Eps 5 Rahasia Hiolo Kumala - Gu Long
Baca online Rahasia Hiolo Kumala - Gu Long
Cersil Rahasia Hiolo Kumala - Gu Long.
Agaknya hal ini sulih menjadi kebiasaan bagi mereka.
Selama tiga hari belakangan ini, setiap kali mereka berempat lewat dibawah pohon, tentu berhenti sebentar sambil menengok keadaan dari Hoa In-liong.
Keadaan Hoa Hoa In-liong tidak mengalami banyak perobahan.
Ia masih tetap tergantung diatas dahan pohon dengan kepala dibawali kaki diatas.
Bila di bilang ada perubahan maka perubahan tersebut berkisar pada perubahan air mukanya belaka.
Bila dihari pertama mukanya tampak layu pucat pias dan bentuknya seperti orang terserang penyakit parah, malam harinya sudah tampak perubahan.
Bahkan kemudian terjadi perubahan yang makin membaik, sampai kini bukan saja paras mukanya sudah menjadi merah lagi, kondisi badannya juga makin stabil.
Sekilas pandangan orang akan menyangka kalau ia sedang tertidur nyenyak.
Tentu saja perubahan tersebut tak akan mengelabui ketajaman mata Bwee Su-yok berempat.
Paras muka Bwee Su-yok saat ini amat dingin dan hambar.
Dia melirik sekejap ke arah Hoa Inliong kemudian mendengus dingin.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun melanjutkan langkahnya naik kepelataran rumah.
"Siocia...."
Tiba-tiba Siau-bi berbisik agak takut-takut.
"Ada urusan apa?"
Tanya Bwee Su-yok seraya berpaling.
"Ssuuuu.... Sudah tiga hari!"
Tiba-tiba Bwee Su-yok memutar badannya.
"Kalau sudah tiga bari lantas kenapa?"
Bentaknya.
Setajam sembilu sorot matanya, hawa gusar memancar dibalik wajahnya yang cantik.
ini membuat Siau-bi jadi ketakutan sehingga buru-buru menundukkan kepalanya.
Siau-kian paling tua usinya diantara yang lain, diapun paling pemberani diantara mereka, tibatiba selanya.
"Siocia kan berjanji akan mengantungnya selama tiga hari? Apakah kita perlu melepaskannya dari ikatan?"
"Hmmm....! Jadi kau kasihan kepadanya?"
Dengus Bwee Su-yok dengan nada dingin. Siau kian agak tertegun, tapi cepat dia tundukkan kepalanya.
"Buuu.... bukannya kasihan!"
"Lalu buat apa kau singgung tentang persoalan itu?"
Bentak gadis itu semakin marah.
"Huuh!.... sudah tahu pura bertanya!"
Batin Siau-kian. Tentu saja apa yang di batin tak berani diutarakan secara terus terang, sesudah termenung sejenak dia baru menjawab.
"Apa yang telah kita janjikan harus ditepati dengan sebaik-baiknya, maka budak minta petunjuk dari nona untuk...."
"Tidak akan kulepas!"
Tiba-tiba Bwee Su-yok menukas.
Selesai berkata dia putar badan dan masuk ke dalam ruangan dengan wajah marah.
Selama tiga hari belakangan ini, sikap marah-marahnya itu sudah menjadi suatu kebiasaan dan beberapa orang dayangnya sudah terbiasa menyaksikan tingkah polahnya.
Tak heran kalau Siau-kian sama sekali tidak kaget atau terkejut melihat keadaan tersebut.
Sambil menjulurkan lidahnya, ia alihkan kembali sinar matanya ke arah Hoa In-liong.
Tiba-tiba wajahnya tampak tertegun, dengan suara setengah menjerit teriaknya.
"Nona....! Nona....!"
Secepat angin Bwee Su-yok melayang kembali ketempat semula, gesit dan lincah seperti burung walet.
"Kau pingin mampus bentaknya dengan merah.
"Dia.... dia telah sadar kembali"
Kata Siau-kian sambil menuding ke depan.
"Sadar atau tidak apa urusannya dengan dirimu?"
Bentak Bwee Su-yok lagi.
"Siapa suruh berteriak macam kesetanan?"
Walaupan ia berkata demikian, sinar matanya toh dialihkan juga ke wajah Hoa In-liong.
Tampaklah paras muka anak muda itu segar bugar.
Senyuman manis tersungging di ujung bibirnya.
Waktu itu diapun sedang memandang ke arahnya dengan pandangan mengejek.
Mula-mula ia tertegun, menyusul kemudian rasa malu dan mendongkol melintas dalam benaknya.
Tanpa sadar diapun balas melotot sekejap ke arah Hoa In-liong dengan pandangan gemas.
Hoa In-liong tersenyum lebar.
"Nona Bwe, bolehkah aku minta secawan air?"
Pintanya.
"Tidak!"
Jawab Bwee Su-yok ketus.
"Aku lapar sekali"
Kembali Hoa In-liong mencibirkan bibirnya.
"Apakah nona sudah menyiapkan arak dan sayur bagiku?"
Tubuhnya yang jungkir balik membuit pancaindranya tampak aneh.
Apalagi waktu berbicara, mirip sekali dengan makhluk yang aneh dia lucu.
Serta-merta dua orang dayang yang berdiri disisinya tertawa cekikikan menahan geli.
"Kau bilang suruh siapa yang menyiapkan arak dan nasi?"
Kembali Bwee Su-yok membentak nyaring. Hoa In-liong mengernyitkan alis matanya lalu tertawa lebar lagi.
"Sebetulnya aku minta bantuan nona, tapi lebih baik tak usah kukatakan lagi. Harap lepaskan aku turun!"
Katanya.
"Tidak, kau tak akan kulepas!"
Teriak Bwee Su-yok makin mendongkol "Kau mau apa?"
Hoa In-liong tertawa.
"Kalau tak salah hari ini kan sudah hari yang ketiga?"
"Hmm, kau akan kugantung tujuh hari lagi!"
Kata gadis itu dengan nadanya yang dingin.
"Sebagai seorang manusia, janganlah mengingkar janji dan menjilat perkataan sendiri. Apalagi nona sebagai seorang tiancu dari perkumpulan Kiu-im-kauw...."
"Tidak akan kulepas! Tidak akan kulepas! Tidak akan kulepas....!"
Jerit Bwee Su-yok setengah melengking. Tapi belum habis teriakan tersebut, tiba-tiba....
"Kraaak....! kraaak...."
Diiringi suara yang amat nyaring Hoa In-liong telah mematahkan semua tali yang membelenggu tubuhnya, kemudian seenteng kapas dia melayang turun kepermukaan persis dihadapan mukanya.
Seketika itu juga keempat orang dayang itu menjerit kaget, demikian pula dengan Bwee Su-yok tanpa sadar dia mundur selangkah dengan mulut melongo lebar.
Wajah Hoa In-liong cerah dan bersinar, senyum manis tersungging diujung bibirnya, orang tak akan percaya kalau dia sudah tiga hari digantung tanpa makan dan minum.
"Batas waktu selama tiga hari sudah lewat,"
Demikian ia berkata.
"Aku rasa digantung secara terbalik itu tak sedap dirasakan lebih lama. Maka jika nona segan melepas aku, terpaksa kuambil keputusan untuk memutus sendiri tali-tali yang membelenggu badanku"
Keadaan Bwee Su-yok waktu itu yaa kaget, yaa malu, yaa mendongkol, hawa amarah kontan saja menyelimuti seluruh benaknya.
"Kau tak usah sok berlagak dihadapankul!"
Bentaknya.
Bagaikan harimau kelaparan ia menerkam ke muka, sepasang telapak tangannya berputar kencang.
Dengan sepuluh jari tangannya yang runcing ia cengkeram dada Hoa In-liong.
Desingan angin jari menderu-deru.
Sungguh dahsyat serangan tersebut.
Dalam keadaan demikian terpaksa Hoa In-liong miringkan badannya dan buru buru mengigos ke samping.
"Eeeeeh.... nanti dulu Nona!"
Teriaknya.
"Aku berbuat demikian toh demi menjaga nama baik nona? Kenapa nona malahan...."
Belum habis perkataan itu tiba-tiba desingan angin tajam kembali menyerang tiba dari arah belakang.
Terpaksa ia telah kembali perkataan berikutnya, lengan diputar dan sebuah serangan balasan segera dilontarkan ke depan.
Tak salah lagi kalau serangan tersebut dilancarkan dalam keadaan tergesa-gesa, kekuatan yang di pakai juga tak sampai lima depa.
Meski demikian keampuhan yang tersembunyi dibalik serangan tersebut benar-benar luar biasa.
Meski hanya satu serangan namun mengandung balasan macam perubahan yang tak terduga, bukan sembarangan jago lihay yang sanggup membendung ancaman semacam itu.
Bwee Su-yok segera menyingkir ke samping dan menghindarkan diri dari ancaman tersebut.
Tubuhnya berputar cepat ke samping kanan Hoa In-liong.
Tiba-tiba dengan jari tangannya yang kaku bagaikan tombak ia tusuk jalan darah Ki bun hiat di iga kanan anak muda itu.
"Hmm....! Justru nonamu sengaja tak mau pegang janji. Akan kugantung kau selama tujuh hari lagi, akan kulihat apa yang bisa kaulakukan....?"
Katanya ketus.
Indah nian gerakan tubuhnya, ganas, keji dan berat pula ancaman serangannya.
Andaikata serangan tersebut bersarang telak pada sasarannya, meski tubah Hoa In-liong terlindung oleh kaos kotang pelindung badan, toh dia tetap akan roboh juga.
Hoa In-liong tidak panik.
Ia tarik badannya hingga cekung ke dalam, kemudian dengan entengnya anak muda itu mundur delapan depa ke belakang.
"Nona!"
Ujarnya dengan dahi berkerut.
"Gurumu kan bermaksud menahan aku secara baik-baik?"
"Tak usah banyak cerewet!"
Tukas Bwee Su-yok sambil mengejar sasarannya bagaikan bayangan.
"Sengaja mau gantung kau selama tujuh hari, mau apa kau? kalau dilepaspun harus tunggu tujuh hari kemudian"
"Oooh.... jadi kau hendak melepaskan aku pergi?"
Seru Hoa In-liong dengan wajah tercengang.
"Ya!"
Jawaban dari Bwee Su-yok sungguh-sungguh, serius dan tak nampak kalau cuma bergurau belaka. Setajam sembilu sorot mata Hoa In-liong yang mengawasi wajah Bwee Su-yok, tiba-tiba ia tertawa.
"Haa.... haa.... haa.... Diantara anak cucu keluarga Hoa, hanya aku yang suka berbohong. Haa.... haa.... haa.... Sungguh tak kusangka...."
"Apa kau bilang?"
Bentak Bwee Su-yok dengan sorot mata yang luar biasa tajamnya. Hoa In-liong masih tergelak-gelak.
"Haa.... haa.... haa.... Sekalipun nona tidak bohong, aku yakin ucapanmu kau utarakan karena emosi belaka. Bila kau lepaskan aku pergi dari sini, lantas bagaimanakah pertanggungan jawabmu dibadapan gurumu nanti?"
Benar juga perkataan ini!
Bila anak muda itu dilepaskan secara pribadi, lantas bagaimanakah pertanggung jawabnya dihadapan Kiu-im kaucu nanti?
Kalau bukan begitu, bukankah berarti bahwa nona itu sedang berbohong?
Tampaknya karena malu Bwee Su-yok jadi marah merah padam selembar wajahnya.
Sinar mata yang menyambar kesana kemari setajam pisau, menggidikkan keadaannya.
"Kalau memang begitu, lebih baik kau mampus saja!"
Teriaknya kemudian dengan lantang.
Berbareng itu juga sepasang telapak tangannya diayun ke depan deugan dahsyat.
Kalau dilihat dari gaya Bwee Su-yok melepaskan serangannya, dapat ditarik kesimpulan kalau hati nona itu sedang gundah dan diliputi hawa amarah.
Andaikata serangan tersebut bersarang telak, dengan kekuatan yang terkandung dibalik pukulan itu, sedikit banyak akan binasa juga Hoa In-liong bila terhantam.
Tak terkirakan rasa kaget dari dua orang dayang cilik itu sampai-sanpai mereka berteriak keras.
"Nona....!"
Bukan saja lengking suaranya, diantara kelengkingan tersebut terbawa pula nada gemetar yang jelas kedengaran.
Agak tertegun Bwee Su-yok mendengar jeritan tersebut, ia menunda serangannya sambil membentak.
"Apa-apaan kalian? Kenapa menjerit jerit macam orang edan?"
Sebelum dayang-dayang itu menjawab, Hoa In-liong telah menimbrung dari samping.
"Aku hendak berbicara nona!"
Oooo OOO oooo "HUUUUH! Kau anggap nonamu sudi mendengarkan segala ocehanmu yarg tak genah?"
Jengek Bwe-su yok seraya menatap lawannya dengan pandangan dingin.
"Mau mendengarkan atau tidak tentu saja urusan nona sendir. Aku hanya merasa tak enak rasanya bila perkataan yang menyumbat tenggorokanku tidak kuutarakan keluar. Terus terang kuberitahukan kepadamu nona, sebetulnya aku tak ingin pergi dari sini. Tapi setelah dapat kupahami jalan pemikiran nona, maka aku merasa, andaikata aku tetap berdiam diri disini malah justru akan menjerumuskan nona pada keadaan yang tidak berbudi, oleh sebab itu...."
"Hmm....! Nonamu berbudi atau tidak, kenapa musti kau risaukan?"
Tukas Bwee Su-yok sangat mendongkol. Hoa In-liong tertawa ewa.
"Bila persoalan ini sama sekali tak ada hubungannya dengan diriku, tentu saja tak usah kurisaukan tapi berhubung persoalan ini timbulnya justru lantaran aku. Jika nona sampai melakukan perbuatan-perbuatan yang tak berbudi, bukankah semuanya itu adalah berkat dari dosa dan kesalahanku?"
Kembali Bwee Su-yok mendengus dingin.
"Hmm.... Usil mulut pandai menjilat, rupanya engkau sedang berusaha untuk membersihkan diri dari segala dosa dan kesalahan! Begitupun bolehlah, ayoh cepat menyerah dan biarkan tubuhmu di ikat, kau musti digantung selama tujuh hari lagi"
"Aaah....! Bicara pulang pergi, nona toh bersikeras akan menggantung aku selama tujuh hari lagi!"
"Kalau tidak, maka engkau harus mampus!"
Sambung Bwee Su-yok dengan suara yang menyeramkan. Paras muka Hoa In-liong tiba-tiba saja berubah jadi amat serius, dengan sungguh-sungguh dia berkata.
"Nona Bwee, engkau terlalu picik pikirannya, terlalu sempit jiwanya, watak semacam ini patut segera dirubah!"
Kalau dihari-hari biasa Hoa In-liong selalu tertawa haha hihi dengan sikap yang santai dan acuh tak acuh, sehingga orang menganggap dirinya sebagai laki-laki hidung bangor, atau kalau serius pun wajahnya tetap tenang tanpa pancaran hawa gusar.
Maka setelah air mukanya menjadi serius dan nada pembicaraannya tiba-tiba berubah ber-sungguh-sungguh, kontan saja Bwee Suyok dibikin tertegun olehnya.
Hoa In-liong berhenti sebentar, kemudian sambangnya lebih jauh.
"Dengarkanlah perkataanku selanjutnya. Pantangan paling besar bagi seorang manusia adalah tak tahu diri dan kelewat sombong. Bagaimanapun juga aku kan sudah kau gantung selama tiga hari tanpa melawan. Semestinya nona sudah harus puas dengan hasil tersebut. Tapi sekarang, lantaran kau lihat keadaanku tak kekurangan sesuatu apapun, hatimu jadi panas. Maka dengan alasan yang dibuatbuat kau ingin memancing aku masuk perangkap. Sekalipun aku percaya dengan perkataanmu itu, bukankah soal kepercayaan bagi nona akan mengalami kerugian? Sebaliknya bila pegang janji, setelah kau gantung aku selama tujuh hari lantas melepaskan aku pergi, tidakkah engkau merasa bahwa perbuatanmu itu telah melanggar perintah dari gurumu? Meskipun budi dan dendam yang kau lakukan bukan dilakukan dengan tujuan tertentu, tapi akibat yang dihasilkan semuanya merupakan suatu tindakan yang tidak berbudi. Nah, nona! Terus terang kukatakan kepadamu, tak mungkin kaudapat menggantung aku selama tujuh hari lagi tanpa perlawanan dariku. Padahal nafsu membunuh sudah menyelimuti wajah nona, bayangkan sendiri, dengan kemampuan yang nona miliki, mampukah engkau untuk melaksanakan kesemuanya itu?"
Setiap perkataan yarg diutarakan anak muda itu boleh dibilang diucapkan dengan nada yang tegas dan alasan yang tepat.
Meskipun selama ini Bwee Su-yok bermaksud membantah, ia tak tahu bagaimana harus membantahnya.
Tiba-tiba saja paras muka Hoa In-liong berubah semakin cerah, sambil tertawa nyaring ujarnya kembali.
"Nona Bwe, terus terang kukatakan, raut wajah serta keanggunan nona amat mengagumkan aku Hoa Yang. Sayang kedudukan kita jauh berbeda, kita harus berdiri pada posisi yang saling bermusuhan. lagipula nona sombong dingin dan tak berperasaan. Kalau tidak demikian, mungkin kita bisa menjadi sahabat yang karib. Oleh sebab itu, bila lantaran aku akan mengakibatkan nona terjerumus dalam keadaan yang tidak berbudi, sampai matipun aku Hoa Yang tidak akan melakukannya. Maka setelah kupikir lebih jauh, aku rasa satu-satunya jalan yang bisa kita tempuh sekarang adalah mohon diri darinu, kita putuskan dahulu gejala "
Ketidak berbudi"
Tersebut, agar nona tak sampai rugi karenanya.
Nona Bwee, aku ingin mohon diri kepadamu, dihadapan gurumu nanti tolong sampaikan permintaan maafku yang mana telah pergi tanpa pamit, semoga nona bisa jaga diri baik-baik!"
Selesai berkata dia menjura, putar badan dan berjalan menuju ke dinding pekarangin dihalaman belakang.
Selang sesaat kemudian ia sudah melewati dinding pekarangan dan lenyap dari pandangan mata.
Ia bilang pergi lantas pergi.
Perkataannya terus terang dan blak-blakkan.
Sikapnya gagah perkasa, sedikitpun tidak menunjukkan tanda-tanda berat hati atau segan pergi.
Memandang bayangan punggungnya yang kekar dan lenyap dari pandangan mata, Bwee Su-yok hanya bisa berdiri termangu dengan mata terbelalak dan mulut melongo.
Dia lupa menjawab, lupa menegur.
Untuk sesaat hanya berdiri kaku bagaikan sebuah patung arca.
Sepintas lalu keadaan tersebut seakan-akan suatu kejadian yang diluar dugaan, padahal memang demikianlah keadaan pada umumnya.
Perlu diterangkan disini, bahwasanya Hoa In-liong adalah seorang pemuda yang tampan.
Hal ini sudah terbukti jelas, manusia dengan tampang gagah seperti inilah merupakan idaman dan incaran dari setiap gadis kaum remaja.
Meskipun Bwee Su-yok itu dingin dan kaku hatinya, bagaimanapun dia adalah seorang gadis yang berwajah cantik.
Dan selama manusia punya perasaan, tentu perasaan mereka tak jauh berbeda, begitu pula dengan keadaan dara tersebut.
Sebelum itu, dia selalu barusaha menyusahkan Hoa In-liong, hal ini disebabkan karena pertama hasil pendidikannya yang bertahun-tahun, kedua rasa dongkolnya terhadap Hoa In-liong yang sama sekali tidak tergiur oleh kecantikan wajahnya.
Kedua hal tersebut diatas segera menimbulkan perasaan tak puas, perasaan mendongkolnya atas diri pemuda itu, padahal terus terang dalam hati kecilnya diapun menaruh rasa simpatik terhadap Hoa In-liong.
Apalagi rasa simpatiknya lebih mendekati sebagai benih-benih cinta.
Bisa dibayangkan bagaimanakah perasaannya ketika itu.
Sekarang, dengan begitu terus terang, dengan begitu blak-blakan Hoa In-liong telah mengutarakan perasaan cinta dan kagumnya terhadap dirinya.
Tapi lantaran dia tak ingin menjerumuskan dirinya dalam keadaan tak berbudi, dia rela pergi meski dengan perasaan berat.
Betapa terus terangnya pengakuan pemuda itu atas rasa cinta dan kagumnya?
Betapa dalamnya perasaan kuatir dan perhatiannya terhadap segala hal yang ncenyang-kut dirinya?
Tidak heran kalau Bwee Su-yok dibuat tertegun tanpa mengetahui apa yang harus dilakukan.
Malam semakin kelam, rembulan sudah muncul dari arah timur, secepat sambaran kilat Hoa Inliong bergerak menuju ke kota Kim-leng.
Anak muda itu langsung berkunjung ke pesanggrahan pertabiban dan menyambangi Kang-lam Jigi (Tabib Sosial dari Kanglam) Yu Siang-tek suami istri.
Dari mulut kedua orang tua inilah dia baru tahu bahwa Yu Siau-lam beserta Kim-leng ngo-kongcu nya telah menyebarkan diri untuk mencari jejaknya semenjak ia tertangkap musuh.
Coa Cong-gi sendiri walaupun bertugas menjaga dikota Kim-leng, tapi sudah tiga hari Kang-lam Ji-gi tidak menjunpai jejaknya.
Setelah mengetahui tentang gerakan yang dilakukan oleh Kim-leng ngo-kongcu, selain Hoa Inliong merasa berterima kasih atas perhatian serta simpatik Kim-leng ngo-kongcu yang sudi mencari jejaknya dengan susah payah, diapun merasa kuatir atas keselamatan dari Coa Cong-gi.
Dia kuatir Coa Cong-gi telah berjumpa dengan orang-orang dari Kiu-im kau dan kena ditangkap juga oleh mereka.
Karena itu setelah buru-buru bersantap, dia mengambil senjata, menanyakan tempat tinggal dari Coa Cong-gi, kemudian baru berpamitan dengan Yu Siang-tek suami istri dan lari menuju kejalan raya sebelah timur Tempat tinggal Coa Cong-gi terletak di istana raja muda Kim-leng, meskipun Ko Hoa sudah melepaskan diri dari jabatan tersebut, namun tempat tinggal itu masih ditempati oleh anak keturunannya baik kewibawaan maupun keangkerannya tak jauh berbeda seperti dulu.
Sayang para pelayan yang ada dirumah tak ada yang tahu kemana perginya Coa Cong-gi.
Menurut seorang pengurus rumah tangga she-Kok, sudah tiga hari majikan mudanya tidak pulang ke rumah.
Sedang majikan perempuannya beserta nona telah melakukan perjalanan jauh pada tiga hari berselang....
Tentu saja Hoa In-liong tidak tahu kalau kesemuanya itu adalah hasil perbuatan dari Goan-cing Taysu.
Sepeninggalnya dari gedung Coa dijalan raya sebelah timur, perasaannya jadi gundah, gelisah dan sangat tidak tenang.
Sekalipun demikian ia tidak merasa gelisah, karena setelah meninggalkan gedung perkampungan yang misterius itu, ia telah mengambil keputusan akan menyelidiki kembali gerak-gerik dari Kiuim kau tengah malam nanti.
Seandainya Coa Cong-gi memang terbukti sudah diculik orang-orang Kiu-im kau, waktu itu kabar tersebut tentu akan diperoleh juga dan rasanya melakukan pertolongan pada waktu itupun belum terlambat.
Karenanya setelah termenung dan berpikir sejenak, dia memutuskan untuk berkunjung lebih dulu ke rumah pelacuran Gi-sim-wan untnk menemui Cia In.
Pemuda ini memang dasarnya suka bermain perempuan.
Dimana saja ia berada, disanalah ia pasti berkenalan dengan perempuan.
Baru beberapa hari berkenalan dalam dunia persilatan, sudah beberapa orang gadis yang selalu terkenang dalam benaknya.
Diantara sekian banyak gadis, Cia In terhitung perempuan yang istimewa bagi pandangannya.
Sejak ia membocorkan jejaknya dihadapan Ciu Hoa kemudian pada tiga hari berselang dia menyaksikan kereta kudanya muncul dari daerah loteng sambur menuju keramaian kota.
Maka meskipun hatinya kangen, diapun sedikit curiga.
Tanpa sadar langkah kakinya telah bergerak menuju ke arah kuil Hu cu-bio.
Setelah memasuki sebuah lorong, sampailah pemuda itu disebelah barat rumah pelacuran Gisim-wan.
Dengan matanya yang jeli dia menengok kekiri kekanan.
Setelah yakin kalau disekitar tempat itu tak ada orang, ia baru melompati pagar pekarangan dan masuk kedalam.
Setelah melewati beberapa bangunan akhirnya tibalah dia didepan loteng tempat tinggal Cia In.
Ruangan loteng itu terang benderang, dari kejauhan ia saksikan In-ji berdiri ditepi pagar sambil memandang sekelling sana.
Ketika ia pandang lebih seksama lagi, ternyata tidak tampak bayangan tubuh dari Cia In.
Diatas lotengpun tak kelihatan ada orang yang berlalu lalang, meski sudah ditunggu beberapa saat lagi, ternyata keada-annya masin tetap dan tidak berubah.
Menyaksikan kesemuanya itu, Hoa In-liong mengerutkan dahinya seraya berpikir.
"Kemana perginya Cia In? Mengapa ia tidak tampak? Kalau pergi memenuhi undangan orang kenapa In-ji tidak ikut? In-ji jelas ada diatas loteng, tapi disitu tak nampak ada tamu, masa.... masa...."
Belum habis kecurigaan tersebut terlintas dalam benaknya, tiba tiba serentetan bisikan lirih berkumandang ke dalam telinganya.
"Anak Liong kah disitu? Cepat kemari!"
Mula-mula Hoa In-liong agak terkejut, tapi segera ia kegirangan, dengan ilmu menyampaikan suara pula sahutnya.
"Ngo-siok, paman Ngo, engkau berada dimana?"
Ternyata orang yang membisiknya dengan ilmu menyampaikan suara itu bukan lain adalah seorang murid Bun Tay-kun yang diterimanya ketika ia telah lanjut usia.
Muridnya ini dianggap sebagai murid juga dianggap sebagai putra sendiri, ia bernama Hoa Ngo dan nama aslinya "Siau-ngo-ji"
Bocah itu tak berayah tak beribu, dulunya adalah seorang berandal kecil pimpinan Ko Thay dari kota Lok-yang dan pernah menyumbangkan tenaganya bagi keluarga Hoa.
Bun Tay-kun yang kasihan atas kehidupan bocah itu dan lagi senang akan kecerdasannya, kemudian Ko Thay dan Ngo-ji diterimanya menjadi murid serta diwarisi ilmu silat yang tinggi.
Sejak Ko Thay ditetapkan menjadi satu-satunya pewaris dari Ciu It-bong dan memperoleh pelajaran silat Hu im-ciang-hoat, dia telah meninggalkan perkampungan Liok-soat-san-ceng dan mendirikan perguruan sendiri, sebaliknya Hoa Ngo tetap berdiam di perkampungan Liok-soatsan-ceng dan menjadi salah satu kekuatan dari keluarga Hoa.
(untuk mengetahui peristiwa diatas, silahkan membaca.
Bara-maharani).
Sejak kecil Hoa Ngo sudah pintar, diapun termasuk seorang laki-laki yang binal dan sukar diikat dengan segala peraturan, sejak berhasil memiliki ilmu silat yang tinggi, ia seringkali berkelana diluaran, tapi bila berada di rumah Hoa In-liong lah yang paling disayang, kebinalan dan kelicikan Hoa In-liong justru sebagian besar adalah berkat ajaran dan pengaruh dari paman Ngo-nya ini.
Tidaklah heran kalau ia jadi sangat gembira setelah mengetahui babvva orang yang mengirim suara kepadanya itu bukan lain adalah paman Ngo siok nya.
"Hati-hati....!"
Suara dari Hoa-Ngo kembali berkumandang dengan nada serius.
"Aku ada disini. Disebelah sini ada sebuah ruangan mungil, kurang lebih satu panahan sebelah tenggara bangunan loteng, kau harus menyusup kemari dengan pelan-pelan, jangan sampai bersuara!"
"Harus menyusup kesitu?"
Pikir Hoa In-liong kemudian dengan perasaan tegang.
"Benarkah dalam rumah pelacuran Gim-sim-wan terdapat hal hal yang aneh dan mencurigakan?"
Tapi dalam keadaan demikian, tidak sempat lagi baginya untuk berpikir lebih jauh, buru buru ia menyusup ke arah tenggara seperti apa yang di perintahkan Paman Ngo nya.
Benar juga, disebelah tenggara terdapat sebuah bangunan mungil.
Letaknya berada dihalaman yang berbeda, hingga sepintas lalu orang akan mengira bangunan tersebut tidak berhubungan sama sekali dengan rumah pelacuran Gi-sim-wan.
Meski ada pintu yang menghubungkan halaman yang satu dengan halaman lainnya.
Ia menyusup masuk kedalam halaman tersebut lewar pintu yang setengah tertutup.
Begitu keluar dari balik pintu, terlihatlah sebuah kereta kuda yang berwarna emas dan mungil berhenti didepan pintu bangunan mungil itu, sebagai kusir keretanya adalah Hek lo-tia.
Sementara hatinya merasa terkesiap, tiba-tiba terdengar suara dari Cia In berkumandang nyaring.
"Hek lo-tia, sudah kau siapkan keretanya?"
"Lapor nona, kuda dan kereta telah siap menanti nona naik kedalam kereta"
Diantara cahaya lentera yang bergoyang terhembus angin, seorang dayang muncul dipaling depan membawa alat penerangan.
Cia In dengan mendampingi seorang perempuan cantik berbaju ungu menyusul dari belakangnya, mereka semua muncul dari ruangan tersebut.
Perempuan cantik berbaju ungu itu memakai gaun sepanjang lantai.
Rambutnya disanggul tinggi dan berparas cantik jelita.
sepintas lalu mirip seorang perempuan berusia tiga puluh tahunan, mirip juga berusia dua puluh lima enam tahunan, berapa umurnya yang pasti sukar rasanya untuk ditentukan.
Hoa In-liong menyaksikan kesemuanya itu dengan wajah termangu mangu.
Sebelum ia tahu apa yang musti dilakukan, dayang itu sudah membuka pintu kereta dan mempersilahkan Cia In berdua masuk ke dalam kereta.
"Anak Liong, cepat...."
Tiba-tiba bisikan dari Hoa-Ngo kembali berkumandang datang.
Belum habis ia berkata, Hek lo-tia sudah ayun cambuknya dan kereta itu pun mulai bergerak meninggalkan tempat tersebut.
Meskipun tidak lengkap yang didengar Hoa In-liong, tapi ia mengerti bahwa paman Ngo-siok nya memerintahkan dia untuk "membonceng kereta dan mengikuti kemana perginya orang-orang itu."
Dalam keadaan demikian, ia tak sempat untuk berpikir panjang lagi.
Dengan gerakan hampir menempel diatas permukaan tanah, dia menyusul ke belakang kereta lalu menerobos ke bawah lantai kereta yang sedang berjalan itu.
Seenteng burung walet gerakan tubuhnya, selincah kucing terkamannya.
Gerakannya ini bukan saja tidak menggerakkan daun atau rumput, tidak mengejutkan dayang yang ada didepan bangunan, bahkan orang yang berada dalam keretapun tidak akan merasa bahwa ada seseorang telah membonceng kereta mereka.
Dengan berpegangan pada dasar ruang kereta, Hoa In-liong bergelantungan terus sepanjang jalan.
Ia cuma mendengar berputarnya roda kereta tanpa diketahui kemana kereta itu akan pergi dan dimanakah paman Ngo-siok nya menyembunyikan diri.
Meski demikian, ia tahu bahwa kereta itu sudah melalui sebuah jalanan berbatu datar yang sangat panjang, lalu bergerak dijalanan berlumpur, kurang lebih setengah jam kemudian kereta mulai mendaki ditanah perbukitan, dan sepertanak nasi kemudian baru berhenti disuatu tempat.
Dengan tenangnya Hoa In-liong menunggu di bawah lantai kereta, setelah yakin kalau orangorang diatas kereta sudah meninggalkan kereta tersebut, pelan-pelan ia baru menerobos keluar dari tempat persembunyiannya.
Waktu itu sudah mendekati tengah malam, bintang bertaburan di angkasa.
Dibawah sinar rembulan yang redup terlihatlah sebuah to koan (kuil kaum beragama To) berdiri anggun didepan sana sementara Hek lo-tia dengan kesiap-siagaan penuh duduk diatas keretanya sambil memandang ke sana kemari.
Rupanya ia bertugas mengawasi kea-manan sekitar wilayah tersebut.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Hoa In-liong menyusup masuk ke dalam semak belukar.
Kemudian setelah berputar ke arah lain, ia baru membersihkan debu yang mengotori bajunya.
"Wah, tak sempat lagi bila aku hendak selidiki gerak-gerik dari orang orang Kiu-im kau"
Pikirnya dalam hati.
Sementara otaknya berputar, tubuhnya dengan enteng melayang kedepan menghampiri To koan tersebut, cahaya lampau menyinari ruang tersebut terang benderang, dengan menghindari cahaya lampu pemuda itu meryusup dikegelapan dan mendekati bangunan itu.
Saat itulah tiba-tiba ia dengar suara helaan napas seseorang yang amat nyaring.
"Aaai....! Che giok, tidak seharusnya engkau datang kemari...."
Begitu mendengar disebutnya nama "Che-giok"
Mendadak sontak Hoa In-liong merasakan hatinya bergetar keras.
"Oooh.... Sekarang aku baru tahu"
Pikirnya.
"Jadi perempuan cantik tadi adalah Pui Che-giok!"
Dengan perasaan kaget bercampur curiga, pemuda itu mendekati dinding jendela dan menyembunyikan diri baik-baik.
Ia membuat sebuah lubang kecil pada kertas penutup jendela itu, lalu menempelkan mata kanannya dilubang itu dan mengintip ke dalam ruangan.
Ruangan tersebut adalah sebuah ruangan yang sederhana dan jelek.
Seorang Tookoh (rahib perempuan) berwajah cantik dan berkulit putih bersih duduk bersila diatas pembaringan.
Seorang Tookoh berusia lanjut yang berwajah bersih mendampingi disisinya.
Waktu itu Cia In berlutut diatas tanah, sedangkan perempuan cantik berbaju ungu itu berdiri di hadapan Tookoh berwajah cantik tersebut dengan sikap menghormat.
"Heng tooyu!"
Terdengar Tookoh tua ilu berkata setelah mendehem periahan "Bagaimanapun jua nona Pui sudah sampai disini, marilah persilahkan dia duduk dan berbicara dengan sebaikbaiknya!"
"Bicara pulang pergi, yang dibicarakan toh tetap masalah keduniawian belaka"
Sahut Too-koh cantik yang disebut Heng tooyu itu dengan suara hambar.
"Tiang-heng telah mengasingkan diri dari keramaian duaia, hidup mengasingkan diri sebagai pendeta, perasaan hatiku saat ini sangat tawar dan tenang, persoalan apalagi yang hendak dibicarakan dengan diriku?"
"Nona...."
Seru Pui Che-giok agak emosi.
"Pin-ni Tiang heng, sudah lama bukan nonamu lagi!"
Tukas Heng tooyu cepat.
"Yaa, tootiang!"
Sahut Pui Che-giok sedih. To-koh yang bernama "Tiang-heng"
Itu memberi kode tangan mempersilahkan tamunya untuk duduk, lalu katanya.
"Silahkan duduk, asal tidak menyinggung soal lampau, kita boleh saja bercakap-cakap sebentar!"
"Yaa, tootiang!"
Kembali Pui Che-giok mengangguk, air mata bercucuran membasahi wajahnya, hampir saja ia menangis tersedu.
"Jangan terlalu memikirkan satu masalah yang sama melulu"
Kata Tiang-heng Tookoh hambar "Kejadian masa lampau sudah lewat bagaikan asap yang buyar di angkasa, buat apa kau menangis dan bersedih hati?
Silahkan duduk, lebih baik katakan apa yang hendak kau ucapkan pada saat ini?"
Kepada Cia In, diapun berkata lebih jauh.
"Anak In, silahkan bangun! Pinni tak berani menerima sembahmu yang berkepanjangan!"
Sambil masih sesenggukan Pui Che-giok duduk sedang Cia In menyembah lagi beberapa kali di depan Tookoh cantik itu sebelum berdiri dibelakang Pui Che-giok dengan wajah sedih dan murung.
Untuk sesaat suasana jadi hening dan sepi....
Entah berapa saat kemudian, Pui Che-giok baru menyeka air matanya dengan ujung baju, kemudian ia berkata .
"Totiang, soal perkumpulan Cha-li-kau yang Che-giok dirikan, tidak lama kemudian akan diresmikan dan diumumkan secara meluas keseluruh dunia persilatan. Untuk keperluan itu sengaja Che-giok datang kemari mohon petunjuk dari totiang"
Mendengar perkataan tersebut, Hoa In-liong merasa amat terperanjat, ia semakin pusatkan perhatiannya untuk mendengarkan semua pembicaan tersebut dengan lebih seksama.
"Kalau hanya soal meresmikan perkumpulan saja, kenapa kau musti minta petunjuk pinto?"
Kata Tiang hengto koh dengan dahi berkerut.
"Sejak kecil Che-giok sudah dipelihara oleh totiang, kemudian mendapat pula warisan Cha-li sim keng dari totiang. Segala sesuatu yang Che-giok miliki sekarang adalah pemberian dari Totiang. Tak ternilai tebalnya budi yang Che-giok terima, sebelum ada persetujuan dari totiang, darimana Cbe giok berani sembarangan ambil keputusan?"
Tiang-heng to koh menghela napas panjang.
"Aaaai.... bila pinto belum jadi pendeta, sudah pasti pinto tak akan terlalu setuju dengan tindakanmu mendirikan perkumpulan. Tapi sekarang pikiran dan perhatian pinto hanya tertuju pada pelajaran agama To, dengan sendirinya soal-soal ke duniawian pun tak akan terlalu banyak yang kuurusi"
"Harap Hoo.... tootiang berlega hati"
Tiba-tiba Pui Che giok berseru dengan cemas.
"Che-giok tidak akan melakukan segala tindakan yang menyusahkan keluarga Hoa"
"Kau...."
Tiang heng Tookoh tiba-tiba berseru dengan wajah amat serius.
"Che-giok patut mampus!"
Seru Pui Che-giok lagi dengan takut.
"Karena terlampau emosi sehingga Che-giok melupakan peringatan dari diri totiang"
Tiang heng to koh menghela napas panjang.
"Aaaaai.... Perkataan dari pinto memang sedikit kelewat batas. Padahal kejadian sudah lewat, sekalipun disinggung kembali, rasanya juga tak akan sampai menimbulkan pergolakan didalam hati"
Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba sambungnya lebih jauh.
"Secara tiba-tiba kau terburu nafsu untuk mendirikan perkumpulanmu, apakah hal ini ada hubungannya dengan keluarga Hoa?"
"Benar! Oh, bukan.... bukan...."
Pui Che giok gelagapan sekali menghadapi pertanyaan tersebut. Melihat jawaban yang saling bertentangan itu, sekali lagi Tiang heng To koh mengerutkan dahinya.
"Jika engkau hendak mengucapkan sesuatu, katakanlah secara terus terang, apa yang perlu kau takuti lagi?"
Pui Che-giok berusaha keras untuk menenangkan hatinya, kemudian ia baru berkata.
"Totiang, kau tidak tahu, Suma tayhiap suami istri telah dibunuh orang secara keji"
Mendengar kabar tersebut, sekujur badan Tiang heng Tookoh bergetar keras.
Rupanya ia merasa amat terkejut oleh kejadian tersebnt, tapi selang sesaat kemudian ia berhasil menguasai perasaan hatinya itu.
"Kau maksudkan Suma Tiang-cing suami isteri yang disebut orang sebagai Kiu-mia-kiam-kek itu?"
"Yaa, Suma Tiang-cing tayhiap suami istri itulah yang kumaksudkan"
Sahut Pui Che-giok seraya mengangguk.
"Mereka berdua mati dirumahnya di kota Lok-yang. Menurut hasil menyelidikan luka mematikan yang ditemukan ditubuh korban letaknya diatas tenggorokan, tampaknya mati tergigit oleh binatang buas. Selain itu pembunuh tersebut juga meninggalkan tanda yang biasanya digunakan totiang dimasa lalu"
Sebelum ucapan itu selesai diutarakan, paras muka Tiang-heng Tookoh sudah berubah bebat, si nar matanya setajam sembilu.
"Kau maksudkan hiolo kecil terbuat dari batu kemala hijau?"
Teriaknya tertahan. Ketika Tiang-heng Tookoh mengucapkan kata-kata tersebut, maka Hoa In-liong yang curi dengar pembicaraan itupun hampir saja menjerit tertahan.
"Gio-teng hujin? Yaa, dialah perempuan yang bernama Giok-teng hujin itu...."
Padahal sewaktu Pui Che-giok menyebut Tiang heng Tookoh sebagai "nona"
Tadi, pemuda ini sudah curiga kesitu.
Tapi oleh karena menurut pengertiannya Giok Teng Hujin sudah wafat, apalagi surat wasiatnya masih berada disakunya, maka ia tak berani mempercayai seratus persen.
Dan sekarang setelah kenyataan membuktikan bahwa apa yang diduganya itu tidak keliru.
Tak terkendalikan golakan perasaan hatinya, telapak tangan kanannya segera diangkat keatas, hampir saja ia menerobos masuk kedalam ruangan lewat jendela.
"Liong-ji. Jangan terburu nafsu!"
Untunglah pada saat itu suara peringatan dari Hoa Ngo kembali berkumandang.
"Dengarlah lebih lanjut apa yang mereka bicarakan!"
Tercekat hati Hoa In-liong.
Cepat ia berpaling ke arah mana berasalnya suara peringatan itu.
Betul juga, dibawah jendela yang lain tampak sesosok bayangan manusia sedang manggutmanggut ke arahnya.
Karena itu, ia segera mengendalikan golakan perasaan dalam hatinya, dengan ilmu menyampaikan suara bisiknya pula.
"Ngo siok, benarkah Tookoh itu adalah Giok-teng hujin yang kita cari?"
"Jangan banyak bertanya, dengarkan lebih lanjut apa yang mereka bicarakan!"
Sementara itu, suara dari Tiang-heng Tookoh telah berkumandang kembali dari ruangan.
"Hubungan Suma Tayhiap dengan keluarga Hoa dibukit Im-tiong-san bukan hubungan persahabatan yang umum. Dengan terbunuhnya mereka berdua secara bersama, entah tindakan apa yang telah dilakukan oleh pihak perkampungan Liok-soat san-ceng?"
Bila didengar dari pembicaraan tersebut, Hoa In-liong tahu bahwa diantara pembicaraan mereka ada sepotong pembicaraan yang tak sempat terdengar olehnya, tentu saja ia makin tak berani memecahkan perhatiannya.
Cepat kepalanya ditempelkan kembali diatas jendela, dari situ dia mengintip kembali kedalam kamar.
Tampaklah Pui Che-giok dengan wajah yang iba sedang berkata.
"Oleh karena hiolo kecil kumala hijau itu, pihak Liok-soat-san-ceng telah mencurigai bahwa otak dari pembunuhan ini adalah totiang, Dewasa ini putra Pek Kun-gi yang bernama Hoa Yang telah ditugaskan turun kedunia persilatan untuk menyelidiki peristiwa pembunuhan berdarah itu!"
"Ehmmm.... Ternyata memang begitulah tindakannya! Kenapa Hoa Thian-hong tidak turun tangan sendiri?"
Ucap Tiang-heng Tookoh agak dipengaruhi emosi.
Waktu itu, Tiang-heng totiang tidak berusaha untuk menyangkal pembunuhan itu adalah hasi| perbuatannya, tapi malah bertanya dengan emosi mengapa Hoa Thian-hong tidak turun tangan sendiri.
Mendengar kesemuanya itu, Hoa In-liong merasa makin bingung dan tidak habis mengerti.
"Sekarang Hoa tayhiap sudah merasakan nikmat dan bahagianya kehidupan manusia didunia. Siapa tahu kalau ia sudah melupakan sama sekali atas semua kejadian dimasa lampau?"
Sambung Pui Che-giok dengan gemas bercampur marah.
Dibalik kegemasan dan kejengkelannya dalam pembicaraan tersebut, terselip pula nada sedih dan murung yang menggenaskan.
Sebagai pemuda yang berjiwa romantis Hoa In-liong dapat merasakan pula suatu kelainan yang istimewa dibalik kata-katanya itu.
Tak aneh kalau matanya terbelalak semakin lebar, ia makin memperhatikan semua pembicaraan tersebut.
Sementara itu sepasang mata Tiang-heng Tookoh pun memancarkan sinar yang terang, tapi hanya sebentar, katanya kemudian.
"Aaaai....! Benih cinta dalam hati pinto sukar rasanya untuk dipadamkan. Setiap saat tanpa kusadari suutu harapan untuk bertemu kembali dengan dirinya selalu timbul didalam hati. Padahal usiaku makin lama makin lanjut, kenangan lama tak mungkin bisa terwujud kembali, daripada berjumpa kembali bukankah lebih baik tak usah bertemu lagi untuk selamanya...."
"Bagaimanapun juga Che-giok tetap penasaran karena persoalan ini"
Tukas Pui Che-giok dengan cepat.
"Bayangkan saja betapa besar dan tebalnya perasaan cinta totiang terhadapnya. Bila tiada bimbingan dan bantuan dari totiang dimasa lampau, mungkinkah Hoa tayhiap bisa memiliki keberhasilan seperti sekarang ini? Jangan kita bicarakan kalau Suma tayhiap itu adalah angkatan tuanya, cukup berbicara dari tanda kepercayaan totiang, bertemu dengan bendanya sama seperti bertemu dengan orangnya sendiri, seharusnya Hoa tayhiap turun tangan sendiri untuk bertemu dengan lotiang serta menanyakan duduknya persoalan ini sampai menjadi jelas"
"Kau keliru besar Che-giok!"
Kata Tiang-heng Tookoh seraya gelengkan kepalanya berulang kali.
"Dia adalah seorang anak yang berbakti. Seandainya Lo-tay kun tidak menurunkan perintah, sekali pun hasratnya untuk membalaskan dendam bagi kematian paman angkatnya amat besar, tak nanti ia berani turun gunung dengan begitu saja"
"Meski demikian, Lo tay kun bukannya tidak tahu kalau budi dan cinta yang pernah totiang limpahkan kepada keluarga Hoa setinggi langit"
Bantah Pui Che-giok lagi.
"Terutama dalam peristiwa ini menyangkut kematian yang menimpa Suma tayhiap suami isteri. Menurut pendapat Che-giok, sepantasnya kalau Hoa-tayhiap turun gunung sendiri untuk menyelidiki persoalan ini, terutama setelah bertemu dengan benda milik totiang!"
Kembali Tiang heng Tookoh menghela napas panjang.
"Aaai....! selama hidupnya Lo tay kun selalu disiplin pun bertindak cekatan. Andaikata persoalan ini tidak menyangkut diri Suma tayhiap dan lagi tidak melihat pula hiolo kecil kumala hijau tersebut mungkin ia akan memerintahkan Hoa tayhiap untuk turun gunung mencari pinto. Tapi sekarang, persoalan ini menyangkut peristiwa pembunuhan berdarah. Budi dendam pinto dengan keluarga Hoa pun sukar dibedakan. Tindakan dia orang tua mengutus cucunya untuk menyelidiki persoalan ini adalah suatu tindakan yang sangat bijaksana. Kalau tidak begitu, bayangkan saja bagaimana mungkin Hoa tayhiap bisa mengatasi persoalan yang serba pelik ini?"
Jilid 15 MENDENGAR sampai disitu, Hoa In-liong merasakan hatinya bergolak keras, diam-diam pikirnya.
"Tookoh ini boleh dibilang merupakan sahabat paling akrab dari keluarga Hoa kami. Jika ayah mempunyai sobat semacam ini, kenapa nenek hanya diam diri belaka tanpa mengurusinya? Kenapa nenek tidak berusaha untuk menjemputnya pulang kerumah?"
Sebagaimana diketahui pemuda ini adalah seorang pemuda yang romantis, ia tahu "sahabat karib"
Macam begini paling sukar ditemukan, hingga tanpa disadari timbullah rasa simpatiknya terhadap Tiang-heng Tookoh.
Ia merasa tidak sepantasnya kalau nenek tidak mengurusi persoalan itu sebijaksana mungkin.
Dalam pada itu Tiang-heng Tookoh telah berkata lagi setelah menghela napas panjang.
"Tentang persoalan ini lebih baik tak usah kita bicarakan lagi. Tadi bukankah kau bilang kalau putranya Pek Kun-gi telah ditugaskan terjun ke dalam dunia persilatan untuk menyelidiki peristiwa pembunuhan itu? Tahukah kau sekarang dia berada dimana?"
"Beberapa hari berselang, dia bersama putranya Kanglam Ji-gi telah berkunjung ke Gi-sim-wan untuk menyelidiki asal usulnya. Anak itu kabarnya sekarang dia sudah ditangkap oleh kaucu!"
"Kau maksudkan Kiu-im kaucu?"
Seru Tiang-heng Tookoh dengan terkejut.
"Jadi Kiu-im kaucu juga sudah datang ke kota Kim-leng?"
Pui Che-giok mengangguk.
"Ya, dia sudah ditangkap Kiu-im kaucu. Ketika Che-giok mendengar kalau ia sudah tertangkap segera kugerakkan semua anak murid kita untuk menyelidiki persoalan ini sampai jelas. Tapi hingga kini kami masih belum berhasil menemukan tempat tinggal Kiu-im kaucu"
Tiang-heng Tookoh termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, tiba-tiba ia berkata.
"Pintar juga bocah itu, ia bisa mencari Kiu-im kaucu berarti sudah ia temukan sasaran yang se-benarnya. PinTo-cukup memahami bagaimanakah watak dari Kiu-im kaucu itu. Dia licik banyak akal dan kejam, tanpa tujuan tertentu tak mungkin ia muncul kembali didalam dunia persilatan.... Aaaai.... bila bocah ini sampai terjatuh ke tangannya, bukan saja dia tak akan berhasil mendapatkan sesuatu, mungkin nasibnya lebih banyak buruknya daripada beruntung"
Dugaan tersebut sama sekali bertolak belakang dengan kenyataan.
Tapi lantaran ucapan tersebut diutarakan Tiang heng Tookoh dengan nada kuatir den penuh perhatian, bukan saja Hoa In-liong tidak merasa geli, sebaliknya malah semakin menambah kesan baiknya terhadap perempuan itu.
Sementara itu Pui Che-giok sudah berkata lagi.
"Menurut hasil penyelidikan yang berhasil Chegiok lakukan, peristiwa terbunuhnya Suma tayhiap mencakup suatu hubungan persoalan yang luas sekali. Pembunuhan itu bukan dilakukan oleh pihak Kiu-im kau belaka. Tapi berhubung tanda yang ditinggalkan pembunuh itu adalah lambang dari totiang, maka orang-orang Liok-soatsan-ceng beranggapan bahwa totianglah merupakan orang yang paling dicurigai. Menurut pendapat Che-giok, sudah waktunya bagi totiang untuk membersihkan diri dari segala tuduhan tersebut, daripada harus menanggung kesalahan orang lain, totiang harus membersihkan nama totiang dari segala taksiran yang salah!"
"Tak usah dinyatakan lagi, aku percaya engkau semua tak ada hubungannya dengan peristiwa itu"
Pikir Hoa In-liong dalam hati. Waktu itu Tiang-heng Tookoh sudah meaghela nafas lirih.
"Aaaai.... Siapa yang bersih dia akan bersih dengan sendirinya. Siapa kotor dia akan menjadi kotor dengan sendirinya. Sekarang pinto sudah menjadi seorang paderi, apalah arti nama dan kebersihan bagi diriku? Apalagi pinto sudah mengirimkan surat wasiatku ke perkampungan Liok-soat-san-ceng. Giok-teng-hujin yang dulu sudah meninggal dunia banyak tahun berselang, itu berarti hiolo kecil kemala hijau tersebut sudah tiada hubungannya lagi dengan pinto. Biarkanlah mereka pecahkan sendiri persoalan tersebut?"
Perasaan Hoa In-liong sangat sensitif.
Ketika mendengar sampai disitu, ia merasa darah paras yang bergolak dalam dadanya tiba-tiba menggelora hampir saja ia menerjang masuk ke dalam kamar untuk membongkar jejaknya serta menghibur Tookoh tersebut.
Untunglah dihari biasa ia sudah mendapat pendidikan yang berdisiplin ketat, disaat yang gawat ia masih mampu untuk mengendalikan golakan emosinya, hingga tindakan yang gegabah itu tak sampai dilaksanakan dengan begitu saja.
Dengan cepat pemuda itu berpikir.
"Giok-teng hujin telah merubah namanya menjadi Tiangheng, itu berarti ia merasa benci yang tak terkirakan dalamnya. Jika tindakan terlalu gegabah tanpa perhitungan, mungkin malahan akan memancing rasa antipatinya terhadap diriku, bisa jadi malahan kejadian akan berobah makin kacau. Bagaimanapun juga aku tak boleh bertindak semaunya sendiri."
Sesudah berpikir sampai disitu, emosinya dapat dipadamkan, dan diapun mendengarkan pembicaraan tersebut lebih jauh. Terdengar Pui Che giok menghela napas ringan lalu berkata.
"Aaaai.... Tootiang, apa gunanya engkau selalu menyiksa diri sendiri?"
Tiang-heng tookoh tertawa sedih.
"Dan kau sendiri mengapa bersusah hati lantaran aku?"
Balik tanyanya.
"Kau mengatakan tak akan menyulitkan keluarga Hoa, tapi selalu teringat untuk mendirikan perkumpulan Cha-li-kau. Dimanakah letak tujuanmu itu? Bukankah perasaanmu tidak jauh berbeda dengan perasaan pinto sekarang?"
Tiba-tiba paras muka Pui-Che-giok bersemu merah, sambil tundukkan kepadanya dia membantah.
"Che-giok berbuat ini itu hanya berdasarkan perintah dari tootiang belaka. Bila aku mampu, ingin sekali kuterbitkan hujan badai yang amat dahsyat dalam dunia persilatan. Ingin kulihat bagaimanakah tindakannya untuk menyelesaikan persoalan itu"
"Yaa, meskipun demikian jalan pemikiranmu, tapi pada hakekatnya kau selalu melindungi kepentingan orang-orang Liok-soat-san-ceng, bukankah begitu....?"
Sambung Tiang-heng Tookoh sambil tertawa geli.
Warna merah yang menghiasi wajah Pui Che-giok makin membara.
Tampaknya dia ingin membantah, tapi tak tahu apa yang harus diucapkan untuk membantah ucapan tersebut.
Tookoh tua yang selama ini hanya membungkam tiba-tiba menghela napas lirih dan menimbrung dari samping.
"Aaaai Itulah dosa yang harus diterima oleh umat-ya Kita sebagai perempuan satu kali terlibat dalam urusan cinta, maka selamanya tak akan terlupakan lagi Heng tooyu, aku kuatir kalau dunia persilatan akan terlibat dalam banyak peristiwa besar lagi" .
"Apakah tooyu mempunyai pendapat lain?"
Tanya Tiang-heng tookoh sambal berpaling dengan wajah tercengang.
"Kenyataan telah membuktikan dengan jelas bahwa Suma tayhiap bukan manusia sembarangan. Sekalipun pinto juga tahu kalau hubungannya dengan pihak Liok-soat-san-ceng akrab sekali dan sekarang suami istri berdua itu mati bersama dibunuh orang, bukankah peristiwa ini sama artinya dengan suatu tantangan bertempur bagi keluarga Hoa dibukit Im-tiong-san? Sekarang Kiu-im kaucu telah muncul kembali dalam dunia persilatan, apalagi menurut pernyataan nona Pui tadi, tampaknya ada kelompok kekuatan lain yang bersekongkol dengan pihak Kiu-im kau...."
Sebelum tookoh itu menyelesaikan kata-katanya Pui Che-giok telah menyela dari samping.
"Itulah perkumpulan Hian-beng-kauw! Dalam tahun tahun belakangan ini anak murid Hian-beng kau banyak yang berkeliaran dalam dunia persilatan. Pelbagai kejahatan mereka lakukan dan kebanyakan orang-orang itu berhati kejam dan berilmu silat tinggi. Menurut hasil pengamatan Che-giok secara diam-diam, telah kubuktikan bahwa ilmu silat yang dimiliki orang-orang itu tampaknya berasal dari sumber yang sama. Dari bertindak gelap-gelapan sekarang mereka sudah bertindak terus terang, malahan kian lama kian terang-terangan dan berani"
"Aaaah....! Siapakah yang menyelenggarakan perkumpulan Hian-beng-kauw itu?"
Seru Tiangheng tookoh dengan perasaan terperanjat, hingga paras mukanya berubah.
"Sampai kini ketua dari perkumpulan Hian-beng-kauw belum pernah menampakkan diri didepan umum tapi dia mempunyai anak buah yang semuanya mempunyai nama marga serta nama sebutan yang sama yaitu Ciu Hoa. Mereka saring menerbitkan keonaran dimana-mana. Malah, konon dalam pembunuhan yang menimpa diri Suma tayhiap, salah seorang Ciu Hoa turut terlibat dalam peristiwa itu"
"Beberapa puluh orang Ciu Hoa? Bukankah itu berarti mereka sengaja memusuhi Thian-hong?"
Seru Tiang-heng tookoh dengan penuh golakan emosi "Memang begitulah keadaannya.
Oleh sebab itu Che-giok merasa bahwa too-tiang harus bertemu dengan Hoa tayhtap atau paling sedikit menerangkan duduknya persoalan tentang hiolo kecil kumala hijau tersebut"
Agak lama Tiang-heng tookoh termenung sambil berpikir keras akhirnya ia menengadah dan menggeleng.
"Tak perlu, jelas semua kejadian itu merupakan siasat busuk dari Kiu-im kaucu"
Katanya "Pinto tahu maksudnya mencuri lambang milik pinto tak lain adalah memancing diri pinto agar munculkan diri, kemudian dia akan menggunakan hubungan pinto dimasa lalu untuk berusaha mencelakai Thian-hong sekeluarga.
Andaikata pinto sampai berjumpa muka dengan Thian-hong, justru tindakanku ini sama artinya terjebak dalam perangkap busuknya.
Apalagi pinto sekarang adalah seorang paderi.
Aku tak mau terlibat lagi dalam urusan budi dendam dalam dunia persilatan.
Biarlah mereka beradu kekuatan sendiri!"
Pui Che-giok sangat terperanjat sehabis mendengar perkataan itu, serunya dengan cemas.
"Benarkah tootiang tak mau mencampuri urusan Hoa tayhiap lagi....?"
Tiba-tiba Tiang-heng tookoh menghela napas panjang.
"Aaai.... Serat Sutera akan berhenti mengalir bila ulat suteranya telah mati. Api Hiolo baru padam bila lilin telah meleleh jadi kering! Che-giok, dirikanlah Cha-li-kau mu dan bantulah dia. Perasaan pinto sudah hambar dan tenagaku sudah musnah. Aku tidak berkemampuan apa-apa lagi sekarang"
"Tentang soal ini...."
Pui Che-giok jadi gelagapan dan tergagap dibuatnya.
"Pergilah dari sini!"
Tukas Tiang-heng tookoh lebih jauh sambil ulapkan tangannya "Anggaplah dimasa lampau pinto sudah bertindak teledor, sehingga tidak kuketahui kalau engkaupun menanam bibit cinta terhadap Thian-hong dan sekarang setelah kupahami, sayang aku tidak berkemampuan spa apa lagi.
Apa yang bisa pinto lakukan sekarang hanyalah membeli nasehat padamu, Cintailah siapa yang kau cintai, walaupun belum tentu akan peroleh hasil yang diharapkan.
Maafkanlah kegagahan dan keberanianmu sebagai seorang pendekar dimasa lampau, bangunlah suatu kejayaan dan kesuksesan oengan kemampuan yang kau miliki"
Sampai disitu, Hoa In-liong tak dapat membendung air matanya lagi.
Ia bersandar ditepi jendela dengan air mata bercucuran, hampir saja kesadarannya punah.
Selang sesaat kemudian, Hoa Ngo menyusup ke sampingnya, lalu berbisik dengan ilmu menyampaikan suara.
"Liong-ji, ayah kita pergi!"
Dengan terkejut Hoa In-liong sadar kembali dari lamunannya, ia merasa suasana dihadapannya telah berubah jadi gelap gulita.
Lampu dalam ruangan telah dipadamkan, sedang Pui Che-giok dan muridnya entah sedari kapan telah mengundurkan diri dari situ.
Perasaannya waktu itu adalah suatu perasaan yang kosong, murung dan penuh kesedihan.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun ia mengikuti di belakang Hoa Ngo meninggalkan tookoan tersebut dan berlarian menuju ke arah bukit.
Diatas bukit terdapat sebuah gardu peneduh air hujan yang dibuat dari anyaman jerami.
Dalam gardu itulah Hoa Ngo menghentikan gerakan tubuhnya.
Setelah suasana hening untuk sesaat, ia berpaling dan memandang sekejap ke arah Hoa Inliong, lalu bertanya.
"Anak Liong, bagaimanakah perasaanmu pada saat ini?"
"Aaaai....!"
Hoa In-liong menghela napas panjang.
"Sungguh tak kusangka kalau Giok-teng hujin sebenarnya adalah manusia macam begitu...."
Hoa Ngo manggut-manggut.
"Duduklah. Ngo-siok hendak bercakap-cakap dengan dirimu!"
Hoa In-Iiong duduk dibangku panjang, lalu bertanya.
"Ngo-siok, banyakkah yang kau ketahui tentang masa lampau Giok-teng hujin?"
"Walaupun banyak yang ngo-siok ketahui, tapi kenyataan yang sesungguhnya tidaklah begitu jelas. Tapi setelah berjumpa dengan orangnya sendiri barusan, apalagi sesudah mendengarkan pembicaraan mereka, ngo-siok baru merasa bahwa cara berpikirku dimasa lampau sedikit picik dan berjiwa sempit"
"Ooh.... Jadi tempo dulu kaupun belum pernah bertemu muka dengan Giok Teng Hujin?"
Tanya Hoa In-liong dengan alis mata berkenyit.
"Yaa, sampai sekarang baru kali ini kutemui diri Giok-teng hujin yang sebenarnya. Dahulu, kesan burukku terhadap Giok-teng hujin boleh dibilang sangat mendalam. Bila aku tahu kalau dia sebetulnya adalah manusia macam begini, tak nanti kuperintahkan dirimu untuk mengejar jejaknya sampai disini"
"Apa yang sebenarnya terjadi? Tampaknya dia selalu bersikap baik terhadap ayah!"
Hoa Ngo menghela napas panjang.
"Justru lantaran dia menaruh perasaan cinta yang mendalam tarhadap ayahmu, maka Ngo-siok baru menaruh pandangan yang sempit terhadap karakternya. Aku selalu merasa bahwa pelimpahan rasa cinta harus dipusatkan pada satu titik. Setelah ayahmu berhubungan deogan kedua orang lbumu, tidaklah pantas baginya untuk berhubungan dengan perempuan-perempuan lain"
Rupanya Hoa In-liong tidak setuju dengan pandangan semacam itu, cepat bantahnya.
"Aaaaai.... Aku rasa hal ini tergantung pada perempuan macam apakah yang dihubungi. Kalau perempuan itu macam Giok-teng hujin...."
"Haa.... haaa.... haa.... Begitu ayah, begitulah anaknya. Dalam soal ini engkau banyak kemiripannya dengan ayahmu. Cuma bedanya, kalau ayahmu sedikit membatasi diri, maka kau menganggap setiap perempuan cantik yang ada di dunia ini kalau bisa jadi pacarmu semua, bukan begitu anak Liong?"
Merah padam selembar wajah Hoa In-liong karena jengah, sahutnya tersipu-sipu.
"Baik laki-laki maupun perempuan semuanya kan manusia. Terhadap kaum laki-laki aku juga bersikap sama baiknya!"
Hoa-ngo tertawa.
"Berbicara tentang soal ini, Ngo-siok hendak memperingatkan dirimu dengan suugguh-sungguh. Ketahuilah antara laki-laki dan perempuan itu ada batasnya. Banyak teman laki-laki itu baik dan menguntungkan tapi teman perempuan yang akrab lebih baik satu-dua orang saja sudah cukup. Bila engkau tak dapat membatasi diri sendiri, sampai waktunya untuk kawin nanti, orang lainlah yang akan kau buat menderita karena urusan cinta. Kejadian ini sangat merusak nama baikmu dan ngo-siok paling tidak setuju"
"Tak usah kuatir ngo-siok. Aku masih dapat membatasi diri dengan otak yang sadar"
Jawab Hoa In-liong sambil mengerutkan dahi.
"Mau dirubah atau tidak terserah kepadamu sendiri. Bila kau suka bermain perempuan disanasini, suatu ketika Ngo-siok tentu akan menghajar dirimu habis-habisan. Engkau harus menggunakan kejadian yang menimpa Giok-teng hujin sebagai suatu contoh, agar tindakanmu selanjutnya tidak ceroboh" ' "Sudah tahu.... Ngo-siok, Aku sudah tahu! Apa hanya persoalan ini yang hendak kau bicirakan denganku?"
Hoa In-liong mulai tak sabaran dan membantah.
"Tentu saja ada persoalan lain yang hendak ku bicarakan denganmu!"
"Kalau begitu, bicarakan saja persoalan yang sesungguhnya, tak utah kuatir, pesanmu tak akan kulupakan untuk selamanya"
Waktu kecil Koa Ngo tidak binal dan licik, tapi sekarang setelah bertemu Hoa In-liong yang lebih binal, ia betul-betul mati kutunya, sama sekali tak mampu berbuat apa-apa.
Maka setelah tertegun beberapa saat lamanya ia pun menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Baiklah! Kita bicarakan masalah yang serius saja. Apakah surat wasiat dari Giok-teng hujin masih berada disakumu?"
"Eeeh....Ngo-siok. Kenapa secara tiba tiba kau singgung soal surat tersebut?"
"Sini, serahkan kepadaku!"
Perintah Hoa-Ngo sambil rentangkan tangan kanannya.
"Aneh, kenapa harus diberikan kepadamu?"
Tanya Hoa In-liong dengan wajah tercengang.
"Waktu nenek serahkan surat itu padaku, beliau telah berpesan kecuali dikembalikan langsung kepada Giok-teng hujin pribadi, bilamana perlu surat itu harus dimusnahkan. Siapapun tak boleh melihatnya, tentu saja termasuk Ngo siok sendiri!"
"Yaa, soal itu aku tahu"
Sahut Hoa Ngo sambil manggut-manggut.
"Tapi neneklah yang memerintahkan kepadaku untuk minta kembali surat wasiat tersebut"
"Oooh.... Jadi Ngo-siok sudah pulang ke gunung?"
Tanya anak muda itu sedikit curiga.
"Aku datang dari rumah!"
"Apa yang dikatakan nenek?"
"Nenek rupanya sudah tahu kalau Giok-teng hujin belum meninggal dunia. Beliau kuatir surat itu bisa hilang kalau kau bawa terus kesana kemari, andaikata sampai ditemukan orang, waah.... kalau itu orang lain pasti akan menggunakan surat tersebut untuk memeras kita dan kejadian macam begitu bisa jadi akan merusak nama baik ayahmu" . Tiba tiba ia merasa tidak semestinya membicarakan persoalan semacam itu dengan Hoa In Liong mendadak sontak ia menghentikan pembicaraannya, lalu dengan wajah berubah hebat bentaknya lagi .
"Cepat berikan padaku. Nenek suruh aku membawa surat itu pulang kegunung"
Hoa In-liong tidak langsung menjawab, ia termenung sejenak kemudian baru gelengkan kepalanya berulang kali.
"Tidak bisa, Liong-ji tak dapat menyerahkan surat wasiat itu kepada ngo-siok!"
"Kenapa?"
Teriak Hoa-Ngo dengan mata melotot, rupanya jawaban tersebut sama sekali diluar dugaannya "Memangnya kau tidak percaya lagi dengan Ngo-siok mu?"
"Bukannya liong-ji tidak percaya dengan Ngo-siok tapi lantaran Liong ji menemui kesulitan untuk melakukannya!"
"Kesulitan? Kesulitan apa yang kau jumpai?"
Hoa Ngo bertanya dengan wajah keheranan.
"Pertama, surat itu sudah dijahit didalam kaos kutang pelindung badan, sukar rasanya untuk mengambilnya keluar. Kedua, nenek sudah berpesan kepada Liong-ji, siapapun juga dilarang melihat isi surat wasiat itu, maka Liong-ji pikir biarkanlah surat itu berada ditempatnya semula sampai nanti kuserahkan kembali dihadapan nenek"
Hoa Ngo jadi tertegun, tapi sejenak kemudian sudah tertawa tergelak.
"Haa.... haa.... haa.... Tak kunyana kalau kau begitu keras kepala! Bagaimana seandainya surat itu sampai hilang?"
"Tak mungkin hilang! Surat itu dijahit dalam kutang pelindung badan, dan kaos pelindung ba-dan itu kukenakan terus kemanapun kupergi. Bayangkan saja bagaimana mungkin bisa hilang? Andaikata sampai hilang, biar Liong-ji tanggung segala hubungannya dihadapan nenek!"
Mungkin lantaran terlalu sayang dengan keponakannya yang satu ini, setelah pikir punya pikir Hoa-Ngo merasa cengli juga alasan tersebut, maka ia pun tertawa.
"Yaa sudah, terserah padamu sendiri. Tapi waktu aku tiba di kota Kim-leng beberapa hari yang-lalu, aku dengar kau sudah ditangkap oleh Kiu-im kaucu. Bila kejadian macam begini berlangsung satu-dua kali lagi, jangan toh baru sehelai kaos kutang pelindung badan, mungkin kulit badanpun bisa disayat satu lapis. Lain kali kau musti lebih berhati-hati lagi!"
Merah padam selembar wajah Hoa In-liong karana jengah, jawabnya dengan tersipu-sipu.
"Tak mungkin ada kedua kalinya, tak usah kuatir paman Ngo-siok!"
"Tak usah kita bicarakan persoalan itu lagi! Kisahkan saja semua pengalamanmu sejak kau tinggalkan gunung!"
Hoa In-liong berpikir sebentar untuk mengumpulkan kembali pengalamannya.
Lalu diapun bercerita bagaimana sampai di kota Lok-yang.
Bagaimana melakukan perjalanan Ke selatan, berkenalan dengan Kim-leng ngo-kongcu.
Bagaimana berpesiar dengan Coa Cong-gi, bertemu dengan Kiu-im kaucu dibukit Ciong-san.
Bagaimana dipecundangi Kiu-im kaucu, digantung terbalik oleh Bwee Su-yok dibatang pohon.
Bagaimana bertemu dengan tokoh sakti, mendapat pelajaran Bu-sang-sim-hoat aliran darah terbalik, lalu melepaskan diri dan belenggu Bwee Suyok, kembali ke kota Kim-leng dan sebagainya....
dan sebagainya.
Dlbalik kisah pengalaman tersebut, ada kejadian aneh, ada kejadian yang berbahaya dan mendebarkan hati, ada pula kejadian yang boleh dibilang melanggar adat kesopanan dan tata cara, tapi bagi pandangan Hoa Ngo, tingkah laku serta perbuatan keponakannya ini masih belum merusak nama baik keluarganya.
Dapat menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya juga termasuk suatu perbuatan yang sukar.
Pokoknya sembari mendengarkan penuturan tersebut, dia manggut-manggut tiada hentinya, kemudian pujinya.
"Ehmm....! Besar amat keberanianmu, tingkah lakumu juga terlampau gegabah. Untung saja tak sampai mengakibatkan keadaan yang lebih gawat. Tapi, menurut pandangan Ngo-siok, ada kemungkinan Bwee Su-yok si tiancu dari ruang Yu-beng-tiam bakal mendatangkan banyak kesulitan bagimu dilain waktu"
"Kesulitan apa yang bisa ia berikan padaku?"
Hoa In-liong tak mau mengakui, malahan kepalanya semakin didongakkan.
"Kan Liong-ji tak ada hubungan apa-apa dengan dirinya. Jika ia pintar lebih baik tioggalkan Kiu-im kau secepat mungkin. Bila tidak, seperti juga yang lain-lain akan Liong-ji sikat juga dirinya"
"Aaaah.... Kalau cuma ngomong memang gampang, tapi untuk melaksanakannya belum tentu segampang apa yang kau ucapkan sekarang!"
Hoa Ngo berbenti sebentar, lalu mengalihkan pembicaraan ke soal lain, katinya lebih jauh dengan wajah serius.
"Liong-ji, soal melacaki jejak pembunuh keji itu boleh kita akhiri dulu sampai disini!"
"Kenapa?"
Tanya Hoa In-liong kurang paham.
"Masa kita tak akan mencampuri lagi dendam berdarah dari Suma siok-ya?"
"Bukannya kita tak mau mencampuri lagi, tapi ditunda untuk sementara waktu. Hingga kini, boleh dibilang jejak pembunuh pembunuh keji itu sudah ketahuan identitasnya. Mengenai pelaksanaan pembalasan dendam itu sepantasnya kalau kau serahkan kembali kepada Jin kokohmu untuk melakukannya sendiri"
"Maksud Ngo-siok, Liong-ji harus pulang gunung?"
Bisik Hoa In-liong dengan perasaan berat hati.
"Oooh, kau sih tak usah pulang gunung. Apa yang kita saksikan malam ini, serta semua pengalaman yang kau alami selama ini biar Ngo-siok yang laporkan kepada nenek. Sedang kau boleh melanjutkan kelanamu dalam dunia persilatan. Cuma harus kau pertingkat pula perjuanganmu untuk melenyapkan kaum durjana dari muka bumi serta menegakkan keadilan serta kebenaran dalam dunia persilatan kita!"
Tak terkirakan rasa gembira Hoa ln-liong setelah Ngo-sioknya memutuskan dia tak usah pulang kegunung. Sambil meloncat kegirangan serunya setengah bersorak.
"Horeeee....! Bagus sekali, aku tak usah pulang kegunung!"
Tiba-tiba patas muka Hoa-Ngo terubah jadi serius, tukasnya.
"Dengarkan dulu perkataanku lebih jauh. Ketahuilah tugasmu selanjutnya bukan bertambah enteng tapi justru sebaliknya. Tugas yang akan dibebankan kepadamu berlipat-lipat lebih berat dari sekarang, karenanya tak boleh sekali-kali kau buang sikap waspada dan seriusmu dalam menghadapi pelbagai situasi. Tugas berat ini, akulah yang mintakan bagimu dihadapan nenek jika kau lakukan. Jika kau lakukan tugas ini secara gegabah, merusak nama baik Ngo-siok sih urusan kecil, tapi nama baik keluarga Hoa kita akan tenggelam untuk selamanya, inilah pertaruhan untukmu!"
"Oooh....! Seserius itukah persoalannya?"
Seru Hoa In-liong sangat terkejut.
"Bukan serius saja, bahkan bencana yang mengancam diri kita semua kian hari kian bertambah dekat dan makin lama semakin berat!"
"Apakah Ngo-siok dapat menyinggung satu dua diantaranya sebagai contoh...."
Pinta Hoa Inliong berkerut dahi.
"Padahal seharusnya kau sudah dapat menduganya sendiri. Pergolakan yang terjadi dalam dunia persilatan bukan baru berlangsung sehari dua hari belaka. Hanya sekarang pergolakan itu semakin kentara saja, kepulangan Ngo-siok kegunung kali inipun...."
"Oooh.... Ngo-siok maksudkan masalah Kiu-im kau dan Hian-beng-kauw?"
Tukas Hoa In-liong tiba-tiba seperti baru saja memahami apa yang sebetulnya diartikan pamannya. Hoa Ngo mendengus dingin.
"Hmmm....! Coba lihatlah sikapmu yang acuh tak acuh, betul-betul keterlaluan" * tegurnya. Dengan terkejut Hoa In-liong menjulurkan lidahnya, ia tak berani memberi komentar lagi. Tiba-tiba Hoa Ngo menghela napas panjang lalu berkata.
"Liong-ji, persoalan ini tidak seperti permainan kanak-kanak. Ketahuilah Kiu-im-kauw dan Hian-beng-kauw tidak lebih cuma dua buah kelompok kekuatan yang agak lebih besar saja. Dibalik kesemuanya itu masih terdapat unsurunsur iblis yang menggerakkan kekuatan tersebut. Memang keluarga Hoa kita disanjung dan dikagumi kaum pendekar, tapi justru merupakan duri dalam mata bagi pandangan orang-orang kaum sesat. Tak salah lagi kalau orang-orang itu sengaja mencari keonaran terhadap keluarga Hoa kita. Orang bilang manusia itu hidup untuk mencari nama, pohon hidup karena kulit. Soal nama memang kecil artinya, tapi bagaimanakah dengan keselamatan umat persilatan di dunia ini? Bila semua umat manusia terancam bahaya, habislah pamor keluarga Hoa kita dimata orang banyak"
"Liong-ji mengerti akan seriusnya persoalan ini. Liong-ji akan akan memperhatikannya dengan seksama"
Kata Hoa In-liong kemudian dengan serius dia bangkit dan memberi hormat.
"Kalau sudah mengerti, itu lebih bagus lagi"
Sahut Hoa Ngo sambil ikut bangkit berdiri.
"Aku pun tidak akan banyak berbicara lagi, segala sesuatunya boleh kau putuskan sendiri"
"Ngo-siok mau pergi?"
Buru-buru Hoa In-liong bertanya.
"Ehmmmm....!"
Hoa-Ngo mengangguk.
"Aku harus pulang ke gunung dengan sagera. Oya.... Beberapa waktu berselang kujumpai ada sekelompok orang-orang suku asing memasuki kota Kim-leng. Beberapa orang itu mencurigakan sekali tindak-tanduknya. Bila bertemu di lain waktu, berhati-hatilah sedikit"
Berbicara sampai disitu, dia lantas putar badan dan buru-buru turun gunung.
Memandang bayangan punggung Hoa Ngo yang menjauh, Hoa In-liong hanya bisa berdiri termangu-mangu.
Untuk sesaat dia tak tahu apa yang harus dilakukan....
Kepergian Hoa-Ngo sangat tergesa-gesa.
Ketergesaannya itu justru mendatangkah suatu tekanan batin yang besar bagi Hoa In-liong.
Sepsrti diketahui sejak kecil ia dibesarkan bersama Hoa-Ngo.
Terhadap watak dan kebiasaan pamannya boleh dibilang sangat hapal.
Dia tahu Hoa Ngo itu suka bicara blak-blakan dan cerdik, tak pernah ia serius menghadapi masalah macam apapun jua.
Setiap kali pulang dari bepergian, ia paling suka mengajak dirinya adu kecerdasan dan berde-bat dalam segala hal.
Meskipun tiap kali ia selalu kalah dan berada dibawah angin, tapi pemuda ini tak segan segannya untuk menghadapi terus pamannya.
Dan kali ini, Hoa In-liong dapat merasakan bahwa Hoa Ngo telah menyembunyikan perkata-an, rupanya ada sesuatu yang dirahasiakannya.
Sikap yang berbeda dengan keadaan biasanya ini segera mendatangkan suatu tanda tanya besar di hati Hoa In-liong.
Pikirannya mula bergolak.
Ia merasa pelbagai persoalan seakan-akan berkecamuk menjadi satu dalam benaknya.
"Apa yang telah terjadi?. Kiu-im-kauw tak lebih hanya suatu kelompok kekuatan yang merangkak bangun dari liang kuburnya, sedang Hian-beng-kauw juga tak lebih hanya suatu organisasi baru yang muncul belum lama berselang. Orang-orang dari kedua perkumpulan itu pernah kujumpai semua. Merekapun tidak seseram apa yang kubayangkan sebelumnya. Aku tahu Ngo-siok bernyali besar, berotak cerdik dan tak pernah takut langit dan bumi. Sekalipun berada dihadapan nenek juga tak pernah tegang. Heran, kenapa kali ini dia pergi dengan tergesa-gesa? Masa karena urusan ini saja, dia akan mengganggu ketenangan nenek serta ayah ibuku....?"
Pemuda itu jauh berbeda bila dibandingkan denagan Hoa Thian-hong.
Kalau ayahnya Hoa Thianhong dibesarkan dalam suasana yang serba sulit dan penuh percobaan.
Sepanjang hidupnya tak ada yang dijadikan pegangan dan kesuksesannya berhasil didapat karena perjuangannya yang betul-betul hebat, maka dalam setiap pembicaraan mau pun tindakannya selalu serius dan tegas.
Maka dia dibesarkan dalam suasana yang menyenangkan serta cukup.
Lagipula ada ayah bundanya sebagai pegangan yang kuat, sejak kecil tak pernah kenal arti takut.
Sekalipun ada orang memberi peringatan kepadanya dan mengerti bahwa keadaan sangat gawat, namun ia tak pernah memperdulikannya.
Bagi anak muda ini berlaku sistim pukul dulu urusan belakangan.
Orang bilang keadaan alam gampang dirubah, watak manusia susah diganti.
Begitulah keadaan pemuda itu, watak tak kenal tingginya langit dan tebalnya bumi sudah menempel sangat dalamdalam tubuhnya.
Walaupun begitu, jelek-jelek diapun keturunan keluarga persilatan.
Apalagi kecerdasannya lebih tinggi dari orang lain.
Kewaspadaannya tidak hilang sama sekali karena wataknya itu.
Sesudah berpikir sebentar diapun teringat kembali akan pesan dari Hoa Ngo.
Karenanya sambil berpikir, matanya celingukan kesana kemari, kemudian gumamnya seorang diri.
"Aaah.... peduli amat, fajar sudah hampir menyingsing. Ada urusan pikirkan saja nanti setelah beristirahat, bagaimanapun jua berpikir melulu tak ada gunanya. Badai yang melanda dunia persilatan dan hawa iblis yang menyelimuti angkasa tak mungkin in bisa kuatasi hanya mengandalkah otak belaka...."
Karena berpikir demikian, dia lantas duduk bersandar tembok.
Semua pikiran dibuang jauh-jauh dari benaknya dan perhatiannya dipusatkan untuk mengatur pernapasan.
Siang itu, dengan pedang tersoren dipinggang buntalan menggembol dlpunggungm ia berkunjung kembali ke kota Kim-leng.
oooOOOooo PEMUDA itu masuk kota lewat pintu Ki-bun dan menginap di rumah penginapan yang memakai merek Ban-liong.
Ia tidak langsang menuju ke pasanggrahan pertabiban, ini menunjukkan bahwa keputusan tersebut diambil setelah melalui pemikiran yang panjang dan seksama.
Selesai ganti pakaian dan bersantap, dengan mengenakan seperangkat baju sutera warna biru laut, sepatu indah, menyoren pedang antik dipinggang dan menyimpan tiga botol obat dan untaian mutiara kedalam sakunya, berpesanlah pemuda itu kepada pelayan bahwa ia akan pergi melancong.
Kemudian pura-pura sebagai kaum pesiar pelan-pelan ia menyusuri jalanan dikota.
Menurut hasil analisanya, kota Kim-leng yang sekarang merupakan kumpulan dari para jago dari pelbagai golongan.
Orang-orang dari Kiu-im-kauw ada disitu, orang orang Hian-beng-kauw ada pula disitu.
Malahan menurut pesan Hoa Ngo, dia harus memperhatikan pula beberapa orang suku asing.
Seandainya beberapa suku asing inipun bermaksud membuat keonaran pula dalam dunia persilatan, berarti sudah ada tiga kelompok manusia hadir disana.
Bila ditambah lagi dengan kelompok Si Nio dan majikannya, Cia In dengan gurunya dan ia serta Kim-leng ngo kongcu, berarti pertemuan beberapa kelompok manusia itu sekaligus akan menerbitkan suatu kegoncangan yang luar biasa dalam dunia persilatan.
Walau demikian, diapun mengerti, Kim-leng ngo-kongcu tidak berada dikota asalnya.
Si Nio dan majikannya mungkin sudah kabur jauh-jauh bila mereka mau menuruti nasehatnya.
Sedang Cia In dan gurunya, oleh sebab perkumpulan Cha-li-kau mereka belum dibuka secara resmi, tentu saja kelompok mereka tak akan tampilkan diri secara terus terang.
Sedangkan kelompok 'beberapa orang Suku asing' itu, hingga kini jejaknya belum ketahuan.
Pihak Hian-beng-kauw juga baru tunjukkan kedua orang 'Ciu-Hoa' serta begundalnya.
Itu berarti pertarungan tak mungkin berlangsung dalam waktu singkat.
Sekalipun terjadi bentrokan kekerasaan kekuatan pihaknya juga tidak terhitung terlalu minim.
Walaupun ia memandang remeh setiap masalah yang dihadapinya, tidak berarti perbuatannya gegabah.
Setelah mengalami suatu pemikiran yang serius dan mendalam, pemuda itu merasa bahwa ada beberapa persoalan harus dilaksanakan lebih dahulu.
Pertama, siapa gerangan manusia-manusia yang disebut sebagai 'beberapa orang suku asing' itu?
Apa tujuan kedatangan mereka?
Dimana mereka bercokol saat ini?
Dan berapa banyak jumlah kekuatan mereka?
Kedua, jejak Coa Cong-gi harus berusaha dilacak sampai jelas.
Seandainya ia sudah ditangkap oleh jago-jago Kiu-im-kauw, ia harus mengusahakan pertolongan lebih dahulu, kemudian baru berusaha untuk mengumpulkan kembali seluruh kekuatan dari Kim-leng ngo-koancu.
Ketiga, Masihkah Kiu-im kaucu bercokol dalam gedung megah itu?
Setelah kepergiannya, tindakan apa yang dia lakukan?
Ia pernah memerintahkan anak buahnya untuk menjalin kontak dengan orang-orang Hian-beng-kauw untuk bersama-sama menghadapi keluarga Hoa, bagaimanakah keadaan situasinya saat ini?
Keempat.
Garis besarnya ia sudah memahami tentang latar belakang pembunuhan atas Suma Tiang-cing suami istri, tapi berhubung Giok-teng hujin tidak memberi perjelasan yang lebih mendalam dalam pembicaraannya, seperti misalnya bagaimana caranya sampai hiolo kecil kemala hijau itu bisa tercuri oleh Kiu-im kaucu, serta apa sebabnya Kiu-im kaucu sampai bersekongkol dengan orang-orang Hian-beng-kauw, maka hingga kinii ia masih belum menguasai penuh masalah tersebut.
Bila mana mungkin, dia ingin sekali bertemu dengan Giok-teng hujin, atau Cia In serta guru-nya untuk membicarakan persoalan ini dengan lebih terperinci.
Oleh sebab itulah, tindakan pemuda itu menginap dirumah penginapan, berpesiar dengan menyaru sebagai pelancong boleh dibilang mengandung dua maksud tertentu.
Pertama, dia tak ingin mendatangkan bibit bencana bagi pihak Kang lam Ji-gi.
Kedua dengan berbuat demikian maka jejaknya jadi cukup rahasia.
Itu berarti ia dapat bergerak dengan lebih bebss lagi tanpa kuatir diawasi gerak-geriknya oleh lawan.
Disamping itu semua, pemuda itu pun menyusun jadwal tugas-tugas yang harus dilakukan lebih dulu dengan rapi dan teratur.
Menurut pandangan In-liong, menjumpai Giok-teng Hujin tak perlu dilakukan dengan terburu nafsu, sebab hal itu merupakan suatu perbuatan yang tak bisa diminta tapi harus menanti tibanya kesempatan baik.
Untuk melakukan penyelidikan atas gerak-gerik pihak Kiu-im-kauw, waktu yang paling baik adalah malam, daripada nantinya perbuatan itu menimbulkan gejala 'Memukul rumput mengejutkan ular', mempertinggi kewaspadaan mereka.
Maka ia putuskan untuk menyelidiki lebih dulu indentitas "beberapa orang suku asing"
Itu sekalian berpesiar di kota Kim-leng sambil menperhatikan apakah Kim-leng ngo-kongcu telah kembali ke kota asalnya atau belum, diantaranya termasuk juga Coa Cong-gi.
Susunan rencananya ini memang cukup cermat teliti dan sempurna seakan-akan dalam waktu setengah hari saja, ia telah kena digembleng sehingga jauh lebih matang.
Waktu itu dengan langkah yang santai Hoa In-liong berjalan menelusuri kota, matanya Celingukan kesana kemari memperlihatkan orang yang berlalu lalang, sehingga akhirnya tanpa terasa sampailah anak muda itu ditepi sungai.
Kota Kim-leng adalah kota niaga dijaman ahala Beng, juga merupakan bandar penting waktu itu, terutama dibagian kota pusat perdagangan, suasana amat ramai.
Banyak kaum pedagang dan pelancong berlalu lalang disitu.
Bukan saja banyak terdapat warung penjual barang, perusahaan pengawal juga banyak, rumah makan banyuk, warung teh juga tak terhitung jumlahnya Wilayah pusat perdagangan ini tak kalah ramainya dengan sekitar Hu-cu-bio.
Kalau didalam kota, kecuali kaum pedagang, kaum pelancong, tukang perahu, kuli kasar berkeliaran disana-sini.
Banyak pula laki-laki berwajah bengis yang luntang-lantung kesana kemari.
Percekcokan, perselisihan sudah sering terjadi disekitar sana, maka diapun terbiasa dengan situasi macam begitu.
Hoa In-liong membaurkan diri dengan para pelancong lainnya berputar kesana kemari, ak-hirnya karena tidak menemukan orang-orang yang terasa menyolok dalam pandangan, diapun masuk kedalam sebuah warung teh untuk beristirahat.
Seorang pelayan menyambut kedatangannya dengan badan terbungkuk-bungkuk.
"Silahkan masuk siau-ya!"
Katanya.
"Diatas loteng masih tersedia tempat yang baik!"
Hoa In-lioog manggut-manggut, dia naik ke tingkat dua dan memilih sebuah tempat yang de-kat dengan jendela. Buru-buru pelayan itu mempersilahkan tamunya duduk, setelah itu baru ujarnya.
"Hee.... heee.... heee.... Jendela ini menghadap ke arah sungai Tiang-kang. Udara segar, pemandangan indah dan tempat dudukpun strategis letaknya. Tuan mau minum teh apa?"
"Sediakan saja teh Bu-oh!"
Sahut Hoa In-liong sekenanya. Pelayan itu segera tertawa paksa.
"Hee.... hee.... hee.... Tentunya kau datang diri propinsi Imlam bukan?"
Sapanya seramah mungkin.
"Heee.... hee.... Padahal teh Bu-oh kalah jika dibandingkan teh Bu-gi. Teh Bu-gi masih kalah kalau dibandingkan ten Kun-san. Daripada teh Kun-san lebih baik teh Liong-keng, dan Mao-cian dari teh Liong-keng merupakan teh nomor wahid didunia ini. Tuan, bagaimana kalau hamba sediakan sepoci teh Mao-cian untuk dicobanya lebih dulu?"
"Ehmm.... Tampaknya kau mendalam sekali pengetahuannya tentang soal air teh?"
Ujar Hoa Inliong sambil menengadah dan tertawa. Pelayan itu tertegun sejenak, lalu bungkukkan badannya berulang kali.
"Tuan terlalu memuji, tuan terlalu memuji!"
"Aku minta teh Bu-oh!"
Seru Hoa In-liong ketus. Paras mukanya berubah serius. Sekali lagi pelayan warung teh itu tertegun.
"Tentang soal ini.... Tentang soal ini...."
"Apa ini itu?"
Seru Hoa In-liong sambil tertawa terbahak-bahak.
"Bukankah teh Bu-oh langka dicari?"
"Yaa.... yaaa.... Benar, benar. Bu-oh memang teh yang langka, harap tuan suka memaafkan"
Jawab pelayan itu sambil menjura tiada hentinya dengan jawaban gagap. Hoa In-liong tertawa tergelak tiada hentinya....
"Haa.... haa.... haaa.... Kalau sudah tahu barang langka, buat apa kau banyak bicara lagi" ? Hmm.... aku lihat kau menang lihay berdagang!"
Merah padam wajah pelayan itu karena jengah, kepalanya tertunduk rendah-rendah.
"Orang budiman tidak akan lihat kesalahan siau-jin. Harap yaya sudi maafkan!"
"Sana pergi! Sediakan saja air teh apapun, aku doyan air teh dari jenis manapun juga!"
Kata Hoa In-liong kemudian sambil ulapkan tangannya.
Pelayan itu tak menyangga kalau urusan dapat selesai semudah itu.
Ia menengadah dengan jawab tertegun, kemudian setelah memberi hormat, buru-buru turun dari loteng.
Seketika itu juga, perhatian semua tamu yang berada diloteng sama-sama dialihkannya ke arahnya.
Pertama karena ia berpakaian ketat menyoren pedang dan bertubuh kekar.
Sekilas pandangan orang mengetahui bahwa ia berilmu.
Kedua, karena memilih secawan air teh saja ia telah ribut dengan pelayan warung itu, orang lain mengira pemuda itu sengaja memang mencari gara-gara, maka perhatian orang pun lebih dipertingkat.
Haruslah diketahui, kebanyakan peminum, teh di pagi hari adalah kaum pelancong yarg tidak mempunyai pekerjaan tetap.
Manusia bangsa begitu bukan saja gemar mencari urusan.
Mereka paling suka mengagumi seorang enghiong membantu kaum yang lemah dan suka nonton keramaian.
Tapi kenyataannya sikap Hoa In-liong sangat ramah, diapun cuma tertawa ringan untuk menyudahi urusan, tak heran lalu banyak orang merasa kecewa atas tindakannya itu.
Hoa In-liong sendiripun tidak terlalu memperhatikan sikap orang.
Ia memandang sekejap raut wajah orang-orang itu, kemudian alihkan pandangan matanya keluar jendela, sikapnya yang begitu santai ia sangat mencengangkan orang banyak.
"Ji-ko, tidak lemahkah kemampuan yang dimiliki orang itu?"
Tiba-tiba terdengar seseorang bertanya.
"Ehmm....! Orang ini tampan dan penuh bersemangat, jelas seorang jago silat yang berilmu tinggi"
Sahut yang lain.
"Bila kita bisa mendapat bantuannya, tentunya tak perlu diam-diam pulang untuk mencari bantuan lagi"
Kata suara pertama dengan parau.
"Eeeh.... Sam-te, kau sudah jadi bodoh atau gimana?"
Tegur orang pertama.
"Kita kan tidak kenal dengan dia. Lagipula tidak tahu juga siapakah orang itu, darimana munculnya ingatan semacam itu dalam benakmu?"
Suara yang parau tadi menghela napas panjang.
"Aaiiia.... Tapi menolong orang bagaikan menolong api, kita sudah membuang waktu selama satu hari"
Waktu itu meskipun Hoa In-liong sedang menikmati pemandangan alam di sungai, tapi ia memang datang kesitu dengan membawa tujuan tertentu.
Sudah barang tentu pembicaraan kedua orang itu dapat didengar olehnya sangat jelas.
Sebagai majikan muda dari Im Tiong-san, Sejak kecil dia memang sudah dididik untuk ber-jiwa ksatria, sifat ingin menolong kaum yang tertindas selalu tertanam dalam jiwanya, maka ketika mendengar kata-kata "menolong orang bagaikan menolong api"
Mendadak sontak hatinya merasa bergetar keras.
Kebetulan pelayan datang menghidangkan sepoci arak wangi, ia pun berpaling sambil meneguk air tehnya.
Menggunakan kesempatan tersebut ia berpaling ke arah mana berasalnya suara itu.
Disudut loteng ruangan, tepat berada dihadapannya duduklah dua orang laki-laki berusia tiga puluh tahunan.
Salah seorang diantaranya bercambang lebat dan bercodet pada keningnya.
Orang kedua berperawakan jangkung dan kurus.
Di antara alis matanya terdapat tahi lalat besar.
Mereka mengenakan pakaian ringkas yang sama bentuknya, menggembol senjata rahasia, tapi wajahnya ramah dan gagah.
Hanya waktu itu terhias perasaan cemas dan tak tenang.
Ketika ia mengawasi kedua orang itu, kebetulan dua orang itupun sedang mengawasi ke arahnya.
Maka ketika mata saling bertemu, Hoa In-liong segera berkata sambil tersenyum.
"Saudara berdua, bila kalian tidak keberatan bagaimana kalau pindah ke mejaku untuk bercakap cakap?"
Ucapan tersebut terdorong oleh jiwa pendekarnya, tapi ia sudah melupakan tujuan kedatangannya yang sebenarnya.
Bukan saja tidak berusaha untuk menjaga diri, dia malah menyapa orang lain lebih dahulu.
Dua orang laki laki itu tampak ragu-ragu sebentar, akhirnya mereka bangkit dan pindah tempat.
Sambil menjura dan memberi hormat, laki-laki jangkung kurus itu memperkenalkan diri.
'"Aku bernama Liat Ceng-poh, sedang dia adalah sam-te ku bernama Be Si-kiat...."
Hoa In-liong segera balas memberi hormat, katanya pula dengan wajah serius.
"Aku bernama Pek-Khi, silahkan duduk!"
Diam-diam ia telah mengambil keputusan, sebelum mengetahui jelas identitas orang yang dijumpainya, untuk sementara waktu dia akan menggunakan nama palsu.
"Oooh.... kiranya Pek-heng, selamat berjumpa muka, selamat berjumpa muka...."
Kata Liat Cengpoh dan Be Si-kiat hampir bersamaan waktunya, masing-masingpun ambil tempat duduk disisinya.
Begitu kedua orang itu sudah duduk, Hoa In-liong pun bertanya secara langsung dengan berterus terang.
Dari pembicaraan saudara berdua, barusan dapat kudengar bahwa.
Menolong orang bagaikan menolong api.
Boleh aku tahu siapa yang mendapat kesulitan?
Kesulitan apa pula yang sedang dihadapi?
Bila tidak keberatan, aku bersedia untuk mendengarkannya"
Setelah ucapan tersebut diutarakan, Liat Ceng-poh dan Be Si-kiat segera saling berpandangan tanpa menjawab, untuk sesaat mereka agak tertegun. Hoa In-liong tersenyum, kembali ujarnya.
"Aaah.... Aku memang terlalu gegabah. Semestinya kalau kujelaskan dulu sikapku, agar kalian tidak sampai menaruh curiga lebih jauh terhadap maksud baikku!"
"Apa yang sebenarnya telah terjadi?"
Pikir Liat Ceng-poh dihati "Bila dilihat dari tenaga dalamnya yang begitu sempurna, semestinya dia adalah seorang jago sakti yang berilmu tinggi.
Tapi mengapa sikapnya begitu polos dan blak-blakan.
Seakan-akan seorang jago yang sama sekali tidak berpengalaman sampai berbicara pun tidak dipikirkan lebih dahulu....?"
Be Si-kiat adalah seorang lelaki yang berangasan, dengan cepat dia menyambung?
"Aaah....
mana, mana, sungguh tak sangka.
Pembicaraan kami yang lirih dapat didengar oleh Pek-heng.
Ketertegunan kami tadipun lantaran kejadian tersebut sedikit diluar dugaan.
Harap Pek-heng jangan menaruh curiga kepada kami!"
Hoa In-liong mengangguk.
"Kalau toh demikian, apa salah kalau Bo-heng terangkan secara langsung latar belakang persoalan yang membebani benak kalian? Asal tidak melanggar soal kebenaran dan keadilan, bilamana memerlukan tenagaku, dengan senang hati aku bersedia membantunya"
Kembali suatu pembicaraan yang menunjukkan bahwa pengalamannya masih kurang, sebab walaupun latar belakang persoalan diketahuipun tidak sepantasnya mengucapkan kata-kata seperti itu.
Dalam hati kecilnya Liat Ceng-poh menggerutu, tapi diluaran dia manggut berulang kali.
"Yaa.... Yaa.... Kami berdua memang sangat mengharapkan bantuan dari saudara Pek"
Sesudah berhenti sebentar, ujarnya kembali.
"Beginilah duduk persolan yang sebenarnya. Beberapa hari berselang, kami tiga bersaudara dengan mengikuti seorang sahabat berangkat ke arah barat karena ada persoalan. Tak nyana sewaktu tiba disekitar kota Mong-yang telah berjumpa dengan serombongan manusia-manusia yang berdandan aneh...."
Penbicaraan yang bertele-tele itu segera membuat Hoa In-liong jadi tak sabar, dahinya berkerut. 'Saudara Liat, bersediakah engkau untuk bercerita seringkasnya saja....?"
Liat Ceng-poh jadi tersipu sipu. Dengan wajah merah ia tergagap tak mampu berbicara. Be Si-kiat yang ada disampingnya segera menyela.
"Jiko, biar aku saja yang teruskan" . Sambil berpaling ke arah Hoa In-liong dan menatapnya lekat-lekat, ia melanjutkan.
"Sebenarnya tujuan kami adalah mencari seseorang. Siapa tahu walau sudah sampai di kota Hongyang pun tak ada kabar beritanya, sahabat kami itu pun mulai gelisah. Kebetulan dari arah depan muncul serombongan manusia, maka diapun maju sambil numpang tanya. Siapa tahu tatkala rombongan itu mendengar nama dari orang yang hendak kami cari, tanpa banyak bicara lagi segera menyerang kami dengan kejinya. Suatu pertarungan sengitpun tak bisa dihindari...."
Selama pembicaraan berlangsung dia hanya menggunakan istilah.
"sahabat"
Serta "orang yang dicari".
Sekalipun mengulanginya sampai beberapa kali tak pernah ia sebut nama sebenarnya dari kedua orang tersebut.
Tentu saja Hoa In-liong dibikin tidak habis mengerti, akhirnya dia menyela.
"Sebenarnya siapakah sahabat kalian itu? Dan siapakah pula yang hendak kalian cari?"
Mendengar pertanyaan tersebut, Be Si-kiat tertegun, lalu ia menengadah dan celingukan kesana kemari dengan perasaan tidak tenang.
Rupanya Hoa In-liong cukup memahami perasaan orang, dengan suara setengah berbisik katanya.
"Begini saja, tulislah nama itu diatas meja dengan menggunakan air teh.... .!"
Lian Ceng-poh ada maksud untuk menghalangi rekannya, tapi Be Si-kiat sudah terlanjur manggut.
Setelah celupkan jeriji tangannya ke air teh, diapun menulis tiga huruf diatas meja....Hoa In-liong.
Agak terkejut Hoa In liong sewaktu dilihat namanya tertulis dimeja, tapi sebelum ingatan selanjutnya melintas didalam benak, Be Si-kiat telah menulis lagi tiga huruf....
Yu Siau-lam.
Bagaikan disambar geledek ditengah hari bolong, Hoa In-liong menjerit tertahan.
"Apa? Yu...."
Tiba-tiba ia sadar bahwa dinding ada telinganya, maka sampai ditengah jalan ia telah mentahkan ucapannya itu. Bersamaan waktunya juga Be Si-kiat maupur Liat Ceng-poh menjerit kaget.
"Kau...."
Menyaksikan suara terkejut dari dua orang itu, Hoa In-liong tahu bahwa mereka sudah salah paham. Diapun tertawa lirih.
"Harap saudara berdua jangan meayalahkan diriku. Pada hakekatnya akulah sebenarnya Hoa In-liong yang kalian cari"
Be Si-kiat dan Liat Ceng-poh agak tertegun, lalu saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Agaknya mereka tidak percaya dengan pengakuan tersebut.
Terpaksa Hoa In-liong memberi keterangan lebih jauh.
"Sebetulnya aku diculik oleh Kiu-im kaucu, tapi kemarin malam berhasil meloloskan diri dari mara bahaya. Telah kujumpai pula Yu locianpwee. Pengakuanku dengan nama palsu tadipun kulakukan lantaran keadaan yang terpaksa"
Setelah diberi penjelasan demikian, percayanya kedua orang itu memang sudah percaya.
Sayang tenaga dalam yang mereka miliki sangat terbatas sehingga tak mampu untuk mengutarakan isi hati mereka dengan ilmu menyampaikan suara.
Maka setelah berhubungan untuk sesaat lamanya, Liat Ceng-poh ambil keputusan untuk mengutarakan isi hatinya dengan menulis dipermukaaan meja.
Terbacalah ia menulis demikian.
"Yu kongcu ditawan orang. Tujuannya adalah menyelidiki jejakmu. Kemarin saja mereka masih berada di-kuil Ceng-si-koan sebelah barat kota Hong-yang. Bagaimana keadaannya sekarang, agaknya tak usah dijelaskan lagi"
Hoa In-liong jadi amat cemas, dengan ilmu menyampaikan suara serunya kemudian.
"Kalau begitu, ayoh. kita segera berangkat!"
Liat Ceng-poh gelengkan kepalanya berulang kali.
"Toako sedang masuk kota cari bantuan. Bila bantuan telah tiba kita baru berangkat"
"Apakah minta bantuan dari Yu locianpwe?"
Tanya Hoa In-liong dengan wajah murung.
"Ooooh.... Kami tak akan berani mengganggu ketenangan Yu locianpwe. Sebetulnya kami bersaudara adalah tamu-tamu dari keluarga Yu. Rasanya tidak enak kalau mengganggu ketenangan mereka, maka toako mencari bantuan dari rekan-rekan persilatan lainnya, tak lama lagi mereka pasti sudah sampai disini"
Hoa In-liong mengerutkan dahinya semakin "Perpisahan dalam sehari, mungkin akan terjadi pikir lebih baik Liat heng melukiskan saja bentuk berangkat. Daripada kalau terlalu lama akan diinginkan."
Rapat sehabis mendengar ucapan tersebut, perubahan yang tak terhitung banyaknya.
Aku badan dan dandanan mereka.
Aku akan segera mengakibatkan terjadinya hal-hal yang tidak Liat Ceng-poh berpikir sebentar, maka diapun menulis diatas mejanya dengan air teh.
'"Musuh berjumlah empat orang.
Seorang gadis baju merah, seorang laki-laki berdandan pelajar, dua orang bersanggul tinggi berbaju imam warna kuning dengan lengan baju sebatas sikut.
Sekilas pandang seperti jubah pendeta, tapi kopiahnya bundar dengan bagian dadanya terbuka, kaus putih setinggi lutut, sepatu bot kulit, tidak mirip dengan orang Tionggoan, usianya antara...."
Hoa In-liong tak sabar untuk membaca lebih jauh, setelah membuang sekeping hancuran uang perak ke meja, ia berseru.
"Sampai jumpa didepan sana!"
Dengan langkah tergesa-gesa, ia menuruni anak tangga dan berlalu dari sana.
Liat Ceng-poh dan Be Si-kiat saling berpandangan dengan wajah tertegun, selang sesaat kemudian dia baru menghela napas panjang.
"Aaai.... Sungguh tak malu menjadi putranya Hoa tayhiap!"
Dalam pada itu Hoa In-liong sudah kabur ke arah dermaga.
Dengan menumpang perahu peryeberang ia mendarat di dermaga Bu-ko.
Setelah mencari tahu jalan menuju ke Hong-yang, tanpa mengindahkan rasa kaget khalayak ramai, ia kabur menuju ke kota tersebut dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya.
Begitulah kalau orang selang diliputi kegelisahan, banyak tugas yang harus diselesaikan ditinggalkan dengan begitu saja.
Siang malam dia melakukan perjalanan cepat untuk menolong orang, padahal apakah orang itu masih berada dikuil tak tahu.
Berbicara sesungguhnya, hal ini tak dapat salahkan dia kalau begitu terburu-buru.
Lantaran dia Yu Siau-lam melakukan perjalanan jauh.
Lan taran diapun pemuda itu tertawan musuh.
Sebagai seorang pendekar sejati, dalam keadaan demikian walaupun nyawa harus dikorbankan, pertolongan tetap harus diusahakan, mesti dia berada dimanapun.
Perjalanan sejauh enam ratus li ditempuh olehnya dalam waktu setengah hari satu malam.
Akhirnya menjelang fajar tibalah anak muda itu di tempat tujuan.
Selesai bersemedi untuk pulihkan kembali kekuatannya, kebetulan saja kuil Ceng-si-koan baru saja buka pintu.
Maka berpura-pura sebagai pelancong ia masuk kedalam ruangan kuil itu.
"Selamat pagi!"
Sapanya kepada imam penjaga pintu.
"Selamat pagi!"
Sahut toosu tersebut sambil balas memberi hormat.
Baru saja Hoa In-liong hendak menggunakan kesempatan tersebut untuk menanyakan apakah ada sekelompok manusia asing menginap di kuil tersebut, tiba-tiba disudut ruangan kuil itu ia saksikan berkelebatnya sesosok bayangan merah yang lenyap dalam sekejap mata.
Dia masih ingat, diantara penculik Yu Siau-lam terdapat seorang perempuan berbaju merah.
Maka tanpa berpikir panjang lagi ia menjejakkan kakinya ke tanah dan menyusup ke depan.
Mereka menerobos masuk lewat pintu berbentuk bulan, dibalik pintu adalah sebuah halaman, semuanya berbentuk bulan, ketika ia tiba di pintu pertama, bayangan merah itu lenyap dibalik pintu kedua.
Sekarang ia sudah melihat jelas bayangan punggung bayangan merah itu.
Bayangan tersebut memang bayangan seorang perempuan, bahkan ia mengenal dengan potongan badan orang itu.
Setelah berpikir sejenak, tiba tiba gumamnya seorang diri.
"Aneh, kenapa bisa dia....?"
Ternyata dara berbaju merah itu bukan lain adalah Giok-kou-niocu si perempuan kaitan kema-la Wan Hong-giok adanya.
Wan Hong-giok pernah menaruh rasa cinta terhadapnya, bahkan sikapnya begitu hangat dan mesranya.
Malahan sewaktu berpisah dia tunjakan sikap berat hati.
Tapi sekarang, bukan saja perempuan itu tidak menemuinya, bahkan kalau bisa berusaha untuk menghindarkan diri jauh-jauh.
Pelbagai kecurigaan lantas melintas dalam benaknya.
Dengan cepat ia menerobos masuk ke halaman samping dan menelusuri serambi panjang.
Kebetulan dari arah depan situ muncul seorang tosu berusia pertengahan.
Dengan cepat Hoa Inliong membuang semua pikirannya yang kalut.
Sambil maju ke muka dan memberi hormat katanya seraya tertawa.
"Tolong tanya totiang, apakah belakangan ini ada orang yang menumpang disini?"
Mendengar pertanyaan tersebut, paras muka tosu berusia pertengahan itu berubah hebat, tanpa sadar ia mundur selangkah ke belakang.
"Sicu.... sicu...."
Ucapannya tergagap tak jelas, sepatah katapun tak mampu dilanjutkan. Mengamati perubahan wajah orang, Hoa In-liong lantas mengerti apa yang dipikir orang, dengan suara lirih.
"Totiang tak usah takut. Aku menjumpai seorang sahabat yang diculik oleh beberapa orang itu. Aku datang kemari untuk menolong jiwanya...."
Agak tenang perasaan imam setengah baya itu setelah mendengar perkataan tadi. Diamatinya sekejap anak muda itu dengan tajam, kemudian bertanya.
"Apakah sicu dari marga Hoa?"
"Yaa, aku adalah Hoa Yang"
Sekali lagi paras muka imam setengah baya itu berubah hebat, serunya dengan cemas.
"Cepat pergi dari sini sicu. Beberapa orang itu justru sedang mencari dirimu!"
Tampaknya kebijaksanaan dan kemuliaan Hoat Thian-hong telah diketahui oleh setiap orang sampai-sampai pendeta yang tidak mengerti ilmu silatpun menaruh hormat kepadanya.
Tak heran kalau Hoa In-liong terharu sekali dibuatnya oleh ketulusan imam tersebut.
Ia tertawa ewa.
"Terima kasih banyak atas perhatian totiang. Aku tak dapat pergi dengan begitu saja dari sini"
Imam setengah baya itu semakin gelisah. Ia mulai mendorong pemuda itu dengan paksa.
"Ayoh, cepat pergi dari sini!. Beberapa orang itu mempunyai ilmu siluman yang lihay. Ilmu hitam mereka tak mungkin ditandingi dengan ilmu silat. Bila ingin menolong orang datanglah malam nanti. Mungkin pinto dapat usahakan suatu bantuan bagi diri sicu"
"Maksud baik tootiang biar kuterima dalam hati saja"
Tampik Hoa In-liong sambil minggeleng "Aku percaya masih sanggup untuk menjaga diri.
Beritahu saja kepadaku tootiang dimana beberap orang itu tinggal.
Aku percaya mempunyai akal untuk menyelamatkan jiwanya"
Ketika imam setengah baya itu tak berdaya mendorong tubuhnya, sekali lagi ia awasi pemuda itu dengan tajam, tiba tiba ia menghela napas panjang.
"Aaai.... Jika sicu bersikeras, tentu saja pinto tak dapat memaksa lebih jauh. Harap sicu bersedia ingat baik-baik saja beberapa persoalan. Yang terutama adalah kau harus berjanji kepada pinto agar segera mengundurkan diri bila beberapa orang itu mulai menggotong keluar sebuah hiolo darahnya"
Hoa In-liong tersenyum.
"Baik, aku kuturuti permintaanmu itu."
Setelah pemuda itu memberi kesanggupannya, imam setengah baya itu baru mengerling ke belakang sambil berbisik.
"Telusuri saja serambi ini, sampai diujung sana belok kekiri. Disana ada halaman lagi. Sobatmu disekap dalam salah satu ruangan tersebut. Sedang beberapa orang itu berada dikedua belah sisi ruangan tahanan. Hati-hati sicu, jangan gegabah"
Habis berkata imam itu berlalu dengan langkah tergesa-gesa, seakan akan dia kuatir kalau perbuatannya diketuhui oleh orang-orang tersebut.
Hoa In-liong mententeramkan dulu hatinya.
kemudian dengan langkah lebar maju kedepan menelusuri serambi tadi.
Benar juga, diujung serambi itu terdapat sebuah bangunan yang berdiri terpencil dengan dikelilingi sebuah lapangan luas.
Dibelakangnya merupakan sebaris kamar kaum toosu, semuanya berjumlah belasan buah.
Mungkin tempat itu biasanya disediakan buat tamu-tamu yang berziarah kesana....
Waktu itu, semua pintu ruangan tertutup rapat.
Rupanya beberapa orang itu belum bangun dari tidurnya.
Berdiri ditengah lapangan kosong, Hoa In-liong termenung beberapa ssat lamanya, lalu denga suara lantang ia mulai berteriak.
"Saudara Siau-lam....! Saudara Siau-lam....! Kau ada dimana?"
Cara ini memang suatu cara yang paling tepat.
Bila Yu Siau-lam masih bisa mendengar, maka pemuda itu akan tahu bahwa dia sehat-wal'afiat.
Asal lukanya tidak parah, Yu Siau-lam-pun akan berusaha untuk menunjukkan kamar sekapannya.
Dengan demikian lebih gampang bagi In-liong untuk memberikan pertolongannya.
Sebaliknya jika luka yang diderita Yu Siau-lam parah sekali atau jalan darahnya tertotok, diapun bisa segera merubah taktiknya untuk memberi pertolongan.
Selain itu, Hoa In-liong bermaksud pula untuk mengundang munculnya beberapa orang itu.
Ketika tiada jawaban yang terdengar, Hoa In-liong merasa hatinya semakin tegang, sekali lagi ia berteriak.
"Saudara Siau-lam, engkau ada dima....?"
Sebelum ia menyelesaikan kata-katanya, mendadak terdengar seseorang membentak dengan suara yang aneh.
"Bangsat dari mana yang berkaok-kaok macam gonggongan anjing?"
Berbareng dengan suara bentakan itu, pintu kamar terbuka lebar, menyusul kemudian muncullah tiga orang manusia aneh.
Dua orang yang berada dipaling depan mengenakan jubah warna kuning dengan rambut digulung menjadi satu.
Usianya antara tiga puluh tahunan, hidungnya besar seperti singa, bibirnya tebal, tampangnya menyeramkan sekali.
Dibelakang kedua orang itu adalah seorang laki-laki berusia dua puluh lima enam tahun.
Berjubah pelajar dengan ikat kepala hijau.
Alis matanya melentik keatas.
Panca inderanya sempurna cuma sayang wajahnya agak pucat, matanya licik.
Sekilas pandangan dapat diketahui bahwa dia adalah seorang manusia yang lebih banyak menggunakan akal busuk.
Dengan kerlingan tajam Hoa In-liong mengawasi beberapa orang itu, lalu seraya menjura katanya dengan lantang.
"Aku bernama Pek-khi. Konon seorang sahabatku telah terjatuh ke tangan saudara sekalian. Karenanya sengaja aku datang kemari mohon kerelaan hati saudara sekalian untuk melepaskan temanku itu. Untuk bantuan serta perhatian kalian, aku akan merasa berterima kasih sekali"
Manusia berjubah kuning yang berada dipaling depan itu segera tertawa seram.
"Hee.... hee.... hee.... Enak benar kalau berbicara, apa yang kau andalkan untuk mengajukan pemohonan tersebut?"
Imam jubah kuning yang berada di belakangnya segera menanggapi dengan alis berkerut dan dengusan dingin.
"Hmmm....! Orang ini berkaok-kaok macan orang edan, sampai-sampai tidurku juga ikut terganggu, lebih baik dimusnahkan saja daripada banyak ribut"
Tapi sebelum mereka sempat melakukan sesuatu tindakan, laki-laki berdandan pelajar itu telah menyela.
"Lapor susiok, orang ini usianya masih sangat muda tapi tampangnya cukup keren dan gagah. Aku duga asal usulnya tentu luar biasa. Biar keponakan bertanya kepadanya sebelum susiok meng ambil tindakan lebih lanjut...."
Orang yang ada dibelakang itu memutar biji matanya, kemudian mendengus dingin.
"Hmmm....! Coba tanya kepadanya, anaknya Hoa Thian-hong berada dimana....?"
Sementara dua orang itu bertanya jawab sendiri, Hoa In-liong diam-diam menganalisa pula keadaan disekitar tempat itu, kemudian pikirnya di dalam hati.
"Sorot mata kedua orang ini aneh sekali, tampangnya juga jelek tak senang dilihatnya, tabiatnya juga jelek dan garang. Mungkin merekakah yang dimaksudkan Nyo-siok sebagai suku-suku asing? Kalau dilihat dari sikap mereka yang begitu ngotot menyelidiki jejakku, sudah pasti orang-orang itu datang kemari dengan tujuan jelek"
Sementara dia masih termenung, laki-laki berdandan pelajar itu sudah raaju kedepan seraya berkata.
"Pek-heng, boleh aku tahu saudara berasal dari perguruan mana? Apa hubungannya dengan Yu Siau-lam? Bila engkau bersedia mengakui secara berterus terang, akupun bisa saja berunding dengan susiokku untuk segera melepaskan orang, sebaliknya kalau tidak.... hee.... hee.... Apa yang diucapkan susiokku barusan tentu sudah saudara Pek dengar bukan?"
Dalam hati kecilnya Hoa In-liong mendengus dingin, ia segera berpikir dihati.
"Hmmmm....! Gertak sambal juga mau digunakan terhadap diriku, huuh.... Percuma! Bila aku Hoa loji begitu tak becusnya, tak nanti tugas berat ini akan kuterima!"
Sementara ia dihati berpikir demikian, sorot matanya sekali lagi menyapu sekejap ke arah dua orang laki-laki berjubah kuning itu, kemudian menegur.
"Siapakah nama saudara?"
"Tak usah saling menyebut nama, jawab saja pertanyaan yang kuajukan, lebih cepat akan lebih baik"
"Hoa In-liong tersenyum.
"Aku lihat gerak-gerik maupun nada bicara saudara amat halus dan sopan santun, lagi-pula mempunyai hubungan yang sangat akrab dengan suku asing. Bila dugaanku tak keliru, tentunya saudara adalah seorang tokoh silat yang berpengalaman luas dan berilmu tinggi. Sungguh beruntung aku bisa bertemu dengan saudara. Bila sekarang saudara menampik untuk memberitahukan nama anda, ooh.... betapa menyesalnya aku!"
Berserilah air muka laki-laki pelajar itu sehabis mendengar kata-kata pujian tersebut, tanpa disadari ia berkata.
"Terima kasih banyak atas pujianmu, aku adalah Siau Khi-gi...."
Menggunakan kesempatan baik itu, Hoa In-liong bertanya lebih jauh.
"Dan susiokmu?"
Karena bangga Siau Khi-gi telah lupa akan segala-galanya, spontan ia menjawab.
"Susiokku bernama Hong-Seng, dia berasal dari Seng...."
Tiba-tiba sadarlah laki-laki pelajar itu bahwa ia sudah tertipu oleh siasat Hoa In-liong. kontan hawa amarahnya berkobar sampai dalam benak, dengan suara keras teriaknya.
"Bajingan cilik...."
"Saudara Siau keliru besar, aku bernama Pek-khi!"
Tukas Hoa In-liong dengan senyum dikulum. Siau Khi-gi betul-betul naik darah, setengah kalap ia menjerit sekeras-kerasnya.
"Anak murid siapa? Ayoh jawab!"
Air muka Hoa In-liong berubah semakin keren, dengan angkuh ujarnya kembali.
"Lagakmu soknya bukan kepalang, dianggapnya dengan mengandalkan ilmu silat Seng sut-pay aliran Mokao lantas bisa malang melintang tanpa tandingan?"
Hoa In liong memang cerdiknya luar biasa, sekalipun ia hanya mendengar kata"
Seng"
Belaka, tapi oleh karena sewaktu masih dirumah ia sudah sering mendengar kisah tentang penggalian harta karun di bukit Kiu-ci-san dimana kaucu....
Jilid 16 DARI Seng-sut-pay yang bernama Tang Kwik-siu telah sesumbar sebelum kabur kembali ke negeri asalnya bahwa dalam sepuluh atau seratus tahun mendatang, pihak Seng-sut-pay akan mengirim jago lihaynya untuk minta kembali kitab pusaka perguruannya dan mengetahui pula kalau murid pertama dari Tang Kwik-siu bernama Hong-Liong, maka begitu mendengar Siau Khigi mengatakan bahwa susioknya bernama Hong Seng, teringat juga akan perkataan dari tosu setengah baya tadi yang menyinggung soal "ilmu siluman"
Dan "hiolo darah".
Pahamlah pemuda itu siapa gerangan musuh yang sedang dihadapi.
Siau Khi-gi sendiri rada terperanjat sehabis mendengar perkataan itu.
Untuk sesaat ia termangu, tapi hanya sebentar, tiba-tiba sorot mata aneh memancar dari matanya lalu tertawa seram.
"Hee.... hee.... hee.... Sekarang aku sudah paham, kau tidak she Pek tapi she Hoa, kau dilahirkan oleh Pek Kun-gi!"
Tampaknya Hong Seng adalah seorang manusia kasar yang tidak mengerti menggunakan otak. Ketika didengarnya Siau Khi-gi menyebut 'kau she Hoa', tanpa banyak berbicara lagi dia lantas membentak.
"Khi-gi, tangkap orang itu! Tangkap orang itu!"
Hoa In-liong sendiripun diam-diam merasa terperanjat, pikirnya.
"Ia dapat menebak aku she-Pek dari ibuku, kecerdikan serta daya kemampuannya untuk berpikir betul-betul bukan sembarangan orang dapat menandangi. Bila ingin menangkan pertarungan ini, agaknya aku harus bersikap lebih berhati-hati"
Sekalipun dalam hati merasa terperanjat, paras mukanya sama sekali tidak berubah.
Pemuda itu merasa tak bisa memungkiri lagi setelah pihak lawan berhasil menebak jitu asal usulnya.
Kalau tidak, maka tindakannya ini sama artinya seperti tak berani mengakui nenek moyang sendiri.
Sementara itu, Siau Khi-gi telah maju ke depan setelah mendengus dingin katanya.
"Bagaimana? Mau menyerah kalah ataukah harus bertarung lebih dahulu sebelum takluk?"
Hoa In-liong mengerutkan dahinya, lalu tertawa.
"Aku tak pernah takut terhadap ilmu silat aliran Mo-kauw. Sebentar lagi aku pasti akan minta petunjuk dari saudara Siau. Tapi sebelum itu, lebih baik kita bereskan dahulu sebuah persoalan. Bila kau tidak bisa mengambil keputusan, biarlah aku bercakap-cakap secara langsung dengan gurumu"
Sekalipun perkataan itu diutarakan dengan blak blakan dan wajah yang cerah, namun dalam pendengaran Siau Khi-gi ibaratnya sebilah pisau yang menusuk ulu hatinya.
Saking sakit hatinya ia sampai menggertak gigi dengan muka hijau membesi.
Hong Seng yang ada disampingnya segera menukas.
"Tooyaa tidak ingin membicarakan soal apapun jua, Khi-gi Sikat saja bajingan cilik itu!"
Sejak tadi Siau Khi-gi memang berharap bisa mendapat perintah tersebut, tanpa banyak bicara lagi ia membentak keras, lalu melancarkan sebuah pukulan dahsyat kearah Hoa In-liong.
Serangan tersebut dilancarkan dalam keadaan amat gusar, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya pukulan itu.
Diantara deruan angin yang mengerikan, bagaikan terbentuknya selapis tembok hawa, secara langsung menerjang kedada pemuda itu.
Hoa In-liong tak tahu serangan itu suatu serangan sungguhan atau tidak.
Ia tak berani dengan gerakan keras lawan keras.
Dengan suatu langkah yang cekatan dia mengigos kesamping lawannya.
Setelah lolos dari sambaran angin pukulan yang maha dahsyat itu, segera bentaknya keras-keras.
"Tunggu sebentar! Aku hendak mengucapkan sesuatu kepada kalian...."
Orang Mo-kauw paling tidak menurut aturan dunia persilatan.
Dikala anak muda itu sedang mengigos kesamping, terlihatlah seorang imam jubah kuning lainnya menyelinap ke muka.
Lengan kanannya segera menyambar ke depan mencengkeram punggung Hoa In-liong, bentaknya dengan seram.
"Mau bicara nanti saja bila sudah tertawan, too-ya tak akan menyiksa dirimu"
Serangan yang dilancarkan dari belakang adalah suatu sergapan yang memalukan.
Hoa In-liong paling benci menghadapi manusia-manusia macam begini.
Serta merta telapak tangan kirinya diayun ke bawah membacoh pergelangan tangan kirinya.
"Bangsat, tak tahu malu!"
Dia memaki.
Serangan tersebut dilancarkan dengan gerakan "Menyerang sampai mati gerakan pertama".
Babatan sisi telapak tangannya itu tak kalah tajamnya dengan pedang atau pisau belati.
Andaikata terbacok telak, niscaya pergelangan tangannya akan cacad.
Terkesiap orang baju kuning itu karena kaget, cepat-cepat sikutnya ditekuk ke bawah tubuhnya dengan gerakan cepat mundur tiga langkah kebelakang.
Menggunakan kesempatan itu Hoa In-liong melompat mundur kebelakang dan langsung menyusup kehadapan Hong Seng, dengan wajah penuh kegusaran dan tampang yang buas ia membentak.
"Sebetulnya kau pakai aturan tidak?"
Hong Seng mundur selangkah dengan hati keder, keberaniannya agak goyah oleh keangkeran musuhnya.
"Kenapa tooya tidak pakai aturan?"
Dia menyahut.
"Kalau pakai aturan itu lebih bagus lagi, lepaskan dulu tawananmu!"
Kata Hoa In-liong lebih jauh dengan mata bersinar tajam. Hong Seng mulai pulih kembali kesadarannya setelah mendengar ucapan itu, dia semakin tertegun.
"Kenapa tooya musti melepaskan tawanan?"
"Hmm ! Engkau benar-banar manusia yang tak tahu malu!"
Bentak Hoa In-liong sambil melangkah setindak kedepan.
"Sekalipun Yu Siau-lam adalah sahabat karibku, ia sama sekali tak tahu kemana aku pergi. Sedang kau telah menyekapnya tanpa alasan yang kuat, bahkan menanyakan pula jejakku. Cara semacam ini sudah terhitung suatu tindakan yang tak tahu aturan. Sekarang aku kan sudah berdiri dihadapanmu? Bagaimanapun juga tujuanmu menyekap Yu Siau-lam sudah tercapai, mengapa tidak kau lepaskan juga dirinya? Atau memang kau anggap aku tak bisa melakukan apa-apa terhadap dirimu?" . Pada waktu itu kemarahan telah menyelimuti seluruh benak Hoa In-liong. Perkataannya kian lama kian bertambah kasar, tampangnya juga makin lama semakin keren. Didesak secara begini oleh anak muda itu, kontan Hong Seng merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri. Ia bergidik dan tanpa sadar mundur selangkah lagi ke belakang. Walaupun demikian, bukan bukan berarti persoalan dapat diselesaikan dengan begitu saja. Hoa In-liong benar-benar memandang rendah musuhnya yang bernama Hong Seng ini, karena lawannya itu berhasil digertak sampai ketakutan setangah mati, walau cuma hanya dengan katakata belaka. Dalam kesal dan jengkelnya, anak muda itu segera memutar badannya dan siap berlalu dari situ. Tapi.... baru saja badannya berputar, tiba-tiba terasa ada desiran angin dingin menyergap belakang tubuhnya, menyusul kemudian lima jari tangan yang tajam bagaikan kaitan mengancam iganya. Ternyata reaksi dari Hoa In-liong cukup cepat, tiba-tiba ia tarik lambungnya ke belakang, telapak tangan kanannya diangkat ke atas. Dengan jari tengah dan telunjuknya ia totok pergelangan tangan musuh yang sedang menyambar tiba itu. Diantara desingan angin jari yang menderu-deru, terdengar serentetan jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan kesunyian. Seorang imam berbaju kuning terhuyung mundur kebelakang dengan sebuah lengannya terkulai kebawah. Ternyata dalam serangannya tersebut, totokan jari tangan dari Hoa In-liong itu berhasil mematahkan pergelangan tangan kanan lawannya. Baru pertama tali ini Hoa In-liong melukai orang, tak kuasa jantungnya berdebar keras. Sementara itu Siau Khi-gi menjadi ketakutan setengah mati. Diam diam ia bersyukur. Bersyukur karena bukan dia yang melakukan serangan tersebut. Kalau tidak maka yang terluka sekarang bukan imam baju kuning itu melainkan dirinya. Mula-mula Hong Seng agak tertegun karena terperanjat, tapi sesaat kemudian dengan wajah menyeringai seram dan sorot mita bertambah buas, ia membentak nyaring.
"Khi-gi, siapkan hiolo darah!"
Menyaksikan kebuasan sorot mata Hong Seng, apalagi setelah mendengar ia meneriakkan katakata "siapkan hiolo darah,"
Hoa In-liong merasakan hatinya berdetak keras, segera pikirnya.
"Konon anak murid Mo-kauw dari Seng Sut-pai banyak yang memiliki ilmu sesat yang rata-rata amat lihay dan luar biasa, seperti misalnya Hong Seng. Rupanya ia menitik beratkan kepadanya pada "
Hiolo darah"
Tersebut. Aku tak boleh berbuat gegabah sehingga kena dipecundangi olehnya"
Walaupun dihati kecilnya ia merasa murung bercampur ngeri namun kewaspadaan sama sekali tidak berkurang.
Diawasinya Siau Khi-gi yang ada disampingnya dengan pandangan tajam.
Sekulum senyuman dingin yang seram dan keji tiba-tiba menghiasi wajah Siau Khi-gi.
Kemudian ia putar badan dan pelan-pelan berjalan ke arah pintu ruangan yang tertutup rapat.
Sikap maupun air mukanya berubah jadi amat serius.
Sementara itu, Hong Seng sendiri jaga berdiri dengan wajah serius.
Sepasang matanya tertutup rapat, bibirnya bergetar kemak kemik seperti orang lagi membaca doa.
Entah mentera apa yang sedang dibaca oleh imam tersebut?
Tindak tanduknya persis seperti upacara suatu aliran kepercayaan yang serba misterius.
Suasana penuh diliputi keangkeran, keajaiban, kemisteriusan, kengerian dan serba baru.
Berada dalam keadaan begini, Hoa In-liong merasa detak jantungnya tiba-tiba berdebar lebih keras, sampaisampai bernafas keras-keras pun tak berani.
Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Hoa In-liong, dengan cepat ia berpikir.
Eeh....
Tidak benar!.
Bukankah kamar tengah adalah kamar yang dipakai oleh mereka untuk menyekap saudara Siau-lam?
Jangan-jangan....
Ya Jangan-jangan...."
Dengan cepat ia menengadah, waktu itu Siau Khi-gi sudah melangkah di atas serambi.
Saking kagetnya peluh dingin telah membasahi sekujur badan Hoa In-liong, kakinya lantas dijejakkan ke permukaan tanah sambil menerjang ke depan dengan cepat.
"Tunggu sebentar!"
Bentaknya lantang.
Menyusul suara bentakan itu, dia lancarkan sebuah pukulan dahsyat ke arah tubuh Siau Khi-gi, sedang serangan yang lain ditujukan ke arah pintu kamar.
Gerakan tubuhnya itu terlampau cepat, dalam keadaan demikian tak sempat bagi Siau Khi-gi untuk menghindarkan diri, ia terjatuh keluar dengan sempoyongan.
Tapi begitu pintu kamar terpentang lebar, suatu kejadian aneh pun segera berlangsung di depan mata.
Kecuali sebuah pembaringan bambu dalam ruangan tersebut, di lantai ada sebuah bantalan untuk bersemedi.
Di depan bantalan semedi tadi berdirilah sebuah hiolo setinggi tiga depa dengan lebar beberapa depa dan berwarna merah bercahaya terang.
Kecuali itu tidak nampak benda apapun juga.
Hoa In-liong sangat mengkuatirkan keselamatan Yu Siau-lam, menyaksikan kesemuanya itu dia lantas berteriak keras.
"Dimana orangnya? Orangnya.... kemana parginya dia?"
Sementara itu Hong Seng telah menyerbu masuk ke dalam ruangan, tapi ketika hiolo itu dillongok sekejap, tiba-tiba ia menjerit setengah kalap.
"Ooohbarang pusakaku.... kemana larinya Po hoat ku.... oooh.... Poo-hoat ku...."
Rupanya dalam hiolo berwarna merah bercahaya itulah terkumpul beratus-ratus macam makhluk beracun yang paling jahat didunia.
Makhluk beracun serta hiolo darah ini merupakan bahan pokok terpenting bagi orang Mo-kauw untuk melakukan ilmu Hiat-teng-toh-hun-tay-hoat (ilmu hiolo darah pembetot sukma) yang maha dahsyat itu.
Selain kepandaian tersebut, terdapat juga sejenis kepandaian yang disebut Hua-hiat-to (Pekikan pelumer jadi darah).
Untuk melatih kepandaian tersebut, seseorang juga tak boleh melupakan kedua jenis barang tersebut.
Sekarang hio!o pusakanya masih berada ditempat, tapi makhluk-makhluk beracunnya justru sudah kempas-kempis melingkar dalam hiolo itu dalam keadaan sekarat.
Kematian pun caranya tidak terlalu jauh lagi.
Tidaklah heran kalau Hong Seng jadi khekinya bukan kepalang, sampaisampai perkataanpun terbata-bata.
Sementara semua orang diliputi rasa gugup dan keget, bayangan merah berkelebat lewat disebelah samping, menyusul kemudian Giok-kou-nio-cu Wan Hong-giok munculkan diri ditempai itu.
Begitu Hong-giok munculkan diri, Siau Khi-gi pertama-tama yang menghampiri seraya menyapa.
"Adik Hong, sejak pagi tadi kau telah pergi kemana?"
Wan Hong-giok mengangkat kepalanya tidak menjawab, menggubris pun tidak. Dia langsung menuju kepintu kamar dan berdiri bertolak pinggang disana, tiba-tiba serunya dengan suara lirih.
"Hong-susiok, kenapa bersedih hati? Apakah lantaran makhluk-makhluk beracunmu itu?"
Waktu itu Hong Seng sedang mendongkol dari kesalnya bukan kepalang, apalagi tidak ada tempat penyaluran, matanya kontan melotot besar.
"Hmm.... Gembira bukan karena bencana yang menimpa aku?"
Teriaknya.
"Lain hari kau tak usah takut kepadaku lagi"
Wan Hong-giok mencibirkan bibirnya.
"Huuuh.... konon kau sangat ahli dalam hal makhluk beracun. Kenapa tidak kau periksa dulu dengan lebih seksama sebelum mengamuk macam orang edan?" . Mula-mula Hong Seng agak tertegun, menyusul kemudian merangkak kesisi hiolo tersebut. Dimana dia bersuara aneh sesaat lamanya, selang kemudian sambil berjingkrak karena kegirangan teriaknya. ' "Hong-giok, kau memang hebat, kau....!"
"Tiada sesuatu yang perlu dihebatkan,"
Tukas Wan Hong-giok ketus.
"Aku cuma menuruti caramu belaka. Siapa tahu darah manusia yang kuberikan kepada mereka rupanya terlalu banyak sehingga jimat-jimatmu tak tahan lagi. Bukan keuntungan yang didapat justru satu nyawa telah dibuang dengan percuma"
Tak terkirakan rasa kaget dan cemas Hoa In-liong setelah mendengar perkataan itu, serunya dengan gelisah.
"Apa kamu bilang?"
Wan Hong-giok melirik sekejap kearah pemuda itu, lalu sahutnya dengan angkuh.
"Tidak apaapa. Orang-orang dari perkumpulan kami sudah terbiasa menggunakan darah sendiri untuk memberi makan kepada makhluk-makhluk beracun. Belum pernah nona saksikan ada orang yang begitu tak becus setelah kehilangan darah. Sobatmu she-Yu itu memang orang tak berguna, baru setengah jam saja ia sudah mampus dengan darah mengering"
"Kau bilang dia sudah mati?"
Hoa In-liong merasa kaget bercampur gusar.
"Yaa, sudah mampus!"
Merah membara sepasang mata Hoa In-liong.
"Dimana.... Dimana mayatnya? Aku menginginkan mayatnya!"
Teriaknya keras-keras.
"Mayatnya berada lima ratus langkah disebelah timur kuil ini"
Jawab Wan Hong-giok dengan dingin.
"Aku rasa saat ini sudah habis dimakan anjing liar"
Seketika itu juga Hoa In-liong merasakan darah didalam tubuhnya bergolak keras, mukanya hijau membesi.
Ketika mendengar berita duka ini, hampir saja ia kehilangan ketenangannya seperti dihari-hari biasa.
Sekujur badannya gemetar keras, giginya saling bergemerutuk keras, teriaknya dengan penuh kebencian.
"Kau.... Kau.... Hitung-hitung aku sudah mengenali watakmu yang sebenarnya"
Pemuda itu buru-buru ingin menemukan kembali jenasah dari sahabatnya, ia tak rela membiarkan jenasah temannya terlantar ditengah hutan sebagai umpan anjing, maka sambil menahan rasa sedih dan gusarnya, begitu selesai berkata ia segera lari meluncur kearah timur.
Wan Hong-giok segera mendengus dingin, ia mengejar dari belakangnya seraya membentak.
"Masih ingin kabur. ? Lihat senjata rahasia" . Serentetan cahaya kilat mengikuti ayunan telapak tangannya segera menyergap punggung Hoa In-liong.... oooOOOooo HOA IN-LIONG merasa amat perih batinnya. Apa yang terpikir olehnya pada saat ini adalah secepatnya menemukan diri Yu Siau-lam. Bagaimanakah keadaan sobatnya itu itu apakah masih hidup atau sudah mati, ia tidak berniat untuk memikirkannya lebih jauh. Sama sekali tak terduga olehnya, Wan Hong-giok yang pernah menaruh hati kepadanya tiba-tiba seperti berubah jadi orang lain. Bukan dia yang mendesak gadis itu lebih jauh, ternyata malahan gadis itulah yang mengejarnya sambil menyerang senjata rahasia. Seakan-akan nona itu amat mendendam kepadanya sehingga hatinya baru puas bisa dapat membinasakan dirinya. Mendengar bentakan tersebut, dengan hati yang mangkel pemuda itu lantas berpikir.
"Bagus sekali! Tempo hari saja cintamu padaku begitu berkobar-kobar, sekarang hatimu sudah jadi busuk, bukan saja sobatku kau celakai, sampai kepadaku pribadi juga tak mau lepas tangan"
Sebelum ingatan tersebut habis melintas dalam benaknya, desingan angin tajam telah menyergap punggungnya.
Dalam keadaan demikian, serta merta Hoa In-liong menjatuhkan diri kebelakang.
Begitu senjata rahasia itu menyambar lewat, lengan kanannya segera menyambar kemuka, ujung kakinya menjejak permukaan tanah dan secepat kilat menyambar senjata rahasia yang menyambar lewat diatas punggungnya tadi.
Anak muda itu sungguh merasa amat gusar, dia ingin menangkap senjata rahasia itu untuk disambit kembali kearah nona itu.
Tapi apa yang kemudian terjadi?
Ternyata senjata rahasia yang berhasil ditangkapnya itu adalah segumpal kertas kecil.
Meudapatkan gumpalan kertas tersebut, Hoa In-liong semakin tertegun sehingga untuk sesaat lamanya tak mampu berbuat apa-apa.
Pada waktu itutah, tiba-tiba Hong Seng membentak dengan suara yang amat nyaring.
"Kenapa cuma berdiri termangu saja? Ayoh dikejar!"
Waktu itu Hoa In-liong akan membuka kertas tersebut untuk diperiksa apa isinya, tapi ketika mendengar bentakan itu, hatinya jadi amat tercek kat, segera pikirnya.
"Hong Seng sudah merasakan hal ini, aku.... aku harus cepat-cepat kabur dari sini"
Cepat-cepat gumpalan kertas itu disusupkan ke dalam saku, kemudian ia melompat kedepan dan naik keatas atap rumah.
Baru saja badannya lenyap disudut tembok, tiba-tiba terdengar suara deruan ujung baju tersampok angin menyambar lewat diatas kepalanya dan kabur menuju ketimur.
Hoa In-liong termenung dan berdiam diri sesaat lamanya disana, kemudian ia putar badannya kembali dan balik menuju kearah ruangan semula.
Satelah melalui suatu pemikiran yang cukup panjang, Hoa In-liong dapat mengambil kesimpulan bahwa sikap Wan Hong-giok bukanlah sikap yang sungguh-sungguh, melainkan suatu kesengajaan agar pihak lawan tak curiga.
Tujuannya tentu saja agar dia cepat-cepat tinggalkan kuil Cing-siu-koan tersebut.
Menurut analisanya, sikap gadis itu pasti mengandung arti yang mendalam sekali.
Mungkin juga Hong Seng sekalian masih memiliki kepandaian lainnya yang sakti dan belum dikeluarkan, maka iapun menggunakan alasan bahwasanya Yu Siau-lam sudah mampus dan mayatnya terlantar ditimur kota untuk mengelabuinya.
Kendatipun anak muda itu mulai mengerti bahwa Yu Siau-lam belum mati, tapi sebelum bertemu dengan orangnya ia belum juga berlega hati.
Apalagi menurut anggapannya kendati Hong Seng sekalian memiliki ilmu silat yang lebih sakti, sembilan puluh persen juga mengandalkan keampuhan "hiolo darah"
Nya. Maka setelah dipikir pulang pergi akhirnya dia memutuskan untuk menggunakan kesempatan yang sangat baik ini untuk memusnahkan "Hiolo darah"
Itu.
Asal benda yang mereka andalkan musnah, berarti pertarungan andaikata sampai berlangsung, kedua belah pihak terpaksa harus bertarung dengan andalkan kepandaian sejati.
Cepat nian gerakan tubuhnya, tak lama kemudian ia sudah tiba didepan pintu halaman tersebut.
Pintu kamar sebelah tengah masih terpentang lebar, hiolo darah masih ada dalam kamar, tapi seorang imam jubah kuning dengan mata yang jelalatan berdiri ditengah serambi panjang dengan sikap siap siaga penuh.
Kembali Hoa In-liong memutar otaknya.
Ia merasa bahwa kekuatan imam jubah kuning itu minim sekali.
Asal diserang musuh pasti dapat ditaklukkan, berarti inilah kesempatan yang terbaik baginya untuk musnahkan "Hiolo darah"
Itu.
Sebab kalau sampai Hong Seng sekalian balik lagi kesana, dia harus mengeluarkan tenaga yang lebih besar lagi untuk mengalahkannya.
Sementara pemuda itu sedang mempersiapkan diri untuk membekuk imam jubah kuning itu dengan suatu serangan yang tak tarduga, tiba-tiba ia menyaksikan berkelebat lewatnya sesosok bayangan manusia.
Dengan terkejut ia berpaling, sinar matanya tanggung ditujukan kearah mana berasalnya bayangan tadi.
Ternyata orang itu adalah imam setengah baya yang pernah mencegahnya masuk keruang belakang tadi Waktu itu dengan wajah yang amat gelisah si imam tersebut berpaling kearahnya sambil menggape tiada hentinya.
"Aneh, ada urusan apa totiang ini mencari aku" ?, pikir Hoa In-Liong kemudian dengan dahi berkerut. Walau berpikir begitu, ia maju pula menghampirinya, lalu bertanya lirih setibanya didepan imam tersebut.
"Ada urusan apa tootiang mencari aku?".
"Ikutilah pinto?"
Jawab imam itu sambil ulapkan tangannya.
Lalu dengan wajah tegang dan serius, ia putar badan dan berlalu dari situ.
Pelbagai pertanyaan berkecamuk dalam benak Hoa In-liong.
Tapi diapun tidak banyak bertanya, terpaksa diikuti dibelakangnya dengan mulut membungkam Setelah melewati serambi samping, mereka berbelok ke halaman sebelah kiri.
Di bawah dinding pekarangan dekat halaman samping terdapat dua buah hiolo tempat pembakaran abu yang besar.
Dengan mata yang tajam, imam itu celingukan kesana kemari.
Dengan cepat imam tersebut menggape kearah Hoa In-liong dan menerobos masuk kedalam hiolo pembakaran tadi.
Tak terkirakan rasa heran Hoa In-liong menyaksikan tindak-tanduk imam itu, tapi dia ikut masuk juga.
Ternyata didalam hiolo pembakaran itu terdapat sebuah pintu rahasia yang menghubungkah tempat ruangan dengan ruang bawah tanah.
Ketika itu imam setengah baya sedang membungkukkan badan dan menyingkap sebuah batu persegi yang amat besar.
Dibawah batu datar itu merupakan sebuah liang goa yang gelap.
Imam setengah baya itu melompat turun lebih dulu, disana ia menyulut api dan memasang otor yang ada diatas dinding.
Hoa In-liong ikut melompat turun, setelah menutup kembali batu datar itu pada tempatnya semula, imam setengah baya itu baru putar badan dan menuruni anak tangga batu.
Diujung trap-trapan tersebut merapikan sebuah lorong sempit.
Bau apek tersiar kemana-mana menimbulkan bau tak sedap yang menusuk penciuman.
Melihat kesemuanya itu, Hoa In-liong mengerutkan dahinya, diam-diam ia berpikir.
"Mau diajak kemana aku....? Heran, kenapa dalam kuil Cing-siu-koan disediakan lorong bawah tanah yang begini rahasia letaknya?"
Sementara dia masih termenung, tibalah mereka didepan sebuah pintu baja yang tebal dan berat. Imam setengah baya itu menekan tombol dia tas dinding tersebut kemudian baru berkata.
"Hoa kongcu, sobatmu menderita luka yang amat parah. Hawa murninya mendapat cedera hebat, ditambah pula racun yang menyerap ditubuhnya sudah menyusup terlampau dalam" . Belum habis perkataan tersebut diutarakan ke luar, Hoa In-liong sudah merasakan hatinya bergetar, baru-buru serunya dengan nada amat gelisah.
"Dimana orangnya?"
"Kraaaaak!"
Pintu baja itu terpentang lebar dan dan imam setengah baya itupun menyahut.
"Dia berada disini, ikutilah diri pinto, kongcu!"
Detik itu, Hoa In-liong betul-betul merasa terkejut bercampur girang.
Girang karena Yu Siau-lam yang dicari-cari berhasil ditemukan jejaknya.
Terkejut karena Yu Siau-lam menderita keracunan hebat dan hawa murninya menderita cedera hebat.
"Tapi, bagaimanapun jua, ia merasa perjalanannya tidak sia-sia belaka, sebab toh mendatangkan hasil seperti yang diharapkan. Dengan jantung berdebar keras, ia mengikuti dibelakang imam setengah baya itu masuk ke ruang dalam. Ruangan itu adalah sebuah ruangan batu yang lebar dan luas. Dalam ruangan terdapat sebuah meja, beberapa buah kursi, sebuah hiolo, sebuah kasur semedi dan dua pintu lain yang berhubungan dengan ruangan lainnya. Setelah masuk kedalam ruangan, imam setengah baya itu belok menuju kepintu sebelah kanan. Hoa In-liong betul-betul merasa amat gelisah dia memburu maju lebib dulu masuk keruangan sebelah kanan. Disitu ditemuinya sebuah pembaringan. Di atas pembaringan berbaringlah seorang laki-laki berbaju perlente dan bermuka warna hitam pekat. Orang itu tak lain adalah Yu Siau-lam! Berdebarlah jantung Hoa In-liong menyaksikan kesemuanya itu. Dengan langkah terburu-buru dia berebut maju ke depan, lalu membungkukkan badan dan memeriksa keadaan lukanya. Untuk sesaat ia sampai melupakan kehadiran dari imam setengah baya itu. Suasana diliputi keheningan, selang sesaat kemudian imam setengah baya itu baru maju ke muka sambil menghela napas panjang.
"Aaaai.... Nona baju merah itulah yang menghantar sobatmu kesini. Waktu dibawa kemari, keadaannya sudah begini rupa!"
"Wan Hong-giok kah yang menghantar kemari? Apa yang dia katakan?"
Seru Hoa In-liong seraya menengadah.
"Pinto tidak menanyakan nama nona itu, tapi tahu kalau dia berasal dari satu rombongan dengan suku-suku asing tersebut. Pada mulanya, lantaran pinto lihat sikapnya dingin dan ketus, tindak tanduknya buas dan kejam, kuanggap dia juga orang jahat. Aaaai.... Sungguh tak nyana .... sungguh tak nyana ...."
Rupanya imam ini merasa menyesal sekali dengan perasaannya waktu itu, hingga saking terharunya ia tak mampu melanjutkan kembali kata-katanya.
Tapi Hoa In-liong tidak berniat untuk mendengarkan pembicaraan tentang seal itu, cepat tukasnya dengan nada berat.
"Tentang soal itu tak usah kau bicarakan. Tolong tootiang beritahukan saja kepadaku, apa yang telah dia pesankan?"
"Waktu itu, sikap nona tersebut sangat gugup dan tidak tenang. Ia pesan kepada pinto agar di luar pengetahuan suku-suku asing tersebut berusaha untuk menghubungi kongcu, kecuali itu tiada pesan apa-apa lagi. Kenapa? Apakah kongcu juga tak mampu untuk membebaskan racun yang mengeram ditubuh sobatmu ini?"
Orang beribadah memang selalu berhati welas, meski Yu Siau-lam bukan sanak keluarganya, akan tatapi perhatian serta rasa gelisahnya atas keselamatan pemuda itu sangat mempengaruhi hatinya.
Terbukti dari wajah serta sikapnya yang amat gelisah.
Hoa In-liong tidak langsung menjawab, kembali ia membungkukkan badannya untuk memeriksa lagi keadaan luka yang diderita Yu Siau-lam.
Kelopak mata pemuda itu juga disingkap dan diperiksa, lalu membuka bibirnya dan memeriksa lidahnya.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan baju bagian dadapun dibuka.
Tampaklah sekujur badannya telah berubah jadi hitam pekat.
Hanya diseputar dadanya terlihat bercak-bercak warna-warni yang amat menyolok pandangan, namun warna hitam itu sudah mulai menembusi kulit berwarna-warni itu.
Ibu pertama dari Hoa In-liong yakni Chin Wan-hong adalah anak murid dari Kiu-tok-sian-ci yang berada di lembah Hu-hiang-kok dalam wilayah Biau.
Perempuan itu sangat menguasahi tentang pelbagai ramuan dan obat-obatan, terutama dalam ilmu memunahkan racun.
Boleh dibilang kepandaian tersebut merupakan kepandaian yang tak terkalahkan didunia dewasa ini.
Semenjak kecil Hoa In-liong mengikuti terus ibunya ini.
Tentu saja terhadap ilmu racun dan ilmu pertabiban amat menguasai.
Kendati demikian sepanjang hidupnya belum pernah ia jumpai penyakit bercak-bercak warna warni macam begini.
Tak heran kalau ia jadi terbelalak kaget setelah menyaksikan kesemuanya itu.
Imam setengah baya itu semakin gelisah lagi, teriaknya tertahan.
"Aduuuh mak, digigit oleh makhluk beracun apa ini? Kenapa kulitnya berubah jadi begini tak sedap dilihat?"
Hoa In-liong sendiri, walaupun dihati kecilnya merasa kaget bercampur terkesiap, namun ia masih sanggup menguasahi diri. Sesudah berpikir sejenak diapun bertanya.
"Dapatkah tootiang sediakan segentong cuka asli?"
"Cuka asli? Kongcu minta cuka buat apa?"
Tanya imam setengah baya itu tertegun.
Tentu saja untuk memunahkan racun yang mengeram ditubuh sahabatku.
Sekarang tak sempat bagiku untuk memberi penjelasan lebih jauh.
Bila ada cuka tolong siapkan satu gentong, harus cepat-cepat!"
"Wah .... kalau cepat rada susah"
Imam setengah baya itu mengerutkan dahinya.
"Sebab pinto harus mengirim orang untuk membelinya lebih dahulu"
Setelah berhenti sebentar, katanya kembali.
"Konon cuka itu dibuat dari arak. Dalam kuil kami terdapat arak air untuk menjamu tamu, apakah arak itu bisa dipakai sebagai penggantinya?"
Hoa In-liong mengangguk.
"Boleh juga kalau memang tak ada cuka asli, tapi harus ada gula dan harus digarang dengan api"
"Kalau gula ada persediaan dalam kuil, sekarang juga pinto akan mempersiapkannya"
Selesai berkata, diapun putar badan dan berjalan keluar dari ruangan tersebut.
"Eeehtootiang!"
Seru Hoa In-liong kembali.
"Jangan lupa menyiapkan kayu bakar serta setengah gentong air bersih, sebab air itu perlu untuk membersihkan badan"
Imam setengah baya itu mengiakan dan buru-buru berlalu dari ruangan bawah tanah.
Selang sesaat kemudian, arak, gula, kayu bakar dan air sudah diangkut kedalam ruang bawah tanah.
Hoa In-liong lantas menggali tanah untuk dipakai sebagai tungku darurat dan disanalah gentong air disiapkan.
Setelah arak dari gula dilarutkan menjadi satu, kayu bakarpun disuluti api.
Setelah semua pekerjaan dibereskan, dari sakunya Hoa In-liong mengeluarkan dua buah botol yang putih seperti susu kambing.
Dari salah satu botol itu dia mengambil sebiji pil Cing-hiat-wan yang berwarna kuning emas, dan pil pah-tok-san yang berwarna putih dari botol yang lainnya.
Separuh bungkus dari obat puyer pah-tok-san itu ia larutkan pula kedalam gentong arak, sedang separuh yang lain diminumkan kepada Yu Siau-lam bersama-sama dengan obat cing-hiat-wan dan air putih.
Selesai minum obat, baru menelanjangi pemuda itu dan merendamkan tubuhnya kedalam gentong berisi larutan arak bercampur obat.
Perlu diterangkan disini, ibu tua dari Hoa In-liong yakni Chin hujin atau lebih dikenal dengan namanya Chin Wan-hong merupakan seorang perempuan yang barhati sekokoh baja.
Ketika Hoa Thian-hong terkena racun jahat Tan-hwee-tok-lian (teratai racun empedu api), dengan semangat yang berkobar dan tidak mengenal putus asa ia berusaha melakukan percobaan demi percobaan untuk menciptakan obat penawar racun yang dapat melenyapkan kadar racun jahat tersebut dari tubuh suaminya.
Pil cing-hiat-wan (obat pembersih darah) seria pah-tok-san (bubuk pencabut racun) merupakan dua diantara sekian jenis obat penawar racun yang berbasil diciptakannya pada waktu itu.
Baik cing-hiat-wan maupun pah-toh-san bernama amat sederhana dan tiada sesuatu yang aneh, tapi justru dibalik kesederhanaan nama itu terseliplah suatu daya kemampuan untuk menawarkan racun yang maha dahsyat.
Tak selang setengah perminuman teh kemudian, seluruh hawa hitam yang menyelimuti sekujur badan Yu Siau-lam telah berhasil dibikin luntur dan mulai menghilang.
Walau begitu Yu Siau-lam masih berada dalam keadaan tak sadar.
Lewat beberapa waktu kemudian, kulit muka-baru mulai tampak berkerut dan mengalami kejangkejang.
Dari sikap serta mimik wajahnya itu dapat diketahui bahwa ia sedang mengalami suatu penderitaan yang luar biasa hebatnya.
Rada gemetar si tosu setengah baya itu menyaksikan penderitaan orang, mula pertama ia masih dapat menahan diri, tapi lama kelamaan akhirnya tak tahan juga, iapun menegur.
"Hoa kongcu, sobatmu itu tidak apa-apa bukan keadaannya?"
Waktu itu, Hoa In-liong sedang menyalurkan bawa murninya untuk menguruti seputar jalan darah Pek-hwi hiat di ubun-ubun Yu Siau-lam dengan telapak tangan kanannya, sementara tangan yang lain menahan tubuh anak muda itu.
Maka ia cuma gelengkan kepalanya belaka ketika mendengar pertanyaan tersebut.
Kembali si tosu setengah baya itu mengerutkan dahinya.
"Aku lihat sobatmu sedang mengalami penderitaan yang cukup hebat"
Serunya lagi dengan kuatir.
"Jangan-jangan kadar racun ditubuhnya lagi kambuh?"
Melihat kekuatiran orang, Hoa In-liong tersenyum.
"Bukan kumat. Penderitaan tersebut dialaminya lantaran racun mulai membuyar dan larut ke luar dari badannya. Tootiang tak usah kuatir, cing-hiat-wan serta pah-toh-san bikinan ibuku sangat manjur dan punya daya kemampuan amat mujarab. Racun apa saja dapat dipunahkan secara mudah. Memang! Sobatku terluka oleh banyak jenis makhluk beracun, tapi keadaannya sudah tidak membahayakan lagi jiwanya"
"Apa kau bilang? Jadi jadi ia dilukai oleh banyak jenis makhluk beracun?"
Seru tosu setengah taya itu agak kaget.
"Yaa! ini dapat kita ketahui dari kulit dadanya yang berwarna-warni dengan bercak-bercak panca warna. Warna warni itu dihasilkan oleh gigitan khas dari ular beracun, kala jengking beracun, laba-laba beracun, kelabang beracun dan lain jenis makhluk beracun. Tapi racun-racun itu sudah ditawarkan semua, keadaannya sudah tidak berbahaya lagi"
Tanpa sadar tosu setengah baya itu melirik lagi kearah Yu Siau-lam, tapi apa yang terlihat olehnya?
Kali ini, bukan saja sekujur badannya mengejang keras bahkan mulai gemetar keras.
Keadaan semacam ini tentu saja tak bisa diartikan sebagai keadaan yang "tidak berbahaya"
Lagi, maka dia pun jadi setengah percaya setengah tidak.
"Aku lihat penderitaan yang dialami sobatmu itu kian lama kian bertambah hebat!"
Katanya kemudian dengan lirih.
"Penderitaan memang tak bisa dihindari. Lantaran sari racun sudah menyerang ke dalam hati, sobatku kehilangan daya kesadarannya. Jika pertolongan diberikan satu jam lebih terlambat niscaya jiwanya tak ketolongan lagi. Sekarang sobatku sudah mendapat pengobatan dari luar maupun dalam. Daya kerja obatpun mulai reaksi, hawa racun menyebar ke empat penjuru. Kesadarannya sedikit demi sedikit akan pulih kembali seperti sedia kala. Lihatlah tootiang! Bukankah kulit badan sobatku mulai berubah jadi normal kembali?"
Betul juga!
Hawa hitam yang semula menyelimuti tubuh Yu Siau-lam sekarang sudah mulai luntur bahkan selang sesaat kemudian, keadaannya sudah pulih kembali seperti sedia kala.
Menyaksikan kesemuanya itu legalah hati si tosu setengah baya itu.
Percayanya dia memang sudah percaya, tapi anehnya ia malah semakin berkerut kening, bibirnya bergetar seperti hendak mengucapkan sesuatu tapi akhirnya maksud itu dibatalkan jua.
Melihat itu Hoa In-liong tertawa geli "Apakah tootiang masih kuatir?"
Tanyanya kemudian. Cepat-cepat tosu setengah baya itu menggeleng.
"Oooh.... tidak! Pinto tidak kuatir. Maksud pinto ...."
Ia seperti agak sangsi, tapi akhirnya ujung bajunya digulung juga, sambil memperlihatkan lengan kirinya dihadapan Hoa In-liong dia berkata lebih jauh.
"Lihatlah Hoa kongcu, bekas gigitan yang tertera diatas lengan pinto ini. Gigitan itu adalah bekas gigitan dari seekor kelabang raksasa yang berwarna bercak-bercak hitam diatas merah, dua puluh tujuh orang murid pinto yang berdiam dalam kuil ini menjadi korban gigitan yang sama semua"
Hoa In-liong memeriksa bekas gigitan itu dengan seksama, terlihatlah pada seputar pergelangan tangan muncul dua bintik warna merah sebesar ka cang kedelai yang berdempetan, kulit tubuh yang diseputarnya mencekung kedalam, bentuknya memang bentuk gigitan kelabang.
Murkalah sianak muda itu, serunya dengan gusar.
"Kenapa? Semua orang penghuni kuil sudah di gigit oleh kelabang beracun.....?"
"Yaa begitulah...."
Sahut tosu setengah baya itu dengan muka sedih bercampur marah. Setelah berhenti sejenak, ia turunkan kembali lengan bajunya, lalu berkata lebih jauh.
"Tiga hari berselang, suku-suku asing itu dengan membawa sobatmu datang kemari dan memaksa untuk menginap dikuil kami. Sebetulnya pinto segan menerima mereka lantaran menyaksikan tingkah pola mereka yang bengis dan buas. Aaai........ siapa tahu orang-orang itu memang buas dan liar. Bukan saja mereka memaksa diri untuk menginap dan minta makan disini, bahkan semua murid yang ada dikuil ini telah mereka kumpulkan. Kemudian dari dalam hiolo merah darah itu mereka tangkap seekor kelabang raksasa dan digigitkan pada lengan masing-masing orang. Setelah itu merekapun menitahkan kepada pinto sekalian agar merahasiakan betul-betul jejak mereka semua. Katanya jika kami tak menurut perintahnya, merekapun tak akan memberi obat pemunah kepada kami semua. Bila racun keji dari kelabang itu sudah bercampur dengan darah dan waktu mencapai tujuh kali tujuh empat puluh sambilan hari, maka kambuhnya sari racun dalam tubuh kami akan mengakibatkan kematian bagi kami semua"
Diam-diam Hoaln-liong menggertak gigi menahan rasa mendongkolnya, dia berpikir dihati.
"Hati Hong Seng betul-betul sangat busukdan beracun. Padahal mereka toh tahu bahwa tosu-tosu penghuni kuil Cing-siu-koan bukan orang-orang persilatan, tapi mereka gunakan juga cara dan tindakan yang begitu buas dan kejam untuk menindas serta memaksa mereka. Hmmm....! Aku Hoa In bersumpah akan musnahkan hiolo darah milikmu itu!"
Rasa benci dan mendongkolnya itu untuk sementara hanya disimpan dalam hati.
Selain itu diapun dapat memahami arti serta maksud pembicaraan dari tosu setengah baya itu, jelas imam tersebut sedang memohon obat penawar racun bagi anggota-anggota kuilnya, maka diapun mengangguk tanda setuju.
"Enmm! Orang-orang itu memang kelewat kejam dan bias"
Sahutnya.
"Tapi kau tak usah kuatir, racun kelabang akan segera punah begitu menelan sebutir pil cing hiat-wan milikku. Obat tersebut cukup banyak persediaannya dalam sakuku, totiang boleh menggunakannya untuk menolong murid-murid totiang!"
Lega juga perasaan sitosu setengah baya itu sehabis mendengar kesanggupan orang.
"Sebetulnya pinto memang ada maksud untuk meminta obat. Sekarang setelah koagcu menyanggupi, pinto pun dengan tebalkan muka menerima kebaikan kongcu tersebut!"
Selesai berkata, dia lantas menjura dalam-dalam kearah Hoa In-liong Buru-buru Hoa In-liong goyangkan tangannya terulang kali.
"Jangan begitu.... Jangan begitu.... Rasa terimasih totiang terlampau berlebihan. Apalagi jika totiang tidak tepat pada waktunya menemukan diriku, selembar jiwa sobatku ini terus lebih banyak berbahaya daripada selamat."
Belum selesai ia berkata, tiba-tiba terdengar Yu Siau-lam menghembuskan nafas panjang seraya mengeluh.
"Oooh.... Sesak amat nafasku!"
Dalam pada itu keadaan Yu Siau-lam sudah membaik, hawa hitan yang semula menyelimuti sekujur badannya, kini sudah luntur dan putih kembali seperti sedia kala.
Hoa In-liong cepat berpaling dengan perasaan kaget, lalu serunya dengan gelisah.
"Bersabarlah sedikit saudara Siau-lam, kau keracunan hebat. Jika semua bibit racun itu tidak sekalian dibersihkan, banyaklah kesulitan yang akan kau hadapi dikemudian hari"
Yu Siau-lam membelalakkan sepasang matanya lebar-lebar, kemudian sambil menggigit bibir menahan sakit sahutnya agak terbata-bata.
"Oooh.... Ruurupanya saudara In-liong, konon kau kau ditangkap oleh Kiu-im kaucu. Aku.... Aku...."
"Kejadian yang sesungguhnya akan kuceritakan nanti saja"
Tukas Hoa In-liong dengan cepat.
"Yang paling penting sekarang adalah membersihkan sisa racun dari dalam tubuhmu. Jika saudara Siau-lam masih sanggup untuk menyalurkan tenaga dalam, cepatlah atur pernafasan dan bantu untuk mendesak keluar sisa hawa racun yang masih mengeram dalam tubuhmu, siaute akan membantu dari depan"
Tidak menunggu sampai Yu Siau-lam memberikan jawaban, hawa murni lantas disalurkan keluar.
Dalam waktu singkat segulung aliran hawa murni yang panas sekali menyusup kedalam tubuh Yu Siau-lam melalui jalan darah Pek-hwi-hiat diatas ubun-ubun.
Yu Siau-lam menggerakkan bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi ketika dilihatnya Hoa In-liong telah menyalurkan hawa murninya dengan serius, maka sesudah agak sangsi sejenak, akhirnya diapun membungkam, mata dipejamkan dan hawa murnipun dikerahkan untuk bantu mengusir racun dalam tubuhnya.
Si-tosu setengah baya sendiri mengamati kedua orang pemuda dihadapannya dengan wajah penuh rasa kagum.
Sebentar ia menengok Hoa In-liong yang sedang menyalurkan tenaga dalamnya, sebentar lagi ia berpaling kearah Yu Siau-lam yang sedang bersemedi, entah ia sedang merasa berterima kasih lantaran pemberian obat mujarab dari Hoa In-liong ataukah dia kagum karena dengan usianya yang begitu masih muda, ternyata memiliki tenaga dalam yang amat sempurna.
Selang sesaat kemudian, kekuatan maupun paras muka Yu Siau-lam telah jauh membaik.
Warna wajahpun kian lama kian bertambah semu merah, sedang air arak dalam gentong yang dipakai untuk mererdam diri, saat itu warnanya sudah berubah jadi bitam pekat.
Dari sini dapat diketahui betapa lihaynya racun yang mengeram ditubuh Yu Siau-lam.
Tak lama kemudian, semua sisa racun yang ma sih berada dalam tubuh Yu Siau-lam telah luntur tak berbekas.
Mereka berdua serentak menghentikan semedinya.
Yu Siau-lam sendiripun melancar keluar dari dalam arak.
"Saudara Siau-lam!"
Ujar Hoa In-liong kemudian sambil tertawa nyaring.
"Kita adalah sesama saudara, aku rasa omong kosong sama sekali tak ada gunanya. Tapi kalau toh ingin omong kosong, maka aku harus berterima kasih lebih dulu kepadamu, sebab lantaran aku kau telah lakukan perjalanan jauh hingga mengakibatkan keracunan hebat"
Yu Siau-lam memang ada maksud menyampaikan rasa terima kasihnya, tertegunlah sianak muda itu sehabis mendengar ucapan tersebut, tapi menyusul kemudian ia terbahak-bahak.
"Haa.... haa.... ha.... Bagus.... Bagus! Bagus! Jadi kalau bagitu, perasaanmu memang jauh lebih tajam lalu dibandingkan dengan perasaanku!"
Hoa In-liong tersenyum.
"Kalau toh saudara Siau-lam menyetujui, maka harap engkau keringkan badan dan mengenakan pakaian lebih dahulu!"
Yu Siau-lam tundukkan kepalanya, kontan merah padam selembar wajahnya, cepat-cepa ia bersihkan badan dengan air bersih, lalu mengeringkan badan dan mengenakan pakaian.
Walaupun dalam ruangan bawah tanah cuma ada tiga orang pria belaka, toh bertelanjang bulat adalah suatu pemandangan yang kurang sopan.
Karenanya meski ia sudah kenakan pakaian, warna merah diwajahnya belum juga luntur.
Untuk menghilangkan rasa malunya, Yu Siau-lam berpaling kearah toiu setengah baya itu sambil berkata.
"Tootiang ini adalah...."
Cepat tosu setengah baya itu memberi hormat.
"Pinto Bu-jian, koancu dari kuil ini."
Sahutnya.
"Hoa In-liong yang berada disampingnya cepat menyambung.
"Tempat ini adalah ruang bawah tanah dari kuil Cing-siu-koan. Tahukah saudara Siau-lam? Di kala nyawamu berada diujung tanduk lantaran racun jahat yang mengeram dalam tubuhmu mulai kambuh, Bu jian tootiang lah yang sudah menyelamatkan dirimu?"
Mendengar ucapan tersebut, buru-buru Yu Siau lam menjura kearah Bu-jian tootiang.v"Oooh.... rupanya tootiang adalah Cing-siu koancu!"
Katanya.
"aku yang muda Yu Siau-lam mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan serta pertolongan yang telah koancu berikan"
"Keliru.... Keliru.... Yu kongcu harus mengetahui dulu duduk persoalan yang sebenarnya"
Tukas Bu jian tootiang seraya goyangkan tangannya berulang kali.
"Pinto hanya melaksanakan permintaan dari nona Wan Hong-giok untuk menyembunyikan kongcu disini, kemudian secara kebetulan kujumpai pula Hoa kongcu. Bila berbicara soal budi dan kebaikan. Oh.... Pinto tidak berani menerima penghargaan tersebut!"
Hoa In-liong tertawa, ia menyambung dari samping.
"Tootiang, engkau terlalu merendahkan diri. Sekalipun hanya menyembunyikan saudara Siau-lam, tapi bila perbuatanmu tidak kau lakukan dengan berhati-hati, bisa jadi akan mendatangkan bencana yang mengakibatkan kematianmu. Bayangkan saja, bttapa besarnya pahala yang telah kau berikan kepadanya? Cuma, aku rasa soal budi dan kebaikan cuma hiasan bibir yang hanya dibicarakan saja. Marilah, kita bercakap-cakap di luar saja"
Bu-jian tootiang tidak dapat berbicara lagi, sedang Yu Siau-lam dengan pelbagai pertanyaan yang memusingkan kepalanya menurut saja atas perkataan sobatnya.
Merekapun menuju ke ruang depan.
Setelah mereka bertiga tiba diluar, Yu Siau-lam dengan tidak sabaran lagi segera menanyakan kisah tertangkapnya Hoa In-liong oleh Kiu-im-kaucu serta bagaimana caranya hingga dia tahu kalau dirinya sudah kena ditangkap oleh Hong Seng beserta komplotannya?
Hoa In-liong pun menerangkan satu demi satu hingga akhirnya ia berhasil menyelamatkan jiwanya, Selesai bercerita, pemuda itu menambahkan.
"Saudara Siau-lam, apakah racun yang bersarang ditubuhmu adalah akibat dari gigitan makhluk beracun yang dipelihara dalam hiolo darahku?"
Yu Siau-lam segera mengangguk.
"Yaa benar!"
Sahutnya dengan murung bercampur marah.
"Dalam hiolo darah itu, mereka pelihara berpuluh-puluh jenis makhluk beracun yang rata-rata merupakan makhluk paling berbahaya didunia ini. Setiap satu jam sekali mereka gunakan makhluk beracun yang berbeda untuk menyiksa aku dan melukai dadaku. Mereka paksa aku untuk memberi tahukan jejak yang berhubungan dengan kau. Sebetulnya idee jahat ini diusulkan oleh si nona baju merah. Sungguh tak kusangka rupanya ia adalah seorang nona yang punya maksud tertentu, akhirnya dia juga yang telah selamatkan selembar jiwaku"
Tiba-tiba Hoa In-liong bangkit berdiri.
"Harap kalian berdua duduk sejenak disini akan kumusnahkan lebih dulu hiolo darah yang jahat itu!"
Serunya. Mula-mula Yu Siau-lam agak tertegun menyusul kemudian cegahnya sambil goyangkan tangannya berulang kali.
"Eeeheehnanti dulu!, nanti dulu! Jangan terburu napsu! Setelah gagal menyandaki dirimu, aku pikir Hong Seng pasti sudah balik ke ruangannya. Dari pembicaraan yang berhasil siau-te sadap selama ini, dapat kuketahui bahwa mereka miliki serangkaian ilmu Hiat-teng-toh-han-tay-hoat (ilmu hiolo darah pembetot sukma) yang luar biasa lihaynya. Sebelum mengambil sesuatu tindakan lebih baik kita rundingkan dulu semasakmasaknya"
"Aku rasa tak perlu dirunding lagi!"
Tolak Hoa In-liong dengan wajah yang membara.
"Dari sebutan ilmu Hiat-teng-toh-hun-tay-hoat mereka itu, dapat kuketahui bahwa kepandaian itu lebih mengandalkan keampuhan dari makhluk-makhluk beracun yang dipelihara dalam hiolo berdarah daripada mengandalkan kekuatan sendiri. Bila hiolo darah itu berhasil kupunahkan, niscaya merekapun tak mampu mencelakai orang lain lagi "
"Eeeh.... Nanti dulu!"
Kembali Yu Siau-lam mencegah.
"Bukankah tadi kau katakan bahwa nona baju merah itu telah memberi segumpal kertas untukmu? Kenapa tidak kau baca dulu isi suratnya sebelum mengambil keputusan lebih jauh?"
Setelah diingatkan kembali, Hoa In-liong baru teringat kalau surat yang dilemparkan Wan Honggiok kepadanya belum diperiksa.
Cepat kertas itu dirogoh keluar dari sakunya dan diperiksa isi surat tersebut.
Maka terbacalah surat itu berbunyi demikian.
"Ditujukan buat Hoa Kongcu In-liong yang terhom at, Sejak berpisah di kota Lok-yang, nasib tak mujur telah menimpa diriku. Tak kusadari diriku telah berjumpa dengan orang-orang dari Mo-kauw. Waktu itu lantaran aku dengar dalam pembicaraan mereka bermaksud tidak baik terhadap kongcu, naaka sepanjang jalan kuikuti jejak mereka. Aku ingin tahu apa yang hendak mereka lakukan. Ai, memang nasib lagi buruk, ternyata karena tindak tandukku yang amat gegabah ini telah diketahui oleh kawanan bajingan itu, akhirnya aku kena ditangkap dan diperkosa oleh Siau Khigi. Tubuhku telah tak suci lagi, aku sudah ternoda ditangan orang. Selama hidupku kini tak punya muka lagi untuk bertemu dengan kongcu"
Membaca sampai disini, Hoa In-liong tak dapat menahan rasa terkejutnya lagi, ia berseru tertahan.
"Apa? Ia dinodai orang?"
Haruslah diketahui, walaupun Hoa In-liong itu romantis dan suka bermain perempuan, tapi dia adalah seorang lelaki yang menitik beratkan pada kesetiaan.
Lantaran menyelidiki rencana busuk Hong Seng sekalian yang hendak mencelakai jiwanya, Wan Hong-giok telah diperkosa orang.
Bagaimanapun juga peristiwa itu baru terjadi karena persoalannya, maka tak aneh kalau ia menjerit tertahan saking kaget dan terkesiapnya.
Yu Siau-lam sendiri juga kaget ketika mendengar seruan kaget itu.
Sambil melompat bangun segera teriaknya.
"Siapa yang ternoda?"
Sesudah ditegur orang, Hoa In-liong baru menyadari kesilafannya, cepat surat itu diangsurkan kepada Yu Siau-lam.
"Nona baju merah itulah yang kumaksudkan"
Sahutnya kemudian.
"Ia sudah dinodai deh Siau Khi-gi, laki-laki berdandan sastrawan itu!"
"Apakah kau tahu dari isi surat itu?"tanya Yu Siau-lam tercengang.
"Mari kita membacanya bersama-sama!"
Surat itu tidak diterimanya, tapi ia maju kemuka dan berdiri bersanding disamping Hoa In-liong. Bu-jian tosu ikut maju pula, merekapun membaca bersama isi surat selanjutnya.
"Setelah ternoda, sebenarnya aku ingin menghabisi nyawa sendiri. Tapi mengingat rencana busuk mereka menyangkut keselamatan umat persilatan yang ada didunia ini dan lagi membayangkan pula kelangsungan hidup dari keluarga ayahmu, maka dengan menahan derita dan siksaan kulanjutkan hidupku yang terhina ini. Kuikuti terus kemanapun mereka pergi. Aku ingin menyelidiki rencana busuk mereka lebih jauh serta berharap dapat bertemu sekali lagi dengan diri kongcu. Tapiyaa, aku tak tahu dimanakah kongcu berada pada saat ini. Maka dalam keadaan terpaksa, aku hanya bisa menganjurkan kepada Hong Seng si iblis itu agar menggunakan siksaan paling keji untuk menyiksa sahabatmu "
Membaca sampai disini, Yu Siau lam lantas menjadi paham aku duduk persoalan yang sebenarnya, ia lantas berpikir.
"Ternyata ia memang bermaksud tertentu dengan perbuatannya, aku tak boleh menyalahkan dia kalau begitu"
Maka diapun melanjutkan membaca isi surat itu.
"Tetapi, aku yang rendah telah memberi obat pemunah untuk sahabatmu itu, musti tidak lengkap obat pemunahnya, namun aku rasa cukup untuk mempertahankan jiwanya. Setelah membaca surat ini, harap kongcu segera mencari Bu-jian kongcu, dia dapat menghantar dirimu untuk bertemu dengan sahabatmu"
Dibawahnya tak ada tanda tangan melainkan terdapat lagi sebaris tulisan yang lembut, kecil dan rapat, tulisan itu berbunyi demikian.
"Surat ini kubuat dengan tergesa-gesa. Banyak lagi persoalan yang tak dapat kubicarakan disini. Tiga hari kemudian pada kentongan ketiga tengah malam akan kunantikan kedatangan kongcu dipuncak bukit Yan-san. Selain akan kuserahkan sisa obat penawar yang tak sempat kuberikan, akan kuterangkan juga segala sesuatu yang kuketahui. Semoga kongcu bisa datang tepat pada waktunya, jangan lupa! Jangan lupa.'"
Surat itu ditulis secara tergesa-gesa, terutama sekali kata-kata terakhir yang berupa tulisan "jangan lupa"
Itu, bisa diketahui betapa gelisahnya Wan Hong-giok waktu itu. Selesai membaca isi surat tersebut, pertama-tama Bu-jian tootiang yang menghela napas lebih dulu, katanya.
"Begitu dalam perasaan cinta nona Wan, begitu pedih perasaan hatinya, mungkin sukar ditemukan keduanya didunia ini"
Betapa tidak?
Setelah ternoda ia rela mengikuti musuhnya, setelah tahu bakal celaka ia mengikuti terus kemana musuhnya pergi.
Bahkan walaupun dia tahu bahwa Yu Siau-lam adalah sahabatnya Hoa In-liong, ia rela dirinya dimaki kejam dan telengas asal jejak Hoa In-liong dapat diketahuinya.
Dan ia melakukan kesemuanya itu hanya berharap bisa bertemu dengan Hoa In-liong dan menyampaikan semua rahasia yang diketahuinya kepada kekasih hatinya itu.
Dari sini dapat diketahui betapa dalamnya rasa cinta Wan Hong-giok terhadap sianak muda itu, terbukti dari isi suratnya yang begitu memilukan hati.
Untuk sesaat lamanya Hoa In-liong hanya berdiri termangu-mangu seperti orang bodoh hatinya betul-betul terharu dan sedih.
Yu Siau-lam sendiri gelengkan kepalanya berulang kali, katanya dengan hati yang sedih.
"Nona Wan terlalu polos pikirannya. Coba pandangannya tidak secupat itu, tentu lain pula keadaannya"
Ditepuknya bahu Hoa In-liong dengan lembut, kemudian menambahkan.
"Saudara In-liong aku lihat nona Wan ada maksud untuk menghabisi nyawa sendiri. Tiga hari kemudian siau-te akan temani dirimu pergi ke bukit Yan-san. Akan kunasehati dengan sungguh-sungguh ia ternoda bukan karena kesilafan sendiri melainkan karena dipaksa orang lain. Rasanya ia tak usah malu terhadap nenek moyangnya, menyesali diri sendiri itu tak ada gunanya"
"Ternoda menahan derita, ternoda menahan derita "
Gumam Hoa In-liong dengan wajah aneh. Tiba-tiba ia putar badan dan lari menuju ke pintu luar. Cepat Yu Siau-lam ikut bangkit dan menyusul dari belakangnya.
"Saudara In-liong, mau kemana kau?"
Teriaknya keras.
"Akan kujagal Siau Khi-gi bangsat terkutuk itu"
Sahut Hoa In-liong sambil lari terus ke muka.
"Akan kubalaskan dendam sakit hati dari nona Wan!"
"Jangan ngaco belo!"' bentak Yu Siau-lam dengan gelisah.
"Kalau toh seorang perempuan sudah ternoda, sudah semestinya kalau ia tidak menikah lagi dengan pria lain, karena tidak kau tanyakan dulu pendapat dari nona Wan? Mana boleh kau lakukan tindakan yang ngawur hanya menuruti nafsu sendiri?"
Teguran itu ibaratnya guyuran air dingin sebaskom yang menimpa kepalanya, untuk sesaat Hoa In-liong jadi tertegun dibuatnya, langkah kakinya ikut menjadi lambat.
Yu Siau-lam melompat kemuka dan menghadang dihadapannya, katanya lebih jauh dengan lembutt.
"Saudara In-liong, aku lebih tua beberapa tahun dari padamu, maukah engkau menuruti perkataan ku?"
Hoa In-liong bukannya seseorang yang tak tahu diri, Ia sendiripun merasa bahwa tindakan seperti itu tidak pantas dilakukan oleh seorang jago seperti dia, maka diapun tertawa menyesal.
"Aaaai.... Siau-te memang sedikit terburu nafsu dan terlalu menuruti emosi"
Ujarnya kemudian sambil menghela napas panjang.
"Menyesal tindakanku tadi telah mencemaskan saudara Siaulam.... Yaa, jika engkau ada nasehat, katakaalah keluar, siau-te akan mendengarkan dengan seksama!"
"Tak usah kau bicarakan tentang kata-kata sopan"
Tukas Yu Siau-lam dengan tenang. Digenggamnya tangan pemuda itu erat-erat.
"Aku hanya berharap agar kau suka berpikir lebih cermat lagi. Tahukah kau kenapa nona Wan menahan segala penderitaan dan penghinaannya setelah mengalami perkosaan?"
Hoa In-liong termenung sebentar sebelum menjawab.
"Terus terang kukatakan, nona Wan merasa tertarik dan jatuh hati kepadaku. Dalam pandangannya yang pertama, ia bersedia menanggung semua derita dan penghinaa, tak lain karena soal cinta. Ia menguatirkan keselamatan siaute, takut siaute tak tahu keadaan yang sebenarnya dan kena digarap orangorang Mo-kauw"
Yu Siau-lam mengangguk beberapa kali.
"Nah, itulah dia. Jika pihak Mo-kauw tidak memiliki suatu tindakan yang sangat lihay. Tidak merencanakan suatu rencana busuk yang besar dan berbahaya, apa gunanya nona Wan bersikap seserius itu? Buat apa bersikeras ingin berjumpa muka denganmu dan ingin menyampaikan sendiri semua persoalannya kepadamu? Lebih-lebih lagi sikapnya yang menggunakan setiap kesempatan yang ada untuk berkomunikasi denganmu, contohnya ia menyampaikan gumpalan surat tersebut ke padamu?"
Pelan-pelan Hoa In-liong mengangguk.
"Lalu bagaimana menurut pendapatmu?"
Tanyanya kemudian.
"Siau-te sih tidak mempunyai pendapat lain. Aku cuma merasa bahwa persoalan ini tak boleh dihadapi secara gegabah. Apalagi didalam suratnya nona Wan telah peringatkan bahwa persoalan ini menyangkut keselamatan umat persilatan, dan keselamatan hidup dari ayahmu sekeluarga.
"Aku pikir jika Hong Seng dan komplotannya tidak memiliki suatu kekuatan yang bisa diandalkan, belum tentu nona Wan bersedia mempercayai ucapan mereka dengan begitu saja, bila sekarang kau ambil tindakan secara gegabah. Kalau sampai menemui marabahaya, betapa menyesalnya kau dan lagi bukankah tindakanmu itu akan menyia-nyiakan jerih payah serta pengorbanan nona Wan selama ini?"
Keadaan Hoa In-liong pada saat ini benar-benar sudah menjadi tenang, sebagai seorang pemuda yang berotak cerdas, setelah mengalami pemikiran yang lebih mendalam, dapat disadari olehnya dimana letak kelihayan dari persoalan itu, masalah semacam ini memang benar-benar tak boleh ditanggapi secara gegabah.
"Aaai.... Agaknya kita baru bisa menyusun rencana lagi sehabis berjumpa dengan nona Wan"
Keluhnya kemudian sambil menghela napas panjang.
"Itu sih tidak perlu"
Seru Yu Siau-lam lagi.
"Atau paling sedikit, rencana busuk pihak Mo-kauw sedikit banyak sudah kita ketahui lebih duhulu"
"Tentang soal ini, siau-te sendiripun sudah memikirkannya. Apalagi ketika diadakan penggalian harta karun dibukit Kiu-ci-san, justru Mo-kauw kaucu Tang Kwik-siu menderita kekalahan total ditangan ayahku. Waktu itu dia pernah sesumbar demikian. Barang pusaka milik Seng sut-pay untuk sementara waktu dititipkan kepada ayahku. Sepuluh tahun atau seratus tahun kemudian bila dari Seng-sut-pay muncul orang yang berbakat, barang pusaka itu pasti akan diminta kembali. Dan kini urusan telah menyangkut keluargaku, ini berarti mereka pasti sudah merasa bahwa saatnya membalas dendam telah tiba. Tang-kwik kaucu pasti menganggap kekuatannya sudah mampu untuk melawan ayahku, maka kedatangannya ketimur kali ini bukan saja untuk menuntut kembali barang pusakanya, tentu diapun akan membalas pula sakit atas kekalahan yang pernah dideritanya dahulu"
Yu Siau-lam mangut-mangut.
"Yaa.... Yaa.... lebih tak boleh menempuh bahaya."
Aku rasa tentu begitu. Karenanya kau lebih-Hoa In-liong tersenyum, selanya.
"Aku tak takut menempuh bahaya, cuma aku merasa tak ada keperluannya untuk menempuh bahaya"
"Kalau kau sudah paham, itu lebih baik lagi"
Yu Siau-lam ikut tertawa pula.
"Mari kita bercokol beberapa waktu lagi disini. Jika Hong Seng tidak berhasil temukan jejakmu, dia pasti akan pergi tinggalkan tempat ini"
Bu-jian tootiang yang selama ini hanya membungkam terus disamping, tiba-tiba menyela.
"Pinto rasa cara ini memang paling tepat. Biar pinto yang ke atas untuk melihat keadaan, sekalian akan ku bawakan pula sedikit makanan untuk kongcu berdua"
"Terima masih atas perhatian koancu!"
Seru Yu Siau-lam sambil berpaling dan tertawa. Cepat Bu-jian tootiang goyangkan tangannya kali.
"Aaah.... Tidak terhitung seberapa.... Tidak terhitung seberapa....kalian tak usah sungkan-sungkan!"
Walaupun diluaran dia berkata begini, ternyata kakinya sama sekali tidak beranjak dari tempat semula.
Menyaksikan kesemuanya itu Hoa In-liong lantas mengerti maksud orang, cepat ia meroboh ke dalam sakunya dan mengangsurkan sebuah botol porselen ke tangannya seraya berkata.
"Isi botol porselen ini adalah pil cing-hiat wan. Siapa saja yang keracunan tentu akan sembuh kembali bila menelan satu butir saja. Bawalah pergi botol ini tootiang!"
Setelah menerima botol porselen itu, Bu-jian tootiang segera memberi hormat.
"Terima kasih atas pemberian Hoa kongcu"
"Waaah....waaah.... tadi kan sudah bilang, tak usah pakai segala macam adat dan sanjungan yang kosong"
Tukas Hoa In-liong sambil tersenyum.
"Silahkan tootiang berlalu, minumkan mereka dengan air putih"
Bu-jian tootiang ikut tertawa terbahak-bahak.
"Haa.... ha.... ha.... Hoa kong cu memang pandai sekali bergurau"
Ia ingin mengucapkan terima kasih lagi, tapi ketika teringat sesuatu kata-kata selanjutnya lantas ditelan kembali ke dalam perutnya.
Selesai memberi hormat diapun berlalu dari situ.
Yu Siau-lam dan Hoa In-liong saling berpandangan sekejap.
Menanti bayangan punggung dari Bu jian tootiang sudah lenyap dari pandangan, mereka baru putar badan dan masuk kembali ke dalam.
Siapa tahu ketika mereka berdua hampir masuk ke pintu utama, tiba-tiba didengarnya Bu-jian tootiang sedang menjerit-jerit seperti orang kalap.
"Kebakaran....! Kebakaran....!"
Jeritan itu bernada kaget, ngeri dan memilukan hati.
Tanpa tanpa terasa Yu Siau-lam dan Hoa In-liong berdiri berpandangan dengan hati terkesiap Salang sesaat kemudian, terdengar Bu-jian tootiang berteriak teriak lagi.
"Kalian.... Kalian.... Betul-betul amat kejam!"
Ucapan tersebut diulangi sampai beberapa kali.
Dari sini dapatlah diketahui bahwa dalam kuil Cing-siu-koan telah terjadi perubahan besar yang sama sekali diluar dugaan.
Hoa In-liong merasakan jantungnya berdebar keras, cepat serunya dengan hati cemas.
"Ayoh jalan! Kita lihat apa yang telah terjadi"
Tidak menanti jawaban dari rekannya lagi, ia putar badan dan lari keluar, kemudian berkelebat menuju ke pintu masuk ruang bawah tanah.
Yu Siau-lam ikut memburu dari belakapg, selang sejenak kemudian mereka sudah berada diluar ruang rahasia tersebut.
Apa yang terlihat?
Ternyata kuil Cing-siu koan telah berubah menjadi puing puing yang berserakan.
Hanya dalam beberapa jam yang amat singkat, kuil Cing-siu-koan yang begitu mewah tinggal puing-puing yang berserakan dimana-mana.
Amukan jago merah masih tampak disana sini.
Ruang tengah yang megah juga masih berada di tengah kobaran api.
Jilatan api yang menyala disana-sini mendidihkan pula darah dalam tubuh Yu Siau-lam serta Hoa In-liong.
Mereka rasakan kemarahan yang memuncak sampai ke ubun-ubun.
Sesosok bayangan manusia berlarian tiada hentinya diantara jilatan api sambil menjerit-jerit seperti orang kalap.
Bayangan itu bukan lain tubuh dari Cing-siu koancu.
Jilid 17 MENYAKSIKAN kemusnahan yang melanda kuil Cing-siu-koan, Bu-jian totiang sebagai koancu dari kuil tersebut merasa kehilangan ketenangannya sebagai seorang yang beribadah.
Tingkah polahnya saat itu lebih mirip perbuatan dari orang gila.
Sambil menggertak gigi menahan geramnya, Hoa In-liong berdiri tertegun beberapa saat lamanya disana.
Tiba-tiba ia ulapkan tangannya seraya berseru.
"Ayoh jalan! Kita suruh Bu-jian totiang tenang lebih dulu sebelum berunding lebih jauh"
Mereka berdua berjalan diantara atap dan bata yang hangus, melewati tiang-tiang kayu yang masih membara dilantai.
Disana sini terlihatlah mayat-mayat yang telah hangus menjadi arang.
Ada diantara mayat itu yang berada dalam posisi memeluk tiang, melompat jendela, ada yang terkapar ditanah, ada yang bergaya ingin kabur, ada pula yang tertindih dibawah reruntuhan hingga cuma kelihatan kepalanya atau sepasang kakinya belaka.
Tak dapat disangsikan lagi bahwa seluruh penghuni kuil Cing-siu-koan telah dibantai secara keji.
Pemandangan semacam ini bukan saja menggetarkan perasaan, bahkan membuat orang merasa tak tega.
Mendekati ruangan tengah, Hoa In-liong segera berteriak keras-keras.
"Tootiang....! Tootiang....! Kau jangan lari kesana kemari seperti orang hilang ingatan. Yang penting adalah tenangkan hatimu untuk menghadapi masalah yang jauh lebih penting...."
Ketika mendengar seruannya itu, bukannya berhenti, Bu-jian tootiang justru menerkam datang seperti harimau kelaparan.
"Bajingan keparat!"
Teriaknya setengah menjerit.
"Apa kesalahan toyamu sehingga kau bertindak begitu kejam?"
Telapak tangannya segera dilontarkan ke muka segulung angin pukulan hawa panas yang amat dahsyat segera menyergap datang.
Hoa In-liong miringkan badannya kesamping.
Begitu angin serangan berhasil dihindari, lengan kanannya segera bergerak maju ke depan, kali ini ia mengancam pergelangan tangan imam tersebut.
"Tenangkan hatimu!"
Sekali lagi dia membentak.
"Kesedihan yang kelewat batas tak mungkin bisa mengatasi persoalan...."
Siapa tahu, sebelum ia menyelesaikan kata-katanya, terasalah Bu-jian tootiang menggetarkan lengannya keras-keras sehingga tergetar lepas dari cengkeramannya, menyusul kemudian telapak tangan kanannya melancarkan bacokan kembali ke depan membabat bahunya.
"Kembalikan nyawa muridku!"
Jeritnya lengking.
Dahsyat sekali angin serangan yang ia lancarkan ini bahkan kecepatannya bagaikan sambaran kilat.
Menghadapi ancaman seperti ini Hoa In-liong jadi kaget.
Cepat ia menutul permukaan tanah dan mengigos delapan depa kesamping.
Kebetulan Yu Siau-lam yang berada dibelakang menyusul kedepan.
Begitu serangan dari Bu-jian tootiang mengena disasaran yang kosong, tiba-tiba ia alihkan terkamannya kearah pemuda itu, bahkan melepaskan sebuah bacokan dengan penuh tenaga.
"Bajingan, mau kabur kemana kau?"
Bentaknya.
"Rasakan dulu sebuah pukulan dari toyamu!"
Pukulan demi pukulan dilancarkan secara berantai.
Dari caranya melancarkan serangan dapat diketahui bahwa ia sudah nekad dan ingin beradu jiwa.
Dari sini dapat dibuktikan pula bahwa kesadaran otaknya sudah mulai luntur, ia tak dapat membedakan lagi mana kawan dan mana lawan.
Sementara itu Hoa In-liong berdiri tegap delapan depa diluar gelanggang pertarungan.
Ia awasi jalannya pertarungan dengan seksama.
Tampaklah seluruh rambut dan janggut Bu-jian tootiang berdiri kaku seperti landak.
Matanya melotot besar dan berwarna merah membara.
Waktu itu tosu tersebut sedang mengawasi gerakan tubuh Yu Siau-lan lekat-lekat.
Jeritan demi jeritan berkumandang tiada hentinya sementara telapak tangannya diobat-abitkan kesana kemari.
Anehnya, semua serangan yang ia lancarkan beraturan sekali dan menurut aturan yang ada.
Sedikitpun tidak mirip orang yang kehilangan kesadaran.
Mula-mula ia merasa agak curiga, tapi setelah diperhatikan lebih jauh, akhirnya ia berhasil temukan keadaan yang sebenarnya.
Ternyata Bu-jian tootiang juga merupakan seorang jago yang berilmu tinggi, bahkan kungfunya terhitung luar biasa.
Bila ditinjau sepintas lalu maka dapat diketahui bahwa tenaga dalamnya diatas kemampuan Yu Siau-lam, kemampuannya sudah terhitung kelas satu.
Mengapa selama ini Bu-jian tootiang menyimpan ilmu silatnya rapat-rapat?
Hoa In-liong tidak punya waktu untuk berpikir lebih jauh.
Apa yang dipikirkannya sekarang adalah bagaimana caranya untuk mengenangkan pikiran si koancu yang makin sinting ini.
Karenanya sesudah termenung sejenak, iapun berseru dengan lantang.
"Perhatikan baik-baik saudara Siau-lam, tenaga dalam yang dimiliki Bu-jian tootiang sangat tinggi. Tapi ia sudah dibuat sinting karena kobaran hawa amarahnya mencapai otak. Nah, sekarang harap tenangkan pikiranmu, siau-te akan menyergap dari belakang, mari kita bekuk dulu tootiang ini sebelum berbicara lebih jauh"
Sebenarnya dengan tenaga gabungan Yu Siau-lam dan Hoa In-liong, bukan suatu perbuatan yang sulit bagi mereka untuk menaklukkan Bu-jian tootiang.
Sulitnya justru mereka harus menyerang tanpa melukai korbannya apalagi Bu-jian tootiang sudah mendekati sinting.
Ia hanya tahu beradu jiwa dan tak mengenal berkelit.
Bila salah turun tangan hingga mengakibatkan halhal yang tak diinginkan, bukankah hal ini akan merupakan suatu penyesalan sepanjang jaman?
Waktu itu, Yu Siau-lam sedang berada dalam kurungan angin serangan yang menggulung-gulung bagaikan amukan hujan badai.
Sementara ia makin keteter dan merasakan betapa beratnya daya tekanan yang dilancarkan Bu-jian tootiang, maka begitu mendengar seruan dari Hoa In-liong, anak muda itupun lantas sadar akan apa yang telah terjadi.
Dengan cepat taktik pertarungannya dirubah.
Sekarang ia mulai bertempur dengan sikap yang berhati-hati.
Setiap menghadapi serangan dipatahkan dengan serangan.
Menghadapi sergapan dibalas dengan sergapan.
Seluruh perhatiannya dipusatkan pada gerakan ilmu silat dari Bu-jian tootiang sedapat mungkin ia hindari pertarungan keras lawan keras dan sistim yang dianut adalah pertarungan ala gerilya.
Betul juga keadaan Bu-jian tootiang ibaratnya orang gila.
Sekalipun Hoa In-liong berbicara keras namun ia sama sekali tidak mendengarnya.
Imam tersebut masih juga menyerang Yu Siau-lam dengan garangnya diiringi teriakan-teriakan kalap.
Setajam sembilu sorot mata Hoa In-liong, diam-diam ia menyusup kebelakang imam itu.
Kemudian begitu kesempatan baik telah tiba, jari tangannya lantas disentil kemuka.
Seketika itu juga tiga buah jalan darah penting dibelakang punggung Bu-jian tootiang kena di totok, tanpa mengeluh toosu itu terkapar ditanah dan tak mampu berkutik lagi.
Yu Siau-lam yang ada dihadapannya segara maju menyambut badannya, kemudian sambil menghembuskan nafas panjang keluhnya.
"Aaai....Sungguh tak kusangka kalau totiang ini juga seorang jago lihay dari dunia persilatan. Seandainya ia tidak sinting dan kesadarannya tersumbat, jelas siaute bukan tandingannya"
"Bukan waktunya bagi kita untuk membicarakan masalah tersebut pada saat ini. Ayoh kita geledah sekitar reruntuhan kuil ini. Coba lihat apakah masih ada yang hidup diantara para korban yang tergeletak disini....!"
Yu Siau-lam menengadah dan memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian sahutnya.
"Aku rasa tak usah diperiksa lagi. Percuma, sekalipun diperiksa juga tak ada gunanya. Buat apa kita buang tenaga dengan percuma? Coba lihatlah reruntuhan disini, paling sedikit api sudah berkobar selama satu jam lebih. Bila ada yang belum mampus, seharusnya suara rintihan mereka sudah kedengaran semenjak tadi"
Hoa In-liong berpikir sejenak, ia merasa perkataan itu ada benarnya juga.
Tapi ketika sinar matanya memandang mayat-mayat yang tergeletak bagaikan arang dan mencium bau sangit yang menusuk penciuman, dendam juga perasaannya, dengan gemas ia berseru.
"Orang yang melepaskan api untuk membakar kuil ini betul-betul jahat dan buas!. Jika sampai kutemukan lagi dikemudian hari, Hoa loji pasti akan menjatuhkan hukuman yang paling keji kepadanya"
"Lebih baik dilalap juga dengan api, biar dia rasakan bagaimana rasanya kalau badan terbakar oleh api. Tapi siapakah yang melepaskan api dan membakar kuil ini?"
Tanya Yu Siau-lam raguragu.
"Huuuh.... Siapa lagi? Tentu saja perbuatan dari Hong Seng"
Teriak Hoa In-liong dengan gemas.
"Karena gagal menyusul diriku, dia jadi kalap dan dalam kalapnya timbullah niat jahatnya untuk membantai seluruh anggota imam yang tinggal dikuil Cing-siu-koan ini, kemudian melepaskan api membakar kuil ini untuk melampiaskan rasa gemasnya. Hmm.... Manusia berhati serigala macam begini betul-betul manusia yang tak berperi kemanusiaan buat apa manusia macam begitu dibiarkan hidup didunia?"
Yu Siaulam manggut-manggut berulang kali "Yaa, masih mendingan kalau mereka adalah suku asing!
Yang paling menggemaskan justru Siau Khi-gi yang membuat kaum penjahat asing melakukan kekejaman serta kejahatan.
Manusia macam begini bukan saja telah melupakan nenek moyang sendiri, bahkan dia telah bertekuk lutut kepada suku asing.
Dalam benaknya penah berisi akal-akal jahat untuk mencelakai bangsanya sendiri.
Bila dugaanku tak keliru, pasti dialah yang mengeluarkan ide tentang pembakaran terhadap kuil ini"
"Yaa, kemungkinan besar ucapanmu benar"
Hoa In-liong mengangguk.
"Karena itu lain waktu kita musti lakukan penyelidikan yang seksama, jika terbukti memang dia yang ajukan usul tersebut, bangsat itu harus kita tangkap lalu kita cincang dengan keji"
"Yaa, manusia macam begitu memang pantas dicincang jadi berkeping-keping"
Yu Siau-lam membenarkan. Ia memandang sekejap keadaan Bu-jian tootiang, kemudian sambil menengadah ujarnya lagi.
"Bagaimana dengan koancu ini? Bagaimana kalau kita bebaskan dulu jalan darahnya?" . Hoa In-liong memandang sekejap sekeliling tempat itu, lalu berkata pula.
"Tempat ini letaknya sangat dekat dengan kota. Aku rasa kebakaran yang barusan terjadi tentu sudah diketahui pula oleh penguasa setempat. Daripada mencari kesulitan yang tak berguna, lebih baik kita tinggalkan dulu tempat ini"
"Benar!"
Yu Siau-lam mengangguk.
"Kita memang harus pergi dulu dari sini!"
Setelah mengambil keputusan, ia lantas membopong Bu-jian koancu dan berjalan lebih dulu menuju ke tenggara. Setelah berjalan beberapa saat lamanya, Hoa In-liong berkata lagi.
"Jalanan ini adalah jalan yang siau-te tempuh sewaktu datang kemari. Apakah kita akan kembal ke kota Kim-leng?"
"Yaa, kita sedang bergerak menuju ke kota Kim-leng, bagaimana pendapat saudara In-liong?"
"Saudara Siau-lam apa tahu dimana letaknya bukit Yan-san?"
"Bukit Yan-san terletak disebelah barat kota Kim-leng, sebelah selatan kota Cian-siok. Dari kota Cian-siok paling banter juga cuma seratus li lebih sedikit. Arah yang kita ambil sekarang justru sejalan dengan tujuan kita. Kenapa? Apakah saudara In-liong hendak langsung menuju bukit Yan-san untuk memenuhi janji pertemuanmu dengan nona Wan?"
"Aaah.... mengadakan pertemuan sih, masih pagi. Yang siau-te pikirkan adalah soal janji nona Wan dengan kita untuk bertemu tiga hari kemudian di bukit Yan-san. Kalau toh ia bisa berkata begini berarti dia sudah tahu kalau Hong Seng sekalian hendak menuju sekitar bukit Yan-san. Apa salahnya kalau kita langsung menuju bukit Yan-san, sekalian menyelidiki gerak-geriknya?"
Sehabis mendengar perkataan itu, Yu Siau-lam segera memahami akan kebsnaran ucapan tadi, kontan pujinya.
"Waaah.... kecerdasanmu memang satu tingkat lebih hebat dari pada orang lain. Didepan sana ada persimpangan jalan. Ayoh kita segera menuju ke bukit Yan-san"
Begitulah, meskipun pembicaraan dilangsungkan terus namun langkah kaki mereka tak pernah berhenti.
Setelah berlarian satu jam lebih, sampailah mereka didepan sebuah hutan yang lebat.
Hoa In-liong memandang sekejap Yu Siau-lam yang berada disampingnya.
Melihat peluh sudah membasahi sekujur badannya, dia pun berkata.
"Saudara Siau-lam, mari kita beristirahat sebentar dihutan sebelah depan sana, sekalian kita tanyai keadaan Bu-jian tootiang"
"Begitupun boleh juga"
Yu Siau-lam menjawab sambil tertawa.
"Badan Bu-jian tootiang besar dan berat, aku memang sedikit merasa lelah!"
Maka kedua orang itupun saling berpandangan sambil terbahak-bahak, perjalanan dilakukan lebih cepat lagi menuju kearah hutan lebat didepan sana.
Hutan itu letaknya disuatu tikungan jalan raya, ketika mereka berdua berhasil mencapai tepi hutÃan tersebut tiba-tiba dari depan sana muncul segerombol manusia.
Lantaran kedua belah pihak sama-sama sedang melakukan perjalanan cepat, maka ketika berjumpa muka secara mendadak, kedua belah pihak sama-sama kaget dan tertegun.
Setelah rombongan semakin dekat, barulah terlihat bahwa rombongan yang datang dari sebelah depan sana berjumlah belasan orang lebih.
Diantara mereka tampak pula Coa Cong-gi serta LiPoh-seng.
Selain itu ada pula Liat Ceng-poh dan Be Si-kiat diiringi delapan sembilan orang lakilaki berpakaian ketat.
Mereka semua bersenjata lengkap.
Jelas datang untuk memberi bantuan.
Tapi karena perjalanan terlalu lambat maka sampai waktu itu baru tiba ditempat tujuan.
Setelah masing-masing pihak mengetahui siapakah lawannya, meledaklah teriakan-teriakan gembira yang gegap gempita.
Coa Cong-gi pertama-tama yang lari ke depan lebih dulu.
Sambil mencekal tangan Hoa In-liong erat-erat serunya kegirangan.
"Saudara Hoa, sungguh amat payah kucari diri...."
Tiba-tiba ia berpaling ke arah Yu Siau-lam dan melanjutkan.
"Sudah kuduga, asal saudara Hoa tiba tepat pada waktunya, saudara Siau-lam pasti akan selamat tanpa kekurangan sesuatu apapun. Haa.... haa.... haa.... Ternyata tebakanku memang tidak keliru. Aku lihat paras muka Siau-lam heng merah bercahaya, tentu banyak bukan keuntungan yang berhasil kau dapatkan?"
Matanya celingukan kesana kemari, sikapnya hangat sekali.
Kalau bisa ia mempunyai dua lembar mulut sehingga semua perasaan gembiranya dapat di utarakan keluar sekaligus.
Yu Siau-lam dan Hoa In-liong sendiripun merasa amat gembira sekali, sebelum pemuda she-Hoa itu sempat buka suara, sambil tertawa nyengir Yu Siau-lam telah berkata lebih duluan.
"Tahukah engkau, hasil apakah yang berhasil kudapatkan?"
Coa Cong-gi mengernyitkan alis matanya yang tebal, kemudian sambil menuding kearah Bu-jian tootiang sahutnya.
"Bukankah dia adalah hasil yang diperoleh? Waaah.... Emangnya kau anggap aku ini bodoh dan ceroboh, sehingga seorang toosu segede itupun tidak kelihatan?"
Ternyata dia menganggap Bu-jian tootiang sebagai tawanan yang berhasil ditangkap dalam pertarungan yang barusan berlangsung.
Sebetulnya Yu Siau-lam hanya bermaksud iseng saja dan sengaja menggoda dirinya, tapi setelah menyaksikan keseriusan orang, selain merasa tak tega, diapun merasa geli sekali sehiagga tak kuasa lagi dia tertawa terbahak-bakak.
"haa.... haa.... haa.... Betul.... Betul, Mari kita bercakapcakap disana saja"
Dicengkeramnya lengan pemuda itu, lalu diajak menuju kedalam hutan lebat situ.
Hoa In-liong sendiri sambit memegang perut sendiri menahan geli, diapun manggut-manggut ke arah Liat Ceng-poh dan Be Si-kiat untuk mengucapkan terima kasih.
Kemudian sambil berjalan bersanding dengan Li Poh-seng katanya.
"Demi siau-te, saudara Pohseng harus melakukan perjalanan jauh. Atas kesediaan saudara bersusah payah, tak lupa siau-te ucapkan banyak banyak terima kasih"
Li Poh-seng tertawa rawan.
"Aaaah.... Terhadap sesama saudara, apa gunanya berbicara sungkan-sungkan? Keadaan ini tak ada bedanya dengan tindakanmu sewaktu semalam suntuk berangkat ke Hong-yang"
"Tidak bisa dikatakan sama jelas berbeda jauh"
Tukas Hoa In-liong sambil gelengkan kepalanya.
"Saudara Siau-lam mendapat kesusahan lantaran persoalan siau-te. Maka sudah menjadi kewajiban siau-te untuk memberi bantuan secepatnya"
Mendengar perkataan itu, Li Poh-seng tertawa terbahak-bahak.
"Haa.... haa.... ha.... Apa bedanya antara kewajibanmu memberi bantuan dengan kerelaan kami membantu dirimu? Bagaimanapun juga toh kita sama sama bermaksud membantu yang sedang susah dan menolong yang sedang terluka? Jika diantara sahabatpun tak boleh melakukan sedikit jasa seperti ini, lantas apa gunanya kita mengikat diri menjadi sahabat?"
Hoa In-liong tak ingin mendebat lebih lanjut, diipun segera mengangguk berulang kali, katanya sambil tertawa.
"Apa yang saudara Poh-seng katakan memang cengli, siaute mengakui tak mampu mengalahkan muridmu"
Sementara pembicaraan masih berlangsung, rombongan mereka sudah tiba dalam hutan lebat itu.
Seorang laki-laki setengah baya yang berwajah bersih maju kedepan dan memberi hormat kepada Yu Siau-lam, katanya.
"Tentu kongcu Sudah mendapat banyak penderitaan yang mengejutkan hati bukan? Siau-te tak punya kepandaian hebat, ilmu silat juga biasa-biasa saja. Sungguh menyesal hatiku karena tak mampu menjalankan tugas untuk melindungi keselamatan kongcu dengan sebaik-baiknya"
Cepat Yu Siau-lam goyangkan tangannya berulang kail seraya menukas dengan lantang.
"Harap saudara Lo jangan berkata demikian. Meskipun aku sendiri terkejut oleh kejadian itu, pada hakekatnya jiwaku tidak terancam bahaya maut. Justru aku merasa berterima kasih sekali karena saudara sekalian begitu baik hati melakukan perjalanan jauh untuk mencari bala bantuan. Perbuatan kalian sudah cukup menunjukkan kesetia-kawanan kamu semua kepadaku. Jika saudara Lo berkata lebih jauh, bagaimana mungkin aku bisa mengatasi semua hal ini? Mari.... mari.... Kuperkenalkan kalian semua dengan saudaraku ini"
Setelah membaringkan tubuh Bu-jian tootiang ditanah, dia lantas perkenalkan mereka semua ke pada dia Hoa In-liong.
Ternyata laki-laki berpakaian ringkas yang membawa senjata lengkap itu adalah orang-orang yang pernah mendapat bantuan dari Yu Siau-lam dimasa lalunya.
Ada yang pernah mendapat bantuan berupa uang karena soal ekonomi yang macet, ada yang mendapat pengobatan sewaktu menderita luka.
Ada pula yang pernah tinggal dirumahnya selama banyak waktu tanpa bekerja apa-apa.
Laki-laki setengah baya yang berwajah bersih itu bukan lain adalah saudara tertua dari Liat Ceng poh dan Be Si-kiat.
Dia she-Lo bernama Pek-sian.
Dia juga yang menjadi komandan dalam operasi pertolongan terhadap diri Yu Siau-lam di kota Hong-yang.
Hoa In-liong menjura berulang kali sebagai balasan rasa hormatnya, kemudian sambil berpaling kearah Coa Cong-gi katanya.
"Saudara Cong-gi, aku dengar engkau bertugas menjaga di kota Kim-leng. Tapi sewaktu aku lepas dari bahaya dan mencari dirimu kemana-mana, ternyata jejakmu tidak berhasil kutemukan, sebetulnya kau telah pergi kemana?"
OooOOOOooo "WAAAH.... Waaah....Apa lagi yang musti kukatakan? sahut Coa Cong-gi dengan cepat.
"Kalau kau mencari aku, memangnya aku tidak sedang mencari dirimu? Setelah berlatih kungfu selama tiga hari, aku lantas berada disana lagi"
"Lho....! Bagaimana sih? Jadi kau tahu dimana aku telah disekap musuh?"
Tanya Hoa In-liong tercengang.
Dari nada ucapannya itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa ia sedikit kurang percaya terhadap pengakuan rekannya.
Sebab ia tahu Coa Cong-gi adalah seorang pemuda yang berangasan.
Lagi pula ia saogat menitik beratkan dalam soal kesetiaan kawan tanpa mengindahkan resiko terhadap diri sendiri.
Berdasarkan wataknya itu, maka seandainya ia sudah tahu dimana ia disekap musuh, makaseharusnya kalau pemuda itu langsung turun tangan memberi pertolongan.
Ternyata keadaan berbicara lain, ia bersikap lebih cerdas dan berotak dingin.
Setelah menyadari bahwa kekuatannya seorang diri terlalu minim dan tak mungkin bisa menolong rekannya, ternyata ia malah berlalu untuk melatih diri selama tiga hari.
Baik Yu Siau-lam maupun Li Poh-seng juga tak berani mempercayai pengakuannya itu.
Sinar mata mereka berdua sama-sama ditujukan ke atas wajahnya dengan pandangan tercengang.
Coa Cong-gi masih belum menyadari akan sikap aneh rekan-rekannya, ia masih juga berkata lebih jauh.
"Tentu saja! Kalau kalau tidak begitu, darimana aku bisa segera kirim kabar untuk mencari kembali saudara Poh-seng sekalian untuk berkumpul kembali?"
"Oooh.... Jadi kalau begitu, sewaktu kau utus orang untuk mengirim kabar, waktu itu kau sendiripun belum tahu jiwa Hoa-heng sudah terlepas dari mara bahaya?"
Kata Li Poh-seng seperti baru menyadari.
"Andaikata aku tidak berjumpa dengan saudara Ceng-poh dan Si-kiat, siapa tahu kalau dia sudah terlepas dari mara bahaya?"
Hoa In-liong yang berada disampingnya segera menyambung.
"Itulah kalau takdir berbicara lain. Apa gunanya kita bicarakan lebih jauh? Yang paling penting adalah dimanakah saudara Ek-hong dan Siong-peng pada saat ini?"
"Kalau toh saudara Cong-gi sudah utus orang untuk mengirim kabar, aku pikir mungkin mereka sudah kembali semua di kota Kim-leng"
Jawab Li Poh-seng. Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba sambungnya lebih jauh.
"Mari kita duduk sambil berbicara. Kita bicarakan saja kisah tentang keadaan saudara Siau-lam sejak lolos dari bahaya!"
"Betul!"
Sambung Coa Cong-gi pula.
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan toocu itu? Kalian harus berbicara sejelas-jelasnya"
Maka mereka semuapun duduk bergerombol di atas tanah sambil mendengarkan kisah cerita.
Tentang pengalaman Hoa In-liong sewaktu meloloskan diri dari bahaya, boleh dibilang kejadiannya sederhana tanpa sesuatu yang aneh.
Setelah disinggungpun berlalu dengan begitu saja.
Lain halnya dengan kisah lolosnya Yu Siau-lam dari ancaman bahaya.
Oleh karena peristiwa itu menyangkut tentang diperkosanya Wan Hong-giok oleh Siau Khi-gi, disiksanya Yu Siau-lam secara keji, dibakar dan dibantainya anggota kuil Cing-siu-koan serta bangkitnya kembali perguruan Seng-sut-pay dari puing-puing kehancurannya.
Maka bukan saja kisah ini sangat menarik hati, bahkan membangkitkan bawa amarah dalam benak masing-masing orang.
Diantara sekian banyak orang yang hadir disana, Coa Cong-gi paling tak tahan mendengar kisah kekejamaan dan kebuasan orang yang tak kenal peri kemanusiaan.
Apalagi setelah mengetahui bahwa sintingnya Bu-jian tootiang adalah lantaran dibantainya semua anggota kuil Cing-siu-koan oleh gembong-gembong iblis, kemarahan yang berkobar dalam benaknya tak terbendung lagi.
Tiba-tiba ia memukul tanah keras-keras, kemudian berteriak dengan penuh kegusaran.
"Gembong iblis sialan! Aku Coa Cong-gi bersumpah tak akan hidup sebagai manusia bila tak mampu mencingcang tubuh kalian hingga hancur berkeping-keping!"
Karena teriaknya yang menggeledek ini, penuturan kisah cinta itupun terputus untuk sementara waktu. Li Poh-seng yang duduk disampingnya segera berkata dengan serius.
"Kau jangan marahmarah dulu. Bila kita tinjau dari situasi yang terbentang didepan mata sekarang, jelas hawa iblis sudah menyelimuti seluruh jagad. Kita tak mungkin bisa menganggur terus. Asal dilain hari kita jagal beberapa orang diantara mereka, bukankah sakit hati itu bisa segera dilampiaskan?"
Sewaktu mengucapkan kata-kata itu, suaranya tenang dan datar, sama sekali tidak dipengaruhi emosi.
Dari sini dapat diketahui bahwa pemuda itu berpandngan jauh dan lebih pandai menguasai diri daripada rekan-rekannya.
Mula pertama Coa Cong-gi sudah busungkan dada sambil mengucapkan kata-kata yang bernada panas, tapi setelah mendengar perkataan itu, biji matanya lantas berputar lalu manggutmanggut.
"Ehmm.... Betul juga perkataanmu, hawa iblis memang sudah menyelimuti seluruh jagat, kemarin malam, aku telah menyaksikan sendiri orangorang dari Hian-beng-kau berkasak-kusuk dengan Kiu-im kaucu"
Menyinggung soal Kiu-im kaucu, tanpa sadar Hoa In-liong merasa semangatnya berkobar kembali, cepat selanya.
"Dimanakah kau berhasil mendengarkan kasak-kusuk mereka....? Cepat beritahu kepadaku!"
Dengan wajah berseri-seri karena bangga Coa Cong-gi tertawa ringan, lalu sahutnya.
"Tempatnya? Tak lain dalam ruang sebelah depan dimana kau disekap tempo hari, waaah....! Banyak sekali yang berhasil kujumpai malam itu.... .!"
"Eeeh.... Sebenarnya apa saja yang berhasil kau jumpai?"
Tanya Hoa In-liong dengan dahi berkerut.
"Mengapa tidak kau terangkan sejelas-jelasnya?"
"Tentu saja akan kuterangkan. Coba jawablah dulu sebuah pertanyaanku, apakah kenal dengan seorang cianpwe yang bernama Ko Thay?"
"Apalah kau maksudkan seorang laki-laki berperawakan tinggi kekar, berwajah tampan dam berwibawa sekali?"
"Benar! Benar!"
Coa Cong-gi mengangguk berulang kali.
"Memang dialah yang kumaksudkan. Usianya antara tiga puluh lima enam tahunan...."
"Tentu saja aku kenal. Dia adalah ahli waris dari Ciu-it-bong, Ciu-locianpwe. ilmu silatnya berasal dari bimbingan nenekku dan ayahku, aku sebut dia sebagai paman. Kenapa? Apa kau, telah berjumpa muka dengan dirinya?"
Paras muka Coa Cong-gi makin berseri setelah mendengar pertanyaan itu, jawabnya.
"Bukan saja telah berjumpa, bahkan kusaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana dia lancarkan sebuah pukulan yang enteng untuk mengirim Kiu-im kaucu kabur pulang kesarangnya. Ha....ha....ha.... Kegagahannya waktu itu sungguh mengagumkan"
Hoa In-liong berdiri tertegun dengan mata terbelalak lebar, diam-diam pikirnya.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi? Kiu-im kaucu sudah mampus? Sejak kapan tenaga dalam yang dimiliki Paman Ko mengalami kemajuan yang demikian pesatnya?"
Karena curiga dan tidak habis mengerti, ia lantas berseru.
"Eeeh.... Kalau bicara sedikitlah lebih jelas. Lebih baik kau terangkan dari awal sampai akhir. Daripada aku dibikin kebingungan oleh ceritamu itu!"
"Apanya yang membuat kau kebingungan? Yaa begitu saja, sekali jotos dia lantas pulang ke rumah neneknya!"
Seraya berkata Coa Cong-gi lantas mengayunkan telapak tangan kirinya membuat gerakan seperti mau melancarkan satu jotosan.
Li Poh-seng yang ada dihadapannya nyaris termakan bogem mentahnya itu.
Cepat-cepat Li Poh-seng mundur dan mengigos dari ancaman tersebut, kemudian sambil mencengkeram pergelangan tangan kirinya dia berkata lebih dulu.
"Eeeh.... Kalau sedang bicara jangan main tangan, hati-hati kalau sampai kena orang! Ayoh terangkan dulu, apakah Kiu-im kaucu sudah mampus?"
Dengan tersipu-sipu Coa Cong-gi menarik kembali serangannya.
"Dia belum mampus, cuma pulang kerumahnya dengan terbirit-birit"
Jawabnya.
"Ooooo.... Tahu aku sekarang!"
Sambung Yu Siau jam yang berada disampingnya sambil tertawa.
"Pukulan yang dilancarkan Ko tayhiap tentunya sudah membuat Kiu-im kaucu terluka berat bukan, sehingga ia terpaksa harus pulang kesarangnya untuk merawat luka dalamnya yang teramat parah itu?"
"Tebakanmu cuma betul separuh"
Cepat Coa Cong-gi memberi penjelasan dengan wajah serius.
"Kabur pulang kesarangnya memang betul cuma ia sama sekali tidak terluka"
Semakin diterangkan semakin membikin orang jadi bingung dan tidak habis mengerti.
Untuk sesaat semua orang jadi tertegun dan tidak habis mengerti.
Kalau toh Kiu-im kaucu tidak terluka, sebagai seorang tokoh persilatan yang berambisi besar mengapa ia rela meninggalkan musuhnya untuk ke bur kembali kesarangnya?
Hoa In-liong mengernyitkan alis matanya.
"Aaaah.... Ceritamu itu cuma bikin orang makin mendengarkan semakin tak habis mengerti. Lebih baik kau ceritakan sejak awal saja! Misalnya saja apa yang dibicarakan Kiu-im-kaucu dengan orang-orang dari Hian-beng kau? Secara bagaimana paman Ko-ku itu dapat berjumpa muka dengan Kiu-im-kaucu? Apa sebabnya Kiu-im kaucu kabur pulang ke sarangnya setelah terpukul oleh paman Ko ku itu? Dan waktu itu engkau berada disana sehingga menyaksikan kesemuanya itu? Kalau mau bicara harus terangkan satu persatu sehingga yang mendengarkan tak sampai bingung dibuatnya"
Mula-mula Coa-cong-gi tertegun, tapi lantaran sorot mata setiap orang sama-sama tertuju kearahnya dengan mata melotot.
Lagipula sorot mata mereka semua terselip perasaan bingung dan tak habis mengerti maka dengan perasaan apa boleh buat dia manggut-manggut.
"Baiklah!"
Katanya kemudian.
"Akan kuterangkan sejak awal sampai akhir dengan sejelas-jelasnya!"
Matanya segera dipejamkan untuk mengumpulkan kembali semua kenangan dan pikirannya, lalu berkata.
"Kemarin dulu malam, ketika aku baru pulang dari puncak bukit Ciong-san selesai berlatih silat, waktu itu sudah menjelang tengah malam. Karena sudah tiga hari tidak kujumpai dirimu, maka aku ingin menengok bagaimanakah keadaan waktu itu. Maka akupun tidak masuk kota tapi menelusuri kaki bukit kearah barat dan menuju ke tempat dimana kau disekap"
Berbicara sampai disini, sinar matanya lantas dialihkan kewajah Hoa In-liong, kemudian lanjutnya.
"Tahukah kau, tiga hari berselang aku telah berkunjung pula kedalam gedung itu. Waktu itu kau sedang digantung orang diatas dahan pohon dengan kepala dibawah"
Tentu saja Hoa In-liong tidak akan tahu kalau rekannya pernah berkunjung kesitu, tapi diapun tidak membantah atau membenarkan, sambil tersenyum ujarnya.
"Lanjutkan ceritamu lebih jauh! Hal yang bertele-tele tak perlu disinggung!"
Coa Cong-gi mengangguk, setelah tarik nafas panjang sambungnya lebih jauh.
"Aku lari menuju ke halaman yang berada di paling belakang, namun di atas pohon tidak kujumpai dirimu lagi. Dalam gedung juga tak nampak sinar lampu. Waktu itu kukira kau sudah mendapat musibah diluar dugaan. Dalam cemasnya ingin kutangkap seseorang untuk mendapat tahu keadaanmu yang sebenarnya. Tapi oleh karena aku pernah merasakan betapa lihaynya ilmu silat yang mereka miliki, maka akupun tahu bahwa ilmu silat yang mereka miliki rata-rata luar biasa sekali. Untuk menghindari segala kemungkinan yang tak diinginkan, gerak-gerikku sengaja bertindak sangat hati-hati dan tidak gegabah. Selangkah demi selangkah aku menyusup ke arah halaman depan...."
Mendengar sampai disini, diam-diam Yu Siau-lam berpikir dalam hati.
"Heran, jadi kaupun tahu bagaimana harus berhati-hati dan tidak gegabah? Tumben amat nih!"
Meskipun geli dalam hati, diluaran ia berkata pula.
"Ayoh cepatan sedikit kalau bicara, yang tidak penting lebih baik jangan disinggung-singgung"
Coa Cong-gi melotot sekejap kearahnya, kemudian baru menyambung kembali kata-katanya.
"Ruangan didepan sana terang benderang bermandikan cahaya. Ketika kuintip dari balik jendela, terlihatlah bayangan manusia berkumpul dalam ruangan itu, jumlahnya mencapai dua puluh orang lebih. Waktu itu akupun berpikir. Mungkinkah mereka sedang mengadili adik In-liong? Begitu ingatan tersebut melintas dalam benakku, mendidihlah darah yang mengalir didalam badan. Aku lupa akan pantangan dan segera menjejakkan kaki siap menyerbu ke dalam ruang tengah"
"Aduuh mak....! Bukankah jejakmu akan segera ketahuan mereka....?"
Teriak Be Si-kiat sambil berseru tertahan.
"Huuh.... Aku saja tidak gelisah waktu itu. Kenapa kau malahan yang gelisah? Jika jejakku ketahuan, dari mana kejadian selanjutnya dapat kuketahui?"
Setelah berhenti sebentar, diapun menyambung lebih jauh.
"Ada kalanya watakku memang berangasan, tapi untunglah ketika itu pikiranku masih dingin. Tiba-tiba saja satu ingatan melintas dalam bsaakku kembali aku berpikir. Aaah, tidak benar! Andaikata mereka betul-betul sedang mengadili adik In-liong, bila kuserbu dengan begitu saja, mana mungkin adik In-liong bisa kuselamatkan? Oleh karena itu dengan bersusah payah kutekan pergolakan perasaan dalam hatiku. Diam-diam aku menyelinap kesana dan memanjat sebatang pohon besar dari situ aku dapat mengintai keadaan dalam ruangan dengan amat jelas sekali" . Li Poh-seng segera menganggukkan kepalanya berulang kali, katanya sambil tertawa.
"Benar juga kata pepatah kuno. Sekalipun kasar pasti ada kelembutan. Bila setiap saat kau bisa cekatan dan bertindak waspada, kami semua pun dapat berlega hati"
Mendengar ucapan itu contoh Coa Cong-gi mendelik besar.
"Sialan, kenapa kau menukas terus pembicaraanku?"
Teriaknya.
"Kamu tahu, ceritaku sudah mencapai pada bagian-bagian yang terpenting?"
Li Poh-seng mengernyitkan alis matanya, dia lantas membungkam dan tidak berbicara lagi. Setelah suasana hening untuk beberapa saat lamanya, Coa Cong-gi melanjutkan kembali kisahnya.
"Ternyata dalam ruangan itu tersedia dua buah meja perjamuan. Diantara tamu yang hadir aku lihat ada seorang kakek bermuka merah berambut putih duduk dikursi utama pada meja tamu, sedangkan Kiu-im-kaucu mengeringinya dimeja lain. Sedang sisanya dipenuhi oleh para jago dari Kiu-im kau dan Hian-beng kau. Dari sikap serta hubungan mereka kelihatan sekali kalau hubungan kedua belah pihak sangat akrab. Hanya yang aneh tidak kujumpai bayangan tubuh dari adik In-liong"
"Oooh.... Kalau begitu, kakek bermuka merah berambut putih itu adalah kaucu dari Hian-beng kau?"
Tanya Hoa-In-liong.
"Bukan, dia cuma Thamcu dari markas besar perkumpulan Hian-beng-kau. Aku hanya tahu dia she-Toan bok, sedang namanya kurang jelas"
"Lantas yang kau maksudkan kasak-kusuk adalah kejadian setelah perjamuan itu berakhir?"
"Tidak, kasak-kusuk berlangsung dalam perjamuan itu juga"
Hoa In-liong tertawa geli.
"Kalau pembicaraan berlangsung dalam perjamuan itu juga, maka bukan kasak-kusuk lagi namanya!"
"Aaaai.... Istilah kasak-kusuk adalah aku sendiri yang memberinya. Waktu itu bersembunyi di atas sebuah pohon besar kurang lebih dua kaki dari ruangan karena terhalang oleh sebuah jendela, lagipula pembicaraan mereka berlangsung keras dan lirih tak menentu. Maka aku jadi kurang begitu jelas menangkap isi pembicaraan mereka. Jadi dalam pandanganku, pembicaraan mereka bukankah berubah fungsinya menjadi pembicaraan kasak-kusuk?"
Begitu ucapan itu selesai di utarakan ke luar, kontan semua orang terbahak-bahak dengan kerasnya karena geli.
Coa Cong-gi mengerutkan dahinya melihat ia ditertawakan orang, segera bentaknya dengan suara dalam.
"Eeeeh.... Apa yang kalian tertawakan? Apa yang salah dengan pembicaraanku barusan? Memangnya pembicaraan mereka untuk merundingkan bagaimana caranya mencuri ayam menggaet kantong dan melakukan pembunuhan serta kejahatan tidak pantas dikatakan sebagai kasak-kusuk yang berniat jahat?"
Sebenarnya semua orang ingin tertawa semakin keras, tapi lantaran mendengar kata-kata soal pembantaian dan kejahatan, sadarlah semua orang bahwa urusan yang mereka hadapi adalah serius.
Mungkin juga pemuda itu memang berbasil menemukan suatu rahasia yang maha besar, maka sekalipun merasa geli tak seorangpun berani tertawa lebih jauh.
Ketika Hoa In-liong merelakan dirinya dibelenggu dan digantung secara terbalik oleh Bwee Suyok, tujuannya yang terutama adalah ingin menyelidiki latar belakang persekongkolan antara perkumpulan Kiu-im kau dengan perkumpulan Hian-beng kau.
Selain itu diapun ingin mencari tabu bagaimana cara mereka hendak menghadapi keluarga Hoa beserta latar belakang pembunuhan terhadap Suma Tiang-cing suami isteri.
Sekarang, pembunuhan berdarah atas keluarga Suma sudah jelas dan tak perlu diselidiki lagi, tapi latar belakang persekongkolan antara dua perkumpulan sesat ini masih belum diketahuinya hingga kini.
Maka begitu mendengar pembicaraan dari Coa Cong-gi tersebut, hatinya jadi terkesiap, buruburu serunya.
"Sudah.... Sudahlah.... Tak usah mencari kebenarran diatas huruf tulisan. Lanjutkan ceritamu apa saja yang berhasil kau dengar?"
"Benar-benar sialan"
Gerutu Coa-cong-gi sambil mengerutkan dahinya.
"Ketika pembicaraan berlangsung hingga mencapai pada bagian yang terpenting, tiba-tiba mereka merendahkan nada suaranya, sehingga aku tak dapat mendengarkan dengan jelas"
"Kalau begitu, terangkan saja apa yang sempat kau dengar!"
"Jika digabungkan menjadi satu, maka persoalan tersebut mencakup dalam lima hal. Pertama mereka sedang berdaya upaya untuk menghadapi ayahmu. Kedua mereka menyinggung pula soal Giok teng hujin. Ketiga...."
"Apa yang hendak mereka lakukan terhadap diri Giok-teng hujin?"
Tukas Hoa In-liong lagi dengan hati tercekat.
"Toan-bok thamcu yang mengusulkan persoalan ini. Dia berharap agar Kiu-im kaucu bisa berusaha sedapat mungkin untuk menemukan Giok-teng Hujin. Mengenai tujuannya.... Sayang aku tak sempat mendengarnya dengan jelas"
Diam diam Hoa In-liong menghela napas panjang.
"Aaaai.... Kalau begitu, baiklah! Harap lanjutkan ceritamu lebih jauh...."
Katanya kemudian.
"Ketika perkumpulan Hian-beng kau akan di buka secara resmi pada bulan enam tanggal enam mereka bilang mengharapkan bantuan serta dukungan dari Kiu-im kau"
"Benar-benar sangut aneh"
Seru Hoa In-liong dengan dahi berkerut "Kalau toh kedua perkumpulan itu telah bersekongkol satu sama lainnya, didirikannya perkumpulan Hian-beng kau secara resmi, pasti sudah disetujui pula oleh pihak Kiu-im kau.
Apalagi yang perlu dirundingkan secara khusus?
Aku rasa dibalik kesemuanya itu pasti terselip rencana busuk lainnya!"
"Benar ada rencana busuk atau tidak, aku sendiri juga tak tahu, apa yang kudengar hanya itu-itu saja"
Hoa In-liong termenung, dia berpikir sejenak, lalu bertanya lagi.
"Tahukah kau dimana letaknya markas besar dari perkumpulan Hian-beng kau?"
Coa Cong-gi berpikir sebentar sebelum menjawab.
"Aku rasa agaknya dibukit See-mong-sanshia!"
"Bukit See-mong-san-shia? Kok rasanya belum pernah kudengar nama perbukitan itu?"
Li Poh-seng yang berada disampingnya lantas menyela.
"Kalau bukit See-mong-san-shia tidak ada, mungkin yang dimaksudkan adalah tanah perbukitan Gi-mong-san-ci"
Coa Cong-gi mengerdipkan matanya, tiba-tiba ia berteriak.
"Yaa.... Yaa.... Betul! Tanah perbukitan Gi-mong, tempatnya dataran Ui-gou-peng ditanah perbukitan Gi-mong"
Kembali Li Poh-seng tersenyum.
"Aku rasa saudara Cong-gi kembali salah dengar. Aku pernah berkunjung ke Thay-an, Lay-wa, Sim-thay, Mong-in dan sekitarnya. Kemudian dari Thay-an berbelok ke tenggara melalui bukit Lay-san sampai perbukitan Mong-san. Disekitar kota Sin-thay memang terdapat sebuah dataran yang bernama Hong-goa-peng"
"Kau pernah berkunjung ke bukit Gi-san?"
"Belum pernah!"
Li Poh-seng gelengkan kepalanya berulang kali.
"Nah, itulah dia. Kalau kau sendiripun belum pernah berkurjung ke situ, dari mana kau bisa tahu kalau sama yang kusebutkan keliru? Kalau toh di bukit Gi Mong-san ada dataran Hong Gou-peng, kenapa tak mungkin kalau dibukit Gi-san ada pula dataran Ui Gou-peng?"
Yu Siau-lam segera tertawa tergelak-gelak.
"Ha.... haa.... haa.... Sudah! Sudahlah! Jangan ribut lagi. Baik daratan Hong Gou-peng maupun daratan Ui Gou-peng, yang berbeda cuma satu huruf. Asal kita sudah tiba di tanah perbukitan Gi Mong-an, rasanya tak sulit untuk menemukan letak tempat itu. Adik Cong-gi, sekarang boleh kau sebutkan soal keempat"
Coa Cong-gi rada termangu-mangu lalu menjawab.
"Aku bakal mati menggantikan siapa?"
Yu Siau lam kontan tertawa tergelak.
"Haa.... haa.... haa.... Kembali keliru besar. Coba katakan dalam soal keempat, siapa yang bakal mati menggantikan dirimu?"
Merah padam selembar wajah Coa Coag-gi, dengan wajah tersipu-sipu katanya.
"Waah! Rupanya aku memang kembali salah dengar!"
Hoa In-liong tanpa terasa tersenyum sendiri sambil ulapkan tangannya memberi tanda ia berkata.
"Tidak menjadi soal, harap kau lanjutkan penuturan itu, mungkin dari kisah selanjutnya kita dapat menarik suatu kesimpulan!"
"Berbicara yang sesungguhnya, maka dalam masalah yang keempat ini, sasaran yang mereda tuju sebetulnya adalah kau. Maka gerak gerikmu dikemudian hari harus lebih waspada dan berhati-hati. Jangan sampai kena ditunggangi musuh!"
"Apa maksudmu?"
Seru Hoa In-liong dengan perasaan terperanjat.
"Ketika membicarakan tentang dirimu, mereka berbicara paling banyak dan paling lama. Pokoknya mereka berusaha sekuat tenaga untuk menangkap dirimu hidup-hidup!"
"Apakah Bwee Su-yok yang mengusulkan ide tersebut?"
Tanya Hoa In-liong tanpa sadar.
"Bukan! Malam itu sikap gadis she Bwee itu sangat hambar dan dingin. Sepanjang perundingan berlangsung, ia cuma membungkan terus dalam seribu bahasa"
"Lalu ide siapakah itu? Masa pendapat dari Kiu-im kaucu pribadi...."
Seru Hoa In-liong tercengang. Coa Cong-gi menggelengkan kepalanya lagi.
"Menurut pengakuan Toan-bok thamcu, katanya ide ini adalah ide dari kaucunya dan ia minta Kiu-im kaucu bersedia menyumbangkan tenaganya dalam kerja sama itu"
Hoa In-liong semakin tercengang setelah mendengar kata-kata itu, serunya.
"Apa alasan mereka untuk berbuat demikian aku kan seorang diri Bu beng siau cut (prajurit tak bernama). Mengapa Hian beng kaucu begitu memandang tinggi akan diriku?"
"Yaa, dewasa ini kau memang masih merupakan seorang Bu beng-siau-cut yang tak bernama. Tapi akhirnya kita toh harus mengerjakan suatu perjuangan untuk menghasilkan suatu karya yang gemilang. Sekalipun Kiu-im kaucu dan Hian-beng kaucu akan terbitkan keonaran dan kekacauan dalam dunia persilatan, namun kita semuapun sudah bersiap sedia menerima pimpinanmu untuk memberi pelajaran yang setimpal kepada mereka. Waktu itu tentunya kau bukan seorang Bu-beng-siau-cut yang tidak terkenal lagi"
"Benar!"
Sambung Yu Siau-lam pula.
"Generasi kita ini harus mempunyai juga seorang pemimpin yang pantas dan kaulah orang yang paling pantas untuk jabatan ini"
Li Poh-seng ikut berkata juga.
Baca Juga: Patung Emas Kaki Tunggal 7
Baca Juga: Pedang Ular Emas 8