Ceritasilat Novel Online

Rahasia Hiolo Kumala 4

Eps 4 Rahasia Hiolo Kumala - Gu Long

Baca online Rahasia Hiolo Kumala - Gu Long

Cersil Rahasia Hiolo Kumala - Gu Long.

Sementara pikiran masih melayang kesana kemari memikirkan psrsoalan itu, dengan suara lantang Kiu-im-kaucu telah berseru kembali.

"Hoa siau hiap, harap engkau datanglah sebentar kemari!"

Pada saat kebengisan dan keseraman yang menghiasi wajah Kiu-im-kaucu sudah lenyap tak membekas, sebagai gantinya senyum manis penuh menghiasi ujung bibirnya, caranya berbicarapun halas dan penuh keramah-tamahan.

Agak tertegun Hoa In-liong menghadapi keadaan seperti itu, bibirnya bergerak separti hendak mengucapkan sesuatu, namun maksud tersebut akhirnya diurungkan, sesaat lamanya dia bingung dan marasa kehilangan pegangan.

"Kami tak mau kesitu!"

Tiba-tiba terdengar Coa Cong-gi menyahut dengan suara nyaring.

"Tapi aku kan tidak suruh engkau yang datang kemari?"

Kata Kiu-im-kaucu sambil tertawa. Untuk sesaat Coa Cong-gi tertegun, kemudian sahutnya.

"Tapi..... tapi....itu toh sama saja, kenapa kami harus menuruti perkataanmu?"

"Aaaah! Kamu ini benar-benar seorang manusia yang tak tahu aturan"

Damprat Kiu-im-kaucu sambil tertawa "Jelek-jelek aku kan seorang nenek tua, sekalipun ada persoalan yang hendak dibicarakan, masa orang tua yang musti menghampiri yang muda?

Itu kan namanya tak tahu sopan santun?"

Betul juga perkataan itu!

Yang lebih muda sepantasnya menghormati orang yang lebih tua dan sewajarnya pula kalau yang lebih muda yang menghampiri orang yang lebih tua, bukan orang yang tua menghampiri orang muda, karena memang begitulah menurut tata kesopanan dan adat seorang manusia yang benar.

Coa Cong-gi jadi terbelalak dan gelagapan setengah mati, dia tertegun dan tak tahu apa yang musti dilakukan.

"Masuk diakal juga perkataannya itu"

Akhirnya Hoa In-liong berbisik dengan lirih "Mari kita kesitu!"

Selangkah demi selangkah dia maju kemuka dengan langkah lebar.

Dalam keadaan begini.

Coa Cong-gi sudah kehilangan pegangan.

Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa dia mengikuti juga di belakang rekannya dan menghampiri nenek itu.

"Hoa-Kongcu, kau harus berhati-hati!"

Mendadak si nona berbaju hitam itu berteriak dengan gugup.

"Perempuan itu berhati palsu dan menyembunyikan goloknya dibalik senyuman, sudah pasti dia menaruh maksud-maksud jahat terhadap dirimu" . Mendengar seruan tadi, Kiu-im-kaucu sontak tertawa terbahak-bahak.

"Haa..... haa..... haa.........Nona cilik, agaknya kau sangat memperhatikan keadaan Hoa Siau-hiap yaa? Janganjangan ada main....."

Godanya. Merah padam selembar wajah nona baju hitam itu karena jengah.

"Aku......... aku....."gumamnya tergagap.

"Jangan memperdulikan obrolan perempuan itu!"

Tukas Si Nio perempuan jelek itu dengan ketus. Kita tidak akan menguatirkan keadaan siapapun juga"

Kiu im kaucu tertawa terbahak-bahak. Dia seperti akan mengucapkan sesuatu lagi, tapi sebelum sepatah dua patah kata sampat diucapkan, Hoa In-liong telah tiba dihadapan mukanya.

"Hoa In-liong menjumpai kaucu!"

Demikian ia berseru sambil memberi hormat.

"Bila kaucu hendak menyampaikan sesuatu silahkan saja diutarakan secara blak-blakan. Ketahuilah kedua orang perempuan itu adalah orang yang berada diluar garis batas-batas persoalan ini. Jadi sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan persoalan ini. Bila kaucu masih juga bersilat lidah terus dengannya, maka hal ini mungkin akan merusak martabat serta nama baik kaucu!"

Setelah mendengar kata-kata yang tegas itu, Kiu im kaucu baru menarik kembali gelak tertawanya. Dengan wajah serius dia amati wajah si anak muda itu, kemudian sambil tertawa pujinya.

"Ehmmm....! Kau memang gagah bocah muda, tampaknya kegagahan dan keberanian ayahmu telah diwariskan semua kepadamu!"

"Aku tahu bahwa usiaku masih muda"

Kata Hoa In-liong dengan muka bersungguh-sungguh.

"Sekalipun demikian, aku tidak berani berbuat semena-mena dengan gegabah!"

"Ehmmm, kau memang seorang bocah yang bersemangat!"

Puji Kiu-im-kaucu lagi sambil mengangguk.

"Apakah engkau adalah loji dari keluarga Hoa? Putra Hoa Thian-hong yang dilahirkan Pek Kun-gi?"

Mendengar nama ibunya langsung disinggung, Hoa In-liong segera menunjukkan wajah tak senang hati, sepasang alis matanya berkenyit.

"Aku tahu kaucu datang kemari karena ada maksud dan tujuan tertentu"

Katanya.

"Aku sendiri rasanya juga tak ada kepentingan untuk mengelabui dirimu. Tapi aku harap dihadapan putra seseorang, lebih baik janganlah kau sebut nama ayah ibuku secara langsung, karena tindakan semacam itu hanya akan merosotkan kedudukan dan gengsi kaucu didepan mataku!"

Kiu-im-kaucu tergelak gelak karena kegelian.

"Haaa..... haaa..... haaa..... Anak muda, kau ini memang lucu amat"

Katanya.

"Kalau kutinjau dari usiamu, sudah jelas engkau adalah seorang pemuda. Sebagai seorang pemuda sudah sewajarnya kalau bersikap supel, terbuka dan riang gembira. Kalau caramu bersikap dengan orang selalu sok-sokan macam begitu, tanggung orang akan merasa jemu menyaksikan tingkah lakumu itu"

"Aku sama sekali tidak bermaksud untuk membaiki atau mencari muka terhadap kaucu"

Tukas anak muda itu ketus.

"Oooh..... tentu saja! Tentu saja! Aku juga tahu bahwa hal ini tak mungkin akan terjadi pada dirimu, sebab pada hakekatnya aku adalah musuh bebuyutan dari keluarga Hoa kalian!"

Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba ujarnya lagi.

"Walaupun demikian, ada satu hal yang ingin juga kuberitahukan kepadamu. Tahukah engkau bahwa aku sangat senang dan cocok sekali dengan watak ibumu? Tempo dulu aku ada hasrat untuk menerimanya sebagai muridku dan mewarisi semua ilmu silatku. Sayang oleh karena ibumu begitu tergila-gila kepada....."

Kata selanjutnya tentulah.

"kepada ayahmu"

Dan sebagainya dan sebagainya..... tapi lantaran ucapan "tergila-gila"

Itu sudah cukup menyakitkan hati Hoa In-liong, maka dengan tak sabaran lagi dia lantas menukas ditengah jalan.

"Sudah, kau tak usah banyak bicara lagi. Urusan yang sudah lewat biarkan saja lewat, kenapa musti kau ungkap-ungkap lagi dalam keadaan semacam ini? Kalau ada urusan penting, lebih baik bicarakan saja urusan pentingmu!"

Kiu im kau tersenyum.

"Baiklah"

Katanya kemudian.

"Baik-baikkah nenekmu selama ini? Apa kabar dengannya?"

"Terima kasih atas perhatianmu, beliau dalam keadaan sehat wal'afiat,"

Jawab Hoa In-liong ketus dan singkat". Tampaknya dia mulai muak terhadap musuhnya itu.

"Bagaimana pula dengan ayah ibunya?"

Kembali Kiu-im-kaucu bertanya.

"Sehat semua!"

Tiba-tiba pemuda itu merasakan gelagat kurang betul.

Semestinya Kiu-im-kaucu akan membicarakan soal-soal yang penting, tapi mengapa dia hanya menanyakan tentang kesehatan anggota keluarga Hoa?

Bukankah hal ini terasa janggal sekali?

Karena curiga, tanpa terasa kewaspadaannya timbul kembali, sikapnya jadi lebih berhati-hati.

Sementara sepasang matanya mengamati raut wajah Kiu-im-kaucu tanpa berkedip.

Kiu-im-kaucu tertawa hambar.

"Sejak keluarga Hoa kalian hidup mengasingkan diri di perkampungan Liok-soat-san-ceng, tampak-tampaknya semua anggota keluarga jarang sekali melakukan perjalanan lagi dalam dunia persilatan. Sebenarnya sudah beberapa kali aku berhasrat untuk berkunjung ke perkampungan kalian sekalian menengok ibumu. Tapi setiap kali rencanaku itu selalu kubatalkan karena aku tak berani bertindak secara gegabah, aaaai.......! Tampaknya kami memang tak berjodoh, terpaksa niatku tersebut harus dipadamkan sampai disini saja"

Hoa In-liong berkerut kening, pikirnya dalam hati.

"Kaucu ini sejak awal sampai akhir selalu berkeluh kesah, berbicara bolak-balik yang dipersoalkan juga masalah-masalah yang sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan masalah pokok. Apa gerangan yang sebenarnya ia rencanakan? Atau mungkin ia memang mempunyai rencana atau siasat-siasat tertentu?. Hmmm! Kau ada kesabaran untuk itu, sayang kesabaranku dalam soal tersebut terbatas sekali, tak sudi aku bersilat lidah terus menerus dengan kau"

Karena berpikir demikian, maka dia lantas menengadah lalu tegurnya.

"Kaucu, tolong tanya apakah engkau kenal dengan seorang jago persilatan yang bernama Kiu-mia kiam kek (jago pedang bernyawa rangkap sembilan)?"

"Tentu saja kenal! Eeeh.... bukankah orang itu telah meninggal dunia......?"

Perempuan itu balik bertanya. Diam-diam Hoa In-liong menggigit bibir menahan rasa gemas dan mendongkolnya, dia mengangguk.

"Yaa benar, dia orang tua memang sudah meninggalkan dunia. Siok-cou-bo ku juga ikut menghembuskan napas penghabisan. Konon Siok-cou bo ku itu adalah Yu beng tiancu (tiaocu istana neraka) dari perkumpulan kaucu dimasa lalu, apakah berita itu juga benar?"

"Betul!"

Kiu-im-kaucu mengakui secara berterus terang.

"Karena dia cinta kepada Suma Tiangcing maka perempuan itu sudah berkhianat kepada perkumpulannya dan kabur dengan Sumasiok-ya mu itu. Mereka menetap di kota Lok-yang setelah kawin. Yaaa......... Selama duapuluh tahun terakhir, peristiwa itu merupakan dua peristiwa yang paling menyakitkan hatiku. Engkau ingin tahu peristiwa lain yang selalu membuat aku jadi dendam? Itulah peristiwa kaburnya Giok Teng hujin Ku Ing-ing lantaran dia juga jatuh cinta kepada ayahmu!"

Sebenarnya Hoa In-liong ingin sekali mengetahui persoalan yang menyangkut diri Giok Teng hujin, akan tetapi kondisinya saat ini tidak memungkinkan dirinya untuk berbuat demikian.

Karena untuk membawa pembicaraan ke pokok pembicaraan yang sebenarnya dia sudah harus bersusah payah lebih dahulu, tentu saja setelah persoalan kembali ke poros yang dikehendakinya, ia tak ingin bahan pembicaraan tadi nyeleweng lagi ke masalah lain.

Karena itu setelah berhenti sebentar, dengan dingin ujarnya lagi.

"Menurut kabar berita yang tersiar dalam dunia persilatan, semua orang menanggap bahwa Suma siok-ya ku suami istri mati terbunuh atas perintah dari kaucu, bagaimanakah penjelasan kaucu tentang kabar berita itu?"

"Ooooh... ....Jadi orang persilatan menyiarkan begitu?"

Kata Kiu-im-kaucu tetap tenang "Sebenarnya kabar itu memang tak ada salahnya!

Sebab bagaimanapun juga Kwa Gi-hun (maksudnya Yubeng tiancu atau istri dari Suma Tiang-cing) adalah pengkhianat dari perkumpulan kami.

Bila kuu-tus orang untuk membereskan jiwanya, itu juga pantas.

Toh bagaimanapun juga aku cuma menin-dak anak buahku sendiri menurut peraturan perkumpulanku, apa salahnya dengan peristiwa itu?"

Mula-mula Hoa In-liong agak tertegun, menyusul kemudian dengan suara nyaring bentaknya.

"Hmmm! Itukah alasanmu dalam melakukan pembunuhan keji tersebut? Aku ingin bertanya kepadamu, apakah Kiu-mia-kiam-kek juga merupakan anak buah perkumpulanmu?"

Kiu-im-kaucu tetap tenang dia tersenyum malah.

"Kiu-mia-kiam-kek berani membawa lari anak gadis orang sehingga mengakibatkan perkumpulan kami kehilangan seorang tiancu yang mengakibatkan kekuatan perkumpulan kami merosot sekali. Maka jika kucari biang keladinya. Dalam kegagalanku, orang itulah biang keladinya. Andaikata di dunia ini tiada Kiu-ma-kiam-kek, tentu saja Kwa Gi-taun tak akan berhianat dan kawin lari dengannya. Andaikata dia tidak kawin lari maka kekuatan dari perkumpulan kami pun tak akan mengalami kemerosotan hebat. Coba bayangkan sendiri tidak pantaskah kulenyapkan biang keladi dari peristiwa itu?"

Hoa In-liong benar-benar amat gusar, hawa amarah yang berkecamuk dalam tubuhnya serasa menyesakkan napas, dia menghembuskan napas panjang-panjang, maksudnya untuk sedikit mengurangi tekanan dalam dadanya, setelah itu dengan suara nyaring kembali bentaknya.

"Membuat-buat alasan untuk menjatuhi hukuman kepada orang yang tak bersalah, itulah yang bisa dilakukan manusia-manusia macam kau, Hm! Nyonya Yu itukah pembunuhnya?"

"Yang diartikan pembunuh tak lebih hanya pesuruh dalam melaksanakan perintah, buat apa kau tanyakan tentang dia?"

Tiba-tiba gadis cantik jelita bak bidadari dari kahyangan itu menyela sambil mendengus dingin.

Dengusan itu benar-benar dingin, sedingin salju dari kutub utara.

Gadis itu cantiknya memang cantik, tapi dinginnya cukup membuat badan orang jadi menggigil.

Sejak tiba disana dia cuma berdiri kaku tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Bukan saja tidak berbicara, senyumpun tak pernah.

Tapi setelah tiba-tiba saja berbicara, suasana lebih dingin dari salju di kutub.

Kendatipun nadanya merdu seperti keliningan, akan tetapi kedengaran dalam telinga orang seperti desingan angin dingin yang merasuk sampai ke dalam tulang.

Kejut dan heran Hoa In-liong menghadapi manusia sedingin itu.

Cepat sinar matanya dialihkan keatas wajah nona tadi.

Bagaimanapun juga ia tak percaya kalau kata-kata yang sangat dingin tadi diucapkan oleh nona secantik bidadari itu.

Setelah termenung beberapa saat, tiba-tiba ia bertanya.

"Tolong tanya, siapakah nona?"

"Tiancu istana neraka Bwee Su-yok!"

Jawab gadis cantik itu dengan nada tetap dingin. Mendengar nama itu, Hoa In-liong makin terkejut.

"Ooooh...... Jadi perempuan ini adalah Tiancu istana neraka dari perkumpuan Kiu-im-kau?"

Pikirnya.

Perlu diketahui, susunan organisasi dalam perkumpulan Kiu-im-kau dimasa lalu terdiri dari sang kaucu sebagai pucuk pimpinan dengan dua istana dan tiga ruangan besar sebagai pembantupembantunya.

Kedua istana yang dimaksudkan adalah istana neraka dan istana penyiksaan.

Sedangkan tiga ruangan terdiri dari ruang propaganda, ruang penerimaan anggota serta ruang kesejahteraan anggota.

Para tiancu dan tongcu yang mengepalai kedua istana dan ketiga ruangan besar itu merupakan panglima-panglima tertinggi dalam perkumpulan Kiu-im-kau dengan kedudukan langsung dibawah Kekuasaan kaucu.

Tapi kalau dibicarakan dari tingginya kedudukan serta lihaynya ilmu silat, maka tak bisa diragukan lagi Tiancu istana nerakalah yang terhitung manusia nomor satu dibawah kedudukan kaucu.

Hoa In-liong adalah loji dari keluarga Hoa di perkampungan Liok-soat-san-ceng dalam bilangan bukit In-tiong-san, tentu saja sedikit banyak dia mengetahui juga tentang persoalan-persoalan itu.

Padahal nona yang berada dihadapannya sekarang baru berusia enam-tujuh belasan, tapi mengakunya sebagai Tian-cu istana neraka dari Kiu-im-kau tak heran kalau anak muda itu merasa amat terperanjat.

Kejut dan heran jadi satu kejadian, watak romantisnya juga merupakan kejadian yang lain.

Hakekatnya kecantikan wajah Tiancu istana neraka Bwee Su-yok memang tak terkirakan.

Tak heran kalau Hoa In-liong jadi termangu-mangu dibuatnya.

Untuk sesaat dia jadi melamun, benaknya terasa kosong dan penuh diisi oleh lamunan yang beraneka macam.

Timbul pikiran dalam benaknya untuk memeluk pinggangnya yang ramping itu dan mencium bibirnya yang mungil.

Tiba-tiba terdengar Kiu-im-kaucu tertawa.

"Hoa siau-hiap!"

Dia menegur "Coba pandanglah tiancu istana nerakaku ini, cantikkah dia?"

Terkesima Hoa In-lioag memandang kecantikan nona itu, ia buat setengah sadar setengah tidak oleh keadaan tadi, maka ketika mendengar pertanyaan itu, dengan cepat pemuda itu mengangguk.

"Cantik.....! Cantik....! Cantik....!"

Pujinya berulang kali dengan nyaring.

"Cantik kentutnya!"

Teriak Coa Cong-gi pula dari samping "Huuuh, tampang semacam monyet juga dikatakan cantik, bah! Jadi pelayan yang tukang bersih tong berisi kotoran manusiapun, belum tentu adikku mau menerimanya"

"Itu yang dinamakan cantiknya cantik bau busuk!"

Nona baju hitam yang berada di kejauhan segera menimpali.

"Hmm..... Sudah tahu kalau ilmu silatnya tak dapat menandingi keluarga Hoa, maka diaturnya siasat Bi jin-ki (siasat wanita cantik) untuk menjebak anak orang Huuh...! Manusia menyebalkan namanya!"

Baru saja perkataan itu selesai diucapkan, Kiu-im-kaucu sudah tertawa terbahak bahak.

"Haa..... haa..... haa......... Nona cilik, besar amat rasa cemburu?"

Godanya.

"Cemburu kentut busuk makmu!"

Damprat Si Nio dengan marah.

"Kami selalu berusaha untuk membereskan nyawa si bocah keparat dari keluarga Hoa itu, kenapa musti cemburu cemburu macam kunyuk?"

Selama beberapa orang itu saling cekcok dan bersilat lidah sehingga suasana jadi amat gaduh, Yu beng-tiancu Bwee Su-yok tetap berdiri kaku bagaikan sebuah patung arca.

Bukan saja ia tak menggubris, bahkan sikapnya acuh tak acuh, seakan-akan ia tidak mendengar segala sesuatupun dari sekitar tempat itu.

Tindak tanduknya yang kaku dan dingin tidak menunjukkan perobahan emosi itu membuat orang beranggapan bahwa gadis itu memang dilahirkan tanpa membawa perasaan.

Hoa In-liong tersentak kaget dari lamunannya oleh bentakan Coa Cong-gi yang amat keras itu.

Setelah termenung sebentar, dia tersenyum kembali.

Dihampirinya Tiancu istana neraka Bwee Su-yok dengan langkah tegap, kemudian sambil memberi hormat dia berkata.

"Oooooh.....! Rupanya engkau adalah Bwee tiancu, terimalah salam dan hormatku ini"

"Hmmm! Tak usah banyak lagak"

Tukas Bwee Su-yok, tiancu istana neraka itu ketus "Kalau ada persoalan, lebih baik utarakan saja secara blak-blakan!"

Hoa In-liong sama sekali tidak tersinggung oleh sikap nona itu, kembali ia tertawa lebar.

"Dalam dunia persilatan sering tersiar kata yang menyebut. Hutang darah harus dibayar dengan darah. Apakah nona Bwee pernah mendengar tentang kata-kata semacam itu?"

"Oooh..... Jadi engkau menghendaki nyawa dari sipembunuh keluarga Suma....?"

Bukan menjawab Bwee Su-yok malahan balik bertanya.

"Menghendaki nyawa sipembunuh itu sama artinya melakukan pembalasan dendam. Haaa..... haaa...... haaa...... Soal itu sih tak perlu kupusingkan. Aku Cuma mendapat perintah dari ayahku untuk menyelidiki duduknya perkara atas peristiwa berdarah itu. Aku ingin tahu siapakah otak atau dalang dari pembunuhan ini? Siapa pembunuh sesungguhnya? Siapa yang membantu perbuatan keji itu? Siapa saja yang ikut dalam rombongan pembunuh itu? Bagaimanakah akibat dari kejadian itu? Dan apa tujuan dari pembunuhan berdarah itu? Bila nona bersedia memberi keterangan kepadaku, tentu saja aku akan merasa berterima kasih sekali atas bantuanmu itu!"

"Hmmm! Banyak juga persoalan yang ingin kau ketahui!"

Ejek Bwee Suyok sinis. Hoa In-liong tersenyum.

"Tak boleh takabur, tak boleh bicara sembarangan adalah syarat paling penting yang harus dipegang teguh oleh orang-orang keluarga Hoa kami dalam menyelesaikan segala macam persoalan. Sedikit saja persoalan sepele yang kelewatan kemungkinan besar akan mengakibatkan kesalahan yang fatal, oleh karena itu......."

Belum habis dia berbicara kembali Bwee Su-yok telah mendengus dingin, katanya dengan sinis.

"Hmmm.....! Kalau berbicara saja lagaknya sok bijaksana dan setia kawan, tapi perbuatannya..... Huuuh, menyebalkan! Sayang ayahmu sudah mengirim seorang utusan yang salah!"

Hoaln-liong sama sekali tidak tersinggung atau marah oleh ejekan nona itu, dia malah balik bertanya.

"Kalau begitu, menurut pengamatan nona Bwee siapakah yang sepantasnya diutus oleh ayahku?"

"Semestinya dia harus muncul sendiri untuk melakukan penyelidikan terhadap peristiwa tersebut!"

Mendengar jawaban itu, Hoa In-liong segera merasa hatinya bergerak, dengan cepat dia berpikir.

"Aaah......! Benarlah sudah, orang ini sengaja berbicara pulang pergi putar kesana putar kemari, rupanya sedang menyelidiki gerak-gerik da ri ayahku. Haaa....... Haaa...... haaa...... kenapa tidak kutipu saja perempuan ini biar runyam?"

Sebagaimana diketahui, Hoa In-liong adalah pemuda yang binal dan paling suka berbohong.

Apa yang dipikir dalam benaknya selalu dilaksanakan pula dengan cepat, maka setelah mendapat ide tersebut dia pun tersenyum.

"Nona Bwee, kelirulah jalan pikiranmu itu! Ketahuilah, Suma siok-ya ku itu adalah satu-satunya adik angkat dari mendiang kakekku maka ketika secara tiba-tiba dia orang terbunuh ditangan orang, dalam gusarnya nenekku telah mengutus semua anggota keluarga Hoa untuk melakukan penyelidikan terhadap peristiwa ini. Kalau semua orang sudah diutus keluar, memangnya ayahku dapat dikecualikan? Haa...... haa...... haa........ Siapa tahu kalau pada saat ini dia orang tua telah tiba juga di kota Kim-leng?"

Pada hakekatnya perkataan itu diutarakan olehnya secara ngawur dan bohong semua.

Bila orang mau meneliti kata-katanya itu, tidaklah sukar untuk menemukan titik-titik kelemahannya.

Apa mau dikata ucapan itu diutarakan olehnya dengan lancar, kemudian sebagai penutup kata pemuda itu pun tertawa tergelak.

Ini semua membuat orang-orang yang hadir disekitar arena itu jadi percaya.

Untuk sesaat semua orang tertegun dan tak tahu apa yang musti dilakukan.

Ditengah keheningan yang mencekam seluruh arena, tiba-tiba terdengar Ciu Hoa berbaju perlente itu berbisik.

"Lo-sam, ayoh kita pergi dari sini!"

Tanpa menunggu jawaban dari Ciu Hoa bermuka kuda lagi, dia ulapkan tangannya ke arah kawan laki-laki berbaju ungu itu dan berlalu lebih dulu menuruni bukit Ciong-san.

Pada saat yang bersamaan, Si Nio menarik pula ujung baju si nona berbaju hitam sambil berbisik.

"Nona tempat ini sudah tak berguna lagi bagi kita, ayoh kitapun pergi dari sini!"

"Tidak!"

Jawab nona baju hitam itu berkeras kepala.

"Kita harus tunggu sebentar lagi disini!"

Sementara itu Coa Cong-gi sudah tertawa terbahak bahak setelah menyaksikan kejadian itu ejeknya.

"haaa.... Haa...... haa..... Bagus! Bagus! Begitu mendengar Hoa pek-hu akan datang, semua badut dan kunyuk sialan pada lari pontang panting. Itu baru namanya pengecut sejati. Haa..... haa..... haa........Puas, sungguh memuaskan"

Paras muka Kiu-im-kaucu pun agak berubah ketika mendengar berita itu.

Tapi bagaimanapun juga dia adalah seorang ketua dari suatu perkumpulan besar, baik dalam soal pengalaman maupun dalam hal ketenangan perempuan tua itu mempunyai kelebihan dari pada orang lain.

Hanya sebentar dia kaget, menyusul kemudian paras mukanya telah pulih kembali seperti sedia kala.

"Hoa siauhiap!"

Ucapnya kemudian sambil tersenyum.

"Engkau pandai amat membohongi orang!"

"Ada apa?"

Sengaja Hoa In-liong mengerdipkan matanya.

"Toh percaya atau tidak terserah pada keputusan kaucu sendiri. Aku kan sama sekali tidak bermaksud menggertak dirimu?"

Bwee Su-yok segera mendengus dingin.

"Hmm.....! Hoa Thian hong juga sama-sama manusia, dia tak akan mampu menggertak atau menakut-nakuti siapapun!"

"Betul! betul sekali perkataan itu!"

Sambung Hoa In-liong cepat dengan suara nyaring.

"Ayahku bukan malaikat. Dia sudah datang kesini atau belum sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan tugas yang dibebankan diatas pundakku. Nona, kecantikanmu bagaikan bidadari hatimu ramah dan berbudi luhur. Dapatkah engkau memberitahukan kepadaku, apakah pembunuhnya adalah nyonya Yu? Dengan begitu, bila aku sampai bertemu kembali dengan ayahku, dapat kuberikan pertanggungan jawab sebagaimana mestinya"

Beberapa patah kata ini bukan saja sama sekali tidak merosotkan kedudukan serta nama baik ayahnya, bahkan diapun memperingatkan Bwee Su-yok bahwa gadis itupun seorang manusia pula.

Pemuda itu memang cerdik dan pandai berbicara, dalam kata-kata yang serba gagah dan terbuka ini, selain disampaikan perasaan ingin membaiki nona itu dan bermaksud mendekatinya tanpa harus berterus terang kepada Bwe Su-yok, lagipula diapun seolah-olah sedang berkata demikian.

"Engkau juga seorang manusia! Kenapa sikapmu musti dingin dan kaku berlagak ssperti sebuah bukit salju?"

Andaikata Bwee Su-yok dapat memahami arti dari perkataannya itu, niscaya dia akan dibikin tersipu-sipu.

Sepasang sinar mata Bwee Su-yok segera memancarkan sinar tajam yang menggidikkan hati.

Rupanya dia agak gusar dibuatnya.

Setelah termenung sejenak, tiba-tiba ujarnya lagi dengan dingin.

"Hanya mencari tahu siapa pembunuhnya tanpa menyelidiki siapa biang keladinya, darimana kau bisa memberi pertanggungan jawab? Bagaimana mungkin kau bisa memberi laporan? Hmm! mencari muka menjilat pantat, sungguh suatu sikap yang memuakkan. Bila engkau masih juga tak tahu diri. Heee..... heee.... hee.... Jangan salahkan kalau nonamu akan menjatuhi hukuman yang sangat berat kepadamu"

"Mencari muka menjilat pantat, sungguh Suatu sikap yang memuakkan"

Beberapa patah kata itu benar-benar suatu makian yang tidak sungkan sungkan.

Bukan saja nona itu membongkar maksud Hoa In-liong yang sesungguhnya, bahkan diapun telah menyatakan pula sikap sendiri.

Mendengar kata-kata itu, kontan saja Kiu-im-kaucu tertawa terbahak-bahak.

"Haa...... haaa..... haa...... Bagus! Bagus-sekali anak Yok, sekarang gurumu bisa merasa bangga sekali!"

"Yok-ji tak berani melupakan pengharapan dari engkau orang tual"

Jawab Bwee Su-yok tetap dingin.

Bwee Su-yok tak lain adalah anak murid dari Kiu-im-kaucu dan sikapnya yang dingin dan kaku itu sebenarnya bukan watak alamiah, dahulu-dia tidak bersikap sedingin itu.

Hoa In-Hong membungkam dalam seribu bahasa dalam namun diam-diam ia berpikir lagi.

"Yang dimaksudkan "pengharapan"

Yang dimaksudkan "kebanggaan"

Tentulah persoalan yang menyangkut tentang penghianatan siok coubo dan Giok Teng hujin.

Haa.....

haa.....

haa...

Benarkah engkau bakal merasa bangga?

Aku Hoa loji pasti akan mencoreng moreng mukamu dan membuat engkau benar-benar merasa amat kecewa"

Pemuda ini bukan saja binal, diapun sangat romantis.

Pada mulanya dia hanya merasa wajah Bwee Su-yok amat cantik menawan hati.

Dia hanya bermaksud untuk mendekatinya atau tegasnya pemuda itu sama sekali tak berniat untuk melangkah lebih kedepan.

Akan tetapi sekarang, setelah timbul keinginannya untuk bikin susah Kiu-im-kaucu.

Tentu saja rencananya semula dirubah sama sekali.

Kini ia tak akan lepas tangan sebelum gadis itu benarbenar jatuh ke tangannya.

Demikianlah, setelah ia mempunyai rencana dalam hatinya, anak muda itu tertawa tergelak.

"Nona Bwee, perkataanmu itu terlalu berlebihan!"

Ia berkata.

"Sekalipun aku berbicara blakblakan, itu bukan berarti aku adalah seorang pemuda yang memuakkan. Berbicara terus terang saja, sekalipun kecantikan nona luar biasa sekali, namun kecantikanmu itu masih belum cukup untuk menggerakkan hatiku, apalagi dalam pandanganku saat ini sudah....."

Belum habis ucapan tersebut diutarakan, Bwee Su yok telah membentak nyaring.

"Tutup mulutmu! Jangan membuat perbandingan dengan nonamu sebagai Sasaran pembicaraan"

"Eeeeh..... Lucu amat nona ini!"

Hoa In-liong pura pura tercengang dibuatnya.

"Aku membanding-bandingkan siapa? Aku toh sedang membicarakan tentang..... Oooya, baiklah, persoalan itu lebih baik tak usah dibicarakan lagi! Mari kita kembali ke pokok pembicaraan yang sebenarnya"

Setelah berhenti sebentar, dengan muka berpura pura bersungguh-sungguh ia berkata lebih jauh.

"Tadi nona menegur, aku kenapa tidak mencari tahu siapa biang keladinya? Dan kalau biang keladinya belum diketahui dari mana aku bisa memberikan pertanggungan jawabnya? Tentang persoalan ini, kembali nona keliru besar!"

Terlampau cepat pemuda ini mengalihkan pokok pembicaraannya.

Untuk sesaat Bwee Su-yok tak dapat memberikan tanggapannya, ia jadi gelagapan dan tak tahu apa yang musti dilakukan.

Hoa In-liong tersenyum, ujarnya lebih jauh.

"Biang keladinya ada dua orang. Yang satu adalah gurumu sedang yang lain adalah ketua dari perkumpulan Hian-beng-kau. Adapun alasannya adalah mereka iri dan cemburu oleh kesuksesan serta kejayaan yang berhasil dicapai keluarga Hoa kami, maka digunakannya peraturan perguruan dan menghukum penghianat sebagai alasan untuk menciptakan pelbagai pembunuhan berdarah. Maksudnya asal terjadi peristiwa berdarah lagi dalam dunia persilatan, maka ayahku pasti dapat dipaksa pula untuk munculkan diri kembali. Bukankah begitu nona Bwee?"

Selesai berkata sepasang alis matanya lantas mengenyit, sepasang matanya melotot besar dan menantikan jawaban dari Bwee Su-yok.

Sementara itu Bwee Su-yok telah pulih kembali dalam sikapnya yang semula, dingin, ketus dan hambar.

Ia mendengus dingin, jengeknya dengan sinis.

"Hmmm..... Bergaya seorang pintar, memangnya kau anggap jalan pikiranmu itu benar?"

"Benar atau tidak adalah urusan pribadiku sendiri"

Hoa In-liong tersenyum manis.

"Tolong nona terangkan saja, siapakah pembunuh yang sebenarnya dari pembunuhan berdarah itu?"

"Menurut anggapanmu pembunuhnya adalah Yu In?"

Bwee Su-yok balik bertanya.

"Memangnya bukan dia?"

Hoa In-liong pura-pura berlagak seperti orang tercengang.

"Hmmm!....! Terus terang kukatakan kepadamu pembunuhnya adalah orang lain, sedang otak pembunuhan tersebut adalah Ku Ing-ing!"

Kontan saja Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak.

"Haaa..... haa...... haa..... Nona tak usah menyelimurkan persoalan. Giok Teng hujin kan sudah lama meninggal dunia? Mana mungkin menjadi dalang dari pembunuhan berdarah itu?"

"Hee..... hee..... heee...... Mau percaya atau tidak terserah padamu sendiri, nona kan tidak memaksa engkau untuk mempercayai perkataanku?"

Hoa In-liong terbungkam sesaat.

"Baiklah"

Akhirnya ia berkata "Untuk sementara waktu biarlah kuanggap perkataan nona memang benar. Kalau memang begitu, tolong tanya siapakah pembunuh yang sebenarnya itu?"

"Aku lihat engkau kan memiliki keyakinan besar atas kemampuanmu? Kenapa tidak melakukan sendiri atas persoalan itu? Kenapa aku musti memberitahu kepadamu?"

"Baik! Baik! Aku akan pergi menyelidikinya sendiri, aku akan pergi menyelidikinya sendiri!"

Dia lantas putar badan dan ulapkan tangannya ke arah nona baju hitam itu, serunya lantang.

"Nona, mari kita pergi dari sini!"

Baru selesai dia berseru, Bwee Su-yok telah menggerakkan badannya menghadang jalan pergi mereka.

"Berhenti.!"

Bentaknya.

Perlu diterangkan disini, ilmu meringankan tubuh serta ilmu langkah Loan-ngo-heng-mi-sian-tunhoat (dewa pemabuk lima unsur yang kacau) yang dimiliki anggota perkumpulan Kiu-im-kau boleh dibilang sebagian besar dilatih oleh Ke thian-tok, tongcu dari ruang kesejahteraan.

Sebaliknya ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Bwee Su-yok saat ini adalah didikkan langsung dari Kiu-im-kaucu.

Ilmu kepandaian tersebut amat sakti dan jauh lebih hebat daripada ilmu langkah Loan ngo heng mi sian tun hoat tersebut.

Tak sempat dilihat gerakan apa yang dia lakukan, tahu-tahu gadis itu sudah berada didepan mata Hoa In-liong.

Diam-diam Hoa In-liong merasa terperanjat sekalipun diluaran senyum manis masih menghiasi ujung bibirnya.

"Eeeh.... Ada apa ini?"

Pura-pura teriaknya "Apakah nona Bwee masih ada petunjuk bagiku?"

Sekilas pandangan saja ia dapat menangkap membaranya kobaran api amarah dibalik sinar mata Bwee Su-yok.

Tampaknya kemarahan nona itu sudah mencapai puncak kehebatannya yang tak terkendalikan lagi.

Sekalipun dia cerdik, namun apa yang terpapar dihadapan matanya tetap merupakan suatu teka-teki.

Dia tak tahu apa sebabnya secara tiba-tiba nona itu jadi sangat marah.

"Kau harus mampus!"

Bentak Bwee Su-yok dengan wajah dingin dan suara menyeramkan. Hoa In-liong sangat terkejut, cepat pikirnya.

"Kenapa musti begitu? Toh aku tiada ikatan dendam atau sakit hati dengan perempuan ini, kenapa ia begitu membenci diriku? Sekalipun Kiu-im-kaucu pernah menelan pahit getir ditangan orang-orang keluarga Hoa kami, tidak sepantasnya kebencian itu tersalur ketubuh muridnya.... dan sikapnya yang dingin dan mengerikan itu tidak semestinya berubah-ubah dengan begitu cepatnya!"

Sementara dia masih termenung, Bwee Su-yok telah mendengus lagi.

"Hmmm! Orang-orang keluarga Hoa pandai menggaet hati perempuan dengan mengandalkan ketampanan wajahnya. Untuk melenyapkan perbuatan busuk kalian itu, sedikit banyak nona harus merusak tampang wajahmu itu. Ayoh cepat turun tangan, kenapa masih juga termangu-mangu seperti orang bodoh?"

Setelah mendengar penjelasai itu, Hoa In-liong baru memahami duduknya persoalan.

"Oooh.....! Jadi kalau begitu nona merasa penasaran dan tak terima bagi para cianpwe perkumpulanmu?"

Katanya.

"Kalau memang begitu, maka perbuatan nona keliru benar! Pujangga besar jaman kuno pernah berkata demikian dalam bukunya. Nona-nona yang cantik adalah pasangan yang ideal bagi laki laki sejati. Orang kuno berkata pula. Lelaki yang normal adalah lelaki yang tertarik pada kaum wanita. Soal cinta antara laki laki dan perempuan adalah suatu kejadian yang almiah dan normal. Suatu cinta kasih baru bisa terjalin bila antara kedua jenis manusia itu mempunyai perasaan saling tertarik dan perasaan saling jatuh cinta. Sedang kecantikan dan ketampanan hanya pelengkap saja dari suatu hubungan cinta kasih"

Makin berbicara pemuda itu makin lancar akhirnya terlontarlah kuliah soal "cinta"

Yang panjang lebar dan bertele-tele. Tampaknya Bwee Su-yok tidak sabar mendengarkan kuliah soal cinta itu, tiba-tiba bentaknya.

"Kapan selesainya kuliahmu yang memuakkan itu?"

Hoa In-liong tersenyum.

"Nona merasa tidak terima bagi para cianpwe mu, sedang jalan pikiranmu terlampau picik, apa lagi masalah itu menyangkut ayahku, mendingan kalau aku tidak tahu. Setelah mengetahui kejadian ini maka bagaimanapun juga harus kuberi keterangan yang sejelas-jelasnya kepada nona, agar engkau tidak berpandangan picik lagi"

"Hmmm! Siapa yang sudi mendengarkan keteranganmu?"

Bentak Bwee Su-yok semakin marah "Cabut pedangmu dan siap bertempur!"

Sambil membentak dia maju selangkah lagi ke depan. Hoa In-liong segera mundur selangkah kebelakang, ujarnya lagi.

"Eeeh.... Nona manis, kenapa musti tergesa-gesa? Sekalipun Kiu-im-kau tidak mendesak terus menerus, cepat atau lambat akhirnya toh akupun akan mencabut pedang pula untuk bertempur. Tapi sekarang aku merasa tenggorokanku tersumbat, rasanya kurang lega hatiku bila kata-kata tersebut tidak diucapkan keluar. Kalau toh engkau bertempur, lebih baik tunggu saja sampai ucapanku selesai diutarakan keluar!"

Tidak menunggu pertanyaan dari Bwee Su-yok lagi, dia melanjutkan kembali kata-katanya.

"Menurut apa yang kuketahui, Giok Teng hujin dari perkumpulan kalian adalah seorang pengagum watak ayahku. Mereka berdua bergaul dalam batas sebagai kakak dan adik, belum pernah hubungan tersebut ditingkatkan menjadi sitatu hubungan yang kelewat batas. Kemudian suhumu kemaruk harta dan ingin merampas kitab kiam-keng dari tangan ayahku. Dia menyiksa Giok Teng hujin dengan siksaan Im-hwe-lian-hun (api dingin melelehkan sukma) yang amat keji itu dengan tujuan memaksa ayahku menyerah dan serahkan kitab pusakanya kepada gurumu. Mendengar kabar itu ayahku dan Cui-in taysu segera berangkat ke kota Cho-ciu untuk memberi pertolongan. Siapa tahu ketika Giok Teng hujin menjumpai ayahku, ia berkata bahwa lebih rela mati disiksa daripada melihat ayahku terdesak dan harus menyerahkan kitab pusaka kiam-keng nya untuk ditukar dengan jiwanya. Melihat kekejian alat siksa itu, ayahku jadi sedih bercampur marah. Hampir saja dia akan membantai semua anggota perkumpulan Kiu-im-kau untuk melampiaskan rasa dendamnya itu" (Untuk mengetahui jalannya peristiwa itu, silahkan membaca Bara Maharani oleh penyadur yang sama). Setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan kembali kata-katanya.

"Nona, mungkin engkau tak tahu, ayahku adalah seorang manusia yang berjiwa besar dan ramah, belum pernah dia orang tua marah-marah tanpa sebab. Belum pernah dia melukai orang tanpa alasan. Bayangkan sendiri nona, ayahku menjadi teramat gusar karena menyaksikan kerelaan Giok Teng hujin menerima siksaan yang keji daripada menyaksikan dia didesak orang, apakah engkau tak dapat menghargai kebesaran cintanya? Rela berkorban demi kepentingan orang lain adalah suatu perbuatan yang mulia. Apakah nona tetap berpandangan jelek dan mencemooh Giok Teng hujin setelah mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya?"

Bwee Su-yok menjengek sinis, seakan akan sama sekali tidak mendengar akan perkataan itu, ujarnya dengan sinis.

"Sudah selesaikah perkataanmu itu? Kalau sudah selesai, sekarang kau boleh cabut keluar pedangmu!"

Hoain-lioag terkesiap, dengan wajah termangu pikirnya.

"Bagaimana sih perempuan ini? Masa sepatah katapun tidak ia dengarkan perkataanku ini? Manusia macam apakah sebenarnya orang itu? Ataukah mungkin darahnya memang dingin?"

Tiba-tiba si nona baju hitam yang selama ini membungkam ikut berteriak keras.

"Cabut pedang yaa cabut pedang, apa yang luar biasa pada dirimu itu?. Hmm..... Hoa kongcu, ayoh cabut keluar pedangmu!"

Bwee-Su-yok segera berpaling, sinar matanya yang setajam sembilu menatap wajah si nona baju hitam itu tajam-tajam, kemudian bentaknya dengan ketus.

"Engkau juga harus mampus, lebih baik kalian berdua maju bersama-sama!"

Si nona baju hitam itu mendengus dingin dia sudah siap untuk melompat maju kedepan, tapi belum selangkah nona itu maju Si Nio telah menarik tangannya.

"Nona!"

Seru perempuan jelek itu dengan cemas.

"Masih ingatkah kau, apa tujuan kita datang kesini? Lebih baik urusan orang lain jangan kita campuri!"

Coa Cong-gi yang selama ini membungkam terus, tiba-tiba saja tergelak.

"Haa..... haa..... haaa.... Sekarang aku sudah mengerti...... Sekarang aku sudah mengerti....!. Oooh... jadi rupanya dia sedang merasa cemburu!'"

"Siapa yang sedang cemburu?"

Tanya Hoa In-liong dengan wajah keheranan. Coa Cong-gi langsung menuding ke arah tiancu istana neraka Bwee Su-yok, katanya lagi sambil terbahak bahak.

"Haaa.. ha..... haa.... Siapa lagi? Tentu saja dia! Nona Bwee si tiancu istana neraka itu!"

Belum habis dia berkata, dengan garang Bwee Su-yok sudah menerkam kedepan.

"Kurang ajar, rupanya kau ingin mampus!"

Bentaknya dengan suara menyeramkan.

Telapak tangannya dengan disertai tenaga pukulan yang maha dahsyat langsung disodok kepunggung Coa Cong-gi.

Gerakan tubuh Bwee Su-yok benar-benar sangat cepat bagaikan sambaran geledek.

Jarak sejauh beberapa kaki itu hanya ditempuh dalam sekejap mata tahu-tahu telapak tangannya yang putih halus tapi penuh berisikan tenaga dalam itu sudah muncul didepan mata.

Andaikata pukulan tersebut benar-benar bersarang diatas sasarannya, sekalipun tidak sampai mati, paling sedikit Coa Cong-gi akan menderita luka dalam yang parah.

Coa Cong-gi sendiripun merasa amat terkejut ketika ucapannya sampai ditengah jalan, tahu-tahu terdengar suara bentakan nyaring serta munculnya desingan angin pukulan yang menyergap punggungnya.

Dalam keadaan gugup dan tak mungkin untuk menghindarkan diri lagi, serta merta anak muda itu jatuhkan diri berguling keatas tanah, kemu dian menyingkir sejauh satu kaki lebih.

Gagal dengan serangannya yang pertama, Bwee Su-yok melompat lagi kedepan dan mengejar musuhnya, sekali lagi telapak tangannya disapu ke depan menghantam tubuh lawannya.

Hoa In-liong sangat terperanjat menyaksikan serangan itu, dia segera berteriak keras.

"Nona Bwee, ampuni selembar jiwanya!"

Berbareng dengan bentakan itu, tubuhnya melambung ke udara dan langsung menghadang didepan perempuan itu, lengan kirinya diayun kedepan dengan jurus Kun-siuci tau (perlawanan terakhir dari binatang binatang yang terjebak), kemudian buru-buru disambutnya angin serangan Bwee Su-yok yang maha dahsyat tadi.

Ketika angin pukulan saling bertemu, terjadilah suatu ledakan keras yang memekikkan telinga bayangan manusia saling berpisah dan masing masing melayang turun keatas tanah.

Menggunakan kesempatan tersebut, Coa Cong-gi segera menekan permukaan tanah dan melejit ke angkasa, dari situ dia mundur sejauh tiga langkah lebih.

Paras muka Bwee Su-yok sedingin salju, diantara biji matanya jeli terpancar hawa nafsu membunuh yang tebal.

Dengan ketus bentaknya kembali.

"Kenapa harus mengampuni jiwanya? Kalian semua harus mampus ditanganku"

Ditengah bentakannya yang amat nyaring, telapak tangan kanannya bergerak cepat.

"Criiing....!"

Tahu tahu ditangannya itu telah bertambah dengan sebilah pedang lemas yang tipis bagaikan kertas, tapi memancarkan sinar keperak-perakan yang menyilaukan mata.

Pedang semacam ini disebut juga Kiam wan (pil pedang).

Lebarnya hanya beberapa inci dengan panjang empat depa.

Kedua belah sisinya tajam dan pedang itu terbuat dari baja asli yang berkwalitet tinggi.

Karena sifatnya lemas maka bila pedang itu tidak dipakai dapat digulung seperti bola.

Bila disimpan didalam sebuah kulit yang bulat maka besarnya hanya seperti kepalan tangan.

Bila akan dipakai maka asal tombol rahasianya di tekan, secara otomatis pedang lemas yang amat tajam itu akan membantul keluar.

Jadi bila pedang itu disimpan dalam kulit baja, maka senjata tersebut seolah-olah tertelan didalam gagang pedang, bukan saja praktis, enteng juga mudah dibawa-bawa.

Pedang lemas semacam ini jarang sekali dijumpai dalam dunia persilatan, pertama karena senjata itu tidak mudah untuk membuatnya.

Kedua, pedang lemas semacam ini penggunaannya jauh lebih sukar daripada penggunaan pedang tipis.

Bila tenaga dalam yang dimiliki orang itu kurang sempurna atau jurus serangannya kurang hafal atau mungkin juga tenaga dalam yang dimiliki musuhnya jauh lebih tangguh daripada dirinya, maka ja ngan dibilang melukai musuhnya, bisa jadi diri sendirilah yang akan termakan oleh senjata itu.

Sementara itu, Bwee Su-yok telah meloloskan pedang lemasnya, entah dengan cara apa dia menyentak senjata tersebut, tahu tahu pedarg lemas yang tipisnya seperti kertas itu sudah menegang keras bagaikan sebatang toya baja.

Dari sini terbuktilah sudah bahwa tenaga dalam yang dimiliki nona itu betul betul sudah mencapai puncak kesempurnaan.

Terperanjat juga Hoa In-liong menyaksikan kejadian itu.

Coa Cong-gi yang sudah bangkit berdiri dan semula masih dibakar oieh api kegusaran, setelah menyaksikan kelihayan musuhnya mengkeret juga dibuatnya, dia tak berani turun tangan lagi secara gegabah.

Kembali Bwee Su yok menggetarkan pergelangan tangannya, ujung pedang itu ditudingkan ke muka, lalu dengan wajah menyeringai hardiknya keras keras.

"Eeehh... engkau sebetulnya mau cabut keluar pedangmu atau tidak? Ketahuilah, mau cabut pedangmu atau tidak, nona sama saja akan membunuh kau. Sampai waktunya jangan salahkan kalau nona bertindak kejam kepadamu!"

Dalam pada itu, secara lapat-lapat Hoa In-liong telah merasa bahwa gadis cantik berwajah dingin kaku yang berada dihadapannya ini pada hakekatnya masih mempunyai perasaan yang sensitif se-perti kebanyakan orang lain.

ini terbukti dari kemarahannya yang begitu memuncak setelah mendengar ocehan Coa Cong-gi yang menuduh dia sedang cemburu.

Sebab hanya manusia berperasaan sensitiflah yang gampang tersinggung oleh cemoohan atau ejekan orang lain.

Pemuda ini wataknya terbuka dan tak senang menyelidiki orang sampai seteliti-telitinya, apalagi setelah dipaksa terus menerus oleh Bwee Su-yok dengan caranya yang sinis itu, sontak gengsinya sebagai seorang laki-laki tersinggung.

Pedang pendeknya digetarkan keras-keras sampai memperdengarkan suara dengungan yang memekakkan telinga, kemudian dengan lantang dia berkata.

"Nona Bwee, eagkau terlalu sombong dan takabur, sekalipun tidak sampai kucabut nyawamu, tapi pantatmu akan kuhajar sebagai peringatan atas keangkuhanmu itu. Nah, bersiap-siaplah! Sebentar aku akan tangkap badanmu dan gebuk pantatmu itu...."

Bwee Su-yok semakin gusar, saking marahnya pucat pias wajahnya yang cantik itu, badannya ikut menggigil, sambil menggigit bibir ia mendengus lalu menerjang kemuka sambil melepaskan sebuah tusukan kilat.

Hoa In-liong tentu saja tak sudi unjukkan kelemahannya didepan orang.

Baru saja dia akan menggerakkan pedangnya untuk menangkis, tiba-tiba tampak sesosok bayangan hitam berkelebat lewat, menyusul kemudian orang itu membentak nyaring.

"Tunggu sebentar!"

Bayangan hitam yang menghalangi terjadinya pertempuran itu bukan lain adalah Kiu im-kaucu.

Pada waktu itu air muka Kiu im kaucu kelihatan sangat mengerikan.

Sepasang matanya merah penuh nafsu membunuh, rambutnya yang telah beruban bergoyang-goyang kencang walaupun tiada angin yang berhembus lewat, rupanya ia se dang merasa gusar sekali.

Mendengar bentakan itu, Hoa In-liong segera membatalkan maksudnya untuk menangkis dan mundur selangkah kebelakang.

Sedangkan Bwee Su yok menarik kembali pedang lemasnya dan menyingkir kesamping.

Dengan tatapan mata yang tajam, Kiu-im-kaucu memandang sekejap dua orang muda mudi itu tiba-tiba ujarnya dengan suara dingin.

"Yok-ji, tampankah Hoa siauhiap ini?"

OOOOoooOOOO "ADA APA?"

Seru Bwee Su-yok seperti orang tercengang.

"Apakah Yok-ji telah melakukan perbuatan salah?"

Sinar mata yang memancar dari mata Kiu-im-kaucu berkilat tajam, bukan menjawab kembali dia membentak.

"Jawab pertanyaanku, cepat! Dia terhitung tampan atau tidak?"

Bwee-Su-yok menoleh dan memandang sekejap wajah Hoa In-liong dengan ragu-ragu, lalu sahutnya.

"Tidak....tampan"

"Jangan banyak berpikir!"

Kembali Kiu-im-kaucu membentak nyaring.

"Jawabannya tak boleh dua, ayoh cepat, beri jawaban yang tegas!"

"Dia bermuka tampan atau tidak, apa sangkut pautnya dengan Yok-ji?"

Bantah Bwee Su-yok.

"Kenapa kau orang tua........."

"Jangan banyak bertanya, ayoh segera jawab!"

Tukas Kiu-im-kaucu lagi sambil mengetukkan toya baja kepala setannya ke atas tanah. Mula-mula Bwee Su-yok agak tertegun, menyusul kemudian sahutnya setengah menjerit.

"Tampan! Tampan! Tampan!"

Agaknya Kiu-im-kaucu merasa sangat puas dengan jawaban tersebut, dia menarik napas panjang sekulum senyuman menghiasi bibirnya, lalu mengangguk dengan lirih.

"Hmmm! Ternyata tidak membohongi aku......! Ternyata tidak membohongi aku..... Kalau begitu aku memang sedang menguatirkan soal yang sama sekali tak perlu!"

Menyaksikan sikap musuhnya yang sebentar marah sebentar girang, lalu memaksa muridnya menjawab pertanyaan yang sama sekali tak ada gunanya itu, Hoa In-liong menjadi keheranan dan berdiri tertegun.

Ia tidak habis mengerti mengapa musuhnya harus berbuat begini?

Tampaknya Bwee Su-yok juga tidak dapat memahami maksud tujuan gurunya, dengan alis berkenyit katanya sambil cemberut.

"Kenapa Yok-ji mesti membohongi engkau orang tua? Soal apa yang kau orang tua musti kuatirkan tentang diri Yok-ji?"

Kiu-im-kaucu menengadah dan tertawa.

"Kejadian yang sudah lewat biarkanlah lewat kau tak usah banyak bertanya lagi! Pokoknya yang penting, engkau harus selalu teringat akan nasehat dari gurumu"

Bwee Su-yok mengangguk, sahutnya dengan sikap yang sangat hormat.

"Yaa! Yok-ji akan mengingatkan selalu, dikolong langit tak ada seorang laki-lakipun yang merupakan orang baik, semakin tampan orang itu semakin busuk hatinya"

Wajah maupun sikapnya yang dingin, kaku dan hambar itu pulih kembali seperti sedia kala.

Nada pembicaraanpun kembali jadi dingin seperti salju sedikitpun tidak membawa emosi.

Melihat dan mendengar keketusan muridnya itu Kiu-im-kaucu tampak merasa puas sekali, tak kuasa lagi ia tertawa terbahak-bahak.

Sampai disini, Hoa In-liong pun dibuat mengerti juga dengan keadaan yang selang dihadapinya.

Rupanya keketusan dan sikap dingin yang dimiliki Bwee Su-yok saat ini bukanlah watak yang alamiah, melainkan watak dari hasil didikan orang lain yang dilakukan sejak dari gadis itu masih kecil.

Karena itu juga, diapun berpikir didalam hati.

"Aaaah....suatu sistim pendidikan yang sungguh sungguh mengerikan! Padahal usia gadis itu masih sangat muda, wajahnya juga cantik, sepantasnya kalau dia hidup dalam kebebasan dan kegembiraan. Yaa....nona yang begitu polos dan sederhana telah dididik Kiu im kaucu menjadi Giok Kwan-im yang tak bersukma. Tak heran kalau jalan pikirannya begitu picik, tak heran kalau dia bersikeras hendak membunuh aku!"

Siapa tahu jalan pemikiran si anak muda inipun keliru besar, sekalipun tingkah laku dan pembicaraan seorang manusia erat sekali hubungannya dengan pendidikan yang diterimanya, namun pendidikan itu sendiri tak dapat melenyapkan watak almiah dari manusia.

Bwee Su-yok bisa naik pitam dan tiba-tiba saja berkobar nafsu membunuhnya boleh dibilang sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan sikap dingin, kaku dan ketus yang ditunjukkan dara itu.

Tidak sepantasnya pemuda itu menyinggung gengsi dan harga diri Bwee Su-yok.

Tidak seharusnya pemuda itu berkata.

"Walaupun nona cantiknya memang cantik, namun kecantikan itu belum cukup untuk menggerakkan hatiku"

Serta kemudian sikap dan tindak tanduknya yang mencemooh.

Selain daripada itu, sepantasnya kalau pemuda itu tidak menunjukkan pula sikap mesrahnya dengan nona berbaju hitam itu.

Bwee Su-yok bukan gadis buta yang tak dapat melihat, sudah tentu dia tahu bahwa dia lebih cantik bila dibandingkan dengan nona baju hitam itu, tapi kenyataannya pemuda itu lebih tertarik pada gadis yang tidak lebih cantik daripadanya dibandingkan menaruh perhatian kepadanya, tentu saja sebagai seorang gadis remaja Bwee Suyok jadi tak tahan.

Manusia yang normal adalah manusia yang mengenal arti cinta, laik-laki atau perempuan semuanya mempunyai perasaan semacam itu, sebab gaya tarik memang selalu terdapat dalan tubuh laki-laki maupun perempuan.

Selain daripada itu, delapan sampai sembilan puluh persen wanita cantik didunia ini adalah egois (lebih mementingkan diri sendiri).

Hoa In-liong tampan lagi gagah, bukan saja lihay ilmu silatnya baik pula budinya sekalipun Bwee Su-yok dibesarkan dalam pendidikan yang keliru dan berpandangan picik, sekalipun sikapnya dingin kaku dan tidak beremosi, tapi dalam hati kecilnya dia masih mempunyai daya tarik terhadap lawan jenisnya.

Sejak pandangan yang pertama, kegagahan dan ketampanan pemuda itu telah meninggalkan kesan yang cukup mendalam.

Sayang pemuda itu telah mengucapkan kata-kata yang menyinggung perasaan dan gengsi gadis itu.

Apalagi sedari kecil ia sudah mendapat pendidikan yang keliru, dalam keadaan demikian semakin yakinlah dia bahwa apa yang diucapkan gurunya....

makin tampan seorang lelaki makin busuk hatinya adalah benar.

Serta merta hawa nafsu membunuh daiam hati gadis itu pun berkobar.

Tentang soal ini, mungkin Hoa In-liong tidak menyangkanya sama sekali, tapi Kiu-im-kaucu dapat merasakan hal tersebut.

Sebab itulah dengan suara yang lantang dan nyaring ia bertanya kepada Bwee Su-yok dengan pertanyaannya yang serba aneh, menanti Bwee Su-yok memberi jawabannya yang jujur disertai teriakan nyaring dan sikapnya pulih kembali dalam keketusan dan dingin, ia baru merasa puas dan berlega hati.

Suasana dalam arena kembali pulih dalam kesunyian, yang terdengar hanya gelak tertawa Kiuim-kaucu yang bangga dan nyaring.

Ditengah gelak tertawa yang memekikkan telinga itu, pelanpelan Kiu-im-kaucu maju kedepan, dibelainya bahu gadis she Bwee itu, kemudian tanyanya dengan lembut.

"Yok-ji bencikah engkau kepadanya?"

"Aku tidak tahu"

Sahut Bwee Su-yok dingin.

"Tapi aku muak sekali melihat tampangnya!"

Kiu-im-kaucu mengangguk beberapa kali.

"Ehmmm! Yok-ji, kau memang anakku sayang sebenarnya boleh saja kau bunuh orang itu, tapi aku masih membutuhkan dirinya, maka pergi dan tawanlah orang itu hidup-hidup!"

"Baik!"

Sahut Bwee Su-yok.

"Sreeet!"

Dia menyimpan kembali pedang lemasnya, kemudian dengan wajah dingin dan langkah yang tegap selangkah demi selangkah dihatn pirinya pemuda Hoa In-liong.

Kiu-im-kaucu putar badannya, memandang bayangan punggung muridnya itu dia tertawa bangga sambungnya lebih jauh.

"Hati-hati! Ilmu silat keluarga Hoa bukan kepandaian yang bisa dianggap remeh, jangan sampai kau hancurkan merek gurumu!"

Tiba-tiba Coa Cong-gi menerkam ke muka, teriaknya setengah menjerit.

"Bagus sekali! Akan kuremukkan papan merekmu itu. akan kulihat kau siluman tua bisa berbuat apalagi!"

Sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan ke depan menghantam dada Bwee-Su-yok.

Serangan yang dilancarkan ini bukan saja disertai tenaga dalam yang maha dahsyat, kecepatannya pun bagaikan sambaran kilat, belum habis ucapannya diutarakan, serangan yang keras dan kuat bagaikan gulungan ombak ditengah samudera itu sudah menerjang ke arah dada gadis itu.

Bwee-Su yok memang sungguh-sungguh amat lihay.

Sedikit saja badannya miring ke samping, tahu-tahu serangan yang maha dahsyat itu sudah di hindarinya.

Ditengah dengusan dingin tangan tangan kanannya mencengkeram kemuka mengancam urat nadi diatas pergelangan tangan Coa Cong-gi.

Sementara tangan kirinya yang tajam bagaikan pisau membacok tekukan sikutnya, bukan begitu saja malahan kaki kanannya ikut melayang kedepan menendang jalan darah Tan-tian dipusar.

Satu jurus dengan tiga gerakan, bukan saja enteng dan gesit, bahkan tajam dahsyat dan luar biasa lihaynya.

Hoa In-liong terhitung seorang pemuda yang dapat menguasai perasaan sendiri, akan tetapi setelah menyaksikan jalannya pertarungan itu, bergidik juga hatinya.

Tampaknya aliran ilmu silat yang dianut Coa Cong-gi sejalan dengan tabiatnya, keras berangas dan dan mengandalkan tenaga besar.

Masih mendingan kalau ia tidak bertarung, sekali turun tangan maka tubuhnya menerjang terus kedepan, sedikit pun tidak merasa gentar atau takut.

Tampak telapak tangannya ditekan ke arah langsung disodok ke belakang menumbuk disapu ke samping mencengkeram jalan maupun menukar gerakan, semuanya memperdulikan ke selamatan jiwa sendiri.

bawah, tubuhnya mendadak berputar keras, sikutnya jalan darah Mia-bunhiat.

Sementara tangan kirinya darah cian-keng-hiat di bahu, baik berganti jurus dilakukan de ngan ganas, sama sekali tidak "Woouw, suatu gerakan serangan yang ganas dan tekebur!"

Teriak Kiu-im-kaucu lantang.

"Eeh.. anak muda, engkau adalah anak murid siapa....?"

"Anak murid diri sendiri!"

Sahut Coa Cong-gi ketus.

Seraya berkata, tubuhnya secepat kilat berputar kencang.

Kepalan dan telapak tangannya dipergunakan berbareng.

Dalam waktu singkat dia telah melancarkan tiga buah jotosan dan tujuh buah pukulan telapak tangan yang tajam.

Sebetulnya anak muda itu maksudnya hendak berkata bahwa ilmu silatnya adaran ajaran keluarga, tapi oleh karena wataknya terlalu berangasan lagi pula sedang melancarkan serangan berantai, jawaban yang kemudian diucapkan malahan menjadi suatu jawaban seperti orang segan menyahut.

Kiu-im-kaucu mendengus dingin, tiba-tiba dia berseru.

"Seng tongcu, kau maju dan layanilah engkoh cilik ini bermain-main beberapa jurus!"

Seorang kakek pendek, kecil yang memelihara jenggot kambing dijanggutnya disudut arena sana segera mengiakan dan masuk kedalam gelanggang bentaknya dengan suara lantang.

"Lohu bernama Seng Sin-sam, akan melayani beberapa jurus serangan darimu!"

Dengan suatu loncatan kilat ia menerjang masuk ke arena, telapak tangannya secepat kilat dibabat kebawah membacok dada kiri Coa Cong-gi.

Sementara itu Bwee Su-yok telah melayang mundur ke belakang, dengan suara berat katanya .

"Tangkap dia, aku minta dalam keadaan hidup!"

Kemudian sambil putar badan, dia menuding ke arah Hoa In-liong sambil ujarnya lagi dengan dingin.

"Orang she-Hoa, kaucu ada perintah yang melarang nonamu membunuh kau, sekarang kau boleh menyerang dengan legakan hatimu!"

"Ooooo..... Tadi kan sudah kukatakan, aku hendak menabok pantatmu karena kau nakal...."

Belum habis ucapan itu, si nona baju hitam telah menerjang kedepan sambil berseru.

"Hoa kongcu. silahkan pergi dari sini! Mereka andalkan jumlah banyak, tidak menguntungkan bagi kita untuk melayani kurcaci-kurcaci tersebut!"

Bwee-su-yok semakin naik pitam, kembali ia membentak keras.

"Kek Tongcu, tangkap perempuan itu!"

Ditengah bentakan nyaring, segesit dia mengigos kesamping menghindarkan diri dari sergapan nona baju hitam, kemudian ia berbalik menerjang ke arah Hoa In-liong lagi.

Pada saat yang bersamaan, seorang kakek tinggi besar yang berkepala botak melayang masuk ke dalam arena, ia langsung menghadang jalan pergi si nona baju hitam.

Si Nio yang melihat majikannya terhadang, serta merta menerjang pula kedepan, dia kuatir majikannya menemui celaka.

"Telur busuk!"

Makinya.

"Kami tak ada sangkut pautnya dengan orang she Hoa itu. ayoh cepat menyingkir, kami akan berlalu dari sini!"

Si Nio benar-benar amat setia terhadap majikannya, dia tak ingin menyaksikan majikannya berhubungan dengan Hoa In-liong, lebih-lebih tak ingin membiarkan dia bertempur dengan orang-orang Kiu-im-kau, tapi lantaran wataknya yang berangasan.

Begitu selesai berbicara, telapak tangan kanannya langsung diayun kemuka menghantam dada Kek Tongcu itu.

Orang she Kek ini bernama Kek Thian tok, dia adalah seorang anggota lama dari Kiu-im-kau, malahan terhitung bawahan yang paling kuno sebab pengabdiannya semenjak kaucu angkatan yang lalu, sekarang dia menjabat sebagai ketua ruangan kesejahteraan anggota, bukan saja kedudukannya terhormat, ilmu silat yang dimiliki juga bebat sekali.

Dengan suatu langkah yang aneh tiba-tiba ia memutar badannya, entah dengan gerakan apa, tahu-tahu tubuhnya yang tinggi besar itu sudah berada dibelakang punggung Si Nio telapak tangannya segera dihantam keatas jalan darah Leng-tay-hiat ditubuh perempuan itu.

"Hmm! Rupanya engkau memang sudah bosan hidup......"

Bentaknya. Si nona baju hitam merasa amat terkejut, serta merta ia menerjang ke muka sambil berteriak.

"Si Nio, hati-hati" . Telapak tangannya diayun, langsung menyongsong datangnya ancaman dari Kek Thian-tok.

"Blaaaang....,..!"

Ketika dua pasang telapak tangan saling beradu, terjadilah suatu ledakan keras yang memekikkan telinga.

Sekujur badan sinona baju hitam itu terpukul miring kesamping dan secara beruntun mundur delapan langkah dari tempat semula sebelum akhirnya berhasil untuk berdiri tegak kembali.

Keadaan Kek Thian-tok sendiripun tidak begitu menyenangkan, badannya terseret miring kesamping oleh angin pukulan itu.

Rupanya Si Nio merasakan gelagat yang kurang menguntungkan, serta merta ia melesat beberapa kaki kedepan dengan badan hampir menempel diatas permukaan tanah, dengan suatu gerakan yang mendebarkan hati loloslah sinenek jelek itu dari ancaman maut.

Semua kejadian ini berlangsung hampir bersamaan waktunya, sementara Hoa In-liong masih bertarung sengit melawan Bwee Su-yok.

Keadaan sinona baju hitam itu sudah keteter hebat, tampaknya ia tak sanggup untuk melakukan perlawanan lebih jauh.

Melihat keadaan tersebut, Hoa In-liong jadi terkejut sekali, dia mengepos tenaga dalamnya dan memaksa mundur Bwee Su-yok, lalu pedang pendeknya dilontarkan ke muka sambil teriaknya dengan penuh kecemasan dan kekuatiran.

"Nona, sambutlah pedang ini!"

"Criiiit....!"

Diiringi suara desingan tajam yang memekikkan telinga, pedang pendek itu dergan memancarkan sinar berwarna keperak-perakan meluncur ke muka.

Kebetulan sekali Kek Thian-tok sedang bergerak maju dan melancarkan terjangan untuk kedua kalinya ke arah nona baju hitam saat itu, dengan melesatnya sang pedang pendek itu, otomatis ujung pedang itu mengancam keatas punggung Kek Thian-tok.

Untunglah Toagcu dari ruang Kesejahteraan perkumpulan Kiu-im-kau ini terhitung seorang jago kawakan, baik ketajaman dalam penglihatan maupun ketajaman dalam pendengaran boleh dibi lang cukup tangguh, tatkala merasakan tibanya de singan angin tajam, dengan ketakutan buruburu badannya bertiarap keatas tanah.

"Sreeet!"

Dengan membawa desingan angin tajam, pedang pendek itu meluncur tepat diatas batok kepalanya dan melayang ke arah dada si nona baju hitam.

Dari kejauhan si nona baju hitam itu dapat merasakan pula desingan angin tajam yang dibawa pedang pendek itu sangat memekikkan telinga, dan lagi tenaga luncurnya belum lemah, dia tak berani menyambut dengan begitu saja, terpaksa kakinya bergeser selangkah ke samping, terhindar dari sambaran senjata itu, pedang pendek tadipun rontok ke tanah.

Si-Nio menyambar pedang pendek itu dengan kecepatan luar biasa, lalu menerjang kedepan, ben-taknya keras-keras.

"Nona. cepat lari! biar setan tua ini aku yang hadang......"

Pedangnya menggeletar nyaring, dengan membawa desingan yang menggidikkan hati dia tusuk dada Kek Thian tok. Bwee-Su-yok semakin kalap menyaksikan kejadian itu, teriaknya setengah menjerit.

"Bunuh dia! Bunuh perempuan itu sampai mampus!"

Agaknya kemarahan yang berkobar dalam dada perempuan itu sudah mencapai pada puncaknya.

Sinar mata yang memancar keluar mengerikan sekali, telapak tangannya berputar kesana kemari, desingan angin jari mendesis kesekeliling gelanggang.

Semua jalan darah penting ditubuh Hoa In-liong terancam dibawah serangannya, ini membuat si anak muda itu mau tak mau harus mengerahkan pelbagai macam ilmu tangguhnya untuk mempertahankan diri.

Walaupun demikian, pemuda itu masih juga keteter hebat dan tak mampu mempertahankan diri, dia terdesak berada dibawah angin.

Syarat terpenting yang harus diperhatikan oleh jago-jago lihay yang sedang bertempur adalah ke-tenangan serta pemusatan pikiran dan perhatian ke satu titik.

Ketika Hoa In-liong masih bisa bertempur dengan memusatkan pikiran tadi, kedudukannya masih lumayan.

Tapi setelah dilihatnya si nona baju hitam itu terancam bahaya dan bukan tandingan Kek Thian-tok, karenanya pedang pendek yang dipakainya itu disambit kembali kepada nona itu agar nona tadi bisa melawan dengan ketajaman senjatanya, justru karena perhatiannya bercabang, ia jadi kehilangan posisi yang menguntungkan, dan untuk sesaat tak mampu mengembalikan lagi posisinya yang tidak menguntungkan itu.

Bwee Su-yok memang masih muda, usianya baru belasan tapi kepandaian silat yang dimilikinya luar biasa sekali.

Apa lagi mukanya sekarang diliputi keketusan dan keseraman yang mencekam hati, seakan-akan gadis itu sudah lupa kalau Kiu-im-kaucu telah berpesan untuk menangkap musuhnya dalam keadaan hidup.

Baju putihnya sebentar bergerak kekiri sebentar lagi bergerak kekanan, semua serangan yang digunakan seolah-olah merupakan jurus mematikan yang mengerikan hati, ini membuat lawannya jadi semakin keteter bebat.

Hoa In-liong sendiri, sekalipun posisinya sangat tidak menguntungkan.

Namun kejadian itu tidak membuat hatinya jadi gugup.

Memang keteguhan hati dan ketenangan adalah pokok utama yang diandalkan ayahnya untuk melepaskan diri dari kesulitan.

Dihari-hari biasa diapun selalu mendidik anak-anaknya untuk mengutamakan keteguhan hati.

Oleh sebab itulah meskipun Hoa In-liong berada dalam posisi yang menyulitkan, namun sikapnya tetap tenang dan keteguhan hati betul-betul tercermin dari setiap gerak-geriknya.

Sekarang ia tidak mengharapkan keuntungan tapi lebih mengutamakan keselamatan.

Karena itu bila Bwee Su-yok ingin melukai pemuda itu dalam beberapa gebrakan saja jelas hal ini tak mungkin terjadi.

Begitulah, kedua orang itu saling menyerang dengan gencarnya, dalam waktu singkat dua puluh gebrakan sudah lewat.

Sekalipun terjadi perbedaan antara yang terdesak dan pihak yang menyerang namun untuk menentukan siapa menang siapa kalah masih merupakan suatu tanda tanya besar.

Jilid 12 DITENGAH pertarungan, Hoa In-liong berpikir dihatinya.

"Apa yang sebenarnya telah terjadi? Bukankah Kiu-im-kaucu telah berkata dengan jelas bahwa dia menghendaki aku dalam keadaan hidup? Kenapa perempuan ini malahan begitu bernafsu untuk membunuh aku? Kalau toh ingin membunuh aku, kenapa tidak ia gunakan pedang lemasnya?"

Sebuah telapak tangan yang kecil dan putih tiba-tiba mencengkeram ke arah dadanya, ini memaksa anak muda itu harus segera menarik kembali lamunannya, ia berjongkok kesamping, tangannya digetarkan keatas dan dengan kelima jari tangannya yang direntangkan bagaikan kuku garuda, dicengkeramnya urat nadi diatas pergelangan lawan.

Bwee Su-yok miring kesamping menghindarkan diri dari serangan Kim-liong-tam-jiau (naga emas mengunjukkan cakarnya) si anak muda itu, mendadak telapak tangannya ditekan kebawah dan membacok jalan darah cian-heng hiat dibahunya, sementara jari tangan kirinya setegang tombak menusuk jalan darah Hu-ciat-hiat dilambung.

Hu-ciat-hiat merupakan jalan darah pertemuan ditubuh manusia, apa bila tempat itu sampai tertotok, maka hawa darah akan membuyar kesamping, jiwapun otomatis terancam.

Padahal serangan itu dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, cukup dari desingan angin serangannya dapat diketahui bahwa ancaman tersebut benar-benar mengerikan.

Hoa In-liong sangat terkejut, buru buru ia memutar badannya kesamping untuk menghindarkan diri.

Tiba-tiba terdengar Coa Cong-gi berteriak keras.

"Seng lo kui (setan tua), mau bunuh mau cincang aku orang she Coa tak nanti mengerutkan dahi, tani kalau engkau hendak mempermainkan diriku....."

"Hmmm......! Jangan salahkan kalau aku orang she Coa akan mencaci maki dirimu....."

Tongcu penerimaan anggota, Seng-Sin-sam tertawa seram.

"Heeeh..... hee...... hee...... kaucu ada perintah untuk melayani sobat muda bermain sebanyak beberapa jurus, sedang akupun hanya melaksanakan perintah belaka, mau maki mau marah silahkan saja, yang pasti aku tak berani membunuh dirimu!"

Coa Cong-gi memang seorang laki laki yang berangasan, begitu terjun kedalam gelanggang dia lantas melancarkan serangkaian serangan yang meng getarkan hati.

Dengan pukulan pukulannya yang serba keras dan penuh bertenaga, mula mula ancamannya itu mendatangkan juga hasil yang diinginkan, tapi lama kelamaan dengan usianya yang muda dan tenaga dalamnya yang serba terbatas puluhan jurus kemudian tenaga serangannya makin mengendor, akhirnya pukulan-pukulan yang di lancarkan juga makin lemah jadinya.

Seng-Sin-sam sendiri sebagai seorang Tongcu tentu saja memiliki ilmu silat yang tinggi, sudah puluhan tahun ia berkelana dalam dunia persilatan.

Baik pengetahuan maupun pengalamannya boleh dibilang luas sekali, ditambah lagi dia adalah seorang manusia yang licik dan banyak akalnya.

Sejak awal pertarungan, dia hanya bergerilya belaka memeras tenaga Coa Cong-gi, menanti jalannya pertarungan sudah dikuasahi, dia baru pukul sana hantam kemari seperti orang lagi mempermainkan musuhnya.

Pada hal hakekatnya ia sedang mencari kesempatan untuk menyarangkan pukulannya ketubuh lawan.

Sayang musuhnya ini berani mati.

Ilmu silatnya juga istimewa, bertarung sekian lama dia belum berhasil juga untuk memenuhi harapannya.

Coa Cong-gi semakin berang, ketidak-sabarannya membuat mukanya sampai ketelinga jadi merah padam, napasnya ngos-ngosan seperti kerbau.

Serangan yang dilancarkan juga semakin ngawur.

Hoa In-liong merasa amat terperanjat cepat teriaknya dengan suara lantang.

"Tenang.....! Tenang.....! Saudara Cong-gi, Jangan keburu nafsu, bertempurlah pelan-pelan...."

Bagaikan bayangan setan, Bwee Su-yok menerjang maju kemuka, bentaknya dengan dingin.

"Sudah, kamu tak usah campuri urusan orang lain, uruslah dirimu sendiri"

Telapak tangannya segera diayun kedepan menghajar batok kepala anak muda itu.

Cukup keji serangan tersebut bahkan tenaganya bagaikan bukit Thay san yang memindah di atas kepala.

Dalam kejutnya Hoa In-liong berusaha untuk berpaling sambil berkelit, tapi sayang terlambat, ia saksikan telapak tangan musuh yang putih bagaikan pualam itu tahu-tahu sudah berada beberapa inci diatas kepalanya.

Untunglah disaat yang amat kritis itu terdengar Kiu-im-kaucu membentak nyaring.

"Aku menginginkan yang hidup!"

Bentakan tersebut penuh bernada kemarahan yang memuncak.

Bwee-Su-yok terperanjat, gerakan tangannya segera terhenti ditengah jalan.

Menggunakan kesempatan itu Hoa In-liong menjejakkan kakinya dan mundur delapan depa ke belakang, dengan demikian loloslah dia dari ancaman tersebut.

Hoa In-liong memang jauh berbeda dengan manusia biasa, bila orang biasa yang baru lolos dari ancaman bahaya maut, niscaya nyalinya akan pecah dan peristiwa itu akan mengakibatkan kemarahan yang mendekati kalap.

Sebaliknya Hoa In-liong tetap tenang, dipandangnya sekejap sekeliling arena pertarungan, kemudian sambil mengerahkan tenaga dalamnya dia membentak nyaring.

"Tahan!"

Bentakan itu diutarakan dengan tenaga penuh, kerasnya bagaikan guntur yang membelah bumi di siang hari bolong, membuat jantung orang bukan saja berdebar keras, telingapun jadi sakit rasanya.

Jangan dibilang Coa Cong-gi yang memang keteter hebat, Si Nio berdua yang sedang bertarung melawan Kek Thian-tok pun berada dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan.

Ketika mendengar bentakan tadi, semuanya terkejut dan serta merta juga pertarungan pun terhenti.

Paras muka Kiu-im-kaucu agak berubah, diam-diam pikirnya didalam hati kecil.

"Hebat juga tenaga dalam yang dimiliki bocah itu, rasanya tidak berada dibawah kemampuan Hoa Thianhong. Aku tak boleh terlalu memandang enteng orang ini!"

Sementara dihati kecil dia berpikir demikian, diluaran segera tegurnya dengan lantang.

"Ada apa? Ada persoalan yang hendak kau ucapkan....?"

Hoa In-liong tidak menggubris pertanyaan itu, dia berpaling ke arah Si Nio yang masih berdiri dengan muka menyeringai dan serunya.

"Kau boleh temani nonamu untuk, berlalu lebih dulu dari sini!"

Si Nio tertegun, kemudian serunya mendadak.

"Dengan dasar apakah engkau memerintah aku....?"

"Persoalan yang sedang kami hadapi sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan diri kalian berdua maka kuanjurkan janganlah mencampuri urusan ini!"

Maksud dari ucapan anak muda itu cukup jelas, ia telah bersiap sedia melangsungkan pertempuran mati-matian, maka diharapkan orang yang tak ada sangkut pautnya dengan kejadian itu dipersilahkan untuk berlalu lebih dulu.

"Tidak....!"

Si nona baju hitam itu segera menampik.

"Kalau mau pergi, kita harus pergi bersamasama!"

"Nona tak usah kuatir"

Kembali Hoa In-liong membujuk, aku kan sudah berkata bahwa urusan ayahmu tak akan kucampuri?

Pokoknya bila persoalan ditempai ini sudah selesai, aku pasti akan mencari nona untuk merundingkan lagi tentang persoalan ini"

"Huuuh......"

Enak benar kalau bicara, bagaimana kalau seandainya kau mampus?"

Sela Si Nio dengan suara parau.

"Ngaco-belo!"

Bentak nona baju hitam dengan muka dingin.

"Siapa yang suruh engkau mencampuri urusan ini? Sana menyingkir jauh jauh dari sini"

"Aku tidak mengapa ada, semua perkataanku adalah sejujurnya. Andaikata dia sampai mati terbunuh Kiu-im-kaucu, bukankah kita akan menggigit jari?"

Tentu saja dibalik semua persoalan itu, sebetulnya terdapat suatu hubungan yang aneh sekali dan hubungan itu cukup membingungkan mereka mereka yang terlibat.

Tak bisa diragukan lagi, si nona baju hitam itu menaruh kesan yang sangat mendalam terhadap Hoa In-liong, akan tetapi diapun menguatirkan keselamatan ayahnya, karena itu perasaannya jadi serba salah, caranya berbicarapun jadi mengarah dua bagian.

Sebaliknya Si Nio amat setia kepada majikannya.

Apa yang dikuatirkan cuma keselamatan majikan tuanya.

Selain itu diapun kuatir majikan mudanya terjebak dalam jaring cinta, maka setiap saat dia berusaha menyakiti hati Hoa In-liong, sedang keputusan dan caranya berpandangan pun sangat tegas.

Hoa In-liong pribadi hakekatnya tidak mempunyai prasangka apa-apa.

Dia mengira apa yang diucapkan Si Nio adalah kata-kata yang sejujurnya dan tujuan si nona baju hitam membantu dirinya serta menguatirkan keselamatan jiwanya juga tak lain demi keselamatan ayahnya, sebab itu dia cuma tertawa ewa.

"Sudah..... pergi!, pergi sana!"

Serunya sambil ulapkan tangan.

"Aku yakin masih mempunyai kemampuan untuk menjaga diri, kalian tak usah menyia-nyiakan waktu bagi urusan yang tak penting lagi!"

Terdengar Bwee Su-yok mendengus dingin dengan bibir dicibirkan, sedangkan Siau Ciu yang selama ini hanya membungkam terus, sekarangpun berseru sambil tertawa seram.

"Heeeh.... hee...... heee...... mau pergi? Aku rasa tak akan segampang itu!"

Hoa In-liong mengalihkan pandangan matanya kesekeliling gelanggang, lalu tersenyum.

"Ooooh....! Rupanya saudara Siau juga terhitung salah seorang anggota Kiu-im-kau. Suatu kejadian yang sama sekali tak terduga bagiku!"

Ejeknya.

Lantaran soal Wan Hong-giok yang dicintainya Siau Ciu merasa benci sekali terhadap Hoa Inliong boleh dibilang rasa bencinya itu sudah merasuk kedalam tulang sumsum.

Mendengar itu, dia celingukan kesana kemari, kemudian katanya.

"Hmmm! Engkau gemar bermain perempuan kesana kemari, berani menggaet juga sumoay aku orang she Siau....."

Mendadak perkataannya terputus sampai ditengah jalan, dia menjura kepada Kiu-im-kaucu dan berkata.

"Hamba minta ijin untuk turun ke gelanggang"

"Kau hendak beradu tenaga dengan Hoa siau-hiap?"

Tanya Kiu-im-kaucu dengan sangsi.

"Hamba minta ijin untuk menahan perempuan itu!"

Jawab Siau Ciu dengan hormat.

"Huuuh.... kamu itu manusia macam apa?"

Maki Hoa In-liong dengan suara mendongkol. Siau Ciu menengadah lalu menjawab.

"Aku hendak menggunakan cara yang sama untuk menghadapi dirimu. Kau telah merampas pacarku, maka sekarang aku orang she Siau juga akan bunuh kekasihmu ini, akan kusuruh engkau bagaimana sengsaranya orang patah hati!"

Hoa In-liong betul-betul dibuat menangis tak bisa tertawapun tak dapat, tapi ia masih berusaha mengendalikan hawa amarahnya. Dalam keadaan begini ia betul-betul segan untuk memberi perjelasan.

"Hmmmm.....! Bagus, bagus sekali"

Serunya sambil mendengus dingin "kalau engkau memang merasa bernyali, kenapa tidak bertempur saja melawan diriku?"

"Hmmm, engkau adalah milikku, kenapa musti cerewet?"

Tukas Bwee Su-yok dari samping dengan dingin "Kalau ingin turun tangan, ayolah kulayani keinginanmu itu!"

Telapak tangannya segera diayun kedepan, segulung angin pukulan yang maha dahsyat segera meluncur kedepan. Hoa In-liong miringkan badannya menghindarkan diri dari ancaman tersebut, kemudian hardiknya.

"Tunggu sebentar!"

Setelah berhenti sejenak, dengan sinar maita yang tajam tiba-tiba ia berpaling ke arah Kiu-imkaucu, lanjutnya.

"Sebelum terjadi peristiwa apa-apa, hendak kuperingatkan lebih dulu kepadamu, andaikata ada orang hendak menyusahkan Si Nio berdua, Heeh.... hee.... hee..... Kaucu! Jangan salahkan kalau aku akan bertindak kejam!"

Tiba-tiba nona berbaju hitam itu berseru.

"Siapapun jangan harap bisa menyuruh aku tinggalkan tempat ini, kalau tidak...... Aduh!"

Rupanya tanpa menimbulkan sedikit suarapun Si Nio menotok jalan darah kakunya.

Begitu majikannya terkulai, dengan gerakan paling cepat disambarnya nona itu, lalu sambil mengempitnya dengan gerakan cepat perempuan jelek itu meluncur turun ke bawah bukit.

Siau-Ciu menggerakkan tubuhnya akan mengejar tapi Kiu im kaucu keburu berseru dengan lantang.

"Kembali! Biarkan mereka pergi...."

Siau Ciu tak berani membangkang, terpaksa dia menghentikan gerakan tubuhnya dan melotot sekejap ke arah Hoa In-liong dengan gemas.

Hoa In-liong sendiri pura pura tidak melihat, dia malah berpaling ke arah Cong-gi sambil berkata.

"Saudara Cong-gi, engkau juga harus pergi dari sini!"

"Kenapa musti pergi?"

Teriak Cong-gi dengan mata melotot dan dan alis mata berkenyit.

"Memangnya kau anggap aku adalah seorang pengecut yang takut mampus?"

Hoa In-liong tersenyum.

"Tentu saja tidak!"

Sahutnya.

"Kiu-im-kaucu hendak menangkap siaute. Sekalipun aku tak tahu apa maksud tujuannya, tentu saja siaute tak dapat menyerah dengan begitu saja, maka siaute akan bertempur mati matian melawan mereka!"

"Kalau memang begitu, ayolah kita kerjakan!"

Teriak Coa Cong-gi dengan lantang.

"Sekalipun harus mampus, delapan belas tahun kemudian aku juga akan hidup lagi sebagai seorang lakilaki"

"Saudara Cong-gi, aku kagum sekali oleh kegagahanmu, akan tetapi sebagaimana pun juga....."

"Sudah, kau tak usah banyak bicara lagi, kalau mau bertempur ayoh kita lakukan sekarang juga!"

"Dengarkan dulu perkataanku"

Bujuk In-liong "Jika aku mati kaulah yang berkewajiban untuk membalaskan dendam bagiku, apalagi....

Yaa, harap saja saudara Cong-gi jangan tersinggung, hakekatnya ilmu silatmu bukan apa-apaku.

Bila engkau turut campur bukannya membantu malah justru akan memecahkan perhatianku.

Aku justru malahan tak bisa pusatkan perhatian untuk ber-tempur melawan mereka"

Perkataan semacam itu boleh dibilang sangat blak-blakan dan berterus terang, andaikata orang lain yang diucapi kata-kata seperti itu, sedikit banyak mereka akan berpikir dua kali.

Apa mau di bilang Coa Cong-gi adalah pemuda yang setia kawan.

Dia tak mau tahu soal lain kecuali tujuannya.

Maka berbicara dengannya sama juga seperti tidak berbicara sama sekali.

Tampak sinar matanya berkilat, lalu dengan suara tak senang hati teriaknya.

"Kenapa? Memangnya cuma kau saja yang boleh tunjukkan kebolehannya sedang orang lain tidak boleh? Kalau kau suruh aku kabur meninggalkan teman, lantas jadi apakah aku Coa Cong-gi dimata orang?"

Melihat kekerasan hati rekannya itu. Hoa In-liong jadi cemas, serunya lagi.

"Tapi dalam soal ini bukan soal setia kawan atau tidak, situasi yang kita hadapi sekarang......"

"Sudah, tak usah banyak bicara lagi, aku tak mau mendengarkan!"

Tukas Coa Cong-gi tiba-tiba dengan suara keras.

Begitu selesai berteriak, dia lantas melompat ke depan Seng Sin-sam dan langsung mengayunkan kepalanya untuk menyerang.

Setelah beristirahat sebentar, tenaga dalamnya telah pulih kembali seperti sedia kala, otomatis tenaga serangannya juga amat hebat pula.

Seng Sin-sam cepat berkelit kesamping menghindarkan diri dari serangan musuh yang lihay, kemudian sambil menerjang maju kedepan dia balas melancarkan serangan berantai.

Begitulah, pertarungan pun segera berkobar.

Dua orang itu saling menyerang dengan gencarnya.

Angin pukulan bayangan telapak tangan memenuhi seluruh angkasa, untuk sesaat mereka bertempur dalam keadaan seimbang dan sama kuat.

Melihat rekannya sudah bertempur, Hoa In-liong pun tak bisa berbuat apa-apa lagi, dia lantas berpikir.

"Rasa setia kawannya setinggi langit, Yaa... aku harus kagum dan berterima kasih kepada dia"

Lapun berpaling kepada Kiu-im-kaucu, lalu ujarnya dengan dingin.

"Aku ingin mergisahkan semua cerita, bersediakah kaucu untuk mendengarkan?"

"Eeee... dalam keadaan semacam inipun kau masih berniat untuk bercerita?"

Tanya Kiu-im-kaucu keheranan.

"Ooooh....Ceritanya pendek sekali, tak akan makan waktu terlalu banyak untuk mengisahkannya!"

Kiu-im-kaucu tersenyum.

"Kalau engkau memang punya kegembiraan untuk berbuat demikian, ceritakanlah, aku akan mendengarkannya dengan seksama!"

"Dulu, ketika raja Chu Pah-ong menderita kekalahan total disungai Wu-kang, Han Ko-cou yang cerdik dan bijaksana tiada bermaksud memaksa lawannya untuk bunuh diri. Dalam hati kecilnya dia hanya bermaksud untuk mendesaknya hingga tak ada jalan kabur lagi dan suruh dia menyerah kalah dan dipakai tenaganya"

Kiu-im-kaucu tertawa terbahak-bahak setelah mendengar cerita itu.

"Haaa..... haa..... haa..... Engkau memang pandai sekali memutar balikkan duduknya perkara, setelah mengalami kekalahan demi kekalahan ditangan Siang Yu, hakekatnya rasa benci Lau Pang kepadanya sudah mencapai taraf ingin mendahar dagingnya, menghirup darahnya, mana mungkin ia berniat untuk menerimanya sebagai pembantu? Apalagi setelah menderita kekalahan yang total Siang Yu toh akhirnya gorok diri dan mati? Cerita seperti itu bukan cerita lagi namanya, tapi merupakan catatan sejarah"

"Dalam sejarah hanya tercatat bagaimana akhir dari kejadian itu, padahal Chu Pah ong mempunyai kekuatan yang bisa mencabut bukit. Dia merupakan seorang jendral yang tangguh dalam usaha mempersatukan semua daratan Han-Ko cou membutuhkan manusia-manusia berbakat semacam itu, dari mana kaucu bisa mengatakan bahwa ia bermaksud untuk membunuhnya?"

Kiu-im-kau tertawa, sahutnya.

"Lau pang tidak mempunyai kebijaksanaan untuk mengampuni musuh-musuhnya, setelah Siang-Yu mati, duniapun jadi aman, apa perlunya dia musti menerima jendral musuh sebagai panglimanya?"

Tiba-tiba seperti baru saja memahami sesuatu, ia berhenti sejenak, lalu sambil berpaling ke arah pemuda itu lanjutnya.

"Apa maksudmu mengucapkan kata-kata semacam itu? Apakah engkau telah mengambil keputusan hendak beradu jiwa denganku?"

"Haaah..... haa..... haa..........Akhirrnya kaucu mengerti juga maksudku......! Seru Hoa In-liong sambil tersenyum. Setelah berhenti sejenak, dengan wajah bersungguh-sungguh ujarnya lebih jauh.

"Keluarga Hoa cuma mempunyai anak cucu yang rela kehilangan kepala, tapi tak akan mempunyai keturunan yang sudi ditawan. Sekalipun aku sudah tersudut dan tak ada jalan pergi lagi, akan kugunakan segenap kemampuan yang kumiliki untuk melakukan perlawanan hingga titik darah peng habisan. Aku lebih rela mati konyol daripada ditawan dan dihina olehmu. Kalau toh kaucu sudah memahami perkataan itu, hal ini jauh lebih baik lagi. Tapi sebelumnya hendak kuterangkan dulu kepadamu, bila ada yang terluka atau sampai tewas, maka semuanya adalah tanggung jawab kaucu sendiri. Sebab setelah bertempur narti, aku tidak akan berlaku sungkan sungkan lagi."

Mula-mula kiu im kaucu tertegun, menyusul kemudian diapun tersenyum geli.

"Aaah... kamu ini selalu ada-ada saja!"

Tegurnya.

"Urusan tak akan berubah jadi demikian seriusnya. Aku kan bukan Lau pang sedang engkau juga bukan Siang Yu dari kerajaan Chu. Tidak mungkin kau akan kudesak hingga kehilangan jalan mundur!"

"Hmm, ucapan semacam itu hanya perkataan yang sama sekali tak ada artinya"

Tukas Hoa Inliong "Demi dendam kematian Suma siok-yamu, juga dengan mencegah ambisi Kiu-im-kau kalian merajai dunia persilatan dan menciptakan badai pembunuhan, bagaimanapun juga harus mencampuri urusan ini.

Tapi karena semenjak kecil aku sudah dididik ketat, aku tak ingin bertindak secara gegabah.

Seandainya aku kalah maka aku pun akan berusaha untuk mengundurkan diri dari sini, jika kaucu bermaksud menangkap hidap-hidup diriku....

Heee...

hee.....

hee......

Lebih baik jangan bermimpi disiang hari bolong"

"Hmm! Engkau ingin beradu jiwa?" , jengek Bwee Su-yok dengan dingin "Justru nona tak akan membiarkan engkau mampus!"

Hoa In-liong tersenyum, pelan-pelan dia alihkan pandangan matanya ke arah gadis itu, kemudian sahutnya.

"Bukannya aku sengaja berbicara sombong, jika kalian hendak main kerubut maka untuk membunuh aku gampang, tapi mau menangkap aku....? Huuh, bukan urusan gampang"

"Seandainya aku turun tangan sendiri?"

Tanya Kiu-im-kaucu secara tiba-tiba.

"Kau maju sendiri juga sama saja!"

Jawab Hoa In-liong dingin, ucapannya sangat tegas.

Mendengar jawaban tersebut, paras muka Kiu-im-kaucu berubah hebat, ia tertawa dingin tiada hentinya.

Haruslah diketahui, Kiu-im-kaucu adalah seorang manusia yang berpandangan picik dan amat menitik beratkan soal dendam dan sakit hatinya.

Tapi sikapnya selama ini terhadap Hoa In-liong bisa ramah hal ini dikarenakan pertama, usianya sudah makin lanjut, otomatis watak dan sikapnya juga jauh lebih ramah, kedua dimasa lalu dia mempunyai kesan yang baik terhadap ayah ibu Hoa In-liong, yakni rasa kagumnya terhadap Hoa Thian-hong dan rasa sayangnya terhadap Pek Kun-gi.

Hoa In-liong sangat mirip dengan ayah ibunya.

Lagipula sebagai seorang angkatan yang lebih muda ditambah pemuda itu bukan sasaran dari gerakannya kali ini, maka untuk mempertahankan gengsinya sebagai seorang angkatan tua, dia berusaha untuk mengendalikan sifat ganasnya.

Tapi sekarang sikap Hoa In-liong yang serius dan suaranya yang dingin telah menyinggung perasaan serta gengsinya.

Sebagai seorang manusia yang berpandangan sempit tentu saja paras mukanya berubah hebat, karena gusarnya dia tertawa seram.

Hoa In-liong tetap berdiri tanpa perubahan, sementara hawa murninya diam-diam telah disiapkan, berjaga-jaga atas sergapan yang tiba-tiba akan dilakukan Kiu im kaucu.

Ditengah keheningan yang mencekam sekeliling puncak bukit itu, tiba-tiba terdengar suara seruan merdu berkumandang datang.

"Disini....! Disini.....! Ibu, ayoh cepat sedikit...."

Suara itu berasal dari sisi kanan puncak bukit itu, tanpa sadar Hoa In-liong berpaling ke arah mana berasalnya suara tadi, terlihatlah sesosok bayangan merah melayang turun dari tengah udara.

Di belakang bayangan merah tadi mengikuti seorang nyonya setengah baya yang memakai baju warna hijau.

Ketajaman mata Hoa In-liong luar biasa, meskipun ia berdiri dipuncak bukit enam-tujuh puluh kaki jauhnya dari bayangan itu, cukup dalam sekilas pandangan ia dapat melihat bahwa perempuan setengah baya itu sangat cantik dan berwajah agung, usianya antara empat puluhan.

Sedangkan bayangan merah didepannya adalah seorang gadis muda yang berparas cantik jelita.

Keayuan nona itu menandingi kecantikan Bwee Su-yok, cuma dia lebih lincah dan penuh gairah hidup, jauh berbeda dengan Bwee Su-yok yang dingin kaku bagaikan salju.

Hoa In-liong yang romantis.

Dalam keadaan begitu tidak bernafsu lagi untuk menikmati kecantikan paras mukanya, ia lebih terkesima oleh keindahan gerak tubuh yang didemontrasikan nona tadi.

Ketika melayang turun dari udara, tubuhnya lurus dan tidak bergeser barang sedikitpun ke samping.

Keindahan dan kelincahannya melebihi bidadari dari kahyangan.

Ini menunjukkan kalau ilmu silatnya sudah mencapai puncak kesempurnaan.

Usia nona itu baru enam tujuh belasan, tapi dengan usia semuda itu ilmu silatnya sudah mencapai puncak kesempurnaan.

Siapa yang akan percaya dengan kejadian ini bila tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri?

Termangu-mangu Hoa In-liong melihat kelihayan orang, dalam hati dia lantas berpikir.

"Murid siapakah gadis itu? Sungguh tak kusangka dalam dunia persilatan masih terdapat kepandaian sakti yang jauh melebihi keampuhan keluarga Hoa kami!"

Ketika masih melayang diudara, tanpa mengurangi daya luncur badannya tiba-tiba saja nona itu berseru.

"Ibu, coba lihatlah! Masa untuk melawan seorang tua bangka pun koko tak mampu untuk memenangkannya, betul-betul memalukan sekali! Sekembalinya disini dia musti dihukum berlutut selama tiga hari dan tak boleh makan!"

"Kau yang musti dihukum berlutut didepan altar selama tiga puluh hari tanpa boleh makan!"

Teriak Coa Cong-gi dengan geram. Si-nona cantik itu tertawa cekikikan.

"Siapa suruh kau tidak pulang semalaman, tapi lari kesini dan berkelahi dengan orang? Kau telah bikin susah diriku saja..... Mendingan kalau menang, Huuh! Mengalahkan pun tak mampu...... Kau musti dihukum untuk berlatih lebih tekun lagi"

Setelah melayang keatas tanah, dua orang itu pelan-pelan maju ketengah gelanggang.

"Wi-ji, jangan ribut dulu"

Seru nyonya setengah baya itu.

"Kita berlatih ilmu silat adalah untuk menguatkan badan. Ilmu silat bukan dipakai untuk cari nama atau ribut-ribut dengan orang"

Setelah berhenti sebentar, lanjutnya.

"Anak Gi, cepat berhenti! Ayoh pulang!"

Coa Cong-gi tidak menguasai tenaga dalamnya secara sempurna, sejak pertama kali tadi sudah keteter hebat.

Keadaannya pada saat ini mengenaskan sekali.

Peluh membasahi sekujur badannya, untuk berbicara rasanya sulit sekali.

Karena itu dia hanya membungkam belaka walau mendengar seruan dari ibu dan adiknya.

Semua kekuatan dan pikirannya hanya terpusat untuk mematahkan serangan-serangan dahsyat dari lawannya.

Hoa In-liong hampir tak percaya dengan pendengaran sendiri, ditatapnya kedua orang perempuan itu dengan termangu-mangu, sementara dalam hati kecilnya merasa kaget sekali.

"Yaa ampun, jadi perempuan itu adalah ibu dan adiknya saudara Cong-gi? Benar-benar diluar langit masih ada langit, diatas manusia masih ada manusia!"

Kiu-im-kaucu lebih-lebih terkejut lagi, diapun berpikir.

"Jadi perempuan itu adalah ibunya bocah she Coa itu? Waah..... tampaknya apa yang kuharapkan sukar tercapai hari ini, aku harus mencari akal untuk mengatasi persoalan ini"

Perempuan ini licik dan berakal panjang, sebelum tujuannya tercapai dia segan untuk berhenti ditengah jalan.

Sekalipun dia telah sadar bahwa tenaga dalam yang dimiliki pendatang itu lihay sekali dan mungkin ilmu silatnya bukan tandingan tapi ia tak sudi berhenti sampai disitu saja.

Diapun tahu perempuan itu adalah ibunya Coa Cong-gi, sedang Coa Cong-gi yang setia kawan adalah sahabat karib Hoa In-liong.

Bila dia ingin menangkap Hoa In-liong, serta merta akan bentrok juga dengan ibu dan putrinya itu, padahal keyakinan untuk menang tak ada, dapat dibayangkan betapa kacaunya pikiran kaucu itu.

Kendati begitu, air mukanya tetap tenang dan kalem, sedikitpun tak nampak panik atau bingung dari sini semakin kentaralah bahwa watak Kiu-im-kaucu memang keras sekali.

Selang sesaat kemudian, diam-diam ia memberi tanda kepada anak buahnya dengan kode yang tidak dimengerti orang lain, serentak kawanan jago dari Kiu-im-kau itu bersiap-siap untuk mengundurkan diri dari tempat kejadian.

Dalam pada itu, Hoa In-liong masih belum merasa apa-apa, sedang Coa Cong-gi juga lagi bertempur dengan sungguh-sungguh.

Lama kelamaan nyonya setengah baya itu mulai merasa tak sabaran, dia melirik sekejap ke arah putrinya, kemudian berkata.

"Anak Wi, pergi kesana dan gantikan engkoh-mu, tapi jangan lukai orang!"

Gadis cantik yang disebut anak Wi itu mengiakan, dengan langkah yang lembut ia masuk ke dalam arena.

Pada saat itulah, dengan suatu gerakan yang cepat bagaikan sambaran kilat Kiu-im-kaucu menerjang kedepan, jari tangannya langsung menotok jalan darah Ji-keng-hiat didada kiri Hoa In-liong.

Mimpipun si anak muda itu tak menyangka kalau dia bakal disergap, tak ampun tubuhnya jadi lemas dan roboh ke tanah dalam keadaan tak sadar.

Kiu-Im-kaucu yang telah menyusun siasatnya, cepat mengempit tubuh si pemuda itu dan kabur ke depan, serunya.

"Ayoh mundur!"

Dengan menutulkan ujung toyanya keatas permukaan tanah, ia kabur menuju hutan lebat disebelah kiri.

Sekejap kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.

Melihat ketuanya sudah mengundurkan diri, kawanan jago dari Kiu-im-kau ikut berseru pula dengan nyaring, masing-masing segera menggerakkan tubuhnya ikut kabur juga dari sana.

Tak terkirakan rasa kaget Coa Cong-gi menyaksikan kejadian itu, segera bentaknya.

"Eeeh..... mau lari kemana kalian? Tinggalkan dulu orang itu!"

Ujung kakinya segera menjejak permukaan tanah, dengan gerakan yang cepat dia ikut mengejar kedalam hutan. Tapi baru beberapa kaki dia berlalu "Wi-ji"

Bagaikan bayangan sudah menyusul dihadapannya, sambil menghadang jalan pergi kakaknya dia berseru nyaring.

"Eeeh... mau apa kamu? mau coba kabur yaa?"

"Minggir, minggir Aku harus menolong temanku itu..."

Teriak Coa Cong-gi dengan paniknya.

Dia menyusup kesamping dan mencoba untuk kabur lewat samping tubuh adiknya.

Siapa tahu gerakan tubuh Wi-ji jauh lebih cepat dari padanya, baru saja badan pemuda itu bergerak, tahu-tahu nona itu sudah menghadang lagi dihadapannya.

"Siapakah orang itu?"

"Siapakah orang itu sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan kita"

Tukas nyonya setengah baya itu tiba-tiba "Anak Gi ayoh kembali!"

Mendengar panggilan dari ibunya itu, Coa Cong-gi tak berani membangkang, terpaksa dia menyahut.

"Tapi.... Tapi.... Ibu, orang itu adalah putranya Hoa tayhjap, dia adalah sahabat karibku"

"Siapa sih Hoa tayhiap itu?"

Sela Wi-ji.

"Aaah....! Kamu anak perempuan, lebih baik jangan banyak bertanya"

Tukas Coa Cong-gi cepat apalagi dia sedang menguatirkan keselamatan rekannya. Jawaban tersebut kedengaran ketus sekali. Kontan saja Wi-ji mengerutkan dahinya.

"Eeeh..... eeehh...... Koko, kau berani galak yaa?"

Teriaknya dengan penasaran "Tak usah bertanya yaa tak usah bertanya, siapa yang pingin tahu?"

Dengan bibir dicibirkan dia lantas berdiri bertolak pinggang dan persis menghadang jalan perginya, tampaknya gadis itu berprinsip demikian, 'Boleh saja aku tak usah banyak bertanya, tapi engkaupun jangan harap bisa lewat dari hadapanku.' Rupanya Coa Cong-gi cukup mengetahui sifat binal dari adiknya ini, bukan saja dimanja ibunya ilmu silatnya berkali-kali lipat lebih lihay dari kepandaian sendiri, pemuda itu segera menyadari kekeliruan sendiri.

Terpaksa dengan muka merengek katanya.

"Oooh... adikku yang baik, koko sudah salah bicara, maafkanlah daku..... berilah jalan kepadaku agar aku bisa lewat. Ketahuilah orang itu adalah sahabat karib kokomu dan sekarang dia sudah ditangkap orang. Bila koko tidak berusaha untuk menyelamatkan jiwanya, tentulah aku akan dianggap sebagai manusia pengecut yang takut mati. Aku pasti akan dituduh orang bukan laki-laki yang setia kawan"

"Lalu apa sangkut pautnya dengan aku?"

Jengek Wi-ji dengan sinar mata tajam memancar ke luar dari matanya.

"Bagaimana sih tak ada hubungannya dengan kau? bagaimanapun juga aku kan saudara kandungmu"

Seru Coa Cong-gi dengan gelisah. Tiba-tiba hatinya agak bergerak, cepat ujarnya lagi.

"Baiklah, kuberitahukan kepadamu semua yang kuketahui. Hoa tayhiap bernama Hoa Thian-hong orang menjulukinya sebagai Thian-cukiam. Ia berdiam di perkampungan Liok Soat Sanceng yang ada dibukit In-tiong-san dalam bilangan propinsi San-see. Dia adalah seorang pendekar besar yang bijaksana dan berbudi luhur. Sedang sahabat koko tadi bernama Hoa Yang alias In-liong. Dia dilahirkan pada tahun Jin-seng, bulan cia-gwee tanggal sembilan belas, tahun ini berusia delapan belas tahun, dia adalah putra nomor dua dari Hoa-tayhiap. Orangnya gagah, romantis dan supel menarik sekali dalam pergaulan....."

Dasar berangasan dan lagi sedang cemas, Coa Cong-gi hanya tahunya berusaha untuk melepaskan diri dari hadangan adiknya.

Otomatis apa yang diucapkan juga sembarangan tanpa dipikir lebih jauh, bukan saja tanggal lahir Hoa In-liong disebut, malahan wataknya yang romantis juga disinggung.

Pemuda itu tentu saja mengucapkan kata-kata itu tanpa disertai maksud tertentu, berbeda dengan ibunya.

Amarahnya kontan memuncak sehabis mendengar perkataan tadi, sebelum putranya menyelesaikan kata-katanya itu dia sudah menukas.

"Anak Gi, kau lagi ngaco belo apaan?"

"Aku tidak ngaco belo, semua perkataanku adalah kata kata yang sejujurnya"

Sahut Coa Cong-gi dengan mata terbelalak karena panik bercampur gelisah.

"Kalau tidak, kenapa tanggal lahir orang lain pun kau sebutkan dihadapan adikmu?"

"Apa salahnya? Hoa loji kan bukan orang luar. Dia dan aku adalah sahabat....."

"Mengherankan! Benar-benar mengherankan!"

Tukas nyonya setengah baya itu dengan wajah be-rubah.

"Dari dulu sampai sekarang, lagakmu selalu ketolol-tololan. Sampai kapan kecerdikanmu itu baru muncul?"

Sekali lagi Coa Cong-gi tertegun, setelah hening sejenak, tiba-tiba ia baru teringat bahwa ka anan jago dari Kiu-im-kau telah lenyap dari pandangan, sekarang dia baru gelisah.

Dalam keadaan seperti ini, si anak muda itu segan untuk mengurusi perkataan ibunya lagi, teriaknya cepat.

"Sudah..... Sudahlah, ibu tak usah mengurusinya lagi pelan-pelan toh aku bakal cerdik sendiri, yang penting sekarang adalah menyelamatkan jiwa orang!"

Badannya lantas menyusup kesamping dan siap menerobos lewat dari sisi Wi-ji untuk kabur ke arah hutan. Kali ini Wi-ji tidak menghalanginya, tapi ibunya telah membentak dengan nyaring.

"Berhenti!"

Mau tak mau Coa Cong-gi berhenti juga, serunya dengan wajah setengah merengek.

"Mau apa lagi ibu? Sekarang aku harus pergi menolong temanku itu. Kalau gagal maka aku akan malu untuk berjumpa dengan teman-teman yang lain dan akupun jangan harap bisa tampilkan diri lagi didalam dunia persilatan!"

Menyaksikan tampang putranya yang mengenaskan itu, nyonya setengah baya tersebut akhirnya jadi tak tega, diam-diam dia menghela napas panjang.

"Aaaa.....! Bagaimanapun jua, dia toh sudah pergi jauh, sekalipun kau kejar juga tak ada gunanya. Kemarilah dulu, aku ada persoalan hendak dibicarakan dengan dirimu"

Coa Cong-gi merasa perkataan itu ada benarnya juga, hutan itu lebat sekali.

Sedang orang-orang Kiu-im-kau kabur dengan menerobosi hutan lebat itu.

Dia tak tahu ke arah manakah mereka telah pergi?

Jelek-jelek Coa Cong-gi bukan seorang anak yang tidak berbakti.

Sekalipun gelisah juga tak ada gunanya, terpaksa dengan uring-uringan dia menghampiri ibunya.

"Anak-Gi!"

Kata nyonya setengah baya itu kemudian dengan lembut.

"Benarkah engkau sangat berhasrat untuk melakukan perjalanan didalam dunia persilatan?"

"Kakek moyang kita kan orang persilatan semua?"

Seru Cong-gi dengan cepat. Nyonya itu mengangguk.

"Sekalipun demikian, tapi diantara turun-temurun juga tinggal ibumu seorang yang masih hidup. Sejak kongcou mu meninggalkan pesan yang melarang anak cucunya melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, sudah lima generasi yang menaatinya dengan sungguh-sungguh, apakah pesannya ini harus dilanggar olehmu saat ini?"

"Ananda mana berani melanggar pantangan dari kongcou. Akan tetapi aku selalu beranggapan bahwa sebagai keturunan orang persilatan, sepantasnya kalau kita gunakan ilmu silat yang miliki untuk melenyapkan kaum durjana dari muka bumi. Sepantasnya kita melakukan perbuatan mulia yang menguntungkan orang banyak, dengan demikian baru beranilah kehidupan kita sebagai anggota persilatan di dunia ini!"

Nyonya setengah baya itu tersenyum.

"Janganlah kau anggap ibumu tidak mengerti dengan jalan pikiranmu itu...."

Katanya.

"Tapi kaupun harus tahu, sebagai anggota persilatan maka kehidupan kita sepanjang hari adalah bergelimpangan diantara mayat dan darah. Sekali terlibat dendam sakit hati, jangan harap perselisihan itu bisa diakhiri dengan begitu saja. Kehidupan keluarga kita sekarang meski sederhana dan tidak mencampuri urusan orang, toh bagaimanapun juga keluarga kita terhitung sebagai keluarga pemuka persilatan yang cukup tersohor di kota Kimleng. Asal kita menuruti selalu peringatan dari kongcoumu, orang tak akan menyusahkan diri kita, apa salahnya kalau kita hidup tenang?"

Coa Cong-gi menggerakkan bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi belum sempat ia berkata, Wi-ji yang cantik telah menimbrung dari samping.

"Ibu! Kalau toh engkau telah membicarakan persoalan itu, maka akupun hendak mengucapkan pula sesuatu kepada ibu!"

Nyonya itu tersenyum.

"Kalau ingin bicara, katakanlah cepat!"

Katanya. Dengan wajah bersungguh-sungguh Wi-ji lantas berkata.

"Aku rasa Kongcou bisa meninggalkan pesan semacam itu, mungkin hal ini dikarenakan ada hubungannya dengan jumlah anggota keluarga kita bukan?"

"Sebenarnya apa yang hendak kau ucapkan? Kenapa musti berputar kayun? Mengapa tidak kau utarakan saja berterus terang?"

"Baik!"

Ucap Wi-ji setelah ragu-ragu sejenak.

"Kalau ibu ingin aku bicara terus terang, biarlah aku bicara secara blak-blakan. Aku rasa keturunan ada sangkut pautnya dengan nasib, maka pesan dari kongcu ini kurang begitu sesuai rasanya!"

Mula-mula nyonya setengah baya itu agak tertegun setelah mendengar perkataan itu, menyusul kemudian sambil tersenyum katanya.

"Dihari-hari biasa engkau selalu menuruti perkataanku, selalu setuju dengan caraku berpikir. Sungguh tak kusangka rupanya dalam hati kecilmu kau mempunyai cara berpikir yang tak berbeda dengan kokomu"

"Tapi caraku berpikir kan masuk diakal"

Tukas Coa Cong-gi tidak terima.

Belum habis ia berkata, dengan sinar mata berkilat dan muka dingin menyeramkan nyonya berusia setengah baya itu telah menggerakkan bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu.

Tapi sebelum ia sempat mengucapkan sepatah katapun, tiba-tiba terdengar seseorang berseru nyaring memuji keagungan Buddha.

0000O0000

"OMITOHUD, apa yang diucapkan Siau Gi-ji mungkin ada betulnya, biarkan dia melanjutkan katakatanya itu!"

Semua orang terkejut dan berpaling ke arah mana berasalnya suara itu.

Didepan hutan sebelah kiri terlihatlah seorang hweesio tua yang berjenggot panjang berdiri tegap disitu dengan senyuman dikulum.

Hweesio itu sudah tua sekali, mukanya banyak keriput, badannya kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang.

Bajunya warna abu-abu dengan sepatu terbuat dari rumput, dia tak lain adalah padri tua yang menguntil dibelakang Hoa In-liong dan Coa Cong-gi sejak berada di bukit Cing liang-an tadi.

Tampaknya nyonya setengah baya itu merasa kenal dengan padri tua itu, tapi lupa-lupa ingat.

Ia tak tahu padri tersebut pernah ditemuinya di mana, untuk sesaat matanya jadi mendelong dan dia mengawasi padri itu dengan wajah termangu-mangu.

Pelan-pelan hweesio itu maju kedepan, lalu katanya sambil tertawa.

"Sian-ji, sudah lupa dengan aku? Ketika Siau gi-ji berusia setahun tempo dulu, aku kan pernah pulang...."

Belum habis padri itu menyelesaikan kata-katanya, nyonya setengah baya itu sudah menubruk kehadapannya dan menjatuhkan diri berlutut.

"Oooh..... kiranya engkau orang tua!"

Ia berseru dengan wajah kegirangan.

"Oooh..... Tahukah kau bahwa anak Sian sudah amat kangen dengan engkau orang tua?"

"Haa...... haa...... haaa..... Bangun!"

Seru hweesio tua itu sambil terbahak-bahak.

"Putriku sudah berusia setengah baya, kenapa tingkah lakumu masih seperti anak kecil? Jangan sampai perbuatanmu itu ditertawakan orang!"

Serasa berkata lengannya lantas digape ke muka, nyonya setengah baya itu segera merasakan munculnya segulung tenaga kekuatan yang lembut menarik badannya secara paksa, mau tak mau badannya lantas meninggalkan permukaan tanah.

Dalam keadaan begini terpaksa nyonya itu harus bangkit dari atas tanah dan berdiri.

Coa Cong-gi dan adiknya yang menyaksikan kejadian itu merasa terkejut bercampur curiga, mereka lantas berpikir.

"Padri lihay dari manakah orang ini? Agaknya dia adalah angkatan tua dari keluarga kita. Padahal ilmu silat yang dimiliki ibu sudah terhitung luar biasa hebatnya. Sungguh tak nyana tenaga dalam yang dimiliki padri ini jauh lebih hebat"

Sementara mereka masih termangu-mangu, nyonya setengah baya itu telah berpaling seraya berseru.

"Ayoh cepat kemari semua, beri hormat kepada kongcou luar kalian!"

Coa Cong-gi tertegun karena kaget, bibirnya ternganga matanya terbelalak lebar, untuk sesaat.....

Ia tak mampu mengucapkan sepatah katapun.....

Berbeda dengan Wi-ji yang lincah dan supel, setelah tertegun sejenak, ia lantas menerjang ke depan sambil teriaknya dengan penuh kegembiraan.

"Hoore..... hoore..... Kiranya engkau adalah kongkong ku, eeeh..... Kongkong, kenapa kau jadi hweesio?"

"Wi-ji, makin hari engkau makin edan, tahu aturan tidak?"

Damprat ibunya dari samping. Hweesio tua itu tertawa terbahak-bahak.

"Haa.... haa.... haa...... Bagus, bagus sekali! Manusia adalah burung hong dimalam bulan purnama, hati yang bersih bagaikan cermin yang tak berdebu. Anak manis siapa namamu?"

Lengan kanannya segera merangkul pinggang Wi-ji dan menariknya kedalam pelukan, jelas te lihat kalau padri tua itu merasa gembira sekali dengan pertemuan tersebut.

Wi-ji sendiripun sangat gembira, dengan muka berseri ia mempermainkan jenggot kakeknya, lalu ujarnya sambil tertawa.

"Aku bernama Wi Wi, ibu memanggil Wi-ji kepadaku!"

"Tahun ini Wi-ji umur berapa?"

Tanya hweesio tua itu lagi.

"Enam belas tahun! Eeeh.........Kenapa? Masa kongkong tidak tahu umur wi-ji.....?"

Sambil mengerdipkan matanya yang jeli, gadis itu memandangi si hweesio tua itu dengan termangu-mangu.

Tampangnya kelihatan sekali kalau ia sedang tercengang.

Meskipun pandangan itu penuh kecengangan, akan tetapi dalam pandangan padri tua itu terlihat kepolosan dan kemanjaan dari seorang bocah mungil, hal ini semakin menggirangkan hatinya.

Sambil menowel ujung hidungnya yang mancung itu, katanya dengan hati gembira.

"Kongkong seringkali berkelana ke seluruh penjuru dunia, dari mana bisa mengingat begitu banyak persoalan?"

Coa Wi Wi gelengkan kepalanya berulang kali dia meronta dan melepaskan diri dari cekalan, kemudian dengan alis berkenyit keluhnya.

"Aaai......! Kongkong mengapa kau musti berkelana terus diseluruh jagad.....?"

"Kongkong kan seorang hweesio? Lebih baik jangan diteruskan saja kongkong....!"

Pinta Coa Wiwi dengan bibir cemberut.

Mendengar permintaannya yang lucu itu, hweesio tua tersebut tak dapat menahan diri lagi, akhirnya dia menengadah dan tertawa terbahak-bahak dengan nyaringnya.

Coa Cong-gi yang selama ini hanya berdiri di samping dengan mulut membungkam, kini tak dapat menahan diri lagi, segera tegurnya.

"Adik Wi, perkataan semacam itu tidak pantas kauucapkan, Huuh..... ngaco belo tak karuan!"

"Siapa yang suruh kau urusi aku?"

Teriak Coa Wi-wi sambil berpaling dengan mata mendelik.

"Perkataanmu barulah perkataan yang ngaco belo!"

Melihat adiknya berang, Coa Cong-gi tersenyum.

"Eeeh... Jangan galak-galak ah, cepat atau lambat engkau kan musti dicarikan jodoh, rasain nanti setelah kawin, akan kulihat kau bakal masih galak-galak atau tidak?"

Godanya. Coa Wi-wi semakin mendongkol, ia tuding kakaknya lalu berteriak dengan suara lengking.

"Engkaulah yang akan dicarikan jodoh! Kau yang akan dikawinkan! Kau...... kau yang akan dicarikan seorang kuntilanak!"

Makin berbicara semakin mendongkol, akhirnya seluruh wajahnya berubah jadi merah padam.

Melihat gadis itu marah-marah yang lain malahan tertawa tergelak, suara tertawa yang nyaring serasa membelah angkasa.

Ditengah gelak tertawa itu nona setengah baya tersebut segera menegur lirih.

"Wi-ji, ayoh turun! Jangan merecoki kongkongmu terus"

Coa wi-wi mencibirkan bibirnya tidak menurut sedang hweesio tua itu tiba-tiba berkata dengan muka sedih.

"Omitohud! Lolap sudah menjadi murid Buddha tapi hakekatnya hubungan kekeluargaan masih belum dapat kuputuskan sama sekali. Aaaai.....! Itu namanya aku tidak terlalu memusatkan pikirannya pada pelajaran agama!"

Sambil berkata, pelan-pelan ia turunkan Coa Wi-wi dari dalam pelukannya. Melihat hweesio tua itu tiba-tiba menghela napas, nyonya setengah baya itu jadi terperanjat, dengan ketakutan segera serunya.

"Sian-ji pantas dihukum mati! Sian-ji telah salah berbicara, harap kau orang tua jangan murung"

Hweesio tua itu tertawa getir.

"Kau tak usah menyesali dirimu. Lolap tak bisa memusatkan semua pikiranku untuk agama, itu berarti aku bukan murid Buddha yang sejati. Aaai...! Manusia bukanlah malaikat, mana bisa melupakan hubungan kekeluargaan? Apalagi kalian adalah darah dagingku"

"Ajaran Buddha tak bertepian, kan tiada larangan yang mengharuskan seseorang untuk memutuskan semua hubungan kekeluargaan?"

Sela nyonya setengah baya itu dengan cepat.

"Sekarang Sian-ji hidup menyendiri, apa salahnya kalau engkau orang tua melepaskan jubah pendeta itu, agar Sian-ji dapat menunaikan kewajiban kebaktianku untuk merawat kau orang tua hingga akhir tua nanti?"

Hweesio tua itu segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Anak-Sian! Anak keturunan keluarga kita tidak subur. Keturunan kita sejak sembilan generasi yang lalu telah berakhir sampai disini. Bukan saja tinggal keturunan perempuan, keturunan laki-laki hampir musnah tak berbekas. Yaa... Keturunan nenek moyang kita hanya bisa dilanjutkan dengan bersandar dari keturunan perempuan belaka. Aaai...! Ketika lolap akan menjadi pendeta tempo hari, sebenarnya aku bermaksud hendak berbuat banyak amal sehingga bisa mendapat keturunan lelaki. Tapi sekarang setelah lama mengikuti ajaran Buddha, aku merasa semua pikiran dan perasaanku telah melebur menjadi satu dengan ajaran itu. Kenapa aku harus memutuskannya ditengah jalan? Soal melepaskan jubah pendeta lebih baik tak usah kau singgung lagi!"

"Kalau begitu... Kalau begitu.... Sian-ji akan mendirikan sebuah kelenteng untuk kau orang tua agar kau orang tua....."

Kata-katanya itu penuh nada permohonan dan muncul dari hati sanubari yang jujur, siapapun dapat merasakan betapa mengharapnya nyonya itu agar permintaannya bisa terkabul.

Tapi sebelum perkataan itu selesai diucapkan, hweesio tua itu sudah menukas sambil tertawa nyaring.

"Anak Sian, buat apa kau melakukan perbuatan bodoh? Aku datang menjumpaimu bukanlah suruh engkau dateng mengurusi aku!"

"Tapi Sian-ji hidup sebatang kara, tiada sanak tiada keluarga..."

Bisik nyonya itu sambil terisak.

"Engkau terlalu mengekang diri, terlalu mentaati pesan kongcou, tidak dapat melihat gelagat, tak dapat menyesuaikan diri dengan kenyataan, hidupmu yang terkekang itulah yang membuat engkau kesepian, hidup terpencil dan tiada sanak tiada keluarga"

"Maksud kau orang tua...."

Nyonya setengah baya itu tampak agak tertegun.

"Maksud lolap, engkau harus perbanyak mengadakan hubungan persahabatan dengan orang lain perbanyak melakukan gerakan ditempat luaran dan tak ada halangannya melakukan sedikit perbuatan yang melindungi keadilan dan kebenaran bagi umat persilatan. Hanya dengan berbuat begi itulah kehidupanmu baru berarti, kegembiraanmu akan berlipat ganda, kau tak akan merasa kesepian, tak akan merasa tiada sanak tiada keluarga dan hidupmu akan lebih segar dengan aneka kenangan baru"

Tampaknya nyonya setengah baya itu merasa tercengang setelah mendengar wejangan tersebut, dengan mata terbelalak tercengang serunya.

"Kenapa musti begitu? Bukankah kau orang tua suruh Sian-ji memegang teguh pesan kongcou?"

Kembali hweesio tua itu tersenyum.

"Pesan kongcoumu itu adalah menyangkut soal budi dendam yang seringkah terjadi dalam dunia persilatan. Kongcou bila keturunan kita akan terseret kedalam lembah kehancuran sehingga mengakibatkan mereka tak dapat melepaskan diri lagi, maka kongcou kuatir keturunannya akan mengalami banyak kesulitan. Tapi sekarang kalau kita pikir kembali, manusia toh hanya hidup puluhan tahun saja, apa artirya hidup jika kita mengekang diri terus-menerus? Apalagi hidup matinya manusia kan berada ditangan Thian. Siapa yang dapat menentang kekuasaannya? Maka aku rasa, hidup sebagai manusia sudah sepantasnya kalau kita melakukan perbuatan seperti apa yang dilakukan juga oleh manusia lainnya"

"Tapi ini...... Ini......."

Saking gugupnya nyonya setengah baya itu jadi tergagap dan tak mampu melanjutkan kembali kata-katanya itu.

Haruslah diketahui, pada jaman itu pesan dari kakek moyangnya merupakan kata-kata emas yang tak bisa diganggu gugat lagi, seakan-akan orang beranggapan bahwa, 'Jika kaisar mati panglimanya musti mati, bila ayah suruh putranya mati, putranya mau tak mau musti mati juga.' Orang menganggap bila pesan dari kakek moyangnya dilanggar, maka perbuatan itu adalah suatu perbuatan yang melanggar adat istiadat dan merupakan perbuatan orang yang tidak berbakti.

Padahal hweesio itu bukan saja adalah seorang pendeta, dia juga terhitung kakek luar dari "Sian ji".

Ditinjau dari hal inilah tak heran kalau nyonya setengah baya itu menjerit kaget sehabis mendengar perkataan dari kakeknya.

"Hooree...."

Perkataan itu memang sangat beralasan!"

Sokong Coa Cong-gi kegirangan.

"Mati hidup manusia memang ada ditangan Thian. Apa yang bisa manusia perbuat tentang mati hidupnya? Sejak dulu sampai sekarang kita adalah keturunan orang persilatan. Apa gunanya kita belajar silat kalau tidak digunakan untuk melakukan suatu usaha besar dalam dunia persilatan? Apa gunanya kalau tidak dipakai untuk menegakkan keadilan dan kebenaran"

Belum habis pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, nyonya setengah baya itu sudah berhasil menenangkan hatinya, dia lantas membentak nyaring.

"Tidak tahu aturan, orang tua lagi bicara kau juga ikut menimbrung..... Hmm! Peraturan darimana itu?"

"Jangan maki dia, orang muda itu memang sepantasnya memiliki semangat untuk mengejar cita citanya!"

Sela hweesio tua itu lagi. Nyonya setengah baya itu berpaling, ditatapnya hweesio itu dengan alis berkerut, kemudian tanya-nya lagi.

"Benarkah engkau orang tua mempunyai pikiran demikian?"

Hweesio itu tertawa hambar.

"Lolap telah memikirkan masalah ini dalam-dalam, aku merasa kalau toh Buddha menurunkan firmannya bagi kehidupan manusia maka dia pasti mempunyai harapan pula bagi kesejahteraan hidup umatnya, maka aku berharap anak keturunanku bisa berjuang dan melakukan suatu usaha besar bagi kepentingan umat manusia lainnya sekalipun jalan pikirannya ini keliru. Sekalipun aku bakal diganjar masuk keneraka, aku juga rela untuk menerimanya"

Coa-wi-wi yang ada disampingnya segera berteriak.

"Tidak mungkin! Kongkong tak mungkin diganjar masuk neraka, sebab melenyapkan kaum durjana dari muka bumi adalah suatu perbuatan mulia! Apalagi kongkong sebagai murid Budha mengutamakan keselamatan dan kesejahte raan umatnya......."

"Wi-ji, jangan banyak bicara!"

Untuk kesekian kalinya nyonya setengah baya itu menukas.

"Sian-ji, apakah engkau merasa bahwa perbuatanku ini tidak pantas?"

Tiba-tiba hweesio tua itu berpaling seraya menegur. Mendapat pertanyaan itu, sinyonya setengah baya tersebut jadi gelagapan.

"Sian-ji tidak berani. Sian-ji cuma merasa bahwa pesan yang ditinggalkan Kongcou......"

"Engkau terlalu kolot Sian-ji"

Tukas sihweesio dengan cepat "Pikiranmu tidak terbuka dan terlampau kukuh pada satu pendirian.

Aku lihat Siau Wi-ji adalah seorang gadis yang punya rejeki besar dan mempunyai anak cucu yang banyak.

Sedang Siau gi-ji mempunyai bakat yang bagus, mempunyai garis-garis muka yang baik.

Lolap berani memastikan bahwa soal keturunan sudah bukan menjadi masalah lagi.

Kenapa engkau musti kuatir karena melanggar pesan kongcou?"

Setelah berhenti sejenak, tiba-tiba dia alihkan pembicaraan kesoal lain tanyanya.

"Beberapa tahun belakangan ini apakah engkau sudah mendapat kabar berita tentang Hou-ji?"

Tiba-tiba sekujur badan nyonya setengah baya itu bergetar keras, mula-mula agak terkejut bercampur heran, menyusul kemudian titik-titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

Melihat keadaan cucunya perempuannya itu, kembali si hweesio tua itu menghela napas panjang.

"Aaaai.... Berbicara yang sesungguhnya, lolap tidak terhitung seorang pendeta sungguhan, karena semua urusan dalam keluarga selalu kupikirkan dan kukuatirkan"

Mendengar sampai di situ, nyonya setengah baya itu tak dapat menguasai rasa pedih didalam hatinya lagi, ia lantas mendekap mukanya sendiri dan menangis tersedu-sedu.

Kiranya orang yang disebut "Hoa-ji"

Tadi adalah suami nyonya setengah baya itu dia bernama Coa Goan-hou.

Pada lima tahun berselang, ketika suatu hari Coa Goan-hou pergi berkelana, ternyata sampai kini tiada kabar beritanya lagi, seakan-akan orang itu lenyap dengan begitu saja dari muka bumi.

Nyonya setengah baya ini berwatak halus dan setia, bukan saja pada waktu itu harus menuruti pesan kongcou-nya, ketika itupun dia sedang menyusui anaknya.

Maka sekalipun tiap hari mengharapkan suaminya kembali, namun rasa rindunya itu hanya selalu disimpan didalam hati.

Tapi sekarang, secara tiba-tiba hweesio tua itu menyinggung kembali persoalan itu, sontak pertanyaan tadi menyentuh luka dalam hatinya.

Untuk sesaat ia tak dapat menguasai perasaan hatinya lagi, dan meledaklah isak tangisnya yang memilukan hati.

Nyonya setengah baya ini bernama Swan Bun-Sian.

Ayahnya bernama Swan Tiong-siang dan ibunya bernama Su Beng-wan.

Hweesio tua ini bukan lain adalah ayahnya Su Beng-wan, Sebelum jadi padri dulu bernama Su Tiong-kian, sedang setelah jadi pendeta bergelar Goan-cin.

Istrinya Cin Wan-kun adalah keturunan dari Ko Hoa seorang pemuka persilatan dari kota Kimleng pada tiga ratus tahun berselang.

Putri tunggal dari Ko Hoa bernama Ko Cing dengan nama kecil Bun-ji.

Ia menikah dengan ahli waris dari Pak-to-kiam (pedang bintang utara) Thio Cu-hun yang bernama Bu-seng (malaikat silat) In Ceng.

Malaikat silat In Ceng sendiri mempunyai dua orang istri dan melahirkan seorang putra dan seorang putri.

Putranya mati sewaktu masih muda sedang putrinya dilahirkan oleh Ko hujin Ko Cing.

Sejak itulah turun temurun anak cucunya diwariskan dari putrinya itu, hingga keturunan yang ketujuh Cing Tong Ti adalah ayah mertua dari Su Tiong kian atau si padri tua itu.

Putra tunggal dari Su Tiong-kian sendiri mati ketika sedang melerai suatu pertikaian dunia persilatan.

Dalam sedihnya itulah Cing Tong Ti lantas menurunkan larangannya bagi anak cucunya untuk berkelana dalam dunia persilatan.

Karena peristiwa itu Su Tiong-kian lantas keluar dari rumah itu dan mencakur rambut jadi pendeta.

Padri berusia lanjut itu....Goan-sing Taysu kendatipun sudah bertahun-tahun hidup sebagai pendeta, namun cara berpikir orang awam masih amat jelas melekat dalam benaknya.

Sehingga terhadap pelajaran agama Buddha yang pernah diterimanya, ia mempunyai sistim pengetrapan yang jauh berbeda dengan orang lain.

Ketika dilihatnya cucu kesayangannya merasa begitu sedih dan murungnya, tak kuasa lagi ia menghela napas panjang.

"Anak Sian, tak usah menangis lagi!"

Hiburnya.

"Anak Hou bukan termasuk orang yang berusia pendek. Sekalipun ia sudah lenyap selama lima belas tahun, lolap percaya sampai saat inipun dia masih hidup segar bugar didunia. Apalagi serangkaian ilmu silat yang dimilikinya mendapat pendidikan langsung dari keluarganya. Soal keselamatan jiwanya lolap rasa bukan merupakan hal yang perlu kita kuatirkan"

Tapi sebelum kata-kata tersebut sempat diselesaikan, nyonya setengah baya itu.... Swan Bun-sian telah berseru dengan hati terperanjat dan nada sesenggukan menahan isak tangisnya.

"Apa maksud kau orang tua dengan ucapan tersebut? Ataukah Goan-hou benar-benar sudah disekap seseorang?"

"Sekilas pandangan, selama puluhan tahun belakangan ini dunia persilatan memang tampaknya terang dan aman Aaai! Padahal dalam kenyataan telah terjadi pergolakan yang maha dahsyat Suasana perebutan kekuasaan dan pengaruh selalu melanda dalam dunia persilatan ini Yaa, anak Hou memiliki ilmu silat yang sangat lihay, itulah sasaran yang terutama dari kawanan jago yang ingin mengangkat diri menjadi seorang pemimpin Padahal semenjak kecil anak Hou sudah dididik untuk berbakti kepada orang tua, menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran Lolap yakin dia tak akan berani menghianati pelajaran keluarga yang pernah diterimanya Siapa tahu lantaran pembangkangnya ini maka dia disekap orang selama belasan tahun? Aaaaai! Pada hakekatnya apapun memang bisa terjadi dalam dunia ini" .

"Kalau..... Kalau dia disekap orang, lantas dia....... Dia.... Telah disekap dimana?"

Swan Bun-sian berpekik dengan nada yang memilukan hati.

Selama ini Coa Wi Wi hanya mengikuti jalannya pembicaraan dengan mulut membungkam, tapi sekarang, ia tak dapat mengendalikan pergolakan hatinya lagi, cepat dia menyela.

"Mama! Engkau harus berusaha untuk mententeramkan hatimu. Perkataan kongkong tak bakal salah. Ilmu silat ayah memang lihay sekali, selembar jiwanya tak mungkin akan terancam marabahaya!"

Coa Cong-gi yang berangasan tak dapat menerima perkataan itu, dia lantas membantah.

"Apa gunanya mententeramkan hati dan berlagak tenang? Kalau ayah kita memang betul-betul disekap orang, sudah menjadi kewajiban kita untuk mencari jejaknya sampai ketemu Hoa Tayhiap yang berdiam dibukit Im-tiong-San adalah seorang tokoh silat yang bijaksana dan suka menolong kaum yang lemah. Dia adalah seorang pendekar besar yang disanjung dan dihormati setiap umat persilatan. Asal kita bersekongkol dengan keluarga Hoa, apa susahnya menemukan kembali jejak ayah kita?"

Teka teki yang menyelimuti soal mati hidup suaminya ini untuk sesaat membuat Swan Bun-siao kehilangan akal dan pikirannya, dia cuma bisa memandang sekejap ke arah putranya tanpa mengucapkan sepatah jua.

"Ehmm... Apa yang dikatakan Siau Gi-ji memang benar,"

Goan-cin Taysu membenarkan sambil mengangguk.

"Menurut pengamatan lolap secara diam-diam, memang kenyataan membuktikan bahwa dewasa ini hanya keluarga Hoa dari bukit Im-tiong-san yang tetap menjaga keadilan dan kebenaran dengan sebaik-baiknya. Hanya merekalah yang tetap bersikap bijaksana dan mulia kepada setiap orang. Aaai.....! Tahukah kalian semua, heboh tentang munculnya tokoh-tokoh silat dipelbagai tempat sebenarnya bertujuan satu yakni memusuhi keluarga Hoa mereka? Karena itu, perduli tindakan kita ini demi mencari tahu jejak anak Hou yang lenyap, ataukah demi melindungi pelajaran nenek moyang kita yang menyuruh kita mengutamakan keadilan serta kebenaran, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk bekerja sama dengan keluarga Hoa, sebab hanya tindakan inilah merupakan tindakan yang paling tepat untuk mengatasi masalah tersebut"

Berserilah air muka Coa Cong-gi setelah Goan cing Taysu menyetujui usulnya itu.

"Yaa, memang begitulah!"

Serunya pula.

"Sekalipun ananda belum pernah bertemu muka dengan Hoa Thianhong tayhap, tapi ji-kongcu dari Hoa Tayhiap Hoa In-liong adalah sahabat karibku Bukan saja romantis, jadi orangpun gagah perkasa dan suka menolong kaum yang lemah Dia pun berjiwa besar, periang dan berwatak terbuka, diantara kami Kim-leng-ngo-kongcu, tak seorangpun yang dapat menandingi kegagahannya" .

"Yang kau maksudkan sebagai Hoa-ji-kongcu itu apakah pemuda yang kena diculik pergi tadi?"

Sebelum ia menyelesaikan kata-katanya, Coa-wi-wi telah menukas.

"Huuuh.....Semuanya ini adalah gara-gara kau!"

Omel Coa Cong-gi setengah mendongkol.

"Coba kalau kau tidak menghalangi diriku, belum tentu Hoa loji kena diculik orang!"

"Eeee....eeeh....kok jadinya aku yang diomeli?"

Seru Coa-wi-wi dengan dahi berkerut.

"Kan ilmu silatnya yang tidak becus, kenapa aku yang kau salahkan?"

"Apa kau bilang? Ilmu silatmu tak becus?"

Coa Cong-gi melototkan matanya bulat-bulat.

"Hmmm! Jangan kau anggap ilmu silatmu luar biasa sekali. Sekalipun ada tiga orang Coa Wi-wi, belum tentu bisa menandingi seorang Hoa In-liong!"

Jilid 13

"COA WI-WI segera mengernyitkan alis matanya lalu dengan bibir yang dicibirkan dia mengejek.

"Hmmm....! Memang luar biasa.... memang luar biasa.... Akhirnya dia sendiri pun diculik orang. Hmmm.... sahabatmu memang hebat sekali!"

"Kau.... kau.... semuanya ini adalah gara-gara ulahmu!"

Coa Cong-gi semakin mendongkol sehingga ia berteriak-teriak keras.

"Coba kalau bukan garagara kau sehingga perhatiannya bercabang, Hmm! Kiu-im Kaucu itu manusia macam apa? Dengan andalkan kepandaiannya tak nanti ia sanggup...."

"Tak dapat memusatkan perhatian untuk menghadapi musuh sudah merupakan pantangan yang paling besar lagi seorang jago silat. Sekalipun ilmu sifatnya maha dahsyat, tapi kalau pantangan tersebutpun tidak diperhatikan, lalu apa gunanya?"

Tukas Coa-wi-wi dengan suara yang tak kalah lantangnya.

Coa Cong-gi jadi semakin mendongkol sehingga untuk sesaat ia tak mampu berkata-kata.

Selang sejenak kemudian ia menggerakkan bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu, akan tetapi ibunya Swan Bun-sian yang lagi murung dan kesal jadi jengkel.

Semua rasa murungnya segera dilampiaskan keluar dengan membentak keras.

"Jangan ribut terus! Apa sangkut pautnya antara tinggi rendahnya ilmu silat orang lain dengan diri kita?"

Goan-cing Taysu segera tersenyum.

"Anak Sian, kembali engkau keliru"

Katanya dengan lembut.

"Hoa In-liong benar-benar seorang pemuda yang luar biasa. Bukan saja gagah perkasa dan berjiwa besar. Wataknya juga jujur, disiplin dan bijaksana, dia merupakan seorang laki-laki yang berani berbuat, berani pula bertanggung jawab. Ditambah lagi otaknya memang cerdik dan pandai menghadapi segala perubahan dengan cekatan, justru dialah yang dikemudian hari akan memikul tanggung jawab untuk membasmi siuman dari muka bumi serta menegakkan keadilan dan kebenaran bagi dunia persilatan kita semua"

Berbicara sampai disini, sinar matanya seperti sengaja tak sengaja melirik sekejap ke arah "Wiji". Coa Wi-wi segera merasa adanya satu ingatan melintas dalam benaknya, dia lantas berseru.

"Kongkong, kalau engkaupun berani berkata demikian, bukankah itu berarti bahwa dia adalah seorang manusia yang betul-betul sempurna?"

Goan-cing Taysu mengangguk.

"Yaa, tentu saja ada juga kejelekan-kejelekan, cuma kejelekan yang dimilikinya terlampau kecil sehingga sama sekali tidak mempengaruhi wibawanya untuk memimpin dunia persilatan dikemudian hari. Bila dikemudian hari ada kesempatan, lolap harap engkau dapat bersahabat dengan lebih akrab lagi dengannya"

Kontan Coa Wi-wi mencibirkan bibirnya yang kecil.

"Huuh! Siapa yang sudi bersahabat dengannya? Bila dikemudian hari ada kesempatan, justru anak Wi ingin menantang dia berkelahi. Ingin kubuktikan apakah ilmu silatnya benar-benar amat luar biasa atau tidak!"

Goan-cing taysu tersenyum ia tidak menanggapi kata kata dari gadis itu lagi, sambil berpaling ke arah Swan Bun-sian, dia pun berkata lebih lanjut.

"Anak Sian, bagaimana pendapatmu? Lolap rasa apa yang diucapkan Siau Gi-ji memang sangat tepat, baik untuk menyelidiki jejak dari anak Hou ataukah melaksanakan kewajiban sebagai seorang yang pernah belajar silat. Engkau harus banyak melakukan perjalanan didunia luar. Mengurung diri dalam rumah tak akan mendatangkan keuntungan serta manfaat apa-apa bagimu!"

Swan Bun-sian tidak langsung menjawab, dia tampak termenung sejenak, kemudian baru sahutnya.

"Pikiran dan perasaan anak Sian pada saat ini sedang kalut dan tidak tenang, aku tak bisa mengambil keputusan"

"Haaa.... haa.... haa.... Kalau memang begitu, demikian saja"

Kata Goan-cing Tay su setelah tertawa terbahak-bahak dengan nyaringnya.

"Engkau berangkatlah ke barat dan temuilah Hoa Thian-hong serta ibunya. Hoa Thian-hong mempunyai kenalan yang tersebar diseantero jagad. Ini sangat membantu usahamu untuk mencari tahu jejak dari anak Hou. sedang lolap sendiri biarlah sementara waktu bersama anak Gi dan anak Wi pergi menolong nyawa Hoa In-liong"

"Aaaah.... Tidak mau, tidak mau. Wi-ji ingin bersama ibu saja.... Wi-ji tak mau ikut Kongkong"

Buru-buru Coa wi-wi berseru dengan nada amat gelisah.

"Bukankah engkau hendak menantang Hoa In-liong untuk berduel....?"

Goda Goan Cing Taysu sambil tersenyum.

"Sekalipun aku pingin menantangnya untuk berduel, toh tidak musti dilakukan sekarang, lain kesempatan masih panjang"

Sahut Coa Wi-wi.

"Wi ji tak tega membiarkan mama pergi jauh seorang diri, biarlah wi-ji menemani dia orang tua!"

Goan-cing Taysu segera mengangguk sambil memuji.

"Ehmmm.... Sungguh tak kusangka kalau engkau sangat berbakti kepada ibumu, Nah! Kalau memang begitu, ikutlah ibumu pergi!"

Setelah perundingan berakhir, sekalipun Swan Bun-sian tidak berkenan dengan keputusan itu, akan tetapi diapun tidak membantah lebih jauh....

Selama ini Coa Cong-gi sendiri selalu menguatirkan keselamatan Hoa In-liong, ia jadi gelisah sekali.

Dengan pelbagai cara serta perkataan ia mendesak ibunya agar cepat mengambil keputusan dibawah desakan putranya yang bertubi-tubi, akhirnya Swan Bun-sian kewalahan juga, dengan perasaan apa boleh buat terpaksa dia mengangguk.

Maka cucu dan kakek berempat pun melakukan perjalanan dan menuruni bukit Ciong-san tersebut.

OOOOoooOOOO Dalam pada itu, Kiu-im kaucu yang berhasil dengan sergapannya segera mengempit tubuh Hoa In-liong kabur ke dalam hutan.

Dari situ dengan tergopoh-gopoh dia pimpin semua anak buahnya kabur kebukit Ciong-san sebelah barat dan menuju ketepi sungai Yang-cu-kang.

Ditepi sungai berdirilah sebuah bangunan besar yang megah.

Bukan saja gedung itu tersusunsusun memanjang ke dalam, bahkan bangunan tersebut tampak masih baru, seperti selesai dibangun belum lama berselang.

Tak usah diragukan lagi disinilah letak kantor cabang kota Kim-leng dari perkumpulan Kiu-imkauw.

Rombongan jago itu setibanya di tepi sungai segera memasuki gedung baru itu.

Sejak jalan darahnya tertotok tadi selama ini Hoa In-liong berada dalam keadaan tak sadar.

Tentu saja terhadap segala yang terjadi diapun tidak tahu.

Ketika mendusin kembali dari pingsannya, ia baru temukan kalau dirinya berada dalam sebuah ruangan yang besar, megah, indah dan sangat mewah.

Lampu keraton bergantungan disana-sini.

Dinding yang berwarna kuning keemas-emasan memancarkan cahaya yang menyilaukan mata.

Dengan senyuman dikulum Kiu-im kaucu duduk diatas kursi kebesarannya yang dilapisi kulit harimau.

Yu-beng-tiancu Bwee Su-yok yang berwajah kaku dan sedingin salju berdiri dibelakangnya, sementara Tiancu ruang penyiksaan dan para Tongcu lainnya berjajar dikedua belah sisinya, suasananya waktu itu amat serius dan penuh dengan kewibawaan.

Diam-diam Hoa In-liong mengerahkan tenaga dalamnya mengelilingi seluruh badan, ia merasa semua jalan darahnya sudah bebas semua, dan lagi sekujur badannya tidak menunjukkan tandatanda yang tak beres.

Kenyataan ini membuat perasaannya jadi lebih tenang, otaknya lantas berputar keras untuk mencari jalan keluar dalam masalah tersebut.

Sementara dia masih termenung, tiba-tiba terdengar olehnya Kiu-im Kaucu sedang berkata dengan suara lembut.

"Hoa siau-hiap, dengan suatu sergapan yang tidak terdugalah aku baru berhasil membekuk diri mu, tentunya engkau tidak menyalahkan perbuatanku yang terlampau rendah dan tak tahu malu bukan?"

"Ooooh.... Jadi engkau juga tahu toh kalau main sergap adalah suatu perbuatan yang rendah dan memalukan?"

Ejek Hoa In-liong dengan dahi berkerut. Bwee Su-yok yang selama ini membungkam, tiba-tiba mendengus dingin.

"Hmm....! Sebagai musuh yang sedang berhadapan muka, sudah jamak atau kalau masing-masing pihak berusaha adu tenaga maupun kecerdikan. Bila engkau tidak puas, ayolah! Kita beradu kepandaian lagi disini juga"

Mendengar ucapan tersebut, berkobarlah hawa amarah Hoa In-liong tapi ketika sinar matanya saling membentur dengan sepasang biji mata Bwee Su-yok yang jeli tapi dingin itu, tiba-tiba saja hawa amarahnya sirna dengan begitu saja, malah diapun berpikir lebih jauh.

"Sebagai seorang lelaki sejati aku harus pandai menyesuaikan diri. Bila aku bersikeras mengumbar emosi saja, sudah pasti kerugianlah yang kuperoleh, aku harus mencari akal untuk berusaha meloloskan diri dari tempat ini"

Pemuda ini jadi orang bersikap terbuka dan tidak terlampau terikat oleh segala adat istiadat yang tetek bengek, apalagi setiap kali berjumpa dengan ancaman bahaya maut, dia selalu tenang dan menggunakan otaknya untuk menghadapi keadaan.

Tapi sekarang, setelah ia tertawan, otomatis jalan pemikirannya juga ikut mengalami perubahan itulah yang dinamakan orang.

Siapa yang tahu gelagat dan keadaan, dialah seorang manusia yang cerdas.

Dan rasanya Hoa In-liong memang cocok sekali dengan keadaan tersebut.

Padahal, berbicara yang sesungguhnya, selain alasan-alasan diatas masih ada lagi sebab musabab lain yang rasanya lebih cocok, yakni kecantikan Bwee Su-yok.

Tampaknya kecantikan wajah si nona itu sudah terlampau melekat dalam hatinya membuat pemuda yang pada dasarnya memang romantis ini tak mampu mengutarakan kemarahannya dihadapan gadis cantik itu, meski amarahnya sudah mencapai pada puncaknya.

Ketika pemuda itu teringat kembali tentang kegagahannya sebagai seorang pria, sepasang matanya yang tajam segera memandang wajah Bwee Su-yok lekat-lekat, sedikitpun tidak nampak berkedip.

Bagi pandangan orang lain, maka sorot mata tersebut dapat berarti dua perasaan.

Yang satu adalah perasaan tenang, hambar, seakan-akan perasaan hatinya setenang air, terhadap suasana yang serta menegangkan disekelilingnya sama sekali tidak terpengaruh.

Sedang perasaan kedua adalah suatu perasaan marah yang meluap, orang akan menganggap dia sedang marah dan tersinggung oleh perkataan Bwee Su-yok, tapi lantaran ia sudah tertawan, maka rasa gusarnya tak berani diutarakaan keluar.

Sebaliknya bagi pandangan Bwee Su-yok, sorot mata semacam itu justru mendatangkan perasaan yang lain daripada yang lain dengan rekan-rekannya.

Walaupun wajah Bwee Su-yok dingin dan kaku tapi sorot mata dari Hoa In-liong itu justru merupakan kobaran api yang membara.

Ketika mereka berdua saling berpandangan tanpa berkedip, maka lama kelamaan Bwee Su-yok merasakan suatu perasaan yang sangat aneh.

Dia merasa tubuhnya bergetar keras, jantungnya berdebar lebih keras dari keadaan semula.

Suatu perasaan yang belum pernah dialaminya selama ini dengan cepat menyelimuti seluruh benaknya dan tanpa diketahui sebabnya tiba-tiba saja mukanya jadi merah.

Tapi hanya sejenak, dia segera mendengus dan melengos kesamping lain.

Setelah merah wajahnya kemudian mendengus pula, apa alasannya demikian?

Tentu saja kecuali mereka berdua, orang lain tidak akan memahaminya.

Dalam pada itu, Kiu-im kaucu telah berkata lagi sambil tertawa seram.

"Hoa siau-hiap, kalau berbicara tentang soal tingkat kedudukan, perbuatanku dengan cara menyergap menotok jalan darahmu tadi memang kurang pantas dan sedikit menurunkan gengsi sendiri. Tapi akupun mempunyai kesulitan yang memaksa diriku harus berbuat demikian. Coba bayangkan saja betapa sayangnya aku terhadap ibumu, padahal tujuanku turun gunung kali ini adalah untuk merebut tempat kedudukan yang terhormat dalam dunia persilatan. Selama ibumu masih berada di bukit Im-tiong-san bagaimana mungkin aku dapat melanjutkan rencanaku untuk memusuhi keluarga Hoa kalian?"

Hoa In-liong adalah seorang pemuda yang cerdik.

Dari pembicaraan Kiu-im kaucu yang bolak balik tak menentu itu, dia segera mengetahui bahwa pihak musuhnya mempunyai tujuan dan maksud-maksud tertentu, maka diapun mengerling sekejap ke arah perempuan tua yang angker itu seraya berseru.

"Huuuh! Kalau bicara saja enak kedengarannya, padahal siapa tahu bagaimanakah kesungguhannya? Benarkah kaucu benar-benar tidak bermaksud sesuatu?"

Kiu-im kaucu tidak tersinggung oleh perkataan tersebut, kembali ujarnya.

"Bila kubicarakan secara blak-blakan, mungkin saja engkau tak akan mempercayainya, tahukah engkau bahwa didalam peristiwa pembunuhan berdarah atas diri Suma tayhiap beserta istrinya bukan saja aku ikut mengambil bagian. Pihak perkumpulan Hian-beng-kauw juga ikut ambil bagian bahkan Ku Ing-ing, si Giok-teng hujin itupun turut ambil bagian. Jika engkau hanya menaruh rasa benci dan dendam terhadap aku seorang, tidakkah kau merasa bahwa tindakanmu tersebut bukan saja tidak bijaksana bahkan merupakan suatu keputusan semena-mena yang tidak adil?"

Diam-diam Hoa In-Iiong merasa terperanjat sekali sehabis mendengar pekataan itu, pikirnya.

"Dengan begitu terus terang dia mengemukakan latar belakang peristiwa berdarah itu kepadaku, sudah pasti ia memang mempunyai rencana untuk membinasakan diriku"

Meskipun dalam hati merasa kaget, diluaran dia tetap bersikap tenang, setelah mengerling sekejap katanya kemudian.

"Dewasa ini Hoa In-liong sudah menjadi tawananmu, mau bunuh mau jagal terserah pada diri kaucu, buat apa kau ucapkan kata-kata seperti itu....?"

"Aku hanya suruh engkau percaya saja"

Sahut Kiu-im kaucu sambil tersenyum.

"Aku tidak bermaksud apa-apa terhadap diri siauhiap"

"Hoa In-liong bukan anak kecil yang berusia tiga tahun, jangan harap bujuk rayu dan kata-kata manismu akan mendatangkan hasil bagimu"

Kata Hoa In-liong kemudian dengan tenang.

"Maka kuanjurkan kepadamu lebih baik berbicaralah terus terang bila ingin mengutarakan sesuatu, asal aku Hoa In-liong mampu untuk menjawab, pertanyaan itu tentu akan kujawab, jika tak sanggup kujawab, sekalipun kau rantai badanku dengan borgol sebesar apapun jangan harap bisa memaksa aku untuk mengutarakan sepatah katapun juga"

Seng-Sin-sam yang kerdil dan menjabat sebagai Tongcu penerimaan anggota baru itu tiba-tiba menyela sambil tertawa seram.

"Heeehh.... heehh.... hee.... Terus terang kuberitahukan kepadamu, pada hakekatnya kamipun tiada pertanyaan yang hendak diajukan kepadamu. Aku menjabat sebagai ketua ruang penerimaan anggota baru. Andaikata engkau berhasrat masuk menjadi anggota perkumpulan kami, asal aku mengutarakan beberapa patah kata yang indah dihadapan kaucu kami, tanggung engkau pati akan ke terima menjadi anggota kami"

Berbicara menurut keadaan pada umumnya yang berlaku dalam dunia persilatan, peraturan dari tiap perguruan ataupun partai yang ada didunia ini rata-rata ketat dan disiplin.

Biasanya bilamana seorang kaucu hadir dalam suatu ruangan, maka sebagai anak buah tak seorangpun berani menyela atau menimbrung pembicaraan yang berlangsung sebelum diminta oleh ketuanya.

Tapi sekarang, bukan saja Tongcu she-Seng itu berani menyela suatu pembicaraan, bahkan berani pula mengemukaan sebuah usul, sementara Kiu-im kaucu sendiri sedikitpun tidak menunjukkan sikap kurang senang hati, dari sini dapatlah diketahui betapa terhormatnya kedudukan Seng Sin-sam dalam perkumpulan Kiu-im-kauw.

Hoa In-liong yang binal tapi cerdik segera memutar otaknya, selang sesaat kemudian ia sudah mendapat akal bagus, maka pemuda itupun tertawa nyaring.

"Haa.... haa.... haa.... Begitupun ada baiknya, setelah menjadi anggota Kiu-im-kauw, bukan saja aku Hoa Loji dapat menciptakan suatu pekerjaan yang besar, akupun setiap harinya bisa berkumpul dengan nona Bwee.... Haa.... haa.... haa.... Ada gadis cantik dalam rangkulan, masa depanku juga cemerlang, bukan saja aku Hoa Loji akan hidup penuh kebahagian, nama dan kedudukanku juga termashur.... Tentu saja ide ini bagus sekali!"

Merah padam wajah Bwee Su-yok karena jengahb cepat dia menghardik dengan nyaring.

"Hey, apa yang kau ocehkan terus?"

"Hoa siauhiap!"

Kiu-im kaucu yang selama ini membungkam tiba-tiba berkata "Andaikata engkau benar-benar berhasrat untuk membantu diriku, tentu saja dengan senang hati anak Yok akan kujodohkan kepadamu!"

Bwee Su-yok jadi sangat gelisah, cepat dia menyela.

"Suhu.... Orang she-Hoa ini usil amat mulutnya, ia jahat dan tak bisa dipercaya. Anak Yok.... anak Yok...."

Tapi sebelum gadis cantik itu menyelesaikan kata-katanya, Kiu-im Kaucu telah mengulapkan tangannya seraya berkata.

"Gurumu sudah mempunyai rencana yang sangat bagus, engkau tak usah menimbrung lagi!"

"Huuuh.... apa rencanamu itu?"

Jengek Hoa In-liong cepat dengan wajah berubah serius.

"Palingpaling juga menyelidiki jejak serta tindak tanduk orang tua dari aku orang she-Hoa atau menahan aku orang she-Hoa sebagai sandera. Hmm....! Mengulangi kembali siasat lama yang pernah dipraktekkan dua puluh tahun berselang, sayang rencanamu itu sama sekali tak berguna bagi diriku"

Diam-diam Kiu-im kaucu merasa terkejut setelah mendengar perkataan itu, dengan dahi berkerut katanya.

"Benarkan sama sekali tak berguna terhadap dirimu?"

Hoa In-liong mencibirkan bibirnya.

"Huuh....! Aku orang she-Hoa tak bakal terpikat oleh cantiknya wajah perempuan, tak akan bertekuk lutut oleh kehebatan ilmu silat orang lain. Sekalipun kau mempunyai beribu macam akal muslihat, berjuta macam bentuk siksaan, jangan harap kau dapat memaksa aku orang she-Hoa tunduk pada perintahmu"

Betapa mendongkolnya Bwee Su-yok sehabis mendengar perkataan itu, dengan ketus dia lantas menimbrung.

"Hmmm.... ! Bukankah tadi engkau selalu berteriak bahwa engkau lebih suka terbunuh daripada tertawan? Sekarang toh engkau sudah menjadi tawananku, kenapa tidak berusaha untuk bunuh diri membereskan nyawamu sendiri?"

"Nona Bwe, apakah diantara kita terikat dendam sakit hati?"

Tiba-tiba Hoa In-liong berkata dengan lembut.

Sinar matanya yang terang bagaikan bintang fajar itu seperti senyum, tak senyum memandang wajah gadis itu lekat-lekat.

Ketika sorot mata Bwee Su-yok saling bersentuhan kembali dengan pandangan matanya, sekali lagi gadis itu merasakan jantungnya berdebar keras.

Untuk sesaat, dia tertegun, tapi selanjutnya jawabnya dengan nada dingin.

"Yaa, diantara kita ada ikatan dendam, suatu ikatan dendam yang lebih dalam dari samudra, kenapa?"

Kembali Hoa In-liong tertawa.

"Sekalipun antara nona Bwe dengan aku ada ikatan dendam, caramu memanaskan hatiku tak bakal mendatangkan apa-apa. Ketahuilah aku Hoa loji jauh berbeda dengan orang lain. Tahukah engkau apa yang sedang kupikirkan sekarang?"

Seraya berkata kepalanya sengaja dimiringkan kesamping berlagak seperti seorang bocah yang pura-pura sok rahasia.

Gayanya yang mengejek ini kontan saja menggemaskan Bwee Su-yok hingga membuat giginya saling bergermerutukan menahan emosi.

Kalau bisa dia ingin menggigit pemuda itu untuk melampiaskan rasa dongkolnya.

Sambil menggigit bibir, dia lantas berseru dengan gemas.

"Aku tak ambil perduli apa yang kau pikirkan pokoknya nonamu cuma tahu bahwa engkau harus mampus!"

Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak.

"Haaa.... haa.... haa.... Aku orang she Hoa mana boleh mati. Kalau aku sampai mati lebih duluan, bukankah engkau akan...."

Sebetulnya dia hendak mengatakan.

"Bukankah engkau akan menjadi seorang janda kembang?"

Kata-kata itupun mengiringi ucapan Kiu-im kaucu yang hendak menjodohkan anak Yok-nya kepada dia.

Tapi bagaimanapun juga dia adalah keturunan seorang pemuda persilatan yang punya nama besar ketika ucapan tersebut sudah berada diujuag bibir, tiba-tiba dia merasa bahwa perkataan itu terlalu tengik dan kurang sopan.

Lantaran ia kuatir kalau ucapan tersebut sampai menyinggung perasaan halus Bwee Su-yok, maka tiba-tiba saja dia membungkam dan menelan kembali kata-kata tersebut ke dalam perutnya.

Perlu diketahui disini, walaupun Hoa In-liong termasuk seorang pemuda yang romantis, sekalipun dia binal dan nakal, tapi bukan berarti cabul atau tak tahu sopan santun.

Apalagi kecantikan Bwee Su-yok dan keagungan gadis itu belum pernah dijumpai seumur hidup.

Sekalipun dara itu bersikap angkuh dan dingin, lagipula mereka berhadapan sebagai musuh, tapi bila Hoa In-liong disuruh benar-benar melukai perasaan Bwee Su-yok, dengan watak yang dimiliki pemuda itu, belum tentu dia bersedia untuk melakukannya.

Kalau toh diapun begitu, tentu saja keadaan tersebut berlaku juga bagi diri Bwee Su-yok.

Orang bilang gadis yang cantik selalu menjaga gengsi.

Gengsi ini mencakup pula terhadap orangorang yang melakukan hubungan dengannya.

Keadaan tersebut tak ubahnya ibarat seorang hartawan yang kaya raya tak sudi berhubungan dengan kaum pengemis.

Seorang gadis yang betul-betul cantik, selain dia selalu menjaga gengsi, disamping itu diapun selalu berharap setiap orang yang berhubungan dengannya memiliki kecantikan atau keayuan yang setaraf dengan kecantikannya, terutama dengan lawan jenisnya, hal ini akan tampak semakin kentara.

Kebetulan sekali Hoa In-liong terhitung seorang pemuda yang gagah dan tampan, orangnya juga amat romantis.

Berbicara soal kegantengan maupun karakternya boleh dibilang setingkat lebih tinggi dari orang lain atau dengan perkataan lain pemuda tersebut benar-benar merupakan ssorang pemuda yang tampan.

Bwee Su-yok yang terhitung pula sebagai seorang gadis cantik.

Bila dikatakan ia tidak tertarik oleh pemuda setampan dan segagah itu, maka hal tersebut merupakan kata-kata yang bohong dan tak bisa dipercaya.

Ia tertarik juga merasakan pergolakan yang hebat, tapi sayang oleh karena pendidikan yang keliru membuat terciptanya suatu watak membenci kepada laki-laki tampan dalam hati sidara ayu ini ditambah lagi Hoa In-liong memang binal sukar diurus, yang kebetulan sekali merupakan watak yang paling dibenci olehnya dihari-hari biasa, apalagi Hoa In-liong menunjukkan sikap hambar dan seolah-olah sama sekali tidak tertarik oleh kecantikannya, kesemuanya ini membuat nona itu semakin berang hingga berulang kali mengatakan hendak membunuh dirinya dan bersumpah tak mau hidup berdampingan dengannya.

Padahal bila kita bahas keadaan tersebut dengan lebih mendetail, maka dapatlah kita ketahui bahwa tindakan tersebut disebabkan karena perasaan tak puas si nona itu terhadap lawannya, cuma gadis itu sendiripun tidak menyadari akan keadaan tersebut.

Sementara itu, sorot mata Bwee Su-yok sudah memancarkan sinar dingin yang menggidikkan hati.

Kalau dilihat dari gayanya jelas gadis itu sudah siap akan melancarkan serangan.

Tapi lantaran perkataan dari Hoa In-liong tiba-tiba berhenti ditengah jalan, dimana tindakan semacam itu justru sama sekali berada diluar dugaannya, maka gadis itu jadi tertegun untuk sesaat lamanya.

"Ayoh teruskan kata-katamu itu!"

Bentaknya kemudian "Kenapa tidak kau lanjutkan?"

"Aaaah.... Lebih baik tak usah kulanjutkan lagi!"

Bwee Su-yok jadi makin mendongkol, teriaknya dengan nyaring.

"Tidak! Bagaimanapun juga engkau harus mengatakan keluar, kalau tidak kau lanjutkan kata-katamu itu, lidahmu akan segera kupotong sampai kutung"

"Baiklah!"

Ucap Hoa In-liong kemudian sambil mengangkat bahunya "Aku akan mengatakannya keluar. Aku sedang memikirkan bagaimana caranya meloloskan diri dari sini, percayakah kau?"

Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, Bwee Su-yok kontan jadi terbelalak lebar, sedang kawanan jago lainnya tak dapat menahan rasa gelinya lagi, mereka tertawa terbahak-bahak.

Tak aneh kalau mereka tertawa geli, bayangkan saja bukannya ia sudah kena ditawan orang, bahkan berada pula dilingkungan musuh musuhnya yang tangguh tapi pemuda itu telah mengucapkan kata-kata yang tidak bersemangat, selain itu diapun malah bertanya apakah orang mau percaya dengan perkataan itu, bayangkan saja siapa yang tidak geli dibuatnya.

Bwee Su-yok sendiri pun diam-diam berpikir dihati.

"Manusia macam apaan orang ini? Kalau dilihat dari wajahnya yang tampan dan tindak tanduknya yang gagah perkasa, sudah pasti dia terhitung seorang laki-laki yang tinggi hati. Tapi mengapa mengucapkan kata-kata macam perkataan bocah cilik? Apakah.... Apakah dia merasa yakin sekali kalau dirinya memiliki kemampuan untuk meloloskan diri?"

Dalam pada itu, Hoa In-liong duduk dikursi tepat dihadapannya dengan senyuman dikulum, sikapnya amat tenang, tidak tampak sikap malu, atau menyesal, juga tidak menunjukkan tandatanda kalau ia merasa amat yakin.

Sikapnya yang begitu santai, begitu kalemnya mengingatkan orang bahwa dia seakan-akan berada dilingkungan sahabat-sahabat sendiri, kehambaran dan ketenangannya cukup membuat orang jadi tercengang.

Haruslah diketahui, keketusan dan kehambaran sikap Bwee Su-yok jauh berbeda dengan manusia biasa.

Seringkali manusia dengan pendidikan yang kaku dan dingin semacam ini memiliki pandangan yang lebih agresif terhadap segala macam bentuk rasa sayang maupun rasa benci.

Waktu itu dia masih belum menemukan rasa cintanya terhadap Hoa In-Liong, maka ia merasa setiap gerak-gerik dari si anak muda itu mendatangkan rasa benci baginya.

Menurut jalan pikirannya, andaikata manusia semacam ini dibiarkan lolos dari cengkeramannya, maka kejadian ini akan dianggapnya sebagai suatu penghinaan yang luar biasa besarnya, otomatis tak bisa disalahkan pula bila ia mempunyai cara berpikir yang bertolak belakang dengan orang biasa.

Seng Sin-sam, tongcu bagian penerimaan anggota baru yang kerdil pada hakekatnya adalah seorang manusia yang licik dan banyak tipu muslihatnya.

Sambil tertawa tergelak tiada hentinya, dengan mata yang tajam dia mengawasi gerak-gerik Hoa In-liong, Kemudian ia berseru dengan nada dingin.

"Lapor kaucu, aku lihat Hoa In-liong adalah seorang manusia kurcaci yang tak berguna. Ia tidak memiliki kegagahan dan kejantanan seperti Hoa Thian-hong. Menurut pendapat hamba, lebih baik kita tak usah membuang banyak tenaga dan pikir-an lagi"

Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, semua gelak tertawa terhenti dan sorot mata semua orang pun sama-sama dialihkan keatas wajah Hoa In-liong.

Si anak muda itu masih tetap duduk dengan sennyuman dikulum, Tubuhnya yang duduk sekokoh batu karang tampak begitu tenang dan kalemnya, seolah-olah tidak terpengaruh sama sekali oleh ancaman yang membahayakan jiwanya itu.

Huan Tong Si Tongcu bagian propaganda segera menyela dari samping ruangan.

"Hamba juga mempunyai pendapat demikian, asal yang kecil kita jagal, tentu si kura-kura tua terpaksa harus menongolkan diri. Bagaimanapun jua kita toh hendak memimpin dunia persilatan dan bersikap musuhan dengan Hoa Thian-hong, nanti juga bentrok sekarang juga bentrok, kenapa tidak kita jagal saja bangsat cilik ini baru kemudian melakukan pertarungan besar dengan sepuas-puasnya"

Orang ini sangat suka mencari nama dan pahala.

Dia paling tidak percaya kalau dikatakan Hoa Thian-hong itu lihay, maka dalam penbicaraanpun bukan saja sama sekali tidak menunjukkan perasaan jeri, bahkan penuh dengan semangat yang menyala-nyala.

Hoa In-liong tidak biasa dengan gayanya yang sok itu, cepat dia menimbrung sambil tertawa tergelak.

"Haaa.... haa.... haaa.... Ayohlah kalau mau turun tangan! Aku orang she-Hoa kan duri dalam mata bagi kalian semua, kenapa tidak segera turun tangan?"

Lie Kiu-it, tiamcu dari ruang siksa menyahut dengan suara yang dingin dan tajam.

"Cepat atau lambat kita pasti akan turun tangan. Asal kaucu ada perintah, pertama-tama akan kusuruh kau cicipi bagaimana rasanya kalau sekujur badan diselomoti dengan batang hio yang menyala!"

Lie Kiu-it yang menjabat sebagai ketua istana ruang penyiksaan ini memang memiliki tampang "kriminal".

Bukan saja kepalanya botak, tubuhnya tinggi besar, biji matanya yang putih lebih banyak daripada yang hitam.

Malahan mata itu semu merah menyala.

Tampang semacam ini tak bisa dibatalkan lagi kalau dikatakan sebagai tampang seorang manusia yang buas dan berjiwa kejam.

Mendengar ucapan tersebut, Hoa In-liong lantas berpikir didalam hatinya.

"Orang ini adalah seorang penjagal yang melanjutkan hidup dengan kerjanya menjagal manusia, tampang semacam ini persis dengan tampang pembantu Gwa-kong ku yang kejam itu. Biasanya manusia seperti itu bukan saja buas, juga tidak berperi kemanusian. Manusia macam begini tak dapat dibiarkan hidup lebih jauh. Bila sampai bertempur nanti, akan kucabut lebih dahulu se-lembar jiwanya"

Kek Thian-tok yang menjabat sebagai Tongcu bagian tata cara dan disiplin perkumpulan merupakan anggota Kiu-im-kauw yang paling tua, diapun paling paham dengan jalan pemikiran kaucunya.

Ketika pendapat mulai diutarakan simpang siur, tiba-tiba dia melangkah keluar dari rombongan dan memberi hormat kepada kaucunya seraya berkata.

"Hamba mengetahui betapa terkenangnya kaucu terhadap sahabat-sahabat lama, terutama kesan yang begitu mendalam terhadap sanak keluarganya Hoa In-liong. Sayang bocah she Hoa ini begitu tak tahu diri dan menganggap dirinya sebagai sok jagoan hingga bersikap kurang sopan kepada kaucu. Menurut hamba, orang ini terlampu binal dan aneh. Rasanya untuk menundukkan perasaannya dengan mengenang kembali kesan dan hubungan persahabatan dimasa lampau, hal ini sukar untuk terpenuhi dengan mudah!"

Selama orang lain mengajukan usul dan pendapatnya yang beraneka ragam, Kiu-im kaucu selalu membungkam dalam seribu bahasa tanpa memberi komentar apa-apa, ini menunjukkan bahwa jalan pemikiran mereka tidak sesuai dengan jalan pemikirannya.

Tapi setelah Kek Thian-tok yang menjadi Tong cu bagian tata cara dan disiplin perkumpulan ini mengutarakan kata-katanya, pelan-pelan diapun mengangguk.

Meskipun telah mengangguk, tapi mulutnya tetap membungkam, sementara otaknya masih berputar memikirkan sesuatu.

Haruslah diketahui, Kiu-im kaucu adalah seorang manusia yang cerdik dan banyak tipu muslihatnya, sekalipun wataknya agak keras pada hakekatnya dia adalah seorang manusia yang buas, ganas dan berbahaya.

Dimasa lampau, dia pernah menaruh kesan baik atas diri Pek Kun-gi sebagai muridnya, meskipun pada akhirnya keinginan hatinya itu tak sampai keturutan, tapi bayangan dari Pek-Kun-gi masih selalu melekat dalam-dalam dihatinya.

Apalagi dimasa lalu dia mempunyai suatu cita-cita yang lain, yakni bila Pek Kun-gi dapat ia terima sebagai muridnya, otomatis Hoa Thian-hong akan tertarik juga untuk menjadi anggota Kiu-imkauw.

Asal orang-she-Hoa itu sudah tunduk dibawah perintahnya, dengan gampangnya pula tahta pemimpin dunia persilatan akan terjatuh ketangannya.

Meskipun kejadian itu sudah lewat banyak tahun, tapi sampai sekarang ambisinya itu belum pernah padam, tentu saja dalam gerakan turun gunungnya kali ini juga diselilingi dengan maksud-maksud tertentu.

Apa mau dikata ketika baru saja terjun ke dalam dunia persilatan, dia telah bertemu lebih dulu dengan putranya Pek Kun-gi.

Sebagaimana diketahui Hoa In-liong mempunyai wajah yang mirip dengan ayah ibunya, maka dipakainya siasat yang bersifat lembut untuk menggaet perasaan simpatik dihati anak muda itu.

Pikirnya asal Hoa In-liong bisa ditarik kesan baiknya sehingga antara pihaknya dengan keluarga Hoa Thian-hong dapat terjalin hubungan, maka cita-citanya untuk menjagoi dunia persilatan tak akan terlampau sulit untuk dicapai.

Maka bila diteliti lebih mendalam, boleh dibilang ia memang sedarg mengulangi kembali sia-sat lamanya.

Tentu saja dibalik kesemuanya itu terdapat suatu alasan yang amat sensitif sifatnya, yaitu Kiu-im kaucu menaruh rasa jeri dan ngeri terhadap Hoa Thian-hong, ayahnya Hoa In-liong.

Tegasnya Kiu-im kaucu sampai sekarang masih tak dapat melupakan dendam sakit hatinya dimasa lampau, terutama keberhasilan Hoa Thian-hong memimpin dunia persilatan dan menghancurkan ambisinya untuk menguasai seluruh jagad.

Sakit hati semacam ini tentu saja tak dapat dia lupakan untuk selamanya.

Betapa besarnya rasa dendam dan sakit hati Kiu-im kaucu terhadap diri Hoa Thian-hong dapat terlihat jelas misalnya saja dalam pembunuhan terhadap Suma Tiang-cing beserta istrinya Kwa Gi-hun dan tindakannya menciptakan Bwee Su-yok yang dingin dan kaku.

Boleh dibilang kesemuanya itu dilakukan khusus untuk ditujukan buat keluarga Hoa.

Sekalipun demikian, Kiu-im kaucu termasuk juga seseorang yang lebih memperhatikan tercapainya tujuan daripada memikirkan cara pelaksanaannya.

Ia merasa apalagi bisa menarik kesan baiknya Hoa In-liong sehingga antara pihaknya dengan pihak Hoa Thian-hong terjalin hubungan baik dan cita-citanya dapat tercapai tanpa harus terjadi kontak senjata, bukankah cara tersebut jauh lebih baik?

Walaupun dia adalah seorang ketua dari suatu perkumpulan besar, namun daripada itu diapun merasa tak mempunyai keyakinan untuk menangkan musuhnya maka kalau bisa dia berusaha ingin mencapai tujuan dengan cara yang halus dan baik-baik.

Sayang sekali perempuan tua itu sudah salah menafsirkan diri Hoa In-liong.

Sekilas pandangan pemuda ini memang tampaknya acuh tak acuh dan tidak begitu menaruh perhatian terhadap setiap persoalan.

Padahal justru dia merupakan seorang berotak encer, ditambah lagi kecerdikannya wataknya yang terbuka dan tidak terikat adat istiadat yang tetek bengek, serta pandai memutar kemudi mengikuti hembusan angin, kesemuanya itu membuat orang jadi sukar untuk meraba maksud tujuan serta jalan pemikiran yang sebenarnya.

Karena persoalan ini Kiu-im kaucu pernah merasakan kesulitan, bahkan nafsu membunuhnya pernah menyelimuti pula benaknya, terutama sewaktu berada dibukit Ciong-san, ia pernah dibuat marah oleh persoalan itu.

Sebagai seorang yang berhati kaku, dia enggan untuk merubah cara berpikirnya, tapi sekarang setelah diberi petunjuk oleh Kek Thian-tok, dan lagi apa yang diucapkan juga begitu luwes tanpa menyinggung gengsinya, maka setelak termenung sebentar dia alihkan pandangannya kewajah orang itu.

"Bagaimana menurut pendapatmu?"

Tanyanya kemudian.

"Menurut pendapat hamba lebih baik untuk sementara waktu kita sekap saja pemuda ini. Sementara kabar tentang penangkapan ini kita siarkan luas diluaran. Coba kita lihat saja bagaimanakah reaksi dari ayah ibunya, selain itu kitapun mengirim kabar kepada Hian-beng kaucu agar segera datang ke suatu tempat yang kita janjikan untuk bersama sama merundingkan rencana besar kita selanjutnya dalam menghadapi Hoa Thian-hong. Bagaimanapun juga kita toh sudah keluar gunung, cepat atau lambat akhirnya kita pasti akan melangsungkan suatu pertarungan habis-habisan melawan Hoa Thian-hong dan konco-konconya. Maka menurut pendapat hamba, selama Hoa In-liong ini masih bisa dipakai kita pakai saja, tapi kalau sudah tak dapat kita pakai lagi, sampai waktunya kita lenyapkan saja bocah kunyuk ini dari muka bumi, urusan kan menjadi beres?"

Yang dimaksudkan sebagai "bisa dipakai"

Disini adalah digunakan sebagai sandera. Sebelum Kiu-im kaucu sempat memberikan reaksinya, Hoa In-liong sudah tertawa terbahakbahak.

"Haaa.... haa.... haa.... Suatu ide yang sangat bagus! Suatu idee yang bagus sekali? Kalau toh semua pihak akan berdatangan semua untuk menyelesaikan masalah ini, rasanya aku Hoa loji tak perlu repot-repot lari kesana kemari lagi!"

Habis berkata dia lantas bangkit berdiri dan berjalan menuju keruang belakang.

Dengan suatu gerakan yang sangat cepat Bwee Su-yok melayang kedepan dan menghadang jalan perginya, kemudian bentaknya keras-keras.

"Hey, mau apa kamu?"

"Mau apa? Tentu saja pergi beristirahat! Bukankah kalian hendak menyekap diriku?"

Sahut Hoa In-liong dengan dahi berkerut. Bwee Su-yok segera mendengus dingin.

""Hmmm....! Enak benar kalau berbicara, memangnya kasu anggap disekap itu enak yaa?"

Hoa In-liong mengangkat bahunya seraya tertawa.

"Meskipun katanya saja disekap! Tentunya kau tidak akan memborgol tangan dan kakiku bukan macam buronan penjahat besar dalam penjara kota....?"

Mengangkat bahu sambil tertawa sebenarnya merupakan suatu gerakan melucu, tapi lantaran orangnya memang tampan dan binal, maka gerakan melucunya ini justru mendatangkan suatu daya rangsangan yang lain dari pada yang lain.

Menyaksikan semua gerakannya itu, Bwee Su-yok merasa dirinya seakan-akan kena ditampar, makin dilihat semakin tak enak rasanya, tak kuasa lagi dia mendengus dingin berulang kali.

Ditengah dengusan tersebut tiba-tiba tubuhnya berputar menghadap ke arah Kiu-im kaucu, kemudian serunya.

"Suhu, apakah engkau sudah mengambil keputusan yang tetap?"

Rupanya Kiu-im kaucu cukup memahami betapa marah dan mendongkolnya gadis itu. Dengan nada tercengang dia balik bertanya.

"Mengambil keputusan tentang soal apa?"

"Menyekap orang she-Hoa ini disini!"

"Oooh....! Soal itu toh.... ada apa? Apakah engkau mempunyai pendapat lain?"

"Tidak ada, anak Yok cuma berharap bilamana suhu telah mengambil keputusan maka harap engkau orang tua suka menyerahkan orang she-Hoa itu kepadaku?"

Mendengar ucapan tersebut, tiba-tiba Hoa In-liong berteriak aneh.

"Bagus.... Bagus sekali? Ada perempuan yang mau menemani aku, berarti rejeki yang amat besar bagi aku Hoa-loji.... haaa.... haa.... haa.... Syukurlah kalau nona memang demen sama aku!"

Kiu-im kaucu tertawa dingin, sinar matanya segera dialihkan ke wajah muridnya dan berkata.

"Kenapa harus kuserahkan kepadamu? Orang ini aneh sekali dan banyak tipu muslihatnya"

"Aku tidak takut kebinalannya, juga tidak takut tipu muslihatnya, aku akan suruh dia merasa-kan pahit getirnya ditanganku"

Kiu-im Kaucu tidak langsung menyanggupi, dia berpikir sebentar kemudian baru menjawab.

"Baiklah! Memang ada baiknya juga membiarkan dia merasakan sedikit kelihayanmu. Tapi kau musti hati-hati, jangan sampai membuat badannya menjadi cacad, sebab aku masih mempunyai kegunaan lainnya"

"Yaa suhu!"

Bwee Su-yok mengiakan, dia lantas putar badan dan berseru lagi dengan dingin.

"Ayoh jalan!"

Hoa In-liong sama sekali tidak memikirkan ancaman lawan malahan dengaa sikap yang mengejek ia membuat gerakan mempersilahkan nona itu berjalan lebih dulu.

"Silahkan nona manis! Harap engkau suka mem bawa jalan bagi diriku!"

Katanya sambil tertawa.

Bwee Su-yok mendengus dingin, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia putar badan dan berjalan menuju ke arah pintu ruangan sebelah belakang.

Hoa In-liong segera menjura kepada diri Kiu-im kaucu, kemudian katanya.

"Bila dari pihak ayah ibuku sudah ada kabar, tolong kaucu bersedia memberi kabar kepadaku, maaf tak dapat menemani terlampau lama....!"

Dengan langkah lebar dan sikap yang amat santai dia lantas berlalu dari situ dan menuju ke ruang belakang mengikuti langkah Bwee Su-yok.

Menyaksikan sikap Hoa In-liong yang begitu santai dan sama sekali tidak merasa takut itu, Lie Kiu-it si tiamcu ruang penyiksaan dan para tong-cu lainnya sama-sama menunjukkan senyuman yang menyeringai.

Agaknya mereka senang sekali karena musuhnya sudah dibawa pergi untuk disekap sementara waktu.

Hanya Kiu-im kaucu seorang yang mengerutkan dahiaya, dalam hati dia berpikir.

"Bagaimanakah watak si bangsat itu yang sebenarnya? Benarkah dia tidak takut disiksa dan tak takut mati? Ataukah dia emang memiliki sesuatu kekuatan yang bisa diandalkan...."

Semakin dipikir hatinya semakin gundah, akhirnya dengan suara keras dia berseru.

"Bubar! Kita laksanakan tugas masing-masing sesuai dengan rencana, Kek-tongcu! Bawalah orang dan segera mengadakan kontak dengan Hian-beng kaucu"

Begitu selesai berkata, dia lantas mengundurkan diri lebih dahulu dari tempat itu.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Bwee Su-yok berjalan didepan menelusuri serambi yang pa jang dan menuju keruang belakang.

Hoa In-liong mengikuti tanpa berbicara juga, hanya bedanya kalau si nona berwajah dingin dan serius.

Sementara si anak muda itu berjalan dengan wajah penuh senyuman.

Kendatipun demikian perbedaan sikap itu sama sekali tidak mengurangi ketampanan dan kecantikan wajah mereka berdua.

Begitu menariknya raut wajah kedua orang itu sehingga mirip dewa-dewi yang baru turun dari kahyangan.

Setelah mencapai ujung serambi tersebut, mereka melewati sederetan bangunan rumah dan akhirnya tibalah disebuah halaman yang terpencil letaknya jauh dlbelakang sana.

Disinilah tempat tinggal Bwee Su-yok, letaknya disudut tenggara bangunan utama.

Halaman itu bertengger persis dibawah tanah perbukitan Ciong-san.

Didepan pintu membujur sebuah selokan kecil yang meliuk-liuk kesana-kemari, menciptakan suatu pemandangan yang sangat indah dan sedap dilihat.

Setelah memasuki halaman tersebut, seorang dayang kecil yang memakai baju berwarna hijau pupus menyambut kedatangan mereka.

Bwee Su-yok mendengus dingin, katanya kemudian dengan ketus.

"Siapkan tali dan bawa kedalam ruangan!"

Tanpa menghentikan langkah kakinya dia langsung masuk kedalam sebuah bangunan yang mungil didepan sana.

Dengan langkah yang santai dan wajah diliputi senjuman Hoa In-liong mengikuti terus dibelakang gadis itu, ketika lewat disamping dayang cilik itu ia lantas menunjukkan muka setan.

Dayang itu agak tertegun melihat sikap tamunya, matanya jadi terbelalak lebar.

Untuk sesaat dia jadi lupa untuk melaksanakan perintah majikannya.

"Kenapa berdiri melulu?"

Bwee Su-yok membentak sambil putar badannya.

"Sudah kau dengar belum perkataanku tadi?"

Dengan rada kaget dayang itu buru-buru menyahut.

"Sudah dengar.... Sudah dengar...."

Dengan langkah cepat dia lantas kabur dari situ.

oooOOOOooo S ETIBANYA didalam ruangan, dengan gaya yang sok Bwee Su-yok duduk dikursi kebesaran dalam ruangan itu.

Sedang Hoa In-liong masih berlagak santai, makanya celingukan kesana kemari mengamati bangunan tersebut.

Bangunan itu cukup megah, sekalipun tidak begitu besar tapi cukup mewah dan mentereng.

Ditengah-tengah bangunan merupakan sebuah ruangan tamu, kedua belah sisinya merupakan tempat tinggal Bwee Su-yok, kamar baca dan ruangan untuk bersemedi.

Dibelakang ruang semedi adalah tempat tidur dayang itu.

Semua perabot yang ada disana terbuat dari kayu jati pilihan.

Modelnya bagus, bikinannya ju-ga halus.

Lukisan-lukisan kenamaan tergantung dikedua sisi dinding ruangan dan semuanya berada dalam keadaan bersih.

Ini menunjukkan kalau Bwee Su-yok adalah seorang gadis yang suka akan kebersihan.

Pada waktu itu senja lelah menjelang tiba, selang sesaat kemudian dayang tadi muncul sambil membawa baki berisi cawan air teh dan seutas tali besar.

Melihat itu.

Bwee Su-yok langsung melototkan matanya lebar-lebar, bentaknya dengan gusar.

"Siapa yang suruh kau hidangkan air teh?"

"Kan ada tamu nona? Biarlah kesuluh lampu "

Jawab dayang itu sok pintar. Setelah meletakkan baki air teh dimeja dan meletakkan tali dilantai, ia putar badan siap mengambil api.

"Omong kosong! Siapa yang menjadi tamu kita?"

Bentak Bwee Su-yok lagi dengan marah.

Dayang cilik itu jadi terbelalak makin tercengang, sebentar dia memandang ke arah Bwee Suyok, sebentar memandang pula ke arah Hoa In-liong.

Wajahnya jelas menunjukkan sikap kebingung an dan tidak habis mengerti.

Dayang cilik itu berusia dua tiga belas tahunan, dia adalah seorang bocah perempuan yang cilik.

Mukanya bulat dengan mata yang besa.

Meskipun sifat kanak-kanaknya belum hilang dan polos sekali, dia terhitung seorang nona yang cerdik dan lincah.

Dihari-hari biasa amat disayang oleh Bwee Su-yok hingga sikapnya juga jauh lebih akrab.

Sementara nona cilik itu masih termangu keheranan, tiba-tiba Hoa In-liong berkata sambil tertawa.

"Aaah.... Jiwa nona memang terlampau sempit. Sekalipun aku bukan tamu, apalah artinya secawan air teh? Kenapa kau musti mengumbar hawa amarah terhadap seorang bocah cilik?"

Dengan pandangan yang dingin Bwee Su-yok melirik sekejap ke arahnya, kemudian kepada dayang cilik itu katanya lagi.

"Peng-ji, kenapa kamu....? Ayoh panggil Siau-kian dan Siau-bi suruh kemari, kemudian baru memasang lampu!"

Tampaknya Peng-ji masih merasa bingung dan tidak habis mengerti, apalagi dihari biasa selalu dimanja, bukannya melaksanakan perintah itu, dengan dahi berkerut dia malah membantah.

"Kenapa musti panggil mereka? Peng-ji kan dapat melakukan semua perintah nona sendirian!"

"Suruh panggil mereka yaa, panggil mereka, kenapa musti cerewet melulu?"

Bentak Bwee Su-yok dengan muka berubah.

"Memangnya kau sanggup untuk mengikat orang itu sendirian?"

Peog-ji semakin tertegun, segera pikirnya.

"Aneh benar siocia kita ini. Kenapa orang itu harus diikat? Memangnya dia.... dia sudah menyalahi siocia?"

Sementara dia masih berpikir, Hoa In-liong telah berkata sambil tertawa nyaring.

"Haa.... haa.... haa.... Kau anggap dengan seutas tali maka aku dapat terikat sehingga tak bisa berkutik?"

"Tak usah banyak bicara lagi, nanti toh kau akan tahu sendiri"

Jawab Bwee Su-yok dingin.

Hoa In liong tersenyum.

'Sekalipun tali itu bisa membelenggu tubuhku, jika aku tak mau menyerahkan diri untuk diikat, sekalipun nona turun tangan sendiri rasanya keinginanmu itu belum tentu dapat keturutan!"

Bwee Su-yok mendengus dingin.

"Hmm, kecuali kalau engkau bukan seorang enghiong. Siau-kian dan Siau-bi hanya setahun lebih tua dari Peng-ji, boleh saja kalau ingin mencobanya"

Mendengar ucapan tersebut Hoa In-liong jadi tertegun, dia lantas berpikir pula didalam hati.

"Waaah.... kalau begitu rada susah juga, masa aku harus berkelahi dengan bocah cilik? Tapi.... Tapi.... aku tak dapat menyerahkan diri dengan begitu saja"

Pikir punya pikir akhirnya sambil tersenyum dia berkata.

"Aku benar-benar tak habis mengerti, kenapa nona begitu ngototnya ingin membelenggu tubuhku? Ketahuilah nona, pekerjaan semacam itu tak ada gunanya!"

"Hmmm....! Siapa bilang tak ada gunanya? Aku hendak mengikat tubuhmu kemudian menggantung engkau diatas pohon"

Sahut Bwee Su-yok dengan ketus.

"Kalau sudah digantung lantas bagaimana? Itukah yang kaumaksudkan sebagai siksaan bagiku?"

"Kalau digantung masih belum dapat menyiksa dirimu, maka aku akan menggantung tubuhmu dengan kepala dibawah. Selama tiga hari tiga malam tak akan kuberi makan maupun minum, coba lihat saja bagaimana rasanya nanti!"

Bagi seorang jago yang belajar silat, tidak makan selama tiga hari mungkin tak akan mendatangkan penderitaan apa-apa.

Tapi kalau selama tiga hari tiga malam digantung secara terbalik, dengan isi perut yang terbalik dan peredaran darah yang mengalir secara terbalik pula, siksaan dan penderitaan semacam itu boleh dibilang luar biasa sekali.

Siksaan itu lambat sifatnya tapi cukup membuat orang jadi sinting karena menderitanya.

Diam-diam Hoa In-liong merasa terperanjat.

Tanpa sadar sinar matanya dialihkan ke arah pohon besar yang tumbuh diluar pintu.

Berbanggalah hati Bwee Su-yok melihat rasa terkejut yang menyelimuti wajah si anak muda itu.

Dia cibirkan bibirnya lalu berkata lebih jauh.

"Aku lihat engkau tidak acuh yaa terhadap semua ancamanku? Baiklah, kalau memang engkau sudah siap menerima semua siksaan terse-but, kupersilahkan dirimu untuk merasakan bagaimana nikmatnya kalau digantung secara ter-balik selama tiga hari tiga malam!"

Berbicara sampai disitu dia lantas berpaling lagi ke arah Peng-ji seraya ujarnya.

"Ayoh cepat lakukan! Mau apa kamu berdiri melongo melulu ditempat itu?"

Melihat sikap si nona itu, Hoa In-liong segera tertawa getir.

"Nona Bwee, sungguh tak kusangka kalau engkau adalah manusia macam begitu"

Katanya.

"Aku Hoa Yang toh tiada permusuhan apa-apa dengan dirimu, sekalipun ada perselisihan, itupun perselisihan dari orang-orang setingkat lebih tinggi dari kita, mengapa kau berbuat begitu kejam dengan menyiksa aku memakai cara semacam itu, aku.... aku.... Benar-benar tidak habis mengerti dengan keputusanmu itu"

"Heeh.... heeh.... hee.... Bagaimana?"

Ejek Bwee Su-yok sambil tertawa dingin.

"Jadi engkau juga mengerti tentang soal jeri dan ketakutan?"

Dengan cepat Hoa In-liong gelengkan kepalanya.

"Nona keliru besar, aku Hoa Yang belum pernah kenal apa yang dimaksudkan jeri atau ketakutan. Orang bilang kalau berani adu jiwa maka tiada kesulitan yang akan dihadapi seseorang, kalau cuma kelaparan selama tiga hari atau digantung selama tiga hari sih masih belum terhitung penderitaan yang luar biasa. Cuma saja.... Cuma saja.... aaai....! Lebih baik tak usah kukatakan saja!"

Ia lantas membungkukkan badannya, memungut tali itu dari tanah, kemudian setelah ditimangtimang sesaat ujarnya sambil berpaling ke arah Peng-ji.

"Siau Peng-ji, harap kemarilah sebentar!"

"Mau apa?"

Seru Peng-ji tertegun. Hoa In-liong tertawa ewa.

"Kalau memanggil orang lain tentu merepotkan sedang siocia kalian tak sudi turun tangan sendiri, maka aku minta agar engkau saja yang membelenggu tubuhku!"

Mendengar ucapan tersebut.

Peng-ji semakin tertegun lagi dibuatnya, demukian pula halnya dengan Bwe-Su-yok.

Ia tampak tercengang dan sedikit merasa diluar dugaan atas keputusan lawannya.

Didalam pemikiran Bwe-Su-yok, keadaan Hoa In-liong dianggapnya sudah terpojok dan tak bisa berkutik lagi, hingga sekalipun diejek lagi juga tak akan berani membangkang.

Dia justru ingin sekali menyaksikan keadaan Hoa In-Iiong yang mengenaskan karena dibuat serba salah dan tercemooh habis-habisan.

Siapa tahu tiba-tiba saja Hoa In-liong merubah sikapnya, bahkan berubah jadi begitu penurut dan alimnya bukan saja pembicaraannya terputus sampai ditengah jalan bahkan juga tidak mamanggil orang untuk membelenggunya, sebaliknya suruh Peng-ji yang baru berusia dua tiga belas tahun itu melaksanakan tugasnya.

Tindakan semacam ini tentu saja aneh sekali tampaknya dan siapapun tidak akan menduga sampai kesitu.

Dipandangnya wajah Hoa In-liong dengan termangu-mangu.

Ia merasa pemuda itu bersikap sungguh-sungguh dan sama sekali tiada tanda-tanda mau main curang atau menggunakan tipu muslihat yang licin, tentu saja gadis itu makin keheranan.

Tapi dia tak mau mempercayai keadaan tersebut dengan begitu saja, bagaimanapun juga "sedia payung sebelum hujan"

Memang ada baiknya. Maka dengan wajah yang masih diliputi rasa cengang bercampar curiga dia menegur.

"Hmmm.... Rupanya engkau hendak menggunakan akal muslihat untuk menyergap Peng-ji?"

Tertawalah Hoa In-liong mendengar tuduhan tersebut.

"Haa.... haa.... haa.... Nona memang terlalu banyak curiga. Keturunan keluarga Hoa bukan manusia munafik, setiap patah kata yang telah kuucapkan tak akan kubantah lagi untuk selamanya. Tadi, nona telah memuji aku Hoa Yang sebagai seorang Enghiong. Apabila aku Hoa Yang betul-betul tak tahu diri, bukankah perbuatanku ini akan membuat kecewanya hati nona?"

Sewaktu mengucapkan kata-kata tersebut, wajah pemuda itu tetap santai, biasa dan sama sekali tidak mengandung nada sindiran atau ejekan.

Kesemuanya ini segera mendatangkan suatu perasaan yang bergetar keras dalam hati Bwee Su-yok.

Ia merasakan suatu perubahan perasaan yang aneh sekali.

"Omong kosong, ngaco belo tak karuan!"

Bentaknya.

"Siapa yang merasa kecewa...."

Tiba-tiba ia merasa makin berbicara makin tak genah, akhirnya tak bisa dicegah lagi merah padamlah pipinya karena jengah.

Pembicaraanpun segera terhenti.

Hoa In-liong juga agak tertegun oleh keadaan tersebut, tapi dengan cepat dia menjura seraya berkata.

"Harap nona jangan gusar, maksudku aku lebih rela menjadi seorang enghiong daripada melakukan perbuatan terkutuk yang memalukan dengan mencelakai jiwa Peng-ji. Karenanya harap engkau suka memerintahkan Peng-ji untuk datang mengikat tubuhku! Hanya saja...."

Mendengar perkataan itu, air muka Bwee Su-yok berubah semakin merah, ia tertegun sejenak, kemudian serunya dengan suara dalam.

"Tidak! Hanya kenapa....? Ayoh lanjutkan dulu perkataanmu itu....!"

"Dibicarakan juga tak ada gunanya, lebih baik tak usah dibicarakan saja!"

Kembali dia menggunakan kata-kata "lebih baik tak usah dibicarakan"

Untuk menampik kehendak nona itu, hal ini segera menggusarkan hati Bwee Su-yok, bentaknya dengan nyaring.

"Tidak! Bagaimanapun juga harus kau lanjutkan kata-katamu itu, kalau tidak maka engkau akan kugantung selama tujuh hari tujuh malam lamanya!"

Hoa In-liong membetulkan letak tempat duduknya, kemudian ditatapnya wajah Bwee Su-yok dengan serius, setelah itu katanya lagi.

"Jika nona memang ingin tahu, terpaksa aku harus mengatakannya secara terus terang"

"Jangan bicara sembarangan"

Tiba-tiba Peng-ji memperingatkan dengan suara nyaring.

"Kalau bicara sembarangan, siocia kami pasti akan menjadi marah!"

Hoa In-liong tersenyum kepadanya sebagai tanda terima kasih, kemudian seraya berpaling ujarnya dengan wajah bersungguh sungguh.

"Kecantikan nona melebihi kecantikan siapapun yang ada didunia ini. Dewi dari kahyanganpun belum tentu secantik wajah nona. Memang banyak sudah gadis cantik yang pernah kujumpai. Tapi bila mereka dibandingkan dengan nona, maka selisihnya ibaratnya langit dan bumi"

"Cantik atau tidak tiada sangkut pautnya dengan dirimu"

Tukas Bwee Su-yok sebelum pemuda itu menyelesaikan kata-katanya.

"Nona benci mendengar kata-kata sanjunganmu yang manis itu"

"Nona jangan salah sangka, aku berkata demikian bukan bertujuan untuk merayu nona atau mencari pujian dan sanjungan dari nona. Apa yang kuucapkan sesungguhnya merupakan katakata yang betul-betul muncul dari hati sanubariku sendiri"

Kata Hoa In-liong dengan wajah serius.

"Terus terang saja kukatakan, sejak berjumpa dengan nona hatiku sudah merasa terpikat, siapa tahu.... Aaaiaa.... Siapa tahu nona...."

"Ngaco belo melulu, apa yang kau omelkan te rus menerus?"

Tukas Bwee Su-yok sambil membentak marah.

"Tidak....! Dia tidak ngaco belo! Nona memang cantik jelita membuat siapapun yang melihat jadi terpikat...."

Sela Peng-ji dari samping dengan suara melengking. Tiba-tiba Bwee Su-yok bangun berdiri dengan marah, bentaknya penuh kegusaran.

"Oooh.... Jadi engkau membantu dia untuk mengerubuti nonamu....?"

"Tidak, tidak.... Peng-ji tidak membantu dia, Peng-ji hanya bicara sejujurnya"

Sahut Peng-ji ketakutan. Hoa In-liong ikut bangkit berdiri, lalu selanya.

"Peng-ji adalah dayang kepercayaanmu sendiri, masa dia mau membantu aku untuk mengerubuti dirimu? Sayang meski nona cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, tapi wataknya terlalu dingin kaku dan kejam, terutama sikapnya terhadap diriku"

Setajam sembilu sorot mata Bwee Su-yok, jelas perasaannya waktu itu yaa marah yaa mendongkol, dia sendiripun tidak begitu jelas. Sebelum Hoa In-liong menyelesaikan katakatanya, kembali dia menukas.

"Bagaimana sikapku terhadap dirimu? Hmm....! Jangan dianggap lantaran kau tampan dan gagah maka nona bersikap baik kepadamu! Peng-ji, ikat dia!"

Beberapa patah katanya itu diucapkan dengan tegas dan nyata, sama sekali tidak dibuat buat atau lain dengan jalan pikirannya.

Jelaslah sudah bahwa keputusannya sudah bulat dan tak bisa diganggu gugat lagi.

Hoa In-liong gelengkan kepalanya berulang kali seraya berguman seorang diri.

"Yaa.... Kalau memang begitu, kenapa kau paksa aku untuk berterus terang? Peng-ji, terpaksa aku harus merepotkan dirimu. Lakukan saja apa yang diperintahkan nonamu itu, dan ikatlah badanku lebih erat lagi!"

Seraya berkata dia menghampiri Peng-ji seraya mengangsurkan tali tersebut ke tangannya. Peng-ji menerima tali itu dengan wajah kebingungan, dia sama sekali tidak melakukan apa yang diminta.

"Ayoh kerjakan!"

Hardik Bwee Su-yok kemudian "Apa yang kau nantikan lagi?"

Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Peng-ji berjalan ke belakang punggung Hoa In-liong, mula-mula dia ikat dulu pergelangan tangannya.

Dayang itu bertubuh kecil dan pendek sedang Hoa In-liong tinggi besar, terpaksa pemuda itu harus berjongkok kebawah agar dayang tersebut bisa membelenggu lengannya.

Setelah kedua lengannya diikat dibelakang badan, tubuh Hoa In-liong bagian ataspun jadi kaku dan hilanglah kebebasan geraknya.

Rupanya Bwee Su-yok merasa sangat tidak puas bila cuma lengannya saja yang dibelenggu, dengan nada yang berat dan dalam kembali dia mengomel.

"Sebetulnya kau bisa membelenggu orang atau tidak? Kalau cuma lengannya saja yang diikat, kakinya kan bisa dipakai untuk berjalan kesana kemari?"

"Nona, lebih baik jalan darahku kau totok saja lebih dulu"

Seru Hoa In-liong dari samping "Sebab kalau tidak begitu, bila aku sudah tak tahan lagi, tali-tali yang mengikat badanku itu bisa kugetarkan sampai putus semua"

"Kalau membayangkan memang rasanya mudah dan semuanya bisa berjalan lancar memangnya kau itu seorang yang goblok atau memang tak takut sakit....? Hmmm....! Lihat saja pohon yang ada diluar itu, tingginya sembilan kaki. Jika kau tidak takut terbanting sampai mampus, silahkan saja tali-tali itu kau getarkan sampai putus semua!"

Diam-diam Hoa In-liong menghela napas panjang.

Sepasang matanya segera dipejamkan rapat rapat dan diapun tidak banyak berbicara lagi.

Selang sesaat kemudian, ketika lampu sudah mulai menerangi seluruh ruangan Hoa In-liong telah digantung diatas dahan pohon dengan kepala dibawah kaki diatas.

Waktu itu Bwee Su-yok masih duduk diruang tengah.

Dua orang bocah perempuan yang berdandan sebagai dayang berdiri dikedua belah sisinya, sedangkan Peng-ji berdiri dihadapannya sambil mencibirkan bibir, jelas dayang cilik itu sedang merasa tak senang hati.

Tapi Bwee Su-yok berlagak tidak melihat keadaannya itu.

Pandangan matanya yang memancar kedepan tampak kosong dan hambar.

Dia seperti lagi memikirkan sesuatu, tapi mirip juga seperti tidak lagi memikirkan apa apa, dengan wajah yang dingin dan kaku dia duduk membungkam dalam seribu basa.

Lewat beberapa saat lagi, dayang cilik yang ada disebelah kanan itu mulai tidak sabaran lagi, dengan suara yang rada takut-takut dia menegur.

"Siau-cia, kami semua sudah lapar!"

"Sstt....! Jangan berisik"

Cegah dayang yang ada disebelah kiri dengan suara setengah berisik.

"Siau-bi, nona kita sudah capai seharian penuh, sekarang perlu beristirahat dulu!"

"Sekalipun capai, masa makanpun segan? Toh orang itu sudah digantung dipohon, mau apa lagi kita berdiri termangu disini macam orang yang kehilangan ingatan?"

"Huuuh.... siapa yang tahu!"

Sambung Peng-ji dengan wajah cemberut karena kheki.

"Orang itu kan nona sendiri yang suruh diikat dan digantung. Sekarang setelah digantung mukanya jadi masam seperti orang kehilangan semangat, duduk tak bergerak, disuruh makan juga menolak.... aaaah, lagi ngambek barangkali!"

Rupanya Bwee Su-yok mendengar omelan tersebut, sinar matanya lantas dialihkan kesamping dan melirik sekejap ke arah tiga orang dayangnya, kemudian dengan suara hambar katanya.

"Kalian jangan berisik melulu disini, ayoh sana pergi semua. Aku akan tetap berada disini untuk menjaga orang she-Hoa itu!"

"Huuuh.... apa toh bagusnya? Kenapa musti dijaga?"

Seru Peng-ji dengan bibir yang dicibirkan Bwee Su-yok semakin mangkel, teriaknya lagi.

"Aaaah.... kamu ini memang cerewet sekali!. Siapa yang bilang aku cuma ingin memandanginya belaka? Aku sedang mengawasi dirinya? Ayoh cepat pergi semua"

Diantara ketiga orang dayang itu, usia Siau-kian yang paling tua, melihat paras muka Bwee Suyok yang tak menentu, cepat-cepat dia ulapkan tangannya seraya berseru.

"Mari kita pergi saja! Siocia kita sedang merasa kesal, ayoh kira makan duluan"

Selesai berkata ia memberi hormat lalu dengan membawa Siau-bi dan Peng-ji buru-buru mengundurkan diri dari ruangan itu.

Ketika bayangan tubuh mereka lenyap dari ruangan, dari pintu luar masih kedengaran suara Peng-ji yang sedang berbisik lirih.

"Eeeh.... Sebetulnya apa yang telah terjadi? Tampaknya siocia kita telah berubah...."

Benarkah telah berubah?

Tentu saja hanya Bwee Su-yok sendiri yang mengarti akan hal ini.

Sementara itu, Hoa In-liong yang digantung terbalik diatas pohon betul-betul merasakan suatu siksaan dan penderitaan yang luar biasa tak enaknya.

Jilid 14 SEPASANG kaki dan tangannya terikat kencang.

Badan di gantung dengan kepala dibawah kaki di atas.

Bila ada angin berhembus lewat dan ranting pohon mulai bergoyang kesana kemari, pemuda itu betul-betul merasakan jantungnya berdebar-debar.

Sebab setiap saat dirasakan bahwa ranting pohon itu akan patah jadi dua.

Dia pernah mengatakan bahwa kecuali hati tiada kesusahan yang lebih besar, semangat yang gagah perkasa dan bersifat jantan ini tak perlu disinggung lagi.

Yang menyiksa justru adalah mengalirnya darah dalam tubuhnya berjalan terbalik.

Dia merasa isi perutnya serasa menyumbat tenggorokannya dan seakan-akan setiap saat akan keluar dari lubang hidung dan lubang mulutnya.

Bukan saja kepala jadi pusing tujuh keliling bahkan diapun merasakan perutnya jadi mual dan ingin dan ingin tumpah-tumpah.

Tapi ia tahu dalam keadaan demikian jangan sekali-kali sampai tumpah, sebab sekali isi perutnya tumpah keluar semua maka yang sisa hanya air dan bila air itu ikut tumpah keluar maka akhirnya darah yang akan tumpah keluar.

Jika darah sudah mulai tumpah sampai habis, jiwanya ikut melayang tinggalkan raganya.

Sebab itu dia berusaha keras untuk mempertahankan diri sekuat tenaga.

Ia buang jauh-jauh semua pikiran yang berkecamuk dalam benaknya bahkan siksaan yang dirasakan ditubuhnya juga berusaha dibuang jauh-jauh dari perasaannya.

Tentu saja pekerjaan semacam itu bukanlah suatu pekerjaan yang terlampau gampang....

Orang bilang, luka kecil diatas kulit saja sakitnya bukan kepalang apalagi penderitaan yang dirasakan Hoa In-liong sekarang datangnya dari dalam badan, bisa dibayangkan betapa tersiksanya dan menderitanya pemuda itu.

Sinar sang surya pelan-pelan mulai condong kebarat.

Rembulan yang kaburpun mulai muncul dari sela-sela dedaunan yarg menyinari tubuh Hoa In-liong.

Waktu itu dia merasa seakan-akan ada beribu-ribu batang anak panah yang menancap didalam hatinya.

Makin lama siksaan dan penderitaan yang dialaminya terasa semakin menghebat dan berat.

Mukanya hijau membesi, bulu kuduknya pada berdiri semua.

Pakaiannya basah kuyup oleh keringat dan dengusan napasnya sudah seperti kerbau, padahal baru tiga jam dia mengalami siksaan itu.

Bagaimana mungkin ia bisa bertahan sampai tiga puluh tiga jam mendatang?

Lambat laun napasnya tidak tersengkal lagi, keringat juga tidak mengucur keluar.

Tapi paras mukanya dari hijau berubah jadi semu biru, dari biru berubah jadi pucat pasi, warna darah sama sekali lenyap dari wajahnya dan akhirnya pemuda itu jatuh tak sadarkan diri.

Entah sejak kapan Bwee Su-yok sudah mengundurkan diri dari situ.

Suasana dalam bangunan rumah mungil itu gelap gulita, sedikitpun tiada cahaya lampu.

Tapi pancaran cahaya, rembulan ditengah awang-awang terasa makin lama semakin terang.

Tiba-tiba dari arah timur muncul dua sosok bayangan manusia, kedua sosok bayangan itu bergerak dengan cepatnya dibawah cahaya rembulan yang terang benderang.

Ketika mencapai sepukh kaki dari bangunan tersebut, terlihatlah sekarang bahwa dua sosok bayangan itu tak lain adalah Goan-cing Taysu serta Coa Cong-gi yang berangasan.

"Bangunan rumah itu sangat besar, megah dan agung"

Bisik Goan-cing Taysu setelah memandang sekejap sekitar tempat itu.

"Lagipula terletak jauh dari keramaian kota. Bila ditinjau dari letaknya yang serba rahasia, aku rasa tujuan kita kali ini tak bakal keliru lagi, pasti inilah sasaran kita"

"Perduli amat benar atau tidak"

Sahut Coi Cong-gi dengan berangasannya.

"Anak Gi serta beberapa orang saudara lainnya sudah memeriksa seluruh penjuru kota Kim-leng, tapi bayangan dari orang orang Kiu-im kau tidak juga kami temukan. Malam ini telah kami putuskan masingmasing mencari ke satu arah yang berlawanan. Seandainya anak Gi tak ada janji dengan kongkong, sejak tadi-tadi niscaya anak Gi sudah kabur keluar dari kota Kim-leng. Ayoh masuk! Kita geledah saja rumah ini, kemudian baru mengambil keputusan"

"Jangan berbuat gegabah, bagaimanapun lolap kan seorang paderi dari agama Buddha"

Bisik Goan ling-taysu lirih. Mendengar ucapan tersebut, Coa Cong-gi makin gelisah.

"Memangnya kenapa kalau seorang paderi agama Buddha?"

Serunya.

"Masa kongkong akan berpeluk tangan belaka menyaksikan saudara Hoa tertimpa bencana?"

"Tahun ini lolap sudah barusia delapan puluh sembilan tahun, mengikuti ajaran buddhapun sudah banyak tahun. Tentu saja tak banyak yang akan kugubris"

"Kalau memang bukan begitu, lalu...."

Coa Gong-gi semakin tertegun.

"Sstt, jangan terlalu keras! Lolap hanya merasa bahwa pembunuhan telah menyelimuti hampir seluruh dunia persilatan. Suasana demikian tidak akan mendatangkan ketenteraman bagi umat manusia. Akan semakin kudesak ibumu agar cepat turun gunung dan menyumbangkan segenap kemampuan yang dimilikinya demi umat manusia"

"Ibu adalah ibu, Hoa Yang adalah Hoa Yang. Anak Gi rasa masih bisa membedakannya dengan jelas. Perhatian yang Kongkong tunjukan terhadap saudara Hoa...."

"Itulah yang dinamakan jodoh"

Tukas Goan-cing Taysu dengan cepat.

"Lolap hanya merasa punya jodoh dengan bocah itu. Aku ingin berkumpul dengan dirinya titik. Tentang masalah mati hidup, kejayaan dan martabat baik maka semuanya itu harus ditentukan sendiri oleh kalian masing-masing!"

Nada ucapan diri paderi tersebut selalu rendah, datar, hambar serta tanpa emosi.

Padahal bagi Coa Cong-gi saat ini, keselamatan jiwa Hoa In-liong merupakan titik perhatian yang nomor satu.

Ia menganggap persoalan lain bisa dibicarakan dilain waktu.

Tapi perbuatan yang harus dilakukan sekarang adalah menyelamatkan pemuda itu dari ancaman bahaya maut.

Sebagaimana diketahui, Coa Cong-gi merupakan seorang pemuda yang setia kawan.

Ia merasa setia kawan adalah merupakan suatu persoalan yang maha penting, apalagi hubungannya dengan Hoa In-liong boleh dibilang sangat akrab meski berkenalan belum lama.

Tak kuasa lagi dia menukas.

"Kong-kong, soal lain tak mau kuurusi dulu! Yang penting sekarang adalah masuk ke dalam dan lakukan pemeriksaan!"

Bicara sampai disitu, kembali ia maju kedepan siap menyusup masuk ke dalam ruangan. Siapa tahu baru saja ia melangkah, tiba-tiba tangannya sudah dicekal kembali oleh Goan-cing Taysu.

"Tunggu sebentar"

Seru Goan-cing setengah berbisik "Coba lihatlah dulu, apa itu?"

"Apa?"

Tanya Coa Cong-gi seraya berpaling dengan wajah tertegun. Goan-cing Taysu menuding kemuka.

"'Coba lihat, diatas dahan tergantung sesosok bayangan. Tampaknya bayangan manusia"

Ia berbisik.

Cepat Coa Cong-gi berpaling dan menengok ke arah mana yang ditunjuk kongkong-nya.

Seperti diketahui, tenaga dalam yang dimiliki Goan-cing Taysu sudah mencapai puncak kesempurnaan.

Tentu saja dengan kemampuan seperti itu otomatis ketajaman matanya sepuluh kali lipat lebih tajam dari manusia biasa.

Tubuh Hoa In-liong tergantung diantara ranting dan daun yang lebat.

Tapi oleh sebab sinar rembulan amat tajam, lagi pula angin berhembus lewat menggoyangkan ranting dan daun, sertamerta tubuh Hoa In-liong yang tergantung ikut bergoyang pula kesana kemari.

Waktu itu, Gong-cing Taysu memang lagi bercakap-cakap.

Namun sembari berbicara matanya yang tajam bagaikan sembilu itu justru mengawasi terus sekeliling bangunan rumah tadi.

Tak heran kalau bayangan pemuda tersebut akhirnya ditemukan juga.

Ketajaman mata Coa Cong-gi tidak memadai kelihayan Kongkong-nya, walaupun setengah harian dia melotot bulat-bulat kedepan, tak tiada sesuatu apapun yang bisa ia lihat, meski demikian ia berkata juga.

"Mari kita masuk dan memeriksanya, siapa tahu kalau orang itu bukan lain adalah saudara kita dari keluarga Hoa?"

Sementara ucapannya baru selesai, tiba-tiba Goan-cing Taysu menyambar lengannya dan diajak melayang mundur sejauh sepuluh kaki lebih kebelakang, kemudian menyembunyikan diri dibelakang sebuah batu besar.

"Jangan bercakap cakap!"

Bisiknya dengan ilmu menyampaikan suara.

"Ada orang yang keluar dari bangunan rumah itu"

Benar juga perkataan itu.

Ujung baju tersampok angin terdengar berkumandang memecahkan kesunyian, menyusul kemudian seseorang melompat naik keatas tembok pekarangan dan memeriksa sekeliling tempat itu.

Untung tenaga lweekang yang dimiliki Goan-cing Taysu cukup sempurna dan keburu menyembunyikan diri lebih dahulu.

Terlambat selangkah saja niscaya jejak mereka akan ketahuan.

Orang yang baru saja munculkan diri itu bukan lain adalah Bwee Su-yok, tiancu Istana Neraka dari perkumpulan Kiu-im kau.

Tampaknya Bwee Su-yok tidur tak tenang.

Kebetulan suara pembicaraan dari Coa Cong-gi sedikit keras sehingga terdengar olehnya.

Cepat-cepat dia melompat keluar dari tempat persembunyiannya dan melakukan pemeriksaan disekitar tempai itu.

Namun ia gagal untuk menyaksikan sesuatu.

Setelah diperiksanya sesaat, akhirnya pelan-pelan ia mengundurkan diri kembali dari tempat tersebut.

Ketika lewat di bawah pohon, dia menengadah dan melirik sekejap ke arah Hoa In-liong.

Waktu itu paras muka anak muda tersebut sudah berubah hebat, mukanya tampak layu.

Yang pasti ia berada dalam keadaan tak sadar.

Paras muka gadis itu sedikit berubah, lalu mendengus dingin dan putar badan masuk ke dalam rumah.

Sementara itu, Goan-cing Taysu telab menggunakan telinganya sebagai pengganti mata.

Setiap gerak-gerik yang membawa suara dapat dipahami olehnya dengan jelas sekali.

Ketika Bwee Su-yok sudah masuk kembali ke rumahnya, dia baru berbisik dengan suara lirih.

"Tampaknya bayangan yang di gantung pada dahan pohon itu memang bukan lain adalah bocah she Hoa itu"

"Sungguh!"

Coa Cong-pi merasa sangat tegang, tak kuasa lagi ia berseru tertahan.

Tiba tiba ia merasa bahwa keadaan gawat dan ini tak boleh bersuara, sebelum perkataan itu selesai diucapkan tiba-tiba saja dia terbungkam diri.

"Jangan gugup, tak usah tegang!"

Bujuk Goan-cing Taysu dengan lembut.

"Asal kita sudah tahu bahwa orangnya berada disini, urusan bisa diselesaikan lebih gampang lagi"

"Lalu apa daya kita?"

Seru Coa Cong-gi dengan ilmu menyampaikan suaranya.

"Aku lihat si penjaga gedung itu cukup lihay dan berperasaan tajam. Kecuali merampas dengan kekerasan, apa lagi yang bisa kita lakukan?"

Pemuda ini memang berangasan wataknya, tapi setelah menghadapi urusan gawat, sikap maupun tindak-tanduknya sama sekali tidak gegabah ataupun terburu nafsu.

"Tentu saja lolap mempunyai cara lain yang lebih bagus, ayoh, Sementara waktu kita mundur dulu dari sini"

Kata Goan-cing Taysu sambil manggut-manggut. Tentu saja Coa Cong-gi amat mempercayai kemampuan yang dimiliki kongkongnya, kendati begitu ia jadi gelisah setelah disuruh mengundurkan diri dari sana.

"Kongkong, ini.... ini.... Kenapa kita musti mengundurkan diri dari sini?"

Serunya amat cemas.

"Bila seorang berada dalam keadaan tidak sadar, keadaan kondisi badannya sangat lemah. Apalagi jika sedang menderita siksaan karena peredaran darah yang mengalir secara terbalik. Aku lihat bocah ini memang luar biasa. Dia memiliki daya ketahanan tubuh yang lain dari pada yang lain. Agaknya ia berusaha meronta dengan sepenuh tenaga. Hawa murni sekuat tenaga dihimpun jadi satu untuk menekan daya edar darahnya yang mengalir terbalik agar bergerak lebih lambat. Tapi justru dingan keadaan seperti ini, lebih besar penderitaan yang akan dialaminya"

Tak terkirakan rasa gelisah Coa Cong-gi sehabis mendengar perkataan itu.

"Mengapa peredaran dalam tubuhnya bisa berjalan terbalik? Kenapa ia berada dalam keadaan tak sadar? Kenapa...."

"Tubuhnya kan digantung secara terbalik pada dahan pohon. Tentu saja peredaran darahnya berjalan terbalik!"

"Kong-kong.... kau.... kenapa kau orang tua tidak berusaha untuk menyelamatkan jiwanya?"

"Lolap justru sedang bersiap-siap untuk menyumbangkan sedikit kemampuan yang kumiliki untuk menolong dirinya. Janganlah ribut lebih dulu. Ayoh kita mundur agak jauh dari sini"

Tidak menanti jawaban dari anak muda itu lagi, dengan gerakan tubuh yang sangat enteng, paderi itu berkelebat mundur beberapa kaki jauhnya dari tempat tersebut.

Pelbagai kecurigaan berkecamuk dalam benak Coa Cong-gi.

Meskipun demikian, tentu saja ia tak dapat bertanya dengan suara teriakannya.

Terpaksa dengan langkah cepat dia menyusul dibelakangnya.

Begitulah, dalam waktu singkat kedua orang itu sudah mundur keatas gundukan bukit kecil.

Gong-cing Taysu diam-diam mengukur jarak serta meneliti keadaan medan, kemudian dengan mata terpejam, tangan dirangkap didepan dada ia duduk bersila.

Coa Cong-gi hanya bisa berdiri termanggu disampingnya dengan pelbagai kecurigaan berkecamuk di dalam benak.

Dia mengawasi gerak-gerik kongkongnya tanpa mengucapkan sepatah-katapun.

Lama sudah Coa Cong-gi menunggu, namun tiada sesuatu gerakan apa-apa yang dilakukan paderi tersebut.

Akhirnya habislah kesabarannya.

Pemuda itu buka suara hendak bertanya.

Tapi sebelum sesuatu terutarakan keluar, tiba-tiba dilihatnya jenggot Goan-cing Taysu yang putih panjang bergerak tanpa terhembus angin.

Sewaktu diamati lebih seksama lagi, ternyata bibirnya sedang berkemak-kemik mengucapkan sesuatu.

Coa Cong-gi benar-benar kaget, tercengang dan tak habis mengerti.

Tanpa sadar ia melirik sekejap ke arah perkampungan itu, kemudian pikirnya dalam hati.

"Mungkin ia sedang bercakapcakap dengan Hoa lote? Tapi selisih jarak dari sini sampai ke situ ada lima puluh kaki jauhnya, masa ilmu menyampaikan suara masih bisa digunakan dengan sempurna....?"

Disatu pihak pemuda itu keheranan disamping tidak percaya, di pihak lain Hoa In-liong dapat menangkap suara bisikan tersebut dengan amat jelasnya.

Suara itu lembut dan halus seperti suara bisikan nyamuk, tapi ramah dan penuh kehangatan itulah suara yang dipancarkan oleh Goan-cing Taysu.

"Nak, tak usah gugup atau gelisah"

Demikian ia berbisik "lolap datang untuk membantu dirimu.

Sekarang buyarkan dulu himpunan hawa murnimu, tapi harus perlahan.

Buyarkan sedikit demi sedikti sampai akhirnya habis.

Lalu ikutilah cara menyalurkan hawa murni seperti apa yang akan lolap katakan berikut ini.

Asal kau laksanakan petunjukku dengan seksama maka semua penderitaan yang kau alami akan berkurang sebelum akhirnya lenyap tak berbekas"

Keadaan Hoa In-liong waktu itu, baik dipandang diri sudut manapun jua, tentu orang akan menganggapnya sudah berada dalam keadaan tak sadarkan diri.

Padahal dalam kenyataannya ia memang sudah setengah sadar setengah tidak.

Meskipun pembicaraan manusia masih dapat didengar dengan jelas.

Tentu saja apa yang dikatakan Goan-cing Taysu barusan dapat terdengar pula olehnya tanpa tertinggal satu hurufpun.

Itulah hasil dari keteguhan hati Hoa In-liong untuk mempertahankan diri meski harus mengalami siksaan.

Perlu diterangkan dlsini, meskipun Hoa In-liong itu orangnya romantis.

Sekalipun dia tak mau kehilangan kegagahannya didepan Bwee Su-yok bukan berarti ia sama sekali tak tahu betapa menderitanya kalau orang digantung secara terbalik dalam waktu tiga hari tiga malam.

Tapi berhubung wataknya yang keras hati tak takut menghadapi kesusahan, lagipula dalam usahanya menyelidiki latar belakang pembunuhan berdarah tersebut, hasil yang didapatkan menunjukkan betapa rumitnya masalah itu.

Maka begitu membuktikan bahwa penyelidikan yang dimulai dari pihak Kiu-im kaucu lebih gampang dan lebih terang ia semakin segan meninggalkan tempat itu sebelum penyelidikannya berhasil.

Sebab itulah dengan sikap acuh tak acuh, seakan-akan sama sekali tak takut dibelenggu, ia pasrahkan diri dan membiarkan tubuhnya digantung secara terbalik oleh Bwee Su-yok.

Waktu itu ia sama sekali tidak merasa kuatir atau takut.

Dalam anggapannya dengan mengandalkan sim hoat tenaga dalam dari Hoa mereka, asal segeiap hawa murni dihimpun menjidi satu, kendatipun ada pendetitaan yang bagaimanapun besarnya, ia pasti masih mampu untuk mempertahankan diri.

Siapa tahu tidak demikian kenyataannya, penderitaan akibat darah yang mengalit secara terbalikk jauh lebih berat sepuluh kali lipat daripada apa yang dibayangkan.

Apalagi isi perutnya yang terbalik terasa bagaikan dililit, akhirnya toh ia setengah tidak sadar juga dibuatnya.

Namun, soal tidak sadar adalah masalah lain, andaikata ia tidak menghimpun lebih dulu tenaga murninya, meskipun dalam keadaan sakit dan tersiksa ia masih dapat mengendalikan hawa murninya agar tidak sampai buyar dan mengandalkan keteguhan hatinya ia berusaha mempertahankan diri.

Jangankan menangkap perkataan Goan-cing Taysu dalam keadaan setengah sadar, mungkin waktu itu dia sudah muntah darah tiada hentinya.

Teraga dalam yang dimiliki Goan-cing Taysu sangat sempurna.

Bisikannya memang lirih, tapi dalam pendengaran Hoa In-liong ibaratnya gentingan genta di pagi hari cukup menggetarkan seluruh perasaan hatinya dan menimbulkan suatu kekuatan yang makin memperkokoh daya tahannya.

Mendengar bisikan tersehat, walau kesadarannya belum pulih kenbali namun tanpa disadari, Hoa In-liong telah menuruti perkataan dari paderi itu dan pelan-pelan membuyarkan tenaga dalam yang dihimpunnya itu, membiarkan tenaganya berputar secara bebas.

Makin buyar tenaga murni yang diihimpunnya, penderitaan yang dideritanyapun berlipat ganda lebih dahsyat.

Saat itulah ucapan dari Goan-cing Taysu kembali berkumandang disisi telinganya.

"Perhatikan baik-baik nak!"

Kemudian sepatah demi sepatah kata paderi itu mulai berbisik.

"Badan kita bukan untuk kita. Perasaan kita bukan milik kita. Tapi datang dari alam semesta. Kelapangan dan kebebasan yang tiada bertepian. Ketenangan mendatangkan keheningan semesta. Aliran yang terbalik menimbulkan hawa. Kumpulan hawa nendatangkan kekuatan...."

Itulah rangkaian ilmu semedi aliran terbalik.

Suatu inti kekuatan ilmu tenaga dalam yang tiada taranya.

Bukan saja setiap patah kata mengandung arti yang dalam.

Rangkaian kalimat tersebut merupakan suatu ledakan kekuatan jang luar biasa.

Kepandaian ini terhitung salah satu kepandaian ampuh andalan dari Buseng (malaikat ilmu silat) Im Ceng.

Perlu diterangkan disini, dimasa lampau Im Ceng telah mempelajari ilmu silat tingkat tinggi dari aliran Buddha maupun aliran Tao.

Kemudian mendapat pendidikan pula dan Ko Hoa.

Ketika mencapai usia tua ia berhasil pula mencapai ke tingkatan yang disebut Sam hoat ci-teng (gumpalan tiga bunga berkumpul dipuncak), Ngo-ki-tiau-goan (lima hawa berpusat pada kekuatan), ini menyebabkan kemampuannya mencapai ke tingkatan yang tak terhingga untuk takaran masa itu.

Sayang ia tak punya anak keturunan sehingga kepandaian yang berhasil dimilikinya tak dapat diwariskan semua.

Maka akhir hayatnya diapun menciptakan serangkaian ilmu semedi aliran terbalik yang luar biasa untuk disebarkan kepada orang-orang dari generasi yang akan datang.

Atau tegasnya, rahasia ilmu tenaga dalam itu sudah meliputi segenap inti sari kepandaian yang dimiliki Im-Ceng sepanjang hidupnya.

Barang siapa mempelajari kepandaian tersebut, sama keadaannya dengan seorang jago silat yang jalan darah penting Jin dan toknya sudah tertembus.

Tenaga dalamnya akan peroleh kemajuan yang amat pesat sekali dalam waktu yang amat singkat.

Walau begitu, andaikata seseorang tidak memiliki bakat yang bagus serta kecerdasan yang luar biasa, bukan pekerjaan yang gampang untuk melatih diri meskipun rahasia manteranya telah diketahui sebab ilmu aliran darah terbalik ini berbeda jauh dengan kepandaian pada umumnya.

Kalau bukan demikian kenapa Goan-cing Taysu tidak mewariskan kepandaian tersebut untuk Coa Cong-gi?"

Dan jelasnya sekarang apa sebabnya Goan-cing Taysu hanya tersenyum belaka sewaktu menyaksikan keadaan Hoa In-liong.

Itulah karena ia melihat ada kesempatan yang baik untuk mewariskan ilmu maha sakti tersebut kepada pemuda itu.

Waktu itu Coa Cong-gi tidak melihat diri Hoa In-liong tapi menyaksikan bibir Goan-cing-taysu berkomat-kamit tiada hentinya, dia ingin bertanya tapi tak tahu apa yang sedang dibicarakan kong-kongnya.

Dia kuatir mengganggu konsentrasi orang tua tersebut akan meninggalkan ketidak-beresan bagi Hoa In-liong.

Maka ia cuma bisa memandang dengan mata melotot dan hati penuh kegelisahan, kalut benar perasaannya waktu itu.

Selang sesaat kemudian, Goan-cing Taysu baru menghentikan komat-komitnya, Coa Gong-gi yang sudah tidak sabaran semenjak tadi cepat menghampiri kongkongnya dan menegur.

"Kongkong! Apa yang kau bicarakan? Baik-baikkah keadaan saudara Hoa?"

Goan cing-Taysu menengadah lalu tersenyum.

"Ia baik-baik saja!"

"Bicaralah yang jelas lagi"

Pinta Coa Cong-si dengah alis mata berkenyit.

"Sebenarnya bagaimanakah keadaan dari saudara Hoa?"

"Bocah itu memang sebuah bakat bagus yang sulit dijumpai daiam seratus tahun terakhir. Yaa ilmu silat keluarga kita sekarang sudah mendapat pewaris yang cocok!"

Meskipun dia adalah seorang paderi yang hidup terkekang, toh waktu itu tak sanggup mengendalikan luapan rasa gembiranya.

Serta-merta dalam pembicaraan pun seperti menjawab tapi tidak menjawab.

Ini menunjukkan bahwa ia merasa betapa pentingnya peristiwa yang barusan dialaminya.

Bagi paderi ini menemukan pewaris ilmu silat yang cocok adalah lebih berharga daripada soal apapun jua.

"Ah, bagaimana sih kongkong ini?"

Seru Coa Cong-gi tidak puas.

"Anak Gi kan sedang menanyakan bagaimana keadaan dari saudara Hoa! Siapa yang menanyakan soal lain?"

Goan-cing Taysu agak tertegun, kemudian baru jawabnya.

"Oooh.... soal itu? Dia tidak apa-apa, lolap telah mewariskan ilmu simhoat tenaga dalam Bu-khek-teng-heng-sim-hoat kepadanya, biarlah di digantung beberapa hari lagi"

Agak lega juga perasaan Coa Cong-gi sehabis mendengar perkataan itu. Tapi dengan perasaan tak paham kembali ia bertanya.

"Apa toh yang dimaksudkan Bu-khek-teng-heng-sim-hoat itu?"

"Yang dimaksud Bu-khek-teng-heng adalah suutu keadaan tubuh yang bebas tak terikat, tapi dapat memusatkan semua pikiran dan perasaan menjadi satu. Sayang bakatmu kurang bagus, kalau tidak sim-hoat tenaga dalam yang tak ternilai harganya dari leluhur kita ini pasti akan kuwariskan pula kepadamu"

Perasaan Coa Cong-gi waktu itu hanya memikirkan keselamatan Hoa In-liong.

Soal diwariskan atau tidaknya sim-hoat tenaga dalam leluhurnya boleh di bilang ia tak ambil pusing.

Dengan dahi berkerut terdengar ia bertanya lagi.

"Kalau.... kalau memang begitu, kenapa kongkong tidak tolong saja saudara Hoa? Kenapa dia musti digantung beberapa hari lagi?"

"Sim hoat tenaga dalam dari leluhur kita ini diciprakan secara luar biasa. Sebelum berlatih kepandaian maka peredaran darah seseorang harus dibiarkan mengalir secara terbalik lebih dulu. Kemudian baru masuk kedalam tahap kedua, pokoknya tegasnya saja untuk melatih sim-hoat ini dari tingkat pertama orang harus digantung secara terbalik...."

"Apa susahnya itu ? Saudara Hoa kita bawa pulang lalu digantung pula secara terbalik, bukankah sama saja keadaannya?"

Tertawalah Goan-cing Taysu setelah mendengar perkataan itu.

"Haa.... haaa.... haaa.... Kalau segampang itu tentu kaupun bisa melatihnya juga"

"Lalu.... lalu.... dimana letak kesulitannya?"

Coa Cong-gi agak tertegun.

"Sulitnya justru terlelak pada kewajaran dan keluwesannya!"

"Ah, kalau orang digantung secara terbalik, otomatis darah akan mengalir secara terbalik, lantas dimana letak kewajaran dan keluwesannya?"

"Digantung secara terbalik sehingga mengakibatkan darah mengalir secara terbalik bukan termasuk suatu kewajaran. Karenanya untuk melatih sim-hoat aliran kita ini, seseorang bukan saja harus cerdik dan berbakat. Pikiran dan perasaannya juga harus kosong. Bocah itu berbakat sangat bagus, digantung pula oleh orang secara terbalik. Dalam keadaan demikian, apa yang dia pikirkan hanyalah bagaimana caranya mengurangi rasa sakit yang dideritanya tanpa embelembel pikiran yang lain. Meski dalam keadaan setengah sadar ia dapat pula menerima pelajaran dari lolap serta melakukannya tanpa paksaan. Nah, disinilah terletak kewajaran yang kumaksudkan itu"

Setelah diberi penjelasan, Coa Cong-gi baru mengerti.

"Oooh! Makanya kau orang tua membiarkan dia digantung beberapa hari lagi, rupanya koag-kong takut merusak kejernihan pikirannya sehingga mengganggu kewajarannya itu. Bukan demikian?"

Goan-cing taysu mengangguk sambil memuji tiada hentinya.

"Ehmm, anak Gi menang cerdik! Meski bocah ini berpikir kosong dan pusatkan semua perasaan dan pikirannya menjadi satu, asal tidak kita rubah posisinya sekarang, lama kelamaan akan menimbulkan kebiasaan bagi kondisi badannya dan itulah yarg penting bagi seseorang untuk mempelajari kepandaian tersebut. Percayalah keadaan ini tak akan merugikan dirinya! Mari kita pergi, mumpung ada kesempatan bagus, lolap hendak mewariskan kepandaian silat lainnya kepadamu!"

Sehabis berkata ia lantas bangkit berdiri dan berlalu lebih dulu dari situ.

Semua kecurigaan yang masih menyelimuti benak Coa Cong-gi seketika tersapu lenyap hatipun jadi lega.

Apalagi setelah didengarnya ada kepandaian silat yang lain hendak diwariskan kepadanya, dengan perasaan yang lapang dan gembira berangkatlah pemuda itu menuju ke kota Kim leng....

Tiga bari lewat dengan cepatnya.

Hari itu dikala senja telah menjelang tiba, Bwee Su-yok masuk kedalam halaman dari ruang depan.

Siau-kian dan Siau-bi mengikuti di belakangnya.

Ketika lewat di bawah pohon, serta-merta ketiga orang itu menghentikan langkahnya sambil menengadah dan memandang ke arah Hoa In-liong yang di gantung.

Baca Juga: Pendekar Binal 8

Baca Juga: Raja Silat 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert