Ceritasilat Novel Online

Kelelawar Tanpa Sayap 2

Eps 2 Kelelawar Tanpa Sayap - Huang Ying

Baca online Kelelawar Tanpa Sayap - Huang Ying

Cersil Kelelawar Tanpa Sayap - Huang Ying.

Oleh karena itulah ia hanya bisa mengatakan kalau tempat itu merupakan sebuah ruangan Luas ruangan itu cukup lebar, paling tidak mencapai dua kaki persegi.

Tempat dimana Lui Hong berada tadi memang merupakan lembaran sebuah selimut tebal, benda yang barusan dia raba pun memang tubuh bugil seorang gadis.

Payudara yang montok, pinggul yang lembut, paha yang mulus, wajah yang cantik, hampir setiap inci, setiap jengkal tubuh itu tampak begitu menawan, begitu memikat dan merangsang.

73 Tapi gadis bugil itu bukan manusia hidup, bukan pula sesosok mayat, melainkan hanya sebuah patung, patung yang terbuat dari kayu.

Pahatan patung itu sangat indah, terperinci dan mendek ati aslinya, sebuah karya seni yang maha besar, benda seni yang langka.

Disisi patung pahatan pertama, terlihat pula pahatan patung patung bugil lainnya, patung itu memiliki wajah yang berbeda, perawakan tubuh yang berbeda, bentuk yang berbeda pula.

Seluruh lantai ruangan dipenuhi dengan pahatan patung wanita bugil.

Terkecuali berapa kaki pada lingkaran tengah, disana terletak sebatang kayu bulat yang besar lagi tua, disisi kayu bulat terdapat sebuah batu yang sangat besar, tingginya mencapai dua-tiga depa.

Bagaimana pula dengan ke empat sudut ruangan?

Disudut sebelah kiri dipenuhi dengan pelbagai bentuk pantat wanita, ada pantat berbentuk bulat montok, ada pula pantat berbentuk rata.

Tapi semua bentuk pantat yang terdapat disitu tampak terpahat secara indah, lembut dan nyata, membuat siapa pun yang melihat merasa terkesan.

Disudut sebelah kanan merupakan tumpukan payudara, ada bentuk payudara yang sudah terkulai lemas, ada yang tinggi menantang, ada yang montok, ada yang kecil mungil, biarpun beraneka ragam tapi semuanya kelihatan indah.

Disebelah depan merupakan tumpukan kaki perempuan, sedang dibagian belakang merupakan bentuk kepala.

Setiap benda yang berada disana boleh dibilang terbentuk seperti aslinya, namun bila diamati lebih seksama, kita baru sadar kalau semuanya merupakan pahatan kayu.

Begitulah, pada empat penjuru ruangan hanya terdapat empat jenis benda, dan setiap bentuk hanya ada satu macam, tiada duanya.

Walaupun Lui Hong adalah seorang wanita, namun dia sendiripun tidak begitu jelas terhadap bentuk badan sendiri, apalagi terhadap bentuk badan perempuan lain.

Dia sendiripun tidak menyangka kalau satu jenis barang yang sama, ternyata memiliki lekukan dan bentuk yang berbeda.

74 Ada lekukan lekukan yang indah merangsang, ada pula bentuk yang menawan, biarpun Lui Hong seorang wanita, tak urung timbul juga perasaan sayang dan terangsang setelah melihat benda benda itu.

Pandang punya pandang, akhirnya tanpa sadar dia mulai merintih, mulai mendesis dalam hati.

Hampir saja dia mengira dirinya sedang bermimpi, tapi dia sadar dan yakin, dirinya bukan sedang mimpi, semua yang dilihat merupakan kenyataan.

Dalam dunia nyata ternyata terdapat tempat semacam ini, biar mimpi pun dia tak bakal percaya.

Hasil karya siapakah ini?

Jangan jangan ulah si kelelawar itu?

Kelelawar tanpa sayap?

Tanpa sadar kembali Lui Hong bergidik, merinding seluruh tubuhnya.

Kelelawar tanpa sayap tak punya mata, darimana dia bisa memahat begitu banyak perempuan cantik terbuat dari kayu?

Nyaris Lui Hong tidak percaya dengan kenyataan itu.

Saat ini selembar wajahnya sudah berubah semerah cahaya senja sang surya, biarpun dalam ruangan tiada orang lain, namun bagaimana pun juga dia tetap seorang gadis muda.

Tak aneh bila gadis muda merasa malu, jengah terhadap masalah semacam ini.

Lalu, kenapa si kelelawar memancingku hingga terperangkap di tempat ini?

Lui Hong tidak habis mengerti.

Sementara dia masih keheranan, tiba-tiba terdengar suara yang sangat aneh bergema ditengah keheningan.

Kraaak .......!

seperti ada pintu dibuka orang.

Cepat gadis itu berpaling, dia saksikan sebuah lampu lampion muncul dari balik pintu.

Lampion itu terbuat dari kertas putih dengan cahaya berwarna putih pucat, suasana pucat itu entah disebabkan pengaruh cahaya lampion.

Entah karena alasan lain.

Suasana pucat itu entah disebabkan pengaruh cahaya lampion, entah karena alasan lain.

Tapi satu hal yang pasti, tangan si pemegang lampion itupun berwarna putih, putih pucat.

75 Mengikuti arah tangan itu Lui Hong memandang wajah pemiliknya, lagi lagi ia jumpai wajah si kelelawar.

Kelelawar tanpa sayap!

Dari sisi sudut ruangan dimana bertumpuk aneka bentuk payudara wanita, terbuka sebuah pintu rahasia.

Kelelawar tanpa sayap dengan memegang lampion, munculkan diri dari balik pintu rahasia itu.

Mungkin karena pengaruh cahaya lampion, dia kelihatan jauh lebih tua daripada penampilannya terdahulu.

Sepasang bola mata kacanya seolah membiaskan cahaya berwarna hijau, khususnya ketika tertimpa sinar lampion, cahaya hijau menyeramkan yang menatap wajah Lui Hong.

Kalau itu mata manusia, mustahil bisa membiaskan cahaya hijau yang begitu menggidikkan hati.

Sejak awal Lui Hong sudah tahu, sepasang matanya tak lebih hanya mata palsu, bukan biji mata sungguhan.

Namun didalam perasaannya, sepasang mata itu seolah dipenuhi kehidupan, sedang melotot ke arahnya tanpa berkedip.

Semacam perasaan ngeri dan seram yang sukar dilukiskan dengan kata, tiba-tiba muncul dari dasar hatinya.

Tangan kanannya yang memegang golok, menggenggamnya semakin kencang.

Tiada hembusan angin dalam ruangan itu, bahkan udara pun seakan ikut terhenti.

Cahaya lentera sama sekali tak bergoyang, seolah bukan merupakan kenyataan, seakan bukan nyata wujudnya, melainkan hanya sebuah lukisan.

Saat itulah mendadak si kelelawar tertawa.

Suara tertawanya mirip tertawa seorang bocah, pada hakekatnya keanehan suara tertawanya tak dapat dilukiskan dengan kata.

Sambil tertawa perlahan dia berjalan masuk ke dalam ruangan, pintu rahasia dibelakang tubuhnya seketika merapat kembali, dia pun bagaikan seorang bocah bayi, seorang bocah yang berada dalam kerumunan begitu banyak payudara perempuan.

76 Begitu masuk ke dalam ruangan, tangannya serta merta meremas sepasang payudara yang berada disisinya, sementara dari balik tenggorokannya memperdengarkan suara rintihan seperti orang kehausan, suara aneh dari orang yang birahi.

Kontan Lui Hong bergidik, bulu romanya pada berdiri, entah mengapa, tiba-tiba muncul satu perasaan aneh dihatinya, dia merasa seakan akan tangan orang tua itu sedang meraba payudaranya, meremas puting susunya.

Makin merah selembar wajahnya, merah jengah.

Si kelelawar sama sekali tidak menghentikan perbuatannya, suara rintihan dan suara aneh dari orang yang sedang birahi berkumandang tiada hentinya, bergema memenuhi seluruh ruangan.

Sejujurnya Lui Hong tak ingin menyaksikan lebih lanjut, namun sepasang matanya seolah sudah terhipnotis, sama sekali tak sanggup bergeser dari tempat itu.

Dalam pada itu si kelelawar telah mengalihkan tangannya untuk meremas payudara yang lain, sambil membelai dengan lembut, katanya.

Tak ada benda ke dua di dunia ini yang lebih indah, lebih menarik daripada tubuh telanjang seorang wanita Suaranya kedengaran begitu aneh, rendah, berat lagi serak, seolah dicekam oleh kesulitan untuk mengutarakan isi hatinya, seolah diselimuti kekuatan iblis yang sukar dilawan.

Tanpa sadar Lui Hong mengangguk berulang kali.

Terdengar si kelelawar berkata lebih jauh.

Coba kau lihat, begitu indah dan merangsang bentuk payudara payudara itu, begitu menggetarkan napsu birahi orang yang melihatnya Lui Hong tidak menjawab, namun dihati kecilnya dia harus mengakui bahwa apa yang dikatakan si kelelawar memang benar, memang merupakan kenyataan.

Lagi-lagi si kelelawar berkata.

Sayangnya bukan setiap wanita memiliki bentuk payudara yang begini indah, ada yang kelewat kecil, ada pula yang kelewat besar, tapi sebagian besar bentuk terindah telah terkumpul semua disini Sesudah tarik napas, lanjutnya.

Tahukah kau, berapa waktu yang harus kubuang demi mengumpulkan pelbagai bentuk payudara itu?

Berapa lama?

tak tahan Lui Hong bertanya.

77 Aku sendiripun sudah lupa berapa lama yang pasti, mungkin dua puluh tahun, mungkin tiga puluh tahun Ia garuk-garuk rambutnya yang tidak gatal dan meneruskan.

Pokoknya aku butuh waktu yang lama, lama sekali Sambil berkata, lagi lagi dia meremas bentuk payudara yang lain, ujarnya.

Sayang sekali bukan setiap wanita memiliki bentuk payudara indah, bahkan boleh dibilang tak seorang wanita pun yang bisa disebut sempurna Setelah menghela napas, terusnya.

Ada wanita yang memiliki payudara indah, tapi pinggangnya justru kasar seperti gentong air.

Ada yang pinggangnya ramping, apa mau dikata justru memiliki pantat yang tepos, ada pula yang memiliki sepasang tangan yang halus dan indah, tapi pahanya justru bengkak besar dan menakutkan, atau kalau tidak kakinya kurus kering bagaikan sepasang bambu Lui Hong melongo, dia hanya bisa termangu-mangu.

Kembali si kelelawar menghela napas, katanya.

Di kolong langit memang tak mungkin bisa ditemukan manusia sempurna, entah dia lelaki ataupun wanita Mau tak mau Lui Hong harus mengakui bahwa apa yang dikatakan memang benar.

Kata si kelelawar, watak sama Jangan ditanya lagi urusan watak, masalah perangai seseorang seperti bentuk badan, ada begitu banyak perbedaan, ada begitu banyak perubahan Lui Hong membungkam, tidak komentar.

Si kelelawar berkata lebih jauh.

Paling tidak hingga sekarang, aku masih belum pernah menjumpai yang sempurna.......

maksudku perempuan dengan tubuh sempurna Lui Hong tertawa dingin.

Kau tak usah tertawa dingin tegur si kelelawar, apa yang kukatakan merupakan kenyataan, oleh karena itulah aku sengaja menyimpan bagian terbaik dari mereka disini Tangannya kembali meraba sepasang payudara, lalu katanya lagi.

Sama seperti payudara payudara itu, semuanya begitu indah, semuanya begitu menawan, tapi bagi sang pemiliknya, mereka hanya memiliki bagian payudara yang indah, sementara bagian tubuh lainnya parah, tidak masuk peringkat tadi.....

jadi semua benda itu kau buat berdasarkan manusia asli, kau jadikan mereka sebagai contoh barang pahatanmu?

tak tahan Lui Hong bertanya.

Tentu saja, kalau tidak, mana mungkin semuanya bisa terukir begitu jelas, begitu nyata?

Tapi sepasang mata mu........

Lui Hong tertawa dingin.

Sepasang mata ku tak bisa melihat benda apa pun 78 Tapi kau memiliki pendengaran yang lebih tajam daripada pendengaran kelelawar Itu merupakan kenyataan, bahkan aku berani berkata, biar kelelawar pun tak bakal memiliki pendengaran setajam telinga ku Coh, jadi kau mengandalkan ketajaman pendengaranmu untuk membayangkan bentuk barang yang kau pahat?

ejek si nona sambil berulang kali tertawa dingin.

Mana ada kejadian semacam ini?

Semisal ada pun, itu hanya berlaku dalam cerita dongeng n Lantas kau......

Walaupun sepasang mataku tak bisa melihat sesuatu, namun aku masih memiliki sepasang tangan yang sempurna Tangan?

Lui Hong tertegun.

Betul, tangan!

si kelelawar memperlihatkan sepasang tangannya.

Dia memiliki tangan seperti cakar burung, otot hijaunya pada menonjol, meski begitu tangan tersebut amat gesit, cekatan.

Khusus ke lima jari tangannya, hakekatnya menyerupai lima ekor ular berbisa, semuanya bergerak begitu lincah, begitu bebas, dipenuhi daya hidup yang kuat, seakan jari jari itu ingin terlepas dari tangannya dan bergerak sendiri.

Sambil menggerakkan jari tangannya berulang kali, dia melanjutkan.

Jika tanganku tidak cekatan, mustahil bisa kupahat begitu banyak benda yang indah dan artistik Sambil berkata, jari tangannya bergerak dari atas ke bawah, bergerak bagaikan gelombang air yang sedang mengalir.

Sudah jelas dia sedang memperagakan satu gerakan yang esoktis, gerakan lembut membelai tubuh seorang wanita, menyaksikan ulah orang tua itu, sekali lagi paras muka Lui Hong berubah jadi merah padam.

Kembali si kelelawar berkata.

Tak diragukan tanganku telah menggantikan peran sepasang mataku, selama aku bisa meraba, dapat menggerayang, maka tubuh macam apa pun dari seorang wanita, dapat kutangkap dengan jelas, bahkan setiap lekukan, setiap kontur badannya bisa kutangkap secara terperinci, bila tidak begitu, mana bisa kupahat bagian tubuh seorang wanita dengan begitu hidup dan nyata?

Apa gunanya kau berbuat begitu?

tak tahan Lui Hong bertanya.

79 Setiap orang memiliki hobi yang berbeda, kegemaran yang beda, dan inilah satu satunya kegemaranku Dasar edan!

Kalau aku edan, mana mungkin bisa kuciptakan begitu banyak karya seni yang indah?

Kalau kau tidak edan, bagaimana mungkin bisa melakukan perbuatan semacam itu?

Mana ada kegemaran seperti itu?

Aku hanya mengkoleksi bagian tubuh terindah dari perempuan paling cantik dikolong langit, sejujurnya apa yang kulakukan merupakan sebuah maha karya, satu karya yang dulu tak ada, dikemudian hari pun tak ada duanya, sebuah maha karya yang luar biasa Kentutl akhirnya Lui Hong mulai mengumpat.

Lha?

setiap orang pasti kentut, kalau tidak kentut malah tidak sehat namanya jawab si kelelawar sesudah tertegun sejenak, hanya saja kentut yang dilepas setiap orang berbeda, ada yang kentutnya busuk, ada yang kentutnya harum seperti bunga anggrek, ada kentut yang bunyinya keras seperti lonceng ditabu, ada pula yang lembut bagai bisikan nyamuk, masing masing kentut punya ciri dan kelebihan yang berbeda, hanya sayang aku tak mungkin bisa mengkoleksi pelbagai bentuk kentut, tak bisa digambarkan dalam sebuah wujud nyata Lui Hong betul betul melongo, mau menangis tak bisa mau tertawa pun tak mungkin.

Bicara sampai disitu, si kelelawar mulai berjalan maju, berjalan menghampiri Lui Hong.

Apa yang hendak kau lakukan?

Lui hong segera membentak.

Aah, masa kau masih tidak tahu?

Lui Hong tercekat, pipinya makin merah, kembali hardiknya.

Berhenti!

Kelelawar segera menghentikan langkahnya, lalu berkata sambil menggeleng.

Sebetulnya kau memiliki suara yang merdu dan sedap didengar, tapi begitu berteriak, suaramu jadi tak sedap didengar Apa urusanmu?

Kelelawar itu tidak menanggapi, hanya gumamnya.

Nada suara seharusnya diucapkan dengan lemah lembut, dengan begitu suara yang indah baru kedengaran membetot sukma, bikin orang terbuai, kalau suara disampaikan seperti melepaskan kentut, tidak terkontrol, jadinya jelek, menjijikkan, tak ubahnya seperti suara 80 kentut Setelah berhenti sejenak, terusnya.

Biarpun sekarang orang tak bisa merekam suara manusia, mungkin saja dikemudian hari bakal muncul manusia yang bisa menemukan cara tepat untu k menyimpan nada suara setiap orang, aaai, sayang itu kejadian dimasa mendatang, mungkin aku sudah tak sempat untuk menikmatinya Lui Hong tertawa dingin.

Manusia macam kau, memang paling pantas kalau cepat mampus Setiap manusia pasti bakal mati, tapi kalau belum tiba saatnya, biar kau sumpahi aku pun tak ada gunanya Kembali dia melanjutkan langkahnya, maju mendekat.

Berhenti!

sekali lagi Lui Hong menghardik.

Si Kelelawar seolah tidak mendengar bentakan itu, dia masih melanjutkan langkahnya, maju mendekat.

Kalau tidak segera berhenti, jangan salahkan kalau aku tidak sungkan sungkan ancam gadis itu.

Kalau tidak sungkan, lantas apa yang bisa kau lakukan?

Kelelawar itu balik bertanya.

Aku akan membunuhmu!

Cctt, ctt, cctt!

Nona ini galak amat gumam si Kelelawar sambil gelengkan kepalanya berulang kali, dengan andalkan ilmu silatmu, mungkin saja kau benar benar mampu membunuhku, tapi sayang......

Bicara sampai disitu mendadak ia berhenti.

Sayang kenapa?

bentak Lui Hong.

Bukankah kau telah meneguk secawan arak yang berasal dari poci arak ditengah ruang kuil?

Sekarang aku harus bicara sejujurnya, kau tidak seharusnya meneguk arak itu Jadi arak itu......

Lui Hong merasakan jantungnya berdebar keras.

Tahukah kau arak apa yang berada dalam poci itu?

Arak apa?

Arak Kelelawar!

Arak Kelelawar?

Arak macam apa itu?

Lui Hong ingin sekali mencari tahu.

81 Tapi sebelum dia ajukan pertanyaan itu, si Kelelawar telah menjelaskan.

Aku yakin selama hidup belum pernah kau dengar arak semacam itu Jadi arak beracun?

Bukan, kalau arak beracun, sekarang kau sudah mati keracunan Tanpa terasa Lui Hong merasa sedikit lega.

Kalau memang arak itu tak beracun, apalagi si Kelelawar sering meneguknya, lalu apa salahnya bila dia pun menghabiskan secawan arak itu?

Tapi, benarkah perkataan si Kelelawar adalah ucapan sejujurnya?

Tidak bohong?

Hanya masalah ini yang paling dikuatirkan Lui Hong.

Tampaknya si Kelelawar dapat membaca suara hatinya, ujarnya lebih lanjut.

Kau tak usah kuatir, aku memiliki satu kelebihan yaitu paling tak suka bicara bohong Kalau tak suka bohong, mana mungkin bisa memancingku hingga masuk perangkap?

dengus Lui Hong sambil tertawa dingin.

Si Kelelawar tertegun, cepat sahutnya.

Walaupun aku tak suka, namun terkadang dipaksa oleh keadaan, jadi akan kulakukan juga Lui Hong hanya tertawa dingin, tidak menanggapi.

Kembali si Kelelawar bertanya.

Tahukah kau, bagaimana arak Kelelawar dibuat?

Tidak tahu Arak itu terbuat dari rendaman Kelelawar berwarna merah setelah berhenti sebentar, tanyanya, tahukah kau Kelelawar merah itu berasal dari jenis Kelelawar yang mana?

Darimana aku tahu segala tetek bengek macam begitu Lui Hong tertawa dingin.

Si Kelelawar sama sekali tak gusar, terangnya.

Kelelawar merah merupakan salah satu jenis Kelelawar, sesuai dengan namanya, binatang berdarah dingin ini memiliki warna tubuh merah menyala, sedemikian merah sehingga menyerupai darah segar, mereka hidup di seputar wilayah Hun-lam (In-lam), berkat perawatan dan pemeliharaanku yang sabar, kini mereka sudah dapat hidup menyesuaikan diri dengan iklim ditempat ini Buat apa kau memelihara mereka?

82 Aku paling suka kelelawar, sama seperti aku paling suka meraba tubuh wanita Kontan Lui Hong meludah sambil menyumpah.

Si Kelelawar tak ambil peduli, kembali ujarnya.

Mungkin lantaran kelewat suka, maka akupun berubah seperti Kelelawar, hanya sayang tak punya sayap, kalau tidak, mungkin aku tak jauh berbeda dengan Kelelawar Sekarang pun kau sudah mirip Betul si Kelelawar mengaku dengan bangga, ambil contoh soal mata, mereka punya mata tapi sama seperti tak bermata, tak jauh berbeda dengan buta, sedang aku?

Pada dasarnya aku memang buta.

Lalu ambil contoh pendengaran, telinga ku tajam dan sensitip, sama sekali tak kalah dari mereka, hahaha...

bahkan mereka ketinggalan jauh.......

Setelah berhenti, kembali terusnya.

Kembali berbicara soal kawanan Kelelawar merah itu, ada orang berkata, tubuh mereka berubah jadi merah menyala karena jenis ini amat suka menghisap darah Tanpa terasa Lui Hong mengkirik, tanyanya cepat.

Apa benar begitu?

Betul!

Sesungguhnya setiap jenis Kelelawar sangat gemar menghisap darah, jadi bukan monopoli Kelelawar merah saja Lui Hong mendengus.

Heran, kau yang memelihara kawanan Kelelawar itu, kenapa dia tidak menghisap habis darah ditubuhmu?

Mungkin mereka tahu kalau aku pun sejenis dengan mereka Hmm, kau memang tak mirip manusia sindir si nona sambil tertawa dingin.

Manusia termasuk sejenis makhluk, begitu pula Kelelawar, jadi sesungguhnya apa pula bedanya?

Kalah berdebat dengan orang tua itu, Lui Hong hanya bisa tertawa dingin tiada hentinya.

Si Kelelawar tidak menggubris, ujarnya.

Konon, kelelawar merah paling gemar menghisap darah, khususnya darah kaum wanita Omong kosong!

teriak Lui Hong bergidik.

Mungkin saja omong kosong, tapi ada sebuah cerita dongeng justru merupakan kejadian sebenarnya Apa pula cerita dongeng itu?

83 Darah mereka bisa digunakan sebagai bahan untuk membuat sejenis obat perangsang!

Obat perangsang?

berubah paras muka gadis itu.

Si Kelelawar tertawa aneh.

Obat perangsang pun banyak jenisnya, tapi bicara soal obat yang paling ampuh, meski Kelelawar merah tidak termasuk nomor wahid, aku percaya tak bakal lebih bawah dari urutan ke lima Kini paras muka Lui Hong telah berubah jadi amat tak sedap, ditatapnya si Kelelawar tanpa berkedip, untuk sesaat dia tak tahu harus berkata apa.

Sambil tertawa kembali si Kelelawar melanjutkan.

Ada orang berkata, bila obat perangsang yang terbuat dari Kelelawar merah diminum oleh seorang gadis suci yang masih perawan, maka ia segera akan berubah jadi wanita jalang, setelah kucoba dan kuselidiki berulang kali, kutemukan bahwa ucapan itu bukan perkataan yang tekebur, memang terbukti obat perangsang itu lihay sekali Paras muka Lui Hong telah berubah jadi amat jelek, teramat sangat tak sedap dilihat, bagaimana pun juga, hingga detik ini dia masih perawan, dara yang suci.

Tapi kau tak usah kuatir hibur si Kelelawar kemudian, aku tak ingin mengubah kau menjadi seorang wanita jalang, karena, aaai......

Si Kelelawar menghela napas panjang, tambahnya.

Aku sudah tua sekali, sedemikian tua hingga aku benar benar tak sanggup lagi untuk melakukan adegan ranjang Lui Hong tidak menjadi tenang lantaran perkataan itu, sebaliknya dia justru merasa kalut, jantungnya dag dig dug tak karuan.

Lantas apa maksud dan tujuan si Kelelawar menawan aku?

Dipandangnya wajah orang itu dengan penuh kebencian, kalau bisa, dia ingin membunuh Kelelawar itu dengan sekali bacokan.

Tentu saja terhadap perubahan mimik wajah Lui Hong, si Kelelawar sama sekali tidak merasakan, namun dengan jelas dia tahu akan perasaan hati Lui Hong saat itu, maka setelah berhenti sejenak, kembali katanya.

Usia memang tak kenal manusia, betapa pun gagah dan perkasanya dirimu, begitu menjadi tua, ada banyak pekerjaan yang tak mungkin bisa kau lakukan meski besar keinginanmu untuk melakukannya, orang bilang besar pasak dari tiang, biar keinginan menggebu gebu, tenaganya sudah loyo, tidak mendukung Paras muka Lui Hong semakin bertambah merah.

84 Tiba-tiba si Kelelawar tertawa, ujarnya.

Padahal, sekalipun masih muda dan perkasa, dulu, aku pun kurang begitu tertarik untuk melakukan perbuatan itu Sambil menarik wajah, katanya sedih.

Sudah semenjak banyak tahun dulu, aku tidak tertarik dengan permainan semacam itu, aku tidak pernah melakukan perbuatan yang sama sekali tak berguna dan sama sekali tak ada manfaatnya Lui Hong tidak menjawab, namun dia seperti memahami sesuatu.

Setelah menghela napas, si Kelelawar melanjutkan.

Jika kau tak pernah berhasil mendapatkan hati seorang wanita, apa gunanya kau dapatkan badannya, apa faedahnya meski kau dapat menikmati tubuhnya?

Tanpa terasa Lui Hong manggut manggut.

Oleh sebab itu kata si Kelelawar, walaupun sudah banyak sekali wanita yang berhasil kupancing masuk kemari, tak seorang pun diantara mereka yang pernah kutiduri, aku hanya mengambil bagian tubuh mereka yang paling cantik, bahkan aku pilih sendiri bahan kayu terbaik, memahatnya dengan teliti dan seksama Setelah tarik napas, tambahnya.

Oleh karena itu kau tak perlu kuatir Lui Hong tertawa dingin.

Si Kelelawar menghela napas, Aku tahu, setelah meninggalkan tempat ini nanti, kau pasti akan sangat membenciku, bahkan selama masih bisa bernapas, kau pasti tak pernah akan melupakan aku!

Sekarang juga aku akan tinggalkan tempat ini!

bentak Lui Hong nyaring, sambil berkata dia mulai beranjak.

Baru satu langkah, mendadak ia merasa kepayahan, seolah sama sekali tak berkekuatan.

Semacam perasaan aneh timbul dari tubuhnya, seakan perintahnya tidak lagi ditaati setiap organ tubuhnya.

Mungkinkah dalam arak itu benar benar telah dicampuri obat perangsang Kelelawar merah?

Sekujur badan Lui Hong menggigil kencang, bulu romanya bangkit berdiri.

Berbareng dengan keputusan Lui Hong untuk beranjak pergi, si Kelelawar memasang telinganya pula.

si Kelelawar memasang telinganya pula untuk mendengarkan dengan seksama, kemudian berkata.

Seharusnya saat ini daya pengaruh Kelelawar merah sudah mulai 85 bekerja Begitu ucapan tersebut masuk ke dalam pendengarannya, entah kenapa, Lui Hong merasa dunia jadi berputar, kepalanya pusing sekali, kakinya sempoyongan sukar berdiri tegak.

Sambil tertawa kembali si Kelelawar melanjutkan.

Obat ini sudah kuramu ulang, kini daya rangsangnya telah berkurang hingga batas terendah, jika kau adalah seorang gadis yang masih suci, masih perawan, bagimu boleh dibilang obat itu tak bermanfaat lagi, kau tak bakalan terangsang birahimu karenanya Sambil menggigit bibir Lui Hong maju lagi dua langkah, biarpun hanya dua langkah namun telah menggunakan segenap kekuatan yang dimiliki, dalam perasaannya, ke dua langkah itu serasa lebih jauh daripada berjalan sejauh tiga puluh langkah.

Dia mulai ketakutan, perasaan ngeri, seram, berkecamuk menjadi satu.

Si kelelawar tidak menggubris, ujarnya.

Aku rasa kau pun termasuk gadis yang masih suci, masih perawan, walaupun obat perangsang itu tidak sampai membangkitkan napsu birahi mu, tapi masih cukup untuk menjerumuskan dirimu ke dalam situasi setengah hidup, maksudnya separuh dari kekuatanmu akan hilang lenyap, kau akan lemas tak punya kemampuan apa apa Setelah tertawa lanjutnya.

Hahaha, aku sendiripun tak tahu bagaimana harus menerangkan kepadamu, kalau dibilang obat tersebut sejenis obat pemabuk, seharusnya kau sudah pingsan tak sadarkan diri, tapi kalau dibilang bukan sejenis obat pemabuk, kenyataannya obat itu memiliki kemampuan yang tak berbeda dengan obat pemabuk, dalam waktu singkat kau akan kehilangan tenaga, ingin berdiri tak sanggup, mau bicara pun tak mampu, namun kau tidak pingsan, kau tetap memiliki kesadaranmu seperti normal Ia berhenti sejenak dan tarik napas, setelah itu baru menambahkan.

Apa pun yang bakal kulakukan terhadap dirimu, dapat kau lihat dan rasakan, namun kau hanya bisa menerima semua itu dengan pasrah, kau tak sanggup memberikan perlawanan Kau berani........

jerit Lui Hong sambil menggigit bibir, sayang teriakan itu lemah, sama sekali tak bertenaga.

Si Kelelawar menyeringai.

Setelah dipertimbangkan berulang kali, aku baru putuskan untuk menggunakan obat jenis ini, dan berkat obat jenis ini pula, pekerjaanku memahat baru dapat dilangsungkan dengan lancar tanpa hambatan sedikit pun Sesudah menerangkan sampai disini, dia baru menanggapi teriakan dari Lui Hong tadi.

Tentu saja aku berani, dikolong langit saat ini, tak seorang manusia pun yang bisa membuat aku takut, apa pun yang ingin kulakukan, tak nanti ada orang yang bisa 86 mencegah, mampu menghalangi ?iba tiba dia lempar lampion yang dipegangnya ke tengah udara.

Cahaya lentera yang semula putih pucat, mendadak berubah jadi hijau menyeramkan, tak berbeda seperti api setan.

Begitu lampion itu berada ditengah udara, cahaya bintang pun menyebar ke empat penjuru.

Pada hakekatnya dia seperti sedang bermain sulap, seketika itu juga Lui Hong merasa ketakutan luar biasa, dia menjerit, berteriak sekeras kerasnya.

Begitu jeritan berkumandang, cahaya api pun sirap, padam.

Dari balik kegelapan yang mencekam, hanya suara tertawa aneh si Kelelawar yang bergema, ditambah jerit ketakutan Lui Hong.

Untuk kedua kalinya gadis itu terperosok ke dalam suasan yang sangat gelap, sedemikian gelap hingga tak bisa melihat apa apa.

Semacam perasaan ngeri, seram, perasaan takut yang luar biasa dengan cepat muncul dari lubuk hatinya.

Dia menjerit, dia ingin kabur, menyerbu ke hadapan si Kelelawar, mengayunkan goloknya sambil membacok.

Namun sepasang kakinya sudah lepas kendali, sama sekali tak mau menuruti perintahnya lagi.

Lambat-laun tubuhnya semakin lemah, semakin bertambah lemas sebelum akhirnya roboh terkapar ke tanah.

Biar begitu, kesadarannya masih utuh, dia masih segar ingatannya dan bisa merasakan segala sesuatu dengan jelas.

Entah berapa lama sudah lewat.

Padahal semua itu hanya berlangsung dalam sekejap, namun bagi Lui Hong, saat itu begitu lama, sebab dia sama sekali tak bisa memastikan, sebab apa yang disaksikan waktu itu hanya kegelapan yang luar biasa.

Dia sudah tak mampu bergerak lagi, perasaan letih yang luar biasa, perasaan yang sukar dilukiskan dengan kata, mencekam dan menjalar di sekujur badannya.

87 Namun dia tidak mengantuk, sama sekali tak ingin tidur, sepasang matanya bahkan terbelalak sangat lebar.

Namun hanya kegelapan yang dilihat, lain tidak.

Gadis itu ingin sekali menangis, namun dia berusaha menahan diri, tidak membiarkan air matanya menetes.

Bagaimana pun, dia adalah seorang gadis yang tangguh, sekeras baja hatinya.

Suara tertawa si Kelelawar sudah berhenti, dalam kegelapan tidak terdengar lagi suara tertawa maupun pembicaraan.

Ke mana dia telah pergi?

Entah kenapa, Lui Hong justru mempunyai satu perasa an aneh, dia merasa si Kelelawar berada disisinya, sedang mengawasinya.

Si Kelelawar adalah orang buta, kegelapan merupakan kerajaan dari kaum Kelelawar, dengan kemampuan kungfunya, biarpun sedang bersembunyi disisinya pun, dia tak nanti akan mengeluarkan sedikit suara pun.

Didalam kenyataan, meskipun Lui Hong dibilang sadar, saat itu dia tidak sesadar kondisi biasa.

Berada dalam kepekatan yang begitu gelap, bagi Lui Hong, sedetik sama seperti satu jam lamanya.

Waktu serasa bergerak bagai siput, lama sekali ber lalunya.

Suasana dalam ruang itu tercekam dalam keheningan yang luar biasa, sedemikian hening sampai Lui Hong dapat mendengar detak jantung sendiri.

Waktu kembali bergerak sangat lama, dari balik kegelapan tiba-tiba terdengar suara yang sangat aneh.

Dia mendengar ada orang sedang berjalan menghampirinya, bergerak semakin dekat.

Siapa dia?

Si Kelelawar?

Sekarang dia makin yakin, suara itu memang suara lan gkah kaki, suara orang berjalan.

Hanya saja dia merasa langkah itu seolah tidak berpijak diatas tanah, walaupun berada dalam suasana yang begitu hening dan sepi, namun masih tetap tak kedengaran terlalu jelas.

88 Padahal lantai ruangan itu penuh berserakan patung kayu, namun anehnya sepasang kaki itu sama sekali tidak menendang sebuah benda pun yang tergeletak disitu.

Sudah pasti orang itu adalah sang Kelelawar.

Benarkah Kelelawar memiliki pendengaran yang begitu tajam, begitu sensitif sehingga semua benda yang menghalangi jalan perginya bisa terdengar dengan nyata?

Lui Hong mulai merintih, mulai mendesis karena seram.

Suara yang aneh, suara langkah yang aneh dengan cepat mengarah pada sasaran yang jelas, bergeser menuju ke hadapan Lui Hong.

Gadis itu benar-benar terkesiap, dia hanya bisa menutup mulut sambil menggigit bibir, hanya bisa ketakutan tanpa mampu mengeluarkan sedikit suara pun.

Sementara suara langkah kaki itu makin lama semakin bertambah dekat.

Si Kelelawar telah memastikan dimana Lui Hong berada saat itu.

Bersamaan dengan makin dekatnya si Kelelawar, suara langkah kakinya kedengaran makin jelas.

Rasa ketakutan yang mencekam Lui Hong saat itu telah mencapai pada puncaknya, kalau bisa, ingin sekali dia menghardik orang itu, memerintahkan orang itu untuk menggelinding pergi.

Namun dia sama sekali tak mampu bersuara, tak sedikit suara pun mampu diucapkan.

Dia pun ingin menggeser badannya, biar seinci pun tidak masalah, biar setengah inci pun kalau bisa.

Tapi apa yang ingin dia lakukan gagal diwujudkan, dia sama sekali tak sanggup bergerak.

Saat itulah tiba-tiba ruangan jadi terang kembali, terang benderang.

Sebuah lentera kaca berwarna hijau perlahan lahan muncul dari atap ruangan.

Padahal langit-langit ruangan tak ada lubang, namun lentera kaca itu tahu tahu muncul disana, bergelantungan ditengah udara.

89 Seterang apapun cahaya dari lentera itu, sinarnya tak terlalu benderang, namun sudah lebih dari cukup untuk menyaksikan semua disekeliling sana.

Kembali Lui Hong dapat menyaksikan kehadiran si Kelelawar, saat itu si kakek telah berdiri hanya tiga langkah dihadapannya.

Perasaan ngeri makin menyelimuti hatinya, rasa takut dan seram membuat sekujur tubuhnya gemetar keras.

Si Kelelawar masih seperti tadi, hanya sekarang kelihatan jauh lebih tua daripada penampilannya tadi.

Selain tua, tampak layu dan penuh keriput.

Namun sepasang mata palsunya yang hijau menyeramkan, masih dipenuhi dengan kehidupan, seolah sedang melototi Lui Hong tanpa berkedip.

Gadis itu mengirik, begitu takutnya hingga napas pun ditahan sekuat tenaga.

Dia tak tahu rencana busuk apa yang sedang disiapkan si Kelelawar, yang bisa dia lakukan sekarang hanya berusaha keras untuk menghindar dari pelacakan lawannya, berusaha agar si Kelelawar tidak berhasil menemukan posisi dirinya.

Tapi si Kelelawar seakan tahu kalau korbannya masih berada di posisi semula, tak mungkin pergi jauh, dia masih mendekat terus, menghampiri mangsanya.

Selangkah......

kembali selangkah.

Mendadak si Kelelawar menghentikan langkahnya lalu mulai berjongkok.

Kini wajahnya sudah berada tak sampai selangkah dari wajah Lui Hong, sedemikian dekat sampai gadis itu dapat merasakan dengusan napas si Kelelawar yang menyentuh pipinya.

Gadis itu semakin mengirik, ia mulai menggigil ketakutan.

Dan pada saat itulah, tangan kanan si Kelelawar mulai meraba wajah gadis itu.

Semisal dapat bersuara, saat itu Lui Hong pasti akan menjerit sekeras kerasnya.

Tapi kini dia seolah gagu, bisu, tak mampu bersuara, bahkan semua syaraf ditubuhnya seolah sudah mati rasa, sama sekali tak mampu bereaksi.

Yang dimiliki si nona waktu itu hanya perasaan, perasaan gugup, takut, ngeri, muak.

90 Yaa, hanya perasaan, lain tidak.

Tangan si kelelawar yang kurus lagi kasar bagai cakar burung, mulai meraba dan menggerayang ke mana mana, membuat Lui Hong semakin mengirik, makin bergidik.

Perlahan tangan itu mulai bergeser, dia mulai meraba seluruh raut muka Lui Hong, meraba setiap lekukan, setiap garis mukanya.

Mimik muka si Kelelawar pun ikut berubah mengikuti gerak tangannya, terkadang tampak begitu gembira, terkadang tampak iba, kasihan, tapi semuanya tampak aneh, kelihatan misterius.

Lui Hong pasrah, dia sudah kehilangan semua kekuatannya, sudah tak mampu melakukan perlawanan.

Sekarang, tangan kiri si Kelelawar ikutan meraba, seperti cakar burung, sepasang tangannya meraba wajah si nona, lalu meraba wajah sendiri, tiba-tiba ia tertawa, tertawa keras.

Kakek itu tertawa bagai orang idiot, bagai orang yang hilang ingatan.

UI HONG merasa hatinya seakan terperosok ke dalam jurang, darah panas yang mengalir ditubuhnya seolah ikut mendingin, mulai membeku.

Sambil tertawa si Kelelawar menggeser tangannya lebih ke bawah, kali ini dia meraba tengkuk gadis itu.

Gadis yang amat cantik!

tiba-tiba serunya, sayang memiliki tengkuk yang sedikit kasar.

Kelelawar sialan!

Dalam hati kecil Lui Hong mengumpat tiada habisnya, kalau bisa dia ingin membantai si Kelelawar hingga hancur berkeping.

Sementara itu si Kelelawar masih melanjutkan gerayangannya, sepasang tangan yang kurus bagai cakar burung mulai bergerak ke bawah, mulai meraba semakin ke bawah...

91 Lui Hong melototkan sepasang matanya bulat bulat, sorot mata yang dipenuhi rasa takut bercampur seram, kini dia hanya berharap si Kelelawar secepatnya tinggalkan sisi tubuhnya.

Tentu saja gadis itu sangat kecewa.

Apa yang selama ini dikuatirkan akhirnya terjadi juga!

Dengan lembut sepasang tangan si Kelelawar mulai melepaskan kancing bajunya, satu demi satu......

Lui Hong tak kuasa menahan diri lagi, akhirnya air mata jatuh bercucuran.

Gerak tangan si Kelelawar sama sekali tidak cepat, namun sangat terlatih dan matang, tidak sampai berapa saat kemudian ia telah melucuti seluruh pakaian yang dikenakan gadis itu.

Lui Hong sama sekali tidak melawan, seluruh kekuatan tubuhnya seakan telah buyar.

Tubuhnya yang montok, padat berisi akhirnya tampil bugil dihadapan si Kelelawar, berbaring dibawah cahaya hijau dari lentera kristal diatas ruangan.

Tubuh bugil yang putih mulus bagai susu kambing, ketika tertimpa lapisan cahaya hijau, menampilkan pantulan yang begitu memukau.

Si Kelelawar dengan kelopak matanya yang tak berbiji, seolah berdiri terperana, menyusul kemudian ia bungkukkan badan, membopong tubuh Lui Hong yang bugil dan berjalan menuju ke altar ditengah ruangan.

Langkah kakinya masih begitu mantap dan tenang, biarpun diatas lantai tergeletak begitu banyak pahatan, namun tak satu pun yang terpijak atau tersentuh kakinya, dia seakan sama sekali tak buta.

Air mata Lui Hong mulai merembes keluar, membasahi lengan si Kelelawar.

Bagaikan dipagut ular berbisa, sekujur badan si Kelelawar gemetar keras, tapi ia segera seperti memahami sesuatu, tanyanya.

Kau melelehkan air mata?

Lui Hong tidak menjawab, mau tak mau dia harus membungkam.

Sambil gelengkan kepalanya ujar si Kelelawar lagi.

Aku sangat memahami perasaan hatimu.

92 Mendadak ia menghentikan langkahnya, sambil miringkan kepala seakan berpikir, katanya kemudian.

Kau mirip sekali dengan seseorang Lui Hong ingin bertanya mirip siapa, namun dia tak sanggup mengeluarkan suara, mulutnya seakan terkunci rapat.

Benar-benar mirip dengan seseorang kembali si Kelelawar gelengkan kepalanya.

Tapi mirip siapa?

gumam si Kelelawar lagi dengan kening berkerut, kenapa aku tak teringatnya lagi?

Lui Hong hanya melelehkan air mata, bagaikan air yang keluar dari sumbernya, titik air mata membasahi bajunya.

Kembali si Kelelawar menghela napas panjang.

Padahal kejadian semacam ini tak pantas kau sedihkan, tak lama kau bakal sadar bahwa dirimu telah menyumbangkan sebuah hasil karya seni yang tiada duanya dikolong langit.

Bicara sampai disitu, lagi lagi ia tertawa.

Ketika sedang tertawa, orang tua itu tak ubahnya seperti orang idiot, dogol.

Kemudian diapun melanjutkan langkahnya, selangkah tinggi selangkah pendek, langsung menuju ke meja berbentuk altar.

Ketika mendekati meja altar, cahaya lentera pun terasa semakin terang benderang.

Biarpun si Kelelawar buta, tak bisa melihat apa apa, Lui Hong tetap merasa malu yang bukan kepalang.

Bila seorang wanita, dipaksa bertelanjang bulat dihadapan seorang lelaki asing, yakin dia pasti akan merasa amat sedih.

Apalagi kalau wanita itu adalah seorang gadis perawan?

Kelelawar telah membaringkan tubuh Lui Hong diatas meja altar yang terang benderang itu.

Dia menggerakkan tangannya, merogoh keluar sebuah alat pahat dan sebuah palu kecil dari samping meja altar.

Tampak dia meraba berulang kali kedua alat kerja itu kemudian diletakkan kembali, kini dia ganti meraba potongan kayu yang tergeletak disisinya.

Bahan kayu yang bagus dia bergumam sambil tertawa.

93 Setelah itu dia baru berpaling lagi, dengan sepasang tangannya yang kurus dia mulai meraba tubuh Lui Hong, menggerayangi seluruh bagian tubuhnya yang bugil, hal mana dia lakukan dengan hati hati, dengan penuh kasih sayang.

Air mata bercucuran tiada hentinya dari mata Lui Hong, namun dia memang hanya bisa menangis.

Kalau bisa nona itu ingin mati, sayang dia hanya bisa berharap karena saat itu tak mampu berbuat apa apa.

Sepasang tangan si Kelelawar masih bergerak tiada hentinya, terkadang dia meraba, terkadang dia mengelus, ke sepuluh jari tangannya telah menjelajahi hampir setiap bagian tubuh Lui Hong yang bugil, tak satu bagian tubuh pun yang terlewatkan.

Ke sepuluh jari tangannya sangat hidup dan cekatan, lebih lincah daripada sepuluh ekor ular.

Bagi Lui Hong, dia lebih rela tubuhnya digerayangi sepuluh ekor ular berbisa daripada digerayangi jari tangan orang tua itu.

Hatinya sedih bercampur gusar, namun selain sedih dan marah, gadis inipun merasakan suatu perasaan aneh yang tak terlukiskan dengan perkataan.

Sejak dilahirkan, belum pernah dia rasakan perasaan seperti ini, perasaan seperti dialiri arus listrik yang menyengat.

Arus listrik itu mendatangkan perasaan nikmat yang tak terkatakan, perasaan aneh yang membuatnya tak kuasa menahan diri.

Hampir saja Lui Hong tak dapat mengendalikan diri, dia ingin merintih, merintih karena nikmat.

Pandangan matanya lambat laun semakin buram, entah karena air mata yang mengembang dalam kelopak mata, entah karena pengaruh arak beracun milik si Kelelawar sudah mulai bekerja.

Menyusul kemudian pikiran dan kesadarannya mulai kabur, mulai samar samar.

Setelah menggerayangi bagian bawah tubuh Lui Hong yang penuh berbulu, kini sepasang tangan si Kelelawar balik kembali ke atas dadanya, sepuluh jari tangan yang gesit dan cekatan mulai meraba payudara si nona, mengelus, meremas dan memelintir putingnya.

94 Lui Hong tak sanggup mengendalikan diri lagi, dia mulai merintih, merintah karena nikmat, merintih karena mulai terangsang.

Rintihan tanpa suara, pada hakekatnya gadis itu memang sudah tak mampu bersuara lagi.

Pipinya berubah jadi merah dadu, entah memerah lantaran gusar, atau karena malu, atau mungkin dikarenakan sebab-sebab lain.

Karena apa?

Gadis itu sendiri tak bisa membedakan, dia tak tahu bagaimana perasaan hatinya sekarang.

Kini sepasang tangan si Kelelawar berhenti diatas dada Lui Hong, masih meraba, meremas payudara gadis itu, masih memelintir puting susunya yang mulai mengeras.

Tiba-tiba ia tertawa.

Payudara yang sangat indah, sayang kelewat keras, kelewat kencang!

Detik itu juga, tiba-tiba muncul secerca pengharapan dalam hati Lui Hong, dia berharap tangan si Kelelawar melanjutkan gerayangannya, menggerayangi setiap bagian tubuhnya yang vital.

Aneh, kenapa bisa timbul pengharapan semacam itu?

Bukankah dia masih gadis perawan?

Lui Hong segera menyadari akan keanehan tersebut, makin deras air mata jatuh berlinang.

Si Kelelawar tidak melanjutkan gerayangannya, dengan lembut dia berkata.

Aku rasa hal ini pasti dikerenakan kau berlatih silat.

Setelah gelengkan kepala sambil menghela napas, lanjutnya.

Menurutku, seorang wanita lebih baik jangan berlatih silat, sebab kalau tidak otot dan dagingnya jadi tidak lembut lagi, ototnya akan mengeras hingga tubuh pun ikut mengeras Setelah tertawa lebar, kembali ujarnya.

Masih untung belum seberapa keras, berotot memang ada kelebihannya, paling tidak pertanda sehat, lincah dan cekatan Setelah berhenti sejenak, dengan nada berat terusnya.

Tapi sejujurnya, bagi seorang gadis, lebih baik jangan berlatih ilmu sebangsa Cap-sah-taypoo, Thiat-po-sa, Kim-ciong-to dan lain sebagainya, sebab kalau tidak, tubuh bisa terlatih hingga kebal dan mati rasa, waah, waah....

hilang sudah semua keindahannya.

95 Bicara sampai disitu, kembali sepasang tangannya mulai bergerak, bukan saja bergerak sangat lamban bahkan sangat cermat, seperti seorang pedagang permata yang sedang mengamati sebuah batu permata yang mahal harganya.

Kemudian kembali dia menghela napas panjang, gumamnya.

Walaupun cantik dan indah, namun bila dibandingkan.......

bila dibandingkan.......

Dia seperti sedang mengingat nama seseorang, namun apa mau dikata tak bisa mengingat kembali nama tersebut.

Setelah mengulang kalimat itu berulang kali sembari garuk garuk kepalanya yang tak gatal, akhirnya ia berhasil juga menyebut nama seseorang.

Aaah, Pek Hu-yong (Teratai putihl.

Kemudian sambil memukul kepala sendiri dengan tangannya seperti cakar burung, dia berteriak.

Betul, mirip Pek.....

Pek Hu-yong!

Kemudian setelah tertawa bagai orang idiot, katanya lagi.

Bentuk payudara milik Pek Hu-yong tetap yang paling indah dan menawan.

Siapa pula Pek Hu-yong itu?

tiba-tiba terdengar suara sendu seseorang berkumandang datang.

Suara itu kedengaran sangat aneh, menggema di udara bagai melayang, seakan akan berasal dari atas langit, tapi seperti juga berasal dari dalam bumi, bahkan seakan bergema dari empat dinding ruangan.

Suara itu seakan ada, namun seakan pula tidak ada, nyaris tidak mirip dengan suara manusia dari bumi ini.

Si Kelelawar tampak tertegun, lalu jawabnya sambil tertawa bodoh.

Eek Bo-tan dari Shoatang, Pek Hu-yong dari Hopak, siapa yang tidak kenal?

Siapa yang tidak tahu?

Tapi setelah berhenti sejenak dan lagi lagi tertegun, serunya.

Siapa kau?

Buat apa kau mencari tahu tentang mereka?

Tiada orang yang menjawab.

Sambil tertawa sendiri si Kelelawar berkata lagi.

Botan maupun Huyong sama sama kecil dan mungil, namun dalam kenyataan mereka berbeda.

Setelah garuk garuk kepala, lanjutnya.

Mereka adalah dua orang yang berbeda, namun merekalah yang tercantik dari dua perbedaan itu.

96 Tangannya kembali meraba payudara Lui Hong, setelah meremasnya berulang kali, kini tangan itu mulai bergerak turun ke bawah, ganti meraba pinggang si nona yang ramping.

Setelah meraba dan menggerayanginya berulang kali, diapun berkata sambil menghela napas.

Serius, mendingan anak perempuan jangan berlatih silat, coba lihat, pinggang jadi kasar dan berotot, tampaknya orang yang bisa menjaga postur pinggangnya namun tetap bisa berlatih silat hanya Lau Ci-he seorang!

Lau Ci-he dari Say-hoa-kiam-pay?

suara sendu itu kembali bertanya.

Betul, memang gadis dari Say-hoa-kiam-pay itu sahut si Kelelawar sambil tertawa dungu, ilmu pedang Say-hoa-kiam-sut terhitung bagus, hanya sayang kelewat banyak kembangan Ehmm!

Ilmu pedang darimana pun kembali si Kelelawar berkata sambil tertawa, asal kembangannya kelewat banyak, sudah pasti kehebatannya berkurang, semakin banyak kembangan sama artinya semakin banyak titik kelemahannya.

Crang itu tidak bersuara, suasana jadi hening.

Dalam saat seperti itu, si Kelelawar seolah sudah melupakan segala sesuatunya, kembali sepasang tangannya mulai meraba dan menggerayangi seluruh bagian tubuh gadis itu.

Tiba-tiba dia menghela napas panjang, gumamnya.

Tegasnya potongan badanmu masih belum bisa dianggap terlalu baik, tapi masih bisa diperhitungkan.

Selesai berkata dia pun mulai mengambil alat pemukul dan alat pahat, lalu mulai mengetuk diatas batang kayu yang berada disisinya.

Gerakan tangan orang ini cepat dan cekatan, tak lama kemudian potongan kayu itu telah dipahat hingga berbentuk kepala manusia.

Air mata yang mengembang di kelopak mata Lui Hong membuat pandangan matanya kabur, tapi gadis ini jadi keheranan ketika mendengar suara ketukan aneh, tak tahan ia membuka matanya sambil menengok.

Sepasang tangan si Kelelawar masih bekerja tiada hentinya, diantara suara dentingan, dalam waktu singkat balok kayu itu sudah terukir menjadi sesosok manusia 97 dengan pancaindra, ke empat anggota badan bahkan termasuk payudara, semuanya tampak indah dan mirip sekali.

Saat itulah si Kelelawar baru meletakkan peralatannya, dengan kedua belah tangan dia mulai meraba wajah Lui Hong.

Sekali ini dia meraba dengan amat cermat, amat teliti dan seksama.

Setelah meraba dan meraba berulang kali, kembali dia mengambil alat pahatnya dan mulai bekerja pada batok kayu itu.

Kali ini setiap gerakan dilakukan sangat lambat dan hati hati.

Menyusul diletakkannya alat pemukul dan pemahat, kali ini dia mengukir dengan menggunakan sebilah pisau kecil.

Pisau itu betul betul sangat kecil, panjangnya hanya tujuh inci tapi tajamnya bukan kepalang, sayatan yang perlahan ternyata menghasilkan pahatan yang dalam.

Dengan tangan yang mantap dia jepit mata pisau dengan ibu jari, jari telunjuk dan jari tengahnya, Sreet, sreeet diantara suara sayatan, lembar demi lembar kulit kayu tersayat rontok ke tanah.

Lambat laun muncullah bentuk pancaindera yang jelas pada balok kayu itu.

Dipandang sepintas, ternyata raut muka yang terpahat itu mirip sekali dengan wajah Lui Hong.

Kontan saja kejadian ini membuat si nona terbelalak dengan mulut melongo, dia betul-betul terperangah.

Kini sayatan pisau si Kelelawar tambah lambat, beberapa kali dia raba wajah Lui Hong dengan tangan kirinya, meraba dengan seksama, mengamati setiap lekukan yang ada.

Sementara pisau ditangan kanannya mengikuti gerak raba tadi, membuat sayatan dan pahatan yang akurat.

Kini pancaindera yang terbentuk pada balok kayu itu semakin nyata, bentuk muka pun semakin mirip Lui Hong.

Tak bisa disangkal lagi ilmu pahatan yang dikuasahi kakek ini benar-benar telah mencapai puncak kesempurnaan.

98 Dalam situasi seperti ini, sepasang mata Lui Hong terbelalak lebar, dia tak ingin pejamkan matanya, gadis itu ingin mengikuti terus gerakan tangan yang dilakukan orang tua itu.

Sayatan pisau si Kelelawar masih berlanjut terus, hanya sekarang dia memahat lebih hati hati, lebih teliti dan seksama.

Entah berapa lama sudah lewat.

Berada dalam ruang rahasia semacam ini, pada hakekatnya mustahil untuk menduga jam berapa saat itu.

Kini tangan kiri si Kelelawar sudah tinggalkan wajah Lui Hong, sementara bongkahan kayu itu pun telah berubah menjadi bentuk kepala dan wajah gadis itu.

Bukan saja besar kecilnya sama, guratan pancaindera nya begitu jelas dan nyata, semuanya sangat mirip dan tak ada bedanya dengan bentuk aslinya.

Bentuk hidung yang sama, bentuk bibir yang sama, bentuk mata yang sama.

Yang berbeda hanya bentuk warna, bagaimana pun sepasang tangan si Kelelawar bukanlah sepasang tangan iblis, meskipun dia dapat mengukir bentuk wajah yang sama, namun tak mungkin bisa membentuk warna kulit yang sama.

Apapun kehebatannya, sampai dimana pun kepandaiannya, dia tetap manusia, bukan setan, bukan dewa.

Kalau tidak, dia tak perlu lagi bersusah payah memahat dan mengukir, kenapa bukan sekali tiup mengubah balok kayu itu jadi Lui Hong.

Tapi memang harus diakui, ilmu pahat yang dimiliki memang luar biasa, sudah mencapai tingkat sempurna.

Yang lebih penting lagi, dia bukan manusia normal, dia tak lebih hanya seorang buta.

Dia tak punya mata, namun dalam bidang memahat, kemampuannya justru beratus kali lipat lebih hebat daripada mereka yang punya mata.

Lui Hong tahu, si Kelelawar adalah orang buta, dia pun tahu orang itu hanya mengandalkan perasaan pada sentuhan tangannya untuk memahat bentuk wajahnya.

99 Kini air matanya nyaris sudah mengering, sepasang matanya terbelalak begitu lebar, hampir sama sekali tak berkedip.

Setiap gerakan, setiap perbuatan yang dilakukan si Kelelawar dapat ia saksikan dengan jelas sekali.

Tapi hingga kini, dia masih mempunyai satu perasaan, dia tak percaya kalau si Kelelawar adalah orang buta.

Pada hakekatnya apa yang telah dia lakukan mustahil bisa diperbuat seorang manusia buta.

Tapi dalam peristiwa ini, mau tak mau dia harus percaya.

Detik itu, dia seolah sudah lupa kalau dirinya berbaring dalam keadaan bugil, sama sekali lupa dengan rasa malu.

Tapi dalam waktu singkat rasa malu itu muncul kembali, menyelimuti perasaan hatinya, karena sepasang tangan si Kelelawar kembali meraba payudaranya, bukan hanya meraba bahkan mulai meremas remas.

Sepasang tangan yang kurus kering bagai ranting dahan, kurus kering bagai cakar burung.

Dalam keadaan begini Lui Hong hanya bisa melelehkan air mata.

Air matanya meleleh bagai butiran embun, meleleh membasahi pipinya.

Sepasang tangan si Kelelawar sudah mulai bergeser, meraba dengan lembut, meremas dengan perlahan, setiap gerakan yang dia lakukan, menimbulkan tekanan perasaan yang sangat kuat bagi gadis itu.

Kini sepasang tangannya telah berada dibagian tubuhnya yang paling sensitip, puting susunya segera mengencang keras.

Dia tak kuasa menahan diri, rangsangan secara otomatis membuat puting susunya mengeras.

Dari sepasang tangan, kini si Kelelawar meraba dengan tangan sebelah, lalu sekali lagi dia mengambil peralatannya dan mulai membuat pahatan pada balok kayu.

Suara ketukan palu, suara sayatan kulit bergema tiada hentinya didalam ruang rahasia yang sepi, setiap suara yang bergema menimbulkan gaung yang nyaring.

100 Kemudian si Kelelawar menggunakan lagi pisau kecilnya yang tajam.

Dibawah permainan tangannya yang mahir, pisau kecil itu menyayat dengan lincah dan hidupnya.

Lambat laun balok kayu itu berubah bentuk menjadi bentuk tubuh Lui Hong yang bugil.

Puting susu yang mengeras, pinggul yang bulat montok, semuanya tampak begitu mirip dengan aslinya.

Sesosok patung kayu wanita cantik pun terwujud ditangan si Kelelawar.

Lui Hong menyaksikan kesemuanya itu dengan sangat jelas, sejujurnya dia tak ingin melihatnya, namun mau tak mau dia harus memandangnya.

Terlebih dalam keadaan seperti ini, hati kecil gadis ini betul betul sudah terkendali oleh perasaan ingin tahunya yang meluap.

Sekalipun sepasang tangan si Kelelawar masih saja menggerayangi sekujur tubuhnya, namun gadis itu seakan sama sekali tidak merasakannya, mungkin saja dia merasa, mungkin juga dia sudah kaku, sudah mati rasa sehingga tidak merasakan semua gerayangan itu.

Atau mungkin juga dia sudah tertegun, kehilangan kesadaran lantaran terkejut bercampur heran.

Permainan pisau ditangan si Kelelawar memang sangat mahir dan luar biasa, kepandaiannya memahat sungguh diluar dugaan siapa pun, Lui Hong tidak menyangka kemahirannya sudah mencapai tingkatan sehebat itu.

Ia betul-betul tak percaya kalau seorang manusia buta ternyata memiliki kemampuan sedemikian hebatnya, namun diapun mau tak mau harus mempercayainya.

Bukankah si Kelelawar pernah mengorek keluar biji matanya dan diperlihatkan kehadapannya?

Jangan jangan si Kelelawar memang bukan manusia?

Lui Hong mulai ragu, mulai curiga, tapi.......

Kalau bukan manusia lantas apa?

Lui Hong tidak habis mengerti, betul betul kebingungan!

101 KHIRNYA si Kelelawar menghentikan semua gerak tangannya.

Dia telah menyimpan kembali pisau kecilnya, tapi Lui Hong tidak tahu benda tersebut telah disimpannya dimana.

Menyusul kemudian dia tertawa aneh sembari menggosokkan telapak tangannya, menyaksikan semua tingkah laku kakek itu, Lui Hong merasa panik bercampur tegang, jantungnya berdetak semakin kencang.

Si Kelelawar telah menggosokkan sepasang tangannya, apa yang hendak dia lakukan?

Kini air mata Lui Hong telah mengering, dia hanya bisa membelalakkan matanya sambil mengawasi sepasang tangan orang itu dengan penuh tanda tanya.

Akhirnya si Kelelawar menggerakkan tangannya, tapi bukan memegang tubuh Lui Hong, melainkan memegang patung kayu wanita cantik itu.

Dengan penuh kasih sayang dia belai patung itu, bahkan membelai, meraba dan menggerayangi jauh lebih seksama ketimbang sewaktu membelai tubuh Lui Hong tadi.

Setelah menggerayangi atas bawah patung wanita itu, tiba-tiba si Kelelawar tertawa aneh, ujarnya.

Coba kau lihat, bukankah aku kurang beres?

padahal aku tahu, kau memang berpikir begitu bukan?

Siapa bilang kau beres?

Ctakmu memang tidak beres umpat Lui Hong dalam hati.

Padahal aku memang kurang beres ujar si Kelelawar lagi, tapi ketidak beresanku bukan pada sepasang tanganku, juga bukan di otak, melainkan hanya pada sepasang mataku Kau memang si buta keparat!

kembali Lui Hong mengumpat dalam hati.

Tampaknya si Kelelawar seolah mendengar umpatan dalam hati itu, dia tertawa terkekeh, serunya.

Aku tahu, sekarang kau pasti sedang mengumpatku dalam hati, mengatakan kalau aku memang si buta keparat.

Lui Hong tertegun, saking herannya dia sampai tak mampu berkata kata.

Pada akhirnya manusia toh pasti mati kata si Kelelawar lagi, kadangkala mati lebih awal jauh lebih enak daripada mati belakangan.

102 Manusia macam kau memang pantas mampus sejak awal!

batin Lui Hong lagi.

Mendadak si Kelelawar bertanya.

Tahukah kau, bagaimana bentuk wajahku dimasa muda dulu?

Tidak menunggu jawaban, dia melanjutkan.

Kalau diceritakan mungkin kau tidak percaya, sewaktu muda dulu, bukan saja aku ganteng bahkan gagah rupawan, tak bakal kalah tampan dengan lelaki paling ganteng sekalipun.

Dasar, mungkin hanya setan yang percaya!

Lui Hong mengumpat sambil menyumpah dalam hati, semestinya si Kelelawar tak akan mendengar, apa mau dikata dia justru seolah mendengar semuanya, sambil tertawa ujarnya lagi.

Sudah kuduga, kau pasti tak bakal percaya.

Setelah berhenti sejenak, tegasnya.

Padahal semua yang kukatakan merupakan kenyataan!

Lui Hong tidak menanggapi, dia hanya mengawasi orang tua itu tanpa berkedip.

Namun bagaimana pun dipandang, dia tetap tak bisa menemukan ketampanan wajah si Kelelawar, orang tua ini sama sekali tak mirip dengan seorang lelaki ganteng.

Sesudah menghela napas panjang, kembali si Kelelawar berkata.

Aaai, harus diakui, sekarang tampangku memang jelek, mau dipandang dari sudut mana pun, aku tak bakal mirip dengan seorang lelaki tampan.

Setelah tarik napas, lanjutnya.

Semua ini ada sebabnya, kalau dibicarakan sesungguhnya merupakan peristiwa yang terjadi selama banyak tahun.

Lui Hong tidak bicara, dia hanya mendengarkan.

Sekalipun ia benci orang ini hingga ke tulang sumsum, namun rasa ingin tahunya amat besar, dia ingin mengetahui seluk beluk dari orang tua ini.

Tapi si Kelelawar segera menukas lagi.

Aaah, itu semua merupakan kejadian lama, sudah usang, lebih baik tak usah disinggung lagi.

Lui Hong merasa kecewa sekali.

Kembali terdengar si Kelelawar bergumam.

Manusia mana pun pada akhirnya pasti akan mati, sama seperti manusia mana pun tentu bakal tua, betapa ganteng dan gagahnya seseorang, begitu mulai tua, dia pasti akan berubah jadi jelek, tak sedap dipandang.

103 Lalu dengan suara perlahan ia bersenandung.

Wanita cantik bagai panglima kenamaan, yang ditakuti hanya rambut mulai beruban.....

Kepada Lui Hong ia bertanya.

Pernah mendengar perkataan itu?

Tentu saja Lui Hong pernah mendengar.

Si Kelelawar berkata lebih lanjut.

Itulah sebabnya banyak orang berharap bisa menemukan cara yang paling jitu untuk mempertahankan masa remajanya, kalau bisa sampai mati tetap muda Sesudah menghela napas dengan nada berat, katanya lagi.

Cleh sebab itu pula ada perempuan cantik yang tidak bisa menerima hadirnya masa tua, bahkan tak segan menggunakan kematian untuk mempertahankan kecantikannya, manusia macam begini jarang terjadi pada orang lelaki, tapi bukan berarti tak ada Lui Hong hanya mendengarkan.

Si Kelelawar berkata terus.

Masa muda seseorang tak mungkin bisa dipertahankan hingga masa tua, sejak dulu banyak orang berusaha memakai obat mujarab untuk mempertahankan kemudaannya, meski bukannya tak ada yang berhasil, namun semuanya merupakan cerita dongeng, jadi bukan tak mungkin orang mempertahankan kecantikan wajahnya Cara apa yang digunakan?

pikir Lui Hong dalam hati.

Dengan cepat si Kelelawar menyambung perkataannya.

Padahal sederhana sekali caranya, misalkan dibuatkan lukisan.

Coh, rupanya begitu batin Lui Hong.

Padahal caranya banyak ragam, bisa juga menggunakan cara dipahat, dibuatkan patung, sebelum generasiku, banyak orang yang telah berusaha melakukan hal tersebut, hanya tak seorang pun yang melakukannya hingga tuntas seperti diriku.

Maua tak mau Lui Hong harus mengakui akan kebenaran ucapan itu.

Kembali senyum idiot tersungging diwajah si Kelelawar, ujarnya.

Melakukan pekerjaan semacam ini bukanlah sesuatu yang murah, untuk persiapan saja aku harus menghabiskan waktu hampir sepuluh tahun lamanya.

Setelah menghela napas, lanjutnya.

Lagipula perempuan yang betul betul cantik tak banyak jumlahnya, dalam hal seleksi pun aku harus membuang banyak pikiran, tenaga dan waktu.

104 Setelah merandek sejenak, katanya lagi.

Dalam hal ini rasanya aku telah menjelaskan kepadamu Terhadap apa yang telah diucapkan, dia seolah sudah melupakannya sama sekali.

Lui Hong hanya mendengarkan dengan termangu.

Si Kelelawar menghembuskan napas panjang, lanjutnya.

Yang paling parah lagi adalah tak seorang manusia pun yang menaruh simpatik terhadap perbuatanku ini.

Itulah sebabnya terpaksa aku harus menjalankan semuanya itu secara diam diam, aku harus mendirikan tiga belas kerajaan pribadi di tiga belas tempat yang berbeda, kerajaan pribadi yang tak mungkin diusik dan diganggu siapa pun.

Tiga belas tempat?

Lui Hong terperangah, kaget, heran dan nyaris tak percaya.

Satu tempat semacam ini saja sudah terasa lebih dari cukup, apalagi tiga belas tempat.

Dari begitu banyak model payudara, wajah, pinggul serta pinggang yang memenuhi ruangan ini, entah ada berapa banyak wanita cantik yang berhasil ditipu si Kelelawar dan terjebak ditempat ini, kalau tiga belas tempat digabungkan, bukankah tipu licik yang dilakukan kakek ini sudah kelewat batas?

Tak heran Lui Hong merasa terkesiap.

Tiba-tiba terdengar suara aneh itu berkumandang lagi.

Dimana saja ke tiga belas tempatmu yang lain?

Bukankah salah satunya berada disini sahut si Kelelawar sambil tertawa bodoh.

Masih ada dua belas tempat lagi.

Tentu saja ke tiga belas tempat itu tersebar di tujuh propinsi selatan dan enam propinsi utara sungai Tiangkang.

Setelah tertawa bodoh, lanjutnya.

Oleh sebab itu berada di propinsi mana pun, setiap saat aku dapat melanjutkan maha karyaku ini.

Masa kau sudah lupa dengan alamat yang sejelasnya?

suara itu bertanya lagi.

Mana mungkin aku bisa melupakannya?

Sungguh?

Kalau aku lupa, mana mungkin bisa sampai disini?

sahut si Kelelawar sambil tertawa idiot, kau ini, benar benar aneh dan mengherankan.

105 Siapa sebenarnya orang itu?

Lui Hong pun merasa keheranan.

Manusia manapun, pada akhirnya pasti akan jadi tua suara itu kembali berkata.

Tentu saja si Kelelawar tertawa aneh, memangnya kau anggap di dunia ini benar benar terdapat obat dewa yang bisa membuat manusia awet muda?

Tentu saja tidak ada!

Bila orang tambah tua, pelbagai penyakit pun otomatis akan bermunculan Yaa, hal seperti ini memang susah dihindari Sampai waktunya, mungkin mata akan mulai rabun, telinga mulai setengah tuli, peredaran darah makin melemah.

Betul Bahkan daya ingat pun terkadang ikut melemah kata suara itu lagi.

Memang, penyakit semacam itu memang penyakit yang biasa diderita orang tua.

Oleh karena itu bila kau sampai melupakan alamat dari ke dua belas tempatmu yang lain, kejadian semacam inipun bukan merupakan kejadian yang aneh kata orang itu.

Si Kelelawar segera tertawa.

Untungnya aku masih belum sampai setua itu!

katanya.

Kalau begitu, maukah kau memberitahukan kepadaku alamat dari ke dua belas tempat lainnya?

Tentu saja mau.

Bicara sampai disitu mendadak si Kelelawar tertegun, dalam waktu singkat ia sudah terjerumus dalam lamunan.

Kemudian perlahan-lahan dia berjongkok, sinar kebingungan, gugup dan tersiksa segera terpancar keluar dari tubuhnya.

Dengan sepasang tangannya dia pegangi batok kepala sendiri, lalu mengeluh.

Kenapa aku sudah melupakan semuanya?

Dua belas tempat yang lain.......

tiba-tiba ia teriak keras, sebenarnya saat ini aku berada di propinsi mana?

106 Nah, masa hal semacam itupun sudah kau lupakan ujar suara orang itu lagi.

Si Kelelawar menggeleng.

Tidak mungkin, kalau tidak, mana mungkin aku bisa sampai di sini?

Padahal alasannya sangat sederhana kata orang itu, kau bukan masuk sendiri ke tempat ini Masa orang lain yang mengajakku kemari?

Benar!

Siapa?

Aku!

Siapa kau sebenarnya?

Kau?

Aku?

tak tahan kembali si Kelelawar tertegun.

Lui Hong yang mengikuti jalannya pembicaraan itu ikut terperangah, keheranan Aku adalah sukma mu suara itu berkumandang lagi.

Sukma?

tergerak mimik muka si Kelelawar, tapi aku belum mati, kalau kau adalah sukma ku, mana mungkin bisa tinggalkan aku?

Karena kau sudah kelewat tua, semangatmu sudah mulai mundur, sudah mendekati saat ajal, aku sudah tak mungkin bersatu lagi dengan dirimu Aku sudah kelewat tua?

si Kelelawar makin bimbang.

Betul, kau sudah kelewat tua, sedemikian tuanya hingga urusan penting pun sudah kau lupakan.

Si Kelelawar tertawa getir, tiba-tiba ujarnya.

Untung saja aku telah membuat persiapan Persiapan apa?

Aku telah mengukir ke tiga belas alamat itu diatas tiga belas bilah pisau pusaka, jadi, biar aku sudah sedemikian tua hingga melupakan segalanya pun, asal melihat ke tiga belas bilah pisau tersebut, aku tetap akan mengetahui letak dari ke tiga belas tempat rahasia itu.

107 Ehmm, caramu memang sebuah cara yang bagus Tidak terhitung seberapa, dengan berbuat begitu sesungguhnya aku telah melakukan hal yang berlebihan, sebab bagaimana pun keadaannya, tak mungkin daya ingatku akan sedemikian buruknya Habis berkata kembali ia tertawa getir, ujarnya.

Tak disangka aku benar benar akan mengalami kejadian seperti hari ini, daya ingatku jadi sedemikian jeleknya Dia pegang batok kepalanya dengan sepasang tangan lalu digoyang dengan sekuat tenaga.

Kemudian sambil menabok batok kepala sendiri, gumamnya.

Sialan, benar benar sialan, kenapa daya ingatku tiba-tiba berubah sejelek ini?

Hal semacam ini memang tak bisa dipaksakan, apa boleh buat kata suara itu.

Aaai, aku benar benar sedemikian tuanya si Kelelawar menghela napas panjang.

Tiba-tiba suara orang itu bertanya lagi.

Dimana kau simpan ke tiga belas bilah pisau pusaka itu?

Apakah masih ingat?

Tiba-tiba si Kelelawar tertawa, tertawa dengan riangnya.

Hahaha, tentu saja aku masih ingat, bahkan teringat dengan jelas sekali katanya.

Sungguh?

Tentu saja sungguh!

Di mana?

Di.....

di........

mustahil aku beritahukan kepadamu.

Kenapa?

Karena aku telah menghadiahkan ke tiga belas bilah pisau pusaka itu kepada orang lain.

Mendadak dia menggeleng, serunya lagi.

Coh bukan, bukan tiga belas, hanya....

hanya dua belas, betul, hanya dua belas.

Kau masih teringat dengan begitu jelas seru orang itu.

Kembali si Kelelawar tertawa aneh.

Tahukah kau ke dua belas bilah pisau mustika itu telah kuhadiahkan kepada siapa?

Siapa?

108 Dua belas orang wanita paling cantik, paling menawan hati Dua belas orang wanita?

Mereka semua amat cantik bahkan memiliki bentuk badan yang berbeda, ada yang montok, ada yang langsing, ada yang.....

ada yang.....

Entah kenapa, dia tak sanggup melanjutkan kembali kata-katanya.

Terdengar suara orang itu berkata lagi.

Bahkan pisau mustika yang begitu penting pun kau rela persembahkan kepada mereka, hal ini membuktikan kalau kau amat menyukai mereka Tentu saja Oleh sebab itulah kau mempunyai kesan yang begitu dalam terhadap mereka, meski masalah lain sudah tak teringat lagi, namun kau tak pernah melupakan mereka semua Si Kelelawar tidak menjawab, dia hanya tertawa bodoh.

Siapa saja nama mereka?

Apakah kau masih ingat?

kembali suara orang itu berkumandang.

Siapa nama mereka?

gumam si Kelelawar sambil berdiri tertegun, dia seolah sudah tak ingat lagi nama nama itu.

Terdengar suara orang itu berkata lagi.

Bukankah kau mengatakan Lau Ci-he termasuk salah satu diantaranya?

Aaah benar, memang dia termasuk, darimana.....

darimana kau bisa tahu?

seru si Kelelawar tak tahan.

Bukankah kau berasal satu tubuh denganku?

Mana mungkin aku tidak tahu?

Aaah, betul, betul sekali Apakah Botan (peony) hitam dari Shoatang dan teratai putih dari Hopak termasuk juga?

Betul, mereka termasuk juga!

Masih ada yang lain?

109 Dengan wajah tertegun si Kelelawar berpikir berapa saat, tiba-tiba dia menghantam batok kepala sendiri sambil berteriak.

Sialan, benar benar sialan!

Kenapa?

Tak teringat lagi?

tanya orang itu sambil menghela napas.

Maukah kau beritahu kepadaku?

pinta si Kelelawar.

Sekali lagi orang itu menghela napas.

Coba pikirlah dengan seksama, pasti akan teringat katanya.

Aku.....

aku.......

dia hanya bisa memegangi kepala sendiri sambil dibenamkan kedalam sepasang lututnya, orang tua itu memang tak bisa mengingat kembali.

Orang itu tidak bersuara lagi, dia ikut membungkam.

Suasana dalam ruangan pun pulih kembali dalam keheningan dan kesepian yang luar biasa.

Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya si Kelelawar mendongakkan kepala seraya mengeluh.

Aku benar benar tak bisa mengingatnya kembali, maukah kau beritahu kepadaku?

Dia sedang bertanya kepada sang sukma Tiada jawaban.

Sekali lagi si Kelelawar bertanya, namun tetap tiada jawaban, perasaan panik, takut, ngeri mulai menghiasi wajah orang tua itu, jeritnya lengking.

Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?

Kenapa?

Tiada reaksi dari dalam ruangan, suasana tetap hening.

Si Kelelawar semakin panik, jeritnya.

Masa kau tinggalkan aku?

Kau tak boleh berbuat begitu Suara orang itu tak pernah berkumandang lagi.

Tiba-tiba si Kelelawar melompat bangun, sambil mencakar rambutnya dia menjerit.

Kau adalah sukmaku, kenapa tinggalkan diriku!

Nada suaranya diliputi perasaan panik, ngeri dan takut.

Ditinjau dari tingkah lakunya, orang tua itu pada hakekatnya sudah kehilangan kesadaran, sudah menyerupai orang sinting.

110 Nada suaranya yang sejak semula memang kedengaran aneh, dalam keadaan takut bercampur panik, suaranya kedengaran semakin aneh dan tak sedap didengar.

Cahaya lentera yang redup, pada saat itu pula makin melemah dan suram sebelum akhirnya sama sekali padam.

Suasana dalam ruang batu itupun tertelan kembali dalam kegelapan yang luar biasa.

Suara teriakan si Kelelawar masih menggema dalam ruangan, suara itu makin lama makin parau dan lirih.

Benarkah sukma si Kelelawar telah meninggalkan tubuh kasarnya?

Meninggalkan dia dengan begitu saja?

Bila seseorang sudah kehilangan sukmanya, lalu apa yang akan terjadi dengan dirinya?

Dia akan berubah jadi apa?

------------------------------------------------------------------------Cerita meloncat sedikit karena filenya hilang...

------------------------------------------------------------------------IAU JIT tertawa dingin.

Jadi kau anggap aku pasti bukan tandinganmu, pasti bakal mati diujung pedangmu?

katanya.

Benar, kau masih bukan tandinganku Kau yakin dugaanmu tak bakal salah?

Paling tidak, hingga sekarang dugaanku belum pernah meleset Ada satu hal mungkin belum kau ketahui ujar Siau Jit tiba-tiba.

Soal apa?

Kau tak lebih hanya seorang manusia, bukan dewa Maksudmu, selama sebagai manusia pasti akan melakukan kesalahan?

Betul!

111 Tiba-tiba Ong Bu-shia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak.

Hahahaha.....

bagi orang orang semacam kita berdua, salah menduga sama artinya mencari kematian buat diri sendiri, bukan begitu?

Ehmmm..

Mungkin saja dugaanku kali ini salah, keliru besar, tapi untungnya usiaku sudah lanjut, jadi urusan mati atau hidup sudah bukan kuanggap sebagai satu masalah besar lagi Setelah mendengar penuturanmu itu, aku semakin tak berani bersikap gegabah kata Siau Jit.

Bila seseorang sudah tidak pedulikan masalah mati hidupnya, dia pasti akan menyerang tanpa kuatir, membunuh tanpa ragu, bukankah begitu?

Benar!

Ong Bu-shia memperhatikan sekejap sepasang tangannya, kemudian berkata lagi.

Dengan mengandalkan sepasang tangan ini, aku telah menjelajahi utara selatan sungai besar dan selama ini belum pernah ketemu lawan tanding.

Aku dengar memang begitu Paling tidak belum pernah ada hingga saat sekarang, saat sebelum aku mengundurkan diri Aku sendiripun tidak yakin kemampuanku sanggup menandingi dirimu Meski kau tak yakin bisa menangkan aku, namun kau tak akan mundur dari gelanggang?

Tentu saja, kau pun tak akan membiarkan aku keluar dari gelanggang ini Memang tak mungkin Apalagi aku memang tak berniat mundur dari sini kat a Siau Jit cepat.

Dengan tajam Ong Bu-shia menatap lawannya, tiba-tiba ia tertawa.

Aku sangat berharap kau adalah lawan tandingku katanya.

Kenapa?

Karena aku sudah banyak tahun hidup kesepian.

112 Setelah berhenti sejenak, tambahnya.

Selama banyak tahun, belum pernah ada orang berhasil mengalahkan aku, bahkan mencari lawan tanding yang seimbang pun susahnya setengah mati.

Karena itu kau merasa kesepian?

Betul Siau Jit menatapnya tajam.

Terlepas manusia macam apakah dirimu, dalam pertarungan kali ini, aku tak akan memandang enteng dirimu Aku memahami maksudmu ......

kau memang seorang jago silat tulen, seorang pesilat sejati Sama-sama, kita setali tiga uang Tahukah kau apa hubunganku dengan Ong Sip-ciu?

tiba-tiba Ong Bu-shia bertanya, Putramu!

Betul, dia adalah satu-satunya putraku Sayang putra mu tidak memiliki kegagahanmu walau hanya setengahnya saja Aku hanya memiliki seorang putra, tentu saja dia kelewat manja hingga terbentuk watak yang lemah Kau seharusnya tahu bukan kenapa aku harus membunuhnya?

Dalam pandangan kalian orang orang hiap-gi yang mengutamakan kebajikan dan kebenaran, tentu saja semua perbuatan dan sepak terjangnya pantas diganjar dengan kematian, namun dalam pandangan kami orang orang kalangan hitam, ulahnya masih belum terhitung kelewat jahat dan busuk, khususnya dalam pandanganku sebagai ayahnya, apa pun yang telah dia lakukan pantas dimaafkan dan diampuni, dosanya tak perlu ditebus dengan kematian Aku mengerti Bagus sekali seru Ong Bu-shia sambil perlahan-lahan menggeser kakinya.

Siau Jit segera ikut menggeser pula langkah kakinya.

113 Kedua orang itu sudah tidak berbicara lagi, seolah pembicaraan apa pun disaat ini sudah tak berguna lagi.

Pedang Siau Jit sudah terhunus, tubuh dan pedang seolah telah terwujud jadi satu.

Ong Bu-shia menggerakkan pula sepasang tangannya kian kemari, setiap saat dia siap melancarkan serangan.

Akhirnya serangan pun dilancarkan!

Pergeseran badan Ong Bu-shia dilakukan tidak terlampau cepat, sementara Siau Jit bergeser lebih lambat, ia berdiri diatas meja, berada diatas untuk menghadapi serangan dari bawah, bahkan posisi dimana ia berdiri merupakan sumbu dari perputaran mereka berdua, karena itu dia tak perlu banyak bergerak.

Si Hong berdiri persis disamping Siau Jit, pedang lemasnya sudah dipersiapkan untuk setiap saat melancarkan serangan.

Ia menatap Siau Jit, sorot matanya sama sekali tak berkedip, tubuhnya pun sama sekali tak bergerak.

Hingga Siau Jit berdiri membelakangi dia, tiba-tiba saja ia bertindak, secepat kilat tubuhnya menerkam ke arah Siau Jit, Nguungg!

pedang lemasnya digetarkan hingga tegak lurus, bagai ular berbisa langsung menyergap bagian mematikan dipunggung lawan.

Serangan pedang yang amat beracun, hati dan pikirann ya jauh lebih beracun!

Dia menduga, begitu serangan dilancarkan, tak ayal Ong Bu-shia pasti akan manfaatkan kesempatan itu untuk melancarkan pula serangannya, dengan begitu mereka berdua akan menyergap bersamaan waktu.

Dengan ikut serta dalam melancarkan serangan maut itu, niscaya Ong Bu-shia dapat menghabisi nyawa Siau Jit.

Mungkin saja apa yang dia bayangkan merupakan kenyataan.

Sayang dugaannya meleset jauh, ternyata Ong Bu-shia sama sekali tak bergerak, dia hanya mengawasi gerak serangannya itu dengan pandangan dingin.

Seketika itu juga hatinya tercekat, bergidik.

Sayang pedangnya sudah terlanjur melancarkan tusukan, tusukan kilat ibarat anak panah yang terlepas dari busur, tak mungkin untuk ditarik balik.

114 Dalam waktu singkat cahaya pedang bagai bianglala telah menghampiri tubuh Siau Jit, dan pada saat yang bersamaan tiba-tiba Siau Jit membalikkan badan.

Bersamaan itu pedangnya melepaskan sebuah tusukan!

Serangan yang dilancarkan Si Hong sesungguhnya tidak terhitung lambat, dalam sekali tusukan dia telah melepaskan tujuh belas ancaman, tapi sayang gerak pedang Siau Jit jauh lebih cepat, biar menyerang belakangan tapi serangan tiba disasaran lebih awal, tujuh belas tusukan kilat seketika membendung seluruh ancaman yang dilakukan Si Hong.

Menyaksikan kejadian itu Si Hong membentak nyaring, berapa kali dia merubah gerakan tubuhnya namun selalu gagal untuk melepaskan diri dari ancaman pedang lawan.

Sambil mendengus tangan kirinya berputar, tujuh batang paku bunga li yang sangat beracun siap dibidikkan ke tubuh lawan, siapa tahu baru saja tangan kirinya bergerak, telapak tangan kiri Siau Jit sudah membacok pergelangan tangannya.

Dengan ketajaman matanya ternyata ia tak bisa melihat dengan jelas darimana datangnya bacokan itu, dengan kegesitan gerak tubuhnya pun dia tak sanggup berkelit atau menghindarkan diri.

Rasa sakit yang luar biasa merasuk hingga ke tulang sumsum, pergelangan tangannya yang ditelikung ke belakang membuat genggaman ke lima jarinya mengendor, paku paku bunga li yang sudah siap ditimpuk pun seketika berjatuhan ke tanah.

Selama ini Ong Bu-shia hanya menyaksikan jalannya pertarungan sambil bergendong tangan, sama sekali tak punya niat untuk turun tangan membantu.

Menyaksikan hal ini, Si Hong merasa hatinya mencelos, perasaannya makin terperosok dalam.

Bersamaan dengan timbulnya rasa takut, tiba-tiba perutnya terasa pedih, panas bagai terbakar dan sakitnya bukan kepalang.

Inilah perasaan terakhir yang bisa dia rasakan sepanjang hidupnya!

Pedang milik Siau Jit telah menusuk ke dalam perutnya, menghujam dalam dalam.

Begitu ujung pedang menembusi perutnya, darah segar pun menyembur keluar bagaikan mata air.

115 Si Hong terpuruk diatas lantai bagai manusia tanah liat yang tergenang air, Traaang!

Pedang lemasnya terlepas dari genggaman dan jatuh ke samping.

Sementara itu Siau Jit telah menarik kembali pedangnya, perlahan ia berpaling, menatap Ong Bu-shia dengan pandangan dingin.

Ternyata gerak serangan pedangnya selain cepat, ganas pun sangat telengas.

Ong Bu-shia balas menatap Siau Jit dengan pandangan dingin, tiba-tiba ujarnya.

Sekali tusukan memutuskan usus, ternyata nama besarmu memang bukan nama kosong.

Kau seharusnya turun tangan selamatkan jiwanya Selama hidup, aku tak pernah mau melakukan pekerjaan yang sama sekali tak berguna Ong Bu-shia memandang sekejap jenasah Si Hong yang terkapar ditanah, lalu ujarnya lagi.

Dia tidak seharusnya membokongmu dari sudut tersebut, sebab, walaupun kau berdiri membelakangi dia, namun sudut itu merupakan benteng pertahanan yang kuat bagimu, sudut yang tak mungkin bisa membuahkan hasil.

Mencorong sorot mata Siau Jit.

Terdengar Ong Bu-shia berkata lebih jauh.

Andaikata dia menyerangmu dari sudut kanan, paling tidak kau harus menyambut tiga buah serangan berantainya Sinar mata Siau Jit makin mencorong dingin.

Sekalipun dia menyerangku dari sudut kanan, aku yakin kau tetap tak akan turun tangan membantu.

Betul!

Walaupun dia datang bersamamu, padahal dalam kenyataan dia hanya kelinci percobaanmu, kau ingin gunakan dia untuk menjajal tipu muslihat ilmu pedangku Tepat sekali Dia seharusnya mengerti akan hal ini Sayang tidak banyak orang cerdas dikolong langit saat ini, terlebih orang secerdas kau 116 Setelah berhenti sejenak, lanjutnya.

Sayangnya pula, orang yang kelewat cerdas biasanya bukan merupakan satu kejadian yang baik Siau Jit tertawa dingin.

Entah sudah berapa kali kudengar perkataan semacam itu?

dengusnya.

Oya?

Bahkan hampir semuanya pasti mengatakan satu hal uApa?n Karena orang yang kelewat pintar, biasanya tidak berumur panjang!

Hahaha!

Ong Bu-shia tertawa tergelak, katanya samb il manggut manggut, hal seperti ini jelas bukan satu kejadian yang menyenangkan Sayangnya manusia bukan hanya andalkan kecerdasan, seringkali selain pintar, diapun harus berbudi luhur sehingga selalu dilindungi Thian, bahkan berumur panjang Sayang tidak banyak manusia seperti itu Tapi bukan berarti tak ada orang semacam itu Jadi maksudmu, kau adalah salah satu diantaranya?

Betul atau tidak, aku sendiri tidak tahu, bahkan aku sendiri pun tak tahu apakah aku termasuk orang pintar atau tidak Kau bisa berkata begitu, hal ini menandakan kalau kau memang seseorang yang sangat cerdas, moga moga saja kau berumur lebih panjang daripada orang cerdas lainnya Kau serius berharap begitu?

Siau Jit balik bertanya.

Hahaha, tentu saja bohong!

Begitu selesai bicara, tiba-tiba tubuhnya mulai bergerak, dia tidak melompat ataupun menerkam, tapi selangkah demi selangkah berjalan mendekat.

Siau Jit tidak bergerak, dia hanya mengawasi Ong Bu-shia yang semakin mendekat dengan pandangan dingin.

Ong Bu-shia sama sekali tidak berhenti, sampai mendekati meja tersebut, ia baru mulai berputar, bergerak menuju ke sisi kanan anak muda itu.

117 Siau Jit masih berdiri diatas meja dengan pedang terhunus, tubuhnya ikut berputar mengikuti gerakan musuhnya.

Ong Bu-shia mulai berputar, makin lama ia bergerak makin cepat, akhirnya dia mengelilingi meja itu dengan kecepatan luar biasa.

Siau Jit, tubuh berikut pedangnya ikut berputar.

Walaupun dia cepat, namun gerakannya tak sanggup menyusul gerakan tubuh Ong Bu-shia, dalam waktu singkat kakek jangkung itu telah merebut posisi sebelah kanan, bahkan sepasang tangannya langsung membacok, membabat pinggiran meja tersebut.

Praaakkkl meja yang lebar lagi kuat itu segera terbelah jadi dua bagian.

Berbareng dengan terbelahnya meja itu, Siau Jit ikut melambung ke tengah udara, coba dia baru melambung setelah meja itu terbelah, niscaya keseimbangan badannya akan sangat terpengaruh.

Berada ditengah udara, ia bersalto berapa kali, kemudian Wussss!

ia berbalik posisi, dengan kepala dibawah kaki diatas, pedangnya langsung menusuk kepala lawan.

Dalam posisi begitu, seharusnya Ong Bu-shia ikut melambung untuk melakukan pengejaran, namun dia sama sekali tidak berbuat begitu.

Mungkin hal ini dikarenakan ia telah menduga akan serangan kilat yang bakal dilancarkan Siau Jit, dia berdiri tegak sambil menyambut datangnya ancaman tersebut.

Bukan saja dia tidak melambung, sebaliknya justru merendahkan badan sambil menyusup ke bawah meja.

Babatan pedang Siau Jit segera menyambar dari atas kepalanya, hanya terpaut satu inci dari ujung rambutnya.

Dengan cepat orang tua itu merentangkan tangannya ke kiri kanan, ia sambar kaki meja lalu diiringi bentakan nyaring, belahan meja tersebut diangkat keatas dan dihantamkan ke tubuh Siau Jit.

Untuk kedua kalinya Siau Jit mencelat ke samping, kini dia telah berbalik posisi dengan kepala diatas kaki dibawah, tubuh berikut pedangnya kembali melambung.

Saat inilah Ong Bu-shia baru melompat bangun, tangannya sambil tetap memegang kaki meja yang terbelah merangsek maju ke depan, ternyata gerakan tubuhnya masih tetap cepat.

118 Kini kedua belah lembaran meja yang terbelah itu digunakan sebagai tameng untuk melindungi tubuhnya, dengan kondisi seperti ini dia melanjutkan terjangan.

Berulang kali Siau Jit mengubah gerakan tubuhnya, namun selalu gagal melepaskan diri dari jangkauan meja terbelah, akhirnya dia berpekik nyaring, tubuhnya mencelat ke atas, langsung menerjang permukaan genting ruangan.

Braaak.......!

ditengah suara keras dan hamburan debu serta hancuran genting, tubuh Siau Jit menerobos keluar dari ruangan dengan menembusi langit langit.

Pada saat itulah kedua lembar meja yang berada ditangan Ong Bu-shia telah menghantam langit langit, Braaak, braaak............

suara gemuruh bergema makin nyaring, semakin banyak debu dan hancuran genting berhamburan diseluruh ruangan, meledak, meletup dan hancur berantakan.

Tidak berhenti sampai disitu, Ong Bu-shia menerobos keatas mengejar musuhnya, begitu berada disamping Siau Jit, lembaran meja ditangannya kembali menyapu ke depan dengan jurus Heng-sau-jian-pit-be (menyapu rata seribu ekor kuda).

Kembali Siau Jit melompat ke tengah udara.

Gagal dengan sapuannya, Ong Bu-shia menarik tangannya sambil merapat, kedua belah lembar meja itu segera saling berbenturan, Braaak!

diiringi suara ledakan, lempengan kayu itu hancur berantakan dan menyebar ke empat penjuru.

Bukan begitu saja, paling tidak ada separuh bagian diantaranya langsung meluncur ke tubuh Siau Jit.

Berada ditengah udara Siau Jit memutar pedangnya rapat rapat, ia ciptakan selapis bola cahaya yang tajam untuk melindungi tubuh, begitu hancuran kayu menghampirinya, kepingan kayu itu langsung remuk jadi bubuk dan berhamburan ke lantai.

Menggunakan kesempatan itu Ong Bu-shia ikut melambung ke udara, sepasang tangannya menerobos masuk ke hadapan lawan, dengan tangan kiri melepaskan tujuh serangan, tangan kanan enam pukulan, dalam saat yang bersamaan dia lancarkan tiga belas buah ancaman berantai.

Angin pukulan menderu deru, begitu kuatnya sapuan tersebut memaksa bola cahaya pedang yang diciptakan Siau Jit buyar seketika.

119 Bukan hanya begitu, pukulan ke tiga belas dari Ong Bu-shia ternyata berhasil menghantam pedangnya hingga miring ke bawah, memanfaatkan kesempatan itu satu sodokan maut dihantamkan ke dada lawan.

Siau Jit memang bukan jagoan kemarin sore, berada di udara cepat ia berganti posisi, disaat yang paling kritis dia mengigos dari hantaman Ong Bu-shia lalu mencelat keluar halaman.

Sambil membentak nyaring tubuhnya meluncur ke bawah bagai seekor burung terbang.

Tempat dimana dia melayang turun tak lain adalah jalan raya, ditempat itu pula para tamu rumah makan yang membubarkan diri berkumpul, tapi begitu melihat atap dan kayu berhamburan di udara, apalagi melihat pertarungan ke dua jagoan itu sudah bergeser ke sana, tergopoh orang orang itu kembali membubarkan diri.

Baru saja kaki Siau Jit menginjak tanah, Ong Bu-shia telah menyusul tiba, sepasang tangannya dengan jurus Ngo-lui-hong-teng (lima guntur menghantam puncak) menghantam ubun ubun anak muda itu.

Kali ini Siau Jit tidak berusaha menghindar, pedangnya diayun keatas menciptakan satu lingkaran cahaya untuk menyongsong datangnya ke dua belah tangan kakek itu.

Tidak menunggu sepasang tangannya berhasil menyentuh tubuh lawan, cepat Ong Bu-shia mengigos ke samping.

Berdasarkan pengalaman yang dimiliki, tentu saja dia dapat merasakan kelihayan dari serangan anak muda itu.

Lingkaran cahaya pedang Siau Jit segera ditarik kembali, dengan pedang bersatu badan, ia balas menyerang Ong Bu-shia dengan kecepatan bagai anak panah terlepas dari busur.

Berada ditengah udara, secara beruntun Ong Bu-shia berganti dengan tujuh macam gerakan tubuh sebelum berhasil meloloskan diri dari ancaman itu, begitu kakinya menjejak tanah, tangan kiri dan kanannya secara beruntun melepaskan empat buah pukulan berantai untuk mengunci datangnya ancaman.

Kembali Siau Jit menggerakkan tubuhnya, meloloskan diri dari kurungan lawan.

Hmm, ternyata kungfu mu hebat juga!

ejek Ong Bu-shia sambil tertawa dingin.

120 Setelah berhenti sejenak, terusnya.

Disini sudah tak ada hambatan lagi, kita bisa bertarung habis habisan!

Belum sempat Siau Jit menjawab, suara derap kaki kuda yang ramai telah bergema dari ujung jalan raya, diikuti munculnya puluhan ekor kuda jempolan.

Lui Sin berada dibarisan paling depan, dari kejauhan ia sudah berteriak keras.

Siau Jit!

Dia sama sekali tidak kenal dengan Siau Jit, tapi piausu disampingnya yang mengenali Siau Jit telah menunjuk ke arah pemuda itu sejak dari kejauhan.

Sambil berpaling kata Ong Bu-shia.

Teman teman yang datang membantumu telah tiba!

Belum tentu mereka sahabatku sahut Siau Jit dengan kening berkerut.

Berarti mereka datang mencari gara gara Tidak jelas Terserah siapa pun yang datang, mereka harus menunggu sampai aku roboh diujung pedangmu!

Habis berkata kembali Ong Bu-shia melancarkan serangan mengurung tubuh anak muda itu.

Angin pukulan yang menderu, membuat ujung baju Siau Jit berkibar kencang.

Pada saat itulah si penunggang kuda telah mendekat, masih berada diatas kudanya Lui Sin telah menghardik.

Tahan!

Begitu bentakan berkumandang, dua orang piausu telah melompat turun dari kudanya, sambil meloloskan senjata, mereka segera memisah Siau Jit serta Ong Bu-shia yang sedang bertarung dari kiri dan kanan.

Harap semuanya berhenti!

teriak mereka pula.

Siau Jit tertegun, belum lagi menarik kembali pedangnya, Ong Bu-shia telah menarik pukulannya sambil menegur.

Siapa suruh kau menghalangi kami!

seru seorang piausu.

Belum selesai dia berkata, Ong Bu-shia telah menukas gusar.

Hmm, hanya andalkan kalian berdua, berani benar menghalangi pertarungan kami?

121 Tubuhnya merangsek ke depan, langsung menerjang piausu yang berada disebelah kiri.

Menyaksikan hal itu buru buru Siau Jit membentak.

Cepat minggir!

tubuh berikut pedangnya langsung menerkam Ong Bu-shia.

Sayang piausu itu tidak menuruti perintahnya, bukan mundur dia malah mengangkat goloknya bermaksud pukul mundur serangan Ong Bu-shia.

Baru saja senjatanya diangkat, pukulan tangan kanan Ong Bu-shia telah bersarang telak diatas dadanya.

Pukulan itu datang secepat petir, bagaimana mungkin piausu itu sanggup menghindarkan diri?

Kraaakl terdengar suara tulang retak bergema di udara, dada piausu itu sudah terhajar oleh sebuah pukulan dahsyat hingga amblas ke dalam, tubuhnya langsung mencelat ke udara dan terlempar sejauh berapa kaki.

Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya tenaga pukulan itu.

Lui Sin amat terperanjat, tidak terkecuali si pedang perak Han Seng yang berada disisinya, bagaimana pun mereka berdua adalah jago kawakan dalam dunia persilatan, pengetahuan serta pengalaman mereka cukup luas.

Dari pukulan yang dilontarkan, mereka segera tahu kalau Ong Bu-shia adalah seorang jagoan kejam yang berhati telengas, menganggap nyawa manusia bagai rumput ilalang.

Namun mereka berdua tidak mengenali Ong Bu-shia.

Gerak serangan yang dilancarkan Siau Jit meski cepat, dia tetap terlambat satu langkah.

Tampaknya anak muda ini sadar kalau ia sudah tak sempat lagi untuk selamatkan nyawa piausu itu, bukannya menyerang kepalan kanan Ong Bu-shia, babatan pedang itu justru menyambar pinggang lawan.

Dengan cekatan Ong Bu-shia mengigos ke samping untuk menghindar, lalu melompat mundur dari posisi semula, kali ini dia menghampiri piausu ke dua.

122 Siau Jit sama sekali tak menyangka kalau seorang jagoan yang berilmu begitu tinggi ternyata memiliki jalan pemikiran yang begitu sempit, tak sempat menghalangi perbuatannya, jago muda ini merasa hatinya makin bergidik.

Ketika melihat Ong Bu-shia datang menghampiri, buru buru piausu itu mengayunkan goloknya melancarkan tujuh buah bacokan, semua serangan bukan ditujukan ke tubuh lawan melainkan hanya berusaha melindungi diri.

Sayang dia berhadapan dengan jagoan tangguh semacam Ong Bu-shia, ingin melindungi diri pun bukan satu hal yang mudah.

Ketika bacokan ke tujuh baru saja dilancarkan, tinju Ong Bu-shia sudah bersarang tiga kali diatas dadanya.

Biar terdiri dari tiga pukulan, namun pada hakekatnya seolah dilancarkan bersamaan waktu.

Seketika itu juga tulang dada piausu itu terpukul hancur hingga amblas ke dalam, sekujur badannya mencelat ke udara hingga menembus diatas dinding pagar.

Siapa pun tahu kalau orang itu sudah tak punya harapan lagi untuk melanjutkan hidup.

Sambil menuding Ong Bu-shia dengan pedangnya, bentak Siau Jit penuh kegusaran.

Apa-apaan kamu?

Perlahan Ong Bu-shia berpaling, sahutnya tertawa.

Lohu hanya tak ingin pertarungan kita berdua diganggu oleh kehadiran orang lain.

Belum sempat Siau Jit mengucapkan sesuatu, dengan suara keras Lui Sin telah menghardik.

Siapa kau si tua bangka celaka?

Kenapa kau bunuh piausu anak buahku?

Kau sebut lohu sebagai apa?

Ong Bu-shia segera berpaling dan menatap Lui Sin gusar.

Tua bangka celaka!

Bagus sekali!

Apanya yang bagus?

Losu sudah mendapat satu alasan yang kuat untuk membunuhmu, memang kurang bagus?

Saking gusarnya Lui Sin tertawa keras.

123 Sebenarnya aku hendak mencari Siau Jit untuk membuat perhitungan, tapi tak ada salahnya kalau kubunuh dulu dirimu.

Siau Jit tertegun, baru saja dia akan bertanya, Lui Sin telah meloloskan golok emasnya, kemudian sambil menuding wajah Ong Bu-shia, tegurnya.

Sebutkan namamu!

Sambil bergendong tangan Ong Bu-shia memperhatikan Lui Sin sekejap, lalu katanya.

Lebih baik kau tak usah tahu siapa diriku!

Hahaha, ternyata kau tak lebih hanya seekor kura kura yang takut menyebut nama sendiri Hmm!

Ong Bu-shia mendengus dingin, aku hanya kuatir anggota badanmu jadi lemas setelah mendengar namaku, apa enaknya kalau bertarung dengan orang yang sedang menggigil ketakutan?

Memang kau anggap namamu sangat menakutkan?

ejek Lui Sin, setelah berhenti sejenak, hardiknya, siapa namamu!

Ong Bu-shia!

kata kakek itu kemudian sepatah demi sepatah kata.

Berubah paras muka Lui Sin, begitu pula dengan si pedang perak Han Seng, apalagi kawanan piausu yang berada di belakang mereka berdua.

Bu-shia beracun pembetot sukma menggaet nyawa?

lanjut Lui Sin ragu.

Tepat sekali!

Perlahan-lahan Lui Sin menarik napas panjang, katanya.

Ternyata kau si tua bangka celaka!

Berubah seram paras muka Ong Bu-shia.

Kalau kubiarkan kau mampus kelewat cepat, rasanya keenakan bagimu serunya.

Perkataan itu diucapkan dengan nada dingin dan berat, sepatah demi sepatah kata bagaikan gada raksasa yang menumbuk lubuk hati Lui Sin.

Tiba-tiba si golok emas Lui Sin tertawa nyaring.

Hahaha, walaupun kau tersohor, sayang tak sampai menakutkan diriku!

Oya?

Ong Bu-shia tertegun.

124 Sambil mengebaskan ujung bajunya tiba-tiba Lui Sin berseru.

Teman-teman, mundur semua, masalah ini merupakan urusan pribadi aku orang she-Lui, sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan kalian semua.

Kawanan piausu itu baru saja tertegun, Han Seng yang berada disisinya telah berseru sambil tertawa hambar.

Toako, dengan perkataanmu itu, sama artinya kau sudah tidak menghendaki aku sebagai saudaramu?

Cepat Lui Sin menggeleng.

Saudaraku........

Kita dua bersaudara selalu menghadapi tantangan secara bersama, pertarungan yang kita hadapi pun tidak dibawah puluan kali, kapan kita pernah berpisah?

Jika kau menghadap raja akhirat seorang diri, aku yakin Giam-ong pasti akan mengusirmu balik.

Mendengar perkataan itu Lui Sin hanya bisa tertawa getir.

Seorang piausu segera berteriak pula dengan lantang.

Congpiautau, jangan kau anggap kami adalah kawanan tikus yang takut mati Rekan rekan semua...........

bisik Lui Sin dengan perasaan amat terharu.

Sambil tertawa Han Seng menambahkan.

Apalagi Ong Bu-shia hanya seorang diri.

Orang-orang itu pun hanya ada sedikit perbedaan dibandingkan kalian berdua ejek Ong Bu-shia.

Dimana perbedaannya?

tanya Lui Sin.

Kepandaian silat!

Ilmu silat yang kau miliki memang jauh lebih bagus daripada kepandaian yang kami miliki, namun bukan Benarkah begitu?

Satu orang mungkin gampang kau taklukkan, belum tentu seribu orang bisa kau lawan Omong kosong!

125 Lui Sin tidak menanggapi lagi, sorot matanya segera dialihkan ke wajah Siau Jit, ujarnya.

Orang she-Siau, aku orang she-Lui akan bikin perhitungan denganmu atas hilangnya berapa lembar nyawa.

Kembali Siau Jit tertegun.

Tanpa banyak bicara Lui Sin mencabut keluar golok emasnya dari sisi pelana, bentaknya.

Terima serangan!

Tubuh berikut golok langsung ditebaskan keatas kepala Ong Bu-shia.

Pada saat yang bersamaan Han Seng ikut bergerak, pedang peraknya diloloskan dari sarung, diantara kilatan cahaya tajam, tubuh berikut senjata bagai anak panah yang lepas dari busur langsung melesat ke arah Ong Bu-shia.

Ditengah bentakan nyaring, kawanan piausu itu sama sama melompat turun dari kuda lalu meloloskan senjata dan serentak meluruk ke arah Ong Bu-shia.

Hahaha, orang yang menghantar kematian telah berdatangan!

ejek Ong Bu-shia sambil tertawa nyaring.

Baru selesai gelak tertawanya, golok emas pedang perak telah menyerang tiba, Ong Bu-shia sama sekali tidak berkelit atau menghindar, dia menerobos masuk ke balik lapisan cahaya golok dan bayangan pedang itu, sepasang ujung bajunya dikebaskan berulang kali, plaak, plaaak dia pukul mundur gabungan golok emas dan pedang perak itu hingga tersingkir sejauh satu meter.

Tiba-tiba tubuhnya melambung ke tengah udara, melewati atas ujung golok dan mata pedang, dia meluncur langsung ke tengah kerumunan para piausu.

Celaka!

pekik Lui Sin dan Han Seng hampir berbareng, senjata mereka buru buru ditarik kembali lalu memburu musuhnya.

Begitu meluncur turun ke tanah, ke lima jari tangan kanan Ong Bu-shia dipentang bagai kaitan tajam, sreeetl dia cengkeram tenggorokan salah satu piausu yang berada paling dekat dengannya.

Tak ampun piausu itu tewas seketika, tubuhnya langsung diangkat ke udara dan diputar bagai gangsingan.

126 Dengan menggunakan mayat piausu itu, Ong Bu-shia merangsek maju lebih ke depan, dia sambut datangnya bacokan senjata kawanan piausu itu dengan mayat tersebut.

Tentu saja para piausu tak tega untuk membacok mayat rekan sendiri, siapa sangka baru saja senjata mereka ditarik balik, Ong Bu-shia telah melemparkan mayat tadi langsung menumbuk dada seorang piausu lainnya.

Timpukan mayat itu disertai tenaga dalam yang sangat kuat, ibarat tumbukan batu cadas yang keras, blaaam!

piausu yang dadanya tertumpuk itu langsung mencelat ke belakang sambil muntah darah segar.

Tubuhnya meluncur sejauh satu tombak lebih dan menumbuk diatas dinding rumah, tampaknya nasib orang itu lebih banyak celakanya daripada beruntung.

Merah membara sepasang mata Lui Sin, bentaknya.

Orang she-Ong, jelek jelek kaupun seorang kangou kenamaan, terhitung jagoan macam apa perbuatan brutalmu itu?

Ong Bu-shia tertawa seram.

Hahaha, biar kalian tahu rasa, kalau pengin hidup, ayoh cepat mundur dari sini!

Kawanan jago itu bukannya mundur, sebaliknya sambil mengayun kan senjata, diiringi bentakan keras serentak menerjang maju ke arah lawan.

Lui Sin dan Han Seng merangsek maju duluan, senjata mereka langsung diayunkan ke tubuh kakek ceking itu, tapi Ong Bu-shia tak ambil peduli, kembali dia menerjang ke tengah kerumunan piausu itu, satu sodokan sikut lagi lagi membuat seorang piausu muntah darah, tubuhnya mencelat jauh ke samping.

Merah berapi api sorot mata Han Seng melihat kebrutalan lawan, jeritnya.

Lihat pedang!

Mau dilihat pun bukan sekarang saatnya!

sahut Ong Bu-shia sambil tertawa dan mengigos.

Tua bangka celaka, terhitung enghiong hohan macam apa dirimu itu!

seru Lui Sin gusar.

Ong Bu-shia tertawa terbahak-bahak.

127 Hahaha, tua bangka celaka memang bukan enghiong hohan, oleh karena itulah aku akan melahap dulu orang orang itu.

Diiringi gelak tertawa seram, kembali tangannya mencengkeram tenggorokan seorang piausu.

Meskipun terancam bahaya maut, ternyata piausu itu sama sekali tidak menghindar, dia malah menyerang lebih kalap.

Disaat yang paling kritis itulah, mendadak sekilas cahaya pedang melintas lewat dari samping arena.

Ternyata serangan pedang dari Siau Jit.

Buru buru Ong Bu-shia menarik kembali ancamannya, sambil tertawa aneh teriaknya.

Orang she-Siau, jangan lupa, mereka datang untuk membuat perhitungan denganmu.

Itu urusan yang berbeda sahut Siau Jit.

Ooh...

aku hampir lupa, kau memang seorang hiapkek, seorang pendekar sejati ejek Ong Bu-shia.

Aku hanya tahu penyelesaian masalah harus urut, mana duluan mana belakangan, lebih baik kita selesaikan dulu perselisihan diantara kita berdua kata Siau Jit.

Bagus sekali!

Sementara pembicaraan berlangsung, kedua orang ini sudah bertarung hampir ratusan jurus lebih.

Serangan serangan pedang Siau Jit tajam bagai sambaran petir, sementara pukulan Ong Bu-shia menimbulkan deruan angin puyuh yang luar biasa, membuat ujung baju orang yang berada disisi arena ikut berkibar.

Lui Sin tarik napas dalam dalam, sambil mengayun golok emasnya dia menerobos maju, teriaknya.

Orang she-Siau, enyah kau dari situ!

Siau Jit, dengar itu ejek Ong Bu-shia sambil mengebaskan bajunya menangkis bacokan, orang lain ogah menerima maksud baikmu!

Seharusnya kitalah yang suruh mereka enyah dari situ!

balas Siau Jit sambil secara beruntun melancarkan tujuh belas tusukan.

128 Seketika Ong Bu-shia terdesak mundur sejauh tiga langkah, cepat kakek itu membentak, sambil melepaskan tiga pukulan dengan tangan kiri dan tiga pukulan dengan tangan kanan, dia merebut kembali posisinya sejauh tiga langkah.

Seorang piausu menggunakan kesempatan itu merangsek maju, tombaknya langsung ditusukkan ke tubuh si kakek.

Kurangajar, besar amat nyalimu!

bentak Ong Bu-shia, ujung baju kirinya dikebaskan, bagai sayatan golok dia babat gagang tombak, Kraaak!

seketika tombak yang meluncur tiba itu terbabat hingga kutung jadi dua bagian.

Sambil menjerit kaget piausu itu melompat mundur dari arena.

Kembali Ong Bu-shia menggulung batang tombak yang patah itu dengan ujung bajunya, kemudian dikebaskan, batang tombak itu bagai anak panah segera meluncur ke punggung piausu itu.

Siau Jit tahu bahaya, cepat dia maju sambil melepaskan satu babatan, Triiing!

sambitan batang tombak itu segera kena ditangkis hingga rontok jatuh.

Saat itulah Ong Bu-shia menarik tubuhnya sambil merendah.

Sreeeet!

bacokan golok emas dari Lui Sin menyapu lewat persis dari sisi lehernya.

Bacokan ini sungguh berbahaya sekali, namun Ong Bu-shia seakan sudah menduga sebelumnya, dalam keadaan kritis, paras mukanya sama sekali tidak berubah, tiba-tiba tangan kanannya dibalik kemudian balas mencekik tenggorokan Lui Sin.

Dia menghindar secara cepat dan balas menyerang dengan gerakan yang amat garang.

Sedemikian cepatnya serangan itu meluncur tiba, bagaimanapun Lui Sin mencoba menghindar, tampaknya sulit baginya untuk meloloskan diri.

Disaat kritis itulah lagi lagi tusukan pedang Siau Jit m enyambar tiba, secepat kilat menusuk pergelangan tangan kanan Ong Bu-shia.

Biarpun tusukan pedangnya tidak secepat pukulan lawan, namun tusukan itu sudah pasti akan menembusi urat nadi pergelangan tangan kanannya disaat dia selesai menyarangkan serangannya ke tenggorokan Lui Sin.

Dan apabila tusukan tersebut bersarang telak, niscaya Ong Bu-shia akan kehilangan tangan kanan untuk selamanya.

129 Tentu saja Ong Bu-shia tak sudi mempertaruhkan keutuhan tangannya hanya demi nyawa Lui Sin, pada hakekatnya dia tak pandang sebelah mata pun terhadap congpiautau perusahaan ekspedisi ini.

Dia berharap, andaikata harus kehilangan tangan, kehilangan tersebut harus dibayar mahal.

Oleh sebab itu dia segera kendorkan tangan sambil melepaskan sebuah sentilan dengan jari tengahnya, Criiing!

sentilan itu bersarang di punggung pedang.

Bersamaan dengan dilancarkannya sentilan itu, tangan kirinya membabat iga kanan lawan.

Cepat Siau Jit mengegos ke samping menghindarkan diri.

Lolos dari kematian, dengan perasaan terkejut bercampur ngeri Lui Sin segera berseru.

Terima kasih banyak atas bantuanmu!

Tak usah banyak adat sahut Siau Jit, kepada Ong Bu-shia serunya pula, lebih baik kita lanjutkan pertarungan diatas genting rumah!

Baik!

Ong Bu-shia rentangkan sepasang lengannya kemudian melambung ke tengah udara.

Siau Jit segera menyusul dari belakang.

Ke dua orang itu bagaikan dua ekor burung, dengan cepat melesat lewat dari wuwungan rumah dan meluncur keatas atap bangunan.

Menyaksikan kelihayan kedua orang jago itu, Lui Sin serta Han Seng hanya bisa berdiri tertegun sambil menarik napas dingin.

Apalagi kawanan piausu itu, mereka hanya bisa berdiri terbelalak dengan mulut melongo.

Sebenarnya apa yang telah terjadi dengan mereka berdua?

tiba-tiba Lui Sin bertanya.

Konon Siau Jit telah membunuh putra Ong Bu-shia sahut Han Seng.

Hah, ada kejadian seperti ini?

Berita tersebut sudah tersebar luas dalam dunia persilatan, seharusnya merupakan satu kenyataan.

130 Waah, besar amat nyali bocah muda itu!

Dalam kenyataan dia memang sangat mengejutkan sahut Han Seng sambil tertawa getir.

Sesudah berhenti sejenak, terusnya.

Oleh sebab itu aku curiga peristiwa yang menimpa Hong-ji sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan orang ini, bisa jadi ada sedikit kesalah pahaman dibalik kesemuanya itu.

Lui Sin termenung sambil berpikir sejenak, ujarnya kemudian.

Kalau ditinjau dari serangan pedangnya yang telah selamatkan jiwaku, memang seharusnya kuajak dia untuk berbicara sampai jelas sebelum menantangnya berduel.

Sejak awal siaute pun berpendapat begitu.

Entah dia masih bisakah balik dalam keadaan hidup tiba-tiba bisik Lui Sin.

Bu-shia beracun pembetot sukma penggaet nyawa bukanlah manusia sembarangan, dari caranya melancarkan serangan tadi, bisa terlihat betapa keji dan telengasnya dia, Cuma....

aku rasa nama besar si pedang pemutus usus Siau Jit sama sekali tidak berada dibawah kebesaran namanya!

Lantas apa yang harus kita lakukan sekarang?

Bicara dari kemampuan ilmu silat yang kita miliki, aku rasa bukan saja tak bakal membantu banyak, sebaliknya justru membuat Siau Jit tak bisa konsentrasi menghadapinya.

Jadi penonton pun tidak boleh?

Lebih baik kita putuskan sesuai dengan keadaan nanti.

Aaai!

Lui Sin menghela napas panjang, rasanya memang hanya bisa begitu.

Dia genggam goloknya semakin kencang.

ooOOoo Dengan gerakan cepat Ong Bu-shia melompat naik ke atap rumah dan berdiri tegak disitu dengan gerakan Kimrkie-tok-lip (ayam emas berdiri disatu kaki), biarpun angin kencang mengibarkan ujung bajunya, namun dia tetap berdiri kokoh bagaikan bukit Thay-san.

Siau Jit yang menyaksikan hal itu kontan memuji.

Kagum, kagum!

131 Tak pantas dikagumi sahut Ong Bu-shia sambil menurunkan kembali kakinya.

Sambil mengayunkan pedangnya, seru Siau Jit kemudian..Bagai anak panah terlepas dari busur, Ong Bu-shia merangsek maju, sepasang kepalannya melepaskan serangkai pukulan bagai bintang kejora.

Jurus serangan yang digunakan tak lain adalah jurus Liu-seng-gan-gwee (bintang kejora mengejar rembulan).

Sebetulnya gerakan jurus yang digunakan ini merupakan sebuah jurus yang amat sederhana, namun berada ditangannya, ternyata memancarkan daya kekuatan yang mematikan.

Siau Jit tak berani memandang enteng, pedangnya dibabat kedepan menyongsong datangnya sepasang kepalan itu.

Ditengah dengungan nyaring, cahaya pedangnya bagaikan petir yang berlapis lapis meluncur ke muka dengan hebatnya.

Ong Bu-shia mengigos ke samping menghindari ujung pedang musuh, kemudian sambil merendahkan badan sekali lagi dia hantam dada Siau Jit.

Tubuhnya bergerak cepat bagai kuda jempolan, serangan yang dilancarkan pun bagaikan sambaran petir.

Siau Jit tak berani berayal, semakin cepat kepalan musuh bergerak, makin cepat pula pedangnya menyambar, kecepatannya merubah jurus sedikitpun tidak berada dibawah kemampuan kakek ceking itu.

Puas, puas sekali!

teriak Ong Bu-shia nyaring, kepalan demi kepalan dilancarkan semakin gencar.

Kepalannya keras bagai martil besar, telapak tangannya tajam bagai mata golok, jarinya runcing bagai ujung pedang, nyaris seluruh bagian tang annya merupakan senjata tajam yang mematikan.

Bahkan bukan hanya sejenis senjata saja, tapi berbagai jenis senjata pembunuh yang mematikan.

Ditengah pertarungan yang berlangsung sengit, atap rumah tampak beterbangan di udara lalu mencelat hancur.

132 Tak selang berapa saat kemudian, hampir semua atap yang berada diseputar arena telah tersapu lenyap.

Tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang amat nyaring, rupanya tiang belandar tak kuat menahan tekanan yang timbul hingga patah jadi berapa bagian, tak ampun kedua orang itupun sama-sama terjerumus ke bawah bangunan.

Asap, debu dan pasir beterbangan memenuhi angkasa, suasana jadi sangat kalut.

Kawanan piausu yang menonton jalannya pertarungan dari jalan raya sama sama terkesima dibuatnya, bukan hanya mereka, bahkan Lui Sin maupun Han Seng ikut berdiri menjublak.

Bagaimana kita sekarang?

bisik Lui Sin kemudian sambil menarik napas dingin.

----------------------------------------------------------------------------???

----------------------------------------------------------------------------ALAM semakin kelam, angin berhembus makin kencang, begitu dingin udara malam itu seakan sayatan dari sebilah golok tajam.

Siau kecil terdengar Suma Tang-shia berbisik, ada satu hal entah kau sempat memperhatikannya atau tidak?

Apakah golok pembunuh itu?

tanya Siau Jit.

Ada apa dengan golok pembunuh?

Ditinjau dari posisi mulut luka, tampaknya jauh lebih tipis daripada luka bacokan pada umumnya , bahkan posisinya melengkung Tepat sekali, lalu?

Berbicara soal ketajaman, tak disangkal ketajamannya memang jauh dari ketajaman golok biasa Atau dengan perkataan lain, senjata itu pasti sebilah golok mestika!

ujar Suma Tang-shia.

133 Setelah berhenti sejenak dan menghela napas, terusnya.

Menurut apa yang kuketahui, golok mustika dalam dunia persilatan yang cukup tersohor.

jumlahnya mencapai sembilan belas bilah, diantaranya sebagian besar berbentuk tipis, bila kita melakukan analisa dan pelacakan dari hal ini, bisa jadi akan diperoleh hasil Aku rasa tidak segampang itu Tentu saja tidak gamang, apalagi pemilik golok golok tersebut hamir semuanya merupakan jago-jago kelas satu dari dunia persilatan Yaa, bukan hanya lihay, kebanyakan memiliki perangai dan watak yang sangat aneh, salah salah batok kepala bisa terpisah dari badan Suma Tang-shia tertawa.

Padahal tak bisa salahkan mereka seratus persen, siapa pun itu orangnya, bila memperoleh golok mestika yang tak ternilai harganya, watak mereka pasti akan berubah jadi aneh Betul, siapa pun pasti akan berusaha untuk menjaga diri, bila setiap saat musti tegang dan hidup dalam kecurigaan, lambat laun watak mereka tentu akan berubah jadi banyak curiga dan gamang marah ucap Siau Jit.

Padahal tidak setiap orang yang datang selalu bermaksud mengincar golok mestika miliknya, bicara dari dia pribadi, memangnya dengan mempunyai golok, lantas dia bisa menjagoi kolong langit tanpa tanding?

Yaa, tentu saja tidak Siau Jit menggeleng.

Anehnya, kenapa hanya segelintir manusia yang bisa memahami teori semacam ini Justru karena itulah muncul banyak manusia yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sebilah golok mustika atau pedang mustika sebagai senjata andalan Kalau begitu kau harus hati-hati Kenapa harus hati-hati?

tanya Siau Jit keheranan.

Bukankah pedang pemutus ususmu terhitung sebilah pedang mustika?

kata Suma Tang-shia.

134 Untungnya hingga sekarang masih belum ada orang berani mengincar pedangku ini Suma Tang-shia segera tertawa.

Mungkin mereka tahu, biarpun ada pedang pemutus usus ditangan, bila tidak memahami ilmu pedang pemutus usus, senjata itu sama sekali tak ada gunanya Semisal benar benar terjadi, berarti aku harus bersikap lebih waspada Jadi sekarang kau mulai kuatir kalau mereka sedang mengincar pedangmu?

Ehmm!

Kembali Suma Tang-shia tertawa cekikikan.

Sekalipun kau tak pandai ilmu pedang pemutus usus, sekalipun pedang pemutus usus tak ada ditanganmu, mereka toh tetap mengincar dirimu, karena lelaki setampan kau memang tak banyak jumlahnya di dunia ini Ahh, lagi-lagi toaci sedang menggoda aku Aku bicara sejujurnya Siau Jit menghela napas.

Padahal kaupun tak perlu menghela napas kata Suma Tang-shia, sebab kejadian seperti ini bukan termasuk kejadian buruk Siau Jit segera mengalihkan pokok pembicaraan, katanya.

Toaci, menurut pandanganmu, benarkah kita bisa mulai penyelidikan dari hal tersebut?

Aku rasa tak ada keharusan untuk berbuat demikian Boleh saja kalian berdua ogah repot, aku orang she-Lui tak akan menyerah dengan begitu saja sela Lui Sin tiba-tiba.

Masalahnya bukan ogah repot atau tidak Suma Tang-shia menjelaskan.

Bukankah nona sendiri yang bilang, bila penyelidikan dimulai dari bidang tersebut, siapa tahu bakal peroleh hasil seru Lui Sin.

Tapi sekarang aku telah berpikir lebih jernih, jagoan pengguna golok seharusnya sama sekali tak ada hubungannya dengan peristiwa ini Seharusnya?

kembali Lui Sin tertegun, atas dasar apa nona begitu yakin?

135 Sedikit banyak aku cukup mengetahui keadaan mereka sekarang, ada berapa orang jagoan yang dikabarkan sudah mati, ternyata masih tetap hidup didunia ini, bahkan tinggal tak jauh dari sini, mereka muncul kembali ke dalam dunia persilatan dengan nama pendekar Setelah berhenti sejenak, lanjutnya.

Dari sekian banyak jago golok, salah satu orang yang tinggal paling dekat dari sini pun berjarak ratusan li dari tempat ini Dia berpaling kearah Siau Jit, lalu terusnya.

Daripada melacak dari bidang ini, kenapa tidak melacak dati tujuan yang mereka lakukan?

Tujuan?

Siau Jit mulai berpikir.

Walaupun peristiwa ini seolah hasil karya orang gila, namun mana ada orang gila yang bisa bertindak begini rahasia dan rapi?

Kalau rencana yang begini sempurna bisa dia lakukan, ini berarti orang itu tidak edan dan pasti merupakan sebuah akal muslihat Menurut toaci, apa akal muslihatnya?

Semula kusangka tujuannya adalah mengkambing hitamkan dirimu, tapi sesudah dipikir lebih cermat, rasanya kemungkinan ini kecil sekali Atas dasar apa kau berkata begitu?

Bagi manusia macam kau, pergi ke mana saja kehadiranmu selalu mencolok mata dan menarik perhatian orang, jadi mustahil pembunuhan ini merupakan hasil karyamu, tidak terlalu susah bagimu untuk mencari alibi, tak sulit membuktikan kalau kau tak pernah hadir di tempat kejadian, dan seharusnya pihak lawan menyadari akan hal itu ......

Setelah berhenti sejenak, dia berpaling dan menatap Lui Sin dan Han Seng sekejap, lanjutnya.

Aku yakin Lui dan Han enghiong bukanlah manusia yang tak pakai aturan Merah padam selembar wajah Lui Sin karena jengah, sementara Han Seng mendeham berulang kali kemudian baru berkata.

Yang lebih penting lagi, bila ingin mengandalkan kemampuan kami berdua, sudah jelas tak akan mampu menandingi saudara Siau, jadi dia tak ada alasan mencari gara gara dengan kami berdua Itulah sebabnya aku percaya peristiwa ini sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan Siau kecil Tapi.....

bagaimana dengan surat dari Siau-heng yang ditujukan kepada putriku............

136 sela Lui Sin.

Tentu saja surat itu palsu jelas Suma Tang-shia, tujuannya tak lain karena hendak memancing putrimu agar mau datang ke kuil kuno Thian-liong-ku-sat Tapi aku belum pernah dengar kalau putriku pernah berkenalan dengan saudara Siau kembali.

Lui Sin berkata dengan kening berkerut.

Aku pernah bertemu satu kali dengan putrimu Siau Jit segera menjelaskan.

Sekali sudah lebih dari cukup seru Suma Tang-shia.

Siau Jit tertegun.

Maksud toaci ......

Aku yakin tak seorang wanitapun yang dapat melupakan dirimu setelah bertemu satu kali, jika gadis itu pernah bertemu muka lalu tiba-tiba menerima surat undangan, mungkin tak ada gadis yang tak mau memenuhi undangan itu Siau Jit segera terbungkam, tak sanggup bicara.

Sementara itu Suma Tang-shia telah berpaling kearah Lui Sin sambil berkata.

Aku percaya putrimu pun tidak terkecuali Kali ini Lui Sin tidak membantah, dia hanya membungkam diri.

Kembali Suma Tang-shia menyapu sekejap tumpukan mayat yang berserakan ditanah, kemudian katanya.

Berbicara dari ilmu silat yang dimiliki pembunuh itu, bisa saja dia bunuh kawanan jago itu terlebih dulu kemudian baru menghadapi putrimu, dan s eharusnya hal ini bisa dia lakukan dengan gamang sekali, tapi nyatanya dia lebih suka memancin g putrimu agar pergi lebih dulu meninggalk an tempat ini kemudian baru melakukan pembantaian, hal ini membuktikan kalau dia tak ingin pu trimu menderita celaka atau kerugian apapun Jadi maksudmu, tujuan sebenarnya dari si pembunuh adalah mendapatkan putriku tanya Lui Sin.

Semestinya begitu Kenapa?

137 Hahaha, kalau soal ini mah musti ditanyakan langsung pada yang bersangkutan Suma Tang-shia tertawa cekikikan.

Lui Sin mendelong, dia hanya bisa tertawa getir.

Disekitar tempat inipun terdapat seorang jago golok tiba-tiba terdengar Han Seng menyela.

Siapa?

tanya Lui Sin tanpa sadar.

Semestinya toako masih ingat akan hal ini Lui Sin tertegun, berapa saat kemudian jeritnya.

Kelelawarl setelah berhenti sejenak, tegasnya, kau maksudkan si Kelelawar?

Han Seng mengangguk.

Kelelawar yang mana?

tanya Siau Jit.

Tapi setelah berteriak, dia seakan teringat akan sesuatu, serunya agak tercengang.

Apakah kau maksudkan si Kelelawar tanpa sayap?

Rasanya dalam dunia persilatan hanya terdapat satu Kelelawar Aku dengar dia adalah seorang jago golok, senjata yang digunakan adalah golok Kelelawar, sebilah golok mustika yang tajamnya luar biasa kata Siau Jit.

Betul, golok Kelelawar tajam sekali, selain tipis, konon mampu membelah besi baja bagai membelah tahu!

Jangan jangan .........

Persis seperti jenis manusia yang kalian berdua maksudkan Han Seng mengangguk, hanya sayangnya............

Belum selesai dia berkata, Suma Tang-shia telah menyambung.

Kelelawar tanpa sayap sudah tak ada lagi di dunia ini Sudah mati?

tanya Siau Jit.

Benar, sudah mati banyak tahun Kembali Han Seng mengangguk.

138 Lui Sin segera menambahkan.

Dia tewas karena dikerubuti delapan orang jago lihay dari Kanglam, dalam pertempuran itu ada tujuh jago yang tewas ditempat, tinggal seorang yang hidup, dia adalah Suma Tiong-goan Dialah ayahku kata Suma Tang-shia.

Lui Sin serta Han Seng tertegun, kemudian buru buru mereka berseru.

Maaf, maaf Suma Tang-shia tertawa hambar.

Dalam pertempuran ini, luka yang diderita ayahku pun sangat parah katanya, tak sampai setengah tahun kemudian, beliau menghembuskan napas terakhir Benarkah Kelelawar tanpa sayap begitu lihay?

tanya Siau Jit.

Suma Tang-shia mengangguk.

Nama besarnya waktu itu cukup membuat para jago persilatan berubah wajah, gabungan tenaga delapan jago paling lihay dari Kanglam pun harus berakhir begitu tragis, bisa dibayangkan betapa lihaynya ilmu silat orang itu Aku dengar Kelelawar tanpa sayap gemar sekali main perempuan, waktu itu ada banyak gadis yang dia culik dan perkosa ujar Siau Jit.

Benar, apa yang kau dengar memang kenyataan Suma Tang-shia membenarkan.

Untung saja dia sudah mamus dikerubuti delapan jagoan dari Kanglam seru Lui Sin sambil mengusap jidatnya, kalau tidak, sekarang aku benar benar merasa kuatir Sambil menghela napas ujar Han Seng pula.

Justru karena siaute merasa bahwa sepak terjang orang itu mirip sekali dengan tingkah laku si Kelelawar dimasa silam, maka aku jadi teringat kembali akan dirinya Tadi pun aku sempat teringat akan orang ini ujar Suma Tang-shia, tapi setelah yakin kalau mustahil dilakukan orang ini, maka nama tersebut tak sampai kusinggung Karena orang ini sudah mati?

tanya Lui Sin, dia hidup sebagai orang bejad, setelah mati pun akan menjadi setan bejad, tapi kalau toh sudah menjadi setan, biar akan melakukan kejahatan lagi pun mustahil akan dilakukan ditengah hari bolong Aaah, masa toako percaya juga dengan segala cerita tahayul dan mistik?

tanya Han Seng keheranan.

139 Tidak percaya Lui Sin menggeleng, tapi selain Kelelawar tanpa sayap, apakah terpikir olehmu orang lain?

Tidak Han Seng tertawa getir.

Lui Sin menghela napas panjang.

Aaai, sejujurnya aku berharap peristiwa ini merupakan hasil karya Kelelawar tanpa sayap, sebab dengan begitu Hong-ji masih punya harapan hidup Sekalipun tak ada sangkut pautnya dengan Kelelawar tanpa sayap, aku rasa seharusnya putrimu tetap selamat hibur Suma Tang-shia.

Betul Han Seng membenarkan, jika bajingan ini berniat mencelakai Hong-ji, bisa saja dia lakukan disegala tempat, kenapa musti memancingnya untuk datang ke kuil kuno Thian-liong-ku-sat?

Berkilat sepasang mata Suma Tang-shia, tiba-tiba katanya.

Sekarang juga kita harus berkunjung ke kuil Thian-liong-ku-sat Kuil Thian-liong-ku-sat terletak di mulut hutan murbei, sejenak lagi kita akan sampai disana!

Han Seng menerangkan, cepat dia melompat naik ke punggung kudanya.

Waktu itu Lui Sin sudah tak dapat mengendalikan sabarnya lagi, dia melompat naik keatas kudanya lalu dilarikan kencang.

Suma Tang-shia melompat masuk pula ke dalam keretanya, tanpa diperintah lagi, kereta itu ikut meluncur ke depan.

Buru buru Siau Jit ikut melomat naik keatas punggung kudanya.

Suara roda kereta pun kembali bergema membelah keheningan malam.

ooOOoo Angin malam berhembus kencang, menimbulkan perasaan gundah dalam hati setiap orang.

Walaupun malam sudah kelam hingga tak nampak daun murbei yang merah disepanjang jalan, namun mereka dapat merasakan suasana sendu ditengah puncak musim gugur ini.

Tak lama kemudian kereta kuda sudah keluar dari jalur jalan raya.

140 Bagi Siau Jit, walaupun sudah berapa kali dia melewati kota Lok-yang, namun tidak terlalu hapal dengan situasi diluar kota, karena itu sepanjang jalan dia hanya mengintil terus dibelakang Lui Sin maupun Han Seng.

Sebaliknya bagi Lui Sin dan Han Seng, biarpun sudah banyak tahun tidak mengawal barang, namun mereka sangat hapal dan menguasahi sekali dengan situasi diseputar Lokyang.

Tentu saja kuil kuno Thian-liong-ku-sat tak mungkin lenyap dengan begitu saja dari tempatnya semula.

Dibawah cahaya rembulan, kuil kuno itu tampak lebih menyeramkan.

Sambil menghentikan kudanya didepan gerbang kuil, gumam Lui Sin dengan kening berkerut.

Kenapa bangunannya jadi begini bobrok dan terbengkalai?

Sementara Siau Jit telah menghentikan pula kudanya sambil tertanya.

Apakah bangunan ini adalah kuil kuno Thian-liong-ku-sat?

Lui Sin manggut-manggut.

Ditempat ini hanya ada sebuah bangunan kuil, yakni Thian-liong-ku-sat Lalu kepada Han Seng katanya.

Jite, ketika kita lewat disini tempo hari, bukankah bangunan kuil ini masih tampak bagus?

Toako, mungkin kau sudah lupa, terakhir kali kita melewati tempat ini sudah berlangsung banyak tahun berselang sahut Han Seng sambil tertawa getir.

Lui Sin berpikir sejenak, kemudian manggut-manggut.

Ehmm, memang sudah lima-enam tahun berselang, aaaai, waktu berlalu begitu cepat Sampai disini, tak tahan dia menghela napas panjang.

Yaa, kuil kuno yang tak pernah diperbaiki dan dibiarkan terbengkalai terus, lama kelamaan juga bakal roboh sendiri Han Seng menimali.

Sementara pembicaraan berlangsung, Suma Tang-shia sudah turun dari keretanya, sambil berjalan tegurnya.

Kenapa kalian masih berdiam diri disana?

Tampaknya aku memang sudah semakin tua 141 dengan kening berkerut Lui Sin melompat turun dari kudanya, reaksi ku terasa semakin lamban saja Dengan langkah lebar dia berjalan masuk terlebih dulu ke dalam ruang kuil.

Kuatir terjadi hal yang tak diinginkan, buru buru Han Seng mengintil dari belakang, sedang empat orang piausu dengan membawa lampion bertindak paling depan.

Siau kecil bisik Suma Tang-shia kemudian sambil berpegangan bahu Siau Jit, mari kita pun masuk ke dalam Hati hati langkahmu!

sahut Siau Jit sambil mengangguk.

Suma Tang-shia tertawa geli.

Memang kau anggap aku sudah setua nenek nenek berusia enam, tujuh puluh tahunan?

Bukan begitu, banyak semak dan onak liar dalam kuil itu, hati hati kalau sampai tertusuk Bagaimana pun kau memang saudaraku yang paling baik, jangan takuti aku dengan ular Suma Tang-shia tertawa merdu.

Belum habis ia berkata, Lui Sin yang berada didepan telah menghardik keras.

Hati hati, dibalik semak terdapat ular berbisa!

Seekor ular yang merambat kakinya seketika kena ditendang hingga mencelat ke udara, berbarengan itu golok emasnya dicabut keluar.

Tampak cahaya tajam melintas lewat, ular itu terbabat jadi dua bagian dan mencelat ke samping.

Menyaksikan hal itu Suma Tang-shia menjerit kaget, kemudian menyusupkan badannya ke dalam pelukan Siau Jit.

Baru pertama kali ini Siau Jit berdiri begitu dekat dengan Suma Tang-shia, ia dapat merasakan tubuhnya yang lembut, halus tapi padat berisi serta bau harum seorang dara perawan.

Dalam waktu sekejap perasaan hatinya gejolak keras, jantung terasa berdebar debar.

142 Padahal ia sudah kenal Suma Tang-shia banyak tahun, namun baru kali ini timbul perasaan semacam itu.

Selama ini dia menaruh perasaan hormat terhadap Suma Tang-shia selain perasaan persaudaraan, rasa hormat dan sayangnya antara seorang kakak dengan adik.

Bahkan boleh dibilang selama ini dia tak pernah menganggap Suma Tang-shia sebagai seorang wanita.

Tapi sekarang, pada hakekatnya ia dapat merasakan suatu perasaan aneh, merasa bahwa Suma Tang-shia adalah seorang wanita tulen.

Begitu kuat perasaan tersebut mencekam hatinya.

Disamping keheranan diapun merasa sedikit bergidik, ngeri, sesudah berhasil menenangkan diri, ujarnya.

Dibalik semak memang benar-benar ada ular berbisa Kalau begitu kau harus hati-hati melindungiku bisik S uma Tang-shia sambil menghela napas.

Dia melanjutkan kembali perjalanannya dengan masih bersandar dalam rangkulan Siau Jit.

Kini perasaan tegang yang mencekam Siau Jit sudah teratasi, ia menjadi tenang kembali, dengan tangan kiri merangkul bahu Suma Tang-shia, tangan kanan menggenggam pedang, selangkah demi selangkah dia melanjutkan perjalanan dengan sangat hati hati.

Angin berhembus kencang menggoyangkan rerumputan, suara gemerisik yang aneh menimbulkan suasana yang makin menyeramkan.

Siau Jit dapat merasakan tubuh Suma Tang-shia sedang gemetar, bisiknya kemudian.

Toaci, bagaimana kalau kau tinggal diluar kuil saja?

Kau sangka toaci takut?

Suma Tang-shia balik bertanya.

Sebelum Siau Jit sempat menjawab, Suma Tang-shia telah melanjutkan kembali perkataannya.

Selama kau berada disisiku, kenapa toaci musti takut?

Dia menempel semakin rapat ke tubuh Siau Jit.

143 Perkataan semacam ini bukan untuk pertama kali didengar Siau Jit, tapi hanya kali ini dia merasakan jantungnya berdebar sangat keras.

Dalam nada bicaranya kali ini seolah telah ketambahan sesuatu, sesuatu yang aneh.

Terdengar perempuan itu berkata lebih lanjut.

Berada disampingmu, paling tidak bisa mendatangkan perasaan aman, tenteram bagiku, sebaliknya kalau suruh aku menunggu diluar kuil, rasanya ......

rasanya...

bertambah menyeramkan Baru selesai dia berbicara, mendadak dari arah depan berkumandang suara kebasan yang sangat aneh, disusul munculnya berapa gerombolan benda hitam yang terbang keluar dari semak belukar.

Sambil membentak nyaring Lui Sin mengayunkan golok emasnya, Ciiiit!

gumpalan hitam itu seketika terbelah jadi dua bagian.

Benn....benda apa itu?

bisik Suma Tang-shia dengan nada gemetaran.

Kelelawar!

nada jawaban Lui Sin pun kedengaran sedikit gemetar.

Betul betul seekor Kelelawar yang sangat besar sambung Han Seng, selama hidup baru pertama kali ini aku menyaksikannya Waktu itu dia telah meloloskan pedangnya dan secepat kilat melepaskan sebuah tusukan.

Tusukan itu dengan tepat menembusi tubuh seekor Kelelawar yang berada ditengah, kelelawar itu masih berusaha meronta, berusaha mengebaskan sayap dengan sekuat tenaga.

Darah mulai meleleh keluar, menetes lewat sisi mata pedang yang tajam.

Kembali Han Seng menggetarkan pedang peraknya, Ngunggg!

seekor Kelelawar dengan bercucuran darah meloloskan diri dari kurungan cahaya pedang dan terbang tinggi ke angkasa.

Melihat itu sambil menghela napas katanya lagi.

Seandainya Kelelawar tanpa sayap bukan dikabarkan telah mati, pada hakekatnya aku merasa yakin kalau kesemuanya ini merupakan hasil karyanya Lui Sin segera tertawa terbahak-bahak.

144 Lumrah kalau banyak Kelelawar hidup dalam kuil yang terbengkalai, apa yang musti diherankan?

Benar juga perkataan itu Maka mereka berdua pun kembali beranjak, melanjutkan langkahnya menuju ke ruang utama kuil kuno.

Dibawah cahaya obor, tampak sarang laba laba memenuhi setiap sudut ruangan, tak nampak sesosok bayangan manusia pun disana.

Tanpa sadar Han Seng mendongakkan kepalanya, tapi ia segera menjerit kaget.

Kelelawarl Puluhan ekor Kelelawar bergelantungan disepanjang tiang penglari gedung, ada berapa ekor diantaranya yang beterbangan dan kabur menuju ke luar ruangan.

Siau Jit memandang sekejap ke langit langit ruangan lalu memandang pula ke lantai, serunya cepat.

Coba lihat, dilantai terdapat bekas kaki Ketika semua orang mengalihkan pandangan matanya, benar saja, diatas lantai yang penuh debu tertera dua baris bekas telapak kaki.

Lihat, ada bekas kaki laki, ada pula bekas kaki perempuan Suma Tang-shia menambahkan.

Yang perempuan pasti Hong-ji, tapi siapa yang lelaki itu?

tanya Lui Sin.

Tidak mungkin bekas kaki saudara Siau jawab Han Seng.

Jite, atas dasar apa kau berkata begitu yakin?

Toako, apakah kau tidak perhatikan kalau bekas kaki yang ditinggalkan saudara Siau sama sekali berbeda dengan bekas kaki lelaki pada umumnya Kini Lui Sin baru memperhatikan, katanya kemudian setelah menghela napas.

Untung saja muncul Ong Bu-shia yang membuat keon aran, coba kalau tidak, pertarungan habis-habisan antara kita bertiga pasti akan berakhir tragis dan konyol, bikin tertawa orang lain saja Urusan sudah lewat, lebih baik tak usah cianpwee pikirkan lagi sela Siau Jit.

Kemudian setelah berhenti sejenak, tambahnya.

Lebih baik kita lakukan pengejaran dengan mengikuti bekas telapak kaki itu 145 Tanpa banyak bicara lagi Lui Sin merebut sebuah lamion dari tangan seorang piausu kemudian melakukan pengejaran dipaling depan.

Bekas telapak kaki itu langsung menuju ke ruang belakang kuil.

Rombongan jago itupun menelusuri serambi panjang, mengikuti bekas telapak kaki yang tertinggal.

Disepanjang lantai serambi tertera dua baris telapak kaki, sementara diatas tiang belandar penuh bergantungan Kelelawar dalam jumlah banyak.

Dimana cahaya lentera memancar lewat, kawanan Kelelawar itu beterbangan karena kaget.

Kali ini, meski Han Seng tidak bersuara lagi, namun perasaan curiga dan keheranan yang mencekam hatinya makin menebal, begitu pula dengan Lui Sin, ia tampak semakin cemas bercampur panik.

Siau Jit sendiripun tampak amat serius.

Setelah kejadian berkembang jadi begini, kendatipun semuanya membuktikan kalau peristiwa itu tak ada sangkut paut dengan dirinya, namun bukan berarti dia dapat cuci tangan dengan begitu saja.

Pada dasarnya lelaki ini memang memiliki rasa ingin tahu yang sangat kuat, sedang masalah yang dihadapi sekarang tampak begitu rahasia dan penuh misterius, hal ini semakin membangkitkan rasa ingin tahunya.

Tak bisa disangkal lagi sasaran utama dari sang pembunuh adalah Lui Hong, dari penuturan Lui Sin serta Han Seng dapat diketahui bahwa Lui Hong bertemperamen tinggi, untuk membunuhnya jelas lebih gampang daripada menculiknya.

Sudah jelas orang ini tidak ingin Lui Hong mengalami gangguan apapun, itulah sebabnya ia mencatut namanya dengan memancing Lui Hong meninggalkan rombongan pengawalan barang.

Sedang tujuan utamanya membunuh orang tak lain karena dia ingin menghilangkan saksi dan bukti.

Dalam kenyataan Ciu Kiok hanya terluka dan tidak sampai mati, tak disangkal kejadian ini merupakan satu kemukjijatan, justru karena itu pula mereka baru dapat mendatangi kuil kuno Thian-liong-ku-sat.

146 Kalau dilihat dari bekas telapak kaki yang tertinggal, kemungkinan besar Lui Hong telah bertemu dengan orang itu lalu mengikuti orang tersebut menuju ke ruang belakang.

Itu berarti mereka berdua saling mengenal, kalau tidak meski bekas telapak kaki terdapat dua pasang, seharusnya mereka berjalan saling mengintil.

Dalam posisi seperti ini, semestinya nona Lui sudah seharusnya merasakan gelagat yang tidak beres.

Tak tahan Siau Jit menghela napas panjang.

Selama ini Suma Tang-shia hanya membungkam diri, seakan sedang memikirkan sesuatu, setelah mendengar helaan napas Siau Jit, ia baru berkata.

Siau kecil, tampaknya nona Lui sangat kesemsem dengan dirimu Toaci, jangan bergurau seru Siau Jit tertawa getir.

Memang salah perkataanku?

Coba berganti orang lain yang mengundangnya datang kesitu, biar mau datangpun belum tentu ia datang seorang diri, seandainya sendirianpun, setelah tiba disini seharusnya dia langsung menemukan hal hal yang mencurigakan dan segera mundur dari tempat ini Mungkin saja ia sudah tak sempat berbuat begitu Kalau dibilang satu pertarungan sengit telah terjadi, mana mungkin bekas telapak kaki yang tertinggal tampak begitu teratur dan rapi?

Ehm, benar juga perkataanmu itu Menurut pendapatku, kemungkinan besar lantaran dia melihat sederet bekas telapak kaki itu dan mengira itu bekas kakimu, menyangka kau telah menantinya di ruang belakang kuil, maka dia pun menuju ke belakang mengikuti bekas kaki yang dijumpai Kemungkinan besar memang begitu Sementara pembicaraan berlangsung, sampailah mereka diujung serambi, didepan sana merupakan sebuah halaman luas dengan rumput ilalang dan semak yang amat lebat.

Selewat halaman itu merupakan bangunan kuil yang telah roboh tinggal puing berserakan.

147 Disitulah letak ruang belakang kuil kuno Thian-liong-ku-sat, tempat dimana Lui Hong terjebak dan masuk perangkap.

Sebelum meninggalkan tempat itu, Kelelawar tanpa sayap telah merobohkan seluruh ruangan kuil itu hingga ambruk dan hancur, itu berarti semua bekas pertarungan, semua petunjuk yang tertinggal ikut tertutup dibalik puing bangunan yang roboh.

Dipandang dari sudut mana pun, tempat itu tak lebih hanya berupa sebuah bangunan roboh, siapa pun tak bakal curiga kalau dibawah puing bangunan terdapat ruang rahasia bawah tanah yang lebih menyeramkan daripada neraka jahanam.

Lui Sin menghentikan langkahnya diujung serambi, gumamnya.

Bekas kaki terhenti sampai disini, selanjutnya mereka pasti melewati halaman dengan semak lebat itu............

Tapi sebenarnya dia hendak ke mana?

tanya Han Seng.

Diseberang sana merupakan sebuah bangunan kuil yang sudah roboh, tak ada alasan dia pergi ke sana Rumput ilalang dan semak yang tumbuh dihalaman sini jauh lebih tinggi dan lebat daripada didepan sana ujar Suma Tang-shia, andaikata orang yang mengundangnya bersembunyi dibalik semak lalu membokongnya secara tiba-tiba, hal ini bisa dia lakukan dengan mudah sekali Mendengar itu Lui Sin segera berkerut kening.

Maksud nona, orang itu turun tangan disini lalu membawa hong-ji pergi dari tempat ini?

tanya Han Seng.

Suma Tang-shia mengangguk.

Tempat ini jelas bukan tempat persembunyian, ini berarti tak mungkin ada orang yang tinggal disini katanya.

Itulah sebabnya lapisan debu ditempat ini amat tebal Siau Jit menambahkan.

Han Seng menghela napas panjang.

Aaai, bicara soal kuil kuno, hanya disinilah tempatnya keluhnya murung.

148 Setelah menyapu sekejap sekeliling tempat itu, tak tahan kembali dia menghela napas panjang.

Tiba-tiba Lui Sin melompat turun ke tengah halaman, teriaknya keras keras.

Hong-ji .............

Ditengah keheningan malam, suara teriakan itu kedengaran nyaring sekali dan bergaung sampai ke tempat yang jauh, namun tiada jawaban.

Lui Sin tidak berteriak untuk kedua kalinya, karena teriakan pertama sudah lebih dari cukup, untuk sesaat dia hanya bisa berdiri termangu tanpa bergerak.

Sepasang tangannya mulai gemetar, menyusul kemudian sekujur badannya ikut gemetar.

Lampion yang berada dalam genggamannya tampak bergetar keras, cahaya pucat yang memancar diwajahnya membiaskan raut muka yang putih tanpa rona darah.

Cepat Han Seng menyusul ke sampingnya sambil menghibur.

Toako, Hong-ji panjang usia dan selalu dilindungi Thian, aku rasa meski dia terjebak ditangan orang jahat, nyawanya tak bakal terancam Lui Sin tertawa sedih.

Dalam keadaan seperti ini, apa gunanya kau berusaha menghiburku?

Han Seng terbungkam, tak sanggup berkata.

Kembali Lui Sin melanjutkan.

Mati hidup ada ditangan Thian, seandainya Hong-ji kehilangan nyawa pun aku tak bisa berbuat apa-apa Dalam keadaan seperti ini ternyata dia masih mampu tertawa, katanya lagi sambil menepuk bahu Han Seng.

Toako mu sudah puluhan tahun hidup bermandikan darah, mati hidup sudah bukan ganjalan lagi bagiku, saudaraku, kau tak usah kelewat kuatir Han Seng manggut-manggut.

Andaikata Hong-ji benar benar menjumpai mara bahaya, kita berdua segera pergi mencari pembunuh itu dan membuat perhitungan janjinya.

Memang seharusnya begitu Lui Sin tertawa tergelak, nada suaranya sangat menyedihkan.

Baca Juga: Kisah Tiga Naga Sakti Kho Ping Hoo

Baca Juga: Perawan Lembah Wilis 9

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert