Ceritasilat Novel Online

Rahasia Hiolo Kumala 1

Eps 1 Rahasia Hiolo Kumala - Gu Long

Baca online Rahasia Hiolo Kumala - Gu Long

Cersil Rahasia Hiolo Kumala - Gu Long.

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com RAHASIA HIOLO KUMALA "Xia Ke Qian Qiu"

Karya . Gu Long / Khu Lung Disadur . Tjan I.D

Jilid 1 Di perkampungan Liok-soat sanceng yang letaknya dibukit In-tiong-san dalam bilangan propinsi San-se, hiduplah seorang pendekar besar yang namanya tersohor dimana-mana.

Pendekar besar itu she Hoa bernama Thian-hong, ilmu silatnya tinggi dan tiada tandingannya di kolong langit, orang persilatan menyebutnya dengan julukan Thian-cu-kiam, pedang raja langit.

Dua puluh tahun berselang, kaum iblis dan manusia jahat menguasai dunia persilatan waktu itu suasana dalam sungai telaga tak aman, kejahatan merajalela, banyak pertikaian dan perselisihan terjadi dimana-mana.

Seorang diri dengan kekuatan yang dimilikinya Hoa Thian-hong telah tampilkan diri untuk menegakkan keadilan serta kebenaran.

Setelah berulangkali mengalami kejadian-kejadian besar yang mempertaruhkan jiwanya, hawa sesat dan hawa iblis dapat dilenyapkan dari muka bumi, dunia persilatan telah memasuki babak kehidupan baru.

Selama dua puluh tahun terakhir, dunia persilatan aman tenteram tak pernah terjadi peristiwa apapun, keamanan dan kedamaian tersebut boleh dibilang berkat kebijaksanaan serta kebesaran jiwa Hoa Thian-hong.

Tahun ini Hoa Thian-hong telah memasuki usia setengah baya, ilmu silatnya mencapai tingkatan yang lebih tinggi dan nama besarnya ibarat matahari ditengah awan, setiap umat persilatan memandangnya sebagai tulang punggung sungai telaga, malahan para pekerja dan rakyat kecilpun mengenal siapakah Hoa Thian-hong itu.

Tengah hari baru lewat, sebuah kereta kuda tiba-tiba muncul dari balik pepohonan dan dilarikan secepat cepatnya menuju tanah perbukitan In-tiong-san....

Di bawah terik sang surya yang menyengat badan, kusir itu sudah bermandi keringat, tapi tak mengenal lelah, cambuknya diayun berulang kali mengiringi hardikan-hardikan pendek, kudanya dilarikan amat kencang.

Selang sesaat, kereta itu sudah menembusi sebuah lembah yang dalam, dan perkampungan Liok-soat sanceng pun muncul di depan mata.

Kusir itu tidak mengurangi kecepatan lari keretanya, malahan ia mengayun cambuknya semakin gencar.

Derap kaki kuda, gelindingan roda kereta yang ramai memekikkan telinga, sehingga mengejutkan penghuni perkampungan itu, Tiong Liau pelayan tua perkampungan itu cepat memburu keluar dari halaman.

Ketika melihat sebuah kereta kuda menerjang masuk ke dalam perkampungan dengan kecepatan tinggi, cepat menjura sambil menyapa.

"Tahan! Tolong tanya tamu dari mana yang telah berkunjung......?"

"Nona Suma dari kota Lam-yang!"

Sahut laki-laki kusir kereta itu dengan lantang.

Tiong Liau, pelayan tua itu tampak tertegun, sementara ia belum mengucapkan sesuatu, kereta kuda itu sudah menerjang tiba dengan cepatnya, terpaksa dia menyingkir ke samping.

Dengan disertai suara derap kuda dan gelindingan roda yang ramai, kereta itu lewat di sisinya dan menerjang masuk ke dalam perkampungan.

Sementara itu beberapa orang telah muncul di depan pintu gerbang dipaling depan adalah seorang laki-laki berperawakan tinggi tegap dengan memakai jubah berwarna hijau, dialah tuan rumah perkampungan ini atau lebih dikenal sebagai pedang raja langit Hoa Thian-hong.

Di samping laki-laki itu menyusul putra sulungnya yang bernama Hoa Si, kemudian dipaling belakang adalah beberapa orang pelayan.

Sekejap mata kemudian kereta itu sudah tiba di depan pintu gerbang, ketika dilihatnya kusir kereta itu tak mampu mengendalikan lari kudanya, seorang pelayan segera melompat ke depan, sepasang telapak tangannya segera direntangkan dan serentak kedua ekor kuda itu mengangkat sepasang kaki depannya ke atas, Liong Liau si pelayan tua yang telah memburu datang, segera menarik tali les kuda itu dan keretapun tertahan secara paksa.

Setelah kereta berhenti, hordenpun tersingkap menyusul dua orang gadis berpakaian kabung meloncat turun sambil memayang seorang gadis berbaju putih blaco dengan sepasang mata yang merah membengkak kebanyakan menangis.

Mengetahui siapa yang datang, Hoa Thian-hong amat terperanjat, cepat ia maju menyongsong sambil menegur.

"Si-moay, apa yang telah terjadi....?"

Gadis berbaju putih blaco itu bernama Suma Jin, dia adalah putri tunggal dari Suma Tiang-cing, seorang pendekar persilatan yang amat tersohor namanya dalam sungai telaga.

Suma Tiang-cing adalah saudara angkat ayah Hoa Thian-hong, oleh sebab itu walaupun usia Suma Jin masih muda, ia berada satu tingkatan dengan Hoa Thian-hong, dan merekapun saling menyebut saudara dalam tingkat kedudukan yang seimbang.

Bertemu dengan Hoa Thian-hong, gadis Suma Jin tak dapat mengendalikan rasa sedihnya lagi, ia menangis tersedu-sedu, sambil memberi hormat serunya dengan nada pilu.

"Ooh....toako..."

Tiba-tiba gadis itu mundur dengan sempoyongan, kemudian roboh tak sadarkan diri di atas tanah. Dua orang gadis berkerudung yang ada di sisinya cepat memburu maju dan memayang Suma Jin yang pingsan.

"Ikuti aku,"

Kata Hoa Thian-hong kemudian sambil ulapkan tangannya dan melangkah masuk ke dalam ruangan.

Sewaktu berjalan melewati sebuah serambi, seorang dayang cantik baju hijau muncul dan memberi hormat, kemudian berkata.

"Lapor toaya, Lo Taykun ada perintah untuk mengundang nona Suma masuk ke ruang dalam untuk minum teh!"

Dalam pada itu Suma Jin telah sadar kembali dari pingsannya, Hoa Thian-hong lantas membawa mereka mengitari sebuah serambi samping, menembusi sebuah jalan setapak yang dikelilingi semak dan pepohonan siong yang rindang, akhirnya masuk ke dalam sebuah bangunan megah.

Di dalam bangunan megah inilah Bun Taykun ibu Hoa Thian-hong berdiam, waktu itu kedua orang istrinya yakni Chin si atau nama aslinya Chin Wan hong dan Pek-si atau nama aslinya PekKun-gi menyambut di depan pintu.

Berjumpa dengan kedua ensonya, kembali Suma Jin merasakan suatu pukulan batin yang keras, ia menjerit.

"Oooh, enso...."

Untuk kesekian kalinya dara itu menangis tersedu-sedu dengan sedihnya.

Dua orang nyonya itu jadi terperanjat, cepat mereka membimbing Suma Jin masuk kedalam ruangan.

Bun Taykun yang sudah beruban rambutnya duduk bersila di atas sebuah kursi terbuat dari kayu cendana, sebelum nyonya tua itu buka suara Suma Jin telah menjatuhkan diri berlutut seraya menangis tersedu-sedu, bagaikan bendungan yang jebol air matarya jatuh bercucuran membasahi pipi dan bajunya.

"Anak Jin, jangan menangis dulu!"

Ujar Bun Taykun dengan wajah setenang-tenangnya "Coba terangkan, mengapa kau datang kemari dengan mengenakan pakaian berkabung? Janganjangan.."

"Oooh, bibi....!"

Jerit Suma Jin sambil menangis sedih.

"Ayah dan ibu.. mereka...."

Tiba-tiba gadis itu jatuh semaput lagi.

Toa-hujin (nyonya pertama) Chin Wan-hong segera maju memayang bangun Suma Jin dan mendudukkan di kursi, secepat kilat ia menotok tiga buah jalan darah penting di depan dada gadis itu.

Selang sesaat kemudian, Suma Jin tarik napas panjang dan sadar kembali dari pingsannya, seorang dayang cantik lari ke kamar belakang dan mengambil sebutir obat penenang, Chin-si lantas melolohkan obat tersebut ke mulut dara itu.

Dari sikap serta tindak tanduk yang ditunjukkan Suma Jin secara lapat-lapat semua orang sudah mendapat firasat jelek, mereka menduga bahwa keluarga Suma sudah tertimpa tragedi yang memilukan hati, perasaan hati mereka mulai tak tenang.

Setelah Suma Jin dapat sadar kembali, Bun taykun nyonya tua itu barulah bertanya.

"Anak Jin, apa yang telah terjadi? Siapa yang tertimpa kemalangan? Engkau harus berbicara dengan hati tenang, hilangkan dulu rasa sedihmu, dan kisahkan apa yang telah terjadi?"

Suma Jin masih terisak katanya tersendat-sendat.

"Ayah dan ibu... mee... mereka berdua...te... telah mati dibunuh orang....!"

"Apa?!"

Seru Bun Taykun dengan terperanjat.

Suma Jin menggetarkan bibirnya seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi hanya isak tangis yang kedengaran, sambil meninju dada sendiri kembali dara itu menangis menggerung-gerung.

Kendatipun semua orang sudah mendapat firasat bahwa keluarga Suma telah tertimpa bencana namun setelah berita itu muncul sendiri dari mulut Suma Jin, tak urung semua orang terkesiap juga dibuatnya, sekejap mata semua orang berdiri dengan kepala tertunduk, ditengah keagungan yang mencekam ruangan itu hanya isak tangis yang kedengaran.

Tiba-tiba Suma Jin meronta bangun, sambil jatuhkan diri berlutut di hadapan Bun Taykun, keluhnya sambil menangis.

"Ayah dan ibu Jin-ji telah mati dibunuh orang, Jin-ji mohon sudilah kiranya bibi mengingat hubungan keluarga kami, agar mengambilkan keputusan bagi keponakan perempuanmu ini!"

Titik air mata jatuh berlinang di atas pipi Bun Taykun yang keriput, ia menghela napas panjang dan sahutnya.

"Bagaimanapun juga, sakit hati harus dituntut balas, aku akan mengaturkan tindak pembalasan ini bagimu, cuma... engkau tak boleh terlalu bersedih hati, karena kepedihan dapat merusak kesehatan tubuhmu!"

Suma Jin masih tetap menangis, katanya.

"Keponakan tak dapat menahan rasa pedih yang serasa menyayat-nyayat hatiku..."

Air mata mulai mengembang dikelopak mata Hoa Thian-hong, ujarnya pula.

"Adikku, janganlah terlalu bersedih hati, kisahkan dulu apa yang telah terjadi, setelah kami tahu duduknya persoalan, akan kami susunkan rencana besar untuk melakukan pembalasan dendam."

Terkenang kembali kematian yang mengenaskan dari ayah dan ibunya, Suma Jin merasa hatinya sakit seperti ditusuk pisau, sambil menahan isak tangisnya ia menyahut.

"Ibu tidur dalam kamar belakang sedang ayah tidur di kamar luar, kedua orang itu dibunuh orang secara bersamaan dalam semalaman!"

Bun Taykun tidak langsung menanggapi, ia berpikir dalam hati.

"Kasihan bocah ini, saking sedihnya karena ketimpa bencana, sampai bicarapun tak karuan..."

Ia menghela nafas panjang, lalu bertanya.

"Kapan terjadinya peristiwa ini??"

"Empat hari berselang!"

Sahut Suma Jin sambil menyeka air matanya yang meleleh keluar.

"Apakah di atas layon paman dan bibi terdapat bekas-bekas luka yang kentara?"

Tanya Hoa Thian-hong. Sambil menggigit bibir menahan emosi sahut Suma Jin.

"Luka-luka itu semuanya berada di atas tenggorokan... luka... luka itu bekas gigitan yang rata, seakan-akan seperti digigit oleh sejenis makhluk yang buas"

Bun Taykun berkerut kening, lama sekali dia termenung lalu baru berkata lagi.

"Kiu-mia-kiam-kek (jago pedang bernyawa sembilan) merupakan seorang jago lihay yang berilmu tinggi, tak nanti jenis makhluk buas macam apapun sanggup melukai tenggorokannya, apalagi sampai merenggut selembar jiwanya!"

Suma Jin dapat menangkap bahwa dibalik ucapan Bun Taykun terdapat banyak hal yang patut dicurigai, ia menangis semakin menjadi.

"Lelayon ayah dan ibu hingga kini belum dikubur..."

Rintihnya. Mendadak seperti teringat akan sesuatu, ia menengadah dan melanjutkan lagi kata-katanya.

"Oooh iya...pembunuh keji itu meninggalkan sebuah tanda lambang......"

"Apakah tandanya itu?"

Bua Taykun cepat bertanya. Dengan air mata masih bercucuran Suma Jin menjawab.

"Sebuah hiolo kecil yang terbuat dari batu kumala hijau!"

Dia lantas merogoh ke dalam sakunya dan mengambil keluar sebuah hiolo kecil kumala hijau yang tingginya dua inci dan lebarnya beberapa inci, indah dan menarik sekali bentuk serta ukiran benda itu.

Paras muka Bun Taykun, Hoa Thian-hong beserta kedua orang nyonya yakni Pek-si dan Chin-si segera menunjukkan perubahan hebat, wajah maupun sikap mereka penuh diliputi emosi.

Suasana dalam ruangan itu jadi sunyi tak kedengaran sedikit suarapun, jarum yang jatuhpun mungkin kedengaran amat jelas!

Bun Taykun berempat hanya bisa saling berpandangan, delapan buah sorot mata sama-sama tertuju pada hiolo kumala yang berada ditangan Suma Jin, rasa murung, heran, bingung, gelisah dan tercengang bercampur aduk dalam perasaan hati mereka, dapat melihat betapa kalut dan kacaunya pikiran keempat orang itu.

Suasana serba misterius dan aneh dengan cepat menyelimuti seluruh ruangan yang sepi itu, mereka yang merasa tingkat kedudukannya rendah tak berani buka suara ataupun mengajukan pertanyaan, ini menyebabkan setiap orang merasa tak tenang, setiap orang merasa tegang dan memandang serius masalah yang sedang dihadapinya.

Tiba-tiba Suma Jin menangis menjadi semakin menjadi, katanya sambil menahan isak tangis.

"Apa sebabnya kalian membungkam? Apakah dalam dunia persilatan dewasa ini, masih ada orang yang ditakuti dan disegani oleh keluarga Hoa.?"

Makin dipikir gadis itu merasa makin sedih, isak tangis yang memecahkan kesunyianpun kedengaran makin mengenaskan hati. Dengan lembut Bun Taykun berkata.

"Nak, engkau tak usah banyak memikirkan soal yang bukan-bukan, ketahuilah bahwa apa yang telah kujanjikan selamanya tak akan kuingkari kembali, tadi aku kan sudah berjanji akan balaskan dendam sakit hati atas kematian ayah ibumu..."

"Oooh.,.. bibi, beritahu kepadaku, siapakah pembunuh yang telah membinasakan ayah ibu Jin-ji? Lambang siapakah hiolo kumala kecil ini....? Bibi jawablah pertanyaanku ini!"

"Suatu tanda yang begini kecil belumlah cukup untuk membuktikan bahwa pemilik benda inilah pembunuh orang tuamu, kau harus tahu bahwa manusia dalam dunia persilatan kebanyakan licik dan banyak tipu muslihatnya, mereka gemar memutar balikkan duduknya persoalan, maka sebelum urusan ini dibuktikan sampai jelas, lebih baik tak usah bersikeras untuk menjatuhkan tuduhan atas diri seseorang!"

"Benar, engkau tak usah terlalu kuatir"

Chin Wan-hong, nyonya pertama menanggapi pula dengan wajah serius.

"Setelah dia orang tua berjanji, maka walaupun harus menghadapi kesulitan macam apapun, dendam sakit hati dari paman Suma pasti akan dituntut balas!"

Pek Kun-gi, nyonya kedua tiba-tiba berpaling ke arah suaminya, kemudian bertanya.

"Apakah engkau dapat membuktikan bahwa hiolo kumala ini adalah barang asli?"

Hoa Thian-hong agak tertegun sesudah mendengar pertanyaan itu kemudian katanya.

"Si-moay, bolehkah kau pinjamkan hiolo kumala itu padaku?"

Buru-buru sama Jin serahkan hiolo kumala itu kepada saudaranya, setelah menerima benda itu Hoa Thian-hong menelitinya dengan seksama, kemudian meletakkan benda itu di atas sebuah meja kecil.

Mendadak ia gigit jari tengah sendiri sampai robek, darah segar yang meleleh keluar segera di tampung ke dalam hiolo kumala tersebut.

Tinggi hiolo kumala itu tak lebih cuma beberapa inci, dengan sendirinya takaranpun kecil sekali sebentar kemudian darah segar telah memenuhi isi hiolo tersebut.

Dengan sorot mata setajam sembilu, Hoa Thian-hong mengawasi hiolo kumala itu tanpa berkedip, rupanya ia sedang memperhatikan sesuatu yang sangat menarik.

Diantara sekian banyak orang yang hadir dalam ruangan itu, hanya Hoa Thian-hong seorang yang mengenal sifat dan keistimewaan hiolo kumala itu, Bun taykun sendiripun tak tahu maka ketika melihat ia penuhi hiolo tersebut dengan darah, semua orang lantas menunjukkan wajah tercengang dengan tatapan mata tak berkedip mereka awasi terus hiolo kumala kecil itu.

Lama...

lama sekali...

hiolo kumala itu masih tetap berwarna hijau tua, sama sekali tidak menunjukkan perubahan apapun, namun paras muka Hoa Thian-hong makin lama semakin memucat akhirnya sekujur badannya ikut gemetar keras.

Kiranya pada permukaan bagian luar dari hiolo kumala itu muncullah beberapa baris titik merah yang makin lama semakin nyata, oleh karena Hoa Thian-hong menghadapkan bagian yang bertitik merah itu ke hadapannya sendiri, tentu saja kecuali dia seorang, orang lain tidak berhasil menemukan sesuatu apapun.

Setelah sekian lama dibiarkan, garis-garis merah yang timbul diluar permukaan hiolo tersebut makin kelihatan jelas, dan akhirnya terbawalah empat baris syair dengan masing-masing baris terdiri dari lima buah huruf.

Tentu saja huruf-huruf merah itu kecil sekali, sebab hiolonya sendiri cuma beberapa inci, dengan sendirinya tulisan pada permukaannyapun jauh lebih lembut.

Kendatipun begitu, huruf-huruf yang kecil itu bukan suatu hitungan bagi Hoa Thiia-hong untuk membacanya, dengan tenaga dalam yang sempurna dia memiliki pula ketajaman mata yang melebihi orang lain, mata terbacalah tulisan tersebut berbunyi demikian.

"Bibit cinta adalah kebencian, pedang mustika menghibur hati yang duka, setitik air mata kepedihan, kutitipkan pada orang yang tak setia pada cinta."

Membaca isi bait syair tersebut, Hoa Thian-hong tak dapat mengedalikan kepedihan hatinya lagi, dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, ia bergumam.

"Setitik air mata kepedihan, kutitipkan pada orang yang tak setia pada cinta..."

"Blaaanng!"

Mendadak ia menghantam meja kecil itu keras-keras sehingga hiolo kumala itu mencelat ke udara, darah segar yang berada dalam hiolo itupun berhamburan ke empat penjuru dan menodai sekujur badan Hoa Thian-hong.

Semua orang terperanjat sementara Chin-Wan hong dan Pek Kun-gi segera menghampiri suaminya dan menghibur dengan kata-kata yang lirih.

Hoa Thian-hong ulapkan tangannya mencegah ke dua orang istrinya buka suara, dia alihkan sorot matanya ke wajah ibunya, sementara rasa gugup bercampur menyesal menghiasi raut wajahnya.

Dengan sorot mata dalam Bu Taykun menatap wajah putranya, kemudian seraya menggelengkan kepala ia berkata.

"Engkau tak usah gelisah ataupun terbawa oleh emosi, akan kuatur sendiri semua persoalan ini hingga beres!"

Dengan sedih Hoa Thian-hong tundukkan kepala, lalu menghela napas panjang.

Seorang dayang cantik baju hijau muncul dari ruang dalam dengan membawa satu stel baju baru, kemudian melayani majikannya untuk menggantikan baju yang ternoda oleh darah itu dengan pakaian yang baru.

Sementara itu, suasana dalam ruangan tercekam kembali dalam kesunyian, tak kedengaran sedikit suarapun disana, Bun Taykun duduk sambil memejamkan mata, ditengah keheningan semua orang-orang terbuai oleh jalan pemikirannya masing-masing, siapapun tak berani buka suara untuk mengacaukan suasana disaat itu.

Tiba-tiba Suma Jin meraba hatinya dingin separuh, suatu perasaan hampa dan kecewa yang aneh dari dasar lubuk hatinya dan menyelimuti seluruh perasaan hati dara itu.

Dahulu ia menganggap Hoa Thian-hong dan ibunya lebih agung dan lebih hebat dari malaikat dalam anggapannya kelihayan Hoa Thian-hong dan ibunya sudah mencapai puncak yang tak terhingga sehingga siapapun tak akan berani mengusik mereka.

Maka tatkala ayah dan ibunya dibunuh orang, tidak menunggu sampai layon mereka dikebumikan, gadis itu segera berangkat ke perkampungan Liok-soat sanceng.

Dalam pikirannya, asal ia dapat berjumpa dengan Hoa Thian-hong berdua niscaya sakit hati kematian orang tuanya bakal terbalas.

Tapi sekarang ia mulai sangsi, ia mulai merasa bahwa duduknya persoalan tidak segampang apa yang diduga semula meskipun untuk sesaat ia belum dapat menebak sebab musababnya tapi secara lapat-lapat dara itu sudah mempunyai suatu perasaan, suatu firasat bahwa soal pembalasan dendam akan mengalami banyak kesulitan, tidak semudah dan selancar apa yang diduganya semula.

Tiba-tiba Bun Taykun membuka matanya kembali, setajam sembilu sinar mata nyonya tua itu, ujarnya dengan lambat.

"Aaak Jin, tahukah engkau sampai dimana akrabnya hubungan kekeluargaan antara keluarga Hoa kami dengan keluarga Suma kalian??"

Suma Jin agak tertegun, lalu sahutnya agak gelagapan.

"Keponakan hanya tahu bahwa ayah dan empek Hoa adalah saudara sehidup semati!"

"Itu berarti hubungan mereka sudah melampaui hubungan antara sesama saudara kandung bukan?"

Sambung Bun Taykun dengan suara dalam, sesudah berhenti sebentar, ujarnya pula.

"Tiga puluh tahun berselang, golongan lurus dan golongan sesat telah mengadakan suatu pertemuan besar di Pak-beng-hwe, dalam pertarungan yang kemudian terjadi banyak jago silat dan kaum pendekar dari golongan lurus yang menemui ajalnya, termasuk pula empek Hoa mu, dia tewas dalam pertempuran yang amat seru itu!"

Menyinggung kembali peristiwa lama, semua anggota keluarga Hoi jadi bersedih hati, air mata jatuh bercucuran, kaum wanitanya malahan menahan isak tangis. Terdengar Bun Taykun berkata lebih jauh.

"Pada waktu itu, aku dengan menahan rasa sedih dan benci menerjang keluar dari kurungan musuh, dan selanjutnya selama sepuluh tahun belakangan bersama Hoa toakomu berdiam dibukit Hu ou san, di sana kami hidup mengasingkan diri, setiap hari kerjanya hanya melatih dari dengan tekun dan rajin. Belasan tahun kemudian kami baru muncul kembali di dunia persilatan, sekali lagi kami bertarung melawan golongan sesat dan golongan hitam, Akhirnya setelah melampaui pertarungan di lembah Cu bu kok, kaum lurus dan golongan pendekar dapat menongol kembali dalam dunia persilatan...." (Untuk mengetahui cerita tersebut, silahkan membaca cerita silat yang berjudul. Bara Maharani, disadur oleh penyadur yang sama).

"Keponakan sudah seringkali mendengar ayah menceritakan tentang kegagahan dan kehebatan bibi serta Hoa toako, sewaktu ayah masih hidup, beliau paling mengagumi kalian berdua,"

Ujar Suma Jin dengan pedih. Bun Taykun tertawa ewa.

"Kata kagum lebih baik tak usah kau singgung lagi. Aku bercerita demikian adalah berharap agar engkau mengerti bahwa keluarga Hoa bukanlah keluarga yang melupakan mana budi mana dendam, dimana kebenaran itu harus ditegakkan kami berani pertaruhkan jiwa dan raga kami untuk membangunnya kembali, ketahuilah aku dan Hoa toakomu bukan manusia-manusia sebangsa kurcaci yang takut menghadapi kematian."

"Tentang soal ini, keponakan telah mengetahuinya,"

Kembali Suma Jin mengangguk.

"Kalau engkau sudah tahu itu lebih bagus lagi,"

Ujar Bun Taykun dengan serius.

"Sekarang aku ingin bertanya padamu, engkau berharap kami yang balaskan dendam bagimu, ataukah kau sendiri yang akan membalaskan dendam bagi kematian orang tuamu? Ambillah keputusan yang tegas!"

"Keponakan..."

Gadis she Suma ini tak sanggup melanjutnya lagi, air matanya bercucuran dengan derasnya. Bun Taykun melanjutkan ucapannya.

"Dengarkan dulu ucapanku hingga selesai, Bila kau berharap agar kamilah yang membalaskan dendam bagimu, maka dalam satu tahun mendatangi aku akan bertanggung jawab untuk serahkan batok kepala pembunuh itu kepadamu, sebaliknya bila kau ingin membalas sendiri dendam sakit hati orang tuamu itu, maka engkau harus mengikuti aku selama tiga tahun. Dalam dua tahun yang pertama, akan kuwariskan semua silatku, kemudian pada setahun yang terakhir engkau belajar pedang dari Hoa toakomu, setelah tiga tahun melatih diri, aku tanggung ilmu silat yang kau miliki pasti jauh di atas kepandaian pembunuh itu, dan soal membalas dendam hanyalah suatu, pekerjaan yang sangat mudah!"

Mendengar ucapan tersebut, tanpa berpikir panjang lagi Suma Jin menyahut.

"Dendam sakit hati orang tua lebih dalam samudra, hidup sebagai putri manusia, siapa yang tak ingin membalas sendiri sakit hati orang tua..? Keponakan rela mengikuti bibi selama tiga tahun, keponakan ingin manfaatkan waktu yang ada untuk memperdalam ilmu silat kemudian akan kubunuh musuh besarku dengan tanganku sendiri."

"Bagus! bagus! Anak baik, kau punya semangat"

Puji Bun Taykun dengan senyum dikulum "mulai sekarang engkau harus dapat mengendalikan emosi, simpanlah rasa sedihmu itu dalam-dalam pusatkan semua perhatian dan pikiran untuk berlatih ilmu, akulah yang akan mengatur segala sesuatunya bagimu."

Suma Jin mengiakan berulang kali, dia lantas jatuhkan diri berlutut dan mengucapkan rasa terima kasihnya karena akan diberi didikan ilmu silat. Terdengar Bun Taykun berkata lagi.

"Selama beberapa hari ini kau selalu dicekam oleh kesedihan, apalagi harus menempuh pula perjalanan jauh untuk datang kemari, sekarang pergilah untuk beristirahat, jangan biarkan badanmu diserang oleh penyakit yang akan melemahkan diri sendiri."

Lalu sambil berpaling pada cucu laki dan cucu perempuannya, ia menambahkan.

"Kalian semua boleh segera mengundurkan diri, temani bibi Jin untuk pergi beristirahat"

Mendengar perkataan itu, terpaksa Suma Jin harus mohon diri untuk berlalu dari sana, sementara Hoa Thian-hong dengan memimpin adik-adiknya mengundurkan diri pula untuk menemani Jin kokohnya.

Sepeninggalnya beberapa orang itu, dalam ruangan tinggal Bun Taykun, Hoa-Thian-hong, kedua orang hujinnya serta dayang cantik baju hijau itu.

Tampak Bun Taykun termenung beberapa saat lamanya, tiba-tiba ia menghela napas panjang dan bergumam.

"Agaknya beban yang amat berat ini terpaksa harus dilimpahkan di atas bahu loji!"

"Ibu...."

Chin Wan hong berseru tertahan, tampaknya ia terkejut oleh keputusan ibu mertuanya. Bun Taykun menatap sekejap pada menantunya lalu berkata lagi.

"Kecuali berbuat demikian, rasanya tiada jalan lain yang lebih baik, yaa.... apa boleh buat?"

Paras muka Chin Wan hong diliputi kemurungan, ia melirik sekejap ke arah suaminya, waktu itu Hoa Thian-hong sendiripun tampak sangat murung, maka sorot matanya dialihkan kembali ke arah ji hujin Pek Kun gi.

Waktu itu Pek Kun-gi sedang duduk menjublak di atas kursinya, seperti disambar guntur disiang hari bolong, nyonya cantik itu duduk termangu air matanya seperti layang-layang putus benang meleleh membasahi pipinya yang halus.

"Panggil Ji kongcu untuk menghadap!"

Kembali Bun Taykun berseru dengan suara dalam. Dayang cantik baju hijau itu mengiakan. ia lantas mengundurkan diri dari ruangan tersebut.

"Ibu!"

Kata Pek Kun-gi kemudian sambil menahan isak tangisnya.

"Anak Liong nakal dan tak bisa bekerja, kalau biarkan dia berkelana seorang diri dalam dunia persilatan, apa... apakah tidak terlalu berbahaya?"

Bun Taykun menghela napas panjang.

"Aaai...! Ketika Thian-hong mulai berkelana dalam dunia persilatan tempo hari, ia baru berusia enam-tujuh belas tahunan, sedang Liong-ji kendatipun nakal dan tak tahu aturan, tapi dengan usianya sekarang sudah sepantasnya untuk berkelana dalam dunia persilatan serta melakukan beberapa buah perbuatan mulia untuk kepentingan umat manusia."

"Apakah dalam persoalan ini tak dapat diwakilkan kepada menantu saja untuk diselesaikan?"

Pinta Pek Kun gi.

"Aaai....! Bila engkau dapat menyelesaikan persoalan ini, berarti aku pun bisa menyelesaikan pula masalah ini bukan begitu?"

Air mata bercucuran makin deras dipipi Pek Kun gi, ia berpaling ke arah suaminya dan menatapnya dengan penuh permohonan.

Hoa Thian-hong menggerakkan bibir ingin mengucapkan sesuatu, tapi niat tersebut akhirnya dibatalkan dan kepalanya tertunduk rendah-rendah, meskipun ia merasa berat hati untuk melepaskan putranya pergi, tapi apa boleh buat?

Tiba-tiba dayang cantik baju hijau itu masuk kembali ke dalam ruangan dengan langkah tergesagesa, katanya.

"Lapor Lo Taykun, Ji kongcu tidak berada dalam perkampungan budak telah mengutus orang untuk keluar kampung mencari jejaknya."

"Apa nona-nona sekalian ada di dalam perkampungan?"

Tanya Bun Taykun setelah berpikir sebentar dengan dahi berkerut.

"Semua nona berada dirumah!"

Bun Taykun kembali terpikir lalu katanya lagi.

"Di lembah bukit sebelah selatan tinggal sekeluarga pemburu mereka mempunyai seorang anak perempuan yang bernama...."

"Ji-kongcu sudah tidak bermain lagi dengan nona itu......"

Cepat dayang cantik baju hijau itu menukas.

"Walau begitu budak telah mengutus orang untuk mencarinya kesitu!"

"Apakah dia punya kenalan nona-nona cantik diluar bukit?"

Tanya Wan-hong mendadak.

"Ada memang ada, cuma Ji kongcu jarang pergi mencari mereka, adalah nona nona itu yang sering datang mengganggu Ji kongcu!"

"Blaammm.....!"

Tiba-tiba terdengar suara meja di pukul keras-keras, menyusul Hoa Thian-hong berseru gemas.

"Binatang cilik, benar-benar bikin hatiku jadi keki!"

Semua orang dibikin terperanjat oleh tindakan tersebut, Bun Taykun menatap putranya sekejap dengan pandangan dingin, dibalik sinar matanya itu penuh mengandung nada menegur, Hoa Thian-hong merasa sangat tak enak hati, dengan tundukkan kepalanya ia memohon maaf.

"Ananda telah hilaf, harap ibu jangan marah!"

Bun Taykun mendengus dingin, sorot matanya beralih kembali ke wajah Chin Wan-hong, katanya kemudian.

"Aku punya rencana untuk mengutus Liong-ji segera berangkat, ambillah kaus kutang pelindung badan itu."

Ch|n Wan-hong tampak tertegun, tapi ia segera beranjak seraya menyahut.

"Menantu terima perintah!"

Diapun mengundurkan diri dari ruangan itu, sepeninggal Chin-si, Pek Kun-gi juga berkata.

"Ibu, menantu ingin membenahkah sedikit bekal untuk anak Liong, sebentar aku kembali lagi kesini."

"Cepatlah pergi dan cepat kembali kesini,"

Sahut Bun Taykun sambil ulapkan tangannya.

"berkelana dalam dunia persilatan berbeda dengan melakukan perjalanan untuk melancong, sebilah pedang yang tajam sudah lebih dari cukup!"

Pek Kun-gi mengiakan berulang kali, diapun berlalu dari ruangan tersebut. Sementara itu Hoa Thian-hong sudah termenung beberapa saat lamanya, tiba-tiba ia berkata kepada ibunya.

"Ibu, Liong-ji terlalu romantis dan suka pelesiran, ia nakal dan lagi susah dididik...."

Mendadak ia temui paras muka ibunya agak tidak beres, maka kata selanjutnya lantas ditelan kembali. Dengan dingin Bun Taykun berkata.

"Kejadian yang ada didunia ini ibaratnya orang yang bermain catur, seringkali tanpa diminta seseorang akan mengalami kejadian yang sama sekali diluar dugaan. Bayangkan sendiri dengan tabiatmu yang polos dan sederhana, toh setiap kali menghadapi kejadian yang hebat maka urusan dapat kau selesaikan dengan sendirinya? itulah sebabnya aku berani mengutus Liong-ji untuk menyelesaikan persoalan ini, karena sampai dimanakah kemampuan Liong-ji, kita kan tak dapat menerka sebelumnya??"

Hoa Thian-hoag menghela nafas panjang.

"Aaaaii....! Bagaimanapun juga, ananda selalu merasa bahwa kecerdikan binatang itu ada batasnya, ketebalan imannya masih kurang teguh dan dia bukan seorang yang berbakat untuk diserahi tugas berat, aku kuatir kalau dia tak akan mampu untuk memikul beban seberat ini."

"Aaaai! sekalipun tak mampu untuk memikulnya, dia harus memikulnya juga!"

Sahut Bun Tay kun dengan suara dalam, keresahan terlintas di atas wajahnya. Hoa Thian-hong tertegun, katanya lagi dengan tergagap.

"Ananda tetap merasa, lebih baik ananda sendiri yang menyelesaikan persoalan ini...."

Sebelum ia sempat menyelesaikan kata-katanya dengan wajah sedingin salju Bun Taykun, telah mendengus dingin, dengan ketakutan buru-buru Hoa Thiau-hong membungkam dan tundukkan kepalanya.

Melihat keadaaan puteranya, Bun Taykun kembali menghela nafas panjang, kepada dayang cantik berbaju hijau itu katanya.

"Ambilkan kotak kayu cendana itu!!"

"Baik..."

Jawab sang dayang dengan cepat.

Ia lari masuk ke dalam ruangan, selang sesaat kemudian muncul kembali dengan membawa sebuah kotak kayu cendana warna merah dan diletakkan dihadapan Bun Taykun.

Menyusul kemudian toa-hujin Chin Wan-hong masuk ke dalam ruangan dengan membawa kaos kutang pelindung pedang, dan akhirnya Pek hujin masuk dengan membawa sebilah pedang antik yang panjangnya empat depa.

Bun Taykun lantas berkata lagi kepada dayang baju hijau itu.

"Perbanyak orang-orang yang melakukan pencarian, sebelum matahari tenggelam di langit barat, Ji kongcu sudah harus ditemukan!"

Dayang baju hijau itu mengiakan, buru-buru ia berjalan keluar dari ruangan tersebut.

Keheningan kembali mencekam seluruh ruangan itu, empat orang duduk membungkam di sana sambil menunggu Ji kongcu Hoa yang kembali.

Suasana dalam ruanganmu ibaratnya gendewa yang sudah ditarik hingga menegang, begitu sesaknya hingga sukar digunakan untuk bernapas.

Mendadak Hoa Thian-hong buka suara keras sekali nadanya.

"Bagaimanapun juga, aku tetap beranggapan bahwa binatang cilik itu kurang cerdik, susah untuk diserahi tugas seberat ini."

Chin Wan hong berpaling dan memandang mertuanya, lalu berkata dengan suara lirih.

"Apa salahnya kalau kita utus anak Si saja? Ibu, Si-ji adalah putra sulung kita, usianya jauh lebih tua, sepantasnya kalau dia kita kirim untuk mencari pengalaman.

"Kalian hanya tahu satu tak tahu dua, latar belakang yang menyelimuti masalah ini sebetulnya sangat ruwet dan sukar diraba dengan kata-kata, meskipun Si-ji lebih tua dan lebih matang, tapi kurang cekatan menghadapi setiap perubahan, jika kita suruh dia yang memikul tugas ini, maka keadaannya akan jauh lebih berbahaya lagi."

Suara langkah manusia berkumandang dari luar kamar, menyusul seseorang berseru dengan nyaring.

"Nek! Nek....! Engkau yang mencari aku? Liong-ji sudah pulang..."

Seorang pemuda tampan dengan jubah warna hijau dan menggoyangkan sebuah kipas muncul dalam ruangan itu, senyum manis tersungging di ujung bibirnya.

Pemuda tampan ini tak lain adalah putra kedua dari Hoa Thian-hong yang bernama Hoa Yang dengan nama kecil In-liong, seharian dipanggil Liong-ji atau anak Liong, tahun ini berusia delapan sembilan belas tahunan, dibandingkan toakonya Hoa Si, lebih mudah dua tahun.

Semuanya Hoa Thian-hong mempunyai tiga orang putra dan dua orang putri, Putra sulung, putra bungsu dan dua orang putrinya dilahirkan oleh Chin Wan-hong istri pertamanya, sedangkan putranya kedua In-Liong dilahirkan oleh Pek kun gi istrinya yang kedua.

Semasa masih muda, Pek Kun-gi adalah seorang dara yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, bahkan terkenal sebagai Bu-lim-tit-it-bi-jin atau, perempuan yang tercantik di dunia persilatan.

Hoa In-liong dilahirkan oleh ibunya yang cantik, tak heran kalau wajahnya tampan dan memiliki daya pesona yang gampang membuat orang jatuh hati kepadanya.

Bun Taykun tersohor karena memiliki peraturan rumah tangga serta sistim pendidikan yang ketat dan keras sedang Hoa Thian-hong adalah lelaki yang jujur, bijaksana dan sangat berbakti pada orang tuanya.

Putranya yang sulung Hoa Si merupakan seorang pemuda pendiam yang lebih mirip dengan watak ayahnya, putranya yang bungsu Hoa Wi baru berusia empat belas tahun, meskipun merupakan kesayangan semua orang, namun tiap gerak-geriknya harus pula menurut aturan.

Sedangkan mengenai nona-nona lainnya, oleh karena merupakan kaum hawa, maka dapat dibayangkan betapa ketatnya mereka harus mengikuti peraturan dan pendidikan kampung.

Hanya Hoa In-liong seorang yang tak pernah dikekang, semenjak kecil ia sudah suka pelesir dan bermain sebebas-bebasnya, ia tak mengenal apa artinya peraturan serta larangan, setelah menginjak dewasa, sifatnya jadi amat romantis, seringkali ia terbitkan keonaran di sana sini, main perempuan ganti pacar sudah merupakan acara tetapnya setiap hari.

Tentu saja wataknya ini sangat tidak serasi dengan cara berpandangan serta sistim pendidikan yang diterapkan nenek serta orang tuanya, baik Bun Taykun sendiri maupun Hoa Thian-hong suami istri telah berusaha dengan segala daya upaya untuk merubah sifat romantisnya ini namun usaha tersebut selalu sia-sia belaka.

Hanya untungnya walaupun ia romantis dan suka berganti pacar, pada hakekatnya tidak cabul dan melanggar tata kesopanan, maka meskipun wataknya tak disukai orang tuanya, dari pihak orang tuapun tak bisa berkutik terhadap putranya ini.

Dengan begitu, lama kelamaan wataknya ini jadi suatu kebiasaan, suatu kebiasaan yang merupakan "Trade mark"

Dari Hoa In-liong.

Sementara itu dengan wajah berseri-seri Hoa In-liong berjalan masuk ke dalam ruangan, tapi tiba-tiba ia merasa gelagat tidak beres, ditemuinya bekas air mata masih menodai wajah ibunya diam-diam ia terkejut.

Sambil jatuhkan diri berlutut, serunya kemudian.

"Liong-ji menghujuk hormat untuk nenek!"

"Bangun!"

Kata Bun Taykun hambar. Hoa In-liong makin gugup, ia putar badan dan memberi hormat kepada Hoa Thian-hong.

"Liongji memberi hormat untuk ayah!"

Hoa Thian-hong ulapkan tangannya tanpa menjawab. Maka Hoa In-liong pun berpaling ke arah Chin si hujin sembari memanggil.

"Ibu!"

Air mata masih mengembang dalam kelopak mata Chin-si hujin, ujarnya dengan lembut.

"Anak Liong, kau tentu lelah bukan? Duduk dan beristirahatlah sebentar.,."

Hoa In-liong mengiakan, dia melangkah maju dan berdiri di samping ibunya, sementara sinar mata yang tajam menyapu sekejap kaus kutang mustika, pedang mustika beserta hiolo kumala yang masih berisi darah segar di atas meja kecil.

Selang sesaat kemudian, ia baru bertanya dengan lirih.

"Ibu, persoalan apakah yang telah membuat hatimu jadi sedih, apakah ananda telah melakukan keonaran lagi??"

Ji-hujin Pek Kun-gi menggeleng, ucapnya tersendat.

"Kau jangan ribut dulu, nenek ada perkataan hendak disampaikan kepadamu....!"

Berbicara sampai di situ, tak kuasa lagi dua titik air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya. Terdengar Bun Taykun berkata dengan serius.

"Liong-ji, tahukah kau bahwa keluarga Suma siokya mu dikota Lam-yang-hu telah tertimpa bencana besar??"

Hoa In-liong terkejut, capat ia menggeleng.

"Liong-ji tak tahu, waktu itu ananda sedang bersama-sama seorang teman di puncak bukit sebelah belakang, ananda dengar Tiong Liau..."

"Panggil Lo-koan-keh!"

Bentak Hoa Thian-hoig penuh kegusaran.

"Baik!"

Cepat Hoa In-1iong menyahut dengan lirih.

"ananda dengar lo-koan-keh memanggil ananda untuk pulang, maka Liong-ji pun lantas pulang ke rumah, sepanjang perjalanan tidak kutemui siapapun, karenanya tidak tahu pula apa yang sebetulnya telah terjadi."

Berbicara sampai disitu, kebetulan dayang cantik baju hijau itu sedang masuk ke ruangan, cepat Hoa In-liong alihkan sorot matanya ke arah dayang itu dengan tatapan ingin tahu apa gerangan yang terjadi ditempat tersebut.

Tentu saja dayang baju hijau itu tak berani menanggapi pertanyaannya, cepat kepalanya ditundukkan.

"Kau berlutut lebih dulu!"

Tiba-tiba Hoa Thian-hong membentak dengan suara berat.

"nenek hendak memberikan sesuatu padamu!"

Paras muka Hoa In-liong berubah hebat, dengan agak takut ia maju ke muka lantas jatuhkan diri berlutut di atas tanah.

Agaknya Bun Taykun sedang merasakan suatu kepedihan yang tak terkatakan, lama sekali ia murung sebelum akhirnya menghela napas dan berkata.

"Liong-ji, ingatlah baik-baik! Suma siokya serta siok-cu-bo mu itu telah dibunuh orang dikala sedang tertidur nyenyak, mulut lukanya berada di tenggorokan dengan bekas gigitan yang nyata, agaknya mereka mati digigit oleh sejenis makhluk binatang."

"Aaah.,. jadi ada peristiwa seperti ini?"

Seru Hoa In-liong sambil berkerut kening.

"bukankah Suma siok-ya adalah seorang tokoh persilatan yang punya nama besar selama puluhan tahun, dengan ilmu silat yang dimilikinya jarang sekali ada orang yang bisa menandingi kehebatannya lagi."

Tidak menunggu pemuda itu menyelesaikan kata-katanya Bun Taykun segera menukas dengan dingin.

"Ketahuiah di atas langit masih ada langit, di atas manusia yang pintar masih ada manusia yang lebih pintar, kata-kata tanpa tandingan merupakan suatu perkataan yang terlalu berlebihan!"

Ji-hujin Pek Kun-gi cepat menambahkan.

"Liong-ji, di dalam dunia yang amat lebar ini, manusia pintar tokoh lihay banyaknya sukar dihitung dengan jari tangan, apa yang kau lihat dalam dunia persilatan tak lebih hanya merupakan sebagian kecil saja, dan sebagian kecil yang kau lihat belumlah mencakup keseluruhannya, bila di kemudian hari berkelana dalam dunia persilatan, kata-kata tersebut haruslah kau ingat selalu di dalam hati!"

"Lioag-ji akan mengingatnya selalu!"

Sahut Hoa In-Uong seraya mengangguk. Setelah berhenti sebentar, dengan kening berkerut ujarnya lagi.

"Menurut apa yang Liong-ji ketahui Suma siok-ya bukanlah seorang manusia sembarangan, paling sedikit ia memiliki ilmu silat yang bisa digunakan untuk membela diri, makhluk binatang apakah yang dapat mencelakai jiwanya? Benar-benar satu kejadian yang aneh!"

"Yaa.... api mau dikata bila kenyataan mengatakan demikian? sekalipun tidak percaya, terpaksa kita harus mempercayainya juga, apalagi apa yang kita ketahui justru diceritakan sendiri oleh Jin kokoh mu!"

"Sekarang Jin kokoh berada dimana?"

Tanya si anak muda itu kemudian dengan muka tercengang.

"Sekarang dia berada dalam kampung kita, oleh sebab kesedihan yang mencekam hatinya sudah terlampau mendalam, kuperintahkan dirinya untuk pergi beristirahat"

Hoa In-liong mengerutkan dahinya, dengan pandangan yang tajam ia melirik sekejap ke arah Hiolo kumala hijau di atas meja. Sebelum pemuda itu buka suara, Bun Taykun telah berkata lebih dahulu.

"Hiolo kumala itu adalah tanda yang ditinggalkan pembunuh Suma-siok-yamu, bila ingin menyelidiki jejak dari pembunuh tersebut maka benda itulah merupakan satu-satunya pertanda yang bisa kau selidiki."

Hoa Thian-hong mengambil hiolo kumala itu dan diletakkan di atas tangannya, kemudian berkata pula.

"Benda ini adalah sebuah hiolo kecil yang terbuat dari batu kumala hijau, ingat saja bentuknya di dalam hati, tak usah kau bawa serta benda tersebut."

Mendengar perkataan itu kembali Hoa In-liong mengerutkan dahinya, diam-diam berpikir dihati.

"Kalau toh aku Hoa Yang yang bakal diutus untuk melakukan penyelidikan atas terjadinya peristiwa pembunuhan ini, sepantasnya kalau hiolo kumala hijau itu diserahkan kepadaku, atau paling sedikit aku diberi kesempatan untuk memeriksanya dengan seksama...."

Sebagaimana telah kita ketahui, di atas permukaan hiolo kumala hijau itu terukir empat bait syair Hoa Thian-hong tak ingin putranya mengetahui isi syair tersebut, maka selesai berbicara dia lantas ambil keluar secarik sapu tangan dan membungkus hiolo kecil itu dengan hati-hati.

Hoa In-liong bukan seorang manusia bodoh, tentu saja ia dapat menebak bahwa dibalik kejadian itu tentulah ada hal-hal yang tidak beres, namun ia tidak memaksa lebih jauh, kemala neneknya ia berkata.

"Nek ada urusan apakah nenek mengundang kedatangan Liong-ji kemari? Apakah nenek suka menerangkan?"

Bun-Taykun menghela napas panjang, sahutnya.

"Keluarga Suma telah tertimpa bencana besar, menurut pandanganmu, apa yang harus dilakukan oleh orang-orang keluarga Hoa kita untuk mengatasi masalah ini?"

Tanpa berpikir panjang Hoa In-liong menjawab.

"Dendam terbunuhnya orang tua lebih dalam dari samudra, apa bila Jin kokoh punya semangat, dia pasti berharap akan membunuh pembunuh tersebut dengan tangannya sendiri sehingga sakit hati ini bisa terlampiaskan...!"

"Jin kokohmu memang bermaksud begitu."

"Kalau toh memang begitu, sudah sepantasnya kalau nenek menahannya untuk berdiam di sini serta mewariskan beberapa macam ilmu silat kepadanya, agar ia mempunyai kekuatan untuk membalas dendam dan membinasakan pembunuh besarnya itu, hanya saja..."

Tiba-tiba pemuda itu membungkam.

"Hanya saja kenapa?"

Tanya Bun Taykun dengan nada ewa. Hoa In-liong termenung dan berpikir sejenak lalu menjawab.

"Sekalipun membinasakan pembunuh keji itu adalah tugas dan kewajiban dari Jin kokoh, bagaimanapun juga sudah sepantasnya kalau kita orang-orang keluarga Hoa menyumbangkan pula segenap tenaga dan pikiran untuk membantu bibi untuk melaksanakan pembalasan dendam ini, dengan begitu kitapun tidak sampai menyia-nyiakan hubungan antar kekeluargaan yang telah dipupuk selama ini."

Perlahan-lahan Bun Taykun mengangguk.

"Aku sendiripun mempunyai pendapat demikian,"

Katanya.

"atau paling sedikit kita harus melakukan penyelidikan lebih dulu siapakah pembunuh keji tersebut, dengan begitu bila Jin kokoh-mu akan melakukan pembalasan dendam di kemudian hari, diapun tak usah kelabakan untuk mencari tahu siapa gerangan musuh besarnya."

Tiba-tiba Hoa Thian-hong menyela dengan ketus.

"Nenekmu dan aku telah mengambil keputusan engkaulah yang akan kami utus untuk memikul tugas berat ini, kaulah yang harus melakukan penyelidikan siapakah pembunuh yang telah melakukan pembunuhan secara demikian kejinya ini."

Hoa In-liong mengerutkan kening, dalam hati ia berpikir.

"Peristiwa ini sungguh aneh dan mencengangkan hati....aku tak tahu duduknya perkara, darimana bisa melakukan penyelidikan..."

Rupanya Pek-si hujin atau Pek Kun-gi mengetahui kesulitan putranya, cepat ia menimbung.

"Liong-ji, bila engkau menjumpai hal-hal yang menyulitkan, katakan saja kepada nenek, siapa tahu kalau nenek akan merombak kembali semua rencana besarnya."

Bisa dimaklumi betapa erat dan akrabnya hubungan antara anak dan ibu, apalagi anak kandung yang keluar dari rahim sendiri, tidak heran kalau Pek Kun-gi amat menyayangi putra tunggalnya ini.

Hoa In-liong tidak langsung menjawab, dalam hati ia berpikir.

"Berbicara menurut aturan, semestinya neneklah yang harus turun tangan sendiri untuk melakukan penyelidikan, apalagi dalam adanya nenek dan ayah, aku Hoa Yang masih jauh ketinggalan dengan kehebatan toako, tapi... Apa sebabnya bukan yang diutus untuk melakukan tugas ini, melainkan pilihan terjatuh pada aku Hoa Yang? Sudah pasti dibalik kesemuanya ini ada hal-hal yang lebih mendalam artinya."

Terpikir sampai disitu, mendadak dia berkata dengan lantang.

"Ibu, tahun ini Liong-ji sudah meningkat dewasa, sudah sepantasnya kalau Liong-ji mendapat tugas untuk melaksanakan pekerjaan yang sungguh-sungguh karena dengan begitu maka pengalaman dan pengetahuan Liong-ji pasti akan peroleh banyak kemajuan."

Ji-hujin Pet-Kun-gi menggerakkan bibirnya seperti hendak mengatakan sesuatu, namun niat itu akhirnya dibatalkan perempuan tersebut tak dapat menahan rasa sedihnya lagi, air mata tampak mengambang dalam kelopak matanya dan perlahan-lahan meleleh ke bawah.

Bun Taykun mendehem ringan, mendadak serunya dengan suara lantang.

"Liong-ji, dengarkan baik-baik perkataanku."

"Katakanlah nenek, cucunda akan mendengarkannya dengan seksama!"

Dengan wajah serius, Bun Taykun berkata.

"Dua puluh tahun berselang! dalam dunia persilatan terdapat seorang pendekar wanita yang gagah perkasa dia she Ku bernama Ing-Ing, orang persilatan menyebutnya sebagai Giok-teng hujin (nyonya hiolo kumala), benda hiolo kecil yang terbuat dari batu kumala hijau itu tak lain adalah tanda pengenal miliknya.

"Asal nama dan she-nya sudah diketahui, persoalan ini tentunya lebih gampang untuk diselesaikan!"

Seru Hoa In-liong tanpa terasa dengan semangat berkobar.

"Hmmm! Kalau persoalannya semudah ini, tak nanti kami utus dirimu untuk melakukan penyelidikan,"

Kata Bun Taykun dengan ketus.

"justru menurut apa yang berhasil kami ketahui, sudah lama Giok-teng hujin meninggalkan dunia yang fana ini."

"Aaaa.....! Jadi ia sudah mati?"

Kata Hoa In-liong tercengang.

"berita itu hanya berdasarkan cerita yang beredar dalam dunia persilatan, ataukah ada orang yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri??"

"Ehmm...tak nyana kau cukup teliti dan seksama dalam mengupas setiap persoalan yang sedang dihadapi, dengan begitu kamipun dapat merasa berlega hati."

Tiba-tiba dia menepuk kotak kayu cendana yang berada di atas meja kecil, kemudian lanjutnya terlebih jauh, Giok-teng hujin pernah mengirim sepucuk surat kepada kami dan sekarang surat tersebut masih tersimpan disini, menurut isi surat tersebut, tentu saja kami menganggap bahwa ia telah meninggalkan dunia yang fana ini dan telah berpulang ke alam baka."

Hoa In-liong termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian menjawab.

"Jadi kalau begitu, pembunuh dari Suma siok-ya kalau bukan ahli waris dari Giok-teng hujin, tentu ada orang telah menggunakan tanda pengenalnya itu untuk mengelabuhi serta membohongi mata dan pendengaran umat manusia di dunia ini."

"Aaaai...! Tentang soal ini, sulit sekali untuk dikatakan,"

Ucap Bun Taykun sambil menghela napas. Hoa Thian-hong yang berada disisinya, cepat menyambung.

"Untuk membahas dan memecahkan setiap persoalan yang berhubungan dengan dunia persilatan, janganlah kau mengupasnya menurut keadaan pada umumnya, sebab seringkali kenyataannya berbeda jauh dengan kejadian yang kita anggap umum. Demikian pula dengan masalah Giok teng hujin, kemungkinan juga bahwa sampai sekarang dia masih hidup di dunia ini."

"Kenapa dengan Giok-teng hujin?"

Pikir Hoa In-liong dihati.

"Sekalipun dia masih hidup di dunia ini, toh tak akan membuat jeri kita anggota keluarga dari perkampungan Liok-soat-sanceng!"

Tampaknya Bun Taykun dapat menebak apa yang sedang dipikirkan si anak muda itu cepat katanya dengan dingin.

"Ketahuilah, hubungan budi dan dendam antara Giok-teng hujin dengan keluarga Hoa kita sukar untuk diketahui siapa benar siapa tidak, dan keputusan yang tegas tak mungkin bisa dijatuhkan Sebab alasan dari persoalan ini tak mungkin bisa diterangkan dengan sepatah-dua-patah kata saja atau tegasnya andaikata Giok-teng hujin masih hidup di dunia ini, maka kendatipun kita memiliki ilmu silat yang maha tinggi, juga tak mungkin untuk melangsungkan pertarungan dengan dirinya."

Chin-si-hujin atau Wan-hong yang selama ini membungkam terus, tiba-tiba menambahkan dengan air mata bercucuran.

"Dalam suatu masalah kita telah berbuat salah padanya, kami merasa tak pernah punya muka untuk berjumpa muka dengan dirinya!"

Ucapan ini sangat menggetarkan hati Hoa In-liong, serunya agak terbata-bata.

"Laan... lantas bagaimana baiknya?"

Dengan tegas Bun Taykun menjawab.

"Bagi kita orang-orang keluarga Hoa, lebih baik kepala dipenggal darah berceceran daripada melakukan perbuatan yang merugikan orang lain, aai.... cuma, kadangkala takdir memang mempermainkan orang, ada kalanya sekalipun hati ada keinginan namun tenaga tidak mengijinkan, dalam keadaan begitu.... yaa apa boleh buat lagi......."

Sementara perasaan Hoa In-liong jauh lebih ringan daripada semula, perlahan-lahan berkata.

"Kalau toh kita tak pernah melakukan perbuatan yang merugikan siapapun, persoalan ini lebih gampang untuk diselesaikan."

Bun Taykun tertawa getir, perlahan-lahan dia membuka kotak kayu cendana itu dan mengambil keluar sepucuk surat lama yang ditaksir sudah berusia dua puluh tahun, sebab kertas surat itu sudah berubah warnanya menjadi kuning.

Seterang sang surya sorot mata Hoa In-liong, cepat serunya dengan nada lantang.

"Inikah surat yang ditulis sendiri oleh nyonya yang bernama Giok-teng hujin itu?"

"Benar!"

Sahut Bun Taykun dengan serius "tapi engkau tak boleh mencuri lihat isi surat ini, bila berani melanggar pantangan tersebut, maka selamanya engkau bukanlah anak cucu dari keluarga Hoa kami!"

Hebat sekali perubahan wajah Hoa In-liong buru-buru dia menyahut pula dengan serius.

"Sepanjang masa cucunda tak berani melupakan peringatan dari nenek ini...."

Bun Taykun mengangguk, dia serahkan surat tersebut kepada dayang baju hijau yang ada disisinya lalu memerintahkan.

"Bungkuslah sampul surat ini dengan selapis kain berminyak kemudian jahit dibalik kaus kutang pelindung badan itu!"

"Biar aku saja yang menjahitnya!"

Seru Pek-si hujin segera.

Buru-buru dayang baju, hijau itu serahkan surat tersebut kepada nyonya majikannya setelah menyiapkan kain minyak, jarum dan benang maka Pek Kun-gi turun tangan sendiri untuk menjahit bungkusan berisi surat itu dilapisan paling bawah dari kaus kutang pelindung badan itu.

Sejak awal sampai sekarang Hoa In-liong berlutut terus dihadapan Bun Taykun, oleh karena neneknya tidak menitahkan kepadanya untuk bangkit, maka pemuda itu terpaksa harus berlutut terus tanpa bergerak.

Ji-hujin amat sedih melihat keadaan putranya, cepat dia menjahit surat itu di lapisan bawah kaus kutang pelindung badan, kemudian katanya.

"Surat itu penting sekali artinya, sekarang juga kenakanlah kaus kutang pelindung badan ini!"

Hoa In-liong mengiakan dan bangkit berdiri, setelah melepaskan baju bagian atasnya, ia kenakan kaus kutang pelindung badan tersebut di tubuhnya.

"Hayo berlutut lagi!"

Tiba-tiba Hoa Thian-hong membentak.

"Ya ayah!"

Sahut Hoa In-liong dengan kepala tertunduk sekali lagi ia berlutut di hadapan neneknya. Dengan lembut Bun taykun berkata.

"Mengertikah kau apa yang diharapkan ayahmu dari sikapnya ini? Kau harus mengerti bahwa kejadian yang telah menimpa kita pada hari ini menyangkut soal kejayaan serta kehancuran bagi keluarga Hoa kita, di samping itu mempengaruhi juga soal mati hidup kita semua, dan tanggung jawab yang amat berat ini telah kami bebankan di atas pundakmu, jika engkau mengerjakan tugas ini semaunya sendiri, maka hancurlah nama baik keluarga Hoa kita di tanganmu!"

Tercekat perasaan Hoa In-liong setelah mendengar perkataan ini, jantungnya berdebar keras.

"Liong-ji tak berani bertindak secara gegabah!"

Segera sahutnya dengan serius. Bun Taykun menghela napas panjang.

"Aaai....! Kaus kutang pelindung badan ini adalah hadiah dari kawan-kawan persilatan wilayah Kanglam ketika toakomu genap berusia satu tahun, besar sekali manfaatnya bagimu. pertama bisa dipakai untuk melindungi badan, dan kedua dikala musim dingin kau tak akan kedinginan, di musim panas kau tak akan kepanasan, janganlah kau anggap remeh kehebatan mustika tersebut "

"Liong-ji mengerti, Bagaimana dengan suratnya?"

Kata pemuda itu dengan kepala tertunduk. Suara Bun Taykun makin nyaring, paras mukanya makin serius, sahutnya.

"Tujuanmu mengarungi dunia persilatan kali ini adalah mencari tahu siapakah pembunuh sebenarnya yang telah mengakibatkan kematian Suma Siok-yamu berdua. Andaikata pembunuhnya hanya ahli waris dari Giok-teng hujin atau ada orang yang mencatut nama baiknya, maka persoalan ini pun menjadi sederhana sekali."

"Seandainya Giok-teng hujin masih hidup di dunia ini dan dialah yang merupakan otak dari pembunuhan ini, apa yang harus Liong-ji lakukan??"

Tanya sang pemuda.

"Andaikata begitu kejadiannya maka dihadapan mukanya kau serahkan kembali surat tersebut kepadanya."

"Kemudian...?"

Paras muka Bun Taykun jadi murung, setelah menghela nafas panjang sambungnya.

"Kejadian selanjutnya sukar untuk diduga, terpaksa kita harus nantikan saja, perubahan yang bakal terjadinya."

Dengan wajah murung Pek-si hujin berkata pula.

"Dalam dunia persilatan pasti akan terjadi peristiwa yang jauh lebih besar dan hebat, engkau harus bertindak dengan hati-hati dan setiap masalah dihadapi dengan serius, pusatkan saja semua perhatianmu untuk menyelidiki persoalan ini, tak usah mencampuri urusan orang yang sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan dirimu."

"Dan masih ada satu lagi yakni kebiasaanmu yang jelek itu,"

Sambung Hoa Thian-hong dengan dingin.

"lebih baik rubahlah kebiasaan tersebut sehingga tidak mendatangkan kesulitan bagimu!"

"Ananda akan mengingatnya selalu!"

Jawab Hoa In-liong dengan penuh rasa hormat.

Bun Taykun menghela napas panjang, ia mengerling sekejap ke arah Pek Kun gi, lalu angkat tangan kirinya dan memberi tanda.

Mendadak air mata bercucuran membasahi pipi Pek-si hujin yang cantik, dengan tangan gemetar ia cabut keluar pedangnya, kemudian berseru sambil menahan isak tangisnya.

"Liong-Ji... kee.. kemarilah......"

Hoa In-liong bangkit berdiri dan menghampiri ibunya, ia bertanda dengan wajah keheranan.

"Ibu, mengapa kau kuatir? Liong-ji pasti akan menghadapi setiap persoalan dengan otak dingin tak usahlah kau bersedih hati!"

"Aaaai...! Kun-gi, serahkan saja pedang mustika itu kepadaku!"

Tiba-tiba Bun Taykun berkata sambil menghela nafas. Pek-si hujin tampak agak tertegun, kemudian sambil menyeka air mata menyahut.

"Biar menantu lakukan sendiri!"

Semua tindak tanduk dan perkataan yang aneh ini mencengangkan hati Hoa In-liong, dalam hati ia lantas berpikir.

"Sungguh aneh kejadian ini, selama hidup aku tahu bahwa ibu adalah seorang perempuan yang keras hati, sekalipun dikala sedih dia mengucurkan pula air matanya.

"tapi kesedihannya pada hari ini luar biasa sekali, mungkinkah dia sedih lantaran aku akan meninggalkan dirinya pergi jauh? Atau kah mungkin disebabkan oleh alasan lain??"

Sementara Hoa In-liong masih termenung, Pek si hujin dengan pedang terhunus telah menghampirinya, kemudian berkati sambil menahan sesenggukan.

"Anakku, rentangkan telapak tangan kirimu kemudian angkatlah ke depan dada, apa yang hendak kau lakukan?"

Meskipun keheranan bercampur curiga pemuda itu merentangkan juga telapak tangan kirinya.

"LIONG-JI, ibu hanya ingin mengukir sebuah huruf di atas telapak tanganmu itu,"

Sahut Pek-si hujin dengan pedih.

"Engkau masih ingat dengan gaya tulisannya?"

Terdengar Bun Taykun bertanya.

"Menantu masih ingat!"

Pek-si hujin mengangguk. Hoa In-liong pun berkata dengan lembut.

"Ibu, ukirlah tulisan tersebut ditanganku, hanya siksaan sekecil itu tak nanti Liong-ji pikirkan dihati."

Dengan air mata meleleh dipipinya, Pek-si hujin angkat pedangnya ke depan, ujung senjata itu tertuju pada telapak tangan putranya, setelah menenangkan hatinya, tiba-tiba ia menggigit bibir, pergelangan tangannya tergetar keras dan cahaya kilatpun menyambar lewat.

Menyusul kemudian Ji-hujin membuang pedang itu ke tanah, dan sambil mendekap muka sendiri ia menangis tersedu-sedu.

Hoa In-liong sendiri hanya merasakan telapak tangannya jadi dingin, tatkala ia membentangkan kembali telapak tangannya itu, maka terbacalah sebuah huruf "BENCI"

Yang masih berdarah.

Dalam pada itu Toa hujin Chin Wan hong serta dayang baju hijau itu sudah maju menghampirinya, luka yang menggores di telapak tangan itu diberi selapis salep, kemudian di bungkus dengan kain putih.

Tiba-tiba wajah Hoa In-liong berubah jadi pucat pasi, bisiknya dengan hati tercekat.

"Ibu, kau membenci Liong-ji?"

"Tidak..."

Jawab Pek Kun-gi sambil menggeleng. Bun Taykun yang ada disisinya segera menukas pula dari samping.

"Tak ada seorang ibu yang membenci putra kandungnya sendiri, Liong-ji! jangan berpikir yang bukan-bukan."

Sementara itu Pek Kun-gi telah berkata lagi dengan air mata bercucuran membasahi wajahnya.

"Makna yang sebenarnya dari tulisan itu akan kau pahami dengan sendirinya, sekarang tak usahlah banyak bertanya!"

Hoa In-liong mengangguk.

"Asal ibu tidak membenci pada Liong-ji, tentu saja ukiran huruf itu tak akan menjadi soal bagi ku!"

Tiba-tiba Bun Taykun menengadah, lalu menegur.

"Apakah Siau-wan-ji di situ?"

Selembar wajah kecil mungil yang cantik muncul dari luar pintu. menyusul bocah itu menyahut dengan suara manja.

"Nenek, aku ingin masuk!"

Nona kecil itu adalah putri bungsu dari Hoa Thian-hong, dihari-hari biasa sangat disayang, oleh karena banyak persoalan mengusik pikiran nenek tua ini, tentu saja diapun tidak berhasrat untuk bermain dengan cucu perempuannya.

Sambil berkerut kening, ia lantai ulapkan tangannya sambil menghardik.

"Nenek sedang ada urusan, bermain ke depan sana!"

Siau-wan-ji tampak agak tertegun menyaksikan paras neneknya yang keren, setelah menyapu sekejap sekeliling ruangan itu, pergilah nona cilik itu dari sana. Tiba-tiba Bun Taykun membentak lagi.

"Liong-ji, dengarkan baik-baik!"

"Silahkan nenek memberi perintah!"

Sahut Hoa In-liong sambil tundukkan kepala.

"Ada beberapa persoalan harus kau ingat dengan sebaik-baiknya. Pertama, kecuali dikembalikan langsung kepada Giok-teng hujin, siapapun tak boleh melihat atau membaca isi surat yang kuberikan kepadamu itu, bilamana keadaan terpaksa, hancurkan dan musnahkan saja surat itu!"

"Cucunda tak akan melupakan pesan ini!"

"Kedua, siapapun yang bertanya kepadamu tentang ukiran tulisan yang berada di telapak tangan kirimu itu, maka kau harus menjawab bahwa tulisan tersebut sudah ada semenjak dari kecil!"

Sekali lagi Hoa In-liong mengangguk "Akan cucunda ingat pula nasehat ini!"

Setelah berhenti sebentar, Bun Taykun berkata lagi.

"Jikalau ada orang menanyakan berapa usiamu, maka engkau harus memberitahukan satu tahun lebih tua, katakan bahwa engkau dilahirkan pada tahun Jin-seng bulan cia-gwee tanggal sembilan belas, jadi tahun ini berusia delapan belas tahun lebih, ingat!"

"Yaa ingat!"

Sahut Hoa In-liong dengan dahi berkerut.

"Liong-ji sudah mengingatnya baik-baik aku dilahirkan tahun Jin-seng bulan cia-gwe tanggal sembilan belas dan berusia delapan balas tahun lebih!"

Tiba-tiba Bun Taykun menghela nafas panjang.

"Aai...... Di antara anak cucu keluarga Hoa hanya engkaulah gemar berbohong dan engkau pula yang suka bicara tak jujur, maka sekarang kami akan mengandalkan kemampuan berbohongmu itu untuk bekerja!"

Merah padam wajah Hoa In-liong setelah mendengar sindiran tersebut, dengan gelagapan sahutnya.

"Bila tugas ini telah Liong-ji selesaikan, maka selamanya Liong-ji tak akan berbohong lagi!"

Bun Taykun mengangguk.

Jilid 02

"SETELAH kepergianmu mengarungi dunia persilatan, maka segala sesuatunya tergantung pada kemampuanmu sendiri, ketahuilah sekalipun engkau menghadapi mara bahaya, belum tentu kami dapat menyelamatkan jiwamu."

"Liong-ji mengerti dan Liong-ji akan baik-baik menjaga diri."

Mendadak terdengar suara langkah kaki berkumandang dari luar ruangan, menyusul suara Hoa Si menggema memecahkan kesunyian.

"Lapor nenek, cucunda ingin berjumpa!"

"Ada urusan apa?"

Tanya Bun Taykun. Sambil tetap berdiri di depan pintu, sahut Hoa Si.

"Mendengar dari ucapan Ngo-moay (adik kelima), katanya Ji-te ada urusan akan pergi jauh, cucunda..."

"Urusan itu tak ada sangkut pautnya dengan dirimu, kau boleh segera mengundurkan diri!"

Bentak Bun Taykun. Hoa Si tampak agak tertegun, tapi dengan cepat sahutnya.

"Yaa nenek!"

Ia putar badan dan segera mengundurkan diri. Sepeninggal Hoa Si, Bun Taykun tundukkan kepalanya dan berpikir lagi beberapa waktu, kemudian sambil menatap wajah Hoa In-liong katanya.

"Sekarang coba pikirlah dengan teliti, apakah masih ada hal-hal yang mencurigakan, bila sudah tak ada lagi, kau boleh segera berangkat"

Tanpa berpikir panjang, si anak muda itu menjawab.

"Liong-ji masih ada satu hal yang merasa kurang begitu paham."

"Dalam hal apa?"

"Apakah diantara Suma siok-ya dengan Giok teng hujin mempunyai perselisihan atau dendam sakit hati??"

Bun Taykun segera menggeleng.

"Sama sekali tak ada perselisihan atau dendam sakit hati, malahan pada hakekatnya Suma siokya mu justru berhutang budi kepada Giok-teng hujin."

"Liong-ji ingin sekali berjumpa dengan Jin kokoh, ingin kutanya lagi dirinya dengan lebih seksama."

"Tak usah"

Tukas Bun Taykun dengan cepat.

"apa yang dia ketahui telah kau ketahui semuanya."

Mendengar jawaban tersebut Hoa In-liong lantas berpikir dihati.

"Aku lihat dalam masalah ini banyak terdapat hal-hal yang mencurigakan serta bagian-bagian yang tidak jelas, kalau toh nenek tak mau memberi penjelasan, terpaksa aku harus melakukan penyelidikan sendiri ditempat luaran."

Berpikir sampai disini, diapun lantas memberi hormat seraya berkata.

"Apabila nenek tiada petunjuk lain, Liong-ji ingin segera mohon diri.."

"Cita cita seorang pria sejati berada di empat penjuru, melakukan perjalanan dalam dunia persilatan bukanlah suatu peristiwa yang besar, baik-baiklah menjaga diri."

Hoa In-liong mengiakan berulang kali, kemudian jatuhkan diri berlutut dan menyembah tiga kali. Bun Taykun mengangguk, ia berpaling ke arah Hoa Thian-hong dan berkata.

"Hantar dia sampai diluar lembah, tak usah membuang banyak waktu lagi."

Buru-buru Hoa Thian-hong bangkit berdiri, sementara dua orang ibunya juga sudah menghampiri pemuda itu.

Pek Kun-gi dengan air mata bercucuran mengikatkan pedang putranya, sementara Chin Wanhong menyerahkan tiga buah botol porselen kepada pemuda itu yang mana segera disimpan baik-baik dalam sakunya.

Setelah itu ia baru pamitan kepada kedua orang ibunya kemudian berlalu dari ruangan itu dengan mengikuti dibelakang ayahnya.

Dibawah pelataran samping, pengurus perkampungan Tiong Liau telah menyiapkan seekor kuda jempolan berwarna merah membara, Hoa si, Hoa Wi serta saudara-saudara lainnya berdiri menghantar disitu selain itu terdapat pula seorang dayang yang montok dan berparas cantik.

Hoa Thian-hong tidak berhenti disana, ia langsung menuju keluar perkampungan, melihat itu semua orangpun dengan mulut membungkam ikut menuju keluar perkampungan.

Dayang montok yang berwajah cantik itu bernama Pek Giok.

dia adalah dayang kepercayaan dari Pek Kun-gi menggunakan kesempatan yang ada diam-diam ia mendekati Hoa In-liong, kemudian sambil mengangsurkan kipas indah, bisiknya lirih.

"Dalam buntalan di atas kuda terdapat seuntai mutiara, ditaksir harganya mencapai tiga ribu tali emas, sewaktu bermalam dan bersantap harap siau koan-jin baik-baik menjaga diri."

Hoa In-liong melirik sekejap ke arah ayahnya yang berjalan di depan, lalu memberi tanda kepada Pek Giok untuk memperkecil bisiknya.

Selang sesaat kemudian mereka sudah tiba diluar pintu perkampungan, waktu itu pelbagai pikiran sedang berkecamuk dalam benak Hoa Thian-hong, ditambah pula menyaksikan gaya Hoa In-liong yang mirip anak hartawan itu, sikapnya yang begitu acuh tak acuh membuat ia semakin murung.

Akhirnya sambil ulapkan tangannya, ia berseru.

"Hayo naik kuda dan berangkat, aku tidak akan menghantar engkau lebih jauh lagi."

Dalam perkiraan Hoa-In liong, sebelum berangkat ayahnya pasti akan melontarkan pelbagai nasehat dan peringatan yang kurang sedap didengar, apa mau dikata ternyata dugaan itu sama sekali meleset, bukan saja ayahnya tidak mengucapkan sesuatu, malahan menyuruh dia cepatcepat berangkat.

Tindakan ini membuat perasaan jauh lebih lega, cepat dia berpamitan kepada ayahnya, kemudian melompat naik ke atas kuda dan melarikannya cepat cepat...

Beberapa hari kemudian ketika senja baru tiba, Hoa In-liong, tuan muda nomor dua dari perkampungan Liok-soat-sanceng telah muncul diluar pintu utara kota Lam-yang-hu.

Meskipun dandanan si anak muda itu amat sederhana, namun keserhanaan itu tak dapat menutupi ketampanan wajahnya.

Pedang yang tersoren, kuda yang jempolan serta kipas yang mahal harganya membuat dandanan pemuda itu tak ubahnya seperti dandanan seorang putra pembesar atau seorang putra usahawan kaya raya, wajahnya sedikit pun tidak nampak letih walaupun baru saja menempuh perjalanan yang sangatjauh.

Waktu itu malam sudah menjelang tiba, lampu lentera yang terang benderang telah menghiasi setiap rumah dalam kota itu sambil menjalankan kudanya perlahan-lahan, pemuda itu menikmati keindahan malam yang sejuk dengan senyuman dikulum.

Ramai sekali manusia yang berlalu lalang dalam kota itu, sebagaimana tuannya, kuda itupUn berjalan dengan gagah perkasa, suara keleningan yang berbunyi tang-ting tang-ting mendatangkan suatu kewibawaan yang membuat orang tak berani beradu pandang dengan mereka.

Selang sesaat kemudian, kuda merah yang tinggi besar itu berhenti di depan pintu gerbang sebuah rumah penginapan yang memakai merek "Ko-seng-kek"

Dengan dikerumuni oleh pelayan, Hoa In-liongpun dipersilahkan untuk masuk kedalam.

Ko-seng-kek merupakan rumah penginapan mewah yang terbagus dan terindah di kota Lamyang shia, setelah mendapat kamar dan cuci muka, hidanganpun telah datang.

Sebelum pelayan tersebut mengundurkan diri dari kamarnya, tiba-tiba Hoa In-liong menggape sembari berkata.

"Pelayan, jangan pergi dulu, aku hendak mengajukan satu pertanyaan kepadamu."

Pelayan itu tertawa paksa, sambil menghampiri tanyanya.

"Kongcu-ya ingin bertanya apa??"

Hoa In-liong tidak langsung menjawab, ia teguk dulu isi cawannya satu tegukan, kemudian baru sahutnya.

"Aku ingin mencari tahu tentang diri seseorang "

"Ooooh....siapa yang hendak kongcu-ya cari??"

Senyum yang menghiasi wajah pelayan itu semakin dibuat buat.

"Orang itu bukan manusia sembarangan, dia punya nama besar yang amat tersohor dikota ini, she-Suma dan bernama Tiang-cing...."

"Kongcu-ya "

Mendadak pelayan itu berseru dengan tergagap. paras mukanya berubah hebat. Hoa In-liong menunjukkan sikap yang keren kembali bentaknya dengan keras.

"Gampangnya saja, katakan rumah kediaman dari Suma wangwe?"

Pelayan itu agak tertegun, akhirnya ia berbisik dengan lirih.

"Dijalan besar sebelah timur, keluar dari pintu berbelok kekanan, jalanan ketiga itulah letaknya di depan rumahnya."

"Cukup,"

Tukas Hoa In-liong sambil ulapkan tangannya. Kemudian ia serahkan sekeping perak kepada pelayan itu sambil menambahkan.

"Itu, ambillah persen buatmu."

Betapa gembiranya pelayan itu menerima persenan, sambil mengucapkan banyak terima kasih dia mengundurkan diri dari situ.

Sambil bersantap dan minum arak Hoa In-liong diam-diam memutar otak memikirkan persoalan itu, batinnya.

"Berita tentang terbunuhnya Suma siok-ya sudah tersebar luas diseluruh kolong langit, tentu kejadian itu merupakan berita yang sangat menggemparkan kota Lam-yang-shia ini, aaai... banyak manusia banyak ragam pula ceritanya, entah siapa yang benar entah siapa yang salah, semua orang tak tahu siapakah pembunuh yang sebenarnya, tampaknya untuk menemukan siapa pembunuh yang sebenarnya bukanlah suatu pekerjaan yang terlalu gampang..."

Kentongan ketiga baru saja lewat, suara kentongan baru kedengaran berkumandang dari tengah jalan, Hoa In-liong segera menggembel pedangnya dipunggung, menutup pintu kamarnya dan diam-diam menyelinap keluar dari penginapan tersebut menuju kejalan raya sebelah timur.

Selang sesaat kemudian, ia sudah menemukan gedung tempat tinggal dari Suma Thiang-cing, dengan gerakan yang enteng pemuda itu melayang masuk kedalam halaman rumahnya.

Gedung itu gelap gulita dan sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, begitu heningnya sehingga mendatangkan perasaan seram dan bergidik bagi siapapun yang mendekati gedung tersebut.

Hoa In-liong berputar menuju ke bangunan sebelah belakang, setelah berputar satu lingkaran dan membuktikan kalau isi gedung itu benar-benar kosong, dia baru berputar kembali keruang depan dan membuka pintu.

Ruang dalam itu gelap gulita, bau minyak cati dan batu kapur yang tajam tersiar keluar dari ruangan tersebut, baunya tak enak dan sangat menusuk hidung.

Pemuda itu seakan-akan mencium bau kematian, bau elmaut yang menyeramkan, membuat sekujur tubuhnya bergidik dan bulu kuduknya pada bangun berdiri, serentak ia ambil keluar api dan memasang ober.

Sinar terang memancar keempat penjuru, mengusir kegelapan yang mencekam ruangan tersebut, pandangannya yang pertama terbentur pada sebuah kain horden yang terkulai jatuh kebawah lantai, dibalik horden tersebut terbujurlah dua buah peti mati.

Di depan horden terletak sebuah meja sembahyangan disitu terletak papan nama dari Suma Tiang-cing suami istri, di sampingnya terletak sebuah lampu lentera, ketika lentera tersebut diamati ternyata minyaknya sudah kering, disisi lain terdapat tempat lilin, cuma lilinnya sudah habis dan tinggal dua gumpalan ampas lilin yang membeku.

Hoa In-liong berulang kali mengerutkan keningnya, dengan tatapan tajam ia menyapu kembali sekeliling tempat itu, dilantai ia temukan setumpuk uang kertas emas dan perak yang belum habis terbakar, maka dia lantas menyulut kertas-kertas itu dan membakarnya, cahaya api yang berkobar digunakan sebagai sinar penerangan.

Suma Tian-cing bergelar Kiu-mia-kiam-kek (jago pedang berjiwa sembilan), semenjak masih muda sudah mempunyai nama yang amat tersohor, dia adalah saudara angkat dari kakek Hoa In-liong.

Diam-diam pemuda itu berpikir lagi.

"Bagaimanapunjuga toh aku sudah sampai disini, sudah sepantasnya kalau kusumbang dan ku hormati lelayon mereka."

Karena berpendapat begitu, maka diapun menjatuhkan diri berlutut di depan peti mati itu dan menyembahnya beberapa kali.

Si anak muda itu ingin mengucapkan sepatah dua patah kata doa, tapi oleh karena kertas uang itu sudah habis dan apipun akan padam, cepat ia bangkit dan mengambil kertas uang lagi untuk membakarnya.

"Blaaang...,"

Tiba-tiba berkumandang suara benturan keras, pintu ruangan terhembus angin hingga terpentang lebar, angin dingin yang sangat menggidikan berhembus masuk ke dalam ruangan mengobrak-abrik kertas uang yang akan dibakar itu hingga tersebar ke empat penjuru, kobaran apipun seketika menjadi padam.

Hoa In-liong sangat terperanjat, timbul rasa bergidik dalam hati kecilnya, disaat abu kertas uang beterbangan d iempat penjuru dan jilatan api hampir padam, tiba-tiba ia menemukan sesuatu, hampir saja ia menjerit kaget.

Sesosok bayangan manusia muncul dari balik kain horden, bayangan itu berwarna putih dan jelas seorang perempuan...

dia berdiri kaku di samping peti mati tersebut.

Cepat Hoa In-liong menekan perasaan ngerinya, sambil berusaha untuk menenangkan diri dan menyeka keringat dingin pada telapak tangannya menegur.

"Siapa yang berada di belakang horden sana?"

Suasana hening sesaat, kemudian dari balik kain horden muncul suara jawaban, suara itu memilukan hati.

"Aku yang rendah adalah Yu-si, boleh aku tahu siapa nama kongcu?"

"Aku bernama Hoa Yang, berasal dari perkampungan Liok-soat-sanceng..."

Sahut pemuda itu berkerut kening.

"Oooh, kiranya Ji kongcu yang telah datang."

Cahaya api berkilat menerangi seluruh ruangan dari belakang kain horden itu perlahan-lahan muncul seorang nyonya berbaju kabung putih, mukanya murung dan penuh diliputi kesedihan.

Perempuan itu masih muda dan sedang mencapai usia mekar-mekarnya bunga, cantik jelita paras muka perempuan itu, meski memakai baju berkabung yang serba putih, namun tidak menutupi kecantikannya wajahnya yang menawan hati.

Waktu itu Hoa In-liong berdiri di depan meja sembahyangan, ketika ia menatap kemuka, tampaklah Yu-si berdiri dengan tangan kanan memegang lampu lentera, tangan kiri membopong sesosok makhluk seperti bayi, satu ingatan cepat melintas dalam benaknya.

"Nyonya yang mengaku she-Yu ini mengenakan pakaian berkabung yang lengkap. itu menunjukkan kalau dia masih sanak keluarga dari su ma siok-ya, lalu bayi siapa yang dibopongnya itu, apa bayinya Suma siok-ya dengan perempuan ini? Sementara si anak muda itu masih termenung, Yu-si telah meletakkan lampu lentera itu, di atas meja kemudian perlahan-lahan memutar badan. Hoa In-liong segera mengalihkan sorot matanya ke arah "

Bayi"

Yang berada dalam pelukan nyoaya itu, tapi apa yang dia lihat?

Hampir saja pemuda itu meloncat saking kaget.

Makhluk kecil yang dibopong nyonya Yu itu bukan bayi apa yang dia sangka, tapi makhluk ke cii itu tak lain adalah seekor kucing, seekor kucing berwarna hitam pekat.

Bulu kucing itu hitam gelap dan bersinar mengkilat begitu hitamnya sehingga boleh dibilang tak ada warna lainnya, dibawah sorot cahaya lampu, tampaklah sepasang biji matanya yang berwarna emas memandang kesana kemari dengan jelalatan.

sementara itu Nyonya Yu sudah memberi hormat sambil menegur.

"Ji kongcu, apakah kedatanganmu kemari adalah lantaran mendapat tugas dari orang tuamu?"

Hoa In-liong menenang kang perasaan hatinya yang kalut, kemudian balas menghormat.

"Betul, aku mendapat perintah dari ayahku untuk datang memberi hormat kepada lelayonnya Suma siok-ya."

"Apakah nona kami juga sudah tiba diperkampungan Liok-soat-san-cung??"

Hoa In-liong mengangguk.

"Suma kokoh sudah sampai disana, boleh aku tahu apa hubungan nyonya dengan Suma siok-ya ku itu?"

Nyonya Yu menatap sekejap ke arah pemuda itu lalu sambil menundukkan kepalanya ia menjawab.

"Aku yang rendah adalah bini peliharaan dari lo-wangwe"

"Ooooh Rupanya dia adalah gundiknya Suma siok-ya."

Begitulah Hoi In-liong membatin.

"Yaaa... memang tak bisa disalahkan kalau Suma siok-ya pelihara gundik, habis dia sangat menginginkan anak laki, tapi istrinya melahirkan seorang putri dan kemudian tak punya anak lagi, siapa tahu dari gundiknya ini ia bisa beranak lagi..."

Setelah mengetahui kalau nyonya itu adalah istri muda Suma siok-yanya, kembali pemuda itu memberi hormat.

"Aaah... rupanya engkau adalah Ji-hujin (nyonya kedua), maaf bilamana boanpwe kurang hormat kepadamu."

"Aku yang rendah tak berani menerima penghormatan sebesar ini dari Ji kongcu."

Hoa In-liong termenung dan berpikir sebentar kemudian tanyanya lagi.

"Apakah dalam gedung ini hanya tinggal ji hujin seorang diri?"

Nyonya Yu menghela napas panjang.

"Aaaai... sebelum nona meninggalkan rumah, semua dayang dan pelayan telah ia bubarkan, oleh karena aku yang rendah masih teringat oleh budi kebaikan dari lo-wangwe maka kuputuskan untuk tetap menjaga lelayonnya seorang diri."

Ji-hujin dapat mengingat kebaikan orang, sungguh hal ini merupakan suatu sikap yang baik, boanpwe merasa kagum sekali, kata pemuda itu makin menghormat.

Kembali Nyonya Yu menghela napas panjang, ia seperti hendak mengucapkan kata-kata merendah tapi niat tersebut akhirnya diurungkan, kepalanya ditundukkan rendah-rendah, lama sekali baru katanya lagi.

"Ji kongcu, maksud kedatanganmu kemari kecuali untuk menghormati jenasah dari lo wangwe kami ini, apakah masih ada urusan yang lain."

"Boanpwe mendapat tugas dari ayahku untuk menyambangi jenasah Suma siok-ya, selain itu juga hendak mencari tahu siapakah pembunuh yang telah menghabisi nyawa Suma siok-ya kami itu."

"Jadi Hoa tayhiap tidak turun tangan sendiri untuk mengatasi peristiwa ini?"

Tanya nyonya Yu dengan dahi berkerut.

"Ayah telah serahkan tanggung jawab ini kepada boanpwe, jadi boanpwelah yang akan mewakili dia orang tua untuk mencari tahu siapa gerangan pembunuh sadis itu."

Suatu perobahan yang sangat aneh menghiasi paras muka nyonya Yu sehabis ia mendengar perkataan tersebut, tapi hanya sebentar saja sikap aneh itu sudah lenyap kembali tak berbekas, sebagai gantinya ia tunjukkan kembali wajah yang kesal dan murung.

Melihat itu Hoa In-liong berpikir dalam hati.

"la nampak murung sekali, pastilah dia anggap aku terlalu muda dan kepandaianku terbatas, maka tugas berat ini tak dapat kupikul "

Sementara masih termenung, tiba-tiba pemuda itu merasakan sesuatu yang aneh, ia merasa kucing hitam yang berada dalam pelukan nyonya Yusedaag mengawasi dirinya tajam-tajam, sinar mata berwarna keemas-emasan itu melotot ke arahnya dengan penuh sikap permusuhan, hal ini lantas menggerakkan hatinya.

Ia tertawa nyaring, kemudian menegur.

"Rupanya nyonya suka dengan kucing?"

"Aaai... Rumah hancur manusia pada binasa, sekarang aku hidup sebatang kara, Hek-ji inilah satu satunya sahabat karibku."

"Oooh... rupanya kucing hitam itupun punya nama benar-benar menarik hati..."

Pikir pemuda itu Terdengar nyonya Yu berkata lebih jauh.

"Lo-wangwe kami adalah seorang pendekar besar yang kenamaan dalam dunia persilatan, meskipun ilmu silat yang dimilikinya belum setanding dengan kehebatan ayahmu, akan tetapi ia terhitung juga seorang tokoh silat kelas satu dalam dunia persilatan, itu berarti pula bahwa orang yang bisa membunuh wangwe kami pastilah bukan manusia sembarangan. sekarang, Hoa tayhiap tak sudi turun tangan sendiri melainkan hanya mengutus Ji kongcu untuk menyelidiki persoalan ini, apakah hal ini..."

Tampaknya perempuan itu tak ingin banyak bicara, belum selesai ucapan tersebut, tiba-tiba dia menghela nafas dan membungkam... Mendengar ucapan tersebut, Hoa In-liong segera tersenyum, katanya.

"Tentang soal ini nyonya tak perlu kuatir, kendatipun boanpwe bodoh dan tak berkemampuan apa-apa, akan kucoba untuk menggunakan segenap kemampuan yang kumiliki untuk memecahkan misteri ini, dan aku percaya tugas ini pasti dapat ku laksanakan dengan baik."

"Aaai..."

Nyonya Yu menghela nafas lagi "

Kalau toh Ji kongcu sudah mempunyai keyakinan setebal itu, aku yang rendahpun tidak akan banyak bicara lagi."

"Semoga nyonya suka memberi petunjuk kepadaku."

"Hmmm Apa yang kuketahui terbatas sekali dan aku rasa nona kamipun tentu sudah menceritakan segala sesuatunya kepadamu,"

Sahut nyonya Yu dingin. Hoa In-liong dapat memaklumi keketusan orang ia berpikir.

"Biasanya, kalau seseorang baru ketimpa bencana maka wataknya jadi lebih kasar dan berangasan demikian pula dengan nyonya Yu ini, maklum kalau ia begitu kasar dan dingin sikapnya padaku...."

Karena berpikir begitu, maka diapun berkata.

"Menurut apa yang berhasil boanpwe dengan katanya sebab kematian yang menimpa Suma siokya adalah bekas gigitan yang berada pada tenggorokannya..."

"Nyonyapun mengalami nasib yang sama."

Nyonya Yu menambahkan dengan cepat.

"Mumpung tutup peti mati belum dipaku, ingin sekali boanpwe periksa keadaan luka yang berada pada teng gorokan mereka."

"Silahkan,"

Kata nyonya Yu hambar.

"yang ada disebelah kiri adalah jenasah dari nyonya."

Seraya berkata dia ambil kembali lampu lentera itu dari meja, kemudian menghampiri peti mati itu.

Hoa In-liong sendiripun tidak sungkan-sungkan ia menghampiri peti mati yang ada disebelah kiri, sepasang tangannya lantas mencengkeram tutup peti mati itu dan siap membukanya .

Ketika itu nyonya Yu berada disebelah kanan Han in-liong, tangan kirinya masih membopong Hek-ji kucing hitam itu, sedang lentera ditangan kanannya dipegang tinggi-tinggi.

Mendadak si anak muda itu membatalkan niatnya untuk membuka, sebab secara tiba-tiba ia mengendus sesuatu, mengendus bau harum pupur yang tipis tapi cukup menarik perhatiannya.

Pupur tersebut adalah sejenis pupur keraton yang mahal harganya, tidak sembarangan orang bisa memakai pupur seperti itu, dan lagi sekalipun punya uang banyak belum tentu orang bisa mendapatkannya.

Hoa In-liong berasal dari keluarga kenamaan, sejak kecil ia sudah romantis dan paling suka bermain dan bergaul dengan kaum hawa yang suka memakai pupur wangi seperti itu, maka dengan sendirinya diapun ahli sekali dalam soal jenis pupur yang sering dipakai kaum hawa.

Ia tampak agak tertegun, ketika coba diperiksa asal mula bau tersebut, segera ditemuinya bahwa bau itu berasal dari tubuh nyonya Yu, ini membuat anak muda kita diam-diam tertawa geli, batinnya.

"Tak heran kalau nyonya Yu bisa menarik perhatian Suma siok-ya sehingga akhirnya dikawini menjadi istri mudanya, memang perempuan ini memiliki kelebihan dari pada perempuan biasa...."

Sementara ia masih termenung, tiba-tiba nyonya Yu berkata lagi.

"Ji kongcu, kenapa engkau ragu ragu...?"

Hoa-In liong tertawa tawa, hawa murninya lantas disalurkan kedalam telapak tangan dan sekuat tenaga ia coba mengangkat tutup peti mati itu. Mendadak... satu ingatan kembali melintas dalam benaknya.

"Aaai... tidak benar gejala ini Kalau toh nyonya Yu benar-benar berkabung oleh karena kematian suaminya, mengapa ia masih memakai pupur wangi. Padahal Suma siok-ya sudah mati belasan hari, sekalipun masih ada sisa baupupur dari tubuhnya, tak mungkin kalau bau tersebut seharum dan setajam ini... jelas pupur itu belum lama dipakai pada tubuhnya."

Menyusul kemudian ia berpikir lebih lanjut.

"Eehmm... kalau kuteliti pula sikap serta gerakgeriknya, gejala ini makin tak beres, kalau toh perempuan ini benar-benar bersedih hati karena kematian suaminya, maka dia tak akan memusingkan masalah lain, jangankan memakai pupur, sisir rambutpun belum tentu berminat. ...tapi sekarang, bukan saja nyonya Yu mengenakan pupur wangi, diapun kesana kemari membopong kucing hitam, macam apakah itu??"

Pada dasarnya Hoa In-liong adalah seorang pemuda yang aneh, kalau toh pada mulanya ia belum curiga maka segala sesuatunya tidak terpikir olehnya, tapi sekarang, setelah timbul kecurigaan dalam hati kecilnya, serta-merta banyak hal yang tak beres ditemukan secara beruntun, dia merasa makin diperhatikan semakin banyak persoalan yang berlawanan dengan keadaan pada umumnya.

Sementara itu nyonya Yu sudah berkata lagi sambil menghela nafas.

"Keadaan lo-wangwe menjelang saat ajalnya mengerikan sekali, lebih baik Ji kongcu tak usah melihatnya lagi."

"Benar-benar, perkataan nyonya memang sangat tepat"

Sahut Hoa In-liong sambil mengangguk berulang kali. Tiba-tiba dia alihkan pokok pembicaraan kesoal lain katanya.

"Sepantasnya kalau dalam ruangan sembahyangan ini diberi serentetan lampu lentera yang bersusun-susun, kenapa tak ada benda tersebut ditempat ini....?"

Mula-mula nyonya Yu agak tertegun, menyusul kemudian sambil menghela napas sedih sahutnya.

"Setelah terjadinya peristiwa ini, aku yang rendah dibikin kalang kabut dan kebingungan sendiri, sampai segala sesuatunya jadi kelupakan., aaai maklumlah kalau orang lagi kesusahan."

"Sekalipun kau lagi berpura-pura, sepantasnya kalau air matamu ikut perkuat sandiwaramu itu,"

Pikir Hoa In-liong dihati.

"masa bodoh sampai detik ini tak kulihat engkau mengucurkan air mata.... kan aneh toh kalau seorang istri walaupun cuma istri muda tidak melelehkan air mata karena kematian suaminya..."

Tiba-tiba ia membentak keras.

"Nyonya, hati-hatilah kau, boanpwe akan membuka peti mati ini!"

Sekali disendat, tutup peti mati itu segera terangkat olehnya, setelah tutup peti mati itu terbuka, bau kapur segera tersebar keempat penjuru diantara bau kapur yang tajam dan menusuk penciuman itu secara lapat-lapat terselip bau harum bunga yang tipis.

Perlu diketahui daya penciuman Hoa In-liong sangat tajam dan melebihi daya penciuman siapa pun, begitu tercium bau campur aduk yang aneh dan tak sedap itu, pikirannya lantas terbuka dan menjadi terang, cepat dia berteriak dengan logat yang aneh.

"Aduuuuh mak....harum sungguh harum."

Sengaja ia mengeryitkan hidungnya dan tarik napas panjang beberapa kali.

Nyonya Yu tertegun menyaksikan peristiwa itu dia heran mengapa hawa racun yang tersiar keluar dari balik peti mati itu tidak berhasil merobohkan pemuda tersebut Dalam kagetnya telapak tangan kanannya segera ditekan kebawah, lalu menghantam batok kepala Hoa In-liong dengan lampu lentera, sementara kaki kirinya melancarkan sebuah tendangan kilat ke arah pinggang si anak muda itu.

Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak, dia putar telapak tangan kanannya dan secara tiba-tiba mencengkeram lengan nyonya Yu, kemudian menyeret perempuan itu dan ditekannya kedalam peti mati tersebut.

Sejak penutup peti mati itu dibuka, nyonya Yu sudah menutup semua pernapasannya, tapi sekarang oleh karena lengannya yang dicengkeram terasa amat sakit, dalam kaget dan cemasnya dia menjerit tertahan, serta-merta hawa racun itu terkesiap masuk ke lubang hidungnya, kontan saja perempuan itu roboh tak sadarkan diri.

Semua kejadian ini berlangsung dalam sekejap mata baru saja Hoa In-liong menaklukkan nyonya Yu, tiba-tiba terasa segulung desingan angin tajam menyergap punggungnya dari belakang.

Sungguh kaget dan tercekat hati Hoa In-liong untung dalam gugup dan cemasnya ia tak sampai gelagapan secepat kilat badannya menyusup ke arah samping untuk menghindar.

"Breeet..."

Kendatipun pemuda itu sudah menghindar dengan cepat, tak urung robek juga sebagian baju yang dikenakannya.

Sementara itu suasana dalam ruangan tengah jadi gelap gulita, sukar melihat kelima jari tangan sendiri, sebelum Hoa In-liong sempat berdiri tegak.

desingan angin tajam itu kembali menyergap dari belakang.

Buru-buru si anak muda itu berkelit ke samping dengan manis ia menghindarkan diri dari sergapan maut itu.

Sebagai keturunan jago kenamaan, Hoa In-liong memang cukup mengagumkan, kendatipun harus bertarung ditengah kegelapan yang sukar untuk melihat kelima jari tangan sendiri, dia masih sanggup untuk melayani dengan sebaik-baiknya.

Detik itu juga, ia dapat mengetahui siapakah penyergapnya itu, ternyata "Dia"

Tak lain adalah "Hek-ji"

Kucing hitam yang berada dalam bopongan nyonya Yu tadi.

Rasa mangkel, jengkel dan geli bercampur aduk dalam hati pemuda itu, tatKala untuk ketiga kalinya kerlipan sinar tajam itu menyusup datang segera ia berkelit kesamping, lalu melancarkan sebuah tendangan kilat ketubuh kucing itu.

Kalau lawannya hanya kucing biasa, tendangan itu niscaya akan menghancur lumatkan tubuhnya tetapi kucing ini bukan kucing sembarangan, kucing hitam ini keluaran wilayah se-ih yang termasuk sejenis makhluk buas, karena sudah mendadak pendidikan yang lama, maka tubrukan serta sergapannya secepat kilat dan jarang meleset dari sasarannya.

Baru saja Hoa In-liong melepaskan tendangan itu gagal mencapai sasaran, malahan sekarang kucing hitam itu menerjang paha kanannya.

Si anak muda itu tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh....haaahhh...haahhh..... Binatang cilik hari ini saya akan menangkapmu hidup-hidup "

Timbul kembali sifat kekanak-kanakannya dalam hati kecil pemuda ini, tiba-tiba ia bertekuk lutut dan berjongkok kebawah, sementara tangan kirinya meraba pakaiannya yang robek tercakar tangan kanan yang menganggur secepat sambaran petir mencengkeram leher kucing hitam itu.

Tiba-tiba...

dari balik horden berkumandang suara suitan tajam yang tinggi melengking.

Suitan tajam itu sangat pendek tapi nyaring, begitu mendengar suitan tersebut, Hek-ji segera mendekam di tanah, lalu menyusup masuk kebalik horden.

"Bangsat mau kabur kemana?"

Bentak Hoa In-liong.

Ia menerkam ke depan, ekor Hek-ji lantas di sambarnya dengan cepat, apa mau dikata tiba-tiba Hek-ji putar badannya sambil menggigit.

Si anak muda itu jadi amat terperanjat sambil menjerit kaget ia tarik kembali tangannya ke belakang.

Suara langkah kaki manusia bergema dari belakang bangunan, sekejap kemudian suasana pulih kembali dalam kesunyian.

Secepat sambaran petir Hoa In-liong menerjang ke depan, ia temukan dibalik horden terdapat sebuah pintu kecil, dibalik pintu terdapat sebuah lorong yang panjang, ketika dia mengejar sampai kedalam lorong itu, bayangan musuh sudah lenyap tak berbekas, Hek-ji si kucing hitampun lenyap entah kemana perginya.

Kejadian ini membuat Hoa In-liong jadi terperangah, ia mencoba untuk memeriksa keadaan dl sekitar tempat itu namun tidak berhasil menemukan sesuatu, tiba-tiba teringat kembali akan perempuan "nyonya Yu"

Yang masih pingsan ditepi peti mati.

Cepat-cepat pemuda itu kabur kembali keruang tengah, setelah pasang lentera diperiksanya sekitar sana, namun apa yang dilihat hanya peti mati belaka, sedangkan nyonya Yu entah sedari kapan telah dibawa kabur oleh rekan-rekannya.

Tutup peti mati itu masih terbuka, bau kapur yang tajam bercampur harum bunga kui yang tipis menciptakan suatu campuran bau yang aneh memuakkan dan bikin orang pingin muntah.

Sambil menutup pernafasannya Hoa In-liong mendekati peti mati itu dan melongok kedalam, jenasah Suma Tiang-cing telah di make-up sehingga tidak nampak sesuatu yang aneh atau mencurigakan.

Ketika pemuda itu menyingkap bajunya, maka tampaklah pada tenggorokannya terdapat sebuah lubang sebesar cawan arak.

di sekitar lubang itu tertera nyata bekas gigitan yang tajam dan rata, sudah pasti bekas gigitan dari sebangsa makhluk binatang buas, karena saluran pernafasannya telah tergigit putus, tentu saja korbannya mati sesak nafas.

"Sreeeett..."

Tiba-tiba muncul lagi sesosok bayangan manusia, bayangan itu keluar dari bawah kolong meja, dengan kecepatan seperti anak panah yang terlepas dari busurnya ia melayang ke udara kemudian kabur menuju keluar pintu, Hoa In-liong segera tertawa tergelak katanya.

"Haaahhh..... haaahhhh.... haaahhh.... nyali kalian memang benar-bsnar besar sekali, Hmm Apakah tindakanmu itu tidak kelewat pandang rendah jiwa mu?"

Tidak menunggu sampai menutup kembali peti mati itu, ia lantas melompat keudara dan secepat kilat meluncur ke muka melakukan pengejaran.

Dibawah cahaya bintang, tampaklah bayangan itu mempunyai tubuh yang ramping menawan hati, ia mengenakan baju ketat warna hitam gelap.

sebilah pedang pendek tersoren dipinggang, usianya masih amat muda, dari gadis ini berparas cantik.

Hoa In-liong melompat dia mengejar dengan cepatnya, dalam beberapa kali lompatan ia sudah mencapai di samping dara tersebut, sambil menepuk bahunya pemuda itu menegur.

"Hey, kenapa tidak segera berhenti?"

Dengan langkah sempoyongan gadis itu maju beberapa langkah lagi ke depan hampir saja ia jatuh terjengkang ke atas tanah, untungnya di depan sana adalah sebuah dinding pekarangan, cepat ia memegang dinding tersebut sehingga tubuhnya tak sampai jatuh tertelungkup.

Tiba-tiba ia mengambil keluar secarik sapu tangan dan menutupi bibirnya yang kecil, kemudian berbatuk-batuk keras sampai air matapun ikut jatuh berlinang.

Kiranya gadis itu bersembunyi di bawah meja sembahyangan sambil menutup napas, karena letaknya tertutup oleh kain, kolong meja sembahyangan memang merupakan tempat persembunyian yang sukar ditemukan orang.

Tetapi karena terlalu lama menahan panas, dan lagi hawa racun yang tersebar keluar dari peti mati itu kian lama kian menebal, akhirnya gadis itu tak sanggup mengendalikan diri lagi, ia dipaksa untuk meninggalkan tempat persembunyiannya guna menghirup udara segar.

Dalam pada itu Hoa In-liong telah mengawasi gadis baju hitam itu dengan pandangan tak ber kedip.

diam-diam ia membatin, Dara ini punya pinggang yang ramping, tubuh yang tinggi semampai serta kulit yang putih halus....eehm, memang tak salah lagi kalau disebut gadis cantik bak bidadari dari kahyangan."

Meskipun dalam hati ia sedang berpikir, mulutnya tidak membungkam, tegurnya sambil tertawa.

"Eeh.... eeh..., kenapa kok menangis? aku toh tidak sampai melukai dirimu mau apa kau mengucurkan air mata?"

Bersemu merah selembar wajah dara baju hitam itu, mendadak ia cabut keluar pedang pendeknya lalu berseru dengan suara dalam.

"Nona mu sama sekali tak ada hubungannya dengan kematian dari anggota keluarga Suma, keadaan kita ibaratnya air sungai yang tidak melanggar air sumur, biarkanlah aku pergi dari sini."

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh kalau toh engkau tak ada sangkut pautnya dengan peristiwa pembunuhan ini mau apa kau bersembunyi di bawah kolong meja sembahyangan?"

Gadis berbaju hitam itu mendengus dingin, ia melejit dan melayang ke arah pintu gerbang. Sekali lagi Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh... haaah... haaaah... kau toh belum menjelaskan duduknya persoalan, mau apa buru buru pergi dari sini??"

Sekali melompat, ia sudah menghadang kembali jalan pergi dari dara baju hitam itu.

Agaknya gadis berbaju hitam itu sudah menduga bahwa musuhnya bakal berbuat demikian, pedang pendek yang sudah diloloskan mendadak ditusuk ke depan, bersamaan itu pula sepasang kakinya menjejak tanah dan melayang keudara, kemudian meluncur melewati tembok pekarangan.

Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak.

ditengah gelak tertawa yang amat nyaring itu, ia melancarkan sebuah cengkeraman dan menangkap ujung pedang pendek itu.

Kilatan cahaya tajam memancar keluar dari balik pedang pendek itu, memang senjata itu merupakan sebilah pedang mustika yang tajam sekali, namun dalam cekalan Hoa In-liong seakan-akan pedang mustika itu bukan sebuah senjata yang tajam melainkan cuma pedang kayu yang tumpul.

Padahal waktu itu gadis baju hitam tadi sedang melambung diudara, karena merasa berat hati untuk membuang senjatanya, terpaksa dia tarik nafas panjang dan melayang kembali ke tanah.

Karena gadis itu sudah melayang turun, maka Hoa In-liong pun melepaskan cengkeramannya ia tertawa lalu berkata.

"Nona bolehkah aku tahu siapa nama nona?"

Kejut dan gelisah bercampur aduk dalam hati gadis baju hitam itu, bukan menjawab ia malah berseru dengan marah.

"Berulang kali aku kan sudah menerangkan bahwa aku sama sekali tak tersangkut dengan peristiwa pembunuhan atas keluarga Suma, buat apa engkau musti banyak bertanya?"

Hoa In-liong tidak marah, meskipun nada gadis itu kasar malahan dengan senyum dikulum ujarnya.

"Selama hidup aku paling suka berhubungan dengan anak gadis, bila nona tidak memberi penjelasan seterang-terangnya, jangan harap bisa tinggalkan tempat ini dengan begitu saja."

Gadis berbaju hitam itu agak tertegun, lalu makinya.

"Huuh, katanya saja keturunan dari keluarga kenamaan tak tahunya cuma manusia tengik yang suka menggoda kaum lemah."

"Haaah haaah haah kalau kakakku. memang keturunan tulen dari keluarga kenamaan, sedangkan adikku Hoa Wijuga benar-benar seorang keturunan keluarga bernama besar, sedangkan aku sendiri...haaah...haaahh...."

"Kenapa dengan kau?"

Seni gadis itu ketus. Dengan wajah bersungguh-sungguh Hoa In-liong berkata.

"Aku tak pernah memperdulikan ocehan orang lain, watakku paling aneh dan aku paling suka berbuat sesuatu menurut suara hatiku sendiri, nona manis....wahai nona manis... setelah kau terjatuh ketangan Hoa jiya, maka itu sama artinya bahwa kau bakal sial"

Perkataan itu membuat gadis baju hitam tersebut jadi melengak. Ia lantas berpikir.

"Orang she-Hoa ini memang kukoay dan anehnya luar biasa, ia berilmu silat tinggi, jelas aku bukan tandingannya, mau kabur juga tidak bisa... bagaimana aku sekarang? Apa yang harus kulakukan??"

Otaknya berputar keras dan berusaha untuk menemukan jalan untuk melarikan diri, Mendadak.

satu perasaan aneh muncul dalam hati kecilnya, merah padam selembar wajahnya, dengan wajah kemalu-maluan ia tundukkan kepalanya rendah-rendah.

Sebagaimana diketahui, Hoa In-liong adalah seorang pemuda yang sangat tampan, ketampanannya begitu menawan hati membuat setiap nona yang bertemu dengannya boleh dibilang lebih banyak terpikat daripada tidak.

Kebetulan dara berbaju hitam itu sudah mencapai usia dewasa, dan lagi semenjak kecil jarang bergaul dengan kaum lelaki lawan jenisnya, maka sewaktu ia merasa bahwa pihak lawannya adalah seorang pemuda yang sangat tampan, serta-merta hatinya yang baru mekar jadi terpikat, kontan saja jantungnya berdebar keras, suatu perasaan jengah yang aneh muncul dari hati kecilnya.

Melihat keadaan sang dara itu, Hoa In-liong tertawa, dari sakunya dia mengeluarkan kipas bergagang emasnya, kemudian sambil menggoyang-goyangkan kipas itu tegurnya lagi.

"Nona, siapa namamu?"

Dara berbaju hitam itu menengadah dan memandang sekejap ke arah sang pemuda kemudian sahutnya dengan lirih.

"Kita toh tidak saling mengenal, buat apa musti saling menyebutkan nama?"

"Haaahhh.... haaahhh ....haaahhh kalau memang nona merasa keberatan untuk mengucapkan namamu, akupun tidak akan memaksa lebih jauh"

Tiba-tiba ia simpan kembali kipasnya, kemudian sambil menunjukkan sikap mempersilahkan tamunya masuk. Ia menambahkan "Mari nona, kita berbicara dalam ruang tengah situ saja."

Gadis berbaju hitam itu agak tertegun, lalu menjawab.

"Dalam peti mati itu ada racun kejinya, sekalipun kongcu tidak takut dengan racun tersebut, siau li tak kuat untuk menahan diri,"

Kali ini nada perkataannya jauh lebih lunak lagi daripada ucapannya pertama kali tadi.

"Darimana kau bisa tahu kalau dalam peti mati itu ada racun kejinya...?"

Tiba-tiba pemuda itu balik bertanya.

"Sudah berulang kali kukunjungi tempat ini, sewaktu mereka mengatur jebakan tersebut, secara diam-diam dapat kulihat semuanya."

"Mau apa nona datang kesini??"

Sekilas lasa sedih dan kesal melintas di wajah dara baju hitam itu, selang beberapa saat kemudian dia baru menjawab.

"Siau-Ii msmpuayai kesulitan yang tak bisa di katakan kepada orang lain, pokoknya aku sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan peristiwa pembunuhan di keluarga Suma."

Hoa In-liong termenung dan berpikir sebentar kemudian katanya pula.

"Baiklah, akan kututup peti mati itu agar hawa racun tak sampai menyebar kemana-mana, ikutilah aku."

Pada hakekatnya pembunuhan atas diri Suma Tiang-cing tidak meninggalkan jejak barang sedikitpun juga, bisa dibayangkan sudikah pemuda itu melepaskan dara baju hitam itu dengan begitu saja setelah ia berhasil menemukannya?

Begitu selesai berbicara, dia lantas masuk lebih dulu kedalam ruang tengah.

Ruangan itu gelap gulita, Hoa In-liong memasang api dan menutup kembali peti mati tersebut kemudian baru berseru lantang.

"Nona, sekarang engkau boleh masuk ke dalam."

Waktu itu nona baju hitam itu berdiri diluar ruangan, ia jadi tercengang bercampur keheranan ketika melihat pemuda itu bisa masuk keluar dalam ruangan itu sambil tertawa dan berbicara, sedikitpun tidak takut dengan hawa racun yang menyebar keluar dari balik peti mati tersebut.

Baru saja dia akan menggeserkan kakinya untuk melangkah masuk kedaiam ruangan itu, mendadak satu ingatan terlintas dalam benaknya, ia terkesiap.

tiba-tiba sambil putar badan gadis itu kabur terbirit-birit dari situ Hoa ln-liang tertawa tergelak.

ejeknya.

"Nona manis... wahai nona manis... aku toh sudah bilang, tak nanti kau bisa lolos dari tanganku, mengapa kau sengaja ingin melarikan diri.?"

Sekali menjejak kakinya ke atas tanah, nona baju hitam itu sudah meloncat, ke atas dinding pekarangan dengan enteng, tapi baru saja dia akan melompat turun, tiba-tiba pinggangnya jadi kencang dan tahu-tahu sudah dipeluk erat-erat oleh si anak muda itu.

sambil tertawa terbahakbahak pemuda Hoa mengejek katanya.

"Haaahh... haaahhh haaahhh.... jangan nona anggap aku mau mencari untung dengan pelukan ini, siapa suruh nona tak pegang janji tak mau menuruti perkataanku... sekarang, janganlah menyalahkan diriku kalau terpaksa memakai cara ini."

Merah padam selembar wajah dara baju hitam itu karena jengah, tiba-tiba ia menarik muka dan berseru dengan dingin.

"Hoa kongcu, ilmu silat siau-li memang terlampau cetek dan bukan tandinganmu akupun bukan manusia yang tak tahu diri, harap kau segera lepas tangan."

Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak. la lantas melepaskan pelukan itu dan merangkap tangannya di depan dada, katanya dengan wajah bersungguh-sungguh.

"Harap nona jangan marah dan mengumbar kegusaran padaku, anggaplah siau-seng bertindak terlampau kasar, terimalah permohonan maaf ku ini janganlah memikirkan kejadian yang baru lewat ke dalam hati."

Berbicara sampai disitu dia benar-benar menjura dihadapan gadis itu, ini membuat dara baju hitam itu mau menangis tak bisa mau tertawapun sungkan, setelah istirahat sebentar, akhirnya ia baru berkata lagi dengan ketus.

"Tak usah banyak adat, bila kongcu tiada petunjuk lagi, aku yang rendah ingin mohon diri."

"Sudah terang gadis ini mempunyai asal usul yang mencurigakan,"

Pikir Hoa In-liong dihati, tapi lagaknya saja sok serius dan bersungguh-sungguh, sudah pasti dibalik keseriusannya ini tersembunyi maksud-maksud yang licik. Berpikir sampai disitu, dia lantas berkata.

"Setelah Suma tayhiap mengalami musibah dan mati terbunuh, aku mendapat perintah dari ayahku untuk mencari tahu siapa gerangan pembunuh keji tersebut, sungguh beruntung aku telah bertemu dengan nona yang merupakan satu-satunya titik terang yang berhasil kutemukan, bayangkan, sendiri nona, apakah aku bersedia untuk melepaskan dirimu dengan begitu saja?"

Dara berbaiu hitam itu tertawa dingin.

"Heeehhh...heeehhh...heeehhh, tahulah aku sekarang, rupanya kongcu menaruh curiga bahwa aku yang rendah termasuk komplotan dari pembunuh tersebut?"

Hoa In-liong tersenyum.

"Aku cuma mengharapkan petunjuk dari nona, siapa bilang kutuduh nona berkomplot dengan para pembunuh? Aku tak akan mencelakai orang secara diam-diam, apalagi menfitnah orang baik-baik"

Pada mulanya pemuda itu mengatakan bahwa gadis baju hitam itu adalah "titik terang"

Yang berhasil ia peroleh, kemudian mengatakan pula bahwa dia adalah seorang baik-baik, pada hakekatnya bicara pulang balik tujuannya cuma satu yakni dia hendak mengorek keterangan yang sebanyak-banyaknya dari mulut gadis ini.

Tentu saja gadis berbaju hitampun mengetahui akan tujuan lawan, sebab itulah dengan wajah yang dingin membesi ia menatap wajah pemuda itu tanpa berkedip, mukanya menunjukkan rasa marah dan tak senang hati.

Sekalipun gadis itu berdiri dengan dahi berkerut dan muka cemberut, namun justru dibalik ke cemberutannya itu terpancar suatu daya pikat yang mempesonakan hati.

Hoa In-Hong sama sekali tidak menggubris kelembutan , lawan, malahan dengan senyum dikulum ia menatap wajah gadis itu lekat-lekat, seakan-akan ia sedang manfaatkan kesempatan yang ada untuk menikmati keindahan dara tersebut.

Nona berbaju hitam itu jadi melongo, ketika dilihatnya pemuda itu tidak marah pun tidak menunjukkan tak senang hati, sebaliknya hanya tersenyum sambil memandang ke arahnya, ia semakin dibikin apa boleh buat.

Setelah berpikir sebentar, tiba-tiba dengan wajah serius dan nada bersungguh sungguh dia berkata.

"Hoa kongcu sungguhkah engkau ingin menyelidiki serta membekuk pembunuh dari Suma tay-hiap?"

Cepat Hoa In-liong merangkap tangannya memberi hormat, dan menyahut.

"Aku mendapat tugas dari ayahku untuk menyelidiki serta membikin terang masalah pembunuhan berdarah ini, sebelum tugas tersebut berhasil kuselesaikan, tak mungkin aku bisa pulang ke rumah untuk memberi pertanggungan jawab, oleh sebab itu aku mohon kepada nona agar bersedia untuk membantu usahaku ini."

Gadis berhaju hitam itu tertawa dingin, katanya kemudian.

"Baik siau-li akan membantu usahamu ini..."

Selesai memberikan kesediaannya, dia lantas putar badan dan lari menuju keluar ruangan tersebut.

Menyaksikan tindak tanduk gadis itu, Hoa In-liong tercengang dan penuh diliputi kecurigaan tapi ia tahu bahwa gadis baju hitam ini meski bukan sekomplotan dengan para pembunuh, namun dia adalah seseorang yang sangat paham dengan duduknya persoalan ini, tidak sangsi lagi dia menyusul dibelakangnya dengan langkah lebar.

Setelah keluar dari kota Lam-yang, mereka melakukan perjalanan cepat selama setengah jam dan akhirnya sampai disuatu tempat yang sepi dan penuh dengan semak belukar yang lebat.

Diantara semak belukar yang tumbuh dengan liarnya itu, tampak sebuah bangunan rumah gubuk bangunan itu berdiri sendiri dikelilingi alas yang lebat.

Empat penjuru penuh semak belukar hamparan pepohonan dan boleh dibilang tiada jalan tembus sebuahpun pemandangannya amat seram dan penuh diliputi hawa misteri yang tebal.

Sambil menyingkirkan semak yang menghadang jalan majunya, gadis baju hitam itu berjalan menuju ke depan pintu gubuk tersebut lalu sambil mengetuk pintu katanya.

"Si Nio, buka pintu!"

Cahaya lentera memancar keluar dari gubuk tersebut, menyusul seseorang bertanya dengan suara yang parau.

"Apakah nona diluar sana?"

"Tentu saja aku, kalau tidak siapa lagi?"

Sahut dara itu dengan nada ketus. Suasana hening untuk sesaat, kemudian terdengar suara parau itu berkumandang lagi.

"Siapa rekan yang lain itu??"

"Suruh kau buka pintu mengapa tidak cepat buka pintu? Buat apa engkau banyak bertanya? "

Teriak gadis baju hitam semakin marah.

Semenjak tadi Hoa In-liong sudah mengetahui bahwa sipembicara dalam rumah gubuk itu sudah berdiri dibelakang pintu, nyatanya pintu kayu tersebut masih tertutup rapat, kendatipun berulang kali dara itu sudah berteriak.

ini berarti bahwa orang itu memang tak berminat membukakan pintu bagi mereka.

Tampaknya kemarahan nona baju hitam itu sudah mencapai pada puncaknya, untuk kesekian kalinya ia menghardik.

"Kurang ajar, rupanya kau sudah bosan hidup?"

Dengan sepenuh tenaga telapak tangannya ditolak ke depan.

"Kraaaak...."

Ternyata pintu itu tidak terkunci, tatkala didorong otomatis pintu itu membuka dengan sendirinya, Redup sekali cahaya lentera yang menyinari rumah gubuk itu, dibalik pintu adalah sebuah ruangan kecil, dalam ruangan itu hanya terdapat sebuah meja kayu yang sudah bobrok serta dua buah kursi barabu, peralatan lain tidak nampak.

Waktu itu tak seorangpun berada dalam ruangan, dengan penuh kegusaran gadis baju hitam itu menerjang masuk kedalam rumah, kemudian teriaknya dengan marah.

"Si Nio, kau...."

"Nona tak usah mencari lagi, Si Nio yang kau cari sudah berada disini,."

Tukas Hoa In-liong. Seseorang mendengus dingin, kemudian menjawab.

"Benar, aku memang berada disini, tajam amat pendengaran serta penglihatanmu."

Berbareng dengan selesainya perkataan itu, sesosok bayangan manusia muncul dari balik pintu dan menghadang arah pandangan Hoa In-liong ke ruang sebelah dalam.

Masih mendingan kalau si anak muda itu tidak memandang tampang perempuan yang bernama Si Nio itu, begitu sinar matanya beradu tatap dengan orang tersebut, kontan sekujur badannya gemetar keras, hawa bergidik yang dingin muncul dari alas kaki mencapai ke atas dada, ia bersin beberapa kali sementara bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Pemuda itu kaget bukan lantaran dia pernah kenal dengan perempuan yang bernama Si Nio itu adalah oleh karena tampang Si Nio benar-benar mengerikan sekali, ibaratnya setan alas yang tiba-tiba muncul dihadapan matanya.

Usia Si Nio belum mencapai empat puluh tahu saja, rambutnya masih ber warna hitam pekat dan kulit tubuhnya tampak putih bersih, sayang raut wajahnya penuh dengan bekas-bekas luka yang mengerikan.

Berpuluh-puluh buah bekas bacokan yang melekuk ke dalam dan berwarna merah karena kelihatan daging dalamnya tersebar di sana sini, seakan-akan mukanya itu pernah dicincang dengan senjata hingga hancur mumur, mengerikan sekali bagi siapapun yang memandang.

Waktu itu Si Nio berdiri di hadapan Hoa In-liong dengan sorot mata penuh tanda tanya, sementara mulutnya masih tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Dalam pada itu, dara baju hitam itu sudah keluar dari ruang dalam, dia lantas membentak.

"Si Nio benarkah engkau sudah bosan hidup? Mau apa kau berdiri mematung di sana? Hayo cepat mengundurkan diri dan hidangkan air teh untuk tamu kita ini."

Si Nio sama sekali tidak berpaling, setelah memandang lagi wajah Hoa In-liong dengan termangu-mangu, ia baru beranjak dan menuju ke ruang dapur di belakang sana.

SETELAH berhasil menguasahi perasaannya, diam-diam Hoa In-liong memperhatikan cara Si Nio berjalan, ia lihat sepasang kaki perempuan itu menempel tanah dan sama sekali tak berbeda dengan manusia biasa, diapun tidak menunjukkan gerakan seakan-akan sedang mengerahkan ilmu meringankan tubuh, walau begitu langkah kakinya sama sekali tak bersuara, seolah-olah perempuan itu memang sama sekali tak berbobot.

Hoa In-liong memang pemberani dan berilmu tinggi, tapi berada dalam keadaan seperti sekarang tak urung tercekat juga hatinya, peluh dingin serasa membasahi seluruh tubuhnya.

"Hoa-kongcu, silahkan duduk,"

Terdengar nona baju hitam itu berkata dengan dingin. Cepat Hoa In-liong mendusin kembali dari lamunannya, ia tertawa menyengir dan menjawab.

"Oooh, silahkan duduk, silahkan duduk, nonapun duduklah."

Dua orang muda mudi itu mengambil tempat duduknya masing-masing, lalu gadis itu berkata lagi dengan serius.

"Hoa kongcu, pernahkah engkau tahu tentang Masalah Sin-ki-pang, Hong im-hwe dan Tong-thian kau tiga buah kekuatan besar dalam dunia persilatan dimasa lalu?"

"Aaah... itu toh kejadian pada dua puluh tahun berselang,"

Sahut Hoa In-liong sambil berkerut kening.

"Aku dengar, dahulu dalam dunia persilatan terdapat perkumpulan Sin-ki-pang, Hong-im hwe dan Tong-thian kau, masing-masing pihak berdiri di suatu daerah dan menguasahi suatu wilayah yang besar,"

"Sebagai keturunan keluarga persilatan tentunya kongcu mengetahui sangat jelas bukan dengan peristiwa yang pernah terjadi dimasa lampau?"

Hoa In-liong tersenyum.

"Perkumpulan Hong-in hwe serta Tong-thian kau sudah lama musnah dari muka bumi, sedangkan perkumpulan Sin-ki-pang juga telah membubarkan diri apa sebabnya secara tiba-tiba nona menyinggung kembali peristiwa lama yang sudah berlangsung pada dua puluh tahun berselang??"

"Apakah kongcu juga mengetahui tentang perkumpulan Kiu-im-kau?"

Bukan menjawab gadis itu malahan bertanya lagi.

"Aku memang pernah mendengar orang menyinggung soal perkumpulan itu. cuma kemudian aku dengar perkumpulan itu sudah bubar dan tercerai berai setelah berulang kali mengalami kekalahan."

Dara berbaju hitam itu mendengus dingin.

"Hmm..... Baru-baru ini dalam dunia persilatan telah muncul pula sebuah perkumpulan baru yang bernama Hian-beng-kau pernah kongcu dengar tentang perkumpulan ini?"

"Perkumpulan Hian-beng-kau? Belum pernah kudengar tentang nama perkumpulan ini......"

Sahut Hoa In-liong dengan hati terperanjat.

"Aku sendiripun baru-baru ini mendengar dari mulut orang lain,"

Kata gadis itu dengan hambar.

"Apakah nona bersedia menerangkan kepadaku..."

Pinta sang dara seraya menjura.

"Suatu hari, tanpa sengaja aku telah menemukan satu rombongan manusia yang sangat mencurigakan, oleh karena terdorong rasa ingin tahu, diam-diam kuintil kelompok manusiamanusia tersebut dari belakang."

Hoa In-liong pusatkan semua perhatiannya untuk mendengarkan penuturan dari gadis itu, tibatiba dari dalam hati kecilnya muncul perasaan was-was, cepat la berpaling ke belakang, entah sedari kapan Si Nio yang berwajah penuh codet itu telah berdiri di belakangnya dengan membawa sebuah baki, di atas baki itu terletak dua buah cawan berisi air teh.

Ketika Si Nio melihat si anak muda itu berpaling, Ia lantas meneruskan langkahnya dan meletakkan kedua cawan air teh itu ke atas meja.

Diam-diam Hoa In-liong merasa amat gusar dia angkat tangan kanannya hendak mencengkeram pergelangan tangan Si Nio, tapi ingatan lain lantas melintas dalam benaknya ia berpikir.

"Bagaimanapun juga aku adalah tamu dan dia adalah tuan rumah, jika aku bertindak lebih dahulu maka tindakanku ini terasa kasar dan kurang sopan."

Karena berpikir begitu, diapun membatalkan niatnya dan tetap tak berkutik ditempat semula.

Dengan tatapan dingin dara baju hitam itu melirik sekejap ke arah Si Nio, kemudian seraya ulapkan tangannya dia berseru.

"Mundurlah dari sini!"

Wajah Si Nio yang mengerikan itu berkerut kencang bahkan agak gemetar, tiba-tiba ia berkata.

"Hoa kongcu, silahkan minum teh"

"Cerewet amat kamu ini, hayo cepat mundur dari sini!"

Bentak gadis itu dengan marah. Hoa In-liong yang mengikuti perkembangan ditempat itu, dalam hati kecilnya lantas membatin.

"Rumah gubuk ini benar-benar penuh diliputi hawa setan, kalau tidak kutunjukkan sedikit kelihaian, rupanya susah untuk memaksa mereka masuk ke dalam kekuasaanku..."

Berpikir sampai di situ, tiba-tiba ia menengadah dan tertawa keras, lalu sambil angkat cawan katanya.

"Silahkan nona melanjutkan kisah penuturanmu akan kudengarkan semuanya dengan penuh perhatian."

Ia tempelkan cawan itu di bibir dan menghirup teh panas itu satu tegukan.

Kebetulan lampu lentera yang menerangi ruangan tersebut berada di sampingnya, ketika mengambil cawan, sengaja ujung bajunya dikebaskan agak kencang, dikala api lampu lentera itu bergoncang terhembus angin, pemuda itu segera manfaatkan kesempatan yang ada untuk bermain gila.

Sedikit jari kelingkingnya menyentil ke depan, sebutir pil yang amat kecil telah dimasukan ke dalam cawan teh yang lain, gerakan itu dilakukan dengan cepat dan tidak menyolok.

ternyata baik Si Nio maupun dara baju hitam itu sama-sama tidak merasa.

Semua kejadian ini berlangsung dalam sekejap mata, sementara itu dara baju hitam itu sudah mengalihkan kembali sorot matanya ke arah cawan teh yang berada di hadapan pemuda itu, kemudian melanjutkan kembali kata-katanya.

"Diam-diam aku kuntit perjalanan rombongan itu, ketika kulihat mereka memasuki gedung kediaman Suma-tayhiap, akupun menyusup masuk ke dalam ruangan. Di sana kulihat mereka membuka tutup peti mati dan menyebarkan sejenis bubuk putih ke dalam peti mati itu, kemudian menutup kembali tutup peti mati itu, aku lihat dengan wajah berseri mereka lantas menyembunyikan diri dan siap menangkap mangsanya."

Sementara dara itu bercerita, Hoa In-liong telah mencoba air teh itu, dia ia telah membuktikan bahwa dalam air yang bersih itu benar-benar telah dicampuri dengan obat bius.

Sekalipun begitu, paras mukanya sama sekali tidak berubah, dia mengangkat kembali cawan air teh itu dan meneguk lagi satu tegukan, katanya sambil tersenyum.

"Apakah perempuan yang menyebut dirinya she Yu itu juga merupakan anggota perkumpulan Hian-beng-kau?"

Dara baju hitam itu mengangguk.

"Akupun tahu dari mulut beberapa orang itu,"

Katanya.

"Apakah nyonya Yu adalah ketuanya?"

Kembali si anak muda itu tersenyum, dia angkat cawan dan meneguk kembali air teh itu dengan nikmat.

"Hmm Mimpi...."

Sahut nona itu dengan dingin.

"nyonya she Yu itu tak lebih cuma seorang prajurit yang menurut urutan menempati posisi paling buncit, rombongan itu semuanya berjumlah belasan orang, sekalipun ketua rombonganpun tidak lebih cuma seorang kepala regu yang rendah sekali kedudukannya dalam perkumpulan Hian-beng-kau."

Hoa In-liong pura-pura terperanjat setelah mendengar perkataan itu, serunya.

"Aaah.... pernahkah nona berjumpa dengan pemimpin rombongan itu? Berapa usia orang itu? Dia seorang laki-laki ataukah seorang perempuan?"

Kembali ia meneguk isi cawan itu hingga habis.

"Sudah beberapa kali kulakukan penyelidikan, namun selalu gagal untuk bertemu dengan pemimpin rombongan tapi menurut apa yang berhasil kudengar, orang itu katanya she-Ciu ( dendam ) dan mereka memanggil Ciu kongcu kepadanya."

"Kalau toh orang itu disebut kongcu, aku pikir tentu usianya tidak seberapa besar"

"Kalau kutinjau dari ciri mereka berbicara serta apa yang mereka bicarakan, aku dapat menarik kesimpulan kalau Ciu kongcu itu bukan saja pemimpin rombongan, bahkan dia pula otak dari pembunuhan atas diri Suma Tiang-cing. Kini orang tersebut masih berada di kota Lan-yang, aku rasa sampai sekarangpun belum pergi."

Tiba-tiba Hoa In-liong menengadah dan tertawa terbahak bahak.

"Haaah haaaahh haaaahh sungguh menarik. sungguh menarik Hoa loji bakal bertempur sengit melawan Ciu kongcu."

"Huuh, apanya yang perlu kau banggakan?"

Ejek dara baju hitam itu dengan sinis.

"toh Ciu kongcu hanya seorang anggota perkumpulan Hian beng-kau yang berkedudukan rendah, mendingan kalau dia adalah ketuanya perkumpulan itu."

Hoa In-liong tak menggubris ucapan dara itu dia masih mengoceh terus dengan wajah berseriseri.

"Haaah haaaahh haaaaahh, Hoa loji bakal menghancur lumatkan perkumpulan Hian-bengkau, itulah baru mengagumkan, namaku pasti akan tersohor dan dikenal oleh setiap orang!"

Dara baju hitam itu tertawa dingin, bibirnya bergetar seperti mau mengucapkan sesuatu, namun niat itu kemudian dibatalkan.

Selama ini Si Nio selalu berdiri di belakang Hoa In-liong, ia tidak pergi tinggalkan tempat itu seperti apa yang diperintahkan kepadanya, ketika dengar ocehan si anak muda itu, tiba-tiba dia angkat sepasang telapak tangannya, dengan sepuluh jari yang dipentangkan lebar-lebar perempuan itu siap melakukan tubrukan.

Belum sempat serangan itu dilancarkan tiba-tiba Hoa In-liong berputar badan seraya berteriak.

"Si Nio!"

Si Nio terperanjat dan menarik diri ke belakang sementara dara baju hitam itupun menunjukkan perubahan wajah yang sangat hebat.

Hoa In-liong tertawa tergelak.

sambil mengangkat cawan air tehnya ia berkata.

"Si Nio, aku dahaga sekali, tolong ambilkan secawan air teh lagi.....!"

Si Nio tertegun, dengan ragu-ragu dia menerima cawan itu, kemudian mengundurkan diri dari sana.

"Si Nio,"

Tiba-tiba Hoa In-liong memanggil lagi. Sekujur badan Si Nio gemetar keras, tapi ia berhenti juga seraya berpaling. sambil tersenyum anak muda itu menambahkan.

"Daun teh kalian memang terlalu bagus dan enak diminum, tolong berilah yang agak kental sedikit"

Wajah Si Nio yang jelek dan tak sedap dilihat itu agak gemetar, tapi ia mengangguk juga dan buru-buru menuju ke dapur.

Kiranya Si Nio telah mencampurkan sejenis bahan obat dalam air teh yang disuguhkan kepada tamunya itu, obat tersebut sangat lihay, kendatipun seseorang memiliki ilmu silat yang sangat lihay, setelah minum air teh itu niscaya akan roboh tak sadarkan diri, siapa sangka, ketika air teh berobat itu masuk ke dalam perut Hoa In-liong, bukan saja sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa-apa, bahkan seakan-akan bagaikan tenggelam di dasar samudra yang dalam, bukan begitu saja malahan setelah habis secawan dia minta secawan lagi dan memuji daun tehnya yang wangi dan minta diberi lebih banyak.

tidaklah heran kalau perempuan jelek itu jadi tercengang, dia hampir saja tidak percaya dengan apa yang terpapar di depan mata.

Dara berbaju hitampun diam-diam murung bercampur gelisah pikirnya di dalam hati.

"Hoa Inliong terlalu licik dan banyak tipu daya, setelah obat pemabok gagal untuk merobohkan dia, tampaknya aku harus pertaruhkan nyawa untuk bertarung melawannya."

Sementara dia masih termenung, Si Nio sudah muncul kembali sambil membawa secawan teh panas dengan sorot mata memandang tanah, ia letakkan cawan itu dihadapan tamunya dan membungkam dalam seribu bahasa.

Tampaknya Hoa In-liong memang haus sekali sehingga sukar ditahan, cepat dia angkat cawannya dan menghirup satu tegukan, kemudian sambil tertawa baru berkata.

"Jika kudengar dari nada pembicaraan nona, agaknya perkumpulan Hian-bEng kau adalah suatu organisasi yang sangat rahasia sekali, banyak jumlah anggotanya dan keji dalam perbuatan serta tindak tanduknya, benarkah perkumpulan ini adalah suatu perkumpulan sesat?"

"Aku rasa begitulah keadaannya,"

Sahut dara itu ketus. Hoa In-liong tertawa, kembali ia berkata.

"Kalau memang begitu, bukanlah dunia persilatan yang sudah menjadi tenang selama dua puluh tahun, sekarang mulai bergerak lagi memasuki masa kekalutan?"

Seperti menyesali keadaan yang sedang dipikir, kembali pemuda itu angkat cawan dan menghirup air teh.

Betapa kesal dan mendongkolnya gadis berbaju hitam itu, apa lagi terhadap sikap sang tamu yang begitu santai seolah-olah acuh terhadap obat pemabuk yang dicampurkan dalam air teh itu.

Karena murung, tanpa terasa gadis itu mengangkat pula cawan air teh yang berada dihadapannya dan siap untuk diteguk, katanya dengan dingin.

"Siau-li tetap beranggapan bahwa dunia persilatan sedang mengalami suatu masa pancaroba, suatu masa perubahan dari keadaan yang tenang menjadi keadaan yang kacau, kematian dari Suma Tiang-cing tidak lebih hanya suatu tanda permulaan dari kekalutan itu, dan kematiannya boleh juga dikatakan sebagai korban demi kepentingan orang lain."

"Kenapa?"

Hoa In-liong pura-pura tercengang bercampur tidak mengerti.

Jilid 03 DARA baju hitam itu tertawa dingin.

"Heehhh....heeehhh....heeehhh... meskipun abahmu bernama besar, menjagoi seluruh kolong langit, memimpin umat persilatan dan ibaratnya sang surya ditengah awang-awang, akan tetapi pada hakekatnya banyak musuh dan jago persilatan yang memusuhinya, walaupun secara tersembunyi."

Tampaknya gadis itu tak ingin berbicara, tiba-tiba ia merandek dan menghentikan kata-katanya, cawan yang sudah diangkatpun lantas didekatkan kebibir siap-siap dihirup air tehnya.

Hoa In-liong sengaja mengajak dara itu berbicara macam-macam, tujuannya hanya satu yakni memancingnya hingga minum air teh dengan sendirinya, maka ketika dilihatnya begitu siap menghirup air teh itu, tak tahan lagi ia tertawa geli dan buru-buru berpaling ke arah lain.

"Hey, apa yang kau tertawakan?"

Tegur dara baju hitam itu dengan wajah tertegun. sambil mencibirkan bibir menahan rasa gelinya, Hoa In-liong menjawab.

"Air teh dalam cawan itu kurang bersih, lebih baik nona jangan meneguknya daripada sakit perut jadinya "

Ucapan tersebut penuh mengandung nada ejekan, tapi juga merupakan suatu peringatan, meski hanya sepatah kata namun pada hakekatnya mempunyai arti ganda.

Tentu saja dara baju hitam itu tahu kalau Si Nio telah mencampuri air teh di cawan tamunya dengan obat racun, tapi ia tak menyangka kalau Hoa In-liong juga bermain gila kepadanya, mendengar ucapan tersebut, dia lantas tertawa dingin, kembali cawan itu ditempelkan pada bibirnya siap diteguk, Hoa In-liong benar-benar tak dapat menahan rasa gelinya lagi, ia ingin tertawa sekeraskerasnya.

Bagaimanapun juga, pemuda itu adalah keturunan dari keluarga Hoa, sudah terbiasa baginya untuk menerima pelajaran-pelajaran yang baik serta kewajiban untuk berbuat mulia, dalam darah yang beredar dalam tubuhnya tetap mengalir kejujuran serta kegagahan orang-orang keluarga Hoa, meskipun wataknya agak binal, namun tabiatnya toh tetap jujur, mulia dan bijaksana.

Satu ingatan lantas melintas dalam benaknya, di detik yang terakhir, ia berpikir dihati.

"Bagaimanapun juga dia toh seorang anak perempuan, kalau ingin kuhajar dirinya kenapa tidak dihajar secara terang-terangan? Kalau ingin dibunuh kenapa tidak kubunuh dengan terus terang Apa toh gunanya mempermainkan seorang anak dara seperti dia?"

Ketika ingatan tersebut melintas dalam benaknya, pemuda itu tidak ragu-ragu lagi, dia lantas melakukan penyambaran kilat ke depan.

Dara baju hitam itu hanya merasa pandangan matanya menjadi kabur dan tahu-tahu cawan yang berada ditangannya sudah berpindah tangan, bukan saja cawan tersebut tidak rusak atau pecah.

isi cawan itupunsama sekali tidak tumpah barang sedikitpun jua.."

Hoa In-liong tertawa tawa, sambil meletakkan cawan itu ke atas meja, ujarnya dengan wajah bersungguh-sungguh.

"Nona, engkau bukan tandinganku, lebih baik urusan yang terjadi pada hari ini kita selesaikan secara baik-baik saja. Harap nona sebutkan siapa namamu, andaikata engkau benar-benar tidak tersangkut dengan peristiwa berdarah yang menimpa keluarga Suma, sekarang juga aku akan mohon diri dari sini, sebaliknya kalau engkau menolak maka terpaksa kita harus selesaikan persoalan ini di atas senjata, akupun tak akan berlaku sungkan-sungkan lagi kepadamu... mengenai cawan teh ini, lebih baik isinya jangan kau minum."

Ucapan tersebut kontan membuat nona baju hitam itu jadi tertegun, dia tahu air teh dalam cawan tersebut tentu ada hal-hal yang tak beres walaupun hampir saja dia akan dikecundangi, tapi gadis ini merasa kagum pula oleh kecerdikan dan kehebatan Hoa In-liong.

Berbicara dari kemampuan yang dimiliki pihak lawan, sudah pasti mereka berdua tak mungkin bisa melakukan sesuatu yang akan merugikan bagi lawannya.

Berpikir sampai disini, si dara baju hitam itu jadi pedih dan sedih tapi teringat kembali akan kejujuran dan kegagahan lawannya, diapun merasa kagum, lalu sesaat dia tak tahu apa yang musti dilakukan, sambil berdiri termangu-mangu ditatapnya pemuda itu tak berkedip.

Tiba-tiba Si Nio berseru dengan gusar.

"Huuh, menggunakan permainan busuk untuk mencari kemenangan, pendekar sejati macam apaan itu??"

Dengan langkah lebar dia menghampiri meja, mengambil cawan teh itu dan sekali hirup dia teguk habis isinya. Menyaksikan tingkah laku perempuan bercodet itu Hoa In-liong langsung saja tertawa dingin.

"Heeeehh heeeehh heeeeh kalau toh engkau hendak mencari penyakit bagi diri sendiri, jangan salahkan kalau aku bermain curang kepadamu."

Si Nio tertawa seram, suaranya lengking bagaikan lolongan serigala ditengah malam, buas sekali kedengarannya.

Sambil membanting cawan teh itu hingga hancur, dia pantang kesepuluh jari tangannya, bagaikan garuda kalap diterkamnya si anak muda itu dengan ganas.

Pada dasarnya perempuan itu memang berwajah seram, apalagi sekarang setelah menyeringai menyeramkan, tampangnya itu semakin menjijikkan dan bikin hati orang bergetar keras.

Segenap bawa murni yang dimilikinya telah dihimpun menjadi satu, semua tulang persendian dalam tubuhnya berbunyi gemerutukan nyaring, lengan yang semula putih mulus sekarang telah berubah jadi hitam pekat bagaikan arang, sepuluh jari tangannya yang panjang dan runcing tampak lebih panjang beberapa cun.

Waktu itu tampangnya seram dan sikapnya mengerikan, bila ada orang yang tak tahu duduknya perkara, niscaya akan beranggapan bahwa ia sedang berhadapan dengan kuntilanak kesiangan.

Hoa In-liong sendiripun agak marah oleh sikap kasar lawannya, dia melejit dan melayang dua depa dari tempat semula, kemudian dengan dingin ujarnya.

"Kalau kutinjau dari ilmu silatmu yang begitu keji dan tak kenal ampun, jelaslah sudah bahwa engkau bukan manusia baikbaik...Hmm Perempuan iblis seperti engkau, nomor satu paling tak boleh diampuni."

Dengan menghimpun tenaga, dia melepaskan sebuah serangan balasan dengan telapak tangan kanannya.

Terdengar desingan angin pukulan menderu-deru, hebat sekali serangan dari si anak muda ini.

Gadis baju hitam yang berada disisi kalangan tidak mengucapkan sepatah katapun, tiba-tiba ia cabut pedang pendeknya, kemudian secepat sambaran petir lepaskan sebuah tusukan ke muka.

Cepat sekali datangnya tusukan tersebut, bukan saja membawa desingan angin tajam, kecepatannya sukar dilukiskan dengan kata-kata, Hoa In-liong terdesak hebat, terpaksa dia melompat mundur tiga depa ke belakang.

Si Nio yang gagal dengan serangan pertamanya segera tertawa keras seperti iblis, suara itu serak tapi melengking sehingga lebih tak sedap didengar daripada lolongan srigala, berada dalam rumah gubuk yang dikelilingi semak belukar semacam itu, tertawa seramnya itu cukup menggetarkan hati siapapun, membuat orang jadi bergidik dan bulu kuduknya pada bangun berdiri.

Hoa In-liong mengerutkan kening, tangan kanannya meraba gagang pedang dan siap untuk mencabutnya, tapi ingatan lain melintas dalam benaknya, ia merasa sebagai seorang lelaki sejati tidaklah pantas melayani dua orang perempuan dengan memakai senjata.

Sementara pemuda itu masih sangsi, pedang pendek dari nona baju hitam itu sudah melepaskan tusukan demi tusukan, semuanya merupakan serangan-serangan yang mematikan.

Suatu ketika tiba-tiba Si Nio melengkungkan tubuhnya seperti gendewa, kemudian diiringi suara bentakan nyaring, dia melancarkan sebuah terkaman maut ke depan.

Hebat sekali kerja sama dari dua orang majikan dan pelayan ini, setiap jurus ancaman dilakukan dengan ketat dan rapat, terutama sekali Si Nio, dengan tak gentar barang sedikitpun dia menerkam, menerjang dan menghantam secara kalap.

Makin memuncak kemarahan yang berkobar dalam hati Hoa In-liong, ia maju ke depan secepat kilat, tangan kanannya mencengkeram pedang pendek sang dara, sementara telapak tangan kirinya menghantam jidat perempuan bercodet she Si.

Serangan tersebut dilancarkan secepat petir, sekalipun dilepaskan agak belakangan tapi tiba lebih duluan dari ancaman lawan, tampaknya sebentar lagi akan bersarang di jidat perempuan jelek itu.

Setajam sembilu pancaran mata dari Si Nio, ia melotot besar, matanya merah berapi-api, tampangnya kelihatan lebih mengerikan dari semula.

Kendatipun pukulan dari Hoa In-liong yang mengancam jidatnya sudah tiba di depan mata, ternyata perempuan itu tidak berusaha untuk mengigos atau menangkisnya, ia miringkan kepalanya untuk melindungi bagian yang mematikan kemudian sambil memutar pinggang ia malahan menubruk kemuka, sepasang tangannya dipentangkan lebar-lebar dan siap merangkul pinggang anak muda itu.

Kejut dan gusar Hoa In-liong menghadapi ancaman tersebut, untungnya dalam gugup ia tak bingung cepat badannya direndahkan kebawah, lalu melejit ke samping.

Dengan begitu maka Si Nio jadi menubruk tempat kosong, cepat perempuan itu mengerem gerak laju tubuhnya dan berputar kencang, seperti bayangan menempel badan ia kejar terus kemana pemuda itu pergi, sementara di pihak lain nona baju hitam itupun melepaskan sebuah bacokan kilat menyergap si anak muda itu.

Tiga jurus gebrakan ini berlangsung sepanas bara dan secepat kilat, meskipun sengit dan selalu salah bisa mengakibatkan jiwa, namun hanya sekejap mata telah lewat.

Tiba-tiba Si Nio menjerit lengking, sepasang tangannya mendekap lambung sendiri, walaupun langkahnya sudah gontai dan tak menentu, namun perempuan itu masih juga berusaha untuk menerkam Hoa In-liong.

Dengan gesit pemuda Hoa menyingkir ke samping, dengan kaki kirinya dia menendang Si Nio sampai terguling dan terguling di tanah, sementara jari tangan kanannya sekaku tombak menotok pergelangan tangan si dara baju hitam itu Tak berani gadis itu menyambut totokan maut tersebut, pedangnya diputar untuk melindungi badan, dengan mundur satu langkah terhindarlah nona itu dari totokan tersebut.

Dalam pada itu Si Nio masih merintih dan meraung kesakitan, sepasang tangannya mendekap perut sendiri, tubuhnya berguling guling kesana kemari menahan sakitnya yang tak terkirakan.

Sewaktu Si Nio mencampuri air minum Hoa In-liong dengan obat pemabuk.

Si anak muda itupun mencampuri cawan dara baju hitam dengan obat juga, tapi kenyataannya sekarang Hoa In-liong tetap segar tidak kekurangan sesuatu apapun.

Sebaliknya Si Nio mendekap perutnya yang kesakitan seperti disayat-sayat itu sambil mengerang penderitaan yang diterimanya saat ini boleh dibilang hebat sekali.

Hoa In-liong memang binal dan aneh wataknya tapi baru pertama kali ini dia menghukum orang dengan cara seperti ini, betapapun hatinya tidak tenteram setelah menyaksikan penderitaan Si Nio yang mengerang kesakitan itu, ia melayang ke depan dan melepaskan totokan, maksudnya hendak menotok dulu jalan darah Si Nio kemudian baru berbicara tentang soal lain.

Siapa tahu Si Nio telah berteriak dengan lantang.

"Nona adu jiwa dengan keparat ini, bunuh saja bangsat ini maka jiwa loya bisa kita selamatkan!"

Sambil menjerit-jerit seperti perempuan histeris Si Nio bergulingan di tanah dan menerkam lagi sepasang kaki Hoa In-liong.

Bergetar keras sekujur badan Hoa In-liong dengan penuh kemarahan dia berteriak.

"Mati hidup aku orang she Hoa, apa sangkut pautnya dengan keselamatan loyamu?"

Kembali dia lancarkan sebuah tendangan kilat yang membuat tubuh Si Nio terpental sejauh beberapa kaki, malahan berguling sampai menerjang dapur.

Dara baju hitam itu membentak nyaring ia maju sambil menyerang, pedangnya berputar kencang lalu melepaskan sebuah tusukan ke lambung lawan.

Kemarahan Hoa In-liong tak terkendalikan lagi dengan tangan kiri dia rampas pedang pendek itu, tangan kanan melancarkan totokan.

"Hayo cepat terangkan siapa namamu?"

Bentaknya.

"Engkau putri siapa? ada kesulitan apa dan mengapa hendak mencabut nyawaku orang she Hoa."

Sementara mulutnya masih menegur sepasang telapak tangannya diputar sedemikian rupa mendesak nona itu habis-habisan.

Saking paniknya air mata telah bercucuran membasahi pipi nona baju hitam itu meski demikian pedang pendeknya diputar kencang, tubuhnya selangkah demi selangkah mundur terus ke belakang namun ia menggertak gigi dan membungkam dalam seribu bahasa.

Mendadak...

asap tebal mengepul keluar dari ruangan rumah gubuk itu menyusul jilatan api yang sangat besar berkobar di seluruh penjuru ruangan.

Bila ditinjau dari ilmu silat yang dimiliki Hoa In-liong, maka untuk membereskan si nona berbaju hitam itu bukanlah suatu pekerjaan yang sulit, tapi dasar dia memang romantis dan suka menggoda kaum wanita, maka setiap mendapat kesempatan untuk bertempur melawan nona cantik yang masih muda belia, serta-merta ia melayani pertarungan itu dengan serangan yang terlemah.

Tujuannya tak lain ialah hanya merampas senjata nona itu dan menggodanya habishabisan, tentu saja dalam keadaan serba panik dan gelisah ini bukan perbuatan gampang baginya.

Dalam sekejap mata, kobaran api telah menelan setiap benda yang berada dalam ruangan gubug Tiba-tiba Si Nio dengan rambut yang riap-riapan menjerit lengking seperti lolongan serigala sepasang tangannya sambil mengangkat tinggi-tinggi dua buah obor api menerjang keluar dari dapur gerak-gerik seperti orang gila.

Kejut dan cemas Hao In-liong menghadapi kejadian seperti ini, sekarang dia tak bisa bermainmain lagi sebab keadaan makin serius secara beruntun jari tangannya melepaskan beberapa totokan kilat yang menghajar jalan darah Ciang-keng-hiat di bahu nona baju hitam itu, sementara tangan kirinya membalik ke atas merampas pedang pendeknya.

Si Nio meraung keras, obornya dikebut ke muka dengan ganas, lalu menyapu wajah si anak muda itu.

Hoa In-liong tak mau kalah, dengan pedang pendek hasil rampasannya ia balas membacok tubuh lawan.

Dalam pada itu nona baju hitam itu sudah tertotok jalan darahnya oleh serangan jari Hoa Inliong, sepasang lengannya jadi lumpuh dan terkulai lemah ke bawah, meski begitu sepasang kakinya masih bisa bergerak dengan leluasa, mendadak ia menerkam ke muka dan menyongsong tibanya bacokan pedang pendek itu dengan badannya.

Hoa In-liong sangat terkejut, ia tak menyangka kalau nona itu akan mengambil keputusan nekat dengan mengakhiri hidupnya di ujung pedang.

Padahal waktu itu asap tebal telah menyelimuti seluruh rumah gubuk itu, kobaran api menjilat semua benda yang ditemukan, sedangkan Si Nio seperti orang kalap menerjang datang tiada hentinya.

Keadaan begini di samping Hoa In-liong harus menjaga kaburnya si nona baju hitam, diapun harus pula melayani serangan-serangan gencar dari nenek bermuka jelek.

maka tindak nekat dari nona tersebut amat mencekatkan hatinya.

Dalam gugup dan gelagapannya, ia memutar pinggangnya ke samping, setelah lolos dari sambaran obor yang dilancarkan Si Nio, pedang pendek itu segera disingkirkan pula ke samping.

Kendatipun cukup cepat gerakan Hoa In-liong untuk menyingkirkan pedang pendeknya, namun gerakan si nona baju hitam untuk menyongsong datangnya tusukan pedangpun tak kalah cepatnya.

Maka sekalipun tempat yang mematikan berhasil dihindari, tak urung bahu sang nona tersambar juga oleh pedang tajam itu hingga darah bercucuran dengan sangat derasnya, parah juga luka yang dideritanya itu..

Kebakaran yang berkobar dalam rumah gubuk itu sudah menyelimuti hampir di tiap bangunan di situ, dalam sekejap mata jilatan api sudah membumbung tinggi ke angkasa, suhu udara jadi panas sekali hingga serasa menyengat badan.

Menghadapi kejadian seperti ini, Hoa In-liong dibikin kehabisan akal pula, ia lantas berpikir.

"Waaah... kalau aku harus menghadapi dua orang yang begini nekad, bisa-bisa jiwaku ikut kabur ke akhirat, baiknya kugunakan sedikit akal saja untuk meringkus mereka."

Namun secara lapat-lapat iapun mulai merasa bahwa dua orang itu bukanlah anak buah dari perkumpulan Hian-beng-kau, dari gerak-gerik mereka tampaknya kedua orang itu justru berasal dari suatu keluarga yang ketimpa kemalangan dan kehidupan mereka sangat menderita.

Karenanya ketika ia lihat api sudah berkobar di empat penjuru, dengan suatu gerakan cepat di sambarnya si nona baju hitam itu lalu kabur keluar ruangan.

Si Nio tertawa seram, sudah tentu ia tak sudi membiarkan musuhnya kabur dari sana, obornya diputar semakin kencang dan semua jalan pergi pemuda itu dihadangnya dengan serangan mematikan.

Menghadapi kejadian seperti ini, Hoa In-liong marah sekali, akhirnya ia membentak.

"orang sinting, rupanya kau sudah bosan hidup,"

Pedang pendeknya digetarkan ke muka, lalu menusuk ke dada lawan dengan jurus Leng-coa tosim (ular ganas menjulurkan lidahnya).

Waktu itu rasa sakit yang melilit perut Si Nio sudah mencapai pada puncaknya, perempuan itu tak sampai roboh karena dia andalkan kekuatan dengan kalapnya untuk mengamuk.

dalam keadaan begitu darimana ia sanggup menahan tusukan pedang yang dilancarkan dengan gerakan cepat dan aneh itu?

Tapi....

sebelum tusukan itu dilanjutkan, mendadak sinar mata Hoa In-liong terbentur dengan wajahnya yang bercodet dan penuh dengan luka itu, di bawah sinar obor tampaklah wajahnya yang penuh "bunga"

Itu basah oleh keringat, kulit mukanya berkerut kencang dan gemetar tiada hentinya, kulit wajah yang pucat pias ditambah bekas luka yang berwarna merah darah memberikan warna yang sangat kontras, ditambah pula sinar api yang sudah jelek tampak lebih mengerikan lagi.

"Sungguh keji orang yang merusak wajah perempuan ini,"

Pemuda tersebut lantas berpikir.

"hatinya pasti busuk sekali, kalau tidak tak akan tega ia lukai seorang perempuan hingga tampangnya menjadi seseram ini..."

Ketika ingatan tersebut melintas dalam benaknya, dan terbayang pula keganasan serta kekejian orang yang melukai Si Nio sampai mukanya bercodet pedang yang sudah menempel di atas dada lawan tak tega dilanjutkan lebih jauh, maka dia tarik kembali senjata tersebut, kemudian tangan kirinya dikebutkan kemuka dan mendorong nona baju hitam itu ke muka.

Si Nio miringkan tubuhnya ke samping memberi jalan lewat bagi nona baju hitam itu, kemudian teriaknya keras.

"Nona, kau mundurlah lebih dulu."

Tampaknya perempuan bercodet ini sudah bertekat untuk membakar mati Hoa In-liong dalam rumah gubuk itu, obor di kedua belah tangannya diputar dan diayun ke muka tiada hentinya, semua jalan pergi si anak muda itu dihadang olehnya.

Lolos dari cengkeraman lawan, nona baju hitam itu kabur menuju ke depan pintu yang tertutup itu keras-keras.

"Blaaang ..."

Pintu besar itu ditendang sampai roboh, dengan langkah lebar nona baju hitam itu sebera kabur keluar dari rumah gubuk itu.

Kebetulan Hoa In-liong berdiri menghadap ke pintu luar, tiba-tiba ia temukan bahwa pintu luarpun sudah menjadi lautan api, bahkan kobaran api yang menjilat-jilat diluar sana jauh lebih besar daripada jilatan api dalam rumah gubuk itu.

Kobaran api sudah membakar semua benda begitu besarnya kebakaran yang melanda tempat, itu membuat udara terasa panas sekali, namun Si Nio seperti tidak merasakan apa-apa, ia tertawa seram.

obornya dimainkan sedemikian rupa sehingga semua jalan keluar bagi Hoa In-liong untuk lolos dari ruangan itu tertutup.

Sekarang Hoa In-liong sudah merasa terkejut bercampur gusar, ia tidak ragu-raga lagi, pedang pendeknya dibabat kemuka menghajar obor ditangan Si Nio, sementara tubuhnya mendadak berkelebat melejit diudara kemudian meluncur keluar dari ruangan itu.

Karena cepat dan tepat serangan tersebut, dan lagi gerak tubuh si anak muda itu sangat aneh, kali ini Si Nio tak berhasil membendung jalan perginya lagi, dengan gampang Hoa In-liong berhasil kabur keluar diri ancaman bahaya.

Luar rumah gubuk itu merupakan sebuah tanah bersemak yang masih liar dan tak terawat, waktu itu sentua ladang ilalang tersebut sudah berubah menjadi lautan api, boleh dibilang semua jalan menjadi buntu.

Kaget sekali Hoa In-liong menghadapi kejadian ini sementara ia sedang berusaha keras untuk mencari jalan keluar dari tempat jebakan itu, tiba-tiba...

"Sreet"

Sebatang anak panah meluncur datang dari arah depan dengan tenaga yang sangat besar.

Hoa In-liong segera putar pedang pendeknya untuk menghajar rontok anak panah yang menyambar tiba itu Baru saja panah itu berhasil dihajar rontok mendadak desingan angin tajam menyambar lagi dari belakang, serta-merta Hoa In-liong memutar badannya ke belakang, ia lihat Si Nio dengan kesepuluh jari tangan yang dipentangkan lebar-lebar sedang menyerang punggungnya .

Hoa In-liong benar-benar naik darah, tangannya segera menyapu ke belakang mengikuti gerak perputaran itu, dia cengkeram tengkuk Si Nio dengan suatu puntiran keras.

Pada saat itulah, kembali sebatang anak panah menyambar datang dengan kekuatan besar, Hoa In-liong yang sudah mendongkol cepat mengangkat tubuh Si Nio yang tercengkeram itu dan diayun kemuka untuk menangkis datangnya ancaman itu...

"Criiit!"

Tak ampun lagi panah tersebut menembusi tumit Si Nio hingga tembus, karena kesakitan perempuan bercodek itu, segera menjerit lengking dengan suaranya yang mengerikan.

"Sreeet..... sresst."

Hujan panah berhamburan dari arah depan, berpuluh-puluh batang anak panah menyambar lewat silih berganti membuat seluruh angkasa penuh dengan hujan panah itu.

Dengan dahi berkerut Hoa In-liong yang terkapar di tanah dan menghindarkan diri dari ancaman hujan panah itu.

Ia mencoba untuk berputar ke bangunan sebelah belakang, dari situ ia saksikan ada tiga puluh orang lebih laki-laki kekar yang bersembunyi di dalam semak belukar dan melepaskan anak panah ke arah bangunan rumah itu, sementara bayangan tubuh dari nona baju hitam itu sudah lenyap tak berbekas.

Saat itu, Hoa In-liong tidak panik lagi, dia malahan merasa hatinya jauh lebih tenang, Kiranya kobaran api yang berada di empat penjuru meski tampaknya sangat hebat tapi rumput ilalang adalah jenis tetumbuhan yang tidak tahan terbakar, dalam waktu singkat tumbuhan tersebut sudah terbakar punah, sementara si anak muda itu dapat menggunakan tanah lapang diluar rumah gubuk itu untuk menghindari serangan hujan panah?

sekalipun tak sampai membahayakan jiwanya, tapi ditengah kepungan api yang membara terasa juga hawa panas yang menyengat badan hingga membuat keringat bercucuran dan membasahi seluruh tubuhnya.

"Bruuukk....!"

Tiba-tiba terdengar suara benturan keras, kiranya rumah gubuk itu roboh ke tanah.

Dengan pedang ditangan kanannya untuk memukul rontok hujan panah itu, tangan kiri mencengkeram tubuh Si Nio, Hoa In-liong bergerak kesana kemari menghindarkan diri dari ancaman anak panah.

Untunglah tak lama kemudian dari kejauhan terdengar suara suitan nyaring, menyusul kemudian hujan panah itupun berhenti.

Sementara itu kobaran api yang membakar rumput ilalang belum padam, padahal Hoa In-liong tahu bahwa musuh sedang mengundurkan diri, ia mau mengedar orang-orang itu, apa mau dikata kobaran api telah menghalangi jalan perginya.

Terpaksa ia harus bersabar hati menunggu sampai kobaran api itu mengecil, kemudian baru melakukan pengejaran sambil menenteng tubuh Si Nio.

suitan nyaring tadi berasal dari sebuah tanah perbukitan, maka sambil membawa Si Nio, si anak muda itu, menerjang kesana dengan langkah lebar.

Dibawah sinar fajar yang remang-remang suasana di sekitar tanah perbukitan itu masih diselimuti kabut yang tebal, setibanya di atas tanah bukit Hoa In-liong coba memeriksa di sekitarnya dengan tatapan matanya.

Tiba-tiba ia menemukan sesuatu.....

nun jauh di ujung bukit situ, berdirilah seekor kuda berwarna merah darah di atas pelana kuda itu duduk seorang manusia berbaju merah darah.

Kuda itu tinggi besar dan merupakan seekor kuda jempolan, sedang manusia berbaju merah itu adalah seorang nona cantik rupawan yang berperawakan tinggi semampai dan menarik hati.

Waktu itu fajar baru menyingsing dari ufuk sebelah timur, bola merah yang mengabarkan sinar keemasan mulai memancar keempat penjuru, dalam waktu singkat telah menyelimuti seluruh angkasa menyorot dara itu.

Warna merah darah yang ketimpa sinar matahari itu membalaskan suatu sinar yang indah, membuat suasana disana terasa lebih hangat dan nyaman....

Suara derap kuda memecahkan kesunyian yang mencekam pagi hari itu, perlahan-lahan kuda merah itu maju menghampiri mereka, tanpa terasa Hoa In-liong sambil menenteng tubuh Si Nio ikut maju pula menyambut kedatangan si nona.

Akhirnya kedua belah pihak telah saling berhadapan, merekapun sama-sama berhenti, ketika empat mata bertemu menjadi satu, dua orang itu sama-sama tersenyum manis, cerah sekali wajah mereka.

Setelah hening sejenak, Hoa In-liong lantas menjura dan sapanya sambil tertawa.

"Selamat pagi nona manis"

"Selamat pagi,"

Sahut nona baju merah itu sambil tersenyum manis.

"Boleh aku tahu siapa namamu??"

Nona baju merah itu mencibirkan bibirnya, kemudian dengan tangan yang putih halus mencabut keluar sebilah senjata kaitan yang berwarna hijau muda.

Hoa In-liong cukup mengenal kelihayan dari senjata aneh itu, tapi sebagai pemuda yang belum lama terjun dalam dunia persilatan dia tidak mengenal siapa gerangan nona itu.

Ketika dilihatnya anak muda itu masih melongo, maka nona baju merah itupun memperkenalkan diri.

"Aku bernama Wan Hong-giok. siapa namamu..."

Dasar binal Hoa In-liong lantas berpikir dalam hatinya.

"Kau bernama Hong-giok. maka biar aku mengaku bernama Pek Khi saja."

Maka sambil tertawa sahutnya.

"Aku bernama Pek Khi."

Air muka Wan Hong-giok tampak agak bergerak.

biji matanya yang jeli kembali dialihkan ke wajah Hoa In-liong dan menatapnya lekat-lekat.

Hoa In-liong berparas tampan, diapun seorang pemuda yang romantis, sebaliknya Wan Honggiok cantik jelita dan agak genit, tak heran kalau setelah berjumpa muka, mereka lirik-lirikan pandang memandang sambil tersenyum penuh arti.

Si Nio yang berada dalam cengkeraman Hoa In-liong tak tertotok.

meski sakit perutnya sudah mereda, namun mendatangkan rasa sakit yang bukan kepalang, kendatipun itu tapi ia tahu kalau muda-mudi itu sedang bermain mata kontan saja mengobarkan hawa amarahnya, tiba-tiba ia kerasnya.

bisa berkutik karena jalan darahnya panah yang menembusi tumitnya ia tak dapat melihat diri kedua orang sambil tersenyum penuh arti.

Hal ini buka suara dan berteriak sekerasTeriaknya itu ibaratnya auman singa dari kalangan Buddha, bukan saja suaranya seperti guntur yang membelah bumi di siang hari bolong, bahkan memekikkan telinga, membuat kuda merah yang ditumpangi nona itu meringkik sambil mengangkat tinggi kaki depannya.

Tindakan kuda merah itu sangat tiba-tiba dan diluar dugaan, hampir saja membuat Wan Honggiok terlempar dari atas pelana.

Hoa In-liong pun terperanjat ia lantas melemparkan tubuh Si Nio ke atas tanah.

Menggunakan kesempatan itu Si Nio menggelinding ke samping lalu duduk, teriaknya setengah menjerit.

"Pedang pendek itu milik nona kami, hayo cepat kembalikan kepadaku!"

Hoa In-liong tersenyum katanya.

"Sungguh tak kunyana, engkau masih mempunyai semangat seorang ksatria sejati....Hmm siapa yang kemaruk pada pedangmu itu? Nih, ambillah kembali."

Sambil berkata pedang pendek yang berada di tangan kanannya itu segera dilemparkan ke muka.

Si Nio cepat menyambutnya, lalu menggunakan senjata itu untuk merobek daging kaki yang terluka dan sambil mencengkeram gagang panah itu ia cabut keluar panah tersebut, kemudian tanpa dibalut lagi, ia segera melompat bangun dari atas tanah.

Berkernyit sepasang alis mata Wan Hong-giok memandang wajah Si Nio yang penuh dengan codet bekas luka itu, cepat-cepat ia melengos ke-arah lain dan tak berang memandang lebih lama.

Tindakan tersebut dipandang sebagai suatu penghinaan bagi Si Nio, dengan gusar ia lantas membentak-bentak.

"Perempuan rendah, kau memang anjing betina tak tahu malu.."

Sambil mencaci maki, panah yang baru dicabut keluar dari tumitnya itu segera diayun ke muka mengancam wajah Wan Hong-giok.

Tak terkirakan gusarnya si nona baju merah itu menghadapi serangan lawan yang begini kasar, kaitan kemalanya lantas dikebas ke muka merontokkan anak panah itu, menyusul kemudian dia cambuk kudanya siap menerjang ke depan, tapi ingatan lain segera melintas dalam benaknya dan maksud itupun lantas diurungkan, hanya tegurnya dengan ketus.

"Apa hubunganmu dengan nona berbaju hitam tadi?"

Sebelum perempuan bercodet itu menjawab Hoa In-liong telah menyahut lebih dahulu.

"Ooooh nona itu adalah majikannya Si Nio..."

Ditatapnya perempuan bercodet itu dengan tatapan sinis dan penuh penghinaan kemudian berkata lagi.

"Kalau kubunuh manusia macam dirimu maka perbuatanku ini tak lebih hanya akan menodai senjata nonamu saja."

Kemudian sambil menuding ke arah semak belukar di seberang sana dengan senjata kaitannya, ia melanjutkan.

"Majikanmu bersembunyi di belakang semak belukar sana, undanglah dia agar menjumpai aku."

Si Nio alihkan sinar matanya dan memandang semak belukar yang ditunjukkan itu, kemudian memandang pula wajah Hoa In-liong tanpa berkata-kata, sedangkan wajahnya yang jelek dan penuh bercodet itu terlintas perasaan murung dan kesal yang sangat tebal.

Dari sikap murung itu, Hoa In-liong lantas dapat menebak isi hati orang, diapun tertawa tawa seraya berkata.

"Aku tahu, engkau sangat menguatirkan keselamatan majikanmu. Nah Pergilah kesana, hutang piutang di antara kita berdua boleh diperhitungkan lagi di lain waktu."

Sambil berkata dia ulapkan tangannya berulang kali. Si Nio agak termangu, tapi sejenak kemudian ia lantas mendengus dingin.

"Hmm sekalipun engkau lepaskan aku pergi, tapi terus terang kukatakan dulu kepadamu jika kita bertemu lagi dilain waktu, aku masih tetap mengincar selembar jiwamu itu,"

Katanya. Hoa In-liong tertawa-tawa, sahutnya.

"Boleh-boleh saja, tapi kaupun harus berhati-hati, kalau sampai terjatuh ke tanganku lagi dilain saat, akupun tak akan mengampuni nyawamu."

Si Nio mendengus dingin, ia melirik sekejap ke arah Wan Hong-giok kemudian meludah ke tanah dengan sikap menghina, setelah itu barulah ia menuju ke arah semak belukar yang dimaksud dengan menenteng pedang pendeknya itu.

Gusar sekali Wan Hong-giok menghadapi kejadian tersebut, hawa nafsu membunuhnya seketika menyelimuti seluruh wajah, tiba-tiba tangan kirinya diayun ke depan, sebercak sinar hitam secepat sambaran kilat segera meluncur ke depan dan menyergap punggung Si Nio.

Sambaran cahaya hitam itu meluncur ke muka dengan kecepatan yang luar biasa dan sama sekali tidak menimbulkan sedikit suarapun Si Nio tak menduga kalau ia bakal diserang, tampaknya sesaat kemudian punggungnya akan terhajar oleh senjata rahasia itu.

Hoa In-liong tak tega melihat perempuan bercodet itu terjungkal secara penasaran pada detik terakhir mendadak ia memperingatkan.

"Awas Hati-hati ada senjata rahasia."

Si Nio memang cukup cekatan, begitu menangkap kata "Senjata rahasia."

Serta-merta dia menjatuhkan diri ke samping dan berguling ke tanah, kendatipun begitu sebatang jarum emas yang berwarna biru karena mengandung racun sempat juga menembusi sanggulnya.

Melihat serangannya gagal gara-gara dikacaukan, Hoa In-liong agak mendongkol, juga nona baju merah itu, dia lantas berpaling dan omelnya dengan mata mendelik.

"Huuuh Kau ini munafik, bukan sobat juga bukan lawan, kalau macam begitu watakmu, apa gunanya melakukan perjalanan dalam dunia persilatan?"

"Haaahhh... haaahhh... haaahh..."

Hoa In-liong terbahak-bahak.

"menyergap orang dengan senjata rahasia, bukanlah suatu perbuatan yang patut dibanggakan, apalagi sebagai seorang pendekar sejati...harap nona jangan salah sangka, aku bertindak begini toh demi nama baik dan kedudukanmu di dunia persilatan, masa maksud baikku kau artikan lain?"

"Hmm Memangnya aku tak dapat menebak maksud busukmu?"

Ejek Wan Hong-giok.

"tentu saja kau selamatkan jiwanya, karena kau telah tertarik oleh majikannya, bukankah begitu?"

"Ehmm, memang diakui majikan Si Nio adalah seorang nona yang suci bersih, menarik, agung dan bikin orang jadi terpesona."

Waktu itu Si Nio sudah berada dua-tiga kaki jauhnya dari tempat semula, tiba-tiba ia berjalan balik, sambil memungut kembali anak panah yang tergeletak di tanah, ujarnya kepada Hoa Inliong.

"Mengingat kau adalah seorang ksatria sejati, aku ingin mengucapkan beberapa patah kata kepadamu, mau mendengar atau tidak terserah padamu sendiri.."

"Traaak!"

Anak panah yang berada dalam genggamannya itu mendadak ditekuk hingga patah jadi dua. Hoa In-liong segera merangkap tangannya dan memberi hormat, ujarnya dengan wajah serius.

"Dengan senang hati akan kudengar nasehatmu itu."

Sambil menghentakkan anak panah yang dipatahkan itu ke atas tanah, ujarnya dengan dingin.

"Anggota perkumpulan Hian-beng-kau sudah tersebar luas dimana-mana, kekuatan mereka besar sekali dan jauh lebih hebat daripada apa yang kau bayangkan, bila kau tahu gelagat maka lebih baik cepat-cepatlah pulang ke rumah, nasehati orangtuamu agar segera mengasingkan diri dan hindarilah bencana besar tersebut"

Hoa In-liong mengangguk beberapa kali tanda mengerti, setelah itu ia bertanya lagi.

"Apakah engkau dan majikanmu juga terhitung anak buah dari perkumpulan Hian-beng-kau?"

"Jago-jago silat yang dijaring perkumpulan Hian beng-kau kebanyakan adalah jago-jago kelas satu dalam dunia persilatan sedang kami berdua hanya berkepandaian cetek. sekalipun ingin menjadi anggota Hian-beng-kau, belum tentu mereka bersedia menerimanya."

"Kalau toh kalian berdua bukan anggota dari perkumpulan Hiang-beng-kau lantas perselisihan serta dendam sakit hati apakah yang terdapat diantara kita berdua, sehingga begitu bernafsu ingin mencabut selembar nyawaku?"

"Tentang soal ini, maafkanlah daku sebab tak bisa kujelaskan bagaimanapun juga toh kungfumu jauh lebih hebat daripada kami berdua, rasanya asal kau bisa bertindak lebih hati-hati dan waspada selalu, niscaya jiwamu dapat selamat."

"Andaikata aku kurang hati-hati?"

Tanya Hoa In-liong lagi.

"Maka anggaplah bahwa nasibmu memang jelek. dan kau memang sudah ditakdirkan untuk mampus ditangan kami."

Mendengar jawaban itu Hoa In-liong tertawa serak. katanya lagi.

"Baiklah, bagaimanapun juga aku harus mengucapkan banyak terima kasih atas petunjukmu ini, jikalau aku memang tak sampai mampus, tentu akan kuingat selalu budi kebaikan ini."

Si Nio mendengus dingin, tiba-tiba ia menuding ke arah Wan Hong-giok dan berkata lagi.

"Perempuan itu berjulukan Giok-kou-Niocu (perempuan cantik kaitan kemala ), dia adalah seorang perempuan jalang yang sangat tersohor dalam dunia persilatan... sekalipun aku ingin membinasakan dirimu, tapi aku tak menyaksikan kau hancur ditangan perempuan rendah itu, bila percaya pada perkataanku maka janganlah berhubungan dengannya lebih baik lagi kalau sekali tusuk kau bereskan nyawanya."

Baru saja perempuan bercodet ini menyelesaikan kata-katanya, mendadak tampaklah sesosok bayangan hitam berkelebat lewat menyusul kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun Wan Hong-giok menerjang tiba, kaitan kemalanya yang berwarna hijau dengan membiarkan serentetan cahaya yang menyilaukan mata langsung mengurung sekujur badan musuhnya.

Menghadapi datangnya serangan yang amat gencar itu, Si Nio tertawa seram bentaknya.

"Perempuan anjing yang tak tahu malu, sekalipun ilmu silat lo-nio cuma biasa-biasa saja, tapi untuk menghadapi manusia macam dirimu, masih belum terpandang sebelah matapun bagiku!"

Seraya membentak, pedang pendeknya diayun ke depan dan menyongsong tibanya serangan kaitan kemala itu dengan jurus Ki-hweliau-thian (mengangkat obor membakar langit).

"Traaang... Traaaag "

Bentrokan demi bentrokan berkumandang tiada hentinya, diantara deringan nyaring danpercikan bunga api, kedua belah pihak sama-sama telah melancarkan tiga buah serangan berantai.

Setelah lewat tiga gebrakan kedua belah pihak mulai sadar bahwa mereka telah bertemu dengan musuh tangguh, maka merekapun lantas mengerahkan semua ilmu simpanan yang dimilikinya untuk saling merebut posisinya yang lebih menguntungkan.

Selama dua orang perempuan itu bertarung sendiri, Hoa In-liong hanya bergendong tangan sambil menonton dengan senyuman dikulum, ia tidak mencegah, pun tidak ikut campur.

Tiba-tiba terdengar Si Nio membentak keras, pedang pendeknya dibabat kemuka untuk mengunci serangan kaitan kemala musuh.

menyusul kemudian ia maju sambil melepaskan cengkeraman maut dengan tangan kirinya.

Desingan jari tangan memekikkan telinga, hebat dan ganas serangan mendadak itu.

Wan Hong-giok tidak menyangka kalau pihak musuh telah melancarkan serangan dengan jurus sehebat itu, ketika dilihatnya cakar setan yang hitam pekat, panjang dan runcing itu tahu-tahu sudah mengancam di atas pinggangnya, ia jadi terkejut, untuk sementara waktu posisinya jadi terdesak.

ketenangan hatinya jadi buyar dan ia kelab akan setengah mati.

Menyaksikan kejadian tersebut, Hoa In-liong segera berseru dengan suara lantang.

"Hembusan angin menggoyangkan pohon liu, bulan purnama ada di angkasa.."

Begitu mendengar kata "hembusan angin" , serentak Wan Hong-giok menggoyangkan pinggangnya, senjata kaitan kemala yang mengayun ke atas persis bergerak dengan gaya "Bulan purnama ada di angkasa" , dengan begitu serangan maut yang dilancarkan Si Nio itupun dapat dihindari dengan sangat gampang.

Sudah tentu Si Nio jadi marah sekali karena serangannya gagal, ia membentak keras.

"Bajingan cilik, kau punya rasa malu tidak?"

"HHaaah....haaahh....haaahhh..,.sayangkan rasanya kalau nona secantik ini harus mati dalam usia, muda?"

Sahut Hoa In-liong sambil tertawa terbahak-bahak. Mendengar jawaban itu, Si Nio mulai mempertimbangkan keadaan dihadapannya, ia berpikir.

"Jika bocah ini membantunya, sudah pasti aku tak akan berhasil untuk singkirkan budak anjing itu dari muka bumi...."

Terbayang akan kelihayan musuhnya, semangat tempur perempuan bercodet ini jadi kendor, dia pun lantas bermaksud untuk mengundurkan diri.

Berbeda dengan Wan Hong-giok, ia tampak merasa sangat bangga, senjata kaitan kemalanya diayun berulang kali melancarkan serangkaian serangan berantai, ini memaksa Si Nio harus mundur berulang kali ke belakang..

Dalam waktu singkat Wan Hong-giok sudah berada di atas angin, dengan jurus Gwat-im-si-shia (bayangan bulan bergeser kebarat), cu-lian-to-cian (Menggulung naik kerai mutiara) dan IHoaim-hud kiam (bayangan bunga menyapu pedang) senjata kaitan kemalanya seperti gulungan ombak disungai Tiang kang menggulung dan melanda keluar tiada hentinya.

Serangan-serangan gencar itu kontan saja mengurung Si Nio dalam kepungan, saat itu dia hanya mampu bertahan tanpa berkekuatan untuk melancarkan balasan, lama-kelamaan perempuan bercodet itu jadi naik darah, ia meraung, berteriak dan marah-marah besar.

Mendadak Wan Hong-giok membentak nyaring ia mengayunkan tangan kirinya ke depan, sebatang jarum emas beracun secepat kilat menyambar ke muka dan mengancam tubuh perempuan bercodet itu.

Si Nio berpekik nyaring, dia sampok rontok.

jarum emas itu dengan pedang pendeknya menyusul gerakan itu membabat ke depan membacok pergelangan tangan kiri sang nona.

"Traaang...."

Wan Hong-giok segera menangkis bacokan pedang itu dengan kaitan kemalanya, kemudian tangan kirinya kembali diayun ke depan.

Si Nio kuatir disergap dengan jarum beracun lagi, buru-buru dia bersih ke samping untuk menghindarkan diri, siapa tahu kali ini Wan Hong-giok cuma menipu belaka, tiada jarum beracun yang disambit keluar dengan gerakan itu.

Diam-diam Si Nio jadi mendendam karena tertipu, baru saja dia akan menyerang lagi dengan pedangnya, tiba-tiba kilatan cahaya emas menyambar datang dari depan.

Sekarang tak sempat lagi bagi Si Nio untuk menangkis serangan kilat itu, apa boleh buat terpaksa ia harus menjatuhkan diri ke atas tanah dan bergelinding ke samping.

Wan Hong-giok tertawa terkekeh, senjata kaitan kemalanya tiba-tiba disapu ke udara dan menciptakan lapisan cahaya hijau yang tebal untuk mengurung sekujur badan lawan.

Paras muka Hoa In-liong berubah hebat, ia tak sangka kalau Wan Hong-giok memiliki andalan lainnya kecuali ilmu kaitan Ciang cang-kau hoat-yang lihay itu.

Ketika dilihatnya posisi Si Nio sangat berbahaya dan jiwanya terancam, dengan cemas dia lantas berkata.

"Mengikat kaki sukma gentayangan, lima setan."

Dengan luka panah di atas tumitnya, gerak-gerik Si Nio ketika itu kurang leluasa ketika menyaksikan bayangan kaitan menyelimuti angkasa dan ia tak mampu untuk menangkis lagi, perempuan bercodet itu lantas mengira bahwa jiwanya bakal melayang.

Maka sungguh girang hatinya ketika secara tiba-tiba ia mendengar seruan.

"Mengikat kaki sukma gentayangan"

Itu, serta-merta pedang pendeknya dibabat ke muka membacok sepasang kaki Wan Hong-giok sementara tangan kirinya seperti cakar setan mencengkeram pinggang nona itu.

Bacokan maupun cengkeraman itu semuanya cuma menggunakan jurus serangan yang amat sederhana, tapi lihay setelah digunakan berbareng bukan saja dapat selamatkan diri dari bahaya maut, dapat pula menyerang musuhnya, boleh dibilang serangan itu tepat dan manis sekali untuk mematahkan ancaman dari sang nona baju merah.

Wan Hong-giok naik darah, ia merasa yaa mendongkol yaa gemas, segera teriaknya keras.

"Kunyuk sialan sebenarnya siapa yang kau bantu??"

"Haaah haaah haaah maaf nona, aku tidak bernama kunyuk sialan, namaku adalah Pek-khi "

Cepat Hoa In-liong membenarkan sambil tertawa. Wan Hoig-giok semakin marah, teriaknya lagi.

"Dari pada kau bantu perempuan jelek itu, mengapa tidak terjun sendiri kedalam gelanggang?"

"Nona manis, aku tak berpihak kepada siapa-siapa, tidak membantu satu pihak. aku hanya bertindak untuk keadilan belaka,"

Kata Hoa In-liong seraya tertawa.

"Traang... Traaang..."

Bentrokan-bentrokan nyaring kembali berkumandang memenuhi angkasa, dalam bentrokan antara pedang dan senjata kaitan kali ini, tubuh kedua orang itu sama-sama tergetar keras lalu mundur selangkah ke belakang, dengan begitu pertarunganpun segera terhenti.

Wan Hong-giok lantas berpaling dan memandang sekejap si anak muda itu, kemudian dia mengomel.

"Hey orang she-Pek. apakah engkau tidak merasa sedikit kebingungan dengan kejadian ini??"

Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak. la tidak menjawab malahan pikirnya dalam hati.

"Ehmm memang kuakui Wan Hong-giok berparas cantik jelita, berperawakan padat dan langsing, dia tak malu disebut perempuan cantik dengan daya tarik yang besar, tak aneh kalau orang memberi julukan Giok-kou Niocu kepadanya...."

Berpikir sampai disini, tanpa terasa lagi dia mengerling penuh arti ke arah nona itu dan mengamati potongan tubuhnya yang padat, ramping dan mempesonakan hati itu tanpa berkedip.

Kebetulan segulung hembusan angin harum berhembus lewat dan tercium oleh pemuda itu.

seperti orang yang mabok.

Hoa In-liong kontan memuji.

"Ehmmn....harum menyegarkan......"

Kembali ia mencium udara di sekitar tempat itu beberapa kali, kemudian gumamnya.

"Baju dalam, baju luar... pupur... gincu bunga... eehmm inilah bau bunga."

Sedikitpun tak salah, dibalik baju dalam Wan Hong-giok memang terdapat sekuntum bunga, maka ketika nona itu melihat tebakannya tepat, dia lantas tertawa cekikikan, kemudian sambil mengerling genit katanya.

"Tajam benar penciumanmu, tak kusangka kau bisa membedakan bau harum itu dengan tepat"

Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak. tangan kirinya membenarkan letak pedang, tangan kanan membetulkan bajunya lalu menjawab.

"Haaahhh haaahhh... haaahhh... kalau kau menanyakan tentang lain, aku pasti menyerah Tapi kalau soal perempuan... aku memang memiliki kepandaian khusus"

"Oooh... kiranya seorang ahli perempuan yang berpengalaman maaf, maaf."

Dalam hati Si Nio menyumpah setelah dilihatnya laki perempuan itu kembali main mata sambil bercakap-cakap. mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya. ia lantas berpikir.

"Aduh celaka, kedua orang ini yang seorang adalah perempuan jalang yang cabul, sedangkan yang lain adalah seorang jago bermain perempuan jikalau mereka sampai bekerja sama, bukankah selembar jiwaku bakal melayang?"

Berpikir sampai disini hatinya jadi amat terperanjat maka tanpa memperdulikan rasa sakit pada tumitnya lagi, dia segera melarikan diri terbirit-birit dari sana.

Menyaksikan perbuatan perempuan bercodet itu baik Hoa In-liong maupun Wan Hong-giok saling berpandangan dan tertawa tergelak.

saat itu juga sikap permusuhan diantara mereka berduapun tersapu lenyap hingga tak berbekas.

Dalam pada itu sinar sang surya telah memancar di empat penjuru, suasana disana sepi hening dan tak nampak sesosok bayangan manusia.

Setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu Hoa In-liong lantas tertawa dan berkata.

"Kini tinggal kita berduaan."

"Kalau berduaan lantas mau apa?"

Sahut Wan Hong-giok dengan lirih, meski wajahnya telah berubah jadi merah jengah.

"Mau apa? Tentu saja berbicara dari hati ke hati,"

Sahut si anak muda itu cepat.

Wan Hong-giok tertawa manis, berhadapan dengan Hoa In-liong yang gagah dan romantis ini, entah apa sebabnya jantung terasa berdebar keras suatu perasaan jengah yang belum pernah muncul dari hatinya mendadak menyelimuti diri nona itu.

Ia agak tertegun, tapi akhirnya dengan muka termangu dia meloncat naik ke atas punggung kudanya.

"Engkau akan pergi nona?"

Tegur Hoa In-liong dengan alis mata berkenyit suaranya tajam.

Wan Hong-giok tertawa dan mengangguk namun ia tetap membungkam tanpa menjawab.

Hoa In-liong segera memutar sepasang biji matanya sambil tertawa merdu katanya lagi.

"Nona, aku lihat kudamu ini adalah seekor kuda jempolan, bila kau larikannya kencang-kencang niscaya aku tak akan mampu menyusulmu lagi.."

Wan Hong-giok tertawa, dengan penuh kasih sayang ia membelai bulu surai kuda merahnya itujalu menjawab.

"Kuda ini memang termasuk sejenis kuda jempolan dari jenis yang istimewa, meski banyak kuda jempolan dalam dunia persilatan, tapi tiada seekor pun diantaranya yang sanggup menandingi kehebatan kuda merahku ini...."

Hoa In-liong tersenyum.

"Nona kau bernama Hong-giok. gemar memakai busana merah, gemar pula menunggang kuda jempolan, suatu perpaduan yang amat serasi, kecantikan kegagahan nona pasti akan menjadi berita hangat dalam dunia persilatan..."

Perempuan mana yang tak suka dipuji?

Wan Hong-giok merasakan hatinya jadi manis dan gembira, meski tidak berbicara apa-apa namun senyumnya cukup mempesonakan hati.

Serta-merta tempat duduknya bergeser ke depan dan menyisihkan separuh bagian pelananya menjadi kosong, tampaknya ia memang sengaja memberikan tempat itu untuk Hoa In-liong.

Dengan langkah lebar Hoa In-liong menghampiri si nona cantik itu, lalu bertanya sambil tertawa.

"Nona, siapa nama kuda jempolanmu ini?"

"Dia bernama Hong-ji,"

Sahut Wan Hong-giok sambil memandang awan merah diangkasa, lirih sekali suaranya SUATU senyum misterius tiba-tiba menghiasi wajah Hoa In-liong, seperti orang baru mengerti ia berkata.

"Oooh..... Jadi nona memanggil kuda itu sebagai Hong-ji? Tapi kalau menurut perasaan saya kuda jempolan berbulu merah darah semacam ini lebih pantas kalau dinamakan Liong-ji."

Menyinggung soal "Liong-ji"

Tiba-tiba kuda merah itu mendepak-depakkan kaki sebelah depannya ke atas tanah dan meringkik panjang seperti kegirangan, hampir saja gerakan tersebut mementalkan tubuh Wan Hong-giok jatuh dari atas pelana kuda.

Wan Hong-giok berteriak kaget, dalam gugupnya cepat dia goyangkan pinggul dan bersalto beberapa kali sehingga kakinya berhasil mencapai permukaan tanah dengan selamat, untung tidak sampai terbanting keras.

Terdengar seorang tertawa terbahak-bahak menyusul kuda itu meringkik panjang, diantara derak kaki kuda dan suara keleningan yang tajam sesosok bayangan merah bagaikan gulungan puyuh telah meluncur ke depan.

Pada mulanya Wan Hong-giok agak tertegun menyusul kemudian la jadi malu bercampur gusar, air mata sampai bercucuran membasahi pipinya sambil mendepak-depak kakinya ke atas tanah teriaknya dengan lantang.

"Manusia she-Pek, kau seorang laki-laki tulen atau bukan?"

Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak, kuda merah itu lari bagaikan terbang, dalam sekejap mata mereka sudah mengitari tanah perbukitan itu satu kali dan berlari ke tempat semula.

"Nona manis, kau tak boleh menyalahkan aku,"

Demikianlah pemuda itu seru sambil tertawa.

"Kalau ingin menyalahkan, maka salahkanlah saja Hong-ji mu itu."

Kembali dia membelokan kudanya itu untuk berlarian menuju ke arah sebelah timur. Air mata yang bercucuran membasahi wajah Wan Hong-giok seperti hujan gerimis ia berteriak serak.

"Bocah keparat, walaupun ini hari aku harus mengorbankan selembar jiwaku, tak nanti akan kubiarkan kau si keparat busuk berhasil melarikan diri dari sini!"

Dia melompat ke depan, kemudian menerkam si anak muda itu dengan garangnya. Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak, gelaknya.

"Haaah....haaaah....haaaah nona manis, galak amat kamu ini Kalau begini galak. siapa yang berani mempersunting dirimu??"

Tangan kirinya dikebaskan ke muka, dan tahu-tahu ia sudah cengkeram pergelangan tangan Wan Hong-giok.

Merasakan tangannya dicengkeram, nona baju merah itu menggertak giginya, kaitan kemalanya ditekan ke bawah dan langsung membacok batok kepala lawannya.

Apa mau dikata cengkeraman Hoa In-liong amat kencang, mendadak terasalah segulung tenaga besar mengalir masuk lewat lengan kirinya dan sekejap mata menyebar ke seluruh penjuru tubuhnya seketika itu juga Wan Hong-giok merasakan sekujur badannya jadi lemas tak bertenaga, dan tahu-tahu senjata kaitan kemala yang berada di tangan kanannya sudah kena dirampas pula oleh pemuda tersebut.

Dalam pada itu kuda jempolan berbulu merah itu masih berlarian dengan cepatnya, Hoa In-liong duduk mantap di atas pelananya sambil tertawa tergelak tiada hentinya, dengan demikian tubuh Wan Hong-giok yang kena dicengkeram pun ikut terseret oleh larinya kuda itu hingga terbawa jauh ke depan.

Mendadak si anak muda itu menyentak tubuh nona baju merah itu ke udara, setelah diputar satu dua kali di angkasa siap melemparkan tubuhnya ke depan.

Sejak dilahirkan sampai saat itu, belum pernah Wan Hong-giok mendapat penghinaan dan perlakuan kasar seperti saat ini, ia jadi malu, sedih bercampur marah, air mata yang bercucuran semakin deras lagi.

Berada dalam keadaan seperti ini, hanya ada satu ingatan saja dalam benaknya, yakni bunuh diri dan cepat-cepat melepaskan diri dari cengkeraman musuh, lebih baik lagi kalau bisa mampus dihadapan "Keparat-busuk"

Yang mengaku she-Pek ini.

Sebelum tubuh si nona baju merah itu terlempar ke depan, mendadak satu ingatan terlintas dalam benak pemuda itu, ia segera membatalkan niatnya itu, mendadak lengannya disentakkan ke bawah dan melemparkan tubuhnya ke atas pelana tepat di belakangnya.

Menghadapi kejadian seperti ini, Wang Hong-giok kelihatan agak tertegun, tiba-tiba sambil menggertak gigi ia totok jalan darah Leng-thay-niat di tubuh Hoa In-liong dengan jari tangannya yang kaku bagaikan sebatang tombak.

Jalan darah Leng-thay-hiat letaknya berada di atas punggung, padahal waktu itu mereka menunggang satu kuda dan duduk di atas satu pelana, bukan pekerjaan yang susah bagi si nona itu untuk menotok jalan darah di punggung orang.

Apa mau dikata seolah-olah Hoa In-liong mempunyai mata dibelakang kepalanya, baru saja ia menotok jalan darah tersebut, sikut kanannya sudah menyodok ke belakang dan menumbuk di atas pinggang Wan Hong-giok.

Dan satu hal yang lebih hebat lagi, ternyata sodokan tersebut dengan telah menghajar jalan darah tertawa siiu-yau-hiat dari nona itu, Sekujur badan Wan Hong-giok gemetar keras, kontan badannya jadi lemas tak bertenaga, tak kuasa lagi ia tertawa tergelak dengan kerasnya...

Hoa In-liong yang binal tidak berhenti sampai disitu saja, dasar ia paling suka menggoda kaum wanita, begitu sang nona tertawa tak hentinya, ia lantas menarik tubuhnya ke depan dan mendudukkannya di depannya, kemudian ditaboknya pantat si nona keras-keras.

Diperlakukan seperti ini, Wan Hong-giok hanya bisa menangis sambil tertawa, teriaknya dengan parau.

"Orang she-Pek. hati-hati saja kau, bila terjatuh ketanganku, nonamu akan membeset kulit badanmu daa membetot keluar otot-otot badanmu agar kau menderita lebih hebat"

"Haaaah....haaaahh,...haaaahh..,."

Hoa In-liong tertawa tergelak, keras dan nyaring suaranya.

"mau beset kulit membetoti otot terserah padamu, dan urusan itu kan urusan dikemudian hari, yang pasti pada saat ini kau adalah seorang begal kuda. maka saya harus baik-baik menabok pantatmu yang bulat ini."

Benar juga, pemuda itu lantas menghajar pantat Wan Hong-giok tiada hentinya.

Oleh sebab jalan darah siau-yan-hiatnya tertotok.

Wan Hong-giok tertawa terus tanpa bisa berhenti, ia jadi malu bercampur marah, apalagi setelah mendengar tuduhan sang pemuda yang mengatakan dia sebagai seorang "Begal kuda"

Kemarahan langsung berkobar, teriaknya dengan nada marah.

"Bocah busuk! Siapakah yang menjadi begal kuda? Hayo cepat turunkan aku, nona hendak menuntut suatu keadilan darimu!"

Sewaktu mengucapkan kata-kata itu, Wan-Hong giok menggigit bibirnya kencang-kencang, seakan akan ia merasa sangat penasaran dengan tuduhan tersebut.

Hoa In-liong jadi terperanjat diapun lantas berpihir.

"Aneh benar liong-be milikku ini sangat pintar dan mengerti percakapan manusia, sampai sekarangpun masih kutinggal dalam rumah penginapan, kalau bukan dicuri olehnya, dari mana bisa sampai disini?"

Haruslah diketahui, meskipun Hoa In-liong itu binal dan tak pakai aturan, namun kecerdikan otaknya setingkat lebih hebat daripada orang lain, kalau bukan lantaran begitu tak nanti Bun Thay kun akan membebankan tugas yang sangat berat ini kepadanya.

Ketika bertemu dengan "Liong-ji"

Miliknya tadi, bukan saja ia sudah mengenali kembali bahwa kuda merah itu adalah kuda miliknya, bahkan diapun menaruh curiga bahwa Wan Hong-giok adalah sekomplotan dengan musuh-musuhnya.

Sebab kemunculan nona baju merah itu bertetapan waktunya ketika ia terkurung dan pemanahpemanah gelap baru saja melarikan diri dari sana, ia lantas curiga kalau jejaknya sudah ketahuan orang dan rumah penginapannya telah diserbu musuh.

Sebab itulah kemunculan Wan Hong-giok dengan menunggang kuda Liong-jinya sebera dianggap sebagai musuh, kalau tidak demikian, tentu saja nona itu tak akan melepaskan Si Nio dan majikannya dengan begitu saja.

Tapi sekarang, Wan Hong-giok menunjukkan sikap yang seakan-akan merasa sangat penasaran, sikap semacam itu dengan cepatnya menyapu kembali semua pendapatnya semula, karena tak dapat memecahkan masalah tersebut maka untuk sesaat dia malahan tertegun dibuatnya.

Terdengar Wan Hong-giok berteriak kembali dengan suara serak.

"Keparat busuk. kau bernyali tidak? Kalau bernyali hayo cepat bebaskan jalan darah nonamu yang tertotok"

Hoa In-liong tidak segera menjawab kembali dia berpikir.

"Kalau toh Liong-ji bukan dicuri olehnya, tentu dia tahu apa sebabnya Liong-ji bisa kabur keluar dari rumah penginapan, atau mungkin juga ia berhasil mendapatkannya dari tangan orang lain? Kenapa tidak kulepaskan saja nona ini agar bisa dimintai keterangan yang lebih mendalam lagi??"

Berpikir sampai disitu, cepat dia menepuk jalan darah ditubuh Wan Hong-glok dan membebaskan dirinya dari pengaruh totokan tersebut.

Begitu terbebas jalan darahnya yang tertotok Wan Hong-giok segera meloncat bangun, kemudian sambil menuding anak muda itu teriaknya.

"Hayo bicara, siapakah yang kau tuduh sebagai begal kuda? Beri keterangan yang sejelas-jelasnya kepadaku."

Air matanya belum mengering, tapi matanya sudah melotot besar, bibirnya mencibir, sikapnya yang lagi kheki dan mendongkol itu mendatangkan suatu daya pesona yang lain daripada yang lain, membuat nona itu kelihatan lebih menawan dan lebih segar rasanya.

Hoa In-liong gembira sekali sambil memicingkan matanya dan memperhatikan nona itu tanpa berkedip sahutnya sambil tertawa.

"Masa engkau bukan begal kuda?"

Kontan Wan Hong-giok menyeka air matanya dan langsung berteriak marah.

"Bagus, Bagus sekali Kau berani menuduh orang baik-baik sebagai begal kuda? Nona akan beradu jiwa denganmu."

Telapak tangannya disertai desingan angin pukulan yang amat kencang langsung diayun ke depan dan menghajar dada Hoa In-liong.

Si anak muda itu menyentak tali les kudanya dengan cekatan, berhasil melepaskan diri dari ancaman tersebut, sambil tertawa ia lantas berkata lagi.

"Wajahnya memang cantik, perawakan tubuhnya memang menarik sayang nona secantik itu nyatanya seorang pencuri? Ooooh sayang, sayang Meski sauya mempunyai perasaan kasihan terhadap kaum lemah, apa daya kalau nona yang lemah adalah seorang begal? Kalau tidak diberi hukuman, apa jadinya di akhir masa...?"

Wan Hong-giok semakin naik pitam, bukan saja lantaran serangannya mengenai sasaran kosong terutama setelah mendengar tuduhan dari sang pemuda yang bersikeras mengatakan dia sebagai "begal" , serangannya makin bertubi tubi, seperti hujan deras dia lepaskan berpuluhpuluh buah pukulan berantai yang semuanya ditujukan pada jalan darah penting di sekujur badan pemuda itu.

"Bocah binal, sekalipun harus mempertaruhkan selembar jiwaku hari ini nonamu akan merobek dan mengoyak mulut busukmu yang berbau gombal itu....!"

Sumpahnya dengan gemas.

Meski di bibir Hoa In-liong selalu berkata akan "memberi hukuman yang setimpal" , namun kenyataannya dia hanya berkelit dan menghindar terus tanpa membalas.

Akhirnya timbul juga sifat binalnya, ia tidak lagi berusaha untuk menanyakan dari mana nona itu dapatkan kuda "Liong ji"

Nya malahan sambil berkelit godanya seraya tertawa.

"Hoore.... betul, ucapanmu memang tepat, sudah lama bibirku ini tak pernah mencium bau gincu dan pupur, lebih baik kau koyak-koyak saja sehingga tak sampai mengilar dan kehausan sampai tak bisa ditahan lagi...."

Merah padam wajah Wan Hong-giok setelah mendengar perkataan itu, ia membentak lalu menerjang ke muka bagaikan burung walet, sambil menerkam ke tubuh Hoa In-liong makinya.

"Jangan mengaco belo terus, Nih Coba rasain dulu kelihayan dari jari tanganku."

Lengan kirinya berputar setengah lingkaran, lengan kanan tiba-tiba menerobos keluar dari balik lingkaran bayangan itu dan menyodok ke muka langsung mengancam wajah sang pemuda.

Hoa In-liong terbahak-bahak.

la miring ke samping untuk meloloskan diri dari ancaman tersebut, menyusul mana lengan kirinya digaet ke depan dan merangkul tubuh Wan Hong-giok sehingga terjatuh kedalam pelukannya.

"Haaahhh haaahhhh....haaahhh.... meski jari tanganmu lentik dan menarik hati, aku rasa lebih sedap mencium bau harumnya gincu,"

Katanya dengan cepat.

"Biarlah kucicipi saja harumnya gincu itu."

Pelukannya segera diperkencang, disusul dia tundukan kepalanya dan mencium bibir Wan Honggiok.

Sungguh terkejut tak terkirakan nona baju merah itu menghadapi sergapan yang tak terduga itu, bibirnya terbuka hendak menjerit, apa mau dikata sebelum jeritannya berkumandang, bibir Hoa In-liong bagaikan harimau kelaparan sudah menempel di atas bibirnya.

Sebagaimana diketahui semenjak kecil Hoa In-liong sudah terbiasa hidup diantara kerumunan kaum nona, soal peluk memeluk dan cium mencium siiih, merupakan keahlian khusus baginya, tak heran kalau semua gerak-geriknya di saat ini begitu luwes dan terlatihnya hingga tak nampak kegugupan maupun kepanikan.

Baru saja Wan Hong-giok tertegun, tiba-tiba ia merasakan munculnya lidah lawan seperti seekor ular lintah menggelitiki masuk ke dalam bibirnya, kenyataan ini membuat darahnya mengalir makin kencang dan jantungnya berdebar keras, dia ingin menampik, apa daya lemas tak bertenaga, seakan-akan dara itu kehabisan tenaga saja maka akhirnya diapun pasrah.

Meski Wan Hong-giok tersohor sebagai Giok-kou-Niocu, hakekatnya dia masih seorang perempuan tulen, jangan dilihat tingkah lakunya agak genit dan tak menurut adat namun soal peluk memeluk apalagi dalam hal cium mencium boleh dibilang belum pernah dilakukan olehnya.

Tidaklah heran kalau ia jadi gugup dan kelabakan setelah menghadapi kejadian yang mengejutkan hatinya ini.

Bibir seorang dara dikatakan paling sensitif itu memang benar sebab dari sanalah birahi seorang dara gampang ditimbulkan apalagi bila tersentuh oleh bibir lawan jenisnya.

Masih mendingan bila Wan Hong-glok hanya bertemu dengan laki-laki biasa apa lacur Hoa Inliong adalah seorang ahli perempuan yang berpengalaman ujung lidahnya yang menggelitik, gelitik bibir nona itu seketika mendatangkan suatu perasaan yang aneh sekali bagi Hong-giok.

Serta-merta timbul pula suatu perasaan aneh yang belum pernah dijumpai sebelumnya, maka tak kuasa lagi ia balas menjulurkan lidahnya dan saling menggelitiki dengan lidah lawan lama kelamaan timbullah suatu perasaan yang kian lama kian bertambah nyaman.

Mendadak......dikala Wan Hong-giok sudah benar-benar kesemsem dan dibuat lupa daratan oleh permainan "unik"

Tersebut, Hoa In-liong menarik kembali lidahnya sambil mendorong nona itu ke-belakang, sesudah itu ujarnya sambil tertawa.

"Ehmm,,.nona Wan, gincumu memang berbau harum, aku betul-betul merasa amat beruntung bisa mendapat kesempatan untuk menikmati keharuman lidah nona."

Mula-mula Wan Hong-giok agak tertegun, menyusul kemudian ia merasa gemas bercampur kheki, langsung dia ayun kepalannya untuk memukul.

"Kau...kau..."

Serunya gemas. Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak. dengan mudah dia tangkap sepasang kepalan nona itu, kemudian katanya lagi.

"Nona tak usah marah, baik luar maupun dalam aku betul-betul seorang keparat busuk yang tulen, sekarang semestinya nona terangkan padaku dari mana kau dapatkan Hong-ji ini??"

Diperlakukan seperti ini oleh seorang pemuda asing, Wan Hong-giok merasa yaa marah ya kheki juga, kalau bisa dia ingin menjotos pemuda itu sehingga gepeng seperti kueh apem, tapi sayang kungfunya tak mampu menangkan lawannya, maka ia cuma bisa menahan hawa amarahnya belaka.

"Keparat busuk"

Makinya marah-marah.

"Sekali keparat busuk. selamanya kau memang keparat busuk. mau apa kamu?"

Hoa In-liong tersenyum.

"Nona mempunyai sepasang mata yang jeli, dan lagi memperlakukan istimewa terhadap seorang keparat busuk macam aku, sekalipun aku kasar dan tak becus, perlakuan apa yang bisa kulakukan terhadap nona? Aku tidak meminta yang berlebihan, hanya sudilah kiranya nona bersedia untuk menerangkan kepadaku, darimana kau dapatkan Hong-ji ini, maka pemberitahuan nona itu akan membuat aku melasa amat berterima kasih"

Wan Hong-giok yang sudah mendongkol semenjak tadi, tiba-tiba melejit kemudian menumbuk ke dada Hoa In-liong.

Jilid 04 ANAK muda itu tak menyangka kalau nona tersebut bakal melakukan gerakan senekad ini cepat ia jatuhkan diri ke belakang, menggunakan kesempatan itulah Wan Hong-giok lantas menyambar senjata kaitan kemala yang bergantung di atas pelana, sambil melompat turun dari punggung kudanya ia berteriak.

"Orang she-Pek, engkau terlalu menghina orang, jangan dianggap nonamu bisa dipermainkan dengan seenaknya Hmm Memangnya kau anggap karena ilmu silatku tak menangkan kau, maka kau lantas dapat mempermainkan diriku, dengan seenaknya? Sampai matipun aku tak akan melepaskan kau dengan begitu saja."

Senjata kaitannya segera diayun sambil menubruk ke depan, cahaya hijau bayangan merah secepat sambaran kilat menerkam ke depan dan langsung menusuk lambung Hoa In-liong.

Berbicara yang sesungguhnya, betapa tinggi nilai bibir dari seorang nona, tapi sekarang bibir yang berharga itu telah dicium Hoa In-liong sepuas-puasnya, kesemua itu boleh dibilang muncul karena kerelaan hatinya, kendati begitu kejadian tersebut cukup membuat sang nona jadi merah jengah dan berdebar hatinya.

Tapi sekarang, setelah Hoa In-liong puas menciumi bibirnya, dia malahan menuntut terus kepadanya untuk menerangkan asal-usul Hong-ji, hal ini sama artinya seakan-akan ia menuduh bahwa asal-usul Hong-ji sangat mencurigakan dan ada kemungkinan adalah barang curian, dalam malu dan marahnya tak heran kalau Wan Hong-giok jadi nekat dan ingin beradu jiwa.

Hoa In-liong sendiri terlalu yakin akan ilmu silatnya sendiri yang dianggapnya lebih hebat dari kungfu Wan Hong-giok.

ditambah pula wataknya yang binal, maka ketika Wan Hong-giok berhasil merampas senjata kaitannya dan melompat turun dari pelana, ia tak terlalu memperhatikan, menanti nona itu menerjang datang sambil menyerang secara kalap.

ia baru merasa amat terperanjat.

Garang dan nekat sekali serangan-serangan dari Wan Hong-giok, bayangan senjata menyelimuti angkasa sampai berlapis-lapis banyaknya, sementara Hoa In-liong-masih terkejut, tahu-tahu desingan angin tajam telah tiba di depan mata.

Dalam keadaan begini, ia tak berani gegabah lagi, sekali menjejak permukaan tanah, tubuhnya lantas melejit dan bersalto beberapa kali di udara, kemudian melayang turun beberapa kaki jauhnya dari tempat semula.

Kendatipun cukup cepat ia menghindar, namun terlambat juga gerakan itu "Breet!"

Tahu-tahu baju bagian dadanya tersambar hingga robek sebagian, untung tak sampai melukai badannya.

Wan Hong-giok tidak puas dengan hasil serangannya itu, ia melayang ke muka, kemudian membacok lagi batok kepala Hoa In-liong dengan jurus Ciong-eng-po-toh (burung elang menubruk kelinci).

Desingan angin tajam menderu-deru dan memekikkan telinga, hebat dan ganas ancaman tersebut.

Waktu itu Hoa In-liong baru saja berdiri tegak, tatkala menyaksikan tibanya serangan dengan cahaya hijau yang tajam dari atas udara, cepat-cepat dia menyingkir selangkah ke samping untuk menghindarkan diri.

Sekarang anak muda itu pun sudah tahu kalau Wan Hong-giok benar-benar telah gusar, berbicara soal ilmu silat kendatipun dia harus bertarung dengan tangan kosong belaka, pemuda itu tak akan jeri menghadapi Wan Hong-giok yang bersenjata kaitan, dasar mata keranjang dan suka perempuan Hoa In-liong tak ingin sungguh-sungguh bermusuhan dengan nona itu.

Maka ketika serangan menggulung tiba lagi, ia tidak menghindarkan diri malahan sambil membenarkan bajunya menjura dari kejauhan.

"Nona, jangan marah dulu Dengarkanlah perkataanku."

Pintanya setengah memohon.

"Tidak Aku tak sudi mendengarkan perkataanmu!"

Teriak Wan Hong-giok sambil marah-marah.

Kembali kaitan kemalanya dibabat ke depan seperti jaring langit dengan jurus Giok-cong-seng-cui (tenda kemala menyelimuti jagad).

Cepat Hoa In-liong berkelit ke samping, kembali dia menjura sambil memohon.

"Nona, anggap aku yang telah berlaku kasar terhadap nona cantik, terimalah permintaan maafku ini."

Padahal berbicara sesungguhnya, diapun tahu bahwa ilmu silat dari Hoa In-liong berlipat kali lebih tinggi dari kepandaiannya, jika ia ingin merobohkan musuhnya maka perbuatan itu boleh di bilang sukar sekali.

Ditambah pula Hoa In-liong berparas tampan diam-diam ia sudah terpesona oleh kegagahan lawannya, maka andaikata ia disuruh membacok pemuda itu secara sungguh-sungguh, belum tentu ia tega untuk melukainya.

Maka setelah dilihatnya Hoa In-liong beberapa kali menjura sambil meminta maaf, hawa amarahnya sudah berkurang beberapa bagian, ia tidak menyerang lagi, sebaliknya sambil bertolak pinggang membentak.

"Hmm Kau anggap urusan ini dapat diselesaikan dengan begini saja? Hayo cabut keluar pedang mustikamu, dan tentukan siapa yang lebih tangguh nonamu."

Wan Hong-giok merasa agak jengkel juga setelah beberapa kali serangannya tidak mencapai sasaran.

Yang benar, ia jadi nekad dan menyerang secara membabi buta lantaran rasa mangkel dan penasarannya tak tersalur keluar, selain itu diapun mendapat perlakuan kasar dari sang pemuda, maka dalam malu dan jengkelnya ia jadi marah.

Hoa In-liong cukup berpengalaman dalam menghadapi kaum nona, dan diapun cukup memahami watak-watak dari kaum hawa, perkataan tersebut diapun segera tahu bahwa kegusaran dalam hati Wan Hong-giok sudah berkurang sebagian.

Cepat-cepat dia menjura lagi sambil berkata.

"Ilmu silat milik nona sangat lihay, aku tahu bahwa kepandaianku bukan tandingan nona, apa gunanya kita bertarung lagi untuk menentukan siapa yang lebih unggul?"

"Hmm Kau anggap aku rela membiarkan diriku dianiaya seenaknya olehmu...?"

Teriak Wan Honggiok sambil mendengus. Dalam hati Hoa In-liong merasa geli, tapi di luaran ia menjura lagi dengan wajah bersungguhsungguh sambil berkata.

"Manusia kan bukan rumput atau kayu yang tak berperasaan, masakah aku bisa melupakan cinta kasih nona? Paras nona cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, bisa mencium nonapun sudah merupakan suatu keuntungan yang tak terkirakan bagiku, masa pembuatan ini dianggap sebagai suatu penganiayaan?"

Merah padam wajah Wan Hong-giok setelah mendengar perkataan itu, serunya dengan manja.

"Hmm Enak benar kalau bicara, coba jawab kenapa kau menuduh aku telah mencuri kudamu."

Hoa In-liong segera berpura-pura gugup, sahutnya.

"Harap nona jangan menganggap sungguhan ucapanku itu, kau toh tahu bahwa aku suka bergurau? Jangan nona anggap ucapanku tadi serius"

Menyaksikan sikapnya yang gugup dan serba tak menentu itu, Wan Hong-giok segera berpikir pula dalam hati.

"Aaaai, orang ini benar-benar aneh dan binal, tentunya ia sudah terbiasa dengan wataknya sedari kecil, bila aku mesti bersungguh-sungguh terhadap dirinya, nihil juga akhirnya."

Berpikir demikian lenyaplah sudah semua amarahnya, tapi untuk menjaga gengsi ia tak sudi menunjukkan perubahan sikap secepat itu, sambil mencibirkan bibirnya kembali ia mendengus.

"Hmm Kau anggap nonamu bisa dipermainkan seenaknya? Hari ini kau harus memberikan keadilan kepadaku."

Sikap Hoa In-liong yang sebentar bersungguh-sungguh sebentar tidak ini sebenarnya terselip tujuan tertentu, sungguh girang hatinya ketika ia lihat siasatnya termakan, maka sambil maju ke depan ujarnya.

"Nona, simpan dulu kaitan kemalamu itu, bagaimana kalau kita bicarakan persoalan ini secara perlahan-lahan?"

Setibanya di hadapan Wan Hong-giok.

dia ambil oper senjata kaitan itu dan menggantungkan di atas pelana, semua gerak-geriknya lembut tapi cekatan seperti orang yang ketakutan, seperti juga orang yang bersungguh-sungguh, tapi sikapnya itu justru mendatangkan suatu daya pikat yang istimewa dalam pandangan nona baju merah itu.

Benar juga, Wan Hong-giok segera merasakan jantungnya berdebar keras, ia merasa pemuda itu makin menarik dan mempesonakan hatinya, sehingga tanpa terasa lagi dia mengerling sekejap ke arah pemuda itu.

Indah sekali kerlingan mata nona tersebut, apalagi oleh seorang dara cantik jelita yang berperawakan menawan hati, melihat itu Hoa In-liong merasa kegirangan, serta-merta gerakgeriknya lebih lembut dan lebih bersungguh-sungguh.

Menggunakan kesempatan itu dia maju menghampiri sang nona dan merangkul pinggang yang lembut, kemudian bisiknya lirih.

"Nona, mari kita duduk disana, kita berbicara lagi di tempat yang rindang itu."

Wan Hong-giok yang pinggangnya dirangkul seketika merasa adanya aliran listrik yang menembusi semua organ tubuhnya, nona itu berdebar keras dan tak tahu musti gugup atau bergirang hati.

Dengan wajah tersipu ia coba menggeliat, tentu saja menggeliat secara pura-pura, lalu sambil mengerling genit omelnya.

"Aaah, bagaimana sih kamu ini? Bersikaplah sok sopan, aku toh bukan kekasihmu, kenapa kau rangkul aku sekencang ini?"

Dalam hati Hoa In-liong merasa geli, namun ia tidak mengucapkan sepatah katapun, dengan masih merangkul nona itu mereka berjalan menuju ketepi sebuah batu gunung.

Hawa khas dari seorang laki-laki membuat Wan Hong-giok serasa mabuk.

la merasa tubuhnya jadi hangat dan nyaman, enggan rasanya untuk menampik rangkulan tersebut, ta sadar dia mengikuti juga kepergian pemuda itu untuk duduk di tepi batu cadas.

Sekalipun sudah duduk Hoa In-liong masih juga merangkul pinggangnya namun ia tidak melakukan tindakan selanjutnya, kecuali memandang wajah nona itu sambil tersenyum.

Ditatap lekat-lekat oleh pemuda setampan itu merah juga selembar wajah Wan Hong-giok serunya dengan suara tersipu-sipu.

"Eeeh, kamu ini benar-benar tak sopan, kenapa merangkul melulu tanpa berbicara?"

"Nona terlampau cantik, aku jadi terkesima rasanya,"

Sahut sang pemuda sambil tertawa. Tidak menunggu Wan Hong-giok melanjutkan kata-katanya sudah menghela napas panja sambil berkata lagi.

"Nona, tahukah engkau bahwa aku sedang berada dalam keadaan bahaya?"

"Apa sangkut pautnya urusanmu dengan aku? Kenapa engkau menuduhku sebagai begal kuda?"

Tukas sang nona dengan dahi berkerut. Hoa In-liong gelengkan kepalanya berulang kali.

"Jangan nona anggap serius perkataanku itu,"

Katanya.

"aku hanya bergurau saja denganmu."

"Hmm Dan kau ingin minta maaf kepadaku agar aku bisa mengampuni dirimu??"

Hoa In-liong tertawa getir.

"Bergembiralah hatiku bila nona bersedia mengampuni aku, tapi kalau nona tidak sudi memberi ampun, terpaksa aku harus menantikan hukumannya,"

Ia menjawab. Wan Hong-giok betul-betul dibuat kehabisan akal menghadapi pemuda itu, akhirnya setelah termenung sebentar sahutnya.

"Baiklah Coba kau terangkan dulu kesulitan dan mara bahaya apakah yang sedang kau hadapi?"

"Aku sedang melaksanakan suatu tugas yang sangat berat, setiap saat aku harus berjaga-jaga terhadap sergapan musuh yang ingin mencelakai jiwaku."

"Aku lihat usiamu sebaya dengan aku, tugas berat apa yang sedang kau lakukan? Harus berjaga jaga pula terhadap sergapan dari siapa??"

Hoa In-liong menghela nafas panjang, ia menjawab.

"Tiap orang mempunyai keadaan lingkungan yang berbeda, sejak kecil nasibku jelek, sekarang aku punya rumah tapi tak bisa kembali, akupun tak tahu pula siapa musuh besarku, setiap hari harus luntang-lantung tanpa tujuan sambil berjaga-jaga atas sergapan musuh yang akan mencelakai jiwaku betapa menderitanya aku ini."

Pemuda itu tak tahu siapa gerangan Wan-Hong giok ini, dan diapun kuatir kalau nona baju merah ini adalah satu komplotan dengan musuhnya maka ia berusaha untuk merahasiakan asalusul dengan mengarang suatu cerita bohong yang melukiskan betapa sengsara dan menderitanya kehidupannya selama ini.

Wan Hong-giok merasa simpatik dan ikut beriba hati oleh nasib jelek pemuda itu, tanpa terasa ia bergumam seorang diri.

"Musuh dalam kegelapan dan kita ada ditempat terang, untuk menjaga diri memang susah rasanya."

"Benar"

Sambung Hoa In-liong.

"coba bayangkanlah nona, kemarin malahan kudaku ini masin berada dirumah penginapan, tapi sekarang tiba-tiba nona memakainya untuk datang kemari, setelah menyaksikan kesemuanya ini, bagaimana aku tidak kuatir kalau rahasiaku sudah bocor dan ketahuan musuh...."

"Jadi kalau begitu, kau telah menganggap aku sebagai musuhmu?"

Seru Wan Hong-giok tertegun.

"Waktu berjumpa untuk pertama kalinya tadi aku memang curiga,"

Sahut pemuda itu berterus terang.

"tapi sekarang aku sudah mengerti."

Wan Hong-giok tak dapat memberi penjelasan maka ia segera membantah dengan lantang.

"Aku tak mungkin adalah musuhmu, kuda ini kudapatkan karena hadiah dari orang lain."

"Aku mengerti,"

Sahut Hoa In-liong sambil mengangguk.

"dan aku curiga kalau orang yang menghadiahkan kuda ini kepadamu itulah musuhku."

Wan Hong-giok tertegun, lama sekali ia baru berseru.

"Aaah, tak mungkin sebab orang itu adalah suhengku sendiri."

Hoa In-liong pun tersenyum.

"Kalau begitu kakak seperguruanmu itulah si begal kuda yang kumaksudkan..."

Baru saja ucapan tersebut diutarakan, tiba-tiba terdengar seseorang membentak dengan penuh kegusaran.

"Bocah keparat, jangan sembarangan menuduh, bicaralah yang agak tahu sopan."

Suara itu muncul dari belakang mereka, meski demikian Hoa In-liong tidak nampak gugup atau terkejut, ia malahan berkata dengan tawa.

"Saudara, semestinya kau harus sudah munculkan diri semenjak tadi."

Ketika orang itu munculkan dirinya dari tempat persembunyian, dengan alis mata berkenyit Wan Hong-giok sebera menegur ketus.

"Ooooh rupanya kau sudah datang kemari sejak tadi, kenapa tidak segera munculkan diri melainkan hanya bersembunyi melulu?"

Orang itu adalah seorang pemuda tampan yang berdandan sebagai seorang pelajar, dibawah pinggangnya tersoren sebilah pedang antik yang berwarna coklat, pada mulanya dia muncul dengan wajah penuh kegusaran, tapi setelah ditegur oleh Wan Hong-giok sambil tertawa cengarcengir jawabnya tergagap.

"Aku.....aku Gi-heng...."

"Hmm sekalipun tidak kau katakan aku juga tahu!"

Seru Wan Hong-giok sambil mendengus.

"terus terang kuberitahukan kepadamu lebih baik kau tak usah mengurusi semua tindak tandukku karena kau tidak berhak untuk mencampurinya."

Seraya berkata nona itu sengaja menggeserkan badannya sehingga duduk makin rapat disisi Hoa In-liong.

Perbuatannya itu kontan saja menggusarkan hati pemuda sastrawan tersebut, api cemburu membakar hatinya, namun ia tidak sampai mengumbar hawa amarahnya.

"Sumoay!"

Serunya setelah termenung sebentar "tahukah kau, siapi gerangan bocah keparat itu?"

"Hmm Perduli amat siapakah dia, mau apa kau turut campur? Lebih baik janganlah merecoki aku terus."

Hoa In-liong sendiripun tetap duduk tenang tanpa bergerai katanya pala dengan nada datar.

"Aku bernama Pek Khi, tolong tanya siapa namamu??"

Terhadap Wan Hong-giok.

pemuda sastrawan itu memang munduk-munduk ketakutan, tapi terhadap orang lain dia bersikap angkuh dan tinggi hati, sepasang matanya langsung melotot ketika mendengar ucapan itu, bentaknya.

"Benarkah engkau bernama Pek Khi??"

Hoa In-liong tersenyum.

"Kalau bukan bernama Pek-Khi, lantas menurut pendapat saudara siapakah namaku?"

Ia balik bertanya. Pemuda itu mendengus dingin, sambil berpaling kepada Wan Hong-giok serunya.

"Sumoay, bocah keparat ini sengaja sedang membohongimu, dia adalah teji dari keluarga Hoa di bukit Imtiong-san, bernama Hoa Yang."

Agak tertegun Wan Hong-giok mendengar perkataan itu, sepasang matanya terbelalak semakin besar dan menatap wajah Hoa In-liong tak berkedip.

agaknya ia merasa kaget bercampur curiga nampak pula mendongkol dan gusar, pokoknya perasaan hatinya waktu itu bercampur aduk dan sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Hoa In-liong tertawa, katanya lagi.

"Aku tidak merasa pernah berkenalan dengan saudara, tapi engkau dapat menyebutkan namaku secara jelas, ini berarti bahwa engkau menaruh maksud tertentu padaku pula, sekarang aku Hoa teji justru ingin minta petunjuk darimu."

Memang inilah yang diharapkan pemuda tersebut, maka ia langsung mencabut keluar pedangnya dan berkata dengan dingin.

"Hayo majulah sauyamu bernama Siau Ciu, aku memang ingin menjajal kepandaian silatmu."

Tiba-tiba Wan Hong-giok bangkit berdiri seraya membentak.

"Tunggu sebentar, aku hendak menanyai dirinya lebih dulu."

Sambil putar badannya menghadap ke arah Hoa In-liong. ujarnya lebih lanjut.

"Hayo jawab mengapa kau bohongi aku? mengapa tidak menyebutkan nama aslimu? apakah Wan Hong-giok tidak pantas untuk barkenalan dengan Hoa Yang...."

Hoa In-liong bersikap serius dan tersenyum sahutnya.

"Nona bernama Hong-giok, karena itu akupun menyebut diriku sebagai Pek Khi, sebab hakekatnya Pek Khi maupun Hong-giok adalah benda-benda mustika yang berharga, orang bilang bunga meski tidak indah namun ia akan lebih indah bila berdaun hijau, dan Hong-giok akan bertambah mahal bila diimbangi dengan Pek Khi, nona masakah kau belum memahami perasaan hatiku? Jika nona menegur aku karena soal itu, maka engkau salah menegur diriku ini."

Meski diluaran ia berbicara demikian, otaknya berputar keras memikirkan masalah yang dihadapinya ia berpikir.

"Bocah keparat ini bernama Siau Ciu, dan membegal pula kudaku dari rumah penginapan, kemungkinan besar dialah yang disebut Ciu-kongcu oleh nona berbaju hitam itu.... aaah, susah payah kucari jejak mereka tak tahunya bisa ditemukan secara kebetulan, apa salahnya kalau kugunakan sedikit akal muslihat untuk menyelidiki siapa gerangan yang berada dibalik layar dalam peristiwa ini?"

Sementara Hoa In-liong masih berpikir sampai disitu, tiba-tiba terdengar Siau Ciu berkata sambil tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh....haaahhh....Hoa teji, apa gunanya kau ngaco belo sambil merayu dengan kata-kata yang manis? Apakah kau hendak menipu perasaan cinta dari sumoayku?"

Baru ia selesai berbicara, Wan Hong-giok telah membentak nyaring.

"Hey, siapa yang suruh kau campuri urusanku? Sana, berdiri agak kejauhan!"

Sambil berkata ia lantas mendorong Siau Ciu agar mundur ke belakang. Menggunakan kesempatan itu, Hoa In-liong lantas menyindir sambil tertawa tergelak.

"Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh anjing menggigit tikus, Itulah akibatnya kalau suka mencampuri urusan orang lain, akhirnya siu-heng sendiri yang terbentur pada batunya."

Tampaknya cinta kasih Siau Ciu terhadap Wan Hong-giok sudah mendalam sekali, sehingga meski dibentak-bentak dan dicaci maki dihadapan orang, ia tidak merasa gusar Tapi begitu Hoa In-liong menyindir dengan kata-kata yang pedas, Ia tak kuat untuk menguasai lagi.

Secepat kilat tubuhnya berkelebat ke depan begitu terhindar dari penghadangan telapak tangan Wan Hong-giok.

serta-merta pedangnya dicabut keluar dan langsung menusuk ke dada lawan.

"Keluarga Hoa tak ada manusia cerewet macam kau!"

Bentaknya.

"Sambutlah sebuah tusukan maut dari sauyamu!"

Hoa In-liong tertawa nyaring, ia berkelit ke samping lalu menjawab.

"Jika siau-heng ingin bertempur, aku dapat melayani dirimu dengan senang hati, tapi jawab dulu mengapa kau curi kudaku ini? Bagaimanapun kau toh musti memberi keadilan dulu kepadaku."

"Telur busuk. siapa yang telah mencuri kudamu?"

Teriak Siau Ciu dengan gusar.

Pedangnya langsung dibabat ke depan dengan jurus giok-tay-wi-yau (ikat pinggang kemala mengelilingi bidadari) hebat sekali serangan tersebut dan penuh disertai tenaga dalam yang hebat.

Hoa In-liong adalah keturunan seorang pendekar besar, ilmu silat yang dimilikinya belajar langsung dari Hoa Thian-hong, padahal Hoa Thian-hong adalah seorang pendekar tanpa tandingan yang lihay dalam ilmu pedang, tentu saja secara otomatis Hoa Loji lihay juga dalam ilmu pedang.

Maka dari itu ketika Siau Ciu menyerang untuk kedua kalinya dengan babatan mendatar, ia lantas mengetahui bahwa jurus serangan yang akan digunakan lawannya adalah jurus Giok tay wi yau sebab itulah tanpa berpikir panjang lagi, ia mengigos ke samping kiri, siapa tahu, baru saja badannya bergerak meninggalkan posisi semula mendadak ia merasa gerak pedang musuh sangat aneh dan mencurigakan, bukannya terlepas dari ancaman tersebut, tubuhnya malahan menyongsong tibanya ujung pedang Siau Ciu.

Kejadian ini sangat mengejutkan hatinya dalam, kagetnya peluh dingin sempat membasahi tubuhnya, buru-buru ia putar pinggang sambil melejit dengan gerakan ikan leihi meletik secara beruntun ia berjumpalitan beberapa kali di angkasa dan melayang turun satu kaki jauhnya dari tempat semula, nyaris tubuhnya termakan oleh babatan pedang lawannya itu.

Apa yang sebenarnya telah terjadi?

Rupanya Siau Ciu bertangan kidal, ia menyerang dengan menggunakan tangan kiri, dengan sendirinya ilmu pedang yang digunakan pun merupakan ilmu pedang tangan kiri.

Sewaktu membacok atau menusuk ke depan, baik tangan kiri maupun tangan kanan tak jauh berbeda, tapi untuk membacok ke samping kiri atau ke kanan maka jurus pedangnya justru berlawanan dengan pedang biasa, Hoa In-liong tidak menduga sampai ke situ, maka karena teledornya hampir saja ia terjebak oleh tipu muslihatnya musuhnya.

Setelah melayang turun ke atas tanah dan berhasil menenangkan hatinya, Hoa In-liong baru merasa curiga, pikirnya dalam hati.

"Aneh, benar-benar sangat aneh, ayah telah memberi penjelasan yang amat seksama terhadap tiap ilmu pedang yang berada di kolong langit, apa sebabnya ia tak pernah membicarakan tentang ilmu pedang tangan kiri? Darimana orang she Siau ini mempelajarinya? "

Sementara ia masih termenung, cahaya pedang tiba-tiba menyambar lagi dengan dahsyatnya, ternyata Siau Ciu telah memburu datang sambil melancarkan bacokan kilat.

"Hoa teji, lihat serangan!"

Demikianlah ia membentak.

"Sungguh cepat dan lihay ilmu pedangnya "

Puji Hoa In-liong dalam hati, kali ini ia tak berani berayal lagi, cepat tubuhnya melejit dan menyelinap ke belakang tubuh Siau Ciu, setelah itu sambil tertawa nyaring katanya.

"Haaahh haaahh haaaahh main golok main pedang hanya akan mengakibatkan retaknya hubungan persaudaraan, memandang di atas wajah nona Wan, asal Siau-heng bersedia untuk menerangkan mengapa kau curi kudaku itu, kita boleh berjabatan tangan sambil berdamai."

"Keparat siapa yang kesudian berjabatan tangan sambil berdamai dengan engkau?"

Teriak Siau Ciu marah. Pedangnya dicutar mengikuti gerakan tubuhnya sekali lagi dia menyerang dengan gencar.

"Sekalipun kau tak berani mencabut pedangmu aku sama juga bisa membinasakan dirimu, sampai waktunya jangan kausalahkan kalau aku bertindak keji lagi!"

Kembali dia berseru.

Serangan demi serangan dilancarkan makin gencar dan kuat, semuanya mendepak Hoa In-liong habis-habisan, tampaknya sebelum pemuda lawannya itu berhasil dibasmi, ia tidak merasa puas.

Hoa In-liong sendiri sambil berkelit kesana ke mari, pikirnya dalam hati.

"Orang ini berulang kali tak mau mengakui bahwa dialah yang mencuri kudaku, sebaliknya selalu berusaha untuk membereskan nyawaku, tampaknya orang inilah ketua regu dari perkumpulan Hian-beng-kau yang sedang melaksanakan tugas perintah padahal sekarang aku butuh untuk menyelidiki duduk perkara yang sebenarnya serta mencari tahu siapa pembunuh sebenarnya, bila tidak ku demontrasikan kelihayanku, niscaya usahaku ini akan sia-sia belaka."

Karena berpikir demikian, ia lantas mengambil keputusan dalam hati, lengan kanannya diterobos keluar untuk mencabut keluar pedangnya, kemudian, sreet sreet seret!

secara beruntun dia lepaskan tiga buah serangan berantai untuk membendung ancaman Siau Ciu.

"Saudara!"

Bentaknya ketus.

"kalau engkau masih saja tidak tahu diri jangan salahkan kalau aku Hoa-loji akan suruh kau merasakan kelihayanku kemudian baru akan kulihat apa yang bisa kau katakan lagi."

Gaya serangan itu demikian rapat dan penuhnya seakan-akan hendak menyelimuti seluruh jagad yang ada dihadapannya, begitu dimainkan terasalah angin pedang mendesis, suara guntur dan hembusan angin puyuh menyertai setiap gerakan anak muda itu.

Ilmu pedang dari Siau Ciu aneh, sakti dan luar biasa, tapi setelah berhadapan dengan jurus serangan yang begitu dahsyat dari musuhnya, seketika terasalah suatu perbedaan yang menyolok.

Tiga jurus kemudian, Hoa In-liong menghentikan gerak tubuhnya lalu membentak nyaring.

"Hayo bicara Kau mendapat perintah dari siapa untuk membunuh Suma siokya ku?"

Tatkala serangan mendadak terbendung semua, dalam sangkaan siu Ciu hal ini disebabkan ia kurang waspada.

malu dan gusar langsung berkecamuk dalam dadanya, dia putar senjatanya dan melepaskan sebuah tusukan lagi ke ulu hati lawannya dengan jurus hek hong-tou-sin (harimau hitam mencuri hati).

"Apa itu perintah tidak perintah, yang diketahui sauyamu hanyalah bagaimana caranya untuk mencabut jiwamu!"

Bentaknya.

"Traang!"

Baca Juga: Badik Buntung 2

Baca Juga: Bukit Pemakan Manusia 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert