Ceritasilat Novel Online

Rahasia Hiolo Kumala 9

Eps 9 Rahasia Hiolo Kumala - Gu Long

Baca online Rahasia Hiolo Kumala - Gu Long

Cersil Rahasia Hiolo Kumala - Gu Long.

"Liong ji, kau benar-benar punya rejeki bagus! Ada seorang gadis secantik itu yang memanggil Pek loji sebagai gwakong, aku yakin saking girangnya Pek loji sampai tak tahu apa yang musti di lakukan"

Kata-kata tersebut dilakukan secara terang-terangan tanpa tedeng aling-aling, tentu saja hal ini membuat Coa Wi-wi jadi amat jengah hingga tak sanggup mengangkat kepalanya.

Beberapa orang itu bercakap-cakap sendiri tanpa mengindahkan kalau disana hadir pula orangorang Hian-beng-kauw dan Mo-kauw, hal ini tentu saja membuat Hong Liong dan Beng Wi-cian jadi tak enak hati.

Beng Wi-cian tertawa kering.

"Yang barusan datang apakah Sin ki pangcu serta Siau yau sian Cu tayhiap...."

Heeehhh....

heeehhh....

heeehhh....sebutan yang paling cocok untuk saat ini adalah Pek tayhiap ejek Hong Liong sambil tertawa dingin tiada hentinya.

Jelas ucapan tersebut berada ejekan, dimana Pek Siau thian telah berpihak golongan kaum pendekar.

"Hmm....tenyata memang memperoleh banyak kemajuan!"

Pek Siau-thian balas mengejek dengan mata melotot.

Sikap gagah semacam itu tentu saja tak mungkin bisa ditiru Hong Liong, hanya sepatah kata yang sederhana saja kesombongan Hong tertekan, malah ia tak mampu menambahi sepatah katapun ucapan sindiran.

Hoa In-liong yang paling gembira menghadapi keadaan seperti itu, pikirnya.

"Gwakong memang tak malu menjadi seorang totoh dunia persilatan, cukup dengan sikapnya yang gagah dan penuh kewibawaan itu rasanya masih jauh aku ketinggalan dari padanya...."

Perlu diterangkan, dalam tubuh anak muda itu mengalirkan darah Pek Siau thian, sebab itu diapun memiliki semangat seperti yang di miliki gwakongnya, coba berganti dengan toako-nya Hoa Si, dia pasti akan menghadapi orang dengan cara yang lembut.

Orang bilang anak menuruni watak orang tuanya, meskipun ia bukan keturunan langsung dari Pek Siau thian, tapi oleh karena Pek Siau-thian teramat memanjakan dirinya, karena itulah watak Hoa In-liong lebih banyak menuruni gwakongnya itu.

Dalam pada itu Pek Siau thian telah melirik sekejap ke arah Beng Wi-cian kemudian ujarnya.

"Tempo dulu, lohu pernah mendengar bahwa diluar perbatasan terdapat seorang Thian ki siusu yang mengaadalkan Sin eng pit ciang nya menjagoi dunia persilatan...."

"Haahh.... haaahh.... haaahh.... orang liar dari perbatasan, kurang sedap untuk di singgungsinggung"

Beng Wi-cian menyela sambil tertawa tergelak. Setelah mengelus jenggotnya, ia berkata kembali.

"Lohu harus menyebut diri Pek pangcu sebagai pangcu, ataukah sebagai tayhiap?"

"Licik benar orang yang bernama Beng Wi-cian ini"

Pikir Pek Siau thian dalam hatinya.

"ia jauh lebih licik bila dibandingkan Hong Liong.... aku musti berhati-hati!"

Dengan nada dingin sahutnya.

"Lohu she Pek bernama Siau thian terserah kau mau sebut apa kepadaku...."

"Kalau begitu akan kusebut sebagai Pek pangcu saja"

Kata Beng Wi-cian kemudian sambil tertawa. Dalam ucapannya itu, secara lapat-lapat ia menyindir kedudukan Pek Siau thian yang telah berubah saat itu. Pek Siau thian mendengus dingin.

"Beng thamcu, sampai sekarang engkau masih mengurung cucuku dan nona Coa ini, apakah kau masih ingin melangsungkan pertarungan lagi?"

Beng Wi-cian lantas bsrpikir.

"Situasi yang terbentang didepan mata saat ini sangat tidak menguntungkan bagi kami, bila ingin peroleh keuntungan dari keadaan seperti ini, tak ubahnya seperti orang bodoh lagi mengigau!"

Tanpa berunding lagi dengan Hong Liong, dia lantas ulapkan tangannya sambil berseru.

"Segenap anak murid Hian-beng-kauw mundur dari posisi sekarang!"

Bagaikan gulungan air bah, kawanan laki-laki berbaju ungu itu menyingkir semua ke belakang.

Para jago dari Mo-kauw yang mengepung dari luar, mau tak mau harus menyingkir juga untuk memberi jalan kepada mereka.

Ciu Hoa lotoa menunjukkan sikap tak senang hati, bibirnya bergetar seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya niat itu dibatalkan, mengikuti yang lain diapun mundur ke belakang.

Hong Liong yang marah-marah menghadapi kejadian itu, dengan ilmu menyampaikan suara dia berseru.

"Wahai oraag she Beng, memangnya kau hendak bentrok sendiri dengan kami?"

"Aku rasa Hong heng jauh lebih memahami keadaan situasi yang terbentang didepan mata saat ini"

Jawab Beng Wi-cian pula dengan ilmu menyampaikan suara.

"mau bertempur atau tidak, siau te menunggu perintah diri Hong heng"

Walapun amat gusar, Hong-liong bukannya seorang manusia yang tidak mempunyai akal, ia tahu pada hakekatnya memang tiada harapan untuk menang bagi pihaknya, sekalipun ucapan BengWi enak di dengar, seandainya benar-benar terjadi pertarungan, masih untung kalau kakinya tidak di gaet sendiri.

Karena itu sambil mendengus marah ia berseru lagi dengan ilmu menyampaikan suara "Baiklah orang she Beng, akan kulihat bagaimana caramu untuk mempertanggung jawabkan kejadian hari ini kepada kaucu kalian?"

Beng Wi-cian hanya tersenyum sambil mengelus jenggotnya, ia tidak berbicara apa-apa lagi. Hong Liong benar-benar amat gusar, setengah berpekik teriaknya.

"Segenap anak murid auri perkumpulan kami, mundur semua kemari!"

Dalam waktu singkat, suasana dalam gelanggang kembali mengalami perubahan, agaknya mereka bermaksud menyudahi pertarungan tersebut dengan begitu saja.

Coa Wi-wi yang menjumpai hal itu tak bisa mengekang hawa napsunya, ia berseru.

"Gwa....Pek yaya, jangan biarkan mereka berhasil kabur dari sini, walau hanya seorangpun, persoalan yang menyangkut diri empek Yu belum diselesaikan!"

Kali ini dia merubah panggilannya atas diri Pek Siau thian menjadi "Pek yaya"

Tentu saja Pek Siau thian tahu bahwa muka gadis itu tipis dan gampang merasa malu, perubahan itu sama sekali tidak menjadikan hatinya kaget.

Justru Cu Thong lah yang sangat memperhatikan penyakit-penyakit kecil semacam itu, kontan saja ia tertawa cengar-cengir.

"Waaah....waaah....Pek loji bakal merasa kehilangan lagi, tahukah kau anak Wi?"

"Budak ingusan she Coa"

Mendadak Hong Liong berteriak sambii menyeringai seram, benarkah bacotmu itu? Suatu ketika pasti akan kusuruh kau merasa kelihayan loya mu!"

Sebaliknya Beng Wi-cian tersenyum.

"Nona Coa telah salah paham, pada saat ini Yu Sin-gi (Yu tabib sakit) merupakan tamu terhormat dari perkumpulan kami, diampuni bersedia mengamalkan kepandaian pertabibannya melalui kekuasaan perkumpulan kami untuk menyelamatkan sesama umat manusia"

Mula-mula Coa Wi-wi menyibirkan bibirnya, lalu dengan manja ia berseru.

"Cu yaya, memalukan sekali kau sebagai seorang cianpwe, jika yang tuapun tidak menindahkan ketuaannya, lain kali akupun tak akan memanggil dirimu sebagai yaya"

Kemudian dengan bibir yeng semakin dicibirkan ia berkata kepada Hong Liong dengan nada menghina.

"Setan tua she Hong, engkau mempunyai ilmu silat macam apa lagi yang dikatakan lihay? Kenapa tidak kau gunakan sekarang juga? Cisss.... omong membual selangit, sungguh tak tahu malu"

Akhirnya kepada Beng Wi-cian katanya pula setelah tertawa dingin tiada hentinya.

"Manusia yang manis dimulut busuk dihati adalah manusia paling jahat. Tamu agung apaan? Terang-terangan dia sudah kalian culik dengan kekerasan.... Hmm! Menyelamatkan umat persilatan?"

"Kenapa tidak kau terangkan saja secara blak-blakan untuk mencelakai seluruh umat persilatan didunia ini! Memangnya keluarga Hoa dari im-tiong-san tak dapat menandingi perkumpulan sesat aliran kiri macam kalian itu?"

Meskipun selembar bibirnya yang kecil harus menghadapi tiga arah yang berbeda, paras mukanya ikut berubah tiga kali, tapi sikapnya yang lincah, polos dan menarik sama sekali tidak menjadi hilang.

Jangankan Cu Thong yang malahan tertawa terbahak-bahak, sampai Hong Liong serta Beng Wi-cian juga tidak merasa kalau dirinya sedang dimaki.

Hoa In-liong yang berada disampingnya segera menowel ujung bajunya sambil berbisik.

"Jangan kau sela dalam pembicaraan yang sedang berlangsung, biarlah gwakong ku yang menyelesaikan persoalan ini"

Coa Wi-wi berpaling dan menjawab.

"Justru aku kuatir kalau gwakong tak tahu duduknya persoalan hingga kena mereka tipu"

Mendengar perkataan itu, Hoa In-liong tertawa geli.

"Memangnya gwakong ku itu manusia macam apa? Gampang saja dipecundangi manusiamanusia macam begitu? Kau tak usah kuatir!"

Setelah dikatai begitu, Coa Wi-wi baru tidak berbicara lagi.

Keadaan mesra yang diperlihatkan dua orang muda-mudi ini segera menimbulkan pelbagai reaksi bagi yang memandangnya, ada yang memuji mereka sebagai pasangan yang paling ideal ada yang merasa bahwa kecuali Hoa In-liong memang tiada orang lain yang pantas mendampingi gadis secantik Coa Wi-wi, ada pula yang merasa dengki iri....

Terutama Ciu Hoa losam, rasa dengki yang membakar hatinya benar-bsnar sukar dikembalikan, dengan langkah lebar ia menghampiri Beng Wi-cian kemudian sesudah memberi hormat katanya.

"Siautit minta diperintahkan untuk membunuh Hoa In-liong, bajingan di muka itu!"

"Harap sam kongcu mundur dulu!"

Tukas Beng Wi-cian sambil mengulapkan tangannya.

"Beng thamcu...."

Ciu Hoa losam masih penasaran. Tiba-tiba paras muka Beng Wi-cian berubah jadi keren, ujarnya kembali dengan tegas.

"Jika sam kongcu sendiripun berusaha melanggar pertarungan, bagaimana pula dengan anak murid perkumpulan lainnya?"

Ciu Hoa lotoa yang selama ini sudah penasaran tiba-tiba berteriak dengan lantang.

"Losam, Beng thamcu sudah punya rencana pembunuhan yang hebat, kau begitu tak tahu diri, memangnya ingin mampus?"

Dengan ketakutan buru-buru Ciu Hoa losam mengundurkan diri ke belakang. Beng Wi-cian mengerutkan dahinya, kemudian berkata.

"Perkataan toa kongcu berlebihan, lohu tak berani menerimanya!"

Ciu Hoa lotoa hanya tertawa dingin tiada hentinya tanpa berkata-kata lagi. Sedangkan Beng-Wi cian menyumpah didalam hati.

"Hmmm.... memang dianggapnya setelah menjadi murid kaucu, lantas boleh malang melintang semaunya sendiri? Bila kalian dibandingkan dengan bocah she Hoa itu.... huuuh, masih jauh ketinggalan, maju kemukapun paling-paliag hanya menghantar kematiannya sendiri"

Sejak Beng Wi-cian memerintahkan mundurnya anggota Hian-beng-kauw sampai Ciu Hoa losam mengundurkan diri dari gelanggang, waktu hanya berlangsung dalam beberapa saat saja.

Ketika itu Pek Siau thian sudah tidak sabaran lagi terdengar ia membentak keras.

"Mau bertempur atau damai, sudah kalian putuskan belum?"

"Pek pangcu dan Cu tayhiap tentu sudah agak lama bukan datang kemari"

Kata Beng Wi-cian.

"tentunya kalian juga mengetahui sendiri kalau perkumpulan kami hanya bermaksud mengundang Hoa kongcu serta nona Coa menjadi tamu-tamu agung kami, kalau toh kalian tak mau menerima undangan ini, tentu saja lohu juga tidak akan memaksa lebih jauh"

Habis berkata kembali ia tertawa terbahak-bahak. Menjumpai keadaan seperti ini, Hoa In-liong lantas berpikir dalam hatinya.

"Kulit muka orang she Beng ini benar benar sangat tebal, kejadian yang barusan berlangsung bukannya tidak diketahui semua orang, tapi ia bisa membolak balikkan duduknya persoalan tanpa berubah muka, ini baru namanya si muka badak!"

Sudah sering ia berkumpul dengan gwakongnya, diapun cukup mengetahui keadaan, pemuda itu tahu Pek Siau thian berbuat demikian tentu mengandung maksud-maksud tertentu, maka itupun tidak ikut menimbrung.

Tentu saja Coa Wi-wi tak dapat menahan diri, ia kontan saja menyindir dengan suara sinis.

"Memutar balikkan duduknya persoalan, kulit mukanya betul-betul lebih tebal daripada tembok kota!"

Cu Thong ikut tertawa.

"Haaahh.... haaahh.... haaahh.... betul, entah siapa yang telah melepaskan gas busuknya, sampai-sampai nasi yang telah kumakan kemarin malam rasanya ikut ingin tumpah"

Hong liong membungkam dalam seribu bahasa, sebaliknya Beng Wi-cian pura-pura tidak mendengar, semuanya sedang menunggu bagaimanakah jawaban dari Pek Siau thian.

"Jikalau toh demikian, lohu sekalian hendak mohon diri lebih dulu"

Ujar Pek Siau thian kemudian.

Yaa, tabiat dari jago tua ini benar-benar sudah mengalami perubahan besar, coba kalau menuruti adatnya dimasa lalu, sepatah dua patah kata sindiran tentu akan dilontarkan keluar.

Kepada Hoa In-liong dia lantas berseru.

"Liong-ji, hayo kita pergi!"

Hoa In-liong berpikir sebentar, kemudian sambil menggandeng tangan Coa Wi-wi, dengan wajah yang sama sekali tidak berubah, pelan pelan ia berjalan menuju kearah mana Pek Siau thian dan Cu Thong berada.

Terbayang kembali kejadian yang baru dialaminya belum lama berselang.

Coa Wi-wi merasa terlalu keenakan jika membiarkan orang-orang itu berlalu dengan begitu saja, ketika lewat dihadapan Beng Wi-cian serta Hong Liong, ia melotot sekejap kearah mereka dengan gemasnya.

Semua jago dari Hian-beng-kauw maupun Mo-kauw hanya mengawasi gerak gerik mereka dengan mulut membungkam, tak seorangpun yang menunjukkan reaksi apa-apa.

Menanti keempat orang itu sudah bergabung menjadi satu, Hong Liong baru berkata dengan wajah menyeramkan.

"Pek loji, marilah kira membaca buku sambil menunggang keledai, lihat saja nanti, pokoknya hutang baru hutang lama, suatu hari pasti akan kita selesaikan sampai beres"

"Lohu akan menunggunya setiap Waktu!"

Jawab Pek Siau thian tegas.

Setelah mengulapkan tangannya, ia berjalan lebih dulu keluar dari lembah tersebut, sementara tiga orang yang lain menyusul dari belakangnya.

Diam-diam Hoa n iong merasa terkejut bahkan si dewa yang suka kelayaban Cu Thong yang selamanya, suka tertawa haha hihi pun saat ini menyimpan kembali semuanya, dari sini dapat diketahui betapa seriusnya keadaan pada waktu itu.

Selang sesaat kemudian mereka sudah keluar dari lembah, Coa Wi-wi baru bertanya.

"Pek yaya, Cu yaya, kenapa kalian bisa datang tepat pada waktunya....?"

Pek Siau thian masih tetap berwajah serius, ia tidak menjawab pertanyaan itu. Sebaliknya Cu Thong telah tunjukan kembali wajahnya yang penuh senyuman cengar cengir,ahutnya sambil tertawa.

"Siapa yang bilang kebetulan? Sejak semula aku serta Pek heng telah bersembunyi didalam lembah itu, andaikata kalian tidak menyusup masuk secara gegabah, sekarang kami masih meneruskan penyadapan terhadap apa yang mereka bicarakan, coba bayangkan sendiri, apakah perbuatan kalian itu tidak pantas dihukum?"

"Pantas dihukum?"

Coa Wiwi mencibirkan bibirnya.

"Cu yaya lah yang pantas dihukum, masa kami sudah terancam bahayapun kalian masih belum turun tangan juga"

Cu Thong tertawa.

"Yaa, benar memang pantas dihukum, cuma yang harus dihukum bukan aku melainkan Pek loji, Pek loji menginginkan Liong-ji menerima penderitaan yang lebih banyak lagi, maka dia hanya bersembunyi terus tidak mau keluar"

"Tidak, aku tetap akan menghukum Cu yaya"

Seru Coa Wi-wi dengan nada ngotot. Cu Thong segera gelengkan kepalanya pura-pura tidak habis mengerti.

"Aaaai.... agaknya jadi orang memang lebih baik bersikap serius dan bersungguh-sungguh, sebab orang yang sering tertawa seringkali dianggap orang mudah dipermainkan"

Mendengar perkataan itu, Coa Wi-wi tertawa cekikikan.

"Siapa suruh tampang Cu yaya mirip Mi lek hud? Rasain sekarang.... Hiiihh.... hiiihh.... hiiihh...."

Selama ini Hoa In-liong hanya tersenyum belaka, ia menyaksikan percekcokan itu tanpa menimbrung barang sepatah katapun.

Pada hakekatnya keempat orang itu semuanya merupakan jago-jago yang berilmu tinggi, sekalipun tidak mengerahkan tenaga dalamnya, tapi hanya sekejap mata mereka sudah tinggalkan lembah itu sejauh puluhan li lebih, tiba-tiba Pek Siau thian menghentikan gerakan tubuhnya.

"Kita berhenti saja di sini!"

Katanya.

Hoa In-liong melirik sekejap sekeliling tempat itu, ia saksikan dimana mereka berada saat ini kembali merupakan sebuah lembah yang sunyi, sekeliling tempat itu merupakan batu-batu cadas yang berserakan serta semak belukar yang liar tiada pohon besar dan tak bisa dipakai untuk menyembunyikan diri, jelas Pek Siau thian hendak membicarakan tentang sesuatu urusan yang penting, karenanya dia memilih tempat semacam itu sebagai tempat pembicaraan.

Pek Siau thian duduk terlebih dahulu di atas sebuah batu cadas, menyusul kemudian Cu Thong dengan wajah penuh senyuman ikut pula duduk pula diatas sebuah batu, Hoa In-liong serta Coa Wi-wi segera ikut mengambil tempat pula disekitar sana.

"Gwakong apakah engkau ada urusan yang hendak dibicarakan dengan kami....?"

Tanya Hoa Inliong kemudian. Pek Siau thian tidak langsung menjawab pertanyaannya itu, sebaliknya sambil berpaling ke arah Coa Wi-wi ujarnya.

"Nona Coa...."

Tapi sebelum Coa Wi-wi sempat menyahut sambil tertawa ia telah merubah sebutannya.

"Maaf kalau lohu hendak menyebut dirimu sebagai anak Wi!"

"Memang seharusnya demikian!"

Coa Wi-wi dengan manjanya.

"Anak Wi, meskipun aku tidak tahu siapakah gurumu, tapi aku yakin dia pastilah seorang manusia luar biasa yang memiliki ilmu silat yang sangat tinggi!"

"Cousu dari adik Wi bukan lain adalah Bu seng (rasul silat) Im locianpwe.... soal Hoa In-liong.

"Biar aku saja yang berbicara"

Coa Wi-wi segera menimbrung dari samping.

"kongcu ku sudah menjadi pendeta, beliau bergelar Goan-cing, sedang ayahku bernama Goan hau, ibu she Kwan bernama Bun sian, masa Pek yaya tidak tahu, mungkin ibuku sudah berada di Im tiong san"

Pek Siau thian tersenyum.

"Beberapa hari belakangan ini Pek yaya benar-benar repot sekali, aku tidak berkesempatan mengunjungi perkumpulan Liok Soat san ceng"

Setelah terhenti sebentar, ujarnya kembali.

"Sebenarnya aku ingin bertanya kepadamu tentang cara berpandangan orang tuamu terhadap badai iblis yang menyelimuti dunia persilatan dewasa ini, akan tetapi tak pernah kamu mengetahuinya, ini membuktikan bahwa kalian tak ingin mencampuri urusan dunia persilatan. Tapi sekarang tidak perlu kutanyakan lagi, bukan saja sudah berlanjut usia, lagipula dapat kusaksikan kesaktian Rasul silat merajai kolong langit, kejadian ini benar-benar merupakan suatu keberuntungan buat kami semua"

Betapa terharunya Coa Wi-wi ketika mendengar bahwa Pek Siau-thian begitu menaruh hormat terhadap keluarganya, ia bertanya kembali.

"Kenapa tak usah ditanyakan lagi?"

"Oleh sebab gwakongku mendengar bahwa ibumu telah berkunjung ke rumahku, itu berarti bahwa kalian telah mengambil keputusan untuk melibatkan diri dalam persoalan ini"

Sela Hoa Inliong.

"Yaa, aku tahu kau cerdik, makanya aku tidak tahu lantas kau musti menimbrung dari samping?"

Seru Coa Wi-wi manja. Menyaksikan tingkah laku kedua orarg muda mudi itu, Pek Siau-thian dan Cu Thong saling berpandangan sekejap lalu tersenyum.

"Selama hampir sebulan terakhir ini, aku sudah melakukan perjalanan hampir mencapai selaksa li lebih...."

Ujar Pek Siau thian kembali.

"Mengapa gwakong sesibuk itu?"

Tanya Hoa In-liong tak tahu.

"Mengapa? Pek Siau-thian mengerutkan dahinya, hmmm! Mengapa lagi kalau bukan lantaran kau binatang cilik, bukan saja aku musti bersusah payah, bahkan harus tebalkan muka untuk menggunakan kembali Hong lui leng guna memberitahukan rekan-rekan lamaku disegenap tempat agar mereka awasi gerak gerik Hian-beng-kauw secara diam-diam!"

Setelah menghela napas, ia berkata lebih jauh.

"Meraba kembali lencana Hong lui leng yang telah berdebu itu, aku benar-benar merasa sangat terharu, sungguh tak nyana menjelang usia tuaku aku Pek Siau tbian harus melakukan suatu tindakan yang bertolak belakang dengan ucapanku sendiri"

Tempo dulu, sewaktu perkumpulan Sin ki-pang masih jaya-jayanya, Hong lui leng merupakan panji kekuasaan paling tinggi daiam perkumpulan tersebut, kecuali dipegang oleh Pek siau thian dan Pek kun gie, daiam dunia ini tidak terdapat panji yang ketiga.

Sebagai seorang tokoh persilatan yang berambisi besar, ketika membubarkan perkumpulan Sin ki pang nya tempo dulu, sebenarnya ia hendak punahkan ilmu silat dari beberapa orang anak buahnya yang paling diandalkan, tapi kemudian setelah dibujuk oleh istrinya Kho-hong bwe, putri sulungnya dan Pek Soh gie, menantunya Bong pay, mengingat pula bahwa orang-orang tersebut sudah banyak tahun mengikuti dirinya dengan setia, maka niat itu kemudian diurungkan.

Sungguh tak nyana, justru disaat seperti inilah ternyata tenaga mereka kembali harus digunakan.

Sekalipun kawanan jago itu sudah melepaskan ikatannya dengan Sin ki pang, bukan berarti mereka sudah melepaskan diri secara lahir batin, karena buktinya begitu perintah Hong lui leng diterima, serentak mereka penuhi perintah tersebut serta melaksanakannya.

Yaa, kenyataan tersebut memang kedengarannya aneh, perkumpulan telah dibubarkan tapi perintah masih diturunkan, jadinya peristiwa tersebut saling bertolak belakang.

Tidak aneh Pek Siau thian sebagai bekas ketuanya merasa amat bersedih hati, tapi apa boleh buat lagi?

Demi keselamatan Hoa In-liong mau tak mau ia harus melakukannya juga.

Sebagai pemuda yang cerdas, tentu saja Hoa In-liong memahami kesulitan yang sedang dihadapi gwakongnya, tak terkirakan rasa haru yang menyelimuti hatinya, air mata tanpa terasa jatuh bercucuran membasahi pipinya.

"Gwakong, mengapa kau musti melanggar sumpahmu sendiri hanya lantaran aku seorang?"

Pek Siau thian menyahut dengan tegas.

"yang paling penting adalah membalaskan dendam bagi kematian Suma siok ya mu dan menanggulangi bencana besar yang sedang mengancam dunia persilatan dewasa ini, Liong ji! Kau tak usah banyak bicara lagi, pokoknya aku berbuat demikian disertai dengan maksud yang dalam!"

Hoa In-liong hanya dapat mengiakan dengan air mata yang masih bercucuran. Memandang kegelapan yang mencekam seluruh japad, kembali Pek Siau thian berkata.

"Pertama-tama gwakong menaruh curiga atas asal usul dari Hian-beng-kauw, aku pernah mencurigai perkumpulan tersebut didalangi oleh Si Seng tek, keturunan dari Ngo liong hau, sebab jarang sekali ada orang lihay yang bermukim di perbatasan"

"Tidak mungkin!"

Cepat Coa Wi-wi membantah "hitung-hitung Im cousu kami masih terhitung cucu menantu luar dari Ngo liong hou, padahal dia orang tua adalah seorang tokoh silat yang saleh, tak mungkin keturunannya mendirikan perkumpulan sesat seperti itu"

Tiba-tiba Cu Thong tertawa.

"Wiji, apakah belakangan ini keluarga Coa kalian masih berhubungan dengan keluarga Si?"

Coa Wi-wi menggeleng.

"Sejak kongcu kami empat generasi yang lalu melarang anak keturunannya melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, kami telah putus hubungan...."

"Nah, itulah dia!"

Seru Cu Thong dengan cepat.

"seorang suami saja sulit untuk mencegah istrinya nyeleweng, apalagi membiarkan anak yang tidak berbakti melakukan kontak dengan kaum iblis dari muka bumi? Siapa tahu pada generasi yang ada sekarang mereka sudah menjadi seorang gembong iblis yang jahat?"

Ketika Pek Siau-thian melihat Coa Wi-wi sudah siap membantah perkataan itu, buru-buru ia menyela.

"Akan Wi, Pek yaya hanya menduga saja, toh tidak menuduh secara benar-benar!"

Kemudian sambil mengelus jenggotnya yang putih, ia berkata lebih lanjut.

"Sekalipun demikian, bukan berarti kami menuduh sewenang-wenang tanpa dasar yang kuat, misalnya saja dengan Beng Wi-cian yang barusan temui, dia kan pengurus rumah tangganya keluarga Si!"

"Sungguh?"

Coa Wi-wi menjerit kaget, Pek Siau-thian tersenyum.

"Masa Pek yaya membohongi dirimu?"

Balik tanyanya.

Merah jengah selembar pipi Coa Wi-wi saking malunya, untuk sesaat ia tak mampu berkata apaapa sementara perasaannya benar benar menderita, benar-benar bersedih hati.

Menyaksikan kejadian itu, buru-buru Hoa In-liong ikut menimbrung.

"Adik Wi buat apa musti bersedih hati? Keluarga Si adalah keluarga Si, Yan len si keh adalah Yan len si keh, apalagi tuduhan tersebut kan belum di sertai bukti yang nyata"

"Yaa benar"

Ujar Pek Siau thian pula.

"setelah Pek yaya adakan penyelidikan lebih jauh, kembali kutemukan sejumlah orang lagi"

Coa Wi-wi menaruh perhatian terhadap urusan ini ketimbang orang lain, dengan cemas dia lantas bertanya.

"Siapakah mereka?"

Pek Siau thian kembali tersenyum.

"Kalau aku sudah tahu siapakah mereka, urusan kau jauh lebih beres....!"

"Dimana Pek yaya bisa menemukan kalau musti ada orang lain?"

Desak Coa Wi-wi lagi keheranan.

"Tak usah gelisah, aku toh musti akan mengatakannya kepadamu"

Kata Pek Siau thian tertawa. Setelah mengumpulkan kembali bahan pikirannya, ia berkata lebih jauh.

"Pada waktu itu, aku menduga orang yaag jadi kaucu dari Hian-beng-kauw adalah Si Seng tek, aku mengira ambisinya untuk merajai dunia persilatan tak terbendung, maka ia lantas melanggar perintah dan anjuran nenek moyangnya untuk merajai dunia, cuma aku hanya menduganya saja tanpa berani melantarkan tuduhan secara langsung, sebab orang ini tinggal jauh diluar psrbatasan aku kurang begitu memaham tentang karakter orang ini...."

"Hey Pek loji"

Tukas Cu Thong, jika kau memang tidak memahami tentang orang ini apa gunanya kau bicarakan begitu banyak kata-kata yang tak ada gunanya?"

"Jangan menukas dulu saudara Cu, tentang hal ini aku yakin masih mengetahui sedikit"

Ucapan tersebut memang kata-kata yang sejujurnya, perlu diketahui sewaktu tiga kekuatan besar masih merajai dunia dahulu, dialah yang paling menonjol dan perkumpulannya juga yang paling banyak menyerap tokoh-tokoh sakti dari dunia.

Kontan saja Cu Thong tertawa menyengir.

"Memuji diri sendiri, menyombongkan diri, huuuh, segan aku mendengarnya...."

Pek Siau-thian tidak menggubris ejekan rekannya, kembali ia berkata lebih jauh.

"Baiklah, aku kupersingkat keteranganku! Kemudian aku mencurigai kalau Hian-beng Kaucu itu mempunyai dendam kesumat dengan Hoa Thian-gong, seandainya Si Seng ek yang memusuhi keluarga Hoa, tak mungkin dia namakan semua mu ridnya sebagai Ciu Hoa (mendendam keluarga Hoa) Maka dalam suatu kesempatan yang tak sengaja, akhirnya kuketahui bahwa Si Seng tek telah ditawan orang, malahan akupun berhasil mengetahui jika Hian-beng Kaucu itu kenal dengan Kun-ji (maksudnya Pek Kun gie), ini dapat kulihat dari pembicaraan pembicaraannya...."

Keterangan tersebut diberikan demikian ringkas dan singkatnya, sehingga tentang darimanakah berita seperti ditangkapnya Si Seng tek serta darimana ia tahu kalau Hian-beng Kaucu kenal dengan Pek Kun-gie tak pernah diutarkannya.

"Gwakong, terangkan lebih jelas lagi!"

Pinta Hoa In-liong dengan nada gelisah.

"Tidak ada yang harus dibicarakan lagi."

Pek Siau thian gelengkan kepalanya beberapa kali. Lalu sambil berpaling kearah Cu Thong, tambahnya.

"Sekarang giliranmu untuk bicara!"

Betapa herannya Hoa In-liong menyaksikan tindak-tanduk gwakongnya, jelas kakeknya tidak berniat melanjutkan kata-katanya itu, ini membuat anak muda itu harus berpikir dengan wajah tercengang.

"Heran, kenapa gwakong musti mengelabuhi diriku? Urusan apakah yang sengaja ia selimurkan itu? Kendatipun ibu kenal dengan Hian-beng Kaucu, toh urusannya lumrah dan bukan kejadian besar.... Yaa. pastilah dibalik kesemuanya ini terdapat rahasia besar, tampaknya aku harus menyelidiki sendiri...."

Dalam pada itu Cu Thong telah berkata dengan hambar.

"Apa yang harus dibicarakan lagi? Untung kau berhasil mendapatkan berita yang baik, ketimbang aku yang cuma gigit jari tidak dapat apa-apa? Mau menyesalpun tak sempat!"

Pek Siau thian tertawa.

"Jika kau segan bicara, biar aku yang bantu kau untuk mengatakannya...."

Kemudian sambil berpaling kearah dua orang itu, terusnya.

"Cu yaya mu telah berangkat kebukit Hong san untuk memenuhi Ciu pek ya kalian!"

"Tak usah membicarakan dirinya lagi!"

Tiba-tiba Cu Thong berteriak marah.

"Cu yaya!"

Hoa In-liong segera bertanya dengan keheranan.

"mengapa kau merasa begitu tak puas terhadap Ciu pek ya?"

Cu Thong termenung sebentar, lalu menjawab.

"Gwakong-mu toh sudah mengungkapnya, baiklah, akupun tak akan mengelabuhi darimu lagi"

Tiba-tiba dengan wajah merah ia meneruskan.

"Ciu pek ya-mu itu sekarang.... heeehh.... heeeh.... heeehh.... sekarang sudah bertambah saleh!"

Meskipun Hoa In-liong mengerti bahwa Cu Thong sedang mengatakan kebaikannya, tapi ia tertawa juga, walau senyuman paksa.

"Kalau memang begitu kan baik sekali!"

Katanya "Hmm....! Memang baik sekali"

Cu Thong marah-marah dengan mata mendelik.

"mula-mula kukira jelek-jelek Ciu Thian hau terhitung sahabat karibnya dari siok-ya mu, yang lain tak usah dibicarakan, cukup memandang dari hubungan mereka selama puluhan tahun belakang ini yang seringkali minum arak dan main catur bersama, sedikit banyak mereka kan masih mempunyai hubungan batin? Hehh.... heehhh.... heeeh....engkau tahu tahu, apa katanya setelah mendengar berita kematian dari suma siok yamu? Dia bilang begini. Hidup seratus tahun lagi manusia toh tetap bakal mati, apa artinya mati sekarang mati besok? Begitu selesai berkata, akupun dipaksa pergi.... coba lihat masa begitukah cara Ciu Thian hau terhadap sahabat karibnya?"

"Tapi.... tapi.... Ciu pekya bukan manusia macam itu!"

Seru Hoa In-liong dengan hati berkerut. Cu Thong mendengus.

"Kalau Ciu Thiap hau bukan manusia semacam itu memangnya aku Cu Thong adalah penipu yang suka menfitnah orang?"

"Cu yaya, mungkin kau salah paham, mungkin kau salah mengartikan maksud Ciu pekya, aku tahu Ciu pekya adalah seorang manusia bermuka dingin tapi berjiwa panas, bila dugaan Liong-ji tidak keliru, mungkin kaki depan Cu yaya baru tinggalkan bukit Hong san, kaki belakang Ciu pek ya telah menyusul pula dibelakangmu"

Tiba-tiba Pek Siau thian tertawa tergelak.

"Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh....bagaimana?"

Serunya.

"aku toh tidak bersekongkel dengan Liong-ji, tapi nyatanya pendapat kita sama. Aku rasa, lebih baik berkunjunglah ke Bukit Hong san sekali lagi, coba tengok apa yang lagi dikerjakan saudara Ciu!"

Cu Thong termenung beberapa saat lamanya, akhirnya diapun menghembuskan napas panjang.

"Aaaai....mungkin juga memang akulah yang terlalu berangasan"

Keluhnya.

"tapi, bagaimanapun juga Ciu loji pasti akan kucaci maki habis-habisan bila bertemu lagi nanti, apa yang diandalkan Ciu-Thian hau itu sehingga dia pingin mengangkangi sendiri urusan ini? Memang dianggapnya hubungan aku orang she Cu dengan Suma Tiang-cing kalah akrabnya dengan dia?"

Sekalipun ucapannya masih bernada jengkel, tapi ia sudah percaya, ia percaya memang begitulah kenyataannya.

Padahal, Cu Thong bukanlah seorang anak kemarin sore yang masih bodoh, iapun sudah menduga sampai kesitu, hanya rasa mangkelnya terhadap Ciu Thian hau masih mangkel dalam hatinya ia merasa kurang puas sebelum dilampiaskan keluar.

Coa Wi-wi tidak kenal dengan Ciu Thian hau, maka dalam persoalan ini dia hanya membungkam tanpa ikut memberi komentar.

Setelah suasana reda kembali, Hoa In-liong baru bertanya.

"Cu yaya, bagaimana dengan toako ku?"

"Sudah kuserahkan kepada ayahmu!"

Jawab Cu Thong hambar.

Hoa In-liong memandang ayahnya bagaikan malaikat, ia percaya kepandaian ampuh macam apapun pasti dapat dipecahkan Hoa Thian-hong, maka setelah mengetahui bahwa Hoa Si telah di serahkan kepada ayahnya, diapun jadi lega dan tidak banyak bertanya lagi.

"Gwakong!"

Ujarnya kemudian alihkan pembicaraan kesoal lain.

"mengapa kau lepaskan Hong Liong serta Beng Wi-cian dengan begitu saja? Apa salahnya kalau kita sekalian ganyang sampai habis?"

Pek Siau thian tertawa geli.

"Bocah dungu, jangan terlalu pandang remeh musuh-musuhmu!"

Tegurnya.

"kau anggap mereka itu mudah dilawan? Ketahuilah nak, tenaga lwekang yang dimiliki Hong Liong cuma selisih sedikit dibandingkan dengan gwakong, andaikata benar-benar terjadi pertarungan, sukar untuk diramalkan siapa bakal menang dan siapa bakal kalah"

Coa Wi-wi yang membungkam selama ini, tiba tiba ikut menimbrung.

"Aku rasa bajingan tua she Hong itu tidak seberapa hebat. Aku tidak percaya kalau dia sanggup menerima pukalan Su siu hua heng elang dari keluargaku!"

Mendengar komentar tersebut, Pek Siau thian tertawa.

"Anak Wi, tenaga dalammu lihay, ilmu silatmu jiga tangguh, tentu saja keadaanmu lain dibandingkan dengan kami"

Tiba tiba Coa Wi-wi ingat, bukankah Pek Siau thian bilang tenaga dalamnya hanya selisih sedikit dibandingkan Hong Liong?

Dengan ucapannya itu bukankah secara tidak langsung ia pandang remeh juga kemampuan Pek Siau thian?

Gadis itu jadi tersipu-sipu, bisiknya cepat.

"Aaaah.... tenaga dalamku rendah sekali!"

"Tak usah merendahkan diri anak Wi, siapapun tahu bahwa tenaga dalammu sangat tinggi, kenapa musti malu?"

Kata Pek Siau thian.

Ia cukup mengetahui pantangan-pantangan yang berlaku dalam dunia persilatan, karenanya kakek inipun tidak mencari tahu lebih jauh tentang asal usul ilmu silat keluarga Coa.

Sesudah berhenti sebentar, ia melanjutkan.

"Alasan yang paling utama dari tindakan kita ini adalah lantaran tibanya Tang Kwik-siu di wilayah Kanglam!"

Ucapan yang sederhana tapi menimbulkan rasa kaget yang luar biasa bagi Hoa In-liong, pemuda itu sampai melongo untuk berapa saat lamanya.

Perlu diterangkan disini, dalam peristiwa pencarian harta karun dibukit Kiu ci san, dikala Seng sut pay kabur terbirit-birit setelah mengalami kekalahan total.

Tang Kwik-siu pernah sesumbar sesaat meninggalkan tempat itu, katanya sepuluh tahun atau seratus tahun mendatang, bila Seng sut pay telah muncul seorang manusia yang berbakat, dia pasti akan menjelajahi kembali daratan Tionggoan untuk merebut kembali barang-barang Seng sut pay yang tertinggal.

Artinya, mereka berhasrat untuk merebut kekuasaan tertinggi umat persilatan dari tangan keluarga Hoa.

Jelek-jelek Tang kwik Siau terhitung juga seorang tokoh persilatan yang luar biasa, orang bilang siapa yang tahu keadaan, dialah manusia pintar.

Terhadap kemampuan Hoa Thian-hong, jagoan tersebut cukup memahaminya, karena itu dapat ditarik kesimpulan, andaikata tiada keyakinan yang teguh tak nanti benggolan Mo-kauw itu akan jauh-jauh berkunjung kemari hanya untuk menghantar nyawa sendiri.

Dengan perkataan lain, kemunculannya kembali di daratan Tionggoan berarti suatu tantangan buat keluarga Hoa, suatu pertarungan yang maha serupun secara lapat-lapat sudah makin mendekat.

Sesudah berhasil mengendalikan rasa kagetnya yang amat sangat, dengan tenang Hoa In-liong berkata.

"Apakah ayah Liong-ji sudah mengetahui tentang berita ini? Apakah Hian-beng Kaucu juga sudah datang ke Kanglam?"

"Ayahmu cerdik dan berpengalaman, kurasa hal ini sudah berada dalam dugaannya, cuma bila gwakong nilai gelagatnya sekarang, tampaknya ayahmu segan untuk turun tangan sendiri, justru karena itulah diutusnya seorang kurcaci seperti kau untuk menanggulangi kesemuanya ini"

"Liong ji justru bersyukur karena diserahi tugas ini"

Seru Hoa In-liong cepat.

"kalau Tang Kwik-siu sudah datang lantas kemana? Kalau Kiu im-kaucu mau ikut-ikut kenapa? Apalagi Hian-beng Kaucu yang main sembunyi macam kura-kura busuk itu? Hmm, jangan dianggap Liong-ji bakal jeri. Kendatipun Liong ji masih kalah jauh dibandingkan ayah, tak mungkin akan kubuat nama baik keluarga Hoa jadi ternoda"

Meskipun dalam hati memuji, diluaran Pek Siau thian pura-pura menjadi gusar.

"Aaaaah....Hong Liong saja tak sanggup dilawan, apalagi membicarakan diri Tang Kwik-siu.... Huuh, ngibul! Omong besar! Tidak malu kau ditertawakan orang?"

Coa Wi-wi tidak tahu bagaimanakah jalan pikiran Pek Siau thian yang sebenarnya, ia mengira kakek itu benar-benar sedang gusar ketika dilihatnya Hoa In-liong kena dimaki, sebenarnya nona itu ingin mengucapkan beberapa patah kata agar suasana jadi reda, siapa tahu bibirnya saja yang dapat menganga sedang tak sepotong katapun yang sempat meluncur keluar....

Hoa In-liong sendiri, sebaliknya malah kelihatan tenang-tenang saja seperti tak pernah terjadi sesuatu apapun.

"Yang muda sudah sepantasnya meniru yang tua" , Liong-ji tak mau terlalu merendahkan diri sendiri sahutnya.

"Kalau memang begitu, lakukanlah seorang diri, gwakong tak mau urusi dirimu lagi"

Sambil berkata, bekas ketua Sin ki pang itu lantas bangkit berdiri dan berseru kembali.

"Cuheng, mari kita pergi!"

Hoa In-liong tertegun, tindakan kakeknya benar-benar diluar dugaannya, ia ikut berdiri.

"Gwakong, kau marah?"

Tanyanya. Pek Siau thian tersenyum.

"Terhadap cucu sendiri masa gwakong tega marah?"

Agak lega juga perasaan Hoa In-liong setelah mengetahui gwakongnya memang tidak marah.

"Tapi kenapa gwakong ingin pergi?"

Tanyanya agak tercengang.

"masih banyak urusan yang hendak Liong-ji laporkan kepadamu!"

"Yaa benar"

Timbrung Coa Wi-wi pula sambil ikut berdiri.

"Pek yaya, hari sudah malam apa salahnya kalau kau orang tua beristirahat dulu di rumahku!"

"Lain kali saja! Sekarang aku dan saudara Cu masih harus menyelesaikan beberapa urusan penting, oya.... Liong ji, gwakong ada dua urusan penting yang hendak kesampaikan kepadamu"

Hoa In-liong segera pasang telinga dan siap mendengarkannya dengan wajah serius. Terdengar Pek Siau thian berkata.

"Meskipun Mo-kauw dan Kiu-im-kauw mempunyai wilayah kekuasaan yang luar, kedua kelompok tersebut masih belum merupakan ancaman yang serius. Menurut pandangan Gwakong, justru Hian-beng-kauw lah yang merupakan sumber segala penyakit, siapa gerangan Hian-beng Kaucu itu musti kau selidiki sampai tahu, mengerti? Itulah hal pertama yang harus kau ingat!"

Sementara itu Cu Thong sudah ikut bangkit, tiba-tiba ia menimbrung dari samping.

"Pek loji, kalau kau masih juga ngobrol seenak udelnya sendiri, lebih baik aku berangkat selangkah lebih dulu"

Kemudian sambil menggoyangkan kipasnya, kepada Coa Wi-wi ujarnya kembali.

"Anak Wi, sekarang aku lagi repot dan tak sempat mampir dirumahmu lain kali saja, bila minum arak kegiranganmu aku pasti akan hadir!"

Diiringi gelak tertawa yang nyaring dewa yang suka kelanyaban itu putar badannya dan berlalu dari situ.

Memang dashyat ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya, sekejap kemudian tubuhnya sudah lenyap dibalik tikungan bukit sebelah depan sana.

Meskipun merah jengah selebar pipi Coa Wi-wi, sempat juga gadis itu berseru.

"Cu yaya, kau hendak kemana?"

Tiada jawab dari Cu Thong.

"Anak Wi tak perlu meuggubris dia lagi"

Pek Siau thian yang ada disisinya menjawab sambil tertawa. Setelah berhenti sebentar dia baru berkata lagi.

"Kau harus melindungi baik-baik si nona baju ungu yang dan Si Nio, sebab aku curiga kalau mereka punya hubungan yang erat dengan Si Seng tek, inilah urusan kedua yang harus kau ingat baik-baik!"

"Siapakah si nona baju ungu itu Pek yaya?"

Tanya Coa Wi-wi mendadak.

"Tanyakan sendiri kepada Liong-ji, dia mengetahui lebih jelas daripada Pek yaya mu!"

Tiba tiba Hoa In-liong berkata.

"Liong ji telah mengingat semuanya, apakah gwakong masih ada petunjuk lainnya?"

"Tidak ada lagi, aku hanya berharap agar kau tahu diri, jangan sampai menodai nama baik keluarga"

Kepada Coa Wi-wi tambahnya.

"Anak Wi, kita semua berasal dari satu keluarga, akupun tidak akan banyak bicara lagi"

"Kalau Pek yaya sudah mengatakan tidak banyak bicara, baiklah, kitapun tidak akan banyak bicara"

Pek Siau thian terbahak-bahak, sekali berkelebat, tampaklah bayangan warna ungu melintas didepan mata, kemudian lenyaplah si kakek sakti itu dari hadapan mereka.

Ketika Hoa In-liong menjumpai gadis itu masih termangu sepeninggal Pek Siau-thian, dihampirinya nona itu dan ditepuknya bahunya seraya menegur.

"Adik Wi-wi kitapun harus pulang!"

Coa Wi-wi mengiakan, tiba-tiba ia menjerit.

"Bagus! Bagus sekali! Belum pernah kau katakan kepadaku kalau pernah perkenalan dengan seorang nona baju ungu, ayoh ngaku! kalian kenalan dimana? Bagaimana kisah perkenalannya?"

Tentu saja Hoa In-liong mengetahui apa yang sedang dikatakan Coa Wi-wi, geli juga rasanya.

"Kau sendiripun tak pernah bertanya, masa urusan sekali inipun mesti kukatakan secermatnya kepadamu, tapi kalau toh ingin tahu, tentu saja akan kukatakan kepadamu"

"Hayo bicara!"

Seru Coa Wi-wi sambil melebarkan matanya Hoa In-liong tertawa.

"Tempat ini bukan tempat aman, mari kita jalan sambil bercerita!"

Ditariknya lengan Coa Wi-wi yang halus lalu dengan ilmu meringankan tubuh yang sempurna mereka kembali ke dalam kota.

Hoa In-liong paling memahami perasaan seorang anak dara, sudah tentu diapun memahami kecurigaan gadis tersebut, lantaran hubungannnya dengan si nona baju ungu hanya hubungan yang lazim dan tidak disertai kontak cinta, maka sebelum diminta untuk kedua kalinya ia telah membeberkan semua kisah perkenalannya secara terus terang.

Dengan demikian, kecurigaan Coa Wi-wi pun secara otomatis ikut terhapus dari dalam benaknya.

Padahal Coa Wi adalah gadis yang polos dan manja, ia belum mengerti apa artinya cemburu, gadis itu hanya merasa bila tidak turut mengetahui gadis-gadis mana yang dikenal Hoa In-liong, hal ini akan merupakan suatu bisul yang besar dalam hatinya.

Demikianlah, dengan kecepatan kedua orang itu sekejap kemudian mereka sudah berada kembali di kota, kebetulan suara kentongan keempat berkumandang dari arah loteng Ciau lo, karena pintu kota belum dibuka mereka masuk dengen melompati dinding kota.

Setibanya dirumah sendiri, Coa Wi-wi juga tidak mengetuk pintu depan, tapi langsung masuk dengan melompati pagar pekarangan, dilihatnya lampu masih menerangi ruang tengah, rupanya Kok Hong seng masih menunggu.

Coa Wi-wi mempersilahkan Hoa In-liong menunggu di ruang tengah, ia sendiri masuk seorang diri ke halaman belakang.

Selang sesaat kemudian, gadis itu muncul kembali dengan wajah cemberut dan diliputi hawa amarah, tiga kali Hoa In-liong menegurnya tanpa peroleh jawaban, sebaliknya dara itu malahan ribut memerintahkan dayangnya Huan ji untuk memanggil Kok Hong seng agar menghadap.

Dari sikapnya itu, Hoa In-liong lantas menduga telah terjadi sesuatu yarg tak beres di rumah itu, tapi ia tak tahu apa yang terjadi, karena itu duduklah pemuda itu dengan tenang dan senyuman dikulum.

Tak sampai seperminum teh kemudian, Kok Hong seng muncul diruang tengah, menyusul kemudian Huan ji masuk kembali, rupanya sekembalinya ke kamar ia belum sempat tukar pakaian ketika Huan-ji datang memanggilnya.

Dengan rasa kaget, tak habis mengerti dan ingin tahu, pengurus rumah tangga she Kok itu masuk kembali ke ruang tengah.

"Siocia...."

Sapanya. Sebelum ia menyelasaikan kata-katanya, Coa Wi-wi telah menukas.

"Empek Kok, kemana larinya pil Yau ti wan tersebut?"

"Apa? Yau ti wan?"

Kok Hong seng mengulangi dengan nada terperanjat.

"Memangnya didunia ini masih ada keluarga kedua yang memiliki pil Yau ti wan?"

Coa Wi-wi mengernyitkan alis matanya. Kok Hong-seng terbelalak lebar.

"Tapi....bukankah Yau ti wan disimpan oleh hujin dan siocia? Masa bisa hilang?"

"Aaaaa....sungguh menjengkelkan!"

Keluh Coa Wi-wi sambil mendepak depakkan kakinya ketanah. Dari tanya jawab tersebut, Hoa In-liong mengetahui juga apa yang telah terjadi, dia lantas menyela sambil tertawa.

"Adik wi! kok congkoan! Ada urusan marilah kita rundingkan sambil duduk, sekalipun Yau ti wan sudah hilang, ya sudahlah apa gunanya musti ribut-ribut dengan perasaan gelisah?"

"Huuuh....! Enak benar omonganmu"

Coa Wi-wi mengeling sekejap kearahnya sambil mengomel, tahukah kau Yau ti wan dibuat dari dewa jinsom berusia seribu tahun, Ho sio wu serta sebatang Hu leng yang berumur tiga ribu tahun ditambah lagi dengan puluhan jenis bahan obat mustika lainnya waktu dibuatpun cuma jadi sepuluh butir, turun temun sampai tiga ratus tahun kemudian kini tinggal dua biji...."

"Kalau begitu adik Wi sudah makan sebutir? tukas Hoa In-liong.

"Yaa benar"

Coa Wi-wi mengiakan, sewaktu kecil badanku lemah dan nyaris mati karena sakit, karena itu aku beruntun mendapat sebutir yang mengakibatkan tenaga dalamku sekarang amat lihay, tentunya tahu bukan betapa besarnya kasiat Yau ti-wan tersebut"

"Sekalipun tak ternilai harganya, kalau sudah hilang apa boleh buat?"

Digelisahkan juga percuma, kata Hoa In-liong sambil tertawa. Coa Wi-wi makin mendongkol lagi setelah menyaksikan sikap acuh tak acuh dari si anak muda itu, teriaknya.

"Aku sebenarnya aku mengingkari pesan cousu ku dengan menghadiahkan dua biji yang tersisa untukmu, tapi sekarang.... Aaaai, memang kau lagi sial!"

Dengan air mata berlinang, ia berpaling kearah Kok Hong-seng, lalu rengeknya.

"Hayo katakan, siapa yang telah mengambil obat itu?"

"Soal ini...."

Kok Hong-seng menunduk dengan perasaan minta maaf. Coa Wi-wi marah sekali melibat sikap congko-annya itu, dia berteriak dengan nada lengking.

"Jangan ini itu melulu, empek Kok! Bukan saja kau pandai dan cekatan, ilmu silatmu juga terhitung nomor satu, masa dirumah sampai terja di pencurianpun kau tidak tahu, aku lihat keluarga persilatan dari kota Kim-leng sudah waktunya untuk gulung tikar"

Dihari-hari biasa, gadis ini selalu menghormati Kok Hong seng sebaegai seorang cianpwe, tak pernah ia bersikap kasar ataupun mengucapkan kata-kata pedas.

Tak sekarang, dalam gusarnya ia jadi lupa diri dalam perkataan pun tidak pilih bulu.

Tapi kemudian, setelah ucapan itu terlanjur meluncur keluar, anak dara itu baru merasa agak keterlaluan, dengan nada mohon maaf ia berkata kembali.

"Empek Kok, maafkanlah daku, aku masih muda dan tak pandai berbicara, mungkin ucapan tadi telah menyinggung perasaanmu"

Sudah tentu Kok Hong seng tak dapat marah atau tersinggung oleh teguran tersebut, dengan nada menyesal dia ikut berkata.

"Apa yang siocia katakan memang benar, aku Kok Hong-seng betul betul seorang manusia yang tak berguna"

Hoa In-liong bukan orang bodoh, tentu saja diapun tahu kecemasan Coa Wi-wi sebagai besar adalah lantaran dia, betapa terharu dan berterima kasihnya pemuda kita.

"Adik Wi, maksud baikmu biar jiko terima dalam hati saja"

Katanya dengan lembut.

"aku rasa kesuksesan dalam ilmu silat harus dilatih dengan tekun dan penuh semangat, apa gunanya musti andalkan kemustajaban suatu obat-obatan?"

"Ucapan yang bagus! Perkataan yang tepat!"

Tiba tiba dari pintu ruangan berkumandang suara teguran seseorang yang sudah tua tapi nyaring sekali.

"untuk mencapai suatu kesuksesan, orang harus merasakan apa yang tak dapat dirasakan orang, melakukan apa yang tak dapat dilakukan orang, dengan begitulah kekuatan yang digunakan pada saatnya betul betul merupakan kekuatan sempurna yang tak perlu mengandalkan bantuan orang...."

Tak ada yang tidak merasa kaget diantara tiga orang jagoan lihay itu, pada hakekatnya mereka merupakan jago-jago berilmu tinggi yang sudah mencapai tingkatan, mendengar suara terbangnya bunga dan rontokannya daun dari jarak sepuluh langkah, tapi nyatanya, seseorang berhasil menyelinap masuk ke dalam ruangan tanpa diketahui akan kehadirannya, ini menunjukkan betapa sempurnanya tenaga lwe-kang yang dimiliki orang itu.

Serentak mereka berpaling, mengalihkan pandangan matanya kearah di mana berasalnya suara itu.

Seorang Pendeta kurus kering, berjubah Pendeta warna abu-abu dengan muka yang penuh berkeriput berdiri dengan agungnya dibawah sinar lampu ,orang itu tak lain adalah Goan cing taysu.

00000O00000 Coa Wi-wi pertama-tama yang berteriak kegirangan lebih dulu, dia lari ke depan menyongsong kedatangan padri itu dan jatuhkan diri kedalam rangkulannya.

"Kongkong!"

Serunya manja.

"tahukah engkau, pil Yau ti wan milik kita telah dicuri orang?"

Dengan lembut dan penuh kasih sayang Goan cing taysu membelai rambutnya yang hitam mulus itu, kemudian menjawab.

"Kongkonglah pencurinya, tentu saja mengetahui akan kejadian itu!"

Serentak Coa Wi-wi angkat kepalanya dan menjerit lengking.

"Rongkong, kau...."

Tiba-tiba ia tutup mulut kembali.

Hoa In-liong yang pernah mendapat pelajaran Bu kek teng hen sim-hoat dari Goan-cing taysu belum pernah bertemu muka langsung dengan si pemberi pelajaran ini, tapi sebagai orang yang cerdik dan tahu diri, tentu saja ia tahu Goan-cing tayau yang berada dihadapannya itulah yang memberi budi kepadanya.

Cepat-cepat ia membenahi bajunya lalu memberi hormat dengan penuh hikmat.

"Boanpwe Hoa In-liong menjumpai cianpwe, terima kasih pula atas budi cianpwe yang telah mewariskan kepandaiannya kepada aku yang muda"

Goan-cing taysu menerima penghormatannya itu, kemudian dikala ujung bajunya dikebutkan kedepan, Hoa In-liong segera merasakan timbulnya suatu kekuatan besar yang menekan tubuhnya, dia mana mau tak mau terpaksa ia harus bangkit berdiri.

Merasakan itu, pemuda kita lantas berpikir.

"Waaah....lihay juga tenaga dalam yang dimiliki cianpwe ini, jelas sudah mencapai titik kesempurnaan, itu berarti kemampuannya tidak berada dibawah ayahku!"

Sementara dia masih termenung, Goan-cing tay Su telah berkata.

"Nah, lolap sudah menerima hormat itu. Nah, bangunlah sekarang!"

Setelah berhenti sejenak, penghormatanmu itu?"

Ia berkata lagi.

"Tahukah kau mengapa lolap menerima. Hoa In-liong termenung sebentar, lalu jawabnya dengan serius.

"Boanpwe tahu, cianpwe ada maksud untuk menjadikan diriku...."

Sebelum ucapan tersebut diselesaikan, Coa Wi-wi sudah ribut lebih dahulu.

"Kongkong, tenaga lwekangmu toh sudah mencapai tingkatan yang tak terhingga, masa kau orang tua hendak menambah tenaga dalammu lagi dengan obat Yau li wan tersebut?"

Karena ditimbrung, terpaksa Hoa In-liong membungkam. Dengan penuh kasih sayang Goan-cing taysu membelai rambut Wi-wi yang mulus, kemudian tertawa.

"Kongkong sudah mendekati sembilan puluh tahun, sebentar lagi juga akan masuk kubur, buat apa kutambah tenaga dalamku?"

Ia lantas berpaling kearah Kok Hong seng dan tegurnya.

"Hong-seng, masih ingat dengan lolap?"

Sebetulnya sejak kemunculan pendeta itu Kok Hong-seng berdiri dengan wajah kaget dan sangsi Setelah disapa ia baru mengucurkan air matanya sambil jatuhkan diri berlutut ke tanah.

Kiranya ketika Goan-cing taysu belum menjadi pendeta, Kong-seng lah yang melayani diri Goan seng taysu.

Ketika itu bukan saja Kok Hoan-seng belum menjadi congkoan, usianya masih sangat muda.

Setelah lama tak berjumpa, paras muka Goan cing taysupun banyak mengalami perubahan, tak aneh kalau ia tak dapat mengenalinya kembali meski mukanya dirasakan pernah dikenal.

Goan-cing taysu ulapkan tanganya memancarkan segulung hawa pukulan yang lembut mengangkat Kok Hong-seng dari tanah, lalu ujarnya.

"Sekarang lolap sudah bukan majikan tuamu lagi, penghormatan semacam itu tak perlu kau lakukan lagi"

Kok Hoan-seng tertegun.

"Majikan tua...."

Buru-buru serunya. Goan cing taysu gelengkan kepalanya sambil menghela napas.

"Aaaai....! Jika kalian semua hanya menangis dan merengek-rengek macam begitu saja setelah bertemu dengan lolap, lain kali lolap tak nanti akan melangkah masuk ke Kin leng se keh lagi walau selangkahpun"

Buru-buru Kok Hong seng menyusut air mata dan tundukkan kepalanya. Sementara itu Coa Wi-wi yang terada dalam gendongan Goan cing taysu telah berpaling dan memalu-malui congkoannya sambil menggoda.

"Kok pepek tak malu, jenggotnya saja sudah begitu panjangnya, tapi tingkah polanya masih seperti anak kecil, nangis lagi, idiih.... tak tahu malu!"

"Huusss.... anak Wi tak boleh senbarangan omong!"

Tegur Goan-cing taysu. Kemudian kepada Kok Hong seng ujarnya lagi.

"Hong-seng, pergilah beristirahat! Disini tidak memerlukan engkau lagi, aku aku masih ada urusan lain hendak dibicarakan dengan Hoa kongcu serta anak Wi"

"Cianpwe"

Hoa In-liong segera menyela,"

Lain kali panggilan boanpwe dengan sebutan anak, karena sebutan itu jauh lebih mesra kedengarannya, kenapa kau malah menyebutnya dengan sebutan lain?"

Goan cing taysu tersenyum.

"Baik! Lolap akan memanggil anak Liong kepadamu!"

"Kongkong!"

Tiba-tiba Coa Wi-wi menyela.

"cianpwe dari jiko pada memanggil anak Wi kepadaku, cianpwe dari anak Wi sudah semestinya memanggil jiko dengan sebutan anak Liong!"

Sementara itu Kok Hong seng telah berkata.

"Hamba tidak lelah, lebih baik aku berada disini saja, tanggung tak akan mengganggu majikan tua, Hong kongcu maupun siocia"

Goau cing taysu menghela napas.

"Aaaai.... aku mengetahui maksud baikmu itu, baiklah, lolap juga tak akan terlalu memaksa dirimu"

Setelah masuk ke dalam ruangan, pendeta itu turunkan Coa Wi-wi dari bopongannya, beberapa orang impun mengambil tempat duduk sementara Kok Hong seng berdiri menanti disampingnya, semua orang suruh ia duduk tapi congkoan itu tak mau, akhirnya mereka pun biarkan congkoan tersebut berbuat sekehendak hatinya.

"Huan-ji, hidangkan air teh!"

Coa Wi-wi kembali berteriak. Huan-ji mengiakan dan mengundurkan diri. Goan cing taysu tersenyum.

"Anak Wi"

Katanya.

"kongkong juga bukan tamu, kenapa musti dihidangkan air teh?"

Justru kata-kata itulah yang ditunggu Coa Wi-wi, serentak ia menyambung dengan cepat.

"Kalau kongkong bukan tamu berarti tuan rumah, kalau jadi tuan rumah masa tidak tinggal di rumah sendiri, kau orang tua tak usah pergi lagi....!"

Merasa tak mampu menandingi ketajaman lidah si nona, Goan cing taysu hanya bisa tertawa.

"Anak Wi, kau pandainya cuma ngaco belo saja, apakah tidak merasa kuatir lagi dengan racun ular sakti yang mengeram dalam tubuh jiko mu?"

"Yaa, apa boleh buat lagi?"

Coa Wi-wi mencibirkan bibirnya.

"kongkong sudah membawa kabur Yau ti wan, padahal tanpa Yau ti wan, racun ular sakti dalam tubuhnya tak bisa dipunahkan, yaa nasib namanya!"

Goan cing taysu tertawa lebar mendengar perkataan itu, ujarnya kemudian dengan wajah bersungguh-sungguh.

"Justru kongkong kuatir engkau yang tak tahu keadaan, akan menggunakan Yau ti-wan secara sembarangan, maka kuambil dulu obat itu untuk disembunyikan"

Kepada Hoa In-liong ujarnya pula.

"Liong-ji, apakah engkau merasa dendam atau kesal atas tindakan yang lolap lakukan sekarang?"

"Liong-ji ji merasa tindakan yang diambil cian.... kongkong tepat sekali"

Jawab Hoa In-liong dengan serius.

"obat mustika itu bukan milik anak Liong, kenapa anak Liong musti dendam atau kesal? Bukankah cara semacam itu hanya mencerminkan karakter seorang yang rendah dan tak tahu malu?"

Dia telah menyebut Goan cing taysu sebagai kongkong, betapa gembiranya Coa Wi-wi karena itu.

"Aku yang kesal, aku yang dendam, yaa, aku mempunyai rasa kesal dan dendam"

Ributnya.

Goan cing taysu tidak menggubris ribut-ribut dari cucu perempuannya, ia berpaling kearah Hoa In-liong, ketika dilihatnya pancaran mata pemuda itu demikian lembut dan tenangnya, sedikitpun tidak terpengaruh emosi, dalam hati ia memuji tiada hentinya.

"Ehmmm.... meskipun bocah ini agak romantis dan binal, dia memang berwatak seorang laki-laki sejati, tak malu jadi ketururan keluarga Hoa....!"

Setelah termenung sebentar, kembali ia berkata sambil tersenyum.

"Yau ti wan memang merupakan obat manjur untuk melenyapkan racun ular sakti, tapi lolap tak akan menyerahkannya kepadamu, apakah engkau merasa tindakanku ini terlalu mementingkan diri sendiri?"

Hoa In-liong agak tertegun, lalu menjawab dengan tercengang.

"Kongkong adalah seorang yang berjiwa besar, jauh dari pikiran keduniawian, jelas bukan orang yang mementingkan diri sendiri, namun Liong-ji memang merasa tidak habis mengerti"

Pemuda itu jujur berjiwa terbuka dan tak pernah menaruh minat terhadap Yau ti wan, sebab itu ia tak takut dicurigai, apa yang ingin diucapkan segera diutarakan secara blak-blakan.

Goan cing taysu tersenyum.

"Lolap berbuat demikian karena tak ingin mengingkari pesan leluhur, atas penjelasan ini tentu nya kau merasa puas bukan?"

"Kongkong!"

Tiba-tiba Coa Wi-wi berteriak.

Jilid 29 KAU suruh ibu terjun kembali ke dalam dunia persilatan, apakah perbuatan itu tidak melanggar pesan leluhur?

Apalagi dalam pesannya cousu hanya mengatakan bahwa pil itu tak boleh digunakan jikalau tidak berada dalam keadaan antara mati dan hidup, beliau kan tidak menyinggung soal lainnya.

Kini jiko terkena racun ular sakti yang amat keji, keadaannya boleh dibilang sudah mencapai keadaan yang amat kritis!"

Kok Hong seng selama ini hanya membungkam saja, kini tunjunkan pula perasaan sangsinya. Hoa In-liong sendiri agak tertegun, tapi sesaat kemudian ia telah memahami keadaan yang sebenarnya.

"Liong-ji percaya hatiku tulus dan jujur, aku berani bersumpah dihadapan langit dan bumi, buat apa kongkong menolaknya terus? Ataukah meski Yau it wan dapat punahkan racun ular sakti, namun akan mendatangkan juga kerugian?"

Katanya. Diam-diam Goan-cing taysu memuji akan kecerdasanya serta kecepatannya dalam bereaksi. Ia tersenyum.

"Bagaimanakah keadan yang sebenarnya, aku belum dapat mengatakanya secara pasti, hal ini harus kuketahui lebih dahulu dari keadaan dikala racun tersebut mulai kambuh"

Hoa In-liong tahu bahwa hal tersebut tentu benar, maka jawabnya.

"Ketika kambuh, isi perutku terasa sakit sekali, seakan-akan digigit oleh ular beracun yang tak terhitung jumlahnya!"

Mendenar jawaban tersebut, Goan cing taysu menujukkan perasaan kecewanya.

"Hanya begitu saja?"

Ia bertanya.

"Kongkong tampaknya kau merasa penderitaan yang dialaminya itu kurang payah yaa?"

Seru Coa Wi-wi dengan dahi berkerut. Hoa In-liong yang menangkap kekecewaan orang lantas berpikir.

"Tampaknya aku tak bisa berbohong lagi, semuanya harus kukatakan secara sejujurnya!"

Setelah merenung sebentar katanya kemudian seakan-akan tak pernah menderita.

"Aku hanya merasa hawa murni dalam nadi-nadiku berjalan tak lancar, seperti ada seperti juga tak ada, tersendat-sendat seperti mau putus, hawa darah bahkan mengalir secara terbalik, justru ilmu Bu kek teng heng sim hoat paling serasi untuk keadaan semacam ini, maka itu ketika Liong-ji menekan racun tersebut dengan menggunakan kepadaian itu, sama sekali tidak merasakan gangguan apa-apa"

"Jiko, mengapa tidak kau katakan keadaan seperti itu kepadaku?"

Jerit Coa Wi-wi. Hoa In-liong tersenyum.

"Bukankah sudah kukatakan bahwa aku tidak apa-apa? Urusan sepele semacam itu tak ada perlunya untuk dikatakan kepadamu"

Sekalipun ucapan tersebut diutarakan dengan nada yang enteng, Coa Wi-wi bukan orang bodoh, sudah tentu ia mengetahui betapa seriusnya keadaan, tanpa terasa air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya, kepada Goan cing taysu pintanya.

"Gwakong, sudah tentu kau punya cara baik untuk mengatasi keadaan semacam itu bukan?"

Betapapun sempurnanya tenaga dalam yang di miliki Goan cing taysu, betapapun teguhnya imam pendeta tersebut, tak urung rasa girangnya tercermin juga diatas wajahnya.

"Anak bodoh, wahai anak bodoh"

Ia berbisik.

"tahukah kau, lantaran bencana jikomu mendapat rejeki, untuk gembirapun tak sempat masa kau malah bersedih hati?"

Coa Wi-wi merasa setengah percaya setengah tidak.

"Tiada bencanapun sudah merupakan suatu keruntungan yang luar biasa, darimana datangnya rejeki? Kongkong bukanya lagi membohongi orang kan....?"

Ketika dilihatnya paras muka Hoa In-liong tetap tenang tanpa perubahan, kembali Goan cing taysu menghela napas.

"Bocah ini betul-betul seorang manusia yang berbakat, bagaimanapun jua harus kucarikan sebuah akal yang bagus untuk mengubah waktu romantisnya yang berlebihan, agar ia menjadi seorang pemuda yang benar-benar sempurna"

Harus diketahui Goan cing taysu adalah seroang laki-laki yang jujur dan memegang teguh tradisi, ia merupakan seorang manusia yang tak berani melanggar batas-batas sosial, karena itu melihat Hoa In-liong yang gemar bermain perempuan, nomor satu ia merasa paling tak betah.

Kendatipun ia pintar ia berpengalaman dan punya banyak akal, pikiran punya pikir toh tak berhasil menemukan cara yang tetap, maka sewaktu dilihatnya Coa Wi-wi lagi uring-uringan karena pertanyaannya tidak dijawab, tertawa pendeta ini.

"Anak bodoh, buat apa kongkong membohongi dirimu?"katanya.

"Tapi bagaimana mungkin lantaran bencana mendapat rejeki, Kongkong, cepat terangkan kepada ku!"

Berbicara sampai disitu, ia berpaling dan melotot sekejap kearah Hoa In-liong dengan gemas, seakan-akan ia tunjukkan ketidak senangnya lantaran pemuda tersebut telah mengelabuhi dirinya dalam soal yang maha penting itu.

Pelan-pelan Goan cing-taysu berkata.

"Hal ini justru menyangkut tentang ilmu Bu khek teng beng sim hoat dari keluarga kita, kepandaian tersebut mempunyai aliran yang bertolak belakang dengan kepandaian pada umumnya, lagipula cara berlatihnya juga kebalikan...."

Sebetulnya pendeta itu hendak memberi keterangan yang terperinci, namun Coa Wi-wi tidak sabaran, ia segera menukas dengan aleman.

"Sudahlah, sudahlah, kongkong tak perlu berkuliah panjang lebar lagi, jiko telah mengatakah kesemuanya itu kepadaku"

Goan cing taysu benar-benar pusing dibuatnya, dengan perasaan apa boleh buat dia hanya bisa mengeluh.

"Yaaa, ibumu terlalu memanjakan engkau sehingga terciptalah tabiat yang jelek!"

Sesudah tarik napas, ia berkata kembali.

"Singkatnya saja, Bu kek teng heng sim hoat terbagi dalam tiga tingkatan, tingkat pertama adalah Ni khi heng kang yakni mengalirkan hawa murni berkebalikan dengan aliran darah, bila hawa murni sudah dapat dikuasai sehingga berjalan balik dengan arah aliran darah, orang baru dapat meningkat kepelajaran kedua yang disebut Huay hian pau tin (menyimpan hitam memeluk asli) tingkat ketiga merupakan pelajaran tersulit tingkat ini disebut Ji khek bun lun (dua kutuh bersatu padu) dalam tingkatan ini aliran yang searah dari aliran yang berlawanan arah harus mengalir dalam perpaduan yang sama dalam keadaan demikianlah Bu khek teng heng baru dikatakan telah mencapai pada puncaknya"

"Tanpa anak Wi musti katakan, semua orang juga tahu, kau orang tua tentu berhasil mencapai tingkatan yang tak terhingga ini pada tingkat pelajaran yang kedua bukan?"

Ujar Coa Wi-wi. Goan cing taysu tersenyum.

"Lautan pelajaran tak bertepian, ilmu silat tiada ujung batasnya, siapakah yang sanggup mencapai tingkatan tertinggi yang tak terhingga? Yang dinamakan Tay khek, tiada yang tidak paling tinggi, tiada yang tidak paling rendah, anak Wi! Mengertikah engkau?"

"Anak Wi tidak mengerti"

Coa Wi-wi gelengkan kepalanya berulang kaii.

"anak Wi cuma ingin bertanya kepada dua orang tua, sampai ketingkatan berapakah kau orang tua melatih ilmumu? Buat apa kau katakan ujar-ujar yang maknanya susah dimengerti itu?"

"Kongkong sendiri belum pernah berhasil menembusi tingkatan Ji-khek hun lun untuk mencapai tingkatan Bu khek teng neng, tapi jikomu....dalam waktu yang amat singkat akan berhasil mencapai tingkatan tersebut...."

"Aaah....! Mana mungkin?"

Kontan Hoa In-liong membantah.

"kongkong yang memiliki tenaga dalam hasil latihan selama tujuh-delapan puluh tahun saja belum bisa mecapai tingkatan itu, apa lagi Liong-ji yang tak becus ini?"

"Waktu Say-yang kehilangan kudanya, apa dia tahu bakal mendapat rejeki?"

"Kunci terutama dalam hal ini justru terletak pada racun ular keki yang kau idap itu"

"Waaah.... kalau memang begitu gampang sekali!"

Seru Coa Wi-wi dengan wajah barseri.

"lain kali akan kucari racun ular sakti dan akan kubiarkan badanku terkena, dengan demikian bukankah aku juga dapat melihat diri hingga mencapai tingkatan Ji khek hun lun"

Goan-cing taysu tertawa lebar lalu gelengkan kepalanya berulang kali.

"Aaaah....! Masa segampang itu? Kalau sungguh demikian, kongkong juga pingin melatih diri hingga mencapai ke tingkatan yang amat tinggi! Kenapa tidak mencari racun ular sakti kemudian melatih diri....?"

Sesudah berhenti sebentar, dengan wajah serius katanya lebih jauh.

"Liong-ji, walaupun begitu soal berhasil atau tidak masih sukar untuk dibicarakan, dan lagi untuk menembusi rintangan tersebut harus mengalami siksaan serta penderitaan yang tak terhingga, bagaimana pendapatmu....?"

Hoa In-liong sendiri meskipun merasa gembira bercampur terharu setelah mengetahui bahwa lantaran bencana mengakibatkan datangnya rejeki baginya, namun paras mukanya tetap tenang seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu apapun, apalagi setelah mendengar perkataannya yang terakhir, kendatipun gembira juga karena tenaga dalamnya bisa mencapai tingkatan yang tak terhingga, diapun takut sebab menurut Goan cing taysu akan mengalami siksaan serta penderitaan yang tak terkirakan.

Setelah berpikir sejenak, dengan penuh rasa hormat ia menyahut.

"Liong-ji siap mendengarkan keputusan dari kongkong!"

"Bagus! Soal ini tak perlu ditunda lagi, sekarang juga kita berangkat ke bukit Mo san!"

Seraya berkata dia lantas bangkit berdiri dan bersiap sedia untuk berangkat.

Waktu itu sudah kentongan kelima, fajar baru menyingsing diufuk timur, baru saja si dayang Huan-ji memadamkan lampu lentera ketika Goan cing taysu siap berangkat.

Kok Hong seng menggerakkan bibirnya seperti mau menghalangi kepergian majikan tuanya, tapi ia tak berani berkata apa-apa, niatnya segera dibatalkan.

Coa Wi-wi paling tidak ambil gubris segala tata cara, dicekalnya ujung baju Goan cing taysu dan rengeknya dengan wajah memelas.

"Oooh.... kongkong yang baik, kenapa tidak kau latih jiko dirumahku ini saja?"

"Tidak bisa!"

Jawab Goan cing taysu sambil gelengkan kepalanya.

"tempat ini merupakan kota besar yang ramai dengan segala macam manusia, kebanyakan iblis dan kaum gembong perkumpulan sesat terhimpun disini, tempat seperti itu bukan tempat yang cocok untuk berlatih silat"

"Kalau begitu anak Wi boleh ikut bukan?"

Desak si nona.

"Siapa saja boleh ikut pergi, cuma kau seorang yang tak boleh!"

Tukas Goan cing-taysu.

"Kenapa?"

Coa Wi-wi kontan saja melototkan matanya lebar-lebar.

Goan cing-taysu menggerakkan bibirnya seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi ia tidak memberi penjelasan apa-apa.

Yang terutama ditakuti paderi ini adalah membiarkan gadis itu menyaksikan penderitaan serta siksaan yang dialami Hoa In-liong sewaktu berlatih ilmu, ia kuatir gadis itu tega dan mengakibatkan kerugian bagi Hoa In-liong.

Hoa In-liong yang ikut bangkit bersamaan dengan berdirinya Goan-cing taysu tadi, saat itu mendadak berseru.

"Kongkong...."

Goan cing taysu berpaling kearahnya, alis matanya yang putih tampak berkerut, kemudian sahutnya.

"Kulihat kau ada sesuatu yang hendak diutarakanu, Nah, katakan terus terang!"

Hoa In-liong tertawa jengah.

"Malam nanti Liong-ji masih mempunyai janji dengan Bwee Su-yok Kiu-im-kauwcu yang berkuasa saat ini, perempuan itu sedianya akan diadakan di kantor cabangnya untuk kota Kim-leng...."

"Yang paling penting buatmu sekarang adalah menambah kesempurnaan tenaga dalammu"

Tukas Goan cing-taysu.

"lebih baik janji itu dibatalkan saja!"

Hoa In-liong berpikir sebentar, lalu berkata lagi.

"Liong-ji pikir, hidup sebagai manusia yang paling penting adalah pegang janji...."

Coa Wi-wi juga ingin berkumpul lebih lama lagi dengan pemuda itu, meskipun ia tak setuju kalau Hoa In-liong penuhi janji tersebut, toh saat ini katanya juga.

"Kongkong, waktu tak akan terbuang dengan begitu saja, sekalipun tertunda satu dua hari toh ilmu tersebut dapat dilatih juga?"

Goan ciog taysu menyapu sekejap wajah kedua orang itu, kemudian dengan senyum penuh berarti jawabnya.

"Baiklah, aku saja yang mengalah! Nah, anak Liong tengah malam nanti kunantikan kedatangan mu di pagoda Yu hoa tay, lolap pergi dulu!"

Begitu ucapan terakhir diutarakan, semua orang merasa pandangan matanya jadi kabur dan tahu-tahu Goan cing taysu sudah lenyap dari hadapan mereka.

Waktu datang tidak menimbulkan suara, waktu pergi tidak meninggalkan jejak, ilmu meringankan tubuh semacam ini sungguh merupakan suatu kepandaian yang mengerikan.

Setelah tidak tidur semalaman, Coa Wi-wi yang kuatir kesehatan Hoa In-liong terganggu apa lagi senja nanti masih ada janji dengan Bwe Su-yok, segera memerintahkan Kok Hong seng untuk mundur, dan ia hantar sendiri anak muda itu kehalaman belakang untuk beristirahat.

Ruangan yang disediakan bagi Hoa In-liong adalah kamar tidur yang pernah dipakai ayah Coa Wi-wi yakni Coa Goan-hau sebelum hilang.

Gedung yang tersendiri itu terdiri dari kamar baca, kamar tidur serta sebuah ruang tamu kecil ysng bersih dan nyaman.

Meskipun sudah lama tak terpakai namun karena sering dibersihkan maka suasana tetap nyaman dan bersih.

Kata Coa Wi-wi.

Ibunya Kwan Bun-sian memerintahkan agar tempat itu diatur sesuai dengan aslinya, agar Coa Goan hau bila pulang akan merasa kaget bercampur girang.

Dari sini dapat diketahui betapa tebalnya perasaan kasih sayang antara suami isteri berdua.

Setelah masuk kedalam ruangan, Hoa In-liong saksikan ruangan tersebut diatur dengan begitu indahnya, disana sini penuh berisi benda antik yang indah dan tak ternilai harganya.

Sepintas lalu ruangan itu indah bagaikan rumah seorang raja muda, tapi mirip pula ruangan yang dihuni seorang seniman.

Setelah menghantar pemuda itu masuk ke ruang tidur, Coa Wi-wi siap tinggalkan tempat itu.

Tapi sebelum gadis itu melangkah pergi, tiba-tiba Hoa In-liong merangkul pinggangnya dan mengecup bibirnya.

"Jangan begitu"

Seru Coa Wi-wi gelisah.

"kalau sampai ketahuan para dayang...."

Sebelum ia menyelesaikan kata-katanya, bibirnya yang mungil telah dikecup mesra bibir anak muda itu, dengan begitu kata selanjutnya otomatis tak sempat diutarakan keluar.

Meskipun malu tapi rangkulannya Hoa In-liong yang panas melumerkan itu segera meluluhkan hatinya, badan jadi lemas, bukan saja ia balas memeluk tubuh Hoa In-liong yang keras bahkan membalas pukul ciuman itu dengan lebih mesra.

Entah berapan lama sudah lewat, suasana yang penuh kesyaduhan itu tiba-tiba dicaukan oleh teriakan Huan-ji.

"Nona, Hoa kongcu, apakah sarapan perlu dibawa masuk?"

Dengan perasaan kaget Coa Wi-wi meronta dari pelukan Hoa In-liong, tampak Huan-ji berdiri diluar ruang depan, sekalipun selisih jaraknya agak jauh, namun dalam keadaan demikian disangkanya bayangan itu berada dekat dengan meraka.

Setelah rasa kagetnya berhasil ditengahkan, gadis itu baru marah-marah.

"Aku kan sudah bilang, sarapan tidak usah disiapkan, sebelumnya kau ini lupa atau sengaja memang hendak mengacau?"

"Nona.... sahut Hoan-ji.

"Enyah dari sini!"

Teriak Coa Wi-wi lagi dengan gusar.

"jiko ku perlu beristirahat dengan tenang!"

Yaa, siapa yang tidak mendongkol bila sedang asyik berciuman, tiba-tiba kesyaduhan tersebut diganggu orang?

Siapa yang tidak marah kalau suasana mesra jadi bubar gara-gara kemunculan seseorang yang tak dikehendaki?

Tak salah lagi kalau nona itu jadi naik pitam dan marah-marah saking malu dan jengkelnya.

Huan-ji yang terbentur batunya jadi melongo, ia mencibirkan bibirnya tinggi-tinggi dari luar ruangan, lalu dengan wajah tak senang hati berlalu dari sana.

Sepeninggal dayang itu, Hoa In-liong kembali merangkul pinggangnya yang ramping.

"Adik Wi...."

Bisiknya mesra. Merah dadu sepasang pipi Coa Wi-wi karena malu, ia meronta dan melepaskan diri dari rangkulan orang, lalu serunya aleman.

"Aaaah.... kamu ini...."

Sesudah termenung sebentar, katanya lagi.

"Cepatlah pergi beristirahat! Siapa tahu senja nanti masih harus melangsungkan suatu pertarungan sengit? Sampai kini racun ularmu belum lenyap, tak boleh sembarangan kau turun tangan, baik-baik sajalah menghimpun tenaga. Tengah hari nanti aku datang lagi untuk mengajak kau bersantap siang"

Habis berkata, ditatapnya sekejap pemuda itu dengan pandangan mesra, kemudian dengan perasaan berat hati meninggalkan ruang itu.

Memandang bayang punggungnya yang lenyap dibalik ruang, Hoa In-liong tersenyum ia tutup pintu dan masuk kedalam ruang.

Pemuda itu tidak pergi tidur tapi mengampiri kursi besar didekat pembaringan dan duduk bersamadi disitu.

Yaa, walaupun pemuda ini romantis dan suka main perempuan, pada hakekatnya dia adalah seorang yang tahu kewajiban.

Sekalipun hanya tersedia kesempatan beberapa jam yang amat singkat waktu yang luang itu tak pernah dia abaikan untuk melatih diri.

Mula-mula diulangnya tenaga sim hoat aliran Hoa setelah itu dia baru melatih ilmu Bu khek teng heng sim hoat sebanyak dua kali.

"Menurut Goan cing taysu aku dapat melatih ilmu sim hoat ini mencapai ketingkatan yang paling tinggi dengan perantara racun ular tersebut, sebenarnya bagaimanakah caranya itu?"

Pikir punya pikir tiada jawaban juga yang ditemuinya, tiba tiba timbullah kebinalannya, dia lantas membatin.

"Kalau ilmu sim hoat keluarga Hoa kulihat bersamaan waktunya dengan ilmu Bu khek teng heng sim hoat, lantas apa jadinya?"

Dasar masih berjiwa muda, apa yang dipikir segera dilaksanakan tanpa memikirkan apa akibatnya bila hal tersebut dilakukan.

Perlu diketahui disini, bila satu hati bercabang dua, sering kali akan mengakibatkan orang yang berlatih diri itu mengalami penyesatan dalam aliran.

Dan penyesatan tersebut akhirnya akan menga kibatkan keadaan yang dinamakan jalan api menuju neraka.

Dasar memang masih kebocah-bocahan, pemuda itu membayangkan yang aneh-aneh, dianggapnya untuk menggabungkan dua kekuatan yang berbeda itu sama gampangnya dengan mencampurkan lumpur dengar air.

Akibat dari perbuatannya itu, jika berhasil memang lumayan, tapi kalau gagal?

Akhirnya akan mengalami jalan api menuju neraka, masih mendingan kalau separoh badannya jadi lumpah, jika hawa murni yang tersesat sampai menembusi nadi-nadi lain?

Siksaan tersebut bukan bisa diterima oleh manusia biasa, karena lebih baik mati daripada mengalami siksaan semacam itu.

Andaikata keadaan baik dan keadaan jelek berbanding lima puluh dengan lima puluh, orang masih berani menyerempet bahaya.

Tapi perbandingan untuk keadaan tersebut adalah sembilan puluh sembilan berbanding satu, kecuali dia memang bernasib sangat baik, sulit rasanya untuk lolos dalam keadaan hidup.

Sebab itulah, selihay-lihaynya seorang jago silat, seaneh anehnya watak orang itu, tak pernah diantara mereka berani berbuat sewenang-wenang dengan mempertaruhkan nyawanya sebagai barang mainan.

Masih mendingan kalau ilmu yang dilatih ilmu kampungan, sebagaimana diketahui, baik Sim hot, dari keluarga Hoa maupun Bu-khek teng heng sim hoat kedua duanya merupakan ilmu tenaga dalam tingkat tinggi yang berbeda aliran, selihay apapun kepandaian seseorang, tak mungkin mereka akan temukan persamaan diantara kedua jenis sim hoat tersebut yang memungkinkan kedua ilmu tersebut dilebur menjadi satu.

Meskipun Hoa Inliong sebagai keturunan orang lihay mengetahui juga akan bahaya yang membayangi perbuatannya itu, namun karena sifatnya memang gemar menyerempet bahaya, kedua diapun belum tahu sampai sedalam manakah bahaya yang bakal dialaminya, maka didesak oleh perasaan ingin tahunya yang besar, tanpa berpikir panjang lagi apa yang dipikirkan segera dilakukan dengan begitu saja.

Pada mulanya, oleh karena dia sudah begitu hapal dengan Sim hoat keluarganya, setiap kali ia berusaha bersamadi, serta-merta sim hoat tersebutlah yang digunakan.

Tapi kemudian, anak muda itu bertindak lebih berhati-hati setiap kali ada kesempatan, Bu khek teng heng sim hoat ikut disalurkan juga bersamaan waktunya.

Dalam waktu singkat dua gulung aliran hawa sakti yang saling bertentangan mulai saling gontokgontokan dalam urat nadinya, semakin besar niat pemuda itu untuk mengendalikan goncangan tersebut, semakin kalut kedua gulung hawa murni itu menggulung tubuhnya, ia segera sadar bahwa gelagat tidak menguntungkan.

Tapi sayang, pada waktu itu kedua gulung hawa murni tersebut sudah lepas dari kontrolnya lagi, ibaratnya air bah yang menjebolkan bendungan, dengan dahsyatnya menyapu apa saja yang dapat dilanda.

Yang paling seram lagi, justru dalam keadaan begitu racun ular sakti yang mengeram dalam tubuhnya kambuh secara bersamaan, isi perutnya seketika itu juga terasa amat sakit bagaikan digigit berjuta juta ekor binatang, ditambah pula hawa murni yang bergolak dibadannya menusuk-nusuk isi perut bagaikan tusukan gunting, penderitaan semacam itu mungkin tak akan tahan dirasakan oleh siapapun.

Seperminum teh kemudian, seluruh wajah anak muda itu telah berubah jadi merah padam, peluh yang membasahi dadannya sebesar kacang.

Sebentar saja badannya sudah basah kuyup bagaikan baru keluar dari bak mandi.

Dalam keadaan seperti ini, anak muda itu hanya bisa pasrah pada nasib, ia benar-benar tak mampu mengendalikan hawa murninya lagi.

"Habis riwayatku!"

Pekiknya dihati. Tiba-tiba kepalanya seperti kena dihantam dengan benda berat...."

Biang!"

Pigsanlah pemuda itu.

Entah berapa lama sudah lewat ketika ia membuka kembali matanya, pemuda itu merasa seakan-akan baru sadar dari impian, apalagi terbayang kejadian yang baru dialaminya, ia cuma bisa teriak syukur, syukur berulang kaki.

Ia merasa sekujur badannya jadi segera dan enak, butiran keringat mendatangkan kehangatan yang terasa nikmat, apalagi setelah hawa murni yang mengalir dalam nadinya diperiksa, pemuda itu merasa bingung dan tak bisa mengerti ia tak tahu rejekikah?

Atau bencanakah?

Ternyata ia merasa hawa murni yang mengalir dalam nadinya itu dibalik kebalikan terdapat kelurusan dan dibalik aliran yang lurus terkandung keterbalikan, seperti lurus seperti juga berbalik, seperti juga bukan lurus bukan juga terbalik, sampai-sampai dia sendiripun tak tahu apa gerangan yang sebenarnya terjadi....

Tapi ada satu hal yang pasti, yakni hawa murni itu mengalir sendiri secara otomatis tanpa rintangan, diapun tidak menemukan tanda-tanda yang menunjukan bahwa bencana sudah diambang pintu.

Kali ini ia tak berani terlalu gegabah lagi, pemuda itu bermaksud meneruskan kembali latihannya setelah mendapat petunjuk dari Goan cing taysu....

Sebetulnya itu semua merupakan gejala yang menunjukkan bahwa tenaga dalam yang dimilikinya telah mendapat kemajuan yang amat pesat, sayang pemuda itu kalau sudah tidak serius, betul-betul terlampau tidak serius, tapi kalau sudah sungguh-sungguh, sungguh sungguh kelewat batas, begitulah kalau dia memang dasarnya mempunyai bakat yang baik dan rejeki yang baik pula....

Sementara dia masih termenung sambil melamun mendadak dari arah pintu terdengar serentetan suara yang amat lirih, dengan lantang ia lantas membentak.

"Siapa disitu?"

Pintu dibuka orang, dan sesosok bayangan merah yang menyiarkan bau harum melintas masuk kedalam ruangan.

"Jiko, jahat amat sih kamu ini bikin jantung orang hampir rontok saja...."

Tegur suara merdu menggema di udara. Hoa in-liong segera tersenyum.

"Aaaah. Siapa suruh kau seperti setan pengacau?"

Waktu itu Coa Wi-wi sudah berganti dengan satu stel gaun berwarna merah menyala, ia tampak jauh lebih cantik, jauh lebih menawan dan jauh lebih mempesona hati, ibaratnya sinar emas sang surya yang baru terbit dipagi hari.

"Hei, kenapa kamu jiko? Sudah tidak kenal lagi dengan aku?"

Seru nona itu sambil tertawa manja.

Dengan tatapan mata seperti elang yang mengincar kelinci, anak muda itu mengamati gadis tersebut dari atas hingga kebawah, kemudian baru gelengkan kepalanya sambil menghela napas.

"Yaa, aku memang sudah tidak kenal lagi!"

Sesudah berhenti sebentar, ujarnya lagi.

"Setiap kali adik Wi bertukar dengan satu stel pakaian, hampir saja aku tak dapat mengenali dirimu lagi"

"Aaaah.... kamu ini, masa cuma kenali pakaian tidak kenal orangnya!"

Omel Coa Wi-wi manja. Hoa In-liong gelengkan kepalanya berulang kali.

"Bukan, bukan begitu, aku hanya merasa setiap kali adik Wi tukar dengan satu stel pakaian, engkau selalu tampil dengan corak dan gaya yang berlainan, apa mau dikata setiap corak dan gaya mu itu menampilkan pula kecantikan yang membuat seluruh wanita didunia ini seolah-olah kehilangan keayuan mereka semua, padahal selama hidup aku tak percaya kalau dunia ini terdapat perempuan yang demikian cantiknya, maka jangan heran kalau aku lantas curiga, benarkah perempuan yang kujumpai itu adalah adik Wi ku yang manis!"

Dasar play-boy yang pintar putar lidah, entah sungguh entah tidak rayuan tersebut, tapi yang pasti kata-kata semanis madu itu cukup membuat hati sekeras bajapun menjadi leleh.

Tentu saja Coa Wi-wi merasa senang dengan pujian anak muda itu, walau begitu toh ia mengomel lagi.

"Hmmm....! Aku tak percaya, kata-katamu itu, sudah pasti adalah kata-kata rayuan gombal!"

Kemudian matanya celingukan kesana kemari dengan tajamnya, setelah sambil berseru tertahan ia berkata lagi.

"Oooh.... rupanya kau belum tidur, kalau kulihat dari keadaan disini, pembaringan tersebut jelas belum terpakai.... Ehm, jadi kau baru berlatih ilmu silat? Waah kagum, kagum aku sangat kagum dengan ketekunanmu"

"Oooh.... aku sih tak akan memiliki ketekunan seperti itu"

Hoa In-liong tertawa.

"lagi memuji atau lagi menyindir!"

"Aaah.... terserah apa yang kau pikir!"

Setelah berhenti sebentar, kemudian katanya lebih jauh.

"Hayo bangun dan makan siang! Atau kau masih ingin berlatih terus ilmu silatmu?"

"Aku memang bermaksud demikian, maka jika adik Wi belum lapar, bagaimana kalau kau turunkan dulu rahasia Su siu hua heng ciang kepadaku? Mau bukan?"

Kalau anak muda itu berpikir demikian, tidak begitu dengan jalan pikiran Coa Wi-wi, dia tak mau pemuda itu lupa makan lupa tidur hanya gara-gara ingin berlatih ilmu silat.

Maka bibirnya segera dicibirkan.

"Kau boleh saja kalau ingin mati kelaparan, kalau aku sih ogah untuk temani kau mati karena kelaparan, hayo makan dulu!"

Tapi sewaktu dilihatnya pemuda itu masih duduk, ia lantas maju dan menyeretnya sampai bangun.

"Kenapa belum bangun juga?"

Teriaknya. Hoa In-liong benar-benar dibikin apa boleh buat, terpaksa ia bangkit sambil gelengkan kepalanya.

"Baik! Baik! Jangan mengomel, mari kita bersantap!"

Makan siang itu diselenggarakan dalam ruang kecil di halaman yang tersendiri itu, dayang cilik Huan-ji melayani mereka berdua, meski cuma dua orang yang bersantap namun sayur dan hidangan yang tersedia begitu melimpah ruah sehingga sepuluh oranpun belum tentu dapat menghabiskan semua hidangan tersebut.

Dalam bersantap sekali lagi Hoa In-liong menanyakan rahasia ilmu pukulan Su siu hua heng ciang.

Coa Wi-wi tak tega untuk menolak permintaan orang, maka ilmu sakti itu pun diturunkan pemuda tersebut.

Ilmu pukul Si sau hua heng ciang itu terdiri dari delapan gerakan yang mengandung makna Su si pat kwa, dibalik gerakan mengandung pula gerakan yang saling bertautan satu sama lainnya, dengan perubahan yang tak terhingga banyaknya.

Hoa In-liong dapat merasakan bahwa ilmu Ci yu jit ciat meskipun sakti dan keji hebatnya bukan kepalang, namun tak mampu melebihi kehebatan dari ilmu pukul Su siu hu heng ciang tersebut, yaa, pada hakekatnya ilmu sakti warisan dari Bu seng (malaikat silat) Im Ceng memang bukan sembarang ilmu.

Rahasia ilmu pukul Su siu huan heng ciang amat singkat dan sederhana, paling banter juga terdiri dari ratusan huruf namun makna yang lebih dalam dari tulisan-tulisan itu sudah tentu tidak sesederhana kata-kata tersebut, bahkan tidak berada di bawah catatan ringkas Kiam keng bu kiu yang pernah diperoleh Hoa Thian-hong dimasa lalu.

Sambil bersantap Hoa In-liong sembari putar otaknya mendalami inti sari ilmu pukul itu, mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya, sumpit yang sebenarnya sedang menjepit seekor ikan leihi seketika terhenti ditengah udara, lama sekali dia membungkam dalam seribu bahasa.

Huan-ji yang ada disampingnya dan menyaksikan adegan itu jadi merasa geli, cepat dia menutupi bibirnya dengan sapu tangan lalu tertawa cekikikan.

Coa Wi-wi sendiri meski waktu itu juga merasa geli, tapi saat-saat terpenting bagi anak muda itu sebelum ilmu silatnya mendapat kemajuan yang pesat maka matanya lantas melotot ke arah Huan-ji sambil melarang dayangnya lebih lanjut.

"Adik Wi, sambutlah sebuah pukulanku ini!"

Tiba-tiba Hoa In-liong membentak nyaring.

Cepat ia letakkan sumpitnya ke meja, kemudian telapak tangan kanannya dijulurkan kedepan seperti menekuk, jari tangannya di tegakkan sekaku baja, kemudian diserangnya Coa Wi-wi dengan jurus Pian tong put ki (berubah tidak tetap).

Coa Wi-wi merasa terperanjat menghadapi serangan tersebut, tapi dengan cepat ia melancarkan pula sebuah serangan balasan dengan jurus Pian tong put ki yang sama, teriaknya.

"Jiko, aku tak percaya kalau engkau lebih cerdik daripada aku dalam menggunakan jurus serangan tersebut!"

Ucapan itu ada benarnya juga, sekalipun serangan yang dilancarkan Hoa In-liong serangan mengandung perubahan yang maha hebat, akan tetapi mana mungkin ia dapat menandingi Coa Wi-wi yang sudah melatih ilmunya selama sepuluh tahun lebih?

Akan tetapi, apa yang kemudian terjadi ternyata sama sekali diluar dugaan, begitu sepasang telapak tangan saling beradu, Coa Wi-wi lah yang berada di pihak yang rugi, pergelangan tangannya tahu-tahu memekuk kebawah, badannya terjungkal ke belakang dan hampir saja ia jatuh terjengkang kebelakang berikut kursi yang didudukinya.

Kiranya Coa Wi-wi sudah mengetahui sampai dimanakah taraf tenaga dalam yang dimiliki Hoa In-liong, maka dalam menyambut serangan anak muda tadi, ia telah menggunakan pula tenaga yang seimbang.

Siapa tahu tenaga dalam yang dimiliki Hoa In-liong mendapat kemajuan yang amat pesat, maka begitu telapak tangan mereka bersentuhan, meski ia menyadari bahwa keadaan tidak menguntungkan, toh dalam keadaan begitu tak sempat lagi baginya untuk menambahi tenaga dalamnya.

Dengan wajah cemberut gadis itu merangkak bangun dari atas lantai, lalu serunya manja.

"Bagus! Bagus! Rupanya kau menyembunyikan kekuatanmu yang sebenarnya.... kau jahat, kau jahat!"

Nanun Hoa In-liong tidak menjawab, sebab setelah melancarkan serangannya tadi kembali pemuda itu terjerumus dalam pemikiran yang serius, tampak sepasang alis matanya berkenyit, matanya mendelong memandang ke arah depan dan mulutnya terkatup rapat, ternyata ia tak mendengar apa yang barusan diteriakkan gadis itu.

Saking gemasnya meskipun Coa Wi-wi ingin menggigit anak muda itu, namua ia tak berani lantaran menuruti napsu sendiri menyebabkan ilmu silat nya terbengkalai, maka dengan kesal gadis itu duduk membungkam.

Tiba-tiba didengarnya suara tertawa cekikikan menusuk telinga dari arah samping, dasar lagi mangkel dan rasa mendongkol tak terlampiaskan maka bertemu dengan sasaran kontan saja matanya melotot besar.

"Hayo tertawa.... hayo terus sampai tua! teriaknya dengan marah "

Apa yang kau gelikan? Enyah ayoh cepat enyah jauh-jauh dari hadapanku!"

Huan-ji meski kedudukannya cuman seorang dayang tapi sejak kecil sampai dewasa ia hidup bersama nonanya ini, maka boleh dibilang waktu majikannya cukup dia kuasahi.

Meski melihat nonanya marah ia tidak jadi gemetar karena takut.

"Yaa, nona!"

Sahutnya malah. Tapi baru saja ia sampai di depan pintu ruangan, Coa Wi-wi sudah berterak kembali.

"Hayo kembali apa yang kau gelisahkan? Takut kutelan tubuhmu bulat-bulat hei?"

Sambil tertawa Huan-ji berjalan kembali kedalam ruangan. Tapi Coa Wi-wi sekali lagi ulapkan tangannya sambil berseru.

"Enyah! Enyah dari sini! Melihat tampangmu saja aku sudah bosan"

Huan ji tertawa cekikikan, sekarang baru betul-betul lari keluar ruangan itu. Selang sesaat kemudian Hoa In-liong baru menghembuskan napas panjang bisiknya kemudian, Oooh....rupanya begitu!"

Coa Wi-wi yang paling senang dengan kejadian itu, cepat serunya dari samping.

"Jiko, berapa banyak sudah yang berhasil kau pahami?"

Barusan ketika pemuda itu masih terjerumus dalam lamunannya, ia merasa sempat mengawasi tampang sianak muda itu sepuas-puasnya bukan saja Hoa In-liong tanpan dan romatis, kecerdikannya juga hebat, terutama sikap serta tingkah lakunya yaug menyenangkan hati, sejak tadi-tadi semua rasa kesal dan murungnya sudah tersapu lenyap entah kemana....

Tiba-tiba ia merasa tidak semestinya menyelesaikan urusan itu dengan begitu saja, sebab bagaima napun juga kalau dibekukan sampai disitu, hal ini menyangkut soal gengsinya sebagai seorang gadis remaja.

Maka sebelum Hoa In-liong menjawab pertanyaannya itu, dia sudah membentak lebih jauh.

"Sambutlah serangan ini!"

Telapak tangannya yang mulus langsung diayun kemuka melepaskan sebuah pukulan dengan jurus Pian tong put ki.

Hoa In-liong tertawa nyaring, dengan jurus Pian tong put ki yang sama ia songsong datangnya ancaman tersebut.

"Serangan bagus!"

Serunya.

Ketika dua buah telapak tangan saling bertemu, kali ini Coa Wi-wi sudah membuat persiapan, tentu saja tubuhnya sama sekali tidak bergeming dari posisinya semula.

Selain itu, rupanya nona tersebut ingin pula membalas kesalahan yang dia alaminya barusan, sebab itu diapun ingin memberi sedikit pelajaran untuk Hoa In-liong, dalam serangannya kemudian tenaga dalam yang dipakai mencapai delapan bagian lebih.

Apa yang terjadi?

Sekalipun nona itu sudah menggunakan tenaga dalam yang sangat besar, akan tetapi dikala sepasang telapak tangan itu saling bertemu, tiba-tiba dari balik telapak tangan Hoa In-liong memancar keluar segulung tenaga pukulan yang sifatnya aneh sekali, bukan saja pukulannya tidak berhasil menembusi pertahanan lawan, malahan tenaga serangannya itu seperti ditarik oleh suatu kekuatan lain hingga mengalir kearah gang sama, ini membuat hati nona itu jadi kaget bercampur curiga.

"Hei jiko apakah sudah telan pil Yau ti-wan tersebut?"

Tegurnya kemudian dengan keheranan,"

Kalau tidak kenapa tenaga dalammu bisa peroleh kemajuan seperti ini? Dan lagi aku merasa hawa murni yang terpancar keluar dari tubuhmu itu sangat aneh"

"Aaaah, siapa bilang kalau aku makan pil ti wan?"

Tapi setelah dipikir sebentar, pemuda itupun lantas menuturkan pengalamannya ketika ia mencoba-coba untuk menggabungkan tenaga sim-hoat keluarga Hoa-nya dengan Bu kek teng heng sim hoat.

Selesai mendengar penuturan tersebut, Coa Wi-wi jadi mencak mencak saking gembiranya.

Hoa In-liong ikut tertawa.

"Adik Wi!"

Katanya.

"bencanakah? Atau rejekikah? Hingga kini masih merupakan suatu tanda tanya besar, kalau dibilang terkena racun ular sakti ibaratnya Say-ang yang kehilangan kudanya, siapa tahu kalau aku bakal mendapat rejeki. Sebaliknya kalau dibilang Say-an mendapat kuda, siapa tahu kalau kejadian itu justru akan membawa bencana"

"Aaaah....! Janganlah mengucapkan kata-kata yang mendatangkan perasaan tak enak semacam itu?"

Keluh Coa Wi-wi.

Demikianlah, percakapan itu mereka langsungkan hingga tengah hari lewat, dan akhirnya merekapun menyinggung soal janjinya dengan Bwe Su-yok.

Pada mulanya Hoa In-liong bersikeras ingin memenuhi janji seorang diri, sebab dia yakin dengan kemajuan pesat yang diperolehnya dalam tenaga dalam, niscaya Bwe Su-yok bukan tandingan nya lagi, maka sekalipun dia harus memenuhi sendiri janji itu, rasanya juga tiada bahaya yang mengancam.

Tapi Coa Wi-wi bersikeras memaksa ikut, alasannya walaupun tenaga dalam yang dimiliki Hoa In-liong sudah mengalami kemajuan yang pesat, tapi racun ular sakti itu toh belum punah, bagaimana kalau racun ular itu kambuh lagi dikala pertarungan sedang berlangsung?

Apalagi semua orang juga tahu, Kiu-im-kauw merupakan sarangnya jago-jago tangguh, terutama sebagai ketua perkumpulan sesat yang tak mengikuti peraturan dunia persilatan, andaikata mereka sampai main kerubut, sekalipun tenaga dalam Hoa In-liong lebih tinggipun percuma saja.

Setelah berdebat setengah harian, akhirnya diputuskan Hoa In-liong memenuhi sendiri janji itu, sementara Coa Wi-wi mengikutinya secara diam-diam.

"Yaa, pada hakekatnya santapan siang itu baru berakhir setelah makan waktu yang berlarutlarut. Selesai bersantap, mereka memperdebatkan kembali keampuan ilmu pukulan Su siu hua heng ciang, tidak berbicara soal kemajuan Hoa In-liong yang amat pesat, keanehan tenaga dalam dari anak muda itulah yang justru membuat Coa Wi-wi jadi kaget bercampur keheranan. Ketika ditanyakan bagaimana caranya mengerahkan tenaga aneh itu, bahkan Hoa In-liong sendiripun tidak mengerti, ia cuma merasa tanaga tersebut terlontar keluar secara spontan. Tatkala sore sudah menjelang tiba dan sang surya sudah tenggelam dikaki langit sebelah barat, berangkatlah dua orang itu menuju keluar rumah.... Karena Coa Wi-wi harus melakukan pengiutitan secara diam-diam, ia merasa warna merah yang terlalu menyolok, maka sebulam berangkat ia tukar dengan satu stel pakaian berwarna putih. Hoa In-ling sendiri berdandan seperti seorang kongcu yang perlente, pedang tersoren dipinggang, kipas digenggam dalam tangan, kipas yang dibawa dari rumah sebetulnya sudah hilang, maka kipas yang dipakai sekarang adalah kipas hadiah Coa Wi-wi. Dengan kecepatan langkah anak muda itu, jarak antara rumah keluarga Coa sampai dikaki bukit Ciong-san sebelah barat bisa ditempuh dalam waktu singkat. Masih jauh ia berada di depan bangunan rumah yang mewah itu, ketika pintu gerbang tiba-tiba di buka orang dan Seng Sin sam yang kecil pendek memimpin serombongan anggota Kiu-imkauw menyambut kedatangannya diluar bangunan rumah. Menyaksikan keadaan seperti itu, Hoa In-liong malahan memperlambat langkah kakinya, sambil menggoyang-goyangkan kipasnya dia menuju kepintu gerbang. Begitu santai lagaknya, seakan-akan kedatangannya kesitu bukan untuk memenuhi suatu perjanjian yang menyangkut mati hidupnya, melainnya khusus datang untuk menghadiri suatu pesta ulang tahun teman akrabnya. Menanti ia sudah berjalan mendekat, dengan tak sabaran Seng Sin-sam merangkap tangannya memberi hormat, kemudian berkata.

"Hoa kongcu benar-benar seorang pegang janji, kaucu kami mempersilahkan kongcu masuk ke dalami"

Hoa In-liong segera melipat kipasnya dan disimpan kedalam saku tegurnya kemudian.

"Eeeh, dimana kaucumu? Kenapa tidak menyambut sendiri kedatanganku....?"

Seng Sin sam tertawa seram.

"Hahaha.... apakah Hoa kongcu dapat mewakili ayahmu?"

Dia balik bertanya. Maksud dari perkataannya itu sudah amat jelas, yakin Hoa In-liong masih belum cukup bergerak untuk mendapat penyambutan dari Bwe Su-yok.

"Bukan demikian maksudku...."

Kata Hoa In-liong sambil membentangkan kembali kipasnya dan digoyang-goyangkan beberapa kali.

"Lalu Hoa kongcu ada petunjuk apa?"

Tukas Seng Sin sam tak sabar lagi. Diam-diam Hoa In-liong mentertawakan ketidak sabaran orang namun diluaran ia tetap bersikap serius, jawabnya.

"Bagaimanapun juga aku orang she Hoa masih terhitung sahabat karib kaucu kalian, memandang pada hubungan persahabatan ini sudah sepantasnya kalau ia memang mengadakan penyambutan sendiri atas kedatanganku atau mungkin karena kedudukannya sekarang sudah terhormat, maka ia pandang remeh sahabatnya dimasa lalu?"

Pemuda itu memang sengaja menjual kecap dengan tujuan memecahkan perhatian semua jago yang hadir disekeliling bangunan itu, dengan demikian aku cukup memberi kesempatan bagi Coa Wi-wi untuk menyusup ke dalam bangunan rumah itu.

Seng sin sam kontan saja tertawa dingin sesudah mendengar kata-kata itu.

"Heeehh.... heeehh.... heeeh....jadi, bila kaucu tidak menyambut sendiri kedatangan Hoa kong cu maka engkau tak sudi masuk ke dalam perkara pungan?"

"Oooh....tentu saja tidak tentu saja tidak! Hoa In-liong gelengkan kepalanya berulang kali, sekarang kaucu kalian sudah merupakan seorang pemimpin dari suatu perkumpulan besar, sudah mestinya kalau ia pegang gengsi dengan berlangkah jual mahal!"

Sambil menggoyangkan kipasnya, pelan-pelan ia lanjutkan kembali langkahnya menuju kedalam ruangan.

Teng Sin sam betul-betul dibikin serba salah oleh tingkah laku pemuda itu, cepat-cepat ia memburu ke muka seraya berseru.

"Biar aku membawakan jalan untukmu!"

Meskipun rasa bencinya kepada Hoa In-liong sudah merasuk ketulang sumsum, namun ketika di lihatnya anak muda itu berdandan perlente dengan pedang tersoren dipinggang dan kipas digenggam dalam tangan, diam-diam ia memuji juga akan kekerenan anak muda itu.

"Emmm....! Dia memang tak malu menjadi putranya Thian cu-kiam!"

Setibanya didepan ruang mewah yang megah dengan lapisan emas meliputi tiang-tiang penyangga dalam ruangan itu, tampaklah Bwe-Su-yok yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan dengan memegang tongkat kebesaran berkepala setan menyambut kedatangan diluar pintu, dibelakang nona itu mengikuti pula Tiamcu ruang siksa Le Kiu it, tongcu bagian tata tertib Kek Thian tok serta Tongcu bagian proganda Huan-Tong.

Agak tertegun juga Hoa In-liong sewaktu dilihatnya Bwe Su-yok bersedia menyambut kedatangannya dipintu ruangan, sebab menurut dugaannya semula kemungkinan besar Bwe Suyok akan berlagak angkuh dengan maksud menghina serta mencemooh dirinya habis-habisan.

Setelah berpikir sebentar, dia lantas maju kedepan sambil memberi hormat, katanya.

"Apabila kedatangan Hoa Yang agak terlambat harap Bwe kaucu bersedia memaafkan!"

Bwe Su-yok balas memberi hormat, kemudian katanya pula dengan tertawa.

"Bila Bwee Su-yok tidak menyambut kedatanganmu dari jauh, harap Hoa kongcu bersedia memaklumi!"

Agak heran juga perasaan Hoa In-liong waktu itu, sebab meski nada pembicaraan nona itu dingin dan hambar, namun tidak mengandung hawa napsu membunuh, sikap seperti ini boleh dibilang jauh berbeda dengan sikapnya kemarin malam.

Setelah masuk kedalam ruangan, masing-masing pun mengambil tempat duduk.

Hoa In-liong menyaksikan dalam ruangan itu tersedia sebuah meja perjamuan, tak usah disebutkan lagi tentu saja hidangannya terdiri dari hidangan yang lezat-lezat, mangkuk, baki yang dipakai pun terdiri dari bahan-bahan perak yang berukiran indah.

Waktu itu disamping meja perjamuan berdiri tiga orang dayang, mereka tak lain adalah dayangdayang kepercayaan Bwe Su-yok yang terdiri dari Siau bi, Siau kian dan Siau peng.

Walaupun senja sudah menjelang tiba, namun delapan buah lentera keraton yang indah telah memancarkan pula cahayanya.

Bwe Su-yok yang duduk dimeja perjamuan tidak menawari tamunya minum arak, juga tiada perselisihan atau perang mulut yang ramai, yang berlangsung hanya cawan yang saling beradu serta suara sumpit yang membentur mangkok, tiada suara pembicaraan, semua orang bersantap tanpa berbicara.

Tentu saja kejadian ini diluar dugaan Hoa In-liong, segera pikirnya.

"Baik, akan kulihat kau si dayang busuk hendak bermain setan apa dengan diriku!"

Berpikir demikian, dia lantas menahan diri sambil mengikuti perkembangan yang barlangsung didepan mata.

Pemuda itu memiliki badan yang kebal terhadap segala macam racun, dengan tak usah kualir keracunan, dia makan minum dengan bebasnya.

Selesai bersantap, tiba-tiba Bwu Su-yok berkata.

"Hoa kungcu, apakah kau ingin tahu keadaan dari Kanglam Ji-gi?"

"Aaah, sudah tahu pura-pura bertanya!"

Pikir Hoa In-liong, Namun segera jawabnya juga.

"Yaa, dengan segala kerendahan hati aku mohon agar Bwe kaucu bersedia memberi petunjuk dimanakah empek Yu itu kini berada?"

"Heeehh.... heeehh.... heeeh.... kau anggap aku mau menjawab?"

Ejek Bwe Su-yok sambil tertawa dingin.

"Nah, sudah mulai!"

Batin Hoa In-liong, dia lantas tersenyum.

"Aku memang datang tanpa membawa harapan yang terlalu besar!"

Sahutnya cepat. Bwe Su-yok tertegun.

"Lantas karena urusan apa kau datang kemari?"

Hoa In-liong tak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya malah balik bertanya.

"Aku ingin mengajukan satu pertanyaan kepada Bwe kaucu, kendatipun Hian-beng-kauw sudah berkomplot dengan Kiu-im-kauw, masa perbuatan dari orang-orang Hian-beng-kauw bisa kaucu ketahui semua? Dan aku tahu bahwa orang-orang Hian-beng-kauw memandang penting soal empek Yu ku itu, betulkah kaucu benar-benar mengetahui jejak dia orang tua?"

Bwee Su-yok cuma tertawa dingin tanpa menjawab. Hoa In-liong segera berkata lebih jauh.

"Menurut dugaanku, belum tentu kaucu mengetahui hal itu"

"Sementara waktu jangan kita persoalkan apakah aku tahu atau tidak"

Kata Bwee Su-yok pelan.

"kalau toh engkau menganggap aku belum tentu tahu, buat apa pula kau dataag memenuhi janji?"

"Tiada karena soal lain, kecuali demi kepercayaan"

Jawab anak muda itu sambil tersenyum.

"Ooou.... benarkah kau pandang begitu penting soal kepercayaan?"

Ejek Bwe Su-yok lagi dengan nada menyindir.

"Ketat amat dayang ini menjaga rahasianya"

Pikir Hoa In-liong kemudian.

"rupanya ia pandai menduga suara hati orang, aku tak boleh pandang enteng dirinya...."

Begitu rencana sudah tersusun, ia baru menjawab.

"Tentunya Bwe kaucu tahu bukan, sejak dulu sampai sekarang, tanpa kepercayaan manusia itu tak bisa hidup?"

Bwe Su-yok segera tertawa ringan.

"Ooou....mungkin Hoa kongcu ingin mengandalkan ilmu silatmu yang maha tinggi?"

Dengan kerlingan mata yang jeli, ia melirik sekejap Le Kiu-it berempat, kemudian berkata lebih lanjut.

"Menurut pandangan Hoa Kongcu, bagaimana perdapatmu mengenai tenaga dalam yang dimiliki kelima orang anak buahku itu?"

"Tak seorang pun yang bukan jago tangguh!"

Raut wajah Bwe Su-yok ysng sebetulnya sedingin es, tiba-tiba berubah jadi hangat, sekulum senyuman cerah menghiasi bibirnya ibarat angin musim semi yang mencairkan salju, seluruh keketusan dan sikap dinginnya tersapu lenyap.

Tapi justru karena itu wajahnya tampak semakin cantik dan menarik, ini membuat Hoa In-liong jadi melongo saking terpesonanya.

Namun kewaspadaannya juga semakin meningkat.

"Hoa kongcu!"

Kembali Bwe Su-yok berkata, andaikata aku dan ke empat orang anggota perkumpulanku turun tangan bersama-sama, mampukah Kongcu lolos dari cengkeraman kami?"

Mendengar perkataan itu, Hoa In-liong merasa terkesiap, tapi diluar wajahnya ia tepat tenang, seolah-olah hal itu sudah menjadi bahan dugaannya.

"Kaucu, pandai amat kau berbicara!"

Katanya sambil tertawa.

Yaa, pada hakekatnya orang yang hadir daiam perjamuan saat itu merupakan inti kekuatan vang sebetulnya dari perkumpulan Kiu-im-kauw, meski sedikit jumlahnya, tapi kalau mereka sampai menyerang bersama, kendatipun Hoa In-liong merasa ilmu silatnya sudah memperolah kemajuan yang pesat, jagan harap bisa lolos dari situ dengan selamat.

Bwe Su-yok kembali tertawa ringan.

"Apakah Hoa kongcu menduga kalau aku cuma bergurau belaka?"

Ia balik bertanya.

Sikapnya yang berkebalikan dengan sikap-sikap dingin diwaktu-waktu biasanya ini kembali membuat Hoa In-liong jadi kaget bercampur curiga, sekalipun dia pintar toh tidak berhasil juga untuk menebak obat apakah yang dijual dalam cupu-cupunya itu?

Dengan sorot mata tajam ia berpaling kearah Kek Thian tok berempat dan diamatinya ratu wajah mereka, tapi orang-orang itu tetap bersikap dingin dan hambar ini membuat anak muda itu kembali gagal untuk menemukan suatu pertanda yang sensitip.

Maka setelah termenung sebentar, dia tertawa hambar.

"Kaucu, Hoa yang adalah seorang anak bodoh, maaf kalau aku tak mampu menebak isi hatimu yang sebenarnya"

Mimik wajah Bwe-yok yang semula cerah tiba-tiba berubah lagi jadi dingin dan kaku, Hoa Inliong mengira dia mau melancarkan serangan dengan perasaan tegang segenap tenaga dalamnya segera dihimpun untuk menjaga segala sesuatu yang tidak diinginkan.

Benarkah Kiu-im kaucu yang muda itu hendak melancarkan serangannya?

Ternyata tidak, dengan biji matanya yang jeli Bwe Su-yok mengerling sekejap ke arah Le Kiu it, kerlingan itu mengandung arti yang sukar ditebak, bisa bermaksud baik bisa pula berniat jelek.

Begitu dikerling, Le Kiu-it segera bangkit berdiri, lalu sambil memberi hormat kepada kaucu-nya ia berkata.

"Hamba masih ada urusan penting yang harus segera diselesaikan, harap kaucu sudi memaafkan diri hamba yang terpaksa minta diri ditengah perjamuan"

"Silahkan Le tiamcu!"

Sahut Bwe Su-yok hambar. Le Kiu it lantas menjura pula ke arah Hoa In-liong.

"Aku orang she Le tak bisa menemani lebih lama, harap Hoa kongcu sudi memberi maaf!"

Katanya. Hoa In-liong cepat bangkit seraya balas memberi hormat.

"Untuk menghimpun prajurit memanggil panglima, Le Tiamcu tentu butuh banyak tenaga dan pikiran, silahkan?"

Dia mengira kepergian Le Kiu-it tentu untuk menghimpun kekuatan Kiu-im-kauw guna mencegah niatnya untuk melarikan diri, maka sengaja ia sindir niat jagoan tersebut.

Le Kiu it tidak memberi komentar apa-apa, dia cuma tertawa lalu mengundurkan diri dari ruangan itu.

"Ai, entah adik Wi bersembunyi dimana?"

Pikir Hoa In-liong kemudian.

Selang sesaat kemudian, Huan Tong yang merupakan Tongcu bagian propaganda mohon diri pula untuk mengundurkan diri, disusul kemudian Kek Thian tok si tongcu bagian tata tertib dan Seng Sin sam tongcu bagian penerima tamu ikut mundur dari situ.

Sekejap kemudian kecuali tiga orang dayang kecil, dalam ruang perjamuan itu tinggal Hoa Inliong dan Bwee Su-yok dua orang.

Kejadian semacam ini benar-benar diluar dugaan Hoa In-liong, sekalipun dia pintar dan berotak encer, toh dalam keadaan seperti ini ia tak mampu untuk menebak rencana apakah yang sedang disusun Bwee Su-yok.

Setelah suasana menjadi hening sekian waktu, akhirnya Bwe Su-yok buka suara lebih dulu, ujarnya dengan suara yang merdu tapi bernada dingin dan kaku.

"Hoa kongcu, hingga kini bagaimanakah perasaanmu?"

Hoa In-liong tidak langsung menjawab, ia berpikir lebih dulu.

"Watak perempuan ini sangat aneh, ia bisa marah sebentar lalu girang sebentar, aku musti menghadapinya dengan hati-hati"

Berpendapat demikian, sambil tertawa ia lantas goyangkan kipasnya seraya menjawab.

"Aku rasa keadaan pada saat ini sangat baik, penuh rasa persahabatan!"

Kemudian sambil melipat kipasnya, ia menambahkan.

"Kalau bisa bercakap-cakap dalam suasana begini, tentu saja lebih baik lagi, bagaimana menurut pandangan nona Bwe?"

Dari sebutan kaucu tiba tiba ia dirubah panggilannya jadi nona, begitu selesai berkata, cepat cepat diawasinya raut wajah Bwe Su-yok yang cantik jelita itu, dia ingin tahu bagaimanakah reaksinya....

Ternyata Bwe Su-yok tidak menjadi jengah ataupun marah, bahkan seolah-olah tak pernah mendengar perkataan itu.

Lama sekali ia merenung, sebelum akhirnya berkata lagi.

"Sewaktu masih berada diluar perkampungan tadi, kau pernah berkata bahwa aku adalah sahabatmu, apakah engkau tak akan bermusuhan lagi dengan pihak Kiu-im-kauw?"

"Ooh....jadi tadi dia sembunyi disekitar situ!"

Kembali Hoa In-liong membatin. Setelah termenung sebentar, ujarnya dengan wa jah bersungguh-sungguh.

"Aku mempunyai beberapa patah kata kurang sedap yang ingin diutarakan, apakah nona Bwe...."

"Hei, kalau ucapanmu kurang sedap didengar, lebih baik jangan disinggung-singgung, daripada nonaku jadi marah!"

Tiba tiba Siau bi yang berdiri di belakang majikannya menyela. Bwe Su-yok segera berpaling dan melotot sekejap ke arahnya, lalu sambil menatap kembali wajah In liong katanya.

"Nah, kalau ingin mengucapkan sesuatu cepat katakan!"

Hoa In-liong tertawa.

"Jika Kiu-im-kauwcu bisa bertobat dan meninggalkan jalan sesat untuk kembali ke jalan yang benar...."

"Dalam bagian manakah perkumpulan kami ini sesat?"

Tukas Bwe Su-yok sambil tertawa dingin.

"dan mengapa kami musti kembali ke jalan yang benar?"

"Jadi menurut pandanganmu, sudah sewajarnya kalau seluruh dunia persilatan menjadi wilayah kekuasaan tunggal dari keluarga Hoa kalian?" 000000O000000

"NONA BWE, apa maksudmu dengan perkataan semacam itu?"

Tegur si anak muda dengan dahi berkerut. Bwe Su-yok tertawa dingin.

"Golongan pendekar dan kaum lurus menyanjung keluarga Hoa sebagai pimpinannya, dan sekarang kau anjurkan dirimu untuk meninggalkan kaum sesat kembali ke jalan yang benar, apa lagi yang musti kujelaskan dengan perkataanku itu?"

Hoa In-liong tertawa.

"Kalau nona berbicara demikian maka kelirulah anggapanmu, orang-orang golongan pendekar saling berhubungan dengan dasar persaudaraan, kita tak pernah membedakan tingkat kedudukan, dan siapapun tidak lebih atas dari yang lain, darimana bisa muncul tingkat kedudukan sebagai seorang pemimpin? Apa lagi ayahku sama sekali tak berambisi untuk menguasahi dunia persilatan"

"Kalau begitu bagus sekali, perkumpulan kami akan segera tinggalkan jalan sesat untuk kembali ke jalan yang benar, bagaimana kalau golongan lurus mengangkat perkumpulan kami sebagai pemimpinnya?"

Setelah nona itu mengajukan usul seperti ini, tentu saja Hoa In-liong tak bisa mungkir lagi, maka dia tersenyum dan menjawab dengan serius.

"Jika nona Bwe benar-benar bertujuan membahagiakan umat manusia dari segala bentak kelaliman dan penindasan, ada salahnya kalau kami semua menuruti kehendak nona?"

Bwe Su-yok tertawa dingin.

"Heehhh.... heehh.... heehhh....enak benar perkataanmu itu, apakah kau dapat mewakili ayah serta seluruh pendekar dan golongan putih untuk mengambil keputusan?"

Hoa In-liong tertawa.

"Nona Bwe, meskipun aku Hoa Yang adalah keturunan keluarga Hoa, meski ilmu silatnya maupun nama besarku tidak seujung jari orang o-rang lain, apalagi dalam soal watak, boleh dibilang jelek dan tak pantas disinggung-singgung"

Bwe Su-yok mendengus. Hoa In-liong pura-pura tidak mendengar ujarnya lebih jauh.

"Tapi aku yakin bukan saja perkataanku tadi pasti akan disetujui ayahku, bahkan paman-paman dan cianpwe-cianpwe lainnya juga akan menyetujui pula secara seratus persen"

"Dengan dasar apakah kau yakin jika mereka pasti akan setuju?"

Ejek Bwe Su-yok dengan nada menyindir.

"Orang akan mengutamakan dukungannya demi kepentingan umum daripada kepentingan pribadi, itulah dasar yang kuanut!"

Jangan dilihat sewaktu mengucapkan kata-kata tersebut sikapnya sangat hambar, tapi nadinya begitu serius dan wajahnya begitu keren, membuat orang musti memperhitungkan pula kataKatanya itu.

Bwe Su-yok seperti kena dihantam dengan tongkat besar, mukanya yang semula dingin tiba-tiba berubah jadi hambar.

Sebagaimana diketahui, gadis itu hidup dalam lingkungan perkumpulan sesat, sekalipun amat disayang Kiu-im-kauwcu, tapi semua pendidikan yang diberikan kepadanya kalau bukan berupa siasat-siasat busuk yang licik, tentulah cara-cara untuk mencelakai orang, sikap jujur seperti yang diperlihatkan Hoa In-liong barusan, pada hakehatnya seperti kentut anjing yang paling busuk bagi pandangan orang-orang Kiu-im-kauw, sebab perbuatan seperti itu mereka nilai sama artinya dengan mencari kematian bagi diri sendiri, sudah pasti ajaran seperti itu tak pernah diwariskan kepada anak didiknya.

Untunglah watak yang asli dari gadis itu adalah watak yang baik, dan watak yang baik itu belum tertutup sama sekali oleh pendidikan yang salah, itulah sebabnya kenapa ia jadi bingung dan untuk sesaat lamanya seperti kehilangan pegangan.

Ia merasa walaupun Hoa In-liong memiliki sifat menggampangkan pendapat orang dan tidak serius, tapi jiwanya besar dan mulia kebijaksanaan dan kegagahannya sebagai seorang pendekar sedikit pun tidak luntur.

Sesaat memang tak bisa menangkap lurus, sekalipun dia itu seorang ketua dari suatu perkumpulan besar toh muncul juga perasaan rendah hatinya, tapi kemudian setelah watak angkuh dan ingin menang gaya muncul kembali gadis itu kembali jadi jengkel.

"Huuuh.... kalau orang she Hoa lantas apanya yang luar biasa?"

Pikirnya. Cepat dia menenangkan hatinya dan katanya.

"Banyak membicarakan soal ini tak akan ada gunanya lebih baik tak usah disinggung lagi. Diam-diam Hoa In-liong mengerutkan dahinya.

"Waaah....payah, kalau dilihat cara dayang itu bersikap dan berbicara tampaknya ia sudah terlalu dalam dicekoki ajaran yang salah, sulit, sulit rasa nya untuk menyadarkan kembali dirinya"

Terbayang betapa akhirnya dia musti menyelesaikan sengketa tersebut diujung senjata dengan gadis secantik itu, Hoa In-liong menghela napas panjang, ia merasa kejadian itu adalah suatu kejadian yang akan membuat hatinya menyesal sepanjang masa.

"Hei, kenapa kau menghela napas panjang pendek? Merasa takut?"

Tegur Bwe Su-yok tiba-tiba. Hoa In-liong tertawa nyaring.

"Haaahh.... haaahh.... haaahh.... anak keturunan keluarga Hoa tak pernah kenal rasa kaget atau jeri!"

Setelah berhenti sebentar, dengan nada bersungguh-sungguh ia berkata lebih jauh.

"Perduli bagaimanapun sikap nona Bwe dikemudian hari, bagaimana kalau untuk sementara waktu jangan kita singgung-singgung dulu masalah tersebut"

Aku pikir suasana semacam sekarang ini pantas diisi dengan acara minum arak dan membicarakan soal-soal yang enteng!"

Mendengar perkataan itu, Bwe Su-yok termenung beberapa saat lamanya, tiba-tiba dia angkat cawan peraknya dan meneguk setegukan isi cawannya, kemudian dengan perasaan berat cawan itu di letakkan kembali ke atas meja.

Melihat itu Hoa In-liong lantas berpikir.

"Meskipun ia tidak berkata-kata tapi dari tindakan yang diambil jelas sudah menetujuinya. Maka diapun angkat cawan serta meneguk habis pula isinya.

"Sian kian!"

Ujar Bwe Su-yok kemudian.

"penuhi cawan Hoa kongcu!"

Siau kian mengiakan, dia ambil poci dan memenuhi cawannya, menggunakan kesempatan itu ia berbisik disamping telinga pemuda kita sambil tertawa.

"Tempo hari kau pingin minum secawan air putih saja tak keturutan, kali ini kau merasa gembira bukan? Bukan ada arak wangi dan hidangan lezat, bahkan nona sendiri yang menemani dirimu"

Jilid 30 SEKALIPUN suaranya amat lirih, tapi dengan tenaga dalam Bwee Su-yok yang begitu sempurna, tentu saja bisikan tersebut tak dapat mengelabuhi dirinya.

"Tidak tahu aturan!"

Segera makinya dengan muka kaku.

"pingin digebuk?"

Sambil menjulurkan lidahnya cepat-cepat Siau kian membungkam. Hoa In-liong tertawa, katanya pula.

"Dayangmu cerdik dan menyenangkan, bicara secara blakblakan semacam itu justru mencerminkan keakraban hubungan diantara kita, menganggap semua orang sebagai anggota keluarga sendiri adalah kejadian yang sangat baik, kenapa musti kau marahi?"

"Benarkah ucapanmu itu muncul dari hati yang jujur?"

Tiba-tiba Bwee Su-yok mendesis dingin. Anak muda itu segera berpikir.

"Waah, jangan-jangan ucapanku itu kembali sudah menimbulkan kegusaran hatinya?"

Dengan senyuman yang tidak berubah, ia menyahut.

"Memangnya kau anggap aku cuma berpura-pura?"

Bwe Su-yok segera mengawasi raut wajahnya dengan serius, ia temui pemuda itu tetap tenang dan sama sekali tak nampak kepura-puraannya, ini membuat dara tersebut menghela napas.

"Ai, sayang aku merupakan ahli waris suhu"

Demikian pikirnya.

"itu berarti sepanjang hidup aku tak bisa melumerkan sikap permusuhanku dengan keluarga Hoa, aa.... aku.... yaa sudahlah!"

Begitu sudah mengambil keputusan, diapun tertawa dan berkata.

"Kalau toh engkau sudah berkata demikian, jikalau dayang-dayang itu sampai kurangajar, jangan kau salahkan diriku yang kurang ketat mendidik mereka...."

Ternyata kali ini dara tersebut menyebut dirinya dengan sebutan aku dalam tingkat kedudukan yang sederajat dengan Hoa In-liong dan tidak memakai kata aku dalam tingkatannya sebagai seorang kaucu, tentang hal ini Hoa In-liong dapat mamahaminya.

Tadi kembali pemuda itu dibuat terkesima oleh senyum manis Bwe Su-yok yang memikat hati, kecuali menatap gadis itu dengan pandangan tertegun dia tak tahu apa yang musti dilakukan.

Apalagi dihari-hari biasa, Bwee Su-yok memang tersohor karena dingin dan ketusnya, maka senyuman tersebut ibaratnya gunung salju yang tiba-tiba meleleh, membuat udara jadi hangat dan bunga pun bersemi kembali, sungguh bertolak belakang jika dibandingkan dengan senyuman dinginnya yang mencekat hati.

Sebetulnya Bwee Su-yok memang seorang gadis yang cantik jelita, kecuali Coa Wi-wi, rasanya didunia ini sukar untuk menjumpai gadis secantik dia, ditambah lagi dihari-hari biasa gadis itu jarang tertawa dan selalu bersikap dingin dan ketus, maka senyuman cerah yang menghiasi wajah nya sekarang boleh dibilang suatu kejadian yang langka.

Tak heran kalau sepasang mata Hoa In-liong melotot dengan terbelalalak, seakan akan dia kuatir kalau rejeki itu akan segera lenyap sebelum dinikmatinya, ini membuat cawan arak yang sudah hampir menempel di bibirpun tiba-tiba terhenti ditengah jalan.

Bwe Su-yok sama sekali tak bergerak, seolah-olah memang memberi kesempatan bagi anak muda itu untuk mengamatinya sampai puas, kemudian ujarnya dengan lembut.

"Seandainya dalam kaadaan demikian kulancarkan sebuah serangan maut, aku rasa kau pasti akan mampus dan menjidi setan yang kebingungan!"

Hoa In-liong meneguk habis isi cawannya, lalu tertawa.

"Tahukah kau, bahwa dihari-hari biasa bagaimana pandanganku mengenai kematian? Itulah merupakan ciri khas dari tabiat aku Hoa Yang"

"Eeeh.... bicara baik-baik, kenapa menyinggung lagi soal-soal yang tak menyenangkan hati?"

Tegur Bwee Su-yok dengan alis berkenyit. Mendengar itu, Hoa In-liong lantas berpikir.

"Beberapa hari yang lalu engkau masih berniat mengambil nyawaku, tapi sekarang malah berkata demikian, sungguh bikin orang merasa tidak habis mengerti"

Maka sambil tersenyum, ia cuma membungkam dalam seribu bahasa. Menyaksikan anak muda itu hanya membungkam, Bwe Su-yok berpikir sebentar lalu ujarnya lagi.

"Aaai.... kalian bangsa laki laki sejati, kaum orang-orang gagah, yang diutamakan adalah jiwa yang tinggi dan semangat berkorban yang menyala-nyala, mati dalam pertempuran tentunya merupa kan harapanmu bukan?"

Hoa In-liong tersenyum.

"Tidak, gagahnya sih memang gagah kalau gugur dalam pertempuran, namun itu bukan apa yang kuharapkan"

"Kalau begitu, tentunya kau berharap bisa mati dengan tenang diatas pembaringan?"

Bwe Suyok kembali tertawa.

"Ah, tidak! Itu mah terlalu biasa dan umum!"

Kata anak muda itu sambil menggeleng.

"Ini bukan, itu juga bukan, aku jadi ogah untuk menebak lebih lanjut!"

Seru Bwe Su-yok sambil cemberut.

Hoa In-liong tertawa tergelak.

Padahal Bwe Su-yok sudah tahu kalau pemuda itu bermaksud bahwa mati ditangannya adalah kematian yang paling diharapkan, cuma ia pura-pura berlagak pilon, seakan-akan tidak mengerti soal itu.

Demikianlah perjamuan dilanjutkan diiringi gelak tertawa serta pembicaraan pembicaraan yang santai, dipandang dari luar ruangan yang laki-laki adalah pemuda yang tampan yang perempuan adalah gadis cantik, pada hakekatnya mereka lebih mirip sepasang kekasih daripada musuh besar yang siapa melangsungkan duel maut.

Kejadian seperti ini lebih-lebih mencengangkan ketiga orang dayang dari Bwe Su-yok, pikir mereka hampir berbareng.

"Dihari-hari bisa nona selalu bersikap dingin dan kaku terhadap siapapun juga, ia sebetulnya Hoa In-liong adalah seorang sahabatkah? Yaa, benar! Tampaknya dia adalah sahabat karib nona!"

Minum arak wangi didamping gadis secantik bidadari Hoa In-liong, yaa mabok yaa terpersona hampir saja ia melupakan Coa Wi-wi yang datang bersama dengannya tapi entah bersembunyi dimana "Oya, adik Wi?"

Demikian pikirnya kemudian.

"ia sembunyi dimana sekarang? Wah, kalau adegan semacam ini sampai terlihat olehnya, udah pasti dia akan tak senang hati!"

Tanpa terasa ia berpaling dan memandang keluar ruangan, tampak malam hari sudah menjelang tiba, kegelapan menyelimuti seluruh angkasa, hanya lentera keraton yang mentereng menyinari ruang tersebut, dalam suasana begini, mungkin sulit bagi mereka untuk menemukan tempat persembunyian Coa Wi-wi yang bersembunyi diluar justru dapat menyaksikan semua adegan tersebut dengan terang.

Melibat pemuda itu celingukan kesana kemari, Bwee Su-yok meletakkan kembali cawannya kemeja lalu tegurnya.

"Persoalan apa yang membuat engkau gelisah dan gugup tak karuan?"

"Oh, ada seorang cianpwe berjanji dengan aku untuk bersua tengah malam nanti, tempatnya di kota Kim leng, tapi sekarang masih terlalu pagi, lebih baik kita minum arak dulu!"

Kata Hoa Inliong berbohong.

"Oooh...."

Bwe Su-yok tidak mendesak lebih jauh.... aku dengar ibumu adalah seorang perempuan yang tercantik dalam dunia persilatan...."

Tiba-tiba ucapannya berhenti ditengah jalan.

Dengan wajah tertegun Hoa In-liong menengok kearahnya, ia melihat gadis itu sangat sedikit minum arak, sejak perjamuan diselenggarakan sampai kinipun dia baru minum dua-tiga cawan sekalipun tenaga dalamnya sempurna tapi mukanya toh bersemu merah juga, tapi hal ini justru menambah kecantikannya.

Diam-diam Hoa In-liong menggela napas panjang, pikirnya.

"Sekarang hubungan kami begini intim tapi sebentar lagi mungkin akan bentrok dan bertarung, ai! Apakah hal ini tidak...."

Karena kesal, sekali teguk dia menghabiskan isi cawannya. Buru-buru Siau kian penuh lagi isi cawannya itu, Hoa In-liong mengangkat cawan kemudian berkata.

"Ibu sering berkata, bagi seorang perempuan yang penting adalah budi yang luhur, soal kecantikan tak lebih cuma urusan sampingan tak boleh hal ini terlalu dipersoalkan!"

Bwee Su-yok tertawa ringan.

"Watak ibumu yang begitu tulus dalam cinta, begitu tulus dalam memegang kebenaran sendiri, sudah lama kukagumi!"

Padahal sekalipun tabiat Pek Hujin lembut dan halus pada saat ini, sebelum berkenalan dengan Hoa Thian-hong, dia juga terkenal karena bengis, binal dan sukar diatur, sejak mencintai Hoa Thian-hong lah yang watak itu pelan-pelan berangsur membaik.

Dalam hal ini Hoa In-liong kurang begitu mengetahui, tapi Bwee Su-yok mengetahuinya dengan jelas, meski demikian, dalam keadaan seperti ini tentu saja dia tak akan membantah perkataan dari Hoa In-liong itu.

Maka setelah berhenti sebentar, kembali ujarnya.

"Berbicara soal keluhuran budi, adik dari keluarga Coa yang mendampingi dirimu selama ini kan beratus kali lebih baik daripada aku, berbicara soal kecantikan pun dia menang daripada aku!"

Lantaran Siau bi dan Siau kian sudah ikut menimbrung, dan tinggal Siau ping seorang yang membungkam, ia merasa tak bisa tutup mulut terus, tiba-tiba selanya.

"Nona adalah gadis yang paling cantik didunia ini, dayang dari keluarga manakah yang bisa menandinginya?"

Pada dasarnya Hoa In-liong memang suka dengan beberapa orang dayang yang lincah dan pintar itu maka dilihatnya Bwe Su-yok bermaksud mengumbar bawa amarahnya, dengan cepa t ia menimbrung.

"Eeeh....bukankah kau sendiri yang bilang bahwa kita semua adalah orang sendiri? Jangan ditegur...."

"Aaai....!"

Bwe Su-yok menghela napas, sejak kecil aku sudah hidup menyendiri tiada kawan bercakp, tiada rekan berbicara, hanya beberapa orang dayang itulah yang selalu menemani aku, hingga akhirnya terdidiklah keadaan yang tak tahu aturan seperti sekarang inin aku harap janganlah kau tertawakan keadaanku ini"

Dari perkataan tersebut, bisa diambil kesimpulan bahwa detik itu dia hanya mengganggap Hoa In-liong sebagai sahabat karibnya, sebab kalau tidak, pun wataknya yang angkuh tak mungkin ia bersedia mengucapkan kata-kata seperti itu.

Melihat itu Hoa In lioag lantas berpikir.

"Dia menemani aku dengan perasaan hati yang tulus, sebaliknya aku masih berjaga-jaga tiga bagian, ai, kalau dipikirkan kembali, sikapku ini sungguh memalukan...."

Sebenarnya ia hendak menghibur dengan beberapa patah kata, tapi Bwee Su-yok sudah keburu berkata.

"Kau tak usah menghibur diriku, sebab sekalipun kau hibur belum tentu kuturuti, dan akupun belum tentu akan menerimanya dengan senang hati!"

Habis berkata ia menghela napas panjang, mukanya tampak amat sedih. Hoa In-liong tahu, dihibur pun tak ada gunanya maka setelah berpikir sebentar sambil angkat cawan dia berkata sambil tertawa.

"Bunga sakura yang tumbuh di lembah justru menyiarkan bau yang harum semerbak, siapa orang yang tak suka dan menyenanginya?"

Beberapa patah kata itu memasuk hingga kesanubari Bwee Su-yok, membuat gadis itu kegirangan, sambil tersenyum segera pujinya.

"Engkau memang pandia sekali berbicara!"

Hoa In-liong tertawa.

"Tidak kau maki lagi diriku ini sebagai orang yang pintar mencari muka, memuakkan dan menjemukan?"

Sementara pembicaraan masih berlangsung, tengah malam pun sudah lewat.

Hoa-In-lioig yang teringat kembali janjinya dengan Goan cing-taysu, tanpa merasa melongok ke luar ruangan, sebenarnya dia ingin mohon diri, tapi merasa juga bahwa keadaan seperti ini sukar di jumpai lagi dalam kesempatan lain, maka ia jadi sangsi.

Melihat itu, Bwee Su-yok tertunduk dengan wajah sedih.

"Aaaai....Sebentar kau akan pergi, bila kita bersua lagi dikemudian hari, suatu pertarungan sudah pasti tak akan dihindari lagi!"

Pada dasarnya Hoa In-liong adalah seorang pemuda yang romantis, dia ikut merasa sedih juga setelah mendengar perkataan itu, bibirnya bergetar seperti hendak mengucapkan sesuatu, namun tak separah katapun yang sanggup diutarakan keluar.

Bwe Su-yok berkata lebih jauh.

"Waktu itu kau tak usah berbelas kasihan kepadaku dan akupun tak akan melepaskan setiap ke sempatan yang ada untuk membinasakan dirimu, sampai waktunya aku harap kau jangan menyalahkan diriku yang tidak berbelas kasihan lagi"

"Nona!"

Siau peng segera menyesal, berbicara baik-baik kenapa kau singgung lagi soal bunuh membunuh yang tak sedap didengar?"

"Yaa...."

Pikir Hoa In-liong, kalau aku disuruh bersikap kejam kepadanya jelas hal ini tak mampu kulakukan"

Dia bangkit berdiri lalu menjura, katanya.

"Aku...."

Ia merasa tak ada perkataan lain yang bisa diutarakan, maka sesudah berhenti sebentar lanjutnya.

"Semoga dalam perjumpaan kita dikemudian hari akan sama seperti malam ini...."

"Kau jangan bermimpi disiang hari bolong!"

Tukas Bwe Su-yok dengan wajah berubah.

Ujung bajunya segera dikebaskan dan bangkit berdiri lalu tan pa berbicara sepatah katapun sambil membawa tongkat kepala setanya, ia putar badan dan menuju ke ruang belakang.

Dalam detik yang amat singkat itulah, Hoa In-liong sempat menyaksikan matanya yang jeli itu berkaca-kaca, dia tahu wataknya yang angkuh menyebabkan gadis itu enggan membiarkan orang lain mengetahuhi kepedihan hatinya, maka ia mengambil keputusan untuk berlalu dari situ.

Padahal, meskipun dia yakin kalau memahami perasaan gadis itu, namun perasaan seorang perempuan lebih dalam dari dasar samudra, toh ia tak berhasil juga untuk mengikuti perubahan hati dari Bwe Su-yok, apalagi sebentar bersikap bersahabat, sebentar lagi bersikap permusuhan, ini membuat pikirannya jadi pusing tujuh keliling.

"Nona!"

Tiba-tiba Siau bi berteriak, lalu mengejar dari belakangnya. Dengan mendongkol Siau peng juga meletakan poci araknya keras-keras keatas meja, lalu mendengus.

"Hmm....! Percuma kami layani dirimu selama hampir setengah harian lebih, akhirnya kau juga bikin nona kami jadi marah-marah"

Selesai menggerutu, dia ikut berlalu dari ruangan itu. Sementara Hoa In-liong tertawa getir, Siau kian yang ada dibelakangnya telah berkata.

"Hoa Kongcu, asal kau tetap tinggal di ruangan ini sampai bertemu lagi dengan nona kami, berarti pula tidak sampai perjumpaan dilain waktu, dengan demikian toh kalian juga tak usah saling bermusuhan lagi....?"

"Nona cilik ini lucu amat"

Pikir Hoa In-liong "meski polos dan lucu, tapi ia memang berniat baik!"

Maka sambii memutar badan ujarnya.

"Aku masih ada urusan penting yang musti diselesaikan dahulu, aku tak bisa sepanjang masa tetap bercokol terus disini!"

"Tapi kau toh bisa kembali lagi ke sini seusainya menyelesaikan urusan-urusanmu itu?"

Seru Siau kian sambil mencibirkan bibirnya.

Hoa In-liong tertawa geli, dibelainya rambut dayang itu dengan halus, kemudian dengan langkah lebar berlalu dari ruangan itu.

Siau kian tertegun, dia seperti mau memburu anak muda itu, tapi niat tersebut kemudian dibatalkan kembali dan diapun berjalan menuju ke ruang belakang menyusul rekan-rekan lainnya.

Sementara itu Hoa In-liong telah berjalan ke luar dari ruang tengah, sepanjang jalan meski dia bertemu kawan jago dari Kiu-im-kauw anehnya ternyata mereka tidak menghalangi jalan perginya ini menyebabkan hatinya tercengang.

"Aaaah....! Masa kau bisa lolos dengan selamat dari perkampungan ini tanpa hadangan?"

Demikian pikirnya.

Dengan kewaspadaan yang tinggi, ia ambil kipasnya dan berjalan keluar halaman dengan langkah lebar, demikian santainya pemuda itu berlalu lalang seolah-olah sedang berjalan dirumah sendiri saja.

Ketika hampir tiba dipintu gerbang, tampaklah Huan Tong kurus jangkung dan Le Kiu it yang botak dengan memimpin belasan jago Kiu-im-kauw sedang berjalan-jalan di sebelah samping pintu, tanpa terasa ia lantas mengguman.

"Hmm.... kalau dilihat dari sikap mereka, tampaknya pertarungan tak bisa kuhindari lagi pada malam ini...."

Sekalipun ia tak takut menghadapi pertarungan tersebut tapi cukup membuat hatinya risau terutama sampaii sekarang Coa Wi-wi belum kelihatan juga batang hidungnya, ini membuat anak muda itu makin tercengang.

Dalam waktu singkat dia sudah tiba kurang lebih tiga kaki dihadapan Le Kiu it sekalian.

Terdengar Le Kiu it berkata.

"Hoa Yang, seandainya kaucu kami tidak menurunkan perintah untuk melepaskan dirimu pergi karena kuatir ditertawakan orang karena menganiaya musuh dirumah sendiri. Heeehhh.... heeehh.... heeehhh....malam ini juga pun tiamcu pasti akan bikin kamu bisa datang tak bisa pergi dengan selamat!"

Hoa In-liong tidak lantas emosi, dia berpikir.

"Meskipun Bwee Su-yok beralasan, tapi sudah pasti ia berniat untuk melindungi aku dari ancaman anak buahnya. Padahal orang Kiu-im-kauw terkenal kritis pikirannya dan cerdik, masa mereka tak bisa menduga sampai ke situ? Kendatipun aku tidak mengharapkan hal ini, tapi maksud baiknya itu perlu kusimpan dihati!"

Entah haruskah merasa terkejut atau gembira untuk sesaat dia malah berdiri tertegun. Terdengar Huan Tong berseru kembali dengan nada mengejek.

"Bocah keparat, setelah dikasi peluang untuk hidup, kenapa tidak cepat-cepat enyah dari hadapan kami?"

Meskipun Hoa In-liong tahu bahwa mereka berniat jahat, tapi lantaran ada perintah dari Bwe Suyok maka diusahakan untuk memanasi dulu hatinya agar kalau sampai terjadi pertarungan nanti tanggung jawabnya bisa dilimpahkan kepundak pemuda itu.

Hoa In-liong bukan orang bodoh, sudah barang tentu ia memahami pula isi hati musuhnya, maka dengan rasa mangkel bercampur marah ejeknya dengan sinis.

"Kalau mau berkelai hayo cepat turun tangan buat apa musti banyak cincong?"

Kipasnya dimasukan ke dalam saku, kemudian dengan langkah lebar maju kemuka.

Le Kiu it juga mendongkol ketika melihat sikap angkuh dan sinis darilawannya sambil mendengus dingin telapak tangan kanannya segera diayun ke muka siapa melancarkan serangan, tapi niat itu segera ditahan kembali.

"Bajingan cilik dari keluarga Hoa!"

Demikian teriaknya, boleh saja kalau ingin berkelahi, tapi kaulah yang musti memikul tanggung jawabnya....!"

"Aaaah.... cerewet betul kamu ini!"

Bentak Hoa In-liong.

Telapak tangannya tanpa sungkansungkan langsung dihantamkan ke arah dada Huan Tong Sebagai pemuda yang cerdik, dari lirikan mata Huan Tong yang lciik segera diketahui bahwa musuhnya berniat melancarkan sergapan, maka dia memutuskan untuk turun tangan lebih dahulu.

Huan Tong dibikin kaget bercampur marah oleh sikap anak muda itu, sambil menyeringai teriaknya.

"Bajingan keparat, bagus sekali perbuatanmu!"

Menggunakan jurus Tui san tiam hay (mendorong bukit menguruk samudra) disambutnya serangan itu dengan keras lawan keras.

Jelas dia bermaksud mengadalkan tenaga dalamnya yang mencapai enam puluh tahun hasil latihan itu untuk menghajar musuhnya sampai babak belur, sebab menurut perkiraannya, Hoa In-liong pasti akan sanggup menerima serangan sehebat itu.

Maka ketika dilihatnya Hoi In liong sama sekali tidak menghindar ataupun berkelit, malahan disongsongnya telapak tangannya dengan keras lawan keras, tak terkiraan rasa senang dalam hatinya.

Siapa tahu dikala sepasang telapak tangan saling beradu, ia segera merasakan tenaga pukulan musuh menekan lalu menghimpit, setelah itu segera kearah lain secara mengherannkan hampir saja tubuhnya ikut terhisap ke samping.

Untunglah tenaga dalamnya cukup sempurna hawa murninya segera ditekan kebawah untuk memperkokoh pertahanannya, dengan susah payah berhasil juga dia untuk melepaskan diri dari pengaruh hisapan itu.

"Bajingan kau cukup hebat!"

Teriak tak terasa.

"Aaah.... kamu ini sok heran!"

Menggunakan kesempatan itu sebuah pukulan dengan jurus Kua siu-ci tau (perlawanan akhir dari bintang buas yang terjebak) dilancarkan kedepan serangan itu tajam bagaikan bacokan kampak yang membelah bukit, ibaratnya pula gulungan ombak yang menghantam batu karang ditepi pantai, memaksa Huan Tong mau tak mau musti mundur beberapa langkah untuk mempertahankan diri.

Dalam keadaan begini, kecuali dia hanya bisa mematahkan serangan demi serangan yang tertuju ke arahnya, boleh dibilang sejurus serangan balasan pun tak mampu dilancarkan, Le Kiu it yang turut menyaksikan jalannya pertarungan dari sisi kalangan segera berpikir.

"Sepintas lalu tampaknya usia bocah itu baru tujuh delapan belas tahunan, tapi tenaga dalamnya sudah sesempurna ini, kalau tidak kugunakan kesempatan pada malam ini untuk menyingkirnya, dilain waktu sudah pasti dia akan merusak bibit bencana yang besar untuk kita semua!"

Terbayang kembali sikap mesra Bwee Su-yok berhadap Hoa In-liong, hawa napsu membunuhnya semakin berkobar, dia merasa berkewajiban untuk membunuh anak muda itu hingga memutuskan niat Bwee Su-yok yang lebih jauh, hingga dengan demikian Kiu-im-kauw jangan sampai hancur ditangan anak muda tersebut.

Baru saja dia siap sedia untuk turun tangan, tiba-tiba Hoa In-liong sudah berteriak.

"Le tiamcu, jika kau punya kegembiraan untuk ikut serta, apa salahnya kalau segera menerjunkan diri ke dalam arena?"

Sekalipun Le Kiu it itu licik dan banyak tipu muslihatnya, tapi setelah rahasia hatinya disinggung anak muda itu, tak urung sangsi juga jago tua itu dibuatnya.

Sungguh hebat pertarungan yang sedang berlangsung ditengah gelanggang, angin pukulan menderu-deru, membuat kawanan jogo Kiu-im-kauw yang berada disekeliling tempat itu samasama membubarkan diri.

Huan Tong sendiri didesak pula hingga mundur delapan sembilan langkah, sekarang ia sudah terdesak keluar dari pintu gerbang.

Pantangan paling besar bagi jago-jago yang sedang bertarung adalah pikiran yang bercabang, begitu Hoa In-liong buka suara, Huan Tong segera menunggangi kesempatan itu sebaik-baiknya.

Ilmu langkah Loan ngo heng mi tiong tua hoat yang dimilikinya memang tersohor karena hebatnya, beruntun ia maju tiga langkah, tahu tahu tubuhnya sudah lolos dari jangkauan angin pukulan Hoa In-liong, kemudian setelah mendengus, dia balas menerkam ke muka dan secara beruntun melancarkan delapan buah pukulan berantai.

Sekolah batu karang Hoa In-liong tegap ditempat semula, tangan kirinya menyerang, tangan kanan nya menangkis, tanpa mundur barang satu langkah pun dia melepaskan sebuah pukulan dengan jurus Pian tong put ki (berubah tidak menetap).

Jurus itu tangguhnya bukan kepalang, dalam kagetnya cepat Huan Tong menghindar dengan menggunakan ilmu langkah Loan ngo heng mi tiong tun hoat, nyaris tubuhnya termakan serangan.

Hoa In-liong sama sekali tidak mengejar lebih jauh, sambil terbahak-bahak katanya.

"Aaah....rupanya tongcu bagian propaganda dari Kiu-im-kauw cuma begitu begitu saja, maaf, Hoa loji tak bisa menemani lebih jauh!"

Sekali berkelebat tahu-tahu ia sudah berada ratusan kaki dari tempat kedudukan semula.

Sejak pertarungan berlangsung, dua orang itu selalu menggeserkan badan hingga akhirnya mereka berdua sama-sama berada diluar parkampungan maka tindakan Hoa ln-liong yang mengundurkan diri setelah berhasil meraih kedudukan diatas angin ini sama sekali diluar dugaan siapapun, bahkan Lei Ku it sendiripun tak sempat untuk menghalangi kepergiannya.

Kegusaran Huan Tong sungguh sukar dikedalikan, sambil mengejar dari belakang teriaknya setengah meraung.

"Bajingan cilik dari keluarga Hoa kalau punya nyali hayo jangan lari!"

"Huan tongcu!"

Tiba-tiba serentetan suara teguran yang merdu bagaikan suara keleningan berkumandang memecahkan kesunyian.

Huan Tong terkesiap dan cepat menahan tubuhnya, ketika berpaling maka dilihatnya Bwee Suyok dengan wajah marah dan memegang tongkat berkepala setengahnya berdiri tegap di depan pintu gerbang.

Dari sikap yang begitu angker, Huan Tong segera merasa bahwa keadaan kurang begitu menguntungkan, cepat dia memberi hormat seraya menyabut.

"Hamba disini!"

Diatas raut wajahnya yang cantik bak bidadari tiba-tiba dilapisan sikap yang lebih dingin dari es, kata perempuan she-Bwe itu.

"Huan tongcu, meskipun kaucu sudah melimpahkan kekuasaannya kepadaku, aku mengerti bahwa usiaku masih muda dan pengetahuanku masih cetak, ditambah lagi tenaga dalamku lemah, jauh bila di bandingkan dengan kalian semua...."

Tiba-tika ia sengaja berhenti berbicara, dengan sorot mata setajam sambil ditatapnya wajah Huan Tong tanpa berkedip, Peluh dingin mengucur keluar membasahi sekujur tubuhnya cepat-cepat Huan Tong membungkukkan badannya memberi hormat.

"Hamba tahu dosa, harap kaucu melimpahkan hukuman yang setimpal kepadaku!"

Le Ku it yang melihat keadaan tersebut segera berpikir juga.

"Kalau aku menasehatinya secara terus terang, bukan amarahnya yang bisa kupadamkan malah justru ibaratnya minyak bertemu api, kemarahannya pasti makin menjadi ah, mengapa tidak begini saja...."

Sebuah akal yang terasa tetap melintas dalam benaknya, cepat ia memberi hormat kepada Bwee Su-yok seraya berkata.

"Kaucu baru saja menempati kursi pemimpin dengan hamba dan Huan Tongcu telah berani melanggar perintah, yaa, kalau tidak dijatuhi hukuman yang setimpal memang kewibawaan tak dapat di tegakkan."

Begitu ucapan tersebut diutarakan paras muka Bwe Su-yok malahan berubah lebih lembut katanya lagi.

"Aku tahu bahwa Le Tiamcu dan Hoan tongcu berbuat demikian demi kepentingan perkumpulan kami...."

Ditatapnya sekejap wajah kedua orang tajam-tajam, ketika melihat mereka berdua tertunduk ketakutan, ia merenung sebentar kemudian berkata lagi.

"Tapi kalian tak usah kuatir, aku bukan seorang manusia yang melupakan budi, kalian tak usah membayangkan yang tidak-tidak atas diriku!"

"Perkataan kaucu terlalu berlebihan!"

Cepat-cepat Le Kiu it dan Huan Tong berseru ketakutan.

"Baiklah, dosa atas pelanggaran perintah ini sementara waktu kukesampingkan lebih dahulu, kalian boleh menebusnya dengan membuat pahala dikemudian hari"

Selesai berkata, sambil mengebaskan ujung bajunya dia masuk kembali kedalam perkampungan.

Le Kiu-it dan Huan Tong cuma bisa saling berpandangan sambil tersenyum getir akhirnya mereka ke dalam perkampungan.

Dalam pada itu, Hoa In-liong telah bergeran menuju ke selatan sepeninggalnya dari perkampungan itu, sementara ia masih berlari dengan cepatnya, tiba-tiba terdengar suara teguran dari Coa Wi-wi berkumandang dari sisi telinganya.

"Jiko!"

Baru saja Hoa In-liong terhenti, hembusan angin harum sudah lewat disisinya dan tahu-tahu Coa Wi-wi sudah muncul disana.

"Waktu sudah tidak pagi"

Bisik gadis itu cepat, kemungkinan besar janji kita dengan kongkong bakal terlambat, mari sambil berjalan kita sambil berbicara!"

"Benar juga perkataan adik Wi!"

Dengan kecepatan seperti terbang mereka lanjutkan kembali perjalanannya menuju ke selatan.

Meskipun ia belum lama berada di kota Kim-leng, tapi pemuda itu mengetahui dimanakah letak Yu hoa tay.

Dengan ketat Coa Wi-wi mengikutinya dari samping, sambil berlarian disisinya, ia berkata lagi.

"Jiko, oleh karena kulihat kau lagi bergurau dengan gembiranya bersama Bwee Su-yok, maka tidak kukisiki dirimu dengan ilmu menyampaikan suara dimanakah aku berada?"

Dari suara tersebut, Hoa In-liong tidak menangkap kedengkian atau rasa cemburu dibalik nada pembicaraannya, gadis itu berbicara dengan tulus dan lembut, tanpa terasa anak muda itu berpikir.

"Begitu tulus dan halus hati adik Wi, bagaimanapun jua, sekalipun harus mati seratus kali, aku tak boleh juga melukai hatinya...."

Berpikir sampai disitu, dia lantas bertanya.

"Kau bersembunyi dimana?"

"Dalam semak belukar kurang lebih lima kaki jauhnya diluar ruangan!"

Jawab Coa Wi-wi. Kemudian setelah tertawa, ujarnya lagi.

"Meskipun Bwe Su-yok mengatakan kecantikan wajahnya kalah dari aku. Hmm.... padahal dalam hati kecilnya tentunya menganggap dia sendirilah gadis paling cantik di dunia ini!"

Ketika didengar dibalik perkataan itu terkandung juga nada membandingkan Hoa In-liong segera tertawa.

"Kenapa kau musti perdulikan dia?"

Coa Wi-wi membungkam sejenak, lalu katanya lagi.

"Jiko, bila kalian berjumpa lagi dikemudian hari, apakah kau benar-benar juga akan memandang nya sebagai musuh besarmu?"

Hoa In-liong justru sedang serius karena persoalan itu, maka ia pura-pura tertawa setelah mendengar perkatan itu.

"Aku sendiri juga tak tahu bagaimana baiknya!"

"Aku rasa, dalam hal ini kau musti cepat-cepat ambil keputusan mumpung belum kasip!"

Hoa In-liong rasa segan membicarakan persoalan itu lebih lanjut, cepat dia alihkan pembicaraan tersebut ke soal lain, katanya.

"Aku mempunyai rencanaku sendiri, tak usah kau cemaskan. Coba lihat! Didepan sana adalah bukit Ki po san, hayo cepat kita mendaki keatas bukit tersebut!"

Betapa sempurnanya ilmu meringankah tubuh yang dimiliki dua orang itu, sekalipun belum digunakan sebatas maksimal, toh kecepatannya sudah ibarat hembusan angin.

Malam sudah semakin gelap, pintu kota sudah terlanjur tutup, hanya disepanjang sungai Chinhway saja yang tampak masih sibuk dengan para pelancong, perahu dan sampan hilir mudik di sungai, suara nyanyian, bau arak menambah semarak nya suasana yang hening.

Malam itu bulan purnama, baru saja tiba di Yu hoa thay.

tampaklah Goan cing taysu duduk bersila diatas puncak.

Menyaksikan betapa agung dan wibawanya padri itu, tanpa terasa Hoa In-liong jatuhkan diri berlutut diatas tanah.

"Kedatangan boanpwe terlambat setindak, harap kongkong sudi memaafkan...."

Katanya. Coa Wi-wi juga memburu ke depan sambil berkata.

"Kongkong!"

Gadis itu langsung menubruk kedalam pelukannya.

Tenaga dalam yang dimiliki Goan cing taysu sudah mencapai tingkatan yang amat sempurna, tentu saja diapun tahu akan kehadiran dua orang tersebut, sambil membuka matanya ia berkata dengan lembut.

"Liong-ji, tak usah banyak adat!"

Tiba-tiba ia tampak seperti tertegun, kembali serunya dengan suara dalam.

"Hei Liong-ji, kau sudah makan apa? Mengapa wajahmu begitu cerah dan segar, jauh berbeda seperti keadaan pagi tadi?"

Diam-diam Hoa In-liong memuji akan ketajaman mata padri itu, maka dia pun lantas menurunkan semua pengalaman yang telah dialaminya siang tadi.

Sehabis mendengar penuturan tersebut, Goan cing taysu segera memegang nadinya, pejam mata dan melakukan pemeriksaan dengan seksama.

Coa Wi-wi menunggu beberapa saat, tapi ketika dilihatnya Goan-cing taysu belum juga bersuara ia lantas mendorong bahu kongkongnya seraya berseru dengan manja.

"Kongkong, bagaimana keadaannya?"

Setajam sembilu sorot mata Goan ceng taysu setelah menghela napas, sahutnya.

"Keadaan itu sedikit banyak rada mirip dengan tingkat paling atas dari ilmu Bu khek teng heng sim hoat, sebab aliran lurus bila bersatu dengan aliran yarg terbaik, munculah suatu penggabungan tenaga murni yang maha dahsyat!"

"Horee.... kalau memang bisa begitukan bagus sekali!"

Sorak Coa Wi-wi kegirangan.

Tapi Goan cing taysu kembali gelengkan kepalanya "Namun, lolap yakin bahwa gejala yang dialami Liong-ji bukan gejala dari tingkat paling atas ilmu Bu khek teng heng sim hoat aaai....!"

Bencanakah atau rejekikah, lolap tidak berani memastikan agaknya aku harus menjumpai ayahmu lebih dulu untuk membincangkan keadaan ini lebih jauh"

Sungguh kecewa Coa Wi-wi setelah mendengar perkataan itu. Hoa In-liong juga tercengang, ia berseru.

"Kongkong, jadi kau telah menjumpai ayahku?"

Goan cing taysu manggut-manggut, setelah termenung sebentar, tiba-tiba ujarnya kepada CoaWi-wi.

"Anak Wi, berjaga-jagalah disini sambil melindungi kami, aku hendak memeriksa lagi keadaan tubuh Liong ji!"

Coa Wi-wi tahu, Goan cing taysu hendak memeriksa kesehatan Hoa In-liong dengan hawa murni nya, itulah suatu perbuatan yang sangat berbahaya, sekali bertindak kurang hati-hati niscaya dua orang itu akan mengalami keadaan jalan api menuju neraka.

Cepat cepat dia mengiakan, lalu menyingkir dua kaki ke samping dan berjaga-jaga disana.

Goan cing taysu berpaling pula kearah Hoa In-liong, kemudian berkata.

"Anak Liong, duduklah bersila menghadap kesana, lalu kerahkan hawa murnimu untuk mengelilingi badan!"

Hoa In-liong menyahut lalu duduk bersila dengan membelakangi padri tua itu.

Coa Wi-wi sendiri, meskipun diberi tugas untuk mengawasi keadaan disekeliling tempat itu namun serirgkali ia menyempatkan diri untuk menengok kemari.

Dia lihat Goan cing taysu duduk dibelakang pemuda itu sambil menempelkan telapak tangannya diatas jalan darah Pek hwe hiat dan Mia bun hiat dua buah jalan darah penting ditubuh manusia.

Selang sesaat kemudian, tiba-tiba mimik wajah Hoa In-liong berubah penuh kerutan, seperti lagi menahan rasa sakit yang luar biasa, peluh bercucuran bagaikan hujan deras.

Hampir saja jantung Coa Wi-wi meloncat keluar dari rongga tubuhnya, dia tahu bagi orang yang normal maka dikala menyalurkan hawa murninya, mimik wajah orang itu akan kelihatan tenang dan mantap, itu berarti gejala yang ditunjukkan pemuda itu berarti pula sebagai tanda tanda jalan api menuju neraka.

Mendadak Goan cing taysu berbisik.

"Anak Liong, jangan kau lawan dengan tenaga murnimu!"

Lewat beberapa saat kemudian, tiba-tiba Goan cing taysu menarik kembali telapak tangannya, peluh yang membasahi tubuh Hoa In-liong juga ikut mereda, lalu sepertanak nasi lagi dia menghembuskan napas panjang sambil membuka mata.

"Bagaimana rasamu sekarang, anak Liong?"

Tegur Goan cing taysu dengan suara dalam"

Sebetulnya Hoa In-liong hendak bangkit berdiri, tapi setelah mendengar pertanyaan itu, ia tetap duduk bersila di tanah.

"Anak Liong tak mampu mengendalikan diri"

Sahutnya tenang.

"Hei, maukah kau jangan menakut-nakuti orang?"

Pinta Coa Wi-wi dengan wajah memelas,"

Tapi tak sampai jalan api menuju neraka bukan...."

Hoa In-liong berpaling kearahnya sambil mengangkat bahu, dia cuma tertawa getir, tidak menjawab.

Goan cing taysu juga merenung sebentar, tiba-tiba ia mengeluaskan sebuah botol porselen dari sakunya, kemudian botol itu diangsurkan ke hadapan anak muda itu.

Setelah Hoa In-liong menerima botol tadi, Goan cing taysu baru berkata lebih jauh.

"Telan sebutir, kemudian duduk bersemedi sambil mengatur pernapasan....!"

Hoa In-liong tidak langsung menuruti perintah orang, matanya sempat menangkap tiga huruf kecil diatas botol yang tingginya empat inci itu, tulisan itu berbunyi.

"SIAU YAU TI"

Tentu saja dia tahu kalau isi botol adalah pil Yau ti wan yang tak ternilai harganya itu.

"Kongkong, masa obat ini bisa memunahkan racun ular sakti yang mengeram dalam tubuhku?"

Tegurnya.

"Obat itu dibuat dengan campuran Kim jian liong tan kau (rumput ulat emas empedu naga) sejenis obat-obatan yang merupakan penawar dari pelbagai macam racun jahat. Aku pikir racun ular sakti pasti dapat ditawarkan pula!"

Hoa In-liong kembali berpikir.

"Yau ti wan merupakan benda mustika dari keluarga Coa, Cong gi heng saja tak mendapat bagian, masa aku yang tidak termasuk anggota keluarga Coa malah mendapat bagian? Apalagi bukan cuma aku yang terkena racun ular sakti.... Karena berpikir demikian, diapun berkata.

"Ketika Liong-ji terkena racun ular sakti, aku pernah sesumbar dengan mengatakan bahwa racun itu akau kupunahkan dengan kekuatan sendiri tanpa bantuan obat-obatan, apalagi dengan mengandalkan racun sin bui si sim {ular sakti menggigit hati) tersebut banyak sudah jago lihay daratan kita yang dikendalikan pihak Mo-kauw, aku merasa berkewajiban untuk mencarikan suatu cara yang tepat untuk menawarkan pengaruh racun itu"

"Jiko, mengapa kau musti terbuat bodoh?"

Teriak Coa Wi-wi dengan gelisahnya.

"obat mustika sudah didepan mata, masa kau hendak menampiknya dengan begitu saja? Apalagi sekalipun banyak orang, terkena racun itu, obatnya kan cuma dua butir doang?"

"Aku tahu obatnya cuma dua, tapi asal dilumerkan dengan air, sekalipun kemujarabannya akan jauh berkurang, toh racun tersebut dapat kita tawarkan!"

"Kalau begitu, simpanlah sebutir untuk dirimu sendiri"

Pinta Coa Wi-wi lagi. Dengan cepat Hoa In-liong menggeleng.

"Tak usah, aku kuatir sebutir tak cukup!"

"Tapi kau sendiri juga terkena racun jahat"

Teriak gadis itu makin gelisah.

"bila orang-orang itu masih mempunyai sedikit liang sim, mereka pasti akan riku untuk menerimanya, sebab bila mereka terima pemberian tersebut, menunjukkan pula kalau mereka tak punya liang sim, hmm! Manusia semacam ini, lebih baik kan mampus sekalian"

Dalam cemasnya, gadis itu berbicara asal buka suara, dia lupa kalau perkataannya terlalu kasar dan tak pantas.

"Anak Wi, kau tak usah banyak bicara lagi"

Tiba-tiba Goan cing taysu menukas. Setelah termenung sebentar, dia berkata lebih jauh.

"Bukan lantaran obat itu adalah obat dewa maka kita beri nama Yau ti wan (pil nirwana) adalah karena obat itu dibuat oleh cousu dalam sebuah gua kuno dilembah bukit Siau yau ti, maka pil itu dinamakan pula Yau ti wan, dikala obat itu selesai dibuat, cousu pernah berkata begini...."

Dengan sorot mata yang tajam diamatinya sekejap kedua orang muda mudi itu.

Meskipun Hoa In-liong berdua rada heran karena secara tiba-tiba padri itu menceritakan soal yang sama sekali tak ada sangkut pautnya, tapi mereka tahu bahwa dibalik perkataan itu tentu mengandung maksud-maksud tertentu, maka dengan tenang mereka mendengarkan perkataan kakek itu lebih jauh.

Goan cing taysu menghela napas panjang, lanjutnya setelah berhenti sebentar.

"Dia orang tua berkata demikian, obat mustika dibuat untuk menolong masyarakat, dia berharap pada suatu ketika Yau ti wan bisa dipakai untuk menyelamatkan beratus-ratus orang. Aaai.... sungguh memalukan kalau dibicarakan kembali, dalam tiga ratus tahun terakhir ini, diantara delapan butir Yau ti wan yang telah terpakai, ada lima butir diantaranya dipakai demi kepentingan keluarga persilatan Kim-leng pribadi, sedang tiga butir lainnya dibsrikau kepada orang lain yang sedikit banyak masih ada hubungannya juga dengan keluarga persilatan Kim leng"

Mendengar sampai disitu, baik Hoa In-liong maupun Coa Wi-wi dapat menebak maksud hati kongkongnya, bukankah dengan ucapannya itu berarti pula bahwa Goan cing taysu telah menyetujui dengan jalan pikiran Hoa In-liong....?

Apa yang selalu menjadi beban pikiran Coa Wi-wi selama ini adalah keselamatan Hoa In-liong, ia sangat tak setuju dengan keputusan kongkongnya, tapi lantaran Goan cing taysu berbuat demiki an demi kepentingan orang banyak, maka dia tak berani terlalu banyak mendebat.

Hoa In-liong segera bangkit sambil menyerahkan kembali botol itu ke tangan Goan cing taysu tapi dengan cepat paderi itu gelengkan kepalanya berulang kali.

"Lebih baik kau saja yang menyimpan botol itu, siapa tahu kalau dikemudian hari sangat dibutuhkan untuk menolong jiwa orang? Yaa, watak lolap memang dasarnya malas, aku merasa agak segan untuk banyak bergerak lagi...."

Hoa In-liong tidak banyak berbicara lagi, dia masukkan botol itu kedalam saku, tiba-tiba tangannya menyentuh kemala hijau batas buku yang ditemukan di rumah Tabib sosial, hatinya segera bergerak, sambil diangsurkan kehadapan sang paderi itu, ujarnya.

"Kongkong, diatas batas buku ini tercantum aneka ragam jurus ilmu pukulan yang kalut, apakah kongkong dapat memberi penjelasan?"

Coa Wi-wi ikut berseru tertahan, dia mengambil keluar juga botol porselen yang berasal dari saku Tan Beng-tat, sambil diberikan kepada paderi tua itu katanya.

"Kongkong, silahkan kau periksa juga isi botol ini!"

Goan-cing taysu sekalian menerima botol itu, mula-mula dia periksa dulu batas buku yang diatasnya terukir Kiu ci kiong cong-keng keng-cay "(catatan kitab silat yang terdapat dalam istana Kiu-ci-kiong) sekalipun huruf-hurufnya sangat lembut sebesar kepala lalat, namun dengaa dasar tenaga dalam yang dimilikinya, semua tulisan itu dapat dibaca dengan amat jelas.

Selesai membaca tulisan itu, dengan wajah agak berubah, berkatalah paderi tua itu.

"Yaa, Kiu-ci Sinkun memang tak malu disebut manusia paling berbakat dalam dunia persilatan, tak nyana dengan kecerdasan otaknya ia berhasil menciptakan serangkaian ilmu silat yang maha dahsyat semacam ini....sungguh hebat....sungguh hebat. Batas buku kemala hijau itu diangsurkan kembali ketangan Hoa In-liong, kemudian ujarnya lebih jauh.

"Sekalipun catatan ilmu silat itu semrawut dan kacau balau tak karuan, aku percaya dengan kecerdasanmu tak sulit untuk menyusun kembali semua kepandaian itu. Memang, ilmu silat yang ada disitu jauh berbeda dengan aliran ilmu silat keluargamu, tapi percayalah, sumber dari segala ilmu silai adalah satu, sampai dimanapun luasnya kepandaian silat yang ada didunia ini dasarnya selalu sama, tak sulit bagimu untuk mendalami serta memecahkannya"

Hoa In-liong mengiakan berulang kali lalu masukkan benda tersebut kedalam sakunya.

Dalam pada itu, Goan cing taysu telah mencabut penutup botolnya serta membau isi botol tersebut, mendadak paras mukanya berubah hebat, cepat-cepat botol itu ditutup kembali.

"Sungguh lihay, sungguh lihay!"

Gumamnya.

"Kongkong, adakah sesuatu yang tak beres?"

Tanya Coa Wi-wi kemudian dengan gelisah. Goan cing taysu menarik napas panjang-panjang, paras mukanya pulih kembali seperti sedia kala sambil menggeleng katanya.

"Masih untung aku tak apa apa, aai....! Entah cairan apa yang tersimpan dalam botol itu, hanya membau sebentar saja kepalaku langsung pusing tujuh keliling. Darimana kalian dapatkan benda itu?"

"Waaah....masa kongkong sendiri juga hampir tak tahan?"

Teriak Coa Wi-wi terperanjat.

"untung aku tidak lancang tangan membuka tutup botol itu lebih dulu, coba kalau tidak....bisa jatuh pingsan seketika itu juga"

"Benda itu milik empek Yu!"

Hoa In-liong menerangkan.

"Aaah....! Masa Yu Siang tek si bocah itu juga menjimpan benda sejahat ini?"

Seru Goan cing taysu keheranan.

"coba kau terangkan lebih jelas lagi!"

"Biar aku yang bercerita"

Sela Coa Wi-wi cepat cepat.

Maka diapun lantas mengisahkan kembali pengalamannya ketika menemukan benda itu serta sekalian mengisahkan juga pertarungan yang berkobar pada malam itu, akhirnya dia menambahkan.

"Jika dugaan anak Wi tidak salah, isi botol itu pastilah obat campuran dari Su bok thian go (kehilangan langit empat mata) serta Sam ciok pek cu (laba-laba hijau berkaki tiga) bukankah begitu?"

Dengan tenaga Goan cing taysu mendengarkan kisah itu hingga selesai, lalu sambil menyerahkan botol tadi ketangan Hoa In-liong, ia berkata pula.

"Lolap kurang begitu mengerti tentang ilmu obat-obatan, ibumu sebagai ahli waris dari Kiu tok sian ci tentu jauh lebih mengerti daripada aku, lebih baik bawalah botol ini dan serahkan kepada ibumu, biar dia yang membuatkan analisa untukmu. Yang disebutkan sebagai "

Ibumu"

Bukan Pek Kun-gie, ibu kandung Hoa In-liong, melainkan ibu pertamanya yakni Chin Wan hong.

"Aaaai.... entah sampai kapan aku baru pulang...."

Pikir Hoa In-liong diam-diam. Berpikir sampai disitu, dia terima juga botol itu sembari berkata.

"Boanpwe tidak jadi pergi kebukit Mao san untuk berlatih tenaga dalam lagi"

Goan cing taysu menghela napas panjang.

"Aaai....sebetulnya lolap hendak menggunakan manfaat dari racun ular itu untuk melatih tenaga dalammu hingga mencapai tingkatan yang paling tinggi dalam waktu tiga sampai lima tahun...."

Hoa In-liong segera berpikir.

"Semula kukira yang dimaksudkan cianpwe ini sebagai waktu singkat adalah tiga sampai lima bulan, tak tahunya begitu lama, siapa yang sabar menunggu sekian lama? Tapi kalau dipikir kembali dengan jangka waktu enam puluh tahun yang biasanya dibutuhkan orang untuk mencapai tingkatan paling tinggi, tiga lima tahun memang terhitung cukup singkat"

Tiba-tiba ia merasa Goan cing taysu tutup mulut ditengah jalan, ketika ia menengok ke depan, tampak paderi itu sedang berkerut kening, rupanya ada sesuatu persoalan yang sedang ia pikirkan.

Coa Wi-wi sangat tercengang serunya tertahan.

"Kongkong...."

Cepat Hoa In-liong menarik tangan gadis itu sambil berbisik.

"Jangan ribut dulu, tentu kongkong sedang memikirkan suatu persoalan yang penting, dan persoalan itu butuh penyelesaian secepatnya"

Coa Wi-wi mencibirkan bibirnya dan tidak berbicara lagi.

Setelah hening sejenak, tiba-tiba Goan cing taysu membuka sepasang matanya, setajam cahaya bintang di tengah kegelapan matanya itu, dari sini dapat diketahui bahwa tenaga dalam yang dimilikinya telah mencapai puncak kesempurnaan yang luar biasa, ini membuat sepasang muda mudi itu amat terperanjat.

"Liong-ji"

Terdengar Goan-cing taysu berkata lagi dengan serius.

"lolap mempunyai suatu akal bagus yang kemungkinan besar sangat bemnanfaat bagi usahamu memusnahkan pengaruh racun ular sakti, selain itu mungkin juga akan menambah kesempurnaan tenaga dalammu, cuma saja cara ini sangat berbahaya serta membawa resiko yang besar salah-salah akan mengakibatkan kematian yang mengerikan, entah bagaimana pendapatmu?"

Dari keseriusan dan sikap berat yang ditunjukkan Goan cing taysu, Hoa In-liong tahu bahwa persoalan itu luar biasa sekali, tapi bukankah Goan cing taysu sendiripun tidak begitu yakin dengan caranya?

Sebagai pemuda yang gagah perkasa, Hoa In-liong bukan type manusia yang serakah akan sesuatu yaag kecil dengan mengorbankan ma salah besar, sebetulnya tawaran tersebut hendak ditolak.

Tapi secara tiba-tiba hatinya agak bergerak, segera pikirnya.

"Aah, tidak benar! Cianpwe ini bukan manusia sembarangan, kalau toh tujuannya adalah untuk menyempurnakan kepandaian seorang boanpwe tak mungkin dia akan mencarikan suatu cara yang semena-mena atau dengan perkataan dibalik rencananya itu tentu mengandung suatu keyakinan besar cuma saja ia tidak mengutarakan sebab kuatir akan mengacau pikiran orang belaka"

Dalam waktu singkat, pelbagai pikiran sudah berkecamuk dalam benaknya, tiba-tiba dia angkat kepala dan menyahut dengan serius.

"Boanpwe sudah mengambil keputusan...."

"Anak Liong, harapan untuk mencapai kesuksesan teramat kecil, aku harap pikirkan kembali persoalan ini semasak-masaknya"

Tukas Goan cing taysu lagi. Tiba-tiba Coa Wi-wi menjatuhkan diri kedalam pelukan Hoa In-liong, lalu bisiknya pula dengan lembut.

"Jiko, kalau toh kongkong sudah berkata demikian, lebih baik urungkan niatmu untuk menempuh mara bahaya sebesar ini"

"Adik Wi"

Hoa In-liong membelai rambutnya yang halus dengan penuh kasih sayang.

"masa kau tidak percaya dengan keputusan ini?"

Coa Wi-wi mengangguk.

"Nah, kalau percaya itu lebih baik"

Kata Hoa In-liong sambil tersenyum, kemudian kepada Goan cing taysu tambahnya.

"Kongkong, tolong bantulah anak Liong untuk menyempurnakan diriku"

Dalam hati Goan cing taysu menghela napas, pikirnya.

"Bocah ini memang betul-betul cerdas, ternyata isi hatiku berhasil ia tebak beberapa bagian"

Maka sambil manggut manggut katanya.

"Sekalipun tindakan ini sangat bahaya, tapi lolap yakin delapan puluh persen pekerjaan akan berhasil, kau tak usah kuatir sebab pikiran dan perasaan yang tawar justru merupakan saat yang paling baik untuk melakukan tindakan ini"

Hoa In-liong tertawa.

"Kongkong tak perlu cemas, anak Liong percaya masih sanggup menghadapi segala keadaan dengan perasaan yang tenang"

Goan cing taysu manggut-manggut, ia periksa sekejap keadaan disekitar sana, lalu berkata.

"Tempat ini terbuka sama sekali tidak terlindung dari pandangan orang, tidak cocok untuk melakukan rencana kita, mari kita cari sebuah gua saja"

Sebetulnya Coa Wi-wi hendak menghalangi niatnya itu, tapi ia berpikir lebih jauh.

"Yaa, bagaimanapun juga bila ia ketimpa musibah, aku juga tak pingin hidup, daripada percuma menasehati dirinya, akan lebih baik aku membungkam dalam seribu bahasa saja"

Karena berpendapat demikian, perasaannya jadi lebih lega dan santai, tanpa disadari bibit cinta yang tertanam dihati kecilnya ikut pula bertambah tebal. Mendengar perkataan itu, dia lantas berkata.

"Dulu Wi-ji sering kemari mencari batu-batu indah, aku sudah hapal dengan keadaan disekitar sini. Tak jauh dari tempat ini terdapat sebuah gua batu yang dalamnya lima enam kaki, tempatnya kering dan bersih, bisa kita pakai sebagai tempat berteduh?"

Goan cing taysu manggut-manggut.

"Sekalipun radaan kecil sedikit, tapi tak apalah, hayo kita kesitu!"

Seraya berkata ia lantas bangkit berdiri.

"Biar anak Wi membawa jalan!"

Seru gadis itu sambil turun dari puncak itu lebih dulu.

Gua yang dimaksudkan letaknya dilereng bukit bersebelahan dengan sebuah tebing yang curam, di muka gua merupakan sebuah tanah datar yang luasnya sepuluh kaki persegi, hutan bambu amat subur, meski gua itu tidak terlalu dalam, tapi cakup lebar dan datar.

Keadaan semacam ini semestinya amat cocok sekali dengan selera ketiga orang itu.

Setelah masuk ke dalam gua, Goan cing taysu memerintahkan Coa Wi-wi berjaga-jaga didepan gua, lalu menitahkan Hoa In-liong duduk bersila, sementara dia sendiri duduk dibelakang Hoa Inliong.

Coa Wi-wi berdiri diluar gua, sekalipun demikian, sepasang matanya yang jeli menatap kedua orang itu tak berkedip.

Gua itu cukup gelap, namun tidak sampai menghalangi daya penglihatannya.

Waktu itu Goan cing taysu bersila sambil menyalurkan hawa murninya, tiba-tiba secepat sambaran kilat dia lancarkan totokan untuk menotok jalan darah Kek gi, kan gi serta Pit gi sementara telapak tangannya ditempelkan diatas jalan darah Thian cu hiat.

Beberapa jalan darah itu termasuk urat-urat penting yang menghubungkan syaraf kaki, pusat dan pantat semuanya termasuk jalan darah yang teramat penting ditubuh manusia.

Coa Wi-wi bukannya tak tabu kalau Goan cing taysu sedang berusaha membantu Hoa In-liong untuk memunahkan pengaruh racun jahat, tapi terbayang kembali pen deritaan yang telah ia saksikan ketika masih ada di Yu-hoa-tay, bergidik juga hatinya sampai-sampai badan ikut gemetar keras.

"Hu-yan Kiong manusia bedebah!"

Umpatnya dalam hati, kau memang manusia terkutuk yang patut diberi hajaran.

Tunggu saja tanggal mainnya suatu ketika nonamu pasti akan suruh kau merasakan betapa menderitanya bila disiksa mati tak bisa hiduppun susah"

Sementara dia masih melamun Goan cing taysu sudah menarik kembali telapak tangannya sambil mundur setengah langkah, gadis itu tahu kongkongnya kembali akan mengeluarkan ilmu simpanan Baru saja dia akan menengok lebih lanjut tiba-tiba dari luar gua berkumandang suara ujung baju tersampok angin, kalau didengar dari suara tersebut jelas ada seorang jago lihay yang sedang menuju ke arah gua dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya.

Cepat-cepat dia berpaling, diantara cahaya rembulan tampak sesosok bayangan manusia sedang berkelebat mendekat dengan kecepatan luar biasa, da am waktu singkat jarak orang itu tinggal lima kaki saja dari depan gua.

"Berhenti!"

Bentaknya dengan suara lantang.

Tapi begitu suara bentakan meluncur keluar dari mulutnya, gadis itu merasa menyesal sekali ia menyesal karena terlalu memburu napas, belum melihat jelas arah tujuan bayangan abu-abu itu, dia sudah membentak lebih dahulu, padahal orang itu cuma numpang lewat belaka.

Dengan perbuatan, nya ini bukankah sama artinya dengan ia memberitahukan letak persembunyiannya kepada orang lain Betul juga, begitu mendengar suara bentakan itu, serentak orang tadi berhenti lalu berkelebat menuju kedepan gua, dengan sepasang matanya yang tajam bagaikan sembilu dia awasi balik gua yang gelap tajam-tajam.

Setelah bayangan abu-abu itu berhenti di depan gua, Coa Wi-wi baru dapat kenali orang itu sebagai seorang To koh berusia setengah baya yang memakai jubah kependetaan warna abuabu, membawa sebuah hud tim dan berparas muka bersih.

Gadis itu tahu, gua sekecil ini tak akan mengelabuhi jagoan selihay orang itu, apalagi setelah ia bersuara.

Dalam keadaan demikian, buru-buru ia melirik sekejap ke arah Hoa In-liong, tampak Goan cing taysu masih duduk bersila ditanah, telapak tangan kanannya menempel di atas jalan darah Leng tay hiat diatas punggungnya.

Gadis itu tidak membuang wakta lagi, sekali loncat ia sudah menerobos keluar dari dalam gua.

Sejak mendengar suara bentakan yang nyaring dan merdu, To koh berbaju abu-abu itu sudah tahu kalau orang itu adalah seorang nona, tapi rupanya dia tak menduga kalau kecantikan wajahnya begitu merawan.

Dibawah cahaya rembulan, tampak Coa Wi-wi ibaratnya dewi Siang go yang baru turun dari kahyangan.

Ia berseru tertahan, lalu setelah berpikir sebentar, bisiknya didalam hati.

"Aaah.... jangan-jangan dia?!"

Maka sambil menuding dengan senjata Hud timnya, dia bertanya.

"Apakab engkau she Coa?"

Sebetulnya Coa Wi-wi hendak minta maaf lalu berusaha menggiring To koh itu agar meninggalkan tempat tersebut, tapi sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu, tiba-tiba To koh berbaju abu-abu itu sudah menyebut namanya lebih dahulu, ini membuat nona tersebut jadi kaget.

"Sian-koh, dari mana kau bisa tahu?"

Serunya keheranan. Mengetahui bahwasanya apa yang diduga tak salah, To koh berbaju abu-abu itu kembali berpikir.

"Aaah....! Budak ini memang benar-benar memiliki kecantikan wajah yang luar biasa, setelah ternoda Giok-ji memang tak punya harapan lagi, apalagi dengan kehadiran dirinya, sudah terang hal itu tak mungkin terjadi....!"

Berpikir demikian, dia lantas tertawa seraya berkata.

"Hoa Yang si bocah kunyuk itu kenapa tidak ikut datang?"

Dari nada suara Coa Wi-wi sudah tahu kalau orang bermaksud jelek, timbul rasa was-was dalam hati kecilnya.

"Dia tak ada disini!"

Jawabnya cepat-cepat.

Padahal sejak kecil gadis itu tak pernah berbohong, maka setelah ucapan tersebut diutarakan keluar, warna semu merah karena jengah dengan cepat menjalar diatas pipinya yang putih.

Tokoh berbaju abu-abu itu bukan orang bodoh, dalam sekilas pandangan saja dia sudah mengerti apa gerangan yang sedang terjadi.

Dengan suara dingin kembali ia menegur.

"Apakah Hoa In-liong sedang berlatih ilmu?"

Coa Wi-wi merasa terkesiap.

"Sungguh lihay To koh itu!"

Demikian batinya. Lama sekali setelah berdiri tertegun, nona itu menegur lagi.

"Siapa kau?"

To koh berbaju abu-abu itu menengadah dan tertawa terbahak-bahak dia tidak menjawab mendadak dengan senjata Hud timnya dia sapu batok kepala gadis itu.

Berbareng dengan sapuan tadi beratus-ratus bulu kudanya yang lembut membuyar hebat dan serentak mengancam jalan darah penting diseluruh tubuh Coa Wi-wi.

Kiranya To koh berbaju abu-abu itu merasa bahwa wajah Coa Wi-wi makin dilihat tampak semakin cantik ini membuat napsu membunuh yang berkorban dalam dadanya sukar dikendalikan lagi malah makin ditekan napsunya makin berkorban akhirnya dia tak tahan dan seranganpun dilancarkan.

Coa Wi-wi tidak menyangka kalau dirinya bakal diserang, kejut dan marah gadis tersebut menghadapi keadaan tersebut.

"Hei, apa-apaan kau?"

Tegurnya dengan marah Langkahnya mundur dengan sempoyongan ibarat angin yang berhembus lewat, begitu mundur tubuhnya maju kembali kemuka sambil melancarkan sebuah pukulan, dia kuatir Tokoh berjubah abu-abu itu mendapatkan peluang yang ada untuk menerobos masuk ke dalam gua.

Meski agak terkejut dalam hatinya, To koh berjubah abu-abu itu tak sampai memperlihatkan perasaannya itu diluaran, dia tertawa dingin, tiba-tiba senjata Hud-timnya diputar dan....

"Sreeet!"

Tahu-tahu bulu kuda yang lembut itu sudah menggulung pergelangan tangan lawan, menyusul kemudian ujung baju sebelah kirinya dikebaskan kedepan, dengan membawa hawa pukulan yang cukup kuat menyergap dada Coa Wi-wi.

"Hebat juga To koh ini!"

Pikir Gadis Coa dalam hatinya.

"baik waktu menyerang maupun dikala berganti jurus, semuanya dilakukan dengan kecepatan yang luar biasa, tak malu kalau disebut seorang tokoh nomor satu dalam dunia persilatan, mungkinkah dia adalah anggota Hian-bengkauw?"

Dihati dia berpikir, telapak tangan kirinya sama sekali tidak menganggur, dengan suatu pukulan yang kuat ia dobrak ancaman musuh, sementara jari tangan kanannya diperkencang hingga seperti tombak untuk menyodok jalan darah Ciang tay hiat di tubuh sang To koh.

Mendongkol To koh berbaju abu-abu itu karena dirinya diserang secara bertubi-tubi tanpa diberi kesempatan untuk bertukar napas.

"Budak sialan!"

Sumpahnya dihati.

"kau tak usah sok, hati-hati dengan pembalasanku!"

Tentu saja dia tak tahu kalau Hoa In-liong ketika itu sedang bersemedi dan mencapai keadaan yang paling berbahaya, lantaran kuatir mengganggu konsentrasi kekasihnya, maka ia bertindak nekad.

Dengan suatu lompatan cepat To koh berbaju abu-abu itu mundur dua kaki ke belakang.

0000000O0000000 LEGA HATI Coa Wi-wi setelah musuhnya mundur, seperti bayangan dia menyusul kemuka dan secara beruntun melancarkan tujuh buah serangan berantai.

"Budak ingusan, kau berani kurangajar kepadaku?"

Teriak To koh berbaju abu-abu itu naik darah.

Badannya mengegos kesamping menghindarkan diri dari serangan itu, kemudian senjata Hud tim-nya direntangkan untuk menghalau gerak maju lawan, sementara gagang hud tim dipakai untuk menyodok jalan darah Ciang bun hiat.

Mereka bertempur dengan gerakan yang sama-sama cepatnya, dalam waktu singkat dua puluh gebrakan sudah lewat.

To koh berjubah abu-abu itu memang tangguh, semua jurus serangan yang dipakai merupakan jurus-jurus aneh yang sakti, diapun berusaha menghindari bentrokan-bentrokan secara kekerasan.

Setiap ada kesempatan, yang diancam adalah jalan darah jalan darah kematian yang ditubuh lawan dimana cukup tertonjok satu kali sajar kalau tidak mampus sang korban hikal terluka parah.

Coa Wi-wi kuatir pertarungan yang berlangsung akan mengganggu komentrasi Hoa In Hong, maka selama pertarungan berlangsung, ia selalu membungkam dalam seribu bahasa.

Karenanya kecuali angin pukulan yang menderu-deru, hampir boleh dibilang tak ada suara lain.

Tapi dengan demikian, maka makin bertarung mereka semakin jauh meninggalkan mulut gua, waktu itu jaraknya sudah mencapai sepuluh kaki lebih....

Lama-kelamaan Coa Wi-wi mulai hilang sabarnya, dia berpikir lagi, Tenaga dalam yang dimiliki To koh ini luar biasa hebatnya kalau pertarungan harus dilangsungkan terus dengan cara begini, entah sampai kapan habisnya, apalagi sudah terlalu jauh ketinggalan gua, tindakan ini kurang menguntungkan"

Berpikir demikian, sepasang telapak tangannya segera melancarkan serangan bersama, tangan kiri menyerang dengan jurus Jit gwat siang-tui (matahari dan rembulan saling mendorong), sementara tangan kapannya menyerang dengan jurus Tuo yau siu jit (Kotak Angin Berhembushembus), Terkesiap To koh berbaju abu-abu menghadapi ancaman sedahsyat itu, pikirnya dengan jantung berdebar.

"Hebat benar perempuan ini, belum pernah ku jumpai ilmu pukulan seaneh ini dalam dunia persilatan!"

Sepintas lalu, dua buah serangan itu tampaknya memang sederhana dan tiada sesuatu yang aneh, padahal cukup dengan berputar sambil menekan kedepan, maka dibalik hembusan angin pukulan yang amat tajam, terselip gerakan pat kay dan Tay khek yang sukar dipecahkan.

Karena tak berani menyambutnya dengan kekerasan, ia melejit kesamping lalu menyusup beberapa kaki disamping Coa Wi-wi.

Tercengang juga gadis Wi-wi karena serangan nya meleset, dia berpikir pula.

"Cepat dan jitu sekali gerakan tubuh To koh itu, aku rasa dua tingkat lebih hebat dari ilmu Gi heng huan wi (bergesar tubuh berganti tempat) malah tidak berada dibawah kepandaian Loan ngo heng sian tun hoat dari Kiu-im-kauw"

Sementara itu To koh berbaju abu-abu tadi sudah berseru kembali dengan suara dingin.

"Ilmu pukulan bagus! Tenaga dalam sempurna! Cuma sayang pinto ingin minta petunjukmu lebih jauh"

Jilid 31 BERBICARA sampai disitu, tangan kirinya menyilang ke samping, cahaya hijau lantas bergemerlapan, tahu-tahu ditangan kanannya telah bertambah dengan sebilah senjata kaitan berwarna hijau kemala.

Selama malang melintang diseluruh kolong langit, belum pernah To koh itu didesak orang hingga mundur berulang kali, tak heran kalau hawa napsu membunuhnya saat ini sudah membara dan ia telah bersiap-siap untuk beradu jiwa.

Coa Wi-wi belum pernah melihat senjata kaitan kemala milik Wan Hong giok, tapi dia tahu kalau Wan Hong giok mempunyai julukan sebagai Giok kau Nio cu (perempuan cantik kaitan kemala).

Tanpa terasa dia berpikir lagi.

"Sangat jarang jago dalam persilatan yang menggunakan senjata kaitan kemala, jangan-jangan dia mempunyai hubungan yang erat dengan enci Wan....?"

Berpikir sampai disitu, dia lantas bertanya dengan merdu.

"Apakah cianpwe mempunyai hubungan dengan enci Wan Hong giok...."

"Tak usah banyak bicara!"

Tukas To koh berbaju abu-abu.

Tiba tiba ia menyerang dengan jurus Thian kong im in (Cahaya Langit Bayangan Awan).

Cahaya hijau yang menyilaukan mata segera menyebar keseluruh langit, senjata kaitan kemalanya dengan membawa deruan angin serangan yang tajam sepera mengurung sekujur tubuh lawan.

Berbareng itu juga, senjata hud tim ditangan kirinya tidak mengganggu, dengan tajam ia serang pinggang musuh.

Serangan yang dilancarkan satu dengan senjata kaitan yang lain dengan senjata hud tim ini memang benar-benar amat hebat, tenaga yang bersifat keras serta tenaga im bersifat lunak digunakan hampir bersamaan waktunya, dan akibatnya sungguh jauh diluar dugaan.

Coa Wi-wi semakin naik darah, pikirnya.

"Kutanya engkau secara baik-baik, bukannya dijawab malahan sama sekali tak kau gubris, sudah pasti aku tak ada hubungannya dengan enci Wan!"

Sepasang alis matanya kontan berkenyit, dia bermaksud untuk memaksa Tokoh berbaju abu-abu itu mengundurkan diri dari sana, atau bilamana keadaan memaksa, terpaksa dia akan dibunuh.

Mendadak Tokoh berbaju abu-abu itu menarik kembali serangannya sambil mundur, cahaya hijau yang semula menyelimuti seluruh angkasapun seketika ikut leyap tak berbekas.

Sementara Coa Wi-wi masih tertegun cahaya hijau kembali berkilauan memancar diudara tibatiba tokoh berbaju abu-abu itu menyambitkan senjata kaitan kemalanya kedepan, diiringi cahaya kilat senjata itu meluncur ke arah mulut gua.

"Toan bok See ling, berhenti kamu!"

Hardiknya Tanpa mengindahkan musuh tangguh masih berada didepan mata, Coa Wi-wi segera berpaling, tampak seorang kakek bermuka merah berjenggot putih secara diam-diam sedang mendekati mulut gua.

Ketika senjata kaitan kemala itu menyergap punggung kakek itu, dengan perasaan apa boleh buat terpaksa kakek bermuka merah tadi berkelit ke samping.

"Traaaaang....!"

Senjata kaitan kemala itu menumbuk diatas dinding batu disisi mulut gua hingga menimbulkan percikan bunga api, lalu dengan menerbitkan suara keras jatuh ketanah.

Kejut dan marah Coa Wi-wi menyaksikan kejadian tersebut, sekalipun tenaga dalam yang dimilikinya cukup lihay, tapi pertama karena pengalamannya masih cetek dan lagi tak menyangka kalau ada orang bakal menyusup datang, kedua dia berdiri dengan membelakangi mulut gua, ditambah pula kakek itu memiliki tenaga dalam yang demikian sempurnanya hingga dapat mengelabuhi ketajaman mata dan pendengarannya.

Maka dalam keadaan gugup, ia tak sempat untuk memikirkan kenapa secara tiba tiba To koh berbaju abu-abu membantu pihaknya.

Dengan kecepatan yang luar biasa tubuhnya menerjang ke muka, lalu dengan menghimpun tenaga sebesar dua belas bagian, sebuah pukulan dahsyat dilepaskan.

Waktu itu, kakek bermuka merah sedang berusaha mempercepat gerakannya untuk masuk ke gua, betapa terperanjatnya ketika secara tiba-tiba muncul segulung tenaga tak berwujud yang menekan dadanya dengan amat dahsyat, ia tercekat.

"Budak ingusan, ternyata tenaga dalamnya benar-benar amat sempurna!"

Demikian pikirnya dihati.

Tergopoh-gopoh dia berkelit ke samping lalu murdur delapan depa kebelakang.

Sebagai jago kawakan, kakek itu memang menang pengalaman, begitu mundur, tangannya bekerja cepat.

Cahaya hijau yang gemerlapan kembali memancar diudara, tahu-tahu dia sudah meloloskan sepasang senjata pit penotok jalan darah yang terbuat dari sumpit bambu dan panjangnya dua depa, sambil putar badan dia lindungi sekujur tubuhnya dari ancaman serangan.

Tapi tindakannya itu cuma suatu perbuatan yang berlebihan, karena tak usah dilindungi pun tak bakal ada orang yang manfaatkan kesempatan tersebut untuk melukainya.

Bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu Coa Wi-wi menghadang didepan gua.

"Toan bok See liang!"

Ejek Tokoh bertnju abu-abu itu sambil tertawa dingin.

"dengan cara begitulah nama besarmu selama ini kau dapatkan?"

Sekalipun licik dan banyak pengalaman, toh panas juga pipi Toan bok See liang setelah mendengar sindiran itu, untung mukanya memang merah tadi kejengahan tersebut tak sampai terlalu kentara, tapi dia toh tersenyum juga.

"Pada hakekatnya memang tak punya nama besar, kenapa musti takut kehilangan nama?"

Dia menjawab. Lalu setelah berhenti sebentar, tegurnya kembali dengan suara dalam.

"Kau ingin bermusuhan dengan perkumpulan kami?"

Sambil mengebaskan senjata Hud timnya, pelan-pelan To koh berjubah abu-abu itu maju mendekat, sahutnya dengan hambar.

"Hmmm....! Kau tak usah menggunakan nama Hian-bengkauw untuk menakut-nakuti orang, sekalipun aku berani mencari gara-gara dengan Thamcu macam kau, lantas apa yang hendak kau lakukan?"

Toan bok See liang tertawa seram.

"Heeehh.... heeehh.... heeehhh....begitupun boleh saja, cuma aku kuatir ilmu silatmu masih tertinggal jauh"

"Cianpwe, senjata kaitan kemalamu!"

Tiba tiba Coa Wi-wi berteriak keras.

Seraya berseru gadis itu menyambar senjata kaitan kemala yang tergeletak ditanah itu lalu di sambit kearah To koh tersebut.

Coa Wi-wi yang cerdik, dengan cepat ia sudah menduga bahwa To koh berjubah abu-abu itu delapan sampai sembilan puluh persen adalah gurunya Wan Hong giok, sekalipun dia tak tahu kenapa To koh itu melancarkan serangan keji kearahnya, tapi dia tetap menganggapnya sebagai sahabat, maka senjata kaitan itu dikembalikan kepadanya.

Setelah itu dengan tergesa gesa dia melirik sekejap ke balik gua yang gelap, tampak baik Hoa Inliong maupun Goan cing taysu sama sama masih bersemedi dengan wajah yang tenang, itu berarti keributan yang berlangsung diluar gua tak sampai mengalutkan konsentrasi mereka.

Setelah perasaannya jadi lega, diapun lantas menuding Toan bok See liang serta membentaknya nyaring.

"Kamu bandot tua, mau apa bertindak sembunyi-sembunyi datang kemari? Hayo mengaku!"

Selama puluhan tahun hidup mengembara dalam dunia persilatan, belum pernah Toan bok See liang digertak orang sekeras itu, kontan saja ia naik darah.

"Budak sialan, perempuan busuk!"

Makinya dihati.

"berani benar engkau memaki diriku. Hmmm! Tunggu saja pembalasanku...."

Sementara dia masih melamun, tiba-tiba dari arah samping kedengaran ada suara orang menyingkirkan rumput kering, dia lantas berpaling dan tampaklah dua orang laki laki berbaju ungu sedang muncul dari balik hutan bambu dan menghampirinya.

Satu ingatan berkelebat dalam benaknya, Toan bok See liang merasa mendapat akal bagus, cepat digapenya dua orang laki-laki itu.

Dua orang laki-laki berbaju ungu itu sebetulnya datang bersama Toan bok See liang, tapi ketika kakek bermuka merah itu hendak menyusup kedalam gua secara diam-diam, maka untuk menghindari ren cana tersebut mengalami kegagalan total, diperintahnya dua orang itu menunggu didalam jembatan bambu.

Tapi kini, lantaran jejak Toan bok See liang sudah ketahuan, serta-merta mereka ikut munculkan diri pula.

Ketika melihat Toan bok See liang memberi tanda, salah seorang diantara dua laki-laki itu segera mengambil keluar sebuah bom udara dari sakunya kemudian bom udara tadi dibanting ke atas batu.

Dengan senjata kaitan yang terhunus, To koh berbaju abu abu itu mencaci maki.

"Tua bangka Toan bok, kau memang manusia yang tak tahu malu, karena tak bisa menangkan orang, lantas kau minta bantuan?"

Mau dicegah sudah tak sempat lagi dan....

"Ceeeeessss....!"

Segumpal cahaya merah memancar ke angkasa, disusul kemudian...."Blang!"

Suatu ledakan dahsyat menggelegar di angkasa.

Cahaya bintang berwarna keemas-emasan seketika menyebar ke empat penjuru dan membentuk huruf Hian beng, pelan-pelan huruf tadi melayang makin menjauh sebelum akhirnya lenyap tak berbekas.

Dalam waktu singkat, dari ujung langit sebelah depan situ bermuncul cahaya emas yang jumlahnya mencapai enam sampai tujuh buah.

Menyaksikan kesemuanya itu To koh berjubah abu-abu itu merasa terperanjat, segera pikirnya.

"Aaaah....! Tak kunyana kalau kawan jago dari Hian-beng-kauw telah berkumpul semua dikota Kim-leng, mungkinkah ada sesuatu masalah besar yang hendak mereka lakukan?"

Tiba-tiba Coa Wi-wi berseru.

"Cianpwe, benarkah dia adalah Thiamcu dari markas besar perkumpulan Hian-beng-kauw?"

To koh berbaju abu-abu itu berpaling, ketika menyaksikan sepasang biji matanya yang jeli sedang memandang ke arahnya dengan wajah penuh kepanikan, dia lantas berpikir.

"Aaai.... dengan wajah secantik ini dan tenaga dalam sesempurna itu! sekalipun anak Giok belum ketimpa musibah, dia belum tentu bisa menandinginya....yaa, dalam segala-galanya dia memang jauh lebih hebat daripada anak Giok!"

Sekalipun To koh tersebut mempunyai watak yang tangguh, keras dan tabah, toh rasa putus asa sempat pula menerabas dalam hatinya.

Sementara itu Toan bok See liang telah berseru kembali sambil tertawa seram.

"Budak ingusan, aku akan menyuruh engkau rasakan betapa lihaynya ilmu silat Toan bok loya mu!"

Coa Wi-wi mengernyitkan sepasang alis matanya, lalu berpikir.

"Entah berapa lama waktu yang dibutuhkan kongkong untuk menyembuhkan luka racun yang diderita jiko? Padahal aku sendiri juga tak tahu apa gerangan maksud tujuan To koh tersebut, lebih baik aku turun tangan saja lebih dulu, dari pada menanti sampai gembong gembong Hian-beng-kauw telah berkumpul semua, waktu itu menyesal-pun tak ada gunanya"

Karena berpendapat demikian, rasa belas kasihannya segera ditarik kembali, sambil melompat ke muka bentaknya nyaring.

"Sambutlah seranganku ini!"

Sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan kedepan.

"Bagus sekali seranganmu itu!"

Seru Toan bok See liang dengan dahi berkerut.

Sepasang lengannya bergerak cepat, dengan Tiam hiat pit (pena penotok jalan darah) yang berada ditangan kanan dia totok pergelangan tangan lawan Tiam hiat pil yang ada ditangan kiri dengan membentuk tujuh delapan buah bayangan, secara beruntun mengancam jalan darah penting diiga sebelah kiri musuh.

Bukan saja serangannya ganas dan dahsyat, cukup dirasakan dari desingan angin tajam yang di hasilkan dari serangan tersebut, sudah dapat diketahui bahwa tenaga dalam yang dimilikinya betul-betul amat sempurna.

Dalam waktu singkat, dua orang itu sudah terlibat dalam suatu pertarungan yang amat seru.

"Toan bok See liang!"

Tiba-tiba To koh berbaju abu-abu itu mengejek lagi dengan suara sinis.

"mukamu memang cukup tebal, sebagai seorang cianpwe masa untuk bertarung melawan seorang nona cilik yang bertangan telanjang saja musti menggunakan sepasang sen jata Tiam hiat pit? Dimana kau taruh mukamu?"

To koh itu memang bertujuan untuk menghanyutkan konsentrasi Toan-bok See liang, buktinya ucapan tersebut semuanya dilancarkan dengan tenaga dalam yang sempurna, hingga semua kata-kata itu dapat terdengar olehnya dengan amat jelas.

Toan bok See liang bukan orang bodoh, tentu saja dia mengetahui tujuan musuhnya, kendati begitu toh saking gemasnya ia sampai menggertak gigi menahan emosi.

"Rabib busuk!"

Sumpahnya dihati "silahkan kau berkaok-kaok terus mengucapkan kata-kata yang tak genah, suatu hari....

Pada mulanya dengan mengandalkan kehebatan Tiam hiat pit nya, ia masih bisa menyerang dan bertahan dengan sempurna, tapi setelah hawa amarah mulai membakar perasaannya, permainan silatnya sedikit banyak ikut terpengaruh.

Padahal pantangan yang paling penting bagi jago persilatan yang sedang bertarung adalah konsentrasi yang sempurna, salah sedikit saja dalam setiap tindakannya akan berakibat besar bagi pertahanannya, apalagi menghadapi Coa Wi-wi yang mempunyai tenaga dalam jauh lebih sempurna daripada dirinya.

Coa Wi-wi segera tertawa dingin, badannya berputar ke samping, telapak tangannya segera berputar setengah lingkaran busur serangan itu seperti juga melambung seperti juga suatu tipuan belaka, tapi tahu-tahu sudah berada tiga depa disamping Toan bok See liang dan langsung membacok pinggang lawan.

Berdiri semua bulu kuduk di tubuh Toan bok See liang, peluh dingin hampir membasahi seluruh tubuhnya, masih untung dia adalah seorang jago kawakan yang berpengalaman dalam berutusratus kali pertarungan, sekalipun terancam mara bahaya ia tak sampai gugup.

Pada detik terakhir sebelum jiwanya terancam, ia berhasil meloloskan diri dari ancaman.

Sekalipun demikian, bahu kirinya toh sempat termakan sebuah pukulan....

"Daak....!"

Dengan sempoyongan ia mundur tujuh langkah, cahaya hitam berkilauan dan tahutahu Tiam hiat pit yang berada ditangan kirinya sudah mencelat sejauh tiga kaki dari tempat semula, mungkin tulang bahunya terhantam sampai remuk.

Kagum juga Coa Wi-wi atas kelihayan tenaga dalam lawan setelah musuhnya berbasil meloloskan diri dari serangan Ji yung bu wi (dua kegunaan tanpa tempat), jurus kelima dari ilmu Su siu hua heng-ciang.

Dia tak tega untuk melancarkan serangan lebih jauh, maka sambil menarik kembali serangannya, gadis itu berkata.

"Lebih baik cepat cepatlah pulang...."

"Budak cilik dari keluarga Coa!"

Tiba-tiba To koh berbaju abu-abu itu menyela daii samping.

"untuk melenyapkan kejahatan, harus dibasmi seakar-akarnya, apa lagi yang musti disungkankan?"

Mendengar teriakan itu, Coa Wi-wi berpaling.

"Cianpwe, selama manusia masih ada kemauan untuk bertobat, kita tak boleh membunuhnya secara keji!"

Sahut gadis itu cepat.

"Baik, kalau engkau hendak berbelas kasihan biar aku yang melakukan untukmu!"

Berbareng dengan selesainya perkataan itu, senjata hud timnya di sapu kemuka, menyusul kemudian badannya ikut maju dua kaki dan dia langsung menyergap dada Toan bok See liang.

"Perempuan hina!"

Teriak Toan bok See liang saking gusarnya sampai tertawa seram.

"kau manusia yang tak tahu malu, beraninya hanya menyerang orang yang sedang terluka!"

Sekalipun luka hanya terjadi pada sebuah lengan belaka namun karena tulang bahunya yang remuk, ini menyebabkan rasa sakit yang bukan kepalang dikala ia menghimpun tenaga dalamnya.

Dalam keadaan demikian, satu-satunya tindakan yarg bisa dilakukan hanyalah mengandalkan sebatang senjata Tiam hiat pit-nya untuk menyelamatkan diri.

Sambil melontarkan serangkaian serangan yang amat dahsyat, To koh berbaju abu-abu itu kembali mengejek.

"Perbuatan pinto sekarang tak lebih cuma belajar mengikuti cara yang biasa kalian pakai, tentu saja kalau dibandingkan dengan perkumpulan kalian, aku masih ketinggalan jauh sekali"

Sementara itu Coa Wi-wi sudah mundur kemulut gua, disitu dia ikut berpikir.

"To koh ini amat membenci akan segala kejahatan, sayang aku tak tahu siapa julukan kependetaannya? Benarkah dia adalah gurunya enci Wan....?"

Dalam waktu singkat Toan bok See liang sudah terjerumus dalam keadaan yang sangat berbahaya, setiap saat kemungkinan besar jiwanya bakal terancam.

Dua orang laki laki berbaju ungu yang ada di tepi gelanggang segera saling berpandangan sekejap, tiba-tiba mereka loloskan pedang lalu menerkam ke belakang punggung To koh berbaju abu-abu itu.

Berkenyit sepasang alis mata Coa Wi-wi melihat perbuatan itu, ia siap sedia turun tangan.

Tapi sesuatu tindakan dilakukan, To koh berbaju abu-abu yang berada ditengah arena pertarungan telah membentak keras.

"Bangsat, kalian pingin mampus!"

Tangan kirinya segera diayun ke muka, dua rentetan cahaya hitam secepat kilat menyambar ke depan....

Dua jeritan ngeri yang menyayatkan hati menggelegar memecahkan kesunyian, dua orang lakilaki berbaju ungu itu membuang pedang mereka lalu roboh terkapar ditanah, sesaat kemudian jiwa mereka telah melayang meninggalkan raganya.

Coa Wi-wi mengamati kedua korban itu, rupanya sebatang jarum emas berwarna kebiru-biruan yang jelas amat beracun telah menanjap diantara sepasang alis mata mereka.

Alis yang telah berkenyit kini makin meratap, Coa Wi-wi merasa bahwa orang orang Hian-bengkauw meski pantas dibunuh, tapi cara To-koh berbaju abu-abu itu melaksanakan pembunuhan itu cukup teramat keji....

Toan bok Se liang yang cilik tak sudi membuang setiap kesempatan yang tersedia dengan begitu saja, dikala To koh berbaju abu-abu itu mengayunkan tangannya untuk mejepaskan jarum emas tadi, cepat-cepat ia merubah taktik pertahanannya menjadi taktik serangan, dengan suatu sodokan maut ia tusuk jalan darah Keng bun hiat ditubuh lawan.

Berada dibawah ancaman seperti ini, sekalipun sapuan dari To koh itu mungkin akan berhasil mengejar lengan kiri Toan bok See liang, namun dia sendiri harus membayar serangan itu dengan sebuah tusukan pena.

Dalam posisi diatas angin seperti ini, sudah tentu dia tak mau membayar mahal setiap serangannya, serta-merta tubuhnya mengegos ke samping melepaskan diri dari ancaman, namun dengan tindakan itu maka sapuan Hud tim-nya juga mengerai sasaran yang kosong.

To koh berbaju abu-abu itu marah sekali, dia putar senjata kaitan kemala hijaunya seraya berseru.

"Sayang.... benar-benar amat sayang! Thamcu markas besar perkumpulan Hian-bengkauw yang gagah perkasa harus tewas di bukit Ki po san tanpa suara dan tanpa diketahui siapapun jua"

Toan bok See liang memang sedang gelisah sekali menghadapi situasi yang semakin kritis itu, dia berpikir dihati.

"Sungguh aneh, sudah sekian lama bom udara itu diledakkan, kenapa belum nampak juga seorang manusiapun yang datang kemari?"

Dia memang tak malu menjadi Thamcu markas besar perkumpuhn Hian-beng-kauw, sekalipun menghadapi mara bahaya, pikirannya sama sekali tak panik, tidak pula terlintas niat untuk melarikan diri, dengan sikap yang amat tenang ia malah berseru.

"Hmmm....! Jangan takabur dulu, tak akan segampang apa yang kau bayangkan...."

To koh berjubah abu abu itu mendengus dingin lalu menerkam kemuka, kaitan kemala hijau dan senjata Hud tim dilancarkan secara berbareng dengan amat dahsyatnya.

Toan bok See liang menyadari kesulitan yang di hadapi, dia pun mengerti lambat laun tenaganya akan makin melemah dan soal menang kalah hanya tinggal soal waktu belaka.

Kendatipun demikian ia tak mau menyerah dengan begitu saja, kalau bisa mengulur waktu sedetik dia akan manfaatkan waktu sedetik itu untuk menunggu datangnya bala bantuan.

Tiam hiat pit dimainkan sedemikian rupa sehingga pertahanannya boleh dibilang benar-benar amat tangguh.

Dengan demikian, meskipun To koh berbaju abu-abu itu berhasil merebut kedudukan diatas angin, toh tak mungkin baginya untuk merebut kemenangan dalam dua tiga gebrakan belaka.

Coa Wi-wi mengikuti sejenak jalannya pertarungan itu, ia tahu dalam seratus gebrakan kemudian, To koh berbaju abu-abu itu akan berhasil membinasakan Toan bok See liang, ia jadi teringat kembali dengan Goan cing taysu dan Hoa In-liong yang berada dalam gua, dengan langkah lebar dia lantas menerobos masuk ke dalam gua itu.

Dalam gua cuma dua kaki, dan lagi tiada liku-liku atau tikungan barang satupun, maka sekalipun tak usah masuk kedalam, orang sudah dapat melihat keadaan gua itu dengan amat jelasnya.

Diam-diam ia menghampiri kedua orang itu dan diamatinya paras muka mereka dengan seksama, tampak Hoa In-liong duduk bersila dengan wajah yang sangat tenang, sama sekali tidak ditemukan hal-hal yang mencurigakan, ini membuat hatinya merasa sangat girang.

Waktu itu telapak tanean kanan Goan cing taysu masih menempel diatas jalan darah Leng tay hiat ditubuh Hoa In-liong, Coa Wi-wi mengernyitkan alis matanya lalu berpikir.

"Sebentar lagi, orang-orang dari Hian-beng-kauw akan berdatangan kemari, dengan andalkan sepasang telapak tangan jelas aku tak akan mampu menandingi empat tangan, sedang gua ini amat dangkal suara apapun yang terjadi disini pasti akan terdengar sampai di luar, padahal bila sedang bertempur tak mungkin aku bisa mengurusi mereka, wah, bagaimana baiknya...."

Dipikir pulang pergi ia merasa selalu bingung, bahkan makin lama semakin gelisah Tiba-tiba Goan-cing taysu membuka sepasang matanya, ditengah kegelapan sorot matanya itu ibarat kilat yang membalah angkasa, nona itu amat gembira, bibirnya sudah bergetar seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi sebelum sepatah katapun sempat diutarakan, Goan cing taysu telah mengirim suaranya dengan ilmu menyampaikan suara.

"Hong ji sedang bersemedi"

Bisiknya selembut lalat, dalam keadaan demikian tak boleh ia terganggu oleh suara berisik, lebih baik kita bercakap-cakap dengan ilmu menyampaikan suara saja"

Setelah berhenti sebentar ia bertanya lebih jauh.

"Siapa yang sedang bertarung diluar sana?"

"Ooh....yang sedang bertarung adalah seorang To koh yang tak kuketahui siapa mamanya dengan Toan bok See ling, Thamcu dari markas besar perkumpulan Hian-beng-kauw"

Jawab Coa Wi-wi dengan ilmu menyampaikan suara, menurut dugaan Wi-ji, To koh tersebut pastilah...."

Tiba-tiba ia merasa bahwa Goan cing taysu tidak mengetahui siapakah Wan Hong giok itu, maka sesudah berhenti sebentar dia menambahkan.

"Wan Hong giok adalah...."

Kembali ia merasa situasi amat mendesak dan tak mungkin membuang banyak waktu hanya untuk membicarakan persoalan yang ada gunanya, maka ia cuma menerangkan secara ringkas saja.

Waktu itu telapak tangan Goan cing taysu masih menempel diatas punggung Hoa In-liong, maka tanyanya.

"Bagaimana keadaannya, baik kan?"

Goan-cing taysu mengangguk, dengan ilmu menyampaikan suara yang sempurna dia menyahut.

"Kedahsyatan racun ular sakti yang mengeram dalam tubuhnya betul betul diluar dugaan, mungkin sampai fajar menyingsing nanti baru akan berhasil didesak ke dalam jalan darah aneh diluar syaraf"

Diam diam Coa Wi-wi menghitung didalam hati, sekarang waktu baru kentoagan ketiga, itu berarti masih ada dua jam sebelum fajar menyingsing, kenyataan itu membuat hatinya amat gelisah.

"Jalan darah aneh diluar syaraf?"

Tanyanya keheranan"

Dimana letak jalan darah aneh itu? Kongkong, kenapa tak bisa didesak keluar?"

"Jalan darah itu letaknya ada di Kiu san hiat"

Sahut Goan cing taysu,"

Alasan yang sesungguhnya sulit untuk diterangkan dengan sepatah dua patah kata belaka, pokoknya pertahaakan saja mulut gua itu baik-baik, bilamana keadaan amat mendesak aku dapat menutup ketujuh lubang indera Liong-ji agar tidak sampai mengalami gangguan dari luar"

Baru saja Coa Wi-wi ingin mengajukan pertanyaan lagi, tiba-tiba dari luar gua berkumandang suara teguran yang berat.

"Toan bok Tou thamcu, kenapa malam ini kau terkecoh? Perlu minta bantu dari kami dua bersaudara tidak?"

Tertegun Coa Wi-wi sudah mendengar perkataan itu, diam-diam pikirnya dihati.

"Aneh, siapa lagi yang datang? Tampaknya mereka bukan anggota Hian-beng-kauw, tapi kalau di dengar dari pembicaraan tersebut jelas mereka bukan sahabat kami"

Sementara dia masih melamun, Toan bok See liang sudah menyahut dengan nada dingin.

"Tua bangka Leng hou tak usah mengejek terus, sudah disepakati oleh semua pihak bahwa tiga perkumpulan besar membentuk perserikatan yang saling bantu membantu, apakah kau hendak mencari penyakit buat dirimu sendiri...."

Ketika mengucapkan kata-kata tersebut jelas kedengaran napasnya tersengkal-sengkal dan perkataannya terbata-bata, ini menunjukkan kalau keadaannya sangat bahaya.

Suara berat dan kasar yang kedengaran tadi kembali bersuara, kali ini diiringi gelak tertawa ya yang menyeramkan.

"Haaaahhh.... haaahh.... haaahhh.... bagaimana pendapatanmu loji?"

"Aku rasa apa yang dikatakan tua bangka Toan bok memang ada tiga bagian yang masuk diakal"

Jawab suara lain yang serak-serak basah.

"Perserikatan tiga perkumpulan?"

Pikir Coa Wi-wi dengan perasaan tercekat, bukankah itu berarti perserikatan antara perkumpulan Hian-beng-kauw, Kiu-im-kauw serta Mo-kauw?

Padahal cita-cita jiko adalah membasmi hawa sesat dari muka bumi, itu berarti dikemudian hari ia bakal menemui kesulitan yang jauh lebih.

Tapi kalau ditinjau dari keadaannya sekarang, rupanya persekutuan itu tak bisa berlangsung sebagaimana yang diharapkan...."

Karena tertarik, gadis itu pasang telinga dan memperhatikan pembicaraan tersebut lebih jauh.

Ketika itu suara pertempuran masih kedengaran jelas, itu berarti pertempuran belum mereda.

Tiba-tiba kedengaran To koh berbaju abu-abu itu berseru sambil tertawa dingin.

"Leng hou Ki, Leng hou Yu, kalian Seng sut pay sudah menganiaya murid kesayanganku, hayo beri keadilan dulu kepadaku!"

"Heeehhh.... heeehhh.... heeehhh...."

Sang lotoa Leng hou Ki tertawa seram.

"sudah dengar belum loji? Ada orang menagih hutang kepada kita"

Sang loji Leng hou Yu ikut tertawa seram.

"Dengan bekal ilmu yang cetek berani mengembara dalam dunia persilatan, hmm! sekalipun mampus juga tak perlu menyalahkan orang lain, anggap saja nasibnya yang lagi sebal. Heeehhh.... heeehhh.... heeehhh....cuma, kalau ingin menuntut keadilan juga boleh, kenapa tidak kemari saja?"

"Bagus sekali!"

Teriak To koh berjubah abu-abu itu sambil tertawa seram.

"rasain pukulanku ini...."

Tiba-tiba permainan kaitan kemala serta hud timnya diperkencang, rupanya To koh itu berniat untuk membinasakan Toan bok See liang lebih dahulu, kemudian baru membereskan dua bersaudara Leng hou.

Menyaksikan kejadian itu, Leng hou Ki tertawa terbahak-bahak.

"Haahh.... haahh.... haaahhh....loji, kalau kita tidak turun tangan lagi, niscaya Toan bok toa thamcu akan berpulang ke alam baka"

Berbareng dengan selesainya ucapan itu, terdengar ujung baju tersampok angin, menyusul kemudian desingan angin pukulan yang amat dahsyat menggelegar di angkasa.

Terkesiap Coa Wi-wi setelah mengetahui bahwa dua bersaudara Leng hou akan turun tangan bersama, sebab dari suara pembicaraan Leng hou Ki tadi, ia dapat meraba bahwa tenaga dalam yang dimiliki orang itu teramat sempurna, dengan seorang lawan seorang saja To koh berjubah abu-abu itu belum tentu menang, apalagi jika kedua orang itu turun tangan bersama....

"Wahai manusia she Leng hou"

Kedengaran Tokoh berjubah abu-abu itu membentak marah,"

Sebetulnya kalian masih punya muka tidak"

Leng hou Yu tertawa terbahak bahak.

"Haahhh.... haahhh.... haahhh....siapa yang tidak tahu kalau kami dua bersaudara selalu turun tangan bersama, baik untuk menghadapi seorang musuh ataukah harus menghadapi berlaksalaksa orang prajurit"

Kegusaran yang berkoban didalam dada To koh berjubah abu-abu itu sungguh luar biasa, tapi ia tak berkutik, maka teriaknya dengan suara lantang.

"Budak dari keluarga Coa, kau sudah mampu mungkin?"

Buru-buru Coa Wi-wi melirik sekejap ke dalam gua, ia liat Goan cing taysu susah memejamkan matanya lagi, maka diapun menerobos keluar dari dalam gua.

Waktu itu si To koh berjubah abu-abu berada dalam posisi yang berbahaya sekali dibawah kerubutan dua orang kakek jangkung yang mengenakan juba warnah kuning dengan ikat pinggang perak berukirkan naga, sedangkan Toan bok See liang sudah mundur ke tepi hutan sambil mengatur napasnya yang tersengkal-sengkal.

"Manusia-manusia yang tak tabu malu!"

Bentak nona itu dengan marah.

Bagaikan burung walet yang terbang keluar dari sarangnya, berbareng dengan dilancarkannya sebuah pukulan, ia menerjang tubuh Long hou Ki.

Bagi jago lihay yang sedang bertarung, panca indera mereka biasanya diletakan di empat arah delapan penjuru, sejak semula dua bersaudara Leng hou sudah mengetahui kalau ada seorang nona yang cantiknya bagaikan bidadari sedang menerobos ke luar dari gua.

Sekalipun kecantikan nona itu membuat mereka kagum, namun ilmu meringankan tubuhnya lebih lebih membuat hatinya tercekat, buru-buru Leng hou Ki melepaskan juga sebuah pukulan untuk menangkis tibanya ancaman itu.

"Blaaarg...."

Ketika dua buah telapak tangan saling bertemu, suatu ledakan keras menggelegar di udara.

Tubuh Coa Wi-wi hanya tersendat sedikit, sebaliknya Leng hou Ki terdesak mundur selangkah, ini menyebabkan rasa terkejutnya makin menjadi.

Ditatapnya anak gadis itu tajam-tajam, lalu secara tiba-tiba dia membentak.

"Lo-ji!"

Secara beruntun Leng hou Yu melepaskan dua buah pukulan yang mendesak mundur To koh berjubah abu-abu itu, lalu sambil berpaling dia bertanya.

"Ada apa?"

Tokoh berjubah abu-abu itu adalah seorang perempuan berwatak angkuh, sikap masa bodoh yang diperlihatkan musuhnya diartikan sebagai suatu penghinaan baginya, tentu saja ia tak dapat menawan diri, dalam hati ia menyumpah.

"Setan tua, sialan kamu! Rupanya kau pingin mampus"

Tiba tiba senjata kaitan kemalanya mengeluarkan jurus Jian bong it mo (sisa warna mekar terhapus musnah), suatu jurus ampuh dari ilmu Pek shia kou hoat (ilmu kaitan awan hijau).

Cahaya hijau gemerlapan menyilaukan mata, tahu-tahu dia sudah mengancam depan dada Leng hou Yu.

Bersamaan waktunya, senjata Hud tim yang berada ditangan kanannya diputar ke bawah lalu menyodok jalan darah Ki bun hiat sebelah kiri dari musuhnya itu.

Dua jurus serangan sama-sama merupakan jurus ancaman yang tangguh dan mengerikan, kendatipun tenaga dalam yang dimiliki Leng hou Yu lebih tinggi daripada musuhnya, tapi dalam keadaan pandang enteng lawannya, ia toh dibikin kalang kabut juga.

Masih untung dia memiliki tenaga dalam hasil latihan selama enam puluh tahun lebih, dalam keadaan kritis ia sama sekali tidak panik, sambil menarik napas panjang tubuhnya melompat mundur ke belakang.

"Breeet....!"

Luka sih memang tidak, tak urung serangan itu berhasil menyambar dadanya serta merobek sebagian dari bajunya.

Berhasil dengan serangannya itu, To koh berjubah abu-abu itu menarik kembili senjata kaitan nya seraya mengejek.

"Setan tua, sekarang kau sudah tahu lihaynya diriku bukan?"

Dua orang bersaudara Leng hou adalah manusia-manusia buas yang sudah tersohor namanya, penghinaan semacam ini belum pernah dialami sepanjang hidupnya, bayangkan saja, mana mungkin mereka dapat menelan hinaan tersebut dengan begitu saja?

Saking gusarnya mereka tertawa seram.

"Bagus! Bagus!"

Serunya berulang kali.

Ditengah gelak tertawanya yang menyeramkan ia mengangkat lengan kanannya ke atas, lalu diantara suara gemerutukan yang nyaring, tiba tiba saja lengannya bertambah panjang setengah depa dari keadaan semula, kemudian selangkah demi selangkah didekatinya To koh berjubah abu-abu itu....

"Itulah dia ilmu Thong pit mo ciang (Lengan penghubung pukulan iblis)....!"

Pekik To koh berjubah abu-abu itu dihatinya. Kewaspadaan segera dipertingkat, senjata kaitan kemalanya diangkat ke atas dan ia berdiri dengan mulut membungkam.

"Loji"

Kembali Leng hou Ki berkata secara tiba-tiba.

"sasaran kita berada disini, sekalipun terdapat masalah yang lebih besarpun, sudah seharusnya kalau kita kesampingkan lebih dahulu"

Semua orang tahu bahwa dua bersaudara Leng hou adalah manusia manusia buas yang tak kenal perikemanusiaan, sepantasnya setelah niat membalas dendam timbul dihati mereka, tak mungkin niat tersebut diurungkan ditengah jalan.

Tapi anehnya, setelah Leng hou Yu mendengar perkataan itu, serentak dia menarik kembali kekuatannya lalu mundur ke samping Leng hou Ki.

"Lotoa, apakah budak itu she Coa?"

Tanyanya kemudian sambil mengawasi gadis tersebut.

Karena Leng hou Yu membatalkan niatnya untuk melancarkan serangan, diam-diam To koh berjubah abu-abu itu menghembuskan napas lega, ia sadar bahwa tenaga dalam yang dimilikinya bukan tandingan dua bersaudara Leng hou, sudah barang tentu diapun tak berani sembarangan menghadapi mereka....

Tiba-tiba Coa Wi-wi berbisik kepada To koh berjubah abu-aba itu dengan ilmu menyampaikan suara.

"Cianpwe bersediakah kau menjaga mulut masuk gua itu?"

Sekalipun hawa napsu membunuh yang berkobar dihati To koh berjubah abu-abu itu sudah jauh berkurang, toh tertegun juga dia setelah mendengar tawaran itu.

"Kau tidak takut pinto masuk kedalam gua dan melakukan sesuatu perbuatan yang tidak menguntungkan terhadap orang yang berada dalam gua?"

Tanyanya dengan ilmu menyampaikan suara pula.

"Aku tahu cianpwe adalah gurunya enci Wan, masa engkau tidak memberi muka untuk enci Wan "

Waaah, setelah kena ditebak jitu isi hatiku, aku jadi kurang leluasa untuk turun tangan lagi"

Pikir To koh berbaju abu-abu itu kemudian. Untuk sesaat dia cuma termenung sambil membungkam diri. Dengan ilmu menyampaikan suara, kembali Coa Wi-wi berkata.

"Cianpwe, kongkongku sedang membantu jiko Hoa In-liong mengusir racun ular keji dari tubuh nya, kau bersedia membantu dia bukan?"

Perkataan itu diutarakan dengan nada lembut dan setengah merengek, tanpa sadar To koh berbaju abu-abu itu mendekati mulut gua.

"Siapa itu kongkongmu? Berapa waktu yang masih dibutuhkan?"

Tanyanya kemudian dengan suara dingin. Coa Wi-wi tahu bahwa permintaannya telah di kabulkan, rasa gelisah yang semula menyeliputi perasaannya, kinipun menjadi agak gela.

"Kongkongku adalah seorang pendeta, gelarnya adalah Goan cing!"

Sahutnya kemudian. Setelah berhenti,ia berkata lagi.

"Waktu yang dibutuhkan mungkin antara dua jam"

Belum pernah To koh berjubah abu-abu itu mendengar nama seorang padeei yang menggunakan gelar Goan cing taysu, tapi dari tenaga dalam yang dimiliki Coa Wi-wi dia tahu bahwa kongkongnya pasti seorang tokoh persilatan yang berilmu tinggi maka setelah mendengar perkataan itu dia lantas berjaga-jaga dimulut gua.

"Cianpwe, bolehkah aku tahu siapa namamu."

Coa Wi-wi lagi. Rupanya pertanyaan itu sama sekali diluar dugaan To koh berjubah abu abu itu, dia tampak tertegun.

"Pinto tidak mempunyai gelar kependetaan"

Sahutnya setelah merenung sebentar,"

Aku hanya seorang Rahib liar"

Setelah berhenti sebentar, ujarnya kembali.

"Pusatkan saja semua perhatianmu untuk menghadapi musuh, kurangi berbicara. Perhatikan baik-baik kedua orang dihadapanmu itu sebab kedua orang bajingan itu adalah adik seperguan dari Tang Kwik-siu, beberapa macam ilmu hitamnya tak boleh dianggap terlampau enteng"

Sementara mereka sedang melangsungkan pembicaraan dua bersaudara Leng hou juga sedang bercakap-cakap dengan ilmu menyampaikan suara.

Untuk sesaat lamanya, suasana jadi bening dan sepi, dibawah sorot sinar rembulan, hanya kedengaran suara angin yang meng-goyangkan tumbuhan bambu....

Kalau menghadapi keadaan seperti ini, siapapun tidak akan percaya kalau beberapa menit sebelumnya disana telah berlangsung suatu pertarungan sengit yang nyaris mengakibatkan korbannya jiwa.

Tiba-tiba Leng hou Ki berkata kepada Toan bok See liang.

"Toan bok See liang, apakah engkau mengetahui jelas asal usul dari dayang cilik itu?"

Toan bok See liang yang sedang bersemedi sambil menyembuhkan luka yang dideritanya segera menyahut.

Baca Juga: Pedang Langit Dan Golok Naga 7

Baca Juga: Pedang Dan Kitab Suci 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert