Ceritasilat Novel Online

Ilmu Ulat Sutera 6

Eps 6 Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying

Baca online Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying

Cersil Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying.

Bu Tong liok kiat hasil curian dilatih lagi agar matang.

Hujan, Angin, Geledek maupun Kilat diamanatkan untuk bersungguh-sungguh.

Sama sekali tidak boleh ragu.

Thian ti berhadapan dengan masing-masing dari mereka seperti musuh yang sesungguhnya.

Dengan demikian baru dapat diketahui apakah Thian ti sudah boleh diandalkan untuk menghadapi lawan yang tangguh.

Tubuh saling berkelebat.

Angin menderu-deru.

Golok mengeluarkan suara bergemuruh setiap kali mengincar sasarannya.

Hujan jarum memenuhi angkasa.

Pedang kilat menyambar-nyambar.

Thian ti puas sekali.

Berkali-kali dia tertawa terbahak-bahak.

Akhirnya dia mengibaskan tangan dan meminta agar mereka berhenti.

"Bagus sekali! Tampaknya ilmu silat kalian tidak mundur malah maju pesat,"

Katanya dengan wajah berseri-seri. Hujan tertawa merdu.

"Masih jauh kalau dibandingkan dengan kau orang tua."

Thian ti semakin gembira. Tawanya semakin keras.

"bagaimana kalau dibandingksan dengan Bu Tong liok kiat?"

Tanya Geledek tiba-tiba. 600

"Masih kalah satu tingkat."

Suara tawa Thian ti sirap seketika.

"Lebih jauh lagi kalau dibandingkan dengan Tian can kiat."

Geledek merasa kesal sekali.

"Pernahkah kalian bergabung menjadi satu barisan dan menghadapi lawan sekaligus?"

Tanya Thian ti. Angin menggelengkan kepalanya.

"Belum pernah. Ilmu yang kami pelajari berasal dari aliran yang berbeda, bagaimana dapat digabungkan menjadi suatu barisan?"

"Tidak salah,"

Tukas Hujan.

"Apalagi kalau aku melemparkan senjata rahasia, yang lain langsung menyingkir."

Thian ti tersenyum lebar.

"Apakah senjata rahasiamu itu diharuskan jatuh seperti hujan dan memercik kemana-mana?"

Tanyanya tenang. Hujan semakin merenungi sesuatu.

"Angin pernah mengatakan bahwa aku boleh menggunakan Jit amgi dari Bu Tong pai lalu digabungkan dengan ilmu senjata rahasia yang kupelajari untuk menutupi kekuranganku selama ini,"

Sahutnya.

"Apa yang dikatakan olehnya memang benar!"

Hujan tersenyum simpul.

"Kalau begitu aku harus meminta petunjuk dari kau roang tua."

Thian ti mengelus jenggotnya sambil tersenyum. 601

"Mulai besok aku akan menurunkan Bu Tong liok kiat kepada kalian. Dan cari cara untuk membentuk sebuah abrisan yang terdiri dari Hujan, Angin, Geledek dan Kilat. Dengan demikian kita mempunyai kekuatan tersendiri dalam menghadapi musuh,"

Katanya dengan bangga. Angin menganggukkan kepalanya.

"Tampaknya kau orang tua sudah mempunyai rencana yang bagus. Bukan hanya sekedar berkata saja."

Thian ti tertawa terbahak-bahak.

"Selama dua puluh tahun di telaga dingin, aku selalu memikirkan cara untuk mengalahkan Bu Tong dan Bu Ti. Juga memikirkan cara untuk membangkitkan kembali Pit lok cik kita!"

Hujan menarik nafas panjang.

"Kami malah baru dua tahun yang lalu teringat untuk menyelundupkan Fu Giok Su ke dalam Bu Tong pai."

"Percaya diri bukan suatu hal yang buruk. Tapi terlalu banyak pertimbangan juga merugikan diri sendiri."

Thian ti mengelus jenggotnya.

"Meskipun agak terlambat, tapi malah menguntungkan pihak kita. Bukan saja dibutuhkan keberanian juga peruntungan baik."

"Kami sama sekali tidak menyangka bahwa kau orang tua masih disekap di Bu Tong san."

Wajah Thian ti berubah kelam seketika.

"Kalau aku tidak dapat menggempur Bu Tong dan menjadikannya rata dengan tanah. Sakit hati ini pasti belum 602 terlampiaskan."

Angin tersenyum kecil.

"Bu Tong san sekarang boleh dibilang sudah mati separuh badan. Ada Giok Su yang mengatur dari dalam, ingin menghancurkan Bu Tong bukan hal yang sulit. Berbeda dengan Bu ti bun…"

"Kalau ilmu silat kita sudah terlatih sehingga sempurna. Buat apa takut lagi terhadap Tok ku bu ti?"

Sindir Kilat tajam. Thian ti menganggukkan kepalanya.

"Semuanya terserah kau orang tua saja,"

Kata Hujan menambahkan satu kata. Thian ti semakin tertawa terbahak-bahak."

"Sekian tahun tidak bertemu, aku tidak mengira lidahmu semakin tajam saja!"

Hujan tertawa genit. Gaya mempesona. Thian ti mengangkat alisnya tinggi.

"Wajah juga tidak berubah. Malah sekarang terlihat lebih muda dari dulu,"

Kata Thian ti selanjutnya.

"Kau orang tua memang paling pandai bergurau,"

Sahut Hujan dengan lagak dibuat-buat. Kilat mengibaskan rambutnya yang sudah memutih.

"Sam ci mempunyai resep awet muda, tapi rahasia tidak boleh disebarkan,"

Tukasnya. 603

"Kau toh bukan perempuan. Buat apa ingin awet muda segala?"

Kata Thian ti terkekeh-kekeh.

Suara tawanya belum hilang, tiba-tiba air hujan menguak kembali, seorang gadis berpakaian hijau melangkah ke dalam.

Dia adalah gadis yang dikejar-kejar oleh Ban tok sian ong tempo hari.

Kemudian bertemu dengan Wan Fei Yang yang berhasil menyelamatkannya dengan membunuh Ban tok sian ong.

Thian ti segera melihatnya.

Matanya mengerling beberapa kali.

"Mengapa di sini ada gadis yang demikian cantik?"

Tanyanya heran. Hujan memalingkan wajahnya. Dia mendengus dingin.

"Putri siapa?"

Tanya Thian ti kembali.

"Dia kan Hiong kun!"

Sahut Angin datar.

"Hiong kun?"

"Adiknya Fu Giok Su. Cucu perempuan engkau orang tua,"

Sahut Hujan sambil mendengus dingin sekali lagi.

"Dia sangat membenci kami. Selalu berkelana seorang diri. Sepanjang tahun paling beberapa hari berdiam di dalam lembah. Katanya dia ingin belajar ilmu pengobatan agar mengerti bagaimana cara mengobati orang sakit."

Thian ti tidak memperdulikan sikap Hujan yang dingin. Dia 604 menatap gadis itu lekat-lekat. Fu Hiong Kun hanya mengerling mereka sekilas kemudian menundukkan kepalanya dan melangkah ke dalam.

"Geledek tidak dapat menahan hawa amarah did adanya.

"Hiong Kun!"

Teriaknya lantang. Fu Hiong Kun menghentikan langkah kakinya. Dia mengerling dingin pada Geledek. Hujan tertawa dingin.

"Hiong Kun, Yayamu sudah kembali,"

Katanya.

"Yaya?"

Mata Fu Hiong Kun mengerling ke arah Thian ti. Thian ti mengembangkan senyuman lembut.

"Kau yang bernama Hiong Kun?"

"Kau benar-benar Yayaku?"

"Apa tidak mirip?"

Tanya Thian ti sambil menguraikan rambutnya yang panjang.

"Kalau dengan Tia (Ayah) memang mirip."

"Aku adalah ayah dari ayahmu, kalau tidak sama kan malah aneh,"

Kata Thian ti tertawa terkekeh-kekeh.

"Mengapa masih belum memanggil Yaya?"

Bentak Hujan.

"Yaya!"

Fu Hiong Kun segera memanggil. Thian ti langsung berkelebat ke samping gadis itu. Dia 605 merangkul bahu Fu Hiong Kun erat-erat.

"Cucu baik!"

Fu Hiong Kun sama sekali tidak menunjukkan tampang takut. Dia malah merasakan kehangatan yang sulit dilukiskan.

"Kau belum pernah melihat yaya?"

Tanya Thian ti. Fu Hiong Kun menggelengkan kepalanya.

"Tentu saja. Sebelum kau lahir, Yaya sudah meninggalkan Siau yau kok,"

Kata Thian. Kemudian dia melanjutkan kata-katanya.

"Tidak disangka aku mempunyai seroang cucu perempuan yang demikian cantik."

Wajah Fu Hiong Kun merah padam.

"Beberapa waktu yang lalu, Giok Su koko ada mengirim surat dan mengatakan bahwa Yaya terkurung dalam telaga dingin di Bu Tong san."

"Dua puluh tahun lebih."

Nada suara Thian ti menjadi rawan.

"Apakah kaki Yaya sudah sembuh>"

Tanya Fu Hiong Kun kembali. Thian ti segera merasakan kedua kakinya seperti ditusuk jarum dan nyeri.

"Orang-orang Bu Tong pai memang jahat. Kalau waktu turun gunung itu hari aku tidak membunuh sejumlah murid-606 muridnya, mungkin sampai hari ini aku masih kesal terus!"

Baru saja ucapannya selesai, sebagian tubuhnya terasa lumpuh. Hampir saja dia melorot dari atas kursi. Fu Hiong Kun cepat-cepat memapahnya.

"Yaya, apakah sebenarnya kedua kakimu masih belum sembuh betul?"

Tanyanya cemas.

"Sedikit lagi."

"Biar aku periksa nanti…"

Thian ti tertawa terbahak-bahak.

"Kau mencari tabib pandai kemana-mana, rupanya untuk menyembuhkan penyakit Yaya,"

Katanya senang.

Fu Hiong Kun tidak membantah.

Hujan, Angin Geledek dan Kilat pun tidak bersuara.

Terhadap Thian ti, hati mereka semua menaruh hormat yang dalam.

Bagi mereka, orang tua itu sangat berwibawa.

Thian ti menoleh ke arah empat orang anak buahnya.

"Besok kita bahas lagi tentang Bu Tong liok kiat. Hari ini aku ingin berbincang-bincang dengan cucu perempuanku ini,"

Katanya. Baru saja kata-katanya selesai, air terjun menguak kembali. Manusia tanpa wajah melesat masuk dan berlutut di atas sebuah batu bundar.

"Apakah ada berita baru?"

Tanya Thian ti segera.

"Mengenai Wan Fei Yang!"

"Kemana bocah itu?"

"Dia ada di rumah gwa kongnya."

"Tepat seperti dugaan kita."

Angin tertawa dingin.

"Kalau orang ini dibiarkan, kelak pasti akan membawa bencana."

"Kita harus membabat rumput sampai ke akar-akarnya,"

Tukas Geledek sambul mengeluarkan golok di tangannya.

"Biar aku yang pergi,"

Kata Kilat. Tangan yang menggenggam pedang menonjolkan urat hijau.

"Thian ti menggelengkan kepalanya.

"Dia adalah orang Bu Tong pai. Biar aku turun tangan sendiri untuk meringkusnya!"

"Seorang Wan Fei Yang saja aku sendiri sudah cukup menanganinya,"

Sahut Kilat. Baru saja Thian ti ingin mengatakan sesuatu, kedua kakinya terasa nyeri kembali. Keningnya berkerut. Dia merenung sejenak.

"Baik. Urusan ini kuserahkan kepada kalian,"

Katanya. 608

"Serahkan saja kepadaku,"

Tukas Kilat cepat. Matanya mengerling kepada Angin dan Hujan. Hujan tidak mengatakan apa-apa. Geledek belum sempat bicara, Angin sudah menganggukkan kepalanya.

"Sute yang pergi sendirian rasanya memang sudah cukup."

Kilat mengerling ke arah Thian ti sekilas. Dia tertawa terbahakbahak.

"Aku pergi!"

Teriaknya sambil menghentakkan kaki melesat meninggalkan tempat itu.

Manusia tanpa wajah mengikutinya dari belakang.

Yang lainnya hanya memandangi saja.

Dalam sekejap mata air terjun yang baru terkuak sudah pulih kembali seperti biasa.

Thian ti mengeluarkan suara tertawa yang panjang *** Menjelang senja.

Wan Fei Yang duduk di atas kursi bambu di halaman rumah.

Kedua tangannya menopang dagu.

Pikirannay melayang-layang.

Wan lao tau sudah ada di sampingnya, dia baru sadar.

"Gwa kong!"

Dia berdiri dengan gugup.

"Masih memikirkan urusan balas dendam?"

Wan Fei Yang tidak menyahut. 609

"Bulim memang merupakan sebuah tempat penampungan segala macam kebencian dan dendam. Hidup berkecimpung di Bulim, tidak ada ketenangan sehari pun. Ilmu silat rendah pasti pendek umur, kalau ilmu silat terlalu tinggi, pasti orang yang mencari nama banyak yang menantang. Sampai suatu hari kita benar-benar kalah. Persisi seperti ayahmu. Kalau dia tidak terlahir untuk menjadi Ciang bun jin Bu Tong pai, pasti sampai sekarang masih hidup dengan tenang bersama ibumu,"

Kata Wan lao tau sambil menarik nafas panjang. Tanpa sadar Wan Fei Yang ikut menarik nafas dalam-dalam. Wan lao tau menepuk-nepuk bahunya.

"Jangan terlalu banyak berpikir. Hukum karma masih ada. Thian tidak buta. Yang jahat pasti akan mendapatkan imbalannya. Kau tinggal di sini saja menemani gwa kong. Lagi pula gwa kong juga hanya memiliki engkau seorang,"

Kata Wan lao tau selanjutnya. Wan Fei Yang menatap rambut dan alis yang sudah memutih itu. Dia menganggukkan kepalanya. Wan lao tau baru bisa menghela nafas lega.

"Kau duduk saja di sini, biar aku pergi ke dapur menanak nasi."

Wan Fei Yang segera menarik tangan kakeknya.

"Gwa kong, biar aku saja…."

"Nasi dan sayur yang kau masak memang lebih enak daripada masakan gwa kong,"

Wan lao tau mengerlingkan matanya.

"Baik. Kau menanak nasi, gwa kong akan ke gudang mengambil kayu bakar." 610 Belum sempat Wan Fei Yang mencegah orang tua itu sudah melangkahkan kakinya lebar-lebar. Memandangi punggung kakeknya, hati Wan Fei yang merasa terharu. Pintu gudang kayu tertutup rapat. Wan lao tau sudah sampai di depan pintu. Dia mengulurkan tangannya untuk mendorong. Belum sempat tangannya sampai, sebatang pedang pipih dan penjang tembus melalui apan pintu dan menusuk jantungnya. Wan lao tau mendengus marah. Tapi nafasnya sudah putus seketika. Wan Fei Yang yang berada dalam dapur mendengar suara dengusan kakeknya, dia segera membalikkan tubuh dan berlari mendatangani. Dia langsung melihat darah segar mengalir dari punggung orang tua itu. Ujung pedang juga menembus sampai ke belakang.

"Gwa kong!"

Wan Fei Yang terkejut setengah mati. Dia menjerit keras dan menghambur menghampiri.

"Blam!"

Pintu gudang tersebut beserta tubuh Wan lao tau melayang ke udara.

Sedikit lagi hampir mengenai kepala Wan Fei Yang.

Seorang laki-laki berwajah pucat dan berpakaian putih dengan tangan menggenggam sebatang pedang melewat keluar bagai kilat.

Dia langsung meluncurkan pedangnya mengancam tenggorokan Wan Fei Yang.

Wan Fei yang baru saja menyambut mayak kakeknya, pedang itu sudah di depan mata.

Ia membalikkan tubuhnya secepat kilat dan menggeser ke samping.

Namun pundak kirinya masih juga tersayat sedikit oleh pedang laki-laki berpakaian 611 putih tersebut.

"Siapa?"

Hardik Wan Fei Yang.

Tentu saja dia tidak mengenal orang itu.

Tangannya dengan cepat meraih sebatang bambu dan dijadikannya sebagai senjata.

Serangan pedang kilat luput dari sasaran.

Dia menyerang lagi tiga kali berturut-turut.

Wan Fei Yang cepat-cepat meletakkan mayat kakeknya di atas tanah dan menghindarkan diri dari serangan itu.

Baru saja dia bermaksud menerjang manusia berpakaian putih itu, orang tersebut sudah menghentakkan kakinya dan mencelat ke atas genting gudang kayu bakar.

Wan Fei Yang menyodokkan batang bambu di tangannya, tapi langsung putus menjadi beberapa potong tertebas pedang Kilat.

Tubuh orang itu berkelebat secepat anak panah yang meluncur.

Wan Fei Yang mana sudi menyudahi begitu saja.

Dia menghentakkan kakinya dan mencelat ke ata genting.

Dalam waktu yang bersamaan, manusia tanpa wajah sudah mempersiapkan diri membokong Wan Fei Yang.

Anak muda itu masih belum sadar.

Dia melihat tubuh Kilat melesat ke atas sebatang bambu dan berdiri tenang.

Hal ini membuktikan tinggi ginkang orang itu.

Wan Fei Yang mendengus satu kali.

"Te hun cong"

Dikerahkan, tubuhnya melayang dan naik ke atas sebatang bambu dan berdiri berhadapan dengan Kilat.

Pada saat itulah, manusia tanpa wajah menusukkan pedangnya dari bawah ke atas sambil mencelat.

Wan Fei Yang marah sekali.

Tampaknya dia tidak mungkin menghindarkan diri lagi dari serangan yang satu itu.

Namun ternyata dia masih bisa berjungkir balik dan melayang turun.

Tapi bagian pinggangnya masih sempat terluka oleh pedang 612 manusia tanpa wajah.

Tanpa menunda waktu lagi Wan Fei Yang mencelat sejauh dua depa dan mengejar Kilat.

Manusia tanpa wajah tidak mengejarnya.

Tubuhnya melesat dan mendarat di rimbunan batang bambu.

Wan Fei Yang sendiri tidak memperdulikan manusia tanpa wajah.

Dia terus mengejar Kilat.

Di ujung sana terdapat sebuaht anah kosong.

Lebih jauh lagi terdapat sebuah jurang yang cukup dalam.

Kilat berdiri dengan tenang di atas tanah kosong.

Melihat Wan Fei Yang melayang turun, manusia tnapa wajah segera menghambur ke depan.

Wan Fei Yang menghadapi dua musuh sekaligus.

Tubuhnya sudah mengalami dua buah luka pula.

Matanya mendelik ke arah Kilat.

"Ada dendam apakah antara gwa kongku dengan pihak kalian? Mengapa kalian harus turun tangan sekeji ini?"

Tanya Wan Fei Yang.

"Orang yang ingin kami bunuh sebetulnya bukan gwa kongmu, tapi engkau,"

Sahut Kilat sepatah demi sepatah. Wan Fei Yang tertegun.

"Aku?"

"Memang engkau!"

Tubuh dan pedang Kilat segera meluncur ke arah Wan Fei Yang.

Bambu di tangan Wan Fei Yang yang digunakan sebagai senjata, dia mengerahkan salah satu jurus dari Sou hou cang dan langsung mengincar tenggorokan Kilat.

Pedang kilat sepanjang enam cun, sedangkan batang bambu di tangan Wan Fei Yang lebih panjang lagi.

Sebetulnya merupakan senjata yang tepat untuk mengimbangi pedang di 613 tangan Kilat.

Sayangnya, senjata Wan Fei Yang hanya sebatang bamb.

Pedang dan bambu saling berbentur, tiba belas jurus berlalu.

"Krek!"

Batang bambu di tangan Wan Fei Yang kembali terpapas sebagian.

Tubuh dan pedang kilat berubah menjadi lingkaran bercahaya.

Gerakannya kali ini memang hendak memapas putus batang bambu di tangan Wan Fei Yang.

Melihat serangannya, anak muda itu sudah dapat meraba apa maksud hati Kilat.

Dia mundur sejauh tujuh langkah.

"Serr!"

Pedang di tangan manusia tanpa wajah meluncur dalam waktu yang bersamaan.

Wan Fei Yang segera menggeser tubuhnya menghindar, batang mabu dikibaskan dia menangkis pedang manusia tanpa waja.

Pedang dan tubuh orang itu tergetar mundur.

Tapi bambunya juga patah menjadi tiga bagian.

Wan Fei Yang semakin marah.

Sisa batang bambu di tangannya digetarkan dan meluncur menyerang kening Kilat.

Kilat memutar pedangnya.

Wan Fei Yang tidak memperdulikan.

Tang bambunya terus menusuk ke depan.

Dalam sekejap berubah menjadi bayangan dalam jumlah banyak.

"Bagus!"

Teriak Kilat lantang.

Kepalanya menunduk ke bawah.

Pedangnya terus menyambut datangnya batang bambu.

Dia mendesak terus ke depan..

Dalam sekejap mata batang bambu tadi terbelah menjadi dua bagian.

Kilat tidak ingin kehilangan kesempatan.

Pedangnya terus 614 meluncur ke depan.

Tepat pada saat itu manusia tanpa wajah juga meluncurkan pedangnya.

Wan Fei Yang menarik nafas dalam-dalam.

Kakinya menutul dan tubuhnya mencelat di udara.

Kemudian dia melesat lagi sejauh dua depa.

Dia teringat akan pedangnya yang ada di rumah.

Halau saja dia tadi sempat mengambil pedangnya, tentu dia dapat menandingin kedua lawannya inu.

Tapi baik manusia tanpa wajah dan Kilat mana mau memberi kesempatan kepadanya untuk kembali ke rumah.

Mereka malah mendesaknya terus.

Pedang-pedang tajam mengancam dari depan dan belakang.

Wan Fei Yang seperti seekor anak kelinci yang meloncat kian ke mari,.

Dia tidak sadar dirinya sudah sampai di tepi jurang.

Kilat tertawa dingin.

Pedangnya berputar kemudian menusuk ke depan.

Manusia tanpa wajah juga menggunakan kesempatan itu untuk maju dan menggetarkan pedangnya.

Wan Fei Yang panik sekali, Dia segera menggeser kedua kakinya sedikit.

Namun tiba-tiba dia menjerit ngeri.

Kakinya terpeleset dan anak muda itu terjatuh ke dalam jurang.

"Plung!"

Terdengar suara benda berat jatuh ke dalam air.

Kilat mendongakkan wajahnya tertawa terbahak-bahak.

Jatuhnya Wan Fei Yang kali ini seandainya tidak mati pun, paling tidak tulang belulangnya akan putus dan menjadi orang cacat untuk selamanya.

*** Suara tabuhan genderang di Bu Tong san seakan tidak ptus-putusnya.

Setiap tabuhan seperti mengandung wibawa yang dalam.

Begitu juga bunyi loncengnya.

Dengan di ringi tabuhan 615 genderang, akhirnya Fu Giok Su keluar dari ruangan penyucian.

Dia menerima panji besi dari tangan Yan Cong Tian dan menghadap ke timur dan menjura dalam-dalam.

Fu Giok Su sudah resmi menjadi Ciang bun jin Bu Tong pai.

Yan Cong Tian juga memberinya sebuah kunci.

Dengan kunci inilah dia dapat membuka kamar penyimpanan kitab-kitab pusaka Bu Tong pai.

Dia tidak syak lagi, ilmu pusaka Bu Tong pai yang ketujuh, Tian can kiat juga disimpan dalam ruangan ini.

Tempat penyimpanan kitab itu tidak dilapisi besi atau pun baja.

Tapi temboknya setebal tiga cun.

Berhadapan dengan pintu masuk terdapat sederetan batu pualam.

Setiap batu tertera dua buah hurup.

Sebelah kiri bertuliskan Liong gi, Pik lek, Jit cong.

Sebelah kanan bertuliskan Suang kiat, kui sua, sou hou.

Dan yang ditengah-tengah itulah Tian can kiat berada.

Tujuh buah batu marmer itu rupanya semacam lemari.

Di dalamnya tersimpan kitab pusaka sesuai dengan nama yang tertulis di depannya.

Fu Giok Su menutup kembali pintu kamar itu rapat-rapat setelah masuk ke dalam.

Hatinya tegang sekali.

Kadnag-kadang bayangan wajah Lun Wan Ji yang sendu masih berkelebat di pelupuk hatinya.

Di bawah cahaya lampu, matanya terlihat menerawang.

Sejenak kembali sudah pulih seperti biasa.

Dingin dan keji.

Dia meneruskan langkah kakinya.

Dia bukan menuju ke batu pualam yang ada di sudut kiri.

Dia membuka lemari batu itu satu persatu.

Yang di tengah-tengah justru terakhir.

Matanya menatap dengan dingin, kemudian dia tertawa terbahak-bahak.

616 Bu Tong liok kiat baginya bukan rahasia lagi.

Meskipun kematangannya belum mencapai taraf seperti Wan Fei Yang, namun sudah jauh di atas para murid Bu Ting lainnya.

Untuk membunuh Pek Ciok dan Cia Peng pun bukan hal yang sulit baginya.

Dengan tertawa terbahak-bahak dia membuka lemari batu yang di tengah.

Sebuah kitab yang tidak berbeda dengan Bu Tong liok kiat lainnya segera terpampang di depan mat.

Di atasnya tertera tiga buah huruf "Tian can kiat..

"Tian can kiat (Ilmu peralihan ulat sutera),"

Seru Fu Giok Su dengan suara bergetar.

Kedua tangannya yang memegang buku itu juga bergetar.

Dengan hati-hati dia membuka halaman pertama kitab itu.

Tindakannya begitu teliti seakan takut kitab itu akan terlepas dari tangannya dan jatuh ke tanah lalu hancur bagai sebuah vas kembang.

Kakinya melangkah mendekati meja dan duduk dia tas sebuah kursi.

Dia mulai membaca.

Perhatiannya terpusat penuh.

Kitab itu memang merupakan sebuah ilmu yang langka.

Di dalamnya juga terdapat ebrbagai contoh gambar.

Rasanya tidak begitu sulit dipelajari.

Sebentar saja Fu Giok Su sudah masuk dalam keadaan lupa diri.

Isinya hanya dua puluh halaman.

Pada lembaran terakhir terdapat serangkaian huruf.

Tapi hurud itu bukan teori ilmu Tian can kiat yang belum diselesaikan.

Juga bukan rangkaian dari jurus terakhir.

Hanya ada empat baris huruf.

617 Mencapai taraf tertinggi… Ganti tulang lahir kembali… Penjeleasan dari Ciang bun jin….

Tidak jodoh tetap tiada guna… "Penjelasan dari Ciang bun jin, tidak jodoh tetap tiada guna…?

Bagaimana bisa demikian?"

Gumam Fu Giok Su tidak mengerti. *** "Kalau mau diceritakan, kisah ini berawal dari empat puluh tahun yang lalu…."

Yan Cong Tian menjelaskan kepada Fu Giok Su apa yang tidak dimengerti olehnya.

Terhadap Fu Giok Su yang baru keluar dari ruang penyucian diri danmenjabat sebagai Ciang bun jin lalu langsung masuk ke ruang penyimpanan kitab serta memilih Tian can kiat seketika kemudian datang menanyai apa yang tidak dimengertiny, Yan Cong Tian memang agak cemas memikirkan sifatnya yang demikian terburu nafsu, namun dia tidak sampai curiga.

"Empat puluh tahun yang lalu…"

Kata Yan Cong Tian selanjutnya.

"Cosu Ku Bok menggetarkan dunia kangouw bersama Sia hou tiang cong dari Bu ti bun. Bu Tong pai dan Bu ti bun memang merupakan musuh bebuyutan. Tentu saja mereka mengadakan pertarungan. Pada saat itu, Dia hou tia 618 cong sudah berhasil melatih Mit kip sin kangnya mencapai tatar keenam. Dia menyombongkan diri apsti akan meraih kemenangan. Sedangkan Cosu Ku Bok sudah berhasil melatih Tian can kiat. Akhirnya Tian can kiat berhasil mengalahkan Mit kip sin kang. Malah Sia hou tian cong terluka parah. Bu ti bun tidak breani mengadakan gerakan untuk sementara, dunia kangouw pun tenang kembali."

Fu Giok Su sebenarnya tidak sabar mendengar bagian dari cerita itu. Tapi dia tidak berani memperlihatkannya di depan Yan Cong Tian.

"Justru karena itu pula, banyak roang dunia kangouw yang mengincar Tian can kiat. Sedangkan orang-orang Pit lok cik yang merupakan orang ketiga antara Bu Tong dan Bu Ti bun segera membuat rencana. Pemimpin mereka sendiri Thian ti atau makhluk tua yang melarikan diri itu menyelundup ke Bu Tong san dengan menyamar sebagai tukang bakar api di dapur. Dia berhasil menyusup ke dalam kamar penyimpanan kitab dengan tujuan mengambil kitab Tian can kiat."

"Apakah dia tertangkap basah?"

"Dia kepergok oleh Cosu. Dia bukan tandingan Cosu kami dan berhasil dikalahkan. Thian ti langsung menjatuhkan diri berlutut di depan Cosu dan meminta pengampunan. Dia mengatakan bahwa dia hanya disuruh orang lain. Sebagai buktinya dia membawa surat yang ditulis orang itu. Cosu tidak curiga sama sekali. Dia langsung merobek sampul surat itu. Ternyata sampul surat tersebut sudah dibubuhkan bubuk beracun. Dan mata Cosu menjadi buta seketika. Kemudian dia dibokong lagi oleh Thian ti. Meskipun aku keburu datang serta berhasil meringkus Thian ti, tapi Cosu sudah putus nyawa. 619 Uraian terakhir mengenai Tian can kiat pun hilang sejak saat itu."

"Tapi…. Susiok, kau…."

"Aku melatihnya dengan memaksa diri,"

Yan Cong Tian menarik nafas panjang.

"Hal ini karena Tok ku Bu ti mulai membentangkan sayapnya. Dua puluh tahun yang lalu, Mit kip sin kangnya sudah dilatih sampai tingkat enam. Setelah aku merundingkan masalah ini dengan Ci Siong, suhumu, akhirnya diambil keputusan bahwa aku tetap akan mencoba berlatih Tian can kiat. Dengan harapan pada taraf terakhir, aku akan berhasil memecahkan rumusnya sampai aku berhasil dengan sempurna."

"Apakah susiok sudah berhasil memecahkan rumus Tian can kiat?"

"Dua puluh tahun sudah berlalu,"

Yan Cong Tian menggelengkan kepalanya.

"Aku masih belum berhasil juga. Seandainya tidak dapat memecahkan rumus terakhir Tian can kiat, tenaga yang dilatih pun tidak dapat dikerahkan. Dua puluh tahun ini, aku hanya membuang-buang waktu saja,"

Keluhnya kesal. Fu Giok Su termangu-mangu. Yan Cong Tian tertawa getir.

"Dalam Bu Tong liok kiat, kau baru mempelajari Sou hou cang. Masih ada lima macam ilmu lainnya. Itu semua sudah cukup menyita waktu. Sementara ini kau belajar dulu Bu Tong liok kiat, aku akan terus berusaha menemukan rumus terakhir itu,"

Kata Yan Cong Thian kemudian.

620 Fu Giok Su juga tertawa getir.

Yan Cong Tian hanya tahu bahwa Fu Giok Su baru mempelajari satu macam Sou hou cang saja.

Kenaytaannya, lima macam lainnya sudah dia pelajari semua dari Thian ti.

Oleh karena itu, setlah memohon diri kepada Yan Cong Tian, Fu Giok Su tidak kembali ke kamar penyimpanan kitab.

Dia langsung kembali ke kamarnya.

Makin dipikir hatinya semakin mendongkol.

Melihat kendi arak, rasanya dia ingin minum sampai mabuk.

Tanpa berpikir panjang lagi dia menuangkan secawan arak.

Diteguknya sekaligus.

Rasanya enak sekali.

Dia menuang lagi cawan kedua, ketiga dan seterusnya.

Pikirannya mulai mleyang-layang.

Tanpa sadar dia mengeluarkan dompet kecil pemberian Lun Wan Ji.

Keharuman masih terpancar dari dompet itu.

Bayangan Lun Wan Ji pun berkelebat di pelupuk matanya.

Hati Fu Giok Su semakin tertekan.

Dia meletakkan cawan arak di atas meja.

Tangannya menggenggam dompet kecil itu erat-erat.

Dirinya sudah mabuk tujuh bagian.

Perasaannya juga mulai tidak terkendali.

Dengan langkah terhuyung-huyung dia mendorong pintu kamar dan melangkah keluar.

Malam sudah larut.

Kaki Fu Giok Su terseret-seret.

Untuk sesaat dia tidak dapat menentukan arah yang hendak ditujunya.

Dia berhenti sejenak.

Mencoba mengingat-ingat kemana tujuannya tadi.

*** Lun Wan Ji belum tidur.

Dia membolak-balikkan tubuhnya di 621 atas tempat tidur dengan gelisah.

Wajahnya kurus pucat.

Tubuhnya layu dan kesegarannya lenyap entah kemana.

"Blam!"

Sebuah suara mengejutkan Lun Wan Ji.

Suara seperti ada benda berat yang menghempas pintu kamarnya.

Dia segera melonjak dari tempat tidur dan melangkah menuju pintu.

Di luar terdengar suara nafas tersengal-sengal.

Disusul dengan suara panggilan lirih.

"Sumoay… Sumoayy!"

Lun Wan Ji dapat mengenali bahwa yang memanggilnya adalah Fu Giok Su.

Setelah merenung sejenak, akhirnya dia tidak dapat menahan diri juga.

Dibukanya pintu kamar.

Fu Giok Su tersuruk masuk.

Lun Wan Ji cepat-cepat memapahnya.

"Suheng, kenapa kau?"

Tanyanya cemas. Dari tubuh Fu Giok Su terpancar bau arak. Matanya sayu.

"Sumoay…Aku bersalah kepadamu…. Sumoau…."

Gumamnya lirih.

Lun Wan Ji mendengar ucapoannya dengan jelas.

Kesedihan merayap dalam hatinya.

Pada saat itu juga, terdengar suara langkah kaki mendatangi.

Lun Wan Ji yang melihat keadaan Fu Giok Su segera mengerutkan alisnya.

Tentu tidak lucu bila ada orang yang melihat Ciang bun jin Bu Tong pai mabuk di depan kamarnya.

Cepat-cepat dia memapah Fu Giok Su ke atas kursi.

Kemudian dia merapatkan pintu kamarnya.

622 Langkah kaki dari jauh mendekat.

Kemudian dari dekat menjauh kembali.

Lun Wan Ji menghela nafas lega.

Perlahan dia menyentuh pundak Fu Giok SU.

"Suheng, mengapa kau mabuk seperti ini?"

"Jangan Pegangi aku!"

Fu Giok Su berontak.

"Aku ingin mencari Wan Ji."

Lun Wan Ji tertegun.

"Suheng, aku Wan Ji!"

"Kau bukan dia.. kau bukan…!"

Fu Giok Su menggelengkan kepalanya.

"Aku bersalah kepada Wan Ji. Aku menghancurkan hidupnya. Dia pasti membenci aku. Bagaimana mungkin dia masih mau meladeni aku?"

Hati Lun Wan Ji semakin perih. Air mata mengalir dengan deras.

"Suheng. Kau duduk saja istirahat di sini. Aku akan menyeduhkan the kental untukmu."

Lun Wan Ji menarik tangan Fu Giok Su dan dengan susah payah memapahnya duduk di atas tempat tidur. Fu Giok Su masih mabuk. Mulutnya terus memanggil Wan Ji.

"Sumoay… sumoay…" 623 Hati Lun Wan Ji semakin hancur. Dia menahan kesedihannya dan menuju meja serta menyeduhkan secangkir the kental untuk Fu Giok Su. Dia memaksa Fu Giok Su meminumnya sampai habis. Akhirnya anak muda itu agak sadar juga. Dia juga sudah melihat dengan jelas siapa yang ada di sampingnya.

"Wan Ji… Ternyata benar-benar engkau…"

Lun Wan Ji menundukkan kepalanya.

"Memang aku, Ciang bun suheng."

"Jangan panggil aku Ciang bun suheng,"

Suara Fu Giok Su seperti terpukul.

"Aku tidak pantas jadi Ciang bun jin!"

"Suheng…"

"Wan Ji… Aku membuatmu menderita."

"Jangan berkata begitu. Istirahatlah sebentar. Nanti aku papah kau kembali ke kamar."

"Aku tidak ingin menjadi Ciang bun jin…"

Fu Giuok Su memberontak lagi.

"Aku akan mencari susiok sekarang dan menjelaskan semuanya."

Dia langsung berdiri namun tubuhnya terhuyung-huyung. Wan Ji segera memapahnya.

"Suheng, mana boleh kau 624 berbuat demikian?"

"Mengapa tidak boleh?"

Suara Fu Giok Su lebih mirip sedang memohon.

"Wan Ji, ijinkanlah aku pergi."

"Suheng, aku mohon jangan begitu!"

"Kalau begitu kita turun gunung, lari sejauh-jauhnya!"

Fu Giok Su menarik tangan Lun Wan Ji seakan ingin mengajaknya melarikan diri. Lun Wan Ji menghentakkan tangannya.

"Suheng, tenang dulu. Pikirkanlah masalah ini baik-baik."

Fu Giok Su tertegun. Kedua tangannya memegangi kepala.

"Lalu, apa yang harus aku lakukan? Apakah kita harus sama-sama menderita seumur hidup?"

Lun Wan Ji menatap Fu Giok Su lekat-lekat. Dengan sedih dia mengalirkan air mata. *** Sejenak kemudian, perlahan-lahan Fu Giok Su mendongakkan kepalanya. Dia memandangi Lun Wan Ji dengan terpana.

"Mengapa kau menangis?"

Tanyanya lembut. Lun Wan Ji tidak menyahut.

"Wan Ji, kau tidak bisa melupakan aku?"

Fu Giok Su mengulurkan tangannya meraba air mata di pipi Lun Wan Ji.

625 Gadis itu tidak dapat menahan gejolak hatinya lagi.

Dia merebahkan kepalanya ke dalam dada Fu Giok Su dan menangis terisak-isak.

Fu Giok Su memeluknya erat-erat.

Dia juga mengembangkan air mata.

Entah berapa lama sudah berlalu.

Lun Wan Ji mengusap air matanya dan mendongakkan wajahnya memandang Fu Giok Su.

Dua pasang mata yang sedang menderaikan air mata kesedihan saling bertemu.

"Wan Ji, jangan tinggalkan aku!"

Lun Wan Ji menganggukkan kepalanya dengan lemah.

Perasaannya terhadap Fu Giok Su jangan ditanyakan lagi.

Apalagi kesetiaannya.

Kedua orang yang berlainan jenis itu saling merangkul.

Perlahan-lahan tubuh mereka jatuh di atas tempat tidur.

Bunga rontok sekelopak demi sekelopak.

Cahaya rembulan yuang dingin menerobos lewat jendela.

Rembulan menjadi saksi segalanya.

*** Pagi hari seekor merpati pos terbang ke lembah Siau yau kok.

Setelah menikmati sarapan.

Hujan, Angin, Geledek dan Kilat sudah berkumpul di ruang tengah.

Surat yang dibawa merpati pos dibaca oleh mereka berempat, setelah itu mereka menyerahkannya kepada Thian ti.

"Meskipun Giok Su berhasil menjadi Ciang bun jin Bu Tong 626 pai, tapi dia tidak berhasil mempelajari Tian can kiat,"

Kata Thian ti dengan anda kurang senang. Dia berhenti sejenak dan memandang keempat orang bawahannya.

"Karena Tian can kiat ternyata tidak sempurna. Rumus terakhir hanya diketahui oleh Ciang bun jin pendahulu!"

Angin menganggukkan kepalanya.

"Betul! Suhu Yan Cong Tian dan Ci Siong to jin, Ku Bok justru mati di tangan engkau orang tua!"

"Huh! Kalau tahu demikian, aku tidak akan membunuhnya. Sekarang Yan Cong Tian belum berhasil mempelajari Tian can kiat."

Hujan tertawa dingin.

"Dan kita sampai sekarang baru tahu,"

Sahutnya.

"Rahasia ini apsti hanya diketahui oleh Yan Cong Tian dan Ci Siong to jin saja. Kalau Fu Giok Su tidak menjabat sebagai Ciang bun jin Bu Tong pai, kita masih mengira-ngira sampai dimana kehebatan Yan Cong Tian sekarang."

"Hal ini membuktikan bahwa Thian membuka mata kita."

Thian ti tertawa sumbang.

"Apabila barisan Hujan, Geledek, Kilat dan Angin kalian digabungkan dengan kepandaianku, meskipun ilmu Yan Cong Tian lebih tinggi lagi, kita pasti masih bisa mengalahkannya." 627 Geledek segera maju satu langkah.

"Kalau begitu lebih baik kita serbu saja Bu Tong san sekarang!"

"Bu Tong masih ada gunanya."

Thian ti tersenyum.

"Sekarang Fu Giok Su sudah menjabat Ciang bun jin. Dia bisa memberi perintah kepad apar amurid Bu Tong, buat apa kita capaikan diri mengurusi masalah itu?"

"Tapi, satu hari saja Yan Cong Tian masih hidup, dia tetap akan menjadi masalah bagi Giok Su,"

Kata Angin sambil mengerutkan alisnya.

"Seandainya dia sampai tahu rahasia Giok Su…"

"Tua bangka yang tidak mampus-mampus itu tentu saja tidak boleh dibiarkan!"

Mata Thian ti bersinar tajam.

"Begini saja…"

"Bagaimana?"

Tanya keempat orang itu serentak.

"Kita sebarkan berita bahwa Wan Fei Yang sudah melarikan diri ke Sau yau kok. Biar Giok Su yang memancing Yan Cong Tian kemari."

Wajah Thian ti serius sekali.

"Sampai waktunya, aku akan membuat tua bangka itu meratap-ratap minta kematian!"

Tiba-tiba terdengar sebuah suara menyehut.

"Yaya, perbuatanmu itu terlalu sadis."

Dialah Fu Hiong Kun yang berjalan masuk dengan langkah 628 santai. Mata Thian ti mengerling.

"Kalau tidak begitu, tua bangka itu mana tahu penderitaan Yaya selama dua puluha tahun itu?"

"Tapi…."

"Jangan banyak bicara lagi!"

Wajah Thian ti kurang senang.

"Yayamu sendiri tidak kau bantu, kau malah mau membantu Yan Cong Tian."

Fu Hiong kun menghentikan langkah kakinya.

Dia tidak berkata apa-apa lagi.

Dia membalikkan tubuhnya dan meninggalkan tempat itu.

Hujan, Angin, Geledek dan Kilat menatap Fu Hiong Kun yang melangkah pergi, kemudian beralih kepada Thian ti.

"Anak ini…."

Thian ti menggelengkan kepalanya.

Nada suaranya tidak garang sama sekali.

*** Setelah keluar dari ruang tengah, Fu Hiong Kun kembali ke kamarnya.

Setelah berpikir bolak-balik, hatinya semakin tertekan.

Tidak lama kemudian Thian ti masuk ke kamar itu dan duduk di samping Fu Hiong Kun.

"Cucu baik,"

Katanya tertawa-tawa. Fu Hiong Kun tidak meladeni. 629

"Masih amrah kepada Yaya?"

Tanya Thian ti hati-hati.

"Yaya tidak takut terhadap langi dan bumi, justru takut kalau kau amrah."

"Yaya…"

Fu Hiong Kun menarik nafas satu kali.

"Kau mengatakan Yaya sadis. Apakah tua bangka Yan Cong Tian itu tidak sadis? Dua puluh tahun yang lalu, kau belum lahir, Yaya sudah dikurungnya dalam telaga dingin. Penderitaannya jangan ditanyakan lagi. Kalau dendam ini tidak dibalas, mati pun Yaya tidak bisa meram,"

Kata Thian ti. Hati Fu Hiong Kun tergerak juga. Dia menatap kakeknya dengan sorot mata kasihan.

"sebetulnya, Yaya sangat menyayangimu. Bagaimana mungkin Yaya membuatmu tak senang hati?"

Thian ti tertawa-tawa.

"Coba kau katakan, apakah Yaya mirip orang yang sadis dn tidak berperasaan?"

Tanpa sadar Hiong Kun menggelengkan kepalanya. Tawa Thian ti semakin lebar.

"Hiong Kun, berapa usiamu sekarang?"

Tiba tiba Thian ti bertanya.

"Delapan belas."

"Sudah punya tambatan hati?"

Fu Hiong Kun tertegun. Kemudian menggelengkan kepalanya.

"Tidak ada." 630

"Benar-benar tidak ada?"

Mata Thian ti seakan menyelidiki isi hati gadis itu. Wajah Fu Hiong Kun merah padam. Dia menggelengkan kepalanya berkali-kali. Tidak sepatah katapun diucapkannya.

"Yaya tidak eprcaya,"

Kata Thian ti sambil mengelus jenggotnya.

"Kau begini cantik, masa tidak punya kekasih?"

Matanya bersinar tajam.

"Pasti ada. Siapa?"

Kepala Fu Hiong Kun tertunduk makin rendah.

"Yaya… mengapa kau bertanya demikian?"

"Nah… kan pasti ada?"

"Aku tidak tahu."

Fu Hiong Kun berdiri. Wajahnya semakin merah. Cepat-cepat dia melangkah ke depan jendela untuk menghindari tatapan kakeknya. Thian ti tertawa terkekeh-kekeh.

"Coba lihat, masa sama Yaya sendiri demikian malu? Baik… Lain kali baru aku tanyakan lagi."

Thian ti tertawa terbahak-bahak ketika meninggalkan kamar gadis itu.

Fu Hiong Kun berdiri membelakangi Thian ti.

Matanya melirik mencuri pandang.

Setelah yakin Thian ti benar-benar meninggalkan kamarnya, perlahan-lahan dia membalikkan tubuh.

Bibirnya menyunggingkan seulas 631 senyuman tipis.

Matanya menjadi sayu.

Wajah Wan Fei Yang kembali melintas di benaknya.

*** Saat itu, Wan Fei Yang baru tersadar.

Di depan matanya terpampang sebuah tempat yang asing baginya.

Bagu obat-obatan menerpa hidung.

Kamar itu tidak seberapa besar.

Di temboknya tergantung berbagai macam obat-obatan.

Dia berbaring di atas sebuah balai-balai yang terbuat dari rotan.

Dan posisinya tepat berhadapan dengan pintu.

Luka-luka tubuhnya sudah dibalut dengan rapi.

Wan Fei Yang berusaha menggerakkan tangannya.

Rasa sakit segera terasa di lengan itu.

Hal ini membuktikan bahwa dia masih hidup dan juga bukan sedang bermimpi.

"Tempat apa ini?"

Gumamnya seorang diri.

"Ini rumah Hai Liong lo jin."

Sebuah suara menyahut. Nadanya seperti orang yang sudah lanjut usia. Wan Fei Yang mengedarkan pandangan matanya. Dia tidak melihat siapa pun.

"Mengapa hanya terdengar suara tapi tidak tampak orangnya?"

Gumam Wan Fei Yang kebingungan.

"Aku di sini!"

Terdengar suara itu menyahut kembali.

632 Wan Fei Yang memandang lagi sekitarnya.

Tetap tidak terlihat seorang pun.

Tanpa sadar bulu roma Ean Fei Yang ebrdiri.

Tepat pada saat itu, sebuah tangan kecil yang aneh terulur dari samping serta menepuk pundak anak muda itu.

Wan Fei Yang terkejut.

Dia menolehkan kepaanya.

Akhirnya dia melihat orang itu.

Tubuhnya kecil dan pendek.

Ternyata dia adalah orang kerdil.

Melihat Wan Fei Yang demikian terkejut, orang itu menyurut mundur beberapa langkah.

Wan Fei Yang memandangnya dengan seksama.

Si kerdil semakin tersipu-sipu.

Dia membalikkan tubuhnya.

"Apakah kau yang menolong aku? Tanya Wan Fei Yang.

"Bukan aku, tapi Cu jin kami,"

Sahut si kerdil sambil mencuri pandang sekilas. Wan Fei Yang berusaha bangun dan duduk.

"Aku bernama Wan Fei Yang. Kau?"

Si kerdil memperhatikan Wan Fei Yang. Melihat penampilannya yang tenang, dia sendiri ikut merasa tenang.

"Cu jin (majikan) memanggil Sam cun (Tiga cun). Padahal tinggiku kalah tidak sampai tiga cun."

"Kalau begitu aku juga memanggil Sam cun saja, boleh kan?"

Sam cun menganggukkan kepalanya berulang kali.

"Oh ya… Tadi kau mengatakan bahwa ini rumah Hai liong lo jin. Apakah dia majikanmu?"

"Orang-orang kanouw menyebutnya demikian. Karena dia 633 tinggal di sekitar lautan dan kegesitannya bagai hai liong (naga laut)."

"Apakah aku dibawanya dari dalam lautan?"

Wan Fei Yang seakan teringat sesuatu.

"Dua hari yang lalu."

Wan Fei Yang terkejut sekali.

"Jadi aku sudah pingsan selama dua hari?"

Jilid 14

"Sekarang malah sudah hari ketiga,"

Sam can menunjukkan tiga jari tangannya.

"Saat itu aku malah mengira kau sudah mati. Tapi Cu jin mengatakan bahwa kau masih bisa tertolong."

"Di mana orang tua itu sekarang?"

"Di sini!"

Terdengar sahutan dan disusul orangnya yang melangkah ke dalam.

Rambutnya sudah putih semua.

Wajahnya penuh keriput.

Warna kulitnya hitam tapi berkilauan.

Seperti baru saja diolesi minyak.

Dia memalingkan wajahnya.

Tapi tidak ada kesan garang pada dirinya.

"Boanpwe Wan Fei Yang memberi hormat kepada Hai Liong lo jin locianpwe,"

Kata Wan Fei Yang sambil berusaha berdiri.

Siapa tahu baru saja kakinya menginjak tanah, rasa sakit kembali menyerang dan jatuh terkulai.

634 Dengan susah payah dia berusaha bangkit.

Perlahan-lahan dia berhasil juga.

Namun dia merasakan perutnya keroncongan.

Pasti dia sudah kelaparan karena pingsan sekian lam.

"Terima kasih? Apa terima kasih saja sudah cukup?"

Bentak Hai liong lo jin sambil mendengus dingin.

Tiba-tiba dia maju dan mencengkeram akaian Wan Fei Yang.

Tubuh anak muda itu tergetar dan dihempaskan ke atas balai-balai.

Getaran itu membuat Wan Fei Yang kesakitan.

Wajahnya meringis.

Melihat keadaannya, Hai liong lo jin menjadi panik.

Dia cepat-cepat menghampiri dan memapah Wan Fei Yang.

"Bagaimana? Sakit tidak?"

Wan Fei Yang menganggukkan kepalanya.

"Ini karena ulahmu sendiri!"

Kata Hai liong lo jin ketus dan memalingkan wajahnya.

"Ulah apa?"

Tanya Wan Fei Yang tidak mengerti.

"Ulah apa?"

Teriak orang tua itu.

"Mengapa kau tidak terluka bulan kemarin atau bulan depan saja? Mengapa justru terluka di saat aku bermaksud menangkap kura-kura laut untuk dijadikan obat? Untuk menolongmu, terpaksa aku membiarkan kura-kura laut itu melarikan diri. Apakah kau tahu ? Kura-kura laut itu belum tentu ketemu lagi dalam seratus tahun. Telurnya lebih-lebih dapat menjadi obat yang mujarab. Aku sudah mencarinya selama sepuluh tahun. Baru ketemu, eh…. Dikacaukan oleh kedatanganmu. Mana aku sudah menyiapkan semua racikan 635 obat untuk campurannya. Sekarang semuanya menjadi sia-sia."

"Boanpwe tahu salah,"

Kata Wan Fei Yang sambil menjura dalam-dalam.

"Masih lumayan. Tidak menemukan kura-kura laut, bertemu dengan kura-kura sepertimu juga bolehlah."

Sekian lama Wan Fei Yang mendengar kata-kata orang tua itu, semakin tidak tahu dia harus marah atau tertawa.

"Kau tidak usah sedih. Aku sudah memafkanmu,"

Kata Hai liong lo jin selanjutnya.

"Terima kasih, Locianpwe,"

Sahut Wan Fei Yang sambil tertawa getir. Hai liong lo jin menepuk tangannya beberapa kali.

"Sam cun, mengapa kau termangu-mangu di situ? Cepat ambilkan makanan! Aku tidak mau melihat bocah ini mati kelaparan di sini!"

Sam cun mengiakan dengan tergesa-gesa.

Langkah kakinya yang pendek seakan berjalan sambil berloncat-loncatan.

*** `Wan Fei Yang sekaligus menghabiskan enam mangkok bubur.

Perasaanya jauh lebih segar setelah makan.

Tiba-tiba dia merasa tubuhnya lebih sekali.

Sebentar saja, dia sudah 636 pulas dalam mimpi.

Entah berapa lama sudah berlalu, Wan Fei Yang terbangun oleh suara bentakan.

"Berapa kali harus aku katakan bahwa aku tidak akan mengajarkan? Tidak akan!" *** "Susiok. Tecu selamanya belum pernah memohon apa-apa kepadamu. Hanya kali ini saja!"

Wan Fei Yang merasa tidak asing dengan suara itu. Entah di mana dia pernah mendengarnya.

"Tidak!"

Tanpa sadar Wan Fei Yang turun dari balai-balai dan berjalan menuju pintu.

Dia mendorong pintu tersebut lalu melangkah perlahan ke depan.

Pada bagian luar kamar terdapat sebuah koridor panjang yang kiri kanannya dibatasi dengan pagar rotan.

Kurang lebih tiga depa di ujung sana ada sebuah ruangan kecil.

Hai liong lo jin berdiri memangku tangan di undakan batu.

Wajahnya tampak kurang senang.

Di bawah undakan batu berlutut tiga orang.

Yang di tengah-tengah ternyata Kuan Tiong Liu dari Go Bi pai.

Di sebelah kirinya berlutut si bocah pembawa pedang, Jit Po.

Sedangkan di sebelah kananya ialah si bocah pembawa harpa, Liok An.

Dia tetap berpakaian putih.

Kali ini dia tidak memperdulikan tanah kotor di mana dia berlutut.

Dapat dipastikan bahwa dia mempunyai niat tertentu sehingga rela berlutut di atas tanah 637 yang kotor itu.

Wan Fei Yang yang melihat anak muda tersebut dari balik pintu, segera menyurutkan kepalanya kembali.

Untung saja Kuan Tiong Liu belum sempat melihatnya.

Dia masih menatap Hai liong lo jin dengan pandangan memohon.

"Susiok, Go bipai sedang dalam keadaan kritis, hanya Tecu yang masih bisa diandalkan untuk membangkitkannya kembali. Susuiok, meskipun kau tidak menghagai Tecu, tapi kau harus mementingkan kepentingan Go bi pai. Kau harus mengajarkan tiga jurus terakhir dari Lok jit kiam hoat!"

Ratap anak muda itu dengan wajah sendu.

Meskipun wajahnya tampak sendu dan sinar matanya memohon, tapi nada suaranya masih angkuh seperti biasa.

Dan dari kata-katanya tadi, dapat dipastikan bahwa Hai liong lo jin adalah angkatan tua dari Go bi pai.

Dia juga satu-satunya orang yang mengerti tiga jurus terakhir dari Lok jit kiam hoat yang merupakan ilmu pedang pusaka dari partai tersebut.

Kalau tidak, tak mungkin Kuan Tiong Liu mau bersusah payah memohon kepadanya.

Liong gi kiam hoat dari Bu Tong pai dan Lok jit kiam hoat dari Go bi pai memang sangat terkenal dan namanya menggetarkan dunia kangouw.

Kuan Tiong Liu yang pernah dikalahkan Ci Siong to jin baru sadar, seandainya dia tidak mempelajari tiga jurus terakhir dari Lok jit kiam hoat, dia masih belum bisa menonjolkan diri dalam dunia kanguw.

Apalagi dia juga pernah dikalahkan oleh Wan Fei Yuang di kaki gunung Bu Tong.

Semua ini membuatnya bertekad harus mendapatkan tiga jurus terakhir Lok jit kiam hoat itu.

Itulah 638 sebabnya dia bisa sampai ke tempat Hai liong lo jin.

Hai liong lo jin adlaah suheng dari It im yang sudah menjadi Ciang bun jin Go bi pai generasi sekarnag.

Namun karena adatnya yang aneh dan angin-anginan juga bila melakukan sesuatu selalu mengikuti kata hatinya sendiri, maka dia tidak cocok dengan sutenya.

Dia juga tidak memperdulikan nasihat It im taisu, ketika terjadi pertengkaran untuk terakhir kalinya, dia nekad meninggalkan Go bi san.

Kemudian tinggal menyepi di pinggir pantai ini.

Pengetahuannya luas.

Ilmu silatnya juga lebih tinggi dari It im taisu.

Namun ilmu pengobatannya lebih tinggi lagi.

Wan Fei Yang yang terseret aliran air dan dapat berjumpa dengan orang tua ini, dapat dikatakan sebagai keberuntungannya.

Tapi dia juga tidak mengira dunia ini begini sempit sehingg dapat bertemu dengan Kuan Tiong Liu di tempat ini.

Kesan yang diberikan Kuan Tion Liu kepada diri Hai liong lo jin tampaknya kurang baik.

"Tidak! Aku bilang tidak, tidak!"

Teriak orang tua itu dengan suara memekakkan telinga. Kuan Tiong Liu benar-benar tidak mengerti.

"Kenapa? Apa alasanmu? Kesabarannya mulai habis, tapi dia berusaha menahan diri.

"Karena aku tidak ingin mencelakaimu,"

Teriak orang tua itu kemudian tertawa terbahak-bahak.

"Tidak ingin mencelakai aku?"

Kuan Tiong Liu semakin 639 penasaran.

"Lok jit kiam hoat harus dikombinasikan dengan im dan yang. Ada hawa murni im yang mempengaruhi lweekang baru dapat dikombinasikan dengan arus tenaga yang. Arus tenaga yang dalam dirimu memang sudah memadai, namun hawa murni im belum cukup. Seandainya tidak ada bantuan dari luar dan arus tenaga yang berlebihan, aku khawatir tiga jurus terakhir Lok jit kiam hoat itu belum mencapai kesempurnaan, namun nyawamu sudah melayang,"

Kata Hai liong lo jin menjelaskan.

"Tecu tetap ingin belajar meskipun taruhannya nyawa Tecu!"

Sahut Kuan Tiong Liu dengan tegas dan nekad. Hai liong lo jin tertawa dingin.

"Kalau begitu, berlutut terus saja kau di situ!"

Katanya sambil membalikkan tubuh meninggalkan tempat itu.

Wan Fei Yang cepat-cepat merapatkan pintu penghubung tersebut kembali.

Kuan Tiong Liu tidak bergerak.

Sinar matanya menjadi dingin.

Jit Po dan Liok An menemani di samping kiri dan kanan.

Kepala mereka tertunduk, sepatah katapun tidak berani mereka ucapkan.

*** Tampaknya kekerasan hati Hai liong lo jin tak usah diragukan lagi.

Setelah menutup pintu, dia langsung melangkahkan kakinya ke dalam.

640 Sam cun menyelinap keluar dari kolong meja.

"Suhu, mere… mereka berlutut… di luar…"

"Untuk apa kau perdulikan?"

Bentak Hai liong lo jin, kemudian dia tertawa dingin.

"Apa kau kira kesabaran bocah itu bisa bertahan lama? Aku rasa paling banter dia berlutut selama menyalanya satu batang hio!"

Sam cun tidak berani berkata apa-apa lagi.

"Cepat tidur!"

Teriak Hai liong lo jin kembali.

Sam cun tergesa-gesa meninggalkan koridor panjang itu dengan kepala tertunduk.

Terhadap majikannya yang satu ini, tampaknya Sam cun takut setengah mati.

*** Malam itu Wan Fei Yang tidur dengan pulas.

Obat yang diminumnya memang mengandung khasiat yang dapat menenangkan diri dan dapat tidur dengan nyenyak.

Ketika dia terjaga, hari sudah terang.

Di sekitarnya sunyi sekali.

Demikian juga di liar.

Tidak terdengar suara sedikit pun.

Di ruangan tamu tidak terlihat seorang pun.

Jangan kata Hai liong lo jin, Sam cun pun tidak kelihatan.

Pintu masih tertutup rapat.

Wan Fei Yang mengulurkan tangannya dan mendorong pintu tersebut.

Masalah mengenai Kuan Tiong Liu yang berlutut di luar tidak disimpannya dalam 641 hati.

Ketika pintu sudah terbuka, dia baru teringat kembali… Tepat pada saat itu, suara Kuan Tiong Liu langsung menyusup ke telinganya.

"Susiok!"

Bersama Jit Po dan Liok An, dia masih juga berlutut di tempat yang sama.

Wan Fei Yang segera terpana.

Kuan Tiong Liu juga tertegun.

Dalam waktu yang bersamaan, dia baru tersadar bahwa yang mendorong pintu tadi bukan Hai liong lo jin.

"Wan Fei Yang…!"

Teriaknya dengan nada aneh.

"Kuan.. Kuan tayhiap…"

Wan Fei Yang tidak sempat lagi mengundurkan diri.

Dia terpaksa menenangkan hatinya dan memanggil anak muda itu.

Sikapnya yang lugu masih terlihat jelas.

Meskipun ilmu silatnya sudah demikian tinggi, tapi kebiasaannya menghormati semua orang masih belum berubah.

Kuan Tiong Liu langsung bangkit dan berdiri tegak.

Matanya mendelik ke arah Wan Fei Yang.

"Mengapa kau bisa ada di sini? Bilang!"

"Aku…"

Wan Fei Yang benar-banr tidak tahu harus mulai menceritakan dari mana. Kuan Tiong Liu juga tidak memberikan kesempatan. Dia tertawa dingin beberapa kali.

"Pantas Susiok begitu sentimen kepadaku! Rupanya kau yang menggosok-gosok sehingga dia 642 tidak bersedia mengajarkan tiga jurus terakhir dari Lok jit kiam hoat!"

"Kuan tayhiap, kau jangan salah paham…"

"Salah paham?"

Kuan Tiong Liu mengulurkan tangannya.

"Pedang!"

Jit Po cepat-cepat bangkit dan menyodorkan pedang ke tangan tuan mudanya.

Kuan Tiong Liu langsuyng menghunus pedang itu dan melesat ke depan menerjang Wan Fei Yang.

Tentu saja Wan Fei Yang kelabakan setengah mati.

Di tembok ruangan tergantung sebilah pedang.

Sejak tadi Wan Fei Yang sudah melihatnya.

Dengan gerakan kilat dia menghambur ke arah pedang itu.

Baru saja dia berhasil menyentuh gaganngnya, pedang Kuan Tiong Liu sudah menerjang tiba.

Wan Fei Yang mencabut pedang itu dengan panik.

"Trang!"

Dua perang saling berbenturan.

Kuan Tiong Liu tentu tidak sudi mengalah begitu saja.

Dia menarik pedang tersebut dan menikam ke arah Wan Fei Yang kembali sebanyak tujuh belas kali berturut-turut.

Luka Wan Fei Yang belum sembuh.

Dia terdesak mundur beberapa langkah.

Dia memang tidak berniat bertarung dengan pemuda itu.

Apalagi setelah tahu hubungannya dengan Hai liong lo jin.

Untung saja Kuan Tiong Liu juga baru berlutut semalam suntut.

Kaki tangannnya masih pegal.

643 Semua itu membuat gerakannya agak kaku.

Setelah menyerang berkali-kali berturut-turut, tiba-tiba dia berhenti.

Pemuda itu memperhatikan Wan Fei Yang sejenak kemudian tertawa dingin.

"Tampaknya luka yang kau derita tidak ringan juga!"

Belum sempat Wan Fei Yang menjawab, Kuan Tiong Liu sudah meneruskan perkatannya.

.Kalau tidak salah Susiok sudah meninggalkan rumah sejak pagi tadi.

Kali ini tidak akan ada orang yang menolongmu lagi!"

Setelah mendengus dingin satu kali, dia menerjang lagi ke depan.

Wan Fei Yang menyambut beberapa kali serangannya.

Dia sudah terdesak sampai ke luar rumah.

Kuan Tiong Liu menikam pedangnya ke depan.

Dia tidak memberi kesempatan kepada Wan Fei Yang untuk kabur.

Wan Fei Yang bergulingan di tanah.

Baru saja dia berhasil menghindarkan sebuah serangan, pinggangnya meluik, belum sempat bangkit berdiri, lukanya terasa nyario, dia jatuh terduduk kembali.

Namun pedang Kuan Tiong Liu sudah mengancamnya, terpaksa dia bergulingan dan menghindari serangan yang satu itu.

Wan Fei Yang sudah terdesak jauh.

Di belakangnya terdapat sebatang pohon.

Dia tidak bisa bergeser lebih jauh lagi, kepalanya mulai pusing.

Tepat pada saat itu, Kuan Tiong Liu berteriak lantang dan menikamkan pedangnya lurus ke depan.

Dengan panik Wan Fei Yang menundukkan kepalanya.

Pedang Kuan Tiong Liu meluncur lurus menusuk batnag pohon di belakangnya.

644 Anak muda itu tampak kesal sekali.

Sudah terang lawan di hadapannya tidak berdaya lagi, tapi beberapa kali serangannya masih bisa dihindarkan.

Sekali lagi dia meraung murka dan menyerang kembali.

Wan Fei Yang menggertakkan giginya.

"Tranggg! Tranggg!"

Pedang ditangannya diangkat ke atas dan disapukan ke kiri dan kenan secara kalang kabut.

Tapi tampaknya keberuntungan masih terus berada di dekatnya.

Meskipun dia menangkis dengan gaya kelabakan, semua serangan Kuan Tiong Lkiu berhasil dihindarinya.

Nafas anak muda itu sudah tersengal-sengal.

Tubuh Kuan Tiong Liu mencelat ke udara.

Pedangnya berputar menimbulkan cahaya seperti pelangi.

Sekitar tempat itu dipenuhi hawa pedang yang tebal.

Tampaknya tidak mudah bagi Wan Fei Yang untuk menghindarkan diri dari serangan yang satu ini.

Sebentar lagi dia pasti akan mati atau paling tidak terluka parah.

Sedangkan cahaya yang berpijar tadi tiba-tiba berubah menjadi garis lurus.

Tubuhnya menerjang ke depan.

Wan Fei Yang dapat melihat dengan jelas, matanya terbelalak.

Pada saat yang tepat, tubuh Hai liong lo jin melayang bagai seekor naga sakti.

Tangan kanannya terulur dan telapaknya menghantam pangkal lengan Kuan Tiong Liu sehingga serangannya meleset.

Kuan Tiong Liu segera dapat menduga apa yang telah terjadi.

Untung saja hantaman telapak tangan Hai liong lo jin tidak mengerahkan tenaga sepenuhnya.

Kalau tidak, lengannya itu 645 apsti sudah hancur.

Kakinya menutul tanah dan melesat lagi lalu berjungkir balik dua kali di udara dan melesat lagi berjungkir balik dua kali di udara sebelum melayang turun.

"Susiok!"

Sapanya lalu menjatuhkan diri berlutut di atas tanah.

Jit Po dan Liok An yang ada di ujung sana ikut menjatuhkan diri dan berlutut.

Hai liong lo jin sudah berdiri menghadang di depan Wan Fei Yang.

Orang tua itu tertawa dingin.

"Aku tidak berani menerima panggilan Susiokmu. Aku juga tidak merasa punya keponakan yang suka mengincar kesempatan ketika orang sedang terluka,"

Katanya ketus. Kuan Tiong Liu terpana.

"Susiok, kau…."

"Untung saja aku keburu datang. Tapi malah mengacaukan rencanamu yang bagus, bukan?"

Hai liong lo jin masih juga tertawadingin.

"Orang seperti aku ini paling benci melihat manusia yang suka mencarti kesempatan ketika lawannya sedang terluka. Meskipun kau mempunyai dendam sedalam lautan dengannya, kau jug harus menunggu sampai kesehatannya puluh dulu, baru boleh mengadakan perhitungan. Itu baru tindakan enghiong ho han (Laki-laki jati).

"Tapi…"

"Jangan membantah lagi. Tindakanmu ini pokoknya tidak adil! Menghadapi orang licik sepertimu, bagaimana aku bisa mengajarkan tiga jurus terakhir Lok jit kiam hoat dengan hati lega?"

"Susiok!"

Kuan Tiong Liu panik sekali. Dia menghampiri dengan kedua kaki tetap berlutut. Orang tua itu tidak memperdulikan. Dia sudah mendekati Wan Fei Yang.

"Bagaimana dengan engkau? Banyakkah luka yang kau alami?"

Tanyanya penuh perhatian. Wan Fei Yang menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak apa-apa,"

Sahutnya dengan menahan rasa sakitnya. Dia malah membusungkan dadanya.

"Terang-terangan sedang kesakitan setengah mati, masih berlagak tidak apa-apa!"

Hai liong lo jin menepuk tempat luka Wan Fei Yang.

"Buat apa kau menganggap dirimu sendiri gagah."

Mendapat tepukan tepat di atas lukanya, Wan Fei Yang segera menekuk pinggangnya dan menjerit kesakitan.

Sam cun memutar keluar dari balik sebatang pohon, dia tergopoh-gopoh mendekati Wan Fei Yang dan mengulurkan tangan untuk memapahnya.

Hai liong lo jin melirik Sam cun sekilas.

"Untuk apa kau memapahnya? Kalau memang bermaksud menolong, cepat pulang dan buatkan obat untuknya!"

Bentak orang tua itu. Sam cun melepaskan tangannya kembali dan lari terbirit=birit kembali ke rumah. Mata Kuan Tiong Liu melotot heran.

"Susiok!"

Panggilnya sekali lagi.

"Tidak usah bicara!"

Tukas Hai liong lo jin.

"Pokoknya aku tidak akan mengajarkan tiga jurus terakhir Lok jit kiam hoat!" 647

"Sutit (murid keponakan) hanya ada sedikit masalah mengenai dunia kanouw, dan mengharapkan petunjuk dari susiok,"

Kata Kuan Tiong Liu.

"Oh?"

Hai liong lo jin menoleh kepadanya.

"Siasat apa lagi yang sedang kau pikirkan?"

"Dalam dunia kanouw, partai mana saja yang paling disegani?"

"Tentu saja Bu Tong, Go bi, Siau lim!"

"Kalau begitu Bu ti bun…"

"Sebuah perguruan sesat, mana mungkin disegani orang bulim dan dapat dibandingkan dengan ketiga partai tadi?"

"Apa yang Susiok katakan memang benar."

Kuan Tiong Liu menuding kepada Wan Fei Yang.

"Apakah Susiok tahu kalau dia merupakan anak murid Bu ti bun?"

"Apa?"

Hai liong lo jin terkejut sekali. Tangannya segera terulur dan mencengkeram baju Wan Fei Yang.

"Aku orang Bu tong pai!"

Sahut Wan Fei Yang gugup setengah mati. Kening orang itu berkerut seketika.

"Kalau melihat dari caramu bergerak tadi, jurus yang kau gunakan memang dari Bu tong pai."

"Tapi hari itu di Bu tong san, terang-terangan aku sudah 648 berhasil mendesak putri tunggal Tok ku Bu ti, Tok ku Hong dan murid pertamanya Kongsun Hong, bahkan hampir berhasil membunuh mereka, karena campur tangannya bocah ini, mereka jadi tertolong!"

Kata Kuan Tiong Liu melaporkan. Cengkeraman tangan orang tua itu dipererat lagi.

"Benarkah ada kejadian seperti itu?"

Wan Fei Yang tertawa getir.

"Aku sendiri tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya."

Hai liong lo jin mengendurkan cengkeramannya lalu menghempaskan tubuh Wan Fei Yang ke atas tanah.

Melihat semua itu, Kuan Tiong Liu menyunggingkan senyuman bangga.

Mata Hai liong lo jin yang tajam tiba-tiba beralih kepadanya.

"Pada saat itu, tidak usah diragukan lagi, kau tentunya juga mengincar kesempatan ketika dua orang itu terluka,"

Sindirnya. Kuan Tiong Liu tertegun. Senyumnya hilang seketika.

"Aku…."

"Bu tong pai dapat menghasilkan murid yang bersedia menolong siapa saja yang memerlukannya, tanpa pandang siapa pun orangnya, hal ini patut dikagumi. Tapi murid Go bi pai hanya bisa menggunakan kesempatan ketika lawannnya sedang terluka, benar-benar hal yang memalukan!"

Hai liong lo jin menarik nafas panjang. 649

"Tidak heran Bu ti bun dapat maju sedemikian pesat."

Wajah Kuan Tiong Liu merah padam. Wajahnya tertunduk. Hai liong lo jin mengalihkan pandangannya dan mendelik ke arah Wan Fei Yang.

"Kau tahu aku paling benci orang-orang Bu ti bun. Mengapa kau masih mau menolong mereka?"

Wan Fei Yang tertegun.

"Pertama, karena mereka sedang terluka parah. Sama sekali tidak sanggup memberikan perlawanan. Kedua, waktu itu aku toh masih belum mengenal locianpwe, bagaimana aku bisa tahu kalau kau orang tua begitu membenci mereka?"

Tanyanya keheranan. Hai liong lo jin merenung sejana, kemudian dia menganggukkan kepalanya.

"Apa yang kau katakan ada benarnya."

"Aku bukan anggota Bu ti bun. Aku menolong mereka juga atas perintah Suhu. Aku hanya menjalankan tugas. Hai liong lo jin mendelik sekali lagi kepada Wan Fei Yang.

"Aku percaya,"

Katanya. Wan Fei Yang berbalik menjadi heran.

"Kau percaya?"

"Karena kau memang orang yang pantas dipercaya!"

"Aku hanya seorang bu beng siau cut di Bu tong pai…"

"Dalam pandangank, siapa orangnya yang bukan bu beng 650 siau cut?"

Kuan Tiong Liu dapat melihat keadaan yang tidak menguntungkan dirinya.

"Susiok, orang Bu ti bun ini…!"

"Dia bukan orang Bu ti bun,"

Sahut Hai liong lo jin tenang.

"Tapi orang ini…"

"Aku puas sekali dengan penjelasannya. Sekarang giliranmu untuk menjelaskan mengapa kau selalu mengincar kesempatan ketika orang sedang terluka? Tidakkah kau sadar bahwa dengan berbuat demikian, sama saja kau menjatuhkan nama baik Go bi pai?"

"Pada saat itu aku hanya berpikir untuk membasmi kejahatan. Sama sekali tidak teringat masalah ini,"

Kuan Tiong Liu menundukkan kepalanya. Matanya mengerling kesana kemari. Tiba-tiba dia menarik nafas panjang.

"Mengapa kau menarik nafas panjang?"

Tanya orang tua itu tiba-tiba.

"Aku lebih-lebih tidak menyangka bahwa aku tidak mampu menandingin seorang bu beng siau cut dari Bu tong pai,"

Sahutnya sambil menarik nafas panjang sekali lagi. Kening orang tua itu berkerut.

"Liong gi kiam hoat dari Bu tong pai dan Lok jit kiam hoat dari Go bi pai disebut Suang kiat di dunia bulim. Tapi meskipun aku telah menggunakan Lok jit kiam hoat, aku masih bisa dikalahkan seorang bu beng siau cut dari Bu tong pai. 651 Mungkinkah Lok jit kiam hoat hanya besar namanya saja tapi isinya kosong?"

"Omong kosong!"

Bentak orang tua itu dengan wajah kelam.

"Dulu ketika diadakan pertandingan pedang di Oey san, Ci Siong sendiri mengakui bahwa Lok jit kiam hoat dari Go bi pai tidak di bawah Liang gi kiam hoat dari Bu tong pai. Sedangkan dia yang seorang bu beng siau cut dari Bu tong pai pun tidak berhasil kau kalahkan, hal ini karena…"

"Karena aku masih belum mempelajari tiga jurus terakhir dari Lok jit kiam hoat!"

Tukas Kuan Tiong Liu cepat.

"Susiok, maka dari itu kau harus menurunkan ilmu itu kepadaku!"

"Ini…"

"Juga hanya dengan cara itu, nama baik Go bi pai bisa dipulihkan kembali!"

Kata Kuan Tiong Liu tanpa memberikan kesempatan kepada Susioknya untuk menukas panjang lebar. Hai liong lo jin berpikir sejanak. Hatinya mulai tergerak, akhirnya dia menganggukkan kepalanya.

"Baik. Aku akan menurunkan tiga jurus terakhir dari Lot jit kiam hoat. Setelah itu,"

Matanya beralih kepada Wan Fei Yang.

"Tunggu sampai luka bu beng siau cut dari Bu tong pai ini sembuh, baru diadakan pertarungan yang adil sekali lagi. Lihat apakah Bu tong pai lebih unggul atau Go bi pai lebih unggul."

Baru Wan Fei Yang bermaksud mengatakan sesuatu, Kuan Tiong Liu sudah menyembah dengan membentur kepalanya di atas tanah sebanyak tiga kali.

"Terima kasih atas kebaikan budi Susiok!"

Katanya. 652 Hai liong lo jin tidak menunjukkan perasaan apa-apa. Wan Fei Yang cepat-cepat maju ke depan dan menjura dalam-dalam.

"Budi kebaikan Locianpwe menolong boanpwe tidak akan terlupakan sampai kapanpun juga. Boanpwe tidak berani mengganggu lebih lama…"

"Apa? Mau lari? Tidak begitu mudah!"

Hai liong lo jin mengibaskan tangannya.

"Kau harus tetap di sini sampai luka-lukamu sembuh!"

"Maksud baik Locianpwe…"

"Aku hanya ingin kau berduel dengan jujur menghadapi Kuan Tiong Liu, untuk membuktikan mana yang lebih hebat antara Bu tong pai dan Go bi pai!"

Wan Fei Yang terpaku di tempat. Melihat keadaannya, Kuan Tiong Liu tertawa dingin dalam hati. Namun bibirnya memberi perintah.

"Jit Po, Liok An, kalian harus jaga Wan kongcu baik-baik!"

Jit Po, Liok An mengiyakan serentak.

Mereka langsung menghampiri Wan Fei Yang dan berdiri di kiri kanannya.

Sam cun yang melihat keadaan itu, merasa tidak senang.

Dia juga berjalan mendekati Wan Fei Yang dan menghadang di depan Jit Po dan Liok An.

"Cukup aku sendiri yang mengurus Wan kongcu, kalian tidak diperlukan!"

Katanya.

Jit Po dan Liok An mengerling Sam cun sekilas.

Mereka tidak 653 memperdulikannya.

Sam cun malah menoleh kepada Hai liong lo jin.

Orang tua itu juga tidak memperlihatkan sikap apa-apa.

Dia menggapai tangannyua kepada Kuan Tiong Liu.

"Ikut aku!"

Semangat Kuan Tiong Liu terbangun seketika. Dia langsung menghambur mengikuti Hai liong lo jin. Wan Fei Yang menatap kepergian kedua orang itu. Dia tersenyum pahit. Sam cun maju dan menarik tangannya.

"Kita juga pergi,"

Ajaknya.

Mereka kembali ke dalam rumah.

Jit Po dan Liok An mengikuti dari belakang.

Mereka sangat setia kepada Kuan Tiong Liu.

Sejak saat itu pula, di mana pun Wan Fei Yang berada, mereka pasti mengiringi di belakang.

Wan Fei Yang segera menyadari, kedua orang ini bukan saja tidak selucu Sam cun, malah menyebalkan.

Dia sama sekali tidak mempunyai minat untuk berduel dengan Kuan Tiong Liu, karena walaupun menang atau kalah, keduanya juga tidak menguntungkan dirinya.

Oleh karena itu juga, tiba-tiba dia berpikir untuk kaburdari tempat itu.

Jit Po dan Liok An lebih menjaga ketat Wan Fei Yang pada malam hari.

Mereka bahkan tidur di depan pintu kamar anak muda itu.

*** 654 Tiga hari sudah berlalu, luka Wan Fei yang sudah hampir pulih.

Dia tidak merasa sakit lagi kalau menggerakkan kaki tangannya.

Lautan tidak berombak.

Hari itu indah dan cerah.

Suasana tenang.

Langit bahai tiada batasnya.

Wan Fei Yang melangkahkan kakinya di pesisir pantai.

Semangatnya menyala-nyala.

Sam cun menemani Wan Fei Yang di sampingnya.

Tinggi badannya hanya mencapai pinggang anak muda itu.

Kedua kakinya pendek kecil.

Apabila Wan Fei Yang berjalan satu langkah, maka dia harus bertindak tiga langkah baru dapat menyamainya.

Terhadap Wan Fei Yang, kesannya sangat baik.

Dia malah menaggil anak muda itu Siau fei saja.

"Siau fei, kau lihat kedua bocah Jit Po dan Liok An itu, mereka persis hantu gentayangan yang mengikuti kita sepanjang hari. Kemana pun kota berada, mereka pasti mengikuti dari belakang,"

Katanya.

"Sungguh tidak mudah apabila ingin melepaskan diri dari kedua bocah tersebut."

"Apakah kau sungguh-sungguh tidak ingin bertarung dengan bocah Kuan Tiong Liu itu?"

Tanya Sam cun hati-hati.

"Tidak. Meskipun aku dapat mengalahkan majikanmu pasti akan sedih sekali."

"Cu jin selamanya memang selalu ingin menang."

"Justru itu."

"Tapi Lok jit kim hoat dari Go bi pai tiada duanya di dunia ini. 655 Kalau dia sudah berhasil mempelajarinya, kemungkinan besar dia akan mengalahkanmu."

"Lebih baik begitu."

"Bocah Kuan Tiong Liu itu sangat tinggi hati. Apabila kau sampai dikalahkan olehnya, kemungkinan dia akan turun tangan jahat."

"Kan ada cu jinmu yang menyaksikan dari samping. Seandainya dia berhasil mengalahkan aku, dia juga tidak akan berani berbuat apa-apa."

"Kau tidak boleh dikalahkan olehnya,"

Kata Sam cun sambil membalikkan tubuhnya menghadap Wan Fei Yang.

"Aku hanya mempunyai engkau seorang teman. Bagaimana pun aku akan berusaha sekuat kemampuan untuk membantumu meloloskan diri dari tempat ini."

Wan Fei Yang terpana. Dia terharu mendengar kata-kata Sam cun.

"Eh, Apakah kau mempunyai akal yang baik?"

Tanyanya penuh semangat. Sam cun menganggukkan kepalanya.

"Kita pulang dulu."

Dia membalikkan tubuh kembali dan berjalan ke arah yang mereka datang sebelumnya.

Wan Fei Yang terpaksa mengikuti.

Jit Po dan Liok An segera menyusul dari belakang.

*** 656 Setelah kembali ke kamar, Wan Fei Yang langsung mengunci pintu.

Sam cun tidak ikut masuk ke dalam.

Dia memutar satu kali kemudian menghilang entah kemana.

Jit Po dan Liok An tidak memperdulikan Sam cun.

Mereka duduk di depan pintu kamar Wan Fei Yang.

Satu di sebelah kiri, satu lagi di sebelah kanan.

"Kau lihat si kerdil itu memutar kembali ke tempat ini tadi. Entah permainan setan apa yang sedang direncanakannya?"

Tanya Jit Po yang kecurigaannya mulai bangkit. Liok An mengangkat bahunya.

"Lalu mengapa bocah ini juga tiba-tiba kembali ke kamar?"

Tanya Jit Po kembali.

"Mungkin lukanya tiba-tiba terasa sakit sehingga dia pulang ke kamar untuk beristirahat,"

Sahut Liok An.

"Aku tetap merasa ada yang tidak beres terutama si kerdil itu."

"Apa yang bisa dilakukan paku payung itu? Sudah… tidak usah dipikirkan."

"Takutnya dia akan membantu Wan Fei Yang melarikan diri. Daerah sekitar sini, bagaimana pun dia lebih jelas daripada kita."

"Aku yakin dia tidak mempunyai nyali sebesar itu."

"Apa ini?"

Jit Po tiba-tiba terpana.

Segumpal asap yang tipis dan berwarna merah tiba-tiba 657 berhembus keluar dari balik gerombolan pohon menuju ke arah Jit Po dan Liok An.

Belum sempat Liok An menyahut, asap merah itu telah menyelimuti mereka berdua.

Jit Po seakan baru sadar apa yang telah terjadi.

"Celaka!"

Katanya.

Dia baru bermaksud membuka mulut untuk berteriak ketika tubuhnya terkulai ke tanah.

Di sampingnya Liok An juga menyusul jatuh.

Dari balik gerombolan pohon dan bunga-bungaan terdengar suara tertawa cekikikan.

Seseorang keluar dari tempat itu.

Siapa lagi kalau bukan Sam cun.

Tangannya menggenggam sebuah tabung bambu berbentuk kecil panjang.

Mirip seruling yang biasa digunakan untuk menyenandungkan irama.

Wajahnya berseri-seri.

"Lihat lain kali apakah kalian masih berani meremehkan aku, Sam cun?"

Tabung bambu itu diselipkannya pada ikat pinggang.

Dia melangkah ke depan.

Pintu kamar segera terbuka.

Wan Fei Yang menyembulkan kepalanya.

Kemudian dia memijit hidungnya sendiri lalu melesat ke hadapan Sam cun.

Sam cun cepat-cepat menarik tangan Wan Fei Yang dan berlari menuju bagian belakang kamar.

Baru berjalan beberapa langkah, Wan Fei Yang menghentikan langkah kakinya.

"Sam cun, obat apa yang kau gunakan tadi?"

Tanyanya tiba-tiba.

"Jangan khawatir. Bukan racun. Mereka hanya tidak sadarkan 658 diri untuk beberapa saat,"

Sahut Sam cun dengan bangga.

"Aku sudah mengikuti Cu jin sekian lama, sedikit-sedikit sih mengerti juga cara menggunakan obat-obatan."

Sam cun semakin bangga. Dia mengeluarkan tabung bambu tadi.

"Obat ini bernama Pua jit hiong (harum setengah hari). Begitu terhirup, orang itu akan pingsan selama setengah hari."

Pada saat itu, mereka sudah smapai di ruangan utama.

Wan Fei Yang yang menarik pintu tersebut, tapi dia tertegun seketika.

Demikian pula dengan Sam cu.

Mulutnya terbuka lebar dan matanya terbelalak.

Hai liong lo jin berdiri di depan pintu dengan berkacak pinggang.

"Masih berusaha untuk melarikan diri?"

Hai liong lo jin menggelengkan kepalanya.

"Dengan susah payah aku menurunkan tiga jurus terakhir dari Lot jik kiam hoat kepada Kuan Tiong Li, apabila kau pergi, siapa yang harus bertanding dengannya?"

Wan Fei Yang menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Ilmu silat boanpwe masih jauh dari sempurna. Mana mungkin boanpwe sanggup mempetahankan diri dari Lot jit kiam hoat yang sudah terkenal itu? Boanpwe takut, jangan-jangan akan terluka semakin parah,"

Sahutnya merendahkan diri.

"Jangan banyak bicara. Biar aku buktikan dengan mata kepala sendiri. Masuk!" 659 Wan Fei Yang terpaksa mengundurkan diri. Mata Hai liong lo jin beralih kepada Sam cun yang masih memegang tabung bambu di tangannya. Wajahnya berubah kelam seketika.

"Pua jit hiong. Apakah kau yang membuat kedua bocah itu pingsan?"

Sam cun terpaksa menganggukkan kepalanya.

"Berani-beraninya kau menggunakan obat milikku untuk melakukan hal semacam ini?"

Bentak Hai liong lo jin marah.

Wan Fei Yang menghentikan langkah kakinya tatkala mendengar bentakan tersebut.

Sam cun ketakutan setengah mati.

Tubuhnya gemetar.

Dia bersembungi di balik tubuh Wan Fei Yang.

"Kau kira aku tidak menghukummu dengan cara yang sama. Aku akan menggunakan Ban nian cui (obat mabuk selaksa tahun) untuk menghadapimu. Biar kau mabuk selaksa tahun."

"Cu jin, ampuni aku kali ini,"

Ratap Sam cun dengan wajah panik.

Baru saja Wan Fei Yang bermaksud membuka mulut untuk memohon pengampunan bagi Sam cun, orang tua itu sudah tertawa terbahak-bahak.

Dan Sam cun pun menghela nafas lega.

Suara tawa Hai liong lo jin sirap beberapa detik kemudian.

Dia mendelik ke pada Sam cun.

"Mulai sekarang, kau harus menjaga sahabat baikmu ini baik-baik. Kalau sampai dia melarikan diri, maka akan kupatahkan sepasang kakimu."

Sam cun terkejut setengah mati mendengar kata-katanya. Dia slaing pandang dengan Wan Fei Yang. 660

"Paling lama setengah bulan Buan Tiong Liu sudah bisa menguasai tiga jurus terakhir Lok jit kiam hoat. Buat apa panik?"

Hai liong lo jin menatap Wan Fei Yang sambil menggelengkan kepalanya.

Kemudian dia tertawa terbahak-bahak dan meninggalkan tempat itu.

Wan Fei Yang hanya dapat tertawa getir.

*** Bu tong pai dalam keadaan goncang.

Dari Bu ti bun malah tidak terdengar berita apa pun yang mengejutkan.

Sejak berdirinya perguruan itu, baru kali ini orang-orang mereka begitu tenang dan tidak menimbulkan kekacauan di dunia kangouw.

Hal ini disebabkan oleh peristiwa yang terjadi secara beruntun sementara Tokku Bu ti masih menutup diri berlatih ilmu.

Sebelum menutup diri, Tokku Bu ti sudah menyebarkan panji telapak darah dan berpesan bahwa siapun anggotanya tidak boleh membuat keributan di luar selama dia masih belum keluar dari ruangan di mana dia berlatih ilmu.

Tentu saja tidak ada orang yang berani melanggar perintah tersebut.

Oleh karena itu juga, keadaan dalam dunia kangouw menjadi tenang kembali.

Tentu saja mereka tahu, ketenangan seperti ini hanya untuk sementara.

Persis seperti sebelum terjadi hujan badai.

Sementara itu aula tempat latihan dalam perguruan Bu ti bun malah tidak pernah tenang.

Apalagi sejak Tokku Hong kembali ke rumah.

Di tempat latihan itu sekarang 661 bertambah sebuah barisan Pak tou jit sing ceng.

Barisan ini sama seperti barisan di Bu tong san, tapi juh lebih kaku dan tidak banyak perubahan.

Apa sebabnya?

Karena barisan ini dibuat hanya berdasarkan ingatan Kongsun Hong dan Tok ku Hong saja.

Mereka hanya mengira-ngira.

Padahal pada saat mereka benar-benar terkurung oleh Pak tou jit sing ceng tempo hari, kepala mereka sudah pusing tujuh keliling diserang dari kiri kanan.

Bagaimana mereka dapat melihatnya dengan jelas?

Bagi mereka sendiri, latihan ini benar-benar menguji mental.

Mereka bertekad mencari kelemahan barisan tersebut.

Sebetulnya ini merupakan ide Tok ku Hong, tapi Kongsun Hong sudah pasti tidak berani membantah.

Dengan demikian terbentuklah barisan Jit sing ceng kiam yang kacau balau di Bu ti bun.

Yang membentuk barisan tentu saja para anggota Bu ti bun.

Sampai sekarang sudah berganti sebanyak dua ratus tujuh puluh tiga kali.

Dan orang yang terluka sudah sebanyak empat ratus lima puluh enam orang.

Sampai saat itu juga, Kongsun Hong dan Tok ku Hong dapat menerobos keluar dari barisan tiruan tersebut dengan mudah.

*** Jit goat lun di tangan Kongsun Hong berputar menyapu angkasa.

Sepasang golok Tok ku Hong tidak memandang bulu.

Cahaya pedang berpijaran.

Tujuh batang pedang meluncur ke depan.

Tujuh orang anggota Bu ti bun mengikuti 662 gerakan Jit sing ceng seperti yang digambarkan oleh Tok ku Hong dan Kongsun Hong.

Posisi mereka berubah-rubah.

Sebatang pedang tiba-tiba menyerang ke arah mereka berdua.

Gerakan mereka cepat sekali.

Langkah kaki dan sapuan senjata di tangan juga sangat hidup.

Tampaknya tidak berbeda dengan jit sing kiam ceng yang asli.

Tapi sayangnya persis pepatah, yang kosong nyaring bunyinya.

Hanya gayanya saja yang hebat, tapi sebetulnya tidak berisi.

Setelah terdengar suara benturan hebat yang memekakkan telinga, akhirnya Tok ku Hong keluar dari barisan tersebut.

Mata Tok ku Hong menyorotkan sinar kemarahan.

Sepasang goloknya diangkat ke atas.

"Apa yang kukatakan tadi? Apabila aku masih sanggup menerobos keluar sebelum jurus kedua puluh lima, maka kalian semua harus mati!"

Bentaknya lantang.

Wajah ketujuh anggota Bu ti bun itu berubah pucat seketika.

Salah seorang dari mereka langsung menjatuhkan diri dan meratap… "Tapi, Toa siocia… kau sudah menggunakan dua puluh tujuh jurus…"

Tok ku Hong tertegun.

"Pokoknya barisan ini masih jauh kalau dibandingkan dengan jit sing kiam ceng yang asli dari Bu tong pai!"

Kongsun Hong segera maju ke depan satu langkah. 663

"Sumoay…"

"Tidak perlu berlatih lagi!"

Tok ku Hong melemparkan sepasang goloknya ke atas lantai.

Dia membalikkan tubuh dan menghambur meninggalkan tempat itu.

Kongsun Hong tergesa-gesa mengejarnya.

Sampai di halaman luar, dia baru berhasil menyusul Tok ku Hong.

"Sumoay, kalau Jit sing kiam ceng dari Bu tong pai demikian mudah diterobos, mana mungkin disebut barisan nomor satu di dunia?"

Kata Kongsun Hong.

"Maksudmu, selama hidup ini aku tidak akan bisa memecahkan barisan itu?"

Tanya Tok ku Hong sambil mendelikkan matanya lebar-lebar.

"Toh tidak lama lagi Suhu sudah dapat menyelesaikan latihannya. Untuk apa kita harus takut lagi terhadap barisan itu?"

"Aku ingin memecahkannya sendiri!"

"Mungkin Suhu mempunyai rumus memecahkan barisan itu. Dengan demikian niatmu akan terkabul. Berbeda dengan aku yang meninggalkan pedang di atas Bu tong san. Benar-benar habis sudah harapanku untuk mengambil kembali pedang tersebut,"

Kata Kongsun Hong.

"Ci Siong tojin sudah mati. Apa kau harus menemuinya di neraka?"

Tok ku Hong mendengus dingin. 664

"Biar bagaimana pun, aku akan meminta Tia-tia menemani aku naik ke Bu tong san dan mencuci kekesalanku dengan darah para muridnya!"

Tiba-tiba seorang pelayan berlari-lari mendatangni dan berhenti di depan sebatnag pohon.

"Toa siocia…"

Panggilnya.

"Ada apa?"

Tanya Tok ku Hong dengan nada dingin.

"Harap Toa siocia kemari sebentar, ada sedikit urusan…"

"Katakan saja… Buat apa plintat-plintut seperti setan gentayangan saja!"

Bentak Tok ku Hong kesal. Pelayan itu mengerling sekilas ke arah Kongsun Hong.

"Tapi… tapi urusan ini menyangkut Liong hong kek…."

Wajah Tok ku Hong berubah seketika. Dia menghampiri pelayan itu.

"Apa yang terjadi di sana?"

"Setiap hari bermuram durja, sudah beberapa hari tidak mau makan apa-apa. Kalau begitu terus, budak takut.. Siocia…"

"Mengapa bisa begitu?"

"Siocia, lebih baik kau ke sana dan menasihati…"

"Selamanya Tia melarang aku ke sana. Beberapa kali aku menyelinap ke sana, tampaknya Tia sudah tahu. Sekarang sengaja dia suruh orang menjaga dengan ketat. Kalau tidak ada lencana emas milik Tia, siapa pun dilarang masuk."

"Coba Siocia pikirkan lagi, apakah masih ada cara yang lain. Kalau tidak…."

"Tidak usah dibicarakan lagi!"

Wajah Tok ku Hong semakin kelam. Kongsun Hong yang memperhatikan dari samping, tidak dapat menahan diriny lagi. Dia segera mendekati Tok ku Hong.

"Sumoay… apa yang telah terjadi?"

Pikiran Tok ku Hong segera tergerak.

"Suheng… Sebelum Tia menutup diri, apakah dia menyuruh kau menjaga aku baik-baik? Tidak boleh ada sesuatu pun yang terjadi denganku?"

Tanyanya hati-hati.

"Tidak salah!"

"Seandainya ada orang yang berani menganggu aku?"

"Seandainya ada yang berani mengganggu seujung rambutmu saja, dia harus tanyakan dulu pada kepalan tanganku ini!"

Kongsun Hong membusungkan dadanya. Gayanya gagah sekali.

"Tentu saja sekarang belum ada orang yang berani mengganggu aku. Tapi ada satu persoalan yang tidak dapat kuselesaikan."

"Masalah apa? Serahkan saja kepadaku!"

Dada Kongsun Hong semakin membusung. 666

"Sekarang aku ingin melakukan suatu pekerjaan yang sangat berbahaya,"

Kata Tok ku Hong kembali. Kongsun Hong tidak habis pikir.

"Aku akan ikut denganmu!"

"Benar?"

Senyum Tok ku Hong merekah seketika.

Wajahnya tampak semakin cantik.

Kongsun Hong hanya memperhatikan kecantikan wajah gadis itu, dia sama sekali tidak memperdulikan hal lainnya.

Kepalanya mengangguk terus menerus.

"Pokoknya kau tidak boleh menyesal."

"Laki-laki sejati tidak akan menjilat ludahnya kembali!"

Sahut Kongsun Hong tegas. Wajah Tok ku Hong menjadi serius.

"Aku akan pergi ke Liong hong kek."

Kongsun Hong terkejut sekali.

"Apa? Suhu sudah berpesan…"

"Apakah aku tidak boleh mengunjungi ibuku sendiri?"

"Ini… ini…"

"Sekarang kau menyesal dan tidak bersedia menemani aku?"

"Aku…"

Keringat dingin membasahi kening Kongsun Hong.

"Sudahlah… Kau tidak mau menemaniku tidak apa-apa. Aku 667 akan pergi sendiri. Aku tidak percaya Tia akan mengapa-apakan diriku,"

Kata Tok ku Hong sambil melangkah pergi. Kongsun Hong segera mengejarnya.

"Sumoay, kau benar-benar mau ke sana?"

"Kau kira aku sama sepertimu, sudah berjanji tiba-tiba tidak jadi?"

Wajah Kongsun Hong merah padam. Dia menggertakkan giginya erat-erat.

"Baik! Aku juga pergi. Aku akan melindungimu."

Tok ku Hong membalikkan tubuhnya dan tersenyum.

"Kalau begitu, malam ini kentungan ketiga, kau tunggulah aku di luar Liong hong kek."

"Kau harus berhati-hati!"

Kata Kongsun Hong.

"Seharusnya kita berdua yang harus berhati-hati!"

Hati Kongsun Hong gembira sekali.

Segala resiko tidak dipikirkan lagi olehnya.

*** Tinggi tembok kurang lebih empat depa.

Ci Siong to jin telah mempelajari ‘hui hun cong’ dengan sempurna.

Untuk memanjati tembok setinggi itu tidak jadi masalah baginya.

Berbeda dengan Tok ku Hong.

Gadis itu tentu tidak dapat 668 memanjat tembok itu dengan demikian mudah.

Tapi akhirnya dia bisa juga melakukannya.

Tok ku Hong adalah seorang gadis yang keras hatinya.

Sesuatu yang ingin dicapainya akan diusahakannya terus sampai berhasil.

Dia bukan jenis manusia yang mudah menyerah begitu saja.

Malam ini rembulan masih memancarkan cahaya yang dingin.

Tok ku Hong berdiri membelakangi cahaya rembulan.

Sejenak kemudian dia berjalan melewati kolam yang di atasnya mengapung bunga teratai.

Dia menuju gedung kecil tersebut.

*** Cahaya rembulan menyorot masuk ke dalam kamar.

Sinar lentera berpadu dengan cahaya rembulan.

Redup-redup bagai gulungan asap.

Remang-remang bagai gumpalan kabut.

Wanita yang duduk sendirian di depan jendela persisi seperti rembulan di balik gulungan asap seperti bunga tertutup kabut.

Begitu sunyi menyendiri, begitu mengenaskan.

Usianya tidak muda lagi.

Pad abagian kening dan di sekitar mata sudah tampak kerutan, tapi kecantikannya masih belum pudar.

Kalau diperhatikan dengan seksama, dapat terlihat bahwa ada kemiripan antara wajahnya dengan wajah Tok ku Hong.

Di atas meja tergeletak sehelai lukisan.

Lukisan itu sudah terbuka dan terpapar di hadapannya.

Gambar dalam lukisan itu merupakan seorang laki-laki berpakaian tosu dan usianya 669 masih cukup muda.

Tidak diragukan lagi bahwa yang terlukis dalam gambar itu adalah Ci Siong tojin semasa muda.

Mata wanita setengah baya itu menatap orang dalam lukisan itu lekat-lekat.

Sinar matanya sayu dan sendu.

Di pipinya masih terlihat mengembang air.

Tiga kali berturut-turut Ci Siong to jin selalu menjumpai wanita ini sebelum mengadakan pertarungan dengan Tok ku Bu ti.

Tapi tempo hari dia tega membiarkan Ci Siong to jin berdiri di luar jendela sepanjang malam.

Apakah dia sekarang menyesal?

Untuk apa berjumpa seandainya perjumpaan itu membuat hati keduanya lebih sakit lagi?

Bukankah lebih baik tidak usah bertemu sama sekali?

Akhirnya dia memang mengeraskan hati untuk tidak bertemu dengan Ci Siong to jin.

Dalam hatinya, wajah Ci Siong to jin masih seperti dalam lukisan itu.

Dalam kenyataannya apakah demikian, dia samak sekali tidak perduli.

Memang banyak hal dalam dunia ini yang tidak diperdulikannya lagi.

*** Tiba-tiba terdengar suar aketukan pintu.

Wanit asetengah baya itu bagai tersadar dari mimpi.

Dia terkejut sekali.

"Siapa?"

Tanyanya lirih.

"Aku."

Suara Tok ku Hong. Wanita cantik berusia setengah baya itu mengerlingkan matanya. Cepat-cepat dia menggulung kembali lukisan di atas 670 meja dan memasukkannya ke dalam laci.

"Pintu kamar tidak dikunci. Masuk saja,"

Katanya. Segera terdengar suara pintu didorong. Tok ku Hong melangkah ke dalam.

"Ibu…!"

Wanita cantik itu cepat-cepat menghampiri.

"Hong ji, bagaimana kau bisa kemari?"

Tok ku Hong meletakkan keranjang yang dibawanya ke atas meja. Dia memeluk wanita setengah baya itu erat-erat.

"Ibu, Hong ji tidak berbakti. Sampai sekarang Hong ji baru datang menjenguk ibu."

Wanita setengah baya itu memapah Tok ku Hong duduk di samping meja.

"Kau kurus sekali,"

Katanya.

"Bukankah ibu lebih kurus lagi?"

"Bukankah ayahmu sudah menurunkan perintah bahwa siapapun tidka boleh datang kemari?"

"Kalau aku memang mau datang, siapa yang bisa menghalangi?"

"Bagaimana kalau ayahmu mengetahuinya?"

"Dia tidak akan tahu. Suheng juga tidak mungkin mengatakannya.

"Suheng? Maksudmu anak Hong?" 671

"Kali ini dia yang mengalihkan para penjaga sehingga aku bisa menyelinap ke sini."

Tiba-tiba sebuah perasaan menyusup di hati gadis itu.

"Ibu, tadi kau menangis?"

Wanita setengah baya itu cepat-cepat mengusap bekas air mata dengan lengan bajunya.

"Ada apa?"

Desak Tok ku Hong.

"Menangisi seorang teman yang baru meninggal."

"Siapa orang itu?"

"Ibu katakan kau juga tidak kenal,"

Air matanya mengalir lagi.

"Ibu, beberapa hari kau tidak makan apa-apa. Sebetulnya apa yang terjadi?"

"Ibu hanya sedang tidak nafsu makan."

"Apakah masakannya kurang enak, aku akan menyuruh orang bagian dapur lebih berhati-hati…"

"Hong ji…"

Wanita cantik itu menarik nafas panjang.

"Kau sudah banyak menderita."

"Menderita?"

Tanya Tok ku Hong tidak mengerti.

"Aku sama sekali tidak menderita. Apa yang aku inginkan selalu dikabulkan oleh Tia. Hanya satu, yaitu menjenguk Ibu. Aku benar-benar tidak habis pikir, mengapa kalian harus berpisah dan seperti orang asing saja?"

"Berulangkali ibu sudah mengatakan kepadamu. Jangan lagi mengungkit persoalan ini."

Wajah wanita tua itu menjadi semakin kelam. Melihat kesedihan wanita itu, Tok ku Hong cepat-cepat mengalihkan bahan pembicaraan.

"Ibu, aku membawakan sedikit bubur untukmu."

Dia segera mengeluarkan mangkok dan sumpit dari keranjang yang dibawanya tadi.

Setelah itu dia juga mengeluarkan sebuah panci berisi bubur.

Disendokkannya bubur itu semangkuk penuh kemudian disodorkan ke hadapan ibunya.

Wanita setengah baya itu menerima mangkuk itu dan mencobanya sedikit.

Dia tersenyum-senyum.

"Kau yang masak bubur ini?"

Tanyanya lembut.

"Kok Ibu bisa tahu?"

"Kecuali kau, siapa lagi yang masak bubur yang demikian tidak enak?"

"Ibu…"

Panggil Tok ku Hong seraya merajuk.

"Oh ya…. Bagaimana pelajaran silatmu akhir-akhir ini?"

"Rasanya lebih baik dari sebelumnya."

"Usiamu juga tidak muda agi. Apakah kau sudah mempunyai…?"

"Ibu! Mulai lagi…" 673

"Bagaimana orang yang di luar itu terhadapmu?"

"Lumayan. Kadang-kadang menurut saja seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Kadang-kadang takut setengah mati kalau aku marah sedikit saja. Tidak berguna! "

Lihat! Kau begini galak, siapa yang tidak takut terhadapmu?"

Tok ku Hong hanya tersenyum sebagai jawabannya. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang kemudian disusul kumandangnya suara Kongsun Hong.

"Sumoay… waktunya sudah hampir habis."

"Kalau kau takut mati, pergi saja kau duluan,"

Sahut Tok ku Hong dingin. Wanita setengah baya itu tersenyum manis.

"Suruh dia masuk ke dalam."

Tok ku Hong merenung sejenak.

"Suheng, Ibu menyuruh kau masuk ke dalam!"

"Aku…."

Nada suara Kongsun Hong terdengar bimbang.

"Lebih baik aku tunggu di luar saja."

"Benar-benar tidak berguna!"

Bentak Tok ku Hong sambil mendengus dingin. Kemudian dia berjalan menuju pintu kamar danmenariknya.

"Kalau disuruh masuk, cepat masuk!" 674 Kongsun Hong tidak berani membantah. Terpaksa dia mengeraskan hatinya dan melangkah ke dalam. Sampai di hadapan wanita setengah baya itu dia menjura dalam-dalam.

"Subo…!"

"Kau sudah tinggi sekali,"

Kata wanita itu sambil menarik nafas panjang.

"Hong ji, hari sudah larut, lebih baik kau kembali sekarang."

"Ibu…"

Tampaknya Tok ku Hong masih berat meninggalkan tempat itu.

"Kalau kau sampai kepergok para penjaga, lain kali kau datang lagi kemari, tentu akan lebih banyak kesulitan."

Tok ku Hong terpaksa melangkahkan kakinya dengan hati kecewa.

"Hong ji…!"

Panggil wanita setengah baya itu.

"Ibu, apalagi yang hendak kau sampaikan!"

"Ingat! Lain kali jangan terlalu keras kepala!"

Tok ku Hong menganggukkan kepalanya.

Bersama-sama Kongsun Hong, dia mengundurkan diri.

Wanita setengah baya itu memperhatikan sampai pintui kamar tertutup kembali.

Dia menarik nafas panjang.

Setelah tertegun sejenak, dia mengeluarkan lagi lukisan yang disimpannya dalam laci tadi.

Matanya menatap gambar Ci Siong to jin di dalam lukisan.

Lama kelamaan air matanya menetes lagi.

675 *** Yang mengalir pada diri Tok ku Bu ti bukan air mata, tapi keringat.

Pakaiannya sudah basah semua.

Di hadapannya ada sebuah tungku api yang sedang berkobar-kobar.

Sinar matanya lebih terang dari kobaran api.

Di dalam ruangan yang luas itu hanya terdengar letukan api dalam tungku.

Tok ku Bu ti merangkapkan sepasang tanyannya di depan dada.

Dia duduk bersila di atas sebuah batu berbentuk bundar dan pipih.

Berkali-kali dia mengedarkan hawa murninya ke seluruh tubuh.

Hatinya tidak tenang sejak tadi.

Banyak persoalan yang ingin dilupakannya kini justru berkecamuk dalam benaknya.

Bayangan seorang gadis yang cantik jelita melintas dalam hatinya.

Dialah Sen Man Cing.

Gadis itu merupakan teman mainnya sejak kecil.

Akhirnya mereka dapat merangkap menjadi suami istri.

Lilin merah belum padam.

Air mata Sen Man Cing masih membasahi bantal.

Namun Tok ku Bu ti merasa dirinya bagai orang yang sudah mati.

Latihan Mit kip sin kang mencapai tingkat enam, berarti kesempatan untuk mempunyai anak pun tidak ada lagi.

Inilah kenyataan, Tok ku Bu ti terpaksa menerimanya.

Sekarang menyesal pun tiada guna lagi.

Semuanya sudah terlanjur.

Latihan Mit kip sin kang memang menghancurkan harapannya sebagai laki-laki.

Dia tidak bis amenjalankan kewajibannya lagi, lalu bagaimana mungkin punya anak.

Tidak 676 ada obat untuk menyembuhkan keterlanjuran yang satu ini.

Wajah Tok ku Bu ti menyiratkan penderitaan yang dalam.

Dia sudah mulai melupakan persoalan yang satu ini.

Tapi tiba-tiba ingatan itu bagai sebatang paku yang menusuk dirinya perlahan-lahan.

*** Kepala mengenakan mahkota.

Berpakaian tosu.

Dia adalah Ci Siong to jin.

Bagaimana Sen Man Cing bisa bersama-sama dengan Ci Siong?

Perut Sen Man Cing semakin hari semakin besar!

Anak siapa itu?

Anak Siapa?

Selamat Suhu, tutup diri kurang dari lima tahun saja sudah berhasil melatih ilmu Mit kip sin kang sampai tingkat keenam.

Seorang bocah berusia sepuluh tahun.

Dialah Kongsun Hong yang memberi selamat kepadaku.

Masih ada lagi seorang bocah perempuan berusia kruang dari empat tahun.

Dia adlaah Hong ji.

Tia!

Mereka mengatakan kau adalah ayahku.

Aku bukan ayahmu!

Aku bukan ayahmu!

*** 677 Kabut menyelimuti malam yang dingin.

Gedung kecil itu dirayapi kesunyian.

Liong hong kek, itulah Liong hong kek!

Sen Man Cing dan Ci Siong berpelukan mengucapkan kata perpisahan.

Mereka masih berat satu sama lainnya.

Seseorang berdiri di antara gerombolan bunga.

Pakaiannya sudah basah kuyup oleh embun pagi.

Siapa dia?

Akulah orangnya!

Akulah orangnya!

*** Semua kenangan itu berputaran di pelupuk matanya.

Semua itu merupakan penderitaan.

Penderitaan itu bagaikan ribuan jarum yang menusuk-nusuk hatinya, seakan menyusup sampai ke sukma Tok ku Bu ti.

Keingat bagai sumber air yang mengalir tidak hentinya.

Matanya yang terpejam membuka kembali.

Tiba-tiba dia membuak mulutnya dan mengeluarkan jeritan yang menyeramkan dan menyayat hati.

*** 678 Malam surah larut.

Fajar tidak lama lagi akan menyingsing.

Kecuali para penjaga, seluruh penghuni Bu ti bun sedang lelap dalam mimpi.

Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara teriakan yang mengerikan tadi.

Semuanya terbangun seketka.

Para penjaga berhamburan dengan panik.

Beramai-ramai mereka berlari ke arah asal suara, yaitu tempat menutup diri Tok ku Bu ti.

Suara jeritan masih berkumandang.

Sekali lagi, dua kali, terus menerus.

*** Setelah menjerit berulang kali, akhirnya Tok ku Bu ti bangkit berdiri.

Sepasang telapak tangannya diulurkan ke depan.

Segulung angin yang menderu-deru menyelimuti ruangan itu.

"Blesss!"

Kobaran Api dalam tungku padam seketika. *** Suara jeritan histeris tidak terdengar lagi. Diganti dengan derita pintu yang terbuka.

"Krek! Krek! Krek!"

Pintu ruangan di man Tok ku Bu ti menutup diri selama dua tahun tertarik naik perlahan-lahan.

Ketua Bu ti bun itu berdiri di 679 belakang pintu baru tersebut.

Para murid Bu ti bun yang menunggu di luar pintu sejak mendengar jeritan histeris tadi langsung menjatuhkan diri berlutut.

"Wi tian wei toa, ju jit fang tiong!"

Teriak mereka serentak.

Kongsun Hong, Cian bin hud dan Tok Ku Hong bergegas maju menyambut.

Baru kemudian beberapa langkah, mereka menghentikan kakinya.

Dalam bayangan mereka, Tok ku Bu ti pasti akan melatih ilmu Mit kip sin kangnya sampai tingkat sembilan atau tingkat sepuluh baru kelaur dari ruangan tersebut, tentunya laki-laki itu semakin gagah dan perkasa.

Suara teriakan sudah sirap.

Tapi Tok ku Bu ti yang baru keluar dari ruangan di mana dia menutup diri selama ini terlihat lesu dan lelah sekali.

Wajahnya kuyu, lebih kurus daripada sebelum menutup diri.

Juga tampangnya berubah jauh lebih tua.

Tok ku Hong, Cian bin hud dan Kongsun Hong memandangnya dengan terbelalak.

Tok ku Bu ti tidak mengatakan apa-apa.

Dia hanya mengedarkan pandangannya dan menatap seluruh anggota Bu ti bun dengan datar.

Kemudian dia berjalan menuju ruangan utama.

Tok ku Hong tidak dapat menahan dirinya lagi.

"Tia…!"

Panggilnya sendu. Mendengar suara itu, langkah kaki Tok ku Bu ti terhenti. Dia tidak menoleh tapi hanya mengibaskan tangannya.

"Satu kentungan lagi kita berkumpul di ruangan pertemuan,"

Katanya datar.

680 *** Lilin yang belum lama dinyalakan kini hanya tinggal separuhnya saja.

Saat itu dua kentungan sudah berlalu sejak Tok ku Bu ti keluar dari ruangan di mana dia menutup diri.

Sekarang dia masih duduk di kursi tinggi di tengah-tengah ruangan dan mendengarkan laporan dari anak buahnya.

Di atas meja yang terletak di sampingnya terdapat beberapa macam makan kecil juga sebuah teko the lengkap dengan cangkirnya.

Dia mendengarkan laporan dengan mata setengah terpejam.

Kadang-kadang dia mengangkat cangkir the dan minum satu dua teguk.

Kadang kala dia juga mengambil makanan kecil dan menyuapkannya ke dalam mulut.

Terkadang alisnya berkerut, terkadang wajahnya tidak menunjukkan perasaan apa-apa.

Tidak mudah menerka apa yang tersimpan dalam hati orang ini.

Bibirnya juga ada kalangan mengembangkan senyuman, namun tiba-tiba dia menarik nafas panjang danmenggelengkan kepalanya berkali-kali.

Setelah keluar dari ruangan di mana dia menutup diri tadi, dia sempat kembali ke kamar untuk membasuh diri dan mengganti pakaian.

Kemudian dia beritirahat sejenak.

Sekarang tampak Tok ku Bu ti bagai dua orang yang berlainan dengan sebelumnya.

Di dalam ruangan pertemuan itu telah berkumpul lima orang Tongcu dari bagian dalam dan luar.

Dua orang hu hoat juga hadir di sana.

Selain itu masiha da beberapa pelayan yang bertugas mengantarkan minuman dan makanan.

Mereka berdiri di samping menunggu perintah.

Bernafas pun tidak 681 berani kuat-kuat.

Para hadirin juga hampir tidak menyentuh minuman dan makanan yang disediakan.

Selain menceritakan berbagai peristiwa yang terjadi selama Tok ku Bu ti menutup diri, hal lainnya tidak berani mereka ungkit sama sekali.

Tok ku Hong pun hanya memperlihatkan sikap diam dan menundukkan kepala, hal mana belum pernah terlihat sebelumnya.

Apalagi Kongsun Hong.

Dia lebih-lebih tidak berani bergerak sama sekali.

Sampai Kongsun Hong menyelesaikan laporannya, Tok ku Bu ti baru menghela nafas berkali-kali.

Dia mengangkat cangkirnya dan meminum beberaa teguk.

Para hadirin lainnya juga mengangkat cangkir masing-masing dan mengikuti tindakan ketua mereka.

Orang-orang itu seakan ingin meredakan ketegangan yang berlangsung dengan membasahi tenggorokan mereka.

Tok ku Bu ti meletakkan cangkirnya di atas meja kemudian mengambil sebatang pit lalu menulis beberapa huruf di atas sehelai kertas.

Setelah agak lama dia baru membuka suara.

"Kalian semua mengira bocah bernama Wan Fei Yang itu yang membunuh Ci Siong to jin?"

Tanpa ragu lagi mereka semua menganggukkan kepalanya.

Melihat semua itu, Tok ku Bu ti menggelengkan kepalanya sambil menarik nafas panjang.

Dia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke tengah ruangan.

"Han ciang tiau siu yang merupakan hu hoat dari perguruan kita mati di bawah tangan ‘hujan’ yang merupakan kelompok 682 Angin, Kilat, Geledek dan Hujan dari Pit lok cik. Padahal waktu itu, Hujan sedang mengadakan pertemuan dengan Manusia tanpa wajah. Toko obat itu sudah dapat dipastikan merupakan tempat rahasia di mana mereka mengadakan pertemuan. Wanita yang mengamar sebagai ibu Fu Giok Sujuga terdiri dari oprang-orang mereka. Dari hal ini, kita dapat membuktikan bahwa Fu Giok Su adalah orang dari Siau yau kok yang merupakan pelarian anggota Pit lok cik. Terbunuhnya seluruh keluarga bocah itu hanya sebuah tipuan saja. Tujuannya tentu untuk mendapat kepercayaan CI Siong to jin agar dia dibawa ke Bu tong san dan mencuri ilmu Bu tong liok kiat, sekaligus mencari kesempatan untuk membebaskan Thian ti yang terkurung dalam telaga dingin,"

Kata Tok ku Bu ti sambil mendongakkan kepalanya ke atas. Para hadirin menganggukkan kepalanya serentak.

"Menurut berita yang berhasil diselidiki orang-orang kita,"

Kata Tok ku Bu ti selanjutnya.

"Wan Fei Yang justru dibawa oleh Ci Siong to jin ke Bu tong san sejak kecil. Sejak itu dia bekerja serabutan di sana. Sanggup atau tidaknya dia membunuh Ci Siong to jin adalah persoalan lain. Yang jadi masalah, seandainya Pit lok cik sudah menyusupkan orang ini ke Bu tong san, maka mereka tidak perlu sekian tahun baru memasukkan seorang Fu Giok SU lagi ke sana. Setelah peristiwa beruntun terjadi dan rahasia Wan Fei Yang terbongkar, Fu Giok Su juga tidak turun tangan membantu. Kalau dugaanku tidak salah, terbunuhnya Ci Siong to jin dan kemudian Wan Fei Yang yang dituduh, semuanya merupakan akal licik Fu Giok Su."

Jilid 15 Para hadirin mendengarkan keterangan tersebut sambil menganggukkan kepala mereka berkali-kali.

"Pandangan Suhu sungguh tinggi!"

Tanpa sadar Kongsun Hong memuji. Tok ku Bu ti tertawa getir.

"Sekarang Fu Giok Su sudah menjabat sebagai Ciang bun jin Bu tong pai, dia pasti masih mengandung niat tertentu. Kita tidak perlu memperdulikan dia. Setelah Bu Tong tidak tertolong lagi, baru kita gunakan kesempatan itu untuk menyerbu ke sana dan ringkus bocah Fu Giok Su dan paksa dia beritahukan dimana letak Siau yau kok yang misterius itu."

"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?"

Tukas Tok ku Hong.

"Kita serang dulu partai lainya. Pertama masuk menguatkan posisi kita. Kedua, agar musuh gentar terhadap kita."

"Siau lim pai mempunyai murid yang banyak, partai itu juga dihormati orang-orang bulim, Tiam Cong pai dan Kun lun pai belum pernah ada permusuhan dengan pihak kita.."

"Menurut pendapatku, lebih baik kita serang dulu Go Bi pai,"

Kata Kongsun Hong memberikan pendapatnya. Tinjunya terkepal erat-erat. Mendengar ucapan itu, Tok ku Hong segera teringat Kuan Tiong Liu yang banyak lagak dan menyebalkan.

"Tia, aku juga 684 mempunyai pendapat yang sama,"

Tukasnya segera. Tok ku Bu ti merenung sejenak.

"Masalah ini biar kupertimbangkan lebih dahulu."

Dia menoleh ke arah Cu kek ming yang mengepalai Pek hiong-tong (Ruangan gajah putih)."

Laporkan penghasilan tahun belakang ini,"

Katanya.

"Lapor Pangcu."

Cu kek Ming menjura dalam-dalam."

Penghasilan tahun lalu, seluruhnya berjumlah sembilan ratus dua puluh tujuh ribu tiga ratus uang perak.

Tapi karena pembantu kita banyak, dan kita membuka cabang baru lagi, maka sisanya tinggal tiga juta tiga ratus tujuh puluh empat uang perak."

"Tidak begitu buruk…"

Kata Tok ku Bu ti sambil berjalan kembali ke tempat duduknya.

"Penghasilan toko, perlindungan, tanda tangan semuanya bertambah. Tapi kalau dibandingkan, bagian pembunuh bayaranlah yang menghasilkan uang paling banyak."

Tok ku Bu ti mengambil daftar yang terletak di atas meja. Dia meneliti sejenak.

"Teruskan…"

"Dengan membunuh gubernur Kwang-tung yang diminta oleh Liau Ling siang sing, kita dibayar seharga tiga juta uang perak. Sedangkan oleh Ki Lam Ong yang meminta membunuh pengawal-pengawal di Sang su, kita bayar seharga tujuh juta uang perak."

Tiba tiba Cu kek Ming tertawa lebar.

"Ada lagi." 685 Sen Tiong Seng yang berada di luar perbatasan meminta kita membunuh gubernur See ouw, tidak membuka harga delapan juta uang perak.’ "Oh?"

Kongsun Hong terpana.

"Sang Su tujuh laksa uang perak, yang di See ouw delapan lakasa uang perak. Apa Sang su yang buka harga terlalu sedikit atau bagian See ouw yang begitu royal?"

"Hal ini dikarenakan Sen Tiong Seng sendiri memang turunan hartawan. Dia sendiri mempunyai usaha yang banyak, sehingga sanggup mengeluarkan uang sejumlah itu."

Cu kek Ming cepat-cepat menjelaskan.

"Terhadap manusia semacam ini kita memang harus membuka harga tinggi,"

Kata Tok ku Bu ti tersenyum datar."

Pokok kata, penghasilan Bu ti bun memang tidak kecil. Tapi cara Pek hiong tong menangani pembukuan, aku masih kecewa juga."

Wajah Cu kek Ming berubah hebat. Belum sempat dia mengatakan apa-apa, Tok ku Bu ti sudah melanjutkan kata-katanya.

"Bu ti bun kita mempunyai lima bagian di luar dan lima bagian dalam. Jumlah cabang keseluruhan ada seratus tiga puluh tujuh tempat. Jumlah anggota kurang lebih enam laksa orang. Dapat uang sejumlah itu apa gunanya? Bagaimana kelak kita bias membentangkan sayap sampai samudra luar?"

Cu kek Ming menundukkan kepalanya dalam-dalam. Can Cian cin yang mengepalai bagian Hek Pao tong yang berdiri di samping nya segera tampil ke muka.

"Hek Pao Tong telah mengadakan sebuah transaksi. Mungkin Buncu akan senang mendengarnya,"

Kata Can cian cin sambil menjura dalam-dalam. Tok ku Bu ti mengalihkan pandanganya.

"Coba katakan!"

Sahutnya dingin.

"Seorang pejabat yang mengepalai tiga propinsi hendak pindah rumah. Karena perjalanan jauh dan takut dihadang kaum perampok, maka meminta Yan Piauwsu yang menangani ekspedisi kita untuk mengantarkan harta bendanya.Semuanya sudah ditukar dengan uang emas. Jumlahnya delapan belas juta uang emas. Hamba mendapat keterangan dari Tong Gin Hong-tong, maka hamba menugaskan tiga puluh ornag menyusul dengan cepat. Sampai di propinsi Soa tang, hamba berhasil meracuni semua pengawal itu dan membawa pulang hasilnya."

"Bagus! Bagus sekali!"

Seru Tok ku Bu ti sambil menoleh kepada Cu kek Ming.

"Apakah sudah menerimanya?"

"Sudah, hamba juga sudah menghitungnya,"

Sahut Cu kek Ming cepat-cepat berdiri.

"Jumlahnya hanya enam belas juta uang emas."

"Kalau begitu, tentu berita tentang jumlahnya yang salah,"

Kata Can Cian cin panik.

"Sepanjang perjalanan hamba selalu berhati-hati. Tidak mungkin ada kehilangan. Lagi pula peti uang ems itu semua terkunci rapat. Sampai di sini baru dibuka." 687 Tok ku Bu ti mengangukkan kepalanya berkali-kali. Dia mengibaskan tanganya dan memberi tanda agar Can Cian Cin duduk kembali. Dia sendiri langsung berdiri. Matanya mengedar.

"Selama bebeapa tahun ini kalian sudah bersusah payah segenap tenaga. Kelakuan aku pasti akan membalasnya dengan baik."

Semua yang hadir segera berdiri dan mengucapkan terima kasih sambil menjura. Wajah Tok ku Bu ti berubah serius.

"Mengenai Murid Go Bi pai yang banyak lagak. Kuan Tiong Liu yang sudah membunuh habis seluruh anggota cabang ketiga belas kita, Hutang piutang ini pasti akan diperhitungkan, sampai jelas "

"Go Bi pai yang turun tangan terlebih dahulu kepada kita. Seandainya sekarang kita balas menyerang mereka, para partai lain tentu tidak berani banyak tanya,"

Kata Kongsun Hong.

"Tapi ilmu silat ketua Go Bi pai, It im taisu sangat tinggi. Apalagi ilmu pedangnya. Kabarnya tidak dibawah Ci Siong to jin.Lok jit kiam hoat dari Go Bi pai dan Liong gi kiam hoat dari Bu Tong memang sejajar namanya didunia kangouw,"

Tukas kepala Kim Liong tong, Teng cecu. Konsun Hong tertawa dingin.

"Mana masuk hitungan kalau dibandingkan dengan Mit kip sin kang Buncu kita?"

Tok ku Bu ti tertawa lebar. 688

"Tahu kekuatan sendiri dan tahu kekuatan musuh, pasti akan memenangkan pertarungan dimana pun. Dapat mengetahui dengan jelas sampaidi mana ilmu yang dimiliki lawan selalu menguntungkan kita sendiri. Tapi entah…"

Can Cian cin cepat-cepat berdiri.

"Mengenai masalah ini, hamba tahu sedikit."

Tok ku Bu ti tampaknya tertarik dengan keterangan tersbeut.

"Aku tahu kau memang saling banyak tahu tentang ilmu silat berbagai aliran, apa yang kau ketahui,’ katanya.

"Selaku ciang bun jin dari Go Bi pai, memang ilmu pedang Lok jit kiam hoatnya sudah mencapai taraf yang cukup tinggi. Selain itu jangan lupa ilmu Kim kang cap sa ciang (tiga belas jurus telapak baja)nya. Dia juga menguasai ilmu itu dengan baik. Dan satu lagi, yaitu ‘Jit cap ji lo hong mo cang hoat’ (Tujuh puluh dua langkah toya iblis gila)" . Tok ku Bu ti, menganggukkan kepalanya berkali-kali.

"Apa yang dikatakan Can Tongcu memang kenyataan. It im taisu sudah menguasai tiga macam ilmu pusaka Go Bi pai, pasti tidak dapat dibandingkan dengan orang biasa. Untung saja selama menutup diri, aku berhasil menciptakan sebuah ilmu baru yang kuberi nama "

Bu ti it sut" (satu jurus tanpa tandingan)."

Matanya berputar ke sekeliling dan berhenti pada Can cian cin.

Tongcu itu segera merasa ketajaman mata Tok ku Bu ti.

Baru saja dia bermaksud mengundurkan diri.

Tok ku Bu ti sudah melangkah ke hadapannya, tangannya menggapai.

"Mari!" 689 Can cian cin terpaksa mengerakkan hatinya tampil ke depan.

"Buncu harus berbelas kasihan dalam turun tangan."

"Belum bertarung sudah meminta pengampunan, bagaimana kau bisa menonjolkan diri di dunia kangouw?"

Tok ku Bu ti menarik nafas panjang. Can cian Cin tampak serba salah.

"Bagaimana mungkin hamba bisa menandingi Buncu?"

"Semua perhatikan baik-baik!"

Teriak Tok ku Bu ti.

Tubuhnya melesat dan berputar.

Sepasang tanganya dikembangkan ke depan, gerakannya berubah tiga kali berturut-turut.

Tiga perubahan gerakannya tidak istimewa.

Kepalan tangan Can cian cin meninju ke depan dan menyambut tiga kali serangan telapak tangan Tok ku Bu ti.

"Plak! Plak! Plak!"

Tok ku Bu ti menarik tangannya kembali, gerakannya tiba-tiba berubah.

Perubahan ini benar-benar di luar dugaan.

Sekali putar, tangan Can cian cin sudah mencengkeram olehnya.

Wajah Can cian Cin berubah hebat.

"Bu ti it sut dari Buncu memang benar-benar hebat!"

Katanya memuji. Cengkeraman Tok ku Bu ti tidak dilepaskan. Tiba-tiba dia tertawa terbahak-bahak.

"Ini bukan Bu ti it su!"

Tawanya terhenti.

Bibirnya tersenyum.

Senyum itu demikian kakunya.

Matanya menyorotkan sinar tajam.

Can Cian cin yang tanpa sengaja beradu pandang 690 dengannya menggigil seketika.

Tepat pada saat itu, dia menangkap gemeretuk suara tulang patah, dan serangkum rasa nyeri segera terasa di pergelangan tangannya!

Teryata pergelangan tangannya telah diremukkan oleh Tok ku Bu ti!

"Buncu!"

Panggil Can cian cin dengan suara bergetar. Wajahnya benar-benar berubah pucat.

"Ini juga bukan Bu ti it sut!"

Tok ku bu ti menggelangkan kepalanya.

Kakinya mundur satu langkah.

Sebelah tanganya dilepaskan dari cengkeraman.

Tangan yang satunya masih menarik pergelangan tangan Can cian Cin.

Sedangkan tangan yang terlepas tadi menekan di dadanya.

Tiba-tiba dia meraung dan menghentakkan tenaganya menarik dan mendorong.

Lengan Can cian cin terlepas dari sendirinya dan melayang keluar pintu.

Sedangkan tangan yang tadi menekan dada laki-laki itu segera mendorong dengan sekuat tenaga.

Tidak ayal lagi, tubuh Can cian cin segera menyusul kutungan lengannya yang sudah terlempar keluar terlebih dahulu.

Begitu kuatnya tenaga Tok ku Bu ti sehingga tubuh Can Cian Cin terlempar sejauh empat depa.

"Bluk!"

Tubuh itu mendarat di tanah bagai seonggok sampah. Tok ku Bu ti menarik nafas panjang. Dia menarik sepasang tangannya kembali.

"Yang ini baru Bu ti it sut."

Tidak ada satu pun dari para hadirin yang tidak terkejut.

Mata mereka terbelalak, mulut terbuka lebar.

Dengan termangu-691 mangu mereka memandang Tok ku Bu ti.

Bahkan Tok ku Hong dan Kongsun Hong juga tidak berbeda.

Tok ku Bu ti duduk kembali di kursinya seakan tidak terjadi apa pun.

Dia mengangkat cangkirnya dan meminum seteguk."

"Can Cian Cin membujuk anggota cabang Wei hai. Dia ingin membentuk organisasi sendiri. Dia tidak tahu bahwa aku sudah lama memperhatikannya. Ini bukti-bukti surat yang dikirim oleh antek-anteknya."

Tok ku Bu tidak mengeluarkan setumpuk surat dari dalam sebuah amplop besar.

"Kalian tentu tahu kalau ketua cabang Wei hai adalah murid Go Bi pai. Itulah sebabnya Can Cian Cin tahu jelas ilmu yang dipelajari oleh It im taisu."

Para hadirin merasa di luar dugaan.

"Salah seorang kepercayaan pejabat yang hendak pindah rumah itu memang komplotan Can Cian Cin maka dia jelas sekali tentang masalah ini. Itulah sebabnya tanpa membuka peti itu pun dia sudah tahu berapa jumlah uang emas yang ada dalam kereta. Sementara itu kekurangan dua juta dari jumlah yang seharusnya, tidak salah lagi mereka pasti telah membaginya rata."

Cu kek Ming menarik nafas panjang.

"Tahu orang, tahu wajah, tidak tahu hatinya. Pepatah ini memang tepat sekali. Budi Buncu demikian besar kepada Can cian Cin, tidak tersangka dia bisa melakukan hal demikian,"

Katanya.

"Besok kau bawa uang sejumlah lima ribu perak kepada keluarganya. Sekalian undang beberapa orang hwesio untuk 692 menyembahyangi jenazahnya!"

Perintah Tok ku Bu ti.

"Baik!"

Sahut Cu kek Ming sambil mengundurkan diri. Tok ku Bu ti mengalihkan pandangannya kepada Tengcu.

"Teng tongcu buatkan sepucuk surat yang sopan dan baik tata bahasanya. Utus orang dengan kuda tercepat dan antarakan ke Go Bi san. Beri batas waktu tujuh hari pada It im taisu untuk menyerahkan Kuan Tiong Liu. Kalau tidak, aku sendiri yang akan mendatangi Go Bi san dan meringkus anak itu!"

Katanya memberi perintah.

Perkataannya diucapkan sepatah demi sepatah.

Wajahnya menyiratkan kekejaman yang sulit dilukiskan.

Sebelum menutup diri tentunya dia sudah menyiapkan berbagai rencana dengan tenang itu, dia dapat mengatur segalanya.

Manusia semacam ini benar-benar keji dan menakutkan.

Rembulan mulai memudar.

Cahayanya menyorot di luar jendela gendung kecil itu.

Meskipun malam panjang belum berlalu, tapi pagi tidak lama lagi akan muncul.

Tangan memegang cawan, dalam cawan berisi arak.

Tapi perasaannya bukan sedang menikmati arak.

Saat ini Tok ku Bu ti duduk di tempat peristirahatan di taman belakang, Berhadapan dengan hanya Kongsun Hong seorang.

Minum arak seorang diri hampa rasanya.

Tok ku Bu ti sengaja memilih Kongsun Hong untuk menemaninya.

Bukan hanya sekedar menemani saja.

Tapi karena dia mempercayai Kongsun Hong.

Selama ini dia selalu mengangap Kongsun 693 Hong sebagai anaknya sendiri.

Tiga cawan arak telah masuk ke dalam perut.

Wajah Tok ku Bu ti agak murung.

"Tidak disangka hanya dalam waktu dua tahun saja, sudah terjadi berbagai peristiwa yang tidak terduga."

"Peristiwa yang terjadi dua tahun belakangan ini memang terlalu banyak,"

Sahut Kongsun Hong.

"Masih lumayan hanya Han ciang tiau siu yang terbunuh dan juga para anggota cabang tiga belas. Selain itu semuanya biasa-biasa saja."

"Kau orang tua sudah lupa aku dan Sumoay terkurung dalam barisan Jit sing kiam ceng satu hari satu malam. Meskipun tidak sampai mati tapi rasanya malu sekali. Sampai sekarang kalau ada yang mengungkit persoalan ini kembali, sumoay masih merasa penasaran,"

Sahut Kongsun Hong.

"Masalah ini tidak usah disimpan dalam hati. Pada suatu hari nanti aku pasti akan menemukan titik kelemahan barisan tesebut. Pada saat itu aku akan mengutus kau dan Hong ji naik sekali ke Bu tong san dan mencoba barisan itu. Kalian juga bisa melampiaskan kekesalan dengan membunuh mereka habis-habisan!"

Kata Tok ku Bu ti dengan keyakinan penuh. Kongsun Hong gembira sekali.

"Kalau Sumoay mendengar kata-kata Suhu tadi,dia pasti akan senang sekali!"

Wajah Tok ku Bu ti berubah serius kembali.

"Anak itu benar-694 benar terlalu kumanjakan."

"Suhu, ada.. ada masalah yang aku tidak habis pikir."

"Masalah apa?"

"Ketika kami terkurung dalam barisan Jit sing kiam ceng, kamisudah pasti tidak dapat meloloskan diri lagi. Tapi tidak disangka sangka tua bangka Ci siong itu malah menurunkan perintah kepada para muridnya agar melepaskan kami turun gunung."

Wajah Tok ku Bu ti semakin kelam.

"Mungkin dia merasa bersyukur karena selama mengalami kekalahan sebanyak tiga kali di tanganku, tidak pernah sekalipun aku mengancam akan membunuhnya. Maka dari itu dia berlagak berjiwa besar. Kemudian dia mengalihkan pokok pembicaraan.

"Jangan bicara akan masalah ini lagi. Yang lain saja. Bagaimana sikap Hong ji belakangan ini?"

"Kecuali sifatnya yang cepat tersinggung, yang lainnya biasa saja."

"Apakah ada sesuatu yang terjadi belakangan ini?"

"Cu jin di Liong hong kek beberapa hari yang lalu tidak mau makan apa-apa,"

Kata Kongsung Hong tanpa sadar.

"Tidak makan sampai sekarang? Tentu sudah hampir mati kelaparan,"

Kata Tok ku Bu ti agak khawatir.

"Suhu jangan cemas, kemarin sudah mulai mau makan lagi." 695 Belum lagi kata-katanya selesai, Tok ku Bu ti sudah berdiri dan menempeleng pipi Kongsun Hong. Anak muda itu tidak menghindar. Tamparan itu cukup keras. Kongsun Hong tertegun beberapa saat.

"Suhu, mengapa kau…?"

"Masih tanya?"

Wajah Tok ku Bu ti merah padam karena marah."Apa yang kupesankan kepadamu sebelum aku menutup diri. Mengapa nyalimu begitu besarsehingga berani membangkang?"

"Suhu, aku mana berani.."

"Masih berani membantah? Bilang! Siapa yang kau masukkan ke dalam Liong hong kek?"

Bentak Tok ku Bu ti dengan suara keras. Kongsun Hong kembali tertegun. Dia tidak berani bersuara.

"Hong ji bukan? Bilang!"

Hardikan Tok ku Bu ti semakin keras. Matanya mendelik lebar lebar kepada Kongsun Hong. Tanpa sadar Kongsun Hong mundur dua langkah. Tok ku Bu ti malah mendesaknya.

"Bilang!"

Kongsun Hong terpaksa menganggukkan kepalanya. Tok ku Bu ti tertawa dingin. 696

"Urusan apa pun tidak dapat mengelabui aku. Kalau wanita di Liong hong kek itu sampai tidak mau makan, hanya Hong ji yang sanggup membujuknya,"

Sindirnya tajam.

Kongsun Hong segera menjatuhkan diri ke lutut di atas tanah.

Tok ku Bu ti tidak memperdulikannya.

Matanya mengedar kemudian menatap sinar rembulan yang menyorot di sebelah barat.

Lama dia terpaku dalam lamunan.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba tubuhnya melesat bagaikan segumpal asap yang melayang di atap tempat peristirahatan itu.

Cahaya penerangan sangat redup.

Wajah dan tubunya semakin kurus.

Angin sepoi-sepoi bertiup dari celah jendela.

Tangan Sen Man cing sudah dingin sekali.

Dia sama sekali tidak perduli.

Tangannya masih menggenggam lukisan Ci Siong to jin, tapi matanya justru menerawang di kejauhan.

Matanya masih mengembang air.

Tapi tidak mengalir turun.

Entah sudah berapa lama dia duduk di sana.

Dia tidak ingat waktu lagi.

Dia juga tidak perduli keadaan dirinya sendiri.

Di luar Liong hong kek kesunyian merayap.

Tubuh Tok ku Bu ti bagai seekor burung elang melayang turun tanpa menerbitkan suara sedikit pun.

Meskipun dia berada di luar dan memperhatikan Sen Man Cing, tapi wanita itu seperti tidak mengetahui kehadirannya.

Sepasang tangan Tok ku Bu ti mengepal erat.

Jari-jari tanganya sampai terlihat putih pucat.

Sepasang matanya mendelik ke arah lukisan Ci Siong to jin.

Seakan ada bara api yang sedang menyala di matanya.

697 Dia menarik nafas dalam-dalam.

Hawa amarah dalam dadanya hampir meledak.

Tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya dan menerjang ke luar.

Baru beberapa depa, dia menghentikan lagi langkah kakinya.

Pada saat itu, wajahnya berkerut-kerut.

Urat hijau menonjol di keningnya.

Tiba-tiba dia menjerit histeris, membalikkan tubuh dan menerjang ke arah pintu Liong hong kek.

"Brak!"

Pintu ruangan itu hancur seketika.

Tok ku Bu ti menerjang ke dalam.

Dengan kalap dia menyerbu ke arah Sen Man cing.

Mendengar suara dobrakan pintu, Sen Man Cing terkejut sekali.

Dia langsung bangkit beriri.

Lima jari telapak tangan kanannya diulurkan.

Hampir saja dia mengerahkan tenaga menyerang.

"Siapa?"

Bentaknya lantang. Baru saja kata-katanya selesai, dan sudah melihat bahwa orang yang menerjang masuk adalah Tok ku Bu ti. Kelima jari tanganya terkulai kembali ke bawah.

"Brett!"

Tok ku Bu ti merobek-robek gambar Ci Siong to jin. Dia masih belum puas. Kedua telapak tangannya dirangkapnya dan…..

"Bles!"

Lukisan itu berubah menjadi hancuran kecil-kecil dan bau hangus.

Sen Man Cing menatapnya dengan dingin.

Dia tidak bergerak, juga tidak mencegah, Wajah Tok ku Bu ti menyorotkan hawa amarah, Dia menginjak bekas hancuran lukisan tadi dengan telapak kakinya.

Dia juga tidak berkata apa-apa.

698 Setelah sekian lama berdiam diri, akhirnya Sen Man Cing yang lebih dulu membuka suara.

"Dua puluh tahun yang lalu, aku memang mera bersalah sekali terhadapmu. Tapi kau tidak pernah memberikan kesempatan kepadaku untuk menjelaskannya."

Suaranya dingin sekali. Sama sekali tidak mengandung perasaan apa-apa. Tok ku Bu ti berdiam diri mendengarkan.

"Selama dua puluh tahun ini, sekilas pun kau tidak pernah melirik aku. Kau pisahkan aku dengan putriku. Aku tidak mencaci maki atau pun mengatakan apa-apa. Juga karena ini memang patut kuterima. Sampai malam ini kau datang kembali, aku kembali merasa bersalah terhadapmu. Kalau melihat ilmu silatmu yang sudah mencapai taraf demikian tinggi. Seharusnya kau tidak cepat menjadi tua, kuyu, pucat, hal ini membuktikan bahwa selama dua puluh tahun ini kau pun cukup menderita."

Tok ku Bu ti masih tidak bersuara. Sen Man cing menatapnya lekat-lekat. Dia menggeleng kepalanya.

"Meskipun kau menyebut dirimu seorang pendekar, tapi kau berat melepaskan, juga sangsi menemuiku. Selama dua puluh tahun kau selalu bimbang,. Sampai malam ini kau baru berani melangkahkan kaki ke Liong hong kek."

Sepasang tangan Tok ku Bu ti mengepal erat-erat.

Kobaran kemarahan di matanya semakin membara.

Tampaknya dia segera akan melayangkan tinjunya ke wajah Sen Man cing.

Tapi akhirnya dia membalikkan tubuh dan menerjang keluar.

699 Dari datang sampai pergi, dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Tapi kemarahan, penderitaan dalam hatinya sudah tersirat jelas.

Sen Man Cing menatap bayangan punggung laki-laki itu sampai menghilang.air matanya mengalir juga.

Menetes di atas robekan lukisan Ci Siong to jin.

Setelah meninggalkan Liong hong kek, Tok ku Bu ti menghambur ke kamarnya sendiri Baru saja dia mendorong pintu, tampak Tok ku Hong sedang merapikan selimut yang berantakan di atas tempat tidur.

Mendengar suara dorongan pintu.

Tok ku Hong segera menolehkan kepalanya.

Melihat Tok ku Bu ti yang masuk, dia bergegas menghampiri.

"Tia, ke mana kau sejak tadi?"

Tok ku Bu ti memandang Tok ku Hong yang demikian memperhatikan dirinya.

Entah bagaimana perasaannya saat itu.

Belum sempat dia menjawab, Tok ku Hong sudah menarik tangannya dan mendudukkannya di kursi.

Dia membalikkan tubuh dan menuangkan secangkir teh.

Tok ku Bu ti hanya memandangi saja.

Tok ku Hong sampai merasa heran.

"Tia, mengapa kau hanya memandangi aku saja? Sejak tadi kau tidak mengucapkan sepatah kata pun. Tampaknya Tia sedang tidak senang."

Hawa amarah Tok ku Bu ti meluap kembali.

"Sebetulnya siapa yang membuat Tia demikian marah?"

Tanya Tok ku Hong kembali. 700 Tiba-tiba Tok ku Bu ti berdiri. Dia menuding ke arah Tok ku Hong.

"Kau!"

Tok ku Hong tertegun."Kesalahan apa yang telah aku lakukan?"

"Coba kau katakan, apakah kau pernah ke Liong hong kek?"

Kepala Tok ku Hong tertunduk sebentar. Dia tidak berkata apa-apa.

"Bilang! Mengapa kau tidak berani mengaku?"

Bentak Tok ku Bu ti.

"Mengapa tidak berani? Aku toh tidak melakukan kesalahan apa-apa."

Sifat keras kepala tok ku Hong bangkit kembali.

"Tidak melakukan kesalahan apa-apa?"

Teriak Tok ku Bu ti.

"Tidak menurut apa yang aku katakan sudah termasuk sebuah kesalahan!"

"Dia adalah ibuku. Aku pergi menjenguknya, memangnya tidak boleh?"

"Dia tidak pantas menjadi ibumu!"

"Seorang ibu tetap ibu bagi anaknya. Kalau kau dengan dia tidak cocok, kau tetap tidak dapat memaksaku untuk tidak mengakuinya!" 701 Tok ku Bu ti marah sekali. Tangannya melayangkan sebuah tamparan yang keras ke pipi gadis itu. Meskipun tenaganya tidak seberapa besar, namun tubuh Tok ku Hong sempat dibuat berputaran satu kali. Tangan Tok ku Hong meraba pipinya yang sakit. Matanya mendelik marah kepada ayahnya. Tok ku Bu ti sendiri seperti baru tersadar apa yang telah dilakukannya tadi. Dia menatap sepasang tangannya sendiri. Tanpa sadar, kedua tangannya gemetar. Tok ku Hong merandek sejenak kemudian membalikkan tubuhnya dan menghambur keluar.

"Hong ji…! Panggil Tok ku Bu ti satu kali. Akhirnya dia menjatuhkan diri duduk di atas kursi. Tok ku Hong masih memegangi pipinya. Dia langsung kembali ke kamarnya. Diambilnya pakaiannya lalu membungkusnya dengan sehelai kain dan kemudian menyandangnya di bahu, terus berlari ke luar. Dua gadis pelayan yang selalu melayaninya memandang apa yang dia lakukan dengan termangu-mangu. Mereka tidak mengerti apa yang sedang dilakukan oleh Tok ku Hong, tapi mereka juga tidak berani banyak bertanya. Baru sampai di luar pintu, dia bertemu dengan Kongsun Hong. Melihat laki-laki itu, hawa amarahnya meluap lagi. Belum sempat dia membuka mulut memaki, Kongsun Hong sudah mendahului berkata,"

Sumoay. Tadi aku kesalahan bicara. Suhu langsung menangkap basah bahwa aku pernah memasukkanmu ke Liong hong kek."

"Bukan kau sengaja mengadu kepada Tia?"

Hanya Tok ku Hong dengan mata mendelik marah.

"Bukan."

Tiba-tiba Kongsun Hong seperti tersadar.

"Apakah Suhu baru saja memarahimu?"

"Marah? Dia malah menampar pipiku. Ini baru pertama kali dilakukannya sejak aku kecil!"

Kongsun Hong tertegun di tempat.

Dia juga tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

Tok ku Hong sendiri juga tidak berkata apa-apa.

Dia meneruskan langkah kakinya.

Laki-laki itu baru sadar bahwa Tok ku Hong menyandang bungkusan di bahunya.

Dengan tergesa-gesa dia berlari menyusul.

"Sumoay.. hendak ke mana kau?"

"Kemana juga sama saja. Apakah aku harus bertanya dulu kepadamu?"

Tok ku Hong tertawa dingin. Langkah kakinya tidak berhenti. Kongsun Hong melesat ke depan menghalanginya. Tok ku Hong segera mengeluarkan sepasang goloknya.

"Minggir! Kalau tidak aku akan menikammu dengan golok ini!"

Bentak gadis itu. Kongsun Hong malah membusungkan dadanya.

"Kau tikam saja aku!"

"Menikammu?"

Tok ku Hong segera mendapat akal.

"Aku akan menikam diriku sendiri,"

Katanya sambil memutar golok 703 ke arah lehernya sendiri. Kongsung Hong terpana. Tok ku Hong tertawa dingin.

"Aku akan menggorok leherku sendiri atau paling tidak aku rela mencacatkan wajahku ini. Aku ingin tahu, bagiamana jawabanmu kalau ditanya oleh Tia?"

Kata Tok ku Hong selanjutnya.

"Sumoay, jangan menambah kesulitanku. Kalau kau pergi begitu saja. Aku tetap tidak dapat memberi jawaban kepada suhu."

Suara Kongsun Hong berubah lembut dan menatap.

"Lucu! Tia toh tidak menyuruhmu menjaga aku. Lagipula aku sudah begini besar. Kau juga tidak bisa menjaga aku terus menerus. Minggir? Sepasang golok Tok ku Hong semakin menempel di leher. Kongsung Hong masih juga menghadang di depannya. Sepasang alis Tok Ku Hong bertaut ketat.

"Aku suruh kau minggir! Terlingamu tuli,"

Bentaknya dengan suara yang lebih keras.

Kongsun Hong dibentak sampai mundur beberapa langkah.

Akhirnya dia minggir juga.

Tok ku Hong juga tidak memperdulikannya.

Sepasang goloknya ditarik kembali, kepala pun tidak berpaling.

Dalam sekejap mata, dia sudah lenyap entah ke mana.

Kongsun Hong serba salah.

Mengejar salah, tidak mengejar salah.

Benar-benar dia tidak tahu mana baiknya.

Berkali-kali kakinya sudah hendak dilangkahkan, tapi dia membatalkannya lagi.

Akhirnya dia hanya bisa menarik nafas panajng.

Tepat 704 pada saat itu, Tok ku Buti berjalan menghampiri.

Dia heran melihat tampang Kongsun Hong yang seperti orang tolol.

"Apa yang sedang kau lakukan/"

"Sumoay.. Sumoay…"

"Apa yang terjadi dengan Hong ji?"

Desak Tok ku Bu ti.

"Dia…. Pergi."

Wajah Kongsun Hong semakin kelam. ‘Pergi? Ke mana/"

Kongsun Hong menggelengkan kepalanya. Tok ku Bu ti memperhatikannya lekat-lekat. Kemudian dia ikut-ikutan menarik nafas.

"Aku yang salah. Aku membuatnya marah."

"Suhu, menurutmu…."

"Kalau marahnya sudah hilang, dia akan pulang sendiri. Mata Tok ku Bu ti bersinar tajam.

"Lebih baik kau lihat apakah Teng cu sudah menyampaikan surat itu. Kalau sudah, cepat utus orang membawanya ke Go Bi pai!"

Kongsun Hong terpaksa mengiakan.

Padahal dalam hatinya dia sangat mencemaskan keadaan sumoaynya.

Tok ku Bu ti juga tidak berkata apa-apa lagi.

Dia berjalan kembali ke kamarnya dengan berpangku tangan.

Wajahnya sudah seperti biasa lagi.

Tentang apa yang direncanakan dalam hati, tentu hanya dia sendiri yang tahu.

705 Sepucuk surat yang sopan diantarkan oleh seorang laki-laki yang sopan pula.

Tapi begitu mendengar bahwa surat itu berasal dari Tok ku Bu ti.

Empat orang murid Go Bi pai yang menyambut pengantar suarat dari Bu ti bun langsung berubah wajahnya.

"Go Bi pai dan Bu ti bun belum pernah berhubungan. Tiba-tiba pihak Bu ti bun mengirim orang mengantarkan surat ke tempat tersebut., tentunya isi surat itu tidak mungkin sekedar basa-basi atau menyampaikan salam saja. Apalagi peristiwa Kuan Tiong Liu yang membunuh habis-habisan anggota Bu ti bun cabang tiga belas sudah diketahui oleh mereka. Setelah menyerahkan surat tersebut, utusan Bu ti bun langsung berangkat lagi. Empat murid Go Bi pai tidak sempat memperdulikanya Mereka panik sekali, semuanya berhamburan menuju ruangan utama. Baru menaiki undakan batu, mereka sudah dihadang oleh sorang pendeta berusia setengah baya.

"Kalian sudah lupa tempat apa ini?"

Bentaknya keras. Empat murid Go Bi pai itu segara membungkukkan tubuhnya dengan hormat.

"Ce Kong suheng, ada sepucuk suart yang harus segera disampaikan ke tangan ciang bun jin?"

Sahut salah satu dari keemapt orang itu.

"Surat apa yang membuat kalian bagitu gugup?"

"Utusan Tok ku Bu ti dari Bu ti bun yang mengantarkannya." 706

"Tok ku Bu ti?"

Kening Ce Kong langsung bertaut ketat.

"Iblis tua ini masih saja suka menimbulkan masalah."

"Ciang bun jin."

"Dia orang tua sedang menyadarkan kepala perampok Li Jit yang menguasai tujuh propinsi perampok Li jit yang menguasai tujuh propinsi . Orang semacam itu masih mau bertobat benar-benar mengagumkan. Kita tak boleh mengusik mereka. Kalian tunggu sebentar di sini."

Ce Kong melirik sekilas ke dalam ruangan.

Setelah itu dia juga berdiam diri.

Segumpal asap tebal melayang keluar dari dalam ruangan.

*** Asap putih memenuhi ruangan.

Suara bacaan doa terdengar lantang.

Sepasang alis It im taisu bagai awan putih.

Pakaiannya berwarna merah dengan sulaman berwarna keemasan di tepiannya.

Wajahnya bersih dan suci.

Persis seperti Buddha hidup.

Membuat siapa pun yang memandangnya dapat merasakan kewibawaan orang ini.

Li Jit justru berlutut di hadapannya.

Dia adalah bekas kepala perampok yang menguasai tujuh propinsi.

Orang yang sudah dibunuhnya tidak terhitung lagi.

Namun akhirnya dia berhasil disadarkan oleh It im taisu engan jalan Buddha.

Li Jit malah bersedia menyucikan diri menjadi pendeta.

"Sabda Buddha tidak dapat diuraikan sekaligus…. 707 Mendengar tanpa meresapi tak akan membawa hasil…. Tidak berkata, tidak mendengar, sama juga tiada hati…. Lebih baik menemukan sendiri penerangan Buddha lewat cermin diri…"

It im taisu membalikkan tubuhnya perlahan-lahan.

Suara ketukan bokhi (ikan-ikanan dari kayu yang biasa diketuk-ketukkan sewaktu membaca doa) dan bacaan doa segera terhenti.

Li Jit menyembah sebanyak tiga kali.

"Berbahagialah engkau yang dapat berpaling dari tepian. Lautan Buddha tiada batasnya."

It im taisu menggerakkan goloknya.

"Tebasan golok memisahkan engkau dengan duniamu sebelumnya. Sejak sekarang kau sudah melangkah masuk pintu Buddha. Tidak melanglang buana dalam urusan duniawi terutama kejahatan. Sebagai guru aku memberimu gelar…. Bu Tek."

"Terima kasih, Insu (Guru yang berbudi),"

Li Jit yang sudah berganti nama Bu Tek menyembah lagi tiga kali.

Suara ketukan bokhi dan bacaan doa berkumandang kembali.

*** Agak lama juga mereka menunggu di luar.

Akhirnya suara 708 kumandang pembacaan doa dan ketukan bokhi berhenti juga.

Ce Kong yang sejak tadi sudah panik sekali segera merebut surat Tok ku Bu ti dari tangan murid Go bi pai tadi dan menghambur ke dalam ruangan utama.

It im taisu terheran-heran melihat Ce Kong menghambur masuk dengan cara seperti itu.

Sepasang alisnya terangkat tinggi.

Ce Kong demikian gugup sehingga tidak dapat mengatakan apa-apa.

Dia hanya menyodorkan surat ke tangan It im taisu.

Ciang bun jin Go bi pai tersebut menerima surat itu dan membacanya sampai selesai.

Kemudian dia menarik nafas panjang.

"Siancai, Siancai…. Go bi pai sudah tenang selama tiga puluh tahun, rasanya sejak sekarang akan datang lagi berbagai masalah."

"Suhu…"

"Ce Kong, kau segera turunkan perintah dan utus beberapa orang untuk mencari Kuan Tiong Liu agar segera kembali ke Go bi san!"

Kata It im taisu.

"Suhu, Tok ku Bu ti…"

"Dia ingin memperhitungkan masalah cabang ketiga belasnya yang disapu bersih oleh Kuan Tiong Liu. Dia memberi batas waktu selama tujuh hari. Apabila dalam waktu tujuh hari kemudian kita tidak menyerahkan Kuan Tiong Liu, maka dia akan datang sendiri ke sini untuk meringkusnya."

Ce Kong terkejut sekali.

"Tentu Suhu tidak akan menyerahkan Kuan sute, bukan?" 709

"Aku hanya ingin mengetahui dengan jelas kejadian ini."

"Hanya tujuh hari, rasanya tidak mungkin menemukan Kuan sute dalam jangka waktu secepat itu."

"Tujuh hari kemudian aku akan mengirim surat menolaknya. Sampai Tok ku Bu ti datang nanti, mungkin cukup waktu untuk mencari Kuan Tiong Liu kembali ke Go bi san."

"Seandainya bukan Kuan sute yang bersalah…"

Wajah It im taisu berubah serius.

"Aku pasti dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Pergilah!" *** Pada saat itu, utusan Bu ti bun sudah sampai di kaki gunung. Dia menolehkan kepalanya dan memandang ke sekitar. Setelah yakin tidak ada yang mengejarnya, dia membelokkan kudanya ke dalam sebuah hutan yang lebat. Setelah melarikan kudanya kurang lebih setengah li, di hadapannya sekarang adalah sebidang tanah kosong yang sangat luas. Dia bersiul satu kali. Ternyata sudah banyak anak buah Bu ti bun yang bersembunyi di sekitar tempat itu. 710 Tok ku Bu ti sendiri berdiri di depan sebuah kuburan tua. Wajahnya angker. Dadanya membusung. Lagaknya angkuh sekali. Di bagian kiri kanannya berdiri Cian bin hud, Cu kek Ming, Teng cu dan Kongsun Hong. Mereka tampaknya sedang merundingkan sesuatu. Melihat utusan tadi sudah kembali, pembicaraan pun berhenti untuk sementara. Utusan itu segera menjatuhkan diri berlutut di hadapan Tok ku Bu ti.

"Apakah suratnya telah diantarkan?"

Tanya Tok ku Bu ti datar.

"Hamba sudah menyelesaikan tugas."

"Apakah mereka menyulitkan dirimu?"

"Tidak. Mereka juga tidak mengejar. Para murid o bi pai yang menerima surat tampaknya panik sekali."

"Yakin mereka juga tidak mempunyai nyali sebesar itu untuk menganggu utusanku."

Tok ku Bu ti mendongakkan wajahnya dan tertawa terbahak-bahak.

"It im taisu pasti tidak menduga bahwa kita sudah berkumpul di kaki gunung ini. Tepat tujuh hari kemudian, kita menyerbu ke atas dan meminta orang. Kalau dia tidak menyerahkan Kuan Tiong Liu, bunuh bersih semuanya, jangan ada yang tersisa."

"Suhu, mungkinkah mereka mencari bantuan?"

"Waktunya hanya tujuh hari, siapa yang bisa mereka mintakan 711 bantuannya dalam jangka waktu sependek itu?"

"Rasanya mereka juga tidak berhasil menemukan Kuan Tiong Liu dalam jangka waktu tujuh hari."

"Buat apa peduli begitu banyak? Ada atau tidak ada, tidak akan merubah keputusan kita."

"Betul! Kita toh bertujuan membasmi Go bi pai, bukan hanya Kuan Tiong Liu seorang saja!"

Kongsun Hong langsung mengerti maksud gurunya.

Kembali Tok ku Bu ti mendongakkan wajahnya dan tertawa terbahak-bahak.

*** Kuan Tiong Liu sama sekali tidak tahu bahwa bencana sudah berada di depan Go bi pai.

Pada saat ini dia sedang berdiri berhadapan dengan Wan Fei Yang di pesisir pantai.

Jit Po dan Liok An sedang merapikan leher baju Kuan Tiong Liu.

Sedangkan si kerdil Sam cun juga merapikan pakaian Wan Fei Yang.

Hai Liong lo jin duduk di atas sebuah batu berbentuk persegi.

Dia mulai tidak sabar menunggu lebih lama.

Dia menepuk tangannya berkali-kali.

"Cepat! Cepat!"

Serunya kesal. 712

"Ini hanya pertarungan main-main. Bukan pertarungan hidup dan mati. Hanya boleh saling menyentuh saja. Siapa yang kalah dan siapa yang menang, aku orang tua akan memberikan keputusan yang adil."

Kuan Tiong Liu menyahut datar.

Gayanya penuh percaya diri.

Beberapa hari belakangan ini dia berlatih dengan keras.

Sekarang dia sudah benar-benar menguasai tiga jurus terakhir dari Lok jit kiam hoat.

Wan Fei Yang masih tampak serba salah.

Sampai saat ini dia masih mengharapkan Hai Liong lo jin akan membatalkan maksudnya.

Tentu saja dia kecewa.

Orang tua itu menepuk tangannya sekali lagi.

"Mulai!"

Teriak Hai Liong lo jin selaku wasit. Kuan Tiong Liu segera memutar pedangnya menjadi dua buah rangkai bunga.

"Hunus pedangmu!"

Katanya kepada Wan Fei Yang. Dengan tampang terpaksa Wan Fei Yang menghunus pedangnya.

"Lihat pedang!"

Teriak Kuan Tiong Liu sekali lagi.

Tubuh dan pedangnya meluncur dalam waktu yang bersamaan.

Baru setengah jalan, pedangnya sudah bergerak tujuh kali.

Wan Fei Yang menggerakkan kakinya dengan langkah ajaib Bu tong pai.

Berturut-turut dia menghindari tujuh kali serangan Kuan Tiong Liu.

Pedangnya meluncur dan menangkis 713 serangan ke delapan pemuda itu.

Kuan Tiong Liu kembali memutar pedangnya, gerak tubuhnya segera berubah.

Dia mencelat ke udara.

Sejurus demi sejurus Lok jit kiam hoat dimainkannya dengan indah.

Wan Fei Yang terpaksa mengerahkan Liong gi kiam hoat.

Menyambut satu kali, dia belas menyerang satu kali juga.

Dalam tusukan ketujuh puluh empat, dia berhasil menguasai keadaan.

Tiga puluh enam jurus lagi Kuan Tiong Liu mulai terdesak.

Si kerdil Sam cun yang menyaksikan pertandingan ini tersenyum terus.

Sedangkan wajah Jit Po dan Liok An semakin kelam.

Hai Liong lo jin malah tidak menunjukkan perasaan apa-apa.

Setelah mundur tujuh langkah, Kuan Tiong Liu segera merubah posisinya, dia menangkis sembilan puluh tiga kali serangan Wan Fei Yang dengan cara membelakanginya.

Akhirnya Wan Fei Yang terdesak kembali ke tempatnya semula.

Kemudian dia masih terdesak mundur sebanyak tujuh langkah.

Kedudukan masih seimbang untuk sementara.

Kali ini wajah Jit Po dan Liok An yang berseri-seri.

Si kerdil Sam cun malah bersungut-sungut.

Dia tidak bisa tersenyum lagi.

Hanya Hai Liong lo jin yang masih seperti sebelumnya.

Lama kelamaan bibirnya baru menyunggingkan seulas senyuman tipis.

Tapi hanya sekejap sudah menghilang kembali.

Matanya tajam seperti seekor elang dan memperhatikan jalannya pertarungan tanpa berkedip.

Hai liong lo jin menyaksikan jalannya pertarungan dengan seksama.

Setiap perubahan gerak yang dilakukan kedua anak muda itu terlihat jelas olehnya.

Pedang Kuan Tiong Liu 714 semakin menyerang semakin gencar.

Tiba-tiba berubah menjadi perlahan.

"Hati-hati!"

Teriaknya lantang.

Baru saja dia mengucapkan kata-katanya, tubuh dan pedang sudah berubah menjadi satu dan menimbulkan cahaya yang berkilauan meluncur ke arah Wan Fei Yang.

Anak muda itu merubah gerakan kakinya dan bergulingan di atas pasir.

"Trang! Trang! Trang!"

Entah berapa kali sudah dia menyambut serangan Kuan Tiong Liu.

Gerakan kakinya semakin kacau.

Tapi makin lama makin cepat.

Tubuhnya diselimuti cahaya pedang tapi kakinya masih berdiri dengan kokoh.

Pedang Kuan Tiong Liu berubah lagi tiga kali berturut-turut.

Tubuhnya melesat ke atas kemudian melayang turun kembali.

Pedang di tangannya bagai bintang yang bertaburan di langit.

Tiba-tiba tubuhnya menggeser dan menyatu dengan pedang lalu menerjang ke arah Wan Fei Yang.

Anak muda itu mengangkat pedangnya dengan kelabakan.

Tampaknya dia akan berhasil menghindarkan diri dari serangan itu, tapi masih juga terlambat tiga detik.

Pedang Kuan Tiong Liu terhenti di tenggorokan anak muda itu.

Wan Fei Yang menarik nafas perlahan.

Pedang di tangannya terkulai ke bawah.

Kuan Tiong Liu tidak menusukkan pedangnya ke dalam tenggorokan Wan Fei Yang.

Dia tertawa dingin.

"Kali itu kau tidak membunuh aku, kali ini aku juga melepaskan dirimu dari kematian. Apa yang aku hutang 715 kepadamu sudah kulunasi hari ini, iya bukan?"

Wan Fei Yang menganggukkan kepalanya. Kuan Tiong Liu menarik kembali pedang yang menempel di leher anak muda itu.

"Tapi aku harus memperingatkan dirimu. Lain kali kalau kau bertemu lagi dengan aku, jangan harap aku akan melepaskanmu begitu saja!"

Wan Fei Yang tidak menyahut.

Kuan Tiong Liu memasukkan pedang ke dalam sarungnya.

Pada saat itu, Jit Po dan Liok An sudah berlarian mendatangi dan memegang lengan Kuan Tiong Liu dari kiri dan kanan.

Wajah mereka berseri-seri.

Sam cun juga mendekati Wan Fei Yang.

Wajahnya tampak kecewa.

Kuan Tiong Liu segera mengibaskan tangannya.

"Manusia she Wan, kau sudah boleh pergi sekarang."

Wan Fei Yang melirik Kuan Tiong Liu sekilas.

Kemudian dia berjalan menghampiri Hai liong lo jin dan berlutut di depannya.

Dia menyembah sebanyak tiga kali, kemudian berdiri.

Hai liong lo jin memperhatikan Wan Fei yang lekat-lekat.

Akhirnya dia menarik nafas panjang.

"Kau…. Kau baik sekali. Pergilah…."

Wan Fei Yang membalikkan tubuhnya.

Dia menghampiri Sam cun kembali dan menepuk bahunya beberapa kali.

Setelah itu dia meneruskan langkah kakinya tanpa menoleh lagi.

Kuan Tiong Liu memandangi punggung Wan Fei Yang yang terus melangkah sampai jauh.

Dia menyerahkan epdangnya kepada Jit Po kemudian mendekati Hai liong lo jin.

716 Hai liong lo jin masih duduk termenung.

Kemudian dia menarik nafas panjang lagi.

Kuan Tiong Liu memandangnya dengan heran.

"Susiok, mengapa kau menarik nafas panjang?"

"Susiok kecewa sekali. Juga sedih."

"Tidak heran kau orang tua menjadi sedih,"

Kata Kuan Tiong Liu pura-pura menaruh perhatian yang besar.

"Kau orang tua memandang bocah Wan Fei Yang itu terlalu tinggi. Tidak tahunya dia begitu tidak berguna. Baru bergebrak beberapa jurus sudah dikalahkan oleh pedang Tecu."

Hai liong lo jin mengerling ke arah Kuan Tiong Liu.

"Kau yang membuat aku kecewa dan sedih!"

Katanya sambil tertawa dingin.

"Aku?"

Kuan Tiong Liu tertegun.

"Bukankah aku sudah mengalahkan bocah Wan Fei Yang itu?"

Tanyanya penasaran.

"Orang sengaja mengalah terhadapmu. Tidak malunya kai masih berani berbesar mulut!"

Hai liong lo jin mendengus dingin. Kuan Tiong Liu tidak percaya.

"Mengalah terhadapku? Tidak ada alasannya untuk mengalah terhadapku!"

"Ini karena budinya luhur dan sama sekali tidak melupakan jasa orang lain."

Jai liong lo jin mengulurkan tangan menarik lengan baju Kuan Tiong Liu.

"Lihat tiga lubang ini!" 717 Kuang Tiong Liu menundukkan wajahnya dan melihat apa yang ditunjuk oleh Hai liong lo jin. Ternyata di pangkal lengan bajunya memang ada tiga lubang kecil. Dia terpaku seketika. Wajahnya berubah hebat. Orang tua itu mendengus sekali lagi.

"Tiga kali tusukan pedang ini sebetulnya bisa melukai pergelangan tanganmu dan memaksamu melepaskan pedang, tapi dia tidak melakukannya."

Kuan Tiong Liu masih penasaran.

"Mengapa?"

"Untuk membalas budi pertolonganku kepadanya. Sayangnya kau masih tidak tahu, malah tidak malunya membanggakan diri. Bagaimana aku tidak kecewa? Bagaimana aku tidak sedih? Coba bilang!"

Bentak orang tua itu dengan wajah merah padam.

Hai liong lo jin begitu marah.

Dia bangkit berdiri dan membalikkan tubuhnya meninggalkan tempat itu lalu kembali ke rumah.

Sam cun mengikutinya dengan ketat.

Kuan Tiong Liu masih berdiri termangu-mangu.

Jit Po dan Liok An yang melihat keadaannya tidak berani mengatakan apa-apa.

Mereka hanya berdiri di samping tuan mudanya.

Tepat pada saat itu, dua orang murid Go bi pai berlarian mendatangi, melihat Kuan Tiong Liu, mereka mempercepat langkah kakinya dan berteriak memanggil.

"Kuan suheng! Kuan suheng!"

Kuan Tiong Liu masih berdiri terpaku. Kedua murid Go bi pai 718 itu sudah berdiri di depannya dalam sekejap mata.

"Kuan suheng, akhirnya kami berhasil menemukanmu. Suhu berpesan agar kau kembali ke Go bi san secepatnya!"

Kuan Tiong Liu menatap kedua orang itu engan heran.

"Ada apa sebetulnya?"

"Kita bicarakan sambil jalan saja. Kita tidak mempunyai waktu lagi!"

"Mengapa tidak kau katakan sekarang saja?"

Tanya Kuan Tiong Liu penasaran.

"Pokoknya masalah ini penting sekali. Kami tidak mempunyai cukup waktu. Sedangkan kami sudah mencari Kuan suheng selama tiga hari tiga malam."

Kuan Tiong Liu mengerutkan alisnya.

Serangkum firasat buruk langsung menyelimuti hatinya.

*** Melintasi hutan yang lebat seakan tidak berbatas.

Wan Fei Yang hanya tahu melangkah terus.

Suara langkah kakinya dari dekat perlahan-lahan menjauh.

Sam cun mengejarnya dari belakang.

Mendengar suara langkah kaki berlari-lari, Wan Fei Yang menghentikan langkah kakinya dan menoleh.

Dia tersenyum melihat Sam cun yang datang.

719 Tidak lama kemudian Sam cun sudah sampai di depannya.

Nafasnya tersengal-sengal.

Wan Fei Yang menunggu sampai nafasnya reda dan tenang kembali.

"Apa yang terjadi denganmu?"

Tanyanya heran. Sam cun mengeluarkan sebuah botol kecil dari balik sakunya.

"Obat ini hadiah dari Cu jin untukmu,"

Sahutnya. Wan Fei yang semakin tidak mengerti.

"Aku tidak terluka."

"Cu jin bilang tidak ada apa-apa yang patut dihadiahkan kepadamu. Maka dia menyuruh aku menyusulmu dan memberikan obat buatannya sendiri."

"Ini…."

Wan Fei Yang bermaksud menolak, tapi Sam cun malah menyusupkan botol obat itu ke dalam tangannya.

"Kau toh bukan tidak tahu bagaimana sifat Cu jin. Cepat terima!"

Katanya.

"Obat ini untuk menyembuhkan penyakit apa?"

Wan Fei Yang malah berbalik bertanya.

"Di permukaan botol ada tulisannya, kau baca saja sendiri."

Kemudian Sam cun mengeluarkan lagi sebuah botol berwarna hijau dari selipan ikat pinggangnya.

"Sebetulnya obat milikku ini lebih berharga. Khusus untuk menyembuhkan luka dalam."

Sam cun menyelipkan botol itu ke tangan Wan Fei Yang. Kemudian dia membalikkan tubuhnya dan melangkah ke depan. Baru beberapa tindak dia berhenti dan menolehkan kepalanya.

"Sebetulnya obat itu aku curi dari kamar Cu jin. 720 Lain kali kalau kau bertemu dengan Cu jin, harap jangan mengatakan apa-apa,"

Katanya.

Dia meneruskan langkahnya kembali.

Wan Fei Yang menatap punggungnya sampai menghilang di kejauhan.

Hatinya terharu sekali.

Setelah beberapa saat, dia baru meneruskan perjalanannya.

*** Tujuh hari sudah berlalu.

Kuan Tiong Liu belum sampai di Go bi san.

It im taisu tampaknya tidak panik.

Dia memang tidak berniat menyerahkan Kuan Tiong Liu kepada Tok ku Bu ti.

Semua tetap seperti rencananya semula.

Pagi-pagi sekali, dia memanggil hwesio terpandai dalam baca dan menulis.

Hong hoat.

Dia menerangkannya secara lisan.

Hong hoat disuruh mengatur kata-katanya dan bersiap-siap mengantarkan ke Bu ti bun.

Siapa sangka, baru saja surat itu disampul rapi, bagian penerimaan tamu sudah melaporkan bahwa Tok ku Bu ti sudah sampai di Go bi san meminta mereka menyerahkan Kuan Tiong Liu.

It im taisu terkejut sekali.

Tapi segera dia menenangkan perasaannya.

"Bagus. Tepat tujuh hari… Silahkan dia masuk." 721 *** Suasana dalam ruangan utama sangat mencekam. Apakah karena Tok ku Bu ti masuk dengan membawa serombongan anak buahnya atau karena alasan yang lain. Hal ini mungkin tidak akan ditemukan jawabannya. Para angkatan tua Go bi pai sudah berkumpul di ruangan tersebut. Meliaht kehadiran mereka, hati It im taisu menjadi terharu. Sejak dia menjabat sebagai Ciang bun jin, Go bi pai memang merosot terus. Dalam generasi muda hanya Kuan Tiong Liu yang dapat diandalkan dan berbakat. Yang lainnya biasa-biasa saja. Apakah hal ini disebabkan oleh kewibawaan Go bi pai yang makin menurun? Meskipun It im taisu tidak berani memastikan, tapi dia terlalu memusatkan perhatian dalam pelajaran agama. Selama ini dia tidak bersungguh-sungguh mencari orang-orang pilihan untuk diajarkan ilmu silat dengan teliti. Mungkin hal ini juga merupakan salah satu alasan bagi kemerosotan Go bi pai. Tok ku Bu ti sudah memberi batasan waktu selama tujuh hari. Pada hari terakhir dia langsung naik ke Go bi san meminta orang. Tentu dia sudah merencanakan semuanya dengan matang. Sedangkan apa maksud yang terkandung did alamnya, It im taisu tidak bisa menebaknya. Dia hanya dapat merasakan bahwa urusan ini tidak sepele. Sedikit saja dia membuat kesalahan, mungkin Go bi pai akan hancur hari ini juga. Oleh karena itu, meskipun penampilan wajahnya tenang 722 sekali, namun hatinya sudah berdebar-debar sejak tadi. Penampilan Tok ku Bu ti tetap sopan. Dia menunggu sampai It im taisu duduk di kursinya, baru dia mengajukan pertanyaan.

"It im taisu, mana Kuan Tiong Liu?"

It it taisu tertawa datar.

"Tidaka da di sini."

Mata Tok ku Bu ti menatap It im taisu dengan tajam.

"Aku lihat taisu memang tidak berniat menyerahkannya."

It im taisu berusaha setenang mungkin.

"Kalau Kuan Tiong Liu menyalahi Bu ti bun, Go bi pai tetap ada peraturan untuk menghukumnya."

"Bagaimana dengan seratus lebih nyawa cabang ketiga belas Bu ti bun kami?"

"Awal peristiwa ini, Pinceng…"

"Tidak usah banyak bicara!"

Nada Tok ku Bu ti melengking tinggi.

"Cepat serahkan Kuan Tiong Liu!"

"Tok ku Sicu, Pinceng sudah mengatakan bahwa Kuang Tiong Liu tidak…"

"Baik. Kalau begitu, satu nyawa diganti dengan satu nyawa. Go bi pai harus membawar seratus tiga puluh enam jiwa anggota Bu ti bun!"

Bu Tek sejak tadi berdiri di samping. Mendengar kata-kata Tok ku Bu ti, dia tidak dapat menahan amarahnya lagi. Dia segera melesat ke depan.

"Tok ku Bu ti! Kau jangan terlalu 723 menghina!"

Teriaknya lantang. Mendengar suara itu, Tok ku Bu ti mengalihkan pandangannya. Alisnya berkerut.

"Rasanya aku pernah melihat suhu ini,"

Katanya. Belum lagi Bu Tek menyahut, Cian bin hud sudah maju ke depan dan tertawa lebar.

"Kepala perampok yang menguasai tujuh propinsi, Li Jit, tidak tersangka berdiam di sini dan mengganti pakaiannya dengan pakaian hwesio."

Bu Tek merangkapnya sepasang telapak tangannya.

"Omitohud!"

Ujarnya mengucap nama Buddha. Cian bin hud mengibaskan tangannya.

"Di sini tidak ada urusanmu. Mengingat kita pernah saling mengenal, aku akan mengatakan kepada Buncu untuk mengampuni jiwamu kali ini saja."

"Kalau memang teman satu aliran…"

"Li Jit sudah mati. Yang ada di hadapan kalian sekarang adalah murid Go bi pai, Bu Tek!"

Sahut Li Jit tenang.

"Bagus!"

Kata Tok ku Bu ti sambil mendengus dingin. Cian bin hud tertawa terkekeh-kekeh.

Baca Juga: Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat 7

Baca Juga: Pendekar Pedang Pelangi Sriwidjono

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert