Ceritasilat Novel Online

Rahasia Hiolo Kumala 6

Eps 6 Rahasia Hiolo Kumala - Gu Long

Baca online Rahasia Hiolo Kumala - Gu Long

Cersil Rahasia Hiolo Kumala - Gu Long.

"Jika markas besar dari perkumpulan Hian-beng kau betul-betul berada diperbukitan Gi-mong-san, maka keadaan dari generasi kita sekarang tak akan berbeda jauh dengan keadaan generasi yang lampau. Pada generasi yang lalu, Tong-thian-kau, Sin kipang dan Hong-im-hwe merupakan tiga kekuatan yang menguasahi jagad. Sementara pihak kaum pendekar dipimpin oleh ayahmu. Sekarang setelah tiba pada generasi kita, maka musuh yang kita hadapi adalah kaum Mo-kauw dari Seng-sut-pay di barat, Kiu-im-kau diselatan dan Hian-beng-kau ditanah perbukitan Gi-mong-san. Itu berarti ada tiga kekuatan juga yang menguasahi jagad. Maka aku rasa dari generasi muda sekarang, engkaulah yang paling cocok untuk mengisi jabatan pemimpin itu"

Ucapan yang saling susul menyusul dari ketiga orang itu sungguh membuat terharu hati Hoa Inliong.

Tapi diapun bukan seorang manusia yang takabur dan tinggi hati.

Apa yang dia pikirkan sekarang boleh dibilang jauh dari angan-angan untuk menjadi seorang pemimpin, maka dengan tersipu-sipu ia berkata.

"Aaah, saudara bertiga terlampau menyanjung diriku. Aku merasa bahwa diriku hanya seorang manusia tak berguna. Tugas seberat ini tak berani kupikul dengan begitu saja. Apalagi perloalan ini bukanlah persoalan yang kupikirkan. Kalau toh Hian-beng kaucu begitu memandang tinggi diriku, tentu saja hal ini sama sekali tak ada hubungannya dengan kepandaian silatku, kemampuanku serta kecerdasanku. Alasan dibalik kesemuanya ini masih merupakan suatu tanda tanya besar bagiku. Lebih baik saudara bertiga jangan membicarakan tentang yang lain lebih dahulu, tapi bantulah diriku untuk memikirkan persoalan ini"

"Sudahlah, tak usah kau pikirkan lagi"

Kata Coa Cong-gi.

"Pokoknya persoalan ini ada sangkut pautnya dengan ayah ibumu"

"Darimana kau bisa tahu?"

"Ayahmu adalah lambang kebenaran dari umat persilatan dari golongan lurus! Sedang ibumu adalah nyonya dari Thian-cu-kiam! Padahal tujuan mereka merajai dunia persilatan adalah untuk membuat buat keonaran dan kejahatan. Gembirakah dan legakah perasaan mereka selama ayah ibumu mengganggu usaha mereka itu?"

"Betul juga perkataan ini"

Diam-diam Hoa In-Liong berpikir.

"Tampaknya tujuan mereka menangkap diriku adalah hendak dijadikan sandera untuk menggertak ayah ibuku"

Karena berpendapat demikian, maka diapun tidak mendebat lebih jauh, kembali katanya.

"Memangnya mereka anggap ayah ibuku gampang digertak orang sehingga mandah menyerah begitu saja? Jika mereka berpendapat demikian, maka sia-sialah jalan pikiran tersebut. Yaa.... Sudahlah. Urusan ini tak usah dibicarakan lagi, cepat katakan soal yang kelima"

Sembari putar otaknya untuk berpikir, Coa Cong-gi bergumam seorang diri.

"Kelima.... Kelima...."

Tiba-tiba ia menengadah seraya berseru.

"Sudah tidak ada lagi"

Jawaban ini membuat Hoa In-liong tertegun. Untuk sesaat dia tak mampn mengucapkan sesuatu. L i Poh-seng yang berada disampingnya segera menyela.

"Bukankah kau katakan bahwa kalau digabungkan semua maka jumlahnya meliputi dalam lima hal?"

"Yaa, tapi yang lain cuma tetek bengek yang tak ada artinya, tentu saja tak bisa hitung an"

"Apa yang kau artikan tetek bengek?"

Sela Yu Siau-lam pula.

"Kenapa tidak kau katakan juga agar bisa kita bahas dan analisa bersama-sama....?"

"Aku rasa tiada berharga bagi kita untuk membahas dan menganalisanya kembali"

Tukas Cong-gi cepat. Hoa In-liong tersenyum.

"Bukankah kau katakan bahwa mereka merundingkan persoalan yang menyangkut tentang keamanan dunia persilatan serta rencana melakukan pembunuhan? Aneh, mengapa sampai sekarang belum kudengar sesuatu hal yang menyangkut tentang kenyataan tersebut? Apa sebabnya bisa demikian?"

Coa Cong gi mengerutkan dahinya.

"Tapi memang begitu kenyataannya! Apa yang berhasil kudengar telah kuucapkan semua, yang belum kusinggung juga melulu nama dari beberapa orang, tak ada alasan lain yang dapat kukatakan lagi...."

"Nama-nama siapa yang mereka singgung?"

"Waaah banyak sekali ! Siapa itu Sim Cia? Siapa itu Jin Hian! Cu-im tauto! Thiaa-ek lo-to! Ciu Thian-hau dari Hong-san! Pokoknya banyak sekali nama-nama orang yang mereka sebutkan. Lagipula sewaktu menyebutnya tidak bersamaan tapi berputus-putus. Untuk sesaat aku rada susah untuk mengingatnya semua secara bersama. Sekalipun masih ingat, namun tak berani kupastikan apakah namanya itu benar atau tidak. Coba bayangkan sendiri, mana mungkin hal ini bisa kugabungkan menjadi satu soal serta menerangkannya secara jelas?"

Dalam anggapannya hal ini sama sekali tak berguna, ia anggap persoalan itu hanya urusan tetek bengek yang sama sekali tak ada artinya.

Siapa tahu justru nama-nama yang disebutnya itu bagi pendengaran Hoa In-liong merupakan geledek yang menyambar ditengah siang hari bolong, seketika itu juga hatinya jadi tercekat.

"Waah.... Waah.... Itu namanya suatu komplotan yang berencana, nama-nama yang mereka singgung itu sudah pasti bukan bertujuan untuk dihubungi untuk diajak berkomplot tapi menyusun rencana untuk membinasakannya. Seperti juga ketika mereka mencelakai jiwa Suma siok-ya dan isterinya. Kalau tidak ada gunanya mereka singgung-singgung kembali para tokoh persilatan yang sudah banyak yang mengasingkan diri dan tak ketahuan jejaknya lagi itu?"

Namun mesti ia berpikir demikian dalam hatinya, perasaan kaget dan terkejutnya sama sekali tidak diperlihatkan diatas wajah.

Ia merasa lebih baik tak usah menyinggung lagi persoalan itu karena tiada bukti nyata yang didapatkan, dikuatirkan pengungkapan persoalan itu justru malah mengacaukan pikiran orang banyak.

Maka sambil tersenyum lirih Hoa In-liong berkata.

"Jadi kalau begitu, hanya sedemikian banyak saja persoalan kasak kusuk yang kau maksudkan itu?"

"Akukan menyinggungnya secara garis besar. Padahal dalam kenyataannya mereka sambil makan sambil berbicara, perjamuan itu berakhir setelah lewat tengah malam"

"Bagaimana kemudian setelah perjamuan selesai?'"

"Yaa bubaran tentunya!"

Jawab Coa Cong-gi polos. Hoa In-liong tersenyum.

"Aku tahu, mereka pasti bubaran, maksudku apakah setelah bubaran orang-orang dari Hian-beng kau juga pada angkat kaki?"

"Lho.... Aneh benar! Dari mana kau bisa tahu....?"

Seru Coa Cong-gi tertegun. Kembali Hoa In-liong tertawa.

"Apanya yang susah untuk menduga sampai disitu? Mungkin tak lama setelah kejadian itu paman Ko-ku itupun muncul disana. Seandainya orang-orang dari Hianbeng kau masih hadir disana, suatu pertarungan yang amat serupun akan segera berlangsung dan berada dalam keadaan seperti ini tak mungkin Kiu-im kaucu sampai angkat kaki kabur pulang kesarangnya...."

Coa Cong-gi bertepuk tangan sambil bersorak memuji.

"Betul.... Betul.... memang begitulah keadaannya. Nah, dengarkan kisahku selanjutnya "

Timbul kembali kegembiraannya untuk berbicara. Sebelum Hoa In-liong buka suara, ia telah berkata lebih dulu.

"Selesai perjamuan, orang-orang dari Hian-beng kau pada pamit dan berlalu dari sana. Kiu-im kaucu sendiri rupanya sedang dirunding banyak persoalan yang memusingkan kepalanya. Setelah membuyarkan anak buahnya, seorang diri ia berjalan mondar-mandir dalam halaman itu sambil bergendong tangan. Menggunakan kesempatan yang sangat baik itulah aku berputar satu lingkaran disekitar gedung untuk mencari jejakmu. Menanti aku balik lagi ke halaman depan, ternyata dihadapan Kiu-im kaucu telah tertambah dengan seseorang dan orang itu tak lain adalah paman Ko mu itu. Cctt.... ctttt.... Paman Ko mu itu memang luar biasa, badannya tinggi tegap, wajahnya keren, berwibawa dan berilmu tinggi juga. Waah! hebat sekali!"

Diam-diam Hoa In-liong tertawa geli, pikirnya.

"Begitu saja sudah kagum, apalagi kalau sampai berjumpa dengan ayahku...."

"Apa sebabnya paman Ko ku itu ditengah malam buta pergi mencari Kiu-im kaucu?"

"Dia mencari kau1″ Sahut Coa Cong-gi dengan dahi berkerut. Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba sambungnya lebih jauh.

"Kewibawaan Kiu-im kaucu memang luar biasa sekali. Ketika aku tiba kembali ditempat semula, kusaksikan raut wajahnya dingin kaku seperti es dan sedang membentak dengan suara ketus.

"Siapa kau? Tengah malam buta begini kenapa datang berkunjung ke rumah orang?"

Ternyata paman Ko mu itu juga amat gagah, dia lantas menjawab dengan lantang."

Aku Ko Thay, khusus datang kemari untuk minta keringanan tanganmu.

Haa....

haa....

haa....

Jawaban ini memang tepat sekali.

Mungkin sepanjang hidup aku Coa Cong-gi tak dapat menirukannya dengan persis"

Hoa In-liong kuatir kalau ia membawa pokok pembicaraan itu kesoal lain, maka cepat-cepat, timbrungnya.

"Bagaimana selanjutnya? Bagaimana jawaban dari Kiu-im kaucu....?"

"Mula-mula Kiu-im kaucu tampak agak tertegun. Menyusul kemudian setelah mendengus dingin ia menjawab.

"Hmm, manusia yang tak punya namapun berani mintakan ampun bagi orang lain! Betul-betul tak tahu diri!" . Paman Ko itu pun tidak tersinggung. Dia langsung menjawab lagi.

"Aku memang seorang manusia yang tak punya nama. Tapi nama besar dari Hoa Thian-hong tentu tak asing bukan bagi pendengaran Kaucu? Nah, aku datang kemari untuk meminta kembali kongcunya" . Setelah perkataannya itu diutarakan keluar, bukan saja Kiu-im kaucu dibuat tertegun seketika itu juga, sekalipun aku juga ikut tertegun"

"Tak aneh kalau dia tertegun"

Kata Hoa In-liong kemudian.

"Waktu itu aku sudah pergi. Tentu ia tak tahu bagaimana musti menghadapi persoalan ini. Tapi entah bagaimana jawabannya kemudian?"

"Ia tertegun untuk sesaat lamanya, kemudian katanya.

"Suruh Hoa Thian-hong datang sendiri!"

Tapi tindakan paman Ko lebih cerdik, dia tidak menanggapi ucapan tersebut.

Sebaliknya mengangkat lengan kirinya dan langsung menyodok kemuka.

Ketika itu aku dibuat terheran heran oleh tindakan itu.

Sedangkan Kiu-im-kaucu tiba-tiba berteriak dengan rasa terperanjat.

"Kun-siu-ci-tau! Apa hubunganmu dengan Hoa Thian-hong?". Jawab paman Ko mu itu."

Yaa benar, tempo dulu pukulan ini memang bernama Kun-siu-ci-tau, tapi sekarang bernama Hu-imsin-ciang. Entah pukulan tersebut apakah pantas mewakili Hoa Thian-hong?"

Baru saja perkataannya selesai diutarakan tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang amat nyaring berkumandang memecahkan kesunyian.

Ternyata sebatang pohon besar yang tingginya lima kaki disebelah kiri telah terhajar patah jadi dua bagian, dengan menimbulkan suara keras pohon itu tumbang ketengah halaman"

Ia berhenti sebentar untuk tukar napas, kemudian lanjutrya lebih jauh.

"Ternyata sikap Kiu-imkaucu cukup gagah, segera ujarnya dengan suara dingin.

"Perduli ilmu pukulan itu ilmu pukulan sakti apa. Yang pasti ilmu silatmu berasal dari Hoa Thian-hong. Itu berarti kau memang berkewajiban untuk datang minta kembali putranya. Tapi akupun ada sepatah dua patah kata hendak dikatakan kepadamu. Cuma takutnya kau tidak mau percaya."

Paman Ko-pun menyahut.

"Kau adalah ketua dari suatu perkumpulan besar, tentu saja apa yang kau katakan akan kupercayai sepenuhnya.

"Kiu-im-kaucu kembali berkata.

"Senja berselang, Hoa In-liong telah pergi tanpa pamit, percayakah kau?"

Bila di katakan pergi tanpa pamit, siapa yang mau percaya? Waktu itu aku langsung mengumpat didalam hati.

"Sialan, ngomong juga seenaknya sendiri!"

Siapa tahu setelah tertegun sejenak, paman Ko segera memberi hormat seraya berseru.

"Maaf, mengganggu!"

Diapun putar badan dan berlalu dari sana"

Yu Siau-lam lantas menyela dari samping.

"Apakah lantaran Ko tayhiap berhasil mematahkan sebatang pohon dengan pukulannya, maka Kiu im kaucu kabur pulang kesarangnya?"

"Tentu saja tidak sesederhana itu"

Jawab Coa Cong-gi.

"Aku sangat kagum menyaksikan kegagahan serta kewibawaan Ko tayhiap. Tampaknya Kiu-im kaucu dibuat jengkel oleh polah musuhnya. Ketika Ko tayhiap hendak berlalu dari sana, ia lantas mendengus dingin sambil menegur.

"Hmm, mau datang lantas datang, mau pergi lantas pergi. Sikapmu itu betul-betul tak pandang sebelah matapun terhadap diriku" . Mendengar teguran tadi, Ko tayhiap menghentikan langkahnya seraya menjawab.

"Apakah kaucu tidak senang hati dan ingin memberi beberapa jurus petunjuk ilmu silat kepadaku?" . Kiu-im kaucu berkata kasar.

"Yaa benar, sebelum pergi dari sini, sambutlah sebuah pukulanku lebih dahulu" . Ko tayhiap dengan gagah menerima tantangan itu.

"Aku sudah siap menunggu pelajaran!". Maka kedua orang itu saling bertarung"

"Bagaimana akhirnya?"

Sela Yu Siau-lam dengan gelisah.

"Aku sih tak tahu bagaimana hasilnya. Hanya kulihat angin pukulan kedua orang itu saling beradu keras, menyusul kemudian Ko tayhiap mundur setengah langkah, sebaliknya Kiu-im kaucu sempoyongan setengah harian sebelum ia berdiri tegak. Menanti kuda-kudanya dapat dikokohkan kembali Ko tayhiap sudah berlalu dari sana sambil berkata.

"Selamat tinggal!"

"Jadi kalau begitu, Kiu-im kaucu belum menderita kalah?"

Tanya Yu Siau-lam kemudian.

"Aku sendiripun tidak tahu, tapi sepeninggalnya Ko tayhiap, tiba-tiba Kiu-im-kaucu bergumam seorang diri."

Aaaai.... Sudah tua! Sudah tua! Aku memang sudah terlalu tua!"

Kemudian ia berjalan mondar mandir lagi dalam gedung sambil bergendongan tangan"

"Kalau cuma begitu saja, toh beilum pasti kalau Kiu-im kaucu telah pulang kesarangnya?"

Desak Yu Siau-lam.

"Ucapan memang betul, tapi kisahnya masih ada. Dengarkan dulu penuturanku selanjutnya."

Setelah berhenti sebentar, ia baru melanjutkan kisah ceritanya.

"Demikianlah, sambil berjalan maju mundur Kiu-im kaucu putar otaknya memikirkan masalah yang ia hadapi. Selang sesaat kemudian tiba-tiba ia masuk keruang tengah dan mengumpulkan segenap tongcu dan anak buahnya. Dihadapan anak buahnya itulah dia umumkan pengunduran dirinya dan menyerahkan kedudukan kaucu itu kepada Yu beng tiamcu Bwee Su-yok dan hari itu juga ia bertolak menuju keselatan. Mengenai kejadian yang lebih terperinci, akun rasa tak perlu diterangkan lagi"

Ketika Yu Siau-lam mendengar bahwa ia telah mengakhiri kisah cerita itu, segera ujarnya lagi.

"Woow.... Kalau cuma begitu saja, tak dapat dikatakan kalau dengan sebuah pukulan berhasil mengusirnya pulang kekandang, Cuma...."

"Cuma kenapa lagi?"

Seru Coa Cong-gi sambil mengernyitkan alis matanya yang tebal. Yu Siau-lam menengadah dan menjawab.

"Aku rasa kejadian semacam ini belum pantas untuk dikatakan sebagai bangkitnya hawa iblis yang menyelimuti jagad. Pada umumnya tenaga dalam yang dimiliki si iblis tua lebih sempurna dan hatinya lebih buas dan keji. Jika si iblis kecil yang melanjutkan kedudukannya, maka baik dalam hal tenaga dalan maupun dalam hal kekejaman, dia tentu kalah satu tingkat jika dibandingkan dengan siiblis tua. Maka menurut pendapatku, keadaan semacam ini mestinya merupakan suatu warta gembira bagi kita semua"

"Warta gembira?"

Coa Cong-gi melotot besar.

"Memangnya kau anggap Bwee Su-yok adalah seorang gadis perawan yang lemah lembut dan berhati penuh welas kasih? Tanyakan sendiri kepada saudara Hoa, betapa dingin dan kakunya perempuan itu? Betapa buas dan kejamnya dia? Berbicara soal ilmu silat, mungkin Hoa lote sendiripun belum tentu merupakan tandingannya!"

Sekarang Yu Siau-lam baru terperanjat.

Tanpa sadar matanya terbelalak lebar dengan mulut melongo.

Untuk sesaat ia tak mampu nengucapkan sepatah katapun.

Hoa In-liong pribadi, ketika didengarnya bahwa Bwee Su-yok telah menerima jabatan kaucu dari Kiu-im-kau, pelbagai perasaan bercampur aduk dalam hatinya.

Perasaan itu yaa getir, yaa manis yaa kecut, yaa pedas.

Pokoknya begitu bercampur aduknya perasaan hatinya, sampai-sampai dia sendiripun tak dapat membedakan perasaan tersebut.

Saking kesalnya, ia ambil keputusan untuk tidak memikirkannya lebih jauh.

Maka dicarinya alasan untuk mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain.

"Saudara Cong-gi!"

Katanya kemudian.

"Urusan ini tak usah kita bicarakan lagi, apakah kau masih punya rangsum kering dan air?"

Coa Cong-gi merupakan seorang laki-laki yang polos dan jujur.

Setiap kali ia merasa ada perkataan yang tak betul, pemuda itu siap untuk mendebatnya.

Meski demikian, wataknya cukup baik.

Dia memang cepat naik darah, tapi cepat pula marahnya jadi buyar, apalagi ditimbrung urusan lain, maka persoalan yang pertamapun akan terlupakan sama sekali dengan cepatnya.

Terutama sekali terhadap Hoa In-liong, boleh dibilang perhatiannya sungguh sungguh.

Begitu mendengar kalau pemuda itu membutuhkan rangsum kering dan air, diapun lantas berteriak.

"Heei.... Siapa yang mempunyai air dan rangsum kering? Ayoh bagi dua bagian kemari!"

Be Si-kiat yang mendengar seruan tersebut, segera menghantar dua bagian air dan rangsum ke depan.

Setelah menerima air dan rangsum kering, Hoa In-liong membagi satu bagian untuk Yu Siau-lam dan mereka berduapun bersantap dengan mulut membungkam, sebab kedua belah pihak samasama mempunyai perasaan yang amat berat.

Untuk sesaat suasana jadi hening dan amat sepi.

Angin yang berhembus lewat menggoyangkan daun pohon hingga menerbitkan bunyi gemerisik yang nyaring.

Suara tersebut seakan-akan bunyi anak panah yang menembusi awan.

Begitu tajam dan keras membuat hati orang berdebar dan merasa duduk tak tenang.

Beberapa saat sudah lewat, akhirnya Coa-Cong gi yang pertama tama tak tahan oleh keheningan di tempat itu.

Ia lantas bangkit berdiri dan berjalan mondar-mandir kesana-kemari.

Selang sejenak kemudian, tiba-tiba matanya tertumbuk dengan tubuh Bujian tootiang yang tergeletak ditanah, ia segera berhenti ambil teriaknya.

"Eeeh.... Jalan darah dari tootiang ini apakah boleh dibekaskan sekarang?"

Selama ini, perhatian semua orang tertuju untuk mendengarkan cerita dari Coa Cong-gi tentang persoalan Kiu-im kau.

Sementara Bu-jian tootiang yang tergeletak di tanah, terlupakan untuk sementara waktu.

Maka begitu Coa Cong-gi berteriak, Hoa In-liong lah yang pertama-tama menjadi sadar.

"Oh-iya.... Biar aku yang membebaskan sendiri. Biar aku saja yang mengerjakan sendiri!"

Serunya cepat. Rangsum dan airnya dibuang ke tanah, kemudian bangkit dan menghampirinya. Yu-Siau-lam pun menjadi teringat kembali akan imam itu, sambil menengadah tegurnya.

"Apakah perlu Siau-te bantu?"

"Harap kau bersiap siaga saja dengan waspada jika kesadaran otaknya belum pulih kembali seperti sedia kala, tolong totoklah jalan darah tidur Hek tian hiatnya!"

Yu Siau lam mengangguk, maka Hoa In-liong pun menyalurkan tenaga dalamnya ke jari tangan. Kemudian dalam sekali sentilan jari saja ia telah berhasil membebaskan jalan darahnya yang tertotok.

Jilid 18 BEGITU jalan darah Bu-jian tootiang tertotok bebas, sepasang biji matanya segera berputar memandang sekeliling tempat itu, kemudian sambil melompat bangun, tanyanya dengan wajah tercengang.

"Aku.... Aku.... berada dimana?"

"Tenangkan dulu hatimu tootiang!"

Cepat Yu Siau-lam berseru.

"Tempat ini adalah empat puluh li dari kota Hong-yang yang disebut orang sebagai Ang-sim-poh!"

Kembali Bu-jian tootiang celingukan kesana kemari seperti orang kebingungan.

"Aku.... Aku...."

Tiba-tiba ia seperti teringat akan sesuatu, segera teriaknya.

"Aaah.... Aku sudah teringat semua kini, Ooh.... Thian! Kuilku....kuilku...."

"Yaa.... Kuil Cing-siu-koan telah musnah!"

Lanjut Hoa In-liong dengan sikap yang tenang.

"Tootiang, jelek-jelek engkau adalah seorang imam yang beribadat, semestinya jalan pikiranmu jauh lebih terbuka dari pada orang lain"

Bu-jian tootiang segera meloncat bangun dari atas tanah, lalu serunya agak tergagap.

"Tetapi.... Tetapi.... Dua puluh tujuh lembar nyawa manusia! Mereka semua adalah anak murid pinto!"

Menyinggung tentang kedua puluh tujuh lembar nyawa manusia itu, tak dapat dibendung lagi titik-titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

Semua orang sudah tahu kalau kuil Cing siu-koan telah terbakar habis tinggal puing-puing yang berserakan.

Tapi menyaksikan kesedihan yang mencekam perasaan Bu-jian tootiang ketika itu, semua orang ikut merasa bersedih hati hingga nyaris air mata ikut meleleh keluar membasahi pipinya.

Coa Cong-gi merupakan seorang laki-laki yang berhati sekeras baja dan bernyali besar, tapi ia paling pantang menyaksikan orang lain mengucurkan air mata, maka segera serunya.

"Jangan menangis! Jangan menangis lagi! Siapa hutang uang dia harus bayar dengan uang, siapa hutang nyawa harus dibayar pula dengan nyawa. Meskipun mereka sudah sudah bikin mati anak muridmu, lain kali kau bisa comot keluar jantungnya. Mereka sudah bakar kuilmu, maka lain kali kau bongkar juga sarang mereka. Kekerasan harus dibalas dengan kekerasan, kekejaman harus dibayar pula dengan kekejaman. Sebagai seorang laki-laki sejati, sebagai kesatria yang gagah perkasa, kau harus dapat mengendalikan perasaan. Kau anggap hanya menangis belaka, maka urusan dapat diakhiri dengan gampang?"

Hoa In-liong yang berada disampingnya segera menambahkan pula dari samping.

"Betul juga perkataan itu. Bagaimanapun juga, toh kuil yang tootiang huni telah musnah. Yang paling penting sekarang adalah menjaga kesehatan badan, selanjutnya adalah memanfaatkan keadaan yang ada. Kesedihan yang mencekam menjadi suatu kekuatan untuk membalaskan dendam bagi kematian anak muridmu. Sebaliknya jika kesedihan yang kau alami sekarang mengakibatkan badanmu semakin rusak, coba bayangkan sendiri, siapa yang akan membalaskan dendam bagi kematian anak muridmu? Kalau sakit hati ini sampai tidak terbalas, bukankah mereka akan mati dengan mata tak meram?"

"Mati dengan mata tak meram.... Mati dengan mata tak meram...."

Kembali Bu-jian tootiang bergumam seorang diri.

Dari cara imam setengah baya itu mengulangi kembali kata-kata tersebut, Yu Siau-lam tahu bahwa perasaan dan pikirannya sudah mulai bergerak, maka setelah berpikir sebentar, dia berkata pula.

"Tootiang, aku pernah berhutang budi kepadamu. Maka bila engkau berhasrat untuk membalas kan dendam bagi kematian anak muridmu, sekalipun harus terjun ke lautan api, aku pasti akan membantu dirimu pula. Entah bagaimanakah menurut pendapatmu?"

Meskipun butiran air mata yang mengembang dalam kelopak mata Bu-jian tootiang belum mengerti akan tetapi dibalik matanya yang berkaca-kaca itu telah memancar keluar serentetan cahaya tajam yang menggidikkan hati.

Ini menunjukkan bahwa keputusan telah diambil dalam hatinya dan makin lama keputusan tersebut semakin bulat.

Saat itulah Hoa In-liong menambahkan kembali kata-katanya dari samping.

"Pertimbangkanlah secara seksama. Tapi menurut pendapatku, anak murid dalam perguruan sama halnya dengan anak kandung sendiri. Kematian mereka terlalu menyedihkan, apalagi dibunuh secara keji tanpa sebab musabab. Kematian mereka adalah kematian yang penasaran, bagaimanapun jua dendam ini harus dituntut balas. Bila engkau telah memutuskan untuk membalas dendam, maka semua sahabatku dengan rela hati akan membantu usahamu itu"

Begitu kata-kata tersebut berkumandang keluar, sinar mata yang memancar keluar dari mata Bujian tootiang makin bercahaya.

Ia tampak termenung sejenak.

Kemudian dengan ujung bajunya menyeka air mata dalam kelopak mata, matanya tertunduk rendah.

Sambil pejamkan mata ia menjura dalam-dalam.

Ia menjura tanpa diketahui siapa yang dituju, tapi setelah berdiri tegak ujarnya kepada Hoa In-liong.

"Terima kasih atas nasehatmu itu, pinto menerima semua kritik yang membangun ini"

Setelah menyapu sekejap wajah para jago yang hadir disana, ia berkata lebih jauh.

"Saudarasaudara sekalian, walaupun aku sudah menjadi pendeta semenjak kecil tapi akupun merupakan seorang manusia yang berdiri dari darah dan daging. Aku mempunyai perasaan juga. Maka atas budi kebaikan yang telah kuterima hari ini, pinto tak berani menjanjikan sesuatu. Tapi yang pasti aku akan berusaha untuk maju ke depan. Andaikata lain waktu masih berjodoh, kita pasti akan bersua kembali...."

Selesai berkata, ia lantas beranjak dan menuju keluar hutan untuk berlalu dari sana. Hoa In-liong bertindak cepat, tangannya segera berputar kedepan mencekal ujung bajunya.

"Tootiang, engkau akan kemana?"

Tegurnya gelisah. Karena ditarik ujung bajunya, terpaksa Bu-jian tootiang membatalkan niatnya.

"Seng-sut-pay telah membakar habis kuil pinto, maka pinto juga akan menghancurkan lumatkan Hay-sim-san sarang mereka"

"Tapi.... Tapi.... Kau cuma sendirian, mana mungkin niatmu bisa terwujud? "

Seru Hoa In-liong agak ragu-ragu.

"Hoa kongcu, apakah engkau anggap pinto benar-benar seorang imam tua yang tak berguna?"

Tiba-tiba Bu-jian tootiang balik bertanya, suaranya sangat hambar.

"Aku tahu, tootiang adalah seorang tokoh persilatan yang selama ini menyembunyikan diri dalam too-koan!"

Bu-jian tootiang tertawa ewa.

"Kongcu keliru besar. Guru pinto yang sebenarnya tak lain adalah Tong Thian-kaucu dimasa lalu, dia adalah seorang gembong iblis yang betul-betul pantas disebut iblis"

Setelah ucapan tersebut diutarakan keluar, semua orang yang berada dalam gelanggang jadi terbelalak lebar. Tak seorangpun sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Terdengar Bu-jian tootiang berkata lagi.

"Saudara-saudara sekalian tak usah kuatir. Anak murid dari Thian Ek-cu untuk selanjutnya tak ada yang menjadi iblis sesat lagi"

Hoa In-liong merasa serba salah.

Iapun tak sanggup mengatakan apa-apa lagi.

Maka apa yang bisa ia lakukan hanya menarik tangan Bu-jian tootiang erat-erat tanpa dilepas kembali.

Bu-jian tootiang kembali berkata.

"Tempo dulu pinto pernah berjumpa muka dengan ayahmu. Watak kongcu persis seperti watak ayahmu, bunyak manfaat yang telah pinto tarik dan pelajaran ini."

Yang dia maksudkan adalah kebaikan serta kegagahan keluarga Hoa. Apa mau dikata Hoa Inliong adalah seorang pemuda yang keras kepala, segera teriaknya.

"Aku tak ambil peduli! Sekalipun kau berbicara sampai lidahmu membusuk juga percuma. Pokoknya aku tak nanti akan membiarkan engkau menempuh bahaya seorang diri."

"Kalan memang begitu, pinto terpaksa harus menyalahi dirimu!"

Seraya berkata demikian, Bu-jian tootiang segera putar telapak tangannya dan menghantam kepada Hoa In-liong.

Serangan tersebut tak dapat diketahui arah asalnya, tapi kecepatannya luar biasa sekali.

Padahal Hoa In-liong sama sekali tidak bersiap sedia terhadap datangnya ancaman tersebut, tampaknya serangan itu segera akan bersarang telak di atas tubuhnya.

Berada dalam keadaan seperti ini, untuk memberi pertolongan jelas sudah tak mungkin lagi.

Semua orang jadi terperanjat, bahkan ada pula diantara mereka yang menjerit kaget.

Disaat yang amat kritis itulah, semua orang hanya merasa pandangan matanya jadi kabur dan sesosok bayangan manusia tahu tahu sudah terlempar ketengah udara.

Menyusul kemudian, terdengar suara Hoa In-liong yang sedang minta maaf berkumandang.

"Maaf....! Maaf....! Aku.... Aku.... Sebenarnya tidak sengaja!"

Ketika semua orang memandang kearah gelanggang dengan lebih cermat, maka terlihatlah orang yang terlempar dari gelanggang itu ternyata adalah Bu-jian tootiang.

Sementara itu Bu-jian tootiang tergeletak diatas tanah sambil meringis menahan sakit.

"Pinto....Pinto....Aaai!"

Ditengah helaan nafasnya, ia gelengkan kepalanya berulang kali.

Agaknya bandingan itu cukup keras sehingga mengakibatkan tubuhnya terasa amat sakit.

Dengan wajah penuh rasa menyesal dan permintaan maaf Hoa In-liong membimbingnya bangun berdiri, katanya.

"Tootiang, harap engkau suka memberi maaf atas kecerobohan serta kekasaranku!"

Bu-jian tootiang tertawa getir.

"Hal ini tak dapat menyalahkan diri kongcu. Kalau ingin nenyalahkan maka harus salahkan diri pinto sendiri yang tak tahu diri serta menilai dirimu terlampau rendah"

"Tidak! Tootiang terlalu baik hati dan ramah, lagipula engkaunpun tidak menggunakan tenaga sepenuhnya. Andaikata tootiang menggunakan tenaga yang lebih besar lagi maka yang roboh sudah pasti adalah diriku sendiri. Aku tahu, tujuan dari tootiang dengan serangan itu adalah bermaksud untuk memaksa aku lepas tangan. Akulah yang salah karena tak dapat menguasahi diri sehingga sungguh-sungguh membanting tootiang sampai terjungkal"

Setelah pembicaraan itu berlangsung, semua orang baru menyadari akan duduk persoalan yang sebenarnya, semua orang lantas mengerumun maju ke depan.

Ternyata Bu-jian tootiang ingin terburu buru lepaskan diri dari cekalan orang, maka ia gunakan telapak tangannya untuk pura-pura melancarkan serargan.

Dalam anggapannya gertak sambal itu pasti akan berhasil dengan cemerlang.

Dalam keadaan tak terduga dan tergesa-gesa Hoa Inliong pasti akan melepaskan cekalannya untuk mengundurkan diri kebelakang.

Asal cekalannya terlepas, maka dengan suatu gerakan yang sama sekali tak terduga ia dapat kabur dari situ.

Siapa tahu Hoa In-liong memang berniat sungguh-sungguh untuk mencegah imam itu menempuh bahaya seorang diri.

Sewaktu menyaksikan datangnya serangan secara tiba-tiba, tentu saja cekalannya tidak dilepaskan dengan begitu saja.

Lantaran dia sendiripun tidak bermaksud mundur ke belakang, maka bukannya mundur justru pemuda itu maju ke muka, kaki kirinya maju selangkah.

Sementara telapak tangannya dari mencekal menjadi mencengkeram dan ditangkapnya lengan kiri Bu jian tootiang erat-erat.

Ketika badannya dilengkungkan seperti busur dan lengan kanannya digetarkan ke depan, ternyata tubuh Bu-jian tootiang terangkat lewat punggungnya dan melayang ke depan.

Ternyata di saat yang terakhir ia baru tahu jika Bu-jian tootiang sama sekali tidak menggunakan tenaga penuh, tak ampun lagi terpelantinglah si toosu setengah baya itu dengan kepala menghadap ke atas.

oooOOOooo SEMENTARA itu Bu-jian tootiang telah berkata dengan dahi berkerut kencang.

"Tak usah dibicarakan lagi tentang soal itu, harap kongcu bersedia lepas tangan!"

Dari nada ucapannya itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa keputusannya untuk berlalu dari situ sudah bulat dan tak dapat diganggu gugat lagi. Tapi Hoa-In-liong tetap menggelengkan kepalanya.

"Padamkanlah amarahmu untuk sementara waktu"

Hiburnya.

"Dendam sakit hati ini memang harus dituntut balas. Tapi adapun sebab musabab hingga terjadinya dendam berdarah ini adalah gara-gara soal diriku. Sewajarnya kalau aku tak boleh mengesampingkan diri dalam urusan pembalasan dendam ini. Kita harus rundingkan siasat dengan sebaik-baiknya agar hasil yang tercapai pun memadai"

"Benar!"

Kata Yu Siau-lam juga.

"Sebab musabab sampai terjadinya dendam berdarah ini adalah karena soal diriku. Andaikata aku tidak tertawan, saudara In-liong tak mungkin akan menyusul ke kota Hong-yang dan orang-orang dari Mo-kauw juga tak nanti akan menghancurkan tookoan mu serta membinasakan anak muridmu. Sebab itu aku juga tak dapat mengesampingkan diri dalam urusan ini. Tootiang, kenapa kau tidak tenangkan dulu hatimu dan marilah kita rundingkan bersama-sama urusan ini untuk menyusun rencana bersama?"

Meskipun dari pembicaraan tersebut ia tahu akan maksud baik rekan-rekannya dan diapun tahu bahwa mereka tetap menguatirkan keselamatan dirinya jika seorang diri menempuh bahaya, maka semua tanggung jawab persoalan itu dibebankan di atas bahu sendiri.

Namun rasa haru dan terima kasihnya itu tak dapat membatalkan niat serta jalan pemikiran sendiri karenanya setelah termenung sejenak, tiba-tiba ia bertanya.

"Apakah kalian berdua tabu bahwa pinto mempunyai sebuah gelar lain yang disebut Cing-liang?"

Baik Yu Siau lam maupun Hoa In-liong sama-sama tertegun, sebelumnya mereka sempat mengucapkan sesuatu, Coa Cong-gi sudah tak dapat menahan rasa sabarnya, ia segera menukas.

"Aaah.... Kamu ini kok cerewet amat! Perduli amat Cing lian-si teratai hijau atau Peklian-si teratai putih, apa sangkut pautnya soal itu dengan masalah pokok? Saudara Hoa berbuat demikian adalah dikarenakan maksud baik, terserah engkau bersedia untuk mendengarkan atau tidak....?"

Bu jian tootiang tertawa getir.

"Memangnya pinto adalah seorang manusia yang tak tahu baik buruknya orang lain?"

"Kalau sudah tahu kau urusannya beres, buat apa kau masih ribut dan cerewet terus? "

Tegur Coa Cong-gi lebih jauh dengan alis matanya berkenyit.

"Pinto rasa, kalian semua pasti pernah mendengar tentang peristiwa berdarah dilembah Cu-bi-ok bukan?"

Kata Bu-jian tootiang dengan tenang.

"Dalam pertarungan yang berlangsung di lembah Cu-bu-kok dahulu, guruku pernah menitahkan seorang bocah imam berbaju merah yang bernama Cing-lian untuk membacok kotak emas milik Siang Tang lay, Siang locianpwe...."

Diam-diam Coa Cong-gi mendesis dihati kecilnya.

"Oooh.... Jadi engkau adalah si bocah imam berbaju merah itu? Toh hal ini bukan suatu kejadian yang perlu dibanggakan? Kenapa musti kau ungkap kembali?"

Tegurnya.

"Pinto tidak bermaksud pamer atau membanggakan diri. Maksud pinto sejak kecil guruku telah menganjurkan kepada pinto agar berambisi besar untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Tapi sejak kembali dari operasi penggalian harta karun dibukit Kiu-ci-san, ambisinya banyak yang telah padam. Beliau berpesan kepada pinto agar mengganti nama menjadi Bu-jian dan mengasingkan diri ditempat sunyi serta tidak mencampuri urusan dunia persilatan lagi...."

Hoa In-liong agaknya dapat menangkap maksud sebenarnya dari perkataan lawan, ia segera menukas.

"Aaaah.... Sekarang aku sudah paham dengan maksud hatimu. Jadi tootiang bermaksud hendak menghubungi kembali bekas rekan-rekan seperguruanmu dimasa lampau untuk membantu usahamu guna membalaskan dendam bagi kematian anak muridmu ini?"

Dengan wajah yang amat sedih Bu jian tootiang manggut-manggut lirih.

"Yaaa. Terpaksa aku harus berbuat demikian. Sekalipun tindakanku ini berarti suatu pelanggaran terhadap perintah guruku, tapi keadaan situasilah yang memaksa aku berbuat demikian. Karena itu pinto juga tidak akan memikirkan bagaimanakah akibatnya nanti"

Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, semua orangpun sama-sama dibuat tertegun.

Sementara semua orang masih termangu, terdengar Bu-jian tootiang melanjutkan kembali katakatanya setelah menghela napas panjang.

"Keadaan situasi yang terpapar di depan mata kita sekarang dengan jelas telah membuktikan bahwa orang-orang dari Mo-kauw adalah iblis-iblis keji yang sama sekali tidak berperi kemanusiaan. Cukup ditinjau dari sikap mereka yang begitu kejam buas dan ganas untuk membakar sebuah tookoan serta merenggut dua puluh tujuh lembar nyawa hanya dikarenakan untuk melampiaskan rasa marah dan mendongkol mereka dapatlah kita ketahui bahwa kebusukan hati mereka luar biasa besarnya. Bahkan bila dibandingkan dengan tingkat kekejaman yang pernah diperbuat orang-orang Sin Ki-pang, Hong Im-hwe dan Tong Thian-kau, entah berapa kali lipat lebih dahsyat. Jika manusia-manusia berhati binatang semacam merekapun dibiarkan hidup terus didunia ini, mana mungkin umat persilatan didunia ini bisa peroleh ketenangan? Sampai kapankah dunia persilatan jadi aman dan sentausa? Apakah kita hendak membiarkan hawa jahat hawa iblis menguasahi seluruh jagad?"

Coa Cong-gi yang berjiwa panas, segera menanggapi ucapan tersebut dengan teriakan bersemangat.

"Betul! Masuk diakal, sungguh tak kusangka meski rada cerewet tapi jalan pikiranmu lumayan juga. Cuma.... Cuma.... Membangkang perintah gurumu, apakah tootiang dapat mempertanggung jawabkan perbuatanmu ini kepada gurumu?"

Pemuda ini memang berwatak polos, jujur dan cepat berbicara.

Baik buruk semuanya diungkapkan perasaannya waktu itu.

Maka ketika didengarnya perkataan dari Bu-jian tootiang cengli dan cocok sekali dengan seleranya, bukan saja ia lantas memuji-muji, bahkan sedikit menguatirkan keselamatan imam tersebut.

Bu-jian tootiang tertawa sedih.

"Membangkang perintah guru memang merupakan suatu tindak penghianatan yang merupakan perbuatan tidak berbakti. Tapi.... apakah pinto harus berdiam diri saja menyaksikan anak muridku dibantai orang secara keji tanpa usahakan suatu pembalasan dendam? Apakah hatiku bisa tenteram membiarkan mereka mati penasaran? Memang, apa yang dikatakan Hoa kongcu tepat sekali, pinto harus mengubah kesedihan yang yang mencekam dalam hatiku menjadi suatu kekuatan. Pinto pun sadar, kekuatan yang kumiliki sendiri amat minim dan terbatas, maka aku harus mengundang rekan-rekan seperguruanku dimasa lampau, untuk bersama-sama melakukan perang terhadap mereka"

Li Poh-seng yang selama ini hanya membungkam, tiba-tiba berkata pula setelah menghela nafas panjang.

"Aaaai.... Sungguh tak kusangka kalau tootiang bisa berpikir sampai ke situ. Padahal membasmi kaum jahat dan sesat dari muka bumi adalah kewajiban dari kita semua. Apa salahnya kalau kitapun membantu usahamu untuk membasmi hawa jahat dari muka bumi? Tootiang, engkau sendiripun sudah cukup tak tenang hatinya karena soal ini, buat apa kau undang pula rekan-rekan seperguruanmu untuk terjun pula ke dalam air keruh? Tidakkah perbuatan ini malah mengganggu ketenangan hidup mereka?"

"Sekarang, jalan pemikiran pinto sudah jauh lebih terbuka. Selama hawa siluman belum dilenyapkan, mana mungkin kita semua dapat hidup beribadah dengan hati yang tenang?"

"Tapi tootiang, orang persilatan paling menjunjung tinggi perintah dari seorang guru"

Sambung Yu Siau-lam cepat.

"Apakah tootiang tidak merasa berdosa, bila kau langgar perintah dari gurumu?"

Bu-jian tootiang tertawa getir.

"Ya....sudah tentu hal itu tak bisa dihindari lagi"

Sahutnya.

"Tapi aku yakin, guruku tak akan sampai menegur ataupun menyalahkan tindakanku ini"

"Kenapa bisa begitu?"

Tanya Coa Cong-gi dengan alis mata berkenyit rapat.

"Ketika guruku mengumumkan akan mengundurkan diri dari keramaian dunia serta melarang anak muridnya mencampuri urusan dunia persilatan lagi, dalam dasar hatinya sudah muncul benih-benih penyesalan. Disamping itu, perkumpulan Tong Thian-kau tak dapat dibantah lagi memang pernah melakukanbanyak kejahatan dan kekejaman dimasa lampau. Maka pinto mengambil keputusan untuk mengundang kehadiran rekan-rekan seperguruan untuk bersamasama melawan serta membendung kekuatan jahat dari pihak luar. Tindakanku ini pertama untuk membalaskan dendam bagi kematian anak muridku. Kedua untuk menebuskan dosa-dosa yang pernah dilakukan pihak Tong Thian-kau dimasa lalu. Maka pinto pikir, jika guruku dapat mengetahui maksud hatiku ini, tak mungkin beliau akan menegur ataupun menyalahkan tindakan pinto yang telah melanggar perintah-perintahnya ini"

Selama pembicaraan berlangsung, Hoa In-liong mencengkal terus lengan Bu jian tootiang tanpa bermaksud untuk melepaskannya kembali.

Tapi sesudah imam setengah baya itu mengutarakan isi hatinya, cekalan tersebut segera dilepaskan.

"Baiklah! Kau tak usah berkata lagi. Tak kusangka kalau maksud hati tootiang secermat dan sebagus ini. Kalau begitu akulah yang menguatirkan keselamatanmu terlalu berlebihan. Silahkan tootiang! Semoga dilain waktu gurumu dapat memahami keadaan tersebut. Bila mana perlu akupun bersedia menjadi saksi bagi tootiang untuk menghindari diri tootiang menjadi penasaran"

Persetujuan yang diberikan secara tiba-tiba oleh anak muda ini atas kepergian Bu-jian tootiang tentu saja amat mencengangkan semua orang.

Untuk sesaat semua yang hadir jadi tertegun dan tak mampu mengucapkan sepatah katapin.

Bu-jian lootiang sendiripun tertegun, tapi hanya sebentar, cepat ia menjura memberi hormat.

"Terima kasih atas janji yang telah Hoa kongcu berikan. Pinto mohon diri lebih dahulu"

Selesai berkata, ia putar badan dan buru-buru berlalu dari sana dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya. Ketika tubuhnya sudah mencapai tiga kaki jauhnya, mendadak Hoa In-liong berteriak kembali.

"Tootiang!"

Bu-jian tootiang segera menghentikan langkah kakinya dan putar badan menghadap ke arah pemuda tersebut. Dengan senyuman dikulum Hoa In-liong berkata lebih jauh.

"Kita adalah sepaham dan setujuan, harap tootiang tinggalkan alamat buat kami. Dikemudian hari aku pasti akan berkunjung ke sana untuk menyambangi dirimu"

"Kepergian pinto kali ini tanpa arah tujuan tertentu, lebih baik kita berjumpa saja dalam dunia persilatan!"

Hoa In-liong termenung dan berpikir setentar kemudian ujarnya lagi.

"Begini saja! Bila tootiang menghadapi kesulitan dikemudian hari, kirim saja utusan ke perkampungan Liok-soat-san-ceng. Kami orang-orang dari keluarga Hoa bersedia menjadi tulang punggung kalian"

"Terima kasih atas perhatian dari kongcu. Pinto akan mengingat terus pesan ini"

Sahut Bu jian tootiang lantang.

Diapun memberi hormat dari kejauhan, kemudian baru berlalu dari situ.

Sekejap kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Kepergian Bu-jian tootiang segera mengundang helaan napas sedih dari rekan-rekan persilatan lainnya.

Lama sekali Hoa In-liong baru berkata lagi.

"Aku rasa kitapun harus segera berangkat!"

"Ya, kita harus berangkat! Sekarang juga kita harus berangkat!"

Sambung Coa Cong-gi setengah berteriak.

Sambil ulapkan tangannya berjalan lebih dahulu keluar dari hutan lebat itu.

Para jago lainnya saling menyusul dari belakang dengan membungkam dalam seribu basa mereka menelusuri jalan raya.

Ketika itu waktu sudah menunjukkan lewat tengah hari.

Matahari bersinar terang dengan teriknya ditengah angkasa.

Panas sang surya yang menyengat badan menimbulkan rasa panik, gelisah dan murung dihati setiap orang.

Ini menyebabkan perasaan mereka makin kalut.

Kurang lebih sepertanak nasi kemudian, tiba-tiba Yu Siau-lam berkata memecahkan kesunyian.

"Saudara In-liong, tiba-tiba aku merasa jantungku berdebar keras, seakan-akan mendapat firasat bahwa sesuatu bencana besar telah berada didepan mata. Tahukah kau apa maksud dari firasat hatiku ini? Apakah kau dapat menerangkan?"

"Entahlah apa yang bakal terjadi"

Sahut Hoa In-liong seraya berpaling.

"Sebab akupun mempunyai perasaan yang sama. mungkin dalam lubuk hati kita masiag-masing sedang menguatirkan keselamatan dari Bu-jian tootiang, maka perasaan semacam itupun otomatis muncul dengan sendirinya! "

"Benar!"

Seru Coa Cong-gi pula setengah berteriak.

"Toosu itu bukan saja dingin dan tawar. Berbicarapun tak bisa blak-blakan dan lancar. Tak disangka manusia semacam itu sanggup mengutarakan serangkaian perkataan yang masuk diakal. Jika menuruti adatku bagaimanapun juga tak nanti akan kubiarkan dia pergi dari sini. Bukan saja tidak membawa senjata rahasia, harus berkeliaran juga kesana-kemari tanpa tujuan tertentu. Kalau sampai ketemu lagi dengan rombongan anak iblis itu, niscaya lebih banyak kegetiran yang diterima daripada kegembiraan"

Li Poh-seng tidak sependapat dengan perkataan itu, ia cepat membantah dari samping.

"Aaaah.... Aku rasa belum tentu demikian. Menurut penglihatanku Bu-jian tootiang tidak termasuk seorang manusia sembarangan. Dia memiliki kekuatan, memiliki keberanian dan merupakan seorang yang berotak cerdas. Sekalipun sampai menderita kerugian, tak akan besar kerugian yang dideritanya. Aku rasa kita tak usah terlalu menguatirkan keselamatan jiwanya"

"Aaaah. Kamu ini kalau bicara tak ada ujung pangkalnya, bikin orang jadi bingung saja"

Omel Coa Cong-gi sambil mengernyitkan alis matanya yang tebal.

"Perlu kuatir atau tidak ada urusan yang tersendiri. Pada hakekatnya kita semua sedang kuatir, kalau tidak, tak mungkin hatiku terasa gundah sekali!"

Li Poh-seng tersenyum.

"Akupun demikian, hatiku amat kalut dan tidak tenteram, begini saja! Mari kita bicarakan langkah-langkah yang akan kita ambil dalam perjalanan menuju bukit Yansan. Mungkin dengan cara begini, perasaan gelisah dan tidak tenteram itu dapat kita buang jauhjauh dari dalam benak kita"

"Betul!"

Yu Siau-lam menanggapi lebih dulu sambil manggut-manggut.

"Perjalanan kita menuju ke bukit Yan-san memang perlu dirundingkan lebih dahulu. Sebab langkah-langkah penting perlu suatu perencanaan yang matang!"

Ia berpaling kearah Hoa In-liong, menyusul kemudian tanyanya.

"Saudara In-liong, engkau bermaksud kunjungi bukit Yan-san secara terang-terangan ataukah secara tersembunyi?"

"Tak bisa dikatakan suatu kunjungan secara terang-terangan atau secara tersembunyi. Sebab tujuan kita adalah memenuhi undangan dari nona Wan untuk mengadakan pertemuan. Tentu saja sasaran kita adalah berjumpa dengan nona Wan"

"Hal ini mana bisa jadi?"

Kata Yu Siau-lam dengan dahi berkerut.

"Nona Wan selalu ada bersamasama Hong Seng sekalian. Andaikata kita sampai bertemu dengan Hong Seng lantas bagaimana? Sebelum hal-hal yang tak diinginkan terjadi, lebih baik kita mempersiapkannya lebih dahulu dengan masak-masak!"

Hoa In-liong tersenyum.

"Kalau sampai berjumpa, itu lebih baik lagi. Justru kita dapat langsung menegur mereka tentang dibakarnya tookoan Cing-siu-koan secara biadab!"

"Aaaai.... Soal dibakarnya Cing-siu-koan, kenapa musti banyak ditanyakan lagi"

Tukas Yu Siaulam dengan dahi berkerut.

"Lantas menurut pendapatmu?"

"Menurut pendapatku. bila kunjungan kita ini bersifat terang-terangan maka kita langsung temui Hong Seng dan sekaligus membasmi mereka dari muka bumi serta selamatkan nona Wan dari cengkeraman mereka. Aku rasa siasat sekali tepuk tiga lalat ini paling bagus sekali bagi kita dalam keadaan seperti ini"

"Tidak mungkin! Tidak mungkin! Cara semacam ini tak mungkin bisa dilaksanakan"

Kata Hoa Inliong kemudian sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Kenapa tidak mungkin?"

"Sekalipun kita berhasil melenyapkan Hong Seng sekalian dari muka bumi, tapi justru tindakan tersebut merupakan suatu tindakan memukul rumput mengejutkan ular. Karena pembunuhan itu, orang-orang Mo-kauw pasti akan mempertingkat kewaspadaan mereka terhadap kita. Malahan mungkin mereka jadi semakin kalap dan menciptakan pembunuhan-pembunuhan keji yang lebih banyak lagi"

Bergetar hati Yu Siau-lam setelah mendengar akibatnya, tapi ia bertanya juga dengan nada tercengang.

"Lantas apakah engkau mempunyai pendapat lain?"

"Malam kemarin dulu, paman Ngo ku pernah kisikan kepadaku bahwa disekitar kota Kim-leng telah dijumpai sekelompok manusia dari suku-suku asing...."

"Apakah kelompok manusia suku-suku asing yang dilihat oleh paman Ngo mu juga berasal dari satu aliran dengan Hong Seng?"

Tanya Yu Siau-lam dengan hati tercekat.

"Tak usah kita persoalkan apakah mereka berasal dari satu rombongan atau tidak kenyataan telah berpapar dihadapan kita dan bukti menunjukkan bahwa Hong Seng sekalian masih mencari jejakku dimana-mana dengan ketat. Namun mereka tak berani secara terang-terangan, hal ini berarti pula bahwa kaucu dari Mo-kauw masih menaruh rasa segan dan takut terhadap ayahku. Karena mereka masih mempunyai perasaan segan dan takut maka dapatlah kita ketahui bahwa kedatangan Hong Seng sekalian ke daratan Tionggoan adalah bermaksud menyelidik dan menjajaki kemampuan kita. Jelas yang mereka utus bukan hanya kelompok dari Hong Seng belaka. Jika kita langsung membabat Hoag Seng sekalian tanpa melakukan penyelidikan lebih dulu terhadap keadaan sebenarnya, bukankah tindakan tersebut sama artinya dengan memukul rumput mengejutkan ular?"

Yu siau lam tidak langsung menjawab, ia berpikir sebentar, kemudian baru menjawab.

"Baiklah! Kalau begitu kita putuskan untuk berkunjung secara sembunyi-sembunyi"

"Bagaimana yang dimaksudkan berkunjung secara sembunyi-sembunyi?"

Tanya In-liong.

"Kita datang lebih pagian ke bukit Yan-san dan menunggu disana sebelum mereka datang!"

"Kenapa musti datang lebih pagian?"

"Aku rasa si sastrawan she Siau itu adalah seorang manusia licik yang banyak tipu muslihatnya. Sejak terjadinya kebakaran besar di kuil Cing siu-koan dan terbunuhnya dua puluh tujuh orang imam, aku selalu merasa kuatir. Aku takut gerak-gerik dari nona Wan telah membangkitkan rasa curiga dalam hati kecilnya. Pokoknya lebih baik kau datang ke bukit Yan-san selangkah lebih dulu, sedangkan kami akan bersiap siaga disekitar sana. Apabila Siau Khi-gi sudah menaruh curiga terhadap nona Wan, dia pasti sudah mengatur segala persiapan untuk menghadapi dirimu. Selain mengamati terus keadaanmu untuk menjaga segala kemungkinan yang tidak diinginkan, dia pasti sudah mengatur pula bala bantuan bilamana keadaan benar-benar memerlukan"

"Baik! Kita tetapkan demikian saja"

Seru Coa Cong-gi serentak.

"Andaikata bangsat muda sheSiau itu berani menyiapkan segala rencana dan siasat busuk, kita ganyang saja sampai habis!"

"Tidak, hal ini tak bisa dilakukan!"

Tukas Hoa In-liong tiba-tiba dengan tegas. Mendengar jawaban tersebut, Coa Cong-gi tertegun.

"Kenapa?"

Tanyanya.

"Seandainya cara ini meleset, engkau juga tak akan menyetujuinya?"

"Seandainya kita hendak mengganyang mereka, apa bedanya kalau kita langsung pergi mencari Hong Seng?"

"Lalu.... kau bersiap sedia hendak berbuat apa?"

Coa Cong-gi agak tergagap oleh jawaban itu.

"Lebih baik biarkanlah aku pergi seorang diri!"

Begitu mendengar bahwa dia akan memenuhi undangan seorang diri, Coa Cong-gi segera berteriak.

"Waaah. Tidak boleh, tidak boleh. Tidak boleh. Kalau kau hendak pergi sendirian, andaikata sampai...."

Hoa In-liong tersenyum, seraya tukasnya.

"Aku harap engkau bersedia mendengarkan penjelasanku lebih dahulu! Tujuan kepergianku memenuhi undangan adalah menjumpai nona Wan serta ingin kuketahui sebetulnya nona Wan ingin menyampaikan rahasia apa kepadaku. Pertemuan semacam ini tak mungkin bisa mengakibatkan terjadinya bentrokan kekerasan. Malahan kalau terlalu banyak orang yang pergi jejak kita gampang ketahuan. Daripada konangan musuh, kau lebih baik kupenuhi sendiri undangan dari nona Wan secara diam-diam?"

"Tidak! Tidak bisa! Sekali aku bilang tidak bisa tetap tidak bisa!"seru Coa Cong-gi tetap ngotot.

"Seandainya hal itu adalah suatu jebakan, seandainya sampai terjadi bentrokan kekerasan, apa yang hendak kau lakukan waktu itu?"

"Seandainya sampai terjadi bentrokan, jika aku hanya seorang diri maka untuk meloloskan diri jauh lebuh gampang daripada orang banyak. Mengenai suatu perangkap, aku rasa nona Wan bukan sekomplotan dengan mereka. Jadi hal ini tak mungkin bisa terjadi. Harap saudara Cong-gi bersedia melegakan hatimu...."

Coa Cong-gi kontan mendelik besar.

"Apanya yang kulegakan? Perempuan adalah racun dunia. Apalagi hati kaum wanita paling sukar diukur dalamnya. Siapa tahu kalau ia bakal menghianati dirimu?"

Hoa In-liong tetap menggelengkan kepalanya berulangkali. Sebetulnya ia ingin memberi penjelasan lagi. Tapi Li Poh-seng sudah menyela dari samping.

"Urusan itu lebih baik lain kali dibicarakan lagi! Didepan sana adalah kota keresidenan Teng-wan. Mari kita mencari penginapan lebih dulu. Sehabis beristirahat, perundingan baru dilangsungkan kembali!"

Mendengar perkataan itu, semua orang lantas menengadah dan memandang ke depan.

Betul juga, kurang lebih delapan-sembilan li lagi terpaparlah sebuah tembok kota yang tinggi besar.

Rupanya sambil berjalan sambil berbicara, tanpa terasa mereka sudah melakukan perjalanan sejauh empat-lima puluh li.

Tiba-tiba sesosok bayangan tubuh yang cukup dikenal melintas dihadapan mata mereka semua.

Ini membuat semua orang sama-sama dibuat tercengang dan melongo.

Orang itu adalah seorang laki-laki kekar berbaju hijau, ia berbaring diatas punggung kuda yang sedang berlari kencang menuju kearah rombongan itu berada.

Selang sesaat kemudian, orang itu sudah semakin dekat, tiba-tiba terdengar Yu Siau-lam berteriak kaget.

"Yu Bok kah disitu?"

Baru saja seruan itu berkumandang, Coa Gong-gi sudah menyusup kedepan menyongsong kedatangan kuda itu, bentaknya.

"Cepat berhenti! Yu Bok, kenapa kau...."

Kuda itu lari sangat cepat.

Hanya sekejap mata sudah berada didepan mata.

Dalam keadaan begini Coa Cong-gi tak sempat membentak lagi, lengannya segera diayun kemuka mencengkaram tali les kuda tersebut.

Diiringi suara ringkikan panjang, kuda itu berdiri dengan kaki depannya terangkat keatas.

Sentakan ini menyebabkan Yu Bok yang berada diatas pelana terlempar ketanah.

Untung Li Poh-seng cukup cekatan, tepat pada waktunya ia menerkam kedepan dan menyambut tubuh Yu Bok yang terlempar itu.

Semua orang segera merubung kedepan, tampaklah Yu Boh berada dalan keadaan payah.

Sepasang matanya terpejam rapat-rapat, giginya saling beradu gemerutukan, pucat pias wajahnya.

Peluh membasahi sekujur badannya.

Jelas ia melakukan perjalanan dengan membawa luka.

Keadaannya ketika itu sangat kritis atau dengan perkataan lain keselamatan jiwanya lebih banyak buruknya daripada baiknya.

Yu Bok adalah pelayan dari keluarga Kanglam Ji-gi (Tabib sosial dari Kanglam).

Kenyataannya sekarang, dengan membawa luka yang parah dan tidak mendapat perawatan yang baik pelayan itu membedal kudanya kencang-kencang melalui jalan raya.

Tanpa dijelaskan semua orang sudah dapat membaca garis besar peristiwa yang telah terjadi.

Diantara sekian banyak orang.

Yu Siau-lam paling kaget bercampur panik, dicekalnya lengan Yu Boh sambil diguncang-guncangkan berulang kali.

"Yu Boh! Yu Boh! Sadarlah sebentar, sadarlah sebentar! Apa yang telah terjadi?"

Mendapat guncangan tersebut, dengan merasa kesakitan yang luar biasa Yu Boh membuka kembali matanya. Melihat pelayannya sudah sadar, Yu Siau-lam segera menegur lagi dengan cemas.

"Apa yang telah terjadi? Yu Boh, kau masih kenali aku. Yu Boh! Jawablah pertanyaanku!"

Dengan lemas Yu Boh mengangguk, bisiknya terbata-bata.

"Kong.... Kongcu....cepat...."

Tapi sebelum maksud hatinya diutarakan keluar, pelayan itu kembali terkulai dengan mata terpejam, jatuh tak sadarkan diri.

Yu Siau-lam semakin gelisah, dia hendak menggoncang-goncangkan kembali Yu Boh yang pingsan, tapi Hoa In-liong bertindak cepat.

Ia pegang lengan pemuda itu dan berkata.

"Saudara Siau-lam, tenangkan dulu hatimu! Luka dalam yang diderita palayanmu ini teramat parah. Sedikit goncangan yang keras akan menyebabkan jiwanya melayang"

Kemudian sambil berpaling ke arah Li Poh-seng katanya lagi.

"Cepat baringkan Yu Boh ke atas tanah. Akan siaute periksa keadaan luka yang dideritanya"

Li poh seng tidak membantah, dia lantas membaringkan Yu Boh ke atas tanah.

Hoa In-liong pun bungkukkan badan memeriksa denyutan nadinya, sementara tangan yang laiu dengan cepat membuka pakaian dada dari pelayan tersebut.

Setelah pakaian terbuka, belasan pasang matapun dengan sinar mata berkilat memandang ke arah dada Yu Boh.

Apa yang terlibat?

Sebuah bekas telapak tangan yang berwarna merah darah tertera nyata didada sebelah kiri Yu Boh.

Bekas telapak tangan itu menonjol tiga bagian dari permukaan dada, merah darah dan sembab mengerikan.

Jelas pukulan itu dilancarkan seseorang dengan menggunakan punggung telapak tangan yang kuat.

Diam-diam Hoa In-liong terkejut setelah menyaksikan bekas luka itu.

Ia lantas berpikir.

"Melukai orang dengan punggung telapak tangan, ini menunjukkan bahwa serangan dilancarkan dengan suatu ayunan yang kencang. Aaaai.... Luka Yu Boh tepat di dada kiri, jantungnya sudah tergetar putus. Dari sini dapat ku ketahui betapa dahsyat dan kuatnya serangan tarsebut. Mungkinkah bencana besar sudah menjelang tiba? Bagaimanapun juga aku harus berusaha dengan segala kemampuan untuk mencegah peristiwa ini terjadi...."

Ternyata pemuda ini sudah mengetahui dari pemeriksaan denyut nadinya bahwa jantung Yu Boh sudah pecah.

Kendatipun ada obat dewapun nyawa pelayan tersebut tak bisa ditolong lagi.

Sekalipun demikian, hal ini tidak diungkapkan diatas wajahnya.

Sembari diam-diam menyalurkan hawa murninya untuk membantu pernapasan Yu Boh yang sudah sekarat diapun perhatikan bekas telapak tangan itu dengan seksama.

Ia berharap dari bekas telapak tangan yang berwarna merah membara itu dapat menemukan titik terang, sehingga dalam usahanya melacak jejak pembunuh itupun tidak mengalami banyak kesulitan.

Selang sesaat kemudian, Coa Cong-gi yang pertama-tama tak sabar, ia lantas menegur dengan suara lirih.

"Saudara Hoa, keadaan Yu Boh tidak menguatirkan bukan?"

Hoa In-liong gelengkan kepalanya berulang kali sambil berpaling ke arah arah Yu Siau-lam ia berkata.

"Saudara Siau lam, selembar nyawa Yu boh mungkin tak dapat diselamatkan lagi!"

Dalam beberapa waktu ini, perasaan Yu Siau lam paling tegang.

Ia sudah mendapat firasat bahwa dalam keluarganya telah tertimpa musibah besar, maka sedapat mungkin ia kendalikan perasaannya yang bergolak dengan berdiri membungkan diri.

Ia berbuat demikian karena Hoa In-liong sendiripun bersikap tenang.

Dalam sangkaannya, bila anak muda itupun tenang, pastilah keadaan pelayannya tidak berbahaya.

Siapa tahu Hoa In-liong menyusulkan kata-kata tersebut, mendadak sontak ia jadi tertegun.

Hanya sebentar ia mematung, selanjutnya dengan suara memohon teriaknya berulang kali.

"Saudara Hoa, aku mohon tolonglah jiwanya! Saudara Hoa, tolonglah jiwanya sedapat mungkin!"

Pelan-pelan Hoa In-liong menggeleng.

"Bila tak ada Leng-ci mustika, jiwanya tak mungkin bisa diselamatkan lagi!"

Yu Siau-lam jadi kelabakan bercampur gugup.

"Kaaa.... kalau memang begitu, berusahalah sadarkan dirinya sejenak. Aku ingin bertanya kepadanya!"

"Baiklah!"

Ucap Hoa In-liong.

"Siau-te akan berusaha sekuat tenaga untuk menyadarkannya, cuma...."

Ia berhenti sejenak, wajahnya berubah amat serius.

"Saudara Siau-lam"

Katanya selanjutnya.

"Bila dirumahmu telah terjadi bencana, aku harap engkau dapat menguasai diri!"

Perasaan Yu Siau-lam waktu itu sangat kalut. Apa yang diharapkan sekarang adalah menyadarkan Yu Bok dari pingsannya, maka setelah mendengar perkataan itu, diapun menggangguk.

"Siau-te mengerti!"

Hoa In-liong masih kuatir meski rekannya telah mengangguk, ia memberi tanda kepada Li Poh Seng dan Coa Cong-gi untuk berjaga-jaga didamping Yu Siau-lam.

Sesudah itu baru mengulurkan hawa murninya kedalam tubuh Yu Boh.

Terdesak oleh hawa murni yang mengalir kedalam tubuhnya dengan deras, Yu Boh menghembuskan nafas panjang dan sadar kembali diri pingsannya....

Begitu Yu Boh sadar, cepat Yu Siau-lam berjongkok disampingnya sambil bertanya dengan lembut.

"Yu Boh....Yu Boh....! Bagaimanakah rasamu sekarang? Apakah masih dapat bertahan?"

Dengan lemah Yu Boh menggerakkan biji matanya mengawasi Yu Siau-lam, lama.... Lama sekali, ia baru berbisik.

"Koo.... Koongcu.... cee.... ceepat....puu....pulang...."

Yu Siau-lam makin tercekat.

"Apa yang telah terjadi? Bagaimana dengan Lo-ya dan Hujin? Tidak apa-apa toh?"

Dengan nada yang semakin lemah Yu Boh berbisik kembali.

"Kee.... kemarin malam.... telah datang see.... serombongan manusia yaa.... yang tak jelas asal usulnya.... mee.... mereka....meee....melepaskan api. da.... dan....membakar ruu....rumah kita...."

Tibi tiba nafasnya memburu, kata-katanya terputus setengah jalan, sebelum ucapan itu serapat dilanjutkan kembali.

Tubuhnya telah mengejang keras, kakinya tiba-tiba menjejak ketanah dan....

Yu Siau-lam makin gelisah, sekuat tenaga ia menggoncang-goncangkan bahunya sambil berteriak.

"Bagaimana dangan loya? Bagaimana dengan loya dan hujin?"

Waktu itu Yu Boh sulih hampir putus nyawa tapi terkena goncangan yang begitu keras, tiba-tiba seperti mendapat tambahan tenaga yang entah datang dari mana, matanya membelalak kembali.

Kulit mukanya mengejang sangat keras, bibirnya gemetar, suaranya yang sempat meletup keluar kedengaran sangat rilih.

"Loo....looya.... dii.... dii"

Ucapan itu tak dilanjutkan untuk selamanya.

Sebagai seorang manusia yang sudah, sekarat, ibaratnya lentera yang kehabisan minyak.

Meski cahaya lampu itu mencorong terang tapi hanya sebentar saja sebelum padam untuk selamanya.

Demikian pula dengan Yu Boh.

Karena, guncangan yang diterimanya, ia seolah-olah mendapat kekuatan.

Tapi itupun hanya berlangsung sedetik.

Sebelum kata-kata itu sempat diselesaikan, malaikat elmaut telah menjemput nyawanya.

Ia mengejang makin keras, kali ini kakinya betulbetul menjejak tanah, kepalanya terkulai dan Yu Boh menghembuskan nafas yang penghabiskan.

Bagaimana dengan Yu Siang-tek suami istri?

Apa yang telah terjadi?

Yu Boh tidak berhasil menyelesakan tugasnya untuk menyampaikan berita itu kepada majikan mudanya rahasia tersebut dibawanya sampai keliang kubur.

Tak terkirakan rasa sedih Yu Siau-lam menghadapi kejadian itu.

Tak kuasa lagi ia memeluk jenazah Yu Boh sambil mengucurkan air matanya dengan deras.

"Yu Boh....Ooh Yu Boh.... Bangunlah kau. Kau tak boleh pergi! Kau tak boleh pergi!"

Hoa In-liong kuatir rekannya terlampau sedih hingga mengakibatkan kesehatan badannya terganggu, cepat ia bopong jenazah Yu Boh seraya berkata.

"Saudara Siau-lam, simpanlah kesedihanmu itu. Sampai sekarang keadaan dari Pek-bu dan Pek-bo masih belum jelas. Hal paling penting yang harus kita lakukan sekarang adalah kembali ke kota Kim-leng secepatnya. Kita periksa sendiri apa gerangan yang telah terjadi disitu!"

Li Poh-seng dan Coa Cong-gi yang sedang memayang Siau-lam, segera menanggapi pula.

"Betul! Saudara Siau-lam tak boleh bersedih hati sehingga mengacaukan pikiranmu. Ketahuilah pikiran yang kalut tidak akan memberi manfaat apa-apa terhadap persoalan yang sedang kita hadapi. Perkataan dari saudara In-liong memang benar. Tindakan paling penting yang harus kita lakukan sekarang adalah kembali dulu ke kota Kim-leng. Kemudian dari situ kita baru menyusun rencana kembali" . Air mata bercucuran bagaikan bendungan yang ambrol, Yu Siau-lam membungkam dalam seribu bahasa, namun kesedihan yang menghiasi wajahnya teramat jelas. Be Si-kiat maju menghampiri, katanya tiba-tiba.

"Hoa kongcu, serahkan jenazah Yu Boh kepadaku, biar aku saja yang bopong!"

Hoa In-liong berpikir sebentar, akhirnya dia serahkan jenazah itu kepada Be Si-kiat sambil berkata.

"Begitupun boleh juga! Nah, lebih baik kalian berangkat lebih duluan. Belikan sebuah peti mati yang baik dikota Teng-wan, kemudian kebumikan jenazahnya dengan baik-baik. Kamu sekalian tak perlu menunggu lebih lama lagi"

"Baiklah!"sahut Be Si-kiat, setelah menyambut jenazah itu diapun putar badan siap berlalu.

"Tunggu sebentar!"

Tiba-tiba Yu Siau-lam membentak dengan suara dalam.

"Aku hendak melihat dulu bekas luka di dadanya!"

"Tidak usah!"

Tolak Hoa In-liong cepat.

"Bekas luka itu sudah kuamati dengan jelas dan masih teringat dalam benakku. Biarkanlah mereka yang telah mati cepat masuk tanah. Mereka harus berangkat lebih duluan dari kita"

Dalam beberapa saat belakangan ini, apa yang dipikirkan Yu Siau-lam hanyalah soal keselamatan ayah ibunya.

Dia selalu menganggap orang tuanya telah mendapat bencana, maka maksudnya dia hendak mencari jejak pembunuh keji itu dari bekas luka di dada Yu Boh.

Siapa tahu Hoa In-liong lebih cerdik dan cekatan, ia sudah memperhatikan lebih dulu sampai ke situ.

Setelah tertegun sejenak, Yu Siau-lam bertanya lagi sambil palingkan wajahnya.

"Adakah sesuatu yang istimewa dengan bekas luka itu?"

"Bekas luka itu terkena oleh pukulan pungung telapak tangan. Disekitar bekas ibu jari tampak dua bulatan merah yang menonjol besar"

"Aku juga perhatikan sampai kesitu"

Sambung Poh-seng.

"Tonjolan merah itu sama besarnya antara yang satu dengan yang lain. Entah terluka oleh benda apa?"

"Aku telah berpikir cermat sampai kesitu"

Ujar Hoa In-liong lebih lanjut.

"Tonjolan yang agak kecil berada didepan, sedangkan tonjolan yang besar berada dekat dengan bekas luka disekitar ibu jari"

"Bekas luka itu jadi lebih banyak sebuah? Maksudmu pukulan itu dilancarkan oleh enam buah jari tangan?"

Yu Siau-lam bertanya keheranan, air mata yang membasahi wajahnya cepat diseka. Hoa In-liong mengangguk.

"Aku rasa begitulah. Cuma tidak kuketahui itu bekas pukulan telapak tangan kanan atau bekas pukulan telapak tangan kiri"

"Perduli amat bekas pukulan telapak tangan kanan atau kiri, yang paling penting sekarang adalah kembali dulu ke kota Kim-leng"

Tukas Coa Cong-gi tiba-tiba dengan lantang. Hoa In-liong menengadah ke depan, ketika dilihatnya Be Si-kiat sekalian sudah pergi jauh, dia pun mengangguk.

"Betul juga perkataan itu. Sampai sekarang keadaan dari empek dan pek-bo masih belum jelas. Apa gunanya kita bicarakan dulu soal bekas luka itu, ayoh kita segera berangkat!"

"Kau tak usah ikut!"

Tiba-tiba Yu Siau-lam menyela.

"Apa kau bilang? Aku tak usah ikut?"

Hoa In-liong tercengang sampai berdiri tertegun.

"Ehmmm, yaa!"

Jawab Yu Siau-lam dengan tenang.

"Kau harus pergi ke bukit Yan san untuk memenuhi janji. Bila harus ke kota Kim-leng dulu kemudian baru menuju bukit Yan-san, aku kuatir kalau waktunya tidak sempat lagi"

Dalam detik-detik yang terakhir ini, hampir seluruh pikiran dan perhatian Hoa In-liong dilimpahkan atas peristiwa yang sedang berlangsung di depan mata, hampir saja ia lupakan sama sekali bila di bukit Yan-san dia masih punya janji.

Maka begitu diingatkan kembali oleh Yu Siau-lam, kontan saja pemuda itu merasa serba salah karena tak tahu apa yang harus dilakukan.

Matanya jadi terbelalak, mulutnya melongo dan untuk sementara waktu dia cuma berdiri termangu-mangu seperti orang bodoh.

Melihat anak muda itu tertegun, cepat Yu Siau-lam berkata kembali dengan lembut.

"Dengarkan dulu perkataanku. Meski dirumahku telah terjadi peristiwa besar, toh musibah itu sudah terlanjur terjadi. Sekalipun kita menyusul ke sana juga tak mungkin bisa mencegah berlangsungnya peristiwa tersebut, paling banter kita hanya bisa berusaha melacaki jejak pembunuh keji itu. Lain halnya dengan keadaaan nona Wan. Setiap hari ia berada diseputar orang jahat, posisinya berbahaya dan lagi dia pun ada rahasia besar yang heudak disampaikan kepadamu. Jika kau sampai datang terlambat, siapa tahu kalau jiwanya keburu melayang? pergilah memenuhi janji, kami akan nantikan kedatanganmu di kota Kim-leng!"

Sewaktu mengucapkan kata-kata tersebut, sikapnya sangat tenang dan kalem.

Sedikitpun tidak memenunjukan luapan emosi atau golakan perasaan hatinya.

Padahal sebagaimana diketahui, sampai detik itu ia masih belum tahu musibah apakah yang telah menimpa keluarganya.

Diapun tak tahu bagaimanakah nasib ayah ibunya ketika itu.

Maka bila berbicara dari sikap tenangnya sewaktu mengucapkan kata-kata tersebut, dapat diketahui bahwa rasa perhatiannya terhadap Hoa In-liong sudah mencapai tingkatan yang amat akrab.

Coa Cong-gi segera menanggapi pula ucapan tersebut.

"Betul perkataan dari saudara Siau-lam memang masuk diakal. Lebih baik kita memisahkan diri untuk melaksanakan tugas masingmasing. Saudara Poh-seng boleh temani saudara Siau-lam pulang ke Kim-leng. Sedang aku biarlah temani saudara Hoa menuju bukit Yan-san.

"Waah.... Tidak bisa, tidak bisa. Kalian tak usah ikut aku. Lebih baik semuanya pulang ke Kimleng lebih dulu!"

Tukas Hoa In-liong dengan cemas.... Kontan Coa Cong-gi mendelik besar. Tapi sebelum pemuda itu sempat menyembur kata-katanya, Hoa In-liong telah malanjutkan kembali kata-katanya.

"Saudara Cong-gi, keadaan dikota Kimleng dewasa ini masih belum jelas. Jumlah kekuatan kitapun sangat minim, tidak sepantasnya kalau engkau mengurangi kembali kekuatan yang sudah minim itu untuk menemani aku kebukit Yan-san. Coba kalau keedaan tidak mendesak, mungkin akupun akan berangkat ke kota Kim-leng untuk membantu saudara Siau-lam lebih dulu!"

Setelah alasan tersebut diutarakan keluar, Coa Cong-gi tidak mampu berkata-kata lagi.

Meski bibirnya bergetar hendak mengucapkan sesuatu, namun tak sepotong perkataanpun yang sempat diutarakan keluar.

Sesungguhnya perkataan itu memang tepat sekali.

Kedua belah pihak sama-sama adalah sahabat karib, mana boleh ia pilih kasih dengan condong kesatu pihak?

Kata-kata tersebut boleh dibilang tepat mengena disasarannya dalam hati Cong-gi.

Li Poh-seng berbicara pula.

"Apa yang dikatakan saudara In-liong masuk diakal. Keadaan kota Kim-leng masih kabur dan belum jelas. Keadaan tersebut butuh tenaga yang lebih banyak untuk menyelidikinya. Adik Cong-gi ayoh kita segera berangkat!"

Coa Cong-gi masih rada sangsi, tapi akhirnya diapun mengangguk.

"Baiklah! Akan kunantikan kedatanganmu di kota Kim-leng. Jika di bukit Yan san tak ada kejadian lain, cepat cepatlah menyusul kami!"

"Siau-te akan mengingatnya baik-baik!"

Jawab Hoa In-liong sambil mengangguk berulang kali.

Maka mereka berempatpun saling memberi hormat, kemudian buru-buru melanjutkan perjalanannya masing-masing.

Memandang hingga bayangan punggung Yu Siau lam sekalian lenyap dari pandangan, Hoa Inliong merasa sangat terharu.

"Yu Siau lam adalah pemuda yang tenang dan pandai membawa diri"

Ia berpikir.

"Li poh-seng lembut tapi tangguh, sedang Coa Cong-gi, walaupun seringkali mengambil tindakan tanpa berpikir panjang, toh dia adalah seorang laki-laki yang berjiwa besar dan mengutamakan kesetiaan kawan. Aku bisa berkenalan dengan sobat sobat sepeti ini, boleh di bilang perjalananku ke kanglam kali ini bukan suatu perjalanan yang sia-sia belaka. Tapi, siapakah yang melepaskan api membakar Pesanggrahan tabib? Siapa pula yang melukai Yu Boh? Yu locianpwe termashur sebagai dermawan yang paling besar dari kota Kim-leng, siapakah yang bagitu tega mencari gara-gara terhadapnya? Jangan-jangan.... Jangan-jangan peristiwa ini terjadi karena mereka memang sengaja hendak menyulitkan kedudukan aku si Hoa loji?"

Dia bukan seorang pemuda yang pemurung, lebih-lebih tidak berambisi besar atau mengidap penyakit ragu-ragu serta sukar mengambil keputusan.

walaupun ia sudah merasa bahwa kejadian itu tak mungkin terjadi tanpa sebab-sebab tertentu, bahkan mungkin ada sangkut pautnya dengan dia, namun itu hanya terbatas pada perasaan belaka, untuk selanjutnya perasaan semacam itu tidak dipikirkan lebih mendalam.

Karena itu, setelah termenung sejenak lagi, kembali dia bergumam seorang diri.

"Aaaah.... Perduli amat! Biarlah urusan satu demi satu datang menimpa, pokoknya asal Yu-locianpwe suami isteri sampai cedera atau mendapat celaka, aku Hoa loji bersumpah akan mengobrak-abrik bajingan-bajingan itu sampai musnah dari muka bumi!"

Ditengah gumaman tersebut, pemuda itu putar badan dan berangkat menuju bukit Yan-san dengan mengitari kota Teng-wan.

Setelah keluar dari pintu kota selatan, pemuda itu mengambil arah jalan menuju kota Kim-leng, kemudian berbelok pula menuju ke tenggara.

Dikota Teng wan itulah Hoa In-liong menginap semalam untuk melepaskan lelahnya, untuk kemudian keesokan harinya sebelum fajar menyingsing ia sudah melanjutkan kembali perjalanannya.

Bukit Yan-san itu ada dua tempat.

Yang satu terletak propinsi Ou-pak keresidenan Siang-yang, dekat bukit Long-tiong.

Oleh karena bukit Long-tiong-san adalah tempat tinggal dari Cu-kat Khong Beng pada jaman Sam-kok, maka meski kecil bukitnya, besar sekali namanya dalam pendengaran orang.

Sedang bukit Yan-san yang dituju Hoa In-liong kali ini letaknya di propinsi An-hui diseputar pegunungan Pak-shia-san.

Tempat itu berada di selatan Cuan-siok, sebelah barat kota Wu-kangtin.

Meski bukitnya kecil tapi keadaan medannya berbahaya dan curam.

Batu karang yang tajam dan licin berserakan dimana-mana.

Demikian sulitnya bukit itu didaki, sehingga membuat orang yang berkunjung kesitu terpaksa harus balik ke bawah setibanya dipunggung bukit.

Hoa In-liong bergerak ke arah selatan.

Sepanjang jalan ia tak lupa menyelidiki jejak dari Hong Seng sekalian, maka karena itu perjalanan dilakukan tidak terlalu cepat.

Ketika tengah hari ketiga menjelang tiba, ia baru sampai di kota Ci-tin di utara bukit Yan-san.

Waktu itu dengan perasaan tercengang bercampur heran ia berpikir tiada hentinya.

"Aneh.... betul-betul sangat aneh, Hong Seng sekalian adalah manusia-manusia suku asing yang berwajah jelek. Dengan dandanan yang aneh, apa lagi membawa seorang gadis rupawan, semestinya rombongan mereka sangat menarik perhatian orang banyak. Kenapa sepanjang perjalananku kemari, tak seorangpun yang mengatakan pernah berjumpa dengan mereka....? Masa mereka bisa terbang di langit atau berjalan di bawah tanah....? Heran!.... benar-benar mengherankan!"

Makin dipikir pemuda itu semakin curiga, tanpa terasa tibalah pemuda itu diujung jalan dimana terdapat sebuah warung teh yang memakai merek Cwan-seng-lo.

Satu ingatan tiba-tiba melintas dalam benaknya.

Pemuda itu segera percepat langkahnya masuk ke warung teh itu Cwan-seng-lo merupakan sebuah rumah makan yang cukup termashur dikota Ci-tin usahanya sangat maju, langganannya banyak.

Meskipun saat bersantap sudah lewat, ternyata tamu yang bersantapan disitu masih amat banyak.

Dengan dandanan Hoa In-liong yang berpakaian ketat, menyoren pedang tik dipinggang, mengenakan mantel dipunggung serta berperawakan tinggi besar, kemunculannya dirumah makan itu segera menarik perhatian orang banyak.

Dengan senyum dikulum ia memilih sebuah tempat dekat meja.

Seorang pelayan muncul dengan badan terbungkuk-bungkuk.

"Kongcu maafkanlah pelayanan kami yang lamban"

Katanya minta maaf.

"Maklum, jumlah pelayan di tempat kami terlalu sedikit untuk melayani tamu yang begitu banyak" . Hoa In-liong tersenyum.

"Tak perlu sungkan-sungkan, sediakan saja sayur dan arak. Sediakan pula sepeci air teh, nanti aku hendak menanyai pula dirimu tentang beberapa persoalan" . Pelayan itu mengiakan berulang kali, dengan badan terbungkuk-bungkuk ia pun berlalu dari situ. Sebentar saja suara berbisik-bisik bergema dari sana sini.

"Woouw.... Sauya dari manakah itu? Tampan amat!"

"Ehmm.... Gagah pula potongannya dia pasti keturunan hartawan yang kaya raya!"

"Coba lihat wibawanya yang besar, wajahnya yang tampan dan tubuhnya yang kekar, mungkin dia adalah seorang pendekar muda!"

Maklum, Ci-tin hanya sebuah kota kecil.

Belum pernah tempat itu dikunjungi seorang pemuda tampan yang gagah perkasa macam Hoa In-liong.

Tak heran kalau mereka lantas berbisik-bisik memuji kegagahan pemuda itu.

Selang sesaat kemudian, pelayan muncul menghidangkan sayur dan arak, lalu menghidangkan pula sepoci air teh.

Setelah memenuhi cawan Hoa In-liong dengan air teh, pelayan itu berkata.

"Kongcu tentu lelah dijalan selahkan minum!"

Hoa-In liong mengambil cawan dan menghirup setegukan. Ketika dilihatnya pelayan itu tidak bermaksud mengundurkan diri dari situ, tahulah dia bahwa pelayan itu sedang menantikan pertanyaannya.

"Tolong tanya berapa banyak rumah penginapan yang berada dalam kota ini?"

Sambil tersenyum yang dipaksakan, jawab pelayan itu.

"Harap kongcu maklum, kota ini hanya berpenduduk enam-tujuh ratus orang. Lagi pula merupakan dusun yang miskin, jarang dilewati orang luar daerah. Tentu saja tak ada penginapan disini. Cuma. Hee.... hee.... Bila kongcu ingin menginap, hamba dapat usahakan tempat beristirahat bagi dirimu"

"Ramah amat pelayan ini"

Batin Hoa In-liong berpikir demikian, ia bertanya lebih jauh.

"Tak usah repot-repot, aku ingin mencari kabar pula tentang beberapa orang"

"Siapa yang hendak kongcu cari?"

Tanya pelayan itu setelah tertegun sejenak.

"Seorang gadis, seorang sastrawan muda serta dua orang laki-laki setengah baya berjubah kuning"

"Orang asing?"

Tanya pelayan itu lagi sambil mengerdipkan matanya yang sipit. Hoa In-liong mengangguk.

"Ehmm! Dua orang laki-laki setengah baya yang berjubah kuning itu datang dari Seng-sut-hay, bukan bangsa Han. Sebaliknya gadis dan sastrawan itu orang Tionggoan"

Dergan kening berkerut pelayan itu berpikir sebentar, kemudian ia gelengkan kepalanya.

"Tidak ada, tidak ada manusia macam itu disini! Setiap orang yang datang luar daerah kecuali punya sanak keluarga disini, kebanyakan mereka menginap di rumah kami. Sekalipun tidak menginap disini, hamba percaya mereka tak akan lolos dari pengamatanku"

Tiba-tiba ia tertawa cekikikan, lanjutnya lebih jauh.

"Terus terang kukatakan kongcu, bahwa hamba sebenarnya bernama Go Beci. Tapi ia lantaran semua urusan kuketahui maka orang menyebut diri hamba sebagai "

Bu-put-ci (tak ada yang tak tahu). Hee.... hee.... hee.... hal ini lantaran...."

Tanpa terasa Hoa In-liong tersenyum, cepat tukasnya.

"Cukup.... cukup.... Tolong tanya saja disekitar sini apakah ada kuil atau sebangsa too koan?"

"Oooh.... tidak ada, tidak ada"

Pelayan itu gelengkan kepalanya berulang kali.

"Disekitar dua puluh li dari dusun ini hanya ada sebuah kuil dewa tanah di sebelah barat kota!"

Menyaksikan sikapnya yang serius dan bersungguh-sungguh itu, Hoa In-liong kembali merasa geli, ia tertawa tergelak.

"Bagaimana dengan bukit Yan-san? Apakah di situ juga tidak ada kuil atau too koan?"

Tanyanya kemudian selesai tertawa.

"Bukit Yan-san?"

Mula mula pelayan itu tertegun, untuk selanjutnya dia manggut-manggut.

"Kalau di bukit Yan-san memang terdapat sebuah too-koan dan too-koan itu berada dekat dengan puncak bukit tersebut, besar sekali bangunannya!"

Diam-diam Hoa In-liong merasa gembira setelah mendengar perkataan itu, pikirnya.

"Yaa betul, mereka pasti menuju ke sana dengan mengitari tempat ini. Kalau begitu mereka pasti bercokol di dalam too-koan tersebut untuk beristirahat...."

Tapi sebelum ingatan itu selesai berkelebat dalam benaknya, terdengar pelayan itu sudah melanjutkan kembali kata katanya.

"Cuma too-koan itu sudah roboh banyak tahun. Banyak diantara bangunan tadi sudah menjadi puing-puing yang berserakan. Konon dahulunya tempat itu adalah sebuah markas dari perkumpulan Thong Thian-kau. Kongcu tahu? Thong Thian-kau adalah sebuah perkumpulan yang amat jahat dan ganas. Disana sini mereka melakukan banyak kejahatan dan kebiadaban. Kemudian dari dunia persilatan telah muncul seorang pendekar besar yang bernama Thian-cu-kiam Hoa thayhiap...."

Setelah tujuannya tercapai, Hoa In-liong tidak berminat untuk mendengarkan cerita dari pelayan itu lagi, cepat dia ulapkan tangannya sambil menukas.

"Cukup.... Cukup....sekarang kau boleh berlalu. Atas jerih payahmu ini, akan kuperhitungkan nanti saja!"

Padahal ketika itu sang pelayan sedang berceritera dengan penuh semangat.

Selaan dari Hoa Inliong tersebut ibaratnya sebaskom air dingin yang diguyurkan diatas kepalanya.

Seketika itu juga ia berdiri bodoh dengan wajah termangu, untuk sesaat dia tak tahu apa yang musti dilakukan.

"Sudah cukupkah?"

Tiba-tiba serentetan suara merdu menyambung dari samping.

"Nah kalau sudah cukup, sekarang tiba giliran untuk melayani kami" . Suara itu lembut, merdu dan enak didengar bagaikan bunyi genta. Dengan perasaan terkejut Hoa In-liong berpaling kesamping. Disudut kiri dekat dinding ruangan, duduklah seorang pemuda sastrawan berbaju putih, disampingnya duduk pula seorang kacung yang berusia empat lima belas tahunan. Waktu itu dengan senyuman di kulum mereka sedang memandang ke arahnya. Sastrawan itu tampan sekali, usianya antara enam tujuh belas tahunan, alis matanya bagaikan semut beriring, matanya jeli bagaikan bintang kejora. Hidungnya mancung, bibirnya merah seperti delima merekah. Giginya yang putih rata. Pipinya yang halus putih dengan sepasang lesung pipinya menambah kebagusan paras mukanya. Kulit tubuh sastrawan itu putih bersih. Sifat kekanak kanaknya masih tertera jelas dibawanya. Diantara sifat kekanak kanaknya terselip pula sifat binal, nakal dan cerdiknya. Ini membuat siapapun yang memandang segera timbul rasa senang dan simpantiknya. Siapapun ingin berkenalan rasanya setelah berjumpa dengan orang ini. Tapi, perasaan Hoa In-liong ketika itu jauh berbeda. Pertama lantaran kedatangan pemuda itu sangat mendadak, suaranya menggetarkan telinga. Kedua meski berada dalam perhatian tetamu yang begitu banyak, ternyata pemuda itu dapat bersikap tenang dan bebas, sedikitpun tak nampak rikuh atau panik. Hal ini membuktikan bahwa dia bukan manusia sembarangan.... Padahal waktu itu suasana amat kalut. Banyak kejadian berlangsung berturutan dan yang paling penting tempat itu adalah sebuah dusun miskin yang terpencil sebagai seorang pemuda yang cermat dan tidak gegabah tentu saja ia jadi kaget dan waspada setelah berjumpa dengan manusia seperti itu. Dalam waktu singkat ia merasa suasana diloteng rumah makan itu seakan akan berubah jadi beku. Begitu sunyi sepi sehingga jarum yang terjatuh ke tanahpun dapat kedengaran dengan jelas. Diamatinya pemuda sastrawan itu dengan cermat, tiba-tiba Hoa In-liong merasakan hatinya tergerak ia merasa orang itu makin dilihat semakin dikenal rasanya.

"Aneh, kenapa raut wajah orang ini amat kukenal jumpai disuatu tempat. Tapi....siapakah dia? Aku pernah menjumpainya dimana?"

OooOOOooo PENEMUANNYA ini seketika itu juga membuat sepasang alis matanya berkenyit.

Dengan sinar mata setajam sembilu diamatinya orang itu dengan tajam, sementara otaknya berputar untuk menduga-duga siapa gerangan pemuda tersebut.

Bayangan manusia melintas didepan matanya.

Sambil menggoyangkan pantatnya pelayan itu menghampiri pemuda sastrawan tersebut, lalu sambil tertawa yang dipaksakan sahutnya.

"Maaf kalau terlambat.... Maaf kalau terlambat.... Apa yang sauya inginkan? Harap diucapkan."

Pemuda itu mengerling sekejap sambil moncongkan bibirnya.

"Huuh!.... Pandai amat kau memilihkan sebutan! Kau sebut dia kongcu dan sebut aku sauya. Memangnya lantaran dia menyoren pedang dan pandai bersilat, sedang aku cuma seorang sastrawan yang lemah tak punya kepandaian apa-apa, maka kau berani permainkan orang?"

Pelayan itu dibuat serba salah, menangis tak bisa tertawapun sungkan. Terpaksa sambil bungkukkan badan minta maaf katanya lagi sambil tertawa.

"Kongcu suka bergurau.... Kongcu suka bergurau.... Harap engkau yang terhormat...."

Sebelum pelayan itu menyelesaikan kata-katanya, kembali pemuda itu tertawa merdu, kepada kacung bukunya ia berkata.

"Anak Leng! Tahun-tahun belakangan ini memang suasananya sedikit ganas. Coba lihatlah begitu cepat ia mengikuti gelagat?"

Kacung buku itu menutupi bibirnya dengan ujung baju, lalu sambil menahan tertawanya ia berkata.

"Sio.... sauya, perkataanmu memang benar. Sebutan kongcu itu memang kedengaran lebih segar!"

Hoa In-liong yang mengikuti semua pembicaraan tersebut dari samping, diam-diam tertawa geli, pikirnya.

"Entah siau-sauya darimanakah ini? Tampaknya dia lebih binal dan nakal daripada aku Hoa loji. Haa.... haa.... haa.... Akan kulihat permainan busuk apa lagi yang bisa dia lakukan untuk menggoda pelayan tersebut?"

Perlu diketahui, pada dasarnya Hoa In-liong adalah seorang pemuda yang binal, nakal dan suka menggoda orang.

Ketika dilihatnya pemuda tampan yang berapa dihadapannya memiliki tabiat serta sifat yang persis seperti tabiat sendiri, betapa gembira dan senangnya dia.

Seketika itu juga, sifat binal dan ingin menggodanya menguasahi kembali seluruh benaknya.

Otomatis perasaan waswasnya tersapu lenyap dari dalam benaknya.

Jilid 19 SEMENTARA pemuda itu telah berkata kembali.

"Kalau diingat kembali, maka perkataan ibuku memang tak salah. Beliau berkata orang yang bekerja sebagai kusir, sebagai tukang perahu, sebagai pelayan, sebagai kuli dan sebagai Hamba negara paling pandai putar kemudi mengikuti hembusan angin manusia-manusia begini paling licik dan busuk. Ternyata bukti memang begitulah, betul tidak anak Leng?"

"Yaa betul,"

Kacung buku itu mengangguk sambil tertawa.

"Pelayan ini memang licik sekali. Mungkin dia memang termasuk type manusia pelayan seperti yang dimaksudkan hujin!"

Begitulah, kedua orang itu saling berbicara saling menanggapi.

Mereka Berbicara dan tertawa, membuat air muka pelayan itu berubah jadi merah membara, mau menangis tak bisa mau tertawa tak dapat, mau gusar pun tak berani.

Keadaannya benar-benar mengenaskan.

Akhirnya karena apa boleh buat, terpaksa dengan wajah yang memelaskan dia memohon.

"Oooh....kongcu ya! Seorang laki laki budiman tak akan mengingat ingat kesalahan seorang siaujin. Hamba...."

"Memangnya kau anggap aku selalu mengingat dirimu?"

Pemuda tampan itu balik bertanya dengan senyum dikulum. Pelayan tersebut semakin membungkukkan badannya.

"Yaa.... Yaa.... Hamba memang terlalu gegabah, bekerja teledor sehingga terlalu lambat melayani kongcu. Harap engkau suka memaafkan kesalahan hamba dan tidak menyusahkan diri hamba lagi.... Apa yang kongcu pesan segera akan hamba kerjakan dengan baik...."

Pelayan itu memang berlidah tajam serta pandai menjilat pantat. Setiap perkataannya begitu menarik hati membuat hati pemuda itu jadi lembek kembali. Akhirnya diapun mengangguk.

"Baiklah! Siapkan sayur dan arak yang paling lezat!"

Bagaimana mendapat pengampunan, cepat-cepat pelayan itu mengiakan lalu mengambil langkah seribu. Baru beberapa langkah pelayan itu kabur, ketika pemuda tampan itu berseru kembali.

"Eee.... Pelayan! Tunggu sebentar!"

Dengan hati bergetar keras pelayan itu berhenti, meski ada engkau tapi ia balik juga kehadapan tamunya.

"Engkau tahu sayur apa yang hendak kupesan?"

Tanya pemuda tampan itu sambil tersenyum. Pelayan itu sudah setengah dibikin mabok setelah dikocok habis habisan oleh tamunya, maka ia pun tertegun setelah mendengar pertanyaan tersebut.

"Sayur apa yang hendak kongcu pesan?"

Akhirnya setelah sangsi sebentar ia balik bertanya. Pemuda tampan itu langsung menuding kearah meja Hoa In-liong seraya menyahut.

"Buatkan persis seperti apa yang dia makan, tak boleh terlalu banyak juga jangan terlalu kurang. Bila terlalu banyak atau terlalu sedikit, engkaulah yang musti tanggung jawab!"

Terkejut bercampur heran Hoa In-liong ketika mendengar ucapan itu, ia segera berpikir.

"Nah.... Si pencari gara-gara sudah datang. Rupanya dia berbicara kesana kemari tujuannya adalah untuk mencari gara-gara dengan aku...."

Tentu saja pemuda kita bukan seorang laki-laki yang takut urusan, malahan justru karena adanya urusan, ia tampak semakin segar dan bersemangat.

Sambil tertawa terbahak-bahak ia bangkit berdiri, lalu memberi hormat dari kejauhan.

"Kita bisa bertemu muka, itu tandanya kalau kita ada jodoh"

Demikian ujarnya.

"Tak kunyana kalau hengtay memiliki selera yang persis seperti seleraku, sampai sekarang sayur dan arak yang kupesan belum disentuh. Jika tidak keberatan bagaimana kalau anda berpindah kemari untuk saling pererat hubungan?"

Walaupun di mulut ia berkata demikian, dalam hati kecilnya iapun menyusun perhitungan, pikirnya.

"Sampai dimanapun kebinalan dan kelicikanmu aku tidak percaya kalau Hoa loji tak mampu mengalahkan dirimu. Hmm! Paling sedikit aku Hoa loji harus berusaha untuk menyelidiki usulmu hingga jelas dan terang!"

Rupanya kedatangan pemuda tampan itu memang bertujuan kepadanya, tampak ia mengerlingkan matanya kemudian menjawab.

"Lama aku dengar orang berkata bahwa engkau supel dan gagah. Setelah perjumpaan hari ini terbuktilah sudah bahwa kabar yang tersiar diluaran memang bukan berita kosong belaka"

Ia lantas bangkit berdiri, kepada kacung bukunya dia menambahkan lebih jauh.

"Leng-ji, mari kita pindah dan mengganggunya sejenak!"

Dengan langkah yang tegap dia berjalan lebih dulu pindah kemeja Hoa In-liong.

Sementara itu Hoa In-liong sendiripun sudah menyusun perhitungan yang masak.

Ia telah memutuskan untuk menghadapi setiap perubahan dengan kepala dingin.

Akan disaksikan permainan busuk apakah yang hendak dilakukan mereka terhadapnya.

Karena itu sambil berpesan kepada pelayan untuk menambah sayur dan arak, ia mempersilahkan tamunya mengambil tempat duduk.

Kali ini pelayan tersebut bertindak lebih cerdik, begitu mendapat pesanan, secepat terbang ia berlalu.

Selang sesaat kemudian apa yang dipesan telah dihidangkan.

Kacung buku yang bernama "Leng-ji"

Itu segera mengangkat poci arak dan memenuhi cawan mereka berdua.

Sebenarnya Hoa In-liong masih ingin mengucapkan kata-kata sopan santun.

Siapa tahu sambit meletakkan poci araknya kemeja, terdengar "Leng ji"

Berkata dengan serius.

"Eeeh.... Sio.... sauya kami tidak pandai minum arak, kau harus memaklumi keadaannya"

"Leng-ji!"

Bentak pemuda tampan itu tiba-tiba dengan wajah serius.

"Kembali kau sudah melupakan peraturanku, tahukah kau? Dia adalah ji-kongcu....!"

Leng-ji menjulurkan lidahnya sambil menunjukkan muka setan, kemudian ia baru memanggil.

"Jikongcu!"

Setelah itu dengan mulut membungkam dia duduk kembali ditempat duduknya.

Hoa In-liong yang selama ini mengawasi terus mimik wajah orang dengan teliti, segera menemukan bahwa sikap dari pemuda tampan itu bukan sikap yang sengaja dilakukan.

Ini membuat hatinya semakin keheranan, pikirnya.

"Apa artinya kesemuanya ini sebentar berpurapura sebentar sungguhan, sebenarnya apa maksud hatinya?"

Walaupun dihati berpikir demikian, hal tersebut tak sampai diutarakan keluar. Dia mengangkat cawan arak lalu tersenyum.

"Kalau memang begitu, aku tak berani terlalu memaksa"

Katanya.

"Akan kukeringkan secawan arak ini sebagai penghormatanku padamu. Selanjutnya bila heng-tay tak keberatan, minum secawan arakpun bolehlah"

Habis berbicara, sekali teguk dia habiskan dulu isi cawan sendiri.

Pemuda tampan itu berdiri hanya mengangkat cawannya dan menempelkan saja dibibirnya sebagai pertanda rasa hormatnya, kemudian sambil tertawa ia berkata.

"Ji kongcu, engkau memang sangat supel dan ramah, cuma aku menganggap dirimu sedikit keterlaluan"

Begitu buka suara, kata-katanya hanya melukai orang, mimpipun Hoa In-liong tidak menduga sampai kesitu.

Untuk sesaat dia tak bisa menanggapi kecuali duduk tertegun.

Melihat pemuda itu tertegun, tiba-tiba dengan suara yang lembut pemuda tampan itu berkata lagi.

"Betapa tidak bagaimanapun juga kita baru berkenalan untuk pertama kalinya. Padahal kaupun tahu kalau kedatanganku mengandung maksud tertentu, tahukah engkau aku sehabat atau musuh? Aku yakin kau belum bisa mengetahuinya dengan jelas? Tapi kenyataannya sekarang, bukan saja engkau tidak menanyakan maksud kedatanganku, juga tidak menanyakan siapa namaku. Begitu angkat cawan lantas meneguk habis isinya, padahal arak itu disuguhkan oleh Leng-ji. Seandainya aku adalah musuhmu dan Leng-ji telah mencampuri arak itu dengan racun, bukankah sekarang kau sudah keracunan hebat? Kau memang supel dan menarik, tapi tidak seharusnya bertindak begitu ceroboh dan gegabah!"

Kalau dipikir dengan sungguh-sungguh, maka apa yang dikatakan pemuda itu memang masuk diakal, lagipula bernada tajam, sedikitpun tidak memberi muka kepada lawannya....

Diam-diam Hoa In-liong mendengus, pikirnya.

"Sialan! Toh engkau tahu kalau kita baru saja berkenalan, memangnya kau anggap ucapan semacam itu tidak keterlaluan? Jika aku Hoa loji takut dipecundangi olehmu, tak nanti kuundang dirimu datang kemari dan duduk semeja dengan diriku"

Pikir tinggal pikir, mulut tak dapat membungkam terus menerus, maka diputuskan siasat tersebut akan dibalas dengan siasat, tersenyumlah pemuda kita.

"Nasehat saudara memang tepat dan benar, bolehkah aku tahu siapa namamu?"

Tampaknya pemuda tampan itu puas dengan sikap lawannya yang sangat penurut, dengan wajah berseri dia tertawa.

Tapi begitu dia tertawa.

Hoa In-liong maka terperangah hingga untuk sesaat melongo-longo seperti orang bodoh.

Ternyata tertawanya itu begitu polos, begitu genit dan menawan hati, jelas merupakan senyuman seorang gadis cantik.

Sementara anak muda itu masih melamun, pemuda tampan tersebut telah memperkenalkan namanya.

"Aku berasal dari marga Cwan, Cwan dari kata Cwan-poh (pengundang), Cwan-yang (propaganda), Cwan-si (bersumpah), Cwan-cau (mengudang). She tersebut adalah she dari ibuku karena aku mengikuti marga ibu dan namaku adalah Wi. Lengkapnya Cwan Wi. Sudah jelas?"

Bagaimanapun jua dasar anak muda yang sudah bertele-tele, untuk menerangkan nama sendiripun diperlukan waktu hampir setengah harian lamanya.

Seakan akan dia takut kalau pemuda itu tak sempat mendengar namanya dengan jelas.

Diam diam Hoa In-liong mengerutkan dahinya tapi untuk sopan santun diapun mengangguk.

"Aku yang muda bernama Hoa yang, nama kecil In".

"Yaa aku sudah tahu, kau punya nama kecil yang di sebut In-liong. Tak usah diterangkan lagi"

Tukas Cwan Wi tiba-tiba sebelum anak muda itu sempat menyelesaikan kata katanya. Sesudah berhenti sebentar, tiba-tiba ujarnya lagi.

"Kenapa tidak kau tanyakan kepadaku, mengapa aku datang kemari mencarimu?"

Menyaksikan keanehan rekannya, Hoa In-liong tertawa geli.

"Aku memang sedang siap-siap bertanya!"

Katanya kemudian.

"Aku mendapat perintah dari toako. Toako yang mengutus aku datang kemari!"

Jawab Cwan Wi dengan nyaring.

"Toako?"

Ulang Hoa In-liong dengan wajah tertegun karena heran dan tidak habis mengerti. Cwan Wi manggut manggut.

"Ya, toako yang suruh aku kemari. Toako suruh aku menyampaikan pesan kepadamu. Katanya kau jangan pergi ke bukit Yan-san untuk penuhi janji itu"

Hoa In-liong semakin terkejut, rasa tertegunnya makin menjadi-jadi, setelah melongo sesaat dia baru bertanya.

"Siapakah toakomu? Kenapa aku tak boleh memenuhi janji di bukit Yan-san....?"

"Toako siapa lagi?"

Cwan Wi mengerdipkan matanya.

"Tentu saja toakomu sendiri! Tentang alasannya kenapa kau tak boleh pergi memenuhi janji, Waah.... Aku sendiripun tak tahu"

Hoa In-liong mengerutkan dahinya rapat-rapat, makin lama ia semakin melongo.

"Toako ku?"

Kembali gumamnya dengan keheranan.

"Kau maksudkan toakoku Hoa Si?"

"Huuuh.... Tolol amat kamu ini! Semua orang mengatakan kau cerdik, kau pintar. Tapi nyatanya kau adalah orang paling goblok yang pernah kujumpa. Kalau bukan toakomu Hoa Si, memangnya kau punya berapa banyak toako lagi?"

Tanpa sadar Hoa In-liong menghembuskan nafas panjang.

"Ooooh.... Rupanya kakakku yang minta engkau datang kemari. Jadi kalau begitu kita bukan orang luar"

"Sekalipun bukan orang luar, aku juga bukan orang dari keluargamu"

Cepat Cwan Wi menambahkan dengan serius. Hoa In-liong tertawa tergelak karena geli.

"Kau memang binal, nakal dan suka menggoda orang"

Pikirnya dalam hati.

"Kalau toh toako yang minta kedatanganmu kesini, kenapa tidak kau sampaikan maksud kedatangannya sejak tadi tadi? Lagakmu yang pura-pura bersikap serius, sok rahasia rupanya cuma bertujuan untuk bikin tegangnya urat syaraf saja. Aaai.... Dasar bocah yang sering dimanja, dalam keadaan seperti inipun masih bisa bisanya bergurau!"

Meskipun mengeluh dalam hati, tidak berarti ada perasaan tak senang di hati kecilnya.

Setelah termenung sebentar, dia angkat poci arak dan memenuhi cawan sendiri, lalu menambahkan pula cawan Cwan Wi dengan setetes arak.

Setelah itu sambil mengangkat cawannya, ia berkata sambil tersenyum ramah.

"Pepatah kuno bilang. Empat samudra adalah saudara sendiri. Asal pandangan hidup kita sama cita-cita kita sama dan tujuan kita sama, walaupun bukan keluarga sendiri juga tidak menjadi soal. Kau sebut kakakku sebagai "

Toako,"

Padahal akupun lebih tua beberapa tahun daripada dirimu, maaf bila kuberanikan diri untuk memanggilmu sebagai saudara Cwan.

Marilah saudara Cwan, siau-heng hormati secawan arak untukmu sebagai rasa terima kasihku atas perjalanan yang kau tempuh demi dirimu"

Cwan Wi memang polos dan lincah, sambil kerutkan kening dia berseru.

"Barusan toh kau sudah menghormati secawan arak kepadaku?"

Hoa In-liong tertawa tergelak.

"Haa.... haa.... Itulah yang dikatakan adat yang banyak bikin orang tidak aneh, kuteguk dulu isi cawan ini!"

Begitu selesai berkata, dia lantas teguk habis isi cawan sendiri. Cwan Wi kehabisan kata-kata untuk berbicara terpaksa sambil kerutkan kening dia ikut mencicipi setegukan arak.

"Baiklah!"

Kata Hoa In-liong kemudian.

"Anggaplah kita telah bersahabat setelah meneguk secawan arak tadi. Saudara Cwan, tolong tanya kau telah berjumpa dengan kakakku dimana?"

Cwan Wi sedang mengurut tenggorokannya untuk menelan arak dalam mulutnya ke dalam perut. Mendengar pertanyaan tersebut diapun menyahut.

"Di kota Im-ciu!"

"Aneh betul!"

Seru Hoa In-liong kemudian dengan tercengang.

"Im-ciu letaknya di sebelah barat propinsi An-gui. Dari mana kakakku bisa tahu kalau aku mempunyai janji di bukit Yan-san?"

"Kami bertamu saudara Yu Siau-lam di kota Ciu-sin. Saudara Siau-lam lah yang memberitahukan soal janji Yan-san itu kepada toako!"

Hoa In-liong termenung beberapa saat lamanya tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknyacepat dia bertanya lagi.

"Sudah berapa hari engkau melakukan perjalanan bersama-sama kakakku....? "Dua hari!"

"Dua hari?"

Hoa In-liong makin tercekat.

"Dalam dua hari kalian bila menempuh perjalanan dari kota Im-ciu sampai kota Cin-sian?"

"Toako bilang ada urusan penting hendak mencari dirimu, tentu saja dalam dua hari jarak tersebut dapat kami lampaui"

"Hanya kakakku seorang?"

Kembali Hoa In-liong bertanya setelah tertegun sejenak.

"Sebetulnya toako datang bersama empek Hoa"

Sebelum pemuda itu sempat menyelesaikan kata-katanya, dengan hati sangat terkejut In-liong telah menukas.

"Apa? Ayahku juga ikut datang?"

"Masih ada lagi seorang lo-koan-keh. Cuma saat ini mereka sudah pulang ke Im Tiong-san"

Timbul kecurigaan dihati Hoa In-liong setelah penjelasan tersebut, cepat tanyanya lagi.

"Kenapa ayahku pulang ke rumah lagi setelah sampai ditengah jalan? Sebenarnya peristiwa basar apakah yang telah terjadi selama ini....?"

"Ayahmu pulang kembali ke Im Tiong-san lantaran ditengah jalan telah bertemu dengan kami ibu dan....ibu dan anak. Empek Hoa lama sekali bercakap cakap dengan ibuku. Kemudian beliau bersama ibumu pulang kembali ke Im Tiong-san sedang apa yang sebenarnya telah terjadi, aku tak sempat mengetahuinya"

Hoa In-liong berpikir kembali, ia merasa kehadiran ayahnya dalam dunia persilatan menunjukkan semakin seriusnya peristiwa dalam dunia persilatan.

Sebab bila dunia persilatan tidak mengalami suatu perubahan besar tak nanti ayahnya akan munculkan diri dengan begitu saja.

Meski demikian, anak muda itu tak ingin banyak berbicara, maka setelah termenung sejenak ia bertanya pula.

"Lalu sekarang kemana perginya kakakku?"

"Toako pergi ke kota Kim-leng! Sebelum berpisah toako secara khusus menitip pesan kepadaku agar disampaikan kepadamu. Katanya sekarang juga itu harus berangkat ke kota Kim-leng untuk berkumpul dengannya, sebab ada urusan penting yang hendak dibicarakan"

Setelah pembicaraan berlangsung sampai disitu garis besar keadaan yang sebenarnya pun dapat di pahami Hoa In-liong.

Ia tahu, jika toakonya begitu terburu-buru ingin berjumpa dengannya, itu berarti bahwa ada urusan penting yang telah terjadi.

Tapi dia pun tak dapat ingkar janji, sehingga membiarkan Wan Hong giok menanti dengan percuma.

Maka setelah mempertimbangkan enteng beratnya persoalan, akhirnya dia berkata.

"Baiklah! Kalau begitu besok pagi-pagi kita berangkat!"

Hoa In-liong mengambil keputusan demikian lantaran keadaanlah yang memaksa dia harus berbuat begini.

Betapapun juga dia sangat ingin berjumpa dengan Hoa Si secepat mungkin dan mencari tahu peristiwa apa yang telah terjadi, hingga sampai ayahnya ikut terbawa-bawa masuk kembali ke dalam dunia persilatan.

Namun Cwan Wi tak bisa memahami perasaannya waktu itu, tampak ia rada tertegun, kemudian berseru nyaring.

"Kenapa? Jadi kau masih ingat memenuhi janjimu di bukit Yan-san?"

"Selisih satu malam rasanya juga tak terlalu lambat. Asal perjalanan kita tempuh lebih cepat lagi, waktu yang silang rasanya masih dapat disusul kembali"

"Selisih waktu semalam?"

Teriak Cwan Wi dengan marah.

"Engkau tahu meski hanya selisih waktu semalam, peristiwa besar apalagi yang bakal terjadi?"

"Yaaa....Tapi apa boleh buat?"

Kata Hoa In-liong dengan nada minta maaf.

"Sebagai seorang laki-laki sejati, kita tak boleh ingkar janji. Sekalipun ada urusan lain.... Ya.... Bagaimana lagi? Janji tetap janji. Walaupun ada urusan yang lebih penting, janji tetap tak dapat diingkari dengan begitu saja" . Tampaknya Cwan Wi semakin naik darah, setelah merenung sebentar katanya lagi dengan ketus.

"Aku tahu orang she Wan itu adalah seorang cantik. Aku tahu gadis she Wan itu mencintai dirimu dan kau keberatan untuk meninggalkan dirinya. Hmmm! Orang lain mengatakan kau bajul buntung, kau romantis dan suka main perempuan, dulu aku masih belum percaya, tapi sekarang.... sekarang aku...."

Sebelum pemuda tampan itu sempat menyelesaikan kata katanya Hoa In-liong sambil tertawa getir telah menukas.

"Saudara Cwan...."

Cwan Wi mendelik besar. Dengan penuh kemarahan ia menyemprot.

"Siapa yang sudi menjidi saudaramu? Panggilan dari saudara sendiri yang disampaikan dengan mengirim seorang utusan ternyata kalah pentingnya dengan janji seorang perempuan lewat usang. Hmmm! Terhadap manusia macam begini....aku jadi segan untuk banyak berbicara lagi!"

Hoa In-liong benar-benar dibikin serba salah, tertawa tak bisa menangispun sungkan. ia gelengkan kepalanya berulang kali sambil mengeluh lirih.

"Saudara Cwan, kau bikin orang penasaran.... kau bikin orang jadi penasaran"

"Aku membuat kau menjadi penasaran?"

Teriak Cwan Wi makin gusar.

"Baik! Aku mohon diri lebih dulu. Aku tak akan mengganggu engkau lebih jauh...."

Dia lantas bangkit berdiri dan siap pergi.

"Saudara Cwan....! Saudara Cwan....! Jangan pergi dulu. Jangan pergi dulu!"

Cegah Hoa In-liong sedang gelisah.

"Dengarkan dulu penjelasanku"

"Bukankah aku telah membuat engkau penasaran? "kata Cwan Wi dengan mendongkol.

"Kalau toh akan membuat kau jadi penasaran, kenapa tidak kau perbolehkan aku pergi saja dari sini?"

Hoa In-liong menghela napas panjang, ia termenung sebentar untuk berpikir, kemudian baru ujarnya lagi dengan suara yang perlahan dan lembut.

"Antara aku dengan Wan Hong-giok hanya punya jodoh bertemu muka satu kali saja. Sekalipun ada benih-benih cinta yang tumbuh dihati kita masing-masing, itupun masih terbatas pada cinta permulaan, tak nanti sudah mencapai taraf yang kau ibaratnya tak bisa berpisah lagi. Yaaa.... Kenangan masa lampau ada baiknya tak usah kita bicarakan lagi. Siau-heng akan perlihatkan surat dari nona Wan kepadamu. Selesai membaca surat tersebut, engkau akan segera memahami alasan lain yang membuat siau-heng bersikap demikian. Kau pasti akan mengerti bahwa siau-heng tidak gampang terpikat oleh seorang perempuan"

Sambil berkata ia merogoh sakunya dan mengeluarkan secarik kertas butut yang segera diserahkan kepada Cwan Wi.

"Aaaah....Ogah aku membaca surat cintamu"

Tampik Cwan Wi sambil palingkan kepalanya.

"Kalau ingin menerangkan, lebih baik terangkan saja dengan mulut!"

Sambil membungkukkan badannya setengah memohon Hoa In-liong membentangkan surat kumal tersebut dihadapan mukanya, lalu berkata kembali.

"Aku tak dapat menerangkan dengan mulut, sebab dibalik surat ini masih terdapat suatu rahasia yang sangat besar. Rahasia ini tak boleh sampai ketahuan orang lain, maka alangkah baiknya kalau saudara Cwan membaca langsung dari kertas ini!"

Cwan Wi dapat menangkap keseriusan orang sewaktu mengucapkan kata-kata tersebut, tanpa sadar ia berpaling memandang kearah Hoa In-liong.

Dengan wajah setengah memohon Hoa In-liong segera mendesak kembali rekannya agar membaca surat itu sendiri.

Rupanya Cwan Wi tak tega, akhirnya ia menundu kan kepalanya juga untuk membaca surat itu.

Selesai membaca surat tadi, ia baru menengadah sambil katanya dengan suara yang lebih ramah.

"Jadi kalau begitu, gadis-gadis she Wan itulah yang terlalu romantis sehingga diam-diam ia mencintaimu tanpa kau sendiri menyadari akan hal ini...."

"Tak bisa kau katakan demikian"

Sahut Hoa In-liong dengan wajah tersipu-sipu. Cwan Wi berpaling dengan alis mata berkenyit.

"Lalu.... Bagaimana yang betul?"

Dia balik bertanya. Sikap Hoa In-liong makin rikuh, dengan muka merah jengah katanya tergagap.

"Aku.... aku sendiripun tak dapat menerangkan dengan jelas"

Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba lanjutnya kembali dengan wajah serius.

"Pokoknya peristiwa ini mungkin menyangkut suatu masalah yang amat besar dan yang pasti ke adaan nona Wan sesudah terjatuh ke tangan kaum iblis sesat pasti mengenaskan sekali. Sebagai umat persilatan yang menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran, apabila setelah mengetahui jelas keadaan yang sebenarnya, masa kita harus berpeluk tangan belaka membiarkan orang lain tersiksa? Saudara Cwan, tentunya tidak demikian bukan?"

Mungkin apa yang diucapkan Hoa In-liong memang benar dan masuk diakal.

Untuk sesaat lamanya Cwan Wi tak mampu berkata maupun berbicara.

Dengan mulut membungkam dia angsurkan kembali kertas itu kepada rekannya.

Sambil menerima surat itu dan disusupkan kembali ke dalam sakunya, kembali Hoa In-liong meminta.

"Saudara Cwan, apakah engkau dapat memahami keadaanku? Bagaimana kalau kita berangkat besok pagi saja?"

"Tentang soal ini.... tentang soal ini...."

Demikian sangsinya Cwan Wi sampai dia tak mampu melanjutkan kembali kata-katanya.

"Bagaimana kalau demikian saja?"

Sambung Hoa In-liong lagi.

"Saudara Cwan berangkat duluan dan Siau-heng akan segera berangkat selewatnya tengah malam nanti? Aku percaya kita bisa berjumpa muka lagi setibanya di dermaga penyeberang Boh-ko. Dengan demikian bukankah kita tak usah membuang waktu lagi dengan percuma?"

Tiba-tiba Cwan Wi menghela nafas panjang.

"Aaaai.... Engkau telah salah mengartikan maksudku. Sebenarnya akulah yang sengaja telah membohongi dirimu dalam keteranganku tadi"

"Bagaimana maksudmu?"

Tanya Hoa In-liong dengan wajah setengah tertegun.

"Latar belakang janji dibukit Yan-san telah ku ketahui semua dengan amat jelasnya. Saudara Siau-lam lah yang menceritakan kesemuanya itu kepadaku. Barusan aku sengaja menuduh engkau terpikat oleh perempuan, maksudku adalah untuk memanasi hatimu dengan tuduhan tadi dan tujuanku berbuat demikian tak lain adalah berharap agar engkau tidak pergi memenuhi janji tersebut"

Mendengar keterangan tersebut, Hoa In-liong merasa marah bercampur mendongkol, dengan kesal teriaknya.

"Kau....kau.... Aaaai....! Apa gunanya engkau berbuat kesemuanya itu atas diriku?"

Bagaimanapun juga, si anak muda ini segan menegur Cwan Wi, maka sambil menghela nafas panjang dia hanya gelengkan kepalanya berulang kali sebagai tanda rasa kesalnya.

Cwan Wi sendiripun agak kikuk, tiba-tiba panggilnya dengan suara tergagap.

"Ji.... Ji-ko...."

Mula-mula Hoa In-liong agak tertegun, menyusul kemudian ia bersorak gembira.

"Betul! Kau musti panggil jiko kepadaku, ayoh panggillah sekali lagi....!"

Sebagai seorang laki laki yang berjiwa besar dan berhati jujur, tak pernah suatu kesalahan atau suatu kejengkelan disimpan terus dalam hati, maka dari itu setelah mendengar panggilan "jiko"

Dari Cwan Wi yang diucapkan dengan nada takut-takut, semua kemurungan dan kekesalan yang semula menyelimuti benaknya seketika tersapu lenyap dari dalam benaknya.

Entah apa sebabnya tiba-tiba paras muka Cwan Wi berubah jadi merah padam seperti kepiting rebus.

Bukan saja ia tidak melanjutkan panggilan tersebut, malah sebaliknya menundukkan kepalanya rendah-rendah.

Hoa In-liong segera tertawa tergelak.

"Haa.... haa.... Coba lihat tampangmu, apanya yang perlu kau malui? Bukankah kau sebut toako kepada kakakku? Maka semestinya kau memang harus sebut Jiko kepadaku! Terus terang kuberitahukan kepadamu, aku Jiko paling romantis dan paling hangat dalam pergaulan. Asal aku sebut Jiko kepadaku, selama hidup aku tak bakalan menderita kerugian"

Ketika selesai mendengar upacara tersebut paras muka Cwan Wi berubah semakin marah lagi dan kepalanya juga tertunduk semakin rendah, hingga sekarang jelas terlihat betapa merahnya semua tengkuk dan telinga gadis itu.

Rupanya Hoa In-liong agak terlena menyaksikan keadaan dari rekannya, dengan perasaan apadaya dia gelengkan kepalanya berulang kali.

"Yaa.... Bagaimanapun juga masih seorang bocah"

Gumamnya dengan kening berkerut.

"Takut mula, tak berani angkat kepala.... Yaa.... Bagaimana lagi? Pokoknya lain kali kau musti sebut Jiko terus kepadaku...."

Sesudah berhenti sebentar, tiba-tiba sambungnya kembali.

"Mungkin mengucapkan sesuatu kepadaku, bukankah begitu....? Cepat katakan!"

Engkau hendak Cwan Wi manggut-manggut tanda membenarkan setelah merenung sejenak hingga warna merah yang menghiasi wajahnya lenyap semua, dia baru menengadah seraya berkata.

"Jiko, tentunya kau tak akan memenuhi janjimu dibukit Yan-san bukan....?"

Hoa In-liong mengernyitkan alis matanya, diam diam ia berpikir didalam hati.

"Barusan saja pembicaraan berlangsung baik sekali, kenapa begitu cepat pikirannya berubah?"

Meski dalam hati berpikir demikian, diluaran dia pun bertanya dengan nada keheranan.

"Kenapa?"

"Tidak karena apa-apa. Anggaplah sebagai suatu permohonan dariku, tentunya engkau bersedia mengabulkan permintaanku itu bukan?"

Hoa In-liong tertegun.

"Saudaraku dengarkan dulu perkataanku"

Katanya kemudian.

"Cinta adalah ciita, setia kawan adalah setia kawan. Aku menyanggupi dirimu adalah karena cinta. Sedang kupenuhi janjiku dibukit Yan-san adalah setia kawan. Sebagai manusia yang hidup diantara masyarakat, kita harus dapat membedakan antara cinta dan setia kawan dengan jelas. Sekarang aku ingin bertanya kepadamu, apakah engkau masih hendak memohon kepadaku agar membatalkan janjiku dibukit Yan-san?"

Sekali lagi Cwan Wi tersudut hingga tak mampu memberikan jawaban yang tepat, ia semakin gelisah.

"Bukan demikian.... Hal ini adalah maksud hati dari Toako. Toako berkata begini...."

"Siau.... sauya!"

Tiba-tiba Leng-ji berteriak lengking.

Cwan Wi segera menyadari kembali kesilapannya sehingga hampir saja bicara telanjur, cepatcepat ia menutup mulutnya kembali membatalkan niatnya untuk berbicara lebih jauh.

Betapa heran dan tercengangnya Hoa In-liong melihat sikap rekannya.

Sebentar ia memandang kearah Leng-ji, sebentar lagi memandang kearah Cwan Wi, kemudian bertanya.

"Sebetulnya apa yang telah terjadi, apa yang sebenarnya telah dikatakan oleh Toako?"

"Toako.... Toako...."

Cwan Wi semakin tergagap sampai tak mampu melanjutkan kata katanya. Leng-ji yang berada disamping dengan cepat menyambung kata-kata tersebut.

"Toa kongcu bilang, jikalau Ji-koancu tetap bersikeras dengan pendiriannya, tak dapat diajak berbicara yang benar, maka kami diperintahkan sagera kembali kekota Kim-leng dan jang...."

"Leng-ji....!"

Bentak Cwan Wi dengan suara yang nyaring. Leng ji berpaling serta melemparkan sebuah kerlingan yang penuh mengandung arti, lalu melanjutkan kembali kata katanya.

"Apa yang Leng-ji ucapkan adalah kata-kata yang sejujurnya! Sauya, lebih baik kita kembali dulu ke kota Kim-leng!"

Hoa In-liong tidak sempat memperhatikan kerlingan mata dari kacung buku itu.

Ketika didengar Leng-ji membantu dia menganjurkan Cwan Wi agar pulang dulu ke kota Kim-leng, cepat-cepat dia menambahkan pula.

"Betul! Lebih baik kita ikuti saja rencana semula. Kalian berangkat lebih duluan dan aku akan menyusul dari belakang"

Leng-ji lah pertama-tama yaog bangkit berdiri lebih dahulu, katanya kembali.

"Sauya, mari kita berangkat! Banyak bicara juga tak ada gunanya, buat apa kita musti bercokol terus tanpa hasil disini?"

Cwan Wi merenung sebentar, sepertinya ia merasa bahwa perkataan Leng-ji memang masuk di akal, akhirnya diapun ikut bangkit berdiri.

"Baiklah, mari kita berangkat lebih duluan!"

Ka tanya. Ia berpaling ke arah Hoa In-liong. Sambil menatap wajahnya kembali ia berkata dengan nyaring.

"Jiko, aku akan berangkat lebih duluan. Aku harap engkau suka berhati-hati dalam perjalananmu memenuhi janji di bukit Yan-san"

Sewaktu mengucapkan kata-kata tersebut, sikap jengah dan rikuhnya sudah tersapu lenyap tak membekas, sebagaimana semula sikapnya kembali supel, gagah dan menawan.

Hoa In-liong jadi rada lega setelah mengetahui tak ada orang menghalangi niatnya lagi.

Ia bangkit berdiri derigan wajah berseri, katanya sewaktu menghantar kepergian orang.

"Saudara Cwan memang tak malu disebut seorang manusia yang tahu diri. Siau heng merasa sangat beruntung dapat berkenalan dengan dirimu! Bicara terus terangnya saja, andaikata perjumpaan kita tidak berada dalam suasana yang kurang menguntungkan, siau heng benar-benar merasa sedikit berat hati untuk berpisah dengan dirimu"

Paras muka Cwan Wi secara aneh terhias kembali oleh warna semu merah.

Cuma waktu itu dia sudah memutar tubuhnya sambil beranjak pergi.

Dengan demikian Hoa In-liong tak sempat menyaksikan perubahan wajahnya itu.

Terdengar ia berkata dengan suara yang merdu dan nada yang nyaring.

"Kita bukan putra-putri masyarakat biasa. Aku rasa kata-kata sungkan juga tak perlu diutarakan lagi. Terus terangnya saja kukatakan, aku selalu mengkuatirkan kelicikan, kebuasan serta kebuasan orang-orang Mokauw. Sedang Jiko adalah seorang kuncu, seorang lelaki sejati yang jujur dan polos. Kuatirnya jika kau bertindak sedikit gegabah, yaa.... akibatnya kau akan menyesal sepanjang jaman!"

Hoa In-liong tertawa tergelak.

"Haa.... haa.... Selama hidup siau-heng belum pernah menjumpai kejadian yang membuat hatiku menyesal harap saudara Cwan bersedia melegakan hatimu"

"Tapi lebih berhati-hati toh ada baiknya juga?"

"Terima kasih banyak atas perhatian saudara Cwan. Siau-heng akan mengingat pesanmu itu"

Sahut Hoa In-liong sambil mengangguk berulang kali. Begitulah, mereka berdua sambil berjalan sambil berbicara, siapapun tidak menyinggung katakata "selamat tinggal"

Atau "tak usah dihantar lebih jauh".

Meski hanya berpisah untuk sementara waktu, namun perasaan berat hati yang terpancar diwajah kedua belah pihak terlihat amat tebal, cuma rasa berat hatinya itu tidak sampai diutarakan keluar lewat kata-kata.

Sesaat kemudian mereka sudah tiba diluar pintu gerbang rumah makan Cwan-seng-lo, Leng-ji rada tidak sabaran lagi, tiba-tiba selanya.

"Ji-kongcu, harap kau kembali! Daripada menghantar terus menerus, kenapa tidak melakukan perjalanan bersama-sama saja?"

Dengan wajah tertegun Hoa In-liong menghentikan langkahnya, kemudian tertawa terbahakbahak.

"Haa. Haa.... haa.... Baik.... Baik.... Tidak akan menghantar lagi.... Tidak akan menghantar lagi. Baik-baik dijalan saudara Cwan, jaga diri baik-baik!"

Dengan agak tersipu Cwan Wi melambaikan tangannya sambil berbisik.

"Selamat tinggal!"

Kemudian dengan langkah lebar ia berlalu dari kota Ci-tin tersebut.

Sepeninggal Cwan Wi berdua, Hoa In-liong menengadah memandang cuaca.

Ia lihat sang surya sudah tenggelam dibalik bukit, senjapun telah menjelang tiba, maka ia naik kembali keloteng dan buru buru bersantap untuk mengisi perut.

Selesai membereskan rekening pemuda inipun berangkat meninggalkan kota Ci-tin.

Disuatu tempat yang sepi dihukit utara gunung Yan-san, anak muda itu duduk bersemedi untuk menyusun kembali kekuatannya.

Tatkala hari sudah gelap, ia baru melakukan perjalanan cepat mendaki bukit Yan-san....

Bekas markas Tong thian-kau tempo dulu letaknya berdekatan dengan puncak bukit.

Hoa Inliong membutuhkan waktu selama satu setengah jam untuk mencapai tempat tersebut.

Markas itu boleh disebut luas dan lebar.

Tapi lantaran sudah banyak tahun tidak dihuni manusia, sebagian besar bangunan itu sudah roboh dan berubah jadi puing-puing yang berserakan.

Apalagi bila malam menjelang tiba, tikus berlarian ke sana kemari mencari makanan.

Suasana yang sepi, dan gelap itu mendatangkan perasaan yang seram bagi siapapun yang melihatnya, bahkan bulu romapun tanpa terasa ikut berdiri tegak.

Semula Hoa In-liong menduga Hong Seng sekalian pasti bercokol dibekas markas itu untuk melepaskan lelahnya.

Siapa tahu meski puing-puing bekas gedung itu sudah diperiksa beberapa kali dengan hati-hati, tak sesuatu apapun berhasil ditemukan.

Bahkan bekas pernah disinggahi orang pun tidak nampak.

Oleh sebab itu, ia mulai sangsi dan ragu-ragu....

Waktu itu, ia berdiri ditengah sebuah ruangan kuil yang atapnya telah ambruk.

Sambil memandang puncak bukit yang gelap nun jauh diujung sana, diam-diam anak muda itu berpikir.

"Masa mereka tidak datang kemari? Atau mungkin akulah yang salah datang....? Kalau tidak, tentulah Wan Hong-giok bertindak sangat cermat dan rahasia, karena itu dia sudah mengatur segala sesuatunya hinga tempat ini sunyi senyap....?"

Pelbagai kecurigaan dan rasa sangsi berkecamuk dalam benaknya, ia kuatir kalau salah tempat.

Sebentar dia berharap Hong Seng sekalian tidak mengetahui kejadian ini, sehingga Wan Hong giok dengan leluasa dapat meloloskan diri dari pengawasan mereka dan seorang diri datang memenuhi janjinya dengan dia.

Bahkan dia pun menaruh curiga bahwa Wan Hong-giok sudah tertimpa nasib malang hingga tak dapat memenuhi janjinya lagi.

Puncak bukit yang gelap di ujung depan sana seakan akan berubah jadi sebuah pintu besi dari sebuah kurungan yang siap menanti kedatangannya untuk masuk jebakan.

Berpikir sejenak kemudian, tiba-tiba ia bergumam seorang diri.

"Aaaai....perduli amat! Kalau itu rejeki sudah pasti bukan bencana, kalau itu bencana dihindar, juga tak mungkin bisa...."

Gumamnya terpotong setengah jalan, secepat sambaran petir ia meluncur maju ke depan.

Bagaimanapun juga Hoa In-liong adalah seorang keturunan pendekar besar.

Seorang laki laki yang tidak mengenal arti takut.

Seorang pemuda yang tidak mengenal jiwa pengecut.

Akhirnya dengan suatu kecepatan yang luar biasa ia meluncur ke arah puncak bukit.

Meski demikian, pemuda itu tidak bertindak gegabah.

Ia sama sekali tidak mengurangi rasa waswasnya meski benaknya dipenuhi oleh keraguan dan kecurigaan.

Waktu itu tengah malam baru saja lewat, ia manfaatkan sisa waktu yang masih tersedia untuk melakukan pemeriksaan yang seksama dengan menelusuri sekitar tanah perbukitan tersebut.

Makin lama puncak bukit itu semakin dekat, akkhirnya sampailah pemuda itu di puncak tersebut, Tempat itu adalah sebuah tanah berumput yang datar, rumputnya amat jarang sehingga susah bagi seseorang untuk menyembunyikan diri dibalik semak belukar tersebut.

Meski begitu bayangan tubuh dari Hong Seng sekalian masih belum juga kelihatan, apalagi bayangan tubuh dari Wan Hong-giok.

Kembali pemuda itu menelusuri tanah lapang itu dengan penuh kesabaran sambil melakukan pemeriksaan pikirnya.

"Tiada kesempatan untuk melepaskan diri ataukah ia sudah ketahuan jejaknya sehingga ditahan mereka? Kalau tidak begitu kenapa belum tampak juga bayangan tubuhnya disekitar sini?"

Pikir punya dikir, tiba-tiba satu ingatan yang sangat menakutkan melintas dalam benaknya, tak kuasa lagi dia menjerit kaget.

"Aduuh celaka!"

Dengan suatu gerakan tuhan yang cekatan ia memutar tubuhnya ke belakang dan siap melayang pergi dari situ.

Sayang seribu kali sayang, meskipun Hoa In-liong cekatan dan pintar, tindaknya ini dilakukan selangkah lebih terlambat.

Terdengarlah suara tertawa seram yang mengerikan berkumandang silih berganti dari sekeliling tempat itu.

Suara tersebut keras dan memekakkan telinga ini membuat Hoa In-liong berpaling ke empat penjuru dengan hati yang bergetar keras.

Delapan-sembilan sosok bayangan manusia pelan-pelan munculkan diri dari tepi tanah lapang berumput itu.

Kebetulan pula waktu itu tengah malam baru menjelang, lagipula tanggal sembilan belas, rembulan yang purnama baru saja muncul dari arah timur dan menerangi seluruh jagad, ia terjebak....

Diantara delapan-sembilan orang itu, tiga orang diantaranya adalah orang tionggoan.

Siau Khi-gi adalah salah satu diantara ketiga orang itu.

Sisanya adalah laki-laki yang berdandan pendeta bukan pendeta, imam bukan imam dengan jubah lebar warna kuning.

Mereka semua adalah orang-orang Mo-kauw.

Hong Seng berada disudut paling barat.

Siang tadi Hoa In-liong pernah berkata.

"Selama hidup tak pernah merasakan menyesal" . Meski sekarang dia rada kaget dengan kejadian yang dihadapinya, tidak berarti dia menyesal. Diapun tidak menunjukkan rasa gugup atau kelabakan. Setelah mengamati keadaan yang sebenarnya, diam-diam ia mempertimbangkan situasi dan mengambil keputusan. Ia tahu saat itu Hoa Seng sudah bukan menjadi pemimpin dari rombongan itu. Pemimpin rombongan yang sekarang adalah kakek jangkung, kurus dan bermuka menyeramkan itu, sebab ikat pinggang yang dikenakan kakek itu paling istimewa. Bentuknya berbeda sekali jika dibandingkan ikat pinggang orang lain. Ia memakai sebuah ikat pinggang perak yang berukiran seekor naga perkasa. Bukan panik atau bingung, pemuda itu merasakan suatu ketenangan yang luar biasa, pikirnya dalam hati.

"Ya, sekarang aku tahu, semula mereka terdiri dari tiga rombongan. Tapi untuk menghadapi diriku, disaat terakhir telah bergabung jadi satu dengan kakek berwajah seram ini memang pucuk pimpinan. Kalau begitu ilmu silat yang dimiliki kakek itu pasti jauh lebih lihay jika di bandingkan Hong Seng sekalian. Kali ini aku tak boleh bertindak gegabah sehingga kena dipecundangi mereka!"

Berpikir sampai disitu, rombongan musuh sudah makin dekat menghampiri dirinya.

Mereka membentuk posisi mengurung dan ia sebagai sasaran pengepungan tersebut.

Hong Seng tertawa seram, tampak sambil menyeringai dia mengejsk sinis.

"Hee.... hee.... hee.... Hoa kongcu konon aku dengar engkau adalah seorang pemuda yang romantis, dimana saja menaburkan bibit cinta. Setelah kubuktikan sendiri, ternyata memang kuakui bahwa kabar tersebut bukan kabar kosong belaka"

Laki-laki berjubah kuning yang pernah dikutungi pergelangan tangannya berseru pula dengan penuh kebencian.

"Hmm....! Sayang datangnya gampang perginya susah. Sekalipun mempunyai birahi cinta setinggi bukit juga tak ada gunanya, buat apa musti diributkan lagi?"

Siau Khi-gi memutar biji matanya yang licik dan ikut menimbrung dari samping.

"Itulah yang disebut orang mampus dibawah bunga Botan, jadi setanpun setan romantis. Sepanjang hidup bermain cinta terus, jadi setanpun watak itu tak akan berubah"

Ejekan demi ejekan yang dilontarkan tiga orang musuhnya itu sama sekali tak digubris Hoa Inliong. Ia malah berpaling kearah kakek bermuka seram itu dan memberi hormat kepadanya.

"Boleh aku tahu siapakah nama saudara?"

Sapanya.

"Aku adalah Hu-yan Kiong!"

Hoa In-liong manggut-manggut.

"Tolong tanya, Wan Hong-giok sekarang berada dimana?"

Seperti juga tampang wajahnya yang sinis, jawaban Hu-yan Kiong tak sedap didengar.

"Untuk sementara waktu, jiwanya tak sampai kabur ke akhirat!"

Diam-diam tercekat juga hati Hoa In-liong sehabis mendengar jawaban tersebut, segera pikirnya.

"Orang ini betul-betul seorang musuh yang hebat dan lihay. Yaa, tampaknya pertempuran sengit tak dapat kuhindari lagi"

Dalam hatu berpikir demikian, diluar katanya "Dapatkah aku berjumpa, muka dengan dirinya?

Hu-yan Kiong tidak menjawab, ia cuma bertepuk tangan tiga kali.

Tiba-tiba dari balik tanah lapang muncul dua orang manusia.

Kedua orang itu menggotong sebuah tandu.

Diatas tandu berbaringlah seseorang yang tubuhnya ditutupi secarik kain hitam segingga kelihatanlah rambutnya yang awut-awutan.

Ketika diamati lebih seksama, ternyata orang itu adalah Wanggiok.

"Letakkan keatas tanah dan singkirkan kain hitam yang menutupi badannya"

Perintah Hu-yan Kiong tengah membentak.

Dua orang itu segera membaringkan tandu itu ke tanah dan menyingkap kain hitam yang menutupi diatasnya.

Begitu kain hitam tersingkap.

Hoa In-liong amat terkejut sehingga hampir saja menjerit kaget Ternyata Wan Hong-giok berbaring diatas tandu dengar mata terpejam rapat, muka pucat pias.

Tubuhnya hanya mengerakan kutang merah dan cawat kecil menutupi bagian kewanitaannya.

Tubuh yang dulunya begitu putih, begitu montok sekarang tinggal kulit pembungkus tulang.

Bahkan diatas dada dan pahanya ditempeli makhluk-makhluk beracun seperti ular, kalajengking, kelabang, laba-laba dan aneka macam makhluk lain yang bentuknya aneh dan tak diketahui apa namanya.

Yang pasti semuanya berbentuk aneh, berbentuk seram dan bikin bulu roma pada bangun berdiri.

Hal ini benar-benar suatu kejadian yang mengerikan, suatu siksaan kejam yang tak mengenal peri kemanusiaan.

Merah berapi-api sepasang mata Hoa In-liong menyaksikan kejadian itu.

Darah panas serasa mendidih dalam tubuhnya.

Begitu gusarnya pemuda itu sehingga dia menengadah dan tertawa seram.

Suaranya bergetar sampai ke ujung langit, tapi suara itu lebih mirip kalau dikatakan sebagai suara tangisan yang memilukan hati.

Hu-yan Kiong segera mendengus dingin.

"Hmmmm! Engkau tak usah jual lagak lagi dihadapanku, mau apa tertawa terus macam orang edan?"

"Sungguh keji hati kalian semua! Sungguh buas dan busuk hati kamu semua! Siksaan semacam ini suatu ketika pasti akan kalian alami sendiri"

Teriak Hoa In-liong dengan nada yang memilukan hati.

"Wan Hong-giok sudah kenyang disiksa dan dihina, masih belum cukupkah penderitaan yang harus dia alami? Kenapa kalian tidak mengenal peri kemanusiaan? Kenapa kalian hukum dirinya dengan cara yang begitu kejam?"

Hu-yan Kiong mengejek dingin.

"Hmmm.... Perempuan ini pura-pura takluk kepada kami, tapi nyatanya ia jadi mata-mata. Ia menyelidiki rahasia perkumpulan kami jangan kau anggap "

Pekseng-siau-goan " (seratus malaikat menyembah yang mulia) adalah siksaan kejam.

Perkumpulan kami, masih mempunyai siksaan lain yang jauh lebih keji dari itu.

Lebih baik engkau sedikit tahu diri dan segera menyerahkan diri.

Ikutilah lohu berkunjung ke Seng-sut-hay....

Ketahuilah jika engkau tak tahu diri, maka siksaan kejam yang kau saksikan itu akan segera menimpa dirimu"

Setajam sembilu Hoa In-liong menatap wajah lawannya, kembali ia menjerit.

"Ayohlah, lakukan padaku! Kau anggap aku orang she Hoa takut? Sudah lama aku orang she Hoa mendengar tentang ilmu Hiat-teng-toh-hoat mu itu, ayohlah! Lakukan kepadaku"

Hu-yan Kiong tertawa angkuh.

"Yaa memang hiat-teng-toh-hun adalah ilmu maha sakti dari perkumpulan kami. Tapi dengan kepandaian yang kau miliki, rasanya kepandaian tersebut tak perlu kulakukan atas dirimu"

Sementara itu Hoa In-liong telah sadar.

Setelah ia terjatuh ke dalam perangkap lawan, untuk suatu penyelesaian secara damai jelas tak mungkin.

Dalam keadaan demikian, satu-satunya jalan yang dapat ditempuhnya adalah mengandalkan ilmu silat masing masing untuk menentukan siapa lebih tangguh.

Sebagaimana lazimnya, dengan cepat pemuda itu mengambil keputusan, katanya dengan suara berat.

"Bila aku orang she Hoa suruh kalian menarik kembali makhluk-makhluk beracun dan lepaskan Wan Hong-giok, keadaan tersebut ibaratnya aku sedang berbicara dengan kerbau, sama sekali tak ada gunanya. lebih baik turun tangan saja cepat-cepat!"

Tak dapat diragukan lagi Hu-yan Kiong adalah seorang manusia yang angkuh dan tinggi hati. Mendengar jawaban tersebut, dia lantas berpaling dan ulapkan tangannya kepada Hoag Seng seraya berseru.

"Tangkap dia!"

Hong Seng mengiakan, ia lantas melepaskan ikat pinggangnya dan maju kedepan dengan langkah lebar, katanya.

"Tempo hari kau berhasil kabur lantaran Wan Hong-giok telah membantu dirimu. Tapi kali ini kau tidak akan memperoleh kesempatan macam seperti itu lagi. Berhatihatilah, daripada lengan dan tulang kakimu jadi luka"

Dalam pada itu Hoa In-liong sendiri telah mengambil keputusan untuk menyelesaikan persoalan itu dengan suatu pertempuran kilat.

Ia sendiripun segan banyak bicara.

Pedang yang tersoren dipinggang segera dicabut keluar.

Kemudian sambil melangkah maju, pedangnya berputar kesamping kiri dan menusuk ke depan.

Serangan tersebut mantap dan berat.

Jurus yang digunakan adalah salah satu dari Hoa-si ciongkiam-cap-lak-sin-cau (enam belas jurus sakti pedang berat keluarga Hoa).

Desingan angin serangannya tajam, kuat dan menggetarkan sukma.

Hong Seng tak berani berayal, seketika itu juga dia membalas membentak.

Ikat pinggangnya digetlarkan sekeras tongkat, kemudian membacok ke muka melepaskan serangkaian serangan balasan.

Hong Seng adalah saudara kandung dari Hong Liong, murid tertua dari Tang Kwik-siu itu cikal bakal dari Mo-kauw.

Meski demikian, ilmu silatnya juga hasil didikan langsung dari Tang Kwik-siu pribadi.

Sejak pertarungannya dikuil Cing-siu-koan tempo hari itu, dimana nyaris dia dikalahkan oleh Hoa In-liong, sampai sekarang rasa dendam dan gusarnya masih belum lenyap.

Maka ketika mendapat perintah untuk melenyapkan Hoa In-liong dalam pertarungan saat ini, selain melaksanakan tugasnya, diapun hendak membentak musuhnya untuk dibikin perhitungan.

Tak heran kalau begitu terjun kedalam gelanggang dia lantas melakukan serangan dengan jurus serangan terampuh dan terdahsyat.

Pertarungan antara jago-jago tangguh biasanya berlangsung dengan kecepatan luar biasa.

Dalam waktu singkat kedua belah pihak telah saling bergebrak sebanyak belasan jurus.

Sekalipun baru belasan gebrakan, tapi menang kalah dengan cepat dapat terlihat dengan jelas.

Haruslah diketahui, ilmu Hoa-si-ciong-kiam-cap lak-sin-cau tersebut merupakan seatu hasil ciptaan ilmu pedang tinggi dari Hoa Thian-hong setelah ia berhasil melebur isi dari kiam keng suatu kitab pedang yang luar biasa saktinya dengan rumus kiam-keng-bu-kui.

Hoa In-liong berniat melangsungkan pertarungan cepat, maka begitu turun tangan ia gunakan ilmu pedang yang paling sakti dan paling ampuh untuk meneter musuhnya.

Hong Seng sendiri, walaupun dia adalah murid Tang Kwik-siu.

Walaupun ia berjuang dengan segala kemampuan yang dimilikinya, tapi waktu itu tampaklah jelas betapa terdesaknya dia di bawah serangan musuh.

Dia kelihatan keteter hebat dan repot untuk menangkisi setiap serangan yang ditujukan kearahnya....

Hu-yan Kiong berdiri di tepi gelanggang sambil mengikuti jalannya pertarungan itu, ketika disaksikan bagaimana lihaynya Hoa In-liong melancarkan serangannya dengan tenaga dalam yang sempurna, hingga membuat mata serasa berkunang-kunang, hatinya jadi tercekat dan bergidik keras....

Lain halnya dengan jalan pikiran Hoa In-liong ketika itu.

Sembari melepaskan serangkaian serangan yang gennesr, dia mulai berpikir dalam hati.

"Mereka berjumlah banyak, jika aku harus melayani belasan jurus untuk setiap orangnya, sampai kapan pertempuran ini baru selesai?"

Berpikir demikian, serangan pedangnya tiba-tiba dikendorkan, sengaja ia tunjukkan titik kelemahannya dan membiarkan musuh manfaatkan kesempatan tersebut.

Waktu itu Hong Seng sedang terdesak hebat dan cuma bisa bergerak kekiri dan kanan untuk menghindarkan diri.

Menyaksikan kejadian tersebut ia jadi terkejut bercampur gembira, segera bentaknya.

"Kena!"

Ikat pinggangnya diputar kencang lalu menyapu ke depan, langsung membacok dada Hoa Inliong.

Hu-yan Kiong yang menjumpai keadaan tersebut jadi tercekat hatinya, ia menjerit kaget, lalu secepat sambaran petir menerjang masuk kedalam arena.

Maksudnya dia mau menyelamatkan jiwa Hong Seng.

Apa mau dibilang perubahan itu terjadinya sangat mendadak, apalagi gerakan pedang dari Hoa In-liong melintas dengan kecepatan luar biasa, jelas usahanya itu tak sempat lagi.

Terdengar Hong Seng menjerit ngeri, darah segar berhamburan memenuhi seluruh udara.

Tahutahu batok kepalanya sudah berpisah dari tengkuknya dan menggelinding jauh sekali dari arena.

Diiringi semburan darah segar tewaslah iblis tersebut.

Sebetulnya Hoa In-liong tidak berniat membunuh orang, ia kuatir perbuatannya akan merupakan "memukul rumput mengejutkan ular"

Dan membangkitkan sifat buas dari orang-orang Mo-kauw akan mengakibatkan terciptanya badai pembunuhan yang jauh lebih keji.

Tapi setelah kenyataan berada didepan mata, ia tak dapat mengendalikan perasaannya lagi.

Akhirnya ia bunuh juga tokoh sakit dari perkumpulan Mo-kauw itu, Baru pertama kali ini dia membunuh orang sejak dilahirkan didunia.

Jeritan lengking yang menyayatkan hati itu seketika membuat dia jadi tertegun dan berdiri melongo.

Pada hakekatnya siksaan keji yang dialami Wan Hong-giok lah yang membangkitkan rasa dendamnya itu.

Coba sekujur badan gadis itu tidak dirambati oleh pelbagai jenis makhluk bercampur hingga membuat keadaannya betul-betul mengerikan, mungkin ia tak sampai metigambil tindakan tersebut.

Waktu itu kebetulan Hu-yan Kiong yang sedang berusaha menyelamatkan jiwa rekannya menerkam datang.

Menyaksikan kejadian itu darah panas, kembali bergolak dalam benak anak muda kita.

Pedangnya segera diayun ke atas menyongsong datangnya serudukan tersebut.

Semenjak dilarikan didunia, belum pernah Hoa In-liong menjadi gusar dan kalap seperti apa yang dialaminya sekarang.

Waktu itu dia hanya merasa hawa amarah bergolak dalam benaknya.

Darah dalam tubuhnya serasa mendidih, sambil putar pedangnya ia membentak lagi.

"Mampus kau manusia terkutuk!"

Bacokan tersebut menggunakan jurus Lek-pit-hoa-san (membacok gugur bukit Hoa-san).

Walau hanya satu jurus serangan biasa, tapi hawa pedang yang terpancar keluar ibaratnya cahaya kilat yang menyambar-nyambar, begitu cepat, begitu berat bikin hati orang mengkirik.

Hu-yan Kiong cukup mengetahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki musuhnya amat lihay, apalagi setelah menyaksikan bacokan pedangnya yang begitu bertenaga, ia semakin sadar bahwa kepandaian yang dimiliki anak muda itu tak boleh dianggap enteng.

Dalam gugupnya, ikat pinggang berwarna perak itu dilontarkan kemuka untuk menghalau datangnya ancaman tersebut.

"Criiing....!"

Ditengah dentingan nyaring yang memekakkan telinga, pedang dan ikat pinggang itu saling membentur satu sama lainnya hingga menimbulkan percikan bunga api.

Kedua orang itu samasama bergetar keras dan masing-masing mundur satu langkah lebar ke belakang.

Dalam gusar dan mendongkolnya, kecerdikan otak Hoa In-liong tidak menjadi berkurang.

Ia sudah berpikir, kematian Hong Seng berarti membuat ikatan dendam diantara mereka semakin dalam atau mungkin keadaannya sudah mencapai ibaratnya api dan air yang tak mungkin bisa akur Maka setelah berpikir sebentar, ia merasa keadaan tersebut harus diatasi dengan siasat "membasmi bajingan, bekuk pemimpinnya lebih dulu."

Bukannya mundur ke belakang, dia malah menerjang maju lebih ke depan, sekali lagi ia lancarkan sebuah bacokan maut.

"Mampus kau! Mampus kau! Mampus kau!"

"Criing! Criiing! Criiing!"

Secara beruntun benturan demi benturan nyaring berkumandang memekakkan telinga.

Suatu benturan itu bergabung dengan suara bentakan demi bentakan macam orang kalap itu mencabik-cabik keheningan malam yang mencekam bukit itu.

Suaranya betul-betul mengerikan hati, membuat perasaan orang bergetar keras.

Serangkaian serangan berantai yang mendesak secara beruntun ini seketika itu juga mendesak Hu-yan Kiong sampai mundur berulang kali dengan bulu kuduk pada bangun berdiri.

Berbicara soal tenaga dalam, mungkin Hoa In-liong masih bukan tandingannya.

Tapi bacokan demi bacokan pedangnya yang dilancarkan secara beruntun membuat dia kehilangan posisi yang baik.

Ini menyebabkan ia kehilangan sama sekali daya kemampuannya untuk melancarkan serangan balasan.

Tiba-tiba kakinya tergaet oleh sepotong batu gunung yang mengakibatkan tubuhnya terjengkang dan robob terlentang diatas tanah.

Hoa In-liong maju kemuka seraya melepaskan sebuah bacokan lagi.

Ini membuat hatinya jadi ketakutan setengah mati, cepat-cepat ia menggelinding kesamping untuk menghindarkan diri.

"Tahan!"

Bentaknya keras-keras.

Bentakan tersebut diutarakan dengan suara yang nyaring bagaikan guntur membelah bumi disiang hari bolong.

Seketika itu juga Hoa In-liong dibikin tertegun dan menarik kembali pedang antiknya.

Keadaan Hu-yan Kiong betul-betul mengenaskan sekali.

Mukanya menyeringai seram, matanya melotot sebesar gundu dengan sinar buas yang bikin orang berkidik, kembali bentaknya.

"Lohu toh tidak bermaksud membunuh engkau kenapa kau begitu nekad untuk bikin susah diriku? Memangnya kau sudah bosan hidup di dunia ini?" . Hoa In-liong sudah bermandi peluh, tapi sahutnya juga dengan nada berat.

"Mati atau bidup manusia berada ditangan Thian, kenapa aku musti takut mati? Tarik kembali semua makhlukmakhluk beracunmu, lepaskan Wan Hong-giok, akupun akan biarkan kau pergi dari sini. Tapi kalau kau menampik, terpaksa aku orang she Hoa harus pertaruhkan selembar nyawaku untuk mencabut jiwa anjingmu"

Hu-yan Kiong menyeringai makin seram bentaknya.

"Engkau sendiri yang mencari penyakit, jangan salahkan lohu bertindak keji, lihat serangan!"

Telapak tangan kanannya segera di ayun ke muka, seakan-akan ada senjata rahasia sedang ditimpuk ke arahnya.

Hoa In-liong terkesiap, diamatinya serangan musuh dengan seksama, namun tak sesuatu apapun yang tampak.

Mula-mula dia agak tertegun, menyusul kemudian sambil tertawa tergelak dia berkata.

"Haa.... haa.... haa.... Tampangnya saja sudah tua, tak tahunya berhati kekanak kanakan, main tipu juga seperti bocah"

Tapi sebelum kata-kata itu sempat di utarakan sampai selesai, ia sudah menguap beberapa kali.

Ketika dilihatnya pemuda itu menguap beberapa kali, Hu-yan Kiong menyeringai makin seram, pelan-pelan dia menuju ke depan sambil katanya kembali.

"Bocah muda, kau terlampau binal dan sukar diatur. Lohu segan untuk bertarung melawan dirimu, ayoh ikuti lohu dengan tenang!"

Hoa In-liong kembali menguap beberapa kali, tiba-tiba ia merasa dadanyaamat sakit, menyusul kemudian kepalanya pusing tujuh keliling, hampir saja roboh terjengkang.

Keyataan ini membuat anak muda tersebut merasa amat terperanjat, dengan gusar teriaknya.

"Kau.... kau.... Permainan gila apa yang telah kau lakukan terhadap diriku?"

Hu-yan kiong tertawa dingin.

"Itulah siksaan Sin-hui-sim (ular sakti menggigit) perkumpulan kami. Jika engkau tak mau ikuti lohu dengan rela, maka kau akan merasakan suatu penderitaan yang luar biasa hebatnya"

Hoa In-liong betul-betul naik darah.

Pedangnya langsung diayunkan kemuka melancarkan sebuah bacokan maut.

Siapa tahu sebelum serangan tersebut mencapai pada sasarannya, ia merasakan datangnya teramat sakit sehingga badannya jadi sempoyongan.

Akhirnya ia tak kuasa menahan diri lagi dan roboh tak sadarkan diri diatas tanah.

Hu-yan Kiong tertawa seram, ia maju ke muka, lengan kanannya digetarkan ke depan mencengkeram pada anak muda itu.

Tampaknya anak muda tersebut segera akan terjatuh ke tangan musuh....

Tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring yang penuh dengan kegusaran berkumandang datang dari tengah udara.

"Tahan!"

Bersamaan dengan menggelegarnya bentakan itu, seorang sastrawan muda berbaju putih melayang turun di atas puncak itu dengan kecepatan luar biasa, ia langsung menerjang diri Huyan Kiong.

Sastrawan muda berbaju putih itu bukan lain adalah Cwan Wi yang telah berpisah di rumah makan dalam kota Kim-leng siang tadi.

Bukankah Cwan Wi telah berpamitan akan pulang ke kota Kim-leng?

Mengapa dia bisa muncul kembali dipuncak bukit Yan-san?

Duri sini dapatlah kita ketahui bahwa kepergiannya tadi hanya sebagai alasan belaka.

Nyatanya secara diam-diam ia telah menguntil terus dibelakang pemuda kita.

Kemunculannya benar-benar dilakukan dengan kecepatan yang luar biasa.

Kecepatan tersebut jarang dijumpai dalam dunia persilatan dewasa ini.

Ketika Hu-yan Kiong menyadari akan datangnya sergapan tersebut, tahu-tahu segulung angin pukulan yang maha dahsyat telah tiba dibelakang punggungnya.

oooOOOooo HU-YAN KIONG betul-betul terperanjat oleh datangnya ancaman tersebut.

Tak sempat berpaling lagi, cepat-cepat ia menutul permukaan tanah dan kabur ke muka untuk menghindarkan diri dari serangan tersebut, kemudian bentaknya.

"Siapa disitu?"

Cwan Wi tidak menggubris teguran tadi, diapun tidak menyusul musuhnya, tapi segera menubruk diri Hoa In-liong sambil panggilnya dengan nada kuatir.

"Ji-ko"

Mendengar panggilan itu, diam-diam Hu-yan Kiong merasa terperanjat, cepat pikirnya.

"Masa ilmu silat dari putra putri keluarga Hoa rata rata sudah mencapai taraf yang demikian tingginya?"

Berpikir sampai disitu, dia lantas putar badan sambil menyeringai seram.

"Hee.... he.... hee.... Lohu masih mengira jago lihay dari manakah yang telah berkunjung kemari. Huuuh....! Tak tahunya engkau juga kurcaci dari keluarga Hoa. Bagus sekali! Apakah engkau juga hendak ikut lohu pulang?"

Baru saja kata-kata tersebut selesai diutarakan tiba-tiba suara seorang bocah berkumandang kembali dari belakang setelah mendengus dingin.

"Hmmmm....! Makhluk tua, angin gunung berhembus kencang sekali, kau tidak takut lidahmu kena tersambar sampai putus?"

Sekali lagi Hu-yan Kiong merasa hatinya terperanjat, untuk kesekian kalinya dia menghindar sejauh delapan depa dari tempat semula, kemudian baru putar badan sambil memandang kearah mana berasalnya suara itu dengan pandangan seram.

Namun apa yang kemudian terlihat, seketika membuat paras mukanya berubah jadi merah padam seperti babi panggang.

Ia betul-betul ketenggor batunya sampai-sampai mau menangis sungkan mau tertawapun susah.

Kiranya kecepatan langkah Leng-ji masih kalah jauh dari Cwan Wi, maka ia sampai ditempat tujuan selangkah lebih terlambat.

Sekalipun suaranya nyaring, tapi mukanya masih kekanakkanakan, apalagi waktu itu dia berdiri beberapa kaki jauhnya dari kalangan dengan mata melotot besar, hal ini semakin menunjukkan betapa masih kecilnya dia.

Perlu diterangkan disini, Leng-ji adalah seorang bocah yang masih ingusan, sedang Hu-yan Kiong merupakan seorang jago tua yang sudah kawakan.

Tapi kenyataannya ia sudah dibuat gugup dan buru buru menghindarkan diri dengan gelagapan, tentu saja hal ini sangat menurunkan gengsi sebagai seorang pemimpin.

Tak heran kalau wajahnya kontan berubah jadi merah padam, sikapnya juga ikut tersipu-sipu.

Sementara itu Cwan Wi telah berteriak lagi dengan cemas.

"Leng-ji, cepat tanya kepadanya, dimana obat pemunah tersebut!"

Dengan dahi berkerut Leng-ji segera berpaling ke arah Hu-yan Kiong, dan bentaknya kembali.

"Sudah mendengar belum? Ayoh keluarkan obat pemunahnya dan serahkan kepadaku!"

Perkataan kacung buku itu sungguh takabur dan besar nadanya.

Sebagai seorang jago tua yang mempunyai kedudukan terhormat tentu saja Hu-yan Kiong tersinggung oleh ucapan tersebut.

Ia tertawa dingin tiada hentinya.

"Mau obat pemunah? Obat itu berada dalam sakuku, apa salahnya jika engkoh cilik mengambilnya sendiri?"

"Huuh....! Memangnya kau anggap aku takut untuk mengambilnya sendiri?"

Jengek Leng-ji ketus.

Jilid 20 SAMBIL berseru, bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya ia menerjang maju ke muka, telapak tangan kanannya langsung mencengkeram dada Hu-yan Kiong.

"Bangsat yang tak tahu diri, rupanya kau ingin mampus!"

Bentak Hu-yan Kiong sangat gusar.

Telapak tangan kanannya segera diputar, kemudian membacok urat nadi diatas pergelangan tangan Leng-ji dengan serangan dahsyat.

Ternyata gerakan tubuh Leng-ji cukup lincah, ketika serangan tersebut hampir mengena di atas pergelangan tangannya, dengan cekatan dia berputar ke belakang punggung Hu-yan Kiong, kemudian teriaknya dengan nada lengking.

"Bagus.... Bagus sekali! Engkau berani membokongi aku....? Kurang ajar!"

Gerak serangannya segera dirubah, kali ini ia menonjok iga kiri musuhnya.

Jelas dalam serangannya kali ini, Leng-ji sudah berniat melukai musuhnya di bawah serangan tersebut.

Begitu serangan dilancarkan, terasalah desingan tajam sebagai ujung tombak menerjang ke luar dan langsung menusuk jalan darah Ki bun hiat di tubuh Hu-yan Kiong.

Cepat dan tajam serangan itu, tampaknya segera akan bersarang di tubuh lawan.

Para anak buah Hu yan Kiong yang menyaksikan kejadian itu sama sama berteriak kaget, mereka masing-masing pada menyerbu ke muka siap memberikan pertolongan.

Padahal orang-orang itu bersikap terlalu berlebihan.

Sikap tegang merekapun sebetulnya tak berarti apa-apa.

Sebab bila Hu-yan Kiong tidak memiliki serangkaian ilmu silat yang maha dahsyat, apakah Mo-kauw kaucu tega melimpahkan tugas berat ini di atas pundaknya?

Apakah ia legakan hati membiarkan dia yang memimpin "rombongan penyelidik"

Itu menuju daratan Tionggoan?

Sementara kawanan jago itu siap menubruk kedepan untuk memberikan pertolongannya, serangan yang dilancarkan Leng-ji sudah bersarang telak pada sasarannya.

Akan tetapi, meskipun pukulan itu bersarang telak, Hu-yan Kiong sedikitpun tidik menderita cedera barang sedikitpun jua.

Sebaliknya Leng-ji yang menjerit kesakitan, menyusul kemudian secara beruntun dia mundur tujuh delapan langkah dengan sempoyongan.

Akhirnya bocah itu tak sanggup berdiri tegak, ia jatuh terduduk diatas tanah tak mampu bergerak lagi.

Ternyata Hu-yan Kiong pernah mendapat warisan ilmu silat yang sangat lihay dari seorang tokoh silat maha sakti dan ilmu tersebut khusus digunakan untuk melindungi keselamatan jiwa dari ancaman musuh yang datang secara tiba-tiba.

Ilmu melindungi badan itu disebut Gi hiat ki-khi-ceng-han (menggeser kedudukan jalan darah, menghimpun kekuatan menggetarkan ancaman).

Bukan saja dalam waktu singkat ia dapat menggeser kedudukan jalan darahnya yang terancam, secara otomatis hawa murninya dapat dihimpun pula untuk menggetarkan serangan musuh.

Atau dengan perkataan lain semakin besar tenaga serangan yang dilancarkan musuh, semakin besar pula tenaga pantulan yang dihasilkan oleh serangan tersebut.

Sebaliknya makin lambat pukulan yang menyerang makin enteng pula tenaga pantulan yang dihasilkan.

Untunglah Leng-ji yang masih kecil memiliki tenaga pukulan yang tidak terlampau berat.

Kalau tidak, penderitaan yang diperoleh dari serangan tersebut mungkin bukan hanya tergetar mundur belaka.

Sementara itu Cwan Wi sedang berusaha dengan sepenuh tenaga untuk menguruti jalan darah di tubuh Hoa In-liong, saking gelisahnya peluh sebesar kacang kedelai telah membasahi sekujur tubuhnya.

Ketika secara tiba-tiba mendengar jeritan ngeri dari Leng-ji, ia tampak terkejut dan cepat cepat berpaling.

Tampaknya waktu itu Hu-yan Kiong sedang memandang kearahnya sambil tertawa dingin.

Tangannya diulapkan memberi Komando seraya serunya dengan nyaring.

"Tawan sekalian orang itu dan kita gusur mereka semua dari sini!" . Perkataan itu sombong lagi pula dingin, seakan akan Cwan Wi sekalian sudah mencari burung dalam sangkar, kura-kura dalam tempurung. Seolah-olah mereka tidak memiliki kekuatan lagi untuk melawan dan bakal menjadi tawanan mereka. Leng-ji adalah kacung Cwan Wi yang bergaul akrab semenjak kecil. Hubungan mereka boleh dibilang lebih akrab dari saudara kandung sendiri. Tak terkirakan gusar Cwan Wi ketika dilihatnya kacung bukunya terluka ditangan orang. Tapi lantaran Hoa In-liong masih tak sadarkan diri lagi pula bantuan yang diberikan sedang mencapai puncak yang paling penting, untuk sesaat dia tak dapat berbuat apa-apa. Dan sekarang, setelah ia dengar kata-kata Hu-yan Kiong yang begitu tak sedap didengar, amarah yang ditahan-tahannya selama ini tak terkendali. Pada saat yang bersamaan dikala ia bangkit secara di luar dugaan Hoa In-liong telah sadar pula dari pingsannya, hanya Cwan Wi sama sekali tidak merasakan hal itu. Cwan Wi telah berpikir keras dalam benaknya. Ia merasa daripada mencurahkan segenap perhatian dan tenaganya untuk menolong Hoa In-liong, lebih baik menguasai Hu-yan Kiong lebih dulu kemudian baru menyelesaikan soal-soal lain. Pertama dengan perbuatannya ini dia dapat membebaskan Leng-ji dari ancaman bahaya maut. Kedua diapun dapat memaksa Hu-yan Kiong untuk menyerahkan obat penawar racun kepadanya. Ia merasa mempunyai kepercayaan penuh untuk menaklukkan Hu-yan Kiong. Jika pemimpinnya gampang ditaklukkan, otomatis anak buahnya tidak terlampau merisaukan hatinya lagi, dia yakin sekali diserang mereka pasti akan kocar-kacir. Demikianlah, dengan suatu gerakan yang lebih cepat dari sambaran angin puyuh ia menerkam ke muka dengan hebatnya. Kemarahan dan rasa dendam telah menyelimuti benaknya. Ini membuat wajahnya yang tampan segera dilapisi hawa pembunuh yang betul-betul mengerikan. Waktu itu, anak buah Hu-yan Kiong sedang bergerak maju ke depan menghampiri Leng-ji yang masih tertuduk di tanah. Tiba-tiba....salah seorang diantara rombongan kaum iblis itu.... Laki-laki berjubah kuning yang memelihara jenggot pendek telah menjumpai kehadiran Cwan Wi telah menggetarkan hatinya. Tak kuasa lagi dia menjerit kaget dan segera menghentikan langkah kakinya. Jeritan kagetnya itu segera menggetarkan hati rekan-rekan lainnya, juga mengejutkan Hu-yan Kiong pribadi. Dengan gerakan tubuh yang enteng Cwan Wi melayang turun di samping Leng-ji, lalu dengan gerakan yang tenang dan kalem dia membantu Leng ji untuk menyambung kembali tulang persendian tangan kanannya yang terlepas. Setelah itu baru berpaling ke arah Hu-yan Kiong.

"Kau munafik!. Kau manusia rendah yang tak tahu malu. Bukan cari kemenangan dengan mengandalkan ilmu silat, khusus melukai orang dengan siasat busuk. Hmmm! Jika tahu diri, cepat persembahkan obat penawar kepadaku, mungkin aku bisa mengampuni jiwa kalian dan membiarkan engkau pergi bersama anak buahmu, tapi kalau menampik.... Hmmm....!"

Setelah mendengus dingin ia hentikan kata-katanya.

Sekalipun tidak diberi penjelasan lebih jauh, namun siapapun tahu apa yang dimaksudkan.

Apalagi setelah menyaksikan sepasang sinar matanya yang lebih tajam dari sembilu itu menatap wajah musuhnya tanpa berkedip.

Orang lain tidak butuh penjelasan, cukup memandang tatapan matanya yang menggidikkan hati segera akan memahami makna yang sebenarnya dari musuhnya itu.

Pada hakekatnya kawanan jago dari Mo-kauw itu sudah dibuat keder oleh kelihayan serta ketenangan sikap Cwan Wi.

Setelah menyaksikan sikapnya yang menggidikkan hati itu, mereka hanya bisa saling berpandangan dengan perasaan tercekat Bagaimanapun juga, jelek-jelek Hu-yan Kiong adalah seorang pemimpin rombongan.

Sekalipun ia rada keder oleh kegagahan musuhnya, perasaan keder itu tidak sampai diperlihatkan dihadapan anak buahnya.

Setelah merenung sebentar, akhirnya ia tertawa seram sambil menegur kembali.

"Dalam urusan nomor berapa engkau dalam keluarga Hoa? Siapa namamu....?"

Cwan Wi menjengek dingin, dengan suara sekeras geledek ia membentaknya nyaring.

"Kau tak usah banyak omong! Mau bertempur atau berdamai, ayoh cepat mengambil keputusan!"

Keadaan semacam ini membuat Hu-Yan Kiong ibaratnya duduk dipunggung harimau, mau turun sungkan tidak turun takut, tapi untuk menjaga gengsi ia lantas mendengus.

"Huh....! Jika bertarung lantas bagaimana?"

Cwan Wi kontan maju selangkah kedepan, ia maju lima depa lebih dekat dengan lawannya, lalu membentak dengan suara dalam.

"Rupanya sebelum sampai disungai Huang-ho engkau tak akan matikan perasaanmu. Jika tidak kuberi sedikit pelajaran yang setimpal, engkau tak akan memparsembahkan obat penawarnya dengan suka rela Hmm.... Baiklah!"

Ia berhenti sebentar untuk mendengus dingin, kemudian bentaknya kembali.

"Cabut senjatamu! Akan kubikin engkau takluk dengan hati yang rela dan puas!"

Ucapan tersebut diutarakan secara langsung dan tanpa tedeng aling aling sedikitpun tiada tanda untuk memberi muka kepada musuhnya untuk membela diri.

Dari mendongkol bercampur malu Hu yan Ki-ong jadi naik pitam, tiba-tiba ia tertawa seram.

"Haa.... haa.... haa.... Baik.... Baik! Akan lohu saksikan sampai dimanakah kelihayan ilmu silat keluarga Hoa kalian!"

"Weesss!"

Sabuk naga perak putihnya dengan membawa tenaga serangan yang maha dahsyat segera menyambar ke muka dengan jurus It-cu-keng-thian (sebuah tongkat menyungging langit).

"Tunggu sebentar!"

Tiba-tiba suara bentakan dari Hoa In-liong berkumandang kembali ke udara.

Baik Hu-yan Kiong maupun Cwan Wi sama-sama tertegun dan alihkan pandangan matanya kearah mana berasalnya suara itu.

Hoa In-liong dengan pedang terhunus sedang berjalan menghampiri mereka dengan langkah tegap.

Cwan Wi rada tertegun sebentar, kemudian sambil menubruk maju ke depan teriaknya penuh kegembiraan.

"Jiko.... Oooh Jiko....! Kau.... Kau.... tidak apa-apa bukan?"

Hoa In-liong mengulurkan tangan kirinya untuk menyambut tubrukan Cwan Wi, pelan-pelan ia mengangguk.

"Aku tidak apa-apa. Terima kasih banyak atas kedatanganmu yang begitu tepat pada saatnya. Kalau tidak, waah.... Mungkin aku yang bodoh sudah menjadi tawanan orang"

Walaupun mulutnya berbicara terus, tidak berarti kakinya berhenti berjalan, terpaksa Cwan Wi harus mengikuti dibelakangnya untuk maju bersama. Sambil berjalan kembali ujarnya.

"Tak usah bicarakan tentang soal ini, kalau toh engkau tidak mengapa, lebih baik kita segera berlalu dari sini!"

"Tidak! kita tak dapat tinggalkan sempat ini dengan begitu saja. Bukankah kau dengar sendiri kakek itu mengatakan bahwa dia sangat ingin merasakan sampai dimanakah kelihayan ilmu silat keluarga Hoa? Apakah kita musti membiarkan dia merasa kecewa? Tidak bukan? Nah! Keinginan orang musti kita penuhi sebagaimana mestinya"

Mendengar perkataan itu Cwan Wi tertegun.

"Tapi apakah Jiko sudah dapat turun tangan?"

Tanyanya. Hoa In-liong tersenyum.

"Sekalipun orang lain telah menggunakan siasat busuk dan akal keji untuk mengecundangi diri kita. Sebagai anggota keluarga Hoa, kita harus tunjukkan contoh yang baik kepada mereka, bukankah demikian saudara Cwan?"

Anak muda ini tidak langsung menanggapi pertanyaan orang, sebaliknya membicarakan soal lain.

Dari sini dapat diketahui bahwa racun yang bersarang dalam tubuhnya belum terpunahkan dari tubuhnya.

Atau dengan perkataan lain, seandainya ia dapat turun tangan, itupun dilakukan dalam keadaan terpaksa.

Walaupun demikian, oleh karena alasan yang diajukan pemuda itu masuk di akal sekalipun Cwan Wi merasa sangat gelisah, dia juga tak mampu mengatakan apa-apa.

Hu-yan Kiong sendiri rada terperanjat ketika dilihatnya Hoa In-liong secara tiba tiba menghampiri dirinya dengan langkah yang tegap dan gagah.

Dia malah mengira siksaaan "ular kecil menggigit hati"

Nya sudah tidak mempan lagi terhadap anak muda itu. Akan tetapi setelah ia mendengar tanya jawab dari kedua orang lawannya, perasaan kuatirnya segera tersapu lenyap dari hatinya. Ia jadi sangat lega.

"Bagus sekali! Bagus sekali!"

Katanya kemudian "Bila engkau dapat mengandalkan ilmu silat yang kau katakan sangat lihay itu untuk mengalahkan aku walau cuma satu jurus saja, lohu segera akan angkat kaki dari sini!"

Hoa In-liong tertawa ewa.

"Mengundurkan diri dari sini sudah pasti akan kau lakukan, tapi kau musti berjanji bahwa Wan Hong-giok akan kau lepaskan dan makhluk-makhluk racun yang berpesta pora diatas tubuhnya kau tarik kembali"

Sebelum Hu-yan Kiong memberikan jawabannya, Cwan Wi telah menukas dengan suara yang amat gelisah.....

"Tidak boleh begitu saja, diapun harus meninggalkan obat penawar untukmu!"

Hoa In-liong tersenyum, ia berpaling dan ditatapnya wajah rekannya lekat-lekat.

"Adik Wi kau tak usah terlampau kuatir! Jangan bingung, siksaan yang dikatakannya sebagai ular sakti menggigit hati itu tak nanti bisa merenggut jiwaku. Jika aku tak berkemampuan untuk memunahkan kepandaiannya itu, lain kali dia pasti akan mengandalkan kepandaian tadi untuk malang melintang dalam dunia persilatan dan berbuat kejahatan dimana-mana. Hmmmm! Waktu itu dunia persilatan pasti akan dibikin kuatir olehnya. Kalau sampai begitu, akan ditaruh dimanakah wajah kita-kita ini....?"

Belum habis pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, ketika Hu-yan Kiong terbahak-bahak.

"Haa.... haa.... haa.... Aku lihat rasa ingin menangmu benar-benar besar sekali. Tapi jalan pikiranmu yang terlampau kanak-kanakan bikin orang merasa kasihan. Hmmm....! Jika ular saktipun dapat kau punahkan, tak nanti lohu akan menggunakan senjata ampuh tersebut khusus untuk menghadapi dirimu"

"Dapat atau tidak kupunahkan pengaruh racun tersebut adalah urusan pribadiku sendiri, lebih baik engkau tak usah menguatirkan bagi keselamatan jiwaku"

Cwan Wi sendiri ketika itu merasa setengah percaya setengah tidak, ia ikut menimbrung.

"Jiko, benarkah engkau punya keyakinan untuk memunahkan pengaruh racun itu? Menurut Toako, sinhui atau ular sakti adalah sejenis racun yang mirip dengan Ku-tok racun ganas yang bisa menyusup sendiri kedalam tubuh manusia melalui ilmu macam hypnotis, bahkan aku dengan bibi sendiripun tak mampu untuk memunahkan pengaruh racun yang amat jahat itu!"

Diam-diam Hoa In-liong merasa terkejut sehabis mendengar ucapan itu, sampai-sampai paras mukanya juga ikut berubah.

Ternyata ia merasa yakin kalau Toanio-nya yakni Chin Wan-hong mampu untuk mengobati pengaruh racun ganas dari jenis apapun jua.

Maka dari itu dalam pikirannya, racun yang diidapnya sekarang tak perlu terlampau dikuatirkan, toh akhirnya ia bisa minta pertolongan Toanio-nya untuk punahkan pengaruh racun itu.

Tapi sekarang, setelah Cwan Wi menyatakan bahwa ibunya pun tidak memiliki kemampuan untuk memunahkan racun tersebut, dia baru mulai kuatir bercampur gelisah.

Selain cemas diapun mulai memahami apa sebabnya Toako mengutus orang untuk mencegah dirinya pergi ke bukit Yan-san untuk memenuhi janji.

Tapi....perkataan sudah terlanjur diutarakan keluar, apakah dia harus menyesali ucapan tersebut?

Tidak!

Tentu saja tidak!

Dia adalah pemuda yang angkuh dan keras kepala.

Dia ingin menjadi contoh yang bisa ditiru oleh segenap umat persilatan didunia.

Diapun tak ingin tunduk di bawah perintah orang.

Karena itu setelah berpikir sebentar, akhirnya dia memutuskan untuk pasrahkan mati hidupnya pada nasib.

Sekalipun akhirnya racun Sin-hui yang diidapnya tak berhasil di punahkan, dia juga tak menjilat kembali kata-kata yang telah diutarakan keluar itu sehingga nantinya dibuat bahan godaan oleh musuhnya.

Disamping itu,setelah anak muda itupun merasa bahwa tugasnya yang terpenting pada saat ini adalah mengusir orang-orang Mo-kauw dari daratan Tionggoan.

Soal menolong diri sendiri, lebih baik dipikirkan nanti saja.

Demikianlah, mengambil keputusan, ia pun tertawa ewa.

"Adik Wi tak perlu kuatir"

Katanya kemudian.

"Sejak kecil aku sudah kebal terhadap segala jenis racun. Aku rasa kalau cuma ular kecil saja masih belum cukup untuk merenggut nyawaku. Sekarang berdirilah disamping gelanggang dan lindungilah aku dari situ. Sebab aku hendak memberi suatu pelajaran bagaimana caranya menjadi seorang manusia yang berbudaya halus kepada suku-suku asing yang masih biadab ini. Biar mereka tahu bahwa ilmu silat daratan Tionggoan bukan ilmu silat sembarangan!"

Setelah berhenti sebentar, pelan-pelan sinar matanya dialihkan kewajah kawanan jago Mo-kauw itu dan ujarnya kembali dengan wajah amat serius.

"Sekarang, engkau boleh segera melancarkan serangan!"

Waktu itu paras muka Hoa In-liong telah mengalami perubahan, ini dapat terlihat oleh Cwan Wi dengan jelasnya.

Sebagai orang manusia cerdas, seketika itu juga ia mengerti bahwa racun yang mengeram ditubuh Hoa In-liong benar-benar sudah terlalu dalam.

Jika ia harus bertempur dengan memaksakan dirinya, maka keselamatan jiwanya akan terancam bahaya maut.

Rupanya rasa simpatiknya terhadap Hoa In-liong sudah menjurus pada suatu perasaan simpatik yang khusus.

Begitu kuatirnya ia atas keselamatan Hoa In-liong jelas tercermin di wajahnya.

"Tidak! Tidak boleh!"

Demikianlah ia berteriak dengan suara yang amat gelisah.

"Jiko, engkau saja yang melindungi aku dari sisi gelanggang. Biar aku saja yang hajar bandot tua yang tak tahu diri itu"

Hu-yan Kiong yang selama ini hanya membungkam, tiba-tiba tertawa dingin dengan nada yang sinis.

"Hee.... hee.... he.... Sauya, menurut pendapatku, lebih baik engkau jangan mencampuri urusan yang bukan merupakan urusan pribadimu."

Cwan Wi bukannya mundur sebaliknya malah maju ke muka dan menghadang dihadapan Hoa In-liong, dengan mata melotot besar teriaknya lantang.

"Kau berani bertempur melawan aku? Hmm....! Jika tidak berani, cepat tinggalkan obat penawar racun, tarik kembali semua makhluk makhluk jelekmu yang beracun dan enyah dari sini, menggelinding pulang ke Seng-sut-hay"

"Haa.... haa.... haa.... Bocah muda, rupanya sebelum dikasi pelajaran yang setimpal, kau pandainya cuma ngebacot melulu dengan kata-kata yang tak sedap di dengar. Hmm.... Tahukah engkau apa maksud kedatanganku kemari? Apa yang kau andalkan sehingga begitu berani mengusir...."

"Tutup bacot anjingmu!"

Tukas Cwan Wi dengan wajah membenci.

"Ayoh cepat turun tangan! Bukankah engkau hendak menangkap kami semua? Kenapa tidak juga turun tangan?"

"Kenapa lohu musti bertempur melawan dirimu?"

Hu-yan Kiong balik bertanya dengan dahi berkerut.

"Kurang ajar! Orang ini betul betul membingungkan"

Teriak Cwan Wi makin marah.

"Bukankah barusan kau telah bersiap sedia untuk turun tangan....?"

Dengan wajah serius Hu-yan Kiong manggut-manggut.

"Yaa, betul! Barusan aku memang ada maksud untuk sekalian membekuk dirimu, sebab waktu itu aku menyangka bahwa engkau juga berasal dari keluarga Hoa. Tapi sekarang, setelah kuketahui bahwa kau sibocah cilik bukan keturunan dari keluarga Hoa, maka niatku yang pertama tadi terpaksa kubatalkan. Lohu tidak ingin menanam bibit permusuhan lagi dengan pihak lain. Oleh sebab itulah kuanjurkan kepadamu agar jangan mencampuri urusan yang bukan menjadi urusanmu" . Tanpa berpikir panjang Cwan Wi langsung berteriak.

"Siapa bilang kalau aku bukan...."

Tiba-tiba perkataannya berhenti sampai ditengah jalan, paras mukapun tanpa sadar berubah jadi semu merah. Terdengar Hu-yan Kiong tertawa terbahak-bahak.

"Haa.... haa.... haaa.... Engkau tak usah berdebat lagi. Keturunan dari Hoa Thian-hong sudah dikenal oleh setiap umat persilatan di dunia ini. Padahal engkau sebut istri Hoa Thian-hong sebagai bibi, ini sudah jelas membuktikan kalau engkau bukan anaknya. Ketahuilah wahai anak muda, kedatangan lohu kali ini kedaratan Tionggoan adalah untuk menjumpai keluarga Hoa. Urusan ini tak ada sangkut pautnya dengan dirimu. Sekalipun selama pembicaraan tadi kau kurang senonoh kepadaku, tapi aku tak ingin mencari urusan dengan dirimu. Karenanya lebih baik kau tak usah mencampuri urusan kami lagi, mengerti....?"

Orang ini betul-betul seorang manusia yang licik sekali, sudah jelas ia takut terhadap kelihayan Cwan Wi.

Sudah jelas dia ingin mencari keuntungan dari keadaan Hoa In-liong yang lemah.

Karena ia tidak berharap Cwan Wi ikut serta dalam pertarungan itu, maka dengan kelihayannya bersilat lidah, ia beralih seakan-akan sedang melaksanakan perintah atasan saja dan sikapnya tak berani membantah perintah atasan, maksudnya agar musuh yang disegani itu tidak turut campur dalam pertikaian mereka.

Bagaimanapun juga, Cwan Wi masih terlampau muda untuk dibandingkan dengan Hu-yan Kiong yang tua bangkotan, tentu saja ia tak sampai menduga akan kelicikan orang.

Untuk sesaat ia jadi gelagapan dan tak mampu menanggapi ucapan lawan.

Ho In-liong merupakan seorang pemuda yang keras kepala, meski dia adalah seorang Kuncu, seorang laki-laki sejati.

Sejak pertama kali tadi ia memang sudah berencana untuk mengadakan duel satu lawan satu dengan Hu-yan Kiong untuk menguji kepandaian masing-masing.

Karena itu, setelah dilihatnya Cwan Wi terpojok oleh kata-kata lawan sehingga tak mampu menjawab, cepat ia menarik tangannya sambil berkata lembut.

"Adik Wi, beristirahatlah dulu disitu! Jika akhirnya aku tak sanggup menandingi kelihayan musuh, kau boleh turun tangan menggantikan kedudukanku. Waktu itu baik engkau berdalih ingin menolong aku atau ingin balaskan dendam bagiku, dengan sangat mudahnya semua itu bisa kau pakai sebagai alasan. lagipula, bagaimanapun juga nama baik ayahku tak dapat hancur ditanganku. Mengertikah engkau dengan kata-kataku ini?" . Setelah menyinggung tentang nama baik Hoa Thian-hong, Cwan Wi benar-benar tak berani mencegah lagi. Dengan perasaan berat hati ia menengadah dan mengawasi wajah pemuda itu lekat-lekat, kemudian mengangguk lirih.

"Aku mengerti"

Sahutnya.

"Jiko, kau harus hati-hati lho!"

Tersenyum Hoa In-liong melihat kekuatiran orang, ditepuknya bahu anak muda itu pelan kemudian menengadah kedepan memandang Hu-yan Kiong seraya berkata.

"Aku orang she-Hoa tidak biasa berbuat pura-pura. Terus terang kuakui bahwa hingga sekarang Sin-hui atau racun ular kecil yang mengeram ditubuhku belum punah, tentu saja tenaga dalamku setingkat lebih rendah dari biasanya. Tapi jika engkau ingin mencari kemenangan dengan memanfaatkan keadaanku ini, maka perhitunganmu itu meleset sama sekali. Tidak segampang itu kau akan peroleh kemenanganmu. Malah kuanjurkan kepadamu, lebih baik bertindaklah lebih berhati hati agar nyawamu tidak ikut kabur"

"Huuuh! Lagakmu soknya bukan kepalang"

Ejek Hu-yan Kiong dengan sombongnya.

"Jangan nasehati aku untuk berhati hati, karena engkau sendirilah yang harus berhati hati menghadapi diriku. Tapi Hee.... hee.... hee.... Engkaupun tak perlu kuatir, sebab aku pasti akan mengampuni jiwamu"

"Kau tak usah mengampuni jiwaku. Aku hanya berharap bila engkau menderita kekalahan nanti, simpanlah kembali semua makhluk jelekmu itu dari tubuh sang dara dan lepaskan Wan Honggiok dari tahananmu!"

Hu yan Kiong segera mencibirkan bibirnya dan tertawa licik dengan sinisnya.

"Memangnya kau sendiri tidak menginginkan obat penawar untuk racun yang mengeram dalam tubuhmu?"

"Aku orang she Hoa yakin masih sanggup untuk melebur sari racun yang bersarang ditubuhku hingga lenyap sama sekali. Kau tak usah menguatirkan keselamatan jiwaku"

Sembari berkata, dia masukkan kembali pedang antiknya kedalam sarungnya....

"Eeeeh. Kenapa kau? Kenapa tidak menggunakan pedang?"

Tegur Hu-yan Kiong dengan dahi berkerut.

"Aku rasa ilmu pedang dari aku orang she Hoa tentunya sudah kau saksikan bukan? Padahal diantara kita tidak terikat dendam sakit hati atau permusuhan apapun jua. Aku tidak punya rencana untuk membinasakan dirimu!"

"Waaah....Tidak boleh begitu! Tidak boleh begitu!"

Tiba-tiba Leng-ji berteriak lengking.

"Orang itu mempunyai ilmu silat istimewa, tenaga pukulan tak sanggup melukai dirinya...."

Kalau Leng-ji cemas, maka Cwan Wi lebih-lebih gelisah lagi, dia ikut berteriak.

"Jiko, bila engkau tak mau menggunakan pedang, biarlah aku saja yang maju menggantikan dirimu"

Sambil berteriak ia maju ke depan dan siap menerjang diri Hu-yan Kiong yang berada dihadapannya.

Dengan cepat Hoa In-liong menggerakkan lengan kirinya untuk menarik lengan pemuda itu, katanya sambil tersenyum.

"Adik Wi, dengarkan dulu perkataanku. Pedang itu tajam dan tidak bermata. Setiap kali digunakan tentu akan mengakibatkan bercucurannya darah kental. Padahal tujuan kita kali ini adalah untuk menolong orang, kita harus belajar berbuat kebajikan. Selain daripada itu, akupun telah menggunakan pedang untuk membunuh salah seorang diantara mereka, maka aku pikir semestinya merekapun harus diberi kesempatan untuk merasakan pula kelihayanku dalam bidang ilmu lainnya"

"Aaah....Kamu ini sok pintar, sok berlagak bijaksana. Kalau kau tidak bunuh bandot tua itu, dialah yang akan membinasakan dirimu" , teriak Leng-ji dengan cemas.

"Tidak mungkin!"

Ujar Hoa In-liong sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Tujuannya adalah menangkap aku hidup hidup, agar dia bisa membawa aku pulang ke Seng-sut-hay dan ditukar dengan pahala besar baginya"

Hu-yan Kiong terbahak-bahak dengan kerasnya.

"Haa.... haa.... haa.... Bagus sekali! Anggaplah engkau memang cerdik dan pandai menebak jalan pikiran orang. Nah, untuk kecerdasanmu itu, akupun akan memberi keringanan-keringanan untukmu pribadi. Mari kita beri batas pertarungan sampai seratus gebrakan belaka. Jikalau dalam seratus gebrakan engkau dapat mempertahankan diri tidak kalah juga tidak menang, maka anggap saja aku yang kalah dan segala sesuatunya terserah pada keputusanmu"

Orang ini menyangka bahwa ilmu silat yang di milikinya sudah mencapai puncak kesempurnaan.

Apalagi tenaga pukulan macam ilmu telapak tangan maupun ilmu jari sama sekali tidak berguna terhadapnya.

Ditambah pula Hoa In-liong sudah terkena racun jahat dari ular kecil, sudah pasti tenaga dalamnya akan mengalami penurunan secara drastis, delapan puluh persen kemenangan berada dipihaknya.

Oleh karena ia yakin kalau kemenangan pasti berada dipihaknya, maka sambil berbicara sabuk naga peraknya diikatkan kembali diatas pinggangnya.

Sesudah pihak musuhpun mengikat kembali senjata ikat pinggangnya, Cwan Wi agak sedikit berlega hati, namun ia toh berkata kembali memperingatkan iblis tua itu.

"Kuperingatkan kepadamu, jangan bertempur dengan gunakan akal busuk. Sebab jika kau pakai siasat licik, maka akupun tak akan memperdulikan apakah kalian bertarung dengan janji atau tidak, aku bisa main kerubut untuk membinasakan dirimu!"

Hu-yan Kiong tertawa sombong, dia segera menjura.

"Hoa loji, sekarang engkau boleh melancarkan serangan terlebih dahulu.!"

"Hati-hatilah!"

Kata Hoa In-liong, Dia maju kedepan dan sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan kedepan.

Dalam serangan tersebut terseliplah inti sari dari suatu kepandaian yang luar biasa.

Tenaga serangan tidak terpancar keluar sekaligus, sedang arah serangan meliputi batok kepala, wajah serta dada Hu-yan Kiong.

Itu berarti serangan tersebut bisa berupa serangan sungguhan, bisa pula berupa serangan tipuan.

Dalam keadaan demikian, bilamana Hu-yan Kiong tidak dapat menghadapi secara tetap, dia terluka parah seketika itu juga.

Menyaksikan gerak serangan musuhnya, dimana-dimana Hu-yan Kiong merasa terperanjat, cepat pikirnya.

"Huuuh....! Tak kunyana kalau bocah keparat ini memiliki ilmu silat yang benar-benar luar biasa lihainya. Aku tak boleh menghadapinya secara gegabah"

Ia tidak berani berayal lagi, kepalannya segera dirangkap menjadi satu sambil berebut maju ke depan. Dengan sistim pertarungan keras lawan keras dia sambut datangnya ancaman tersebut.

"Bagus....!"

Bentak Hoa In-liong keras-keras.

Lengan kirinya lantas diangkat mengimbangi gerakan tubuhnya yang berputar kencang.

Dengan jurus oh-hau-po-yo (hariman lapar menerkam kambing) suatu gerakan membacok yang tajam dia babat bahu dan punggung lawan....

Sebelum mendapat tugas untuk berkunjung ke daratan Tionggoan, Hu-yan Kiong telah diberi kesempatan oleh Tang-kwik Siu, itu cikal bakal Mo-kauw untuk menyelidiki pelbagai kepandaian silat yang diandalkan Hoa Thian-hong tempo dulu.

Maka begitu melihat datangnya serangan tersebut, ia lantas mengerti bahwa serangan ini diciptakan berdasarkan gerak jurus "Kun siu ci tau" (perlawanan binatang yang terkurung) yang amat tersohor itu, maka dia mengambil keputusan untuk tidak melayaninya secara keras lawan keras.

Pengalamannya menghadapi serangan musuh sudah amat matang dan pengalamannya cukup kawakan.

Setelah ia dapat menebak aliran gerak jurus yang dipergunakan musuhnya, tentu saja ia telah mempersiapkan pula jurus pemecahannya.

Tampak sepasang kakinya menjejak permukaan tanah, kemudian badannya menjauhkan diri ke sisi kiri.

Berbareng dengan gerakan itu tiba-tiba terdengar suara jari-jari tangan serta persendian tulang yang bergemerutukan nyaring.

Hoa In-liong tertegun.

Cepat iblis tua melompat ke udara, telapak tangan kanannya direntangkan seperti cakar kuku garuda.

Diiringi bentakan nyaring yang menggelegar dia hantam dada Hoa-In liong.

Itulah ilmu pukulan Siu-gong-kun, sebuah ilmu pukulan udara kosong yang maha dahsyat.

Siu-gong-kun atau ilmu pukulan udara kosong merupakan sejenis ilmu silat yang jarang dijumpai dalam dunia persilatan.

Tapi dalam kitab pusaka Thian-hua Cha-ki, hal tersebut tercatat dengan jelasnya.

Sebagaimana diketahui, kitab catatan Thian-hua cha-ki yang sangat luar biasa itu dulu diserahkan kepada Tiangsunpoh untuk disimpan secara baik-baik.

Sedang Tiangsunpoh mempunyai hubungan persahabatan yang begitu akrab dengan Pek Siau-thian.

Oleh sebab itu dia seringkali berkunjung ke perkampungan Liok soat-san-ceng.

Hoa In-liong amat disayang oleh gwa-konya, diapun disayang oleh Tiangsunpoh.

Karena itu anak muda tersebut pernah juga menyaksikan kitab pusaka Thian-hua Cha-ki.

Tidaklah aneh kalau dia segera mengenali ilmu pukulan yang dipergunakan Hu-yan Kiong sekarang adalah ilmu pukulan udara kosong.

Bayangkan sendiri, mungkinkah Hu-yan Kiong dapat melukai pemuda tersebut dengan gampang setelah lawannya juga memahami gerak pukulan yang dia pergunakan?

Sekalipun demikian, Hoa In-liong hanya tahu bahwa ilmu tersebut adalah ilmu gerakan Siu-gongkun.

Soal dimanakah letak inti kekuatan dan inti kelihayan dari ilmu pukulan tersebut, ia kurang begitu tahu.

Untuk menghadapi ancaman semacam itu, jari tangannya segera ditegangkan sekeras tembak, kemudian disodok keatas udara dimana telapak tangan musuh sedang mengancam tiba.

Hu-yan Kiong tertawa terbahak-bahak.

Dari pukulan kepalan ia cepat merubah serangannya menjadi pukulan telapak tangan.

Begitu desingan angin serangan musuh terhindar, ia balas menyodok pusar dari Hoa In-liong.

Hoa In-liong sendiripun diam-diam merasa terkejut, kecepatan musuhnya dalam berganti jurus, pikirnya.

"Tampaknya orang ini hapal sekali dengan gerakan jurus serangan dari keluarga Hoa. Bukan saja ia dapat menghindari setiap serangan tipuan dengan serangan tipuan. Melepaskan serangan balasan tepat pada waktunya. Bahkan kecepatan gerak serangannya melebihi sambaran petir, ini berarti mereka memang sudah memikirkan gerakan pemecahan terhadap ilmu silat kami. Aku tak boleh menggunakan aturan pada umumnya untuk melayani dia, apalagi hanya menyerang dengan jurus-jurus serangan dari ilmu Ci-yu-jit-ciat serta Hu-in-ciang-hoat"

Rupanya serangan totokon jari tangan yang dipergunakan barusan tak lain adalah perubahan dari lmu sakti Ci-yu-jit-ciat.

Untuk melancarkan serangan dengan ilmu Ci-yu-jit-ciat tersebut, orang bisa menyerang baik dengan ilmu telapak tangan maupun dengan ilmu totokan jari.

Yang sama adalah semua serangan tertuju untuk mendobrak pertahanan lawan.

Sulit bagi orang yang tidak mengetahui gerak pukulan tersebut untuk memecahkannya.

Oleh sebab itu, dikala Hoa In-liong saksikan pukulan musuh tiba-tiba dirubah menjadi ilmu telapak tangan dan pusarnya yang terancam oleh serangan tersebut, tahulah dia bahwa Hu-yan Kiong telah berhasil menyelidiki inti kekuatan dari kepandaiannya dan telah mempersiapkan pula ilmu pemecahannya.

Tak sempat ia berpikir terlampaulama dalam keadaan seperti ini, sebuah tendangan kilat segera dilancarkan kedepan.

Menyusul kemudian telapak tangannya dibalik segera membabat keluar, menyapu jalan darah Oh-keng-hiat disisi telinga Hu-yan Kiong.

Baik pukulan telapak tangan maupun tendangan kilat tersebut, semuanya dilancarkan dikala ia memutar badannya sambil menghindari serangan musuh.

Sekalipun demikian, tenaga serangannya sangat kuat sehingga menimbulkan desingan angin tajam yang memekakkan telinga.

Hu-yan Kiong tidak menyangka sampai kesitu.

Setelah serangan tajam musuhnya tiba didepan mata, ia baru terperanjat.

Cepat tubuhnya melambung ke udara sambil mundur tiga langkah ke belakang.

Bagaimanapun juga Hu-yan Kiong bukan termasuk manusia sembarangan, jelek-jelek dia juga merupakan seorang jago kawanan yang berpengalaman luas.

Begitu mundur ia segera mendesak maju lagi ke depan.

Tiba-tiba ia membentak keras, lengan kanannya berbunyi gemerutukan nyaring.

Rupanya ia telah mengeluarkan ilmu pukulan Lei sim toh sin siang (pukulan pemisah hati pem betot sukma) yang paling diandalkan perkumpulan Mo-kauw.

Sungguh dahsyat dan cepat ancaman tersebut.

Dalam waktu singkat tahu-tahu kepalan musuh sudah muncul didepan anak muda itu.

Padahal pada waktu Hoa In-liong sedang mempersiapkan sebuah serangan kilat untuk meneter lawannya.

Ketika bayangan telapak tangan tiba-tiba muncul di depan mata dan langsung mengancam kepalanya, tidak ragu-ragu lagi lengan kirinya di kebutkan ke muka.

Sekali lagi dia gunakan ilmu pukulan Hu in ciang hoat untuk menyongsong datangnya ancaman tersebut....

"Ploook!"

Suatu benturan nyaring segera terjadi dengan dahsyatnya ketika sepasang telapak tangan saling beradu.

Kedua belah pihak sama-sama bergetar keras oleh tenaga pantulan yang dihasilkan dari benturan itu.

Secepat kilat mereka memutar badannya untuk membuang sisa tenaga yang masih mendesak tubuh mereka, kemudian secepat kilat mereka saling menyodok saling menyerang lagi dengan serunya.

Baik Hoa ln-liong maupun Hu-yan Kiong sama-sama merupakan jago silat kelas satu dalam dunia persilatan.

Dalam benturan yang barusan terjadi, mereka lantas tahu bahwa kekuatan yang dimiliki lawannya seimbang dengan kekuatan yang mereka miliki.

Merekapun paham, tak mungkin mereka bisa cari kemenangan dengan mengandalkan tenaga dalam yang sempurna, sebab siapapun tak bisa mengalahkan lawannya.

Ini berarti menang kalahnya pertarungan harus dicari dengan mengandalkan sempurnanya jurus serangan serta luasnya pengalaman mereka dalam menghadapi pertempuran.

Dalam waktu singkat, kedua orang itu sudah saling menyerang, saling menerjang dengan serunya.

Dibalik serangan gencar terselip suatu pertahanan yang tangguh, sebentar saja tiga buah gebrakan sudah lewat tanpa terasa.

Serangkaian pertarungan sengit itu ibaratnya hembusan angin puyuh dan hujan badai, begitu gencar.

Begitu ganasnya membuat para penonton yang mengikuti jalannya pertarungan dari tepi gelanggang harus menahan nafas dan menekan rasa tegangnya.

Ilmu silat yang dipelajari Hoa In-liong sebetulnya sangat luas dan terdiri dari inti-inti kepandaian yang tak terkirakan dahsyatnya.

Setiap pukulan, setiap totokan yang dia lancarkan semuanya tertuju pada bagian-bagian mematikan di tubuh musuhnya.

Sayang racun Sin-hui (ular kecil sakti) yang mengeram dalam tubuhnya belum punah.

Kehadiran racun itu otomatis mempengaruhi juga daya konsentrasinya.

Setiap kali dia kuatir kalau racun dalam tubuhnya tiba-tiba kambuh dan mempengaruhi badannya.

Sebab itu sepanjang pertarungan berlangsung, ia tak berani menggunakan tenaga terlampau besar.

Dia selalu kuatir, jika seandainya serangan yang dilancarkan dengan sepenuh tenaga tidak mencapai pada sasarannya, kesempatan tersebut segera akan dimanfaatkan lawan untuk balas mendesaknya.

Karena itu setiap kali ada kesempatan baik untuk merebut kemenangan, kesempatan itu selalu dibuang dengan begitu saja.

Tentu saja kejadian ini membuat Cwan Wi yang mengikuti jalannya pertarungan dari tepi gelanggang jadi cemas bercampur gegetun.

Tak bisa dibantah lagi kalau Hu-yan Kiong adalah seorang tokoh sakti perkumpulan Mo-kauw yang sangat diandalkan perkumpulannya.

Ilmu silat yang dia pelajari terdiri dari aneka ragam yang tak terhitung jumlahnya, bahkan boleh dibilang kepandaiannya tidak berada dibawah kepandaian Tang-kwik Siau dimasa jayanya.

Tetapi, lantaran Hoa In-liong selalu bersikap waspada dan hati-hati.

Selalu melayani musuhnya dengan jurus serangan yang tangguh dan serangan yang dipakaipun memiliki perubahan yang tak terduga, maka dia jadi ragu-ragu untuk melepaskan serangan yang mematikan.

Dia kuatir masuk perangkap dan terjebak oleh akal licik lawannya.

Demikianlah, sekejap mata kemudian lima enam puluh tujuh jurus kembali sudah lewat.

Tampaknya walaupun batas seratus jurus sudah dilampaui menang kalah belum tentu dapat ditetapkan dengan pasti.

Sementara itu Leng-ji sudah beranjak dan duduk disamping Cwan Wi.

Ketika dilihatnya pertarungan berlangsung makin lama serrakin hebat, akhirnya ia jadi habis sabarnya, diam-dian bisiknya dengan suara yang lirih.

"Siau....Sauya, sudah kau hitung jumlah jurusnya?"

"Ssst....! Jangan berisik"

Omel Cwan Wi dengan suara kesal.

"Tidak bisa....! Tidak bisa begitu...."

Teriak Leng-ji lagi dengan cemas.

"Sekarang sudah mencapai sembilan puluh tiga jurus. Jika Ji kongcu tidak melancarkan lagi serangan serangan yang mematikan bagaimana mungkin pertarungan ini bisa diakhiri secara menguntungkan....?"

Waktu itu seluruh perhatian dan konsentrasi Cwan Wi tertuju pada jalannya pertarungan. Mendengar pertanyaan itu dengan rada mendongkol ia lantas berseru.

"Lalu bagaimana caranya, untuk mengakhiri pertarungan secara menguntungkan?"

"Makhluk sialan itu tidak mempan dibabat atau ditotok. Bila Ji kongcu tidak menggunakan pedang, itu berarti pertarungan yang lebih lamapun hanya suatu pertarungan yang menghamburkan tenaga dengan percuma. Aku lihat lebih baik engkau turun tangan sendiri saja!"

Tampaknya Cwan-Wi jengkel sekali dengan kecerewetan kacungnya, sambil berpaling dengan muka marah, ia berseru.

"Kamu ini cerewetnya bukan main. Hati-hati kamu kalau sampai ocehanmu membuyarkan konsentrasi dari Ji kongcu. Lihat saja nanti, akan kuhajar mulutmu atau tidak"

Kontan Leng-ji mencibirkan bibirnya.

"Hemmmm.... Memangnya Leng-ji cuma asal ngomong? Semua perkataanku kan kata-kata yang sejujurnya!"

Selama pembicaraan itu berlangsung, setiap patah kata mereka diutarakan dengan suara yang nyaring.

Tentu saja Hoa In-liong serta Hu-yan Kiong yang berada ditengah gelanggang dapat mendengar semua pembicaraan tersebut dengan amat jelas.

Diam-diam Hoa In-liong mulai menyesal, dia berpikir.

"Yaa.... kalau begitu memang akulah yang salah perhitungan. Jika sejak pertama kali tadi kugunakan pedang, tak nanti pertarungan ini kulangsungkan dengan begitu ngotot dan bersusah payah"

Lain halnya Hu-yan Kiong, dia jadi sangat gembira sesudah mendengar perkataan itu, gerutunya di hati.

"Aku memang betul-betul tolol! Yaa, betul juga perkataan kacung sialan itu. Apa yang musti ku kuatirkan? Baik tenaga pukulan maupun tenaga totokan kan sama sekali tidak mempan terhadap diriku. Kenapa tidak kugunakan kelebihanku ini untuk memusatkan semua perhatian dan kekuatanku untuk melancarkan serangan? Haa.... haa.... haa.... untunglah kedua orang bocah cilik itu memperingatkan diriku. Kalau tidak, mungkin dalam seratus gebrakan mendatangpun pertarungan ini tak bisa dimenangkan olehku. Kalau sampai demikian adanya, akan ditaruh dimanakah wajahku ini?"

Berpikir sampai disitu, seketika itu juga semangat tempurnya berkobar kembali.

Dia segera membuka serangannya dengan serangkaian pukulan bertubi-tubi yang amat tangguh.

Dalam waktu singkat, permainan serangannya juga ikut berubah.

Dari ilmu pukulan Thian-mociang, Hu-kut-sin-kun sampai Tay-jiu-eng dari kalangan Buddha, Sian ki-ci-lek, Tong-pit-mo-ciang dan Ngo kui-im-hong-jiau semuanya dikeluarkan secara berantai.

Bayangkan saja bagaimana dahsyatnya serangan maut yang rata-rata menggunakan jurus aneh yang belum pernah dijumpai dikolong langit ini?

Dalam waktu singkat dari atas kepala sampai lambung, dada dan kaki Hoa In-liong berada dibawah kurungan angin pukulannya.

Dengan adanya perubahan tersebut, keadaan Hoa In-liong lah yang semakin parah, ia terdesak hebat.

Sejak mendengar seruan dari Leng-ji yang membuat hatinya menyesal, konsentrasinya sudah tak dapat pulih kembali seperti sedia kala.

Apalagi setelah diserang secara gencar oleh Hu-yan Kiong, seketika itu juga dia kehilangan posisinya yang menguntungkan.

Selangkah demi selangkah ia mundur terus kebelakang.

Dalam keadaan begini ia sudah tidak memiliki kemampuan lagi untuk melancarkan serangan balasan.

Dalam waktu singkat, sekujur badan Hoa In-liong mandi keringat.

Nafasnya yang tersengkalsengkal secara lapat-lapat dapat kedengaran jelas.

Dia masih memiliki ilmu meringankan tubuh yang bisa diandalkan sehingga setiap saat dia bisa berkelebat kekiri atau berkelit ke kanan.

Setiap terancam bahaya, ancaman itu dapat dipunahkan dengan begitu saja.

Kini serangan lawan sudah mencapai jurusan yang ke sembilan puluh sembilan.

Satu jurus lagi berarti batas seratus jurus sudah akan terpenuhi, asal Hoa In-liong dapat mempertahankan diri terhadap serangan musuhnya yang terakhir ini, maka berarti pula kemenangan berada dipihaknya.

Serta merta suasana berubah jadi amat tegang.

Setiap orang yang berada ditepi gelanggang melototkan sepasang matanya bulat-bulat, terutama sekali siau Leng-ji.

Kacung buku ini tak kuasa mengendalikan emosinya.

Tanpa sadar ia bersorak gembira.

"Tinuggal satu jurus! Tinggal satu jurus! Ji kongcu, kau musti lebih berhati-hati lagi!"

Tiba-tiba Hoa In-liong berpekik nyaring.

Tubuhnya secepat kilat melambung ke udara, menyusul kemudian ia berjumpalitan beberapa kali diangkasa.

Setelah itu dengan kaki di atas, kepala dibawah dia membuat gerakan setengah busur dengan jurus Ciong-eng-tian-ci (burung elang membentangkan sayap), langsung dengan membawa desingan angin tajam menyambar batok kepala Hu-yan Kiong.

Kiranya sejak kehilangan posisi yang menguntungkan, keadaan Hoa In-liong sudah keteter hebat sehingga terdesak dibawah angin.

Menghadapi ancaman yang datangnya bertubi-tubi itu, saking lelahnya dia sudah mandi keringat.

Betapa murung dan kesalnya anak muda itu menghadapi keadaan yang sangat tidak menguntungkan tersebut, sementara tekanan musuh dirasakan makin lama semakin kuat.

Tibatiba ia mendengar teriakan gembira dari Leng-ji yang mengatakan tinggal satu jurus lagi.

Rasa gelisah yang kemudian muncul seakan-akan merubah kekuatan dalam tubuhnya menjadi satu kali lipat lebih dahsyat dari keadaan semula.

Harus diterangkan disini, ketika itu Hoa In-liong sedang mencapai pada usia yaug muda dan kuat-kuatnya tenaga manusia.

Ditambah lagi wataknya yang tinggi hati dan tak sudi menyerah pada kekuatan lawan.

Dalam keadaan semacam ini ia tak sudi mencari kemenangan dengan membonceng kesempatan baik yang tersedia baginya.

Namun diapun tak ingin dikalahkan lawannya sehingga mempengaruhi nama baik keluarga Hoa, di samping ambisinya untuk menegakkan nama besar untuk dirinya sendiri.

Karena itu begitu mendengar suara teriakan dari Leng-ji, seketika itu juga sifat angkuh dan tinggi hatinya terangsang kembali.

Ia tidak memperdulikan lagi apakah racun Sin-hui yang bersarang dalam tubuhnya telah kambuh atau tidak, segenap tenaga murni yang dimilikinya langsung dikerahkan keluar.

Setelah melambung ke udara dan terlepas dari lingkaran pengaruh angin serangan Hu-yan Kiong, dia melayang kesamping untuk melepaskan diri dari cengkeraman lawan.

Begitulah, setelah dia berhasil melayang di udara, tubuhnya segera berjumpalitan beberapa kali dan menerjang kembali ke bawah.

Lengan kirinya langsung diayun kedepan melepaskan segulung angin pukulan yang sangat kuat.

Sementara jari tengah tangan kanannya dengan jurus "menyerang sampai mati"

Menyodok jalan darah Hoa kay hiat di tubuh Hu-yan Kiong.

Perubahan yang terjadi secara tiba-tiba ini berlangsung dalam sekejap mata.

Dalam pada itu, Hu-yan-Kiong baru saja menyerang jalan darah Cian-keng-hiat dibahu Hoa Inliong dengan jurus Sin liong tam jiau (naga sakti unjukkan cakar).

Ketika itu jalan pemikirannya amat sederdana.

Dianggapnya meskipun Hoa In-liong berhasil menghindarkan diri dari serangannya, tapi dalam mundurnya yang dilakukan secara gugup.

Asal dia mengejar lagi dengan gerakan jurus yang tak berubah, pastilah pihak musuh akan dibuat kelabakan setengah mati.

Asal musuh telah dibikin kelabakan, maka dia tak akan memperdulikan apakah serangannya sudah melewati jurus yang keseratus atau tidak.

Dengan suatu ancaman maut akan disusulnya pemuda itu dan bila perlu menghajarnya lebih dulu sampai terluka parah.

Siapa tahu apa yang kemudian terjadi sama sekali berada diluar dugaannya.

Menanti ia temukan bahwa bayangan tubuh dari Hoa In-liong secara tiba-tiba sudah lenyap tak berbekas.

Angin pukulan yang maha dahsyat serta totokan jari tangan yang tajam tiba-tiba sudah menyelinap di atas badannya.

Kejadian ini sangat mengejutkan dari Hu-yan Kiong, juga mengejutkan diri Cwan Wi.

Rupanya Cwan Wi kuatir Hu-yan Kiong betul-betul kebal terhadap serangan pukulan dan serangan jari lawan yang mengakibatkan Hoa In-liong mengalami nasib seperti apa yang dialami Leng-ji yakni terhantam balik oleh tenaga sin-kang pelindung tubuhnya, maka ditengah jeritan kagetnya cepat ia memburu kedalam gelanggang untuk menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.

Padahal Hu-yan Kiong sendiripun dibuat gugup dan kelabakan setengah mati oleh datangnya ancaman yang muncul secara diluar dugaan.

Dalam keadaan begini, dia kehilangan daya kemampuannya untuk menguasai diri, sehingga jeritan kagetnya hampir berkumandang bersamaan waktunya dengan jeritan Cwan Wi.

Disaat Cwan Wi melayang keudara dan menerjang masuk kedalam gelanggang, serangan dahsyat dari Hoa In-liong sudah bersarang telak diatas bahu Hu-yan Kiong, sedang totokan jari tangan kanannya menyodok telak dada iblis tua itu.

Hu-yan Kiong segera mendengus tertahan.

Sepasang tangannya memegang dada dengan muka berkerut keras.

Dengan sempoyongan dia mundur ke belakang sambil menahan rasa sakit.

"Kau.... Kau...."

Teriaknya dengan suara terperanjat.

Akhir dari pertarungan ini betul-betul berada diluar dugaan siapapun jua, sampai Cwan Wi sendiripun kebingungang tak berketentuan.

Untuk sesaat dia cuma berdiri melongo-longo.

Pucat pias paras muka Hoi In-liong, tapi ia berdiri tegak bagaikan malaikat, dengan suara yang amat serius katanya.

"Aku telah menangkan pertarungan ini, sekarang engkaupun harus mewujudkan janjimu. Setelah melepaskan nona Wan, harap segera angkat kaki dari sini!"

Hu-yan Kiong muntah-muntah darah segar.

Bibirnya bergetar seperti ingin mengucapkan sesuatu, tapi setelah merenung sejenak maksud itu dibatalkan.

Ia memutar badannya menghadap anak buah Ia irinya ditepi gelanggang, dan ujarnya.

"Tarik kembali semua alat persembahan, tinggalkan korban disitu dan kita segera pergi dari sini"

Kemudian sambil menghadap kembali kearah Hoa In-liong, ia berkata lebih jauh.

"Hoa loji, aku lihat engkau adalah seorang enghiong yang gagah perkasa. Aku tak tega membiarkan engkau mati tersiksa. Maka secara terus terang kuakan beri tahu kepadamu racun sakti San-hui-si-sim (ular sakti menggigit hati) dari perkumpulan kami tak dapat dipunahkan oleh siapapun jua. Maka kuanjurkan kepadamu bila engkau mulai merasa tak tahan, cepat-cepatlah datang ke perkumpulan kami untuk minta obat penawarnya!"

Hoa-In-liong tersenyum.

"Mati hidup manusia ditentukan oleh Yang Kuasa. Lebih baik engkau tak usah menguatirkan keselamatanku, Nah! Silahkan pergi dari tempat ini!"

Sementara itu, anak murid kau telah melaksanakan perintah pemimpinnya untuk menarik kembali semua makhluk beracun yang berada diatas tubuh Wan Hong-giok.

Hu-yan Kiong segera tertawa dingin, diapun tidak banyak berbicara lagi.

Dibawah bimbingan seorang laki-laki berjubah kuning, mereka berlalu dari bukit Yan-san.

Angin gunung berhembus sepoi-sepoi, suasana diatas puncak Yan-san kembali diliputi keheningan.

Suasana di sekitar bukit itu tidak menjadi cerah karena kepergian orang-orang dari Mo-kauw itu.

Wan Hong-giok masih berbaring diatas tandunya dengan badan setengah telanjang.

Sementara paras muka Hoa In-liong makin lama berubah semakin pucat kelabu, hampir-hampir tak tampak warna merah darah.

Cwan Wi dan Leng-ji juga masih berdiri tertegun ditempat semula.

Tampaknya kedua orang itu masih tidak percaya dengan kenyataan yang berlangsung didepan mata mereka.

Akhirnya....

Akhirnya Hoa In-liong berdiri dengan tubuh gemetar keras, tiba-tiba ia berteriak.

"Adik Wi...."

Mendengar panggilan itu Cwan Wi berpaling dengan hati terperanjat. Cepat-cepat dia memburu maju ke depan, serunya dengan nada yang cemas bercampur kaget.

"Jiko.... Jiko! Kau.... kenapa kau?"

Gemetar yang mengguncangkan tubuh Hoa In-liong makin lama semakin keras. Nada suaranya juga ikut berubah, ia hanya bisa berbicara dengan suara tersendat-sendat.

"Aku.... Aku.... Meskipun menang sebenarnya akulah yang kalah...."

Sebelum kata-kata itu sempat diakhiri, sekujur badannya telah goncang semakin keras, akhirnya ia tak kuasa menahan diri lagi.... Cepat Cwan Wi memburu maju ke depan dan memayang tubuhnya.

"Keee.... kenapa kau? Kenapa kau.... ? Jiko! Jiko.... Kenapa kau....?"

Teriaknya dengan cemas.

"Apakah kau terluka oleh pukulan bandot tua itu?"

Hoa In-liong menggeleng.

"Tidak, aku tidak dilukainya, hanya.... hanya.... Racun.... racun ular sakti itu...."

"Apa....?"

Jerit Cwan Wi dengan jantung yang berdebar keras.

"Kau maksudkan racun ular sakti itu mulai kambuh?"

Hoa In-liong menganguk.

Dia seperti hendak mengucapkan sesuatu karena bibirnya bergerakgerak.

Namun anak muda itu sudah tidak bertenaga lagi untuk mengutarakan isi hatinya.

Waktu itu Hoa In-liong sedang merasakan suatu penderitaan yang luar biasa hebatnya.

Keringat sebesar kacang kedelai membasahi seluruh jidatnya.

Sinar matanya yang jeli kini sudah pudar.

Gemetar yang mengguncangkan tubuhnya semakin bertambah keras.

Keadaan semacam itu mirip sekali dengan seseorang yang mendekati sekaratnya.

Cwan Wi menyadari gawatnya keadaan anak muda itu, tapi ia tak dapat berbuat apa-apa.

Dia seperti orang yang kebingungan, kehilangan akal sehat.

Anak muda itu hanya bisa berdiri dengan kelabakan bagaikan anak ayam kehilangan induknya.

Leng-ji yang berada disampingnya cepat berseru.

"Siau sauya, cepat baringkan Ji kongcu ke tanah! Jika Ji kongcu dibiarkan berdiri terus, kesehatannya pasti akan semakin terganggu. Coba lihat! Racun ular jahat itu mulai kambuh. Pastilah hal ini terjadi karena ji-kongcu menggunakan tenaga yang berlebihan sewaktu bertempur tadi"

Cepat cepat Cwan Wi membaringkan Hoa In-liong ke tanah.

Ia membiarkan tubuh anak muda itu bertindih diatas pahanya.

Kemudian telapak tangan kanannya ditempelkan diatas pusar dan hawa murnipun disalurkan masuk kedalam tubuhnya.

"Jiko!"

Ia berkata dengan lembut.

"Berbaring saja ditumpuan badanku. Biar kucoba untuk menyalurkan hawa murni. Siapa tahu kalau hawa murniku itu berhasil mendesak keluar racun ular jahat yang mengeram dalam tubuhmu"

Lembut dan halus sekali ucapan tersebut, seakan-akan kata-katanya itu memang betul betul muncul dari sanubarinya.

Setetes air mata terasa jatuh berlinang membasahi pipinya dan membasahi wajah Hoa In-liong.

Merasakan itu Hoa In-liong tertawa getir.

"Aaaai.... Adik Wi, aku merasa amat cocok sekali dengan dirimu. Aku pun merasa gembira sekali dapat berkumpul dengan dirimu. Sebagai seorang pria kau jangan berhati lemah. Kau musti tabah dan berjiwa keras, jangan gampang mengucurkan air mata. Lapi pala, andaikata aku sampai tertimpa sesuatu musibah, engkau juga yang harus membalaskan dendam bagi diriku, kenapa....? kenapa....?"

Mendadak alis matanya berkerut, nafasnya juga ikut memburu, sehingga kata kata yang belum selesai itu tak sempat dilanjutkan sampai habis....

Ketika Hoa In-liong mengatakan bahwa dia menyukai dirinya, serta merta paras muka Cwan Wi berubah jadi semu merah.

Siapa tahu kata-kata itu tak berakhir, karena ia segera menyaksikan Hoa In-liong mengerutkan dahinya dengan nafas memburu.

Wajahnya kelihatan sekali betapa menderitanya dia.

Betapa terkejutnya Cwan Wi menyaksikan kejadian itu, dia segera berteriak keras.

"Jiko....! Jiko!"

Dengan lemah Hoa In-liong mengulapkan tangannya.

"Adik Wi, Aku.... Aku tak tahan lagi. Tolong.... Tolong tariklah kembali tenagamu...."

Cwan Wi menurut, ia tarik kembali telapak tangan kanannya, kemudian dengan penuh rasa kuatir tanyanya kembali.

"Jiko, bagaimana rasanya badanmu sekarang?"

Dengan nafas tersengkal-seng Hoa In-liong menengadah.

"Saat ini isi perutku terasa sakitnya bukan kepalang. Tentulah apa yang dinamakan ular sakti menggigit hati sedang mewujudkan kenyataannya!"

"Engkau terlalu keras kepala, tak mau mendengarkan perkataanku"

Omel Cwan Wi sambil berkerut kening.

"Coba kalau kau turuti perkataanku memaksa bandot tua itu menyerahkan obat penawarnya, tentu kau tidak akan merasakan penderitaan seperti ini"

Ketika berbicara sampai disitu, matanya kembali jadi merah dan air matapun jatuh bercucuran. Sekali lagi Hoa In-liong ulapkan tangannya.

"Jangan menangis! Jangan menangis! Adik Wi, aku tidak percaya kalau apa yang dikatakan sebagai siksaan "

Ular sakti menggigit hati"

Itu mampu merenggut nyawaku.

Aku hanya percaya bahwa yang lurus pasti dapat menangkan yang sesat.

Aku akan berusaha dengan segala kemampuan yang kumiliki untuk memusnahkan pergaruh racun itu dari dalam tubuhku!"

"Jiko! Apakah tidak kau dengar perkataan dari tua bangka itu?"

Keluh Cwan-Wi dengan sedih.

"Dia bilang racun ular sakti menggigit hati tak dapat dipunahkan oleh siapapun. Racun itu adalah racun ganas hasil ciptaannya. Jika ia sudah berkata demikian, sudah pasti ucapannya bukan gertak sambal belaka!"

"Setiap benda yang berasal dari alam semesta, sadah pasti ada lawan tandingannya"

Kata Hoa In-liong dengan suara hambar.

"Terus terang kuberitahukan kepadamu, aku pernah mendapat warisan ilmu sakti dari seorang tokoh silat. Ilmu semedi tersebut berbeda jauh dengan ilmu semedi yang sering sekali kita lihat. Siapa tahu kalau kepandaian tersebut akan bermanfaat sekali bagiku" . Leng-ji memang belum mengenal arti kesal atau murung, tapi ia lebih gelisah dari siapapun jua. Ketika mendengar perkataan itu, segera teriaknya dengan cepat.

"Kalau memang begitu, ayoh cepatlah dicoba...."

Dengan perasaan apa daya Hoa In-liong menggelengkan kepalanya. Pelan-pelan dia alihkan sinar matanya keatas tubuh Wan Hong-giok yang setengah telanjang itu.

"Adik Wi!"

Katanya lagi.

"Apakah nona Wan masih belum juga sadar dari pingsannya?"

Cwan Wi ikut berpaling kearah Wan Hong-giok, kemudian sambil berkerut kening omelnya.

"Kamu ini memang keterlaluan. Masa dalam keadaan seperti inipun engkau masih mempunyai kegembiraan untuk mengurusi orang lain!"

Hoa In-liong tertawa getir.

"Adik Wi"

Katanya kemudian.

"Apakah engkau sudah lupa akan maksud tujuanku datang kemari? Keadaan nona Wan sangat mengenaskan dan patut dikasihani, lihatlah tubuhnya...."

Belum sampai pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, Cwan Wi telah menyela dari samping.

"Yaa, aku tahu, dia mempunyai rahasia besar yang hendak disampaikan kepadamu!"

Sampai disitu, dia lantas berpaling kepada Leng-ji, sambil katanya.

"Engkau saja yang pergi kesitu, coba tengok bagaimana keadaan nona Wan!"

Tampaknya Leng-ji juga tak puas dengan sikap Hoa In-liong yang suka mencampuri urusan orang lain.

Tapi lantaran Cwan Wi yang memerintahkan tentu saja ia tak berani membantah.

Maka setelah ragu-ragu sejenak akhirnya selangkah demi selangkah ia maju kedepan.

Melihat Leng-ji maju dengan langkah yang sangat lambat, dalam hati Hoa In-liong menghela napas panjang, pikirnya.

"Yaa.... Bagaimanapun juga, adik Wi memang masih terlalu muda. Perasaan hatinya hanya tahu tertuju pada seseorang belaka. Aaaaii....! Dia begitu memperhatikan diriku. Aku yang menjadi Jiko-nya benar-benar tak kuasa menanggung beban untuk membuka pikirannya serta memberi pelajaran bagaimana caranya melimpahkan kasih sayang kepada segenap umat manusia"

Jika Hoa In-liong berpikir demikian, maka berbeda dengan kemurungan yang mencekam perasaan Cwan Wi ketika itu.

Tatkala dilihatnya seluruh perhatian dan seluruh rasa kuatir Hoa In-liong hanya tertuju pada diri Wan Hong-giok seorang, tanpa terasa lagi dengan kening berkerut dia mengomel.

"Jiko, bagaimana sih kamu ini? Leng-ji toh sudah menghampirinya. Bagaimana keadaan Wan Honggiok pun sebentar lagi bakal ketahuan, buat apa kau demikian menguatirkan keselamatan jiwanya? Oya, bukankah tadi kau berkata bahwa kau memiliki sejenis ilmu semedi yang bisa digunakan untuk memunahkan racun ular sakti yang mengeram dalam tubuhmu? Kenapa kau tidak....?"

"Tak usah terlalu buru-buru...."

Tukas anak muda itu. Cwan Wi jadi kurang senang hati, dia pun kembali menyela.

"Kau tidak cemas maka akulah yang sangat cemas! Kenapa tidak bercermin dulu untuk memeriksa tampang wajahmu? Tahukah engkau betapa mengerikannya raut wajahmu pada saat ini?"

Perkataan itu bukan suatu olok-olokan tapi memang begitulah kenyataan.

Raut wajah Hoa lnliong ketika itu memang benar-benar menakutkan sekali.

Diantara warna kelabu yang menghiasi wajahnya tampak warna hitam melapisi mukanya di sana-sini.

Otot-ototnya pada menonjol keluar.

Ditambah pula kulitnya pada berkerut menahan penderitaan.

Dari sini dapat diketahui bahwa siksaan yang dirasakan dalam perutnya bukannya berkurang sebaliknya justru makin bertambah.

Sampai di manakah penderitaan yang dialami dalam tubuhnya, tentu saja Hoa In-liong jauh lebih jelas dari siapapun.

Maka dari itu ia sama sekali tidak gusar oleh makian Cwan wi, bahkan rasa terima kasihnya malahan semakin berlipat ganda Iapun tertawa getir, lalu katanya dengan lembut.

"Adik Wi, bukan berarti aku tak tahu sayang pada kesehatanku sendiri. Tapi justru lantaran ilmu semedi tersebut berbeda sekali dengan ilmu semedi pada umumnya. Lagipula akupun baru belajar belum lama, maka sampai sekarang aku belum berani melakukannya secara sembarangan...."

Pertama karena rasa ingin tahu dan kedua karena gelisah. Sebelum pemuda itu menyelesaikan kata-katanya Cwan Wi telah menukas kembali.

"Kalau memang begitu, lantas apa yang musti dilakukan?"

"Pikiran dan perasaan hatiku musti tenang lebih dulu, tenaga dalam arti leluasa tanpa ikatan. Padahal keadaan nona Wan hingga sekarang masih belum kuketahui. Hal ini masih merupakan beban dalam pikiranku. Bayangkan sendiri, jika pikiran dan perasaan belum mencapai ketenangan total, betapa berbahayanya bila semedi itu kulakukan secara dipaksakan. Bahaya yang mengancam jiwaku pasti akan berlipat ganda lebih besar lagi"

Sesudah mendengar penjelasan tersebut, Cwan Wi jadi tertegun.

Ia merasa heran juga curiga, namun tidak berkata apa-apa.

Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar Leng-ji menjerit kaget, menyusul kemudian ia berteriakteriak keras.

"Kurangajar, mampus sialan! Nona.... Oooh bukan....bukan....bukan.... Ji kongcu, cepatlah kemari!"

Hoa In-liong merasa amat terkejut, ia segera meronta dan bangun terduduk.

Oleh karena mendengar jeritan kaget yang muncul secara tiba-tiba itu, perasaan hatinya bergolak keras.

Karena pergolakan itu isi perutnya jadi teramat sakit....

Tak tahan lagi ia mendengus tertahan, kemudian tak bisa dicegah lagi anak muda itu roboh terjengkang ke atas tanah.

Cepat Cwan Wi menguruti dadanya dengan tangan kanan.

Kembali omelnya dengan wajah murung.

"Coba lihat tampangmu itu! Sekalipun nona Wan mengalami kejadian diluar dugaan, gelisahpun apa gunanya?"

Sambil merasa sakit yang luar biasa, Hoa In-liong berbisik dengan napas tersengal.

"Adik Wi.... To.... Tolong pergilah kesitu.... Coba tengoklah keadaannya"

Dengan dahi berkerut Cwan Wi menghela nafas panjang, ia segera berteriak.

"Leng-ji, sebenarnya apa yang telah terjadi? Kenapa kau berlagak sok bingung macam monyet kena terasi?"

Paras muka Leng-ji diliputi kegusaran dan rasa mendongkol, ia menjawab dengan suara lantang.

"Bajingan-bajingan Mo-kauw adalah manusia yang berhati busuk Coba lihatlah, meskipun mereka mengatakan akan lepaskan nona ini, nyatanya sebelum pergi mereka telah menancapkan sebatang jarum beracun di atas dada nona Wan Kemudian bermain gila pula disekitar pusar dan perut bawah nona ini" .

Jilid 21 CWAN WI bukan seorang manusia yang berhati sekeras baja. Ketika mendengar keterangan itu, paras mukanya ikut berubah hebat.

"Lantas bagaimana keadaannya? Apakah dia masih hidup?"

Tanyanya dengan cemas.

"Aku kuatir.... aku kuatir kalau jiwanya tidak ketolongan lagi!"

Sahut Leng-ji terbata-bata. Cwan Wi terkesiap.

"Cepat bawa dia kemari! Cepat....!"

Baru saja ia berseru sampai disitu, tiba-tiba ia merasa berat badan yang menindih diatas kakinya terasa sangat berat sekali.

Ketika diperiksa lagi, ternyata Hoa In-liong berbaring diatas pahanya dengan mata terpejam rapat.

Rupanya anak muda itu kembali jatuh tak sadarkan diri.

Kejadian seperti inilah yang paling dikuatirkan dan ditakuti Cwan Wi.

Mula-mula dia tertegun, menyusul kemudian sambil mendekati tubuh In-liong teriaknya dengan suara gemetar.

"Jiko....!"

Menyusul suara teriakan itu, air matanya tidak terbendung lagi.

Akhirnya Cwan Wi menangis tersedu-sedu....

Masih mendingan kalau tidak menangis, begitu tangisannya meledak maka segala rahasianya pun ikut terbongkar.

Ternyata ia bukan bernama Cwan Wi, nama yang sebenarnya adalah Coa Wi-wi.

Dia adalah seorang gadis remaja, Coa Wi-wi!

Adik kandung dari Coa Cong-gi.

Sebagai perempuan, sifat gampang menangis memang merupakan sifat yang lumrah.

Ia menangis karena yang dikasihi tak mau mendengarkan nasehatnya, tak mau menjaga kesehatan sendiri sehingga akibat jatuh tak sadarkan diri.

Untuk sesaat rasa sedih, kesal dan murung yang berkecamuk dalam benaknya sepuluh kali lihat lebih dahsyat dari keadaan dihari-hari biasa.

Rasa sedih yang tak terbendung itu akhirnya meledak sebagai suatu isak tangis yang memilukan hati.

Leng-ji cepat-cepat memburu datang sambil membopong tubuh Wan Hong-giok.

"Siocia....! Nona.... bagaimana keadaan Ji ko....?"

OooOOOooo LENG-JI aslinya bukan bernama Leng-ji, tapi bernama Ki-ji.

Dia adalah dayang kepercayaan dari Wi-wi.

Ketika tiba didepan majikannya dan menyaksikan keadaan anak muda itu, dengan perasaan terkejut cepat ia baringkan Wan Hong-giok keatas tanah, kemudian teriaknya.

"Aduuh mak....tidak benar keadaannya.... keadaan ini tidak benar...."

Baca Juga: Anak Rajawali 2

Baca Juga: Pendekar Bego 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert