Ceritasilat Novel Online

Rahasia Hiolo Kumala 8

Eps 8 Rahasia Hiolo Kumala - Gu Long

Baca online Rahasia Hiolo Kumala - Gu Long

Cersil Rahasia Hiolo Kumala - Gu Long.

"Untunglah, apa yang dikisahkan Pek loji adalah kejadian yang sesungguhnya. Tapi Liong-ji, bocah ini terlalu cerdik dan cermat. Iapun pandai bersilat lidah. Kalau pembicaraan dilangsungkan terus, niscaya akhirnya aku yang tak tahan dan kewalahan dibuatnya"

Berpikir demukian, buru-buru katanya sambil tersenyum.

"Anggap saja apa yang kau duga memang tak salah. Tapi urusan kan sudah lewat, hutang lama pun sudah basi. Apalagi kedua belah pihak tiada yang menderita rugi, bukankah hal ini bagus sekali?"

"Maka dari itu aku mengatakan bahwa engkau pun bersalah! "

Sambung Hoa In-liong dengan sinar mata mencorong tajam.

"Salah juga boleh, tidak salah juga tak mengapa yang pasti urusan sudah lewat dan menjadi basi, tak perlu kita singgung-singgung lagi"

Potong Tiang-heng Tookoh. Berbicara sampai disitu, satu ingatan melintas kembali dalam benaknya, buru-buru ujarnya lebil jauh.

"Oya....! Pinto teringat sekarang, bukankah tadi kau menahan diriku lantaran ingin menanyakan soal kakakmu dengan lebih jelas?"

"Yaa benar. Persoalan tentang diri kau orang tua, aku musti bertanya sampai jelas. Lebih-lebih lagi persoalan tentang diri kau orang tua, aku musti bertanya sampai jelas pula"

Jawab Hoa Inliong tanpa ragu-ragu lagi. Tiang-heng Tookoh segera membenahi bajunya yang kusut seraya menjawab dengan lirih.

"Kalau begitu, bertanyalah cepat urusan tentang kakakmu!"

Ucapan ini mengandung dua arti rangkap, selain arti yang sebenarnya, iapun maksudkan bila pemuda tersebut tidak menanyakan soal tentang Hoa Si maka dia akan segera pergi.

Tindakan tersebut memang lihay dan sangat jitu, Hoa ln-liong benar-benar dibuat serba susah.

Kalau bertanya?

Selesai memberikan keterangannya Tiang-heng Tookoh tentu akan pergi, sepeninggal rahib perempuan itu, kemana dia harus pergi untuk menemukan jejaknya kembali.

Sebaliknya kalau tidak bertanya?

Saudara kandung sendiri sedang berada dalam keadaan bahaya, bukankah itu sama artinya dengan tidak mengindahkan keselamatan saudara sendiri?

Apalagi ia sendiri memang selalu menguatirkan persoalan tersebut.

Ketahuinya, sebab musabab mengapa ia begitu berhasrat dan berusaha dengan sepenuh tenaga untuk memancing Tiang-heng Tookoh masuk perangkapnya, ini dikarenakan ia bermaksud untuk menaklukan perasaan si rahib perempuan tersebut.

Ia selalu merasa bahwa membencinya Tiangheng Tookoh terhadap kegagalan bercinta adalah merupakan suatu peristiwa yang patut disesalkan.

Dalam hal ini, walaupun dikatakan lantaran perasaan serta emosinya yang membara serta persesuaian didalam watak, tapi pada hakekatnya hal itu merupakan hasil dari didikan serta peraturan rumah tangga keluarga Hoa yang turun temurun.

Keluarga Hoa mereka mengutamakan prinsip yang tak boleh melupakan kebaikan orang.

Tapi justru pada diri ayahnya telah terjadi peristiwa yang masih merupakan suatu ganjalan sampai kini.

Hoa In-liong sebagai putranya sudah tentu berusaha sedapat mungkin untuk melenyapkan ganjalan itu, tidak aneh pula kalau dia jadi banyak urusan dan berusaha mencapai apa yang diharapkan.

Akan tetapi, nyatanya apa yang diharapkan sukar tercapai, apa yang musti dia lakukan?"

Hoa In-liong memang cerdik dan mempunyai banyak akal muslihat, tapi tak urung ia dibikin tertegun juga.

Sementara dia masih termangu, tiba-tiba ia merasa sikut Coa Wi-wi menyentuh pinggangnya, kemudian terdengar dara itu berseru.

"Yaaa betul! Kau memang seharusnya menanyakan soal tentang diri Toako...."

Ketika mendengar perkataan itu, sekali lagi Hoa In-liong tertegun.

Tapi lantaran Coa Wi-wi menyikut pinggangnya lebih dulu, dengan perasaannya yang tajam ia lantas tahu bahwa Coa Wiwi telah mempunyai rencana tertentu.

Sayang ia tak tahu rencana apakah yang telah dipersiapkan dari itu dan lagi diapun tak dapat menanyakan secara langsung.

Maka setelah mengeriing sekejap kearahnya, dia pura-pura berkata dengan suara tak senang hati.

"Bertanyalah sendiri! Aku.... aku mau...."

Sambil pejamkan mata, sepasang tangannya bertopang dagu lalu pelan pelan membaringkan diri di tanah.

"Aaah.... kamu ini!"

Omel Coa Wi-wi sambil menuding ujung hidung pemuda itu. Setelah mendengus dingin, diapun membatalkan niatnya untuk berbicara lebih jauh. Tiang-heng Tookoh yang menjumpai keadaan itu segera tersenyum.

"Anak Wi, engkau saja yang bertanya"

Ujarnya.

"Dia lagi ngambek! Tak usah digubris lagi"

Sekali lagi Coa Wi-wi mendengus dingin, kemudian ia baru berpaling seraya berkata.

"Baiklah! Tolong tanya Bibi Ku, sebetulnya jalan darah yang manakah dari Hoa Si Toako yang tertotok? Masa engkaupun tak mampu untuk membebaskannya?' "

Jalan darah Ki-tong-hiat!"

"Ki-tong-hiat? "Coa Wi-wi melongo dengan perasaan heran.

"Itu kan jalan darah tertawa!?"

"Yaaa, justru disinilah letak keanehan tersebut"

Kata Tiang-heng Tookoh lebih jauh.

"Ketika jalan darah tertawa itu tertotok, bukan saja tidak tertawa, sang korban malahan jatuh tak sadarkan diri. Pinto sudah periksa sekujur badan Hoa Si dan tidak menjumpai luka ditempat lain. Diapun tidak tampak seperti keracunan"

"Oooooh....! Masa sampai terjadi begitu? "

Teriak Coa Wi-wi dengan nada tercengang, sepasang matanya sampai terbelalak lebar.

"Yaa. memang demikianlah kenyataannya. Yang aneh justru terletak pada caranya menotok jalan darah. Pada umumnya cara orang menotok jalan darah itu sama semua. Tapi kenyataan yang pinto jumpai ternyata jauh berbeda dari keadaan pada umumnya. Bila Hoa Si tak dapat sadar sendiri dari pingsangnya, maka didunia pada saat ini hanya ayahmu seorang yang dapat membebaskan pengaruh totokan tersebut"

Meskipun tercengang dan merasa keheranan, jelas tujuan Coa Wi-wi bukan disitu.

Maka ketika mendengar sampai disana, diapun terhenti sebentar sebelum akhirnya bertanya lagi "Macam apakah manusia berkerudung itu?

Apakah bibi Ku pernah menjumpainya?"

"Dia adalah seorang laki-laki berperawakan sedang, berdada bidang dan berotot kekar. Paras mukanya tidak kelihatan, tapi tampaknya dia masih muda"

"Mungkin orang itu adalah anak buah Kui-im-kau"

Coa Wi-wi mengajukan dugaannya.

"Mereka sealiran, bukan anak buah. Ketika pinto menjumpai keadaan Hoa Si ketika itu, si orang berkerudung tersebut justru sedang ribut-ribut dengan Kiu-im kaucu"

Berbicara sampai di sini, paras muka Tiang-heng Tookoh berubah jadi murung. Setelah merenung sebentar ia baru berkata lebih jauh.

"Kiu-im kaucu yang sekarang bernama Bwee Suyok. Orangnya cantik dan berasal dari angkatan muda. Ketika itu Hoa Si berada didalam dukungannya, si orang berkerudung mengatakan bahwa Hoa Si ditangkap olehnya, sepantasnya kalau diserahkan kepadanya untuk dibawa pergi. Tapi Bwee Su-yok segera menjawab. 'Apabila kau tidak menyergap dikala orang tak siap, tak nanti engkau adalah tandingan dari anak keturunan keluarga Hoa. Dihadapanku, aku tak akan mengijinkan kau melukai orang dengan cara serendah itu'. Kebetulan tempo dulu pinto mempunyai hubungan dengan perkumpulan tersebut. Hitung-hitung aku masih merupakan seorang cianpwe dihadapan Bwee Su-yok. Maka ketika pinto munculkan diri, Bwee Su-yok menyebut cianpwe kepadaku. Sikapnya terhadap pinto juga sangat menaruh hormat. Si manusia berkerudung yang tak tahu duduknya perkasa salah menganggap diriku sebagai pembantu dari Bwee Su-yok, sambil mendengus buru-buru ia mengundurkan diri dari sana"

Ketika berbicara sampai disini, tiba-tiba ia menghela napas lalu menghentikan ceritanya, Apa arti dari helaan napas itu?

Jangankan Coa Wi-wi, Hoa In-liong sendiripun merasa tercengang dan tidak habis mengerti.

Sampai-sampai dia harus bangun dan membuka matanya.

Tujuan Coa-Wi-wi tidak disana, iapun segan untuk bertanya lebih lanjut, maka ujarnya kembali.

"Kapan peristiwa itu terjadi? Dan dimanakah peristiwa itu berlangsung....?"

Tiang-heng Tookoh berpikir, lalu menjawab.

"Mungkin tengah hari kemarin kejadiannya disuatu tempat kurang lebih lima puluh li disebelah timur dari sini"

"Jadi kalau bagitu bibi Ku datang dari Kim-leng? "

Tanya Coa Wi-wi kemudian. Tiang-heng Tookoh mengangguk, sementara dia mau berkata lebih jauh, Coa Wi-wi telah menyambung kembali kata-katanya.

"Tahukah bibi Ku kemana perginya Kui-im kaucu serta manusia berkerudung itu?"

Sebelum mendapat jawaban, tiba-tiba saja nona itu melanjutkan kembali dengan pertanyaannya, kesemuanya itu segera menggerakkan hati Hoa In-liong. Ia seperti memahami akan sesuatu.

"Oooh.... Rupanya begitu"

Pikirnya. Baru saja ingatan tersebut melintas didalam benaknya, terdengar Tiang-heng Tookoh telah berkata lagi.

"Manusia berkerudung itu menuju kearah timur laut. Bwee Su-yok sendiri sesudah berpisah dengan pinto juga berangkat kearah timur laut. Dimanakah ia sekarang, pinto kurang begitu tahu"

"Bibi Ku datang dari kota Kim-leng, apakah kau telah bertemu dengan seorang hwesio tua yang tinggi dan kurus?"

Mendapat pertanyaan itu Tiang-heng Tookoh tampak tertegun.

"Seorang hwesio tua? Pinto tidak menjumpainya"

Ia menyahut.

"Oooo, Wi-ji tidak menerangkan secara jelas, tak aneh kalau bibi Ku jadi heran"

Kata Coa Wi wi lebih jauh.

"Hwesio tua itu adalah kongkong ku. Jika bibi Ku tidak menjumpainya, tentu dia kalau bukan pergi ke selatan sudah pasti telah ke lautan timur!"

Tiang-heng Tookoh tertawa geli.

"Aaah.... kamu si bocah cilik, kenapa kalau bicara menclamencle begitu? kalau ke selatan ya katakan saja ke selatan, kalau ke lautan timur katakan saja kelautan timur, mana ada orang yang berbicara macam kamu itu? Tampaknya dalam hati kecilmu ada urusan, bukan begitu?"

"Yaa, memang! Dihati Wi ji memang ada persoalan. Itulah disebabkan racun ular sakti yang mengeram ditubuh Jiko. Kongkong ku pernah berkata, katanya di dalam beberapa hari ini jika ia tidak berada di Kim-leng, berarti sudah barangkat ke laut timur. Bila tidak berada di laut timur berarti sudah pergi keselatan. Maka...."

Hoa In-liong yang mendengar pembicaraan tersebut makin lama dibawa makin jauh dari pokok pembicaraan, dihati kecilnya lantas menyumpah.

"Silahkan.... omongan setan kok tiada habisnya. Sampai kapan pembicaraan itu akan berlangsung?"

Sebaliknya Tiang-heng Tookoh jadi terperanjat tanpa sadar ia berpaling kearah Hoa In-liong dan mengawasi wajahnya dengan seksama.

"Racun ular sakti? "serunya tercengang.

"Apakah racun ular sakti itu? Kenapa diatas wajahnya tidak tampak gejala apa apa?"

"Racun tersebut merupakan sejenis siksaan racun dari Mo-kau_yang bernama Sin-hui-si-sim (Ular Sakti Menggigit Hati). Jiko kena dikecundangi oleh orang orang Mo-kau secara licik. Racun tersebut sudah meresap didalam tubuhnya. Hanya kongkong ku seorang yang bisa membantu dirinya untuk memunahkan racun tersebut"

"Ooooh.... jadi sudah berlangsung peristiwa seperti itu?"

Tiang-heng Tookoh mengerutkan keningnya.

"Yaa benar!"

Coa Wi-wi mengeluh sedih.

"Karenanya bila kali ini bibi Ku hendak pergi ke lautan timur atau selatan, maka bila bertemu dengan kongkongku tolong sampaikanlah pesan dari Wi-ji, katakan kalau Wi-ji nantikan kedatangannya di kota Kim-leng, mau bukan?"

Tiang-heng-Tookoh menengok sekejap ke arah Hoa In-liong, kemudian dengan nada minta maaf katanya.

"Pesan tersebut mungkin.... mungkin tak dapat pinto sampaikan.... sebab....sebab...."

Begitu ucapan tersebut diucapkan keluar, Coa Wi-wi tak dapat mengendalikan emosinya lagi.

Siapa tahu dalam gembiranya ia berbuat kurang hati-hati, suara tertawanya menyelinap keluar dari bibirnya.

Menanti ia buru-buru tutup mulutnya dan sekali lagi berlagak sedih.

Tiang heng Tookoh sudah keburu berpaling dan menyaksikan kesemuanya itu dengan amat jelasnya.

Jelek jelek Tiang-heng Tookoh terhitung juga sebagai seorang prrempuan yang cerdik dan berpengalaman.

Tindak tanduk Coa Wi-wi yang diam-diam tertawa geli dan sikapnya yang takut diketahui olehnya itu segera mengundang kecurigaan hatinya.

Dari curiga diapun jadi memahami akan duduk persoalan yang sebenarnya.

Kontan saja ia melotot besar, dengan lagak seperti marah tapi bukan marah bentaknya keraskeras.

"Bagus sekali setan cilik, rupanya kau sedang menjebak aku dengan siasat yang licik. Hmm, pinto peringatkan kepadamu, jika kau berani mengintil ke barat, lihat saja kutabok tidak pantatmu!" . Mula-mula Coa Wi-wi rada sedikit kikuk, tapi setelah Tiang beng Tookoh berkata begitu, ia malahan mengerutkan dahinya seraya mencibirkan bibirnya yang mungil.

"Kalau mau pukul aku pukullah. Kan aku tidak bertanya, kau sendiri yang memberitahukan kepadakui"

Katanya. Hoa In-liong sendiri, setelah menyaksikan keadaan tersebut tak dapat mengendalikan perasaannya lagi, ia bangkit dan ikut tertawa terbahak-bahak. Tiang-heng Tookoh tertegun, lalu berpikir.

"Yaa, benar juga perkataannya. Sejak awal sampai akhir si budak cilik ini toh tidak menanyakan kepadaku akan kemana? Aaai.... Sungguh tak nyana karena kurang berhati-hati, bukan saja arah Kepergianku ketahuan, bahkan kata-kata ku malah dibuat untuk menyerang diriku kembali"

Siapa tahu, belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, tiba-tiba terdengar Coa Wiwi berteriak lagi.

"Hayo tertawa.... hayo tertawa terus. Bibi Ku marah kepadaku, kau malah gembira, senang yaa melihat aku dimarahi?"

Sambil terbahak-bahak karena geli dan tersengkal napasnya karena kehabisan napas Hoa Inliong menyahut!

"Baik aku tidak tertawa lagi....Ooooh....

Ooooh....

lepaskan dulu tanganmu.

Aku tidak akan tertawa lagi Hii....

hii....

hi....

haa....

haa....

haa...."

Ketika Tiang-heng Tookoh berpaling, tampaklah Coa Wi-wi sedang mencibirkan bibirnya dengan wajah cemberut, tangan kanannya mencekal pergelangan tangan Hoa In-liong.

Sementara targan kirinya menggelitik pinggang pemuda tersebut.

Kena dicekal kedua buah tangannya, apalagi pinggangnya digelitik terus menerus, pemuda itu jadi kegelian.

Ia melenggak-lenggok seperti lagi tari perut.

Suara tertawanya yang tersendatsendat pun makin terputus-putus.

Bagaimanapun juga sudah tentu suara tertawanya tak dapat berhenti.

Menyaksikan sdrgan itu, paras muka Tiang-heng Tookoh berubah jadi lembut kembali.

Dia malah ikut tertawa.

"Sudah....Sudah cukup, kalian tak usah bersandiwara lagi"

Teriaknya.

"Cukup banyak permainan kalian yang kusaksikan. Lebih baik pinto sampai disini dulu, kalau ada persoalan utarakan saja secara berterus terang....!"

Mendengar kata-kata itu, Coa Wi-wi benar-benar menghentikan perbuatannya, dengan mata yang jeli ia berpaling kemudian serunya.

"Sungguh? Perkataan yang telah diucapkan tak boleh dipungkiri lagi lho!"

Tiang-heng Tookoh tersenyum.

"Orang yang beribadah tak pernah bicara bohong. Kecuali kau menanyakan tempat pemondokanku, persoalan apapun pasti akan kujawab, setuju bukan....?" . oooOOOOooo COA WI-WI mengerdipkan matanya, tiba-tiba ia berpaling ke arah Hoa In-liong.

"Sudah, sekarang giliranmu untuk bertanya!"

Katanya. Hoa In-liong tersenyum, satelah mengucapkan terima kasih. Sorot matanya dialihkan kembali ke wajah rahib tersebut, ujarnya dengan nada minta maaf.

"Bibi Ku, maafkanlah daku. tidak seharusnya kami bersikap demikian kepadamu...."

"Tak usah kau bicirakan tentang permintaan maaf"

Tukas Tiang-heng Tookoh seraya ulapkan tangan.

"Kesemuanya ini adalah hasil keteledoran pinto sendiri. Coba kalau pinto tidak gegabah dari bersikap lebih cermat, tak mungkin aku sampai terjerumus dalam perangkap kalian"

"Terima kasih atas kebesaran jiwa bibi Ku. Padahal sekalipun bibi Ku meninggalkan alamat, belum tentu kami akan sering mengganggu ketenanganmu"

"Nah! Lagi-lagi soal ita, memangnya kau anggap pinto tak bisa membaca suara hatimu?"

Tegur Tiang-heng Tookoh serius. Merah dadu wajah Hoa In-liong karena jengah. Terdengar Tiang-heng Tookoh melanjutkan kembali kata-katanya.

"Liong-ji, kau musti tahu segala kesukaran yang ada didunia ini hanya suara iblis dihati manusia yang paling sukar diatasi. Sudah hanyak tahun pinto berjuang dengan susah payah dan mengalami banyak penderitaan sebelum berhasil memandang rawan urusan keduniawian dan berhasil menenangkan hatiku. Kau adalah seorang laki-laki yang kaya akan perasaan. Bila kau masih simpatik atas segala penderitaan yang telah kualami selama ini, seandainya kau bersedia mengurangi kemurungan dan kesukaran yang bakal dijumpai kedua orang tuamu, sepantasnya kalau niatmu ini kau batalkan, padamkan saja cita-citamu itu"

Perkatan ini diucapkan cukup jelas dan cukup tegas.

Sayangnya Hoa In-liong bukan seorang manusia yang akan mundur setelah menjumpai kesulitan.

Ia merasa tanggungjawabnya walau berat namun keputusannya tak boleh dibaikan dengan begitu saja.

Setelah merenungkan sebentar, dia mengangguk.

"Apa yang bibi Ku katakan memang sangat beralasan Kalau toh demikian Liong-ji juga tidak akan berbelok-belok lagi dalam pembicaraan Aku akan berkata pula dengan terus terang" .

"Memang seharusnya demikian!"

Jawab Tiang-heng Tookoh meski hatinya terasa menegang. Dengan wajah serius Hoa In-liong menatap perempuan itu beberapa waktu lamanya, kemudian berat.

"Bibi Ku, tahukah kau bahwa pandanganmu, itu sebenarnya keliru besar....?"

Tiang-heng Tookoh tertegun.

"Berkorban diri sendiri demi menyempurnakan kedua orang tuamu, kelirukah pandangan pinto tersebut?"

"Paling sedikit demikianlah pandangan Liong-ji"

Sahut anak muda itu.

"Tolong tanya bibi Ku, apa yang diartikan oleh Siang Tiong-san dari An-leng setiap kali kudanya minum air disungai Wi-sui, dia lantas melemparkan tiga biji mata uang kedalam sungai" .

"Siang Tiong-san adalah seorang manusia yang jujur dan bijiksana. Ia merasa air yang diminum kudanya harus dibayar. Karena ia tak ingin merugikan orang lain dengan perbuatan kudanya yang minum air disungai Wi-sui....!"

"Aku rasa sepanjang pesisir sungai Wi-sui jarang ditemui penduduk ynag berdiam disitu. Apakah bibi Ku merasa cukup dengan penjelasan bahwa ia melemparkan uang kedalam sungai hanya, disebabkan karena dia itu orang jujur dan tak ingin merugikan orang lain?"

Tiang-heng Tookoh tertegun.

"Apakah engkau masih mempunyai penjelasan lain kecuali itu?"

Dia balik bertanya.

"Yaa, Liong-ji masih ada sedikit tambahan. Liong-ji rasa perbuatan Siang Tiong-san melemparkan mata uang kedalam sungai setiap kali kudanya selesai minun hanya dimaksusudkan untuk mencari ketentraman bagi hatinya sendiri. Kalau tidak begitu maka dia boleh dianggap sebagai manusia yang mencari nama dengan menipu dunia, tak pantas dinamakan seorang manusia yang jujur dan bijaksana"

Tiang-heng Tookoh berpikir sebentar, ia merasa benar juga perkataan itu. maka diapun manggut-manggut. Hoa In-liong tersenyum, kembali ujarnya.

"Bibi Ku, liong-ji ingin bertanya lagi kepadamu apa lagi yang dimaksudkan dengan Membuka pintu mempersilahkan maling masuk?"

Begitu mendengar pertanyaan, tersebut kontan saja Tiang-heng Tookoh mengenyitkan alis matanya.

"Ada apa?"

Tegurnya.

"Jadi kau anggap penderitaan tak lebih adalah lantaran mencari penyakit bagi diri sendiri?"

Cepat-cepat Hoa In-liong menggeleng.

"Bibi Ku telah salah menafsirkan maksudku. Lam-Si pernah berkata begini.

"Bila buka pintu mempersilahkan maling masuk, itu berarti buang rejeki mencari kesialan. Kemudian Go-Ki pernah berkata pula.

"Bila para penjahat mulai bersaing, kejahatan akan merajarela. Saudara sendiri dirampok, peraturan diinjak-injak. Karenanya bila buka pintu mempersilahkan maling masuk, keadilan dan kebenaran akan tumbang. Liong-ji tidak begitu mengetahui tentang keadaan kau orang tua. Tapi aku percaya kau orang tua adalah seorang yang sangat mementingkan kesetiaan kawan....!"

Sengaja ia berhenti sebentar, kemudian baru melanjutkan.

"Walaupun begitu, Liong ji tetap merasa bahwa caramu berpikir terlampau picik. Selain itu liong-ji juga rada sangsi, benarkah yang dimaksudkan sebagai 'memandang remeh soal keduniawian, hati akan jadi tenteram' itu benar-benar bisa dipercaya?"

Beberapa patah kata yang terakhir ini boleh dibilang sedikit menyudutkan posisi rahib perempuan itu.

Tiang-heng Tookoh jadi terdesak hebat, maka sambil melototkan matanya ia balik bertanya.

Jadi maksudmu, pinto sedang membohongi engkau?"

"Oooh.... Sudah tentu liong-ji tak berani sekurang ajar itu. Maksud Liong-ji. sekalipun kau orang tua sudah hidup menyepi, belum tentu perasaanmu setenang air. Paling tidak kau hanya berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengendalikan diri, agar perasaan serta emosinya tidak sampai meluap dan tak terbendungkan lagi"

"Tapi.... Aku rasa itu toh tidak keliru!"

Seru Tiang-heng Tookoh setelah tertegun.

"Kelirunya memang tidak, cuma terlampau berlebihan, Ketahuilah bahwa manusia hidup didunia ini mempunyai kewajiban. Kewajiban tersebut bukan hanya buat diri sendiri, tapi juga demi orang lain. Bukan hanya untuk sekelompok manusia kecil tapi untuk sekawanan manusia dalam jumlah yang lebih banyak. Apa gunanya hidup mengasingkan diri? Sekalipun persoalan pribadi juga belum tentu dapat diselesaikan"

Setelah berhenti sebentar, pemuda itu berkata lebih lanjut.

"Mari kita ambil contoh dalam persoalanmu dengan ayah. Menurut anggapan bibi Ku, asal hidup mengasingkan diri dalam biara maka ketenangan yang didambakan pasti akan didapat. Kepusingan hidup pasti bisa teratasi. Yaaa. memang datlam soal tata cara kau memang berhasil. Dalam soal cita-cita kaupun terpenuhi sebab dengan demikian kau tidak mengalutkan perasaan ayahku lagi. Tapi bagaimanalah dengan dirimu sendiri? Bibi Ku merasakan siksaan batin. Merasakan penderiraan. Merasaka...."

"Pinto tidak merasa menderita"

Tukas Tiang-heng Tookoh dengan lantang sebelum pemuda itu sempat menyelesaikan kata-katanya.

"Pinto tak merasa tersiksa batinnya. Pinto malah merasa pandangan hidup serta jalan pikiranku makin terbuka"

"Liong-ji bukan bermaksud mengajak bibi Ku untuk berdebat Liong-ji hanya ingin bertanya, apakah kau orang tua masih kangen dan memikirkan ayahku?" .

"Pinto kan sudah berkata, jangan singgung-singgung lagi kenangan masa lampau. Aku telah melupakan kesemuanya itu!"

Hoa In-liong berar-benar tidak membantah atau mendebat lagi ucapan tersebut. Ia tersenyum.

"Bibi Ku, tahukah engkau bahwa ayahku masih seringkali kangen dan memikirkan dirimu?"

Katanya kemudian secara tiba tiba. Sementara Tiang heng Tookoh masih tertegun, Hoa In-liong telah berkata lebih jauh.

"Bibi Ku, Liong-ji berani berbicara sesungguhnya, ayahku pasti selalu memikirkan dirimu baik siang ataupun malam. Bukan ayahku saja, bahkan nenekku, ibuku (Chin Wan-hong) maupun mamaku mereka juga selalu memikirkan engkau. Aku percaya apa latar belakang dari kejadian tersebut kau orang tua pasti lebih memahami dari pada aku"

Tiang-heng Tookoh tidak menjawab, tapi ia mendengus dingin. Ketika Hoa In-liong tidak mendapat jawaban darinya, ia tampak berpikir sebentar, tiba-tiba ujarnya lagi.

"Bibi Ku, pernahkah engkau memikirkan tentang ayahku?"

"Memikirkan apa?"

Tiang-heng Tookoh bertanya dengan wajah tertegun dan tidak habis mengerti.

"Tentu saja keadaan dari ayahku! Dirumah ia masih ada ibu. Dibawah ada istri dan anak. Bibi Ku yang jadi pendeta tentu saja dapat membuang jauh-jauh semua pikiran dan urusan keduniawiaan tapi bagaimanakah dengan ayahku? Tentu saja ayah tak dapat meninggalkan ibunya, istri dan anaknya untuk menyusul jejakmu, mencukur rambut dan hidup menyepi sebagai seorang pendeta?"

"Aaaai....! Memangnya teori tersebut tidak kupahami? buat apa mesti kau singgung lagi?"

Pikir Tiang-heng Tookoh dengan perasaan masgul, Tampaknya Hoa In-liong memang tidak terlalu mengharapkan jawabannya, ia berkata lebih lanjut.

"Wahai bibi Ku! Liong-ji hendak membahas semua persoalan yang ada didepan mata. Sekarang juga dihadapanmu aku hendak mengeritik tentang dirimu!"

"Katakan saja! Pinto akan memperhatikannya"

Kata Tiang-heng Tookoh dengan dingin.

"Pepatah kuno mengatakan. Siapa yang telah berusaha dengan segenap kemampuan, dialah yang setia...."

"Apa?"

Teriak Tiang-heng Tookoh dengan gusar. Matanya melotot besar.

"kau menuduh aku tak setia kepada ayahmku?"

"Ooooh Tentu saja bukan demikian! Liong-ji hanya membicaiakan persoalan, bukan mempersoalkan manusianya Dulu ada seorang bocah kecil jalan-jalan dengan ayahnya Setengah jalan mereka jumpai sebuah batu gunung yang besar sekali menghalangi perjalanan mereka maka berkatalah sang ayah 'Nak, singkiikan batu dari tengah jalan!' Bocah itu menurut dan segera berusaha untuk menyingkirkan batu besar tersebut dari tengah jalan Sayang lantaran tenaganya terlampau kecil, meskipun sudah didorong kesara ditarik kembali, sampai sekujur badan basah oleh karena capainya batu itu belum juga bergeser dari tempatnya semula" .

"Eeeeh.... Cerita apa yang lagi kau dongengkan? tukas Coa Wi-wi setengah berteriak karena habis sabarnya.

"Aku pikir ayah dalam ceritamu itu adalah seorang ayah telur busuk, maka engkau juga seorang telur busuk kecil"

Kata-kata itu mempunyai arti rangkap maksud. Dalam keadaan seperti ini, bukannya membicarakan urusan penting, sebaliknya malahan mendongeng apa gunanya?"

"Wi-ji, jangan menukas, biarkan saja ia bercerita!"

Sela Tiang-heng Tookoh cepat. Hoa In-liong tersenyum.

"Waktu itu si bocah sudah ngos-ngosan napasnya seperti kerbau"

Kembali ia lanjutkan dongengnya.

"Maka dalam lelahnya diapun merengek kepada sang ayah sambil berkata. 'Oh ayah, ananda tak mampu menggeserkan batu itu!', maka sang ayahpun menjawab. 'Sudahkah kau gunakan segenap kekuatan yang kau miliki?'. 'Sudah ayah!' sahut si bocah dengan wajah merengek ingin menangis, 'sekujur badan ananda jadi lemas, sedikitpun tak bertenaga lagi!'. Adik Wi, tahukah kau bagaimana jawaban dari sang ayah dari si bocah itu?"

"Apa lagi yang musti dia katakan? Sudah tentu membantu anaknya untuk menggeserkan batu tersebut!"

Sahut Coa-Wi-wi dengan alis mata yang berkenyit kencang.

"Yaaa, benar, seharusnya ia memang musti membantu sang anak. Cuma itu adalah persoalan si ayah dan bukan urusan si bocah!"

"Lantas....lantas apa jawaban dari si ayah?"

Tanya Coa Wi-wi setelah tertegun sejenak.

"Ia bilang begini. 'Wahai anakku sayang! Dengarkanlah, kau sama sekali belum menggunakan segenap kekuatan yang kau miliki. Atau paling sedikit kau toh masih dapat memohon bantuanku. Masa buka mulut untuk mengajukan pertolongan saja kau tak mampu untuk melakukannya?' Akhirnya ayah dan anakpun bergotong-royong, dengan mudahnya batu gunung itu berhasil mereka singkirkan dari tengah jalan"

Berbicara sampai disitu, iapun berpaling ke arah Tiang-heng Tookoh sambil berkata.

"Bibi Ku, dulu engkau orang tua selalu melindungi dan membantu ayahku. Mengapa selama dua puluh tahun belakangan belum pernah kau kunjungi perkumpulan Liok-soat-san-ceng kami? Apakah cuma berkunjung saja kau tak mampu untuk melakukannya?"

Tiang-heng Tookoh merasakan hatinya bergetar keras, diam-diam pikir hatinya.

"Yaa, benar juga perkataan ini! Thian-hong sedang menghadapi kesulitan, kenapa tidak pergi mencarinya? Apakah tindakanku ini merupakan suatu kesetiaan terhadap cinta, kesetiaan terhadap kasih sayang. Kesetiaan terhadap Thian-hong?"

Meskipun ia berpikir demikian, lain pula dengan apa yang diucapkan. Katanya dengan dingin.

"Mengapa pula ayahmu tidak tadang mencari aku? Kenapa akulah yang harus mencarinya?"

"Oleh karena itulah ibu berkata kepadaku, bahwa kami keluarga Hoa telah berbuat salah kepadamu!"

Sekuat tenaga Tiang-heng Tookoh berusaha untuk mengendalikan pergolakan perasaan dalam hatinya. Kembali ia berkata dengan suara yang amat dingin.

"Dari tadi kasak kusuk melulu, sebenarnya apa yang kau bicarakan....? Aku tidak mengerti!"

"Liong-ji cuma ingin bibi Ku menanggalkan pakaian pendetamu. Pulihkan wajahmu yang sebenarnya dan berdiam dirumah keluarga Hoa kami!"

"Aaaah.... itu impian kosong. Itu hanya omong kosong belaka!' teriak Tiang-heng Tookoh cepatcepat.

"Jika aku sampai berbuat demikian, bukankah sia-sia belaka pertapaanku selama delapan tahun ini? Bukankah hasil yang kuperoleh selama ini akan hancur berantakan dan lenyap dengan begitu saja?"

"Tenteramkan perasaan bibi Ku? Dengan mata kepala sendiri Liong-ji pernah mendengar kau berkata begitu. 'Akar cinta pinto sukar diputuskan, hingga tanpa sadar selalu muncul dalam benakku sebercak harapan untuk berjumpa sekali lagi dengannya!'. Kalau toh demikian, kenapa tidak secara terang-terangan saja kita berbicara dan buka kartu, lalu kita hidup bersama dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan"

"Walaupun pinto pernah mengatakan demikian, namun pinto juga pernah berkata begini. 'Usiaku telah lanjut, daripada bertemu lebih baik tak usah bertemu lagi!'. Apakah kau tidak mendengar kata kataku itu?"

"Tentu saja Liong-ji juga mendengar kata kata tersebut. Cuma Liong-ji masih sempat mendengar bibi Ku berkata begini. 'Che-giok, dirikanlah Cha-li-kau mu dan bantulah dirinya!' Kemudian kau juga pernah berkata. 'Yang penting dalam bercinta adalah mencintai, jangan mengharapkan akan berhasil atau tidak'. Lantas bagaimanakah penjelasannya dengan kata-kata tersebut?"

Tiang-heng Tookoh benar-benar merasa kehilangan muka, sinar matanya kontan mencorong tajam, bentaknya dengan tajam.

"Liong-ji, sebetulnya kau pakai aturan atau tidak?"

"Bibi Ku, apakah kau berharap rasa hormat Liong-ji kepadamu hanya tergantung dibibir belaka. Kau tak akan perduli perasaan tersebut sesungguhnya atau pura-pura belaka?"

Kata Hoa In-liong dengan wajah yang amat serius. Mula-mula Tiang-heng Tookoh agak tertegun. Kemudian dengan suara yang lebih lembut dia mengeluh.

"Aaaaai.... Kau si bocah cilik.... memang kau anggap urusan didunia ini segampang apa yang kau duga? Kuakui memang pandai berbicara dan bersilat lidah tapi jangan toh belum tentu kan bisa menaklukan perasaan pinto. Sekalipun aku berhasil kau taklukan, bagaimana kedua orang tuamu dan nenekmu? Bagaimana dengan jalan pikiran mereka? Ketahuilah "

Berbuat salah kepada pinto"

Adalah satu urusan. Melakukan sesungguhnya adalah urusan lain. Kau masih terlalu muda, jalan pikiranmu terlalu polos, hanya mengandalkan kehangatan perasaan belaka...."

Yaa, setelah bertemu dengan manusia macam Hoa In-liong mau tak mau Tiang-heng Tookoh harus bermain akal.

Maka nada suaranya jauh di perlunak, ia berusaha membicarakan tentang soal cengli dengannya.

Siapa tahu begitu Hoa-In-liong mendengar perkataan tersebut, ia lantas menukas kembali.

"Bibi Ku tak usah memikirkan tentang soal lain lagi. Soal ayah ibuku bahkan tentang nenekku serahkan saja kepada Liong-ji. Liong-ji yang akan bertanggung jawab tentang soal ini"

"Aaaah.... tanggung jawab apa yang bisa kau pikul?", ejek Tiang-heng Tookoh.

"Paling-paling kalau tidak berhasil, kau lantas menggunakan kekerasan!"

"Jika kekerasan tidak berhasil, aku akan berbicara soal cengli. Aku yakin semua urusan didunia ini tak dapat mengalahkan soal cengli"

Tegas anak muda itu.

Jilid 25 PERKATAAN tersebut segera mengundang rasa geli dari Tiang-heng Tookoh.

"Cengli apa yang hendak kau bicarakan?"

Katanya.

"Apakah engkau hendak mengatakan pinto telah melakukan bagaimana terhadap keluarga Hoa kalian?"

"Yaa, benar!"

Hoa In-liong membenarkan.

"Bila Cengli perlu dibicarakan, soal tersebut mau tak mau harus dibicarakan pula. Cuma....soal itu lebih baik dibicarakan sampai pada waktunya saja! Bagaimanapun juga Liong-ji lah yang akan bertanggung jawab. Asal bibi Ku setuju untuk menanggalkan jubah pendeta dan berkumpulan dengan kami, Liong-ji jamin ayah sendirilah yang akan menyambut kedatangan bibi di perkampungan kami" . Namun Tiang-heng Tookoh gelengkan kepalanya berulang kali. Dia hanya tertawa tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hoa In-liong jadi tertegun.

"Kenapa?"

Teriaknya.

"Apakah engkau tak percaya dengan Liong-ji?"

"Dalam soal ini bukan percaya atau tidak yang dipersoalkan. Sebaliknya adalah pinto yang tak dapat menyanggupi permintaanmu itu. Pinto tak mungkin memenuhi harapanmu itu" . Hoa In-liong semakin tertegun, semakin termangu. Setelah melongo beberapa waktu lamanya ia baru berkata lagi.

"Bibi Ku, kau tidak pakai aturan. Sekarang kau sedang melarikan diri dari tanggung jawab. Kau sedang berusaha menghindari kenyataan. Kau berusaha mencuri hidup diantara perasaan yang saling bertentangan dengan perasaan egoismu sendiri, tahukah engkau akan hal ini?"

Tiang-heng Tookoh tersenyum.

"Percuma Liong-ji. Kau tak usah menggunakan kata-kata semacam itu untuk membakar perasaanku keputusan pinto sudah kuambil sejak delapan tahun berselang. Membakar hatiku hanya pekerjaan yang sia-sia belaka, lebih baik berhematlah dengan tenagamu!"

Hoa-In-liong benar benar kehabisan akal, alisnya mulai berkerut karena kesal.

"Bibi Ku, tampaknya kau memang seorang perempuan yang berhati sekeras baja"

Omelnya. Tiang-heng Tookoh masih juga tersenyum seperti sedia kala.

"Kau keliru anak liong. Hati pinto sebenarnya lebih empuk daripada tahu. Sebab hati yang terbuat dari besi makin digarang makin lembek. Sebaliknya hati yang seempuk tahu makin digarang, akan semakin mengeras, tahukah engkau akan hal ini?"

Hoa In-liong bukan seorang manusia yang bodoh setelah menyaksikan keadaan tersebut, diamdiam diapun berpikir.

"Aaaai.... Jika ditinjau dari sikapnya yang amat santai dan acuh tak acuh, tampaknya usahaku kali ini hanya akan sia-sia belaka. Aku.... aku.... Yaa benar! Aku harus memanasi lagi hatinya. Coba dilihat dulu bagaimana reaksinya sebelum mengambil keputusan lebih jauh!"

Setelah mengambil keputusan, diapun menatap tajam perempuan itu, kemudian ujarnya dengan suara dalam.

"Jadi kalau begitu, bibi Ku sudah mengambil keputusan untuk melakukan pembalasan dendam?"

"Membalas dendam?"

Tiang-heng Tookoh tertegun dan berdiri melongo.

"Aku mau membalas dendam....? Membalas dendam kepada siapa nak?"

"Tentu saja kepada ayahku!"

Sahut Hoa In-liong dengan dahi berkerut. Ia sudah mempunyai rencana yang matang, maka ucapan itupun dikatakan dengan wajah bersungguh-sungguh.

"Bukankan kau hendak membalas dendam pula terhadap anak cucu dari keluarga Hoa kami?" . Tiba-tiba perubahan wajah Tiang-heng Tookoh yang menegang berubah jadi lembut kembali, ia tersenyum.

"Jadi engkau berpendapat demikian?"

Ia bertanya.

"Yaa, dan aku rasa itulah kenyataannya!"

Jawab Hoa In-liong dengan nada marah.

"Kami keluarga Hoa telah bersalah kepadamu, membiarkan kau hidup bergelandangan seorang diri diluar, bukankah hal ini...."

"Bukankah hal ini sama halnya dengan menjerumuskan ayahmu sebagai seorang manusia yang tak setia kawan, membuat anak keturunan keluarga Hoa harus menanggung sesal sepanjang hidup. Bukankah Demikian?"

Tukas Tiang-heng Tookoh.

"Liong-ji kau telah memandang duduknya persoalan terlampau serius. Apalagi pinto sendiripun tak pernah berpikir sampai kesitu, bahkan selamanya tak nanti akan berpikir demikian"

Tiba-tiba Hoa In-liong jadi emosi, serunya.

"Yaa, kau tak akan berpikir demikian, tapi aku berpikir demikian! Ayahku mungkin tidak berpikir begitu, namun bagaimana dengan orang orang lainnya? Mereka pasti akan berpendapat betul!. Kami orang-orang dari keluarga Hoa biar kepala harus dipenggal, darah berceceran menggenangi tanah, semuanya tak sudi melakukan perbuatan yang merugikan orang lain. Nama yang berhasil kami raih selama inipun diperoleh secara jujur dan terbuka. Tapi hari ini ternyata masih ada satu kejadian yang tidak menyenangkan menyangkut diri ayahku. Bukankah hal ini sama halnya dengan mempersulit kedudukan keluarga Hoa kami? Bukankah kejadian ini akan lebih menyiksa diri kami daripada kami semua dibantai?. Bibi Ku, melimpahkan bencana sampai anak cucunya, apakah kau tidak merasa bahwa caramu membalas dendam sedikit kelewat kejam dan berlebihan?"

Beberapa patah kata yang terdapat memang merupakan suatu kenyataan.

Tiang-heng Tookoh cukup memahami akan keadaan tersebut, tapi berbicara soal pembalasan dendam, itulah suatu tuduhan yang bikin orang jadi penasaran.

Tapi, Hoa In-liong memang bertujuan untuk membakar hati Tiang-heng Tookoh.

Tentu saja ia baru mamiliki kata-kata yang dapat membangkitkan amarah lahir tersebut dan buktinya rahib perempuan itu memang tak tahu menghadapi sekarang kata-kata yang kesal didengar itu.

Paras mukanya berubah hebat, dengan nada yang kesal ia membentak keras-keras.

"Tutup mulutmu! Membalas dendam.... membalas dendam.... Kalau aku mau membalas dendam, lantas kenapa? Apakah kalian...."

"Kami kenapa?"

Tukas Hoa In-liong dengan wajah mengejek.

"Kami bukannya sengaja bermaksud melupakan engkau. Hmm! Kalau sejak dulu kami tahu bahwa pikiranmu demikian picik, dadamu demikian sempit. Bukan saja aku tidak akan banyak ribut dan cerewet hingga mengesalkan hati orang mungkin ayahku sendiri juga tak sampai turun gunung!"

Ketika si anak muda itu mengucapkan kata-katanya dengan nada yang sinis, Tiang-heng Tookoh dibuat terbelalak karena kaget.

Selang sesaat kemudian, si Rahib perempuan itu baru berkata lagi dengan suara dingin.

"Kalau ayahmu turun gunung lantas kenapa? Siapa yang tidak tahu bahwa ayahmu adalah seorang enghiong, seorang pendekar, seorang laki-laki yang lebih mementingkan karier...."

Ketika secara diam-diam Hoa In-liong mengamati perubahan wajahnya, ia lantas berpikir.

"Bagus.... sudah hampir kena. Begitu kusinggung bahwa ayahku sudah turun gunung, ternyata paras mukanya berubah juga" . Meski berpikir demikian dihati, sikap diluaran tetap kaku dan sinis, malahan dengan suara yang berubah sekali lagi dia menukas.

"Bibi Ku, jadi kau tidak pandang sebelah mata kepadaku?"

Ucapan tersebut ibaratnya hembusan angin dari lubang gua, mendadak sekali munculnya seketika itu juga membuat Tiang-heng Tookoh tertegun.

"Apa maksudmu?"

Serunya kemudian.

"Kau mengatakan ayahku seorang enghiong, seorang pendekar, seorang laki laki yang mementingkan karier, bukankah hal ini sama artinya dengan tidak pandang sebelah mata kepadaku?"

Seru Hoa In-liong dengan mata melotot besar.

"Eeeh.... Kalau bicara sedikitlah lebih jelas. Siapa yang tidak pandang sebelah mata kepadamu?"

Hoa in-liong mendengus dingin.

"Hmmm....! Masih berpura pura? Terus terang kukatakan kepadamu, ayanku turun gunung kali ini adalah sedang menjalankan tugas untuk mencari dirimu. Sebaliknya tanggung jawab dalam menegakkan keadilan dan kebenaran serta menumpas hawa iblis dari muka bumi oleh nenek telah diserahkan kepadaku. Dengan perkataanmu barusan, bukankah sama artinya bahwa kau memandang enteng usiaku yang masih terlalu muda, kepandaian silatku yang terbatas dan tak pantas memikul tanggung jawab tersebut?"

Jelas perkataannya itu adalah kata-kata bohong sekalipun ada beberapa hal yang merupakan kenyataan, namun jauh sekali bila dibandingkan dengan kenyataan yang sesungguhnya.

Meski demikian, ketika ia utarakan kata-kata itu dengan nada marah, menunjukkan sikap tak mau kalah dari seorang muda.

Bukan saja orang yang mendengar seakan akan dibikin percaya.

Tiang-heng Tookoh yang semula masih ragu-ragu pun jadi percaya dibuatnya.

Betul juga, ketika Tiaig-heng Tookoh mendengar perkataan itu hatinya kontan bergetar keras, paras mukanya ikut berubah hebat.

"Sungguh.... sungguh ini?"

Ia bertanya dengan nada gemetar. Hoa In-liong mencibirkan bibirnya.

"Sungguh atau tidak, aku dapat mengambil . Kenyataan membuktikannya dihadapanmu, buat apa kau musti banyak bertanya?"

Ia pura pura seperti salah mengartikan maksud lawan, pura-pura seperti seorang laki-laki yang merasa tersinggung karena kemampuannya diragukan orang.

Semakin ia bersikap begitu, Tiang-heng Tookoh semakin percaya bahwa kata kata anak muda itu adalah kenyataan.

Maka baru saja Hoa In-liong menyelesaikan kata-katanya, dengan wajah gugup dan tegang ia berseru kembali.

"Liong-ji, aku sedang menanyakan tentang...."

Tak bisa diragukan lagi, kata kata selanjutnya tentulah "ayahmu atau orang tuamu bagaimana.... bagaimana...."

Namun, justru dengan pertanyaan ini, terlihatlah dengan jelas betapa bertentangannya jalan pikiran si rahib perempuan itu, dan terbongkar pula bagaimanakah perasaan hati yang sebenarnya.

Oleh sebab itu ia stop perkataannya sampai di tengah jalan, untuk sesaat dia jadi gelagapan dan tak tahu harus maju atau mundur, tertegun dan berdiri melongo.

Perlu diketahui, Tiang-heng Tookoh sampai nekad mencukur rambut jadi pendeta dan menggunakan "Tiang-heng"

Sebagai gelarnya, bahkan dewasa ini diapun tak mau menyanggupi permohonan dari Hoa In-liong, hal ini bukan dikarenakan rasa cintanya sudah menipis, rasa bancinya makin menebal.

Juga bukan lantaran wataknya sudah berubah dan ia jadi orang yang tak tahu adat.

Sebaliknya kesemuanya itu justru karena perasaan hatinya yang saling bertentangan.

Atau tegasnya, hal ini dikarenakan rasa rendah dirinya yang menebal menyebabkan perasaannya jadi sensitif, gampang tersinggung dan akhirnya terciptalah sikap jaga gengsi yang berlebihan.

Seandainya ia dapat menghilangkan sikap jaga gengsinya, hilanglah rasa rendah dirinya, maka semua kemurungan dan kebencian secara otomatis akan ikut lenyap pula dengan sendirinya Teringat ketika peristiwa pencarian harta dibukit Kiu-ci-san tempo hari, Chin Wan-hong hujin pernah mendapat perintah dari Bu lo-tay-kun untuk berangkat ke bukit Kiu-ci-san dan membicarakan tentang hubungan antara Hoa Thian-hong dengan diri Tiang-heng Tookoh ketika itu.

Dengan watak Chin Wan-hong hujin yang luwes dan halus, ia telah memberi banyak penjelasan tentang budi, cinta, setia kawan dan cengli terhadap diri Tiang-heng Tookoh ketika itu.

Bahkan diapun telah menyampaikan pesan dari Bu lo-tay kun yang mengundang dirinya untuk berdiam di perkampungan Liok-soat-san-ceng.

Ketika itu Giok-teng hujin (Tiang-heng Tookoh) pernah berkata demikian.

"Kakak benar-benar tak punya keberanian untuk melangkahkan kakiku memasuki gerbang keluarga Hoa!"

Diapun berkata pula demikian.

"Bukannya aku tak mau. Pada hakekatnya aku merasa malu, merasa rendah diri untuk berbuat demikian!"

Waktu itu, berada dihadapan Chin Wan-hong yang lembut dan luwes, boleh dibilang semua perkataan yang diutarakan keluar.

Muncul secara jujurnya dan benar-benar keluar dari sanubari yang murni.

Namun tak bisa dihindari pula rasa malu dan rendah dirinya makin terbuka pula dalam kata-kata itu.

Sebab itulah ketika pencarian harta karun di bukit Kiu ci-san telah berakhir, bukan saja ia tidak menerima tawaran dari Chin Wan-hong hujin untuk berdiam sementara waktu di pasanggrahan keluarga Hoa yang ada dipulau Si-soat-to dilautan Tang-hay.

Bahkan sebaliknya ia malah bergelandangan kesana kemari dan berusaha sedapat mungkin menghindari pertemuannya dengan setiap orang yang berhubungan dengan keluarga Hoa.

Ia berbuat demikian pada mulanya bermaksud demi kebaikan Hoa Thian-hong, juga ingin memutuskan rasa kangen Hoa Thian-hoeng terhadap dirinya.

Siapa tahu sama kini dia berbuat demikian rasa kangen dan cintanya kepada Hoa Thian-hong yang bertambah dalam.

Memang hatinya pernah tergerak untuk berdiam di pasanggrahan keluarga Hoa di pulau Si-soat to namun ia selalu tak mempunyai keberanian untuk melangkah ke bukit Im Tiong-san.

Yaa, cinta yang terlampau ditekan lama kelamaan memang bisa menimbulkan akibat sampingan.

Akhirnya ia mulai berpikir bahwa jelek-jelek Hoa Thian-hong seharusnya turun gunung untuk menengok dirinya.

Tidak seharusnya kalau ia berdiam diri belaka seakan-akan telah melupakan sama sekali terhadap seorang perempuan yang bernama Giok-teng hujin.

Akibatnya rasa kesal yang menumpuk menimbulkan kebencian.

Dengan menahan rasa benci dan dendam diapun memutuskan untuk cukur rambut jadi pendeta dengan gelar "Tiang-heng" (benci yang berkepanjangan).

Tapi sekarang, Hoa Thian-hong datang mencarinya, bahkan datang dengan membawa tugas.

Jelas yang dimaksudkan dengan "membawa tugas"

Adalah tugas yang diberikan Bun Lo tay-kun kepadanya, dengan demikian membuktikan pula bahwa orang-orang keluarga Hoa pada hakekatnya tak pernah melupakan dirinya.

Hal ini bukankah sama artinya dengan dia sendirilah yang sebetulnya sudah salah sangka?

Untuk sesaat lamanya, Tiang-heng Tookoh betul betul merasakan pikirannya kalut dan murung.

Belum pernah pikirannya sekalut ini.

Berbeda dengan Hoa In-liong, diam diam ia gembira karena siasatnya sudah mendatmgkan hasil, katanya kembali.

"Bibi Ku, kau sedang menanyakan soal ayahku? Terus terang saja sebenarnya aku tak ingin mengatakannya kepadamu. Daripada kau kira aku sedang membohongi dirimu, tapi sekarang toh aku sudah terlanjur mengatakannya keluar, maka aku pun tak ingin mengelabuhi dirimu lagi. Yaa benar bibi Ku, ayahku sedang mencarimu. Liong-ji ingin bertanya sekarang seandainya kau telah bertemu dengan ayah, apakah bibi Ku masih tetap akan keras kepala seperti ini?"

Ia memang bermaksud untuk membakar hati rahib itu, maka tak segan-segannya untuk bicara bohong, berbicara menurut perasaannya.

Tujuan kali ini pasti akan berhasil, siapa tahu cara lain pun tak mempan, apalagi hanya mengandalkan sepatah dua patah kata saja?

Tiang-heng Tookoh termenung dan berpikir sebentar, kemudian pelan-pelan bangkit berdiri, ujarnya dengan lembut.

"Baiklah kalau begitu tolong sampaikan kepada ayahmu. Katakanlah Ku Ing-ing yang dulu sudah mati banyak tahun. Yang masih hidup didunia sekarang ini tak lebih hanyalah Tiang-heng Tookoh. Kenangan lama bagaikan asap di udara, harap dia tak usah mencari diriku lagi"

Perkataan itu diurapkan dengan sikap yang serius, nada yang kalem dan sama sekali tak nampak emosi. Sikap seperti ini tentu saja mencengangkan Hoa In-liong. Ia tertegun dan ikut bangkit berdiri.

"Kenapa?"

Serunya.

"kau.... kau...."

Tiang-heng Tookoh tertawa ewa, sambil ulapkan tangannya ia menjawab.

"Selamat tinggal anak liong. Kau sangat cerdik, semoga kau baik-baik menjaga diri dan jangan lupa dengan pesan pinto!"

Kemudian kepada Coa Wi-wi diapun berseru.

"Selamat tinggal!"

Kemudian sambil mengebaskan ujung jubahnya, ia putar badan dan berlalu dari situ. Hoa In-liong jadi termangu.

"Bibi Ku!"

Teriaknya.

"Kau...."

Namuh Tiang-heng Tookoh tidak berpaling lagi, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan. Hoa In-liong siap menerjang, tapi Coa Wi-wi segera menarik tangannya seraya berbisik.

"Percuma, tak mungkin dapat kau susul lagi. Jiko! Biarkan dia pergi...."

Hoa In-liong termenung sebentar akhirnya ia menghela nafas panjang.

"Aaaai.... Akulah yang terlalu bernafsu. Akulah yang tak dapat mengendalikan emosiku. Aaaai! Siapa tahu kalau ia akan pergi sambil memutuskan hubungan. Begitu mengatakan mau pergi segera juga ia pergi!"

"Siapa bilang kalau dia pergi sambil memutuskan hubungan? Justru lantaran dia jadi bingung, gelagapan dan tak tahu apa yang musti dilakukan, maka dia putuskan untuk pergi saja dari sini. Tak usah kuatir Jiko! Pada hakekatnya ia sudah kau buat tergerak perasaan hatinya. Aku dapat melihatnya. Bila kalian berjumpa lagi dikemudian hari, aku yakin kau pasti berhasil"

"Aaaai!.... Kalau musti menunggu sampai bertemu lagi dikemudian hari, siapa bilang kalau aku akan berhasil dengan gampang?"

"Aaaah.... Kenapa kau jadi tolol begitu?"

Omel Coa Wi-wi dengan dahi berkerut.

"Kemarikan telingamu, akan kuberi tahu duduk persoalan yang sesungguhnya!"

Melihat perempuan itu sok rahasia, terpaksa Hoa In-liong tundukkan kepalanya dan menempelkan telinganya disisi bibir gadis itu.

Coa Wi-wi meninggikan tumitnya dan membisikkan sesuatu disisi telinga pemuda itu.

Entah apa yang telah ia bisikkan.

Tapi yang jelas, setelah mendengar bisikan tersebut, Hoa In-liong mengangguk berulang kali.

"Yaa.... apa boleh buat, terpaksa memang harus begitu, semoga saja apa yang kau duga memang tepat!"

"Pasti!"

Sahut Coa Wi-wi dengan wajah bersungguh-sungguh.

"Bila kau tidak percaya, bagaimana kalau kita bertaruh saja?"

Hoa In-liong tertawa geli.

"Bertaruh apaan? Anggap sajalah aku percaya kepadamu, mari kita berangkat!"

Maka kedua orang itupun tinggalkan hutan menuju ketepi sungai sambil bergandengan tangan.

Ketika fajar baru menyingsing, kedua orang itu sudah tiba di dermaga penyeberangan Wu-kang.

Selesai bersantap pagi, mereka mencari perahu dan berangkat menuju kota Kim-leng.

Inipun merupakan usul dari Coa Wi-wi.

Ia bilang dengan menempuh perjalanan memakai perahu maka mereka akan berhindar dari pengawasan orang serta mengurangi datangnya banyak kesulitan yang tak perlu.

Selesai itu diapun beralasan lantaran racun keji yang mengeram ditubuh Hoa In-liong belum lenyap, maka menggunakan kesempatan menumpang perahu ia dapat bersemedi untuk memaksa keluarnya racun dari badan.

Padahal, setelah mereka berdua naik perahu, Coa Wi-wi malahan bertanya kesana bertanya kemari tiada hentinya.

Pokoknya ia bagaikan seekor burung kecil yang manja, meskipun agak bawel dan bertanya terus, cukup menggembirakan hati orang.

Hoa In-liong bukanlah seorang pemuda yang pemurung.

Apa yang mereka rencanakan semulapun segera dikesampingkan untuk sementara waktu.

Di hadapan sigadis yang manja itu dia bersikap penurut.

Semua pertanyaan yang diajukan kepadanya segera dijawab sampai memuaskan hatinya.

Sementara persoalan yang menyangkut keselamatan Hoa Si pun untuk sementara waktu dikesampingkan.

Perahu yang berjalan mengikuti arus ternyata bergerak lebih cepat dari psrjalanan di darat.

Ketika senja menjelang tiba, perahu sudah tiba di dermaga Hee-kwan.

Kedua orang itupun naik kedataran dan masuk kota.

Menurut rencana Hoa In-liong, dia segera akan kembali ke persoalan yang nyata.

Tapi setelah merenung sebentar, akhirnya diapun berkata begini.

"Adik Wi, lebih baik kau pulang dulu, aku hendak menengok keadaan dirumah pelacuran Gi-sim-wan"

"Tidak!"

Belum saja kata-katanya selesai, Coa Wi-wi sudah menukas dengan cepat.

"Aku tak mau pulang, lebih baik kita pergi bersama sama saja!"

"Tapi.... Tapi.... Masa kau mau ikut pergi ke tempat semacam itu? Kan tidak pantas?"

Sahut Hoa In-liong sambil menunjukkan sikap keberatan.

"Aaaah.... Siapa yang bilang kalau aku tak pantas berkunjung kesana?"

Teriak Coa Wi-wi cemberut.

"Pokoknya aku tak mau tahu. Toh kau telah berjanji, kemanapun kau pergi aku akan mengikuti terus. Kau jangan salah janji!"

Hoa In-liong mengerutkan dahinya, pusing, tapi setelah berpikir sebentar katanya kembali.

"Adik Wi sayang, mesti menurut. Banyak urusan yang musti kita kerjakan saat ini. Bagaimana pun juga semua pekerjaan tersebut harus kita lakakan secara terpencar. Pulanglah dulu ke rumah, coba tengok apakah kakakmu masih dirumah. Bila ada maka suruhlah dia tunggu sebentar, aku akan segera menyusul ke sana"

"Percuma, tak usah ditengok!"

Coa Wi-wi gelengkan kepalanya kembali.

"Aku cukup memahami wataknya itu. Apa yang katakan Wa Ek-hong pasti tak bakal salah lagi dia, pasti sudah pergi menemani Yu toako"

"Tapi kakakmu adalah seorang laki-laki yang pegang janji. Ketika kami berpisah, ia telah berjanji akan menunggu aku di kota Kim-leng. Padahal keadaan yang sebenarnya mengenai keluarga Yu hanya diketahui oleh kakakmu seorang. Aku tidak kenal siapa-siapa disini, rasanya tidak gampang bagiku untuk menemukan jejaknya...."

"Kau tidak kenal siapa-siapa aku toh kenal"

Kembali Coa Wi-wi menukas dengan cepat.

"Aku bisa membawa kau pergi mencarinya. Kalau tidak apa salahnya kalau kita langsung berkunjung ke telaga Hian-bu-ou?"

"Bila kakakmu kita temukan, mati tak perlu berkunjung ke Hian-bu-ou. Ketahuilah adik Wi menolong orang bagaikan menolong kebakaran, kita harus bekerja cepat"

"Walau begitu, toh tak ada gunanya musti bergelisah atau bercemas-cemas? urusan musti kita selesaikan satu demi satu. Hayolah, kita cari dulu alamat dari markas Cian-li-kau. Setelah keadaan Toako dapat kita ketahui maka kita baru pergi mencari kakakku dan menyelidiki kejadian yang sebenarnya mengenai keluarga Yu. Asal dia ditemukan, bukankah kepergian Yu toako juga bakal kita ketahui?"

"Baiki"

Kata Hoa In-liong dengan kening berkerut.

"Kalau toh engkau sudah tahu bahwa tujuanku adalah mencari markas Cian-li kau, itu berarti aku bukan pergi untuk mencari gara-gara apa lagi yang kau kuatirkan?. Ketahuilah, rumah pelacuran Gi-sim-wan adalah tempat yang rendah dan bejat. Sebagai seorang anak dara tidak pantas bagimu untuk mengunjunginya.... Mengerti?"

"Hmmm! Darimana kau bisa tahu kalau tak akan terjadi pertarungan?"

Seru Coa Wi-wi tak mau kalah.

Seandainya sampai terjadi bentrokan kekerasan, lantas bagaimana?

Kau bilang anak dara tak boleh berkunjung ke situ, bila ku saru sebagai orang pria kan urusan jadi beres?

Aku tidak percaya kalau didunia ini terdapat pula tempat-tempat yang tak boleh kukunjungi"

Hoa In-liong benar-benar mati kutunya, ia tak mampu memberikan alasan lagi kepada si nona yang cerdik.

Yaa, memang rada pusing setelah bertemu dengan seorang nona setengah matang setengah ke kanak-kanakan macam Coa Wi-wi.

Bukan saja ia tak dapat menerangkan Gi sim-Wan itu tempat yang bagaimana, diapun tak dapat menarik muka sambil memaksanya pulang dulu ke rumah.

Apalagi apa yang diucapkan Coa Wi-wi bukannya sama sekali tak beralasan.

Sekalipun ia cerdik, sekalipun ia banyak akal musliat, tapi sekarang anak muda itu benar-benar keok benar-benar mati kutunya dan tak sanggup berkata-kata lagi.

Maka diapun meneruskan perjalanannya dengan membungkam, sedang Coa Wi-wi mengikutinya pula di belakang dengan mulut membungkam juga.

Begitulah....

dalam suasana bening dan tutup mulut, kedua orang itu masuk ke dalam kota.

Tak lama setelah mereka masuk kota, dari depan sana tiba-tiba muncul seorang pengemis kecil yang menghampirinya.

Begitu sampai dihadapan Hoa In-liong sambil tertawa pengemis kecil itu berseru.

"Kongcu, apakah kau she-Pek?".

"Ada urusan apa....?"

Tanya Hoa In-liong dengan wajah tertegun, ia heran. Pengemis kecil itu segera tertawa cekikikan.

"Hiih.... hiii.... Bila engkau benar-benar she Pek, tolong hadiahkan setahil perak untukku!"

Ketika Coa Wi-wi mengetahui bahwa orang itu cuma seorang pengemis yang minta persen, kontan saja matanya melotot besar, rupanya dia hendak mengumbar hawa amarahnya.

Berbeda dengan Hoa la-liong, setelah berpikir sebentar ia merasa urusan ini sedikit mencurigakan.

Maka diambilnya setail perak dan diberikan kepada pengemis itu.

"Nih, hadiah untukmu, kalau ada perkataan cepat disampaikan!"

Serunya. Setelah menerima uang itu dan ditengoknya sebentar, pengemis cilik itu kembali tertawa cekikikan.

"Hii.... hii.... hiih.... Kalau begitu perempuan-perempuan itu tidak salah bicara. Kongcuya tentulah orang she Pek yang dimaksudkan. Nih Untukmu...."

Tangannya yang dekil segera merogoh ke dalam sakunya dan nenyusupkan segumpal kertas ketangan Hoa In-liong setelah itu diapun putar badan dan berlalu dari sana dengan wajah terseri-seri.

Mula mula Hoa In-liong agak tertegun, kemudian kertas itu dibentangkan dan isinya dibaca.

Coa Wi-wi ikut menyusul kedepan dan membaca pula isi surat tersebut....

Terbcalah surat itu berbunyi demikian.

"Anak Si tidak apa apa, baik-baiklah jaga diri"

Dibawah kertas itu terdapat sebuah tanda pengenal, sebuah lingkaran bukit yang mempunyai sebuah ekor.

Tentu saja Coa Wi-wi jadi tercengang menyaksikan tanda gambar itu.

Sambil menuding tanda tersebut serunya.

"Gambar apa itu? Masa mirip kecebong?"

"Huusss! Itu bukan gambar kecebong!"

Seru Hoa In-liong.

"Itu lukisan sebuah kipas bundar, senjata andalan dari Cu-yaya"

Mendengar perkataan itu, Coa Wi-wi memperhatikan sekali lagi, betul juga, lukisan itu memang mirip sebuah kipas, maka diapun tertawa.

"Bisa menggunakan sebuah kipas sebagai senjata andalan, ilmu silat yang dimiliki Cu-yaya itu pasti tinggi sekali!"

"Cu-yaya bergelar Siau-yau-sian (dewa yang suka kelayapan). Dia adalah supek dari enthio ku. Tentu saja ilmu silat yang dimilikinya sangat lihay"

Sahut Hoa In-liong dengan suara ewa. Ketika didengarnya suara pembicaraan si anak muda itu dingin dan ewa, Coa Wi-wi melongo.

"Eeeeh.... kenapa kamu?"

Serunya.

"Masih marah yaa sama aku?"

"Siapa yang marah kepadamu?"

Sahut Hoa In-liong tertegun. Ia tampak agak tercengang.

"Aku memaksa kau, bersikeras ingin ikut dirimu pergi ke Gi-sim-wan, marah bukan kepadaku?"

Hoa In-liong berseru tertahan kemudian tertawa geli.

"Nah, itulah dia kalau jadi orang banyak curiga. Aku kan tahu bahwa kau bermaksud baik. Memangnya aku ini orang yang bodoh dan suka marah-marah kepada orang yang baik kepadaku?"

"Kalau bukan lagi marah, kenapa kau berdiri melongo seperti orang kehilangan semangat?. Sampai-sampai suara jawabanmu kedengaran begitu tawar dan ogah-ogahan?"

Sekarang Hoa In-liong baru sadar.

"Oooh.... Rupanya begitu, aku lagi memikirkan urusan lain. Aku tahu bahwa Cu-yaya itu orangnya suka bercanda. Tapi tulisan yang ia tinggalkan kali ini begitu singkat dan terburu-buru, sebenarnya apa yang telah terjadi. Kejadian apakah yang sudah membuat dia orang tua harus tinggalkan kebiasaannya dan terburu-buru?" . Mendengar perkataan itu, sekali lagi Coa Wi-wi menengok keatas kertas surat. Betul juga, tulisan itu miring kesana kemari dan ditulis amat terburu-buru. Tapi ia segera tertawa.

"Aaaah.... engkau ini juga keterlaluan, bukankah kau sendiri pernah berkata, bila perahu sampai diujung jembatan dia akan lurus dengan sendirinya? Kalau tak bisa kau pecahkan yaa tak usah dipikirkan terus menerus!"

Hoa In-liong berpikir sebentar, ia merasa perkataan itu ada benarnya juga, maka diapun mengangguk.

"Yaa, perkataan dari adik Wi memang benar. Aku lihat Gi-sim-wan juga tak usah dikunjungi lagi. Hayo bawa jalan, kita lewati saja gang-gang yang sempil dan jarang dilewati orang" . Ketika itu magrib sudah menjelang tiba. Disaat-saat seperti ini jalan raya penuh dengan manusia yang berlalu-lalang. Sebaliknya jalan yang sempit dan gang-gang yang sepi, jarang dilalui orang. Dengan demikian mereka bisa berjalan lebih cepat lagi. Sejak kecil Coa Wi-wi dibesarkan di kota Kim-leng, sudah tentu dia hapal sekali dengan jalanjalan di kota tersebut. Maka ketika ia disuruh membawa jalan, dengan langkah lebar gadis itu berjalan memasuki sebuah lorong yang sepi. Setelah berjalan kesana kemari sekian lama, mereka mampir dulu di rumah penginapan "Banliong?"

Untuk membayar rekening serta mengambil buntalan milik Hoa In-liong.

Setelah itu baru menuju ke jalan raya sebelah timur ke gedung keluarga Coa.

Congkoan dari gedung Coa bernama Kok Hong-sen.

Dia adalah seorang kakek kekar yang berusia lima puluh tahunan.

Setibanya di rumah, Coa Wi-wi memanggil Kok Hong-seng untuk menghadap.

Dari si kakek inilah mereka baru tahu kalau Yu Siau-lam memang benar-benar sudah menuju kebarat.

Meski Coa Cong-gi tidak ikut dalam perjalanan tersebut, akan tetapi sudah dua hari dia juga tak diketahui kemana perginya.

Begitu Coa Wi-wi mendapat tahu kalau kakaknya masih dikota Kim-leng, ia segera memerintahkan kepada Kong Hong-seng untuk mengutus orang mencarinya.

Kemudian memerintahkan pula pelayan untuk menyiapkan hidangan dan mempersilahkan Hoa In-liong bersihkan badan serta berganti pakaian.

Pelayan yang bekerja di keluarga Coa banyak sekali jumlahnya.

Gedung itupun sangat luas.

Selesai bersantap malam, mereka berduapun duduk di ruang tengah sambil bercakap-cakap dan menunggu kembalinya Coa Cong-gi.

Mereka ingin tahu apa yang telah terjadi dikeluarga Yu agar bisa disusun rencana kerja selanjutnya.

Berbicara menurut keadaan Hoa In-liong dewasa ini, sebenarnya ia tidak berminat untuk banyak bicara atau duduk tersantai-santai.

Pertama oleh karena Coa Wi-wi yang manja menambah gairahnya.

Kedua setelah berada di kota Kim-leng ia merasa tak enak untuk tidak mencari tahu keadaan keluarga Yu.

Maka daripada kesal menunggu orang, ia memutuskan untuk bercakapcakap sambil mengusir kekesalan dalam hatinya.

Lain halnya dengan Coa Wi-wi, dalam hati kecilnya saat itu cuma ada Hoa In-liong seorang.

Soal budi dendam dalam dunia persilatan, pergolakan dan pertumpahan darah diantara umat Bu-lim, baginya merupakan persoalan nomer dua.

Maka bicara punya bicara akhirnya merekapun membicarakan tentang racun ular sakti yang mengeram di tubuh anak muda itu.

Menyusul kemudian membicarakan pula tentang Goan-cing Taysu beserta asal-usul keluarga Coa.

Asal usul keluarga Coa memang cukup tersohor dan punya nama besar.

Tiga ratus tahun berselang siapapun yang menyinggung tentang kebajikan serta kelihayan ilmu silat Bu-seng (Rasul Ilmu Silat) Im Ceng, mereka pasti akan tunjukkan sikap menghormati dan acungkan ibu jarinya.

Cuma, Hoa In-liong bukan seorang laki-laki yang suka menyanjun orang lain.

Sekalipun dia pernah mendapat warisan ilmu Bu kek-teng-eng-im-hoat dari Goan-cing Taysu, itu pun hanya menimbulkan rasa terima kasih dalam hatinya saja.

Sebaliknya begitu dia tahu kalau ayah Coa Wi-wi, Coa Coan-hua telah lenyap sejak lima belas tahun berselang, ia jadi terkejut bercampur terharu, bahkan luapan emosinya dihati hampir saja sukar dikembalikan lagi.

Hal ini disebabkan karena pertama ia mempunyai hubungan persahabatan yang akrab dengan keluarga Coa terutama Coa Cong-gi dan Coa Wi wi.

Kedua dari mulut Wan Hong-giok diapun pernah mendengar bahwa pihak Mo-kau dari Seog-sut-hay sedang "menguasai sejumlah Bu-lim cian-pwe yang berilmu tinggi untuk dijadikan penyerang terdepan mereka.

"Andaikata Coa Coanhua tidak beruntung benar-benar terjatuh ke tangan orang Mo-kau, maka andaikata dua bersaudara Coa diancam dengan ayah mereka sebagai sandera, bukankah kedua orang ini benar benar akan tersiksa lahir batinnya hingga akhirnya mungkin akan mati karena kesal?"

Haruslah diketahui, Hoa In-liong yang sudah dididik sebagai seorang manusia terpelajar, pada hakekatnya mempunyai rasa setia kawan yang amat tebal.

Apalagi setelah dia menghadapi tekanan demi tekanan yang diakibatkan oleh pelbagai peristiwa besar serta merta terciptalah suatu ambisi, atau katakanlah suatu cita-cita untuk mengikuti jejak ayahnya yang membasmi hawa siluman dari muka bumi dan menegakkan keadilan serta kebenaran dalam dunia persilatan.

Maka ketika secara tiba-tiba ia mengetahui bahwa ayah Coa Wi-wi yang berilmu telah lenyap semenjak lima belas tahun berselang, rasa terperanjat dan golakan emosi yang timbul dalam hatinya bukan dikarenakan kepentingan pribadi saja, melainkan juga demi keamanan umat persilatan pada umumnya.

Ia merasa kejadian itu sangat gawat dan serius bagaimana jua persoalan diselidiki hingga meujadi jelas.

Oleh karena itulah, dalam pembicaraan yang berlangsung lama, dalam hati kecilnya diam-diam ia mengambil tiga keputusan, Pertama.

Teka-teki yang menyelubungi mati hidup Coa Goan-hua harus disingkap secepatnya.

Seandainya ia betul-betul sudah terjatuh ke tangan orang orang Mo-kau maka dia harus berusaha dengan segala kemampuan untuk menyelamatkannya.

Ini untuk menghindari penyiksaan seterusnya serta penunggangan pihak Mo-kau kaucu yang memanfatkan kemampuannya untuk memusuhi umat persilatan di daratan Tionggoan.

Kedua.

Menurut apa yang diucapkan Coa Cong-gi tempo hari, tampaknya baik perkumpulan Hiang-beng-kau mempunyai rencana yang matang untuk menghadapi para Bu lim cianpwe.

Oleh sebab itu dia harus berusaha untuk mengadakan suatu pertemuan dengan Pui Che-giok, ketua Cian-li-kau untuk mengawasi gerak-gerik dari kedua partai serta menyelidiki tempat tinggal para Bu lim cianpwe baik dari golongan lurus maupun dari golongan sesat agar bisa memberitahukan kepada mereka untuk lebih waspada, jangan sampai kena dicelakai atau kena dibujuk oleh mereka hingga kekuatannya dipergunakan mereka.

Ketiga.

Ia merasa bahwa kekuasaan kaum sesat dewasa ini telah menyelimuti seluruh dunia, bahkan masing-masing telah berkuasa disuatu wilayah yang cukup luas.

Dia harus berusaha mencari akal untuk menghadapi mereka serta membasmi mereka semua hingga keakar-akarnya.

Walaupun ketiga buah keputusan tersebut hanya merupakan garis besarnya belaka, namun boleh di bilang sudah meliputi semua bagian yang penting.

Atau tegasnya keputusannya yang ketiga bukanlah terhitung suatu keputusan, melainkan suatu keharusan yang musti dilakukan demi lancarnya keputusan-keputusan yang lain.

Tapi, keadaan situasi dewasa ini berbeda jauh dengan keadaan dalam dunia persilatan tempo dulu dimana dunia ketiga musuh dikuasai oleh tiga kekuatan maha besar.

Sewaku Hoa Tiang-hong malang-melintang dalam dunia persilatan, kekuasaan serta kekuatan tiga maha besar sudah cukup jelas.

Sebaliknya situasi dewasa ini masih belum tetap.

Walaupun hawa iblis telah menyelimuti seluruh dunia, namun posisi mereka belumlah jelas.

Maka untuk menanggulangi bahaya tersebut, si anak muda itu selain harus mengadakan penyelidikan, diapun musti berusaha membasminya.

Maka bila ia tidak berusaha dengan cara lain, niscaya semua usahanya akan mengalami kegagalan total.

Yaaa, pada hakekatnya Hoa In-liong terhitung seorang laki laki yang berotak cerdik dan cekatan.

Sebab bukan urusan yang gampang bagi seseorang untuk berpikir sampai disitu.

Demikianlah, kendatipun dalam hati kecilnya ia telah mengambil keputusan, hal mana tidak ia utarakan keluar, lebih-lebih lagi tak pernah ia rundingkan dengan Coa Wi-wi.

Selang beberapa saat kemudian, para pegawai gedung keluarga Coa yang diutus untuk mencari Coa Cong-gi secara beruntun telah kembali semua.

Namun orang yang dicari belum juga munculkan diri.

Lama kelamaan habis juga kesabaran Coa Wi-wi, dia lantas bertanya kepada Hoa In-liong.

"Bagaimana ini? Kita bicarakan besok pagi saja? Ataukah sekarang juga kita berkunjung ke pasanggrahan pertabiban untuk melakukan penyelidikan....?"

Hoa In-liong termenung sebeatar, lalu menjawab.

"Mari kita selidiki tempat itu!"

"Baik...."Coa Wi-wi mengangguk.

"Berdandan sebagai pria lebih leluasa. Aku akan ganti pakaian laki dulu, tunggu aku di ruang depan....!"

Tengah malam itu, dengan pakaian ringkas berangkatlah kedua orang itu menuju telaga Hian-buou.

Memandang dari kejauhan, tampak peaaangrahan pertabiban sudah musnah menjadi abu.

Ketika semakin dekat makin jelaslah sudah pemandangan yang tertera didepan mata.

Sebuah gedung perubahan yang megah dan kokoh, kini tinggal puing-puing yang berserakan, mengenaskan sekali tampaknya.

Gedung itu merupakan tempat bermain Coa Wi-wi dimasa lalu.

Hoa In-liong juga dua kali pernah berkunjung ke situ, malahan pernah menginap semalam.

Kini berhadapan dengan puing yang berserakan, terutama bau angus yang terbawa hembusan angin, tak terasa lagi mereka menggertak gigi sambil menahan rasa benci yang tak terkirakan.

Selang sesaat kemudian, Coa Wi wi mendengus dingin.

"Benar-benar perbuatan terkutuk dari manusia yang berhati bisa. Jiko! Empek Yu adalah seorang Tabib sosial, bukan saja banyak orang yang telah ditolong jiwanya. Dihari-hari biasapun tak pernah membuat perselisihan dengan siapapun. Tapi sekarang, bukan saja rumahnya dibakar sampai habis, dia orang tuapun ikut diculik. Perbuatan semacan ini apakah masih bisa diampuni? Apakah manusia yang melakukan itu sudah tidak berperi kemanusiaan lagi?"

Rasa benci yang berkecamuk dalam benak Hoa In-liong tak kalah dengan cara bencinya. Mendengar perkataan itu dia ikut mendengus.

"Hmmm....! Bila mereka masih merapunyai peri kemanusiaan, tak nanti perbuatan gila yang terkutuk ini dilakukan. Kini banyak bicarapun tak ada gunanya, lebih baik kira selidiki dulu puing-puing tersebut. Siapa tahu kalau ditempat itu kita bisa mendapatkan sedikit titik terang?"

Berbicara sampai disini, dia lantas bergerak lebih dulu kedepan.

Coa Wi-wi juga tidak banyak berbicara, cepat ia menyusul pula dari belakang.

Begitulah, semua puing mereka bongkar, semua abu mereka singkap.

Dari paling depan sampai serambi samping.

Ruang belakang mereka periksa dengan teliti, siapa tahu walaupun sudah diperiksa sampai di halaman paling belakang pun mereka tak berhasil menemukan apa-apa.

Kenyataan tersebut membuktikan bahwa urusannya luar biasa.

Diam-diam Hoa In-liong merasa terkejut "Otak yang memimpi pembakaran ini pastilah seorang manusia yang luar biasa"

Demikian ia berpikir.

"Masa begini besar gedung yang mereka bakar ternyata tak berhasil ditemukan sesuatu nada apapun yang mencurigakan hati"

Berpikir demikian matanya lantas celingukan ke sana kemari untuk memperhatikan keadaan.

Mendadak dari bawah gunung-gunungan diujung timur sana terlihat seberkas cahaya lampu.

Cahaya itu tampaknya muncul secara tiba-tiba dan lagi berasal dari sudut yang tak gampang ditemukan orang.

Begitu melihat cahaya tersebut, Hoa In-liong merasa terkejut bercampur gembira cepat-cepat ia menarik tangan Coa Wi-wi berbisik dengan lirih.

"Adik Wi, ikutlah aku. Tapi harus berhati-hati!"

Meskipun Coa Wi-wi adalah seorang gadis yang tak takut langit atau bumi, setelah mendengar perkataan itu, ia tak berani gegabah.

Cepat pedang pendeknya disembunyikan ke belakang punggung, lalu dengan hati-hati sekali ia mengikuti di belakang Hoa In-liong mendekati gununggunungan tersebut.

Itulah sebuah gunung-gunungan yang terbentuk dari kumpulan batu cadas sekelilingnya terdiri dari air kolam, disebelah timur dan barat masing-masing terdapat sebuah jembatan batu yang menghubungkan tempat itu dengan daratan.

Luas kolam tidaklah sama, yang paling sempitpun mencapai satu tombak lebih lima enam kaki hingga terbentuklah suatu permukaan telaga yang sempit tapi memanjang.

Disudut utara permukaan telaga terdapat lima-enam buah gundukan tanah baru.

Rupanya sebuah kuburan yang dipakai untuk mengubur orang-orang yang tewas belum lama berselang.

Di sebelah selatan merupakan sebidang tanah berumput yang memanjang.

Lewat kesana adalah sebuah kebun bunga.

Diujung kebun adalah sebuah serambi panjang yang berhubungan dengan gedung ruang belakang, dimana bisa berhubungan langsung dengan gedung utama.

Dua orang muda mudi itu berkeliling dulu diseputar itu, lalu setelah yakin kalau disana tak ada orang, mereka baru menyeberangi permukaan air dari arah timur menuju keatas gununggunungan tersebut.

Gunung-gunungan itu tingginya beberapa tombak, luasnya mencapai lima tombak lebih.

Oleh karena permukaannya tidak datar dan penuh ditumbuhi pepohonan bambu, cemara dan semak belukar, maka setibanya diatas bukit itu, cahaya tadi malah sama sekali tidak terlihat lagi.

Untunglah Hoa In-liong memiliki mata yang tajam dan lagi sumber cahaya itupun sudah diingat ingat didalam hati.

Maka setelah berdiri sebentar diatas tebing, dengan suatu gerakan yang enteng tubuhnya berkelebat ke samping barat dari gunung-gunung itu.

Ternyata di sudut barat gunung-gunungan itu tumbuhlah sebaris bambu.

Dibagian utara dari dinding barat merupakan sebuah jendela yang luasnya tiga depa.

Jendela tersebut terbuat dari kayu dan waktu itu tertutup rapat.

Cahaya api menembus dari balik jendela itu, ini menunjukkan bahwa sinar yang tampak dari kejauhan tadi berasal dari celah-celah jendela itu.

Tapi lantaran dihadapannya tumbuh pohon bambu yang rimbun, tak aneh kalau tempat itu sukar ditemukan.

Orang bilang.

"Bila ada jendela tentu ada rumah, bila ada rumah tentu ada pintu"

Menemukan segala sesuatunya itu, Hoa In-liong jadi kegirangan setengah mati. Cepat ia menggape ke arah Coa Wi-wi, kemudian sambil menunjuk kearah jendela bisiknya.

"Coba lihat adik Wi. Dari dalam sana muncul cahaya lampu. Itu berarti disitu terdapat ruangan batu. Berjaga-jagalalah disini, aku akan mencari pintu masuknya"

Coa Wi-wi sudah mengetahui kalau disana ada jendela. Maka setelah mendengar bisikan itu dia lantas mengangguk.

"Tidak, jangan kau pergi dari sini. Lebih baik aku saja yang mencari pintu masuknya, sedang kau bekerja disini. Bila aku sudah memberi tanda nanti, kau baru membongkar tempat persembunyiannya"

Habis berkata dia lantas putar badan dan siap menelusuri tanah perbukitan tersebut.

"Eeeeh.... tunggu sebentar!"

Buru buru Hoa-In liong mencegah.

"Menurut perglihatanku, orang ini belum tentu berasal dari sekomplotan dengan para pengacau Kalau tidak, kenapa ia berani bercokol terus ditempai ini?" .

"Aaaai....! Belum tentu"

Bantah sinona.

"Siapa tahu kalau mereka memang bernyali dan tak takut mati...."

Belum habis ucapan tersebut, tiba-tiba terdengar suara teguran yang sangat merdu berkumandang datang memecahkan kesunyian.

"Terima kasih atas pujianmu. Aku berada disini, kalian tak perlu menemukan pintu masuknya lagi"

Teguran tersebut munculnya sangat mendadak ini membuat Hoa In-liong jadi terperanjat.

Dengan cepat dia berpaling, maka tampaklah sesosok bayangan putih berdiri diatas lapangan berumput di sebelah sana.

Meskipun udara gelap dan cahaya bintang amat redup, namun dengan ketajaman mata yang dimiliki Hoa In-liong, ia dapat melihat kesemuanya itu dengan amat jelasnya.

Tampaklah orang itu mengenakan baju warna putih, ditangannya memegang sebuah tongkat berkepala sembilan.

Wajahnya cantik bak bidadari dari kahyangan, tapi sikapnya dingin, kaku dan menggidikkan hati.

Dia bukan lain adalah Bwee Su-yok, ketua baru dari Kiu-im kau.

oooOOOOooo TIDAK tampak bagaimana caranya Coa Wi-wi menghimpun tenaga, tahu-tahu badannya segesit turun lewat sudah melintasi kolam dan melayang turun kurang lebih satu tombak dihadapan Bwee Su-yok.

Ketika ada dibukit Ciong-san tempo hari, gadis ini pernah bertemu dengan Bwee Su-yok, meskipun tak pernah melangsungkan pembicaraan atau pun tegur sapa.

Tapi setelah kejadian seringkali ia mendengar tentang diri gadis itu baik dalam pembicaraannya dengan Hoa In-liong maupun dengan kakaknya.

Meski demikian, dengan wataknya yang polos dan lincah, dara itu tak pernah menaruh kesan jelek terhadap Bwee Su-yok, malah sebaliknya ia merasa simpatik dan kasihan.

Begitulah, sambil tertawa diapun menyapa.

"Eeeh cici, apakah kau adalah enci Bwee?. Oooh.... Sungguh cantik nian wajahmu!"

Ketika Bwee Su-yok menyaksikan cara gadis itu melayang turun ke atas tanah, diam-diam hatinya bergidik.

Apalagi ketika gadis itu menerjang ke arahnya, disangkanya ia sedang diserang, maka segenap kekuatan yang dimilikinya segera dihimpun untuk siap siaga menghadapi segeia kemungkinan yang tak diinginkan.

Siapa tahu bukan serangan yang datang sebaliknya Coa Wi-wi malah mengajukan pertanyaan dengan senyum dikulum.

Memandang wajahnya yang cantik serta senyum yang polos.

Untuk sesaat Bwee Su-yok merasa agak sungkan untuk menghadapinya dengan sikap yang dingin.

Maka setelah tertegun sejenak, dengan sikap yang lebih lembut dia menyahut.

"Akulah Bwee Suyok!"

Meskipun sikapnya telah lembut, tapi mukanya yang dingin masih jelas kentara. Ini semua menyebabkan Coa Wi-wi kurang senang hati, pikirnya.

"Waduh.... agaknya sok amat, memangnya apa yang diandalkan? Hmmm! Sombongnya.... bukan kepalang!" . Hoa In-liong kuatir rekannya jadi jengkel dan melancarkan serangan ketika menghadapi sikap dingin dan sombong dari musuhnya, dengan cepat dia melayang turun disamping Coa Wi-wi, lalu menjura.

"Nona Bwee, atas keberhasilanmu menduduki jabatan sebagai seorang ketua, aku harus mengucapkan selamat kepadamu!"

Dengan sombong Bwee Su-yok mendengus, bukan membalas hormat dia malahan berkata.

"Seharusnya untuk bersedih hatipun kau tak sempat!"

Hoa In-liong mengerti apa yang dimaksudkan, tapi ia pura pura tertegun seperti tak mengerti.

"Apa maksud nona Bwee berkata demikian?"

Tanyanya.

Bwee Su-yok menggerakkan bibirnya seperti akan mengatakan sesuatu, tapi tiba tiba ia batalkan niatnya itu dan mendengus dingin.

Kemudian melengos ke arah lain.

Dari mimik wajahnya orang akan tahu bahwa ia sedang iri atau cemburu karena menyaksikan Hoa In-liong berdiri berjajar dengan Coa Wi-wi.

Apalagi yang laki ganteng rupawan sedang yang perempuan cantik jelita bak bidadari.

Dalam pikiran yang kalut ia jadi tak dapat membedakan apakah harus cemburu ataukah marah.

"Apa maksud nona Bwee dengan kata-katanya itu? Apakah aku boleh mengetahuinya?"

Desak Hoa In-liong. Bwee Su-yok berusaha mengendalikan perasaannya.

"Apakah anak keturunan dari keluarga Hoa adalah manusia-manusia yang tak tahu adat sopan santun?"

Dia menegur.

Perlu diterangkan, saat itu dia adalah seorang ketua dari suatu perkumpulan besar.

Kedudukan itu luar biasa sekali, tapi Hoa In-liong ternyata menyebut dirinya sebagai "nona Bwee".

Hal ini benar-benar dirasakan olehnya sebagai suatu tindakan yang kurang sopan.

Tapi, pada hakekatnya Hoa In-liong memang sengaja berbuat demikian.

Teguran dari Bwee Suyok pun sudah ada dalam dugaannya semula, maka setelah mendengar perkataan itu dia menjawab dengan nyaring.

"Semua anak keturunan keluarga Hoa adalah orang orang yang tahu akan sopan santun, kecuali aku...."

"Kenapa dengan kau?"

Desak Bwee Su-yok. Coa Wi-wi mengerutkan dahinya, dia tarik ujung baju Hoa In-liong sambil berbisik.

"Jiko, lagak kaucu ini terlalu sekali, lebih...."

Tapi sebelum menyelesaikan kata-katanya Hoa In-liong telah memberi tanda kepadanya agar mengikuti perubahan dengan tenang.

Sebenarnya gadis itu merasa tak senang karena Hoa In-liong bukannya menanyakan peristiwa pembakaran pesanggrahan pertabiban setelah berjumpa dengan Bwee Su-yok, sebaliknya buang waktu untuk persoalan yang tidak berarti, maka ia memperingatkan dirinya.

Tapi setelah Hoa In-liong memberi tanda, sebagai gadis yang cerdik dia lantas tahu kalau anak muda itu mempunyai tujuan tersebut.

Oleh sebab itulah ia benar-benar tutup mulut.

Setelah menghalangi Coa Wi-wi berbicara, Hoa ln-liong baru berkata lagi.

"Aku? Oooh.... Aku adalah seorang manusia yang tak usah dilukiskan suka mencari muka. Tengiknya banyak lagi kebusukan yang tak usah dilukiskan satu demi satu"

Ternyata ia telah mengulangi kata-kata makian dari Bwee Su-yok sewaktu ada di bukit Ciongsan. Tentu saja hal ini membuat Bwee Su-yok jadi Tertegun. Dia tak tahu musti girang atau marah.

"Sungguh tak nyana keluarga Hoa mempunyai seorang keturunan semacam kau. Hmmm! Sudah sepantasnya kalau kekuasaannya berakhir sampai disini saja"

Serunya. Hoa In-liong tertawa berderai derai, pikirnya.

"Sebelum mati, Yu Boh mengatakan ada segerombolan manusia yang tak diketahui asal usulnya telah membakar pesanggrahan pertabiban. Padahal jika perbuatan ini dilakukan oleh orang Kiu-im-kau, sekilas pandangan saja siapa pun tahu. Perduli bagaimanapun jua jelas Bwee Su-yok tahu siapa yang telah melakukan kesemuanya ini.... Hmmm! dan lagi, si budak ingusan itu sengaja berdian disini, hal itu pasti ada sebabnya. Sekarang dia sudah merupakan seorang kaucu dari Kiu-im-kau jelas dia tak akan datang hanya seorang diri. Tapi dimanakah anak buahnya?"

Pelbagai ingatan dengan cepatnya melintas dalam benak.

Secara ringkas ia analisa semua situasi yang ada didepan mata, kemudian terasalah olehnya bahwa titik terang pada diri Bwee Su-yok tak boleh dilepaskan dengan begitu saja.

Tapi jelas kalau persoalan tersebut ditanyakan secara langsung, Bwee Su-yok tak akan menjawab sejujurnya.

Sebab itu harus dicarikan sebuah akal untuk menjebaknya.

Begitulah, selesai tertawa iapun berkata.

"Nona Bwe, tidakkah kau rasakan bahwa sebutan nona jauh lebih mesra kedengarannya daripada membahasai dirimu dengan sebutan kaucu...."

"Tutup mulutmu!"

Bentak Bwee Su-yok dengan mata mendelik.

Hoa In-liong benar-benar tutup mulut, malah di tatapnya wajah Bwee Su-yok sambil tertawa cengar-cengirr, terutama lirikan matanya, seakan akan mengandung maksud tertentu.

Ditatap seperti ini, Bwee Su-yok merasa pipinya berubah jadi semu merah.

Jantungnya berdebar keras, cepat-cepat dia melengos ke arah lain.

Tapi secara tiba-tiba ia merasa tindakan tersebut terlampau menunjukkan kelemahan pribadi, maka dengan sorot mata setajam sembilu dia balas menatap pemuda itu, malah sambil mengetukkan tongkatnya ke tanah ia membentak keras.

"Hoa In-liong, kau ingin mampus?"

"Mampus? Aaaah.... Itu kan kejadian biasa"

Ejek sang pemuda ewa. Coa Wi-wi berkerut kening, diapun ikut berpikir.

"Kurang ajar. Apa yang kau bicarakan dengannya omongan yang tak berguna. Kalau begini caranya, mana bisa kau temukan kabar tentang pembakaran ini?"

Berpikir demikian, cepat cepat dia menyela.

"Siapa mampus siapa hidup lebih baik ditentukan secara kekerasan saja, buat apa banyak bicara? Tapi sebelum itu, kau harus memberi pertanggung jawaban lebih dulu tentang peristiwa yang menimpa keluarga yu" . Bwee Su-yok tertawa dingin.

"Heeh.... heeh.... heeh.... Jadi kau anggap aku yang melakukan kesemuanya ini?"

"Sekalipun bukan kau yang melakukan, Kiu-im-kau...."

"Adik Wi, jangan sembarangan omong"

Tukas Hoa In-liong tiba-tiba.

"Kiu-im-kau toh sebuah perkumpulan nomor satu didunia, masa mereka sudi melakukan perbuatan membunuh dan membakar macam tindak tanduk kaum pencoleng dan bandit?"

"Hmmm! mencari muka, kurang ajar, tengik. Benar-benar menggemaskan....!"

Teriak Bwee Suyok dengan gemas. Tiba-tiba ia teringat sesuatu, maka kala-kata selanjutnya segera terhenti ditengah jalan. Coa Wi-wi tak mau mengalah dengan begitu saja dia berseru pula dengan lantang.

"Kalau aku omong kosong, memangnya hanya kata-kata yang merupakan kata-kata sesungguhnya?"

Menyaksikan situasi sudah mulai panas Hoa In-liong berpikir dalam hatinya.

"Adik Wi telah membakar suasana dengan kata-katanya yang kaku, ini berarti tak mungkin begitu untuk menyingkat duduknya perkara dengan cara memancing kata katanya"

Berpikir demikian dia lantas tersenyum.

"Aku rasa nona Bwee pasti mengetahui dengan jelas duduknya peristiwa"

Ia berkata lembut.

"Dan akupun sangat berharap bisa mengetahui jejak dari empek Yu suami istri. Maka bila kau bersedia memberi keterangan aku merasa berterima kasih sekali"

Selesai berkata kembali ia menjura dan memberi hormat nona cantik tersebut. Bwee Su-yok sama sekali tidak tergerak hatinya oleh tindak tanduk anak muda itu, katanya.

"Kenapa kau musti berterima kasih kepadaku? "

Yaaa.... tolonglah beri penjelasan.... Membantu pasti mau kan?"

Hoa In-liong menjura berulang kali.

Ditinjau dari tampang serta tindak tanduknya seakan-akan ia sedang mengajak teman untuk merundingkan sesuatu saja dan rasanya Ho Jiya dari keluarga Im Tiong-san saja yang mampu melakukan hal tersebut.

Bwee Su-yok betul-betul dibuat kheki dan gemas, mau tertawa sungkan mau menangis tak bisa, maka sesudah merenung sebentar gerutunya.

Cca Wi-wi tak dapat mengendalikan rasa gelinya lagi ia tertawa cekikikan.

Apalagi setelah menyaksikan Hoa In-liong yang kocak, rasa gelinya makin tak tertahan.

Tiba-tiba Bwee Su-yok bertanya.

"Jadi.... kau sangat ingin mengetahui siapa yang membakar pasanggrahan dari Kanglam Ji-gi (Tabib Sosial dari Kanglam)?"

Hoa In-liong merasa terkejut bercampur curiga.

Bila Bwee Su-yok bersedia memberitahu kepadanya dimanakah Kanglam Ji-gi terkurung, kejadian ini benar-benar merupakan suatu peristiwa yang tak masuk diakal.

Meskipun curiga, ia menjawab juga.

"Bila nona bersedia memberi petunjuk, tentu saja aku merasa amat berterima kasih"

"Hmmm....! Tak ada gunanya ucapan terima kasih, aku minta suatu pembayaran yang setimpal"

Kata Bwee Su-yok dengan nada ketus.

"Pembayaran apa?"

"Pembayaran itu tinggi nilainya, aku kuatir kau tak sanggup untuk membayarnya"

"Aku tak akan segan-segan membayar permintaan apapun yang kau harapkan"

Sedingin salju paras muka Bwee Su-yok, katanya kemudian dengan suara tajam.

"Aku menghendaki nyawamu, sanggupkah engkau untuk membayarnya?"

"Kentut busuk!"

Coa Wi-wi tak dapat mengendalikan perasaannya lagi, ia membentak nyaring.

"Kau sedang mengigau. Kau tak usah omong yang tak genah...."

Bwee Su-yok sama sekali tidak memperdulikan dirinya. Ia malah menatap wajah Hoa In-liong dengan pandangan dingin.

"Adik Wi, kenapa kau musti marah?"

Kata Hoa In-liong dengan suara hambar.

"Sekalipun permintaannya kelewat tinggi kita kan bisa menawar sesuai dengan uang pokok yang kita miliki. Jika permintaannya belum cocok kita toh bisa merundingkannya secara pelan-pelan"

"Tidak ada kesempatan untuk berunding"

Tukas Bwee Su-yok lagi dengan ketus.

"Kalau mau begitu, kalau tidak mau ya sudah!"

"Waaaah.... Kalau tidak jadi radaan susah...."

Hoa In-liong pura-pura mengernyitkan alis matanya.

"Lantas selembar nyawaku ini musti kupersembahkan dengan kedua belah tangan sendiri, ataukah nona yang akan mengambilnya sendiri?"

"Pinginnya kusuruh kau persembahkan sendiri. Tapi kalau dilihat dari sifatmu yang takut mampus, agaknya hal ini tak mungkin terjadi...."

Hoa In-liong tertawa ewa, ia sama sekali tidak gusar meskipun sudah diejek musuhnya. Berbeda dengan Coa Wi-wi dia jadi naik pitam.

"Kalau engkau tak takut mampus, kenapa tidak kau serahkan dulu nyawamu itu kepadaku?"

Teriaknya. Bwee Su-yok sama sekali tidak menggubris teriakan orang, kembali ujarnya dengan lantang.

"Tentunya engkau sudah tahu bukan dimana letaknya kantor cabang perkumpulan kami di kota Kim-leng?"

"Oooh.... tentu saja tahu"

Hoa In-liong tertawa.

"Entah bagaimana dengan pohon kui yang telah kugunakan untuk menggantung diri selama tiga hari itu? Masih seperti sedia kala atau telah berubah?"

Bwee Su-yok adalah seorang gadis yang cerdik.

Tentu saja dia tahu kalau pemuda itu sedang menyindir kebodohan Kiu-im kaucu dimana sampai sampai pohon sebesar itupun berhasil dirobohkan oleh Ko Thay dengan pukulannya.

Ia merasa sangat mendongkol, sebenarnya dia pun hendak menyindir Hoa In-liong dimana pemuda itu pernah digantung selama tiga hari, tapi ketika dirasakan kemudian bahwa kejadian itu kurang begitu menguntungkan nama baiknya, diapun membatalkan niatnya itu.

Setelah tertegun sejenak, dia lantas berkata.

"Aku adalah seorang yang terhormat, tak sudi aku berdebat dengan gelandangan macam kau...."

"Huuhh.... tak tahu malu"

Tukas Coa Wi-wi.

"Kiu-im-kau sendiri juga sebuah perkumpulan kaum sesat, apanya yang luar biasa?"

Mencorong sinar marah dari sepasang mata Bwee Su-yok, tapi ia masih juga tidak memperdulikan ocehan gadis tersebut, katanya lantang.

"Besok sore kunantikan kedatanganmu diruang tengah. Jika kau ingin mengetahui berita tentang Kanglam Ji-gi, datanglah seorang diri...."

Meski binal, Hoa In-liong adalah seorang pemuda yang berotak cermat, sedikit kesempatan yang ada, tak disia-siakan dengan begitu saja. Mendengar kata-kata itu cepat ia berseru.

"Aku ingin tahu lebih dulu, bila aku datang memenuhi janji, apakah nona Bwe juga segera memberi tahukan jejak empek Yu suami istri kepadaku...."

"Bila kau ingin tahu, datang saja tepat pada waktunya"

Jawab Bwee Su-yok ketus.

"Soal bicara atau tidak, tergantung apakah besok hatiku sedang gembira atau tidak"

Hoa In-liong tidak marah oleh kata-kata itu, dia malah berpikir.

"Jika didengar dari ucapan dayang tersebut tampaknya ia tidak berniat jujur dengan janjinya. Aku musti berhati-hati...." . Maka sambil tertawa katanya.

"Nona Bwee, aku rasa cara semacam ini tidaklah adil!".

"Kalau merasa kurang adil janganlah datang. Tapi kalau sudah mau datang maka sekalipun harus mampus juga musti rela. Aku sama sekali tidak I bermaksud memaksa dirimu"

Jawaban ini benar-benar membuat Hoa In-liong kehabisan akal dia jadi ngenes sendiri.

"Waaah.... Waaah.... Cara semacam ini namanya memaksa orang pandai amat caramu berbicara!"

"Hmmm.... Asal kita tangkap budak busuk itu, masa dia tak mau bicara?"

Tiba-tiba Coa Wi-wi berteriak marah.

Apa yang dikatakan kemudian dibuktikan.

Dengan cepat, dengan telapak tangan kanannya ia melepaskan sebuah pukulan tipuan kemudian dengan kedua jari tengahnya dan telunjuknya ia melepaskan satu totokan maut yang dibarengi dengan gerakan tubuh yang menerkam ke muka.

Bwee Su-yok tak berani gegabah sekalipun yang terlihat olehnya hanya suatu ancaman yang menyerupai suatu ilmu pukulan tapi bukan ilmu pukulan, ilmu totokan jari bukan ilmu totokan jari.

Meski bergerak tanpa arah satu.

Walaupun kelihatan seperti tak berkekuatan, tapi nyatanya serangan itu sudah mengancam hampir seluruh tubuhnya terutama bagian dada dan lambung.

Jalan darah seperti Ing-cuang-hiat, Ki-bun-hiat Sin-hong-hiat, dan Hu-ciat-hiat sudah terkurung semua dalam ancaman.

Ini semua membuat dara tersebut tercengang.

"Jurus serangan apa ini?"

Demikian ia berpikir.

Sudah tentu ancaman yang datang tak dapat dibiarkan dengan begitu saja.

Dengan jurus Kui-imcuang-cuang (Cahaya Iblis Bergoncang-goncang) tongkat kepala setannya melancar sebuah serangan balasan dengan sepenuh tenaga.

Sekejap mata, seluruh angkasa telah diliputi cahaya hitam yarg menyilaukan mata.

Desingan tajam mendesis di udara dan memekakkan telinga.

Kesembilan buah kepala setan di ujung tongkat seakan-akan berubah jadi sembilan buah setan hidup.

Sambil unjukkan tarirg dan cakarnya siap menerkam mangsa yang ada didepannya.

Bagaimanapun jua, Coa Wi-wi masih muda.

Apalagi seorang gadis, terhadap ancaman yang tiba ia masih tak terlalu dipikirkan dalam hati.

Tapi bayangan setan diujung tongkat membuat dara itu menjerit lengking karena ngerinya, cepat cepat dia kabur dan mundur ke belakang.

Dengan tindakan tersebut, sama artinya kalau ia kena didesak oleh serangan orang.

Coa Wi-wi kontan merasa kehilangan muka, pipinya yang putih berubah jadi semu merah.

"Bagus sekali"

Teriaknya dengan nada malu bercampur marah.

"Permainan tongkatmu memang cukup hebat dan anggap saja jurus Pian-tong-put-ki (Berusaha Tanda Pindah) ku tadi berhasil kau terima. Nah! Sekarang coba rasakan sebuah seranganku lagi, akan kulihat apakah kau mampu untuk menyambut jurus Ciu-liu-lak-si (Bergelombang dan berpusing memenuhi enam kekosongan) ku ini" . Bwee Su-yok tahu, serangan yang bakal dilancarkan pasti suatu serangan geledek yang mempunyai daya kekuatan luar biasa. Ia tak sempat mengejek lagi, tongkat saktinya cepat diputar sedemikian rupa untnk melindungi keselamatan jiwanya.

"Adik Wi, tahan!"

Tiba-tiba Hoa In-liong berseru.

Sebenarnya Coa Wi-wi sudah melancarkan serangannya dengan telapak tangan kanan, dimana jari tengahnya sudah dikeraskan bagaikan sebuah tombak.

Tapi setelah mendengar seruan tersebut, ia tarik kembali posisinya lalu berpaling dengan keheranan.

Jilid 26

"ADA apa jiko?"

Hoa In-liong tersenyum, ia tidak menjawab pertanyaan tersebut, sebaliknya sambil memberi hormat kepada Bwe Su-yok katanya.

"Sampai waktunya aku pasti akan datang memenuhi janji, silahkan Bwe kaucu berlalu lebih dulu"

Secara tiba-tiba ia merubah panggilannya dari "nona"

Jadi "kaucu, perubahan tersebut segera disambut Bwee Su-yok dengan perasaan yang bergetar keras, ia merasa seolah-olah kehilangan sesuatu hingga semangatnya secara terbang tinggalkan raga.

Untunglah perasaan semacam itu hanya berlangsung sebentar, pikiran yang bercabang dengan cepat dapat disatukan kembali.

"Baik, akan kutunggu kedatanganmu!"

Katanya kemudian. Dia lantas putar badan dan berpaling kearah Coa Wi-wi.

"Engkau adalah adiknya Coa Con-gi? Siapakah namamu?"

Tegurnya.

Sudah dua kali mereka saling berjumpa, tapi ke dua kalinya Coa Wi-wi berdandan sebagai pria dengan nama samaran Cwan Wi, meski potongannya waktu itu perempuan bukan perempuan, laki bukan laki, ketika bertemu kembali untuk ke tiga kalinya, ia segera mengenalinya kembali dalam pandangan pertama.

Kendati begitu, ia tidak mengetahui nama Coa Wi-wi yang sebenarnya, dia hanya tahu namanya menggunakan huruf "Wi", sebab begitulah Hoa In-liong memanggil dirinya.

Coa Wi-wi tidak senang dengan sikapnya yang sombong, maka sahutnya pula dengan suara yang ketus.

"Aku bernama Coa Wi-wi, ingat baik-baik namaku itu!"

Bwe Su-yok tidak banyak bicara lagi dia pun lantas berlalu dari situ, tampaklah ujung gunanya yang berwarna putih salju berkibar terhembus angin, sekilas pandangan seakan-akan lambat padahal cepatnya bukan kepalang, sekejap mata kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap dibalik puing-puing bangunan.

Sepeninggalnya gadis itu, Coi Wi-wi baru mengomel.

"Jiko, kenapa kau bicarakan orang itu pergi dari sini"

Hoi In liong tertawa, apalagi gadis itu tampak lebih cantik dan mempesona hati dalam sikap cemberutnya ini, ia semakin terlena oleh kecantikan si nona yang jarang dijumpainya itu.

Sambil membelai rambutnya yang hitam putus, berkatalah anak muda itu dengan lembut.

"Bwe Su-yok bukan anak kemarin sore, dia mempunyai perhitungan yang matang dalam setiap tindak tanduknya, memang kau anggap dia berani kerkunjung kemari...."

"Aaah....omong kosong, kecuali dia, kita kan tak melihat sesosok bayangan manusiapun?"

Bantah si nona.

Siapa tahu baru saja dia menyelesaikan kata-katanya, mendadak terdengar suara pekikan yang amat nyaring menggema diudara, menyusul kemudian suara pekikan lain berkumandang saling bersahutan, suara itu ada yang nyaring ada pula yang rendah dan berat, tapi yang pasti semua pekikan tersebut disertai pencaran tenaga dalam yang sempurna, jelas suara-suara itu berusal dari sekawanan jago silat yang amat tangguh.

"Bagaimana....?"

Goda Hoa In-liong tertawa. Merah padam wajah Coa-Wi-wi karena jengah.

"Tidak aneh...."

Sahutnya tak mau kalah.

"aku rasa Kiu im-kaucu juga hanya begitu-begitu saja, sekalipun semua anak buahnya di bawa serta aku juga tidak takut, paling-paling kuhajar mereka semua sampai kocar kacir...."

"Jangan takebur! Ketahuilah, semua jago yang tergabung dalam perkumpulan Kiu-im-kauw memiliki kepandaian silat yang amat tangguh, Bwee Su-yok sendiri merupakan seorang musuh yang kosen, apabila mereka sampai maju bersama, bagi kita soal mundur memang bukan persoalan, tapi kalau ingin cari keuntungan dari pertarungan itu....waah, sulit! Sulit! Benar-benar amat sulit, makanya.... adik Wi tak boleh memandang enteng pihak mereka"

Padahal alasan yang dikemukannya itu hanya merupakan alasan nomor dua, yang terpenting baginya adalah lantaran penyakit sayangnya terhadap gadis she Bwe itu.

Ia tahu sebagai seorang kaucu dari suatu perkumpulan besar, apalagi dengan wataknya yang congkat dan tinggi hati, seandainya Bwee Su-yok sampai cedera atau dikalahkan oleh Coa Wi-wi, sembilan puluh persen dalam jengkelnya gadis itu pasti akan bunuh diri.

Bila gadis itu sampai nekad mengambil keputusan pendek, berarti juga berita tentang Kanglam jigi akan hilang dengan begitu saja.

Karena itu ia merasa lebih baik kalau peristiwa yang tak diinginkan itu jauh sebelumnya dicegah lebih dulu.

Sudah tentu rahasia hatinya ini tak sampai di katakan kepada Coa Wi-wi, sebab bagaimanapun juga hati perempuan memang paling sukar diduga dalamnya.

Meski begitu, Coa Wi-wi bukan orang bodoh, dengan perasaan halusnya sebagai seorang gadis, secara lapat-lapat ia merasakan sesuatu, biji matanya lantas berputar.

"Jiko!"

Katanya kemudian.

"sejak tadi kau main mata dan saling mengerling dengan Bwee Suyok....

"Huuuuss....! Ngaco belo, siapa yang bilang aku main mata?"

Bentak Hoa In-liong sambil tertawa.

"Lantas kalau kau menatap dia dan dia menatapmu, jika bukan main mata lalu apa namanya?"

Kata Coa Wi-wi dengan nada bersungguh-sungguh. Hoa In-liong tertawa geli.

"Masa begitu saja disebut main mata? Kamu ini sianak kecil, tidak tahu urusan juga berani ngomong sembarangan"

"Anak kecil? Huuhh....memangnya kau sendiri yang sudah dewasa?"

Coa Wi-wi mencibirkan bibirnya. Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak, dia lantas alihkan pembicaraan kesoal lain, katanya.

"Adik Wi, ilmu pukulan apa yang barusan kau gunakan? Jurus Ciu-liu luk si yang kau pakai tadi mirip dengan Ci yu jit ciat (Tujuh Kupasan dari Cu-yu) bagian kedua, boleh kan beri tahu kepadaku?"

"Kenapa tidak boleh? Jujur kedua yang baru kupakai adalah Su siu hua heng ciang (Ilmu pukulan empat gajah berubah bentuk) gerakan kedua dan ketujuh, ilmu pukulan tersebut merupakan inti sari dari himpunan seluruh jurus pukulan terbagus dari dunia persilatan yang dihimpun Im cousu kami, puluhan tahun beliau harus bersusah payah memeras keringat sebelum berhasil menciptakan ilmu pukulan tersebut, disamping tenaga sim hoat Bu kek teng heng. Jiko! Kalau pingin belajar, nanti kuajarkan ilmu kepandaian tersebut kepadamu"

"Itu kan ilmu rahasia dari keluargamu, mana boleh diwariskan kepada orang lain?"

Ujar Hoa Inliong dengan wajah serius. Coa Wi-wi gelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak apa-apa! Toh Kongkong ku telah wariskan ilmu Bu kek teng heng sim hoat kepada jiko, itu berarti beliau ada hasrat untuk waris kan kepandaian silatnya kepada jiko, maka seandainya kuwariskan pula ilmu Su siu hua heng ciang kepadamu, tidak berarti kuwariskan kepandaian keluargaku secara pribadi. Apalagi Cousu pernah berpe san, bila bertemu dengan seseorang yang cocok dengan karakter kita, atau seseorang yang telah memiliki kepandaian tinggi, boleh saja orang itu diterima menjadi murid perguruan kami, ataupun mendapat warisan ilmu silat aliran kami tanpa harus menjadi anggota perguruan kami"

Tertarik juga Hoa In-liong oleh perkataan tersebut tapi ia tak sudi menerima pelajar silat dari Coa Wi-wi, maka setelah merenung sebentar berkatalah dia "Urusan tersebut lebih baik bicarakan nanti saja, sekarang yang penting adalah memeriksa dulu ruang batu dimana cahaya terang itu berasal...."

Selesai berkata ia lantas melayang ke udara, menyeberargi permukaan air dan balik keatas bukit dimana jendela kayu itu ditemukan. Coa Wi-wi Segera menyusul dari belakang.

"Aku rasa sudah tak ada waktu lagi sekarang, kata pemuda itu kemudian sambil berpaling. Tiba-tiba ditemuinya Coa Wi-wi berjalan dengan kepala tertunduk, mukanya aras-arasan dan tidak bersemangat, jelas gadis itu lagi ngambek dan tak senang hati. Menyaksikan sikapnya itu, pemuda kita jadi tercengang, diapun menegur dengan lembut.

"Kenapa kau? Lagi ngambek lantaran perkataan ku barusan? Jangan sok serius aah...."

"Jii....! jiko...."

Bisik Coa Wi-wi sambil menarik wajah, suaranya agak tersendat.

"Kenapa adik Wi?"

Jawab Hoa In-liong lembut.

"jika kurang puas terhadap jikomu, katakanlah terus terang!"

"Bukan, bukannya tidak puas!"

Kata Coa Wi-wi sambil gelengkan kepalanya berulang kali.

"Aneh benar....!"

Pikir Hoa In-liong dalam hati, tapi diluaran cepat ia bertanya.

"Lantas karena apa?"

Coa Wi-wi berpikir sebentar, kemudinn sahutnya.

"Jiko, tahukah kau tentang kisah kehidupan Im cousu-ku dimasa yang lalu?"

Secara tiba-tiba gadis itu membawa pokok pembicaraan ke soal yang tiada sangkut pautnya dengan kejadian didepan mata, Hoa In-liong jadi tertegun dibuatnya.

"Aku kurang begitu tahu"

Sahutnya. Coa Wi-wi tarik napas panjang, lalu katanya.

"Ketika Im cousu terjun ke dunia persilatan untuk pertama kalinya dulu, ilmu silat yang dimilikinya amat rendah, bahkan ilmu silat kelas tiga pun tidak dikuasahi olehnya, beliau dapat mempela jari tenaga dalam pun karena secara kebetulan berhasil mempela-jarinya dari sari kepandaian Lo ho sim hoat, jurus pukulan yang dimilikinya boleh dibilang adalah ajaran dari Coa bo semua, kendatipun demikian toh kejadian ini tak sampai mempengaruhi kebesaran namanya sebagai Bu seng (Rasul Silat)...."

Kiranya ketika Bu-seng terjun kedalam dunia persilatan untuk pertama kalinya dulu, dia hanya bisa serangkaian ilmu pukulan Kay-sim ciang(pukulan pembuka hati) belaka, ilmu pukulan tersebut begitu umumnya sehingga seorang jagoan kelas satupun tak mampu ia kalahkan.

Kemudian, oleh tay hujinnya (Istri Pertama) Ko Cing ia diberi pelajaran pelbagai ilmu pukulan yang sangat lihay, tak sampai setahun kemudian, Bu seng benar-benar sudah menjadi seorang manusia yang amat tangguh....

Ketika dara tersebut menyinggung kembali kejadian, dengan cepat Hoa In-liong dapat memahami maksud katinya, timbullah rasa kasihan dalam hati kecilnya setelah menyaksikan kesengsaraannya si nona hanya dikarenakan dirinya menolak untuk menerima ajaran ilmu silat dirinya.

Memang raut wajahnya yang cantik jelita, untuk sesaat anak muda itu lupa untuk buka suara.

Sementara itu Coi Wi wi telah berkata kembali.

"Aku rasa untuk berhasil mencapai sukses dalam masalah yang besar, orang tak perlu merisaukan hal-hal yang kecil, jiko! Kau...."

Ucapannya kembali terputus ditengah jalan, sedang biji matanya yang jeli menatap wajah anak muda itu tanpa berkedip.

Walaupun perkataan itu amat sederhana dan umum, tapi terutama kata-kata yang menyatakan bahwa untuk mencapai sukses dasar masalah besar yang orang tak perlu merisaukan hal-hal yang kecil, ibaratnya suatu gelombang dahsyat dengan cepatnya menerjang masuk ke lubuk hati anak muda itu.

"Yaa, benar juga perkataan itu", teriaknya dalam hati.

"untuk berhasil dalam suatu masalah, aku tak perlu merisaukan hal-hal yang kecil, bila kabut iblis telah bermunculan dari mana-mana, suatu badai pembunuhan sudah mengancam seluruh dunia persilatan, inilah saatnya bagiku untuk memperkuat diri, jika hal-hal yang kecilpun ikut kurisaukan, bukankah masalah besar akan terbengkalai dengan begitu saja....?"

Harus diketahui, meskipun pemuda ini suka bermain cinta ditempat luar, diam-diam ia menaburkan benih cinta dan gerak geriknya mirip seorang laki-laki hidung bangor, pada hakekatnya setiap waktu setiap saat ia selalu memikirkan bagaimana caranya untuk meneruskan cita-cita ayahnya, membasmi hawa jahat serta menegakkan keadilan serta kebenaran dalam muka bumi.

Dan kini hawa iblis sudah muncul dari mana-mana, dalam pandangannya inilah kesempatan yang terbaik baginya untuk mewujudkan cita-citanya itu meski sebagai anak muda ia gemar urusan, tapi sifat gagah sifat jantan dan bijaksana dari keluarga Hoa tetap mengalir dalam tubuhnya, membangun dunia yang aman damai adalah cita-cita luhur yang sebenarnya dari pemuda tersebut.

Begitulah, meskipun dalam hati kecilnya timbul suatu gelombang yang amat besar, tapi ia berusaha untuk mengendalikan pergolakan itu.

Dalam pada itu, disangkanya ia menolak penawarannya, lama sekali anak muda itu tak berkatakata, disangkanya ia menolak penawarannya, tak tertahan lagi air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya.

"Saa....salahkah perkataanku?"

Bisiknya lirih.

"Adik Wi, hubungan kita bagaikan terhadap saudara sekeluarga, memangnya aku musti mengucapkan terima kasih dulu kepadamu?"

Ujar Hoa In-liong sambil merangkul pinggangnya yang ramping. Setelah mendengar perkataan itu, Coa Wi-wi baru tertawa gembira.

"Oooh....jiko....!"

Serunya.

Meskipun wajahnya berseri, butiran air mata masih mengembang dalam kelopak matanya, ibaratnya sekuntum bunga yang basah oleh air hujan, kecantikan dari itu sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Semakin dilihat Hoa In-liong merasa makin tertarik, akhirnya ia tak dapat mengendalikan perasaannya lagi, dipeluknya dara itu erat-erat, diciumnya butiran air mata yang membasahi pipinya lalu dikecupnya bibir yang mungil itu dengan penuh kemesraan.

Sekujur badan Coa Wi-wi tergetar keras, ia mendesis lirih lalu jatuhkan diri kedalam rangkulan Hoa In-liong dan bersandar didadanya yang dingin.

Sekalipun ia belum tahu akan hubungan antara laki dan perempuan, toh usianya tahun ini sudah mencapai tujuh belasan, ibaratnya sekuntum bunga yang mekar, ia telah siap dihisap madunya oleh kumbang-kumbang yang beterbangan di sekelilingnya.

Maka, dikala bibirnya dikecup dengan mesra, untuk sesaat anak dara itu merasakan suatu perasaan aneh yang belum pernah dirasakan sebelumnya, bagaikan kena aliran listrik bertegangan tinggi ia merintih lirih lalu mendekap anak muda itu lebih kencang.

Harus diterangkan disini, walaupun sebelumnya antara mereka berdua telah berlangsung suatu perselisihan, namun keadaan waktu itu jauh berbeda dengan perselisihan-perselisihan yang pada umumnya terjadi, sebab itu Coa Wi-wi sama sekali tidak merasakan sesuatu ganjalan.

Sebelum itu, sekalipun dihati kecil sang dara hanya terhadap Hoa In-liong seorang, gambaran tersebut masih terlalu samar baginya, tapi sekarang gambaran itu sudah semakin nyata, secara otomatis pula perasaan cinta antara muda mudi ikut berkembang dihatinya.

Lama....

lama sekali, dua orang itu akhirnya sadar dari impian indah, Hoa In-liong angkat mukanya lebih dulu dan berbisik lembut.

"Adik Wi!"

Coa Wi-wi masih membenamkan kepalanya dalam pelukan pemuda itu, mukanya merah dadu karena jengah, ia hanya mendesis lirih kemudian membungkam terus dalam seribu bahasa.

Menyaksikan kesemuanya itu, Hoa In-liong lantas berpikir.

"Adik Wi baru mekar dan masih malumalu, aku tak boleh membuat dia lebih jengah lagi...."

Berpendapat demikian, iapun berbisik disisi telinga Coa Wi-wi dengan suara lirih.

"Tunggulah sebentar disini adik Wi, lihatlah bagaimana caraku menangkap pencoleng!"

Setelah melepaskan rangkulannya atas gadis itu dia berseru nyaring.

"Sobat, sabar amat engkau, setelah bersembunyi sekian lama, sekarang tiba waktunya bagimu untuk menampakkan diri!"

Sembari berseru, telapak telapak tangannya segera diayun ke muka melepaskan sebuah pukulan dahsyat yang menghancurkan jendela kayu itu.

Hancuran kayu berhamburan kemana mana, dibawah sorotan cahaya lampu tiba-tiba muncul sekilas rentetan tajam, menyusul kemudian tampaklah sebilah pedang langsung membacok kearah pergelangan tangan kanannya....

Kiranya orang yang bersembunyi baik untuk melancarkan mengetahui akan kelihayan Hoa Inliong maka dia lantas menutup semua pernapasannya sambil menunggu ada kesempatan baik untuk melancarkan sergapan.

Siapa tahu tunggu punya tunggu Hoa In-liong tidak masuk juga kedalam ruangan, pernapasan yang ditutup jadi sesak rasanya, hingga akhirnya tak bisa ditahan lagi ia bernapas berat.

Hoa In-liong bukan seorang jago sembarangan, dengan ketajaman pendengarannya serta hembusan napas berat itu dapat terdengar olehnya dengan nyata.

Kini, menghadapi serangan maut dari musuhnya ia lantas mendengus dingin, tangan kanannya dengan menggunakan ilmu Menyerang sampai ma ti bagian pertama secepat kilat melepaskan sebuah totokan maut ke arah urat nadi pada pergelangan musuh.

Orang itu menjerit kesakitan termakan oleh totokan tersebut pedangnya terlepas dari cekalan dan terjatuh ke tanah.

Hoa In-liong tidak ragu-ragu lagi, begitu senjata musuh berhasil dirontokkan, ia lantas bergerak ke muka dan menerobos masuk melalui jendela itu.

Coa Wi-wi agak tertegun sebentar, kemudian dengan perasaan malu bercampur mendongkol dia ikut menerobos masuk ke dalam ruangan.

Padahal, berbicara dari kesempurnaan tenaga dalam yang dimilikinya, seharusnya ia sudah mengetahui akan kehadiran seseorang disana semenjak tadi, tapi lantaran pertama pengalamannya kurang banyak, kedua segenap perhatian dan perasaannya tertuju pada Hoa Inliong seorang, otomatis urusan lain terkesampingkan olehnya dan sama sekali tidak peroleh perhatian apa-apa.

Tapi sekarang setelah mengetahui bahwa ada orang mengacau kemesraan mereka, dari rasa malunya gadis itu jadi marah, hawa napsu membunuh yang belum pernah terlintas dalam benaknya segera menyelimuti seluruh wajahnya yang cantik.

Ruang batu itu luasnya cuma dua kaki, dalam ruanganpun hanya terdapat sebuah pembaringan, sebuah meja, tiga empat buah kursi, sebuah lampu lentera diatas meja dan tiada benda lainnya lagi.

Orang yang barusan melancarkan serangan adalah seorang laki-laki kekar berbaju ungu, cukup dalam sekilas pandangan saja Hoa In-liong segera mengenali kembali orang itu sebagai salah seorang diantara delapan lelaki kekar yang muncul bersama Ciu-Hoa di ruang peti mati keluarga Suma Tiang-cing.

Lengan kanan laki-laki itu terkulai lemas kebawah, mukanya diliputi rasa takut, ngeri yang luar biasa, matanya celingukan kesana kemari, tampaknya ia bermaksud kabur dari situ.

Diam-diam Hoa In-liong mendengus dingin, namun diluaran sambil tersenyum sapanya.

"Sahabat, agaknya kita pernah berjumpa muka bukan? Siapa namamu?"

Laki-laki berbaju ungu itu agak tertegun, kemudian tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia putar badan dan kabur lewat pintu ruangan.

Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak, dengan suatu gerakan yang cepat ia menghadang dihadapannya, lalu mengejek lagi.

"Sobat, masa sebelum mengucapkan sepatah katapun kau sudah ingin kabur dari sini? Oooh.... atau mungkin kau merasa bahwa Hoa loji ti dak pantas bersahabat denganmu?"

"Enyah kau bangsat dari sini!"

Teriak laki-laki berbaju ungu itu kaget bercampur marah.

Telapak tangan kanannya dengan membawa desiran angin tajam melepaskan sebuah pukulan kencang kedada Hoa In-liong.

Coa Wi-wi mendengus dingin, jari tangannya setengah tombak disodok kemuka, dengan kepandaian silatnya yang sangat lihay tentu saja laki-laki berbaju ungu itu tak sanggup menghindarkan diri....

Diiringi dengusan tertahan, jalan darah Ping hong hiat di tubuhnya terkena totokan, tak ampun badannya segera roboh terjungkal.

Melihat itu Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh.... sobat, itulah yang dinamakan arak kehormatan kau tolak arak hukuman kau raih, siapa suruh mencari penyakit buat diri sendiri?"

Laki-laki berbaju ungu itu menggertak gigi sambil melotot gusar, ia membungkam dalam seribu bahasa.

"Jiko, aku rasa sebelum digunakan siksaan dia tak akan buka suara...."

Seru Coa Wi-wi lagi Hoa In-liong cukup memahami perasaan si gadis tersebut, ia tahu Coa Wi-wi lagi tak senang hati berhubung kemesraan mereka diketahui orang tapi diapun tak ingin sampai gadis itu ternoda oleh kejadian itu sehingga kelembutan dan kemuliaannya sebagai seorang dara tersinggung.

Maka sambil tersenyum ujarnya.

"Adik Wi, bagaimana kalau urusan ini kuselesaikan, hati kecilnya mengatakan segan toh ia mundur juga selangkah. Setelah gadis itu mundur, Hoa In-liong baru berpaling lagi dengan muka lebih serius.

"Sobat, engkau berasal dari marga mana?"

"Tan"

Sahut laki-laki itu ketus, agaknya ia tahu bahwa tiada harapan lagi untuk melarikan diri maka pertanyaan yang diajukan kepadanya harus dijawab.

"Lantas siapakah namamu?"

Tanya pemuda itu lagi dengan raut wajah yang jauh lebih lembut.

"Beng-tat!"

"Tan Beng-tat, ehmm.... sebuah nama yang bagus, lalu apa kedudukan saudara Tan didalam perkumpulan Hian-beng-kauw?"

"Maaf, hal ini tak dapat dijawab"

Hoa In-liong tidak menjadi gusar oleh jawaban tersebut, dia malah tersenyum.

"Jadi kalau begitu, orang-orang dari perkumpulan kalianlah yang sudah membakar pesanggrahan pertabiban ini?"

Tan Beng-tat termenung sebentar, kemudian baru menjawab dengan nada dingin.

"Yaa, benar!"

Mendengar pengakuan tersebut, Coa Wi-wi tak dapat mengendalikan amarahnya lagi, ia berteriak keras.

"Dendam sakit hati apakah yang telah terjalin antara empek Yu dengan kamu semua? Mengapa kalian berbuat sekeji ini terhadap mere ka semua? Sebenarnya kalian masih memiliki sifat kemanusiaan atau tidak?"

Dengan sinar mata yang jelalatan Tan Beng-tat melotot kearah gadis itu, bibirnya sudah bergetar seperti mau melontarkan caci makinya, tapi ketika ditemuinya Coa Wi-wi tampak cantik jelita bak bidadari dari kahyangan kendatipun berada dalam keadaan gusar, kontan saja ia terbungkam dan tak mampu melanjutkan kata-kata makiannya, Hoa In-liong sendiri sebetulnya juga marah sekali setelah mendengar ucapan tadi, namun dia masih sanggup mengendalikan perasaannya.

"Lantas empek Yu kami itu kini berada dimana?"

Tanyanya lebih jauh.

"apakah saudara Tao bersedia memberi tahukan kepada kami?"

"Aku tidak tahu!"

Sahut Tan Beng-tat dengan suara yang dingin, kaku dan tak sedap didengar. Hoa In-liong tersenyum.

"Saudara Tan, rupanya kau sudah menganggap aku Hoa Yang terlampau pelit sehingga tiada sayur mayur dari hidangan lezat untuk menjamu dirimu, maka engkaupun segan memberi petunjuk kepadaku?"

Tan Beng tai terkesiap, dia bukan orang goblok tentu saja maksud yang sebenarnya dari ucapan tersebut diketahui juga olehnya, segera pikirnya di hati.

"Bajingan, keparat ini jelas adalah seorang Siau bin hau (harimau bermuka tertawa), entah siksaan kejam apakah yang hendak ia limpahkan terhadapku?"

Ia jadi nekad, segera teriaknya dengan suara melengking.

"Bocah keparat dari keluarga Hoa, kau mempunyai permainan busuk apa saja? hayo keluarkan semua dan silahkan dihadiahkan kepada toaya mu, jika toaya mu sampai berkerut kening, anggap saja bahwa aku bukan seorang laki-laki sejati"

Coa Wi-wi semakin gusar lagi sehabis mendengar kata-kata musuhnya yang tak senonoh, ia segera membentak keras.

"Bangsat, rupanya sebelum diberi siksaan mulutmu tetap kotor, bagus, tidak ada susahnya kalau kau memang ingin mencicipi bagaimana rasanya kelihaiyanku"

Berbicara sampai disitu, tangannya yang putih mulus lantas di ayun kebawah siap melancarkan serangan.

"Eeeh....tunggu sebentar adik Wi!"

Buru-buru Hoa In-liong mengghalangi perbuatannya. Kemudian dengan wajah serius dia berseru.

"Hayo jawab, siapa-siapa saja yang terlibat dalam peristiwa pembakaran terhadap pesanggrahan pertabiban ini!"

"Kau ingin tahu?"

Ejek Tan Beng-tat dengan wajab licik.

"Sambil menyeringai seram berkatalah Tan Beng-tat.

"Mereka adalah Jin Hian, Thian Ik cu, Kiuim-kauwcu selain tentu saja yayamu sendiri puas bukan?"

Hoa In-liong betul-betul amat gusar menghadapi perlakuan seperti ini,pikirannya.

"Bajingan ini terlalu keras kepala dan sombong agaknya jika tidak diberi sedikit pelajaran yang setimpal, dia tak mau mengakuinya secara berterus terang...."

Berpikir demikian diapun tertawa tergelak.

"Haaahhh.... haaahhh.... haaah....puas. puas, aku merasa puas sekali....!"

Secara beruntun tangan kanannya melancarkan beberapa totokan keatas jalan darah ditubuh Tan Beng-tat.

Termakan oleh beberapa totokan tersebut, seketika itu juga Tan Beng-tat merasakan sekujur badannya linu dan gatal, seakan-akan ada semut yang beribu-ribu banyaknya berjalan didalam tubuhnya.

Mula-mula ia masih bertahan sambil menggigit bibir, tapi akhirnya ia merasa sekujur badannya seperti digigit oleh berjuta-juta ekor semut, sakitnya masih bisa ditahan tapi rasa gatalnya, benar-benar sudah merasuk sampai ke dalam, bukan hatinya saja yang gatal bahkan semua isi perutnya ikut menjadi gatal.

Sedemikian menderitanya rasa gatal itu, kalau bisa dia ingin mengorek keluar semua isi perutnya agar rasa gatal itu berkurang, bayangkan sendiri sampai ke tingkat yang bagaimanakah penderitaan tersebut?

Padahal ketika itu jalan darahnya tertotok, jangankan merangkak bangun, untuk bergerakpun tak mampu, bisa dimengerti kalau laki-laki itu akhirnya tak tahan juga.

"Anak jadah she Hoa.... anak anjing budukan, laki perempuan bangka.... kalau punya kepandaian ayoh bunuh aku kalau berani....!"

Makinya kalang kabut.

Apa yang diharapkan pada keadaan seperti ini hanyalah satu yakni kematian, untuk mewujudkan keinginannya itu maka terlontarlah segala macam kata-kata makian yang paling kotorpun.

Hoa In-liong tidak menjadi marah karena itu, malah ejeknya.

"Ayoh makilah, maki terus sampai tua, haahh.... haahh.... haahh.... semakin banyak kata-kata kotormu, semakin lama pula penderitaan yang akan kau rasakan"

Melihat makiannya tidak mendatangkan hasil, Tan Beng-tat segera berganti taktik, ia mulai merengek-rengek.

"Hoa Yang, berbuatlah sedikit kejadian, bunuhlah aku dengan sekali bacokan, kalian keluarga Hoa...."

Berbicara sampai disini, kembali ia tak dapat mengendalikan rasa sakitnya hingga merintih ngeri.

"Diam-diam Hoa liong mengerutkan dahinya dan berpikir.

"Entah siapakah Hian-beng Kaucu ini? Betapa ketatnya peraturan perkumpulan mereka, sampai-sampai dalam keadaan demikianpun Tan Beng-tat tak berani membocorkan rahasia perkumpulannya...."

Coa Wi-wi Juga merasa tak tega melihat keadaan tersebut, terutama setelah jalan darah Pinghong-hiat ditubuh Tan Beng-tat tertotok, sekalipun badannya tak mampu bergerak, tapi seluruh kulit wajahnya mengejang keras dan rintihannya semakin mengenaskan.

Sebagai seseorang yang berhati mulia, akhirnya toh gadis itu merasa tak tega, katanya kemudian.

"Jiko, aku pikir...."

Tapi dengan cepat ia membungkam kembali".

Hoa In-liong berpaling sekejap kearahnya, ketika dilihatnya bibir gadis itu bergetar seperti hendak mengucapkan sesuatu tapi niat itu kemudian dibatalkan, bahkan Wajahnya menunjukkan rasa tak tega, dia lantas tahu bahwa gadis itu sedang memintakan ampun bagi Tan Beng-tat.

Namun un cukup merasakan betapa pentingnya masalah tersebut, bagaimanapun jua tak mungkin korban tadi dilepaskan dengan demikian saja.

Akhirnya setelah mempertimbangkan beberapa saat, dia menghela napas, secara beruntun ditepuknya beberapa buahjalan darah ditubuh orang itu hingga siksaan "digigit berjuta-juta ekor semut"

Pun ikut lenyap dengan sendirinya.

"Tan Beng at!"

Bentaknya kemudian.

"empek Yu ku itu masih hidup atau sudah mati?"

Teringat berapa tersiksanya digigit semut, setelah sangsi sejenak Ta Beng at menyahut juga.

"Masih hidup!"

"eandainya aku bertanya dimanakah empek Yu berada, ku yakin kau tak berani mengatakannya, bahkan belum tentu mengetahuinya, maka aku hanya ingin bertanya kepadamu, ada utusan apa kau seorang diri datang kemari....?"

Tan Beng at kelihatan seperti tertegun.

"Darimana kau bisa tahu kalau aku datang kemari seorang diri?"

Ia balik bertanya. Hoa In ng tidak langsung menjawah diam-diam ia membatin.

"Orang ini keras diluar lunak didalam, jelas kedatangannya kemari mempunyai tugas tertentu, akan kulihat apa yang dia lakukan disini?"

Sambil menengadah ia pun tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh.... baiklah akupun tak akan menanyakan kepada kau datang kemari, tapi dimanakah Ciu kongcu mereka berada tentunya kau tahu bukan?"

Tan Beng-tat tidak menduga kalau secara tiba-tiba musuhnya bersikap selembut itu, ia benarbenar merasa kaget bercampur curiga selang sejenak kemudian dia baru menyahut.

"Pokoknya ada dikota Kim-leng, Hoa jiya kan orang yang hebat dan punya kemampuan luar biasa kenapa tidak berusaha mencari sendiri?"

"Beritahu kepadaku akan kuperkenankan kau berlalu dari sini! ujar Hoa In-liong lagi dengan wajah serius. Janji tersebut benar-benar ada diluar dugaan Tan Beng-tat, dia melongo.

"Bagaimana caranya aku bisa mempercayai dirimu?"

Serunya kemudian dengan nada sangsi.

"Dengan dasar nama baik keluarga Hoa kami, memangnya aku akan membohongi dirimu?"

Seru pemuda itu lagi dengan wajah makin serius.

Yaa, memang!

Pada hakekatnya keluarga Hoa semenjak dari kakek Hoa In-liong yang bernama Hoa goan siu sudah merupakan tonggak atau tulang punggung bagi kaum pendekar dari golongan putih, setiap perkataan yang mereka ucapkan mau pun setiap tindakan yang mereka lakukan secara otomatis merupakan tindakan resmi dari seluruh umat persilatan golongan putih yang didunia ini, hingga serta-merta pihak lawan pun hampir semuanya mempercayai apa yang dikatakan orang-orang keluarga Hoa.

Tan Beng-tat agak sangsi sebentar, kemudian tanyanya.

"Bila kukatakan tapi engkau tidak percaya, apa pula yang musti kulakukan?"

"Asal kau bersedia mengatakannya, benar atau tidaknya aku Hoa loji dapat menentukan sendiri, tak perlu kau musti repot-repot meresahkannya bagiku!"

Berkilat sepasang mata Tan Beng-tat sehabis mendengar perkataan itu, ia bertanya lagi.

"Jadi aku diperbolehkan pergi dari sini tanpa kekurangan sesuatu bendapun diri semua yang kubawa?"

"Goblok.

"pikir Hoa Tn liong dengan gelinya.

"dengan perkataanmu itu, bukankah sama halnya dengan kau beritahukan rahasiamu kepadaku?"

Ia menengok kearah Coa Wi-wi, kebetulan gadis itu lagi memandang kearahnya, merekapun saling berpandangan sambil tertawa.

"Jiko!"

Bisik Coa Wi-wi kemudian dengan ilmu menyampaikan suaranya.

"perlukah kita geledah dulu isi sakunya?"

"Tidak usah!"

Jawab Hoa In-liong dengan ilmu menyampaikan suara juga.

"aku mempunyai perhitungan sendiri"

Dsngan wajah serius ia menyahut.

"Boleh saja permintaanmu itu, Nah, katakanlah!"

Tan Beng-tat termenung sebentar, lalu menjawab.

"Mereka berada di istana Tiau thin-kiong, percaya atau tidak terserah padamu"

"Omong kosong, kau sedang membohong "Coa Wi-wi segera membentak nyaring.

"istana Tiau thian kioag adalah tempat umum yang dapat dikunjungi setiap orang, masa mereka bersembunyi disana?"

Tan Beng-tat kuatir Hoa In-liong turun tangan menyiksa dirinya lagi, cepat-cepat ia berseru.

"Kami masuk dengan memanjat dinding pekarangan, istana itu luas sekali, disanapun merupakan tempat yang bisa dipakai untuk bersembunyi, lagipula jarang ada orang yang masuk sampai tengah istana, sudah tentu jejak kami sulit diketahui orang"

"Setelah berhenti sebentar, ia berkata lagi.

"Semua jago tangguh dari perkumpulan kami telah tiba semua disini, aku rasa tiada keharusan bagiku untuk mengelabuhi kalian semua"

Tapi setelah perkataan itu meluncur keluar, ia merasa sangat menyesal, untuk dibatalkan kembali jelas tak mungkin, maka diapun membungkam dalam seribu basa.

Hoa In-liong termenung sejenak, lalu berpikir.

"Kalau dilihat dari gerak-geriknya, apa yang di katakan memang dapat dipercaya, coba kuselidiki lebih lanjut rahasia perkumpu-lannya"

Berpikir lebih lanjut, diapun bertanya kembali.

"Siapa saja yang telah datang? Apakah ke delapan orang Ciu Hoa juga sudah berkumpul semua disini? bagaimana dengan kaucu kalian?"

Waktu itu Tan Beng-tat sedang gelagapan lantaran salah berbicara, mendengar perkataan itu ia jadi paik pitam.

"Wahai orang she Hoa!"

Demikian teguran "engkau toh cuma menanyakan dimana kongcu kami bersembunyi, dan aku telah menjawab sejujurnya, Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak tangannya bergerak cepat menepuk bebas jalan darah peng hong hiat yang tertotok itu.

"Baiklah, kalau begitu kau boleh pergi!"

Katanya Mimpipun Tan Beng-tat tak pernah percanya kalau dirinya bakal dilepaskan dengan begitu saja tanpa musti melalui prosedur yang menyulitkan, tidak banyak berbicara lagi dia segera melompat bangun dan berdiri tertegun.

"Apa lagi?"

Tegur Coa Wi-wi dengan suara ketus.

"sudah tak pingin pergi? Bagus sekali, kalau begitu tinggal saja disini!"

Tan Beng-tat amat terkejut, dia kuatir Hoa In-liong berubah pikiran, karenanya tanpa berani mengucapkan sepatah katapun ia kabur ke pintu ruangan, kemudian setelah menatap sekejap kearah musuhnya dengan penuh kebencian, buru-buru dia angkat kaki dan kabur dari situ.

Begitu Tan Beng-tat meninggalkan ruangan tersebut, Coa Wi-wi lantas berbisik lirih.

"Jiko, ayoh kejar!"

"Tak mungkin lolos dari kejaran kita, tunggu saja sebentar lagi"

Kata Hoa-In liong sedikitpun tidak gugup.

Dengan sorot mata yang tajam ia mengawasi sekejap sekeliling tempat itu, setelah mengamatinya beberapa waktu, akhirnya pemuda itu berkesimpulan bahwa keempat kaki pembaringan yang terbuat dari bambu itulah merupakan bagian yang paling mencurigakan diantara sekian benda dalam ruangan tersebut.

Semenjak kecilnya pemuda ini memang bandel dan nakal, soal mencari barang yang disembunyikan sesuatu benda boleh dikata merupakan keahliannya yang terutama, maka bila seseorang hendak menyembunyikan sesuatu dihadapannya, tak mungkin benda tersebut dapat lolos dari ketajaman sepasang matanya.

Begitulah, setelah menaruh curiga pada suatu bagian tempat itu, pemuda itu pun maju menghampiri pembaringan, berjongkok ditepinya dan mulai melakukan percarian dengan seksama, ia berusaha menemukan sesuatu yang aneh dari tempat itu.

Betul juga, ternyata diantara kaki pembaringan yang terbuat dari bambu, ada satu ruas diantaranya yang dapat dibuka, oleh karena pandangan yang dilakukan secara sempurna, hal ini tak gampang ditemukan orang.

Tapi apa yang ditemukan?

Ketika ruas bambu itu dibuka, ternyata isinya kosong, tiada sesuatu benda apapun di situ.

Kendatipun demikian, Hoa In-liong tidak menyerah dengan begitu saji, dengan jari tengah dan telunjuknya ia coba mengorek tabung bambu vang kosong tadi.

Melihat tingkah laku Hoa In-liong yang tiada bosan-bosannya mengorek tabung bambu yang kosong, habislah kesabaran Coa Wi-wi.

"ia maju kesisinya lalu menegur.

"Ayoh berangkat! Aaaai.... kamu ini memang keterlaluan, andaikata benar-benar ada barangnya sudah pasti barang itu telah dibawa lari, masa harus menunggu sampai aku datang untuk mengam bilnya?"

Hoa In lioag tertawa lirih, merasa ucapan dari gadis itu ada benarnya juga, ia siap bangkit berdiri.

Tapi....secara tiba-tiba satu ingatau melintas dalam benaknya, ia merasa dalam tabung bambu itu seakan-akan telah menyentuh suatu benda yang licin, jelas benda tersebut bukan merupakan lembaran bambu.

Dalam keadaan begini, ia segan untuk membuang tenaga lagi, sekali bacok tabung bambu itu dihajarnya sampai hancur.

Betul juga dugaannya, begitu tabung bambu terhajar pecah, dari hancuran bambu muncullah sebuah benda panjang yang memancarkan cahaya hijau muda, menyilaukan sekali cahaya tersebut.

Cepat dipungutnya benda tersebut, ternyata adalah sebuah penggaris kemala, diatas penggaris terukir enam huruf besar yang berbunyi.

Istana Kiu ci kiong, tempat penyimpanan kitab.

Selain keenam huruf besar itu, diatas penggaris terukir pula penuh huruf kecil yang lembut dan sebesar lalat, selain itu terukir juga lukisan manusia dilam posisi yang bsraneka ragam.

Dalam sekilas pandangan saja, pemuda itu segera mengetahuinya sebagai benda peninggalan Kiu-ci Sinkun, hanya entah apa sebabnya ternyata bisa disimpan secara rahasia disitu.

"Apakah itu? Sebuah Giok pek-ci (Penggaris Kemala Hijau)?"

Tanya Coa Wi-wi sambil menghampiri dari belakang. Hoa In-liong tak sempat meneliti lebih jauh, seraya angsurkan benda itu kepadanya ia menyahut.

"Bukan batu kemala, sebab kalau kemala hijau, sudah pasti tak akan tahan oleh pukulan tanganku!"

Selesai berkata, ia melanjutkan kembili penggeledahannya dengan menghancurkan tabungtabung bambu lainnya namun tiada sesuatu apapun yang ditemukan.

Dengan patahnya keempat buah Laki pembaringan tersebut, maka dikala anak muda itu melepaskan pegangannya, ambruklah pembaringan itu ketanah sementara, ia sendiri lantas bangun.

"Istana Kiu ci kioag itu terletak dimana?"

Coa Wi-wi bertanya lagi. Sambil putar badan jawab Hoa In-Iiong.

"Istana Kiu ci-kiong di dirikan oleh seorang jago silat yang bernama Kiu-ci Sinkun, letaknya ada dibakit Kiu ci-san karesidenan Sam kang-siam propinsi Kwang-see!"

Setelah berhenti ssjenak. ia berkata lagi.

"Sepanjang hidupnya Kiu-ci Sinkun mempunyai banyak pengalaman yang menarik, lain hari akan kuceritakan kesemuanya itu kepadamu, juga tentang kisah penggalian harta Karun dibukit Kiu ci-san yang berlangsung sampai tiga kali, penuh dihiasi oleh kejadian-kejadian yang ramai dan tegang, cuma seluruh harta karun yang tersimpan dalam istana Kiu ci-kiong akhirnya habis terkuras dalam penggalian yang diadakan untuk ketiga kalinya...."

Tiba-tiba ditemuinya Coa Wi-wi sedang mengawasi penggaris kemala hijau itu dengan penuh semangat, ia lantas bertanya dengan tercengang.

"Ada apanya sih penggaris kemala hijau itu? Kok serius amat caramu memperhatikan?"

"Jiko, cepat libat, lukisan orang-orangan yang ada dipenggaris tersebut agaknya merupakan pelajaran ilmu pukulan dan Sim-hoat tenaga dalam yang amat dahsyat "

Teriak Coa Wi-wi dengan nada sangat gembira.

"Aaaah....! Masa iya?"

Seru Hoa In-liong pula dengan nada tercengang.

"Benar jiko, cuma ilmu pukulan dan Sim-hoat tenaga dalam itu ditulis tak berurutan, kacau kalau tak karuan hingga sukar diikuti dengan sebaik-baiknya"

Seraya berkata, dengan hati berkerut gadis itu menyerahkan kembali penggaris kemala hijau itu kepada Hoa In-liong. Hoa In-liong menerima benda itu dan menyahut.

"Bila dugaanku tak salah, ilmu pukulan dan simhoat tenaga dalam itu tentulah peninggalan dari Kiu-ci Sinkun, atau mungkin juga penggaris kemala hijau ini adalah batas bukunya"

Setelah menyimpannya kedalam saku, ia berkata lagi.

"Sekarang tak ada waktu lagi bagi kita untuk menduga lebih jauh, lebih baik kita percepat lakukan pengejaran...."

Ia merasa sudah terlalu banyak waktu yang terbuang, karenanya pemuda itu tak berani berayal lebih jauh, setelah keluar dari ruang batu, mereka memanjat sebuah pohon besar diatas bukit gunung-gunungan tersebut, dari situ mereka arahkan pandangannya jauh kedepan.

Tiba-tiba Coa Wi-wi menunjuk kearah timur sambil berseru.

"Disebelah sana ada sesosok bayangan hitam sedang bergerak, mungkin dia adalah Tan Beng-tat!"

Hoa In-liong tahu bahwa ketajaman mata sidara manis ini jauh melebihi kemampuannya, kalau toh ia berkata demikian, maka boleh dibilang perkataannya itu tak bakal salah.

Mereka berdua tak berani berayal lagi, dengan cepat dilakukan pengejaran ketat kedepan.

Terhadap benda penemuan yang diperolehnya tanpa sengaja itu baik Hoa In-liong mampu Coa Wi-wi sama-sama tidak menaruh perhatian, padahal mereka tak menyangka kalau benda itu justru merupakan modal yang paling diandalkan Hoa In-liong dalam usahanya melenyapkan hawa iblis dari muka bumi di kemudian hari.

Yaa, kalau takdir telah menentukan demikian, siapa lagi yang dapat membantah?

Apa yang diucipkan Hoa In-liong tadipun hanya merupakan suatu dugaan belaka, tapi apa yang diduganya itu memang sembilan puluh persen persis seperti kenyataannya, Dahulu, penggarisan kedalam hijiu itu memang digunakan Kiu-ci Sinkun sebagai batas bukunya, apa yang diperolehnya setiap hari boleh dibilang dicatat semua diatas penggaris tadi.

Kiu-ci Sinkun dapat berbuat demikian, boleh dibilang masih membawa suatu tujuan tertentu, oleh sebab dia adalah seorang yang latah, ia berharap setiap benda yang pernah digunakannya dimasa lalu akan dipandang sebagai benda pusaka oleh mereka yang menemukannya kembali dikemudian hari, maka semua kepandaian yang diperolehnya pada waktu itu hampir boleh dibilang tercatat semua di sana.

Penggaris kemala hijau sebagai batas bukunya itu ia selipkan di salah satu kitab-kitab pusaka yang dimilikinya, dan secara kebetulan terselip di dalam kitab pusaka Hoa to cin keng yang didapatkan Yu Siang tek.

Pada hakekatnya kitab pusaka yang ditemukan dalam penggalian harta pusaka di bukit Kiu ci san itu tak terhitung banyaknya, dalam keadaan demikian, sudah tentu siapapun tidak menaruh perhatian atas sebuah batas buku.

Menanti Yu Siang-tek menemukan keistimewaan tersebut, operasi pencarian harta karun telah berakhir, semua orang sudah saling berpisah untuk menuju ke rumahnya masing-masing.

Sayang tenaga dalamnya amat cetek, lagipula catatan ilmu pukulan dan sim hoat tenaga dalam yang tertera diatas penggaris kemala hijiu itu kalut dan tidak beraturan, banyak keistimewaan dan keampuhan dari sari kepandaian itu tak berhasil ia pahami.

Timbul kemudian satu ingatan untuk mengirim benda itu keluarga Hoa dibukit Im-tiong-san, tapi diapun merasa kuatir benda yang tak seberapa nilainya itu akan menimbulkan gelak tertawa orang.

Akhirnya setelah mempertimbangkannya berulang kali, ia putuskan untuk menyimpan saja benda tersebut sambil menunggu kesempatan baik dikemudian hari.

Kebetulan kali ini Hoa In-liong berkunjung ke selatan, sebenarnya benda itu hendak diserahkan kepada anak muda tersebut, tapi kemudian Hoa In-liong berlalu dengan tergesa gesa, hingga benda mustika tersebutpun untuk sementara waktu ditangguhkan penyerahan-nya.

Siapa tahu selelah mengalami pelbagai rintangan dan persoalan, akhirnya toh penggaris kemala hijiu tersebut terjauh kembali ke tangan Hoa In-liong, boleh dibilang memang begitulah takdir berbicara.

"Begitulah, dengan kecepatan bagaikan sambaran petir, kedua orang itu melakukan pengejaran kemuka, sekejap kemudian mereka berhasil menyusuli laki laki itu. Benar juga, dari kejauhan tampak Tan Beng-tat melanjutkan perjalanannya sambil bersembunyi, ia selalu memilih tempat yang gelap dan tersembunyi untuk menyembunyikan jejaknya, bahkan sering kali menoleh ke belakang rupanya ia kuatir kalau perjalanannya dibuntuti orang. Sampai detik itu, mau tak mau Hoa In-liong harus memuji ketajaman mata Coa Wi-wi, berganti orang lain, mungkin sulit untuk menemukan jejak laki-laki itu. Tiba-tiba Coa Wi-wi menempelkan bibirnya ke sisi telinga anak mudi itu, lalu berbisik.

"Bajingan ini sedang berbohong, kalau benar istana Tiau thian-kiong semestinya dia lewat pintu kota sebelah barat, karena letak istana tersebut adalah Hu see sak shia, padahal dia perginya ke arah bukit Ciong san pingit, sekali kubacok bangsat itu sampai modar. Hoa In-liong tertawa.

"Kau tak usah begitu marah, pokoknya asal kita tak sampai tertipu, itu kan cukup"

Hiburnya. 00000O00000 TIBA-TIBA ia menarik ujung baju Coa-Wi-wi sambil berseru.

"Eeeh....tunggu sebentar!"

Ternyata mereka berdua telah menyusul sampai jarak sepuluh kaki dibelakang sasaran, Hoa Inliong takut pembuntutan yang terlampau dekat bakal diketahui Tan Beng-tat, maka dia usulkan untuk berhenti lebih dulu.

"Jiko"

Kata Coa Wi-wi kemudian.

"lebih leluasa buat kita untuk mengawasinya dari atas pohon bagaimana menurut pendapatmu?"

Hoa In-liong mengawasi lebih dulu sekeliling tempat itu, ketika dilihatnya sekeliling tempat itu adalah sebuah hutan yang luas, ia menyadari bahwa pengejaran yang dilakukan dari atas tanah gampang kehilangan sasaran, maka setelah mempertimbangkannya sejenak akhirnya pemuda itupun mengangguk.

Coa Wi-wi tidak banyik berbicara lagi, ia menarik tangan Hoa In-liong dan diajak naik keatas dahan pohon.

Hoa In-liong membiarkan dirinya ditarik, tanpa mengeluarkan sedikit tenagapun, tubuhnya sudah melambung ke udara dan hinggap diatas dahan pohon.

Ketika ia berpaling ke arah Coa-Wi-wi, terlihat gadis itu tetap wajar dan sama sekali tidak kelihayan payah, kenyataan tersebut membuat pemuda kita jadi kagum.

"Adik Wi!"

Pujinya.

"sim hoat tenaga dalam dari perguruanmu benar-benar hebat sekali"

Yaa, betapapun juga, tenaga dalam yang dimiliki Coa Wi-wi memang patut dikagumi.

"Ehmm....!"

Sahut sang dara.

"kecuali sim-hoat tenaga dalam yang hebat, masih ada lagi sebab sebab lainnya"

"Oya? Kalau begitu kau pernah makan obat mustika atau bahan obat yang mujarab?"

"Yaa, aku pernah minum cairan sari buah yang tak ternilai harganya...."

Sahut Coa Wi-wi serius. Hoa In-liong tertawa.

"Ooh.... kalau begitu, tentunya Leng ci beruSaha seribu tahun?"

Ujarnya kembali. Coa Wi-wi tertawa cekikikan.

"Bukan Leng ci, melainkan buah Tho dsri perjamuan See-ong-bo di nirwana...."

Tentu saja Hoa In-liong tahu kalau gadis tersebut sedang bergurau. Ini membuat timbulnya sifat binal dalam hati kecil anak muda itu.

"Waaah.... kalau begitu adik Wi adalah Dewi cantik dari Nirwana?"

Godanya.

"aku si manusia sederhana dari bumi, sungguh merasa amat beruntung dapat berkenalan dengan dirimu"

Mendengar godaan tersebut Coa Wi-wi tertawa berseri-seri.

"Kau tidak percaya yaa dengan perkataanku? Baik, sampai dirumah nanti akan kuberikan juga cairan itu untukmu, tanggung sesudah minum cai-tay tersebut tenaga dalammu akan bertambah sepuluh kali lipat dari keadaan sekarang ini"

"Waaah.... kalau bisa mengalami kejadian semacam itu, sembilan keturunanku pasti akan selalu memperoleh rejeki"

Hoa In-liong mendesis setengah percaya setengah tidak. Melihat pemuda itu masih tidak percaya, Coa Wi-wi mengalihkan kembali pembicaraannya ke soal pokok.

"Jiko, kalau toh engkau sudah tahu bahwa pihak Hian-beng-kauw lah yang telah menculik empek Yu, aku rasa janjimu dengan Bwee Su-yok besok malam tak usah dipenuhi lagi"

Katanya. Hoa In-liong tersenyum.

"Aku rasa kurang baik kalau kita terbuat demikian!"

Meskipun perkataan itu diucapkan dengan suara lembut, tapi nadanya tegas dan mantap.

Tidak berhasil membujuki pemuda itu untuk membatalkan pertemuannya dengan Kiu-im-kauwcu, Coa Wi-wi berpikir sebentar lalu bertanya lagi.

"Jiko, seandainya Kiu-im-kauwcu bersedia meninggalkan yang sesat untuk kembali kejalan yang benar, gembirakah jiko menghadapi keadaan tersebut?"

"Sudah tentu sangat gembira, cuma.... haaahhh.... haaahhh.... haaahhh.... aku rasa hal ini takmungkin terjadi"

"Aku mempunyai suatu akal yang bagus sekali, bukan saja dapat membuat Kiu-im-kauwcu meninggalkan jalan yang sesat kembali kejalan yang benar, bahkan dia malahan akan membantu pihak kita. Apakah jiko ingin mengetahuinya?"

Hoa In-liong tidak tahu permainan apa lagi yang sedang dipersiapkan anak gadis itu, tapi ketika dilihatnya dara tersebut bicara dengan wajah bersungguh-sungguh, ia toh tertawa juga.

"Kalau engkau memang ada akal bagus, hayolah katakan kepadaku, coba kulihat sampai dimanakah kebagusan akalmu itu!"

"Sejak dulu sampai sekarang, perbuatan paling sulit didunia ini adalah menasehati orang untuk berbuat kebajikan, tentunya kau juga pernah mendengar bukan orang berkata begini. Mencuci muka membersihkan hati adalah perbuatan yang sulit diatas sulit...."

"Yaa, aku sudah tahu, merubah orang sesat menjadi orang budiman adalah perbuatannya yang paling sukar didunia ini"

Tukas Hoa In ling.

"oleh sebab amat sukar, maka kalau engkau punya cara yang bagus, hayolah cepat katakan kepadaku"

Coa Wi-wi tidak langsung menjawab pertanyaan itu, sebaliknya dengan nada serius ia berceramah kembali.

"Sekalipun dapat menyuruh orang jahat melepaskan golok pembunuhnya dan bertobat, orang yang memberikan nasehatnya itu entah harus menelan berapa banyak penderitaan dan pahit getir, dulu orang pernah bilang begini. Nasehat Malaikat, membuat batu yang keraspun menganggukkan kepala. Dari sini dapat diterangkan betapa penderitaannya dan betapa banyaknya, pengorbanan yang harus dikeluarkan Hoah-su itu sebelum berhasil membuat batu yang bandel menganggukkan kepalanya belaka"

Mendengarkan ceramah tentang betapa sukarnya orang menasehati seseorang yang berbuat kejahatan menjadi orang baik, Hoa In-liong tertawa lebar.

"Sudah, sudahlah, sebetulnya engkau mempunyai pusaka apa lagi? Ayo tunjukkan semua kepadaku, memangnya aku bakal berbuat pahala dengan dirimu?"

Coa Wi-wi tertawa cekikikan.

"Caraku ini bukan saja merupakau cara paling jitu diseluruh dunia, bila berhasil, bukan saja akan mendapat pahala besar, bukan su atu rejeKi nomplok yang tak terkirakan besarnya"

Begitu mendengar ucapan yang terakhir itu, Hoa In-liong segera menebak isi fikiran dari dara tersebut, sambil menarik muka ia lantai tepuk lengannya sambil pura-pura marah.

"Omong sembarangan, lihat saja kuberi pelajaran yang setimpal tidak kepadamu"

"Tapi aku bicara yang sesungguhnya! Bwe Su-yok cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, jika kau berhasil mempersunting dirinya, bukankah tindakan ini sama halnya dengan sekali tepuk dapat dua lalat?"

"Haahh.... haahh.... haah.... , agaknya kau sedang mengigau disiang bari boloag "

Kami Hoa Inliong sambil tertawa.

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya, ia merasa perkataan dari Coa Wi-wi ada benarnya juga.

Haruslah diterangkan disini, pada dasarnya Hoa In-liong memang gemar bergaul dengan para gadis, ia binal, bertindak menurut suara harinya dan tak pernah menurut peraturan.

Baginya asal perasaan mengatakan benar maka itu berarti, dengan waktu semacam ini tentu saja ia tak berani berbuat yang sembarangan susila, menipu perasaan orang lain.

Meski begitu, pada dasarnya bukannya ia tidak berminat terhadap Bwe Su-yok.

Tapi dengan dasar waktunya yang romatis, ia lebih suka bermain perempuan kesana kemari dari pada menitik beratkan perhatiannya khusus untuk mencari istri.

Rasa cintanya terhadap Bwee Su-yok adalah suatu letupan cinta yang murni, dalam benaknya ia hanya terbatas ingin mengajak gadis itu pesiar bersama saja soal mengawininya boleh dibilang belum pernah ia pikirkan.

Bercanda, bergurau ataupun pesiar bersama bukan suatu perbuatan yang melanggar hukum tapi kalau meningkat selangkah lebih kedepan, itu sudah menjurus perbuatan cabul.

Mendekati ia teringat kembali akan peringatan dari gwakongnya Pek Siau thian sendiri.

Berpikir tentang hal ini, anak muda tersebut jadi panik bercampur ngeri, ia mulai bertanya pada diri sendiri.

"Tindakan ku ini apakah merupakan suatu perbuatan yang telah menipu perasaan sendiri?"

Semakin dipikir ia semakin ngeri, sehingga akhirnya kening yang berkerutpun kian berkerut. Melihat anak muda itu membungkam terus, Coa-Wi-wi jadi tak senang hati, sapanya dengan lirih.

"Jiko!"

Hoa In-liong pura-pura tertawa dan gelengkan kepalanya berulang kali.

"Aku tidak apa-apa!"

Jawabnya berbohong.

Sorot matanya dialihkan kembali ke depan, tiba-tiba ia saksikan bukit yang tinggi dengan hutan yang lebat terbentang didepan mata, ternyata mereka sudah sampai di bukit Ciong san.

Ditengah kegelapan, bukit terbebat tampak mengerikan sekali.

Tan Beng-tat masih berlarian di depan, peluh sudah membasahi seluruh punggungnya, tapi ia masih berlarian terus.

Pepohonan yang terbentang di kiri kanannya seakan-akan sedang mentertawakan ketololan dan kepengecutan hatinya.

Setelah masuk bukit Ci kim-san, selang sesaat kemudian ia menelusuri sebuah lorong sempit menuju ke dalam sebuah lembah gunung.

Lembah itu sedemikian sempitnya sehingga hanya bisa dilalui dua orang secara bersama, dinding terjal menjulang tinggi diangkasa, sekeliling mulut lembah tumbuh semak belukar yang lebat hingga sekilas pandangan berbentuk sebuah tanah lapang yang lebar.

Baru saji Tan Beng-tat mendekati mulut lembah, seketika itu juga muncul beberapa buah serot cahaya lampu yang menerangi tubuhnya, menyusul kemudian seorang menghardik.

"Berhenti! sebutkan kata-kata sandi!"

Menyaksikan pemandangan tersebut, Hoa In-liong lantas berbisik dengan suara lirih.

"Adik Wi, dapatkah kau lewati tanah lapang didepan situ dan sekaligus menguasahi seluruh penjaga yang bercokol di situ?"

Diam-diam Coa-Wi-wi memperhitungkan dulu jarak antara tanah lapang itu dengan tempat persembunyiannya, kemudian setelah yakin kalau jaraknya hanya lima kaki, ia termenung sebentar.

"Mungkin saja dapat kulukukan!"

Jawabnya kemudian.

Sementara itu Tan Beng-tat telah menyebutkan kata-kata sandinya, dari mulut lembah muncullah seorang laki-laki berbaju ungu, selesai memeriksa tanda lencana, membuktikan kebenaran indentitas-nya, ia baru diperkerankan masuk kedalam lembah.

"Waaah.... rupa-rupanya pemeriksaan yang dilakukan disini amat ketat "

Bisik Hoa In-liong lagi sambil tertawa.

"coba dengarlah dengan cermat adik Wi, bukankah hanya ada lima orang yang menjaiga mulut lembah tersebut....?"

Coa Wi-wi pasang telinga dan mendengarkannya dengan seksama, kemudian sahutnya.

"Yaa, aku rasa cuma lima orang, kecuali ada diantara mereka yang memiliki tenaga dalam lebih tinggi dariku, kehadiran mereka tak mungkin dapat mengelahui sepasang telingaku"

Oleh karena semakin tinggi tenaga dalam yang dimiliki seseorang jalan pernapasan makin panjang dan dengusan napasnya makin lilih, maka bagi seseorang yang memiliki tenaga dalam sempurna, dari pernapasan musuhnya sudah bisa menduga tinggi rendahnya kemampuan yang dimiliki lawan, hal ini boleh dibilang merupakan suatu keuntungan yang istimewa.

"Setelah berhasil kau taklukkan kelima orang ltu "kata Hoa In-liong selanjutnya.

"orang she-Hoa itu...."

Belum habis perkataan itu diucapkan, pandangan matanya terasa jadi kabur, terasa ada hembusan bau harum melintas didepan matanya, dan tahu tahu Coa Wi-wi sudah lenyap dari pandangan mata.

Menyusul lenyapnya bayangan gadis itu, beberapa dengusan tertahan menggema dari arah mulut lembah, tahulah pemuda itu bahwa musuh berhasil ditaklukkan.

"Wwoouw....sungguh cepat gerakan tubuhnya!"

Ia mendesis dalam hati.

Dengan suatu gerakan yang tak kalah cepatnya dia ikut menerobos masuk kearah mulut lembah.

Dalam waktu yang amat singkat, segenap laki-laki berbaju ungu yang ada disekitar mulut lembah sudah roboh terkapar dalam keadaan tak sadar, a»da yang masih tersangkut diatas dahan pohon, ada juga yang terkapar ditanah, sementara Coa Wi-wi sendiri berdiri di bawah sebuah pohon kurang lebih tiga kaki jauhnya sambil menggape ke arahnya Dengan gerakan cepat, ia menyusul ke situ, tampaknya Tan Beng-tat juga ikut terkapar ditanah "Sstt....

Coba kau geladahi isi sakunya"

Bisik Coa Wi-wi serius.

"aku agak kurang leluasa untuk melaksanakannya sendiri"

Hoa In-liong mengangguk, ia geledah seluruh isi saku orang she-Tan itu dengan teliti kecuali menemukan sebuah botol porselen yang tingginya dua inci didalam sepatunya, pemuda itu menemukan juga selembar lencana tembaga serta beberapa keping uang perak.

Ia serahkan botol porselen itu kepada Coa Wi-wi, seraya ujarnya.

"Mungkin botol porselen inilah yang dimaksudkan, coba lihatlah apakah benar milik empek Yu?"

"Coa Wi-Wi menyambut botol porselen itu dan diperiksanya sekejap, kemudian diapun mengangguk "

Yaa. benar, pada dasar botol terdapat tanda milik empek Yu"

Sahutnya botol itupun di masukan ke dalam saku.

Tiba-tiba ia liat Hoa In-liong sedang berusaha membuka mulut Tan Beng-tat yang terkatup dan kedua jari tangannya mengorek sela-sela gigi orang itu seperti lagi mencari sesuatu, perbuatan tersebut menimbulkan rasa heran dalam hatinya.

"Eeeh.... apa yang sedang kau cari?"

"Konon sementara organisasi tersembunyi telah menyiapkan obat-obatan beracun atau kipsul berisi bisa keji diantara sela-sela gigi psra anggotnya, menurut berita tersebut jika mereka sampai tertawan musuh maka kapsul berisi racun itu akan digigitnya dengan segera untuk membereskan nyawa sendiri, mereka seringkali berbuat demikian demi untuk menghindari rahasia perkumpulannya diketahui orang serta menghindari siksaan perkumpulan yang keji. Aku pikir Hian beng-kau sebagai suatu perkumpulan rahasia tentu menyiapkan pula permainan semacam ini bagi para anggotanya"

Rupanya Coa Wi-wi merasa tertarik sekali dengan cerita tersebut, ia berseru tertahan.

"Ooooh....jadi rupanya begitu, lain kali bila aku berhasil menawan seorang musuh, pasti akan kugeledah dulu sela-sela giginya, daripada mereka takut disiksa dan mengambil keputusan untuk bunuh diri"

Hoa-In liong tertawa renyah, pikirnya.

"Sekarang saja, kalau bicara sok gede, padahal kalau siksaan benar-benar sudah dilakukan, untuk menutupi mata sendiripun tak sempat"

Ternyata penggeledahan tersebut tidak menghasilkan apa-apa, dengan kecewa pemuda itu bangkit berdiri.

"Rupanya pihak Hian beng-kau hanya dapat mengendalikan anggota-anggota perkumpulan belaka"

Ia berkata. Setelah celingukan sebentar kesana kamari, kembali ujarnya.

"Para penjaga yang berhasil dirobohkan harus disembunyikan baik-baik, kalau tidak usaha penyusupan kami ke dalam lembah akan segera diketahui oleh mereka"

Tidak menunggu jawaban dari Coa-Wi-wi lagi, dengan suatu gerakan cepat ia menyeret beberapa orang laki-laki berbaju ungu itu ke dalam semak dan menyembunyikannya di sana.

Sejak awal sampai akhir Coa Wi-wi tak pernah berpisah sejengkalpun dengan anak muda itu, sebagai gadis remaja yang baru mekar, ia tidak begitu memahami tentang hubungan antara muda dan mudi, dalam perasaannya bila Hoa In-liong tidak berada disisinya, ia seakan akan merasa seperti kehilangan sesuatu.

Karena itu, ketika dilihatnya pemuda itu menyembunyikan tawanan-tawanannya, sambil mengedipkan matanya diapun bertanya.

"Bila kita berbuat demikian, apakah usaha penyusupan kita ini tidak mudah ditemukan?"

Hoa Inliong gelengkan kepalanya berulang kali "Oooh....tidak semudah apa yang kau duga"

Jawabnya. Ketika dilihatnya Coa Wi-wi masih kebingungan, ia menjelaskan lebih jauh.

"Pihak Han beng-kau pasti mempunyai petugas peronda yang akan memeriksa semua pos penjagaan setiap jangka waktu tersebut, untuk sementara Waktu perbuatan kita ini memang bisa mendatangkan hasil, tapi lama kelamaan toh bakal ketahuan juga, yaa, dalam keadaan demikian kita hanya bisa main ulur waktu saja, bisa diulur sekian lama kita tunda sekian lama, paling-paling juga peristiwa ini diakhiri dengan suatu pertarungan massal yang sengit"

Coa-Wi-wi masih menguatirkan racun ular keji yang masih mengeram dalam tubuhnya, cepat ia berseru.

"Seandainya terjadi pertarungan massal, kau tak boleh turun tangan sendiri, semua urusan serahkan saja kepadaku, mengerti?"

Hoa In-liong tersenyum.

"Tahu sih sudah tahu, tapi kalau aku tak perlu turun tangan sendiri, itu bukan pertarungan massal lagi namanya"

Ketika dilihatnya gadis itu kembali akan berdebat, cepat-cepat ia menyambung kembali.

"Kita sudah membuang waktu terlalu lama disini, ayoh cepat berangkat....!"

Hutan dalam lembah itu lebat sekali, ditambah udara gelap tak berbintang ataupun rembulan, ini menyebabkan suasana betul-betul tercekam dalam kegelapan yang luar biasa.

Hoa In-liong mengerti bahwa sepanjang perjalanan mereka memasuki lembah tersebut, tentu akan melewati banyak pos pos penjagaan yang ketat, karena itu dengan suatu tindakan yang amat berhati-hati, kedua orang itu melanjutkan penyusupannya kedalam lembah.

Selain daripada itu, anak muda tersebut juga tahu bahwa usaha penyusupan mereka segera akan ketahuan musuh, karenanya dia hendak manfaatkan kesempatan yang ada untuk mencari tujuannya dengan sebaik-baiknya, sebab begitu jejak mereka diketahui, otomatis suatu pertarungan tak akan bisa dihindari lagi.

Jilid 27 SELANG sesaat kemudian, kedua orang itu sudah mendekati suatu tempat yang memancarkan cahaya api, secara latap-latap mereka pun mendengar suara pembicaraan manusia.

Tanda-tanda tersebut menunjukan bahwa mereka sudah makin dekat dengan tempat berkumputannya kawanan musuh, serta-merta gerak-gerik mereka dilakukan jauh lebih berhatihati lagi.

Maju ke depan tiga kaki kemudian, terbentanglah sebuah tanah lapang yang luas.

Tanah lapang tersebut luasnya dua tiga puluh kaki, kecuali batu cadas yang berserakan dimanamana, hampir boleh dibilang tak nampak sedikit rerumputanpun tumbuh di situ.

Ditengah tanah lapang membara, seonggokan api unggul yang amat besar, cahaya api yang memancarkan keempat penjuru menerangi sekeliling tempat itu dengan terangnya.

Disimping kiri kanan api unggul, duduklah bersila dua rombongan manusia berbaju ringkas.

Disebelah kiri duduk kurang lebih lima-enam belas orang, mereka semua berdandan sebagai seorang imam dengan rambut digulung menjadi satu memakai jubah berwarna kuning telur dan berkerah bundar dengan bagian dada terbuka lebar, kaosnya putih setinggi lutut, sepatunya setinggi terbuat dari kulit.

Rombongan tersebut tak usah diragukan lagi merupakan jago-jago tangguh Mo-kauw yang berasal dari Seng sut hay.

Rombongan ini dipimpin oleh seorang imam bertampang jelek, berikat pinggang berwarna emas dengan alis mata dan jenggot berwarna merah darah.

Sejak kecil Hoa In-liong sudah sering kali mendengar kisah pengalaman ayahnya dimasa lalu, cerita tersebut sesudah didengarnya, entah berapa puluh kali kecuali masalah yang menyangkut soal hubungan muda mudi, tentang pengalaman lainnya boleh di bilang sudah demikian pahamnya sehingga hapal diluar kepala.

Maka, ketika pandangan pertamanya terbentur dengan wajah orang itu, kontan saja hatinya bergetar keras, seketika itu juga ia menduga orang tersebut sebagai murid pertama dari Tang kwi Siu, yaitu cikal bakal pendiri Mo-kauw.

Atau dengan perkataan lain kakek jelek tersebut bukan lain adalah jago tangguh nomor dua dari Mo-kauw yang bernama Hong Liong.

Duduk disamping kanan adalah serombongan manusia berbaju ketat, mereka dipimpin oleh seo sang kakek berjubah hitam yang mempunyai jenggot panjang dan sepasang mata yang sipit.

Dibelakang tubuhnya duduk melingkar empat orang pendekar berbaju ringkas warna hijau polos, bermantel pendek dan menyoren sebilah pe dang antik dipinggangnya.

Keempat orang itu tak lain adalah anak murid Hian-beng Kaucu yang kesemuanya bernama Ciu Hoa.

Hoa In-Hong pernah bertemu dengan tiga orang diantaranya.

Sedang lainnya berbaju ungu semua, jumlah mereka mencapai delapan sembilan belas orang, namun Hoa In-liong tak sempat memperhatikan mereka satu per satu.

Semua perhatian dan pendengarannya waktu itu tertuju untuk menyadap pembicaraan antara Hong Liong dengan si kakek berjubah hitam.

Tapi, walaupun ia sudah berusaha mendengarkannya dengan seksama, kecuali beberapa patah kata seperti "kaucu kalian"

Tidak bisa"

Dan kata-kata sederhana lainnya, oleh karena terganggu oleh suara gemerisikan peletakan kayu bakar yang di makan api, hampir tak separah kalimat pun yang bisa ditangkap dengan jelas.

Hal ini tentu saja amat menggelisahkan hatinya, diam-diam pikirnya dihati.

"Penjagaan dalam lembah sangat ketat sekali, ini berarti perundingan yang sedang mereka selenggarakan adalah untuk merundingkan sesuatu yang Penting, aku harus mendekati tempat psrtemuan itu lebih kedepan"

Dengan mata yang jelalatan dia memeriksa keadaan disekitar tempat itu, tapi apa yang di jumpainya adalah sebuah tanah lapang yang luasnya mencapai tujuh delapan balas kaki tanpa ada sedikit tumbuhan pun yang bersemi disana Dengan putus asa ia berpaling ke arah Coa-Wi wi, tiba-tiba dilihatnya gadis itu sedang berkerut kening, sikapnya menunjukkan bahwa ia sedang mengikuti pembicaraan tersebut dengan seksama, cepat tegurnya dengan ilmu menyampaikan suara.

"Adik wi, apa saja yang sedang mereka bicarakan?"

Coa Wi-wi mengernyitkan alis mainnya, ia tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya malah berseru.

"Jiko, coba libat rombongan manusia yang berbaju kuning itu, oh....betapa jeleknya tampang wajah mereka!"

Hoa In-liong ikut berpaling kembali kearah lapangan, dibawah cahaya api unggun tampaklah orang-orang dari Seng sut pay itu makin lama kelihatan bertambah mengerikan, terutama wajah Hong Liong, sedemikian seramnya sampai-sampai siapapun yang memandangnya merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Hanya sekejap ia memandang ke arah mereka, kemudian tanyanya lagi.

"Coba perbatikan dengan seksama, perhatikanlah apa yang sedang mereka rundingkan?"

Coa Wi-wi segera pusatkan seluruh perhatiannya untuk mendengarkan pembicaraan tersebut dengan seksama, selang sesaat kemudian ia baru menyahut dengan lirih.

"Agaknya mereka sedang mempersoalkan siapakah yang pantas menjadi pemimpin mereka"

"Berbicaralah dengan lebih jelas lagi!"

Seru Hoa In-liong penuh kegelisahan. Coa Wi-wi memperhatikan kembali pembicaan itu, kemudian berkata.

"Si jelek berjenggot merah itu berkata begini....

"Orang itu bernama Hong Liong"

Hoa In-liong menerangkan.

"dia adalah tokoh nomor satu diantara murid muridnya Tang Kwik-siu lainnya!"

"Ooooh....!"

Coa Wi-wi berseru tertahan, diapun melanjutkan kembali kata katanya.

"Hong Liong berkata.

"Berbicara menurut tingkat kedudukan maupun usia di masa lalu, kaucu kalian sepantasnya menghormati guru kami sebagai Beng Cu!"

Tapi kakek baju hitam itu segera menjawab.

"Untuk belajar ilmu tiada tingkatan siapa dulu siapa belakangan, siapa yang berhasil mencapainya terlebih dulu, dialah yang kita hormati, walaupun kaucu kalian adalah seorang jagoan berbakat, memiliki ilmu silat yang tinggi, tapi kaucu kamilah yang lebih lihay saat ini, maka sepantasnya kalau kedudukan Beng cu tersebut diberikan untuk kaucu kami"

Mendengar perkataan itu, Hoa In-liong tertawa dingin tiada hentinya, agaknya ia merasa amat gusar sekali oleh ucapan lawannya....

"Tentang ilmu silat siapa yang lebih unggul apakah Hong Liong memberikan pendebatannya?"

Tukas Hoa lu-liong. Coa Wi-wi gelengkan kepalanya berulang kali.

"Sama sekali tidak!"

Jawabnya. Setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan kembali kata-katanya.

"Tampaknya ilmu silat yang dimiliki Hian-beng Kaucu memang benar-benar jauh dialas kemampuan Tang kwi Siu!"

Hoa In-liong termenung tidak menjawab, ia merasa terkejut bercampur sangsi.

Yaa, pada hakekatnya dia cukup memaklumi betapa lihaynya ilmu silat yang dimiliki Mo-kauw kaucu Tang Kwik-siu sehingga Kiu-im-kauwcu yang lihay pun hanya mampu bertanding seimbang dengannya atau lebih unggul pun hanya unggul sedikit bahkan dikolong langit dewasa ini kecuali Hoa Thian-hong dan keluarga Coa boleh dibilang tiada seorangpun yang mampu menandinginya.

Dan kini tahu-tahu muncul pula seorang Hian-beng Kaucu yang memiliki ilmu silat jauh di atas kepandaian Mo-kauw kaucu, terbayang kembali peringatan dari pihak Ci li-kau yang mengatakan bahwa api iblis sudah membakar seluruh daratan tak bisa disalahkan kalau hatinya jadi murung campur keras.

Setelah dipikir sebentar namun tidak berhasil juga mengetahui siapa gerangae Hian-beng Kaucu tersebut, diapun bertanya.

"Adik Wi, apakah mereka pernah menyebut nama asli dari Hian-beng Kaucu sepanjang pembicaraan yang berlangsung?"

"Coa Wi-wi pasang telinga mendengakannya dengan seksama, lalu menggeleng.

"Tidak! Kakek berjubah hitam itu memyebut Hian-beng Kaucu sebagai "

Kaucu kami atau kaucu perkumpulan kami sedangkan Hong liong menyebutnya dengan sebutan kaucu kalian atau kadang-kadang hanya membasai dengan sebutan dia tampaknya pembicaraan mereka berdua mengalami cocokan"

Tiba-tiba ia berkata lagi.

"Kedua orang itu membicarakan pula tentang diri Kiu-im-kauwcu, kalau diderangar dari nada suaranya tampaknya mereka merasa sangat tidak puas semestinya dalam pertemuau yang diselenggarakan malam ini pihak Kiu-im kau juga ikut hadir tapi kenyataannya Bwe Su-yok tidak mengirim utusannya untuk menghadiri pertemuan itu...."

"Apakah mereka membicarakan juga bagaimana caranya menghapi Bwe Su-yok....?"

Tanya Hoa liong lebih jauh dengan nada cemas. Melihat kegelisahan orang, Coa Wi-wi sengaja menjawab.

"Yaa mereka sedang berunding bagaimana cara nya mecincang tubuh budak she-Bwe tersebut dan membuang ke kali untuk makanan ikan sakit hati yaa kau!"

Hoa In-liong tertawa geli, tentu saja ia tahu kalau gadis itu sedang menggoda dirinya, karena itu diapun tidak berani banyak bertanya lagi....

"Coba lihat tampangmu itu, hanya begitu saja sudah ketakutan setengah mati"

Omel Coa Wi-wi dengan bibir dicibirkan.

"mereka hanya menyinggung soal itu sebentar saja, kemudian pembicaraan beralih lagi ke persoalan lain"

Tiba-tiba ia memasang telinga dan mendengarkannya dengan seksama, setelah itu berkata.

"Sekarang mereka membicarakan tentang diri empek Yu!"

"Apa saja yang mereka bicarakan?"

"Agaknya Hian-beng Kaucu memaksa empek Yu untuk buatkan semacam obat obatan mula-mula empek Yu menolak, tapi sekarang entah apa sebenarnya telah menyanggupi permintaan mereka.

"Yaaah....! Tak mungkin, hal ini tak mungkin terjadi!"

Seru Hoa In-liong tidak percaya.

"aku cukup mengenali watak empek Yu, dia lebih suka di siksa dan menderita daripada bertekuk lutut dihadapan musuhnya!"

"Toh bukan aku yang mengatakannya begitu, memangnya aku sedang membohongi engkau?"

Hoa In-liong tersenyum.

"Masih ada yang lain?"

Tanyanya.

"Kakek berjubah hitam itu berkata bahwa semua bahan yang dibutuhkan telah siap, sekarang tinggal mencari Su bok thian go (kelabang langit bermata empat) serta Sam ciok pek cu (labalaba hijiu berkaki tiga), ia berharap pihak Seng sut pay mau memberikan bahan tersebut kepadanya, sekarang Hong Liong sedang termenung memikirkan persoalan tersebut...."

Sementara itu, Hoa In-liong sembari mendengarkan penjelasan dari si dara yang merdu dan sedap di dengar itu, sepasang matanya dengan tajam mengawasi pula gerak-gerik kakek berjubah hitam dan Hong Liong.

Tiba-tiba dilihatnya ada seorang laki-laki berbaju ungu menghampiri kakek berjubah hitam itu dengan langkah tergesa-gesa, melihat hal tersebut pemuda kita mengeluh.

"Aduuh celaka, ketahuan sudah jejak kami!"

Benar juga ketika laki laki berbaju ungu itu selesai membisikkan sesuatu kesisi telinga kakek berbaju hitam itu, kontan saja dengan sorot mata setajam sembilu kakek berjubah hitam itu mengawasi sekeliling tempat itu dengan seksama.

Kemudian sambil tertawa tergelak ia bangkit berdiri.

"Sobat dari manakah yang sudah berkunjung kemari?"

Tegurnya.

"mengapa tidak tampil kedepan agar aku Beng Wi-cian dapat melayani dengan sebaik-baiknya?"

Gelak tertawa maupun ucapan yang dipancarkan kakek itu langsung menggema di seluruh lembah, membuat dahan dan ranting pohon bergon cang keras, ini membuktikan bahwa tenaga dalam yang dimilikinya sudah mencapai tingkatan yang amat sempurna.

Berbareng dengan dipancarkannya ucapan tadi keempat orang Ciu Hoa serta sekalian laki-laki berbaju ungu serentak bangkit berdiri, kemudian, memeriksa empat penjuru dengan katapan tajam Dalam keadaan begini, Hoa In-liong tahu bahwa tempat persembunyiannya bakal ketahuan musuh, diapun berbisik lirih.

"Adik Wi, bila sampai terjadi pertarungan, aku harap kau suka turun tangan dengan keji, tak usah sungkan-sungkan lagi"

"Harus memhunuh orang?"

Tanya Coa Wi-wi agak gemetar, setelah tertegun sejanak. Hoa In-liong tidak menjawab, hanya dihati kecilnya ia lantas berpikir.

"Adik Wi ramah dan baik hati, aku tidak boleh memaksa dirinya untuk turun tangan keji!"

Pembicaraan tersebut dilangsungkan tanpa menggunakan ilmu menyampaikan suara, otomatis Beng Wi-cian serta Hong Liong yang sedang mencari tempat persembunyian mereka dapat menangkap pula gerakan irama tadi.

Dengan sorot mata setajam sembilu, pandangan mereka segera dialihkan kearah mana mereka berada.

Hoa In-liong tertawa nyaring, pelan-pelan ia munculkan diri dari dalam hutan, lalu berkata.

"Setelah Beng cianpwe mempersilahkan kami keluar, sebagai angkatan yang lebih muda, kami tak berani membangkang perintah orang yang lebih tua, terimalah salam hormat kami ini dengan hati yang tenang!"

Seraya berkata, ia benar-benar menjura dan memberi hormat kepada kakek berjubah hitam itu.

Dasar binal, sekalipun berada dihadapan musuh tangguh, sianak muda itu tak dapat meninggalkan kebiasaannya, untuk bersikap santai dan senyum cengar cengir menghiasi bibirnya.

Beberapa orang Ciu Hoa itu berubah wajah, rata-rata mereka unjukkan sikap marah.

Ciu Hoa yang pernah munculkan diri disamping layon Suma Tiang-cing itu maju kedepan dengan wajah menyeringai seram ia berkata.

"Eeeeh....bocah keparat...."

"Tunggu sebentar toa kongcu!"

Tiba tiba Beng Wi-cian menghalangi orang itu. Ciu Hoa lotoa berhenti maju, lalu berpaling.

"Apa yang hendak kau lakukan Beng-lo?"

Tegurnya. Beng Wi-cian tetap kalem, jawabnya.

"Kaucu telah berpesan, semua urusan yang menyangkut operasi kita di kota Kim leng diserahkan tanggung jawabnya kepadaku, maka aku pula yang berkewajiban menentukan setiap langkah kita"

Mendengar perkataan itu, Ciu Hoa lotoa tertegun.

"Soal ini...."

"Harap toa kongcu bersedia memberi sedikit muka kepadaku!"

Tukas Beng Wi-cian cepat.

Paras muka Ciu Hoa lotoa agak berubah, ia unjukkan sikap keragu-raguan, tapi toh akhirnya mundur juga meski dengan sikap uring-uringan.

Sementara itu Hoa In-litong sudah berada kurang lebih dua kaki dari onggokan api unggun, sedangkan Coa Wi-wi dengan manjanya mengikuti terus disisinya.

"Ji kongcu!"

Ucap bang Wi cian kemudian sambil menjura, baik-baikkah ayahmu? Kaucu kami titip salam untuk dirinya!"

Hoa In-liong tidak langsung menjawab, sebaliknya ia berpikir dalam hati kecilnya, Sejak tampil ke muka, aku belum pernah melaporkan namaku, ciu Hoa juga tidak mengatakan apa-apa tapi kenyataannya hanya sekilas pandangan saja Beng Wi-cian sudah dapat menebaknya secara jitu, dari sini dapatlah kita tarik kesimpulan bahwa pihak Hian beng-kau telah menyelididiki semua keadaan keluarga Hoa dengan sejelas-jelasaya, a-tau dengan perkataan lain, sudah semenjak dulu mereka menaruh perhatian khusus terhadap keluarga Hoa.

Sementara ia masih melamun Beng Wi-cian telah menyinggung diri Hoa Thian-hong, maka dengan wajah serius buru-buru ia balas memberi hor mat.

"Ayahku berada dalam keadaan sehat Wal'afiat tanpa kekurangan sesuatu apapun, terimakasih untuk perhatian itu!"

"Cuma saja belakang ini beliau kurang nyenyak tidurnya kurang nikmat daharnya lantaran harus memikirkan beberapa persoalan yang bikin pusing kepalanya!"

Ucapan itu penuh mengandung nada sindiran, sebagai seorang jago yang berpengalaman tentu saja Beng Wi-cian dapat merasakannya diapun segera tertawa.

"Haaahh.... haaahh.... haaahh....ji-kongcu pandai sekali bergurau, ayahmu adalah seorang pendekar gagah perkasa yang tak akan berubah wajahnya kendatipun Thay-san ambruk dihadapannya, masala jadi pusing kepala hanya dikarenakan persoalan yang tak ada artinya?"

Kemudian ia berpaling kearah Coa Wi-wi dan ujarnya kembali.

"Kecantikan wajah nona ini bak bidadari dari kahyangan, lohu merasa beruntung sekali dapat menjumpainya, bolehkan kutanyakan siapa namamu nona manis?"

Beberapa patah perkataan itu diucapkan dari hati sanubarinya yang jujur.

Hal ini dikarenakan kecantikan Coa Wi-wi ibaratnya sekuntum bunga mawar yang baru mekar, siapapun yang memandangnya segera timbul rasa suka dan menyayanginya tidak terkecuali juga diri Beng Wi-cian meskipun ia sudah Lanjut usianya.

Berseri wajah Coa Wi-wi maadengar pujian itu, ia merasa senang hati dengan kata kata tersebut.

"Aku bernama Coa Wi-wi!"

Sahutnya. Kemudiaa setelah tertawa manis, terusnya.

"Aku lihat engkau adalah seorang yang baik hati, buat apa mesti pergaulan dengan kawan manusia jahat itu?"

Dengan wataknya yang polos dan manja timbul kesan baiknya terhadap Beng Wi-cian, karena kata-kata pujiannya tadi terutama kata-katanya yang terakhir, boleh dibilang diucapkan dengan nada manja sekali, tentu saja kata-kata tersebut membuat Beng Wi-cian harus meringis menahan perasaannya Sementara pembicaran itu berlangsung, para jago dari pihak Mo-kauw tetap duduk sila ditempat selalu tanpa mengucapkan sepatah katapun, rupanya mereka berperinsip.

Sambil berpeluk tangan melihat harimau berkelahi.

Ditengah kebeningan yang mencekam seluruhnya jagad, tiba-tiba Hong Liong berkata dengan wajah menyenangi seram.

"Bocah cilik dari keluarga Hoa mungkin engkaulah si anak jadah yang dipelihara Hoa Thian-hong dengan Pek Kung gie?"

Hoa In-liong berwajah tampak dan menarik dipandang kebagusan rupanya kebanyakanya diwaris dari type wajah ibunya karena itu bagi mereka yang pernah berjumpa dengan Hoa Thian-hong serta Pek Kun gie, tidak sulit untuk menebak indentitasnya.

Tak terkirakan rasa gusar Hoa In-liong mendengar ayah ibunya dicemooh orang dengan ucapan yang menghina dan tak sedap di dengar, tapi ia tidak membalas kemarahan tersebut dengan makian langsung, sebaliknya sambil celingukan kesana kemari seperti lagi mencari sesuatu serunya keheranan.

"Aneh.... benar-benar sangat aneh, barusan kudengar dengan amat jelasnya gonggongan seekor anjing budukan yang aneh, kenapa disekitar tempat ini tidak kutemukan seekor anjingpun?"

Coa Wi-wi tertawa cekikikan.

"Hiiihh.... hiiihh.... hiiihh.... kalau anjing itu memakai kulit manusia, sudah tentu jiko tak akan menemukannya!"

Tak terkirakan rasa gusar Hong Liong ketika dirinya dimaki sebagai seekor anjing budukan yang gila, sambil menyeringai seram teriaknya penuh kegusaran.

"Bajingan, kau pingin mampus!"

Dengan sepuluh jari tangannya direntangkan lebar-lebar, dari jari yang menekuk bagaikan kaitan, membawa deruan angin pukulan sekencang geledek ia lancarkan sebuah pukulan dahsyat ke arah dada Hoaln-liong dari tempat kejauhan.

Coa Wi-wi mendengus dingin, sambil melangkah setindak ke depan, telapak tangannya digetarkan untuk menyambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

Orang lain menyaksikan kejadian itu diam-diam merasa sayang, sebab sedemikian dahsyatnya pukulan tersebut tak mungkin bisa disambut oleh seorang gadis semuda itu, bukankah ini sama dengan menghantar nyawa si nona itu dengan sia-sia?

Yaa, didalam gusarnya Hong-liong telah menggunakan tenaga sebesar sembilan bagian dalam serangannya itu, tak seorang pun percaya kalau Coa Wi-wi sanggup menerima ancaman tersebut.

Malahan ada diantara mereka yang diam-diam memakai kepengecutan Hoa In-liong yang telah mengobarkan nyawa seorang gadis demi keselamatan diri sendiri, bukankah perbuatan tersebut sama dengan mencoreng nama baik keluarga Hoa?

Hong Liong sendiri meski merasa agak sayang, tapi luapan marah yang berkecamuk dalam benaknya betul-betul tak terbendung lagi, pukulan daysyat tersebut tetap dilontarkan ke depan.

"Blaaang....! dua gulung tenaga pukulan yang sama dahsyatnya saling bertemu satu sama lainnya menimbulkan suatu ledakan yang memekikkan telinga. Apa yang terjadi kemudian? Oleh hasil tenaga benturan tersebut, tubuh Coa Wi-wi hanya bergetar sedikit saja, tapi kemudian badannya tetap tegap sekokoh batu karang. Sebaliknya Hong Liong yang menyerang dengan tenaga besar, malahan kena dipaksa mundur selangkah kebelakang, itupun dengan susah payah dia musti menjaga keseimbangan badannya agar tidak terdorong mundur lebih ke belakang. Dengan kejadiannya bentrokan ini, kontan saja kawanan jago dari Hian-beng-kauw mau pun Mokauw jadi terkejut dan berdiri terbelalak. Perlu diterangkan disini, tenaga dalam yang di miliki Hong Liong sedemikian tingginya sehingga Pek Siau-thian, San ki pangcu tempo dulupun belum tentu dapat mengunggulinya, tapi kenyataannya sekarang, jago tangguh tersebut harus menelan kekalahan ditangan Coa Wi-wi, sudah tahu kenyataan tersebut sangat menggemparkan hati semua orang. Beng Wi-cian ikut merasa terkesiap, ia lantas berpikir.

"Kalau dilihat usianya, paling-paling budak ini baru berumur enam tujuh belas tahunan, heran, kenapa tenaga dalamnya bisa mencapai ke tingkatan yang demikian sempurnanya? Kalau dia saja sudah selihay ini apalagi gurunya dibelakang layar, ooouw, entah sampai dimana ketangguhannya? Celaka.... kalau dilihat sikap mesra dayang ini terhadap bocah dari keluarga Hoa itu, cepat atau lambat mereka pasti akan berpasangan, kalau orang tua mereka ikut bersatu dalam satu wadah, bukankah Hian-beng-kauw cuma kebagian kekalahan yang berulang-ulang?"

Sementara itu Hong Liong sudah berhasil mengendalikan perasaannya, meski rasa ngerinya masih menyelimuti dada, dengan nada keras ia lantas membentak nyaring.

"Wahai budak cilik, siapakah gurumu?"

"Huuhh.... kau tidak pantas untuk mengetahuinya!"

Jawab Coa Wi-wi sambil mencibirkan bibirnya.

Hong Liong semakin naik darah, hanya saja meski dia adalah seorang yang berangasan namun bukanlah manusia yang tidak mempunyai perhitungan, dia mengerti, seandainya terjadi pertarungan, niscaya dialah kebagian yang kalah.

"Masa didunia ini benar-benar masih ada sim-hoat tenaga dalam yang jauh lebih tangguh dari pada keluarga Hoa dari im-tiong-san?"

Demikian pikirnya.

"andaikata...."

Berpikir sampai disini, tak terasa lagi dia berpaling ke arah Beng Wi-cian.

Kebetulan Beng Wi-cian sedang memandang pula ke arahnya, kedua orang itu segera tersenyum, walaupun tidak berkata kata namun dari senyuman tersebut dapat diketahui bahwa perasaan maupun jalan pikiran mereka tidaklah jauh berbeda.

Sekarang kedua orang itu mempunyai tujuaa yang sama, mereka hendak menggunakan kesempatan pada malam ini untuk menangkap kedua orang itu walau dengan cara apapun jua, atau paling tidak Hoa In-liong harus ditangkap hidup-hidup agar dikemudian hari memberi kesempatan baginya untuk mundur teratur.

Ditengah keheningan yang mencekam seluruh anggota, tiba-tiba Hoa In-liong bukan memecahkan kesunyian.

"Beng cianpwe, tolong tanya apa jabatanmu dalam perkumpulan Hianbeng-kauw?"

"Apa salahnya hal ini kukatakan kepada si bocah keparat tersebut....?"

Pikir Beng Wi-cin. Ia lantas terbawa terbahak-bahak.

"Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh....sekalipun lohu tidak becus, rupanya mendapat perhatian khusus dari kaucu kami, sekarang menjabat sebagai Thamcu dari ruang Thian-ki kedudukan yang sangat tentu akan membuat kau jadi kecewa"

"Ooouw.... aku rasa kedudukan tersebut tentulah hanya dibawah seseorang tapi diatas selaksa orang, bukan demikian?"

"Oooh....bukan, bukan, kawanan jago yang bergabung dalam perkumpulan kami tak terhitung banyaknya, banyak diantara mereka yang mempunyai jabatan jauh diatas diriku"

Hoa In-liong tertawa.

"Oooh.... masa iya? Sekalipun demikian, dari kekuasaan yang kau miliki saat ini di mana murid tertua dari sang kaucu pun harus tunduk dibawah perintahmu, dapat diketahui sampai dimanakah kekuasaan yang kau miliki...."

Diam diam Beng Wi-cian menyumpah dihati.

"Sialan, bocah ini benar-benar licik sekali, belum juga aku buka suara, ia sudah mulai memancing diriku!"

Sambil mengelus jenggotnya diapun menyahut.

"Keliru besar jika Hoa kongcu berkata demikian, kalau toh pada saat ini lohu dapat memberi perintah kepada murid-muridnya kaucu, hal ini disebabkan karena perintah langsung dari kaucu. Oleh karena tugas yang musti kuselesaikan, mau tak mau yaa harus begitulah"

Ketika Hoa In-liong mengucapkan kata-katanya untuk pertama kali tadi, paras muka ke empat Ciu Hoa itu berubah hebat, tetapi setelah Beng Wi-cian memberikan penjelasannya, mereka baru menjadi tenang kembali.

Hoa In-liong yang berpandangan tajam dapat mengikuti semua kejadian itu dengan seksama, diam-diam semua kejadian tersebut dicatat didalam hati, ia merasa kalau toh kedua belah pibak sama-sama mempunyai penyakit hati berarti keretakan diantara mereka dapat ia manfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Setelah berpikir sebentar, Hoa In-liong berkata lagi.

"Ooooh....jadi tingkat kedudukan dalam perkumpulan kalian ditentukan oleh pembagian sektor, lantas dibawah sektor-sektor tersebut apakah terdapat juga kedudukan seperti Tongcu, Tuo cu dan sebangsanya?"

"Tidak ada, perkumpulan kami berbeda dengan perkumpulan perkumpulan lain, karena itu tiada pula jabatan-jabatan sejenis itu dalam perkumpulan Hian-beng-kauw!"

"Apakah terdapat pula bagian penerimaan anggota baru seperti yang terdapat di perkumpulan Kiu-im-kauw?"

Tanya Hoa In-liong lagi. Ciu Hoa lo san yang bermuka kuda tiba-tiba menimbrung dari samping.

"Barang siapa berani memusuhi perkumpulan kami, kecuali kcmatian tiada jalan lainnya, karena itu tak perlu ada bagian semacam itu!"

Dengan gusar Beng Wi-cian melotot sekejap ke arahnya, kemudian sambil tertawa katanya.

"Perkataan dari sam kong perkumpulan kami hanya kata-kata gurauan belaka, harap Hoa kongcu jangan menganggap serius"

Kemudian setelah termenung sebentar, katanya lebih lanjut.

"Walaupun perkumpulan kami tidak memiliki bidang pencarian anggota baru, tapi seandainya Hoa kongcu ada niat masuk perkumpulan kami, lohu bersedia menjadi perantara bagimu. Mengingat kau adalah keturunan dari sahabat lamanya dan lagi memandang kemampuan Hoa kongcu disegala bidang.... haaahh.... haaahhh.... haaahhh....siapa tahu kalau kaucu kami akan memberi jabatan di bawah satu Orang di atas selaksa orang bagi diri kongcu?"

Hoa In-liong memang menantikan ucapannya itu, buru-buru katanya kembali.

"Sebenarnya tokoh persilatan dari manakah kaucu kalian itu? Harap Beng thamcu bersedia memberitahukan kepadaku, agar aku Hoa Yang pun tak sampai bersikap kurang sopan"

Beng Wi-cian agak tertegun setelah mendengar perkataan itu, segera jawabnya.

"Asal kocgcu telah bertemu dengannya, kau akan segera mengetahui siapakah kaucu kami itu, maaf, sebelum mendapat perintah, lohu tak berani lancang untuk memberitahukannya kepadamu"

Pandai amat si tua bangka ini menjaga rahasia, pikir Hoa In-liong dalam hati.

"agaknya untuk menyelidiki siapa gerangan Hian-beng Kaucu itu, aku harus mengambil tindakan yang secepatcepatnya, sebab malam yaag panjang akan menimbulkan impian yang banyak!"

Setelah mengambil keputusan, dengan wajah yang membesi diapun berkata kembali.

"Jikalau memang demikian, Hoa yang tak berani menyusahkan diri Beng Thamcu lagi, harap Beng Thamcu memberikan penyelesaian seadil adilnya atas terjidinya peristiwa di pesanggrahan pertabiban"

Begitu mengatakan, dia lantas berubah wajah, sampai-sampai Beng Wi-cian pun ikut merasa diluar dugaan, segera pikirnya.

"Keteguhan dan kegagahan bocah ini mirip Hoa Thian-hong, kebinalan dan kelicikannya mirip Pek Kun-gie, dia adalah seorang manusia yang paling susah dihadapi, heeh.... heehh.... heehh.... kalau membiarkan dia tumbuh jadi dewasa, sudah pasti akan menjadi Hoa Thian-hong kedua, manusia semacam ini tak boleh dibiarkan hidup di-dunia ini...."

Berpikir sampai disitu, timballah nafsu membunuh dalam hatinya, ia memutuskan bila malam ini gagal menawan Hoa In-liong dalam keadaan hidup, maka pemuda itu harus dibunuh sampai mati.

Hanya saja, lantaran orang lain termasuk seorang manusia yang licik dan banyak akal muslihatnya, maka sekalipun dihati kecilnya sudah mengambil keputusan, hal tersebut tidak sampai diperlihatkan diatas wajahnya.

Dalam pada itu Hong Liong sudah ulapkan tangannya, serentak belasan orang anggota Seng sut pay yang berada dibelakangnya bangkit berdiri dan menyebar keempat penjuru untuk menghadang jalan mundur Hoa In-liong serta Coa Wi-wi.

"Bocah cilik dari keluarga Hoa!"

Teriaknya dengan lantang.

"engkau ibaratnya pausat lumpur yang menyeberangi sungai. Menyelamatkan diri sendiri saja sulit, lebih baik janganlah mencampu ri urusan orang lain!"

Hoa In-liong sadar bahwa keadaan sudah gawat, melihat ada kesempatan baik segera bisiknya.

"Adik Wi, serbu!"

Sambil meloloskan pedang mustikanya, dia ayun tangannya ke depan dan menerjang musuhmusuhnya.

Kebetulan dihadapannya berdiri dua orang imam berjubah kuning, seorang bersenjata ruyung Thian ong-pian, sedang yang lain bersenjata sepasang palu tembaga Siang oh tong tui, kedua duanya merupakan senjata berat, terutama pula tembaga itu besarnya bagaikan cawan arak, bila seseorang tidak memiliki tenaga sebesar ribuan kati jangan harap ia dapat mainkan kedua buah senjata tersebut dengan leluasa.

Dalam pada itu kendatipun mereka saksikan betapa dahsyatnya serangan yang dilancarkan Hoa In-liong ternyata kedua orang itu tidak bermaksud untuk menghindari atau berkelit.

Imam berjubah kuning yang mainkan ruyung Thian ong pian itu segera putar senjatanya dan menghajar iga kanan Hoa In-liong.

Sebaliknya orang yang bersenjata sepasang palu tembaga satu dari kiri yang lain dari kanan segera menangkis pedang dan menyerang lawan dengan jurus Siang hong kuan lo (Sepasang angin menembusi telinga.) Hoa In-liong menjengek sinis, badannya mengegos ke samping begitu terhindar dari babatan ruyung Thian ong pian yang mengancam iga kanan nya pedang itu diputar ke muka mencukil sepasang palu tembaga dan balas membabat sepasang pergelangan tangannya.

Gerakan tersebut boleh dibilang merupakan tindakan mengangkat yang berat bagaikan melakukan yang ringan, dibalik serangan terselip pula gerakan untuk menyelamatkan diri, bukan saja membuat orang yang bersenjatakan sepasang palu itu harus berkelit ke samping, bahkan membuat posisi mereka berbahaya sekali.

Hoa In-liong sedikitpun tidak menghentikan gerakan tubuhnya, dalam sekejap mata ia menyerempet lewat disisi mereka lalu menerjang keluar dari kepungan.

Tiba-tiba dari atas kepalanya terasa ada sambaran angin tajam, begitu tajamnya daya tekanan tersebut membuat anak itu tak sanggup mengangkat kepalanya.

Hoa In-liong jadi kaget, dalam gugupnya ia gunakan jurus Pau goan sio it (menghimpun tenaga menjadi satu) untuk melindungi sekujur badannya dari ancaman musuh, kemudian dengan gerakan Hok-tok han thong (bangau putih menyeberangi kolam dingin) badannya melayang dua kaki jauhnya dari tempat semula.

Orang yang barusan melancarkan serangan tak lain adalah Hong Liong, semula ia bermaksud melancarkan sergapan secara tiba-tiba dan berusaha menangkap Hoa In-liong dalam keadaan hidup-hidup....

Siapa tahu kedua jurus gerakan yang digunakan anak muda itu kesemuanya merupakan jurus melindungi badan serta menghindari serangan musuh yang amat tangguh dari rangkaian Hoa si ci-ong kiam cap lak sin cau (enam belas jurus sakti pedang bebat keluarga Hoa), bukan saja gerakan nya amat lihay, bahkan tenaga dalam yang terpancar keluar ibaratnya dinding baja yang tak tembus, mau tak mau gagallah ancaman yang telah dipersiapkan dengan seksama itu.

Tapi Hong Liong bukan manusia sembarangan, ia tak mau sudahi ancamannya dengan begitu saja begitu ancamannya gagal, serentak badannya menerjang lebih jauh, serangan-serangan mematikan pun dilontarkan secara bertubi-tubi.

Kontan saja Hoa In-liong merasakan datangnya daya tekanan seberat bukit karang, dalam keadaan demikian, ia tak berani berayal lagi pedang mustikanya diputar secara sedemikian rupa hingga menimbulkan desingan tajam yang memekikkan telinga.

"Sreeet....! seeeet....! seeeet.... secara beruntung ia keluarkan jurus-jurus tangguh dari Hoa si ciong kiam cap lak sin cau untuk menghalau ancaman yang datang dari pihak lawan, jurus-jurus itu adalah Kiu thian ci lay (sembilan langit penuh seruling), Su ku-ciong mong (keheningan menyeli muti empat penjuru) serta Im yang ji-khek (im-yang dua kubut).... Seketika itu juga Hoa Liong berbalik kena didesak sehingga harus mundur berulang kali ke belakang. Kenyataan ini sangat menggusarkan Hong Liong kemarahannya meluap-luap, pikirnya.

"Kalau cuma anak jadahnya Hoa Thian-hong dengan Pek Kun gie pun tak mampuku kukalahkan, betapa malu aku?"

Ia jadi kalap serangannya makin gencar, kali ini ia menyerang dengan menggunakan ilmu ngo kui im hong jiau (cakar angin dingin lima setan), tampaklah lima gulung waha hitam yang membawa bau amis memancar keluar dari ujung jari tangannya, dengan membawa desingan angin tajam, ia melepaskan ancamannya secara bertubi-tubi.

Berbicara sesungguhnya, tenaga dalan yang dimilikinya jauh lebih unggul daripada Hoa In-liong, dengan dilancarkannya serangan secara gencar, kendatipun ilmu Hoa si ciong kiam cap lak sin ciau tiada tandingannya dikolong langit, namun dengan tenaga dalam yang belum sempurna, sulitlah bagi Hoa In-liong untuk membendung serangan musuh, secara beruntun ia kena di desak sampai mundur berulang kali.

Walaupun keadaan sudah berubah, akan tetapi bila Hong Liong ingin merobohkan Hoa In-liong dalam delapan sepuluh jurus belaka, hal ini masih merupakan suatu hal yang tak mungkin bisa terjadi.

Ketika Hoa In-liong berteriak "Serbu!"

Tadi , CoaWi-wi segera menjajakkan kakinya ke tanah, bagaikan seekor burung walet tubuhnya melambung di udara dan menerjang musuhnya dengn kecepatan yang luar biasa.

Dua orang imam berjubah kuning yang kebetulan berada dihadapannya, cepat menggerakkan ke empat buah telapak tangan mereka melepaskah sebuah pukulan dahsyat ke tubuh Coa Wi-wi.

Sudah tentu gadis tersebut tak pandang sebelah matapun terhadap mereka, merasakan tibanya ancaman, telapak tangannya segera di getarkan kemuka melepaskan pukulan yang tak kalah dahsyatnya.

"Blaaang....! Dalam waktu singkat, dua orang imam baju kuning itu merasa datangnya tenaga tekanan yang maha dahsyat menindih dada mereka, sedemikian beratnya tekanan tersebut membuat kuda-kuda mereka jadi rapuh dan tergempur. Darah panas bergolak dalam dadanya, kepala terasa pusing, mata berkunang-kunang, dada terasa mual dan badannya harus mundur lima enam langkah sebelum bisa berdiri tegak, dari tanda-tanda tersebut jelaslah sudah bahwa isi perut mereka sudah terluka. Masih untung Coa Wi-wi tidak menyerang secara keji, kalau tidak, niscaya dua lembar nyawa mereka sudah terlepas dari raga masing-masing.... Meminjam daya pantulan dari tenaga serangan mereka, Coa Wi-wi melambung kembali ke udara tangannya mendayung dan menepuk berulang kali di udara, dengan entengnya ia sudah melayang sejauh tujuh kaki dari tempat semula. Seandainya ia ingin berlalu dari situ, hal mana dapat dilakukan dengan sangat mudahnya, dan siapapun jangan harap bisa menghalang-halangi kepergiannya. Akan tetapi, sewaktu ia berpaling dan dilihatnya Hoa In-liong sedang dihadang oleh Hong Liong dengan serangan-serangannya yang gencar, gadis iiu membatalkan niatnya untuk pergi, ia putar badan dan menerjang kembali ke dalam gelanggang. Hal inipun merupakan perhitungan dari Hong Liong, dia tahu asal Hoa In-liong dapat dihalangi kepergiannya, niscaya Coa Wi-wi tak akan pergi dengan begitu saja, karenanya dia hanya pusatkan segenap perhatiannya untuk menghadapi Hoa In-liong seorang. Beng Wi-cian telah mengadakan persiapan semenjak tadi, cepat ia menuju ke muka menyongsong datangnya gadis tersebut. Tenaga dalamnya tidak berada dibawah kekuatan Hong Liong, dengan sendirinya seraDgan yang ia lancarkan juga teramat tangguh, seketika itu juga jalan pergi Coa Wi-wi terhadang Secara berturut turut gadis itu mengganti gerakannya untuk melepaskan diri dari penghadangan lawan, namun semua usahanya gagal, lama kelamaan mendongkol juga hati dara itu. Dengan dahi berkerut, ia berseru penuh kemarahan.

"Hmmm....! Tadinya kukira kau adalah seorang manusia baik-baik, tak tahunya kau juga sama saja. Baik, akupun tak akan berlaku sungkan-sungkan terhadap dirimu lagi"

Beng Wi-cian tertawa.

"Maafkanlah daku nona, yaa, apa mau dikata, tugaslah yang mewajibkan lohu untuk bertindak begitu "

Katanya.

Sembari berkata, dengan sepenuh tenaga dia lancarkan serangan dengan menggunakan ilmu Sing eng pat ciang (Delapan Pukulan Elang Sakti) yang di tekuninya selama ini.

Demikian dahsyatnya serangan yang kemudian dilancarkan, ibaratnya seekor burung elang yang menyambar-nyambar dari udara.

Coa Wi-wi mendengus dingin, telapak tangan kanannya melancarkan serangan tipuan, lalu kedua jari telunjuk dan jari tengahnya ditegangkan bagaikan tombak, dalam ayunannya kesana kemari, belasan buah jalan darah penting disebelah kanan tubah lawan terkurung dibawah ancamannya.

Itulah jurus Pian tong put ki (berubah tanpa bergerak), gerakan pertama dari ilmu Su siu huan heng ciang (pukulan empat gajah berubah bantuk) yang diciptakan Bu seng (malaikat ilmu silat) Im-Ceng.

Terkesiap hati Beng Wi-cian menghadapi ancaman yang maha dahsyat itu, ia sadar bahwa kemampuannya tak sanggup untuk menghadapi serangan sedahsyat itu.

Buru-buru ia keluarkan jurus Sim eng ti leng (elang sakti rentangkan sayap) untuk menyelamatkan diri.

Sepasang telapak tangan direntangkan ke samping, lalu bagaikan menepuk seperti juga membabat, sambil putar badan ia lancarkan serangan, dengan memaksakan diri disambutnya juga datangnya ancaman tersebut.

Kendatipun demikian, toh bahu kanannya kena diserempet juga oleh sapuan jari tangan Coa Wiwi Rasa sakit yang merasuk ke tulang sumsum timbul dari bahu kanannya, membuat separuh badannnya jadi kaku bagaikan lumpur, dalam gelisahnya cepat dia berteriak.

"Kiu coan liong si (lidah naga berputar sembilan kali)!"

Coa Wi-wi sama sekali tidak manfaatkan kesempatan itu untuk melanjutkan serangannya secepat gasingan badannya berputar kemudian meneruskan kembali terjangannya ke arah gelanggang dimana Hoa In-liong sedang terlibat dalam suatu pertarungan amat seru melawan Hoa Liong.

Sementara itu perintah dari Beng Wi-ciang untuk membentuk barisan telah dilaksanakan segera, anggota Hian-beng-kauw serentak meloloskan senjatanya masing-masing, dibawah cahanya api obor terasalah hawa pedang menyengat badan.

Menunggu perintahnya diturunkan, kilatan cahaya pelangi membumbung tinggi di angkasa, selapis kabut pedang yang menggidikan hati tiba-tiba saja menggulung ke arah Coa Wi-wi.

Menghadapi ancaman yang tak terkirakan hebatnya itu, Coa Wi-wi merasa amat terperanjat, ia hentikan gerakan tubuhnya dan melepaskan pukulan dahsyat ke depan.

Betapa dahsyatnya tenaga dalam yang dimilikinya, meskipun serangan itu tidak dilancarkan dengan sepenuh tenaga, namun ke dahsyatannya tak seorangpun yang mampu menghadapinya.

Akan tetapi, barisan Kiu coan liong si kiam tin itupun segera unjukkan keampuhannya, begitu badan si nona bergerak untuk meloloskan diri dari kurungan, beberapa pulung desingan angin tajam segera menyergap kearah beberapa buah jalan darah penting di punggungnya.

Menghadapi ancaman tersebut, gadis itu harus melindungi keselamatan jiwanya lebih dulu, mau tak mau terpaksa ia harus berhenti dan melayani ancaman musuh.

Kedua belah pihak sama-sama melakukan pertarungan dengan gerakan cepat, sekejap mata kemudian tujuh delapan jurus sudah lewat.

Coa-Wi-wi selalu memperhatikan keadaan Hoa In-liong, ia tahu pemuda itu masih terpengaruh oleh racun ular sakti, penggunaan tenaga yang berlebihan tidak menguntungkan bagi posisinya, apalagi melangsungkan pertarungan dalam waktu lama.

Dalam gelisahnya, dia lantas membentak nyaring.

"Eeeh....! Jika kalian menghalangi diriku lagi, jangan salahkan kalau aku akan mulai melancarkan serangan-serangan mematikan, hayo cepat mundur semua!"

Bukannya mundur kebelakarg, setelah mendengar teiiakan tadi, kawaran jago itu malahan memperketat serangan mereka, lapisan kabut pedang berlapis-lapis, ibaratnya selembar baja yang sangat kuat, muncul secara bersamaan waktunya dari tempat penjuru.

Coa Wi-wi semakin naik pitam, terutama setelah dilihatnya tak seorang manusiapun yang menggubris peringatannya, apalagi teringat oleh Hoa In-liong yang terancam bahaya, gadis itu segera menggigit bibir dan mengerahkan tenaganya semakin besar.

Secara beruntun dia keluarkan jurus serangan Hui yau siu cin (kunci beraneka liku meliku) serta Jit gwat siang tui (matahari rembulan saling berdorongan), seketika itu juga terdengarlah dua ka li dengusan tertahan berkumandang memecahkan kesunyian, dua orang laki-laki berbaju ungu yang berada dihadapannya masing-masing terkena sebuah pukulan, sambil muntah darah segar, tubuh mereka mencelat sejauh beberapa kali dari tempat mereka semula dan tewas seketika itu juga.

Kedua jurus serangan tersebut kesemuanya menggunakan jurus serangan yang tercantum dalam ilmu Su siu hus heng ciang, bayangkan saja betapa dahsyatnya ancaman itu.

Kendalipun kawan laki-laki berbaju ungu itu bukan manusia sembarangan meskipun tenaga dalam mereka rata-rata sangat lihay dan walaupun barisan Kiu coan liong-si kim tin tak terkirakan hebatnya, tapi mana mereka sanggup menghadapi ancaman yang maha tangguh itu....

Dengan tewasnya dua orang laki-laki tersebut, untuk sesaat kekosongan dalam barisan belum bisa terisi, suasanapun jadi kacau, ditambah lagi, sisa jago lainnya dibuat tertegun lantaran kaget dan ngeri, maka keampuhan barisan itu terhenti untuk sejenak.

Coa Wi-wi sendiri juga kaget dan ngeri, karena baru pertama kali ini dia membunuh orang, hanya saja karena semua perhatiannya terjatuh pada Hoa In-liong seorang, maka sesudah termangu sesaat, cepat ia lanjutkan kembali gerakannya untuk menyusup lebih ke depan.

Sementara pertarungan berlangsung, kawanan jago dari Seng-sut-pay hanya mengurung Hoa Inliong dan Hong Liong di tengah gelanggang, mereka hanya mengikuti jalannya pertarungan dengan mata melotot, tak seorangpun diantara mereka yang turut campur dalam pertempuran tersebut.

Walau agak terperanjat ketika Coa Wi-wi menerjang masuk ke dalam arena, ternyata hanya tiga orang yang majukan diri untuk menyongsong kedatangan lawan.

Ketiga orang itu masing masing mempunyai kemampuan yang berbeda, orang yang di tengah menggunakan ilmu totokan sian ki ci lek, yang di sebelah kanan mainkan ilmu Thian mo ciang, sebaliknya orang yang disebelah kiri mainkan ilmu Hoa kut sin kun (pukulan sakti peremuk tulang).

Walaupun berbeda dalam kepandaian, akan tetapi gabungan dari ketiga orang itu justru meliputi ilmu pukulan, ilmu telapak tangan serta ilmu totokan jari.

Mengalirlah pelbagai jurus serangan yang dilancarkan bagaikan amukan angin puyuh, perubahan demi perubahan mengalir keluar tiada hentinya.

Mereka bertiga mengira asal serangan gabungan dilarcarkan secara bersamaan, niscaya musuh dapat ditaklukan, atau sedikitnya walaupun Coa Wi-wi berilmu tinggi untuk menahannya selama tujuh delapan puluh jurus tentunya bukan menjadi persoalan.

Siapa tahu, setelah menghadapi rintangan demi rintangan, hawa napsu membunuh telah menyelimuti seluruh wajah Coa W wi, ketika menyaksikan dirinya diserang kembali, dengan amat gusarnya ia membentak.

"Keparat, rupanya kalian sudah bosan hidup!"

Dengan penuh tenaga ia lancarkan serangan dengan jurus Pian-tong put ki segera disusul dengan jurus Hui-yan-siu ciu.

Orang yang berada di tengah itu baru saja akan menyodokkan jari tangannya ke muka, ketika secara tiba-tiba pandangan matanya jadi kabur, tahu-tahu sebuah telapak tangan yang putih mulus sudah menghantam badan....

Ia menjerit lengking kesakitan, isi perutnya hancur lumur seketika itu juga, begitu mencelat ke udara, tewaslah orang itu dalam keadaan mengerikan, darah kental berwarna hitam meleleh dari ke tujuh lubang indranya.

Orang yang sebelah kiri berusaha untuk meloloskan diri dari ancaman maut, tapi Coa Wi-wi yang sudah mata gelap mengejarnya lebih kedepan, sebuah sodokan kilat tetap menghajar jalan darah Tiong-bu-hiat nya, tak ampun orang itu roboh terjengkang.

Masih berutung Coa Wi-wi jadi tak tega setelah menyaksikan kematian orang pertama dalam keadaan mengerikan, coba serangan totokan itu dirubah menjadi serangan telapak tangan niscaya jiwanya ikut kabur ke alam baka.

Berhasil dengan serangan-serangannya, gadis itu semakin tidak ragu-ragu lagi dengan kemampuannya, dengan suatu gerakan cepat badannya bergerak ke depan dan langsung menghantam punggung Hong Liong Merasa punggungnya diserang orang, Hong Liong terperanjat, cepat-cepat ia berkelit ke samping kiri.

Gerakan yang dilakukan Coa Wi-wi ini dilakukan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, menanti para anggota Mo-kauw membentak marah dan siap menghalanginya, semua kejadian telah berlangsung.

Sesaat kemudian pertarungan terhenti untuk sejenak, tampaklah Hoa In-liong berdiri dengan napas tersengkal-sengkal, sekujur badannya gemetar keras dan basah oleh keringat, untuk berdiripun terpaksa ia harus menggunakan pedangnya sebagai tonggak penyanggah.

Buru-buru Coa Wi-wi menghampiri dan membimbingnya, dengan penuh kecemasan ia berseru.

"Jiko, kau.... kau....baik baik bukan?"

"Aku.... aku masih bisa...."

Kata-kata dari Hoa In-liong ini kedengaran agak gemetar, meski senyuman menghiasi bibirnya namun peluh dingin telah membasahi sekujur tubuhnya.

Coa Wi-wi makin gelisah, air mata jatuh berlinang membasahi seluruh pipinya.

"Jiko, kau...."

"Adik Wi, aku hendak menyalurkan tenaga dalamku untuk mendesak racun...."

Tukas pemuda itu kembali.

Tiba-tiba ia membungkam, sementara hawa sakti Bu kek teng heng-toa hoat segera disalurkan untuk menguasahi bekerjanya sari racun dalam tubuhnya.

Berada dalam keadaan demikian, ternyata anak muda itu memutuskan untuk mengerahkan tenaga dalamnya guna mendesak sari racun dari tubuhnya, dari sini dapat diketahui betapa seriusnya keadaan pada waktu itu, meski Coa Wi-wi lihay dalam ilmu silat, ia dibikin gelagapan juga menghadapi keadaan tersebut.

Sebagaimana diketahui, dalam pertarungannya barusan, Hoa In-liong telah bertarung dengan mengandalkan keampuhan ilmu pedang Hoa si ciong kiam cap lak sin ciau.

Memang dalam soal pertahanan dan ketahuan ilmu pedang itu boleh diandalkan, sayangnya justru kejadian tersebut sangat besar menyerap kekuatan seseorang.

Dalam keadaan demikian, otomatis sari racun ular sakti yang berasil didesak Hoa In-liong ke dalam jalan darah Gi lam dan Gi-pinya jadi kambuh kembali dan menyerang isi perutnya.

Jikalau racun yang sudah terlanjur menyebar kembali ke dalam isi perutnya itu dibiarkan saja menghadapi tekanan dari luar maupun dalam, seseorang pasti tak akan tahan.

Untunglah Hoa In-liong memiliki semangat bertempur yang tinggi, sekalipun harus mengalami penderitaan yang luar biasa, ia masih sanggup bertahan sampai saat terakhir.

Yaa, pada hakekatnya pertarungan yang singkat itu, bagi dari Hoa In-liong ibaratnya suatu pertarungan jarak panjang yang berlangsung selama tiga hari tiga malam tanpa berheti.

Dengan manik matanya yang indah Coa Wi-wi melirik sekejap sekeliling tempat itu, ia lihat seluruh jago Hian-beng-kauw telah mengepung mereka rapat-rapat, barisan Kiu coan liong si kiam tin yang maha tangguhpun sudah dipersiapkan sebanyak tiga lapis.

Beng Wi-cian dengan sebilah pedang mustika yang terhunus di tangan bukan saja langsung terjun sendiri ke gelanggang untuk memimpin gerakan barisan tersebut, malah keempat orang Ciu Hoa pun ikut menggabungkan diri dalam barisan itu.

Pada lapisan yang terdepan berjejerlah kawanan jago dari Seng sut pay, mereka membentuk lapisan kepungan yang sangat tangguh, rupanya pihak lawan telah berkeputusan untuk menahan mereka berdua walau dengan cara apapun jua.

Dalam sekejap mata situasi dalam arena mengalami perubahan yang dratis.

Mengetahui posisinya lebih unggul, Beng-Wi-cian tertawa terbahak bahak, katanya.

"Nona Coa, lohu anjurkan kepadamu untuk lebih baik menyerah saja, percayalah, perkumpulan kami nanti akan melayani dirimu sebagai seorang tamu agung!"

"Huuuhh....jangan bermimpi disiang hari bolong!"

Teriak Coa Wi-wi sambil berusaha untuk mengendalikan perasaannya yang kalut. Bene wi cian tertawa mengejek.

"Heeehhh.... heeehhh.... heeehh....tentu saja aku tahu bahwa nona Coa tak akan takut menghadapi keadaan saat ini, tapi.... apakah engkau tidak memikirkan buat keselamatan Hoa kongcu?"

Ucapan tersebut dengan tepatnya mengena dihati Coa Wi-wi justru persoalan inilah yang dia kuatirkan.

Cepat ia berpaling sekejap, dilihatnya Hoa In-liong masih berdiri tegak sambil mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengusir racun dari dalam tubuhnya, melihat itu dia lantas berpikir.

"Apa dayaku sekarang? Entah sampai kapan semedi jiko baru selesai? Untuk melindungi keselamatanku sendiri jelas tak ada persoalan, tapi untuk melindungi pula diri jiko.... Saking kalut dan murungnya gadis itu, sehingga untuk sesaat lamanya lupa untuk menjawab pertanyaan lawan. Sementara itu, Hong Liong yang berada diluar gelanggang telah berseru sambil menyeringai seram.

"Beng heng, buat apa kau musti banyak cing-cong lagi dengan budak tersebut? Mau atau tidak, suruh saja dia tentukan dalam sepatah kata!"

Beng Wi-cian tertawa seram.

"Sudah kau dengar nona manis?"

Serunya kemudian.

"Kalau sudah mendengar lantas kenapa?"

Coa Wi-wi mengejek dengan wajah sinis.

"Mau atau tidak mau, harap nona putuskan dengan sepatah kata!"

"Kalau aku mau lantas kenapa, kalau mau lalu bagaimana?"

Kata gadis itu lagi.

Dia memarg bertujuan mengulur waktu sebisa mungkin, maka di usahannya untuk berbicara apa saja yang mungkin dapat dibicarakan.

Beng Wi-cian bukan manusia sembarangan, sudah tentu taktik semacam itu tak dapat mengelabuhi dirinya.

Terdengarlah ia tertawa tergelak, kemudian berkata.

"Haaahh.... haashh.... haaahh.... jika nona bermaksud untuk mengulur waktu, maka jangan salahkan kalau lohu tidak akan berlaku sungkan-sungkan lagi kepadamu!"

Coa Wi-wi jadi murung, kesal dan panik, ia benar-benar kehabisan akal, gadis itu tak tahu apa yang harus dilakukannya untuk mengatasi keadaan tersebut.

Ditengah suasana yang amat kritis itulah, mendadak dari tempat kejauhan berkumandang suara nyanyian yang nyaring dan lantang.

"Tanggul pohon liu, selokan pohon bambu. Bayangan surya menyinari rerumputan nan kuning. Dengan langkah perlahan kudekati dermaga nelayan. Kulihat burung bangau dan burung manyar saling bercanda. Bapak petani paman nelayan, banting tulang untuk menyambung hidup. Mereka tak sadar hidup dalam lukisan. Memandang semua pemandangan yang tertera didepan mata. Walau tak ada arakpun orang akan mabok di buatnya...."

Suara nyanyian itu nyaring, lantang, penuh tenaga dan memekikkan telinga, siapapun yang mendengar, siapapun tahu bahwa nyanyian tersebut berasal dari seorang tokoh silat yang berilmu tinggi.

Berbareng dengan selesainya nyanyian tersebut, tiba-tiba terdengar, seseorang berseru dengan suara nya yang lantang.

"Cu loji besar amat seleramu untuk berannyi! Hmm bila Liong-ji sampai menemui seauatu yang tak besar, akau kulihat sebesar wajahmu yang tua itu akan kau taruh dimana?"

Kemudian terdengarlah Cu loji tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh.... haaahhh.... haaahhh.... ayoh keluar, ayoh! Aku tahu kalau engkau sedang menguatirkan keselamatan cucu luar, alasannya saja untuk melindurgi mukaku, hahhh.... haaahhh.... Dengan menggemanya suara pembicaraan dari kedua orang itu, sekalipun orangnya belum muncul kebanyakan orang hadir dalam gelanggang telah mengetahui bahwa mereka adalah Pek Siau thian, Sin-ki pangcu yang lalu serta si dewa yang suka kelayaban Cu Thong. Perlahan-lahan dari balik hutan munculan, dua orang manusia. Seorang diantaranya bertubuh tegap bagaikan batu karang, beralis mata putih dan berjenggot putih, ia mengenakan jubah berwarna ungu, siapa lagi kalau bukan Pek Siau thian.... Disampingnya mengikuti seorang kakek cebol berbadan gemuk, kepalanya botak dengan pipi yang montok, mukanya merah berminyak seperti muka bayi, ditanganya membawa sebuah kipas model kecubong, kecuali si dewa yang suka kelayapan Cu Thong memang tiada orang kedua yang berbentuk seperti ini. Tiba-tiba terdengar Hoa In-liong berteriak penuh kegembiraan.

"Gwakong! Cu yaya! Kalian sudah datang semua?"

Mula-mula Coa Wi-wi agak tertegun, tiba-tiba ia putar badan dan jatuhkan diri kedalam pelukan Hoa In-liong.

"Jiko, baik-baiklah kau?"

Saking terharunya air mata tanpa terasa jatuh berlinang.

Walaupun ia memiliki ilmu silat yang amat tangguh, tapi sebagai gadis ia tetap memiliki perasaan sebagai seorang dara, apalagi setelah dicekam rasa kuatir selama ini serta-merta rasa kangen dan manjanya segera dilampiaskan kepada pemuda pujaannya begitu keadaan jadi aman kembali.

"Adik Wi, aku telah membuat kau risau!"

Bisik Iloa-ln-Iiong dengan penuh rasa sayang. Sesudah berhenti sebentar, ujarnya kembali.

"Racun ular sakti berhasil kusudutkan untuk sementara waktu, tapi jika dipakai untuk bertarung lagi, racun itu akan segera kambuh kembali...."

Mendengar pengakuan itu, air muka Coa Wi-wi kontan berubah jadi pucat pias kembali.

"Lalu apa yang musti kita lakukan?"

Tanyanya cemas. Hoa In-liong tertawa.

"Yaaa, biarlah kesemuanya berkembang menurut keadaan!"

Sebetulnya Beng Wi-cian bermaksud untuk manfaatkan kesempatan sebelum Pek Siau thian dan Cu Thong munculkan diri untuk menaklukan Hoa In-liong, dalam perkiraannya semula, dengan pengepungan yang berlapis-lapis, kendatipun Pek Siau thian dan Cu Tong memiliki tenaga dalam yang maha dahsyat pun tak mungkin mereka sanggup menerobosi kepungan tersebut dalam waktu singkat.

Padahal saat itu Hoi In liong sudah lemah dan tidak memiliki kemampuan untuk melakukan perlawanan lagi, dalam keadaan demikian tidaklah sulit baginya untuk membekuk si anak muda itu.

Siapa tahu dalam waktu yang amat singkat, Hoa In-liong telah berhasil mendesak racunnya, kehilangan kesempatan yang sangat baik itu, ia merasa benar-benar amat menyesal.

000000O000000 BOCAH keparat ini licik sekali"

Demikian Beng Wi-cian berpikir.

"andaikata ia benar-benar tak mampu untuk melakukan pertarungan lagi, masa rahasianya diutarakan dengan begitu saja? Aku musti bersikap hati-hati daripada dipecundangi oleh seorang bocah muda!"

Sementara ia masih termenung, tiba-tiba Hong-Liong membentak dengan suara nyaring.

"Pek loji!"

"Mau apa kau panggil panggil nama loya mu?"

Sela Cu Thong sambil menyengir.

"Kunyuk, siapa yang ajak kau orang she Cu berbicara?"

Teriak Hong Liong marah marah, setajam sembilu sorot matanya.

Dalam penggalian harta karun dibukit Kiu ci san, meski Cu Thong datang agak terlambat sehingga tak sempat berjumpa muka dengan Hong liong, akan tetapi semua sanak keluarga maupun sahabat baik keluarga Hoa telah mereka selidiki satu per satu dengan jelasnya, dengan tampang serta bentuk badan Cu Thong yang istimewa, sudah tentu ia dapat mengenalinya dengan segar.

Pek Siau thian sama sekali tidak menggubris panggilan itu, dengan suara nyaring dia malah berkata.

"Liong-ji, gwakong toh pernah berkata kepadamu, ilmu silat yang kau miliki sekarang masih belum cukup bagimu untuk malang melintang dalam dunia persilatan, sekarang telah merasakan sedikit pelajaran, tentunya kau sudah percaya bukan?"

Walaupun ucapan tersebut diutarkan dengan tegas dan tajam, akan tetapi nada manja sayangnya masih amat kentara. Hoa In-liong tertawa.

"Apa yang gwakong ucapkan, selamanya didalam hati, kapan aku tidak percaya kata-kata gwakong?"

Setelah berhenti sebentar, ia berkata lagi.

"Cuma orang kuno pernah bilang. Siapa yang telah merasakan pahit getirnya kehidupan, dialah seorang manusia yang berpengalaman, Liong-ji rasa penderitaan yang aku alami selama ini merupakan suatu penderitaan yang amat berharga"

Berbicara pulang pergi, ia tetap memegang prinsip bahwasanya perbuatannya selama ini tak salah, sikap serta pandangannya sama sekali tidak mengalami perubahan.

Pek Siau thian mendengus marah, pikirnya.

"Kurangajar, teringat kemampuan aku orang she Pek tempo dulu, perkumpulan Sin ki pang yang begitu besarpun dapat kuatur dengan baik dan penuh kedisiplinan, heeehh.... hehehh.... sungguh tak nyana menjelang tuaku sudah muncul seorang cucu luar yang tak bisa di didik, benar-benar kejadian yang ada diluar dugaan!"

Sebenarnya dia ingin menegur anak muda itu dengan beberapa patah kata, tapi hatinya merasa tak tega, akhirnya kepada Coa Wi-wi dia berkata dengan lembut.

"Nona Coa, berkat bantuanmu, cucuku itu tak sampai berbuat malu disini, untuk budi kebaikan mu itu terlebih dulu lohu ucapkan banyak banyak terima kasih"

Mendengar perkataan itu, diam-diam Hoa In-liong merasa geli, pikirnya di hati.

"Tampaktampaknya gwakong memang sengaja ada maksud menyusahkan diriku...."

Didorongnya Coa-Wi-wi, kemudian bisiknya lirih.

"Gwakong lagi ajak kau berbicara itu lho....masa diam saja?"

Cu Thong ikut terbahak-bahak.

"Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh....Mempunyai tulang dewa, mempunyai wajah menawan, di tambah lagi memiliki tenaga dalam yang cukup sempurna, benar-benar jarang ditemui dikolong langit dan tiada keduanya di atas bumi"

"Gwakong! Cu Yaya! Panggil saja aku Wi-ji!"

Tiba-tiba Coa Wi-wi berteriak.

"kita semua 'kan berasal dari satu keluarga, kenapa musti sungkan-sungkan?"

Mendadak ia merasa amat jengah sehingga kepalanya ditundukkan rendah-rendah.

Dalam gugupnya dia mengikuti sebutan yang di pakai Hoa In-liong, tapi setelah itu ia baru terbayang kembali ada sesuatu yang tak beres, kontan saja pipinya berubah jadi merah lantaran malu.

Sejak bersembunyi didalam hutan, baik Pek Siau-thian maupun Cu-Thong sama-sama telah mengawasi gerak gerik Coa Wi-wi yang begitu mesra terhadap Hoa In-liong, maka ketika dilihatnya gadis itu tundukan kepala dengan wajah semu merah hingga menambah kecantikannya, tak kuasa lagi mereka berpikir kembali.

"Perempuan ini memperlihatkan rasa cintanya tanpa tedeng aling-aling, berada dihadapan banyak orangpun sikapnya begitu mesra, ini membutikan bahwa rasa cintanya terhadap Liong-ji tak bisa diragukan kembali.... berbicara tentang kecantikan, ia tak kalah dari Kun-gie heeehhh.... heeeeh.... heeehhh.... memangnya semua gadis cantik didunia ini hanya dimiliki oleh keluarga Hoa semua?"

Jilid 28 SEMENTARA berpikir sampai kesitu, terdengar Cu thong berkata sambil tertawa.

Baca Juga: Bara Naga 7

Baca Juga: Beruang Salju 11

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert