Ceritasilat Novel Online

Pendekar Pemanah Rajawali 9

Eps 9 Pendekar Pemanah Rajawali - Jin Yong

Baca online Pendekar Pemanah Rajawali - Jin Yong

Cersil Pendekar Pemanah Rajawali - Jin Yong.

Kwee Ceng terkejut.

"Mungkinkah Auwyang Hong telah dapat menukarnya selama Ong Cinjin belum keluar dari peti mati?"

Ia menanya.

"Mulanya aku pun menerka demikian,"

Sahut Pek Thong.

"Tapi Oey Lao Shia sangat licin, sedang perkataannya Nyonya oey itu aku tidak dapat percaya semuanya. Nyonya itu mengawasi aku, yang menjublak saja. Ia rupanya menduga aku bersangsi, maka ia berkata pula. 'Ciu Toako, bagimana bunyinya kitab Kiu Im Cin-keng yang tulen? Tahukah kau?' Aku menjawab bahwa semenjak kitab itu berada di tangan kakak seperguruanku, tidak pernah ada orang yang membacanya. Kakak pun membilangi, selama tujuh hari tujuh malam ia bergulat mendapatkan kitab itu, maksudnya untuk menyingkirkan suatu akar bencana besar untuk kaum Rimba Persilatan, sama sekali ia tidak pernah memikir untuk memilikinya sendiri. Maka itu ia telah memesan semua murid Coan Cin Pay, siapa pun tidak boleh menyakinkan ilmu dalam kitab itu."

"Ong Cinjin demikian jujur, ia mendatangkan hormatnya siapa juga,' berkata lagi Nyonya Oey, 'Hanya karena itu, kena diperdayakan orang. Ciu Toako, coba kau periksa kitab ini' Aku bersangsi, tetapi mengingat pesan kakak seperguruanku, aku tidak berani memeriksa kitab itu. 'Inilah kitab ramalan yang terdapat di mana-mana di wilayah Kanglam,' berkata pula Nyonya Oey, harganya tak setengah peser juga. Lagi pula, taruh kata inilah Kiu Im Cin-keng yang tulen dan kau tidak ingin mempelajarinya, apabila kau hanya melihat saja, apakah halangannya?' Aku terdesak, aku pun penasaran, maka akhirnya aku periksa kitab itu. Aku mendapatkan pelbagai pelajaran silat serta rahasianya, sama sekali itulah bukannya buku petang-petangan. Selagi aku memeriksa, Nyonya Oey berkata. 'Kitab semacam ini aku telah membacanya habis semenjak aku berumur lima tahun, aku dapat membacanya di luar kepala dari permulaannya sampai akhirnya. Kami anak-anak di Kanglam, dalam sepuluh, sembilan pernah bersekolah. Jikalau kau tidak percaya. Ciu Toako, mari aku membacanya untuk kau dengar.' Benar-benar ia membaca, dari kepala sampai dibuntut, membacanya dengan lancar. Aku merasakan tubuhku dingin. Lalu nyonya itu berkata pula. 'Halaman mana saja kau cabut dan tanyakan aku, asal kau menyebut kalimatnya, dapat aku membaca diluar kepala. Buku ini yang telah dibaca sejak masih kecil, sampai tua juga aku tidak dapat melupakannya. Aku ingin mencoba, aku uji ia beberapa kali. Benar-benar ia bisa membaca dengan hapal, tidak pernah ada yang salah. Maka itu, Oey Lao Shia tertawa terbahak-bahak. Aku menjadi sangat mendongkol, aku ambil kitab itu, aku merobek-robek, terus aku sulut dan bakar hingga hangus habis!"

"Setelah itu mendadak Oey Lao Shia kata padaku. 'Loo Boan Tong, tidak usah kau ngambul dengan tabiat bocahmu itu! Nah ini bajuku yang berduri aku, aku hadiahkan padamu!' Aku tidak tahu bahwa aku telah dipermainkan. Aku hanya menduga, karena merasa tidak enak hati, hendak ia menghadiahkan kepadaku untuk membikin reda kemendongkolanku. Disamping mendongkol, aku pun mengerti tidak dapat aku memiliki pusaka Tho Hoa To, maka itu, aku tolah hadiah itu. Aku membilang terima kasih padanya, lantas aku pulang. Seterusnya aku mengunci pintu, menyekap diri di kampung halamanku, untuk menyakinkan ilmu silatku. Ketika itu belum sanggup aku menandingi Auwyang Hong, dari itu aku berlatih keras selama lima tahun. Aku memikir, setelah mendapatkan pelbagai macam ilmu, hendak aku pergi ke Wilayah Barat untuk mencari See Tok untuk meminta pulang kitab yang tulen itu."

"Kalau toako pergi bersama Ma Totiang dan Khu Totiang, bukankah itu terlebih baik lagi?"

Tanya Kwee Ceng.

"Aku menyesal, karena tabiatku suka menang sendiri, aku kena dipermainkan orang,"

Menyahut Pek Thong.

"Aku tidak mengerti bahwa aku sudah jadi bulan-bulanan. Memang, asal aku bicara dulu sama Ma Giok beramai, rahasia akan terbuka. Beberapa tahun selewatnya itu, lalu di kalangan kangouw tersiar berita bahwa muridnya Oey Lao Shia dari Tho Hoa To, yaitu Hek Hong Siang Sat, telah mendapatkan kitab Kiu Im Cin-keng, bahwa mereka sudah menyakinkan beberapa macam ilmu silat yang luar biasa, bahkan dengan ilmunya itu mereka pergi ke segala tempat untuk melakukan kejahatan. Mulanya aku tidak percaya, tetapi belakangan cerita itu semakin santer. Lagi lewat satu tahun, Khu Cie Kee datang padaku, dia memberitahukan bahwa ia telah mendapat kepastian benar Kiu Im Cin-keng sudah didapatkan murid-murid dari Tho Hoa To. Gusar aku mendengar warta itu. Aku kata dengan sengit, 'Oey Yok Su tidak pantas menjadi sahabat!' Khu Cie Kee heran, ia menanya apa sebabnya aku membilang begitu. Aku menjawab, 'Sebab dia pergi ke See Tok meminta pulang kitab itu, dia pergi dilaur tahuku, dan setelah mendapatkan itu, dia tidak segera membayar pulang padaku. Sedikitnya ia harus memberitahukan dulu.'"

"Setelah Oey Tocu mendapat kitab itu, mungkin mulanya ia memikir untuk memberitahukan toako,"

Berkata Kwee Ceng.

"Hanya diluar dugaannya, kitabnya itu kena dicuri muridnya yang jahat. Aku tahu betul, mengenai kejadian itu dia murka bukan main, hingga empat muridnya yang lainnya, yang tidak tahu apa-apa, sudah dipotong kakinya dan diusir."

Ciu Pek Thong menggeleng kepala.

"Kau sama jujurnya dengan aku,"

Dia berkata.

"Umpama kata kau yang mengalami kejadian seperti itu, kau pasti tidak menginsyafi bahwa orang telah tipu padamu. Ketika itu Khu Cie Kee, selainnya membicarakan urusan itu, juga meminta pengajaran beberapa rupa ilmu silat padaku. Setelah beberapa hari, ia berangkat pergi. Sesudah lewat dua bulan, ia datang padaku. Kali ini ia membawa kabar kepastian bahwa Tan Hian Hong dan Bwee Tiauw Hong benar dapat ilmu kepandaian dari buku yang dicuri dari gurunya. Dengan menempuh bahaya, Khu Cie Kee mengintai Hek Hong Siang Sat dan mendengari pembicaraan mereka itu. Nyatanya Oey Lao Shia mendapatkan kitab Kiu Im Cin-keng itu bukan boleh merampas kitab dari tangan See Tok hanya boleh mencurinya dari tanganku sendiri…."

Kwee Ceng heran.

"Toh terang-terangan toako telah bakar habis itu?"

Katanya.

"Mungkinkah nyonya Oey telah menukarnya dan toako diberikan kitab yang palsu?"

"Tidak!"

Sahut Pek Thong.

"Di dalam hal itu aku telah berjaga-jaga. Selagi istrinya Oey Lao Shia membaca, tidak pernah aku memisahkan diri darinya. Dia tidak mengerti ilmu silat, umpama kata dia sangat gesit, dia tidak bakal lolos dari mataku. Bukankah kita yang pandai menggunai senjata rahasia mempunyai mata yang sangat awas? Dia bukannya menukar kitab hanya dia menggunai kecerdasan dan kekuatan otaknya untuk menghapalkan bunyinya kitab di luar kepalanya!"

Kwee Ceng heran hingga ia menanya menegaskan.

"Adikku, jikalau kau membaca sesuatu, berapa kali kau membacanya untuk kau dapat membaca pula di luar kepala?"

Pek Thong tanya, sabar.

"Yang gampang cukup dengan dua atau tigapuluh ulangan bacaan,"

Menjawab si adik angkat.

"Yang sukar membutuhkan pembacaan dari enam sampai tujuhpuluh kali, mungkin delapan atau sembilanpuluh kali."

"Kau benar, karena kau memang tidak terlalu berotak terang,"

Berkata kakak angkat itu.

"Memang adikmu bebal sekali, toako. Baik dalam hal membaca buku baik pun dalam hal belajar ilmu silat, kemajuanku sangat lambat."

Pek Thong menghela napas.

"Tentang membaca buku kau tidak mengerti banyak,"

Katanya.

"Mari kita bicara hal ilmu silat. Kalau gurumu mengajarkan kau suatu rupa ilmu silat, bukankah itu memerlukan pengajaran berulang-ulang beberapa puluh kali baru kau mengerti?"

Mukanya Kwee Ceng menjadi merah.

"Benar,"

Sahutnya.

"Akan tetapi di dalam dunia ini ada orang yang asal melihat orang berlatih dalam sesaat saja dapat ia menintainya."

"Itulah benar. Umpama putrinya Oey Tocu, Ang Insu mengajari dia cukup dua kali, tidak pernah sampai tiga kali."

"Nona itu demikian cerdas otaknya, mungkin dia akan berumur pendek seperti ibunya,"

Kata Pek Thong perlahan.

"Ketika itu hari Nyonya Oey meminjam lihat kitab, ia cuma membacanya dua kali, toh ia tidak melupakan satu huruf jua. Rupanya setelah berpisah dari aku, segera ia mengambil pit dan kertas untuk mencatatnya, setelah mana ia memberikan itu kepada suaminya…."

Kwee Ceng heran hingga ia terperanjat.

"Nyonya Oey tidak mengerti tentang kitab itu, cara bagaimana dia sanggup menghapalkannya?"

Katanya.

"Kenapa di kolong langit ini ada orang yang demikian terang otaknya?"

"Aku rasa sahabatmu yang cilik itu, yaitu Nona Oey pun dapat berbuat demikian,"

Mengatakan Ciu Pek Thong.

"Setelah mendapat keterangannya Khu Cie Kee itu, aku lantas memanggil berkumpul tujuh murid Coan Cin Pay, untuk mendamaikan urusan itu, guna bisa memaksa Hek Hong Siang Sat membayar pulang kitab itu. Khu Cie Kee mengusulkan untuk aku jangan turut turun tangan. Dia kata biarnya Hek Hong Siang Sat lihay, tidak nanti mereka itu dapat mereka melawan mereka bertujuh. Katanya kalau aku turun tangan sendiri, aku ditertawankan kaum kangouw. Bukankah aku dari tingkat terlebih tinggi dan mereka itu lebih rendah? Aku setuju. Lantas aku menyuruh Cie Kee berdua Cie It yang mencari Hek Hong Siang Sat dan lima lainnya mengawasi saja, supaya mereka itu tidak dapat meloloskan diri. Ketika Khu Cie Kee sampai di Hoolam, Hek Hong Siang Sat telah lenyap. Kemudian didapat keterangan Hek Hong Siang Sat sudah kabur sebab mereka dikepung Liok Seng Hong, satu murid lainnya dari Oey Lao Shia. Untuk itu Seng Hong mengumpulkan banyak kawan jago-jago dari Tionggoan. Tidak urung, mereka itu bisa lolos dan lenyap. Kwee Ceng mengangguk. Ia berkata.

"Pantas kalau Liok Chungcu membenci Hek Hong Saiang Sat. Dia diusir gurunya tanpa bersalah, cuma disebabkan Hek Hong Siang Sat yang bersalah, yang sudah mencuri kitab."

"Aku tidak dapat mencari Hek Hong Siang Sat itu, sudah tentu aku mencari Oey Lao Shia. Oleh karena aku khawatir nanti terhilang pula, aku bawa-bawa Kiu Im Cie-keng bagian atas itu. Setibanya di Tho Hoa To, aku tegur Oey Lao Shia. Dia kata padaku, 'Pek Thong, aku Oey Yok Su, jikalau akau kata satu, tentu satu. Aku telah bilang tidak nanti aku melihat kitabmu itu, aku pegang perkataanku! Kapannya aku melihat kitabmu itu? Kiu Im Cie-keng yang aku baca ialah yang dicatat oleh istriku, hal itu tidak ada sangkutannya dengan kau!' Aku tidak mau mengerti, maka itu kita jadi berselisih. Lantas aku minta dia kasih aku bertemu sama istrinya. Atas itu aku melihat ia meringis, romannya berduka, lantas ia ajak aku ke ruang dalam. Di sana aku terkejut untuk apa yang aku lihat, Istrinya sudah meninggal dunia, di situ terlihat cuma meja abunya beserta sincienya. Aku ingin memberi hormat pada arwah Nyonya Oey itu, tetapi Oey Lao Shia kata padaku dengan dingin. 'Loo Boan Tong, tidak usah kau berpura-pura! Coba kau tidak mengoceh tentang kitab tulen dan yang palsu, tidak nanti istriku meninggalkan aku!' Aku jadi heran. 'Apa katamu?' aku tanya. Dia tidak menjawab, dia mengawasi aku dengan murka. Kemudian mendadak saja air matanya mengalir. Lewat sesaat baru ia suka menerangkan tentang meninggalnya istrinya itu."

"Apakah sebabnya itu, toako?"

"Istrinya Oey Lao Shia itu ada seorang yang otaknya terang luar biasa, untuk suaminya itu ia sudah mengingat baik-baik bunyinya kitab Kiu Im Cin-keng yang ia pinjam lihat dari aku hanya dua kali membaca. Oey Yok Su baru mendapatkan bagian bawah, ingin juga ia mendapatkan bagian atasnya, sesudah berhasil mendapatkan itu baru ia hendak menyakinkannya sekalian. Apa mau kitabnya itu kena dicuri oleh Tan Hian Hong dan Bwee Tiauw Hong, kedua muridnya itu. Untuk menghibur suaminya, Nyonya Oey hendak membuat catatan yang baru. Ia sebenarnya tidak mengerti maksudnya kitab, sukar untuk ia mengingat-ingat pula karena waktunya telah berselang lama. Kebetulan itu waktu, istrinya itu lagi mengandung sudah delapan bulan. Keras Nyonya Oey ini berpikit, mengingat-ingat, selama beberapa malam ia dapat mencatat pula tujuh sampai delapan ribu huruf tetapi semua itu tidak tepat hubungannya satu dengan lain. Oleh karena ia terlalu memeras otak, ia menjadi lelah, akhirnya melahirkan belum waktunya. Bayinya itu satu anak perempuan. Oey Yok Su pandai sekali tetapi tidak dapat ia merebut jiwa istrinya, yang ia sangat cintai. Memangnya ia bertabiat aneh dan suka menimpakan kesalahan kepada orang lain. Demikian kali ini, saking bersedih, pikirannya seperti terganggu. Terhadap aku, ia mengoceh tidak karuan. Aku tahu tabiatnya itu, aku mengerti kedukaannya, aku tidak sudi melayani dia. Aku pun berkasihan padanya. Sambil tertawa aku berkata padanya, 'Kau gemar silat, bagimana kau dapat menyintai istrimu sampai begini, apakah kau tidak khawatir, orang nanti ketawakan kau?' Atas itu, dia menjawab,' Kau tidak tahu, istriku ini lain daripada istri orang kebanyakan.' Aku kata pula, 'Kau telah kehilangan istrimu, inilah waktunya untuk kau menyakinkan ilmu silatmu. Coba kau jadi aku jadi kau, inilah ketika baik yang aku harap sekali.'"

Kwee Ceng terperanjat.

"Ah, mengapa kau mengatakan demikian?"

Katanya. Matanya Pek Thong membelalak.

"Apa yang aku pikir, apa yang aku kata!"

Ia kata dengan keras.

"Kenapa aku tidak boleh mengatakan sesuatu? Karena itu, Oey Lao Shia menjadi sangat gusar. Dengan mendadak ia menyerang aku. Kita lantas jadi berkelahi. Karena perkelahian itu, kesudahannya aku mesti duduk bercokol di sini selama limabelas tahun…"

"Jadinya toako kalah?"

Kwee Ceng menegaskan. Ciu Pek Thong tertawa.

"Jikalau aku menang, tidak nanti aku berada di sini,"

Sahutnya.

"Dia telah menghajar patah kedua kakiku, dia memaksa aku mengeluarkan Kiu Im Cin-keng bagian atasnya, katanya untuk dibakar buat menyembahyangi arwah istrinya. Aku tidak serahkan kitab itu, yang aku simpan di dalam gua ini, aku sendiri menjaga di depan. Aku telah berkeputusan, asal ia memaksa, hendak aku meludaskan kitab itu. Atas sikapku itu, Oey Yok Su bilang bahwa akhirnya mesti ada jalan untuk dia mendapatkannya, ialah dengan membikin aku meninggalkan gua ini. 'Marilah kita coba!' aku menantang. Demikian sudah terjadi, aku berdiam saja di dalam gua ini, aku mensia-siakan tempo limabelas tahun. Dia tidak berani membikin aku kelaparan, dia telah mempergunakan pelbagai macam tipu daya, akan tetapi tetap dia tidak berhasil. Aku tidak kena dipaksa atau dibujuk. Hanya tadi malam hampir aku runtuh juga, syukur kau datang mebolongi. Baiknya ada hantu atau malaikat yang bawa kau padaku, jikalau tidak tentulah kitab itu sudah terjatuh ke dalam tangannya Oey Lao Shia."

Kwee Ceng berpikir banyak mendengar keterangannya Pek Thong itu.

"Toako, habis bagaimana selanjutnya?"

Ia menanya. Pek Thong tertawa.

"Hendak aku melewatkan waktu bersama-sama Oey Lao Shia, untuk membuktikan, dia yang terlebih panjang umur atau aku yang hidup terlebih lama!"

Sahutnya. Kwee Ceng merasa itu bukanlah daya sempurna, hanya ia sendiri masih belum bisa memikir sesuatu.

"Kenapa Ma Totiang dan lainnya tidak datang menolongi toako?"

Tanyanya kemudian.

"Kebanyakan mereka tidak ketahui aku berada di sini,"

Menyahut Pek Thong.

"Umpama kata mereka mendapat tahu, tidak nanti mereka dapat masuk ke mari, kecuali Oey Lao Shia sengaja memberikan ketikanya."

Kwee Ceng berdiam, ia berpikir pula.

Tentang Ciu Pek Thong ia telah memperoleh kepastian, usia dia tinggi tetapi sifatnya gembira, seperti anak-anak yang doyan bergurau, omongannya pun polos dan langsung, tidak licik.

Ia merasa suka terhadap ini orang tua, yang sebaliknya pun menyukai lainnya.

Tidak lama, matahari merah sudah naik tinggi, si bujang tua datang pula dengan barang makanan.

Habis bersantap, mereka berada berduaan saja, Pek Thong kata kepada Kwee Ceng.

"Limabelas tahun lamanya aku melewatkan waktuku di Tho Hoa To ini, selama itu aku tidak mensia-siakannya. Di sini aku tidak pernah mengangkat kaki setengah tindak sekalipun, hatiku pun tidak terganggu, dengan begitu aku berhasil dengan peryakinkanku. Cobalah di tempat lain, sedikitnya aku membutuhkan tempo duapuluh lima tahun. Aku merasa bahwa aku telah memperoleh kemajuan, sayangnya aku tidak punya kawan untuk berlatih bersama-sama, karenanya terpaksa aku memakai kedua tanganku saja."

Kwee Ceng heran.

"Bagaimana bisa menjadi, tangan kanan bertempur dengan tangan kiri?"

Dia menanya.

"Untuk itu aku main perumpamaan,"

Menerangkan Pek Thong.

"Tangan kananku aku umpamakan Oey Lao Shia, tangan kiriku adalah aku sendiri. Kapan tangan kanan memukul, tangan kiri menangkis, tangan kiri itu terus membalas menyerang. Demikian kedua tangan itu bertarung."

Sembari berbicara, Pek Thong menggeraki kedua tangannya itu, seperti dua orang lagi berkelahi.

Ia memberikan contoh.

Kwee Ceng heran, hingga ia merasa lucu.

Tapi berselang beberapa jurus, ia menjadi kagum.

Ia mendapat kenyataan, benarlah kedua tangan itu luar biasa gerak-geriknya.

Kalau lain orang menggunai kedua tangan, untuk menyerang dengan membela diri, Pek Thong ini menggunai satu tangan saja.

Inilah langka.

Anak muda itu terus mengawasi, sampai ia menanya;

"Toako, barusan kau menggunai jurus Di Bawah Pohon Membereskan Pakaian, kau menggerakkan tangan kananmu, kenapa tidak kaki?"

Pek Thong berhenti, ia tertawa.

"Benar matamu tajam,"

Katanya.

"Mari, mari kau coba!"

Ia melonjorkan tangan kanannya. Kwee Ceng mengulur tangannya, untuk menandingi.

"Hati-hati!"

Pesan si orang tua.

"Aku hendak menolak kau ke kiri…"

Selagi ia berkata, Pek Thong sudah mengerahkan tenaganya.

Ia benar menggunai jurusnya itu.

Kwee Ceng sudah siap sedia, ia melawan dengan Hang Liong Sip-pat Ciang.

Kesudahannya ia terpukul mundur tujuh atau delapan tindak, tangannya lemas dan sakit.

"Barusan aku meminjam tenaga di kakiku, kau cuma terdorong,"

Kata Pek Thong pula.

"Sekarang mari kita coba pula, aku tidak akan pinjam tenaga di kaki itu."

Kwee Ceng menurut, ia keluarkan pula tangannya.

Ia lantas merasa seperti tertolak dan ketarik, akan akhirnya, runtuh kuda-kudanya, lantas ia jatuh ngusruk ke depan, kepalanya membentur tanah.

Ketika ia merayap bangun, ia berdiri bengong saking herannya.

"Mengerti kau sekarang?"

Pek Thong tanya tertawa.

"Tidak,"

Menyahut si anak muda, menggeleng kepala.

"Ilmu ini aku dapatkan selama sepuluh tahun aku berdiam di dalam gua ini,"

Pek Thong menerangkan.

"Aku pun mendapatkannya secara tiba-tiba. Semasa hidunya suko, ia pernah omong halnya menyerang menggertak manjadi benar-benaran. Dulu hari itu aku tidak menginsyafinya, aku tidak perhatikan, hanya kemudian baru aku memahamkan itu. Tadinya aku belum mempercayai penuh, sebab aku cuma dapat berlatih, belum pernah mencobanya. Sekarang barulah aku menguji terhadapmu. Adik, mari kita mencoba pula. Kau jangan takut, lagi beberapa kalli aku akan membuatmu roboh!"

Kwee Ceng bersangsi. Orang tua ini melihat adik angkat ini ragu-ragu, ia lalu meminta. Katanya.

"Adikku, aku menggemari ilmu silat melebihkan jiwaku, selama limabelas tahun, aku mengharap-harapkan ada orang yang bisa main-main dengan aku, buat beberapa jurus saja. Beberapa bulan yang lain putrinya Oey Lao Shia telah ke mari, ia omong banyak, bisa menghibur aku, hanya selagi aku ingin memancing ia untuk diuji, dilain harinya ia tidak datang pula. Adikku yang baik, tidak nanti aku merobohkan keras-keras padamu…."

Kwee Ceng mengawasi, ia melihat kedua tangan orang digerak-gerakkan, seperti sudah sangat gatal.

"Baik,"

Sahutnya kemudian.

"Roboh beberapa kali tidak berarti apa-apa."

Ia pun lantas melonjorkan tangannya.

Mereka lantas bentrok.

Selang beberapa jurus, terasa tangannya Pek Thong dikerahkan.

Tidak ampun lagi, Kwee Ceng terguling tapi belum ia roboh, ia disampok dengan tangan kiri, hingga ia berjumpalitan.

Karena ini, ketika ia jatuh, ia merasakan sakit.

Kelihatannya Pek Thong menyesal tetapi ia lantas berkata.

"Adikku yang baik, tidak percuma aku membuatnya kau roboh. Nanti aku memberi penjelasan kepadamu tentang jurus ini."

Kwee Ceng menahan sakit, ia merayap bangun. Ia dekati kakak angkatnya itu. Pek Thong mengangkat mangkok nasinya.

"Mangkok ini asalnya terbuat dari lumpur, karena tengahnya dikosongi, dapatlah dipakai mengisi nasi. Coba semuanya terisi, ada apakah gunanya?"

Kwee Ceng mengangguk, hatinya berpikir;

"Inilah sangat sederhana, tapi sebenarnya tadi-tadinya belum pernah aku memikirkannya."

"Demikian juga rumah,"

Kata Pek Thong.

"Karena di dalamnya kosong dan ada pintu dan jendelanya, rumah itu dapat ditinggali. Kalau rumah itu terisi dan tanpa pintu atua jendela, apa jadinya?"

Kwee Ceng mengangguk.

"Demikian pula ilmu silat Coan Cin Pay. Ilmu ini berpokok pada kosong dan lemas. Kosong dapat diisi dan lemas dapat dibikin keras."

Kwee Ceng berpikir, ia masih belum mengerti jelas.

"Ang Cit Kong itu ahli Gwa-kee, ilmu luar, dia sudah sampai di puncaknya kemahiran, maka itu, meski aku mengerti ilmu silat Coan Cin Pay, mungkin aku bukan tandingan dia. Tapi ilmu luar itu ada batasnya, tidak demikian dengan Coan Cin Pay. Buktinya ketika kakak seperguruanku memperoleh gelar orang gagah nomor satu, ia bukannya mendapatkannya itu karena beruntung, tidak, itulah karena kepandaiannya. Coba ia masih hidup sekarang, setelah peryakinan lebih jauh belasan tahun, apabila dia diadu pula, tidak nanti dia memakai tempo sampai tujuh hari tujuh malam. Aku percaya, dalam tempo satu hari saja, dapat ia merobohkan semua lawannya."

"Sayang adikmu tidak mempunyai rejeki untuk menemui Ong Cinjin,"

Berkata Kwee Ceng.

"Ang Insu dengan Hang Liong Sip-pat Ciang menjadi jagonya golongan ilmu luar, dan toako barusan, dengan ilmu silatmu yang manjatuhkan aku itu, menjadi jago golongan lemas…."

Pek Thong tertawa.

"Benar, benar!"

Katanya.

"Memang lemas bisa mengalahkan keras, hanya kalau Hang Liong Sip-pat Ciang kau adalah semahir Ang Cit Kong, tidak dapat aku merobohkan kau. Semua itu tergantung sama dalam dan ceteknya peryakinan. Sekarang kau perhatikanlah."

Pek Thong lantas memberikan penjelasannya, berikit gerak-gerik tangannya.

Karena ia tahu orang lambat mengerti, ia berlaku sabar dan perlahan.

Kwee Ceng mesti belajar sambil mencoba, selang beberapa puluh kali, barulah ia mulai mengerti.

"Kalau kau sudah tidak sakit lagi, mari aku mencoba merobohkan pula padamu!"

Kata Pek Thong kemudian. Kwee Ceng tertawa.

"Sakitnya sih tidak, malah pengajaran barusan belum aku mengerti semua,"

Sahutnya. Ia lantas mengingat-ingat. Pek Thong benar seperti bocah, ia mendesak.

"Mari, marilah!"

Bilangnya.

Tapi ini justru menyebabkan Kwee Ceng mesti berpikir terlebih keras lagi.

Sampai sekian lama, baru si anak muda mengerti.

Maka ia lantas melayani pula kakak angkatnya itu.

Lacur untuknya, walaupun ia sudah bersedia, kembali ia kena dirobohkan!

Demikian seterusnya, siang dan malam, mereka berlatih.

Kwee Ceng menderita, tubuhnya jadi bengkak di sana-sini dan matang biru.

Ia bukannya roboh terbanting puluhan, bahkan ratusan kali.

Tapi tubuhnya kuat, ia pun bisa menahan sakit.

Untungnya, kepadanya telah diwariskan kepandaiannya itu kakak angkat.

Itulah ilmu silat "Kong-beng-kun"

Atau "Kepalan Kosong" , yang terdiri daripada tujuhpuluh dua jurus, yang diciptakan sesudah limabelas tahun dalam kurungan…………………….

Bab 36.

Ilmu silat dari kitab yang diperebuti Entah sudah lewat berapa banyak hari, maka pada suatu tengah hari bersantap, Ciu Pek Thong berkata pada adik angkatnya.

"Adik, kau telah berhasil mewariskan ilmu silat Kong-beng-kun, selanjutnya aku tidak bakal mampu merobohkan kau pula. Karena itu kita harus menukar caranya bermain-main."

Kwee Ceng gembira, dia tertawa.

"Bagus, toako. Apakah caramu itu?"

"Sekarang kita bermain seperti empat orang lagi berkelahi…"

"Apa, empat orang?"

"Benar, empat orang,"

Sang kakak memberi kepastian.

"Diumpamakan tangan kiriku satu orang dan tangan kananku satu orang. Demikian juga sepasang tanganmu, diandaikan dua orang. Kita empat orang masing-masing tidak saling membantu, kita berkelahi dalam empat rombongan. Pasti akan menarik hati!"

Kwee Ceng gembira, ia tertawa pula.

"Cuma sayang tidak dapat aku membagi tanganku,"

Katanya.

"Nanti aku ajari. Sekarang kita umpamakan bertiga dulu."

Pek Thong mulai menyerang.

Ia dapat memecah diri menjadi seperti dua orang.

Kwee Ceng melayani seorang diri.

Di saat si adik angkat terdesak.

Pek Thong menggunai tangan lainnya membantu.

Ia dapat memisah tangan kiri dari tangan kanan.

Setelah merasa cukup lama, keduanya berhenti.

Kwee Ceng senang dengan permainan ini.

Mendadak ia ingat Oey Yong.

Coba Yong-jie ada bersama, bukankah mereka bertiga bisa berkelahi seperti enam orang?

Ia pun percaya Oey Yong senang dengan permainan ini.

Pek Thong bersemangat sekali, setelah Kwee Ceng sudah beristirahat cukup, ia mengajak untuk mulai lagi.

Ia pun senang si anak muda dapat melayani.

Ia kata.

"Kalau kau belum menyakinkan ilmu Coan Cin Pay, tidak nanti kau dapat mengendalikan diri seperti ini. Sekarang dapat kau menggunai tangan kiri dengan Lam-san-ciang dan tangan kanan Wat-lie-kiam."

Dengan Lam-san-ciang itu dimaksudkan pelajaran yang didapat dari Lam Hie Jin, dan Wat-lie-kiam dari Han Siauw Eng.

Pek Thong saban-saban memberi keterangannya, maka selang beberapa hari lagi, benar-benar Kwee Ceng sudah dapat memisahkan kedua tangannya masing-masing, maka selanjutnya bisalah mereka berdua bertempur seperti berempat.

"Sekarang mari kita coba,"

KataPek Thong kemudian.

"Tangan kananmu dan tangan kiriku menjadi satu kawan, dan tangan kananku dan tangan kirimu menjadi kawan yang lain, kita saling melawan."

Kwee Ceng terus bergembira.

Ia mematahkan secabang pohon, buat dicekal tangan kanan bagaikan pedang.

Dengan begitu mereka mulai bertempur, mulanya perlahan-lahan.

Terus Pek Thong memberikan keterangan, sampai adik angkatnya itu mengerti betul-betul.

Dengan begitu, adik angkat itu dapat lagi semacam ilmu yang luar biasa itu.

Hari terus berjalan, setelah lewat beberapa hari pula, Pek Thong ajak adik angkatnya itu bergerbrak pula.

Mereka berkelahi seperti empat orang.

Dalam kegembiraannya, Pek Thong berkelahi sambil tertawa.

Kwee Ceng sebaliknya repot, ia kena terdesak, maka kalau tangan kanannya kewalahan, tangan kirinya membantu, begitu sebaliknya.

Kalau ia terdesak, mereka jadi seperti berkelahi bertiga.

Tapi biar bagaimana, Kwee Ceng toh mengerti juga.

"Ah, kau tidak pakai aturan!"

Pek Thong tertawakan adiknya, yang berkelahi seperti sendiri itu. Kwee Ceng tidak membilang suatu apa, hanya selang beberapa jurus, tiba-tiba ia lompat mundur, terus ia berdiam.

"Toako!"

Katanya, habis berpikir.

"Aku ingat suatu apa…"

Pek Thong heran.

"apakah itu?"

Dia menegasi.

"Kedua tangan toako menjadi seperti dua orang, kalau kedua tangan itu dipakai melawan satu orang, bukankah itu berarti dua lawan satu? Kita sekarang hanya main-main tetapi aku pikir itu dapat dipakai buat berkelahi benar-benar…"

Pek Thong tak usah berpikir lama untuk menyadari itu.

Mendadak ia lompat keluar dari gua, dia menjambret cabang pohon, untuk mematahkan dua batang.

Habis itu ia jalan mondar-mandir di mulut gua, sambil tertawa terus.

"Toako, kau kenapa?"

Menegur Kwee Ceng heran. Kakak itu seperti edan.

"Kau kenapakah?"

Pek Thong tidak menjawab, ia tertawa terus. Selang sekian lama, baru ia kata.

"Adik, aku keluar dari gua!"

"Ya,"

Kwee Ceng menyahut, dia lompat ke mulut gua.

"Nanti aku gantikan kau menjaga di sini. Asal jangan toako pergi jauh…."

Pek Thong tertawa, dia menyahuti.

"Sekarang ini kepandaianku ialah yang nomor satu di kolong langit, perlu apa aku takut pula Oey Yok Su? Sekarang ini aku tinggal menantikan dia, untuk aku menghajarnya kalang-kabutan!"

Kwee Ceng heran.

"Toako, pastikah kau bakal dapat menang?"

"Sebenarnya aku masih kalah seurat,"

Sahut Pek Thong.

"Tetapi sekarang aku dapat memecah diri, dengan dua lawan satu, di kolong langit ini tidak bakal ada lain orang yang dapat menangi aku! Oey Yok Su, Ang Cit Kong dan Auwyang Hong, boleh mereka lihay sekali, akan tetapi dapatkah mereka melayani dua Loo Boan Tong?"

Kwee Ceng girang. Beralasan perkataanya ini kakak angkat.

"Adikku,"

Kata pula Pek Thong.

"Kau sudah mengerti ini ilmu memecah diri, untukmu tinggal latihan terlebih jauh untuk memahirkannya. Beberapa tahun kemudian, sesudah kau bisa menyakinkan seperti kakakmu ini, kau pasti akan tambah hebat!"

Girang dua saudara angkat ini.

Bahkan Ciu Pek Thong mengharap-harap munculnya Oey Yok Su, yang baru beberapa saat di muka ia takuti.

Coba tidak Oey Yok Su mempunyai jalan rahasianya itu, yang menyesatkan orang, ia sudah pergi mencari.

Sore itu ketika si bujang tua datang membawa makanan, Pek Thong cekal tangan orang.

"Pergi lekas panggil Oey Yok Su kemari, bilang di sini aku menantikan dia, suruh dia mencobai tanganku!"

Selama orang berbicara, bujang tua itu terus menggoyangi kepala, ketika Pek Thong sudah habis bicara, baru ia sadar sendirinya.

"Aah, aku lupa dia tuli dan gagu!"

Katanya, berludah. Maka ia menoleh kepada Kwee Ceng dan kata.

"Sore ini kita mesti dahar sampai kenyang!"

Ia lantas membuka tutup makanan.

Kwee Ceng dapat mencium bau makanan yang sedap.

Ketika ia sudah memeriksa, ia dapat kenyataan, di antara sayuran ada ayam tim yang ia doyan sekali.

Ia jadi berpikir.

Kemudian ia mencobai.

Ia merasa itu seperti masakannya Oey Yong.

Lantas hatinya berdebaran.

Tahulah ia, itulah masakannya si nona untuknya.

Ia lantas memperhatikan yang lainnya.

Dari belasan bakpauw, ada satu yang ukirannya seperti buli-buli, rupanya itu sengaja dibikin dengan kuku tangan, ukirannya cetek, tidak gampang untuk melihat itu.

Ia heran, maka ia jumput bakpauw itu, untuk dibelah dua.

Di dalam situ ada sepotong lilin.

Lekas-lekas ia masuki ke sakunya selagi Pek Thong dan si bujang tidak memperhatikannya.

Kali ini dua orang itu dahar dengan masing-masing pikirannya.

Pek Thong gembira karena berhasil menciptakan ilmu silat baru, sembari mencaplok, ia seperti bersilat.

Kwee Ceng mengharapkan lekas dahar cukup supaya ia bisa lekas baca suratnya Oey Yong.

Ia percaya si nona ada punya kabar untuknya.

Akhirnya Pek Thong telah dahar habis bakpauwnya, lalu ia tengak kuah supnya, habis itu si bujang berbenah dan berlalu.

Sampai di situ Kwee Ceng keluarkan lilinnya, untuk dipecahkan.

Benar di dalamnya ada suratnya, ialah surat dari Oey Yong.

Si nona menulis.

"Engko Ceng, jangan khawatir. Ayah sudah baik lagi denganku. Kau tunggulah, perlahan-lahan aku nanti minta supaya ayah melepaskan kau."

Habis membaca, surat itu dikasih lihat pada Pek Thong. Kakak itu tertawa.

"Di sini ada aku, dia tidak melepaskanmu pun tidak bisa!"

Katanya.

Ketika itu cuaca mulai jadi gelap.

Kwee Ceng duduk bersemadhi, tetapi ia senantiasa memikirkan Oey Yong, tidak bisa ia berdiam tenang.

Selang sekian lama, baru ia merasa tentram.

Tapi justru ia tenag, justru ia dapat berpkir bahwa untuk dapat memisah diri, ia mesti berkatih.

Dengan kedua tangannya bergantian ia tutup kedua lubang hidungnya, untuk bikin napasnya pun menjadi dua….

Kira-kira satu jam dia melatih diri, Kwee Ceng merasakan dia mendapat kemajuan.

Tiba-tiba ia mendengar suara mendesir keras, lekas-lekas ia membuka matanya.

Cuaca sudah gelap tetapi di situ terlihat rambut dan kumis putih bergerak-gerak, maka ia mengawasi.

Terlihatlah olehnya Ciu Pek Thong lagi melatih diri dengan ilmu silat Kong-beng-kun yang terdiri dari tujuhpuluh dua jurus itu.

Kelihatannya setiap tangan dikeluarkan perlahan tetapi kesudahannya anginnya keras.

Jadi itulah lemas memelihara kekerasan.

Girang ia melihat kakaknya begitu hebat.

Selagi Kwee Ceng menonton lebih lanjut dengan gembira, tengah Ciu Pek Thong bersilat dengan asyik, mendadak orang tua itu menjerit, disusul sama satu suara bentrokan keras, sebab suatu benda panjang dan hitam terlempar dari tubuhnya si orang tua, membentur kepada pohon.

Nampaknya bendabitu seperti kena disambar.

Kwee Ceng terkejut.

Ia lihat tubuh kakaknya terhuyung.

Ia lompat menghampirkan.

"Toako, ada apa?"

Dia menanya.

"Aku digigit ular berbisa!"

Sahut Pek thong.

Bukan main kagetnya Kwee Ceng.

Ia tampak air muka kakaknya pias.

Ia lantas mempepayang orang masuk ke gua.

Ia merobek ujung bajunya, untuk membalut keras paha kakaknya itu, ialah bagian yang dipagut ular, guna mencegah bisa ular mengalir masuk ke dalam tubuh.

Tempo ia menyalakan api, ia menjadi terlebih kaget.

Ia melihat betis yang lantas menjadi bengkak.

"Di pulau ini tidak biasanya ada ular berbisa, entah darimana datangnya binatang ini,"

Kata Pek Thong.

Ia kenali itulah ular hijau.

Kwee Ceng mendengar nyata suara kakaknya, ia jadi terlebih kaget lagi.

Itulah tanda hebatnya racun ular.

Bagus, si kakak dapat mengendalikan napasnya, dia jadi masih dapat mempertahankan diri tanpa pingsan.

Tanpa bersangsi ia membungkuk segera ia bawa mulutnya ke paha, ke tempat yang luka, untuk menyedot darah yang telah kecampur racun ular itu.

Pek Thong terkejut melihat kelakuan adik angkatnya ini.

"Jangan!"

Ia mencegah.

"Ular orang, ia menyedot terus. Pek Thong bisa mati!"

Kwee Ceng hendak menolongi jiwa orang, ia lupa kepada dirinya sendiri.

Ia mencekal keras kaki orang, ia menyedot terus.

Pek Thong hendak berontak buat melepaskan diri tetapi segeralah dia lelah, tubuhnya lemas, tak dapat bergeming lagi.

Bahkan habis itu ia pingsan.

Kwee Ceng menyedot lamanya semakanan nasi, lantas ia lepehkan racun ular itu.

Ia dapat menyedot pulang sebagian besar racun itu.

Pek Thong pun kuat tubuhnya berkat ilmu dalamnya, selang sejam, ia mendusin.

"Adik,"

Dia berkata.

"Hari ini kakakmu bakal pulang ke negeri baka, sebelum mati aku dapat mengangkat saudara sama seorang berbudi sebagai kau, aku sangat bergirang…"

Kwee Ceng lantas saja mengucurkan air mata.

Pendek pergaulan mereka tetapi ia sangat ketarik sama orang tua ini, yang baik hatinya.

Mereka sudah jadi seperti saudara kandung.

Pek Thong tertawa dalam kedukaan.

"Bagian dari Kiu Im Cin-keng berada di dalam peti kecil, yang aku pendam di dalam tanah di atas mana aku duduk numprah,"

Pek Thong berkata pula.

"Sebenarnya aku hendak mewariskan itu kepada kau tetapi kau sudah mengisap racun ular, kau juga bakal tidak panjang umur…. Adikku, kita pulang ke dunia baka bersama-sama, dengan bergandeng tangan, kita tak usah berkhawatir kita tak punya kawan…."

Kwee Ceng terkejut mendengar kata-kata orang bahwa ia bakal mati.

Ia justru merasakan tubuhnya sehat, tidak ada tanda-tanda yang luar biasa.

Ia lantas pula nyalakan api, untuk periksa luka kakaknya itu.

Bahan apinya itu tinggal separuh, maka ia berlaku sebat.

Ia keluarkan dari sakunya surat dari Oey Yong, dia sulut itu, lantas ia memikirkan untuk mencari cabang dan daun kering diluar gua, untuk ia sekalian, kesudahannya ia terkejut.

Tidak ada cabang atau daun kering di situ, rumput semuanya hijau dan segar.

Dalam bingung, ia merogoh pula sakunya, untuk mencari apa saja yang dapat dijadikan bahan api.

Ia tidak dapatkan apa-apa kecuali itu sehelai benda kertas bukan kulit bukan, yang Bwee Tiauw Hong pakai membungkus pisau belati.

Tanpa pikir nlagi, ia keluarkan itu, untuk dibakar.

Ia menyuluhi muka Pek Thong.

Ia melihat tampang yang hitam gelap, tidak lagi roman segar sebagai bocah dari kakak angkatnya itu.

Melihat api, Pek Thong mengawasi Kwee Ceng.

Ia tersenyum.

Tapi melihat wajah orang, yang sehat seperti biasa ia heran.

Tengah ia berpikir, ia lihat benda yang menyala di tangan si anak muda, ia menampak huruf-huruf.

Baru ia melihat belasan huruf, lantas ia sampok api itu hingga padam, sesudah mana, ia menghela napas lega.

"Eh, adikku, kau pernah makan obat apa yang mujarab?"

Ia tanya.

"Kau sudah menyedot racun ular tetapi racun ular itu tidak dapat mencelakai kau!"

Ditanya begitu, Kwee Ceng ingat halnya dulu hari ia bersama Ang Cit Kong dan Oey Yong bertemu banyak ular dalam rimba pohon cemara, bagaimana tidak ada ular yang berani menggigit padanya, ketika kemudian Cit Kong minta keterangan padanya ia ingat yang pernah menghirup darah ularnya Nio Cu Ong.

Maka ia lantas memberi keterangannya.

Pek Thong mau mengerti, lantas ia menunjuk itu barang seperti kertas atau kulit.

"Jangan kau bakar itu!"

Katanya.

"Itulah mustika…!"

Tidak sempat ia bicara lebih jauh, kembali Pek Thong pingsan.

Sebenarnya ia hendak menjelaskan, benda itu memuat huruf-huruf yang merupakan Kiu Im Cin-keng bagian bawah.

Dalam keget dan bingungnya Kwee ceng menguruti kakaknya itu.

hendak ia menolong tetapi tidak ada hasilnya.

Ia meraba paha orang, ia merasakan paha panas seperti api dan bengkaknya pun bertambah.

Saking berkhawatir, ia lari ke luar gua, ia lompat naik ke pohon terus ia berkoak-koak.

"Yong-jie"

Yong-jie! Oey Tocu! Tolong! Tolong!"

Luas Tho Hoa To itu, Oey Yok Su entah ada di bagian mana, suaranya Kwee Ceng sia-sia belaka.

Cuma datang sambutan kumandang koakannya itu dari antara lembah.

Habis daya Kwee Ceng, ia lompat turun.

Tetapi ia tidak putus asa.

Mendadak ia ingat suatu hal.

Ia pikir.

"Ular beracun tidak berani menggigit aku, mungkin darahku bisa memunahkan racun ular."

Begitu mengingat ini, begitu ia bekerja.

Ia ambil mangkok hijaunya Pek Thong, yang diperantikan menaruh the, ia pun menghunus pisau belatinya.

Tanpa sangsi lagi, ia potong lengannya, darahnya yang mengalir itu ia tadahkan dengan mangkok itu.

Ia tunggu sampai darah habis menucur keluar, terus ia letaki tubuh Pek Thong di kakinya.

Ia membuka mulut saudaranya itu, ia menggunai tangan kirinya lalu dengan tangan kanan ia menuang darahnya ke dalam mulut orang.

Anak muda ini telah mengeluarkan banyak darah, walaupun tubuhnya kuat, ia lelah juga, ia menjadi lemas.

Menyender pada lamping gua, sendirinya ia meram dan menjadi pulas.

Ia baru sadar ketika merasa ada orang meraba lengannya untuk membalut lukanya, apabila ia membuka matanya, ia melihat Loo Boan Tong yang rambutnya melorot turun.

Ia menjadi girang dengan tiba-tiba.

"Kau…kau…baik?"

Serunya.

"Aku baik, adikku,"

Sahut Pek thong.

"Kau telah menolong aku, kau sampai mengorbankan dirimu."

Kwee Ceng mengawasi paha kakak itu, warna hitamnya sudah lenyap, tinggal warna merah dan bengkaknya.

Keduanya tidak banyak omong, bersama-sama mereka bersemadhi.

Adalah setelah bersantap tengah hari, Ciu Pek Thong baru menanyakan halnya benda yang berupa kulit atau kertas itu yang ada huruf-hurufnya.

Kwee Ceng mesti mengingat-ingat dulu sebelumnya ia menjawab.

Ia ingat itulah benda yang ia dapatkan dari gurunya yang nomor dua, Biauw-ciu Sie-seng Cu Cong, yang sebaliknya mendapatkan itu dari sakunya Bwee Tiauw Hong, ketika guru itu mencuri pisau belati orang, piasu belati mana dibungkus dengan kulit itu.

Maka ia lantas menuturkan peristiwa di Kwie-in chung baru-baru ini.

Ciu pek Thong berpikir.

Ia tidak mengerti kenapa Bwee Tiauw Hong mencatat Kiu Im Cin-keng di kulit itu.

"Toako, kau menyebutkannya itu barang berharga, apakah artinya?"

Tanya Kwee Ceng yang masih belum mengetahui itu adalah Kiu Im Cin-keng bagian bawah itu.

"Hendak aku memeriksa dulu baru aku bisa menjawab kau,"

Menyahut Pek Thong.

"Aku ingin membuktikan ini yang tulen atau yang palsu."

Pek Thong masih terbenam kesangsian.

Bukankah orang Coan Cin Pay dilarang mempelajari Kiu Im Cin-keng?

Bukankah maksudnya Ong Tiong Yang mendapatkan itu itu guna menyingkirkan bencana di kemudian hari?

Ia tidak berani melanggar pesan itu.

Akan tetapi ia berpikir.

"Bukankah aku tidak berniat mempelajarinya dan aku cuma hendak melihat saja?"

Ini pula sebabnya kenapa selama numprah di dalam gua itu, ia telah periksa Kiu Im Cin-keng bagian atas itu dan membacanya berulang-ulang hingga ia hapal di luar kepala.

Bagian atas itu memuat ilmu silat tangan kosong dan pedang, tidak ada tipu atau rahasianya untuk mengalahkan lain orang, jadi sia-sia semua pelajaran itu apabila orang tidak mendapatkan bagian bawahnya.

Selama sepuluh tahun lebih, Pek Thong senantiasa memikirkan dan menduga-duga bagaimana isinya Kiu Im Cin-keng bagian bawah itu.

Dasar kepandaiannya telah mencapai puncaknya dan ia pun sangat hapal Kiu Im Cin-keng bagian atas, maka itu begitu melihat bagian bawahnya itu, ia lantas mengerti hubungan keduanya itu.

Sekarang ia berpikir keras, ia menyakinkan itu atau jangan?

Ia tidak menghendaki menjadi jago nomor satu tetapi ia ingin mengetahui dasarnya ilmu silat, bagaimana lihaynya.

Karena kesangsiannya, sebab masih terpengaruh pesan kakak seperguruannya, akhirnya ia masuki kitab itu ke dalam sakunya dan tidur.

Tidak lama setelah mendusin, pek Thong ajak Kwee Ceng membantui ia menggali tanah di bagian tempat duduknya, akan mengeluarkan kitab simpanannya, untuk dihubungi dengan bagian bawahnya.

Baru ia menggorek beberapa kali, dengan sebatang pohon yang dipakai sebagai alat penggali, mendadak ia berseru.

"Benar! Benar! Inilah cara yang paling baik!"

Ia lantas tertawa, agaknya ia girang luar biasa.

"Toako, kau bilang apa?"

Tanya Kwee Ceng mengangkat kepalanya. Pek Thong tertawa pula, ia tidak menjawab. Ia sebenarnya mendapat ingat sesuatu. Katanya dalam hati.

"Dia bukan orang Coan Cin Pay, aku ajari dia menurut bunyinya kitab, supaya ia mengerti semuanya, habis ia melatih itu, untuk aku melihat, tidakkah aku jadi dapat mencapai maksudku untuk melihatnya?"

Tapi sejenak kemudian, ia memikir lainnya.

"Di dengar dari suaranya, ia jemu terhadap Kiu Im Cin-keng, yang ia namakan ilmu sesat, cumalah ia keliru mengerti sebab ia melainkan menyaksikan Hek Hong Siang Sat, yang mengerti hanya bagian bawahnya. Ia tidak tahu bahwa bagian atasnya memuat cara-cara yang sehat. Karena Hek Hong Siang Sat tidak mengetahui bagian atasnya itu, mereka menjadi sesat. Baiklah aku mengatur begini, aku tidak mengasih keterangan padanya, nanti sesudah ia paham, baru aku mengasih tahu, biar ia kaget. Karena ia sudah mengerti ilmu itu, tidak dapat ia membuangnya pula! Tidakkah ini lucu?"

Setelah berpikir demikian, ia awasi Kwee Ceng. Ia berkata.

"Adikku, selama aku berdiam di dalam gua ini, kecuali ilmu silat Kong-beng-kun serta cara berkelahi bermain-main itu, sebenarnya aku telah mendapatkan beberapa ilmu lain. Sekarang ini kita nganggur, bagimana jikalau aku mengajari pula padamu?"

Ia bicara tanpa mengasih kentara apa-apa. Kwee Ceng polos, ia girang.

"Memang itu bagus!"

Jawabnya.

"Jangan kau kegirangan, kau telah kena terpedaya!"

Kata Pek Thong dalam hatinya.

Ia segera mulai membacakan isinya Kiu Im Cin-keng bagian atas.

Kwee Ceng tidak cerdas, ada bagian-bagian yang ia tidak mengerti, ia menanyakan itu.

Pek Thong berlaku sabar luar biasa untuk memberikan penjelasannya, sesaudh mana, dari bagian atas ia menyambung ke bagian bawah.

Cuma, untuk tidak membikin orang curiga, ia suka mengambiln jalan menyimpang.

Luar biasa caranya mengajarnya Ciu Pek Thong ini.

Beda dari semua guru lainnya, ia tidak memberi penjelasan dengan gerakan tangan atau kakinya, tetapi meski pun demikian, berkat bahan baik dari Kwee Ceng, yang pun bersungguh-sungguh, dan berkat kesabarannya sendiri, ia memperoleh hasil.

Setelah Kwee Ceng mengerti, ia mencoba membandingkan itu dengan ilmu silat Coan Cin Pay.

Kwee Ceng tetap tidak mendusin bahwa ia sudah mendapatkan pelajaran-pelajaran dari Kiu Im Cin-keng.

Hal ini membuat Pek Thong sangat girang, walaupun tengah bermimpi, ia suka tertawa sendirinya.

Selama beberapa hari ini, Oey Yong pun terus membikinkan Kwee Ceng beberapa rupa barang hidangan yang digemari si anak muda.

Cuma ia tidak muncul menemui anak muda itu.

Kwee Ceng berlega hati, ia mantap belajar silat, ia mendapat kemajuan hebat.

Pada suatu ahri Pek Thong mengajari ilmu mencengkram atau menjambak Kiu Im Pek-ku Jiauw.

Sebagai sasarannya adalah tembok gua.

"Pusatkan perhatianmu! Gunakan sepuluh jarimu!"

Berkata si guru. Kwee Ceng menurut. Selang beberapa kali, dia heran.

"Toako,"

Katanya.

"Aku lihat Bwee Tiauw Hong pernah mempelajari ilmu semacam ini, melainkan sasarannya ialah manusia hidup, dengan jarinya ia mencengkram batok kepala orang, dia kejam sekalli!"

Di dalam hatinya Pek Thong terkejut juga. Pikirnya.

"Memang, Bwee Tiauw Hong itu mengambil jalan yang sesat, sebab ia tidak tahu bagian atasnya. Ia cuma turuti kitab bawah yang bunyinya. 'Diwaktu bertempur, dengan jari-jari tangan mencengkram batok kepala lawan.' Ia tentunya pikir, melatihnya pun mesti memakai manusia hidup. Dia mulai curiga, baiklah aku mengubahnya…"

Maka sembari tertawa ia berkata.

"Dia mempelajari ilmu sesat, dia beda dari kita kaum sejati. Baiklah, kita menunda mempelajarinya ini ilmu Kiu Im Sin-jiauw, aku nanti mengajari kau lain ilmu dalam."

Sembari berkata begitu, ia berpikir.

"Baik aku mengajari dulu bagian atas sampai dia hapal benar, kemudian baru bagian bawah. Kalau keduanya menemui runtunannya, tentulah ia tidak bercuriga lagi."

Kwee Ceng menurut, maka ia mulai dari bagian atas.

Seperti biasa dengan pelajaran baru, Kwee Ceng selalu menemui kesulitan, ialah tidak gampang ia mendapat ingat atau mengerti, karena ini, berulangkali ia meminta keterangan, dan saban-saban Ciu Pek Thong mesti menjelaskannya.

Penjelasan ini sering sampai beberapa puluh kali, meski Kwee Ceng tidak dapat mengerti maksudnya, ia toh dapat membaca di luar kepala.

Karena ini, mereka meminta tempo lagi beberapa hari lagi, baru setelah itu, Kwee Ceng mulai melatih dengan tangan dan kakinya.

Sering Kwee ceng melihat kakaknya itu tersenyum atau tertawa sendirinya, ia tidak curiga, sebab ia tahu kakak angkatnya ini memangnya nakal dan suka bergurau.

Kemudian pada suatu pagi, habis Kwee Ceng berlatih, bujang tua membawakan mereka barang makanan.

Kali ini Kwee Ceng lantas dapat melihat sebuah bakpauw yang ada tandanya.

Tidak menanti habis dahar, ia bawa bakpauw itu ke pepohonan yang lebat, untuk dibuka dan diperiksa isinya.

Oey Yong menulis surat yang bunyinya membuatnya kaget.

Nona itu menulis.

"Engko Ceng, See Tok datang melamar untuk keponakannya, yang ia hendak rangkap jodohnya dengan jodohku. Ayah sudah memberikan jawabannya…. Sampai di situ surat itu. Rupanya belum selesai lagi ditulis, surat itu tealh dimasuki ke dalam bakpauw. Itulah tandanya si nona sangat tergesa-gesa. Tidak salah lagi, jawabannya Oey Yok Su tentulah menerima lamaran itu, kalau tidak si nona tidak nanti menjadi bingung. Karena ini, ia pun menjadi bingung sekali. Kwee Ceng tunggu sampai si bujang tua sudah berbenah dan berlalu, ia perlihatkan suratnya Oey Yong itu kepada Pek Thong.

"Ayahnya sudah menerima baik, itulah bagus. Ini tidak ada sangkut pautnya dengan kita!"

Kata sang kakak.

"Tidak, toako!"

Kata Kwee Ceng, tetap bingung.

"Dia sudah berjanji menyerahkan dirinya kepadaku. Dia bisa menjadi gila!"

"Sesudah seseorang menikah, ada beberapa macam ilmu kepandaian yang tidak dapat dipelajari lagi lebih jauh,"

Pek Thong memperingatkan.

"Umpama dua ilmu It-yang-cie dan Sun-yang-cie, keduanya mesti dipelajari oleh anak-anak yang ebrtubuh jenaka. Adik, kau dengar aku, lebih baik kau jangan menginginkan istri…"

Kwee Ceng tidak menghiraukan nasehat itu. Karena kakak ini tidak sependapat dengannya, ia jadi semakin bergelisah. Ia bergelisah seorang diri.

"Coba dulu hari itu aku tidak kehilangan tubuh perjakaku,"

Kata pula Ciu Pek Thong.

"Hingga karena itu aku tidak bisa mempelajari ilmu It-yang-cie, mana bisa sekarang Oey Lao Shia mengurung aku di pulau iblis ini? Kau lihat sekarang, karena kau memikirkan istri, pemusatan pikiranmu jadi terpecah, pelajaranmu hari ini pastilah tidak dapat kau selesaikan. Kalau benar kau hendak menikahi putrinya Oey Lao Shia, putri yang cantik bagaikan bunga itu, ah, sayang, sungguh sayang…."

Tidak puas Kwee Ceng mendengar orang ngoceh tentang jeleknya mempunyai istri.

"Aku nikahi dia atau tidak, itulah urusan belakangan, toako!"

Katanya.

"Sekarang kau tolongi dulu padanya!"

"See Tok itu ada orang yang sangat buruk, keponakannya juga pasti bukan orang baik,"

Berkata Ciu Pek Thong.

"Biarlah ia menikah sama putri yang licin dan buruk dari Oey Lao Shia, supaya dia tahu rasa! Bukankah itu bagus?"

Kwee Ceng menghela napas. Ia pergi ke rimba, di situ ia duduk menjublak.

"Biar aku kesasar dan mati, mesti aku cari dia!"

Pikirnya mengambil keputusan.

Karena ini, ia berlompat bangun.

Justru itu ia dapat mendengar dua kali pekiknya burung di tengah udara, lalu berkelebat dua bayangan putih, yang menyambar ke bawah.

Bahkan segera ia mengenali dua burung rajawali, yang dibawa Tuli dari gurun pasir.

Ia menjadi girang sekali.

Ia lantas mengangkat melintang tangannya untuk burungnya itu mencelok.

Di kakinya burung yang lelaki ada terikat sebuah selubung bambu.

Kwee ceng meloloskan ikatannya untuk diperiksa isinya, sehelai surat.

Itulah surat dari oey Yong.

Si nona menulis bahwa ia terancam sangat, lantaran lagi beberapa hari See Tok bakal datang mengantarkan panjar, bahwa ia dijaga keras oleh ayahnya, sudah dilarang keluar dari rumah, tak boleh setengah tindak juga, ia pun dilarang memasaki makanan lagi untuk si pemuda.

Maka itu, tulisnya lebih jauh, kalau sampai saatnya dan dia tidak bisa lolos lagi, ia hendak menghabiskan nyawanya.

Dia larang si pemuda mencari dia disebabkan semua jalanan di Tho Hoa To penuh rahasia dan berbahaya.

Kwee Ceng terbengong sekian lama, lantas ia menghunus pisau belatinya.

Ia mengurat berulangkali di selebung bambu itu, akan mengukir delapan huruf, bunyinya.

"Hidup bersama dalam sebuah rumah, mati bersama dalam sebuah liang."

Ia ikat pula selubung pada kaki burungnya, lantas ia kibaskan tangannya.

Sepasang burung itu sudah lantas pergi terbang, di udara mereka terbang berputaran, lalu terus menuju ke arah Utara.

Sekarang Kwee Ceng dapat melegakan hati, maka ia bersila pula untuk bersemadhi, guna menyakinkan ilmunya, akan sebentar kemudian ia menghampirkan Ciu Pek Thong, guna mendengari pengajaran kakak angkatnya itu.

Lewat sepuluh hari, dari Oey Yong tidak terdapat kabar apa juga.

Selama itu, Kwee Ceng telah berhasil menghapalkan kitab bagian atas.

Karena ini, dalam girangnya, Pek Thong mulai mengajari kitab bagian bawah.

Ia cuma mengajari serupa demi serupa, ia tidak menyuruhnya orang berlatih dulu menuruti itu.

Inilah untuk mencegah timbulnya kecurigaan si anak muda.

Kwee Ceng belajar dengan sungguh-sungguh.

Setelah puluhan kali, ia berhasil mengingat di luar kepala isinya kitab bagian bawah itu, maka itu, berhasillah ia menguasai kedua bagian kitab itu.

Pada suatu malam, tengah rembulan terang menderang, Pek Thong ajak Kwee Ceng berlatih dengannya.

Kesudahannya itu membuat ia girang sekali.

Ia merasa bahwa ia telah maju pesat.

Ia percaya, kalau nanti ia sudah dapat memahamkan isinya kitab, ia bakal terlebih lihay daripada Oey Yok Su dan Ang Cit Kong.

Habis berlatih, keduanya beristirahat memasang omong.

Lalu tiba-tiba mereka mendapat dengar suara menggelesernya sesuatu apa di atas rumput.

Kwee Ceng kenali suara itu.

"Ular!"

Pek Thong kaget hingga mukanya menjadi pucat, ia berlompat untuk lari masuk ke dalam gua.

Ia gagah tetapi menghadapi ular, ia merasa kepalanya sakit.

Kwee ceng pun tidak berdiam saja.

Ia menggeser beberapa potong batu besar, untuk dilintangkan di mulut gua.

Kemudian dia kata.

"Toako, jangan bergerak, hendak aku melihat."

"Hati-hati,"

Pek Thong memesan.

"Lekas kau kembali!"

Kwee Ceng berjalan ke arah dari mana suara ular datang.

Setelah puluhan tindak, ia dapat melihat ularnya.

Ia heran sekali.

Di bawahnya cahaya rembulan, nampak ular dalam jumlah ribuan atau puluhan ribu, berbaris bagai satu pasukan tentara, menuju ke Utara.

Penggembalanya ada beberapa pria dengan sergam putih, yang tangannya memegang galah panjang.

Barisan ular ini lebih hebat daripada barisan ularnya Auwyang Kongcu.

"Mungkinkah See Tok sendiri yang datang ke mari?"

Si anak muda menanya diri sendiri.

Ia kaget.

Ia menyembunyikan tubuhnya di belakang pohon, lalu ia menguntit barisan ular itu.

Syukkur untuknya, semua penggembala ular itu biasa saja kepandaiannya, mereka tidak ketahui dirinya ada yang mengikuti.

Di paling depan ada berjalan satu bujang gagu.

Dialah yang memimpin.

Di dalam rimba itu orang berjalan berliku-liku jauhnya kira-kira duapuluh lie, setelah melintasi sebuah bukit, tibalah mereka di sebuah tegalan luas dengan rumput hijaunya.

Di Utara tegalan rumput itu ada rimba pohon bambu.

Setibanya di situ, semua ular itu tidak berjalan lebih jauh, bahkan dengan menuruti petunjuk galah penggembalanya, semua pada berdiam melingkar dengan rapi, kepala mereka diangkat tinggi.

Kwee Ceng berlaku waspada, tidak mau ia memperlihatkan dirinya.

Ia nelusup ke Timur, yang merupakan rimba, dari situ ia ke Utara, ke hutan bambu itu.

Di situ ia sembunyi sambil memasang kuping dan mata.

Rimba itu sunyi.

Ia bertindak secara enteng sekali.

Di dalam rimba itu ada sebuah paseban yang terbuat dari bambu, menurut mereknya yang tergantung, namanya Cek Cui Teng.

Di samping kedua mereka itu ada sepasang lian.

Di dalam pesaben ada meja dan kursi terbuat dari bambu, semua barang bikinan dari banyak tahun, bambunya sudah mengkilap, warnanya kuning muda.

Sangat sunyi suasa di sekitar paseban itu.

Mengintai keluar, Kwee ceng melihat rombongan ular itu masih mendatangi.

Semua ular itu bukan ular hijau hanya ular yang kepalanya besar dan ekornya panjang, cahayanya kekuning-kuningan seperti emas.

Habis ular kuning, baru ular hitam.

Semua lidah mereka bergerak pergi datang.

Semua ular itu terpecah ke Timur dan Barat, di tengahnya terbuka satu jalanan.

Di situ terlihat beberapa puluh wanita dengan seragam putih dan tangan masing-masing mencekal tengloleng merah, bertindak dengan perlahan.

Di belakang mereka berjalan satu orang dengan jubah terikat di pinggang, yang tangannya mengebas-ebas kipas.

Dialah Auwyang Kongcu.

Dia jalan di muka, sikapnya menghormat.

Segera terdengar suaranya yang terang dan nyata;

"Auwyang Sianseng dari Wilayah Barat datang menjenguk Oey Tocu dari Tho Hoa To!"

"Ah, benar-benar See Tok yang datang!"

Kata Kwee Ceng dalam hatinya.

"Pantaslah rombongan ini begini besar dan agung-agungan sikapnya."

Memang, di belakangnya Auwyang Kongcu ada berjalan seorang lain, tubuhnya tinggi dan besar, yang pun berpakaian putih mulus.

Kwee Ceng cuma dapat melihat belakang orang, tidak mukanya.

Dia berhenti bertindak, begitupun Auwyang Kongcu selagi pemuda itu mengasih dengar suaranya.

Dari dalam hutan bambu lantas muncul dua orang.

Melihat mereka itu, hampir Kwee Ceng menjerit.

Itulah Oey Yok Su sendiri yang menuntun tangan putrinya, Oey Yong.

Auwyang Hong bertindak maju, ia menjura kepada Oey Yok Su, yang membalasinya.

Auwyang Kongcu sendiri sudah lantas berlutut di depan pemilik dari Tho Hoa To itu, untuk memberi hormat sambil mengangguk empat kali.

Ia kata.

"Mantu yang tidak berharga menghadap gakhu tayjin, semoga gakhu tayjin sehat-sehat saja!"

"Gakhu tayjin"

Itu berarti "Ayah mertua yang dihormati".

"Sudah, kau bangunlah!"

Kata Oey Yok Su, yang mengulurkan tangannya akan mengasih bangun pemuda itu, yang menyebut dirinya baba mantu dan memanggil orang sebagai mertuanya.

Auwyang Kongcu ketahui bahwa ia tentulah bakal diuji, maka itu ia sudah bersiap sedia.

Ia mempertahankan diri begitu lekas tangan kirinya dipegang untuk untuk diangkat tetapi ketika ia berbangkit, tubuhnya terhuyung juga hingga ia mengeluarkan seruan perlahan.

Tubuhnya itu lantas berjumpalitan, kepala di atas, kakinya di bawah, jatuh ke tanah.

Tapi Auwyang Hong sudah lantas menggeraki tongkat di tangannya, ditempel pada punggung keponakannya itu, disontek dengan perlahan, maka kesudahannya sang keponakan dapat berjumpalitan pula, untuk berdiri tegar.

"Ha, bagus sekali, saudara Yok!"

Auwyang Hong tertawa.

"Kau membuatnya baba mantumu berjumpalitan sebagai tanda menghormat menghadapnya yang pertama kali?"

Tidak sedap suaranya See Tok masuk ke dalam telinganya Kwee Ceng.

"Dia telah menghina muridku yang buta matanya, aku ingin melihat sampai di mana sudah kepandaiannya,"

Menyahut Oey Yok Su. Auwyang Hong tertawa lebar.

"Bagaimana sekarang, apakah dia cocok untuk dipasangi dengan putrimu?"

Dia menanya, sedangkan matanya melirik kepada Nona Oey, setelah mana ia mengasih dengar pujiannya.

"Saudara, sungguh hebat! Beruntunglah kau yang telah mendapatkan putri yang begini cantik molek!"

Ia lantas merogoh ke dalam sakunya, untuk menarik keluar sebuah kotak, yang mana pun ia terus buka tutupnya, maka dari dalam itu memancarlah keluar cahaya terang indah.

Di dalam kotak itu terletak empat mutiara sebesar buah lengkeng.

Ia lantas menghadap Oey Yong, untuk berkata pula.

"Ayahmu pernah malang melintang di kolong langit ini untuk banyak tahun, ada permata apakah yang aneh-aneh yang dia tidak pernah melihatnya? Maka itu ini bingkisanku berasal dari desa, sebagai hadiah pertemuan kita yang pertama ini, pastilah akan dibuat tertawaannya…!"

Sembari berkata begitu, See Tok mengangsurkan permata mulianya itu. Menampak itu, hatinya Kwee Ceng berdenyut keras. Katanya dalam hatinya itu.

"Dia menerimanya atau tidak…?"

Segera juga terdengar suara tertawanya Oey Yong.

"Terima kasih!"

Berkata si nona, yang mengulur tangannya untuk menyambuti hadiah itu.

Melihat saja kulit orang yang putih dan cantik itu, semangatnya Auwyang Kongcu seperti sebuah meninggalkan tubuh raganya, sekarang ia mendengar tertawa orang yang manis merdu, goncangan hatinya bertambah hebat.

Di dalam hatinya ia berpikir.

"Ayahnya telah sudi menyerahkan dia kepadaku, maka sekarang sikapnya terhadapku beda banyak daripada dulu-dulu…."

Tengah pemuda ini tersengsam dan bagaikan bermimpi, mendadak ia melihat menyambarnya suatu cahaya kuning emas ke arahnya, saking kagetnya, ia menjerit.

"Celaka!"

Walaupun demikian, ia masih sempat melenggakkan tubuh, akan menjalankan tipu silat Tiat-poan-kio atau Jembatan Besi, hingga tubuhnya jadi terlentang lempang, untuk menyelamatkan diri.

"He, kau bikin apa?!"

Oey Yok Su pun membentak seraya tangan kirinya mengibas, untuk membikin terdamparnya jarum emas dari putrinya, ialah orang yang menyerang Auwyang Kongcu dengan senjata rahasia itu, sedang tangan kanannya, ia menekan bahu putrinya itu.

Oey Yong lantas saja menjerit menangis.

"Ayah. lebih baik kau bunuh saja padaku!"

Demikian suaranya.

"Tidak nanti aku menikah dengannya!"

Auwyang Hong tidak menjadi kaget menyaksikan itu semua.

Sambil dengan satu tangan ia menjejalkan mutiara ke dalam telapakan tangannya Oey Yong, dengan tangan lain ia sampok tangannya Oey Yok Su yang ditekankan ke bahu putrinya.

"Putrimu tengah menguji keponakanku, kenapa kau memandangnya bersungguh-sungguh?"

Dia berkata sambil tertawa kepada tuan rumah.

Auwyang Kongcu sudah berdiri tegak pula akan tetapi ia merasakan sakit pada dadanya, maka tahulah dia yang ia telah terkena jarum rahasia itu.

Dasar ia seorang yang berkepala besar, yang suka menang sendiri, ia menahan sakit, ia berpura-pura seperti tidak terjadi sesuatu, melainkan wajahnya tak dapat ia menenangkannya.

Ia nampak jengah.

Auwyang Hong berkata pula sambil tertawa.

"Saudara Yok, semenjak kita berpisah di gunung Hoa San sudah duapuluh tahun kita tidak pernah saling bertemu maka itu pertemuan ini sungguh membikin aku girang sekali. Saudara, setelah hari ini kau memandang mata kepadaku dengan menerima baik perangkap jodoh keponakanku dengan jodoh putrimu, maka selanjutnya apa juga titahmu, tidak nanti aku menolaknya!"

"Siapakah yang berani main gila terhadapmu, racun tua bangka?"

Menyahut Oey Yok Su.

"Untuk duapuluh tahun kau berdiam diri di Wilayah Barat, kepandaian apa saja yang kau telah pahamkan, coba sekarang kau petunjuki untuk aku lihat."

Dasar sifatnya yang kekanak-kanakan, mendengar ayahnya hendak menyuruh orang mempertunjuki kepandaiannya, Oey Yong menjadi ketarik, ia lantas saja berhenti menangis, ia menyender pada tubuh ayahnya itu, matanya diarahkan kepada Auwyang Hong, kepandaian siapa yang ia ingin saksikan.

See Tok si Racun Barat itu memegang sebatang tongkat berwarna putih, tongkat ini banyak tekukannya mirip dengan rotan.

Unjungnya tongkat diukirkan sebuah kepala orang, yang mulutnya tertawa.

Di dalam mulut itu terlihat barisan gigi yang tajam dan putih bersih.

Yang aneh adalah kepala tongkat itu ada menangkel melingkar dua ekor ular panjang, yang kulitnya berkilau putih seperti perak.

Kedua ular itu merayap turun dan naik.

Auwyang Hong tertawa ketika ia menyahuti.

"Dulu hari itu kepandaianku tidak dapat menyamakan kepandaian kau, sekarang setelah mensia-siakan selama duapuluh tahun, pasti sekali aku kalah jauh terlebih banyak. Sekarang ini kita menjadi sanak, aku memikir untuk menumpang tinggal beberapa hari di pulau Tho Hoa To kau ini, untuk aku memperoleh kesempatan akan meminta pengajaran dari kau."

Ketika pertama kali Auwyang Hong mengirim utusan kepada Oey Yok Su untuk melamar Oey Yong, Oey Yok Su berpikir, dijamannya itu, orang yang dapat menandingi ia sudah tidak seberapa lagi dan Auwyang Hong adalah salah satu diantaranya.

Ia ketahui baik putrinya sangat nakal, jikalau dia mendapat suami sembarangan, anka itu bakal menghina suaminya, dari itu senang ia melihat kepandaiannya Auwyang Kongcu yang berani melayani Bwee Tiauw Hong.

Ia anggap, Auwyang Kongcu adalah melebihkan Kwee Ceng yang menjadi pilihan putrinya sendiri, sedang di samping itu, ia sebal terhadap pemuda she Kwee itu.

Inilah sebabnya dengan gampang ia sudah menerima baik lamarannya Auwyang Hong.

Tapi sekarang, mendengar suaranya See Tok, yang putar balik, merendah dan berjumawa, ia menjadi curiga.

Ia menduga-duga apa mungkin Auwyang Hong telah pulih kesehatannya dan kepandaiannya setelah dulu hari ilmu kepandaiannya itu dipecahkan Ong Tiong Yang.

Ia ketahui baik See Tok ini mulutnya tajam dan hatinya berbisa, licin dan licik.

Tentu saja, ia tidak sudi mengalah, karena ia pun seorang yang berbesar kepala.

Maka itu ia sudah lantas menarik keluar serulingnya sambil ia berkata.

"Tetamu yang terhormat telah datang dari tempat yang jauh, baiklah aku membunyikan sebuah lagu untuk menyenangkan hatinya. Silakan duduk, sahabatku supaya kau dapat mendengarnya perlahan-lahan."

Auwyang Hong tersenyum. Ia bisa menerka tuan rumah ini hendak memperdengarkan lagu "Thian Mo Bu Kiok"

Atau "Lagu tarian hantu langit"

Untuk mempengaruhkan padanya.

Ia lantas mengibas dengan tangannya yang kiri, atas mana tigapuluh wanita berseragam putih itu, yang memegang tengloleng, bertindak maju sambil menekuk lutut, mereka memberi hormat pada tuan rumah.

Ia lantas berkata.

"Tigapuluh dua nona-nona ini adalah nona-nona yang aku menitahkan murid-muridku mencarinya di pelbagai tempat, sebagai bingkisan yang tidak berharga, aku menghadiahkan mereka kepada kau, saudara Yok. Mereka ini pernah mendapat pengajarannya guru-guru yang pandai, mereka dapat menari, bernyanyi dan menabuh khim secara lumayan. Hanya sayangnya mereka adalah nona-nona asal Wilayah Barat, kecantikan mereka kalah jauh dibandingkan dengan nona-nona dari Kanglam!"

Bab 37.

Jago lawan jago Oey Yong memandang nona-nona itu.

Mereka mempunyai kulit yang putih bersih, tubuh mereka tinggi dan besar.

Wajah mereka berlainan, ada yang hidungnya mancung dan matanya dalam, sedang rambutnya kuning dan matanya biru.

Mereka beda sekali dari nona-nona Tionggoan.

Auwyang Hong menepuk tangan tiga kali, lantas delapan nona-nona itu mengasih keluar alat-alat tetabuhan mereka, untuk sesaat kemudian mereka mulai memainkan lagu, diikut dengan tariannya sisanya duapuluh empat nona lainnya.

Mereka itu berdiri lempang, lalu mendak, lalu berputar ke kiri dan kanan, gerak-gerik mereka halus dan lembut.

Ada kalanya mereka berdiri berbaris seperti tubuhnya seekor ular panjang, lalu jari tangan mereka dikutik-kutik.

Oey Yong lantas ingat kepada ilmu silat "Kim Coa Kun"

Atau "Ular emas"

Dari Auwyang Kongcu, ia lantas melirik kepada pemuda itu.

Justru itu ia mendapatkan orang tengah mengawasi dirinya.

Ia menjadi sebal, maka ia lantas memikir jalan untuk menghajarnya pula.

Ia menyesal sekali yang usahanya tadi sudah digagalkan ayahnya.

Ia anggap lagak orang itu sangat menjemukan.

"Kalau aku berhasil membunuh dia, biar ayah maksa aku menikah, toh sudha tidak ada orangnya dengan siapa aku dapat menikah,"

Demikian ia pikir pula.

Karena ini puas hatinya, sendirinya ia bersenyum.

Senang Auwyang Kongcu menampak senyuman si nona itu.

Ia menduga hatinya si nona sudah berubah.

Saking girangnya, sejenak itu ia melupakan rasa nyeri pada dadanya.

Nona-nona yang tengah menari itu, menarinya menjadi semakin cepat, tetapi tetap lembut gerak-geriknya.

Dilain pihak orang-orang lelaki yang memegangi galah, ialah si penggembala-penggembala ular, semua sudah menutup rapat-rapat mata mereka.

Mereka takut, dengan menyaksikan tarian itu, hati mereka tidak cukup kuat untuk bertahan dan nanti runtuh…..

Oey Yok Su sendirinya menonton dengan bersenyum berseri-seri, selang sekian lama barulah ia bawa serulingnya ke bibirnya, untuk meniup, untuk mengasih dengar lagunya.

Baru beberapa kali ia meniup, tariannya si nona-nona tampaknya kacau.

Dan tempo tuan rumah meniup terus, lantas mereka itu menari menuruti iramanya seruling.

Auwyang Kongcu kaget bukan main.

Ia pernah merasakan hebatnya lagu seruling orang itu.

Kalau seruling berlangsung terus, bukannya saja si nona-noa bakal menari terus-menerus hingga mati, dia sendiri juga tidak akan luput turut menjadi korban juga.

Mau tidak mau, ia berseru.

"Paman….!"

Justru itu Auwyang Hong menepuk tangan, atau mana seorang nona, dengan memegang tiat-ceng, atau alat tetabuhan yang bertali duabelas, maju menghampirkan.

Ketika itu hatinya Auwayang Kongcu sudah goncang keras, sedang pria si tukang angon ular sudah mulai berlari-lari atau berlompatan di antara barisan ularnya.

Auwyang Hong lantas mementil alat tetabuhannya itu, ia mengasih dengar suara umpama kata.

"Tombak-tombak emas saling beradu dan besi kaki kuda berketoprakan"

Hanya beberapa kali saja suara itu terulang, lantas nada halus dari seruling kena dibikin buyar bebarapa bagian. Oey Yok Su tertawa.

"Mari, mari!"

Katanya.

"Mari kita berdua bersama-sama memainkan lagu!"

Hebat kesudahan sambutannya Tong Shia si Sesat dari Timur. Mereka itu yang menari itu menjadi sangat kacau, gerak-geriknya seperti orang-orang edan.

"Semua menutup kuping!"

Berteriak Auwyang Hong menyaksikan kehebatan itu.

"Nanti aku mainkan lagu bersama-sama Oey Tocu!"

Semua orang itu seperti kalap tetapi mereka mendengar suara majikan mereka, mereka mengerti ancaman bahaya yang bakal datang itu, mak adalam ketakutannya, mereka pada merobek ujung baju mereka untuk menggunai robekan itu menyumbat kuping mereka.

Auwyang Kongcu yang sudah cukup lihay turut juga menyumpal kupingnya.

Menyaksikan kelakuan mereka itu, Oey Yong tertawa.

Ia sendiri tidak terpengaruh suara kedua seruling dan tiat-ceng itu.

Ia berkata.

"Lain orang memainkan lagu-lagu, justru dikhawatir orang tidak dapat mendengarnya, tetapi kamu sebaliknya, kamu semua justru menutupi kuping! Tidak, aku sendiri tidak sudi menyumbat kupingku!"

Oey Yok Su dapat mendengar perkataan putrinya itu, ia menegur.

"Ilmu kepandaian mementil tiat-ceng dari pamanmu ini sangat kesohor di kolong langit ini, kau ada mempunyai kepandaian apa maka kau berani mendengarnya? Apakah kau kira kau dapat mencoba-coba?!"

Dari sakunya, ayah ini mengeluarkan sehelai sapu tangan, ia robek itu menjadi dua potong, terus ia pakai menyumpal kedua kuping anaknya itu.

Kwee Ceng menjadi heran sekali, hingga ia menjadi tertarik hatinya, ingin ia mendengar lagu tetabuhannya Auwyang Hong itu.

Tanpa mengenal bahaya, ia justru maju beberapa tindak, supaya ia dapat mendengar dengan terlebih nyata…..

Oey Yok Su perpaling kepada tetamunya.

"Semua ularmu tentunya tidak dapat menutup kupingnya,"

Katanya.

Ia menoleh kepada bujangnya yang gagu, ia mainkan kedua belah tangannya.

Bujang gagu itu mengerti, ia mengibas-ngibaskan tangannya kepada kawanan gembala ular itu, memberi tanda untuk mereka menyingkirkan diri.

Mereka ini memang menghendaki itu.

Tapi mereka mengawasi dulu majikan mereka, sampai Auwyang Hong memberi tanda sambil mengangguk, baru lekas-lekas mereka mengiring ular mereka menyingkir dari situ, mengikuti petunjuk si bujang gagu.

"Jikalau aku tidak sanggup, sukalah saudara Yok mengalah sedikit,"

Kata Auwyang Hong kemudian.

Terus dengan kelima jari tangan kanannya, ia mulai mementil alat tetabuhannya.

Nyaring suaranya tiat-ceng itu.

Kwee Ceng merasakan, setiap pentilan membuat hatinya goncang, dan selagi lagu bertambha cepat, goncangan hatinya itu bertambah cepat juga, dadanya bergerak-gerak, ia merasa tak enak sendirinya.

Ia terkejut, segera ia menginsyafinya.

Katanya dalam hati.

"Kalau suara jadi hebat, tidakkah hatiku pun akan concang hingga aku mati?"

Karena ini lekas-lekas ia menjatuhkan dirinya untuk duduk bersila, akan memusatkan pikirannya, akan mengempos tenaga dalamnya.

Cuma sesaat saja, suara tiat-ceng itu tidak dapat lagi menggoncangkan hatinya.

Suara tiat-ceng itu benar-benar makin lama jadi makin keras, bagaikan tambur dan gembreng berbunyi berbareng, seperti laksaan ekor kuda bercongklang bersama.

Atau dilain saat terdengar suaranya yang perlahan-lahan dan halus, ialah suara dari seruling yang seperti menembusi suara tiat-ceng itu.

Mendadak Kwee Ceng merasa hatinya goncang dan mukanya panas.

Ia lekas-lekas memusatkan pula perhatiannya, hingga hatinya menjadi tenang pula.

Ia sekarang mendapat kenyataan, walaupun hebat suaranya tiat-ceng, suara itu tidak dapat menindih melenyapkan seruling, yang perlahan tetapi tegas.

Maka juga heran, dua suara terdengar berbareng.

Kalau suara tiat-ceng ada bagaikan pekiknya kera diatas gunung atau mengalunnya hantu iblis di tengah malam buta rata, suara seruling ada laksana bunyinya burung hong atau kasak-kusuknya si nona manis di dalam kamarnya.

Kedua suara itu tinggi dan rendah, keras dan perlahan, maju dan mundur, sama-sama tidak mau mengalah…..

Oey Yong ketarik hatinya, ia menonton sambil tertawa geli.

Ia mengawasi orang memintil tiat-ceng dan meniup seruling.

Lama-lama, ia pun merasa aneh.

Lama-lama, wajahnya kedua orang yang tengah mengadu tetabuhan itu berubah menjadi bersungguh-sungguh, menjadi tegang.

Ia lantas melihat ayahnya dari duduk menjadi bangun berdiri, meniup serulingnya sambil bertindak, bertindak ke delapan penjuru menuruti kedudukan pat-kwa, segi delapan.

Ia tahu itulah dasar kedudukan ayahnya setiap waktu ayahnya melatih diri dalam ilmu dalam.

Teranglah musuh itu lihay sekali maka ayahnya mengambil tindakan itu.

Kemudian si nona memandang ke arah Auwyang Hong.

Juga jago dari Barat ini menunjuki wajah dan sikap bersungguh-sungguh.

Dari kepalanya terlihat hawa mengepul naik seperti uap, itulah hawa panas mengkedus yang keluar naik.

Dengan kedua tangannya dia menerus mementil alat tetabuhannya, sampai ujung bajunya menerbitkan suara angin.

Nyata sekali dia tidak berani berlaku alpa.

Kwee Ceng di tempat persembunyiannya memasang kuping, ia tidak mengerti ada apa hubungannya di antara seruling dan tiat-ceng itu.

Ia heran kenapa masing-masing suara alat tetabuhan itu dapat mempengaruhkan orang menjadi tidak tenang.

Di dalam ketenangan, perlahan-lahan ia dapat membedakan juga.

Kedua suara itu seperti lagi serang, keras lawan lemah, lemah melawan keras.

Sebentar kemudian, lantas ia mengerti seluruhnya.

"Tidak salah lagi, Oey Tocu dan Auwyang Hong tengah mengadu ilmu dalam mereka,"

Pikirnya.

Karena ini, ia lantas menutup rapat kedua matanya, ia mendengari terus dengan penuh perhatian.

Tadinya Kwee Ceng mesti mengeluarkan banyak tenaga melawan desakan tiat-ceng dan seruling, sekarang tidak demikian.

Sekarang dengan tenang ia bisa mendengari kedua suara itu.

Ia merasa bagaimana seruling seperti berkelit sana dan berkelit sini dari rangsakan tiat-ceng yang hebat, atau setiap kali ada lowongan, seruling lantas membalas menyerang.

Satu kali ia mendengar, suara tiat-ceng menjadi lemah, sebaliknya seruling menjadi kuat.

Tiba-tiba Kwee Ceng ingat ajarannya Ciu Pek Thong "Keras tak dapat bertahan lama, lemah tak dapat menjaga terus."

Ia lantas menduga, tiat-ceng bakal membalas menyerang.

Benar-benar, berselang sesaat suara tiat-ceng menjadi keras pula.

Ketika Kwee Ceng menghapali ajarannya Ciu Pek Thong itu, ia tidak tahu bahwa itulah rahasia dari Kiu Im Cin-keng, dan ia pun tidak mengerti jelas maksudnya.

Baru sekarang ia merasakan ada hubungannya ajaran itu dengan pertarungannya Oey Yok Su dan Auwyang Hong ini.

Karena insyaf ini, ia menjadi girang sekali.

Hanya ia masih belum mengerti akan jalannya terus pertempuran itu.

Ada kalanya seruling dapat menghajar, ketika baik itu dilewatkan dengan begitu saja, demikian juga sebaliknya.

Toh itu tidak mirip-miripnya dengan orang yang bersikap saling mengalah.

Mendengari terlebih jauh, Kwee Ceng jadi menanya dirinya sendiri;

"Mungkinkah pengajarannya Ciu Toako ada terlebih lihay daripada kepandaiannya Oey Tocu dan Auwyang Hong ini? Mungkinkah mereka ini tidak dapat melihat cacad masing-masing maka juga kelemahan itu mereka sama-sama tidak dapat menggunainya? Tapi heran! Kalau benar Ciu Toako telebih lihay, mestinya pada limabelas tahun yang lalu dia sudah dapat mencari Oey Tocu di sini untuk menghajarnya, tidak peduli pulau ini banyak terjaga dengan barisan sesat patkwa itu, tidak nanti ia membiarkan dirinya terkurung di dalam gua…."

Masih Kwee Ceng mendengari.

Lagi-lagi ia mendapat kenyataan telah tiba saat yang sangat genting, hingga ada kemungkinan kali ini bakal datang keputusan siapa menang dan siapa kalah.

Ia berkhawatir untuk Oey Tocu… Justru itu waktu dari arah laut, dari tempat yang jauh, terdengar siulan panjang dan lama.

Suara itu samar-samar tetapi toh dua-dua Oey Yok Su dan Auwyang Hong terkejut hingga sendirinya suara seruling dan tiat-ceng mereka berubah menjadi kendor.

Siulan pun terdengar semakin nyata.

Itu tandanya orang mendatangi dan orang itu berada semakin dekat.

Auwyang Hong mementil dua kali, keras sekali, suara tiat-ceng sampai terdengar seperti suara cita terobek.

Habis itu, suara siulan terdengar bernada tinggi.

Rupanya siulan dan tiat-ceng tengah kebentrok.

Tidak antara lama, suara seruling dari Oey Yok Su pun nyebur dalam bentrokan siulan dan tiat-ceng itu.

Maka selanjutnya, sering terdengar, siualan bentrok tiat-ceng, siulan bentrok seruling, atau seruling bentrok tiat-ceng.

Atua lagi, kedtiganya bentrok berbareng.

Sekarang Kwee Ceng menduga apsti ada seseorang yang lihay yang telah datang ke pulau Tho Hoa To ini.

Ia biasa main-main bertarung sempat tangan dengan Ciu Pek Thong, karena itu ia dapat menbedakan suara bentrokannya ketiga lawan ini.

seruling, tiat-ceng dan siulan….

Setelah memperhatikan terlebih jauh.

Kwee Ceng merasa orang yang bersiul itu sudah tiba di dalam rimba di dekat itu.

Ia mendengar lebih nyata siulan orang itu, yang tinggi dan rendah bergantian, yang selalu berlainan.

Ketika ia merasa, bentrokan menjadi demikian hebat, saking kagumnya, tanpa ia merasa ia berseru.

"Bagus!" . Kemudian ia terkejut sendirinya. Bukankah ia lagi bersembunyi? Ia lantas memikir untuk menyingkir. Tapi sudah kasep. Satu bayangan lantas berkelebat di depannya. Di situ berdiri Oey Yok Su.

"Anak yang baik, mari!"

Berkata Tocu dari Tho Hoa To itu.

Ketika itu semua tetabuhan sudah berhenti.

Dengan membesarkan hati, Kwee Ceng ikut Tong Shia pergi ke paseban.

Oey Yong tersumpal kupingnya, ia tidak mendengar seruannya si anak muda, maka heran ia menampak munculnya pemuda itu.

Ia pun menjadi sangat girang, maka ia lari memapaki, untuk menyambar kedua tangan orang.

"Engko Ceng, akhirnya kau datang juga…!"

Serunya.

Tapi ia girang bercampur sedih, tanpa merasa air matanya meleleh turun.

Melihat pemuda ini, panas hatinya Auwyang Kongcu.

Maka itu, menyaksikan kelakuannya si nona, ia panas berbareng gusar sekali.

Tidak dapat ia mengendalikan diri, sambil berlompat ia menghajar kepalanya si anak muda itu.

"He, bocah busuk, kau pun datang ke mari!"

Ia mendamprat.

Kwee Cneg melihat datangnya serangannya, dengan sebat ia berkelit.

Sekarang ini ilmu silatnya sudah maju jauh, ia beda dengan waktu ia masih di rumah abu Keluarga Lauw di Poo-eng, dimana ia menempur pemuda she Auwyang itu.

Ia tidak cuma berkelit, terus ia membalas menyerang.

Dengan tangan kiri memainkan "Naga sakti menggoyang ekor" , dengan tangan kanan ia menggunai "Naga Menyesal", dua-duanya merupakan jurus-jurus dari Hang Liong Sip-pat Ciang yang lihay.

Sejurus saja sudah hebat, apapula dua jurus itu hampir berbareng.

Auwyang Kongcu terkejut merasakan tangan kiri orang tahu-tahu menekan iga kanannya.

Ia mengerti lihaynya Hang Liong Sip-pang Ciang, yang cuma dapat diegos, tidak ditangkis, dari itu lekas-lekas ia menyingkir ke kiri.

Celaka untuknya, justru ia berkelit, justru tangan yang lain dari lawannya tiba.

Tidak ampun lagi, dada kirinya kena terpukul, bahkan sebuah tulangnya patah sekali.

Sebenarnya Auwyang Kongcu sudah cukup lihay dan ia mengerti lihaynya lawan, ketika serangan sampai, ia mencoba berkelit pula.

Kali ini ia berkelit dengan mengapungi diri, untuk berlompat tinggi naik ke atas pohon bambu, habis itu baru ia lompat turun.

Tapi ia tidak bisa membebaskan diri.

Ia turun dengan muka merah bahna malu, dadanya juga dirasakan sakit.

Ia bertindak dengan perlahan.

Menyaksikan perlawannya Kwee Ceng itu, dua-duanya Oey Yok Su dan Auwyang Hong heran berbareng murka.

Oey Yong sebaliknya, nona ini bertepuk-tepuk tangan saking girangnya.

Sebenarnya, Kwee Ceng sendiri kurang mengerti.

Inilah kemenangan di luar dugaannya.

Ia bukan menginsyafi bahwa ia sudah maju jauh, ia mau menyangka si anak muda lawannya itu sudah beralpa atau kurang sebat bergeraknya hingga kena terhajar.

Ia khawatir pemuda ini nanti menyerang pula secara kejam, ia mundur setindak smabil memasang mata, untuk bersiap-siap.

Auwyang Hong melirik pemuda itu dengan mata merah saking mendongkolnya.

Kemudian ia dia berkata dengan nyaring.

"Pengemis she Ang, aku beri selamat padamu yang sudah mendapatkan murid yang jempol!"

Oey Yong sudah membuka sumpalannya ketika ia mendengar suaranya Auwyang Hong itu, ia lantas mengetahui Ang Cit Kong telah tiba, maka itu, lupa segala apa ia lari ke arah rimba sambil memanggil-manggil.

"Suhu! Suhu!"

Ia kegirangan karena ia tahu bintang penolong sudah datang. Mendengar suara putrinya itu, Oey Yok Su melengak.

"Eh, mengapa anakku memanggil guru kepada si pengemis tua?"

Pikirnya.

Itu waktu sudah lantas terlihat munculnya Ang Cit Kong si ketua pengemis.

Di punggungnya ia menggondol cupu-cupunya merah, tangan kanannya memegang tongkatnya, tangan kirinya menuntuk Oey Yong.

Ia berjalan sambil tertawa haha-hihi.

"Eh, Yong-jie, kau memanggil apa padanya?!"

Tanya Oey Yok Su gusar. Bukannya ia lantas menjawab ayahnya itu, Oey Yong justu menuding Auwyang Kongcu dan berkata dengan sengit.

"Ini manusia busuk sudah menghina aku, jikalau tidak ada lojinkee Ang Cit Kong ynag menolongi aku, sudah tentu sudah semenjak lama kau tidak melihat Yong-jie, Ayah!"

"Jangan ngaco belo!"

Membentak Oey Yok Su, walaupun sebenarnya ia heran.

"Dia toh anak baik-baik, cara bagaimana dia menghina padamu!"

"Jikalau Ayah tidak percaya, nanti aku tanyakan dia!"

Berkata si nona. Ia lantas mengawasi pemuda she Auwyang itu. Ia kata dengan keras;

"Kau mesti lebih dulu mengangkat sumpah! Jikalau dalam jawabanmu kepada ayahku berdusta, kau nanti digigit mampus ular-ular di ujung tombaknya pamanmu itu!"

Mendengar itu Auwyang Kongcu kaget hingga mukanya pucat.

Auwyang Hong tidak kurang kaget dan herannya.

Jago dari Wilayah Barat ini kaget sebab ia ketahui dengan baik, dua ekor ular pada tongkatnya itu adalah ular-ular piarannya selama sepuluh tahun, yang ia piara sedari baru diteteskan hasil dari kawinan beberapa macam ular yang paling berbisa.

Kalau dia menghukum bawahannya yang berkhianat atau orang yang paling ia benci, ia bisa menghukum dengan menggunai kedua ularnya ini.

Asal seorang digigit ularnya, lantas ia kegatalan luar biasa, dalam waktu yang pendek ia bakal mati, tidak ada pertolongan lagi sekalipun seandainya Auwyang Hong sendiri berbalik berkasihan dan hendak mengampunkannya.

Oey Yong menyebut ular itu karena ia menduga saja, sebab kedua binatang itu lain daripada yang lain, tidak tahunya, ia menyebut tepat pantangannya See Tok si Racun dari Barat itu.

"Terhadap pertanyaanya gakhu tayjin, mana aku berani mendusta,"

Auwyang Kongcu menjawab. Ia telah terdesak si nona, ia pun tidak berani menyangkal.

"Cis!"

Berseru Oey Yong.

"Jikalau kau berani mengacu belo, lebih dahulu aku akan gaplok kupingmu beberapa kali! Sekarang dengar pertanyaanku! Kita pernah bertemu di istananya Chao Wang di Pak-khia, benar atau tidak?"

Auwyang Kongcu mengangguk.

Tidak berani ia membuka suara.

Hajarannya Kwee Ceng membikin ia merasakan sangat nyeri.

Kalau ia membuka mulutnya untuk berbicara, rasa sakitnya itu menghebat.

Ia pun memangnya berkepala besar.

Kalau ia merasa sakit, kepalanya pusing dan mengeluarkan peluh.

Dengan tidak bersuara, ia dapat menahan napas, ia bisa menguatkan diri.

Oey Yong menanya pula;

"Ketika itu kau ada bersama See Thong Thian, Pheng Lian Hauw, Nio Cu Ong dan Leng Tie Siangjin, bersama-sama kau mengepung aku satu orang. Benar atau tidak?"

Auwyang Kongcu berniat menyangkal ia bekerja sama dengan rombongannya See Thong Thian itu, bahwa bukan sengaja ia mengepung si nona, tetapi ketika ia paksa menyahut, lantas ia merasakan dadanya sakit, maka ia cuma bisa bilang;

"Aku…aku tidak bekerja sama dengan mereka itu…"

"Baiklah, aku pun tidak memerlukan jawabanmu dengan mulutmu!"

Berkata Oey Yong.

"Jikalau aku menanya kau, cukup asal kau mengangguk atau menggeleng kepala. Sekarang kau dengar pertanyaanku. 'See Thong Thian bersama-sama Pheng Lian Houw, Nio Cu Ong dan Leng Tie Siangjin toh memusuhkan aku. Benar tidak?'"

Auwyang Kongcu mengangguk. Ia menuruti kata-kata orang dan tidak berani membuka mulutnya.

"Mereka itu hendak membekuk aku tetapi mereka itu tidak berhasil,"

Berkata Oey Yong pula.

"Kemudian kau muncul. Benar tidak?"

Itulah hal yang sebenarnya, Auwyang Kongcu mengangguk.

"Ketika itu aku berada di ruang besar dari istana Chao Wang. Di situ aku bersendirian saja, tidak ada siapa juga yang membantu aku, keadaanku sungguh menyedihkan. Ayahku pun tidak ketahui bahaya yang mengancam aku, ayah tidak dapat menolong aku. Benar tidak?"

Auwyang Kongcu mengangguk dengan terpaksa.

Ia ketahui, pertanyaan kali ini dari si nona, yang membawa-bawa nama ayahnya, cuma untuk memancing kemurkaannya si ayahnya dia itu.

Setelah mendapat jawaban itu, Oey Yong tarik tangan ayahnya.

Timbullah kemanjaannya.

"Ayah, kau lihat,"

Katanya.

"Kau sedikit juga tidak menyayangi anakmu….Kalau ibu masih hidup, tidak nanti ia perlakukan aku begini rupa…"

Mendengar orang menyebut istrinya, yang ia cintai itu, pilu hatinya Oey Yok Su.

Ia ulur tangan kirinya untuk merangkul putrinya itu.

Auwyang Hong sangat cerdas dan licin, ia melihat suasana buruk untuk pihaknya, maka belum lagi Oey Yong menanya pula, ia sudah mendahului.

"Nona Oey,"

Ia berkata.

"Begitu banyak orang Rimba Persilatan yang kenamaan hendak membekuk kau, karena lihay ilmu silat keluargamu, mereka tidak dapat berbuat sesuatu terhadapmu, bukankah?"

Oey Yong tertawa, dia mengangguk. Oey Yok Su pun tersenyum. Ia senang orang puji ilmu silatnya. Auwyang Hong berpaling kepada tuan rumah, ia berkata.

"Saudara Yok, keponakanku telah melihat putrimu demikian lihay, ia jadi sangat jatuh hati, inilah sebabnya kenapa sekarang kami datang kemari dengan tidak memperdulikan jalan jauh ribuan lie untuk meminangnya. Oey Yok Su tertawa.

"Ya, sudahlah!"

Katanya. Auwyang Hong menolah kepada Ang Cit Kong, ia berkata.

"Saudara Cit, kami paman dan keponakan mengagumi orang-orang Tho Hoa To, kenapa kau sebaliknya lain pandanganmu? Kenapa kau berlaku sungguh-sungguh sama segala bocah? Coba bukannya keponakanku itu panjang umurnya, pastilah siang-siang dia telah mati di bawah hujan jarum emas yang menjadi kepandaianmu yang istimewa…."

Dengan kata-katanya ini Auwyang Hong hendak menimbulkan urusan ketika dulu hari Ang Cit Kong menolong Auwyang Kongcu dari serbuan jarum rahasia dari Oey Yong, hanya See Tok telah membalik duduk perkaranya mungkin itu disebabkan Auwyang Kongcu telah membaliknya waktu melaporkan hal ini kepada pamannya.

Tapi Cit Kong adalah seorang polos dan sabar sekali, ia tidak mengambil mumat perkataan orang, bahkan tertawa lebar, malah dengan membuka tutup cupa-cupanya, ia menengak isinya.

Tidak demikian adanya Kwee Ceng yang jujur, yang benci kedustaan.

Anak muda ini lantas menyampur bicara.

"Sebenarnya Cit Kong yang menolongi keponakanmu itu, kenapa sekarang kau bicara begini rupa?!"

Ia menegur. Tapi Oey Yok Su membentak;

"Kita lagi bicara, bagaimana kau bocah berani campur mulut?!"

Kwee Ceng penasaran, dengan nyaring ia kata kepada Oey Yong.

"Yong-jie, kau beberlah urusannya Auwyang Kongcu merampas Nona Thia supaya ayahmu mendapat tahu!"

Oey Yong tidak meluluskan permintaan anak muda itu.

Ia kenal baik sifat ayahnya.

Ayahnya itu dijuluki Tong Shia si Sesat dari Timur, justru karena tabiatnya yang aneh itu.

Ada kalanya Tong Shia membenarkan apa yang tidak benar dan sebaliknya.

Maka ada kemungkinan, perbuatan ceriwis dan busuk dari Auwyang Kongcu dipandang sebagai perbuatan umum pemuda-pemuda doyan pelesiran.

Ia pun ketahui baik ayahnya tak sukai pemuda pujiannya itu.

Maka ia menggunai siasat.

Ia lantas berpaling pula kepada Auwyang Kongcu.

"Bicaraku masih belum habis!"

Katanya.

"Dulu hari itu di dalam istana Chao Wang, kau mengadu kepandaian dengan aku. Dengan sengaja kau menelikung kebelakang kedua tanganmu, kau bilang bahwa tanpa menggunai tangan, kau bisa mengalahkan. Benar bukan?"

Auwyang Kongcu mengangguk membenarkan pertanyaan itu.

"Kemudian aku telah mengangkat lojinkee Ang Cit Kong menjadi guruku,"

Berkata Oey Yong.

"Lalu di Poo-eng kita mengadu silat untuk kedua kalinya. Itu waktu kau menyebutnya aku boleh menggunakan kepandaian yang diwariskan ayahku atau Ang Cit Kong, kau bilang aku boleh keluarkan berapa banyak juga, sebaliknya kau sendiri, kau cuma akan menggunakan semacam ilmu kepandaian warisan pamanmu dengan apa kau sanggup mengalahkan aku. Benar tidak?"

Mendengar itu Auwyang Kongcu berkata di dalam hatinya;

"Semuanya itu ditetapkan olehmu sendiri, bukan ditetapkan olehku…"

Menampak orang bersangsi, Oey Yong mendesak. Ia kata.

"Bukankah itu hari kita telah menetapkannya demikian baru kita bertempur?"

Mau tidak mau, Auwyang Kongcu mengangguk.

"Ayah, lihatlah!"

Berkata Oey Yong kepada ayahnya.

"Dia tidak memandang mata kepada Cit Kong, dia juga tidak menghormati padamu! Dia mau bilang, Cit Kong dan ayah berdua kalah jauh dengan pamannya itu! Bukankah itu berarti, meski Cit Kong dan ayah berdua mengepung pamannya, pamannya itu masih tak dapat dikalahkan. Tapi ini aku tidak percaya!"

"Ah, budak cilik, jangan kau mainkan lidahmu!"

Berkata Oey Yok Su si ayah.

"Diantara kaum persilatan di kolong langit ini, siapakah yang tidak kenal baik ilmu silatnya Tong Shia, See Tok, Lam Tee dan Pak Kay?"

Di mulutnya Oey Yok Su berkata demikian, di dalam hatinya ia mulai tidak puas terhadap Auwyang Kongcu, karena itu ia ingin hal pemuda itu jangan dibicarkan pula. Ia lantas menoleh kepada Ang Cit Kong.

"Saudara Cit, kau datang berkunjung ke Tho Hoa To, ada urusan apakah?"

Ia menanya.

"Aku datang untuk memohon sesuatu dari kau,"

Sahut Cit Kong singkat.

Cit Kong jenaka tetapi jujur dan polos dan benci sekali kejahatan, inilah Tong Shia ketahui baik.

Karena ini, ia menghormati si raja pengemis ini.

Ia pun ketahui, biasanya, kalau ada urusan, Cit Kong tentu mengerjakannya itu sendiri bersama-sama pengikut-pengikutnya dari Kay Pang, belum pernah ia memohon bantuan dari orang.

Sekarang orang datang untuk memohon sesuatu, ia menjadi girang sekali.

Lekas-lekas ia menjawab.

"Persahabatan kita adalah persahabatan dari beberapa puluh tahun, saudara Cit, maka itu kalau ada titah dari kau, mana aku berani tidak menurutinya?"

"Ah, janganlah kau begitu menerima baik permohonanku itu,"

Berkata Cit Kong.

"Aku khawatir permohonanku ini sulit untuk dilakukannya…."

Oey Yok Su tertawa, ia kata.

"Kalau urusan gampang tidak nanti saudara Cit sampai memikir untuk meminta bantuanku!"

Cit Kong tertawa seraya menepuk-nepuk tangannya.

"Benar-benar!"

Katany.

"Kau barulah saudara yang sejati! Jadi kau pasti menerima baik?"

"Sepatah kata-kataku menjadi kepastian!"

Sahut Oey Yok Su, kembali cepat dan singkat.

"Lompat ke api, terjun ke air, sama saja!"

Mendengar itu Auwyang Hong melinttangi tongkat ularnya.

"Saudara Yok, tunggu dulu!"

Ia menyelak.

"Perlu kita menanya dulu saudara Cit, urusan itu sebenarnya urusan apa?"

Ang Cit Kong tertawa. Ia berkata;

"Racun tua bangka, inilah urusan tidak ada sangkut pautnya dengan kau, jangan kau ikut campur! Lebih baik kau sedia-sedia dengan ususmu yang kosong untuk nanti kau menenggak arak kegirangan!"

Auwyang Hong heran.

"Eh, minum arak kegirangan?"

Ia menanya.

"Tidak salah! Minum arak kegirangan!"

Memastikan Cit Kong. Dengan tangan kanannya ia menunjuk kepada Kwee Ceng dan Oey Yong bergantian.

"Mereka berdua adalah murid-muridku, aku telah berikan janji kepada mereka untuk memohon kepada saudara Yok agar mereka dibiarkan menikah satu pada lain! Dan sekarang saudara Yok sudah menerima baik permohonanku itu!"

Kwee Ceng dan Oey Yong terperanjat bahna girang, keduanya lantas saling memandang. Sebaliknya Auwyang Hong dan keponakan serta Oey Yok Su menjadi terkejut sekali.

"Saudara Cit, kau keliru!"

Auwyang Hong cepat berkata.

"Putrinya saudara Yok sudah dijodohkan dengan keponakanku dan hari ini aku datang ke Tho Hoa TO ini untuk mengambil ketetapannya."

"Saudara Yok, benarkah itu?"

Tanya Cit Kong.

"Benar,"

Menjawab Oey Yok Su.

"Aku minta, saudara Cit jangan kau berkelakar denganku!"

Cit Kong memperlihatkan roman bersungguh-sungguh.

"Siapa yang main-main dengan kamu?"

Dia berkata.

"Kau menjodohkan seorang putrimu kepada dua keluarga. Apakah artinya ini?"

Ia lantas menoleh kepada Auwyang Hong. Ia kata.

"Akulah orang perantaraan dari Keluarga Kwee! Kau sendiri, mana orang perantaanmu?"

Auwyang Hong tidak menyangka bakal ditanya begitu rupa, dia tidak dapat menjawab, ia tercengang. Baru kemudian ia berkata;

"Suadara Yok sudah menerima baik, aku pun sudah akur, maka itu, perlu apa lagi orang perantaan?"

"Apakah kau ketahui masih ada satu orang yang tidak menerima baik?"

Cit Kong tanya.

"Siapakah dia?!"

Auwyang Hong menegaskan. Ang Cit Kong menyahuti.

"Maafkan aku, itulah aku si pengemis tua!"

Auwyang Hong berdiam. Ia mengerti, tidak dapat ia tidak menempur pengemis ini, maka itu ia lantas memikirkan daya perlawanan. Ang Cit Kong tertawa, ia berkata pula.

"Keponakanmu itu tidak bagus kelakuannya, mana dia cocok untuk dijodohkan dengan putri yang cantik manis dari saudara Yok ini? Umpama kata benar kamu berdua memaksa mereka menikah, habis bagaimana kalau mereka sendiri tidak akur, setiap hari mereka berkelahi saja? Apakah artinya itu?"

Tertarik hati Oey Yok Su mendengar perkataan pengemis itu, ia lantas melirik kepada putrinya.

Ia mendapatkan Oey Yong, dengan sinar mata penuh kecintaan, lagi mengawasi Kwee Ceng.

Sebaliknya melihat Kwee Ceng, timbul pula rasa jemunya.

Oey Yok Su ini ada seorang yang terang otaknya, pandai ilmu silat dan surat, pandai juga memainkan khim, menulis huruf-huruf dan melukis gambar.

Sedari masih muda, semua sahabatnya ada orang-orang cerdik pandai.

Pun istrinya serta putrinya ini, orang-orang pintar juga.

Maka, mengingat anaknya yang cantik dan pintar itu mesti dipasangi dengan Kwee Ceng yang tolol-tololan itu, sungguh ia tidak mufakat.

Dipadu dengan Auwyang Kongcu, Kwee Ceng kalah berlipat ganda.

Maka itu, ia lebih penuju keponakannya See Tok itu.

Tapi di situ ada Ang Cit Kong.

Maka akhirnya, ia memikir satu jalan.

"Saudara Hong,"

Katanya kemudian.

"Keponakanmu terluka, baik kau obati dulu padanya, urusan nanti kita damaikan pula."

Inilah apa yang Auwyang Hong harap-harapkan, maka lantas ia menggapai pada keponakannya, lalu bersama-sama mereka masuk ke dalam hutan bambu.

Lewat sesaat, mereka sudah kembali ke paseban.

Auwyang Hong telah berhasil mengeluarkan jarum emas dan menyambung pula tangan keponakannya itu.

Oey Yok Su sudah lantas berbicara, katanya.

"Anakku bertubuh lemah dan nakal, sebenarnya sulit untuk dia merawati seorang budiman, maka adalah diluar dugaanku, saudara Cit dan saudara Hong telah memandang mukaku dan sama-sama melamarnya. Hal ini adalah suatu kehormatan untukku. Sebenarnya anakku ini sudah dijodohkan dengan pihak Auwyang tetapi sekarang ada titahnya saudara Cit, sukar aku tolak. Kejadian ini menyulitkan aku. Sekarang, aku pikir, baik diatur begini saja. Coba kedua saudara lihat, pemecahan ini dapat dilakukan atau tidak?"

"Lekas bilang, lekas bilang!"

Berkata Ang Cit Kong.

"Aku, si pengemis tua paling tidak suka omong pakai segala aturan!"

Oey Yok Su tersenyum, ia berkata pula.

"Sebenarnya anakku tidak mengerti segala apa, akan tetapi meskipun demikian, aku masih mengharap dia nanti menikah dengan seorang suami yang baik-baik. Auwyang Sieheng ada keponakannya saudara Hong dan Kwee Sieheng ada murid pandai dari saudara Cit, kedua-duanya baik, sukar untuk aku memilihnya, tidak dapat aku membuang salah satunya, karena itu, aku pikir baiklah mereka diuji saja. Di sini aku ada mempunyai tiga macam syarat. Pendeknya siapa yang lulus, anakku akan dijodohkan dengannya, tidak nanti aku berlaku berat sebelah. Bagaimana, sahabat-sahabatku?"

Auwyang Hong sudah lantas bertepuk tangan.

"Bagus, bagus!"

Serunya.

"Cuma sekarang keponakanku sedang terluka, kalau buat adu silat, aku minta supaya itu ditunda sampai ia sudah sembuh."

Mendengar itu, Ang Cit Kong berpikir.

"Kau, si Oey tersesat, kau banyak akalnya, jikalau kau majukan ilmu surat, syair atau nyanyi, tentulah muridku yang tolol gagal. Kau bilang kau tidak mau berat sebelah, sebenarnya pikiranmu sudah lain. Maka tidak ada lain jalan, baiklah aku ambil caraku!"

Ia lantas tertawa sambil berlenggak, terus ia berkata.

"Kita semua tukang silat, kalau kita tidak adu silat, apa kita mesti adu main gembul-gembulan? Keponakanmu terluka, kau sendiri tidak, marilah, mari kita berdua yang main-main lebih dulu!"

Begitu ia selesai bicara, tanpa menantikan jawaban, Ang Cit Kong sudah lantas menyerang ke bahu orang.

Auwyang Hong berkelit, ia mundur.

Ang Cit Kong meletaki tongkat bambunya di meja kecil di sampingnya.

"Kau membalaslah!"

Ia menantang.

Ia menantang tetapi kembali ia menyerang, beruntun hingga tujuh jurus.

Auwyang Hong berkelit berulang-ulang, ke kiri dan ke kanan, habis tujuh serangan itu, dengan tangan kanannya ia menancap tongkatnya, sedang dengan tangan kirinya ia pun membalas tujuh kali.

Oey Yok Su menyaksikan itu, ia bersorak memuji.

Ia tidak mau datang memisahkan, karena ingin ia melihat kemajuan orang sesudah berselang duapuluh tahun semejak mereka mengadu kepandaian.

Dua-dua Ang Cit Kong dan Auwyang Hong adalah ketua-ketua partai, pada duapuluh tahun dulu mereka sudah lihay, habis menguji kepandaian di Hoa San, mereka masing-masing menyakinkan lebih jauh kepandaian mereka, bisa di mengerti yang mereka telah maju banyak.

Maka sekarang, bertarung di Tho Hoa To ini, mereka beda jauh daripada waktu di Hoa San.

Mereka saling serang dengan cepat sekali tetapi semua itu adalah permulaan saja, untuk saling menggertak.

Kwee Ceng menonton dengan perhatian sepenuhnya.

Ia melihat gerakan kedua pihak sangat lincah.

Untuk kegirangannya, ia mengerti semua jurus itu.

Ia telah hapal kitab Kiu Im Cin-keng, sekarang ia mendapat kenyataan, semua gerak-gerik mirip sama kitab itu.

Untuk menyaksikan ini, ia mimpi pun tidak.

Semua yang ia lihat ini termuat dalam kitab bagian atas.

Semua itu ilmu silat yang lihay.

Tanpa disadari, ia menjadi gatal sendirinya.

Dengan cepat kedua jago itu sudah bertempur hingga tigaratus jurus lebih.

Dua-dua Ang Cit Kong dan Auwyang Hong kagum sendirinya, mereka saling memuji secara diam-diam.

Oey Yok Su yang menonton pun kagum, ia menghela napas.

Di dalam hatinya ia berkata.

"Aku berdiam di Tho Hoa To ini dengan melatih diri sungguh-sungguh, aku percaya setelah Ong Tiong Yang meninggal dunia, aku bakal jadi orang gagah nomor satu di kolong langit ini, siapa tahu sekarang si pengemis tua bangka ini dan si biang racun tua telah mengambil jalannya masing-masing yang hebat sekali!"

Auwyang Kongcu dan Oey Yong sama-sama tegang hatinya, mereka mengahrapi kemenangan pihaknya masing-masing.

Mereka mengerti silat tetapi mereka todak mengerti ilmu silatnya dua jago yang lagi bertarung itu.

Sama-sama mereka terus mengawasi dengan perhatian penuh.

Satu kali Oey Yong melirik ke samping, lantas ia menjadi heran sendirinya.

Ia melihat bayangan orang di sampingnya itu, bayangan yang lagi bergerak-gerak, terutama kaki tangannya, seperti orang menari.

Ia lantas menoleh, maka itu ia kenali, itulah bayangannya Kwee Ceng.

Wajah si pemuda tegang dan seperti menjadi korban kegirangan luar biasa.

"Engko Ceng!"

Ia memanggil perlahan.

Ia heran dan menjadi berkhawatir karenanya, apapula panggilannya itu tidak disahuti si anak muda, yang terus masih bergerak tak hentinya.

Nyata sekali lagi bersilat seoarng diri.

Mau tidak mau, Oey Yong mengawasi.

Lama juga ia meminta tempo, baru ia mengerti.

Terang sekarang, Kwee Ceng berlatih silat menuruti gerak-geriknya kedua jago tua itu.

Perubahan terjadi dalam cara bertempurnya kedua jago itu.

Kalau tadinya mereka berperang sebat sekali, sekarang mereka manjadi lambat, ada kalanya mereka menyerang dulu dengan dipikirkan lebih dahulu.

Bahkan anehnya, ada kalanya, habis bergebark, mereka sama-sama duduk bersila, untuk beristirahat, kemudian berbangkit pula, akan mulai bertempur lagi.

Mereka bukan seperti mengadu silat, bahkan juga bukan juga kedua saudara seperguruan lagi berlatih.

Toh wajah mereka menunjukkan ketegangan yang bertambah-tambah.

Oey Yong berpaling kepada ayahnya, ia mendapatkan ayahnya itu bengong mengawasi kedua jago itu.

Ayah ini nampaknya tegang hatinya.

Ketika nona ini menoleh kepada Auwyang Kongcu, ia mendapat kenyataan pemuda itu tenang seperti biasa, kipasnya dipakai mengipas perlahan-lahan.

Kwee Ceng berhenti bersilat, ia mengawasi kedua orang itu, lalu seperti lupa pada dirinya sendiri, ia bersorak dengan pujiannya.

"He, bocah tolol, kau mengerti apa?!"

Auwyang Kongcu menegur, murka.

"Apa perlunya kau membikin banyak berisik?!"

"Apa perlunya kau banyak rewel?!"

Oey Yong balas menegur.

"Kau pun mengerti apa?!"

Ditegur begitu, pemuda ini tertawa.

"Bocah ini bergerak secara tolol!"

Dia berkata.

"Dia masih sangat muda, mana dia ketahui kepandaian istimewa dari pamanku ini?"

"Kau toh bukannya dia, mana kau ketahui dia mengerti atau tidak?!"

Oey Yong menegur pula.

Selagi muda-mudi ini berselisih mulut, Oey Yok Su tidak mengambil mumat, dia tetap mengawasi sepak terjangnya dua sahabatnya itu.

Kwee Ceng pun memperhatikan dengan diam-diam saja.

Gerakkannya Ang Cit Kong dan Auwyang Hong menjadi terlebih lambat pula.

Yang mengangkat tangan kirinya, dengan jari tengahnya dia menyentil perlahan batok kepalanya.

Yang lainnya lagi, dengan kedua tangan di kuping, berjongkok di tanah dengan romannya lagi berpikir keras.

Hanya sejenak kemudian, keduanya sama-sama berseru, terus mereka berlompat bangun untuk saling serang pula.

"Bagus! Bagus!"

Kwee Ceng berseru-seru melihat serangan itu.

Habis itu, kedua lawan itu berpisah pula.

Kembali mereka berpikir.

Terang sudah, masing-masing seperti sudah mengetahui ilmu silat lawan, maka itu, perlu mereka memikirkan cara penyerangannya.

Duapuluh tahun sejak dua lawan ini berpisah sehabis bertempur di Hoa San, mereka masing-masing satu tinggal di Tionggan, satu yang lain di See Hek, Wilayah Barat.

Sebegitu jauh tidak pernah mereka berhubungan satu dengan lain, sama-sama mereka menyakinkan lebih jauh ilmu silat mereka.

Mereka pun tidak ketahui kemajuannya masing-masing.

Sekarang ternyata, mereka sama gelapnya seperti duapuluh tahun dulu itu.

Mereka mempunyai kepandaiannya, mereka pun sama-sama jeri.

Dengan begitu, mereka membuang-buang tempo, sampai matahari sudah mulai menyingsing di arah Timur.

Yang beruntung adalah Kwee Ceng, yang dapat memberi perhatian seluruhnya.

Adakalanya ia memikir, pihak sana tentu bakal menyerang begini, tetapi buktinya, dugaannya penyerangan pihak lain dan ada terlebih sempurna dari apa yang ia pikir.

Karena ini, ia menjadi mendapat tambahan kepandaian.

Kejadian ini terulang banyak kali.

Ia dapat menyangkok ilmu silatnya dua-dua jago tua itu.

Oey Yong mengawasi pemudanya itu, ia bertambah heran.

"Baru belasan hari aku tidak lihat dia, mungkinkah dia telah dapat pelajaran silat dari malaikat?"

Berpikir nona ini.

"Benarkah dia memperoleh kemajuan begini pesat? Kenapa ia agaknya girang sekali?"

Ia baru berpikir begitu, atau ia menjadi berkhawatir. Katanya di dalam hatinya.

"Apa mungkin engko Ceng ini mendadak pikirannya terganggu?"

Karena ini, ingin ia mendekati si anak muda, untuk menarik tangannya.

Begitu berpikir, begitu ia bekerja.

Itu waktu, Kwee Ceng tengah meniru gerakkannya Auwyang Hong, yang menyerang sambil memutar tubuhnya.

Kelihatannya serangan itu sangat umum akan tetapi tenaga yang dikerahkan tak terkira-kirakan.

Maka itu tatkala tangannya si nona dapat memegang tangan si pemuda, mendadak ia merasa kena tertolak keras, dengan tiba-tiba saja ia mental tinggi seperti terbang.

Melihat itu, Kwee Ceng terkejut hingga ia menjerit tetapi pun tubuhnya terus berlompat menyusul.

Pinggang langsing dari Oey Yong dapat kena disambarnya, karena mana dapatlah ia menaruh kaki di atas wuwungan paseban dengan tidak kurang suatu apa, di situ terus ia berduduk.

Kwee Ceng sendiri, sebelum turut naik, telah menaruh tangannya di payon di mana ia menekan keras, hingga dilainnya saat dia jadi dapat duduk berendeng sama nona itu.

Hingga dari situ, dengan memandang ke bawah, mereka dapat menonton pertaruhan.

Telah terjadi perubahan pula dalam caranya kedua jago itu bertempur.

Sekarang terlihat Auwyang Hong bejongkok dengan kedua tangannya dikasih turun, hingga ia memperlihatkan sikapnya seekor kodok, sedang dari mulutnya kadang-kadang terdengar suara seperti suaranya kerbau.

Lucu sikap itu hingga Oey Yong tertawa.

"Engko Ceng, dia bikin apakah itu?"

Dia menanya berbisik. Tertawanya pun perlahan sekali.

"Aku tidak tahu,"

Kwee Ceng menyahuti.

Ia baru menjadi demikian atau tiba-tiba ia ingat kata-katanya Ciu Pek Thong tengan Ong Tiong Yang dengan pukulan jeriji IT-yang-cie sudah memecahkan Kap-mo-kang atau Ilmu Kodok dari Auwyang Hong.

Maka ia lekas menambahkan;

"Inilah semacam ilmu silat yang lihay sekali, namanya Ilmu Kodok!"

Oey Yong meresa lucu hingga ia bertepuk tangan.

"Ya, sungguh mirip kodok buduk!"

Serunya.

Sementara itu Auwyang Kongcu telah melihat orang duduk berendeng dan bicara-bicara sambil tertawa dengan asyik, bukan main ia mendongkolnya.

Ia menjadi sangat bercemburu.

Menuruti hatinya, hendak ia melompat naik ke atas, untuk menggusur Kwee Ceng.

Celaka untuknya, ia merasakan dadanya masih sakit, hingga tidak dapat ia mengeluarkan tenaga.

Ia mendengar Oey Yong menyebut-nyebut kodok buduk, hatinya bertambah panas, ia menyangka ialah yang dikatakan si kodok buduk yang mengharap mencaplok daging angsa kayangan.

Sekarang ia tidak dapat menguasai lagi dirinya, dengan tangan kanan menggenggam tiga biji torak Hui-yang Gin-so, ia bertindak perlahan-lahan mutar ke belakang paseban itu, lalu dengan diam-diam juga ia menyerang ke atas pesaben, kepada sepasang muda-mudi itu.

Ia dapat berbuat demikian dengan leluasa karena lain-lain orang tengah menonton pertempuran yang nampaknya lucu itu.

Ia mengarah punggungnya Kwee Ceng.

Pemuda she Kwee ini tidak curiga suatu apa.

Ia lagi asyiknya mengawasi pertempuran yang justru tiba disaatnya Ang Cit Kong, gurunya hendak menggunakan Hang Liong Sip-pat Ciang akan melayani terus kepada Auwyang Hong.

Oey Yong tidak ketahui Pak Kay dan See Tok ini, dua orang paling kosen di jaman itu, tengah menghadapi pertempuran yang memutuskan, yang membahayakan salah satu diantaranya, karena itu ia masih dapat tertawa haha-hihi dan dengan tangannya tunjuk sana-sini.

Secara kebetulan saja, ia melihat satu tubuh di luar paseban bambu.

Dasar cerdik sekali, ia menyangka kalau-kalau Auwyang Kongcu main gila.

Maka hendak ia memasang matanya.

Justru itu waktu ia mendengar desiran angin dari senjata rahasia, yang melesat ke arah punggungnya Kwee Ceng, sedang Kwee Ceng sendiri tidak mengetahui itu.

Tidak sempat lagi ia menangkis, segera ia bergerak menubruk diri ke punggungnya si anak muda, dengan begitu tubuhnya mewakilkan anak muda itu menyambuti serangan tiga biji Hui-ya Gin-so yang tepat mengenai punggungnya sendiri.

Nona ini mengenakan baju lapis joan-wie-kah, ia tidak terluka, cuma saking kerasnya serangan, ia merasakan nyeri juga.

Dengan sebat ia memutar balik tangannya, akan menyambar ketiga biji torak, kemudian sembari tertawa ia berkata;

"Kau menggaruki gatal dipunggungku, bukankah? Banyak-banyak terima kasih! Nah, ini aku kembalikan garukanmu!"

Auwyang Kongcu terperanjat, ia memasang matanya.

Ia khawatir si nona benar-benar nanti menyerang padanya.

Ia tidak mau mempercayai si nona itu sudi dengan baik hati memulangi toraknya itu.

Hanya ia menanti dengan sia-sia.

Si nona masih memegangi senjata rahasianya itu, dia tidak mengayunkan tangannya.

Menampak demikian, kongcu ini segera menjejak tanah dengan kakinya yang kiri, untuk mengapungkan diri berlompat ke atas pesaben bambu itu.

Ia hendak membanggakan ringannya tubuhnya.

Disitu ia berdiri di satu pojok, bajunya yang putih berkibaran di antara sampokannya angin, hingga nampak sikapnya yang bagus, baguskan seorang suci.

"Sungguh bagus ilmu ringan tubuhmu!"

Oey Yong berseru dengan pujiannya.

Lalu dia maju setindak untuk berlompat naik ke atas pesaben, untuk menghampirkan, untuk membayar pulang torak orang.

Butek pikirannya Auwyang Kongcu menyaksikan tangan si nona yang putih halus dan montok itu, putih bagaikan salju.

Ia lantas mengulurkan tangannya, guna menyambuti senjata rahasianya, sekalian ingin ia meraba tangan yang halus itu, tatkala tiba-tiba saja ia mendapat lihat sinar kuning keemas-emasan berkelebat di depan matanya.

Dua kali sudah ia merasakan tangannya si nona, maka tanpa bersangsi pula, ia lompat berjumpalitan turun dari atas pesaben itu.

Sambil berkelit secara demikian, ia juga mengibas-ngibaskan tangan bajunya, maka juga berhasil ia meruntuhkan jarum emasnya si nona.

Oey Yong tertawa terkekeh walaupun serangannya itu gagal.

Ia tidak berhenti sampai di situ.

Dengan sekonyong-konyong saja, ia menyerang pula dengan tiga biji toraknya si anak muda, untuk menghajar embun-embunnya pemuda itu.

"Jangan!"

Berseru Kwee Ceng kaget, menampak perbuatannya si nona itu, untuk dibawa lompat turun.

Belum lagi anak muda ini dapat menginjak tanah, kupingnya dapat mendengar satu suara nyaring, yang mana dengan suara cegahannya Oey Yok Su.

"Saudara Hong, berlakulah murah hati!"

Kwee Ceng segera merasakan dorongannya angin yang keras, bagaikan gunung roboh menguruk lautan, mengenakan dadanya.

Berbareng dengan itu, ia khawatir, Oey Yong nanti terluka, dari itu lekas-lekas ia mengerahkan tenaganya, ia menggunai jurus "Melihat naga di sawah"

Dari Hang Liong Sip-pat Ciang.

Dengan jurusnya itu ia menolak dorongan keras itu.

Dimana dua-dua pihak menggunai tenaga besar, kedua tenaga itu bentrok keras sekali.

Sebagai kesudahannya, Kwee Ceng tertolak mundur tujuh atau delapan tindak, karena pertahanannya tidak dapat mengalahkan Ilmu Silat Kodok dari Auwyang Hong yang lihay itu.

Lekas-lekas Kwee Ceng melepaskan tubuh Oey Yong , lekas-lekas juga ia memasang kuda-kudanya, guna melayani terlebih jauh See Tok si Bisa dari Barat itu, yang sudah hendak menyerang pula padanya.

Hanya belum lagi mereka bentrok pula, Ang Cit Kong berdua Oey Yok Su sudah berlompat maju menghalang di antara mereka.

"Sungguh malu,"

Berkata Auwyang Hong.

"Tak keburu aku menahan diri! Apakah si nona terluka?"

Sebenarnya Oey Yong kaget bukan main, tetapi mendengar pertanyaan orang itu, ia memaksakan diri tertawa.

"Ayahku berada disini, mana dapat kau melukakan aku?"

Katanya. Oey Yok Su pun berkhawatir. Ia lantas cekal tangan anaknya itu. Ia menarik.

"Apakah kau merasakan sesuatu yang beda pada tubuhmu?"

Tanyanya.

"Lekas kau mainkan napasmu!"

Oey Yong menurut, ia lantas menarik dan mengeluarkan napas dengan beraturan.

Ia tidak merasakan apa juga yang mengganggu pernapasannya itu.

Maka ia lantas tertawa seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Melihat itu, barulah hati Oey Yok Su lega.

"Kedua pamanmu lagi berlatih silat di sini, kenapa kau main gila, budak?!"

Ayah ini menegur putrinya itu.

"Kee-mo-kang dari Auwyang pepe hebat luar biasa, jikalau bukannya dia menaruh belas kasihan kepadamu, apakah kau kira sekarang kau masih mempunyai jiwamu? Coba kau lihat paseban itu!"

Oey Yong berpaling, akan melihat paseban seperti kata ayahnya itu.

Diam-diam ia terperanjat.

Paseban itu telah runtuh sebagiannya, tiang bambunya, yang mendam ke dalam tanah, telah terbongkar tercabut dan remuk bekas kena hajaran Silat Kodk.

Tanpa merasa, ia mengulur lidahnya.

Ilmu silat Kee-mo-kang dari Auwyang Hong itu dimulai dari mendiamkan diri disusul sama gerakan tubuhnya, ketika itu seluruh tenaganya telah dikerahkan, kalau ia diserang, segera ia dapat menolak balik serangan itu.

Untuk menyerang pun ia mesti berdiam dulu, memasang kuda-kudanya yang aneh bagaikan kodok nongkrong.

Barusan ia melayani Ang Cit Kong, ia bersiap dengan kuda-kudanya yang aneh itu, disaat ia hendak menyerang, mendadak Oey Yong pun berlompat turun sebab dipondong Kwee Ceng, jadi tepat di nona melintang di tengah.

Auwyanng Hong pun kaget melihat arah serangannya adalah si nona, yang ia hendak ambil sebagai istri dari keponakannya.

Ia menginsyafi bahwa si nona terancam bahaya maut, jiwanya tak bakal tertolong lagi.

Ia juga dapat mendengar cegahannya Oey Yok Su.

Begitulah ia mencoba menarik pulang pukulannya tetapi gagal, paseban kena terhajar runtuh, doronganya tenaga itu berlangsung terus.

Lalu mendadak ia merasakan ada satu tenaga lain yang menahannya.

Ketika ia sudah berhenti menyerang, ia memasang mata tajam ke depannya.

Terlihat olehnya, penolong dari si nona adalah si pemuda Kwee Ceng.

Diam-diam ia mengagumi Ang Cit Kong, katanya dalam hatinya.

"Benar-benar lihay ini pengemis bangkotan, dia berhasil mengajari muridnya ilmu yang begini sempura!"

Oey Yok Su pun berpikir melihat sepak terjangnya Kwee Ceng itu, yang selama di Kwie-in-chung pernah ia saksikan ilmu kepandaiannya. Katanya dalam hatinya.

"Ini bocah tidak tahu tingginya langit tebalnya bumi, dia berani melayani Auwyang Hong, tidak memandang aku, tidakkah urat-urat dan tulang-tulangnya bakal putus dan remuk?"

Ia mengatakan demikian karena tidak tahu, Kwee Ceng yang sekarang bukan lagi Kwee Ceng yang sama di Kwie-in-chung itu.

Ia ketahui, barusan adalah Kwee Ceng yang sudah menolong putrinya, maka tanpa merasa kesannya yang kurang baik untuk pemuda itu menjadi berkurang tujuh atau delapan bagian.

Bukankah bocah itu sudah berani berkorban untuk Oey Yong?

Diakhirnya ia berpikir.

"Bocah ini jujur dan baik hatinya, walaupun tidak dapat aku nikahkan anakku kepadanya, mesti menghadiahkan sesuatu kepadanya."

Selagi Tong Shia berpikir demikian, ia mendapat dengar suaranya Ang Cit Kong.

"Makhluk beracun bangkotan, sungguh kau hebat!"

Demikian Pak Kay, si Pengemis dari Utara.

"Kita berdua belum ada yang kalah dan menang, mari kita bertempur pula!"

"Baik, bersedia aku melayani seorang budiman!"

Menjawab See Tok, si racun dari Barat. Ang Cit Kong tertawa.

"Aku bukannya seorang budiman, aku hanyalah pengemis!"

Dengan hanya sekali berlompot, raja pengemis ini sudah berada dalam gelanggang.

Auwyang Hong juga hendak masuk ke dalam gelanggang itu tatkala Oey Yok Su mencegahnya seraya Tong Shia melonjorkan tangannya yang kiri.

"Tunggu dulu, saudara Cit dan saudara Hong!"

Katanya.

"Kamu berdua sudah bertarung lebih daripada seribu jurus, kamu tetap belum memutuskan menang atau kalah, karena hari ini kamu berdua adalah tetamu-tetamu terhormat dari Tho Hoa To, lebih baik kamu berdua duduk minum beberapa cawan arak pilihan yang aku nanti menyediakannya. Saatnya merundingkan pedang di Hoa San akan tiba di depan mata, maka itu wkatu bukan cuma kamu berdua yang bakal mengadu kepandaian pula, juga aku dan Toan Hong Ya akan bersama turun tangan! Bagaimana jikalau pertempuran ini hari disudahi sampai disini?"

"Baiklah!"

Menyahut Auwyang Hong tertawa.

"Kalau kita bertempur pula, pastilah aku bakal kalah!"

Ang Cit Kong menarik pulang dirinya. Ia pun tertawa.

"Si makhluk berbisa bangkotan dari Wilayah Barat lain mulutnya lain hatinya!"

Berkata dia.

"Kau memang sudah sangat tersohor! Kau membilang bakal kalah, itu artinya kau bakal menang! Tidak, aku si pengemis tua tidak dapat mempercayainya!"

"Jikalau begitu, hendak aku mencoba pula kepandaianmu, saudara Cit!"

Auwyang Hong menantang.

"Tidak ada yang terlebih baik daripada itu!"

Ang Cit Kong menyambut. Dan ia pun bersiap pula.

"Sudahlah!"

Berkata Oey Yok Su tertawa, melihat orang hendak bertempur lagi.

"Nyatalah kamu berdua hari ini datang ke Thoa Hoa To untuk mempertunjukkan kepandaian kamu!"

Ang Cit Kong tertawa lebar.

"Pantas kau mengur aku, saudara Yok!"

Katanya.

"Sebenarnya kami datang kemari untuk mengajukan lamaranku, bukannya untuk mengadu kepandaian."

"Bukankah aku telah mengatakan hendak aku mengajukan tiga syarat untuk menguji kedua sieheng?"

Berkata pula Oey Yok Su.

"Siapa yang lulus, dialah yang aku akan ambil sebagai menantuku, dan siapa yang jatuh, dia pun tidak bakal aku membuatnya pulang kecewa."

Cit Kong agaknya heran.

"Apa?! Apakah kau masih mempunyai lain putri lagi?"

Tanyanya.

"Sekarang ini belum!"

Sahut Oey Yok Su tertawa.

"Umpama kata aku lekas-lekas menikah pula dan mendapatkan satu anak perempuan, sekarang ini sudah tidak keburu lagi! Aku ini mengerti juga kasar-kasar tentang ilmu pengobatan dan meramalkan, maka itu sieheng yang mana yang tidak lulus, jikalau ia tidak mencelanya dan sudi mempelajari dia boleh memilih pelajaran yang mana ia penuju, nanti aku mengajarinya dengan sungguh-sungguh."

Ang Cit Kong memang tahu Oey Yok Su banyak pengetahuannya, ia anggap lumayan juga andaikata orang tak dapat menjadi menantunya tetapi dapat semacam kepandaian daripadanya untuk kepentingan seumur hidupnya.

Bab 38.

Memilih Baba Mantu.

Auwyang Hong melihat Cit Kong tidak segera menjawab, ia mendahului.

"Baiklah begini keputusan kita! Sebenarnya saudara Yok sudah menerima naik keponakanku tetapi karena memandang mukanya saudara Cit, biarlah kedua bocah itu diuji pula! Aku lihat cara ini tidak sampai merenggangkan kerukunan."

Ia lantas berpaling kepada keponakannya, akan membilang.

"Sebentar, apabila kau tidak sanggup melawan Kwee Sieheng, itu tandanya kau sendiri yang tidak punya guna, kau tidak dapat menyesalkan lain orang, kita semua mesti dengan gembira meminum arak kegirangannya Kwee Sieheng itu! Jikalau kau memikir lainnya, hingga timbul lain kesulitan, bukan saja kedua locianpwee bakal tidak menerima kau, aku sendiri pun tidak gampang-gampang memberi ampun padamu!"

Ang Cit Kong tertawa berlenggak.

"Makhluk berbisa bangkotan, teranglah sudah kau merasa sangat pasti untuk kemenangan pihakmu ini!"

Ia berkata.

"Kata-katamu ini sengaja kau perdengarkan untuk kami mendengarnya, supaya kami tidak usah mengadu kepandaian lagi dan lantas saja menyerah kalah!"

Auwyang Hong tertawa pula.

"Jikalau kau ketahui itu, bagus! Saudara Yok, silahkan kau menyebutkan syarat atau cara ujianmu itu!"

Oey Yok Su sudah berkeputusan akan menyerahkan gadisnya kepada Auwyang Kongcu, ia telah mengambil putusan akan mengajukan tiga soal yang mesti dapat dimenangkan calon baba mantunya.

Tetapi, sedang ia memikir untuk membuka mulutnya, Ang Cit Kong dului ia.

"Main ujian? Itu pun baik!"

Kata Pak Kay.

"Kita ada bangsa memainkan pukulan dan tendangan, maka itu saudara Yok, jikalau kau mengajukan syarat, mestilah itu mengenai ilmu silat. Umpama kata kau mengajukan urusan syair dan nyanyian, atau soal mantera dan melukis gambar dan lainnya, maka kami berdua terang-terang akan mengaku kalah saja, kami akan menepuk-nepuk kempolan kami dan mengangkat kaki, tak usah lagi mempertontonkan keburukan kami di depan kamu!"

"Itulah pasti!"

Oey Yok Su memberikan kepastiannya.

"Yang pertama-tama ialah mengadu silat…"

"Itulah tak dapat!"

Auwyang Hong menyelak.

"Sekarang ini keponakanku tengah terluka."

"Inilah aku ketahui,"

Kata Oey Yok Su tertawa.

"Aku juga tidak nanti membiarkan kedua sieheng mengadu kepandaian si Tho Hoa To ini, sebab itu dapat merenggangkan kerukunan kedua pihak."

"Jadi bukannya mereka berdua mengadu silat?"

Auwyang Hong menegaskan.

"Tidak salah!"

Sahut Oey Yok Su. Auwyang Hong girang, ia tertawa.

"Benar!"

Katanya.

"Apakah kepala penguji hendak memperlihatkan beberapa jurus untuk setiap orang mencoba-coba jurus itu?"

"Itu juga bukan,"

Oey Yok Su menggeleng kepalanya.

"Dengan cara itu sudah dipertanggungjawabkan yang aku nanti tidak berlaku berat sebelah. Bukankah diwaktu menggeraki tangan dapat orang membikin enteng atau berat sesuka hati? Saudara Hong, kepandaianmu dan sudara Cit sudah sampai dipuncaknya kemahiran dan barusan pun, sampai seribu jurus lebih, kamu masih sama tangguhnya. Sekarang baiklah kau mencoba Kwee Sieheng dan saudara Cit mencoba Auwyang Sieheng."

Mendengar itu Ang Cit Kong tertawa.

"Cara ini tidak jelek!"

Bilangnya.

"Mari, mari kita coba-coba!"

Sembari berkata, ia terus menggapaikan Auwyang Kongcu.

"Tunggu dulu!"

Berkata Oey Yok Su cepat.

"Kita harus mengadakan aturannya. Pertama-tama; Auwyang Sieheng lagi terluka, tidak dapat ia mengempos semangatnya dan berkeras menggunkana tenaganya, dari itu kita harus menguji kepandaiannya tetapi bukan tenaganya. Kedua; kamu berempat harus bertempur di atas bambu, siapa yang terlebih dulu jatuh ke tanah, dialah yang kalah. Dan yang ketiga; Siapa yang melukai pihak anak muda, dialah yang kalah."

Ang Cit Kong heran.

"Melukai anak muda dihitung kalah?"

Dia bertanya.

"Demikian selayaknya!"

Menjawab Oey Yok Su.

"Kamu berdua sangat lihay, jikalau tidak diadakan aturan semacam ini, sekali kamu turun tangan, apakah kedua sieheng masih ada nyawanya? Saudara Cit, asal kau membikin lecet saja kulitnya Auwyang Sieheng, kau teranggap kalah! Demikian juga dengan saudara Hong!"

Pak Kay menggaruk-garuk kepalanya. Tapi ia tertawa.

"Oey Lao Shia si Sesat bangkotan benar-benar sangat ajaib bin aneh, bukan percuma namanya disohorkan!"

Katanya.

"Pikir saja, siapa yang melukai musuh dia justru yang kalah! Aturan ini adalah aturan paling aneh sejak jaman purbakala! Tapi baiklah, mari kita bertindak menurut aturan ini!"

Oey Yok Su memberi tanda dengan kipasan tangannya, keempat orang itu sudah lantas berlompat naik ke atas pohon, merupakan dua rombongan; Ang Cit Kong bersama Auwyang Kongcu di kanan, dan Auwyang Hong bersama Kwee Ceng di kiri.

Oey Yok Su masgul.

Ia ketahui baik, Auwyang Kongcu terlebih llihay daripada Kwee Ceng, benar pemuda itu terluka tetapi dengan mengadu ringan tubuh, dia masih terlebih unggul.

Oey Yok Su sudha lantas berseru;

"Asal aku menghitung habis satu, dua dan tiga, kamu semua boleh mulai bertempur! Auwyang Sieheng dan Kwee Sieheng, siapa saja di antara kamu yang jatuh lebih dulu, dialah yang kalah!"

Mendengar begitu, Oey Yong berpikir keras, memikirkan daya untuk membantu Kwee Ceng.

Ia bingung, Auwyang Hong sangat lihay, bagaimanaia dapat menyelak di antara mereka itu?

Segera Oey Yok Su menghitung.

"Satu! Dua…! Tiga!"

Maka bergeraklah keempat orang di atas tiang bambu itu, bergerak-gerak bagaikan bayangan.

Oey Yong mengkhawatirkan Kwee Ceng, ia memasang mata.

Ia melihat, cepat sekali sudah lewat belasan jurus.

Ia menjadi heran, tidak kecuali Oey Yok Su, yang tidak menyangka pemuda itu demikian pesat kemajuannya.

"Aneh, mengapa dia masih belum kalah?"

Pikir Tong Sia si Sesat dari Timur.

Auwyang Hong sendiri berduka sangat, ia menjadi bergelisah sendirinya, dengan sendirinya ia mulai gunai tenaganya, untuk mendesak.

Ia heran untuk lihaynya si bocah.

Dipihak lain, tidak dapat ia melukakan si bocah itu.

Tapi ia berpikir keras, maka lekas juga ia mendapat jalan.

Dengan tiba-tiba saja ia menyapu dengan kedua kakinya untuk membikin lawannya roboh, begitu lekas serangan pertama gagal, ia mengulanginya saling susul, bertubi-tubi.

Diserang secara hebat berantai begitu, Kwee Ceng membuat perlawanan dengan Hang Liong Sip-pat Ciang jurus "Naga Terbang di Langit" , tubuhnya beruulang-ulang berlompat, membal ke atas, sedang kedua tangannya, yang dibuka dan nampaknya tajam seperti golok atau gunting, senantiasa dipakai membabat ke arah kaki lawannya yang lihay itu.

Ia jadi selalu berkelit sambil menyerang.

Hatinya Oey Yong berdebaran menyaksikan pertempuran dahsyat itu.

Ketika ia melirik kepada Ang Cit Kong dan Auwyang Kongcu, ia mendapatkan cara mereka bertempur pun beda.

Auwyang Kongcu memperlihatkan kepandaian enteng tubuhnya, ia berlari-lari ke Timur dan Barat, sama sekali ia tidak sudi berhadapan sama Ang Cit Kong untuk bertempur sekalipun satu jurus.

Kalau Ang Cit Kong merangsak, ia lekas-lekas menyingkir.

"Binatang ini main menyingkir saja, ia memperlambat tempo,"

Pikir Cit Kong.

"Kwee Ceng sebaliknya tolol, dia melayani Auwyang Hong emngadu tenaga dan kepandaian, pasti dia bakal jatuh lebih dulu…"

Pengemis dari Utara ini segera berpikir.

"Hm!"

Ia perdengarkan suara di hitungnya, lalu tiba-tiba saja ia lompat mencela tinggi, menubruk kepada si anak muda, kedua tangannya diulur dengan sembilan jarinya dibuka merupakan cengkeraman ceker baja.

Menampak demikian, Auwyang Kongcu terkejut.

Segera ia menjejak dengan kaki kirinya, berkelit berlompat ke kanan.

Ang Cit Kong menubruk tempat kosong tetapi ia sudah dapat menduga orang bakal menyingkir ke kanan itu, maka juga dengan menjumpalitkan tubuhnya, ia mendahului lompat ke kanan, di sana segera ia bersiap dengan kedua tangan sambil ia berseru.

"Biarlah aku kalah asal kau mampus lebih dulu!"

Auwyang Kongcu kaget bukan main, kaget karena gerakan orang yang sebat, yang seperti memegat jalannya, dan kaget untuk ancaman.

Tidak berani ia menangkis serangan itu untuk membela dirinya.

Di luar keinginannya, belum sempat ia memikirkan daya, kakinya sudah menginjak tempat kosong, maka terus saja ia jatuh.

Ia telah memikir, kalahkah ia dalam pertandingan ini?

Hanya ketika itu, Kwee Ceng pun jatuh di sampingnya!

Auwyang Hong telah berpikir keras karena sudah sekian lama ia tidak dapat merobohkan bocah lawannya.

Kejadian ini membuatnya bergelisah.

ia telah berpikir.

"Jikalau aku mesti melayani dia sampai lebih daripada limapuluh jurus, ke mana perginya pamornya See Tok?"

Karena ini ia mendesak, bagaikan kilat tangan kirinya menyambar ke belakang lehernya Kwee Ceng. Ia pun berseru.

"Kau turunlah!"

Pemuda itu berkelit sambil mendak, tangan kirinya diulur, niatnya untuk menangkis, disaat mana, mendadak Auwyang Hong mengerahkan tenaganya. Ia menjadi kaget hingga ia menegur;

"Kau…kau…."

Ia hendak menanya.

"Kenapa kau tidak menaati peraturan?"

Dan ia mengerahkan tenaganya. Atau mendadak Auwyang Hong tertawa dan menanya.

"Aku kenapa?"

Dengan mendadak juga ia membatalkan pengerahan tenaganya itu.

Kwee Ceng mengatur tenaganya, untuk melawan.

Ia berkhawatir jago tua itu nanti menggunai kuntauw kodoknya, ia takut nanti terluka di dalam.

Siapa sangka tengah ia berkuat-kuat, tiba-tiba saja penyerangnya itu lenyap dari hadapannya.

Di dalam latihan dan pengalaman, sudha tentu ia kalah jauh dibandingkan dengan See Tok, maka syukur untuknya, dari Ciu Pek Thong ia telah memperoleh ilmu silat "Kong Beng Kun"

Yang terdiri dari tujuhpuluh dua jurus itu, yang sifatnya dalam "keras ada kelembekannya" , kalau tidak pastilah akan terjadi seperti di Kwie-in-chung tempo melayani Oey Yok Su, tangannya salah urat.

Meski demikian, ia toh terjerumuk, kakinya limbung, tidak ampun lagi ia jatuh kepala di bawah, kaki di atas!

Kalau Auwyang Kongcu jatuh lurus, berdiri, Kwee Ceng menjadi terbalik.

Keduanya jatuh berbareng.

Tubuh mereka pun berada berdekatan.

Auwyang Kongcu melihat tegas saingannya itu, mendadak saja timbul pikirannya yang sesat.

Mendadak ia majukan kedua tangannya, untuk menekan kedua kakinya Kwee Ceng itu, berbareng dengan mana, meminjam kaki orang, ia apungi tubuhnya naik.

Dengan demikian, selagi ia mumbul, Kwee Ceng sendiri turun semakin cepat.

Oey Yong kaget tidak terkira.

Itulah artinya Kwee Ceng pemuda pujaannya bakal kalah.

Tanpa merasa, ia menjerit;

"Ayo!"

Hampir berbareng dengan jeritan itu, terlebihlah tubuh Kwee Ceng berbalik mencelat ke atas, di lain pihak, tubuhnya Auwyang Kongcu turun pula, bahkan terus jatuh ke tanah.

Di lain pihak lagi, Kwee Ceng telah tiba di atas pohon, berdiri di sebatang cabang, lalu dengan meminjam tenaga cabang itu ia mendekam!

Menyaksikan kejadian itu dari kaget bukan main, Oey Yong menjadi girang bukan kepalang.

Sungguh-sungguh ia tidak mengerti kenapa bisa terjadi demikian rupa sedang pada Kwee Ceng ia tidak nampak sesuatu aksi.

Bukankah pemuda itu terpisah hanya lagi beberapa kaki dari tanah?

Auwyang Hong dan Ang Cit Kong pun sudah sama-sama berlompat turun, Ang Cit Kong tertawa terbahak-bahak, berulang-ulang ia berseru.

"Sungguh indah! Bagus!"

Parasnya See Tok, sebaliknya muram.

"Saudara Cit, muridmu yang lihay ini campur aduk sekali ilmu kepandaiannya!"

Ia berkata.

"Dia pun sampai dapat mempelajari ilmu gulat dari bangsa Mongolia!"

Ang Cit Kong tertawa.

"Tetapi aku sendiri tidak becus ilmu gulat itu!"

Katanya, mengaku terus-terang.

"Bukanlah aku yang mengajarkan dia, maka itu janganlah kau main gila denganku!"

Sebenarnya Kwee Ceng kaget sekali yang Auwyang Kongcu sudah menekan kakinya itu berbareng si kongcu sendiri mengapungkan diri.

Dia mengerti, hebat kalau dia jatuh, sedang si kongcu itu bakal berada di atasannya.

Itulah artinya ia kalah dan bercelaka.

Disaat segenting itu, ia tidak menjadi gugup.

Ia melihat kaki orang di depan mukanya, hebat luar biasa, ia menyambar dengan kedua tangannya, menarik dengan keras seraya tubuhnya pun diapungkan ke atas.

Memang itulah ilmu gulat orang Mongolia, supaya sesudah roboh dapat berlompat.

Itulah ilmu gulat yang tak ada bandingannya turun temurun.

Kwee Ceng menjadi besar di gurun pasir, sebelum ia berguru dengan Kanglam Cit Koay, ia sudah bergaul erat dengan Tuli dan lainnya bocah bangsa Mongolia itu, dengan sendirinya sering mereka adu gulat.

Sekarang ia menghadapi bahaya, hampir tanpa berpikir, ia menggunai ilmu kepandaiannya itu.

Ia pun meminjam tenaga lawan sama seperti Auwyang Kongcu meminjam tenaganya.

Dan ia memperoleh kemenangan!

"Kali ini Kwee Sieheng yang menang!"

Oey Yok Su sudah lantas mengasih dengar putusannya.

"Kau jangan bersusah hati, saudara Hong, jangan panas. Auwyang Sieheng lebih lihay, siapa tahu pertandingan kedua dan ketiga dia nanti yang menang?"

"Kalau begitu, silahkan saudara Yok menyebutkan acara pertandingan yang kedua itu,"

Meminta Auwyang Hong.

"Pertandingan yang nomor dua dan nomor tiga ini adalah pertandingan sacara bun,"

Berkata Oey Yok Su. Cara "bun"

Ialah cara halus, tanpa kekerasan. Mendengar ayahnya itu, Oey Yong menjerit.

"Ayah, terang-terangan kau berat sebelah!"

Katanya.

"Kenapa kau menggunai cara bun? Ah, engko Ceng, sudahlah kau jangan mau bertanding pula!"

"Kau tahu apa?!"

Berkata sang ayah.

"Dalam ilmu silat, kalau telah dicapai puncaknya kemahiran, apa orang akan terus main keras-kerasan saja? Acaraku yang kedua ini, kau tahu, adalah untuk meminta kedua sieheng mengenal sebuah lagu serulingku…."

Girang Auwyang Kongcu mendengar halnya acara itu. Katanya dalam hatinya.

"Si tolol ini, apakah tahunya tentang ilmu tetabuhan? Kali ini pastilah aku ynag bakal menang…"

Auwyang Hong tapinya berkata;

"Anak-anak muda masih lemah sekali latihannya bersemedhi menenangkan hati, aku khawatir tidak dapat mereka bertahan dari lagumu, saudara Yok."

"Laguku lagu biasa saja, saudara Hong, jangan kau khawatir,"

Oey Yok Su menghibur. Lalu ia menghadapai Auwyang Kongcu dan Kwee Ceng, untuk berkata.

"Kedua sieheng, silahkan kau masing-masing mematahkan secabang pohon, kapan nanti kamu mendengar suara laguku, lantas kamu menimpali dengan mengetok-ngetok batang pohon itu. Siapa yang dapat menimpali paling tepat, paling bagus, dialah yang menang."

Kwee Ceng maju menghampirkan tuan rumah, ia menjura.

"Oey tocu,"

Katanya hormat.

"Teecu ini sangat tolol, tentang ilmu tetabuhan teecu tidak vtahu satu nol puntul, maka itu dalam pertandingan yang kedua ini teecu menyerah kalah saja…."

"Jangan kesusu, jangan kesusu!"

Ang Cit Kong mencegah.

"Biar bakal kalah, apakah halangannya untuk mencoba dulu? Apakah kau khawatir nanti ditertawakan orang? Jangan takut!"

Mendengar perkataan gutu itu, pikiran Kwee Ceng berubah.

Ia pun melihat Auwyang Kongcu sudah lantas mematahkan sebatang cabang, maka ia lantas mencari secabang yang lain.

Oey Yok Su tertawa, ia berkata.

"Saudara Cit berada disini, sungguh siauwtee membuatnya kau nanti menertawainya!"

Pemilik Tho Hoa To ini sudah lantas membawa seruling ke bibirnya, maka sedetiknya kemudian, ia sudah mulai meniup.

Auwyang Kongcu memasang kuping mendengar irama, cuma sebentar, ia lantas menabuh cabang pohonnya itu, memperdengarkan suara seperti timpalan kecrek.

Ia mengerti lagu, dapat ia menimpali dengan baik.

Sebaliknya Kwee Ceng agaknya bingung, ia angkat bambunya tetapi ia tidak mengetok itu, maka juga ketika serulingnya Oey Yok Su sudah berbunyi lamanya sehirupan teh, ia masih belum menimpali sekali juga….

Melihat itu Auwyang Hong dan keponakannya menjadi girang sekali.

Mereka merasa pasti, kali ini mereka bakal menang.

Bukankah acara yang ketiga pun acara bun?

Mereka percaya, mereka pun bakal menangi acara yang ketiga itu….

Oey Yong adalah sebaliknya dari itu paman dan keponakan.

Ia bergelisah sangat.

Ia berkhawatir sekali Kwee Ceng kalah.

Maka dengan jari tangannya yang kanan, ia menepuk-nepuk lengannya yang kiri.

Ia mengharap-harapi si anak muda melihatnya dan nanti menelad caranya itu.

Untuk kecelenya, ia mendapat Kwee Ceng dongak mengawasi langit, berdiam saja, tak ia melihat pertandaannya itu….

Oey Yok Su masih meniup terus lagunya.

Sejenak kemudian, mendadak Kwee Ceng menepuk batang bambunya itu.

Ia menepuk di tengah-tengah antara bagian dua tepukan.

Auwyang Kongcu tertawa terkekeh.

"Baru mengetok, dia sudah kalah!"

Pikirnya pemuda ini. Kwee Ceng kembali menepuk pula, kembali di bagian tengah seperti tadi. Ketika ia mengulangi sampai empat kali, semuanya itu tidak tepat. Oey Yong menggeleng-geleng kepala.

"Aku punya engko tolol ini tidak mengerti ilmu tetabuhan, tidak selayaknya ayah justru menguji ia dengan lagu!"

Katanya dalam hatinya.

Sembari berpikir begitu, ia menoleh kepada ayahnya.

Untuk herannya, ia menampak air muka ayahnya yang berubah.

Ayah itu agaknya merasa aneh.

Kwee Ceng masih memperdengarkan pula kecrek bambunya itu, atas mana lau terdengar irama seruling seperti rancu, hanya sebentar kemudian, irama itu balik kembali dengan rapi menuruti lagunya.

Masih saja Kwee Ceng menepuk, tetap ia sama caranya itu, di tengah-tengah di antara dua bagian kecrekan, hanya caranya sebentar cepat sebentar perlahan, sebentar mendahului, sebentar ketinggalan.

Cara ini hampir-hampir mengacaukan lagunya Oey Yok Su.

Kejadian ini bukan cuma mengherankan pemilik pulau Tho Hoa To itu, yang perhatiannya menjadi tertarik sekali, juga Auwyang Hong dan Ang Cit Kong tidak mengerti.

Mereka turut menjadi heran.

Tadi Kwee Ceng telah mendengarnya suara pertempuran di antara seruling, ceng dan siulan, tanpa merasa ia menginsyafinya irama pertempuran istimewa itu, sekarang mendengar lagunya Oey Yok Su, mulanya ia memasang kuping dengan melongo, lalu akhirnya ia mengasih dengar suara bambunya untuk mengacau itu.

Ia mengetok dengan keras, suaranya "Bung!

Bung!

Bung!"

Tidak peduli telah mahir ilmu menetapkan atau menenangkan hati dari Oey Yok Su, ia pun tergempur suara bambu orang itu, beberapa kali hampir ia membuatnya lagunya berbalik mengikuti ini suara kecrek istimewa dari Kwee Ceng.

"Bung! Bung!"

Lantas Oey Yok Su mengasih bangun semangatnya.

"Hebat kau, bocah!"

Pikirnya.

Ia meniup pula serulingnya, sekarang dengan irama perlahan tetapi banyak perubahannya, selalu berganti tekukannya.

Auwyang Kongcu memasang kupingnya, untuk menangkap lagu itu, baru sesaat, tanpa merasa ia mengangkat bambunya, sendirinya terus ia bergerak-gerak menari!

Auwyang Hong terkejut, ia menghela napas.

Segera ia maju, untuk mencekal lengan keponakannya itu, menekan nadinya.

Menyusuli itu, ia mengelarkan sapu tangan sutera, untuk menyumbat kuping orang, supaya Auwyang Kongcu tidak dapat mendengar lagu itu.

Ketika kemudian si keponakan mulai tetap hatinya, baru ia lepaskan cekalan dan tekanannya itu.

Oey Yong sendiri tidak terganggu seruling ayahnya itu.

Seperti sang ayah, ia sudah biasa mendengar itu lagu "Thia Mo Bu"

Atau "Tarian Hantu Langit".

Ia hanya berkhawatir untuk Kwee Ceng, takut si anak muda tak dapat menenangi diri, menetapi hati, untuk mempertahankan diri…………..

Kwee Ceng sudah lantas duduk bersila di tanah, ia menenangkan diri dengan latihan tenaga dalam Coan Cin Kauw, dengan begitu ia menentang rayuan atau bujukannya irama seruling yang menggoncangkan hati itu.

Berbareng dengan itu, tak hentinya ia memperdengarkan kecrek bambunya, untuk mengacau lagu itu.

Tadi Oey Yok Su bertiga Ang Cit Kong dan Auwyang Hong, dengan lagu-lagu mereka telah mengadu irama, mereka dapat saling menyerang, saling membela diri, mereka tidak saja tak kena terbujuk atau terserang, sebaliknya mereka dapat menyerang.

Sekarang Kwee Ceng kalah latihan tenaga dalam, ia tidak dapat menyerang, ia cuma bisa membela diri, malah rapat penjagaannya itu.

Benar ia tidak bisa melakukan penyerangan membalas tetapi juga benar oey Yok Su tidak dapat menaklukinya.

Selang sesaat kemudian, suara seruling semakin lama jadi makin perlahan dan halus, sampai sukar terdengarnya.

mendengar itu, Kwee Ceng berhenti dengan ketokan bambunya, ia memasang kupingnya.

Justru inilah lihaynya Oek Yok Su.

Makin perlahan suara serulingnya, makin besar tenaga menariknya.

Begitu Kwee Ceng diam mendengari, bekerjalah pengaruh menarik itu.

Irama seruling dan irama bambu bergabung menjadi satu, mestinya pemusatan pikiran si anak muda kena terbetot.

Tetapi Kwee Ceng bukannya lain orang.

Coba lain orang, mestinya ia sudah runtuh, tak dapat ia meloloskan diri.

Ia pernah menyakinkan ilmu saling serang dengan tangan sendiri, sebagimana ia telah lama berlatih dengan Ciu Pek Thong, maka itu, hatinya satu tetapi ia dapat memecahnya menjadi dua.

Maka begitu ia mendengar suara aneh itu, yang membetot keras hatinya, ia memecah hatinya menjadi dua.

Ia insyaf akan bahaya yang mengancam.

Dengan demikian, sambil menetapi hati, menenangi diri, ia memperdengarkan pula suara sebatang bambunya yang ia pegang dengan tangan kirinya, maka mendengung pulalah suara bung-bung.

Oey Yok Su menjadi terperanjat saking herannya.

"Bocah ini mempunyai kepandaian luar biasa, tidak dapat ia dipandang enteng,"

Pikirnya.

Tapi ia penasaran, ia mencoba pula.

Tidak lagi ia berdiri diam, dengan mengangkat kakinya, ia bertindak dalam penjuru patkwa, delapan persegi, sembari jalan ia meniup terus serulingnya.

Kwee Ceng masih menepuk terus, kedua tangannya mengasih dengar tepukan yang berbeda, dengan begitu ia bagaikan dua orang yang menentang Oey Yok Su satu orang.

Tenaganya pun bertambha sendirinya.

Oey Yocu bukan sembarang orang, makin ditentang ia jadi makin gagah, lalu nada serulingnya menjadi tinggi dan rendah, makin luar biasa terdengarnya iramanya itu.

Kwee Ceng terus melawan, tetap ia mempertahankan diri, sampai mendadak ia dapat merasakan dari suara seruling itu seperti ada hawa dingin yang menyambar kepadanya, bagaikan hawa dingin dari es membungkus dirinya.

Tanpa merasa, ia mengigil.

Biasanya suara seruling halus dan lemah mengalun, panjang kali ini perubahannya ialah menjadi keras, bagaikan penyerangan dahsyat, maka itu Kwee Ceng merasakan hawa dingin meresap ke tulang-tulangnya.

lekas-lekas ia memusatkan pikirannya lagi, ia memecah dua pula.

Ia mengingat kepada matahari panas terik tergnatung di udara, di waktu musim panas memukul besi, atau dengan tangan memegang obor besar memasuki dapur ynag apinya marong dan panas sekali.

Pemusatan perumpamaan ini berhasil mengurangi serangannya hawa dingin itu.

Kembali Oey Yok Su menjadi heran.

Ia melihatnya ditubuh sebelah kiri Kwee Ceng ada sifat dingin, sebaliknya di tubuh sebelah kanan tertampak keringat keluar tanda dari hawa panas.

Ia lantas merubha pula irama lagunya.

Ia melenyapkan hawa dinginnya, ia mengganti itu dengan hawa panas dari musim panas.

Kwee Ceng terkejut karena perubahan itu, disaat ia hendak menentang lagi, suara batang bambunya sudah menjadi kacau sendirinya.

Oey Yok Su menyaksikan itu, katanya dalam hatinya.

"Kalau ia memaksa melawan, ia masih dapat bertahan sekian lama, hanya kalau ia tetap terserang terus hawa panas dan dingin bergantian, kesudahannya ia bakal dapat sakit berat."

Karena memikir demikian, ia berhenti meniup serulingnya, maka sedetik saja, iramanya seperti lenyap di rimba.

Maka berhentilah lagu seruling itu.

Kwee Ceng segera mengerti orang telah mengalah terhadapnya, ia lantas berlompat bangun, untuk memberi hormat kepada Oey Yok Su seraya menghanturkan terima kasih untuk kebaikan hati orang, yang ia bahsakan "Oey Tocu."

Oey Yok Su heran hingga ia mau menduga;

"Bocah ini masih sangat muda usianya, siapa tahu ilmu dalamnya begini bagus. Mustahilkah sengaja ia memperlihatkan sikap ketolol-tololan sedang sebenarnya ia cerdas luar biasa? Jikalau tapat dugaanku ini, anakku mesti dijodohkan dengannya. Baiklah aku mencoba pula!"

Begitulah ia tersenyum.

"Kau baik sekali!"

Katanya manis.

"Kau masih memanggil Oey Tocu kepadaku?"

Dengan pertanyaannya itu Oey Yok Su hendak memberi tanda.

"Dari tiga ujian, kau sudah lulus yang dua, karenanya sudah boleh kau mengubah panggilan menjadi gakhu tayjin."

Arti "gakhu tayjin"

Ialah ayah mertua yang terhormat. Kwee Ceng ada seorang yang jujur dan polos, ia tidak mengerti yang kata-kata orang mengandung dua maksud, maka ia menjadi gugup.

"Aku…aku…"

Katanya, lalu ia tak dapat meneruskannya.

Lalu matanya mengawasi kepada Oey Yong, untuk memohon bantuan dari si nona…..

Oey Yong girang bukan main.

Ia lantas menekuk-nekuk jempol kanannya.

Itu berarti anjuran untuk Kwee Ceng bertekuk lutut kepada Oey Yok Su.

Kebetulan Kwee Ceng mengerti tanda itu, tanpa bersangsi lagi ia menjatuhkan diri di depan tuan rumah sambil mengangguk sampai empat kali.

Meski ia memberi hormat secara begitu, tetapi mulutnya tetap bungkam.

"Kau memberi hormat kepadaku, kenapa?"

Tanya Oey Yok Su tertawa.

"Yong-jie yang menyuruh aku,"

Sahut si tolol.

"Ah, dasar tolol, tetap tolol!"

Pikir Oey Yok Su. Ia lantas mengulur tangannya kepada Auwyang Kongcu, guna menyingkirkan sumbatan di kuping anak muda itu sembari ia berkata;

"Bicara dari hal tenaga dalam, Kwee Sieheng yang terlebih mahir, akan tetapi ketika aku menguji dengan lagu, kaulah, Auwyang Sieheng, ynag lebih mengerti….Begini saja, acara nomor dua ini aku anggap seri. Sekarang hendak aku memulai dengan acara yang ketiga, supaya dengan ini didapat keputusan siapa di antara kedua sieheng, siapa yang menang dan siapa yang kalah."

"Aku, akur!"

Auwyang Hong cepat-cepat memberi persetujuannya.

Ia tahu keponakannya sudah kalah, ia tidak menyangka yang Oey Yok Su si juru pemisah sudah berbuat berat sebelah.

Ang Cit Kong menyaksikan itu semua, ia cuma tersenyum, tidak ia memperdengarkan suaranya.

Melainkan di dalam hatinya ia bilang.

"Si Sesat bangkotan, anak ialah anakmu, jikalau kau suka menikahkan dia sama pemuda doyang berfoya-foya, lain orang tidak dapat mencampur tahu! Tetapi aku si pengemis tua, aku ingin sekali menempur padamu. Sekarang aku berada bersendirian saja, dua tanganku tidak nanti sanggup melayani empat buah tangan, biarlah, nanti aku mencari dulu Toan Hongya, untuk ia membantu aku. Sampai itu waktu nanti jelaslah segala apa!"

Itu wkatu Oey Yok Su sudah merogoh sakunya untuk mengeluarkan se

Jilid buku yang bagian mukanya dilapisi cita merah, sembari berbuat begitu, ia berkata.

"Bersama istriku aku mempunyai cuma ini seorang anak perempuan, tidak beruntung istriku itu, ia menutup mata habis melahirkan anaknya ini, sekarang aku merasa beruntung yang saudara Cit dan saudara Hong memandang mata kepadaku, bersama-sama kamu melamar gadisku ini. Jikalau istriku masih hidup, tentu ia girang sekali……….."

Merah matanya Oey Yong mendengar ayahnya menyebut-nyebut almarhum ibunya.

"Buku ini ialah buku yang ditulis sendiri oleh istriku semasa hidupnya istriku itu,"

Oey Yok Su berkata pula.

"Jadi inilah warisan dari hati dan darahnya… Sekarang aku minta kedua sieheng membaca buku ini, setelah selesai kau mesti membaca pula di luar kepala, siapa yang dapat menghapalnya lebih banyak kali dan tidak bersalah, akan aku serahkan anakku ini kepadanya…"

Ia berhenti sebentar. Ia menoleh kepada Ang Cit Kong, ia mendapatkan Pak Kay tersenyum. Lalu ia meneruskan;

"Menurut aturan, Kwee Sieheng sudah menang satu pertandingan, tetapi kitab ini ada sangkut pautnya dengan kehidupanku, dan istriku pun meninggal dunia karena kitab ini, maka itu sekarang hendak aku memuji di dalam hatiku supaya ialah sendiri yang nanti memilih baba mantunya, biar ia memayungi salah satu sieheng ini."

Sampai di situ habis sudah sabarnya Ang Cit Kong. Tadi ia masih dapat menguasai diri, dia hanya bersenyum. Sekarang tidak.

"Oey si bangkotan sesat!"

Ia berkata nyaring.

"Siapa kesudian mendengari obrolan setanmu panjang-panjang? Terang kau mengetahui muridku tolol, dia tidak mengerti ilmu surat dan syair, sekarang kau suruh ia membaca dan menghapalnya di luar kepala, lalu kau menggertak dengan istrimu ynag sudha mati! Sungguh kau tidak tahu malu!"

Habis berkata, si pengemis mengibas tangannya, terus ia memutar tubuhnya untuk bertindak pergi. Oey Yok Su tertawa dingin.

"Saudara Cit!"

Ia berkata.

"Jikalau kau datang ke Tho hoa To ini untuk banyak tingkah, mestinya kau belajar pula ilmu silatmu untuk lagi beberapa tahun!"

Ang Cit Kong membalik pula tubuhnya, sepasang alisnya berbangkit.

"Apa?!"

Tanyanya bengis.

"Kau tidak mengerti ilmu Kie-bun Ngo-heng, jikalau kau tidak dapat perkenan dari aku, jangan kau harap nanti dapat keluar dari pulau ini!"

Menjawab si tuan rumah.

"Akan aku melepaskan api membakar ludas semua bunga dan pohonmu ynag bau!"

Cit Kong berkata keras.

"Jikalau kau ada mempunyai kepandaianmu, cobalah kau bakar!"

Oey Yok Su menentang. Melihat kedua orang tua itu hendak berkelahi, Kwee Ceng maju sama tengah.

"Oey Tocu! Ang Locianpwee!"

Ia berkata.

"Biarlah nanti teecu mencoba bersama Auwyang toako membaca buku itu dan menghapalnya di luar kepala. Teecu memang bebal, umpama teecu kalah, itulah sudah selayaknya…"

Oey Yok Su mendelik kepada si anak muda.

"Kau memanggil apa kepada gurumu?!"

Ia menegur.

"Teecu baru saja mengangkat guru, oleh karena teecu masih belum memberitahukan itu kepada enam guruku, sekarang ini belum berani teecu merubah panggilan,"

Kwee Ceng memberi keterangan.

"Hah! Di mana sih ada sekian banyak kerewelan!"

Katanya Tong Shia sebal.

Luas pengetahuannya Oey Yok Su tetapi sepak terjangnya biasa menyalahi aturan atau kebiasaan, maka itu tidaklah ia puas mendapatkan pemuda itu demikian menjunjung ada peradatan.

"Bagus!"

Berseru Ang Cit Kong.

"Aku masih belum terhitung gurumu! Kau sudi mendapat malu, terserah padamu! Silahkan, silahkan!"

Oey Yok Su tidak membilang suatu apa, hanya berpaling kepada anaknya.

"Kau duduklah baik-baik, jangan kau main gila!"

Katanya.

Ia memesan demikian, karena ia khawatir anak itu membantu pula Kwee Ceng.

Oey Yong tersenyum, ia tidak menyahuti.

Tapi ia berdiam dengan hatinya bekerja.

Ia tahu kali ini pastilah Kwee Ceng bakal kalah, maka ia mengasah otaknya mencari jalan keluar untuk nanti buron bersama-sama pemuda itu….

Oey Yok Su lantas menitahkan Kwee Ceng dan Auwyang Kongcu duduk berendeng di sebuah batu besar, ia berdiri di depan mereka, ia memegangi kitabnya, yang ia ansurkan untuk mereka itu melihatnya, sebab mereka mesti membaca dengan berbareng.

Judul kitab ada "Kiu Im Cin-keng"

Bagian Bawah, model hurufnya model Toan-jie. Begitu melihat itu, Auwyang Kongcu girang luar biasa. Ia berkata dalam hatinya.

"Dengan segala macam akal aku memaksa Bwee Tiauw Hong menyerahkan kitab ini, siapa tahu sekarang mertuaku ini hendak berbuat baik kepadaku, ia membiarkan aku membaca kitab luar biasa ini!"

Kwee Ceng melihat enam huruf itu, tak sehuruf juga yang ia kenal. Ia berpikir.

"Dia sengaja hendak membikin susah padaku! Surat yang berlugat-legot bagaikan cacing ini mana aku kenal? Biarlah, aku menyerah kalah…"

Ketika itu Oey Yok Su sudah mulai membalik kulitnya buku itu.

Nyata huruf-huruf di dalamnya mermodel huruf Kay-jie, ialah huruf biasa dan huruf-hurufnya tertulis bagus sekali.

Teranglah itu tulisannya seorang wanita.

Ketika ia sudah membaca baris pertama, hatinya goncang.

Baris itu berbunyi.

"Aturan dari langit, rusak itu berlebihan, tambalan tak kecukupan, maka itu kosong lebih menang daripada luber, tak cukup menang menang…. Semuanya itu sudah pernah ia mendengarnya dari Ciu Pek Thong, yang pernah ia sudah menghapalnya. Maka ia lantas melihat lebih jauh. Untuk kegirangannya, semua itu adalah huruf-huruf yang ia sudah hapal benar. Oey Yok Su menunggu sampai ia merasa orang sudah membaca habis, ia membalik pula halaman lainnya. Hal ini dilakukan terus selang sesaat. Hanya huruf-huruf itu makin lama makin tak lengkap susunannya, di bagian belakang menjadi kacau, sedang tulisannya sendiri makin lemah, seperti ditulis dengan kehabisan tenaga. Terkesiap hati Kwee Ceng, karena sekarang ia ingat keterangannya Ciu Pek Thong halnya Oey Hujin, yaitu istrinya Oey Yok Su, yang sudah menuliskan isi kitab secara dipaksakan, kerana tubuhnya menjadi lemah, hingga diwaktu melahirkan Oey Yong, tenaganya habis dan menjadi meninggal dunia. Inilah kitab yang ditulis disaat-saat kematiannya nyonya itu.

"Mungkinkah yang Ciu Toako menitahkan aku menghapalkannya adalah isi kitab ini?"

Kwee Ceng berpikir pula.

"Adakah ini Kiu Im Cin-keng? Tidak, tidak bisa jadi! Kitab itu bagian bawahnya sudah dibikin lenyap oleh Bwee Tiauw Hong, bagaimana sekarang bisa berada di tangannya Oey Yok Su ini?"

Oey Yok Su melihat orang bengong, ia menduga mestinya kepala pemuda ini sudah pusing.

Ia tidak mengambil mumat, ia terus membalik-balik pelbagai halaman setelah temponya, ia merasa, orang sudah membaca habis.

Mulanya Auwyang Kongcu dapat membaca dengan baik, kemudian toba kepada penjelasan cara melatihnya ilmu silat itu, ia bingung karena kata-katanya seperti terputar balik.

Kemudian lagi, hatinya mencelos akan mendapatkan ada huruf-huruf yang berlompatan, hingga karangan tak lagi lancar.

Di dalam hatinya ia menghela napas dan berkata.

"Kiranya dia masih tidak hendak memperlihatkan kitab yang tulen…"

Tapi ia dapat memikir sebaliknya;

"Benar aku tidak dapat melihat isi kitab yang lengkap, tetapi toh aku jauh lebih banyak dapat mengingatnya daripada si tolol ini, mak adalam ujian ini pastilah aku yang bakal menang. Oh, si nona yang sangat cantik manis yang bagaikan putri kayangan ini, akhirnya toh bakal menjadi orangku juga…!"

Kwee Ceng juga melihat dan membaca setiap halaman yang dibalik terus oleh Oey Yok Su itu, ia mendapat kenyataan semua isinya itu sama seperti yang ia diajarkan Ciu Pek Thong, cuma bagian-bagian yang lompat saja yang tak terbaca tetapi ia ketahui itu, sebab ia masih hapal semua ajaran kakak angkatnya si orang tua yang jenaka dan berandalan itu.

Ia mengangkat kepalanya, memandang ke arah pohon, ia tidak dapat menduga apa hubungannya ajaran Ciu Pek Thong itu dengan kitab ini.

Tidak lama, setelah membalik halaman terakhir, Oey Yok Su emngawasi kedua pemuda itu.

"Nah, siapa yang hendak membaca terlebih dulu di luar kepala?"

Dia menanya. Sebelum menjawab, Auwyang Kongcu sudah berpikir untuk jawaban itu. Pikirnya.

"Isi kitab kacau sekali, sangat sukar untuk dihapalkannya, maka baiklah aku menggunakan ketika aku baru saja habis membaca akan menghapalnya, dengan begitu pastilah aku akan dapat membaca lebih banyak…"

Ia mau mengartikan, kesalahannya apstilah lebih sedikit. Karenanya, segera ia menyahuti.

"Aku yang menghapal lebih dulu!"

Oey Yok Su mengangguk.

"Kau pergi ke ujung rimba ini, jangan kau mendengari dia lagi menghapal,"

Ia menitahkan Kwee Ceng kepada siapa ia berpalinng.

Kwee Ceng menurut, ia pergi jauhnya beberapa puluh tindak.

Oey Yong menjadi girang sekali.

Ia pikir inilah ketikanya yang paling baik.

Bukankah dengan begitu ia bisa mengajak si anak muda kabur bersama?

Maka ia lantas angkat kakinya, hendak ia bertindak perlahan-lahan menghampirkan pemuda itu.

Atau mendadak.

"Yong-jie, mari!"

Memanggil Oey Yok Su.

"Kau juga mendengarinya mereka membaca diluar kepala, supaya kau jangan nanti mengatakannya aku berat sebelah!"

Mencelos hatinya si nona. Katanya ayah itu adil, tetapi kenyataannya sangat berat sebelah untuknya. Bukankah ia jadinya dicegah mendekati Kwee Ceng? maka itu ia berkata.

"Ayah yang berat sebelah, tak usah ayah menyebutkannya orang lain!"

Oey Yok Su tidak gusar, bahkan ia tertawa.

"Tidak tahu aturan! Mari!"

Dia memanggil pula.

"Aku tidak mau datang!"

Sahut si anak, membelar.

Di mulut ia mengucap demikian, tapi kakinya bertindak menghampirkan.

Ia cerdik sekali, ia pun tahu tabiat ayahnya itu, kalau si ayah berjaga-jaga, sulit untuk ia kabur pula.

Maka juga ia hendak memikir perlaha-lahan, untuk mencari akal.

Ketika ia sudah datang dekat, ia memandang Auwyang Kongcu sambil tertawa manis.

"Auwyang Toako, ada apakah sih bagusnya aku?"

Ia bertanya.

"Kenapa kau begini sangat menyukai aku?"

Bukan main girangnya Auwyang Kongcu. Manis sekali si nona. Hingga hatinya berdenyutan. Inilah ia tidak sangka.

"Adik, kau…."

Katanya kegirangan sangat, hingga ia seperti lupa ingatan, hingga tak dapat ia meneruskan kata-katanya.

"Toako, janganlah kau terburu-buru hendak pulang ke See Hek,"

Berkata pula Oey Yong, tetap dengan manis budi.

"Kau diamlah di Tho Hoa To ini untuk beberapa hari lagi. Di See Hek itu sangat dingin, bukankah?"

"See Hek itu luas sekali wilayahnya,"

Menyahut Auwyang Kongcu.

"Memang di sana ada banyak daerahnya yang dingin tetapi pun ada yang hangat dan nyaman seperri Kanglam."

"Ah, aku tidak percaya!"

Berkata lagi si nona, yang membawa aksinya yang menggiurkan. Ia tertawa.

"Kau memang paling suka memperdayakan orang!"

Auwyang Kongcu masih hendak melayani bicara, untuk membantah si nona itu, atau segera ia dihalangi oleh Auwyang Hong.

See Tok sudah lantas dapat membade maksud Oey Yong si cerdik ini, bahwa sikap manisnya itu adalah daya belaka untuk mengacau otaknya Auwyang Kongcu, supaya pikirannya disesatkan ke lain soal, si keponakan jadi lupa kepada isinya kitab Kiu Im Cin-keng.

"Eh, anak!"

Demikian menegurnya.

"Omongan yang tak perlunya baiklah kau bicarakan perlahan-lahan nanti, mari belum kasep. Sekarang lekas kau membaca di luar kepala!"

Auwyang Kongcu terkejut.

Memang, karena perhatiannya ditarik Oey Yong, ia dapat melupakan apa yang barusan dihapalnya.

Dan benar-benar ada yang ia lupa.

Maka lekas-lekas ia memusatkan pikirannya.

Sesudah itu, barulah dengan perlahan-lahan ia mulai membaca.

Ia berhasil membaca permulaannya, ia lantas melanjuti.

Tentu saja ia lupa di bagian-bagian yang penjelasan ilmu silatnya sulit, seperti Oey Hujin sendiri tidak ingat seanteronya.

Oey Yok Su tertawa kapan pemuda yang dipenujunya itu selesai membaca.

"Kau telah mendapat membaca banyak, bagus!"

Katanya.

"Kwee sieheng, mari, sekarang giliranmu!"

Kwee Ceng bertindak menghampirkan. Ia melihat Auwyang Kongcu kegirangan, ia kagum, di dalam hatinya ia kata."

Anak ini benar-benar lihay, sekali membaca saja ia sudah dapat menghapal di luar kepala sedang tulisan itu kacau balau.

Benar-benar aku tidak sanggup, maka sekarang baiklah aku emngahapal seperti yang Ciu Toako ajari aku."

Ang Cit Kong melihat sikap muridnya itu, ia tertawa.

"Anak tolol, mereka itu sengaja hendak membikin kita bagus ditonton!"

Ia berkata.

"Baiklah kita mengaku kalah saja!"

"Memang aku pun sebenarnya tak dapat melawan Auwyang Toako,"

Kwee Ceng membilang. Mendadak Oey Yong berlompat ke ke atas payon paseban, yang telah roboh sebagian, di sana ia berdiri seraya menghunus pisau belati, yang ia letaki di depan dadanya. Ia berseru;

"Ayah! Jikalau kau memaksa aku ikut si manusia busuk itu pergi ke See Hek, hari ini anakmu akan binasa untuk kau lihat!"

Oey Yok Su kenal baik tabiat anaknya itu.

"Letaki senjatamu!"

Ia berkata.

"Kita dapat berbicara dengan perlahan-lahan."

Sementara Auwyang Hong telah bekerja.

Mendadak ia menekan tongkatnya ke tanah, segera terdengar satu suara aneh, terus dari tongkat itu melesat serupa senjata gelap yang luar biasa, menyambar ke arah Oey Yong.

Hebat melesatnya senjata rahasia ini, belum Oey Yong menginsyafinya, pisau belati di tangannya sudah kena terhajar hingga terlepas dan jatuh ke tanah.

Dilain pihak tubuh Oey Yok Su pun berkelebat, sedetik saja ia sudah sampai di atas pesaben, dimana ia mengulur tangan merangkul pinggang putrinya.

"Benar-benarkah kau tidak sudi menikah?"

Katanya, perlahan.

"Baiklah! Mari kau berdiam di Tho Hoa To menemani ayahmu seumur hidupmu!"

Oey Yong meronta-ronta, ia menangis.

"Ayah, kau tidak sayang Yong-jie, kau tidak sayang Yong-jie…!"

Katanya.

Menyaksikan itu, Ang Cit Kong tertawa berkakak.

Ia tidak nyana Oey Yok Su, yang hatinya keras dan telangas, kewalahan melayani putrinya itu.

Selagi Ang Cit Kong berkpikir begitu, Auwyang Hong berpikir lain.

Ia ini kata di dalam hatinya;

"Baik aku menanti hingga sudah ada keputusan ujian ini, setelah itu hendak aku membikin habis pengemis tua serta si bocah she Kwee ini. Urusan lainnya pasti gampang diurus belakangan. Anak itu manja sekali, apa aku peduli?"

Karena ini, ia berkata.

"Kwee Sieheng lihay sekali, kau sungguh satu pemuda gagah, maka itu di dalam ilmu surat kau tentu pandai juga. Saudara Yok, silahkan minta Kwee Sieheng mulai menghapal!"

Itulah kata-kata baik tetapi itu sebenarnya adalah desakan.

"Baiklah,"

Menyahut Oey Yok Su.

"Yong-jie, kalau kau mengacau lagi, nanti kacau juga pikirannya Kwee Sieheng."

Mendengar itu, benar-benar Oey Yong lantas menutup mulutnya. Auwyang Hong ingin sekali si anak muda mendapat malu, ia mendesak;

"Kwee Sieheng, silahkan mulai! Kami ramai-ramai akan mendengar dengan perhatian pembacaanmu di luar kepala."

Mukanya Kwee Ceng merah seluruhnya.

"Mana dapat aku menghapal?"

Pikirnya pula.

"Baik aku membaca ajarannya Ciu Toako…"

Dan lantas ia membaca.

Sebenarnya sudah beratus kali ia menghapal "Kiu Im Cin-keng" , karena Ciu Pek Tong tak bosannya mengajari ia, dari itu, ia masih ingat dengan baik itu semua.

Demikian kali ini, mulai dengan perlahan, ia menghapal terus, makin lama makin lancar, selama itu tak sepatah kata yang salah atau berlompatan.

Orang semua tercengang.

Bukankah bocah ini baru melihat hanya satu kali kitab yang dijadikan ujian itu?

Maka kesannya ialah.

"Bocah ini cerdas sekali tetapi ia nampaknya tolol. Kiranya dia sebenarnya berotak sangat terang!"

Oey Yok Su heran, apa pula setelah Kwee ceng sudah habis menghapal halaman keempat.

Ia dapat kenyataan, kata-katanya si anak muda lebih rapi daripada kitabnya, seperti ditambahkan sepuluh lipat.

Dan itulah memang bunyinya atau isi aslinya "Kiu Im Cin-keng"

Itu. Karena ini, tanpa merasa ia mengeluarkan peluh dingin.

"Mustahilkah istriku yang telah menutup mata itu demikian cerdas hingga di alam baka dia dapat mengingat kitab yang asli dan dia telah mengajarinya semuanya kepada pemuda ini?"

Ia bertanya dalam hatinya.

Selagi ia berpikir, kupingnya mendengar terus suara yang lancar dan terang dari Kwee Ceng, yang menghapal terus-terusan.

Maka ia mau percaya benar-benar istrinya sudah mewariskannya kepada si anak muda.

Ia lantas mengangkat kepalanya, mendongak ke langit, dari mulutnya terdengar suara tak tedas.

"A Heng, A Heng, sungguh kau sangat mencinta kepadaku, hingga kau pinjam mulutnya pemuda ini untuk mengajari aku Kiu Im Cin-keng…… Kenapa kau membiarkan aku tak dapat melihat pula wajahmu barang satu kali lagi? Setiap malam aku meniup serulingku, kau dengarkah itu?"

"A Heng"

Itu ialah nama kecil dari Oey Hujin, istri yang Oey Yok Su sangat mencintainya.

Nama itu, sekalipun Oey Yong gadisnya, tidak mendapat tahu.

Orang banyak heran melihat sikapnya tocu dari Tho Hoa To ini, air mukanya berubah, air matanya mengembang, dan entah apa yang diucapkannya itu.

Cuma sebentar Oey Yok Su berada dalam keadaan yang luar biasa itu, mendadak ia kembali pada dirinya sendiri.

Sekarang ia seperti bermuram durja.

Ia mengibaskan tangannya, terus ia menanya Kwee Ceng dengan suara keras, sikapnya bengis.

"Apakah kitab Kiu Im Cin-keng yang lenyap di tangannya Bwee Taiuw Hong terjatuh ke dalam tanganmu?!"

Kwee Ceng terkejut, hatinya pun ciut.

"Tee…teecu tidak mengetahui kitabnya Bwee Cianpwee itu terlenyap di mana…."

Sahutnya guup, suaranya tak lancar.

"Jikalau aku mendapat tahu, pasti sekali aku suka membantu mencarinya, untuk dibayar pulang kepada tocu…"

Oey Yok Su mengawasi wajah orang dengan tajam, pada itu ia tidak nampak kepalsuan, maka itu maulah ia percaya orang tidak berdusta.

Karenanya ia jadi mau percaya juga yang istrinya, dari dalam alam baka, sudah mewariskannya kepada pemuda ini.

"Baiklah, saudara Cit dan saudara Hong!"

Katanya kemudian, suaranya terang.

"Inilah baba mantu pilihannya istriku almarhum, maka itu sekarang aku tidak dapat membilang apa-apa lagi. Anak, aku menjodohkan Yong-jie kepadamu, kau haruslah memperlakukan dia baik-baik. Yonng-jie telah termanjakan olehku, dari itu haruslah kau suka mengalah tiga bagian…."

Oey Yong girang bukan kepalang. Ia lantas saja tertawa. Sama sekali ia tidak menjadi likat karena keputusan itu.

"Ayah, bukankah aku satu anak baik?"

Ia berkata.

"Siapa yang bilang aku telah termanjakan olehmu?"

Kwee Ceng benar tolol tetapi kali ini, tanpa menanti tanda pengajaran dari Oey Yong, sudah lantas ia menekuk lutut di hadapannya Oey Yok Su, untuk paykui empat kali seraya ia memanggil.

"Gakhu Tayjin!"

Tapi, belum sempat ia berbangkit, tiba-tiba Auwyang Kongcu membentak.

"Tahan dulu!"

Ang Cit Kong girang bukan main, ia sampai ternganga, tetapi ketika ia mendengar suaranya Auwyang Kongcu, ia dapat berbicara.

"Apa?!"

Dia tanya.

"Apakah kau belum juga menyerah?"

"Apa yang dibacakan saudara Kwee barusan jauh terlebih banyak daripada isinya kitab ini,"

Berkata Auwyang Kongcu. Ia pun rupanya menginsyafi itu.

"Mestinya ia telah mendapatkan Kiu Im Cin-keng yang asli! Aku yang muda hendak membesarkan nyali, hendak aku menggeledah tubuhnya!"

"Oey Tocu sudah selesai menjodohkan putrinya, perlu apa kau menimbulkan kerewelan baru?!"

Ang Cit Kong menegur.

"Kau dengar apa kata pamanmu barusan?"

Matanya Auwyang Hong terbalik.

"Aku Auwyang Hong, mana dapat aku diakali orang?"

Dia berkata dengan nyaring. Ia mau percaya tuduhan keponakannya dan merasa pasti di tubuhnya Kwee Ceng ada kitab "Kiu Im Cin-keng"

Yang asli, bahkan sekejap itu ingin ia merampas kitab itu, hingga ia melupakan yang Oey Yok Su sudah memutuskan pilihan baba mantunya itu.

Kwee Ceng tidak takut digeledah, mana dia lantas meloloskan ikat pinggangnya.

"Auwyang Cianpwee, silahkan kau periksa!"

Ia menantang, ia berserah diri.

Ia pun terus mengasih keluar segala isi sakunya, yang mana ia letaki di atas batu.

Auwyang Hong mellihat semua barang itu adalah uang perak, sapu tangan, batu api dan lainnya, tidak ada kitab, maka ia mengulurkan tangannya ke tubuh si anak muda.

Oey Yok Su kenal baik si See Tok yang sangat licik dan telangas, yang di dalam murkanya yang sangat dapat menurunkan tangan jahat.

Kalau si Bisa dari Barat ini keburu menurunkan tangan, walaupun ia lihay, tidak nanti ia dapat mengobati menantunya itu.

Maka hendak ia mencegah.

Sambil batuk-batuk ia lonjorkan tangannya yang kiri, diletaki di tulang punggung Auwyang Kongcu.

Itulah tulang paling penting pada tubuh manusia, asal Tong Shia menurunkan tangannya yang lihay, habis sudah tulang itu, terbinasalah Auwyang Kongcu di situ juga.

Ang Cit Kong dapat melihat sepak terjangnya Oey Yok Su, ia dapat menduga maksud orang, ia tertawa di dalam hatinya.

Pikirnya.

"Oey Lao Shia benar-benar sangat memihak! Sekarang ia menyayangi baba mantunya, dia lantas melindungi muridku yang tolol ini…."

Sebenarnya juga Auwyang Hong berniat menggunai pukulan kodoknya akan menghajar dengan meraba perutnya Kwee Ceng.

Asal ia dapat menekan perut itu, selang tiga tahun, Kwee Ceng bakal dapat sakit dan akan mati karenanya.

Tapi ia bermata awas, ia dapat melihat penjagaannya Oey Yok Su itu, lantas ia membatalkan niatnya itu.

Ia menggeledah tubuh Kwee Ceng, ia tidak mendapatkan lainnya barang.

Ia berdiam sesaat.

Ia tidak mempercayai almarhum Oey Hujin benar-benar mewariskan kitab itu dari alam baka, untuk memilih menantunya.

Setelah itu, ia dapat memikir lainnya lagi.

"Anak ini tolol, memang tak mungkin ia mendusta. Kalau aku menanya padany, mungkin sekali ia akan memberikan keterangannya yang sebenarnya…"

Maka ia gerakilah tongkat ularnya, hingga gelang emasnya berbunyi berkontrang, hingga dua ekor ularnya melilit-lilit. Menampak itu, Kwee Ceng dan Oey Yong mundur bersama.

"Kwee Sieheng,"

Auwyang Hong menanya, suaranya tajam.

"Dari manakah kau mempelajarinya isi kitab Kiu Im Cin-keng ini?"

"Aku ketahui tentang se

Jilid kitab Kiu Im Cin-keng akan tetapi belum pernah aku melihatnya,"

Menyahut Kwee Ceng, jujur.

"Kitab bagian atas ada pada Toako Ciu Pek Thong…"

Ang Cit Kong heran hingga ia menyelak.

"Eh, eh, mengapa kau panggil toako kepada Pek Thong?"

Ia menanya.

"Ciu Toako telah mengangkat saudara dengan teecu,"

Kwee Ceng menyahut, kembali dengan sejujurnya.

"Yang satu tua bangka, yang lain muda belia, sungguh edan!"

Tertawa Ang Cit Kong.

"Kacaulah aturan peradatan!"

"Kitab bagian bawah?"

Auwyang Hong tanya pula.

"Kitab itu telah dibikin lenyap di telaga Thay Ouw, oleh Suci Bwee Tiauw Hong,"

Kwee Ceng menyahut pula.

"Sekarang Bwee Suci sedang dititahkan gakhu untuk mencari kitab itu. Aku telah memikir, setelah memberitahukan kepada gakhu, ingin aku pergi untuk membantu mencari."

Dengan keponakannya, Auwyang Hong saling memandang.

"Kau belum pernah melihat Kiu Im Cin-keng, cara bagaimana kau dapat membacanya di luar kepala?"

Tanya pula Auwyang Hong, kali ini dengan bengis.

"Apakah yang aku baca barusan itu Kiu Im Cin-keng?"

Kwee Ceng balik menanya.

"Tidak, tidak bisa jadi! Itulah Ciu Toako yang mengajari aku menghapalnya!"

Diam-diam Oey Yok Su menghela napas, kelihatannya ia putus asa.

"Inilah seperti bicaranya hantu atau malaikat, sungguh sangat samar,"

Pikirnya.

"Rupanya benar anakku berjodoh dengan bocah ini, maka segala-galanya terjadi secara kebetulan sekali."

Selagi Tong Shia heran, Auwyang Hong menlanjuti pertanyaannya.

"Sekarang ini di mana adanya Ciu Pek Thong?"

Demikian tanyanya. Kwee Ceng hendak memberikan penyahutannya, ketika mertuanya memotong.

"Anak Ceng, tidak usah kau banyak omong."

Kemudian si Sesat dari Timur ini berpaling kepada Auwyang Hong untuk mengatakan "Inilah urusan tidak berarti, buat apa dibicarakan panjang-panjang?

Saudara Hong, saudara Cit, kita sudah duapuluh tahun tidak bertemu, marilah di pulauku ini kita minum puas-puas selama tiga hari!"

Oey Yong pun segera berkata.

"Cit Kong-kong, nanti aku memasaki kau beberapa rupa sayuran! Bunga teratai di sini bagus sekali, jikalau lembaran bunga itu dimasak ayam tim campur lengkak segar dan daun teratai, pastilah rasanya lezat sekali! Dan kau tentulah akan sangat menyukainya!"

Ang Cit Kong tertawa lebar.

"Sekarang telah tercapailah maksud hatimu!"

Katanya.

"Lihat, bagaimana girangmu!"

Digoda begitu, Oey Yong tertawa.

"Cit Kong-kong, Auwyang Pepe, dan kau Auwyang Sieheng, silahkan!"

Ia lantas mengundang. Ia membawa sikap manis terhadap mereka semua, tak terkecuali Auwyang Kongcu. Auwyang Hong menjura terhadap Oey Yok Su.

"Saudara Yok, aku menerima baik kebaikan hati kau ini,"

Ia berkata.

"Saudara, di sini saja kita berpisahan…."

"Saudara Hong,"

Menyahut si tuan rumah.

"Kau datang dari tempat yang jauh dan aku belum lagi melakukan kewajibanku sebagai sahabat, mana bisa enak hatiku?"

Sama sekali tidak ada niatnya Auwyang Hong, berdiam lebih lama lagi, karena ia telah putus asa.

Sebenarnya ia datang bukan melulu untuk jodoh keponakannya itu, lebih daripada itu, hendak ia sesudah pernikahannya sang keponakan, bekerja sama Oey Yok Su mencari Kiu Im Cin-keng, kitab ajaib itu.

Tidak demikian, sebagai ketua suatu partai, mana sudi ia sembarang menaruh kaki di Tionggoan?

Pernikahan sudah gagal, ia pun lenyap harapannya, ia menjadi sangat tawar hatinya.

Tetapi Auwyang Kongcu, si keponakan berpikir lain.

"Paman,"

Katanya Auwyang Kongcu.

"Keponakanmu tidak punya guna, ia membikin kau malu, tetapi Oey Peehu telah menjanjikannya hendak mengajari keponakanmu semacam ilmu kepandaian…."

Auwyang Hong mengasih dengar suara "Hm!"

Ia ketahui dengan baik belumlah padam cintanya si keponakan ini terhadap Oey Yong, maka juga si keponakan masih hendak mencari ketika untuk bisa terus berdekatan dengan nona itu.

Alasan belajar ini adalah alasan yang paling baik.

Si keponakan menjadi mungkin mendapat ketika akan merayu-rayu hati Oey Yong hingga si nona akhirnya terjatuh juga ke dalam pelukannya…."

Oey Yok Su dilain pihak jug atidak puas hatinya.

Ia telah memberikan janjinya itu karena ia percaya pasti Auwyang Kongcu bakal lulus, maka hendak ia menurunkan semacam pelajaran kepada Kwee Ceng, siapa tahu kesudahannya adalah kebalikannya dugaannya itu, ialah Auwyang Kongcu yang jatuh.

"Auwyang Sieheng,"

Ia lantas berkata.

"Kepandaian pamanmu adalah yang terlihay di kolong langit ini, tidak ada lain orang yang dapat menandanginya, karena ini adalah warisan keluargamu sebenarnya tak usah kau mencari dari lain kaum. Hanya apa yang dinamakan Co-to Pang-bun, yaitu ilmu golongan kiri atau sampingan, aku si tua masih juga mempunyakannya sedikit, maka jikalau sieheng tidak mencelanya, yang mana saja yang aku mengerti, suka aku mengajarkannya padamu."

Auwyang Kongcu sudah lantas berpikir;

"Hendak aku memilih yang paling lama dipelajarinya, yang paling meminta waktu. Tocu ini kabarnya mengerti ilmu Ngo-heng Ki-bun, baiklah aku minta ilmu itu yang tak keduanya dikolong langit ini, yang tentunya tak habis dipelajari dalam sehari semalam…."

Maka ia lantas menjura dan berkata.

"Keponakanmu mengagumi ilmu Ngo-heng Ki-bun dari peehu, maka itu aku mohon kebaikan budi peehu untuk mengajari saja aku ilmu itu."

Oey Yok Su berdiam, tidak lantas ia menjawab.

Ia merasa sulit.

Ngo-heng Ki-bun itulah kepandaiannya yang paling utama, sekalipun kepada putrinya belum ia mewariskannya, maka itu cara bagaimana dapat ia menurunkannya kepada orang luar?

Tetapia ia sudah mengeluarkan kata-katanya, tak dapat ia menyesal atau menarik pulang.

Maka kemudian menyahutlah ia.

"Ilmu Ki-bun itu menggenggam banyak sekali, kau hendak mempelajari yang mana satu?"

Auwyang Kongcu cuma mengutamakan dapat tinggal selama mungkin di pulau Tho Hoa To ini, maka itu ia menjawab;

"Keponakanmu melihat jalanan di Tho Hoa To ini sangat berliku-liku, pepohonannya pun lebat sekali, aku menjadi sangat menganguminya, maka itu aku mohon peehu sukalah memperkenankan aku tinggal di sini untuk beberapa bulan. Dengan begitu maka keponakanmu jadi dapat ketika untuk belajar dengan sabar."

Mendengar itu, air mukanya Oey Yok Su berubah. Ia segera melirik kepada Auwyang Hong. Di dalam hatinya, ia berpikir;

"Jadinya kau hendak menyelidiki rahasianya pulauku ini! Sebenarnya, apakah maksud kamu?"

Auwyang Hong sangat cerdik, mengertilah ia sudah akan keragu-raguannya tuan rumah itu. Maka lantas ia menegur keponakannya.

"Kau sungguh tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi! Tho Hoa To ini tercipta setelah peehumu menghabiskan hati dan darahnya, pulau ini teratur begini sempurna, bahwa orang luar tidak berani menyerbunya semua mengandal kepada lihaynya ini, dari itu mana dapat peehumu membebernya kepada kau?"

Oey Yok Su tahu orang menyindir, dengan dingin ia berkata.

"Walaupun Tho Hoa To ada hanya sebuah bukit yang gundul, orang di kolong langit ini belum tentu ada yang sanggup mendatanginya untuk membikin celaka pada aku Oey Yok Su!"

Auwyang Hong tertawa.

"Aku kesalahan omong, saudara Yok, maaf!"

Ia memohon.

"Hai, saudara Racun, saudara Racun!"

Ang Cit Kong tertawa dan turut berbicara.

"Akalmu ini akal memancing kemarahan orang, kau menggunainya dengan caramu yang kurang jujur!"

Oey Yok Su seperti habis akal, ia selipkan seruling kumalanya di leher bajunya.

"Tuan-tuan, silahkan turut aku!"

Ia mengundang.

Maka itu berhentulah pembicaraan mereka.

Auwyang Kongcu ketahui tuan rumah murka, ia melirik kepada pamannya.

Auwyang Hong mengangguk, lalu ia bertindak mengikuti tuan rumah.

Yang lain-lainnya pun turut mengikutinya.

Jalanan berliku-liku, sekeluarnya dari rimba bambu itu, di depannya mereka terlihat sebuah pengempang teratai yang besar, yang bunga teratainya sedang mekar banyak, hingga di situ tersebarlah bau harum semerbak yang halus dari bunga yang indah dan bersih itu.

Daun-daun teratai pun terampas luas dan lebar.

Di tengah-tengah pengempang ada sebuah jalanan yang memotong untuk tiba di lain tepi, hingga dengan begitu pengempang itu menjadi terbelah dua.

Oey Yok Su berjalan di jalanan di tengah pengempang itu, ia memimpinnya orang banyak ke sebuah rumah yang nampak terawat rapi sekali, yang tiang-tiangnya terbuat dari batang-batang atau bongkol pohon cemara yang tak dibuangi babakannya hingga nampak jadi wajar.

Di luar itu pun merambat pohon-pohon rotan yang beroyot.

ketika itu ada di musim panas tetapi berada di dalam rumah itu, semua orang mersakan adem.

Oey Yok Su mempersilahkan lebih jauh keempat tetamunya masuk ke dalam kamar tulis dimana bujangnya yang gagu segera menyuguhkan the, yang airnya berwarna hijau, tetapi setelah dihirup, teh itu dingin bagaikan salju, meresap hingga ke ulu hati.

Ang Cit Kong tertawa, ia berkata.

"Orang bilang, sesudah tiga tahun menjadi pengemis, berpangkat pun dia tak sudi, tetapi, saudara Yok, jikalau aku dapat tinggal tiga tahun di dalam duniamu yang begini adem nyaman, menjadi pengemis pun tak sudilah aku!"

"Saudara Cit,"

Menyahut Oey Yok Su.

"Jikalau benar kau sudi tinggal untuk suatu waktu denganku di sini, supaya kita kakak beradik dapat minum arak dan mengobrol, itulah sungguh hal yang aku memintanya pun tidak dapat."

Ketarik hatinya Ang Cit Kong mendengar suara orang yang sungguh-sungguh itu. Tetapi Auwyang Hong segera berkata;

"Kamu kedua tuan, jikalau kau sampai tidak berkelahi, tak usah sampai dua bulan lamanya, pastilah kau berhasil menciptakan semacam ilmu pedang yang luar biasa gaib!"

"Ha, kau mengiri?"

Tanya Ang Cit Kong tertawa.

"Tapi aku bicara dari hal yang benar!"

Menyahut Auwyang Hong. Kembali Ang Cit Kong tertawa.

"Ini pun kata-katamu yang di hati lain di mulut lain!"

Bilangnya.

Dua orang ini tidak bermusuh besar tetapi mereka saling mendendam, di antaranya Auwyang Hong yang memikir dalam dan licik serta licik.

Ang Cit Kong yang polos dan mulutnya terbuka, kalau Cit Kong tidak memikir sesuatu, See Tok sebaliknya menyimpan maksud, sebelum Ang Cit Kong mampus di tangannya, tak mau ia sudah.

Hanya ia, karena liciknya, wajahnya ia tidak kentarakan sesuatu.

Demikian kali ini, apapun yang Cit Kong bilang, ia mengganda tertawa.

Oey Yok Su sudah menekan pada suatu bagian dari mejanya itu, lalu terlihat di tembok sebelah barat ada sebuah gambar san-sui atau panorama gunung dan air yang bergerak naik sendirinya, setelah mana di situ lalu tertampak sebuah pintu rahasia.

Ia mengulurkan tangannya ke dalam pintu itu, untuk menarik keluar segulung kertas.

Ia mengusap-usap itu beberapa kali, kemudian ia memandang Auwyang Kongcu seraya berkata.

"Inilah peta lengkap dari Tho Hoa To. Di pulau ini ada jalanan rahasia, jalan keder menuruti jurus patkwa, dan semua itu tercatat di dalam peta ini, sekarang kau ambillah ini, untuk kau mempelajarinya dengan seksama."

Mendenagr itu, pemuda itu hilang harapannya.

Yang ia harap adalah dapat tinggal lebih lama di Tho Hoa To, siapa tahu ia hanya diberikan sehelai peta pular.

Ia merasa bahwa ia gagal, tetapi meski demikian, ia menjura untuk menyambuti peta itu.

Oey Yok Su tidak segera menyerahkan petanya itu.

"Tunggu dulu!"

Katanya. Auwyang Kongcu melengak, ia menarik pulang tangannya yang sudah diulur itu.

"Setelah kau mendapatkan peta ini,"

Berkata Oey Yok Su.

"Kau mesti pergi ke Lim-an, dimana kau mesti cari sebuah rumah penginapan atau kelenteng dimana kau dapat tinggal menumpang. Selang tiga bulan, aku nanti perintah orang untuk mengambil pulang. Peta ini cuma diingat dalam hati, aku larang kau membuat salinannya!"

Mendengar itu, di dalam hatinya, si pemuda berkata.

"Kau tidak mengijinkan aku tinggal di pulaumu ini, siapa sudi memperdulikan segala ilmu sesatmu itu? Bagaimana dalam tempo tiga bulan aku dapat menolongi kau menjagai kitabmu itu? Jikalau ada kerusakan atau kehilangan, siapa yang dapat bertanggungjawab. Lebih baik aku tidak mengerjalannya!"

Hampir ia menampik, ketika mendadak sebuah pikiran lain masuk ke dalam otaknya.

"Dia kata hendak memerintah orang datang mengambilnya nantin, tentulah ia bakal mengutus gadisnya ini. Ini pun ada suatu ketika baik untuk berada dekat si nona…."

Maka ia lantas mengubah pula pikirannya, terus ia mengulur pula tangannya, menyambuti peta itu, yang ia masuki ke dalam sakunya.

Auwyang Hong segera mengangkat kedua tangannya, untuk pamitan.

Oey Yok Su tidak menahan lagi, malah ia segera mengantarkannya hingga di muka pintu.

"Saudara Berbisa,"

Berkata Ang Cit Kong.

"Lain tahun di akhir tahun kembali tiba saatnya perundingan ilmu pedang di gunung Hoa San, maka itu baik-baik saja kau memelihara dirimu, supaya nanti kita dapat bertempur secara hebat!"

Auwyang Hong menyahuti dengan tawar. Katanya.

"Menurut aku baiklah kita tidak usah saling berebut lagi! Sekarang ini pun sudah ada ketentuannya siapa yang bakal menjadi orang yang ilmu silatnya paling lihay di kolong langit ini!"

Bab 39. Perahu yang indah "Eh, sudah ada orangnya?"

Menanya Ang Cit Kong heran.

"Mungkinkah kau, saudara Beracun, sudah berhasil menciptakan semacam ilmu silat baru yang tak ada bandingannya lagi?"

Auwyang Hong tersenyum.

"Apa sih kebisaan dan kebijakasaannya Auwyang Hong hingga dapat memperoleh gelaran orang yang ilmu silatnya nomor satu di kolong langit ini?"

Ia berkata.

"Yang aku maksudkan ialah orang yang telah memberi pelajaran kepada Kwee Sieheng ini."

Mendengar itu, Ang Cit Kong tertawa.

"Adakah kau maksudkan aku si pengemis bangkotan? Kalau benar, aku mesti memikir-mikirnya dulu! Kepandaian saudara Yok bertambah sekian hari, kau sendiri, saudara Berbisa, kau juga makin gagah dan panjang umur, sedang Toan Hongya itu aku percaya dia juga tidak akan mensia-siakan kepandaiannya, maka aku rasa, tinggallah aku si pengemis yang terbelakang."

"Tetapi, saudara Cit,"

Berkata Auwyang Hong pula.

"Di antara orang-orang yang pernah memberi pelajaran kepada Kwee Sieheng belum pasti kaulah yang terlihay….."

"Apa?!"

Menegaskan Ang Cit Kong. Ia baru mengucap sepatah itu, atau Oey Yok Su sudah memotong;

"Ah, apakah kau maksudkan Loo Boan Tong Ciu Pek Thong si Bocah Bangkotan yang nakal?"

Pertanyaan ini diajukan kepada Auwyang Hong.

"Benar!"

Menyahut See Tok cepat.

"Karena Loo Boan Tong sudah pandai ilmu Kiu Im Cin-keng, maka kita si Tong Shia, See Tok, Lam Tee dan Pak Kay, kita semua bukan lagi tandingan dia!"

"Hal itu belumlah pasti,"

Berkata Tong Shia.

"Kitab itu mati, ilmu silat itu hidup!"

Senang See Tok mendengar perkataan tuan rumah.

Mulanya ia tidak puas, ialah ketika Tong Shia mencoba menyimpangi pertanyaannya kepada Kwee Ceng tentang di mana adanya Ciu Pek Thong.

Sekarang muncullah pula soalnya Ciu Pek Thong itu.

Karena ia pandai bersandiwara, ia tidak menyatakan sesuatu pada wajahnya, bahkan sengaja dengan tawar ia kata;

"Ilmu silat Coan Cin Pay lihay sekali, kita semua pernah belajar kenal dengannya, maka kalau Loo oan Tong ditambah dengan Kiu Im Cin-keng, umpama kata Ong Tiong Yang hidup pula, belum tentu ia sanggup menandingi adik seperguruannya ini, jangan kata pula kita si segala tua bangka!"

"Mungkin Loo Boan Tong lihay melebihkan aku tetapi tidak nanti melebihkan kau, saudara Hong,"

Berkata Oey Yok Su. Ia tidak mau menyebutnya "Saudara Beracun"

Seperti Ang Cit Kkong.

"Inilah aku tahu pasti."

"Jangan kau merendah, saudara Yok,"

Berkata See Tok.

"Kita berdua adalah setengah kati sama dengan delapan tail. Kalau kau membilang seperti katamu barusan, maka teranglah ilmu silatnya Ciu Pek Thong tak dapat melampaui kau! Ini, aku khawatir….."

Ia lantas berhenti, kepalanya digelengka berulang-ulang. Oey Yok Su bersenyum.

"Lihat saja di Hoa San lain tahun!"

Katanya.

"Di sana saudara Hong akan mengetahuinya sendiri!"

Auwyang Hong mengawasi, ia mengasih lihat roman sungguh-sungguh.

"Saudara Yok, ilmu silatmu telah lama aku mengaguminya,"

Katanya.

"Akan tetapi jikalau kau bilang kau dapat mengalahkan Ciu Pek Thong, sungguh aku sangsi. Jangan kau memandang enteng kepada si tua bangka berandalan itu…"

Biar bagaimana, Oey Yok Su kena dipancing panas hatinya oleh See Tok.

"Kau tahu, Loo Boan Tong berada di pulau Tho Hoa To ini!"

Katanya nyaring.

"Sudah lima belas tahun lamanya aku mengurung dia!"

Mendengar itu, dua-dua Auwyang Hong dan Ang Cit Kong terperanjat. Hanya si Bisa dari Barat sudah lantas tertawa bergelak.

"Saudara Yok gemar sekali bergurau,"

Katanya.

"Mari!"

Berkata Oey Yok Su yang tidak sudi berbicara lebih banyak lagi, tangannya pun menunjuk, bahkan dia berjalan di depan, dengan tindakan yang cepat, hingga bagaikan terbang dia jalan molos di rimba bambu.

Ang Cit Kong mengikuti, sebelah tangannya menuntun Kwee ceng, sebelah yang lain Oey Yong.

Auwyang Hong pun menarik tangan keponakannya.

Semua mereka menggunai ilmu mereka meringankan tubuh.

Hanya sebentar, mereka sudah sampai di muka gua di mana Ciu Pek Thong dikurung, hanya setibanya dis itu, Oey Yok Su menperdengarkan suara kaget.

ia telah mendapat lihat rusaknya kawat-kawat kurungan di muka gua.

Dengan satu enjotannya ia lompat, ke muka gua sekali, yang segalanya sunyi dan tak nampak sekalipun bayangannya si bocah bangkotan yang lucu itu.

Dengan kaki kirinya, Tong Shia menginjak tanah, atau tiba-tiba ia terperanjat.

Ia merasakan kakinya itu seperti menginjak barang lembek dan tanah kosong.

Tapi ia telah sempurna ilmunya enteng tubuh, maka lekas menyusullah kaki kanannya, hingga ia dapat berlompat, masuk ke dalam gua.

Sekarang ia melihat dengan tegas kosongnya gua itu.

Tapi yang hebat adalah kakinya kembali menginjak tanah lembek dan kosong seperti tadi.

Tentu sekali, tidak dapat ia menaruh kakinya.

Maka ia lantas mengasih keluar serulingnya, menggunai itu untuk menekan dan menolak tembok gua, dengan begitu tubuhnya pun melesat keluar.

Ang Cit Kong dan Auwyang Hong bersorak memuji menyaksikan indahnya tubuh yang ringan dari si Sesat dari Timur ini.

Tapi ketika Oey Yok Su menaruh kakinya di luar gua, kakinya itu memperdengarkan satu suara, sebab kaki itu melesak masuk ke dalam sebuah liang.

Kaget Tong Shia.

Ia merasakan kakinya basah atau demak.

Kembali ia mencelat naik.

Diwaktu itu ia melihat Cit Kong dan Auwyang Hong beramai telah tiba di muka mulut gua di mana mereka itu menginjak tanah tanpa kurang suatu apa, karena itu ia lantas turun di samping putrinya.

Hampir di itu waktu, ia mendapat cium bau busuk.

Ia menunduk untuk melihat.

Untuk mendongkolnya, ia mendapatkan kedua kakinya penuh dengan kotoran manusia.

Semua orang menjadi heran, kenapa Oey Yok Su kena orang akali.

Dalam murkanya Oey Yok Su menyambar sebatang cabang pohon, dengan itu ia menyerang tanah ke barat dan ke timur, akan mencari tahu tanah kosong semua atau tidak.

Habisnya kecuali tiga tempat yang ia injak tadi, lainnya tanah berisi dan keras.

Maka tahulah ia sekarang, ketika Ciu pek Thong meloloskan diri, dia sudah menginjak tanah dengan hebat, membuat tiga liang itu, habis mana, semua ketiga liang dipakai jongkok untuk membuang kotoran dari dalam perutnya….

Dengan penasaran, Oey Yok Su bertindak masuk pula ke dalam gua.

Tidak ada barang lainnya di situ kecuali beberapa botol dan mangkok.

Hanya di tembok terlihat huruf-huruf yang samar-samar.

Auwyang Hong tertawa di dalam hati menyaksikan Tong Shia "terjebak"

Itu, tetapi sekarang, melihat orang memperhatikan tembok, ia heran, maka ia bertindak mendekati hingga dekat sekali. Di tembok gua itu tertampak ukiran huruf-huruf yang berbunyi.

"Oey Lao Shia! Kau telah menghajar patah kedua kakiku, kau sudah mengurung aku limabelas tahun di dalam gua ini, sebenarnya aku pun mesti menghajar patah juga kedua kakimu, baru aku puas, tetapi kemudian, setelah aku memikir masak-masak, sukalah aku memberi ampun padamu, dan urusan kita boleh disudahi saja. Hanya dengan ini aku menyuguhkan kau tumpukan-tumpukan besar dari kotoran serta beberapa botol air kencing. Silahkan kau memakainya. Silahkan….!"

Di bawah itu ada diletaki daun, hingga empat huruf ukiran itu menjadi ketutupan.

Oey Yok Su ingin tahu, ia pegang daun itu, untuk diangkat.

Dibawah daun itu ada sehelai benang, karena daun diangkat, benang itu kena terpegang dan ketarik.

Mendadak saja terdengar suara di atasan kepala mereka.

Oey Yok Su sadar, segera ia berlompat menyingkir ke kiri.

Auwyang Hong, si licik sudah lantas turut melompat, ke kanan.

Hanya berbareng dengan itu, terdengarlah suara nyaring di atasan kepala mereka, dari sana jatuh beberapa botol yang mengeluarkan air, maka juga mereka lantas kena tersiram, hingga kepala mereka basah dan bau air kencing.

Menyaksikan itu Ang Cit Kong tertawa berkakakan.

"Sungguh harum! Sungguh harum!"

Katanya.

Oey Yok Su murka dan mendongkol sekali sehingga ia tidak dapat tidak mememtang mulutnya untuk mencaci.

See Tok juga sangat mendongkol tetapi ia pandai bersandiwara, ia tidak mengutarakan kemurkaannya pada parasnya, sebaliknya ia tertawa, seperti juga ia pandang itulah lelucon.

Oey Yong sudah lantas lari pulang, untuk mengambil pakaian untuk ayahnya menukar pakaiannya yang basah dan bau itu.

Ia pun membawa sepotong baju lain, baju ayahnya juga, yang mana ia serahkan pada Auwyang Hong.

Selesai dandan, kembali Oey Yok Su masuk ke dalam gua.

Ia memeriksa dengan teliti.

Sekarang tidak ada laigi lain jebakan.

Ia periksa pula huruf-huruf tadi, di bagian yang ditutupi daun, di situ ia melihat dua baris huruf-huruf yang halus, bunyinya.

Daun ini jangan sekali-kali diangkat atau ditarik, sebab di atas ini ada air kencing yang bau yang dapat mengalir turun.

Hati-hatilah, hati-hati, jangan menganggap bahwa kau telah tidak diberi ingat terlebih dulu!"

Oey Yok Su mendongkol berbareng geli di hati.

Sebab ia telah menjadi korban dari keteledorannya sendiri.

Tapi sekarang ini ia ingat suatu apa, ia seperti baru sadar.

Ia ingat, diwaktu ia kena kesiram, ia merasakan air kencing itu masih rada hangat.

Itu artinya orang pergi belum lama.

Maka ia lantas lari keluar seraya berkata.

"Loo Boan Tong pergi belum jauh, mari kita susul padanya!"

Kwee Ceng terkejut.

Ia ketahui dengan baik, apabila mereka bertemu, pasti mereka bertempur.

Hendak ia mencegah mertuanya.

Tapi sudah kasep, Oey Yok Su sudah kabur ke timur.

Orang semua tahu jalanan di pulau ini luar biasa, mereka menyusul dengan lari sekeras-kerasnya.

Kalau mereka ketinggalan jauh, mereka bisa mendapat susah.

Mereka berlari-lari tidak lama atau mereka tampak Ciu Pek Thong di sebelah depan mereka, jalannya perlahan-lahan.

Oey Yok Su menjejak tanah, tubuhnya lantas mencelat pesat dan jauh.

Maka di lain saat ia sudah tiba di belakangnya orang kurungannya itu, sebelah tangannya dipakai untuk menyambar ke arah leher.

Ciu Pek Thong rupanya ketahui datangnya serangan, ia berkelit ke kiri seraya membalik tubuhnya, sembari memandang penyerangnya itu dan berkata.

"Oh Oey Lao Shia yang harum semerbak!"

Sambarannya Oey Yok Su ini adalah sambaran yang ia telah latih selama beberapa puluh tahun, sebatnya luar biasa, akan tetapi Ciu Pek Thong dapat mengegosnya secara demikian sederhana, hatinya menjadi terkesiap.

Ia tidak menyerang terlebih jauh, hanya ia mengawasi orang.

Ia lantas menjadi heran.

Ternyata kedua tangannya Ciu pek Thong terikat di depan dadanya, akan tetapi muka orang tersungging senyuman, sikapnya menyatakan orang bergembira sekali, saking puasnya hati.

Kwee Ceng sudah lantas maju setindak.

"Toako!"

Ia memanggil.

"Sekarang ini tocu telah menjadi mertuaku, maka kita pun menjadi orang sendiri!"

Pek Thong menghela napas.

"Ah, mengapakah kau tidak dengar kataku?"

Katanya menyesal.

"Oey Loa Shia ini sangat licik dan aneh, maka itu bisakah anak perempuannya satu anak yang boleh dibuat sahabat olehmu? Nanti, seumur hidupmu, akan kau merasakan kepahitan…."

Oey Yong maju mendekati, ia tertawa.

"Ciu Toako, lihat itu di belakangmu, siapa yang datang?"

Ia berkata.

Pek Thong segera menoleh, ia tidak melihat siapa juga.

Justru itu tangannya si nona melayang, menimpuk dengan baju bau dari ayahnya yang ia telah gumpal, mengarah punggung orang.

Loo Boan Tong benar-benar lihay.

Ia mendengar suara angin, segera ia berkelit.

Maka bungkusan itu jatuh ke tanah.

Melihat itu Pek Thong tertawa berlenggak-lenggak.

"Oey Lao Shia,"

Ia berkata.

"Sudah kau kurung aku lamanya limabelas tahun, sudah kau siksa aku limabelas tahun juga, tetapi aku cuma membikin kau menginjak kotoran dua kali dan membajur kepalamu satu kali, kalau sekarang kita menyudahinya, apakah itu tidak pantas?"

Oey Yok Su tidak menjawab, ia hanya menanya;

"Kau telah merusak kawat-kawat kurunganmu, kenapa sekarang kau mengikat kedua tanganmu?"

Inilah hal yang membikin ia tidak mengerti. Pek Thong tertawa pula.

"Dalam hal ini aku mempunyai alasanku sendiri,"

Sahutnya singkat.

Ketika Ciu pek Thong baru-baru dikurung di dalam gua, beberapa kali hendak ia menerjang keluar untuk mengadu jiwa dengan Oey Yok Su, ia seperti sudah tidak dapat menahan sabar, hanya kemudian, ia mendapat satu pikiran baru.

Ia pun sangsi akan dapat mengalahkan tocu dari Tho Hoa To itu.

Lantas ia mencari kawat dengan apa ia membuat pagar di depan guanya, untuk dengan itu mengurung dirinya sendiri, kawat itu rapat seperti sarang laba-laba.

Ia pun mengendalikan dirinya supaya ia jangan menuruti saja hatinya yang panas.

Ia anggap beradat berangasan dapat merugikan diri sendiri.

Sampai itu hari ia bertemu dengan Kwee Ceng dena mendengar perkataannya ini anak muda, yang ia angkat jadi saudaranya, ia mendapat ilham.

Maka ia lantas menciptkan ilmu silatnya itu berkelahi seorang diri, kemudian bersama Kwee Ceng, ia bertempur dengan menggunai empat tangan mereka tetapi mereka memecah hati, hingga mereka jadi seperti empat orang… Maka juga sekarang, walaupun Oey Yok Su sangat lihay, tidak dapat ia melawan Pek Thong, yang bertubuh satu tetapi seperti terdiri dari dua Pek Thong.

Setelah itu, Pek Thong memikirkan daya untuk membalas sakit hati pada Oey Lao Shia, yang sudah menyiksa padanya.

Seperginya Kwee Ceng, ia duduk bersila di dalam guanya itu, dengan berdiam diri secara begitu, ia lantas teringat pada pengalamannya puluhan tahun, pengalaman senang dan susah, budi dan permusuhan, cinta dan benci.

Ia tengah melayangkan pikirannya itu tatkala mendengar suara seruling serta suara ceng dicampur sama siulan panjang.

Mendadak semangatnya menjadi terbangun hampir tak dapat ia menguasai diri.

Ia menjadi murang-maring.

Tapi pun ia lantas ingat pula sesuatu.

"Adik angkatku itu kalah ilmunya dengan aku tetapi kenapa ia tidak dapat etrgoda bujukannya seruling Oey Lao Shia?"

Demikian ia berpikir. Tadinya ia belum mengetahuinya sifatnya Kwee Ceng, setelah pergaulannya sekian lama, ia bagaikan sadar.

"Ya,ya!"

Mengertilah ia.

"Dia sangat jujur dan polos, dia tidak punya pikiran sesat, tetapi aku, yang sudah berusia tinggi, masih aku berkutat memikir daya upaya untuk membalas dendaman! Kenapa aku menjadi begini cupat pikiran? Sungguh lucu!"

Pek Thong bukan penganut Coan Cin Kauw tetapi ia toh mengenal baik tujuan partai itu, yang bersikap tenang dan "tak berbuat sesuatu" (bu-wi), maka itu ia gampang sadar, pikirannya gampang terbuka.

Begitulah sambil tertawa lama, ia berbangkit bangun.

Ia melihat cuaca terang, mega putih memain di atas langit, dengan begitu hatinya pun menjadi terabg.

Hanya sekejap itu, hilang ingatannya yang Oey Lao Shia sudah menyiksa ia selama limabelas tahun, ia pandang itu urusan tetek bengek.

Tetapi dasar ia berandalan dan jenaka, ia toh berpikir.

"Kali ini aku pergi, tidak nanti aku datang pula ke pulau Tho Hoa To ini, jikalau aku tidak meninggalkan sesuatu untuk Oey Lao Shia, si tua bnagka sesat itu, cara bagaimana nanti dia dapat mengingat hari kemudiannya?"

Segera setelah itu ia mendapat pikiran untuk mempermainkan pemilik Tho Hoa To itu.

Dengan gembira ia membuat liang, ia menyetor kotoran perutnya di situ.

Ia pun mengisikan beberapa botol dengan air kencingnya, yang ia gantung dengan sehelai benang, ia membuat pesawat rahasianya.

Dengan mengungkit batu, ia meninggalkan surat peringatan itu.

Habis itu baru ia pergi keluar dari gua.

Baru jalan beberapa tindak, kembali ia ingat apa-apa.

"Jalanan di Tho Hoa To ini sangat aneh,"

Demikian pikirannya.

"Kalau nanti Oey Lao Shia ketahui siang-siang buronku, dia dapat menyusul aku. Haha, Oey Lao Shia, jikalau kau hendak berkelahi, tidak nanti kau sanggup melawan aku…. Gembira orang tua ini, mendadak ia mengibas tangannya ke arah sebuah pohon kecil di sampingnya, lalu terdengar suara ambruk keras, ialah suara robohnya pohon itu yang terpapas kutung. Ia menjadi kaget sendirinya.

"Ah, bagaimana aku maju begini pesat?"

Ia tanya dirinya sendiri.

Ia menjadi berdiam.

Tidak lama, ia menyerang pula pohon di sampingnya, sampai beberapa pohon dan semua itu tertebas kutung, tanpa ia menggunai senjata tajam.

Ia heran bukan main, hingga ia berseru.

"Bukankah ini ilmu Kiu Im Cin-keng? Kapannkah aku melatihnya?"

Pek Thong menaati pesan Ong Tiong Yang, kakak seperguruannya itu, ia tidak berani mempelajari bunyinya kitab Kiu Im Cin-keng, akan tetapi untuk mengajari Kwee Ceng, tanpa merasa ia seperti berlatih sendirinya.

Diluar dugaannya ia telah berhasil.

Saking kaget, ia berteriak-teriak seorang diri.

"Celaka! Celaka! Ini dia yang dibilang setan masuk ke dalam tubuh, yang tak dapat di usir lagi!"

Maka ia lantas mengambil beberapa lembar babakan pohon yang ulet, ia membuatnya itu menjadi tambang, lalu dengan bantuan mulutnya, ia mengikat sendiri kedua tangannya. Di dalam hatinya ia berjanji.

"Semenjak ini hari, jikalau aku tidak dapat melupakan bunyinya kitab itu, seumurku tidak akan aku berkelahi sama siapa juga! Biarnya Oey Lao Shia dapat menyandak aku, aku tidak bakal membalas, supaya aku tidak melanggar pesan suheng…!"

Sudah tentu Oey Yok Su tidak ketahui janjinya Pek Thong kepada dirinya sendiri itu, ia menyangka si tua bangka jenaka ini lagi bergurau. Maka itu ia berkata, memperkenalkan.

"Loo Boan Tong! Inilah saudara Auwyang, yang kau telah kenal….dan ini…."

Belum lagi habis Oey Lao Shia berbicara, Ciu Pek Thong sudah jalan mengitari mereka, ia mencium pada tubuh setiap orang, kemudian ia berkata sambil tertawa.

"Inilah tentunya si pengemis tua Ang Cit Kong, inilah aku dapat menerkanya! Sungguh Thian maha adil, maka juga air kencing cuma membajur Tong Shia serta See Tok berdua saja! Saudara Auwyang, tahun dulu itu pernah kau menghajar aku dengan tanganmu, sekarang aku membalasnya dengan banjuran air kencingku, dengan begitu impaslah kita, tidak ada salah satu yang rugi!"

Auwyang Hong tersenyum, ia tidak menjawab, hanya ia berbisik kepada Oey Yok Su.

"Saudara Yok, orang ini sangat lincah, terang sudah kepandaiannya berada di atasan kita, maka itu lebih baik kita jangan ganggu dia."

Oey Yok Su tapinya berpikir;

"Kita sudah tidak bertemu lamanya duapuluh tahun, mana kau ketahui kemajuanku tidak dapat melayani dia?"

Maka terus ia berkata kepada Ciu Pek Thong.

"Pek Thong, telah aku bilang padamu, asal kau mengajari aku Kiu Im Cin-keng, habis aku menyembahyangi istriku almarhum, akan aku merdekakan kau. Sekarang kau hendak pergi ke mana?"

"Sudah bosan aku berdiam di pulau ini, hendak aku pergi pesiar,"

Menyahut Pek Thong. Oey Yok Su mengulurkan tangannya.

"Mana kitab itu?"

Dia minta.

"Toh sudah dari siang-siang aku memberikannya pada kau,"

Sahut Pek Thong.

"Kau ngaco belo! Kapan kau memberikannya?"

Pek Thong tertawa.

"Kwee Ceng khan baba mantumu, bukan?"

Dia balik menanya.

"Apa yang menjadi kepunyaannya, bukankah menjadi kepunyaanmu juga? Aku telah ajari dia Kiu Im Cin-keng dari kepala sampai buntut, apa itu bukan sama saja seperti aku mengajari sendiri?"

Kwee Ceng terkejut.

"Toako!"

Tanyanya.

"Benarkah itu Kiu Im Cin-keng?"

Ciu Pek Thong tertawa berkakakan.

"Mustahilkah yang palsu?"

Ia membaliki. Oey Yok Su tetap heran.

"Kitab bagian atas memang ada pada kau,"

Ia berkata.

"Habis darimana kau dapatinya yang bagian bawah?"

Lagi-lagi Pek Thong tertawa.

"Bukankah itu telah diberikan kepadaku oleh tangannya baba mantumu sendiri?"

Ia menanya pula. Panas hatinya Tong Shia, ia lantas berpaling kepada Kwee Ceng, matanya tajam. Ia telah kata dalam hatinya.

"Kwee Ceng bocah cilik, kau telah mempermainkan aku! Bukankah Bwee Tiauw Hong, si buta sampai sekarang masih berkutat mencari kitab itu?"

Tapi lekas ia menoleh pula pada Pek Thong seraya berkata.

"Aku menghendaki kitab yang tulen!"

Pek Thong tidak menyahuti, ia hanya menghadapi Kwee Ceng.

"Saudara, coba kau keluarkan kitab di dalam sakuku ini,"

Ia berkata kepada adik angkatnya itu. Kwee Ceng menuruti, ia merogoh ke sakunya kakak angkat itu. Ia mengeluarkan se

Jilid buku tebal kira-kira setengah dim. Pek Thong mengulur tangannya menyambuti kitab itu. Sekarang ia berpaling kepada Oey Yok Su.

"Inilah kitab Kiu Im Cin-keng yang tulen bagian atas,"

Ia berkata.

"Kitab bagian bawahnya pun terselip di dalam ini. Jikalau kau ada mempunyai kepandaian, nah kau ambillah!"

"Kepandaian apa aku harus gunai?"

Tanya Oey Yok Su. Pek Thong menjepit buku dengan kedua tangannya, lalu ia memiringkan kepalanya.

"Nanti aku pikir dulu!"

Sahutnya. Ia terus berdiam sekian lama. Kemudian ia tertawa dan berkata.

Baca Juga: Si Rajawali Sakti 6

Baca Juga: Pedang Kiri Pedang Kanan 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert