Eps 6 Asmara Dibalik Dendam Membara - Kho Ping Hoo
Baca online Asmara Dibalik Dendam Membara - Kho Ping Hoo
Cersil Asmara Dibalik Dendam Membara - Kho Ping Hoo.
"Tidak perlu banyak cakap lagi. Engkau atau aku yang harus mati!"
Bentak Pangeran Sepuh dan bagaikan seekor harimau marah, dia sudah menerjang ke depan, menubruk dan menyerang dengan keris pusaka Tilam Upih yang sakti itu.
Sang Prabu Jayabaya tetap tenang saja.
Ketika keris itu sudah meluncur dekat, dia melompat ke kiri menghindarkan diri, kemudian kakinya mencuat dan menendang dengan kecepatan kilat.
"Wuuuuuuuttt... desss...!"
Tubuh Pangeran Sepuh terlempar dan dia jatuh bergulingan oleh tendangan yang dahsyat itu.
Akan tetapi dia dengan cepat sudah meloncat bangkit kembali dan menyerang untuk kedua kalinya, lebih cepat dan lebih dahsyat.
Sang Prabu Jayabaya kembali mengelak dan untuk ke dua kalinya, kakinya menendang dan kembali tubuh Pangeran Sepuh terlempar dan terbanting keras.
Sebetulnya, dengan dua kali terbanting itu saja, Pangeran Sepuh sudah menyadari bahwa dia tidak akan mampu menandingi kesaktian Sang Prabu Jayabaya.
Akan tetapi dia sudah putus asa dan menjadi nekat.
Biarpun tubuhnya sudah merasa sakit-sakit karena dua kali terlempar dan terbanting, dia bangkit lagi dan memasang kuda-kuda, mengerahkan seluruh tenaganya.
"Engkau atau aku yang harus mati!"
Bentaknya. Sang Prabu Jayabaya memandang dengan sinar mata mencorong seperti mengeluarkan api da suaranya terdengar tegas.
"Jagat Dewa Batara, engkau menggapai taringnya Sang Batara Kala, Kakang Mas!"
Pangeran Sepuh sudah berlari menerjang maju dengan keris siap menusuk.
Akan tetapi sekali ini, Sang Prabu Jayabaya sudah mengerahkan aji kesaktian dan kekebalannya, berdiri tegak seperti sebuah arca yang kokoh.
Keris pusaka Tilam Upih di tangan Pangeran Sepuh datang menyambar ke arah dada, diterima oleh dada itu tanpa mengelak sedikitpun.
"Wuuuttt... Takk...!!"
Tangan Pangeran Sepuh yang memegang keris tergetar hebat.
Kerisnya seperti mengenai benteng baja yang kokoh kuat, sama sekali tidak mampu menembus kulit yang sudah dilindungi aji kekebalan yang disebut Aji Ontokusumo.
Pangeran Sepuh Wijayanto seperti tidak percaya.
Kerisnya adalah Tilam Upih!
Tidak mungkin dapat ditolak aji kekebalan.
Dia menusuk lagi.
"Takkk...!"
Dengan penuh kegeraman dan keputusasaan kembali dia menusukkan keris ke arah perut Sang Prabu Jayabaya.
"Takk...!!"
Kini Sang Prabu Jayabaya menggerakkan tangan kiriny, menampar ke arah kepala Pangeran Sepuh.
"Wuuuuttt... desss...!"
Tubuh Pangeran itu seperti daun kering tertiup angin, melayang dan jatuh berdebuk, terbanting keras!
Akan tetapi memang Pangeran itupun seorang yang kebal, tamparan itu hanya membuat dai pusing sejenak.
Lalu dia bangkit berdiri mengamati keris di tangannya seolah tidak percaya akan keaslian pusaka itu, kemudian dia mengayun keris itu ke ulu hatinya sendiri.
"Cappp...!"
Keris menembus kulit dada dengan mudah dan robohlah sang Pangeran, tewas seketika saking ampuhnya Tilam Upih.
Semua orang lalu berlutut menyembah kepada Sang Prabu Jayabaya.
Raja yang sakti mandraguna ini menghela napas panjang, menghampiri jenazah kakaknya, mencabut keris Tilam Upih dari dadanya lalu menyerahkannya kepada Senopati Lembudgdo.
"Lembudigdo, suruh cuci dan gosok pusaka ini sampai bersih betul dari noda, baru haturkan kepadaku."
"Sendiko, Gusti."
Jawab Senopati Lembudigdo sambil menerima keris pusaka itu dan menyimpannya.
Dalam peristiwa ini, Sang Prabu Jayabaya memperlihatkan kebijaksaannya.
Dia mengampuni seluruh keluarga Pangeran Sepuh.
Bahkan hanya menggur keras kepada Pangeran Panjiluwih yang dianggap terkena hasutan Pangeran Sepuh.
Bekas pasukan Pangeran Sepuh dibubarkan dan tentu saja Gajahpuro juga dibebaskan karena Niken Sasi mintakan ampun untuk pemuda yang pada terakhirya kembali memperlihatkan sikap membelanya itu.
Budhidharma, Dewi Muntari dan Niken Sasi dipanggil menghadap ke istana.
"Budhidharma, kami sudah banyak mendengar akan sepak terjangmu dari para penyelidik, dan kami berterima kasih atas pembelaanmu sehingga puteri dan cucu kami dapat diselamatkan."
Kata Sang Prabu memujinya. Gusti Prabu Jayabaya tersenyum.
"Mendiang Kakang Mas Pangeran Wijayanto memang cerdik. Dia telah mendahuluimu mencuri keris pusaka itu. Akan tetapi, sudahlah, keris pusaka itu sudah kembali kepada kami. Sekarang kami ingin mendengar ceritamu, nini Dewi Muntari, dan andika, cucuku Niken Sasi. Apa yang telah kalian alami setelah kalian dirampok dan Rangsang dibunuh?"
Dewi Muntari menceritakan pengalamannya. Ketika mendengar bahwa puterinya itu ditolong kemudian diambil murid oleh Ni Durgogini, Sang Prabu Jayabaya berseru.
"Ah, jadi ia yang menolongmu dan kemudian menjadi gurumu?"
"Kanjeng Rama, Ni Durgogini sudah minta kepada hamba agar Paduka sudi mengampuni kelancangannya, berani mengambil murid kepada hamba."
Kata Dewi Muntari. Sang Prabu tersenyum.
"Tentu saja. Ia tidak bersalah, bahkan berjasa besar. Pantas engkau berani menentang paman-tuamu, kiranya engkau sudah digembleng oleh Ni Durgogini! Dan bagaimana dengan pengalamanmu selama ini, cucuda Niken Sasi? Agaknya engkau telah menjadi seorang gadis yang trengginas dan digdaya. Apakah engkau juga memperoleh seorang guru yang sakti?"
"Sesungguhnyalah, Kanjeng Eyang Prabu. Ketika Kanjeng Ibu menyuruh hamba melarikan diri, hamba terjatuh ke dalam telaga kecil. Hamba diselamatkan oleh Ki Sudibyo, ketua Gagak Seto dan hamba menjadi muridnya."
Niken lalu menceritakan tentang gurunya, betapa gurunya itu dikhianati oleh Klabangkoro dan Mayangmurko yang kemudian telah terbunuh oleh Ibunya, Dewi Muntari.
Juga diceritakan tentang Budhidharma yang menolongnya berulang kali sampai pengalaman mereka yang hebat di Gagak Seto ketika mereka dijebak oleh Klabangkoro.
Gadis itu menonjolkan budi pertolongan yang dilakukan Budhidharma dan agaknya hal ini diketahui pula oleh kakeknya sehingga Sang Prabu Jayabaya hanya tersenyum mendengarkan.
Setelah gadis itu selesai bercerita, Sang Prabu Jayabaya berkata kepada Budhidharma.
"Budhidharma, jasamu amat besar. Oleh karena itu, kami mengangkatmu menjadi seorang Senopati muda di kerajaan Kediri!"
Budhidharma terkejut dan demikian girangnya mendengar ini sehingga dia hanya memandang bengong. Melihat ini, Niken Sasi cepat menyentuh lengannya.
"Cepat haturkan terima kasih kepada Kanjeng Eyang."
Budhidharma menyembah dan menghaturkan terima kasihnya.
Dewi Muntari kembali ke tempat tinggalnya yang dahulu, yang delapan tahun yang lalu ditinggali bersama suaminya dan yang sampai sekarang masih dipelihara baik-baik atas perintah Sang Prabu Jayabaya.
Budhidharma juga mengikuti Ibu dan anak itu.
Di rumah mereka, Dewi Muntari lalu membicarakan urusan perjodohan antara puterinya dan Budhidharma.
Sebagai seorang Ibu yang waspada, tanpa bertanya sekalipun ia sudah lama tahu bahwa terdapat hubungan kasih sayang di antara kedua orang muda itu.
Sepasang orang muda itu tersipu malu ketika Dewi Muntari terang-terangan mengajak mereka bicara tentang perjodohan mereka.
"Bagaimanakah kalian ini? Urusan ini tentu selalu mendesak dihati kalian, akan tetapi setelah diajak bicara tentang hal ini, kalian malah diam saja. Apakah kalian tidak setuju?"
"Ah, Ibu...!"
Niken Sasi tersipu dan menundukkan mukanya.
"Sebetulnya, Kanjeng Bibi, kami berdua selalu khawatir dan ragu kalau-kalau Kanjeng Gusti Prabu tidak menyetujui, karena saya hanyalah seorang pemuda dusun yang yatim piatu dan papa..."
"Hemm, kau kira Kanjeng Rama itu bagaimana? Beliau seorang raja yang adil dan arif bijaksana. Bukankah aku sendiri juga dijodohkan dengan seorang Senopati yang berkedudukan rendah dan dari rakyat biasa? Aku tanggung bahwa Kanjeng Rama Prabu pasti akan menyetujui perjodohan kalian."
"Terima kasih, Kanjeng Bibi..."
"Hemm, sudah tiba waktunya engkau mengubah sebutan bibi itu dengan sebutan Ibu. Bukankah engkau calon mantuku?"
Wajah Budhi menjadi kemerahan.
"Terima kasih, Kanjeng Ibu..."
Dia mengulang.
"Akan tetapi saya dan diajeng Niken Sasi mohon ijin untuk pergi ke Anjasmoro dulu, karena kami harusmenyelesaikan urusan Gagak Seto"
"Engkau tidak boleh lagi menjadi ketua Gagak Seto setelah menjadi Senopati!"
"Memang saya tidak pernah ingin melanjutkan kedudukan mendiang Ayah saya. Oleh karena itu, tadi ketika berpisah dari Gajahpuro, saya memesan agar dia suka pergi ke Gagak Seto menemui saya. Gajahpuro adalah seorang pemuda yang baik dan gagah, sudah sepatutnya kalau dia yang menjadi ketua Gagak Seto."
"Ah, pemuda itu? Kalian mengatakan bahwa dia putera Klabangkoro, akan tetapi di depan Pangeran Sepuh dia menyangkal bahwa dia bukan putera Klabangkoro. Siapa sebetulnya anak itu?"
"Kami juga heran, Kanjeng Ibu. Kalau bertemu dengannya tentu akan kupertanyakan hal itu."
Kata Niken Sasi.
Demikianlah, setelah tinggal di rumah Dewi Muntari, di komplek istana, selama beberapa hari, pada suatu hari Budhidharma bersama Niken Sasi meninggalkan isana menuju ke pegunungan Anjasmoro.
Kedatangan Budhi dan Niken disambut dengan hormat oleh Waskita yang oleh Budhi diserahi tugas mewakilinya memimpin Gagak Seto selagi dia pergi.
Juga semua anak buah Gagak Seto yang masih setia, berjumlah kurang lebih empat puluh orang, ikut menyambut dengan gembira.
"Paman Waskita, apakah Gajahpuro tidak datang ke sini?"
Tanya Budhi kepada Waskita.
"Ah, ada anak mas. Dia datang ke sini kemarin dulu, katanya hendak menemuimu, akan tetapi kami semua minta agar dia pergi dari sini."
Jawab Waskita.
"Eh, kenapa, paman?"
"Kenapa? Bukankah dia putera Klabangkoro yang telah menyesatkan kami semua?"
"Akan tetapi paman sendiri tentu tahu betapa Gajahpuro selalu menentang kejahatan Klabangkoro, bahkan samapi dilempar ke dalam sumur tua. Gajahpuro bukan seorang pemuda jahat, Sebaliknya dia seorang pemuda gagah perkasa dan baik sekali."
Waskita nampak ragu.
"Hal itu kami mengerti, akan tetapi karena dia putera Klabangkoro, kami merasa tidak enak kalau menerimanya, maka dia kami usir..."
"Keliru sekali, paman. Baik dia putera Klabangkoro maupun bukan, pada kenyatannya dia seorang anggota Gagak Seto yang baik dan aku yakin bahwa tidak ada anggota lain yang memiliki ilmu kepandaian setinggi dia."
"Tidak, anak mas. Kurasa kepandaiannya masih kalah jauh dibandingkan kepandaian Gusti Puteri Niken..."
Karena sudah mendengar bahwa Niken Sasi adalah cucu Sang Prabu, maka kini Waskita menyebutnya gusti puteri!
"Ah, andika tidak tahu, Paman Waskita.
Sekarang Kakang Gajahpuro memiliki ilmu kepandaian yang jauh melampuiku.
Dia telah menjadi pemuda sakti."
Kata Niken dan bukan hanya Waskita yang merasa heran mendengar ini, bahkan para anggota lain juga memandang heran.
Mereka semua sudah mendengar betapa Niken telah mewarisi Aji Hasta Bajra dari mendiang Ki Sudibyo.
Akan tetapi gadis itu mengakui bahwa ia masih kalah dibandingkan kesaktian Gajahpuro.
"Demikianlah sesungguhnya,"
Kata pula Budhi.
"Dan karena itu, kami hendak menemuinya, karena kami bermaksud mengangkatnya menjadi ketua Gagak Seto yang baru."
Semua anggota terkejut mendengar ini, juga merasa heran.
"Harap kalian semua dapat mengerti. Aku tidak cocok untuk menjadi ketua Gagak Seto. Pertama, biarpun aku putera Ki Sudibyo, akan tetapi aku bukan murid Gagak Seto. Kedua, aku telah diangkat menjadi seorang Senopati muda oleh Kanjeng Gusti Prabu sehingga tidak mungkin lagi aku tinggal di sini menjadi ketua. Itulah sebabnya kami melihat bahwa yang paling tepat menjadi ketua adalah Gajahpurodan kami yang bertanggung-jawab atas pengangkatan ini."
Pada saat itu terdengar seruan orang.
"Kakang Mas Budhi...!"
Dan nampaklah Gajahpuro memasuki rumah induk itu.
"Adimas Gajahpuro, kebetulan andika datang. Maafkan Paman Waskita dan para anggota yang tidak berani menerimamu berkunjung ke sini."
Kata Budhi.
"Ah, tidak mengapa, Kakang Mas. Akupun tahu diri dan menanti saja sampai andika datang."
Gajahpuro dipersilakan duduk.
Pemuda ini memandang kepada Niken dan kini pandang matanya berbeda dari biasanya.
Biasanya, kalau dia memandang gadis itu, pasti terpancar sinar kasih sayang dari pandang matanya itu kepada gadis ini.
Akan tetapi sekarang tidak lagi.
Dia sudah mengetahui bahwa di antara Budhi dan Niken terjalin hubungan yang akrab dan mesra.
Dia dapat menduga bahwa kedua orang muda itu saling mencinta dan dia sudah melepaskan harapannya atas diri Niken Sasi.
Apalagi setelah dia mengetahui bahwa Niken Sasi adalah cucu Sang Prabu!
"Maafkan kami, Gajahpuro.
Karena kemarin dulu anakmas Budhi belum datang, terpaksa kami menolak kunjungan andika."
"Tidak mengapa, Paman Waskita. Perbuatanmu itu bahkan menunjukkan bahwa andika seorang wakil yang baik sekali dan memenuhi kewajiban."
Jawab Gajahpuro. Diam-diam Budhi merasa suka kepada pemuda ini. Niken Sasi yang sejak tadi mendengarkan saja, lalu berkata.
"Kakang Gajahpuro, andika tentu haran mengapa Kakang Mas Budhidharma mengundangmu ke sini? Ada banyak hal perlu kita bicarakan, akan tetapi yang pertama membuat kami merasa heran sekali adalah penyangkalanmu bahwa andika bukan putera Klabangkoro. Benarkah itu Kakang Gajahpuro?"
"Benar sekali, Gusti Puteri."
"Ah, Kakang Gajahpuro, bagimu aku tetap Niken yang dulu."
"Paduka adalah cucu Kanjeng Gusti Prabu. Memang saya bukan putera Klabangkoro, bahkan dialah yang membunuh Ayah kandung saya dan kemudian Ibu saya. Ketika saya masih kecil, Klabangkoro membunuh Ayah saya dan memaksa Ibu saya menjadi istrinya."
"Hemm, betapa jahatnya Klabangkoro!"
Kata Budhi.
"Akan tetapi, sudahlah. Adimas Gajahpuro. Bagaimanapun juga, dia pernah menjadi Ayahmu yang menyayang dan kini dia sudah mati. Sekarang yang lebih penting lagi. Aku mengundangmu ke sini untuk mengangkatmu, menjadi ketua Gagak Seto. Tentu engkau mau, bukan?"
Gajahpuro nampak terkejut dan heran.
"Aku? Menjadi ketua Gagak Seto? Akan tetapi Gusti Puteri Niken..."
"Hemm, tidak mungkin aku menjadi ketua Gagak Seto, Kakang Gajahpuro!"
Kata gadis itu.
"Dan ada andika di sini, Kakang Mas Budhidarma."
Bantah pula Gajahpuro.
"Aku tidak mungkin menjadi ketua Gagak Seto, adimas. Pertama, aku diangkat menjadi Senopati muda oleh Kanjeng Gusti Prabu sehingga aku harus bertugas di Kota Raja. Dan kedua, aku sama sekali bukan murid Gagak Seto, tidak mengenal ilmu silat Gagak Seto. Engkaulah orangnya yang paling tepat menjadi ketua Gagak Seto, adimas Gajahpuro dan kuharap engkau tidak menolak lagi."
Karena dibujuk oleh Budhi dan Niken, dan melihat semua anggota Gagak Seto juga sudah setuju, akhirnya Gajahpuro menerima kedudukan sebagai ketua Gagak Seto.
Dengan gembira peristiwa itu lalu dirayakan oleh Budhidharma, dan setelah tinggal di Gagak Seto selama dua hari, Budhidharma lalu berangkat bersama Niken Sasi meninggalkan pegunungan Anjasmoro.
Niken Sasi sengaja mengajak kekasihnya melewati Grojokan Kluwung dan ketika mereka lewat di situ, kebetulan sekali nampak pelangi melengkung indah di atas gerojokan.
"Di sanalah aku ditolong mendiang Bapa Guru Sudibyo, Kakang Mas Budhi."
Kata Niken Sasi sambil menuding ke arah gerojokan (air mancur).
"Bukan main indahnya tempat itu, diajeng. Dan kalau kuingat betapa aku datang ke pegunungan Anjasmoro ini dengan demdam yang membara..."
"Kasihan Bapa Guru. Dia seorang yang baik, Kakang Mas. Seorang yang gagah perkasa, namun gagal dalam asmara."
"Semoga asmara yang kutemukan di balik dendam membara ini tidak akan gagal, diajeng."
Kata Budhidharma.
Niken mengangkat muka, saling pandang kemudian mereka berangkulan dengan mesra, di bawah lengkungan Kluwung indah itu.
Sampai disini selesailah sudah kisah "ASMARA DI BALIK DENDAM MEMBARA"
Ini dan harapan pengarang semoga kisah ini ada manfaatnya bagi kita semua. Sampai jumpa di kisah yang lain. TAMAT dino,
http.//indozone. net/literatures/literature/408 21 September 2008 jam 10.43am
Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 11
Baca Juga: Pedang Asmara 4