Ceritasilat Novel Online

Pendekar Pemanah Rajawali 6

Eps 6 Pendekar Pemanah Rajawali - Jin Yong

Baca online Pendekar Pemanah Rajawali - Jin Yong

Cersil Pendekar Pemanah Rajawali - Jin Yong.

Dua saudara itu menurut, begitupun yang lainnya, mereka semua mundur. Tiauw Hong pun sudah berhenti bersilat, ia hanya bernapas memburu. Oey Yong sudha lantas menghampirkan murid ayahnya itu.

"Kali ini kau telah berjasa!"

Katanya.

Tapi kepada Kwee Ceng ia memberi tanda dengan gerakan tangan, agar sahabatnya itu melemparkan tubuh orang.

Kwee Ceng mengerti, untuk simpangi perhatian si Mayat Besi, ia memberi keterangan atas pertanyaan orang tadi.

Akhirnya ia berkata.

"Nah, kau ingatlah baik-baik!"

Berbareng dengan itu, dengan mengerahkan tenaga, ia melemparkan tubuh si nyonya sampai jauhnya setombak lebih, ia sendiri segera lompat mundur.

Hanya, belum lagi ia menaruh kaki di tanah, cambuk perak yang bergemerlapan sudah lantas menyambar kepadanya.

Cambuk itu ada banyak gaetannya.

"Celaka!"

Teriak Han Po Kie, yang menyaksikan bahaya mengancam muridnya.

Tanpa ayal lagi ia menyerang dengan Kim-liong-pian, cambuknya, si Naga Emas.

Maka kedua cambuk itu beradu keras.

Ia kaget, telapakan tangannya sakit.

Cambuknya itu terlepas, terlibat dan tertarik sama cambuknya Bwee Tiauw Hong.

Ia menyerang Kwee Ceng begitu lekas ia dapatkan tubuhnya dilemparkan.

Ketika ia jatuh ke tanah, lebih dahulu ia menampa dengan tangannya, habis itu ia duduk dengan hati-hati.

Ia ketahui datangnya Kanglam Liok Koay begitu lekas ia dengar suaranya Kwa Tin Ok.

Ia mendongkol berbareng khawatir.

Ia pikir.

"Aku cari mereka ke mana-mana, hari ini mereka mengantarkan diri. Coba hari bukannya hari ini, pasti aku bersyukur sangat kepada Langit dan Bumi. Sekarang ini aku lagi dikurung oleh musuh, aku hampir tidak dapat bertahan, jikalau aku mesti tambah musuh dalam dirinya Tujuh Manusia Aneh ini, pastilah aku bakal binasa…."

Ia lantas mengertak gigi. Ia lantas mengambil keputusan.

"Nio Lao Koay beramai tak ada permusuhannya dengan aku, maka hari ini baiklah aku terbinasa bersama-sama dengan Cit Koay saja!"

Ia cekal keras cambuknya, ia memasang kuping, akan dengari gerak-geriknya Cit Koay itu. Ia tahu orang muncul yang berenam, ia heran.

"Dari Cit Koay cuma muncul yang enam, entah yang satunya lagi bersembunyi di mana…?"

Ia tidak tahu yang Siauw Bie To Thio A Seng telah terbinasa di tangan suaminya.

Liok Koay bersama rombongannya Nio Cu Ong berdiam semua, mereka pun memernahkan diri di jarak tujuh tombak dari wanita kosen itu yang cambuknya sangat lihay.

"Anak Ceng, kenapa mereka itu bertempur?"

Cu Cong berbisik kepada muridnya.

"Kua sendiri, mengapa kau bantui perempuan siluman itu?"

"Mereka hendak membunuh aku, dia menolongi,"

Jawab Kwee Ceng. Biauw Ciu Sie-seng heran.

"Aku minta kau memberitahukan nama kamu?!"

Nio Cu Ong menegur Kanglam Liok Koay.

"Tengah malam buta, kau lancang masuk ke dalam istana, kamu hendak berbuat apa?"

"Aku she Kwa,"

Menyahut Tin Ok.

"Kami bersaudara bertujuh orang. Orang Kangouw menyebut kami Kanglam Cit Koay."

"Oh, Kanglam Cit Koay!"

Kata Pheng Lian Houw.

"Sudah lama aku mengagumi nama kamu!"

See Thong Thian tapinya berteriak.

"Bagus! Cit Koay telah datang sendiri! Aku orang she See hendak belajar kenal, untuk melihat Cit Koay yang namanya demikian besar, kepandaiannya sebenarnya bagaimana!"

Thong Thian gusar karena ia ingat penghinaan yang diterima empat muridnya.

Ia lantas lompat ke depannya Pheng Lian Houw.

Auwyang Kongcu berdiam sambil bersiap.

Ia bermusuh dengan Liok Koay dan Bwee Tiauw Hong, yang satu merusak usahanya, yang lainnya membinasakan muridnya atau gundiknya tersayang.

Inilah ketikanya untuk turun tangan.

See Thong Thian maju sambil mengawasi keenam Manusia Aneh itu.

Ia dapatkan Kwa Tin Ok bercacat mata dan kakinya, Han Siauw Eng satu nona yang manis, Coan Kim Hoat kurus kering, Han Po Kie kate dampak dan gemuk, sedang Cu Cong lemah lembut bukan seperti orang Rimba Persilatan.

Cuma Lam San Ciauw-cu Lam Hie Jin, yang romannya gagah.

Karena itu, segera ia serang si Tukang Kayu dari gunung Lam San itu.

Lam Hie Jin menancap pikulannya, tanpa bersuara, ia menangkis serangan.

Ia lihay akan tetapi baru beberapa jurus, tahulah ia bahwa ia bukannya tandingan musuh she See itu.

Karena ini, Han Siauw Eng lantas maju dengan pedangnya dan Coan Kim Hoat dengan dacinnya.

Pheng Lian Houw tidak berdiam saja melihat kawannya dikerubuti, sambil berseru keras, ia lompat maju akan rintangi Coan Kim Hoat, yang senjatanya yang luar biasa itu hendak dirampasnya.

Tapi Kim Hoat lihay, gerakannya aneh, ia serangn musuh ini hingga si musuh kaget dan mesti berkelit dengan lompatan jungkir balik "Ular naga membalik tubuh."

"Eh, senjata apa senjata kau ini?"

Dia tanya, heran, sesudah berkelit ke kiri dan ke kanan.

"Ini toh barang yang diperantikan menimbang di pasar tetapi kau pakai untuk menyerang orang!"

Coan Kim Hoat mendongkol dan menyahut.

"Dacin ini untuk menimbang kau, babi!"

Lian Houw murka dikatakan babi, lantas ia menyerang dengan hebat, hingga ia membikin Kim Hoat terdesak.

Meyaksikan saudara keenamnya itu kewalahan, Han Po Kie berlompat maju.

Cambuknya kena dirampas Bwee Tiauw Hong tetapi ia punyakan kepalannya.

SeeThong Thian dan Pheng Lian Houw benar lihay, walaupun mereka dikepung, mereka masih menang diatas angin.

Karena ini, Kwa Tin Ok dan Cu Cong lantas maju, untuk membantui saudara-saudaranya itu, dengan begitu, mereka jadi bertempur dalam dua rombongan dengan masing-masing tiga lawan satu.

Kali ini pihak Liok Koay yang menang di atas angin.

Pertempuran di antara Oey Yong dan Hauw Thong Hay juga berjalan dengan seru.

Sebenarnya Thong Hay lebih lihay terapi ia kalha gesit dan ia pun jeri untuk beju lapis si nona, dari itu tidak berani ia menghajar tubuh orang.

Karena ini Oey Yong yang dapat mendesak, hingga lawannya itu main mundur.

Auwyang Kongcu telah memasang mata, ia ketahui pihaknya keteter, maka ia lantas mengambil keputusan.

"Baiklah aku binasakan dulu ini beberapa manusia jahat. Si wanita siluman, biar bagaimana tidak nanti ia dapat kabur, dia boleh dibereskan belakangan…"

Segera ia lompat ke sampingnya Kwa Tin Ok. Ia bergerak dengan jurus "Sekejap seribu lie"

Dari ilmu silatnya Sin To Soat-san-ciang. Ia pun lantas membentak.

"Kamu usilan, bangsat buta, maka kau rasailah lihaynya kongcumu!"

Lalu tangannya kanannya meninju.

Kwa Tin Ok mendengar suara angin di kanan, ia menangkis dengan ujung tongkatnya, tetapi ia kebogehan, sebab serangan datang dalam rupa tangan kiri lawan.

Ia lantas saja berkelit denagn mendak, berbareng dengan mana, ia menyerang pula dengan jurusnya "Arhat menunjuk pengaruh".

Auwyang Kongcu menyingkir dari serangan itu, tetapi ia bukannya menyingkir untuk berlari, hanya ia lompat kepada Lam Hie Jin, yang ia terus serang, hingga Hie Jin terkejut dan mesti berbalik akan melayani.

Melayani Hie Jin pun Auwyang Kongcu pun tidak mau mengulur tempo, ia lantas tinggalkan musuh ini, untuk menyerang yang lain.

Begitu ia berkelahi, hingga ia menempur Liok Koay dengan bergantian.

Maka teranglah, ia tengah mengganggu musuh-musuhnya itu, hingga Pheng Lian Houw dan See Thong Thian jadi dapat bernapas.

Suasana kembali terbalik, Liok Koay yang mulai keteter pula.

Nio Cu Ong sementara itu terus memasang matanya terhadap Kwee Ceng, maka tempo ia menginsyafi aksinya Auwyang Kongcu itu, ia lantas lompat kepada bocah itu sambil ulur tangannya, ia menjambret dengan kedua tangannya.

Kwee Ceng bukan tandingan jago ini, dalam beberapa jurus saja ia sudah terdesak, malah lekas juga dadanya kena dicengkram.

Dengan tangan kanannya, Cu Ong menjambak ke arah perut, untuk membikin pecah perut orang, supaya ia bisa menghisap darah anak muda itu.

Dalam saat berbahaya itu, Kwee Ceng membela diri.

Ia mengkeratkan perutnya, hingga terdengar suara robek dari bajunya, hingga belasan bungkusan obatnya kena disambar musuh.

Nio Cu Ong dapat mencium bau obat, ia masuki semua bungkusan itu ke dalam sakunya, setelah mana kembali ia menjambak.

Kwee Ceng berontak sekuat-kuatnya, ia dapat meloloskan diri, terus ia lari ke arah Bwee Tiauw Hong sambil berteriak.

"Tolongi aku!"

Girang Tiauw Hong mendengar suara orang. Ia memang ingin meminta beberapa keterangan pula kepada anak muda itu.

"Kau peluki aku! Jangan takuti Lao Kaoy!"

Ia menyahuti.

Kwee Ceng tahu, satu kali ia peluk wanita itu, ia tidak bakal lolos pula, karena itu, ia tidak berani menghampirkan, ia hanya lari berputaran dekat, di sekitarnya.

Nio Cu Ong memburu, hingga ia memasuki kalangan smabaran cambuknya si wanita kosen, sembari mengejar, ia waspada terhadap nyonya itu terutama terhadap cambuknya.

Bwee Tiauw Hong sendiri memperhatikan suaranya Kwee Ceng, gerak-geriknya, maka juga mendadak saja ia geraki cambuknya, untuk merabu kakai si anak muda!

Oey Yong melayani Hauw Thong Hay dengan selalu memperhatikan Kwee Ceng.

Ia terkejut ketika Kwee Ceng kena dijambret Nio Cu Ong, untuk menolongi, sudah tidak keburu lagi.

Sekarang ia melihat kawannya terancam cambuknya Tiauw Hong, ia dapat menolong, maka dengan meninggalkan Thong Hay, ia lompat ke arah cambuk!

Ia tidak takuti cambuk itu, meskipun ia tahu, kecuali ayahnya, sukar dicari orag yang bisa mengalahkannya.

Ia pun bukannya hendak menangkis, hanya ia berlompat ke atas cambuk di mana ia menggulingkan tubuhnya.

Kwee Ceng tertolong dari bahaya tetapi sekarang Oey Yong yang kena kelibat cambuk itu, yang terus ditarik Bwee Tiauw Hong.

Atas itu Oey Yong lanats berseru.

"Bwee Jiak Hoak, beranikah kau melukai aku?!"

Kaget Tiauw Hong mengenali suaranya Oey Yong, hingga ia memandikan peluh dingin. Dia pun berpikir.

"Cambukku banyak gaetannya, sekarang aku lukai budak ini, bagaimana suhu dapat mengampunkan aku? Tapi sudah terlanjur, baiklah aku habiskan dia dulu!"

Maka dia terus menarik, hingga ia dapat cekal tubuh si nona, untuk diletaki di tanah.

Ia percaya tubuh si nona itu sudah tercengkeram pelbagai gaetan cambuknya.

Justru itu Oey Yong tertawa geli.

Ia memakai lapisan joan-wie-kah, tubuhnya tidak terluka, melainkan baju luarnya dan dalamnya pada robek.

Dengan jenaka ia berkata.

"Kau merusaki pakaianku, aku minta ganti!"

Tiauw Hong melongo. Dari suaranya orang, ia dapat tahu nona itu tidak kesakitan. Dengan tiba-tiba ia ingat, maka katanya dalam hatinya.

"Ah, tentu saja baju lapis berduri dari suhu telah diberikan padanya!"

Ia lantas menyahuti.

"Ya, encimu ini yang salah, nanti aku pasti mengganti bajumu ini…"

Oey Yong lantas menggapai pada Kwee Ceng.

Anak muda itu menghampirkan, ia berdiri jauhnya tujuh atau delapan kaki dari Tiauw Hong.

Sekarang ia tidak dihampirkan oleh Nio Cu Ong, yang jeri kepada cambuknya si wanita lihay itu.

Kanglam Liok Koay sekarang berkelahi dengan mengumpulkan diri, belakang dengan belakang, denagn begitu mereka dapat melayani See Thong Thian, Pheng Lian Houw, Hauw Thong Hay dan Auwyang Kongcu berempat.

Thong Hay ditinggalkan Oey Yong, ia lantas membantui kawannya itu.

Inilah cara berkelahi yang Liok Koay baru pahamkan dan melatih selama mereka berdiam di gurun pasir.

Dengan begitu, mereka tidak usah repot-repot menjagai punggung mereka.

Meski begini, mereka keteter juga.

Han Po Kie terluka pundaknya, ia berkelahi terus.

ia takut keluar dari kalangan, khawatir nanti benteng perlawanannya itu menjadi dobol.

Ia berkelahi sambil menggertak gigi, sebab Pheng Lian Houw yang lihay sudah cecar padanya.

Kwee ceng lihat gurunya yang nomor tiga itu terancam bahaya, melupakan segala apa, ia lari menghampirkan, terus ia serang bebokongnya Pheng Lian Houw dengan jurusnya.

"Membuka mega untuk menolak rembulan."

"Hm!"

Pheng Lian Houw mengasih dengar suara si hidung.

Ia berkelit, lantas ia memutar tubuh untuk membalas menyerang.

Justru itu terlihat muncul dari gombolan pohon bunga, sambil berlari-lari mendatangi, dia berseru.

"Semua suhu, ayahku ada urusan penting untuk mana ia minta bantuan kamu! Lekas!"

Orang itu mengenakan kopiah emas, kopiahnya miring. Ialah siauw-ongya Wanyen Kang, si pangeran muda. Pheng Lian Houw semua menjadi bingung. Masing-masing mereka lantas berpikir.

"Ongya adalah yang mengundang kami semua, sekarang dia ada punya urusan penting, cara bagaimana aku tidak pergi membantu dia?"

Karena ini, mereka lantas lompat mundur, keluar dari gelanggang.

"Ibuku telah dibawa buron penjahat,"

Wanyen Kang beritahu dengan perlahan.

"Ayah minta semua suhu membantu mencari, untuk menolongi. Tidak nanti kami berani melupakan budi suhu semua!"

Pangeran ini datang secara kesusu, malampun gelap, ia tidak dapat melihat Bwee Tiauw Hong, yang numprah di tanah.

"Onghui telah orang bawa lari, inilah hebat!"

Pikir Lian Houw semua.

"Kalau begitu, apa perlunya kami berdiam di dalam istana?"

Mereka juga menduga.

"Pasti Liok Koay ini lagi menjalankan siasat memancing harimau turun dari gunung, untuk melibat kami semua. dilain pihak, kawannya pergi menculik onghui!"

Karena ini tanpa sangsi lagi, mereka lari mengikuti Wanyen Kang, mereka meninggalkan musuh-musuh mereka.

Nio Cu Ong berlari paling belakang, ia pergi dengan perasaan sangta tidak puas.

Ia ingat Kwee Ceng darah siapa ia belum sempat hisap.

Justru itu, Kwee Ceng teriakin dia.

"Eh, kau pulangi obatku!"

Dalam sengitnya, ia menimpuk dengan senjata rahasianya, yaitu paku Cu-ngo Touw-kut-teng.

Cu Cong lompat maju, dengan kipasnya ia sampok paku itu, sesudah jatuh ia pungut, terus dibawa ke hidungnya, untuk dicium.

"Oh, paku beracun Cu-ngo Touw-kut-teng! Inilah paku yang asal menemui darah lantas menutup tenggorakan orang hingga orang mati seketika!"

Nio Cu Ong tercengang mengetahui orang kenal pakunya itu.

"Apa?"

Dia menanya seraya ia merandak, tubuhnya pun diputar. Cu Cong lari menghampirkan, dengan tangan kirinya ia angsurkan paku itu.

"Ini , aku kembalikan pada kau, tuan!"

Katanya sembari tertawa.

Cu Ong pun ulur tangannya untuk menyambuti.

Ia tidak jeri karena ia tahu orang kalah daripadanya.

Cu Cong dapat lihat ujung baju orang penuh rumput dan debu, ia gunai tangan bajunya untuk menyapu itu.

"Siapa kesudian kau mengambil hatiku?!"

Cu Ong membentak, terus ia putar tubuhnya untuk berlalu. Kwee Ceng menjadi masgul sekali.

"Dengan begitu saja kita pulang…"

Katanya menyesal. Satu malaman ia menumpuh bahaya, kesudahannya obat tak didapatkan juga. Untuk menggunai kekerasan, harapannya tidak ada.

"Mari kita pulang!"

Mengajak Tin Ok selagi muridnya ragu-ragu. Ia pun mendahului lompat ke tembok, maka lima saudaranya lantas menyusul.

"Bagaimana dia, toako?"

Han Siauw Eng tanya sambil ia menunjuk Tiauw Hong.

"Kita telah memberikan janji kepada Ma Totiang, biar kita mengasih ampun padanya,"

Sahut kakak tertua itu. Oey Yong tertawa haha-hihi, ia tidak memberi hormat kepada Liok Koay. Ketika ia pun lompat ke tembok, ia naik ke ujung lainnya.

"Adik kecil, mana suhu?"

Tiauw Hong tanya nona itu.

"Ayahku?"

Balik tanya Oey Yong masih tertawa.

"Tentu sekali ayah berada di pulau Thoa Hoa To! Tidak pernah ayah meninggalkan rumah! Ada apa kau menanyakannya?"

Tiauw Hong menjadi sangat gusar, hingga napasnya memburu. Ia tahu ia tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah berhenti sejenak, ia kata pula.

"Kau toh yang membilangnya kalau suhu datang ke mari!"

Oey Yong tertawa pula.

"Tanpa aku dustakan kau, mana kau mau lepaskan dia?"

Dengan "dia"

Ia maksudkan Kwee Ceng.

Tiauw Hong murka bukan kepalang, dengan kedua tangannya ia menekan tanah, lantas saja ia bangkit berdiri, lalu dengan tindakan terhuyung-huyung, ia menubruk kepada si nona.

Ia telah keliru menyakinkannya ilmu silat dala, akibatnya kedua kakinya mati, dan makin ia memaksakan diri, makin pendek napasnya.

Tapi kali ini, ia lupa segalanya.

Oey Yong terkejut, lekas ia lompat turun ke lain sebelah, untuk lari menghilang.

Tiba-tiba Tiauw Hong sadar.

"Eh, mengapa aku bisa jalan?"

Tanyanya pada diri sendiri.

Justru ia sadar, habis ia menanya, mendadak ia roboh pula, kedua kakinya lemas dan kaku.

Ia pun pingsan.

Gampang sekali kalau Liok Koay hendak merampas jiwa orang akan tetapi untuk menepati janji kepada Ma Giok, mereka tidak mau turun tangan, maka itu mereka berlalu dengan terus.

Mereka ajak Kwee Ceng bersama.

"Eh, anak Ceng, kenapa kau berada disini?"

Kemudian Han Siauw Eng menanya. Kwee Ceng menjawab guru ini dengan tuturkan semua pengalamannya, sampai ia berikhtiar untuk menolongi Ong Cie It.

"Kalau begitu, mari kita tolongi Ong Totiang!"

Cu Cong mengajak.

Bab 23.

Bisa Lawan Bisa Yo Tiat Sim girang bukan main dapat menemukan istrinya, malah ia dapat menolongi juga, dari itu ia pondong erat-erat istrinya itu ketika ia lari keluar dengan melompati tembok istana.

Di bawah tembok, Liam Cu menantikan ayahnya dengan pikiran tegang.

Ia tidak sabaran dan cemas juga.

Ia heran ketika ia lihat ayahnya kembali dengan memondong seorang wanita.

"Ayah, siapa ini?"

Ia lantas tanya.

"Inlah ibumu!"

Sahut ayah itu.

"Mari lekas kita menyingkir!"

Liam Cu kaget dan heran.

"Ibuku?"

Ia menegasi.

"Perlahan!"

Tiat Sim mengasih ingat.

"Sebentar kita bicara."

Ia sudah lantas lari.

Kira-kira serintasan, Pauw Sek Yok tersadar.

Ketik aitu fajar sudah menyingsing, di antara cahaya pagi remang-remang, ia lihat orang yang memondongnya, ialah suami yang ia buat pikiran siang dan malam.

Ia heran hingga ia menyangka ia sedang bermimpi.

Ia ulur tangannya, akan meraba muka suaminya.

"Toako, apakah aku juga sudah mati?"

Ia tanya. Ia percaya suaminya itu sudah meninggal dunia. Tiat Sim girang hingga ia mengucurkan air mata.

"Kita tidak kurang suatu apa…."

Sahutnya halus.

Ia berhenti dengna tiba-tiba sebab kupingnya segera dengar suara berisik berupa teriakan-teriakan dan melihat cahaya terang dari banyak obor.

Satu barisan serdadu sedang lari mendatangi.

Ia dengar nyata.

"Jangan kasih lolos penjahat yang menculik onghui!"

Tiat Sim menjadi kecil hatinya.

Ia melihat kesekelilingnya, ia tidak dapatkan tempat untuk menyembunyikan diri.

Di dalam hatinya ia kata.

Thian mengasihani aku hingga hari ini aku dapat bertemu sama istriku kembali, kalau sekarang akan terbinasa, tak usah aku menyesal…!"

Lantas ia kata pada anaknya.

"Liam Cu, anakku, kau peluklah ibumu…!"

Sejenak itu terbayanglah di matanya Pauw Sek Yok pengalamannya delapan belas tahun yang lampau, pada peristiwa di dusun Gu-kee-cun di kota Lim-an, di kampung halamannya itu.

Ia dipondong oleh suaminya dan dibawa lari sekuat-kuatnya, di dalam gelap petang mereka dikejar tentara.

Delapanbelas tahun lamanya mereka telah berpisah, ia berduka dan terhina saking terpaksa, atau sekarang, baru saja ia bertemu kembali dengan suaminya, peristiwa dahulu bakal terulang pula.

Maka ia rangkul leher suaminya, tidak mau ia melepaskannya.

Menampak tentara pengejar datang semakin dekat, Yo Tiat Sim menjadi nekat.

daripada terhina ia rela terbinasa dalam pertempuran.

Dari itu ia paksa melepaskan rangkulan istrinyaitu yang ia serahkan kepada anak gadisnya.

Ia lantas lari memapaki tentara pengejarnya.

Dalam dua tiga gebark saja, ia telah dapat merampas sebatang tobak.

Senjata ini membangunkan semangatnya, ia bagaikan harimau tumbuh sayap.

Opsir yang memimpin pasukan itu bernama Thung Couw Tek, dia kena ditusuk pahanya hingga ia terjungkal dari kudanya, atas mana tentaranya lantas kabur serabutan.

Tanpa pemimpinnya, mereka ketakutan.

Lega juga hatinya Tiat Sim yang mengathui pasukan itu tidak dipimpin oleh opsir yang kosen, ia pun menyesal yang ia tidak sempat merampas kuda musuh.

Tidak ayal lagi, ia ajak istri dan anaknya lari terus.

Setelah terang tanah, Pauw Sek Yok dapatkan suaminya berdarah di sana sini.

Ia menjadi kaget sekali.

"Kau terluka?"

Ia tanya.

Di tanya begitu, tiba-tiba saja Tiat Sim merasakan sakit pada belakang telapakan tangannya.

baru sekarang ia ingat tadi ia telah dismabar sepuluh jari tangannya Wanyen Kang, hingga tangannya itu mengeluarkan darah, karena repot melarikan diri, ia tidak rasai itu, ia lupa pada sakitnya.

Sekarang ia pun merasakan kedua lengannya sakit dan sukar digeraki.

Pauw Sek Yok lantas balut tangan suaminya itu.

Hampir itu wkatu kembali terdengar suara sangat berisik, lalu terlihat debu mengepul baik dan mengulak.

Itulah tandanya satu pasukan besar lagi mendatangi.

"Sudahlah, tak usah dibalut….!"

Kata Tiat Sim sambil menyeringai. Ia lantas menoleh kepada gadisnya dan kata. Anak, kau menyingkirlah seorang diri! Ibumu dan aku akan berdiam disini…."

Liam Cu tidak menangis, hatinya tegang sekali. Ia menginsyafi bahaya, tapi ia menajadi tenang. Ia angkat kepalany.

"Biarlah kita bertiga mati bersama!"

Katanya gagah. Sek Yok heran, ia mengawasi nona itu.

"Dia…dia mengapa adalah anak kita?"

Dia tanya.

Tiat Sim hendak menjadwab istrinya tetapi ia daptakan tentara itu sudah semakin mendekat, justru itu, dilain jurusan ia melihat datangnya dua imam yang satu berkumis dan rambutnya ubanan, wajahnya sangat berwales asih, yang lain kumisnya abu-abu, sikapnya gagah, dibelakangnya tergendol sebatang pedang.

Melihat mereka itu, Yo Tiat Sim tercengang, lantas ia sadar.

Dalam kegirangan sangat, ia berseru menyapa salha satu imam itu.

"Khu Totiang, hari ini kembali aku bertemu denganmu!"

Imam itu memang Tiang Cun Cu Khu Cie Kee serta saudara seperguruannya, Tan Yang Cu Ma Giok.

Mereka hendak menempati janji dengan Giok Yang Cu Ong Cie It, akan bertemu di kota raja, guna membicarakan urusan pibu dengan pihak Kanglam Liok Koay.

berdua mereka datang dengan terburu-buru, di luar dugaan, di sini mereka bertemu dengan Yo Tiat Sim suami-istri.

Khu Cie Kee telah sempurna Iweekangnya, maka sekalipun telah bertambah delapan belas tahun umurnya, wajahnya tetapi seperti dahulu hari itu, cuma rambutnya yang berubah.

Karena itu ia tidak lantas mengenal waktu ia dipanggil dan melihat Tiat Sim, hingga ia mengawasi saja.

Tiat Sim bisa menduga orang lupa padanya, ia berkata.

"Apakah totiang masih ingat peristiwa delapan belas tahun yang lampau di dusun Gu-kee-cun di Liman, tatkala selagi kita minum arak kita menumpas musuh?"

"Jadinya tuan….!"

Menegaskan imam itu.

"Aku yang rendah ialah Yo Tiat Sim,"

Tiat Sim berkata cepat.

"Semoga totiang tidak kurang suatu apa."

Habis berkata, orang she Yo itu lantas menjatuhkan diri berlutut di depan orang suci itu.

Tiang Cun Cu lekas membalas hormat, tetapi ia tetap ragu-ragu.

Setelah hampir duapuluh tahun, disebabkan penderitaannya, Tiat Sim berubah roman dan suaranya juga.

Orang she Yo ini bisa mengerti kesangsiannya si imam.

Di lain pihak hatinya tegang melihat tentara pengejar telah mendatangi semakin dekat.

Mendadak saja ia geraki tombaknya dan menikam imam itu dengan tipu tombaknya.

Ia pun berseru.

"Khu Totiang, kau telah melupakan aku tetapi kau tentu tidak dapat melupakan ini ilmu tombak dari keluarga Yo!"

Tiang Cun Cu terkejut tetapi ia mundur.

Ia lantas mengenali ilmu tombaknya Keluarga Yo itu, maka sekarang ia ingat ebtul peristiwa delapanbelas tahun dulu ketika ia mencoba ilmu silat orang.

Ia menjadi girang bercampur terharu dapat bertemu sama kenalan lama ini.

"Oh, Yo Laotee!"

Katanya.

"Kau masih hidup….!"

Tiat Sim tarik pulang tombaknya. Ia tidak sahuti imam itu, hanya lantas ia kata.

"Totiang, tolongilah aku!"

Imam itu bisa mengerti keadaan orang. Ia menoleh ke arah tentara pengajar. Lantas ia tertawa.

"Suheng, hari ini kembali aku mesti membuka pantangan membunuh!"

Katanya, kepada saudara seperguruannya.

"Aku harap kau tidak gusari aku!"

Ma Giok mengerti, ia menjawab.

"Kurangilah pembunuhan! Gertak saja meraka itu!"

Khu Cie Kee tertawa nyaring dan lama, lantas ia maju ke arah tentara itu, yang sudah lantas sampai, malah mendapatkan dia menghalang-halangi, mereka itu terus menerjang dengan begis.

Dengan hanya mementang kedua tangannya, ia lantas menarik roboh dua serdadu berkuda itu, tubuh siapa terus ia timpuki ke serdadu yang lainnya yang lagi mendatangi.

Maka lagi dua serdadu roboh pingsan.

Luar biasa sebatnya imam ini, dengan cara itu ia robohkan lagi delapan serdadu, delapan-delapannya ia timpuki bergantian kepada kawan mereka, maka lagi-lagi ada delapan serdadu yang terguling.

Kejadian ini membikin kaget serdadu-serdadu yang lainnya, mereka lantas putar kuda mereka, untuk lari balik.

Belum lagi semua serdadu kabur, di antara mereka muncul seorang yang tubuhnya besar dan kekar, yang kepalanya licin mengkilap.

Dia membentak.

"Darimana datangnya si bulu campur aduk ini!"

Lantas tubuhnya mencelat ke depan Tiang Cun Cu, yang terus ia serang. Kata-kata "bulu campur aduk"

Itu adalah hinaan untuk suatu imam.

Tiang Cun Cu tidak menghiraukan itu, hanya melihat orang demikian lincah, ia hendak menguji tangan orang.

Ia tangkis seragan itu.

Kedua tangan beradu dengan keras dan bersuara nyaring, habis itu keduanya mundur sendirinya masing-masing tiga tindak.

Khu Cie Kee heran hingga ia kata di dalam hatinya.

"Kenapa di sini ada orang begini lihay?"

Selagi si imam ini terheran-heran, adalah Kwie-bun Liong Ong – demikian si lanang itu – merasakan tangannya sakit, hingga ia kaget berabreng mendongkol, maka sekali ia maju menyerang.

Kali ini Khu Tiang Cun tidak berani bergerak sembarangan, dengan sabar ia melayani, sesudah belasan jurus, tangannya menyampok kepala orang hingga di kepalanya See Thong Thian bertapak lima jari berwarna merah.

Orang she See ini insyaf, dengan tangan kosong ia tidak bisa berbuat apa-apa, lantas ia meraba pada pinggangnya di mana ia selipkan genggamannya yang berupa pengayuh besi yang berat, dengan itu ia menyerang pula, menghajar pundak si imam dengan jurusnya "Souw Cin menggendol pedang".

Khu Cie Kee tetap bertangan kosong, setelah berkelit, ia membalas menyerang.

Ia bersedia melayani musuh yang bersenjata itu.

Adalah masksudnya, untuk merampas senjata lawan.

Tetapi See Thong Thian telah punyakan latihan beberapa puluh tahun, tak gampang senjatanya itu dapat dirampas.

Sebaliknya, dia bergerak dengan gesit sekali.

Tiang Cun Cu heran juga atas kegagahan orang, hingga ia ingin tanya she dan namanya lawan ini.

Hanya, belum sampai ia membuka mulutnya, dari belakang ia dengar ini pertanyaan yang nyaring sekali.

"Kau ada totiang mana dari Coan Cin Kauw?"

Ia lantas berlompat, untuk menoleh, hingga ia melihat empat orang berdiri berendeng.

Itulah Nio Cu Ong bersama Pheng Lian Houw, Auwyang Kongcu dan Hauw Thong Hay yang telah lantas dapat menyusul See Thong Thian.

Khu Cie Kee lantas mengangguk kepada mereka itu seraya memberikan penyahutannya.

"Pinto she Khu. Pinto mohon tanya nama mulia dari tuan-tuan."

Nama Tiang Cun Cu kesohor sekali di Selatan dan Utara, maka itu Pheng Lian Houw berempat saling mengawasi, hati mereka berkata.

"Pantaslah dia bernama besar, dia memang gagah."

Pheng Lian Houw sendiri berpikir lebih jauh.

"Kita sudah melukakan Ong Cie It, itu artinya ganjalan dengan Coan Cin Kauw, sekarang kita bertemu sama Khu Cie Kee, baiklah ia sekalian dibunuh saja! Ini adalah ketika yang paling baik untuk mengangkat nama kita!"

Karena berpikir begini, la lantas berseru.

"Mari maju berbareng!"

Ia pun lantas mengeluarkan sepasang poan-koan-pitnya, dengan apa ia terus terjang imam itu.

Ia menerjang sambil berlompat.

Ia tahu lawan lihay, maka itu lantas ia menotok kepada kedua jalan darah kin-jie dan pek-hay-hiat.

Khu Cie Kee tidak heran yang orang sudah lantas menerjang kepadanya, ia cuma berpikir.

"Si kate ini galak sekali! Dia pun agaknya lihay!"

Ia lantas menghunus pedangnya, tetapi ia berkelit dari serangan orang, sebaliknya, ia menikam ke pinggangnya See Thong Thian.

Ketika ia telah menarik pulang pedangnya itu, ia meneruskan menikam jalna darah ciang-bun-hiat di iganya Hauw Thong Hay.

Jadi dengan sekali bergerak, imam ini telah melayani tiga lawan.

Inilah cara berkelahi yang langka.

Hampir saja Hauw Thong Hay terkena pedang, syukur ia keburu berkelit, tetapi ia kena disusuli, kempolannya kena didupak si imam.

Pheng Lian Houw dan See Thong Thian lantas menyerang, Nio Cu Ong menyusul untuk mengepung.

Orang she Nio ini terperanjat untuk kesebatannya si imam.

Auwyang Kongcu melihat bagaimana si imam ini dilibat See Thong Thian dan Pheng Lian Houw dan bagaimana Nio Cu Ong merangsak dari kirinya, ia pun lantas menggunai ketika untuk mengeroyok.

Dengan tangan kiri hanya mengancam, ia menotok dengan kipasnya di tangan kanan, mengarah tiga jalan darah hong-bwee, ceng-cok dan pwee-sim di punggung si imam.

Kelihatannya Khu Cie Kee sudah sangat terdesak, ketiga jalan darahnya itu bakal menjadi sasaran kipas yang istimewa itu, atau mendadak satu bayangan berkelebat si samping si kongcu, lalu kipasnya dia ini kena ditahan.

Itulah Ma Giok yang membantu saudaranya.

Imam ini heran mendapatkan munculnya begitu banyak orang pandai, yang terus menggeroyok saudaranya, sedangkan ia tidak mengerti, Auwyang Kongcu pun menyerang secara membokong itu, maka terpaksa ia lompat maju untuk menghalangi.

Auwyang Kongcu lihat berkelebatnya satu bayangan, sambil menarik pulang kipasnya, yang hendak dirampas, ia memandang bayangan itu, ialah seoarng imam berusia lanjut, ubanan rambut dan kumisnya.

Ia lantas menduga kepada anggota Coan Cin Kauw yang tertua.

Ia pun lompat ke belakang.

"Tuan-tuan siap?"

Tanya Ma Giok.

"Kita tidak kenal satu dengan lain, ada salah paham apakah di antara kita? Aku minta sukalah tuan-tuan menjelaskannya."

Imam ini berbicara dengan sabar sekali, suaranya halus, tidak keras dan mengagetkan seperti suaranya Pheng lian Houw, tetapi pada itu ada nada yang mengandung pengaruh, hingga dengan sendirinya orang-orang yang lagi bertempur itu pada lompat mundur, akan terus mengawasi orang suci ini.

"Apaha she totiang yang mulia?"

Auwyang Kongcu bertanya.

"Pinto berasal dari keluarga Ma,"

Ma Giok menyahut, tetap sabar.

"Oh, kiranya Tan Yang Cinjin Ma Totiang!"

Berkata Pheng Lian Houw, suaranya tetap keras.

"Maaf, maaf!"

"Pengetahuan pinto tentang agamaku masih terlalu sedikit, sebutan Cinjin itu tidak berani pinto terima,"

Menolak Ma Giok. Pheng Lian Houw mencoba bersikap halus, tetapi di dalam hatinya, ia berpikir.

"Kita telah bentrok dengan pihak Coan Cin Kauw, di belakang hari pastilah sukar untuk menyelesaikan masalah ini, sekarang dua anggota utama dari mereka berada disini, baiklah kita berlima mengepung mereka itu untuk membinasakannya. Perkara di belakangada soal lain. Hanya, apakah di sini masih ada lain-lain saudaranya….?"

Ia lantas melihat ke sekitarnya. Di situ cuma tertampak Yo Tiat Sim sekeluarga bertiga jiwa. Maka ia lantas berkata.

"Nama Coan Cin Kauw sangat kesohor, kami sangat mengaguminya. Mana lagi lima saudara totiang? Silahkan minta mereka itu sudi menemui kami."

Itulah kata-kata pancingan.

"Nama kami kosong belaka, cuma untuk ditertawakan tuan-tuan,"

Menyahut Ma Giok.

"Kami bertujuh sudara tinggal di beberapa propinsi, ada sukar untuk kami datang berkumpul. Kali ini kami datang ke Tiong-touw untuk mencari Ong Sutee, baru saja kami mendapat tahu alamatnya, justru kami hendak menjenguk dia, di sini kebetulan kita bertemu sama tuan-tuan. Ilmu silat di kolong langit ini banyak perbedaannya tetapi asal mulanya adalah satu, maka itu bagaimana pula jikalau kita mengikat persahabatan?"

Imam ini jujur, ia tidak menduga bahwa orang lagi memancing padanya.

Pheng Lian Houw girang sekali.

Orang cuma berdua dan mereka belum sempat menemui Ong Cie It.

Maka boleh ia mengeroyok.

Tapi ia masih tertawa, ia berkata.

"Totiang berdua tidak mencela kami, itulah bagus sekali. Aku she Sam dan namaku Hek Miauw."

Ma Giok dan Khu Cie Kee heran, mereka pikirkan siapa Sam Hek Miauw ini, yang namanya aneh.

Nama itu berarti Tiga Kucing Hitam.

Sama sekali mereka belum pernah mendengarnya.

Orang toh lihay….

Pheng Lian Houw selipkan senjatanya di pinggangnya, ia menghampirkan Ma Giok.

"Ma Totiang, aku merasa beruntung dengan pertemuan kita ini,"

Katanya seraya mengangsurkan tangannya, untuk berjabat tangan, tapi telapakan tangannya dibalik ke bawah.

Ma Giok menyangka orang bermaksud baik, ia pun mengulurkan tangannya, buat menyambuti.

Ia merasa orang memegang keras sekali, ia berpikir;

"Kau hendak uji tenagaku, baiklah!"

Ia tersenyum, sembari tenaganya dikerahkan.

Tiba-tiba ia merasakan lima jari tangannya sakit, seperti tertusuk jarum.

Saking kaget, ia lantas menarik pulang tangannya itu.

Pheng Lian Houw tertawa tetapi ia mencelat mundur setombak lebih.

Ma Giok melihat telapakan tangannya, lima jarinya berlobang kecil masing-masing dan bergaris hitam.

Ketika tadi Pheng Lian Houw menyelipkan senjatanya, berbareng ia menarik keluar senjata rahasianya, yaitu ban Tok-hoan-taya, yang tipis seperti benang tetapi disitu ada lima batang jarumnya, jarum yang telah dipakaikan racun yang keras seklai, siapa terluka hingga di dagingnya, dalam tempo enam jam dia bakal terbinasa.

Ia sengaja memakai nama Sam Hek Miauw, untuk membuat Ma Giok memikirkan, selagi orang tidak bercuriga, ia gunai jarum jahatnya itu.

Ketika Ma Giok insyaf ia telah dicurangi dan hendak ia menyerang, si licik sudah lompat mundur.

Khu Cie Kee heran melihat saudaranya berjabat tangan tapi sudah lantas menyerang.

"Kenapa?"

Tanyanya.

"Jahanam licik, dia telah melukai aku dengan racun!"

Menyahut Ma Giok, yang berlompat maju, untuk menyerang pula.

Khu Cie Kee kenal baik kakak seperguruannya ini, yang sangat sabar, yang untuk beberapa puluh tahun tidak pernah berkelahi, sedang sekarang ia menyerang dengan "Sam Hoa Cie Teng Ciang-hoat" , ialah ilmu pukulan paling lihay dari kaumnya, ia mengerti sebabnya kegusaran itu.

Maka ia pun menggeraki pedangnya, ia lompat maju ke depan Pheng Lian Houw, untuk menerjang.

Pheng Lian Houw sempat mencabut poan-koan-pitnya, dengan itu ia menangkis, beruntun dua tikaman, terus ia membalas satu kali.

Ia tidak tahu, tangan kirinya Tiang Cun Cu lihay seperti tangan kanannya ang memegang pedang.

Imam ini menyambuti poan-koan-pit, yang ia sambar ujungnya, terus ia menggentak ke samping seraya berseru.

"Lepas!"

Pheng Lian Houw pun ada seorang jago, senjatanya tidak terlepas, ia lawan keras dengan keras, waktu ia mengerahkan tenaga dan menarik, hebat kesudahannya, ialah poan-koan-pitnya itu terputus menjadi dua potong!

"Bagus!"

Khu Cie Kee memuji, tetapi ia terus menyerang pula dengan dua-dua tangannya.

Pheng Lian Houw segera main mundur, karena ia merasakan tangan kanannya kesemutan, hingga hatinya menjadi gentar.

Di lain pihak, See Thong Thia dan Nio Cu Ong maju memegat Ma Giok, sedang Auwyang Kongcu dan Hauw Thian Hay segera membantui Pheng Lian Houw.

Khu Cie Kee heran kenapa mendadak berkumpul orang-orang tangguh ini.

Ia ingat, semenjak menempur Kanglam Cit Koay, sudah delapan tahun belum pernah ia menemui tandingan.

Karena ini, ia bersilat dengan sungguh-sungguh.

Dikepung bertiga, Khu Cie Kee tidak jatuh di bawah angin, tidak demikian dengan kakak seperguruannya.

Tangan Ma Giok menjadi bengkak dan hitam, rasannya kaku dan gatal.

Itulah tanda bekerjanya racun dahsyat.

Inilah tidak disangka imam itu, yang menduga kepada racun biasa.

Makin ia bergerak, jalan darahnya makin cepat.

Karena menginsyafi bahaya, segera ia menjatuhkan diri untuk duduk bersemadhi, guna mencegah ransakan racun, sedang dengan tangan kirinya melindungi diri.

Nio Cu Ong menyerang terus dengan senjatanya yang merupakan gunting panjang dan See Thong Thian dengan pengagayuh besinya.

Maka itu, selang beberapa puluh jurus, Ma Giok terancam bahaya.

Ia mesti melawan musuh di luar dan di dalam tubuhnya.

Khu Cie Kee heran melihat kelakuan kakaknya itu, yang seperti dari embun-embuannya terlihat mengepul hawa seperti uap.

Hendak ia menolongi tetapi ia tidak sanggup, ketiga musuhnya mendesak keras padanya.

Benar Hauw Thong Hay rada lemah tetapi Auwyang Kongcu lebih gagah daripada Pheng Lian Houw.

Karena hatinya berkhawatir, ia kena terdesak.

Yo Tiat Sim tahu ilmu silatnya tidak berarti, akan tetapi melihat kedua imam itu terancam bahaya, ia maju menyerang Auwyang Kongcu, yang ia arah punggungnya.

"Saudara Yo, jangan maju!"

Mencegah Khu Cie Kee.

"Percuma kau mengantarkan jiwa…."

Belum habis ucapan imam ini, Auwyang Kongcu sudah menendang patah tombak orang dengan kaki kirinya dan kaki kanannya mendupak roboh orang she Yo itu.

Adalah di itu waktu, dari kejauhan terdengar lari mendatanginya beberapa ekor kuda akan kemudian ternyata, yang datang itu adalah Wanyen Lieh bersama Wanyen Kang.

Wanyen Lieh melihat istrinya duduk di tengah, ia girang, segera ia menghampirkan.

Justru itu sebatang golok menyambar kepadanya.

Syukur ia keburu berkelit.

Ia segera mendapatkan, penyerangnya itu satu nona dengan baju merah, yang goloknya lihat.

Nona itu segera dikepung pengikut-pengikutnya.

Wanyen Kang heran menampak gurunya dikepung, ia lantas berteriak.

"Semua berhenti! Tuan-tuan berhenti!"

Pangeran ini mesti berteriak beberapa kali, barulah Pheng Lian Houw semua berlompat mundur. Wanyen Kang segera menghampirkan gurunya, untuk memberi hormat.

"Suhu, mari teecu mengajar kenal,"

Katanya kemudian.

"Inilah beberapa cianpwee Rimba Persilatan yang diundang ayahku."

"Hm!"

Bersuara imam itu, yang segera menghampirkan kakaknya, yang pun sudah tidak berkelahi lagi. Ia terkejut akan melihat tangan kanan kakaknya itu menjadi hitam terus sampai di lengan.

"Ha, racun begini lihay!"

Serunya. Lantas ia berpaling kepada Pheng Lian Houw, akan perdengarkan suaranya yang keren.

"Keluarkan obat pemunahnya!"

Pheng Lian Houw bersangsi, ia melihat orang segera sampai pada ajalnya.

Ma Giok sendiri mengempos terus semangatnya, ia berhasil mencegah menjalarnya racun itu, yang perlahan-lahan mulai turun.

Wanyen Kang lari kepada ibunya, ia berkata.

"Ma, akhirnya kita dapat cari kau!"

Tapi pauw Sek Yok berkata dengan keras.

"Untuk menghendaki aku kembali ke istana, tidak dapat!"

Wanyen Kang dan Wanyen Lieh menjadi heran.

"Apa?!"

Kata mereka. Pauw Sek Yok menunjuk kepada Yo Tiat Sim, ia kata nyaring.

"Suamiku masih belum mati, meski ia pergi ke ujung langit dan pangkal laut, akan aku ikuti dia!"

Wanyen Lieh heran tetapi ia dapat segera menoleh kepada Nio Cu Ong.

Ia mengasih tanda dengan tekukan mulutnya.

Nio Cu Ong mengerti, sekejap saja ia telah menyerang Yo Tiat Sim dengan tiga batang pakunya.

Khu Cie Kee yang waspada dapat melihat serangan orang she Yo itu, ia menjadi kaget.

Ia tidak mempunyai senjata rahasia untuk mencegah paku itu.

Tiat Sim tebtu tak dapat berkelit.

Tapi ia tidak putus asa.

Ia menyambar satu serdadu di dekatnya, tubuh orang itu ia lemparkan ke arah antara paku dan Tiat Sim.

Segera terdengar jeritannya serdadu yang menjadi korban ketiga batang paku itu.

Melihat itu Nio Cu Ong menjadi gusar, ia lompat kepada si imam untuk menerjang.

Pheng Lian Houw dapat melihat suasana.

Ia memangnya tidak sudi menyerahkan obat pemunahnya.

Tidak ayal lagi ia berlompat kepada pauw Sek Yok, untuk menangkap onghui yang dicari Wanyen Lieh itu.

Khu Cie Kee melihat sepak terjang orang itu, ia pun lompat menyerang, mulanya menikam Nio Cu Ong, lalu membabat si orang she Pheng itu.

Mereka ini berdua terpaksa lompat mundur.

Khu Cie Kee segera menghadapi Wanyen Kang, yang ia bentak.

"Anak tidak tahu apa-apa, kau mengaku penjahat sebagai ayahmu selama delapan belas tahun, hari ini kau bertemu ayahmu yang sejati, kenapa kau masih tidak hendak mengenalinya?!"

Wanyen Kang memang telah mendengar keterangan ibunya, ia percaya itu delapan bagian, sekarang ia dengar perkataan gurunya ini, ia lantas menoleh kepada Yo Tiat Sim.

Ia melihat seorang dengan pakaian tua dan pecah, pakaian itu kotor dengan tanah.

Kemudian ia berpaling kepada Wanyen Lieh, ia tampak orang tampan dengan pakaian indah.

Maka dua orang itu beda bagaikan langit dengan bumi.

Ia lantas berpikir.

"Mustahilkah aku meninggalkan kekayaan dan kemulian untuk mengikuti seorang melarat, untuk hidup merantau? Tidak, berlaksa kali tidak!"

Maka ia lantas berseru.

"Suhu, jangan dengari ocehan iblis ini! Suhu, tolonglah ibuku!"

Khu Cie Kee menjadi sangat mendongkol.

"Kau sesat, kau tidak sadar, kau kalah dengan binatang!"

Ia mendamprat. Pheng Lian Houw melihat guru dan murid bentrok, mereka perkeras serangan mereka. Wanyen Kang juga mendapatkan gurunya dalam bahaya tetapi ia berdiam saja. Imam itu menjadi sangat murka.

"Binatang, lihat aku!"

Dia membentak.

Wanyen Kang berdiam, hatinya ciut.

Ia memang paling takut pada gurunya itu.

Maka ia berharap-harap Pheng Lian Houw semua memperoleh kemenangan, supaya gurunya terbinasakan, dengan begitu ia akan selamat untuk selanjutnya.

Tidak lama, lengan kanan Khu Cie Kee kena ditusuk ujung gunting Nio Cu Ong, lukanya tidak hebat tetapi mengeluarkan darah.

Ma Giok melihat bahaya mengancam, ia mengeluarkan sebiji liu-seng, ia sulut itu, lalu melemparkannya, maka suatu sinar api biru lantas meluncur ke udara.

Itulah pertandaan di antara kaum Coan Cin Pay.

"Imam tua itu mencari kawan!"

Berseru Pheng Lian Houw, lantas ia meninggalkan Khu Cie Kee untuk menyerang Ma Giok.

Ia lantas dibantu See Thong Thian.

Baru mereka ini bergebrak satu kali, di jurusan Barat Laut terlihat meluncurnya satu sinar biru juga.

"Ong sutee di arah kiri sana!"

Berseru Khu Cie Kee girang. Ia geser pedangnya ke tangan kiri terus ia menyerang hebat, hingga ia dapat membuka jalan.

"Ke sana!"

Berseru Ma Giok yang menunjuk ke arah Barat Laut.

Yo Tiat Sim bersama Liam Cu, putrinya dengan melindungi Pauw Sek Yok, lari ke arah yang ditunjuk itu, di belakang mereka, Ma Giok menyusul.

Imam ini sudah berlompat bangun.

Khu Cie Kee perlihatkan kepandaiannya, ia menghalangi di belakang.

See Thong Thian berniat mencekuk Pauw Sek Yok, ia berlompat ke depan, tetapi semua percobaannya sia-sia belaka, ia dirintangoi kalau bukan oleh Khu Cie Kee tentu oleh Ma Giok.

Tidak lama tibalah mereka di hotel kecil di mana Ong Cie It mengambil tempat.

Khu Cie Kee heran bukan main.

"Kenapa Ong Sutee masih belum menyambut?"

Ia berpikir.

Ia baru berpikir atau ia segera melihat munculnya adik seperguruannya itu, yang jalan dibantu tongkat.

Dua-dua pihak terkejut.

Mereka sama-sama tidak menyangka, dari kaum Coan Cin pay, sekarang terluka justru mereka yang paling tangguh.

"Mundur ke dalam hotel!"

Khu Cie Kee lantas berseru.

"Serahkan onghui baik-baik, aku nanti ampunkan kamu semua!"

Wanyen Lieh berseru.

"Siapa menghendaki pengampunan kau bangsat anjing dari negara Kim?!"

Mendamprat Tiang Cun Cu.

Sembari membuka mulutnya, imam ini terus membikin perlawanan dengan hebat, hingga mau tidak mau, Pheng Lian Houw semua mengaguminya.

Yo Tiat Sim menyaksikan pertempuran itu, ia anggap tidak seharusnya Khu Cie Kee bertiga menjadi korbannya, maka tiba-tiba saja ia tarik tangan Sek Yok, untuk pergi keluar, sambil ia berseru.

"Semua berhenti! Di sinilah ajal kami!"

Di tangannya Tiat Sim mencekal tombaknya, dengan itu ia lantas tikam ulu hatinya, maka ia terus roboh dengan berlumuran darah.

Sek Yok tidak berduka karenanya, ia juga tidak tubruk suaminya itu, sebaliknya ia tertawa menyeringai, terus ia cabut tombak itu dari tubuh suaminya, untuk gagangnya ditancap ke tanah.

Ia menghadap Wanyen Kang seraya berkata.

"Anak, masih kau tidak percaya ayahmu yang sejati ini?"

Tapi ia tidak menanti jawaban, segera setelah perkataan itu, ia tubruki dirinya ke ujung tombak itu, maka ia pun roboh dengan mandi darah.

kejadian ini ada sangat ehbat, semua orang tidak menduganya, maka juga pertempuran berhenti sendirinya.

Wanyen Kang sangat kaget, sambil menjerit.

"Ibu!"

Ia lari untuk menolongi ibunya itu.

Ia lantas menangis melihat dada ibunya tertancap tombak.

Khu Cie Kee lantas memeriksa lukanya kedua orang itu, ia putus asa.

Wanyen Kang memeluki ibunya, dan Liam Cu ayahnya.

Keduanya menggerung-gerung.

"Saudara Yo,"

Berkata Tiang Cun Cu pada Tiat Sim.

"Kau hendak memesan apa? Kau bilanglah padaku, nanti aku lakukan semua itu."

Belum lagi Tiat Sim sempat menjawab, orang pada menoleh ke arah mereka, karena mereka mendengar tindakan dari banyak kaki orang.

Segera mereka melihat datangnya Kanglam Liok Koay bersama Kwee Ceng.

Enam Manusia aneh itu dapat melihat See Thong Thian beramai, mereka menduga bakal terjadi pertempuran lagi, mereka lantas menyiapkan senjata mereka masing-masing.

ketika mereka sudah datang dekat, mereka menjadi heran.

Di sana ada dua orang terluka dan masing-masing tengah dipeluki dan yang lainnya mengawasi dengan roman tidak wajar.

Kwee Ceng kenali Yo Tiat Sim, segera ia menghampirkan.

"Paman Yo, kau kenapa?"

Tanyanya. Napasnya Tiat Sim sudah lemah, ia kenali anak muda itu, ia tersenyum.

"Dahulu hari ayahmu dan aku telah berjanji, kalau kami mendapat anak lelaki dan perempuan, kami akan berbesan, tetapi juga anak pungutku ini ada seperti anakku sendiri…."

Ia menoleh kepada Khu Cie Kee, akan meneruskan;

"Totiang, tolong kau rekoki perjodohan ini, aku mati pun akan meram."

"Tenangkan hatimu, saudara Yo,"

Menyahut si imam ini.

Pauw Sek Yok rebah di samping suaminya, tangan kirinya mencekal erat tangan suaminya itu, agaknya ia takut sekali suaminya nanti pergi.

Ia seperti sudah tidak ingat apa-apa akan tetapi samar-samar ia masih dapat dengar pesan suaminya.

Tiba-tiba ia angkat tangannya, untuk merogoh sakunya, darimana ia keluarkan sebilah pisau belati.

"Ini buktinya…."

Katanya, lalu ia tersenyum dan berhenti jalan napasnya.

Khu Cie Kee menyambuti pisau itu.

Ia kenali pisau yang dulu hari ia berikan di Gu-kee-cun, Lim-an.

Pada pisau terukir terang dua huruf "Kwee Ceng"

Yo Tiat Sim pun kata pada anak muda itu.

"Masih ada sebilah lagi, ialah ditangan ibumu. Dengan mengingat ayahmu, aku minta baik-baiklah kau perlakukan anakku ini."

"Aku nanti urus semua, tenangi dirimu,"

Janji pula Khu Cie Kee. Yo Tiat Sim benar-benar merapatkan kedua matanya dengan tentram. Kwee Ceng berduka sekali berbareng pusing kepala.

"Yong-jie begitu baik terhadapku, mana bisa aku menikah dengan orang lain?"

Katanya dalam hatinya. Lalu ia menjadi kaget, ia berpikir pula.

"Kenapa aku melupai putri Gochin? Khan Agung telah jodohkan putrinya itu kepadaku! Ini……ini….bagaimana….?"

Selama hari-hari belakangan ini, Kwee Ceng sering ingat tuli tetapi tidak sedikitpun outri Gochin.

Cu Cong beramai berdiam saja atas pesan Tiat Sim itu.

Memang mereka tidak berniat menolak pesan terakhir itu tetapi mereka tidak jelas duduknya hal, mereka tidak berani berlaku lancang.

Wanyen Lieh telah mesti menghadapi kejadian hebat itu, ia berduka bukan main.

Ia lantas saja memutar tubuhnya, untuk meninggalkan tempat itu.

Sejak ia mengambil pauw Sek Yok menjadi istrinya, ia telah mencoba segala daya untuk merebut cintanya nyonya itu, tetapi ia tidak berhasil sepenuhnya.

Selama belasan tahun, Pauw Sek Yok tidak pernah melupai Yo Tiat Sim, suaminya itu.

Menampak pangeran itu berlalu, See Thong Thian beramai segera ngeloyor pergi juga, disebabkan ragu-ragu untuk menempur pula ketiha imam dari Coan Cin Pay, sudah mereka itu cukup tangguh, sekarang di samping mereka itu ada Kanglam Liok Koay.

Khu Cie Kee dapat melihat orang hendak angkat kaki.

"He, Sam Hek Miauw, tinggalkan obatmu!"

Ia membentak. Pheng Lian Cu menoleh, ia tertawa lebar.

"Cecu kamu she Pheng!"

Sahutnya.

"Akulah yang kaum kangouw julukan Cian ciu Jin-touw! Kau keliru lihat, Khu Totiang?"

Gentar juga Khu Cie Kee.

"Pantaslah ia lihay sekali,"

Pikirnya. Tapi kakaknya terancam bahaya. Maka ia kata.

"Tidak peduli kau seribu tangan atau selaksa tangan, obat itu kau mesti tinggalkan! Jangan harap kau bisa meloloskan diri!"

Imam ini mengejek dengan selaksa tangan, sebab julukan "Cian Ciu"

Dari Pheng Lian Houw berarti "seribu tangan."

Lantas Khu Cie Kee lompat menyerang.

Pheng Lian Houw mempunyai tinggal sebatang poan-koan-pit tetapi ia tidak takut, ia menyambut serangan itu, hingga mereka jadi bertempur pula.

Cu Cong melihat Ma Giok duduk bersemedhi, napasnya lagi diempos, sedang sebelah tangan orang hitam legam, ia tanya imam itu kena dapat luka.

"Dia berjabat tangan denganku, siapa tahu dia menggunai jarum beracun,"

Menyahuti imam itu. Dengan "dia"

Ia maksudkan Pheng Lian Houw.

"Baiklah, itu tidak berarti!"

Kata Biauw Ciu Sie-seng si Mahasiswa Tangan Lihay. Ia terus berpaling kepada kakaknya dan berkata;

"Toako, mari kasihkan aku satu biji leng-jie!"

Kwa Tin Ok tidak mengerti maksud orang tetapi ia berikan barang yang diminta.

Leng-jie itu ialah lengkak beracun.

Cu Cong mengawasi dua orang yang lagi bertempur itu, ia tidak ungkulan memisahkan mereka, maka itu ia kata pula kepada kakaknya;

"Toako, mari kita pisahkan mereka itu, aku ada daya untuk menolong Ma totiang."

Kwa Tin Ok si Kelelawar Hitam tahu adiknya itu sangat cerdik, ia mengangguk. Si Mahasiswa Tangan Lihay itu lantas saja berseru.

"Kiranya di sana Cian Ciu Jin-touw Pheng Cecu! Kita ada orang sendiri, lekas berhenti berkelahi, aku hendak ada bicara!"

Ia mengatakan demikian tetapi ia tarik tangan kakaknya, maka berdua berbareng mereka menyerbu kepada dua orang yang asyik bertempur itu.

Yang satu memegang kipas, yang lain tongkat, dengan itu mereka memisahkan.

Dua-dua Khu Cie Kee dan Pheng Lian Houw heran mendengar perkataan orang yang membilang mereka semua adalah "orang sendiri".

Mereka suka memisah diri dulu, untuk mendengar penjelasan.

Dengan tertawa manis, Cu Cong menghadapi Pheng Lian Houw.

Ia kata.

"Kami Kanglam Cit Koay dengan Tiang Cun Cu Khu Cie Kee telah bentrok pada delapan belas tahun yang lampau, itu waktu lima saudara kami telah terluka parah, tetapi Khu totiang pun terluka oleh kami. Urusan itu sampai sekarang masih belum dapat di…."

Ia lantas menoleh kepada Khu Cie Kee, untuk menanya;

"Bukankah benar begitu, totiang?"

Tiang cun Cu mendongkol sekali. Ia menduga orang hendak membuat perhitungan disaat ia menghadapi musuh berbahaya. Maka ia menjawab dengan nyaring.

"Tidak salah! Habis kau mau apa?!"

"Tetapi kita pun ada punya sangkutan sama See Liong Ong,"

Berkata Cu Cong.

"Aku dengar See Liong Ong bersahabat sangat erat dengan Pheng Ceecu, karena kami mendapat salah dari See Liong Ong, kami jadi turut bersalah terhadap ceecu…"

"Haha…tidak berani aku menerima itu!"

Tertawa Pheng Lian Houw. Cu Cong tertawa, ia berkata pula.

"Karena Pheng Ceecu dengan Khu Totiang serta Kanglam Cit Koay ada bermusuhan, bukankah kamu kedua pihak jadi adalah orang sendiri? Maka itu, perlu apa kamu bertarung lagi? Dengan begitu, bukankan aku dengan Pheng Ceecu pun ada orang sendiri? Mari, mari kita mengikat persahabatan!"

Si Mahasiswa Tangan Lihay mengulur tangannya, untuk menarik tangannya orang she Pheng itu.

Pheng Lian Houw cerdik, ia bercuriga untuk kata-kata tidak karuan juntrungan dari Cu Cong.

Bukankah Coan Cin pay telah menolongi murid Kanglam Cit Koay?

Tidakkah berarti mereka berdua bersahabat?

"Tidak, aku tidak dapat diakali, obatku tidak boleh diperdayakan!"

Tapi melihat orang mengulurkan tangan, lekas-lekas ia selipkan senjatanya, berbareng ia keluarkan ban beracunnya.

"Saudara Cu, hati-hati!"

Khu Cie Kee memberi ingat.

Ia terkejut.

Cu Cong berpura-pura tidak mendengar, ia ulur terus tangannya, kelingkingnya ditekuk.

Dengan begitu ia telah membangkol ban orang.

Pheng Lian Houw tidak merasakan apa-apa, ia berjabat tangan dengan si Mahasiswa.

Keduanya lantas mengerahkan tenaga masing-masing.

Mendadak Pheng Lian Houw merasakan tangannya sakit sekali, lekas-lekas ia menarik tangannya itu, untuk dilihat.

Untuk kagetnya, telapakan tangannya telah berlubang tiga, darahnya yang mengalir berwarna hitam.

Ia merasakan gatal, gatal-gatal enak, sakitnya lenyap.

Tapi ia orang yang lihay, ia insyaf bahwa ia telah kena racun yang jahat.

Makin tidak sakit, makin hebat racun itu.

Ia juga merasa lukanya kaku.

Ia kaget berbareng gusar, ia juga tidak mengerti kenapa ia sudah kena dicurangi.

Ketika ia angkat kepalanya, ia dapatkan Cu Cong berdiri di belakangnya Khu Cie Kee, tangan kirinya mengangkat ban beracunnya yang dijepit dengan dua jari, tangan kanannya menunjuki sebuah lengkak hitam, ujung yang tajam dari buah itu penuh darah.

Kanglam Cit Koay yang nomor dua ini bergelar si Mahasiswa Tangan Lihay, maka tangannya itu benar-benar lihay sekali.

Ketika ia mau berjabat tangan, dia sudah siapkan lengkaknya, tempo kedua tangan nempel satu sama lain, ia gaet ban tangan orang dan ujung lengkaknya bekerja!

Bukan main murkanya Pheng Lian Houw, ia berlompat untuk menerjang.

"Kau mau apa?!"

Membentak Khu Cie Kee, yang melintangi pedangnya. Cu Cong segera berkata.

"Pheng Ceecu, lengkak ini adalah lengkak kakakku, senjata rahasia yang istimewa, siapa terluka karena ini, biarnya ia pandai mengukir langit, ia tidak bakal hidup lebih daripada tiga jam!"

Pheng Lian Houw merasakan tangannya kaku, ia mau percaya keterangan itu, maka tanpa merasa, dahinya mengeluarkan keringat dingin.

"Kau mempunyai jarum beracunmu, aku mempunyai ini lengkakku yang beracun juga,"

Berkata pula Cu Cong.

"Kedua racun beda sifatnya, maka beda juga obatnya. Marilah kita bersahabat, kita saling menukar obat. Akur?"

Belum lagi Pheng Lian Houw menyahuti, See Thong Thian sudah majukan diri seraya berkata.

"Bagus! Kau keluarkan obatmu!"

"Toako, berikan dia obat itu!"

Cu Cong bilang pada kakaknya. Kwa Tin Ok merogoh dua bungkusan kecil dari sakunya, Cu Cong menyambuti itu. Khu Cie Kee segera melangkah di tengah.

"Saudara Cu, jangan kena terperdayakan!"

Ia memberi ingat.

"Mesti dia yang menyerahkan dulu obatnya!"

Cu Cong tertawa.

"Perkataan satu laki-laki mesti dibuktikan dengan kepercayaan,"

Ia kata.

"Aku tidak khawatir dia tidak memberikannya."

Pheng Lian Houw merogoh sakunya. Mendadak mukanya menjadi pucat.

"Celaka!"

Serunya perlahan sekali.

"Obatku lenyap…!"

Melihat orang ayal-ayalan, Khu Cie Kee murka.

"Hm, kau masih mainkan tipu iblismu!"

Ia membentak.

"Saudara Cu, jangan berikan!"

Cu Cong tertawa, ia berkata pula.

"Kau ambillah! Kita ada bangsa orang budiman, kata-kata kita ada seumpama kuda dicambuk lari, aku bilang kasih tentu mesti dikasihkan!"

See Thong Thian tahu tangan orang lihay, ia tidak berani menyambuti dengan tangan, sebagai ganti tangannya, ia lonjorkan senjata pengayuhnya.

Cu Cong meletaki obat di atas pengayuh itu dan See Thong Thian menariknya, untuk menjumput itu.

Orang heran dengan kejadian ini.

Mengapa Cu Cong memberikan obatnya?

Kenapa ia tidak memaksa supaya pihak sana yang memberikan obatnya terlebih dahulu?

See Thong Thian masih menyangsikan obat adalah obat yang tulen, ia kata.

"Kanglam Cit Koay adalah orang-orang kenamaan, tidak dapat ia mencelakai orang dengan obat palsu!"

Cu Cong tertawa.

"Tidak nanti, tidak nanti!"

Ia berkata seraya dengan perlahan-lahan mengasihkan lengkaknya kepada Kwa Tin Ok, kemudian dari sakunya ia keluarkan beberapa rupa barang ialah sapu tangan, kim-cie-piauw, beberapa potong perak hancur serta sebuah pie-yan-hu putih.

Pheng Lian Houw melihat semua barang itu, ia melengak.

Itulah semua barang kepunyaannya.

Ia heran kenapa semua itu ada di tangan lain orang.

Ia tidak menyangka, selagi berjabat tangan, Cu Cong telah perlihatkan kepandaiannya.

Cu Cong buka tutupnya pie-yan-hu itu, yang di dalamnya terbagi dua.

di situ ada obat bubuk masing-masing berwarna merah dan abu-abu.

"Bagaimana ini dipakainya?"

Ia tanya Pheng Lian Houw.

"Yang merah untuk dimakan, yang abu-abu untuk dibeboreh,"

Sahut ceecu itu terpaksa. Cu Cong menoleh kepada Kwee Ceng.

"Lekas ambil air! Juga dua buah mangkok!"

Ia menyuruh. Bocah itu lari ke dalam hotel, untuk mengambil mangkok dan air, maka sebentar kemudian ia sudah mulai merawat Ma Giok. Mangkok yang satunya ia mau kasihkan kepada Pheng Lian Houw.

"Tunggu dulu!"

Mencegah Cu Cong.

"Kasihkan pada Ong totiang!"

Kwee Ceng melengak tetapi ia serahkan mangkok itu. Ong Cie it juga heran.

"Eh, bagaimana dipakainya dua bungkus obat kamu ini?"

See Thong Thian menanya. Ia tidak sabaran.

"Tunggu sebentar, jangan kesusu!"

Cu Cong bilang.

"Baru satu jam tiga perempat menit, dia tidak bakal mati…."

Sembari berkata, Cu Cong mengeluarkan sari sakunya belasan bungkus obat. Melihat itu Kwee Ceng girang bukan buatan.

"Itulah obatnya Ong Totiang!"

Ia berseru. Ia lantas menyambuti semua obat itu, ia bukai bungkusannya dan letaki di depan Ong Cie It. Ia kata.

"Totiang, pilihlah sendiri mana yang kau butuhkan."

Ong Cie It mengawasi semua obat itu, ia menjumput gu-cit, dan tiga lainnya, ia terus masuki itu ke dalam mulutnya, untuk dikunyah, lalu disusuli dengan air.

Nio Cu Ong mendongkol berbareng mengagumi sang lawan.

"Begini lihay si mahasiswa jorok ini,"

Pikirnya.

"Ia cuma mengebuti bajuku, obat itu sudah lantas pindah ke tangannya…"

Karena gusar, ia memutar tubuh mencabut guntingnya.

"Mari, mari! Mari kita mengadu senjata!"

Ia menantang.

"Mengadu senjata?"

Cu Cong tertawa.

"Oh, sungguh-sungguh aku tidak sanggup menandinginya!"

Khu Cie Kee pun menyela.

"Tuan ini adalah Ceecu Pheng Lian Houw, tetapi tuan-tuan yang lainnya belum kami kenal…"

See Thong Thian dengan suaranya yang serak, memperkenalkan kawan-kawannya.

"Bagus!"

Seru Tiang Cun Cu.

"Di sini telah berkumpul semua orang Rimba Persilatan yang kenamaan. Sayangnya selagi kita belum memperoleh keputusan menang dan kalah, kedua belah pihak ada orang-orangnya yang terluka. Aku pikir baiklah kita menjanjikan lain hari untuk bertemu pula."

"Begitu paling baik!"

Pheng Lian Houw menyahuti.

"Sebelum menemui Coan Cin Cit Cu, mati pun kita tak dapat memeramkan mata! Tentang harinya, silakan Khu Totiang yang menetapkan sendiri."

Khu Cie Kee tahu lukanya Ma Giok dan Ong Cie It memerlukan rawatan beberapa bulan, sedang saudara-saudaranya yang lain terpencar kelilingan, sukar mencari mereka itu dalam waktu yang pendek, karena ia menyahut.

"Baiklah setengah tahun kemudian diharian Pwee gwee Tiong Ciu, kita berkumpul sambil memandangi si Putri Malam sembari menyakinkan juga ilmu silat. Bagaimana penglihatan Pheng Ceecu?"

Pheng Lian Houw setuju dengan pilihan hari itu, pertengahan musim rontok.

Ia mengetahui dengan baik, kalau Coan Cin Cit Cu kumpul semua, dengan mereka dibantu oleh Kanglam Cit Koay, jumlah mereka pun menjadi terlebih besar, karena mana pihaknya sendiri perlu mencari kawan.

Selama setangah tahun, pasti ia sempat mencarinya.

Kebetulan Chao Wang menghendaki mereka pergi ke Kanglam untuk mancuri surat wasiatnya Gak Hui, bolehlah mereka kedua pihak sekalian bertemu di sana.

Maka itu, ia pun berkata.

"Khu Totiang, sungguh pandai kau memilih hari Pwee gwee Tiong Ciu itu! Karena itu aku anggap kita pun baik sekali memilih juga tempat yang tepat! Aku memikir kepada kampung halaman dari Kanglam Cit Hiap!"

"Bagus, bagus!"

Menyahuti Khu Cie Kee.

"Baiklah, bila tiba waktunya, kita boleh berkumpul di lauwteng Yan Ie Lauw di tengah telaga Lam Ouw di Kee-hin. Aku menganggap tidaklah suatu halangan jikalau tuan-tuan mengundang beberapa sahabatmu."

"Baiklah, begini ketetapan kita!"

Kata Pheng Lian Houw singkat.

"Pheng Ceecu,"

Berkata Cu Cong setelah kepastian itu.

"Dua bungkus obat di tanganmu itu, yang putih untuk dimakan, yang kuning untuk dipakai di luar."

Selama itu tangan kanan Pheng Lian Houw sudah kaku sebagian, selama berbicara dengan Khu Cie Kee, ia menahan sakit, maka itu begitu mendengar perkataannya Cu Cong, tidak berayal sedetik juga, ia lantas makan obat yang putih itu.

Kwa Tin Ok dengan suaranya yang dingin berkata,"

Pheng Ceecu, dalam tempo tujuh kali tujuh, empatpuluh sembilan hari kau mesti pantang minum arak!

Kau pun mesti memantang paras elok!

Kalau tidak nanti di harian Pwee gwee Tiong Ciu di Yan Ie Lauw kita tidak bakal kekurangan cecu satu orang, hingga karenanya pastilah lenyap kegembiraan kami!"

Pheng Lian Houw merasa bahwa ia diejek, tetapi karena orang bermaksud baik, ia tidak menunjuk kemurkaa.

"Terima kasih untuk perhatianmu!"

Ia bilang.

Ia sungkan menyebutkan kebaikan hati orang.

See Thong Thian sudah lantas menolongi kawan itu memakai obat luar, habis mana ia mempepayang ya untuk diajak berlalu.

Wanyen Kang berlutut di tanah, ia paykui empat kali kepada mayat ibunya, kemudian ia paykui beberapa kali kepada Khu Cie Kee, gurunya itu, habis itu tampa mengucap sepatah kata, ia berlalu dengan mengangkat kepala.

"Eh, Kang-jie, apakah artinya itu?!"

Sang guru menanya, membentak.

Wanyen Kang tidak menyahuti, ia juga tidak berjalan bersama rombongannya Pheng Lian Houw, ia hanya mengambil sebuah tikungan di pojok jalan.

Khu Cie Kee terdiam.

Tetapi ia segera sadar, maka itu ia terus memberi hormat kepada Kwa Tin Ok beramai seraya berkata.

"Jikalau hari ini kami tidak mendapat pertolongan Liok Hiap, pastilah kami bertiga sudah kehilangan jiwa kami. Mengenai muridku itu, yang tidak ada sekelingking murid Liok Hiap, untuk pertemuan nanti di Cui Siang Lauw di Kee-hin, disini aku menyatakan taklukku."

Kanglam Liok Koay senang mendengar perkataan si imam, dengan begitu tidak sia-sialah yang mereka telah membuat tempo delapanbelas tahun di gurun pasir.

Kwa Tin Ok lantas menjawab dengan merendah.

Sampai di situ, selesai sudah pembicaraan mereka.

Ma Giok dan Ong Cie It lantas dipepayang masuk ke dalam rumah penginapan.

Coan Kim Hoat pergi membeli peti mati untuk merawat jenazahnya Yo Tiat Sim dan Pauw Sek Yok, suami istri.

Khu Cie Kee bersusah hati melihat Bok Liam Cu yang sangat berduka itu.

"Nona, bagaimana hidupnya ayahmu selama beberapa tahun ini?"

Ia menanya. Bab 24. Pengemis Dengan Sembilan Jeriji "Selama belasan tahun ayah telah mengajak aku merantau ke Timur dan ke Barat,"

Menyahut si nona.

"Belum pernah kami berdiam di suatu tempat lamanya sepuluh hari atau setengah bulan. Ayah membilang, dia hendak mencari satu orang….seorang engko she Kwee….."

Perlahan sekali suara si nona, kepalanya pun tunduk. Ia likat. Khu Cie Kee menoleh ke arah Kwee Ceng.

"Bagaimana caranya ayahmu mendapatkan kau?"

Ia tanya si nona pula.

"Aku ada orang asal Gu-kee-cun di Lim-an,"

Liam Cu menyahut pula.

"Sejak kecil aku telah tidak mempunyai ayah dan ibu, aku tinggal menumpang sama seorang bibiku. Bibi itu tidak perlakukan baik padaku, demikian pada suatu hari ia telah memukul aku serta tidak memberikan aku nasi untuk berdahar, selagi aku menangis di depan pintu, lewatlah ayah angkatku ini. Ia merasa kasihan padaku, ia bicara sama pamanku, lalu ia ambil aku sebagai anak pungut. Demikian aku diajak merantau, diajari ilmu silat. Untuk mencari engko she Kwee itu, aku turut ayah merantau. Aku mesti sering melakukan pertempuran, karena ayah telah mengibarkan benderanya, bendera untuk pibu guna mencari pasangan…."

"Nah, inilah soalnya,"

Berkata Khu Cie Kee.

"Baiklah kau mengerti, ayahmu itu bukan she Bok, dia she Yo. Selanjutnya kau baik memakai she Yo juga."

"Tidak, aku bukan she Yo, baik aku tetap she Bok,"

Berkata si nona itu. Ia bersangsi.

"Kenapa? Apakah kau tidak percaya aku?"

Tanya si imam.

"Bukan aku tidak percaya, aku cuma ingin tetap memakai she Bok."

Melihat orang berkukuh, imam itu tidak memaksa.

Bukankah orang baru saja kehilangan ayahnya dan hatinya sangat berduka?

Ia tidak tahu, didalam hatinya, Liam Cu sudah menyerahkan diri kepada Wanyen Kang.

Kalau Wanyen kang itu berayah she Yo, dia pun she Yo juga, maka kalau ia memakai she Yo, mana bisa mereka menikah?

Ong Cie It sementara itu merasakan satu kesangsian.

Setelah makan dan pakai obat, ia merasa segar, sembari rebah di pembaringan, ia mendengari pembicaraan saudaranya dan nona itu.

Ia ingat bagaimana si nona bertanding sama Wanyen Kang.

"Eh,"

Tanyanya,"

Kau bilang kau diajari silat oleh ayahmu, kenapa buktinya kau lebih gagah daripada ayahmu itu?"

"Itulah disebabkan pada suatu hari ketika aku berumur tigabelas tahun, aku bertemu sama seorang berilmu, Liam Cu menyahut.

"Untuk tiga hari lamanya dia ajarkan aku ilmu silat. Sayang otakku buta, tidak dapat aku mewariskan semua pelajaran yang diajarkan itu…"

Kata si nona pula.

"Jikalau ia cuma mengajarkan tiga hari, kenapa kau jauh lebih lihay daripada ayahmu?"

Imam itu menanya pula.

"Siapakah orang berilmu itu?"

"Maaf, totiang, bukannya aku berani mendusta, sebenarnya aku telah mengangkat sumpah, dari itu tidak berani aku menyebutkan namanya."

Ong Cie It berdiam, ia tidak menanya lebih jauh.

Tapi ia berpikir terus, ia mengingat-ingat ilmu silatnya si nona selama dia melayani Wanyen Kang.

Sekian lama ia masih tidak mengingatnya, ia tidak dapat mengenali.

Hal ini membuatnya bertambah heran.

"Khu Suko,"

Akhirnya ia tanya kakaknya.

"Bukankah kau telah mengajari Wanyen Kang selama delapan atau sembilan tahun? "

Tepatnya sembilan tahun enam bulan,"

Menjawab Khu Cie kee.

"Ah, aku tidak sangka sekali bocah itu ada begini punya tidak berbudi…."

"Ah, benar-benar aneh?"

Cit It bilang. Cie Kee heran.

"Kenapa?"

Tanyanya. Cit It diam, ia tidak memberi jawaban.

"Khu Totiang,"

Tin Ok menanya.

"Bagaimana caranya kau dapat mencari turunannya Yo Toako itu?"

"Itulah terjadi secara kebetulan,"

Sahut Tian Cun Cu.

"Semenjak kita membuat perjanjian, aku pergi kemana-mana mancari turunan kedua keluarga Yo dan Kwee itu. Selama beberapa tahun, aku tidak memperoleh hasil. Karena ini aku merasa bahwa dalam halnya pibu, pihak kami pastilah kalah. Tapi aku tidak putus asa. Aku mencari terus. Kembali aku balik ke Gu-kee-cun. Pada suatu hari aku melihat beberapa hamba negeri pergi ke rumahnya saudara Yo itu, mereka mengangkut pergi semua barang perabotan rumah tangga. Aku heran, lantas aku menguntit mereka. Di luar dugaan mereka, aku mendapat dengar pembicaraan mereka. Nyatanya mereka bukanlah sembarang orang. Merekalah pengikut-pengikutnya pangeran Chao Wang dari negara Kim, mereka sengaja datang untuk mengangkuti isi rumahnya saudara Yo. Mereka bilang, tidak boleh ada barang yang kurang, tak terkecuali bangku, meja dan tombak serta luku juga. Oleh karena itu aku heran, aku jadi bercuriga, maka aku menguntit mereka terus sampai di Tiongtouw."

Mendengar sampai disitu, Kwee Ceng sadar.

Selama berdiam di dalam gedung Pangeran Chao Wang, ia pernah melihat kamarnya Pauw Sek Yok serta perlengkapannya.

Ia heran seorang istri Pangeran, tetapi perlengkapan rumahnya sangat miskin….

Khu Cie Kee melanjuti keterangannya.

"Malamnya aku pergi memasuki gedung pangeran itu. Ingin aku mendapat kepastian apa perlunya barang-barang demikian diangkut jauh-jauh, dibawa ke istana. Setelah aku memperoleh kenyataan, aku menjadi sangat gusar berbareng berduka dan terharu sekali. Ternyata Pauw Sek Yok, istrinya saudara Yo itu, sudah menjadi onghui, menjadi istrinya Pangeran Chao Wang itu. Saking murkanya, berniat aku lantas membunuh Sek Yok itu. Kemudian aku mengubah pikiranku itu. Segera aku mendapat kenyataan, Sek Yok tinggal di sebuah rumah batu yang kecil, di situ ia memeluki dan mengusap-usap tombaknya saudara Yo, semalam-malaman ia menangis saja. Teranglah ia tidak dapat melupakan suaminya itu. Karena itu, aku batal membunuhnya. Kemudian lagi aku mendapat keterangan, putranya Pangeran Chao Wang itu adalah putranya saudara Yo. Lewat lagi beberapa tahun, setelah usianya Wanyen Kang bertambah, aku mulai memberikan dia pelajaran ilmu silat."

"Mungkinkah itu binatang sampai sebegitu jauh belum mengetahui asal-usulnya sendiri?"

Tin Ok menanya.

"Tentang itu pernah aku mencoba mencari tahu,"

Berkata Khu Cie Kee.

"Aku mendapat kenyataan ia telah terpengaruh sangat harta dan kemuliaan, karena itu, aku tidak lantas membeberkan rahasianya. Aku pikir hendak menunggu sampai ia bertemu dan pibu sama Kwee Sie-heng, baru aku hendak mengakurkan mereka, untuk kemudian menolongi ibunya, untuk pernahkan mereka di suatu tempat tersembunyi. Aku tidak sangka sama sekali, sebenarnya saudara Yo masih hidup, malah bersama-sama saudaraku, kita kena terpedayakan hingga beginilah pengalaman kami yang pahit. Ah…!"

Mendengar itu, Bok Liam Cu menangis seraya menutupi mukanya.

Kwee Ceng lantas turut bicara, menuturkan bagaimana dia bertemu sama Yo Tiat Sim, dan bagaimana mereka bertemu juga sama Pauw Sek Yok pada malam itu.

Semau orang lantas memuji Pauw Sek Yok, yang ternoda saking terpaksa, tetapi akhirnya dia berkorban untuk kehormatannya untuk cinta sucinya terhadap suaminya.

Setelah itu, pembicaraan mereka beralih kepada soal bertanding nanti di bulan kedelapan.

"Seluruh anggota Coan Cin Pay bakal hadir, apalagi yang dibuat khawatir?"

Berkata Cu Cong.

"Aku berkhawatir mereka mengundang banyak kawan hingga jumlah kita menjadi terlebih sedikit,"

Ma Giok mengutarakan kekhawatirannya.

"Bisakah mereka mengundang banyak orang pandai?"

Cie Kee bertanya.

"Bukan begitu, sutee,"

Berkata Tan Yang Cu seraya menghela napas.

"Selama beberapa tahun ini aku benar telah memperoleh banyak kemajuan, hingga kau dapat memancarkan pengaruh partai kita, akan tetapi di sebelah itu, jangan kita melupakan, tidak dapat kita bertemberang dan menuruti adat muda…"

Cie Kee tertawa.

"Jadi kita harus ketahui, bahwa diluar langit ada yang terlebih tinggi, di atas orang pandai ada lagi orang yang terlebih pandai?"

Katanya.

"Memang begitu. Lihat saja beberapa orang tadi, bukankah mereka itu tak ada dibawahan kita? Coba mereka dapat mengundang lagi beberapa orang, maka dalam pertemuan di Yan Ie Lauw itu sukar ditentukan dari sekarang, siapa bakal kalah, siapa bakal menang…."

Jawab Ma Giok lagi.

"Tapi mungkinkah kita Coan Cin Pay bakal roboh di tangannya beberapa jahanam itu?"

Khu Cie Kee menegasi.

"Segala apa tak dapat diduga, saudaraku. Buktinya ialah kejadian tadi. Kalau tidak ada Kwa Toako dan Cu Jieko datang membantu, bukankah akan runtuh nama baik kita yang sejak beberapa puluh tahun? Tidakkah kita bertiga bakal kehilangan nyawa kita disini?"

Kata Ma Giok. Tin Ok dan Cu Cong lekas-lekas merendahkan diri.

"Mereka itu telah menggunakan akal muslihat,"

Kata mereka.

"Kemenangan mereka itu tak dapat dibuat sebutan."

Ma Giok menghela napas.

"Memang kita harus berhati-hati,"

Katanya.

"Lihat saja Ciu Susiok kita. Ia telah mewariskan kepandaiannya guru kita, kepandaiannya itu sepuluh lipat melebihi kita, tetapi ia terlalu mengandalkan diri, sampai sekarang sudah belasan tahun, tak diketahui dimana adanya dia. Maka itu Ciu Susiok itu harus dijadikan contoh."

Mendengar perkataan kakaknya ini, Cie Kee berdiam.

Kanglam Liok Koay tidak mengetahui yang Coan Cin Cit Cu masih mempunyai susiok, paman guru, mereka heran, tetapi mereka tidak nerani menanyakan keterangan.

Ong Cie It sendiri membungkam selama dua saudaranya itu berbicara.

Kemudian Khu Cie Kee melirik kepada Kwee Ceng dan Bok Liam Cu.

"Kwa Toako,"

Katanya tertawa.

"Tidak kecewa murid yang kau pimpin itu. Yo Sutee mendapatkan baba mantu seperti ini, ia mati pun meram…."

Merah mukanya Liam Cu, ia berbangkit, sembari tunduk ia berjalan untuk keluar.

Ong Cie It dapat melihat caranya orang berbangkit dan bertindak, mendadak berkelebatlah suatu ingatan di otaknya, sebab sekali ia turun dari atas pembaringannya dan sebelah tangannya melayang ke pundak orang.

Hebat serangan mendadak ini, tatkala si nona sadar, pundaknya sudah kena ditekan, percuma ia hendak mempertahankan diri, ia terhuyung ngusruk.

Tapi tangan kiri Cit It menyusul, sebelum ia jatuh, dia sudah dapat ditolong.

Dia heran dan kaget, dengan mendelong ia mengawasi imam itu.

Ong Cie It lantas tertawa.

"Jangan kaget, Nona,"

Katanya.

"Aku sedang menguji kepandaianmu. Bukankah itu orang yang berilmu yang mengajari kau ilmu silat cuma tiga hari mempunyakan hanya sembilan jari tangan dan dandannya sebagai pengemis?"

Nona Bok menjadi terlebih heran lagi.

"Eh, mengapakah totiang ketahui itu?"

Dia balik menanya. Cit It tertawa pula.

"Kiu Cie Sin Kay Ang Locianpwee itu memang aneh sepak terjangnya,"

Ia berkata, menerangkan.

"Dia mirip dengan naga sakti yang nampak kepalanya tetapi tidak ekornya. Kau telah mendapat pengajaran dari dia, Nona, kau beruntung sekali. Sebenarnya ada sangat sukar akan mendapatkan ketika seperti kau itu."

"Hanya sayang guruku itu tidak mempunyai tempo yang luang, dia cuma bisa mengajari tiga hari lamanya,"

Menambahkan si nona.

"Apakah kau tidak kenal kecukupan, Nona?"

Ong Cie It menegaskan.

"Kau tahu, pengajarannya itu tiga hari melebihkan pengajaran lain orang sepuluh tahun!"

"Totiang benar juga,"

Kata Liam Cu, yang terus berdiam tapi cuma sejenak, terus ia menanya.

"Apakah totiang ketahui dimana adanya Ang Locianpwee itu sekarang?"

Cit It tertawa pula.

"Perkataanmu menyulitkan aku, Nona!"

Ia berkata.

"Adalah pada duapuluh tahun yang lampau aku menemui dia di puncaknya gunung Hoa San, habis itu aku tidak melihat dan mendengarnya pula."

Liam Cu merasa kecewa, perlahan-lahan ia bertindak keluar.

"Ong Totiang, siapakah itu Ang Locianpwee?"

Han Siauw Eng menanya.

Sejak tadi si nona sudah tertarik hatinya mendengar disebutnya orang itu yang ada dari tingkat lebih tinggi dan tua (locianpwee).

Imam she Ong itu tersenyum, ia balik ke pembaringannya.

"Han Lie-hiap,"

Ong Cie It menanaya.

"Pernahkah kau mendengar sebutan Tong Shia See Tok, Lam Tee Pak Kay dan Tiong Sin Thong?"

Nona Han itu berpikir.

"Rasanya pernah aku mendengar tetapi aku tidak tahu apa artinya itu semua."

Tiba-tiba Kwa Tin Ok memeotong.

"Ang Locianpwee itu bukankah Pak Kay dari Lam Tee Pak Kay itu?"

"Benar,"

Ong Cie It memberikan jawabannya.

"Tiong Sin Thong itu adalah almarhum Ong Cinjin yang menjadi guru kami."

Kanglam Liok Koay kagum mendengar si orang she Ang sama tersohornya dengan gurunya Coan Cin Cit Cu. Khu Cie Kee menoleh kepada Kwee Ceng, sembari tertawa ia berkata.

"Bakal istrimu itu ada muridnya Kiu Cie Sin Kay yang ternama besar, di belakang hari siapa yang nanti berani menghinamu?"

Mukanya Kwee Ceng menjadi merah, berniat ia membantah tetapi ia tidak dapat membuka mulutnya.

"Ong Totiang,"

Kemudian Han Siauw Eng menanya pula.

"Kau cuma menekan pundaknya si nona, cara bagaimana kau lantas bisa mendapat tahu dialah muridnya Kiu Cie Sin Kay itu?"

Selagi Cie It belum menyahuti, Cie Kee menggapai kepada Kwee Ceng, siapa sudah lantas datang menghampirkan.

Mendadak saja ia menekan pundak si anak muda.

Kwee Ceng pernah mendapat pelajaran rahasianya ilmu dalam dari Ma Giok, pelajaran yang disebut Hian-bun Ceng-cong, ia juga telah makan darahnya ular, tenaga dalamnya kokoh sekali, dari itu tidaklah ia roboh tertekan si imam.

Khu Cie Kee tertawa.

"Anak yang baik!"

Katanya seraya mengangkat tekanannya.

Kwee Ceng tidak berani melawan lebih jauh tenaga dalam si imam itu tapi justru itu, ia ditekan pula.

Kali ini, tidak ampuj lagi, ia roboh terjengkang, sebab ia tidak bersiaga.

Tapi ia tidak roboh terguling, begitu pula tangannya mengenakan tanah, ia sudah berlompat berdiri pula.

Menyaksikan itu, semua orang tertawa.

"Anak Ceng,"

Cu Cong lantas berkata.

"Khu Totiang telah memberikan kau pelajaran, kau ingatlah baik-baik."

Kwee Ceng menyahuti sambil mengangguk.

"Han Lie-hiap,"

Khu Cie Kee berkata pula, sekarang kepada Han Siauw Eng.

"Siapa pun yang mempelajari ilmu silat, jikalau ia ditekan secara barusan, mesti ia roboh terjengkang, cuma ilmu silatnya Kiu Cie Sin Kay yang tidak mempan tekanan, paling-paling orang terhuyung ke depan. Sebabnya ini ialah kepandaian Ang Locianpwee itu banyak yang bertentangan sama ilmu silat yang kebanyakan."

Liok Koay kagum untuk pengetahuan luas dari kaum Coan Cin Pay itu.

"Apakah Ong Totiang pernah melihat Kiu Cie Sin Kay bersilat?"

Cu Cong tanya.

"Pada duapuluh tahun dulu itu,"

Menyahut Ong Cie It.

"Kiu Cie Sin Kay telah berkumpul berlima bersama Oey Yok Su di puncak gunung Hoa San, di mana mereka merundingkan ilmu silat pedang, karena aku senantiasa mendampingi guruku, aku jadi dapat mendengar penguraiannya Kiu Cie Sin Kay itu."

"Bukankah Oey Yok Su itu adalah Tong Shia dari Tong Shia See Tok?"

Tin Ok tanya pula.

"Benar,"

Menjawab Tiang Cun, yang terus berpaling pada Kwee ceng sambil tertawa mengatakan.

"Syukur Ma Suko telah ajarkan kau ilmu silat tetapi si antara kamu belum ada hubungan murid dan guru, jikalau tidak, mungkin terbit salah paham. Kau mesti terlebih rendah tingkatannya daripada bakal istrimu itu, dengan begitu seumurmu, tidak nanti kau dapat menanjak naik…."

Kwee ceng jengah, mukanya merah.

"Tidak dapat aku menikah dengannya,"

Katanya. Khu Cie Kee heran, hingga air mukanya berubah.

"Kenapakah?"

Tanyanya. Han Siauw Eng menyayangi muridnya itu, ia merasa kasihan, ia mewakilkan menyahut.

"Kami cuma ketahui turunan Yo toako adalah anak laki-laki, maka itu selama di Mongolia anak Ceng ini sudah bertunangan. Oleh Khan besar dari Mongolia, Jenghiz Khan, ia telah diangkat menjadi Kim-to Hu-ma."

Mendengar keterangan itu, Khu Cie Kee tertawa dingin.

"Bagus betul!"

Katanya.

"Orang adalah satu putri, pantaslah dia beda daripada yang lainnya. Tetapi disini adalah mengenai pesan orang tua mereka. Adakah kamu tidak memeprdulikan itu?!"

Kwee Ceng menjadi ketakutan, ia lantas saja menekuk lututnya.

"Teecu belum pernah sekali juga bertemu sama ayahku almarhum,"

Ia berkata.

"Dari itu tidak tahu teecu tentang pesan ayahku itu. Sukalah Totiang memberi petunjuk?"

Cie Kee tertawa.

"Ya, kau tidak dapat dipersalahkan!"

Katanya.

Tadi ia tak ingat akan hal ini.

Habis itu lalu ia menutur kejadian pada delapanbelas tahun yang lampau di Gu-kee-cun, bagaimana ia berkenalan sama Kwee Siauw Thian dan Yo Tiat Sim, bagaimana ia sudah pukul mundur musuh, bagaimana ia menyusul dua orang itu hingga jadi bentrok sama Kanglam Cit Koay, dengan kesudahannya dibuat perjanjian pibu antara keturunannya Siauw Thian dan Tiat Sim itu.

Kwee Ceng lantas saja menangis.

Baru sekarang ia ketahui jelas tentang dirinya sendiri.

Ia berduka untuk sakit hati ayahnya, sakit hati mana belum terbalas.

Karena ini juga ia menjadi ingat baik-baik budi semua gurunya.

Han Siauw Eng menghibur muridnya, ia kata.

"Sudah lumrah, laki-laki mempunyakan tiga istri serta empat gundik, maka itu belakang hari bolehlah kau memberitahukan kepada Khan yang agung halnya kau akan menikah dua istri. Ini toh untuk kebaikan kedua pihak, bukan?"

Kwee Ceng menepas air matanya.

"Aku juga tidak akan menikahi Putri Gochin!"

Katanya. Nona guru itu menjadi terkejut dan heran.

"Kenapakah?"

Tanyanya.

"Aku tidak senang ia menjadi istriku,"

Kwee Ceng menyahut dengan terus terang.

"Bukankah kau kenal ia dengan baik dan pernah bergaul rapat?"

Siauw Eng menanya pula.

"Ya, tetapi aku pandang ia sebagai adik saja, sebagai sahabat. Aku tidak ingin menikah dengannya."

Khu Cie Kee menjadi girang mendengar itu.

"Anak yang baik, kau bersemangat!"

Pujinya.

"Peduli apa dia Khan yang agung atau tuan putri, kau baiklah turut pesan ayahmu almarhum dan paman Yo-mu itu, kau menikah dengan nona barusan!"

Kwee Ceng menggeleng kepala.

"Aku juga tidak akan nikahi nona ini,"

Katanya. Semua orang menjadi heran, tidak tahu mereka apa yang dipikirkan pemuda ini.

"Apakah kau telah mempunyai nona lain yang kau penujui?"

Tanya Siauw Eng perlahan. Dasar wanita, nona Han ini dapat menyelami hati orang. Muka Kwee Ceng menjadi merah, dia berdiam sejenak, baru ia mengangguk. Han Po Kie dan Khu Cie Kee terperanjat.

"Siapakah nona itu?!"

Tanya mereka keras.

Kwee Ceng mengasih dengar suaranya perlahan, ia tidak menjawab.

Sedeik itu, Han Siauw Eng lantas ingat Oey Yong, yang ia telah perhatikan ketika malam itu bertempur dengan Bwee Tiauw Hong dan Auwyang Kongcu beramai di dalam istana pangeran.

Ia ketahui nona itu berkulit putih bersih dan cantik menarik.

"Bukankah kau maksudkan si nona baju putih?"

Ia tegaskan muridnya itu. Kwee Ceng tidak menjawab tetapi mukanya menjadi merah.

"Siapakah dia itu?"

Khu Cie Kee tanya si nona Han.

"Aku dengar Bwee Tiauw Hong memanggil ia sumoay dan kepada ayahnya suhu…"

Menjawab Siauw Eng perlahan sekali. (Sumoay = adik seperguruan wanita dan suhu = suhu) Dua-dua Kwa Tin Ok dan Khu Cie Kee terperanjat, hingga mereka berlompat bangun.

"Mustahilkah ia putrinya Oey Yok Su?"

Tanya mereka berbareng. Siauw Eng tarik tangan muridnya, untuk si murid datang dekat kepadanya.

"Anak Ceng, apakah nona itu she Oey?"

Ia menanya perlahan. Kwee Ceng mengangguk.

"Ya,"

Sahutnya, perlahan juga. Mendapat jawaban itu, Han Siauw Eng tergugup.

"Apakah ayahnya yang jodohkan kau dengan putrinya?"

Tanya Cu Cong.

"Aku belum pernah bertemu dengan ayahnya dan tidak tahu siapa itu ayahnya,"

Si murid menjawab.

"Kalau begitu, kamu jadi mufakat berdua saja?"

Cu Cong menanya pula. Kwee Ceng tidak mengerti jelas, ia membuka lebar matanya tanpa menjawab.

"Bukankah dia mengatakan mesti menikah dengamu dan kau membilang akan nikahi dia?"

"Tidak pernah dikatakan begitu…"

Sahut Kwee Ceng, yang terus berdiam, tetapi sesaat kemudian ia menambahkan.

"Tidak usahlah itu dijelaskan lagi. Aku tidak dapat tidak mempunyai dia dan dia juga tidak dapat tidak mempunyai aku, hati kita sama mengetahuinya…."

Han Po Kie belum pernah mengenal asmara, mendengar itu ia menjadi tidak puas.

"Habis bagaimana jadinya!"

Ia membentak. Cu Cong lain lagi. Berkata ini guru yang nomor dua.

"Kau tahu tidak, ayahnya nona itu adalah satu iblis besar, yang kalau membunuh orang tidak pernah mengicap matanya? Jikalau ia ketahui kau secara diam-diam mencuri mengambil hati anak gadisnya, apa kau sangka kau masih mempunyai jiwamu itu? Bwee Tiauw Hong belum mewariskan satu persepuluh dari kepandaian gurunya itu, dia sudah sangat lihay, maka jikalau tuan dari Pulau Tho Hoa To itu hendak membunuh kau, siapa yang dapat menolonginya?"

"Yong-jie demikian baik, aku pikir….aku pikir ayahnya tak mungkin bukan orang baik-baik,"

Berkata si murid perlahan.

"Angin busuk!"

Membentak Po Kie, yang tetap murka.

"Kau mesti bersumpah bahwa untuk selanjutnya kau tidak akan bertemu pula dengan nona itu!"

Kanglam Liok Koay sangat membenci Hek Hong Saing Sat yang telah membinasakan Siauw Mie To Thio A Seng si Buddha Tertawa, dengan sendirinya mereka jadi membenci juga guru orang itu.

Kwee Ceng menjadi susah hati.

Di satu pihak adalah guru-gurunya yang telah melepas budi banyak kapadanya, dilain pihak adalah cinta sejati.

Ia pikir, kalau seumurnya ia tidak dapat bertemu lagi Oey Yong, apakah artinya hidupnya itu – buat apa ia menjadi manusia?

Ia jujur dan polos, dari itu halus sekali perasaannya.

Tempon ia mendapat lihat guru-gurunya itu mengawasi ia dengan bengis, hancur rasa hatinya.

Ia lantas menekuk lutut, air matanya turun mengalir di kedua pipinya.

Han Po Kie lantas maju setindak.

"Lekas bicara!"

Ia membentak. Belum lagi Kwee Ceng menyahuti, di luar jendela sudah terdengar suaranya seorang wanita muda.

"Kenapa kamu main paksa orang?!"

Tercenganglah Tin Ok semua. Sedang begitu, si nona itu telah berkata pula.

"Engko Ceng, lekas keluar!"

Kwee ceng kenali suaranya Oey Yong, ia kaget dan berbareng heran.

Ia lantas berbangkit dan memburu keluar.

Di depannya berdiri si nona cantik, tangan kirinya memegangi pelana kuda Han-hiat Po-ma.

Kuda merah itu meringkik panjang, apabila ia melihat ini anak muda, lalu kedua kaki depannya diangkat, untuk berjingkrakan.

Han Po Kie bersama Cu Cong dan Coan Kim Hoat memburu keluar, diikuti Khu Cie Kee berempat.

Menampak ketiga guru itu, Kwee Ceng menunjuk kepada si nona seraya berkata;

"Sam-suhu, inilah dia si nona, dia bukannya siluman!"

Oey Yong menjadi gusar.

"Hai, orang kate terokmok yang menyebalkan untuk dilihat, kenapa kau berani memaki aku perempuan siluman?!"

Dia menanya sambil membentak. Dia pun segera menuding Cu Cong tanpa menanti lagi jawabannya Ma Ong Sin si Malaikat Raja Kuda, untuk menambhakan.

"Ada lagi kau, mahasiswa iblis yang jorok kotor, kenapa kau mencaci ayahku? Kenapa kau katakan ayahku satu iblis besar yang membunuh orang tidak mengicap mata?!"

Biauw Ciu Sie-seng si Mahasiswa Tangan Lihay sabar, ia tidak sudi melayani seorang nona, maka itu ia tersenyum.

Ia mesti akui nona ini sangat cantuk, seumurnya belum pernah ia lihat lain nona yang melebihkannya, jadi tidaklah heran yang Kwee Ceng menjadi jatuh hati kepada si nona.

Tapi beda dengan kakaknya yang kedua ini, Han Po Kie gusar bukan main, sampai kumisnya bangun berdiri.

"Pergi kau! Lekas kau pergi!"

Ia mengusir. Bukannya si nona Oey itu pergi, ia justru menepuk-nepuk tangan, ia bernyanyai;

"Hai, labu parang! Hai, bola kulit bundar! Ditendang satu kali, lalu bergelindingan!"

"Jangan nakal, Yong-jie!"

Kata Kwee Ceng lekas mencegah.

"Inilah guruku…."

Han Po Kie maju, ia mengulurkan tangannya akan menolak si nona itu untuk diangkat pergi. Masih Oey Yong bernyanyai.

"Labu parang! Bola kulit bundar!"

Ia pun mundur dari tangannya si kate terokmok itu, hanya sambil mundur, mendadak tangannya menyambar pinggang Kwee Ceng, yang etrus ia bawa berlompat, maka sedetik kemudian, keduanya sudah bercokol di atas kuda merah, tempo mana si nona itu mengedut tali les, Han-hiat Po-ma membuka tindakan lebar dan kabur!

Han Po Kie boleh sangat gesit dan sebat tetapi tidak snaggup ia menyandak kuda jempolan itu.

Ketika kemudian Kwee Ceng sempat menoleh ke belakang, wajah Po Kie semua terlihat hanya samar-samar saja, lantas bergelempang hitam, terus lenyap, saking keras larinya si kuda merah itu!

Oey Yong mencekal les dengan tangan kanan, tangan kirinya memegang tangannya si anak muda, hatinya berdenyut keras, walaupun belum lama mereka berpisahan, Kwee Ceng sendiri bingung sekali.

Berat untuknya akan perpisahan secara demikian dari keenam gurunya itu, sebaliknya, pepat juga hatinya kapan ia mengingat gurunya itu hendak memisahkan ia dari pacarnya.

Mana bisa ia tunduk kepada mereka itu?

Kabur kira-kira satu jam lamanya, Han-hiat Po-ma telah terpisah duaratus lie dari kota Yan-khia.

Sampai disitu barulah Oey Yong menarik tali les kudanya, untuk mengasih kudanya berhenti.

Lantas ia lompat turun dari binatanag tunggangannya itu, diturut oleh pemuda pujaannya itu.

Kuda itu menggosok-gosok lehernya ke pinggang si anak muda, menandakan kelulutannya.

Sepasang muda-mudi ini berpegagan tangan, mereka berhadapan tanpa mengucapkan sepatah kata.

Banyak yang mereka ingin ucapkan, tetapi mereka tidak tahu harus bagaimana memulainya.

Cuma hati mereka yang berbicara satu pada lain……….

Beberapa saat kemudian, baru Oey Yong melepaskan tangannya dari tangan Kwee Ceng.

Ia merogoh ke kantung kulit di pelana, ia menarik keluar sepotong sapu tangan, terus ia pergi ke tepi kali kecil di dekatnya, untuk mencelup saputangan itu, kemudian ia kembali ke pemudannya.

"Kau pakailah ini,"

Katanya perlahan, meminta orang menyusut mukannya yang keringatan.

Kwee Ceng berdiri bengong, agaknya ia berpikir keras sekali.

Ia tidak menyambuti saputangan itu, hanya sekonyong-konyong ia berkata, keras;

"Yong.jie, tidak dapat kita berbuat begini…."

Pemudi itu terperanjat, ia menatap.

"Apa katamu?"

Tanyanya.

"Kita harus kembali,"

Kwee Ceng bilang.

"Kita mesti menemui guruku semua…!"

Kembali Oey Yong terperanjat.

"Kembali?"

Ia menegasi.

"Kita kembali bersama?"

"Benar!"

Sahut pemuda itu.

"Hendak aku mencekal tanganmu, kepada guruku semua dan Ma Totiang beramai ingin aku mengatakan; ‘Inilah Yong-jie! Dia bukannya siluman perempuan!’"

Sembari berkata begitu, ia menarik tangan yang putih mulus dan lemas dari si nona, kemudian ia angkat kepalanya, untuk mengawasi wajah orang. Ia agaknya hendak mengatakan pula;

"Suhu, budi kamu besar laksana gunung, walaupun tubuhku hancur luluh, sukar aku membalasnya…Tapi, tapi Yong-jie bukannya siluman, dialah satu nona yang baik sekali…"

Ia hendak omong banyak, tapi cuma sampai di situ, berhentilah pikirannya melamun. Mulanya Oey Yong tersenyum, ia anggap orang jenaka sekali, tetapi kemudian hatinya tergerak. Ia lantas berkata.

"Engko Ceng, semua gurumu sangat benci aku, percuma kau omong banyak dengan mereka itu. Sudahlah, jangan engkau kembali! Mari kita pergi ke sebuah gunung sunyi, atau ke sebuah pulau mencil di laut, supaya mereka itu selama umurnya tidak dapat mencari kita…."

Kwee Ceng tetap menatap.

"Yong-jie,"

Katanya, suaranya mantap.

"Tidak dapat tidak, kita mesti kembali."

"Tapi mereka itu hendak memisahkan kita, nanti kita tidak bakal bertemu pula,"

Kata si nona pula.

"Biarnya mati, kita tidak bakal berpisah!"

Si pemuda memastikan. Semangat Oey Yong terbangun, kalau tadi hatinya berdebaran, sekarang hatinya itu menjadi mantap.

"Benar!"

Pikirnya.

"Paling banyak kita mati! Mustahil ada yang lebih hebat dari kematian?"

Maka ia kata.

"Engko ceng, untuk selama-lamanya aku akan dengar perkataanmu! Sampai mati juga kita tidak akan berpisah!"

"Memang!"

Sahut si anak muda.

"Aku sudah bilang, kau adalah satu nona yang manis!"

Nona itu tertawa. Ia merogoh pula kantong kulitnya, sekarang ia mengeluarkan sepotong besar daging mentah, ia gulung itu dengan lumpur, terus ia tambus. Ia menyalakan api dengan kayu kering.

"Biarlah si kuda lecil merah beristirahat,"

Kata pula si nona.

"Habis beristirahat baru kita kembali."

Kwee Ceng mengangguk, hatinya puas.

Tidak lama kemudian keduanya mulai menggayem daging tambus itu, kuda mereka juga sudah kenyang makan rumput.

Sebentar kemudian, dengan menaiki kuda, mereka ambil jalan dari mana tadi mereka datang.

Di waktu lohor, mereka tiba di hotel.

Turun dari kudanya, Kwee Ceng pegang tangannya Oey Yong untuk diajak masuk ke dalam.

Pelayan hotel girang melihat kembalinya anak si muda, ia menyambuti dengan wajah berseri-seri.

Ia pernah menerima persen dari Kwee Ceng.

"Kau baik, Tuan?"

Tegurnya.

"Mereka itu sudah berangkat pergi. Tuan ingin dahar apa, silakan sebutkan."

Katanya. Tapi Kwee Ceng terperanjat.

"Mereka sudah pergi?"

Ia mengulangi.

"Adakah pesanannya?"

"Tidak, mereka menuju ke Selatan, perginya sudah selang dua jam."

Jawab si jongos.

"Mari kita susul mereka!"

Kwee Ceng mengajak kekasihnya.

Oey Yong menurut, maka mereka tinggalkan rumah penginapan itu, mereka kaburkan kuda mereka ke arah yang disebutkan si pelayan itu, yang heran menampak orang pergi secara demikian kesusu.

Di sepanjang jalan mereka memasang mata.

Sampai sore, mereka tidak dapat menemukan Kanglan Liok Koay.

"Mungkin suhu telah mengambil lain jalan,"

Kata Kwee Ceng.

Ia membaliki kudanya.

Han-hiat Po-ma kuat sekali, walaupun penunggangnya dua orang, ia dapat lari tak kurang cepatnya, ia tidak menjadi lelah.

Hanya sampai cuaca gelap, mereka tetap tidak melihat Kanglam Liok Koay atau ketiga orang Coan Cin Pay.

Kwee Ceng menjadi masgul.

Oey Yong menghibur.

Katanya.

"Di harian Tiong Ciu mereka bakal berkeumpul di Yan Ie Liauw di Kee-hin, di sana kau pasti bakal dapat menemukan mereka."

"Untuk sampai kepada hari raya Tiong Ciu, temponya masih setengah tahun lagi,"

Kata si anak muda, lesu. Tapi si nona tertawa manis.

"Selama setangah tahun kita toh dapat pesiar ke segala tempat kenamaan!"

Katanya.

"Apakah itu tidak terlebih bagus?"

Mau tidak mau, Kwee Ceng menyatakan setuju.

Hatinya menjadi lega juga.

Keduanya lantas memasuki dusun, akan mencari penginapan, guna melewatkan sang malam.

Besoknya Kwee Ceng membeli seekor kuda putih yang besar, untuk ia, supaya Oey Yong dapat menaiki kuda merah kecil itu seorang diri.

Tidak leluasa untuk mereka terus menunggang seekor kuda.

Oey Yong tidak dapat menampik kehendak pemudanya itu.

Demikian dengan merendengkan kuda, mereka berjalan perlahan-lahan, untuk menikmati keindahan sang malam.

Mereka pergi tanp tujuan.

sering mereka turun dan duduk saling menyender di tempat yang sepi.

Kalau singgah dan bermalam, mereka pun menyewa sebuah kamar.

Hati mereka lapang, tidak ada pikirab yang bukan-bukan yang menyandingi mereka.

Mereka melainkan memikirkan pesiar dan terbukalah hari mereka.

Pada suatu hari tibalah meteka di Baratnya perbatasan antara Liongkeng-hu dan Tayleng di sebelah timur kota raja.

Ketik aitu sudah mendekati hari raya Toan-yang, hawa udara mulai panas.

Dahi Oey Yong telah berkeringatan.

Selagi mereka hendak cari tempat untuk meneduh, si nona mendengar suara mengericiknya air .

Ia lantas larikan kudanya ke arah suara itu.

Untuk girangnya ia mendapatkan sebuah kali kecil, sampai ia berseru.

Kwee Ceng mengasih kudanya lari menyusul.

Kali itu berair bening, hingga nampak dasarnya.

Di kedua tepinya ada tumbuh banyka pohon yang-liu, yang cabang dan daunnya meroyot ke air.

Di dalam air pun terlihat sejumlah ikan berenang pergi datang.

Oey Yong gembira sekali, hingga ia membuka pakaian luarnya, lalu terjun ke air.

Kwee Ceng terkejut, hingga ia menjerit.

Ia lari ke tepian, hatinya lega.

Segera ia melihat si nona berenang di dalam air, menangkap dua ekor ikan yang panjangnya kira-kira satu kaki, ketika diangkat ke muka air, ekornya kedua ikan itu bergerak-gerak, begitupun kepalanya.

"Sambut!"

Si nona berseru, kedua tangannya terayun.

Kwee Ceng sudah lantas menyambuti, ia bisa memegang kedua ikan itu, tetapi saking licinnya, ikan itu melejit dan lolos, jatuh ke tanah, di mana keduanya berloncatan.

Oey Yong tertawa geli.

"Engko Ceng, mari turun, kita berenang!"

Ia memanggil. Kwee Ceng tidak bisa berenang, ia menggeleng kepala. Ia menjadi besar di gurun pasir.

"Turunlah, nanti aku ajari!"

Kata si nona.

Pemuda ini menjadi tertarik, maka ia pun membuka baju luarnya, lalu turun ke kali.

Ia tidak menerjun seperti si nona, tetapi ia turun dengan perlahan-lahan, tangannya pun diulurkan.

Si nona jail sekali, ia menghampirkan, tahu-tahu ia telah merabuh kaki orang, maka tidak tempo lagi, tubuh Kwee Ceng terpelanting.

Ia kaget, karenanya, ia menegak air!

Oey Yong lekas pegangi tangan orang, ia menertawai.

"Begini menggeraki tangan,"

Si nona benar-benar lantas mengajari.

Ia pun membilangi, untuk selulup mesti menahan napas dan mata dapat dirapati atau dimeleki.

Untuk Kwee Ceng, pelajaran berenang itu gampang sekali.

Dengan dapat mengatur napasnya, dengan cepat ia telah dapat mengerti.

Demikian ia bisa berenang hilir mudik dan selulup timbul.

Tentu sekali, ia menjadi bertambah gembira, sedang kawannya demikian manis dan lincah.

Tidak puas dengan mandi di satu tempat saja, mereka berenang mudik, sampai kuping mereka mendapat dengar suara air nyaring.

Kemudian ternyata, di Selatan itu ada air terjun yang yang tingginya lebih daripada sepuluh tombak, bagaikan rantai perak, air meluncur turun.

"Engko Ceng,"

Kata si nona sangat bergembira.

"Mari kita mendaki air tumpah itu!"

"Baik, mari kita mencoba!"

Kwee Ceng menyambut.

"Kau pakailah baju lapismu!"

"Tidak usah!"

Menyahut si nona.

"Mari kita mulai!" . Kata-kata itu disusul sama gerakan tubuh yang lincah, berbareng dengan mana, si pemuda pun menggeraki kaki tangannya. Tapi air deras sekali, keduanya gagal. Beberapa kali mereka mencoba, tetapi mereka tidak berhasil. Kwee Ceng penasaran sekali.

"Baiklah kita beristirahat, besok kita coba pula!"

Katanya pada kawannya.

"Baik!"

Tertawa Oey Yong.

Ia pun penasaran.

Besoknya percobaan diulangi, kali ini mereka dapat naik hingga setombak lebih.

Hati mereka menjadi besar, mereka mencoba terus.

Inilah suatu latihan bagus bagi mereka, yang ilmunya ringan tubuh sudah sempurna.

Latihan ini terus dilakukan terus, maka juga di hari kedelapan, Kwee Ceng bisa menyampaikan puncak air terjun itu, dengan menyambar dan menarik tangan orang, ia membantu Oey Yong naik juga.

Bukan main girangnya muda mudi ini.

"Mari kita turun pula!"

Kwee Ceng mengajak.

Lalu keduanya menyebur mengikuti air tumpah itu.

Demikian mereka berlatih, naik dan turun.

Dalam sepuluh hari, Kwee Ceng dapat berenang dengan baik walaupun ia masih kalan lincah dari si nona, ialah untuk menangkap ikan, ia tak dapat menyaingi.

Puaslah hatinya sepasang anak muda ini, maka di hari kesebelas baru mereka melanjuti perjalanan ke Selatan.

Sampai di hulu sungai Tiang Kang, hari mulai sore.

Terbuka hati Kwee Ceng menyaksikan kebesarannya sungai itu, yang airnya terus mengalir, gelombangnya saling susun.

"Kau mau berenang, engko ceng?"

Tanya si nona.

"Marilah!"

"Baik!"

Sahut si anka muda. Dan ia lompat turun dari kuda putihnya, yang tepuk kempolannya.

"Kau tidak punya guna, pergilah!"

Ia pun melepaskan tali les.

Dilain pihak, ia menghampirkan kuda merah.

Kapam kuda merah itu telah ditepuk, dengan berani dia terjun ke sungai, sembari terjun ia meringkik keras dan panjang, terus ia berenag pergi.

Kwee Ceng dan Oey Yong pun segera terjun, untuk menyusul.

Pandai berenangnya kuda merah itu, dia mendahului di muka.

Di tempat dimana mereka terjun ini tidak ada lain orang, dengan begitu mereka tidak menarik perhatian siapa juga.

Belum begitu lama, tiba-tiba cuaca menjadi gelap.

Sebab mega sudah lantas bergumpal-gumpal, langit menjadi mendung.

Lalu kemudian terdengarlah suara guntur saling susul dan terlihat kilat menyambar-nyambar.

"Takutkah kau, Yong-jie?"

Kwee Ceng tanya.

"Ada bersama-sama kau, aku tidak takut!"

Menjawab si nona tertawa.

Pemuda itu tersenyum.

Di bawah hujan besar, mereka berenang terus hingga di lain tepi di mana mereka mendarat.

Mereka menanti sampai air langit itu berhenti turun, ketika itu tibalah sang malam dan rembulan memancarkan sinarnya di langit yang bersih.

Mendung sirna, mega berkumpul lenyap.

Kwee Ceng mencari kayu kering, untuk menyalakan api ungun, di situ mereka memanggang pakaian mereka hingga kering, kemudian keduanya rebah tidur di udara terbuka.

Mereka polos, mereka tidak ingat suatu apa.

Keduanya sadar besoknya fajar, tempo mereka dengar suara ayam berkeruyuk dari sebuah rumah tak jauh dari tepi sungai.

"Aku lapar!"

Berkata Oey Yong, yang menguap. Ia berbangkit, untuk lari ke rumah tadi, sebentar kemudian, ia sudah lari balik, bersama seekor ayam jago yang besar di tangannya.

"Mari kita pergi ke sana, supaya pemilik rumah tidak melihat kita,"

Kwee Ceng mengajak.

Si nona mengangguk, lantas mereka berjalan sampai sejauh satu lie kira-kira.

Kuda merah terus mengikuti mereka.

Disini Oey Yong sembelih ayam itu, lalu di cuci bersih, kemudian ia gulung dengan lumpur, untuk ditambus.

Maka dilain saat matanglah ayam itu, rontok bulu dan kulitnya, terlihatlah dagingnya yang gemuk.

Disaat si nona hendak membeset ayam itu, tiba-tiba ia dengar suara dari belakangnya;

"Besetlah menjadi tiga potong, pahanya kasih aku!"

Kedua muda-mudi itu terkejut.

Bukankah kuping mereka lihay?

Kenapa mereka tidak dengar berkelisiknya orang, hingga orang tahu-tahu sudah berada dibelakang mereka?

Mereka memutar tubuh dengan cepat.

Maka terlihatlah seorang pengemis usia pertengahan, pakaiannya banyak tambalannya, cuma anehnya, bahannya semua tersulam, hingga mirip pakaian pengemis di atas pentas.

Dia pun memegang sebatang tongkat yang mirip batu pualam, sedang dipunggungnya tergemblok sebuah cupu-cupu besar yang merah warnanya.

Wajah orang tampak acuh tak acuh wajar sekali.

Belum lagi si muda-mudi itu memberi penyahutan, mereka suka memabgi ayam mereka atau tidak, si pengemis sudah lantas menjatuhkan diri duduk di hapadan mereka, tangannya meraba punggungnya, untuk mengambil cupu-cupunya itu, yang tutupnya ia terus buka, maka di detik itu juga tersiarlah harumnya arak.

Dia menggelogoki arak itu beberapa ceglokan, terus ia mengangsurkan kepada si anak muda.

"Eh, bocah, kau minumlah!"

Katanya. Sebenarnya Kwee Ceng tidak puas untuk kelakuan orang yang tak hormat itu, tetapi karena tingkah laku itu aneh, tidak berani berlaku kasar.

"Aku tidak minum arak, lojinkee, kau minumlah sendiri!"

Sahutnya hormat.

"Dan kau nona kecil, kau minum arak atau tidak?"

Si pengemis itu menanya Oey Yong.

Si nona tidak menyahuti, ia cuma menggelengkan kepalanya.

Tapi sangat jeli matanya, dalam sesaat ia telah dapat melihat jeriji tangan si pengemis yang memegang tempat araknya.

Untuk terkejutnya, jeriji itu cuma sembilan, lenyap satu dari lima jeriji tangan kanan!

Ia lantas ingat kata-katanya Ong Cie It dan Khu Cie Kee perihal Kiu Cie Sin Kay, si Pengemis Aneh Berjeriji Sembilan.

"Benarkah di kolong langit ini ada peristiwa begini kebetulan?"

Ia tanya diri sendiri.

"Baiklah aku dengar suaranya."

Nona ini tertawa di dalam hati apabila ia sudah mengawasi wajah si pengemis yang terus memandangi ayamnya, hidung dia itu bergerak-gerak, mulutnya berkelemikan tanda mengilarnya.

Tetapi ia tidak memikir untuk menjaili orang, maka ia lantas besat ayamnya dibagi dua, yang separuh ia sodorkan pada orang tua itu.

Pengemis itu menyambuti seperti menyambar, terus ia masuki ayam itu kemulutnya, dan terus menggayem.

Sangat bernafsu ia mendaharnya hingga lekas juga paha ayam itu termakan habis!

Tulang-tulang ayam itu ia semburkan.

"Sungguh lezat! Sungguh lezat!"

Ia memuji berulang-ulang.

"Biarnya aku si leluhur pengemis, tidak bisa aku mematangi ayam selezat ini!"

Oey Yong tertawa, ia menyodorkan pula sepotong lainnya.

"Ah, mana dapat!"

Pengemis itu menolak.

"Kamu berdua belum makan…."

Mulutnya mengatakan begitu, tetapi tangannya menyambuti, maka dilain saat, habis sudah sebelah ayam tambus itu! Lantas ia menepuk-nepuk perutnya.

"Hai, perutku, perutku!"

Ia mengoceh seorang diri.

"Bukankah jarang sekali kau gegares ayam begini lezat?"

Mau tidak mau, si nona tertawa geli. Pengemis itu merogoh ke sakunya, mengeluarkan sepotong besar perak, yang mana ia sodorkan kepada Kwee Ceng.

"Bocah, kau ambillah ini!"

Katanya. Pemuda itu menggeleng kepalanya.

"Kami menganggap kau sebagai sahabat, kami tidak menginginkan uang,"

Jawabnya. Pengemus itu menyeringai, agaknya ia likat.

"Inlah sulit,"

Katanya.

"Meskipun aku pengemis, tidak biasa aku menerima budi orang sedikit juga."

"Apakah artinya seekor ayam?"

Berkata Kwee Ceng tertawa.

"Laginya, ayam ini pun kami dapatkan dengan jalan tangan panjang, tanpa perkenan dari pemiliknya…."

Pengemis itu tertawa terbahak-bahak.

"Ah, anak muda, tabiatmu sama dengan tabiatku!"

Katanya.

"Mari, mari bilangi aku, kau ada niat apa, kau kasih aku dengar!"

Belum lagi si pemuda menyahuti, Oey Yong sudah dului padanya.

"Aku masih punya beberapa macam sayuran untuk kau cobai, lojinkee!"

Katanya manis.

"Maukah kau turut kami pergi ke pasar di sana?"

Pengemis itu nampaknya sangat girang.

"Bagus, bagus!"

Ia menyahuti.

"Lojinkee she apa?"

Kwee Ceng menanya.

"Aku she Ang, anak yang ketujuh,"

Menjawab pengemis itu.

"Maka kamu berdua, anak-anak, kau panggil saja aku Ang Cit Kong."

"Ha, benar saja dia!"

Kata Oey Yong di dalam hatinya.

"Tapi dia masih begini muda, cara bagaimana dia sama kesohornya dengan Coan Cin Cit Cu?...."

Walaupun ia memikir demikian, Oey Yong tidak bilang suatu apa.

Bertiga mereka sudah lantas berjalan menuju ke Selatan, di mana ada sebuha dusun namanya Kiang-bio-tin.

Lantas saja mereka mencari pondokan.

"Kamu berdua menanti sebentar, aku hendak membeli bumbu,"

Kata Oey Yong, yang terus pergi meninggalkan mereka. Ang Cit Kong mengawasi belakang si nona, lalu ia tertawa. Ia kata kepada Kwee Ceng.

"Adakah dia itu istrimu?"

Merah mukanya Kwee Ceng, sulit untuk ia mengiakan atau menyangkal.

Ang Cit Kong tidak menanya pula, dia tertawa, lalu ia duduk nyender di kursinya, matanya meram melek.

Tidak lama Oey Yong kembali dengan sayuran dan bumbunya, ia pergi ke dapur untuk matangi itu.

Kwee Ceng hendak membantui, sembari tertawa, pemuda ini ditolaknya.

Selang setengah jam, Ang Cit Kong menguap.

Segera ia mengendus-endus.

"Ah, harum sekali!"

Katanya.

"Masakan apakah itu, ah?!"

Ia melongok ke arah dapur, lehernya diulur panjang-panjang.

Melihat tingkah lauk orang, Kwee Ceng tertawa di dalam hati.

Bau wanginya barang hidangan mendesak, tetapi Oey Yong belum juga muncul.

Si pengemis jadi serba salah, ia bangun, ia duduk, bangun pula, duduk kembali.

"Kau tahu tabiatku?"

Katanya pada Kwee Ceng, yang ia awasi.

"Mulutku aneh, asal aku merasai makanan lezat, lantas aku lupa segala apa!"

Kali ini ia tidak likat-likat lagi. Ia perlihatkan tangan kanannya, ia menambahkan.

"Orang dahulu membilang, jari telunjuk dapat bergerak, inilah benar. Aku, asal aku melihat orang dahar makanan lezat jeriji telunjukku ini lantas bergerak-gerak tak hentinya, maka satu kali, sangking sengit, aku bacok kutung padanya…."

"Oh….!"

Kwee Ceng berseru. Tapi si pengemis tertawa. Katanya pula;

"Meski jari tanganku lenyap, tabiatku tetap ada tak berubah…!"

Baru itu waktu Oey Yong muncul bersama sebuah penampan, di atas itu ada dua mangkok nasi, berasnya putih, secawan arak serta dua mangkok sayuran.

Dua magkok sayuran itu lantas dipindahlan ke meja.

Kwee Ceng merasakan bau harum, tanda lezatnya masakan itu.

Masih ada semangkok masakan daging yang menyiarkan bau terliebih harum lagi.

Semangkok yang lainnya pula masakan rebung campur-campu, kuahnya hijau.

Oey Yong mengisikan cawan, ia letaki itu di depan si pengemis.

"Cit Kong, mari cobai masakanku!"

Katanya sembari tertawa.

Tanpa ditawarkan sampai dua kali, Cit Kong sudah lantas menenggak araknya, lalu ia menyumpit dua potong bakso di masuki ke dalam mulutnya, terus ia menggayem, dengan asyik sekali, tandanya bakso itu sangat lezat.

"Ah, aku tahu!"

Katanya kemudian.

"Bakso ini adalah campuran daging kambing, daging babi, daging kerbau, dan daging…..daging…."

Dan ia tidak dapat menyebutkan itu.

"Kalau kau bisa membade, betul kau lihay, Cit Kong!"

Oey Yong tertawa. Tapi belum ia berhenti tertawa, si pengemis itu sudha berseru.

"Itulah daging mencak dicampur daging kelinci!"

Si nona bertepuk tangan.

"Bagus! Bagus!"

Pujinya.

"Kau sungguh lihay!"

Kwee Ceng sebaliknya mendoleng.

"Hebat Yong-jie!"

Pikirnya.

"Bagaimana dapat ia memasak semua ini?"

Ang Cit Kong girang bukan main, ia menjepit pula dua buah engtoh yang dimasak bersama sayur kuwah hijau itu.

"Aku tahu, inilah sup daun teratai campur rebung campur engtoh!"

Katanya. Ia masuki engtoh itu ke dalam mulutnya dan mengunyah. Mendadak ia mengasih dengar suara "Ah!"

Berulang-ulang. Kwee Ceng heran. Ia menduga, engtoh itu tentu lezat sekali.

"Ah, nona kecil, aku takluk padamu!"

Kata Ang Cit Kong kemudian, sesudah menguyah.

"Pada sepuluh tahun yang lampau, pernah aku makan makanan ini di dapurnya kaisar akan tetapi rasanya tidak selezat ini!"

Oey Yong tertawa.

"Cit Kong,"

Katanya.

"Coba bilangi, di dapur kaisar ada makanan apa lainnya yang lezat, ingin aku mempelajarinya, supaya aku bisa memasaki untukmu…"

Tapi tak sempat si pengemis berbicara, ia repot dengan baksonya, dengan sayurnya, maka dilain saat, maka semua makanan itu tinggal dua persepuluh bagian. Baru kemudian ia berkata;

"Di dapur kaisar tidak ada barang makanan yang dapat melebihkan masakanmu ini!"

Kwee Ceng heran.

"Eh, Cit Kong, apakah kaisar telah mengundang kau berjamu?"

Tanya ia. Cit Kong tertawa tergelak-gelak.

"Betul, kaisar telah mengundang aku!"

Jawabnya.

Cuma kaisar sendiri tidak dapat mengetahuinya!

Selama tiga bulan aku sembunyi di atas penglari dapur kaisar, semua barang hidangannya kaisar telah aku cobai satu demi satu, mana yang lezat, aku hajar habis, mana yang tidak lezat, aku biarkan si kaisar yang gegaras!

Koki dan lainnya semua heran, mereka sampai mengatakan di dapurnya itu muncul dewa si rase besar!"

Dua-duanya Kwee Ceng dan Oey Yong bersenyum, di dalam hati mereka berkata.

"Ini orang sangat doyan makan, mulutnya besar, tapi nyalinya pun gede…!"

"Eh, bocah!"

Tertawa pula si pengemis.

"Kepandaian masak istrimu ini inilah nomor satu di kolong langit ini! Seumurmu, kau sangat berbahagia! Sungguh heran, kenapa semasa aku muda, aku tidak pernah bertemu nona semacam dia….?"

Kwee Ceng tertawa, begitu pun Oey Yong.

keduanya lantas berdahar, Si nona perutnya kecil, sudah cukup ia makan satu mangkok.

Kwee Ceng sebaliknya menghabisi sampai empat mangkok, sayurannya ia tidak perhatikan.

Sayurannya telah dikonpa si pengemis!

Habis meludaskan semangkok sayur, Ang Cit Kong mengusap-usap perutnya.

"Eh, anak-anak, aku tahu kau mengerti ilmu silat,"

Katanya tiba-tiba.

"Dan kau bocah perempuan, kau masaki aku barang hidangan lezat, aku taju, kau tidak mengandung maksud baik! Kau tentunya menghendaki aku mengajarkan kau beberapa jurus! Baiklah, tidak apa! Aku telah merasai hidangan lezat, tidak enak jikalau aku tidak mengajari kau! Mari, ikut aku!"

Ia berbangkit, ia gendol cupu-cupunya, ia cekal tongkatnya, lantas ia berjalan keluar. Tanpa membilang apa-apa, sepasang muda-mudi itu mengikuti, sampai di sebuah rimba.

"Kau ingin mempelajari apa?"

Cit Kong tanya Kwee Ceng. Pemuda itu berpikir;

"Banyak sekali macamnya ilmu silat di kolong langit ini. Kalau aku menginginkan sesuatu, benarkah kau sanggup mengajarinya?"

Selagi si pemuda berpikir, Oey Yong mendahului.

"Cit Kong, kepandaian dia ini tidak melebihkan aku,"

Katanya.

"Dia sering marah-marah, ingin sekali dia menandingi aku!"

"Eh, kapan aku pernah marah terhadapmu…?"

Tanya Kwee Ceng. Oey Yong mengedipi mata pada pemudanya itu. Kwee Ceng lantas menutup mulutnya. Cit Kong tertawa, ia berkata.

"Aku lihat gerak kaki tanganmu, kau mesti mempunyai latihan dari beberapa puluh tahun, maka kenapa kau tidak sanggup melawan dia? Sekarang hayo kamu berdua bertempur, aku mau lihat!"

Oey Yong jalan beberapa tindak.

"Engko Ceng, mari!"

Ia memanggil. Pemuda itu bersangsi.

"Jikalau kau tidak pertontonkan kepandaianmu, mana bisa lojinkee mengajarimu?"

Si nona berkata.

"Marilah!"

Kwee Ceng pikir si nona itu benar juga, maka lantas ia kata pada si pengemis.

"Apa yang pernah aku pelajarkan tidak sempurna, aku minta sukalah lojinkee memberi petunjuk."

Cit Kong tersenyum.

"Mengajari sedikit tidak apa, mengajar banyak, itulah lain!"

Katanya. Mendengar itu, Kwee Ceng melengak. Ia heran. Justru itu Oey Yong berteriak.

"Awas!"

Seraya tangannya menyambar! Ia terkejut, lekas-lekas ia menangkis. Tetapi si nona lihay sekali, ia menarik tangannya, kakinya menggantikan merabuh ke bawah.

"Bagus nona cilik!"

Berseru Ang Cit Kong.

"Kau lihay!"

Si nona tidak melayani pujian itu, hanya seperti berbisik ia kata kepada Kwee Ceng.

"Mari bertempur sungguh-sungguh…."

Kwee Ceng menurut, ia berkelahi dengan bersemangat.

Ia keluarkan ilmu silat ajarannya Lam Hie Jin, yaitu Lam San Ciang-hiat.Hebat permainannya ini disebabkan, sesudah meminum darah ular, tenaganya bertambah berapa lipat.

Oey Yong melayani pelbagai serangan, setelah itu, ia keluarkan kepandaian ciptaan Oey Yok Su, ayahnya, yaitu "Lok Eng Ciang".

Dengan begitu tenaganya lantas memain di delapan penjuru, bagaikan badai mengamuk rimba pohon tho.

Kwee Ceng kontan menjadi repot, selagi ia kelabakan, empat kali ia terhajar punggungnya.

Habis itu si nona berlompat keluar dari gelanggang, dia tertawa.

"Yong-jie, kau lihay!"

Kwee Ceng memuji. Ia tidak gusar atau malu, sebaliknya ia girang sekali. Ia tidak dihajar keras oleh si nona. Bab 25. Tipusilat "Naga Menyesal"

Ketika itu Ang Cit Kong berkata dengan dingin kepada si nona.

"Ayahmu ada mempunyai kepandaian tinggi sekali, kenapa kau masih menghendaki aku mengajari dia?"

Oey Yong terkejut.

"Eh, kenapa dia mengenali ilmu silat ayahku ini, yang ayah ciptakan sendiri?"

Pikirnya. Lantas ia menanya.

"Cit Kong, kenalkah kau ayahku?"

"Tentu saja!"

Sahut si pengemis, temberang.

"Dia Tong Shia dan aku Pak Kay! Selama beberapa tahun, entah kita sudah bertempur beberapa puluh kali!"

Oey Yong heran. Ia berpikir pula .

"Dia pernah berkelahi sama ayhku dan dia masih belum mati, sungguh dia berkepandaian tinggi."

Lalu ia menanya pula.

"Lojinkee, bagaimana kau mengenali aku?"

"Pergilah kau kacakan dirimu!"

Sahut pengemis itu.

"Kau lihat alismu, matamu, tidakkah itu mirip dengan alis dan mata ayahmu? Mulanya aku tidak mengenali kau, aku cuma merasa seperti mengenal, setelah melihat ilmu silatmu barusan – hm! Walaupun aku belum pernah melihatnya, tetapi aku tahu betul, ilmu itu cuma dapat dibetelori oleh ayahmu itu yang licin bagai iblis itu!"

Oey Yong tidak gusar ayahnya dikatakan sebagai iblis, sebaliknya ia tertawa.

"Bukankha lojinkee hendak membilang ayahku sangat lihay?"

Ia menanya.

"Memang ia lihay,"

Sahut Ang Cit Kong dingin.

"Tetapi dia bukanlah yang nomor satu di kolong langit ini!"

Oey Yong bertepuk tangan, gembira sekali dia.

"Kalau begitu adalah lojinkee yang nomor satu!"

Serunya.

"Itulah bukan,"

Berkata si pengemis, mengaku.

"Pada lebih daripada duapuluh tahun yang lampau, kita, ialah Tong Shia, See Tok, Lam Tee, Pak Kay dan Tiong Sin Thong berlima berkumpul di atas puncak gunung Hoa San, kita membicarakan tentang ilmu silat bertangan kosong dan menggunai pedang, kita telah bertanding selama tujuh hari tujuh malam, kesudahannya ternyata Tiong Sin Thong yang paling lihay, kita berempat mengakui dia adalah yang nomor satu di kolong langit ini."

"Siapa itu Tong Sin Thong?"

Oey Yong menanya.

"Apakah ayahmu tidak pernah omong tentang dia?"

Tanya si pengemis.

"Tidak. Bahkan ayah mendamprat aku, dia tidak menyukai aku, dari itu aku minggat. Untuk selanjutnya ayah tidak menghendaki aku lagi…"

Kata si gadis dengan sedih.

"Ha, siluman tua itu!"

Ang Cit Kong memaki.

"Benar-benar dia sesat!"

Oey Yong memperlihatkan roman tidak senang.

"Aku melarang kau memaki ayahku!"

Ia berkata. Ang Cit Kong tertawa terkakak.

"Sayang sekali orang mencela aku si pengemis melarat, tidak ada wanita yang sudi menikah denganku,"

Katanya.

"Kalau tidak, dengan adanya kau yang begini manis, pastilah tidak rela aku mengusir kau buron…"

Oey Yong pung tertawa.

"Itulah pasti, lojinkee! Dengan kau mengusir aku, siapa nanti yang masaki kau sayur?"

Pengemis itu menghela napas.

"Kau benar, kau benar,"

Ujarnya. Ia berhenti sejenak, lalu ia meneruskan;

"Tiong Sin Thong itu ada kauwcu, ialah kepala dari Coan Cin Kauw, namanya Ong Tiong Yang. Setelah ia menutup mata, sekarang sukar dibilang, siapakah dikolong langit ini menggantikan dia sebagai yang nomor satu…"

"Coan Cin Kauw, lojinkee bilang? Ah, bukankah disana masih ada si imam she Khu dan she Ong? Bukankah mereka itu lihay ilmu silatnya?"

Tanya Oey Yong lagi.

"Mereka itu ialah murid-muridnya Ong Tiong Yang. Aku dengar dari tujuh muridnya, Khu Cie Kee adalah yang paling lihay, tetapi walaupun demikian dia tidak dapat menandingi paman gurunya, Ciu Pek Thong."

Jawab Cit Kong.

Mendengar disebutkannya nama Ciu Pek Thong itu, Oey Yong terperanjat, hendak ia bicara tapi mendadak ia mengurungkannya.

Sejak tadi Kwee Ceng hanya memasang kuping saja, sekarang ia menyelak.

"Oh, kiranya Ma Totiang masih mempunyai paman guru…"

Katanya.

"Ciu Pek Thong itu bukannya imam dari Coan Cin Kauw,"

Cit Kong memberi keterangan.

"Dialah seorang biasa, yang tidak memegang agama. Ilmu silatnya itu diajarkan sendiri oleh Ong Tiong Yang. Ah, bukankah ayahmu tidak menyukai ini bocah tolol yang menjadi kawanmu?"

Pengemis ini mengatakan Kwee Ceng, inilah yang tidak disangka-sangka si anak muda. Ia menjadi bungkam. Oey Yong tidak menjadi gusar, ia malah tertawa.

"Ayahku belum pernah melihat dia,"

Ia menyahuti.

"Jikalau lojinkee sudi memberi pelajaran padanya, dengan memandang kau, pastilah ayahku nanti menyukai dia."

"Hai, iblis cilik!"

Seru si pengemis.

"Kepandaian ayahmu belum kau dapatkan satu bagian saja, tetapi mata iblisnya kau telah wariskan semuanya! Aku tidak senang diumpak-umpak orang dipakaikan kopiah tinggi, aku si pengemis tua juga tidak pernah menerima murid, maka siapakah kesudian bocah tolol ini sebagai murid? Hanyalah kau sendiri yang memandangnya dia sebagai mustika!"

Sehabis berkata begitu, Ang Cit Kong berbangkit, dengan membawa tongkatnya, dia ngeloyor pergi. Kwee Ceng heran, dia berdiri menjublak mengawasi kepergian orang tua itu.

"Yong-jie,"

Katanya selang sesaat.

"Tabiatnya locianpwee ini sungguh luar biasa."

"Sebenarnya ialah seorang yang baik hatinya!"

Menyahuti Oey Yong, yang kupingnya sangat terang, hingga ia dapat mendengar satu suara sangat perlahan di atas pohon di samping mereka, hingga ia menduga kepada si pengemis aneh itu.

"Dia juga terlebih lihay daripada ayahku…"

Kwee Ceng memperlihatkan roman aneh.

"Kau belum pernah menyaksikan kepandaiannya, mengapa kau bisa bilang begitu?"

"Aku dengar itu dari ayahku,"

Jawab Oey Yong.

"Apakah kata ayahmu?"

Tanya si pemuda lebih lanjut.

"Ayahku bilang, sekarang ini, orang yang kepandaiannya lihay yang dapat memenangkan ayah cuma tinggal Ang Cit Kong seorang. Sayang orang tua itu tidak ketentuan tempat kediamannya, tidak dapat kita sering berkumpul dengannya untuk menyakinkan ilmu."

Sahut si nona.

Dugaan si nona tepat, Ang Cit Kong tidak berlalu terus.

Stelah tak nampak oleh Kwee Ceng dan si nona, lekas-lekas ia kembali.

Ia jalan mutar, terus ia lompat naik ke atas pohon, dari itu ia bisa mendengar pembicaraannya muda-mudi itu.

Ia pun puas mendengar suaranya Oey Yok Su seperti dikatakan si nona.

"Pada wajahnya Oey Yok Su tidak pernah mengagumi aku, siapa tahu di dalam hatinya dia memandang hormat,"

Pikirnya. Dan ia puas sekali. Ia tidak tahu Oey Yong melainkan mengarang cerita.

"Sayang belum berarti aku menuntut pelajaran dari ayahku,"

Oey Yong berkata pula, ia bersandiwara terus.

"Mengenai itu aku harus menyesalkan diri sendiri. Kenapa dulu aku gemar main-main saja, tidak mau aku belajar dengan rajin. Sekarang kebetulan sekali kita bertemu dengan Ang Cit Kong, asal dia suka memberikan satu-dua pelajaran, bukankah itu terlebih baik daripada pengajaran ayahku sendiri? Menyesal aku telah keterlepasan omong, aku menyebabkan locianpwee itu tidak senang hati…."

Habis berkata begitu, ia lantas menangis.

Kwee Ceng menghiburi kekasihnya itu, tetapi justru itu, dari berpura-pura, Oey Yong menjadi menangis sungguhan.

Ang Cit Kong di atas pohon melihat dan mendengar semua itu, hatinya tertaeik.

Oey Yong menangis tersedu-sedu.

"Pernah aku dengar ayah bilang,"

Katanya kemudian.

"Kiu Cie Sin Kay ada mempunyai semacam ilmu silat yang di kolong langit ini tidak ada saingannya, yang sejak jaman dahulu senantiasa menjagoi sendiri, sampaipun Ong Tiong Yang jeri juga terhadapnya. Ilmu silat itu dinamakan……dinamakan…..Ah, aku lupa, sedang barusan aku ingat….. Sebenarnya, ingin aku minta diajari ilmu silat itu, namanya….namanya….Ah, aku lupa lagi!"

Ang Cit Kong masih tidak sadar bahwa orang tengah mengepul terus, ia tidak dapat mengendalikan diri dari ataas pohon, hingga ia langsung berseru.

"Itulah Hang Liong Sip-pat Ciang!"

Dan ia pun lompat turun dari pohon tempat bersembunyinya itu. Oey Yong berpura-pura terkejut, tapi habisnya ia girang bukan kepalang.

"Benar, benar, ah , kenapa aku tidak ingat itu?"

Dia berseru.

"Ayah sering sekali menyebut ilmu silat itu, dia kata itulah ilmu yang ia paling malui…."

"Kiranya ayahmu itu masih suka omong terus-terang!"

Ang Cit Kong berkata.

"Aku tadinya menyangka, semenjak meninggalnya Ong Tiong Yang, dia menganggap dirinya sebagai si orang kosen nomor satu di dalam dunia ini…!"

Dia memandang Kwee Ceng, terus ia berkata.

"Eh, bocah, bakatmu kalah dengan bocah perempuan ini, itulah sebabnya kenapa kau tidak dapat menandingi padanya. Eh, nona cilik, pergilah kau pulang ke pondokmu!"

Oey Yong tahu si pengemis hendak memberi pelajaran pada Kwee Ceng, ia girang bukan main, dengan lantas ia lari pulang. Lantas Ang Cit Kong memandang tajam pada si anak muda.

"Lekas kau berlutut dan mengangkat sumpah!"

Katanya, bengis.

"Tanpa perkenan dari aku, aku larang kau mewariskan kepandaian yang aku ajarkan ini kepada lain orang, termasuk juga itu istrimu yang licin bagai iblis cilik!"

Kwee Ceng menjadi bingung.

"Kalau Yong-jie memintanya, mana dapat aku menolak?"

Ia berpikir. Karena ini, ia berkata.

"Cit Kong, aku tak ingin belajar! Biarlah dia tetap jauh terlebih gagah daripada aku…"

Cit Kong heran.

"Eh, kenapa begitu?"

Dia menegaskan.

"Sebab kalau dia minta aku mengajarinya,"

Sahut Kwee Ceng.

"Apabila aku tidak suka mengajarinya, aku jadi berlaku tidak pantas terhadapnya. Sebaliknya jikalau aku meluluskan permintaannya dan mengajarinya, aku malu terhadap kau, aku jadi melanggar sumpahku."

Mendengar keterangan ini, Ang Cit Kong tertawa lebar.

"Anak tolol, matamu tajam, hatimu baik!"

Katanya.

"Kau jujur sekali! Sekarang begini saja, aku ajarkan kau jurus Kang Liong Yoe Hoei. Aku tahu Oey Yok Su itu sangat angkuh, seumpama kata ia sangat mengagumi pengajarkan ini, tidak nanti dia menjadi tidak tahu malu dengan mencuri mempelajari kepandaianku yang istimewa ini…"

Setelah mengatakan begitu, Ang Cit Kong lantas menekuk kakinya yang kiri, tangan kanannya ditarik mutar sebagai lingkaran, lalu mendadak ia majukan itu ke depan.

Kesudahannya sebuah pohon di depannya itu patah batangnya, roboh dengan berisik sekali.

Kwee Ceng terperanjat kagum.

Ia tidak sangka tolakan tangan demikian perlahan akibatnya sehebat itu.

Itulah emposan tenaga dalam yang sangat besar.

"Pohon ini adalah benda yang tidak bergerak-gerak!"

Cit Kong menerangkan.

"Kalau manusia, dia pasti dapat mundur berkelit. Mempelajari ilmu pukulanini, sukarnya ialah mencegah agar lawan tidak dapat mundur, supaya dia itu tidak bisa berkelit, kalau cegahan itu dapat dilakukan, dia pasti bakal roboh seperti pohon ini."

Lagi sekali si pengemis menjalankan pukulannya itu, sampai dua kali, ia sekalian mengajarkan emposan pernapasannya.

Untuk ini ia mesti menggunai tempo cukup lama.

Sebabnya ialah bakat yang kurang dari Kwee Ceng, yang otaknya bebal, hingga ia selamanya mesti belajar lama barulah ingat dan hapal.

begitulah, selang dua jam barulah ia mengerti betul.

Cit Kong berkata.

"Perempuan cilik itu, permainan silatnya lebih banyak gertakannya daripada pukulan yang sebenar-benarnya, kalau kau bertanding dengannya dan repot membela diri, pasti sekali kau dipermainkan dia. Kau boleh gesit dan lincah, kau tetap tidak nanti dapat menangi dia. Kau boleh menduga pukulannya yang benar-benar, kenyataannya ialah gertakan belaka. Saban-saban dia bisa membikin kau tidak dapat menerka."

Kwee Ceng mengangguk-angguk.

"Karenanya jikalau kau ingin memecahkan ilmu silatnya itu,"

Cit Kong membeber rahasia terlebih jauh.

"Jangan kau usil pukulannya itu gertakan atau benar-benar, kau tunggu pukulannya tiba, palsu atau benar, kau sambut dengan Kang Liong Yoe Hoei. Apabila dia melihat seranganmu itu, mesti ia menangkis, asal dia menangkis, kalahlah dia!"

"Kemudian bagaimana!"

Kwee Ceng tanya.

"Kemudian bagaimana?!"

Si pengemis mengulangi.

"Ha, anak tolol! Dia ada punya berapa banyak kepandaian hingga ia sanggup melawan ini pukulan yang aku ajarkan kau?"

Si pemuda tak berani mananya lagi, ia terus berlatih. Ia pilih sebuah pohon yang kecil, ia hajar itu. Ia kena menghajar dengan tepat, tetapi pohon itu tidak roboh, melainkan bergoyang-goyang.

"Anak tolol!"

Mendamprat si pengemis.

"Mau apa kau menggoyang-goyang pohon itu?! Kau hendak menangkap bajing atau mau memetik buah cemara?!"

Mukanya Kwee Ceng menjadi merah, ia tertawa menyeringai.

"Sudah aku bilang, kau mesti bikin lawan tidak dapat mundur, tidak bisa berkelit!"

Ang Cit Kong berkata pula.

"Pukulan barusan tepat tetapi kurang bertenaga, dengan pohon bergoyang, tenagamu menjadi buyar. Mestinya pohon dihajar tanpa ia bergoyang, baru ia dapat dibikin patah."

Kali ini Kwee Ceng sadar.

"Jadinya aku mesti sebat sekali supaya lawan tak keburu bersiaga,"

Katanya.

"Memang! Apa mesti disebutkan pula?!"

Sembrot si pengemis.

Anak muda ini berdiam, ia berlatih pula.

Untuk beberapa puluh kali ia memukul, pohon masih bergoyang-goyang.

Ia tidak menjadi bosan, ia tidak berputus asa, terus ia mencoba.

barulah hatinya menjadi terbuka ketika kemudian bergoyangnya pohon perlahan sekali.

Itu tandanya ia peroleh kemajuan.

Sementara itu tangannya telah jadi bengkak dan merah, tetapi ia tidak pedulikan, masih ia berlatih terus.

Ang Cit Kong tidak sabaran, ia duduk menyender, lalu pulas, menggeros keras.

Ulet si anak muda, segera juga ia bisa bikin pohon tidak bergoyang.

Ia jadi semakin bersemangat.

Kembali ia memukul.

Diakhirnya, robohlah pohon itu, terpatah dua!

Hampir ia bersorak.

"Bagus!"

Begitu terdengar suaranya Oey Yong, yang terlihat mendatangi dengan perlahan-lahan, tangannya membawa kotak makanan. Cit Kong belum membuka matanya, hidungnya sudah mencium bau wangi makanan.

"Harum! Harum!"

Katanya seraya ia berlompat bangun, segera ia membuka tutup kotak hingga ia lihat ayam panggang dan bebek serta setumpuk lumpia.

tanpa diundang lagi, ia menyambar dengan tangan kiri dan kanan, memasuki ayam dan bebek itu bergantian ke mulutnya untuk digeragoti.

"Lezat! Lezat!"

Ia memuji, tapi karena mulutnya penuh, tak nyata pujiannya itu.

Ketika sebentar kemudian ayam dan bebek itu habis, tinggal tulang-tulangnya saja, baru ia ingat Kwee Ceng belum dahar.

Agaknya ia jengah snedirinya.

Tapi lekas ia berkata.

"Mari, mari! Lumpia ini pun lezat….! Lebih lezat dari bebek…!"

Dua-dua Kwee Ceng dan Oey Yong tidak menjadi tidak senang, malah si nona tertawa.

"Cit Kong, kau belum dahar masakanku yang paling jempol!"

Katanya si nona. Si pengemis menjadi mengilar.

"Msakan apa itu? Masakan apa itu?"

Ia menanya, mendesak.

"Tidak dapat aku sebutkan semua itu sekarang,"

Menjawab si nona.

"Ada peecay goreng, ada tauwhu tim, ada juga sup daging!"

Cit Kong menjadi semakin ngilar.

"Bagus, bagus!"

Katanya.

"Sudah aku bilang, kau memang anak manis! Apa boleh aku pergi membelikan peecay dan tauwhu sekarang?"

"Tak usah, Cit Kong. Kau yang beli pun tidak cocok sama pilihanku!"

"Ya, benar-benar, mana orang lain dapat memilih seperti kau sendiri!"

Nona Oey itu lantas memutar haluan.

"Barusan aku lihat dia menghajar pohon patah dan roboh, sekarang ia lebih lihay daripadaku!"

Katanya mengenai Kwee Ceng. Si pengemis itu menggeleng-geleng kepalanya.

"Tidak, tidak!"

Katanya cepat.

"Pukulan apa itu, pohon bergoyang-goyang dan melengkung? Mestinya sekali pukul pohon patah dan runtuh!"

"Toh pukulannya barusan sudah hebat, aku tentu tidak sanggup menahannya,"

Kata pula si nona.

"Dasar kau yang berat sebelah! Kalau nanti ia menghina aku, bagaimana?"

Cit Kong hendak mengambil hati orang yang pandai masak itu, ia tidak menjadi kurang senang yang ia disesalkan.

"Habis kau mau apa?"

Tanya.

"Kau mesti ajarkan aku ilmu, yang dapat menangi dia,"

Kata si nona.

"Sesudah aku paham, aku nanti masaki kau barang hidangan."

"Baiklah! Dia baru belajar serupa ilmu, tidak sukar untuk menangi dia. Nanti aku ajari kau Yang Siang Hoei."

Baru ia tutup mulutnya, sudah ia berlompat, untuk terus bersilat.

Kedua tangan bajunya yang lebar berkibar-kibar, tubuhnya berlompatan ke Timur dan Barat, pesat gerakannya.

Diam-diam Oey Yong perhatikan sesuatu gerakan orang, maka tempo Cit Kong berhenti bersilat, ia sudah ingat separuhnya, selebihnya ia minta penjelasannya.

Dasar ia berotak terang, belum dua jam, ia sudah mengerti seanteronya, dapat ia jalankan ilmu silatnya itu, tinggal memahirkan latihannya saja.

Yang Siang Hoei atau Burung Walet Terbang Berpasangan, terdiri dari tigapuluh enam jurus, gerakannya mirip dengan burung walet terbang menari-nari.

Beda adalah Kang Liong Yoe Hoei, atau Naga Menyesal, yang singkat saja, tetapi untuk Kwee Ceng merupakan pelajaran yang sulit.

Habis berlatih, Oey Yong tertawa.

"Engko Ceng, sekarang aku lebih menang pula daripada kau!"

Katanya gembira.

"Sekarang aku mau pergi beli sayur!"

Dan lantas dia lari pergi.

"Bocah itu cerdik melebihkan kau seratus lipat!"

Kata Cit Kong pada si anak muda seberlalunya si nona jenaka itu.

"Memang. Barusan aku melihat lojinkee bersilat, mataku kabur, aku cuma ingat tiga empat jurus."

Cit Kong tertawa, tanpa membilang apa-apa, dia pulang ke pondokan.

Kwee Ceng berdiam, ia mengikuti pulang.

Malam itu Oey Yong benar memasakkan peecay goreng dan tim tauwhu, peecaynya dimasak dengan minyak ayam dicampur ceker bebek, sedang tauwhunya dicampuri ham.

Maka puaslah Cit Kong menangsel perutnya.

Habis bersantap, ia heran melihat muda-mudi itu tidur terpiash kamar.

"Apa? Apakah kamu belum menikah?"

Dia menegaskan. Oey Yong tukang bergurau, tetapi ditanya begitu, merah mukanya, hingga di antara cahaya api, dia tampak makin cantik.

"Awas Cit Kong!"

Dia mengancam.

"Kalau kau ngaco lagi, besok aku tidak akan masaki kau makanan yang lezat!"

"Apa, eh? Apakah aku ngomong salah?"

Tanya si pengemis, kaget. Tapi segera ia mendusin.

"Ah, aku tolol betul! Bukankah kamu baru mengikat janji sendiri, belum lagi mendapat perkenan orang tua kamu, belum ada rekokan comblang? Jangan takut, aku si pengemis yang nanti jadi comblangnya! Jikalau ayahmu tidak mau menerima, nona, nanti aku tempur dia! Biar kita bertempur lagi tujuh hari tujuh malam, biar sampai ada yang mampus dan hidup!"

Senang hatinya Oey Yong, sembari bersenyum ia memasuki kamarnya.

Besoknya pagi-pagi Kwee Ceng sudah pergi ke rimba untuk menyakinkan pula pukulan Kang Liong Yoe Hoei, yang sebenarnya adalah satu jurus dari Hang Liong Sip-pat Ciang, ilmu silat Menakluki Naga.

Hanya kali ini ia berlatih kosong, tidak lagi ia menghajar pohon, sebab ia khawatir merusak pohon kayu penduduk situ.

Baru menghajar duapuluh lebih kali, ia sudah mandi keringat.

Tetapi ia girang sekali, sebab ia telah memperoleh kemajuan.

Selagi ia beristirahat, tiba-tiba ia dengar suara orang di luar rimba.

"Suhu, kali ini mungkin kita telah melalui tigapuluh lie lebih!"

Demikian pendengarannya. Terang orang itu adalah murid berbicara sama gurunya.

"Nyatanya ilmu lari kamu telah ada kemajuannya,"

Menjawab seorang yang lain.

Kwee Ceng lantas saja kaget.

Ia kenali suara orang yang belakangan ini.

Ia pun lantas melihat orangnya – berempat – ialah Kaoy Nio Cu Ong, si tua tetapi romannya tetap muda.

Ia mengeluh, lantas saja ia kabur mengambil arah ke penginapan.

Juga Nio Cu Ong sudah lantas melihat dan mengenali pemuda itu.

"Kau hendak kemana?!"

Dia membentak seraya terus mengejar.

Tiga yang lain benar adalah murid-muridnya Soam Sian Loa Kaoy, mereka lantas turut memburu, malah dengan berpencaran, untuk memegat dan mengurung.

Kwee Ceng lari terus.

Ia mengerti, asal ia dapat keluar dari rimba, dekat sudah ia dengan pondokannya.

Tapi ia dapat dipegat murid kepala musuhnya itu.

"Bangsat cilik, tekuk lututmu!"

Membentak pemegat itu, yang terus menyerang.

Kwee Ceng menekuk kaki kirinya, tangan kanannya diputar, lalu ia menolak.

Itulah jurus Kang Liong Yoe Hoei yang baru saja ia pelajari.

Murid Nio Cu Ong itu hendak menjambak, karena ditolak, hendak ia menangkis.

Inilah hebat untuknya.

Segera ia terserang hingga lengannya itu patah dan tubuhnya terpental enam tujuh kaki, roboh tak sadarkan diri.

Sekalipun ia berkelit, belum tentu ia bebas.

Kwee Ceng sendiri heran.

Sebenarnya ia memakai tenaganya cuma lima bagian, tapi akibatnya dahsyat sekali.

Untuk sejenak ia tercengang, ketika ia mendusin, lekas ia lari pula.

Nio Cu Ong melihat muridnya dirobohkan, ia kaget berbareng gusar, dia mengejar terus.

Tepat dimuka rimba, ia dapat memegat.

Kwee Ceng kaget dan khawatir, sebab si musuh tangguh menghalangi di tengah jalan.

Hampir tanpa berpikir, ia tekuk lagi kaki kirinya, tangannya dilingkarkan, lalu ia menolak dengan keras.

Kembali ia menggunai jurus Naga Menyesal itu.

Soam Sian Loa Koay terperanjat.

Ia tidak kenal pukulan itu, yang nampaknya hebat, terpaksa ia berkelit dengan menjatuhkan diri ke tanah dan bergulingan.

Dengan begitu ia bebas, tapi justru itu, Kwee Ceng dapat menerobos untuk lari terus.

Ketika ia berlompat bangun, dengan niat mengejar terus, ia dapatkan bocah itu sudah tiba di muka pondokannya.

"Yong-jie! Yong-jie!"

Kwee Ceng berteriak.

"Lekas minta Cit Kong tolongi aku!"

Oey Yong dapat mendengar teriakan itu, ia muncul dengan lantas. Segera ia melihat Nio Cu Ong.

"Eh, kenapa siluman bangkotan ini berada di sini?"

Pikirnya.

"Bagus ia datang, hendak aku menguji Yan Siang Hoei!"

Terus ia berteriak;

"Engko Ceng, jangan takut! Lawan dulu padanya, nanti aku bantui kau!"

Kwee Cneg cemas hatinya, karena ia tahu Nio Cu Ong lihay dan Oey Yong belum tahu apa-apa.

Tapi tidak sempat ia berpikir lama, musuhnya sudah menyandak.

Ia memutar tubuhnya, kembali ia menyerang dengan pukulan Kang Liong Yoe Hoei.

Nio Cu Ong berlompat ke samping, kali ini ia kurang sebat, meski ia bebas, tangan kanannya terserembet juga, hingga ia merasakan sakit dan panas.

Tentu sekali ia menjadi heran luar biasa.

Baru beberapa bulan mereka berpisah, bocah ini telah menjadi demikian lihay.

Ia menduga itulah disebabkan Kwee Ceng menminum darah ular.

Ingat ini, ia menjadi tambah mendongkol.

Kwee Ceng lihat orang berkelit, ia menyusuli serangannya, dengan pukulan yang serupa.

Nio Cu Ong cerdas dan lihay, segera ia mendapat kenyataan, pukulan orang hanya serupa, maka setelah berkelit pula, dia tertawa dan berkata;

"Ha, bocah, kau mempunyai cuma satu jurus ini?"

Kwee Ceng polos, ia tidak tahu orang memancing dia.

"Ya,"

Jawabnya.

"Toh kau tidak mampu menangkis!"

Ia lantas menyerang pula.

Nio Cu Ong berlompat.

Sekarang tahu ia bagaimana harus mengelakkan diri.

Tiga kali lagi ia diserang, tiga kali ia berkelit, di samping itu, ia membalas menyerang.

Kwee Ceng gagal berulang-ulang, ia lantas menjadi repot.

Oey Yong menonton pertempuran itu, ia melihat kawannya terdesak.

"Engko Ceng, nanti aku lawan dia!"

Ia berseru.

Ia berlompat ke arah dua orang itu, tubuhnya melayang bagaikan seekor burung walet.

Begitu tiba, kepalan kiri dan kaki kanannya segera dikasih bekerja dengan berbareng.

Nio Cu Ong berlompat mundur, habis itu ia membalas menyerang.

Kwee Ceng lantas mengundurkan diri, lalu ia berdiri menonton.

Oey Yong menggunai Yang Siang Hoei dengan baik, tetapi dasar masih baru dan ia pun kalah Iweekang, ia tidak berdaya merobohkan jago tua itu, sebaliknya hampir-hampir ia kena dihajar beberapa kali oleh lawannya, syukur ia memakai tameng joan-wie-kah.

Habis tigapuluh enam jurus, ia pun kenas terdesak.

Dua muridnya Nio Cu Ong menolongi kakak seperguruannya, yang mereka pepayang, mereka menonton pertempuran itu, mendapatkan guru mereka unggul, mereka berteriak-teriak menganjurkan guru mereka itu.

Kwee Ceng berkhawatir untuk kekasihnya itu, terpaksa hendak ia maju membantui.

Justru itu ia dengar suara nyaring dari Ang Cit Kong, yang berada di aling jendela.

"Dia bakal menggunai jurus Anjing Galak Memegat Jalan!"

Oey Yong mendengar itu, ia melengak.

Ia melihat Nio Cu Ong memasang kuda-kuda terpentang dan kedua tangan dikasih rata.

Ia kenali itulah sikap jurus Harimau Galak Memegat Jalan.

Ia tertawa di dalam hatinya.

Kiranya Cit Kong tukar ‘Harimau’ dengan ‘Anjing’.

Ia hanya heran kenapa Cit Kong dapat membade niat orang.

Ia lantas membela diri.

Kembali Cit Kong berseru.

"Dia bakal menggunai Ular Bau Mengmbil Air!"

Oey Yong sangat cerdas, lantas ia mengetahui, tentulah itu dimaksudkan jurus Naga Hijau Menyedot Air.

Jurus itu lihay di depan, kosong di belakang.

Karenanya dengan lincah ia berlompat nyamping, terus ke belakang lawannya.

Nio Cu Ong benar-benar menyerang dengan pukulan Naga Hijau Menyedot Air itu.

Tentu saja ia gagal, karena si nona sudah mendahului menghalau diri.

Malah ia jadi terluang punggungnya.

Syukur ia lihay, dapat ia berkelit dari serangan si nona.

Segera ia memandang ke arah jendela rumah penginapan.

"Orang pandai siapa di situ? Mengapa kau tidak mau memperlihatkan diri?"

Dia berseru dengan pertanyaannya.

Ang Cit Kong dengar suara menantang itu, ia membungkam.

Oey Yong ada tulang punggungnya, ia jadi berani sekali.

Ia menerjang.

Dalam murkanya Nio Cu Ong melawan dengan bengis, ia menggunai pukulan-pukulan yang membinasakan.

Tentu sekali, si nona segera terdesak pula.

"Jangan takut!"

Terdengar pula teriakannya Cit Kong.

"Dia bakal menggunai Pukulan si Kunyuk Kempolan Biru Manjat Pohon!"

Oey Yong tertawa cekikikkan, ia lantas mendahului menyerang dengan tinjunya.

Nio Cu Ong benar-benar hendak menyerang dengan jurusnya yang disebut Cit Kong itu, hanya si pengemis aneh itu sengaja tukar namanya jurus itu, yang sebenarnya Kera Sakti Manjat Pohon.

Melihat ia diserang, terpaksa ia membatalkan niatnya untuk membela diri, guna menukar jurus.

Karena ia tahu, percuma ia melanjuti serangannya dengan tipu silat itu.

Dasar ia lebih lihay, tidak sukar untuk ia menolong dirinya.

Hanya ia jadi semakin heran.

Ia tanya dirinya.

"Kenapa orang itu ketahui aku bakal menyerang dengan jurusku itu?"

Oey Yong menyerang terus. Nio Cu Ong membela diri, habis mana, dia berlompat pula keluar kalangan. Ia berteriak ke arah pondokan.

"Saudara yang baik, jikalau kau tetap tidak hendak memperlihatkan diri, jangan menyesal apabila aku tidak berlaku murah hati lagi!"

Di mulutnya Som Sian Lao Koay mengatakan demikian, tangannya berkerja.

Ia maju menyerang Oey Yong, hebat serangannya itu, maka dalam beberapa jurus saja, si nona terdesak pula.

Cit Kong tidak bersuara pula, ia pun tidak muncul.

Kwee Ceng melihat kekasihnya terdesak dan kelabakan hingga ia mesti main berkelit saja, ia lantas maju untuk membantui.

Segera ia menyerang denagn pukulannya Naga Menyesal itu!

Nio Cu Ong mengetahui hebatnya jurus itu, ia lompat mencelat.

"Hajar padanya, engko Ceng!"

Oey Yong menganjurkan.

"Serang terus-terusan hingga tiga kali beruntun!"

Habis menganjurkan, nona itu memutar tubuhnya, lari ke dalam pondokan.

Kwee Ceng menuruti anjuran pacarnya, ia memasang kuda-kudanya.

Ia mau menunggu io Cu Ong merangsak, hendak ia menyambutnya.

Som Sian Loa Koay menjadi gusar berbareng mendelu, pun ia merasa lucu juga.

Dalam hatinya ia berkata.

"Setahu darimana bocah ini dapat pelajari kurusnya ini…Toh ia cuma mempunyai satu jurus…."

Walaupun begitu, ia tidak berani keras lawan keras, bahkan tidak berani ia datang mendekati.

Karena terpisah cukup jauh, Kwee Ceng tidak bisa menyerang.

Dengan begitu, pertempuran jadi mandek, mereka berdiri berhadapan saja.

"Anak tolol, awas!"

Io Cu Ong berteriak kemudian, terus ia berlompat, untuk menyerang.

Kwee Ceng menanti, lantas ia menyambuti dengan serangannnya.

Tapi orang she Nio itu menggunai akal.

Dia tidak menyerang terus.

Belum lagi tubuhnya datang dekat, tangannya sudah terayun, lalu tiga batang jarum Touw-kut-ciam menyerang si anak muda di tiga jurusan, atas, tengah dan bawah!

Kwee Ceng melihat bahaya, terpaksa ia batalkan serangannya, ia terus berkelit.

Ketika ini digunai Nio Cu Ong berlompat maju, tangannya menyambar ke batang leher orang, menjambak leber baju.

Kwee Ceng terdesak, ia menyundul dengan kepalanya.

Tapi Nio Cu Ong benar-benar lihay, si anak muda merasakan ia seperti membentur kapas.

Nio Cu Ong puas sekali, hendak ia menghajar anak muda itu.

Kali ini Oey Yong muncul dengan tiba-tiba.

"Siluman tua, lihat apa ini?!"

Dia berteriak.

Nio Cu Ong kenal orang licin, lebih dulu ia pencet jalan darah Kin-ceng-hiat dari Kwee Ceng, baru ia menoleh kepada si nona nakal.

Dia lantas mendapatkan Oey Yong menghampirkan dengan tindakan perlahan-lahan, tangannya mencekal sebuah tongkat bambu warna hijau seperti kumala huicui.

Untuk kagetnya, dia mengenali tongkat itu hingga ia berseru tertahan.

"Ang…Ang Pangcu!"

Oey Yong tidak meladeni, hanya dia membentak.

"Masih kau tidak hendak melepaskan tanganmu?!"

Jinak agaknya si jago ini, ia segera melepaskan cekalannya kepada Kwee Ceng.

Sejak tadi ia sudah heran, kenapa Oey Yong ada yang mengajari cara bagaimana harus melawan dia dan niat penyerangannya dibeber.

Ia mau menduga kepada Ang Cit Kong, ia ragu-ragu, sebab ia tahu, sudah belasan tahun Ang Cit Kong tidak pernah terlihat di dalam dunia kangouw.

Sekarang ia lihat tongkat si kepala pengemis, kagetnya bukan main.

Oey Yong mendekati, ia terus memegangi tongkat dengan kedua tangannya.

Ia berkata pula dengan membentak.

"Cit Kong bilang bahwa ia sudah perdengarkan suaranya tetapi kau bernyali besar, kau tetap berani main gila disini! Maka Cit Kong tanya, kenapa kau berani berlaku kurang ajar begini?!"

Nio Cu Ong sudah lantas menekuk lututnya.

"Dengan sesungguhnya aku yang rendah tidak mendapat tahu Pangcu ada disini,"

Katanya dengan hormat.

"Kalau aku yang rendah mengetahui, tidak nanti aku berani berbuat salah terhadap Pangcu."

Oey Yong heran.

"Dia sangat lihya, kenapa dia takuti Cit Kong begini rupa? Kenapa dia pun memanggil Ang Pangcu?"

Tapi, pada parasnya, ia tetap berlaku keren.

"Taukah kau apa dosamu?"

"Nona tolong sampaikan kepada Pangcu, bahwa Nio Cu Ong sudah menginsyafi kesalahannya dan minta Ang Pangcu sukalah mengasih ampun,"

Berkata Som Sian Lao Koay.

"Ingat olehmu!"

Berkata si nona.

"Mulai hari ini sampai seterusnya, untuk selamanya tidak boleh kau mengganggu kami berdua!"

"Aku yang rendah tadinya tidak tahu apa-apa,"

Menyahut Nio Cu Ong.

"Aku tidak mengandung maksud sengaja, maka itu aku minta sukalah jiwi memaafkannya."

Dengan "jiwi" – "tuan berdua"

Dimaksudkan Kwee Ceng dan si nona.

Oey Yong menjadi sangat puas, ia tersenyum, lantas ia tarik tangannya Kwee Ceng, buat diajak ngeloyor pergi, masuk ke dalam rumah penginapan.

Di dalam pondok itu Ang Cit Kong tengah berduduk menghadapi empat mangkok besar terisi barang hidangan, tangan kirinya mengangkat cawan arak, tangan kanannya mencekal sumpit, mulutnya menggayem dan mencegluk air kata-kata.

"Cit Kong!"

Kata si nona tertawa.

"Dia berlutut, sama sekali dia tidak berani berkutik!"

Ia pun sampaikan permohonannya Nio Cu Ong. Cit Kong menoleh kepada Kwee Ceng.

"Pergi kau hampirkan dia, kau hajar serintasan, tidak nanti dia berani melawan!"

Katanya. Kwee Ceng melongok di jendela. Ia lihat Nio Cu Ong terus berlutut di antara panasnya matahari, dua muridnya pun berlutut di belakangnya, roman mereka itu runtuh sekali. Ia menjadi tidak tega.

"Cit Kong, kasihlah dia ampun,"

Katanya.

"Hai, makhluk tidak tahu diri!"

Membentak si pengemis.

"Orang hajar padamu, kau tidak mampu melawan, aku si tua bangka menolongi padamu, sekarang kau memintakan ampun untuknya! Apakah artinya ini?!"

Ditegur begitu, Kwee Ceng berdiri diam. Ia tidak sangka si pengemis, yang biasanya jenaka dan manis budi, sekarang menjadi galak begini. Oey Yong tertawa, dia datang sama tengah.

"Cit Kong, nanti aku yang hajar dia!"

Katanya. Dan lantas ia bertindak keluar dengan masih membawa tongkat istimewa itu. Ia hampirkan Nio Cu Ong, yang berlutut tanpa bergeming, wajahnya wajah ketakutan. Oey Yong lantas menegur.

"Cit Kong bilang kau jahat, hari ini sebenarnya kau mesti disembelih, tetapi syukur ada aku punya engko Ceng yang hatinya murah, dia telah memintakan ampun untumu, ia memohon lama juga barulah Cit Kong meluluskannya."

Kata-kata itu ditutup dengan diangkatnya tongkat, dihajarkan ke kempolan orang.

"Nah, kaupergilah!"

Akhirnya si nona mengusir. Nio Cu Ong tidak segera mengangkat kaki, ia hanya memandang ke arah jendela.

"Ang Pangcu, aku ingin bertemu padamu, untuk menghanturkan terima kasih yang kau telah tidak membunuh aku,"

Katanya. Dari dalam pondokan tidak ada terdengar suara apa-apa. Nio Cu Ong terus bertekuk lutut. Sampai sekian lama, barulah Kwee Ceng muncul. Ia menggoyang-goyang tangan, ia berkata dengan perlahan.

"Cit Kong lagi tidur, kau jangan bikin berisik disini!"

Baru sekarang Nio Cu Ong berbangkit, ia mendelik kepada itu muda-mudi, lalu ia ngeloyor pergi dengan mengajak ketiga muridnya.

Oey Yong dan Kwee Ceng membiarkan orang melotot mata, bersama-sama mereka balik ke dalam pondokan.

Benar-benar Cit Kong terlihat lagi menggeros dengan kepalanya diletaki di atas meja.

Si nona pegang pundak orang, ia menggoyang-goyang.

"Cit Kong, Cit Kong,"

Katanya.

"Tongkat bambu mustikamu ini sangat besar pengaruhnya, jikalau kau tidak pakai, kau berikan saja padaku! Bolehkah!"

Cit Kong mengangkat kepalanya, ia menguap, ia pun mengulet.

"Enak saja kau membuka suaramu!"

Katanya tertawa.

"Bendaku ini adalah alat peranti mencari makan dari kakekmu. Seorang pengemis tanpa tongkat pemukul anjing mana bisa jadi pengemis?"

Oey Yong bermanja.

"Ilmu silatmu sudah sangat lihay, orang jeri padamu, habis untuk apa kau menghendaki tongkat ini?"

Dia mendesak.

"Hai, budak tolol!"

Tertawa si pengemis.

"Sekarang lekas kau masaki aku beberapa rupa barang hidangan yang lezat, sebentar aku menutur perlahan-lahan padamu."

Oey Yong menurut, ia lantas pergi ke dapur.

Ia menyiapkan tiga rupa masakan.

Apabila sudah selesai, ia bawa itu keluar.

Cit Kong memegang cawan araknya dengan tangan kanan, tangan kirinya memegang sepotong ham, yang ia gerogoti.

Ia mengunyah perlahan-lahan.

"Makhluk di dalam dunia ini tidak ada yang tidak berkumpul dengan seterunya,"

Ia berkata kemudian.

"Hartawan yang kemaruk uang satu rombongan, orang Rimba Hijau tukang membegal atau merampok satu rombongan juga. Demikian kami si tukang minta-minta, kami pun berkumpul dalam satu golongan…."

"Aku tahu sudah, aku tahu sudah!"

Oey Yong memotong seraya ia menepuk-nepuk tangan.

"Tadi Nio Cu Ong memanggil kau Pangcu, kau jadinya adalah pemimpin dari tukang minta-minta!"

Cerdik nona ini, ia lantas dapat menerka.

"Benar!"

Cit Kong mengaku.

"Kami bangsa pengemis biasa orang hinakan, bisa digigit anjing, apabila kami tidak bersatu, mana dapat kami hidup? Maka juga ini sebatang tongkat serta ini sebuah cupu-cupu, semenjak jaman Cian Tong Ngo tay sampai hari ini, sudah beberapa ratus tahun, selamanya dipegang oleh orang yang menjadi Pangcu, ialah pemimpin kepala, jadi inilah mirip dengan capnya seorang kaisar atau capnya satu pembesar negeri."

Mendengar itu, Oey Yong meleletkan lidahnya.

"Syukur kau tidak mengasihkan padaku!"

Katanya.

"Kenapa?"

Cit Kong tertawa.

"Jikalau semua pengemis di kolong langit ini pada mencari aku, untuk aku mengurus mereka, apakah itu tidak cade?"

Sahutnya. Cit Kong tertawa pula. Ia gerogoti pula sepotong ceker. Ia berkata pula.

"Rakyat negeri di Utara diurus oleh negeri Kim, rakyat negeri di Selatan diurus oleh kerajaan Song, tetapi pengemis di kolong langit ini..?"

"Tidak peduli mereka yang dari Selatan atau Utara, semua mereka diurus oleh kau , lojinkee!"

Oey Yong mendahului. Ang Cit Kong tertawa terbahak, ia mengangguk.

"Pantaslah itu siluman bangkotan she Nio sangat jeri padamu!"

Si nona menyambungi.

"Kalau semua pengemis di kolong langit ini mencari dia, untuk mengganggu, nah, bukan main sulitnya dia! Umpama satu pengemis menangkap seekor tuma itu ditaruh di lehernya, tidakkah ia bakal mampus kegatalan?"

Kwee Ceng tertawa. Ang Cit Kong tidak gusar, ia malah turut tertawa.

"Tetapi,"

Menjelaskan si raja pengemis kemudian.

"Dia takuti aku bukannya karena itu…"

"Habis karena apa?"

Tanya Oey Yong.

"Itulah kejadian pada kira-kira duapuluh tahun yang lampau. Itu hari aku bertemu dengannya di Kwan-gwa, kebetulan ia tengah melakukan satu pekerjaan buruk dan aku pergoki dia…"

"Pekerjaan buruk apakah itu?"

Tanya si nona. Cit Kong agaknya bersangsi tetapi ia menerangkan juga.

"Siluman tua itu percaya kepada omongan sesat tentang memetik bunga untuk menambah tenaga atau panjang umur, dia lantas cari banyak nona-nona untuk dirusaki kesucian dirinya…"

"Apakah itu yang dinamakan merusak kesucian nona-nona?"

Tanya si nona kembali.

Oey Yong polos, ia belum mengetahui tentang hal kesucian yang dirusak itu.

Ketika ia dilahirkan, ibunya lantas menutup mata disebabkan sukar melahirkan, dari itu semenjak bayi ia dirawat oleh ayahnya, kemudian terjadi Oey Yok Su murka besar disebabkan Tan Hian Hong dan Bwee Tiauw Hong, kedua muridnya itu, yang memainkan lelakon asmara dan minggat, saking kalapnya, dia putuskan urat-urat semua muridnya yang lainnya, yang ia pun usir pergi dari pulau Tho Hoa To, maka di pulau itu ketinggalan saja beberapa bujang tua, hingga si nona belum pernah dengar soal-soalnya pemuda dan pemudi dewasa.

begitulah sampai usianya limabelas tahun, ia tetap gelap mengenai hal itu.

Kalau toh ia suka sama Kwee Ceng, itulah karena perasaannya yang wajar, perasaan yang ia rasakan manis, apabila mereka berpisahan, segera ia merasa sunyi seorang diri.

Tapi ia tahu, kalau orang menjadi suami-istri, orang tidak bakal berpisahan pula seumur hidupnya, maka itu ia anggap Kwee Ceng sudah menjadi sebagai suaminya; lain daripada itu, ia gelap.

Untuk sejenak itu, Cit Kong pun dipersulit pertanyaan si nona, hingga ia tidak lantas memberikan jawabannya.

"Setelah satu nona dirusak kesuciannya, apakah dia lantas dibunuh?"

Oey Yong tanya pula.

"Bukannya begitu,"

Cit Kong tertawa.

"Wanita yang diperhina secara demikian, hebatnya melebihkan daripada dibunuh. Maka juga ada pembilangan, ‘Hilang kesucian urusan besar, mata kelaparan urusan kecil’"

"Habis, apakah dia dihajar kempolannya?"

Si nona tanya pula.

"Cis!"

Berludah Cit Kong tetapi dia tertawa.

"Bukannya begitu, budak! Baiklah kau pulang untuk menanyakan keterangan ibumu!"

"Ibu sudah lama tutup mata."

Sahut si nona.

"Oh…."

Si pengemis melengak.

"Nanti saja, kapan tibanya kamu berdua merayakan pernikahanmu, kau bakal mengerti sendiri."

Mukanya si nona menjadi merah, ia memonyongi mulutnya.

"Sudahlah jikalau kau tidak sudi menerangkan!"

Katanya. Samar-samar ia mulai mengerti duduknya hal. Ia menanya pula.

"Habis bagaimana sesudah kau pergoki si siluman bangkotan itu berbuat buruk?"

Lega si pengemis mendengar orang bicara dari lain soal.

"Pasti sekali aku urus dia!"

Ia menyahuti.

"Orang she Nio itu telah kena aku bekuk, aku hajar dia, aku paksa ia mengantari pulang semua nona-nona itu kerumahnya masing-masing. Lain dari itu aku paksa ia mengankat sumpah bahwa dilain waktu dia tidak lagi berbuat sejahat itu, dan aku ancam, apabila aku mempergokinya pula, ia bakal mati tidak, hidup pun tidak!"

"Oh, kiranya demikian!"

Kemudian, habis bersantap, Oey Yong berkata.

"Cit Kong, kalau sekarang kau kasihkan tongkatmu kepadaku, aku juga tidak sudi menerimanya, hanya masih ada satu saol. Bukankah kita tidak bakal berdiam bersama-sama untuk selama-lamanya? Bagaimana kalau dilain waktu kami berdua bertemu pula sama siluman she Nio itu dan dia membilangnya padaku, ‘He, budak yang baik, dulu hari kau mengandalkan Ang Pangcu, kau menghanjar aku dengan tongkatnya, sekarang aku hendak membalas sakit hati!’ Kalau sampai terjadi begitu, bagaimana kami harus berbuat?"

Ang Cit Kong tertawa.

"Ha! Kau sebenarnya menghendaki aku mengajari pula lain ilmu silat kepada kau berdua! Kau kira aku tidak tahu? sekarang pergilah kau masak syaur lagi, bikinlah banyakan, kau boleh percaya Cit Kong tidak nanti membikin kau kecele!"

Oey Yong menjadi sangat girang, ia sambar tangannya si pengemis, untuk dibawa ke rimba tadi.

Ang Cit Kong mengajarkan pula jurus yang baru kepada Kwee ceng, yaitu jurus kedua dari Hang Liong Sip-pat Ciang, namanya "Hoei Liong Thay Thian"

Atau "Naga Terbang ke Langit".

Jurus ini mewajibkan Kwee Ceng lompat tinggi sekali, lalu dari atas ia menyerang turun, hingga tenaganya menjadi luar biasa besar.

Untuk ini, Kwee Ceng memerlukan tempo tiga hari, baru ia dapat melatih dengan baik.

Selama tiga hari itu, Oey Yong sendiri sudah mendapatkan pelajaran lain, ialah untuk dengan tempuling ngo-bje-cie memecahkan sebatang golok.

Semenatar itu Ang Cit Kong sendiri telah menikmati belasan macam makanan lezat dari si nona.

Demikianlah hari-hari lewat.

Tidak sampai satu bulan, Cit Kong sudah wariskan limabelas jurus dari Hang Liong Sip-pat Ciang, dari "Naga Menyesal"

Sampai pada "Liong Thian Ie Ya"

Atau "Naga bertempur di tanah datar".

Ilmu silat Cit Kong ciptakan sendiri setelah ia memehami kitab "Ya Keng", jurusnya terbatas sekali tetapi kegunaannya besar, sebab setiap jurusnya hebat.

Hanya ketika dulu di puncak Hoa San ia mengadu silat sama Oey Yok Su beramai, ilmu ini belum ia pelajarkan habis, meski begitu, Ong Tiong Yang toh memuji ilmunya itu.

Cit Kong menyesal yang ia belum sempat menyelesaikan itu, kalau tidak, mungkin ialah yang menjadi pemenang nomor satu.

Mulanya dia hendak mengajari Kwee Ceng dua tiga jurus saja, untuk si anak muda pakai menjaga diri, tetapi masakan Oey Yong hebat sekali, setiap hari ditukar denagn hari lewat hari, kejadian ia mewariskan limabelas jurus itu.

Maka dalam tempo satu bulan itu, Kwee Ceng telah seperti salin rupa.

Oey Yong sendiri telah memperoleh beberapa jurus yang luar biasa, yang campur aduk!

Pada suatu pagi sehabis sarapan, Cit Kong berkata kepada kedua bocah itu;

"Eh, anak-anak, kita sudah berkumpul sebulan lamanya, sudah tiba waktunya kita berpisahan."

"Oh, tidak!"

Oey Yong mencegah.

"Aku masih mempunyai beberapa macam masakan yang hendak aku bikin untuk aku suguhkan kepada kau, lojinkee!"

"Ingat, anak, di kolong langit ini tidak ada pesta yang tidak bubar. Kau tahu biasanya aku si tua bangka belum pernah mengajari orang lebih daripada tiga hari, tetapi terhadap kamu, aku telah memakai tempo satu bulan, kalau mesti tambah hari lagi, oh itulah hebat sekali!"

Kata si pengemis.

"Kenapa begitu, Cit Kong?"

Tanya si nona heran.

"Dengan begitu, habislah semua kepandaianku diturunkan kepada kamu!"

Sahut si raja pengemis. Oey Yong tersenyum tetapi ia kata.

"Cit Kong, orang baik mesti sekali berbuat baik seterusnya berbuat baik hingga diakhirnya. Jikalau kau ajarkan semua delapanbelas jurus dari Hang Liong Sip-pat Ciang kepadanya, bukankah itu baik sekali?"

"Fui!"

Si pengemis berseru.

"Ya, buat kamu baik, tetapi aku si pengemis tidak!"

Oey Yong menjadi bingung.

Ia lantas memikirkan daya apa untuk menahan orang tua itu, akan tetpai belum ia dapat pikiran, Cit Kong telah menggendol cupu-cupunya dan mengangkat tongkatnya ngeloyor pergi, jalannya sambil menyeret sepatunya…..

Kwee Ceng menjadi bingung juga, ia lari menyusul.

Hebta Cit Kong sebentar saja ia telah lenyap di dalam rimba.

"Cit Kong! Cit Kong!"

Kwee Ceng menyusul dan berteriak-teriak.

Tidak ada jawaban.

Oey Yong juga menyusul, ia pun memanggil-manggil.

Tapi ia pun tidak peroleh penyahutan.

Tapi belum lama, terlihatlah suatu bayangan dan Cit Kong muncul dengan tiba-tiba.

"Ha, kamu berdua budak busuk, mau apa kamu melibat aku?"

Ia menanya, agaknya ia mendongkol.

"Apakah kau masih minta aku mengajari silat? Oh, itulah sukar di atas sukar!"

"Lojinkee sudah mengajarkan banyak, teecu telah puas,"

Berkata Kwee Ceng, yang menyebut dirinya teecu atau murid.

"Tidak nanti teecu berlaku temaha, cuma teecu belum dapat membalas budimu yang besar sekali."

Ia lantas jatuhkan dirinya, berlutut, untuk paykui kepada itu guru sembatan.

"Ha, tahan!"

Mendadak si pengemis berseru.

"Aku mengajarkan kau silat sebab aku gegaras sayur masakan dia itu, untuk itu, pengajaranku itulah bayaranku! Di antara kita tidak ada soal guru dengan murid!"

Mendadak ia pun berlutut, membalas hormatnya si anak muda.

Kwee Ceng kaget sekali, hendak ia paykui pula, untuk membalas, tetapi ia tidak dapat berbuat begitu, tiba-tiba saja si pengemis mengulurkan tangannya dan ia kena ditotok jalan darah dirusuknya hingga ia berdiri dengann kedua kaki ditekuk, tak dapat ia menggeraki tubuhnya!

Cit Kong mengangguk sampai empat kali, guna membalas penghormatan orang, baru ia menotok pula membebaskan jalan darah orang.

Ia kata.

"Ingat, sekarang jangan kau mengatakannya sudah memberi hormat padaku, bahwa kaulah muridku!"

Kwee Ceng berdiam, tidak berani ia membuka mulut lagi.

Sekarang ia menginsyafi benar-benar tabiat kukoay bin aneh dari si raja pengemis yang berjeriji sembilan itu.

Cit Kong lantas memutar tubuhnya, untuk mengangkat kaki, atau mendadak ia bersuara "Ih!"

Lantas ia membungkuk, tangannya diulurkan ke tanah, di antara rumput, dua jarinya menjepit seekor ular hijau panjangnya dua kaki.

"Ular!"

Oey Yong menjerit kapan si pengemis angkat tangannya.

Cuma sebegitu ia berseru, atau pundaknya telah ditolak Ang Cit Kong hingga ia terpental jauhnya setombak lebih!

Bab 26.

Memikiri Senantiasa Menyusul itu terdengar pula beberapa suara rumput bergerak-gerak, lalu terlihatlah beberapa ekor ular lainnya.

Dengan menggeraki tongkatnya, Ang Cit Kong singkirkan binatang berbisa itu, untuk setiap kemplangannya, tongkatnya mengenai tepat di kepala ular, yang terus mati.

Kalau tadinya ia kaget, sekarang Oey Yong kegirangan hingga ia berseru memuji.

Tengah ia tertawa, di belakangnya muncul dua ekor ular yang lain, yang menyambarsambil membuka bacotnya, untuk menggigit.

"Lari!"

Ang Cit Kong berseru.

Tapi sudah terlambat, si nona telah kena disambar dan digigit.

Ular itu kecil tubuhnya tetapi hebat bisanya, cuma tergigit satu kali, celakalah orang, apapula sekarang menyambar sekali dua.

Ang Cit Kong pun kaget.

Kupingnya segera mendengar suara lain, yang terlebih berisik, kapan ia mengawasi, ia tampak nyelosornya sekumpulan ular di tempat kira-kira sepuluh tombak dari mereka.

Tidak ayal lagi, ia sambar pinggang Kwee Ceng, ia cekuk pundak Oey Yong, terus ia berlompat, lari keluar dari rimba itu.

Dia lari terus kembali ke tempat penginapan.

Setibanya di muka pondokan, pengemis itu awasi muka si nona, lantas hatinya menjadi lega.

Nona itu tak kurang suatu apa, dia ada seperti biasa.

"Bagaimana kau merasakan?"

Ia menanya, hatinya girang. Oey Yong tertawa.

"Tidak apa-apa!"

Sahutnya wajar. Tapi Kwee Ceng melihat ular tadi masih menyantel di badan kekasihnya, dia kaget, dia ulur tangannya, untuk menangkap ular itu, untuk disingkirkan.

"Jangan!"

Cit Kong berseru pula saking kagetnya.

Tapi tangan Kwee Ceng telah kena menjambret ular itu, yang kepalanya mengeluarkan darah.

Binatang itu tidak bergerak lagi, dia sudah mati!

Mulanya Ang Cit Kong tercengang, tetapi dengan lekas ia sadar sendirinya.

"Tidak salah lagi!"

Katanya.

"Tentulah joan-wie-kah ayahmu telah diwariskan kepadamu!"

Memang ulat itu menggigit joan-wie-kah, kepalanya pecah, lalu terbinasa.

Selagi Kwee Ceng menyambar seekor ular, banyak yang lainnya lagi keluar dari rimba.

Cit Kong sendiri segera mengeluarkan obat hitam dari sakunya, ia masuki itu ke dalam mulutnya untuk dikunyah.

dari dalam rimba masih saja terlihat ular yang keluar, hitung ratus, hitung ribu.

Maka Kwee Ceng berseru;

"Cit Kong, mari lekas pergi!"

Cit Kong tidak menjawab, ia menurunkan cupu-cupu dari punggungnya, dia membuka sumpalnya, untuk menuang isinya ke dalam mulutnya, dicampur sama obat tadi, sesudah mana ia menyembur ke arah ular-ular itu, ke kiri dan kanan, hingga mereka bertiga terintang semburan arak.

Sejumlah ular, yang mencium bau arak campur obat itu lantas rebah tak bergerak, ynag lainnya tak berani maju lebih jauh, tapi kerana yang dibelakang amsih banyak dan maju terus, mereka jadi kacau sendirinya.

Oey Yong gembira menyaksikan ular-ular itu bergumulan, ia menepuk-nepuk tangan.

Selagi si nona ini kegirangan, dari dalam rimba terdengar suara berisik, lalu terlihat tiga orang pria yang pakaiannya putih semua, dengan tangan mencekal masing-masing sepotong pentungan dua tombak lebih panjangnya, lagi berseru-seru mengusir semua ular itu, pentungannya dipakai mengancam, mirip lagaknya dengan bocah angon lagi menggembala kerbau atau kambingnya.

Mual rasanya akan menyaksikan ujal-ujalan semua ular itu.

Ang Cit Kong menangkap seekor ular, yang ia sontek dengan tongkatnya.

Dengan dua jari kiri ia jepit leher ualr itu, dengan kelingking kanan ia menggurat perutnya ular hingga pecah berlobang, untuk mengasih keluar nyalinya.

"Lekas telan ini! Jangan kena kegigit, sangat pahit!"

Ia berkata kepada si nona. Oey Yong menurut, ia lantas telan nyali ular itu. Menyusul itu, ia merasa enak dan segar sekali.

"Eh, engko Ceng, kau juga hendak makan nyali ular?"

Dia menanya.

Kwee Ceng menggelengkan kepalanya.

Ia sudah mengghirup darah ular, ia tidak mempan racun ular itu, malah tidak ada ular yang berani menggigit padanya, cuma Ang Cit Kong dan si nona yang tadinya diarah.

"Cit Kong, ular ini mesti ada yang piara,"

Berkata Oey Yong.

Pak Kay mengangguk.

Dengan wajah murka, ia mengawasi ketiga orang serba putih itu, yang sebaliknya pun murka melihat orang bunuh ularnya dan dimakan nyalinya, malah habis membereskan ular-ularnya, mereka maju menghampirkan.

"He, kamu tiga ekor iblis, apakah kamu sudah tidak menghendaki lagi jiwamu?!"

Yang satu menegur dengan bengisnya.

"Tepat!"

Berseru Oey Yong dengan jawabannya.

"Kamu tiga ekor iblis, apakah kamu sudah tidak menghendaki jiwa kamu?!"

"Bagus!"

Berseru Cit Kong seraya menepuk pundak si nona.

Ia memuji pembalasannya si nona, yang mulutnya lihay itu.

Tiga orang itu menjadi bertambah gusar, satu yang kulit mukanya putih dan usia pertengahan sudah lantas berlompat, menyodok si nona dengan pentungannya.

Melihat sambaran anginnya, dia bukannya sembarangan kepandaiannya.

Cit Kong berlaku sebat, ia melonjorkan tongkatnya, menyambut serangan itu.

Dengan begitu Oey Yong jadi luput dari bahaya.

Penyerang itu lantas menjadi kaget, tidak saja pentungannya mandek, pula tak dapat ia menarik pulang.

Pentungan itu menempel seperti terpantek pada tongkat si pengemis.

Maka ia lantas mengempos semangatnya.

"Kau pergilah!"

Berseru Ang Cit Kong selagi orang menarik keras, tangannya digentak.

Maka terjengkanglah orang itu, terlempar ke dalam barisan ularnya, pentungannya hancur menjadi puluhan potong pendek.

Dia rupanya telah memakan obat pemunah, ular tak berani gigit padanya.

Dua orang yang lain terkejut, mereka mundur dengan seketika.

"Bagaimana, toako?"

Mereka menanya pada kawannya yang roboh itu.

Orang itu berlompat bangun dengan gerakannya "Ikan gabus melentik".

Akan tetapi dia terbanting keras, belum sampai bangun berdiri, dia sudah jatuh pula, kembali menimpa ularnya, hingga seperti tadi, ada belasan ular yang mampus ketindihan.

Maka kawannya, yang mukanya putih, menyodorkan pentungannya, membantui dia bangun.

Sekarang mereka bertiga itu tidak berani menyerang pula, bahkan mereka lantas masuk ke dalam kalangan ular mereka.

"Siapa kamu!"

Kemudian tanya orang yang barusan terjungkal itu.

"Kalau kau laki-laki, sebutkan nama kamu!"

Ang Cit Kong tertawa terbahak-bahak, ia tidak menyahuti.

"Kamu orang-orang macam apa?!"

Oey Yong sebaliknya menanya.

"Kenapa kau menggiring begini banyak ular berbisa untuk mencelakai orang?!"

Tiga orang itu saling mengawasi, selagi satu diantaranya hendak menyahuti, dari dalam rimba tertampak munculnya seorang yang berdandan sebagai mahasiswa yang putih mulus bajunya.

Dia berjalan perlaha-lahan, tangannya mengerjakan kipasnya.

Ia berjalan di antara banyak ular itu, yang pada menyingkir sendirinya.

Kwee Ceng dan Oey Yong sudah lantas mengenali orang itu ialah Auwyang Kongcu, sancu atau pemilik gunung Pek To San.

Herannya ular-ular itu menyingkir daripadanya.

Tiga pengiring itu menghampiri si anak muda, untuk berbicara, lantas tangannya menunjuk ke ular-ular yang tak berkutik itu, rupanya mereka mengadu.

Pemuda itu agaknya terperanjat, tapi lekas ia menjadi tenang pula.

Dia maju menghampir Ang Cit Kong bertiga, dia memberi hormat sambil mengangguk, kemudian dia tertawa dan berkata.

"Beberapa sahabatku ini telah berlaku kurang ajar kepada locinpwee, untuk itu aku menghanturkan maaf."

Terus ia memandang Oey Yong, untuk meneruskan.

"Kiranya nona ada di sini. Sungguh bersengsara aku mencari padamu…"

Oey Yong tidak mengambil mumat pemuda itu, ia hanya menoleh kepada si pengemis.

"Cit Kong, orang inilah telur busuk yang paling besar!"

Ia memberitahu.

"Kau baiklah mengajar adat padanya!"

Ang Cit Kong mengangguk, terus ia memandang si anak muda, romannya bengis.

"Untuk mengangon ular ada tempatnya, ada batasnya, ada waktunya, ada aturannya juga!"

Katanya.

"Kau andalkan pengaruh siapa maka kau jadi begini gila-gilaan?!"

"Semua ular ini datang dari tempat yang jauh sekali, semuanya sangat lapar, mereka jadi tidak dapat memakai aturan lagi,"

Menyahut si pemuda.

"Berapa banyak orang telah kamu bikin celaka?"

Cit Kong menegur pula.

"Kami menggembala di tanah belukar, belum pernah kami mencelakai orang,"

Menyahut si anak muda.

"Hm!"

Cit Kong mengejek.

"Belum pernah mencelakai orang! Kau toh si orang she Auwyang?"

"Benar!"

Dia menjawab itu.

"Kiranya nona ini telah memberitahukannya padamu. Kau siapa, lojinkee?"

Dia balik menanya. Oey Yong mendahului si pengemis.

"Namamu yang busuk! Siapa yang sudi menyebutnya!"

Kata dia.

"Namanya locinpwee ini tidak usah diberitahukan kepadamu, cuma-cuma bakal membikin kau kaget!"

Auwyang Kongcu itu tidak gusar, dia melirik si nona sambil tersenyaum.

"Kau anaknya Auwyang Hong, bukankah?"

Ang Cit Kong tanya. Belum si anak muda menyahuti, tiga kawannya sudah gusar duluan.

"Pengemis bangkotan tidak karuan, bagaimana besar nyalimu berani menyebut namanya sancu kami?!"

Mereka menegur. Ang Cit Kong tertawa lebar.

"Lain orang boleh tidak menyebutnya tetapi aku boleh!"

Katanya. mendadak orang tua itu mencelat ke arah tiga orang itu dan tahu-tahu "Plak-plok!"

Muka mereka kena ditampar datang-pergi, setelah mana dengan menekan tongkatnya, ia berlompat balik ke tempatnya berdiri tadi.

"Kepandainmu ini, Cit Kong, kau belum ajari aku!"

Berkata Oey Yong, seperti ia tidak menggubris peristiwa.

Cit Kong bukan saja menggaplok, ia juga membuatnya terlepas sambungan baham orang.

Auwyang Kongcu terperanjat, lekas-lekas ia menolongi tiga orang itu.

"Apakah cinpwee mengenal pamanku?"

Ia tanya Cit Kong, sekarang sikapnya hormat.

"Oh, kau jadinya keponakannya Auwyang Hong!"

Berkata Cit Kong.

"Sudah berselang duapuluh tahun yang aku tidak pernah bertemu pula sama si racun tua bangkamu itu! Apakah dia belum mampus?"

Panas hatinya si anak muda, tetapi melihat orang lihay dan orangpun seperti mengenal baik pamannya, ia mau percaya, pengemis ini ada orang tingkat atasan yang lihay. Maka berkatalah ia.

"Pamanku sering membilang, sebelum sahabat-sahabatnya pada habis mati terlebih dulu, dia masih belum ingin pulang ke langit…"

Ang Cit Kong tertawa berlengak.

"Anak yang baik, pandai kau mencaci orang dengan jalan mutar-balik!"

Katanya.

"Aku hendak tanya kau, perlu apa kau membawa-bawa sekalian mustikamu ini?"

Ia maksudkan semua ular itu.

"Biasanya aku yang muda tinggal di barat,"

Auwyang Kongcu menyahut.

"Tapi kali ini aku berangkat ke Tionggoan untuk belajar berkenalan, lantaran iseng – kesepian di tengah jalan, sekalian aku membawa mereka ini untuk main-main saja."

"Terang-terang kau mendusta!"

Oey Yong menyemprot.

"Ada demikian banyak wanita yang menemani kau, kau masih bilang iseng kesepian!"

Pemuda itu menggoyangi kipasnya hingga dua kali, matanya menatap si nona, lalu ia tersenyum, lantas ia bersenandung.

"Duka hatiku, maka kenapa tidak ada lain orang? Karena kau, aku jadi bersenandung hingga jini!"

Ia mengambil syair dari Sie Keng, Kitab Syair, yang ia campur aduk. Oey Yong tidak gusar, ia sebaliknya tertawa.

"Aku tidak membutuhkan kau mengambil-ambil hatiku!"

Ia menganggapi.

"Lebih baik tak perlulah kau memikirkan aku!"

Pikiran si anak muda bagaikan melayang, tak tahu ia harus membilang apa…. Ang Cit Kong lantas menegur;

"Kau paman dan keponakan, kamu malang melintang di Barat, di sana tidak ada orang yang mengendalikan kamu, jikalau di Tionggoan kau masih hendak berbuat seperti di sana, kau janganlah mimpi di musim rontok! Dengan memandang pamanmu itu, aku tidak ingin berpandangan cupat seperti kau, maka lekaslah kau pergi!"

Auwyang Kongcu mendongkol bukan main, tetapi untuk melawan ia tidak ungkulan, cuma untuk berlalu begitu saja, ia tidak puas. Maka akhirnya ia berkata;

"Di sini aku yang muda meminta diri. Umpama kata dalam beberapa tahun ini cianpwee tidak dapat sesuatu sakit keras dan juga tidak menemui bahaya apa-apa, aku undang cianpwee suka berkunjung ke Pek To San untuk berdiam beberapa hari di sana."

Ang Cit Kong tertawa.

"Nyata kau telah menantang aku!"

Katanya.

"Tapi aku si pengemis bangkotan tidak biasanya main janji-janji! Pamanmu tidak takut padaku, aku juga tidak takuti pamanmu itu! Pada duapuluh tahun yang sudah, kita sudah mengadu kepandaian, kita adalah setengah kati sama dengan delapan tail, jadi tidak usahlah kita bertempur pula!"

Tiba-tiba ia menambahkan, dengan membentak bengis;

"Masih kau tidak hendak menyingkir jauh-jauh!"

Auwyang Kongcu terperanjat, hatinya pun berpikir;

"Kepandaiannya pamanku belum separuhnya aku wariskan, orang tua ini rupanya tidak mendusta, aku mana sanggup menjadi tandingannya…."

Karenanya segera ia menjura, setelah melirik mendelik kepada Oey Yong, lantas ia mengundurkan diri masuk ke dalam rimba.

Ketiga pengangon ular itu sudah lantas mengasih dengar suaranya, bersiul secara aneh.

Dengan itu mereka mengusir ular mereka.

Maka juga semua binatang berbisa itu membalik tubuhnya, mengesor kembali ke dalam hutan.

Sebentar saja, bersilah tempat itu dari semua binatang berbisa itu, tinggal tanahnya yang penuh lendirnya yang licin mengkilap.

"Cit Kong belum pernah aku melihat ular demikan banyak,"

Berkata Oey Yong.

"Benarkah ular itu dipiara mereka?"

Cit kong tidak lantas menyahuti, dia hanya membuka mulut cupu-cupunya untuk menenggak araknya beberapa gelogokan, kemudian dengan tangan bajunya dia menyusuti peluh di dahinya.

Ia pun menghela napas panjang.

Baru setelah itu ia mengatakannya berulang-ulang.

"Sungguh berbahaya! Sungguh berbahaya…!"

"Eh, Cit Kong, kenapakah?"

Tanya kedua pemuda-pemudi itu heran.

"Untuk sejenak aku dapat mengusir ular itu,"

Menyahut si pengemis kemudian.

"Umpama kata tadi benar-benar semuanya menerjang, cara bagaimana ribuan binatang itu dapat ditangkis? Syukur beberapa bocah itu belum tahu apa-apa, mereka tidak mengetahui asal-usulku, mereka jadi kena kugertak. Coba si racun tua bangkotan itu ada di sini, oh, anak-anak, kamu bisa celaka…."

"Jikalau kami tidak sanggup melawan, kami kabur!"

Berkata si Oey Yong. Cit Kong tertawa.

"Aku si pengemis tua, aku tidak takuti dia!"

Katanya.

"Tetapi kamu berdua, meski kamu ingin menyingkir, kamu tidak bakal lolos dari tangannya si racun bangkotan itu…."

"Siapakah pamannya orang itu? Benarkah dia demikian lihay?"

Tanya Oey Yong.

"Kau sangka ia tidak lihay? Apakah aku belum pernah dengar disebut-sebutnya Tong Shia See Tok, Lam Tee pak Kay dan Tiong Sin Thong?"

Tentang nama-nama itu Oey Yong pernah mendengarnya dari omongannya Khu Cie Kee denagn Ong Cie It, sekarang mendengar perkataan pengemis, hatinya girang.

"Aku tahu, aku tahu!"

Sahutnya.

"Kau sendiri, lojinkee, adalah Pak Kay, dan kauwcu dari Coan Cin Kauw ialah Tiong Sin Thong."

"Benar! Adakah ini ayahmu yang membilangi? Ayahmu itu ialah Tong Shia dan Auwyang Hong itulah See Tok! Orang yang nomor satu paling pandai di kolong langit ini yaitu Ong Cinjin itu sudah meninggal dunia, maka sekarang tinggal kita berempat yang kepandaiannya rata-rata setengah kati sama dengan delapan tail, hingga kita jadi saling memalui! Ayahmu lihay tidak? Aku sendiri si pengemis lihay tidak?"

Oey Yong mengasih dengar suara perlahan, agaknya ia berpikir.

"Ayahku orang baik-baik, mengapa dia dipanggil Tong Shia?"

Ia tanya kemudian. Ang Cit Kong tertawa.

"Dia seorang yang kukuh dan licin, dia dari kaum kiri, mustahilkah dia bukannya si sesat?"

Dia menyahuti.

"Bicara dari hal ilmu silat, Coan Cin Kuaw adalah yang sejati, terhadapnya aku si pengemis tua takluk benar-benar dari mulut ke hati."

Ia menoleh kepada Kwee Ceng, untuk menegaskan;

"Kau telah belajar ilmu dari Coan Cin Kauw, bukankah?"

"Totiang Ma Goik telah mengajarkan teecu selama dua tahun,"

Sahut si anak muda hormat.

"Nah, itu dianya, kalau tidak, tidak nanti dalam tempo pendek satu bulan kau dapat mempelajari Hang Liong Sip-pat Ciang dari aku."

"Habis, siapakah itu Lam Tee?"

Tanya Oey Yong.

"Dialah satu hongya, seorang kaisar,"

Sahut Cit Kong. Kwee Ceng dan Oey Yong heran.

"Eh, seorang kaisar demikian lihay ilmu silatnya?"

Mereka menegasi.

"Memang ia seorang kaisar, tetapi dalam hal kepandaiannya, ayahmu dan aku jeri tiga bagian terhadapnya,"

Sahut si pengemis mengaku.

"Api dari Selatan mengalahkan Emas dari Barat, maka dialah si penakluk dari si bisa bangkotan Auwyang Hong itu."

Dua-dua muda-mudi ini kurang mengerti, tetapi mereka diam saja, sebab mereka lantas mendapatkan si pengemis dia menjublak, hingga mereka tidak berani menanya lebih jauh.

Cit Kong masih memandangi mega, agaknya ia berpikir keras, alisnya sampai dikerutkan.

Nampaknya ia tengah menghadapi satu soal besar yang ia tak mendapatkan pemecahannya.

Tanpa mengucapkan sepatah kata, ia berjalan pulang ke pondok.

Mendadak saja terdengar suara memberebet, ternyata bajunya kena langgar paku di pintu dan sobek.

"Aih!"

Seru Oey Yong, yang mengikuti, tetapi si pengemis sendiri seperti tidak mengetahui hal itu. Maka si nona berkata.

"Nanti aku tambalkan!"

Lantas dia cari nyonya pemilik pondok, untuk pinjam benang dan jarum, terus ia jahiti baju sobek itu.

Cit Kong masih menjublak ketika ia lihat jarum di tangannya si nona, tiba-tiba saja dia rampas jarum itu, lantas dia membawa lari ke luar.

Oey Yong dan Kwee Ceng heran, mereka lari mengikuti.

Sesampainya si luar, Cit kong mengebas tangannya yang memegang jarum itu, lalu terlihat satu sinar berkeredep.

Nyata jarum itu telah dipakai menimpuk!

Oey Yong mengawasi jarum meluncur, lalu jatuh, nancap di tanah.

Dan nancapnya dengan menikam seekor walang.

Saking kagum, dia bersorak.

Cit Kong mengeluarkan napas lega.

"Berhasil! Berhasil!"

Katanya.

"Ya, beginilah…."

Oey Yong dan Kwee Ceng tercengang mengawasi pengemis itu. Ang Cit Kong berkata;

"Auwyang Hong si tua bangka beracun itu paling gemar memelihara ular dan ulat berbisa, semua binatang jahat itu dapat mendengarkan segala titahnya. Itulah usaha yang bukan gampang."

Ia berhenti sebenatr, lalu ia menambahkan.

"Aku rasa juga ini bocah she Auwyang bukannya makhluk yang baik, jikalau nanti ia bertemu pamannya, mungkin ia menghasut yang bukan-bukan, maka itu berbahayalah kalau kita bertemu pada pamannya itu, jadi aku si pengemis tua tidak dapat tidak mesti aku mempunyai suatu senjata untuk melawannya mengalahkan segala binatang berbisa itu!"

Oey Yong bertepuk tangan.

"Jadi kau hendak menggunai jarum untuk menikam nancap setiap ular berbisa itu di tanah!"

Katanya. Ang Cit kong membuka lebar matanya terhadap si nona.

"Ah, kau iblis cilik yang licin!"

Ujarnya.

"Orang baru menyebutnya bagian atas, kau sudah lantas dapat mengetahui bagian bawahnya!"

"Bukankah kau telah mempunyakan obat yang lihay?"

Oey Yong tanya.

"Bukankah kapan obat itu dicampuri arak, asal kau menyemburnya, ular berbisa itu tidak berani datang dekati padamu?"

"Daya itu cuma dapat dipakai dalam sewaktu,"

Ang Cit Kong memberi keterangan.

"Sudah, kau jangan ngoceh saja, jangan mengganggu aku, hendak aku melatih diri dalam ilmu ‘Boan-thian hoa ie’. Aku hendak mendapatkan kepastian bagaimana kesudahannya ilmu itu kalau memakai jarum…."

"Kalau begitu, nanti aku menolongi kau membeli jarum,"

Berkata si nona, yang terus lari keluar. Ang Cit Kong menghela napas. Katanya seorang diri;

"Sudah ada si tua bangkanya yang cerdik licin bagaikan iblis, sekarang ada gadisnya yang serupa cerdik licinnya!"

Tidak lama, Oey Yong telah kembali dari pasar, dari keranjang sayurannya ia mengasih keluar dua bungkus besar jarum menjahit.

"Semua jarum di kota ini telah kau beli hingga habis!"

Kata dia sambil tertawa.

"Maka besok semua orang laki-laki di sini bakal digeremberengi hingga mati oleh istrinya!"

Katanya kemudian.

"Bagaimana begitu?"

Kwee Ceng tanya.

"Sebab mereka bakal dicaci tidak punya guna! Sebab kalau mereka pergi ke pasar, mereka tidak mampu membeli jarum!"

Sahut si nona.

"Sebatang pun tidak ada!"

Kata si nona sambil tertawa. Ang Cit Kong tertawa tergelak.

"Dasar aku si pengemis tua yang cerdik!"

Katanya.

"Aku tidak menghendaki istri, supaya aku tak usah disiksa pihak perempuan! Nah, mari kita berlatih! Dua bocah, bukankah kau ingin aku si pengemis tua mengajarkan kau menggunai senjata rahasia? Apakah kamu sanggup?"

Oey Yong tertawa, dia mengikuti di belakang pengemis itu.

"Cit Kong, aku tidak mau belajar!"

Kata Kwee Ceng sebaliknya. Ang Cit Kong heran.

"Kenapa, eh?"

Dia tanya.

"Lojinkee sudah mengajari aku banyak ilmu, dalam sesaat ini aku tidak sanggup mempelajarinya semua,"

Kwee Ceng mengaku.

Ang Cit Kong melengak, tetapi sebentar saja, ia sudah mengerti.

Ia tahu orang jujur dan tidak serakah banyak macam pelajaran, alasan saja dia membilang tidak sanggup belajar lebih jauh.

"Ah, anak ini baik hatinya,"

Ia memuji di dalam hati. Ia lantas tarik tangannya Oey Yong.

"Mari kita saja yang berlatih."

Kwee Ceng tidak mengikuti, ia hanya pergi ke belakang bukit, di mana seorang diri dia menyakinkan terus lima belas jurusnya, ilmu silat Hang Liong Sip-pat Ciang itu.

Ia merasakan ia dapat kemajuan, hatinya girang bukan main.

Berselang sepuluh hari, selesai sudah Oey Yong mempelajari "Boan-thian Hoa Ie Teng Kim-ciam" , ialah ilmu menimpuk dengan jarum, dengan sekali mengayun tangan, ia dapat melepaskan belasan batang jarum, cuma ia belum dapat memisahkan semua itu ke setiap jalan darah yang ia arah.

Pada suatu hari habis berlatih, Cit Kong tidur menggeros di bawah sebuah pohon cemara.

Oey Yong membiarkannya.

Tahu, yang mereka segera bakal perpisahan, ia lari ke pasar membeli beberapa rupa barang serta bumbunya.

Ia ingin memasak beberapa rupa barang hidangan yang lezat untuk si pengemis.

Di tengah jalan pulang, sambil menentengnya dengan tangan kiri, tangan kanannya saban-saban diayun, berlatih kosong dengan timpukannya.

Ketika hampir sampai di tempat penginapan, kupingnya mendengar kelenengan kuda yang nyaring.

Ia lantas menoleh.

Ia tampak seekor kuda dikasih lari mendatangi, malah penunggangnya ia lantas kenali, ialah Bok Liam Cu, anak gadisnya Yo Tiat Sim.

Ia berdiri diam, mengawasi dengan bengong, hatinya pepat.

Ia tahu nona itu ada punya hubungan jodoh dengan Kwee Ceng.

Ia memikir juga.

"Apa baiknya wanita ini maka enam guru engko Ceng dan imam-imam dari Coan Cin Pay hendak memaksa engko Ceng menikah dengannya?"

Memikir begini, dasar masih kekanak-kanakkan, ia menuruti hati panasanya.

"Baik aku hajar ia untuk melampiaskan hatiku!"

Pikirnya pula.

Lantas ia bertindak memasuki penginapannya.

Ia lihat Bok Liam Cu duduk seorang diri di sebuah meja, romannya berduka sekali, seoarng pelayan sedang menanya dia hendak mendahar apa.

Dia memesan semangkok mie dan enam kati daging.

"Apa enaknya daging matang?"

Kata Oey Yong. Liam Cu menoleh, ia tercengang. Ia kenali nona yang bersama Kwee Ceng naik seekor kuda di Pakhia. Ia lantas berbangkit.

"Oh, adik pun ada di sini?"

Katanya.

"Silahkan duduk!"

"Mana itu semua imam?"

Tanya Oey Yong.

"Mana si kate terokmok, si mahasiswa jorok? Kemana perginya mereka semua?"

"Aku sendiri saja,"

Menyahuti si Liam Cu.

"Aku tidak bersama Khu Totiang beramai."

Oey Yong jeri terhadap Khu Cie Kee beramai itu, maka mendengar jaaban si nona itu, hatinya girang, sembari tertawa ia mengawasi nona itu.

Ia mendapatkan orang mengenakan pakaian berkabung, pada rambut di ujung kupingnya ada sekuntum bunga putih dari wol.

Dia nampak lebih kurus, ia mengharukan, tetapi justru itu, wajahnya lebih menarik hati.

Di pinggang si nona itu pun ada sebatang belati.

Ia ingat.

"Itulah pisau yang menjadi tanda perjodohannya dengan engko Ceng, pemberian ayah mereka masing-masing…"

Maka ia berkata;

"Enci, bolehkah aku pinjam melihat pisau belatimu itu?"

Itulah pisau yang Pauw Sek Yok keluarkan disaat dia hendak melepaskan napasnya yang terakhir, dengan dia dan suaminya telah meninggal dunia, pantaslah pisau itu telah jatuh di tangannya Bok Liam Cu.

Mulanya Bok Liam Cu tidak berniat mengasihkan, sebab ia dapatkan air muka Oey Yong luar biasa, tetapi karena Oey Yong mendekati perlahan-lahan seraya mengulurkan tangannya, ia tidak dapat menolak.

Ia mengasigkan sekalian bersama sarungnya.

Oey Yong lihat ada ukiran nama Kwee Ceng pada pisau itu.

Lantas ia berpikir.

"Inilah barangnya engko Ceng, mana dapat diberikan padanya?"

Ia mencabut pisau itu, sinarnya berkilat, hawanya dingin.

"Sungguh pisau yang bagus!"

Pujinya. Ia masuki pisau itu ke dalam sarungnya, terus ia masuki ke dalam sakunya sendiri.

"Akan aku kembalikan ini pada engko Ceng,"

Katanya.

"Apa?!"

Tanya Liam Cu tercengang.

"Disini terukir nama engko Ceng, pasti ini adalah pisaunya,"

Berkata Oey Yong.

"Sebentar bertemu dengannya, hendak aku memulanginya."

Liam Cu gusar.

"Inilah warisan satu-satunya dari ayah ibuku, mana dapat aku berikan padamu?!"

Katanya keras.

"Lekas pulangkan padaku!"

Ia pun segera berbangkit.

"Kalau kau bisa, ambilah!"

Sahut Oey Yong, yang terus lari keluar.

Ia tahu Cit Kong sedang tidur dan Kwee Ceng lagi di belakang bukit berlatih sendiri.

Liam Cu mengubar, hatinya cemas.

Ia tahu, sekali dia menunggang kuda merahnya, nona itu bakal lolos.

Oey Yong lari berliku-liku, sampai di bawahnya sebuah pohon yang besar, ia berdiri diam.

Ia lihat di sekitar situ tidak ada lain orang.

Sembari tertawa, ia berkata.

"Jikalau kau dapat mengalahkan aku, segera aku pulangi pisau ini!"

"Adik, jangan main-main,"

Kata Liam Cu sabar setelah ia menyandak.

"Melihat pisau itu, aku seperti melihat ayah ibuku, kenapa kau hendak mengambilnya?"

"Siapa adikmu?!"

Bentak si nona Oey, terus ia menyerang. Liam Cu kaget, ia berkelit, tetapi Oey Yong lihay.

"Buk! Buk!"

Dua kali dia kena dihajar iganya. Dia menjadi gusar sekali, lantas ia membalas menyerang, hebat.

"Oey Yong tertawa.

"Ilmu silat Po-giok-kun, apa anehnya!"

Katanya, mengejek. Liam Cu heran.

"Inilah tipu silat ajaran Ang Cit Kong, kenapa dia dapat tahu?"

Pikirnya. Ia menjadi lebih heran ketika nona itu menyerang pula, ia justru menggunai ilmu silat yang sama.

"Tahan!"

Ia berseru seraya lompat mundur.

"Siapa yang ajari kau ilmu silatmu ini?"

"Aku yang menciptkan sendiri!"

Sahut Oey Yong, tertawa.

"Inilah ilmu yang kasar, tidak ada keanehannya!"

Perkataannya itu disusul sama dua serangannya, kembali jurus-jurus dari Po-giok-kun itu – Kepalan Memecahkan Kumala. Liam Cu semakin heran.

"Apakah kau mengenal Ang Cit Kong?"

Ia menanya, sambil menangkis.

"Dia sahabat kekalku, tentu saja aku kenal!"

Oey Yong tertawa.

"Kau gunai ilmu silat pengajarannya, aku menggunakan ciptaanku sendiri, coba lihat, bisa tidak aku mengalahkan kau!"

Nona ini tertawa tetapi serangannya terus bertambah dahsyat.

Tentu saja Liam Cu tidak sanggup menandingi.

Sudah kepandaian warisan ayahnya sendiri, dia juga dapat didikan Ang Cit Kong.

Sebentar saja nona Bok kena terhajar pundaknya, tempo ia terpukul juga pinggang kanannya, ia roboh seketika.

Sudah begitu, Oey Yong menghunus pisau belatinya, ia bulang-balingkan itu di muka orang, saban-saban hampir mengenakan kulit wajahnya.

Liam Cu menutup matanya, ia tidak merasakan luka, cuma angin dingin meniup kulit mukanya itu.

Satu kali ia membuka matanya, ia lihat pisau berkelebat, cuma berkelebat saja.

Ia menjadi mendongkol.

"Mau bunuh, bunuhlah, buat apa kau menggertak pula!"

Ia membentak.

"Kita tidak bermusuhan, buat apa aku membunuh kau?"

Kata Oey Yong tertawa.

"Kau dengar aku, kau mengangkat sumpah, lantas aku akan memerdekakanmu!"

Liam Cu beradat keras, ia tidak sudi menyerah.

"Kalau kau berani, kau bunuhlah!"

Ia menantang.

"Untuk kau minta sesuatu dari aku, bermimpi pun jangan kau harap!"

Oey Yong menghela napas, tetapi ia berkata dengan nyaring.

"Nona begini elok, mati muda, sungguh kecewa."

Liam Cu meramkan mata dan menulikan kupingnya, dia berdiam saja. Hening sejenak, lalu ia mendengar nona itu berkata.

"Engko Ceng baik denganku, biar dia menikah denganmu, tidak nanti ia mencintainya…"

Ia menjadi heran, segera ia membuka matanya.

"Apa kau bilang?"

Ia menanya.

"Kau tidak mau mengangkat sumpah, tidak apa,"

Kata Oey Yong, tanpa menjawab.

"Biar bagaimana, dia tidak bakal menikah padamu, inilah aku tahu pasti!"

"Sebenarnya siapa yang baik padamu?"

Tanya Liam Cu semakin heran.

"Kau bilang aku hendak menikah dengan siapa?"

"Dengan engko Ceng – Kwee Ceng!"

Oey Yong jelaskan.

"Oh, dia!"

Kata Liam Cu.

"Bilanglah, kau menghendaki aku bersumpah apa?"

"Aku ingin kau bersumpah dengan berat, biar bagaimana, kau tidak bakal menikah dengan engko Ceng itu!"

Sahut Oey Yong. Akhirnya Liam Cu tertawa.

"Biarpun kau ancam aku dengan golokmu di leherku, tidak nanti aku menikah dengan dia!"

Katanya. Oey Yong girang mendadak.

"Benar?"

Tanyanya.

"Kenapa begitu?"

"Benar ayah angkatku telah memberikan pesannya yang terakhir, aku telah dijodohkan denagnnya, sebenarnya,"

Sahut Liam Cu, yang lalu meneruskan dengan perlahan sekali;

"Sebenarnya ayah angkatku itu telah sudah berlaku karena pelupaan, dia lupa yang aku telah dijodohkan kepada lain orang…"

Oey Yong menjadi girang sekali.

"Oh, maaf!"katanya.

"Aku telah menyangka keliru terhadapmu…."

Ia lantas menotok nona itu, akan membebaskan dari totokannya tadi, terus ia menguruti tangan dan kakinya. Sembari berbuat begitu, ia menegasi.

"Enci, kau telah berjodoh dengan siapa?"

Mukanya Liam Cu menjadi merah.

"Orang itu pernah kau melihatnya,"

Sahutnya. Oey Yong berpikir.

"Orang mana yang pernah aku lihat?"

Ia tanya.

"Mana ada lain pemuda yang sembabat untuk dipasangi denganmu, enci?"

Mau tidak mau, nona Bok itu tertawa.

"Apakah di kolong langit ini cuma ada satu engko Cengmu yang paling baik?"

Dia membalas menaya. Oey Yong tertawa.

"Enci,"

Katanya.

"Kau tidak sudi menikah dengannya, apakah karena kau menganggap dia terlalu tolol?"

"Siapa yang bilang engko Kwee itu tolol?"

Liam Cu membaiki.

"Yang benar dia ada sangat polos dan wajar, bahkan hatinya yang mulia aku sangat mengaguminya."

Oey Yong heran.

"Habis kenapa kau tidak sudi menikah dengannya walaupun kau diancam denagn golok di lehermu?"

Tanyanya pula. Melihat orang pun polos, Liam Cu mencekal tangannya erat-erat.

"Adikku,"

Katanya.

"Di dalam hatimu sudah ada engko Kwee itu, umpama kata dilain waktu kau bertemu lain orang yang berlaksa kali lipat menangkan dia, kau tidak akan mencintai lain orang, bukankah?"

Oey Yong mengangguk.

"Sudah pasti,"

Sahutnya.

"Cuma tidak nanti ada orang yang melebihkan dia!"

Liam Cu tertawa.

"Kalau engko Kwee itu mendengar pujianmu ini, entah berapa besar kegirangannya,"

Katanya.

"Kau tahu, di itu hari yang ayah angkatku mengajak aku ke Pakhia, di mana kita pibu, di sana telah ada orang yang mengalahkan aku…"

Oey Yong lantas saja sadar.

"Oh, aku tahu sekarang!"

Serunya.

"Orang yang kau buat pikirkan itu adalah si pangeran muda Wanyen Kang!"

"Dia boleh menjadi pangeran, dia boleh menjadi pengemis, di hatiku cuma ada dia seorang,"

Liam Cu mengaku.

"Dia boleh menjadi orang baik, dia boleh menjadi orang jahat, di dalam hatiku tetap ada dia seorang!"

Perlahan suara nona Bok, tetapi tetap nadanya.

Oey Yong mengangguk, ia membalas mencekal erat tangan orang.

Mereka berdua berendeng di bawah pohon itu, hati mereka bersatu padu.

Cuma sebentar Oey Yong berpikir, ia pulangi piasu orang.

"Ini aku kembalikan,"

Katanya. Liam Cu sebaliknya menolak. Katanya.

"Ini kepunyaan engko Cengmu itu, ini harus menjadi kepunyaanmu."

Bukan kepalang girangnya Oey Yong. Ia simpan pula piasu itu.

"Enci, kau baik sekali!"

Katanya, bersyukur. Ia lantas berniat memberikan sesuatu apa tetapi ia tidak ingat ia punya barang yang berharga untuk tanda mata. Maka ia menanya.

"Enci, kau datang ke Selatan ini seorang diri untuk urusan apakah? Maukah kau menerima bantuan adikmu ini?"

Mukanya Liam Cu bersemu merah.

"Tidak ada urusan yang penting,"

Sahutnya.

"Kalau begitu, mari aku mengajak kau menemui Ang Cit Kong,"

Kata Oey Yong. Liam Cu menjadi sangat girang.

"Cit Kong ada disini?"

Tanyanya cepat.

Oey Yong mengangguk, lantas ia berlompat bangun seraya menarik tangan orang.

Justru itu di atas pohon terdengar suara berkeresek, lalu terjatuh selemar kulit kayu, disusul mana berkelebat satu bayangan seorang, ynag berlompatan di atas pohon-pohon di dekat situ, lantas lenyap.

Dengan heran Oey Yong jumput babakan pohon itu, di situ ia lihat sebaris huruf bertuliskan jarum, bunyinya.

"Dua nona yang baik sekali! Yong-jie, apabila kau main gila pula, Cit Kong ingin menggaplokmu beberapa kali!"

Di bawah itu tidak ada tanda tangannya, cuma gambaran sebuah cupu-cupu.

Tahulah ia, itu ada perbuatannya Ang Cit Kong, maka tahu juga ia, segala sepak terjangnya sudah ketahuan si kepala pengemis itu.

ia jengah sendirinya.

Tapi ia ajak Liam Cu ke rima, di sana ia tak tampak Cit Kong.

terpaksa mereka balik ke pondokan.

Kwee Ceng sudah kembali dari belakang bukit, heran ia melihat Oey Yong bergandengan tangan bersama Liam Cu.

"Enci Bok, apakah kau dapat melihat guruku beramai?"

Ia tanya.

"Aku telah berpisahan dari gurumu itu,"

Menjawab Liam Cu.

"Mereka telah berjanji untuk bertemu pula di Yan Ie Lauw di Kee-hin pada Pee Gwee Tiong Ciu."

"Baik-baikkah mereka semua?"

Tanyannya.

"Jangan kuatir, Kwee Sieheng,"

Sahut Liam Cu tersenyum.

"Mereka semua tidak mendongkol karena perbuatanmu itu."

Tidak lega hatinya Kwee Ceng, yang menyangka gurunya semua pasti gusar sekali.

Karena ini ia menjadi tidak bernapsu dahar dan minum, ia duduk berdiam saja.

Liam Cu sebaliknya menanya Oey Yong cara bagaimana mereka bertemu dengan Ang Cit Kong.

Oey Yong memberikan keterangan dengan jelas.

"Kau sangat beruntung, adikku,"

Kata Liam Cu, seraya menghela napas.

"Kau dapat berkumpul begitu lama bersama dia, sedanf aku sendiri, bertemu pun susah."

"Tapi diam-diam ia melindungimu, Enci,"

Oey Yong menghibur.

"Kalau tadi aku benar-benar mencelakai kau, dia tentu bakal turun tangan menolongi padamu."

Liam Cu mengangguk, ia membenarkan. Kwee Ceng mendengar pembicaraan orang, ia heran.

"Yong-jie, bagaimana?"

Tanya.

"Kenapa kau hendak mencelakai enci Bok?"

Oey Yong menoleh sambil tersenyum.

"Tidak dapat aku menerangkan kepadamu,"

Sahutnya.

"Dia takut…dia takut…."

Baca Juga: Tiga Naga Dari Angkasa 4

Baca Juga: Asmara Dibalik Dendam Membara 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert