Ceritasilat Novel Online

Rahasia Hiolo Kumala 10

Eps 10 Rahasia Hiolo Kumala - Gu Long

Baca online Rahasia Hiolo Kumala - Gu Long

Cersil Rahasia Hiolo Kumala - Gu Long.

"Budak ingusan itu baru muncul sejak sepuluh hari berselang, siapapun tidak tahu asal usulnya...."

"Aaah.... ngaco belo, omongan yang ngawur!"

Tukas Leng hou Yu tiba-tiba dengan suara dingin.

Toan bok See liang sebetulnya sudah mendendam kepada dua orang itu lantaran mereka cuma berpeluk tangan belaka menyaksikan jiwanya terancam ditangan orang, tapi lantaran ia menyadari bahwa tenaga dalamnya masih kalah setingkat jika dibandingkan mereka, maka perasaan mendendamnya itu hanya disimpan dalam hati.

Namun, setelah mendengar perkataan yang terakhir ini, rasa bencinya makin menjadi, segera pikirnya dihati.

"Setan tua Leng hou, tak usah berlahak sok! Lihat sana nanti, sampai kapan gaya tengikmu itu bisa berlangsung! Asal keluarga Hoa telah disisihkan Hmm! Jangan harap pihak Seng Sut pay bisa bercokol terus dalam dunia!"

Dalam pada itu Leng hou Ki telah bertanya lagi.

"Siapakah yang bersembunyi di dalam gua?"

"Hmmm.... hmmm....tentang soal ini lebih baik tanyakan saja secara langsung kepada budak itu"

Jawab Toan bok See liang sambil tertawa kering. Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya ia kembali berpikir.

"Jika ditinjau dari cara dayang itu menjaga gua tersebut secara mati-matian, kebanyakan orang yang berada dalam gua itu adalah Hoa yang si bocah keparat itu, siapa tahu kalau racuu ular kejinya sudah kambuh dan kini sedang berbaring didalam gua sambil menantikan saat ajalnya tiba.... hmm, akan kucoba untuk menakut-nakuti setan tua Leng hou itu...."

Tiba-tiba ia berkata kembali.

"Siapa tahu kalau didalam gua itu adalah seorang cianpwe dari dayang tersebut yang sedang melatih ilmu? Heeehhh.... heeebhh.... heeehh....sekalipun kalian berdua memiliki ilmu silat yang sangat tinggi, belum tentu kehebatan orang itu sanggup kalian hadapi"

Coa Wi-wi tidak tahu kalau orang itu hanya ngaco belo belaka, berdebar jantungnya setelah mendengar ucapan itu.

"Masa Toan bok See liang sudah tahu akan rahasia tersebut?"

Pikirnya.

Dua bersaudara Leng hou adalah gembong-gembong iblis yang sangat berpengalaman, pikiran mau pun perasaan mereka tajam sekali, cukup hanya sekilas pandangan saja mereka sudah tahu kalau ucapan dari Toan bok See liang itu bukan benar-benar muncul dari hati sanubari yang jujur.

Dengan suara yang menyeramkan Leng hou Yu segera berseru.

"Hmmm! Kendatipun Hoa Thianhong yang berada di dalam gua itu, tak mungkin kami dua bersaudara akan merasa jeri!"

Buru-buru Leng-hou Ki menengok kedalam gua, tapi sayang meskipun gua itu cetek namun tertutup oleh tumbuhan bambu yang lebat.

To koh berjubah abu-abu itu juga menghadang dimulut gua, kendatipun tenaga dalamnya cukup sempurna, pemandangan dalam itu tidak berhasil juga dilihat jelas.

Karena itu, setelah merenung sebentar, serunya ke arah gua dengan disertai tenaga dalam penuh.

"Hei, jago lihay dari manakah yang berada didalam gua...."

Sebenarnya Coa Wi-wi telah memutuskan untuk sebiasanya mengulur waktu, selama dua bersaudara Leng hou tidak turun tangan lebih dulu, maka diapun akan menanti tanpa reaksi.

Akan tetapi, setelah Leng hou Ki berteriak-teriak dengan pengerahan tenaga dalam yang sempurna, ini mengakibatkan suaranya begitu nyaring seperti suara genta yang memekikkan telinga, gadis itu mulai kuatir bila teriakan tadi mengganggu konsentrasi Hoa In-liong.

Dengan cepat diputuskan untuk bertindak lebih dahulu membereskan musuh musuhnya, maka ia menukas dengan ketus.

"Berkaok kaok seperti setaa kelaparan.... hmm, bangsat! Lebih baik tutup saja bacotmu, di dalam gua tak ada orangnya!"

Setelah babatan kilat dilontarkan untuk membabat pinggang Leng-hou Ki.... Leng hou Ki tertawa seram.

"Heeh.... hheehh.... heehh....budak ingusan, kau terlampau takabur!"

Sejak dipaksa berada diposisi bawah angin oleh gadis itu, dia sudah mulai tak puas dengan musuhnya, sebab itu dengan menggunakan jurus Hou ing jut kun (Burung belibis muncul bergerombol) dia melancarkan serangan balasan.

Sebagaimana dihari-hari biasa, dua bersaudara Leng hou selalu turun tangan bersama-sama, begitu Leng hou ki turun tangan, otomatis Leng hou Yu ikut mengerubuti pula.

Baru pertama kali ini Coa Wi-wi menghadapi musuh dengan tenaga dalam sesempurna ini, begitu musuh turun tangan bersama, gadis itu mulai merasakan tekanan yang kian lama bertambah berat.

"Hebat amat kedua orang itu"

Pikirnya dihati.

"radahal Hu yan kiong setingkat dengan mereka berdua, kenapa tenaga dalam yang dimiliki orang itu begitu tak becus?"

Dua bersaudara Leng hou juga tak kalah kagetnya menghadapi musuh yang masih muda belia itu, soal jurus serangan jelas memang tangguh dan luar biasa, yang lebih hebat lagi adalah pancaran tenaga pukulan yang dihasilkan dari sambaran telapak tangannya itu.

Demikian tinggi dan sempurnanya tenaga dalam gadis itu membuat mereka sukar untuk mempercayainya.

"Hebat betul gadis ini"

Demikian pikirnya.

"jangan-jangan dia pernah makan Leng ci atau sebangsanya, kalau tidak, masa tenaga dalamnya selihay itu?"

Pertarungan berlangsung makin seru, ditengah hembusan angin pukulan yang menderu-deru, sekejap mata ratusan jurus sudah lewat tanpa terasa.

Sejak pertama pertarungan itu masih berlangsung agak sungkan-sungkan, masing-masing pihak masih menjajaki kekuatan yang dimiliki lawannya tapi lama-kelamaan, setelah hawa amarah dan napsu ingin menang semakin berkobar dihari mereka, pertarungan itu meningkat ke suatu pertarungan yang betul-betul mengerikan.

Hampir segenap kekuatan yang mereka miliki dikerahkan keluar untuk saling menjatuhkan, angin taupan menderu-deru membuat pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa, keadaan amat mengerikan.

Makin lama To koh berjubah abu-abu itu mengikuti jalannya pertarungan, semangatnya makin merosot pula, pikirnya;

"Bukan saja gadis ini memiliki kecantikan bak bidadari dari kahyangan, tenaga dalamnya juga teramat sempurna, yaaa.... sungguh.... anak Giok sudah pasti tak punya harapan!"

Baru saja menghela napas sedih, tiba-tiba dari kaki bukit nun jauh disana tampak munculnya belasan sosok boyangan manusia, hatinya tercekat, dia tahu bala bantuan dari Hian-beng-kauw telah berdatangan.

Gerak tubuh belasan sosok bayangan manusia itu amat cepat seperti hembusan angin, dalam waktu singkat mereka sudah berada didalam gelanggang.

Sebagai pimpinan rombongan adalah seorang kakek bermata kecil berjenggot panjang, dia bukan lain adalah Beng Wi-cian, Thamcu ruang Thian ki dalam perkumpulan Hian-beng-kauw, dibeiakangnya adalah empat orang Ciu Hoa yang mengenakan pakaian berwarna hijau pupus, sedang dipaling akhir adalah delapan orang kakek berbaju hitam.

Begitu tiba digelanggang, perhatian Beng Wi-cian segera terhisap oleh jalannya pertarungan antara Coa Wi-wi melawan dua bersaudara Leng hou.

Hembusan angin pukulan menderu-deru, pasir debu beterbangan, ibaratnya gelombang dahsyat ditengah samudra yang mengocok air laut, suasana pada waktu itu sangat mengerikan.

"Saudara Beng!"

Tiba-tiba Toan bok See liang menyapa.

Beng Wi-cian berpaling, melihat noda darah membasahi ujung bibirnya, lengan kiri terkulai lemah dan senjata Tiam hiat pit nya tinggal sebatang hnigga keadaannya tampak mengenaskan, dengan kaget dia lantas memburu ke depan.

"Saudara Toan bok, kenapa kau...."

Serunya.

Tapi perkataan itu segera terhenti sampai ditengah jalan, ia melirik sekejap ke arah Coa Wi-wi dan segera dipahami apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi.

Toan bok See liang tertawa getir, menanti Beng Wi-cian dan rombongan teLih menghampirinya, ia baru bertanya dengan suara lirih.

"Bukankah kaucu sudah datang? Sekarang dia ada dimana?"

"Suhu sedang mempersiapkan pembukaan upacara peresmian esok pagi"

Jawab Ciu Hoa lotoa dengan cepat.

"sekarang ia berada di markas besar!"

"Apa yang menyebabkan timbulnya pertarungan ini?"

Tanya Beng Wi-cian pula dengan dahi berkerut. Toan bok See liang memandang sekejap To koh berbaju abu-abu yang berada belasan kaki dimulut gua itu, lalu sahutnya.

"Ketika aku lewat disini, kebetulan kusaksikan dayang cilik itu sedang bertarung melawan Siok bi...."

Sejak muncul disitu, oleh karena ditengah gelanggang sedang berlangsung pertarungan yang seru, dan lagi To koh berjubah abu-abu itu berdiri membelakangi sinar rembulan tanpa bergerak ataupun berbicara, maka Beng Wi-cian tidak menaruh perhatian kepadanya, tapi kini mengikuti sinar mata Toan bok See liang ia berpaling ke mulut gua dan baru tahu kalau disitu berdiri seseorang.

Sambil berseru tertahan, serunya dengan nada tercengang.

"Oooh....jadi dia pun sudah masuk ke daratan Tionggoan?"

"Perselisihan sudah terbuka!"

Kata Toan bok See liang sambil menggigit bibir, bila berjumpa lagi di kemudian hari, kita bunuh bangsat itu dengan cara apapun"

"Aku kuatir kurang begitu baik kata Beng Wi-cian dengan alis mata berkernyat, dia...."

Tiba-tiba To koh berjubah abu-abu itu berkata.

"Wahai Beng Wi-cian, apa yang sedang kau kasak-kusukkan dengan Toan bok si setan tua itu?"

Meskipun tenaga dalam yang dimilikinya cukup sempurna, namun lantaran deruan angin pukulan memekikkan telinga ditengah gelanggang, maka apa yang mereka bicarakan tak dapat terdengar de ngan jelas.

Beng Wi-cian tertawa terbahak-bahak, dari tempat kejauhan ia menjura dan memberi hormat, katanya.

"Sudah puluhan tahun lamanya kita tak pernah bersua, sungguh tak nyana kecantikan Go hujin masih juga seperti sedia kala...."

Dengan alis mata berkernyit To koh berjubah abu-abu itu segera menukas dengan dingin.

"Sudah lama pinto menjauhkan diri dari keramaian keduniawian, panggilan tersebut lebih baik cepat-cepatlah kau tarik kembali"

Setelah berhenti sejenak, dengan sedikit mencemooh ia berkata lebih lanjut!"

"Kini engkau sudah mendapat kedudukan yang sangat tinggi, apalagi sebagai seorang Thamcu dari suatu perkumpulan besar, aku jadi kagum sekali sebab ternyata engkau masih belum melupakan diriku"

Paras muka Beng Wi-cian berubah hebat cuma sebagai seorang manusia yang berakal panjang dan matang dalam pengalaman, ia dapat meuguasahi diri dengan cepat.

Hanya sebentar saja paras mukanya sudah putih kembali seperti sediakala, kepada Toan bok See liang ujarnya.

"Aku lihat Thia Siok bi berjaga-jaga dimulut gua, apakah dibalik gua itu ada hal-hal yang tidak beres?"

"Aku sendiri kurang begitu tahu"

Jawab Toan bok See liang. Tapi setelah berpikir sebentar, katanya pula.

"Mungkin Hoa Yang si bocah keparat yang berada didalam gua tersebut!"

Begitu menyinggung soal Hoa In-liong serentak, kawan Ciau Hoa jadi naik darah. Dengan perasaan penuh dendam Ciu Hoa long berkata.

"Keponakan minta diberi perintah untuk memeriksa isi gua tersebut!"

"Jangan!"

Toan bok See liang gelengkan kepalanya berulang kali."

Tenaga dalam yang dimiliki Thia Siok bi sangat tinggi, engkau masih ketinggalan jauh bila dibandingkan dirinya. Beng Wi-cian menyapu sekejap sekeliling gelanggang, kemudian bisiknya lirih.

"Aku rasa lebih baik biarkan dua bersaudara Leng hou bertarung lebih dulu dengan budak tersebut, tentu saja lebih baik lagi kalau kedua duanya terluka parah"

Sekalipun tiga perkumpulan berkaok-kaok menyatakan telah membentuk perserikatan, padahal mereka tak ada yang sudi tolong menolong apalagi bantu membantu, otomatis perserikatan hanya berlangsung di bibir belaka tanpa adanya suatu kenyataan.

Tiba-tiba Leng hou Ki yang sedang bertarung berteriak keras.

"Wahai budak ingusan, apakah Coa Goan hou adalah bapakmu?"

Rupanya dua bersaudara Leng hou merasa kehilangan muka setelah sekian lamanya bertarung tanpa berhasil menundukkan Coa Wi-wi, padahal berada didepan mata sekian banyak jago-jago Hian-beng-kauw.

Untunglah mereka memang cerdik dan banyak tipu muslihatnya, setelah berpikir sebentar segera ditemukan suatu cara yang baik untuk mengatasi keadaan itu.

Betul juga, Coa Wi-wi segera merasakan hatinya bergetar keras, pikirnya keheranan.

"Sungguh mencengangkan, darimana mereka bisa tahu akan hal ini?"

Sementara itu, dua bersaudara Leng hou telah mengeluarkan ilmu pukulan Le sim toh si ciang hoat untuk mengimbangi permainan Yu sin ci lek suatu ilmu jari yang telah dipergunakan lebih dahulu.

Seenteng burung walet, Coa Wi-wi berkelebat kesana kemari menghindarkan diri dari totokan jari Leng hou Yu, kemudian sebuah pukulan dilepaskan ke arah Leng hou Ki seraya bentaknya.

"Kamu tak usah banyak bicara!"

Leng hou Yu menyusul maju ke muka, sambil melepaskan juga sebuah pukulan dahsyat ke punggung Coa Wi-wi, serunya lantang.

"Kalau benar, masih banyak persoalan yang perlu dibicarakan, kalau bukan yaa sudahlah"

Coa Wi-wi segera berpikir.

"Sudah banyak tahun ayahku lenyap tak ada kabar beritanya, kenapa tidak kugunakan kesempatan yang sangat baik ini untuk mendapatkan sedikit kabar tentang dirinya?"

Berpendapat demikian, sambil putar badan melepaskan sebuah pukulan, dia berseru.

"Cepat katakan!"

Leng hou Ki mengegos ke samping menghindarkan diri dari ancaman itu, lalu tertawa tergelak.

"Budak ingusan, jawab dulu benar atau tidak?"

Coa Wi-wi termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, ia merasa bahwa kesempatan sebaik itu tak boleh dilewatkan dengan begitu saja, maka katanya.

"Kalau benar lantas kenapa?"

Leng hou Ki mendengus dingin.

"Hmmm....belasan tahun berselang, perkumpulan kami berhasil menangkap seorang laki-laki setengah baya yang bernama Coa Goan hou.... Kontan Coa Wi-wi mencibirkan bibirnya setelah mendengar perkataan itu.

"Huuuh....Mo-kauw itu perkumpulan apa? Kalau cuma mengandalkan sedikit kepandaian yang kalian miliki, masih terlampau jauh bila dibandingkan dengan kepandaian ayahku!"

Dengan tanpa sadar, ucapan tersebut sama artinya telah mengakui bahwa Coa Goan hon adalah ayahnya. Lenghou Ki tertawa seram.

"Heehhh.... heehh.... heehhh.... akupun tak akan menyangkal"

Katanya.

"ilmu silat yang dimiliki Coa Goan hou memang benar-benar terhitung suatu kepandaian yang luar biasa"

"Masa dia benar adalah ayah?"

Pikir Coa Wi-wi.

"Panik, gelisah dan tak tenang bercampur aduk dalam perasaan gadis itu, kalau bisa dia ingin sekali kembali ke dalam gua dan mengajak Goan cing taysu serta Hoa In-liong untuk bersamasama memperbincangkan persoalan itu. Meskipun gelisah, toh sikapnya diluaran tetap tenang.

"Hmm....! Bukan sama seorang didunia ini yang bernama Coa Goan-hou, siapa tahu kalau orang yang kalian tangkap adalah orang lain?"

"Heeehh.... heeeh.... heeehh....baik itu bapakmu atau bukan, ada satu hal akan kuberitahukan kepadamu"

Ujar Leng hou Yu dengan nada yang menyeramkan.

Telapak tangan dan jari tangan berputar demi kian rupa melepaskan delapan buah serangan berantai yang amat gencar.

Dalam kejutnya seketika itu juga Coa Wi-wi terdesak mundur lima enam langkah kebelakang, ditambah pula waktu itu Leng hou Ki ikut menyerang dengan sepenuh tenaga, sekejap mata Coa Wi-wi sudah terdesak dibawah angin.

Sekalipun keadaannya sudah terancam bahaya, gadis itu masih tidak melupakan untuk mengetahui keadaan ayahnya, dengan suara lantang serunya.

"Apa yang hendak kau katakan?"

Betapa bangganya Leng hou Ki setelah menyaksikan siasatnya mendatangkan hasil, dia tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh.... haaahh.... haaahh.... kalau engkau ingin tahu, akupun akan memberitahukan kepadamu. Setelah Coa Goan hou berhasil ditangkap, tubuhnya telah kami cincang menjadi berkeping-keping lalu dibuang ke laut Seng sut hay sebagai um an ikan hiu!"

Tentu saja Coa Wi-wi tidak percaya dengan perkataan itu, toh pikirannya sempat dikacaukan hingga posisinya semakin terdesak dan jiwaaya terancam mara bahaya.

To koh berjubah abu-abu itu jadi kaget sekali menjumpai keadaan itu, dengan gusar dia membentak.

"Budak tolol, masa kau percaya dengan begitu saja obrolan dari dua orang bajingan tua itu?"

Karena ditegur, Coa Wi-wi segera sadar kembali kalau dirinya sedang ditipu, pikirnya dalam hati.

"Kenapa kau harus mengurusi persoalan yang belum jelas? Sekalipun dua orang bajingan tua ini kubunuh"

Juga tak ada salahnya"

Setelah berpikir demikian, tanpa terasa hawa napsu membunuh yang belum pernah terlintas diwajahnya kini menyelimuti seluruh benaknya, dengan wajah sedingin salju dan sepasang alis bekernyit, secara beruntun ia lancarkan belasan buah serangan berantai untuk meneter musuhnya habis-habisan.

Kesepuluh jurus serangan itu, semuanya merupakan jurus terampuh dari ilmu pukulan Su siu hua heng ciang, dan tiap serangan yang dilancarkan semuanya mengandung tenaga pukulan sebesar dua belas bagian, begitu dahsyat serangan itu ibaratnya ombak dahsyat yang mengamuk ditengah samudra, ibaratnya juga bukit Thay san yang menindih diatas kepala.

Hebat, dahsyat dan sangat menggetarkan sukma.

Paras muka bersaudara Leng hou berubah hebat, mereka berkelit kesamping lalu berdiri berjajar, empat buah telapak tangan dilancarkan berbareng, dengan susah payah mereka bendung tibanya ancaman itu sepenuh tenaga, meski demikian toh semua pukulan itu susah dibendung, mereka didesak hingga musti mundur berulang kali.

Ditengah belasan jurus serangan terantai itu, dua bersaudara Leng hou berhasil didesak mundur sejauh delapan-sembilan langkah, bukan begitu saja, malah sebanyak tiga kali jiwa mereka terancam bahaya hingga nyaris terbunuh, keadaan mereka benar-benar mengenaskan.

Kejadian ini segera menggemparkan seluruh gelanggang, semua orang tahu bahwa dua bersaudara Leng hou masing-masing memiliki tenaga dalam sebesar enam puluh tahun hasil latihan, apalagi jika mereka turun tangan bersama, pada hakekatnya cuma Hoa Thian-hong seorang didunia ini yang sanggup menghadapinya.

Tapi nyatanya sekarang, dua orang jago tangguh itu berhasil didesak Coa Wi-wi hingga mengenaskan keadaannya, tidak heran kalau semua orang jadi terkesiap dibuatnya.

Sementara pertempuran masih berkorbar dengan serunya, suara langkah manusia berkumandang dari balik hutan bambu, disusul munculnya anggota Hian-beng-kauw yang jumlahnya mencapai enam tujuh puluh orang lebih, dengan cepat mereka menyumbat mulut gua dia membendung hutan bambu.

Dari lereng bukit masih juga kelihatan munculnya bayangan manusia, diantara mereka yang datang agak akhir, terdapat juga tujuh-delapan orang jago dari Mo-kauw, meski mereka mendekati sisi ge lenggang dan bersiap sedia untuk ikut pula dalam pertarungan itu, tapi pertempuran yang selang berlangsung terlampau dahsyat, apalagi melibatkan jago-jago kelas wahid, ini menyebabkan mereka tak mampu untuk mengambil bagian, apa yang bisa dilakukan tak lebih hanya berdiri, terbelalak dengan mata melotot.

Waktu itu baik Toan bok See liang maupun Beng Wi-cian sama-ssma telah dibuat terkesiap oleh kelihayan musuhnya, dalam keadaan begini mereka mulai berpikir untuk bekerja sama dengan pihak Mo-kauw untuk menyingkirkan musuh tangguh tersebut.

Maka setelah melirik sekejap ke arah medan petarungan, berkatalah Toan bok See liang.

"Saudara Beng, luka yang kuderita cukup parah, semua kekuasaan pada malam ini kulimpahkan kepadamu, pimpinlah saudara-saudara kita dan jangan biarkan budak ingusan itu tetap hidup.

"Kalau begitu siau-te akan melancangi kekuasanmu"

Jawab Beng Wi-cian, setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu, ujarnya lebih lanjut.

"Segenap jago lihay kita telah berkumpul disini. Hmm sekalipun budak itu memiliki kepandaian silat yang sangat tinggi, tak mungkin dia akan mampu untuk menghadapi serangan kita apalagi dia harus melindungi pula mulut gua itu"

Dia lantas memberi tanda kepada anak buahnya, anggota Hian-beng-kauw yang sudah terlatih itu segera bertindak cepat, dalam waktu singkat mereka telah menyebarkan diri dan membentuk kepungan setengah lingkaran dengan mulut gua batu itu sebagai pusat sasaran.

Kemudian senjata tajam pun diloloskan.

Dibawah pantulan sinar rembulan yang berwarna keperak-perakan kilapan cahaya senjata mereka menambah hawa pembunuhan yang semakin menggidikkan disekitar tempat itu.

Sebagaimana diketahui gua batu itu berada dibawah sebuah tebing yang curam, dengan dilakukannya pengepungan tersebut, maka seluruh jalan mundur boleh dibilang teiah terbendung.

Rupanya Beng Wi-cian masih tak lega hatinya dengan tindakan itu, dipanggilnya sepuluh orang jago lagi dan kepada mereka dibisikkan sesuatu.

Belasan jago itu segera menerima perintah dan berlalu dari sana, rupanya mereka mendapat tugas untuk berputar kepuncak bukit sebelah belakang dan memeriksa apakah disitu ada jalan tembusnya atau tidak.

Thia Siok bi atau To koh berjubah abu-abu itu sebenarnya sedang mengikuti jalannya pertarungan antara Coa Wi-wi dengan dua bersaudara Leng hou, tapi setelah menyaksikan kejadian itu, hatinya tercekat, dan dia segera berpikir.

"Kalau begitu keadaannya, kemungkinan besar jiwaku bakal ikut melayang di tempat ini, aaai...."

Kendatipun To koh itu mempunyai watak yang sangat aneh, namun jiwa ksatrianya tetap terpelihara.

Walaupun dia tahu bahwa situasinya pada saat itu sangat berbahaya, tak pernah terlintas dalam benaknya untuk melarikan diri dari sana.

Ia malah menghela napas dan meneruskan perhatiannya mengawasi jalannya pertarungan itu meski dengan perasaan yang kesal.

Sejelek-jeleknya, dua bersaudara Leng-bou mempunyai hasil latihan selama puluhan tahun, tenaga dalam yang mereka miliki cukup sempurna, dalam posisi yang amat kritis dan tidak menguntungkan itu, mereka masih berusaha dengan sekuat tenaga untuk membendung datangnya semua serangan dari Coa Wi-wi itu.

Sebaliknya Coa Wi-wi sendiri, sudah enam kali dia ulangi ke depan jurus serangan berantai dari ilmu pukulan Su siu hua heng ciang tersebut namun semua serangannya itu tidak menghasilkan apa-apa, kenyataan ini membuat dia merasa kagum sekali, pikirnya.

"Tenaga dalam yang dimiliki kedua orang ini betul-betul luar biasa hebatnya, padahal mereka adalah adik seperguruan dari Tang-kwik Siu aaai.... entah bagaimanakah kepandaian Tang Kwik-siu Sendiri sebagai ciang bunjin dari Mo-kauw?"

Aku jadi menguatirkan masa depan jiko...."

Tiba-tiba Leng hou Ki membentak keras.

"Toan bok See liang!"

Berbareng dengan seruan itu, sebuah pukulan dahsyat dilontarkan ke depan. Diam-diam Toan bok See liang tertawa dingin, pikirnya.

"Rasain kamu sekarang setan tua Leng hou, enak bukan kalau dibuat kerepotan oleh budak tersebut? Hmmm!"

Karena ditegur, sudah barang tentu dia tak bisa berdiam diri saja, maka sesudah berpikir sebentar sabutnya.

"Ada apa?"

Meskipun gusar dihati kecilnya, sebisa mungkin Leng hou Ki mengendalikan perasaannya itu, sepasang telapak tangannya diayun bersama untuk membendung serangan Kong loan tiat ing (keras dan lunak mengalir secara bergilir) dari Coa Wi-wi, kemudian serunya dengan lantang.

"Cepat serang ke dalam gua...."

Tapi hanya sampai ditengah jalan saja seruan itu tiba-tiba ia membungkam kembali.

Kiranya karena cemas secara tiba-tiba Coa Wi-wi telah menyerang dengan jurus Ban wu kui kun (Segala benda bersumber dan tanah), suatu jurus serangan yang paling dahsyat daya pengaruhnya dalam ilmu pukulan Su siu bua heng ciang, karena keteter hebat maka dia tak punya kesempatan untuk melanjutkan kembali kata-katanya.

Sekalipun begitu, Toan bok See liang maupun Beng Wi-cian sudah memahami teriakan tadi, secara tiba-tiba mereka menyadari bahwa menghadapi musuh secara bersama jauh lebih penting dari pada hal-hal lainnya....

Karena itu setelah berunding sebentar, tiba-tiba Beng Wi-cian membentak keras.

"Delapan tua melindungi markas! Kalian ikut aku menyerbu ke dalam gua....!"

Dengan langkah lebar dia mengitari gelanggang pertempuran dan menghampiri mulut gua itu.

Dengan wajah yang kaku tanpa emosi, delapan orang kakek berbaju hitam mengikuti dibelakangnya.

Coa Wi-wi yan g sedang bertempur sempat melirik sekejap kearah gerak gerik mereka, kewaspadaannya segera meningkat, mendadak ia membentak nyaring.

"Manusia she Beng, kau sudah bosan hidup?"

Sebenarnya nona itu bermaksud menghalangi jalan pergi mereka, tapi Leng hou Ki yang licik sudah tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh.... haaahh.... haaahh.... dayang busuk, mau kemana kau? Pertarungan diantara kita toh belum selesai!"

"Criiiit....!"

Dengan jari tengah dan jari telunjuk tangan kanannya dia melepaskan sebuah sodokan.

Segulung desingan angin tajam segera menyambar ke arah jalan darah Hong wi hiat ditubuh Coa Wi-wi.

Dua bersaudara Leng hou memang bukan manusia sembarangan, dengan andalkan pengalaman mereka dalam menghadapi pertarungan, tentu saja bukan pekerjaan yang gampang bagi Coa Wi-wi untuk mengundurkan diri dari gelanggang pertarungan.

Dikala Coa Wi-wi putar badan sambil melancarkan serangan, Leng hoau Yu telah menerjang pula dengari garangnya, mau tak mau terpaksa gadis itu harus melayani serangan-serangan itu, dan pertarungan sengitpun kembali berkobar.

Beng Wi-cian tidak buang peluang tersebut dengan begitu saja, cepat-cepat dia melewati disisi pertarungan dan menyerbu ke mulut gua.

Sementara itu Thia Siok bi sudah mempersiapkan senjata kaitan kemalanya, begitu musuh mendekat diapun membentak.

"Beng Wi-cian, berhenti kamu!"

Beng Wi-cian baru berhenti setelah berada tiga kaki dari mulut gua, ia merangkap tangannya lalu menjura.

"Go hujin, maafkanlah kami, aku harap hujin bersedia menyingkir dari situ dan memberi kesempatan kepada kami untuk memasuki gua itu!"

Jilid 32 THIA SIOK BI menengadah dan memandang cuaca sejenak, dia lihat sisa rembulan sudah hampir lenyap, sebentar lagi fajarpun akan menyingsing, kenyataan ini membuat hatinya rada lega, dia tahu asal waktu bisa diulur sebentar lagi maka mara bahaya bisa dihindari.

Maka dengan suara dingin ia berkata.

"Aku dengar perkumpulanmu sudah membentuk perserikatan dengan pihak Mo-kauw, benarkah kejadian ini?"

Beng Wi-cian bukan bodoh, kecerdasan otaknya melebihi orang lain, ketika ia saksikan To koh tersebut memeriksa keadaan cuaca lalu wajahnya menunjukkan senyum berseri, dalam hati kecilnya diapun berpikir.

"Aaaah....jangan-jangan didalam gua ada seorang jago lihay yang sedang bersemedi?"

Dia segera merasa bahwa waktu tak boleh ditunda-tunda lagi, sebab itu sambil mengelus jenggotnya dia tertawa tergelak.

"Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh....benar sekali, memang apa yang hujin dengar tidak keliru, kalau toh sudah tahu, bagaimana kalau hujin menyingkir dulu kesamping? Aku pasti akan memberi keterangan sejelas-jelasnya...."

Sementara pembicaraan masih berlangsung, diam-diam ia memberi tanda kepada anak buahnya segera keempat orang kakek berbaju hitam itu berjalan menuju ke mulut gua.

"Berhenti!"

Bentak Thia Siok bi sambil mempersiapkan senjata kaitan kemalanya. Empat ora ng kakek berbaju hitam itu tidak berhenti, salah seorang diantaranya, seorang kakek yang kurus kering segera berkata.

"Go hujin, biasanya kau hidup sebagai burung bangau liar, kenapa musti bersikeras untuk melibatkan diri dalam air keruh ini?"

THIA SIOK BI tidak berbicara apa-apa, dia malah berpikir.

"Siapa yang turun tandan lebih dulu biasanya dia akan menang posisi, siapa turun tangan belakangan dia akan ketimpa bencana, bagaimanapun juga hubungan toh sudah retak...."

Karena berpendapat demikian, ia tidak ragu-ragu lagi, sambil menggigit bibir, senjata Hud tim nya disapu ke muka, sementara senjata kaitannya mengurung tubuh keempat orang itu dengan jurus Yu ta lei hoa (hujan deras menerpa bunga li).

"Go hujin!"

Seru kakek knrus itu lagi.

"jadi kau tetap pada pendirianmu yang keras kepala?"

Dengan jurus sin liong cia ka (naga sakti melepaskan sisik), ia sambut datangnya ancaman tersebut.

Serentak dua orang kakek berbaju hitam yang ada disebelah kanan menganyunkan pula keempat buah telapak tangan mereka, hembusan angin puyuh segera menggulung kemuka dengan hebatnya.

Menggunakan kesempatan yang sangat baik itu, kakek berwajah kaku yang ada disebelah kiri segera menyingkir kesamping begitu terhindar dari ancaman musuh, dengan suatu gerakan cepat ia menyelinap masuk kedalam gua.

Dari sini dapatlah ditarik kesimpulan bahwa empat orang kakek itu sudah mengambil persetujuan secara diam-diam bahwa tiga orang diantara mereka akan membendung serangan Thia Siok bi, sedang seorang diantaranya menyelinap ke dalam gua dengan menggunakan peluang itu.

Thia Siok bi juga bukan orang bodoh, sudah barang tentu tak sudi ia memberi kesempatan kepada musuhnya untuk menyusup masuk ke dalam gua, ia tertawa dingin.

"Hmmm....! Bangsat, rupanya kau pingin mampus!"

Dengan jurus serangan yang tak berubah, ia putar senjatanya lalu dengan gagah Hud tim dia sodok jalan darah Jit kan hiat diwajah kakek bermuka kaku itu.

Tercekat orang itu menghadapi ancaman maut tersebut, dalam keadaan kaget ia lepaskan sebuah pukulan lalu melompat mundur ke belakang.

Dalam waktu singkat Thia Siok bi sudah melancarkan belasan buah serangan berantai.

Sudah dua tiga kali keempat orang kakek berbaju hitam itu mencoba untuk menyerbu kedalam gua, namun setiap kali usaha mereka selalu berhasil digagalkan, hal ini membuat mereka jadi mendongkol dan gusar sekali.

Dalam keadaan demikian, cepat diputuskan untuk meringkus Thian Siok bi lebih dahulu sebelum menyerbu ke dalam gua, maka taktik merekapun berubah, sekarang mereka tidak berusaha masuk ke gua lagi, tapi menyerang Thia Siok bi dengan sekuat tenaga.

Dalam sekejap mata angin, pukulan menderu-deru, cahaya tajam menyilaukan mata, suatu pertarungan berdarah yang benar-benar amat sengit segera berlangsung dimulut gua.

Berbicara soal ilmu silat, andaikata keempat orang kakek baju hitam itu harus menghadapi Thia Siok bi satu demi satu, maka tak seorangpun diantara mereka yang akan sanggup menerima seratus serangannya, tapi sekarang setelah mereka turun tangan bersama, Thia siok bi lah yang merasakan tekanan tekanan berat.

Sekalipun begitu, To koh berbaju abu-abu itu tetap bertahan dengan punggung menghadap ke gua, senjata kaitan maupun senjata hud timnya diputar sedemikian rupa untuk mempertahankan diri dengan ketat.

Ditinjau dari keadaan itu, rasanya sulit dan tak mungkin bagi keempat orang kakek itu untuk menyingkirkan lawannya dalam beberapa ratus gebrakan mendatang.

Mengikuti jalannya pertarungan itu, Beng Wi-cian berkerut kening.

Oleh karena mulut gua terlampau sempit, dan lagi kelima orang itu turun tangan bersama, hampir boleh dibilang seluruh mulut gua telah tersumbat penuh, dalam keadaan begini, tak mungkin baginya untuk mengirim orang lagi guna melibatkan diri dalam pertarungan tersebut.

Ketika perhatiannya dialihkan ke arah yang lain, terlihatlah pertarungan antara Coa Wi-wi melawan dua bersaudara Leng hou makin lama bergeser semakin dekat dengan mulut gua, jaraknya tingal lima kaki saja.

Ini membuat angin pukulan yang dihasilkan dari pertarungan mereka menyebabkan berkibarnya ujung baju beberapa orang.

Kiranya pada waktu itu Coa Wi-wi ingin mendekati gua tersebut agar setiap saat bisa memberi bantuan kepada Hoa In-liong serta Goan cing taysu, kebetulan dua bersaudara Leng hou juga punya keinginan untuk mencari peluang untuk menyusup ke dalam gua.

Karena itu, meski berbeda dalam tujuan, mereka mempunyai niat yang sama itulah sebabnya langkah mereka makin lama semakin bergeser mendekati gua itu.

Sebagai seorang jago kawakan yang pandai, tentu saja Beng Wi-cian memahami akan jalan pikiran mereka, segera pikirnya.

"Budak busuk, kalau engkau berani mendekat aku pasti akan menghajar dirimu sampai kalang kabut"

Dia lantas memberi tanda kepada empat orang kakek berbaju hitam yang ada disampingnya untuk bersiap siaga melancarkan serangan, sedang ia sendiri diam-diam menghimpun tenaga dalamnya, dengan begitu perhatiannya terhadap jalannya pertarungan antara Thia Siok bi melawan keempat kakek baju hitam pun terkesampingkan.

Dikala semua pihak berpikir dengan rencananya masing-masing mendadak cuaca menjadi gelap ternyata saat menjelang fajar telah tiba....

Memang kawanan jago yang sedang bertempur waktu itu rata-rata adalah kawanan jago kelas satu dalam dunia persilatan, akan tetapi dalam suasana yang amat gelap itu, ketajaman mata mereka menjadi jauh berkurang....

Tiba-tiba Thia Siok bi mendengus dingin, ujung bajunya dikebaskan berulang kali, berpuluhpuluh batang jarum emas yang beracun bagaikan hujan gerimis berhamburan ke empat penjuru.

Dalam keadaan yang sama sekali diluar dugaan ini, dua orang kakek baju hitam diantaranya serentak menggerakkan sepasang telapak tangannya untuk melancarkan serangan.

Hembusan angin tajam memekikkan telinga, maksud mereka dengan mengandalkan tenaga pukulan yang amat dahsyat itu niscaya ancaman dapat di halau....

Sayang perhitungan mereka meleset sama sekali, bukan saja jarum beracun itu lembut bentuknya lagipula dilepaskan Thia Siok bi dengan cara yang unik, maka tak ampuh lagi kedua orang itu segera merasakan kaki kiri dan bahu kanannnva menja di kaku, tahu-tahu mereka sudah mendapat persen sebatang jarum.

Kakek baju hitam yang berada di sebelah kanan mencoba meloloskan diri dengan cara melompat mundur, sayang tindaknya itupun terlambat satu langkah, dada kirinya mendapat persen sebatang jarum.

Hanya kakek baju hitam yang berwajah kaku saja yang berhasil meloloskan diri dari ancaman itu, sepasang telapak tangannya didorong kemuka melepaskan sebuah pukulan sementara badannya cepat cepat melompat mundur kebelakang, kendatipun demikian, jarum emas itu sempat menyambar disisi telinganya, membuat ia mengucurkan peluh dingin saking kagetnya.

Empat orang kakek berbaju hitam itu dinamakan delapan sesudah pelindung markas, bukan saja ilmu silat mereka lihay, ketajaman matanya juga luar biasa hebatnya.

Andaikata Thia Siok bi ingin mencari kemenangan hanya dengan mengandalkan permainan senjata kaitannya saja, hal ini belum tentu akan mendatangkan hasil.

Tapi kini Thia Siok bi berkuat cerdik, bukan saja ia manfaatkan cuaca yang sedang gelap untuk melepaskan senjata rahasianya, perbuatan itu terlindung pula oleh putaran senjata Hud tim serta bayangan senjata kaitannya, dalam keadaan demikian terkecohlah musuh-musuhnya itu.

Luka jarum itu tidak sakit, hanya terasa sedikit kaku dan kesemutan, tapi beberapa orang kakek berbaju hitam itu tahu bahwa mereka telah keracunan hebat.

Dengan suatu lompatan tergesa-gesa mereka mundur dua kaki ke belakang, kemudian secara beruntun menotok beberapa buah jalan darah mereka untuk menutup aliran darah yang bercampur racun menyerang ke jantung.

Dengan demikian, walaupun jiwa mereka untuk sementara waktu tidak terancam tapi dengan begitu mereka jadi tak mampu untuk turun tangan lagi....

Kakek baju hitam yang terluka kaki kirinya tertawa seram tiba-tiba ia membentak.

"Bukan ingusan, aku akan beradu jiwa denganmu"

Tanpa menghiraukan luka beracun yang dideritanya, bagaikan harimau kelaparan ia menerkam ke muka.

Tercekat juga perasaan Thia Siok bi menyaksikan orang itu melancarkan serangan sambil menggigit bibir, ejeknya dengan dingin.

"Huuuh....belum pantas kau berbuat demikian"

Sreeet....!

Sreeet....!

Secara beruntun senjata Hud-timnya melancarkan dua buah serangan kilat ke dada kakek baju hitam itu maksudnya hendak memaksanya mau tak mau harus mundur ke belakang.

Siapa tahu kakek berbaju hitam itu sudah berniat untuk beradu jiwa, tanpa mengindahkan sapuan senjata Hud tim yang mengancam dadanya sambil meraung keras sepasang telapak tangannya melancarkan serangan dengan sepenuh tenaga.

Agak tercengang Thia Siok bi menghadapi ancaman yang mengajak saling beradu jiwa itu, cepat ia bergeser tiga depa ke samping untuk menghindarkan diri dari ancaman tersebut.

Hawa amarah yang berkobar dalam dadanya ikut memuncak, dengan senjata hud tim ia bendung serangan dari kakek berwajah kaku yang tidak terkena jarum emas itu, sementara kaitan kemalanya membacok ke bawah sekeras-kerasnya dengan maksud membinasakan kakek baju hitam itu.

Tapi sebelum serangannya mencapai sasarar, tiba-tiba tampak kakek berbaju hitam itu mundur dengan sempoyongan, bahkan nyaris terjatuh ketanah, wajahnya menunjukkan penderitaan yang luar biasa.

Menghadapi kenyataan tersebut, ia segera berubah rencana, dengan ujung jarinya ia totok jalan darah Cian keng hiat ditubuh orang itu.

Rupanya racun yang mengeram dalam tubuh kakek itu sudah mulai bekerja, sekalipun dia masih sanggup mempertahankan diri dengan andalkan tenaga dalamnya yang sempurna, toh ancaman itu gagal dihindari, jalan darahnya segera tertotok dan tubuhnya langsung terjungkal ke tanah.

Sejak Thia Siok bi melepaskan senjata rahasia sampai kakek baju hitam itu roboh tertotok, waktu yang dibutuhkan cuma setarikan napas belaka, mimpipun Bwe Wi cian tidak menduga kalau situasi bakal berubah secepat ini, dalam cemas dan gusarnya tiba-tiba ia membentak keras.

"Tio Hu tham (Fio pelindung markas), harap segera mundur!"

Kakek bermuka kaku itu segera melepaskan sebuah serangan tipuan, lalu mengundurkan diri.

"Wahai budak busuk!"

Tiba-tiba kedengaran Leng hou Ki berseru pula.

"beranikah engkau sudah ogah dengan jiwa anjingmu.

"Silahkan saja maju!"

Jawab Coa Wi-wi setengah mengejek. Leng hou Ki marah sekali, sambil membentak keras dia lancarkan sebuah pukulan dahsyat.

"Aku tak percaya kalau pukulanmu sangat dahsyat"

Pikir Coa Wi-wi dalam hati.

"akan kugunakan tenaga sebesar dua belas bagian, paling sedikit aku harus bikin isi perutmu jadi terluka...."

Ketika telapak tangannya diayun ke muka, maka segulung tenaga pukulan ibaratnya tindihan bukit karang menggulung ke muka.

Gadis itu terlalu cepat memperhitungkan keuntungan bagi diri sendiri, dianggapnya setelah Leng hou Ki berhasil dibinasakan, niscaya sisanya Leng hou Yu lebih mudah dibereskan, dan asal kedua orang musuhnya telah disingkirkan, kemenangan sudah pasti diraih olehnya.

Tapi dia lupa akan sesuatu, dia lupa bahwa dua bersaudara Leng hou adalah manusia-manusia yang licik, mungkinkah mereka membiarkan gadis itu mengambil keuntungan bagi diri sendiri?

Padahal kedua orang itu tahu bahwa tenaga dalamnya kalah bila dibandingkan lawan, dengan kelemahan semacam ini, menerima serangan musuh dengan keras lawan keras bukankah merupakan suatu perbuatan bodoh?

Tiba-tiba Leng hou Ki tertawa nyaring, tubuhnya menyusup ke belakang, lalu dengan meminjam tenaga pukulan dari Coa Wi-wi, secepat sambaran kilat dia menerobos masuk ke dalam gua.

Ternyata secara diam-diam orang itu sudab menghitung dengan tetap bahwa jaraknya dengan mulut gua tinggal lima-enam kaki, setelah merebut kemenangan, menurut perhitungannya penjaga serta kewaspadaan Thia Siok bi pasti akan mengendor padahal kakek baju hitam yang kena dirobohkan tergeletak tetap ditengah gua, bila ia tetap berjaga ditengah niscaya kakinya akan menginjak di tubuh kakek baju hitam itu.

Maka dengan bergesernya perempuan itu ke tepi gua, sama artinya pula dengan memberi peluang baginya untak menerobos masuk ke gua.

Thia Siok bi kaget sekali, buru-buru ia membacok dengan senjata kaitan kemalanya.

Sebelum bertindak, Leng bou Ki telah memperhitungkan semua kemungkinan dengan tepat, sebab itu ketika bacokan tiba, dengan jurus Hok lei cing ming (pekikkan bangau menembusi awan) ia paksa Thia Siok bi bergeser tiga langkah ke samping, sementara tangan kirinya dikebaskan untuk menyingkap tumbuan rotan yang menutupi mulut gua.

Thia Siok bi tahu bahwa ia bukan tandingan dari Leng hou Ki, tapi andai kata ia biarkan Leng hou Ki menerjang masuk ke gua, bukan saja selembar nyawa jago muda akan dikorbankan, mungkin seorang gadis cantik jelitapun ikut berkorban, terutama kematian dari Hoa In-liong, peristiwa itu akan mengakibatkan Wan Hong giok kesedihan hingga akhirnya mati secara menggemaskan.

Jika hal ini sampai terjadi, kecuali menggorok leher untuk bunuh diri, rasanya tiada jalan kedua yang bisa ia tempuh lagi.

Atas dasar pertimbangan tersebut, To koh berjubah abu-abu itu jadi nekad, dengan senjata hud timnya ia serang punggung Leng hou Ki, sementara senjata kaitan kemalanya dengan jurus Gwat in see shia (bayangan rembulan condong ke barat) membacok ubun-ubun lawan.

Serangan semacam itu pada hakekatnya hanya membuka penjagaan atas tubuh sendiri, bila Leng hou Ki balik badan sambil melancarkan serangan dengan sepenuh tenaga, niscaya dia akan mampus secara mengerikan, tapi sudah barang tentu Leng hou Ki harus mengorbankan pula jiwanya.

Leng hou Ki sama sekali tak semepat untuk melirik keadaan gua itu walau hanya sekejap saja, tahu-tahu desingan tajam sudah menyergap batok kepalanya.

Gembong iblis yang maha lihay macam dia, tentu saja tak akan terkecoh oleh serangan tersebut dari angin serangan yang dihasilkan dia sudah tahu bahwa ancaman dari Thia Siok bi itu tak boleh dianggap enteng.

Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa dia urungkan niatnya untuk masuk ke dalam gua, tubuhnya berputar seperti gasingan, satu tangan membabat secara datar telapak tangan yang lain dipakai untuk membendung ancaman, kemudian ejeknya dengan wajah menyeringai.

"To koh busuk, rupanya kau memang sudah bosan biiup!"

"Hmm....! Siapa yang bosan hidup masih belum tahu, buat apa engkau banyak bicara?"

Jawab Thia Siok bi hambar.

Dimulut ia berbicara demikian, sementara serangannya sama sekali tidak mengendor, seluruh jurus serangan yang digunakan adalah jurus-jurus paling ganas dan ampuh.

Tenaga dalam yang dimiliki Leng hou Ki memang jauh lebih tinggi, tapi dia kewalahan juga setelah harus menghadapi serangan semalam itu, seketika ia terdesak hebat, jangan toh melanjutkan terobosannya masuk ke dalam gua, untuk mengundurkan diripun sukar.

Pengalaman Coa Wi-wi dalam menghadapi musuh terlampau cetek, dia tidak menyangka kalau Leng hou Ki bakal menggunakan cara itu untuk mengibuli dirinya, ketika gembong iblis itu menerjang ke mulut gua, ia jadi panik bercampur marah, tanpa memperdulikan Leng hou Yu lagi, dengan kecepatan tinggi gadis itu berusaha menyusul di belakangnya.

Tentu saja Leng hou Yu tak akan membiarkan gadis tersebut berlalu dengan begitu saja, dari tempat kejauhan dia lepaskan sebuah pukulan ke punggungnya, kemudian tertawa terbahakbahak.

"Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh....budak busuk, tidak segampang itu untuk meloloskan diri dari cengkeramanku!"

Ketika Coa Wi-wi merasakan tibanya deruan angin tajam dari belakang, dengan cepat dia berpikir.

"Bila aku musti putar badan untuk menyambut serangannya itu, niscaya aku bakal terbelenggu kembali dalam pertarungan, jika sampai demikian, bukankah Leng hou Ki akan manfaatkan kesempatan itu untuk menerobos masuk ke dalam gua?"

Sambil menggigit bibir dia lantas menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya keatas punggung, rupanya gadis itu bermaksud menerima serangan tersebut dengan kekerasan agar tepat pada waktunya ia dapat mencegah Leng hou Ki masuk ke gua.

"Duuk...."

Dengan telak serangan tersebut bersarang dipunggung Coa Wi-wi, sambil mendengus tertahan gadis itu malah mempercepat gerakan tubuhnya menerobos ke muka.

Mimpipun Leng hou Yu tak mengira kalau gadis tersebut berani menyambut serangannya dengan kekerasan, ia jadi menyesal setengah mati.

"Aaai....sayang, benar-benar sayang!"

Demikian pikirnya."

Asal kulancarkan serangan tadi dengan sepenuh tenaga, niscaya budak itu akan mampus atau paling sedikit terluka parah"

Tiba-tiba terdengar Beng wi-cian membentak keras.

"Cepat menyerang!"

Tampaklah dia bersama keempat orang kakek baju hitam membentak keras, lalu sambil mengayunkan telapak tangan, mereka lepaskan serangan maut ketubuh Coa Wi-wi.

Walaupun Coa Wi-wi merasa gelisah bercampur marah, tapi ia tak berani gegabah, sebab dia tahu bahwa tenaga dalam yang dimiliki Beng Wi-cian sekalipun amat tinggi, serangan gabungan yang mereka lancarkan tentu jauh lebih mengerikan.

Padahal baru saja ia menyambut sebuah serangan dari Leng hou Yu dengan kekerasan, meskipun tak sampai terhajar telak, dan ia manfaatkan tenaga pukulan itu untuk mempercepat gerakan tubuhnya, baryak tenaga yang telah hilang akibat perbuatannya itu, dalam keadaan hawa darah didadanya tergolak keras, gadis itu tak berani menyambut lagi serangan tersebut dingin kekerasan.

Dalam situasi yang amat gawat toh gadis itu masih menyempatkan diri untuk melirik sekejap ke adaan Thia Siok bi.

Ia jadi lega setelah menyaksikan musuh terbendung untuk sementara waktu.

Cepat-cepat hawa murninya ditarik panjang-panjang, tubuhnya yang sedang meluncur ke bawahpun tiba-tiba meluncur jauh lebih cepat dari keadaan pada umumnya.

Baru saja kakinya menempel tanah, angin pukulan dari Beng Wi-cian sekalian yang maha dahsyat itu sudah menyambar lewat dari atas kepalanya, untung tak sampai melukai.

Setelah lolos dari ancaman, Coa Wi-wi tak dapat langsung melancarkan serangan, dia musti mengumpulkan dulu hawa murninya untuk mengendalikan golakan hawa darah didalam dada.

Leng hou Yu paling gembira dengan kejadian itu, dia menyusul kedepan seraya melancarkan serangan.

"Haaahh.... haaahh....haaahh.... budak ingusan"

Katanya sambil tertawa tergelak.

"aku ingin berduel seorang lawan seorang dengan dirimu, beranikah engkau menyambut sebuah pukulan lagi?"

Waktu itu pergolakan hawa darah didada Coa Wi-wi belum mereda, ia tak berani menerima datangnya ancaman dengan keras lawan keras, dengan suatu gerakan tubuh yang lindah dia mengegos kesamping, kemudian jari tangannya membalik menotok jalan darah siau tay hiat ditubuh lawan.

"Nona Coa!"

Tiba-tiba Beng wi-cian membentak lagi.

"bolehkah lohu ikut ambil bagian dalam pertarungan itu?"

Sekalipun dibibir dia mengajukan permintaan, tubuhnya telah beranjak dari tempat semula dan terjun ke gelanggang, bahkan sebuah serangan dilancarkan pula ke tubuh gadis itu.

Mendengar akan tibanya gulungan angin pukulan yang dahysat, Coa Wi-wi menggeserkan tubuhnya kesamping, menggunakan kesempatan itu tangan kirirya menyambar iga lawan.

"Kalau aku tidak setuju, bagaimana?"

Sahutnya dingin. Beng Wi-cian tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh.... kalau nona tak setuju, terpaksa aku harus tebalkan muka!"

Sahutnya. Kembali sebuah pukulan dilancarkan. Gusar dan mendongkol Coa Wi-wi menghadapi kelicikan musuh-musuhnya, dia lantas berteriak.

"Leng hou Yu, inikah yang kau maksudkan dengan berduel satu lawan satu....? Memalukan!"

Kagum juga Leng hou Yu atas ketangguhan musuhnya, apalagi dalam keadaan terluka gadis itu masih mampu bertahan sambil menyerang tanpa menunjukkan gejala akan menderita kalah, dia mulai berpikir.

"Tenaga dalam yang dimiliki dayang ini sangat hebat, kalau cuma mengandalkan tenagaku seorang, sudah pasti aku tak akan mampu membereskan nyawanya!"

Karena berpikir demikian, dia lantas tertawa seram.

"Heehhh.... heeehh.... heeehhh....maaf, gerak-gerik Beng thamcu adalah merupakan hak pribadinya sendiri, aku tak dapat ikut campur dalam urusan pribadinya"

Kemarahan Coa Wi-wi semakin memuncak, ia berpikir pula.

"Percuma rasanya mengajak kawanan iblis dari golongan sesat ini, untuk membicarakan soal cengli...."

Dia lantas mendengus, lalu dengan jurus Ji yong bu wi (dua kegunaan tiada tempat) telapak tangan kanannya membentuk gerakan satu lingkaran busur didepan dada, kemudian secara tibatiba dihantamkan ke pinggang Leng hou Yu.

Toan bok See liang mengikuti jalannya pertarungan dari tempat kejauhan, ketika menyaksikan Coa Wi-wi menggunakan kembali jurus serangan yang pernah membuat dirinya jadi keok dia lantas pasang mata dan memperhatikannya secara istimewa.

Setelah itu pikirnya dihati.

"Jurus serangan itu mengambang tak menentu, seolah-olah serangan tipuan seolah-olah juga serangan sungguhan, betul-betul merupakan suatu jurus serangan yang hebat. Bila ilmu pedang keluarga Hoa disebut ilmu pedang nomor satu dalam dunia persilatan, maka ilmu pukulan yang digunakan dayang she Coa ini pantas disebut ilmu puku lan yang tiada keduanya di dunia"

Dia berpikir keras serta mencoba untuk memecahkan serangan itu, namun setelah pikir punya pikir, ia merasa kecuali menghindarkan diri rasanya tiada cara lain yang bisa dipakai lagi untuk memecahkan serangan tersebut, andaikata cara itu membutuhkan dasar tenaga dalam yang mengungguli tenaga dalam Coa Wi-wi, sebab satu satunya cara adalah membalas serangan dengan serangan.

Ketika ia menengadah kembali, betul juga Leng hou Yu berkelit ke samping untuk menghindarkan diri.

Dalam serangannya itu, meski tenaga dalam dari Beng Wi-cian jauh lebih lemah bila dibandingkan dengan Leng hou Yu, lagipula kerja sama itu kalah jauh bila dibandingkan dengan kerja sama antara dua bersaudara Leng hou, tapi lantaran Coa Wi-wi sudah terlanjur terluka, lagipula dia sangat menguatirkan hasil pertarungan dari Thia Siok bi melawan Leng hou Ki, maka sekalipun tak sampai kalah, susah juga baginya untuk merebut kedudukan diatas angin.

Demikianlah, dua kelompok manusia saling bertarung dengan sengitnya, andaikata Coa Wi-wi berani mengorbankan isi perutnya terluka parah, sebetulnya ia masih mampu untuk mengobrakabrik kerja sama dari Leng hou Yu dengan Beng Wi-cian, tapi ia tak berani berbuat demikan, maka untuk sementara waktu keadaan tetap seimbang.

Pertarungan antara Thia Siok bi melawan Leng hou Ki berlangsung paling sengit, pertempuran itu telah berlangsung hingga mencapai puncaknya, setiap saat jiwa mereka bisa terancam.

Fajar mulai menyingsing, sinar matahari yang berwarna keemas emasan mulai memancar dari balik bukit.

Kabut tipis pelan-pelan melayang datang dan menyelubungi permukaan tanah, mendatangkan kesuraman ditengah fajar itu, ibaratnya pula suasana dunia persilatan waktu itu, kabut kesesatan menyelubungi terbitnya keadilan dan kebenaran.

Hanya saja, semua orang yang hadir dalam gelanggang waktu itu hanya pusatkan seluruh perhatian mereka pada jalannya pertarungan, siapa pua tidak menaruh perhatian bahwa malam yang panjang sudah lewat dan fajar telah menyingsing.

Tiba-tiba kakek baju hitam berwajah kaku itu berkata.

"Thia Siok bi, engkau benar-benar seorang manusia yang tak tahu diri, berapa banyak sudah jago Hian-beng-kauw yang roboh ditanganmu.... hmm.... Mulai hari ini kau sudah menjidi musuh bebuyutan kami, jangan salahkan kalau aku akan bertindak kurang sopan"

Sambil menyerbu ke muka, jari tangannya yang kaku seperti tombak menyodok jalan darah Leng tay hiat di tubuh Thia Siok bi.

Sebenarnya Thia siok bi berjaga-jaga dimulut■gua, tapi sekarang ia sudah dihadang oleh Leng hou Ki diluar gua, dengan begitu dia musti bertarung melawan Leng hou Ki dengan punggung menghadap luar.

Sebagai jago yang berpengalaman, To koh itu juga tahu bahwa posisi semacam itu sangat tidak menguntungkan, sebab setiap waktu setiap saat ia bisa disergap lawannya.

Tapi keadaan amat kritis, mau tak mau dia musti menggunakan cara semacam ini untuk menjaga diri, otomatis diapun tak sempat berpikir lebih jauh lagi.

Dan kini dia hsrus menghadapi serangan dahsyat dari kakek she Tio itu, dengan cepat To koh tersebut berpikir.

"Jika aku berkelit dari serangannya niscaya Leng hou Ki akan menggunakan kesempatan ini untuk masuk ke gua...."

Berpikir sampai di sini, dia jadi nekad.

To koh berbaju abu-abu itu mengambil keputusan untuk beradu jiwa.

Dengan cekatan badannya miring ke samping begitu jalan darah Leng tay hiatnya lolos dari ancaman, senjata kaitan kemalanya bagaikan sambaran petir menyambar dada dan lambung Leng hou Ki, kemudian tanpa dilihat bagaimana hasilnya, senjata Hud timnya kembali melepaskan sebuah sapuan cepat.

Kedua gerakan itu semuanya merupakan jurus-jurus beradu jiwa, sebab baik dihajar punggungnya atau dihajar iganya, sudah pasti Thia Siok bi bakal menemui ajalnya.

Tapi sayang dia terlalu memandang rendah diri Leng hou Ki, baru saja serangan itu dilancarkan, Leng hou Ki sudah tertawa terbahak-bahak.

Mendadak ia menarik kembali serangannya, sepasang kaki menjejak tanah keras keras lalu dengan kecepatan luar biasa ia menyusup masuk ke dalam gua.

Menyaksikan tindakan tersebut, kakek she Tio itu menyumpah dalam hatinya;

"To koh busuk, aku tak sudi beradu jiwa dengan dirimu...."

Badannya berputar cepat, dari serangan totokan jari dia lantas merubahnya menjadi serangan telapak tangan, dihajarnya bahu kanan Thia Siok bi keras-keras.

Mendadak terdengar Beng Wi-cian membentak keras.

"Tio hu tham, cepat menyingkir!"

Tapi belum habis perkataan itu, secepat anak panah yang terlepas dari musuhnya, Coa Wi-wi sudah menyusup ke belakang kakek she Tio itu, kemudian tanpa menimbulkan sedikit suarapun dia lancarkan sebuah pukulan dahsyat ke punggung kakek itu.

Gelisah dan gusar Coa Wi-wi ketika menyaksikan Leng hou Ki berhasil menyelundup masuk ke dalam gua, rasa kagetnya sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Secara spontan hawa napsu membunuh nya ikut membara, ia tak dapat mengendalikan emosinya lagi, dan tanpa sadar jurus serangan paling ganas segera digunakan.

Sudah dua tiga kali usaha Coa Wi-wi untuk mendekati mulut gua digagalkan lawan, maka untuk tindakannya kali ini dia sudah mengaturkan masak-masak, begitu meluncurkan ke mulut gua, segenap kekuatannya dihimpun menjadi satu untuk bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan.

Benar juga, begitu dia melayang ke bawah, Leng hou Yu berserta sisa empat orang kakek baju hitam itu segera maju menghadang.

Menunggu peringatan dari Beng Wi-cian diucapkan, serangan dari Coa Wi-wi sudah dilepaskan.

Tak sempat lagi kakek she Tio itu menghindarkan diri, ia mendengus tertahan, tubuhnya mencelat sejauh beberapa kaki dari tempat semula, kemudian setelah menggelinding beberapa kali, badannya membujur tak berkutik lagi.

Berbareng dengan peristiwa itu, tiba-tiba dari balik gua berkumandang suara lirih seperti suara nyamuk tapi tajam menggidikkan hati, sekalipun lembut, namun bagi pendengaran siapapun suara tadi tak enak didengar, seperti ada beratus-ratus batang jarum yang menusuk telinga mereka.

Coa Wi-wi sekalian segera mengenali suara aneh itu sebagai hawa pedang tingkat tinggi, kontan saja semua orang tertegun.

Ditengah keheningan yang mencekam seluruh angkasa, tiba-tiba kedengaran Leng hou Ki berpekik kaget dari balik gua.

"Haaaah....! Bocah cilik dari keluarga Hoa....!"

Nada dari ucapan itu sedemikian paniknya hingga siapapun tahu bahwa orang itu telah menemukan sesuatu yang hebat di sana.

Bayangan kuning tiba-tiba berkelebat lewat, dan tahu-tahu sudah menerobos keluar dari balik gua Padahal Coa Wi-wi maupun Thia siok bi berdiri ditepi gua, sayang mereka dibuat tertegun oleh kejadian tersebut hingga tak sempat untuk turun tangan.

"Aduuuh sayang....!"

Pekik Thia Siok bi sangat menyesal.

Tampak Leng hou Ki telah muncul kembali dengan wajah hijau membesi, ujung bajunya sebatas siku sudah terpapas kutung hingga keadaannya tampak sangat mengenaskan.

Dari keadaan itu, semua orang segera tahu bahwa jago yang tersohor karena kegarangannya itu sudah menderita kerugian besar, kenyataan tersebut kontan disambut dengan perasaan tercekat oleh ka wanan jago baik dari golongan Mo-kauw maupun dari rombongan Hian-beng-kauw.

Gelak tertawa nyaring menggelegar dari dalam gua, disusul kemudian Hoa In-liong sambil membawa pedang antiknya yang terhunus melangkah keluar dari balik gua, tampaknya yang ganteng dan gagah perkasa justru memberikan gambaran yang bertolak belakang dengan keadaan Leng hou Ki.

Kejut dan girang Coa Wi-wi menyaksikan kemunculan anak muda itu.

"Jiko, engkau sudah selesai dengan semadimu?"

Serunya tak tahan.

Hoa In-liong melirik sekejap ke arahnya, dengan sinar mata penuh kemesraan, kehangatan serta kasih sayang.

Dia masukkan pedangnya ke dalam sarung, kemudian sambii menjura kepada Thia Siok bi katanya.

"Bantuan yang telah cianpwe berikan kepada kami, sungguh membuat boanpwe merasa...."

"Tak usah membicarakan kata-kata yang tak berguna"

Tukas Thia siok bi sambil mengulapkan senjata Hud timnya.

"engkau tahu, siapakah pinto ini?"

Hca In liong melirik sekejap senjata kaitan kemalanya yang bersinar hijau itu, kemudian jawabnya dengan serius.

"Bila dugaan boanpwe tidak keliru, tentu cianpwe adalah gurunya Wan Hong giok, bukankah begitu?"

Thia Siok bi mendengus dingin.

"Cerdik benar engkau ini, tapi....engkau tahu kenapa pinto datang mencarimu?"

Dari kerutan dahi To koh tersebut, secara lapat-lapat Hoa In-liong dapat menangkap perasaan tak senang hatinya, dia lantas menduga kalau hal tersebut disebabkan musibah yang menimpa diri Wan Hong-giok.

Maka pikirnya dihati.

"Berbicara sesungguhnya, aku ikut bertanggung jawab atas musibah yang menimpa diri Wan Hong giok, kalau dilihat dari cara cianpwe ini mengajukan pertanyaannya, mungkin ia datang untuk mintai pertanggungan jawabku...."

Untuk sesaat lamanya pelbagai pikiran berkecamuk dalam benaknya, ia jadi kebingungan dan tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan tersebut.

Tiba tiba Leng hou Ki berseru dengan wajah menyeringai seram.

"Bocah keparat dari keluarga Hoa, beranikah engkau bertarung melawan lohu?"

Cepat Hoa In-liong merangkap tangannya didepan dada dan memberi hormat kepada Thia Siok bi, lalu ujarnya.

"Mengenai persoalan Hong giok, ijinkanlah kepada boanpwe menerima semua teguran itu nanti setelah urusan disini terselesaikan!"

Thia Siok bi kembali berpikir setelah ia dengar anak muda itu menyebut langsung nama Wan Hong giok.

"Tampaknya ia memang menaruh benih cinta terhadap anak Giok, ya....moga-moga saja demikian, sehingga urusan pun lebih mudah diselesaikan"

Dia tidak banyak berbicara lagi, tubuhpun lantas mundur selangkah. Setelah mengundurkan To koh berjubah abu-abu itu, Hoa In-liong baru berpaling dan sahutnya kepada Leng hou Ki.

"Baiklah, jika engkau masih kurang puas mencicipi kelihayan ilmu pedang dari keluarga Hoa, aku Hoa loji pun tak akan menjadi orang kikir, mari akan kuberikan kepadamu sampai puas"

Lengan kanannya kembali bergerak pedang antik yang panjangnya mencapai empat depa itu segera diloloskan kembali.

"Jiko!"

Tiba-tiba Coa Wi-wi berseru kuatir, Hoa In-liong berpaling, dari sinar mata sang gadis yang jeli, dia sempat menangkap kegelisahan dan kekuatirannya, pemuda itu tahu bahwa gadis tersebut kuatir bila dia bukan tandingan dari Leng hou Ki.

Maka diapun tertawa nyaring.

"Haaa.... haaahh.... haaahh.... adik Wi tak perlu kuatir, lihat saja kuringkus iblis tua dari Seng sut hay ini dengan pedang antikku....!"

Sampai disitu, mendadak ia berkata kembali, cuma kali ini kata katanya disampaikan dengan ilmu menyampaikan suara.

"Berjaga-jagalah dimulut gua, Kongkong sudah banyak kehilangan tenaga murninya, sekarang beliau sedang bersemedi!"

Coa Wi-wi terkesiap mendengar keterangan itu, sebenarnya dia ingin menengok keadaan kongkong-nya, tapi niat tersebut segera diurungkan, pikirnya dalam hati.

"Orang-orang Hianbeng-kauw dan Mo-kauw tentu mengira isi gua tersebut hanya Hoa jiko seorang, bila aku masuk kedalam sekarang, perbuatanku ini pasti akan mengundang kecurigaan orang"

Berpikir sampai disitu, dengan biji matanya yang jeli dia mulai memeriksa keadaan disekitar sana, tampak dua bersaudara Leng hou berdiri berjajar kurang lebih dua kaki dihadapannya, beberapa lang kah kemudian berdiri Beng Wi-cian beserta keempat orang kakek berbaju hitam.

Kurang lebih sepuluh kaki dari mereka adalah Toan bok See liang, ke empat orang Ciu Hoa serta tujuh puluh orang anggota Hian-beng-kauw, selain itu masih terdapat juga belasan orang jago Mo-kauw yang mengurung tempat itu rapat-rapat.

Beratus-ratus pasangan mata tersebut, semuanya tertuju keatas tubuh Hoa In-liong, ternyata tak seorangpun diantara mereka yang menengok ke arah gua.

Tiba-tiba empat orang Ciu Hoa saling bsrpandangan sekejap, kemudian serentak tampil ke depan, Toan bok See liang agak mengerutkan dahinya melihat kejadian itu namun ia tidak berusaha untuk menghalangi kepergian mereka.

"Bocah keparat!"

Terdengar Leng hou Ki berseru dengan wajah menyeringai seram.

"karena terlalu gegabah, hampir saja aku jatuh kecundang ditanganmu. Hmm! Cuma.... kau tak usah tekebur dulu, lihat saja hasilnya nanti, siapa yang lebih jagoan diantara kita"

Hoa In-liong tertawa nyaring, tiba-tiba dia melancarkan sebuah tendangan ke arah kakek baju hitam yan tergeletak dimulut gua tanpa dihetahui mati hidupnya itu.

"Beng thamcu, sambutlah orangmu ini!"

Serunya.

Si kakek baju hitam yang berat badannya mencapai seratus kaki lebih itu seperti anak panah yang terlepas dari busurnya, segera meluncur kehadapan Beng Wi-cian.

Diam-diam Beng Wi-cian mengerahkan tenaga dalamnya, ia putar lengan kanannya lalu menyambut tiba tubuh tersebut.

Apa yang dijumpai?

Tubuh itu meluncur datang tanpa membawa daya tekanan apapun jua sekarang dia baru tahu jika tendangan yang dilancarkan Hoa In-liong barusan, pada hakekatnya hanya sebuah tendangan kosong belaka.

Tentu saja, kalau tendangan tersebut disertai tenaga yang amat besar, paling sedikit si kakek baju hitam yang terkena tendangan tadi bakal terluka parah atau paling sedikit tulang iganya akan patah dua tiga biji.

"Hebat benar tenaga dalam si bocah keparat ini pikirnya kemudian dengan hati terkejut.

"wah, kalau lwekangnya terus mendapat kemajuan sepesat ini, lama kelamaan dia pasti akan merupakan bibit bencana bagi kita semua"

Buru-buru dia periksa keadaan luka yang diderita kakek berbaju hitam tadi.

Ketika itu seluruh wajahnya sudah dilapisi hawa hitam yang tebal, napasnya amat lemah, untung tenada dalamya cukup sempurna hingga masih tersisa sedikit hawa mumi yang melindungi denyutan jantungnya.

Kenyataan itu segera membuat paras muka Beng W i cian berubah jadi hijau membesi, dengan penuh kebencian diliriknya sekejap Thia Siok bi, namun tak sepatah katapun diucapkan.

Secara beruntun ia menotok jalan darah Gi bu Sin hong serta beberapa buah jalan darah penting lainnya didada kakek baju hitam itu, kemudian ia serahkan tubuh anak buahnya itu kepada seorang kakek yang ada disampingnya.

"Salurkan hawa murnimu ke tubuhnya, kita harus menunggu sampai diperolehnya obat penawar untuk menawarkan racun itu"

Demikian pesannya.

Kakek berbaju hitam itu mengiakan, lalu menyambut tubuh rekannya.

Dengan demikian dari pihak Hian-beng-kauw telah jatuh korban satu tewas tiga terluka parah, di tambah pula cemoohan serta ejekan dari Thia siok bi, kesemuanya itu membuat Beng Wi-cian merasa benci bercampur dendam, cuma sebagai seorang yang licik, panjang akalnya dan pandai menyembunyikan perasaan, semua perasaaa tersebut hanya disimpan dalam hati kecilnya saja.

Dengan langkah lebar Hoa In-liong maju ke depan, ia baru berhenti kurang lebih beberapa tombak dihadapan dua bersaudara Leng-hou, setelah menyapu sekejap wajah kedua orang itu, katanya.

"Kalian berdua akan maju bersama atau seorang demi seorang?"

"Bajingan cilik yang tak tahu diri...."

Maki Beng Wi-cian dalam hatinya, Tapi diluar ia tertawa tergelak.

"Haaahh.... haaahhh.... haaahhh.... Hoa yang, ketahuilah ilmu silat yang dimiliki dua bersaudara Leng hou sudah mencapai tingkatan yang luar biasa, tak mungkin kau bisa menandinginya. Tidakkah kau merasa bahwa caramu yang sok dan mengibul hanya akan menurunkan derajat serta martabat keluarga Hoa?"

Ucapan itu mengandung hasutan dan berharap bisa mengadu domba musuhnya, sebagai jago yang berpengalaman tentu saja dua bersaudara Leng hou dapat merasakan hal itu, tapi mereka tidak menggubris....

Tiba-tiba Leng hou Ki berbisik kepada saudaranya dengan ilmu menyampaikan suara.

"Loji, berjaga-jagalah terhadap ikut campurnya budak busuk she-Coa tersebut, aku hendak menggunakan kesempatan ini untuk membinasakan bangsat cilik she Hoa ini untuk melampiaskan rasa den dam yang sudah tak terbundung"

"Lotoa, apakah dalam gua masih ada orang lain?"

Tanya Leng hou Yu kemudian dengan ilmu menyampaikan suara pula.

Sambil berkata matanya seperti sengaja tak sengaja melirik sekejap kearah mulut gua yang tertutup oleh tumbuhan rotan.

Leng hou Ki termenung sebentar, kemudian menjawab "Ketika aku masuk kedalam gua tadi, sibangsat cilik dari keluarga Hoa segera menghadiahkan sebuah bacokan ketubuhku, hingga waktu itu aku tak sempat memperhatikan dengan lebih jelas lagi, ta pi aku rasa didalam gua masih ada seorang lagi, tapi kau tak usah kuatir, kecuali Hoa Thian-hong, siapa lagi yang perlu kita kuatirkan?"

Yaa, bagaimanapun pongah dan tinggi hatinya dua bersaudara Leng-hou, mereka tetap menaruh tiga bagian rasa segannya terhadap Hoa Thian-hong, terutama sejak pertarungan dipuncak Kiu ci san untuk memperebutkan harta karun, kelihayan kungfu yang dimiliki Hoa Thian-hong telah memecahkan nyali semua orang dari Seng sut pay.

Hoa In-liong yang cerdik sempat menyaksikan pula gerakan bibir kedua orang itu, dia tahu kedua orang manusia durjana tersebut sedang bercakap-cakap dengan ilmu menyampaikan suara, apa lagi setelah menyaksikan sorot mata mereka melirik sekejap ke mulut gua, kontan saja sianak muda itu tertawa tergelak.

"Haaahh.... haaahhh.... haaahh.... kalian tak usah melirik-lirik lagi didalam gua memang masih terdapat seorang tokoh persilatan yang maha lihay. Cuma jago silat itu enggan untuk turun tangan terhadap kamu berdua jadi kalianpun tak perlu kuatir Sejak dulu Ciu Hoa lotoa paling benci menyaksikan sikap santai dari Hoa In-liong, rasa dendam dan sakit hatinya terhadap anak muda itu selalu menjadi ganjalan hatinya selama ini maka sehabis mendengar ucapan tersebut, ia tertawa dingin tiada hentinya.

"Heeehhh.... heeehhh.... heeehhh....tokoh persilatan macam apakah itu?"

Ejeknya.

"kongcu ya mu tidak percaya kalau dia begitu hebat!"

Sambil meloloskan pedang, selangkah demi selangkah dia maju menuju ke mulut gua.

Paras muka Hoa In-liong segera berubah membesi, dengan sekali lompatan tahu-tahu dia sudah menghadang dihadapan Ciu hoa lotoa.

"Ciu toa kongcu!"

Tegurnya.

"disini masih hadir sekian banyak jago persilatan yang jauh lebih lihay daripadamu darimu!"

Ucapan tersebut ditanggapi sebagai suatu penghinaan oleh Ciu Hoa lotoa, kemarahannya kontan saja memuncak, sambil bersuit nyaring tiba-tiba ia lancarkan bacokan maut ke depan.

Sedetik miringkan tubuhnya, Hoa In-liong berhasil memunahkan datangnya ancaman tersebut, kembali dia mengejek.

"Kalau cuma seorang diri, sudah jelas kau bukan tandinganku, lebih baik suruh saja saudara-saudara seperguruanmu untuk maju bersama-sama!"

Kalau cuma diejek saja masih mendingan, Ciu Hoa Lotoa merasa lebih sakit hati lagi karena sikap anak muda itu yang santai dan sedikitpun tidak pandang sebelah mata kepadanya.

Namun diapun sadar bahwa kepandaian silat yang dimilikinya memang bukan tandingan lawan, sebab itu ucapan tersebut segera ditanggapi dengan cepat.

"Lo sam, hayo kalian maju bersama!"

Teriaknya.

Semenjak tadi ketiga orang Ciu Hoa yang lain memang telah bersiap sedia untuk turun tangan, mendengar panggilan itu serentak mereka loloskan pedang sambil maju ke muka.

Beng wi-cian menggetarkan bibirnya seperti hendak menghalangi perbuatan mereka, tapi niat tersebut tiba-tiba diurungkan kembali.

Tiba-tiba Leng hou Yu berteriak dengan nada dingin.

"Kurangajar, kalian bocah bocah yang tak tahu diri berani benar mencampuri urusan dari kami berdua!"

Dengan marah dia kebaskan lengan kanannya, pukulan itu dimaksudkan untuk melemparkan Ciu Hoa berempat dari gelanggang pertarungan. Leng hou Ki yang jauh lebih licik segera berpikir.

"Bila ditinjau dari tenaga dalam yang dimiliki bangsat cilik dari keluarga Hoa ini, agaknya jaub berbeda sekali dengan apa yang tersiar dalam dunia persilatan, Ong sute mengatakan bahwa dia sudah terkena racun ular keji, kenapa paras mukanya tampak segar bugar? Jangan-jangan ada sesuatu yang tidak beres?"

Berpikir sampai disitu, timbullah niatnya untuk menyelidiki lebih dulu sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang dimiliki Hoa In-liong. Maka diapun berseru.

"Loji jangan terburu napsu! Biarkan saja mereka menjajaki lebih dulu kepandaian silat yang di miliki bocah keparat dari keluarga Hoa itu, kemudian kita baru membereskan dirinya"

Sementara pembicaraan itu berlangsung, keempat orang Ciu Hoa telah mengepung Hoa In-liong rapat-rapat.

Tanpa banyak berbicara Ciu Hoa lotoa menggetarkan pedang mustikanya lalu ditusukkan langsung ke dada Hoa In-liong, bentaknya.

"Hoa loji, serahkan nyawa anjingmu!"

Dengan suatu tangkisan seenaknya, Hoa In-liong mematahkan serangan tersebut, kemudian tertawa nyaring.

"Haah.... haahh.... haahh.... jangan tekabur kawan, nyawa milik Hoa loji tidak gampang kau renggut dengan begitu saja!"

"Siapa bilang sukar? Lihat saja serangan ini!"

Bentak Ciu Hoa kelima sambil membacok punggung anak muda itu. Hoa In-liong mengtgos kesamping kemudian memutar badannya melepaskan diri dari ancaman.

"Masa gampang?"

Kembali dia mengejek,"

Aku lihat kepandaian yang kalian miliki masih tertinggal jauh"

Begitu Ciu Hoa lotoa dan Coa Hoa longo turun tangan, Lo sam serta Lolak ikut menggerakkan pula senjatanya untuk melancarkan serangan.

Pada hakekatnya, tenaga dalam yang dimiliki empat orang Ciu Hoa itu cukup sempurna, terutama kerja sama mereka dalam melakukan pengepungan, maju mundur menghindar maupun menyerang semua dilakukan dengan sangat beraturan, atau dengan perkataan lain mereka sudah terbiasa melatih kerja sama tersebut tiap harinya.

Cahaya pedang hawa serangan yang dihasilkan kelihatan amat mengerikan.

Seluruh senyuman manis tetap menghiasi ujung bibir Hoa In-liong, sekalipun dia harus menghadapi tekanan dari empat bilah pedang mustika, tapi tubuhnya masih tetap berkelebat kesana kemari dengan entengnya, jangankan melukainya, untuk menjawil ujung bajunya saja sudah sukarnya bukan kepalang.

Berkenyit sepasang alis mata Beng Wi-cian, segera pikirnya.

"Walaupun dihari-hari biasa beberapa orang bocah keparat itu sombong dan tinggi hati, ternyata ilmu silat mereka memang cukup tangguh, terutama kerja sama mereka berempat, aku sendiripua belum tentu bisa menghadapi secara gampang tapi bocah keparat dari keluarga Hoa itu...."

Berpikir sampai disitu, tanpa terasa hatinya jadi tercekat. Lain halnya dengan Coa Wi-wi, dia sangat gembira dengan kejadian tersebut, pikirnya.

"Tak kusangka tenaga dalam jiko telah mendapat kemajuan sepesat ini, entah dengan cara apa kongkong membantu dirinya....?"

Setengah harian masalah itu ia lamunkan, akhirnya gadis itu berkesimpulan kecuali minum obat Yau ti wan rasanya tiada cara lain yaug bisa menghasilkan manfaat sebesar ini.

Lama kelamaan dia enggan untuk berpikir lebih lanjut, pokoknya semakin tinggi ilmu silat yang di miliki Hoa In-liong semakin senang pula dirinya.

Pelan-pelan dia alihkan kembali perhatiannya ketengah gelangang, mengawasi ujung baju Hoa In-liong yang berkibar terhembus angin dan tubuhnya yang bergerak maju mundur tak menentu.

Ditengah keheningan yang mencekam seluruh jagad, tiba-tiba berkumandang suara merdu yang empuk dan penuh daya pikat.

"Toako ini, bersedia memberi jalan lewat untuk ku bukan?"

Kecuali lima orang yang sedang terlibat dalam pertarungan, hampir semua yang lain paling kepalanya kearah mana berasalnya suara itu.

Entah sendiri kapan, diluar kepungan orang orang Hian-beng-kauw dan Mo-kauw telah kedatangan serombongan anak dara yang rata-rata berparas cantik jelita.

Ada yang berbaju kuning telor, ada yang memakai baju merah membara, ada juga yang memakai baju warna hijau pupus, pakaian yang berwarna warni serta paras muka yang cantik jelita menambah semaraknya suasana disekitar tempat itu.

Rombongan anak anak dara itu dipimpin oleh seorang gadis berbaju ungu, dia mempunyai mata yang memikat, hidung yang mancung dan bibir yang kecil mungil, meski cantik, sayang dara itu genit.

Dialah yang buka suara barusan.

Sebetulnya kawanan jago Hian-beng-kauw yang berada disekitar sana hendak menghalangi jalan pergi mereka, tapi setelah dikerling sekejap oleh nona berbaju ungu itu, entah apa sebabnya perasaan mereka jadi kebat kebit tak karuan, dan tanpa disadari pula serentak mereka mengundurkan diri serta memberi jalan lewat bagi rombongan gadis-gadis itu.

Bau harum semerbak serasa menusuk hidung, di antara gaun-gaun yang bergesek badan, serombongan gadis gadis cantik itu sudah melewati mereka.

Setengah jalan sudah dilewati ketika seorang anggota Hian-beng-kauw tiba-tiba menjadi sadar kembali dari lamunan, dia membentak keras lalu melarcarkan sebuah pukulan ke tubuh seorang dara berbaju kuning.

Dengan gesit nona berbaju kuning itu berkelit kesamping, lalu tertawa cekikikan.

"Hiiihh.... hiiihh.... hiiih.... jahat betul toako ini, jadi seorang semestinya berjiwa besar, masa rumpang lewat saja tak boleh?"

Saputangan berwarna kuaing telor yang ada ditangannya itu segera diayun kemuka....

"Aaaah...."

Jago Hian-beng-kauw itu mengeluh, tahu-tahu tubuhnya sudah roboh terkulai ditanah, terkulai lemas.

Peristiwa ini mendatangkan kebebohan ditempat itu, kawanan jago Hian-beng-kauw lainnya sama-sama membentak marah, dilihat gelagatnya mereka hendak turun tangan bersama.

"Biarkan mereka masuk!"

Tiba tiba Toan bok See liang membentak. Dengan genit nona cantik berbaju ungu yang merupakan kepala rombongan itu mengerling sekejap kearah Toan bok See liang, kemudian tertawa merdu.

"Ehmm....! Toan bok cianpwe memang tak malu menjadi Thamcu markas besar Hian-beng-kauw, baik kebesaran jiwanya maupun ketegasannya memang cukup mengagumkan hati orang"

"Hmmm....!"

Toan bok See liang mendengus, hawa murninya dikerahkan untuk bersiap sedia melancarkan serangan.

"nona tak usah memuji, aku tidak berjiwa besar, justru engkaulah terlalu keji, nah nona, hati-hatilah!"

"Aduuh mak...."

Nona berbaju ungu itu cekikikan.

"garang amat ucapan Toan bok thamcu, sampai siau-li jadi ketakutan setengah mati, untung nyawaku tak sampai rontok, coba tidak.... aku bisa ambil langkah seribu...."

"Hmm....! Mau mengambil langkah seribu? Terlambat!"

Tukas Toan bok See liang ketus.

"ku anjurkan kepada nona, lebih baik menunggu saja disini dengan tenang!"

Setelah berhenti sebentar ia bertanya lagi.

"Engkau berasal dari perguruan mana? Siapa namamu? Hayo cepat akui terus terang, kalau tidak.... awas kamu!"

Nona berbaju ungu itu memutar sepasang biji matanya, tiba-tiba sambil menutupi mulut sendiri dia cekikikan.

"Hiiihh.... hiiihh.... hiiih.... aku tak punya perguruan juga tak punya partai, soal nama...."

Kata itu sengaja ditarik panjang, kemudian tertawa cekikikan lagi.

"Hiihhh.... hiiihhh.... hiiihh....soal nama sih ada dua. Entah Toan bok toa thamcu ingiu mengetahui yang mana?"

"Siapa gerangan perempuan-perempuan itu?.... Toan bok See liang mulai berpikir, tampaknya sesat amat.... Hmm! Aku tak percaya kalau beberapa orang dayang cilik itu bisa menimbulkan obat tanpa berhembusnya angin...."

Berpikir sampai disitu, dia lantas mendengus dingin dan tidak berbicara lagi.

Sementara itu kawanan nona-nona tadi sudah memasuki gelanggang, sedangkan para jago dari Hian-beng-kauw dengan cepat menutup kembali pergepungan mereka yang terbuka itu.

Terhadap gerakan orang-orang Hian-beng-kauw, nona berbaju ungu itu tidak ambil perduli, malah melirikpun tidak, dengan langkah yang santai dia mendekati Beng Wi-cian berlima dan berhenti dua kali dihapannya....

Beng Wi-cian tak berani memandang enteng mereka, dengan cepat ia mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan yang tak inginkan kemudian ujarnya dengan ketus.

"Nona, sebetulnya engkau adalah sahabat atau musuh kami? Tolong berilah penjelasan, daripada lohu sampai menyalahi orang sendiri, akhirnya kan sama-sama tak enaknya"

Nona berbaju ungu itu tertawa.

"Terus terang kami katakan, sebenarnya siau-li ingin menyanjung kelompok yang dipimpin keluarga Hoa, sayang manusia semacam kami ini tak pantas untuk bergabung dengan mereka!"

"Hmm, kata-kata ini ada benarnya juga"

Pikir Beng wician.

"diantara kelompok kaum pendekar yang menganggap dirinya adalah golongan lurus, tentu saja tak mungkin ada manusia manusia genit yang jalang seperti mereka...."

Karena berpendapat demikian, tanpa terasa ia bertanya lagi.

"Jadi, kalau begitu nona sekalian adalah sahabat-sahabat perkumpulan kami?"

Nona berbaju ungu itu tertawa cekikikan.

"Sayang, kamipun tak sudi bergerombol dengan manusia-manusia macam setan seperti kalian"

"Budak keparat!"

Kontan saja Beng Wi-cian membentak marah. Telapak tangannya segera diayun siap melancarkan serangan, tapi ingatan lain dengan cepat mengurungkan niatnya itu.

"Beberapa orang dayang itu tak perlu terlampau dikuatirkan"

Demikian pikirnya,"

Yang mengherankan justru munculnya perkumpulan mereka itu, kenapa kami tak tahu menahu tentang organisasi tersebut?

Seperti juga keluarga Coa, suatu keluarga yang tak kedengaran namanya tapi berpihak kepada lawan, aku musti waspada...."

Sementara itu, Coa Wi-wi sudah menaruh perhatian juga kepada beberapa orang gadis itu, dia lihat diantara mereka terdapat pula ketiga orang nona yang pernah dijumpai dirumah makan Cwan seng lo tempo hari, waktu itu mereka tersenyum kearahnya tapi tidak menyapa.

Mengertilah Coa Wi-wi bahwa orang-orang Cian Li kau memang sengaja munculkan diri dengan membawa maksud-maksud tertentu, maka dia sendiripun berpura-pura tidak kenal, tapi kepada Thia Siok bi nona itu berbisik lirih.

"Cianpwe, mereka adalah orang orang Cian li kau, sahabat kami bukan musuh!"

"Thia Siok bi melirik sekejap kearah rombongan gadis-gadis itu, lalu menjawab.

"Aku lihat gadisgadis itu semuanya bertampang genit dan jalang, sudah pasti bukan berasal dari golongan lurus, mana bisa menjadi sahabat kita?"

"Apa salahnya?"

Seru Coa Wi-wi dengan gelisah, kaucu mereka adalah seorang perempuan yang berwatak baik hati dan setia dalam cinta.

Pada dasarnya gadis itu memang cantik bak bidadari dari kahyangan, waktu bicara membawa kemanjaan yang membuat orang jadi gemas, sekalipun Thia Siok bi menaruh maksud tertentu kepadanya, tak urung juga semua ketidak kesenangan hatinya tersapu lenyap, ia tersenyum lirih.

"Nak, jalan pikiranmu terlalu sederhana, jangan toh seorang guru yang budiman sukar mencegah munculnya murid yang jahat, sekalipun seorang yang setia pada cintanya, belum tentu mewakilkan kesetiaannya kepada orang lain...."

Tiba-tiba ia menghela napas dan membungkam.

"Jadi tidak baikkah orang yang berwatak terbuka dan setia pada cintanya?"

Tanya Coa Wi-wi sambil membelalakan sepasang matanya.

"Aaai....bocah ini terlampau polos?"

Pikir Thia Siok bi didalam hati, aku tak boleh mempengaruhi hatinya yang suci dan bersih itu...."

Maka sambil tersenyum katanya"

"Pinto kan tidak bilang tak baik!"

Setelah berhenti sebentar, ketika dilihatnya Coa Wi-wi masih berniat untuk bertanya lebih lanjut, maka ia berkata kembali.

"Coba lihatlah, jikomu sebenarnya masih mempunyai tenaga lebih, entah mengapa ternyata ia tak mau cepat-cepat meringkus keempat orang bocah keparat itu"

"Yaa, siapa yang tahu?"

Sahut Coa Wi-wi seraya berpaling sekejap kearah anak muda itu.

Dalam pada itu, si nona baju ungu yang berada dikejauhan sedang mengawasi Coa Wi-wi dari atas kepala sampai ke kakinya dengan pandangan mata yang jeli, kemudian gumamnya dengan suara lirih.

"Yaa.... dia betul-betul seorang gadis yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, aku si kuntum bunga yang sudah ternoda ketinggalan sangat jauh bila dibandingkan dirinya"

Kegenitan dan kejalangannya hampir tersapu lenyap, malah matanya berkaca-kaca seperti mau menangis, tampaknya ia merasa amat menyesal dengan keadaan pribadinya.

Si nona baju hijau yang ada disisinya ikut menghela napas.

"Toa cici!"

Bisiknya.

"kau...."

"Ji sumoay tak usah banyak bicara, aku mempunyai perhitungan sendiri"

Jawab nona baju ungu itu tiba-tiba.

Ucapan tersebut menyebabkan si nona baju hijau menjadi tertegun, tapi dia tak berani berbicara lagi dan segera membungkam diri.

Nona baju ungu itu menghela napas ringan, mendadak keseriusan wajahnya lenyap dan kebinalan serta kejaiangannya muncul kembali.

"Hoa kongcu...."

Panggilnya dengan lirih.

Waktu itu Hoa In-liong sedang bertarung melawan kerubutan empat bilah pedang antik, walaupun dikerubuti banyak orang, ia masih bisa bergerak kesana kemari dengan tenangnya.

Sejak munculnya rombongan anak-anak dara itu, dia sudah mengetahui kalau si nona berbaju ungu adalah Cian In, murid pertama dari Pui Che-giok.

Tersenyumlah dia setelah mendengar panggilan tadi.

"Baik-baiklah engkau nona Cia!"

Sapanya pula.

Pedang antiknya dibabat kedepan, bentrokan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian, secara beruntun ia telah singkirkan pedang dari Ciu Hoa lo sam dan Ciu Hoa Lo liok.

Setelah itu ujarnya lagi.

"Nona Cia, panggilan itu rasanya kurang mesra, bagaimana kalau kita kembali saja pada panggilan pertama ketika baru berkenalan dulu?"

Cia In tertawa cekikikan, tiba-tiba panggilnya.

"Engkoh Khi!"

"Yaa, enci In!"

Sahut pemuda itu. Setelah berhenti dia berkata lagi.

"Kau toh sudah tahu jika aku tidak bernama Pek Khi, kenapa nama itu juga yang kau pakai?"

Pembicaraan berlangsung santai diiringi gelak tertawa yang riang, keadaan semacam ini mana mirip suatu keadaan pertarungan yang sengit?

Merasa dianggap enteng oleh musuhnya, keempat orang Ciu Hoa itu naik darah dan marah-marah besar, tapi percuma saja kemarahan itu karena tidak membantu keadaan.

Cia In tertawa cekikikan.

"Anggap saja sebagai suatu kenangan!"

Sahutnya. Beng wi-cian yang mengikuti berlangsungnya adegan itu diam-diam mulai berpikir.

"Dua orang muda mudi itu, yang satu adalah jago perempuan yang berpengalaman luas sedang yang lain adalah perempuan jalang dari golongan rendah.... heeeh.... heehh.... heeehh.... dilihat dari cara mereka bergaul, tampaknya sebelum ini sudah terjalin suatu hubungan yang cukup hangat. Kendatipun demikian, berbicara dari kedudukan serta nama baik keluarga Hoa adalah dunia persilatan, tak mungkin mereka bersedia menerima perempuan macam begitu sebagai menantu nya.... akhirnya lantaran cinta tentu akan menimbulkan dendam, haaahh.... haahh.... haaahh....peristiwa tersebut tentu akan merup-akan suatu tontonan yang amat menarik!"

Rupanya Thia Siok bi juga mempunyai pandangan yang jelek atas diri Cia In, alis matanya tampak berkenyit setelah menyaksikan adegan mesra itu diam-diam ia menyumpah dihati.

"Telur busuk, bocah keparat dimana-mana main perempuan bikin tak sedap pandangan saja...."

Kepada Coa Wi-wi yang berada disisinya ia lantas berkata.

"Bukan ingusan, mengapa tidak kau urus si bocah keparat telur busuk itu?"

"Siapa?"

Seru Coa Wi-wi setelah tertegun sejenak.

Tapi ucapan itu segera dipahami, katanya pula.

Cianpwe maksudmu jiko ku?

Kenapa aku musti urusi jiko?

Apa yang jiko suka akupun ikut menyukai, apa yang dia senangi aku ikut pula senang, aku tahu jiko amat cerdik, tindakan secara perbuatannya pasti tak akau keliru"

"Bodoh amat engkau si budak ingusan!"

Pikir Thia Siok bi.

Tapi ia merasa kagum dan tertarik juga oleh ketulusan cinta serta kejujuran dan kepolosan waktu dara itu, ini membuat rasa sayangnya terhadap gadis itu makin bertambah.

Terbayang kembali keadaan muridnya, satu ingatan tiba-tiba melintas dalam benaknya.

"Andaikata pinto berharap agar muridku bisa hidup bersama dengan kalian, apakah kau dapat menerimanya dengan senang hati?"

"Cianpwe maksudkan enci Wan?"

Sorak Coa Wi-wi kegirangan.

"sejak semula aku sudah memaksa enci Wan agar tetap tinggal bersama kami, tapi dia tak mau. Tentu saja gembira hatiku bila enci Wan mau berkumpul bersama kami"

Diam-diam Thia Siok bi merasa girang setelah mendengar perkataan itu, harapannya timbul kembali, tapi terbayang kembali keadaan Wan Hong giok sekarang, dia berpikir lagi.

"Hati manusia gampang berubah, siapa tahu pikirannya dikemudian hari akan berubah, aaai.... sudah pasti anak Giok yang berada di pihak yang kalah. Hmm! Jika sampai begitu, bukankah dia akan bertambah tersiksa....?"

Untuk sesaat dia gembira karena muridnya masih ada harapan, tapi terbayang kembali betapa Wan Hong giok telah ternoda, ia merasa murung, kesal dan bersedih hati.

Tiba-tiba keheningan dipecahkan oleh teriakan Leng hou Yu yang tak sabar lagi.

"Hei empat bocah keparat dari Hian-beng-kauw, kepandaian silat kalian sangat terbatas, apa gunanya musti bersusah payah memaksakan diri? Hayo cepat mundur, daripada menjual malu saja disitu!"

Malu dan gusar bercampur aduk dalam perasaan keempat orang Ciu Hoa itu, Ciu Hoa lotoa segera membentak keras.

"Lo sam, Lo ngo, kita tak usah sungkan-sungkan lagi, bunuh saja keparat itu!"

Tubuhnya segera berputar kencang, permainan pedangnya ikut berubah juga, tampaklah cahaya tajam berkilauan memenuhi seluruh angkasa sebentar muncul disebelah kiri sebentar lagi muncul disebelah kanan, ibaratnya ular yang sedang berjalan berliuk-liuk, sungguh hebat dan membingungkan hati.

Menyaksikan kelihayan tersebut, semua penonton mulai tertarik dan wajah mereka rata-rata berubah hebat, demikian pula keadaannya dengan Coa Wi-wi serta Thia Siok bi, jantung mereka terasa berdebar keras saking kagetnya.

Hoa In-liong yang harus menghadapi serangan sedahsyat itu, dalam hati segera berpikir.

"Ilmu pedang yang mereka gunakan amat ganas tajam dan luar biasa, berbeda sekali dengan permainan ilmu pedang pada umumnya, masih untung tenaga dalam mereka amat lemah hingga kepandaian yang maha dahsyat itu masih belum bisa mengapa-apakan diriku, tapi kalau sampai bertemu sendiri dengan Hian-beng Kaucu.... waaah, tentu berbahaya sekali!"

Berpikir sampai disitu, timbullah niatnya untuk memperhatikan sumber aliran dari permainan ilmu pedang itu, agar sedikit banyak dalam hatinya sudah mempunyai gambaran tentang permainan ilmu pedang tadi.

Asal sudah ada gambarannya, bila sampai bertemu lagi dikemudian hari, diapun tak usah kuatir terjerumus ke dalam jebakan musuh....

Jilid 33 BEGITU niatnya diputuskan, dia menarik kembali senyuman yang menghiasi bibirnya itu, seluruh perhatian ditujukan ke tengah gelanggang dan permainan pedangnya ikut menjadi serius pula.

Hawa pedang memenuhi angkasa, desingan angin tajam memekikkan telinga, terutama dibawah terpaan cahaya sang surya, terhiaslah beratus-ratus buah jalur pedang yang menyilaukan mata.

Kedua belah pihak sama-sama memusatkan segenap tenaga dan perhatiannya pada permainan ilmu pedang masing-masing, keseriusan ketegangan mencekam seluruh angkasa, bentrokanbentrokan nyaring ikut menyemarakkan suasana, bikin jantung mau copot rasanya.

Diantara bayangan manusia yang saling menyambar itu, secara lapat-lapat terselip hawa napsu membunuh yang mengerikan, demikian seramnya waktu itu membuat para penontonpun ikut merasa tegang.

Selangkah sesaat kemudian, para penonton mulai menyaksikan kemantapan serta keteguan Hoa In-liong dalam menghadapi pertarungan, sebaliknya keempat orang Coa Hoa itu menunjukan kegelisahan, siapa menang siapa kalah rasanya dari perubahan sikap itupun mudah ditebak.

Dua bersaudara Leng hou memang sombong dan tinggi hati, namun pengetahuan maupun pengalamannya dalam soal ilmu silat memang tak bisa disangkal setelah mengikuti jalannya pertarungan itu beberapa saat, Leng hou Yu lantas berbisik dengan ilmu menyampaikan suaranya.

"Pada mulanya aku masih menaruh curiga kenapa bocah keparat itu dapat menjadi ketua dari suatu perkumpulan besar, bila ditinjau dari kepandaian silat yang dimiliki muridmuridnya ini, dia memang amat Iihay!"

"Aaah.... kamu ini terlalu memandang enteng bocah keparat itu"

Sahut Leng hou Ki dingin, jika dia tak punya kepandaian yang mengagumkan masa ji-suheng mau bersabar sampai sekarang?"

"Hmmm....! Bangsat itu lupa budi dan lupa kebaikan orang, setiap kali teringat tenaga dia, amarah serasa mau meledak dan sukar dikendalikan"

Kata Leng-heu Yu lagi sambil menggigit bibir. Leng hou Ki tertawa dingin.

"Sekalipun tak terkendalikan juga harus dikendalikan. Heehh.... heehh.... heeehh.... jika keluarga Hoa telah dimusnahkan, Hmm! Memangnya kau anggap Hian-beng-kauw masih bisa bercokol terus dipemukaan bumi...."

Leng hou Yu melirik sekejap ke arah Hoa In-liong yang berada ditengah arena, kemudian berkata lagi.

"Ilmu silat yang dimiliki bocah keparat itu sangat tinggi, kemajuan yang berhasil dicapai teramat pesat, sampai aku sendiripun ikut merasa terperanjat. Manusia semacam ini tak boleh dibiarkan hidup terus didunia!"

Beberapa patah katanya yang terakhir ini diucapkan tanpa menggunakan ilmu menyampaikan suara, hingga nadanya yang tinggi rendah tak menentu itu dapat didengar oleh setiap orang.

Coa Wi wi merasa terperanjat, hawa murninya segera dihimpun menjadi satu, perhatiannya tertuju seratus persen kearena pertarungan, dia telah bersiap sedia memberikan pertolongan bilamana perlu.

Hoa In-liong pribadi, walaupun sedang terlibat dalam pertarungan yang seru, namun setiap patah kata tadi dapat didengar olehnya dengan jelas, pikirnya dihati.

"Hmmm....! Manusiamanusia sesat dari luar perbatasan memang selalu buas dan tak tahu aturan, perbuatan macam apapun sanggup mereka lakukan meski bertentangan dengan suara hati mereka...."

Dia lantas memutuskan untuk menyelesaikan pertarungan itu secepat mungkin, bentaknya dengan suara dingin.

"Jika kalian berempat tak mau mundur lagi, jangan salahkan kalan aku Hoa loji terpaksa akan menyusahkan kamu sekalian!"

"Hoa loji, tak ada gunanya banyak ngebacot, kita tentukan saja menang kalahnya diujung senjata"

Teriak Ciu Hoa loji sambil menyerang dengan pedangnya.

"Haaahhh.... haaahhh.... haaahh....betul juga perkataan itu"

Kata Hoa In-liong sambil tertawa tergelak.

"nah, lihatlah serangan pedangku ini!"

Permainan pedangnya segera berubah, dia menyerang secara bertubi tubi dengan tenaga serangan yang maha dahsyat.

Ibaratnya terjadi angin ribut, deruan angin sedang memekikkan telinga, seluruh permukaan dan udara diselimuti desingan tajam yang memekikkan telinga itu.

Ilmu pedang yang dimainkan sekalian Ciu Hoa memang terhitung tangguh, akan tetapi jika dibandingkan dengan permainan pedang anak muda itu, tampaklah mutu permainan dari masing-masing pihak.

Sekarang mata semua orang baru terbuka, mereka baru kagum dan memuji tiada hentinya, terutama dua bersaudara Leng hou, sikap memandang rendahnya cepat ditarik kembali.

Diantara kilatan cahaya pedang yang menyilaukan mata, tiba-tiba terdengar Hoa In-liong berseru.

"Ciu kongcu berempat, pegang pedang masing-masing yang erat, jangan sampai terlepas lho!"

Berbareng dengan selesainya perkataan itu, terjadilah suatu benturan nyaring yang memekikkan telinga....

"Traaang! Traaang! Traaang! Traaang!"

Empat kilatan cahaya putih membumbung tinggi keudara lalu tersebar keempat penjuru.

Dua diantaranya membentur dinding karang dan rontok ketanah dengan menimbulkan suara nyaring, satu menyambar lewat dari atas kepala Beng Wi cian dan kena ditangkap olehnya, sedang satu yang terakhir menyambar diatas kepala Leng hou Yu, tapi terkena sapuanya sehingga pedang itu bagaikan anak panah yang terlepas dari busur nya meluncur masuk kedalam hutan bambu kurang lebih sepuluh kaki ditepi gelanggang.

Tiga orang anggota Hian-beng-kauw cepat-cepat mengejar jatuhnya pedang itu dibalik hutan serta dipungutnya kembali.

Hoa In-liong sendiri dengan pedang disilangkan didepan dada, berdiri sambil tersenyum.

Keempat orang Ciu hoa itu berdiri terbelalak dengan tangan hampa, mulut mereka melongo saking kagetnya, napas yang tersengkal sengkal dan dada yang berombak menunjukan kalau mereka sudah kehabisan tenaga.

Dengan perasaan malu, gusar kaget dan mendongkol mereka berdiri membungkam dalam seribu bahasa.

"Beng Wi cian kuatir mereka tak dapat mengendalikan emosinya, cepat-cepat dia berseru.

"Kongcu sekalian harap segera mengundurkan diri, apa gunanya memperebutkan soal menang kalah dengan bocah keparat dari keluarga Hoa itu....!"

Kendatipun keempat orang Cia Hoa itu adalah manusia-manusia kasar yang sudah dikendalikan namun mereka cukup memahami bahwa ilmu silat yang dimilikinya bukan tandingan Hoa Inliong, setelah menemukan kesempatan untuk mengundurkan diri tanpa harus kehilangan muka, merekapun mundur dari gelanggang.

Rupanya Cia Hoa lotoa masih belum puas dengan hasil pertarungan itu, kembali hardiknya dengan suara nyaring.

"Ingatlah engkau wahai Hoa loji, sementara waktu kutitipkan nyawamu ditubuhmu, tapi suatu ketika nanti, pasti akan kurenggut kembali....!"

Hoa In-liong tersenyum.

"Kurang baik bila aku cuma membungkam katanya, biarlah pernyataan itu kusanggupi dibibir saja. Setelah berhenti sebentar ujarnya lebih jauh.

"Namun aku Hoa loji cukup memahami bagaimanakah perasaan seseorang yang menderita kekalahan, maka akupun tidak akan banyak ribut lagi"

Ciu Hoa lotoa mangkelnya luar biasa, tapi ia cuma bisa mendengus saja tanpa sanggup banyak berbicara lagi. Cia In yang selama ini cuma membungkam, tiba-tiba berseru sambil tertawa cekikikan.

"Engkoh Khi, engkau betul-betul memiliki hati seluas Buddha, sampai terhadap musuh busukpun bersedia untuk mengampuni"

Ucapan itu segera disambut dengan gelak tertawa cekikikkan dari hawa gadis lainnya, suasana yang tegang jadi santai kembali, ibaratnya kicauan burung nuri dipagi hari, suasana terasa lebih nyaman dan menyegarkan....

Diantara sekian banyak orang, keempat orang Ciu Hoa lo sam yang paling berangasan segera kenali kembali Cia In sebagai pelacur yang telah permainkan dirinya tempo hari, dia menjadi berang.

Dengan langkah lebar dihampirinya Cian In lalu dengan wajah menyeringai seram katanya.

"Hei engkau lonte busuk dari Gi sim wan, mau apa datang kemari?"

"Ingin menjajakan dirimu atau ingin mencari kematian buat dirimu....?"

"Sekalipun ingin menjajakan diri, tak nanti aku akan menjajakan diri kepada Cia In dengan dahi berkerut, apa gunanya Ciu sam-kongcu musti bersikap garang kepadaku?"

Ciu Hoa lo sam tertawa seram.

"Bagus! Bagus sekali! Rupanya engkau sudah tidak maui sarang lontemu itu?"

Kembali Cia In tertawa terbahak-bahak.

"Semenjak dulu Gi sim wan siapa menunggu kedatangan kongcu! Cuma lain kali kongcu musti lebih hati-hati sebab tidak akan semudah tempo dulu untuk keluar dalam keadaan selamat"

Hoa In-liong sangat memperhatikan ucapan tersebut, sehabis mendengar perkataan itu, dia lantas berpikir.

"Tempo hari Cui Hoa lo-sam dan Ciu Hoa Lo-ngo telah menyatroni Gi sim wan tanpa kuketahui bagaimana akhir urusan itu, tapi kalau didengar dari perkataannya Cia In, rupanya mereka telah mendapat kerugian besar. Ehmm....! Secara terang-terangan dia berani memusuhi Hian-beng-kauw, mungkinkah perkumpulan Cian li kau hendak dibuka secara resmi?"

Sementara itu Ciu Hoa lo sam telah membentak keras.

"Lonte busuk! Lihatlah sam ya mu akan mencekik engkau sampai modar....!"

Sebuah pukulan dahsyat dilontarkan ke depan. Ciu In terkejut, serunya.

"Sam kongcu. Kau anggap perempuan lemah itu gampang dipermainkan orang....?"

Telapak tangannya yang lembut diayun kemuka untuk menyambut datangnya serangan tersebut.

Beng wi cian sempat menyaksikan sesuatu yang aneh pada serangan tersebut, kiranya dikala Cia In melepaskan pukulan tadi, beberapa orang gadis yang berada dibelakangnya serentak menjulurkan pula telapak tangan sambil ditempelkan pada punggung rekan didepannya.

Dia tahu gelagat tidak menguntungkan, segera bentaknya cepat.

"Sam kongcu, cepat mundur!"

Sambil berteriak sepasang telapak tangannya segera didorong kemuka melancarkan sebuah pukulan.

Berkilat sepasang mata tiga orang Ciu Hoa lainnya setelah menyaksikan kejadian itu, serentak mereka melancarkan pula sebuah pukulan kemuka.

Dengan demikian sekaligus ada empat gulung tenaga pukulan bersama sama membendung datangnya ancaman dari Cia In itu.

Beberapa gerakan itu dilakukan dengan kecepatan luar biasa...."

Blaang!"

Suatu benturan keras menggelegar memecahkan kesunyian.

Oleh tenaga pantulan yang dihasilkan dalam serangan tersebut, Beng wi cian serta tiga orang Ciu Hoa terdorong mundur sampai beberapa langkah, sebaliknya Cia In berikut tujuh delapan orang ga dis yang berada dibelakangnya ikut mundur juga sejauh dua langkah.

Paling parah keadaannya adalah Ciu Hoa lo sam, bagaikan layang layang putus benang, tubuhnya mencelat jauh ke belakang.

Ketika terjatuh ke tanah tampaklah darah kental meleleh keluar dari panca inderanya.

Hebat sekali akibat dari benturan itu, Beng wi cian berempat menderita luka dalam yang cukup parah, bawa darah dalam dada mereka bergolak keras, cepat seluruh perhatian mereka dipusatkan untuk mengatur napas dan bersamadi.

Empat orang kakek baju hitam yang berada dibelakangnya memburu ke depan, mereka segera menggotong tubuh Ciu Hoa lo-sam yang tergelatak tak sadarkan diri itu.

WAKTU itu keadaan Ciu Hoa lo sam sangat gawat, mukanya sepucat mayat, noda darah membasahi lubang inderanya, dia berada dalam keadaan tak sadar.

Bagaimana dengan Cia In sekalian?

Ternyata mereka tidak kekurangan sesuatu apapun.

Serangan yang dilancarkan Cia In itu memang sangat hebat, tapi setiap jago yang hadir dalam gelanggang dapat menyaksikan bagaimana kekuatan yang dihasilkan oleh Cia In itu berasal dari tenaga gabungan tujuh delapan orang gadis dibelakangnya, atau dengan perkataan lain tenaga serangan itu berasal dari gabungan tenaga dalam beberapa orang itu yang disalurkan dengan ilmu menyampaikan tenaga meminjam badan.

Meskipun hebat, kejadian itu bukan suatu peristiwa yang patut diherankan.

Setiap jago dalam dunia persilatan rata-rata mampu menggunakan cara penyaluran tenaga semacam itu tapi kepandaian seperti apa yang dilakukan Cia In sekalian itu luar biasa, sudah tentu mempunyai kepandaian khusus yang harus dipelajari lebih dulu.

Berbicara menurut kepandaian silat sesungguhnya, ilmu silat yang dimiliki Cian In paling banyak hanya sanggup menandingi seorang Ciu Hoa, bila dibandingkan Beng Wi cian tentu saja masih ketinggalan jauh.

Tapi kenyataan yang terjadi kemudian benar-benar jauh diluar dugaan setiap orang....

Toan bok See liang berpikir juga.

"Beng tua biasanya selalu gagah perkasa, terutama dengan perhitungannya dalam menghadapi pelbagai masalah, tapi akhirnya dia terkecoh juga di tangan orang, apalagi kalau ditangan beberapa o-rang gadis yang belum diketahui asal usulnya, sungguh merupakan suatu peristiwa yang tragis! Aii....! Dalam bentrokan ini, dari pihak yang menang perkumpulan Hian-beng-kauw jadi pihak yang kalah, masih mendingan kalau cuma kehilangan beberapa orang jago, yang lebih tragis lagi nama besar serta wibawanya ikut ternoda...."

Setelah berpikir sebentar, dengan wajah sedingin es dia membi sikkan sesuatu kepada orang di sampingnya, lalu dia maju menghampiri rombongan Cian li kau itu diikuti dua orang kakek berbaju hijau.

Sekalipun mengetahui kalau musuhnya terluka, Cia In tak berani gegabah, sepisang biji matanya berputar kemudian diapun membisikkan sesuatu kepada rekan disampingnya.

Bayangan manusia berkelebat lewat, tiba-tiba kawanan gadis itu merubah posisi masing-masing dengan Cia In sebagai titik pusat mereka bentuk suatu lingkaran, tangan masing-masing saling bergandengan sementara punggung mereka menghadap keluar, diantara bayangan tubuh yang bergerak kesana-kemari tampak warna merah kuning hijau memenuhi angkasa, suatu pemandangan yang sangat indah "Oooh....rupanya mereka sedang membentuk suatu barisan untuk membendung serangan musuh!"

Pikir Hoa In-liong.

Sebenarnya dua bersaudara Leng hou tidak pandang sebelah matapun terhadap Cia In sekalian, karena itu selama ini mereka cuma membungkam diri belaka.

Tapi sekarang, sesudah menyaksikan kesemuanya itu, timbul juga rasa ingin tahu dihati mereka.

"Hei, kalian budak-budak ingusan, permainan setan apalagi yang sedang kalian lakukan?"

Bentak Leng hou Yu. Cia In tertawa.

"Oleh sebab kami menyadari bahwa tenaga dalam yang kami miliki terlampau cetek, maka sengaja diciptakan suatu permainan guna menyelamatkan keselamatan sendiri. Demi menjaga rahasianya permainan ini, maaf kalau kami tak dapat memberi penjelasan"

Leng hou Yu mendengus congkak.

"Hmmm....! Permainan apa? Cukup dengan sebuah pukulan, pasti permainan kalian akan buyar dan kamu-kamu semua mampus secara mengerikan!"

"Apa satahnya kalau dicoba?"

Tantang Cia In. Mendengar tantangan tersebut, diam-diam Hoa Inliong berpikir didalam hati.

"Tenaga pukulan yang dihasilkan dari Ciat ti coan kang (meminjam tubuh menyalurkan tenaga) meski lihay tapi tidak sempurna, menghadapi jagoan biasa mungkin menghasilkan, tapi untuk menghadapi Leng hou siluman tua yang berilmu tinggi, tindakan semacam itu justru sangat berbahaya.... aai, kalau sampai diobrak-abrik oleh siluman tersebut, bukankah sama artinya dengan kalian mencari kematian buat diri sendiri?"

Benar juga, Leng hou Yu sangat marah menerima tantangan itu, sambil tertawa seram katanya.

"Heehh.... heehh.... heehh.... aku jadi ingin tahu selain ilmu sesat pembius sukma dan ilmu Ciat ti coan kang, masih ada kepandaian apa lagi yang kalian miliki?"

Selangkah demi selangkah dia maju ke depan menghampiri Cia In dan rombongan.

Hoa In-liong cukup yakin akan kemampuan orang-orang Cian li kau, diapun percaya kecuali beberapa macam kepandaian itu, mereka masih memiliki ilmu simpanan lainnya.

Kendatipun demikian, anak muda itu masih tetap kuatir, dia kuatir beberapa orang gadis itu tak sanggup menggadapi Leng hou Yu yang tangguh, terutama dalam soal tenaga dalam, maka pikirnya.

"Bagaimanapun jua aku musti lindungi anggota Cian li kau ini, sebab bila sampai terjadi hal-hal yang tak inginkan atas diri mereka bagaimana pertanggungan jawabku dihadapan bibi Ku?.... Berpikir sampai disitu, sinar matanya dialihkan sekejap ke arah Coa Wi-wi sambil memberi tanda, kemudian kepala Leng hou Yu dia berkata.

"Cukup pantaskah seorang muda dari Im tiong san seperti aku ingin mohon petunjuk ilmu silat dari seorang jagoan Seng sut pay?"

Melihat lirikan anak muda itu, Coa Wiwi segera memahami artinya, dia tahu anak muda mohon kepadanya untuk mewakili Cian li kau menghadapi musuh tangguh.

Tanpa berpikir panjang, dia menjajakkan sepasang kakinya ke tanah lalu melayang turun dihadapan Leng hou Yu seraya membentak.

"Manusia Leng hou pertarungan kita tadi belum diselesaikan, sebelum mencari gara-gara dengan orang lain, alangkah baiknya jika pertarungan kita diteruskan lebih dulu!"

Terhadap gadis tangguh ini rupanya Leng hou Yu sudah menaruh rasa segan, tanpa terasa dia berhenti sambil berpikir.

"Lotoa harus menghadapi bocah dari keluarga Hoa itu, jika aku musti menghadapi dayang ini sendirian.... lebih banyak keoknya daripada berhasil...."

Sebelum dia mengambil keputusan, leng hou Ki dilain pihak telah menyahut.

"Yaa meskipun selisih dikit, tapi tak apalah...."

Sambil mengangkat tangan kanannya, dia melangkah maju ke depan.

"Silahkan!"

Ujar Hoa In-liong sambil tertawa, pedang bajanya direntangkan dan dia tutup rapat seluruh tubuhnya.

Seketika itu juga keheningan mencekam seluruh gelanggang.

Pertatungan yang bakal berlangsung ini bukan suatu pertarungan biasa, disatu pihak adalah seorang gembong iblis dari Mo kau yang sudah tersohor karena keganasannya, dilain pihak adalah seorang jago muda keturunan tokoh persilatan yang belum lama munculkan diri.

Sebenarnya semua orang beranggapan bahwa Hoa In-liong bukan tandingan Leng hou Ki tapi setelah berlangsungnya pertarungan tadi, dimana secara gemilang anak muda itu berhasil mengalahkan empat orang Ciu Hoa, pandangan semua orang mulai berubah, dan atas dasar itu pula mereka tak berani memastikan siapa yang bakal menangkan pertarungan itu.

Bila Leng hou Ki yang kalah, sudah tentu tak ada perkataan lain.

Sebaliknya kalau Hoa In-liong yang kalah, maka akibat sampingannya tentu luar biasa sekali.

"Pertama, semua orang sudah tahu kalau jago-jago Seng sut pay rata-rata buas, kejam dan melebihi ular berbisa, apalagi mereka mempunyai dendam sedalam lautan dengan pihak keluarga Hoa, kalau anak muda itu sampai kalah, pihak Mo kau tak segan-segannya pasti akan membinasakan dirinya, atas pembunuhan itu Hoa Thian-hong tentu tidak terima, akibatnya pertarungan terbuka pasti akan berlangsung. Kedua, akibatnya dalam dunia persilatan pasti akan berlangsung badai pembunuhan yang paling mengerikan, malah kehebatannya akan melebihi pertarungan di bukit Kiu ci san tempo dulu. Sementara itu Leng hou Yu mendengus dingin, ia putar badan sambil mengawasi dua orang itu, dia tahu Coa-Wi-wi tak mungkin akan menyergap orang dari belakang, sedangkan tentang Cia In sekalian, pada hakekatnya ia tak pandang sebelah mata pun terhadap mereka. Coa Wi-wi juga tidak memperdulikan Leng hou Yu lagi, sebab semua perhatiannya telah tertuju ke tengah gelanggang di mana kekasihnya sedang bersiap-siap melakukan pertarungan. Toan bok See Liang yang sebenarnya hendak menantang Cia In untuk bertarung, sekarang kehilangan pula gairahnya untuk melanjutkan niat tersebut, sorot matanya dialihkan pula ke tengah arena dimana Hoa-ln liong dan Leng hou Ki sedang saling berhadapan. Hoa In-liong berdiri dengan sikap yang tenang dan mantap, pedangnya terlintang didepan dada, begitu kokoh dan gagahnya ibarat sebuah bukit karang, membuat siapapun juga merasa kagum dan segan kepadanya. Leng hou Ki selangkah demi selangkah maju menghampiri Hoa In-liong diiringi senyum menyedikan yang mengerikan jaraknya dengan pemuda itu tinggal dua kaki, sebenarnya sekali hajar saja se rangannya pasti akan mencapai sasaran, tapi ia tidak berbuat demikian, malahan setelah melampaui jarak tersebut, langkahnya kian lama kian lambat seperti rangkakan seekor siput. Semakin dia berbuat demikian, semakin gawat pula situasinya, sebab setiap serangan yang dia lancarkan pasti merupakan suatu serangan maut yang menggentarkan sukma, mungkin juga dalam serangan itu mati hidup seseorang akan ditentukan Padahal, Leng hou Ki sendiripun tak yakin dengan serangannya itu dia tak yakin kalau kemenangan pasti berada dipihaknya. Seandainya simpai kalah, niscaya nama baiknya akan ternoda dalam muka umat persilatan, dan dia tak merasa punya muka lagi untuk tancapkan kaki dalam dunia persilatan. Sebaiknya membinasakan pemuda itu, diapun merasa belum tiba waktunya. Ia tak ingin bentrok secara terbuka dengan pihak keluarga Hoa hingga mengakibatkan posisi perkumpulannya sulit. Dengan pelbagai keadaan yang terbentang dideppan mata, pada hakekatnya keadaan gembong iblis itu ibaratnya menunggang dipung gung ,merasa segan. Tapi akhirnya dia nekad juga, sambil menggigit bibir dia menerjang maju terus kedepan. Situasi bertambah tegang, setiap saat suatu pertarungan sengit bakal berlangsung.... Pada saat itulah tiba-tiba terdengar seseorang berteriak dengan suara lantang.

"Leng hou hiante, tunggu sebentar!"

Serentak semua orang alihkan perhatiaannya kearah mana berasalnya suara itu, tampak dua sosok bayangan manusia ibaratnya kabut tipis yang melayang diudara, secepat sambaran kilat meluncur datang.

Leng hou Ki segera menghentikan gerakan tubuhnya, lalu berkata.

"Kaucu kami telah datang, terpaksa pertarungan ini harus ditunda untuk sementara waktu"

Terkesiap Hoa In-liong setelah mengetahui kalau Tang kwik Siu telah datang, tapi rasa cemasnya itu tak sampai diperlihatkan di atas wajahnya.

"Terserah"

Ia menyahut, kalau mau ditunda, marilah kita tunda!"

Dua orang yang baru datang itu adalah kakek-kakek berjubah kuning dengan rambut serta jenggot yang telah beruban semua, sungguh cepat gerakan tubuh mereka, tak sampai sekejap mata mereka sudah tiba ditengah gelanggang.

Serentak para jago dari Hian-beng-kauw menyingkir ke samping memberi jalan, sementara jagojago dari Mo kau bungkukkan badan memberi hormat....

Orang yang berjalan paling depan adalah seorang kakek bermuka merah padam, berjenggot perak dan memakai sebuah sabuk berukiran naga yang terbuat dari emas.

Naga emas itu panjangnya sembilan depa kepalanya sebesar cawan arak dan tubuhnya hidup dan indah sekali, sisik-sisiknya memantulkan sinar gemerlapan kuku, dan cakarnya merentang, boleh dibilang ukiran tersebut merupakan ciri khas dari ketua Mo kau.

Sedang kakek berjubah kuning lainnya mempunyai dandanan yang tak jauh berbeda dengan dua bersaudara Leng hou maupun Hu yan kiong sebu ah ikat pinggang naga perak menghiasi pinggangnya, dia mempunyai lengan yang panjangnya mencapai lutut, mukanya kurus kering, sepasang matanya seakan-akan setengah terpejam, dandanannya yang seram macam setan ditambah jubahnya yang penuh dengan lumpur, mengingatkan orang akan mayat hidup yang baru bangkit dari liang lahatnya.

Ketika kedua orang itu masuk ke dalam gelanggang, dua bersaudara Leng hou segera maju sambil siap melaporkan sesuatu, tapi Tang kwik Siu segera ulapkan tangannya.

"Hiante berdua harap tunggu sebentar!"

Buru-buru dua bersaudara Leng hou memberi hormat, kemudian putar badan dan berdiri dibelakang Tang kwik Siu serta kakek macam mayat hidup itu.

Hoa In-liong yang mengikuti perkembangan tersebut dari samping dapat menebak kalau kedudukan si kakek macam mayat itu jauh lebih tinggi dari pada dua bersaudara Leng hou, malah kemungkinan besar tenaga dalamnya tidak berada di bawah Tang kwik Siu.

"Tang kwik kaucu baik-baikkah engkau?"

Sapa Toan bok See liang.

"maafkanlah aku orang she Toan bok, lantaran ada luka dibadan tak bisa memberi hormat kepadamu"

"Saudara Toan-bok tak usah sungkan-sungkan"

Sahut Tang kwik Siu sambil tertawa. Beng wi cian yang sebenarnya sedang mengatur pernapasan, tiba tiba membuka matanya dan ikut memberi hormat.

"Sudah lama kukagumi nama kaucu, beruntung sekali kita bisa saling bertemu muka. Maaf bila aku terlambat menyambut kedatanganmu"

"Selamat berjumpa saudara Beng!"

Tang kwik Siu balas memberi hormat.

Sampai disitu, pelan-pelan sinar matanya beralih ke sekeliling tempat itu dan mengawasi semua orang satu demi satu, ketika memandang wajah Coa Wiwi dia hanya melirik sepintas lalu saja, akhir nva sorot mata itu berhenti diatas wajah Hoa In-liong.

Seketika itu juga, sorot mata semua orang ikut beralih ke wajah Hoa In-liong, mereka ingin tahu bagaimana cara anak muda ini menghadapi gembong iblis yang lihay itu.

Situasi dunia persilatan waktu itu dengan Hoa Thian-hong sebagai tokoh persilatan nomor satu, otomatis anak keturunan keluarga Hoa menjadi pusat perhatian pula dalam keadaan macam apapun.

Tentu saja dengan dasar pendidikan maupun peraturan keluarga Hoa, anak keturunannya mempunyai wibawa dan cara bertindak yang sesuai pula dengan kedudukannya.

Hal ini masih ditambah lagi dengan bekal ilmu silat yang tinggi, kesemuanya itu membuat setiap jago persilatan, setiap iblis dari golongan sesat menaruh hormat dan segan pula terhadap mereka.

Waktu itu, Hoa In-liong telah masukkan pedangnya kedalam sarung, lalu dengan sikap yang tenang dia memberi hormat.

"Hoa yang dari San see, menghunjuk hormat untuk Tang kwik kaucu!"

Katanya. Tang kwik Siu tidak membalas hormat itu, diperhatikannya pemuda itu dari atas sampai ke bawah dengan sorot mata yang tajam, tiba-tiba ia berkata dengan suara dingin.

"Jikongcu, lebih baik kau simpan saja semua tata cara adatmu yang kosong.... kau rasa kau pasti mengetahui dengan jelas bukan akan peristiwa yang terjadi banyak tahun berselang ketika ayahmu dengan mengandalkan ilmu silat yang tinggi menindas Seng sut -pay kami?"

Ucapan itu kian lama diucapkan makin dingin, hawa panas membunuh secara lapat-lapat menyelimuti pula diatas wajahnya.

Coa Wi-wi menguatirkan keselamatan Hoa In-liong ketika perkataan lawan didengar mengandung nada tak baik, diam-diam ia menggeserkan tubuhnya sambil bersiap siaga.

Berbeda Beng Wi cian, ia gembira sekali melihat kejadian tersebut, pikirnya.

"Lebih baik kalian bertarung lebih dulu, dengan begitu kami tinggal memungut hasilnya tanpa bersusah payah!"

Karena berpendapat demikian, dia lantas memberi tanda dan memimpin kawanan jagonya mundur ke sebelah kiri Tang kwik Siu, sementara Ciu Hoa lo-sam dan kakek berbaju hitam yang terluka itu diserahkan kepada anak buahnya.

Thia Siok bi yang menyaksikan para jago sudah mundur sejauh enam tujuh kaki dari mulut gua, dan lagi perhatian mereka sekarang tertuju pada Hoa In-liong, dia merasa tak ada gunanya menjaga gua itu lebih jauh.

Sambil mengebaskan senjata Hud timnya, To koh berjubah abu-abu itu ikut mundur kesamping Hoa In-liong.

Belasan gadis dari Cian li kau masih tetap berada ditempat semula, mereka hanya berdiri dengan senyum dikulum dari sikap mereka yang begitu santai, seakan-akan menunjukkan bahwa rombongan mereka hanya merupakan pihak ketiga yang bermaksud menonton keramaian belaka.

Jumlah kawanan jago dari Hian-beng-kauw ditambah Mo kau hampir mencapai sembilan puluh orang banyaknya, sedangkan pihak Hoa In-liong hanya berjumlah tiga orang, suatu perbandingan kekuatan yang sangat tak seimbang....

Hoa In-liong berpikir didalam hati.

"Tak nyana macam beginilah Tang kwik Siu sang kaucu dari Mo kau, dia cuma bisa memutar balikkan. Siapapun tahu kalau dimasa lampau pihak Seng sut pay hendak menguasahi seluruh kolong langit dan mengangkangi harta karun di bukit Kiu ci san, lantaran itu mereka dihukum oleh ayah sekarang mereka malahan menuduh ayahku yang menindas mereka dengan mengandalkan ilmu silat suatu fitnahan yang sangat keterlaluan.... Setelah berpikir sejenak, dia berhasil menenangkan pikirannya, lalu berkata.

"Engkau tak usah memutar balikkan kenyataan, bagaimanakah duduknya persoalan di masa lalu telah diketahui oleh setiap orang gagah didunia ini"

"Setiap orang gagah didunia ini?"

Tukas Leng hou Yu sambil mendengus.

"Sin ki pang, Thian Ik cu maupun Jin Hian adalah jago-jago dari golongan hitam, sisanya juga merupakan antek antek dari keluarga Hoa, apakah mereka adalah orang-orang gagah?"

Hoa In-liong tidak menggubris ocehan tersebut, lanjutnya.

"Sayang aku dilahirkan terlalu lambat, hingga kejadian tersebut tidak kualami sendiri, karenanya aku tak berani memberi pertimbangan apa-apa secara gegabah"

Setelah berhenti sebentar, dia menjura lalu menambahkan dengan suara lantang.

"Dalam kejadian hari ini, apakah mau bertempur atau akan damai, harap Tang kwik kaucu memberi penjelasan. Sekalipun aku cuma seorang bocah kemarin sore yang masih cetek ilmu silatnya dengan memberanikan diri akan kupikul semua resiko yang bakal terjadi. Seorang laki laki berbuat dia akan bertanggung jawab sendiri, maka aku minta mereka yang tidak tersangkut dalam peristiwa ini sudi dibiarkan berlalu tanpa diganggu....sebagai ketua suatu perguruan, tentunya kaucu tidak keberatan bukan....?"

Perkataan itu tidak terlalu meninggikan diripun tidak terlalu merendahkan derajat sendiri, meskipun penuh bernada patriot bukan berarti sombong, kesemuanya ini menciptakan suatu kewibawaan yang besar bagi anak muda itu.

"Bocah keparat, rupanya kau memang hebat!"

Puji Tang kwik Siu didalam hati. Leng hou Ki segera berteriak.

"Bocah kunyuk, besar amat bacotmu, tapi pantaskah engkau berkata demikian?"

Tang kwik Siu ulapkan tangannya mencegah orang itu berbicara lebih lanjut, tapi sebelum dia sempat mengucapkan sesuatu sambil tertawa merdu Cia In telah mendahului.

"Tang kwik kaucu adalah seorang tokoh persilatan yang sangat tersohor, masa dia mau menurunkan derajat sendiri untuk melayani seorang boanpwe macam kau, Hoa kongcu! Tidakkah kau rasakan bahwa perkataanmu itu kelewatan sombong?"

Hoa In-liong mengernyitkan sepasang alis matanya lalu berpikir.

"Walaupun maksudmu baik, sayang kau lupa siapakah Tang kwik Siu itu, dengan perkataanmu itu bukankah sama artinya dengan mencari penyakit buat diri sendiri?"

Betul juga, Tang kwik Siu melirik sekejap ke arah Cia In dengan pandangan hambar, tapi dengan cepat dia menoleh kembali kewajah Hoa In-liong rupanya dia segan untuk berurusan dengan kaum wanita.

Sekalipun hanya kerlingan sekejap saja, namun Cia In dapat merasakan betapa tajamnya sorot mata itu.

Kendatipun dia tak takut langit dan tak takut bumi, tercekat juga perasaannya.

"Nona cilik!"

Kata Tang kwik Siu aku lihat ilmu yang kau yakini adalah ilmu Cha Ii sim hoat sepengetahuanku kitab Cha li sim keng yang disimpan dalam istana Kiu ci kiong telah didapatkan Ku Ing ing, apakah engkau adalah anak murid dari Ku Ing ing?"

Kagum juga Hoa In-liong atas ketajaman matanya, dia tersenyum hambar seraya menukas.

"Kaucu, yang kau cari kan orang-orang dari keluarga Hoa, buat apa musti banyak bertanya tentang rahasia orang lain?"

Tang kwik Siu tertawa dingin.

"Heeehh.... heeehh.... heehh.... kau memang tak malu menjadi keturuanan keluarga Hoa, kegagahan dan kebesaran jiwamu sungguh membuat lohu merasa kagum"

Tiba-tiba dengan sikap yang jauh lebih santai, dia berkata lebih jauh.

"Ji kongcu, maaf kalau terpaksa aku hendak mengucapkan sepatah dua patah kata yang kurang sedap didengar. Walaupun tenaga dalam yang dimiliki ayahmu sangat lihay, tapi toh tetap berasal dari tingkatan yang lebih muda, apa yang dikatakan nona cilik itu memang benar, sekalipun lohu marah juga tak nanti akan menurunkan derajat untuk turun tangan sendiri"

Tiba-tiba Cia In tertawa merdu.

"Aku she Cia bernama In, siapa yaag kesudian dipanggil nona cilik?"

"Tutup mulutmu budak ingusan...."

Bentak Leng hou Yu dengan gusarnya. Tang kwik Siu tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh.... haaahh.... haaahh....sute, kau tak usah banyak berbicara lagi"

Sambil mengelus jenggotnya yang keperak-perakan, kembali ujarnya kepada Cia In.

"Aku ingin sekali mengetahui nama dari nona-nona sekalian, apakah kalian bersedia memberitahu?"

Cia In tertawa cekikikan.

"Nah, begitulah baru mirip gaya seorang kaucu dari suatu perkumpulan besar, kalau cuma main gertak sambil jual tampang wah gayanya tukang pukul kasaran...."

Diiringi gelak tertawa cekikikan, gadis itu memotong pembicaraannya sampai ditengah jalan.

Orang-orang Seng sut pay bukan manusia berotak kerbau, sudah tentu sindiran tersebut termakan oleh mereka, kontan saja semua orang menunjukkan wajah gusar.

Tang kwik Siu tidak menjadi marah karena sindiran itu, malah ujarnya sambil tertawa.

"Katakan saja nona!"

Dari gerak-gerik lawannya itu, Hoa In-liong mengambil suatu analisa dihati kecilnya.

"Dia begitu tenang, tidak gugup dan gerak-geriknya wajar dan dibuat-buat, rupanya sudah ada suatu rencana yang masak dalam hatinya.... aku musti berhati-hati...."

Sementara dia masih termenung, Cia In dengan suaranya yang merdu merayu telah memperkenalkan nama-nama dari belasan orang gadis itu, bukan saja mereka semua dari marga Cia, namapun hampir mirip antara yang satu dengan lainnya.

Tanpa terasa dia berpikir lagi.

"Tadi ia mengatakan kalau punya dua nama tentu saja seperti halnya dengan Cia In nama yang disebutkan pasti nama samaran belaka"

Tergelaknya dia karena geli, serunya.

"Semua nona-nona ini berasal dari marga Cia, tentunya nama mereka juga nama palsu semua bukan?"

Cia In ikut tertawa merdu.

"Apa yang ada didunia ini semuanya adalah palsu, apalagi tugas kami semua adalah berhubungan dan melayani orang dengan cinta palsu, tentu saja segala sesuatunya adalah palsu"

"Enci In!"

Tiba tiba Coa Wi-wi bertanya, apa sih pekerjaanmu? Kenapa musti berhubungan dan melayani orang dengan cinta yang palsu?"

Dengan mengandung maksud yang mendalam Cia In mengerling sekejap ke arah Hoa In-liong, lalu tertawa.

"Aku tak berani mengatakannya, sebab kuatir dimarahi jiko mu itu!"

Jawabnya. Sambil mencibirkan bibirnya Coa Wi-wi menengok kearah Hoa In-liong, rupanya pemuda itu memang tak ingin hal tersebut diketahui sang nona, dengan cepat dia berkata sambil tertawa.

"Jangan percaya dengan perkataannya, enci In mu ini adalah seorang petualang, tentu saja semua hal harus ditanggapi dengan hal hal yang palsu dan benar-benar!"

Lalu sambil memandang kearah Tang kwik Siu ujarnya lagi dengan nada hambar.

"Jika Tang kwik kaucu engkau turun tangan terhadap boanpwe, lantas bagaimanakah penyelesaiannya atas kejadian ini?"

Sambil mengelus jenggotnya Tang kwik Siu tertawa.

"Jangankan engkau, lohu sendiripun rada kebingungan!"

Hoa In-liong melirik sekejap kakek bertampang mayat hidup yang berada di belakangnya, lalu berkata lagi.

"Ataukah engkau hendak memerintahkan orang yang berada dibelakangmu itu untuk melayani aku?"

Sejak munculkan diri kakek bertampang mayat hidup itu hanya berdiri disamping Tang kwik Siu tanpa mengucapkan sepatah katapun, meski apa yang dikatakan Hoa In-liong barusan terdengar juga olehnya, toh dia tetap membungkam dalam seribu bahasa, melirikpun tidak.

Mendengar perkataan itu, mendadak Tang kwik Siu menengadah dan tertawa terbahak-bahak, lama sekali baru berhenti, Hoa In-liong tidak menunjukkan reaksi apa-apa menanti suara tertawanya sudah berhenti dia baru berkata, Persoalan apakah yang membuat Tang kwik kaucu kegelian?"

Sambil mengelus jenggotnya, Tang kwik Siu tertawa tergelak, sahutnya.

"Lohu saja enggan untuk turun tangan menghadapi dirimu, apa1agi dia! Engkau tahu, dia adalah kakak seperguruanku Seng To cu. Ilmu silatnya beratus-ratus kali lebih hebat daripada ilmu silatku, bayangkan sendiri masa dia mau menghadapi seorang bocah keroco seperti kamu?"

"Hmm....! Terang perkataan itu sengaja dibesar-besarkan"

Batin Hoa In-liong,"

Tapi kalau toh Tang kwik Siu berani berkata begini, berarti ilmu silat yang dimiliki Seng To cu itu memang jauh diatas kepandaiannya.... Aku tak boleh terlalu gegabah!"

Ia coba menengok wajah Seng To cu, tampaknya mukanya selalu kaku tanpa emosi, tapi pemuda itu tahu makin serius orangnya makin sukar di ramalkan sampai dimana kemampuan yang dimilikinya.

Coa Wi-wi sendiri ikut merasa terperanjat, tapi ia tak suka dengan sikap Tang kwik Siu yang sok ketua-ketuaan itu, maka dia lantas menyela dengan bibir yang dicibirkan.

"Huuuh....tiga diantara saudara seperguruan kaucu telah kami jumpai, rasanya mereka juga tiada sesuatu kemampuan yang pantas dibanggakan!"

Dua bersaudara Leng hou marah sekali mendengar perkataan itu, terutama Leng hou Yu yang berangasan, sambil menahan geramnya dia membentak keras.

"Budak busuk, kau ingin mampus...."

"Oooh....! beginikah kata-kata mutiara dari seorang Bu lim cianpw e?"

Tukas Coa Wi wi. Tang kwik Siu terbahak-bahak.

"Haaahhh.... haaahh.... haaahhh....sute, watak berangasanmu memang sudah waktunya untuk ditekan!"

Kemudian sambil tersenyum, ujarnya pula kepada diri Coa Wi-wi.

"Nona adalah...."

"Nona ini mempunyai asal usul yang besar sekali"

Tiba-tiba Cia In menukas.

"jangan membicarakan soal yang lain, cukup dalam hal ilmu silat belum tentu kaucu sanggup untuk mengalahkan...."

Dengan sorot mata yang tajam Tang-kwik Siu mengawasi Coa Wi-wi dari atas kepala sampai ujung kakinya, kemudian ujarnya pula.

"Sepasang mataku belum melamur, aku memang tahu kalau tenaga dalamnya luar biasa sekali"

Cia In tertawa, serunya lagi.

"Berbicara soal kecantikan muka, dia ibaratnya dewi rembulan yang turun dari kahyangan, ibaratnya dewi-dewi yang bermukim di nirwana, jika di bandingkan dengan perempuan seperti kami, ooh.... kami tak lebih cuma sekuntum bunga yang telah layu"

Sambil tertawa tiba-tiba ia tutup mulut, meski pun sudah berbicara setengah harian, namun nama Coa Wi wi belum juga disebutkan, orang yang tak tahu tentu mengira perempuan tersebut sengaja jual mahal.

Lain halnya dengan Hoa In-liong yang cerdik, tiba-tiba hatinya bergetar keras, segera pikirnya.

"Kalau tak ada urusan besar, mungkin Seng sut pay akan membawa rombongan sebesar ini mendatangi wilayah Kang lam, jangan jangan....yaa, jangan-jangan kedatangan mereka memang khusus ka rena persoalan keluarga Coa?"

"Aku jelek, aku tak cantik"

Terdengar Coa Wi wi berkata sambil tertawa, cici sekalian baru benarbenar cantik!"

Leng hou Ki yang cuma berdiam diri selama ini tiba-tiba menyelinap maju ke depan, lalu membisikkan sesuatu ketelinga Tang kwik Siu.

Paras muka Tang kwik Siu berubah hebat, sambil menengok Coa Wi-wi lagi dia lantas berseru.

"Bila dugaan lohu tak keliru, nona Coa tentunya adalah keturunan dari malaikat ilmu silat bukan?"

Coa Wi wi yang mendengar pertanyaan itu segera berpikir pula dalam hatinya.

"Baru saja dua bersaudara Leng hou membicarakan soal ayahku, bagaimanapun juga Tang kwik Siu pasti mengetahui jejak ayahku"

Sekalipun gadis itu tidak mengetahui kelicikannya dunia persilatan, tapi ia tahu ditanyakan secara langsung juga tak ada gunanya, untuk sesaat ia jadi bingung dan tak tahu apa yang musti dila kukan.

Akhirnya ia tidak mempeidulikan Tang kwik Siu, dengan ilmu menyampaikan suara ujarnya kepada Hoa In-liong.

"Jiko, belum lama berselang Leng hou Ki telah mengatakan bahwa pihak Seng sut pay telah berhasil menangkap ayahku!"

Setelah berhenti sebentar, kembali ia berkata.

"Bahkan dia bilang ayahku.... ayahku telah....cuma aku tidak percaya"

Kendatipun begitu, suaranya sudah nada sesungguhnya menahan isak tangisnya yang hampir meledak.

Tersiap Hoa In-liong mendengar perkataan itu dia tahu Coa Goan-hou tak mungkin sudah terbunuh, tapi yang pasti ia telah terjatuh ke tangan orang-orang Mo kau, maka hiburnya.

"Jangan kau percayai perkataan mereka, sebab kata-kata dari manusia semacam mereka paling tak bisa dipercaya, dengan andalkan tenaga dalam yang dimiliki empek, masa Seng sut pay bisa berbuat apa-apa terhadap dirinya, tak mungkin bukan?"

Ketika lama sekali gadis itu belum juga menjawab, Tang kwik Siu tertawa kering.

"Oooh....dayang cilik yang manja!"

Keluhnya. Hoa In-liong mengernyitkan alis matanya baru saja dia hendak mengucapkan sesuatu, Cia In sudah keburu tertawa terkekeh-kekeh.

"Kaucu!"

Serunya.

"kenapa engkau melupakan si To koh ini? Masa semua orang sudah ditegur, hanya dia sendiri yang tak digubris?"

Sambil berkata dia lantas menuding kearah Thia Siok bi. Tang kwik Siu memandang sekejap kearah Thia Siok bi, lalu menjawab dengan tertawa.

"Aaa.... jago lihay dari luar perbatasan, kami sudah lama kenal satu sama lainnya"

Thia Siok bi mendengus dingin, ia tidak mengucapkan sesuatu. Hoa In-liong yang mempunyai maksud-maksud tertentu, dengan cepat berseru lagi.

"Kalau toh kaucu dansuhengmu enggan untuk menghadapi diriku, apakah persoalan pada hari ini kita sudahi sampai disini saja?"

Tang kwik Siu segera tersenyum.

"Hari ini pihak Hian-beng-kauw dan perguruan kami telah datang dengan mengerahkan kekuatannya yang besar, tapi kenyataannya tak lebih cuma berkepala harimau berekor ular, sama sekali tak mendatangkan hasil apa-apa. Coba katakanlah sendiri ji kongcu, bila kejadian ini sampai tersiar dalam dunia persilatan, bagaimana kata orang nanti?"

"Hmmm! Memutar balikkan fakta, rupanya engkau memang mempunyai maksud-maksud tertentu"

Batin Hoa In-liong. Setelah berpikir sebentar dia lantas tertawa dingin.

"Heeehhh.... heeehh.... heeehh.... apa gerangan maksud kaucu? Aku merasa tak habis mengerti?"

Tang kwik Siu tertawa berat.

"Benarkah ji-kongcu tidak tahu?"

"Tolong jelaskan!"

Tiba-tiba sikap Tang-kwik Siu berubah santai sambil mengelus jenggotnya yang keperak perakan dia tertawa.

"Ji-kougcu bukannya tidak tahu, ayahmu Hoa tayhiap adalah seorang manusia yang gemar nama besar, sudah tentu kongcu juga menyadari bukan kedudukan keluarga Hoa dalam dunia persilatan dewasa ini, nah, dengan ilmu silat ayahmu yang begitu tinggi dan sekarang ditambah pula bantuan dari keturunan malaikat silat....!"

Tiba-tiba ia terhenti berbicara dan tersenyum. Hoa In-liong dapat menangkap hawa napsu membunuh dibalik perkataannya itu, segera pikirnya.

"Oooh jadi lantaran keluarha Coa berdiri di pihak keluarga Hoa, maka ia kerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk bertindak lebih dulu, jadi kalau begitu kehadiran orang-orang Mo kau di wilayah Kanglam sekarang memang bertujuan untuk menghadapi keluarga Coa"

Tiba-tiba saja ia merasakan betapa gawatnya situasi pada saat itu, setelah hawa napsu membunuh dihati Tang kwik Siu berkobar, sudah tentu mereka akan berdaya upaya untuk melenyapkan dirinya.

Padahal pihaknya cuma terdiri dari tiga orang, sekalipun mendapat bantuan dari orang orang Cian li kau, tak lebih keadaan mereka ibaratnya telur hendak diadu dengan batu.

Kalau cuma dia seorang yang mampus masih mendingan, bagaimana dengan Coa Wi wi, Thia Siok bi serta Cia In dan belasan orang nona itu?

Terutama Goan cing taysu yang masih bersemedi dalam gua.

Ia tak ingin paderi sakti itu ikut berkorban lantaran dia, sebab dengan susah payah paderi itu telah mendesak keluar hawa racun dari tubuhnya dengan tenga dalamnya yang sakti, masa dia harus membayar air susu dengan air tuba?

Hoa In-liong memang cerdik, tapi menghadapi kenyataan tersebut tak urung kebingungan juga dibuatnya.

Setelah termenung sebentar, dia lantas berkata.

"Jadi kaucu memang berhasrat untuk beradu kekuatan dengan keluarga Hoa kami?"

"Soal itu hanya tinggal soal menunggu waktu saja, cepat atau lambat pertarungan memang tak dapat dihindari!"

Kata Tang kwik Siu dengan sorot matanya yang tajam.

Setelah lawan berkata demikian, jalan menuju perdamaianpun jadi buntu, karena tiada kesempatan untuk mengulur waktu lagi Hoa In-liong menghela napas panjang, dia siap menantang untuk berduel sambil berusaha mencari akal guna mengikat Tang kwik Siu dalam pertarungan satu lawan satu dengan dirinya.

Sebab bila sampai begini, paling sedikit dia dapat mengulur waktu selama beberapa jam lagi.

Tiba-tiba dari balik gua berkumandang suara pujian yang serak tua tapi amat nyaring.

"0....min....to.... hud...."

Pujian kepada sang Buddba itu kedengaran sangat aneh, semua orang merasakan suara itu seakan-akan muncul dari sisi telinga mereka, dan lagi suara itu dapat menimbulkan ketenangan bagi sia papun yang mendengar.

Serentak kawanan jago dari Hian-beng-kauw dan Seng sut pay yang sedang memegang pedang menurunkan senjata masing-masing, bahkan mereka yang memiliki tenaga dalam agak cetek melepaskan pedangnya hingga berjatuhan ke tanah.

Suheng Tang kwik Siu yang bernama Seng To cu itu tiba-tiba merubah sikap kakunya yang menyerupai mayat hidup itu, matanya yang kecil terbelalak lebar dan memancarkan sinar tajam bagaikan sang surya ditengah hari, begitu tajamnya sorot mata orang itu membuat orang jadi bergidik rasanya....

Hoa In-liong, Coa Wi-wi dan Thia Siok bi kebetulan berdiri dihadapannya, mereka sangat terperanjat menyaksikan sinar mata tersebut, mereka tahu tenaga dalam yang dimiliki orang itu memang lihay sekali, jelas berada diatas Tang kwik Siu.

"Hmm, suatu kepandaian Kou sim ciong (lonceng pengetuk hati) yang amat lihay"

Ujar Tang kwik Siu dengan dahi berkerut.

"tokoh sakti dari manakah yang berada disitu? Tang kwik Siu ingin menjumpainya...."

Dari balik gua berkumandang suara dari Goan cing taysu.

"Tidak berani, lolap Goan cing menjumpai Tang kwik kaucu"

Berbareng dengan selesainya perkataan itu, tanpa hembusan angin rotan-rotan yang menutupi mulut gua membuka dengan sendirinya, menyusul kemudian murculnya seorang paderi tua yang kurus kering, berwajah penuh keriput dan berjubah abu-abu.

Sesaat suasana diseluruh gelanggang jadi hening, tapi tak kedengaran sedikit suarapun.

Tang kwik Siu, gembong iblis yang termashur namanya dalam dunia persilatan, dua bersaudara Leng hou yang terkenal karena buas, Toan bok See Iiang serta Beng Wi-cian sekalian yang licik semuanya berdiri terbelalak dengan mulut melongo.

Hanya Seng To ku yang berwajah kaku saja tetap berdiri ditempat semula, meski mukanya agak mengejang sebentar namun dengan cepat telah pulih kembali seperti sedia kala.

Kiranya Goan cing taysu bukan muncul dari gua itu dengan berjalan kaki, tapi tetap duduk bersilah.

Tubuhnya seakan-akan duduk diatas sebuah mimbar berbentuk teratai yang melayang diudara, dengan selisih tiga depa dari permukaan tanah pelan-pelan dia melayang keluar.

Hoa In-liong pertama-tama yang sadar dari kejadian itu, dengan cepat dia mundur tiga langkah ke samping.

Goan cing taysu melayang turun tepat tiga kaki didepan Tang kwik Siu, setelah memuji keagungan Buddha, pelan-pelan ia melayang turun keatas tanah, begitu agung dan berwibawanya pendeta itu seakan-akan benar-benar baru turun dari kahyangan....

Dengan air mata bercucuran tiba tiba Cia In berbisik.

"Sumoay sekalian, bubarkan barisan!"

Mendengar perintah itu, serentak kawanan gadis dari Cian li kau melepaskan tangan mereka yang saling bergandengan tangan itu.

Kemudian dengan langkah yang lembut Cia In maju sendirian kehadapan Goan cing taysu dan jatuhkan diri berlutut.

Menyaksikan perbuatan dari pemimpin mereka, kawan gadis lainnya jadi melongo, mereka hanya bisa saling berpandangan dengan perasaan tidak habis mengerti.

Sejak munculkan diri ditengah gelanggan, Goan cing taysu hanya duduk bersila dengan kepala tertunduk dan mata terpejam, ia sama sekali tidak menggubris jago-jago dari dua perguruan besar itu.

Tapi setelah Cia In berlutut dihadapanya, ia membuka matanya yang lembut sambil mengebutkan ujung bajunya.

"Silahkan bangun nona, lolap tak berani menerima penghormatan sebesar ini"

Cia In merasakan datangnya hembusan angin lembut yang menekan tubuhnya, mau tak mau dia terpaksa baru bangkit berdiri.

Tahukah nona itu bahwa Goan cing taysu tak suka dengan segala macam tata cara, maka dia berdiri disamping tanpa berkata-kata.

Goan cing taysu, menghela napas panjang pelan-pelan dia alihkan sinar matanya ke wajah Tang kwik Siu.

Waktu itu Tang kwik Siu sudah tahu manusia macam apakah Goan cing taysu itu, tapi dia tak menyangka kalau tenaga dalamnya sudah mencapai tingkatan setinggi itu, meski tertegun bagaimanapun juga dia adalah seorang ketua dari suatu perguruan besar.

Sambil tertawa seram katanya kemudian.

"Lian sik siu tok (menyeberang melayang dengan teratai batu), maupun Kou sim ciong (lonceng pengetuk hati) adalah dua macam ilmu sakti yang jarang dijumpai dalam dunia, hari ini aku Tang kwik Siu betul-betul sudah membuka mata"

Berbicara sampai disitu, dia lantas berpaling kearah Seng To cu dan memberi tanda.

Tiba-tiba Seng To cu maju selangkah ke depan tanpa mengucapkan sepatah katapun dia menjulurkan lengan kanannya ke depan, kelima jari tangannya direntangkan lalu dari jarak sejauh dua kaki dia melancarkan sebuah cengkeraman udara kosong ketubuh Goan cing taysu.

Cengkeraman itu tidak membawa desingan angin serangan, macam anak-anak yang sedang bergurau saja.

Dengan wajah serius Goan cing taycu merentangkan sepasang tangannya yang semula dirangkap didepan dadanya, kecuali beberapa orang jago yang benar-benar lihay, hampir boleh dibilang yang lain tak tahu apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi.

Sementara semua orang masih tercengang dibuatnya, tiba-tiba ujung baju yang dikenakan kawanan manusia yang berdiri disekitar Goan cing taysu dan Seng To cu berkibar sendiri tanpa angin, rupnnya dalam gerakan yang menyerupai permainan itu, kedua belah pihak telah saling bertukar satu serangan maut.

Akibat dari serangan itu tubuh bagian dari Goan cing taysu sampai berputar arah, tapi tetap kokoh seperti batu karang.

Sebaliknya Seng To cu dengan wajah agak berubah terhuyung maju setengah langkah kedepan.

Berseri wajah Hoa In-liong menyaksikan kejadian itu, segera pikirnya dihati.

"Kalau kulihat dari keadaan ini, sudah terang Seng To cu makhluk tua itu yang keok, kenapa tak mau koit sekalian?"

Meskipun kalah, Seng To cu tidak kelihatan marah atau terpengaruh oleh emosi, sambil putar badan hanya ujarnya dengan suara yang dingin dan kaku.

"Hayo pergi!"

Tang kwik Siu tertegun, menyusul kemudian ia berpikir lebih lanjut.

"Yaa betul! Toh pihak kami mempunyai Coa Goan hau sebagai sandera, sekalipun hwesio itu lihay dan berilmu tinggi, kenapa musti dilawan dengan kekerasan?"

Karena berpendapat demikian, segera timbullah niatnya untuk mengundurkan diri.

"Baiklah!"

Dia berkata kemudian sambil memberi hormat.

"memandang diatas wajah taysu, aku tersedia menyelesaikan persoalan hari ini sampai disini saja, semoga dilain waktu kita masih diberi kesempatan untuk bertemu kembali, waktu itu aku pasti akan mencoba-coba sampai dimanakah taraf kepandaian yang dimiliki taysu"

Kemudian sambil tertawa terbahak-bahak, ia memimpin kawanan jago Mo kau nya siap meninggalkan tempat itu.

Coa Wi-wi amat kuatir akan nasib ayahnya terus atas perkataan dua bersaudara Leng hou, tentu saja dia tak ingin membiarkan musuh musuhnya berlalu dengan begitu saja.

"Kongkong!"

Teriaknya dengan gelisah.

"hilangnya ayah ada sangkut pautnya dengan pihak Mo kau, kita tak boleh membiarkan mereka kabur dengan begitu saja"

Sebetulnya Goan cing taysu tidak ingin mencari banyak urusan, mundurnya pihak Seng sut pay justru ibaratnya pucuk dicinta ulam tiba baginya, akan tetapi setelah mendengar seruan dari cucu perempuannya itu, mata yang ramah dan penuh welas kasih itu mendadak memancar serentetan sinar tajam yang menggidikkan.

"Tang kwik kaucu!"

Tegurnya dengan nada keras.

"benarkah perkataan cucu perempuanku itu?"

Tang kwik Siu mengulapkan tangannya mencegah Leng hou Yu mengumbar emosinya, lalu tertawa dalam.

"Heeeh.... heeehhh.... heeehh....belasan tahun berselang ada seorang jago yang bernama Coa tayhiap telah menjadi tamu terhormat dari Seng sut pay kami, waktu itu dia sedang berada disekitar bukit Kun kun, mungkin orang itu adalah orang tua nona tersebut...."

Tiba-tiba Seng To cu yang seram dan kaku itu menimbrung.

"Jika manusia minum air, panas atau dingin tentu akan diketahui dengan sendirinya!"

Sehabis berkata sambil mengebaskan ujung bajunya dia berlalu lebih dahulu, bukan saja tidak menyapa Tang kwik Siu lagi, memandang sekejap pun tidak. Tang-kwik Siu segera berkata pula.

"Aku Tang-kwik Siu merasa kagum sekali oleh kebaktian nona Coa terhadap orang tuamu, bila kau memang berniat mencari ayahmu di wilayah Se ih, dengan senang hati Seng sut pay kami bersedia untuk membantu usahamu itu!"

"Hmm....! Membantu atau berusaha mencegah dengan sekuat tenaga....?"

Ejek Coa Wi-wi sambil mendengus.

"Omintohud!"

Tiba-tiba Gaok cing taysu berseru memuji keagungan sang Buddha, lalu dengan suara yang amat tenang dan lembut katanya lebih jauh.

"Anak Wi, jangan berbuat kurangajar!"

Dia angkat kepalanya memandang sekejap wajah Tang kwik Siu, lalu tegurnya dengan wajah serius.

"Tang kwik kaucu, sebenarnya apa maksud tujuanmu?"

Tang kwik Siu tertawa tergelak.

"Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh.... taysu memang cerdik sekali, sungguh membuat aku Tang kwik Siu merasa amat kagum!"

Hoa In-liong tahu bahwa Tang kwik Siu hendak membuka kartu, maka setelah menimbang sebentar keadaan di sekitar tempat itu, akhir nya dengan ilmu menyampaikan suara dia berbisik kepada Coa Wi-wi.

"Adik Wi, kau tak perlu ikut serta dalam adu kecerdasan ini, biar kongkong seorang yang menghadapinya!"

Sementara itu sambil mengalus jenggotnya Tang kwik Siu telah berkata lebih lanjut.

"Menurut penglihatanku, pembantaian secara besar-besaran telah berlangsung dalam dunia persilatan, amisnya darah telah menodai seluruh permukaan tanah, bukan cuma sehari saja rekan-rekan se aliranku menderita penindasan dan penjajahan dari keluarga Hoa, penindasan demi penindasan yang harus kami terima selama ini sudah tak bisa tertahan lagi, ketahuilah taysu, pelbagai jago persilatan dari empat samudra kini telah bersatu padu siap menumbangkan kelaliman serta kekuasaan keluarga Hoa, soal kehancuran sudah tinggal menunggu saatnya saja dan pertumpahan darah ini tidak mung kin bisa dihindari lagi. Taysu, kau sebagai seorang pendeta yang beribadah sudah sepantasnya kalau mengundurkan diri dan hidup mengasingkan diri, apa gunanya kalian musti ikut campur didalam air keruh?"

Ditinjau dari pembicaraan tersebut, sudah terang dia sedang menganjurkan kepada Goan cing taysu agar membawa keluarga Coa mengundurkan diri dari keramaian dunia persilatan.

Selama pembicaraan tersebut berlangsung, Hoa In-liong cuma membungkam diri dalam seribu bahasa, kendatipun pihak lawan menuding menjangan sebagai kuda, tapi lantaran urusannya menyangkut tentang mati hidup Goa Goan hau, pemuda itu merasa kurang baik untuk ikut memberi komentar.

Goan cing taysu sama sekali tidak tergerak hatinya oleh perkataan tersebut, dengan tenang ia mendengarkan ucapan itu hingga selesai, kemudian baru ujarnya dengan nada hambar.

"Maksud baik kaucu haaya dapat lolap terima dalam hati saja, sayang sang Buddha pernah bersabda demikian.

"Kalau bukan aku yang masuk neraka, siapa lagi yang akan masuk neraka? Kalau toh dunia persilatan sudah mengalami kekalutan, mana boleh lotap menyingkirkan diri untuk mencari selamat? Ketahuilah, membela keadilan menyingkirkan kejahatan adalah tugas serta tanggung jawab setiap insan manusia"

"Keras kepala amat hwesio tua ini"

Pikir Tang kwik Siu kemudian.

"yaa, agar terhindar dari segala yang tidak diinginkan, aku tak boleh bertindak terlampau gegabah"

Untung saja kedua belah pihak memang berniat untuk berpisah selekasnya, cepat dia menjura dan memberi hormat.

"Kalau toh begitu, aku rasa tiada persoalan lain yarg bisa dibicarakan lagi, maaf aku mohon diri terlebih dahulu"

Goan cing taysu juga tidak berkata apa-apa, dia menghantar kepergian orang itu sambil memberi hormat pula.

Toan bok See liang dan Beng Wi cian sebenarnya merasa berat hati untuk mengundurkau diri dengan begitu saja, akan tetapi lantaran ilmu silat yang dimiliki Goan cing taysu terlampau lihay mau tak mau terpaksa mereka harus menggulung layar mengikuti hembusan angin.

"Hayo kita pergi!"

Bentak Beng Wi cian kemudian.

Tanpa membuang tempo, dia pimpin segenap anggota Hian-beng-kauw dan berangkat meninggalkan tempat itu.

Setelah semua orang sudah lenyap dari pandangan mata, Coa Wi-wi baru mendepak depakan kakinya keatas tanah sambil mengomel tiada henti-hentinya.

"Kongkong ini bagaimana sih? Kenapa kau lepaskan Tang kwik Siu sekalian dengan begitu saja!"

Goan cing taysu menghela napas panjang, ia tidak menjawab pertanyaan itu. Sebaliknya kepada Cia In ujarnya dengan lembut.

"Lolap tidak mempuryai kemampuan apa-apa, apa alasan nona sehingga musti memberi hormat kepadaku?"

Cia In menggetarkan bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu, namun tak sepatah katapun yang mampu diutarakan keluar. Goan cing taysu tertawa lembut.

"Harap tunggu sebentar nona"

Katanya. Dia lantas berpaling kearah Thia Siok bi, lalu sapanya.

"To yo...."

Thia Siok bi membungkukkan badannya memberi hormat, sahutnya.

"Taysu adalah seorang pendeta beribadah yang berhati mulia, Thia Siok bi tak berani menerima hormat tersebut"

Kemudian setelah berhenti sebentar katanya lebih jauh.

"Maaf kalau aku tak bisa mendampingi terlampau lama lantaran masih ada urusan penting lainnya terpaksa boanpwe harus minta diri lebih dahulu"

"Cianpwe...."seru Hoa In-liong dengan cemas.

"Kutunggu sepertanak nasi lamanya dikaki gunung sana"

Tukas Thia Siok bi dengan suara yang ketus.

"bila kau masih mempunyai perasaan cinta cepatlah datang temui diriku"

Kemudian sambil mengebaskan hud timnya, dia berlalu lebih dulu dari tempat itu.

"Cianpwe"

Teriak Coa Wi-wi gelisah.

"kini enci Wan berada dimana....?"

Thia Siok bi tidak menggubris teriakan itu, dengan kecepatan tinggi ia berlalu dari situ dan lenyap dibalik bukit sana.

Sepeninggal To koh itu, Hoa In-liong baru berpaling kearah Goan cing taysu, bibirnya bergetar seperti hendak mengucapkan sesuatu.

"Tunggu sebentar!"

Goan cing taysu segera mengidapkan tangannya. Kemudian dengan dahi berkerut dia berpaling kearah hutan bambu dan berseru.

"Sicu berdua yang ada dalam hutan, apa salah nya kalau segera menampilkan diri?"

Dari balik hutan segera berkumandang suara jawaban dari seorang perempuan.

"Sebenarnya perintah taysu harus boanpwe taati sayang pada saat ini boanpwe masih ada urusan lain yang harus segera diselesaikan, maaf kalau aku tak dapat menurut perintah"

Mendengar suara itu, Cia In beserta belasan orang gadis muda itu segera berseru.

"Suhu....!"

Hoa In-liong kenali juga suara itu sebagai suaranya Pui Che-giok, dia lantas berpikir.

"Berdasarkan daya pendengaran kongkong, didalam hutan terdapat dua orang tak mungkin kongkong salah mendengar, lantas siapakah orang yang satunya lagi?"

Berpikir sampai disitu, tiba-tiba ia teringat diri Tiang heng To koh, tanpa sadar segera teriaknya.

"Bibi Ku....!"

Sementara itu Pui Che-giok sedang berkata.

"Taysu, bila engkau bersedia mengasihani perempuan itu, tolong berilah pelajaran kepadanya sedang yang lain biar dipimpin anak Ay pulang ke markas"

Salah seorang nona berbaju hijau yang berada dalam rombongan itu tak lain adalah murid kedua dari Pui Che-giok, dia bernama Cia Sau ay, mendengar ucapan guruaya buru-buru dia memberi hormat.

"Tecu menerima perintah!"

Katanya. Dilain pihak Tiang heng To koh sedang berkata pula.

"Liong-ji, sebetulnya bibi Ku tak ingin kalau kedatanganku kau ketahui, tak disangka kembali kau berhasil menebaknya secara jitu, aaai....bibi Ku tidak tega untuk membungkam diri terus serta tidak memperdulikan dirimu, cuma kali ini kau juga tak perlu bersilat lidah, sebab bibi Ku tak mungkin akan mendengarkan perkataanku itu"

"Bibi Ku apakah kau sudah tak sayang kepadaku lagi?"

Teriak Coa-Wi-wi pula dengan cemas.

"kenapa kau tidak memperdulikan aku? Menyapa saja tidak?"

Jilid 34 TIANG HENG TO KOH tertawa dingin.

"Aaah.... kamu si setan cilik, terlalu banyak akal busukmu, kali ini bibi Ku kuatir terperangkap lagi, maka lebih baik tidak kusapa dirimu.... Suara pembicaraan tersebui makin lama berkumandang semakin lirih, dan akhirnya tak kedengaran lagi, jelas Tiang heng To koh sudah berlalu dari sana. Setelah kepergian dua orang perempuan itu, Goan cing taysu kembali berpaling kearah Cia In, lalu ujarnya.

"Nona Cia, kalau toh gurumu sudah berkata begitu, apakah kau bersedia mengikuti lolap selama beberapa hari?"

"Bila cianpwe bersedia mtnampung diriku, hal ini merupakan suatu keuntungan besar buat siauli"

Jawab Cia In sambil bungkukkan badan meranti hormat. Tiba-tiba Coa Wi-wi mengomel lagi.

"Kongkong, kenapa kau biarkan orang-orang Mo kau itu pergi dengan begitu saja?"

Goan cing taysu menghela napas, bukannya menjawab dia malahan balik bertanya.

"Anak Wi, kau yakin dengan ilmu kepandaianmu, berapa orang ysng bisa kau hadapi?"

"Untuk menghadapi dua orang setan tua she Leng hou itu, anak Wi yakin masih bisa mengatasinya jawab Coa Wi-wi setelah termenung dan berpikir sebentar. Hoa In-liong gelisah sekali, dia tidak berminat mengikuti pembicaraan itu, kembali pikirnya.

"Waaah.... kenapa pembicaraan ini belum berakhir juga?"

Tampaknya To koh tadi atau gurunya Wan Hong giok menaruh perasaan kurang senang terhadap diriku, kalau terlambat kesana bisa jadi kemarahannya akan semakin memuncak tapi...."

Tiba-tiba Goan cing taysu memotong lamunannya.

"Anak Liong, yakinkah kau untuk menghadapi Tang kwik Siu?"

"Meskipun anak Liong sudah memperoleh bimbingan serta bantuan kongkong, tapi aku yakin kepandaianku setingkat masih berada dibawahnya"

Goan cing taysu alihkan kembali perhatiannya ke wajah Cia In dan Cia Sau-ay sekalian belasan orang nona.

"Dan sekalian nona...."

Lanjutnya.

"Harap cianpwe jangan menyertakan siau-li sekalian"

Tukas Cia In sambil gelengkan kepalanya berulang kali.

"kami tidak mempunya kepandaian apa-apa, paling banter juga cuma bisa membantu berteriak sambil memberi semangat, atau kalau terpaksapun hanya dapat menahan kaum keroco dari Mo kau"

"Ah, nona sekalian terlalu sungkan"

Kata Goan cing taysu sambil tersenyum.

Setelah berhenti sebentar, dia berkata legi "Berbicara sesungguhnya, bukan lolap sengaja memandang hina orang lain, tapi yang jelas To yu tadi juga bukan tandingan dari Tang kwik Siu, kalau sampai terjadi pertarungan massal, bukan saja sisa anggota Mo kau akan turun tangan semua, pihak Hian-beng-kauw juga tak mungkin hanya berpeluk tangan belaka"

"Tapi.... kenapa kongkong melupakan dirimu sendiri?"

Seru Coa Wi-wi tercengang. Mendengar pertanyaan ini, Goan cing taysu tertawa getir.

"Lolap sudah tak punya kekuatan lagi, pada hakekatnya keadanku sekarang jauh lebih lemah dari seorang manusia biasa!"

Kontun saja ucapan tersebut seruan tertahan dan keluan heran dari Coa Wi-wi serta sekalian nona nona dari Cian li kau. Hoa In-liong juga tercengang, dengan kaget serunya agak terbata-bata.

"Tentu....tentunya.... anak Lionglah penyebabnya, anak Liong lah yang telah mencelakai kongkong...."

"Pada hakekaknya apa yang ada sebetulnya tak ada, apa yang ada sebetulnya ada, siapa bilang engkau yang mencelakai diriku?"

Jawab Goan cing taysu dengan lembut, anak Liong, aku cuma bisa berharap kau melatih diri lebih tekun, sehingga tidak menyia-nyiakan pertemuan kita kali ini"

Hoa In-liong cuma bisa mengiakan berulang kali.

"Kongkong, sebetulnya apa yang telah terjadi dengan dirimu?"

Seru Coa Wi-wi lagi dengar cemas.

"Tidak apa-apa, asal beritirahat sebentar niscaya tenagaku akan pulih kembali"

Berbicara sampai disitu, Goan cing taysu segera mengulapkan tangannya.

"Anak Liong, kau boleh pergi lebih dulu, bukankah To yu itu menunggu kedatangan di kaki bukit?"

"Betul kongkong!"

Jawab Hoa In-liong tergagap, tapi keadaan kongkong sekarang...."

Goan cing taysu tertawa.

"Lolap baik sekali!"

Tukasnya.

Hoa In-liong kembali ragu-ragu sebentar, dia berpaling memandang ke arah Coa Wi-wi, bibirnya bergetar seperti hendak mengucapkan sesuatu tapi niat itu kemudian dibatalkan.

Sesudah sangsi sejenak, akhirnya dia menjadi nekad, tiba-tiba serunya.

"Adik Wi, baik-baiklah menjaga diri!"

Kemudian sambil memberi hormat kepada Cia In sekalian, ujarnya pula lebih lanjut.

"Cici sekalian, terima kasih banyak atas bantuan kalian! Sebagai orang sekeluarga rasanya siau te pun tak usah banyak berbicara bukan?"

"Jiko, tunggu sebentar!"

Tiba-tiba Coa Wi wi berteriak keras, Lalu dia berpaling dan katanya kepada Goan cing taysu.

"Kongkong, bagaimana kalau kutemani jiko lebih dahulu?"

Goan cing taysu tertawa ringan.

"Masa kau tidak dapat menangkap maksud sebenarnya dari To yu itu? Dia hanya berharap jiko mu bisa menjumpainya seorang diri, kalau kaupun turut serta, belum tentu kehadiranmu akan disambut dengan senang hati....!"

Lalu dia ilapkan tangannya kepada Hoa In-liong sambil serunya kembali.

"Nah, cepatlah pergi!"

Sekiali lagi Hoa In-liong melirik sekejap kearah Coa Wi wi, kemudian dia putar badan dan cepatcepat berlalu dari situ, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.

Coa Wi-wi menncibirkan bibirnya yang kecil mungil, jelas nona itu lagi tak senang hati.

Cia Sau ay mendepak-depakkan pula kakinya dengan gemas, sambil melirik sekejap ke arah Cia lIn, bisiknya jengkel"

"Huuuh....! Betul-betul hatinya sudah busuk!"

Cia In cuma tertawa mendengar omelan saudara seperguruannya itu, katanya kemudian.

"Ji sumoay, sekarang kaupun harus memimpin sumoay-sumoay sekalian pulang ke rumah!"

Sementara itu Hoa In-liong sudah tiba di kaki bukit, dari tempat kejauhan dia sudah menyaksikan Thia Siok bi berdiri dibawah sebatang pohon kui.

Sebenarnya dia hendak menyapa To koh itu, tapi ketika dilihatnya Thia Siok bi hanya melirik sekejap kearahnya dengan dingin, lalu tanpa mengucapkan sepatah katapun meninggalkan tempat itu, terpaksa ia telan kembali kata-katanya dan mengikuti dengan mulut membungkam.

Suasana tetap hening dan diliputi kebungkaman meski sudah menyeberangi sungai Tiang-kang dan meneruskan perjalanan melalui jalau raya menuju ke Hway-im.

Lama kelamaan habis sudah kesabaran Hoa In-liong, akhirnya dia menegur.

"Cianpwe, bagaimanakah keadaan nona Wan?"

Thia Siok bi pura-pura tidak mendengar, setelah hening kembali sesaat dia baru menjawab dengan serius.

"Pokoknya dia masih dapat bernapas!"

"Waduh, alot benar perkataan ciaapwe ini"

Pikir Hoa In-liong.

"rupanya dia sudah menaruh kesan yang kurang baik kepadaku, atau memang wataknya yang begitu...."

Dia tertawa paksa, lalu bertanya lagi.

"Cianpwe, boleh aku tahu kini nona Wan berada dimana?"

Thia Siok bi hanya mendengus, tiada jawaban yang terdengar.

Setelah ketanggor batunya, Hoa In-liong tidak banyak bertanya lagi, dengan kepala tertunduk dia melanjutkan berjalan.

Begitulah, yang satu berjalan didepan sedang yang lain mengikuti dibelakang bagaikan gulung asap ringan mereka berlarian dijalan raya tersebut.

Dengan kepandaian silat yang mereka berdua miliki tentu saja kecepatan gerak mereka sangat luar biasa, bagi orang awam biasa, mereka hanya merasakan berhembusnya angin dingin, ketika mereka mengadah, tahu-tahu dua orang itu sudah berada puluhan kaki jauhnya dari tempat mereka berada.

Waktu itu tengah hari baru menjelang, terik panasnya matahari terasa menyengat badan.

Tiba-tiba Thia Siok bi memperlambat gerakan tubuhnya, lalu birkata dengan suara dingin.

"Pinto masih ingat didepan sana terdapat sebuah warung makan, kita bersantap dulu sebelum melanjutkan perjalanan!"

"Tapi boanpwe belum lapar"

Sahut Hoa In-liong sambil memperlambat pula langkah kakinya.

Padahal semenjak kemarin malam dia belum mengisi perut, apalagi setelah berlangsungnya pertarungan sengit, perutnya semenjak tadi sudah gemerutukan minta diisi.

"Kau tidak lapar, aku toh lapari"

Kata Thia Siok bi tiba-tiba dengan nada yang ketus.

Hoa In-liong tertegun, menyusul kemudian sekulum senyuman menghiasi ujung bibirnya.

Meskipun cianpwe ini mempunyai watak yang dingin dan tak sedap, rupanya dia cukup memahami perasaan orang...."

Demikian pikirnya.

Tak lama kemudian, dari tempat kejauhan muncul tanah hijau yang amat rindang, banyak warung makan berjajar ditepi jalan.

Kedua orang itu semakin memperlambat langkah kakinya, mengikuti orang-orang yang lain mereka masuk kewarung dan mencari tempat duduk.

Warung warung darurat yang didirikau disepanjang jalan itu meski terbuat dari bambu alat-alat makan yang dipakaikan sudah kelewat jaman, tapi suasananya amat nyaman, udarapun terasa segar, suatu tempat beristirahat yang amat serasi.

Hoa In-liong mencoba untuk memeriksa keadaan disekeliling tempat itu, ia lihat sebagian besar tamu dalam warung itu adalah kaum pedagang serta kaum pelancong, tidak kelihatan seorang jago persilatan pun.

Ketika orang-orang dalam warung itu menjumpai munculnya seorang pemuda tampan bersama seorang To koh setengah umur, mereka hanya memandang sekejap lalu melanjutkan daharan masing-masing, tak seorang pun berani memperhatikan lebih lama.

Rupanya sang pelayan juga mengetahui kalau kedua orang tamunya adalah jago-jago persilatan, tergopoh-gopoh ia menyiapkan hidangan untuk tamu istimewanya itu.

Sambil hersantap, Hoa In-liong bertanya.

"Cianpwe, selama ini kau berdiam dimana? Kalau tak ada urusan lain, bersediakan main selama beberapa hari dirumahku?"

Thia Siok bi meletakkan sumpitnya dan menjawab dingin.

"Aku akan tinggal diluar perbatasan!"

Hoa In-liong tertegun, sampai sumpit dan mangkuknya diletakkan kembali kemeja.

"Bukankah cianpwe telah bentrok dengan pihak Hian-beng-kauw? Aku lihat Toan bok See liang dan Beng Wi cian menaruh perasaan benci dan mendendam terhadap diri cianpwe?"

"Tak usah kuatir, meskipun pinto berada dimulut harimau, tapi kedudukanku sekokoh bukit Thaysan"

Menyaksikan To koh tersebut, kembali Hoa In-liong berpikir didalam hatinya.

"Dia begitu tenang, sedikit pun tidak gugup atau panik meski mara bahaya telah berada didepan mata, janganjangan hubungannya dengan Hian-beng-kauw memang mendalam sekali?"

Maka sesudah termenung sejenak, dia bertanya lagi.

"Apakah cianpwe kenal dengan salah seorang dari anggota Hian-beng-kauw....?"

Sebetulnya Thia Siok bi tidak ingin menjawab, tapi diapun merasa tak tega untuk mendiamkan pemuda itu, akhirnya setelah termenung jawabnya secara diplomatis.

"Yaa, pinto memang mempunyai hubungan dengan seseorang dari perkumpulan tersebut!"

Dengan kaucu nya?"

Thia Siok bi segera menggeleng.

"Tapi orang itu pasti mempunyai kedudukan jauh diatas Toan bok See liang dan Beng Wi cian bukan?"

Desak Hoa In-liong lebih jauh.

"Kau tak perlu memancing-mancing dengan cara itu, percuma usahamu itu bakal sia-sia belaka sebab pinto tak mungkin akan buka suara, mengenai keadaan dalam perkumpulan Hian-bengkauw...."

Tiba-tiba ia menghela napas panjang.

"Nak, tentunya kau tidak membiarkan pinto menjadi seorang kurcaci penjual teman kan?"

SETELAH To koh itu mengutarakan alasannya, tentu saja Hoa In-liong tak dapat mendesak lebih jauh, sebab bila ia sampai berbuat demikian sama artinya dengan ia memaksa To koh itu menjadi seorang penjahat penjual teman.

Hoa In-liong tersenyum.

"Perkataan cianpwe terlampau serius, sekalipun boanpwe mempunyai nyali sebesar gajah, tak nanti aku berani berbuat demikian"

Katanya.

"Kalau begitu janganlah bertanya"

"Baik!"

Jawab Hoa In-liong sambil tertawa lirih.

"Hei, apa yang kau tertawakan?"

Kembali Thia Siok bi menegur dengan wajah membesi.

"tak usah menggunakan akal setan untuk menjebak aku, sebab kalau ingin memancing sepotong kata dari mulut pinto adalah percuma, lebih baik kau tak usah bermimpi disiang hari bolong"

"Aku kuatir cianpwe marah, tak berani ku utarakan!"

Kata Hoa-In-liong kemudian. Thia Siok bi berpikir sebentar, lantas pikirnya.

"Aku jadi ingin tahu soal apakah yang membuat ia tertawa kegelian...."

Karena ingin tahu, dengan kening berkerut dia pun berkata.

"Coba katakanlah secara terus terang, pinto berjanji tidak akan marah....!"

Diam-diam Hoa-In-liong tertawa geli, tapi diluaran dia berpura-pura apa boleh buat, katanya setengah terpaksa.

"Cianpwe, bukan aku yaog ingin bicara tapi cianpwe yang memaksa aku untuk mengutarakan lho."

"Sudah tak usah main akal-akalan lagi hayo cepat katakan!"

Tukas Thia Siok bi setengah memaksa. Dengan senyum dikulum ujar Hoa In-liong.

"Boanpwe sedang berpikir, mungkinkah sahabat cianpwe yang berada dalam perkumpulan Hian-beng-kauw itu adalah seorang manusia dari marga Go...."

Begitu kata Go disinggung, paras muka Thia Siok bi kontan berubah hebat.

Melihat gelagat itu buru-buru Hoa In-liong tutup mulut.

Setelah hening sesaat, paras muka Thia Siok bi pelan-pelan menjadi lembut kembali, katanya.

"Sejak semula pinto sudah banyak mendengar otang berkata bahwa engkau itu licik dan banyak tipu muslihatnya, pada hakekatnya kau adalah seekor kancil yang sukar dilawan. Pada mulanya aku masih belum percaya, tapi sekarang aku baru tahu bahwa berita itu bukan cuma kabar berita kosong belaka"

"Agaknya dugaanku memang tak salah!"

Pikir Hoa In-liong.

"jelas orang yang dimaksudkan sebagai sahabatnya dalam Hian-beng-kauw pada hakekatnya tak lain adalah bekas suaminya"

Meski dia berpikir demikian dihati kecilnya, tapi diluaran pemuda itu berkata lain.

"Cianpwe, aku cuma mendengar kabar itu dari orang lain, tentu saja belum tentu benar. Jelek-jelek begini boanpwe toh seorang pemuda yang gagah dan berterus terang...."

"Gagah dan terus terang?"

Thia Siok bi tertawa kegelian.

"bocah wahai bocah, kau memang tak tahu malu, masa ada orang memuji diri sendiri? Baru kali ini kutemui orang bermuka tebal seperti kau"

Hoa In-liong semakin gembira lagi karena To koh itu tak menunjukkan rasa gusar, sambil tertawa cekikikan katanya.

"Cianpwe kau telah berjanji tak akan marah, kenapa kau telah menjadi cemburu? Wah, saking tak tenangnya hampir saja jantung boanpwe ikut copot, untungnya...."

Thia Siok-bi tak dapat menahan rasa gelinya lagi, dia tertawa terkekeh-kekeh, hardiknya.

"Masa orang seperti kau bisa merasa tak tenang? Huuh, kalau matahari bisa terbit dari langit barat, aku baru akan percaya"

Lantaran tujuannya sudah tercapai, Hoa In-liong tidak mendesak lebih lanjut, sambil tersenyum ia melanjutkan kembali santapannya.

Thia Siak bi tidak berbicara pula, ia meneruskan santapannya dengan kepala tertunduk.

Meskipun tidak mempunyai gelar kependetaan, Thia Siok bi termasuk seorang pengikut agama To yang saleh, dia pantang minum arak, takaran perutnya juga kecil hanya semangkuk nasi sudah cukup mengenyangkan perutnya.

Hoa In-liong sendiri, walaupun besar takaran makannya tapi dia bersantap dengan cepat, sejak tadi dia sudah berhenti makan karena kenyang.

Diatas meja tersedia juga sepoci arak, padahal pemuda itu gemar minum, tapi lantaran berada dihadapan Thia Siok bi, sebelum To koh itu memberi ijin dia tidak menyentuh barang secawanpun melainkan sambil menggoyang goyangkan kipasnya dia sabar menanti.

Thia Siok bi melirik sekejap kearahnya, kemudian berpikir.

"Bocah ini terlampau cerdik, dan lagi mempunyai waktu yang cukup ulet, tampaknya sebelum kusinggung sedikit rahasia yang dia inginkan, tak mungkin bocah ini akan berdiam diri"

Karena berpikir demikian diapun berkata.

"Tampaknya pinto memang tak bisa menangkan dirimu, apa yang ingin kau ketahui? Nah katakanlah!"

Sambil menyimpan kembali kipasnya jawab Hoa In-liong.

"Kalau dibicarakan sesungguhnya memalukan sekali, meskipun boanpwe dan pihak Hian-beng-kauw sudah berulang kali terjadi adu kekuatan, tapi hingga kini aku masih belum mengetahui siapakah kaucu mereka...."

"Maaf, maaf!"

Tukas Thia Siok bi sambil goyangkan tangannya berulang kali.

"aku sudah terlanjur punya janji, sehingga rahasia ini tak mungkin kubongkar. Buat apa buru-buru ingin tahu? Cepat atau lambat kan kau bakal tahu?"

Sesudah berhenti sebentar, dia menambahkan.

"Pinto hanya bisa memberitabukan kepadamu kalau orang ini mempunyai dendam sakit hati sedalam lautan dengan keluargamu"

"Aaah....omongan semacam ini bukankah sama artinya dengan perkataan yang tak ada gunanya?"

Pikir Hoa In-liong.

"tidak sedikit gembong iblis yang mampus ditangan nenek dan ayahku dimasa lalu, siapa tahu Hian-beng Kaucu itu murid siapa?"

Karena ia tak bisa menebak siapa gerangan Hian-beng Kaucu itu, lagipula Thia Siok bi juga tidak bersedia memberitahukan rahasia ini, terpaksa ia bertanya lagi.

"Betulkah markas besar perkumpulan Hian-beng-kauw terletak di bukit Gi hong san?"

"Darimana kau dapatkan berita? tanya Thia Siok bi tercengang.

"Oooh.... aku tidak memperolehnya dari siapapun, seorang sahabat boanpwe lah yang berhasil menyelidikinya sendiri, hanya saja betul atau tidak, harap cianpws beri petunjuk kepadaku"

Thia Siok bi termenung sebentar, lalu dengan nada minta maaf katanya lirih.

"Aaai....mengenai soal itu, pinto hanya bisa minta maaf, sebab aku benar-benar tak dapat memberi pertanda atau ketegasan apa-apa, maafkanlah daku!"

Sepintas lalu meskipun ucapan itu kedengaranoya tidak memberi petunjuk apa-apa, padahal kalau dicamkan lebih dalam dapat diartikan pula sebagai satu pengakuan yang mengatakan bahwa dugaan pemuda itu memang benar, Hoa In-liong berpikir sebentar, lalu ujarnya sambil tertawa.

"Waaah.... kalau begitu banyak masalah yang cianpwe, kuatirkan aku jadi bingung sendiri persolan yang manakah yang harus kutanyakan...." . Thia Siok bi kembali termenung beberapa saat lamanya.

"Pinto hanya dapat memberitahukan satu hal kepadamu katanya kemudian.

"Silahkan diucapkan cianpwe!"

Ujar Hoa In-liong dengan wajah serius.

"Rasa benci Hian-beng Kaucu terhadap keluargamu boleh dibilang lebih dalam dari samudra, entah darimana kemampuan yang dimiliki, ternyata dia dapat mengundang munculnya beberapa orang gembong iblis sakti untuk membantu pihaknya.

"Sekalipun dia mempunyai jago-jago iblis sakti, memangnya keluarga Hoa dari Im-tiong-san tak anggup uutuk mengatasinya?"

Pikir Hoa In-liong didalam hati. Ketika Thia Siok bi menyaksikan sikap acuh tak acuh dari anak muda itu, dengan suara dalam dia lantas menegur.

"Hoa Yang, apakah kau lupa dengan ajaran ku to yang mengatakan bahwa orang yang tekebur selamanya pasti kalah?"

Hoa In-Iiong terperanjat, wajahnya berubah menjadi serius kembali.

"Aku yang muda mohon petunjuk!"

"Kau jangan terlampau pandang remeh manusia-manusia itu, sebab kendatipun ayahmu sendiri, bila sudah mengetahui kekuatan yang dimiliki Hian-beng-kauw dewasa ini, belum tentu dia sanggup untuk mengatasinya....!"

Rupanya To koh setengah umur ini tak berani terlalu banyak berbicara, sampai diseparuh jalan, tiba-tiba saja perkataannya terhenti. Melihat itu, kembali Hoa In-liong berpikir.

"Kau dilihat dari sikapnya itu, jelas janjinya antara dia dengan Hian-beng-kauw mencakup pula janji dari Hian-beng-kauw yang tak akan menganggu dirinya, sebaliknya diapun tak boleh membocorkan rahasia dari Hian-beng-kauw. Aaa.... kalau begini ketat dia pegang rahasia, jangan harap aku akan berhasil untuk mendapatkan berita penting"

Tiba-tiba Thia Siok bi berkata lagi.

"Tampaknya orang tua dari nona Coa itu sudah terjatuh ketangan orang-orang Mo kau, cuma anehnya, meski suhengnya Tang kwik Siu adalah seorang jago yang hebat, Goan cing taysu bukannya tak mampu mengatasinya, tapi kenapa Goan cing taysu justru membiarkan mereka pergi dengan begitu saja? Apakah engkau tahu apa sebabnya?"

"Kalau dugaanku tak salah, hal ini sebagian besar dikarenakan beliau sudah kehilangan hampir sebagian besar tenaganya karena harus membantu aku untuk mendesak keluar daya kerjanya racun keji dari dalam tubuh, oleh karena beliau merasa bahwa tenaga dalam yang dimilikinya sudah tak cukup untuk merobohkan orang-orang Mo kau, terpaksa mereka dibiarkan pergi dengan begitu saja. Aaai.... seandainya empek Coa sampai terjadi apa-apa, akulah penyebab yang mengakibatkan dia menderita"

"Ibaratnya nasi sudah menjadi bubur, toh urusannya telah berkembang menjadi begini, menyesali diri sendiri juga tak ada gunanya"

Hibur Thia Siok bi. Setelah berhenti sebentar dia bertanya lagi.

"Jikalau tenaga dalamnya memang sebagian besar telah lenyap, kenapa dia masih sanggup untuk mendemontrasikan ilmu Lian tay siu-tok (menyeberang lintas mimbar teratai) dan Kou sim ciong (genta pengetuk hati) dua macam ilmu maha sakti itu?"

Hoa In-liong berpikir sebentar, lalu jawabnya.

"Rupanya dia orang tua telah menggunakan sisa tenaga dalam yang berhasil dihimpunnya dari sela-sela tubuhnya, cuma keadaan tersebut rupanya berhasil diketahui oleh Seng To cu, karena itulah dia baru mengucapkan kata-kata sepeti bagaikan sedang minum air panas atau dingin, yang minumlah yang tahu"

Diam-diam Thia Siok bi manggut-manggut, dia merasa bagaimanapun juga orang asal Liok soat Ban ceng memang merupakan kawanan manusia yang luar biasa. Dia menghela napas berat.

"Aaai....Seng To cu itu terhitung pula seorang manusia yang hebat, kalau sampai membiarkan Mo kau dan Hian-beng-kauw bekerja-sama, bukankah kedudukanmu menjadi berbahaya sekali?"

Tiba-tiba dia tertawa dan menambahkan.

"Aaah....belum tentu benar pembicaraan kita ini, jangankan Seng To cu belum tentu mengetahui rahasia tersebut, sekalipun mengetahui dengan yakin toh dia tetap kuatir untuk bertarung melawan Goan cing taysu, bukankah demikian?"

"Persoalan ini sangat rahasia dan besar sekali artinya, harap cianpwe, jangan membocorkan kepada siapapun"

Tiba-tiba Hoa In-liong meminta dengan sangat.

"Aaah....!Kamu ini menganggap pinto itu manusia macam apa?"

Thia Siok bi rada uring-uringan. Hoa In-liong menjadi tersipu-sipu sendiri, terpaksa dia tertawa.

"Bila dilihat dari cara cianpwe ini menutup rahasia Hian-beng-kauw, jelas dia adalah seorang manusia yang dapat dipercaya"

Demikian ia berpikir dihati.

"yaa, perkataanku barusan memang berlebihan, bukan kebaikan yang diperoleh aku justru malah menimbulkan ketidak senangan dalam hatinya"

Baru saja dia hendak mengucapkan sesuatu, tiba-tiba berkumandang suara derap kaki kuda yang ramai diselingi bunyi keleningan, mula mula suara itu kedengaran masih jauh, tapi dalam waktu singkat sudah makin mendekat, suaranya memekikkan telinga malah dilihat dari gerakan tersebut, jelas kuda-kuda itu merupakan kuda jempolan yang bisa menempuh seribu li dalam sehari.

Sebagai orang persilatan, tidak terkecuali Hoa In-liong maupun Thia Siok bi kebanyakan memang menyukai kuda jempolan dan pedang mustika tanpa terasa mereka berpaling keluar warung.

Diantara debu yang beterbangan di angkasa tampak seekor kuda jempolan berlari mendekat dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Sedemikian cepatnya kuda itu lari, sampai dengan ketajaman mata Hoa In-liong pun dia hanya sempat menyaksikan kalau kuda itu berbulu hitam dan penunggangnya bertubuh ramping, jelas potongan badan seorang nona muda.

Sayangnya ia tak sempat menyaksikan raut wajah sinona itu sebab larinya kuda itu terlalu cepat, lagi pula ia memandang dari samping, hingga apa yang dilihat kurang begitu jelas.

Ketika mendengar derap kaki kuda yang ramai tadi, para tamu dalam warung bersama-sama melongok keluar pula, tapi namun mungkin mereka bisa menyaksikan sesuatu kecuali bayangan kuda, mereka cuma tahu kalau sesosok bayangan manusia duduk diatas pelana.

Setelah kuda hitam itu lewat, suasana menjidi gaduh, semua orang bersama sama mbiubicarakan kehebatan kuda tadi.

Hoa In-liong sendiri juga teringat kembali akan kuda liong ji nya, setelah ditangkap Cia In dikota Keng-bun tempo hari, kuda itu tak diketahui lagi jejaknya, tapi dia tidak terlalu menguatirkan, se bab dia percaya bahwa liong ji sudah mengerti perasaan manusia, orang awam biasa tak mungkin bisa menungganginya, sedang jago silat tak akan lega untuk melukainya, kalau bertemu dengan rekan-rekan ayahnya, mereka pasti akan kenali pemilik kuda itu, atau kemungkinan juga kuda tersebut sudah pulang lebih dulu ke perkampungan Liok-Soat san ceng.

Sementara dia masih melamun, tiba-tiba terdengar Thia Siok bi berseru tertahan.

"Hei, aneh benar! Kenapa budak, itu ikut datang?"

Telapak tangan kanannya segera menekan sisi meja, lalu bagaikan seekor burung raksasa dia melayang keluar dari warung makan itu.

"Cianpwe...."

Seru Hoa In-liong gelisah.

"Tunggu saja disitu sebentar!"

Tukas Siok bi dari kejauhan. Sebetulnya Hoa In-liong sedang bangkit berdiri, tapi sesudah mendengar perkataan itu dia duduk kerrbali, pikirnya.

"Aku saja tak dapat melihat jelas raut wajah nona itu, masa dengan tenaga dalam yang lebih rendah dari aku dia bisa melihat jelas siapakah orang itu? Ahh....betul orang itu pasti orang yang sangat dikenalnya, sebab itu meski sepintas lalu saja dia segera kenali orangnya"

Dalam pada itu, para tamu lainnya dalam warung itu hanya duduk terbelalak dengan mulut melongo, satu dua diantaranya sempat pula menarik Hoa In-liong, tampaknya mereka kuatir kalau pemuda itupun berubah menjidi burung dan ikut terbang, hingga untuk sesaat suasana jadi hening tak kedengaran sedikit suarapun.

Terhadap lirikan-lirikan dari para pelancong dan para pedagang, Hoa In-liong bersikap pura-pura tidak melihat, ia menunggu beberapa saat lagi, ketika Thia Siok bi yang ditunggu-tunggu belum datang juga, akhirnya ia putuskan untuk minum arak sambil membuang kekesalan.

Isi poci arak itu tidak terlalu banyak, tak lama kemudian sudah habis termiaum, maka diapun berseru.

"Hei pelayan, minta satu poci arak lagi!"

Pelayan sudah bersiap siap disana sejak tadi, mendengar panggilan itu dia mengiakan dengan nada takut, sepoci arak baru dengan cepat sudah dihantarkan, sedang poci kosong diambil pergi.

Tergelak Hoa In-iioug melihat takut-takut dari pelayan itu, tegurnya.

"Eeeh....memangnya aku ini malaikat jahat? Kenapa musti takut terhadapku?"

"Yaa....yaa....yaya memang malaikan bengis....! Sebenarnya pelayan itu hendak mengatakan kalau dia bukan malaikat bengis, siapa tahu saking gugupnya ia sampai salah berbicara punya mengatakan tidak, dia malah membenarkan karuan saja kontan mukanya jadi pucat pias seperti mayat. Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak, dia mengeluarkan sekeping uang perak dan dilemparkan ke meja lalu berkata lagi.

"Itu, boleb kauambil! Daripada kau tuduh aku ingin makan gratis"

Pelayan tersebut bungkukan badannya berulang kali.

"Yaya, tak usah banyak-banyak, tak usah banyak-banyak"

Katanya lagi dengan gugup.

Padahal sejak tadi matanya, mengincar terus kepingan uang perak itu, kalau bisa sekali comot uang itu masuk ke saku sendiri.

Tentu saja Hoa In-liong dapat merasakan isi hati orang, kembali dia tertawa katanya sambil mengulapkan tangannya berulang kali.

"Sana, bawa semua, sisanya untukmu!"

Buru-buru pelayan itu mencomot uang perak tadi kemudian mengucapkan terima kasih berulang kali, setelah itu buru-buru dia kabur kewarung belakang, seakan akan kuatir kalau Hoa In-liong menjadi menyesal.

Hoa In-liong tersenyum, dia berpiling lagi keluar warung.

Tiba tiba ia menangkap berkelebatnya sesosok bayangan manusia, bayangan tersebut buru-buru kabur kesemak belukar dan menyembunyikan diri.

Meski hanya sekilas pandangan, ia kenali orang itu sebagai majikan kecilnya Si Nio atau nona berbaju ungu itu.

Semula pemuda itu bermaksud untuk menyusulnya, tapi kemudian berpikir.

"Ketika melihat aku disini, dia lantas menyembunyikan diri, sudah jelas nona itu enggan untuk bertemu dengan aku, kalau sampai ku susul kesana, dia pasti akan menemui aku secara terpaksa, dalam keadaan yang serba kaku tiada manfaat apa-apa yang bakal kudapatkan, malah kalau sampai Thia cianpwe kembali kesini dan tidak menemui diriku, urusan akan semakin runyam"

Karena berpendapat demikian, maka ia duduk kembali ditempatnya semula....

Sementara itu para tamu dalam warung sedang berbisik-bisik entah apa yang mereka bicarakan, suaranya lembut sukar didengar, tapi ada kemungkinan menyangkut tingkah laku Hoa In-liong yang seenaknya sendiri tanpa memperdulikan apakah disekitarnya, ada orang atau tidak itu....

Kembali setengah jam sudah lewat, akhirnya penasaran Hoa In-liong, dia berpikir.

"Tak mungkin suhunya nona Wan akan beradu kecepatan dengan kuda jempolan tersebut, tentunya dia akan memanggil namanya, tapi kenapa begini lama? Masa kalau bercakap-cakap juga membutuhkan waktu selama ini...."

Ingatan tersebut baru saja melintas dalam benaknya, tiba-tiba terdengar teriakan Thia Siok bi bergema dari depan warung.

"Hoa Yang, hayo kita lanjutkan perjalanan!"

Hoa In-liong tidak membuang waktu lagi, diaa bangkit dan melayang keluar dari warung itu.

Baru saja dia berada diluar pintu, Thia Siok bi te1ah menge-rahkan ilmu meringankan tubuhnya untuk melanjutkan perjalanan.

Buru-buru dia menyusul kemuka, teriaknya.

"Hei cianpwe, siapa gerangan nona tadi?"

"Hmni....! Kamu hanya pandainya menanyakan soal nona....!"

Dengus Thia Siok bi tanpa menghentikan gerakan tubuhnya. Jawaban itu cukup membuat pemuda kita meringis serba salah.

"Cianpwe, buat apa kita musti terburu-buru?"

Kembali serunya.

"Ya, kita musti terburu-buru karena harus menempuh perjalanan sejauh lima ratus li"

Hoa In-Iiong mempercepat langkahnya dan menerjang maju ke depan, kembali dia berseru.

"Kita akan kemana?"

"Ke Hway-im!"

Setelah melirik sekejap, dengan dahi berkerut dia berkata kembali.

"Hematlah tenagamu, perjalanan yang akan kita tempuh bukan suatu perjalanan dekat"

"Oooh....tak menjadi soal, aku yang muda masih sanggup untuk menahan diri"

Sahut Hoa Inliong sambil tertawa.

Thia Siok bi mendengus dan tidak berbicara lagi, tiba-tiba ia mempercepat larinya.

Hoa In-liong tarik napas dalam-dalam, hawa murninya dihimpun kembali dan terpaksa dia harus menyusul dibelakang To koh tersebut.

Demikianlah, dua orang itu melakukan perjalanan amat cepat, dari tengah hari sampai magrib mereka tak pernah berhenti, akhirnya napaspun mulai ngos-ngosan dan ketika itulah mereka mengurangi kecepatan masing masing....

"Hoa Yang, perlu beristirahat tidak?"

Tiba-tiba Thia Siok bi menegur.

"Tidak usah, boanpwe masih sanggup untuk bertahan sampai kota Hway-im...."sahut pemuda itu.

"Baik, kita lanjutkan perjalanan!"

Tiba tiba To koh setengah umur itu mempercepat langkahnya kabur kedepan. Sambil menyusul dibelakangnya, Hoa In-liong berpikir.

"Oooh....tampaknya dia belum mengerahkan segenap tenaga dalamnya, kalau begitu penilaianku tempo hari salah besar, sebab meski tenaga dalam yang dimiliki cianpwe ini masih bukan tandingan Tang kwik Siu, akan tetapi ilmu meringankan tubuhnya lihay banget"

Kurang lebih jam satu tengah malam, akhirnya muncul juga sebuah benteng kota yang amat besar ditengah kegelapan sana, kota tersebut bukan lain adalah kota Hway-im pusat lalu lintas antara wilayah utara dan selatan terutama bagi propinsi Kang ci.

Dengan bermandikan keringat tiba-tiba Thia Siok bi menghentikan perjalanannya, dengan napas tersengkal dia berseru.

"Hoa Yang, mari kita atur pernapasan dulu, bila tenaga kita sudah pulih kembali baru masuk kota"

Hoa In-liong ingin cepat-cepat bertemu dengan Wan Hong giok, segera sahutnya.

"Boanpwe tidak lelah, bagaimaua kalau cianpwe memberitahukan kepadaku dimana muridmu berada, aku ingin segera menjumpai nona Wan"

Thia Siok bi berpaling, ditemuinya meski peluh membasahi seluruh badan Hoa In-liong dan napasnya agak tersengkal, tapi yang aneh wajahnya tetap kelihatan segar, kesegaran itu tak jauh berbeda dengan keadaan disiang hari tadi.

Bila kesegaran pemuda itu dibandingkan dengan wajah layu dirinya yang kecapaian, sudah tentu tampak perbedaan yang menyolok.

"Aneh betul"

Demikian pikirnya dengan tercengang.

"sekalipun Hian-beng Kaucu atau Seng To cu tak mungkin kesegaran mereka akan semakin bertambah setelah menempuh perjalanan sejauh lima ratus li"

Tentu saja To koh setengah umur itu tak pernah menduga kalau Goan cing taysu telah menambah tenaga dalam Hoa In-liong dengan ilmu Wan kong lip teng (Cahaya Bulan Mencapai Puncak), suatu kepandaian maha sakti dari kalangan agama Buddha.

Setelah melakukan perjalanan jauh tanpa berhenti, bukan kelelahan yang didapatkan pemuda itu, justru tenaga murni yang diperolehnya dari Goan cing taysu semakin membaur dengan tenaga dalam milik sendiri.

Otomatis air mukanya kelihatan makin segar.

Hoa In-liong pribadi meskipun tahu akan proses tersebut, diapun tidak menduga kalau hasilnya luar biasa, diam-diam dia semakin berterima kasih atas kebaikan taysu tersebut.

Thia Siok bi tampak termenung sebentar, kemudian ujarnya.

"Kalau toh engkau belum lelah, mari sekarang juga kita masuk ke dalam kota"

"Cianpwe...."

"Tak usah banyak bicara"

Tukas Thia Siok bi, toh kita sudah ada perjanjian dimuka, bila ketemu musuh maka kaulah yang musti maju untuk beradu jiwa"

Sekali melompat dia sudah naik lebih dulu keatas dinding kota.

Buru-buru Hoa In-liong mengikuti dibelakangnya.

Bangunan rumah berderet-deret bagaikan sisik ikan dalam kota itu, dibawah cahaya rembulan suasana diliputi keheningan, kecuali gonggongan anjing diujung gang sana tak kedengaran sedikit su arapun.

Sesudah mengatur pernapasan kata Thia Siok bi.

"Anak Giok berdiam didalam kuil Hian biau koan di utara kota, ketua kuil tersebut Keng it To koh adalah sahabat karib pinto"

"Koancu tersebut tentunya seorang jago lihay bukan?"

Sela anak muda kita.

"Dugaanku keliru besar, dia justru tak pandai bersilat"

Sementara pembicaraan berlangsung, perjalanan sama sekali tidak berhenti, mereka berlarian melewati atap rumah yang berjejer-jejer.

Akhirnya sampailah dimuka sebuah To koan yang berdinding merah dan dikelilingi pohon bambu.

Meskipun bangunan kuil itu megah dan tanahnya luas, tapi suasananya hening dan nyaman, suatu tempat pertapaan yang amat serasi.

Thia Siok bi membawa pemuda itu menuju kehalaman belakang, lalu bisiknya.

"Keheningan malam telah mencekam seluruh jagad, kalau kita masuk sambil mengetuk pintu, maka kedatangan kita ini pasti akan mengganggu nyenyaknya orang tidur, mari kita masuk sendiriseodiri saja"

Hoa In-liong mengangguk, dia melompati dinding pekarangan dan hinggap di atas gununggunungan, ditepi kolam dikelilingi kebun bunga yang indah tampaklah sebuah bangunan kecil yang mungil.

Ketika pemuda tersebut memandang ke arah bangunan itu, hampir saja air matanya bercucuran saking terharunya.

Cahaya lampu menerangi ruangan itu terang benderang, jendela terpentang lebar dan Wan Hong-giok sambil bertopang dagu duduk ditepi jendela sambil memandang rembulan di angkasa dengan termangu, badannya kurus kering mukanya pucat, air mata membasahi pipi dan kelopak matanya, betapa kusut dan layunya gadis itu!"

"Ooooh....dia begitu kurus"

Pekik Hoa In-liong, didalam hati.

"karena akulah dia ternoda dan ilmu silatnya punah, dia.... dia....sedang aku ketika berada dibuka Yan-san...."

Tiba-tiba Wan Hong-giok bergumam dengan suara yang memedihkan hati.

"Malam ini adalah malam keberapa? In liong....ooohh In-liong.... kau berada dimuna? Tidak rindukah kau kepadaku?"

Ia menggelengkan kepalanya berulang kali, kembali gumamnya.

"Tidak! Aku tidak minta kau rindu kepadaku, sebab kalau begini maka kau tak akan senang hati, aku hanya ingin menyaksikan kau dapat hidup penuh kegembiraan, aku.... sekalipun melupakan diriku juga tidak, mengapa...."

Selanjutnya gadis itu menggumankan pula kata-kata cinta yang tak terhitung banyaknya, dalam pelampiasan kata-kata cintanya itu dia hampir saja melupakan diri, dia tidak mengharapkan balasan dari lawannya, dia hanya ingin menunjukkan kalau cintanya kepada Hoa In-liong lebih dalam dari samudra, lebih tinggi dari langit....

Hoa In-liong tak dapat menahan diri lagi, air matanya jatuh bercucuran karena terharu, setengah berbisik dia memanggil.

"Hoag giok...."

Betapa terperanjatnya Wan Hong giok mendengar panggilan itu, tiba-tiba ia berpaling.

Sayang tenaga dalamnya waktu itu sudah buyar, jangan dibilang Hoa In-liong berdiri ditengah kerumungan bunga, sekalipun berdiri ditengah tanah lapang, belum tentu ia dapat melihatnya dengan jelas.

Nona itu berusaha mencari sumber datangnya suara itu tapi tidak berhasil, akhirnya dengan sedih dia menghela napas.

"Yaaa....! Aku terlalu terkenang kepadanya, sampai suaranya pun ikut terkenang."

Tiba-tiba ia tundukkan kepalanya, lalu dengan sedih bersenandung lirih.

"Air jernih siang malam mengalir di loteng merah. Sukma yang lemah bergentayangan mengitari nirwana yang indah. Kapan impian indahku akan menjadi kenyataan? Mengapa kau tak datang? Mengapa kau tak datang? Mungkinkah takut menderita kemurungan....?"

Bait-bait tersebut merupakan bait dari syair cinta yang sudah berusia lama, bukan saja penuh mengandung nada cinta, terutama peng harapannya yang luar biasa, membuat siapapun tahu kalau gadis malang itu sedang merindukan kekasihnya mengharapkan kunjungan idaman hatinya.

Air mata bercucuran membasahi seluruh wajahnya Hoa In-liong, diam-diam dia melompat jendela dan berdiri di belakang Wan Hong-giok, kemudian sambil membelai rambutnya yang hitam mulus bisiknya lembut.

"Hong giok!"

Kasihan sekali Wan Hong-giok, sejak ilmu silatnya punah, hampir boleh dibilang ia seperti orang awam biasa, sekalipun Hoa In-liong sudah berdiri dibelakangnya ia belum merasa.

Akhirnya setelah pemuda itu membelai rambutnya, gadis itu baru sadar dan berpaling.

Ditatapnya Hoa In-liong dengan termangu-mangu lama....lama sekali, dia baru berbisik lirih.

"Kemarin kau sudah datang, mengapa hari ini kembali? Kalau terlalu sering kau datang kemari adik Wi bakal tak senang hati"

Tiba-tiba Hoa In-liong merasa hatinya sakit sekali, pikirnya.

"Oooh.... dia masih mengira pertemuan ini adalah bertemuan dalam alam impian, dia.... aku memang seorang pemuda yang kejam, aku orang yang tak tahu cinta...."

Sebagai diketahui, Hoa In-liong adalah seorang pemuda romantis yang gemar berpacaran, setelah di pengaruhi oleh emosi nyaris dia muntahkan darah segar.

Buru-buru pemuda itu mengerahkan tenaga dalamnya dan mengatur napas, darah yang bergolak keras itu berusaha ditekan kembali.

Selesai mengatur pernapasan, dia baru berkata dengan lembut.

"Adik Wi tidak akan tak senang hati atas kedatanganku ini!"

Wan Hong giok mengagangguk dan tertawa bodoh.

"Yaa, aku tahu adik Wi memang gadis yang polos dan baik hati!"

Hoa In-liong makin berduka oleh sikap gadis itu, cepat serunya, Hong giok, pertemuan ini bukan dalam impian, camkan! Semuanya adalah kenyataan, bukan cuma impian belaka!"

Mula-mula Wan Hong giok agak tertegun, kemudian bisiknya seperti orang bodoh.

"Kenyataan? Kenyataan?"

Biji matanya yang jeli mengerling kesana kemari tangannya diulurkan kedepan seakan-akan hendak menyentuh tubuh Hoa In-liong serta membuktikan babwa kejadian itu memang suutu kejadian yang sungguhan.

Tapi....secara tiba-tiba ia menarik kembali tangannya seperti mendadak kena dipagut ular, rupanya dia kuatir bila sentuhan tersebut kosong ma a impian indahnya akan tercabik-cabik dan idaman hatinya yang berada dihadapannya akan lenyap dengan begitu saja.

Sambil menahan lelehan air matanya Hoa In-liong maju kemuka dan memeluk tubun Wan Hong giok dengan psauh kemesrahan, bisiknya dengan lembut.

"Sekarang kau sudah percaya bukan?"

"Sekujur badan Wan Hong giok gemetar keras, tiba-tiba meledak isak tangisnya.

"Oooh In liong...."

Dia menyusupkan kepalanya kedalam pelukan pemuda itu dan balas memeluknya dengan penuh kemesrahan.

Dalam kejut dan girangnya, gadis itu merasakan pula kesedihan yang luar biasa, sambil memeluk erat-erat tubuh Hoa In-liong, dia menangis sejadinya, hingga dalam waktu singkat, sebagai besar pakaian yang dikenakan Hoa In-liong sudah basah kuyup.

"Jangan menangis! Jangan menangis...."

Bisik Hoa In-liong sambil membelai rambutnya yang mulus.

Pemuda itupun hampir melupakan segala-galanya termasuk keadaan untuk sesaat disekelilingnya.

Beberapa saat kemudian, Wan Hong giok baru pelan-pelan menjadi tenang kembali, sambil menyembunyikan kepalanya dipelukan orang, dia berbisik lirik.

"Baik-baikkah engkau selama ini?"

"Aku baik sekali, justru kaulah yang harus baik-baik menjaga diri!"

Ketika dilihatnya gadis itu masih memeluknya erat-erat, seolah olah takut kalau sampai lepas tangan, maka pemuda idamannya akan lenyap dengan begitu saja, tersenyumlah Hoa In-liong.

"Bagaimana kalau kita duduk dulu baru berbicara lagi?"

Bisiknya kemudian.

Wan Hong giok yang berada dalam pelukan itu mengangguk, dia melepaskan pula rangkulannya.

Setelah duduk Hoa In-liong baru memeriksa sekejap suasana dalam ruangan itu, dia lihat kamar itu bersih sekali, kecuali pembaringan yang di atur dengan rapi, hanya terdapat sebuah meja dengan empat buah kursi, sebuah lilin kecil menerangi ruangan tersebut.

Pedih rasanya pemuda itu, pikirnya.

"Gadis secantik dia tidak sepantasnya kalau berdiam ditempat seperti ini"

Rupanya Wan Hong giok merasakan apa yang dipikirkan pemuda itu, sambil tersenyum tiba-tiba ujarnya.

"Aku senang sekali dengan tempat seperti ini, mana bersih mana sunyi lagi!"

Hoa In-liong tertawa paksa.

"Malam semakin larut, kenapa kau belum tidur?"

Bisiknya.

"tahukah kau bahwa caramu ini hanya akan merusak kesehatan saja?"

Wan Hong giok tertawa.

"Aku belum ingin tidur!"

Jawabnya singkat. Tapi satelah berhenti sebentar, dia berkata lagi.

"Padahal tidak tidur juga tak menjadi soal, coba lihat! Bukankah aku tetap sehat wal'afiat?"

Dengan perasaan sedih, kasihan dan lara, Hoa In-liong mengawasi raut wajahnya yang cantik tapi kurus dan sayu itu, kemudian setelah tertegun sesaat bisiknya lagi.

"Kau.... kau kelihatan lebih kurus"

Sambil tertawa Wan Hong giok gelengkan kepalanya berulang kali, dia tidak berkata apa-apa.

Hoa In-liong tidak tahu yang diartikan gadis itu tidak bertambah kurus ataukah menjadi soal, pemuda itu berdiri tertegun.

"Kau.... kau...."

Tiba-tiba Wan Hong giok mengalikan pokok pembicaraan ke soal lain, tanyanya.

"Bagaimana kau bisa tahu kalau aku berada di sini?"

Hoa In-liong tahu kalau gadis tersebut tak ingin terlalu banyak membicarakan soal itu, maka segera jawabnya.

"Suhumu yang mengajak aku kemari!"

Padahal Wan Hong-giok sudah tahu kalau pasti gurunya yang memimpin pemuda itu ke situ, pertanyaan itu memang sengaja diajukan untuk mengalihkan pokok pembicaraan saja.

Maka sambil manggut-manggut dia bertanya lagi.

"Sekarang, dia orang tua berada dimana?"

Hoa In-liong tidak menjawab, dia cuma berpikir didalam hati.

"Sejak masuk kedalam kamar ini, aku tidak terlalu memperhatikan dirinya lagi, tapi jelas cianpwe yang sangat menguatirkan keselamatan muridnya itu pasti bersembunyi disekitar tempat ini"

Baru saja dia akan menjawab, ketika secara tiba-tiba berhembus lewat angin tajam, diantara cahaya lilin yang bergoncang-goncang, Thia Siok bi sudah muncul didalam ruangan.

"Suhu...."

Pekik Wan Hong giok dengan sedih.

Dia melompat kedepan dan menubruk kedalam rangkulan Thia Siok-bi, kemudian melelehkan isak tangisnya.

Air mata meleleh keluar dan membasahi pula pipi Thia Siok bi, dengan mulut membungkam dia cuma bisa membelai rambut muridnya.

Akhirnya setelah hening beberapa saat lamanya Thia Siok-bi memanggil dengan suara lirih.

"Anak Giok!"

"Ada apa suhu?"

Dengan muka yang basah oleh air mata Wan Hong giok menengadah. Makin sedih perasaan Thia Siok-bi menyaksikan betapa layu dan kurusnya wajah gadis itu, tapi dia paksakan juga sebuah senyuman.

"Masuklah dulu ke dalam, suhu ingin bercakap-cakap dengan Hoa kongcu"

Katanya. Hoa In-liong terkesiap, dengan cepat dia berpikir.

"Rupanya din hendak membicarakan nasib Wan Hong giok dengan diriku, wah.... apa dayaku?"

Rupanya Wan Hong giok juga menduga sampai kesitu, dengan cepat dia menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak! Aku tidak mau!"

Mula-mula Thia Siok-bi agak tertegun, lalu sambil berpura-pura marah serunya lagi.

"Masa perkataan suhupun tidak kau turuti?"

"Oooh suhu! keluh Wan Hong-giok dengan sedih, mari kita pulang keluar perbatasan saja, tecu sudah bosan dengan daratan Tionggoan"

Thia Siok bi tertawa getir.

"Anak bodoh masa selama hidup kau hendak mengikuti suhumu? Sebagai anak perempuan, akhirnya toh kau harus.... Sebelum kata menikah sempat meluncur keluar, tiba-tiba Thia Siok bi menghentikan ucapannya, dia kuatir Wan Hong giok akan menjadi sedih setelah mendengar perkataan itu, apalagi sejak kesucian tubuhnya ternoda. Siapa taha justru sikap gurunya ini semakin menambah kepedihan hati Wan Hong giok, isak tangisnya makin menjadi.

"Oooh.... suhu, tecu tak mau menikah, teca rela mendampingi suhu sepanjang masa"

"Aaai.... tapi suhu tak perlu kau dampingi terus"

Keluh Thia Siok bi sambil menghela napas. Sambil menahan isak tangisnya yaug keras kata, Wan Hong giok lagi.

"Suhu kalau kau sudah tak maui aku lagi, biarlah tecu mencari sebuah biara dan cukur rambut menjadi pendeta disitu"

"Anak Giok...."

"Atau kalau tidak, di To koan inipun boleh juga"

Hoa In-liong hanya bisa berdiri membungkam menyaksikan adegan tersebut, tanpa disadari air matanya ikut meleleh keluar membasahi pipinya.

Thia Siok bi tampak agak tertegun, tiba-tiba dia mengalihkan sorot matanya, dengan sinar mata setajam sembilu bentaknya.

"Hoa Yang!"

Hoa In-liong terkesiap, dengan cepat dia menyahut.

"Hoa Yang!"

Kembali Thia Siok bi berkata dengan suara dingin.

"Tahukah engkau apa yang menyebabkan muridku menjadi begini?"

"Yaa, dosa boanpwe memang tak terampuni!"

Bisik Hoa In-liong dengan air mata berlinang.

"Kalau memang begitu, kau harus memberi pertanggungan jawab kepada muridku"

Hoa In-liong tertegun, dengan penuh kesangsian ia menatap kedua orang perempuan itu bergantian, tak sepatah katapun sanggup diucapkan.

Sekalipun pemuda itu suka bermain cinta, tapi dia sangat memandang tinggi apa artinya cinta itu, ternodanya Wan Hong giok dalam pandangannya merupakan suatu peristiwa yang patut disesalkan, cuma bila dia musti mengikat janji dengan begitu, lantas bagaimana penyelesaiannya dengan Coa Wi wi?

Sekalipun belum terlalu lama pergaulannya dengan Coa Wi wi, tapi secara diam-diam kedua belah pihak sudah saling mengikat janji, boleh dibilang cinta mereka dimulai sejak pandangan pertama.

Maka kalau berbicara soal istri, Coa wi-wi adalah orang yang paling pantas untuk kedudukan itu.

Apalagi meski dia binal tapi peraturan rumah tangganya sangat ketat, soal perkawinanpun merupakan masalah besar, tak mungkin baginya untuk menyanggupi tanpa berunding dulu dengan orang tuanya.

Yaa sekarang dia setuju, bila lain waktu ayahnya menyatakan keberatan, lantas bagaimana....?

Hoa In-liong tidak ingin menjadi seorang pemuda yang mencla mencle, terutama mengingkari ucapannya sendiri.

Sebagai seorang pemuda yang bijaksana, sebagai seorang laki-laki sejati terutama sebagai keturunan orang ternama, pemuda itu tak mau berbuat gegabah sebelum memutuskan sesuatunya dia ingin renungkan dan pertimbangkan dulu masalahnya masakmasak.

Sebab itu, sekian lamanya pemuda itu tetap membungkam, dia tak tahu bagaimana musti memberikan jawabannya.

Tiba-tiba Wan Hong giok mengeluh sambil menangis tersedu-sedu.

"Oooh....suhu, kau tak usah memaksanya, tecu rela menjadi pendeta dan hidup mengasingkan diri...."

"Kau tak usah banyak bicara"

Bentak Thia Siok bi.

"akulah yang berhak mengaturkan segala sesuatunya untukmu!"

"Tapi kalau suhu hendak memaksa tecu untuk kawin, lebih baik tecu mati saja!"

Thia Siok bi, tidak menggubris muridnya lagi, dia berpaling ke arah Hoa In-liong dan bentaknya kembali.

"Ayoh, cepat beri keputusan yang tegas...."

Hoa In-liong tertegun.

"Boanpwe...."

Terbayang kembali raut wajah ayahnya yang keren dan suara neneknya yang penuh wibawa, pemuda itu menjadi gelagapan dan tak mampu melanjutkan kembali kata-katanya.

Tiba-tiba Wan Hong giok berpekik sedih.

"Oooh suhu....maafkanlah ketidak berbaktinya muridmu ini....!"

Sambil meronta dari rangkulan Thia Siok bi, dia lari kedepan dan menumbukkan kepalanya di atas dinding ruangan.

Sejak berangkat meninggalkan bukit Yan san tempo dulu, sebetulnya Wan Hong giok sedang melanjutkan perjalanannya menuju ke utara didampingi Ki ji, kebetulan Thia Siok bi yang kangen dengan muridnya juga dalam perjalanan menuju ke Tionggoan, akhirnya mereka berpapasan dan saling berjumpa di tengah jalan.

Kejut dan marah Tbia Siok bi menyaksikan keadaan muridnya yang mengenaskan itu, dia mendesak muridnya agar menceriterakan musibah apa yang telah menimpa dirinya, tapi Wan Hong giok bersikeras tetap membungkam, akhirnya dari Ki ji lah To koh itu berhasil mengetahui duduknya persoalan....

To koh itupun mendapat tahu kalau muridnya bisa menjadi begini karena demi keselamatan seorang keturunan keluarga Hoa Yang bernama Hoa Yang alias Hoa In-liong.

Maka setelah pikir punya pikir dia merasa hanya ada satu jalan untuk membuat muridnya gembira lagi, yaitu mengawinkan muridnya itu dengan Hoa In-liong.

Begitulah sesudah menyusun rencana, akhirnya Thia Siok bi meninggalkan kedua orang itu di kota Hway-im, sementara dia sendiri segera berangkat ke kota Kim leng.

Padahal Thia Siok-bi juga tahu akan urusannya lebih sulit daripada naik kelangit, tapi apa boleh buat, demi kebahagian muridnya dia harus berusaha dengan segala kemampuan yang dimilikinya, kalau terpaksa diapun akan memaksa Hoa In-liong untuk mengawini muridnya.

Wan Hong giok sendiri sebetulnya amat mencintai Hoa In-liong boleh dibilang setiap waktu setiap saat selalu merindukan pemuda itu, tapi sejak ternoda ia merasa tubuhnya sudah kotor dan tidak pantas untuk mendampingi Hoa In-liong lagi, sudah menjadi tekadnya semenjak dulu bahwa ia lebih suka menghabisi nyawa sendiri daripada harus kawin dengan pemuda pujaannya.

Sebab itulah ketika Thia Siok bi memaksa pemuda itu untuk menerima lamaran, dengan perasaan yang hancur luluh gadis itu menjadi nekad dan ingin menghabisi nyawa sendiri.

Tentu dua orang jago silat yang hadir dalam ruangan itu tak akan membiarkan dia mati penasaran...."

Sebelum kepalanya sempat membentur diatap dinding, Hoa In-liong sudah menyusup kehadapannya serta merangkul gadis itu kedalam pelukannya....

Sejak ilmu silatnya musnah, kesehatan badan Wan Hong giok lebih rapuh dari orang lain, apalagi setelah mengalami pukulan batin yang cukup berat, sejak tadi dia sebetulnya sudah tak tahan, maka begitu dirangkul oleh Hoa In-liong, pingsanlah gadis itu.

Thia Siok bi putus asa bercampur kecewa, menyaksikan tekad muridnya yang lebih baik mati daripada kawin, teringat pula kedudukan keluarga Hoa Yang begitu tinggi dalam dunia persilatan ser ta ternodanya Wan Hong giok, dia betul-betul merasa tak ada harapan untuk melangsungkan apa yang diharapkan.

Sambil mendepak-depakkan kakinya ketanah, serunya dengan penuh kebencian.

"Sudahlah, sudahlah....percuma!"

Tiba-tiba ia merampas tubuh Wan Hong giok dari dukungan Hoa In-liong, kemudian melompat keluar dari jendela.

Mula-mula Hoa In-liong tertegun, menyusul kemudian sambil mengejar keluar teriaknya dengan gemetar.

"Cianpwe, nona Wan...."

Sambil berpaling tiba-tiba Thia Siok-bi mengancam.

"Kalau engkau berani menyusul kami, jangan salahkan kalau pinto tak akan sungkan-sungkan lagi"

Sementara Hoa In-liong masih tertegun, sambil mendengus dingin Thia Siok bi sudah berangkat menuju ke utara. Hoa In-liong cuma bisa berdiri termangu-mangu sambil melamun.

"Ibuku dan mama (Chin Wan hong) paling menyayangi diriku, mereka pasti berdiri dipihakku, sedang nenek dan ayah meski keras dan keren, rasanya setelah kuterangkan mereka akan menjadi tahu, berarti kesulitan pertama bisa kuatasi. Adik Wi baik hati dan suka memaafkan kesalahanku, rasanya diapun bisa memahami posisiku saat ini...."

Berpikir simpai disitu, pemuda itu segera memutuskan untuk menyusul Wan Hong giok berdua, dengan suara lantang dia berteriak.

"Cianpwe, harap berhenti."

Teriakan itu cukup keras, apalagi ditengah keheningan malam yang mnyelimuti seluruh jagad, teriakan tersebut hampir terdengar diseparuh bagian kota Hway-im.

Pemuda itu sudah mengambil keputusan, apapun yang terjadi, dia akan menikahi Wan Hong giok Ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya tidak berada dibawah kepandaian Thia Siok bi, apalagi To koh setengah umur itu harus membawa seorang yang lain, ketika berada dikaki dinding kota mereka berhasil disusul oleh pemuda itu.

Dengusan dingin bergema memecahkan kesunyian, melihat pemuda itu menyusul datang Thia Siok bi segera memutar tubuhnya, lalu senjata Hud tim nya disapu kedepau menghantam batok kepala lawan.

Hoa In-liong sedikitpun tidak bergerak, sekalipun serangan sudah berada di depan mata, ia tidak berniat untuk menghindarkan diri.

Bayangkan saja betapa dahsyatnya serangan itu kalau sampai kena sasaran niscaya pemuda itu akan mampus.

Thia Siok bi, amat bersedih hati atas tragedi yahg menimpa murid kesayangannya, karenanya dalam melancarkan sapuan tersebut diam-diam ia sertakan pula tenaga serangan sebssar dua belas bagian.

Seandainya serangan itu sampai menghajar telak ditubuh Hoa In-liong, kalau tidak matipun paling sedikit akan terluka parah.

Tapi setelah ia saksikan betapa murung dan sedihnya anak muda itu, terutama sikap pasrahnya terhadap nasib, secara tiba-tiba saja melunakkan hatinya.

"Aaai.... Sudahlah."

Begitu dia berpikir.

"toh dalam kejadian ini dia memang tak bisa disalahkan!"

Disaat yang terakhir dia menarik kembali sebagian besar tenaga dalamnya, seranganpun dimiringkan kesamping, dengan begitu senjata Had tim tersebut hanya mengejar bahu kiri Hoa In-liong.

Sianak muda itu mendengus tertahan, bahu kirinya robek dan tubuhnya ikut roboh terjungkal dari atas dinding pekarangan.

Thia Siok bi menghela napas sedih, sambil membopong tubuh Wan Hong giok dia berlarian menuju keutara.

Sambil menahan rasa sakit Hoa In-liong melompat kembali keatas dinding pekarangan, kemudian teriaknya keras-keras.

"Cianpwe, harap tunggu dulu, aku yang muda bersedia menerima perintahmu!!"

Malam yang sepi keheningan yang merccekam, hanya suara teriakannya yang berkumandang sampai nun jauh disana, namun tiada jawaban dari Thia Siok bi.

"Ji-kongcu!"

Tiba-tiba seseorang mamanggil dengan suara yang lembut merayu. Hoa In-liong segera berpaling, ternyata Ki ji yang datang, maka serunya dengan gelisah.

"Nonamu sudah kembali kekota King-leng, lebih baik kau cepat cepat pulang!"

Kemudian tidak menunggu jawaban lagi dia melompat turun dari dinding pekarangan itu dan kabur ke utara.

"Eehh.... ji-kongcu! Bagaimana dengan kau sendiri?"

Teriakan Ki ji masih sempat berkumandang dari belakang sana.

"Aku masih ada urusan!"

Pemuda itu menjawab tanpa berpaling lagi.

Sesudah menitahkan Ki ji agar segera pulang kerumah, pemuda itu tak ada minat untuk menggubrisnya lebih jauh, dengan kecepatan paling tinggi dia bergerak keutara, kearah mana Thia Siok bi melenyapkan dirinya tadi....

Berapa waktu sudah lewat pengejaran masih berlangsung terus, namun orang yang disusul tidak tampak juga batang hidungnya.

"Rupanya To koh itu memang tidak bermaksud menjumpai aku"

Akhirnya dia berpikir.

"yaa, kalau memang begitu, dikejar terus juga tak ada gunanya...."

Menurut perhitungannya Thia Siok bi tak mungkin bisa pergi terlampau jauh, meskipun ilmu meringankan tubuhnya sempurna, toh dia musti membopong Wan Hong giok sebagai suatu beban, sepantasnya kalau dia tak bisa lari cepat.

Tapi sudah sekian lama dia melakukan pengejaran, pemuda itu percaya kecepatan larinya tidak berada dibawah To koh tersebut tapi kenyataannya sudah semakin lama dia mengejarnya, tapi orang yang di cari-cari belum ketemu juga, ini membuktikan kalau mereka memang sengaja menghindari pertemuannya.

Karena berpendapat demikian, pemuda itu menghentikan kembali pengejarannya, lalu bergumam seorang diri.

"Lebih baik aku berjalan selangkah lebih duluan, kemudian kujaga jalanan menuju ke utara ini, dengan demikian, mereka berdua pasti tak akan menyangka, dan kesempatan untuk menemukan jejak merekapun akan semakin bertambah besar"

Dari kota Hway-im menuju ke utara memang tersedia beberapa buah jalan, tapi jalan pemerintah cuma ada satu.

Sekarang yang paling dikuatirkan anak muda itu adalah bila berdua memilih jalan kecil, bahkan memilih jalan bukit yang lebih sukar untuk menghindari pertemuan dengannya.

Maka sesudah mempertimbangkannya sekian waktu, akhirnya dia memutuskan untuk mencegat dikota Si ciu saja.

Setelah mengambil keputusan, dia menentukan arah dan berangkat menuju ke arah barat laut.

Perjalanannya kali ini dilakukan dengan mengerahkan segegap ilmu meringankan tubuh yang dikuasahinya, seperti hembusan angin puyuh saja badannya berkelebat maju ke depan....

Jarak antara kota Hway im sampai di kota Si ciu memang tidak terlampau jauh, tapi bagaimanapun juga orang harus beristirahat sebelum meneruskan perjalanannya, apalagi belum lama berselang pemuda itu sudah melakukan perjalanan sejauh lima ratus li tanpa berhenti dengan begitu maka tenaga dalam yang terbuangpun tidak akan terlampau banyak.

Hoa In-liong yang berpengalaman tidak tahu namun setiap menit setiap detik dia selalu membabayangkan wajah Wan Hong giok yang layu, membayangkan tragedi yang menghancur lumatkan perasaan gadis itu, dia merasa sakit hati, dia ingin menggunakan segenap kekuatan yaug dimilikinya untuk melampiaskan semua kekesalan, membuang semua kemurungan yang mengganjal hatinya sebab itu dia melakukan perjalanan tanpa hentinya.

Apa yang terjadi kemudian?

Tenaga dalamnya bukan saja tidak menjadi habis lantaran tindakan tersebut, malah sebaliknya hawa murni itu mengalir semakin lancar, kian ngotot dia berlari kian segar badannya dan kian bertambah cepat pula larinya.

Lama kelaman sadarlah pemuda tersebut atas keajaiban itu, dia tahu kesemuanya ini adalah berkat pemberian dari Goan cing taysu.

"Demi aku, entah berapa banyak yang dikorbankan dia orang tua?"

Demikian ia berpikir.

"bila aku tahu diri, dan menghambur-hamburkan tenaga pemberiannya, bukankah perbuatan ini sama halnya dengan menyia-nyiakau pengorbanan dia orang tua?"

Karena berpikir demikian, maka pemuda itu segera merubah rencananya semula, setelah tiba di kota Siciu, sambil mencari jejak Wan Hong-giok dan gurunya, diam-diam diapun melatih ilmu silatnya dengan lebih tekun.

Keesokan harinya ketika sore menjelang tiba, Hoa In-liong telah tiba di kota Si ciu dan masuk lewat pintu sebelah timur.

Sebagaimana diketahui, Hoa In-liong itu orangnya tampan, dandanannya perlente dan gerakgeriknya mencerminkan seorang anak hartawan yang gagah perkasa, tapi bahu kirinya basah oleh noda darah, keistimewaan tersebut dengan cepat menarik perhatian orang banyak.

Terhadap sikap keheranan orang banyak itu Hoa In-liong berpura-pura tidak melihat, dia menuju ke rumah penginapan Tay hok yang merupakan rumah penginapan terbesar di kota Si ciu dan memesan sebuah ruangan yang tersendiri, lalu selelah mencuci badan dan bersantap, dia memanggil seorang pelayan, memberinya sekeping uang perak seraya berpesan.

"Belikan kain putih sekodi dan bahan baju yang persis dengan pakaianku ini, cepatan sedikit!"

Pelayan itu menerima uang tersebut dan ber-bongkok-bongkok sambil mengiakan, padahal dihati dia menggerutu.

"Aneh betul orang ini, buat apa kain putih sebanyak itu? Masa mau berkabung?"

Baru saja dia memutar badannya, tiba-tiba Hoa In-liong memanggil lagi.

"Hei pelayan!"

"Tuan masih ada perintah apa lagi?"

Buru-buru pelayan itu memutar badannya.

"Tolong pinjamkan juga alat menulis dari kasir!"

Jilid 35 KEMBALI pelayan itu membungkukkan badan sambil mengundurkan diri dari sana.

Tak lama kemudian, kain putih yang dipesan, bahan pakaian serta alat menulis sudah dihantar masuk ke dalam kamar.

Hoa In-liong merobek kain putih itu menjadi ukuran dua kaki lebih tujuh delapan depa sebanyak empat lembar, lalu diletakkan dimeja dan dia mulai menulis.

Beberapa saat kemudian, keempat lembar kain putih itu sudah selesai di tulis, sambil meletakkan penanya ke meja, dia menghela napas panjang, gumamnya.

"Aaai....jika cara iinipun tidak mendatangkan hasil, untuk menemukan Wan Hong giok berdua rasanya akan sulit kembali...."

Setelah berganti pakaian dan tulisan diatas kain putih itu sudah kering, dia menggulung kain tadi menjadi satu dan meninggalkan rumah penginapan, meski bahunya pernah terluka, sekarang telah sembuh kembali jadi tidak terlalu mengganggu.

Waktu itu magrib sudah menjelang tiba, lampu sudah memancar dimana-mana, banyak orang berlalu lalang dijalanan, pasar malam baru dimulai dan suasananya amat ramai.

Hoa In-liong mendatangi keempat buah pintu kota, dibawah tontonan banyak orang, dia mengeluarkan ilmu meringankan tubuhnya dan menggantungkan kain putih berisi tulisan tersebut diatas loteng kota, terhadap perhatian banyak orang, ia sama sekali tak ambil perduli.

Begitu kain digantung, orangpun berkerumun di sekitarnya untuk membaca isi tulisan tersebut.

Pada kain putih tadi, tertera beberapa huruf besar yang menyolok, tulisan itu berbunyi.

Baca Juga: Bara Naga 4

Baca Juga: Kisah Si Rase Terbang 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert