Ceritasilat Novel Online

Rahasia Hiolo Kumala 2

Eps 2 Rahasia Hiolo Kumala - Gu Long

Baca online Rahasia Hiolo Kumala - Gu Long

Cersil Rahasia Hiolo Kumala - Gu Long.

Hoa In-liong menangkis dengan pedangnya sehingga berbunyi nyaring, begitu ia punahkan datangnya ancaman tersebut, segera ujarnya sambil mendengus.

"Hmm Tampaknya sebelum kuberi sedikit pelajaran kepadamu, kau tak akan mengakuinya dengan terus terang."

Dalam bentrokan itu, Siau Ciu merasakan pergelangan tangannya bergetar keras dan hampir saja pedangnya tak sanggup digenggam.

Meski hatinya terkejut tapi api cemburu yang berkobar dalam hatinya mengalahkan segala-galanya, tanpa berpikir panjang hawa murninya kembali disalurkan ke dalam senjatanya.

"Tak ada gunanya bersilat lidah, kalau memang ampuh, sambut dulu tiga buah seranganku ini."

Bentaknya. Tapi sebelum ucapannya selesai diutarakan keluar Hoa In-liong telah menyambung dengan suara dalam.

"Baik Dalam tiga gebrakan, aku akan memaksa kau untuk melepaskan pedangmu itu."

Berbareng dengan selesainya ucapan tersebut, tubuh berikut pedangnya menerjang ke muka dan sekejap kemudian sudah terjerumus dalam lingkaran cahaya pedang Siau Ciu.

Dalam permainan silat orang memang tak bisa berpura pura, maka berbareng dengan selesainya ucapan itu, terjadilah tiga kali benturan pedang yang amat nyaring, disusul kemudian serentetan cahaya putih meluncur ke angkasa kemudian meluncur ke arah sebatang pohon besar enam tujuh kaki dari arena pertarungan, ketika menancap di atas dahan, gagang pedangnya masih bergetar keras tiada hentinya.

Selesai memukul rontok senjata musuh, Hoa In-liong masukkan kembali pedangnya ke dalam sarung kemudian sambil memandang Siau Ciu yang mundur dengan ketakutan, ujarnya tawa.

"Bagaimana? Apakah engkau masih ingin berkeras kepala terus??"

Siau Ciu terbelalak dengan mata lebar, dadanya turun naik dengan tiada beraturan, dapat diketahui bahwa ia merasa kaget bercampur gusar, sukar dilukiskan perasaan hatinya waktu itu.

Hoa In-liong mendengus dingin, kembali ujarnya.

"Terus terang kukatakan kepada diri Siau-heng bahwa aku Hoa-loji telah mendapat perintah dari ayahku untuk menyelidiki peristiwa yang menimpa keluarga Suma hingga jadi terang, dan sampai sekarang engkaulah titik terang yang berhasil kutemukan, mustahil aku Hoa teji bersedia untuk melepaskan engkau dengan begitu saja, maka jika engkau cerdik dan pandai melihat gelagat, lebih baik berbicaralah terus terang, kalau tidak. ..Hmm Hm Kendatipun aku berhati welas, akupun mempunyai kemampuan untuk melakukan penyiksaan dengan ilmu Ngo-im-soh-hun (panca hawa dingin pembetot sukma) serta Ban-gi-coan.sim (selaksa semut menerobos Hati) yang akhirnya toh bisa memaksa kau untuk menjawab sejujurnya.... bagaimana? Kau lebih mendengarkan anjuranku ataukah tetap bersikeras?"

Siau Ciu memutar sepasang biji matanya, kemudian menjengek dengan nada dingin.

"Heeehh...heeehhh heeehh.... sudah lama kudengar keluarga Hoa dari bukit Im-tiong-san berbudi luhur, berjiwa besar dan berpribadi seorang ksatria, tapi setelah bertemu hari ini, aku jadi ketawa dan benar-benar kectawa sekali...."

"Eeeh, hati-hati kalau berbicara!"

Tukas Hoa In-liong memperingatkan.

"jangan sembarangan ngomong sehingga tidak akan sampai tersambar petir, Kalau sampai terjadi begitu, itu namanya mencari penyakit buat diri sendiri.."

Siau Ciu mendengus dingin.

"Hoa jiya, apakah kau hendak mengandalkan ilmu silatmu yang tinggi untuk memaksa orang agar menuruti nasehatmu itu?"

Mula-mula Hoa In-liong agak tertegun, menyusul kemudian ia tertawa terbahak-bahak.

"Haaaahhh haaaahh.....haaaahh.... benar-benar selembar mulut yang tajam!"

Serunya.

"tapi sayang Siau-heng telah salah menilai atas diriku. Ketahuilah bahwa Hoa teji berbeda dengan orang lain, menghadapi urusan apapun aku lebih menitik beratkan pada suksesnya tujuan yang harus dicapai daripada segala persoalan yang tetek bengek. Mau menilai aku jujur boleh saja, mau menilai aku tak tahu diri juga silahkan, aku tak akan ambil peduli apalagi memikirkan dihati, mengerti saudara Siau?"

Tercekat juga perasaan hati Siau Ciu setelah mendengar perkataan itu, tapi dia terhitung seorang pemuda yang berjiwa panas juga, tentu saja tak sudi menyerah begitu saja, maka setelah berhenti sebentar sahutnya ketus.

"Aku sudah mengerti, dan soal membegal kuda maupun membunuh orang sauya sama sekali tidak tahu."

"Benar?"

Teriak Hoa In-liong terperanjat, sinar tajam memancar keluar dari matanya. Tiba-tiba Siau Ciu menengadah lalu mendengus.

"Hmm Akupun ingin memberitahukan kepada Hoa-heng, meski aku orang she-Siau tidak mempunyai asal usul yang tersohor, tidak memiliki ilmu silat yang menggetarkan sukma, tapi aku mempunyai sifat yang angkuh, apa yang kuucapkan tak pernah diputar balikkan dari kenyataan."

"Haaaah haaaah haaaah......bagus, bagus sekali,"

Hoa In-liong terbahak-bahak.

"lunak tidak diterima, keras tak ditakuti, kau memang laki-laki sejati. Nah, berhati-hatilah......"

Sebagai keturunan manusia, dalam darah yang mengalir dalam tubuh Hoa In-liong terdapat kejujuran dan kepolosan Hoa-Thian-hong, namun terdapat pula kekejaman serta kecerdikan Pek Kun-gi, seringkali perbuatan yang akan dilakukan olehnya menyimpang dari keadaan yang berlaku pada umumnya.

Pada saat itu lengan kanannya sudah diangkat,juri tangannya seperti tombak yang keras ditunjukkan ke depan sementara tubuhnya selangkah demi selangkah maju mendekati tubuh Siau Ciu.

Gaya serangan dari jari tangannya yang kaku seperti tombak itu aneh dan tidak umum, jari telunjuknya diluruskan ke depan sementara jari tengahnya ditekuk keadaan ini aneh sekali.

Pada hakekatnya inilah jurus pembukaan dari ilmu Ci yu-jit-ciat (tujuh kupasan dari Ci-yu), ketika Hoa-Thian-hong baru mempelajarinya belum lama tempo-hari, dengan kepandaian tersebut ia bisa membuat Yan-san-it-koay dari perkumpulan Hong-im-hwee yang amat tangguh itu pontangpanting tak karuan (untuk mengetahui cerita ini silahkan membaca.

Bara-Maharani) .

Maka ketika dipraktekkan oleh Hoa In-liong sekarang, segera terlihatlah betapa kacau dan banyak raganya tipu muslihat dibalik serangan tersebut.

Tampaknya Siau Ciu tak akan lolos dari serangan maut tersebut.

Tiba-tiba terdengar Wan Hong-giok berteriak dengan suara gemetar.

"Pek-Khi, Pek hey, tahan Tahan Jangan kau lancarkan serangan itu."

Sesosok bayangan merah dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat telah menerjang maju ke depan Hoa In-liong sebera menarik kembali serangannya, dan sekali sambar ia telah merangkul bayangan merah itu ke dalam pelukannya.

"Ada apa?"

Tegurnya.

"perkataan apalagi yang hendak kau ucapkan keluar?"

Wai-Hong-giok tidak menjawab pertanyaan itu sambil meronta untuk melepaskan diri dari rangkulan orang, ia berpaling dan serunya dengan gelisah.

"Siau suheng, katakanlah terus terang, apa gunanya kau pikul dosa bagi kepentingan orang lain."

Penonton biasanya lebih jelas daripada pelakunya, demikian pula halnya dengan Wan Hong-giok oleh karena pertama ia terdesak oleh hubungannya sesama perguruan, ketika menyaksikan sikap Hoa In-liong yang aneh dan ilmu silatnya yang tinggi itu, jika serangan tersebut dilancarkan Siau Ciu benar-benar akan menderita siksaan besar.

Kedua mungkin juga nona ini mengetahui lebih jelas duduknya persoalan, dan ia merasa tak ada gunanya "memikul dosa demi kepentingan orang lain" , ini berarti pula bahwa dibalik ke semuanya itu masih terdapat hal-hal yang tidak beres.

Ketika mendengar ucapan itu, Hoa In-liong segera jadi curiga, dengan tatapan mata setajam sembilu dia mengawasi Siau Ciu tanpa berkedip.

ia sedang menantikan jawabannya.

Apa mau dikata Siau Ciu mempunyai rasa cemburu yang sangat besar, kunci terpenting dalam masalah ini terletak pada Wan Hong-giok seorang.

Andaikata nona itu tidak buru-buru menubruk ke depan sehingga dirangkul Hoa In-liong ke dalam pelukannya, mungkin perubahan yang terjadi agak lebih sederhana.

Tapi sekarang, setelah Wan-Hong giok terjatuh dalam pelukan mesra laki-laki lain, hawa cemburu yang terkobar dihati Siau Ciu semakin menebal, dan sikapnya pun jauh diluar dugaan pula.

Siau Ciu berparas tampan dan menarik.

diapun berpandangan picik, terlampau menuruti emosi.

Meski asal usul dari ilmu pedang tangan kirinya merupakan suatu teka-teki, namun yang pasti ilmu silatnya terhitung kelas satu dalam dunia persilatan.

Dia adalah saudara seperguruan dengan Wan Hong-giok dan boleh dibilang sepasang sejoli yang amat cocok.

sayang Wan Hong-giok tidak tertarik oleh suhengnya ini dan setiap kali justru berusaha untuk menghindari kejaran dari kakak seperguruannya ini.

Untuk kegiatannya itu, Siau Ciu merasa sangat penasaran, apalagi sekarang setelah dilihatnya Hoa In-liong berparas tampan, asal usulnya populer dan ilmu silatnya lebih tinggi ditambah pula sumoaynya tidak menolak waktu dirangkul, sebagai seorang pemuda yang berpandangan picik, tentu saja keadaan ini tak dapat diterima dengan begitu saja olehnya.

Meski demikian sebagai orang yang berpikiran panjang dan mempunyai banyak tipu muslihat, tak sudi ia utarakan ketidaksenanganya itu dengan jelas, otaknya berputar kemudian ujarnya dengan dingini "Sumoay, ku suruh aku mengatakan apa?"

"Supek telah berusia lanjut, di hari-hari biasa beliau selalu melarang suheng untuk jauh meninggalkannya, tapi kali ini demi siaumoay kau telah melanggar perintah guru dan mengejar ke daratan Tionggoan, aku tahu bahwa engkau tidak mempunyai sangkut pautnya dengan peristiwa berdarah yang menimpa keluarga Suma...."

"Jadi sumoay sudah tahu perasaan hatiku?"

Seru Siau Ciu dengan suara hambar.

"Tentu saja su-moay tahu,"

Sahut Wan Hong-giok dengan kening dikerutkan.

"tapi....tapi...."

"Hmm...... Kalau sumoay sudah tahu itu lebih baik lagi, mari kita pulang ke rumah."

Wan Hong-giok tidak segera menjawab, dia melirik sekejap ke arah Hoa In-liong, ketika dilihatnya pemuda itu sedang mengawasi Siau Ciu tanpa berkedip, ia lantas mengira bahwa pemuda itu sedang mengawasi gerak-gerik kakak seperguruannya.

Dengan hati yang amat gelisah segera katanya.

"Tidak bisa Kita tak boleh pulang dengan begitu saja, Hoa kongcu menaruh kesalahan paham terhadap suheng, ia mengira kau mencuri kudanya dan membinasakan pula Suma siok-nya, maka sudah sepantasnya jika suheng memberi penjelasan, kepadanya agar perselisihan dapat dihindari, selain menghilangkan kesalahan paham tersebut kitapun tak akan mengganggu usaha Hoa kongcu untuk menyelidiki pembunuh yang sebenarnya."

Maksud nona itu dengan perkataannya ini antara lain kesatu, ia memberi kisikan kepada Hoa Inliong bahwa apa yang telah terjadi hanya suatu kesalahpahaman, kedua diapun hendak menghilangkan bibit bencana bagi Siau Ciu.

Bagi Hoa In-liong yang berpikiran lebih luas, tentu saja maksud tersebut dapat diterima olehnya berbeda dengan Siau Ciu, ia sudah terpengaruh oleh nafsu cemburu, arti diri kata-kata itu justru di maksudkan sebaliknya.

Diam-diam ia mendengus dingin, pikirnya.

"Bagus! Rupanya kalian sudah seia sekata, sampai dalam pembicaraanpun saling membela. Hmmm sekalipun aku Siau Ciu tak berhasil mendapatkan kau, jangan harap kaupun bisa mendapatkan bocah keparat she-Hoa itu, tunggu saja tanggal mainnya."

Meski dalam hati kecilnya sudah timbul niat jahat, perasaan tersebut tidak dicerminkan di atas wajahnya, malahan sambil berlagak apa boleh buat ia berkata.

"Aaaah baiklah, mari kita berjabatan tangan dan damai saja."

Sambil merangkap tangannya, dia lalu menjura ke arah Hoa In-liong dari tempat kejauhan.

Hoa In-liong sendiripun dari pembicaraan tersebut dapat menarik kesimpulan bahwa Siau Ciu baru datang ke daratan Tionggoan, itu berarti bahwa ia tak mungkin ada sangkut pautnya dengan peristiwa berdarah yang menimpa keluarga Suma, ia pun lantas menduga bahwa dirinya memang sudah menaruh rasa salah paham, siapa tahu kalau kuda Liong-jinya bisa terjatuh ke tangannya lantaran sebab-sebab lain??

Kendatipun dia binal dan tak tingkah lakunya, tapi kegagahan serta kebesaran jiwa keluarga Hoa menurun pula dalam darahnya.

Karena berpendapat demikian, dan lagi Siau Ciu sudah memberi hormat dan bersedia berjabatan tangan untuk damai, dengan langkah lebar dia lantas menyongsong pemuda tersebut.

"Haah....haaaaah haaaahhh..... bagus.... bagus..... bagus..... Mari kita berjabatan tangan untuk damai,"

Katanya sambil tertawa tergelak.

"asal Siau-heng bersedia untuk menuturkan hal ikhwal waktu mendapatkan kuda ini, siaute segera akan mengakhiri persoalan hampai disini saja, apalagi kalau aku bisa menemukan jejak musuhku dari pembicaraan tersebut, siaute akan lebihlebih merasa berterima kasih lagi."

Seraya berkata ia lantas mengulur tangan kanannya dan siap menggenggam tangan Siau Ciu. Sekilas senyum licik menghiasi ujung bibir Siau Ciu, katanya pula dengan berlagak pilon.

"Benarkah engkau akan menyudahi persoalan ini sampai disini saja, bila kuterangkan kisah yang sebenarnya?"

Diapun menjulurkan tangannya untuk menyambut telapak tangan lawannya. Ketika dua tangan saling bertemu, Hoa In-liong manggut-manggut berulang kali.

"Tentu saja, tentu saja siau-te sudah salah menuduh, harap Siau-heng bersedia memaafkan "

Belum habis ucapan tersebut diutarakan, tiba-tiba terdengar Wan Hong-giok menjerit lengking.

"Hei...hati-hati..."

Menyusul teriakan tersebut, bayangan saling menggumul dan salah seorang diantaranya melancarkan sebuah tendangan yang mengakibatkan orang yang lain mencelat jauh ke belakang.

"Sungguh keji perbuatanmu."

Teriakan keras-menggema di angkasa. Wan Hong-giok sangat terkejut, sambil menjerit buru-buru dia lari maju ke depan.

"Siau Ciu memang berhati busuk. rupanya pada jari tengah tangan kanannya mengenakan sebuah cincin yang besar, ruang tengah dari cincinnya itu kosong dan bersembunyi jarum beracun. Ketika saling berjabatan tangan tadi, diam-diam ia telah memencet tombol rahasianya siap membidikkan jarum-jarum mautnya. Hoa In-liong sama sekali tak menduga sampai kesitu, maka ketika tangan mereka saling berjabatan tangan mendadak tangan kirinya diangkat menyodok iga kanan musuhnya sementara jarum maut itu dibidikkan keluar. Sebenarnya menurut keadaan pada waktu itu, semestinya tiada kesempatan bagi Hoa In-liong untuk meloloskan diri, apa mau dikata perhitungan manusia tak menangkan perhitungan langit, Wan Hong-giok segera menyadari kelicikan suhengnya dan Hoa In-liong pun cekatan dan amat cerdik sekali. Begitu mendengar jeritan, cepat ia memburu maju ke depan, tubuhnya membungkuk dan telapak tangan kanannya ditekan ke bawah, sementara kaki kanannya tiba-tiba diangkat ke atas dan menendang tubuh Siau Ciu keras-keras. Dldalam serangannya itu, ia lancarkan dalam keadaan gusar dan bertenaga besar, Iagipula tepat menghajar iga sebelah kirinya, seketika itu juga tubuh Siau Ciu mencelat ke tengah udara tulang iganya patah dua biji, isi perutnya menderita luka parah dan tak bisa dicegah lagi sambil muntah darah tubuhnya roboh terjengkang di atas tanah dan tak mampu bangkit berdiri lagi. Hoa In-liong masih penasaran, begitu berhasil menendang musuhnya sampai mencelat dia segera melompat ke depan, dia siap memburu maju lebih jauh... Untunglah Wan Hong-giok segera memburu ke depan, dia menangkap lengannya, ia berteriak dengan perasaan ngeri.

"Hoa kongcu, tunggu sebentar"

"Orang ini terlalu keji dan licik sekali hatinya Hoa teji tak dapat mengampuni jiwanya!"

Teriak Hoa In-liong dengan amarah yang meluap-luap.

"Tapi yang penting periksa dulu apakah engkau sudah terkena jarum beracunnya?"

Kata Wan Hong-giok dengan gelisah.

"Ketahuilah bahwa racun yang terdapat di ujung jarum itu sangat jahat dan tak ada obat penawarnya, bila sampai bertemu dengan darah maka jiwamu akan terancam mara bahaya."

Hoa In-liong mendengus dingin.

"Hmmm Aku Hoa teji tidak mempan diracuni, apalagi jarum beracun macam itu, tak mungkin bisa mengapa-apakan diriku...."

Lengan kanannya segera digetarkan siap melepaskan diri dari cengkeraman Wan Hong-giok, apa mau dikata baru saja lengan kanannya digerakkan, ia segera merasakan sikutnya sudah kesemutan dan kaku, lengan itu tak kuat rasanya untuk digerakkan kembali.

Waktu melancarkan sergapan tadi, Siau Ciu menyerang dari jarak yang sangat dekat, kendatipun Hoa In-liong cukup cekatan dan tubuhnya terlindung oleh kaus kutang pelindung badan, namun jarum lembut seperti bulu kerbau yang jumlahnya mencapai dua tiga puluh biting itu sukar di hindari keseluruhannya, tanpa dirasakan olehnya bahwa ada empat-lima batang diantaranya sudah menancap dibagian sikutnya.

Wan Hong-giok cukup memahami kelihayan dari racun jarum itu, ketika dilihatnya paras muka Hoa In-liong agak berubah, ia jadi terperanjat dan buru-buru serunya.

"Bagaimana? Apakah lengan kananmu sudah tak dapat digerakkan lagi?"

Tiba-tiba Siau Ciu tertawa seram, lalu ujarnya pula dengan suara yang mengerikan.

"Sumoay, racun jarum perguruan kita amat lihay dan siapa yang terkena tak mungkin bisa ditolong lagi, tunggu saja disitu untuk mengurusi layon Hoa loji."

Dengan sempoyongan dia bangkit berdiri lalu kabur dari situ menuju ke arah utara.

Ketika mendengar seruan tersebut, Wan Hong-giok berpaling, ia saksikan paras muka Siau Ciu pucat pias seperti mayat, noda darah membasahi dadanya, tak kuasa lagi ia bangkit dan menyusul dari belakangnya.

"Suheng....Siau suheng... tunggulah aku!"

Teriaknya keras-keras. Tapi baru lari sejauh dua kaki, tiba-tiba ia berhenti dan berpaling, teriaknya pula.

"Hoa kongcu, lenganmu...."

Sebelum kata-katanya sempit diutarakan keluar air mata bagaikan layang-layang putus benangnya sudah mengucur ia menangis terisak.

Kasihan memang Wan Hong-giok.

posisinya saat itu boleh dibilang serba salah, disatu pihak Siau Ciu adalah kakak seperguruannya, dilain pihak Hoa In-liong adalah pemuda idaman hatinya, dan sekarang kedua belah pihak sama-sama terluka, ia jadi bingung dan apa yang harus dilakukan, menolong kakak seperguruannya ataukah menolong pemuda pujaan hatinya.

Hoa In-liong segera menghela napas panjang setelah melihat nona itu menangis terisak.

katanya sambil mengulapkan tangan.

"Pergilah suhengmu menderita luka parah yang cukup parah, pergi dan rawatlah dia."

"Dan kau...."

Bisik Wan Hong-giok sambil menahan isak tangisnya. Hoa In-liong tertawa tawa.

"Aaah... racun jarum itu tak seberapa hebat, tak nanti bisa mencelakai jiwaku,"

Katanya. Tapi Wan Hong-giok masih juga menangis tersedu.

"Jarum beracun itu terbuat dari sembilan buah racun lebah ditambah tujuh jenis tumbuhtumbuhan berbisa, bila terkena darah maka tubuh manusia yang terkena akan segera mencair"

"Haaahh...,haaahhh,....haaahh.... kalau bisa mencair tubuhku telah mencair sedari tadi. Pergilah Kalau tidak berangkat mulai sekarang, kau akan gagal untuk menyusul dia lagi."

Wan Hong-giok kembali tertegun, dia menatap wajah anak muda itu tajam-tajam, ditemuinya senyum manis masih menghiasi wajah, kecuali lengan kanannya agak lumpuh, di atas paras mukanya tidak ditemukan gejala lain yang mencurigakan.

Menyaksikan kesemuanya itu ia jadi setengah percaya setengah tidak.

akhirnya rasa kuatirnya terhadap Siau Ciu mengalahkan segala galanya, maka bisiknya dengan lirih.

"Kalau begitu, baikbaiklah menjaga diri......"

Hoa In-liong ulapkan tangannya berulang kali.

"Aku bisa menjaga diriku sendiri, justru kaulah yang harus bersikap mesra terhadap suhengmu,"

Katanya sambil tertawa.

Rasa murung dan sedih terpancar keluar dari balik tatapan mata Wan Hong-giok, bibirnya bergetar seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya maksud itu dibatalkan, mendadak ia putar badan dan berlalu dari tempat.

"Nona Wan,"

Tiba-tiba Hoa In-liong memanggil lagi. Wan Hong-giok segera berhenti dan berpaling.

"Ada apa?"

Tanyanya lirih.

"Suhengmu telah lupa membawa pergi pedang pusakanya, bawakan pedang itu untuknya. Wan Hong-giok menghela nafas sedih, ia berjalan ke bawah pohon besar itu dan mencabut pedang mustika tersebut, setelah memandang sekejap kea-rah Hoa In-liong dengan tatapan mesra, dia baru melanjutkan pengejarannya menuju ke arah mana Siau Ciu melenyapkan diri. Saat itu tengah hari telah menjelang tiba, sang surya memancarkan sinarnya dari tengah-tengah awang-awang. Memandang bayangan punggung Wan-Hong giok yang lenyap di tempat kejauhan, Hoa In-liong merasakan hatinya sedih dan murung, tak kuasa lagi dia bersenandung.

"Yang laki cinta apa daya yang perempuan tak tertawa. sedih dan murung hatiku menyaksikan kesemuanya ini.... Bila hati telah bersatu padu, biar mati-mati dengan hati yang tenang"

Akhirnya ia menghela napas panjang, setelah gelengkan kepalanya, memeriksa lengan kanannya, perlahan-lahan anak muda itu naik ke punggung kuda Liong-ji dan kembali ke kota Lok yang.

KETIKA tiba kembali di kota Lok-yang, tengah hari sudah menjelang tiba, saat itu adalah waktu orang bersantap siang, banyak sekali orang yang berlalu lalang masuk keluar dari dari rumah makan, suasana ramai sekali.

Ketika sang pelayan menyaksikan Hoa In-liong telah kembali, buru-buru maju menyongsongnya, sambil menerima tali les kuda ia berkata.

"Kongcu, kapan kau meninggalkan rumah penginapan? Ketika tidak melihat kongcuya bangun kami tak berani mengganggunya, kemudian ketika menemukan kudanya sudah tiada, kami membuka kamar tidur kongcu-ya, semua orang merasa lebih tercengang lagi setelah dilihatnya tempat tidur masih teratur rapi dan buntalan masih ada disana."

Hoa In-liong sedang murung dan kesal, ia tidak berniat untuk menjawab, setelah mendengus la turun dari kudanya dan langsung masuk ke dalam rumah penginapan.

Pelayan itu menyerahkan kuda yang diterimanya itu kepada orang lain, kemudian mengejar ke depan, katanya lagi.

"Dikota ini banyak terdapat gadis-gadis cantik jelita yang menjual diri untuk mencari sesuap nasi, meski paras mereka cantik jelita tapi selalu menganggap tingkatannya rendah, kalau aku tahu bila kongcu-ya suka dengan hal ini, cukup kau memberitahukan kepadaku, aku cu siau-cit pasti...."

Rupanya pelayan itu mengira kalau Hoa In-liong semalam tidak pulang ke rumah penginapan karena sedang menghibur diri di rumah pelacuran, maka ia hendak menggunakan kesempatan tersebut untuk mencari keuntungan pribadi.

Apa mau di kata baru saja berbicara sampai ke situ, mendadak dia temukan pakaian yang dikenakan tamunya tidak teratur dan lagi bagian dada serta punggungnya telah robek.

Ini menyebabkan dia jadi tertegun.

Segera tanyanya lagi dengan wajah keheranan.

"Eeeh....Kongcu-ya, kenapa keadaanmu sangat mengenaskan? Apa yang telah terjadi??"

Hoa In-liong jadi amat jemu dengan sikap pelayan ini, dengan agak mendongkol bentaknya.

"Aaah, kamu cerewet amat....."

Kemudian setelah berhenti sebentar, tanyanya pula.

"Apakah kemarin malam ada orang mencari aku?"

Mula-mula pelayan itu agak tertegun karena di bentak, menyusul kemudian sambil membungkukkan badannya ia menyahut.

"Oooh... tidak ada, tidak ada...."

"Kalau begitu, kau tak usah cerewet lagi, sana siapkan santapan bagiku dan antar ke dalam kamar"

Pelayan itu tak berani banyak bicara lagi, dia mengiakan berulang kali lalu mengundurkan diri dari sana.

Setelah membersihkan badan, seorang diri Hoa In-liong bersantap dalam kamarnya, sambil bersantap tanpa terasa dia membayangkan kembali pengalaman yang ditemuinya semalam.

Pertama-tama ia membayangkan kembali diri nyonya Yu, paras muka nyonya tersebut memang cantik dan ilmu silatnya biasa-biasa saja, ia menyebut dirinya sebagai gundik Suma Tian-cing, ditinjau dari pengetahuannya tentang gerak-gerik tingkah laku serta kebiasaan Suma Jin, rasanya soal ini tak perlu dicurigakan lagi.

Tapi secara diam-diam ia telah menyergap dirinya, kemudian menyediakan pula obat racun yang disembunyikan di dalam peti mati, dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa nyonya itu memang sengaja telah disusupkan oleh pembunuhnya untuk melaksanakan tugas tersebut.

Suma Tiang-cing bergelar Kiu-mia-kiam-khek (jago pedang berjiwa sembilan), bukan saja ilmu silatnya lihay, pengetahuan maupun pengalamannya luar biasa luasnya, tipu muslihatnya macam apapun sulit untuk mengelabui ketajaman matanya, tapi nyonya Yu sudah bertahun-tahun lamanya menyelinap dalam keluarganya, namun ia tak berhasil mengetahui rahasia tersebut, dari sini dapat diketahui pula bahwa semua rencana itu disusun oleh sang pembunuh dengan sempurna sekali.

"Nyonya Yu ku memang menakutkan sekali, agaknya sudah lama sekali Si pembunuh itu menentukan dan memerintahkan untuk menyusup ke dalam keluarga Suma-siok-ya, kalau bukan seorang manusia yang berhati teguh dan berwatak jahat, tak mungkin pembunuh itu dapat menyusun rencana jangka panjangnya sesempurna ini."

Berpikir sampai disitu, tanpa terasa lagi keringat dingin membasahi seluruh badan Hoa In-liong, ia merasa jantungnya berdebar keras, dan pemuda ini semakin sadar bahwa rintangan-rintangan yang bakal ditemuinya akan semakin banyak.

bukan suatu pekerjaan yang gampang baginya untuk menyelesaikan tugas tersebut.

Sekalipun tidak gampang untuk diselesaikan lantas bagaimana?

Suma Tiang-cing adalah saudara angkat dari kakeknya Hoa-Goan-siu, hubungan mereka lebih akrab dari pada saudara kandung sekali, sebagai keturunan dari keluarga kenamaan sekalipun tak ada perintah dari ayah atau neneknya Hoa-loji harus menyelesaikan juga tugas itu sebisa mungkin.

Dia angkat cawan dan menghabiskan isinya, kemudian berpikir lebih jauh, kali ini ia terbayang kembali akan diri nona baju hitam beserta pembantunya yang misterius.

Menurut pengakuan nona berbaju hitam, orang yang membunuh Suma siok-yanya adalah seorang pemuda dari marga Ciu, orang itu hanya seorang kepala regu perkumpulan Hian-bengkau yang tak ada artinya, sedangkan nyonya Yu dikatakan sebagai anak buah Ciu kongcu itu, setelah dipikir beberapa saat anak muda ini pun merasa bahwa kejadian ini janggal dan tak masuk di akal.

Pertama.

orang she Ciu itu disebut kongcu, itu berarti bahwa usianya tidak terlampau besar, kalau dibilang jauh beberapa tahun berselang Ciu kongcu telah mengutus nyonya Yu untuk menyusup ke samping Suma Tiang-cing, maka hal ini rasanya tak mungkin terjadi.

Kedua.

Ketika akan meninggalkan rumah, ayah dan neneknya telah menyatakan rasa curiganya terhadap Giok-teng hujin yang ada kemungkinan merupakan otak dari pembunuhan berdarah itu.

Berdasarkan beberapa alasan tersebut, diapun lantas berpikir, Jangan-jangan pemimpin perkumpulan Hian-beng-kau adalah Giok-teng hujin dan nyonya Yu diutus Giok-teng hujin untuk melaksanakan pembunuhan tersebut dan Ciu kongcu paling banter hanya bertugas untuk mengawasi pelaksanaan dari pembunuhan itu, siapa tahu memang begitulah jalannya peristiwa?

Ia dapat menduga sampai kesitu karena tiba-tiba pemuda itu teringat kembali akan Hek-ji si kucing hitam yang dipelihara nyonya Yu.

Menurut apa yang diketahui olehnya, Suma siok-yanya suami istrinya terbunuh ketika tertidur nyenyak.

pada tenggorokan mereka terdapat bekas luka seperti digigit oleh sejenis binatang.

Meskipun Hek-ji cuma seekor kucing hitam, tapi cakar dan giginya runcing dan tajam, gerakgeriknya secepat angin dan pandai sekali bertempur, ditinjau dari majikannya yakni nyonya Yu adalah mata-mata yang diutus sang pembunuh untuk menyusup ke dalam keluarga Suma, maka dapatlah diduga bahwa Hek-ji itulah pelaksana pembunuhan, sedangkan nyonya Yu adalah pemilik dari binatang pelaksana pembunuhan tersebut.

Sekarang diapun sudah tahu kalau Ciu kongcu masih di kota Lok-yang, maka setelah berpikir beberapa waktu ia merasa bahwa tindakan yang harus dilaksanakan sekarang adalah mencari Ciu kongcu seru menyelidiki siapa gerangan "otak"

Dari pembunuhan itu Kendati begitu, ia tidak segera melaksanakannya, malahan sambil bertopang dagu anak muda itu melamun lebih jauh.

Sebagai keturunan keluarga Hoa, Hoa In-liong memang gagah dan berjiwa ksatria, tapi sifatnya yang romantis membuat pemuda ini tak boleh bertemu dengan perempuan cantik.

Tiba-tiba ia teringat kembali akan sikap si nona baju hitam yang bersembunyi dalam ruang sembahyangan, dari gerak-geriknya nona itu tampaknya sedang menyelidiki rahasia perkumpulan Hian-beng-kau, dan ia merasa orang itu mempunyai hubungan yang erat dengan dirinya, ia masih ingat pula dengan perkataan dari Si Nio.

Jika kita bunuh bocah keparat ini, maka keselamatan loya akan tertolong."

Ditinjau dari sini maka dapat ditarik kesimpulan bahwa keselamatan ayah dari nona baju hitam itu terancam bahaya, dan nasibnya cukup memilukan hati.

Sebagai seorang pemuda yang cerdik, hanya menganalisa sebentar saja dia lantas mengetahui bahwa nona baju hitam itu bukannya tanpa alasan tertentu ketika memberi keterangan kepadanya.

Nona baju hitam itu pernah berkata begini.

"Menurut perasaan siau-li, dunia persilatan sedang menuju perubahan yang amat besar, kematian Suma Tiang-cing tak lebih hanya korban penasaran pertama yang harus ditanggung demi kepentingan orang lain."

Sekarang kalau dicocokkan kembali dengan pesan dari ibunya, maka rasanya persoalan ini ada kemiripannya meskipun berlawanan waktunya.

Diapun teringat kembali dengan perbuatan Si Nio yang akan meracuni dirinya serta mencabut jiwanya, dari masalah ini dapat ditarik kesimpulan bahwa nona baju hitam dan pembantunya di tekan oleh seseorang untuk melakukan pembunuhan tersebut, dan korbannya bukan dia seorang melainkan setiap anggota keluarga Hoa.

Atau tegasnya ayah dari nona baju hitam ini di sekap orang, bahkan kemungkinan besar jiwanya terancam, dan mereka berdua dipaksa untuk memusuhi dan membunuh anggota keluarga Hoa demi menyelamatkan jiwa ayahnya itu.

Hoa In-liong telah memandang keterangan yang diberikan nona baju hitam itu sebagai suatu peringatan, maka serta-merta diapun merasakan betapa seriusnya yang sedang dihadapi sebab jelas musuh dibalik tirai yang sedang dihadapinya sekarang adalah musuh tangguh yang khusus memusuhi keluarga Hoa.

Tercekat juga perasaan hatinya setelah menerapkan kesimpulan terakhir itu, pada mulanya dia ada niat untuk kembali ke perkampungan Liok soat sanceng untuk melaporkan kejadian ini kepada ayah dan neneknya, tapi ingatan lain segera melintas dalam benaknya.

"Nenek dan ayah telah menyerahkan tugas ini kepadaku, aku mana boleh pulang ke rumah sebelum berhasil menemukan jejak dari pembunuhnya. selama ini aku Hoa Yang dianggap seorang pemuda bergajul dalam pandangan orang rumah, kenapa tidak kumanfaatkan kesempatan yang sangat baik ini untuk membuktikan diri bahwa akupun bukan manusia tak berguna, siapa tahu kalau usahaku berhasil dan namaku ikut tersohor pula dalam pandangan orang lain?"

Memang demikianlah watak seorang pemuda yang masih berjiwa panas, setelah mengambil ketetapan dihati, iapun tersenyum dan meneguk habis isi cawannya.

Selesai bersantap ia kenakan jubah sutera yang halus, membawa pedang menggoyangkan kipas dan berjalan keluar dari kamarnya dengan langkah yang santai.

Dikatakan ia akan keluyuran sebenarnya tak cocok sebab pada saat ini ia berhasrat untuk keliling kota sambil berharap dapat berjumpa dengan Kong-cu she-Ciu itu, dan lebih-lebih berharap dapat bertemu sekali lagi dengan nona berbaju hitam itu.

Tapi Nona berbaju hitam itu tak ada tempat tinggal yang tetap tidak diketahui pula namanya, sedang Ciu kongcu belum pernah ditemui, bagaimana tampangnya juga tak diketahui olehnya.

maka ingin berjumpa dengan mereka boleh diibaratkan mencari jarum di dasar samudra, bukan suatu pekerjaan yang gampang.

Sang surya telah condong ke barat, malampun menjelang tiba, cahaya lampu telah menerangi seluruh kota, tapi tiada suatu hasilpun yang berhasil ditemukan.

Ketika dalam perjalanan kembali ke rumah penginapan, kebetulan ia lewat dijalan raya sebelah timur sewaktu lewat di depan pintu gerbang keluarga Suma mendadak satu ingatan terlintas dalam benaknya, ia lantas berpikir.

"Sudah beberapa hari Suma siok-ya terbunuh, namun layonnya belum dikebumikan dan masih bersemayam dalam ruang tengah, keadaan ini bukan saja dapat membuat tak tenangnya arwah siok-ya bahkan bisa pula digunakan pihak lawan untuk menyiapkan jebakan dan memancing rekan-rekan sealiran masuk perangkap. Apa salahnya kalau ku singkirkan dahulu jenasahnya mereka ke suatu tempat tertentu, kemudian baru kuundang kedatangan Jin kokoh untuk menyelenggarakan upacara penguburan? Aaai, aku harus mengambil keputusan cepat dan segera melaksanakannya."

Seandainya Hoa se toakonya yang menghadapi kejadian semacam ini, bagimanapun juga ia tak akan berani mengambil keputusan secara sembarangan, tapi Hoa Yang alias In-liong tak kenal artinya adat istiadat, apa yang terpikir hanya soal cengli, dan apa yang telah melintas dalam benaknya segera dilaksanakan tanpa berpikir panjang lagi.

Begitulah, setelah menengok ke kiri kanan dan yakin kalau di sekitar sana tak ada orang, ia lantas menjejakkan kakinya ke atas tanah dan melompati pagar pekarangan langsung menerobos masuk ke ruang tengah.

Ia telah mempunyai rencana yang cukup masak malam itu juga akan dibawanya jenasah dari Suma Tiang-cing suami istri ke rumah gubuk yang pernah dikunjunginya semalam.

Ia merasa tempat itu aman dan cukup tersembunyi, kendati sudah terbakar tapi dengan semak belukar yang begitu tinggi mengitari sekelilingnya, tempat itu tak mudah menarik perhatian orang, dan jenasah siok-yanya ditempatkan disana untuk sementara waktu, maka orang tak akan menyangkanya.

Siapa tahu ketika Hoa In-liong tiba dalam ruangan itu dan menengok ke dalam, apa yang ditemuinya hampir saja membuat pemuda itu menjerit keras matanya terbelalak karena tercengang bercampur heran untuk sesaat ia berdiri tertegun.

Meskipun kain horden masih menghiasi ruangan seperti sedia kala, meja sembahyangan dengan lentera dan lilin masih utuh, namun dua buah peti mati itu sendiri sudah lenyap tak berbekas.

Padahal ia tahu jelas bahwa satu-satunya keturunan dari Suma siok-yanya berada jauh di perkampungan Liok-soat-san-cung yang berada di bukit Im tiong-san, bila dikatakan ia telah mengebumikan jenasah kedua orang itu, boleh dibilang hal ini tak mungkin terjadi, tapi kenyataannya peti mati itu benar-benar sudah lenyap tak berbekas.

Selang sesaat kemudian, Hoa In-liong mencibirkan bibirnya lalu mendengus dingin.

"Hmm...... Permainan busuk macam beginipun disuguhkan kepada aku Hoa-loji, sungguh keterlaluan."

Maksud musuh sudah jelas sekali, jelas mereka memang sengaja memindahkan peti mati itu agar dia jadi bingung dan kelabakan untuk mencarinya kembali.

Hoa In-liong menjengek sinis, walaupun dia tahu bahwa musuh sedang memasang jaring untuk menjebaknya, dilakukan juga pemeriksa yang seksama di sekitar gedung bangunan itu.

Tapi akhirnya anak muda itu merasa kecewa, orang-orang yang memasukkan peti mati itu telah bekerja teliti, kecuali barang yang kacau terdapat di sekitar meja sembahyang dan kedua belah sisi bekas tempat peti mati itu.

boleh dibilang tiada tanda lain lagi yang berhasil ditemukan, hal ini semakin mengejutkan hati Hoa In-liong.

Haruslah diketahui ruang jenazah menempati ruangan tengah yang panjang dan lebarnya mencapai seluas lima kaki, karena sudah lama tak di kunjungi orang, debu yang menempel di atas lantai tebal sekali, sebaliknya kedua peti mati itu hanya menempati tempat yang tak begitu luas, beratnya juga luar biasa, untuk memindahkan benda seperti itu bukan saja sangat repot bahkan tidak gampang.

Tapi kenyataannya sekarang, bukan saja mereka dapat memindahkan peti-peti mati itu, malahan tidak meninggalkan bekas apa-apa, dari sini dapatlah diketahui bahwa orang-orang itu bukan saja amat cermat dan teliti, kekuatan mereka serta kelihayan ilmu meringankan tubuh mereka sudah mencapai tingkatan yang luar biasa.

Tapi siapakah orang itu???

Dengan hati tercekat bercampur kaget, Hoa In-liong berpikir.

"Seandainya peti mati itu masih berada disini, memang gampang untuk menjebak orang masuk perangkap. tapi apa maksud mereka membawa pergi peti-peti mati itu..."

Ia bukan seorang pemuda yang gegabah, juga bukan manusia pengecut yang bernyali kecil, dalam tubuhnya mengalir sifat-sifat orang tuanya dan terdapat pula hasil didikan dari Bun Tay-kun, meski romantis namun mempunyai semangat yang besar, mempunyai keberanian yang luar biasa dan berani menyerempet bahaya.

Lama sekali si anak muda itu termenung, dan berusaha untuk memecahkan masalah yang dihadapinya, ketika tanpa hasil, dengan dahi berkerut dan bibir dicibirkan ia berjalan menuju ke pintu kecil dibalik horden dengan langkah lebar.

Mendadak dari arah belakang terdengar seseorang tertawa dingin, menyusul jengekan dingin berkumandang memecahkan kesunyian.

"Hoa loji, kau akan kabur kemana lagi?"

Hoa In-liong tidak kaget juga tidak gugup, malahan menjawabpun tidak.

selangkah demi selangkah ia lanjutkan perjalanannya menuju ke muka.

Tiba-tiba serentetan cahaya putih menyambar lewat, dengan disertai hawa pedang yang hebat tanu-tahu sebilah pedang panjang telah menusuk punggungnya.

Secepat kilat Hoa In-liong memutar tabuhnya sambil mengebaskan kipasnya ke samping ujarnya sambil tertawa.

"Haaahhh haaahhh haaaahhh. dengan kepandaian macam beginipun berani bertingkah dihadapanku? Huuh, masih ketinggalan jauh."

"Traaang....!"

Dengan telak kipas itu menghajar ujung pedang lawan, sementara tulang bambu di balik permukaan kertas menyabet pedang tersebut ke samping, walaupun pedang tadi bergeser dua depa ke samping, ternyata kipasnya sendiri tetap utuh.

Untung si penyergap itu segera mengundurkan diri, kalau tidak pedangnya niscaya sudah terlepas dari genggaman.

Jilid 05 SANG penyergap itu tampak agak tertegun, agaknya dia merasa tidak puas, sejenak kemudian sambil membentak. untuk kedua kalinya ia siap melancarkan serangan lagi.

"Mundur, jangan gegabah!"

Mendadak terdengar seseorang membentak dengan suara keras.

"Sreeet...!"

Hoa In-liong merentangkan kembali kipasnya dan digoyangkan beberapa kali, lalu ujarnya sambil tertawa nyaring.

"Sobat, aku lihat kelihayanmu juga tak seberapa gegabah atau tidak toh sama juga hasilnya."

Orang ini berkata lagi dengan suara keras.

"Bersilat lidah bukan perbuatan seorang laki-laki sejati, bila kau bisa lolos dari sini malam ini, kaulah seorang jago yang hebat."

Sekarang Hoa In-liong baru tersenyum, perlahan-lahan ia memutar badannya seraya bertanya.

"Bila dugaan tidak keliru, tentunya engkau she Ciu bukan?"

Orang itu berdiri di balik pintu kecil di belakang ruangan di balik pintu kecil adalah sebuah lorong karena cahaya suram maka raut wajah orang itu tak tertampak jelas, tapi jelas kelihatan ia agak tertegun sebelum akhirnya tertawa seram.

"Haaahhh haaahh haaahhh keturunan keluarga Hoa rata-rata memang hebat sayang engkau sudah masuk perangkap. jangan harap kau bisa hidup sampai fajar esok."

Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba bentaknya lagi.

"Pasang obor, biar ia bisa mampus dengan hati yang jelas!"

Suara mengiakan mendengung, cahaya api segera memercik menembusi kegelapan, dalam sekejap mata suasana dalam ruangan itu jadi terang benderang bagaikan di siang hari.

Hoa In-liong memandang sekejap sekeliling tempat itu, ia lihat delapan orang laki-laki berbaju ungu berdiri mengitari sekeliling ruangan dalam dua kaki antara yang satu dengan lainnya, mereka membawa obor di tangan kiri dan pedang di tangan kanan, sinar matanya rata-rata tajam, tubuh kekar dan kuat, usianya tiga puluh tahunan, jelas orang-orang itu bukan manusia sembarangan, atau paling sedikit memiliki dasar ilmu silat yang tangguh.

Ketika ia alihkan pandangannya ke arah orang yang berdiri dibalik pintu rahasia, maka terlihatlah bahwa orang itu berusia dua puluh tahunan, bajunya pakaian ringkas berwarna hijau pupus, mantelnya juga berwarna hijau, sebilah pedang kuno tersoreng dipinggangnya, dandanan maupun potongan badannya persis seperti seorang busu.

Ia bermuka bengis, beralis tebal, bermuka lonjong dengan ujung bibir tersungging keatas, tampaknya menggemaskan sekali dan seakan-akan sejak dilahirkan memang bertampang kriminil, bila ia benar-benar she-Ciu (dendam) maka cocoklah nama dengan potongan badannya.

Hoa In-liong tak berani gegabah setelah menyaksikan keadaan itu, kipasnya lantas dilipat dan memberi hormat katanya sambil tersenyum.

"Ciu kongcu, dari mana kau bisa tahu kalau aku bakal datang kemari? Tidakkah merasa kuatir bila jebakan yang kau atur bakal sia-sia belaka?"

"Datang atau tidak aku tak ambil peduli, tapi yang pasti detik ini kau berada dalam ruangan ini,"

Sahut Ciu kongcu dengan ketus. Hoa In-liong menganggukkan kepalanya berulang kali.

"Kongcu, aku tidak merasa pernah berkenalan dengan kau, tapi apa sebabnya kongcu baru puas jika telah berhasil membinasakan diriku, di manakah letak alasannya? Bersediakah engkau memberi penjelasan?"

"Hmm... sudah tahu pura-pura bertanya,"

Dengus Ciu kongcu dengan alis mata berkenyit.

"Oooh...jadi kalau begitu kongcu benar-benar adalah anggota perkumpulan Hian-beng-kau?"

Ciu kongcu tampak terkejut ia lantas berpikir dalam hati.

"Bocah keparat ini benar-benar memiliki kemampuan yang hebat, sampai asal usulku diketahui olehnya."

Meski dalam hati berpikir demikian, dimulut sahutnya dengan dingin.

"Tak lama kemudian, perkumpulan kami akan muncul dalam dunia persilatan secara resmi, dan kemudian akan menguasai seluruh jagad, rasanya tiada suatu kepentingan bagi kami untuk mengelabuhi hal ini kepadamu...."

Sekarang Hoa In-liong yang gantian merasa kaget, meski diluaran ia tetap berlagak tenang....

"Jadi kalau begitu, aku harus menagih dendam berdarah atas tewasnya majikan gedung ini kepada diri kongcu??"

"Benar,"

Jawab Ciu kongcu dengan angkuh.

"akulah otak pembunuhan ini, jika ingin membalas dendam, silahkan mencari aku."

"Bila aku hendak menuntut balas, tentu saja akan kuberi bagian untuk dirimu, justru aku kuatir kalau kongcu bukanlah otak dan pembunuhan ini."

"Kurang ajar!"

Teriak Ciu kongcu dengan marah, sinar matanya berkilat.

"engkau berani memandang hina diriku??"

Hoa In-liong tersenyum.

"Kenyataannya toh demikian, apa gunanya kongcu berlagak sebagai seorang pahlawan??"

Tampaknya ucapan tersebut benar-benar membuat Ciu kongcu jadi mendongkol, teriaknya penasaran.

"Coba terangkan kenyataannya menurut pandanganmu!"

"Bukankah kongcu hanya seorang anak buah dari perkumpulan Hian-beng-kau. Nah bila kuingin cari otak pembunuhnya yang sebenarnya, lebih pantas kalau kucari ketuamu."

Jawaban ini diluar dugaan Ciu kongcu ia jadi tertegun, tapi sejenak kemudian ujarnya lagi dengan mendongkol.

"Kongcu-ya mu adalah murid pertama dari kaucu, pembunuhan berdarah yang terjadi disini akulah yang menyusun rencana serta pelaksanaannya kenapa kau cerewet melulu dan bersikeras menuduh guruku yang melakukan pembunuhan ini, sebenarnya apa maksudmu?"

Diam-diam Hoa In-liong merasa geli, pikirnya "Bukan saja orang ini mempunyai napsu ingin menang yang amat besar, bahkan merupakan juga seorang laki-laki yang tak berakal panjang inilah kesempatan bagiku untuk mengorek keterangan kenapa tidak kumanfaatkan sebaikbaiknya?"

Berpikir sampai disini, dia lantas menjura dan memberi hormat, kemudian tanyanya sambil tertawa.

"Bolehkah aku tahu siapa nama kongcu?"

"Ciu Hoa."

"Ciu Hoa?"

Pikir Hoa In-liong dengan hati terperanjat.

"bukankah Ciu Hoa artinya mendendam keluarga Hoa? Kalau begitu mereka memang sengaja memusuhi keluarga Hoa kami."

Cepat ia tertawa dan berkata lagi.

"Selamat bertemu, selamat bertemu Bolehkah aku tahu siapa gurumu....?"

"Guruku adalah...."

"Kongcu hati-hati kalau bicara!"

Mendadak terdengar seorang laki-laki berbaju ungu memberi peringatan.

Agaknya Ciu Hoa segera mengetahui akan keteledorannya, cepat ia membungkam dan batal untuk berbicara, matanya kontan mendelik besar dan melototi wajah lawannya tanpa berkedip.

Hoa In-liong tertawa, katanya dengan santai.

"Kalau toh menyebut nama guru adalah suatu pantangan, lebih baik tak usah kau katakan."

Ciu Hoa menggetarkan bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi niatnya itu kembali dibatalkan, agaknya ia cukup memahami betapa seriusnya masalah yang dihadapinya, maka nama gurunya tak berani diucapkan lagi.

Melihat keadaannya itu, tahulah Hoa In-liong bahwa dibakar hatinyapun tak ada gunanya, maka dia alihkan kembali pokok pembicaraannya ke soal lain.

"Kongcu, tolong tanya apakah engkau yang telah memindahkan jenasah dari Suma tayhiap dari tempat ini??"

Sikap Ciu Hoa kali ini hambar sekali, malahan ia tertawa dingin.

"Heeeeh....heeeeh heeeeh kalau benar kenapa? Kalau tak benar lantas bagaimana??"

Jawaban ini mencengangkan hati Hoa In-liong sepasang alis matanya kontan berkenyit, pikirnya.

"Sungguh aneh, orang ini tak berakal panjang, kenapa begini aneh jawabannya? Mungkinkah jenasah Suma siok-ya memang bukan dia yang memindahkan??"

Sementara ia masih keheranan dan tidak habis mengerti, Ciu Hoa telah melanjutkan kembali kata-katanya.

"Hampir saja kongcu-yamu terjebak oleh pancinganmu, mulai sekarang aku tak akan menjawab pertanyaanmu lagi, kaupun tak usah putar biji mata sambil mencari akal busuk. sekarang cabut keluar pedangmu, kongcu-yamu segera akan turun tangan."

"Sreeet...."

La cabut keluar pedang antiknya, lalu bergerak ke depan dan melancarkan tubrukan.

Hoa In-liong tetap berdiam diri, dari sikap musuhnya ia tahu bahwa banyak bertanya pun tak ada gunanya.

Sebagai seorang pemuda yang sombong dan tinggi hati, ia bersedia merendahkan diri lantaran ingin mencari tahu duduk persoalan yang sebenarnya, dan sekarang Ciu Hoa telah waspada dan tak mungkin bisa dimintai keterangan lagi, tentu saja diapun tak sudi merendahkan diri terus menerus, sambil tertawa tergelak segera ujarnya.

"Bila kau hendak menyelesaikan persoalan ini dengan suatu pertempuran kilat, silahkan saja turun tangan, kau tak usah menguatirkan untuk keselamatan jiwaku."

Sekilas pandangan, Ciu Hoa tampaknya kasar dan berangasan, tapi metelah bersiap siaga untuk melancarkan serangan, ia dapat pusatkan perhatiannya dengan sempurna, dapat diketahui bahwa gurunya tentu lihay dan ilmu silat yang dimiliki si anak muda inipun bukan ilmu silat sembarangan.

Hoa In-liong tak berani gegabah, meski diluaran bicara seenaknya, hawa murninya diam-diam disalurkan ke dalam telapak tangan, dengan tenang ia menantikan tibanya serangan.

Ciu Hoa sudah berada beberapa kaki saja di hadapan si anak muda itu, pedangnya telah digetarkan siap melakukan pembacokan, kembali dia berseru.

"Hati-hatilah, aku akan melancarkan serangan!"

Jurus serangan itu sekilas pandangan tampaknya sederhana dan tiada sesuatu yang aneh, tapi tempat yang dibacok ternyata luar biasa dan di luar dugaan, sebagai seorang ahli pedang sekilas pandangan saja Hoa In-liong telah menyadari bahwa ia sudah bertemu dengan musuh tangguh.

Terkejut juga pemuda kita menghadapi kejadian seperti ini, ia tak berani gegabah, kipasnya segera dikebaskan ke muka untuk menangkis ancaman, katanya.

"Ciu kongcu, silahkan menyerang dengan sepenuh tenaga, aku telah bersiap sedia menerima petunjukmu."

Dasar wataknya yang binal, kendatipun sedang berhadapan dengan musuh tangguh, ternyata wataknya itu tidak berubah, sambil maju ia totok pergelangan tangan Ciu Hoa, ketika serangan nya mencapai tengah jalan, tiba-tiba ia merendah ke bawah, sambil menempel pada ujung pedang orang itu badannya berputar setengah lingkaran, mendadak kaki kanannya dijulurkan ke muka sementara sikut kirinya langsung menyodok iga kanan pemuda she-Ciu tersebut.

Keadaan ini bagaikan seorang bocah yang sedang bermain, tentu saja Ciu Hoa tidak menyangka sampai kesitu, bila tidak begitu asal gerakan pedangnya sedikit dipercepat saja, niscaya Hoa Inliong akan terpapas oleh pedangnya dan terluka parah.

Tapi Hoa In-liong telah mempraktekkan caranya yang binal itu, bahkan sapuan kaki kanan dan sodokan sikut kirinya dilancarkan dengan menempelkan di badan lawan dan kecepatan luar biasa.

Dalam keadaan demikian, Ciu Hoa tak mampu untuk berkelit lagi, dia terdesak hebat sehingga harus meraung gusar dan berkelijit satu kaki ke-tengah udara.

Menyaksikan musuhnya berhasil didesak mundur, Hoa In-liong tertawa nyaring dan mengejek.

"Kongcu-ya, aku lihat ilmu silatmu tidak begitu tinggi."

Dari malu Ciu Hoa jadi naik pitam, ia membentak keras lalu menerkam kedepan, pedang antiknya dikebaskan berulang kali...

Sreeeet sreeet!

Secara beruntun ia lepaskan tiga buah serangan berantai, yang mana seketika mengurung semua jalan darah penting di dada Hoa In-liong.

Menghadapi serangan macam begini, Loji dari keluarga Hoa ini mengigos kesana berkelit kemari dengan seenaknya, tiba-tiba merentangkan senjata kipasnya kemudian menotok ke balik lapisan cahaya pedang yang berlapis-lapis itu, katanya sambil tertawa.

"Lumayan juga ketiga buah seranganmu barusan, tapi bila kau sanggup memaksa aku untuk lepas pedang itu baru terhitung jago kelas satu dalam dunia persilatan."

"Hmm Bila tidak kau lepas pedangmu itu berarti kau ingin mencari kematian buat diri sendiri jangan salahkan kalau kongcu mu bertindak telengas!"

Bentak Ciu Hoa sambil mendengus dingin.

Tubuhnya bergerak ke samping, tiba-tiba permainan pedang nya berubah, tampaklah beratusratus berkas cahaya yang menyilaukan mata sebentar menyambar ke kiri sebentar ke kanan, semuanya bergerak dengan gerakan yang aneh lihay dan sukar diduga, pedang itu ibaratnya naga yang bermain di angkasa, berliuk-liuk tak menentu.

Itu masih mendingan, yang lebih hebat lagi ternyata dibalik gerakan pedang yang aneh dan sukar terduga itu terselip suatu hawa kebengisan yang mengerikan hati, membuat mereka yang menjumpainya jadi bingung dan ketakutan dengan sendirinya.

Perlu diketahui, ilmu silat yang diandalkan oleh keluarga Hoa dari Im-tiong-san adalah ilmu Pedang, terlepas ketika Hoa Goan-ciu yakni kakek Hoa In-liong masih hidup, sepeninggalnya ia telah mewariskan enam belas jurus pedang dan sebilah pedang baja untuk putranya, dan putranya yakni Hoa Thian-hong mengandalkan sebilah pedang baja malang melintang dalam dunia persilatan, suatu ketika ia berhasil mendapatkan kitab kiam keng san berhasil pula mempelajari inti sari pelajaran pedang kiam-keng-poh-khi, akhirnya terciptalah serangkaian ilmu pedang yang sakti dan Iihaynya luar biasa.

Semenjak kecil Hoa In-liong sudah pintar, apalagi mendapat pendidikan langsung dari ayahnya, bukan saja ilmu silat jenis lain memiliki dasar yang kuat, terutama dalam ilmu pedang kecuali kalah tenaga dari ayahnya boleh, dibilang kelihayannya hampir seimbang.

Tapi sekarang setelah Ciu Hoa merubah gaya serangannya, bukan saja ia tak berhasil menebak asal mula dari ilmu pedang.

tersebut, bahkan anak muda itu merasakan tubuhnya seolah-olah terjerumus dalam samudra pedang yang tak bertepian, sekarang ia baru kaget.

Tak heran kalau Ciu Hoa dengan usia yang masih muda berani bersikap angkuh dan jumawa, ternyata ilmu silat yang dimilikinya memang tak boleh dianggap enteng.

Lama kelamaan Hoa In-liong gelisah juga jadinya, tapi karena masih muda dan berdarah panas, lagipula sudah terlanjur ngomong besar, ia tak sudi mencabut pedangnya untuk melakukan perlawanan.

Terpaksa dengan mengandalkan gerak tubuhnya ia berkelit kesana kemari dengan seksama, bila menemukan kesempatan ia lantas melepaskan serangan balasan dengan kipas Pertarungan macam begini memang besar sekali resikonya, sebab sedikit kurang hati-hati maka bisa mengakibatkan melayangnya selembar jiwa.

Lima puluh jurus sudah lewat, keadaannya kian lama kian bertambah gawat, sekarang Hoa Inliong sudah terdesak hebat sehingga tiap saat jiwanya kemungkinan besar terancam.

Tampaklah cahaya pedang berkilauan, angin serangan menderu-deru, bayangan senjata berlapislapis dan mengurung si anak muda itu dalam kepungan, Hoa In-liong telah berusaha untuk menerjang ke kiri menyapu kekanan, toh gagal untuk melepaskan diri dari ancaman tersebut, tampaknya selewat seratus gebrakan lagi dia akan terluka di ujung pedang Ciu Hoa.

Tiba-tiba terdengar suara sorak-sorai menggema memecahkan kesepian, seorang laki-laki berbaju ungu bersorak keras.

"Kongcu perketat serangan, bacok sampai mampus bocah keparat itu..,.."

"Hoa loji, buang pedangmu dan menyerah saja!"

Teriak pula laki-laki yang lain.

"kalau kau tidak menyerah sekarang juga, tak akan kau temui lagi kesempatan di lain waktu."

"Membuang pedang atau tidak toh sama saja!"

Ejek pula laki-laki yang lain.

"sampai sekarangkan kongcu kita masih belum melancarkan serangan-serangan mematikannya."

Ciu Hoa sendiripun merasa bangga sekali setelah dilihatnya Hoa In-liong berhasil dipaksa sehingga tak berkemampuan untuk melancarkan serangan balasan, ia berkata sambil tertawa nyaring "Hoa-loji, ingatlah baik-baik Antara kau dan aku memang tak terikat hubungan dendam atau sakit hati, aku membunuh engkau lantaran membenci kau she Hoa, dan lantaran kau adalah putranya Hoa-Thian hong."

Sambil berkata, pedang antiknya digetarkan semakin kencang, dengan jurus Teng liong kiu ci (naga membumbung bersalto sembilan kali) cahaya pedangnya membentuk sembilan titik bianglala putih dan meluncur ke depan dengan kecepatan luar biasa, sekejap kemudian sekujur badan Hoa In-liong sudah terkurung rapat.

Serangan ini benar-benar sangat lihay.

bahwa pedang yang membentuk berbintik-bintik cahaya bianglala putih yang seperti air tapi rapat seakan akan tak berlubang, sekalipun Hoa In liong membawa pedang belum tentu bisa mengundurkan diri dengan selamat.

Tapi Hoa In-liong pada saat ini sudah dibikin gusar juga oleh keadaan yang dihadapinya, ditambah pula hatinya terbakar oleh ejekan lawan, serangan yang dilancarkan pun mendekati setengah kalap.

Terdengar ia membentak keras, telapak tangan kirinya tiba-tiba dilontarkan ke muka dengan jurus Kun-siu-ci-tau, sedangkan tangan kanannya berputar kencang, jari tengahnya ditegangkan dan menotok dada Ciu Hoa deagm ilmu menyerang sampai mati, suatu kepandaian pentilan diri ci-yu-ji-ciat.

Kedua buah serangan itu tak lain adalah senjata andalan ayahnya ketika masih berkelana dalam dunia persilatan di masa mudanya, dalam gugup dan gelisahnya ia telah menyerang dengan tenaga serangan yang amat dahsyat, kehebatannya sedikitpun tak kalah dengan kehebatan ayahnya.

Dua buah serangan tersebut boleh dibilang merupakan jurus pertarungan untuk beradu jiwa, bilamana Ciu Hoa tak mau buyarkan serangannya, maka kendati Hoa In-liong bakal terluka diujung pedangnya, akan tetapi dia sendiripun akan terhajar oleh serangan lawan dan sedikit banyak dada nya akan berlubang tertembus oleh ilmu jari lawan yang maha dahsyat itu.

Sudah tentu ia tak sudi terluka di ujung telapak tangan musuhnya, disaat terakhir tubuhnya segera miring kesamping sana.

Pedangnya ditekan ke bawah dan tubuhnya berkelebat ke samping, dengan demikian diapun lolos dari pukulan musuh.

Hoa In-liong sendiri, meski baru saja terlepas dari mara bahaya, namun paras mukanya masih tetap tenang-tenang saja seakan-akan tak pernah terjadi suatu apapun, malahan sambil terbahak-bahak katanya.

"Haaahhh haaaahhh haaahhh, Ciu kongcu, apakah engkau masih mempunyai ilmu simpanan yang lain? Kenapa tidak sekalian kau keluarkan agar aku orang sheHoa bisa merasakannya?"

Walaupun diluaran ia berkata seenaknya, tapi kali ini pedang mustikanya sudah diloloskan dari sarungnya.

Ciu-Hoa sendiri, sewaktu dilihatnya pihak lawan telah mencabut keluar pedangnya, tak kuasa lagi dia menengadah dan tertawa terbahak-bahak.

suara tertawanya penuh mengandung nada sindiran, dan memandang hina.

Tentu saja Hoa In-liong dapat merasakan pula gelak tertawa yang penuh dengan nada sindiran itu, akan tetapi ia tidak memperhatikan, malahan berkata dengan lantang.

"Ciu kongcu, aku telah merasakan kelihayan ilmu pedangmu, ketahuilah bahwa aku Hoa loji bukan seorang manusia yang takabur dan suka berlagak sok. aku cukup mengetahui kemampuanku, aku sadar bila tidak kugunakan pedang untuk melawan dirimu lagi, sulitlah bagiku untuk menangkan engkau."

"Huuuh sekalipun kau gunakan pedang, apa yang bisa kau lakukan terhadap diriku?"

Jengek Ciu Hoa sinis. Paras muka Hoa In-liong seketika berubah jadi membesi, dengan serius ia berkata.

"Diantara kita tak terikat hubungan dendam ataupun sakit hati, dan kata-kata itu muncul dari mulutmu, maka akupun ingin memberi peringatan kepadamu, untuk menghadapi musuh yang tangguh janganlah terlalu tekebur dan terlalu yakin dengan kepandaian yang dimiliki sendiri..."

Mula-mula Ciu Hoa agak tertegun, menyusul kemudian tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh....haaahhh... haahh....nasehat macam apakah itu, Hoa loji lebih baik kau tak usah banyak bacot lagi."

"Aku tahu bahwa ilmu pedangmu ganas dan sadis, akan tetapi kurang mantap dan tak teguh, bila ingin digunakan untuk mencabut jiwaku maka tenaganya masih jauh berkurang, bila bertempur lagi nanti, aku harap kau bisa bertindak lebih berhati-hati lagi."

Pemuda ini, sudah terbiasa bersikap binal dan tidak bersungguh-sungguh, seakan-akan perkataan nya sama sekali tidak berbobot, akan tetapi setelah bersikap serius sekarang, terlihatlah keagungan serta kewibawaannya yang amat besar.

Ciu Hoa tertegun dan seketika itu juga merasa kejumawaannya tersapu lenyap hingga tak berbekas untuk sesaat anak muda itu hanya bisa berdiri terbelalak tanpa mengetahui bagaimana harus menjawab perkataan dari musuhnya ini.

Tiba-tiba terdengar seorang laki-laki berbaju ungu berseru lantang.

"Kongcu, buat apa kita musti bersilat lidah terus dengan orang itu, mari kita atur barisan pedang saja, niscaya jiwanya tak akan lolos dari cengkeraman kita."

Sekarang kejumawaan Ciu Hoa sudah padam, maka setelah termenung sebentar dia pun mengangguk.

"Siapkan barisan"

Perintahnya sambil mengebaskan pedang antiknya.

Berbareng dengan diturunkannya perintah tersebut, bayangan manusia tampak berkelebat memenuhi angkasa, delapan orang laki-laki berbaju ungu itu sama-sama mengayunkan tangan kirinya dan menancapkan obor yang mereka bawa itu ke dinding ruangan, kemudian ujung pedangnya disentakkan ke atas dan disilangkan didepan dada, kemudian selangkah demi selangkah maju kedepan dan mengurung Hoa In-liong didalam kepunganHoa In-liong tetap bersikap tenang, malahan sedikitpun tidak bergerak, dengan pandangan yang tajam ia menyapu sekejap barisan yang baru dibentuk oleh musuh-musuhnya.

Ia lihat delapan orang laki-laki berbaju ungu itu berdiri diposisi yang beraneka ragam, sepintas lalu posisi yang mereka duduki mirip dengan barisan pat-kwa, tapi bila ditinjau dari kehadiran Ciu Hoa ditengah barisan yang tampaknya merupakan motor dari barisan tersebut, posisi barisannya jadi lebih mirip dengan suatu barisan Klu-kiong-tinHoa In-liong tidak begitu memahami soal ilmu barisan, maka dia hanya bisa mempertinggi kewaspadaannya belaka, dan diam-diam pemuda itu mengambil keputusan untuk menghadapinya dengan tenang.

Maka dengan dahi berkerut, bentaknya lantang.

"Ciu kongcu, ketahuilah bahwa golok dan pedang tak bermata, jika aku sampai melukai anak buahmu, jangan kau salahkan aku bersikap kejam padamu..."

Ciu Hoa mendengus dingin, ia tidak menjawab lagi, sambil menerjang ke muka pedangnya langsung melancarkan sebuah tusukan kilat, hebat sekali serangannya itu.

Hoa In-liong segera menggerakkan pedangnya ke atas untuk menangkis, kemudian dengan mengincar datangnya sambaran pedang lawan, tiba-tiba ia mencukil ke atas.

Dalam waktu singkat serangan musuh seolah-olah lenyap tak berbekas, diantara kilatan cahaya yang menyilaukan mata tercipta berlapis-lapis hawa pedang yang datang dari empat arah delapan penjuru.

Hoa In-liong terperanjat, buru-buru pedangnya ditegakkan sementara tubuhnya berputar kencang dan maju selangkah kedepan, lalu pedangnya ditarik kembali, ujung pedangnya yang tajam disembunyikan dibalik ketiaknya, menyusul kemudian dia lancarkan kembali sebuah tusukan kilat ke arah belakang.

Pemuda itu mengambil keputusan untuk melakukan pertarungan yang tenang dan tidak berangasan lantaran dalam anggapannya kendati barisan pedang macam apapun yang sedang dihadapi maka motornya pastilah Ciu Hoa, asal Ciu Hoa berhasil diringkus niscaya barisan pedang itu akan buyar sendiri tanpa diserang.

Oleh sebab itu tatapan matanya yang tajam selalu mengincar posisi dari Ciu Hoa, seperti pula serangannya yang terakhir, arah yang di tuju tak lain adalah tenggorokan Ciu Hoa.

Pendapatnya ini sedikitpun tak salah tapi justru karena Ciu Hoa merupakan motor penggerak dari barisan pedang itu, maka maju mundurnya delapan bilah pedangpun bergerak dengan Ciu Hoa sebagai pusat penyergapan, satu sama lainnya mereka dapat bergerak bersahut-sahutan, seakan-akan otaknya satu dan mereka merupakan satu tubuh yang sama, dalam keadaan demikian tentu saja bukan pekerjaan yang gampang bagi si anak muda itu untuk membekuk Ciu Hoa.

Ketika serangan yang kedua kembali mengenai sasaran yang kosong, sepasang mata Hoa Inliong berkilat tajam ia saksikan betapa rapat dan ketatnya lapisan cahaya pedang yang memancar datang dari empat penjuru, serangan tersebut ibaratnya cahaya yang menggulung datang tiada habisnya, baik maju maupun mundur semuanya di lakukan dengan kecepatan ya luar biasa.

Lapisan pedang yang berlapis-lapis itu bukan saja sukar untuk dipecahkan, bahkan tubuh Ciu Hoa pun terkurung dengan sendirinya hingga lenyap tak membekas, dalam keadaan apa boleh buat terpaksa anak muda itu lebih mementingkan diri sendiri, sepasang kakinya menjejak permukaan tanah kemudian mengegos ke samping.

Belum sempat badannya berdiri tegak, mendadak ia merasakan tibanya beberapa gulung desingan angin dingin yang menyergap jalan darah penting diatas punggungnya, cepat ia menekuk pinggang sambil melepaskan pukulan, gerakan yang di pakai adalah jurus Kun-siu-citau (perlawanan terakhir dari binatang yang terjebak), seketika itu juga desingan angin dingin itu berhasil disingkirkan satu depa lebih kesamping.

Setelah nyaris termakan sergapan maut, Hoa In-liong mengigos kesamping dan mundur dengan hati teperanjat, segera pikirnya dalam hati.

"Benar-benar tak kusangka sebuah barisan pedang sedemikian kecilpun ternyata memiliki daya kekuatan yang luar biasa besarnya, bila aku tak tega untuk turun tangan keji, niscaya aku sendirilah yang bakal mendapat kerugian"

Belum habis dia berpikir, tiba-tiba Ciu Hoa telah munculkan dirinya kembali, buru-buru ia menggerakkan pedangnya untuk membacok musuhnya itu.

Baru saja dia melepaskan bacokan, mendadak cahaya pedang berkilauan, dari sampingpun muncul pula sebuah tusukan kilat yang tertuju ke atas tubuhnya, bila ia lanjutkan niatnya untuk melukai Ciu Hoa, niscaya iga sendiripun akan berlubang tertusuk pedang musuh, dalam keadaan begini terpaksa ia tekan pergelangan tangannya ke bawah, kemudian menangkis dengan pedangnya.

Tak terkirakan sungguh dahsyat tenaga serangan musuh, ketika sepasang pedang saling beradu....

"Traaang"

Diantara dentingan nyaring, Hoa In-liong terdesak mundur selangkah ke belakang, sedangkan tusukan pedang tadi telah lenyap tak berbekas.

Ilmu silat yang dimiliki Hoa In-liong memang sudah mencapai pada puncaknya, setelah bergebrak beberapa jurus, ia telah mengetahui bahwa kedelapan orang laki-laki berbaju ungu itu rata-rata memiliki dasar ilmu pedang yang sangat kuat ilmu silat mereka lihay dan andaikata bertempur seorang lawan seorangpun bukan sembarangan orang dapat menandinginya, apalagi mereka bergabung menjadi satu dan membentuk sebuah barisan pedang tak heran kalau kelihayannya berlipat ganda.

Sekarang ia tak berani bergerak secara sembarangan lagi, pedang mustika ditangan konannya berusaha melakukan pertahanan, sementara tangan kirinya dengan disertai tenaga dalam yang sempurna kerapkali melancarkan pukulan-pukulan gencar dengan jurus Kun-shi-ci-tau yang maha sakti itu, dengan begini untuk sementara waktu keadaanpun bisa diimbangi sekalipun dengan susah payah.

Dalam pertarungan tersebut, tiba-tiba delapan bilah pedang bersatu padu, cahaya pedang seakan-akan tercipta menjadi satu gumpalan cahaya besar yang menyilaukan mata, makin lama pertempuran itu berlangsung, getaran yang terpancar dari barisan pun bertambah cepat perputarannya, kedahsyatan yang kemudian terpancar keluar sungguh di luar dugaan Hoa Inliong, meski begitu ia tidak bingung atau kalut, pertahanannya masih tetap kokoh dan tangguh, sementara matanya masih saja mengincar tubuh Ciu-Hoa, bilamana ada kesempatan dia akan segera membekuk musuhnya itu.

Seperminum teh kemudian, peluh teh membasahi jidat Hoa-In-lloag, ini menunjukkan betapa sengitnya pertarungan yang sedang berlangsung.

Tiba-tiba terdengar Ciu Hoa berteriak keras.

"Hoa loji, bila kau bersedia melepaskan pedang dan menyerah kalah, kongcu mu bersedia pula untuk memberi kematian yang utuh kepadamu."

Hoa In liong mendengus dingin, ia tidak memberi tanggapan atas ucapan lawan. Terdengar Ciu Hoa berkata lagi.

"Ketahuilah wahai Hoa loji, barisan pedang ku ini bernama kiucoan-liong-si (memutar lidah naga sembilan kali), kendati bapakmu sendiri belum tentu bisa memecahkan, bila engkau tak tahu diri sekali "

Lidah naga"

Telah menggulung maka tubuhmu niscaya akan hancur berkeping-keping."

Belum habis ia berkata, mendadak sesosok bayangan manusia menerjang kedepan, pedangnya ditegakkan ke atas dan langsung menusuk dada serta lambungnya.

Perlu diketahui, berhubung barisan pedang itu bergerak sangat cepat sekalipun Hoa In-liong telah mengerahkan ketajaman mata untuk mengamati, gagal juga baginya untuk menembusi ketajaman sinar pedang yang berkilauan itu, otomatis sukar juga baginya untuk menduga dimanakah letak posisi Ciu Hoa dewasa ini, tapi begitu Ciu Hong buka suara, Hoa In-liong segera mengetahui tempat kedudukannya dan serta-merta dia lantas mengejar kesitu.

Dalam keadaan yang tak terduga ini, Ciu Hoa tak sempat untuk menghindarkan diri lagi, terpaksa dia harus menggerakkan pedangnya untuk menangkis datangnya ancaman itu.

"Traang...."

Suatu bentrokan nyaring menggema memecahkan kesunyian, Ciu Hoa segera merasakan lengan kanannya jadi kesemutan dan kaku, pedang antiknya hampir saja terlepas dari cekalan cepat ia mundur dua langkah ke belakang.

Tentu saja Hoa In-liong tak sudi melepaskan musuhnya dengan begitu saja, setelah berhenti sebentar, ia maju lagi ke depan, pedangnya secepat kilat melancarkan pula serangan mematikanDiluar dugaan, ternyata Ciu Hoa dibuat kelabakan dan kalang kabut dengan sendirinya, ia tak berani menyambut serangan tersebut dengan kekerasan, malahan tergopoh-gopoh tubuhnya lantas menyelinap ke samping.

Dengan susah payah Hoa In-liong berhasil melepaskan diri dari kurungan barisan pedang musuh dan menemukan sasarannya, tentu saja ia tak ingin membiarkan Ciu Hoa menyelinap kembali ke dalam barisannya, melihat dia hendak kabur, segera bentaknya.

"Mau kabur kemana?"

Bagaikan bayangan menempel badan, secepat kilat dia mengejar ke arah depan.

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring berkumandang saling susul menyusul, delapan bilah pedang diputar berbareng menghadang jalan perginya.

Hoa In-liong marah sekali, terutama ketika jalan perginya dihadang, ia meraung keras.

"Bangsat Kalian sudah bosan hidup semua rupanya."

Hawa murninya segera disalurkan ke dalam tangan, pedangnya diputar dan dia lantas mainkan ilmu pedang Ciong-kiam (pedang berat) Sreet sreet sreet serangan dilancarkan tiada hentinya, dalam sekejap mata ia sudah meneter ke delapan orang itu habis habisan.

Perlu diketahui, ke enam belas jurus ilmu pedang yang ditinggalkan Hoa Goan-siu ini tidak lihay dalam jurus serangan, tidak lihay pula dalam kesempurnaan tenaga dalam, melainkan terletak pada kegagahan serta kewibawaan sang pembawa serangan tersebut, jika seseorang dapat mainkan jurus pedang itu dengan gagah dan berwibawa maka serta-merta terciptalah suatu kekuatan lain daripada yang lain yang jauh lebih mengerikan daripada hal-hal lainnya.

Sejak Hoa Thian-hong berhasil mendapatkan kitab Kiam-keng dan Kiam-keng-kui-boh, ia telah menyisipkan pula intisari ilmu pedang di balik jurus-jurus pedang peninggalan orang tuanya, ketika diwariskan kembali kepada putra-putrinya, ilmu pedang itu sudah dirubah namanya menjadi Hoa-si-ciong-kiam-cap-lak-sin-cau (enam belas jurus sakti ilmu pedang berat keluarga Hoa), itu pun sudah berbeda dengan keadaan aslinya, kalau dahulu permainan pedang itu harus menggunakan pedang baja yang berat, maka sekarang cukup menggunakan pedang kayu atau pedang bambu tanpa mengurangi kelihayannya.

Setelah lama bertempur tanpa mendatangkan hasil, lama kelamaan Hoa In-liong jadi sadar, apalagi setelah dilihatnya Ciu Hoa hampir menyelinap ke dalam barisan pedangnya lagi, dalam mendongkol dan marahnya dia lantas menyerang dengan gencar, malahan Hoa-si-ciong-kiamcap-lak-sin-cau yang maha dahsyat pun dikeluarkan, sekalipun kematangannya menggunakan jurus-jurus sakti itu belum sempurna, tapi kedelapan orang laki-laki berbaju ungu itu sudah tak sanggup mempertahankan diri Dalam sekejap mata, serangan dan pertahanan saling bertautan, delapan orang laki-laki berbaju ungu itu didesak sampai mundur berulang kali, tanpa bertindak lebih jauh barisan pedang itu bobol dengan sendirinya, dari satu barisan pedang yang tangguh sekarang telah berubah jadi suatu perlawanan bersama atas serangan musuh yang gencar.

Sementara itu Ciu Hoa telah menyingkir kesamping, ketika dilihatnya barisan pedang yang diandalkan sudah tak berwujud lagi, sedangkan kegagahan dan kehebatan Hoa In-liong sukar dibendung lagi, ia lantas berminat untuk ikut terjun pula ke dalam arena pertarungan serta berusaha untuk memulihkan kembali keutuhan barisan pedangnya.

Tapi Hoa In-liong memang terlampau dahsyat, ia menyerang dan mengejar terus dengan ketatnya, dimana serangannya tiba delapan orang laki-laki berbaju ungu itu harus mundur untuk menyingkir, dalam posisi seperti ini sulitlah baginya untuk ikut terjun ke dalam gelanggang.

Hal ini sangat menggelisahkan hatinya, saking marah dan mendongkolnya ia sampai mendepakdepakkan kakinya berulang kali ke atas tanah.

Dari sikap tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa Ciu Hoa adalah seorang laki-laki yang berangasan, begitu melihat posisi rekan-rekannya terdesak dibawah angin, sedangkan ia tak sanggup untuk memberikan bantuannya, timbullah niat jahat dalam hati kecilnya.

Mendadak ia membentak gusar, tangannya lantas diayun kedepan melemparkan sebuah benda hitam ke atas batok kepala Hoa In-liong.

Sepanjang pertarungan berlangsung, Hoa In-liong selalu memasang telinga dan matanya tajamtajam, begitu menangkap tibanya sambaran benda hitam yang disertai desingan angin tajam, ia segera mengetahui bahwa ia sedang disergap oleh sejenis senjata rahasia.

Secepat kilat telapak tangan kanannya diayun kedepan.

Ia menyampok senjata rahasia itu dengan bacokan pedang, sementara lengan kirinya dibabat kedepan menghajar mundur seorang laki-laki hingga terdesak sejauh tiga depa.

"Blaaang...."

Sebercak cahaya api berwarna biru mendadak memancar keempat penjuru dan mengejar tubuhnya.

Menghadapi ancaman tersebut, Hoa In-liong sangat terperanjat, buru-buru ia menyusup ke samping dengan menempel diatas permukaan tanah, maksudnya ia hendak meloloskan diri dari gumpalan cahaya api itu.

Kendati reaksi yang diberikan cukup cepat, namun setitik cahaya api sempat juga menetes diatas punggungnya, Hoa In-liong segera merasakan punggungnya jadi panas, jilatan api segera merembet sampai diatas dan membakar pakaian yang dikenakan.

"Anak Liong! Jatuhkan diri dan bergelinding!"

Disaat paling kritis mendadak seseorang berseru dengan suara yang serak tapi keras.

Bersamaan dengan munculnya suara peringatan itu, sesosok manusia menyambar masuk ke dalam ruangan, seketika itu juga Ciu Hoa beserta delapan orang laki-laki berbaju ungunya melepaskan senjatanya dan berdiri kaku seperti patung arca, agaknya jalan darah mereka telah tertotok semua.

Dalam pada itu Hoa In-liong telah bergelinding di atas tanah dan memadamkan lobaran api yang menjilat-jilat baju bagian punggungnya, tiba-tiba ia merasa kaki kanannya kaku dan susah digerakkan ketika diperiksa ternyata bagian lututnya telah tertancap sebatang jarum perak yang berwarna biru, jarum itu sudah menembusi kulitnya hingga tinggal ekornya saja masih tertinggal, dari warna biru yang berkilauan dapat diketahui bahwa jarum itu mengandung racun yang jahat sekali.

Ayahnya Hoa Thian-hong tidak mempan terhadap serangan pelbagai jenis racun ini disebabkan karena ia pernah makan racun teratai empedu api, dan dia sebagai keturunan dari ayahnya mengalir pula darah murni yang mengandung serum penolak racun tersebut, dengan keistimewaan yang dimilikinya itu, tancapan sebatang jarum beracun tidak berpengaruh banyak atas dirinya.

Meski demikian, Hoa In-liong naik pitam dan merasa dendam sekali, sebab Ciu Hoa telah berbuat keji dan melepaskan senjata rahasia sangat beracun itu tanpa memberi peringatan apapun, ini menunjukkan bahwa hatinya busuk sekali.

Demikianlah, setelah jarum beracun itu dicabut keluar, ia lantas bangkit berdiri, kemudian sambil mendengus dingin katanya.

"Manusia she-Ciu, kau keji dan berhati busuk Hoa loji tak dapat mengampuni selembar jiwamu."

Dengan mata merah membara dan muka meringis menyeramkan, selangkah demi selangkah ia mendekati musuhnya itu.

Sekarang Hoa In-liong sudah dipengaruhi oleh hawa napsu membunuh yang amat tebal, melihat keadaan lawannya itu Ciu Hoa jadi bergidik dan pecah nyalinya, apa daya jalan darahnya tertotok mulut tak bisa berbicara badan tak mampu bergerak, dalam keadaan sepsrti ini terpaksa dia hanya bisa pasrah dan menunggu saat ajalnya.

Mendadak sesosok bayangan manusia kembali berkelebat lewat, seorang kakek tua berjubah ungu tahu-tahu sudah menghadang jalan perginya.

"Liong-ji,"

Kata orang itu dengan lantang.

"apakah engkau hendak membunuh seseorang yang telah kehilangan daya perlawanannya?"

Orang itu berperawakan tinggi besar dan kekar, rambut, jenggot maupun alis matanya telah berwarna putih, usianya enam puluh tahunan, meski demikian ia tampak masih segar bugar dan tak nampak tua.

Siapakah orang ini?

Dia adalah Pek Siau-thian bekas ketua perkumpulan sin-kipang yang tersohor di masa lampau, atau kakek dari Hoa In-liong sendiri Tak heran kalau dalam sekali gebrakan sembilan orang jago tangguh tersebut dapat dirobohkan semua olehnya, sebab Pek Siau-thian memang berilmu sangat lihay.

Setelah mengetahui kalau kakek tua itu tak lain adalah Gwa-kong (kakek luar) nya, mula-mula Hoa In-liong agak tertegun, menyusul kemudian dengan wajah berseru dia jatuhkan diri berlutut, serunya dengan penuh kegembiraan.

"Liong-ji memberi salam buat Gwa-kong."

"Bangun, cepat bangun!"

Seru Pek-siau-thian sambil ulapkan tangannya.

"gwa-kong ingin bertanya padamu, bagaimana caranya kau selesaikan beberapa orang ini?"

Sambil bangkit diri Hoa In-liong menjawab.

"Mereka adalah anak buah perkumpulan Hian bengkau, berhati busuk dan berniat keji,"

Liong-ji pikir.

Tatkala sinar matanya menyapu sekejap ke arah Ciu-Hoa sekalian, ia baru tahu kalau jalan darah mereka sudah tertotok semua, maka kata-kata selanjutnya tidak jadi dilanjutkan.

Pek-siau-thian memandang sekejap ke arah cucunya, kemudian berkata lagi.

"Ketika ayahmu berkelana dalam dunia persilatan tempo hari, ilmu silat yang dimilikinya tidak beberapa lihay, tapi sampai-sampai Gwa-kong sendiripun tak berani memandang enteng dirinya, tahukah kau apa sebabnya bisa begitu?"

Dihari-hari biasa, Pek-siau-thian amat sayang dan memanjakan cucu luarnya ini.

tapi sekarang agaknya ia berniat untuk memberi pendidikan terhadap cucunya ini, bukan saja keren wajahnya bahkan nada pembicaraanpun tegas dan bersungguh-sungguh.

Hoa In-liong yang menengadah dan menyaksikan keadaan kakeknya ini, kontan merasa tercekat hatinya, ia sendiripun merasa sedikit di luar dugaan.

Pek-siau-thian anggukkan kepalanya, dan melanjutkan kembali kata-katanya.

"Ayahmu berjiwa besar, berwatak sabar tapi bersikap tegas, masalah kecil tidak selalu dipikirkan dalam hati, masalah besarpun bersikap luwes, sekalipun berhadapan dengan musuh besar pembunuh ayahnya, diapun tidak bersikap angkuh, sepanjang hidup tak pernah melukai mereka yang sudah tak mampu bergerak, apalagi membunuh mereka yang sudah kehilangan daya perlawanannya,sebab itu kendatipun musuh bebuyutannya juga menaruh tiga bagian rasa hormat kepadanya."

Ketika mendengar sampai disana, Hoa In-liong telah mengetahui apa yang dimaksudkan Gwakongnya, cepat ia memberi hormat seraya berkata.

"Liong-ji tak tahu kalau beberapa orang ini sudah tertotok jalan darahnya."

Pek-siau-thian ulapkan tangannya mencegah anak muda itu bicara lebih lanjut, tukasnya.

"Kau tak usah bicara lebih jauh, untuk hidup sebagai seorang manusia engkau harus bertindak teliti, sebab dikala perasaan hatimu mulai bergerak maka yang benar tetap akan benar, dan yang salah tetap akan salah, benar atau tidaknya harus kau bedakan disaat itu. bila kau tidak meninjau dulu keadaannya tapi bertindak menurut emosi, coba bayangkan saja seandainya gwa-kong tidak datang tepat pada waktunya, bagaimanakah akibatnya sekarang..."

Hoa In-liong tak dapat berbicara lagi, dia hanya bisa mengiakan berulang kali. Terdengar Pek Siau-thian berkata lebih lanjut.

"Gwa-kong sedari tadi sudah tiba disini, dan apa yang terjadi dapat kusaksikan semua dengan jelas, akupun menyaksikan bagaimanakah dengan menempuh bahaya kau mencari kesempatan yang baik untuk mengorek keterangan dari mulut lawan, sekalipun kegagahanmu lumayan juga namun masih selisih jauh bila dibandingkan dengan ayahmu. Aaaai...... Aku benar-benar merasa tidak habis mengerti mengapa nenekmu begitu tega untuk melepaskan kau berkelana seorang diri?"

Kendati maksud ucapannya adalah memberi pendidikan dan pelajaran yang keras untuk cucu luarnya ini, tapi rasa sayang dan manjanya terhadap cucu lakinya ini kentara sekali diantara pancaran wajah maupun nada pembicaraannya.

Sebagai bocah yang binal, begitu Hoi In-liong menangkap kalau nada suara gwa-kongnya menjadi lunak kembali, ia lantas menengadah, dengan alis mata berkenyit katanya.

"Gwa-kong masa kau tidak tahu? Liong-ji bisa berkelana diluaran sekarang ini adalah atas perintah dari nenek."

"Tentang soal ini kita bicarakan nanti saja!"

Tukas Pek Siau-thian sambil ulapkan tangannya.

"sekarang kau harus putuskan dulu, dengan cara apa engkau hendak selesaikan beberapa orang ini?"

"Lepaskan saja mereka semua!"

Sahut Hoa In-liong sekenanya. Pek Siau-thian tersenyum.

"Bukankah engkau hendak menyelidiki latar belakang tentang perkumpulan Hian-beng-kau?"

"Liong-ji telah mengerti, bahwa pengetahuan dari seorang ketua regu sangatlah terbatas sekali."

"Bukankah dia adalah murid tertua dari ketua perkumpulan Hian-beng-kau?"

"Murid tertua juga sama saja. sampai kini Hian-beng kaucu tetap menyembunyikan diri seperti kura-kura, ia cuma mengutus anak buahnya melakukan keonaran dai penganiayaan, masakan rahasia besar rencananya akan dibeberkan dihadapan mereka? Malahan yakin bahwa ia sudah memperingatkan anak buahnya untuk menjaga rahasia dengan siksaan keji sebagai imbalannya bila mereka telah membocorkan rahasia tersebut, maka aku pikir tak ada gunanya kita paksa mereka untuk memberi keterangan, Liong-ji akan berusaha untuk mencari keterangan sendiri dengan usaha yang kumiliki."

Mendengar jawaban tersebut, Pek Siau-thian tertawa terbahak-bahak sambil mengelus jenggotnya ia berkata.

"Haahh...... haaaahhh....... haaahhh..... sungguh tak kusangka engkau berotak cermat dan mempunyai semangat yang menyala-nyala, baiklah Gwa-kong akan membantu dirimu untuk melepaskan orang-orang ini."

Dia lantas putar badannya, diantara sentilan jari tangannya, sembilan orang jago yang tertotok jalan darahnya segera bebas dari pengaruh totokan tersebut.

"Sebera tinggalkan kota Lok-yang"

Hardiknya dengan lantang.

"kalau berani mengulur waktu lagi, Hmm Bila terjatuh ketangan lohu lagi, jangan harap kamu semua bisa dibebaskan seperti hari ini, Hayo cepat pergi..."

Dari pembicaraan yang baru saja berlangsung Ciu Hoa sudah mengetahui akan asal usul kakek berjubah ungu itu.

tentu saja ia tak berani berdiam lebih lama lagi disana.

Begitu jalan darahnya bebas, mereka lantas memungut kembali senjatanya, kemudian setelah melotot sekejap ke arah Hoa In-liong dengan penuh kebencian, mereka lari terbirit-birit tinggalkan ruangan itu, dalam sekejap mata bayangan tubuh mereka sudah lenyap tak berbekas.

Setelah beberapa orang itu berlalu Hoa In-liong baru berpaling, ujarnya sambil tertawa cecikikan.

"Huhh..hiihh..hiihh..sekarang aku sudah paham"

"Apa yang kaupahami?"

Tanya Pek Siau-thian tercengang.

"Tentu Gwa-kong yang sudah memindahkan jenasah dari Suma siok-ya dari tempat ini."

Pek Siau-thian tersenyum, ia membelai rambut cucunya dengan penuh kasih sayang, kemudian sahutnya.

"Bocah manis, kau memang cerdik, memang benar gwa-kong yang sudah memindahkan jenasah dari Suma-tayhiap suami istri dari sini, sekarang jenasah mereka bersemayam di kuil Pek-ma-si diluar kota sana, dan dirawat oleh Cu-hong-taysu."

"Siapakah Cu-hong Taysu itu?"

Tanya Hoa In-liong keheranan.

"Tentunya kau kenal bukan siapakah Cu-in-taysu itu?"

"Kenal,"

Sahut si anak muda itu sambil mengangguk.

"dia adalah sahabat karib ayahku."

"Cu-hong taysu adalah kakak seperguruan Cu-in taysu, dia adalah sobat karib Gwakong."

Kiranya sejak pertempuran di bukit Cu-bu-kok dimana perkumpulan Sin-kapang mengalami kekalahan besar, kemudian dalam penggalian harta dibukit Kiu-ci-san iapun harus banyak mengandalkan bantuan Hoa-Thian-hong, setelah itu putri sulungnya kawin dengan Bong-Pay, putri keduanya kawin dengan Hoa-Thian-hong, dimana kedua orang menantunya adalah jagojago dari golongan lurus, ditambah pula istrinya Kho-hong-bwe selalu menasehati suaminya agar bertobat.

Dalam putus asa dan kecewanya Pek-siau-thian sering kali belajar agama Budha dari istri nya sering pula berhubungan dengan orang-orang luar maka pada mulanya ia setelah dapat melepaskan cita-citanya untuk menjagoi kolong langit, tapi akhirnya iapun sadar bahwa jalan pikirannya itu keliru besar.

Maka akhirnya bukan saja ia sering berhubungan dengan Bun Tay-kun sekalian anak famili dari golongan lurus, perangainya pun banyak berubah yang berbudi luhur, dengan Cu-hong, cu-in taysu sekalian pun menjadi sahabat karib.

Kalau bukan lantaran perangainya sudah banyak berubah, dengan perbuatan dari Ciu Hoa sekalian tadi, tak nanti ia akan lepaskan mereka dalam keadaan hidup.

Setelah mendengar asal usul Cu-hong taysu dari Gwa-kong nya, Hoa In-liong merasakan hati nya jadi lega, diapun berkata.

"Oooh.,.. kiranya dia adalah suhengnya Tau-to yaya, sepantarnya kalau Liong ji pergi menyambanginya."

"Sedari kapan kau pandai menjalankan adat kesopanan?"

Goda Pek Siau-thian sambil tersenyum. Merah padam selembar wajah anak muda itu karena jengah, serunya manja.

"Gwa-kong, masa kau anggap Liong-ji selamanya tak dapat tumbuh jadi dewasa?"

"Haaahhh....haaahhh....haaahhh.....bagus. Bagus! Kau memang sudah dewasa, kau memang sudah dewasa. Cuma.... Gwa-kong selalu berharap agar selamanya kau jangan dewasa......"

Setelah berhenti sebentar, dia alihkan pokok pembicaraan kesoal lain, tanyanya lagi.

"Menurut pengamatanku, tampaknya kau datang dengan membawa tugas, tugas apakah kau diperintahkan untuk menyelidiki kasus pembunuhan berdarah atas diri Suma tayhiap?"

"Benar dari mana Gwa-kong bisa tahu?"

Tanya Hoa In-liong tercengang, agaknya ia tak menduga kalau kakeknya bisa menduga sampai kesitu. Pek Siau-thian tertawa.

"Tentu saja Gwa-kong mengetahui kejadian ini secara kebetulan saja, dalam perjalanan melewati kota Lok-yang, aku baru tiba disini menjelang senja, sebenarnya tujuanku adalah mengunjungi sobat-sobat lama sambil kongkou, siapa tahu Suma siok-ya mu telah menjadi almarhum, ketika kutemukan rumahnya terbengkalai, dalam peti mati tersiar bau obat beracun, dan diantara debu yang melapisi permukaan lantai kutemukan juga bekas-bekas pertarungan setelah itu kutemukan juga bekas gigitan diantara tenggorokan Suma-Tayhiap suami istri, aku lantas sadar bahwa setelah mereka mati, pihak musuh telah menggunakan jenasah mereka sebagai jebakan untuk memancing orang-orang yang melayat kemari masuk perangkap, untuk menghindari segala kemungkinan yang tak diinginkan maka jenasah mereka aku pindahkan dari sini."

Mendengar keterangan tersebut, tanpa terasa lagi Hoa In-liong lantas berpikir.

"Aaaai.....bagaimanapun juga pengetahuan serta pengalaman Gwa-kong jauh lebih hebat daripadaku, sampai sekarang aku baru mencurigai sampai kesitu sebaliknya cukup dalam sekali tatapan saja dia orang tua sudah menebak maksud busuk musuh dan segera melakukan segala tindakan penanggulangan, dari sini menunjukkan bahwa aku masih belum bisa untuk berbuat apa-apa."

Sementara dia masih melamun, Pek Siau-thian telah bertanya lagi.

"Liong-ji, sudah berapa lama kau tiba di kota Lok-yang?"

"Kemarin baru sampai."

"Berhasil menemukan sesuatu tanda terang yang patut dicurigai?"

"Sudah, dan titik terang itu adalah Ciu Hoa tadi."

"Kalau begitu... bukankah titik terang itu kembali sudah terputus....?"

Kata Pek Siau-thian dengan dahi berkerut.

"Aaaah, tak jadi soal, Liong-ji toh bisa mencarinya lagi,"

Sahut Hoa In-liong dengan santainya.

Sepintas lalu ucapan itu memang kedengarannya biasa dan tak ada sesuatu keistimewaannya, bahkan malahan lebih mendekati jawaban yang seenaknya, tapi bagi pendengaran Pek Siauthian justru berbeda jauh, dia malahan merasakan betapa gagah dan terbukanya pikiran cucunya ini, bahkan dibalik kelembutan sebetulnya tersembunyi suatu kekuatan yang dapat membuat orang jadi takluk dan kagum..

Tak terasa lagi ia tersenyum, sambil mengelus jenggotnya dia berpikir.

"Bocah ini betul-betul berhati sekeras baja, berjiwa besar, berotak cerdik dan pandai menyelami perasaan orang, bila dididik secara betul dan terpimpin, niscaya dikemudian hari akan menjadi seorang pemimpin dunia persilatan yang patut diandal kan"

Ooooooooooo KARENA berpendapat begitu, Pek-siau-thian merasa hatinya jaun lebih lega katanya kemudian dengan lantang.

"Liong-ji hayo berangkat Ikut Gwa-kong ke-kuil Peks-ma-si."

"Waaah, tidak bisa,"

Sahut Hoa In-liong setelah sangsi sebentar.

"kuda dan bekalku masih ada di rumah penginapan"

Pek Siau-thian berpikir sejenak. kemudian sambil ulapkan tangannya ia berkata lagi.

"Baiklah, kalau begitu mari kita berkumpul dirumah penginapan"

Hoa In liong tidak mengerti apa sebabnya Gwa-kong mendadak jadi gembira sekali, tapi berhubung ia sudah lama berpisah dengan kakeknya dan lagi iapun sudah amat rindu dengan engkongnya ini tanpa berpikir panjang lagi ia maju ke muka dan sambil menggandeng tangan si kakek tua itu berlalu dari ruangan.

Sekembalinya dirumah penginapan, Hoa In-liong memerintahkan pelayan untuk siapkan sayur dan arak.

selesai membersihkan badan kakek dan cucu berduapun bersantap sambil bercerita.

Tampaknya Pek Siau-thian memang mempunyai maksud tertentu, ia berniat untuk melatih Hoa In liong sehingga lebih perkasa dan lebih luas pengetahuannya.

Mula-mula ia menanyakan kisah Hoa In-liong ketika mendapat perintah untuk meninggalkan rumah, kemudian menanyakan pula semua kejadlan dan peristiwa yang dijumpainya selama berada di kota Lok-yang.

Dengan tak Jemu-jemunya Hoa In-liong segera menjawab semua pertanyaan kakeknya dengan jelas.

Pek Siau-thian sendiripun lantas mendengarkan penuturan dari cucunya sambil tersenyum.

selesai bercerita, Hoa In-liong mendadak membuka telapak tangan kirinya dan disodorkan kedepan, kemudian katanya.

"Gwa-kong, semua persoalan tidak Liong-ji pikirkan, tapi ada satu hal yang tidak berkenan di hati Liong-ji, yakni ukiran huruf "

Benci"

Yang dibuat ibu ditanganku, apakah Gwa-kong tahu apa maksudnya mengukir huruf tersebut?"

Pek Siau-thian melirik sekejap telapak tangan kirinya, kemudian ia balik bertanya.

"Apakah engkau merasa tidak senang hati, dengan kejadian itu?"

"Bukannya Lion-ji tak senang hati cuma Liong-ji merasa bahwa tindakan ini sebenar nya sama sekali tak berarti...."

"Nenekmu adalah seorang pendekar wanita uang berjiwa besar dan berotak cerdas."

Tukas Pek Siau-thian dengan cepat.

"jangankan orang lain, aku sendiripun amat mengaguminya, aku percaya semua .perbuatan yang ia perintahkan pasti mempunyai arti dan maksud yang mendalam, hanya engkau belum berhasil menangkap artinya."

"Lalu apa maksudnya?"

Seru Hoa In-liong sambil menatap Gwa-kong nya tajam-tajam.

"ibu dan nenek semuanya bilang bahwa mereka tidak membenci aku, tapi aku tak dapat memecahkan maksud dan arti di balik kesemuanya ini, kadangkala aku tak tahan dan memikirkan persoalan ini, namun sekalipun aku sudah putar otak memeras keringat, toh akhirnya masih tetap merupakan suatu persoalan simpul mati."

Pek-siau-thian tersenyum setelah mendengar perkataan itu ujarnya.

"Bila ingin menjadi seorang yang besar dan terkenal, pikiran dan jiwamu harus lapang, persoalan sepele dan masalah kecil jangan selalu dipikirkan di hati, bukan saja kejadian itu bisa menutupi kecerdasan otakmu bahkan amat mengganggu kesehatan badan, bila tak berhasil dipecahkan lebih baik tak usah dipikirkan-"

"Aaaai Gwa-kong, ucapanmu ini persis seperti perkataan nenek"

Gerutu sang pemuda dengan wajah murung.

"cobalah bayangkan, Liong-ji harus memikul tugas yang sangat berat ini, masakah aku tak boleh menyelidiki tiap persoalan yang sedang kuhadapi? Sebelum berangkat, ibu telah mengukir huruf "

Benci"

Itu di atas telapak tangan Liong-ji apakah liong-ji harus berdiam diri belaka."

Pek-siau thian mengelus jenggotnya dan tersenyum.

"Lalu bagaimana menurut jalan pikiranmu? Apakah tulisan itu ada hubungan yang erat dengan peristiwa pembunuhan berdarah ini?"

"Tentu saja,"

Jawab pemuda itu cepat.

"kalau tak ada sangkut pautnya dengan peristiwa berdarah itu, mengapa sewaktu mengukir huruf tersebut nenek bersikap amat serius. Gwa-kong, tahukah kau bahwa pada waktu itu ibu merasa tak tega, tapi nenek yang memaksa terus untuk mengukir huruf itu ditangan Liong-ji."

"Liong-ji, kau tak boleh bicara sembarangan!"

Mendadak Pek-siau-thian menukas dengan wajah serius.

"nenekmu adalah ksatria sejati diantara kaum perempuan, baik kecerdasan otak maupun pengetahuannya jauh lebih hebat dari siapapun, kalau ia memaksa untuk berbuat demikian, itu berarti ia mempunyai maksud tertentu ketahuilah menyalahkan angkatan yang lebih tua adalah...."

Kata selanjutnya tak lain adalah kata-kata nasehat yang setumpuk bukit, dengan watak Hoa ln liong yang binal, ia segan untuk mendengarkan "Nasehat"

Tersebut, tapi iapun mengerti betapa sayangnya Pek Siau-thian terhadap dirinya, maka ia berkata kemudian.

"Apa alasannya? Kalau tidak diterangkan bukankah itu berarti bahwa Liong ji selalu harus memikirkan soal 'Benci', 'Benci' pada langit, 'Benci' pada bumi dan mungkin harus 'benci' terhadap setiap manusia yang ada di kolong Langit?"

"Ngaco belo!"

Bentak Pek Siau-thian dengan keras.

Mendadak satu ingatan terlintas dalam benaknya, tanpa terasa kakek tua itu jadi tertegun dan berdiri termangu-mangu.

Hoa In-liong sendiripun agak tertegun menyaksikan keadaan gwa-kongnya itu, dengan tercengang ia lantas berseru.

"Gwa-kong, kenapa kau? Apakah berhasil menemukan alasannya?"

"Jangan berisik dulu,"

Sela Pek-siau-thian sambil ulapkan tangannya.

"biar kupikirkan persoalan ini dengan seksama."

Hoa In-liong mengerdipkan matanya, lalu berpikir.

"Benar, Gwa-kong dimasa lalu adalah seorang pemimpin dunia persilatan yang tersohor dan mempunyai kedudukan tinggi, ia pasti mengetahui banyak tentang Giok-teng hujin, apa salahnya kalau kugunakan kesempatan ini untuk mencari tahu tentang dirinya?"

Baru saja ingatan tersebut melintas dalam benaknya, Pek Siau-thian telah menatap tajam cucunya sambil bertanya.

"Liong-ji, pernah kau dengar tentang seorang jago lihay dimasa lampau yang bernama Kiu-im kaucu?"

Hoa In-liong ingin cepat-cepat menjawab, sambil mengangguk segera sahutnya.

"Menurut apa yang Liong-ji dengar, Kiu-im kaucu adalah seorang perempuan berilmu tinggi, orang itu licik, banyak akal busuknya dan kejam..."

"Ehmm"

Pek Siau-thian mengangguk.

"Suma Siok-cubomu dulunya adalah tiamcu dari istana neraka, dengan Suma siok-ya mu...."

"Apa?"

Tukas Hoa In-liong tercengang "bukankah perkumpulan Kiu-im-kau adalah perkumpulan kaum sesat?"

Pek Siau-thian mengangguk.

"Perkumpulan Kiu-im-kau memang suatu perkumpulan kaum sesat, Tiancu istana neraka itu pernah bertarung melawan Suma siok-ya mu, berhubung usia mereka sebaya dan ilmu silatnya seimbang, sejak terjadinya pertarungan itu mereka selalu memikirkan pihak lawannya. Kemudian saat Suma siok-ya mu sedang berpesiar, diatas bukit Lak-siau-san mereka berjumpa untuk kedua kalinya, waktu itu mereka berpesiar selama beberapa hari mengunjungi tempat kenamaan, ketika hubungan mereka kian lama terasa kian bertambah cocok. akhirnya Yu-beng tiamcu ini melepaskan diri dari perkumpulan Kiu-im-kau dan menemani Suma siok-ya mu berkunjung kedaratan Tionggoan dimana, akhirnya atas persetujuan dari nenekmu, merekapun menikah menjadi suami istri."

"Aaah, kiranya siok cubo melepaskan diri secara diam-diam dari perkumpulan Kiu-im-kau,"

Pikir Hoa In-liong dalam hati.

"tak aneh kalau sepanjang tahun jarang keluar pintu gerbang, bahkan berkunjung kerumahpun hampir tak pernah."

Meski dalam hati berpikir demikian, di luaran ia berkata.

"Jadi maksud gwa-kong, otak dari pembunuhan berdarah atas diri Suma siok-ya dan siok cubo ini tak lain adalah Kiu-im kaucu?"

"Benar atau tidak kita harus melakukan penyelidikan lebih jauh, tapi bagaimanapun juga kita tak boleh melepaskan titik terang dengan begitu saja."

Hoa In-liong berpikir sebentar, lalu menyambung.

"Aah aku rasa belum tentu begitu. Menurut kisikan dari nenek. agaknya beliau menaruh curiga bahwa persoalan ini ada hubungannya dengan Giok-teng Hujin, sebab tanda pengenal yang ditinggalkan pembunuh itu tak lain adalah sebuah hiolo kecil berwarna ungu kemala."

"Aku bisa menduga sampai kesitu justru karena secara tiba-tiba teringat akan diri Giok-teng hujin ini."

"Oooh... kiranya dugaan kalian ada kemiripannya antara yang itu dengan yang lain!"

Seru Hoa Inliong seperti baru sadar.

"Gwa-kong, cepatlah terangkan, bagaimana dengan Giok-teng hujin itu?"

"Aku sendiripun mendengar cerita ini dari cu-in taysu. Katanya di masa lalu ayahmu, entio-mu, dan Suma siok-ya mu pernah menerima budi kebaikan dari Giok-teng-hujin, kemudian sewaktu Giok-teng hujin mendapat musibah, ayahmu dan Suma-siokya mu bersama-sama datang ke kota Cho Ciu untuk memberi pertolongan, menurut keterangan Cu in taysu, pada waktu itu Giok-teng hujin sedang menjalankan siksaan Im hwe lee hun (api dingin melelehkan sukma), siksaan itu amat keji dan melanggar peri kemanusiaan, ketika menyaksikan keadaan tersebut ayahmu amat sedih dan gusar sehingga mendekati kalap. apa yang dipikirkan olehnya waktu itu hanyalah membunuh manusia sebanyak-banyaknya." (untuk jelasnya silahkan membaca. Bara Maharani oleh penyadur yang sama). Ketika mendengar kisah tersebut, Hoa In-liong segera mengerutkan dahinya dan berpikir dihati.

"Siksaan api dingin melelehkan sukma memang merupakan suatu siksaan yang keji dikolong langit, sekalipun aku yang temui kejadian juga akan naik darah, apalagi ayah pernah mendapat budi dari Giok-teng hujin, tentu saja kemarahannya mendekati kekalapan setelah menjumpai kejadian itu, tapi apa sangkut pautnya antara kejadian itu dengan kematian Suma siok-ya serta ukiran huruf 'benci' diatas telapak tanganku ini?"

Pek Siau-thian sudah sering bergaul dengan cucunya ini semenjak masih bayi, sekilas memandang tampang cucunya, ia lantas dapat menebak apa yang dipikirkannya, maka ujarnya lagi.

"Liong-ji, apakah engkau menganggap ayahmu ingin membunuh orang hanya disebabkan oleh dorongan emosi dan kemarahan saja.?"

"Apakah dibalik kejadian ini masih terdapat sebab-sebab lain....?"

Hoa In-liong balik bertanya setelah tertegun sejenak.

"Tentu saja, Ayahmu sudah kenyang mengalami penderitaan, watak dan keteguhan imannya jauh berbeda dengan manusia biasa, padahal dalam dunia persilatan banyak terdapat kejadiankejadian yang gampang membuat orang naik darah bila setiap kali marah dia lantas ingin membunuh orang, berapa banyak sudah manusia yang akan terbunuh oleh ayahmu? Dan darimana mungkin ia bisa melakukan pekerjaan besar?"

"Lalu sebenarnya mengapa ia sampai berbuat demikian?"

Desak si anak muda itu cepat. Pertanyaan ini diajukan dengan hati yang gelisah seakan-akan sudah tak sabar untuk menanti lebih lama lagi, melihat keadaan cucunya ini Pek Siau-thian kembali berpikir.

"Bun Tay-kun amat ketat mendidik keturunannya sedang persoalan, ini menyangkut soal muda-mudi Seng-ji (Hoa Thian-hong) dimasa mudanya, aku harus mengelabuhi beberapa bagian yang tak perlu dihadapan Liong-ji, tapi bagaimana aku harus mulai dengan jawabanku....?"

Setelah termenung beberapa saat lamanya, Pek Siau-thian menghela napas panjang dan menjawab.

"Dahulunya Giok-teng hujin juga merupakan anak buah dari Kiu-im-kau, ketika itu ia sangat sayang terhadap ayahmu, hubungan mereka lebih akrab dari kakak beradik, sejak perkumpulan Kiu-im-kau secara resmi munculkan diri lagi dalam selat Cu-bu-kok, ia selalu memusuhi ayahmu dan berusaha merampas pedang baja ayahmu."

Sebagai seorang pemuda yang cerdas, tentu saja Hoa In-liong dapat menangkap maksud lain dibalik ucapan tersebut, ia lantas menyela..

"Tentang peristiwa perebutan pedang baja itu, Liong-ji sudah pernah tahu, pedang itu direbutkan karena dalam pedang tersebut disimpan se

Jilid kitab Kiam-keng yang lihay. Jadi kalau begitu tujuan Kiu-im kaucu melakukan penyiksaan Api dingin melelehkan sukma adalah untuk memaksa ayah untuk menyerah?"

Pek Siau-thian mengangguk tanda membenarkan.

"Padahal pada waktu itu ayahmu sudah berhasil mendapatkan kitab Kiam-keng, sebagai seorang pendekar yang mengutamakan budi, dalam perkiraan Kiu-im kaucu jika ia gunakan siksaan yang keji untuk menyiksa Giok-teng hujin, maka bila ayahmu bertekuk lutut..."

"Aaaah, sekarang, aku sudah paham!"

Tiba-tiba Hoa In-liong berseru lantang.

"tentunya ayahmu tak sudi menyerahkan pedang baja itu, maka Giok-teng hujin mendendam persoalan itu dalam hati kecilnya karena..."

Siapa tahu Pek Siau-thian gelengkan kepalanya sambil menukas.

"Keliru, keliru besar? Giok-teng hujin bukan perempuan biasa, cinta kasihnya terhadap ayahmu boleh diibaratkan tingginya langit dan tebalnya bumi, ia rela menderita siksaan yang lebih hebat sepuluh kali lipat lagi daripada menyaksikan ayah mu terhina dan tercela namanya."

Hoa In-liong jadi tertegun.

"Aaah... kalau memang begitu, kebanyakan "otak"

Dari pembunuhan berdarah itu adalah Kiu-im kaucu."

Pek Siau-thian mengerutkan dahinya.

"Liong-ji, untuk menyelidiki siapakah otak dari pembunuhan berdarah ini, kau tak boleh memecahkannya berdasarkan dugaan, dengarkan dahulu penjelasanku lebih jauh."

Sekali lagi Hoa In-liong tertegun, dengan wajah tercengang bercampur curiga dia amati kakeknya. Setelah menghela nafas panjang, Pek Siau-thian berkata lebih jauh.

"Menurut keterangan dari Cu-in Taysu, sebelum seseorang menjalankan siksaan api dingin melelehkan sukma, maka diulas dada sang korban akan ditaburi dulu dengan sejenis racun yang dinamakan Miat-ciat-im-leng (bubuk phospor pelenyap keturunan) , kemudian dengan menggunakan........

Jilid 6 SEBUAH lentera Lian-hun-teng (lentera peleleh sukma) yang khusus terbuat dari hawa racun katak paru, racun phospor itu akan dihisap sedetik demi sedetik, setelah menjalankan siksaan terbakar perlahan-lahan selama tujuh hari tujuh malam, sang korban akan mati karena hawa racun menyerang jantungnya.

Liong-ji coba bayangkan, sebelum mati orang yang tersiksa akan mengalami penderitaan yang amat hebat, betapa kejam dan ngerinya keadaan tersebut?"

Hoa In-liong membungkam dalam seribu bahasa, hawa gusar dan jengkel jelas tercermin diatas wajahnya. Sekali lagi Pek Siau-thian menghela napas panjang, ujarnya lebih jauh.

"Siksaan tersebut betulbetul amat keji dan tak berperikemanusiaan, tentu saja ayahmu amat gusar setelah menyaksikan kejadian itu, tapi berulangkali Glok-teng hujin berpesan kepada ayahmu agar jangan mau tunduk pada perintah orang, tak boleh mandah diperintah orang, kalau tidak maka sekalipun ia bisa ditolong dalam keadaan hidup, tapi dia akan bunuh diri, Liong-ji, coba pikirlah betapa bergolaknya perasaan ayahmu pada waktu itu."

Mendengar ucapan tersebut, mencorong sepasang mata Hoa In-liong sinar mata itu setajam sembilu dan mengerikan sekali, melihat hal itu Pek Siau-thian segera berseru.

"Liong-ji, dengarkan baik-baik, aku hendak membicarakan tentang soal yang pokok."

Hoa In-liong tersentak kaget ia segera menyahut.

"Katakanlah Gwa-kong, Liong-ji akan mendengarkan dengan sungguh-sungguh...."

"Pada waktu itu ayahmu merasa hatinya remuk rendam, dalam gusar bercampur emosi, ia berhasrat untuk membunuh habis semua anak buah perkumpulan Kiu-im-kau, kemudian akan beradu jiwa dengan Kiu-im-kaucu. Cu-in taysu yang berhati welas jadi kasihan dan tak tega, ia tak ingin menyaksikan anak buah perkumpulan Kiu im kau bergelimpangan menjadi mayat maka cepat ia perintah ayahmu untuk memusatkan pikiran dan tenangkan hati padahal ayahmu sedang emosi dan diliputi kemarahan, dia pun tak berani membangkang perintah angkatan yang lebih tua, seperti harimau terluka ia lantas berteriak keras.

"Taysu berwelas kasih, boanpwe menanggung benci"

Sampai disini ia berhenti sebentar, ditatapnya Hoa In-liong lekat-lekat kemudian melanjutkan.

"Liong-ji, tahukah engkau kata 'benci' itu bagaimana mungkin bisa diucapkan keluar?"

Hoa In-liong memutar biji matanya lalu menjawab.

"Tentu saja patut dibenci. Kiu-im kaucu mengancam dengan menyandera orang, sedang ayah harus menolong orang terlepas dari siksaan, namun ia tak dapat membalas cinta kasih Giok teng hujin, tak dapat pula menukar sandera dengan kiam-keng, sekalipun membunuh orang mengadu jiwapun tak dapat menolong keadaan tersebut, sebaliknya orangnya harus ditolong, dalam keadaan begini tentu saja ia merasa benci sekali."

"Jadi kalau begitu, kau juga memiliki perasaan yang sama seperti ayahmu tempo dulu?"

Selidik Pek Siau-thian. Dengan terus terang dan blak-blakan Hoa In-liong menjawab.

"Setelah menerima setitik budi kebaikan dari orang, sepantasnya membayar budi itu dengan cara apapun, bila liong-ji yang menghadapi peristiwa itu, mungkin rasa benci Liong-ji berlipat kali akan lebih hebat daripada ayahku"

Pek Siau-thian menghela napas panjang.

"Aaai....meski manusia mempunyai perasaan yang sama dan perasaan yang sama disadari oleh alasan yang sama, tapi toh belum tentu diterima oleh masyarakat luas sebagai tindakan yang benar."

Tiba-tiba paras mukanya jadi serius, dengan keren sambungnya lebih lanjut.

"Liong-ji, tentunya pada saat ini kau sudah memahami bukan apa sebabnya ibumu mengukir huruf 'benci' diatas telapak tanganmu?"

Hoa In-liong mengerutkan dahinya, lalu bertanya keheranan.

"Kenapa? Masa huruf 'benci' itu timbul lantaran ayah?"

Telapak tangan kirinya direntangkan lebar-lebar lalu diamatinya huruf 'benci' itu sekali demi sekali, tapi makin dilihat ia merasa semakin bingung dan tidak mengerti, ia benar-benar tak berbasil menemukan jawaban yang menunjukkan bahwa huruf 'benci' yang berwarna biru tua ini mempunyai hubungan yang erat dengan perbuatan ayahnya dimasa lampau.

Ketika Pek-siau-thian melihat anak muda itu masih juga bingung dan tak habis mengerti, ia lantas menghela napas panjang.

"Aaaa.... pada hakekatnya huruf 'benci' yang dialami ayahmu dimasa silam timbul lantaran cinta, Andaikata Giok-teng hujin tidak menaruh rasa cinta, ia tak akan begitu sayang dan membantu ayahmu, dan iapun tak akan bersedia menerima siksaan, daripada menyaksikan ayahmu harus tunduk pada perintah orang dan mendapat penghinaan, sebaliknya ayahmu jika tidak menaruh rasa cinta pada Giok-teng hujin, sekalipun demi keadilan dan kebenaran, kegusaran dan kepedihan hatinya tak akan mencapai pada puncaknya, diapun tak akan mencari orang untuk mengadu jiwa, dan ketika didesak sampai posisi apa boleh buat diapun tak akan mengucapkan kata-kata "

Menanggung benci ", dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa cinta antara muda mudi, kadang kala mudah mendatangkan kerepotan dan kesulitan bagi diri sendiri"

Hoa In-liong mengedip-ngedipkan matanya, dengan sikap setengah mengerti setengah tidak, ia mengerutkan dahinya.

"Liong-ji apakah kau belum juga mengerti?"

Tiba-tiba Pek Siau-thian bertanya lagi dengan wajah serius "

Nenekmu memaksa ibumu untuk mengukir huruf 'benci' diatas telapak tanganmu, lantaran dia tahu bahwa kau terlampau romantis, sejak kecil suka main perempuan dan bertukar pacar maka dengan ukiran tersebut ia berharap agar engkau bisa mawas diri dan menjaga diri baik-baik sehingga tidak ikut terjerumus seperti apa yang pernah dialami ayahmu dimasa lalu, sebab kalau sampai terjerumus dalam kesulitan, saat itu mau menyesalpun sudah tak berguna"

Berhubung masalahnya menyangkut tentang kegemaran jeleknya, Hoa In-liong merasa pipinya jadi merah padam karena jengah, serunya terbata-bata.

"Tentang soal ini....tentang soal ini..."

"Tak usah ini itu lagi"

Tukas Pek Siau-thian sambil ulapkan tangannya.

"nenekmu berwatak keras dan sangat disiplin, ia tak ingin menyaksikan engkau mengalami kejadian seperti yang dialami ayahmu namun merasa tidak leluasa untuk memberitahukan kejadian ayahmu dimasa lampau, oleh sebab itu ia mengukir huruf 'benci' diatas telapak tanganmu itu, apa tujuannya sekalipun tak usah diterangkan sudahlah jelas. Bila engkau tak dapat meresapi harapan dari orang tuamu dengan merubah kebiasaan busukmu, maka sia-sialah engkau hidup sebagai putra manusia, engkau akan dicap sebagai anak yang tidak berbakti"

"Gwa-kong, apakah engkau orang tua juga mempunyai pandangan yang sama seperti nenek?"

Tanya Hoa In-liong ketakutan Pek Siau-thian tersenyum.

"Mengharapkan engkau jadi naga diantara manusia adalah harapan kita semua, tentu saja Gwakong maupun nenekmu mempunyai pendapat serta pandangan yang sama"

Hoa In-liong membungkam dan tak bisa berbicara lagi, dengan dahi berkerut dia tundukkan kepalanya rendah-rendah.

Bagi Pek Siau-thianpun, sebenarnya persoalan ini memang sangat mengena di hatinya.

ketika ia kurang akur dengan istrinya tempo dulu, sampai manakah rasa rindunya terhadap Kho-Hongbwe boleh dibilang hanya dia seorang yang tahu, kemudian putri bungsunya Pek-Kun-gi mencintai Hoa-Thian-hong.

sebelum berhasil menjadi istrinya yang kedua, banyak penderitaan dan siksaan yang harus dialaminya, meski hanya putrinya namun kejadian itu seakan-akan dia sendiri yang mengalami, kemudian diapun pernah mendengar tentang kasih cinta Hoa-Thianhong dengan Giok-teng hujinIa beranggapan bahwa semua peristiwa itu bisa terjadi lantaran gara-gara soal "Cinta", maka setelah sekarang ia saksikan cucunya yang binal dan romantis ternyata membawa huruf 'benci' diatas telapak tangannya, otomatis diapun dapat menebak maksud hati Bun-Taykun, tentu saja dia sendiripun berharap agar cucunya jadi naga diantara manusia, maka menumpang kesempatan ini dia lantas memperingatkan pemuda itu agar merubah wataknya yang jelek sehingga jangan sampai mengalami peristiwa pula yang menyangkut soal "

Kebencian". Bagaimana dengan Hoa In-liong sendiri? Ia tundukkan kepalanya sambil termenung, sementara dalam hati berpikir.

"Benar demikian? Benahkah begitu artinya.."

Tatkala dilihatnya sianak muda itu termenung seperti menemui kesulitan, timbul kembali perasaan sayang dihati Pek Siau-thian, kembali ia berkata.

"Liong-ji, engkau tak usah banyak berpikir lagi pokoknya baik gwa-kong, maupun ibumu dan nenekmu semuanya berharap agar engkau selamat dari bencana, selamat dari penderitaan dan selalu aman sentausa, asal engkau tahu bahwa 'benci' tumbuh karena "

Cinta"

Dan bersikap waspada serta mawas diri, itu sudah lebih dari cukup."

Tiba-tiba Hoa In-liong menengadah, lalu ujarnya dengan dahi berkerut.

"Gwa-kong, aku lihat belum tentu demikian maksudnya"

Pek Siau-thian agak terkejut, ia lantas berpikir.

"Ada apa ini? Masakan ucapanku sepatah kata pun tak dapat ditangkap olehnya?"

Mesti kaget ia bertanya juga.

"Lalu bagaimana menurut pendapatmu?"

"Aku rasa huruf 'benci' ini, kemungkinan besar ada sangkut pautnya dengan peristiwa berdarah ini"

Kata Hoa In-liong sambil mempertajam ujung bibirnya. Ia membuka kembali telapak tangannya, lalu memperlihatkan huruf itu dihadapan Pek Siauthian, kemudian ujarnya lebih jauh.

"Tentu saja dibalik kesemuanya itu baik ibu maupun nenek juga bermaksud agar Liong-ji selalu mawas diri dan merubah sedikit perangai yang jelek, tapi setelah Liong-ji pikir lebih jauh Liong-ji rasa persoalannya belum tentu sesederhana itu"

"Oooh iya? Bagaimana tidak sederhana itu?"

Seru Pek Siau-thian tercengang, sepasang mata yang tajam mencorong keluar dari balik matanya itu.

"Menurut dugaanku kemungkinan besar anak buah perkumpulan Kiu-im kau sebagian besar adalah kaum perempuan?"

"Kalau perempuan lantas bagaimana?"

Pek Siau-thian balik bertanya dengan dahi berkerut.

"Cukup banyak kejadian yang telah berlangsung misalnya saja kaburnya Yu-beng tiamcu secara diam-diam untuk menikah dengan Suma siok-ya, kemudian rasa cinta kasih Giok-teng hujin terhadap ayah yang dibelainya mati-matian..."

"Kurang ajar, tidak tahu aturan masa urusan orang yang lebih tuapun boleh kau bicarakan seenaknya?"

Tukas Pek Siau-thian sambil membentak dengan wajah serius.

"Liong-ji bukan tidak menaruh hormat terhadap angkatan yang lebih tua, Liong-ji hanya membahas menurut kejadian yang sebenarnya."

Kata Hoa In-liong dengan alis mata berkenyit.

Melihat gerak gerik kebocahannya masih melekat ditubuh cucunya, Pek-siau-thian tak tega untuk menegur lebih jauh, dalam keadaan apa boleh buat terpaksa dia ulapkan tangannya sambil membentak.

"Kalau begitu bicarakan secara singkatnya saja. tak usah diputar balikkan lebih jauh lagi...."

"Yaa gwa-kong,"

Sahut Hoa In-liong.

"kalau toh anak buah perkumpulan Kiu-im-kau lebih banyak perempuannya, sedangkan Liong-ji bertanggung jawab untuk menyelidiki latar belakang pembunuhan berdarah ini, pastilah nenek dan ibu kuatir kalau aku sampai terjerumus pula dalam jaring cinta sehingga membuat persoalan antara "

Cinta"

Dan "dendam"

Tak bisa dipisah pisahan, sedang merekapun.

tak dapat menyelesaikan masalah ini sebagaimana mestinya, maka nenek lantas mengukir sebuah huruf 'benci' pada telapak tangan Liong-ji dengan maksud agar Liong-ji melalu mawas diri dan waspada"

Ia tertawa sebentar lalu meneruskan.

"Padahal bicara yang sesungguhnya tindakan tersebut sebetulnya terlalu berlebihan meskipun Liong-ji tak tega melukai hati perempuan, toh tak sampai keblinger tanpa membedakan mana yang benar dan mana yang salahpun tak mampu"

Mendengar ucapan cucunya ini seketika Pek Siau-thian merasa murung, diapun merasa cukup girang, karena Hoa In-liong disamping dia menerima peringatan dan nasehatnya, malahan pengertiannya atas masalah yang pelik itu setingkat lebih mendalam daripada pemecahan menurut jalan pikirannya, ini menunjukkan bahwa hatinya lebih halus pikirannya lebih teliti dan sikapnya lebih waspada daripada diri sendiri, dengan bekal itu tak nanti ia akan menderita kerugian selama melakukan perjalanan dalam dunia persilatan.

Sebaliknya dia murung karena dilihatnya Hoa In-liong tak dapat melepaskan kegemarannya untuk bermain perempuan, dari sini dapat diketahui bahwa soal cinta ia sudah terlampau mendalam dan entah sampai kapan baru bisa bertobat.

Sebab itu dengan wajah keren dan pura-pura, tak senang hati bekas ketua dari perkumpulan sinkipang ini berkata.

"Berapa besar toh usiamu sekarang? Berani benar mengatakan bahwa soal cinta dan dendam bisa kau bedakan dengan jelas? HmmBila kau anggap sepi maksud hati dari kaum angkatan tua bukankah itu berarti bahwa engkau telah menganggap perkataanku tadi sebagai angin berlalu belaka?"

"Liong-ji tak berani berpikiran demikian, Liong ji masih cukup tahu diri,"

Sahut Hoa In-liong cepat.

"Gwa-kong, coba analisalah, benarkah perkumpulan Hian-beng-kau yang membuat keonaran sekarang benar-benar adalah jelmaan dari perkumpulan Kiu-im kau dimasa lalu?"

Tak dapat diragukan lagi bahwa semua perhatian dan tenaganya telah dicurahkan untuk memecahkan misteri terbunuhnya Suma Tiang-cing, tapi bagi pendengaran Pek Siau-thian, tak lebih sama artinya bahwa pemuda itu sengaja mengalihkan pembicaraan kesoal lain sehingga telinganya tak sampai "Dikoreki"

Lebih lanjut. Dengan perasaan apa boleh buat dia gelengkan kepalanya berulang kali sambil menggerutu.

"Aaaaai..,. Kau bocah ini..."

"Gwa-kong tak usah kuatir"

Sela si anak muda itu dengan cepat.

"perkataan kau orang tua akan kuingat selalu dalam hati, tapi dewasa ini masalah yang terpenting adalah bagaimana menemukan si pembunuh itu, bila kau orang tua tahu harap beritahukan kepada Liong-ji"

Jelas sekali ucapan tersebut, bahwa ia sudah tak sabar lagi untuk mendengarkan persoalan lain yang tetek bengek.

Pek Siau-thian amat memanjakan cucunya, ia ada maksud memberi teguran tapi tak tega akhirnya sambil menghela napas ia berpikir.

"Bukit dan sungai gampang dirubah, tapi watak manusia sukar dirubah, bocah ini terlampau acuh tak acuh, agaknya sebelum merasakan sedikit penderitaan ia tak akan kapok"

Setelah mengetahui bahwa banyak bicara tak ada gunanya, diapun pasrah, katanya kemudian "Aku sendiripun, kurang begitu jelas, antara Kiu-im Hian-beng meski beda tulisannya namun mempunyai arti yang tak jauh berbeda semestinya mempunyai hubungan yang erat"

"Liong-ji sendiripun berpendapat demikian"

Kata Hoa In-liong pula sambil menyahut.

"Gwa kong Apakah engkau tahu, di manakah Kiu-im kau mendirikan markas besarnya dimasa lalu?"

Pek Siau-thian berpikir sebentar, lalu menjawab.

"Lima puluh tahun berselang, perkumpulan Kiuim kau tak dapat menancapkan diri dalam dunia persilatan dan terdesak untuk mengasingkan diri, mereka baru muncul kembali dalam dunia persilatan setelah terjadinya pertarungan sengit di selat ou-bu-kok, anak buah mereka sangat banyak dan terutama menguasahi ilmu berperang dalam perahu. Sejak pembagian harta karun di-bukit Kiu-ci-san, ayahmu mendapat sanjungan dan dukungan dari segenap umat persilatan yang kemudian diangkat menjadi Bu-lim bengcu, sejak itu pula Kiu-im kau jauh mengasingkan diri dari keramaian dan tak kedengaran kabar beritanya lagi, jadi di manakah mereka mendirikan markas besarnya, boleh dibilang tak seorangpun yang mengetahuinya."

Hoa In-liong mengerutkan dahinya.

"Pandai sekali mengemudikan perahu dan berperang diatas air? Itu berarti mereka mengasingkan diri disebelah selatan,"

Katanya.

"Benar! Benar,"

Sahut Pek Siau-thian cepat.

"Suma siok-ya mu memang berjumpa dengan siokcubo mu disebelah selatan, aku pikir tentu mereka mengasingkan diri pula disebelah selatan"

Hoa In-liong menganggukkan kepalanya berulang kali, sesudah termenung sebentar tiba-tiba ia bertanya lagi.

"Gwa-kong, sepeninggal dari kota Lok-yang ini, engkau bermaksud akan pergi ke mana?"

Pek Siau-thian tertegun, lalu menjawab.

"Aku tak pernah terikat oleh pikiranku, kemana akan pergi disitu aku tuju, sebetulnya aku ada keinginan untuk berkunjung ke bukit Im-tiong-san dan menjenguk kalian semua. Ada apa? Apakah engkau suruh Gwa-kong menemani engkau berkunjung kewilayah Kang-lam?"

Dengan cepat Hoa In-liong gelengkan kepalanya.

"Aku tak berani merepotkan gwa-kong"

Sahutnya.

"lebih baik engkau menyambangi ibu saja setelah berjumpa dengan ibu tolong gwa-kong mewakili Liong-ji untuk menyampaikan salam kepadanya, bukanlah bahwa Liong-ji tahu akan mawas diri dan sekarang telah berkunjung ke wilayah selatan..."

"Berkunjung kesitupun boleh-boleh saja, cuma benarkah engkau akan menuju ke selatan?"

Tanya Pek Siau-thian, alis matanya yang memutih tampak berkenyit.

"Kalau toh Suma siok-cubo adalah Yu-beng Tiancu dari perkumpulan Kiu-im-kau yang kabur secara diam-diam maka besar kemungkinan peristiwa berdarah ini ada sangkut pautnya dengan Kiu-im kau cu, dan sama sekali tak ada hubungannya dengan Giok-teng hujin-Lagipula antara kata Kiu-im dan Hian-beng toh mempunyai maksud yang sama? Liong-ji bertekal untuk mengunjungi Kang lam dan baik atau buruk persoalan ini harus kuselidiki sampai jelas."

Tahun ini Pek Siau-thian sudah berusia lanjut, kegagahan dan ambisi besarnya sudah hampir boleh dibilang lenyap tak membekas, ia jadi kuatir sekali setelah mengetahui bahwa Hoa In-liong akan berkunjung kewilayah Kang lam, tapi bagaimanapun juga dia adalah seorang bekas ketua perkumpulan besar yang pernah menguasahi separuh jagad, walaupun tidak lega hatinya namun diapun tidak mencegah niat anak muda itu.

Setelah berpikir sebentar diapun menjawab.

"Baiklah, sesampainya dibukit Im-tiong-san, aku akan suruh anak see datang membantu dirimu"

Mendengar perkataan itu, Hoa In-liong segera goyangkan tangannya berulang kali.

"Jangan...jangan...jangan sekali-kali gwa-kong suruh toako meninggalkan rumah."

"Eeeh....... kamu ini kenapa tak tahu berat entengnya urusan?"

Omel Pek-siau-thian serius.

"menurut keteranganmu sendiri, katanya dunia persilatan sudah berada diambang pintu kekacauan, hawa pembunuhan mengincar dari segala penjuru tempat dan kematian Suma-siokya mu tak lebih cuma permulaan dari kekacauan ini, padahal engkau toh tahu bahwa tenaga kekuatanmu seorang sangat terbatas, dari mana kau bisa memikul tugas seberat ini...."

"Gwa-kong, kau tak usah berbicara lagi"

Hoa In-liong cepat menukas.

"bayangkanlah bagaimana keadaan gwa-kong dimasa lalu? Bagaimana pula dengan ayah? sekarang Liong-ji telah dewasa, sepantasnya kalau dia kuhadapi sendiri masalah itu dengan segala kemampuan yang kumiliki."

"Ngaco belo"

Bentak Pek siau-tian-"masa kau tidak tahu kalau gwa-kong mu mengalami kekalahan total yang sangat mengenaskan?

sekalipun ayahmu berjiwa keras dan gagah perkasa, itupun karena ditunjang oleh nenekmu, sebaliknya kau masih muda tapi sikapmu terlalu sok hebat dan jumawa."

Sebelum engkongnya menyelesaikan kata-kata itu, Hoa In-liong telah menukas kembali.

"Gwakong, mengapa kau bisa mengalami kekalahan total? Liong-ji adalah seorang laki-laki sejati, bila ayah bisa melakukan segala sesuatunya itu dengan baik, mengapa Liong-ji tak dapat melakukannya?"

Selama berada dirumah, baik terhadap nenek.

Maupun terhadap ayahnya, hoa in-liong tak berani membantah barang sekejappun, hanya terhadap Pek Siau-thian yang memanjakannya semenjak kecil ia berani membantah tanpa meninggalkan batas-batas kesopanan, sebaliknya Pek Siauthian yang amat menyayangi cucunya tak bisa berbuat lain kecuali meringis.

Demikianlah, ketika Hoa In-liong menyelesaikan kata-katanya, Pek Siau-thian benar-benar dibikin mati kutunya, dia hanya bisa meringis sambil meneguk habis isi cawannya, kemudian mengomel.

"Kurang ajar? Betul-betul kurang ajar, makin hari kau si bocah nakal berkembang makin takkaruan, baiklah Aku tak akan mengurusi dirimu-lagi, sesampainya dirumah pasti akan kuceritakan semua yang kulihat dan kudengar kepada ayahmu"

Meskipun geli dihati, diluaran anak muda itu berkata pula.

"Akupun tak mau ambil perduli, pokoknya aku tidak akan membiarkan gwa-kong untuk berbicara"

"Kalau begitu kuberitahukan kepada nenekmu!"

Seru Pek Siau-thian sambil memukul meja.

"Kalau nenek lantas kena...."

Mendadak anak muda itu merasa bahwa perkataannya kurang, sopan, seketika itu juga ia membungkam dan memandang kakeknya dengan-wajah termangu-mangu.

Pek Siau-thian sendiri, sewaktu dilihatnya bocah itu tertegun, ia mengira cucunya dibuat ketakutan oleh karenanya sang nenek.

dia jadi tak tega, setelah menghela nafas panjang, dengan nada yang lebih halus ia berkata lagi.

"Liong-ji, dengarkan perkataanku, kalau benar bahwa dunia persilatan telah diselimuti oleh hawa pembunuhan yang tebal, lagipula mereka khusus memusuhi keluarga Hoa kalian, lebih baik persoalan ini laporkan saja kepada ayah dan nenekmu sebab bila sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, yang terkena celaka bukan hanya keluarga Hoa saja melainkan segenap umat persilatan didunia ini, sekalipun engkau gagah dan berjiwa ksatria, tidak seharusnya memandang enteng masalah yang menyangkut keselamatan dan kepentingan orang banyak..."

Ketika Hoa In-liong mendengar bahwa nada suara gwa-kongnya sudah jauh lebih lunak, buruburu diapun berkata.

"Gwa-kong, dengarkan dulu penjelasanku, persoalan ini toh baru merupakan berita sensasi yang Liong-ji dengar ditengah jalan, bagaimanakah kejadian yang sesungguhnya sampai sekarang masih merupakan tanda tanya besar, yaa kalau kenyataannya begitu, seandainya kemudian terjadi jauh menyimpang dari keadaan tersebut, padahal gwa-kong sudah memberi tahukan kepada ayah dan nenek. bukan saja Liong-ji akan ditegur bahkan dicaci maki, engkau orang tua pun akan di anggap orang sebagai manusia yang kurang teliti, bukankah dosa Liong-ji akan semakin menumpuk-numpuk?"

Setelah mendengar penjelasan itu, sekarang Pek Siau-thian malahan yang dibuat termangu.

Kendati ia tahu bahwa alasan itu sengaja dibuat-buat oleh Hoa In-liong, tapi bila dipikirkan kembali memang ada benarnya juga, sebab itu jago tua ini jadi terbungkam dan tak sanggup membantah lagi.

setelah berhenti sebentar, Hoa In-liong berkata lagi.

"Lagipula, sekalipun Liong-ji gegabah dan tak tahu keadaan, rasanya tak sampai kalau Liong-ji menjadi seorang manusia yang tak tahu diri, sampai waktunya bila benar-benar terjadi peristiwa seperti itu, tentu saja dengan segala daya upaya Liong-ji akan memohon bala bantuan, tak nanti Liong-ji biarkan bibit itu berkembang jadi semakin besar sehingga merugikan umat persilatan pada umumnya dan keluarga Hoa pada khususnya, Gwa-kong yang baik, turutilah kehendak Liong-ji-mu Dapatkah Liong-ji menanggulangi masalah ini seorang diri, sudilah kiranya gwa kong memberi kesempatan kepadaku agar Liong-ji dapat mencoba dan membuktikan kemampuanku"

Hoa In-liong memang pandai merayu, mula-mula ia memberikan penjelasan menurut suara hatinya, menyusul kemudian memohon dengan setengah merengek-rengek seperti anak kecil, tentu saja Pek-siau-thian tak dapat berkutik lagi, terpaksa dia berpikir.

"Walaupun bocah ini berambisi besar, tapi maklumlah kalau anak muda bercita-cita tinggi kalau tidak demikian tentu dia akan tenggelam dan tak bisa bangkit lagi. Baiklah Lebih baik kuperingatkan saja dirinya kemudian biarkan ia pergi, siapa tahu dengan andalkan kecerdikan serta kehebatannya, ia malahan bisa mendapat nama dalam dunia persilatan?"

Berpikir sampai disini, akhirnya dengan pura-pura berlagak kehabisan akal diapun menyahut.

"Baiklah untuk sementara waktu boleh saja kalau tak ingin kulaparkan kepada nenek dan ayah mu, tapi engkaupun harus menuruti beberapa patah kataku"

Diam-diam Hoa In-liong merasa amat girang, cepat sahutnya.

"Tentu saja gwa-kong yang baik, pesan gwa-kong pasti akan Liong-ji perhatikan baik-baik"

Serius air muka Pek Siau-thian, katanya dengan nada bersungguh-sungguh.

"Pertama, engkau harus menghilangkan kebiasaanmu yang suka mengunggulkan diri dan meninggikan derajat sendiri Ketahuilah dalam dunia persilatan banyak terdapat jago-jago yang berilmu tinggi, dengan kepandaian yang kau miliki sekarang sebetulnya belum terhitung seberapa bila dibandingkan dengan mereka"

"Yaa gwa-kong Liong-ji pasti akan mengingat selalu peringatan ini, lain kali Liong-ji tentu tak berani mengunggulkan diri lagi"

Sahut Hoa-In-liong sambil anggukkan kepalanya berulang kali. Pek Siau-thian berkata lebih jauh.

"Kedua, sebagai seorang manusia yang jujur, engkau harus mengutamakan keberhasilan di kemudian hari, jangan berlagak sok pintar, apalagi menggunakan akal dan tipu muslihat busuk untuk mencari keuntungan disaat itu. Tentang soal ini gwa-kong dan ayahmu adalah contoh yang paling jelas engkau harus mengguruinya baik-baik"

"Yaa gwa-kong.

"jawab Hoa In-liong dengan hormat.

"Liong-ji pasti akan mengutamakan kemantapan sebelum melakukan perubahan lain dalam menghadapi setiap persoalan"

Ketiga ibumu hanya melahirkan kau seorang, perduli dalam keadaan bahaya macam apapun engkau harus mengingat selalu akan ibumu, jangan bertindak terlalu gegabah sehingga mendatangkan kepedihan dan kemurungan bagi ibumu"

"Liong-ji akan mengingatnya selalu."

"Bagus."

Seru Pek Siau-thian, tiba-tiba ia bangkit berdiri.

"aku rasa banyak bicara tak ada gunanya asal ketiga hal itu bisa kau perhatikan dan laksanakan dengan sebaik-baiknya, aku rasa itu sudah lebih dari cukup, Terutama dalam hal yang ke tiga, asal tiap perbuatanmu tak sampai melupakan orang tua, berarti engkau berbakti kepada orang tuamu, dan ketahuilah menteri yang jujur adalah anak yang berbakti, Nah, aku akan segera berangkat engkau harus baik-baik menjaga diri."

Hoa In-liong merasa terperanjat, sekarang ia baru merasakan bahwa melakukan perbuatan tanpa melupakan orang tua meski gampang diucapkan namun susah untuk dilaksanakan, ketika dilihatnya Pek Siau-thian sudah keluar pintu, tanpa berpikir panjang lagi ia menyusul dari belakangnya seraya bertanya.

"Malam sudah larut, Gwa-kong akan pergi ke mana?"

"Aku akan berkunjung kekuil Pek ma-si, setelah mengatur layon dari Suma Tiang-cing suami istri aku akan langsung menuju bukit Im-tiong-san-Engkau pun segera berangkatlah Kalau toh sudah mengambil keputusan untuk berangkat keselatan, lebih baik segera lanjutkan perjalanan, tak usah membuang waktu lagi di kota Lok-yang ini."

Berulang kali Hoa In-liong mengiakan, dia mengantar Pek Siau-thian sampai dipintu depan, kemudian setelah berpisah baru kembali kekamarnya untuk beristirahat.

Keesokan harinya, selesai membereskan rekening berangkatlah Hoa In-liong menuju selatan dengan melalui lam-yang dan menyeberangi wilayah Keng ou.

Sepanjang perjalanan tidak terjadi suatu kejadian penting, suatu senja akhirnya sampailah pemuda itu di Keng-bun.

Tiba-tiba ia mendengar suara derap kaki kuda yang sangat ramai berkumandang dari belakang, sewaktu ia berpaling tampaklah debu mengepul setinggi langit, delapan sembilan ekor kuda dengan membawa penumpangnya berpakaian ringkas semua bergerak dengan cepatnya mendekat ke arahnya, dalam waktu singkat mereka sudah tiba dibela kang tubuhnya.

Anak muda ini masih ingat dengan pesan ibunya, ia tak ingin menimbulkan banyak urusan, maka tali les kudanya ditarik dan menjalankan kuda nya ketepi jalan.

Ketika rombongan itu sudah lewat dan Hoa In-liong berhasil menyaksikan warna pakaian yang di kenakan orang-orang itu, mendadak hatinya terperanjat, ia lantas berpikir.

"Sungguh aneh Beberapa orang ini semuanya berbaju ungu, menyoreng pedang dari berusia sebaya, lagi pula mengenakan mantel berwarna hijau pupus, jangan-jangan mereka berasal satu rombongan dengan ciu Hoa?"

Berhubung debu beterbangan dengan tebalnya menyelimuti angkasa, dia tidak berhasil melihat jelas tampang dari beberapa orang itu.

Sebagaimana telah diketahui, Ciu Hoa mengakui dirinya sebagai otak dari pembunuhan berdarah atas keluarga Suma, lagipula diapun murid tertua-dari Hian-beng kaucu, setelah timbul kecurigaannya, tentu saja anak muda itu tak sudi melepaskan sasarannya dengan begitu saja.

Kudanya lantas dicemplak dan menguntit di dibelakang beberapa kuda itu dari kejauhan, sebentar kemudian mereka sudah memasuki pintu barat kota Keng-bunSetelah masuk pintu kota, beberapa orang itu masih juga menghentak kudanya dengan kencang, mereka tak ambil perduli apakah jalan raya itu ramai dengan manusia yang berlalu lalang atau tidak, sesaat kemudian tampaklah banyak penduduk yang kabur pontang panting untuk menyelamatkan diri dari tubrukanMenyaksikan kesemuanya itu, timbul perasaan antipati dihati Hoa In-liong diam-diam ia menyumpah dihati.

"Sialan benar orang-orang itu, mereka bukan anak buah perkumpulan Hianbeng-kiau, dengan perbuatan mereka yang semena-mena itu aku Hoa leji patut memberi pendidikan kepadanya, kalau tidak begini, bukankah rakyat kecil akan sengsara sepanjang tahun?"

Sementara ia masih menyumpah, rombongan itu sudah tiba didepan sebuah rumah yang megah dan mentereng, orang yang bermantel hijau pupus tadi lantas melongok sekejap kedalam ruang penginapan itu kemudian sambil melompat turun dari atas pelana teriaknya lantang.

"Aaaah, dia benar-benar ada disini."

Dengan langkah lebar orang itu lantas berjalan masuk kedalam ruang penginapan.

Melihat pemimpinnya sudah masuk orang-orang yang lainpun segera turun dari kudanya dan menyusul dari belakang.

Tatkala Hoa In-liong mengejar sampai didepan pintu, ia temukan sebuah kereta kuda yang megah dan mewah diparkir dibalik pekarangan rumah penginapan itu, kereta tersebut berdinding kuning mas kecil mungil tapi mentereng, sudah jelas merupakan kendaraan dari kaum wanita, pada waktu itu orang pelayan sedang mengurusi kuda-kuda yang tertinggal di depan pintu, sedangkan manusia bermantel hijau pupus beserta rombongannya sudah tak kelihatan lagi.

Sementara, sianak muda itu menjadi termangu-mangu, seorang pelayan munculkan diri dan menyambut dan berkata.

"Kongcu-ya mau menginap dalam rumah penginapan kami paling bersih, paling megah dan pelayanan paling memuaskan dalam kota Keng-bun sukar untuk menemukan keduanya"

Hoa In-liong tidak segera menjawab, dalam hati-pikirnya.

"Ditinjau dari gerak gerik mereka tampaknya orang-orang itu tidak bermaksud baik, agaknya mereka sedang mengincar pemilik kereta-kuda ini, lain cerita-kalau aku tidak menjumpainya, sekarang setelah masalah ini kutemui, bagaimanapun juga tidak akan kubiarkan mereka untuk bertingkah semaunya sendiri"

Karena berpendapat demikian, dia pun mengangguk dan melompat turun dari atas punggung kudanya.

"Rawat kudaku ini baik-baik, besar ongkos nya dihitung dalam rekening besok"

Serunya berlagak royal.

Dengan kebiasaannya dilayani banyak orang, pemuda ini memang memiliki potongan sebagai keturunan orang besar atau bangsawan, gagah dan mentereng, ini membuat para pelayan mengira kalau mereka telah kedatangan seorang "Cukong"

Kelas kakap. cepat mereka sambut tali les kudanya, kemudian sambil munduk-munduk mengantar pemuda itu masuk ruang tengah, katanya lagi dengan nada dibuat-buat.

"Heeehh... heeehhh... Kongcu-ya suka tempat yang ramai ataukah tempat yang agak sepi? Kalau suka tempat yang sepi, di ruang belakang sana ada kamar-kamar yang bersih, sebalikya kalau suka tempat yang ramai di ruang tengah terdapat kamar kelas satu, kamar termasuk air teh dan arak sudah tersedia komplit, kongcu-ya...."

Agak bosan Hoa In-liong mendengar ocehan propaganda dari pelayan itu, cepat dia ulapkan tangan nya sambil menukas.

"Beberapa orang laki-laki berbaju ringkas tadi tinggal disebelah mana??"

Pelayan itu agak tertegun, lalu menyahut.

"Mereka berada dihalaman tengah, tapi belum memutuskan mau menginap atau tidak, kongcu-ya..."

"Sedang pemilik kereta kuda yang parkir didepan pintu itu? Dia tinggal dimana?"

Pelayan itu seperti orang yang baru sadar, dia lantas berseru.

"Ooooh.,..Jadi kongcu-ya satujalan dengan nona itu, ia tinggal dihalaman tengah, hamba segera akan hantar kongcu-ya..."

"Kalau begitu aku akan tinggal diruang tengah persis disebelah kamar nona itu"

Kembali pelayan itu tertegun, pikirnya dihati.

"Aneh benar kongcu-ya ini, kalau toh berasal dari satu rombongan, kenapa musti menginap dikamar sebelah??"

Tiba-tiba terdengar seseorang menegur dengan suara yang merdu dan halus seperti suara keleningan.

"Siapa disana? siapa yang ingin menginap dikamar sebelahku??"

Kiranya ruang sebelah depan dari rumah penginapan itu adalah rumah makan, kedua belah sisi ruangan merupakah ruangan-ruangan mungil yang ditutup dengan tirai horden, waktu itu kebetulan Hoa In-liong sedang lewat di depan salah satu ruangan, dan suara teguran yang merdu itu muncul dibalik ruangan tirai tersebut.

Hoa In-liong yang romantis dan suka main perempuan, kontan dibuat terkesima oleh suara teguran yang merdu dan mengandung daya tarik yang hebat itu, ia merasa sekujur tulangnya jadi kaku dan linu tak kuasa lagi dia berhenti seranya menyahut dengan girang.

"Aku yang berdiam dikamar sebelah, cayhe.. cayhe.."

Sebetulnya dia akan menyebutkan namanya, mendadak timbul rasa was-wasnya, maka ucapan pun jadi gelagapan dan untuk sesaat tak sanggup dilanjutkan lebih jauh.

Menyaksikan sikapnya yang serba konyol itu sang pelayan cepat melengos sambil menahan rasa gelinya, sedangkan nona di dalam ruanganpun ikut tertawa cekikikan seraya berkata.

"Cayhe? siapakah cayhe.... In-ji, coba kau tengok keluar, siapakah cayhe itu?"

Tirai disingkap orang menyusul seorang dayang cantik berusia empat lima belas tahunan munculkan diri, setelah memandang wajah In-liong sekejap ia lantas menyahut dengan nyaring.

"Lapor siocia, dia adalah seorang kongcu yang masih muda"

"Oooh, seorang kongcu yang masih muda?"

Suara merdu itu berkumandang lagi sambil tertawa cekikikan.

"kalau begitu suruh dia tak usah memesan kamar lagi, ruangan depan yang kita pakai toh kosong dan tak ada orangnya. In-ji, undang dia segera masuk kedalam!"

Keadaan yang terpapar didepan matanya sekarang membuat Hoa-In-liong jadi tercengang dengan alis berkerut ia berpikir.

"Siaucia dari manakah itu? Kenapa sikap dan perbuatannya begitu-jalang?"

Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, budak yang bernama-In-ji telah berkata-lagi sambil tersenyum.

"Kongcu, silahkan masuk Nona kami ada undangan-...,."

Timbul perasaan ingin tahu di hati Hoa In-liong, diapun tidak ambil perduli kecengangan yang tertera di wajah pelayan itu, setelah membereskan pakaiannya ia masuk ke dalam ruangan seraya berkata.

"Setelah diundang oleh siocia mu, tentu saja cayhe harus memenuhinya, nona In-ji silahkan"

Setelah masuk kedalam ruangan Hoa In-liong merasa matanya jelalatan dan terasa lebih terang bahkan untuk sesaat ia berdiri tertegun dengan mata terbelalak dan mulut melongo.

Cantik nian dara yang berada dalam ruangan itu nona itu mempunyai sepasang mata yang jeli, hidung yang mancung dan bibir yang kecil mungil dari atas sampai ke bawah tidak nampak cacad bahkan menyiarkan daya pesona yang amat tebal ketika itu dengan senyum manis dikulum sedang memandang kearahnya tanpa berkedip, meski belum mencicipinya, Hoa In-liong sudah merasa terpikat dan hampir mabok rasanya.

Nona cantik itu memandang sekejap kearah pemuda itu, lalu sambil tersenyum katanya.

"silahkan duduk"

Seperti baru sadar dari lamunannya, Hoa In-liong segera tertawa paksa sambil menyahut.

"Silahkan duduk, silahkan duduk."

Ia menarik sebuah kursi dan segera duduk. Nona cantik itu mengerling kembali dengan genit, kemudian sambil menutupi bibirnya ia berbisik.

"Aku merasa amat beruntung dan berbangga hati bisa mendapat perhatian dan kasih sayang dari kong-cu, terimalah penghormatanku ini"

Seraya berkata dia lantas bangkit memberi hormat. Hoa In-liong ikut bangkit seraya menjura membalas hormat, sahutnya.

"Kecantikan nona bak bidadari dari khayangan cayhe bisa mendapat kesempatan untuk berkenalan dan minum arak bersama, hal ini merupakan suatu keberuntungan pula bagiku"

Perempuan cantik itu tidak merendahkan diri-lagi, ia lantas berpaling kearah In-ji seraya menegur.

"Eeeh, In-ji, kenapa melongo saja? Hayo penuhi cawan kongcu dengan arak."

Mendadak In-ji seperti sadar akan kesilafannya-sambil tertawa cekikikan, ia menyahut.

"Kongcu ini terlampau tampan, In-ji sampai kesemsem rasanya dibuat..."

Ia mengambil poci arak dari atas meja, memenuhi cawan dihadapan kedua orang itu, lalu melirik sekejap lagi kearah wajah Hoa In-liong.

Terhadap tingkah laku maupun perbuatan In-ji yang genit, nona cantik itu sama sekali tidak melarang, bahkan seakan-akan tidak pernah dilihatnya sambil angkat cawan araknya dan melirik lagi ke-arah pemuda itu ia memperkenalkan diri.

"Aku she Cia bernama In, terimalah penghormatan secawan arak dari aku yang rendah."

Sekali teguk dia lantas menghabiskan isi cawan tersebut. Hoa-In-liong pun angkat cawan sendiri dan meneguknya sampai habis, kemudian berkata pula.

"Cayhe-she she Pek, Pek dari kata Hek pek (hitam putih) dan bernama Khi"

Meskipun ia sudah kesemsem, namun kewaspadaannya masih tetap ada dan nama yang dilaparkan pun nama palsu.

Agaknya Cia-In mengira kalau pemuda itu jadi gugup lantaran baru pertama kali bertemu dengan gadis, ia tidak memikirkannya dihati, sambil tertawa katanya pula.

"Bila didengar dari logat kongcu agaknya engkau bukan penduduk wilayah sini, apakah engkau sedang mengembara sebagai seorang pendekar...?"

Hoa In-liong sangat terperanjat, terutama setelah mendengar kata-kata yang terakhir, kesadaran yang sudah mulai terbuai oleh kecantikan wajah nona itu serta merta menjadi sadar kembali, cepat sahutnya.

"Cayhe berasal dari wilayah Cing-pak, kebetulan aku lewat di wilayah Kang-ouw karena bermaksud untuk berpesiar ke wilayah Kang-lam, sungguh tak disangka telah berjumpa dengan nona, inilah yang dinamakan apa mau dikata kalau sudah berjodoh, tak kenalpun akhirnya harus bertemu"

Sekalipun jawabannya sudah lebih waspada dan hati-hati, toh sifat romantisnya tak ketinggalan sehingga tanpa disadari terutarakan juga dibalik kata-kata itu.

Sekilas rasa kaget dan tercengang menghiasi wajah Cia-In setelah mendengar ucapan itu, tapihanya sebentar saja sikap itu telah lenyap kembali, katanya kemudian sambil tertawa getir.

"Aku yang rendah numpang tinggal dikota Kim-leng, baru saja kami pulang diri sembahyang di bukit Go-bi. Kongcu Bila kau bermaksud untuk berpesiar ke selatan, kita bisa melakukan perjalanan bersama-sama, bila tidak menampik akupun bisa untuk menjadi petunjuk jalan bagi kongcu"

Sementara itu Hoa In-liong sudah dapat menguasai diri, kewaspadaannya makin dipertingkat, tak kuasa lagi iapun berpikir.

"Entah nona ini perawan dari keluarga mana? Dan siapa dia yang sebenarnya? Kalau toh naik ke bukit Go-bi untuk sembahyangan kenapa tak ada laki-laki yang mengiringi? Ia bilang numpang tinggal dikota Kim-leng, lalu di manakah asal tempat tinggal yang sebenarnya?"

Sebelum pelbagai persoalan itu dapat dipecahkan, In-ji si dayang itu sudah memenuhi cawannya kembali dengan arak. kemudian berkata sambil tertawa.

"Kongcu-ya, hayo minum arak Kalau toh kita sudah berjodoh dan ditakdirkan bertemu apa salahnya kalau melanjutkan perjalanan bersama-sama, siapa tahu jodoh ini makin lama semakin dalam? Kalau sikapmu masih sangsi terus, bukankah itu berarti memandang asing diri kami? Hari-hari esok masih panjang..."

Setelah mendengar perkataan itu, meski rasa curiga mencekam perasaannya dan d iapun merasa bahwa tingkah laku dia orang itu terlampau aneh, toh anak muda ini tak berhasrat untuk memikirkan lebih jauh.

Dia lantas mengangkat cawan arak sendiri dan berkata sambil tertawa nyaring.

"Benar Ucapanmu memang benar Kalau masih sangsi dan bertindak tanduk kaku. itu namanya memandang asing. Nona Cia, kuhormati engkau dengan secawan arak"

Sekali teguk.

Ia menghabiskan isi cawannya.

Pemuda ini memang berlapang dada, kebiasaannya yang romantispun serta merta diperlihatkan dengan nyata, maka cawan demi cawan air kata-katapun mengalir masuk ke dalam perutnya, pembicaraan berlangsung dari barat sampai ke timur bahkan ia mulai main mata dengan Cia In, saling mengerling saling menggoda dengan bebasnya.

Yang lebih hebat lagi, akhirnya yang satu memanggil "engkoh Khi"

Sedang yang lain menyebut "enci In" , seakan-akan mereka merasa kecewa mengapa tidak berjumpa sejak dulu kata, saking terbuainya kedua orang itu sampai lupa waktu.

Entah sampai kapan senda gurau itu berlangsung, akhirnya Cia In tak kuat menahan pengaruhnya alkohol, dengan sempoyongan ia bangkit berdiri seraya berkata.

"Engkoh Khi, besok pagi pagi aku harus melanjutkan perjalanan lagi, maafkanlah daku, aku tak dapat menemani kau minum lagi"

Sepasang lengannya diluruskan ke depan dan tubuhnya roboh kemuka, persis jatuh dihadapan tubuh Hoa In-liong. Cepat sianak muda bertindak dengan merangkul pinggangnya erat-erat, serunya pula.

"Benar Benar Waktu dihari esok, masih banyak, kita memang harus pergi beristirahat."

Begitulah sambil berpeluk pelukan dengan dipimpin dayang In-ji mereka kembali kedalam kamar meski dengan langkah sempoyongan.

Waktu itu Cia In entah benar-benar sudah mabok atau hanya berlagak belaka, sekalipun sudah berada dalam kamar, ia masih memeluk tubuh Hoa In-liong kencang-kencang.

Hoa In-Iiong sendiri walaupun belum mabok.

dasar suka main perempuan tentu saja ia segan untuk melepaskan rangkulannya dari tubuh sang nona yang lembut, halus harum baunya itu.

In-ji si dayang itu lebih hebat lagi, ternyata ia segera menutup pintu, memasang lentera dan dengan senyum dikulum ia mengawasi atraksi yang hot dihadapannya itu dengan mata melotot besar, seakan-akan ia sedang menikmati suatu pertunjukan indah yang amat mempersonakan hatinya.

Selang sesaat kemudian, terdengar Cia In mengeluh lirih kemudian telapak tangannya pelahanlahan bergeser ke bawah, mula-mula meraba lengan Hoa In-liong yang keras, lalu dadanya yang bidang dan akhirnya turun kearah pinggangnya,......

Mendadak...

telapak tangannya itu secepat kilat meraba punggungnya, dengan jari tangan yang ditekuk seperti kaitan ia totok jalan darah Leng tay-hiat ditubuh anak muda itu.

Hoa In-liong masih belum merasa akan tibanya ancaman yang membahayakan jiwanya itu, bila totokan tersebut bersarang telak, niscaya anak muda itu akan tewas atau paling sedikit terluka parah.

Untunglah disaat yang kritis, tiba-tiba pintu kamar, ditendang orang sampai lebar "Blaaaaang........!"menyusul munculnya seseorang berdiri didepan pintu sambil bertolak pinggang.

"Bagus! Bagus!"

Teriak orang itu dengan marah "kiranya engkau si perempuan anjing pandai berpura-pura suci, tak tahunya engkaupun suka bermain main dengan laki-laki.

Hmm!

Aku orang she-Ciu ingin bertanya kepadamu, bagian yang manakah dari kongcu mu yang tak dapat memadahi bocah keparat tersebut?"

Bentakan tersebut seketika mengejutkan dua orang muda-mudi yang sedang bermesraan itu sehingga tersadar kembali.

Hoa In-liong memutar badannya menghadang di depan Cia In, kemudian bertanya dengan tercengang.

"Engkau she-Ciu?"

"Kongcumu bernama Ciu Hoa, jalan tidak berganti marga, duduk tidak berganti nama, bila engkau tahu diri, cepat, menyingkir ke samping situ, kongcumu bukan datang untuk mencari gara-gara dengan engkau!"

Teriak orang itu marah-marah.

Hoa In-liong semakin tertegun dan mengawasi orang itu tanpa berkedip, tapi makin dilihat semakin tak percaya dengan telinga sendiri.

makin dipandang ia semakin merasa bahwa orang yang berada dihadapannya sekarang bukan Ciu Hoa.

Tapi.....

mengapa ia mengaku dirinya sebagai Ciu Hoa?

Kalau toh dia benar Ciu Hoa, mengapa tampang wajahnya dapat berubah?

Untuk sesaat ia jadi tertegun dan tak tahu apa yang mesti dilakukan, pelbagai kecurigaan berkecamuk dalam benaknya.

Berbicara tentang dandanan, pakaian serta senjatanya, orang yang mengaku bernama "Ciu Hoa"

Ini mempunyai kemiripan dengan Ciu Hoa yang dijumpainya dikota Lok-yang, bahkan usia merekapun sebaya, hanya raut Wajahnya berbeda, watak dan tingkah lakunyapun tak sama, jelas mereka bukan seorang manusia yang sama.

000000O000000 TANPA terasa Hoa In-liong lantas berpikir.

"Orang ini beralis panjang bermata sipit, hidung lebar dan mulut besar, tampangnya model kuda berwarna hijau menyeramkan, sinar matanya cabul, kelopak matanya lebih banyak putih daripada hitamnya, jelas dia adalah seorang manusia yang keji dan lagi cabul, jelas dia bukan Ciu Hoa yang kujumpainya dikota Lok-yang. Tapi.... sekali pun nama bisa sama. masa dandanan, senjata sampai anak buah yang mengiringi pun mempunyai corak yang tak berbeda? Sungguh aneh..."

Sementara itu dengan langkah yang gemulai Cia In sudah maju kedepan, ia berdiri dekat sekali dengan Hoa In-liong, setelah membereskan rambutnya yang terurai kebawah, sapanya sambil tertawa genit.

"Kongcu, kita tak pernah bertemu yaa?"

Cia In adalah seorang nona yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, setiap tingkah laku dan gerak geriknya gampang menimbulkan rangsangan bagi yang memandang, maka kendati "Ciu Hoa"

Itu datang marah-marah, tetapi setelah menyaksikan senyum manisnya yang menawan hati padamlah hawa amarahnya itu, semua rasa mendongkol dan khekinya mendadak seperti tersumbat didalam dada, sukar untuk dilampiaskan keluar lagi....

Setelah tertegun sesaat, tiba-tiba ia berteriak lagi.

"Tidak pernah bertemu? Hmmnn Kongcu mu dari keresidenan Han-sian telah mengejar sampai kekota Keng-bun, hari yang manakah aku tak pernah berjumpa denganmu?"

"Aduuh mak, kalau begitu bukankah kita suiah pernah berjumpa enam sampai tujuh kali?"

Seru Cia In sambil melirik genit. Kemudian sambil berpaling kearah In-ji,serunya pula.

"Eeeh.... In-ji, pernahkah engkau berjumpa dengan kongcu ini?"

In-ji cekikikan.

"Setiap hari sebelum kentongan keempat kita sudah berangkat, sebelum senja menjelang kita sudah beristirahat kapan bertemu dengan kongcu ini "

Aaai......"

Cia In menghela napas panjang, seperti lagi menggerutu, ia bergumam sendiri.

"Memang begitulah penyakit yang kuderita semenjak kecil, aaai, penyakit itu membuat aku jadi sengsara, kalau tidak demikian, kami tak akan berani menimbulkan kemarahan dari Ciu kongcu"

Setelah terhenti sebentar, ia mengerling sekejap kearah "Ciu Hoa"

Itu dengan genit, lalu melanjutkan kata-katanya.

"Ciu kongcu, kau tidak tahu, aku mempunyai penyakit aneh yakni penyakit takut melihat setan terutama sekali bila ditengah hari bolong tiba-tiba berjumpa dengan setan jelek bermuka hijau bergigi taring.....Hiiiiih...!Niscaya selembar jiwaku akan kabur kembali keakhirat. oleh karena itu..."

"Karena ita kalian berangkat setiap kentongan keempat, dan beristirahat sebelum, tiap hari selalu berusaha untuk menghindari kongcu-ya mu........?"

Sela Ciu Hoa dengan kemarahan yang masih berkobar.

Sekalipun kemarahan masih membakar hatinya adapun merupakan teguran namun terdengar jelas bahwa suaranya lebih lembut dan halus, ini menunjukkan bahwa gerak-gerik Ciu In yang genit dan mempersonakan hari itu telah mendatangkan hasil yang mujur, Tampaklah Ciu In mengedipkan matanya yang lentik, lalu mengirim sebuah kerlingan maut kearah lawannya, satelah itu dengan sedih itu dengan sedih ia berkata.

"Kongcu-ya, engkau benar-benar menuduh orang hingga hatiku jadi penasaran. dengan keberanian apa-apa aku berani menghindari diri kongcu? Aku hanya terbiasa berangkat pagi istirahat agak pagian saja, dan kebiasaanku ini sedikit diluar dugaan kongcu, kalau toh selama ini kita tak pernah berjumpa, hal ini bukanlah suatu kejadian yang disengaja...."

Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba sambil tertawa ujarnya lagi.

"Kongcu-ya, aku mempunyai sepatah kata yang rasanya tidak pantas untuk diucapkan keluar boleh ku utarakan kepadamu?"

Ciu Hoa dapat menyusul nona itu sepanjang jalan, sudah jelas ia telah tergiur oleh kecantikan Ciu In, sebelum kejadian ini, ia selalu mengira Cia In memandang dirinya terlampau jelek maka sengaja menghindarkan diri pertemuan, maka rasa penasaran, mendongkol dan gusarnya berkecamuk didalam dada.

Tapi setelah Cia In menunjukkan sikap yang aleman, genit dan merangsang dan lagi diapun sudah memberikan "penjelasan" , api gusar yang Semula membakar hatinya kini sudah lenyap tak berbekas, Maka setelah mendengar perkataan itu, ia lantas tertawa terbahak-bahak, serunya dengan girang.

"Haaahh.... haaahhh...... whaaahhh.... katakan saja terus terang-ucapan tanpa tedeng aling-aling, sekalipun ada hal-hal yang tak pantas, kongcumu tak akan menyalahkan engkau"

Hoa In-liong yang menyaksikan kesemuanya itu merasa geli juga didalam hati, ia lantas berpikir;

"Ciu Hoa memang sudah tergila-gila benar dengan nona itu sampai makian dari Cia In pun tidak dirasakanolehnya,malahandiamerasasangat bangga....haaahhh...haaahhh....haaaahhh......muka hijau gigi taring, meski tidak persis sama sekali, kemiripan tetap ada.... haaahhh.... haaahhh... dasar tolol!"

Cia In sendiripun sedang tertawa cekikikan, lalu ujarnya kepada dayangnya In-ji.

"Jn-ji, pergilah keluar dan undang masuk beberapa orang tuan itu, jangan suruh mereka berdiri terlampau lama, nanti kita lagi yang disalahkan kurang hormat melayani tetamu"

"Baik nona"

Sahut In-ji. dia lantas berjalan ke luar dari ruangan tersebut. Ciu Hoa semakin gembira hatinya, mendadak ia tertawa terbahak-bahak seraya berkata.

"Engkau tak usah undang mereka lagi, orang-orang itu adalah anak buah kongcumu, biar berdiri sebentar tak apa-apa"

Mendengar perkataan itu In-ji lantas mutar badan dan membantah dengan merdu.

"Sekalipun mereka adalah anak buah kongcu toh tidak pantas kalau engkau suruh anak buahmu menderita kedinginan diluaran sedangkan Kongcu ya mencari kesenangan disini?"

Cia In pura-pura menunjukkan wajah tak senang hati, lalu menegur.

"Aaah, kamu ini benarbenar dayang tak tahu aturan,masa engkau berani membangkang perintah dari kongcu-ya?"

"Ciu Hoa"

Semakin nyaman lagi hatinya sehabis mendengar perkataan itu saking girangnya dia sampai terbahak-bahak.

"Haaaabhh..... haaaaahhh....... haaaa...... apa yang dia ucapkan memang ada benarnya juga baiklah! Aku akan suruh mereka pergi dari sini saja"

Ia lantas berpaling ke pintu luar dan berseru lantang.

"Eeeh....kalian boleh bubar, aku tidak membutuhkan kalian lagi ditempat ini!"

"Baik!"

Sahutan nyaring berkumandang dari luar pintu, diikuti suara langkah kaki yang ramai memecahkan kesunyian dalam waktu singkat suasana lelah pulih kembali dalam kesunyian.

Menggunakan kesempatan dikala "Ciu Hoa"

Berpaling, Cia In saling berpandangan sekejap dengan In-ji sambil tertawa gerak-gerik mereka misterius sekali. Hoa In-liong yang dapat menyaksikan kejadian Itu, dalam hati kembali menggerutu pikirnya;

"Apa yang sebenarnya telah terjadi? Diam-diam perempuan ini hendak menotok jalan darahku caranya untuk turun tangan lihay sekali, dan sekarang diapun tahu kalau diluar pintu ada orangnya ini menunjukkan kalau tenaga dalamnya luar biasa kalau toh benar ia membenci tampang Ciu Hoa yang jelek, apa salahnya untuk menggebah pergi secara terang-terangan? Mengapa ia gunakah segala macam tipu muslihat untuk berpura-pura berlagak misterius? Jangan-jangan pandangankulah yang keliru, dia benar-benar adalah seorang perempuan binal?"

Sementara itu Ciu Hoa telah selesai mengundurkan anak buahnya, ia lantas berpaling, sinar cabul dan tengik memancar keluar dari mata tikusnya, lalu sambil tertawa cekikikan katanya.

"Nona manis, sekalipun engkau tidak bermaksud menghindari aku, tapi perbuatanmu selama enam hari ini telah menyiksa perasaanku, setelah kutemukan kembali jejakmu, tak nanti akan kubiarkan engkau kabur dari cengkeramanku"

"Aaaaah.... Koagcu ini memang kebangetan"

Omel Cia In sambil menggerutu tak tenang hati "aku toh tidak bermaksud untuk kabur dari tempat ini..,.,?"

"Haaaahh.... haaaahh...... haaa.... benar.. perkataanmu memang benar, lebih baik memang jangan kabur. Nah, kalau ingin mengucapkan sesuatu cepatlah katakan, aku telah bersiap sedia untuk mendengarkannya"

"Benar?Kau suka mendengarkan perkataanku,"

Kata Cia In pula sambil tertawa manis.

"begitu baru menurut namanya!"

Ia mengerling kearah Ciu Hoa kemudian sambil memberi hormat katanya.

"Kongcu, silahkaa duduk."

Ciu Hoa tertawa terbahak-bahak tiada hentinya seakan-akan sukmanya telah digaet pergi, katanya pula.

"Duduk.... duduk.... engkaupun silahkan duduk!"

Dengan langkah lebar ia maju kedepan, menyeret sebuah kursi dan langsung duduk.

Cia In sendiri sambil merangkul lengan Hoa In-liong dengan mesra, selangkah demi selangkah maju ke depan.

Menghadapi keadaan begini, Hoa In-liong merasakan hatinya serba kacau, ia tak tahu bagaimanakah perasaan hatinya disaat itu, dalam hati ia berpikir.

"Sebenarnya permainan apakah yang sedang di rencanakan Cia In ini? Memangnya ia suruh aku dan Ciu Hoa ribut karena soal perempuan, sedang ia sendiri menonton dengan gembira? Hmmm! Kau anggap Hoa loji adalah manusia macam apa? Tak nanti akan membiarkan harapanmu itu terpenuhi"

Betul juga, paras muka Ciu Hoa seketika, berubah hebat.

Pada mulanya, mungkin ia sudah terbiasa berbuat semena-mena, mungkin juga menganggap kepandaian sendiri amat tinggi, ia tak pandang sebelah matapun terhadap Hoa In-Liong, maka sejak awal sampai akhir ia tak menaruh perhatian terhadap pemuda itu, Tapi sekarang setelah menyaksikan dua orang itu bermesrahan dan saling berpelukan, karena merasa cemburu dan panas hatinya, ia mulai memperhatikan pemuda itu dengan seksama.

Sekarang baru diketahui olehnya bahwa Hoa In-liong memang seorang pemuda yang amat tampan dan di kolong langit jarang ditemui laki-laki ganteng semacam ini, kontan api cemburunya berkobar, sinar bengis-memancar keluar dari balik matanya, ditatapnya sianak muda itu tanpa berkedip, kalau bisa dia ingin menerkam kemuka dan menggigit musuh cintanya itu, Cia In sama sekali tidak memperhatikan kebengisan dan kemarahan orang itu, malahan seakanakan tak pernah terjadi apa-apa, dihadapan muka nya masih bermesrahan dengan Hoa In-liong ia berkata sambil tertawa "Ciu kongcu.

aku ingin menanyakan satu hal kepadamu apa benar engkau telah mengejar aku mulai dari keresidenan Ban-sian sampai di kota Keng-bun ini?"

"Aaaah....omong melulu, memangnya kau anggap kongcu mu sedang membohongi kau?"

Sahut Ciu Hoa tidak sabaran, ia tarik kembali tatapan matanya yang tajam itu.

Setelah hatinya dibakar oleh api cemburu dan rasa penasaran, kehalusan serta serta keramahtamahannya sudah lenyap tak berbekas, sebagai gantinya ia mulai menyeringai seram, matanya bengis dan napsu membunuh terlintas diantara alis matanya, Cia In masih juga tidak ambil perduli, malahan senyum manis masih dikulum.

"Kalau begitu, kongcu tertarik oleh kecantikan paras mukaku bukan..?"

Ujarnya lagi. Pertanyaan ini terlampau blak-blakan dan tanpa tedeng aling-aling, dalam suasana begini seharusnya "Ciu Hoa"

Sendiripun belum tentu bisa bersikap demikian tapi nona itu dengan tanpa ragu-ragu telah mengucapkannya keluar, hal ini menyebabkan "Ciu Hua"

Jadi gelagapan dan berdiri tertegun dengan mata terbelalak, untuk sesaat ia tak mampu memberikan jawabannya lagi.

Cia In tertawa cekikikan, merdu amat suaranya ibaratnya burung nuri yang berkicau dipagi hari, sambil gelengkan kepalanya berulang kali ia berkata lagi.

"Menurut pendapatku, kongcu masih kurang bersungguh-sungguh, rasa tertarikmu hanya sambil lalu dan tak muncul dari sanubari yang bersih, betul bukan?"

"Hey, sebenarnya apa yang lagi kau katakan? Mengapa tidak kau terangkan saja secara blakblakan?"

Tukas Ciu Hoa tidak sabar, dahinya berkerut kencang.

"engkau adalah nona paling cantik di dunia, meski kongcu mu sudah banyak bertemu orang, belum pernah kutemui nona secantik engkau bersungguh hati atau tidak buat apa kau tanyakan lagi? Andaikata kongcu tidak menyukai dirimu, tak nanti kukejar engkau dari Ban-sian sampai ke kota Keng bun"

"Aaah, belum tentu begitu?"

Seru Cia In sambil mencibirkan bibirnya.

"kau tidak bersungguh hati hanya mulutmu saja pandai bicara manis. Andai kata kau benar-benar menyukai diriku, semestinya setiap kali sesudah mencari rumah penginapan, sebelum naik pembaringan toh tersedia waktu yang panjang dan berlebihan? Mengapa selama ini aku tak pernah menjumpai kongcu?"

Mendengar pertanyaan itu.

"Ciu Hoa"

Tergagap, biji mata tikusnya jelalatan memandang kesana kemari, bibirnya bergetar seperti mau membantah namun tak sepatah katapun mampu diucapkan keluar, rasa heran, tercengang Cia In mengerutkan kening, kemudian menghela napas panjang "Aaaai...

Kalian orang laki-laki..."

"Eeeh.....! tidak betul...."

Mendadak "Ciu-Hoa"

Menjerit melengking, keras dan tajam suaranya. Jeritannya yang melengking ini bukan saja keras bahkan diluar dugaan, Cia In benar-benar di bikin terperanjat.

"Apanya yang tidak betul?"

Cepat ia bertanya.

"Ciu Hoa"

Mengeratkan dahinya rapat-rapat, matanya dipicingkan dan ia bergumam tak hentinya.

"Heran, Tanpa kuketahui jelas apa -sebabnya tiba-tiba aku merasa sangat mengantuk lalu terlelap tidur-betulkah aku amat lelah sehingga perlu beristirahat?"

Lama sekali ia terbungkam, agaknya orang itu sudah terjerumus dalam pemikiran yang mendalam dan bersungguh-sungguh, suasana jadi sepi, hening dan tak kedengaran sedikit suarapun,.

Sekilas senyum aneh terlintas diatas wajah Cia In, hanya sebentar saja senyum itu lenyap kembali.

terdengar ia berkata lagi.

"Tidak diketahui sebabnya tiba-tiba mengantuk lantas tertidur? Aneh! Belum pernah kujumpai keadaan seaneh ini! Kenapa tidak kau lanjutkan perkataanmu itu?"

"Ciu Hoa"

Segera menengadah, dengan tak kalah herannya ia berkata pula.

"Memang aneh sekali kejadian ini! Tiap senja menjelang tiba, setelah bersusah payah menemukan tempat tinggalmu, dan setiap kali aku selesai membersihkan badan dan berdandanan. tiba-tiba aku diserang rasa mengantuk yang hebat kemudian terjatuh di pembaringan dan tertidur pulas sampai keesokan harinya ini....."

"Aaah! Kau tak usah ini itu lagi!"

Tukas Cia In marah-marah sebelum orang itu sampai menyelesaikan kata-katanya.

"dari sini dapat dibuktikan sekarang, bahkan kongcu sesungguhnya tidak berniat serius, engkau cuma iseng dan pakai bicara manis!"

"Kau....kau... jangan kau tuduh aku demikian!"

Bantah "Ciu Hoa"

Dengan gelisah.

"Kalau tidak begitu, lantas apa yang harus ku katakan? Bukankah setiap hari katanya kau selalu mengejar aku? Kenapa setiap kali kau berhasil susul diriku, bukan datang berkunjung melainkan malahan tertidur pulas......? Bukankah ini membuktikan bahwa kau tidak berniat serius?"

"Aku....aku..."

Ciu Hoa semakin gelagapan.

"Engkau tak perlu aku aku melulu"

Kata Cia-In cepat.

"biar aku saja yang mewakili kongcu untuk memberi keterangan! Aku sama sekali tak berhasrat untuk tidur, tapi oleh karena setiap hari harus melakukan perjalanan jauh, maka badan ku benar-benar merasa penat dan perlu istirahat, bukankah begitu?"

"Tak mungkin badanku penat"

Bantah Ciu Hoa dengan wajah bersungguh-sungguh.

"dengan ilmu silat yang kongcu miliki sekarang, sekalipun harus melakukan perjalanan,siang malam selama tiga hari juga tak akan merasa penat atau kehabisan tenaga.."

"Oooh...,! Kiranya kongcu adalah seorang jago persilatan, tadinya aku mangira kongcu menggempol pedang hanya sebagai hiasan belaka seperti juga halnya dengan engkoh Pek Khi ini, biasa kan orang muda sekarang sok pamer"

Menyinggung soal Hoa In-liong! Ciu Hoa segera menunjukkan sikap muak dan benci, dengan bengis ia melotot sekejap kearah sianak muda itu,-kemudian tegurnya.

"Engkau bernama Pek Khi?"

"Benar, aku bernama Pek Khi!"

Hoa In-liong mengangguk. Ciu Hoa memutar biji mata tikusnya, kemudian sambil mendelik ia membentak lagi.

"Apa pekerjaanmu?"

"Haaahhh....haahhh....haaahhh." . Ciu kongcu. caramu mengajukan pertanyaan kurang sopan dan tak tahu adat, lantas kau sendiri apa pekerjaannya?"

Kontan Ciu-Hoa bangkit berdiri, teriaknya dengan marah.

"Bagus! Bagus sekali perbuatanmu! Engkau berani bersikap kurang adat kepada kongcumu?"

Hoa In-liong tetap tertawa ia menyahut.

"Soal ini tergantung pada Ciu kongcu sendiri, jika kau kurang adat maka akupun tak perlu bersikap sungkan-sungkan terhadap dirimu!"

"Bagus! Bagus! Nyalimu memang terhitung besar...."

Teriak Ciu Hoa sambil tertawa seram, ia benar-benar naik darah. Hoa In-liong jaga tak mau mengalah, cepat ia menukas sembari berseru.

"Engkau pernah membaca ajaran dari para Nabi dan pujangga belum? Bukankah disana dikatakan, bila orang tahu adat dan sopan santun, maka peluruh jagat dapat dikunjungi, sebaliknya kalau orang tak tahu adat dan sopan santun maka setengah jengkal tanahpun sukar didatangi, Cia kongcu kalau toh engkau mengakui sebagai orang persilatan, rasanya ajaran itu itu pasti sudah pernah diberikan oleh sesepuh perguruan kepadamu bukan......? Aku merasa tak pernah melanggar adat dan tata kesopanan, tentu saja aku berani menghadapi keadaan macam apapun, apa sangkut paut nya antara nyali besar dan kecil?"

Beberapa patah kata itu diutarakan dengan senyum dikulum, sedikitpun tidak emosi atau marah, meski begitu dibalik kehalusan tetselip ketajaman, nada ucapannya jelas merupakan suatu nasehat juga suatu teguran yang keras "Sebagai orang yang pintar tentu saja Ciu Hoa dapat menerka arti kata dari ucapan tersebut sontak ia naik darah, dengan muka menyeringai "Bocah keparat!

Engkau berani mencari garagara dengan kongcumu?

Hmm!

Agaknya memang engkau sudah bosan hidup"

Hoa In-Liong berbuat demikian karena ia mempunyai tujuan tertentu, bergiranglah hatinya setelah melihat orang itu naik darah, sambil tertawa ujarnya lagi.

"Sekarang kita sedang berada dirumah penginapan, aku tidak percaya kalau Ciu kongcu berani membunuh orang dengan semena-mena, memangnya dianggap hukum negara salah tidak berlaku lagi........"

Jilid 07 BELUM habis ia berkata, kemarahan ciu Hoa sudah tak terkendalikan lagi sambil tertawa seram katanya.

"Heeehhh....heeeahh....heeehhh....engkau betul-betul punya mata tak berbiji, akan kongcu-ya cungkil dulu sepasang biji matamu sebelum membicarakan soal hukum negara...."

Secepat kilat lengan kanannya ditonjok ke muka, dengan ibu jari dan jari tengah yang ditekuk seperti kaitan, ia ancam sepasang mata Hoa In-liong.

Sekalipun lengan kanannya itu bergerak tidak lambat pun tidak cepat, namun si anak muda itu mengerti bahwa perubahan dibalik serangan jari tangannya itu banyak.

rumit dan tak terhingga, lagipula ganas dan keji, bagi jago persilatan pada umumnya, sulit untuk menghindarkan diri dari ancaman tersebut.

Namun bagi Hoa In-liong yang berilmu tinggi dan bernyali besar, rupanya ia sudah mempunyai perhitungan sendiri yang jauh lebih matang.

Bukannya berkelit atau coba menangkis, dia malahan pura-pura berlagak tidak melihatnya sama sekali, menggubrispun tidak.

Lambat memang untuk diceritakan, namun cepatnya luar biasa, kejadian itu berlangsung, dalam sekejap mata serangan jari tangan dari Ciu-Hoa itu sudah berada di depan mata, disaat yang kritis itulah mendadak Cia in menjulurkan tangannya ke muka dan mendorong sikut Ciu Hoa sehingga tergeser ke samping.

"Ciu kongcu,"

Omelnya dengan merdu.

"apa-apaan kamu ini? Engkoh Pek Khi toh tidak menyalahi apa-apa terhadap dirimu...."

Dalam pada itu, In-ji si dayang telah masuk sambil membawa air teh, ia berkata pula.

"Ciu kongcu, engkau datang kemari kan hendak mencari nona kami dan mencari kesenangan? Apa gunanya marah-marah kepada orang lain? silahkan duduk. biarlah In-ji suguhkan air teh untukmu."

Lengan ciu Hoa yang terhenti ditengah udara, saat itu baru ditarik kembali, dengan mata terbelalak dia awasi Cia In sekejap. kemudian ujarnya dengan suara berat.

"Kau.... siapa kau? sebetulnya apa... apa pekerjaanmu?"

In-ji mengambil secawan air teh dan diletakkan dihadapannya, seperti heran seperti pula tak disengaja, ia berseru.

"Ada apa? Masa kau tidak tahu...."

Untuk kesekian kalinya dengan hati mendongkol Ciu Hoa duduk kembali ke atas kursinya, lalu mendengus.

"Hmm Dalam mata yang jeli tak akan kemasukan pasir, sebenarnya apa kerja kalian? Hayo cepat jawab dengan terus terang"

Sementara itu In-ji sudah meletakkan secawan air teh pula dihadapan Hoa In-liong kemudian sahutnya sambil tertawa.

"Peduli amat kemasukan pasir atau tidak. kami tak paham dengan kata-kata macam begituan, kami hanya tahu nona kami bernama Cia In. dengan nama sebutan In ci-ji, dia adalah Hong-koan-jin (pelacur paling top) yang tiada taranya dikota Kim-leng..."

"Budak sialan pingin mampus?"

Tiba-tiba Cia In berteriak dengan suara melengking.

"memangnya lantaran engkau adalah Cing-koan-jin maka kau merasa bangga untuk menyiarkannya kepada umum."

Perlu diterangkan disini, baik Hong-koan-jin maupun cing-koan-jin adalah sebutan-sebutan khas bagi rumah pelacuran.

Yang dinamakan Hong-koan-ji adalah para pelacur yang sudah tidak perawan lagi, sebaliknya Cing-koan-jin adalah para pelacur yang masih perawan suci, tentu saja dengan adanya tingkatan kedudukan maka hargapun bermacam-macam, lagi kaum lelaki yang suka bermain pelacur, istilah seperti itu pasti akan diketahui dengan jelas.

Hoa In-liong masih muda dan lagi merupakan keturunan orang kenamaan, sekalipun dia romantis dan gemar main perempuan, lagipula tidak terikat oleh pelbagai peraturan, namun anak muda ini masih bersih, dalam arti kata belum pernah menginjakkan kakinya dirumah pelacuran untuk berbuat mesum.

Oleh karena itu, setelah mendengar ucapan tersebut ia jadi tercengang, heran dan merasa tidak habis mengerti, sepasang matanya dibelalakkan lebar-lebar, sebentar memandang kesini sebentar lagi memandang kesana, agaknya dia ingin mencari jawabannya diantara perubahan wajah Cia In dan In-ji.

Lain halnya dengan ciu Hoa, ia gemar bermain perempuan dasarnya memang berwatak cabul dan tengik, memetik bunga adalah pekerjaannya yang boleh dibilang rutin, dan selamanya tak pernah ambil perduli perempuan macam apakah lawan mainnya itu, otomatis diapun mengetahui jelas tentang segala macam istilah yang berlaku dikalangan rumah pelacuran.

Tak heran kalau matanya terbelalak besar sehabis mendengar ucapan tersebut, ditatapnya wajah Cia In dengan rasa heran, agaknya ia masih kurang percaya dengan pengakuan itu.

Tampak In-ji meleletkan lidahnya serta menunjukkan mata setan, lalu berkata.

"Yaa.. benar, nona maafkan akulah yang salah bicara, nona kami adalah Hong-ji (orang yang top) dari kota Kim-leng, bukan Hong-koan-ji."

"Masa diulangi lagi?"

Bentak Cia In.

"Hiiihh..... hiiiiihhhh...... hiiiihhh..... ampun nona yang baik, aku bicara lagi Aku tak akan bicara lagi...."

Cepat In-ji menambahkan sambil tertawa cekikikan. Ia lantas berpaling, kepada Ciu Hoa ujarnya.

"Kongcu-ya, minumlah air tehmu, kenapa masih melongo-longo?"

Ciu Hoa tersentak bangun dari lamunannya, ia lantas berseru dengan suara dingin.

"Hmm Keanehan dari peristiwa yang menimpa diriku tentu asalnya dari kalian berdua. Ketahuilah, kongcu mu bukan manusia sembarangan, kalian tak usah berlagak pilon dan ingin mengelabuhi diriku lagi. Hayo bicara, sebenarnya permainan busuk apakah yang telah kalian lakukan sehingga membuat kongcu mu tertidur pulas?"

Cia In mencibirkan bibirnya, sepasang alis matanya berkenyit.

"Ciu kongcu, kalau ingin bicara aku harap bicaralah sedikit tahu diri, kau mengantuk dan ingin tidur toh karena badanmu kurang sehat dan terlalu penat karena melakukan perjalanan jauh, apa sangkut pautnya hal itu dengan kami? Dan permainan busuk apa yang bisa kami lakukan? Barusan toh In-ji telah menerangkan adanya tamu semacam Ciu kongcu justru merupakan apa yang kuharap-harapkan selama ini, anehkan rasanya kalau aku sengaja membuat engkau teridap tidur hingga tak bisa bangun lagi."

Selain daripada itu, aku toh cuma seorang pelacur biasa, darimana datangnya kepandaian sehebat itu untuk mempermainkan engkau?

Aku tahu Ciu kongcu adalah seorang manusia yang pandai, tentunya kau mengerti bukan bahwa ucapanku ini bukan sengaja kubuat-buat?"

Nada ucapannya itu penuh dengan kehalusan, kelembutan dan kepedihan hati, persis seperti permohonan dari kaum pelacur yang ingin minta belas kasihan dari orang lain.

Hoa In-liong yang berdiri disamping mengawasi perempuan itu lekat-lekat, kemudian berpikir.

"Tak kusangka kalau perempuan ini ternyata adalah seorang pelacur, tak aneh kalau ia pandai merayu dan mempunyai daya pikat yang luar biasa, tapi.... tapi tidak betul Jelas kuketahui bahwa ia berilmu silat, mengapa harus jadi pelacur? Ataukah mungkin dibalik kesemuanya ini, tersembunyi tipu muslihat yang lain?"

Tampaknya manusia yang bernama "Ciu Hoa"

Itupun tidak bodoh, sekarang ia sudah mempunyai suatu perasaan was-was terhadap Cia In, terdengar ia berkata dengan dingin.

"Bila tak ingin orang tahu, kecuali diri sendiri tak pernah berbuat.Tiap senja kongcu mu mencari rumah penginapan kemudian terlelap tidur dengan begitu saja, jelas dibalik kesemuanya ini bukan tanpa alasan, kemudian ditinjau dari gaya serangan Thian-ong-to-tha (raja langit membawa pagoda ) yang kau gunakan untuk menangkis sikut kongcumu, jelas menunjukkan bahwa engkau berilmu silat tinggi. HHm Merayu dengan kata-kata manis hendak menutupi bayangan sendiri ..jangan mimpi Hayo jawab, sebenarnya apa kerja kalian berdua?"

Mula-mula Cia In agak tertegun, namun kemudian ucapnya dengan suara pedih.

"Kalau toh Ciu kongcu berkata demikian, aku tak dapat berbuat apa-apa lagi, In-ji Wakili aku untuk mengantar tamu,"

Seraya berkata, ia kebutkan ujung bajanya dan siap masuk ke dalam ruang dalam.

"Menghantar tamu?"

Jengek ciu Hoa sambil tertawa seram.

"Heheeehh..,.heehh....tidak gampang untuk mengusir aku dari sini."

Cia In hentikan kembali langkahnya,, dengan dahi berkerut dia lantas menegur.

"Sebenarnya apa yang kau inginkan? Maksudku semula, aku hendak merubah suasana yang serba kaku menjadi labih halus dan lembut, maka tiada bahan pembicaraan sengaja kuadakan bahan pembicaraan dan sengaja menggoda dirimu, siapa tahu hasilnya malahan kebalikan, kongcu malahan menuduh aku telah menggunakan pelbagai macam tipu muslihat untuk mencelakai dirimu sehingga tertidur pulas. Kongcu-ya, mengapa tidak kau pikirkan, andaikata aku benar-benar bermaksud jelek kepadamu, dan akupun mampunyai kepandaian yang hebat untuk membuat engkau terlelap tidur, apa sebabnya sampai sckarangpun aku tidak bertindak apa-apa terhadapmu dia membiarkan engkau ribut serta mengumbar hawa amarahnya terus menerus?"

Ucapan tersebut kedengarannya lunak namun hakekatnya keras sekali dan alasannya juga sangat kuat, ini membuat Ciu Hoa untuk sesaat jadi terbelalak dan tak mampu memberi jawaban.

Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba Cia In menghela napas panjang, kemudian melanjutkan.

"Pepatah kuno pernah berkata. 'Bila bertemu sahabat cocok dengan hati, minum seribu cawan pun rasanya kurang, tapi bila menjumpai ketidakcocokan hati maka setengah kecappun rasanya terlalu banyak.' Sebelum mengucapkan sesuatu aku toh sudah terangkan dulu bahwa ucapanku rada kurang sesuai, sedang kongcu-ya sendiripun sudah setuju untuk tidak marah, tapi akhirnya engkau tetap marah dan memusuhi diriku. Kalau toh memang begitu, sekalipun suasana ini dilanjutkan lebih jauh juga akan sama dinginnya seperti es. daripada terjadi hal-hal yang tak diinginkan lagi, kongcu-ya Lebih baik engkau berlalu saja dari sini."

Berbicara demikian, ia lantas menarik ujung baju Hoa In-liong sambil menambahkan.

"Engkoh Khi, mari kita duduk didalam saja."

Dari keadaan tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa nona itu sudah mengambil keputusan untuk mengusir tamunya. Tentu saja Ciu Hoa tak sudi diusir dengan begitu saja, sambil memukul bangku teriaknya.

"Berhenti!"

"Ada apa?"

Tanya Cia In sambil berhenti.

"sebetulnya kongcu-ya tahu aturan tidak? Engkau musti tahu bahwa tempat ini bukan rumah pelacuran dikota Kim-leng, tempat ini adalah rumah penginapan, terima tamu atau tidak aku bisa mengambil keputusan sendiri."

Ciu Hoa betul-betul naik darah setelah didesak oleh perkataan yang tajam dan tak enak didengar itu, saking gusarnya bukan saja sekujur badannya jadi gemetar, otot-otot hijaunya pada keluar, sinar mata tikusnya memancarkan cahaya bengis, agaknya ia siap melancarkan tubrukan ke arah depan.

Siau In-ji menengok kekiri kekanan dengan bingung, kemudian ia coba melerai sambil berkata.

"Kongcu-ya, jangan marah-marah dulu, nona, engkaupun duduklah dengan hati sabar"

"Huuh mau apa duduk lagi?"

Kata Cia In dengan sinis.

"meskipun badan kita rendah, namun cengli tetap cengli dan di manapun cengli itu tetap sama. Kalau ada tamu yang menyenangkan boleh saja kita terima, kalau toh tamunya tidak menyenangkan hati, buat apa kita musti memandang rendah diri sendiri dan susah-susah menerima kemarahan orang?"

In-ji itu memang kecil orangnya tapi besar akal muslihatnya, sambil berkerut kening ia berkata lagi.

"Ooh.... siocia, kita harus berdagang dengan hati yang ramah dan suasana yang damai, Ciu kongcu telah mengejar jauh-jauh dari Ban-sian sampai Keng-bun, ini menunjukkan bahwa ia berniat keras terhadap diri siocia. Cukup kita tinjau dari tindakannya itu, sekalipun harus menerima sedikit kemarahan rasanya juga tak terhitung seberapa......."

Kemudian ia berpaling ke arah Ciu Hoa dan katanya lagi.

"Kongcu-ya, jangan marah lagi siapa berlapang dada dia akan mendapat rejeki besar, kau tak usah ribut dengan nona kami lagi. Nah Minumlah secawan air teh dulu, marahmu pasti lenyap"

Dia lantas mengambil cawan air teh dari atas meja dan diangsurkan kehadapan ciu Hoa.

Tadi Ciu Hoa bisa marah karena berulang kali ia dibuat tak mampu menjawab perkataan orang, namun tuduhan yang dilontarkan tadi hakekatnya cuma tuduhan yang memang tanpa dasar bukti yang kuat, maka setelah mendengar ucapan in-ji, ia semakin tak beralasan lagi untuk mengumbar amarahnya, selain-itu ia merasa berat hati untuk meninggalkan si nona cantik yang berada di depan matanya dengan begitu saja.

Dengan berdasarkan alasan itulah, meski dengan sikap yang masih kaku, ia ambil cawan air teh itu, setelah diminum satu tegukan, katanya lagi.

"Hmm Aku lihat kalian berdua memiliki ilmu silat yang tangguh, asal usul pun sangat mencurigakan hati, sebenarnya ada rencana busuk apakah yang hendak kalian lakukan? Menurut penglihatanku, lebih baik mengaku saja terus terang, kalau tidak Hmm Hmm"

Tiada kelanjutan dibalik kata-katanya itu, dari sini dapat diketahui bahwa ia hendak menggunakan kata-kata tadi untuk melepaskan diri dari suasana yang serba runyam baginya itu.

Siau In-ji memang cerdik pandai sekali membawa diri setelah mendengar perkataan itu ia lantas berkata lagi dengan serius.

"Kongcu-ya disinilah letak kesalahanmu, masa kami berdua mempunyai rencana tertentu? sekali-pun ada rencana tertentu paiing banter rencana itu menyangkut bagaimana caranya untuk menggaet beberapa tahil perak lebih banyak dari diri kongcu. Kongcu-ya Minum dulu air teh mu, kurangilah ucapan yang tak perlu, budak akan coba membujuk pula nona kami."

"Benarkah kalau rencana kalian ingin mengincar beberapa tahil perak belaka?"

Tanya Ciu Hoa.

"Kongcu-ya, kami toh sudah menerangkan kedudukan kami yang sebenarnya kepadamu? sebagai pelacur apa lagi yang ingin kami cari kecuali beberapa tahil perak? siapakah didunia ini yang bersedia dipermainkan orang tanpa mendapat imbalan."

"Kalau memang begitu gampang sekali!"

Seru Ciu Hoa ketus.

"malam ini kongcu menginap di sini dan sepuluh tahil perak ini boleh kau terima dulu."

Dia lantas merogoh sakunya dan mengambil keluar sekeping perak yang beratnya mencapai sepuluh kati kemudian 'plok' dibanting ke atas permukaan meja.

"Waaah tii.... tidak bisa!"

Tiba-tiba cia In berteriak lagi dengan gelisah.

"Kenapa tidak bisa?"

Sahut Ciu Hoa sambil mendelik "apakah engkau sudah lupa akan apa profesimu yang sebenarnya?"

"Sekalipun begitu, untuk berjual beli toh perlu ada siapa yang datang lebih dahulu? Malam ini Pek kongcu telah membayar diriku, maka lebih baik kau...."

"Telur busuk!"

Tukas Ciu Hoa sambil membentak.

"bagiku tidak berlaku siapa datang duluan, lohu..eeeh.....?"

Ia coba menggoncangkan kepalanya keras-keras, tapi sudah terlambat, sebelum jeritan itu selesai di ucapkan, ia sudah roboh terjengkang ke atas tanah dan jatuh tak sadarkan diri Ketika Ciu Hoa roboh terjungkal Cia In lantas menjerit ketakutan.

"Aduuh mak, apa yang telah terjadi?Jangan-jangan... jangan-jangan orang ini mengidap penyakit ayan?"

Hoa In-liong bukan orang bodoh, apalagi ia mengikuti kejadian itu dari samping, tentu saja ia tahu kalau Cia In sedang berpura-pura main sandiwara dan iapun tahu kalau penyakitnya terletak di dalam air teh yang disuguhkan itu.

Sebagai pemuda yang cerdik, cukup hebat pula reaksinya, ia tidak menunjukkan wajah kaget, malahan seperti orang yang gembira karena melihat lawannya roboh, dia tertawa terbahakbahak.

"Haaahhhh..... haaahhhh...... haaaaah...... hah jangan gugup..... Jangan gugup, orang yang mengidap penyakit ayan tak bakal mampus, sekalipun mampus itu juga kesalahan sendiri, siapa suruh ia marah-marah dan mengumbar napsu setelah tahu kalau mengidap penyakit aneh."

Sengaja dia mengambil cawan air tehnya dan menghirup satu tegukan.

"Aaah, enak benar kalau bicara!"

Seru Cia In pura-pura serius.

"Kalau ia benar-benar sakit dan tak dapat bangun lagi, wah.... bisa jiwanya akan melayang"

"Mau melayang biar melayang Bila ia mampus lantaran marah-marah, kalau sampai pengadilan mencari dirimu, biar akulah yang akan menjadi saksi bagi enci In."

Diam-diam Cia In merasa geli. tapi diluaran ujarnya.

"Hoa kongcu memang berbeda jauh bila di bandingkan orang lain, biarlah kuucapkan banyak terima kasih dulu kepadamu."

Betapa terkejutnya Hoa In-liong ketika secara tiba-tiba mendengar ia mengubah sebutannya, sontak ia berteriak.

"Apa? Engkau tahu...?"

"Siapa yang tidak kenal dengan Hoa kongcu dari Im tiong-san? Hiiiihhh hihihi...."

Cia In tertawa cekikikan. Hoa In-liong sejera bangkit berdiri, serunya agak gugup.

"Kau... kau..."

Cepat Cia In menyingkir kesamping untuk menghindarkan diri lalu katanya.

"Hoa kongcu jangan marah-marah, kalau marah nanti akan ikut roboh juga..."

"Sebenarnya siapa engkau?"

Bentak Hoa ln-Iiong dengan kaget.

"obat apa yang telah kau campurkan ke dalam air teh itu?"

"Tidak apa-apa, cuma sedikit obat pemabok Jit-jit-im-hun-san (bubuk pemabok tujuh hari) obat itu tak akan mencabut nyawa kongcu!"

Hoa In-liong marah sekali, sambil menggigit bibir katanya.

"Obat pemabok dari kalangan penyamun juga kalian gunakan? Hmm Sebenarnya apa tujuanmu.....!"

Belum habis ia berkata, mendadak tubuhnya jadi sempoyongan dan....

"Blaang!"

Diapun roboh terjengkang ke atas tanah. Cia In benar-benar amat bangga, sambil tertawa cekikikan katanya lagi.

"Tadinya aku mengira keturunan dari keluarga Hoa tidak takut dengan sebala macam obat pemabok, Huuh Tak tahunya engkau juga tak tahan terhadap obat tersebut. In-ji Cepat gusur si setan jelek itu kekolong ranjang, kemudian suruh Hao Ie menyiapkan kereta, kita segera lanjutkan perjalanan"

In-ji mengiakan, ia lantas menyeret tubuh Ciu Hoa dan disembunyikan di bawah pembaringan, setelah itu tanyanya dengan ragu.

"Suci, benarkah dia adalah kongcu dari keluarga Hoa?"

Sebutannya bukan nona lagi, sekarang ia sebut Cia In sebagai "suci"

Atau kakak seperguruan. Cia In sendiri tampak agak gelisah, dengan kurang sabaran ia menjawab.

"Ia sendiripun tidak membantah, apa gunanya engkau turut menguatirkan dirinya? Cepatan suruh Hao lo-tia siapkan kereta, kalau sampai anak buahnya si setan jelek menyadari akan keadaan ini, kita bakal menghadapi bahaya kerepotan lagi."

Hakekatnya waktu itu Hoa In-liong tidak semaput, ia cuma berlagak pingsan belaka, Dengan tubuhnya yang tidak mempan terhadap racun, jangankan cuma obat pemabok.

sekalipun racun yang bisa memutuskan usus juga tak dapat berkutik terhadap dirinya.

Sekarang sambil berpura-pura, tiap kali ia picingkan sepasang matanya untuk mengawasi gerak gerik cialn berdua secara diam-diam.

Sementara itu In-ji telah menyembunyikan tubuh Ciu Hoa dibawah kolong ranjang, sambil bangkit berdiri ia bertanya lagi.

"Aku lihat orang she-ciu ini mempunyai asal usul yang besar, apa salahnya kalau sekalian kita bawa pergi?"

"Apa gunanya membawa manusia keroco seperti orang itu? Bila orang itu penting artinya buat kita, semenjak tadi suci sudah turun tangan untuk membekuknya."

"Makin banyak yang kita peroleh semakin menguntungkan, bagaimanapun toh kereta kita masih muat untuk ranjang angkut mereka berdua sekaligus!"

Seru In-ji "Aaaah, kamu ini tahu apa?"

Bentak Cia In.

"kita bisa menangkap anak cucunya sekeluarga Hoaboleh dibilang sudah sangat beruntung, engkau tahu berapa besar jasa kita dengan hasil yang kita peroleh ini? Cepat siapkan kereta, jangan menunda waktu pemberangkatan lagi."

Kali ini In-ji benar-benar membungkam dalam seribu bahasa, ia lantas berlalu dari ruangan itu.

Sepeninggal In-ji, cia In bungkukkan badan untuk membopong tubuh Hoa In-liong.

kemudian sambil mencium dipipinya ia bergumam.

"Pemuda tampan, jangan marah kepadaku Bila bukan terpaksa, dengan tampangmu yang ganteng dan tubuhmu yang kekar, aku tak akan tega-membiarkan engkau menderita siksaan lahir dan batin"

Sambil bergumam ia membopong pemuda itu dan dibaringkan diatas pembaringan, kemudian jari tangannya bergerak dan mendadak ia totok jalan darah Ki-ciat di atas dada pemuda itu.

Jalan darah Ki-ciat-hiat disebut pula Huan-hun hiat (jalan darah pembalik sukma), hiat-to tersebut termasuk salah satu diantara delapan buah jalan darah pingsan yang terdapat ditubuh manusia.

Kejadian ini berlangsung amat mendadak dan sama sekali di luar dugaan, sekalipun anak cucu keluarga Hoa belajar kepandaian menggeser jalan darah, walaupun Hoa loji binal dan cerdik, tapi la tak pernah menyangka kalau Cia in bakal menotok jalan darah pingsannya walaupun sudah diberi obat pemabok.

Sebab itulah, ketika totokan tersebut bersarang telak diatas dada Hoa In-liong, si anak muda itu seketika jatuh pingsan dan kali ini benar-benar tidak sadarkan diri Selang sesaat kemudian in-ji telah muncul kembali dalam ruangan, cia In sendiripun telah selesai membenahi perbekalannya, dua orang perempuan itupun satu ke kiri yang lain di kanan lantas memayang Hoa jiya yang mirip orang mabok itu keluar dari rumah penginapan, naik ke atas kereta dan melanjutkan perjalanan menuju kearah timur.

Beberapa hari sudah lewat tanpa terasa, suatu tengah hari sampailah kereta kuda yang kecil mungil itu diluar pintu barat kota Kim-leng.

Bila ditinjau dari kemunculannya di kota tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa ucapan cia in ada beberapa bagian memang boleh dipercaya sebab ia benar-benar menuju kekota Kim-leng seperti yang dikatakan.

Ketika itu kereta mereka sudah berada dua panahan dari pintu kota sebelah barat, Hou lo-tia yang bertindak sebagai kusir telah bermandikan keringat karena lelah, ia mencambuk kudanya keras-keras dan melarikan keretanya lebih cepat lagi untuk menerobos masuk ke dalam kota.

Mendadak dari balik semak belukar, ditepi telaga Mo-chiu-ouw muncul lima ekor kuda jempolan, pada-kuda yang pertama duduklah seorang pemuda perlente yang memakai jubah sutera halus.

Terdengar kongcu itu menuding kearah depan sambil berseru nyaring.

"Hey... coba lihat siapa yang datang?"

Kemudian teriaknya lagi dengan lebih keras.

"Hou lo-tia, apakah nona Cia telah pulang?"

Sebelum Hou Lo-tia sempat menjawab, cia-In yang berada didalam kereta telah berbisik lirih.

"Jangan perdulikan mereka, cepat kita kabur masuk ke dalam kota."

Tentu saja Hoa lo-tia tidak berani membantah, ia mencambuk kudanya semakin kencang lagi sehingga kereta itu lari masuk ke dalam kota dengan lebih cepat pula.

Ketika kongcu muda itu melihat tegurannya tidak digubris oleh Hou Lo-tia, ia lantas membedal pula kudanya untuk mengejar, dengan wajah penuh kemarahan pemuda itu menyusul kesamping kereta lalu membentak dengan suara berat.

"Hoa lo-tia, sebenarnya apa maksudmu? Apakah aku Sa beng Siang (Beng siang saku) Yu-Siaulam tidak pantas untuk berkenalan dengan dirimu..."

Kudanya dicamplak kemuka dan menghadang jalan pergi kereta tersebut, karena ia berdiri ditengah jalan serta merta Hou lo-tia tak dapat meneruskan pula perjalanaannya.

Padahal kereta itu sedang dilarikan dengan kencangnya, karena mendadak jalan lebatnya terhadang, terpaksa ia harus menarik tali les kudanya kencang-kencang.

Diiringi ringkikan panjang, kuda menghela kereta itu mengangkat sepasang kakinya keangkasa, dan keratapun seketika itu juga terhenti.

Selang sesaat kemudian beberapa ekor kuda yang ada dibelakang telah menyusul datang pula mereka lantas berdiri berjajar dibelakang Yu Siau-lam.

Karena jalan perginya sudah terhadang, mau tak mau Cia In harus pura-pura melongok keluar dari jendela sambil menegur dengan lagak tak habis mengerti.

"Hou lo-tia, ada urusan apa?"

Sesudah berheti sebentar ia baru menambahkan.

"oooh Rupanya Yu-ya yang telah datang..."

Ya Siau-lam tampak sangat gembira setelah bertemu dengan Nona Cia, ia segera melompat turun dari atas kuda dan memburu kedepan, katanya.

"Rupanya nona Cia benar-benar telah pulang, nona Cia sejak engkau berangkat ke barat. setiap hari aku sangat mengharap-harapkan kedatanganmu, kami rasakan seakan-akan sedang menghadapi musim kemarau yang panjang. Haahhh haaaaahhh ...haaaaahhh akhirnya kau kembali juga hari ini."

Meski gelisah sekali perasaan hati Cia In waktu itu, ia tak dapat menunjukkan sikapnya itu di luaran, terpaksa sahutnya dengan kata-kata merendah.

"Aduuh...aku tak berani menerima katakatamu itu, begini saja, Malam nanti aku akan mengadakan perjamuan dalam kamarku, harap Yu-ya untuk memberi muka dan menghadirinya."

Yu Siau-lam tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh...... haaaaahhh.... haaaahh untuk mengadakan perjamuan guna menyambut kedatanganmu tidak pantas kalau engkau yang selenggarakan, sebab kamilah yang wajib mengadakan bagimu, biar kutemani nona Cia masuk ke dalam kota."

Seraya berkata ia lantas menarik pintu kereta dan melangkah marak ke dalam ruangan kereta tersebut.

Cia In tak menduga kalau pemuda itu bakal bertindak demikian, dengan gelisah ia lantas mendorongnya keluar sambil berseru.

"Ruangan kereta amat kotor, kita berjumpa saja malam nanti."

Ruangan kereta itu luasnya cuma delapan, setelah pintu kereta terbuka maka semua benda yang berada dalam keretapun terlihat jelas, Hoa In-liong berbaring diatas lantai permadani tepat di hadapan cia In, tentu saja dapat terlihat dari luar dengan jelas.

Pada mulanya Yu Siau-lam tampak agak tertegun, menyusul kemudian ia tertawa terbahakbahak "Haaaaahhhh....haaaaahhhhh, haaaaahhh aku masih merasa heran, kenapa Hou lo-tia tak sudi menghentikan keretanya, ternyata nona Cia pulang dengan membawa seorang laki-laki."

Ia lantas mencengkeram pakaian Hoa In liong bagian dadanya dan mengangkat keluar dari kereta. Cia Ia semakin gelisah lagi, ia menubruk kedepan untuk mengejar.

"Cepat lepaskan orang itu!"

Teriaknya cemas.

"orang itu adalah...."

Tapi sebelum ia menyelesaikan kata-katanya, Yu Siau-lam telah melemparkan tubuh Hoa In-liong ke tangan rekannya.

"Saudara Ek hong, harap membawa bocah itu kerumahku, siau-te akan menemani nona Cia masuk ke dalam kota!"

Serunya. Sudah tentu Cia In tak memperkenankan orang itu membawa pergi Hoa In-liong, sepasang kakinya menjejak permukaan tanah dan segera menubruk kedepan.

"Tidak boleh Tidak boleh Kalian tak boleh membawa pergi orang itu.... hayo cepat kembalikan kepadaku!"

Teriaknya cemas. Agak terkejut Yu Siau-lam menyaksikan kegesitan nona cantik itu, serta merta ia berkelebat ke muka dan menghadang jalan pergi Cia In, bentaknya dengan suara dalam.

"Berhenti..Tak kusangka kalau nona Cia juga merupakan seorang pendekar perempuan dari kalangan dunia persilatan, kalau begitu mata ku telah kau lamuri selama ini."

Cia In semakin gugup dan gelagapan, ia tak menyangka kalau saking paniknya tanpa disadari ilmu meringankan tubuhnya telah dipergunakan, setelah ditegur oleh Yu Siau-lam ia baru kaget dan termangu-mangu.

Setajam sembilu sepasang mata Yu Siau-lam, ditatapnya perempuan itu tanpa berkedip.

kemudian ujarnya lebih jauh.

"Nona Cia memiliki ilmu silat yang sangat lihay, akan tetapi selama ini harus menyembunyikan diri dalam sarang pelacur, aku rasa dibalik kesemuanya itu pasti ada sebab-sebabnya bukan? Yu Siau-lam memberanikan diri untuk minta penjelasan dari nona, andai kata engkau mempunyai kesulitan, kamipun bersedia membantu kau untuk menyelesaikannya ..."

Setelah termangu-mangu beberapa waktu, Cia In dapat menenangkan kembali perasaannya yang panik ia berkata.

"Tuan Yu, buat apa kau musti mencampuri urusan orang lain? Lebih baik serahkan kembali orang itu kepadaku."

Yu Siau-lam tertawa dingin.

"Heehhh heeehhh....heeehhh ....kau anggap julukan ku sebagai Say-beng-siang kudapatkan dengan gampang? Berbicara dari soal hubungan, maka dengan persahabatan antara nona dengan diriku, maka kesulitan yang nona hadapi sama pula dengan persoalanku, bila aku mencampurinya maka tak bisa dikatakan bahwa aku sedang mencampuri urusan orang lain, aku kira lebih baik nona terangkan saja kepadaku secara berterus terang..."

Cia in benar-benar amat gelisah bercampur panik, saking bingung, dan gugupnya ia sampai tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Selang sesaat kemudian setelah ia berhasil menguasai pergolakan hatinya, nona itu baru berkata-lagi dengan lembut.

"Sudah lama aku dengar orang berkata tentang kebesaran jiwa tuan Yu yang suka menolong orang, akupun merasa berterima kasih dan berhutang budi atas perhatian dan bantuan yang telah Tuan Yu berikan kepadaku selama ini cuma...cuma terus terang kukatakan bahwa aku mempunyai kesulitan yang tak dapat diutarakan kepada orang lain, harap tuan Yu sudi memaklumi keadaanku dan memaafkan diriku ini."

Yu Siau-lam sama sekali tidak terpengaruh oleh bujuk rayunya, yang lemah lembut itu, ia malahan mendengus.

"Hmm Kalau kau telah mengetahui bahwa aku suka menolong orang, tentunya engkau tahu bukan bahwa aku sangat membenci terhadap segala macam tindak kejahatan? sekarang terbukti sudah bahwa engkau pandai bersilat, dan lagi menyembunyikan diri dalam rumah pelacuran, bila tiada kesulitan apa-apa, berarti engkau mempunyai rencana busuk. Maka bila tidak kau terangkan sekarang juga, terpaksa aku harus memaksa dirimu dengan memakai kekerasan"

Tercekat hati Cia In sesudah mendengar ucapan itu, kembali ia berusaha memohon dengan lemah lembut.

"Tuan Yu, kenapa kau musti menyusahkan diriku? Keuntungan dan manfaat apakah yang bakal, tuan Yu dapatkan dari perbuatanmu itu?"

"Selamanya aku bertindak sesuatu tanpa memikirkan soal untung ruginya, yang lebih kuutamakan adalah soal pantas atau tidaknya urusan itu kucampuri..."

Tukas Yu Siau-lam.

"Memaksa orang untuk membicarakan soal yang merupakan kesulitan bagi dirinya, apakah ini juga terhitung perbuatan yang pantas?"

"Nona Cia Tak ada gunanya kau membela diri dengan pelbagai alasan, aku lihat bicara sajalah secara terus terang, daripada hubungan kita jadi retak dan tak enak"

Diam-diam Cia In memeriksa situasi yang dihadapinya, ia lantas sadar bahwa persoalan ini tak dapat diselesaikan secara damai lagi, maka sambil menarik muka ia berkata.

"Tuan Yu, jika engkau bersikeras untuk mencampuri urusan ini, itu berarti hubungan kita sudah retak"

"Haaabhh....haaahhh....haaahhh....tadinya aku masih menduga-duga kenapa kau pulang dengan membawa seorang Laki-laki, tampaknya dugaanku memang tidak keliru, agaknya engkau mempunyai rencana busuk dan tujuan tertentu!"

Seru Yu Siau-lam sambil terbahak-bahak, setajam sembilu sorot matanya. Sementara itu paras muka Cia In telah berubah jadi hijau membesi, dingin dan kaku bagaikan balok es.

"Tuan Yu!"

Hardiknya lantang.

"cepat serahkan kembali orang itu kepadaku, kalau tidak, heehh.. heeehhh....heeehhh... jangan salahkan kalau aku akan bertindak keji dan tak kenal ampun"

Yu Siau-lam terbahak-bahak semakin keras, ia tidak menggubris ancaman itu, sebaliknya sambil berpaling tanyanya.

"Saudara Ek-hong, apakah orang itu juga seorang jago persilatan? Apakah jalan darahnya tertotok?"

"Paras muka orang ini rasanya sangat kukenal seakan-akan pernah kujumpai disuatu tempat"

Sahut laki-laki yang bernama Ek-hong itu dengan nyaring.

"jalan darahnya telah kubebaskan, tapi ia masih juga tak sadarkan diri."

Yu Siau-lam jadi tertegun.

"Kalau begitu dia pasti sudah dikerjai dengan cara-cara yang lain, saudara Ek-hong Tolong bawa pulang dulu orang itu kerumahku, mintalah kepada ayahku untuk memeriksa kesehatan badannya."

Sebelum laki-laki yang bernama "Ek-hong"

Itu bergerak, cia In telah berteriak lagi dengan gelisah.

"Hou lo tia In ji Hadang orang itu jangan biarkan mereka pergi, jangan mereka kabur dengan membawa serta orang itu."

Baik In-ji maupun kakek si kusir kereta serentak bergerak ke depan dan menghadang jalan pergi keempat penunggang kuda lainnya, gerak tubuh mereka enteng, lincah dan cepat bagaikan sambaran kilat, jelas orang-orang itu merupakan jago kelas satu dalam dunia persilatanTak terkirakan rasa kagetnya yang dialami Yu Siau-lam setelah menjumpai keadaan tersebut, sambil putar badan bentaknya.

"Nona Cia, sebelum duduknya persoalan dibikin jelas, aku tak ingin menyalahi dirimu, katakan saja siapa orang itu? Mengapa kau bekuk dia kemari?"

Cia In yang sekarang tidak nampak genit lagi ia sudah menarik kembali semua senyum dan kegenitan yang dibuat-buat, wajahnya nampak dingin menyeramkan, bukan saja kaku reperti patung ukiran bahkan penuh diliputi hawa napsu membunuh, siapapun tak akan menyangka kalau perempuan secantik ini sebenarnya adalah seorang pelacur.

Dengan tatapan mata tajam, dan muka bengis nona itu berkata sepatah demi sepatah kata.

"Tuan Yu, sekalipun aku masih bukan tandinganmu, akan tetapi setelah engkau bersikeras untuk mencampuri urusanku, terpaksa akupun tak akan berpikir panjang lagi, sebelum kau serahkan kembali orang itu kepadaku, tak nanti akan kusudahi persoalan ini."

Sambil berkata ia lantas merogoh ke dalam sakunya dan mencabut keluar sebilah pisau belati yang tajam dan memancarkan cahaya berkilat yang menyilaukan mata.

Yu Siau-lam semakin terkejut menghadapi kejadian tersebut, meski demikian ia berusaha untuk menyimpan rasa kagetnya di hati, ujarnya kembali dengan tenang.

"Nona Cia sekalipun engkau coba menggunakan kekerasan, jangankan dianggap bahwa gertakanmu itu akan membuat aku jadi takut, aku orang she-Yu tak akan mengenal apa artinya takut dan selamanya aku tak pernah meninggalkan sesuatu pekerjaan ditengah jalan."

Sebelum ia menyelesaikan kata-katanya, Cia In telah menukas lagi dengan ketus.

"Engkau tak usah banyak bicara lagi, bila aku tak dapat menandingi kelihayanmu, orang itu segera kau bawa pergi."

"Saudara Siau-lam!"

Tiba-tiba Ek-hong berteriak.

"aku sudah teringat sekarang, orang ini mirip Hoa tayhiap dari In-tiong-san."

Mendengar perkataan itu, Yu Siau-lam sangat terperanjat.

"Apa? "jeritnya sambit putar badan, mukanya penuh perasaan kaget yang tak terkirakan.

"Kau maksudkan Hoa tayhiap?"

"Bukan..... Bukan..... Hoa tayhiap pribadi, dia adalah putranya Hoa tayhiap"

Wan Ek-hong membenarkan keterangannya. Yu Siau-lam telah memutar badannya kembali, kini mukanya makin keren, sinar matanya tajam dan sikapnya amat bersungguh-sungguh.

"Ayoh katakan!"

Dia menghardik.

"Benarkah orang ini adalah Hoa kongcu, putra Hoa tayhiap?"

"Hmm, semenjak tadi toh aku sudah terangkan,"

Kata Cia In ketus.

"jika aku bukan tandinganmu, orang itu boleh kau bawa pergi Buat apa banyak bicara lagi?"

Perbagai ingatan berkecamuk dalam benak Yu Siau-lam, setelah mempertimbangkan untung ruginya, akhirnya pemuda itu memutuskan untuk mengendalikan hawa amarah yang semakin berkobar itu "Budi kebaikan yang telah diperbuat Hoa tayhiap bagi umat persilatan besar sekali, kami orangorang dari keluarga Yu merasa berhutang budi kepadanya, tentu saja tak nanti kubiarkan anak cucu nya diganggu oleh orang walau hanya seujung rambutpun, kau tak lebih hanya seorang perempuan, sejahat-jahatnya juga ada batasnya, akupun tak ingin bergebrak melawanmu, lebih baik berlalulah dari sini,"

Kata pemuda itu.

"Pergi?"

Jengek Cia In sambil tertawa dingin.

"tinggalkan dulu orang itu disini!"

Pisau belatinya langsung diayun kemuka dan menyapu pinggang si anak muda itu.

Serangan itu sepintas lalu kelihatannya lambat sekali, pada hakekatnya begitu cepat hingga sukar dilukiskan dengan kata-kata, terlihatlah cahaya kilat menyambar di udara, tahu-tahu segulung hawa pedang yang tajamnya luar biasa telah menyergap tubuh Yu Siau-lam.

Waktu itu Yu Siau-lam baru saja memutar badannya, ketika merasakan munculnya hawa pedang yang menyerang badan, tanpa berpaling cambuknya segera diputar ke belakang, sementara kakinya melanjutkan perjalanan menuju ke depan.

"Saudara Ek-hong ayoh kita cepat pergi!"

Teriaknya lantang.

Gerakan tubuh dari si anak muda itu betul-betul cepatnya luar biasa, lagi pula serangan cambuknya itu penuh berisikan bawa serangan yang tajam dan kuat, hal ini bukan saja menyebabkan serangan dari Cia In terbendung, bahkan ketika gadis itu akan mengejar lebih jauh, Yu Siau-lam telah duduk dialas pelana kudanya dan membedal binatang itu ke dalam kota.

Empat orang rekannya tidak berayal lagi, masing-masing membedal pula kudanya dan menyusul dari belakang.

Tinggi sekali kepandaian kelima orang itu dalam ilmu penunggang kuda, dan lagi gerakan mereka pun terlampau cepat, menanti In-ji dan kakek she-Hek menyadari keadaan itu dan siap menghadang, yang tertinggal hanya debu yang mengepul di angkasa, mau dihadangpun tidak ada gunanya.

Siau In-ji tampaknya tidak puas, dia lantas menjejakkan kakinya ketanah dan siap memburu kedepan, namun cia In segera menghalanginya.

"Aaaai.... In-ji, tak usah kau kejar lagi,"

Katanya sambil menghela nafas panjang.

"sungguh tak kusangka seorang laki-laki romantis yang suka main perempuan pun memiliki ilmu silat yang tak terkirakan lihaynya, aaaai.... sekalipun berhasil kita kejar, tapi apa yang dapat kita lakukan terhadap mereka?"

"Lantas, apakah kita harus berpeluk tangan belaka?"

Seru In-ji tidak puas.

"Tidak berpeluk tangan lalu kita musti berbuat apa lagi? Ayolah naik ke atas kereta Persoalan yang harus kita pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya menghadapi mereka jika orangorang itu mencari gara-gara lagi."

Diiringi helaan napas panjang perempuan itu naik ke dalam keretanya, Hek-Lotia pun mencambuk kudanya dan cepat-cepat melarikannya ke dalam kota Kim-leng.

000000000000 KOTA Kim-leng disebut juga Kang-ning, disinilah letak bekas kerajaan dari enam pahala yang silam.

Kota Kim-leng yang sekarang adalah sebuah kota besar yang ramai dan paling sibuk dalam perdagangan, bukan saja penduduknya padat, banyak pula terdapat tempat rekreasi dan tempattempat bersejarah yang banyak dikunjungi kaum pelancong.

Yaaa, kota Kim-leng memang merupakan kota yang paling termashur di wilayah Kanglam.

Tepi sungai Chin-hway, samping kuil Hu-cu-bio penuh dikunjungi kaum pelancong dipagi hari, penuh irama nyanyian dan aneka warna lampu di malam hari, tempat-tempat yang termashur itu boleh dibilang sibuk siang ataupun malam, merupakan tempat paling ramai yang dikunjungi orang tiap harinya.

Sebuah gedung besar yang megah dan mentereng berdiri menghadap jalan besar dengan membelakangi sungai Chin-hway, letaknya hanya kira-kira satu panahan dari kuil Hu-cu-bio.

Gedung mentereng itu berdinding merah dengan atap warna hijau, bangunan lotengnya tinggi dan kokoh, beberapa sampan mungil bertengger ditepi sungai Chin-hway dibelakang bangunan tersebut, lentera teng-liong yang besar dengan lilin merah yang memancarkan sinar berkedip tergantung disisi pintu yang lebar, menyinari tulisan "Gi-sim-wan"

Merupakan rumah pelacuran paling termashur dalam kota Kim-leng, bukan saja disana tersedia koki-koki kenamaan, tersedia sampan mungil untuk berpesiar, tersedia juga gadis-gadis cantik jelita yang akan siap melayani tetamu-tetamunya untuk makan minum serta mencari kesegaran hidup.

Banyak sekali langganan rumah pelacuran Gi-sim-wan, mereka bukan saja terdiri diri kaum pedagang besar, pembesar-pembesar kenamaanpun kebanyakan mengenal rumah bordil ini.

Kereta kuda yang ditumpangi Cia In telah berbelok-belok sekian lama dalam kota Kim-leng akhirnya setelah tiba ditepi sungai Chin-hway, kereta itu meluncur masuk ke dalam rumah pelacuran Gi-sim-wan.

Gadis itu pernah mengaku sebagai pelacur dari kota Kim-leng, tampaknya pengakuan itu memang benar.

Tapi begitu kereta kuda itu masuk ke halaman Gi-sim-wan, tiba-tiba seluruh isi rumah pelacuran itu jadi gaduh dan tidak tenang, lama sekali suasana itu baru pulih kembali dalam keheningan.

Apa yang terjadi?

Mengapa demikian?

Sayang pagar dinding rumah pelacuran itu terlampau tinggi, apalagi bukan waktunya menerima tamu, tentu orang lain tak ada yang tahu apa gerangan yang telah terjadi disana.

Kalau pihak Cia in kelihatan panik, maka keadaan Yu Siau-lam yang sedang kabur masuk ke dalam kota pun tak kalah tegangnya.

Mereka merasa kurang leluasa untuk membedal kudanya ditengah jalan raya yang ramai, maka kelima orang itu sengaja mencari jalan-jalan lorong yang sempit untuk memotong jalan.

Setelah melewati loteng, tambur, keluar dari pintu Hian-bu-hun, kuda-kuda mereka dilarikan terus menuju ke sebuah gedung besar yang megah dan kokoh diteti telaga.

Sebelum pindah di tempat tujuan, dari atas kudanya Yu Siau-lam telah berteriak keras-keras.

"Siapa yang giliran ronda hari ini? Cepat undang Lo-tay-ya, katakan ada urusan penting"

Seorang Laki-laki kekar muncul dari balik pintu, sambil bungkukkan badan memberi hormat sahutnya.

"Lapor kongcu, hari ini giliran hamba Yu Bi yang meronda."

"Cepat! Cepat undang Lo tay-ya!"

Teriak Yu Siau-lam dari kejauhan sambil ulapkan tangannya.

"katakan kalau Hoa kongcu dari Im-tiong-san datang berkunjung!"

Yu Bo tampak agak tertegun, tapi cepat dia mengiakan.

"Baik,"

Dengan langkah cepat dia putar badan dan lari masuk ke dalam gedung megah itu.

Yu Siau-lam sekalian larikan kuda mereka menerobos masuk ke dalam halaman dan berhenti tepat di depan ruang tengah.

Setelah melakukan perjalanan cepat dalam suasana tegang, peluh telah membasahi sekujur badan orang-orang itu, tapi pikiran Yu Siau-lam waktu itu diliputi kegelisahan dan rasa cemas, tentu saja tak sempat baginya untuk memperdulikan keringat bau yang membasahi badannya itu.

"Saudara Ek-hong!"

Teriaknya setelah melompat turun dari kuda.

"apakah keadaan Hoa kong cu terjadi perubahan?"

Pemuda yang disebut "saudara Ek-hong"

Juga seorang pemuda tampan yang bertubuh tegap dan kekar, sambil membopong Hoa In-liong dia melangkah naik ke undak-undakan batu di depan ruangan, ketika mendengar pertanyaan itu, dia berpaling.

"Hoa kongcu masih pingsan seperti sedia kala,"

Sahutnya.

"rupanya goncangan dijalan tadi sama sekali tidak menyebabkan dia menjadi sadar kembali."

"Eeeh...... jangan-jangan isi perutnya terluka parah, makanya dia tak sadarkah diri sampai kini?"

Tiba-tiba seorang pemuda kekar beralis tebal bermata besar yang ada dibela kang menimbrung.

"Aaah, tak mungkin,"

Kata seorang pemuda jangkung dengan mata yang jeli di sisi pemuda tadi.

"coba kau lihat air muka Hoa kongcu tetap segar dan napasnya teratur bukan begini macam orang yang terluka parah isi perutnya."

Pemuda bermuka persegi yang berjidat lebar disamping mereka menyela pula dengan cepat.

"Huuss, kalian jangan ngawur seenaknya, itulah tanda-tandanya orang yang tertotok jalan darahnya, saudara Ek-hong Cepat baringkan Hoa kongcu di kursi, kita periksa lagi keadaannya dengan lebih teliti, siapa tahu kalau kita temukan tanda-tanda lain yang bisa kita jadikan petunjuk? "

Diiringi pelbagai suara yang mengemukakan pendapatnya, pemuda-pemuda itu mengiringi "saudara Ek-hong"

Masuk ke ruang tengah, Ek-hong membaringkan tubuh Hoa ln-liong diatas sebuah meja besar, kemudian sambil menyeka peluh yang membasahi jidatnya dia berkata.

"Menurut pendapat siau-te, kemungkinan besar Hoa kongcu telah dicekoki sejenis obat yang hebat sekali daya kerjanya."

"Aaaah.... masuk diakal!"

Teriak pemuda kekar yang ada disampingnya sambil bertepuk tangan.

"hahaha....haaaahhh......haaaahhh... memang harus diakui, diantara kita berlima, ilmu silat saudara Ek-hong lah yang paling tinggi, andaikata cuma jalan darahnya yang tertotok saudara Ek-hong tentu akan mengetahuinya, betul Aku yakin delapan puluh persen Hoa kongcu sudah dicekoki obat racun yang lihay"

"Cong-gi te jangan berkaok-kaok macam kunyuk penasaran,"

Tegur Yu Siau-lam dengan dahi berkerut.

"bagaimanapun toh sebentar lagi ayahku bakal sampai disini. asal ayahku tiba, semua persoalan akan beres dengan sendirinya."

Sementara itu seorang pelayan masuk ke dalam ruangan dengan membawa sebuah baki, di atas baki terletak beberapa cawan air teh panas.

"Letakkan air teh itu dimeja, dan cepat lapor kepada lotay-ya!"

Seru Yu Siau-lam sambil ulapkan tangannya.

"katakan kalau Hoa kongcu dari perkampungan Liok-soat-san-ceng berada dalam keadaan pingsan, kini berada diruang depan, harap Lotay-ya cepat-cepat datang kemari, minta agak cepatan sedikit."

"Baik"

Pelayan itu mengiakan, setelah meletakan baki air teh ke atas meja, dia lari keluar dari ruangan.

Sepeninggal pelayan itu, Yu Siau-lam memandang sekejap-kearah Hoa In-liong tiba-tiba ia menghela napas panjang.

"Aaai..... saudara-saudaraku dan sobat-sobatku menghargai diriku sebagai Say-beng-siang (Beng siang sakti), tapi kalau kutinjau dari keadaan yang kuhadapi sekarang, yaa... sekalipun tak sampai mengganggu khalayak umum sebetulnya julukanku itu terlalu berlebihan"

"Hey, saudara Siau-lam Kenapa tiba-tiba kau berkeluh kesah?"

Tegur cong-gi si pemuda kekar beralis tebal itu sambil berkenyit.

"Kim-leng ngo kongcu (lima tuan muda dari kota Kim-leng) adalah saudara angkat yang saling hormat menghormati, cinta mencintai, siapa yang tak tahu kalau kita adalah sahabat karib? orang bilang daripada punya satu sahabat, lebih baik punya tiga teman, apa salahnya kalau kita punya banyak sahabat? Kan banyak teman banyak pula faedahnya."

Perlu diterangkan disini, saudara Cong-gi itu bernama Coa Cong-gi, saudara Ek-hong bernama Wan Ek-hong, pemuda yang bertubuh jangkung tadi bernama Li Pa-se sedang yang berwajah persegi itu bernama Ko siong-peng, ditambah Yu Siau-lam seorang mereka disebut Kim-leng-ngo kongcu lima tuan muda dari kota Kim-leng.

Kelima orang itu semuanya merupakan keturunan dari keluarga persilatan, usia mereka hampir sebaya, jiwa dan semangat mereka sama-sama gagahnya, berjiwa pendekar dan suka menolong yang lemah menindas yang kuat.

Dihari-hari biasa mereka paling suka berpesiar ke tempat yang indah dan minum arak menikmati hidup, apalagi ilmu silat yang mereka miliki sangat lihay, bukan saja banyak teman bahkan sering kali suka mencampiri urusan orang lain.

Sebab itulah hampir setiap penduduk kota itu mengenal siapakah Kim-leng-ngo kongcu, sebagai pemuda-pemuda yang gemar nama besar, tentu saja tindak tanduk mereka semakin dipelihara.

Tapi sekarang, tiba-tiba saja Yu Siau-lam berkeluh kesah, bukan saja Coa Cong-gi seorang yang dibuat keheranan, rekan-rekan yang lainpun sama-sama memandang rekannya dengan muka tertegun, mereka ingin tahu apa sebabnya saudara tua mereka ini berkeluh-kesah.

Yu Siau-lam menjawab..

"Yaa. dalam hal ini tak aneh kalau saudara Cong-gi merasa tercengang,"

Katanya.

"malahan aku sendiripun merasa sedikit bingung dan tak habis mengerti. Aai, bagaimanapun juga, dihari-hari biasa aku memang terlalu suka bermain sehingga menghadapi urusan serius seperti hari ini tibatiba saja sikapku jadi gugup dan gelagapan, tidak pantaskan kalau aku selalu menggantungkan kemampuan ayahku?"

"Oooh.... jadi maksud saudara Siau-lam, dimasa lalu kau hanya tahu bermain dan menghamburhamburkan waktu, sehingga kepandaian dari empek Yu tak dapat kau warisi dengan sempurna?"

Tanya Po-seng, si anak muda yang jangkung itu dengan dahi berkerut. Yu Siau-lam mengangguk.

"Konon kepandaian ayahku dalam soal ilmu pertabiban dan kepandaian mengenali racun, memunahkan racun, kecuali masih kalah bila dibandingkan dengan kemampuan dari Kiu-toksian-ci yang bercokol di wilayah Biau, boleh dibilang di dunia saat ini tak ada yang bisa menandingi lagi tapi siau-te....yaa, siau-te paling banter cuma berhasil mempelajari sedikit kulit luar dari kepandaian ayahku, tidak pantaskah kalau hatiku jadi risau karena soal ini? Tidak seharuskah aku berkeluh kesah?"

Coa Cong-gi yarg kekar dan berotot adalah pemuda kasar yang selamanya tak mau berpikir dengan otaknya, mendengar perkataan itu sontak dia menjawab.

"Aaaah, kalau cuma soal itu apa susahnya? saudara Siau-lam tak usah berkeluh kesah lagi, aku lihat usiamu juga masih muda, kalau ingin belajar dengan tekun, sekarang toh masih belum terlambat?"

Yu Siau-lam kembali tertawa getir.

"Tak salah memang ucapan itu, belum terlambat bila aku ingin belajar mulai sekarang, tapi bagaimana dengan keadaan Hoa kongcu ini? seandainya dia sampai terjadi sesuatu, kendatipun dikemudian hari ilmu pertabibanku lihay, lalu apa gunanya? Akhirnya toh siau-te harus menanggung rasa menyesal sampai akhir hayat?"

Coa Cong-gi melotot besar-besar.

"Apa?"

Teriaknya dingin dan cemas bercampur kaget.

"maksudmu Hoa kongcu..."

"Engkau toh bisa melihat sendiri keadaan Hoa kongcu pada saat ini?"

Tukas Yu Siau-lam sambil tertawa getir.

Baca Juga: Badik Buntung 7

Baca Juga: Kelelawar Tanpa Sayap 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert