napasnya tidak memburu, ia duduk dengan tenang seperti bukan habis bersilat hebat sekali.
Kiu Cian Jin tidak membilang suatu apa, ia melainkan tersenyum.
"Apakah kebisaannya anakku ini masih dapat dilihat?"
Liok Chungcu tanya.
"Begitulah,"
Sahut si orang tua.
"Tolong locianpwee beri petunjuk di mana yang perlu,"
Tuan rumah minta.
"Ilmu silat putramu ini, kalau dipakai untuk memperkuat tubuh, sunggu tak ada yang melebihkannya,"
Menyahut tetamu itu.
"Hanya kalau ia hendak dipakai untuk merebut kemenangan, dapat dikatakan itu tidak ada gunanya."
Selagi tuan rumah belum membilang suatu apa, Kwee Ceng merasa heran. Ia pikir.
"Memang tidak terlalu lihay ilmu silatnya tuan rumah yang muda ini, akan tetapi tidaklah tepat untuk mengatakan tidak ada gunanya…."
Tuan rumah lantas berkata.
"Tolong locianpwee memberikan petunjuk untuk sekalian membuka pandangan kami yang cupat."
Kiu Cian Jin berbangkit, ia bertindak keluar ruangan.
Ketika ia kembali, di kedua tangannya masing-masing ada tercekal sepotong batu bata.
Orang tidak lihat ia mengerahkan tenaga, tahu-tahu ada terdengar suara meretek, lalu tertampak dua potong batu bata itu sudah remuk, akan kemudian hancur menjadi seperti tepung.
Semua orang terkejut.
Duduk pula di kursinya, semberai tertawa ia berkata.
"Chungcu muda dapat menhajar batu hancur itu pun bukan sembarang pelajaran, tidak gampang untuk mendapatkan itu, tetapi haruslah diingat, musuh bukan sepotong batu, musuh tidak mungkin mandah saja diserang. Maka dalam ilmu silat, yang penting ialah menggunai ketika terlebih dulu untuk menaklukkan musuh. Ini dia yang orang dahulu kala menyebutnya, diam bagaikan anak dara, gesit bagaikan kelinci."
Koan Eng terdiam, menginsyafi kata-kata itu. Kiu Cian Jin menghela napas. Ia berkata pula.
"Sekarang ini banyak orang yang menyakinkan ilmu silat tetapin kepandaiannya berarti tidak ada seberapa…."
"Siapakah beberapa orang itu, lojinkee?"
Oey Yong tanya.
"Kaum Rimba Persilatan menyebutnya Tong Shia, See Tok, Lam Tee, Pak Kay dan Tiong Sin Thong berlima,"
Menyahut si orang tua.
"Semua mereka itu pernah aku ketemukan sendiri, aku lihat diantaranya yang terlihay ialah Tiong Sin Thong, yang lainnya, ada keistimewaannya tetapi pun ada kekurangannya masing-masing. Harus diketahui, ada panjang mesti ada pendek, asal kita ketahui cacad orang, tak susah untuk merobohkannya."
Liok Chungchu bersama Kwee Ceng dan Oey Yong terperanjat.
Koan Eng sendiri tidak, sebab ia tidak tahu siapa itu lima orang lihay yang disebutkan.
Tapi Oey Yong terkejut berbareng mendongkol.
Suara orang itu bernada menghina ayahnya.
ia tidak memperdulikan lagi bahwa orang dapat berjalan di air sambil menjunjung jambangan, napasnya mengeluarkan asap dan remasan tangannya kuat sekali.
"Apakah tidak bagus jikalau locianpwee menghajar roboh kelima orang itu supaya namamu jadi sangat kesohor di kolong langit ini?"
Ia menanya seraya tertawa. Kiu Cian Jin tidak menjawab, dia hanya melanjuti kata-katanya.
"Sekarang ini Ong Tiong Yang itu telah menutup mata. Ketika terjadi perundingan ilmu silat pedang di gunung Hoa San itu, lantaran kebetulan ada urusan, aku tidak dapat turut hadir, dengan begitu gelaran jago silat nomor satu di kolong laing ini telah didapatkan imam tua yang telah meninggal dunia itu. Tatkala itu mereka berlima memperebuti kitan Kiu Im Cin Keng, katanya siapa yang paling tangguh, dialah yang mendapatkan kitab itu. Tujuh hari dan tujuh malam sudah mereka bertempur, Tong Shia, See Tok, Lam Tee dan Pak Kay menyerahlah mereka semua. Kemudian, sesudah Ong Tiong Yang meninggal, timbul lagi gelombang. Katanya ketika si imam tua hendak menutup mata, kitabnya itu dia wariskan kepada Ciu Pek Thong, adik seperguruannya. Tong Shia Oey Yok Su sudah lantas pergi mencari Ciu Pek Thong itu, Ciu Pek Thong bukan tandingannya, kitabnya terampas sebagian. entahlah kemudian bagaimana urusan kitab itu."
Oey Yong dan Kwee Ceng mengangguk dengan diam-diam. Baru sekarang mereka ketahui lelakonnya kitab Kiu Im Cin Keng itu, yang sebagiannya lagi kena dicuri Hek Hong Siang Sat.
"Oleh karena lojinkee ialah orang yang nomor satu ilmu silatnya, sudah selayaknya kitab itu menjadi kepunyaanmu,"
Berkata Oey Yong.
"Aku malas untuk berebutan sama orang,"
Sahut Kiu Cian Jin.
"Tong Shia, See Tok, Lam Tee dan Pak Kay, mereka adalah setengah kati delapan tail. Selama beberapa puluh tahun ini keras mereka berlatih, ingin mereka menjadi jago nomor satu. Maka itu kalau terjadi pertemuan yang kedua di Hoa San, pastilah ramainya bukan buatan."
"Oh, bakal terjadi pertempuran yang kedua di Hoa San?"
Si nona menegaskan.
"Duapuluh lima tahun ialah satu generasi!"
Berakta Kiu Cian Jin.
"Mereka ynag tua bakal mati, yang muda bakal muncul, maka itu, lagi satu tahun akan tibalah saat perundingan yang kedua di Hoa San itu. Aku lihat, yang bakal bertarung itu kembali kami si orang-orang tua. Sayang sekarang tidak ada lagi anak-anak muda yang berarti, ilmu silat menjadi lemah satu generasi demi satu generasi….!"
"Apakah lain tahun lojinkee hendak mendaki gunung Hoa San itu?"
Oey Yong menanya terus-menerus.
"Kalau benar lojinkee hendak pergi, maukah kau mangajak aku untuk turut menyaksikan keramain itu? Akulah orang yang paling gemar menonton orang berkelahi!"
"Ah, mana dapat itu dikatakan pertempuran? Sebenarnya aku tidak mengandung niat pergi. Bukankah kita si tua bakal masuk ke dalam tanah? ntuk apa segala nama kosong? Hanya di hadapan kita sekarang ada satu urusan sangat besar, yang mengenai keselamatan seluruh umat manusi. Jikalau aku termahai hidup senang sendiri dan aku tidak manjat tinggi, celakalah semua umat dan makhluk!"
Inilah hebat, maka Liok Chungcu berempat lantas menanyakan bencana apa itu yang demikian hebat ancamannya.
"Inilah rahasia sangat besar. Kedua engko kecil Kwee dan Oey, kamu bukan orang kangouw, kamu lebih baik jangan ketahui urusan ini!"
Oey Yong tidak menjadi kurang senang, sebaliknya ia tertawa.
"Liok Chungcu ini sahabatku yang baik sekali, asal kau menjelaskan kepadanya, tidak nanti ia menyembunyikan itu kepadaku!"
Katanya.
"Ah, anak nakal!"
Kata Liok Chungcu di dalam hatinya. Tapi ia berdiam.
"Kalau begitu, baiklah aku menjelaskan kepada kamu semua!"
Kata Kiu Cian Jin.
"Cuma aku minta kemudian janganlah kau membocorkannya."
"Kamu bukan sanak bukan kandung, urusan rahasia ini baiklah kami tidak mendengarnya,"
Pikir Kwee Ceng, yang terus berbnagkit dan berkata.
"Maafkanlah aku serta saudara Oey ini, ingin aku mengundurkan diri."
"Jiwi adalah sahabat-sahabat kekal dari Liok Chungcu, kamu bukan orang luar, silakan duduk!"
Kiu Cian Jin minta.
Sembari berkata ia menekan pundaknya si anak muda.
Kwee Ceng tidak merasakan tekanan keras, akan tetapi karena ia mengaku tidak mengerti ilmub silat, ia tidak melawan, ia berduduk pula.
Karena itu, Oey Yong pun batal mengundurkan diri.
Kiu Cian Jin berbangkit, ia mengangkat araknya untuk mengajak orang minum bersama.
"Tidak sampai setengah tahun, kerajaan Song bakal menghadapi bencana besar,"
Katanya kemudian.
"Apakah tuan-tuan ketahui itu?"
Mendengar ini, semua orang terkejut. Bahkan Koan Eng lantas menitahkan orang-orangnya mundur sampai ke pintu dan semua pelayan dilarang datang dekat.
"Aku telah mendapat keterangan pasti,"
Kiu Cian Jin melanjuti.
"Dalam tempo enam bulan pastilah angkatan perang bangsa Kim bakal menyerbu ke Selatan. Kali ini angkatan perangnya itu besar dan kuat, maka juga kerajaan Song pastilah tidak dibelakan pula. Ya, inilah takdir, tidak dapat kita berbuat apa-apa…."
Kwee Ceng terkejut hingga ia lantas berkata.
"Kalau begitu haruslah locianpwee lekas memberitahukan ancaman itu kepada pemerintah supaya pemerintah segera siap sedia untuk menyambut musuh!"
Orang tua itu mendelik kepada anak muda itu.
"Kau tau apa?!"
Tegurnya.
"Satu kali angkatan perang Song bersiap sedia, bahayanya bakal terjadi terlebih hebat lagi!"
Kwee Ceng terdiam. Tidak mengerti ia maksud orang. Oey Yong pun bungkam.
"Lama aku telah memikirkan itu,"
Kiu Cian Jin melanjuti omongannya.
"Aku lihat cuma ada satu jalan untuk membikin rakyat hiudp damai dan senang, supaya negera yang indah ini tidak sampai menjadi habis terbakar. Inilah tujuanku kenapa aku telah melakoni perjalanan ribuan lie jauhnya datang ke Kanglam ini. Kabarnya chungcu telah menawan pangeran muda negara Kim serta komandan tentara Toan Tayjin, tolongkan undang mereka hadir di sini untuk kita memasang omong. Maukah kau meluluskan, chungcu?"
Liok Chungcu terpengaruh kata-kata orang.
Ia pun heran kenapa orang ini mendapat tahu hal tertawannya dua orang itu.
Ia lantas meluluskan, ia membawa menghadap orang tawanannya itu, bahkan mereka dibebaskan dari belengguan dan disuruh duduk disebelah bawah.
Kwee Ceng dan Oey Yong mendapatkan, baru ditahan beberapa hari, roman Wanyen Kang sudah kucel dan perok, sedang Toan Tayjin itu, yang berumur limapuluh lebih dan berewokan ketakuan.
"Siauw-ongya, kaget?!"
Kata kiu Cian Jin pada Wanyen Kang. Pangeran itu mengangguk, tetapi hatinya berkata.
"Si Kwee dan si Oey ini berada di sini, entah mau apa mereka… Dan adik Liam Cu itu, entah dia bawa ikat pinggangku kepada guruku atau tidak…."
"Chungcu,"
Berkata Kiu Cian Jin pada tuan rumah.
"Di hadapanmu ada terbayang harta besar dan kemuliaan, aku melihat itu tetapi tidak hendak mengambilnya, kenapakah?"
Tuan rumah heran.
"Kemuliaan apakah itu, locianpwee?"
Tanyanya.
"Kalau nanti angkatan erang Kim itu menyerbu ke Selatan ini dan peperangan itu terjadi, mesti banyak sekali orang yang terluka,"
Berkata Kiu Cian Jin.
"Oleh karena itu bukankah bagus jikalau chungcu menggabungi semua orang gagah untuk melenyapkan ancaman perang itu?"
"Memang itu urusan yang besar dan baik sekali,"
Pikir Liok Chungcu. Maka ia menjawab.
"Jikalau dapat aku mengeluarkan tenaga untuk negera dan juga dapat menolong rakyat dari marabahaya -yang mana adalah tugas kita sebagai rakyat jelata -tentu sekali sudi aku melakukannya. Sebenarnya aku setia kepada pemerintah, tetapi sayang pemerintah sendiri yang tidak mengerti itu, sekarang ini kawanan pengkhianatlah yang memegang tampuk pemimpin, maka itu sia-sialah belaka maksud hatiku. Locianpwee, tolong kau menunjuk aku satu jalan yang terang, untuk itu aku akan sangat bersyukur kepadamu."
Kiu Cian Jin mengusap kumisnya, ia tertawa lebar. ia baru hendak berkata pula atau ia terhalang oleh datangnya satu chungteng yang memberi kabar.
"Thio Cecu yang kebetulan berada di tengah telaga sudah menyambutnya enam tetamu luar biasa, yang sekarang sudah berada di depan."
Kaget tuan rumah itu.
"Lekas mengundang!"
Titahnya.
Koan Eng sudah lantas berlari keluar untuk menyambut.
Diantara terangnya api terlihat enam tetamu yang tubuhnya tinggi dan kate tidak rata, antaranya ada seorang wanita.
Ketika mereka itu bertindak masuk, Kwee Ceng berbareng girang, segera ia lari memapaki untuk berlutut di hadapan mereka itu.
"Suhu!"
Katanya.
"Apakah suhu semua baik?"
Keenam tetamu itu memang Kanglam Liok Koay adanya.
Mereka itu datang dari Utara, setibanya mereka di telaga Thay Ouw, lantas ada beberapa orang yang menyambutnya dengan manis.
Sudah lama mereka meninggalkan Kanglam, mereka masih rada asing.
Maka itu Cu Cong yang melayani beberapa itu bicara.
Kemudian ternyata, pihak penyambut adalah Thio Cecu dari Kwie-in-chung.
Sebenarnya tidak tahu cecu itu siapa enam orang ini, ia doyong menduga kepada musuhnya chungcu tua, maka itu selama menyambut, ia terbenam dalam kesangsian.
Ia ditugaskan Koan Eng berjaga-jaga, sekalian menyambut orang pandai, maka itu ia bertindak secara hati-hati.
Liok Koay pun heran melihat muridnya itu ada di sini.
"Eh, bocah, mana silumanmu?!"
Han Po Kie menanya. Ia menegur. Han Siauw Eng bermata tajam, segera ia melihat Oey Yong hadir bersama, maka itu ia tarik ujung baju kakaknya seraya berbisik.
"Sabar, urusan ini kita boleh bicarakan perlahan-lahan kemudian."
Nona lihay ini dapat mengenali walaupun Oey Yong dandan sebagai seoarng pemuda.
Tuan rumah tak kenal siapa enam orang itu tetapi karena Kwee Ceng memanggil guru kepada mereka, ia lantas memberi hormat.
Ia minta dimaafkan yang ia tidak dapat berjalan.
Ia pun segera memerintahkan menyiapkan sebuah meja untuk ini tetamu baru.
Kwee Ceng tidak berayal lagi menjelaskan perihal gurunya.
Liok Chungcu menjadi girang sekali.
"Sudah lama aku mendengar nama besar dari tuan-tuan, hari ini aku dapat meneminya, sungguh aku beruntung!"
Katanya. Bebeda dari tuan rumah, Kiu Cian Jin duduk tetap di kursinya. Ia cuma tersenyum, terus ia dahar dan minum seoarng diri.
"Siapa tuan ini?"
Menanya Han Po Kie. Ia sebal atas sikap orang acuh tak acuh itu, bahkan temberang.
"Baiklah Liok-hiap ketahui,"
Tuan rumah berkata.
"Tuan ini adalah gunung Tay San dan Bintang Pak Tauw dari Kaum Rimba Persilatan di ini jaman, yang kepandaian ilmu silatnya tidak ada orang di kolong langit ini yang dapat menandinginya…."
Mau tidak mau Liok Koay heran.
"Apakah dia Oey Yok Su dari Tho Hoa To?"
Tanya Han Siauw Eng.
"Apakah dia Kiu Cie Sin Kay?"
Tanya Han Po Kie.
"Meskipun tuan dari pulau Tho Hoa To serta Kiu Cie Sin Kay sangat lihay, tidak nanti mereka dapat menandingi Tiat-ciang Sui-siang-piauw Kiu Locianpwee!"
Liok Koan Eng lantas memperkenalkan. Kwa Tin Ok heran.
"Oh, Locianpwee Kiu Cian Jin!"
Katanya.
Kiu Cian Jin tertawa keras, sampai rumahnya bagaikan tergetar.
Ketika itu beberapa chungteng telah selesai menyiapkan meja serta barang hidangan dan keenam tetamu itu sudah lantas mengambil tempat duduk mereka.
Kwee Ceng pindah duduk di sebelah bawah gurunya itu.
Ia telah menarik tangannya Oey Yong untuk diajak duduk bersama, si nona tapinya menggoyang kepala sambil tertawa, ia menampik untuk pindah duduk.
Liok Chungcu tertawa, ia kata.
"Aku menyangka saudara Kwee tidak mengerti ilmu silat, kiranya kau adalah muridnya enam orang pandai. Benar-benar mataku lamur, tidak dapat aku melihat mustika yang disembunyikan…."
Kwee Ceng berbangkit, ia memberi hormat.
"Kepandaianku tidak seberapa,"
Ia berkata.
"Dengan menerima pengajaran guruku, tidak berani aku banyak bertingkah. Harap chungcu sudi memaafkannya."
Senang Tin Ok mendengar pembicaraan itu. Terang sudah Kwee Ceng pandai membawa diri.
"Tuan-tuan adalah orang-orang kenamaan kaum Rimba Persilatan di Kanglam ini,"
Berkata Kiu Cian Jin.
"Kebetulan sekali aku si orang tua ada punya urusan yang penting, jikalau di dalam hal itu aku bisa memperoleh bantuan kamu, sungguh bagus sekali!"
"Ketika tuan-tuan datang, baru saja Kiu Locianpwee hendak memberi penjelasan,"
Berkata tuan rumah.
"Sekarang silakan locianpwee memberi petunjuk kepadaku."
Kiu Cian Jin menurut, ia lantas berkata.
"Kita yang memernahkan diri dalam dunia Rimba Persilatan, pokok penting dari tujuan kita adalah perbuatan-perbuatan mulia, menolong rakyat dari kesengsaraan. Sekarang ini tinggal ditunggu harinya saja yang angkatan perang negara Kim meluruk ke Selatan ini, jikalau kerajaan Song tidak dapat melihat selatan dan dia tidak sudi menyerah, asal saja peperangan terjadi, celakalah rakyat, entah berapa banyak jiwa yang bakal terbinasa! Bukankah ada kata-kata, siapa menurut Thian dia makmur, siapa menentang Thian dia musnah? Maka juga aku datang ke Selatan ini untuk menggabungi semua orang gagah di Kanglam, untuk bersama menyambut angkatan perang Kim itu, supaya Kerajaan Song digencet dari luar dan dalam, hingga habislah tenaganya, tidak dapat ia melawan perang dan karenanya menyerah. Kalau usaha ini berhasil, disebelahnya pangkat mulia dan kedudukan yang senang buat kita, rakyat pasti sangat bersyukur. Dengan begitupun tidaklah sia-sia kita telah mempunyai kepandaian silat yang lihay."
Mendengar itu, air muka Kanglam Liok Koay berubah, bahkan dua saudara Han saudh lantas hendak membuka suaranya, syukur Coan Kim Hoat dapat lantas menarik ujung baju mereka seraya matanya melirik kepada tuan rumah, menunjuki untuk melihat atau mendengar sikapnya tuan rumah itu.
Sebegitu jauh Liok Chungcu menghormati tetamunya yang tua itu, tetapi sekarang, mendengar suara orang ia heran bukan main.
Ia mencoba tertawa ketika ia berkata.
"Meskipun aku bodoh tetapi dengan menempatkan diri di dalam kalangan kaum kangouw, masih mengerti juga aku tentang tiong dan gie, kesetian dan kebajikan dan tidak dapat aku melupakannya. Angkatan perang Kim itu hendak menyerbu ke Selatan ini, itu artinya mereka bakal mencelakai rakyat negeri, kalau itu sampai terjadi, aku akan turut semua tindakannya orang gagah di Kanglam ini untuk menentangnya hingga aku terbinasa! Untuk ini aku akan mengangkat sumpah! Locianpwee, kata-katamu ini rupanya hendak memancing aku, bukan?"
"Laotee, mengapa pandangan matamu begini pendek?"
Tanya tetamu itu.
"Apakah kebaikannya membantu kerajaan Song melawan bangsa Kim? Paling banyak kau bakal mengalami nasib sebagai Gak Bu Bok yang terbinasa secara menyadihkan di paseban Hong Po Teng…"
Mendengar ini, tuan rumah kaget berbareng gusar.
Ia mulanya mengharap mandapat bantuan melawan Hek Hong Siang Sat, siapa tahu ia justru dibujuk untuk mengkhianati negera sendiri!
Maka sia-sia belaka orang tua ini pandai ilmu silatnya kalau jiwanya demikian rendah, dia demikian tidak tahu malu.
Ia lantas mengebaskan tangan bajunya.
Ia berkata.
"Malam ini aku lagi menghadapi datangnya musuh, sebenarnya aku berniat memohon batuan locianpwee, tetapi karena kita tidak sepaham, walaupun leherku bakal memuncratkan darah, tidak berani aku melayani locianpwee terlalu lama pula! Silahkan!"
Ia memberi hormat pula, tandanya ia mengusir tetamunya itu.
Kanglam Liok Koay berikut Kwee ceng dan Oey Yong girang dalam hatinya.
Kiu Cian in tidak tertawa, ia pun tidak menyahuti, dengan tangan kiri mencekal cawan arak, tangan kanannya dibawa ke mulut cawan itu, terus diputar-putar, mendadak tangan kanannya itu dikebaskan, disambarkan terbalik.
Maka untuk herannya semua orang, cawan arak itu terpapas separuhnya!
Liok Chungcu berdiam dengan hatinya bekerja keras memikirkan daya untuk melayani orang tua ini, yang sudah mengancam dengan kepandaiannya itu yang luar biasa.
Tapi Ma Ong Sin Han Po Kie tidak dapat bersabar lagi, dia lompat bangun dari kursinya menghadapi orang tua itu.
"Manusia tak tahu malu, mari kita mengadu kepandaian!"
Ia menantang. Kiu Cian Jin tidak menjadi gentar.
"Sudah lama aku mendengar nama Kanglam Cit Koay, baiklah hari ini diuji tulen palsunya!"
Katanya.
"Tuan-tuan, baiklah kau maju semua berbareng!"
Tuan rumah mau menduga Han Po Kie bukan tandingan orang, mendengar tantangan itu, ia girang sekali. Ia lantas berkata.
"Memang biasanya Kanglam Liok Koay meju berbareng mundur berbareng, musuh seorang mereka berenam, musuh sepasukan tentara besar mereka berenam juga, tidak pernah ada salah satu di antaranya yang sudi ketinggalan!"
Inilah kata-kata yang disengaja. Mendengar ini Cu Cong ketahui maksud orang.
"Baiklah!"
Dia berkata.
"Biak kita bersama-sama melayani ini jago Rimba Persilatan yang kenamaan!"
Lalu dengan mengebaskan tangannya, lima saudaranya segera berbangkit bangun bersiap-sedia.
Kiu Cian Jin berdiri, ia angkat kursinya, lalu ia bertindak ke tengah ruangan, yang mau dijadikan gelanggang pertarungan itu.
Di situ ia letaki kursi itu, terus ia berduduk pula, kaki kanannya disusun diatas kaki kirinya.
Dengan duduk tenang, ia berkata.
"Sambil berduduk begini aku si orang tua akan menemani tuan-tuan bermain-main!"
Tin Ok terkesiap hatinya.
Jikalau orang bukan lihay luar biasa, tidak nanti ia membawa sikap demikian rupa.
Selagi guru-gurunya belum bergerak, Kwee Ceng majukan diri ke depan.
Ia pun mau percaya semua gurunya bukan lawannya jago tua ini, yang kepandaianny telah ia saksikan sendiri.
Tentu saja ia bersedia binasa untuk membantu gurunya itu, maka ia menjadi nekat.
"Locianpwee, aku yang muda memohon pengajaran dari kau,"
Ia berkata seraya menjura. Kiu Cian Jin melengak, akhirnya ia tertawa.
"Tidak mudah ayah dan ibumu memelihara kau, kenapa jiwa kecilmu hendak cuma-cuma diantarkan di sini?"
Katanya.
"Anak Ceng, mundur!"
Berseru Tin Ok, yang kagum dengan keberanian muridnya itu tetapi ia menyayanginya.
Tapi Kwee Ceng sudah bulat tekadnya.
Ia khawatir nanti gurunya mencegah terus, maka tanpa berkata lagi, ia tekuk kakinya yang kiri, tangan kanannya digeraki melingkar, lalu dengan keras tangannya itu ditolakkan maju!
Bab 30.
Si baju hijau yang aneh.....
Inilah jurus "Hang Liong Yu Hui"
Dari Hang Liong Sip-pat Ciang, yang anak muda she Kwee ini telah menyakinkan sekira selama satu bulan, hingga bisalah dimengerti beda jauh dengan waktu permulaannya Ang Cit Kong mengajarinya.
Kiu Cian Jin memandang enteng kepada murid orang ini, sebab ia melihat dari gerak-gerik, mestinya Han Po Kie tidak seberapa lihay, maka kaget ia melihat serangan itu.
Ia mencelatkan tubuhnya, melompat tinggi-tinggi, karena mana, hancurlah kursinya itu.
Ia menjadi gusar sekali.
"Anak kurang ajar!"
Bentaknya setelah turun kembali di lantai.
"Locianpwee, tolong berikan pengajaran padaku!"
Kata Kwee Ceng dengan hormat. Ia berlaku harti-hati, tak mau ia segera menyerang pula. Tetapi Oey Yong hendak mengacaukan pikirannya orang tua itu.
"Engko Ceng, menghadapi tua bangka ini jangan kau sungkan-sungkan!"
Orang tua itu murka bukan kepalang.
Dia kenamaan sekali, siapa pernah mencaci padanya, apapula di hadapannya sendiri?
Sekarang ada ini bocah!
Hampir ia melompat dengan tangannya diayun, untuk menghajar bocah itu, atau mendadak ia masih ingat akan kehormatannya dirinya sendiri.
Dia tertawa dingin.
Dia mengeluarkan tangannya yang kanan, tangan kirinya dibawa ke keningnya, kemudian ia menyerang, justru disaat itu Kwee Ceng lagi menyampingkan diri.
Sebat sekali gerakannya ini.
Tapi Oey Yong sudah lantas berteriak.
"Itulah pukulan yang tidak ada keanehannya! Itulah jurus ke delapan yang dinamakan 'Burung belibis tunggal keluar dari rombongannya' dari tipu silat Thong-pek Liok-hap-ciang!"
Kiu Cian Jin heran orang mengenali pukulannya itu.
Memang itu adalah tipu silat Thong-pek Ngo-heng-ciang.
Jurus itu tidak aneh, tetapi ia telah melatihnya selama beberapa puluh tahun, maka di tanganya, pukulan itu lihay sekali, kedua tangannya dapat bergerak dengan sebat dan hebat.
Kwee Ceng tidak berani menangkis serangan itu, kesatu ia gentar juga untuk nama orang, kedua ia melihat gerak-gerik orang yang luar biasa.
Ia main mundur.
Kiu Cian Jin menduga-duga terhadap si anak muda, ia mengambil kesimpulan;
"Dia dapat menghajar kursi, itulah sebab tenaganya yang besar. Ilmu silatnya hanya biasa saja…."
Karena itu ia lantas mendesak.
Oey Yong bingung melihat kawannya terdesak demikian rupa, ia mengkhawatirkan kekalahannya.
Maka ia lantas bersiap untuk membantu.
Kwee Ceng kebetulan menoleh kepada si nona, kapan ia melihat roman berkhawatir dari nona itu, tanpa merasa hatinya terkesiap.
Justru itu, tinjunya Kiu Ciab Jin mampir di dadanya.
Serangan itu membuatnya Oey Yong dan Kanglam Liok Koay kaget sekali, mereka mau menyangka akan habis sudah anak muda itu.
Bukankah musuh itu sangat tangguh?
Kalau tidak mati, Kwee Ceng akan terluka parah.
Kwee Ceng pun kaget bukan main, ia lantas mengerahkan tenaganya.
Kedua tangannya dipentang dengan kaget.
Habis itu, ia menjadi heran sendirinya.
Ia terhajar dadanya tetapi ia tidak merasakan terlalu sakit, hingga ia jadi tercengang.
Oey Yong dapat melihat orang berdiam, ia menyangka pemuda itu mau pingsan, ia lantas lompat untuk mempepayang.
"Bagaimanam, engko Ceng?"
Tanyanya. Tanpa merasa, air matanya meleleh. Tapi jawaban si pemuda luar biasa sekali.
"Tidak apa-apa, akan aku mencoba pula!"
Demikian jawaban itu. Ia terus mengangkat dadanya dan bertindak menghampiri lawannya yang berdiri mengawasi padanya.
"Kaulah si jago tua Tangan Besi, marilah kau pukul pula aku satu kali lagi!"
Ia menantang. Jago tua itu menjadi sangat gusar, ia sudah lantas meninju. Sebagai akibat serangan itu terdengar suara "Duk!"
Keras sekali. Bukannya ia jatuh atau kesakitan, Kwee Ceng justru tertawa berkakakan.
"Suhu, Liok Chungcu, Yong-jie!"
Dia berteriak.
"Tua bangka ini berkepandaian biasa saja! Dia tidak menghajar aku tidak apa, setelah ia menghajar, terbukalah rahasianya!"
Kata-kata ini disusul dengan gerakan tangan kiri mengebas akan mendesak orang itu sambil si anak muda berseru.
"Kau pun rasakan tanganku!"
Melihat gerakan orang itu, Kiu Cian Jin memandang enteng.
Ia lantas menggeraki kedua tangannya, guna membentur tangan kiri si pemuda.
Ia tidak tahu Kwee Ceng justru menggunai jurus "enam naga naik ke langit"
Dari Hang Liong Sip-pat Ciang, ialah salah satu pukulan yang paling luar biasa.
Maka tidak ampun lagi ia kena trerhajar pundak kanannya yang menyambung sama dadanya, tubuhnya terus terlempar ke luar pintu bagaikan layangan putus!
Semua orang menjadi kaget hingga mereka memperdengarkan seruan.
Jutsru itu, kejadian aneh lainnya menyusul itu.
Dari luar terlihat masuknya seorang wanita yang mencekal Kiu Cian Jin pada leher bajunya, tindakan wanita itu lebar, sesampainya di dalam ruangan, ia meletakkan orang yang dibawanya itu seprauh ditenteng.
Dia berdiri tegar, pada wajahnya tak tampak senyuman, sebaliknya romannya sangat dingin.
Dia panjang rambutnya riap-riapan ke pundaknya, kepalanya pun didongakkan.
Sebab dialah tat Sie Bwee Tiauw Hong, salah satu dari Hek Hong Siang Sat.
Semua orang terperanjat.
Di belakang si Mayat Besi ini ada mengikuti seorang lain, tubuhnya jangkung kurus, bajunya hijau, wajahnya luar biasa sekali.
Siapa mengawasi wajah itu, sendirinya ia akan menggigil.
Siapa pernah melihat satu kali, lantas tak sudi dia melihatnya buat kedua kalinya….
Liok Chungcu heran bukan main, Kiu Cian Jin yang demikian kesohor itu, yang mulutnya terpentang sangat lebar, tidak sanggup mempertahankan diri untuk satu hajaran dari Kwee Ceng.
Ia pun merasa lucu.
Akan tetapi, menampak munculnya Bwee Tiauw Hong, ia melongo.
Wanyen Kang melihat gurunya, ia girang bukan main.
"Suhu!"
Ia memanggil seraya ia menghampirkan untuk memberi hormat.
Berbareng dengan itu dia menjadi ingat Liam Cu, yang dia heran tidak datang bersama, entah di mana adanya si nona.
Liok Chungcu tidak berdiam lama, atau segera ia memberi hormat pada si Mayat Besi.
"Bwee Suci!"
Katanya.
"Duapuluh tahun sudah kita berpisah, hari ini kita dapat bertemu pula, aku girang sekali. Tentunya Tan koko baik, bukan?"
Liok Koay saling mengawasu dengan Koan Eng. Kenapa tuan rumah memanggil Suci, kakak seperguruan kepada Bwee Tiauw Hong itu? Mereka heran berbareng gentar juga. Tin Ok pun berpikir.
"Hari ini kita berada dalam kurungan. Sudah Bwee Tiauw Hong sendiri sukar dilawan, sekarang ada adik seperguruannya ini."
Oey Yong sebaliknya berpikir.
"Liok Chungcu ini, ilmu silatnya, ilmu suratnya, kata-katanya, gerak-geriknya, semua mirip dengan ayah, aku sudah menyangka dia ada hubungannya sama ayah, siapa sangka dia justru murid ayah…!"
Segera terdengar suara dingin dari Bwee Tiauw Hong.
"Yang bicara ini apakah sutee Liok Seng Hong?"
"Benar suteemu, suci,"
Sahut Liok Chungcu.
"Sejak perpisahan kita, apakah suci banyak baik?"
Atas itu, Bwee Tiauw Hong menjawab.
"Kedua mataku telah menjadi buta dan kau punya kakak Hiang Hong telah orang bunuh mati pada duapuluh tahun yang lalu! Tidakkah itu memuaskan hatimu?!"
Mendengar itu, tuan rumah girang berbareng kaget.
Kaget sebab Hek Hong Siang Sat yang begitu lihay, yang malang melintang di dunia ini, telah ada yang binasakan.
Girang sebab itu berarti ia kekurangan seorang lawan tangguh dan ini musuh sisanya sudah bercacad matanya.
Hanya ia berduka kapan ia ingat persaudaraan mereka selama di pulau Tho Hoa To.
"Siapakah musuh dari Tan koko itu?"
Ia tanya.
"Sudahkah suci menuntut balas?"
"Aku justru hendak mencari mereka itu!"
Sahut Tiauw Hong.
"Nanti aku akan membantu kau menuntut balas itu suci,"
Berkata Liok Chungcu.
"Selesai pembalasan itu, barulah kita membereskan perhitungan kita!"
"Hm!"
Bwee Tiauw Hong mengasih dengar ejekannya. Mendadak itu Han Po Kie menepuk meja sambil berlompat bangun.
"Bwee Tiauw Hong, musuhmu ada di sini!"
Dia berteriak.
Coan Kim Hoat terkejut, ia tarik saudaranya itu.
Tiauw Hong sebaliknya melengak.
Sampai disitu Kiu Cian Jin yang sejak tadi berdiam saja, sebab ia merasakan sakit bekas hajaran Kwee Ceng dan baru sekarang rasa sakitnya itu hilang sedikit, turut bicara.
"Apa itu yang disebut menuntut balas dan membereskan perhitungan!"
Katanya.
"Sekalipun guru sendiri dibunuh orang tidak tahu, untuk apa menyebut diri sebagai orang gagah?!"
"Apa kau bilang?!"
Membentak Bwee Tiauw Hong seraya mencekal keras tangan orang.
"Lekas lepas!"
Berteriak Kiu Cian Jin kesakitan.
"Kau bilang apa?"
Tanya pula Tiauw Hong, tidak memperdulikannya.
"Oey Yok Su, pemilik dari pulau Tho Hoa To, telah orang bunuh mati!"
Sahut si orang tua. Liok Seng Hong kaget sekali.
"Benarkah kata-katamu ini?"
Ia menanya.
"Kenapa tidak benar?!"
Membaliki Kiu Cian Jin.
"Oey Yok Su kena dikurung Coan Cin Cit Cu murid-muridnya Ong Tiong Yang dan terbinasa karenanya."
Mendengar itu, Bwee Tiauw Hong dan Liok Seng Hong menjerit menangis menggerung, sedang Oey Yong roboh pingsan berlutut di kursinya.
Dan yang lainnya semua kaget sekali.
Sebenarnya mereka tidak percaya Oey Yok Su yang begitu lihay terbinasakan orang, tetapi mengetahui musuh-musuhnya adalah Coan Cin Cit Cu, mau mereka mempercayainya.
Mereka ketahui baik kelihayan Ma Giok bertujuh.
Kwee Ceng pun kaget tetapi ia segera tubruk Oey Yong, untuk dikasih bangun sambil dipeluki.
"Yong-jie, sadar!"
Ia memanggil-manggil. Ia melihat muka orang pias dan napasnya berjalan perlahan sekali, saking berkhawatir, ia berteriak.
"Suhu! Suhu! tolongi dia!"
Cu Cong lompat menghampirkan, ia meraba hidung orang.
"Jangan khawatir,"
Ia berkata.
"Ia pingsan karena kaget mendadak, dia tidak mati."
Ia lantas mengurut-urut jalan darah lauw-kong-hiat di telapakan tangan si nona. Dengan perlahan-lahan Oey Yong mendusin, lantas ia menjerit.
"Mana ayahku? Ayah! Aku menghendaki ayahku!"
Mendengar itu Seng Hong terperanjat.
"Oh!"
Serunya.
"Kalau dia bukannya putri guruku, mana mungkin ia ketahui tentang Kiu-ho Giok-louw-wan?"
Lalu ia menangis, air matanya meleleh. Ia kata.
"Adik kecil, mari kita mengadu tenaga dengan itu imam-imam bangsat dari Coan Cin Kauw! Eh, Bwee Tiauw Hong, kau turut atau tidak? Kalau tidak, hendak aku mengadu jiwa lebih dulu denganmu!"
Koan Eng segera pepayang ayahnya, yang menjadi demikian berduka.
"Jangan terlalu berduka, ayah,"
Ia membujuki.
"Kita bertindak perlahan-lahan."
Sneg Hong tidak memperdulikan anaknya itu, ia menangis menggerung-gerung pula.
"Bwee Tiauw Hong, kau perempuan bangsat!"
Dia mendamprat.
"Sungguh hebat kau telah menganiaya aku! Kau tidak tahu malu, kau mencuri laki, itulah masih tidak apa! Tapi kenapa kau curi juga kitab Kiu Im Cin Keng kepunyaan guru? Kau tahu, saking gusarnya suhu, dia sudah putuskan urat kaki dari kami empat saudara, dia usir kami semua dari pulau Tho Hoa To! Aku masih mengharapkan suhu nanti sadar liangsimnya, nanti ia mengasihani kami yang tidak bersalah dosa, supaya kami diterima kembali sebagai muridnya, tetapi sekarang ia telah menutup mata! Dengan begini pastilah penyesalanku ini ada untuk seumur hidupku…!"
Bwee Tiauw Hong panas hatinya, dia membalas mencaci.
"Dulu aku mencaci kau tidak punya semangat, sekarang tetap aku mencaci kau tidak mempunyai semangat! Berulangkali kau mengajak orang membikin susah kami suami-istri, kau membuatnya kami tidak punya tempat untuk menyembunyikan diri, karenanya kami menjadi menderita sangat di gurun di Mongolia! Sekarang, bukannya kau berdaya untuk membalas sakit hati suhu, kau repot hendak membuat perhitungan denganku, kau menangis saja tidak karuan! Mari kita mencari Coan Cin Cit Cu, untuk mencari balas! Jikalau kau tidak kuat jalan, nanti aku gendong padamu!"
Sampai di situ, Oey Yong campur bicara.
"Bwee Suci! Liok Suko! Pergi kau menuntut balas untuk ayah! Engko Ceng, mari kita menyusul ayahku!"
Habis ia berkata begitu, si nona menghunus senjatanya, Ngobie kongcie, untuk menikam tenggorakkannya. Cu Cong awas matanya dan sebat gerakannya. Ia merampas senjata orang itu.
"Nona, tanyalah dulu biar terang!"
Ia memberi ingat. Ia terus menghampirkan Kiu Cian Jin, debu di tubuh siapa ia kepriki beberapa kali. Ia berkata.
"Muridku belum tahu apa-apa, dia lancang, harap locianpwee memaafkannya."
Tapi Kiu Cian Jin murka sekali.
"Aku sudah tua, mataku lamur!"
Serunya.
"Mari kita bertempur pula!"
Cu Cong menepuk pundak orang dengan perlahan, menggenggam tangan orang yang kiri, sembari tertawa berkata.
"Locianpwee lihay sekali, tak usahlah main-main pula!"
Ia menarik orang duduk lalu tangan kirinya mengambil cawan arak, mulutnya ia tutup dengan tangan kanannya, yang ia putarkan, atau mendadak tangan kanan itu dipapaskan ke arah keluar.
Maka heran sekali, cawan itu lantas terpapas kutung separuhnya, tepat seperti caranya Kiu Cian Jin tadi.
Selagi lain orang terperanjat bahna heran, Cu Cong tertawa dan berkata kepada orang tua itu.
"Hebat kepandaian locianpwee, barusan aku dapat mencurinya, maka itu harap locianpwee memaafkan aku! Terima kasih, locianpwee!"
Wajahnya Kiu Cian Jin berubah menjadi pucat. Orang heran tetapi orang tetap tidak mengerti.
"Anak Ceng, mari!"
Cu Cong memanggil muridnya.
"Kepandaian yang gurumu ajarkan padamu lain kali kau boleh gunai untuk membikin orang kaget, untuk memperdayakan orang!" ä Kwee Ceng menghampirkan gurunya yang nomor dua itu, lalu dari tangan kiri si guru, dari jari tengah, ia meloloskan sebuah cincin. Ia kata.
"Inilah kepunyaan locianpwee, tadi aku meminjamnya. Silahkan locianpwee memakai pula."
Kiu Cian Jin kaget dan heran. Ia sungguh tidak mengerti, cincin ditangannya dapat berpindah ke tangan lain orang. Cu Cong berkata pula.
"Cincin ini ditaburkan sepotong intan, yang sifatnya keras luar biasa, kau gunai itu menempelkan di cawan, lalu kau putarkan…"
Kwee Ceng menurut, ia melakukan titah gurunya itu.
Baru sekarang semua orang mengerti duduk halnya, Koan Eng semua tertawa.
Oey Yong pun tertawa, tetapi sesaat kemudian ia menangis pula.
Sebab ia segera ingat lagi ayahnya.
"Jangan menangis, Nona!"
Cu Cong menghibur.
"Ini Kiu locianpwee paling suka memperdayakan orang, kata-katanya belum tentu harum wangi!"
Oey Yong heran, ia mengawasi guru kawannya itu.
"Cu Cong tertawa, dia berkata pula.
"Ayahmu sangat lihay, cara bagaimana dia dapat dibinasakan orang? Laginya Coan Cin Cit Cu adalah orang-orang terhormat, mereka juga tidak bermusuh dengan ayahmu, kenapa mereka jadi bisa bertempur?"
"Mungkin ini disebabkan urusan Ciu Pek Thong, pamannya Khu Totiang beramai…."
Oey Yong mengutarakan dugaannya.
"Bagaimana itu?"
Tanya Cu Cong.
"Kau tentunya belum tahu…."
Si nona menangis lagi.
"Biar bagaimana, aku percaya kata-kata orang tua bangka ini berbau busuk!"
Cu Cong mengasih kepastian.
"Apakah kau maksudkan dia melepas…melepas…."
Cu Cong menyahuti dengan sikapnya wajar.
"Tidak salah, dia melepaskan angin busuk! Di dalam tangan bajunya masih ada rupa-rupa barang yang muzijat, kau terka-lah apa perlunya itu…"
Dan dia merogoh ke tangan baju orang, ia mengasih keluar barang-barang yang disebutkan itu, ialah dua potong batu bata, seikat rumput kering, sepotong wol peranti menyalakan api, sepotong baja peranti www.kangzusi.com membangkitkan api, serta sepotong batu api.
Oey Yong jumput batu bata itu, ia pencet, lantas bau itu hancur luluh.
Karena ini berkuranglah kesedihannya, dapat ia tersenyum.
Ia kata.
"Jie suhu, bata ini terbuat dari tepung! Tadi dia memencetnya dengan menggunai ilmu tenaga dalamnya yang lihay sekali!"
Kiu Cian Jin malu bukan main, mukanya menjadi merah dan pucat bergantian, karena tak ada tempat untuk menaruh muka lagi, ia kebaskan tangan bajunya, ia bertindak keluar untuk berlalu.
Bwee Tiauw Hong menggeraki tangannya, menyambar tubuh orang, terus dibantingkan.
"Kau bilang guruku meninggal dunia, bilang benar atau dusta?!"
Si Mayat Besi tanya dengan bengis. Hebat bantingan itu, Kiu Cian Jin merintih kesakitan. Oey Yong lihat seikat rumput itu ada bekas terbakar, maka sadarlah dia.
"Jie suhu,"
Katanya pada Cu Cong.
"Coba kau sulut rumput itu dan kau masuki ke dalam tangan bajumu, lalu kau menyedot dan meniupnya keluar."
Cu Cong menurut, ia berbuat itu, malah sambil menutup kedua matanya dan menggoyang-goyangkan kepalanya! Oey Yong bertepuk tangan, dia tertawa gembira.
"Engko ceng, lihat, bukankah begini caranya si tua bangka ini memainkan tenaga dalamnya?"
Katanya. Ia bertindak menghampirkan orang tua itu, sembari tertawa geli ia memerintah.
"Kau bangunlah!"
Ia mencekal tubuh orang, untuk dikasih bangun, lalu memdadak dengan tangan kirinya ia menotok jalan darah sintong-hiat di punggung orang. Membarengi itu, ia membentak.
"Kau bilang, sebenarnya ayahku mati atau tidak? Jikalau kau bilang benar mati, aku menghendaki jiwamu!"
Dilain pihak Ngobie kongcie sudah mengancam dada orang.
Semua orang merasa lucu mendengar pertanyaan Oey Yong ini.
Orang ditanya tetapi orang dilarang menyebutkan kematian dari ayahnya.
Kiu Cian Jin sendiri merasakan penderitaan hebat.
Ia merasakan sakit dan gagal bergantian.
"Aku khawatir mungkin juga ia belum mati…"
Sahutnya kemudian.
"Aneh pertanyaannya sumoyku ini,"
Pikir Liok Seng hong. Maka ia turut menanya kepada orang tua itu.
"Kau bilang guruku dibinasakan Coan Cin Cit Cu, kau melihat dengan mata sendiri atau hanya mendapat dengar cerita orang?"
"Aku hanya mendenagr kata orang,"
Menjawab Kiu Cian Jin.
"Siapa yang membilanginya?"
Kiu Cian Jin berdiam sebentar, ia seperti mendumal.
"Ang Cit Kong,"
Sahutnya kemudian.
"Kapannya Ang Cit Kong membilangi itu?"
Oey Yong tanya.
"Satu bulan yang lalu,"
Sahut Kiu Cian Jin pula.
"Dimana Ang Cit Kong bicara denganmu?"
Oey Yong menanya lagi.
"Di atas puncak gunung Tay San,"
Sahut si orang tua.
"Di sana kita mengadu kepandaian, dia kalah, dengan tidak disengaja dia mengatakannya."
Bukannya kaget, Oey Yong sebaliknya girang luar biasa mendengar jawaban itu. Ia berjingkrak, tangan kirinya menyambar dada orang, tangan kanannya mencabut kumis. Ia lantas tertawa cekikikan.
"Ang Cit Kong kalah olehmu, tua bangka busuk!"
Katanya.
"Bwee Suci, Liok Suko, jangan, jangan dengar, dia melepas….melepas…"
Sebagai wanita, tak dapat si nona meneruskan kata-katanya.
"Melepas…angin!"
Cu Cong yang melanjuti tertawa, tetapi ia membekap mulutnya. Oey Yong berkata pula.
"Pada sebulan yang laku itu terang-terangan Ang Cit Kong ada bersama-sama aku dan engko Ceng ini! Eh, engko Ceng, kau hajarlah dia dengan satu tanganmu lagi!"
"Baik!"
Jawab Kwee Ceng, lalu tubuhnya bergerak.
Kiu Cian Jin ketakutan, dia memutar tubuhnya untuk berlari, tetapi di muka pintu ada Bwee Tiauw Hong menghalang.
Dia berputar pula, untuk lari ke dalam.
Dia segera dirintangi Liok Koan Eng, tetapi ia mendorongnya hingga pemuda itu terhuyung.
Biar bagaimana, dia pernah mendapat nama, meskipun benar nama itu didapat kebanyakan karena penipuan belaka, karena ilmu sulapnya.
Dia hanya bernyali besar, dari itu berani dia menantang Liok Koay dan Kwee Ceng.
Koan Eng pastilah bukan tandingannya.
Oey Yong lompat menghampirkan, untuk memegat.
"Kau menjunjung jambangan besi, kau jalan di air, ilmu apakah itu?"
Si nona tanya.
"Itulah kepandaianku yang istimewa,"
Sahut si orang tua, yang tetap mengepul.
"Itu dia yang dinamakan ilmu ringan tubuh menyeberangi air dengan menaiki kapu-kapu!"
"Ah, kau masih saja mengoceh!"
Kata si nona tertawa.
"Sebenarnya kau mau bicara benar-benar atau tidak?"
"Usiaku sudah lanjut, ilmu silatku tidak seperti dulu lagi,"
Kui Cian Jin menjawab.
"Meski begitu, ilmu ringan tubuhku masih aku belum mensia-siakannya."
"Baiklah!"
Kata Oey Yong.
"Di luar sana ada sebuah jambangan besar ikan mas, coba kau jalan di atas jambangan itu itu kasih kami menyaksikannya! Kau lihat tidak jambangan itu. Sekeluarnya dari ruang ini, di sebelah kiri, di bawah pohon, itulah dia!"
"Di dalam jambangan, mana bisa orang melatih diri…?"
Kata Kiu Cian Jin. Tapi belum berhenti suaranya itu, mendadak ia lihat suatu apa berkelebat, di depan matanya, akan dilain saat ia mendapatkan tubuhnya sudah berjumpalitan dan kakinya tergantung.
"Kematianmu sudah menantikan, kau masih omong jumawa!"
Membentak Bwee Tiauw Hong.
Si Mayat Besi telah mengangkat tubuh orang itu dengan Tok Liong Gin-pin, cambuk perak Naga Berbisa.
Kapan cambuk itu dikebaskan, tubuhnya si orang tua terlempar ke arah jambangan, tepat jatuhnya ke dalam jambangan itu.
Oey Yong menyusul, ia mengancam dengan Ngo-bie kongcie!
"Jikalau kau tidak memberi keterangan, aku tidak ijinkan kau keluar dari sini!"
Bentaknya. Kiu Cian Jin mencoba menjejak dasar jambangan, baru tubuhnya mencelat atau pundaknya sudah ditekan si nona, maka ia terjatuh pula. Maka basah kuyuplah ia berikut kepalanya. Ia meringis.
"Sebenarnya jambangan itu terbuat berlapis besi,"
Ia mengaku akhirnya.
"Di dalamnya jambangan pun ditutup sebatas tiga dim, di atas itulah cuma ada isinya air. Dan itu kali kecil, di dasar itu aku telah menancapkan banyak pelatok, yang dibikin tenggelam lima enam dim dari permukaan air hingga jadi tidak kelihatan…"
Oey Yong tertawa, terus ia bertindak ke dalam, tak sudi ia memperdulikan lagi, dari itu Kiu Cian Jin dapat keluar dari jambangan ikan itu, sambil tunduk ia ngiprit pergi.
Bwee Tiauw Hong dan Liok Seng Hong merasa tidak enak sendirinya.
Tadi mereka menangis dengan cuma-cuma disebabkan lagak-lagunya si tua bangka itu.
Setelah orang kabur, mereka masih likat.
Tiauw Hong adalah yang dapat menenangkan diri lebih dulu.
Maka berkatalah ia pada tuan rumah.
"Seng Hong, kau merdekakan muridku! Dengan memandang kepada guru kita, urusan dahulu hari itu suka aku tidak menimbulkannya pula. Liok Seng Hong menghela napas. Di dalam hatinya ia kata.
"Dia telah kematian suaminya, matanya sendiri buta, sekarang dia hidup sebatang kara. Aku sendiri, walaupun kakiku bercacad, aku ada punya istri dan anak, aku ada punya rumah tangga, aku masih menang berlipat kali daripadanya… Kita pun sama-sama sudah berusia limapuluh lebih, untuk apa masih memikirkan sakit hati lama…?"
Mala ia menjawab.
"Pergi kau bawa muridmu, Bwee Suci. Besok pagi hendak aku pergi ke Tho Hoa To, untuk menjenguk suhu. Kau mau turut atau tidak?"
"Beranikah kau pergi ke sana?"
Tiauw Hong tanya.
"Tanpa perkenaan suhu kita lancang mendatangi Tho Hoa To, itulah memang satu pelanggaran besar,"
Menyahut Sneg Hong.
"Akan tetapi si tua bangka barusan sudah mengaco belo, hatiku tetap tidak tenang, ingin aku menjenguknya."
Belum lagi Bwee Tiauw Hong menyahuti, Oey Yong sudah berkata.
"Marilah kita pergi beramai menjenguk ayahku, di sana aku nanti memohonkan keampunan bagi kamu."
Bwee Tiauw Hong berdiam diri, kedua matanya mengucurkan air mata.
"Mana aku punya muka akan menemui suhu lagi?"
Katanya.
"Suhu mengasihi aku yang piatu, dia pelihara aku, dia mengajarkannya, tetapi hatiku buruk, aku mendurhaka…"
Mendadak ia mengangkat kepalanya dan berseru.
"Asal aku sudah berhasil membalas sakit hati suamiku, aku tahu bagaimana harus membereskan diriku sendiri! Kanglam Cit Koay, kalau kau benar laki-laki, marilah! Malam ini aku hendak mengadu nyawa denganmu. Liok Sutee, Oey Sumoy, kamu berdiam saja menonton, kamu jangan membantui siapa juga! Siapa mampus siapa hidup, kamu tetap jangan campur tangan! Kamu dengar?!"
Mendengar itu, Kwa Tin Ok bertindak ke tengah ruang. Sepotong besi jatuh di lantai, suaranya nyaring dan panjang. Lalu ia mengasih dengar suaranya yang serak.
"Bwee Tiauw Hong! Kau tidak melihat aku, aku juga tidak melihat kau! Ketika itu malam di tempat belukar kita bertempur, suamimu binasa wajar, tetapi juga saudaraku yang kelima telah kehilangan jiwanya. Tahukah kau?!"
"Oh,"
Bersuara si nyonya.
"Jadi sekarang kamu tinggal berenam?"
"Ya!"
Sahut Tin Ok.
"Kami sudah menerima baik permintaan Totiang Ma Giok, kami tidak hendak memusuhkan kau terlebih lama pula, tetapi hari ini kaulah yang mencari kami. Baiklah! Dunia ini luas, tetapi kita berjodoh, di mana saja kita dapat bertemu! Mungkinlah Thian tidak sudi membiarkan Kanglam Liok Koay dankau hidup bersama di kolong langit ini! Nah, kau majulah!"
Bwee Tiauw Hong tertawa dingin.
"Kau berenam, majulah semua!"
Dia menantang.
Belum Tin Ok menyahuti, Cu Cong sudah berdiri di sampingnya.
Saudara ini hendak mencegah kalau-kalau musuh membokong.
Bersama lain sudaranya, ia sudah menghunus senjata.
Justru itu Kwee Ceng mengajukan diri.
"Biarlah murid yang maju lebih dulu!"
Kata murid ini.
Liok Seng Hong menjadi tidak enak hati mendengar Tiauw Hong menentang Liok Koay dan Liok Koay menyambutnya.
Ingin ia mengajukan diri di sama tengah tetapi tidak dapat ia menghampirkan mereka, ia pun tidak mempunyai cukup pengaruh.
Maka itu, mendengar suaranya Kwee Ceng, satu pikiran berkelebat di otaknya.
"Tuan-tuan, tahan dulu!"
Dia mencegah.
"Aku minta sukalah kau dengar dulu padaku. Diantara kamu berdua sudah ada yang meninggal, bukankah? Maka itu menurut aku, pertempuranan ini baiklah dibataskan menang dan kalahnya dengan saling towel saja, jangan ada yang main melukakannya. Liok Koay melawan satu, walau itu sudah seharusnya, aku anggap masihlah kurang adil. Maka itu, aku minta biarlah Bwee Suci main-main saja dengan ini Kwee Laotee. Setujukah kamu?"
Bwee Tiauw Hong tertawa dingin.
"Mana dapat aku menempur segala bocah tak namanya?"
Katanya. Tapi Kwee Ceng berani, ia kata nyaring.
"Suamimu itu aku sendirilah yang membunuhnya, apakah sangkut pautnya dengan semua suhuku?"
Tiba-tiba saja Tiauw Hong menjadi gusar sekali.
"Betul!"
Serunya.
"Mari aku bunuh dulu padamu, bangsat cilik!"
Dengan mendengar suara orang, ia ketahui di mana beradanya orang itu, maka ia ulur tangan kirinya ke batok kepala si bocah. Kwee Ceng lompat berkelit. Ia kata dengan nyaring.
"Bwee Cianpwee, ketika dulu hari itu aku kesalahan membinasakan Tan Cianpwee, itulah disebabkan usiaku yang muda dan aku belum tahu apa-apa, tetapi untuk itu aku berani bertanggung jawab, maka kamu berurusanlah denganku, tidak nanti aku menyingkirkan diri! Bagaimana jikalau dibelakang hari kau masih mencari keenam guruku?"
"Benarkah kau demikian laik-laki, hingga kau tidak bakal kabur?"
Menegaskan Tiauw Hong.
"Pasti tidak!"
Jawab si anak muda mantap.
"Baiklah, ganjalanku dengan Kanglam Liok Koay aku bikin habis! Mari bocah, kau turut aku!"
"Bwee Suci!"
Oey Yong berteriak.
"Dia pun satu laki-laki sejati! Kau nanti ditertawakan orang-orang kangouw!"
"Apa?"
Tanya Tiauw Hong gusar.
"Dia ahli waris satu-satunya dari Kanglam Liok Koay!"
Kata si nona.
"Sekarang ini kepandaiannya Kanglam Liok Koay tidak sama lagi seperti dulu, maka jikalau mereka hendak mengambil nyawamu, gampangnya sama seperti mereka membalikkan telapak tangan! Hari ini mereka memberi ampun padamu, itu artinya mereka telah memberi muka, tetapi kau tidak tahu selatan, kau masih membuka mulut besar!"
"Fui! Aku menghendaki diampunkan mereka? Eh, Liok Koay, benarkah kau telah memperoleh kemajuan besar? Mari, marilah kita coba-coba!"
"Perlu apa sampai mereka sendiri turun tangan?"
Berkata pula Oey Yong.
"Sekalipun muridnya seorang diri, tidak nanti kau dapat memenangkannya!"
Tiauw Hong bergusar hingga ia berkoakan.
"Jikalau dalam tiga jurus aku tidak dapat membikin dia mampus, di sini juga aku akan membenturkan diriku hingga binasa!"
Teriaknya.
Si Mayat Besi ingat pertempurannya sama Kwee Ceng di dalam istana, ia ketahui baik kepandaian orang, ia hanya tidak mendapat tahu, sesudah berselang beberapa bulan, pemuda ini telah mendapat didikannya Kiu Cie Sin Kay dan kepandaiannya telah maju pesat sekali.
"Baiklah!"
Tertawa Oey Yong.
"Semua orang di sini menjadi saksinya! Tiga jurus terlalu sedikit, aku beri batas sampai sepuluh jurus!"
"Tidak,"
Berkata Kwee Ceng.
"Akan aku menemani cianpwee main-main limabelas jurus!"
"Sekarang mintalah Liok Suko serta tetamu dengan siapa suci datang bersama untuk tolong menghitungnya!"
Berkata Oey Yong pula. Tiauw Hong heran.
"Siapa yang menemani aku datang ke mari?"
Tanyanya.
"Aku datang seorang diri. Perlu apa aku memakai kawan?"
"Habis itu siapa di belakang suci?"
Oey Yong tanya.
Dengan tiba-tiba Tiauw Hong menyambar ke belakang, cepatnya bukan main.
Orang tidak melihat si baju hijau berkelit, tahu-tahu dia telah lolos dari sambaran itu.
Sampai itu waktu, anehnya, ia masih terus membungkam.
Tiauw Hong tidak menyerang pula tetapi ia lantas merasakan sesuatu.
Ketika itu malam ia melayani Auwyang Kongcu bertempur diwaktu mana ia mendengar suara seruling, yang membebaskan ia dari kurungan barisan ular, ia telah menghanturkan terima kasih ke tengah udara, sebab ia tak tahu siapa si peniup suling yang membantunya itu.
Sejak itu ia merasakan ada suatu apa di belakangnya, sia-sia belaka segala pertanyaannya dan sambarannya, ia tidak mendapatkan hasil, sampai ia mau merasa mungkin ia kurang sehat, hingga mau ia menerka kepada hantu.
Sekarang, mendengar perkataannya Oey Yong itu, ia tidak ragu-ragu lagi.
Tentu saja ia menjadi kaget sekali.
"Kau siapa?!"
Ia tanya, suaranya menggetar.
"Mau apa kau selalu mengikuti aku?!"
Orang itu tidak menjawab, ia seperti tidak mendengarnya.
Tiauw Hong lompat menubruk.
Kembali ia gagal.
Nampaknya orang itu tidak bergerak tetapi ia tidak kena diserang.
Semau orang menjadi kaget dan heran.
Pastilah orang itu lihay luar biasa.
Liok Seng Hong sudah lantas menegur, katanya.
"Tuan, dari tempat yang jauh kau datang kemari, aku belum sempat menyambutnya, silahkan duduk! Maukah Tuan minum arak?"
Kembali si baju hijau tidak menyahuti, bahkan ia membalik tubuhnya, untuk berlalu.
"Kaukah yang meniup seruling menolongi aku?"
Tanya Tiauw Hong. Orang heran. Tiauw Hong ditolongi orang itu? Orang pun heran, lihay sebagai dianya, si Mayat Besi ini tidak ketahui orang sudah berlalu.
"Bwee Suci, orang itu sudah pergi?"
Oey Yong memberitahu.
"Dia sudah pergi?"
Tiauw Hong heran.
"Ya, dia sudah pergi,"
Menerangkan Oey Yong.
"Pergi kau susul dia, jangan kai main galak-galak di sini!"
Tiauw Hong menjublak sekian lama, wajahnya berubah-ubah. Nampaknya ia berduka. Lalu mendadak dia berseru,.
"Bocah she Kwee, kau sambutlah!"
Lalu dua tangannya bergerak, sepuluh jari tangannya nampak seperti api yang marong. Toh ia tidak menyerang.
"Aku di sini,"
Kwee Ceng menjawab. Baru saja ia mendengar "Aku"
Itu atau tangan kanan Tiauw Hong sudah berkelebat menyusul mana tangan kirinya, dengan lima jarinya, menyambar ke muka orang.
Kwee ceng lihat serangan itu, ia mengegos tubuhnya, sembari berkelit, ia menyerang dengan tangan kirinya.
Tiauw Hong dapat mendengar suara serangan, hendak ia menangkis tetapi sudah tidak keburu, dengan mendatangkan suara, pundaknya kena dihajar hingga ia mundur tiga tindak.
Karena ia telah diserang denagn salah satu jurus dari Hang Liong Sip-pat Ciang.
Tapi ia lihay luar biasa, lekas sekali ia berbalik dan tangannya menyambar.
Inilah Kwee Ceng tidak sangka dan ia menjadi kaget sekali, hanya ia kaget untuk percuma-cuma, karena segera juga ia telah kena dicekal lengan kanannya pada tiga jalan darah Iwee-kwan, gwa-kwan dan hwee-cong.
Sebenarnya ia senantiasa siap sedia dan berjaga-jaga, sudah ia mendengar keterangan guru-gurunya tentang lihaynya Kiu Im Pek-ku Jiauw, sekarang toh ia kena tercekal.
Ia menjerit celaka, separuh tubuhnya menjadi lemas.
Disaat berbahaya itu ia masih ingat untuk berdaya.
Ia tekuk dua jeriji tangan kanannya, jeriji telunjuk dan tengah, dengan itu ia menyerang ke dada lawannya.
Seharusnya serangan itu disusul dengan serangan tangan kiri tetapi tangan kirinya itu tercekal lawan, terpaksa ia mennggunakan sebelah tangan saja.
Ini pun ada suatu jurus dari Hang Liong Sip-pat Ciang itu.
Bwee Tiauw Hong dapat mendengar serangan ini, yang anginnya luar biasa.
Ia tidak menangkis, ai berkelit, tidak urung ia kena terhajar juga, hanya sebab ia berkelit itu, yang menjadi sasaran ialah pundaknya.
Ia merasakan dorongan yang keras sekali, hingga terpaksa ia ayun tangannya melepaskan cekalan.
Kwee Ceng menyerang seraya berbareng mencoba menarik diri, untuk meloloskan tangannya yang dicekal itu, karena dilepaskan, tubuhnya terpental.
Sebaliknya tubuh si Mayat Besi terdampar karena serangannya itu.
Maka keduanya sama-sama terhuyung mundur, punggung mereka masing-masing mengenai pilar.
Besar dan tangguh pilar itu, benturan tidak menyebabkannya patah atau roboh, akan tetapi akibat benturan membuatnya genteng dan batu pecah dan meluruk jatuh.
Banyak chungteng menjadi kaget, sambil berteriakan mereka lari keluar.
Kanglam Liok Koay saling mengawasi, mereka heran dan berbareng girang.
"Darimana anak Ceng mendapatkan pelajaran ini?"
Mereka saling menanya di dalam hatinya.
Han Po Kie sampai melirik kepada Oey Yong, karena ia menduga mestilah si nona yang mengajarinya.
Pertempuran sudah berjalan terus.
Kedua pihak sama-sama mengeluarkan kepandaiannya.
Tiauw Hong berkelahi dengan sengit, karena ia gusar dan penasaran.
Kwee Ceng berlaku gesit dan waspada.
Si Mayat Besi berlompatan ke delapan penjuru, anginnya menyambr-nyambar.
Kwee Ceng ingat pelajaran Ang Cit Kong tentang ilmu "Lok Eng Ciang" , ia tetap bersilat dengan Hang Liong Sip-pat Ciang, ia putar balik semua lima belas jurusny.
Ia berhasil dengan cara berkelahi ini.
Bukan limabelas, bahkan sudah hampir limapuluh jurus.
Tiauw Hong masih belum berhasil merobohkan atau menawan lawannya seperti bermula tadi.
Bahkan untuk mendesak saja ia tak sanggup.
Oey Yong menonton dengan tertawa atau tersenyum-senyum, mukanya yang boto menjadi manis sekali.
Sedang Kanglam Liok Koay berdiri terbengong-bengong.
Liok Seng hong pun mnejublak bersama putranya.
"Hebat kemajuan Bwee Suci ini,"
Tuan rumah itu berpikir.
"Kalau aku mesti melawan dia, dalam sepuluh jurus saja pastilah aku telah kehilangan jiwaku… Tapi ini Kwee laotee yang masih begini muda, kenapa dia begini lihay? Oh, sungguh mataku kabur! Syukur aku perlakukan dia dengan hormat, tidak sampai aku berlaku tak kurang horamt terhadapnya…"
Sampai di situ Oey Yong berseru.
"Bwee Suci, sudah enam puluh jurus lebih! Masihkah kau tidak mau menyerah?"
Tiauw Hong mendongkol bukan kepalang.
Dengan latihannya beberapa puluh tahun, ia tidak sanggup menjatuhkan satu bocah.
Lantaran ini, ia tidak ambil mumat suaranya Oey Yong, bahkan sebaliknya, ia menyerang dengan terlebih hebat, sambarannya dilakukan saling susul dengan cepat luar biasa.
Ia tidak merasa dengan begitu ia nyata kalah imbangan.
Bukankah kedua matanya buta?
Bukankah karena kemurkaannya, ia jadi tidak dapat memusatkan pikirannya?
Di pihak lain, Kwee Ceng awas kedua matanya, lincah tubuhny.
Pemuda ini telah menghisap darah ular dan memperoleh Hang Liong Sip-pat Ciang.
Pertempuran berlanjut sampai seratus jurus lebih.
Setelah ini, Wee Tiauw Hong dapat juga berpikir.
Ia mulai meraba-raba ilmu silat lawannya yang cilik ini.
Ia merasa tidak dapat ia menyerang dari dekat.
Maka ia menjauhkan diri dari Kwee ceng setombak lebih.
Ingin ia membuatnya lawan itu letih.
Memang juga disebabkan usainya muda dan latihannya belum sempurna, lama-lama Kwee Ceng berkurang kelincahannya.
Oey Yong tahu kawannya bisa celaka, maka ia berteriak-teriak pula.
"Bwee Suci, seratus jurus sudah lewat! Sudah hampir duaratus jurus! Apakah kau tetap tidak hendak menyerah?!"
Tiauw Hong berlagak tuli, ia menyerang tak hentinya. Bingung juga Oey Yong, tetapi dasar licik, segera ia mendapat akal.
"Engko Ceng, lihat aku!"
Ia memanggil.
Ia melompat ke depan pilar.
Dua kali Kwee Ceng berkelit, untuk menjauhkan diri, mendengar suaranya Oey Yong, ia menoleh.
Bagitu ia melihat orang lari memutarkan pilar, ia sadar.
Maka ia pun berlompat ke pilar itu.
Tiauw Hong mengetahui kemana orang menyingkir, ia lompat menyusul.
Tepat di dekat pilar, Kwee Ceng berkelit, lari ke belakang pilar itu.
Ia baru berkelit atau sambarannya Tiauw Hong sudah tiba, tepat lima jarinya nancap di pilar itu, yang disangkanya adalah tubuh musuh.
Bukankah ia cuma mengandalkan suara angin?
Kwee Ceng tidak cuma bersembunyi, ia pun membalas menyerang.
Tapi hebat tenaga menolak dari Tiauw Hong, meski si Mayat Besi terpental, ia pun mesti mundur juga.
Lima jarinya Tiauw Hong terlepas dari pilar.
Tiauw Hong bertambah-tambah gusar, saking sebatnya, ia sudah berlompat pula untuk menyerang lagi.
Hebat untuk Kwee Ceng yang belum sempat memperbaiki diri, kendati dia dapat berkelit, tidak urung bajunya kena kesambar hingga robek dan lengannya kena terlanggar.
Syukur untuknya, ia tidak terluka.
Ia menjadi gentar hatinya.
Tapi ia melawan terus, malah ia membalas menyerang.
Habis itu baru ia melompat pula mundur ke belakang pilar itu.
Sengaja ia mengasih dengar suara, hingga Tiauw Hong menyambar pula.
Kali ini lima jari si Mayat Besi kemabli nancap di pilar itu.
Barulah kali ini Kwee Ceng tidak menyerang.
"Bwee Cianpwee,"
Ia berkata.
"Kepandaianku tidak dapat melayani kau, sukalah kau menaruh belas kasihan padaku."
Dengan kata-katanya ini, bocah ini telah memberi muka.
Ia tidak kalah, mungkin ia lebih ungggul.
Dengan mengandal sama pilar itu, ia toh tak bakalan kalah.
Tapi ia suka mengalah.
Bwee Tiauw Hong menyahut dengan dingin.
"Jikalau kita mengadu kepandaian, setelah tiga jurus aku tidak dapat mengalahkan kau, seharusnya aku mesti menyerah. Tapi sekarang kita bukan lagi mengadu kepandaian, aku hanya hendak menuntut balas, meski aku sudah kalah bertaruh, toh aku mau berkelahi terus! Tidak dapat tidak, mesti aku membunuh kau!"
Kata-kata ini disusul dengan serangan saling susul, dengan tangan kiri tiga kali, dengan tangan kanan tiga kali juga, semuanya mengenai pilar, sembari menyerang secara hebat itu, dia berseru.
Serangannya yang terakhir adalah dua tangan berbareng, hebat kesudahannya, dengan menerbitkan suara nyaring, pilar itu patah bagian tengahnya!
Semua hadirin adalah orang-orang lihay, walaupun mereka kget, mereka toh dapat menolong diri.
Semuanya lantas menlompat keluar.
Koan Eng lompat setelah ia sambar ayahnya, yang ia terus pondong.
Boleh dibilang sekejap saja, runtuhlah sebagian ruangan itu.
Celaka untuk Toan Tayjin, si komandan tentara, cuma ia yang tidak keburu lari, maka ia ketimpa dan ketindihan kedua kakinya.
Ia menjerit-jerit meminta tolong.
Wanyen Kang lantas maju untuk menolongi, dalam kekacauan itu, hendaknya keduanya lantas melarikan diri, akan tetapi disaat mereka memutar tubuh, mendadak mereka merasakan punggung mereka kaku, tak tahu mereka siapa yang sudah menotoknya.
Bwee Tiauw Hong sendiri memperhatikan Kwee ceng seorang.
Diwaktu si anak muda berlompat, ia pun lompat menyusul, maka itu setibanya mereka di depan, yaitu di luar ruangan, di mana cahaya rembulan guram, keduanya sudha bertempur pula.
Anginnya gerak-gerik mereka berdesiran, dan tulang-tulangnya Bwee Tiauw Hong berbunyi berperetekan.
Perempuan ini jauh terlebih hebat daripada di dalam tadi.
Kali ini Kwee Ceng terdesak betul-betul.
Segera ia mengalami ancaman bahaya tendangan si Mayat Besi.
Kaki kanan wanita lihay itu bergerak, menyambar ke arah kaki lawannya.
Kalau tendangan ini mengenai tepat, pasti patahlah kaki si anak muda.
Tapi Tiauw Hong tidak menendang terus, baru setengah jalan, ia sudah menarik pulang, untuk diganti dengan uluran tangan kiri ke arah kaki kiri lawannya itu.
Koan Eng kaget hingga ia menjerit.
"Hati-hati!"
Ia ingat, itulah serangan berbahaya yang ia peroleh dari Wanyen Kang, hingga ia kena dikalahkan pangeran itu.
Dalam bahaya seperti itu, Kwee Ceng menggeraki tangan kirinya untuk menangkis tangannya Tiauw Hong itu.
Ia masih cukup gesit tetapi tenaganya sudah berkurang.
Tiauw Hong lihay sekali, begitu kedua tangan bentrok, ia mengerti kurangnya tenaga si bocah.
Ia lantas memutar tangannya, tiga jerijinya, kelingking, manis dan tengah sudah lantas menggurat ke belakang telapakan tangan lawan.
Kwee Ceng menginsyafi ancaman itu, ia menyerang dengan tangan kanannya, hebat sekali.
Kalau lawan tidak menyingkir, mereka akan bercelaka dua-duanya!
Tiauw Hong berkelit dengan lompat ke samping, terus ia tertawa panjang.
Kwee Ceng merasakan panas dan sakit sekali pada belakang tangannya itu, apabila ia melihatnya, ia mendapat tiga guratan yang tidak mengeluarkan darah.
Itulah luka yang membikin ia merasa sakit itu, yang berwarna hitam.
Mendadak ia ingat sembilan buah tengkorak yang Tiauw Hong meninggalkannya di puncak gunung Mongolia dan Ma Giok membilangnya, tangan itu ada racunnya.
Ia menjadi kaget sekali.
"Yong-jie, aku terkena racun!"
Katanya pada kekasihnya.
tapi, tanpa menanti jawaban, ia berlompat menyerang Tiauw Hong, kedua tangannya dikasih bekerja.
Ia cuma tahu perlu membekuk wanita lihay ini, untuk memaksa ia mengeluarkan obat pemunahnya, tanpa itu jiwanya tidak akan ketolongan lagi… Tiauw Hong merasakan sambaran angin, ia melompat berkelit.
Oey Yong, begitupun yang lainnya, mendengar suaranya Kwee Ceng itu, menjadi kaget sekali.
Boleh dibilang serempak, dimulai dari Kwa Tin Ok, mereka itu berlompat maju mengurung si Mayat Besi.
"Bwee, Suci!"
Oey Yong berteriak.
"Kau sudah kalah, kenapa kau masih bertempur terus? Lekas kau keluarkan obat pemunahnya untuk menolongi dia!"
Tiauw Hong tidak menjawab, ia lebih perhatikan serangan lawannya. Ia bergirang sekali, di dalam hatinya ia kata.
"Semakin kau mengeluarkan tenaga, semakin hebat bekerjanya racun! Taruh kata hari ini aku terbinasa di sini, aku toh sudah berhasil membalaskan sakit hati suamiku!"
Kwee ceng mulai merasakan matanya kabur dan kepalanya pusing, seluruh tubuhnya terasa tidak enak, bahkan lengan kirinya lemas, hingga ia mulai berpikir untuk tidak berkelahi lebih jauh.
Itulah tanda bekerjanya racun.
Coba ia tidak minum darah ular, mungkin ia sudah lantas roboh terbinasa.
Oey Yong melihat wajah orang tidak wajar.
"Engko Ceng, lekas mundur!"
Ia berteriak.
Ia pun hendak menerjang.
Terbangun semangatnya Kwee Ceng mendengar suara si nona, ia menyerang dengan tangan kirinya.
Ia menggunakan jurus ke sebelas dari Hang Liong Sip-pat Ciang yang dinamakan "Menunggang enam naga".
Lengannya bergerak lambat.
Oey Yong semua dapat melihat serangan itu.
Disaat itu mereka jusru hendak menyerang.
Perlahan serangan Kwee Ceng itu, atas itu Bwee Tiauw Hong tidak menangkis atau berkelit.
Jitu serangan itu, pundak si Mayat Besi menjadi sasaran.
Mendadak saja ia jatuh berguling.
Inilah diluar dugaan.
Sebabnya ialah, karena serangan datangnya perlahan, Tiauw Hong tidak mendengarnya.
Dia justru mengandal pada kupingnya saja sebab matanya tidak dapat melihat.
Oey Yong tercengang, tetapi Han Po Kie, Lam Hie Jin dan Coan Kim Hoat sudah lantas lompat menubruk, dengan niat membekuk si Mayat Besi.
Tiauw Hong lihay sekali.
Dengan geraki kedua tangannya, ia berontak.
Po Kie dan Kim Hoat kena dibikin mental.
Lalu sebelah tangannya meneruskan menyambar Hie Jin.
Atas ini, si orang she Lam membuat diri jatuh bergulingan.
Cepat sekali Tiauw Hong berlompat bangun.
Justru ia hendak menaruh kakinya, tinjunya Kwee Ceng tiba dipunggungnya.
Hebat serangan itu, sekali lagi ia roboh.
Juga tinju itu datang tanpa suara.
Hanya karena serangan tidak keras, ia tidak terluka.
Setelah dua kali menyerang itu, Kwee Ceng terhuyung, terus ia roboh sendirinya.
ia roboh di sampingnya Tiauw Hong.
Oey Yong lompat untuk mengasih bangun padanya.
Tiauw Hong mendengar suara orang di dekatnya, tanpa ayal lagi, tangannya menyambar, lima jari tangannya bekerja.
habis itu, ia mendi kaget.
Lima jeriji tangannya itu dirasakan gatal sekali.
Hampir itu waktu, ia sadar, ia telah kena menyerang tubuh Oey Yong, tangannya menancap di baju lapis joan-wie-kah dari si nona.
Dalam kagetnya ia berlompat dalam gerakan "Ikan gabus meletik".
Justru itu terdengar seorang berseru.
"Ini untukmu!"
Bab 31.
Pemilik dari Pulau Tho Hoa To Cu Cong mendengar suara itu, ia segera lantas menoleh, maka terlihatlah olehnya menyambarnya suatu barang ke arah Bwee Tiauw Hong, siapa sudah lantas menangkis.
Tepat tangkisannya itu, barang itu mengeluarkan suara keras, rusak dan jatuh.
Nyata itu adalah sebuah kursi.
Menyusul itu terdengar angin dari datangnya suatu barang lain, yang terlebih besar.
Kali ini si Mayat Besi mengeulur tangan kirinya, untuk menangkap.
Dan ia kena pegang suatu barang lebar dan licin.
Sebab itulah sebuah meja yang ebrada di samping Cu Cong, yang patah kakinya tertimpa pilar.
Penyerangnya pun Cu Cong sendiri.
Habis itu Tiauw Hong menendang meja itu.
Berbareng dengan itu, Cu Cong, yang mengulur tangan kanannya, memasuki tiga benda bergerak ke leher bajunya si wanita lihay itu.
Tiauw Hong kaget hingga ia menggigil.
Ia merasakan barang yang hawanya dingin nelusup ke dadanya.
Ia menduga kepada senjata rahasia yang aneh atau permainan ilmu dukun.
Ia lantas merogoh, untuk menangkapnya.
Ia kena pegang beberapa ekor ikan emas.
Tapi yang membuatnya kaget luar biasa ialah tangannya tidak dapat meraba botol obat di dalam sakunya, obat mana lenyap berbareng bersama pisau belatinya serta kitab Kiu Im Cin-keng.
Ia sampai berdiri berjublak saja.
Si cerdik Cu Cong sudah menggunai tiga ekor ikan emas itu untuk menyimpangkan perhatiannya Bwee Tiauw Hong yang lihay itu.
Itulah ikan-ikan emas, yang lolos dari jambangannya sebab jambangannya pecah ketimpa runtuhan.
Diwaktu memasuki ikan itu ke leher baju, ia sekalian menyambar isinya saku orang.
Setelah itu dengan cepat ia membuka tutup botol kecil itu, yang dibawanya ke hidungnya Tin Ok.
"Bagaimana?"
Tanyanya.
"Untuk dimakan dan ditarohkan, inilah obatnya!"
Berkata saudara tua itu, yang ada ahli dalam pemakaian obat beracun.
Tiauw Hong dapat mendengar pembicaraan orang itu, ia sadar, dengan berlompat, ia menerjang.
Tapi ia disambut tongkatnya Tin Ok, cambuknya Han Po Kie, dacinnya Coan Kim Hoat dan pikulannya Lam Hie Jin.
Ia hendak mengeluarkan cambuknya sendiri atau ia batalkan itu dengan mendadak karena pedangnya Han Siauw Eng menikam ke arah dadanya.
"Kasih dia makan, torehkan padanya!"
Kata Cu Cong pada Oey Yong, kepada siapa ia serahkan obat pemunah racun itu. Dilain pihak, ia sesapkan pisau belatina si Mayat Besi kepada muridnya seraya memberitahukan.
"Inilah piasu asal kepunyaanmu."
Setelah itu, dengan mainkan kipas besinya, ia mau membantu saudara-saudaranya mengepung musuh yang lihay itu.
Habet pertempuran itu, karena berselang sepuluh tahu, Kanglam Liok Koay telah memperoleh kemajuan pesat.
Seng Hong dan anaknya heran menyaksikan pertempuran itu.
Mereka beranggapan.
"Tiauw Hong benar-benar lihay, tetapi pun jago-jago Kanglam itu tidak bernama kosong."
Tapi Seng Hong sudah lantas berseru.
"Tuan-tuan, berhenti dulu! Mari dengar aku!"
Orang lagi itu bertarung hebat, tidak ada yang pedulikan teriakan itu, mereka itu bertarung terus.
Tidak lama sehabisnya makan obat, Kwee Ceng mulai sadar.
racun itu menyerang cepat tetapi perginya cepat juga.
Lukanya masih menimbulkan rasa sakit tapi itu tidak mengganggu gerakan lengan kirinya yang terluka itu.
Maka itu setelah, memasukkan piasu belati ke dalam sakunya, ia berlompat bangun dari rangkulannya Oey Yong.
Ia maju ke gelanggang pertempuran, untuk berkelahi pula.
Seperti tadi, ia menyerang dengan gerakan perlahan, pada saatnya baru ia mengerahkan tenaganya.
Tiauw Hong repot melayani musuh-musuhnya, ia juga tidak mendengar sambaran angin dari serangannya si anak muda, tahu-tahui ia sudah kena terhajar.
Kembali ia roboh.
Justru itu senjatanya Po Kie dan Hie Jin turun ke arah tubuhnya.
"Suhu, ampunkan dia!"
Berseru Kwee Ceng, yang menangkis sejata kedua gurunya itu.
Liok Koay menurut, mereka lantas berlompat mundur.
Tiauw Hong masih hendak membela diri, ia bersiap sedia dengan cambuknya, cambuk Tok-liong-pian yang beracun.
Kwee Ceng tidak menyerang lebih jauh, ia hanya berkata pada wanita lihay itu.
"Hari ini baiklah pertempuran diakhirkan secara baik! Kami tiak hendak membikin susah padamu, kau pergilah!"
Tiauw Hong suka menyimpan cambuknya.
"Kau kembalikan kitabku!"
Katanya. Cu Cong melengak.
"Aku tidak mengambil kitabmu!"
Katanya.
"Kau tahu sendiri, tidak pernah Kanglam Liok Koay berdusta!"
Ia tidak tahu kertas kulit manusia di luar pisau belati adalah rahasianya Kiu Im Cin-keng.
Tiauw Hong tahu Kanglam Cit Koay jujur, karena ini ia mau percaya kitabnya pastilah telah terjatuh selagi ia bertempur, dari itu ia lantas berdongko dan meraba-raba ke tanah.
Sekian lama ia bekerja, ia tidak berhasil mendapatkan barang yang dicari itu.
Menyaksikan orang rape-rape itu, semua orang merasa kasihan juga.
Tidakkah ia buta walaupun ia sangat lihay?
Seng Hong lantas saja berkata.
"Suci, di sini benar-benar tidak ada barangmu! Mungkin kau kena bikin hilang di tengah jalan…"
Tiauw Hong tidak menjawab, ia pun tidak berhenti bekerja.
Sekonyong-koyong mata orang banyak bagaikan berkelebat, lalu di hadapan mereka muncul pula si orang baju hijau, yang gerakan tubuhnya bagaikan kilat.
Tahu-tahu saja dia sudah mencekal punggung Bwee Tiauw Hong, yang terus diangkat, untuk dibawa pergi.
Perginya pun lenyapnya dalam sekejap, lenyap di antara pepohonan di luar Kwie-in-chung itu.
Begitu lihaynya si Mayat Besi, ia tidak berdaya.
Orang semua melongo, mereka saling memandang.
Sunyi si sekitar mereka, kecuali suara gelombang, yang nanti terdengar, nanti tidak….
Masih selewat sekian lama, barulah Kwa Tin Ok memecahkan kesunyian.
Ia berkata kepada tuan rumah.
"Murid kami telah menempur wanita jahat itu, karena kami merusak rumahmu, tuan, kami sangat menyesal."
"Jangan berucap demikian, tayhiap,"
Seng Hong berkata.
"Justru aku girang sekali yang tayhiap semua serta muridmu datang ke mari. Justru aku hendak menghanturkan termia kasihku, sebab kalau tidak, mungkin rumahku ini bakal ludas."
"Aku minta sukalah semua tuan duduk beristirahat,"
Koan Eng menimpali ayahnya dengan sikapnya yang ramah tamah.
"Saudara Kwee, apakah lukamu tidak sakit?"
"Tidak,"
Sahut Kwee Ceng.
Tapi, baru ia menutup mulutnya, atau tiba-tiba sudah terlihat pula si baju hijau bersama Bwee Tiauw Hong, datangnya seperrti tidak nampak.
Bwee Tiauw Hong berdiri dengan menolak pinggang, ia berkata dengan nyaring.
"Eh, bocah she Kwee, kau sudah menghajara aku dengan Hang Liong Sip-pat Ciang ajarannya Ang Cit Kong, karena mataku buta, aku tidak dapat melihat segala gerakanmu! Aku tidak ambil mumat, tetapi jikalau hal ini tersiar di kalangan kangouw, apabila sampai ada yang membilang Bwee Tiauw Hong tidak sanggup melawan muridnya si pengemis, bukankah itu akan meruntuhkan namanya guruku dari pulau Tho Hoa To? Maka itu mari, mari kita mencoba lagi sekali!"
Kwee Ceng berlaku sabar dan jujur.
"Sebenarnya aku bukanlah tandinganmu,"
Ia berkata.
"Dengan mengandali matamu yang tidak dapat melihat, aku dapat melindungi jiwaku. Aku sudah menyerah sejak-sejak siang."
"Hang Liong Sip-pat Ciang terdiri dari delapanbelas jurus, kenapa kau tidak menggunai itu semuanya?"
Tiauw Hong tanya.
"Oleh karena sifatku tolo….."
Sahut Kwee Ceng. Justru itu Oey Yong memberi tanda supaya ia jangan membuka rahasia, tetapi ia berkata terus.
"Ang Locianpwee cuma ajarkan aku limabelas jurus."
"Bagus!"
Kata Tiauw Hong pula.
"Kau cuma bisa limabelas jurus, Bwee Tiauw Hong telah jatuh di tanganmu! Apakah benar Ang Cit Kong, si pengemis tua bangkotan itu demikian lihay? Tidak, tidak bisa, kau mesti mencoba bertempur pula denganku!"
Orang menjadi heran dan cemas. Nyata Tiauw Hong bukan hendak membalas sakit hati saja. Di sini ada bibit bentrokan di antara Oey Yok Su dan Ang Cit Kong. Kwee Ceng masih berlaku sabar. Ia kata.
"Nona Oey yang begitu muda muda masih bukan tandinganku, apapula kau? Ilmu silat dari Tho Hoa To adalah ilmu silat yang aku paling kagumi…"
"Eh, Bwee Suci, kau masih hendak membilang apa lagi?"
Oey Yong tanya.
"Mustahilkah di kolong langit ini ada orang yang terlebih lihay daripada ayahku?"
"Tidak bisa, kita mesti bertempur satu kali lagi!"
Tiauw Hong berkukuh. Ia tutup perkataannya itu dengan sambaran tangannya. Kwee Ceng berkelit. Sampai di situ ia habis sabarnya.
"Kalau begitu, silahkan Bwee Cianpwee memberikan pengajaran padaku!"
Katanya. Ia lantas menyerang dengan hebat, suara anginnya mendesir. Tiauw Hong mengancam dengan cengkeramannya.
"Kau gunai serangan yang tak ada suaranya!"
Kata wanita kosen ini.
"Dengan pukulanmu yang bersuara itu, aku bukan tandinganku!"
Kwee Ceng berlompat beberapa tindak.
"Guruku she Kwa yang besar budinya tidak leluasa matanya,"
Berkata Kwee Ceng.
"Kalau lain orang menggunai tinju tak bersuara menghina dia, aku mestinya sangat membenci lawannya itu, karena itu, mana dapat aku berlaku demikian terhadapmu? Tadi aku telah tergores racunmu, untuk membela diri aku menggunai tinju tanpa bersuara itu. Kalau sekarang kita bertempur pula dengan aku menggunai caraku itu, aku tidak berlaku secara terhormat."
Mendengar suara orang bersungguh-sungguh, hati Tiauw Hong tergerak juga.
"Ini anak muda baik hatinya,"
Ia berpikir. Tapi ia membentak.
"Aku menitahkan kau berkelahi dengan tinjumu tanpa bersuara, aku ada punya caraku untuk memecahkannya! Perlu apa kau banyak rewel seperti wanita tua?!"
Kwee Ceng melirik kepada si baju hijau, ia berpikir;
"Mungkinkah dalam sekejap saja ia telah mengajarkan wanita ini ilmu memecahkan pukulanku tanpa bersuara itu?"
Tapi karena orang sangat mendesak, ia menyahuti.
"Baiklah, Bwee Cianpwee, akan aku mencoba melayani kau lagi limabelas jurus!"
Pemuda itu memikir untuk mengulangi limabelas jurusan itu, umpama kata ia tidak bisa menghajarnya, ia pun dapat membela diri.
Ia lantas berlompat maju, ia mulai menyerang dengan perlahan.
Justru itu segera ia mendengar suara "Ser"
Di sampingnya, ia dapatkan tangannya Tiauw Hong sudah menbangkol ke arah lengannya itu, orang seperti melihat gerakan tangannya -tangan kiri yang dipakai untuk menyerang itu, terus ia menggeser ke kiri juga, untuk dari sini mengulangi serangan, tetap dengan cara ayal-ayalan.
Kembali ia menjadi heran.
Baru tangannya itu dikeluarkan, Tiauw Hong seperti sudah mengetahui serangannya itu, ia mendahului menyerang -cepat melawan lambat.
Ia berkelit, ia kurang sebat, hampir ia kena dijambret.
Baca Juga: Persekutuan Pedang Sakti 7
Baca Juga: Raja Silat 7