Eps 1 Kelelawar Tanpa Sayap - Huang Ying
Baca online Kelelawar Tanpa Sayap - Huang Ying
Cersil Kelelawar Tanpa Sayap - Huang Ying.
Kelelawar Tanpa Sayap -Halaman yoza collection Kelelawar Tanpa Sayap -Halaman yoza collection 0 Karya .
Huang Ying / Saduran .
Tjan I.D.
Edited & Ebook by .
yoza 1 MUSIM GUGUR sudah mulai berakhir.
Jalan raya kuno, sepuluh li diluar kota Lokyang.
Mendekati senja, angin barat berhembus kencang, merontokkan dedaunan kering, mengubah suasana jagad jadi begitu sendu dan mengenaskan.
Saat itulah ditengah jalan raya muncul serombongan manusia berkuda, tiga kereta, empat kuda, dua puluh tujuh orang jagoan.
Disudut ke tiga kereta utama masing masing tertancap sebuah panji kecil berbentuk segi tiga, panji berwarna merah darah dengan sulamanan tulisan yang menyala, Tin-wan Itulah kereta-kereta pengangkut barang milik perusahaan ekspedisi Tin-wan Piaukiok.
Perusahaan Tin-wan piaukiok berpusat dikota Lokyang, jangkauan usahanya meliputi seluruh kolong langit, karena pengaruhnya yang cukup besar, selama ini jarang ada sahabat golongan hitam maupun putih yang berani mengganggu perjalanan mereka.
Bila sebuah perusahaan ekspedisi dapat mencapai tingkatan semacam ini, dapat dibuktikan kalau kemampuan serta daya pengaruhnya memang luar biasa.
Congpiautau perusahaan Tin-wan piaukiok beranama Lui Sin, sudah sepuluh tahun malang melintang dalam dunia persilatan, dengan andalkan sebilah golok emas bersisik ikan, ia pernah menghancurkan enam belas benteng bandit dikedua sisi sungai, menghadapi ratusan pertarungan berdarah sebelum akhirnya berhasil membuat nama perusahaan Tin-wan piaukiok berjaya.
Dalam hal ini, peran saudara angkatnya, Han Seng dengan pedang peraknya sangat membantu usahanya selama ini.
Belakangan, golok emas pedang perak sudah teramat jarang turun tangan sendiri mengawal barang kirimannya, hal ini bukan disebabkan mereka sudah tua dan bertambah lemah, melainkan karena hal ini memang sudah tak perlu mereka lakukan.
2 Apalagi putri kesayangan Lui Sin yaitu Lui Hong sangat hebat, ilmu silatnya sudah melampuai kepandaian golok emas pedang perak, seorang diri ia sudah mampu mengatasi segalanya.
Tahun ini usia Lui Hong belum genap dua puluh tahun, tapi sudah lima tahun dia mengawal barang kiriman.
Pada tahun pertama, Lui Sin dan Han Seng masih ikut mengawal, tahun kedua Lui Sin masih rada kuatir, pada tahun ke tiga bahkan Han Seng pun sudah tidak merasa kuatir.
Sejak saat itu setiap pengawalan barang, terkecuali permintaan khusus dari pemilik barang, kalau tidak selalu dikawal sendiri oleh Lui Hong.
Gadis ini bukan saja berilmu silat tinggi, otak dan pikirannya amat cermat, itulah sebabnya hingga sekarang, tak sekali pun pernah gagal atau mengalami hambatan.
Tapi gadis itu tidak menjadi sombong karena keberhasilannya itu, dia masih tetap teliti, cekatan dan cermat.
Karena itu pula hingga kini Lui Sin maupun Han Seng sangat percaya dan tak merasa kuatir.
Tak dapat disangkal lagi, Manusia berbakat seperti Lui Hong memang merupakan manusia paling berbakat dalam mengawal barang kiriman.
Sayang sepandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga.
Siapa pun orangnya, suatu ketika pasti akan teledor juga, karena memang tak ada manusia yang bisa lolos dari kelemahan ini.
Tidak terkecuali bagi Lui Hong.
ooOOoo Angin berhembus kencang, mengibarkan mantel yang dikenakan Lui Hong, mengibarkan pula ikat rambutnya.
Dia mengenakan baju berwarna merah menyala, mantelnya berwarna merah pula, termasuk ikat rambutnya, merah menyala, semerah darah segar.
Sementara kuda tunggangannya berwarna putih, sepu tih salju.
3 Kuda putih dengan gadis berbaju merah, perpaduan warna yang sangat mencolok, apalagi dia memiliki potongan badan yang ramping tapi padat berisi, berparas cantik jelita bak bidadari.
Perlahan dia menjalankan kudanya, meski pinggangnya masih begitu lurus, kepalanya justru tertunduk lesu, entah terpengaruh oleh suasana sendu disekeliling tempat itu atau karena alasan lain, nona itu tampak begitu sendiri, kesepian.
Disampingnya mengikuti seekor kuda putih, penumpan gnya adalah seorang gadis berbaju hijau, usianya paling banter enam belas tahun, malah masih tampak sifat kekanak-kanakannya.
Nona ini tak lain adalah dayang kepercayaannya, Ciu Kiok.
Biarpun hanya seorang dayang, dia diperlakukan bagaikan saudara kandung sendiri, mereka makan tidur bersama, bahkan belajar silat pun bersama.
Dibelakang mereka adalah dua orang piausu dari Tin-wan piaukiok, To Kiu-shia dan Thio Poan-oh.
Mereka berdua terjun ke dalam dunia persilatan jauh lebih awal daripada Lui Sin maupun Han Sin, bukan saja pengalamannya luas dan matang, ilmu silat pun sangat hebat.
Golok Toa-huan-to dari Thio Poan-oh serta sepasang kaitan Sit-gwee-kou dari To Kiu-shia terhitung cukup tersohor dalam dunia kangow, banyak orang menaruh perasaan segan terhadap mereka.
Bagi orang yang bekerja sebagai pengawal barang, menjadi tenar memang bukan urusan gampang.
ooOOoo Sepanjang jalan tumbuh pohon murbei yang rindang, daun murbei yang merah menyala, tampak makin menyala ketika tertimpa sisa cahaya senja, cahaya yang menyusup lewat celah-celah dedaunan.
Begitu merahnya membuat suasana sepanjang jalan pun ikut berubah jadi merah, bagaikan beralaskan permadani merah, permadani merah darah.
Pemandangan semacam ini memang tampak indah, cantik, sayang kecantikan yang berbau siluman, cantik yang menakutkan.
4 Kawanan manusia itu seakan berjalan ditengah genangan darah, khususnya Lui Hong dengan pakaiannya yang serba merah, semerah darah segar.
Tiap kali melewati kumpulan dedaunan murbei yang lebat, seluruh tubuhnya seakan menyatu ke dalam merahnya daun, seolah tubuhnya berubah jadi gumpalan darah segar.
Hal ini membuat penampilannya tampak lebih cantik.
Cantik tapi menakutkan!
ooOOoo Diluar hutan murbei terdapat sebuah kedai teh, perabotnya sangat sederhana namun justru menampilkan suasana yang lain daripada yang lain.
Penjual teh adalah seorang kakek yang berusia lanjut, begitu melihat munculnya rombongan kereta barang Tin-wan piaukiok dari tempat kejauhan, ia segera muncul diluar pintu untuk menyambut kedatangan mereka.
Hingga rombongan kereta berhenti didepan warung, ternyata kakek itu tidak mempersilahkan tamunya untuk masuk, sebaliknya malah bertanya kepada Tong-cu-jiu yang berjalan dipaling depan rombongan, Apakah rombongan ini adalah rombongan perusahaan ekspedisi Tin-wan Piaukiok?
Walau agak keheranan, Tong-cu-jiu itu mengangguk.
Ada urusan apa?
Apakah diantara kalian ada seorang nona yang bernama Lui Hong?
Sekali lagi Tong-cu-jiu itu tertegun.
Lui Hong yang berada dibelakang dan mendengar pertanyaan itu segera menyela.
Empek tua, ada urusan apa mencari aku?
Tadi ada seorang tuan menitipkan sepucuk surat kepadaku, dia minta aku serahkan surat itu kepada nona Lui Hong dari perusahaan Tin-wan Piaukiok Akulah orangnya kata Lui Hong dengan wajah tercengang.
Dari dalam sakunya si kakek mengeluarkan sepucuk surat, buru-buru Tong-cu-jiu itu menyambutnya dan tanpa diperintah Lui Hong lagi, langsung disodorkan ke hadapan nona itu.
5 Sambil menerima surat itu, tanya Lui Hong kepada kakek itu.
Siapa orang itu?
Dia adalah seorang kongcu ganteng, konon dari marga Siau Siau?
Siau apa?
Soal itu mah tidak ia jelaskan Kapan kejadiannya?
Belum lagi setengah jam berselang Oooh...
Lui Hong mengalihkan pandangan matanya kearah surat itu.
Ternyata sampul surat itu tanpa aksara, Ciu Kiok yang melongok dari samping segera menyela.
Menurut dugaan nona, kongcu dari marga Siau yang mana itu?
Darimana aku bisa tahu?
Jangan-jangan surat dari Siau Jit kongcu?
tiba-tiba Ciu Kiok bertanya lagi.
Siau Sit?
seru Lui Hong dengan badan bergetar, cepat ia melanjutkan sambil tertawa, aku hanya sempat bertemu satu kali dengan dia, sebagai seorang pemuda dengan pergaulan begitu luas, aku yakin saat ini dia sudah melupakan diriku, lagipula diantara kami tak ada urusan maupun hubungan, tanpa sebab mau apa dia mencariku?
Sewaktu mengucapkan perkataan itu, mimik mukanya berubah sangat aneh, seolah dia dibuat tak berdaya oleh kejadian ini.
Kesendirian, kesepian semakin pekat menyelimuti wajahnya.
Dia memang masih tertawa, tapi senyuman itu begitu pahit, begitu getir, bibirnya seolah dapat terbuka hanya lantaran ditopang oleh jari telunjuknya.
Didalam sampul surat itu hanya terdapat secarik kertas, secarik kertas yang amat kecil.
Dia menggerakkan jari tangannya, perlahan-lahan mengeluarkan surat itu dari dalam sampul.
Baru tercabut setengah jalan, pandangan matanya tiba-tiba membeku, mimik mukanya ikut membeku, dengus napasnya seakan terputus ditengah jalan.
Bersamaan itu, semua gerak-geriknya, semua perubahan wajahnya seakan ikut terhenyak, terhenti total.
6 Ciu Kiok yang sigap segera menyadari akan kejadian itu, dia ikut mengalihkan sorot matanya ke arah surat itu.
Tapi dengan cepat ia tertegun, terperangah, terkesima ditempat, sampai lama kemudian ia baru mendesis.
Bagaimana mungkin.........
Baru sampai tengah jalan, ulapan tangan Lui Hong segera memotong ucapan selanjutnya.
Ciu Kiok terhitung seorang gadis cerdas, seketika ia membungkam dan tidak bersuara lagi.
Saat itulah penampilan Lui Hong pulih kembali jadi normal, menjadi tenang seperti sedia kala.
Tatapan mata yang sudah beralih ke wajah Ciu Kiok karena ucapan sang dayang tadi, dengan cepat diurungkan kembali.
Kemudian sinar matanya kembali membeku.
Lambat laun mimik mukanya ikut berubah, berubah jadi sangat aneh, aneh sekali.
Sekilas rasa girang terbesit dibalik perasaan kaget dan terperanjatnya, semacam perasaan girang yang amat kuat.
Diatas surat yang kecil itu hanya tertera sebaris kata, sebaris kalimat yang amat singkat.
Ditunggu kedatanganmu di luar hutan kuil Thian-liong-ku-sat, ada urusan penting akan dirundingkan.
Lalu dibawahnya tercantum tanda tangan.
-------Nama Siau Jit sudah mencuat ketika kertas itu tercabut setengah jalan, Lui hong telah membaca nama itu, karena nama itu pula dia kehilangan kendali, kehilangan ketenangan hatinya.
Kalau dibilang gadis ini punya kelemahan, inilah titik kelemahan yang dimiliki.
Sejak dilahirkan, hanya orang ini yang bisa membuatnya bersikap begitu.
Siau Jit!
Ada orang bilang, Siau Jit adalah seorang Hiap-kek, seorang pendekar sejati, ada pula yang bilang dia hanya seorang gelandangan, seorang petualang cinta.
Tapi terlepas dia pendekar sejati atau petualang cinta, saat ini sudah tidak banyak anggota persilatan yang tidak mengenal namanya.
Nama orang ini kelewat tersohor, kelewat terkenal.
Bukan lantaran kegantengannya saja, juga lantaran ilmu silatnya yang tangguh.
Bahkan ada orang bilang begini.
Tidak disangkal Siau Jit memang lelaki tertampan di kolong langit.
Sebetulnya tiada batasan yang pasti untuk menilai tampan jeleknya 7 wajah seseorang, akan tetapi siapa pun orangnya, asal pernah berjumpa Siau Jit, mau lelaki atau pun wanita, mau punya permusuhan atau tidak, hampir semuanya harus mengakui bahwa dia memang sangat tampan.
Hanya ada seorang yang menyangkal akan hal ini, dialah Siau Jit sendiri.
Dia tidak pernah bangga atau sombong karena sebutan ini, justru seringkali berkeluh kesah, kesal karena persoalan itu.
Sebab ada banyak masalah, ada banyak kesulitan justru timbul karena masalah ini.
Dalam hal ilmu silat, diapun memiliki bakat dan kemampuan yang luar biasa.
Dia mempunyai seorang guru yang hebat ------Bu-cing-cu!
Manusia tanpa perasaan!
Kehebatan Bu-cing-cu menggetarkan langit selatan, pedang Toan-ciang-kiam miliknya tiada tandingan, belum pernah ada korban yang lolos dari ujung pedangnya dalam keadaan hidup.
Begitu pula dengan Siau Jit, keampuhan dan kehebatannya tiada tandingan.
Nama besar Toan-ciang-kiam (pedang pemutus usus) begitu tersohor, begitu terkenal, sama sekali tak dibawah kebesaran nama Bu-cing-cu.
Ia gemar mengenakan baju berwarna putih, pedang andalannya adalah sebilah pedang bertahta mutu manikam, itulah pedang pusaka pemutus usus.
Kuda jempolan, pedang mustika, busana berwarna putih bersih, semuanya ini merupakan simbol yang telah memabokkan banyak gadis muda, membuat begitu banyak orang jatuh cinta, tapi membuat banyak orang patah hati.
Lui Hong adalah satu diantaranya.
Jagad raya masih diselimuti kesenduan dan keheningan, namun kemurungan yang semula menghiasi wajah Lui Hong, entah sejak kapan telah tersapu bersih.
Perasaan kaget, terperangah, lambat laun mulai surut, sementara perasaan girang makin lama semakin mengental dan bertambah pekat Dengus napas pun kedengaran semakin memburu, menandakan hatinya makin tegang, sedemikian memburunya hingga Ciu Kiok pun ikut merasakan.
Nona tegurnya tiba-tiba, kenapa kau menjadi tegang?
Siapa bilang aku jadi tegang?
bantah Lui Hong cepat.
Jadi nona akan pergi menjumpai Siau kongcu?
lagi-lagi dayang itu bertanya.
Tanpa sadar Lui Hong menarik kembali tangannya.
8 Jadi kau telah membaca semuanya?
Tak tahan Ciu Kiok tertawa geli, serunya.
Sudah terbukti tegang masih menyangkal, masa sedari tadi aku ikut celingukan disisimu pun tidak kau rasakan Dasar budak nakal, hati hati mulutmu!
bentak Lui Hong sambil tertawa.
Nona tak usah kuatir, aku tak akan mengatakan masalah ini dengan siapa pun Lalu sambil merendahkan suaranya dia menambahkan.
Hanya tak jelas ada urusan apa Siau kongcu mencarimu?
Darimana aku tahu Lui Hong menggeleng.
Apakah aku diijinkan ikut pergi?
bisik Ciu Kiok.
Mau apa kau ikut pergi?
Aku....
aku pun ingin bertemu Siau kongcu Tiba-tiba pipinya berubah semu merah, entah sejak kapan sorot matanya jadi sayu, seolah tertutup oleh selapis kabut tebal.
Menyaksikan hal itu Lui Hong menghela napas panjang, bisiknya.
Benarkah penampilan lelaki itu begitu menyentuh perasaan setiap wanita?
Wajah Ciu Kiok semakin memerah, merah lantaran jengah.
Akupun belum pernah bertemu dengan dia, tapi....
konon, menurut cerita orang, setiap anak gadis yang pernah bertemu dengannya, tak seorang pun dapat melupakannya lagi Merah jengah wajah Lui Hong, cepat dia alihkan pokok pembicaraan ke masalah lain, katanya.
Aku pun tak tahu ada urusan apa dia mencariku, tapi kalau dilihat dari sikapnya yang begitu berhati hati, bisa jadi dia tak ingin ada orang ke tiga yang ikut hadir Benar Ciu Kiok tertawa getir.
Bilamana mungkin sambung Lui Hong sambil tertawa, selesai bertemu dia nanti, aku pasti akan mengajakmu untuk pergi menjumpainya Janji?
wajah Ciu Kiok semakin merah.
Janji sambil mengangguk Lui Hong masukkan kembali surat itu ke dalam sampul.
To Kiu-shia dan Thio Poan-oh dua orang piausu yang mengikuti dari belakang segera saling bertukar pandangan setelah menyaksikan kejadian itu, cepat mereka memburu maju.
9 Nona Hong dengan nada menyelidiki To Kiu-shia bertanya, sebenarnya apa yang telah terjadi?
Ah, tidak apa apa agak gugup Lui Hong menggeleng, hanya seorang teman ingin bertemu aku Mengajak bertemu empat mata disuatu tempat?
kembali To Kiu-shia bertanya dengan nada curiga.
Lui Hong mengangguk.
Tidak masalah, karena orang itu bukan orang jahat sahutnya.
Apakah nona yakin?
Tentu sahut Lui Hong tertawa, dia menatap sekejap wajah To Kiu-shia serta Thio Poan-oh, kemudian melanjutkan, minta tolong paman berdua untuk menghantar kereta barang masuk ke kota, sebentar aku akan menyusul kalian Nona, sebenarnya kau hendak ke mana?
Paling tidak beritahu tempatnya kepada kami ujar To Kiu-shia, jadi waktu ditanya congpiautau, kami pun dapat memberikan pertanggungan jawab Tempat itu ada disisi kanan mulut hutan yang telah kita lewati tadi, kuil Thian-liong-ku-sat Kuil Thian-liong-ku-sat?
ulang To Kiu-shia agak tertegun.
Setahuku, kuil itu sudah lama terbengkalai, lama sekali tak pernah dihuni manusia timbrung Thio Poan-oh pula.
Betul, bahkan seorang hwesio pun tak ada disitu Lui Hong tertawa.
Orang yang mengundang aku memang bukan hwesio, jadi aku yakin diapun tidak tinggal disitu katanya.
Suara tertawa gadis ini merdu bagai keleningan, membuat orang yang mendengar merasa nyaman.
To Kiu-shia serta Thio Poan-oh hanya bisa tertegun, selain Ciu Kiok, semua orang yang lain tidak terkecuali.
Mereka jarang mendengar Lui Hong tertawa semacam itu, pun teramat jarang melihat Lui Hong tertawa begitu riang, begitu gembira.
10 Suara tertawa Lui Hong menggaung tiada hentinya, senyuman yang menghiasi wajahnya ibarat bunga yang mekar dimusim semi, semua keheningan dan kesenduan yang membungkus jagad seolah jadi buyar lantaran suara tertawanya itu.
Diiringi suara tertawa yang merdu, ia balik kudanya lalu bergerak menuju ke arah jalanan semula.
Sorot mata semua orang ikut bergeser mengikuti gerakan tubuhnya, namun perasaan tercengang menghiasi wajah hampir semua orang yang hadir.
Hanya Ciu Kiok seorang yang tidak bingung, namun ia tunjukkan perasaan apa boleh buat.
Dalam waktu singkat bayangan tubuh Lui Hong sudah pergi semakin jauh, tak lama kemudian lenyap dibalik tikungan jalan.
Tanpa terasa Ciu Kiok menghela napas panjang, perasaan apa boleh buat semakin kental menghiasi wajahnya.
To Kiu-shia seolah baru mendusin dari impian, segera serunya kepada Ciu Kiok.
Sebenarnya siapa yang telah mengundang nona Hong?
Ciu Kiok tertawa, senyumannya makin misterius, bisiknya.
Aku tak boleh beritahu kepada kalian, kalau sampai ketahuan nona, aku bisa dihukum To Kiu-shia sebagai jago kawakan sangat pandai melihat gelagat, setelah menyaksikan tingkah laku Ciu Kiok sewaktu berbicara dengan Lui Hong tadi, dia seperti menyadari akan sesuatu, segera serunya.
Jangan-jangan orang itu adalah orang yang disukai nona Hong......
Siapa bilang!
tukas Ciu Kiok.
To Kiu-shia tertawa terbahak-bahak.
Hahahaha.....
jangan harap urusan kalian anak gadis dapat mengelabuhi aku si jago kawakan, bagus, bagus sekali, memang sudah saatnya buat nona Hong Hei....
melantur sampai dimana ucapanmu itu Baik, baiklah, tidak kulanjutkan, tidak kulanjutkan ujar To Kiu-shia, setelah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, dia turunkan perintah kepada rombongannya untuk melanjutkan perjalanan.
11 Saat itulah si kakek pemilik warung teh maju menyongsong sambil menyapa.
Tuan tuan sekalian tentu lelah melakukan perjalanan, apa salahnya kalau masuk dulu untuk minum teh?
Ehmm, usul bagus To Kiu-shia manggut manggut, memang ada baiknya kita mengasoh disini sambil menunggu nona Hong Silahkan, silahkan......!
kakek itu segera mempersilahkan tamunya untuk masuk ke dalam warung.
Dalam ruang kedai terdapat tiga buah meja kursi yang amat sederhana, kelihatannya sejak awal buka usaha warungnya, ia sudah pergunakan perabot itu.
Usaha dagang semacam ini sesungguhnya memang sebuah usaha kecil yang hanya cukup untuk mencari uang lauk, dengan keadaan serba pas pasan, mana mungkin ia bisa mengganti semua perabotnya dengan perabot yang lebih baru?
Tapi To Kiu-shia maupun Thio Poan-oh tidak ambil peduli, bagi mereka yang bekerja sebagai pengawal barang, menginap diudara terbuka atau makan di kedai sederhana sudah merupakan kejadian yang lumrah, keadaan yang tak perlu diprotes atau dipermasalahkan.
Apalagi dalam pengalaman mereka, keadaan semacam ini masih belum terhitung sebagai warung paling jelek.
Diatas meja tertata poci serta cawan, biarpun sudah banyak yang retak dan gumpil, namun harus diakui sangat bersih.
Silahkan duduk tuan tuan sekalian kembali kakek itu mempersuilahkan tamunya untuk duduk.
Bagaimana cara menghitung tarif air teh ditempat ini?
tanya To Kiu-shia kemudian sambil tertawa.
Sedikit atau banyak, tergantung kepuasan tuan sekalian sahut si kakek tertawa.
Hahaha...
bagaimanapun jahe makin tua memang semakin pedas, jawaban kau orang tua justru membuat kami jadi rikuh untuk membayar kelewat sedikit Kakek itu hanya tertawa, tidak menjawab.
Sambil berpaling ke arah anak buahnya, kembali To Kiu-shia berpesan.
Rekan rekan sekalian, silahkan pesan teh, orang tua ini sudah lanjut usianya, kalau minta dia 12 melayani kami semua, rasanya malah kurang enak Diiringi gelak tertawa nyaring, semua orang pun mengambil tempat duduk mengelilingi meja meja yang tersedia.
Saat itulah si kakek baru berkata lagi.
Kebetulan air teh baru saja mendidih, kedatangan tuan sekalian memang tepat waktu Tergerak perasaan To Kiu-shia setelah mendengar ucapan itu, ditatapnya kakek itu dengan keheranan.
Bukankah dihari biasa, tidak banyak orang yang lewat disini pada saat seperti ini?
Rasanya memang tidak banyak sahut si kakek tertegun.
Kalau memang tidak banyak, aku yakin mereka lebih pentingkan meneruskan perjalanan daripada membuang waktu hanya untuk minum teh disini Loya, kenapa kau berkata begitu?
kakek itu balik bertanya.
Aku hanya merasa sedikit keheranan jawab To Kiu-shia sambil menatap tajam wajah kakek itu.
Si kakek tetap tidak menjawab, dia hanya tertawa.
Tiba-tiba To Kiu-shia merasa senyuman yang menghiasi wajah kakek itu sama sekali berbeda dengan senyumannya tadi.
Kalau tadi senyuman kakek itu tampak begitu ramah dan lembut, kini senyumannya justru tampak begitu licik dan menakutkan.
Kesan ramah dan lembut yang dimilikinya tadi tiba-tiba hilang lenyap tak berbekas, bahkan semakin dipandang semakin tidak mengenakkan dihati.
Selama ini Thio Poan-oh hanya mengawasi dan mendengarkan dari samping, tiba-tiba dalam hati kecilnya muncul perasaan yang sama seperti yang dirasakan To Kiu-shia, bahkan perasaan tersebut jauh lebih tajam dan jelas.
Tanpa sadar tangannya mulai bergeser ke pinggang, mulai meraba gagang golok Toa-huan-to miliknya.
Pada saat yang bersamaan itulah mendadak terdengar jeritan ngeri bergema dari tengah warung.
Dengan perasaan terkejut serentak To Kiu-shia dan Thio Poan-oh berpaling, mereka saksikan seorang Tong-cu-jiu (pembuka jalan rombongan kereta piaukiok) sedang memegangi tenggorokan sendiri dengan tangan kanan sambil melotot besar, bibirnya 13 bergetar seperti ingin mengatakan sesuatu, sampai lama dia berusaha, akhirnya meluncur juga sepatah kata.
Dalam air teh ada racun!
Begitu selesai berteriak, tubuhnya roboh terjungkal, terkapar ke atas tanah.
Belum lagi tubuhnya menempel tanah, selembar wajahnya telah berubah jadi hitam kebiru-biruan.
Jenis racun yang betul betul hebat!
Daya kerja yang sangat cepat dan mematikan!
Tak terlukiskan rasa kaget To Kiu-shia maupun Thio Poan-oh, tanpa sadar serentak mereka berpaling, menatap kakek penjual teh itu dengan mata melotot.
Si kakek pun sedang menatap mereka berdua, senyuman yang semula ramah, kini berubah sangat menakutkan, bahkan sorot mata pun ikut berubah jadi begitu seram, begitu menakutkan!
Tiba-tiba mereka merasa sepasang mata kakek itu seolah telah berubah jadi hijau membara, bagaikan dua gumpal api setan yang sedang menggeliat.
Mana mungkin sorot mata seorang manusia dapat berubah jadi begini?
Tak kuasa rasa ngeri, bergidik, berkecamuk dalam hati To Kiu-shia maupun Thio Poan-oh, bulu kuduk serasa bangun berdiri.
Ciiiit......!
lagi lagi kakek itu memperdengarkan suara tertawa yang mencicit, suara mencicit aneh yang muncul dari balik tenggorokannya.
Suara tertawa semacam ini belum pernah terdengar muncul dari mulut seorang manusia, paling tidak hingga saat ini, To Kiu-shia maupun Thio Poan-oh belum pernah mendengarnya.
To Kiu-shia mulai bergidik, segera hardiknya.
Teman-teman, kalian harus berhati hati!
Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, sepasang senjata kaitan Jit-gwee-kou telah diloloskan dari pinggangnya.
Criinngg.....!
menyusul kemudian golok Toa Huan-to diloloskan pula dari pinggang Thio Poan-oh.
Mereka berdua bergerak cepat, masing masing memisahkan diri ke kiri dan kanan, mengepung kakek itu ditengah arena.
Dalam waktu yang relatip singkat, lagi lagi ada tiga orang roboh terkapar.
14 Wajah mereka telah berubah hebat, berubah menjadi hitam pekat, hitam kebiru biruan.
Ada lima orang yang meneguk air teh, dari ke lima orang tersebut, tak seorang pun berhasil lolos dalam keadaan hidup.
Menyaksikan kesemuanya itu, To Kiu-shia merasa terkejut bercampur gusar, ditatapnya kakek itu dengan pandangan tajam, lalu tegurnya gusar.
Sebetulnya siapa kau?
Hehehehe.
Pencabut nyawa kakek itu menjawab sambil tertawa seram.
Jadi kau mengincar barang kawalan kami?
Kakek itu tidak menjawab, dia hanya tertawa, tertawa menyeramkan.
Tahukah kau barang apa yang sedang kami kawal?
kembali To Kiu-shia menegur.
Barang apa pun bukan masalah Oya?
To Kiu-shia tertegun.
Karena bukan barang kawalanmu yang kuinginkan, aku hanya menginginkan nyawa kalian semua!
Permusuhan apa yang terjalin antara kau dengan kami?
teriak Thio Poan-oh setengah menjerit.
Permusuhan apa pun tak ada Jangan jangan kau berbuat begini karena nona kami?
tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak To Kiu-shia.
Hmm, rupanya kau pun termasuk seseorang yang cerdas puji si kakek, setelah menghela napas, terusnya, sayang orang cerdas biasanya berumur pendek Habis berkata, lagi lagi dia perdengarkan suara mencicit, suara tertawa yang sangat aneh.
Sebenarnya siapa kau?
tak tahan lagi To Kiu-shia bertanya.
Kalau bernyali, sebutkan namamu!
Thio Poan-oh menambahkan.
Perlahan kakek itu menyapu sekejap wajah kedua orang jagoan itu, akhirnya dia menjawab.
Tentu saja akupun punya nama, sayang sekali biar kusebut pun tak ada gunanya, kalian tak bakal punya kesan apa pun, karena sudah kelewat lama namaku 15 itu tak pernah kugunakan Sesudah berhenti sejenak, dia melanjutkan.
Semua yang tahu tentang diriku, selalu memanggilku sebagai Kelelawar!
Kelelawar?
ulang Thio Poan-oh melengak.
Betul, kelelawar ulang si kakek.
Mendadak......
dalam waktu yang teramat singkat, To Kiu-shia seakan teringat akan suatu kejadian yang sangat menakutkan, tanpa sadar dia menjerit.
Jadi kau adalah si kelelawar itu?
Betul sekali, akulah orangnya Paras muka To Kiu-shia berubah hebat, Tapi.........
Kelelawar adalah sejenis binatang yang sangat aneh, kadangkala dia tampak seolah sudah mampus, padahal sesungguhnya dia masih hidup To Kiu-shia terbelalak, terkesima, berdiri melongo tanpa mampu berkata kata.
Saat itu, Thio Poan-oh seolah teringat pula akan sesuatu, dengan wajah berubah teriaknya pula, Lo-To, kau maksudkan si kelelawar itu?
Dalam dunia persilatan memang hanya ada satu kelelawar!
tegas rekannya.
Kembali paras muka Thio Poan-oh berubah, berubah sangat hebat.
Lantas....
nona Hong..........
Manusia kelelawar berada disini!
tukas To Kiu-shia dengan nada berat.
Betul Tanpa banyak bicara lagi, To Kiu-shia mengayunkan sepasang senjata kaitan jit-gwee-kou miliknya.
Serentak para piausu lain yang berada dalam warung teh meloloskan senjatanya, Criiiing....
Criiiing.......
suasana jadi teramat gaduh.
Jangan biarkan bangsat ini lolos dari dalam warung dalam keadaan hidup!
perintah To Kiu-shia lagi.
Serentak semua orang mengiakan.
Kematian rekan seperjuangan membuat kawanan jago lainnya jadi sedih, melihat ke lima orang saudaranya tewas keracunan air teh, tak seorangpun diantara jago lainnya yang tak ingin menuntut balas terhadap si kakek yang mengaku bernama Pian-hok atau kelelawar itu.
16 Biar tahu musuhnya tangguh dan menakutkan, namun mereka tidak merasa jeri, bahkan rasa takutpun tak ada.
Karena sebagian besar diantara kawanan jago itu adalah anak muda, mereka belum tahu siapakah si kelelawar , tidak tahu keberadaan si kelelawar sebelumnya.
Mereka sama sekali tak tahu sampai dimana menakutkannya si kelelawar, sampai dimana ngeri dan ganasnya manusia itu.
Bahkan To Kiu-shia dan Thio Poan-oh sendiripun hanya mendengar cerita orang.
Tak disangkal memang amat banyak cerita dongeng tentang si kelelawar, namun semuanya tak lebih hanya berita sensari, cerita dongeng, tak seorang manusiapun yang tahu asal usul serta sepak terjang yang sebenarnya dari manusia ganas itu.
Hal ini bisa dimaklumi, sebab belum pernah ada korban dari si kelelawar yang tetap hidup dan bercerita.
Dalam hal inipun tak lebih hanya cerita dongeng.
Terkadang cerita dongeng jauh dari kenyataan aslinya, seringkali jauh lebih besar dan hebat dari kejadian sesungguhnya, karena disana sini telah ditambahi bumbu.
Apalagi manusia ganas yang disebut Pian-hok atau kelelawar ini sudah lama lenyap dari dunia persilatan, malah konon sudah lama tewas.
Dalam hal ini, To Kiu-shia maupun Thio Poan-oh sangat yakin dan percaya.
Karena orang yang memberitahu kepada mereka tentang kematian si kelelawar bukan orang lain, mereka adalah kedua orang congpiautau dari perusahaan ekspedisi Tin-wan Piaukiok, Lui Sin serta Han Seng!
Lui Sin bertemperamen tinggi bagai bahan peledak, Han Seng tenang banyak bicara.
Semua yang diucapkan kedua orang ini jujur dan sesuai kenyataan, dalam hal ini tak dapat diragukan lagi.
Tapi kenyataannya sekarang, si kelelawar yang konon sudah tewas, kini telah muncul dihadapan mereka, muncul dalam kondisi segar bugar.
Dalam waktu sekejap, muncul satu keraguan dalam hati mereka berdua, satu kecurigaan yang amat besar.
17 Kelelawar yang berada dihadapan mereka sekarang, apakah kelelawar yang sesungguhnya?
Baru saja ingatan itu melintas, si kelelawar telah berkata.
Sebelum kalian semua mampus, aku tak bakal tinggalkan kedai teh ini!
Nada suaranya parau, rendah dan berat, aneh sekali kedengarannya, sama sekali tak mirip suara manusia.
To Kiu-shia menatapnya tajam, tak tahan lagi-lagi dia bertanya.
Kau benar benar si kelelawar?
Hmm, dalam waktu secepatnya kalian akan tahu sendiri sahut si kelelawar sambil tertawa dingin.
Begitu selesai bicara, tiba-tiba dia bersuit nyaring, suitan yang tajam, melengking dan sangat menusuk pendengaran.
Brukkk, bruuuk, bruuuk.........
serentetan suara aneh segera bermunculan dari balik ruang kedai.
Semua orang berpaling, menoleh kearah berasalnya suara aneh itu, tapi apa yang kemudian terlihat membuat mereka terperangah, terkesima, begitu kaget sampai melongo dan ternganga.
Dari balik tiang kedai, dari balik tempat tempat yang gelap dalam ruangan muncul begitu banyak kelelawar, bergantungan diatas tiang, beterbangan silih berganti.......
Kelelawar itu segera berkata dengan suara berat.
Semua kelelawar itu adalah kelelawar sejati, kelelawar sesungguhnya, sedangkan aku si kelelawar, meski bukan sejenis dengan mereka, meski bukan rekan sebangsa dengan mereka, tapi aku tak lain adalah Mo-ik-pian-hok, kelelawar tanpa sayap.
Satu satunya Kelelawar tanpa sayap yang pernah ada!
Kelelawar tanpa sayap........
Thio Poan-oh mendesis lirih, tanpa sadar tangan kanannya yang menggenggam golok Toa-huan-to mulai gemetar.
Tidak terkecuali To Kiu-shia.
Walaupun mereka masih belum tahu jelas sampai dimana kelihayan dari kelelawar tanpa sayap ini, namun satu perasaan ngeri, perasaan seram yang tak terlukis telah muncul dalam hati mereka, muncul dari dasar telapak kaki dan langsung merambat naik ke ujung kepala.
Kembali si kelelawar bersuit nyaring....
18 Begitu suitan berbunyi, kawanan kelelawar itu mulai beterbangan, mulai menyambar kian kemari.
Bruuk.....
brukkk.......
suara kebasan sayap bersahutan, seluruh kedai jadi kacau.....
UASANA hutan murbei merah bagai darah, cahaya matahari senja merah bagai darah.
Kawanan kelelawar itu muncul dari balik daun murbei yang merah, menerobos keluar dari balik cahaya senja yang membara, tubuh mereka seolah ikut berubah jadi merah, semerah darah segar.
Jeritan kaget bergema silih berganti, untuk sesaat semua orang berdiri bengong, berdiri tertegun, tak tahu apa yang harus dilakukan.
Sepasang tangan Thio Poan-oh serta To Kiu-shia telah basah oleh keringat dingin, ingin sekali mereka perintahkan semua orang untuk tenang, untuk lebih mengendalikan diri, namun ucapan yang telah meluncur ke sisi tenggorokan, entah mengapa, ternyata jadi beku, tak mampu disampaikan keluar.
Terdengar si kelelawar berkata lagi.
Biarpun aku tak bersayap, namun aku tetap dapat terbang!
Baru selesai berbicara, tubuhnya sudah melambung, sudah mulai terbang di udara.
Tentu saja dia bukan terbang sungguhan, dia hanya melambung ke udara secara tiba-tiba.
Ia mengenakan pakaian serba hitam, sewaktu sepasang ujung bajunya terkulai ke bawah, entah bagaimana, begitu dipentangkan ternyata lebarnya bukan kepalang, pada hakekatnya tak jauh berbeda seperti sepasang sayap dari seekor kelelawar!
Begitu sepasang bajunya dibentangkan, ia turut melambung ke tengah udara.
Mula mula Thio Poan-oh agak tertegun, menyusul kemudian jeritnya lengking.
Hati-hati!
Cepat tubuhnya melejit ke samping, golok Toa-huan-to digetarkan kemudian langsung mengejar ke arah mana si kelelawar itu bergerak.
19 To Kiu-shia tak berani berayal, dengan gerakan tubuh It-hok-ciong-thian (bangau sakti menerobos langit), sepasang kait Jit-gwee-kou nya memainkan jurus Siang-liong-jut-hay (sepasang naga keluar dari samudra) mengejar ke arah si kelelawar.
Gerakan tubuh mereka tidak terhitung lambat, namun bila dibandingkan si kelelawar, ternyata terdapat selisih jarak yang cukup jauh, apalagi si kelelawar bergerak lebih duluan.
Melambung dua kaki ditengah udara, tiba-tiba si kelelawar melakukan patahan, dengan satu gerakan cepat dia sambar seorang piausu bersenjatakan sebilah tombak.
Cukup cekatan piausu itu menghadapi datangnya ancaman, sambil membentak nyaring, tombaknya bagaikan seekor ular berbisa balas menusuk dada lawan.
Sang kelelawar tertawa dingin, tubuh yang tampaknya sudah tak mungkin melakukan perubahan itu tiba-tiba berbelok ke samping, biarpun gerak menubruknya masih tak berubah, namun dadanya yang terancam tusukan lawan justru sudah menyingkir ke sisi lain.
Bagaimana pun dasar ilmu silat yang dimiliki piausu itu sangat terbatas, untuk sesaat sulit baginya untuk menangkap perubahan itu, menyangka tusukan tombaknya pasti mengenai sasaran, genggamannya makin diperkencang, tusukan yang dilancarkan pun meluncur semakin cepat ke depan.
Criiiit!
ujung tombak menyambar lewat, tahu tahu tusukan itu sudah melesat lewat dari bawah ketiak lawan, padahal terkaman si kelelawar saat itu sama sekali tak terhenti, dengan kecepatan kilat langsung mengancam tubuh piausu itu.
Dalam keadaan begini piausu itu baru sadar kalau gelagat tidak menguntungkan, sambil menjerit kaget buru-buru dia melompat mundur.
Belum lagi teriakannya selesai berkumandang, tangan kanan sang kelelawar yang tajam bagaikan cakar burung elang sudah mencekik leher piausu tersebut.
Begitu digenggam lalu diayun, tubuh piausu itu bagaikan layang-layang yang putus benang langsung mencelat ke belakang, menumbuk diatas sebuah tiang kayu.
Lima buah lubang kecil kini muncul dari bekas cekikan pada tenggorokannya, darah segar bagai pancuran air menyembur keluar tiada hentinya.
20 Dengan ke lima jari tangannya yang berpelepotan darah, kembali si kelelawar mengayun sambil menggapit, lagi lagi dia cengkeram wajah piausu ke dua.
Tergopoh gopoh piausu itu berkelit kesamping, sayang sasaran yang diarah kelelawar itu bukan wajahnya, melainkan tenggorokannya.
Kembali cengkeraman disertai ayunan tangan dia lakukan, disaat darah segar mulai menyembur keluar dari tenggorokan piausu itu, tubuh si kelelawar kembali telah melambung ke tengah udara.
Sepasang ujung bajunya dikebaskan berulang kali, ditengah deruan angin kencang, tubuhnya menukik ke bawah, kembali tangannya digerakkan ke sana kemari, bagaikan sabetan golok dia hajar tenggorokan dari dua orang siang-cu-jiu.
Tak sempat menghindarkan diri, lagi lagi tenggorokan ke dua orang itu terbabat telak, kreeekl tubuh mereka mencelat ke tengah udara.
Rekannya yang menyaksikan kejadian itu seketika mengayunkan goloknya membacok ujung baju yang mengancam tiba, Prakkkk!
diiringi suara keras, golok itu mencelat dari genggamannya, meluncur ke tengah udara bagaikan pusingan roda kereta.
Akibat dari getaran yang amat keras itu, telapak tangan kanannya jadi retak dan pecah, darah meleleh membasahi bajunya, sementara orang itu hanya bisa berdiri mematung tanpa bergerak, mematung karena tertegun, terkesima dan ngeri.
Dengan satu gerakan cepat kelelawar itu meluncur turun persis dihadapannya, telapak tangannya yang tajam bagai cakar burung lagi lagi dihantamkan ke muka.
Ternyata dia tidak tahu menghindar ataupun berkelit, dalam waktu yang relatip singkat dia hanya merasa munculnya rasa sakit yang luar biasa dari bagian wajahnya, lalu terdengar suara tulang yang gemerutuk hancur.
Itulah perasaan yang bisa ia rasakan untuk terakhir kalinya.
Begitu telapak tangan si kelelawar meninggalkan kepalanya, seluruh wajah orang itu hancur lebur tak karuan dan roboh terkapar ke tanah bagai lumpur cair.
Tidak berhenti sampai disitu, si kelelawar menggerakkan tubuhnya berulang kali dengan gerakan cepat dan aneh, cepat tapi ganas, ditengah suara deruan angin pukulan 21 yang memekak telinga, kembali dua orang anggota pengawal barang tersambar ujung bajunya, ujung baju setajam mata pisau yang menggorok tenggorokan mereka.
Menyusul kemudian seorang lagi mati dengan wajah hancur.
Dalam waktu yang relatif singkat, sudah ada tujuh orang roboh terkapar ditangan si kelelawar, bila ditambah lima orang yang tewas duluan karena keracunan, berarti sudah ada dua belas orang yang menemui ajalnya secara percuma.
To Kiu-shia serta Thio Poan-oh menyaksikan semua peristiwa itu dengan mata kepala sendiri, sekuat tenaga mereka menyusul di belakang si kelelawar, sepasang kaitan jit-gwee-kou serta golok toa-huan-to milik mereka diayun berulang kali dengan sepenuh tenaga, dengan harapan bisa membacok mati musuhnya dalam waktu singkat.
Tapi kedua orang itu merasa kecewa sekali.
Hingga akhirnya berhasil mengendalikan diri, mereka b aru menemukan kalau dari ke dua puluh enam orang kelompoknya, kini hanya tersisa empat belas orang yang masih hidup.
Dalam sedih dan gusarnya To Kiu-shia membentak nyaring.
Semua orang berkumpul ditengah warung, lawan musuh dengan sepenuh tenaga!
Begitu selesai berteriak, ia segera memberi kode kepada Thio Poan-oh, sepasang senjata kaitan Sit-gwee-kou miliknya dengan jurus Cu-tiap-cuan-hoa (kupu kupu terbang diantara bunga) diayun ke kiri kanan melindungi Ciu Kiok serta empat orang Tong-cu-jiu lainnya yang berada disisinya.
Thio Poan-oh tak berani berayal, golok Toa-huan-to nya dengan jurus Pat-hong-hong-uh (hujan angin dari delapan penjuru) melancarkan tiga belas bacokan secara beruntun, dia pun berusaha melindungi seorang piausu serta lima orang Tong-cu-jiu lainnya.
Dengan merapatkan diri dalam satu lingkaran, mereka mulai bergeser dari tempat itu.
Masih ada seorang tong-cu-jiu lagi yang berdiri sedikit agak jauh, sementara si kelelawar persis berada diantara mereka, begitu melihat rekan rekannya tewas secara mengerikan, orang itu jadi pecah nyali dan ketakutan setengah mati.
22 Begitu melihat sang kelelawar menghadang persis dihadapannya, ia semakin tak berani bergabung dengan kelompoknya, diiringi jerit ketakutan, orang itu malah berbalik diri dan kabur ke arah luar.
Jangan......
teriak Thio Poan-oh, buru buru golok toa-huan-to nya dibabat ke depan, mengancam tubuh si kelelawar.
Belum lagi sabetan golok itu tiba, si kelelawar sudah melesat keluar, sambil bersalto ditengah udara, dia menyusul ke arah mana tong-cu-jiu itu melarikan diri.
Baru saja kabur empat lima langkah, tong-cu-jiu itu sudah merasakan datangnya desingan angin tajam yang menindih badannya, tanpa berpaling lagi, sambil berteriak ketakutan secara beruntun dia lepaskan tiga bacokan berantai.
Dalam keadaan begini dia sudah tidak berharap untuk melukai musuhnya lagi, yang penting menyelamatkan diri sendiri.
Sayang sekali ilmu silat yang dimilikinya kelewat cetek, apalagi dibawah ancaman maut si kelelawar, mana mungkin ia bisa selamatkan diri?
Baru saja bacokan ke tiga sampai diseparuh jalan, suara retakan bergema di udara, tahu tahu tangan kanan si kelelawar telah merobek baju bagian punggungnya dan menggencet tulang belakangnya.
Kekekekek......
diiringi tertawa aneh, kelelawar itu menggetarkan tangan kanannya, tulang punggung berikut tulang iga tong-cu-jiu itu rontok satu demi satu.
Kreeek, kreeek, kreeee!
serentetan bunyi keras seperti ledakan rentengan mercon berkumandang sambung menyambung, bagaikan kehilangan tulang penyangga, tak ampun tubuh orang itupun terkapar lemas ke tanah.
Sambil mengendorkan tangannya, kelelawar itu membalikkan tubuh sambil merangsek maju.
Pada saat itulah Thio Poan-oh mengayunkan golok besarnya melancarkan sebuah tebasan, dengan bobot golok yang begitu berat, tebasan itu disertai deruan angin kuat.
Bagus!
puji kelelawar itu sambil bergeser ke samping menghindarkan diri dari datangnya sabetan itu, bersamaan waktu dia kebaskan ujung bajunya, dengan gerakan bagai menggunting dia ancam tenggorokan lawan.
23 Cepat Thio Poan-oh memutar goloknya dengan jurus Eun-hoa-hud-liu (memisah bunga mengebas liu), satu jurus dua gerakan, dia babat sepasang ujung baju lawan yang sedang menggunting ke arahnya.
Praak, praaak......!
dua kali benturan nyaring bergema di udara, ketika golok dan ujung baju saling membentur, bukan saja golok itu tidak tergulung lepas, ujung baju pun sama sekali tak robek, namun sepasang tangan Thio Poan-oh yang menggenggam senjata terasa linu dan kaku oleh bentrokan itu.
Tak urung terkesiap juga perasaan hatinya.
Dengan satu gerak cepat kembali si kelelawar merangsek maju, sepasang lengannya digetarkan sambil menyambar, kali ini dia ancam dada Thio Poan-o h, bukan saja cepat dalam perubahan jurus, serangan pun ganas dan telengas.
Mimpi pun Thio Poan-oh tidak menyangka kalau bacokan goloknya gagal untuk membendung serangan musuh, untung ia sigap, begitu merasa gelagat tidak mengutungkan, cepat dia ambil keputusan untuk melompat mundur.
Bagai bayangan saja, kelelawar itu menempel terus disisi tubuhnya.
Melihat situasi amat kritis, diiringi suara bentakan yang menggelegar bagai suara guntur, To Kiu-shia dengan senjata Jit-gwee-kou nya menerjang masuk dari samping, dia kunci sepasang pergelangan tangan lawan.
Hampir pada saat bersamaan Ciu Kiok dengan pedang mustika nya menusuk tubuh lawan dari sisi lain.
Tidak ketinggalan tiga orang piausu lainnya, dengan senjata sam-ciat-kun serta dua bilah golok besar, ke tiga jenis senjata itu serentak menyerang tubuh lawan dari tiga arah yang berbeda.
Seolah tidak melihat datangnya semua ancaman itu, si Kelelawar mengebaskan sepasang tangannya berulang kali, ternyata ia lepaskan berapa kali sentilan maut untuk mementalkan datangnya ke lima jenis senjata itu.
Perawakan tubuhnya yang tinggi jangkung berputar bagai gangsingan, sekilas cahaya tajam yang menyilaukan mata segera meluncur keluar dari balik tubuhnya.
Jeritan ngeri pun berkumandang membelah keheningan.
24 Kilatan cahaya tajam itu tidak berhenti sampai disitu, dengan kecepatan tinggi kembali melesat ke semua arah.
Criiit, criiit, criiit!
jerit kesakitan bergema sahut menyahut, percikan darah bagai bunga api menyembur ke mana mana.
Hati hati!
hardik To Kiu-shia berulang kali, dengan senjata kaitan Jit-gwee-kou, dia lakukan tangkisan di kiri dan kanan secara berulang, bukan saja harus selamatkan diri, diapun harus melindungi keselamatan anak buahnya.
Sayangnya, selamatkan diri sendiri pun ia tak sanggup apalagi mengurus keselamatan orang lain, suatu ketika karena kurang berhati hati, cahaya tajam itu berhasil menerobos masuk melalui celah diantara sepasang senjata kaitan jit-gwee-kou miliknya.
Darah segar segera menyembur dari bahu kirinya, senjata jit-gwee-kou yang digenggam dalam tangan kirinya terlepas dari cekalan dan....
Traang!
jatuh ke tanah.
Sementara itu Thio Poan-oh dengan golok besarnya hanya sanggup menyelamatkan diri.
Disisi lain, ciu Kiok dengan wajah pucat pias memaink an pedangnya sepenuh tenaga, dia putar senjatanya sedemikian rupa hingga angin dan hujan pun sulit tembus, setelah bersusah payah akhirnya ia berhasil juga membendung datangnya gempuran cahaya tajam itu.
Triiing, triiing!
dentingan keras bergema tiada hentinya, mendadak kilatan cahaya tajam itu meluncur naik ke atas.
Begitu melesat naik, seketika lenyap tak berbekas.
Menyusul kemudian bayangan pedang cahaya golok pun secara beruntun terhenti semua.
To Kiu-shia masih berdiri dengan senjata kaitan ditangan kanannya melindungi dada, darah segar yang memancar keluar dari mulut luka dibahu kirinya masih mengalir deras, namun dia seolah sama sekali tidak merasa.
Thio Poan-oh dengan golok besarnya menempel didepan dada kanan berdiri pula dengan sikap tegang, peluh sebesar kacang membasahi sekujur tubuhnya, bahkan dengus napas pun berubah memburu dan tersengkal.
25 Sebaliknya Ciu Kiok berdiri dengan ujung pedang menghadap ke bawah, wajahnya pucat pasi seperti kertas, mulutnya setengah ternganga, matanya terbelalak lebar penuh diliputi perasaan ngeri dan takut.
Bisa dimaklumi kalau dia ngeri bercampur takut, sebab didalam kedai itu, kecuali si kelelawar, kini hanya tersisa mereka bertiga saja yang masih hidup.
Para piausu dan tong-cu-jiu yang tadi bertarung bersama-sama melawan keganasan si kelelawar, kini hampir semuanya sudah tertumpas, berubah jadi orang mampus.
Diantara mereka, ada yang kepalanya terpisah dengan badan, ada yang pinggangnya terbabat putus jadi dua, ada pula yang dadanya terbelah hingga merekah.
Darah segar telah membasahi seluruh permukaan lantai kedai, hampir semua meja kursi tumbang berantakan tak karuan, ceceran darah membuat tempat itu berbau anyir dan amis.
Ke tiga orang itu merasa amat sedih, dalam keadaan begini mereka tak sempat lagi mengurusi para korban, sebab walaupun pihaknya sudah jatuh begitu banyak korban, namun gagal merobohkan kelelawar ganas itu.
Bagi si kelelawar, tentu saja dia tak akan sudahi persoalan itu sampai disana, kini dia berada diatas belandar rumah.
Ke tiga orang itu tidak tahu mengapa si kelelawar melompat naik ke atas belanda.
rumah, tapi satu hal mereka sangat yakin, musuhnya tak bakal melepaskan mereka dengan begitu saja.
Bau anyir darah semakin berat dan pekat menyelimuti ruangan, bersamaan itu pula dengus napas ke tiga orang itu semakin berat dan sesak.
Selapis daya tekanan tak berwujud seolah menindih seluruh kedai teh itu.
Apakah hal ini disebabkan si kelelawar sudah naik keatas belandar?
Berdiri diatas tiang penglari?
Belandar itu tidak terlalu besar, namun cukup untuk menahan pijakan badan si kelelawar.
Ia duduk tenang disitu, sepasang matanya yang hijau bersinar menatap tiga mangsanya tanpa berkedip, seakan mata kucing yang mengawasi tiga ekor tikus.
26 Diatas pangkuan lututnya tergeletak sebilah senjata, sebilah golok yang panjangnya satu meter.
Gagang golok itu terbuat dari sepotong besi yang berbentuk seekor kelelawar dengan sepasang sayap terpentang lebar, sementara badan golok berbentuk melengkung bagai bulan sabit, cahaya yang terpancar keluar amat menyilaukan mata, tak disangkal kawanan piausu dan tong-cu-jiu telah tewas diujung golok itu.
Meski sudah begitu banyak orang yang mati terbunuh, ternyata tak setetes darah pun yang menodai badan golok.
Membunuh tanpa ternoda darah, sudah jelas senjata itu merupakan sebilah golok mustika.
Dengan ke lima jari tangan kirinya, si kelelawar membesut badan golok lengkungnya, tiba-tiba ia menyentil dengan ibu jari dan jari tengahnya.
Nguuuungg suara dengungan bagai pekik naga menggema dari tubuh golok lengkung itu, bahkan senjata tersebut bergetar tiada hentinya.
Kilauan cahaya tajam memancar bagai sambaran halilintar, amat menusuk pandangan.
Mendengar suara dengungan, menyaksikan cahaya yang berkilauan, To Kiu-shia bertiga merasakan hatinya bergetar keras.
Tahukah kalian, golok apakah ini?
terdengar si kelelawar menegur sambil tertawa aneh.
Tidak tahu jawab Thio Poan-oh tanpa sadar.
Golok Kelelawar!
Kalau toh golok kelelawar, lantas kenapa?
dengus Thio Poan-oh sambil tertawa dingin.
Golok ini hanya membunuh orang terkenal, jadi seharusnya merasa bangga dan terhormat bila dapat mampus diujung golok ini Kentutl umpat To Kiu-shia.
Kembali si kelelawar menghela napas.
27 Aaai, sebenarnya golok kelelawar terdiri dari tiga belas bilah, tapi sekarang tinggal sebilah ini saja katanya Lantas kemana perginya sisa golok yang lain?
tanya Thio Poan-oh keheranan.
Telah kuhadiahkan untuk ke dua belas orang gadis yang kusukai!
sahut si kelelawar.
Sesudah tertawa lebar, kembali lanjutnya.
Golok yang terakhir inipun segera akan kuberikan kepada orang Apa.....
apakah hendak kau hadiahkan untuk....
untuk nona kami?
tanya Ciu Kiok gemetar.
Betul jawab si kelelawar sambil mengangguk, biarpun mataku tak dapat melihat, tapi hingga kini aku tahu kalau dia adalah seorang gadis yang cantik dan menawan hati Kau....
kau maksudkan dirimu....
dirimu seorang buta?
tanya Ciu Kiok lagi tercengang.
Si kelelawar tertawa pedih.
Kau....
kau maksudkan dirimu....
dirimu seorang buta?
tanya Ciu Kiok lagi tercengang.
Si kelelawar tertawa pedih.
Ehm!
Biarpun aku tak punya mata, namun memiliki sepasang telinga yang tajam dan sempurna Setelah berhenti sejenak, tambahnya.
Telinga kelelawar memang selalu tajam dan sempurna!
Ciu Kiok yang mendengarkan kesemuanya itu hanya bisa berdiri terbelalak dengan mulut melongo, sedangkan To Kiu-shia serta Thio Poan-oh merasa terkesiap, perasaan heran bercampur sangsi terpancar keluar dari balik sorot matanya.
Ternyata si kelelawar adalah seorang buta, bagaimana mungkin mereka dapat percaya?
Meskipun tidak bersuara, tampaknya si kelelawar seperti memahami jalan pikiran mereka, kembali ujarnya.
Banyak orang tidak percaya kalau aku adalah seorang manusia buta, tapi kenyataan tetap merupakan kenyataan!
Berbicara sampai disitu, perlahan dia angkat tangan kirinya, menekan kelopak mata kiri lalu mencongkel ke dalam, mencomot keluar biji matanya yang berada dalam kelopak mata itu.
Begitu biji mata tercongkel keluar, maka muncullah sebuah liang gelap dimata kirinya itu.
28 Dari balik liang hitam itu terpancar sinar fosfor berwarna hijau muda, pancaran sinar api setan yang meliuk liuk di udara.
Walaupun suasana diatas belanda.
rumah merupakan bagian sudut ruang tergelap, namun cahaya fosfor itu tampak begitu jelas dan nyata.
Si kelelawar meletakkan biji matanya yang dikorek keluar itu diatas telapak tangannya.
Biji mata yang diletakkan diatas tangan itu masih memancarkan sinar fosfor berwarna hijau, seakan akan mata itupun masih bernyawa, karena tetap memandang ke arah To Kiu-shia dan Thio Poan-oh sekalian dengan melotot.
Menghadapi kejadian seperti ini, To Kiu-shia maupun Thio Poan-oh merasakan hatinya berdebar keras, berdebar karena tegang bercampur ngeri, apalagi Ciu Kiok seorang gadis muda, nyaris dia jatuh tak sadarkan diri.
Sejak dilahirkan hingga detik sebelum kejadian itu, belum pernah mereka jumpai peristiwa aneh semacam ini, apalagi peristiwa yang begitu horor dan menakutkan.
Kembali si kelelawar tertawa aneh, wajahnya yang tanpa mata membuat senyuman orang itu terlihat makin seram dan menakutkan.
Perlahan-lahan dia masukkan kembali biji matanya ke dalam kelopak mata yang berlubang, kemudian tegurnya.
Sekarang, tentunya kalian sudah percaya bukan?
Tanpa terasa Ciu Kiok mengangguk, sedang To Kiu-shia dan Thio Poan-oh ingin sekali tertawa dingin, tapi sayang mereka tak mampu lagi untuk tertawa dingin.
Kalau begitu, sekarang kalian sudah boleh berangkat kata kelelawar lebih lanjut sambil tertawa.
Berangkat ?
apa maksud ucapan tersebut?
Tanpa dijelaskan pun ke tiga orang itu memahami dengan sangat jelas.
Berkilat mata To Kiu-shia, tiba-tiba ia merendahkan suaranya sembari berbisik.
Ciu Kiok, kami berdua akan menghadang kelelawar itu dengan sepenuh tenaga, gunakan kesempatan itu untuk kabur dari sini, naiklah ke kuda dan larikan kencang kencang!
Aku........
Ciu Kiok tergagap.
Bila kami semua mampus disini, siapa yang bakal melaporkan kejadian ini kepada congpiautau?
Apa lagi yang masih kau ragukan?
tukas To Kiu-shia cepat.
29 Benar sambung Thio Poan-oh pula, mati hidup nona sudah berada dalam genggamanmu, tak usah pedulikan kami, cepat tinggalkan tempat ini Merasa pendapat tersebut ada benarnya juga, akhirnya sambil menggigit bibir Ciu Kiok mengangguk.
Baru saja nona itu akan ngeloyor pergi, mendadak terdengar si kelelawar yang berada diatas tiang penglari berseru lagi sambil tertawa dingin.
Ingin melarikan diri?
Tampaknya pembicaraan mereka bertiga telah terdengar semua olehnya, tiba-tiba ia sentil lagi senjatanya, suara dengungan nyaring pun bergema dari balik badan golok lengkung itu.
Tanpa sadar Ciu Kiok menghentikan langkah kakinya, buru buru Thio Poan-oh mendesak.
Ciu Kiok, jangan urusi dia, cepat lari!
Betul, biar kami yang menghadapinya, cepat kabur!
sambung To Kiu-shia.
Sekali lagi Ciu Kiok mengangguk, ia membalikkan badan dan kabur secepatnya meninggalkan warung.
Pada saat bersamaan To Kiu-shia menghardik.
Maju!
Jit-gwee-kou yang berada ditangan kanannya diputar, tubuhnya segera melambung ke udara, langsung menerkam si kelelawar yang berada diatas belandar.
Thio Poan-oh tak berani berayal, golok besar Toa-huan-to miliknya diputar lalu bersamaan dengan gerakan melambung, dia bacok pinggang musuh.
Melihat datangnya ancaman itu, si kelelawar melotot tanpa berkedip, mendadak ia berpekik nyaring, tubuhnya menerjang ke atas, Braaak!
ia jebol atap warung lalu meluncur keluar dari ruangan itu.
Dalam waktu singkat seluruh bangunan warung sudah roboh ke tanah dan hancur berantakan.
Baik To Kiu-shia maupun Thio Poan-oh sama sekali tak menyangka bakal terjadi peristiwa itu, padahal saat itu tubuh mereka sedang melambung ke udara.
Dalam keadaan begini, mana sempat bagi mereka untuk menghindarkan diri?
Tak ampun ke dua orang itu segera tertindih dibalik puing warung yang bertumbangan.
Tak seorangpun yang akan menyangka kalau sebuah bangunan warung teh yang begitu kokoh, mendadak bisa ambruk dan hancur berantakan, tentu saja terkecuali si kelelawar.
30 Rupanya semua tiang penyangga bangunan warung itu sudah dipatahkan sebelumnya, hanya karena sudah diganjal maka bangunan itu tidak sampai roboh.
Tapi kini, begitu si kelelawar bergerak menjebol atap bangunan dengan kekuatan yang maha besar, tiang tiang penyangga yang semula telah diganjal pun ikut bergeser posisinya, tak aneh bila bangunan tersebut segera roboh.
Kelihatannya semua perubahan itu sudah berada dalam dugaan dan perhitungan si kelelawar, ditengah suara hiruk pikuk yang nyaring, tubuhnya yang kurus kering telah meluncur keluar dari balik bangunan, sepasang ujung bajunya dikebaskan, Braaaak!
tubuhnya bagaikan seekor kelelawar melesat turun dengan kecepatan tinggi.
Waktu itu Ciu Kiok baru saja berlari keluar dari dalam warung, baru selangkah tinggalkan pintu, suara gemuruh yang keras telah menggetarkan hatinya, begitu berpaling, nona ini jadi terbelalak hingga berdiri melongo, ia saksikan bangunan warung teh sudah roboh tak karuan.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Bagaimana keadaan paman To dan paman Thio?
Sementara dia masih keheranan, Wessss!
dari belakang tubuhnya terdengar suara sambaran, diikuti bergemanya suara tertawa aneh dari si kelelawar yang tinggi tajam.
Dengan perasaan terkejut ia berpaling, saat itulah dia saksikan si kelelawar sedang melesat turun dari tengah udara, meluncur turun hanya setengah tombak di belakang tubuhnya.
Kelelawar!
belum selesai nona itu menjerit, tusukan golok si kelelawar telah meluncur datang kearah tubuhnya.
Cahaya golok yang tajam bagai sambaran kilat, tusukan golok yang cepat bagai lintasan petir.
Buru buru dia memutar tangan kanannya, menyongsong datangnya tusukan itu dengan ayunan pedang.
Sepintas, ayunan pedang itu seakan berhasil membendung datang nya tusukan golok dari si kelelawar, begitu pula pendapat Ciu Kiok, siapa sangka pedangnya yang dibabat ke muka ibarat sapi tanah liat yang tercebur ke dalam lautan.
Celaka!
pekik Ciu Kiok dengan perasaan terperanjat, baru saja dia akan menarik pedangnya untuk melindungi diri, cahaya golok secepat lintasan petir itu sudah menyambar lewat dari sisi tengkuknya.
31 Rasa sakit yang merasuk hingga ke tulang sumsum terasa menyebar ke seluruh tubuh, diiringi jeritan ngeri Ciu Kiok roboh terkapar ke tanah.
Disisi tengkuknya telah bertambah dengan sebuah mulut luka yang panjang dan dalam sekali, darah segar bagaikan pancuran mata air menyembur keluar dari mulut luka itu, membasahi dan menggenangi seluruh permukaan tanah.
Nona itu roboh ke tanah, roboh terkapar, tampaknya tidak bergerak lagi.
Sambil tertawa dingin si kelelawar tempelkan mata golok didepan bibirnya lalu ditiup pelan, meniup sisa darah yang masih melengket di tubuh goloknya, dari sikap maupun mimik wajahnya, dia kelihatan agak menyesal, agak merasa iba, tapi seperti juga tanpa perubahan, masih tetap dingin, sadis, tak berperasaan.
Pada saat itulah dari sudut warung yang roboh tampak dua sosok bayangan manusia melesat keluar, begitu lolos dari reruntuhan, mereka berdua segera meluncur ke arah tengah arena.
Ke dua orang itu tak lain adalah Thio Poan-oh dan To Kiu-shia, seluruh tubuh mereka kotor oleh debu dan pasir, tampangnya sangat mengenaskan, namun senjata masih tergenggam dalam tangan, sikapnya yang sigap dan cekatan menunjukkan kalau mereka siap melancarkan serangan setiap saat.
Dalam waktu singkat mereka saksikan tubuh Ciu Kiok yang terkapar ditanah, mereka pun saksikan si kelelawar berdiri sinis disisinya.
Menyaksikan kesemuanya itu mereka berdua segera saling bertukar pandangan, kemudian terdengar To Kiu-shia berseru.
Saudaraku, kau cepat kabur, biar kupertaruhkan nyawa untuk menahan gempurannya Cepat Thio Poan-oh menggeleng Tidak, biar aku saja yang adu jiwa dengannya, kau cepat melarikan diri Lengan kiriku sudah terluka, cukup banyak darah yang mengalir keluar, hal ini sangat mempengaruhi kondisi tubuhku, biar bisa kabur pun tak bakal pergi jauh, lebih baik aku saja yang tetap disini!
Tapi.......
Sudah, tak usah saling mengalah lagi tukas To Kiu-shia tak sabar, kalau diteruskan, kita akan terlambat untuk melarikan diri 32 Thio Poan-oh tertegun, untuk sesaat dia tak dapat mengambil keputusan.
Ciu Kiok telah mati kembali To Kiu-shia berkata, satu diantara kita berdua harus tetap hidup untuk memberi laporan kepada congpiautau, agar dia tahu apa yang telah terjadi disini Lama sekali Thio Poan-oh menatap wajah To Kiu-shia, akhirnya dia berbisik.
Saudaraku, kau harus berhati hati, aku pergi dulu!
Tak usah berlagak seperti wanita, ayoh cepat pergi!
desak To Kiu-shia.
Sambil menggigit bibir Thio Poan-oh membalik badannya dan kabur dari tempat itu.
Tiba-tiba suara tertawa aneh berkumandang dari tengah udara, itulah suara tertawa dari si kelelawar, tinggi, tajam dan menusuk pendengaran.
Begitu suara tertawa mendengung, si kelelawar bersama tusukan goloknya telah meluncur tiba.
Melihat datangnya terkaman itu, To Kiu-shia segera memutar senjata jit-gwee-kou ditangan kanannya dan diiringi bentakan nyaring, menyongsong datangnya ancaman tersebut.
Si kelelawar tertawa dingin, berada ditengah udara dia ayun golok kelelawarnya berulang kali, mengikuti gerak serangan itu, cahaya golok yang tajam bagai lintasan petir berkilat membentuk satu jaring cahaya yang berlapis, keadaannya sungguh mengerikan.
Waktu itu To Kiu-shia sudah sama sekali tak peduli dengan keselamatan jiwanya, dengan jurus Pat-hong-hung-uh (hujan angin dari delapan penjuru) senjata kait ditangan kirinya langsung disodokkan ke tubuh si kelelelawar, dia tak ambil peduli karena gerak serangan tersebut pertahanan tubuh sendiri jadi sama sekali terbuka, baginya, dia hanya tahu menyerang dan beradu nyawa dengan lawan.
Gerak tubuh si kelelawar sama sekali tak berubah karena tindakannya itu.
Thio Poan-oh yang menyaksikan kenekatan rekannya hanya bisa menghela napas, akhirnya dia melesat pergi dari situ dengan kecepatan tinggi.
Disisi sini baru saja dia menggerakkan tubuhnya untuk kabur, disisi lain golok si kelelawar telah saling beradu dengan senjata kait milik To Kiu-shia.
33 Criiiing!
ditengah dentingan keras, lapisan bayangan senjata kait buyar tak berbekas, hanya dengan satu bacokan golok, si kelelawar berhasil memunahkan jurus serangan Pat-hong-hung-uh dari To Kiu-shia.
Bacokan golok yang ke dua sama sekali tidak dia lakukan, begitu senjatanya saling beradu dengan senjata kaitan, ia manfaatkan tenaga pantulan itu untuk melejit ke udara, bersalto beberapa kali kemudian menubruk ke arah Thio Poan-oh yang sedang melarikan diri.
Perubahan yang terjadi kali ini sama sekali diluar dugaan To Kiu-shia, buru buru hardiknya.
Mau lari ke mana kau!
cepat tubuhnya meluncur ke depan dan menyusul di belakang lawan.
Sungguh cepat gerakan tubuh si kelelawar, dalam sekali lompatan ia sudah berada sejauh delapan kaki, lalu kakinya kembali menutul ke tanah dan tubuhnya melesat sejauh tiga kaki, sekarang jaraknya dengan punggung Thio Poan-oh tinggal tujuh langkah.
Tubuhnya yang meluncur ke bawah kembali mencelat ke depan, dalam waktu singkat ia sudah berhasil menyusul Thio Poan-oh, diiringi suara pekikan nyaring, golok kelelawarnya langsung dibabatkan ke tubuh lawan.
Mendengar datangnya desingan angin tajam dari belakang tubuhnya, Thio Poan-oh jadi amat terperanjat.
Apakah secepat itu To Kiu-shia akan tewas diujung golok kelelawar?
Tanpa terasa ia berpaling, tapi segera To Kiu-shia merasa sedikit lega.
Tentu saja dia pun menyaksikan golok bersama si kelelawar sedang merangsek ke arahnya.
Dengan selisih jarak sedemikian dekat, sulitlah bagi dia untuk membendung datangnya ancaman tersebut, masih untung disaat dia berpaling tadi, golok toa-huan-to milik Thio Poan-oh sudah siap melancarkan serangan.
Tak ayal lagi satu bacokan dilontarkan untuk menyambut datangnya babatan maut lawan.
Traaangl bentrokan nyaring bergema di udara, Thio Poan-oh tergetar hingga mundur selangkah, sementara si kelelawar kembali melambung ke udara, dari sana ia bertekuk pinggang lalu golok lengkungnya lagi lagi melancarkan bacokan.
34 Dalam sekali bacokan dia lancarkan dua puluh delapan buah serangan, semua gerakan membawa desingan angin dan kilatan cahaya yang menyilaukan mata, hampir semua ancaman itu ditujukan ke tubuh Thio Poan-oh.
Menghadapi ancaman sehebat ini, Thio Poan-oh balas membentak, secara beruntun dia sambut ke dua puluh enam bacokan lawan dengan putaran golok Toa-huan-to miliknya.
Sayang sisanya yang dua bacokan sukar dibendung lagi, bacokan ke dua puluh tujuh membuat pertahanan golok Toa-huan-to nya jebol hingga terbuka, sementara bacokan ke dua puluh delapan merangsek masuk ke arah tubuhnya.
Ditengah kilatan cahaya golok, terdengar suara pakaian tersambar robek, menyusul terbelahnya baju Thio Poan-oh bagian dada, segumpal darah segar pun menyembur keluar membasahi lantai.
Bacokan itu tidak terlampau dalam hingga tidak sampai menimbulkan kematian, namun tak urung cukup membuat Thio Poan-oh seperti kehilangan sukma.
Biar ngeri dan ciut hatinya, orang ini sama sekali tidak mundur, malah kembali teriaknya.
Lo-To, cepat kabur!
Golok toa-huan-to nya dibacok kian kemari secara gencar, saat ini dia hanya punya satu ingatan, menyerang si kelelawar semaksimal mungkin agar To Kiu-shia punya kesempatan untuk melarikan diri.
Waktu itu sebetulnya To Kiu-shia sudah siap berbalik ke arena pertarungan untuk mengerubuti sang kelelawar, tapi setelah mendengar teriakan Thio Poan-oh, lagipula dia pun sadar akan penting dan gawatnya persoalan, maka setelah menghela napas, tanpa sangsi lagi dia putar badan dan berlalu dari situ.
Betapa leganya perasaan Thio Poan-oh setelah menyaksikan rekannya pergi dari situ, tanpa sadar serangan golok yang dilancarkan ikut bertambah gencar dan dahsyat.
Secara beruntun si kelelawar menyambut tujuh belas bacokan lawan, kemudian sambil tertawa dingin jengeknya.
Jangan harap kalian berdua bisa lolos dari tanganku, roboh!
Begitu kata roboh bergema, golok kelelawarnya berputar kencang, sekali lagi dia singkirkan golok toa-huan-to milik Thio Poan-oh ke sisi pertahanan, kemudian dengan gagang golok yang berbentuk sayap kelelawar dia kunci mata golok Thio Poan-oh, sekali tekuk sambil mencongkel, toa-huan-to ditangan Thio Poan-oh pun tergetar hingga lepas dari genggaman dan mencelat ke tengah udara.
35 Tidak berhenti sampai disitu, kembali Pian-hok-to atau golok kelelawar itu berputar sambil menghujam, ia tusuk perut Thio Poan-oh dalam-dalam.
Muncratan darah segar menyembur ke udara, diiringi jeritan ngeri, Thio Poan-oh roboh ke tanah dan merenggang nyawa.
Secepat kilat ia cabut keluar golok kelelawarnya kemudian disambit ke punggung To Kiu-shia kuat kuat.
Nguuungg .....!
golok kelelawar itu berpusing di udara sambil meluncur ke depan dengan kecepatan luar biasa, sedemikian cepat dan dahsyatnya hingga tak terlukiskan dengan kata.
Waktu itu To Kiu-shia telah melompat naik keatas kudanya dan siap mencemplak pergi dari situ.
Sebagaimana diketahui, hampir semua kuda tunggangan para piausu ditambatkan di batang pohon tepi jalan, berhubung tadi si kelelawar menghadang ditempat tersebut, maka mau tak mau terpaksa Thio Poan-oh harus kabur sambil berlarian.
Kini, begitu muncul kesempatan baik, To Kiu-shia pun segera memanfaatkan peluang itu untuk menaiki kudanya.
Siapa tahu baru saja dia naik ke punggung kuda, baru saja dia memutuskan tali pengikat dengan senjata kaitnya, timpukan golok kelelawar telah meluncur tiba dengan kecepatan tinggi.
Yang dibabat oleh Pian-hok-to bukan sang penunggang, melainkan kuda tunggangannya!
Dimana cahaya golok menyambar lewat, kaki belakang kuda tunggangan itu terbabat hingga kutung.
Mimpi pun To Kiu-shia tak menduga sampai ke situ, tak ampun ia turut terjerembab bersama robohnya kuda tunggangan itu, lengan kirinya yang terluka kembali merekah, rasa sakit yang merasuk tulang seketika menyelimuti sekujur badannya.
Dalam keadaan begini, ia tak ambil peduli lagi dengan mulut lukanya yang berdarah, begitu berhasil mengendalikan diri, cepat ia melompat bangun lalu melompat ke atas punggang kuda yang lain.
36 Tampaknya sejak awal sang kelelawar telah menduga sampai ke situ, bersamaan dengan sambitan golok kelelawarnya, dia ikut melesat maju ke depan menghadang jalan pergi To Kiu-shia.
Gerakan tubuh orang itu masih begitu cepat dan cekatan, seakan tenaganya sama sekali tak berkurang gara-gara pertarungan sengit tadi, bagaikan seekor kelelawar yang terbang malam, begitu kakinya menutul permukaan tanah, tubuhnya sudah meluncur ke depan dengan kecepatan luar biasa.
Baru saja To Kiu-shia melompat naik ke punggung kuda ke dua, si kelelawar telah tiba disamping bangkai kuda pertama dan memungut kembali goloknya.
Bukan hanya begitu, sekali lagi tubuhnya merangsek maju, untuk kesekian kalinya ia lancarkan bacokan dengan kecepatan bagai sambaran kilat.
Kali inipun sasaran bacokannya masih bukan manusia, melainkan kuda!
Brukkkl mata golok dengan telak membacok punggung kuda tunggangan itu.
Semburan darah segar kembali menggenangi tanah, diiringi suara ringkikan panjang, kuda itu roboh terkapar.
Sekali lagi To Kiu-shia terjatuh dari atas punggung kuda, walaupun dia tak sempat berpaling, namun jagoan ini tahu kalau peristiwa tersebut hasil perbuatan si kelelawar, dia pun sadar keselamatan jiwanya sudah berada diujung tanduk.
Maka begitu terjatuh, cepat dia menggelinding ke samping dengan ilmu Tee-thong-sinhoat (ilmu menggelinding), sementara jit-gwee-kou ditangan kanannya berputar kencang menciptakan selapis cahaya tajam untuk melindungi diri.
Tak ada sergapan yang tertuju ke tubuhnya, walau masih menggelinding menjauhi arena, dalam hati To Kiu-shia sangat keheranan, dia tak habis mengerti kenapa tiada sergapan yang tertuju ke tubuhnya.
Secara beruntun dia menggelinding hingga sejauh dua kaki lebih sebelum melompat bangun, ternyata memang tiada serangan yang tertuju ke tubuhnya.
Sang kelelawar betul-betul tidak menyerang lagi, bahkan dia hanya berdiri ditempat semula, mengawasi To Kiu-shia dengan sorot mata dingin, sama sekali tak bergerak.
Tapi begitu To Kiu-shia menghentikan gelindingannya, dia langsung menerkam ke depan, bagaikan seekor kelelawar sungguhan dia bergerak cepat.
37 Dalam dua kali lompatan ia sudah berhenti didepan To Kiu-shia, hanya selisih tujuh langkah.
Belum lagi membalik badan, To Kiu-shia dengan senjata kaitannya sudah menerkam tiba.
Jit-gwee-kou membacok lurus ke bawah, To Kiu-shia sadar tiada harapan lagi baginya untuk kabur, karena itu dia ambil keputusan untuk menyerang dengan adu nyawa.
Dalam melancarkan bacokannya kali ini, dia telah menggunakan segenap kekuatan yang dimiliki, ia berharap dapat menghabisi nyawa si kelelawar dalam bacokannya tersebut.
Tentu saja dia kecewa!
Selama ini si kelelawar hanya berdiri membelakanginya, menanti senjata jit-gwee-kou menyerang tiba, ia baru membalikkan badan.
Berbareng itu, golok kelelawar ikut berputar ke depan, bergerak cepat menangkis datangnya ancaman dari senjata kaitan itu.
Traaaangl percikan bunga api memancar ke empat penjuru, tubuh si kelelawar tetap berdiri tak bergerak, sebaliknya To Kiu-shia harus mundur sejauh empat langkah sebelum berhasil berdiri tegak.
Siapa menang siapa kalah dalam pertarungan ini sudah tertera jelas dalam bentrokan barusan.
Begitu senjata kaitannya terbendung oleh tangkisan si kelelawar, sambil menggigit bibir To Kiu-shia memutar lagi senjata andalannya, kali ini dengan menyerempet bahaya mengancam wajah lawan.
Serangannya kali ini benar benar sudah pertaruhkan nyawa, sebab dengan begitu pertahanan tubuh bagian depannya sama sekali terbuka.
Boleh dibilang dia sudah nekad, dia sudah bermain judi dengan setan pencabut nyawa, jagoan ini berharap bisa peroleh secerca harapan hidup dari tindakan nekadnya ini, karena apa yang dilakukan boleh dibilang sudah tak ambil peduli dengan keselamatan sendiri.
38 Si kelelawar tertawa dingin, menyaksikan kenekatan lawan dia memandang sinis, secepat kilat golok kelelawarnya menangkis datangnya sabetan itu kemudian langsung menghujam dada To Kiu-shia.
Craaap!
golok kelelawar telah menembusi dada To Kiu-shia yang bidang, darah segar menyembur ke mana-mana, membasahi seluruh tubuh korban, menggenangi permukaan tanah.
Pada saat bersamaan, tebasan senjata kaitan dari To Kiu-shia tiba didepan wajah si kelelawar, namun pada saat itu pula tiba-tiba sang kelelawar memutar tangan kirinya, mendahului gerak senjata lawan, menjepit mata kaitan itu dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.
Mata kait sama sekali tidak melukai jari tangannya, namun senjata itupun tak sanggup lagi melanjutkan bacokannya, terpantek mati, terjepit kaku dalam japitan ke dua jari tangan si kelelawar.
To Kiu-shia menyangka serangannya telah berhasil, biar nyawanya melayang, tak urung ia sempat tertawa tergelak, tertawa keras menjelang saat ajalnya.
Sayang gelak tertawanya segera terhenti, bersamaan dengan saat ia tertawa tadi, To Kiu-shia telah menyaksikan dengan jelas semua yang telah terjadi, ia melihat dengan pasti kalau bacokan senjatanya gagal membelah tubuh si kelelawar, dia pun dapat melihat kalau senjata kaitannya terjepit dalam japitan kedua jari tangan si kelelawar.
Ia betul betul tak percaya dengan pandangan matanya, namun mau tak mau dia harus mempercayainya juga!
Kelelawar menatapnya dingin, perlahan-lahan ia cabut keluar golok kelelawarnya, mencabut dari dada korbannya.
Darah segar menyembur bagaikan mata air, To Kiu-shia telah roboh terkapar, sepasang matanya masih terbelalak lebar, terbelalak penuh keraguan, terbelalak penuh rasa tak percaya, tapi diselipi rasa sakit, siksaan yang luar biasa.
Orang terakhir dari perusahaan Tin-wan-piaukiok telah tewas, siapa yang bakal melaporkan kejadian ini kepada congpiautau?
Padahal saat itu, mati hidup Lui Hong boleh dibilang tergantung pada dirinya, tergantung dari laporannya.
Berada dalam keadaan begini, mungkinkah dia bisa mati dengan mata terpejam?
Waktu itu matahari senja telah condong ke barat, langit terlihat merah membara, semerah darah segar yang menggenangi permukaan tanah.
39 Angin berhembus kencang, langit dan bumi serasa makin sendu, makin pilu...
Perlahan si kelelawar mengambil keluar sebuah saputangan dari sakunya, dengan lembut dia mulai menyeka mata goloknya yang basah, basah oleh darah.
Tak bisa disangkal, golok berdarah memang merupakan golok terbaik, biarpun selesai membunuh manusia, mata golok masih tetap cemerlang, tetap berkilat, apalagi setelah diseka dengan lembut, cahaya tajam yang membias tampak begitu jeli dan cemerlang.
Dengan sekali ayunan tangan, saputangan putih itu terbang ke udara, menari di angkasa, menari dan melayang bagaikan seekor kelelawar sungguhan.
Kemudian dia pun berpekik nyaring, pekikan tinggi, tajam dan memekak telinga.
Saaatt....saaat....saaat.....
suara aneh berkumandang dari empat arah delapan penjuru, menyusul kemudian terlihat berpuluh ekor kelelawar munculkan diri dari mana-mana.
Sebetulnya kawanan kelelawar itu bertengger diatas belandar warung teh, mereka mulai beterbangan sewaktu pertarungan berlangsung dalam ruangan, kemudian buyar ke mana mana disaat bangunan warung itu roboh, terbang lenyap dibalik hutan dan pepohonan.
Tapi begitu suitan panjang bergema, gerombolan kelelawar itu terbang kembali dari empat penjuru.
Kini, mereka mulai beterbangan mengelilingi seputar tempat itu, terbang meliuk, menyambar dan membelok dengan ramainya.
Kawanan binatang itu seolah para hulubalang yang setia dengan majikannya, seakan para pengawal yang melayani kaisarnya.
Dengan satu gerakan si kelelawar masukkan kembali goloknya ke balik baju, lalu berjalan meninggalkan tempat itu.
Ia berjalan menuju ke dalam hutan disebelah kanan, sementara kawanan kelelawar yang terbang di angkasa, mengiringi ke mana pun majikannya pergi, mereka ikut terbang masuk ke dalam hutan.
Kelelawar tanpa sayap memang tidak bersayap, dia pun bukan kelelawar sesungguhnya, namun dalam kenyataan ia mampu mengendalikan kelelawar sebenarnya, mampu bekerja sama dengan mereka.
40 Ditengah hutan terdapat sebuah jalan setapak, kesanalah si kelelawar tanpa sayap berjalan, melangkah dengan cepat menelusuri jalanan sempit yang ada.
ooOOoo Cahaya senja menerobos masuk dari celah celah ranting dan dahan pohon, membuat seluruh hutan jadi merah, merah bagaikan terselubung ditengah kabut darah.
Dibawah perlindungan kawanan kelelawar itulah, si kelelawar bagai sukma gentayangan lenyap dibalik kabut darah.
Pemandangan semacam ini sangat aneh, sangat misterius, sangat menyeramkan, bayangkan saja, bila suasana telah berubah menyeramkan, bagaimana dengan manusianya?
Angin malam berhembus makin kencang, bayangan senja lambat laun mulai luntur, berganti dengan warna gelap yang tipis.
Noda darah diatas permukaan tanah telah mengering, kering oleh hembusan angin.
Tiba-tiba terdengar suara rintihan, suara itu sangat lemah, sangat lirih, bergema terbawa hembusan angin malam.
Lalu terlihat seseorang mulai bergerak, mulai bergeser dari balik genangan darah yang telah mengering, merangkak dan bergeser...
Dia tak lain adalah Ciu Kiok, nona inilah yang baru saja merintih, mengeluh kesakitan.
Tiada darah lagi yang meleleh dari mulut luka dilehernya, noda darah telah membasahi pakaian yang dikenakan, mengubahnya jadi semu merah kecoklat-coklatan.
Walaupun tebasan golok si kelelawar sangat telak, namun tak sampai memutuskan nadi yang ada di tenggorokannya, itulah sebabnya Ciu Kiok lolos dari elmaut, berhasil mempertahankan hidupnya.
Tak bisa disangkal lagi, kejadian semacam ini jelas merupakan suatu mukjijat, suatu keberuntungan ditengah kesialan.
Siapa pun itu orangnya, suatu saat pasti akan melakukan kesalahan, salah menduga, salah memprediksi, karena bagaimana pun sang kelelawar tetap seorang manusia.
Akan tetapi kejadian mukjijat, kejadian yang sangat luar biasa inipun sangat langka, jarang terjadi, jarang dialami siapa pun.
41 Paling tidak, dari sekian banyak jago perusahaan ekspedisi Tin-wan-piaukiok, hanya Ciu Kiok seorang yang lolos dari elmaut, lolos dari tebasan maut golok kelelawar.
Mungkin saja Ciu Kiok sendiripun tidak percaya kalau ia masih hidup terus.
Sorot matanya begitu kabur, seakan terselimut lapisan kabut tebal, dia pun terbengong, hakekatnya tak beda dengan orang idiot, orang yang hilang ingatan.
Kalau dilihat dari mimik wajahnya, si nona seperti meragukan pemandangan yang dilihatnya saat itu, sangsi dan tak percaya kalau dia masih hidup, karena gadis itu menyangka dirinya telah berada di alam lain, berada dalam neraka.
Lama, lama kemudian ia baru tersentak sadar, sadar dari lamunan dan kebingungan.
Baru sekarang hawa kehidupan tumbuh kembali dari tubuhnya, dia mulai celingukan kesana kemari, kemudian menutupi wajah sendiri dan menangis tersedu.
Tak seorangpun ambil peduli, tak seorangpun menghampirinya, karena waktu itu si kelelawar sudah pergi jauh.
Dan untung saja ia sudah amat jauh dari sana.
Cukup lama gadis itu menangis, semua kemasgulan dan kepedihan hati dilampiaskan keluar hingga tuntas, kemudian ia baru mulai merasakan kesakitan, rasa sakit yang menyayat dari mulut luka di tenggorokannya, tanpa terasa ia mulai meraba luka luka itu.
Kini, ia sudah teringat kembali akan semua peristiwa yang menimpa dirinya, dari dalam saku dia keluarkan sebuah botol obat, membubuhi lukanya dengan obat itu, lalu merobek ujung bajunya dan mulai membungkus luka di leher.
Darah sudah berhenti meleleh sedari tadi, boleh dibilang apa yang dia lakukan sekarang sama sekali tak berguna, tak banyak manfaatnya.
Tapi gadis itu tetap melakukannya, semua yang dia lakukan merupakan reaksi spontan, reaksi yang dilakukan tanpa sadar.
Pada akhirnya air mata telah berhenti menetes, perlahan ia bangkit berdiri, berjalan terseok-seok, bergerak mendekati kuda kuda tunggangan itu.
Apa yang harus dia lakukan sekarang?
Menuju kuil kuno Thian-liong-ku-sat?
Ciu Kiok mengalihkan pandangannya ke arah kuil Thian-liong-ku-sat, sejujurnya dia ingin 42 sekali menuju ke sana, ingin tahu bagaimana keadaan Lui Hong, tapi begitu ingatan tersebut melintas, bayangan wajah si kelelawar pun ikut muncul.
Bicara soal kepandaian silat, kemampuan kungfu yang dimilikinya masih jauh dari tandingan si kelelawar, dia tak bakal tahan diserang atau bahkan dibunuh, semua peristiwa yang barusan menimpanya merupakan satu bukti yang jelas.
Bila sekarang dia menyusul ke kuil Thian-liong-ku-sat, berhasil menjumpai Lui Hong, lalu apa yang bisa dia lakukan?
Paling hanya berdiri mendelong, berdiri terkesima, karena ia pun tak bisa berbuat apa apa.
Bila dikatakan dia sanggup menolong Lui Hong, menyelamatkan majikannya dari cengkeraman si kelelawar, tak disangkal, hal tersebut merupakan sebuah lelucon besar yang tak lucu.
Pergi hanya menghantar kematian, pergi hanya sia sia, tak akan membuahkan hasil apa apa.
Satu hal yang pasti, jika kelelawar sampai tahu dia masih hidup, manusia ganas itu pasti tak akan membiarkan dia pergi dari situ, meninggalkan tempat itu dalam keadaan hidup.
Tentu saja manusia semacam kelelawar tak ingin melakukan kesalahan yang sama, bila sampai melancarkan serangan lagi, dia pasti baru akan pergi setelah yakin Ciu Kiok .mampus, telah berhenti napasnya.
Tak mungkin seseorang selalu beruntung, selamanya beruntung, mukjijat pun belum pasti akan muncul untuk kedua kalinya.
Teringat sang kelelawar, tanpa sadar Ciu Kiok bergidik, bersin berulang kali, berdiri semua bulu kuduknya.
Akhirnya dia hapus ingatan tersebut, membatalkan niatnya semula, nona itu putuskan untuk segera pulang ke markas, melaporkan semua peristiwa ini kepada congpiautau.
Begitu mengambil keputusan, Ciu Kiok segera melompat naik ke punggung kuda.
Begitu bergerak, rasa sakit yang luar biasa kembali menyerang dari mulut luka di lehernya, begitu sakit hingga membuat Ciu Kiok berkerut dahi, tubuhnya yang lemah tampak gemetar keras, hampir saja ia terjatuh kembali dari kudanya.
43 Tapi gadis itu menggertak gigi, sekuat tenaga melawan rasa sakit yang luar biasa, kemudian cepat dia lepaskan tali pengikat dipohon dan melarikan kudanya menuju ke arah kota.
Sang kuda pun mulai bergerak, berlari kencang menelusuri jalan setapak, lari secepat anak panah.
Tampaknya kuda itu tergerak sifat liarnya, ia lari sangat kencang mendekati kalap, beberapa kali bahkan nyaris melempar tubuh Ciu Kiok dari atas punggungnya.
Dalam keadaan begini Ciu Kiok mendekam diatas punggung kuda rapat rapat, dia peluk tengkuk kuda itu kencang kencang, sejujurnya gadis ini kuatir sekali kalau tubuhnya sampai terlempar jatuh, terpelanting dari punggung kuda.
Karena saat itu jalan raya amat sepi, tak terlihat seoran g manusia pun yang berlalu lalang, sekalipun ada, belum tentu tersedia kuda kedua ditempat itu.
Ada satu persoalan yang kelihatannya tak sempat dia pertimbang kan, berpikir sampai disitu pun tidak.
Kendatipun dia berhasil balik ke dalam kota, ketika Lui Sin dan Han Seng, dua orang congpiautau dari perusahaan ekspedisi Tin-wan Piaukiok mendapat laporan darinya dan segera berangkat ke lokasi kejadian, paling tidak mereka butuh waktu hampir satu jam lamanya.
Dalam waktu satu jam tersebut, bila terjadi sesuatu, sudah pasti peristiwa itu telah berlangsung, biar Lui Hong memiliki sepuluh lembar nyawa pun, semuanya tetap melayang ditangan si kelelawar.
Akan tetapi, kecuali cara tersebut, tindakan apa lagi yang bisa dilakukan gadis itu?
Tirai malam telah digelar, keheningan dan kegelapan semakin menyelimuti angkasa.
Ringkikan kuda bergema terbawa angin, suaranya menggaung makin lama semakin jauh.
ASIH disaat senja, sisa sang surya belum lagi tenggelam di kaki bukit sebelah barat.
44 Seorang diri Lui Hong bergerak menuju ke luar hutan, kuil kuno Thian-liong-ku-sat.
Sebelum meninggalkan rombongannya, tentu saja dia tak pernah menyangka kalau sepeninggal dirinya telah terjadi begitu banyak peristiwa berdarah disitu, tentu saja dia pun tidak tahu kalau surat yang diterimanya bukan benar-benar berasal dari Siau Jit.
Terlebih dia tak menyangka kalau kesemuanya itu merupakan rencana busuk si kelelawar.
Hanya satu pikiran yang melintas dalam benaknya saat itu, ingin secepatnya bertemu Siau Sit, ingin secepatnya tahu apa maksud dan tujuan Siau Jit mengundangnya kemari.
Ternyata Siau Jit tidak menunggunya di depan pintu kuil, Lui Hong mencoba mencarinya disekeliling sana, namun hasilnya nihil, perasaan gundah, mendongkol, tak suka hati berkecamuk jadi satu.
Sebagai seorang lelaki, sepantasnya dia menunggu kedatanganku di depan pintu, dasar!
Sembari bergumam dia meloncat turun dari punggung kuda, menuntun binatang tunggangannya menuju undak-undakan batu di depan pintu kuil.
Thian-liong-ku-sat merupakan sebuah bangunan kuil yang sangat kuno dan sudah banyak tahun terbengkalai, pintu gerbangnya telah roboh, dinding kiri kanan bangunan pun banyak yang retak dan ambruk.
Atau jangan-jangan dia menunggu kedatanganku di dalam kuil?
Atau sudah pergi dari situ karena lama menunggu kehadiranku?
Peduli apa pun yang telah terjadi, paling penting masuk dulu dan periksa keadaan disana.
Gadis itu tidak menghentikan langkahnya, langsung menuju ke balik pintu.
Suasana dalam ruang kuil lebih parah lagi, robohan dinding, hancuran kayu berserakan dimana mana, rumput ilalang setinggi lutut tumbuh rapat dalam halaman, ketika angin dingin berhembus lewat, rumput rumput liar itu bergoyang menimbulkan suara gemerisik.
Aah, ada suara!
Tak diragukan lagi, kuil kuno ini sudah terbengkalai, sudah cukup lama tak berpenghuni.
45 Dia pun yakin, jarang ada manusia yang berlalu lalang disitu, sebab kalau tidak, ditengah halaman yang rimbun dengan rumput liar, pasti tertera sebuah jalan setapak, jalan yang sering dilalui manusia.
Dihadapan pintu gerbang sebetulnya terdapat sebuah sekat batu yang besar, tapi kini penyekat itu sudah roboh sebagian, hurud Hud yang tertera diatas penyekat pun sudah samar dan susah terbaca, namun bila kau memandangnya dengan teliti, lamat lamat masih dapat terbaca kalau huruf tersebut adalah tulisan Hud atau Buddha.
Bila melongok ke balik penyekat batu, akan terlihat ruang utama bangunan kuil itu.
Aah!
Ternyata ada cahaya lentera dari tempat itu.
Saat ini bukanlah saat yang tepat untuk memasang lentera, namun suasana dalam ruang utama cukup gelap, tak aneh bila memasang lentera ditempat remang seperti itu.
Bila ada cahaya lentera, hal ini membuktikan kalau disa na ada manusia.
Menyaksikan hal tersebut, kembali Lui Hong bergumam.
Aah, ternyata dia memang menungguku dalam ruang kuil Ia lepaskan tali kudanya, kemudian melangkah masuk ke ruang utama dengan cepat.
Rumput ilalang amat tinggi, lebih tinggi dari lututnya, sewaktu melewatinya, bergema suara gemerisik yang ramai.
Andaikata berganti perempuan lain, jangan lagi menyuruhnya masuk ke ruang dalam, memintanya berdiri diluar pintu pun mungkin harus dipertimbangkan berulang kali.
Tapi Lui Hong beda, gadis ini bukan gadis rumahan yang bernyali kecil, ia terbiasa hidup dalam dunia kangau, terbiasa hidup mengawal barang, menginap di udara terbuka bukan masalah besar baginya, malah dia pernah memasuki tempat yang jauh lebih menyeramkan daripada tempat ini, bahkan menginap semalam disitu.
Yang berbeda, waktu itu dia didampingi Ciu Kiok, disekitar sana pun hadir para piausu dan tong-cu-jiu perusahaan ekspedisinya, sementara sekarang, dia hanya seorang diri.
Dasar Siau Jit sialan, rupanya dia ingin menggunakan tempat semacam ini untuk menguji nyaliku.
46 Siau Jit wahai Siau Jit, bila kau ingin menakuti aku dengan memakai tempat semacam ini, perkiraanmu itu keliru besar, salah besar.
Tapi, ada urusan apa dia mengundangku kemari?
Merundingkan sesuatu?
Sesuatu yang mana?
Biarpun langkah kakinya tidak berhenti, rasa ragu dan curiga mulai terlintas diwajah Lui Hong.
Baru berjalan tiga tombak, Bruuk, bruuk, bruuk suara gemuruh yang kacau bergema membelah keheningan, mendadak dari balik rimbunnya semak terbang keluar berapa gumpal bayangan berwarna hitam pekat.
Betapa terperanjatnya Lui Hong, semula dia mengira ada burung gagak atau sebangsanya yang tiba-tiba terbang lewat, namun setelah diamati lebih jelas, ia baru tahu kalau bayangan tersebut ternyata adalah berapa ekor kelelawar.
Dasar kelelawar sialan!
Sambil mengumpat, gadis itu melejit ke udara, dengan gerakan Yan-cu-sam-ciau-sui (burung walet tiga kali menutul air), dalam tiga lompatan ia sudah melayang turun didepan ruang utama kuil.
Mengikuti gerakan tubuhnya itu, suara gemuruh bergema dari empat penjuru, berpuluh bahkan beratus ekor kelelawar beterbangan dari balik semak ilalang.
Menyaksikan pemandangan tersebut Lui Hong sangat keheranan, kenapa terdapat begitu banyak kelelawar ditempat itu?
Tanpa sadar dia menengadah ke atas, hatinya semakin bergidik, bulu romanya mulai berdiri.
Diseluruh ruang utama, baik di belandar, di tiang dan lainnya sudah dipenuhi dengan kelelawar kelelawar hitam.
Hanya sekejap gadis itu memandang kawanan kelelawar itu, segera teriaknya lantang.
Siau Jit!
Tiada jawaban dari balik ruangan, bahkan tiada reaksi apa pun dari tempat itu.
Sambil menggigit bibir Lui Hong menaiki undak-undakan batu, langsung menerobos masuk ke ruang utama kuil.
Suasana dalam ruang utama sangat gelap, untuk menerangi suasana yang remang itu, diatas sebuah meja altar yang bobrok terletak sebuah lentera minyak, lentera yang amat kecil.
47 Dibelakang meja altar merupakan tempat patung pemujaan, sarang laba laba nyaris membungkus tempat tersebut, patung pemujaan itu sendiri sudah roboh hancur sehingga sama sekali tak terlihat dewa manakah yang dipuja ditempat itu.
Lui Hong tak punya waktu atau lebih tepatnya tidak berminat untuk mempersoalkan hal tersebut, kembali pandangan matanya dialihkan ke meja pemujaan.
Dibawah lentera minyak terlihat selembar kertas putih, kertas yang diletakkan tertindih lentera.
Diatas kertas putih itu lamat lamat tertulis berapa baris tulisan, apa isinya?
Lui Hong berdiri kelewat jauh dari meja pemujaan, tentu saja ia tak dapat melihat jelas tulisan yang tertera disana.
Permainan busuk apa yang sebenarnya hendak dilakukan manusia sialan itu?
Sambil menggerutu dia melanjutkan langkahnya memasuki ruangan, mengikuti bergesernya kaki, suara gemuruh makin nyaring bergema dari empat penjuru, kawanan kelelawar yang semula berada di belandar, kini mulai beterbangan mengitari ruang utama.
Begitu banyak kelelawar bercokol dalam kuil itu, satu kenyataan yang sama sekali diluar dugaan.
Tanpa sadar perasaan bergidik muncul dari dasar hati Lui Hong, tapi langkah kakinya sama sekali tak berhenti lantaran perasaan tersebut.
Gadis ini memang berilmu tinggi, bernyali baja!
Akhirnya tibalah dia didepan meja pemujaan, akhirnya dapat melihat dengan jelas tulisan yang tertera dikertas putih itu, gaya tulisan yang indah dan gagah, seindah burung hong menari, segagah naga terbang.
Menyaksikan gaya tulisan seindah itu, tanpa terasa bayangan tampan dan gagah dari Siau Jit pun melintas dalam benaknya, kemudian ia melihat dengan jelas tulisan diatas kertas.
Masuklah ke ruang belakang, aku menunggu disana!
Minta aku menuju ke ruang belakang?
Sialan, akan kulihat obat apa yang sedang kau jual dalam buli bulimu!
Diambilnya lampu lentera itu dari meja lalu berjalan menuju ruang belakang, tentu saja dia tak lupa membawa serta surat yang ditinggalkan Siau Sit untuk dirinya.
48 Bila dari ruang depan akan menuju ke ruang belakang, orang harus melalui sebuah jalan serambi yang sempit, kecil lagi panjang.
Serambi itu gelap sekali, bahkan disana sini dilapisi debu dan pasir yang tebal.
Cahaya lentera menerangi setiap sudut serambi, Buuuk, bukk, bukkk ada begitu banyak kelelawar terbang melintas sepanjang serambi, kalau dilihat dari gerak gerik mereka yang panik, jelas hal ini disebabkan munculnya cahaya lentera, mungkin sudah terlalu lama mereka tak pernah mengalami kejutan seperti ini.
Sinar lentera pun menerangi sebaris bekas telapak kaki yang tertinggal di sepanjang lantai.
Menyaksikan hal tersebut, akhirnya Lui Hong merasa lega, rasa kuatirnya hilang lenyap.
Meski belum tahu apa maksud lawan, paling tidak hal tersebut membuktikan kalau Siau Jit memang berada di belakang sana.
Dengan membawa lentera kembali dia melanjutkan perjalanan, keluar dari serambi, sampailah gadis itu didalam sebuah halaman kecil.
Sama seperti keadaan diluar sana, halaman kecil ini pun dipenuhi rumput ilalang, ilalang setinggi lutut manusia dewasa, rumput rumput itu bergoyang ditengah hembusan angin malam, mengayun kian kemari bagai gulungan ombak.
Bedanya, ditengah halaman terpasang berapa buah lentera panjang, lentera yang memancarkan cahaya terang.
Lui Hong semakin lega, kali ini dia tidak lagi berjalan menembusi lautan ilalang, tubuhnya melambung, dengan gerakan It-wi-to-kang (Alang-alang menyeberangi sungai), sambil membawa serta lampu lenteranya dia melewati padang semak tersebut.
Ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya terhitung sangat bagus, gerak geriknya sangat tenang dan mantap, biarpun sedang melambung sambil meluncur, api lentera yang berada ditangannya sama sekali tak padam maupun berkedip.
Di belakang halaman kecil itu merupakan sebuah serambi lagi, serambi kecil.
Sama seperti serambi sebelumnya, tempat inipun terbengkalai, dekil, kotor dan dipenuhi sarang laba-laba.
49 Dibawah sorotan cahaya lentera, sepanjang lantai serambi itupun terlihat sederet bekas telapak kaki, Lui Hong pun berjalan menelusuri serambi itu dengan mengikuti bekas kaki yang tertinggal.
Selesai melewati serambi kecil, akhirnya tibalah gadis itu di ruang belakang kuil.
Ruang belakang boleh dibilang merupakan bagian kuil yang paling utuh, paling bersih diantara sekian banyak bagian bangunan lainnya, khusus yang telah dilewati Lui Hong.
Kendatipun warna cat sudah mengelupas, namun bagian bangunan yang roboh atau rusak tidak terlalu banyak.
Cahaya terang pun tampak menembus keluar dari balik gedung belakang kuil itu.
Lui Hong berhenti sejenak diluar bangunan, dia mencoba memeriksa seputar tempat itu, namun tak nampak seorang manusia pun, ingin sekali dia berteriak memanggil Siau Jit, tapi ingatan lain segera melintas, seandainya Siau Sit betul betul berada di dalam gedung, jelas teriakan tersebut akan meninggalkan kesan jelek dan tak sopan, akhirnya perkataan yang sudah berada disisi bibir pun ditelan kembali.
Seandainya dia benar-benar berada dalam gedung, sepantasnya sebagai seorang lelaki dia muncul didepan pintu untuk menyambut kedatanganku.
Terbayang sampai disitu, timbul perasaan tak puas dalam hati Lui Hong, akhirnya ia berteriak.
Siau Sit!
Tiada jawaban, tiada suara, tiada gerak gerik apa pun dari balik ruang belakang.
Disamping mendongkol, jengkel, Lui Hong pun merasa keheranan, kembali dia ayunkan langkah memasuki ruang gedung.
Suasana dalam gedung terang benderang bermandikan cahaya, di setiap sudut ruangan tergantung sebuah lentera tiang-beng-teng, semua lentera dalam keadaan menyala dan memancarkan sinar terang.
Tiada manusia dalam ruang itu, ditengah gedung hanya terdapat sebuah meja bulat, diatas meja tersedia sepoci arak dengan dua buah cawan porselen.
Dibawah poci arak itu lagi lagi terlihat secarik kertas putih, lamat lamat terlihat ada tulisan diatas kertas itu.
50 Kali ini, dia minta aku pergi ke mana lagi!
Begitu menjumpai sepucuk surat tergeletak dibawah poci, kontan Lui Hong naik darah, mendongkol sekali meski dia belum lagi membaca isinya.
Kali ini dia betul betul amat jengkel, sangat mendongkol.
Walau begitu toh si nona maju mendekat juga, menyingkirkan poci arak dan mengambil surat yang berada dibawahnya.
Aku sedang pergi membeli sedikit makanan sebagai teman minum arak, biar kongkou kita nanti enak dan bisa berlama-lama, aku segera balik, harap tunggu sejenak, silahkan duduk.
Tertanda.
Siau Sit Kali ini, hanya tulisan tersebut yang tertera disurat itu.
Selesai membaca Lui Hong jadi cengengesan sendiri, ia betul betul dibuat salah tingkah oleh tingkah lawannya.
Dasar orang bodoh, mana mungkin bisa membeli hidangan teman arak diseputar sini, mendingan menunggu kedatanganku!
Sambil menghentakkan kakinya berulang kali dia mengomel tiada hentinya, nona itu tidak duduk tapi sambil bergendong tangan berjalan mondar mandir mengelilingi meja itu sampai berapa kali.
Kemudian sekali lagi dia baca ulang isi surat itu, haruskah dia duduk?
Atau jangan duduk?
Sarang laba-laba menyelimuti hampir setiap sudut ruangan, terkecuali meja serta ke dua bangku yang tersedia ditengah ruangan.
Tanpa terasa Lui Hong membuka penutup poci arak dan melongok isinya.
Bau arak yang harum semerbak segera menembusi lubang penciumannya, biarpun nona ini tak pandai minum, namun Lui Sin, ayahnya mempunyai kegemaran yang berat atas cairan harum ini, selama hidup dia hanya mencari arak kwalitas nomor satu dan belum pernah membeli arak berkwalitas rendah.
Biar bukan penggemar, karena hal itu sudah merupakan kebiasaan dalam hidupnya, maka sedikit banyak Lui Hong memiliki pengalaman yang cukup tentang kwalitas jenis arak.
Gadis ini berani bertaruh, arak yang berada dalam poci dihadapan nya sekarang merupakan arak berkwalitas paling tinggi, arak nomor satu yang dijamin kelezatannya.
51 Arak memang nomor satu, sayang tempat yang dipilih parah sekali, dasar manusia goblok, entah urusan apa yang hendak ia bicarakan denganku?
Kalau memang urusan penting atau gawat, kenapa bukannya menghadang ditengah jalan?
Buat apa dia buang waktu hanya untuk pergi mencari hidangan teman arak?
Lui Hong gelengkan kepalanya berulang kali, tanpa terasa bayangan Siau Jit melintas dalam benaknya.
Kadangkala orang ini memang tampak goblok, kelewat kekanak kanakan.
Bersama munculnya senyuman, perasaan jengkel dan mendongkol pun ikut sirna, menguap bagaikan asap.
Tanpa sadar ia mendongak, lagi lagi gadis itu bergidik, berdiri semua buku romanya, ternyata diatas belandar bangunan gedung itu bergelantungan pula begitu banyak kelelawar, kawanan kelelawar berwarna hitam pekat.
Aneh sekali, mengapa terdapat begitu banyak kelelawar didalam kuil Thian-liong-ku-sat?
Mengapa pula si dogol mengundangnya bertemu disana?
Apakah persoalan yang akan dibicarakan ada sangkut pautnya dengan tempat itu?
Perasaan curiga, keheranan, ingin tahu berkecamuk menjadi satu, tanpa sadar akhirnya dia menarik sebuah bangku dan duduk.
Bangku itu amat kokoh, terbuat dari kayu berkwalitas nomor satu dan dibuat oleh tukang yang mahir.
Begitu duduk, tanpa terasa dia mengambil poci arak itu dan menuang ke dalam cawan.
Warna arak hijau lembut, baunya sangat harum menyegarkan pernapasan.
Lui Hong amati arak dalam cawannya dengan termangu, kembali perasaan sangsi melintas dalam benaknya.
Arak apakah itu?
Kenapa begitu harum?
Nona itu merasa belum pernah menjumpai arak semacam ini.
Arak berwarna hijau pupus, berbau harum semerbak, betul betul arak langka, arak luar biasa.
Tanpa terasa dia mencicipinya satu tegukan, ketika cairan itu mengaliri tenggorokannya, terasa harum, manis dan segar, selama hidup belum pernah dia cicipi arak selezat ini.
52 Arak wangi!
Entah darimana si dogol mendapatkan arak selezat ini?
Sebentar harus ditanyakan hingga jelas, akan kubelikan sebotol untuk oleh oleh ayah, dia pasti akan gembira.
Tanpa terasa secawan arak telah diteguknya hingga ludas.
Sementara itu matahari senja telah tenggelam ke langit barat, yang tersisa tinggal bianglala berwarna merah pekat, semerah darah segar.
Seluruh bangunan kuil itu seolah terendam ditengah genangan darah, sendu tapi indah, memilukan tapi cantik, hanya kecantikan yang timbul terasa begitu aneh, begitu misterius.
Angin malam mulai berhembus kencang, menggoyang rumput ilalang di halaman depan, menciptakan suara gemerisik yang riuh, aneh dan menggidikkan.
Angin pun berhembus masuk ke ruang dalam lewat jendela dan pintu, menggoyangkan api lentera, menciptakan bayangan yang bergoyang tiada henti.
Buuuk!
seekor kelelawar meluncur dari atas tiang belandar, terbang keluar dari ruang gedung.
Suara itu muncul begitu mendadak, menggetarkan perasaan Lui Hong, membuatnya mulai bergidik, sekalipun dia bernyali besar, tak urung suara semacam itu menimbulkan juga perasaan seram, perasaan ngeri yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Coba bukan gara gara Siau Jit, yakin dia tak bakal berlama lama ditempat semacam ini, dia pasti sudah tinggalkan tempat itu sedari tadi.
Betapa besar pengaruh Siau Sit bagi dirinya, benarkah ia memiliki daya tarik yang begitu memukau?
Begitu membetot sukma?
Toh dia tak lebih hanya seorang manusia biasa?
Lambat laun langit mulai gelap, malam pun segera akan menjelang tiba.
Cahaya lentera dalam ruang terasa makin terang bend erang, makin menyilaukan mata.
Angin yang berhembus pun makin mengencang, suara gemerisik rumput ilalang diluar halaman yang dimainkan angin terdengar makin nyaring, bergema di angkasa, menembusi daun jendela, menggaung dalam ruangan, mengimbangi bayangan lentera yang bergoyang makin kencang.
53 Lama sekali Lui Hong melamun, cawan arak masih berada dalam genggamannya, hanya bayangan Siau Jit yang memenuhi benaknya saat itu.
Selama banyak hari, bayangan itu masih begitu jelas, begitu kentara dalam benaknya, seakan baru saja mereka bersua, bertatap muka.
Angin kencang kembali berhembus lewat, dari balik hembusan angin lamat lamat dia seperti mendengar ada suara langkah kaki.
Dengan sigap Lui Hong berpaling, menoleh kearah mana berasalnya suara itu.
Tapi suara langkah kaki itu segera sirap, tenggelam dibalik suara kebasan sayap kawanan kelelawar yang mulai beterbangan, berputar dalam ruangan.
Lui Hong saksikan sekawanan besar kelelawar terbang masuk ke dalam ruangan itu lalu terbang berputar kian kemari.
Bruuk, buuuk, buuukk......!
kawanan kelelawar itu sudah memenuhi seluruh ruangan.
Dalam waktu singkat baik dari atas tiang belandar, sudut ruangan, hampir semuanya dipenuhi dengan suara kebasan sayap, suara dari kawanan kelelawar yang sedang beterbangan.
Anehnya, biarpun kawanan kelelawar itu terbang berputar kian kemari, namun seolah tahu akan kehadiran Lui Hong, mereka tak pernah mendekati gadis itu dalam jarak tiga langkah.
Peristiwa semacam ini memang merupakan satu pemandangan yang sangat aneh.
Lui Hong mulai bergidik, mulai merinding, sewaktu masih bergelantungan diatas tiang belandar tadi, dia tidak merasa jijik, tidak merasa seram, tapi begitu mereka mulai terbang, mulai menukik dan berputar, suasana terasa jadi menyeramkan, jadi sangat menakutkan.
Sepasang mata mereka yang merah darah, merah seperti bara api seakan sedang menatap Lui Hong, mengawasi setiap gerak geriknya.
Biarpun kawanan binatang berdarah dingin itu tak pernah terbang mendekat, namun entah kenapa, gadis itu merasa tegang, seolah olah kawanan kelelawar itu setiap saat bisa menerjang tubuhnya, menggigit setiap bagian tubuhnya.
Tanpa sadar gadis itu melompat bangun, tangan kanannya mulai meraba gagang golok.
54 Ada begitu banyak kelelawar yang telah terbang masuk ke dalam ruangan, mereka beterbangan dan menari dalam ruang yang sempit dan kecil, namun a neh, ternyata tak satupun diantara mereka yang saling bertumbukan.
Dilihat dari tingkah lakunya, kawanan kelelawar itu seakan sudah lama terlatih, dididik seseorang hingga disiplin dan teratur.
Tangan kanan Lui Hong yang meraba gagang golok semakin menggenggam kencang, baru sekarang ia merasa kalau gelagat tidak beres, ada sesuatu yang sangat aneh.
Darimana datangnya begitu banyak kelelawar?
Mungkinkah ada masalah dalam kuil Thian-liong-ku-sat?
Tapi, kenapa pula Siau Sit minta dia menunggunya disana?
Atau jangan jangan semua ini hanya sebuah rekayasa, sebuah perangkap?
Jangan jangan bukan Siau Jit yang mengundang kehadirannya?
Namun....
rasanya hal ini mustahil, aah!
Paling tidak aku harus hati hati!
Akhirnya ingatan tersebut melintas dalam benak Lui Hong.
Pada saat itulah mendadak berkumandang suara suitan tajam yang sangat aneh.
Entah lantaran suara suitan aneh itu atau entah karena apa, kawanan kelelawar yang semula terbang menari dalam ruangan, tiba-tiba meluncur keatas belandar, bergelantungan disana, atau terbang keluar, tinggalkan ruangan itu.
Dalam waktu singkat suara kebasan sayap yang ramai terhenti sama sekali, suasana berubah jadi hening.
Sesosok bayangan manusia muncul dari luar pintu ruangan!
Rambutnya yang putih berkibar terhembus angin, biji matanya tajam berkilat, setajam mata malaikat, namun dia bukan dewa atau siluman, orang itu tak lain adalah Kelelawar tanpa sayap.
Dalam pandangan Lui Hong, orang itu tak lebih hanya seorang tauke warung teh.
Begitu sadar siapa yang muncul, nona itu terperangah Kamu?
Empek tua?
serunya tertahan.
Betul, memang aku jawab kelelawar tanpa sayap tertawa.
Kenapa kau datang kemari?
Aku memang tinggal disini, kalau tidak kemari lantas harus pergi ke mana?
Lui Hong mendongak melihat keluar jendela, kemudian katanya lagi.
Aah, benar!
Hari sudah 55 mulai malam, memang saat seperti ini pasti sudah tak ada tamu lagi yang lewat, tak heran kau telah menutup warung.
Tapi, bukankah suasana diwarungmu jauh lebih nyaman daripada tempat ini?
Kenapa kau tidak tinggal diwarungmu saja sebaliknya malah tinggal dalam kuil bobrok yang kotor ini?
Karena warung itu bukan milikku, aku hanya meminjamnya sementara, selama satu hari Hanya pinjam sehari?
seru Lui Hong keheranan, ooh, rupanya pemilik warung sedang ada urusan, jadi minta tolong kau untuk menjagakan sehari?
Aku meminjamnya sehari, bukan jaga warung itu sehari tandas si kelelawar, kemudian setelah berhenti sejenak dia melanjutkan, hanya saja pemilik warung itu memang tak bakal balik lagi kesana, selamanya tak akan balik lagi Kenapa?
Dia sudah mampus, aku yakin mayatnya sudah tak utuh, paling tinggal kerangka saja, karena daging dan darahnya pasti telah habis dihisap dan dilahap kawanan kelelawar Apa?
jerit Lui Hong dengan bulu kuduk berdiri, kawanan kelelawar itu doyan daging manusia?
Kalau tidak, dengan apa mereka hidup?
Apa penyebab kematian pemilik warung?
desak Lui Hong.
Tiba-tiba si kelelawar mementangkan tangannya lalu mencakar tiang penyangga yang berada disampingnya.
Took, toook, toook!
setiap jari tangannya yang mencakar menancap di tiang penyangga itu, menohok dalam dalam.
Melihat ketangguhan kakek itu Lui Hong bertambah ngeri, semakin terkesiap.
Siapa sebenarnya orang tua ini?
Walaupun cakaran itu diarahkan pada tiang kayu yang mulai lapuk, sudah tak sekokoh dulu lagi, namun tanpa tenaga dalam yang sempurna, mustahil orang bisa melakukannya.
Dilihat dari semua yang terjadi, jelas apa yang sedang berlangsung selama ini merupakan sebuah perangkap, aku telah terjebak!
Baru saja ingatan tersebut melintas, 56 tampak kayu penyangga ruangan itu mendadak terbelah jadi berapa bagian dan hancur, rupanya si kelelawar telah membetot kayu tersebut hingga hancur sepotong.
Kemudian tampak orang itu merapatkan sepasang tangannya, potongan kayu yang berada dalam genggaman pun hancur jadi serbuk kayu dan berhamburan ke atas lantai.
Kini Lui Hong yakin seratus persen bahwa si kelelawar memang seorang jago bertenaga dalam sempurna, dia pasti bukan seorang kakek biasa yang lemah, namun gadis itu masih menahan diri, tidak beranjak, tidak bertindak apalagi bicara.
Sambil bertepuk tangan membersihkan serbuk kayu, kembali kelelawar berkata.
Begitulah nasib pemilik warung itu, sama seperti kayu tadi, tulang belulangnya hancur berkeping, dia memang mampus ditanganku Siapa kau sebenarnya?
Kelelawar!
Omong kosong!
Il hardik Lui Hong.
Tiba-tiba si kelelawar menghela napas, ujarnya.
Kenapa ada begitu banyak orang percaya ketika aku sedang berbohong, sebaliknya tak satupun yang mau percaya sewaktu aku bicara jujur?
Masa kelelawar bisa digunakan sebagai nama?
dengus Lui Hong tertawa dingin.
Jangan lagi kelelawar, kucing, anjing pun pernah dipakai orang sebagai namanya, kenapa aku tak boleh menyebut diriku sebagai kelelawar?
Li Hong terperangah, tak sanggup menjawab.
Kembali si kelelawar melanjutkan.
Apalagi dalam kenyataan aku memang tak jauh berbeda dengan seekor kelelawar Ngaco belo tukas Lui Hong cepat, jangan bicara yang lain, cukup ambil badanmu sebagai contoh, bukankah tubuhmu berapa puluh kali lipat lebih gede daripada tubuh kelelawar?
Besar kecilnya tubuh, bukan merupakan ciri khas dari seekor kelelawar Memangnya kelelawar memiliki ciri khas apa?
57 Biarpun mereka bermata, namun dalam kenyataan tak jauh berbeda dengan si buta, mereka tetap bisa terbang kian kemari tanpa menumpuk sesuatu benda, hal ini dikarenakan mereka memiliki sepasang telinga yang tajam dan sensitip Coh, jadi kaupun memiliki telinga yang tajam dan sensitip?
ejek Lui Hong tertawa dingin.
Tentu saja aku memilikinya, kalau tidak, mana mungkin bisa sampai disini Memangnya kau buta?
Si kelelawar mengangguk tanda membenarkan.
Lui Hong tertawa dingin Aku rasa sepasang mata mu normal, tak ada yang aneh ujarnya.
Si kelelawar tidak banyak bicara, dengan tangan kirinya dia korek keluar biji matanya dari kelopak mata sebelah kiri, biji mata itupun segera tercomot lepas.
Dengan cepat dia membalik tangannya, meletakkan biji mata yang baru saja dikorek keluar itu ditengah telapak tangan, katanya.
Coba kau lihat, apakah mataku termasuk normal?
Bulu kuduk Lui Hong bangun berdiri, saking terperana dan ngerinya, gadis itu sampai tak mampu berkata-kata.
Biji mata itu memancarkan sinar kehijauan yang aneh, sekalipun tergeletak ditelapak tangan, meski sudah terlepas dari kelopak matanya, namun seolah memiliki tenaga hidup yang sukar dilukiskan dengan kata, biji mata itu menatap Lui Hong dengan seramnya.
Gadis itu benar-benar ngeri, hatinya bergidik, badannya merinding, tiba-tiba perutnya terasa mual, ingin muntah.
Sambil memegangi biji matanya, kelelawar itu menghela napas sedih, kembali ujarnya.
Walaupun tak dapat melihat, untung aku memiliki sepasang telinga yang tajam dan sensitip, lebih tajam dan sensitip ketimbang pendengaran kelelawar Kau........
Lui Hong hanya bisa menyebut satu kata, karena dia tak mampu melanjutkan perkataan berikut.
Suara angin, suara hujan, suara air mengalir, suara serangga bahkan suara saat bunga sedang mekar, pokoknya semua suara yang berasal dari alam semesta dapat kudengar sangat jelas, oleh sebab itu meski aku tak punya mata, namun mataku jauh 58 lebih hidup dan bermakna daripada manusia bermata Lui Hong melongo, mendengarkan uraian itu dengan tertegun.
Kembali si kelelawar melanjutkan.
Manusia biasa punya mata, mereka dapat melihat, karena itu jarang sekali menggunakan telinga untuk mendengar.
Ada sementara orang bahkan menganggap telinga dan pendengaran mereka sebagai sampah, sebagai barang rongsok yang sama sekali tak berfaedah Lui Hong membungkam, tidak menjawab.
Si kelelawar bicara lebih jauh.
Barang apa pun, semakin jarang kau gunakan, semakin surut kemampuannya, sama seperti pendengaran, makin jarang digunakan, makin tumpul pula kehebatannya Tiba-tiba Lui Hong menyela sambil tertawa dingin.
Sewaktu pejamkan mata, aku pun sama saja dapat mendengar banyak macam suara Apa yang sanggup kau dengar?
Aku dapat mendengar semua yang mampu kau dengar Si kelelawar tertawa terbahak-bahak Hahaha...
benarkah begitu?
jengeknya, kalau begitu coba kau pejamkan matamu, dengarkan, apa benar ada sepasang kelelawar sedang bersenggama diatas tiang penglari Merah dadu sepasang pipi Lui Hong, merah karena jengah.
Kembali si kelelawar berkata.
Selain itu, dibalik dinding sebelah timur, ada seekor tikus sedang menggali lubang, dibalik semak belakang tubuhku, ada seekor ular betina sedang bertelur......
Lui Hong terbelalak, melotot keheranan.
Namun gadis itu tidak pejamkan matanya, ia tak sudi mendengar semua suara itu, hardiknya.
Kau tak usah ngaco belo, bicara tak karuan, mana mungkin suara suara semacam itu dapat kau dengar?
Selama ada yang mengeluarkan suara, suara itu pasti dapat ditangkap, dapat didengar Mau tak mau Lui Hong harus mengakui kebenaran akan perkataan itu, ucapannya memang betul dan masuk akal.
Tentu saja kau tak dapat mendengarnya kata si kelelawar lagi, karena kau tidak memiliki sepasang telinga seperti kelelawar Lui Hong terbungkam, dia tak tahu harus berkata apa.
Si kelelawar menghela napas berulang kali, ucapnya.
Sayang, walaupun aku memiliki ketajaman pendengar an yang luar biasa, namun tak bisa kudengar betapa cantiknya wajahmu dan betapa montok serta langsingnya perawakan tubuhmu Dalam 59 waktu yang relatif singkat, Lui Hong seperti mendapat satu firasat, muncul satu dugaan aneh dalam hati kecilnya.
Jangan jangan orang ini sinting?
Tidak waras otaknya?
Si kelelawar menggosok perlahan sepasang telapak tangannya, membersihkan sisa serbuk kayu yang masih menempel, kemudian terusnya.
Untung aku masih memiliki sepasang tangan yang cekatan dan sangat sensitip, oleh karena itu meski aku tak dapat melihat dan tak dapat mendengar betapa cantik, betapa seksi nya tubuhmu, sepasang tanganku masih dapat menyentuh dan meraba sekujur badanmu Kau berani!
hardik Lui Hong gusar.
Tak ada pekerjaan di dunia ini yang tak berani kulakukan Mungkin kau masih belum tahu manusia macam apa diriku ini!
Siapa bilang tidak tahu?
si kelelawar tertawa, kau adalah Lui toa-siocia, piauwsu perempuan dari perusahaan ekspedisi Tin-wan Piaukiok, ilmu silatn ya tangguh, mendapat didikan langsung dari Tin-wan-siang-eng, dengan sebilah golok kau sudah malang melintang di seantoro jagad tanpa tandingan, tentang hal tersebut, sudah berulang kali kudengar orang bercerita Dan sekarang kau masih berani berpikiran busuk terhadapku?
Hingga detik ini, belum pernah ada seorang manusia pun di dunia ini yang tak berani kusentuh Lui Hong tertawa dingin.
Huuh, dasar manusia buta, kau terlalu percaya diri Si kelelawar segera menarik wajahnya.
Selama hidup aku paling tak senang kalau ada orang lain pandang hina aku sebagai orang buta katanya.
Kau tak bisa melihat orang lain, kenapa musti marah kalau orang pandang rendah dirimu?
Tajam amat mulutmu!
Cepat minggir!
bentak Lui Hong kasar, Kalau tidak, jangan salahkan kalau golokku tak kenal belas kasihan Ooh, besar amat gaya ucapanmu!
60 Enyah dari situ!
kembali Lui Hong membentak.
Aku dengar kehebatan ilmu golokmu sudah mencapai delapan puluh persen kemampuan ayahmu Apa urusanmu?
Memang tak ada urusan denganku, bayangkan saja, terhadap si golok emas Lui Sin pun aku tak kuatir, apalagi kemampuanmu sekarang baru mencapai delapan puluh persennya, hahaha..
apa pula pengaruh perkataanmu tadi dengan situasi sekarang?
Situasi sekarang?
Apa maksudmu?
Pertama-tama aku akan menahanmu dalam kuil Thian-liong-ku-sat Andalkan kau seorang?
ejek Lui Hong sambil tertawa dingin.
Biar hanya aku seorang, itu sudah lebih dari cukup Sekalipun kau punya kemampuan untuk menahanku dislni, tak sampai setengah hari kemudian, orang-orang dari Tin-wan Piaukiok pasti akan menyusulku kemari Ya?
Ketika lama tidak melihat aku kembali, orang-orang piaukiok pasti akan menyusul kemari untuk mencari aku, jangan lupa, mereka pun orang-orang berpengalaman dalam dunia persilatan Maksudmu jago-jago yang menggunakan senjata jit-gwee-kou serta golok Toa-huan-to?
Lui Hong hanya tertawa dingin sebagai jawaban.
Tiba-tiba si kelelawar tertawa, katanya.
Jika mereka berdua yang kau maksud, lebih baik jangan terlalu diharapkan lagi, mereka tak bakal menemukan tempat ini Jadi kau mulai takut?
Kelewat sayang bila gadis semuda, secantik kau harus pulang bersama mereka menuju ke alam kekal Apa?
Maksudmu?
teriak Lui Hong tertegun.
Masa kau tidak memahami maksudku?
Jadi kau bilang mereka berdua telah meninggal?
61 Maka dari itu kedatangan mereka berdua pada saat seperti ini bukanlah satu kejadian yang menguntungkan bagimu Apa yang menyebabkan kematian mereka?
Kau telah membunuh ke dua orang itu?
Benar si kelelawar mengangguk, mengakui.
Kenapa?
desak gadis itu.
Sebab jika mereka tidak mati, bila lama tidak melihat kau balik, orang-orang itu pasti akan kemari mencarimu, bila gagal menemukan kau disini, mereka akan melaporkan kejadian ini kepada Lui Sin serta Han Seng, kendatipun aku tak pernah pandang sebelah mata terhadap mereka berdua, toh lebih baik tak ada kesulitan daripada harus menghadapi kesulitan, bukan begitu?
Berubah paras muka Lui Hong sehabis mendengar penjelasan itu, tegurnya.
Maksudmu, kau telah membunuh habis mereka semua?
Tepat sekali, satu pun tak tersisa, termasuk dayang kepercayaanmu itu Setelah mengheia napas panjang, lanjutnya.
Tak disangka!
Ciu Kiok termasuk seorang gadis yang menawan, namun berada dalam situasi seperti sekarang, mau tak mau terpaksa akupun harus bersikap keji terhadapnya Dengan gemas Lui Hong meotot ke arah si kelelawar, baru saja akan mengucapkan sesuatu, terdengar si kelelawar telah berkata kembali.
Biarpun aku tak dapat melihat, namun dari suaranya, bisa kubayangkan wajahnya pasti tak jelek Tiba-tiba ia tertawa tergelak, terusnya.
Dari suara seseorang pun dapat kita bayangkan apakah dia berwajah cantik atau tidak, tentu saja ada pengecualian, bisa jadi seorang gadis dengan suara yang merdu, ternyata miliki raut muka yang sangat jelek, tapi pengecualian semacam ini sesungguhnya tak banyak, paling tidak begitulah menurut pengalamanku Dengan penuh kebencian Lui Hong kembali melotot ke arah kakek itu, tiba-tiba serunya sambil tertawa dingin.
Kau benar-benar telah membunuh habis mereka semua?
Mungkin aku perlu mengundangmu untuk berkunjung ke warung teh itu dan membuktikan sendiri apakah semua yang kuucapkan benar atau tidak 62 Sekarang juga akan kuperiksa!
Sambil berkata Lui Hong beranjak tinggalkan tempat itu.
Berhenti disana, jangan bergerak!
hardik si kelelawar sambil menarik muka.
Kau tak bisa melarang aku dengus si nona sambil mulai melangkah pergi.
Tiba-tiba si kelelawar tertawa, ancamnya.
Kalau kau berani berjalan setengah langkah saja, kawanan kelelawar itu segera akan menyerang tubuhmu, menghisap darahmu, melahap dagingmu Begitu selesai berkata, suara kebasan sayap kelelawar kembali bergema diseluruh ruangan, suasana jadi amat gaduh.
Tanpa sadar Lui Hong mendongakkan kepalanya, benar saja, ia saksikan kawanan kelelawar itu sudah mulai menggoyangkan sayapnya, seolah siap menerkam tubuhnya.
Benarkah kawanan kelelawar itu gemar menghisap darah?
Lui Hong mulai bergidik, bulu roma mulai berdiri, namun penampilan serta sikapnya tetap keras kepala.
Sebenarnya apa mau mu?
hardiknya.
Lagi-lagi si kelelawar tertawa.
Mau apa aku?
Sebentar juga bakal tahu sendiri katanya.
Lui Hong jadi teringat dengan surat dan kertas catatan yang ditemukan selama ini, dalam sekejap mata timbul satu perasaan sakit dihati kecilnya, perasaan itu seperti ada dua ekor ular berbisa yang menyusup masuk ke dalam tubuhnya serta mematuk hatinya.
Cepat dia ambil keluar ke dua pucuk surat itu kemudian teriaknya gusar.
Jadi surat-surat inipun palsu?
Si kelelawar mengayun telapak tangan kirinya, melempar biji mata yang berada dalam genggaman itu ke tengah udara, kemudian dengan ibu jari, jari telunjuk dan jari tengahnya, bagai paruh burung, mematuknya kembali, setelah menjepit biji mata tersebut, dia arahkan ke hadapan Lui Hong.
63 Dibawah cahaya lentera, biji mata itu seolah memancarkan cahaya hijau yang menggidikkan, setelah mengamati ke dua pucuk surat yang berada ditangan Lui Hong, dia amati pula wajah cantik gadis itu.
Kembali Lui Hong merasa hatinya bergidik, begitu seram dan ngerinya sampai tangan yang digunakan untuk memegang ke dua pucuk surat itu mulai gemetaran.
Sekilas perubahan aneh segera tampil diwajah si kelelawar, dengan suara nyaris mendekati rintihan, ia berbisik.
Jadi selama ini kau simpan ke dua pucuk surat yang kutinggalkan itu dalam sakumu?
Merah padam wajah Lui Hong karena jengah, cepat dia buang ke dua pucuk surat itu ke tanah, kelelawar segera miringkan kepalanya seolah sedang mendengarkan gerak-gerik Lui Hong, mendadak ia tertawa.
Suara tertawanya sangat aneh, dipenuhi hawa kecabulan dan hawa sesat yang menggidikkan.
Wajah Lui Hong semakin merah, bentaknya gusar.
Kenapa kau membohongl aku?
Kenapa kau tipu aku datang kemari?
Karena tempat ini adalah sarang kelelawar Kau....
untuk sesaat Lui Hong tak tahu harus berkata apa, dia mencoba menengadah, menyaksikan kawanan kelelawar yang seolah setiap saat akan menerkam dan mengigitnya, perasaan bergidik makin mencekam hatinya.
Ditempat ini, kau bisa mendapatkan segala kenikmatan yang belum pernah kau rasakan sebelumnya kata si kelelawar lagi.
Ingin menahanku dislni?
Hmm, aku kuatir tak segampang apa yang kau bayangkan Kelelawar itu tertawa.
Bicara dari ilmu silat, tak diragukan kemampuanmu memang setingkat lebih tinggi daripada Thio Poan-oh serta To Kiu-shia, tapi kau harus tahu, ketika membunuh kedua orang jago itu, aku dapat melakukannya dengan gampang sekal!
Lui Hong tertawa dingin.
Bila kau beranggapan aku adalah manusia yang takut mati, dugaanmu itu keliru besar katanya.
Aku tahu watakmu temperamen, gampang naik darah, tap!
sejujurnya 64 aku pun tak berniat membunuhmu, sebab kalau tidak, rasanya tidak perlu aku musti bersusah payah memancingmu datang kemari Dia perlunak suaranya, dengan lembut menambahkan.
Tahukah kau, sejujurnya aku tak ingin menyaksikan kau menderita luka atau tersiksa karena persoalan apa pun Sembari berkata, lagi lagi dia menggerakkan biji matanya yang terletak ditelapak tangan itu untuk mengamati tubuh Lui Hong dari atas hingga ke bawah, bukan hanya satu kali, tapi berulang kali.
Seketika itu juga Lui Hong merasa seolah-olah dia sedang dipeloti orang, sedang diamati seseorang.
Perasaan tersebut aneh sekali, semacam dia ditelanjangi orang, ditelanjangi hingga sama sekali bugil, gadis itu merasa pakaian yang dikenakan sedang ditanggalkan selembar demi selembar, dilucuti hingga akhirnya dia seperti berdiri bugil didepan si kelelawar.
Dia tak tahu mengapa bisa muncul perasaan semacam itu, tanpa sadar dia benahi pakaian yang dikenakan, selembar wajahnya berubah jadi semu merah, merah karena malu.
Semua perubahan itu tampaknya seperti terlihat oleh si kelelawar, terekam oleh biji matanya itu, ujarnya.
Seorang gadis cantik ibarat semacam batu kumala yang indah dan berharga, bila muncul sedikit cacat saja, nilainya bakal merosot tajam, bakal berkurang kenikmatannya.
Hei, jangan ngaco belo, apa yang sedang kau bicarakan?
Aku tidak ngaco belo, padahal bagi seorang gadis cantik, dia jauh lebih indah dan menawan bila tidak berlatih ilmu silat, sebab begitu kau berlatih kungfu, otot dan daging tubuhmu berubah mengeras, berotot, sama sekali kehilangan kekenyalan dan kelembutannya, kehilangan gaya lemah gemulai yang memikat Sesudah berhenti sejenak, tambahnya.
Tapi, berotot pun ada kelebihannya juga Omong kosong!
Si kelelawar sama sekali tidak menggubris, ujarnya lagi.
Tentu saja tak seorang pun ingin merusak, apalagi menghancurkan sebongkah batu kumala indah, sekalipun orang buta pun tak akan melakukan, tentu terkecuali kalau dia sama sekali tidak tahu 65 kalau dirinya adalah sebongkah batu kumala indah, bila dia selalu menganggap dirinya hanya sebongkah batu cadas yang tak berharga.
Tiba-tiba Lui Hong menatap tajam si kelelawar, bentaknya.
Besar amat nyali anjingmu, berani betul kau menyamar sebagai Siau Sit!
Yaaa, apa boleh buat si kelelawar menghela napas panjang, sebab aku tahu, kecuali mencatut nama besar Siau Jit, rasanya sulit untuk memancing dirimu hingga mau memasuki kuil Thian-liong-ku-sat.
Kau tidak takut dengan Siau Jit?
Biarpun nama besar Siau Jit menggetarkan utara selatan sungai Tiang-kang, aku tak ambil peduli, tak pernah kumasukkan dalam hati, apalagi dalam kejadian ini, pada hakekatnya dia sama sekali tak tahu.
Dasar mata buta!
umpat Lui Hong gusar, sudah kuduga, kau memang bangsat tak berguna.
Si kelelawar menarik wajah, tapi tiba-tiba ia tertawa tergelak, katanya.
Hahaha....
sekarang kau boleh saja mengumpat sepuas hati, tapi ada satu hal perlu kuingatkan, semakin galak kau mengumpat, semakin kotor makianmu, nanti kau akan semakin menyesal Lui Hong tidak menjawab, Criiiing!
ia loloskan golok dari sarungnya.
Waah....
masih berani mencabut golok teriak si kelelawar, bocah perempuan, besar amat nyalimu.
Lui Hong hanya tertawa dingin tanpa menjawab, pergelangan tangannya digetarkan, tapi disaat tubuhnya akan menerkam maju, tiba-tiba si kelelawar memperdengarkan suara suitan yang tinggi, tajam dan aneh.
Seluruh kelelawar yang bergelantungan dan beterbangan dalam ruangan, serentak mengepakkan sayapnya, Buuk, bukk, bukkk.....!
serentak beterbangan memenuhi ruangan.
Setelah berputar satu lingkaran, serentak pula kawanan kelelawar itu menerkam ke arah Lui Hong.
Tak terlukiskan rasa kaget gadis itu, buru buru goloknya diayun kian kemari, Craaat, craaat!
66 dimana golok itu menyambar, tujuh-delapan ekor kelelawar terpapas kutung dan mampus ke lantai.
Percikan darah menodai seluruh permukaan, bau busuk menyengat penciuman.
Permainan golok yang dimiliki Lui Hong terhitung hebat dan sempurna, kalau bukan begitu, sebagai seorang gadis muda, bagaimana mungkin dia bisa tancapkan kaki dalam dunia persilatan?
Kawanan kelelawar itu sama sekali tidak menyurut karena peristiwa itu, bagaikan hujan panah, kembali mereka menerkam ke arah gadis itu.
Dalam waktu singkat lapisan hitam pekat menyelimuti seluruh pemandangan dihadapan Lui Hong, tentu saja lapisan hitam itu tidak berhenti, bagaikan gelombang laut ditengah amukan badai, menyerang, menggulung dan mengurung seluruh tubuh gadis itu.
Buru-buru Lui Hong memutar goloknya bagaikan titiran hujan deras, dia ciptakan lapisan cahaya emas untuk melindungi sekujur tubuhnya.
Kawanan kelelawar itu mulai kalap, mereka adalah gerombolan binatang berdarah dingin yang menghisap darah manusia, melahap daging manusia hidup.
Lui Hong sama sekali tidak lupa dengan ucapan si kelelawar, justru karena terpengaruh oleh perkataan tersebut, mau tak mau dia harus berjuang keras untuk mencegah kawanan kelelawar itu menyentuh tubuhnya, menggigit dagingnya.
Ditengah kilatan cahaya golok, seekor demi seekor, kawanan kelelawar itu terpapas kutung jadi dua, rontoh ke tanah bermandikan darah.
Lui Hong membentak nyaring, putaran goloknya semakin mengencang.
Mungkin lantaran suara bentakannya kelewat merdu, kawanan kelelawar itu sama sekali tidak menyurut mundur lantaran itu, meski permainan goloknya sangat gencar, namun pada akhirnya muncul juga titik celah yang terlepas dari perlindungan.
Dengan cepat seekor kelelawar menyusup masuk ke dalam celah itu, menerkam tubuhnya.
Kelelawar yang lembek, empuk, basah segera menempel dibadannya, tak seorang pun bisa membayangkan bagaimana perasaan si nona saat itu.
67 Lui Hong semakin bergidik, tiba-tiba saja dia merasakan gigitan yang amat sakit muncul dari bagian tubuhnya yang tertempel kelelawar itu, rasa sakit yang merasuk hingga tulang sumsum.
Ternyata binatang berdarah dingin itu benar-benar akan menghisap darahku, menggigit dagingku!
Dalam kepanikan dan rasa takut yang luar biasa, pikirannya mulai kalut, permainan goloknya ikut kacau, dibalik serangan golok semakin besar celah yang terbuka, semakin banyak pula kawanan kelelawar yang menerkam badannya, menempel dan menggigit tubuhnya.
Sekonyong-konyong......
seekor kelelawar menerjang datang, langsung menerkam wajah gadis itu.
Lui Hong merasakan bulu romanya bangun berdiri, ia merinding dan mulai menjerit keras.
Cepat dia angkat tangan kirinya untuk menghalau kelelawar itu.
Ploook!
termakan sabetan tangannya, kelelawar itu terhajar hingga rontok, namun akibat dari tindakan itu, permainan goloknya jadi terpengaruh, semakin banyak kelelawar yang berhasil menjebol pertahanan tubuhnya, menerkam badannya.
Lui Hong betul-betul kewalahan, bukan saja dia sudah tak mampu menghalau datangnya sergapan, niat dan tekadnya untuk bertahan pun ikut rontok, dia pecah nyali, kehilangan rasa percaya diri.
Dalam waktu singkat, seluruh tubuhnya telah penuh ditempeli kawanan kelelawar.
Sejak dilahirkan, belum pernah Lui Hong mengalami kejadian se seram ini, dia mulai menjerit ngeri, menjerit ketakutan, paras mukanya berubah pucat pasi.
Sambil menjerit kalap, ia mulai lari, kabur menuju ke luar ruang kuil.
Baru tiga langkah dia kabur, tiba-tiba kakinya jadi lemas, kehilangan keseimbangan, tiba-tiba saja tubuhnya terjerumus ke bawah, terperosok ke dalam sebuah liang.
Rupanya lantai dimana ia pijak telah berubah jadi sebuah liang perangkap, liang yang besar sekali.
Gadis itu sempat mendengar suara tertawa dari si kelelawar, suara tertawa penuh kebanggaan, suara tertawa penuh rasa puas.
68 Dalam waktu singkat, suara tertawa itu kedengaran makin jauh, makin sayup sebelum menghilang..
Lui Hong tak kuasa menahan diri lagi, dia menjerit lengking, menjerit penuh ketakutan.
Si kelelawar dapat mendengar teriakan itu, namun dia hanya tertawa, tertawa aneh.
Mendadak ia terhenti tertawa, sepasang lengannya dipentangkan, sekali lagi ia perdengarkan suara pekikan tajam dan melengking.
Bersamaan dengan menggemanya suara pekikan itu, kawanan kelelawar itu seolah mendapat pukulan yang menakutkan, serentak binatang berdarah dingin itu terbang meninggalkan ruangan, kabur ke empat arah delapan penjuru.
Dalam waktu singkat seluruh ruangan telah kosong, pulih kembali dalam keheningan yang mencekam.
Si kelelawar mengangkat tangan kirinya, dengan jepitan ibu jari, jari telunjuk dan jari tengahnya, dia masukkan kembali biji mata itu ke dalam kelopak matanya, kemudian rentangkan sepasang ujung bajunya yang lebar bagai sayap kelelawar, seluruh tubuhnya mulai melambung, mulai melayang, orang itu seakan telah berubah menjadi seekor kelelawar raksasa.
Dia mengitari ruang kuil itu satu lingkaran, kemudian Wesss!
meluncur keluar lewat pintu gedung.
Suara gemuruh yang amat nyaring bergema memekikkan telinga, ruang gedung yang semula berdiri kokoh, tiba-tiba rubuh dan hancur berantakan.
Ditengah debu dan pasir yang beterbangan, dalam waktu sekejap gedung kuil yang besar itu sudah berubah jadi seonggok puing, puing yang berserakan.
Si kelelawar tidak pergi jauh, dia berada ditengah semak ilalang, menyaksikan berlangsungnya semua peristiwa itu.
Menyaksikan bangunan kuil itu mulai roboh, mulai hancur menjadi puing yang berserakan, tiba-tiba ia tertawa lagi, gumamnya sambil tertawa aneh.
Sekarang, semua jejak telah hilang, semua petunjuk telah punah, sekalipun Siau Sit datang sendiripun, jangan harap ia berhasil melacak sesuatu.
69 Diiringi suara tertawa yang aneh, perlahan dia beranjak pergi, berjalan menuju ke luar halaman dan lenyap dibalik puing yang menggunung.
ERMUKAAN tanah tiba-tiba amblas ke bawah, kenyataan semacam ini sama sekali diluar dugaan Lui Hong.
Sekalipun gadis ini memiliki ilmu meringankan tubuh yang amat bagus, sangat sempurna, bagaimana mungkin kepandaian itu bisa dia gunakan dalam keadaan mendadak dan sama sekali tak terduga?
Tubuhnya segera meluncur ke bawah dengan kecepatan tinggi.
Dalam waktu sekejap ia sudah terperosok ke dalam suatu wilayah yang sangat gelap, gelap gulita hingga susah melihat ke lima jari sendiri, ia mulai menjerit, berpekik ngeri, gadis itu tak tahu tempat apakah didasar liang itu.
Mungkin saja tempat itu berupa bukit golok hutan pedang, mungkin juga ada berpuluh bahkan beratus ekor ular berbisa yang kelaparan, menanti datangnya korban............
Semacam perasaan ngeri, perasaan takut yang luar biasa mencekam benaknya.
Waktu itu Lui Hong benar benar merasa horor, merasa ketakutan yang mencapai pada puncaknya.
Belum selesai suara jeritannya berkumandang, gadis itu sudah mencapai dasar liang, jarak dari permukaan tanah rasanya tidak terlampau tinggi, karena itu bantingan yang dirasakan tak sampai menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.
Namun tubuhnya masih belum berhenti.
Kelihatannya permukaan tanah didasar liang itu tidak rata, melainkan miring ke arah bawah bahkan licinnya luar biasa, begitu menyentuh dasar liang, tubuh Lui Hong masih meluncur terus ke arah liang yang lebih dalam.
Gadis itu tak tahu dimana ia terjatuh dan menindih diatas benda apa, yang bisa dirasakan adalah tempat itu sangat dingin, kedua sisinya berbentuk bulat dan kelihatannya terbuat dari sejenis logam yang rapat dikedua sisinya.
70 Sebetulnya dia ingin sekali menghentikan daya luncur tubuhnya, dia mencoba meraih tepi logam, namun entah logam yang diraih terlalu licin hingga sukar tergenggam, ataukah karena pikiran dan perasaannya kelewat kalut, usaha tersebut selalu mengalami kegagalan.
Tabung bulat itu menjulur jauh ke bawah, lalu pada ujungnya menikung ke samping.
Mengikuti bentuk tabung itu, tubuh Lui Hong meluncur terus kebawah kemudian berbelok, ia merasakan badannya lagi lagi terlempar ke udara kemudian terperosok lebih ke bawah.
Buuukk!
akhirnya gadis itu terjatuh diatas benda yang empuk dan lembut, kuatir terjadi hal yang tak diinginkan, tergopoh gopoh dia raih benda tersebut kemudian memegangnya kencang-kencang.
Ia merasa benda yang diraihnya lembut seperti selembar selimut, kemudian gadis itupun merasa bahwa bahan selimut itu terhambar dibagian bawah tubuhnya, seakan dia berada diatas sebuah ranjang yang dilapisi selimut.
Sekarang Lui Hong baru dapat merasa agak tenang, karena badannya sudah tidak meluncur lagi ke bawah.
Dia tiarap ditempat itu, tak berani bergerak, lama kemudian, ketika rasa kaget dan takutnya mulai mereda, gadis itu baru mencoba merangkak bangun.
Suasana disana gelap gulita, tak ada yang bisa dilihat, bahkan lima jari sendiripun susah terlihat jelas, dia pun tak mendengar suara apa pun, keadaan begitu hening, sepi....
Keheningan yang menakutkan, sepi yang mendekati suasana kematian.
Lui Hong celingukan ke sana kemari, dia mencoba untuk bisa melihat suasana ditempat itu, namun semuanya gelap, semuanya hitam pekat, rasa gugup, panik, seram dan takut kembali muncul dihati kecilnya, mencekam perasaannya.
Tempat itu kelewat sepi, sedemikian heningnya sampai suara geleng kepala pun kedengaran begitu menusuk pendengaran.
Lama sekali dia termenung, duduk terpekur, sebelum akhirnya gadis itu mulai meraba, mencoba menggerayangi setiap sudut tempat itu.
Akhirnya dia berhasil menyentuh sesuatu, meraba sebilah gagang golok, golok andalannya.
71 Gagang golok itu masih terasa hangat, begitu dikenal bentuk dan genggamannya, gadis itu nyaris merasa yakin bahwa senjata tersebut merupakan golok miliknya.
Didalam kenyataan, sejak ia terperosok jatuh ke dalam perangkap hingga tubuhnya tergelincir masuk ke dalam tabung logam, golok tersebut masih berada dalam genggamannya, sampai tubuhnya terjatuh diatas benda seperti selimut itu, dengan gugup ia baru meraih benda tadi serta menggenggamnya kencang kencang, saat itulah dia lepaskan gagang goloknya.
Dengan senjata dalam genggaman, perasaan gadis itu menjadi jauh lebih tenang, bagaimana pun dia adalah seorang jago silat, dengan setengah berjongkok dia melanjutkan gerayangannya, meraba sekeliling tempat itu.
Dengan cepat dia telah tinggalkan benda yang menyerupai selimut itu, sekarang dia seratus persen yakin, benda tersebut memang selembar selimut halus.
Suasana masih hening dan sepi, masih tak kedengaran sedikit suara pun.
Lalu dia mulai mengendus sesuatu, udara diseputar tempat itu lamat lamat terasa harum, harumnya kayu cendana.
Gadis itupun yakin, kayu cendana yang terendus bukan terdiri dari satu jenis saja.
Dimanakah dia sekarang?
Tempat apakah itu?
Sementara Lui Hong masih keheranan, tangan kirinya yang sedang meraba bagian depan tiba-tiba menyentuh sesuatu, meraba semacam benda yang sangat aneh.
Seketika pipinya terasa panas, ia merasa jengah sekali.
Benda yang dirabanya kelewat mirip dengan payudara seorang gadis, lalu dia pun meraba benda ke dua.
Payudara yang montok dan besar, puting susu yang keras dan mengencang .......
Tanpa sadar tangannya melanjutkan perabaan, sekarang dia mencoba meraba lebih ke bawah, menggerayang semakin bawah..
Perut yang datar dan pinggang yang ramping, pusar yang cekung ke dalam, jelas dia telah meraba tubuh bugil seorang gadis, tubuh telanjang seseorang.
Lui Hong merasa pipinya makin panas, tapi tangannya tidak berhenti sampai disitu, dia mencoba meraba lebih jauh.
72 Benda yang tersentuh terasa begitu keras, kaku, dingin dan tak bergerak, sudah jelas bukan tubuh manusia hidup, lebih mirip tubuh bugil sesosok mayat, orang mati!
Lalu benda apakah itu?
Tiba-tiba Lui Hong teringat, dalam sakunya masih ada obor dan korek api.
Cepat dia merogo ke dalam saku, ambil keluar sebuah obor dan menyulutnya.
Berada dalam suasana kegelapan yang luar biasa, pancaran sinar dari obor itu meski lemah dan agak redup, namun bagi Lui Hong, cahaya yang terpancar sangat menusuk pandangan mata.
Dalam waktu relatif singkat, pada hakekatnya ia telah menyaksikan semua benda yang tidak terlihat sebelumnya, tapi disaat dia dapat melihat jelas suasana disekeliling tempat itu, Lui Hong terperangah, berdiri tertegun bagaikan sebuah patung batu.
Semua benda yang terlihat olehnya, tidak cukup dilukiskan dengan sebuah kata aneh .
Kenapa bisa muncul tempat semacam ini?
Lui Hong mulai mengeluh, merintih, mendecak keheranan.
Cahaya api telah mengusir semua kegelapan, sekalipun tidak terlalu terang, namun dengan meminjam cahaya yang ada, Lui Hong telah cukup melihat jelas suasana disekeliling sana.
Tempat dimana ia berada sekarang, boleh dibilang merupakan sebuah ruangan .
Apakah terbuat dari batu?
Atau tanah liat?
Atau terbuat dari logam?
Nona itu tak tahu, dia tak bisa menjawab secara pasti.
Baca Juga: Bangau Sakti 2
Baca Juga: Pendekar Gila Kho Ping Hoo