Ceritasilat Novel Online

Rahasia Hiolo Kumala 3

Eps 3 Rahasia Hiolo Kumala - Gu Long

Baca online Rahasia Hiolo Kumala - Gu Long

Cersil Rahasia Hiolo Kumala - Gu Long.

"coba lihatlah, keadaannya seperti terluka parah tapi tidak terluka, seperti keracunan tapi bukan keracunan, kalau dibilang jalan darahnya yang tertotok, kita tak tahu jalan darah yang manakah yang telah tertotok, bila kita abaikan kesempatan yang sangat baik ini untuk mengobati lukanya, kalau sampai terjadi apa-apa atas dirinya, bukankah kita semua akan menyesal sampat akhir hayat? sebaliknya bila aku sudah berhasil menguasai ilmu pertabiban dari ayahku, sekalipun mungkin sikapku masih kelabakan, toh perasaan hatiku jauh lebih baikan daripada sekarang. Adik Cong-gi, ketahuilah pada saat ini aku bukan lagi berkeluh-kesah, hakekatnya aku sedang menyesal, menyesal kenapa tidak sedari dulu baik-baik mempelajari ilmu pertabiban tersebut dari ayahku."

Ketika perkataan itu berakhir, tanpa terasa semua orang mengalihkan sinar matanya ke atas wajah Hoa In-liong, tampaklah air mukanya masih tetap segar seperti sedia kala, napasnya sangat teratur dan gejala macam begini memang bukan gejala dari orang yang keracunan atau menderita luka dalam yang parah, karenanya kelima orang pemuda dari Kim-leng itupun berdiri membungkam dengan dahi berkerut.

selang sesaat kemudian, tiba-tiba Coa Cong-gi berseru dengan suara lantang.

"Saudara Siau-lam, kalau dibicarakan lagi, kesemuanya ini adalah salahmu, mengapa pada saat itu tidak kau tanyakan duduknya persoalan kepada Cia In sampai jelas?"

"Aaai memangnya Cia In bersedia untuk memberi keterangan kepada kita? selain itu yaaa, waktu itu aku sendiripun sedang gelisah bercampur panik, tak sampai pikiranku untuk berpikir sampai kesitu."

"Huuuh, dengan andalkan apa dia berani tak menjawab?"

Coa Cong-gi masih juga melotot dengan mata mendelik.

"Hmm..... sekarang juga aku akan ke sana untuk bertanya kepadanya."

Dengan langkah lebar dia beranjak dari tempatnya semula dan melangkah ke pintu luar. Ko siong-peng cepat melangkah ke depan menghadang jalan perginya.

"Kau tak usah cari tahu,"

Katanya "Hoa kongcu toh berhasil kita rampas dari tangannya?

Itu berarti pada saat ini kita berhadapan sebagai musuh dengannya tak nanti perempuan itu bersedia untuk memberi keterangan kepada kita-kita."

"Hmm...... Masa dia berani membungkam?"

Dengus Co Cong-gi dengan rasa penasaran.

Dia ingin melewati Ko siong-peng dan keluar dari ruangan itu, tapi baru beberapa tindak ia berjalan, tiba-tiba terdengar suara yang serak-serak tua berkumandang dari ruangan belakang.

"Anak Lan, bagaimana keadaan Hoa kongcu?"

Berbareng dengan berkumandangnya ucapan tadi, dari balik pintu masuklah seorang kakek yang berjenggot panjang berambut putih, dibelakangnya mengikuti seorang bocah laki-laki yang membawa kotak berisi obat-obatan.

Kakek itu bernama Kanglam Ji-gi (Tabib sosial dari Kang-lam) Yu siang-tek.

dia tak lain adalah ayah Siau-lam seorang dermawan yang paling dikagumi dikota Kim-leng.

Coa Cong-gi segera membatalkan niatnya untuk keluar, bersama Yu Siau-lam sekalian mereka sambut kedatangan kakek itu.

"Orang ini mirip sekali dengan Hoa tayhiap."

Kata Yu Siau-lam menerangkan "ananda rasa tentulah dia adalah putranya Hoa tayhiap."

Sementara itu si Tabib sakti dari Kanglam telah melihat tubuh Hoa In-liong yang berbaring dimeja, dia ulapkan tangannya dan menghampiri meja tersebut.

"Apakah selama ini dia pingsan terus?"

Tanyanya kemudian.

"Benar ayah, sampai sekarang dia tak sadarkan diri terus"

Kanglam Ji-gi menghampiri anak muda itu, dengan dahi berkerut diamatinya roman mukanya lalu dia bergumam.

"Dilihat dari roman mukanya, dia mirip sekali dengan Hoa tayhiap. tapi alis matanya, bibirnya dan hidungnya mirip Pek hujin, aku rasa dia tentulah Ji kongcu dari keluarga Hoa."

Kakek itu membungkukkan badannya memeriksa lidah dan kelopak mata Hoa In-liong kemudian mencekal urat nadinya dia memeriksa denyutan jantung anak muda itu.

Tiba-tiba paras muka kakek itu kian lama berubah kian serius, kurang lebih setengah perminum teh kemudian cengkeramannya pada nadi anak muda itu baru dilepaskan.

"Hoa kongcu telah dicekoki obat pemabok,"

Katanya kemudian, jalan darah Ci-kan-hiat nya belum lama tersumbat"

Tiba-tiba ia berpaling, ditatapnya Yu Siau-lam tajam-tajam kemudian bertanya.

"Anak lam, dari mana engkau temukan Hoa kongcu ini?"

"Waktu itu ananda sedang berpesiar diluar kota sebelah barat, ketika tiba diluar pintu sui-seebun, kami telah bertemu dengan telah bertemu dengan..."

Cia In adalah seorang pelacur kenamaan, tentu saja anak muda itu jengah untuk menerangkan hubungannya selama ini dengan seorang pelacur, tak heran kalau dia jadi gelagapan di hadapan ayahnya dan tak mampu melanjutkan keterangannya "Anak lam, kalau bicara kenapa musti ragu-ragu?"

Tegur tabib sosial itu dengan alis berkenyit.

"kau telah berjumpa dengan siapa? Ayoh lanjutkan keteranganmu itu."

Yu Siau-lam tersipu-sipu, namun dia tahu tak mungkin keterangan tersebut dirahasiakan terus, akhirnya sambil tebalkan muka ia terangkan semua yang dialaminya diluar pintu Sui-see-bun tadi.

Ketika selesai mendengarkan penuturan itu, Si tabib sosial dari Kanglam sama sekali tiada maksud untuk menegur putranya, dengan tenang diamatinya wajah Hoa In-liong tajam-tajam, seakan-akan ada satu persoalan yang sedang dipikirkannya persoalan apakah itu?

Tak seorangpun tahu.

Bukan saja Kim-leng Ngo kongcu tak berani bergerak.

bahkan sibocah laki-laki yang membawa kotak obat pun tak berani menghembuskan napasnya terlalu keras, mereka kuatir suara-suara yang mereka timbulkan akan mengganggu jalannya pikiran Kanglam Ji-gi, otomatis suasana dalam ruang tengah itupun jadi sunyi sepi dan tak terdengar sedikit suarapun, semua orang menanti dengan hati yang tegang dan detakan jantung berdebar dengan kerasnya.

Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya si Tabib sosial dari Kanglam itu berseru tertahan sambil manggut-manggut.

"Oooh kiranya begitu,"

Gumamnya.

"aku mengerti ehm, aku sekarang sudah mengerti suatu kepandaian yang sakti, hebat dan di luar dugaan... sungguh mengagumkan."

Berbicara sampat disitu dia lantas membungkukkan badannya dan pelan-pelan mengangkat batok kepala Hoa In-liong kemudian dengan hati-hati dirabanya jalan darah Giok-tin hiat di bagian belakang batok kepala itu.

Tiba-tiba wajahnya berseri, serta-merta digendongnya tubuh Hoa In-liong dari atas meja.

"Aaai... Hoa kongcu memang rejeki besar dan bernasib baik."

Katanya "sekalipun dia sudah kalian bawa lari naik kuda, kemudian dilempar kesana kemari, toh jarum perak pembingung sukma yang menancap diatas jalan darah Giok-tin-hiatnya sama sekali tak bergeser, anak lam Kalian semua ikutilah diriku."

Dengan sikap yang amat berhati-hati ia berlalu dari ruangan itu dan menuju ke belakang.

Kim leng ngo kongcu saling berpandangan dengan hati terperanjat, dengan mulut membungkam mereka mengikuti dibelakangnya dengan langkah lebar..

Setelah melewati beranda, si tabib sosial dari Kanglam kembali berkata.

"Aku lihat Hoa kongcu mempunyai kondisi badan yang istimewa sekali, tampaknya obat pemabok sama sekali tidak bereaksi apa-apa atas dirinya, aku pikir asal jarum perak itu sudah dicabut niscaya keadaannya akan pulih kembali seperti sedia kala, anak Lam Kau berangkatlah lebih duluan dan beri kabar kepada ibumu, kemudian datanglah ke kamar baca, aku ada persoalan yang hendak dibicarakan dengan kalian"

Setelah mendengar perkataan itu, semua orang merasa hatinya jadi lega, Yu Siau-lam pun mengiakan dan masuk ke ruang paling belakang lebih dahulu.

Selang sesaat kemudian, si Tabib sosial dari Kanglam telah membawa empat orang kongcu lain nya masuk ke ruang baca.

Ruangan baca itu sangat bersih dan semua perabotnya diatur sangat rapi dan terawat, di sudut ruangan dekat jendela membujur sebuah pembaringan, dia membaringkan Hoa In-liong diatas pembaringan tersebut, setelah mengambil kotak obatnya dari tangan bocah laki-laki itu, ia siapkan barang-barang yang dibutuhkan, lalu mulai mencabut jarum perak itu.

Kendatipun sumber penyakitnya sudah ketahuan, ternyata untuk mencabut jarum perak itu bukanlah suata pekerjaan yang gampang.

Ketika obat-obatan yang diperlukan sudah siap, si Tabib sosial dari Kanglam meletakkan telapak tangan kanannya diatas jalan darah Leng-tay-hiat dari Hoa In-liong, sementara tangan kirinya mencekal sebuah besi semberani, besi magnit itu tertuju diatas jalan darah Giok tin-hiat dibelakang batok kepala, kemudian ditekannya besi magnit itu pelan-pelan ditempat yang tertuju.

Selang sesaat kemudian, besi magnit itu lambat-lambat ditariknya ke atas, semua orang lantas melihat bahwa diatas besi magnit tadi tertempel sebatang jarum perak kecil yang lembut dan panjangnya setengah inci, setelah membuang jarum tadi, diapun mengambil sebuah bungkusan berisi bubuk obat warna kuning dan dibubuhkan disekitar lubang jarum tadi.

Semula dari bekas lubang jarum itu meleleh darah kental, tapi sesudah dibubuhi bubuk obat warna kuning tadi, darah itupun menggumpal dan berhenti meleleh.

Operasi itu tampaknya sederhana dan tidak makan banyak waktu, namun repotnya bukan kepalang, ketika tugas itu telah selesai, keadaan si Tabib sosial dari Kanglam ibaratnya orang yang baru saja melangsungkan suatu pertarungan sengit, peluh sebesar kacang kedelai membasahi jidatnya, malahan empat orang kongcu yang mengikuti jalannya operasi pertolongan itupun ikut tegang dan berdiri dengan jantung berdebar keras.

selesai membubuhi obat di mulut luka, Tabib sosial itu menghembuskan napas panjang.

"Huuh..... Untung, sungguh beruntung andaikata sedikit saja miring ke samping, niscaya sepanjang hidup aku Yu siang-tek akan menanggung penyesalan yang tak terkirakan,"

Gumamnya.

"Pek-hu!"

Coa Cong-gi yang kasar dan tak pernah pakai otaknya itu tiba-tiba menyela.

"aku lihat, mencabut jarum perak dengan magnit bukanlah suatu pekerjaan yang merepotkan."

"Aaaai, dasar bocah, dasar bocah, pendapatnya selalu memang lucu dan menggelikan."

Tabib sosial dari Kanglam gelengkan kepalanya berulang kali, dibereskannya alat-alat pengobatan nya dan diserahkan kepada bocah laki-laki itu, kemudian dengan wajah bersungguhsungguh dia melanjutkan.

"Ketahuilah nak, jalan darah giok-tin-hiat merupakan salah satu jalan darah kematian dari tiga puluh enam buah jalan darah yang berada di tubuh manusia, jalan darah itu merupakan pintu gerbang dari Ni-wan, kunci utama dari pusat, tok-meh dan jalan penembus dari tiga belas urat penting lainnya, coba bayangkan betapa pentingnya kedudukan jalan darah tersebut? Mana aku boleh bertindak main-main? Aku merasa tenaga dalamku tak mampu untuk menghisap keluar jarum perak itu dari dalam badan, maka terpaksa harus kubantu dengan besi magnit, sekalipun demikian bahaya dan resikonya tetap sangat besar."

"Apa resikonya?"

Kembali Coa Cong-gi bertanya keheranan.

"Resikonya? Aaai.. Coba bayangkan saja daya tarik yang terpancar dari besi magnit terletak di seluruh permulaan besi itu. padahal untuk menghisap keluar jarum peraknya, maka jarum itu harus keluar dari lubang luka yang sebenarnya, bukan saja cara kerja kita harus tenang, mantap dan lurus, bahkan sedikit saja menggetarkan jarum perak itu akan segera mengakibatkan luka pada urat syarafnya, kau tahu apa akibatnya jika urat syaraf seseorang terluka andaikata tidak tewaspun akan lumpuh selama hidupnya, bayangkan sendiri besar atau tidak resikonya?"

Sekarang semua orang baru mengerti mengapa si Tabib sosial dari Kanglam harus bekerja dengan begitu tegap, kaku, hati-hati dan bersungguh-sungguh, ternyata resikonya luar biasa besarnya.

Lebih-lebih Coa Cong-gi, dia sampai terbelalak lebar-lebar dengan mulut melongo, kadet dan ngerinya bukan kepalang.

"Aduuuh mak. jadi resikonya sebesar itu?"

Serunya sambil menjulurkan lidah.

"tak heran kalau empek sampai bermandikan keringat"

Kanglam Ji gi tersenyum.

"Untunglah urusan sudah lewat, sekarang keadaan Hoa kongcu sudah tidak merisaukan lagi seperti tadi!"

Serunya. Setelah berhenti sejenak, ia memandang sekejap empat orang pemuda yang berada di depannya, kemudian katanya lebih jauh.

"Keponakanku semua, duduklah Ada sesuatu persoalan yang selama ini mengganjal dalam hatiku, menggunakan kesempatan yang baik ini hendak kubicarakan persoalan itu dengan kalian semua."

Semua orang tak tahu apa yang hendak dibicarakan kakek itu, dengan pelbagai pikiran berkecamuk dalam benak mereka, masing-masingpun mengambil tempat duduk.

Suasana hening untuk sesaat, dari luar ruangan tiba-tiba terdengar suara tongkat membentur lantai, mula-mula suara itu kedengaran masih jauh tapi sesaat kemudian sudah berada di depan ruangan.

Kanglam Ji-gi lantas berpaling kepada bocah laki-laki itu seraya berkata.

"Hujin telah datang, pergilah suruh orang siapkan sayur dan arak, menanti Hoa kongcu telah sadar nanti, siapkan meja perjamuan untuk menghormatinya."

"Baik..."

Bocah laki-laki itu mengiakan dan mengundurkan diri dari ruangan itu.

Yu Siau-lam dengan menemani ibunya masuk ke dalam kamar baca, empat kongcu lainnya cepat berdiri dan menyambut kedatangan pe-bo mereka.

Yu lo-hujin melirik sekejap ke arah Hoa In-liong yang masih belum sadar itu setibanya dalam kamar lalu kepada suaminya ia bertanya.

"Lo-yacu, keadaan Hoa kongcu tidak menguatirkan bukan?"

Nyonya tua ini rambutnya telah beruban semua, pada dadanya tergantung sebuah tasbeh, sedang ditangan kanannya memegang sebuah tongkat berukir naga, sekilas pandangan orang akan merasa bahwa tongkat itu berat sekali, ditambah pula sinar matanya sangat tajam, siapapun akan tahu bahwa nenek tua ini memiliki ilmu silat yang tinggi.

"Keadaan Hoa kongcu sudah tidak menguatirkan lagi,"

Sahut Kanglam Ji-gi cepat.

"jarum perak itu telah kucabut keluar, sepertanak kemudian dia pasti akan sadar kembali, Hujin, silahkan duduk Menggunakan kesempatan yang sangat baik ini aku hendak bercakap-cakap dengan anak Lam sekalian.

"Apa yang hendak dibicarakan?"

Sambil bertanya Yu lo-hujin mengambil tempat duduk "apakah menyangkut perbuatan anak Lam yang suka bermain perempuan ditempat luaran?"

"Persoalan main perempuan akan dibicarakan, urusan lainpun akan sekalian dibahas"

Jilid 08 TABIB tua itu berpaling ke arah putranya, kemudian ujarnya lebih lanjut dengan wajah serius.

"Anak Lam selama ini aku tak pernah memaksa kau berlatih silat, tak pernah paksa kau belajar ilmu pertabiban. Sebaliknya membiarkan engkau mencari teman, bahkan mabok-mabokan dan bermain pelacur dirumah bordil, tahukah engkau aku tidak menghalangi semua perbuatan itu?"

Merah padam selembar wajah Yu Siau-lam karena, jengah.

"Sebodoh-bodohnya ananda rasanya ananda masih dapat meraba maksud ayah yang sebenarnya,"

Dia menjawab.

"Mungkin hal ini dikarenakan kita keluarga Yu adalah keluarga persilatan, maka kita tak boleh lupa pada asalnya. Mencari beberapa orang sahabat, membantu orang menyelesaikan kesulitan, aku rasa perbuatan-perbuatan semacam ini hanya ada manfaatnya dan tak akan mendatangkan kerugian, bukan begitu ayah?"

Kanglam Ji-gi mengangguk.

"Walaupun tidak terhitung mendatangkan manfaat, juga tak sampai mendatangkan kerugian. Justru "

Tidak melupakan asal"

Itulah yang paling tepat, hanya keteranganmu saja yang kurang cocok.

Ketahuilah, dunia persilatan pada hakekatnya adalah sumber dari segala bencana.

Tempat semacam itu tidak pantas untuk di kenang, sedangkan mengenai menolong kaum lemah merupakan kewajiban dari setiap manusia di dunia ini.

Sekalipun kita tidak melakukannya, orang lain tentu akan melaksanakannya.

Jadi perbuatan semacam itu hakekatnya tidak cocok dengan maksudku yang sebenarnya."

"Oooh.... Ananda sekarang mengerti, seperti telah memahami sesuatu, Yu-Siau-lam berseru.

"Ayah sengaja memberi kebebasan kepada ananda, tak lain tak bukan adalah berharap agar kita jangan melupakan budi kebaikan dari Hoa tayhiap, betulkan?"

Kata-katanya itu sebetulnya sangat tak masuk diakal, bahkan boleh dibilang bertolak belakang.

Bayangkan saja memberi kebebasan kepada putranya dengan tujuan agar jangan melupakan budi kebaikan dari seseorang, bukankah itu merupakan sesuatu lelucon yang menggelikan?

Tapi apa yang terjadi?

Ternyata dugaan Yu Siau-lam itu tepat sekali.....

"Anak Lam, kau memang cerdik, memang itulah jalan pikiran ayahmu!"

Puji Kanglam Ji-gi sambil manggut-manggut, mukanya jelas bercermin rasa kagumnya.

Semua orang mengerutkan dahinya setelah mendengar perkataan itu.

Memang keterangan tersebut cukup membuat orang jadi bingung dan tak habis mengerti.

"Loya-cu!"

Yu Lo-hujin segera menyela.

"Perkataanmu barusan sungguh membuat aku si nenek tua jadi bingung dan tak habis mengerti. Budi kebaikan yang pernah diberikan Hoa tayhiap kepada kita tentu saja tak boleh kita lupakan. Cuma sayang selama ini belum ada kesempatan untuk membalasnya, maka terpaksa aku si nenek tua memelihara lukisan dari Hoa tayhiap dan ibunya. Dan tiap pagi dan malam berdoa bagi keselamatan serta kesejahteraan hidupnya. Dan kenyataannya, kau memanjakan anak Lam, memberi kebebasan kepada anak Lam, tak pernah menggembleng anak Lam, mencapai kemajuan. Perbuatanmu itu sudah merupakan kesalahan besar. Sekarang kau melimpahkan pula semua kesalahan itu keatas badan Hoa tayhiap, apakah..... apakah itu bukan namanya dosa besar... pikirlah!"

Terbahak-bahak Kinglam Ji-gi mendengar ucapan istrinya.

"Hujin.... Oooh..... Hujin..... Haaaaa...... haaaaa....... haaa...... kau anggap anak Lam adalah seorang bocah yang tak ingin mendapat kemajuan bagi kemampuannya?"

Ia bertanya. Yu Lo-hujin tertegun, ia memandang sekejap ke arah putranya lalu berkata lagi.

"Eeeh.... Sebenarnya apa yang hendak kau katakan? Kenapa tidak kau katakan saja terus terang? Kalau begini caramu berbicara dan berbelok-belok dulu kesana kemari, aku bisa kebingungan akhirnya kau buat!"

"Baik! Baik! Aku akan berbicara secara blak-blakan....."

Kata tabib tua itu sambil mengangguk.

Dia melirik sekejap ke arah Hoa In-liong, setelah itu membuka telapak tangannya dan menimang-nimang jarum perak lembut yang berhasil dihisap keluar tadi, katanya lebih lanjut.

"Silihkan hujin periksa, jarum perak ini berhasil kuhisap keluar dari dalam jalan darah 'hiok-tinhiat' dibelakang batok kepala Hoa kongcu, coba lihatlah dengan seksama!"

Yu Lo-hujin menerima jarum itu kemudian diperiksanya sejenak, setelah itu baru ujarnya.

"Aku lihat diujung jarum perak ini masih tersisa sedikit bubuk obat pemabok, kenapa? Apakah duduknya persoalan serius sekali?"

"Aaai.....? Tampaknya persoalan yang selama ini selalu kukuatirkan, kini agaknya sudah hampir meletuk!"

"Apa?"

Teriak Yu Lo-hujin sangat terkejut.

"Maksudmu dunia persilatan bakal menjadi kekacauan?"

Dengan sedih Kanglam Ji-gi mengangguk.

"Kalau sudah lama kacau dunia akan menjadi tenang, kalau sudah lama dunia tenang maka itu berarti akan terjadi kekacauan. Sejak Hoa tayhiap berhasil lenyapkan hawa siluman dari muka bumi, sejak terbasmi dan tersingkir dari dunia kangouw, apakah kau kira siluman-siluman yang lolos dari jaring tempo hari dan pentolan-pentolan liok-lim yang sukar ditundukkan dulu bersedia takluk sepanjang masa? Aaaai.....! Dunia akan selalu berputar, sejarah selalu akan berubah. Hanya tak kusangka kalau bencana kali ini bakal datang dengan begitu cepatnya."

Yu Lo-hujin tertegun, lama sekali dia membungkam, tapi akhirnya dia coba menghibur diri sendiri.

"Oooh..... loya-cu mungkin engkau merasa risau yang berlebih-lebihan!"

"Selama hidup aku selalu gembira dari pasrah tak pernah kualami kerisauan yang berlebihlebihan"

Kata Kanglam Gi-ji.

"Sejak diadakannya penggalian harta karun dibukit Kiu-ci-san, berkat di kebaikan dari Hoa tayhiap, perguruan yang sudah lenyap dan berhubung aku gemar ilmu pertabiban dan obat-obatan, secara khusus Hoa tayhiap menghadiahkan pula se

Jilid kitab Hoatuo Cin-keng kepadaku.

Kesemuanya itulah membuat aku berhasil mendapat sedikit kemajuan seperti yang kumiliki sekarang.

Aaaai.....

Justru karena aku terlalu gembira dan pasrah, akupun sangat menaruh perhatian atas tindak tanduk Hoa tayhiap.

Maka dalam pengamatanku waktu itu selalu kurasakan bahwa watak Hoa tayhiap terlalu jujur, baik dan berbudi luhur, bencana yang tak dibasmi sampai ke akar-akarnya, bila angin musim semi berhembus lewat, tentu akan tumbuh kembali bibit baru.

Karena peristiwa inilah beberapa tahun belakangan ini tiap saat selalu kukuatirkan keselamatan jiwanya."

Rupanya Kanglam Ji-gi dahulunya adalah seorang tianglo dalam perguruan Thian-tay-pay.

Sejak penggalian harta karun dibukit Kiu-ci-sau dan berhasil mendapat kembali kitab pusaka perguruannya, diserahkan kembali kitab itu kepada ketuanya.

Lalu karena wataknya suka hidup sepi menyendiri, ia berpamit dengan ciangbunjinnya dan menetap dikota kim-leng dengan hidup sebagai seorang tabib.

Akhirnya menjadi seorang tabib kenamaan.

Setiap penduduk kota Kimleng rata-rata mengetahui bahwa dia adalah seorang yang sangat baik.

Sungguh tak disangka sama sekali karena rasa berterima kasihnya atas budi kebaikan yang pernah dilakukan Hoa Thian-hong kepadanya, diam-diam diapun memperhatikan setiap gerakgerik dalam dunia persilatan, boleh dibilang perbuatannya ini mengandung maksud yang amat mendalam.

Maka dari situ, setelah si Tabib Sosial dari Kanglam menerangkan sampai disitu, hampir semua orang mengetahui garis besar duduknya persoalan.

Coa Cong-gi memang orangnya kasar dan tak mau pakai otaknya untuk berpikir, namun itu bukan berarti dia bodoh, ketika Kanglam Ji-gi menyelesaikan kata-katanya, dia lantas berseru tertahan.

"Oooh....... aku mengerti sudah sekarang"

Serunya.

"Jadi empek memberi kebebasan kepada kita untuk makan minum dan berpesiar tanpa dikekang, tujuannya tak lain adalah suruh kami memperhatikan gerak-gerik serta situasi dalam dunia persilatan?"

"Tujuan kaum siluman, iblis dan pentolan bajingan adalah membuat kekacauan. Kalau hanya memperhatikan saja sama sekali tak ada gunanya,"

Kata Kanglam Ji-gi.

"Untuk itu kalian harus belajar sedikit-sedikit hingga akhirnya merupakan kebiasaan dan tidak meninggalkan jejak. Dengan begitu baru ada hasil yang kita peroleh. Misalnya saja dengan peristiwa perempuan yang bernama Cia In itu, jikalau di hari-hari biasa kalian tidak melakukan pergaulan hingga terbiasa, mungkinkah kamu semua berhasil menolong Hoa kong-cu?"

Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba sambungnya lebih jauh.

"Tapi aku percaya, kalian semua adalah anak baik-baik, sekalipun tak pernah terkekang di hari-hari biasa, kalian cukup mengetahui diri. Karenanya akupun dengan hati lega membiarkan kalian pergi dengan bebas!"

Merah padam wajah keempat orang kongcu lainnya karena jengah. Wan Ek-hong cepat menyela.

"Jika dugaan keponakan tak meleset, rupanya empek masih mempunyai pesan lain bukan?"

Kanglam Ji-gi manggut-manggut sambil tersenyum.

"Ek-hong, kau memang sangat cerdik. Benar aku memang mempunyai dua maksud dengan perbuatan demikian. Pertama agar kalian banyak melakukan pergaulan sehingga cakup memahami perubahan yang terjadi dalam dunia persilatan. Kedua agar kalian banyak mempunyai teman, sehingga bila terjadi suatu peristiwa, kamu semua dapat membantu Hoa tayhiap melakukan suatu usaha besar. Tentu saja semua perbuatanku ini tak lain adalah membalas budi kebaikan Hoa tayhiap pada khususnya. Selain itu akupun menguatirkan kepentingan umat persilatan pada umumnya. Tentunya kalian tidak menyalahkan diriku bukan?"

"Haaaa.....! Inilah tugas baik yang diberikan pek-hu kepada kita semua, siapa yang berani menyalahkan? Hmn..... Siapa berani menyalahkan, akulah yang pertama-tama akan putuskan semua hubungan dengannya!"

Teriak Coa Cong-gi dengan suara lantang. Wan Ek-hong, Li Po-seng dan Ko Sieng-peng juga ikut berseru hampir berbareng.

"Perkataan adik Cong-gi memang benar. Inilah tugas baik yang pek-hu berikan kepada kami. Tujuan pek-hu ibaratnya sang surya diangkasa. Tentu saja tak ada yang menyalahkan, apalagi dapat membantu Hoa tayhiap membasmi kaum iblis dan hawa sesat serta melakukan usaha besar adalah cita-cita kami semua. Dengan berbuat demikian kami tak akan sampai menyia-nyiakan kasih sayang pekhu selama ini kepada kami....."

Belum habis ucapan tersebut, Kanglam Ji-gi sudah tertawa terbahak-bahak dengan nyaringnya.

"Haaaa..... haaaa....... haaaa...... Bagus, bagus sekali! Kalau keponakan semua dapat membedakan mana yang salah mana yang benar, hatiku pun akan jadi tenteram rasanya."

Yu Lo-hujin yang selama ini membungkam, tiba-tiba mengayunkan jarum perak ditangannya itu dengan kening berkerut.

"Loya-cu!"

Tukasnya.

"Apakah kemurunganmu itu bersumber dari jarum perak ini?"

Kanglam Ji-gi berpaling dan mengangguk.

"Benar, jarum perak itulah penyebab kemurunganku selama ini. Bayangkan saja hujin, perempuan she Cia itu pandai sekali menyembunyikan jejaknya. Bukan saja dia rela menjadi pelacur bahkan memiliki pula ilmu silat yang tinggi. Ditinjau pula obat pemabok yang dipoleskan di ujung jarum perak ini, serta caranya menusuk jalan darah, lalu meninjau pula sasarannya adalah keturunan dari Hoa tayhiap, jika kita gabungkan semua masalah itu menjadi satu, bukankah itu memberi isyarat kepada kita bahwa dunia persilatan telah menjadi perubahan besar?"

Yu Lo-hujin berpikir sebentar, sementara dia akan mengucapkan sesuatu, tiba-tiba Hoa In-liong yang ada diatas pembaringan telah rnenggerakan tubuhnya. Cepat-cepat Kanglam Ji-gi berseru.

"Hujin, tunggulah sebentar, lebih baik kita tanyakan duduk persoalan yang sebenarnya kepada Hoa-kongcu."

Dia bangkit lalu menghampiri sianak muda itu. Hoa In-liong sudah duduk diatas pembaringan. Terdengar ia mengeluh.

"Aduuh..... Sesak amat napasku......!"

Kanglam Ji-gi lantas menggulur tangan kirinya dan membimbing pemuda itu.

"Hoa kongcu, berbiringlah sejenak lagi........"

Bisiknya. Tiba-tiba Hoa In-liong membuka matanya lebar-lebar, dengan nada tercengang ia berseru.

"Aku........ aku barada dimana?"

"Kongcu berada di pasanggrahan tabib di kota Kim-leng, tempat tinggal aku si orang tua."

Hoa In-liong memandang sekejap sekeliling tempat itu, akhirnya sorot matanya itu terhenti diwajah Kanglam Ji-gi.

"Lotiang, siapa kau? Siapa namamu? Boleh aku tahu?"

Sapanya.

"Aku bernama Yu Siang-tek, orang-orang menyebut diriku sebagai Kanglam Ji-gi, Tabib Sosial dari Kanglam!"

"Parahkah luka yang kuderita kali ini?"

Hoa In-liong bertanya lagi dengan wajah bingung.

"Tidak! Kong-cu hanya terkena suatu sistem pengendalian yang lihay, terkena jarum perak yang dibubuhi obat pemabok."

"Jarum perak yang dibubuhi obat pemabok?"

Hoa In-liong mengerutkan dahinya rapat-rapat.

"Lotiang, katakanlah yang jelas, betulkah tempat ini adalah kota Kim-leng?"

"Benar!"

Kanglam Ji-gi mengangguk tenang. Seperti teringat akan sesuatu, tiba-tiba Hoa In-liong berseru tertahan, rupanya suatu hal telah dipahaminya.

"Aaah, sekarang aku teringat sudah kejadiannya... eeeh, dimanakah perempuan yang bernama Cia In itu?"

"Cia In adalah pelacur dari rumah pelacuran Gi-sim-wan"

Hela Yu Siau-lam dari samping "tentu saja pada saat ini......"

Belum habis ucapan itu ketika tiba-tiba Hoa In-liong meronta bangun dan meloncat turun dari pembaringannya.

"Perempuan itu bukan perempuan sembarangan serunya dengan gelisah, Rumah pelacuran Gi-sim-wan terletak dimana? Aku harus pergi mencarinya."

"Hoa kongcu, harap tenang dulu hatimu!"

Cegah Kanglam Ji-gi.

"Aku tahu latar belakang dari peristiwa ini bukanlah kejadian sederhana. Aku kuatir kalau pada saat ini perempuan tersebut sudah tidak berada dirumah bordil Gi-sim-wan lagi."

Hoa In-liong tertegun, sekali lagi dia menyapu sekejap semua orang yang hadir dalam ruangan itu dan akhirnya sinar matanya itu berhenti diatas wajah Kanglam Ji-gi.

"Lotiang, kau kenal aku?"

Bisiknya hampir tak percaya.

"Apakah lotiang yang menolong aku sewaktu aku terkena jarum perak yang berobat pemabuk itu?"

Kanglam Ji-gi tersenyum dan mengangguk.

"Ketika diadakannya operasi penggalian harta karun dibukit Kiu-ci-san dua puluh tahun berselang, aku pernah bertemu dengan ayah ibumu. Tentang urusan yang amat kecil ini tak perlu kongcu pikirkan selalu, apa toh artinya bantuan sekecil itu? Oya, bagaimana keadaan Hoa kongcu sekarang? Apakah badanmu masih terasa kurang enak?"

Menyinggung sekali soal penggalian harta di bukit Kiu-ci-san, Hoa In-liong segera mengetahui bahwa Kanglam Ji-gi adalah sahabat lama ayah ibunya.

Cepat ia menjinjing bajunya dan memberi hormat dengan penuh kesopanan.

"Boanpwe Hoa In-liong, menghunjuk hormat buat Yu locianpwe"

Katanya.

"Tak berani, tak berani......"

Cepat-cepat Kanglam Ji-gi membalas hormat itu.

"Bila Hoa kongcu merasa ada sesuatu bagian badan yang kurang enak katakan saja terus terang! Tapi kalau memang tak ada, aku ada beberapa persoalan yang hendak ditanyakan kepadamu."

"Aneh benar Yu locianpwe ini,"

Pikir Hoa In-liong diam-diam.

"kenapa sikap maupun cara berbicaranya begitu merendahkan diri?"

Dalam hati berpikir demikian, diluaran dia menyahut.

"Obat pemabok atau sebangsanya sama sekali tidak mempan terhadap diri boanpwe, sampai sekarang boanpwe merasa tubuhku tetap sehat dan segar seperti biasa. Bila locianpwe ingin menanyakan sesuatu, silahkan diutarakan keluar, boanpwe pasti akan mendengarkan dengan seksama."

"Kalau begitu bagus sekali, silahkan duduk dulu Hoa-kongcu!"

Kata tabib tua itu sambil tertawa.

Menyusul kejadian, diapun memperkenalkan semua orang yang hadir disana kepada Hoa Inliong, sedang anak muda itu segera memberi hormat kepada Yu Lo-hujin dan menyapa Kim-leng Nyo-kongcu sebelum akhirnya duduk kembali ke tempat semula.

Kanglam Ji-gi alihkan sinar matanya memandang putranya sekejap, kemudian katanya.

"Anak Lam. Coba kau ceritakan dulu kisah perjumpaanmu dengan Hoa kongcu, agar Hoa-kongcu tidak terlampau curiga lagi."

Waktu itu Hoa In-liong merasa amat curiga dengan keadaan sekelilingnya, ketika rahasia hatinya itu dipecahkan orang, dia agak kikuk jadinya.

"Aaiia.... agak menyesal rahasia hatiku ketahuan juga,"

Batinnya didalam hati.

Yu Siau-lam sama sekali tidak memperhatikan perubahan wajah tamunya, ketika mendengar perintah dari ayahnya, diapun menuturkan kembali kisah perjumpaannya dengan Cia In sampai berhasil menyelamatkan anak muda itu dari tangan perempuan tersebut.

Menanti ia menutur sampai pertolongan yang diberikan di pesanggrahan tabib ini, Yu lo-hujin segera mengacungkan jarum perak yang berada ditangannya itu sambil menambahkan.

"Tahukah Hoa kongcu kenapa selama ini jatuh tak sadarkan diri terus menerus? Itulah disebabkan karena jarum perak yang mengandung obat pemabuk ini menancap di jalan darah giok-tin-hiat dari Hoa kongcu."

"Jalan darah giok-tin-hiat?"

Ulang Hoa In-liong sambil menjerit kaget, matanya sampai melotor besar.

"Semua kejadian yang sudah lewat biarkan lewat"

Cepat Kanglam Ji gi menukas.

"Tenangkan hatimu Hoa kongcu, coba periksalah dulu apakah ada benda penting yang hilang?"

Mendengar ucapan itu Hoa In-liong merasa sangat terperanjat.

Kalau barang lain yang hilang, masih mendingan.

Andaikata surat pribadi dari Giok teng hujin yang dijahit dalam kutang pelindung badannya yang lenyap, entah apa jadinya?

Padahal surat itu sudah di wanti-wanti agar jangan hilang.

Dengan jantung berdebar keras cepat ia meraba sakunya dan kaos kutang pelindung badan itu.

Untunglah kaos kutang pelindung badannya masih utuh.

Tiga botol obat yang diberikan ibunya Chin toa-hujin juga masih ada.

Yang hilang cuma pedang mustika, baju yang menjadi bekalnya serta kuda jempolan itu.

Tapi benda-benda itu tak terlampau penting baginya.

Maka ketika ditemuinya surat wasiat itu masih ada dan kaos kutang pelindung badannya tak diusik, diam-diam ia menghembuskan napas lega.

"Tampaknya Cia In sama sekali tidak menggeledah isi sakuku tentang pedang dan pakaian sih hilang biarlah hilang, soalnya barangbarang itu tidak penting"

Katanya kemudian.

"Waaah, kalau begitu urusan ini jadi rada-rada aneh"

Seru Kanglam Ji-gi keheranan.

"Semestinya perempuan she-Cia itu tentu akan menggeledah isi sakumu. Hoa kongcu, masih ingatkah bagaimana kejadiannya sewaktu itu kau tertangkap tempo hari?"

Air muka Hoa In-liong agak semu merah.

"'Aaaai.... bila diceritakan kembali, sebetulnya kejadian itu adalah salah boanpwee sendiri. Tidak seharusnya kalau aku bertindak terlampau gegabah."

Pemuda itupun menceritakan bagaimana kisah perkenalannya dengan Cia In sampai bagaimana kemudian jalan darahnya tertotok. Sebagai akhir kata ia menambahkan.

"Boanpwee terlalu percaya pada kondisi badanku sendiri. Karena aku yakin obat pemabok tak akan berpengaruh apa-apa bagiku, apalagi cuma bubuk pembingung sukma yang bikin orang mabok selama tujuh hari, maka aku pura-pura mabok. Sungguh tak kusangka kalau diam-diam jalan darahku juga ikut tertotok. Menanti aku sadar akan gelagat yang tidak menguntungkan, kesadaranku berangsur telah hilang. Karena itu boanpwee sama sekali tidak tahu kalau setelah aku pingsan, dia menusuk pula jalan darah giok-tin-hiat ku dengan jarum yang dibubuhi obat pemabok."

Ketika Kim-leng ngo-kongcu mendengar bahwa Hoa In-liong tidak mempan diracuni, mereka merasa sangsi dan setengah percaya setengah tidak.

Sebaliknya Kanglam Ji-gi mendengar semua kisah cerita itu dengan tenang sambil putar otaknya berpikir, menanti pemuda itu selesai bercerita, dia masih juga dibikin tak habis mengerti kenapa Cia In tidak menggeledah saku anak muda itu.

Untuk sesaat suasana dalam ruangan baca itu jadi hening.

Suasanapun ikut berubah jadi agak tegang dan serius, seakan-akan disekitarnya terdapat sebuah jepitan besi yang mencengkeram perasaan masing-masing.

Setiap orang merasakan dadanya jadi sesak.

Akhirnya Coa Cong-gi yang tidak tahan, ketika ditunggunya belum ada juga yang berbicara tibatiba ia berteriak lantang.

"Eeeh..... sudah, sudahlah, kalian tak usah berpikir lagi! Pek-hu bagaimana kalau kami pergi mengunjungi rumah pelacuran Gi-sim-wan sekarang juga?"

"Benar!"

Ko Siong-peng menanggapi dengan cepat "Perduli Cia In telah kembali ke rumah pelacuran Gi-sim-wan atau tidak, mengunjungi rumah bordil itu memang tak ada salahnya.

Yu pek-hu!

Keponakan akan menyaru sebagai laki-laki hidung belang malam nanti dan mengunjungi rumah bordil itu untuk mencari keterangan " 'Hmmmm....

apa yang dikatakan Siong-peng memang masuk diakal"

Yu Lo-hujin mendukung usul itu sambil mengangguk "Cia In selama ini hidup dirumah pelacuran Gi-sim-wan, kemungkinan besar Gi-sim-wan itulah merupakan sarang yang sebenarnya dari komplotan mereka.

Aku akan pergi kesana mencari keterangan bukanlah suatu cara yang melanggar tata kesopanan!"

"Jangan.... Jangan..... kalian tak boleh kesana!"

Tukas Kanglam Ji-gi sambil goyangkan kepalanya berulang kali "Kalau kalian kesitu, berarti tindakan ini merupakan memukul rumput mengejutkan ular.

Semua usulmu dimasa lampau segera akan sia-sa belaka."

"Aaaai.... Loya-cu, watakmu dari dulu sampai sekarang belum juga berubah?"

Omel Yu Lo-hujin.

"kalau sikapmu selalu ragu-ragu untuk mengambil keputusan, bagaimana mungkin bisa melakukan, tugasmu dengan sebaik baiknya? Biarlah mereka pergi, aku si nenek tua akan menjadi tulang punggung mereka."

Tertawa gelak tabib sosial itu mendengar ucapan isterinya.

"Haaaa... Haaaah.... Haaaahhhh.... hujin kau sudah tua, kalau ingin menjual nyawa, lebih baik jual nyawamu dikemudian hari saja. Sebab kemungkinan besar jiwamu lebih bermanfaat untuk dikorbankan dilain waktu. Sedang dalam persoalan hari ini, yang akan dituju adalah rumah pelacuran Gi-sim-wan, bukannya mencegah anak-anak pergi ke tempat itu, kenapa hujin malah mau menjadi tulang punggung mereka? Kan lucu jadinya."

Mula-mula Yu Lo-hujin agak tertegun, menyusul kemudian paras mukanya berubah hebat, tampaknya dia akan ribut-ribut. Hoa In-liong yang merasa gelagat kurang enak cepat bangkit berdiri, katanya.

"Hujin harap jangan marah, bagaimana kalau dengarkan dulu sepatah dua patah kata boanpwe?. Semula, maksud boanpwe membiarkan diriku dibekuk adalah ingin menggunakan kesempatan itu untuk menyelidiki asal usul Cia In yang sebenarnya dan sekarang kalau toh sudah diketahui bahwa Cia In menang tinggal di rumah pelacuran Gi sim-wan, boanpwe dapat menyelesaikan sendiri persoalan itu sebaik-baiknya. Untuk budi kebaikan dan budi pertolongan yang telah Yutooianpwe serta saudara-saudara sekalian berikan kepadaku, biarlan boanpwe ucapkan banyakbanyak terima kasih, soal pemberian bantuan, boanpwe terima saja didalam hati."

Selesai berkata dia lantas merangkap tangannya dan menjura kepada semua orang yang hadir dalam ruangan. Coa Cong-gi tak suka menerima penghormatan semacam ini, cepat-cepat ia berteriak keras.

"Hei..... Kau ini, kenapa jadi orang begitu seenaknya dan tak tahu diri......"

Wan Ek-hong kuatir saudaranya ini melakukan kesalahan dalam berbicara cepat-cepat dia menukas.

"Hoa kongcu, penolakanmu itu ini artinya memandang asing diri kami semua. Kami tahu bahwa persoalan yang dihadapi ayahmu aneka ragam banyaknya dan diliputi pelbagai macam persoalan. Sedang kami beberapa orang tak hanya ingin bekerja membonceng keberhasilan orang. Masing-masing bekerja demi kepentingan pribadi. Jika kau berbuat demikian, bukankah sama artinya bahwa semua persoalan hanya akan kau kangkangi sendiri demi keuntungan pribadi?"

Ucapan itu tajamnya melebihi sebilah golok.

Hoa In-liong merasa hatinya terperanjat dan berdiri terbelalak.

Untuk sesaat lamanya dia tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Wan Ek-hong segera merangkap tangannya memberi hormat.

Setelah tertawa terbahak-bahak katanya lagi.

"Haaaa...... Haaaa..... haaa....... Hoa kongcu, anggap saja kata-kataku ini hanya kata-kata mainan belaka, jangan kau anggap sebagai sungguhan. Maksud siau-te, setiap perbuatan yang dilakukan pihak Liok-soat-sang-ceng adalah demi kebaikan orang banyak. Sudah banyak manfaat yang diterima orang persilatan dari perbuatan kalian. Sedang maksud kami mengikuti jejakmu, pertama adalah ingin belajar cara kerja ayahmu. Kedua ingin menggunakan segenap ke-mampuan yang kami miliki untuk melakukan suatu pekerjaan yang bermanfaat bagi kepentingan umum. Jikalau Hoa kongcu tidak membiarkan kami ikut serta didalam persoalan ini terus terang kami semua merasa tidak puas."

Kali ini perkataannya jauh lebih lunak dan halus, tapi nadanya masih tajam setajam sembilu, membuat orang yang mendengar tak dapat menampik dengan begitu saja.

Untuk sesaat lamanya Hoa In-liong berdiri termangu-mangu.

Akhirnya dia merangkap tangannya memberi hormat.

"Kalau toh saudara Wan telah berkata demikian, siau-te tak bisa bicara apaapa lagi,"

Katanya.

"Cuma bila saudara sekalian memang benar-benar tak pandang asing pada diriku, harap sebutan 'Hoa kongcu' jangan dipakai lagi. Siau-te menduduki urutan nomor dua dalam keluarga, bernama Hoa Yang alias Hoa In-liong. Harap dikemudian hari kalian panggil saja aku Hoa Yang atau Hoa In-liong atau Hoa loji, terserah pada kalian akan panggil apa saja. Bila ada diantara kalian ada yang memanggil aku dengan sebutan kongcu lagi, jangan salahkan jika siau-te akan segera angkat kaki tanpa pamit!"

Coa Cong-gi paling berangasan diantara saudaranya segera dia bersorak kegirangan sambil bertepuk tangan.

"Haaaaa... puas..... puas..... aku betul-betul puas! Hoa loji, kita tetapkan begini saja, pokoknya siapa memanggil kongcu lagi kepadamu, dia itu manusia macam begini....."

Sambil berkata dia lantas tunjukkan gerakan tangan cucu kura-kura, seketika itu juga semua orang tertawa terbahak-bahak.

Ditengah gelak tertawa yang sangat ramai, Yu Lo-hujin mengetokkan tongkatnya berulang kali keatas tanah, disertai suara serak teriaknya keras-keras.

"Sudah....... sudah...... jangan tertawa... Jangan tertawa lagi! Lebih baik kita bicarakan persoalan yang sebenarnya"

Dimulut nyonya tua itu mengatakan 'Jangan tertawa lagi', hakekatnya dialah yang tertawa paling keras diantara orang-orang lain.

Yu Siau-lam kuatir nafas ibunya jadi sesak, sambil berusaha menahan gelak tertawanya dia uruti panggung ibunya berulang kali.

Saat itulah seorang pelayan datang melapor .

"Lapor Lotay-ya, arak dan sayur telah siap, tolong tanya perjamuan akan diadakan dimana?"

"Ruang tamu sebelah dalam!"

Jawab si Tabib Sosial dari Kanglam sambil menahan rasa gelinya. Kembali ia bangkit berdiri, dengan sikap hormat lanjutnya.

"Engkoh cilik Ling, aku akan menurut kehendak hatimu dengan menyebut kau sebagai engkoh cilik. Mari, silakkan! Mari kita sambil bersantap sambit bercakap-cakap, baik atau buruk kita harus merundingkan suatu cara yang paling baik untuk mengatasi persoalan ini."

"Memang seharusnya begitu...."

Ucap Hoa In-liong.

"Aaaai..... Aku lihat engkau baru benar-benar sudah pikun"

Terdengar Yu Lo-hujin sedang omeli suaminya.

"Sudah beberapa hari Hoa lo-ji tak sadarkan diri, badannya tentu penuh debu dan kotor. Sebelum dipersilahkan membersihkan badan dan menyisir rambut, masa disuruh bersantap?"

Gelak tertawa kembali berkumandang memenuhi seluruh ruangan.

"Aaaah, iya, aku memang betul-betul sudah pikun"

Gumam si Tabib Sosial itu.

"Anak Lam, ajak Hoa.... Ajak engkoh cilik Liong untuk membersihkan badan, sedang hiantit sekalian silahkan menunggu sebentar. Hujin! Mari kita menunggu di ruang tamu."

Dengan begitu, suasanapun jauh lebih santai dan ringan, suami istri yang sudah tua itu berlalu lebih dulu menyusul kemudian masing-masing yang lainpun pergi membersihkan badan.

Perawakan tubuh Yu Siau-lam kebetulan seimbang dengan Hoa In-liong.

Dari dalam kamarnya dia siapkan satu stel baju baru dan diserahkan kepada anak muda itu untuk menukar bajunya yang sudah kotor.

Hoa In-liong memang seorang yang supel dan gemar berkawan, bahkan ia merasa cocok sekali dengan rekan-rekan barunya.

Selesai membersihkan badan dan berganti pakaian, ia rampak lebih segar dan tampan.

Secara beruntun pemuda-pemuda itu muncul kembali di ruang tamu sebelah dalam, masingmasing bergaul dengan santai tanpa adanya pembatasan-pembatasan yang membuat suasana jadi kaku.

Dengan demikian suasanapun jauh lebih akrab dan penuh rasa persaudaraan.

Rupanya si Tabib Sosial dari Kanglam dan istrinya memang pandai bergaul dengan kaum muda.

Pesta perjamuan itu berlangsung sampai kentongan pertama sebelum akhirnya bubar dengan masing-masing merasa sangat puas.

Dalam perjamuan itu, Kanglam Ji-gi sempat pula bertanya kepada Hoa In-liong mengapa ia jauh meninggalkan rumah?

Tanpa merahasiakan segala sesuatunya, Hoa In-liong membeberkan semua tugasnya untuk menyelidiki pembunuh Suma siok-ya serta semua pengalaman yang dijumpainya sepanjang jalan.

Mendengar penuturan tersebut, selain merasa sedih dan murung atas kematian Kiu-mia kiam-kek suami istri, semua orangpun merasa amat gusar dan benci atas kekejaman serta kemisteriusan si pembunuh keji itu.

Tapi didalam pembicaraan yang kemudian diadakan, semua orang akhirnya berkesimpulan bahwa 'bencana besar sudah menjelang tiba'.

Sejak itu dunia persilatan yang sudah aman selama dua puluh tahun kembali akan dikacaukan oleh pelbagai peristiwa besar.

Berbicara soal bencana besar yang menjelang tiba, Kanglam Ji-gi selalu menyinggung secara garis besarnya saja tanpa memberikan keterangan yang lebih terperinci.

Setiap kali membicarakan persoalan yang dibahas, atau manusia-manusia lihay yang disinggung, ia selalu mengawali pembicaraan itu dengan perkataan 'mungkin persoalan ini ada sangkut pautnya' atau 'mungkin orang ini ada sangkut pautnya'.

Pokoknya semua keterangannya tidak membahas sampai terperinci.

Tiap kali Hoa In-liong mendesak lebih jauh, tiba-tiba saja tabib itu mengalihkan pembicaraannya ke soal lain.

Kendatipun demikian, tabib tua ini sangat setuju kalau Hoa In-liong melakukan perjalanannya menuju wilayah Lam-huang, sekalipun tanpa disertai alasan apapun.

Hoa In-liong sendiri, oleh karena merasa bahwa masalah Cia In adalah masalah paling serius yang dihadapinya sekarang, maka tentang persoalan lainpun ia tidak banyak bertanya lagi.

Mengapa Cia In yang berilmu tinggi bersembunyi dalam sarang pelacuran?.

Semua orang merasa hal ini merupakan suatu teka teki besar.

Lalu apa tujuan perempuan itu menculik Hoa In-liong?

Kembali suatu teka teki yang tak terjawab.

Mengapa pula ia tidak menggeledah saku Hoa In-liong ketika pemuda itu berhasil diringkus?

Kembali suatu teka teki.

Diberondong oleh serentetan teka teki yang membingungkan hati, pemuda Hoa In-liong merasa pusing tujuh keliling, tentu saja ia segan membahas masalah lain sebelum pertanyaanpertanyaan yang dianggap sangat penting itu belum memperoleh jawaban yang memuaskan hati.

Oleh karena itulah, setelah dilakukan pembicaraan yang lebih mendalam, akhirnya si Tabib Sosial dari Kanglam setuju dengan pendapat Kim-leng ngo-kongcu yakni menyaru sebagai laki-laki hidung bangor dan mencari berita ke rumah pelacuran Gi-sim-wan.

Sekalipun setuju mereka meninjau rumah pelacuran itu, tabib tua tadi hanya setuju kalau Hoa In-liong cuma ditemani oleh Yu Siau-lam seorang sedangkan yang lain dilarang ikut serta.

Tabib tua itu beranggapan bahwa Cia In telah kabur bersama begundal-begundalnya, jadi meninjau rumah pelacuran secara berombongan hanya merupakan tindakan yang berlebihan.

Sedang mengenai apa sebabnya dia hanya setuju kalau Hoa In-liong ditemani oleh Yu Siau-lam seorang?

Menurut kakek itu, karena persoalan ini mengangkut kepentingan mereka berdua.

Memang kalau dipikir, alasan itu cukup berbobot.

Katanya.

"Andaikata rumah pelacuran Git-sim-wan adalah sarang bajingan, maka orang-orang di rumah bordil itu pasti tahu tentang perbuatan Cia In menculik orang dan dapat diduga perempuan yang bernama Cia In itu tentunya sudah menyembunyikan diri, maka untuk melakukan penyelidikan harus dipilih orang-orang yang tepat. Setelah Hoa In-liong tertolong, sewajarnya kalau Yu Siau-lam sebagai orang kota Kim-leng yang mengenal jalan dan seluk beluk rumah pelacuran menghantar pemuda itu untuk mencari tahu jajak Cia In, sekalipun mungkin penyelidikan mereka tidak mendatangkan hasil apa-apa, toh tak akan sampai perbuatan itu diketahui pihak Gi-sim-wan sehingga meningkatkan kewaspadaan mereka. Perhitungan dari Tabib sosial ini memang cukup cermat disertai persiapan langkah-langkah berikutnya. dia tak ingin kalau sampai jejak yang Cuma ada satu-satunya itu putus di tengah. Tentu rekan-rekan dari Kim-leng ngo-kongcu yang lain tak ada yang mengajukan keberatan, kecuali satu orang yakni Coa Cong-gi yang berangasan itu. Agaknya Coa Cong-gi merasa amat cocok sekali dengan watak Hoa In-liong, ia tak mau berpisah dengan pemuda itu malahan bersikeras membantu mengatakan bahwa diapun berkepentingan dengan persoalan itu, sebab sewaktu menolong Hoa In-liong diapun ada disana. Sampai perjamuan bubar, dia masih ribut terus tiada hentinya. Lama kelamaan Tabib Sosial dari Kanglam dibikin kewalahan juga oleh tingkah polah anak muda itu. Terpaksa dengan perasaan apa boleh buat ia menyetujui juga kehendak pemuda itu untuk ikut. Mendengar persetujuan itu, tak terkirakan rasa girang Coa Cong-gi, sontak ia meloncat bangun sambil berteriak.

"Siapkan, kuda! Siapkan kuda!"

Melihat itu, Kanglam Ji-gi cuma bisa gelengkan kepalanya sambil mengurut dada.

"Cong-gi..... Cong-gi....."

Katanya.

"Kau musti ingat jika kepergian kalian saat ini bukan berpesiar, tapi untuk mencari berita. Bila kau tak dapat menahan diri dan berkaok-kaok seperti saat ini, bisa jadi urusan engkoh In-liong akan terbengkalai di tanganmu!"

"Keponakan mengerti, keponakan sudah mengerti jelas,"

Sahut Coa Cong-gi sambil mangutmangut.

"Pokoknya setelah tiba di rumah pelacuran Gi-sim-wan aku pasti akan menutup mulutku rapat-rapat!"

Semua orangpun pelan-pelan tinggalkan ruang tamu menuju ke halaman depan. Disana pelayan telah siapkan tiga ekor kuda.

"Nah..... Naiklah keatas kuda!"

Ajak Kanglam Ji-gi kemudian sambil ulapkan tangannya.

"Cepatlah pergi dan cepatlah kembali. Bila berhasil mendapatkan sesuatu keterangan, lebih baik malam ini jangan sampai turun tangan lebih dahulu."

Beberapa patah kata terakhir itu mungkin saja tak dipahami orang lain, tapi Hoi Liong yang cerdik segera dapat memahami arti dari perkataan itu. Ia tersenyum, sahutnya sambil menjura.

"Boanpwe tentu akan baik-baik menjaga diri. Malam sudah makin kelam, udara amat dinguin, silahkan locianpwe masuk ke dalam ruangan!"

Setelah menerima tali les kuda dan meloncat naik keatas punggung kudanya, ia berseru pula ke pada rekan-rekan lainnya.

"Sampai jumpa lagi saudara-saudaraku!"

La lantas membedal kudanya menyusul Yu Siau-lam berdua.

Malam itu udara bersih, rembulan dan bintang memancarkan sinarnya dengan redup, dengan ketajaman mata dari tiga orang itu mereka membedal kudanya cepat-cepat, dalam suasana yang sepi dan lenggang mereka tidak kuatir terjadinya sesuatu diluar dugaan.

Akan tetapi setelah melewati loteng tambur dan masuk jalan besar See-ong-hu, mereka terpaksa harus menjalankan kudanya pelan-pelan, sebab manusia yang berlalu lalang disitu terjejal-jejal.

Tiga orang itu semuanya berdandan sebagai putra hartawan, bukan saja wajahnya tampan, kuda merekapun kuda jempolan.

Sepanjang jalan mereka banyak menarik perhatian serta pandangan kagum khalayak ramai.

Yu Siau-lam mempunyai julukan sebagai Say-beng-siang (Beng Siang Sakti).

Bagi orang yang kenal Kim-leng ngo-kongcu tentu kenal pula pemimpinnya.

Sepanjang jalan banyak pula orangorang yang seagaja maju menyapa, hal ini menyebabkan perjalanan mereka semakin lambat.

Coa Cong-gi adalah seorang pemuda yang tak dapat menyembunyikan perasaan sendiri.

Sewaktu dalam hatinya ada urusan maka ia lantas tunjukkan sikap kurang sabar terhadap mereka yang sengaja menyapa.

Dengan sikap acuh tak acuh sepasang alis matanya yang tebal berkenyit kencang.

Hoa In-liong sendiri juga tak sabar lagi, tapi oleh karena baru pertama kali ini ia berkunjung ke kota Kim-leng, apa yang terlihat di sekelilingnya terasa masih segar, maka untuk membuang kekesalan hatinya sebentar-sebentar dia celingukan ke sana ke mari.

Selang sesaat kemudian, tiba-tiba Hoa In-liong menyaksikan Coa Cong-gi duduk di kudanya dengan alis mata berkenyit.

Tanpa terasa diperhatikannya pemuda itu dengan seksama, kemudian pikir.

"Saudara Coa paling blak-blakan dan suka bicara tanpa tedeng aling-aling. Manusia beginilah terhitung manusia paling jujur dan tak kenal arti tipu muslihat. Jangan dilihat alisnya tebal dan matanya besar, berbicara soal ketampanan, belum tentu dia kalah dengan yang lain-lain, malahan bisa jadi dialah paling tampan diantara Kim-leng ngo-kongcu. Cuma ketampanannya selalu tertutup oleh kerutan alisnya yang tebal itu. Aku tak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang sangat baik ini untuk berkenalan dirinya, sebab pemuda ini sangat jujur dan merupakan sahabat yang paling dapat dipercaya!"

Berpikir sampai disitu, tiba-tiba saja kegembiraan hatinya berkobar kembali, dia lantas menjalankan kudanya kes amping begitu, lalu tegurnya.

"Saudara Cong-gi apakah keluargamu juga menetap di kota Kim-leng ini?"

Waktu itu Cong-gi sedang merasa kesal sekali, ketika mendengar pertanyaan itu, alisnya yang berkerut segera mengendor kembali, dan mukanyapun kembali berseri.

"Haaa...... Haaa...... Haaa...... Benar, aku berasal dari kota Kim-leng. Bagaimana dengan kau?"

Tiba-tiba ia merasa bahwa pertanyaan macam itu sebenarnya tidak perlu ditanyakan cepat lanjutnya kembali.

"Eee......kita harus sebutkan tanggal lahir masing-masing, coba lihat siapa yang lebih tua diantara kita! Dengan begitu untuk menyebut "

Kakak atau adik"

Pun tak usah ngawur seenaknya bukan begitu saudara Hoa In-liong?"

Hoa In-liong tersenyum den mengangguk.

"Siau-te dilahirkan pada tahun Jin-seng, bulan Cingwe tanggal sembilan besar, tahun ini berusia delapan belas tahun, bagaimana dengan saudara Cong-gi?"

Pemuda ini masih teringat terus akan pesan neneknya maka dia selalu menghapalkan tanggal dan tahun kelahirannya setahun lebih tua.

Otomatis dalam setiap pembicaraanpun tanpa terasa dia selalu menyebut tanggal kelahirannya secara komplit.

Cong-gi yang tak pernah mau berpikir dengan otaknya sudah tentu tak akan mengira kalau tahun kelahiran pemuda itu sebetulnya palsu, ia lantas tertawa terbahak-bahak.

"Haaaa..... haaaa..... Haa.....Kalau begitu akulah yang menang. Aku dilahirkan tahun Sim-wi, jadi persis lebih tua satu tahun daripada kau......!"

Katanya Hoa In-liong ikut tersenyum.

"Siau-te tidak merasa dirugikan dengan kemenangan Cong-gi heng, sebab itu di kemudian hari aku akan diperhatikan baik-baik olehmu....."

"Haaa..... haaaa..... haaa..... sudah sepantasnya kita saling memperhatikan! Sepantasnya kita saling memperhatikan!"

Gelak tertawa Coa Cong-gi amat nyaring. Ini menunjukkan kalau pikiran maupun perasaannya telah lapang kembali. Melihat sikap saudaranya itu, tiba-tiba Hoa In-Liong berpikir dalam hati.

"Orang ini mengetahui cara sopan santun dan merendahkan diri, ini berarti bahwa dia sebenarnya tidak bodoh!"

Selang sesaat kemudian ia bertanya lagi.

"Cong-gi heng, siapakah gurumu?"

"Oooh..... ilmu silatku adalah warisan keluarga, jadi aku bisa bebas bergerak tanpa musti dikekang oleh peraturan perguruan"

Diam-diam Hoa In-liong tertawa geli, katanya pula.

"Apakah Pek-hu Pek-bo berada dalam keadaan sehat walafiat? Berapa orang saudaramu?"

"Ayahku sudah meninggal banyak tahun. Di rumah aku cuma mempunyai seorang adik perempuan"

Tiba-tiba sepasang matanya dibelalakkan lebar-lebar, dengan wajah bersungguh-sungguh ujarnya lebih jauh.

"Eeh..... aku hendak memberitahukan satu hal kepadamu, tahukah engkau bahwa adik perempuanku adalah harimau betina yang galaknya bukan kepalang? Kalau kau bertemu dikemudian hari, mustilah sedikit berhati-hati."

Sebelum Hoa In-liong memberikan tanggapannya, tiba-tiba terdengar Yu Siau-lam telah berseru.

"Hati-hati sedikit! Kita sudah sampai di tempat tujuan."

Ternyata dalam bercakap-cakap tadi, tanpa terasa mereka sudah tiba di pintu gerbang rumah pelacuran Gi-sim-wan.

Ramai sekali suasana di sekitar tempat itu.

Sementara Hoa In-liong dan Coa Cong-gi masih tertegun keheranan, tiba-tiba seorang pegawai rumah pelacuran itu maju menyongsong kedatangan mereka.

Sambil membungkukkan badannya memberi hormat kepada Yu Siau-lam katanya sambil tertawa tengik.

"Yu-ya baru sekarang kau datang? In cici telah siapkan meja perjamuan dan kini sedang menunggu di dalam kamar"

Kejadian ini benar-benar diluar dugaan.

Ketika mendengar perkataan itu, untuk sesaat mereka bertiga jadi tertegun dan lupa melompat turun dari kudanya.

Ketika Yu Siau-lam menghadang jalan pergi Cia In diluar pintu Gui-tee-bun kemudian merampas tawanannya, perempuan itu pernah mencabut pisau belatinya untuk melakukan perlawanan.

Semenjak itu kedua belah pihak telah saling berhadapan sebagai musuh.

Kini, tawanannya telah ditolong orang, ternyata bukannya kabur jauh-jauh dari situ Cia In malah tetap berdiam disana, bahkan telah siapkan meja perjamuan untuk menantikan kedatangan mereka.

Meski hal itu memang merupakan janji dari Cia In waktu masih berada diluar kota, tapi yang mengherankan, apakah dia takut Hoa In-liong meluruk kesitu dan membongkar rahasianya?

Waktu itu kaum pelancong yang berpesiar di sekitar kuil Hui-cu-bio luar biasa banyaknya, terutama tamu-tamu yang berkunjung ke rumah bordil Gi-sim-wan, boleh dibilang bagaikan aliran air sungai yang mengalir silih berganti.

Yu Siau-lam tertegun sejenak, kemudian sempat berpikir panjang lagi dia melompat turun dari kudanya seraya ulapkan tangan.

"Bawa jalan buat kami!"

Perintahnya.

"Baik tuan!"

Pelayan itu bungkukkan badan sambil mengiakan, dia putar badan lalu berteriak ke arah halaman rumah pelacuran itu.

"Yu kongcu telah tiba!"

Dengan langkah yang sengaja dibuat tegap, ia membawa tamu-tamunya masuk ke dalam.

Dalam waktu singkat seruan 'Yu kongcu telah tiba' tadi sudah disampaikan secara berantai ke ruang paling dalam.

Suara yang keras bagaikan gembrengan itu membuat orang merasa semangatnya berkobar kembali.

Yu Siau-lam tersenyum, dia berpaling dan memandang sekejap ke arah Hoa In-liong serta Coa Cong-gi, lalu katanya.

"Nona Cia betul-betul seorang yang dapat dipercaya. Silahkan saudara sekalian!"

Tali les kuda mereka telah diterima oleh seorang pelayan dan dibawa masuk ke kandang. Hoa Inliong tidak banyak bicara lagi, dia manggut-manggut sambil menirukan lagak rekannya.

"Ehmmm..... memang dapat dipercaya! Dapat dipercaya! Silahkan saudara Siau-lam"

Mereka bertiga masuk bersama dengan langkah lebar. Ditengah jalan, Yu Siau lam diam-diam berbisik dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara.

"Sungguh diluar dugaan Cia In tidak berusaha menghindarkan diri, Hoa-heng! Bagaimana rencanamu berikutnya?"

"Lebih baik kita bertindak menurut keadaan, coba lihat dulu bagaimanakah tanggapan serta tanggung jawabnya terhadap peristiwa itu!"

Sahut Hoa In-liong dengan ilmu menyampaikan suara pula.

"Jika dia bersikeras mungkir atau memberikan yang alasan berbelit-belit bagaimana sikapnya pada kita? Atau bila perlu kita gunakan saja kekerasan untuk memaksa perempuan itu mengaku? Kadang kala memang ada orang yang baru mau mengaku jika dipakai kekerasan!"

"Aku pikir tak usah gunakan kekerasan!"

OoooooOoooooo "CONG-GI adalah seorang pemuda yang ringan mulut dan seringkali gampang menyemburkan kata-kata yang kasar tanpa tedeng aling-aling, aku kuatir kalau sampai waktunya dia banyak mulut"

Kata Yu Siau-lam mengutarakan kekuatirannya.

"Aku pikir pendapat ayahmu sangat tepat. Bila jejak ini kita bikin putus dengan kekerasan, tentu tiada hasil yang bisa kita capai. Alangkah baiknya kalau dalam segala tindak tanduk nanti, nantikan dulu maksud hatiku,"

Pesan Hoa In-liong.

"Baiklah!"

Sahut Yu Siau-lam sejenak kemudian.

"Aku akan bertindak mengikuti kerlingan mata Hoa-heng"

Menyusul kemudian dengan ilmu menyampaikan suara diapun berpesan beberapa patah kata kepada Coa Cong-gi.

Semenjak permulaan tadi, Coa Cong-gi sudah menganggap Hoa In-liong sebagai pemimpinnya, tentu saja ia tidak mengemukakan pendapat apa-apa.

Pemuda itu hanya mangut sebagai tanda bahwa semua pesan itu telah diingatnya semua.

Cahaya lampu menerangi seluruh ruangan Gi-sim-wan, suasana disitu ramai dan gaduh.

Suara tertawa, suara pembicaraan dan suara orang bergurau serasa memekakkan telinga.

Sementara mereka bertiga berjalan masak ke dalam, seringkali muncul perempuan-perempuan cantik dengan aneka macam potongan badan serta kegenitan berjalan mondar-mandir disana sambil tiap kali mengerling genit ke arah mereka.

Perlu diketahui, baik Yu Siau-lam maupun Coa Cong-gi kedua-duanya adalah langganan tetap rumah pelacuran Gi-sim-wan.

Hampir tiap hari mereka bermain disitu lagipula jadi orang royal tak heran kalau sebagian besar pelacur-pelacur disana kenal dengan tampang 'cukong cukong muda' mereka ini.

Berbeda sekali dengan kedatangan mereka kali ini.

Dengan membeban tugas penting, sejak masuk ke rumah pelacuran itu mereka telah pasang mata baik-baik memperhatikan keadaan disekeliling tempat itu.

Bukan saja mereka tidak merasakan pengaruh apa-apa oleh kerlingan maut pelacur-pelacur tersebut, malahan memandang tubuh mereka yang berliuk-liuk padat, tibatiba saja timbul rasa jijiknya yang tebal.

Mereka segera merasa bahwa itulah profil dari seorang pelacur.

Cia In berdiam di sebuah gedung berloteng yang mungil dan indah.

Loteng itu berpagar bambu dengan tirai tipis yang berwarna merah muda.

Di sekeliling gedung penuh pohon bambu yang rindang.

Jauh di ujung sana terdapat sebuah kolam dengan air yang jernih.

Bebungaan yang beraneka macam menyiarkan bau harum semerbak, ditambah pula suara keliningan yang dipasang diatas wuwungan rumah, suara 'ting-tang ting-tang' yang merdu membuat semaraknya suasana disana.

Seorang pelacur ternyata mempunyai tempat tinggal yang begitu tenang, nyaman dan indah, dari sini dapat diketahui bahwa kedudukan Cia In di tempat itu boleh dibilang cukup tinggi.

Setelah tiba di tempat itu, pelayan rumah pelacuran yang membawa jalan tadi segera berhenti.

Sambil menuding ke dalam katanya.

"Yu kongcu, silahkan melihat sendiri, In Ci-ji sudah menanti ditepi pagar, silahkan masuk! Silahkan masuk! Tan-ji mohon diri lebih dahulu."

Meskipun diluaran dia bilang mau mengundurkan diri, tapi badannya cuma membungkuk belaka sama sekali tak ada tanda-tanda akan mengundurkan diri dari situ.

Melihat sikap pelayan itu, sebagai langganan lama tentu saja Yu Siau-lam cukup mengetahui akan maksudnya, dia tersenyum.

"Terima kasih banyak, terima kasih banyak atas bantuanmu. Nah! ini persen untukmu, harap saja tidak terlampau kurang bagimu.....!"

Seraya berkata dia mengambil satu tahil perak dan dilemparkan ke arah pelayan tadi.

"Tan-ji mengucapkan banyak terima kasih."

Cepat-cepat pelayan itu berseru dengan wajah berseri.

Ketika berbicara sampai disitu, uang perak itu sudah tiba di depan matanya, cepat dia bangkit, berdiri dan menerimanya.

Yu Siau-lam gemas oleh tingkah laku pelayan itu.

Selain itu diapun ingin menjajal apakah pelayan itu berilmu atau tidak?

Maka ketika uang perak itu disentil ke depan, sengaja dia menyertakan pula tenaga dalamnya yang lihay.

Maka bisa dibayangkan apa akibatnya ketika uang perak itu disambut oleh pelayan tadi, bukan saja uang itu tak sempat ditangkap, malahan tonjolan yang menongol keluar pada uang perak itu sempat menggesek telapak tangannya.

Pelayan itu menjerit kesakitan, sambil menggertakkan gigi dia mengaduh tiada hentinya.

Telapak tangan lecet dan berdarah, sekalipun sakitnya bukan kepalang rupanya pelayan itu lebih mementingkan uangnya daripada badan sendiri.

Tak sempat memeriksa luka lecet itu lagi, cepat-cepat dipungutnya uang perak itu kemudian sambil memegangi telapak tangannya yang terluka ngeloyor pergi dari situ.

Melihat setelah pelayan itu berlalu, Hoa In-liong bertiga saling berpandangan sambil tertawa mereka lantas menyeberangi kebun kecil itu dan naik ke atas loteng.

Cia In yang cantik jelita dengan dandanan yang indah telah menanti kedatangan mereka di mulut anak tangga.

Ketika tamunya muncul, dia lantas memberi hormat sambil berkata.

"Rembulan terasa redup, bintang amat jarang, embun malam terasa dingin..... Rumah nyanyian, gedung pelacuran, sudah berapa rumah kau kunjungi.....? Yu-ya, apakah kau sudah tidak kenal jalanan lagi?"

Mendengar bait syair tersebut, Yu Siau-lam segera tertawa tergelak.

"Kekasihku Lau dari Thian-tay terpikat oleh gua kuno..... Sekalipun harus mabok, mati pun terima..... Setelah mengetahui nona Cia menyiapkan perjamuan untuk kami, sekalipun aku sudah tak kenal jalan lagi, akan kupinjam burung bangau sakti untuk menghantar aku kemari, haaaaa..... haaaaa.... haaaaaa....."

Cia In mengerling genit, bibirnya mencibir lalu serunya.

"Eeeh..... kau pingin mampus rupanya! Masa di hadapan sahabat baruku, begitu bertemu kau lantas hendak cari untung? Sayang gua kuno sudah tertutup, mau terpikat, pergilah terpikat sendiri!"

Dia membalikkan tubuhnya, lalu dengan langkah yang lemah gemulai berjalan masuk ke dalam ruangan.

Untuk kesekian kalinya Hoa In-liong bertiga saling berpandangan sambil tertawa.

Tanpa berbicara lagi mereka ikut masuk ke dalam ruangan itu dibelakang Cia In.

Setelah berbelok ke arah timur, ditengah-tengah gedung itu merupakan sebuah ruang tamu yang besar.

Lampu lentera tergantung disana sini.

Meja benar-benar telah tersedia disana.

Siau-in-ji segera maju menyongsong kedatangan tamu-tamunya, sambil memberi hormat katanya.

"Yaya bertiga, jika kalian tidak datang sesaat lagi, tentu arak dan sayur telah menjadi dingin semua!"

Ketika berjumpa dengan Siau-in-ji, tiba-tiba Coa Cong-gi merasakan hatinya agak bergerak, dia lantas merogoh ke dalam sakunya dan mengambil sekeping uang perak, katanya kemudian.

"Selama kami minum arak, tolong layanilah kami baik-baik. Nah! Uang perak ini persen bagimu untuk membeli pupur."

Jari tangannya lantas disentil ke depan.

Uang perak itu dengan kecepatan bagaikan kilat meluncur ke depan.

Tiba-tiba Cia in maju ke depan, ujung bajunya segera dikebut kedepan, tiba-tiba uang perak itu sudah tergulung masuk ke dalam ujung bajunya.

"Coa-ya, kau benar-benar berjiwa sempit"

Katanya sambil tertawa genit.

"Toh rahasiaku sudah ketahuan, buat apa Coa-ya menjajal kami lagi?"

Berbicara sampai disitu, dia lantas berpaling ke arah Siau-in ji dan menambahkan.

"Pergilah kedalam dan ambil keluar pedang mustika serta buntalan milik Hoa kongcu, agar dengan begitu orang yaya ini jadi berlega hati kalau kami memang tidak bermaksud jahat.'"

Perkataan itu diucapkan dengan blak-blakan namun dia sendiri sama sekali tidak menunjukkan sikap marah.

Hal ini membuat Coa Cong-gi merasa pipinya jadi merah karena jengah.

Untuk sesaat dia jadi gelagapan dan tak tahu apa yang musti dikatakan.

Hoa In-liong maupun Yu Siau-lam sendiri pun tertegun, mereka benar-benar merasa tak habis mengerti, dengan maksud apakah Cia In menyiapkan meja perjamuan untuk menjamu mereka?

Selang sesaat kemudian, Siau-in-ji telah muncul kembali sambil membawa pedang mustika dan buntalan milik Hoa In-liong, segera ujarnya sambil tertawa.

"Hoa-ya, apakah engkau akan periksa dulu barang-barang milikmu ini.......?"

Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak.

"Haaa..... haaa..... haaa..... aku tidak kuatir kehilangan barang milikku, yang aku kuatirkan justru kalau sampai jalan darah giok-tin-hiat ku ditusuk lagi dengan jarum!"

Cia In ikut tertawa cekikikan sehabis mendengar sindiran tersebut.

"'Hiii..... hiii..... hiii..... Mungkin sepanjang hidupku sudah tak akan mempunyai kesempatan lagi untuk membekuk engkau. Jika kau tidak takut bila arak dan sayur ini sudah kucampuri racun, silahkan mengambil tempat duduk."

Hoa In-liong tertawa, dia tidak banyak berbicara lagi, segera pemuda itu beranjak dan menuju ke meja perjamuan.

Setelah masing-masing orang mengambil tempat duduk, In-ji maju memenuhi cawan tamutamunya dengan arak.

Tiba-tiba Hoa In-liong ulapkan tangannya mencegah dayang cilik itu bekerja lebih jauh serunya.

"Eeeh..... tunggu sebentar, akan kuperiksa dulu dengan seksama, apakah teko arak ini adalah teko yen-yang-hu atau bukan?"

Senyuman lirik tersungging di ujung bibirnya, tentu saja pemuda itu tidak berniat sungguhsungguh untuk memeriksanya.

Menggunakan kesempatan itu Cia In menjual lagaknya, dengan sikap manja direbutnya teko arak itu dari tangan In-ji, kemudian serunya dengan muka cemberut.

"Tidak boleh dilihat!. Terus terang kuberitahu kepadamu, teko ini bukan teko yen-yang-hu, tapi araknya adalah arak Yenyang-ciu, lebih baik Hoaya jangan minum!"

Yu Siau-lam segera membungkukkan badan dan merebut kembali teko arak itu dari tangan Cia In, kemudian sambil memenuhi cawan araknya perlahan-lahan dia bersenandung.

"Dewi cantik bidadari ayo berkumpul dalam khayangan..... Suasana semarak menghilangkan derita..... Mengagumi burung yan-yang, jangan mencemooh bidadari....."

Cia In mengerdipkan matanya dan ditujukan sikap yang aleman, serunya kemudian dengan manja.

"Siapa toh yang kau maksudkan burung yan-yang dan siapa pula bidadarinya?. Iiiiih.... Yu-ya benar-benar tak tahu!"

Ia memutar biji matanya, lalu sambil berpaling kepada In-ji katanya lagi.

"Oooh..... In-ji yang nakal! Uang persenan 'kan sudah kita terima, masakah kau benar-benar akan suruh ya ya sekalian menuang arak sendiri?"

Setelah ada perintah dari majikannya, In-ji baru menerima teko arak itu dan menuangkan arak bagi cawan-cawan tamunya.

Setelah semua isi cawan dipenuhi, Cia In mengangkat cawan araknya kehadapan Hoa In-liong kemudian katanya.

"Pertama-tama akan kuhormati dulu Hoa-ya dengan secawan arak. Semoga dengan secawan arak ini Hoa-ya dapat memberi maaf kepadaku karena sepanjang jalan telah menyiksa diri Hoa-ya."

Sekali teguk dia menghabiskan isi cawannya. Hoa In-liong tertawa tergelak.

"Haa..... Haa..... haa..... kebetulan aku memang sedang berpesiar ke tempat-tempat indah. Sudah lama aku punya rencana untuk berkunjung ke wilayah Kanglam. Haaaaa... ha..... haaa..... Sekalipun sepanjang perjalanan tak sempat kunikmati keindahan alam, paling sedikit 'kan aku sudah mengirit beberapa tahil perak ongkos jalan. Siapa bilang aku menderita? Malahan aku bersedia merasakan keadaan semacam itu sekali lagi."

Dia ikut meneguk habis isi cawan sendiri.

Menggunakan kesempatan itu Yu Siau-lam melirik sekejap ke arah Hoa In-liong.

Ketika dilihatnya pemuda itu picingkan mata kanannya dan janggutnya ditarik sedikit sebagai tanda anggukan, tahulah dia bahwa arak itu memang tak beracun.

Dengan hati lega pemuda she Yu ini mengangkat cawan araknya sendiri dan berkata sambil tertawa.

"Ditemani perempuan cantik dalam sekereta sekalipun tak dapat menikmati keindahan alam, hal itu juga bukan kejadian yang patut disesali. Nona Cia aku pesan tempat dulu ya?, kalau lain waktu ada kesempatan semacam itu, tolong nona Cia beri kabar padaku. Hanya suasana romantis macam begitu baiknya jangan dirusak karena jalan darahku kau totok..."

Tiba-tiba Cia In picingkan sebelah matanya sambil menyela.

"Aduuh..... Aduuuh...... katanya saja seorang taki-laki sejati yang gagah perkasa, kenapa pandangan serta jiwamu begitu picik?. Aku 'kan sudah mengaku salah? Masa itu tidak cukup? kenapa musti pakai main sindir terus menerus?"

Cia Cong-gi yang tadi ikut-ikutan berbicara mengikuti jejak rekannya, siapa tahu ketanggor batunya, sampai sekarang hatinya masih merasa tak enak.

Sebagai seorang pemuda yang berjiwa terus terang, ia selalu teringat akan tujuan kedatangan mereka.

Maka ketika dilihat datangnya kesempatan yang baik, dia lantas tertawa kering dan menyela.

"Si penjagal mau bunuh babi, tapi sudah salah bunuh manusia. Apakah kau anggap hanya mengaku salah saja itu sudah cukup? Paling sedikit musti kau terangkan dulu apa sebabnya kau culik saudara kita dari keluarga Hoa......?"

Mendengar ucapan tersebut, Yu Siau-lam merasa sangat gelisah.

Dia menganggap waktu itu belum tiba saatnya untuk mengutarakan maksud tujuan kedatangan mereka.

Ia kuatir jika suasana dibuat beku lebih dulu maka sampai saatnya nanti main kekerasan tak bisa, tentu keadaan mereka malah akan jadi sulit sendiri.

Untunglah Cia In tidak memikirkan hal itu di dalam hati, dia tertawa cekikikan.

"Hiiii..... hiii...... hiii.... Coa-ya memang lucu benar orangnya, masa kau bandingkan aku sebagai si penjagal dan membandingkan Hoa Kongcu sebagai babi. Hiiii..... hiiii..... perkataan Coa-ya kurang tepat, kau musti di hukum dengan secawan arak"

Untuk mencari perumpamaan tersebut, dengan susah payah Coa Cong-gi harus memutar otak, maksudnya dia akan membawa pembicaraan tersebut kepokok pembicaraan yang sebenarnya.

Siapa tahu perumpamaan itu telah digunakan lawannya untuk memukul diri sendiri.

Untuk sesaat dia jadi menjublak dan tak mampu berkata-kata lagi.

Yu Siau-lam sendiripun merasa agak lega setelah dilihat suasana tidak dibikin rusak oleh persoalan itu.

Cepat dia mengangkat cawan sendiri dan berkata sambil tertawa.

"Nona Cia, coba lihatlah benda apakah yang berada ditanganku ini?"

"Itukan secawan arak!"

Sahut Cia In rada tertegun.

"Benar, benda ini adalah secawan arak!"

Yu Siau-lam membenarkan seraya mengangguk "Aku lihat nona pun tidak berjiwa besar!"

"Eeeeh..... Apa sangkut pautnya antara cawan arak ini dengan kebesaran jiwaku?"

Kembali Cia Jin disaat tertegun oleh perkataan dari si anak muda ini. Yu Siau-lam tersenyum.

"Semula kuangkat cawan dengan maksud mengucapkan beberapa kata yang enteng lalu baru menghormati nona dengan secawan arak. Siapa tahu nona tak pandai mengambil kesempatan itu untuk bergurau, malah menegur aku berpandangan dan berjiwa sempit. Adik Cong-gi segera menyambung pula dengan beberapa banyolan ternyata kau menyindir pula. Coba lihatlah, bukankah yang pantas dihukum adalah nona sendiri? Hayo, sekarang kau musti dihukum dengan secawan arak!"

"Aaaah..... kalian jahat, kalian jahat semua!"

Seru Cia In manja.

"Aku tak mau kalau begitu, masa tiga orang laki-laki gede bekerja sama untuk menganiaya seorang perempuan macam aku..... kalian curang!"

"Haaa..... haaaa..... haa..... perkataan nona terlampau serius!"

Yu Siau-lam tertawa terbahak-bahak.

"Baiklah, kalau begitu mulai sekarang kita kemukakan larangan, barang siapa mulai dulu dengan kata-kata yang tak senonoh, maka dia harus didenda tiga guci arak!"

"Aduuuh.... mak, aku tidak mau ikut!"

Cia In menjerit keras.

"Aku sudah terbiasa hidup menjual tertawa menjual banyolan. Menyambut orang she-Thio menghantar tuan she-Li sudah menjadi kebiasaanku sehari-hari. Dan lagi kedatangan yaya sekalian ke Gi-sim-wan toh untuk mencari hiburan dan kesenangan. Sekalipun malam ini harus kulayani kalian sampai mabok, mencari kegembiraan adalah soal paling penting. Jika Yu-ya betul-betul perlakukan larangan itu, akulah yang akhirnya bakal kesal. Tidak..... tidak mau..... Aku tidak mau ikut"

"Sudah..... Sudahlah! Gurauan kita stop sampai disini saja,"

Sela Hoa In-liong sambil tertawa.

"Minum arak barulah urusan kita yang paling penting."

Menggunakan kesempatan itu Yu Siau-lam ikut memutar haluan mengikuti hembusan angin. Cepat-cepat sambungnya.

"Betul! Betul! minum arak barulah urusan kita yang paling penting! In ji ayoh penuhi cawan arak. Aku akan menghormati nona kalian dengan secawan arak."

Hakekatnya In-ji masih kecil.

Ketika mendengar beberapa orang ini cekcok dan bersilat lidah, dia hanya bisa mendengarkan dengan muka tertegun, tentu saja diapun lupa untuk menuang arak.

Sekarang setelah ditegur oleh Yu Siau-lam, dengan wajah merah jengah ia baru sadar kembali dari lamunannya.

Cepat-cepat dia mengangkat teko arak itu dan memenuhi cawan kosong dari Cia In serta Hoa In-liong dengan wajah tersipu-sipu.

Maka barulah adegan lain yang tak kalah serunya, mereka sambil membujuk sambil saling melotot, cawan tak pernah lepas tangan, ternyata beberapa orang itu mulai minum arak dengan bersungguh-sungguh.

Keempat orang itu sama-sama mempunyai takaran minum arak yang besar sekali, setiap cawan yang disodorkan kehadapannya segera diteguk hingga habis.

Cia In seperti akan mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya maksud itu dibatalkan, dia tahu kedatangan Hoa In-liong sekalian mempunyai maksud-maksud tertentu.

Tapi tindak tanduk mereka yang minum arak terus macam orang yang betul-betul datang untuk iseng, sangat mencengangkan hatinya.

Entah beberapa puluh cawan sadah mereka minum, paras muka Cia In telah berubah jadi merah seperti bunga tho.

Makin merah makin merangsang tampaknya, bikin hati orang seperti dikilikkilik.

Hanya Coa Cong-gi seorang yang selalu memikirkan tujuan kedatangan mereka disana.

Beberapa kali dia ingin buka suara, tapi selalu kuatir kalau perkataannya kurang cocok sehingga dicemooh orang, saking gelisahnya dia sampai garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Beberapa kali dia mengerling ke arah Hoa In-liong dan Yu Siau-lam memberi tanda namun baik Hoa In-liong maupun Yu Siau-lam seakan-akan sama sekali tidak melihat kerlingan itu, jangan toh menanggapi, menggubrispun tidak.

Keadaan tersebut ternyata tak lepas dari pengamatan Cia In yang tajam.

Sepasang alis matanya segera berkenyit, tapi hanya sebentar saja dia sudah tersenyum kembali.

"Yu-ya sudah lama kita tak berjumpa!"

Katanya dengan manja.

"Yaa...! Kalau dihitung hitung dengan jari, sudah hampir tiga puluh hari lebih"

Cia In tersenyum manis.

"Sepanjang perjalanan, ku selalu merasa kesepian dan tiada berkawan, tahukah kau bahwa aku selalu memikirkan engkau?"

Yu Siau-lam mengerutkan dahinya, sesaat kemudian dia menjawab agak takabur.

"Bila hati sudah bertemu dengan hati, memang sepantasnya kalau nona Cia selalu teringat akan diriku."

"Kalau memang begitu..... kau..... kau..... Bagaimana kalau kau tinggal disini saja!"

Bisik perempuan itu.

Selesai berkata kepalanya ditundukkan rendah-rendah, sikapnya tersipu-sipu dan mukanya merah padam seperti kepiting rebus.

Mendengar tawaran itu, Yu Siau-lam merasa amat terperanjat.

Ia jadi terbelalak dan gelagapan dibuatnya.

"Soal ini..... Aku rasa soal ini......"

Yu Siau-lam memang seorang yang suka bermain cinta, apalagi kedatangannya kesitu adalah menyaru sebagai laki-laki iseng yang mencari kesenangan akan tetapi ketika secara tiba-tiba ia mendengar permintaan perempuan itu agar dia tinggal disana, sedikit banyak kejadian itu diluar dugaannya.

Ini membuat jago muda kita jadi gelagapan setengah mati.

Masih mendingan kalau ia datang tanpa tujuan.

Kini maksud kedatangannya adalah untuk menyelidiki asal-usul perempuan itu.

Tidaklah heran kalau tawaran itu malahan bikin jantungnya berdebar keras dan gelagapan dengan sendirinya.

Tiba-tiba terdengar Coa Cong-gi memukul meja keras sambil tertawa tergelak.

"Haaa..... haaa...... haaa..... Ada nona cantik yang bersedia menemani tidur. Oooh..... Saudara Siau-lam, aku lihat rejekimu betul-betul amat besar. Aku rasa itulah yang dinamakan orang kalau lagi Hok-kie..."

Jilid 09 MERAH padam selembar wajah Yu Siau-lam karena jengah, dengan gelisah ia lantas membentak.

"Cong-gi te, kau jangan sembarangan berbicara"

"Siapa bilang aku sedang berbicara sembarangan.....?"

Coa Cong-gi mengerutkan dahinya rapatrapat.

"haa... haa..... haa..... perpisahan yang terlampau lama kadangkala memang memberi kemesraan bagaikan pengantin baru, aku lihat.... heee.... heee..... heee..... Saudara Siau-lam, kau tak usah pura-pura berlagak pilon lagi"

Tampaknya jago muda yang berwatak berangasan ini sudah lama menyimpan rasa mendongkolnya atas sikap Hoa In-liong serta Yu Siau-lam yang selalu membicarakan soal-soal tetek bengek yang sama sekali tak ada gunanya, maka dia menggunakan kesempatan yang sangat baik itu untuk menyindir rekan-rekannya.

Yu Siau-lam jadi mendongkol bercampur penasaran oleh perkataan itu.

ia tuding rekannya sambil berseru tergagap.

"Kau... kau....."

Tiba-tiba sinar matanya membentur wajah Hoa In-liong yang masih duduk dengan senyum dikulum.

Sontak saja satu ingatan melintas dalam benaknya, sekuat tenaga dia mengendalikan rasa mangkel dalam hatinya, kemudian sambil berpaling kembali ke arah Cia In, katanya lagi sambil tertawa lebar.

"'Wah..... Nona Cia, aku lihat engkau memang suka sekali memutarbalikkan perkataanmu".

"Eeeh..... Yu-ya, Apa maksud perkataanmu itu?"

Cia In pura-pura tertegun.

"Haaa..... haa..... haa..... Bukankah engkau telah berkata bahwa gua kuno sudah tertutup. Kalau mau terpikat, pergilah terpikat sendiri"

Ia terbahak-bahak, setelah berhenti sejenak sambungnya lebih jauh.

"Haaa..... haa... haa... Aku tahu kalau nona sudah mempunyai sahabat baru dan hatimu sudah ada yang punya. Asal aku orang she-Yu masih kebagian sedikit saja cintamu, aku sudah merasa puas sekali!"

Hoa In-liong tertawa nyaring tiba-tiba menyela.

"Eeeh.... Saudara Siau-lam, yang kau maksudkan sehabat-sahabat baru itu apakah diri siaute?"

Yu Siau-lam ikut tertawa.

"Saudara In-liong romantis dan gagah perkasa, sedang nona Cia adalah seorang perempuan sakti yang luar biasa. Siapakah sahabat baru nona itu masakah musti siaute terangkan lebih terperinci?"

"Haaa..... haaa... haa...."

Hoa In-liong segera tertawa terbahak-bahak.

"Saudara Siau-lam, mempunyai roman muka yang gagah, mempunyai tindak tanduk yang supel, apalagi merupakan tamu kehormatan dari nona Cia, haaa..... haa..... siaute tak berani dianggap sebagai sahabat karibnya kuatir ada yang cemburu!"

Yu Siau-lam segera berpaling ke arah Cia In, sambil menuding perempuan itu katanya pula.

"Kau tidak percaya? Kenapa tidak tanyakan sendiri kepadanya? Sudah bertahun-tahun lamanya aku berkenalan dengannya, tapi kapankah aku pernah dipersilahkan masuk pintu gerbangnya? Katakata tamu terhormat sudah tidak cocok lagi untukku, eeeh..... Saudara In-liong, aku saja telah bersedia mengalah, mengapa kau masih juga berusaha unjuk menampik kesempatan baik ini?"

Hoa In-liong sengaja menunjukkan sikap seperti monyet kepanasan.

Sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal dia berpaling ke arah perempuan itu, ditatapnya wajah Cia In dengan sinar mata berkedip, kemudian tanyanya sambil tertawa cengar-cengir.

"Nona Cia sungguhkah ini?"

Sebenarnya saat inilah merupakan kesempatan yang sangat baik bagi mereka untuk membawa pembicaraan kepokok persoalan yang sebenarnya.

Asal Yu Siau lam segera menyambung pembicaraan itu dengan kata-kata-"Kalau tidak sungguh2 buat apa nona Cia harus bersusah payah menangkap dirimu ribuan li jauhnya datang ke kota Kim-leng?"

Niscaya Cia In akan terperangkap oleh pembicaraan tersebut dan terseret untuk mengungkapkan alasan-alasan serta sebab musababnya yang sebetulnya.

Sayang Yu Siau-lam tidak berbuat demikian, terpaksa Hoa In-liong pun melanjutkan sandiwaranya dengan mengedipkan matanya seperti monyet kepanasan.

Begitulah, dua orang pemuda ini saling memberi umpan untuk menjebak lawan.

Sementara diluaran mereka berbicara kesana kemari seakan-akan sudah melupakan sama sekali akan tujuan kedatangan mereka yang sebenarnya ke sana.

Coa Cong-gi yang selalu tak mau berpikir dengan menggunakan otaknya jadi gusar dan mendongkol sekali oleh tingkah laku kedua orang rekannya, tiba-tiba dia memukul meja keraskeras, kemudian teriaknya marah-marah.

"Sudah, kau tak usah banyak bertanya lagi, mau tinggal disini kau boleh saja menginap dirumah ini. Hmmm......! Ternyata engkau adalah manusia semacam ini, hitung-hitung anggap saja aku Coa Cong-gi mempunyai mata tak berbiji sehingga tak dapat menilai kepribadianmu yang bobrok dan amoral itu!"

Sambil melampiaskan rasa dongkol dan marahnya, pemuda berangasan itu segera bangkit berdiri dan berjalan menuju ke pintu depan.

Hoa In-liong masih tetap tenang dan sama sekali tak berkutik, sedangkan Yu Siau-lam jadi panik sekali, dia segera membentak nyaring.

"Kembali!"

Coa Cong-gi sama sekali tidak berhenti, dia hanya berkata lagi dengan dingin.

"Mau apa kembali kesitu? Hmmm, jika engkau pun terpikat oleh kecantikan wajahnya, silahkan tetap tinggal disini... Dasar sama-sama cabulnya" . Tiba-tiba terdengar Cia In menghela napas panjang.

"Aaaaaai..... Hoa kongcu, aku benar-benar merasa takluk kepadamu!"

Katanya. Helaan napas yang datang tanpa dikemudian asal mulanya jauh diluar dugaan siapapun. Coa Cong-gi segera merasa hatinya bergerak, tanpa sadar ia putar badannya sambil bertanya.

"Eeeh.... kenapa kau takluk kepadanya?"

"Yaaa.... takluk oleh ketenangannya serta kemampuannya untuk mengendalikan diri".

"Ketenangan dan kemampuannya mengendalikan diri?"

Coa Cong-gi mengerutkan alisnya rapatrapat.

"Benar, ketenangannya jauh melebihi ketenangan kalian berdua. Apalagi kemampuannya untuk mengendalikan diri, kalian masih kalah jauh di bandingkan dengan dirinya. Silahkan engkau kembali kedalam ruangan!"

Bisik Cia In dengan murung.

Coa Cong-gi mengedipkan matanya berulang kali.

Tanpa sadar dengan wajah tercengang dan tidak habis mengerti, selangkah demi selangkah, diapun masuk kembali kedalam ruangan.

Tiba-tiba dilihatnya Hoa In-liong juga bangkit, sambil menjura kepada nona itu, lalu sambil tersenyum katanya.

"Nona Cia... akupun merasa takluk kepadamu, takluk oleh kecerdasan otakmu.....!"

Cia In tertawa getir.

"Apa gunanya kecerdikan? Toh akhirnya aku tak dapat mengendalikan jaga perasaanku sendiri"

Katanya lirih. Sekali lagi Hoa In-liong tertawa.

"Apa gunanya kita membicarakan persoalan tetek bengek yang sama sekali tak ada gunanya itu? Diam-diam aku telah mengerahkan tenaga dalamku untuk memeriksa daerah disekitar tempat ini. Aku tahu dalam wilayah seluas tiga puluh kaki tak ada orang yang mencuri dengar pembicaraan kita. Nona Cia! Apabila engkau tidak menginginkan pembicaraan tersebut dilangsungkan diatas pembaringan sambil berbisik-bisik lirih, silahkan kau utarakan saja saat ini secara blak-blakan!"

Sampai detik ini Coa Cong-gi baru mengerti apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi, dia lantas berteriak keras.

"Ooooh...... Sekarang aku mengerti sudah, rupanya kau..... haaa.... Haa.... Haa... ....Lote! Aku Coa Cong-gi ikut takluk benar-benar kepadamu!"

Diantara gelak tertawanya yang amat nyaring seperti suara geledek, dia masuk kembali kedalam ruangan, dan langsung duduk kembali diatas kursinya semula. Terdengar Cia In menghela napas lagi.

"Aaaaaai.... Dia menginginkan aku berbicara sendiri peristiwa itu tanpa paksaan. Dengan demikian maka bila usahanya yang pertama tidak berhasil, lain kali dia masih bisa datang kemari untuk kedua kalinya. Yaaa........ kalau kulihat dari sikap kalian ini, tampaknya kamu semua sudah menaruh kecurigaan terhadap rumah pelacuran Gi-simwan kami ini....!"

Hoa In-liong hanya tersenyum belaka, mulutnya tetap membungkam tanpa memberi komentar apa-apa. Setelah berhenti sejenak, tiba-tiba Cia In berkata lebih jauh.

"Apa yang pernah diucapkan guruku ternyata memang benar. Keturunan dari keluarga Hoa bukan manusia sembarangan. Mereka pasti terdiri dari manusia-manusia hebat. Setelah aku berbuat secara gegabah kali ini, tampaknya usaha yang telah kami bangun dengan susah payah selama ini, tak bisa dipertahankan lebih lanjut" . Hoa In-liong merasakan batinya bergetar keras, tak kuasa lagi dia bertanya.

"Ooooh..... jadi tempat ini adalah hasil dari usaha kalian selama bertahun-tahun. Siapakah gurumu?"

Cia In mengangguk tanda membenarkan.

"Guruku she-Pui bernama Che-giok!"

Sahutnya.

"Pui Che-giok?"

Bisik Hoa In-liong dengan sepasang alis matanya berkenyit. Sekali lagi Cia In mengangguk.

"Benar, guruku bernama Pui Che-giok! Beliau adalah adik angkat diri Giok Teng hujin. Ilmu silat yang dimilikinya adalah warisan dari Giok Teng hujin juga. Oleh karena itu kalau dihitung-hitung maka akupun terhitung anak murid dari perguruan Giok Teng hujin. Hoa kongcu tentunya engkau mengenal diri Giok Teng hujin bukan?"

Pucuk dicinta ulam tiba, begitulah keadaan Hoa In-liong pada saat itu.

Kalau ingin dicari susahnya sampai sepatu jadi bobrokpun belum ketemu juga, tapi kalau sudah ditemukan paling paling yaa cuma begitu.

Tak terkirakan rasa gembira anak muda itu setelah mendengar ucapan tersebut.

Hanya dia memang pandai membawa diri, sekalipun dihati rasa girangnya meluap-luap, namun diluaran dia tetap bersikap wajar.

"Ooooh, jadi nona Cia adalah anak murid dari Giok Teng hujin! "

Katanya tenang.

"Lantas pada saat ini Giok Teng hujin sendiri berada dimana?"

"Aaaai.... aku dengar dia sudah berpulang ke alam baka!"

Jawab Cia In dengan sedih.

Didengar dan nada perkataan itu, dapat dilihat betapa sedih dan kesalnya perempuan tersebut.

Hoa In-liong pandai melihat perubahan wajah orang, ketika menyaksikan mimik wajahnya, diamdiam dia berpikir.

"Macam apakah manusia yang bernama Giok Teng hujin itu? Tampaknya Cia In sendiripun kurang begitu kenal dengan perempuan tersebut. Tapi kenapa wajahnya kelihatan begitu murung dan sedih sekali....?" . Dalam hati dia berpikir demikian diluarim segera tanyanya kembali dengan lembut.

"Sudah berapa lama Giok Teng hujin kembali ke alam baka? Apakah kau pernah berjumpa dengannya?"

Cia In menggeleng dan menghela napas panjang, murung dan sedih sekali mukanya.

"Dahulu aku memang pernah berjumpa dengar Giok Teng hujin, tapi itu sudah berlangsung lima belas tahun berselang. Kecantikan wajahnya luar biasa, lagi pula sikapnya lemah lembut, penuh daya tarik dan simpatik sekali...."

"Ooooh.... lalu..... lalu...... dari siapa kau mendengar tentang meninggalnya Giok Teng hujin dia orang tua?"

Tukas Hoa In-liong kemudian.

"Aku mendengar dari cerita guruku, jadi aku pikir hal ini tak mungkin palsu!"

"Sekarang, gurumu ada dimana? Apakah kau bisa undang dia orang tua datang kemari?"

Cia In gelengkan kepalanya berulang kali.

"Semula guruku memang berdiam ditempat ini, tapi dia sekarang telah pergi meninggalkan tempat ini"

Sahutnya.

"Sudah pergi? Kenapa dia meninggalkan tempat ini?"

Desak anak muda itu lebih jauh.

"Aaaaai! Kesemuanya ini! adalah akibat aku telah salah melakukan pekerjaan Tidak sepantasnya kalau kubawa kongcu datang ke kota Kim Leng ini" .

"Ooooh....! Jadi maksudmu, gurumu segan atau tidak bersedia untuk bertemu dengan aku?"

"Salah satu penyebabnya memang guruku tak ingin berjumpa dengan dirimu....."

Jawab Cia In sedih.

"Tapi yang terpenting adalah dia kuatir bila usaha yang berhasil kita bangun dengan susah payah selama banyak tahun ini tak dapat dipertahankan lagi rahasianya, maka guruku akan pergi ke tempat lain untuk membuat rencana berikutnya!"

"Nona Cia, selama ini kau selalu menyinggung tentang tak dapat dipertahankannya usaha kalian selama banyak tahun, ada satu hal yang rasanya kurang enak bila tak kutanyakan kepadamu. Tolong tanya nona, apakah gurumu telah mendirikan sebuah perkumpulan atau suatu organisasi besar dalam dunia persilatan?"

Tiba-tiba Yu Siau-lam menimbrung dari samping dengan penuh antusias. Sementara itu Hoa In-liong sendiripun diam-diam sedang berpikir dengan perasaan tidak habis mengerti.

"Aneh... kejadian ini betul-betul sangat aneh. Padahal aku sama sekali tidak kenal dengan gurunya itu, tapi kenapa gurunya tidak bersedia untuk berjumpa dengan aku?. Aaaah..... benar! Dia tadi bilang kalau gurunya adalah saudara angkatnya Giok Teng hujin. Kalau Giok Teng hujin telah meninggalkan dunia yang fana ini, dus adalah tanda pengenal nyonya itu sudah terjatuh ke tangan gurunya. Haaa... haa..... haa..... Jadi kalau urusan ini dihubungkan satu sama lainnya, delapan puluh persen terbunuhnya Suma siok-ya berdua ada sangkut pautnya dengan perempuan she-Pui tersebut. Aku harus mencari kesempatan yang baik menyelidiki latar belakang dari peristiwa tersebut...."

Dalam pada itu Cia In telah mengangguk tanda membenarkan pertanyaan dari Yu Siau-lam.

"Benar!"

Demikian ia berkata.

"Dengan hadirnya Hoa kongcu disini, rasanya akupun tak mungkin akan merahasiakan persoalan ini lebih jauh. Yaaa memang, guruku telah mendirikan suatu perkumpulan dan perkumpulan itu kami namakan perkumpulan Cha-li-kau (kumpulan nonanona), cuma saja..........."

Tiba-tiba dia membungkam.

Sementara itu Hoa In-liong sudah mempunyai rencana yang cukup matang untuk mengatasi masalah pelik yang sedang dihadapi.

Ketika mendengar perkataan itu dia lantas tertawa nyaring.

"Haa...... haa..... haa...... Perkumpulan Cha-li-kau maksudmu?"

Tukasnya.

"Apakah perkumpulan itu adalah sebuah perkumpulan sesat yang khusus memikat hati orang dengan kecantikan wajah perempuan?"

"Eceeh..... Hoa kongcu, kau tidak boleh menuduh orang dengan kata yang bukan-bukan!"

Seru Cia In dengan panik.

"Kenapa? Memangnya aku sudah salah berbiara atau mungkin ada soal lain dibalik kesemuanya itu?"

Dengan sedih Cia In menjawab.

"Sebenarnya guruku memang mempunyai tujuan tertentu, dia ingin...... dia ingin......"

"Haaa..... haaa...... haa....... Dia ingin apa?"

Seru Hoa In-liong terbahak-bahak.

"Eeeh, kenapa tidak kau lanjutkan perkataanmu lebih jauh?"

Cia In menggerakkan bibirnya seperti mau mengatakan sesuatu, tapi sesaat kemudian dia telah membatalkan niatnya itu. Untuk sesaat suasana jadi hening, tiba-tiba ia berkata lagi dengan wajah serius.

"Hoa kongcu, maafkanlah aku. Hakekatnya apa yang kuketahui adalah sangat terbatas dan apa yang bisa kukatakan juga hanya melulu sampai disini saja. Pokoknya sekalipun perkumpulan Cha-li-kau mengandalkan kecantikan paras muka kaum dara, namun kami bukanlah perkumpulan sesat seperti apa yang kau duga. Yang paling penting tujuan kami adalah membantu keluarga Hoa kalian. Maka percaya atau tidak dengan perkataanku ini terserah padamu sendiri. Hanya aku berharap untuk sementara waktu simpanlah rahasia ini baik-baik dan janganlah kau siarkan tentang semua peristiwa ini ke dunia luar"

"Oooh...... tujuan perkumpulan kalian adalah membantu keluarga Hoa kami?"

Jengek Hoa In-liong sinis.

"Haa..... haaa..... haaa...... Andaikata keluarga Hoa kami harus minta bantuan dari kaum perempuan......."

Belum habis ia berkata Cia In sudah menatap wajah anak muda itu tajam-tajam, kemudian tukasnya dengan suara dalam.

"Hati-hatilah, kalau mau bicara! Hoa kongcu memangnya kau lupa bahwa nenekmu adalah seorang perempuan? Memangnya kau lupa kalau kedua orang ibumu juga pendekar perempuan? Apakah kau lupa andaikata dimasa lampau ayahmu tidak mendapat bantuan dari Giok Teng hujin, maka dia tak akan mempunyai kesuksesan seperti yang dimilikinya sekarang....? Hoa kong cu....."

Perempuan itu seperti akan mengucapkan sesuatu lagi tiba-tiba suara In-ji telah menukas.

"Suci, kau......"

Seperti baru sadar bahwa dia telah salah berbicara, paras muka Cia In berubah hebat, sekujur badannya ikut bergetar keras, cepat-cepat ia tundukkan kepalanya dengan sedih.

"Hoa-kongcu, maafkanlah kesilafanku, harap kau jangan marah atau tersinggung oleh kata-kata yang barusan kuutarakan!"

Hoa In-liong bukan seorang pemuda yang bodoh, sudah tentu dia tahu bahwa keadaan yang dihadapinya sekarang bukan suatu keadaan yang sederhana atau biasa saja.

Mendingan kalau begitu mengetahui latar belakang semua peristiwa yang pernah terjadi di masa lampau.

Saat ini boleh dibilang dia buta sama sekali atas peristiwa-peristiwa itu, maka setelah mendengar pembicaraan itu, dia lantas menyusun rencana lebih jauh.

Maka ketika Cia In minta maaf diapun tidak banyak bicara atau menyinggung kembali urusan itu.

Ditatapnya perempuan tersebut tajam-tajam, kemudian ujarnya dengan dingin.

"Kau silaf atau tidak aku tak mau tahu. Baik bicaramu betul atau tidak akupun tak ambil pusing. Pokoknya hanya ada satu keinginan dalam hatiku. Sekarang, aku ingin berjumpa dengan gurumu dan aku harap nona bisa bantu aku mempersiapkan pertemuan itu!"

Cepat-cepat Cia In menggelengkan kepalanya.

"Maafkanlah daku Hoa kongcu. Aku betul-betul tak mempunyai kemampuan untuk memenuhi kehendak hatimu itu. Aku tak mungkin bisa aturkan pertemuan bagimu dengan guruku!"

Hoa In-liong mendengus dingin.

"Tidak bisa? Hmmm, bisa atau tidak aku tak akan ambil pusing. Pokoknya bagaimanapun jaga pertemukan ini harus bisa terselenggara"

Melihat ketegasan si anak muda itu, tiba-tiba Cia In menghela napas panjang.

"Aaaai..... Tampaknya dugaan guruku memang tidak meleset, tentunya kongcu menaruh curiga bukan bahwa pembunuh yang telah mencelakai ji-wa Suma tayhiap adalah guruku?"

"Benar dia yang berbuat atau bukan, aku rasa gurumu jauh lebih jelas dari pada siapapun jua, nona Cia tak usah pusing-pusing memikirkan persoalanmu. Tugasmu sekarang hanya mengaturkan pertemuan antara diriku dengan gurumu dan itu sudah lebih dari cukup"

"Kongcu, kau keliru besar, keliru besar!"

Cia In gelengkan kepalanya berulang kali.

"Peristiwa berdarah yang menimpa keluarga Suma, sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan guruku. Percayalah Hoa kongcu, tak nanti kami akan membohongi dirimu!"

"Nona Cia!"

Hoa In-liong segera menukas pula dengan suara dalam.

"Terus terang pula kukatakan kepadamu, si pembunuh yang berhati keji itu telah meninggalkan sebuah hiolo kecil berwarna hijau kumala selesai melakukan pembunuhan brutal itu dan hiolo kecil yang terbuat dari batu kemala hijau itu tak lain adalah tanda pengenal dari Giok Teng hujin. Kalau toh Giok Teng hujin benar-benar telah meninggalkan dunia yang fana ini, maka itu berani gurumu yang paling dicurigai. Siapa tahu kalau dia benar-benar terlibat dalam peristiwa berdarah itu? Coba bayangkan sendiri, seandainya gurumu tiada sangkut pautnya dengan peristiwa berdarah itu, mengapa ia berusaha untuk menghindarkan diri dari pertemuannya dengan aku? Nona Cia, aku bukan seorang manusia kasar yang tidak memakai aturan, sekalipun demikian akupun tidak sudi mendengar segala pembelaan yang bertujuan menyangkal tanggung jawab itu tanpa disertai dengan alasan yang cukup kuat!"

"Hoa kongcu, aku tidak melakukan pembelaan ataupun melakukan sangkalan yang tanpa disertai alasan yang tepat, tapi pada hakekatnya apa yang kuucapkan adalah kenyataan yang sebenarnya!"

Bantah Cia In lagi dengan sengit.

"Kalau engkau mengatakan bahwa apa yang kau ucapkan adalah suatu kenyataan, tolong berilah bukti yang kuat kepadaku, apakah nona dapat mencarikan suatu bukti yang cukup kuat yang menunjukkan bahwa garumu benar-benar tidak terlibat dalam peristiwa berdarah itu? Bisa.....? Bisa.........? Ayoh jawab!"

Desak Hoa In-liong ketus.

Mendengar perkataan itu Cia In tertegun.

Untuk sesaat ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Melihat gadis itu terbungkam tanpa berkata-kata, Hoa In-liong segera berkata lebih lanjut.

"Sudahlah nona kunasehati dirimu lebih baik tak usah bersilat lidah dengan percuma. Ingat kau anggap karena aku ingin berjumpa dengan gurumu, maka aku lantas memvonis bahwa gurumu itulah pembunuh gadis atau paling sedikit otak dari pembunuhan itu. Tidak! Aku tak akan menuduh yang bukan-bukan tanpa disertai bukti yang nyata. Akupun tidak memastikan bahwa gurumu itulah si pembunuh atau si otak yang mendalangi peristiwa berdarah itu. Aku hanya ingin bertanya kepadanya, mengapa ia tak mau berjumpa dengan aku, bila dia mempunyai alasannya, maka aku ingin mendengar apa alasannya itu!"

Cia In membuka bibirnya lebar-lebar seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi sesaat kemudian ia batalkan niatnya itu, gadis itu termangu-mangu seperti orang bodoh.

Lama sekali....

Entah berapa lama sudah lewat akhirnya dia menghela nafas panjang.

"Aaaai.... Hoa kongcu, terus terang kuberi tahu kepadamu, guruku telah meninggalkan kota Kim-leng. Sekalipun kusanggupi permintaan kongcu untuk mengaturkan pertemuan dengan beliau, sayang aku ada kemauan tak mempunyai tenaga, maafkanlah daku!"

Tiba-tiba Hoa In-liong jadi berang, matanya jadi merah melotot besar, mukanya menyeringai seram, dengan suara keras dia membentak.

"Nona Cia, tampaknya baik-baik kutawarkan arak kehormatan kau tolak pemberianku itu, Hmm! Jika kau memang lebih suka mencari arak hukuman heee...... hee...... heee... Baik....! Baik.....! Jangan salahkan kalau aku akan menggunakan kekerasan untuk memaksa engkau!"

Pada saat ini sinar matanya yang memancar keluar benar-benar tajam dan mendatangkan rasa bergidik bagi siapapun yang melihatnya.

Ditambah lagi mukanya yang menyeringai dengan otot otot hijau pada menongol keluar semua, siapapun akan tahu bahwa kemarahan yang berkobar dalam dada si anak muda itu benar-benar sudah mencapai pada puncaknya.

Yu-Siau-lam selama ini banyak berdiam diri sambil mengikuti jalannya pembicaraan itu.

Akhirnya ketika ia mengetahui bahwa rekannya sungguh-sungguh telah naik darah, cepat ujarnya dengan cemas dari samping.

"Saudara Hoa, harap bersabar dulu? Tenangkanlah perasaanmu dan jangan mengumbar emosi.... Tenang! Tenang....! Mungkin juga apa yang barusan dikatakan nona Cia dapat kita percayai. Sabarlah dulu, urusan kan bisa dirundingkan secara baik-baik!"

Hoa In-liong berusaha mengendalikan hawa amarah yang berkobar dalam dadanya pelan-pelan dialihkan sinar matanya, lalu dengan tak sabaran tanyanya.

"Ooooh..... jadi kau percaya dengan semua obrolan dan pembicaraannya tadi.....?"

Yu-Siau-lam segera mengangguk.

"Aku rasa mungkin juga gurunya memang benar-benar telah meninggalkan kota Kim-leng, apa salahnya kalau kita mempercayai pernyataannya ini?"

"Ooooh....."

Hoa In-liong tertegun untuk sesaat. Rupanya ia tidak habis mengerti dengan perkataan rekannya itu.

"Dengan alasan apa saudara Siau-lam bisa berkata demikian"

"Alasannya memang tak ada, cuma entah bagaimana siaute merasa bahwa ucapnya memang benar!"

"Bagaimana perasaan saudara Siau-lam itu? Apakah dapat kau terangkan lebih terperinci?"

"Bila kutinjau dari pembicaraan yang selama ini berlangsung antara nona Cia dengan dirimu, aku lihat sikap, tindak tanduk maupun caranya berbicara seakan-akan menaruh perhatian khusus kepada Hoa-heng dan perhatian itu mirip sekali dengan suatu rasa kagum dan hormat yang amat besar. Bahkan aku lihat apa yang dapat dia katakanpun semuanya telah dia utarakan keluar. Misalkan saja soal perkumpulan Cha-li-kau yang didirikan oleh gurunya, bukankah hal ini merupakan suatu rahasia besar bagi perkumpulan mereka? Tadi karena Hoa-heng hadir disini, maka tanpa ledeng aling-aling diungkapnya juga persoalan itu. Maka bila kita tinjau dari keadaan tersebut, dapat kita tarik kesimpulan bahwa gurunya memang benar-benar telah meninggalkan kota Kim-leng. Cuma ada satu hal yang masih kuherankan, yaitu mengapa setiap kali membicarakan persoalan yang selalu nona Cia bicara berbelit-belit atau tergagap, aku tidak mengerti mengapa dia bisa begini, apakah kalian tahu?"

"Aaah..... Memang masuk di akal, sekarang aku dapat memahami duduknya persoalan ini!"

Tibatiba Coa Cong-gi yang selama ini membungkam berteriak keras.

"Apa yang kau pahami?"

Hoa In-liong berpaling dengan sepasang alis berkenyit. Wajah Coa Cong-gi tampak berseri-seri, katanya dengan kalem.

"Apa lagi yang kupahami? Tentu saja tentang gurunya nona Cia ini! Aku tahu, gurunya menghindari dirimu bukan lantaran ia terlihat dalam peristiwa berdarah atas diri Suma tayhiap!"

"Engkau punya bukti?"

Tanya Hoa In-liong dengan, jantung berdebar keras.

"Kenapa musti mencari bukti? Toh asal alasannya bisa diterima dengan akal itu lebih dari cukup? Coba bayangkan sendiri, seandainya gurunya memang benar-benar terlibat dalam peristiwa berdarah yang menimpa keluarga Suma, apa gunanya nona Cia mengakui asal usul perguruannya? Jika mereka terlibat bukankah mengakui asal-usul perguruannya sama artinya mencari kesulitan buat diri sendiri? Betul tidak? Karena itu jadi agak yakin kalau gurunya nona Cia pada hakekatnya memang tidak terlibat dalam peristiwa berdarah itu!"

Memang kalau dipikir beberapa patah kata itu sederhana sekali kedengarannya, tapi justru ucapan yang amat sederhana itu mempunyai alasan yang kuat sekali.

Hoa In-liong kontan terbungkam tak mampu melanjutkan kembali kata-katanya.

Untuk sesaat dia cuma bisa duduk tertegun sambil memutar biji matanya.

Cia In segera tertawa lebat, agak lega juga hatinya setelah mendengar perkataan itu.

"Terima kasih banyak Coa kongcu atas bantuanmu, kau telah bantu aku melepaskan diri dari kesulitan!"

Serunya. Coa Cong-gi terlampau jujur dan polos, ketika nona itu berterima kasih kepadanya, cepat dia goyangkan tangannya berulang kali.

"Jangan.... jangan....! Kau tak usah berterima kasih kepadaku, terus terang saja persoalan yang tidak kupahami mungkin jauh lebih banyak daripada kalian semua!"

Untuk sementara waktu suasana jadi hening.

Hoa In-liong segera terjerumus dalam pemikiran sendiri, tampaknya perkataan dari Yu Siau-lam dan Coa Cong-gi barusan telah memberi reaksi dalam benaknya.

Sikap Cia In pada saat ini jauh lebih santai dan lega.

Senyum dan suara tertawanya kedengaran jauh lebih merdu dan enak didengar.

Ketika mendengar ucapan dari Coa Cong-gi tadi, serta merta dia berkata sambil bertanya.

"Kau masih ada beberapa persoalan yang merasa kurang jelas? Kenapa tidak kau tanyakan kepadaku? Asal aku mengetahuinya, pasti akan kuberikan jawaban yang selengkap-lengkapnya., tanggung tak akan membuat Coa kongcu jadi kecewa"

"Sungguhkah itu?"

Mencorong sinar tajam dari mata Coa Cong-gi.

"Kalau begitu aku ingin bertanya kepadamu, apa sebabnya kau culik Hoa lote dan membawanya ke kota Kim-leng?"

Sudah lama pertanyaan ini terpendam dalam hatinya, dan selama ini dia selalu berharap-harap Yu Siau-lam atau Hoa In-liong lah yang mengajukan pertanyaan tersebut.

Siapa tahu kedua orang itu justru tak pernah mengajukan pertanyaan itu, seakan-akan kedua orang itu sudah lupa dengan persoalan itu.

Maka ketika ada kesempatan baginya serta-merta pertanyaan itulah yang pertama-tama diajukan.

Sebagai seorang pemuda polos yang lebih suka berbicara blak-blakan, semua pertanyaan yang ingin diajukan selalu diutarakan tanpa tedeng aling-aling.

Ia merasa hanya berbicara secara berterus teranglah dapat membuat pikiran maupun perasaannya jadi lega.

Sampai matipun Cia In tidak menyangka kalau pertanyaan itulah yang bakal diajukan kepadanya.

Untuk sesaat dia jadi tertegun, gelagapan dan tak mampu berkata-kata.

Menyaksikan sikap perempuan itu, Coa Cong-gi merasa tak senang hati.

Sinar matanya berkilat tajam, segera teriaknya dengan suara lantang.

"Eeeh.... kenapa sih kamu jadi orang sukanya berbicara mencla-mencle? Bukankah kau mengatakan akan menjawab semua pertanyaanku? Tapi bagaimana buktinya sekarang? Baru saja kuajukan pertanyaanku yang pertama kau sudah tak mampu menjawab. Huuuh... atau mungkin engkau memang sengaja sedang ajak aku bergurau?"

Merah padam selembar wajah Cia In karena jengah.

Dia semakin gelagapan, apalagi berhadapan muka dengari pemuda polos yang lebih suka bicara blak-blakan, sindiran yang terasa amal pedas itu menyinggung perasaan halusnya.

"Aku....... aku....... aku....."

Saking gugupnya, nona itu hanya bisa mengulangi kata "aku"

Sampai beberapa kali, kecuali itu tiada perkataan lain yang diucapkan. Tiba-tiba In-ji tertawa cekikikan.

"Hiiih... hiih...... hiii..... Coa kongcu, suciku sangat menaruh perhatian kepada Hoa kongcu dan perhatian itu rupanya telah berubah menjadi cinta. Kenapa sih kau memaksanya terus untuk menjawab pertanyaanmu itu?"

Ketika perkataan tersehat diucapkan keluar, Cia In tundukkan kepalanya rendah-rendah sikapnya tersipu-sipu seperti orang malu.

Sebaliknya Coa Cong-gi tertegun, dia termangu-mangu seperti orang bodoh dan tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Suasana hening untuk sesaat tiba-tiba terdengar Hoa In-liong mendengus dingin.

"Hmmm! Budak cilik, pandai amat engkau mengucapkan kata-kata indah yang menyesatkan pikiran orang, memangnya kau anggap aku orang she-Hoa percaya dongan omongan setanmu?"

"Eeeh.... eehhh.... siapa yang lagi ngomong setan?"

In-ji kelihatan semakin gelisah.

"Kalau engkau tidak percaya, kenapa tidak kau tanyakan langsung kepada kakak seperguruanku? Hmmmm! buka mulut lantas memaki orang.... aduuuuh mak, gayanya! Hebat benar...."

Merah padam selembar wajah Hoa In-liong. Perkataan itu sangat mengena dalam hatinya. Mesti demikian mukanya tetap kaku dan dingin, katanya dengan ketus.

"Aku mau bertanya kepadamu, apa yang dimaksudkan dengan sebagai manusia haruslah banyak melakukan kewajiban? Bukankah ucapan ini kau yang ucapkan?"

"Kalau memang aku yang bicara, lantas kenapa?"

Teriak In-ji dengan garang, tiba-tiba matanya melotot besar, mukanya merah dan tangannya bertolak pinggang.

"In-ji, kurangilah mulut usilmu itu...."

Tiba-tiba Cia In menengadah dan berseru dengan hati gelisah. In-ji mengenyitkan hidungnya, sekalipun sudah dihalangi oleh kakak seperguruannya namun sikapnya masih tetap garang.

"Huuuh... siapa suruh dia kasar sekali kalau bicara, sungguh menjengkelkan!"

Cia In menghela napas sedih.

"Aaaai....! Bagaimanapun juga suhu toh sudah menurunkan larangannya bagi kita untuk melakukan hubungan lagi dengan orang-orang dari keluarga Hoa. Sekalipun banyak bicara dan bersilat lidah sampai pagi juga tak ada gunanya, buat apa kau musti mangkel dan meraba mendongkol karena soal sepele?"

Berbicara sampai disitu dia berhenti sebentar. Pelan-pelan sinar matanya dialihkan keatas wajah Hoa In-liong, kemudian sambungnya lebih jauh dengan muka serius.

"Hoa kongcu, janganlah kau anggap aku adalah seorang perempuan rendah yang tak tahu malu. Setelah urusan berkembang jadi begini, mau tak mau aku harus berbicara juga dengan terus terang, agar kaupun tak menaruh curiga terus menerus terhadap kami. Coba bayangkanlah sendiri, dengan paras mukamu yang tampan, dengan kedudukan keluarga Hoa kalian yang tersohor dan terhormat, perempuan mana yang tak ingin berhasil menggaet hatimu? Yaaa, memang aku mempunyai maksud-maksud pribadi sewaktu menculik kongcu datang ke kota Kim-leng ini. Untunglah kejadian itu sudah lewat, jadi rasanya aku pun tak usah merahasiakan kejadian ini lagi dihadapanmu" . Sepasang matanya mulai berkaca-kaca, sejenak kemudian air mata meleleh keluar membasai pipinya. Dengan suara yang lirih dan penuh perasaan iba katanya lebih lanjut.

"Sedang mengenai perkataan dari In-ji yang mengatakan orang banyak adalah besar manfaatnya, akupun tidak ingin mengelabui dirimu lebih jauh. Selain itu akupun tak ingin memberikan penjelasan lebih jauh. Pokoknya guruku ada niat mendirikan perkumpulan Cha-li-kau, tapi tentunya kau pun tahu bukan pekerjaan yang mudah untuk mendirikan sebuah perkumpulan. Apalagi dengan mengandalkan kekuatan dari beberapa orang perempuan, tak mungkin bisa melakukan usaha besar. Maka setiap kali-kali jumpai orang yang berbakat bagus, bila mempunyai pandangan dan cara berpikir yang sama, kami lantas menawarkan kepada mereka untuk masuk menjadi anggota. Dari tujuanku menculik engkaupun hanya lantaran soal ini saja. Nah, hanya sampai disini saja keterangan yang dapat kuucapkan kepadamu mau percaya atau tidak terserah pada keputusan Hoa kongcu sendiri, sebab hakekatnya aku sudah tak dapat memberi keterangan yang lain lagi!"

Sekalipun dalam keterangannya ini masih terdapat pula hal-hal yang dirahasiakan, toh pengakuan yang sudah diucapkan terhitung blak-blakan, terutama sekali di balik kesemuanya itu menyangkut juga soal hubungan cinta muda-mudi.

Sebagai seorang pemuda yang menurut aturan dan lagi hatinya juga tidak sekeras baja, tentu saja Hoa In-liong tak dapat berbuat apaapa lagi, terutama setelah melihat dan mendengar sendiri semua yang terpampang dihadapan matanya sekarang.

Tampaknya Cia-In juga mempunyai watak yang keras, meskipun matanya berkaca-kaca dan air mata jatuh berlinang, akan tetapi ia berusaha keras mengendalikan sesenggukan dan isak tangisnya.

Setelah hening sesaat, akhirnya dia menengadah kembali, kepada Coa Cong-gi tanyanya lagi.

"Coa-kongcu, apakah engkau masih ada persoalan lain yang hendak kau tanyakan kepadaku?"

Mula-mula Coa Cong-gi tertegun, tapi sejenak kemudian ia sudah gelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak ada... Sudah tidak ada lagi!"

Sahutnya. Dia lantas berpaling ke arah lain dan tak ingin melihat keadaan Cia In yang mengenaskan hati itu.

"Kalau sudah tiada persoalan yang akan ditanyakan lagi, marilah kita minum arak!"

Ajaknya.

Diangkatnya cawan arak yang berada dihadapannya kalau meneguk isinya sampai habis, menggunakan kesempatan itu dia membesut air mata yang membasahi pipinya.

Tindak-tanduknya yang sangat mengenaskan itu cukup menggetarkan hati orang.

Yu Siau-lam terbungkam dibuatnya dan duduk dengan termangu-mangu, sedang Hoa In-liong sendiri merasakan tubuhnya bergetar keras karena emosi.

Pada saat itulah tiba-tiba dari ujung lorong sebelah depan sana berkumandang suara langkah kaki manusia yang berat, makin lama suara itu makin dekat dan akhirnya berhenti diluar pintu ruangan loteng tersebut....

Cia-In segera mengerutkan dahinya, dengan ragu-ragu tegurnya.

"Tan-Ji kah yang berada disitu?"

"Benar nona, hamba adalah Tan-Ji"

Jawab orang yang berada diluar pintu loteng diluar pintu sebelah depan sana datang dua orang tamu.

"Mereka bersikeras hendak berjumpa dengan nona, apakah nona dapat menjumpai mereka"

Cia In mengerutkan dahinya rapat-rapat.

"Apakah tidak kau tolak, permintaan orang itu? Katakan saja kepada mereka, malam ini aku tak dapat melayani mereka sebab lagi ada tamu, suruh saja datang lagi beberapa hari kemudian!"

"Hamba.... hamba telah berkata begitu"

Jawab Tan Ji dengan agak ketakutan, tapi kedua orang tamu itu kasar dan tidak pakai aturan.

Mereka bersikeras akan menjumpai nona, malahan ancam-nya bila nona tak mau menemani mereka berdua maka seluruh rumah Gi-sim-wan kita ini akan di obrak abrik!"

Sementara itu pikiran Coa Cong-gi sedang kusut dan dadanya seperti ditindih dengan batu raksasa sebesar seribu kati.

Dalam keadaan semacam ini orang lebih mudah dibuat gusar oleh kejadian apa pun.

Demikian pula keadaannya dengan jago muda kita yang berangasan ini.

Ketika didengarnya ada tamu tak tahu aturan yang bermain paksa sambil mengancam kontan dia naik darah sambil melompat turun gembornya penuh kegusaran.

"Kunyuk! Bangsat tak tahu diri siapa yang berani membuat gara-gara ditempat ini? Hmm, beritahu kepada mereka agar sedikit tahu diri, kalau tidak...... hee... hee.. heee..... Jangan salahkan kalau kuhajar sepasang kaki anjing mereka sampai buntung!"

"Oooh... Coa kongcu, Kau harap jangan marah-marah"

Rengek Tan Ji seperti orang yang minta dikasihani.

"Kami adalah orang-orang yang mementingkan langganan, mana berani kami tolak langganan? Coa kongcu harap maklumilah keadaan kami. Coa Cong-gi jadi makin sengit, tiba-tiba dia meloncat bangun dan siap menerjang keluar dari ruangan itu.

"Eeeh... Eeh... Coa kongcu, silahkan duduk, silahkan duduk lebih dulu"

Seru Cia In dengan gelisah "Harap jangan kau umbar hawa amarahmu disini, biarlah kuselidiki sendiri persoalan ini agar menjadi jelas"

Diapun bangkit berdiri dan berjalan keluar dari ruangan tersebut. Setibanya diluar pagar loteng, nona itu memandang pelayan rumah pelacuran itu, kemudian tanya.

"Tan-Ji, bagaimanakah tampang serta potongan badan kedua orang itu....? Mereka adalah langganan lama ataukah tamu baru?"

Dengan wajah amat gelisah Tan Ji menyahut.

"Mereka adalah tamu asing yang belum pernah berkunjung kemari, yang seseorang berdandan sebagai pemuda perlente sedangkan yang lain memakai baju ringkas berwarna biru, tampangnya jelek sekali. Kedua-duanya menyoren pedang mustika hamba rasa kedua orang itu pastilah jago persilatan yang berilmu!"

Cia-In agak tertegun, untuk sesaat dia seperti memikirkan sesuatu, kemudian dengan alis mata berkenyit bisiknya.

"Orang persilatan? Sudah kau tanyakan siapakah nama mereka berdua... dan berasal dari mana? "

Katanya mereka She-Ciu. yang seorang disebut Sam-ko sedang yang lain disebut Ngo-te, tidak mereka jelaskan berasal dari mana"

Ketika secara tiba-tiba mendengar nama dari kedua orang tamu yang datang berkunjung kesitu.

Hoa In-liong sekalian segera merasakan hatinya tergerak tanpa sadar ketiga orang pemuda itu bersama-sama bangkit berdiri lalu melangkah keluar dengan tindakan lebar.

Dalam pada itu Cia In sendiri pun merasakan sekujur badannya gemetar keras setelah mendengar nama orang itu.

Dengan suara yang gelisah sekali serunya.

"Cepat.... cepat keluar dan....ha... halangi mereka masuk katakan saja sebentar aku datang kesitu!"

"Baik nona!"

Sahut Tan Ji mengiakan, dia lantas putar badan dan lari keluar dari tempat itu. Menanti Cia ln memutar badannya kembali ia saksikan Hoa In-liong sekalian sudah di ambang pintu.

"Apakah Ciu Hoa yang datang? Kebetulan sekali kedatangan orang itu, aku memang sedang mencari jejaknya!"

Kata Hoa In-liong kemudian agak emosi.

"Tidak jangan!"

Seru Cia In sangat gelisah.

"Engkau tak boleh bertemu dengan orang disini, kalau hendak mencari dirinya kuharap carilah di tempat lain!"

Suara perempuan ini sudah bernada setengah merengek seakan-akan takut sekali kalau pemuda ini tak mau menuruti perkataannnya.

"Kenapa musti begitu. Kan tak ada salahnya kalau kita berjumpa muka disini?"

Sahut si anak muda itu dengan sinar mata berkilau.

"Bagaimanapun juga Gi-sim-wan kau boleh dikunjungi oleh setiap orang secara bebas? Bertemu atau tidak, sama sekali tidak akan merugikan nona!"

"Oooh.... Hoa kongcu!"

Seru Cia In dengan wajah murung.

"Tindakanku menculik engkau datang ke kota Kim-leng ini sudah merupakan suatu kesalahan besar. Bagaimanapun juga aku tak ingin lantaran kesalahan yang kulakukan itu mengakibatkan gagalnya usaha besar kami yang telah diperjuangkan selama banyak tahun. Aku selalu berharap dapat mempertahankan usaha kami ini hingga berhasil. Sebab itulah sengaja kusiapkan meja perjamuan dan siap sedia memberi keterangan yang kalian minta. Hoa kongcu.....! Ketahuilah, apabila perkumpulan Cha-li-kau bisa berdiri secepatnya maka perkumpulan kami itu hanya mendatang keuntungan tanpa kerugian bagi keluarga Hoa kalian. Buat apa toh kau mendesak diriku hingga berdiri tersudut. Oooh.... Hoa kongcu yang baik, janganlah menyusahkan aku, berilah kesempatan kepadaku untuk mempertahankan usaha besar dari guruku ini. Janganlah membiarkan aku terjerumus kedalam suatu keadaan yang serba runyam, sebab kalau sampai terjadi begini, bagaimanakah tanggung jawabku terhadap suhu dia orang tua? Hoa kongcu, ikutilah perkataanku......"

Hoa In-liong mengerutkan dahinya rapat-rapat.

"Nona Cia, aku sama sekali tidak bermaksud untuk menyusahkan dirimu apa lagi mendesak kau ke sudut, tapi engkaupun harus memaklumi keadaanku juga. Ciu Hoa adalah salah seorang pembunuh yang telah mencelakai jiwa Suma siokya ku. Sekalipun belum ada buktinya, tapi dia adalah manusia paling mencurigakan diantara sekian banyak orang yang kujumpai"

Rupanya pikiran dan perasaan Cia In pada waktu itu kusut sekali. Dia tak ingin mendengar pembicaraan itu lebih jauh, segera tukasnya dengan cepat.

"Hoa koagcu, apabila engkau menaruh rasa kasihan kapadaku dan dapat memaklumi keadaan pada saat ini, lebih baik janganlah sampai berjumpa muka dengannya dalam Gi-sim-wan ini. Toh setelah dia keluar dari tempat ini, engkau masih mempunyai banyak kesempatan untuk berjumpa dengan dirinya?"

Agaknya Yu Siau-lam simpatik juga atas keadaan Cia In yang mengenaskan, dia jadi tak tega, timbrungnya dari samping.

"Hoa-heng, dengarkanlah kata-kataku, belum tentu Ciu Hoa yang kau jumpai sekarang adalah Ciu Hoa yang itu. Kemungkinan juga mereka sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan peristiwa berdarah dikeluarga Suma, kenapa tidak kita tunggu saja setelah mereka keluar dari tempat ini baru kita sergap?"

"Ada sangkut pautnya atau tidak, terlampau pagi rasanya untuk dibicarakan pada saat ini. Bukankah kau mendengar sendiri kedua orang itu mempunyai nama yang sama. Selain itu akupun tahu bahwa mereka mempunyai potongan baju yang sama dengan jumlah yang banyak. Masakah dibalik kesemuanya itu tidak terdapat hal-hal yang patut dicurigai?. Kesempatan baik tidak gampang ditemui, kenapa siaute musti melepaskan kesempatan yang sangat baik ini dengan begitu saja?"

Cia In benar-benar merasa sangat gelisah.

"Hoa kongcu..... Apakah engkau hendak menjegal kakimu sendiri?"

Tiba-tiba tegurnya! Hoa In-liong amat terkejut.

"Eeeh... apa maksud perkataanmu itu?"

Serunya.

"Terus terang kuberitahukan kepadamu, sejak dulu sampai sekarang aku dan guruku selalu memperhatikan situasi dalam dunia persilatan. Sampai dewasa ini paling sedikit sudah ada dua kelompok manusia yang mempunyai maksud jahat terhadap keluarga Hoa kalian. Jika engkau bersikeras hendak berjumpa dengan Ciu Hoa dirumah Gi sim-wan ini, itu berarti engkau akan merusak usaha besar kami dan itu berarti juga mendatangkan kerugian yang sangat besar bagi pihakmu sendiri!"

Mendengar ucapan tersebut, Hoa-In liong merasakan hatinya bergetar keras. Sebelum ingatan ke-dua sempat melintas dalam benaknya, terdengar Coa Cong-gi telah berteriak keras.

"Ayoh... ayolah, kita segera berlalu dari sini, ayoh berangkat! Siau In-ji, ambil kemari pedang mustika dan buntalan baju itu!"

In-ji mengiakan, cepat-cepat dia lari masuk ke dalam ruangan dan sebentar kemudian sudah muncul kembali dengan membawa pedang dan buntalan baju tadi.....

Cia In menerimanya dari tangan pelayan cilik itu, kemudian dengan lembut diserahkan ketangan Hoa In-liong, katanya dengan penuh kehalusan dan kelembutan.

"Hoa kongcu, legakanlah hatimu, bagaimanapun juga aku dan guruku tidak akan melakukan perbuatan yang akan merugikan keluarga Hoa dan pesan ini adalah pesan dari guruku yang suruh aku sampaikan kepadamu. Ketahuilah selama engkau membantu diriku berarti pula sedang membantu dirimu sendiri. Kumohon kepadamu sekali lagi, cepatlah berlalu dari tempat ini dan janganlah berjumpa dengannya disini!"

Ditengah kelembutan terkandung nada gelisah dan panik, namun mencerminkan pula perasaan kasih sayangnya. Ini membuat orang tak dapat menampik permohonannya lagi.

"Bagaimana dengan kau sendiri?"

Akhirnya Hoa In-liong bertanya. Cia In tertawa, tertawa yang enteng dan segar, sambil memandang wajah anak muda itu dengan lembut, sahutnya.

"Aku tidak apa-apa, aku bisa jaga diriku sendiri, terima kasih banyak atas perhatianmu!'"

"Kongcu bertiga, silahkan mengikuti di belakang In-ji!"

Saat itulah siau In-ji berkata lagi.

Maka dengan uring-uringan Hoa-In liong menerima buntalan baju dan pedang mustikanya, lalu berjalan keluar dari ruangan itu mengikuti di belakang In-ji dengan pikiran kosong.

Akhirnya mereka tiba dihalaman depan setelah melewati sisi rumah pelacuran Gi-sim-wan dan pulang kem-bali ke pesanggrahan tabib dengan naik kuda.

Suasana disekitar pesanggrahan tabib gelap gulita tidak tampak sedikit cahayapun.

Suasana hening, sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun di pandang dari tempat kejauhan.

Pasanggrahan tersebut mirip sekali dengan sebuah perkampungan kosong.

Menyaksikan suasana yang mencekam rumahnya pertama-tama Yu-Siau-lam yang menjerit kaget lebih dahulu.

"Eeeh... apa yang terjadi dalam rumahku?"

Teriaknya dengan perasaan kalut.

"Benar!"

Sambung Coa Cong-gi pula.

"Suasana disekitar tempat ini memang rasa-rasanya aneh sekali. Sekarang baru. mendekati kentongan kedua, semestinya mereka belum tidur semua, tapi... kok sepi amat suasana disini, apalagi gelap, jangan-jangan....."

Sebelum ucapan tersebut diselesaikan, Hoa In-liong merasa hatinya tercekat.

Diapun kuatir bila di pesanggarahan tersebut telah terjadi sesuatu yang tak diinginkan.

Sebelum ingatan kedua melintas dalam benaknya, Yu Siau-lam telah mencemplak kudanya dan dilarikan cepat-cepat menuju perkampungan itu.

Baru saja orang itu tiba didepan pintu perkampungan, tiba-tiba dari balik kegelapan melampai keluar sesosok bayangan manusia.

Orang itu mempunyai gerakan tubuh yang enteng, cepat dan cekatan, dalam sekejap mata tahu tahu sudah muncul didepan mata.

"Saudara Siau-lam bertigakah disini?"

Orang itu menegur. Ternyata orang itu tak lain adalah Ko Siong-peng, salah seorang diantara Kim-leng ngo-kong. Yu Siau-lam makin tercengang lagi melihat kemunculan rekannya disana.

"Eeeh... Saudara Siongpeng, sebenarnya apa yang telah terjadi? Apakah ada sesuatu yang tak beres dirumahku?"

Tanyanya kuatir.

"Haa ... haa.... Haa..... Tidak ada, tidak ada. Suasana tetap tenang dan aman seperti sedia kala!"

Sahut Ko Siong-peng sambil tertawa terbahak-bahak "Kesemuanya ini memang sengaja kami atur untuk menjaga terjadinya segala sesuatu yang tidak diinginkan"

Berbicara sampai disini, dia lantas berpaling sambil bertepuk tangan tiga kali.

Pintu halaman depan lantas dibuka orang, menyusul kemudian cahaya lampu memancar keluar dari ruangan tengah.

Terdengar Ko Siong-peng berkata lebih jauh.

"Aku mendapat tugas berjaga-jaga di halaman depan, saudara Po-seng menjaga halaman belakang, saudara Ek-hong menemani Pek-bo duduk diruang tengah sedang Pek-hu tugasnya meronda keempat penjuru dan siap membantu pihak manapun, Haa... haa.... Haa...... Menunggu kelinci dibawah pohon, akhirnya cuma kalian bertigalah yang berhasil kusergap secara jitu" . Tiba-tiba si Tabib Sosial dari Kanglam muncul dibalik pintu ruang tengah, dengan nyaring dia lantas menyela.

"Eeeh... Siong-peng, ucapanmu itu kurang begitu tepat, darimana kau tahu kalau tak ada orang yang telah berkunjung kemari?"

Makin nyaring gelak tertawa dari Ko Siong-peng.

"Sudah hampir setengah malaman keponakan menghirup angin barat-laut yang kencang dan dingin, aku kan cuma bergurau saja, masa sungguhan?"

Sahutnya.

"Kalau cuma bergurau janganlah melukai orang kalau sampai melukai orang itu namanya menyindir dan sindiran gampang mengakibatkan perselisihan. Aku rasa usul dari Ek-hong kan tidak terlampau berlebihan malahan aku rasa tepat sekali"

Tegur Kanglam Ji-gi. Mula-mula Ko Siong-peng agak tertegun, tapi menyusul kemudian sahutnya dengan sungguhsungguh.

"Yaaa, keponakan tahu salah!"

Melihat semua yang terpapar di depannya, diam-diam Hoa In-liong berpikir dalam hati.

"Locianpwe ini pandai mendidik orang menuju ke jalan yang benar, lagipula selalu mengajarkan angkatan yang muda untuk tersopan santun dan menurut peraturan, bahkan caranya mendidikpun ramah tamah membuat mereka yang mendapat teguran benar-benar takluk dibuatnya. Yaa..... Manusia pendidik semacam inilah yang diharapkan setiap manusia. Asal Kimleng ngo-kongcu dapat dibimbing terus oleh cianpwe ini, niscaya banyak kebaikan yang akan mereka terima darinya. Itu berarti Kim-leng ngo-kongcu memang punya nasib baik......."

Mereka bertiga telah melompat turun dari kudanya. si Tabib Sosial dari Kanglam kelihatan agak tertegun sewaktu menyaksikan Hoa In-liong pulang dengan membawa pedang mustika serta buntalan bajunya.

"Aaaaah..... Ada apa? Liong koji tampaknya tidak sampai terjadi bentrokan kekerasan bukan dalam perjalanan kalian barusan?"

Tanyanya dengan nada kuatir.

"Ooooh, terima kasih banyak atas kekuatiran cianpwe. sekalipun dalam perjalanan kami tidak sampai mengakibatkan terjadinya bentrokan kekerasan, akan tetapi boanpwe masih di bikin kebingungan setengah mati, sampai kini pun aku masih merasa kurang begitu paham"

"Oh yaa..? Sebenarnya apa yang telah terjadi?"

Kanglam Ji-gi makin keheranan.

"Cia In semula kita anggap pasti kabur, ternyata masih bercokol ditempatnya semula"

Timbrung Yu Siau-lam.

"Malahan ia siapkan meja perjamuan untuk menyambut kedatangan kami bertiga!"

Agaknya Coa Cong-gi mempunyai kesan yang cukup baik terhadap Cia In. Ketika mendengar perkataan itu cepat-cepat selanya pula dari arah samping.

"Sikap Cia In terhadap Hoa lote cukup baik! Malahan setiap pertanyaan yang diajukan selalu dijawab dengan sejujurnya!"

"Waah...... kalau begitu kan urusan jadi lebih mengherankan"

Kata si Tabib sosial dengan muka tertegun.

"Jangan-jangan orang menyusup datang malam tadi memang tak ada sangkut pautnya dengan perempuan she Cia itu?"

Ko Siong-peng segera membelalakkan matanya lebar-lebar, seperti amat kaget ia menjerit keras.

"Apa...? Jadi malam tadi sungguh-sungguh ada orang yang telah menyatroni kita?"

Dengan dahi berkerut Tabib Sosial dari Kanglam menganggukkan kepalairya tanda membenarkan.

"Yaaaa! Kurang lebih mendekati kentongan kedua tadi, ada sesosok bayangan manusia melayang turun di halaman samping sebelah tenggara. Agaknya bayangan manusia itupun menyadari bahwa pihak kita telah mengadakan persiapan, maka setelah berdiri sejenak disana agak sangsi, akhirnya dia mengundurkan diri dengan cepatnya"

"Macam apakah manusia itu?"

Seru Coa Cong-gi dengan gelisah.

"Pek-hu, kenapa tidak kau hadang jalan perginya? Paling sedikit kita harus mengetahui siapakah orang itu!"

"Aaaai..... Gerakan tubuh orang itu cepatnya bukan kepalang, menanti aku tiba ditempat tujuan, dia sudah kabur dari rumah kita. Tapi sekilas pandang aku rasa orang itu adalah seorang perempuan"

Tabib Sosial itu menerangkan. Setelah berhenti sebentar dia alihkan kembali pokok pembicaraannya kesoal lain, ujarnya lebih jauh.

"Bagaimanapun juga aku tetap berkeyakinan bahwa duduknya persoalan ini tidak sesederhana seperti apa yang kita bayangkan semula, mari ....kita masuk dulu kedalam ruangan! Ek-hong dan Pek-bo mu sedang menanti di ruang tengah!"

Tanpa banyak bicara lagi, dia lantas putar badan dan masuk dulu kedalam ruangan dan langsung menuju ke ruang tamu sebelah belakang gedung itu.

Hoa In-liong sekalian berdiri saling berpandangan, siapapun tidak bersuara atau mengucapkan sepatah katapun.

Sementara dalam hati kecil mereka hanya ada satu perkataan yang sama, yakni siapakah orang itu?

Benarkah dia seorang perempuan?

Dan apa pula maksudnya datang menyatroni kepasanggrahan tabib?

Ko Siong-peng juga menjulurkan lidahnya dengan hati kecut, seolah-olah sedang mentertawakan ketidak becusan sendiri.

Yaaa, hakekatnya dia tak merasa kalau ada orang telah menyatroni tempat tersebut tanpa diketahui olehnya.

Setelah saling berpandangan sekejap, akhirnya empat orang pemuda itu baru melangkah masuk kedalam ruangan dan menyusul si tabib sosial yang telah masuk lebih duluan itu.

Ketika mereka tiba diruang tengah, Li Po-seng juga sudah kembali dari halaman belakang.

Wan Ek-hong segera bangkit menyambut kedatangan mereka, sedang Yu lo-hujin manggut ke arah Hoa In-liong dengan senyum di kulum.

"Liong ko-ji, kau telah pulang?"

Sapanya dengan ramah.

"Bagaimana hasil perjalanan kalian barusan?"

"Tampaknya banyak keanehan dan kejadian yang diluar dugaan terselip dalam peristiwa ini?"

Sela Tabib Sosial dengan cepat.

"Mari kita bicarakan lagi persoalan itu dengan seksama, duduk! Kalian duduklah lebih dahulu...."

Yu lo-hujin kelihatan tercengang.

"Bagaimana anehnya?"

Ia bertanya. Setelah semui orang mengambil tempat duduk. Tabib Sosial dari Kanglam baru berkata.

"Perempuan she-Cia itu bukan saja tidak melarikan diri dari Gi-sin-wan, malahan dia siapkan meja perjamuan untuk menyambut kedatangan mereka. Kemudian di halaman sebelah tenggara aku telah temukan juga seorang perempuan tak dikenal yang datang menyatroni kita. Tapi ketika kukejar ke sana, ternyata ia sudah kabur pergi. Aku pikir dibalik semua kejadian ini tentu ada hal-hal yang luar biasa"

"Ooooh......! Jadi sudah terjadi peristiwa macam begini?"

Yu Lo-hujin duduk dengan dahi berkerut.

"Siapakah perempuan tak dikenal yang datang menyatroni tempat kita? Kemudian apakah dia tidak munculkan diri lagi.....?"

"Aku rasa perempuan tak dikenal yang berkunjung kemari itu sama sekali tidak bermaksud jahat, sebab hanya sebentar dia berdiri disini kemudian pergi. Pada mulanya aku mencurigai kalau perempuan itu ada sangkut pautnya dengan perempuan she Cia itu. Tapi setelah mendengar cerita dari Liong koji sekalian, aku merasa pula bahwa kejadian tersebut kemungkinan jaga tiada sangkut pautnya"

Ia berhenti sebentar untuk tukar napas, lalu sambil menatap Hoi In-liong lanjutnya.

"Liong-koji, lebih baik kau saja yang bercerita. Akupun ingin mendengar kisah kalian sejak awal sampai akhir"

Hoa In-liong mengangguk, sesudah tarik napas panjang, diapun berkata.

"Ketika boan-pwe sekalian tiba di rumah pelacuran Gi-sim-wan, si pelayan Tan-ji sudah menyongsong kedatangan kami, maka setelah kami bertemu dengan Cia-In, sambil minum arak dan bergurau...."

Seorang pelayan masuk menghidangkan air teh, semua orang duduk dengan tenang mendengarkan Hoa In-liong menuturkan pengalamannya.

Diantaranya yang hadir dalam ruangan tersebut, Li Po-seng dan Wan Ek-hong terhitung manusia-manusia berotak cerdik yang sangat berbakat, sedangkan Li Siang-tek suami istri termasuk juga angkatan tua yang berpengalaman luas.

Kecerdasan otak mereka melebihi orang lain setingkat.

Sepanjang mereka mendengarkan kisah dari Hoa In-liong, sering kali alis mata mereka berkenyit dan matanya melotot, namun sampai cerita itu selesai dituturkan pula seperti keadaan Hoa In-liong, mereka tetap kebingungan dan merasa tak mengerti.

Untuk sesaat, suasana dalam ruangan jadi sepi, hening dan tak kedengaran suara.

Akhirnya Coa Cong-gi merasa suasana disana terlampau menyesakkan napas, tiba-tiba teriaknya.

"Eeeh... Sekarang kita mau apa lagi? Aku rasa Cia-In adalah seorang perempuan yang berkepribadian menarik, sekaipun dia mempunyai kata-kata yang tak dapat dijelaskan secara blak-blakan, itu berarti dia mempunyai kesulitan pribadi yang tak dapat diutarakan. Mau apa lagi kita duduk terpekur disini sambil putar otak? memangnya ada sesuatu hasil yang dapat kita peroleh dengan memutar otak melulu?"

Tabib Sosial dari Kanglam mengalihkan sinar matanya ke wajah pemuda itu, lalu tegurnya.

"Cong-gi, semenjak dulu sampai sekarang watak berangasanmu itu belum juga dapat diubah. Aaaai....! Sekalipun Cia-In mempunyai kepribadian yang menawan hati, tidakkah kau merasa bahwa tindak-tanduknya terlampau misterius?. Siapakah yang dapat menyakinkan kepada kita bahwa perempuan yang datang menyatroni kita malam, tadi sama sekali tak ada hubungannya dengan Cia-In? Yaaa... kau terlampau muda, belum kau ketahui betapa licik dan berbahayanya dunia persilatan. Bila watak berangasanmu tetap kau pertahankan terus menerus dan tiap kali menjumpai persoalan tak kau pikirkan dengan otak yang dingin, niscaya dalam sepuluh kali peristiwa ada sembilan kali kau akan tertipu" . Sebagaimana diketahui Coa Cong-gi adalah seorang pemuda polos yang berjiwa terbuka. Ia suka berterus terang dan bicara blak-blakan daripada harus menghadapi tiap persoalan dengan otaknya. Maka kalau suruh pemuda itu menggunakan otaknya sama saja dengan memaksa kambing memanjat sebatang pohon. Dengan alis mata barkenyit, langsung pemuda itu berteriak lagi.

"Buat apa musti putar otak buang energi dengan percuma! Biarpun dia mau gunakan akal yang bagaimana licikpun, akan kuhadapi setiap perubahan dengan kemantapan hati. Coba lihat saja nanti siapa akhirnya yang bakal menang!"

Setelah berhenti sebentar, ia menambahkan.

"Hoa-lote sudah jatuh pingsan selama beberapa hari, sekarang diapun musti bersusah payah setengah malaman lebih. Aku pikir lebih baik kita tidur saja dulu! Kalau mau berpikir lagi, besokpun rasanya belum terlambat...."

Yu Lo-hujin yang pertama-tama bangkit lebih, katanya.

"Loya cu!"

Ujarnya.

"Apa yang dikatakan Cong-ji memang beralasan. Bukan saja Liong koji baru sadar dari pingsannya, lagi pula barusan sangat menegangkan hati. Aku rasa dipikirpun belum tentu bisa terpecahkan dalam semalaman saja. Kini malam semakin kelam lebih baik beristirahat dulu untuk menghimpun tenaga lagi, ada persoalan kita bicarakan lagi besok saja!"

Setelah istrinya ikut angkat bicara, tentu saja Tabib Sosial dari Kanglam tak leluasa untuk banyak bicara lagi. Dia memandang sekejap anak-anak muda itu lalu bangkit berdiri.

"Baiklah! Lebih baik kita beristirahat dulu, toh bagaimanapun juga tak mungkin persoalan ini dapat diselesaikan dalam semalaman!"

Dalam pesanggrahan tabib banyak terdapat kamar-kamar tidur.

Ruang samping sebelah timur dan barat adalah kamar tamu.

Tabib Sosial suami istri menempati ruang belakang.

Yu Siau-lam berdiam di ruang tengah, sedangkan sahabat-sahabatnya seperti Wan Ek-hong, Li Po-seng sekalian bila datang berkunjung kesana, mereka menempati pula ruang tengah.

Hoa In-liong dipersilahkan untuk beristirahat diruang tamu sebelah timur.

Selesai membersihkan badan, ia lantas naik keatas pembaringan untuk beristirahat.

Tapi mana mungkin ia dapat tidur nyenyak?

Walaupun sudah membolak-balikkan badannya, mata belum juga mau terpejam.

Otaknya selalu bekerja memikirkan kejadian yang dialaminya di rumah pelacuran Gi-sim-wan belum lama berselang.

Makin berpikir pemuda itu merasa makin kebingungan.

Pembunuh gadis yang telah membereskan nyawa Suma Tiang-cing suami istri hanya meninggalkan sebuah hiolo kecil terbuat dari batu kemala hijau sebagai tanda pengenal.

Padahal dia tahu hiolo kemala hijau itu adalah tanda pengenal dari Giok Teng hujin.

Kalau dibilang Giok Teng hujin telah meninggalkan dunia yang fana ini, dus berarti tanda pengenalnya itu tentu akan diwariskan kepada orang lain.

Pemuda itu teringat pula akan surat pribadi dari Giok Teng hujin yang diserahkan neneknya kepadanya dan surat tersebut kini dijahit dalam kaus kutang pelindung badan.

Bukankah tindakan dari neneknya ini sama artinya dengan memberi kisikan kepadanya kalau Giok Teng hujin tersangkut dalam peristiwa berdarah itu?

Kalau kejadian berdarah itu memang benar-benar menyangkut Giok Teng hujin, itu berarti gurunya Cia In....yakni Pui Che-giok tak dapat cuci tangan dengan begitu saja.

Tapi....

Aneh, kenapa Cia In mengaku terus terang tentang asal usulnya serta rahasia gurunya!

Menurut perkataan Coa Cong-gi, bukankah itu sama artinya sedang mencari kesulitan buat diri sendiri?

Dikolong langit tak nanti ada orang yang bersedia mencarikan kesulitan bagi diri sendiri, kecuali kalau orang itu sudah goblok.

Atau mungkin juga Cia In mengungkap kesemuanya itu lantaran perempuan itu menaruh perasaan kagum yang istimewa terhadapnya?

Tapi....

rasanya inipun mungkin.

Dengan amat jelas Cia In telah berkata bahwa gurunya melarang mereka mengadakan hubungan lagi dengan orang-orang keluarga Hoa, atau dengan perkataan lain, kejadian yang sudah lewat.

Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa Cia In adalah seorang perempuan yang lebih mementingkan perguruan dari pada kepentingan pribadi.

Terhadap manusia macam begini, mungkinkah dia menjual perguruannya demi mendapatkan cinta kasih?

Hoa In-liong membalikkan tubuhnya berulang kali untuk menghapus semua pikiran itu dari benaknya akhirnya dia bergumam.

"Lebih baik kita berangkat keselatan saja untuk melakukan penyelidikan. Tampaknya Pui Che-giok memang tidak tersangkut dalam peristiwa berdarah ini....."

Gumamnya memang begitu tapi ingatannya masih berputar terus tiada hentinya.

Tindak tanduk Pui Che-giok benar-benar sukar diduga sepintas lalu kelihatannya ia mempunyai rasa dendam yang amat tebal terhadap keluarga Woa, tapi tampaknya diapun sangat menguatirkan keselamatan dari orang-orang keluarga Hoa, sebenarnya apa yang telah terjadi?

Kalau ditinjau dari perkumpulan Cha-li-kau, itu berarti perkumpulan mereka adalah suatu perkumpulan sesat yang khusus mengandalkan kecantikan kaum wanita untuk membujuk kaum pria menjadi anggota perkumpulan tersebut.

Padahal Cia In juga tahu bahwa keluarga Hoa adalah keluarga persilatan yang paling menjungjung tinggi keadilan serta kesejahteraan dalam dunia persilatan.

Apakah tidak mereka pikirkan bahwa keluarga Hoa tak nanti akan membiarkan sebuah perkumpulan kaum sesat muncul dalam dunia persilatan?

Tapi tanpa ragu-ragu atau merasa kuatir Cia In telah membeberkan segala sesuatunya kepadanya, mungkinkah hal ini disebabkan karena mereka terlampau percaya pada kebenaran dari tujuan perkumpulannya ataukah mungkin sudah mereka duga bahwa keluarga Hoa pasti tak bisa mengapa-apakan perkumpulan mereka itu?.

Ditengah lamunannya, tiba-tiba anak muda ini seperti merasa terkejut.

Sepasang matanya melotot besar-besar, lalu gumamnya lagi.

"Apa maksudnya ia berkata demikian? Dewasa ini paling sedikit ada dua kelompok manusia yang bermaksud tidak menguntungkan bagi keluarga Hoa. Siapakah dua kelompok manusia yang dimaksudkan itu.....?"

Ketika persoalan itu terlintas kembali dalam benaknya, pada mulanya pemuda itu menduga bila Cia In memang sengaja hendak menggunakan kata-kata itu untuk menggertak dirinya agar segera meninggalkan rumah pelacuran Gi-sim-wan dan tidak bertemu dengan Ciu Hoa disitu sehingga menggagalkan rencana besar perkumpulan Cha-li-kau.

Tapi setelah dipikir lebih jauh bahwa jalan pikirannya tidak benar.

Cia In pernah berkata padanya bahwa mereka tak nanti akan melakukan perbuatan yang menyalahi keluarga Hoa.

Meskipun kata katanya itu sedikit mengandung nada sindiran, tapi jelas menumbangkan jalan pikirannya tentang "gertakan"

Tadi.

Tanpa sadar ucapan dari si nona baju hitam yang pernah dijumpainya diluar kota Lok yang tempo hari berkumandang kembali disisi telinganya.

Dia masih ingat, perempuan baju hitam itu pernah berkata demikian kepadanya.

"Dunia persilatan pada saat ini sedang terjadi perubahan besar. Suma Tiang-cing hanyalah korban pertama yang menanggung dosa-dosa orang lain...." . Kemudian diapun berkata demikian lagi kepadanya.

"Ayahmu memang merajai seluruh kolong langit, nama besar dan kedudukannya amat terhormat ibaratnya sang surya ditengah angkasa. Akan tetapi musuh besarnya banyak tersebar dalam dunia persilatan"

Setelah pelbagai ingatan tersebut kian bertambah berat dalam benaknya, ia merasa semakin yakin kalau dunia persilatan benar-benar sedang mengalami perubahan besar.

Perasaannya kian lama kian berat dan hal ini tentu saja semakin menyulitkan dia untuk tidur dengan tenang.

Pada hakekatnya Hoa In-liong adalah seorang pemuda yang tak pernah risau tak pernah murung dan menghadapi setiap masalah dengan acuh tak acuh.

Akan tetapi setelah diatas bahunya diberi beban seberat ribuan kati, ia telah berubah jadi aeoraog pemuda yang pemurung dengan pelbagai masalah yang menindih dalam hatinya.

Dari sini dapat menunjukkan bahwa wataknya meski tetap seperti sedia kala, namun rasa tanggung jawabnya jauh lebih berbobot.

Begitulah, setiap kali teringat akan satu persoalan, persoalan lainpun ikut melintas dalam benaknya.

Mulai dari nona Yu sampai ke kucing hitamnya, Si Nio yang bertampang jelek, Wan Hong giok yang genit dan manja, Siau Ciu kakak seperguruan Wan Hong-giok yang jumawa sampai beberapa Ciu Hoa yang pernah dijumpainya semuanya terpampang lagi didepan matanya.

Jilid 10 AYAM jago mulai berkokok kentongan lima telah menjelang dan fajarpun hampir menyingsing, akan tetapi dia masih berpikir dan berpikir terus menerus.

Ia berpikir pula tentang perempuan misterius yang datang ke pesanggrahan tabib, berpikir pula tentang hubungannya dengan Cia In.

Andaikata perempuan itu tiada sangkut pautnya dengan Cia In, lantas siapakah dia?

Apa tujuannya datang ke situ?

Walaupun pelbagai pikiran sudah berkecamuk dalam benaknya, akan tetapi pemuda itu masih gagal untuk mendapatkan suatu jawaban yang memuaskan hatinya, akhirnya anak muda itu kewalahan.

Ia duduk bersila dan mengatur pernapasan, sesaat kemudian pikirannya jadi tenang kembali dan berada dalam keadaan lupa diri.

Entah berapa lama sudah lewat tiba-tiba ia merasa ada orang masuk ke dalam kamarnya, cepat dia membuka matanya.

Tampaklah Coa Cong-gi sedang berjinjit-jinjit menutup kembali pintu kamarnya.

Hoa In-liong jadi terkejut bercampur keheranan, segera serunya.

"Saudara Cong-gi....."

Secepat kilat Coa Cong-gi putar badannya dan menempelkan jari telunjuknya keatas bibir tanpa jangan berbisik, setelah itu dengan suara lirih baru bisiknya.

"Lote, ayoh ikut aku pergi dari sini! "

"Ada urusan apa?"

Hoa In-liong makin kaget bercampur tercengang.

"Aaaah...... tak ada urusan apa-apa, sisirlah dulu rambutmu, tapi harus cepat dan jangan berisik aku akan menanti dirimu!"

"Aneh benar saudara Cong-gi ini"

Demikian Hoa In-liong berpikir.

"kalau toh tak ada kejadian apa-apa, kenapa dia musti berlagak misterius, malahan aku musti cepat dan jangan berisik....?"

Sekalipun dalam hati berpikir demikian, diluaran dia berkerut kening, sambil bangun dan berpakaian kembali tanyanya.

"Apakah saudara Siau-lam sekalian sudah bangun?"

"Aaaah..........kau tak usah perduli mereka, kita harus diam-diam ngeloyor pergi dari sini!"

Bisik Cong-gi lagi.

"Ngeloyor pergi secara diam-diam? Kenapa?"

"Kenapa? Kita pergi bermain, akan kuajak engkau untuk berpesiar ke tempat-tempat yang termasyhur disekitar kota ini"

"Tentang soal ini....."

Hoa In-liong kelihatan agak sangsi setelah mendengar perkataan itu. Coa Cong-gi jadi sangat gelisah.

"Ayoh cepatan sedikit"

Desaknya.

"kalau kita tunggu sampai mereka sudah bangun, tentu kita tak akan jadi pergi!"

Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba sambungnya lebih jauh.

"Tentunya kau tidak tahu bukan, disekitar kota Kim-leng banyak terdapat tempat-tempat indah yang tak terhitung jumlahnya, seperti bukit Cing liang-san, bukit Si-cu-san. bukit Ciong-san, pagoda Pak-kek-kek, kuil Ki-bengsi, puncak Yu-hoa-tay, pantai Yan-cu-ki.... bahkan masih ada lagi telaga Mo-ciu-ou dan telaga Hian-bu-ou. Pokoknya komplit ada semua disini!"

"Kalau toh kita akan bermain, tidak sepantasnya kalau kita ngeloyor pergi tanpa pamit, bagaimanapun juga....."

"Bagaimanapun juga kenapa?"

Tukas Coa Cong-gi dengan cepat.

"Jika kita minta ijin dulu kepada Yu pek-hu, niscaya kita tak akan jadi berangkat, apalagi kalau menunggu sampai mereka bangun semua, pastilah yang diributkan dan dipersoalkan hanya masalah Cia In belaka, bisa pusing kepala dibuatnya. Saudara Hoa, lantaran aku merasa cocok denganmu, maka diam-diam kuajak engkau bermain, tapi kalau engkau segan pergi yaa sudahlah, biar aku pergi sendirian!"

Pada dasarnya Hoa In-liong memang seorang pemuda yang gemar bermain, apalagi setelah Coa Cong-gi menyebutkan tempat rekreasi yang begitu banyak dan menawan hati, semenjak tadi ia sudah tertarik.

Maka ketika mendengar perkataan Coa Cong-gi yang terakhir ini, ia merasa kurang enak untuk menampik kebaikan orang.

Walaupun begitu, tentu saja ia tak dapat ngeloyor pergi seenaknya sendiri, sementara orang lain ikut memikirkan persoalannya lagi pula pada saat ini dia menginap di rumah keluarga Yu, untuk sesaat dia jadi gelagapan dan tak tahu apa yang musti dikatakan.

Coa Cong-gi bukan orang bodoh, dari sikap rekannya yang seperti mau berbicara namun tak dapat mengucapkan sesuatu itu, dia lantas memahami kesulitannya, kembali ia berkata.

"Kesempatan baik tak boleh dibuang dengan percuma. Disiang hari kita pergi bermain, malam nanti kutemani engkau lagi untuk berkunjung ke Gi-sim-wan dan mencari tahu jejak dari manusia she-Ciu itu, maka saat bermain dapat kita manfaatkan untuk bermain, saat bekerja kita bekerja dengan baik, bukankah itu sangat bagus sekali?"

Hoa In-liong merasa bahwa perkataan itu ada benarnya juga, maka setelah termenung sebentar sahutnya kemudian.

"Kalau.... kalau..... memang begitu, le...... lebih baik tinggalkan saja surat disini"

Mendengar si anak muda itu mengabulkan ajakannya, air muka Coa Cong-gi segera berseri-seri, dia ulapkan tangannya seraya berseru lagi.

"Kalau begitu pergilah cuci muka dan berpakaian biar aku yang menulis surat, ayoh cepatan dikit"

Dia berjalan menuju kemeja dan segera menulis surat. Terbacalah tulisan itu barbunyi demikian.

"Siaute mengajak In-liong pergi berpesiar, malam nanti baru pulang" . Dan dibawah tulisan yang Sederhana itu dia di bubuhi pula dengan singkatan namanya yaitu "Gi"

Baru saja menulis surat tampaklah Hoa In-liong dengan senyum dikulum telah menanti dibelakangnya. Coa Cong-gi jadi tertegun, dengan mata melotot segera serunya.

"Eeeh..... bagaimana sih kami ini? Kenapa belum cuci muka......"

"Aku hanya membasuh mukaku dengan kain kering, dengan begitu tindak tanduk kita tak akan mengganggu orang lain"

Jawab anak muda itu dengan tenangnya.

Mula-mula Coa Cong-gi agak tertegun, kemudian dia ingin tertawa tergelak, untunglah tiba-tiba ia teringat akan keadaan mereka, maka sambil acungkan jempolnya dia memuji.

"Kau memang hebat! Itulah kalau dinamakan teman seia sekata, ayoh ikutilah aku!"

Ia lantas putar badan dan pelan-pelan membuka pintu lalu menyusup keluar.

Ketika itu fajar biru saja menyingsing.

Beberapa orang pelayan keluarga Yu telah bangun membersihkan lantai.

Dengan sembunyi-sembunyi mereka menuju ke halaman samping.

Setelah memeriksa sekitar tempat itu dan yakin kalau di sekitarnya tak ada orang, kedua orang itu segera melompat keluar lewat dinding pekarangan dan keluar.

Sekejap kemudian mereka sudah beradu dua tiga li jauhnya dari pasanggrahan tabib.

Ketika hampir tiba di kaki tembok kota, Hoa In-liong baru bertanya.

"Saudara Cong-gi, apakah kita akan masuk dulu ke dalam kota Kim-leng?"

"Ehmm, kita masuk kota, sebab bukit Cing-liang-san, kuil Ki-beng-si dan pagoda Pak-khek-kek berada didalam kota semua!"

"Kalau begitu, kita akan berpesiar kemana dulu?"

"Bukit Cing-liang-san! Sebab kuil Ki-beng-si berada di atas bukit tersebut. Setelah mengisi perut dikuil Ki-beng-si, baru kita menuju puncak Yu-hoa-tay untuk memungut batu kerikil!"

Hoa In-liong masih asing dengan keadaan disana, tentu saja dia tak mengerti apa yang dimaksudkan "memungut batu kerikil di Yu-hoa-tay"

Dan tidak tahu juga kenapa musti mengisi perut di kuil Ki-beng-si.

Tapi ketika dilihatnya Coa Cong-gi berlarian dengan kencangnya maka diapun segan untuk banyak bertanya.

Dengan kencang diikutinya rekannya itu menuju ke dalam kota.

Setelah berada dalam kota Kim-leng, kedua orang itu langsung menuju ke kota sebelah barat.

Sesaat kemudian mereka sudah tiba ditempai tujuan.

Yang dimaksudkan bukit Cing-liang-san pada hakekatnya tak lain adalah sebuah tanah perbukitan yang tak terlampau tinggi, luasnya kurang lebih dua puluh li dengan tinggi mencapai ratusan kaki.

Meskipun demikian pepohonan tumbuh dengan rimbunnya disekitar tanah perbukitan tersebut.

Tiap kali musim panas menjelang tiba, bila ada angin yang berhembus lewat maka terdengarlah suara serangga berbunyi sahut bersahutan, mendatangkan rasa sejuk bagi mereka yang kepanasan disana, itulah sebabnya bukit itu dinamakan bukit kesegaran atau Cing-liang-san.

Kuil Ki-beng-si terletak dipuncak bukit Cing-liang-san, gedung bangunannya tidak terlampau besar tapi banyak sekali jemaah yang berkunjung kesana.

Walau fajar baru menyingsing, namun sudah banyak kaum jemaah yang telah tiba dibukit itu untuk pasang hio bersembahyang.

Tentu saja hal ini ada alasannya.

Pertama tanah perbukitan itu sangat tenang, sejuk dan udaranya segar.

Penduduk kota selalu menggunakan kesempatan itu untuk mendaki bukit.

Bukan saja dapat pasang hio bersembahyang, mereka pun dapat berolahraga menyehatkan badan.

Sebab itulah orang-orang selalu saling berebut mendekati bukit itu.

Kedua dikuil Ki-beng-si telah tersedia bubur dan beberapa macam sayur yang sengaja dimasak oleh kaum padri yang menghuni disana.

Bukan saja hidangan itu lezat dan nikmat, yang penting adalah gratis.

Tidak heran kalau kebanyakan orang setelah naik bukit dan bersembahyangan, mereka datang kekuil itu untuk mengisi perut.

Dan itulah sebabnya Coa Cong-gi mengajak rekannya untuk mengisi perut dikuil Ki-beng-si.

Setibanya dikaki bukit, dua orang itu segera memperlambat langkah kakinya dengan mencampurkan diri diantara para jemaah yang lain, pelan-pelan mereka mendaki ke puncak bukit tersebut.

Jalan yang mereka ambil sekarang adalah jalan setapak yang paling terpencil dan jarang dilalui orang.

Sepanjang perjalanan tidak banyak yang mereka jumpai, akan tetapi setelah mereka tiba di pinggang bukit, dimana semua jemaah yang mendaki dari empat penjuru berkumpul jadi satu.

Jumlahnya jadi banyak sekali, kendati begitu diantara orang-orang itu tidak nampak ada orangorang yang berdandan menyolok.

Sekalipun ada, lantaran Hoa In-liong berdua tujuannya adalah berpesiar, mungkin merekapun tidak terlampau menaruh perhatian.

Suara pembacaan doa pagi berkumandang diudara pagi yang bersih, itulah para pendeta sedang menjalankan upacara sembahyangan mereka dipuncak bukit.

Suara ketukan bok-hi dan nyanyian liam-keng yang berpadu menjadi satu memberikan ketenangan dalam hati Hoa In-liong.

Dalam suasana setenang dan secerah ini, anak muda itu hampir melupakan semua kemurungan dan kekesalan yang dialaminya kemarin malam.

Tanpa terasa ia mempercepat langkah kakinya menuju ke puncak bukit dimana ketukan bok-hi dan nyanyiannya liam-keng berasal.

Dalam kuil Ki-beng-si hanya terdapat ruang tengah, sebuah ruang samping, sebuah ruang belakang dan ruang bersantap.

Ruang tengah sebagai ruang sembahyang, ruang makan letaknya diruangan belakang, dibelakang ruang makan itu terdapat pula ruangan ruangan kecil disanalah terletak gudang dan dapur.

Waktu itu ada dua tiga puluh orang hweesio berkumpul di ruang depan sambil bersembahyang, semuanya memejamkan mata rapat-rapat dan pusatkan perhatiannya hanya untuk berdoa.

Agaknya Hoa In-liong sudah terpikat oleh suasana tenang disitu, dia langsung menuju ke ruang tengah dan mendengar pembacaan doa itu dengan penuh seksama.

Beberapa saat lewat dengan begitu saja.

Lama kelamaan Coa Cong-gi tercengang juga oleh sikap rekannya itu, ia jadi habis kesabarannya, segera bisiknya.

"Eeeh... lote, sebenarnya apa yang terjadi?"

Hoa In-liong tertegun lalu tersadar kembali dari lamunannya.

Dia sendiripun dibuat kebingungan dan tak habis mengerti dengan kejadian yang baru saja berlangsung didepan matanya.

Ia tak tahu kenapa suara liam-keng dan kekuatan bok-hi itu begitu memikat hatinya sampai hampir saja dia kehilangan kesadaran.

Dengan muka tersipu-sipu ia menggeleng, lalu sahutnya sambil tertawa jengah.

"Oooh... Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Mari kita berkunjung ke tempat lain!"

Tanpa menantikan jawaban dari Coa Cong-gi lagi, dia putar badan dan pelan-pelan berjalan menuju ke ruang samping.

Tindak tanduk rekannya yang termangu-mangu seperti orang kehilangan kesadaran ini tentu saja sangat membingungkan Coa Cong-gi yang berada disampingnya.

Ia benar-benar dibuat tak habis mengerti oleh sikap rekannya, tapi ada seseorang yang berdiri dikejauhan menganggukkan kepalanya berulang kali dengan senyum dikulum.

Orang itu adalah seorang hweesio kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang yang mukanya sudah penuh berkeriput, matanya setengah terpejam dan memelihara jenggot sepanjang dada.

Potongan badan maupun roman muka hweesio itu sederhana sekali dan sedikitpun tidak menyolek.

Sebuah tasbeh bergantung didadanya, memakai jubah pendeta berwarna abu-abu yang kasar dengan sepatu rumput yang sederhana sekali.

Walaupun sederhana dandanannya, tapi ia sudah menguntil terus dibelakang Hoa In-liong semenjak pemuda itu mulai mendaki ke atas puncak bukit.

Hanya tentu saja anak muda itu sama sekali tidak merasa kalau secara diam-diam ada orang yang menguntil terus dibelakangnya.

Setelah berpesiar disekitar halaman kuil, Coa Cong-gi dan Hoa In-liong menuju ke puncak sebelah tenggara, dari situ mereka nikmati keindahan kota Kim-leng.

Penduduk yang berdiam di kota Kim-leng sebelah tenggara benar-benar padat sekali, rumah yang berjejer-jejer jauh memanjang sampai ke depan sana, ramai sekali suasananya.

Walaupun fajar baru saja menyingsing, namun sudah banyak orang yang berlalu lalang dijalan raya.

Daerah kota sebelah barat laut meski tidak sedikit jumlah rumah yang ada disitu, namun kebanyakan adalah gedung-gedung besar milik pembesar atau pedagang kaya.

Suasana dijalan lorong dan jalan raya sekitar tempat itu masih sepi dan jarang ada orang yang berlalu lalang.

Tiba-tiba Hoa In-liong tertegun, sinar matanya yang tajam bagaikan sembilu itu menatap ke arah loteng tambur tanpa berkedip.

Kembali Coa Cong-gi dibikin tertegun oleh sikap rekannya itu.

Dengan perasaan tidak habis mengerti segera tegurnya.

"Eeeeh.... kenapa kamu? Adakah sesuatu yang tidak beres?"

Hoa In-liong segera menuding ke arah mana yang dipandangnya itu, lalu katanya.

"Coba kau lihat, bukankah kereta kuda itu adalah kereta kuda milik Cia In?"

Mengikuti arah yang ditunjuk Coa Cong-gi segera memandang ke bawah.

Benar juga, tampak seekor kereta kuda sedang dilarikan kencang kencang menuju bagian kota yang ramai.

Sayang ketajaman matanya tak dapat menandingi ketajaman mata Hoa In-liong.

Sekalipun ia melihat adanya kereta yang sedang dilarikan kencang-kencang akan tetapi tak sempat dilihat bagaimanakah bentuk kereta kuda itu.

"Aaaah....kamu ini!"

Serunya kemudian.

"Di kota Kim-leng ini banyak sekali kereta kuda macam begitu! Darimana kau bisa tahu kalau kereta tersebut adalah keretanya Cia In?"

"Memang, di kota Kim-leng mungkin terdapat banyak sekali kereta kuda, tapi modelnya toh tak mungkin sama antara yang satu dengan yang lain. Aku sangat hapal dengan model kereta milik Cia In dan aku rasa dugaanku tak mungkin keliru"

Kata Hoa In-liong dengan nada yang meyakinkan.

"Kalau memang kereta kuda itu adalah keretanya Cia In lantas kenapa? Eagkau 'kan juga tahu kalau dia adalah seorang pelacur? Malam diundang orang, pagi baru pulang sudah merupakan suatu pekerjaan yang umum, apanya yang aneh?"

"Aaah.........aku rasa tak mungkin begitu"

Hoa In-liong tetap menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Masa kau lupa? Kemarin Ciu Hoa 'kan pergi kesana untuk mencari gara-gara. Jelas kedatangannya bukan untuk mengundangnya mencari kesenangan. Aku jadi ingin tahu bagaimana caranya ia meloloskan diri dari cengkeraman orang she-Ciu itu?"

"Kalau tak dapat meloloskan diri lantas kenapa?"

Seru Coa Cong-gi lagi dengan muka tertegun.

"Eeeh... saudara Hoa sekalipun engkau merasa curiga dengan kejadian ini, aku rasa tak perlu kau pikirkan pada saat ini. Malam nanti kita berkunjung saja ke kamarnya, tanggung semua kecurigaanmu akan peroleh jawaban. Ayoh jalan kita pergi makan bubur."

Tanpa menunggu jawaban lagi dia lantas menarik lengan Hoa In-liong dan diajak menuju ke ruang makan.

Coa Cong-gi memang terlalu polos dan kasar, selamanya dia tak mau berpikir secara baik-baik tiap kali merasa tak mampu untuk menjawab pertanyaan orang, maka digunakannya kekerasan.

Menghadapi manusia semacam ini terpaksa Hoa In-liong harus bersabar dan mengikuti kehendak hatinya.

Setelah masuk ke ruang makan, tampaklah tamu yang bersantap disitu banyaknya bukan kepalang.

Dua puluh buah meja yang tersedia hampir boleh dibilang sudah penuh diisi manusia.

Dalam ruangan bersantap ini tidak tersedia orang yang melayaninya, jadi bila ada orang yang hendak makan bubur, maka dia harus menyiapkan buat diri sendiri.

Oleh sebab itu manusia yang berlalu lalang disitu amat banyak dan sangat tidak beraturan.

Hoa In-liong mencampurkan diri dengan para jemaah yang berkumpul disitu, mengikuti di belakang Coa Cong-gi mereka pergi mengambil bubur, lalu mencari tempat kosong dan duduk sambil bersantap.

Sayur yang tersedia disitu ada empat macam.

Sepiring sayur putih dimasak cah, sepiring ayam masak kecap, sepiring tahu merah dan sepiring cah toge, empat macam sayur yang amat sederhana dan umum, akan tetapi rasanya nikmat sekali, jauh lebih nikmat dari masakan restoran.

Selesai makan bubur sampai kenyang, Coa Cong-gi baru berpaling ke arah temannya sambil berta-nya.

"Eeeeh..... Hoa lo-te, bagaimana rasanya sayur dan bubur yang dihidangkan disini?"

"Ehmmm...... lezat! lezat sekali"

Sahut Hoa In-liong sambil angkat kepalanya dan tertawa.

Tiba-tiba dia membungkam, kata-kata selanjutnya tidak diteruskan bahkan senyuman yang menghiasi ujung bibirnya seketika lenyap, sinar matanya memandang kesatu arah dengan termangu.

Coa Cong-gi mengenyitkan sepasang alis matanya yang tebal, kemudian dengan perasaan tidak habis mengerti tanyanya.

"Hey Hoa lo-te, kenapa hari ini......"

Tiba-tiba ia merasa sinar mata yang terpancar dari kelopak mata Hoa In-liong aneh sekali, tanpa sadar diapun menghentikan kata-katanya dam mengalihkan pula sinar matanya ke arah samping.

Ternyata di meja samping mereka duduklah seorang pemuda yang menyoren pedang dengan disampingnya duduk seorang gadis berkerudung hitam yang sedang bermain dengan seekor kucing hitam.

Memandang kucing hitam yang bermata merah menggidikkan hati itu, Coa Cong-gi kelihatan tertegun.

Untuk sesaat diapun, tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Dalam pada itu, pemuda tersebut telah meletakkan sumpit dan mangkuknya keatas meja lalu menengadah.

Kiranya orang itu tak lain adalah kakak seperguruannya Wan Hong-giok....

yaitu Siau Ciu adanya.

Coa Cong-gi tidak kenal dengan Siau Ciu, tapi dari Hoa In-liong, dia pernah mendengar tentang kisah si kucing hitam yang ganas.

Sementara itu Siau Ciu sendiripun tampak agak tertegun, menyusul kemudian ia bangkit dan tertawa seram.

"Hee..... hee..... hee..... Hoa loji, sudah lama kita tak bertemu muka!"

Mendengar teguran tadi, perempuan berkerudung hitam yang duduk disampingnya ikut menengadah, akan tetapi setelah mengetahui siapakah pemuda yang berada dihadapannya, kontan sekujur badannya menggigil keras.

Sekalipun perempuan itu mengenakan kain kerudung warna hitam yang menutupi wajahnya atau mungkin tidak membawa serta kucing hitamnya, Hoa In-liong tetap dapat mengenali perempuan itu sebagai nyonya Yu "gundik"

Suma liang-cing yang pernah ditemuinya menjaga di sisi layon siok-ya nya itu.

Tak heran Hoa In-liong segera tertegun, ketika secara tiba-tiba bertemu muka dengan pembunuh yang paling dicurigainya itu ditempat tersebut itu.....

Tampak nyonya Yu menarik ujung baju Siau Ciu, kemudian bisiknya dengan suara lirih.

"Jangan mencari gara-gara disini mari kita pergi!"

"Heeh... heeeh... hee... mau pergi?"

Jengek Coa Cong-gi dengan suara dalam "Kalian mau kemana? jangan mimpi di siang hari bolong...."

"Biarlah mereka pergi"

Kata Hoa In-liong tiba-tiba dengan suara halus dan tenang.

"Tempat ini adalah tempat beribadah yang sunyi, jangan sampai kita nodai tempai suci ini dengan bau anyirnya darah manusia!"

"Kenapa?"

Seru Coa Cong-gi dengan alis mata berkenyit.

"Apakah orang itu bukan....."

Sebelum pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, Hoa In-liong telah mengangguk.

"Benar, dialah nyonya Yu dan aku rasa tak mungkin bakal salah lagi!"

"Hoa In-liong!"

Seru Siau Ciu kemudian setelah mendengus dingin.

"Kongcumu akan menantikan kedatanganmu di bukit Ciong san, beranikah engkau pergi ke sana?"

"Baik, kita tetapkan dengan perkataanmu itu, sebentar aku pasti akan tiba di tempat itu!"

Sabut Hoa In-liong dengan sinar mata berkilat. Setelah berhenti sebentar, ditatapnya nyonya Yu dengan pandangan tajam, kemudian lanjutnya.

"Perjanjian ini dengan hujin sebagai pokok persoalan, aku ada persoalan hendak dibicarakan dengan hujin. Maka aku harap sampai waktunya hujin juga harus habis disitu"

"Aku...... aku..... aku turut perintah!"

Dengan terbata-bata nyonya Yu memberikan janjinya. Hoa In-liong tersenyum, dia lantas bangkit berdiri.

"Saudara Cong-gi, mari kiia pergi!"

Ajaknya.

Dengan langkah lebar dia berjalan lebih dahulu menuju ke pintu gerbang ruangan itu.

Dengan mulut membungkam Coa Cong-gi hanya mengekor dibelakang rekannya.

Menanti mereka tiba dipinggang bukit, pemuda itu kehabisan sabar, dia lantas bertanya.

"Hoa lo-te, benarkah kau percaya dengan ucapan nyonya Yu yang akan hadir dalam pertemuan itu?"

Hoa In-liong tersenyum.

"Sekalipun dia merupakan satu-satunya titik petunjuk yang menguntungkan bagiku, hakekatnya perempuan itu bukan manusia penting, jadi mau datang atau tidak, sebenarnya tidaklah terlalu penting!"

"Kalau...... kalau memang begitu, kenapa kau undang pula kehadirannya dalam pertemuan itu?"

Tanya Coa Cong-gi dengan wajah tercengang dan tidak habis mengerti. Sekali lagi Hoa In-liong tersenyum.

"Andaikata perempuan itu tidak pergi, ini membuktikan bahwa dia sudah melakukan suatu perbuatan salah kepada pihak kami. Dus berarti pula dia tersangkut dalam peristiwa berdarah yang menimpa Suma siok-ya ku itu. Bila suatu ketika aku betul-betul menghadapi jalan buntu, maka semua tenaga dan pikiranku dapat dipusatkan untuk mengejarnya dan akhirnya duduknya persoalan tentu akan ketahuan juga"

"Seandainya dia menghadiri pertemuan itu?"

Cong-gi bertanya lebih lanjut.

"Bila kita tinjau keadaan yang terpapar dihadapan mataku sekarang, dengan posisi nyonya Yu yang tersangkut dalam peristiwa berdarah itu maka menurut dugaanku jika dia berani datang menghadiri pertemuan itu, tentu diapun akan membawa pula membantu pembantunya untuk mengerubuti aku dan keadaan semacam inilah yang memang sedang kunanti-nantikan"

Mula-mula Coa Cong-gi agak tertegun setelah mendengar perkataan itu, tapi menyusul kemudian ia sudah tertawa terbahak-bahak.

"Haa... haa.... haa.... Aku mengerti, sekarang..... Aku mengerti.... Sungguh tak kusangka kau...."

Hoa In-liong segera menepuk bahunya pelan.

"Kalau banyak bicara tentu lebih banyak gagalnya dari pada berhasil. Kalau sudah mengerti yaa sudahlah, mari percepat perjalanan kita"

Demikianlah, dua orang itu lantas bergandengan tangan dan buru-buru menuruni bukit Cingliang san.

Baru saja dua orang itu lenyap dari pandangan, nun jauh dibalik pepohonan yang rindang sana pelan-pelan muncul seorang hweesio tua yang kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang.

Memandang bayangan punggung Hoa In-liong yang menjauh, dia gelengkan kepalanya berulang kali, kemudian sambil memanggul kantungan kainnya pelan-pelan diapun menuruni bukit itu.

Bukit Ciong-san terletak kurang lebih lima puluh li disebelah timur kota Kim-leng.

Hoa In-liong dan Coa Cong-gi tidak langsung menuju ketempat tujuan.

Mereka keluar kota lewat pintu sui-see-bun, mula-mula bermain dulu di Yu-hoa-tay setelah itu mereka baru mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya menuju ke bukit Ciong-san.

Setibanya di kaki bukit, waktu menunjukkan antara pukul tujuh pagi.

Angin berhembus sepoisepoi menyejukkan badan.

Gunung itu cukup tinggi dan angker, orang menyebutnya pula bukil Ci-kim-san.

Memandang tanah perbukitan yang tinggi dan luas itu, Coa Cong-gi tampak agak tertegun, kemudian sambil menghembuskan napas panjang katanya.

"Aaah..... Coba lihatlah bukit Ciongsan begini besar dan luasnya, kenapa tadi kita bisa lupa menanyakan tempat yang sebenarnya? Coba sekarang kemana kita musti menunggu?"

Hoa In-liong berpikir sebentar, lalu sahutnya.

"Untunglah waktu masih pagi. Mari kita mendaki dulu kepuncak bukit itu. Dari situ kita akan menyaksikan dengan jelas setiap orang yang mendatangi bukit ini"

Oleh karena hanya itulah satu-satunya jalan yang bisa ditempuh, tentu saja Coa Cong-gi tak dapat berkata apa-apa lagi.

Sekali lagi dua orang itu mengerahkan tenaga dalamnya untuk lari ke atas puncak.

Sesaat kemudian, mereka sudah mendekati puncak bukit tersebut, tiba-tiba terdengar seorang perempuan membentak dengan suara yang amat parau.

"Berhenti! Kalau engkau berani maju selangkah lagi, jangan salahkan kalau kutebas kutung sepasang kaki anjingmu!"

Mendengar ancaman tersebut, Hoa In-liong merasa terkesiap, segera pikirnya.

"Lhoo.... itu kan Si Nio? Kenapa dia bisa berada disini?."

Baru saja pikiran itu melintas dalam benaknya, tiba-tiba terdengar suara pria lain menyahut sambil tertawa dingin.

"Lengan belalang mau menahan kereta. Haa.... Haa.... Haa.... Kau si nenek jelek benar-benar manusia yang tak tahu diri, berani benar......"

Belum habis perkataan itu, tiba-tiba Hoa In-liong membentak dengan suara dalam.

"Ayoh cepatan sedikit! Orang itu adalah Ciu Hoa"

Begitu selesai berkata, tubuhnya lantas melambung ke udara.

Dari situ dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat menerjang ke atas puncak bukit.

Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah tiba diatas puncak bukit itu.

Tampaklah tempat tersebut adalah sebidang tanah berumput yang tidak rata, luasnya kurang lebih belasan kaki persegi.

Sebelah timur dan barat merupakan hutan yang rimbun, sebelah timur laut merupakan sebuah jurang yang entah berapa dalamnya.

Pada waktu itu kecuali arah tebing dengan jurang yang dalam itu tanpa penjagaan, boleh dibilang tiga arah disekitarnya sudah dikepung oleh enam belas orang laki-laki berbaju ringkas warna merah.

Ditengah tanah lapang berumput itu berdirilah seorang nona baju hitam yang berusia enam belas tahunan dengan pedang pendek terhunus.

Mukanya diliputi kegusaran dan matanya melotot besar.

Si Nio si perempuan bertampang jelek itu menghadang dihadapannya.

Mukanya yang jelek itu kelihatan menyeringai seram, sepasang matanya berapi-api.

Kulit wajahnya mengejang kencang, sepasang tangannya yang hitam pekat bagaikan arang tampaknya sudah disaluri tenaga dalam yang sempurna, ini menunjukkan bahwa ia telah bersiap-siap hendak turun tangan.

Dihadapan perempuan jelek itu berdirilah Ciu Hoa dengan sikap acuh tak acuh.

Sinar matanya memancarkan cahaya cabul, senyuman tengik tersungging di ujung bibirnya.

Kendatipun pihak lawan sudah bersiap sedia menerjang ke depan, akan tetapi dia sendiri tetap tenang-tenang saja, malahan selangkah demi selangkah maju semakin ke depan.

Dibelakang Ciu Hoa berdirilah seorang pemuda berbaju perlente yang usianya antara dua puluh tahunan.

Kalau dilihat dari gerak geriknya, jelas dia berasal sealiran dengan Ciu Hoa.

Dari keadaan yang terpapar didepan mata sekarang, siapapun akan tahu bahwa pertarungan ini bukan disebabkan soal dendam, sebaliknya karena Ciu Hoa yang cabul dan suka main perempuan itu telah berhasrat untuk menangkap si nona baju hitam.

Coa Cong-gi adalah seorang pemuda yang berangasan, menyaksikan adegan tersebut, sontak bawa amarahnya berkobar dada, tiba-tiba membentak keras.

"Berhenti! Mengganggu kaum perempuan yang lemah, Hmm! Terhitung manusia gagah macam apakah kau itu?"

Bentakan tersebut diucapkan dengan disertai tenaga dalam yang amat sempurna, begitu nyaring-nya bentakan tadi membuat telinga orang terasa jadi sakit.

Cia-Hoa sangat terkejut, tanpa terasa dia menghentikan langkah kakinya dan berpaling.

Rupanya si nona baju hitampun telah mengetahui siapa yang datang, dengan kegirangan segera teriaknya.

"Hoa-kongcu!"

Ketika itu Ciu Hoa pun sudah melihat kedatangan Hoa-In liong. Dengan alis mata berkenyit segera tegurnya dengan, seram.

"Heeh... heee.... heee... rupanya kita memang berjodoh! Tempo hari kau berdaya upaya menipu aku dengan, mengakui bernama Pek khi. Setelah itu melakukan perbuatan licik pula atas diriku. Heee..... heee... heee...... Hoa-loji, apakah kau tidak takut perbuatanmu melarikan perempuan pelacuran itu akan merusak nama baik keluarga Hoa-kalian?"

Mendengar perkataan itu, diam-diam Hoa In-liong merasa terkejut, segera pïkirnya.

"Aaaah.... apa yang telah terjadi? Mungkinkah Cia In telah membongkar rahasiaku dihadapannya.....?"

Belum habis ingatan itu melintas dalam benaknya, terdengar nona baju hitam itu sudah menjerit kaget.

"Oooh Thian! Kau....."

Jeritan itu penuh mengandung nada kecewa, sekalipun tak diketahui dengan alasan apàkan ia menunjukan perasaan kecewanya itu.

Belum sempat Hoa In-liong berpikir lebih jauh, Si Nio si perempuan jelek itu sudah menukas lebih dulu dengan suara dingin.

"Nona, jangan lupa dengan tujuan kita yang sebenarnya. Biar dia mau menculik nona darimanapun, kesemuanya itu sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan kita!"

Dalam beberapa waktu singkat ini memang telah terjadi banyak sekali kejadian aneh.

Seruan girang dari nona baju hitam itu disusul dengan jerit penuh kekecewaan, ditambah dengan ucapan Si Nio dan sindiran Ciu Hoa, kesemuanya itu membuat Coa Cong-gi semakin kebingungan di buatnya.

Tampak Hoa In-liong tarik napas panjang panjang, kemudian sambil menghampiri nona baju hitam itu katanya.

"Nona! Kau jangan bersedih hati, duduk persoalan yang sebenarnya sudah berhasil kuselidiki sedikit demi sedikit dan terbukti sudah bahwa nona memang tidak tersangkut didalamnya. Mengenai persoalan ayahmu, dikemudian hari pasti akan kuusahakan bantuan sedapat mungkin, Nah, sekarang kau boleh tinggalkan tempat ini lebih dahulu......."

Belum habis dia berkata, tiba-tiba terdengar Ciu Hoa tertawa terbahak-bahak.

"Haa..... haa.... Haa... Orang she-Hoa, apakah engkau juga akan mencampuri urusan ini?"

Tegurnya. Hoa In-liong sama sekali tidak menggubris perkataannya itu, dia berkata lebih jauh.

"Nona, perkataanku ini benar-benar muncul dari hati sanubariku. Keturunan keluarga Hoa selamanya tidak akan menjilat kembali ludah yang lelah ditumpahkan. Percayalah dengan aku. Nah, ayolah pergi dulu! Urusan disini akan kubereskan untuk nona!"

Si Nona baju hitam itu hanya menangis terisak dan sama sekali tidak menjawab, sedangkan Si Nio berdiri dengan muka sedingin es.

Diapun tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengundurkan diri diri tempat itu.

"Hmmm. kau akan menguruskan persoalan mereka itu?"

Tiba-tiba terdengar Ciu Hoa mengejek sambil mendengus dingin.

"Hmmm! Engkau benar-benar manusia tak tahu diri, makin lama perbuatanmu semakin berani sehingga urusan orang lain pun baru kaucampuri!"

Sinar matanya lantas dialihkan ke arah pemuda perlente dibelakangnya, tambahnya.

"Lo-ngo, ayoh serbu. Mati atau hidup tak usah dipersoalkan, lagi... pokoknya sikat beres"

Sebuah pukulan kencang langsung disodok ke tubuh Hoa In-liong yang berada dihadapannya.

Dengan satu kecepatan bagaikan kiiat Hoa In-liong mengegos kesamping.

Setelah lolos dari pukulan dahsyat itu, bentaknya.

"Eeeh.... tunggu sebentar! Aku masih ada perkataan yang hendak kutanyakan kepadamu!"

"Criiiiiiing....!"

Pemuda berbaju perlente itu mencabut keluar pedangnya lalu menghadang jalan pergi pemuda itu, sambil melancarkan sebuah bacokan ke arah pinggang serunya dengan ketus.

"Dalam dunia akhirat bukan hanya kau seorang yang jadi setan kebingungan, kau tak usah banyak bicara lagi! Nih, rasakan sebuah bacokan mautku!"

Bukan saja perkataannya tajam, serangan pedang itupun cepatnya bagaikan sambaran kilat, lihaynya bukan kepalang.

Menyaksikan serangan yang amat lihay itu, si nona baju hitam menjerit kaget, sepasang matanya terbelalak lebar-lebar.

Hoa In-liong sama sekali tak keder menghadapi serangan maut itu.

Tangan kirinya segera disodok ke muka melepaskan sebuah pukulan dahsyat yang membentur ujung pedang itu, bentaknya.

"Siapa kau?. Kalau ingin bertempur, ayoh terangkan dulu namamu.... aku paling tak sudi berkelahi dengan manusia tak bernama!"

Setelah serangan telapak tangannya mengenai sasaran yang kosong tadi, Ciu Hoa telah meloloskan pedangnya.

Dengan jurus Cian-li-yang huan (mengembangkan layar menempuh seribu li) dia tusuk pergelangan tangan musuh.

"Dia bernama Ciu Hoa, sudah jelas?"

Sahutnya dengan lantang.

Ciu Hoa pemuda berbaju perlente inipun bernama Ciu Hoa?

Ini berarti sudah ada tiga orang yang mengaku bernama Ciu Hoa!

Hoa In-liong merasakan hatinya amat terperanjat, nyaris iga kirinya termakan oleh tusukan pedang itu.

Melihat rekannya terancam bahaya, Coa Cong-gi sangat gelisah dia siap menerjang kedepan untuk memberi bantuannya.

Tiba-tiba terdengar nona baju hitam itu berteriak lengking.

"Hoa kongcu, sambutlah pedangku ini"

Serentetan cahaya tajam menembusi udara, pedang pendek yang panjangnya hanya beberapa depa itu secepat kilat meluncur ke arah punggung Ciu Hoa.

Merasakan datangnya maut dari belakang, Ciu Hoa tak berani melanjutkan serangannya, cepat dia menarik kembali pedangnya sambil menyingkir kesamping.

Agak lega Coa Cong-gi menyaksikan kesemuanya itu.

Diam-diam ia berpikir dihati.

"Aku lihat perempuan itu mempunyai satu ganjalan terhadap Hoa In-liong namun rupanya dia pun menaruh rasa cinta, itulah yang dinamakan orang tidak cinta sebenarnya cinta!"

Sementara hatinya berpikir demikian, sepasang matanya dengan tajam mengikuti jalannya pertarungan ditengah gelanggang.

Tampaklah pedang pendek itu dengan membawa desingan angin tajam masih meluncur terus ke depan.

Tampaknya Hoa In-liong tak dapat menyambut senjata tersebut.

Dalam gugupnya lengan kanannya cepat dijulurkan ke depan dan tahu-tahu entah dengan cara apa, pedang pendek yang bersinar tajam itu sudah terjepit diantara jari tengah dan jari telunjuknya.

Setelah memegang pedang, maka keadaan Hoa In-liong ibaratnya harimau yang tumbuh sayap.

Tampaklah pedang pendek itu berkelebat kian ke mari dengan cepatnya.

Dengan serangkaian serangan berantai yang maha dahsyat dia serang dua orang Ciu Hoa itu habis-habisan sehingga kedua orang itu terdesak mundur terus tiada hentinya.

Sementara melancarkan serangan berantainya, diam-diam Hoa In-liong berpikir pula didalam hati.

"Aneh benar dari mana munculnya begitu banyak Ciu Hoa dalam dunia persilatan. Pemuda berbaju perlente itu disebut Lo-ngo, pria bermuka kuda dulu disebut Lo-sam... Entah ada berapa orang Ciu Hoa lagi yang bakal kujumpai? Kenapa tidak kugunakan siasat untuk memancing mareka? Asal jalannya ilmu silat mereka dapat kuraba, tentu untuk menebak asal usul mereka....' Berpikir sampai disini, dia lantas menunjukkan sikap seakan-akan tenaga dalamnya sudah lemah, sehingga permainan pedangnya ikut melambat pula...."

Pertarungan antara jago-jago lihay, seringkali menang kalah hanya tergantung dalam waktu sedetik.

Pada hakekatnya ilmu silat yang dimiliki dua orang Ciu Hoa itu sudah mencapai pada puncaknya.

Tapi oleh karena mereka menyerang secara gegabah, mengakibatkan posisi mereka selalu berada di bawah angin.

Dan sekarang, ketika secara tiba-tiba dilihatnya serangan pedang dari Hoa In-liong melambat, serta-merta mereka manfaatkan kesempatan baik yang sama sekali tak diduganya itu sebaik mungkin.

Dengan wajah berseri-seri, kedua orang itu segera memperketat serangan pedang.

"Sreeet....! Sreeet.....! Sreeet!"

Secara beruntun mereka lancarkan tiga buah serangan berantai untuk memperbaiki kembali posisi mereka.

Perlu diketahui, oleh karena kedudukan mereka berada dibawah angin, maka ilmu pedang mereka tak bisa dikembangkan sebaik-baiknya dan sekarang setelah posisinya berhasil diperbaiki, dua bilah pedang mereka bagaikan ikan yang bertemu air, segera melancarkan serangan lagi dengan jauh lebih lincah dan ganas.

Ilmu pedang yang dimiliki kedua orang itu betul-betul ganas, lihay dan berbahaya, bukan saja kerjasamanya sangat tapat, langkah dan permainan pedang kedua orang itupun jauh lebih mantap dan berbobot.

Lebih banyak jurus-jurus serangan aneh yang digunakan dari pada tipu muslihat, bahkan kelihayannya tidak jauh berbeda dengan ilmu pedang yang dimainkan Ciu Hoa ketika mereka bertarung di kota Lok-yang tempo hari.

Setelah mencoba dua puluh jurus lebih, Hoa In-liong mulai berpikir dalam hatinya.

"Kalau ditinjau dari gerakan jurus ilmu pedang mereka, tampak-tampaknya jurus pedang itu berasal dari satu perguruan yang sama. Itu berarti pula bahwa mereka berasal dari satu perguruan yang sama pula, entah berapa sebenarnya jumlah manusia yang memakai nama Ciu Hoa itu?. Aku perlu menyelidikinya sampai jelas!"

Tiba-tiba pedangnya digetarkan kencang-kencang, lalu secepat kilat membacok tubuh Ciu Hoa yang berbaju perlente itu, bentaknya dengan nyaring.

"Ayoh bicara! Apakah kalian semua adalah anak murid dari perkumpulan Hian-beng-kau?"

Serangan itu datangnya seperti bianglala dari angkasa, bukan saja sangat tajam bahkan disertai tenaga desingan yang memekikkan telinga.

Ciu Hoa yang berbaju pelente itu amat terkejut.

Ia tak berani menyambut ancaman tersebut dengan kekerasan.

Tanpa sadar kakinya melangkah mundur setindak kebelakang.

Ciu Hoa yang bermuka potongan kuda itu cepat menyergap maju ke depan.

Ujung pedangnya menciptakan selapis cahaya tajam yang menggidikkan hati, tanpa memperdulikan keselamatan jiwanya.

Secara beruntun dia totok tiga buah jalan darah penting dipunggung Hoa In-liong, tentu saja tujuan dan serangannya ini adalah untuk menyelamatkan jiwa laki-laki berbaju perlente yang bernama Ciu Hoa itu.

Serangan itu lihaynya memang lihay.

Sayang Ciu Hoa bermuka kuda itu telah melupakan sesuatu.

Dia lupa bila seseorang akan menyerang dengan satu jurus mengadu jiwa, maka pertahanan atas tubuhnya sendiri akan terbuka.

Baru saja dia menerkam kemuka, dengan satu gerakan manis Hoa In-liong sudah putar badannya sambil membabatkan pedang pendeknya ke depan.

Seketika itu juga ia merasa kepalanya jadi dingin dan sakit.

Rasa kaget dan takutnya bukan alang kepalang.

Hoa In-liong tertawa, sambil mundur kebelakang tegurnya.

"Coba aku mau bertanya, apabila serangan pedangku tadi kulancarkan tiga inci lebih kebawah maka apa akibatnya?"

Apa akibatnya?

Tentu saja tak usah ditanyapun orang akan mengetahui dengan sendirinya.

Berdiri semua bulu kuduk Ciu Hua bermuka potongan kuda itu, peluh dingin membasahi tubuhnya, diam-diam ia menarik napas panjang dengan jantung berdebar keras.

Hoa In-liong tersenyum kembali ujarnya.

"Tolong tanya, dalam perguruanmu ada berapa yang menggunakan nama dan she sebagai Ciu Hoa?"

"Delapan orang!"

Jawab Ciu Hua bermuka potongan kuda itu seperti kena hipnotis.

"Delapan orang menggunakan nama yang sama bukankah itu berarti bahwa kalian memang sengaja memusuhi keluarga Hoa kami!"

Bentak Hoa In-liong dengan muka sedingin es.

"Hmmm! Ayoh jawab permusuhan apakah yang sebenarnya terikat antara gurumu dengan keluarga Hoa kami?"

Tiba-tiba Ciu Hoa bermuka potongan kuda itu tertegun.

Ia baru sadar bahwa barusan dia telah kesalahan berbicara, kontan paras mukanya berubah jadi pucat pias bagaikan mayat.

Saking kaget dan gugupnya dia jadi gelagapan dan tak tahu apa yang musti dilakukan.

Tiba-tiba Ciu Hoa yang berbaju pelente itu menimbrung dari samping arena.

"Lo-sam sepatah kata juga bicara, delapan sepuluh patah kata juga telah berbicara. Kalau toh sudah berbicara, aku rasa apa yang telah kita ketahui katakan saja semuanya secara blak-blakan!"

Hoa In-liong mengerutkan alisnya rapat-rapat dalam hati diam-diam pikirnya.

"Kakak beradik seperguruan ini mempunyai usia yang hampir sebaya, mempunyai nama yang sama dan saling memuji tapi mengindahkan mana yang lebih besar mana lebih kecil. Ditinjau dari sikap mereka, tentulah guru mereka pun berwatak seperti itu."

Berpikir demikian, ia lantas berkata.

"Kukagumi engkau sebagai seorang laki-laki sobat. Nah! Tolong tanya markas besar perkumpulan Hian-beng-kau kalian terletak dimana? Apakah aku boleh mengetahuinya?"

"Perkumpulan kami belum dibuka secara resmi"

Jawab Ciu Hoa berbaju parlente itu dengan nyaring.

"Kau tak usah kuatir, disaat perkumpulan kami akan diresmikan nanti, kartu undangan pasti akan kami bagi ke seluruh dunia persilatan, termasuk juga keluarga Hoa kalian! "

Hoa In-liong mengangguk tanda puas dengan jawabannya.

"Benarkah Suma tayhiap suami istri yang berdiam di kota Lok-yang terbunuh oleh orang-orang yang kalian utus?"

"Benar!"

Jawab Ciu Coa berbaju perlente.

"Bukan!"

Sanbung Ciu Hoa bermuka potongan kuda.

"Eeeh..... Kalau mau menjawab yang betul, sebetulnya ya atau tidak?"

Bentak Hoa In-liong dengan sinar mata berkilat.

"Kami berdua 'kan sudah mengakuinya secara terus terang?"

Seru Ciu Hoa bermuka kuda dengan ketus. Hoa In-liong mengerutkan dahinya kencang-kencang.

"Jadi sebetulnya ya atau tidak?"

Kembali tegurnya.

"Ya juga tidak, semuanya benar! Apa susahnya mengartikan perkataan yang sangat sederhana itu? Cerewet amat kamu ini" . Hawa amarah sontak mencekam seluruh benak Hoa In-liong. Hampir saja amarahnya itu akan dilampiaskan keluar, untunglah ia masih mampu mengendalikan perasaannya.

"Hmm..... Baik.... Baik, rupanya sebelum kuberikan suatu demontrasi kekuatan, kalian tak akan mengakuinya secara berterus-terang. Kalau memang begitu lihat saja kelihayanku ini!"

Ancamnya.

Ciu Hoa berbaju perlente itu melototkan sepasang matanya lebar-lebar, bibirnya bergerak seperti hendak mengucapkan sesuatu.

Tapi sebelum ia sempat berbicara, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang serak tua tapi lantang berkumandang memecahkan kesunyian.

"Eeeh........bocah cilik, kalau engkau ingin tahu segala sesuatunya hingga jelas, tanyakan saja langsung kepadaku!"

Ucapan tersebut datangnya sangat mendadak dan sama sekali tak terduga.

Hoa In-liong merasa amat terperanjat, cepat-cepat dia berpaling kebelakang.

Entah sejak kapan, dari arah selatan telah muncul empat orang kakek yang telah berusia lanjut didampingi nyonya Yu yang masih menggendong kucing hitamnya dan Siau Ciu yang berbaju ringkas dengan sebilah pedang tersoren dipinggangnya.

Kedatangan beberapa orang itu sama sekali tidak berisik ataupun menimbulkan suara.

Malahan Siau Ciu dan nyonya Yu juga bisa muncul dengan entengnya, ini menunjukkan bahwa ilmu meringankan tubah yang mereka miliki telah peroleh kemajuan yang pesat.

Memandang beberapa orang yang berdiri dihadapinya, Hoa In-liong merasa terkejut, tanpa terasa pikirnya dalam hati.

"Entah siapakah beberapa orang kakek itu? Kalau didengar dari nada pembicaraannya mereka, rupanya orang-orang itu mengetahui jelas tentang peristiwa berdarah yang menimpa keluarga Suma dan tampaknya pula mereka mempunyai rasa dendam dan sakit hati yang amat mendalam dengan keluarga Hoa kami. Jangan-jangan.... jangan-jangan mereka memang sengaja hendak memusuhi keluarga Hoa?"

OOOOOoooOOOOO BELUM habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, Coa Cong-gi yang berangasan telah melompat kedepan kemudian dengan muka dingin serunya lantang.

"Eeeh..... Kalian toh orangorang yang sudah punya umur kenapa kalau berbicara begitu tak tahu sopan santun? Bocah..... Bocah..... Siapa yang kau sebut bocah? Kalau kita panggil tua bangka kepada kalian, coba bayangkan saja bagaimana perasaan kalian?. Hmmm! Betul-betul kurang ajar!"

Beberapa patah katanya itu diucapkan dengan suara yang tajam bagaikan pisau, seketika itu juga empat orang kakek itu dibikin tertegun.

Salah seorang diantara empat kakek yang berbadan kurus jangkung segera tampil kemuka, dengan wajah agak berubah bentaknya nyaring.

"Bocah keparat, engkau benar-benar menggemaskan hati, ayoh bicara. Siapa namamu?"

Coa Cong-gi sama sekali tidak jeri meskipuna harus berhadapan muka dengan kakek yang berwajah bengis, jawabnya.

"Aku bernama Coa Cong-gi, salah seorang dan Kim-leng ngokongcu, ada apa?"

Sikapnya yang sombong dan jumawa itu semakin menggusarkan kakek jangkung yang kurus itu.

Sinar matanya berkilat tajam, agaknya dia akan mengumbar hawa amarahnya.

Saat itulah, kakek bermuka bengis yang berada ditengah-tengah menghalangi tindakan rekannya.

"Huan heng, harap tunggu sebentar!"

Katanya.

"Buat apa kita musti ribut-ribut dengan seorang bocah ingusan yang masih berbau tetek? Sudahlah jangan gubris bocah itu!"

Tiba-tiba entah apa sebabnya, Hoa In-liong merasa hatinya jadi tegang.

Menurut pengamatannya secara diam-diam, ia merasa bahwa beberapa orang kakek yang berada dihadapannya tak dapat disangsikan lagi tersangkut dalam peristiwa berdarah yang menimpa keluarga Suma.

Pemuda itu merasa bila kesempatan yang sangat baik ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, maka tak sulit baginya dikemudian hari untuk menyelidiki latar belakang dari peristiwa berdarah itu.

Tentu saja diapun tahu, kalau dapat bentrokan secara kekerasan harus dihindari, penyelidikan baru mendatangkan hasil jika itu berlangsung dalam suasana yang tenang dan ramah-tamah.

Oleh sebab itulah, begitu sikakek bengis tadi menyelesaikan kata-katanya, cepat dia maju kedepan dan menjura kepada kakek itu.

"Aku adalah Hoa In-liong, boleh kuketahui siapakah nama lotiang?"

Perkataannya ini tidak terlampau angkuh juga tidak terlalu merendahkan diri sendiri.

Nadanya besar dan tidak mirip bocah yang masih ingusan.

Siapapun akan mengira bahwa pemuda ini sudah lama berkelana dalam dunia persilatan.

Ketika mendengar perkataan tersebut, pada mulanya kakek bermuka bengis itu tampak tertegun, menyusul kemudian dengan alis mata berkenyit sahutnya dengan dingin.

"Pernahkah engkau dengar tentang perkumpulan Kiu-im-kau dari mulut orang persilatan?"

Dalam hati Hoa In-liong merasa tercekat, akan tetapi diluarnya dia tetap tersenyum ewa.

"Pernah sih pernah!"

Sahutnya.

"Aku dengar perkumpulan Kiu-im-kau berulang kali mengalami kekalahan, malahan tempo dulu......"

"Tempo dulu kami sudah munculkan diri sebanyak dua kali di wilayah selatan"

Tukas kakek bermuka bengis itu sambil mendengus.

"Dan sekarang kami munculkan diri untuk ketiga kalinya. Dalam pemunculan kali ini kali ini kami khusus akan menyatroni keluarga Hoa kalian dan akan kami tandingi siapa gerangan yang sebenarnya lebih pantas menguasai jagad"

Mendengar perkataan itu, Hoa In-liong merasa sangat terperanjat. Diam-diam ia berseru tertahan.

"Aaaah.... Tak salah lagi. Mereka memang khusus memusuhi keluarga Hoa kami ternyata memang perbuatan biadab dari orang-orang perkumpulan Kiu-im-kau. Aaai..... Kakek ini tidak berani bicara secara blak-blakan, itu berarti ada sesuatu yang dia takuti. Dus berarti issue yang mengatakan bahwa dunia persilatan bakal terjadi perubahan besar, tampaknya bukan berita isapan jempol belaka yang tak dapat dipertanggung jawabkan"

Sekalipun dihatinya merasa terkejut bercampur curiga, namun diluaran si pemuda itu tetap tenang. Ia kalem seperti tak pernah terjadi sesuatu apapun, malahan dia tertawa hambar.

"Lotiang, perkataanmu terlalu berlebihan!"

Serunya.

"Kami keluarga Hoa sedari sian-cou sampai sekarang selalu mengekang diri dengan ketat dan bersikap seramah-ramahnya kepada orang lain. Sampai sekarang keadaan tersebut telah berlangsung selama tiga generasi. Selama tiga generasi ini kendatipun kami tak berani mengatakan telah melakukan kebajikan dan keadilan bagi khalayak ramai, akan tetapi kami pun yakin selama ini tak pernah berhasrat untuk mencari gara-gara atau berebut nama dan kedudukan dengan orang lain. Soal ini... yaaa, soal ini lebih baik tak usah dibicarakan lebih jauh. Tolong tanya tujuan Lotiang datang kemari adalah....."

Ditengah pembicaraan bukan saja secara tiba-tiba ia telah mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, bahkan tiba-tiba saja perkataan tersebut dipotong ditengah jalan.

Dengan senyuman dikulum ditatapnya wajah kakek itu dan menantikan jawaban lawan.

Kalau kita perhatikan perkataannya barusan, maka dapat kita dengar sekalipun nada pembicaraannya lunak dan enak didengar, hakekatnya mengandung suatu ketegasan yang membuat orang tak dapat mengganggu gugatnya kembali.

Mendengar ucapan tersebut, kakek bermuka bengis itu segera alihkan pandangan matanya ke atas wajah Hoa In-liong, kemudian ditatapnya anak muka tajam-tajam.

Selang sesaat kemudian ia ba-ru tertawa terbahak-bahak dengan nyaringnya.

"Haaa... haa..... haa..... Bagus! Bagus sekali! Anak keturunan keluarga Hoa memang jauh berbeda dengan orang-orang yang lain.....Bagus! Bagus!"

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan kembali.

"Aku she-Le bernama Kiu it, tiancu ruang siksa dari perkumpulan Kiu-im-kau. Dua puluh tahun berselang aku pernah mendapat hadiah sebuah pukulan dari ayahmu!"

"Bagus..... Bagus! rupanya kau sedang menagih hutang kepada Hoa lote yaaa? Rupanya kau kurang terima hanya mendapat hadiah sebuah pukulan belaka?"

Tiba-tiba Coa Cong-gi berteriak dengan suara lantang. Hoa In-liong merasa gelisah sekali, cepat-cepat dia berpaling kesamping seraya tegurnya.

"Saudara Cong-gi, jangan berteriak sembarangan lebih dulu. Bagaimanapun juga kita tak boleh lupa akan kata kesopanan!"

"Tata kesopanan?"

Coa Cong-gi melotot bulat-bulat.

"Kenapa kita musti membicarakan soal tata kesopanan dengan mereka? Tahukah engkau, apa maksud dan tujuan mereka datang kemari?"

"Tentu saja. Siaute juga tahu apa maksud dan tujuan mereka datang kesini, cuma....."

"Nah, kalau sudah tahu itu lebih baik lagi"

Tukas Cong-gi tidak memberi kesempatan bagi rekannya untuk bicara lebih jauh.

"Mari kita selesaikan persoalan ini dengan pertarungan kilat, jangan beri peluang bagi mereka untuk mencari keuntungan di air keruh"

Hoa In-liong benar-benar dibikin serba salah oleh perkataan rekannya.

Mau marah bagaimana, tidak marah bagaimana.

Akhirnya dia memutuskan untuk tidak memberi tanggapan terhadap ucapan rekannya.

Pelan-pelan anak muda itu berpaling, ditatapnya Tiancu ruang siksa dengan sinar mata tajam, ke-mudian katanya lagi.

"Aku rasa apa yang barusan dikatakan Coa heng memang benar. Tampaknya kedatangan Le Tiancu adalah untuk menuntut balas terhadap sebuah pukulan yang pernah dihadiahkan ayahku padamu, serta menguasai dunia persilatan dibawah kekuasaanmu, Hmmm. Kalau toh memang itu tujuan kalian, baik untuk kepentingan umum maupun untuk kepentingan pribadi, cari saja langsung kepadaku pasti akan kuselesaikan semua persoalan sebaik-baiknya dan aku rasa satu-satunya cara yang bisa digunakan adalah bertarung sampai salah satu diantara kita menang."

Baru saja ia menyelesaikan kata-katanya, kakek kurus jangkung itu menimbrung dari samping.

"Eeeh..... Anak muda, besar amat kepentingan umum dan kepentingan pribadi?. Heeh.... hee.... Hee..... mengandalkan kekuatanmu seorang untuk menghalang-halangi usaha sudah tertawa seram dan lagak bicaramu!. Untuk Rupa-rupanya kau hendak perkumpulan kami yaa?"

Hoa In-liong tidak memberi tanggapan, sinar matanya lantas dialihkan ke wajah kakek kurus itu lalu tegurnya.

"Tolong tanya siapa nama lotiang? Dan apa kedudukanmu dalam perkumpulan Kiu-im-kau?"

"Aku bernama Huan Tong, menjabat sebagai Tongcu bagian propaganda dalam perkumpulan Kiu-im-kau"

Sahut kakek itu angkuh. Air muka Hoa In-liong segera berubah jadi serius. Dengan wajah bersungguh-sungguh katanya lagi.

"Bagus sekali, Huan-tongcu! Tolong tanya bagaimana dengan hutang ayahku?"

Kakek kurus yang bernama Huan Tong itu agak tertegun, menyusul kemudian sahutnya.

"Kenapa? Hutang sang ayah, anaklah yang musti bayar! Kenapa kau musti banyak bertanya lagi?"

Hoa In-liong mengangguk.

"Benar, ayah yang berhutang putranya yang wajib membayar. Letiancu merasa pernah berhutang sebuah pukulan dari ayahku, maka aku Hoa loji sebagai putra ayahku, apakah tidak berkewajiban untuk menerima pembayaran sebuah pukulan itu?"

Huan Tong tertegun, untuk sesaat ia tak mampu berkata-kata. Ia cuma bisa memandangi lawannya dengan mulut melongo. Hoa In-liong tidak berdiam sampai disitu saja, kembali ujarnya lebih jauh.

"Huan tongcu, ada satu persoalan hendak kuberitahukan pula kepadamu, yaitu setiap orang dari perkampungan Liok-soat-san-ceng dibukit In-tiong san selalu menitik beratkan semua kekuatan dan perhatiannya untuk menjaga keamanan serta kestabilan situasi dalam dunia persilatan. Perduli siapapun jika berani menerbitkan keonaran atau ingin mendatangkan hujan badai dalam dunia kangouw, maka anak cucu keluarga Hoa bersumpah akan memusuhinya sampai titik darah penghabisan, tidak terkecuali pula terhadap perkumpulan Kiu-im-kau. Nah, Huan tongcu! Percuma kau berlagak garang dihadapanku, sebab toh sikap garangmu itu tidak nanti akan mempengaruhi sikap maupun pendirian dalam hatiku!"

Kiranya pemuda itu sengaja berbicara kesana kemari, tujuan yang sebenarnya tak lain hanya hanya satu yakni mengutarakan pendirian dan sikapnya dalam persoalan tersebut.

Tak terkirakan rasa gusar dan mendongkol yang berkobar dalam dada Huan Tong sehabis mendengar perkataan itu.

Untuk sesaat ia berdiri tertegun kemudian sambil tertawa seram serunya.

"Haa.... haa.... haa.... Bocah keparat kau memang bernyali! Kau memang benar-benar bernyali!"

Seraya berkata selangkah demi selangkah dia maju menghampiri lawannya.

Ditinjau dari sikapnya yang garang dan menyeramkan itu dapat diketahui bahwa ia sudah tak sabar lagi dan kini bersiap-siap untuk melakukan serangan maut.

Coa Cong-gi yang menyaksikan kemarahan orang, bukannya jadi jeri, dia malahan semakin gembira, sambil bertepuk tangan bersorak sorai serunya lantang.

"Puas.... Puas! Sungguh memuaskan! Lo-te, biar aku yang layani kakek ceking ini"

Dengan langkah lebar dia maju ke muka dan siap menyongsong kedatangan Huan Tong. Siapa tahu, baru selangkah dia maju, dengan kecepatan bagaikan kilat Hoa In-liong telah menarik tangannya.

"Saudara Cong-gi, tunggu sebentar.... Tunggu sebentar!"

Serunya kemudian.

"Jangan terburu-buru turun tangan, sebab siaute masih ada persoalan yang hendak dibicarakan dulu dengan orang ini"

Pelan-pelan Huan Tong maju menghampiri si anak muda itu, langkahnya sama sekali tidak berhenti, serunya pula dengan suara yang dingin dan menggidikkan hati.

"Kau tak usah banyak berbicara lagi, ingin ber bicara maka lebih baik kita berbicara dalam gerakan tangan dan kaki saja.... ayoh! siapkan dirimu untuk menyambut seranganku ini"

Hoa In-liong kualir Coa Cong-gi tak dapat menahan sabarnya, dia maju ke depan dan menghadang dihadapannya, lalu dengan suara dalam serunya.

"Huan tongcu, harap engkau sedikit tahu diri. Aku sama sekali tidak takut untuk bertarung melawan engkau. Tapi sebelum itu ada beberapa persoalan ingin kutanyakan lebih dulu, masa kau tak berani menjawabnya....?"

"Aku mengerti jelas sekali, bahkan terlampau jelas bagiku"

Sahut Huan Tong sambil mendengus dingin.

"Bila selesai kujajal dirimu, otomatis aku akan lebih jelas lagi....."

Belum habis perkataan itu, ketika tiba-tiba seorang nyonya tua menanggapi perkataannya itu dengan dingin.

"Huan Tong, ayoh mundur, kau terlalu congkak terlalu jumawa sekali dalam setiap pembicaraan!"

Huan Tong terperanjat, cepat-cepat dia berpaling, lalu tergopoh-gopoh memberi hormat.

"Yaa kaucu, Huan Tong menghunjuk hormat buat kaucu!"

Dalam waktu singkat seruan "menghunjuk hormat buat kaucu"

Berkumandang silih berganti, Le Kiu-it sekalian bertiga memberi hormat dengan sikap yang bersungguh-sungguh lalu mengundurkan diri kesamping.

Sedangkan Siau Ciu dan nyonya Yu bertekuk lutut dan menyembah ke atas tanah.

Hoa In-liong sangat terperanjat, cepat dia menengadah dan alihkan pandangan matanya kedepan, tampaklah pada sudut sebelah selatan dari tanah berumput itu telah berdiri seorang nyonya tua yang berwajah potongan rembulan didampingi seorang gadis cantik yang bertubuh ramping, tinggi semampai dengan rambut sepanjang bahu.

Nyonya tua bermuka bulat rembulan itu mempunyai perawakan tubuh yang tinggi besar.

Ia mengenakan jubah lebar berwarna hitam.

Rambutnya yang berwarna keperak-perakan berkibar terurai di bahu.

Tangan kanannya memegang sebuah toya baja berwarna hitam.

Di ujung toya baja itu terukirlah sebuah kepala setan perempuan sebanyak sembilan buah.

Kesemuanya diukir dengan muka bengis.

Gigi taring mencuat keluar dan rambut panjang awut-awutan, mengerikan sekali tampangnya.

Ketika kepala setan itu diamati lebih seksama, ternyata roman mukanya persis seperti tampang nyonya tua itu.

Hanya saja perempuan tua itu kecuali bermuka pucat seperti mayat dan sama sekali tidak ada warna merahnya.

Sepasang matanya bersinar tajam menggidikkan hati, membuat siapa pun yang melihatnya merasa seram dan ketakutan.

"Dialah ketua dari perkumpulan Kiu-im-kau?"

Diam-diam Hoa In-liong berpikir.

"Yaa, kalau dia yang datang, itu lebih baik lagi, sebab dengan begitu akupun tak usah jauh-jauh pergi ke Lamhuang untuk mencari jejaknya."

Berpikir sampai disini, sinar matanya lantas dialihkan kebelakang nenek itu dan menatap tajam dara cantik berambut panjang yang berada di belakang Kiu-im-kaucu.

Menyaksikan tampangnya yang ayu dan menawan hati itu tiba-tiba saja anak muda itu tertegun.

Yaa, gadis itu memang cantik sekali.

Kecantikan wajahnya melebihi bidadari dari kahyangan.

Rasanya sekalipun Siang-go atau Si-see lahir kembali pun kecantikan mereka juga begitu saja.

Usia nona itu masih muda sekali.

Mukanya potongan kwaci dengan sepasang alis mata yang lentik.

Matanya jeli bagaikan bintang timur.

Hidungnya mancung.

Bibirnya kecil mungil bagaikan delima merekah.

Kulitnya halus dan putih, seputih susu.

Pinggangnya ramping dan pinggul yang padat berisi.

Tertutup oleh gaun bajunya yang putih salju itu tampaklah perawakan badannya yang ramping dan menawan hati.

Rasa-rasanya didunia ini sukar untuk temukan perempuan kedua yang memiliki kecantikan melebihi gadis tersebut.

Sebagaimana diketahui, Hoa In-liong adalah seorang pemuda romantis.

Manusia macam dia paling pantang bertemu dengan gadis-gadis cantik.

Ketika memandang untuk kejapan yang pertama tadi, anak muda itu masih merasakan keadaan yang wajar.

Akan tetapi semakin dilihat dia merasa semakin tertarik.

Makin dipandang ia merasa keayuan dan kerampingan nona itu semakin memi-kat hatinya dan akhirnya perasaan tersebut tak dapat dikuasahi lagi.

Dari kagum ia jadi tertarik dan karena tertarik timbullah hasratnya untuk memiliki gadis itu.

Tanpa sadar uatuk sesaat anak muda itu berdiri terbelalak dengan mulut melongo, nyaris dia lupa berada dimanakah saat itu.

Untuk sesaat suasana diarena pertarungan itu jadi sunyi, sepi dan tak kedengaran sedikit suara pun, Ciu Hoa berdua beserta para begundalnya telah berkumpul jadi satu.

Si Nio yang jelek berdiri bersama majikannya dibelakang Hoa In-liong.

Hampir semua perhatian dan sinar mata orang-orang yang hadir di sana tertuju kesatu arah, yakni wajah kaucu serta gadis cantik itu.

Selang sesaat kemudian, dengan sinar mata setajam sembilu Kiu-im-kaucu menyapu pandang sekejap ke arah orang-orangnya yang berdiri disekeliling tempat itu, kemudian sambil mengulapkan tangan kirinya dia menghardik keras.

"Kalian semua tak perlu banyak adat!"

Empat orang kakek itu mengiakan, mereka lantas luruskan badan dan mundur kebelakang.

Sementara Siau Ciu dan nyonya Yu selesai menyembah tiga kali mengundurkan diri dari situ.

Hoa In-liong baru tersadar dari lamunannya sesudah mendengar bentakan itu, mukanya jadi merah padam karena jengah, sorot matanya cepat-cepat dialihkan ke arah wajah Kiu-im-kaucu.

Ketua dari perkumpulan Kiu-im-kau itu sedang mengetuk tanah dengan tongkat kepala setannya, lalu terdengar ia menegur.

"Huan tongcu, apakah engkau tahu salah?"

"Hamba..... hamba.... hamba......"

Huan Tong tergagap dan buru-buru membungkukkan badannya. Kembali Kiu-im-kaucu mendengus dingin.

"Coba jawab! Bagaimanakah pesan dan perintahku kepada kalian tadi? Terbayang kegagahan dan kebesaran Hoa Thian-hong, aku sendiripun menaruh tiga bagian rasa kagum kepadanya. Apalagi kau Hmmm! Watakmu terlampau berangasan. Apalagi mulutmu kurang tajam untuk bersilat lidah, sudah tahu kelemahan sendiri ternyata berani juga bercekcok dengan keturunan keluarga Hoa.... Huuh...! Perbuatanmu itu benar-benar bikin hatiku merasa sangat kecewa!"

"Lapor kaucu!"

Ujar Huan Tong dengan sikap yang sangat terhormat "Bocah cilik dari keluarga Hoa ini takabur dan sombongnya bukan kepalang.

Mulutnya terlampau tajam dan bicaranya tidak kira-kira.

Oleh karena dia bersumbar akan menentang perbuatan perkumpulan kita, maka hamba....."

"Sudah kau tak usah banyak bicara lagi!"

Tiba-tiba Kiu-im-kaucu menukas sambil mengulapkan tangannya "Memang demikianlah pelajaran yang diwariskan keluarga Hoa mereka terhadap setiap keturunannya!"

Tiba-tiba ia menghela napas panjang setelah berhenti sebentar sambungnya lagi.

"Atau dengan lebih tegasnya saja, dengan mengandalkan keberhasilan ilmu silat yang dimiliki keluarga Hoa, mereka mempunyai hak untuk mengucapkan kata-kata semacam itu"

"Hamba tidak percaya"

Teriak Huan Tong dengan gelisah setelah mendengar perkataan itu.

Setajam sembilu sorot mata Kiu-im-kaucu tiba-tiba ditatapnya anak buahnya itu tanpa berkedip lalu bentaknya dengan suara berat dan dalam.

"Tutup mulutmu! Engkau tidak percaya dengan kemampuan ilmu silat yang dimiliki keluarga Hoa ataukah engkau sudah tidak percaya lagi dengan perkataanku?"

Dengan ketakutan cepat-cepat Huan Tong membungkukkan badannya memberi hormat.

"Hamba tidak berani! Hamba hanya mempunyai kesetiaan sampai mati dan sepanjang masa hanya mendengarkan perintah serta perkataan kaucu seorang!"

Ditinjau dari sikapnya itu, dapat diketahui betapa takut dan jerihnya kakek itu terhadap ketuanya.

Hormatnya boleh dibilang sudah mendekati suatu penjilatan.

Suatu sikap mundukmunduk yang cuma terdapat dalam hubungan antara seorang majikan dengan budak beliannya.

Lama sekali Kiu-im-kaucu menatap anak buahnya itu, tiba-tiba ia menghela napas panjang.

"Aaaai....! Dalam kejadian ini, aku memang tak dapat menyalahkan engkau. Sudah sekian lama kau menetap diluar perbatasan dan lagi jarang sekali bergerak di daratan Tionggoan, maklumlah kau tak memahami seluk beluknya dunia persilatan dewasa ini. Yaa, berbeda tentunya keadaan sekarang dengan keadaan pada lima belas tahun berselang. Waktu itu engkau merupakan seorang anggota perkumpulan yang aktif dan selalu berada disampingku dalam menangani setiap kejadian dalam dunia persilatan. Kini setelah lama mengasingkan diri, apalagi tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, tentu saja tak dapat disalahkan kalau kau tak akan percaya dengan apa yang baru saja kukatakan"

Baru selesai ia berkata, Huan Tong telah bungkukkan badannya dan memberi hormat lagi.

"Yaa kaucu, semoga kaucu dapat memaklumi keadaan dari hamba."

Bisiknya lirih. Kiu-im-kaucu segera ulapkan tangannya lagi.

"Kau tak usah merasa menyesal atau merasa rendah diri, dikemudian hari aku masih banyak membutuhkan tenagamu untuk kejayaan perkumpulan kami"

Ucapnya.

"Atau tegasnya, selama berada dalam perkumpulanlah yang patut dijunjung tinggi dan dinomor satukan daripada persoalan lain. Disamping itu, harus kita akui bahwa Hoa Thian-hong betul-betul seorang pendekar besar yang berjiwa ksatria, berbudi luhur dan mengutamakan kebaikan serta kesetiaan kawan. Kendatipun dia adalah musuh nomor satu dari perkumpulan kita, tidak sepatutnya kalau kita pandang enteng atau memandang cemooh kepadanya, aku harap soal ini dapat kau ingat selalu didalam hati"

Setelah keadaan berubah menjadi begini, kendatipun dihati kecilnya Huan Tong merasa sangat tak puas dengan ucapan tersebut, toh terpaksa juga dia harus manggut-manggut sambil mengiakan berulang kali.

Jilid 11 SEPANJANG pembicaraan itu berlangsung, Hoa In-liong dengan pandangan matanya yang tak berkedip selalu mengawasi setiap gerakan dan tingkah laku Kiu-im-kaucu, mendengarkan pula setiap perkataan yang diucapkan olehnya.

Dari hasil pengamatannya itu, kesan pertama yang melintas dalam benaknya adalah Kiu-imkaucu seorang perempuan itu berotak brilian dan betul-betul seorang musuh yang sukar ditandingi.

Sekalipun Kiu-im-kaucu memuja ayahnya setinggi langit dan menunjukkan sikap hormatnya, akan tetapi Hoa In-liong juga bukan seorang pemuda yang bodoh, makin melangit pujian perempuan itu makin tinggi kewaspadaannya terhadap orang tersebut.

"Apa yang sebenarnya telah terjadi?"

Demikian ia terpikir dalam hatinya.

"Jelek-jelek Huan-tong adalah seorang tongcu perkumpulan Kim-im-kau. Lagipula diapun kedudukannya sebagai seorang tamu kehormatan, tidak sepantasnya kalau Kiu-im-kaucu mengucapkan kata-kata "

Masih banyak mengandalkan dirimu dalam persoalan"

Dan sebangsanya dihadapan orang lain. Sebenarnya apa yang dia butuhkan?"

Baca Juga: Pedang Kayu Cendana Gan Kh

Baca Juga: Pendekar Bunga 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert