Ceritasilat Novel Online

Rahasia Hiolo Kumala 7

Eps 7 Rahasia Hiolo Kumala - Gu Long

Baca online Rahasia Hiolo Kumala - Gu Long

Cersil Rahasia Hiolo Kumala - Gu Long.

Sambil berlutut dia menggoncang-goncangkan bahu Coa Wi-wi sambil serunya kembali.

"Nona, keadaan macam begini tak boleh berlarut-larut. Kau jangan urusi tangisanmu belaka. Coba periksalah dulu keadaan Jikongcu kemudian baru dirundingkan kembali. Memangnya setelah kau peluk tubuhnya sambil menangis, maka penyakitnya bakal sembuh dengan sendirinya? Jangan menangis terus!"

Coa Wi-wi tidak sampai keblinger, meskipun ia sedang menangis dengan sedihnya, kesadaran otaknya masih utuh.

Maka setelah mendengar perkataan itu, diapun menengadah.

Pada saat itulah terdengar desingan angin tajam berkumandang dari arah belakang, menyusul kemudian sesosok bayangan manusia melayang turun dibelakang punggungnya.

Coa Wi-wi kaget, cepat ia menyambar tubuh Hoa In-liong dan meloncat maju kedepan untuk menghindari segala kemungkinan yang tidak diinginkan....

"Adik Wi, tak usak kaget! Aku yang datang"

Kata orang itu cemas.

"Bagaimana keadaan Jite?"

Begitu mendengar suara panggilan tersebut, Coa Wi-wi segera mengetahui siapakah yang datang, cepat dia menjejak permukaan tanah dan menyusul kembali ketempat semula, sahutnya.

"Toako! Jiko...."

Tiba-tiba ia merasa amat bersedih hati sehingga dadanya terasa jadi sesak, isak tangisnya semakin menjadi.

Orang yang baru muncul mengenakan jubah biru dengan sebuah pedang tergantung dipinggangnya.

Dia bukan lain adalah Toako dari Hoa In-liong, Hoa Si adanya.

Hoa Si adalah seorang pemuda berwajah gagah dan bersikap serius.

Ketika itu dia berdiri dihadapan Coa Wi-wi sambil mengawasi keadaan adiknya.

Ketika menyaksikan keadaan adiknya yang tidak sadarkan diri, hatinya betul-betul merasa amat terperanjat.

Meski demikian sikapnya sama sekali tidak nampak gugup atau gelisah, lagaknya tetap tenang dan gagah perkasa.

Keadaan semacam ini persis seperti kegagahan Hoa Thianhong dimasa lalu.

Dengan sorot mata yang tajam dia mengawasi wajah Hoa In-liong dengan seksama, kemudian baru menengadah mengawasi Coa Wi-wi yang masih menangis tersedu.

"Adik Wi, janganlah menangis!"

Katanya kemudian dengan lembut.

"Sekalipun Jite kena dipecundangi orang, tapi menurut pengamatanku, keadaan tersebut tak mungkin akan memburuk dalam waktu singkat. Mari serahkan dia kepadaku, kita cari dulu suatu tempat yang bisa digunakan untuk beristirahat, kemudian baru dirundingkan lebih jauh"

Sembari berkata, sepasang tangannya bergerak cepat untuk membopong adiknya.

Sebelum Coa Wi-wi sempat mengucapkan sesuatu, Hoa In-liong telah dibopongnya dan bergerak menuruni bukit tersebut.

Mula-mula Coa Wi-wi agak tertegun oleh kejadian tersebut.

Tapi sejenak kemudian, sambil menahan isak tangisnya dan membesut air mata yang membasahi pipinya dia mengikuti dibelakang pemuda itu tanpa berbicara.

Ki-ji yang menjumpai hal itu, cepat-cepat membopong Wan Hong-giok dan menyusul pula di paling belakang.

Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya sampailah mereka di bekas markas Tong Thian-kau di punggung bukit.

Hoa Si memeriksa sebentar keadaan bangunan itu, kemudian menghampiri sudut ruangan bekas ruang tengah dan duduk bersila disitu.

Gerak gerik Hoa Si selalu serius, mantap dan gagah.

Raut wajahnya juga serius dan keren.

Ini membuat orang lain jadi keder dan tak berani membangkang setiap perkataannya.

Karena kewibawaan yang terpancar keluar dari sikap anak muda itu mengederkan hati siapapun jua.

Sebenarnya Coa Wi-wi mempunyai banyak keluhan serta kesedihan yang hendak disampaikan kepada pemuda itu.

Akan tetapi lantaran Hoa Si hanya membungkam terus, terpaksa diapun harus mengendalikan perasaannya dan ikut duduk membungkam disitu.

Pada ujung ruangan tersebut penuh berserakan bekas atap dan batu bata yang kotor dan tak sedap dilihat.

Hoa Si segera mengebaskan tangannya untuk menyapu sebagian puing-puing itu hingga tersingkir kesamping.

Setelah itu dia menggape ke arah Ki-ji sambil perintahnya kembali.

"Ki-ji, kemarilah! Tolong baringkan nona Wan di atas lantai....!"

Setelah itu, dia baru barpaling kearah Coa Wi-wi sambil berkata kembali.

"Adik Wi, tolonglah tengok sejenak keadaan nona Wan, apakah dia masih tertolong atau tidak?"

Mendengar perkataan itu, cepat cepat Ki-ji membaringkan tubuh Wan Hong-giok ke lantai, kemudian mengundurkan diri ke samping.

Melihat Coa Wi-wi tidak segera beranjak, dengan alis berkerut ia berkata penuh rasa kuatir.

"Bagaimana keadaan Jite sedikit rada kacau. Sekarang aku sedang melakukan pemeriksaan untuk mengetahui bagaimana keadaan yang sebenarnya. Nona Wan adalah seorang gadis, aku merasa kurang leluasa untuk memeriksa sendiri keadaannya maka aku minta tolong kepada adik Wi untuk mewakili diriku!"

Setelah Hoa-Si berkata demikian, tentu saja Coa Wi-wi tak dapat membantah lagi.

Dengan perasaan apa boleh buat dia mengangguk, kemudian bangkit dan menghampiri Wan Hong-giok untuk memeriksa keadaan luka dibadannya.

Selang sesaat kemudian, dengan wajah sedih dia menengadah, katanya dengan lirih.

"Toako, sekujur badan Nona Wan sudah berubah jadi merah gosong. Jalan darah Tiong-kek-hiatnya terluka oleh totokan jari yang menggunakan tenaga dingin, sedang jalan darah Ki-ciat-hiatnya tertusuk sebatang jarum beracun. Aku lihat harapannya untuk hidup tipis sekali, mungkin jiwanya sudah tidak tertolong lagi"

Hoa Si mengerdipkan matanya beberapa kali lalu merenung.

"Aku lihat nona Wan tak sampai menemui ajalnya, dia pasti bisa disembuhkan kembali.... Cuma adik Wi! Apakah engkau bersedia untuk mengorbankan sedikit tenaga dalammu untuk mengobati luka dalam yang dideritanya itu?"

"Tapi....denyutan nadinya sudah amat lirih, detak jantungpun sudah sering kali berhenti. Lagipula sekujur badannya sudah merah membengkak, jelas darahnya sudah ternoda racun jahat yang menyusup keseluruh nadi pentingnya. Berada dalam seperti ini, apa gunanya kita obati luka dalamnya dengan tenaga dalam?"

Dari nada perkataan tersebut dan dari sikap Coa Wi-wi sewaktu mengucapkan kata-katanya, dapat diketahui bahwa ia sedikit merasa keberatan untuk melaksanakan tugas tersebut.

"Soal keracunan bukanlah merupakan soal yang serius", ujar Hoa Si dengan gelisah.

"Dalam sakuku tersedia obat-obatan mustika untuk memunah kau pengaruh racun itu. Justru yang kukuatirkan adalah jalan daerah Tiong kek-hiatnya yang terluka parah itu. Sekalipun selembar jiwanya dapat diselamatkan, tapi serangkaian ilmu silat yang dimilikinya mungkin akan musnah dengan begitu saja"

Coa Wi-wi merenung sejenak, lalu katanya.

"Tapi yang paling penting jiwanya tertolong lebih dulu. Sekalipun ilmu silatnya harus punah juga tak menjadi soal, lain kali kan masih ada kesempatan untuk mempelajarinya kembali"

Dengan cepat Hoa Si menggeleng.

"Jika jalan darah Tiong-kek-hiatnya sudah terluka, itu berarti urat-urat sam-im-meh nya sudah kehilangan daya kemampuan untuk menggunakan tenaga lagi. Hawa murni yang terhimpun dalam Tam-thian tak mampu bergerak ke bawah lagi. Sekalipun mengulang kembali pelajaran silatnya juga percuma"

Tiba-tiba ia menghela napas panjang, tambahnya.

"Keadaan yang kita hadapi sekarang tidak memberi kesempatan kepada kita untuk berpikir lebih jauh. Yang penting kini adalah menyelamatkan jiwa manusia. Adik Wi! Cepatlah bertindak!"

Tangan kanannya segera diayun ke depan, sebutir obat pun meluncur ke arahnya. Dengan cekatan Coa Wi-wi menyambut obat itu serunya dengan gelisah.

"Tidak bisa begitu saja! Toako. Jika kau suruh aku memunahkan racun yang mengeram ditubuhnya, kau harus memberitahukan juga bagaimana caranya. Aku sama sekali tidak paham bagaimana caranya memunahkan racun"

Hoa-Si mengangguk dan bibirnya pun mulai berkemak-kemik menurunkan pelajaran Khi-bun-imyang (memisahkan hawa panas dan dingin) tersebut kepada Coa Wi-wi dengan ilmu menyampaikan suara.

Coa Wi-wi tidak berani berayal lagi cepat dia jejalkan pil tersebut ke dalam mulut Wan Honggiok, kemudian duduk bersila disampingnya.

Sepasang tangan direntangkan, tangan kanan menempel jalan darah Tiong-kek-hiat, tangan kiri menempel diatas dada.

Dengan tekunnya dia salurkan hawa murni untuk mengobati luka dalam tubuh Wan Hong-giok.

Bila diikuti satu demi satu maka semua kejadian itu serasa sudah berlangsung sangat lama, padahal dalam kenyataannya waktu baru berlalu beberapa menit.

Sampai waktu itulah Hoa Si baru mendapat kesempatan untuk menundukkan kepalanya mengawasi wajah adiknya serta memeriksa keadaan luka yang diderita.

Dari semua sikap maupun gerak-gerik yang dilakukan Hoa Si selama ini, dapat kita rasakan betapa agungnya sistim pertolongan mereka yang mengutamakan orang lain lebih dulu sebelum menolong diri sendiri.

Dan semangat semacan ini merupakan didikan langsung dari Bun Tay-kun serta Hoa Thian-hong suami istri kepada putra putrinya.

Dalam pandangan keluarga Hoa, mungkin tindakan mereka ini merupakan suatu kejadian yang wajar.

Tapi bagi pandangan orang lain justru mendatangkan perasaan lain.

Sikap semacam itu justru mendatangkan perasaan terharu dan kagum.

Pada waktu itu diluar puing-puing gedung yang berserakan, kebetulan ada sesosok bayangan manusia sedang mengintip gerak-gerik dari beberapa orang anak muda itu.

Tapi oleh karena mereka bersembunyi dengan sangat parahnya, dan lagi seluruh perhatian Hoa Si maupun Coa Wi-wi hanya tercurahkan untuk mengobati luka orang, mereka tidak menyadari sampai kesitu.

Mereka yang mengintip gerak-gerik berapa orang muda mudi itu adalah seorang gadis muda yang membawa tongkat baja serta seorang laki-laki bermata tajam yang mengenakan kain kerudung hitam diatas wajahnya.

Laki-laki itu mempunyai perawakan badan yang tinggi besar dan tegap.

Tapi karena wajahnya tertutup oleh kain kerudung hitam, maka tidak diketahui berapa besar usia yang sebenarnya.

Tapi sang gadis mengenakan baju berwarna putih, mukanya dingin dan hambar.

Diujung toya besi yang dipegangnya terukir sembilan buah kepala setan perempuan.

Itulah lambang dari Kiuim kau dan gadis itu tak lain adalah Bwee Su-yok, kaucu baru dari perkumpulan Kiu-im kau.

Bwee Su-yok bersembunyi dibalik puing-puing gedung yang berserakan.

kedatangannya adalah menguntit dibelakang Hoa Si secara diam-diam.

Itu berarti Tapi yang aneh, sinar matanya ketika itu kelihatan agak ragu-ragu, seakan-akan ada sesuatu masalah yang besar dan berat belum dapat diputuskan olehnya.

Pada hakekatnya yang diartikan sebagai masalah besar pada saat itu, adalah rasa haru dan kagumnya terhadap sikap Hoa Si yang lebih mengutamakan keselamatan orang lain daripada keselamatan sendiri.

Hati kecilnya betul-betul tersentuh oleh kejadian itu, maka untuk sesaat ia kehilangan pegangan.

Haruslah diketahui, kebaikan dan kejahatan merupakan watak alam yang dimiliki setiap manusia.

Meskipun semenjak kecil Bwee Su-yok dibesarkan dalam lingkungan pendidikan yang angkuh, dingin dan tidak berperasaan.

Meskipun ia mempunyai watak yang aneh, dingin dan kaku, namun sifat alamnya sebagai manusia bukan berarti sama sekali lenyap tak berbekas atau dengan perkataan lain sifat baiknya tetap bertahan pula dalam hatinya disamping sifat jahat dan buruknya.

Dalam suasana seperti itulah, tiba-tiba ia dengar laki-laki berkerudung yang berada dibelakangnya sedang berbisik.

"Lapor kaucu, waktunya telah tiba!"

Bwee Su-yok tidak menjawab juga tidak bereaksi, seakan-akan ia tidak mendengar perkataan itu.

Sinar matanya kosong....

Hampa....

seolah-olah sedang melacaki sesuatu yang tiada....

Melihat kaucunya tidak menunjukkan reaksi apa-apa, laki-laki berkerubung itu mengulangi kembali kata-katanya.

Tapi bagaimana sikap Bwee Su-yok?

Ia tampak seperti tak sabaran, dengan pandangan yang menggidikkan hati di tatapnya laki-laki itu dengan sinar mata dingin, kemudian ia bangkit dan tinggalkan tempat tersebut.

Tindakan tersebut sama sekali diluar dugaan laki-laki berkerudung itu, cepat ia menyusul dibelakangnya sambil berbisik kembali.

"Kesempatan baik segera akan berlalu. Harap kaucu berpikir tiga kali sebelum bertindak!"

Bwee Su-yok menghentikan langkahnya, ia berpaling dan menghardik ketus.

"Cerewet! Kau suruh kaucu-mu memikirkan soal apa sampai tiga kali? Hmmm.... Kedudukanmu hanya sebagai tamu pembantu, berani betul kau ucapkan kata kata yang membatasi kebebasan gerakan kaucu....?"

Mula-mula laki-laki berkerudung itu agak tertegun, kemudian cepat cepat ia memberi hormat dan tidak berani banyak bicara lagi.

Bwee Su-yok semakin tidak sabar lagi, ia menekan toya bajanya ketanah dan segera melayang pergi dari situ.

Terlihatlah ujung bajunya yang berwarna putih berkibar terhembus angin, dengan gerakan cepat ia bergerak menuruni bukit itu.

Tindakan dari Kiu-im kaucu ini semakin membuat laki-laki berkerudung itu heran bercampur termangu.

Sepasang matanya jelas memancarkan rasa kaget dan tercengangnya, tapi diapun tak berani mengucapkan sepatah katapun.

Pada saat itulah terdengar ujung baju tersampok angin menyambar datang, Hoa Si dengan suara yang nyaring menegur.

"Nona, harap tunggu sebentar!"

Ternyata karena terdorong oleh emosi, Bwee Su-yok telah membentak terlalu keras sehingga suaranya yang berisik itu menyadarkan Hoa Si bahwasanya disitu hadir orang lain.

Bwee Su-yok berhenti, lalu putar badan dengan angkuhnya.

"Ada urusan apa engkau memanggil aku?"

Tegurnya pula.

Ketika menyusul ke arah mana berasalnya suara tadi, Hoa Si hanya sempat menyaksikan berkelebatnva sesosok bayangan putih dibawah sorotan sinar rembulan.

Ia tidak melihat kehadiran laki-laki berkerudung itu.

Maka setelah yakin kalau lawannya seorang nona, diapun menegur.

Siapa tahu sikap Bwee Su-yok amat sombong dan tinggi hati.

Keangkuhan semacam itu seketika juga membuat dia jadi tertegun dan tak mampu berkata-kata.

Meskipun tercengang, tapi sebagai seorang laki laki yang gagah, ia tidak masukkan persoalan itu dihati.

Maka setibanya diatas permukaan tanah dia lantas menjura dan memberi hormat kepada Bwee Su-yok.

"Nona, boleh aku tahu siapa namamu?"

Sapanya.

"Tengah malam buta begini, angin bukit sangat dingin, bolehkah aku tahu karena urusan apa kau berkunjung kemari?"

Bwee Su-yok mendengus dingin.

"Hmmm....! Lebih baik urusi saja Jite mu! Sedang soal-soal yang lain lebih baik dikesampingkan dulu untuk sementara waktu"

Jawaban tersebut tidak menunjukkan apakah dia bersikap sahabat atau musuh dengannya, ini membuat Hoa Si semakin tertegun.

"Keadaan adikku tidak terlampau serius. Justru kedatangan nona ditengah malam buta begini sangat mencurigakan hatiku...."

Tapi sebelum ia sempat menyelesaikan kata-katanya, kembali Bwee Su-yok telah menukas secara tiba tiba.

"Kalau begitu bagus sekali. Tengah hari besok engkau boleh mengajak adikmu untuk datang ke kota Ci-tin dan berjumpa dengan aku disitu....!"

Habis berkata dia lantas putar badan dan siap melanjutkan perjalanannya menuruni bukit. Hoa Si semakin curiga, diam diam pikirnya dalam hati.

"Kemungkinan perempuan ini mempunyai ikatan dendam dengan adik Jite, aku harus selidiki sampai jelas!"

Berpikir demikian, diapun melambung ke udara dan menghadang jalan perginya.

"Tunggu sebentar nona!"

Serunya sambil menjura.

"Tengah hari besok, adikku belum tentu dapat datang memenuhi janji. Karena itu harap nona bersedia meninggalkan nama, sehingga apabila ia tak dapat memenuhi janji, akupun dapat menyampaikan hal ini kepadanya"

Sikap Hoa Si yang intelek gagah dan ucapannya yang bernada memohon membuat Bwee Su-yok merasa rikuh untuk berlalu dengan begitu saja sebelum menjawab.

Ia merasa pertanyaan lawannya bagaimanapun juga harus diberi jawaban yang memuaskan hati.

Tapi sebelum ia menjawab pertanyaan itu, laki-laki berkerudung hitam yang selama ini berada disamping telah menyelinap keluar, jengeknya sambil tertawa seram.

"Hee.... hee.... hee.... Betulbetul mengecewakan sekali kau sebagai putra sulung dari keluarga Hoa. Ternyata pengetahuanmu begitu picik dan terbatas. Memangnya belum pernah kau saksikan tongkat kekuasaan dari Kiu-Im kau yang mempunyai ciri khusus itu?"

Sikap Bwee Su-yok semakin dingin dan kaku bahkan kali ini dengan tatapan matanya yang dingin menyeramkan dia melotot sekejap kearah laki-laki berkerudung itu.

Namun laki-laki berkerudung itu berlagak bodoh, ia berlagak seakan akan tidak melihat tatapan mata orang, bahkan berpaling ke sampingpun tidak.

Hoa Si baru terperanjat setelah mendengar perkataan itu.

Tanpa sadar ia berpaling dan mengamati tongkat baja ditangan Bwee Su-yok tersebut.

Tongkat itu adalah sebuah tongkat baja yang ber warna hitam gelap.

Pada ujung senjata terukir sembilan buah batok kepala setan perempuan yang menunjukkan gigi taringnya dengan rambut awut-awutan.

Ukiran itu hidup dan mendatangkan perasaan ngeri bagi siapapun yang melihat.

Meskipun Hoa Si belum pernah menyaksikan tongkat baja tersebut, tapi dari angkatan yang lebih tua, seringkali ia mendengar kisah cerita tentang tongkat itu.

Maka begitu menjumpai bentuk toya yang di maksudkan, ia jadi setengah percaya setengah tidak.

Sinar matapun kembali dialihkan ke wajah Bwee Su-yok.

Saat ini Bwee Su-yok telah menjadi seorang kaucu dari suatu perkumpulan besar, tentu saja ia tak dapat membungkam diri terus menerus.

Gadis itu mengangguk tanda membenarkan, ujarnya dengan suara yang dingin.

"Yaa benar, aku adalah Kiu-im kaucu!"

Mendengar pengakuan tersebut, kembali Hoa Si berpikir dalam hati kecilnya.

"Kalau toh dia adalah Kiu-im kaucu, setelah datang kemari kenapa harus berlalu lagi sambil menetapkan saat pertemuan besok siang? Hal ini rasanya jauh berbeda dengan tindakan-tindakan yang diambil Kiu-im kaucu seperti apa yang sering kudengar!"

Berpikir demikian, sekali lagi dia memberi hormat, ujarnya dengan suara nyaring.

"Oooh.... kiranya kaucu telah berkunjung kemari. Pengetahuanku memang terlalu picik, harap engkau jangan terlalu mentertawakan kepicikanku ini"

Hoa Si memang jauh berbeda bila dibandingkan dengan adiknya.

Sekalipun ada bagian-bagian persoalan yang belum dipahami olehnya, namun ia tak sudi menghilangkan tata kesopanan.

Dengan ketus Bwee Su-yok ulapkan tangannya.

"Engkau tak usah menunjukkan sikap tengik yang menjemukan. Jawab saja pertanyaanku, besok siang kalian bakal datang memenuhi janji atau tidak?"

Hoa Si tersenyum.

"Aku Hoa Si tak berani membuat janji kosong. Apa yang sudah kusanggupi pasti akan kutepati. Besok siang apabila adikku tak dapat menghadiri pertemuan itu, aku pasti akan tiba tepat pada saatnya, harap kaucu berlega hati"

"Bagus sekali, kalau begitu aku akan menantikan kehadiranmu besok tengah hari di tenggara kota Ci-tin"

Selesai berkata, dia lantas mengebaskan ujung bajunya dan melayang turun dari bukit itu.

Dengan cepat manusia berkerudung itu menyusul di belakangnya, tapi beberapa langkah kemudian tiba-tiba ia berpaling sambil bertanya.

"Hoa lotoa, apakah engkau tidak menanyakan pula siapa namaku serta dari mana asal usulku?"

"Berbicara dari tindak tanduk saudara, sudah pasti engkau bukan anak buah dari perkumpulan Kiu-im kau. Memang aku menaruh curiga pada asal-usulmu. Tapi lantaran engkau menutupi wajahmu dengan kain kerudung hitam, jelas tindakan semacam ini menunjukkan betapa tidak terbukanya hatimu. Akupun jadi segan untuk banyak bertanya"

Mendengar jawaban itu, darah yang mengalir dalam tubuh laki-laki berkerudung itu serasa mendidih.

Ia ada maksud untuk turun tangan melancarkan serangan, tapi entah apa sebabnya, kemarahan yang telah memuncak itu dikendalikan kembali sebisanya.

Setelah mendengus khekhi, ia melotot sekejap ke arah Hoa Si dan menjejakkan kakinya ke tanah untuk menyusul Bwee Su-yok yang sementara itu sudah lenyap dari pandangan mata.

Hoa Si memang seorang lelaki jantan yang berjiwa terbuka dan gagah perkasa.

Meskipun tindaktanduk Bwee Su-yok jauh berbeda dengan apa yang didengar ditempat luaran.

Meski ia tahu manusia berkerudung itu adalah seorang manusia yang licik dan busuk hatinya, asal usulnya sangat mencurigakan.

Namun ia tak sudi membuang banyak pikiran dan tenaga untuk merenungi persoalan tersebut.

Setelah bayangan tubuh kedua orang itu lenyap dari pandangan, diapun segera putar badan dan berjalan kembali kedalam ruangan gedung diantara puing-puing yang berserakan.

Waktu itu fajar baru saja menyingsing, sang surya mulai menampakkan cahayanya diufuk sebelah timur.

Sebaliknya rembulan yang tenggelam disebelah barat sudah makin pudar cahayanya, ikut lenyap pula kecemerlangannya dikala hari masih gelap.

Hoa Si yang berada dalam perjalanan kembali mempunyai perasaan yang kusut seperti cahaya rembulan itu, makin lama semakin kalut, makin lama semakin kusut....

Hal ini bisa dimaklumi, bagaimana pun juga Hoa In-liong adalah saudara kandungnya.

Setelah terganggu oleh peristiwa barusan, ia benar-benar tak tahu bagaimanakah keadaan lukanya ketika itu.

Diapun tak tahu apakah kejadian ini bakal mempengaruhi keselamatan jiwanya serta mengakibatkan terjadinya peristiwa diluar dugaan....

Dengan pelbagai pikiran yang menekan perasaannya, pemuda itu mempercepat langkahnya menuju ke ruang gedung dan akhirnya sampai juga dia ditempat tujuan.

Diluar dugaan kenyataan yang berlangsung di depan matanya saat itu ternyata jauh diluar perhitungan rasa tegangnya selama inipun sebetulnya tak berguna.

Sebab bukan saja Hoa In-liong telah menyadarkan diri, bahkan Wan Hong-giok yang sudah tipis harapannya untuk hidup pun sekarang sudah jauh lebih baik keadaannya.

Segagahnya Hoa Si, dia baru menginjak dewasa belum lama.

Kegembiraan yang datangnya dari luar dugaan itu seketika melenyapkan ketenangan dan kekalemannya dihari-hari biasa.

Dengan suatu lompatan lebar dia menerjang maju kedepan, lalu teriaknya dengan wajah berseri.

"Jite, apakah engkau telah sembuh?"

Tiba-tiba ia saksikan Hoa In-liong masih tetap berbaring, sedangkan Coa Wi-wi berlutut disampingnya.

Ini membuat dia jadi tertegun, cepat tubuhnya berhenti melompat dan untuk sesaat berdiri termangu-mangu....

Kiranya Hoa In-liong sadar belum lama, hawa murninya juga belum seberapa putih seperti biasa.

Walaupun begitu, ketika mendengar suara dari Hoa Si, dia lantas meronta bangun, serunya pula dengan nada gembira.

"Toako, kau....kau.... juga telah datang?"

Coa Wi-wi sangat menguatirkan keadaannya. Dia segera membimbing bangun anak muda itu sambil menyela.

"Toako sudah datang semenjak tadi. Lebih baik engkau berbaring saja. Racun ular sakti yang mengeram dalam tubuhmu belum punah sama sekali...."

"Aaaah.... tidak apa-apa". Hoa In-liong tetap ngotot.

"Aku ingin bercakap-cakap dengan Toako"

Sementara itu Hoa Si juga melihat betapa pucatnya raut wajah adiknya ini, dia ikut berjongkok disampingnya sambal menghibur.

"Jite, kau jangan terlalu keras kepala. Racun ular sakti bukan sembarangan racun biasa. Konon ibupun tidak mempunyai keyakinan untuk memunahkannya. Sekarang beristirahatlah dulu, beritahu kepadaku, bagaimana rasanya sewaktu racun itu kambuh?"

Hoa In-liong tidak berani membantah perintah Toakonya, terpaksa dibawah bimbingan Coa Wi-wi dia berbaring kembali ketanah. Setelah mengatur nafas sebentar, pemuda itu baru berkata.

"Berita yang tersiar diluaran tak boleh kita percayai dengan begitu saja, Toako...."

Tiba-tiba Hoa-Si bangkit berdiri. Mukanya berubah menjadi keren, tukasnya dengan nada bersungguh-sungguh.

"Ngaco belo!. Ayah sendiri yang memberitahukan hal ini kepadaku, memangnya aku harus tidak mempercayainya?"

Hoa In-liong ikut terperanjat, tapi dengan cepat ia tenangkan hatinya sambil menyahut.

"Jika ayah yang mengatakan hal itu, tentu saja kita harus mempercayainya. Toako, sebenarnya peristiwa besar apakah yang telah terjadi sehingga ayah pun ikut terbawa sampai ke selatan? Apakah kau mengetahui tentang rahasia ini?"

Ketika dilihatnya pemuda itu jadi sangat penurut. Hoa-Si merasa sedikit tidak tega maka sahutnya.

"Yaaa, hal ini disebabkan...."

Mendadak satu ingatan melintasi dalam benaknya, ia teringat bahwa Hoa In-liong adalah seorang bocah yang ingin menang, seringkali bersikap pura-pura untuk membohongi orang.

Rasa waspadanya segera timbul dan ucapan yang baru dimulaipun segera ditelan kembali, dia awasi wajah pemuda itu tajam-tajam.

Hoa In-liong sangat ingin mengetahui sebab musabab kehadiran ayahnya di wilayah Kang-lam, melihat kakaknya berhenti berbicara, dia jadi sangat gelisah, tanpa sadar serunya.

"Toako, mengapa tidak kau lanjutkan kembali kata-katamu?"

Ditatapnya wajah In-liong dengan tajam, kemudian setelah menghela napas panjang Hoa Si baru menjawab.

"Engkau selalu gemar menempuh jalan bahaya untuk mencari keuntungan. Sampai sekarang watak semacam itu belum juga berubah. Aku.... Aku.... yang menjadi Toako mu merasa kewalahan untuk memusuhi engkau. Daripada tertipu mentah-mentah, lebih baik kuputuskan untuk membungkam dalam seribu basa saja"

Menyaksikan siasat liciknya ketahuan kakaknya, Hoa In-liong jadi tersipu-sipu.

"Toa.... Toako"

Katanya malu.

"Aku betul-betul amat cemas, katakanlah kepadaku...."

"Kau merengek seribu kali juga percuma"

Tukas Hoa Si tegas.

"Ketahuilah setelah engkau menjadi begini rupa, aku yang menjadi Toako-mu juga ikut susah. Bila engkau tak mau menuruti perkataanku lagi, bagaimanakah pertanggungan jawabku terhadap ayah dan ibu nanti? Satusatunya persoalan yang paling penting saat ini adalah menyehatkan dulu badanmu, soal lain untuk sementara waktu kita kesampingkan lebih dulu"

Dia adalah seorang pamuda yang tegas, setelah mengatakan satu selamanya tak pernah berubah jadi dua.

Tentu saja Hoa In-liong mengetahui jelas akan wataknya ini.

Maka setelah siasatnya menghasilkan senjata makan tuan, dan diapun menyadari bahwa memohon secara halus tak akan mendatangkan hasil apa-apa.

Sambil bernapas menekan perasannya anak muda itu berkata lagi.

"Yaaa.... Padahal tiada sesuatu yang terlalu luar biasa. Ketika racun ular sakti itu mulai kambuh aku merasa dalam isi perutku seakan-akan terdapat semut yang sedang berjalan kesana kemari. Rasanya kaku dan gatal sekali hingga sukar ditahan, tapi sekarang aku sudah dapat mengendalikan siksaan itu"

Coa Wi-wi segera menyambung dengan cemas.

"Tidak, tidak mungkin begitu, ketika racun yang mengeram dalam tubuhmu kambuh, engkau segera jatuh tak sadarkan diri. Darimana engkau bisa merasa kalau rasanya gatal sekali? Engkau terlalu sekali, memangnya dianggap kami semua adalah orang goblok yang dapat ditipu mentah-mentah....?"

Menyaksikan kegelisaan orang, kembali Hoa In-liong berkata.

"Yaaa, apa yang diucapkan adik Wi memang benar. Rasa gatal dan kaku memang apa yang kurasakan sekarang. Pada mulanya ketika racun itu mulai kambuh, isi perutku terasa sakitnya bukan kepalang. Seakan-akan ada ular yang banyak sekali jumlahnya menggigiti seluruh isi perutku dan gigitan itu sepertinya tak dilepaskan terus. Cuma aku tidak membohongi dirimu, rasa gatal dan kaku itu sampai sekarang masih terasa. Coba lihatlah, bukankah aku masih dapat merasakannya dengan hati yang tenang?"

Setelah mendengar penjelasan itu, Hoa Si dengan perasaan yang tercekat segera bergumam.

"Gejala yang kau ucapkan persis seperti apa yang diterangkan ayah kepadaku. Aaai.... Akulah yang salah. Coba kalau aku tidak datang terlambat, mungkin....mungkin...."

Bergumam sampai disitu, saking gelisahnya dia berjalan mondar mandir kesana-kemari, ia kelihatan resah sekali. Tiba-tiba terdengar Coa Wi-wi menangis tersedu-sedu.

"Huuh.... huu.... Akulah yang salah"

Keluhnya.

"Akulah yang salah. Coba aku tidak mendengarkan kata-kata Ki-ji dan menghalangi Jiko pergi memenuhi undangan, tentu tak akan terjadi peristiwa ini"

Hoa In-liong belum tahu kalau Coa Wi-wi sebetulnya bukan seorang "cowok"

Melainkan adalah seorang "cewek. Maka ketika mendengar dia menangis, pemuda itupun berkerut kening.

"Aduuh....! Adik Wi, kenapa kau menangis lagi?"

Keluhnya sambil menghela nafas.

"Kau tidak salah, sebab kau telah berusaha dengan segala ke raampuan untuk menghalangi niatku. Akulah yang keliru karena aku tak mau menuruti peringatanmu. Karena aku yang ngotot datang kesitu untuk memenuhi janji, maka jika mau mencari siapa kambing hitamnya, maka akulah yang salah. Aku yang keliru. Siapa suruh aku terlalu gagah dan tolol. Siapa suruh aku bodoh sampai terjebak ke dalam perangkat mereka.... Sudahlah adik Wi, ayoh jangan menangis lagi"

Begitulah, selama ribut-ribut dan perselisian itu berlangsung dengan serunya, Wan Hong-giok yang bersandar disudut tembok hanya mengikutinya dengan membungkam.

Sekalipun demikian, diapun tahu bahwa Hoa In-liong bisa terkena racun Sin-hui-si-sim (ular sakti menggigit hati) adalah lantaran disergap secara cilik oleh orang orang Mo-kauw, atau dengan perkataan lain lantaran gara-gara janjinya itulah mengakibatkan si anak muda itu terluka parah.

Makin dikenang ia semakin sedih, sehingga akhirnya air matapun tak terbendung, sambil menangis terisak keluhnya.

"Akulah.... Akulah yang menjadi gara-gara.... akulah yang menjadi gara-gara. Tidak seharusnya kuajak Hoa kongcu untuk berjumpa dibukit Yan-san.... Sekarang.... oooh, ia terluka karena aku.... huu....huu...."

Ketika Hoa In-liong mendengar bahwa Wan Hong-giok bisa berbicara lagi, legalah hatinya.

"Nona Wan kah itu?"

Serunya cepat.

"Bagaimana dengan lukamu? Tidak apa-apa toh?"

Sebelum roboh tadi, pemuda itu sempat, menyaksikan bagaimana mengenaskannya keadaan Wan Hong-giok, terutama binatang-binatang beracun yang begitu banyaknya bermangkal disekujur tubuh si gadis yang telanjang.

Dan sekarang, dia harus berbaring.

Ia tak dapat menyaksikan keadaan nona tersebut.

Yang bisa didengar hanya suaranya yang tersendat-sendat dengan nada yang lirih dan lemah.

Sebagai orang persilatan ia tahu gejala semacam itu menunjukkan bahwa hawa murninya sudah mengalami kerusakan hebat atau dengan perkataan lain, luka dalam yang dideritanya cukup parah.

Betapa sedihnya Wan-Hong-giok mendengar pertanyaan Hoa In-liong yang begitu hangat dan sangat memperhatikan keadaannya itu.

Apalagi bila teringat akan musibah yang telah menimpa dirinya, bagaikan disayat-sayat hatinya.

Makin dipikir ia merasa makin sedih, makin menangis suara tangisnya makin keras, akhirnya sambil memukul-mukul dada sendiri keluhnya dengan suara yang mengibakan hati.

"Aku.... Aku.... hanya seorang cacad. Akulah yang mencelakai dirimu. Oooh.... baik-baiklah kau jaga diri"

Tiba-tiba dengan menghimpun sisa kekuatan yang dimilikinya ia menumbukkan kepalanya di atas dinding tembok disisinya.

Hoa In-liong bukan orang bodoh, tatkala mendengar keluhan sang dara yang terakhir tadi, ia segera tahu bahwa Wan Hong-giok mempunyai maksud untuk bunuh diri.

Sementara hatinya amat terperanjat, Ki-ji yang berada disampingnya sudah menjerit kaget.

"Jangan nekad!"

Menyusul kemudian Hoa Si mendepak-depakkan kakinya ditanah seraya menghela nafas panjang berulang kali.

"Aaai....! Tolol!. Semuanya tolol! Semut saja ingin hidup seribu tahun. Apalagi kamu semua ada manusia memangnya kalian anggap nyawa manusia itu boleh dianggap mainan? Aaai.... Cuma urusan sepele saja sudah berani bermain diujung tanduk. Goblok! Semuanya goblok! Ki-ji....cepat bangunkan nona Wan"

Yaa, pada hakekatnya peristiwa itu sama sekali diluar dugaan, bukan saja mengejutkan semua orang, sampai-sampai pemuda yang jarang bicara dan selalu serius inipun ikut-ikutan memaki.

Baru pertama kali ini Hoa In-liong merasakan ketegangan yang luar biasa.

Ia baru bisa menghembuskan nafas lega setelah Toakonya menegur serta memerintahkan Ki-ji untuk membangunkan Wan Hong-giok.

Sebab dari perkataan itu dia yakin bahwa si nona selamat dari cengkeraman elmaut.

Diapun berusaha meronta bangun dan duduk.

Sekarang perhatian semua orang ditujukan kesatu arah yang sama.

Tampaklah Wan Hong-giok sedang berjalan mendekati mereka dibawah bimbingan Ki-ji.

Mukanya tampak layu, rambutnya terurai awut awutan.

Sepasang bahunya bergoncang keras menahan isak tangis.

Bagaikan air bah, air matanya meleleh keluar membasahi semua wajahnya.

Setibanya dibadapan semua orang, kontan Coa Wi-wi mengomel dengan kening berkerut.

"Enci Wan, bagaimana sih kamu ini? Kenapa tidak kau buka jalan pikiranmu? Kenapa kau nekad untuk melakukan perbuatan tolol seperti itu? Jika kau pandang begitu rendah soal kehidupanmu, bukankah berarti sudah kau sia-siakan bantuan tenagaku selama ini bagimu? Apalagi Toako sudah...."

Tentu saja bila ucapan itu dilanjutkan, maka akan terdengarlah kata-kata sebangsa "sia-sialah pemberian obat penawar racun dan obat mustika untukmu"

Dan sebagainya....

dan sebagainya....

Untunglah Hoa Si bertindak cekatan, sebelum kata-kata semacam itu sempat memberondong keluar ibaratnya tembakan senjata otomatis, si anak muda itu sudah ulapkan tangannya sambil menukas.

"Jangan terlalu menyalahkan dia. Maklumlah, kadang kala pikiran orang memang bisa menjadi cupat lalu mata gelap. Untung Ki-ji cukup cekatan sehingga tak sampai terjadi tragedi yang tidak diharapkan. Tapi aku percaya kejadian semacan ini tak akan terulang untuk kedua kalinya"

Diapun berpaling kearah Wan Hong-giok dan menambahkan.

"Duduk dan istirahatlah dulu nona Wan. Sebentar aku hendak bercakap-cakap denganmu"

Air mata jatuh berlinang dengan derasnya membasahi wajah Wan Hong giok.

Dengan masih membungkam dia manggut-manggut lalu duduk kembali ke lantai.

Sementara itu Hoa In-liong menatap diri Wan Hong-giok dengan sepasang mata yang terbelalak lebar.

Mukanya kaget, tercengang dan sangsi seakan-akan Wan Hong-giok sudah berubah jadi orang lain yang tidak dikenalinya lagi.

Yaa, pada hakekatnya Wan Hong-giok memang telah berubah.

Ia telah berubah menjadi manusia lain yang belum dijumpai sebelumnya.

Kalau dulu Wan Hong giok memiliki badan yang montok, padat berisi dengin muka yang cantik bak bidadari.

Dengan gerak-gerik yang lincah, hangat seperti api, yang mana seakan-akan siapapun yang mendekatinya akan menjadi leleh karena kepanasan, maka keadaannya sekarang justru merupakan kebalikan dari kesemuanya itu.

Kobaran api kehangatannya yang menyala sekarang telah padam, tubuhnya yang montok, padat berisi kini tinggal kulit pembungkus tulang.

Ibaratnya sekuntum bunga mawar yang baru mekar, tiba-tiba terendam didalam gudang salju, seketika itu juga jadi layu dan kaku.

Padahal, sebagaimana kita ketahui Hoa In-liong adalah seorang pemuda yang romantis dan gampang terpikat oleh kecantikan perempuan.

Tentu saja ia menjadi beriba hati, menjadi kasihan setelah menyaksikan keadaan Hong-giok sekarang ini.

Sekalipun rasa kasihan itu bukan lantaran kecewa tapi betul-betul timbul dari hati kecilnya.

Ditatapnya gadis itu dengan wajah termangu, tiba-tiba hatinya jadi kecut.

Pemuda ini betul-betul tak dapat mengendalikan emosinya lagi.

"Nona Wan, bagaimanakah perasaanmu sekarang?"

Tanyanya dengan penuh perhatian.

"Apakah lukamu telah sembuh kembali?"

Kalau "Hong keng"

Dianggap sebagai "Be Liang"

Maka begitulah keadaannya.

Semakin kuatir dan penuh perhatian nada pertanyaan si anak muda itu, semakin pedih perasaan Wan Hong-giok dibuatnya, Dia mengira rasa cinta Hoa In-liong terhadapnya sudah amat mendalam sekali, hingga peristiwa tersebut membuat gadis ini bertambah kecewa, bertaubat, menyesal dan tentu saja kesedihan yang tak terkendalikah.

Terhadap perhatian orang, sering kali perhatian yang bersifat persahabatan disalah taksirkan sebagai perhatian yang bersifat cinta.

Ini terbukti dari kejadian yang dialami Wan Hong-giok dengan Hoa In-liong.

Perlu diterangkan disini, meski kurang baik nama Wan Hong-giok dalam dunia persilatan, tapi sewaktu dia bertemu dengan Hoa In-liong di kota Lok-yang tempo hari, gadis itu masih berstatus sebagai gadis perawan.

Sejak berpisah di Lok-yang, Wan Hong-giok selalu terkenang akan pemuda itu atau dengan perkataan lain ia telah jatuh cinta.

Sayang nasibnya kurang mujur, selaput daranya harus direnggut di tangan iblis dari Mo-kauw yang mengakibatkan kesuciannya ternoda.

Setelah terjadi peristiwa tersebut, beberapa kali ia sudah berniat untuk menghabisi nyawa sendiri.

Tapi ketika ia tahu bahwa orang-orang Mo-kauw mempunyai rencana busuk yang mempengaruhi keselamatan umat persilatan pada umumnya dan keselamatan keluarga Hoa Inliong pada khususnya, gadis ini pun jadi nekad.

Ia berusaha tetap mempertahankan hidupnya untuk menolong sang kekasih dari ancaman maut, maka dibuatnya perjanjian dibukit Yan-san.

Yaaa, demikianlah kalau orang salah tafsir.

Siapa tahu Hoa In-liong yang sudah dihalangi niatnya oleh banyak orang, akhirnya terkena juga perangkap orang-orang Mo-kauw yang mengakibatkan ia keracunan Sin-hui atau racun ular sakti.

Kesemuanya itu sudah membuat hatinya cukup kecewa, apalagi mendapat perhatian lagi dari Hoa In-liong.

Akibatnya perasaan "simpatik"

Disalah tafsirkan sebagai perasaan "cinta"

Sebetulnya dua persoalan tersebut merupakan persoalan yang berbeda.

Tapi kalau kita suruh Wan Hong-giok yang sudah terlanjur jatuh cinta menyadari akan perbedaan itu, boleh dibilang ibaratnya orang ingin terbang ke langit, bukan sukar saja malah sama sekali tak mungkin.

Kalau tidak sulit, tak nanti gadis itu sampai mengeluh akan dirinya yang cacad dan bermaksud menghabisi nyawa sendiri.

Waktu itu ia duduk dengan badan gemetar, air matanya seperti hujan gerimis, mengucur keluar tiada habisnya.

Bibir gemetar seperti mau bicara, tapi sepotong kata pun tak mampu diutarakan.

Akhirnya setelah menghela napas sedih, ia menutupi wajah sendiri dengan kedua belah tangan, kemudian menangis tersedu-sedu.

Hoa In-liong yang romantis memang suka main perempuan, sayang ia tak tahu bagaimanakah perasaan Wan Hong-giok saat ini.

Ketika dilihatnya gadis itu menangis, pemuda kita lantas mengira kalau si nona jadi sedih lantaran lukanya yang parah atau mungkin terkenang kembali akan musibah yang menimpa dirinya.

Timbullah keinginan hatinya untuk menghibur si rona itu dengan beberapa patah kata.

"Jite, jangan kau ganggu diri nona Wan lagi"

Tiba tiba Hoa Si menegur dengan kurang sabaran "Kau sendiri juga perlu istirahat, ayoh baik-baik atur pernapasanmu, jangan sampai racun ular itu kambuh semakin parah!"

"Jangan kuatir Toako, aku masih tahu diri"

Sahut Hoa In-liong sambil manggut-manggut.

"Tahu diri apa!"

Gerutu Coa Wi-wi.

"Kemarin alasannya tidak tenang, sekarang toh enci Wan sudah tidak apa-apa, kenapa tidak kau gunakan kesempatan ini untuk menjajal sim-hoat istimewamu untuk mengusir racun jahat dari tubuhmu? Mumpung Toako berada disini, ayoh cepat dicoba!"

Wan Hong-giok yang membungkam tiba-tiba ikut mendongak, dengan wajah yang basah oleh air mata katanya pula.

"Hoa kongcu, aku yang rendah tak berani merisaukan hatimu dan tak pantas membuat hatimu risau. Bila kongcu tidak tenang hatinya lantaran aku atau kongcu menunda waktu sedemikian untuk mengusir sisa racun lantaran aku, aku yang rendah betul-betul merasa tak terkirakan besarnya dosaku"

"Tidak.... tidak.... kau jangan berkata begitu"

Cepat Hoa In-liong gelengkan kepalanya berulang kali.

"Demi keselamatan dunia persilatan, demi kepentingan keluarga Hoa kami, kau telah menjadi korban ditangan musuh. Jangan toh baru menunda waktu sedemikian, sekalipun Hoa Inliong harus mengorbankan jiwa demi dirimupun aku juga rela!"

"Betul!"

Sambung Coa Wi-wi.

"Apakah kau masih dapat mempertahankan diri. Enci Wan? Kalau tidak ada halangan apa-apa, harap terangkanlah rencana busuk apakah yang telah dipersiapkan orang-orang Mo-kauw dari Seng sut pay itu. Sebelum kau terangkan kesemuanya itu, mungkin Jiko tak dapat menenangkan hatinya"

Pada hakekatnya, dengan ucapan tersebut gadis itu sudah memberi penjelasan yang cukup alasan "simpatik"

Hoa In-liong. Yaa sayang Wan Hong-giok sudah terlalu terpengaruh oleh kobaran cintanya, bukan saja tidak menjadi sadar, ia malah terperosok lebih dalam.

"Hoa kongcu"

Katanya kemudian sesudah merenung sebentar.

"Yang penting racun dalam tubuhmu harus disingkirkan dulu, tapi kalau kau ingin cepat tahu, yaa, baiklah aku katakan secara ringkasnya saja"

Setelah berhenti sebentar, dia berpaling kearah Hoa Si dan bertanya kembali.

"Toa kongcu dalamkah ikatan dendam ayahmu dengan kaucu dari Mo-kauw?"

Hoa Si mengangguk.

"Yaa, aku rasa begitu, sebab sewaktu mencari harta karun dibukit kiu-cisan, Mo-kauw kaucu memang dibikin keok oleh ayahku"

Pelan-pelan Wan Hong-giok alihkan pandangan matanya ke wajah Hoa In-liong.

"Bila ditinjau dari pembicaraan mereka, tampaknya mereka juga punya dendam dengan ibumu?"

"Aku kurang begitu tahu"

Hoa In-liong gelengkan kepalanya.

"Cuma gwakong (engkong luar) ku adalah ketua Sin Ki-pang dimasa itu. Beliau ikut pula dalam peristiwa penggalian harta karun dibukit Kiu-ci-san. Jadi bila dikatakan ada dendam, maka besar kemungkinan kalau dendam itu dibuat pada masa tersebut"

"Aaaai.... Berbicara soal rencana busuk mereka, pada hakekatnya semua siasat mereka tertuju untuk memusuhi ayah ibumu. Rupanya rasa benci Mo-kauw kaucu terhadap ayah ibumu sudah merasuk sampai ketulang sumsum. Tapi lantaran mereka sadar bahwa kepandaian yang mereka miliki masih bukan tandingan kedua orang tuamu, maka diambilnya keputusan untuk melaksanakan operasi pembalasan dendamnya secara diam-diam. Selain menghimpun kekuatan dan melatih anak buahnya untuk lebih tekun berlatih ilmu, mereka juga memelihara pelbagai jenis binatang beracun untuk mempersenjatai diri. Selain itu merekapun berusaha menangkapi sandera-sandera yang akan mereka bunuh sebanyak-banyaknya. Aku rasa kekuatan seperti ini cukup mengerikan hati"

"Enci Wan, soal semacam itu tak perlu dibicarakan, tolong bicara saja tentang rencana busuk mereka!"

Wan Hong-giok mengangguk lirih.

"Secara garis besarnya, rencana busuk mereka dapat dibagi menjadi rencana secara terang-terangan dan rencana secara tersembunyi. Selain itu dapat dibagi pula menjadi setengah terang dan setengah sembunyi. Yang termasuk rencana secara tersembunyi, boleh dibilang sudah dilaksanakan semenjak sepuluh tahun berselang"

"Sepuluh tahun berselang....?"

Hoa In-liong terkesiap.

"Lalu bagaimana dengan rencana mereka yang terang terangan?"

"Rencana mereka yang termasuk terang-terangan berpengaruh besar atas keselamatan seluruh dunia persilatan di daratan Tionggoan. Rencana tersebut baru dilaksanakan setelah soal "

Pembalasan dendam"

Terlaksana. Mereka hendak menguasai seluruh daratan Tionggoan dan melakukan pembantaian serta pengejaran secara besar-besaran terhadap musuh mereka"

"Hmmm....! Besar amat ambis mereka!"

Jengek Coa Wi-wi sambil mendengus dingin.

"Sayang mereka terlampau tak tahu kekuatan sendiri!"

"Aaaai.... Tak bisa dikatakan begitu"

Wan Hong-giok menghela nafas sedih.

"Konon mereka berhasil mengendalikan sekelompok Bu-lim cianpwe yang berilmu tinggi untuk dijadikan penyerang-penyerang depan mereka. Jika benar-benar akan terjadi hari demikian. Payah.... payah.... hancurlah seluruh dunia persilatan kita"

"Waaah.... Masa sampai terjadi begitu?"

Hoa In-liong rada berubah wajahnya.

"Tahukah nona Wan, manusia-manusia macam apa saja yang berhasil mereka kuasai?"

Wan-Hong-giok menggeleng.

"Soal ini bersifat sangat rahasia, jangan toh aku, Hong mereka sendiripun kurang jelas"

"Aaah.... Omongan kosong! Gurauan mungkin....!"

Gumam Coa Wi-wi sambil gelengkan kepalanya berulang kali, rupanya ia tidak percaya.

Wan Hong-giok berpaling ke arah Coa Wi-wi.

Bibirnya bergetar seperti hendak menerangkan sesuatu, tapi niat tersebut kemudian dibatalkan dengan begitu saja.

"Nona Wan, tolong terangkan lebih lanjut, apa yang dimaksudkan dengan rencana setengah terang setengah gelap mereka? "

Sela Hoa Si dengan perasaan ingin tahu. Wan Hong-giok berpaling.

"Rencana yang sedang mereka laksanakan saat ini adalah rencana setengah terang setengah sembunyi. Diantaranya yang termasuk setengah terang adalah manusia-manusia macam Hong Seng sekalian yang membentuk grup-grup secara terpisah dengan kelompok yang terdiri dari tiga sampai lima orang anggota Mo-kauw didampingi seorang sampah masyarakat dari bangsa Han. Mereka semua menyusup kedaratan Tionggoan dengan maksud pertama, menyelidiki sampai dimanakah kekuatan yang sesungguhnya dari umat persilatan di daratan Tionggoan ini. Kedua. Merekapun berusaha mencari kesempatan untuk menawan kalian bersaudara, agar dikemudian hari mereka dapat menggunakan kalian sebagai sandera, apabila terbukti bahwa kepandaian mereka masih tak mampu menandingi orang tua kalian. Aku dengan grup-grup semacam itu mencapai jumlah sebaryak tiga sampai empat puluh grup"

Hoa Si cuma mangut-manggut saja ketika mendengar keterangan tersebut, dia membungkam dan tidak memberi komentar.

Tiba-tiba Wan Hong-giok menghela napas setelah berbicara sampai disitu.

Sesudah berhenti sebentar, ia baru berkata lebih jauh.

"Kalau dibicarakan sesungguhnya, maka yang paling menakutkan justru adalah rencana setengah gelap mereka. Secara diam-diam mereka telah berhasil menangkapi banyak jago persilatan yang tak mau tunduk kepada mereka. Dengan jiwa mereka memaksa anak murid atau putra putri tawanan mereka untuk melakukan pembalasan dendam terhadap anggota keluarga Hoa kalian. Dan ketahui dengan pasti ada sebagian kekuatan yang berhasil mereka himpun dengan cara seperti ini, sekarang kelompok kekuatan tersebut sudah mulai melaksanakan operasinya. Aaai.... Coba bayangkan sendiri, keadaan kita berada di tempat terang sedang musuh ada di tempat gelap, apakah teror semacam ini tidak kita kuatirkan?"

"Oooh....jadi Si-Nio dan majikanmu juga kena dipaksa oleh pihak Mo-kauw untuk membalas dendam kepadaku"

Pikir Hoa In-liong dengan cepat.

"Jadi kalau begitu, keputusanku untuk membantu mereka berdua merupakan suatu tindakan yang bersifat demi kepentingan umum maupun demi keuntungan pribadi,"

Dihati ia berpikir demikian, diluaran segera jawabnya.

"Ehmmm.... ditinjau dari rencana Mo-kauw kaucu yang begitu sempurna dan tersusun rapi, dapat kita ketahui betapa licik, buas dan busuknya manusia tersebut. Aku Hoa Yang pasti akan mencari kesempatan untuk berkelahi dengannya. Nona Wan apalagi yang sempat kau dengar?"

Betapa cemas dan gelisahnya Wan Hong-giok ketika dilihatnya pemuda itu sama tak acuh terhadap ancaman yang datang.

Meski begitu si nona juga rikuh untuk memperlihatkan kegelisahannya, maka sesudah merenung sebentar sahutnya dengan sedih.

"Kentongan pertama kemarin dulu malam seorang laki-laki berkerudung datang menjumpai Hong Seng. Orang itu mengakui dirinya sebagai anak buah Hian-beng kau. Setelah ia pergi, Hong Seng lantas menurunkan perintah untuk membekuk diriku dan menyiksanya dengan penyiksaan paling keji. Bila kubayangkan kembali semua kejadian tersebut, pastilah sudah bahwa antara dua perkumpulan itu tentu sudah bersekongkol"

"Macam apakah laki-laki itu?"

Tanya Hoa In-liong sambil megerdipkan matanya.

"Dan siapa pula namanya? Apakah nona pernah menyaksikan pula orang-orang Kiu-Im kau berhubungan dengan mereka?"

"Orang itu berperawakan sedang, langkah tubuhnya tegap dan gagap, tampaknya ia belum terlampau tua. Aku tak tahu siapa namanya. Mengenai orang-orang Kiu-im kau, sampai detik terakhir aku tak pernah menjumpainya...."

Tiba-tiba Hoa Si menjura dan memberi hormat.

"Terima kasih banyak nona atas keteranganmu"

Serunya kemudian.

"Aku harus buru-buru turun gunung hingga tak bisa menemani engkau lebih lama lagi. Jika kau membutuhkan bantuan kami, silahkan dirundingkan dengan adikku, aku pasti akan berusaha dengan sepenuh tenaga"

Lalu ia berpaling kepada Hoa In-liong dan berpesan lebih jauh.

"Jite, temanilah rona Wan bercakap-cakap. Cuma ilmu silat yang dimiliki nona Wan sudah punah, badannya jadi sangat lemah dan tak kuat berbicara terlalu lama. Kau sendiri juga tak boleh terlalu keras kepala, bila betul-betul kau miliki simhoat tenaga dalam yang istimewa, cepatlah coba di praktekkan"

Sejak dipengaruhi racun ular sakti, ketajaman mata Hoa In-liong sangat berkurang.

Dia tak tahu kalau ilmu silat yang dimiliki Wan Hong-giok telah punah.

Maka ketika mendengar hahwa ilmu silat yang dimiliki Wan Hong-giok sudah musnah, ia jadi kaget dan setengah percaya setengah tidak.

Cepat ia berpaling dan diamatinya wajah si nona dengan seksama.

Lantaran begitu, ia jadi tidak mendengar apa yang selanjutnya diucapkan Hoa Si.

Coa Wi-wi yang secara tiba-tiba melihat Hoa Si berlalu dengan terburu-buru justru dia yang jadi curiga, maka sebelum pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, dengan gelisah ia lantas berseru.

"Toako, ada urusan apa yang membuat kau terburu-buru?. Kenapa kau tergesa-gesa turun gunung?"

Hoa Si memeriksa dulu keadaan cuaca, kemudian sambil alihkan pandangan matanya ia menjawab.

"Gi-heng sudah mengadakan janji dengan Kiu-im kaucu di kota Ci-tin. Padahal sekarang sudah mendekati tengah hari. Bila tidak segera berangkat, aku kuatir kalau sampai mengingkari janji. Adik Wi, setelah aku pergi nanti, tolong aturlah perlindungan atas Jite dan nona Wan"

Begitu mendengar disinggungnya soal "Kiu-im Kaucu"

Hoa In-liong merasakan sekujur tubuhnya bergetar keras ia berpaling dengan wajah tercengang.

"Apa?"

Demikian teriaknya dengan gelisah.

"Toako ada janji dengan Kiu-im kaucu? Ia menunggu dikota Ci-tin?"

"Yaa benar"

Hoa Si mengangguk tanda membenarkan.

"Sebelum fajar tadi, Kiu-im kaucu dan seorang manusia berkerudung telah munculkan diri disini, Ia berpesan agar aku ajak kau bertemu muka di kota Ci-tin"

"Ka.... kalau begitu, aku harus ikut"

Seru Hoa In-liong sambil meronta dan berusaha bangun.

"Tidak, kau tak boleh pergi "cepat Coa Wi-wi membimbingnya sambil berseru dengan cemas.

"Sebelum racun ular yang bersarang ditubuhmu berhasil dipunahkan, apa gunanya engkau pergi?"

"Kau tak tahu, perempuan itu terlalu sombong, dingin dan kukoay"

Teriak Hoa In-liong cemas.

"Padahal Toako terlalu jujur dan polos...."

"Jite, aku toh baru saja menyuruh engkau jangan terlalu mencari menangnya sendiri, apa kau sudah lupa? "

Tukas Hoa Si dengan wajah yang amat serius.

"Tentang soal ini...."

Hoa In-liong tergagap dan berusaha memberi penjelasan. Tapi sebelum kata-kata tersebut berkelanjutan, Hoa Si telah menukasnya kembali seraya berkata.

"Tak perlu kau katakan lagi, sekalipun Kiu-im kaucu itu dingin, sombong dan kukoay, aku yakin masih sanggup untuk menghadapinya. Bila kau masih belum melupakan nasehat keluarga, lebih baik beristirahatlah disini dergan hati yang tenang, tunggu sampai aku kembali"

"Nasehat keluarga "

Dua patah kata itu sangat berbobot.

Seketika itu juga Hoa In-liong berdiri terbelalak dan untuk sesaat lamanya tak mampu berkata-kata lagi.

Dalam pada itu, selesai mengucapkan kata-katanya, Hoa Si pun berseru kepada Wan Hong-giok.

"Baik-baiklah jaga dirimu nona!"

Lalu kepada Coa Wi-wi dia berkata pula.

"Merepotkan nona untuk melindungi mereka!"

Kemudian dengan langkah lebar dia tinggalkan kuil bobrok tersebut dan turun gunung dengan cepatnya.

Sepeninggal Hoa Si, Hoa In-liong masih tetap duduk tak berkutik bagaikan sebuah patung arca.

Untuk memecahkan kesunyian yang mencekam, Coa Wi-wi segera memerintahkan Ki-ji untuk mengambil rangsum kering dan dibagikan kepada beberapa orang itu.

Selesai bersantap, untuk mencari bahan pembicaraan, maka berkatalah Coa Wi-wi.

"Enci Wan, kesemuanya ini adalah gara-gara ketidak becusan siau-moay sehingga mengakibatkan kau kehilangan ilmu silatmu, tentunya kau tak menyalahkan aku bukan?"

Hoa In-liong yang mendengar ucapan tersebut jadi tertegun, dia lantas berpaling dan memandang kearahnya dengan termangu.

Tapi dara itu pura-pura tidak tahu, dengan matanya yang jeli dia menatap wajah Wan Hong-giok menyahut.

"Bila hian-moay berkata demikian, itu sama artinya dengan sengaja menyindir aku. Berkat bantuan kalian majikan pembantu dua oranglah nyawaku berhasil diselamatkan. Untuk itupun aku belum mengucapkan terima kasihku. Budi kebaikan tersebut sudah terukir dalamdalam dilubuk hatiku dan sepanjang masa tak akan lupakan kembali. Bila diam-diam aku menyalahkan diri hian-moay lantaran ilmu silat musnah, bukankah aku ini lebih rendah dari seekor binatang!"

Maksud Coa Wi-wi bukan begitu, tapi ia pura-pura berseri, katanya lagi sambil tertawa.

"Kalau memang begitu, siau-moay pun berlega hati. Enci Wan, badanmu sangat lemah...."

Tapi sebelum ia sempat melanjutkan kata-katanya, mendadak Hoa In-liong menuding kearahnya sambil berseru.

"Aaah.... Sekarang aku sudah ingat, bukankah kau adalah...."

Suara "Aaah!"

Itu diucapkan sangat keras, baik Coa Wi-wi maupun Wan Hong-giok sampai tertegun dibuatnya.

Coa Wi-wi angkat kepalanya, tapi ketika dilihatnya Hoa In-liong sedang menuding kearahnya, ia lantas berseru dengan suara dalam.

"Kau.... Kau apa? Aku mengira selamanya kau tak dapat buka suara lagi!"

Hoa In-liong sama sekali tidak menggubris atas sikap marah-marah dari gadis itu, serunya lebih jauh.

"Rupanya kau adalah adik perempuan dari saudara Cong-gi. Haa.... haa.... haa.... Mirip betul penyamaranmu!"

Sambil berkata ia lantas menyambar ikat kepala yang dikenakan oleh Coa Wi-wi.

Begitu ikat kepalanya terlepas, rambut yang hitam dan panjangpun terurai kebawah.

Mula-mula Coa Wi-wi rada tertegun, tapi kemudian mukanya berubah jadi merah padam.

Ia jadi malu bercampur gelisah, tangannya mencakar sana sini, sedang badannya segera dijatuhkan kedalam pelukan Hoa In-liong.

"Kau.... Kau...."

Serunya manja.

Hoa In-liong terbahak-bahak, sepasang tangannya segera direntangkan untuk menangkap sepasang lengannya.

Pemuda ini adalah seorang yang berpikiran moderen dan tidak terlampau terikat olah peraturan.

Penemuan tersebut sangat menggirangkan hatinya.

Seluruh awan mendung yang menyelimuti benaknya juga tersapu tanpa bekas.

Ia sudah bersiap-siap untuk menggoda Coa Wi-wi habishabisan agar suasana jadi riang.

Siapa tahu selama racun ular sakti masih mengeram dalam tubuhnya, tenaga yang ia miliki jauh dibawah garis normal.

Ketika Coa Wi-wi menubruk ke dalam tubuhnya, ia tak kuat menahan berat badan gadis itu, diiringi teriakan kesakitan robohnya pemuda itu ke atas tanah.

Teriakan tersebut sangat mengejutkan Coa Wi-wi.

Cepat ia meronta dan bangkit berdiri.

Dalam gugupnya ia tak mengira kalau sewaktu jatuh badannya dalam posisi miring.

Maka begitu dia meronta dan berusaha bangun, bukan saja gadis itu gagal untuk bangkit berdiri, malahan tubuh Hoa In-liong tertindih dibawah tubuhnya.

"Adik Wi!"

Wan Hong giok segera berseru dengan cemas.

"Racun ular sakti yang mengeram di tubuh Hoa kongcu belum punah. Kau tak boleh sembarangan bergerak, hati-hati kalau sampai melukai dirinya"

Masih mendingan kalau ia tidak berteriak.

Mendengar teriakan tersebut, Coa Wi-wi semakin malu dibuatnya.

Kalau bisa sekali depak dia ingin mendepak perempuan itu hingga terlempar dari hadapannya.

Ki-ji cepat bertindak dengan membangunkan Hoa In-liong dari atas tanah, sementara Coa Wi-wi sendiripun cepat-cepat menekan permukaan tanah dengan tangannya dan melompat bangun.

"Kau.... kau.... kau telah menganiaya diriku"

Serunya sambil membenahi rambutnya yang kusut. Tiba tiba ia putar badan, lalu menutup mukanya dengan kedua belah tangan dan menangis tersedu.

"Aku.... aku.... masa.... masa.... aku...."

Hoa In-liong gelagapan setengah mati.

"Apa lagi yang hendak kau katakan? Kalau bukan kau aniaya diriku, lalu apa namanya?"

Dengan gemas Coa Wi-wi mendepak-depakkan kakinya keatas tanah.

"Aku.... aku.... betul-betul tidak kuat menahan badanmu.... hian....hian.... moay"

Tiba-tiba Coa Wi-wi berhenti menangis dan putar badannya menghadap kearah pemuda itu.

"Baik! Sekarang katakanlah, kau harus memberi suatu keadilan...."

Belum habis perkataan itu diucapkan, tiba-tiba matanya terbelalak lebar, mulutnya yang melongo tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Rupanya setelah mengalami perontaan tadi, Hoa In-liong kehabisan tenaga.

Waktu itu ia berada dalam keadaan yang mengenaskan.

Sepasang alis matanya bekernyit, bibirnya gemetar, otot-otot hijau pada jidatnya pada menongol keluar, kulit wajahnya mengejang.

Jelas racun ular sakti yang mengeram dalam tubuhnya telah kambuh dan sekarang ia sedang merasakan suatu siksaan yang luar biasa.

Wan Hong-giok mesti tak dapat menyaksikan perubahan wajahnya, tapi menyaksikan sikap Coa Wi-wi yang tertegun lantaran kaget, hatinya kontan saja jadi kecut.

Jilid 22 SEDIKIT banyak usia Wan Hong-giok jauh lebih besar dibandingkan Coa Wi-wi.

Apalagi dia adalah seorang perempuan yang sudah berpengalaman dalam pelbagai peristiwa besar.

Maka walaupun dihati ia gugup dan terkejut, perasaan tersebut masih dapat ia kendalikan secara baik.

Pelan-pelan ia bangkit berdiri, lalu maju ke muka.

Dihampirinya Coa Wi-wi dan dibelainya bahu dara itu.

"Adik Wi tak boleh terlalu sedih"

Hiburnya dengan muka serius.

"Caramu begini bukan saja tak ada manfaatnya bagi keadaan Hoa kongcu, justru amat merugikan kesehatan badanmu sendiri. Ayoh bangun, mari kita rundingkan, siapa tahu kalau kita bisa temukan cara yang baik untuk mengatasi keadaan tersebut"

"Tapi.... Tapi dia tak mau turuti perkataan kita!"

Keluh Coa Wi-wi sambil angkat kepalanya, air mata masih berlinang membasahi seluruh wajahnya. Wan Hong-giok mengangguk lirih.

"Maksud adik Wi, Hoa kongcu enggan mengerahkan tenaganya untuk mengusir sari racun dari tubuhnya?"

Coa Wi-wi sesenggukan menahan isak tangisnya yang kian menjadi.

"Ia sendiri yang bilang, katanya racun tersebut mungkin bisa didesak keluar dengan menggunakan suatu jenis sim-hoat tenaga dalam yang istimewa, tapi.... tapi...."

Belum selasai perkataan itu, tiba-tiba Hoa In-liong berbisik dengan suara yang sangat lemah.

"Bi....biarlah aku....akan.... mencobanya...."

Mendengar ucapan itu, dua orang dara tersebut sama-sama jadi tertegun dan melongo. Selang sesaat kemudian, Coa Wi-wi telah tersenyum kembali, dia lantas menggerutu.

"Aaah.... kamu ini, setan binal!"

Seraya menggerutu dia lantas ulapkan tangannya, memberi tanda kepada Ki-ji untuk mengundurkan diri sedang dia sendiri segera melompat bangun dengan enteng.

Lalu setelah membisikkan sesuatu disisi telinga Wan Hong-giok, diapun mundur dan menyingkir kesamping.

Jelas ia telah memikul tanggung jawab sebagai pelindung dari Hoa In-liong selama pemuda itu melakukan semedinya.

Walaupun demikian, sepasang matanya yang jeli menatap wajah Hoa In-liong lekat lekat, rupanya ia sedang mengawasi perubahan wajah sang pemuda dan berusaha memberikan penilaiannya.

Waktu Coa Wi-wi dan Wan Hong-giok berdiri beriring Coa Wi-wi di depan dan Wan Hong-giok di belakang.

Dengan begitu Wan Hong-giok tak dapat menyaksikan perubahan wajah dari nona tersebut, tapi ia dapat mendengar detak jantungnya yang amat keras.

Selang sesaat kemudian, detak jantung Coa Wi-wi makin lama kedengaran makin nyaring.

Nafasnya juga makin lama semakin memburu hingga akhirnya mendekati tersengkal.

Keadaan tersebut jelas menunjukkan bahwa keadaannya luar biasa.

Wang Hong-giok terkesiap, cepat-cepat ia beranjak dan berusaha menengok keadaan dari Hoa In-liong.

Seluruh ilmu silat yang dimiliki gadis itu baru saja punah, ketajaman matanya secara otomatis juga jauh berkurang.

Mula-mula dia mengira keadaan Hoa In-liong bertambah kritis.

Tapi setelah diamatinya dengan seksama, ternyata ia tidak menemukan suatu gejala yang kurang beres pada air muka anak muda itu, maka sinar matanya lantas dialirkan ke atas wajah Coa Wi-wi.

Paras muka Coa Wi-wi juga tidak menunjukkan perubahan apa-apa, cuma bibirnya gemetar seperti mau mengucapkan sesuatu.

Dadanya bergelombang matanya memancarkan cahaya tajam, ia sedang mergawasi Hoa In-liong tanpa berkedip.

oooOOOOooo DITINJAU dari semua gejala tersebut, maka dapat kita tarik kesimpulan bahwa bergelombangnya dada nona itu serta memberatnya dengusan napas adalah dikarenakan tekanan jiwa yang teramat sangat.

Setelah melihat jelas keadaan dari dua orang tersebut, Wan Hong-giok mengerutkan dahinya lalu diam-diam menghembuskan napas panjang.

"Aaaai.... Dasar bocah, apa gunanya bersikap tegang seperti itu....?"

Demikian ia berpikir.

Belum habis ingatan tersebut melintas, satu ingatan tiba-tiba berkelebat dalam benaknya.

Kenangannya ketika berjumpa dengan Hoa In-liong di kota Lok yang kembali terbayang kembali dalam benaknya.

Itulah suatu tanah berbukit diluar kota Lok-yang, ketika itu fajar baru menyingsing.

Si-nio-pun baru saja kabur terbirit-birit.

Di atas bukit hanya tinggal dia dan Hoa In-liong dua orang.

Memandang kegagahan dan ketampanan wajah Hoa In-liong, ia merasa begitu terpikat, begitu terpesona, sehingga jantungnya berdebar keras, sehingga napasnya memburu dan hampir saja tak mampu bernapas lagi.

Sejsk itulah batinnya seakan-akan sudah terbelenggu disisi Hoa In-liong.

Setiap waktu, setiap saat ia selalu mengenang diri Hoa In-liong.

Terbayang kembali kenangan masa lalu, tiba-tiba saja Wan Hong-giok merasa bahwa keadaannya ketika itu ternyata tidak jauh berada dengan keadaan Coa Wi-wi sekarang ini.

Terbayang sampai disana, tanpa sadar iapun berpaling kearah Coa Wi-wi Kali ini ia telah merasakan, merasa bahwa Coa Wi-wi sudah bukan seorang bocah lagi.

Dalam pandangan Wan Hong-giok, seolah-olah secara tiba-tiba Coa Wi-wi telah tumbuh jadi dewasa.

Tumbuh jadi seorang gadis cantik rupawan yang memiliki daya pikat yang hebat.

Yang bisa meruntuhkan hati setiap laki-laki manapun....

Suatu keanehan segera dirasakan kembali, tiba-tiba Wan Hong-giok merasa bahwa kehadiran gadis yang cantik jelita itu seolah-olah merupakan suatu daya kekuatan yang menekan diatas tubuhnya.

Kekuatan itu mencapai ribuan kati beratnya.

Ini membuat Wan Hong-giok merasakan kakinya jadi lemas, badannya jadi sempoyongan dan hampir saja tak sanggup berdiri tegap...., Yaa....

maklumlah, ia sampai ternoda, sampai menderita, bahkan ilmu silatnya sampai musnah kesemuanya itu lantaran apa?

Atau tenaganya saja, ia sampai merasa rendah diri, sampai tak pantas untuk mendampingi Hoa In-liong.

Dari sini dapat kita ketahui betapa mendalamnya perasaan cinta gadis itu terhadap sang pemuda sehingga boleh dibilang sudah mencapai puncaknya.

Dan secara tiba-tiba menyaksikan bagaimanakah sikap Coa Wi-wi terhadap Hoa In-liong, betapa cintanya gadis itu terhadap pujaan hatinya.

Tentu saja pukulan tersebut dirasakan semakin berat lagi, terutama dalam keadaan seperti ini.

Setelah termangu-mangu beberapa waktu lamanya, ia merasa sepasang kakinya bertambah lemas, badannya jadi semboyongan.

Hampir saja ia jatuh terjerembab.

Siau-ki buru-buru menghampiri dan membimbing tubuhnya, kemudian bisiknya dengan lirih.

"Nona Wan, kenapa kau? Apakah masih bisa bertahan? Apakah badanmu merasa kurang enak?' "

Hey, jangan berisik!"

Tiba-tiba Coa Wi-wi menegur sambil ulapkan tangannya.

Meskipun mulutnya berbicara dengan nada tajam, sinar matanya sama sekali tidak beralih dari tempat semula.

Kenyatan tersebut semakin melemaskan tubuh Wan Hong-giok.

Paras mukanya semakin pucat, kelompok matanya jadi berat.

Dengan lemas tak bertenaga sedikitpun ia bersadar ditubuh Ki-ji dan menghela napas berulang kali.

Yaa, berbicara sesungguhnya semua gerak gerik, semua tingkah laku Coa Wi-wi dengan jelas menunjukan bahwa dalam hatinya, dalam pikirannya hanya ada Hoa In-liong seorang.

Sikap semacam itu adalah suatu sikap penaruh perhatian yang mendalam, suatu sikap kuatir yang amat sangat.

Wan Hong-giok adalah seorang perempuan yang berpengalaman, sudah tentu keadaan semacam itu cukup dipahami olehnya.

Hanya saja Coa Wi-wi lebih muda dari padanya.

Lebih cantik darinya dan lagi diapun berhutang budi atas pertolongan yaug telah menyelamatkan jiwanya.

Bukan saja ia tak boleh menjadi musuh cintanya, iapun tak boleh berebut cinta dengannya....

Yaaa, padi hakekatnya keadaan dara ini terlalu mengenaskan.

Ia betul-betul berada dalam keadaan terjepit, bayangkan saja, bagaimana caranya kesulitan ini harus diatasi?

Ki-ji tidak paham akan perasaan si nona.

Dianggapnya nona itu kurang sehat badan, maka sambil membimbingnya duduk kesamping dia bertanya.

"Wan siocia, bagian manakah badanmu yang kurang sahat? Biar Ki-ji memijatkan, mau kan?"

"Aku.... aku...."

Pelan-pelan Wan Hong-giok membuka kembali matanya.

Tapi pandangan matanya kemudian dialihkan kearah Coa Wi-wi dan memandang bayangan punggungnya dengan terpesona.

Ki-ji tidak memahami perasaan orang, dengan dahi yang berkerut dia berseru.

"Nona-Wan! Yang paling penting adalah urusi dulu badanmu!. Serahkan saja soal Ji-kongcu kepada nonaku, kau tak usah mengurusinya. Nona seorang rasanya masih cukup uituk mengatasi segala kesulitan!"

Wan Hong-giok tidak menjawab. Pada hakekatnya ia tidak mendengar apa yang dikatakan dayang itu, dihati kecilnya ia sedang berpikir.

"Aaaia.... Aku hanya sekuntum bunga yang mulai layu dan rontok. Dapatkah aku dibandingkan dengan sekuntum bunga yang masih segar....? Aku.... aku.... harus...."

Sekilas keteguhan hati yang tebal melintas di atas wajahnya, mendadak ia bangkit berdiri.

"Eeeeeh.... Kau.... Kau mau apa?"

Ki-ji segera menegur dengan kaget. Sambil berusaha mengendalikan perasaannya yang kalut, Wan Hong giok tertawa getir.

"Nona Ki-ji, banyak terima kasih atas usahamu yang beberapa kali menyelamatkan jiwaku. Meski saat ini Wan-Hong-giok tak sanggup membalas budi kebaikan itu, namun budi tersebut akan selalu terukir dalam hati sanubariku"

Tentu saja Ki-ji membuat pusiug tujuh keliling dan tak habis mengerti oleh ucapan-ucapan semacan itu. Dia malah melongo dan berdiri tercengang dibuatnya.

"Aneh betul kau nona Wan. Tiada hujan tiada angin kenapa kau singgung urusan tersebut? Toh urusan semacam itu pada dasarnya tiada harganya untuk disinggung! "

Demikian ia berseru.

"Yaaa, apa boleh buat, terpaksa aku harus tinggalkan tempat ini"

Bisik Wan Hong-giok dengan mata yang menjadi merah.

"Setelah aku pergi nanti, tolong sampaikan salamku kepadanya, katakan saja bahwa aku...."

"Enci Wan! Cepat lihat, dia...."

Teriak kegirangan dari Coh Wi-wi mendadak memotong perkataannya yang belum diucapkan hingga selesai itu....

Tapi ketika Goa Wi-wi tidak menemukan teman berbicaranya ada disisinya, kontan saja nona itu menghentikan kata-katanya.

Wan Hong-giok tertegun, tanpa sadar ia berpaling ke arah mana berasalnya suara itu.

Dikala empat mata saling beradu, badan Coa Wi-wi yang separuh berputarpun terhenti ditengah jalan.

Dengan wajah tercengang dan tidak habis mengerti ia berpaling serta menatap tajamtajam wajahnya.

"Siocia, dia mau pergi katanya!"

Ki-ji berteriak dengan suara penuh kegelisahan.

"Kenapa? Kenapa kau hendak pergi?"

Dengan langkah terburu-buru, Coa wi-wi lari menghampirinya.

"Enci Wan, kenapa kau? Hendak kenapa kau?"

"Aaaai.... Selama manusia masih diberi kesempatan untuk melanjutkan hidupnya, aku tak dapat mengatakan kemana kuakan pergi. Aku hanya tahu sampai dimana aku pergi, sampai disitu pula kehidupanku"

Jawab Wan Hong-giok diiringi helaan napas sedih.

"Aaaai.... Tidak boleh, kau tidak boleh pergi!' teriak Coa Wi-wi sambil berkerut kening.

"Apalagi badanmu begitu...."

Tiba-tiba ia meresa dibalik perkataan gadis itu terselip suatu nada kesedihan yang luar biasa.

Ini menyebabkan ia jadi bingung dan tidak habis mengerti, maka sampai ditengah jalan katakatanya terhenti, ditatapnya dara itu dengan wajah termangu.

Noda air mata masih membasahi pipi Wan Hong-giok, hal ini semakin mencengangkan Coa wi-wi, ia sampai berdiri melongo.

"Enci Wan, kau menangis? "

Tanyanya agak tercengang. Mendengar itu, cepat Wan Hong-giok menyeka air matanya.

"Aku.... Aku.... Merasa sangat berhutang budi kepada adik Wi, aku merasa tak mampu untuk membalas budi itu...."

"Oooh.... Maka Enci Wan lantas mau pergi?"

Tukas Coa Wi-wi setelah berseru perlahan. Setelah berhenti sebentar, ditatapnya gadis itu dengan tajam, kemudian ia mengomel.

"Enci Wan ini juga keterlaluan, pertolongan macam begitu itu terhitung budi macam apa? Buat apa mesti bikin hatimu jadi risau dan ingin pergi secara diam-diam?"

Wan Hong-giok tertawa getir dihati. Mesti ada persoalan tersebut sulit rasanya untuk diutarakan keluar, terpaksa sahutnya dengan cepat.

"Perkataan adik Wi-wi terlampau serius. Aku tidak ingin kabur tanpa pamit, aku cuma tak ingin mengganggu konsentrasimu...."

"Aku tak ambil perduli, pokoknya kau tak boleh pergi dari sini!"

Sekali lagi Coa Wi-wi menukas dengan bibir yang dicibirkan, boleh dibilang ia agak enggan untuk mendengarkan perdebatan itu.

Ketika mengucapkan kata-kata tersebut seratus persen gayanya masih merupakan gaya seorang gadis remaja.

Wan Hong-giok merasa dalam hatinya muncul sebuah bisul besar, ia enggan untuk mengumbar hawa amarahnya maka sambil tertawa gaeir, dia berusaha untuk menahan emosi hatinya.

"Dengarkan dulu perkataanku adik Wi"

Kata-nya kemudian.

"Kini aku hanya seorang perempuan cacad. Aku hanya akan menjadi beban selama Mengikuti kalian. Akupun mengerti bahwa tugas kalian berat, banyak urusan penting yang harus dikerjakan. Terutama tugas kalian untuk menyapu hawa iblis dari muka bumi dan menegakkan keadilan serta kebenaran dalam dunia persilatan. Aku tak mau menjadi beban kalian, akupun tak ingin menjadi perintang dari cita-cita kalian sebab baik dalam urusan pribadi maupun demi kepentingan umum, kehadiranku hanya menambah beban kalian!"

Sebenarnya perkataan tersebut bertolak belakang dengan apa yang menjadi beban pikirannya, tapi pada hakekatnya kata-kata itu mengandung kebenaran yang tak bisa dibantah oleh siapapun.

Sayang jalan pikiran Coa Wi-wi berbeda.

Ia tidak menggubris perkataan itu, sebaliknya sambil angkat kepala dan mengernyitkan dahi ujarnya kembali.

"Apa itu beban, apa itu perempuan cacad? Kalau berkata bahwa cita-cita kita adalah menyapu hawa siluman. Kalau dibilang tugas kita berat, sekali pun engkau betul-betul cacad juga sepantasnya ikut memikirkan keselamatan dunia persilatan. Lebih-lebih lagi kami, sudah sepatutnya kalau melindungi keselamatanmu. Tahukah engkau tanggung jawab bukanlah tugas. Sudahlah, pokoknya apapun yang kau katakan, aku tetap tidak porkenankan engkau pergi"

Kalau perkataannya tadi masuk diakal, maka perkataan ini lebih masuk diakal.

Dalam katakatanya itu meski ada nada jengkel, namun dibalik kejengkelan ada nada hangat.

Untuk sesaat Wan Hong-giok malah dibikin tertegun setelah mendengar perkataan itu.

Pelbagai ingatan segera berkecamuk dalam benaknya, sesudah merenung sebentar, ujarnya kembali.

"Adik Wi, aku tidak bertindak karena turuti emosi, ketahuilah bencana besar telah menyelimuti dunia persilatan. Setiap waktu setiap saat kemungkinan besar kita dapat bertemu dengan kaum iblis dan siluman setan. Bila aku ikut hadir pada waktu itu, sudah pasti perhatian kalian aku bercabang. Bila sampai dimanfaatkan kesempatan itu oleh musuh, bukankah lebih berabe?"

"Sudah....sudah ah.... Kau tak usah banyak berbicara lagi", potong Coa Wi-wi rada mangkel.

"Apa nya yang perlu dikuatirkan? Pokoknya aku tak akan biarkan aku pergi, bicara seratus kalipun juga sia-sia belaka"

"Adik...."

Sambil tertawa getir Wan Hong-giok gelengkan kepalanya berulang kali. Tampaknya Coa Wi-wi mulai tak sabar, dengan kening berkerut dan nada mangkel dia menukas.

"Cerewet amat kau enci Wan, kenapa kau hanya memikirkan dirimu sendiri? Pikirkan dulu keadaan orang sebelum memikirkan dirimu pribadi! Jika kau pergi dengan begitu saja bukankah sama artinya dengan tidak setiap kawan terhadap Jiko? Bagaimana pula tanggung jawabku terhadap Jiko nanti? Terus terang kukatakan kepadamu, aku sudah mempunyai susunan rencana yang matang. Asal Jiko telah pulih kembali kesehatannya, kita akan berkunjung ke bukit Im Tiong-san lebih dulu. Konon tempo haripun Lo-tay-kun dari keluarga Hoa pernah kehilangan ilmu silatnya, tapi kemudian ilmu silatnya berhasil dipulihkan kembali. Dengan pengalaman serta kemampuan yang dimiliki dia orang tua, aku percaya beliau pasti akan banyak membantu untuk dirimu. Makanya kalau ingin pergi, kau harus tunggu sampai berjumpa dulu dejgan dia orang tua"

Perkataan itu ada benarnya juga.

Dalam peristiwa tersebut banyak orang yang memuji akan ketangguhan Hoa lo-hujin, terutama kemampuannya untuk memulihkan kembali kepandaiannya yang telah punah.

Hampir setiap umat persilatan memujinya.

Semua orang menganggap kejadian itu merupakan peristiwa paling aneh dalam sejarah ilmu silat.

Sebelum terjun kedalam dunia persilatan, Wan Hong-giok sudah pernah mendengar tentang kisah cerita itu.

Maka ketika persoalan tersebut disinggung kembali oleh Coa Wi-wi, hatinya jadi rada bergerak, timbullah sebercak harapan dalam hatinya.

Tapi ketika sinar matanya terbentur kembali dengan raut wajah Coa Wi-wi yang cantik jelita, ia jadi terbungkam dalam seribu basa, bahkan hatipun ikut tergetar keras.

Menyaksikan nona itu tertegun, tiba-tiba Coa Wi-wi tertawa cerah, dicekalnya lengan Hong-giok dan dibisiknya dengan lembut.

"Sungguh, enci Wan! Kita dapat memohon kepada Lo taykun dari keluarga Hoa untuk memulihkan kembali ilmu silatmu yang hilang. Kalau tidak Jiko tentu akan selalu murung dan kaupun selalu kesal oleh kejadian ini. Oh Enci ku yang baik! Turutilah perkataanku, jangan pergi dari sini....mau kan?"

Ketika, dimohon dengan suara lembut, Wan-Hong giok jadi kelabakan, akhirnya dia menghela napas.

"Aaai.... Adik Wi, kau tidak akan mengerti!"

Katanya.

"Aku mengerti!"

Coa Wi-wi angkat mukanya.

"Aku tahu enci Wan, kau sangat baik terhadap Jiko"

"Aaaai.... Apa yang kau mengertikan?"

Batin Wan Hong giok setengah mengeluh.

"Disisi pembaringan, apakah kau ijinkan kehadiran perempuan lain? Sekalipun Wan Hong-giok amat mencintai dirinya, aku toh bukan tandinganmu"

Mendadak ia merasa bahwa perkataan itu diucapkan dengan nada bersungguh-sungguh, maka dia pun jadi tertegun. Maka sesudah merenung sejenak, kembali pikirnya.

"Yaaa. Benar bocah ini masih setengah mengerti setengah tidak. Sekalipun dia cintai Hoa kongcu, namun tidak mengerti untuk cemburu kepadaku, Aku.... Aku....aai.... hati itu merah. Aku lebih-lebih tak boleh merintangi hubungan mereka"

Berpikir sampai disitu, niatnya untuk meninggalkan, tempat itu semakin mantap, kembali dia angkat muka dan tertawa.

"Adik Wi", demikian katanya.

"Jika semua orang didunia ini dapat mempunyai perasaan yang suci dan tak ternoda seperti kau, alangkah ramainya dunia kita ini"

"Kau.... apa kau bilang?"

Coa Wi-wi tertegun dan tidak habis mengerti arti dari perkataan itu. Sambil tersenyum Wan Hong-giok menepuk bahunya.

"Maksudku", katanya.

"Jika semua orang didunia ini berpikiran polos dan jujur seperti kau niscaya banyak perselisihan dan pertikaian yang tak berguna dapat dihindari!"

"Aaaai.... masih jauh!"

Coa Wi-wi tertunduk dengan kemalu-maluan.

"Enci Wan, bila kau tidak terlalu jemu dengan kebinalanku, harap jangan pergi tinggalkan kami. Sungguh bila ilmu silatmu dapat pulih kembali, langsung kita menggrebeg bareng bajingan-bajingan itu di Seng-sut-hay. Kita ganyang semua orang Mo-kau sampai ludas, biar mereka merasa kapok dan tahu diri"

Lincah, manja, polos dan hangat, begitulah nada ucapan nona tersebut, bikin hati orang yang lebih keras dari bajapun akan menjadi lumer dibuatnya.

Menghadapi keadaan seperti ini, disamping rasa gembira, Wan Hong giok merasakan pula kegetiran dan kepedihan.

"Adik Wan tahukah kau bahwa engkau cantik?"

Tiba-tiba ia bertanya setelah berpikir sebentar. Coa Wi-wi terbelalak dengan wajah tercengang.

"Eeeeeh.... Apa yang telah terjadi? Enci Wan, masa bicara pulang pergi pokok pembicaraan ditimpakan pada diriku lagi. Bukankah makin berbicara kau menarik pokok pembicaraan semakin jauh?"

Agaknya Wan Hong-giok mempunyai rencana yang cukup matang dengan pembicaraannya, pelan pelan katanya kembali.

"Adik Wi, aku hendak mengucapkan sepatah dua patah gurauan kepadamu. Dulu lantaran aku sedang bersedih hati, wajah dan gerak gerikmu tidak terlalu kuperhatikan. Tapi setelah kuperhatikan sekarang, aku benar-benar sedikit merasa terkejut. Sungguh, kecantikan dari seorang gadis cantik adalah paling memikat hati, aku sebagai seorang perempuan-pun ikut terpikat rasanya oleh kecantikanmu"

Coa Wi-wi menggerakkan bibirnya seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi sejenak kemudian tiba-tiba ia tertawa cekikikan.

"Jadi kau iri hati?"

Godanya dengan nakal.

"Yaa, aku iri hati"

Wan Hong-giok mengakuinya.

"kau memiliki mata yang jeli bagaikan bintang timur, mempunyai bibir yang mungil bagaikan delima merekah. Apalagi kulit badanmu yang putih bersih, potongan badan yang ramping tapi padat berisi, terutama tindak tanduknya yang lincah, hatimu yang polos dan manja serta kelakuanmu yang halus berbudi. Coba bayangkan, siapa yang tidak merasa iri?"

"Nah, kalau memang demikian, tidak seharusnya kau merusak makhluk alam!"

Jawab Coa Wi-wi sambil mengerling manja. Menyaksikan "kerlingan yarg memikat itu, tanpa terasa Wan Hong-giok ikut tertawa.

"Coba lihat tampangmu, ternyata berani mengomeli orang!"

"Sesungguhnya, apa yang kau ucapkan barusan justru merupakan kelebihan yang kau miliki"

Kata Coa Wi-wi dengan wajah serius.

"Cuma, dewasa ini kau rada kurusan sedikit. Bila tubuhmu sudah sehat kembali dan pulih seperti sedia kala, tentu kau akan lebih cantik, jauh lebih cantik dari pada aku...."

"Aaah.... cukup, tak usah kita bicarakan soal semacam itu lagi"

Tukas Wan Hong-giok sambil tersenyum.

"Mari kita bicarakan tentang soal-soal yang lain saja"

"Kalau begitu kau sudah setuju bukan kalau tidak akan pergi?"

Coa Wi-wi menatapnya dengan pandangan mengharap. Wan Hong-giok tetap menggelengkan kepalanya.

"Aku harus pergi, bagaimanapun juga aku harus pergi dari sini"

Sahutnya tegas.

"Waaah....setengah harian sudah kita buang tenaga untuk berbicara, tapi akhirnya kau toh ngotot ingin pergi juga. Buat apa kita berbicara lebih lanjut?"

Dengan agak mendongkol Coa Wiwi mencibirkan bibirnya yang mungil.

Dengan cepat dia memutar badannya dan tidak menggubris gadis itu lagi....

Cepat Wan Hong-giok menangkap bahunya dan memutar badannya dengan paksa, pintanya.

"Adik Wi dengarkan dulu perkataanku...."

"Ogah.... ogah.... aku tak mau dengarkan perkataanmu...."

Teriak Coa Wi-wi sambil menutup telinga dengan kedua belah tangannya. Wan-Hong-giok tidak menggubris teriakan itu malah sambil tersenyum ia bertanya.

"Aku ingin bertanya kepadamu, apakah kau amat menyukai dirinya?"

Mula-mula Coa Wi-wi agak tertegun, menyusul kemudian tanyanya agak tercengang.

"Siapa yang kau maksudkan?"

"Hoa kongcu!"

Mula-mulaCoa Wi-wi agak tertegun, menyusul kemudian sahutnya tergagap.

"Aku.... Aku...."

Warna merah dengan cepat menjalar diatas wajahnya.

Tanpa sadar ia tertunduk dengan wajah malu.

Untuk sesaat gadis itu merasa gelagapan dan tak sanggup meneruskan kata-katanya.

Dipegangnya dagu nona itu dengan tangan kanan, lalu diangkatnya wajah Coa Wi-wi hingga bertatapan muka dengannya, kemudian berkatalah Wan Hong-giok.

"Tak usah malu-malu adik Wi. Laki-laki mencintai kaum wanita kaum wanita mencintai laki-laki kejadian tersebut sudah lumrah. Kau menyukainya?"

Semakin jengah Coa Wi-wi dibuatnya dengan muka merah ia meronta dari cekalan tangannya kemudian tundukkan kepalanya rendah-rendah.

"Aku.... Aku.... Bukankah kau juga menyukainya?"

Tiba-tiba ia balik bertanya. Wan Hong-giok tersenyum.

"Yaa, aku memang menyukainya, karena itu aku harus membicarakan persoalan ini denganmu"

"Apa lagi yang musti kita bicarakan?"

Dengan perasaan heran, tidak habis mengerti Coa Wi-wi menengadah.

"Engkau menyukainya, aku juga menyukainya, apakah tidak cemburu kepadaku?"

"Cemburu kepadamu?"

Coa Wi-wi mengerdipkan matanya dengan keheranan "Kenapa aku musti cemburu kepadamu?"

"Itulah persoalan yang hendak kubicarakan denganmu. Selain daripada itu...."

"Aaaah.... Masalah apalagi yang perlu kita bicarakan!"

Sela Coa Wi-wi dengan hati berkerut.

"Aku tahu bahwa kau berkenalan lebih dulu dengan Jiko. Kalian adalah teman, apalagi kau baik sekali kepada Jiko, selalu berusaha untuk membantunya. Setelah kuketahui kesemuanya itu, hatiku semakin berterima kasih kepadamu"

"Bukankah kau berterima kasih kepadaku lantaran itu maka kau melarang aku pergi dari sini?"

Desak Wan Hong-giok sambil menggut-manggut. Coa Wi-wi mengangguk tanda membenarkan.

"Yaa, kalau toh aku menyukai Jiko maka semua sahabat Jiko adalah sahabatku juga. Semua musuh Jiko adalah musuhku juga. Kau baik sekali kepada Jiko lantaran Jiko hingga musti mengalami musibah seberat ini. Tentu saja aku tak boleh membiarkan kau pergi. Sebab kalau tidak demikian, berarti aku tidak menyukai Jiko. Sebaliknya, bila aku harus cemburu kepada orang yang memperhatikan Jiko, bukankah hal ini membuat aku jadi terlalu egois, terlalu mementing diri sendiri? Manusia macam begitu berhargakah untuk dicintai Jiko?"

Kata-kata itu terlalu polos, tarlalu bersifat kekanak-kanakan tapi sedap didengar.

Bila Hoa In-liong berprinsip bahwa cinta itu harus dimiliki untuk semua orang, maka cocoklah kalau pandangan itu ditrapkan dengan jalan pemikiran Coa Wi-wi.

Entahlah bagaimana reaksi Hoa In-liong seandainya ia mendengar kata-katanya itu.

Hal ini berbeda pula dengan reaksi dari Wan Hong-giok.

Ketika mendengar perkataan itu, dia gelengkan kepalanya berulang kali sambil menghela napas panjang.

"Aaaai.... Adik Wi, kau terlalu polos, terlalu berpandangan kekanak-kanakan. Cinta antara muda dan mudi tak bisa ditinjau dari keadaan pada umumnya!"

"Tapi.... Aku rasa semua orang juga berpandangan demikian! Bukankah bersahabat adalah salah satu kewajiban utama sebagai manusia?"

Tertawa geli Wan Hong-giok mendengar ucapan itu.

"Dasar bocah....!"

Serunya.

"Mana ada hubungan antara laki dan perempuan yang dilakukan seperti kau? Aaah.... kamu ini setengah mengerti setengah tidak. Bila kau campur baurkan antara hubungan laki perempuan dengan hubungan persahabatan, siapapun yang mendengar perkataanmu tentu akan ikut tergelak sampai gigipun menjadi copot"

"Kenapa?"

Coa Wi-wi tertegun dengan wajah tidak mengerti.

"Masa dibalik hubungan tersebut masih ada hal-hal yang istimewa?"

"Banyak sekali kalau menyinggung soal hal-hal yang istimewa, misalnya saja, bila kurebut Jiko mu, Apakah kau tidak membenci kepadaku? Masa kau tidak cemburu kepadaku?"

"Tentang soal ini...."

Coa Wi-wi tertegun dan mengerdipkan matanya berulang kali. Wan Hong-giok tersenyum, lanjutnya.

"Tentunya kau akan cemburu bukan? Tentunya? kau akan membenci aku kan? Jika engkau tidak merasakan gejala tersebut berarti kau tidak menyukai Jiko mu dengan sungguh hati. Nah, disinilah letak persahabatan, sudah mengerti bukan?"

Coa Wi-wi bukan seorang gadis yang bodoh.

Setelah dijelaskan Wan Hong-giok secara terperinci, apalagi ditanyai dengan cermat, tentu saja ia jadi paham.

Bukan saja ia paham.

Bahkan selapis lebih dalam kepahamannya itu.

Sorot matanya dengan tajam dialihkan keatas wajah Wan Hong giok.

Setelah ditatapnya beberapa kejap, sekulum senyuman segera terlintas dan menghiasi bibirnya.

"Ooooh.... Sekarang aku baru mengerti"

Teriaknya setengah menjerit.

"Rupanya kau.... kau sedang cemburu kepadaku!"

Jeritannya yang lengking itu seketika mengejutkan hati Ki-ji yang berada disisinya. Dengan agak gelagapan karena terkejut ia pun berseru lirih.

"Ssst.... Siocia, bagaimana sih kamu ini? Kok jeritjerit seperti anak kecil, bagaimana coba kalau sampai mengejutkan Ji kongcu?"

Teguran tersebut membuat Coa Wi-wi terkesiap dengan cepat dia berpaling dan memandang kearah Hoa In-liong.

Wan Hong giok ikut terkejut, tanpa terasa dia ikut berpaling kearah si anak muda itu.

Tapi ketika dilihatnya Hoa In-liong tidak apa-apa, hatinya jadi lega dan tatapan matanya segera ditarik kembali.

Sementara itu Coa Wi-wi telah menjulurkan lidahnya memperlihatkan muka setan, lalu berbisik.

"Sialan, aku sampai kaget setengah mati.

"Eeh.... Enci Wan! Ayoh ngaku terus terang, bukankah kau lagi cemburu kepadaku?"

Wajah Wan Hong giok yang semula pucat pias seketika itu jua berubah jadi semu merah.

"Yaa, memang kuakui, semula aku memang rada cemburu kepadamu!"

Jawabnya kemudian setengah berbisik. Dasar Coa Wi-wi yang polos dan masih kekanak-kanakan, kontan saja ia tertawa cekikikan.

"Hiiik.... hiik.... hiikk.... Enci Wan ini lucu amat, kalau cemburu yaa cemburu, masa cuma sedikit? Masa semula cemburu sekarang tidak?"

Wan Hong-giok betul-betul menjadi tobat menghadapi kebinalan si nona cantik itu, akhirnya dengan gemas ditudingnya ujung hidung dara itu sambil tertawa geli.

"Aaaah.... Kamu ini....adaada saja...."

Coa Wi-wi-semakin cekikikan.

"Kenapa aku? Aku toh tak pernah cemburu kepadamu, kaulah yang dalam hati ada setannya."

Sesudah berhenti sebentar, tiba-tiba dengan wajah serius ujarnya lebih lanjut.

"Aku ingin bertanya kepadamu, enci Wan! Sekarang kau harus bicara yang sesungguhnya, tentunya kau tak akan pergi lagi bukan?"

Sambil berkata dia angkat muka dan menantikan jawaban dari Wan Hong-giok dengan penuh pengharapan.

"Tidak! Aku harus pergi"

Wan Hong-giok berseru kemudian sambil gelengkan kepalanya berulang kali.

Coa Wi-wi jadi tak senang hati.

Sepasang alis matanya berkenyit, matanya melotot besar, tampaknya dia hendak mengumbar hawa amarahnya.

Melihat gelagat kurang baik, buru-buru Wan Hong-giok berseru.

"Dengarkan dulu perkataanku adik Wi. Aku bersikeras ingin pergi dari sini bukan lantaran cemburu kepadamu, tapi dikarenakan oleh alasan-alasan lain"

Coa Wi-wi mendengus dingin.

"Hmmmm! Kamu ini selamanya sudah diajak bicara kalau memang ada alasan lain cepatlah katakan, aku segan untuk banyak cingcong lagi dengan dirimu"

Wan Hong-giok sama sekali tidak tersinggung oleh perkataan itu, dia malahan tersenyum.

"Baik, aku akan berbicara. Tolong tanya sudah berapa lama adik Wi berkenalan dengan Hoa kongcu?"

"Eeeh.... Sebetulnya akal setan apalagi yang sedang berputar dalam benakmu itu? "

Tegur Coa Wi-wi dengan wajah tercengang.

"Kenapa yang kau tanyakan selalu persoalan persoilan yang tak penting?"

Wan Hong-giok tersenyum.

"Harap jangan kau tanyakan dulu persoalan itu. Sekarang beritahukan saja kepadaku, sudah berapa lama engkau berkenalan dengan Jiko mu itu...."

Sebetulnya Coa Wi-wi tak mau menjawab tapi ketika dilihatnya pertanyaan itu diajukan dengan wajah serius, ia jadi tak tega untuk mendiamkan terus.

Akhirnya setelah merenung sebentar, dia menjawab singkat.

"Sejak kemarin!"

"Sejak kemarin....?"

Wan Hong-giok keheranan, bahkan hampir tak mempercayainya.

"Masa kalian baru sehari lamanya berkenalan?"

"Kalau kenalnya sih sudah lama, cuma sejak kemarin baru mengadakan pembicaraan secara resmi"

"Oooh.... Jadi kalau begitu, kalian boleh dibilang jatuh cinta pada pandangan yang pertama".

"Siapa bilang begitu?"

Coa Wi-wi mengerutkan dahinya dengan sengit.

"Ketika berjumpa untuk pertama kalinya tempo hari, aku malah ingin sekali memberi hajaran kepadanya"

"Aaaah.... Masa iya?"

Tanya Wan Hong-giok agak tertegun.

"'Buat apa kau kubohongi?"

Coa Wi-wi berkerut kening.

"Waktu itu engkohku memuji-muji dia. Kongkong-ku juga memuji-muji dia, seakan-akan dia itu manusia super yang tiada taranya di bumi dan tiada keduanya dikolong langit. Huuh....! Aku jadi gemas rasanya, maka pingin kuberi pelajaran yang setimpal kepadanya agar dia tahu rasa!"

"Oooh.... Jadi begitu ceritanya"

Pelan-pelan Wan Hong-giok mengangguk.

"Jadi rasa simpatikmu kepada Jiko dan rasa senangmu kepadanya baru tumbuh dengan pelan-pelan setelah berlangsungnya pembicaraan kemarin?"

"Aku sendiri juga kurang jelas"

Jawab Coa Wi-wi sambil putar otak tiada hentinya.

"Ketika kutemui dirinya kemarin, sebenarnya ingin sekali kuhajar adat kepadanya, cuma kemudian.... kemudian...."

"Kemudian kau terpikat oleh kegagahannya dan membatalkan niatmu itu?"

Sambung Wan Honggiok sambil tertawa.

"Aaah.... bukan begitu!"

Seperti baru sadar dari kenangan, Coa Wi-wi mengerdipkan matanya beberapa kali. Lalu setelah berpikir sebentar, tiba-tiba ia tertawa dan berkata.

"Sekarang aku teringat sudah, semuanya itu adalah lantaran kau, selain tentu saja terpengaruh oleh Toako"

"Lantaran aku? "

Wan Hong-giok tertegun, ia merasa tercengang dan tidak habis mengerti. Coa Wi-wi mengangguk tanda membenarkan.

"Yaa! Empat hari berselang, aku berjumpa dengan Hoa Si Toako. Waktu itu Toako mendapat tugas menuju kota Kim-leng, maka akupun menemani Toako berangkat ketimur. Tujuanku hanya satu yakin ingin mengajar Jiko. Sepanjang jalan lantaran tak ada urusan maka aku banyak menanyakan urusan tentang diri Jiko. Toako yang jujur dan baik bati selalu menjawab setiap pertanyaan yang kuajukan. Ia membicarakan kelebihan-kelebihan dari Jiko tapi menyinggung juga kekurangan-kekurangannya. Maka jika kupikirkan kembali, kesanku atas diri Jiko mungkin didapatkan semenjak itu dan untungnya kesan tersebut adalah kesan yang semakin baik"

Setelah berhenti sebentar, diapun berkata lebih jauh.

"Dua bari berselang, kami telah berjumpa dengan rombongan kakakku di kota Si-sian. Dari mereka kamipun tahu kalau engkau ada janji dengan Jiko. Kebetulan Toako mendapat perintah dari empek Hoa untuk memperingatkan Jiko agar lebih waspada dan kalau bisa jangan bentrok dulu dengan orang-orang Mo-kau. Sedang dikota Kim-leng pun kebetulan terjadi peristiwa yang membutuhkan bantuan orang. Toako jadi kelabakan dan gelisah sekali, sebab seorang diri tak mungkin baginya untuk mengatasi dan kejadian ditempat yang berbeda. Maka ketika kulihat ada kesempatan segera kuajukan diri untuk memikul tugas tersebut dan memburu kebukit Sian-san, maksudku hendak menghalangi Jiko untuk datang memenuhi janji...."

Menyinggung soal janji dibukit Sian-san, Wan Hong-giok merasa murung bercampur kesal. Ia menghela napas sedih.

"Kesemuanya ini.... Akulah yang bersalah"

Keluhnya.

"Hanya satu hal yang kuherankan, secara bagaimana rahasia tersebut dapat diketahui musuh? Aku tak dapat menebak teka-teki ini"

"Urusan toh sudah lewat buat apa kau pikirkan lagi"

Hibur Coa Wi-wi cepat. Wan Hong-giok mengangguk.

"Yaa.... Perkataan adik Wan memang ada benarnya. Ayo, ketika kau memburu kebukit Sian-san, ingatan untuk menghajar Hoa kongcu tentu masih terbayang terus dalam benakmu bukan?"

"Siapa bilang tidak! Ketika kujumpai dirinya disebuah warung teh dikota Ci-tin, dengan segala tipu daya aku berusaha untuk menjengkelkan hatinya. Siapa tahu ia cukup supel dan gagah perkasa. Setiap hari menghadapi dampratan-dampratanku yang tajam, ia selalu melayaninya dengan ramah tamah. Pembicaraan yang kurang enak dihati segera dibelokkan dengan manisnya...."

"Karena itu maka kau berubah rencana? "desak Wan Hong-giok sedikit kurang sabar.

"Aku sendiri juga tak tahu kenapa bisa berubah pikiran. Pokoknya setelah kutak berhasil mencari gara-gara akhirnya maksud hatipun kuutarakan secara terus terang, malah sengaja kutuduh dirinya terpikat oleh kecantikan perempuan, tak sudi menuruti nasehat saudara. Diapun tahu dia memang keras kepala, bicara baik-baik atau bicara kasar, ia tetap kukuh dengan pendiriannya. Aku dibikin kehabisan akal terpaksa akupun memohonnya dengan kata-kata yang lembut dan halus. Aaaai.... Kalau dibicarakan betul-betul menjengkelkan hati, tahukah kau apa yang dia katakan waktu itu?"

"Dia bilang bagaimana?"

"Dia bilang begini, 'Saudaraku, dengarkan dulu kata-kataku, cinta adalah cinta, setia kawan adalah setia kawan, kukabulkan permintaanmu karena cinta, kupenuhi janjiku dibukit Sian-san karena setia kawan. Sebagai manusia yang hidup didunia, kita harus dapat membedakan apakah itu cinta dan apakah itu setia kawan. Sekarang aka ingin bertanya kepadamu, apakah kau masih memaksa aku untuk membatalkan janjiku dibukit Sian-san? Padahal waktu itu aku sudah menyebutnya sebagai Jiko.' Sungguh tak kusangka kalau orang ini tidak doyan kekerasan juga tak doyan cara lembut, malahan akulah yang betul-betul ketanggor batunya"

Tersenyum Wan Hong-giok mendengar perkataan itu.

"Sepintas lalu orang itu tampaknya setengah sungguh-sungguh setengah berpura pura. Padahal dia adalah seorang laki-laki sejati yang mengutamakan kebajikan serta kesetia kawanan, kadangkala bahkan rada keras kepala...."

"Yaaa.... Kemudian akupun berpikir sampai ke situ"

Ujar Coa Wi-wi sambil mengangguk.

"Justru lantaran aku berpikir sampai ke situ, maka....maka...."

Tiba-tiba ia jadi gelagapan dan tak mampu melanjutkan kembali kata katanya, pipi yang semu merah pun bertambah memerah, ia tertunduk dengan wajah jengah.

"Maka dari itu kau jadi menyukainya dan menaruh perhatian kepadanya, bukankah demikian?"

Sambung Wan Hong giok sambil tersenyum. Coa Wi wi menundukkan kepalanya semakin rendah, ia makin tersipu sipu di buatnya.

"Aku....Aku....aku merasa bahwa dia adalah seorang laki laki yang pegang janji. Manusia semacam ini biasanya tak pernah menyia-nyiakan perhatian orang"

Wan Hong-giok yang sudah memperhatikan mimik wajahnya semenjak tadi, segera berpikir didalam hati.

"Benih cinta dalam hati bocah ini baru saja tumbuh. Sungguh tak nyana begitu cepat ia sudah ada niat untuk menyerahkan dirinya untuk diperistri...."

Berpikir sampai disitu, diapun membelai rambutnya yang mulus dengan tangan kanannya, kemudian berkata.

"Adik Wi, tak usah malu. Aku juga perempuan. Hanya perempuanlah yang dapat menyelami perasaan kaum perempuan. Yaa, Hoa-kongcu memang gagah dan tampan. Bukan begitu saja dia pun punya nyali, punya daya pikat, memandang tinggi soal hubungan dengan seseorang dan manusia macam begini biasanya tak bermain licik, bertanggung jawab dan memang seorang pemuda yang dapat dipercaya"

Setelah berhenti sebentar, diapun melanjutkan kembali kata katanya.

"Adik Wi, sekarang aku paham, rupanya cinta kasihmu kepada Hoa-kongcu tumbuh dari rasa penasaran dan mendongkol yang meluap-luap. Itu berarti datangnya cinta telah mengalami pelbagai liku liku percobaan. Bukan saja halus, lembut bahkan jauh lebih berkesan. Jauh bedanya kalau dibandingkan dengan aku yang jatuh cinta pandangan pertama. Yaa.... dari sini dapatlah kita analisa bahwa cintamu jauh lebih mendalam bila dibandingkan dengan cintaku. Cintamu lebih berakar lebih berbobot dan lebih berarti"

Merah jengah Coa Wi-wi dibuatnya, tapi ia angkat juga mukanya dan memandang ke arah gadis itu dengan muka tertegun.

"Enci Wan lagi menggoda aku? Apa itu dalam cetek? pula berbobot atau tidak. sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan. Kenapa kau katakan secara ringkasnya saja? Putar sana putar kemari hanya bikin aku jadi pusing saja"

Wan Hong-giok tertawa ringan.

"Nah.... Naah.... Keadaanmu semacam itulah yang dinamakan orang jatuh cinta sampai lupa diri! Kau begitu polos, begitu sederhana, yang dipikirkan hanyalah berusaha berdiri segaris dengan Hoa kongcu. Sebentar ingin tidak menyalahi aku, sebentar ingin menahan diriku. Apakah kau tidak tahu bahwa tetap tinggalnya aku disini adalah suatu tindakan yang hanya mendatangkan kerugian belaka bagi Hoa kongcu? Kalau toh engkau cinta kepadanya, kenapa tidak berusaha mencari suatu tempat yang nyaman dan berpikirlah sedikit demi Hoa kongcu?"

"Mencari tempat yang nyaman....?"

Coa Wi-wi tertegun dengan dahi berkerut.

"Masa.... Masakan aku salah?".

"Pada hakekatnya engkau juga tidak terhitung salah, cuma kau telah mengetrapkan pikiran sendiri menjadi pendapat orang. Aku sudah mengalami sendiri betapa parah dan menderitanya orang yang terluka. Aku dapat memegang teguh pendapat yang mengatakan bahwa.

"Jika badan tak utuh, bulupun tak akan tumbuh. Kini dunia persilatan sedang terancam oleh bahaya maut, padahal Hoa kongcu adalah panglima membuka jalan. Pelbagai persoalan yang serius dan menyulitkan perlu diatasi semuanya olehnya. Bila engkau harus bertambah seorang semacam aku ini, bukankah sama halnya dengan menambah kerepotan dirinya?"

Meskipun alasan itu tidak berbobot akan tetapi memiliki alasan-alasan yang kuat untuk dipercayainya.

Apalagi ketika Wan Hong-giok mengucapkan kata-kata tersebut, ia sama sekali tidak mengutarakan kata-kata yang kurang sedap didengar, seketika itu juga Coa Wi-wi dibuat amat terperanjat.

"Yaa, benar.... Kenapa aku tidak berpikir sampai kesitu?"

Kemudian ia membatin.

"Dewasa ini situasi amat kritis, banyak urusan harus diselesaikan. Padahal Jiko bukan seorang manusia yang melupakan teman. Kendatipun ia secara langsung menuju bukit Im Tiong-san, sedikit banyak kaum bajingan yang membayanginya pasti akan coba melakukan penghadangan. Bukankah itu berarti banyak kesulitan yang harus dihadapi, tapi.... tapi.... walaupun begitu, ilmu silat enci Wan toh sudah punah, kalau membiarkan ia melakukan perjalanan sendiri pasti akan sangat berbahaya!"

Untuk sesaat lamanya ia jadi serba salah, dia tak tahu bagaimana musti mengatasi kesulitan tersebut. Wan Hong-giok menghela napas lirih, kembali ia berkata.

"Aaaai.... Sekalipun cara kita berpandangan berbeda, tapi berbicara soal kasih sayang kita terhadap Hoa kongcu boleh dibilang tak jauh berbeda. Adik Wi, bila kau mencintainya, kau harus berpikir demi dirinya pula. Apakah masih tetap menahan diriku untuk tetap tinggal ditempat ini....?"

Waktu itu Coa Wi-wi sedang dibuat serba salah, setelah didesak terus menerus maka diapun bertanya.

"Lantas bagaimana dengan kau? Apa yang hendak kau lakukan?"

"Tak usah merisaukan diriku"

Wan-Hong-giok tertawa sedih.

"Bila adik Wi sudah dapat memahami, itu lebih bagus lagi"

"Tidak bisa, tidak bisa!"

Teriak Coa Wi-wi dengan gelisah.

"Sebetulnya apa rencanamu selanjutnya? Sedikit banyak harus kau terangkan dulu kepadaku!"

Wan Hong-giok pejamkan matanya berpikir sebentar, kemudian menyahut dengan lirih.

"Aku ingin melakukan perjalanan menuju keluar perbatasan. Disitu aku hendak mencari guruku!"

"Siapakah gurumu?"

Coa Wi-wi masih juga merasa kuatir.

"Apakah dia dapat membantu dirimu untuk memulihkan kembali ilmu silatmu yang telah punah itu?"

Wan Hong-giok bertujuan menghindari yang berat dan mencari yang enteng, menghadapi pertanyaan tersebut iapun menyahut dengan hambar.

"Asal alirannya sama aku pikir masih ada harapannya!"

Tampaknya ia sudah bulatkan tekad untuk pergi dan situ, maka diapun enggan untuk banyak berbicara lagi, pokok pembicaraan segera dialihkan ke soal lain, tiba tiba ujarnya.

"Adik Wi, Hoa kongcu kuserahkan perawatannya kepadamu. Bila lain hari masih berjodoh, kita pasti akan berkumpul kembali!"

Berbicara sampai disitu hatinya jadi kecut dan amat sedih, tak bisa dicegah lagi titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

Coa Wi-wi juga tak dapat membendung rasa sedih, dia ikut mengucurkan air matanya sambil sesenggukan.

"Kau.... kau.... apakah kau.... bersikeras ingin pergi juga dari tempat ini ?"

Bisiknya. Wan Hong-giok tertawa terpaksa, cepat ia menyeka air mata yang membasahi pipinya.

"Omongan anak kecil,"

Katanya.

"kalau tidak pergi mana bisa? Terus terang saja kukatakan, seandainya bukan memikirkan kepentingan Hoa kongcu, memangnya aku tega untuk berpisah kembali setelah berkumpul? Tak usah terlalu kekanak-kanakan. Pergilah! Coba tengok bagaimana keadaan Hoa-kongcu sekarang ini"

Sambil berkata pelan-pelan dia memutar badan Coa Wi-wi dan mendorongnya maju ke muka. Terdorongnya oleh tenaga si nona tak kuasa Coa Wi-wi maju beberapa langkah, tapi ia memutar kembali badannya.

"Eaci Wan, katakan kepadaku siapakah gurumu itu?"

Pintanya.

"Bila ada kesempatan, aku tentu akan berangkat ke perbatasan untuk mencari dirimu...."

"Tidak usah!. Suatu ketika datang mencari sendiri"

Tampik Wan Hong-giok cepat.

Sampai disitu, dengan cepat dia mengerling sekejap ke arah Hoa In-liong kemudian putar badan dan cepat-cepat berlalu dari pintu gerbang kuil bobrok itu.

Coa Wi-wi memburu beberapa langkah seperti hendak mengucapkan sesuatu, Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya.

Ia merasa tak ada gunanya banyak berbicara, maka sambil keraskan hati ia hentikan langkah kakinya dan membiarkan Wan Hong-giok keluar dari pintu gerbang menuruni bukit dan lenyap dibawah cahaya matahari.

Pada ketika yang terakhir ini.

bati kecilnya seakan-akan kelihatan sesuatu, tapi seakan-akan kekurangan juga sesuatu, padahal benaknya terasa kosong.

Sekalipun ada perasaan, diapun tak bisa merasakan perasaan apakah itu.

Sementara dia masih tertegun, tiba-tiba Ki-ji berbisik memecahkan keheningan disekeliling tempat itu.

"Wan siocia sudah pergi jauh"

"Aaah...."

Sekarang Coa Wi-wi baru sadar kembali dari lamunannya, ditatapnya wajah Ki-ji berulang kali, tiba tiba ia berseru.

"Cepat.... cepat.... kau susul dirinya.

"Kenapa musti disusul? "tanya Ki-ji seperti tertegun dengan ucapan tersebut.

"Hantar dia sampai diperbatasan"

Tukas Coa Wi-wi sambil ulapkan tangannya berulang kali.

"Cepat.... cepat.... ayoh cepat pergi?"

"Dihantar sampai perbatasan? "ulang Ki-ji terperanjat. Kontan saja Coa Wi-wi melotot besar.

"Masa hanya sepatah katapun kurang jelas? Kalau tidak pergi lagi, bila Wan siocia sampai terjadi sesuatu, engkaulah yang harus bertanggung jawab."

Ki-ji makin terperanjat lagi.

"Lantas kau.... kau.... siapa yang akan meladeni kau?"

"Aaah.... kamu ini cerewet amat, siapa yang suruh engkau meladeni aku? Ayoh cepat berangkat!"

Setelah didesak berulangkali, terpaksa Ki-ji hanya bisa mencibirkan bibirnya.

"Pergi yaa pergi. Cuma ilmu silatku cetek sekali. Bila sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, aku tak mau tanggung jawab"

Ki-ji adalah dayang kepercayaan dari Coa Wi-wi.

Sejak kecil ia dibesarkan disisi Coa Wi-wi maka kalau dia disuruh meninggalkan nonanya tentu saja sangat keberatan.

Sebab itulah meski dimulut ia menjawab, tubuhnya sama sekali tidak beranjak.

Coa Wi-wi sendiripun sebetulnya tak tega membiarkan dayangnya pergi jauh.

Apa mau dikata di situ tiada orang lain yang bisa disuruh dan lagi diapun amat menguatirkan keselamatan Wan Hong-giok yang harus pergi jauh.

Sebab itulah keputusan tersebut dibikin pada saat yang terakhir dan kini perkataan yang sudah disiapkan ibaratnya anak panah diatas busur, mau tak mau harus dilepaskan juga.

Maka dengan wajah berubah serius dan pura-pura marah dia berkata lebih jauh.

"Betul-betul mengherankan, kau lagi ngambek yaa? Terus terang kukatakan kepadamu, bagaimanapun jua kau harus menghantar nona Wan sampai di perbatasan, sepanjang jalan kau harus layani nona Wan secara baik-baik tak boleh berayal. Meski dia tak mau dihantar, kau juga mesti mengintilnya secara diam-diam hantar sampai di tempat tujuan, mengerti?"

"Mengerti!"

Ki-ji mencibirkan bibirnya makin tinggi.

Meskipun mulutnya menjawab, badan masin belum juga berajak dari tempat semula.

Tidak tega rasanya Coa Wi-wi mengurusi dayangnya itu, namun dalam keadaan apa boleh buat tertaksa dia harus pura-pura melotot marah.

"Kalau sudah mengerti keadaan tidak cepat lari? Memangnya ingin digebuk....?"

Bentaknya sambil berkata dia ayun tangannya pura-pura hendak menghantam dayang tersebut. Mula-mula Ki-ji agar tertegun, kemudian serunya "Yaaa.... aku pergi! Aku pergi!"

Dengan gemas dia mendepak-depakkan kakinya kebawah, lalu putar badan dan tinggalkan tempat itu.

Sekejap kemudian tubuhnya sudah lenyap di bawah bukit sana.

Memandang bayangan punggungnya yang lenyap dari pandangan, Coa Wi-wi menghela napas berulang kali, gumamnya.

"Semoga Ki-ji menuruti perkataan. Semoga enci Wan tidak mengalammi kejadian apapun jua"

Sambil bergumam pelan-pelan ia putar badannya, lalu dengan penuh rasa kuatir menghampiri diri Hoa In-liong.

Sementara itu keadaan dari Hoa In-liong sudah jauh membaik.

Kulit badannya ketika itu sudah bertambah bersih, napasnya mulai panjang-panjang.

Tampangnya yang keren, serius menunjukkan bahwa ia sudah berada dalam keadaan lupa akan segala-galanya dalam semedinya itu, atau dengan perkataan lain, kendatipun racun ular sakti yang diidapnya belum punah sama sekali, namun sim-hoat tenaga dalam yang dikatakan "istimewa"

Itu telah memberikan kemanjuran yang mengagumkan.

Pada dasarnya Coa Wi-wi memang seorang dara yang lincah dan periang.

Dia adalah seorang nona yang tak pernah merasa risau.

Tentu saja perasaannya jadi lega dan nyaman setelah menyaksikan keadaan Hoa In-liong ketika itu.

Sekulum senyuman segera tersungging diujung bibirnya.

Diamatinya air muka Hoa In-liong beberapa kejap, kemudian bibirnya bergetar entah apa yang dibisikkan.

Setelah itu sambil tersenyum ia berjongkok dan duduk dihadapan Hoa In-liong.

Matahari telah tenggelam dilangit barat, akhirnya Hoa In-liong mendusin dari semedinya, pelanpelan ia menghembuskan napas panjang, lalu membuka matanya dan bangkit berdiri.

Melihat itu.

buru-buru Coa Wi-wi ikut bangkit berdiri, teriaknya dengan penuh kegirangan.

"Sudah sembuhkah engkau Jiko? Sungguh tak kusangka kalau engkau telah bertemu dengan kongkong"

Ternyata ilmu semedi yang dilukiskan sebagai "istimewa"

Itu bukan lain adalah ilmu Bu-kek-tengheng-sim-hoat ajaran Goan-cing taysu.

Sim-hoat tenaga dalam ini merupakan salah satu dari ilmu silat keluarga Coa Wi-wi.

Sebagai orang yang berbakat lagipula pernah mendengarnya, hanya sekali pandangan saja ia sudah memahaminya.

Tampaklah Hoa In-liong memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian sahutnya.

"Racun ular sakti itu terlampau ganas. Meski sudah kucoba untuk mendesaknya keluar, toh hanya bisa mendesak racun itu untuk mengumpul di satu sudut belaka"

"Kau desak racun itu dimana? Tidak apa-apa bukan?"

Seru Coa Wi-wi dengan hati bergetar keras. Hoa In-liong alihkan sorot matanya dan mengawasi wajahnya beberapa kejap, tiba-tiba ia tertawa.

"Rupanya adalah Wi.... Oh, seharusnya kupanggil dirimu dengan sebutan apa? Adik Wi?"

"Aaah.... kamu ini jadi orang tidak serius"

Coa Wi-wi mengomel dengan dahi berkerut.

"aku kan lagi bertanya, racun ular itu kau kumpulkan dimana? berbahaya tidak? Bukannya menjawab, malah melantur kemana-mana...."

Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak, dicekalnya tangan gadis itu kemudian ditariknya mendekat.

"Racunnya sudah kukumpulkan dijalan darah Gi-li dan Gi-bi-hiat, tidak berbahaya lagi. Hayo beri tahu kepadaku sekarang, aku harus memanggil apa kepadamu?"

Coa Wi-wi berusaha meronta, tapi tak berhasil melepaskan diri dari cekalan pemuda itu, maka dengan muka semu merah karena malu omelnya.

"Cepat lepas tangan, kau mau menganiaya aku lagi?"

Mendengar tuduhan tersebut. Hoa In-liong terkesiap, cepat-cepat ia mengendorkan cekatannya.

"Aku memang keterlaluan, aku memang keterlaluan, kembali aku lupa diri...."

Rada lega juga Coa Wi-wi melihat kepanikan orang.

"Aku bernama Wi-wi"

Katanya kemudian.

"Toako menyebutnya sebagai adik Wi...."

"Kalau begitu, akupun akan meninggikan kedudukanku sendiri dengan menyebut dirimu sebagai adik Wi"

Kata Hoa In-liong cepat, lega juga hatinya ketika didapatkan gadis itu tidak marah.

Selesai berbicara, sekali lagi dia celingukan kesana-kemari, seakan akan urusan yang sudah lewat, asal sudah menyesalpun urusan jadi bsres.

Ketika gadis itu menyaksikan si anak muda tersebut celingukan, ia lantas bertanya.

"Engkau sedang mencari enci Wan?"

"Yaa!"

Hoa In-liong mengangguk.

"Kenapa nona Wan tidak kelihatan?. Oya, dimana Toako? Apa Toako belum kembali?"

"Enci Wan katanya hendak mencari gurunya, sedang Toako juga sehat dan tenang, aku pikir tak mungkin bakal terjadi hal-hal yang diluar dugaan"

Meskipun dimulut ia berkata demikian, namui hatinya mulai kalut dan gugup juga setelah Hoa Si yang ditunggunya selama ini belum kembali juga.

"Nona Wan sudah pergi!"

Hoa In-liong berseru dengan nada terkejut.

"Kemana dia akan mencari gurunya? Dia...."

Dari nada ucapannya maupun sikapnya yang begitu gelisah, dapat diketahui bahwa pemuda itu sangat mencemaskan keselamatan gadis tersebut.

Untunglah Coa Wi-wi sudah menduga sampai kesitu, maka dengan kalem dan sedikitpun tidak gugup ia menyahut.

"Katanya dia hendak pergi ke perbatasan untuk mencari gurunya. Siapa nama gurunya ia tak mau menerangkan. Cuma aku telah mengutus Ki-ji untuk menghantarnya sampai ke tempat tujuan. Jangan dilihat Ki-ji masih kecil tapi otaknya cukup cerdas. Aku rasa tak mungkin meraka sampai menemui musibah"

Hoa In-liong agak tertegun sehabis mendengar perkataan itu. Dengan tatapan mata yang tajam diawasinya wajah Coa Wi-wi beberapa kejap, kemudian diapun tersenyum.

"Kukira kenapa Ki-ji kok hilang, tak tahunya dia lagi menghantar nona Wan. Haa.... haa.... haa....Adik Wi pandai sekali mengatasi pelbagai persoalan, akupun jadi lega rasanya"

Diam-diam Coa Wi-wi mengerutkan dahinya dan berpikir dihati.

"Tampaknya perkataan enci Wan ada benarnya juga, ia tidak terlalu menaruh perhatian terhadap kepergian enci Wan...."

Sementara dia masih melamun, Hoa In-liong telah maju kedepan dan menggandeng lengan kanannya sambil berkata.

"Adik Wi, bagaimana kalau kita pun turun gunung?"

"Kau hendak menyusul Toako?"

Seru Coa Wi-wi dengan wajah tercengang dan mata yang dikerdipkanr berulang kali., Hoa -In-liong mengangguk.

"Yaa, Toako sudah pergi lama sekali, namun sampai sekarang belum kembali juga. Kita harus pergi menengoknya"

Maka ditariknya tangan Coa Wi-wi yang lembut dan diajaknya berlalu dari ruang kuil bobrok tersebut. Jalan tersanding disisinya, tiba-tiba Coa Wi-Wi berpaling dan ujarnya dengan lembut.

"Sebelumnya kau musti berjanji dulu. Andaikata Toako menjumpai halangan apa-apa, maka selama racun ular masih bersarang dalam tubuhmu, kau tak boleh bertindak menuruti hawa napsu. Segala sesuatunya kau musti diam, berjanji?"

"Aaah....selama kau ada disisiku, apalagi yang musti kukuatirkan? "

Seru Hoa In-liong tersenyum. Tiba-tiba Coa Wi-wi menghentikan langkah kakinya lalu menarik pula lengan Hoa In-liong hingga berhenti, katanya dengan serius.

"Kau musti berjanji dulu, sampai waktunya kau tak boleh sembarangan turun tangan. Segala sesu-atunya serahkan saja padaku. Janji?"

Mula-mula Hoa In-liong agak tertegun, menyusul kemudian ia tertawa terbahak-bahak.

"Haa.... haa.... haa.... baik, terserah padamu, terserah padamu.... Kiu-im Kaucu orangnya sombong, dingin dan kejam, jika kita tak segera berangkat dan seandainnya Toako benar-benar menghadapi musibah. Bila Kiu-im Kaucu juga angkat langkah seribu, akan kulihat kau bisa berbuat apa lagi?"

Terperanjat Coa Wi-wi mendengar ucapan tersebut, segera teriaknya dengan gelisah.

"Kalau begitu....ayoh kita segera berangkat!"

Di tangkapnya lengan Hoa In-liong, kemudian mereka berdua segera melompat kedepan dan melayang turun dari bukit tersebut.

Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Coa Wi wi betul-betul sudah mencapai pada puncak kesempurnaan.

Sepanjang perjalanan ia bergerak secepat sambaran petir.

Sekali loncat tiga lima kaki sudah dilampaui, seakan-akan semua gerakan tersebut dilakukan tanpa membuang tenaga barang sedikitpun juga.

Hoa In-liong yang berjalan mengiringi di sisinya hanya merasakan desingan angin tajam menderu-deru disisi telinganya.

Pemandangan disekitar tempat itu hampir boleh dibilang tak sempat dilihat jelas.

Akhirnya dia menarik kembali segenap hawa murninya dan membiarkan tubuhnya bergerak karena diseret gadis itu.

Nyatanya Coa Wi-wi tidak merasa kepayahan karena musti menarik sebuah beban berat.

Kecepatan geraknya bukan saja tidak bertambah lambat, sebaliknya justru malah bertambah cepat.

Tak ada pemuda yang tidak ingin tahu.

Hoa In-liong pernah menyaksikan kelincahan Coa Wi-Wi ketika berada di bukit Ciong-san.

Waktu itu nona tersebut melayang turun dari langit bagaikan bidadari turun dari kahyangan, rasa herannya ketika itu sudah amat besar.

Maka setelah menyaksikan kejadian tersebut, rasa ingin tahunya makin lama makin bertambah besar.

oooOOOOooo AKHIRNYA si anak muda itu tak dapat mengendalikan rasa ingin tahunya itu, maka dia pun bertanya.

"Eeeeh....adik Wi, siapakah yang mengajarkan ilmu meringankan tubuhmu? Apakah ibumu?"

"Ehmmmm....!"

Jawab Coa Wi-wi tak acuh. Selang sesaat kemudian tiba-tiba ia berbaling sambil bertanya pula.

"Oya....dimanakah kau telah berjumpa dengan kongkongku?"

"Kongkong mu?"

Hoa In-liong tertegun dan bertanya dengan wajah tercengang.

"Iya.... Ilmu Bu-kek-teng-heng-sim-hoat tersebut bukankah ajaran dari kongkong ku?"

"Bu-kek-teng-heng-sim-hoat....?"

Hoa In-liong makin tercengang.

"Oh.... maksud adik Wi, ilmu sim-hoat tenaga dalam yang kugunakan untuk mendesak keluar racun dari tubuhku tadi bernama Bu-kek-teng-heng-sim-hoat?"

"Aneh betul!"

Coa Wi-wi merasa keheranan juga.

"Sim-hoat tunggal dari keluarga kami itu tak pernah diwariskan kepada orang lain, juga tak pernah diwariskan kepada seseorang secara rahasia. Kalau didengar dari ucapannya tadi tampaknya kau belum pernah berjumpa dengan kongkong. Apa yang sebenarnya telah terjadi? Masa didunia ini masih terdapat ilmu sim-hoat lain yang serupa dengan kepandaian tersebut?"

"Aku tidak tahu, ilmu itu diwariskan seorang tokoh sakti kepadaku, waktu itu...."

Coa Wi-wi ingin buru-buru membuka tabir rahasia tersebut, ia tak sabar untuk mendengarkan obrolan orang, segera tukasnya.

"Coba kau baca isi pelajaran sim-hoat itu kepadaku!"

Hoa In-liong merasa bahwa cara itu ada benarnya juga. maka diapun lantas menghapalkan isi pelajaran tersebut diluar kepala.

"Badan ini bukan utuh, hati ini bukan utuh. Dunia jagad sejak dulu, berbaur dan mengumpul tiada hentinya...."

Pelajaran sim-hoat itu bukan lain adalah ajaran dari Goan-cing Taysu. Coa Wi-wi tentu saja hapal sekali, maka hanya mendengar beberapa patah kata saja ia sudah tersenyum senyum seraya menukas.

"Bergerak dan tengan mengikuti tay-kek, aliran terbalik mendatangkan tenaga.... cukup.... cukup! Itulah pelajaran sim-hoat tenaga dalam dari keluarga kami. Berarti kongkong lah yang mengajakan pelajaran itu kepadamu, tak usah kau baca lagi"

Mendengar perkataan itu, Hoa In-liong juga merana sangat gembira, ia jadi tertarik sekali, maka serunya kemudian.

"Bagus! Mari kita membicarakan soal ilmu silat dari aliran keluargamu...."

"Jangan membicarakan soal semacam itu disaat seperti ini"

Tukas Coa Wi-wi serius.

"Kita harus cepat pergi, soal lain kita bicarakan setelah bertemu dengan Toako nanti"

Ia benar-benar menambah tenaga dalamnya beberapa bagian, sekejap mata kemudian ia sudah berada puluhan kali jauhnya dari tempat semula....

Sebenarrya Hoa In-liong masih mempunyai banyak persoalan yang ingin ditanyakan kepada gadis itu, seperti misalnya siapa nama Goan-cing Taysu.

Asal-usul ilmu silat dari keluarga Coa, juga tentang ilmu silat Coa Cong-gi yang cetek padahal Coa Wi-wi berilmu sangat tinggi.

Apa yang sebenarnya terjadi di balik kesemuanya itu?

Tapi oleh Coa Wi-wi berbicara serius, lagi pula yang dikuatirkan adalah Toakonya juga, maka ia harus bersabar untuk menyimpan kembali semua pertanyaan itu didalam hati.

Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh keluarganya, dia pun bergerak menuruni bukit dengan mengintil disisi Coa Wi-wi.

Setelah kedua orang itu sama-sama mengerahkan tenaga dalam, kecepatan gerak merekapun berlipat ganda.

Dalam sekejap mata mereka sudah tiba di kaki bukit.

Selang sesaat kemudian mereka sudah berada dekat dengan kota Ci-tin, tiba-tiba Hoa In-liong memperlambat langkahnya lalu berkata.

"Adik Wi lepaskan jubah panjangmu itu!"

"Kenapa?"

Tanya Coa Wi-wi dengan wajah tertegun, cepat ia menghentikan langkah kakinya. Hoa In-liong juga ikut berhenti.

"Kita tidak tahu Toako mengadakan janji dimana. Itu perlu kita tanyakan setibanya dikota nanti. Tapi kalau jubah itu tidak kau copot, pada hal ikat kepalamu sudah tertinggal dipuncak bukit, modalmu yang laki tidak laki perempuan tidak perempuan itu tentu akan ditertawakan orang"

Kiranya sejak ikat kepala yaug dikenakan Coa Wi-wi terlepas, menyusul kemudian terjadinya keributan, Hoa In-liong mengerahkan tenaganya untuk mengusir racun, Wan Hong-giok ribut mau pergi dan Hoa In-liong akhirnya selesai dengan semedinya, Coa Wi-wi telah melupakan sama sekali akan kejadian tersebut.

Jilid 23 MAKA setelah ditegur, gadis itupun berseru tertahan dan buru buru melepaskan ikat pinggangnya.

Tapi baru melepas sampai tengah jalan, mendadak paras mukanya berubah jadi merah, sambil mendorong pemuda itu kemuka teriaknya marah.

"Sana, menghadap kesitu, awas jangan mengintip yaa!"

"Baiklah, aku akan berjalan pelan-pelan, tapi kau harus cepatan sedikit...." ' Selesai berkata, ia benar benar putar badan dan pelan-pelan maju kemuka. Waktu itu senja telah lewat, malam yang gelap mencekam seluruh jagad, dari kejauhan tampak cahaya lampu yang lapat-lapat memancar dari arah kota Ci-tin, kadangkala terdengar juga suara tertawa orang, suasana amat tenang dan nyaman. Sambil berjalan Hoa In-liong kembali berpikir sudah berapa ratus langkah ia lanjutkan perjalanannya tapi Coa Wi-wi belum menyusul juga.

"Perempuan memang paling merepotkan"

Pikirnya kemudian.

"Untuk melepaskan sebuah jubah luarnya makan waktu selama ini"

Sementara dia masih berpikir, mendadak Coa Wi-wi sedang membentak keras.

"Siapa itu? Hayo cepat berhenti!" . Hoa In-Hong merasa terkesiap tak ssmpat berpikir panjang lagi, buru-buru ia menjejakkan kakinya ke tanah dan melayang kembali ke tempat semula. Tampaklah sesosok bayangan abu-abu sedang kabur menuju kearah timur, agaknya Coa Wi-wi termangu sesaat sebelum akhirnya melakukan pengejaran yang ketat. Gerakan tubuh orang itu amat cepat, meski permukaan tanah tidak rata namun dalam beberapa kali lompatan saja sudah hampir lenyap di balik pepohonan yang luas. Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Coa Wi-wi memang amat sempurna, tapi lantaran ia agak terlambat sewaktu melakukan pengejaran, maka tak berhasil disusulnya. Hoi In-liong sangat gelisah, cepat-cepat sepasang kakinya menggunting lalu menerobos masuk ke dalam hutan, hardiknya.

"Sahabat, ayoh hentikan langkahmu!" . Pemuda itu berada lebih jauh lagi jaraknya dengan orang itu apalagi bergerak jauh lebih lambat. Untuk menyusul orang tersebut sudah, jelas lebih-lebih tak mungkin lagi. Siapa sangka ketika bayangan abu-abu itu tiba ditepi hutan yang lebat itu, mendadak ia berhenti dan malahan memutar badannya seraya menegur.

"Apakah yang datang adalah adik In-liong?"

Didengar dari nada suaranya jslas orang itu sangat dikenal olehnya dan tak bisa diragukan lagi orang itupun menghentikan gerakan tubuhnya setelah mengenali suara teguran dari Hoa Inliong.

Hoa In-liong juga agak tertegun sesudah mendengar seruan tersebut, tanpa menghentikan gerakan tubuhnya dia menyahut.

"Yaa, aku adalah Hoa loji, siapakah saudara?"

"Aaaai....Payah sekali aku mencari dirimu"

Teriak bayangan abu-abu itu dengan nada kegirangan.

Cepat dia melompat kedepan dan menyongsong kedatangan anak muda itu.

Hoa In-liong yang bermata jeli segera dapat mengenali pula siapa gerangan bayangan abu-abu itu, diapun tampak amat kegirangan.

"Oooh.... Kiranya Saudara Ek-hong, haa.... haa.... haa.... Ibaratnya air bah menggenangi kuil raja naga, orang keluarga sendiripun tidak dikenali"

Seraya berkata ia buru-buru maju ke muka dan menyongsong pula kedatangan orang itu.

"Tunggu sebentar!"

Tiba-tiba Coa Wi-wi membentak dengan suara yang dingin.

"Kenapa?"dengan wajah tercengang dan setengah tertegun Hoa In-liong berpaling.

"Masa kalian tidak saling mengenal? Dia kan saudara Wan Ek-hong? "Tentu saja kenal"

Sahut Coa Wi-wi tetap berdiri kurang lebih satu kali dihadapan pemuda itu.

"Aku hanya ingin bertanya kepadamu, mengapa kau main sembunyi dengan cara yang sangat mencurigakan, menegurpun tidak apalagi bersuara?"

"Oooh.... Rupanya adik dari keluarga Coa?"

Seperti baru tahu Wan Ek-hong segera menyapa.

"Aku kira.... aku kira.... aiaai! Kalau begitu akulah yang telah salah melihat orang"

Coa Wi-wi mendengus dingin, tampaknya rasa dongkol dan marahnya belum mereda.

Bibirnya kembali gemetar seperti hendak mengucapkan sesuatu, namun tak sepatah katapun yang sampai meluncur keluar.

Hoa In-liong dapat merasa keadaan yang kurang harmonis, buru-buru serunya sambil tertawa.

"Adik Wi, malam sudah kelam apalagi suasana diliputi gelap gulita, salah melihat orang itu lumrah, aku rasa kaupun tak usah...."

"Kamu tak usah turut campur"

Belum habis pemuda itu berbicara, Coa Wi-wi sudah menukas dengan mata melotot.

"Sedari dulu waktunya memang sudah begitu. Dia paling suka mempermainkan aku. Hmmm! Ini hari aku tidak akan menyudahi urusan sampai disitu saja. Bagaimanapun jua dia musti memberi penjelasan yang seterang-terangnya kepadaku"

Berbicara sampai disitu dia lantas berbaling dan ditanya Wan Ek-hong dengan mata melotot.

"Hayo jawab!"

Kembali bentaknya.

"Mengapa kau bersembunyi dibelakang batu tanpa bersuara? Mau mempermainkan aku yaa?"

Wan Ek-hong dibuat jadi serba kikuk dan serba jengah. Mukanya jadi merah seperti kepiting rebus, senyum yang menghiasi bibirpun senyuman yang teramat getir.

"Hian-moay, janganlah menuduh aku dengan tuduhan yang bukan-bukan"

Pintanya.

"Jangan bikin aku jadi penasaran. Aku betul-betul tidak tahu kalau engkau yang berada disitu!"

"Huuuh....! Setan baru percaya dengan obrolanmu"

Coa Wi-wi mencibirkan bibirnya.

"Kami sudah bercakap-cakap, sedang kau bersembunyi dibelakang batu hanya tiga kaki jauhnya dari tempat kami berbicara, masa suara kamipun tidak kedengaran?. Apalagi diantara Kim-leng ngo-kongcu engkaulah yang paling lihay dalam hal ilmu silat. Sekalipun tidak dapat mengenali suara kami rasanya juga tak usah kabur. Hmmm! Kau tak berlagak pilon, mau tipu orang mesti lihat dulu siapa yang hendak kau tipu. Hendak membohongi aku? Huuuh! jangan mimpi disiang hari bolongi"

Hoa In-liong yang menyaksikan percekcokan itu diam-diam tertawa geli, pikirannya dalam hati.

"Adik Wi betul-betul tidak pakai aturan. Itu namanya orang yang tidak salah dituduh berbuat salah. Berbicara sampai tiga hari tiga malampun tak akan ada habisnya. Yaa, mungkin kedua orang itu memang sudah tidak cocok sedari dulu, atau mungkin gurauan saudara Ek-hong dimana dulu sedikit keterlaluan, maka akibatnya adik Wi sampai sekarang masih merasa mendongkol"

Sementara dia masih terpikir, Wan Ek-hong telah tertawa serak untuk menutupi perasaan jengahnya.

"Aaaaai....! Kalau dibicarakan sungguh bikin hati menjadi menyesal. Aku benar-benar tidak tahu kalau engkau yang berada disana. Terus terang saja kuakui, andaikata pada dari yang terakhir kukenali suara teguran tersebut sebagai suara diri adik In-liong, mungkin semenjak tadi aku sudah kabur ke dalam hutan dan melenyapkan jejakku disana"

"Hee....hee.... hee.... Mungkinkah kau bisa lolos dari cengkeraman?"

Ejek Coa Wi-wi sambil tertawa dingin, mukanya tampak sinis sekali. Agak tertegun Wan Ek-hong ketika menghadapi pertanyaan tersebut.

"Bisa kabur atau tidak, itu urusan lain. Pada hakekatnya andaikata aku sudah tahu bahwa orang yang ada disitu adalah engkau buat apa aku musti melarikan diri? Bukan begitu adik In-liong?"

"Tidak boleh bertanya kepadanya"

Coa Wi-wi sangat marah.

"Kau juga tak boleh menghindari yang sedang berkecamuk didalam benakmu?"

Nada tegurannya kian lama kian bertambah keras dan nyaring, seakan-akan gadis itu tak mau menyadari persoalan tersebut sebelum urusan menjadi jelas keseluruhnya.

Lama-lama Hoa In-liong merasa tak tega, cepat selanya dari samping.

"Adik Wi, jangan keterlaluan! Kita semua toh mempunyai hubungan persaudaraan yang erat. Masa saudara Ekhong bakal mempunyai ingatan jahat terhadap dirimu...."

"Aaaah....! Kamu ini tahu apa?"

Kembali Coa Wi-wi menukas.

"Tampangnya saja seperti orang yang tahu sopan santun dan halus budinya. Padahal. Huuuuh! otaknya busuk, pikirannya jahat dan semua akal busuknya hanya bertujuan untuk perbuatan yang terkutuk...."

"Sudah....sudah....cukup, jangan seperti anak anak lagi"

Hoa In-liong segera menukas pula sambil tersenyum.

"Saudara Ek-hong adalah saudara angkat dari kakakmu Cong-gi. Dia memandang engkau sebagai adik sendiri juga. Kalau cuma bergurau atau menggoda dirimu itu lumrah dan tak bisa dihindari. Buat api kau musti pikirkan di dalam hati, apalagi menggunakan kata-kata yang kurang didengar untuk mencari maki dirinya, itu kurang baik"

Berbicara sampai disitu diapun lantas berpaling ke arah Wan Ek-hong seraya bertanya.

"Saudara Ek-hong, karena urusan apa engkau datang kemari? Apakah kau sedang mencari diri siau-te?"

Tentu saja tujuannya mengalihkan pokok pembicaraan adalah untuk menghilangkan suasana kaku yang mencekam suasana disitu.

Siapa tahu sebelum Wan Ek-hong sempat menjawab pertanyaan tersebut, Coa Wi-wi sudah menerjang kemuka sambil berteriak lagi.

"Tunggu sebentar, biar dia menjawab dulu pertanyaanku. Sebenarnya apa maksud dan tujuannya engkau bersembunyi dibelakang batu disana?"

Hoa In-liong tertegun.

"Apa sebenarnya yang telah terjadi?"

Demikian pikirnya.

"Kenapa kali ini adik Wi demikian keras kepala? Meskipun saudara Ek-hong berbuat salah, sepantasnya kalau ia memberi sedikit muka kepadanya, agar dia tak sampai benar-benar kehilangan muka. Mungkinkah.... Mungkinkah kepribadian dan akhlak saudara Ek-hong memang benar-benar ada penyakitnya? Tapi...."

Berpikir sampai disitu, tanpa sadar sinar matanya ikut dialihkan pula keatas wajah Wan Ek-hong.

Diperhatikan orang dengan cara begini, Wan Ek-hong semakin kikuk dan serba salah.

Ia tertawa getir, lalu ujarnya dengan perasaan apa boleh buat.

"Baiklah! Kalau toh hian-moay memaksa aku untuk mengakuinya, akupun tak akan melindungi nama baikku lagi untuk mengaku terus terang. Yaa, pada hakekatnya aku sedang dikejar kejar oleh beberapa orang perempuan hingga kehilangan jalan. Dengan susah payah aku baru saja berhasil lolos dari kejaran mereka. Aku merasa lelah dan kehabisan tenaga, ibaratnya burung yang ketakutan oleh bidikan. Baru saja aku bersemedi mengatur tenaga dibelakang batu itu. Ketika kalian da-tang maka akupun tak berani berbisik. Aku kuatir kalian adalah orang-orang yang mengejar diriku itu. Hian-moay, aku sudah mengakui kelemahanku yang amat memalukan ini, ibaratnya kulit mukaku sudah kau sayat, puaskah kau?"

Begitu pengakuan diberikan, Hoa In-liong jadi tertegun bercampur kaget, ia segera bertanya dengan nada terkejut.

"Beberapa orang perempuan? Apakah mereka adalah anak buah dari Kiuim kau?"

"Huuuh....! Siapa yang tahu kalau cerita itu sungguhan atau bohong"

Coa Wi-wi kembali mengejek.

"Aku tidak percaya kalau dengan andalkan beberapa orang perempuan, dia bisa dibikin kalang kabut ketakutan selengah mati!"

"Tapi apa yang kuceritakan adalah kenyataan"

Seru Wan Ek-hong agak penasaran.

"Jika kau tidak percaya, silahkan ke belakang batu sana dan periksa sendiri. Disitu ada sebuah kain putih, bila bukan lantaran desingan dari baju, mungkin aku belum sadar dari samadiku!"

"Tak usah dilihatpun aku juga tahu"

Kata Coa Wi-wi dengan alis mata berkenyit.

"Kain itu adalah baju luarku. Hanya sebuah jubah luar sana sudah bikin kau ketakutan sampai kabur terbirit-birit. Hmmm! siapa yang akan percaya dengan obrolanmu?"

"Aku adalah ibaratnya burung yang baru kena dibidik"

Keluh Wan Ek-hong dengan muka yang mengenaskan.

"Apalagi aku dibikin samar ditengah kegelapan...."

"Huuuh....! hanya bertemu dengan seorang perempuan saja sudah dibikin ketakutan setengah mati?"

Ejek Coa Wi-wi sambil mencibirkan bibirnya.

"Hmmm, sayang seribu kali sayang, bila ingin suruh aku percaya lebih baik karanglah alasan lain yang lebih tepat lagi"

Wan Ek-hong tertegun, dia alihkan pandangan matanya ke sekeliling tempat tersebut, kemudian sesudah berpikir sebentar ujarnya, ' "Aaaai....!

berkata begini tidak percaya, berkata begitu tidak percaya, tampaknya aku harus mohon diri saja dari tempat ini ".

Coa Wi-wi mendengus dingin.

"Hmmm! Mau pergi kek, mau tidak pergi kek, siapa yang sudi mengurusi dirimu?"

Hoa In-liong makin tercengang lagi sudah menyaksikan kejadian itu, dahinya berkerut.

"Sebenarnya apa yang terjidi?"

Demikian pikirnya.

"Dengan susah payah ia memaksa orang untuk menjawab, seakan-akan sebelum urusan dibuat terang ia tak mau menyudahi urusan dengan begitu saja. Tapi setelah orang mau pergi, dia tidak menahannya, aneh benar kejadian ini"

Sementara itu Wan Ek-hong telah menghela napas panjang.

"Aaaaai! Baiklah kalau toh demikian. Baiknya aku mohon diri saja dari sini!"

"Eeeeh.... Jangan pergi.... Jangan pergi"

Dengan terkejut Hoa In-liong berusaha menghalangi kepergiannya.

"Adik Wi masih terlampau muda, harap saudara Ek hong jangan...."

Tapi sebelum ia sempat menyelesaikan kata-katanya, Coa Wi-wi kembali sudah menukas.

"Kalau dia mau pergi, kenapa kau musti menahan dirinya lebih lanjut....?"

Hoa In-liong tertegun, sambil berpaling teriaknya.

"Adik Wi...."

Sekilas rasa benci dan gemas melintas diatlas wajah Wan Ek-hong, segera sambungnya.

"Adik Liong tak usah banyak berbicara lagi, aku sudah mengenali watak adik Wi. Sekalipun kau paksa untuk menahan diriku juga percuma, paling-paling hanya membuat dia semakin marah saja. Untuk sementara waktu biar aku menyingkir saja lebih dulu"

Coa Wi-wi mendengus dingin, ia melengos ke arah lain dan tidak menggubris lagi. Hoa In-liong kuatir dia benar-benar akan pergi, segera ujarnya pula.

"Aiaai, perkataan apa itu, adik Wi tak ada alasan untuk marah. Harap saudara Ek-hong juga tak usah tersinggung. Hayo berangkat,kita bercakap-cakap dalam kota saja"

Wan Ek-hong menggerakkan tubuhnya menyingkir ke samping, cepat tampiknya sambil tersenyum.

"Tak usah, melihat kau berada dalam keadaan segar bugar, hatiku juga ikut lega, urusan lain kita bicarakan lain waktu saja!"

Selesai berkata ia lantas memberi hormat, kemudian putar badan dan berlalu dari situ.

Hoa In-liong betul-betul amat gelisah melihat kepergian pemuda itu, sebab masih banyak urusan yang bendak dia tanyakan.

"Eeeh.... tunggu sebentar!"' teriaknya kemudian.

"Kau hendak pergi kemana?" . Cepat kakinya menjejak tanah dan siap mengejar kemuka, tapi sebelum ia sempat bergerak, tangannya sudah terlanjur ditangkap Coa Wi-wi.

"Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi"

Terdengar Wan Ek-hong sambil lari sambil berteriak "Saudara Siau-lam sudah berangkat ke barat, aku harus menyusulnya dengan segera"

"Saudara Siau-lam mau apa berangkat ke barat?"

Hoa In-liong semakin gelisah, sehingga ia mendepak-depakkan kakinya berulang kali keatas tanah. Makin lari Wan Ek-hong berlalu semakin cepat. Dari kejauhan sempat terdengar suaranya mengalun tiba.

"Konon empek Yu ditangkap orang orang Mokau, mati hidupnya belum ketahuan"

Meski orangnya sudah sangat juah, tapi suaranya lapat-lapat masih kedengaran, tapi sampai akhirnya suara itu tak terdengar lagi.

Hoa In-liong tak berani menggunakan tenaga terlampau besar, maka ketika ia gagal untuk melepaskan diri dari cengkeraman Coa Wi-wi, kakinya didepak-depakkan keatas tanah dengan gelisah.

"Lepaskan tanganku adik Wi. Persoalan ini bukan permainan anak-anak, kita musti menyusul saudara Ek-hong dengan cepat!"

Tapi Coa Wi-wi tetap memegang tangannya erat-erat, malahan sambil menatap wajah pemuda itu dia berseru.

"Kau amat percaya dengan perkataannya?"

Hoa In-liong menghela napas panjang.

"Aaai.... Kau terlalu nakal. Urusan ini menyangkut mati hidup empek Yu, masa bisa kabar bo-hong belaka?"

"Lantas, kau tidak akan mengurusi urusan Toako lagi? "

Tiba-tiba Coa Wi-wi menegur. Hoa In-liong tertegun, ia jadi serba salah, malahan untuk menjawabpun bingung. Tiba-tiba Coa Wi-wi bertanya lagi.

"Tahukah kau, orang she-Wan itu pergi kemana?"

Kembali Hoa In-liong tertegun.

"Bukankah dia bilang mau menyusul saudara Siau-lam?"

Pemuda itu balik bertanya.

"Berarti dia seharusnya ke barat bukan? Sayang dia mengatakan mau ke barat padahal sekarang mungkin ada di timur. Kalau tidak percaya, silahkan kau susul dirinya"

Tangannya direntangkan menunjukkan sikap terserah, lalu pelan-pelan dia berangkat ke kota Citin.

Hoa In-iong makin serba salah dibuatnya, jangan toh dia niscaya tak tega meninggalkan urusan Hoa Si, sekalipun sekarang disusul juga bayangan tubuh dari Wan Ek-hong sudah lenyap tak berbekas.

Apa lagi dibalik ucapan Coa Wi-wi terkandung arti yang amat mendalam.

Sebagai seorang pemuda yang pandai membawa diri, setelah berpikir sebentar dan mengetahui bahwa disusulpun tak ada gunanya, dia memutuskan untuk menyelesaikan dulu masalah yang menyangkut Toakonya Hoa Si.

Karena itulah dia percepat langkah kakinya dan menyusul diri Coa Wi-wi....

Ketika dilihatnya pemuda itu menyusul datang Coa Wi-wi segera tertawa cekikikan, seraya berpaling tegurnya.

"Kenapa tidak kau susul dirinya?"

"Lebih baik kita cari Toako lebih dulu!"

"Seharusnya memang begitu"

Coa Wi-wi berkata dengan wajah berseri.

"Orang she-Wan itu adalah manusia paling busuk, semua perkataannya tidak dapat dipercaya"

Mendengar perkataan tersebut, Hoa In-liong segera mengerutkan alisnnya.

"Adik Wi! Tampaknya engkau menaruh prasangka jelek yang amat mendalam atas diri saudara Ek-hong?"

"Prasangka jelek?"

Ejek Coa Wi-wi, sambil berkerut kening.

"Hmmm.... Manusia macam begitu itu lain dimulut lain dihati. Aku paling benci kepadanya. Andaikata saudaraku tidak mempunyai hubungan baik dengannya, hee.... hee.... heee sejak dulu dulu aku sudah memberi pelajaran yang setimpal kepadanya"

"Lain dimulut lain dihati?"

Ulang Hoa In-liong dengan wajah makin tercengang.

"Aku lihat saudara Ek-hong itu...."

"Aaaah.... Engkau tak usah menyebut saudara Ek-hong saudara Ek-hong melulu. kalau bisa aku malah menganjurkan dirimu untuk putus hubungan dan tak usah berhubungan dengan dirinya lagi"

Tukas Coa Wi-wi dengan nada jemu. Hoa In-liong semakin berkerut kening, diapun berpikir.

"Benar-benar suatu kejadian aneh. Tampaknya rasa benci adik Wi terhadap dirinya bukan terbatas cuma benci saja, bahkan sudah meningkat menjadi suatu dendam kesumat, yang seakan-akan sedang berhadapan dengan musuh bebuyutan saja. Apa yang telah terjadi? Aku lihat saudara Ek-hong tampan, gagah dan setia kawan. Dia tidak mirip seorang manusia yang busuk atau memuakkan"

Walaupun ia sudah putar otak dan memikirkan persoalan itu berulang kali, namun pikirannya tak pernah dia bawa ke bagian yang jelek.

Dia selalu beranggapan bahwa Coa Wi-wi masih muda, berdarah panas, dan rasa sentimennya terhadap Wan Ek-hong hanya lantaran pandangannya yang tidak cocok.

Karena itu meski dihati ia berpikir demikian, senyum manis masih tersungging diujung bibirnya.

"Adik Wi, engkau suruh aku putus hubungan dengannya, tentu anjuran ini disebabkan oleh alasan yang kuat bukan? Nah, tolong ajukanlah suatu contoh yang membuktikan bahwa dia adalah seorang manusia lain dimuka lain dihati. Jika ada dasar, buktimu itulah akan kupertimbangkan haruskah hubunganku dengannya diputuskan atau tidak" . Coa Wi-wi segera mencibirkan bibirnya.

"Aku sudah tahu kalau kamu ini manusia yang susah diberitahu. Baiklah! Akan kuberitahukan kepadamu. Orang itu luarannya saja yang gagah dan tampan, seakan-akan dia itu manusia yang jujur. Manusia yang gagah perkasa, terutama didepan kakakku sekalian waduh.... Lagaknya macam orang yang sok mulia, sok bijaksana dan sok setia kawan.... Padalah hanya, huuh.... ! Dia adalah seorang busuk, manusia munafik, manusia rendah tak tahu malu"

"Kau punya bukti?"

Tanya Hoa In-liong kemudian setelah tertegun dan melongo. Coa Wi-wi manggut-manggut.

"Tentu saja! Bukan saja kusaksikan dengan mata kepala sendiri, bahkan mengalaminya juga sendiri. Oleh karena dia mempunyai hubungan yang sangat baik dengan kakakku sekalian, dulu akupun memanggilnya sebagai "

Wan-suko ".

Siapa tahu dia selalu saja menggoda aku.

Waktu itu meski aku rada jemu dan sebal, itupun hanya terbatas pada rasa sebal belaka.

Hingga pada suatu ketika....

hingga....

hingga pada suatu ketika...."

Tiba-tiba ia jadi tergagap dan tak mampu menerusnya kembali kata-katanya.

"Kenapa? Apakah dia kurangajar kepadamu?"

Coa Wi-wi mendengus dingin.

"Hmmm! Dia berani? Kalau dia berani kurang ajar kepadaku, sejak dulu dulu aku sudah beri pelajaran yang paling pahit kepadanya"

Mendengar jawaban itu, Hoa In-liong merasa agak lega, dia menghembuskan napas lega.

"Bagus sekali, lanjutkan ceritamu!"

"Aaaah.... tak usaH diceritakan lagi,!"

Coa Wi-wi gelengkan kepalanya beberapa kali.

"Dibayangkan saja keki, apalagi diceritakan!"

Hoa In-liong mengerdipkan matanya berulang kali, diam-diam ia mulai berpikir.

"Agaknya saudara Ek-hong adalah seorang laki-laki yang gemar main perempuan dan mata keranjang. Mungkin ada sesuatu perbuatan jeleknya yang ketangkap basah oleh adik Wi. Karena malu maka adik Wi segan untuk menceritakan kembali...."

Walaupun masih banyak persoalan yang mencurigakan hatinya, namun persoalan persolan itu tak sampai diutarakan keluar.

Dia hanya melanjutkan perjalanannya dengan mulut membungkam.

Melihat pemuda itu membungkam dalam seribu bahasa, tiba-tiba Coa Wi-wi berkata lagi.

"Apakah engkau masih belum percaya? Baiklah akan kuceritakan kepadamu. Dia telah mempermainkan dayang dari Ko Samko, Ko Siong-peng. Dayang tersebut dia totok jalan darahnya, tapi ketika hendak melucuti gaun dayang tersebut telah ketahuan aku. Sejak itulah aku tak sudi menyebut Suko lagi kepadanya. Coba bayangkan, manusia macam begitu apa patut disebut laki-laki sejati? Tampangnya saja gagah, padahal diam-diam melakukan perbuatan terkutuk yang sangat memalukan. Tidak pantaskah kalau manusia seperti itu disebut manusia munafik? Jika engkau tak mau putuskan hubungan dengannya, lain kali kau musti akan merasakan pahit getir di tangannya"

Perkataan itu diucapkan dengan tegas dan sungguh-sungguh.

Bahkan makin berbicara semakin panas hatinya.

Sekalipun orang lain yang mendengar, tidak percaya juga akhirnya jadi percaya.

Tapi lain halnya dengan Hoa In-liong.

Dia tak mempercayai perkataan orang dengan begitu saja.

Sekalipun dia lebih percaya lagi beberapa bagian atas kisah tersebut, sekalipun ia merasa terkejut dihati.

Tapi lantaran kejadian itu tidak disaksikan sendiri, maka diapun tak ingin memberi tanggapan atau komentar apapun jua.

Sesudah termenung sebentar, akhirnya iapun berkata.

"Adik Wi, kita tak usah membicarakan tentang dia lagi. Hayo kita percepat perjalanan kita"

Coa Wi-wi tertegun.

"Kenapa kau masih tidak percaya juga? Kau masih akan berhubungan lagi dengannya?"

Hoa In-liong tersenyum.

"Asal aku lebih waspada kan beres"

Sahutnya.

"Pepatah bilang. Siapa yang tidak jujur berarti dia sedang bunuh diri. Andaikata dia benar-benar seorang manusia yang jahat dan busuk, lain kali akulah yang pertama-tama tak akan lepaskan dia, tak usah kuatir"

Coa Wi-wi termenung sejenak, akhirnya diapun menghela napas.

"Baiklah! Terserah kepadamu. Kau mempunyai pandangan sendiri sedang aku tak bisa memaksakan pandanganku kedalam pandanganmu. Cuma kalau bertemu lagi lain kali, kuharap engkau bersedia meningkatkan kewaspadaanmu. Jangan sampai kau tertipu oleh akal muslihatnya"

Hoa In-liong hanya bisa manggut-manggut belaka.

Maka kedua orang itupun melanjutkan perjalanan sambil bergandengan tangan.

Selang sesaat kemudian mereka sudah tiba kembali d kota Ci-tin, tepatnya di loteng Cwan-senglo.

Waktu itu Coa Wi-wi mengenakan pakaian wanita, maka pelayan yang bernama Go Bei-ci sudah tidak mengenalnya lagi.

Berbeda dengan Hoa In-liong yang mengenakan pakaiah sama, hanya mantelnya sekarang penuh debu.

Maka hanya sekilas pandangan saja pelayan itu sudah mengenalinya kembali.

Dengan wajah penuh senyuman pelayan itu buru-buru maju menyongsong kedatangannya.

"Kongcu-ya sudah kembali? "sapanya.

"Kiong-hi, tidak sia-sia rasanya perjalananmu kali ini. Haa.... haa.... haa.... silahkan.... silahkan naik ke oteng"

Jelas ia telah salah menganggap Coa Wi-wi sebagai Wan Hong-giok. Hoa In-liong sendiripun tidak memberi penjelasan lebih jauh. Sambil naiki tangga loteng dia berkata sambil tersenyum.

"Tak nyana engkau masih mengenali diriku. Tolong tanya apakah selama dua hari belakangan ini ada orang yang menyolok mata berkunjung kemari?"

"Orang-orang yang menyolok? Oooh...."

Pelayan yang menyusul dari belakang itu mendadak berseru tertahan, lalu sambil merendahkan suaranya dia berbisik.

"Ada beberapa orang, bahkan sekarang masih berada di atas loteng!"

Mendengar kabar tersebut dengan kaget Hoa In-liong menghentikan langkah kakinya, kemudian ikut berbisik.

"Ada berapa orang? Bagaimana dandanan mereka?"

Pelayan itu mengerling sekejap ke atas loteng, lalu sambil pura-pura sok misterius sahutnya.

"Tiga orang nona cantik, potongan, badannya menggiurkan, parasnya juga menarik. Belum pernah kota ini dikunjungi nona secantik itu, mereka mirip.... mirip...."

Dia ada maksud menggunakan Coa Wi-wi sebagai perumpamaan.

Siapa tahu begitu sorot matanya terbentur dengan wajah gadis tersebut, seketika itu juga ia merasakan bahwa kecantikan Coa Wi-wi tiada tandingannya dikolong langit.

Maka pelayan itu hanya bisa menjulurkan lidahnya gelagapan dan tak mampu melanjutkan kembali kata-kata.

Ketika Coa Wi-wi mendengar bahwa di atas loteng hanya beberapa orang bocah perempuan saja, ia lantas membentak nyaring, kemudian melanjutkan langkahnya keatas loteng.

Hoa In-liong juga tertawa rawan, sambil ulapkan tangannya dia berkata kemudian.

"Sediakan saja beberapa sayur, selesai bersantap kira masih harus melanjutkan perjalanan. Siapkanlah buat kami"

Habis berkata pemula itu memutar badannya dan pelan-pelan naik ke atas loteng.

Loteng itu hampir penuh oleh tamu yang sedang bersantap.

Coa Wi-wi sedang berdiri didepan tangga sambil celingukan kesana-kemari.

Sementara tiga orang "bocah perempuan"

Yang dimaksudkan pelayan duduk disudut barat dekat jendela.

Bila ditinjau dari dandanan mereka, memang wajahnya cakup ayu dan menarik hati.

Disuatu sudut timur dekat jendela ia mencari tempat duduk lalu menggandeng tangan Coa Wi-wi untuk duduk.

Menggunakan kesempatan tersebut matanya memandang sekejap sekeliling tempat itu untuk memeriksa apakah disekitar sana ada orang persilatan yang menyolok pandangan mata atau tidak.

Ternyata tamu yang bersantap disana sebagai besar adalah penduduk kota.

Yang bisa disebut sebagai "rnenyolok"

Memang tak lain hanya tiga orang "bocah perempuan itu".

Nona nona tersebut tidak terlalu besar usianya.

Yang paling tuapun baru berusia delapan sembilan belas tahunan.

Diantaranya satu mengenakan baju warna hijau pupus, satu mengenakan baju warna merah menyala dan terakhir mengenakan baju warna kuning telur.

Mereka itu sama-sama memakai gaun panjang dengan celana ketat.

Ikat pinggangnya memakai warna yang sama.

Pada sanggulnya memakai pita kupu-kupu dengan warna yang sama.

Kecuali berdandan sebagai gadis remaja, tiada tanda-tanda lain yang istimewa.

Selang sesaat kemudian, pelayan muncul menghidangkan sayur dan arak, maka sekali lagi Hoa In-liong berseru.

"Eeeh.... pelayan, tolong tanya, tengah hari tadi apakah ada seorang kongcu berbaju biru yang mampir dikedai ini?"

Pelayan itu termenung dan berpikir sebentar, kemudian balik bertanya.

"Apakah dia manyoren pedang dan usianya agak sedikit tua dari kongcu....?"

Diam-diam Hoa ln-liong merasa gembira. Cepat dia mengangguk berulang kali.

"Yaaa, Betul. Betul. Apakah kau tahu setelah berlalu dari warung ini dia telah pergi kemana?"

Pelayan itu segera menggeleng.

"Kongcu itu bertampang keren dan penuh wibawa, berbeda dengan engkau yang ramah dan suka bergaul. Hee.... hee.... hee.... karenanya hambapun tidak berani banyak bertanya"

"Lantas dia pergi ke arah mana? Apakah kau masih ingat?"

Desak Hoa In-liong lebih jauh dengan wajah sedih. Pelayan itu segera tertawa serak.

"Maaf, seribu kali maaf, hamba betul-betul tidak memperhatikannya!"

Hoa In-liong merasa hatinya makin tercekam kemurungan, akhirnya ia ulapkan tangannya dengan sedih.

"Terima kasih atas pemberitahuanmu. Lanjutkanlah pekerjaanmu...."

Katanya kemudian.

"Yaa.... yaa...."

Pelayan itu mengiakan berulang kali sambil membungkukkan badannya, kemudian mengundurkan diri dari situ.

Setelah gagal untuk mencari tahu kabar berita tentang kakaknya, Hoa In-liong berpikir sebentar sambil menatap wajah Coa Wi-wi katanya.

"Mari kita bersantap dulu, kemudian kita putar mengelilingi kota. Coba lihat adakah sesuatu tanda yang mencurigakan?"

Selesai berkata dia lantas mengambil sumpit dan mangkuk dan bersantap dengan lahapnya.

Terhadap sepoci arak yang disediakan, ia sama sekali tidak memandangnya.

Pada dasarnya Coa Wi-wi sendiripun tak pandai minum arak, sambil bersantap dlapun berbisik.

"Eeeeh.... Jiko, Aku lihat apa yang dikatakan Wan Ek-hong ada beberapa bagian yang bisa dipercayai"

Hoa In-liong tertegun, tapi ketika dilihatnya gadis itu bersikap sok misterius, maka tanpa terasa diapun ikut berbisik.

"Kenapa begitu? Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa perkataannya tak dapat dipercaya?"

Diam-diam Coa Wi-wi mencibirkan bibirnya ke arah barat, kemudian bisiknya lebih jauh.

"Coba kau lihat! Diam-diam saja kalau melirik, agaknya ilmu silat yang dimiliki tiga orang gadis itu sangai tangguh. Mungkin benar juga kalau dia berkata bahwa ia sedang dikejar-kejar oleh beberapa orang gadis hingga musti melarikan diri terbirit-birit"

Dengan suatu lirikan seperti tak sengaja Hoa In-liong menperhatikan sekejap gadis-gadis disudut barat itu, lalu sahutnya.

"Meskipun ketiga orang gadis itu adalah orang-orang persilatan, tapi kalau dikatakan ilmu silat mereka lebih tangguh daripada Wan Ek-hong, bahkan dapat memaksa Wan Ek-hong sampai melarikan diri terbirit-birit, aku rasa hal itu suatu hal yang tak masuk diakal. Ayolah bersantapl Paling penting kita harus temukan Toako. Jangan sampai menimbulkan kecurigaan orang hindari segala kerepotan dan perselisihan-perselisihan yang tak penting!"

Coa Wi-wi mengerling sekejap kearahnya, kemudian dengan wajah bersungguh-sungguh katanya.

"Engkau bisa mengatakan demikian lantaran kau tidak memperhatikannya secara sungguh-sungguh. Coba periksa sekali lagi, lihat sinar mata mereka, bukankah cahaya matanya berbeda jauh dibandingkan dengan orang lain?"

Ketika didengarnya bahwa perkataan itu diucapkan dengan wajah serius, tanpa sadar Hoa Inliong berpaling lagi kearah barat.

Kali ini ia memperhatikan lebih seksama lagi.

Betul juga, ia temukan sesuatu yang sebelumnya tak ditemukan olehnya.

Ketiga orang gasis duduk dengan dua orang menghadap ke barat, seorang menghadap ke timur.

Dua orang yang duduk menghadap kearahnya dapat dilihat betapa tajamnya sinar mata mereka, terutama kerlingan-kerlingan matanya yang tajam.

Ini semua menunjukkan bahwa tenaga dalam yang mereka miliki sudah mencapai pada puncak kesempurnaan.

Yang lebih aneh lagi, bukan saja ketiga orang gadis itu masih muda-muda dan memiliki paras muka yang cantik jelita bahkan raut wajah mereka sangat dikenal olehnya, seakan-akan pernah di jumpai disuatu tempat....

Sambil putar otak memikirkan soal itu ia berpikir lebih jauh.

"Aneh benar aku seperti pernah bertemu dengan mereka, tapi dimana? Sejak turun gunung memang tak sedikit perempuan yang pernah kujumpai, tapi belum pernah rasanya berjumpa dengan beberapa orang ini. Janganjangan.... jangan-jangan.... Aaaah benar! mereka adalah anak muridnya Pui Che-giok. Ya pasti! Mereka pasti anak muridnya Pui Che-giok. Tak salah lagi!"

Akhirnya ia teringat anak Pui Che-giok, teringat akan sekawanan perempuan geait yang pernah dijumpainya di rumah pelacuran Gi-sim-wan di kota Kim-leng.

Ia teringat juga akan perkumpulan Cha-li-kau yang oleh Pui Che-giok katanya segera akan diresmikan, maka dari itu sinar matanya segera ditarik kembali dan diapun manggut-manggut ke arah Coa Wi-wi.

"Sudah melihat jelas?"

Bisik Coa Wi-wi kemudian.

"Bukankah sinar mata mereka sedikit agak istimewa?"

Sambil tundukkan kepalanya bersantap, Hoa In-liong segera menyahut dengan lirih.

"Ehmmm. Mereka semua adalah anak murid dari perkumpulan Cha-li-kau!"

"Perkumpulan Cha-li-kau?"

Diam-diam Coa Wi-wi merasa amat terkejut. Bukankah suatu perkumpulan kaum sesat? Darimana kau bisa tahu tentaag perkumpulan tersebut?"

"Aku sudah pernah berjumpa dengan kaucu mereka. Meskipun nama dari perkumpulan itu kurang begitu sedap didengar, pada hakekatnya mereka tidak merugikan bagi kita"

"Benarkah itu? "

Tanya Coa Wi-wi dengan dahi berkerut. Ia tidak percaya dengan perkataan tersebut. Hoa In-liong tersenyum.

"Tentu saja benar, buat apa kubohongi dirimu? Hayo cepat bersantap, jangan membuang waktu dengan percuma"

Tiba-tiba Coa Wi-wi tertawa.

"Yaa, sekarang aku baru mengerti, tentu Wan Ek-hong mencari gara-gara dengan mereka, akibatnya ia kena batunya dan musti melarikan diri terbirit-birit!"

Pada mulanya dia yang menganggap Wan Ek-hong itu orang yang tidak jujur, seorang laki-laki yang halus diluar tapi busuk didalam. Menjadi agak kaget dan rada curiga ketika mendengar nama "Cha-li kau"

Tersebut. Tapi setelah mendapat tahu bahwa perkumpulan "Cha-li-kau"

Hanya tak sedap dalam nama sebutan tapi nyatanya merupakan suatu perkumpulan yang lurus dan kebetulan cocok dengan jalan pikirannya, maka dengan hati yang lega diapun mengucapkan beberapa patah kata itu.

Menyinggung kembali tentang diri Wan Ek-hong tiba-tiba Hoa In-liong merasa hatinya agak tergerak, segera pikirnya.

"Yaaa, kenapa saudara Ek-hong mengganggu mereka? Siapa tahu kalau merekalah yang mengganggu saudara Ek-hong? Kedua belah pihak sama sama tidak mengenali asal-usul masing-masing. Siapa yang mengganggu siapa rasanya semua ada kemungkinannya. Jika merekalah yang mencari gara gara dengan saudara Ek-hong, lalu terjadi perselisihan dan saudara Ek-hong kabur lantaran tak sanggup menandingi kepandaian mereka, ini toh kemungkinan bisa terjadi juga. Andaikata demikianlah kejadiannya, bukankah berarti bahwa perkataan dari saudara Ek-hong dapat dipercayai?"

Perlu diketahui, Hoa In-liong adalah seorang pemuda yang selalu ingat akan persahabatan lama.

Dalam benaknya ia selalu tak berharap kalau Wan Ek-hong itu seorang manusia cabul yang sesat.

Kalau tidak demikian.

andaikata menuruti wataknya yang amat membenci akan segala bentuk kejahatan, mungkin anak muda itu sudah dilabraknya semenjak semula.

Tapi, seandainya Wan Ek-hong itu seorang manusia yang dapat dipercaya, bagaimana pula penjelasannya atas sikap Coa Wi-wi yang bicara tegas-tegas?

Pelbagai persoalan yang saling bertentangan ini seketika itu juga membuat anak muda itu kebingungan sendiri.

Mana yang benar mana yang salah untuk sesaat sulit baginya untuk membedakan.

Tentu saja Coa Wi-wi tak dapat merasakan betapa kalutnya pikiran si anak muda itu, dia malahan diam-diam merasa gembira karena pendapatnya benar.

Karenanya sewaktu ia saksikan Hoa In-liong hanya termangu-mangu belaka, sambil tersenyum segera ujarnya.

"Jiko, hayo cepat bersantap! Selesai bersantap kita harus segera berangkat. Jangan sampai urusan penting jadi tertunda!"

Tuguran itu seketika itu juga menyadarkan Hoa In-liong dari lamunan.

Ketika dirasakan bahwa ia sudah berbuat sifat, cepat kepalanya ditundukkan untuk melanjutkan santapannya.

Selesai membayar rekening dan keluar dari rumah makan Cwan-seng-lo, kedua orang itu berunding sebentar sebelum melanjutkan perjalanannya menuju kearah timur.

Dalam perundingan tersebut mereka telah memutuskan untuk melakukan pemeriksaan yang teliti dari timur kearah barat lalu dari barat ke arah timur dengan melingkari selatan menuju utara.

Bila pencarian itu tidak mendapatkan hasil, maka mereka akan melakukan pencarian lagi dengan menelusuri sungai hingga ke kota Kim-leng untuk melihat keadaan dari pesanggrahan pertabiban, setelah itu rencana baru di susun kembali.

Sedang mengenai kejadian apakah yang dialami Hoa Si, lantaran waktu amat mendesak maka terpaksa mereka harus mencari kabar dengan sebisanya.

Waktu malam sudah menjelang tiba, rembulan belum muncul diangkasa.

Suasana amat gelap gulita, untunglah kedua orang itu memiliki ketajaman mata yang melebihi orang lain.

Meski demikian pencarian yang sudah dilakukan hampir makan waktu setengah jam lamanya itu sama sekali tidak mendatangkan hasil apa-apa.

Makin lama kedua orang itu semakin mendekati tempat yang dijanjikan Kiu-im Kaucu sebagai tempat pertemuannya dengan Hoa Si.

Tempat itu adalah sebuah hutan yang tidak terlampau luas.

Ditengah hutan terdapat sebidang tanah lapangan yang berumput.

Di atas rumput tertera dengan jelasnya bekas-bekas telapak kaki yang masih baru, cuma anehnya disana tak terlihat sesosok bayangan manusiapun.

Coa Wi-wi tak dapai menahan sabar, dia celingukan sebentar kesana kemari, kemudian bisiknya.

"Mereka telah pergi?"

Hoa In-liong mengangguk.

"Yaa, sudah pergi, agaknya belum sampai terjadi bentrokan kekerasan....!"

"Darimana kau bisa tahu?"

Hoa In-liong menuding bekas-bekas telapak kaki diatas tanah.

"Coba kau lihat bekas-bekas telapak kaki itu, jumlah seluruhnya hanya belasan saja. Bahkan bekas tongkat baja kepala setan dari Kiu-im Kaucu pun tertera amat jelas. Bekas-bekas telapak kaki itu bersih, teratur dan sama sekali tidak kalut. Ini menandakan bahwa disini belum sampai terjadi suatu pertarungan"

"Lantas dimanakah Toako?"

Tanya Coa Wi-wi lebih jauh dengan perasaan tidak mengerti.

"Kenapa Toako tidak langsung balik keatas puncak bukit?"

"Aku sendiripun tidak jelas dengan masalah tersebut"

Sahut Hoa In-liong sambil celingukan kesana kemari.

"Semestinya Toako adalah seorang laki-laki yang tak pernah merubah katakatanya. Diapun laki laki yang pegang janji. Anehnya ternyata ia tidak balik lagi ke atas puncak bukit."

Coa Wi-wi murung sekali, pikirannya ikut menjadi kusut.

"Jangan-jangan Kiu-im-kaucu turun tangan secara tiba-tiba dengan menotok jalan darah dari Toako, kemudian menculik Toako pergi dari sini?"

"Tidak mungkin!"

Hoa In-liong gelengkan kepalanya berulang kali.

"Toako berbeda dengan aku. Kalau aku kadang kala memang bisa berpikiran cabang hingga kena dikecundangi orang, sedang Toako orangnya serius dan selalu waspada...."

Berbicara sampai disitu, tiba-tiba ia tertawa tergelak.

"Haa.... haa.... haa.... Sahabat darimanakah yang telah berkunjung kemari? Jika tidak keluar lagi dari tempat persembunyianmu, jangan salahkan kalau aku Hoa loji terpaksa harus mengundangnya dengan cara kekerasan!" . Baru saja Coa Wi-wi merasa terperanjat, dari dalam hutan disebelah kanan sana berkumandang serentetan suara yang merdu dan nyaring bagaikan suara genta.

"Ilmu silat yang dimiliki jikongcu memang benar-benar luar biasa. Kami mengira tempat persembunyian kami ini cukup rapat dan rahasia. Tak tahunya masih tidak berhasil juga untuk melolos diri dari pengawasanmu"

Ditengah pembicaraan tersebut, bayangan manusia berkelebat berulang kali, secara beruntun munculah tiga orang dari dalam hutan.

Ketiga orang gadis itu bukan lain adalah gadis-gadis yang telah dijumpainya dirumah makan Cwan-seng-lo.

Maka begitu berjumpa muka, Coa Wi-wi berseru.

"Oooh.... kiranya kalian!"

Dengan langkah yang lemah gemulai tiga orang gadis itu maju kedepan. Setelah berada dihadapan kedua orang muda-muda itu serentak mereka memberi hormat.

"Apakah ji-kongcu mengetahui asal-usul kami?"

Dara baju kuning diantara tiga orang gadis itu mennyapa. Sambil balas memberi hormat jawaban Hoa In-liong.

"Jika dugaanku tidak keliru, kalian bertiga semestinya adalah anak murid dari perkumpulan Cha-li-kau"

"Keliru!"

Tiba-tiba dara baju kuning itu gelengkan kepalanya.

"Kami adalah murid perkumpulan Cian-li-kau!"

Jawaban tersebut membuat Hoa In-liong terbelalak dengan mulut melongo, ia benar-benar dibuat tertegun. Kembali dara berbaju kuning itu tertawa cekikikan, kemudian katanya lebih jauh.

"Namun dugaan ji-kongcu juga tidak keliru se-bab perkumpulan Cian-li-kau bukan lain adalah berkumpulan Cha-likau. Hanya namanya saja mengalami perubahan beberapa saat berselang"

Selesai berbicara, bersama dua orang gadis lainnya mereka tertawa cekikikan dengan santainya, sama sekali tidak tampak rikuh.

Menyaksikan keadaan mereka, diam-diam Coa Wi-wi mengerutkan dahinya dan berpikir.

"Apakah anggota dari perkumpulan Cian-li-kau adalah manusia-manusia yang tidak pakai aturan dan bergaul bebas seperti itu?"

Lain halnya dengan Hoa In-liong yang sudah pernah menyaiksikan keanehan mereka, sambil tersenyum ujarnya.

"Menurut apa yang kuketahui, nama dari perkumpulan kaliau itu berasal mula dari kitab pusaka Cha-li-cin-keng, kenapa nama yang sudah baik diganti lagi?"

"Bukankah kau pernah mengatakan bahwa perkumpulan Cha-li-kau adalah suatu perkumpulan sesat yang memikat orang dengan mengandalkan kecantikan perempuan? "

Ujar dara berbaju kuning itu. Mendengar perkataan itu, Hoa In-liong segera tertawa terbahak-bahak karena geli.

"Haa.... haa.... haa.... Perkataan itu kuucapkan ketika lagi jengkel. Sungguh tak nyana kalau kaucu kalian menanggapinya dengan serius"

Dara berbaju kuning itu kembali tertawa cekikikan.

"Hiih.... hiih.... hiih.... Sekali lagi kau keliru besar. Apa yang kau katakan kendatipun merupakan salah satu dari alasan kami, tapi yang paling penting hal ini adalah merupakan saran dari sucou kami. Dia orang tua suka segala yang berbau ketenangan. Tak mau lantaran nama "

Cha-li"

Hingga menyebabkan ketenangan dan kesuciannya terganggu. Selain daripada itu kaucu kamipun bermaksud demikian, maka atas dasar pelbagai alasan itulah maka nama perkumpulan kami mengalami penggantian"

Hoa In-liong benar-benar dibikin serba salah, mau tertawa tak bisa mau menangis juga sungkan.

"Lantas bagaimana pula dengan maksud hati kaucu kalian?"

Tanyanya kemudian.

"Maksud kaucu kami, lebih baik nama perkumpulan itu dirubah dengan nama yang sekarang ini. Hal tersebut mengingatkan beliau akan kisah cerita yang berjudul Cian-li-lei-hun (gadis ayu kehila-ngan sukma). Pernah baca ceritanya tidak?"

Hoa ln Hong sebagai seorang pemuda romantis yang suka berganti pacar, tentu saja pernah membaca cerita Cian-li-lei-hun tersebut.

Bahkan sudah pernah membacanya beberapa kali, tentu saja ia tahu akan isi cerita tersebut.

Maka sambil tersenyum ia manggut berulang kali, bahkan sengaja berseru tertahan sambil berkata.

"Oooh....kiranya begitu. Jadi perkumpulan kalian sudah dibuka secara resmi? Lantas dimanakah markas besar dari perkumpulan kalian itu? Bagaimana pula organisasi itu tersusun? Apa pula jabatan dari nona bertiga? Apakah aku boleh tahu semuanya?"

"Tentang soal itu tak bisa kukatakan"

Tiba-tiba si nona baju kuning itu berkata dengan serius.

"Sebab urusan menyangkut tentang rahasia perkumpulan. Bila kukatakan, niscaya kami akan dijatuhi hukuman yang sangat berat. Karenanya maafkanlah kami, terpaksa kami musti membungkam dalam seribu bahasa"

Menyaksikan sikap serius dan bersungguh-sungguh yang ditunjukkan nona itu, hingga tampaklah jelas raut wajah kegadisan mereka yang sebenarnya, Coa Wi-wi tak bisa menahan rasa gelinya lagi, dia tertawa cekikikan.

Mendengar suara tertawa itu, si nona baju kuning pun berpaling, tiba-tiba ia menyapa.

"Bukankah cici ini adalah adik perempuan dari Coa Cong-gi, Coa kongcu....?"

Coa Wi-wi tertegun.

"Yaa, benar! Aku bernama Coa Wi-wi, adik da-ri Coa Cong-gi tapi darimana kalian bisa tahu?"

Tegurnya. Nona baju kuning itu segera tersenyum.

"Terus terang kukatakan kepadamu, setiap orang yang mempunyai hubungan dengan Hoa kongcu tak pernah lepas dari pengawasan kami. Semuanya dapat kami ketahui dengan jelasnya"

Berbicara sampai disini diapun melemparkan sebuah kerlingan maut ke arah Hoa In-liong.

Kerlingan tersebut betul betul memiliki daya pikat yang mempesonakan hati siapapun jua, jangankan manusia yang terdiri dari darah daging, manusia dari bajapun akan melumer.

Kurang senang Coa Wi-wi menyaksikan tindak-tanduk lawannya, keningnya berkerut kencang, sementara dalam hati kecilnya menggerutu terus.

"Silahkan.... Silahkan.... entah perempuanperempuan ini perempuan genah atau perempuan nakal?. Kalau dibilang perempuan baik-baik, kerlingan matanya aduhai, kalau dihilang perempuan nakal, lagaknya tampak alim"

Berbeda dengan Hoa In-liong, terhadap kerlingan tersebut boleh dibilang ia tak ambil perduli, melirikpun tidak.

"Perhatian dan bantuan dari perkumpulan kalian sangat mengharukan hatiku"

Demikian ujarnya.

"Aku hanya dapat mengucapkan terima kasih yang tak terkirakan besarnya. Cuma.... bolehkah aku tahu, ada urusan apa hingga nona-nona sekalian menyusul aku sampai disini?"

Mendapat pertanyaan itu, si nona baju kuning segera merogoh kedalam sakunya dan mengeluarkan selembar kertas, lalu sambil diangsurkan ke muka katanya.

"Apa yang hendak kukatakan sudah tercantum semua diatas kertas itu, silahkan periksa sendiri"

Ketika Hoa In-liong menerima surat itu dan siap untuk dibacanya, tiba-tiba nona baju kuning itu putar badan seraya ulapkan tangannya.

"Ngo-moay, kiu-moay, ayoh kita pergi!"

Kemudian bagaikan burung-burung walet yang terbang di angkasa, mereka melayang ke udara dan meluncur ke dalam hutan.

Cepat, gesit dan lincah sekali gerakan tubuh ketiga nona itu sudah lenyap dari pandangan.

Tindakan yang diambil ketiga orang gadis itu sungguh diluar dugaan Hoa In-liong maupun Coa Wi-wi.

Mereka tak menyangka kalau gadis-gadis itu akan segera pergi begitu mereka mengatakan akan pergi, bahkan sepatah kata pun tak diucapkan.

Untuk sesaat lamanya mereka berdua hanya bisa berdiri melongo dengan muka tercengang.

Selang sesaat kemudian, Coa Wi-wi baru serentak bangun dari lamunannya.

Dengan nada tertegun dan keheranan ia bergumam sambil gelengkan kepalanya berulang kali.

"Manusia aneh.... benar-benar manusia aneh...."

Ia berpaling, ketika dilihatnya Hoa In-liong masih berdiri termangu, maka diapun berteriak.

"Eeeh Jiko.... Orangnya sudah pergi jauh, kenapa masih melamun terus? Coba kita periksa dulu apa isi surat tersebut? Siapa tahu kalau kita akan menemukan kabar berita tentang Toako!"

"Oya....benar.... benar.... Memang benar....kata-katamu itu"

Seperti baru sadar, Hoa In-liong manggut-manggut.

"Kemarilah, hayo kita.... baca bersama isi surat ini."

Coa Wi-wi melompat ke muka, mereka berdua segera alihkan sinar matanya ke atas surat tersebut. Dan terbacalah surat itu berbunyi demikian.....

"Sinar iblis memancar sampai di Kiu-ciu. Semak berduri banyak di depan sana. Kembali dan lapor kepada Thian-cu kiam, waspada terhadap orang di depan mata"

Itulah selembar kertas kecil yang mungil dan tulisan yang indah.

Hanya isi surat tersebut tanpa diberi pembukaan maupun surat penutup.

Hanya diujung paling bawah terlukis sebuah lukisan perempuan cantik yang menunggal.

Lukisan tersebut hanya tunggal ibaratnya ayam emas yang berdiri di satu kaki.

Meski huruf tulisannya amat minim tapi lukisannya hidup dan mempersona hati.

Begitu selesai membaca beberapa huruf tulisan itu, kontan saja Coa Wi-wi menyumpah.

"Sialan, setan kepala gede. Berani betul menulis yang bukan-bukan, biar kurobek saja kertas sialan ini!"

Seraya berkata dia lantas merampas kertas surat itu dan siap dirobek-robek jadi berkeping.

"Eeeeh.... Tunggu sebentar!"

Hoa In-liong bertindak cepat, pergelangan tangan gadis itu segera dicekal.

"Kenapa?"

Teriak Coa Wi-wi penasaran.

"Isi surat itu bukankah bermaksud agar engkau selalu waspada terhadap diriku? Apa kau mempercayai perkataan mereka?" . Hoa Ia liong gelengkan kepala berulang kali.

"Aaaah.... Engkau banyak curiga, Bukan demikian yang dimaksudkan isi surat tersebut. Arti yang tercakup dalam surat itu amat luas lagi pula belum tentu engkau yang mereka maksudkan. Toh sampai sekarang aku masih belum mempercayainya?"

"Sungguh?"

Tanya Coa Wi-wi dengan wajah tertegun. Hoa In-liong tersenyum.

"Tentu saja sungguh, kalau tidak percaya coba periksa lagi isi surat itu kemudian camkan benar-benar"

Dia menundukkan kepalanya dan sekali lagi membaca isi surat itu kemudian menganalisa maksud yang sebenarnya. Selang sesaat kemudian, ia sudah angkat muka kembali, kemudian ujarnya dengan wajah serius.

"Jiko! Aku rasa situasinya kok makin lama semakin serius, apakah kau juga merasakannya?"

"Apakah yang dimaksudkan adalah situasi di dalam dunia persilatan?"

Tanya Hoa In-liong. Coa Wi-wi mengangguk dengan wajah sungguh-sungguh. oooOOOooo "YAAA, memang begitulah"

Sahutnya.

"Kalau toh perkumpulan Cian-li-kau bukan suatu perkumpulan kaum sesat dan lagi agaknya kedatangan mereka memang khusus untuk menghantar surat pemberitahuan ini, maka semestinya mereka membawa suatu peringatan yang mempunyanyai sangkut paut yang amat serius dengan kepentingan kita. Kalau tidak, bukankah maksud dari isi surat itu jadi serba kacau, tidak sesuai dengan kenyataan dan sedikttpun tak ada harganya?"

"Hmmmm! Memang masuk diakal "sahut Hoa In-liong kemudian sambil tersenyum.

"Yaa.... terutama kata-kata yang mengatakan. 'Sinar iblis memancar sampai di Kiu-ciu, semak berduri banyak di depan sana.' Dua kalimat tersebut bukan saja mengandung nada peringatan, bahkan situasi dalam dunia persilatan dewasa inipun sudah mereka terang dengan sejelas jelasnya"

"Betul"

Sambung Coa Wi-wi.

"Kalau pada kalimat pertama mereka terangkan bahwa bencana dan hawa iblis sudah timbul dari empat penjuru dan seluruh dunia persilatan mulai tercekam, maka pada kalimat yang kedua mereka terangkan bahwa pelajaran selanjutnya banyak rintangan dan kesulitan dimana saja mara bahaya bisa datang mengancam. Sedang kalimat berikutnya, mereka menganjurkan kepadamu agar pulang dulu kerumah dan melaporkan keadaan situasi dunia kepada empek. Aku rasa dalam kalimat ini mereka bukan bermaksud memberi peringatan saja, bahkan menganjurkan kepadamu agar dalam menghadapi masalah besar, setiap tindakan mesti dilakukan dengan hati hati cermat dan waspada. Jangan sekali-kali bertindak dengan sembrono ataupun menempuh marah bahaya"

"Apakah engkau berpendapat begitu?"

Tanya Hoa In-liong sambil tersenyum. Sinar terang mencorong keluar dari sepasang matanya.

"Tentu saja. Kalau tidak, buat apa orang-orang Cian-li-kau menghantar surat itu kepadamu?"

"Haa.... haa.... haa.... Bukankah tadi kau bilang bahwa mereka suruh aku waspada terhadap dirimu?"

Goda Hoa In-liong sambil tergelak.

"Aaah.... Bagaimana sih kamu ini! "omel Coa Wi-wi sambil berkerut kening.

"Aku kan lagi berbicara serius, tapi kau selalu berusaha untuk mengorek borokku. Memangnya aku musti ngaku salah dan minta maaf dulu kepadamu?"

Melihat gadis itu cemberut Hoa In-liong jadi senang, apalagi dalam keadaan demikian nona itu tampak lebih cantik dan menawan hati, tak tahan lagi dirangkulnya gadis itu dan serunya sambil tertawa.

"Perduli amat! Setibanya di mulut jembatan, perahu akan lurus dengan sendirinya, kenapa kita musti risau dulu sejak sekarang?"

Coa Wi-wi meronta dengan sepenuh tenaga. Setelah lepas dari rangkulannya dia lantas mencibirkan bibirnya yang kecil.

"Coba lihat tampangmu itu "omelnya.

"Tidak serius, tidak genah dan sok mata keranjang. Kalau berani main gila lagi, awas! Lihat saja nanti, kuhajar dirimu atau tidak"

Dalam hati kecilnya Hoa In-liong merasa geli, tapi diluaran jawabnya berulang kali.

"Baik! Baik! Aku tidak main gila lagi, aku tak akan mata keranjang, Nah, sekarang bicaralah yang serius!"

Dengan muka yang lebih lembut. Coa Wi-wi pun bertanya.

"Mereka menganjurkan kepadamu agar pulang dan melaporkan situasi ini kepada empek, apakah kau mau pulang?"

"Tidak! Aku tidak akan pulang!"

Mendengar jawaban dari si anak muda ini singkat tapi jelas, Coa Wi-wi malahan tertegun dibuatnya.

"Kenapa? "tanyanya kemudian.

"Ayah paling mementingkan soal tugas. Kalau aku musti pulang kerumah dan melaporkan semua kejadian ini, ibaratnya baru melihat angin lantas menduga bakal hujan. Waaah.... Bukan pujian yang didapat, bisa jadi aku bakal dicaci maki habis-habisan"

"Kalau hendak dimaki biar saja dimaki. Kan lebih baik dicaci maki ayah sendiri daripada menempuh bahaya deagan percuma"

"Jadi kau berharap aku dicaci maki oleh ayahku? tiba tiba Hoa In-liong balik bertanya sambil tersenyum "

Aaaah....

kamu ini, kalau bicara yang betul sedikit.

Siapa yang mengharapkan kau di caci maki?' omel Coa Wi-wi dengan kening berkerut "Aku bisa berkata demikian karena mengingat bahwa perkumpulan Cian-li-kau adalah suatu organisasi yang memiliki anggota yang sangat banyak.

Mereka bisa menyampaikan peringatan kepadamu dan menganjutkan kepadamu agar pulang dulu dan melaporkan kejadian ini kepada ayahmu.

Tentu saja semua masalah telah mereka bahas.

Semua situasi telah mereka teliti sebelum akhirnya memutuskan demikian.

Aku yakin anjuran tersebut bukan mereka ajukan tanpa disertai oleh alasan yaig kuat!"

"Apa yang mereka bahas?. Apa yang mereka analisa?"

Kata Hoa In-liong sambil tertawa.

"Apakah lantaran usiaku masih muda? Lantaran ilmu silatku masih terbatas dan tak becus untuk memikul tanggung jawab yang sangat berat ini?"

Coa Wi-wi lantas menuding ujung hidungnya sambil mengomel.

"Aaaah! Kamu ini! Sudah benar diberi tahu, kamu hanya tahunya pingin cari menangnya sendiri!"

Meuggunakan kesempatan itu Hoa In-liong segera menangkap jari-jari tangannya yang lembut dan halus, lalu katanya dengan wajah bersungguh-sungguh.

"Bicara sesungguhnya adik Wi, aku bukan ingin cari menangnya sendiri, tapi hal ini menyangkut soal semangat. Seseorang tak boleh tidak memiliki semangat, bukan demikian?"

"Semangat?"

Coa Wi-wi sedikit tertegun ketika dilihatnya pemuda itu bicara serius.

"Jadi engkau hendak memikul tanggung jawab yang maha berat ini, menyapu hawa siluman dan menegakkan keadilan serta kebenaran dalam dunia persilatan?"

Hoa In-liong tersenyum.

"Kalau dikatakan aku hendak memikul tanggung jawab yang maha berat ini, maka ucapan tersebut terlampau latah, terlampau sombong dan tak tahu diri. Jelek jelek begini aku masih tahu bekas kemampuan yang kumiliki. Maksudku, sekalipun cahaya iblis sudah bermunculan dimana-mana, toh keadaan yang sebenarnya masih belum kita ketahui dengan jelas. Maka kita musti selidiki lebih dulu keadaan situasi yang sebenarnya sebelum mengambil sesuatu tindakan sebagai pence-gahnya"

"Kalau toh demikian, apa salahnya jika kita laporkan dulu keadaan tersebut kepada empek? "

Tanya Coa Wi-wi sambil berkerut kening.

"Itulah yang dinamakan semangat, mengerti kamu?"

Sahut Hoa In-liong.

"Ketika ayah mulai berkelana tempo dulu, usianya jauh lebih muda dibandingkan aku. Ilmu silat yang dimiliki juga lebih rendah dari aku. Tapi bagaimana hasilnya, dia orang tua toh masih mampu untuk menanggulangi semua kesulitan. Semua kejadian besar serta semua hadangan yang merintangi kariernya, akhirnya dia juga berhasil dengan sukses. Justru keadaan semacam inilah merupakan kesempatan yang paling baik bagi diriku untuk melatih diri. Ibaratnya pisau yang tumpul, sekaranglah waktunya untuk diasah agar menjadi tajam. Bila aku serahkan kembali tugas ini kepada ayahku, lalu sampai kapan aku baru dapat membasmi hawa sesat dari muka bumi? Sampai kapan aku baru bisa menciptakan ketenangan dan keadilan didalam persilatan?"

Ketika pemuda itu berbicara sampai disitu, Coa Wi-wi telah menggerakkan bibirnya seperti hendak mengatakan sesuatu. Melihat itu, dengan cepat Hoa In-liong menukas.

"Adik Wi tak usah berbicara lagi. Pokoknya jelek-jelek begini, Jiko masih terhitung seorang laki-laki sejati, seorang pria jantan yang tak jeri menghadapi segala rintangan dan mara bahaya. Seorang-laki-laki yang masih mempunyai ambisi untuk menciptakan suatu keberhasilan dalam karier. Andaikata aku penakut, seorang pengecut dan tak berani menghadapi kenyataan, jangankan orang lain, mungkin engkau pun tak akan memandang sebelah mata kepadaku" . Coa Wi-wi berpikir sebentar, akhirnya dengan sedih ia berkata.

"Baiklah! terserah padamu. Pokoknya aku tak akan meninggalkan dirimu lagi!"

Belum habis ia berkata, Hoa In-liong sudah memeluk pinggangnya dan berseru dengan penuh kegembiraan.

"Bagus.... Horee.... Asal kau membantu aku, sekalipun ada kejadian yang lebih mengerikan Aku juga tak akan takut!"

Kali ini pelukan itu dilakukan dengan muka berhadapan dengan muka, dada dan perut masingmasing saling menempel satu sama lainnya.

Coa Wi-wi bukan saja tidak meronta, dia malah balas memeluk anak muda itu, kemudian sambil mengangkat dagu Hoa In-liong keatas katanya lembut.

"Tapi kau musti menurut perkataanku! Aku tak akan mengijinkan engkau berbuat gegabah, tidak acuh terhadap segala urusan. Misalnya saja sebelum racun ular sakti yang mengeram dalam tubuhmu punah, kau dilarang bertarung dengan siapapun. Kemudian.... kemudian.... ucapan dari perkumpulan Cian-li-kau juga harus dituruti. Siapa tahu kalau diantara sobat karibmu atau teman perempuanmu ada yang hendak mencelakai dirimu. Daripada terlanjur kena dicelakai, kan lebih baik sedia payung sebelum hujan, bukan begitu?"

Waktu mengucapkan kata-kata tersebut, gadis itu berbicara dengan serius.

Hoa In-liong hanya merasakan biji matanya yang jeli berkedip penuh tantangan.

Makin dilihat makin menawan hati, akhirnya ia tak dapat mengendalikan perasaannya lagi, diciumnya pipi kanannya dengan mesra.

"Tentu saja, sekalipun tidak kau katakan, aku juga bisa bertindak lebih hati-hati"

Katanya. Coa Wi-wi mencibirkan bibirnya yang kecil dan memukul bahu anak muda itu dengan gemas.

"Aaaah.... benci!"

Serunya manja.

"Hayo turunkan aku, kita musti segera mencari Toako"

"Jangan keburu napsu, biar kucium lagi pipimu yang lain!"

Habis berkata betul juga, dia lantas mencium pula pipi kiri Coa Wi-wi dengan mesra. Tentu saja Coa Wi-wi dibikin tersipu-sipu, ia memukuli bahu pemuda itu dengan manja, dan serunya berulang kali.

"Benci....! Benci....! Benci....!"

Hoa In-liong terbahak bahak, sambil turunkan Coa Wi-wi dari pelukannya ia berkata.

"Adik Wi, tahukah engkau bahwa kau itu cantik?"

Coa Wi-wi mengerling sekejap kearah dengan gemas, lalu sahutnya manja.

"Masih ngoceh terus? Kau ini paling tengik, tahunya cuma menggoda orang saja"

"Siapa yang menggoda kau? Aku berbicara yang sesungguhnya. Kau memang benar-benar cantik, jauh lebih cantik dibandingkan dengan Kiu-im Kaucu"

"Berani bicara lagi? Sekali lagi berbicara, aku akan benar-benar menghajar dirimu!"

Ancam si nona sambil ayun tangan kanannya.

Jilid 24 DITENGAH keheningan malam hanya cahaya bintang yang menerangi seluruh jagad, pemandangan yang tertera disitu benar-benar merupakan suatu pemandangan yang sangat indah.

Menyaksikan kesemuanya itu, Hoa In-liong bergirang dihati.

Walaupun demikian ia tak mau kehilangan martabatnya sebagai seorang laki-laki sopan.

Ia tahu mana yang boleh dilakukan dan mana yang tak boleh dilakukan.

Atau dengan perkataan lain, pada saat itu dia tidak mempunyai pikiran lain.

Tindakannya memeluk dan mencium mesra gadis itu dilakukan karena spontan dan tindakan spontan tersebut tak jauh bedanya dengan kasih sayang seorang kakak yang lebih tua terhadap adik perempuannya yang cantik dan menawan hati.

Sebab itulah sesudah mendengar perkataan ilu dengan wajah berseri sahutnya.

"Baik.... Baiklah, aku tidak akan berkata lagi.... aku tidak akan berkata lagi! Bicara sesungguhnya, kita memang seharusnya mulai memikirkan kemana perginya Toako"

Caranya mengalihkan pokok pembicaraan benar benar amat sempurna, bukan saja lembut dan wajar, malahan sama sekali tidak meninggalkan bekas apa-apa. Coa Wi wi malah dibikin tertegun.

"Memikirkannya...."

Ia bergumam.

"Yaa, kita harus mulai memikirkan"

Lanjut Hoa In-liong.

"Coba lihatlah bekas bekas telapak kaki ditanah semuanya menunjukkan bahwa ketiga orang nona dari Cian-li-kau sudah pernah menampakkan diri disini dan mengetahui juga kalau Toako sudah berlalu agak lama dari sini Tapi mereka tak tahu bagaimana keselamatannya dan kemana ia telah pergi, sebab itulah kita harus memikirkannya secara baik-baik" .

"Masa dengan kemunculan orang-orang Cian-li-kau disini sudah cukup membuktikan kalau Toako betul-betul meninggalkan tempat ini?"

Coa Wi-wi bertanya lagi dengan perasaan tak habis mengerti.

"Yaa, kaucu dari Cian-li-kau mempunyai hubungan yang sangat akrab dengan ayahku. Kalau toh anak buahnya bisa mengejar Wan Ek-hong disekitar tempat ini, hal tersebut membuktikan kalau mereka sudah agak lama tiba disini. Seandainya mereka telah bertemu dengan Toako atau Kiuim kaucu, masa tadi tidak mereka singgung-singgung?"

"Aku kan hanya menduga saja kalau Wan Ek-hong telah dikejar-kejar oleh ketiga orang nona dari Cian-li-kau, masa kau gunakannya sebagai suatu dasar untuk analisa?"

Hoa In-liong tersenyum.

"Aku tahu, akupun hanya menduga saja. Cuma dugaanku ada dasardasarnya yang kuat"

"Oya....? Lantas dasar apakah yang kau pakai"

Mencorong sinar tajam dari sepasang mata Coa Wi-wi.

"Tujuan dari perkumpulan Cian-li-kau!".

"Apakah tujuan mereka? "desak gadis itu lebih lanjut.

"Kalau dibicarakan kembali sebetulnya amat panjang, tapi kalau kau ingin tahu, maka biarlah aku bercerita mulai depan saja"

"Yaa, kau musti bicara sejujurnya, sebab lain kali aku toh musti membantu kau, maka aku harus mengetahui sedikit banyak tentang latar belakang perkumpulan Cian-li-kau"

Setelah pembicaraan dibuka, mau tak mau Hoa In-liong harus berbicara sejujurnya.

Setelah berpikir sebentar, maka diputuskan untuk mengatakan hal-hal yang penting saja.

Secara ringkas diapun menceritakan semua pembicaraan yang pernah berlangsung antara PuiChe-giok dengan murid-muridnya, serta pembicaraan Pui Che-giok dengan Giok-teng hujin.

Di balik kisah tersebut, sudah tentu dia harus menerangkan juga semua hubungan yang diketahui olehnya.

Diapun menyinggung juga tentang diri Giok-teng hujin yang sudah menjadi seorang Tookoh dengan julukan Tiang-heng.

Coa Wi-wi mendengar penuturan tersebut dengan seksama, selesai itu dia menghembuskan napas panjang, katanya dengan gegetun.

"Sungguh tak kusangka....benar-benar tak kusangka.... kiranya kaucu ini diam-diam mencintai juga diri empek, maka dibentuknya perkumpulan Cian-likau untuk mendukungnya. Aaaia.... cinta yang murni dan sedalam ini benar-benar jarang ditemui didunia ini"

Hoa In-liong lebih tersentuh, dia menghela napas panjang.

"Yang jarang ditemui ini justru Tiangheng cianpwe itu"

Katanya.

"Terhadap ayahku bukan saja ia menaruh rasa cinta yang mendalam, bahkan ia sangat memahami watak serta tindak tanduk ayahku Ia rela dirinya yang tersiksa, rela dirinya menderita Tapi ia tak rela membiarkan ayahku merasakan pahit getirnya Lain kali Aku pasti akan berusaha dengan segala kemampuan untuk memapak orang tua itu pulang Im Tiongsan" .

"Yaa benar"

Sambung Coa Wi-wi pula dengan bersemangat.

"Kalau dibilang bercinta dapat mempunyai rasul, maka Tiang-heng cianpwe lah yang paling cocok dengan kedudukan tersebut. Jiko! lain kali kita harus mencarinya bersama-sama, mau bukan?"

Setelah pembicaraan berlangsung sampai disitu perasaan kedua orang itupun mengalami banyak perubahan, sampai-sampai tujuan mereka yang semulapun terlupakan.

Padahal, membicarakan cita-cita dan tujuan perkumpulan Cian-li-kau dalam keadaan semacam ini hanyalah suatu perbuatan yang tak ada gunanya.

Tiba-tiba ditengah keheningan yang mencekam kegelapan malam, dari sisi hutan itu berkumandang suara helaan napas yang rendah dan lirih.

Demikian rendah dan lirihnya helaan napas tersebut hingga boleh dibilang sukar diketahui.

Namun dalam pendengaran Hoa In-liong serta Coa Wi-wi yang merupakan jago tangguh dalam dunia persilatan, suara tersebut dapat didengar dengan amat jelasnya.

Tak heran kalau mereka berdua jadi tertegun sesudah mendengar suara helaan napas itu mereka berusaha pasang telinga untuk mencari sumber suara itu, namun tiada suara apa-apa lagi yang kedengaran.

Lama kelamaan Hoa In-liong tak dapat mengendalikan perasaannya lagi, dia lantas berseru dengan lantang.

"Jago silat dari manakah yang telah berkunjung kemari? Kenapa tidak munculkan diri untuk bertemu?"

Tiada jawaban yang terdengar Hoa In-liong mengulangi kata katanya sekali lagi, nanum tiada jawaban juga.

"Mari kita geledah sekitar tempat ini!"

Bisik Coa Wi-wi kemudian.

"Tak usah digeledah!"

Tiba-tiba dari balik hutan berkumandang suara jawaban yang cukup nyaring.

"Nak, sebetulnya aku tak ingin mengganggu kalian, orang yang sedang kalian cari sekarang berada di...."

"Eeeh.... Bukankah engkau adalah Ku locianpwe?"

Sebelum ucapan itu selesai, Hoa In-liong telah bersorak kegirangan.

"Boanpwe ingin sekali bertemu dengan kau!"

"Aaaai.... Engkau si bocah cilik"

Kata orang itu sambil hela napas.

"Sebetulnya pinto tak ingin membuat kalian tahu akan kehadiranku. Sungguh tak nyana daya ingatanmu bagus sekali. Yaah.... setelah tebakanmu jitu, akupun tak akau mengelabuhi engkau lagi. Pinto memang Tiangheng adanya....!"

Begitu mengetahui kalau orang itu adalah Tiang-heng atau Giok-teng hujin, cepat-cepai Coa Wiwi berseru.

"Bagus sekali! Baru saja kami membicarakan tentang dirimu! Apakah kau orang tua mengijinkan kami untuk menyambangi dirimu?"

"Tak usah!"

Tampik Tiang heng Tookoh "Ketahuilah nak, pinto adalah seorang pendeta yang telah melepaskan diri dari urusan. Apa gunanya kita berjumpa? Lebih baik selesaikan urusan kalian lebih dulu....!"

"Aku sudah berpikir sampai ke situ"

Ujar Coa Wi-wi manja.

"Dan aku percaya urusan yang sesungguhnya telah kau selesaikan untuk kami, maka aku tetap berharap untuk berjumpa denganmu!"

Sewaktu mengucapkan kata-kata itu, bukan saja nada suaranya sangat menawan hati, rasa kagum dan hormatnya tercermin amat jelas. Ini membuat Tiang-heng Tookoh memuji tiada hentinya.

"Oooh.... Anak cerdik.... Anak pintar, siapa namamu?"

"Aku bernama Coa Wi-wi, ibu memanggil aku Wi-ji, kau juga boleh panggil anak Wi kepadaku!"

Buru-buru gadis itu menyahut.

"Pinto akau mengingatnya selalu lain waktu kita boleh berjumpa lagi!"

"Tidak! Tidak! Aku sangat ingin bertemu denganmu. Sekarang aku ingin sekali bertemu denganmu"

Teriak Coa Wi-wi dengan gelisah.

"Cianpwe, kenapa kau tidak ijinkan diriku untuk menyambangimu?"

"Aaaai.... Pinto kan sudah berkata bahwa aku tak lebih cuma seorang Pendeta. Tak ada gunanya kita saling bertemu muka. Apalagi pujianmu tadi juga keliru besar, pinto menjadi pendeta lantaran harus menahan rasa benci. Mana cocok menjadi Cing-seng Rasul cinta seperti yang kau maksudkan?"

Dalam waktu singkat Coa Wi-wi yang menguasai semua pembicaraan, sepatah demi sepatah ia mendesak dan memohon terus kepada Tiang-heng Tookoh agar diijinkan untuk bertemu muka dengannya.

Hoa In-liong yang tidak sempat ikut menimbrung, terpaksa hanya bisa pusatkan perhatiannya untuk menangkap sumber dari suara tersebut.

Apa mau dikata rupanya Tiang-heng Tookoh tidak berharap untuk berjumpa muka dengan mereka.

Sumber suara itu terkandang muncul dari arah timur, sebentar beralih kebarat, seakanakan orang yang berbicara itu berpindah-pindah tempat.

Maka setelah didengarnya sesaat ia berhasil juga menemukan asal suara yang sebenarnya.

Pemuda itupun berubah rencana, dia menukas dari samping.

"Engkau pantas untuk mendapat julukan itu locianpwe. Terus terang katakan bahwa apa yang engkau bicarakan dengan Pui Chegiok cianpwe malam itu telah kudengar semua. Apa yang terjadi ketika itu juga kusaksikan semua. Kalau toh di dunia ini ada Bun-seng (Rasul Sastra), ada Bu-seng (Rasul Silat) maka engkau orang tua adalah Ciang-seng (Rasul Cinta). Sesungguhnya aku tidak mengetahui banyak akan dirimu, tapi malam itu aku telah menangis karena terharu"

Tiang-heng Tookoh menghela napas sedih.

"Aaaai....! Tampaknya engkau juga seorang pemuda yang romantis, engkau bernama Hoa Yang nak?"

"Yaa benar, boanpwe Hoa Yang alias In-liong. Semua angkatan tua menyebutku sabagai Liong-ji"

Sahut Hoa In-liong dengan hormat.

"Berbicara sesungguhnya boanpwe pantas memanggil I-ih (bibi) kepadamu. Locianpwe. Bolehkah kusebut kau dengan panggilan itu? Dan kau tentu bersedia memanggil Liong-ji kepadaku bukan?"

Ketika mengucapkan kata-kata tersebut suaranya penuh bernada kasih sayang.

Selain rasa kagum dan hormat yang bersungguh-sungguh, membuat siapapun yang mendengar dapat ikut merasakan bahwa ucapan tersebut benar-benar diucapkan dengan hati yang tulus.

Rupanya Tiang-heng Tookoh dibuat terharu oleh perkataan itu, ia menghela napas panjang.

"Pinto bukan seorang yang manja. Apabila delapan atau sepuluh tahun berselang kau sebut aku dengan panggilan I-ih atau Kokoh, belum tentu pinto akan merasa puas! Tapi sekarang, pinto hanya seorang pendeta, sebutan sebutan bagi orang awam itu sudah terlampau asing bagi diriku"

Mendengar sampai disitu, mendadak satu ingatan melintas dalam benak Coa Wi-wi, pikirnya.

"Yaaa benar! Kenapa tidak kumanfaatkan kesempatan yang sangat baik ini untuk menemukan tempat persembunyiannya? Bila kuberhasil temukan tempat persembunyiannya, sekalipun dia tak ingin berjumpa dengan akupun tak bisa. Hmmm.... suatu ide yang sangat bagus, aku harus segera melaksanakannya"

Begitu ingatan tersebut melintas dalam benaknya, ia segera melaksanakannya tanpa memberitahukan hal itu kepada Hoa In-liong lagi.

Diam-diam ia menyelinap ke dalam hutan dan lenyap di-balik kegelapan.

Hoa In-liong sendiripun segera mengimbangi tindakan dara itu, katanya kemudian.

"Bibi Ku, apa asingnya dalam soal panggilan? Sekalipun dia seorang Pendeta toh ia masih mempunyai sanak keluarga? Bibi Ku, sudikah kau panggil aku dengan sebutan Liong-ji? Tahukah kau, semenjak bertemu dengan kau malam itu, andaikata tiada kejadian diluar dugaan yang menghalangiku, semenjak dulu Liong-ji sudah pergi mencarimu"

Panggilan itu adalah suatu panggilan yang tulus tentu saja Tiang-heng Tookoh dapat menangkapnya, karena itu sesudah termenung sebentar ia menghela napas sedih.

"Nak, sejak dulu sampai sekarang banyak bercinta hanya meninggalkan kebencian, perasaanmu terlalu sensitif...."

"Kelirukah aku? Bibi Ku, apakah Liong-ji tak pantas menaruh perasaan hormat dan sayang kepadamu?"

"Pinto tak bisa mengatakan kalau pandanganmu keliru. Tapi akupun tidak setuju dengan caramu berpikir. Ingatkah engkau dengan dua bait syair kono yang berbunyi demikian? Bila Thian punya perasaan Thian akan ikut tua, Bila rembulan tiada rasa benci rembulan akan selalu purnama? Nak, perasaanmu terlalu kaya dan sensitif, lain waktu banyak penderitaan yang bakal kau rasakan...."

"Liong-ji tidak percaya"

Bantah Hoa In-liong.

"Burung belibis selalu sepasang. Burung manyar terbang berombongan. Burung dan binatangpun masih mempunyai perasaan apalagi manusia? Bila manusia tak berperasaan bukankah sama halnya dengan makhluk berdarah dingin?"

"Aaaai.... Pengalaman hidupmu belum banyak, jalan pikiranmu terlampau polos. Ketahuilah perubahan yang dialami manusia hidup itu tak terhitung banyaknya. Banyak kesulitan yang tak bisa diatasi dengan kekuatan manusia, bahkan kadangkala sampai waktunya kasih sayang Thian juga tak dapat mengatasi kebencian yang tertanam ditaati. Waktu itulah engkau baru akan tahu bahwa manusia dan binatang tak dapat dibanding-bandingkan!"

"Apakah Bibi Ku maksudkan ayahku? "tanya Hoa In-liong.

"Ibumu juga sama saja, ketika ia jatuh cinta kepada ayahmu, mereka juga mengalami pelbagai siksaan dan penderitaan, bahkan sampai nyawa sendiripun tidak...."

Sebelum kata-kata itu diucapkan sampai selesai Hoa-In-liong telah menyela dari samping.

"Bibi Ku keliru. Kedua orang tua Liong-ji saling cinta mencintai, saling hormat menghormati. Sekalipun dimasa lalu harus mengalami banyak penderitaan, itu juga berharga!"

Begitulah mereka berdua segera terlibat dalam pembicaraan yang serius untuk memperdebatkan perlukah seseorang berperasaan.

Mereka tak ada yang tahu bahwa Coa Wi-wi sudah hilang.

Hoa In-liong cerdik dan pandai berbicara, lagi pula reaksinya juga cekatan, makin berbicara ia semakin berhasil membawa Tiang-heng Tookoh untuk masuk jebakan.

Dalam gugupnya untuk sesaat rahib perempuan itu tak mampu berkata-kata.

Ketika ditunggunya Tiang heng Tookoh belum juga bersuara, buru buru Hoa In-liong berkata lagi.

"Bibi Ku, engkau tak usah bersedih hati. Bicara sesungguhnya engkaupun tidak salah. Yang salah adalah orang orang keluarga Hoa kami. Tidak seharusnya kami mengesampingkan bibi Ku sehingga membuat engkau harus memendam cinta menahan benci dan menjadi seorang rahib. Dulu Liong-ji tidak mengetahui akan hal ini, tapi sekarang setelah mengetahuinya Liong-ji tak dapat berpeluk tangan belaka. Bibi Ku, bolehkah Liong-ji bertemu muka denganmu?"

Tiang-heng Tookoh menghela napas panjang.

"Aaaai....kau sibocah cilik pandai benar bersilat lidah, apakah engkau hendak menaklukan hati pinto?"

"Oooh.... tidak.... tidak demikian"

Buru-buru Hoa In-liong menyahut.

"Bibi Ku, ibuku (Chin Wanhong yang dimaksudkan) juga mengatakan bahwa keluarga Hoa kami sangat berhutang budi kepadamu. Kalau tidak percaya, kau boleh tanyakan soal ini kepada nenek. Bila Liong-ji mengucapkan sepatah kata bohong saja, kau boleh rangket pantatku dengan sepuluh kali gebukan....!"

Mendengar perkataan itu, Tiang-heng Tookoh tertawa geli.

"Aaah.... kamu si bocah cilik.... Aaaai.... pinto merasa tak mampu menangkan pembicaraanmu. Aku tak mau tertipu oleh siasat busukmu lagi...."

Setelah berhenti sebentar dia alihkan pokok pembicaraan ke soal lain, ujarnya lagi dengan wajah bersungguh-sungguh.

"Dengarkanlah Liong-ji, kakakmu sudah ditotok jalan darahnya oleh seorang manusia berkerundung. Sekarang oleh orang-orang dari Cian-li-kau mudah dikirimi ke Kim-leng. Cara manusia berkerundung itu melancarkan totokannya istimewa sekali. Pinto tak sanggup membebaskan totokan itu, maka ada baiknya cepat-cepatlah pergi kesana"

Begitu mendengar perkataan itu, Hoa In-liong merasa amat terkejut, lagi pula dari nada ucapan tersebut ia tahu bahwa Tiang-heng Tookoh ada niat meninggalkan tempat itu.

Dalam begini salahnya, tanpa terasa lagi dia menukas.

"Tunggu sebentar bibi Ku, Liong-ji ingin bertemu denganmu!"

"Tidak bisa menunggu lagi, sebab kalau aku menunggu lebih lama lagi maka telinga pinto jadi tidak berhasil lagi. Liong-ji harus penurut, segera berangkat ke Kim-leng dan bilamana perlu hantarlah kakakmu ke perkampungan Liok-son-soat-ceng. Kau punya jodoh dengan diriku, lain waktu kita pasti ada kesempatan untuk bertemu lagi, Nah, pinto berangkat lebih dulu....!"

Begitu kata-kata itu berakhir, terdengarlah suara ujung baju tersampok angin memecahkan kesunyian. Hoa In-liong merasa amat gelisah, segera teriaknya dengan suara lengking.

"Bibi Ku! Bibi Ku! Kau jangan pergi dulu, bagaimana keadaan yang sebenarnya? Kenapa tidak kau terangkan dulu kepada Liong-ji hingga lebih jelas?"

Disaat yang kritis, akhirnya ia teringat kembali tentang kakaknya, bahkan dia hendak menggunakan urusan Hoa Si untuk menahan Tiang-heng Tookoh beberapa saat lagi.

Itulah hubungan persaudaraan yang amat erat juga merupakan kecerdikan dari Hoa In-liong.

Sayang Tiang-heng Tookoh tidak menjawab lagi, tampaknya ia sudah berlalu dari situ.

Dalam waktu yang amat singkat tadi, ia telah menggunakan segala daya upayanya untuk berjumpa muka dengan Tiang-heng Tookoh.

Bahkan ada niat untuk menaklukkan hati rahib tersebut hingga apa yang diharapkan dapat tercapai.

Siapa tahu Tiang-heng Tookoh dapat menyelami perasaannya, bahkan begitu mengatakan akan pergi, saking cemasnya ia sampai mendepak-depakkan kakinya ketanah.

Meski tiada sesuatu apapun yang bisa dilakukan lagi.

Sementara ia sedang cemas sambil mendepakkan kakinya ketanah, tiba-tiba terdengar Coa Wi-wi tertawa cekikikan.

"Hiiiihh.... hiiihh.... hiiih.... Bibi Ku, sudah lama anak Wi menantikan dirimu. Benarkah kau orang tua tidak sudi bertemu dengan kami....?"

Sementara Hoa In-liong tertegun, Tiang-heng Tookoh telah menjerit kaget lalu menghela napas panjang.

"Aaai....anak pintar. Otakmu memang luar biasa, bagaimana caramu menemukan tempat persembunyianku?"

"Kepandaian cianpwe dalam merubah irama memancarkan suara memang luar biasa sekali"

Ucap Coa Wi-wi dengan nakalnya.

"Darimana anak Wi bisa menemukan tempat persembunyianmu? Dewa lah yang mengatakan itu kepadaku. Bibi Ku, Jiko lagi gelisah, mari kita turun bersamasama!"

Setelah mendengar percakapan tersebut, Hoa In-liong baru sadar akan apa yang sebenarnya telah terjadi.

Dengan cepat dia menerjang ke arah hutan sebelah kiri, kemudian soraknya dengan penuh kegembiraan.

"Bibi Ku! Bibi Ku! Rupanya engkau masih belum meninggalkan tempat ini....!"

Tiang-heng Tookoh memang belum pergi.

Waktu itu dia masih bertengger diatas sebuah dahan pohon diatas sebuah pohon yang tak jauh letaknya dalam hutan itu.

Sementara Coa Wi-wi yang berdiri ditengah hembusan angin berada tak jauh di belakang punggungnnya.

Jadi dua orang itu berada diatas sebuah dahan yang sana.

Hanya Tiang-heng Tookoh sama sekali tidak merasakan akan kehadiran si nona tersebut.

Dari sini dapat diketahui bahwa ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Coa Wi-wi sudah mencapai pada puncak kesempurnaan.

Setelah Hoa In-liong tiba dibawah pohon Tiang-heng Tookoh pun sebentar memandang ke arah Coa Wi-wi sebentar memandang pula kearah Hoa In-liong akhirnya dengan perasaan boleh buat katanya.

"Baik! Mari kita turun bersama. Setelah bertemu dengan dua orang bocah cerdik seperti kalian, terpaksa pinto harus mengaku kalau.... Yaa, apa boleh buat?"

Berbicara simpai disitu, pelan pelan dia bangkit berdiri lalu melompat turun keatas tanah. Coa Wi-wi ikut melompat pula kebawah, katanya dengan wajah berseri.

"Anak Wi membohongi dirimu. Bibi Ku, ilmu kepandaianmu memang betul-betul sangat lihay. Barusan andaikata engkau tidak menjatuhkan selembar daun pohon karena kurang sengaja sehingga menimbulkan suara yang mendesis, mungkin aku masih belum berhasil menemukan tempat persembunyianmu...."

Mendengar perkataan itu, tanpa terasa Tiang-heng Tookoh tersenyum.

"Kau tak usah mengadaada lagi, bagaimanapun juga toh persembunyian pinto sudah kalian temukan. Apa yang ingin dibicarakan lebih baik katakan saja secara terus terang!"

Sementara itu Hoa In-liong sudah menyongsong kedepan, mendengar perkataan itu cepat sembungnya.

"Apa yang diucapkan bibi Ku memang benar. Silahkan duduk, mari kita bercakapcakap disini saja"

Tiang-heng Tookoh memandang sekejap sekeliling tempat itu lalu mengangguk, maka diapun mencari sebuah batu gunung didekat sana dan duduk.

Hoa In-liong serta Coa Wi-wi saling berpandangan sekejap lalu tertawa, mereka ikut mencari batu dan duduk dihadapannya.

Waktu itu malam sudah semakin kelam, rembulan sudah menyinari jagad.

Sinar yang kelabu memancar masuk lewat celah-celah daun pohon yang rimbun, serta membiaskan beratus-ratus titik perak yang membiaskan sinar redup.

Seorang Tookoh yang cantik dan bertubuh indah duduk bersila diatas sebuah batu cadas.

Dihadapannya duduk pula sepasang muda mudi yang tampan dan cantik jelita.

Itulah suatu pemandangan yang sangat indah, sangat menawan dan mempersonakan hati.

Mereka bertiga duduk saling bertatapan tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Selang sesaat kemudian Tiang-heng Tookoh baru buka suara memecahkan keheningan yang mencekam sekeliling tempat itu.

"Anak bodoh buat apa kalian memaksa terus? Apakah cuma ingin menyaksikan keadaan pinto ini?"

Hoa In-liong tidak menjawab, dia hanya menatap perempuan itu tak berkedip. Sedangkan Coa-Wi-wi segera mengangguk seraya memuji.

"Hmmm.... Cantik nian bibi Ku...."

Tiang-heng Tookoh tersenyum.

"Pinto adalah seorang pendeta, dalam pandangan, orang yang beribadat cantik atau jelek sama sekali tiada artinya"

"Aaaai....! Cantik atau jelek dapat saja dibandingkan!"

Bantah Coa-Wi-wi lagi dengan alis berkeryit.

"Sesungguhnya, kau memang benar-benar cantik jelita. Andaikata tidak mengenakan jubah pendeta, Wi-ji percaya kecantikanmu tentu luar biasa. Bibi Ku, kenapa kau memilih jadi seorang pendeta? Kenapa kau suka mangenakan jubah kependetaan yang longgar dan serba kedodoran?"

Gadis itu adalah seorang yang belum dapat menyelami perasaan orang.

Caranya berbicarapun seenaknya sendiri dan tanpa dipikirkan dulu.

Ia tak menyangka kalau pertanyaan yang diajukan itu justru sudah menyentuh bagian yang paling menyedihkan bagi Tiang-heng Tookoh.

Sekejap kemudian, rahib perempuan itu merasakan hatinya jadi kecut, wajahpun ikut jadi murung dan sedih.

Untunglah bagaimanapun juga dia adalah seorang perempuan yang berpengalaman dan pandai menyusaikan diri dengan keadaan.

Hanya sebentar ia merasa sedih kemudian pulih kembali seperti sedia kala.

Ia menengadah lalu tersenyum.

"Mungkin pinto akan membuat engkau merasa sangat kecewa!"

Demikian katanya.

"Apakah bibi Ku tidak bersedia untuk mengucapkannnya keluar?"

Ia bertanya keheranan. Tiang heng Tookoh segera tersenyum.

"Pinto justru menjadi pendeta karena ingin menjadi pendeta. Akupun mengenakan jubah pendeta ini karena senang memakainya. Nah, puas bukan dengan jawaban ini?"

Mendengar jawaban tersebut, Coa Wi-wi tertegun dan berdiri terbelalak dengan mulut melongo.

Jawaban tersebut benar-benar berada diluar dugaannya.

Sayang jawaban yang ibaratnya menghindar yang berat memilih yang enteng ini tidak dapat memuaskan Hoa In-liong yang cukup mengenal latar belakang penghidupan perempuan itu.

Dengan dahi berkerut Hoa In-liong yang cukup segera menukas.

"Aaaah.... tidak benar!...."

Tiang-heng Tookoh berpaling lalu tertawa.

"Kalau toh engkau sudah tahu tidak benar, buat apa mesti banyak bertanya lagi?"

Katanya. Mula-mula Hoa In-liong tertegun menyusul kemudian berkata.

"Tapi.... Aku tahu bahwa perasaan kau orang tua benar-benar amat tersiksa!"

Mendengar jawaban tersebut, diam-diam Tiang-heng Tookoh merasa terperanjat segera pikirnya.

"Dua orang ini sungguh amat cerdik. Mereka semua adalah manusia-manusia yang kaya akan perasaan. Aku harus memangguhkan perasaan sendiri. Akupun harus mempergunakan akal sehatku. Jangan lantaran godaan perasaan yang mereka lontarkan membuat aku bertepuk lutut. Kalau sampai begitu habislah sudah karierku"

Setelah timbul kewaspadaan dalam hatinya, ia semakin hambar lagi dalam jawaban.

'Bukankah pinto banyak berbicara dan banyak tertawa?

Malahan Wi-ji memuji pinto masih amat cantik!

Ketahuilah, pinto adalah seorang yang telah berusia empat puluh tahunan lebih, jauh lebih tua daripada ibumu.

Bila aku sangat menderita, bila batinku tersiksa, mana mungkin Wi-ji masih memuji kecantikanku?"

"Yaa, tentu saja kau masih cantik karena kau sudah melatih ilmu Cha-li cinkeng yang bisa bikin orang awet muda. Apa artinya seseorang yang baru berusia empat puluh, tahunan? Pada dasarnya engkau memang seorang perempuan yang cantik jelita! Bibi Ku, buat apa kau mengatakan kesemuanya itu? Tahukah kau bahwa engkau sendiri pun bersalah?"

Tiang-heng Tookoh tertawa.

"Liong-ji, tak usah mengucapkan kata-kata yang sok mengagetkan orang. Kau juga tak perlu berlagak sok pintar"

Tegurnya.

"Liong-ji sama sekali tidak sok pintar, apa yang Liong-ji katakan semuanya mempunyai dasar fakta yang bna dipertanggung jawabku!"

Teriak Hoa In-liong agak emosi. Dalam hati Tiang-heng Tookoh merasa terkejut, sementara diluar ia pura-pura tercengang.

"Ooooh.... Kalau begitu sungguh aneh sekali"

Katanya"

Katanya.

"Benarkah batin pinto tersiksa? Fakta apakah yang kau miliki?"

"Bibi Ku, apakah kau mengira bahwa apa yang kuketahui tidak banyak?"

Ujar Hoa In-liong sambil berkerut dahi.

"Ketahuilah gwa-kong pernah menceritakan kisah tentang kejadianmu dimasa lampau kepadaku. Malam itu, semua perkataan dan semua tindak tanduk yang kau lakukan dalam kuil ditengah hutan juga Liong-ji saksikan dengan mata kepala sendiri!"

Begitu perkataan tersebut diucapkan keluar, paras muka Tiang-heng Tookoh berubah hebat.

"Apa yang telah diucapkan gwa-kong mu?"

Serunya dengan gelisah.

Perlu diketahui Pek-Siau-Thian engkong luar dari Hoa In-liong dulunya adalah seorang psmimpin dunia persilatan yang disegani banyak orang.

Bukan saja ia memiliki nama besar dan kedudukan, wataknya agak aneh.

Jalan pikirannya agak sempit dan ia paling suka membelai orang sendiri.

Ia termasuk seorang manusia yang mempunyai pandangan istimewa terhadap cinta dan benci.

Tiang-heng Tookoh tidak takut semua perkataan maupun gerak-geriknya dalam To koan diketahui Hoa In-liong.

Tapi ia sangat kuatir kalau Pek Siau-thian menambahi bumbu dalam pembicaraannya, sehingga apa yarg dikatakan kepada Hoa In-liong sama sekali bertolak belakang dengan kenyataan.

Padahal Pek Siau-thian yang sekarang berbeda jauh dengan Pek Siau-thian yang dulu.

Jago tua ini kini sudah menjadi seorang pendeta besar yang budiman dan baik hati, hanya perempuan itu tidak mengetahuinya.

Tidak aneh kalau paras mukanya berubah dan hatinya jadi gelilah setelah mendengar ucapan itu.

Hoa In-liong tidak terlalu memperhatikan perubahan wajahnya, dia lantas menyahut.

"Kejadian dikota Cho-ci, kata gwa-kong waktu itu kau sedang menderita siksaan Im-hwe-lian-hun (Api dingin melelehkan sukma). Ketika ayahku mengetahui kejadian ini beliau segera menyusul kesana untuk menolongmu. Konon ayah di pancing kesana oleh Kiu-im-kau memang bertujuan untuk memaksa ayahku menyerahkan pedang bajanya agar ditukar dengan jiwamu. Ayah tidak menolak syarat tersebut, tapi kau malah selalu memikirkan bagi kepentingan ayah, kau malah berpesan kepada ayah agar jangan mau tunduk kepada orang lain, jangan mau ditundukkan oleh ancaman musuh...."

Menyinggung kembali kejadian mata lalu, Tiang-heng Tookoh merasa seakan-akan bayangan tubuh dari Hoa Thian-hong yang berdiri dengan badan gemetar, mata merah membara dan sikap mendekati seperti orang gila itu melintas kembali dalam benaknya.

Ia merasa hatinya sakit sekali, ia tak ingin mendengarkan lebih lanjut.

"Apakah gwakongmu hanya membicarakan tentang soal ini?"

Segera tukasnya.

"Tentu saja masih ada yang lain, Gwvakong berkata pula bahwa engkau orang tua bukan perempuan sembarangan. Cinta kasihnya terhadap ayah benar-benar lebih dalam dari samudra, budi yang dilimpahkan lebih tinggi dari langit. Ia mengatakan juga bahwa bahwa siksaan Imhwe-lian-hun merupakan siksaan yang tidak berperi kemanusiaan, membuat siapapun yang menyaksikan akan jadi marah dan sukar mengendalikan emosinya. Tapi kau orang tua lebih rela disiksa oleh siksaan yang bukan kepalang kejinya itu daripada menyaksikan ayahku harus tunduk dibawah tekanan orang lain. Bibi Ku, Liong-ji ingin bertanya kepadamu, dulu kau adalah sahabat paling karib dari ayahku tapi sekarang kau menjadi pendeta karena menahaan rasa kebencian lantaran putus asa dan sedih hati. Apakah tindakanmu ini bukan sama artinya bahwa kau merasa tak suka dengan tindakan keluarga Hoa kami yang telah melupakan kau, sebaliknya kaupun tak ingin menyalahi keluarga Hoa kami...."

Mendengar perkataan itu, Tiang-heng Tookoh merasakan pipinya jadi panas, tapi hatinya juga lega. Setelah berpikir sebentar, maka pikirnya kembali.

Baca Juga: Pendekar Bego 3

Baca Juga: Ilmu Ulat Sutera 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert