Eps 7 Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying
Baca online Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying
Cersil Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying.
"Supanya kau bergelar Bu Tek. Kalau demikian aku akan meminta Bu Tek suhu ini pelajaran barang beberapa jurus."
Bu Tek mulai marah. Pergelangan tangannya berputar. Goloknya sudah tergenggam di tangan. It im taisu cepat-cepat 724 mencegah.
"Bu Tek, tidak boleh kurang sopan terhadap tamu!"
Cian bin hud tertawa lebar.
"Kami lebih tidak sopan lagi!"
Perkatannya selesai, sepasang gelang emasnya sudah berada dalam genggaman.
Suaranya menderu-deru.
Bu Tek ikut tertawa.
Tubuh dan golok meluncur dalam waktu yang ebrsamaan.
Dalam sekejap mata, keduanya sudah bertarung dengan seru.
Di tangan kanan Cian bun hud sudah bertambah sebatang ruyung.
Gelang emasnya diselipkan di pinggang.
Senjatanya itu tampak begitu berat, tapi dia dapat menggerakkannya dengan muda.
Bayangan ruyung memenuhi ruangan.
Suaranya bagai hujan badai menerpa.
Sebelum mencukur rambut menyucikan diri, Bu Tek pernah menjadi kepala perampok dan menguasai tujuh propinsi.
Tentu bukan sembarang orang yang dapat melakukan hal seperti itu.
Dia pasti pernah melatih ilmu golok dalam waktu yang lama.
Tapi kalau dibandingkan dengan Cian Bin hud, kepandaiannya masih terpaut sedikit.
Tepat pada jurus keseratus tiga puluh tujuh, ruyung di tangan Cian bin hud berhasil menghantam dada Bu Tek.
Hantaman itu membuat tubuh Bu Tek terhuyung-huyung, kakinya mundur beberapa langkah, kemudian memuntahkan darah segar.
Akhirnya tubuhnya terkulai ke atas dan nyawanya pun melayang.
Wajah para murid Go bi pai menyorotkan kemarahan.
Wajah It 725 im taisu berubah kelam.
Perlahan-lahan dia bangkit dari kursinya.
Matanya menatap tajam ke arah Cian bin hud.
"Mengapa murid Buddha bisa melakukan hal yang begini kejam?"
"Murid Buddha yang satu ini memang lain dariapda yang lain,"
Sahut Cian bun hud sambil tertawa terbahak-bahak. It im taisu mengalihkan pandangannya kepada Tok ku Bu ti.
"Tampaknya Tok ku Sicu hari ini benar-benar tidak mau mengerti lagi."
"It im taisu, kejadian sudah terlanjur seperti ini, tidak perlu bercapai hati lagi,"
Katanya datar.
"Sicu, bagaimana kalau kita bertaruh saja?"
"Bertaruh?"
Tok ku Bu ti hampir tidak percaya dengan pendengarannya.
"Apa yang ingin kau pertaruhkan?"
It im taisu mengalihkan pandangannya kepada Cian bin hud.
"Seandainya suhu ini sanggup menerima tiga jurus dariku, maka aku akan menyerahkan Kuan Tiong Liu. Go bi pai akan dibubarkan hari ini juga,"
Katanya.
"Bagaimana kalau dia tidak sanggup?"
Tanya Tok ku Bu ti kembali.
"Pinceng meminta Tok ku sicu mendengarkan seratus delapan kali bunyi lonceng dan beberapa patah nasihat dari pinceng,"
Kata It im taisu. 726
"Aku bukan Li Jit!"
Sahut Tok ku Bu ti tenang.
"Tok ku sicu tidak berani bertaruh?"
Belum lagi Tok ku Bu ti menyahut, Cian bin hud sudah menukas dari samping.
"Buncu, biar hamba menerima tiga jurus darinya."
Tok ku Bu ti mengangguk. Dia berpaling kembali kepada It Im taisu.
"Bagaimana kalau aku sudah mendengarkan seratus delapan kali bunyi lonceng dan beberapa patah nasihatmu?"
Tanyanya kembali.
"Sicu ingin melakukan apa, kami pun tidak sanggup menghalangi."
"Baik!"
Tok ku Bu ti tertawa dingin. Cian bin hud segera maju ke depan. Dia menghentakkan duyungnya di atas tanah.
"Silahkan!"
It Im taisu segera bangkit dari tempat duduknya.
Dia mengambil pedang yang terletak di samping lalu menutul kakinya dan berjungkir balik di udara.
Dia melayang turun di hadapan Cian bin hud.
Ruyung Cian bin hud langsung digerakkan.
Suaranya bagai angin topan yang melanda seluruh Go bisa san.
Dengan keji dia menyerang ke arah It Im taisu.
Pedang Ciang bun jin Go Bi pai itu bergerak perlahan.
Tubuhnya tiba-tiba berkelebat dan melesat melakukan dua puluh tujuh perubahan.
Satu jurus sudah berlalu, dua jurus.
Sekarang jurus ketiga.
727 Cahaya dingin berkelebat.
Sarung pedang sudah menempel di lengan atas Cian bin hud dan apabila dia tadi menekannya dengan keras, pangkal lengan itu pasti sudah remuk.
"Terima kasih!"
Kata It Im taisu sambil menarik kembali sarung pedangnya dan mencelat mundur ke belakang.
Wajah Cian bin hud berubah hebat.
Dia tertegun di tempatnya.
Tok ku Bu ti tidak mengatakan apa-apa.
Seakan tidak terjadi apa pun.
"Di mana aku harus mendengarkan seratus delapan kali bunyi lonceng itu?"
Tanyanya tenang. Pedang It Im taisu dimasukkan kembali ke dalam sarungnya.
"Sicu, harap ikut aku ke ruangan pendopo." *** Ruangan pendopo dengan ruangan utama sama luasnya. Juga cukup menampung rombongan Tok ku Bu ti yang berjumlah sembilan puluh sembilan orang. Kecuali Tok ku Bu ti, sisa anggotanya yang berjumlah sembilan puluh delapan orang berpencar diri menjadi dua bagian dan berbaris di kiri kanan pintu ruangan pendopo. Tok ku Bu ti dan It Im taisu duduk berhadapan di tengah-tengah ruangan. Jarak mereka tidak lebih dari satu depa. Di samping kanan It Im taisu terdapat sebuah lonceng besar yang terbuat dari kuningan, sedangkan tangan kirinya menggenggam serenceng tasbih. Wajahnya tersenyum dan 728 penuh welas asih.
"It Im taisu, hati Tok ku Bu ti sekeras baja. Buat apa bercapai hati melakukan semua ini?"
Tanya Tok ku Bu ti yang sengaja menyindir dengan tajam.
"Sicu duduk saja di hadapanku. Dengan demikian kau dapat mendengar dengan jelas apa yang kukatakan."
Tangan It Im taisu mulai menghitung biji tasbih.
"Orang yang mensucikan diri seperti aku ini hanya mempunyai sedikit keinginan untuk mengajak sesamanya bertobat. Tapi aku hanya seorang diri, berapa orangkah yang dapat kuajak menghadap pintu Buddha?"
Nafsu besar tenaga kurang, buat apa mencari susah untuk diri sendiri?"
"Namun kalau Pinceng bisa menasehati Tok ku sicu agar berpalingdari tepian dan kembali ke jalan yang benar. Merubah hati yang hitam menjadi putih bersih, sama artinya aku telah menasehati berjuta oran. Hal ini patut dicoba."
"Baik. Coba katakan saja…"
Tangan kanan It Im taisu digerakkan. Terdengar suara lonceng yang menggetarkan hati.
"Buddha bersabda, lepaskan golok, ber…."
"Paling ke tepian, bukan? Terlalu cetek,"
Sindir Tok ku Bu ti.
"Baik. Kita bciarakan ynag agak dalam."
It Im menggerakkan lonceng kembali.
Dua orang muridnya segera mengantarkan buku kitab suci.
729 It Im mulai membacakan ayat suci, meskipun Tok ku Bu ti meminta agar dia membacakan ayat yang agak dalam maknanya, tapi bagi pendengarannya masih cetek juga.
Suaara lonceng susul menyusul.
Semangat Tok ku Bu ti tanpa sadar ikut terhanyut.
Ditambah dengan kata-kata dari It Im taisu.
Berbagai kenangan melintas di otaknya.
Dia ingat semasa mudanya dia juga sering melepas budi, menolong orang, pernah dijadikan kambing hitam, beberapa kali dihajar orang sampai pontang panting.
Waktu itu dia masih juga merasakan adanya kegembiraan dalam hati.
Berpikir tentang itu, tanpa sadar bibirnya mengulum senyum.
Tampaknya dia mulai terpengaruh.
It im taisu masih melanjutkan kata-katanya.
"Buddha paling benci pembunuhan dan perampokan. Sedangkan engkau, sengaja mendirikan Bu ti bun untuk melawan partai lurus. Anak buahmu membunuh, memperkosa kemudian masih merampok juga. Kau membiarkan semua itu. Tidak ada hal baik yang pernah dilakukan anak buahmu."
Begitu mendengar kata memperkosa, tubuh Tok ku Bu ti langsung gemetar. Suara lonceng kembali terdengar. Disusul ucapan It Im taisu….
"Hari ini kau membiarkan anak buahmu memperkosa istri orang, kau anggap semua itu adalah suatu kebanggaan. Mungkin pada suatu hari nanti, orang lain yang akan memperkosa istrimu. Bagaimana perasaanmu saat itu?"
Kening Tok ku Bu ti mulai basah oleh keringat dingin.
Dalam benaknya segera terlintas bayangan Ci Siong to jin dan Sen Man Cing yang duduk berdua dan bersenda gurau.
730 Keringatnya mengucur semakin deras.
Meskipun para anggota Bu ti bun tidak mengerti mengapa It Im taisu mau melalahkan diri mengatakan semua itu, tapi kalau melihat tampang Tok ku Bu ti sekarang, mau tidak mau hati mereka menjadi tegang.
Tok ku Bu ti sedang membelalakkan mata lebar-lebar.
It Im tahu Tok ku Bu ti sudah mulai terpengaruh.
Dia tidak tahu persis apa yang mempengaruhinya.
Dia masih juga mendesaknya dengan pertanyaan yang sama… "Coba bayangkan, apa yang akan kau lakukan bila semua ini terjadi padamu?"
"Aku… aku akan membunuh mereka. Membunuh mereka sampai tidak tersisa satu pun!"
Teriak Tok ku Bu ti tiba-tiba.
Kemudian laki-laki itu meraung murka.
Dia menjadi kalap seketika.
Mungkin saat itu dia membayangkan It Im taisu adalah Ci Siong to jin yang berzina dengan istrinya.
Tubuhnya melesat secepat kilat.
Kedua telapak tangannya menghantam dada It Im Taisu.
"Blam!"
Dia masih belum puas juga. Diserangnya It Im taisu tanpa pikir panjang lagi.
"Blam! Blam! Blam!"
Entah berapa kali sudah dia menghantam It Im taisu.
Tubuh hwesio tua itu sudah hancur tidak karuan.
Akhirnya terlempar sejauh satu depa.
Seandainya It Im taisu tahu peristiwa tentang jalinan hubungan antara Ci Siong to jin dengan istri Tok ku Bu ti yang bernama Sen Man Cing, dia tentu tidak akan menggunakan 731 kata-kata itu untuk membujuk Tok ku Bu ti.
Sayangnya dia tidak tahu sama sekali.
Sebenarnya Tok ku Bu ti memang sudah terpengaruh tapi mendengar kata-kata tentang memperkosa istri orang, hatinya terpukul seketika.
Peristiwa yang berusaha dilupakannya selama ini terbayang kembali.
Hawa amarahnya pun meluap seketika.
Tok ku Bu ti memandang sekejap mayat It Im taisu.
Tinjunya terkepal erat.
"Anak-anak! Bunuh semua!"
Teriaknya lantang.
Para anggota Bu ti bun segera mengiakan.
Mereka memang sudah menunggu perintah Tok ku Bu ti yang satu ini.
Senjata masing-masing segera dikeluarkan.
Serentak mereka menyerbu para murid Go Bi pai.
Tok ku Bu ti mendahului.
Dia menerjang dan langsung menghantam siapa saja yang ada di hadapannya.
Dalam waktu sekejap kedua telapak tangannya telah membunuh puluhan orang.
Tongkat kepala naganya juga tidak mau ketinggalan.
Darah segar bercipratan di mana-mana.
Sungguh suatu pemandangan yang mengerikan.
Bahkan lebih menyeramkan daripada ketika makhluk tua membunuh anak murid Bu Tong pai.
Karena jumlah anak buah Tok ku Bu ti jauh lebih banyak, waktu yang diperlukan pun lebih singkar.
Cian bin hud mengikuti di belakangnya.
Ruyungnya menyapu ke kiri dan kanan.
Suara jeritan ngeri terdengar di mana-mana.
Boleh dibilang para murid Go Bi pai sama sekali tidak sempat melakukan perlawanan.
Satu demi satu murid Go Bi pai roboh bermandikan darah.
732 Dalam waktu tidak berapa lama mayat bergelimpangan di mana-mana.
Darah mengalir bagai anak sungai.
Jilid 16 Tengah hari, Kuan Tiong-liu baru sampai di Go-bi-san.
Baru melihat pintu masuk saja dia sudah tahu apa yang telah terjadi.
Di mana-mana darah mulai mengering.
Mayat-mayat bergelimpangan.
Tubuh It-im Taysu lebih merupakan seonggok daging yang hancur ketimbang sesosok mayat manusia.
Kalau bukan dari pakaiannya, siapa pun tidak bisa mengenali wajahnya lagi.
***** Jit Po dan Liok An masih bocah cilik.
Melihat pemandangan itu, mereka langsung saling berpelukan dan menangis tersedu-sedu.
Kuan Tiong-liu berdiri dengan mata menyorotkan kemarahan.
Meskipun dia tidak menangis, tapi justru di ujung pelupuk matanya terlihat darah menetes.
Akhirnya mayat-mayat itu dikuburkan juga.
Jumlah dua ratus tujuh puluh satu mayat.
Kuburan yang baru pun berjumlah sama.
Dengan tangan sendiri, Kuan Tiong-liu mengubur mayat yang terakhir.
Dia berlutut di depan gundukan tanah di mana It-im Taysu disemayamkan.
Jit Po dan Liok An berlutut di kedua sisinya.
Tidak ada pembacaan ayat suci, tidak ada upacara sembahyang.
Seorang Ciangbunjin partai terkemuka mati dalam keadaan mengenaskan.
Sekarang sudah senja hari.
Dua puluh delapan murid Go-bi-pay yang merantau di dunia Kangouw baru menyusul tiba.
733 Mereka melemparkan bungkusan di bahu masing-masing dan menjatuhkan diri berlutut di depan makan It-im Taysu.
Meskipun mereka terdiri dari laki-laki yang sudah banyak melihat berbagai peristiwa, tapi menghadapi dua ratus tujuh puluh satu gundukan tanah baru yang berisi tubuh rekan-rekan mereka, tidak usah dikatakan lagi bagaimana rasa sedih yang menyelimuti hati mereka.
Belum lagi rasa sakitnya karena mereka tidak ada di tempat untuk memberi pertolongan.
Mereka lebih rela mati bersama daripada hidup tapi menyaksikan kematian rekan mereka.
Kuan Tiong-liu membenturkan kepalanya dan menyembah tiga kali.
Kemudian dia berdiri.
Matanya mengedar pada saudara seperguruannya yang masih tersisa.
"Para Suheng-te sekalian, Go-bi-pay merosot sampai begini, rasanya sulit mengangkat kepala untuk menonjolkan diri lagi di dunia Kangouw. Lebih baik kalian pilih saja jalan masing-masing,"
Katanya.
"Kita harus membalaskan dendam para saudara dan Suhu kita. Go-bi-pay tidak akan hidup pada masa yang sama dengan Bu-ti-bun!"
Teriak mereka serentak. Mata Kuan Tiong-liu merah seketika mendengar kata-kata para saudaranya.
"Baik! Kalau begitu, untuk sementara kita menetap bersama Hay-liong Susiok. Kalian memang tidak memalukan disebut murid Go-bi-pay. Kita harus mencari kesempatan untuk membentangkan sayap kembali,"
Sahutnya terharu.
Para murid Go-bi-pay itu juga tidak tahu harus ke mana lagi.
Mendengar kata-kata Kuan Tiong-liu, tentu saja mereka segera setuju.
Tiga puluh satu orang yang menjadi satu 734 rombongan itu menuruni Go-bi-san.
Cahaya mentari bersinar redup di atas kepala mereka.
***** Senja hari.
Pemandangan di kedua tepian sungai menyejukkan mata.
Burung-burung beterbangan di angkasa.
Tok-ku Hong berjalan di bawah sinar matahari.
Tampaknya begitu sunyi.
Sekarang adalah hari kedua puluh dia meninggalkan Bu-ti-bun.
Dia tidak mempunyai tujuan.
Asal di depannya ada jalan, dia akan terus melangkah.
Meskipun sepanjang perjalanan belum terjadi peristiwa apa pun, tapi hatinya tetap merasa tidak enak.
Ini merupakan pertama kalinya dia berkelana seorang diri.
Di sepanjang perjalanan tidak ada orang yang menjaga atau pun melayaninya.
Padahal sebelumnya sehari-hari dia adalah nona besar.
Apa pun yang di nginkannya tinggal perintah saja.
Pada hari-hari pertama, dia merasa sangat tersiksa.
Namun hatinya memang keras.
Dia malu untuk kembali ke Bu-ti-bun begitu saja.
Meskipun sekarang sudah agak terbiasa, tapi dalam hatinya diam-diam dia merindukan rumahnya.
Sampai kapan kehidupan seperti ini akan berlangsung, dia tidak tahu.
Ada tersirat keinginan dalam hatinya untuk kembali ke rumah.
Beberapa kali dia sudah menghentikan langkah kakinya, namun begitu mengingat tamparan tangan Tok-ku Bu-ti, dia mengeraskan hati dan melanjutkan perjalanannya kembali.
Wan Fei-yang juga tidak terbiasa hidup berkelana.
Tapi kalau dibandingkan dengan Tok-ku Hong, dia masih lebih bisa 735 menahannya.
Di Bu-tong-san dia sudah terbiasa bekerja serabutan.
Meskipun masih terlindung dari hujan dan angin, namun menghadapi cuaca hujan atau angin besar pun baginya bukan sesuatu yang mengherankan lagi.
Oleh karena itu, selama dua puluh hari ini dia terus mengintil di belakang Tok-ku Hong.
Dia tidak merasa apa yang dilakukannya sebagai suatu penderitaan.
Dia berjalan dengan santai, tapi tetap tidak melepaskan diri dari gadis itu.
Sejak meninggalkan tempat kediaman Hay-liong Lojin, dia juga berjalan tanpa arah dan tujuan.
Siapa sangka dalam sebuah gang kecil di desa yang dia singgahi, dia melihat anak gadis Tok-ku Bu-ti.
Tiba-tiba saja dia teringat gurunya, Ci-siong Tojin pernah berpesan apabila ada kesempatan dia harus bertandang ke Bu-ti-bun mencari seorang wanita bernama Sen Man-cing.
Tanpa sadar dia terus mengikuti Tok-ku Hong dan mencoba mencari kesempatan untuk berkenalan dengan gadis itu.
Siapa tahu dia bisa menyelinap ke dalam Bu-ti-bun.
Tiga hari sudah berlalu, tapi kesempatan itu belum ada juga.
Pikiran Tok-ku Hong sedang melayang-layang.
Oleh karena itu, dia sama sekali tidak menyadari bahwa Wan Fei-yang telah mengintil di belakangnya selama beberapa hari.
Kedua orang itu berjalan terus, senja hari mereka mencari penginapan dan beristirahat.
Tentu saja Tok-ku Hong yang di depan dan Wan Fei-yang mengikuti dari belakang.
Setiap kali gadis itu berhenti, dia juga berhenti.
Gadis itu melanjutkan perjalanan, dia pun cepat-cepat menyusulnya.
Dengan demikian, tiga hari berlalu sudah.
***** 736 Sungai mengalir sampai ribuan li.
Apabila mata menerawang, sungai itu bagai tidak berbatas.
Pemandangan sangat indah, namun Kuan Tiong-liu dengan rombongannya yang berjumlah tiga puluh satu orang sama sekali tidak menikmati keindahan pemandangan itu.
Mereka berjalan menyusuri tepi sungai.
Hati mereka sama tertekan.
Jarak mereka dengan Tok-ku Hong dan Wan Fei-yang kurang lebih satu li.
Arah mereka berhadapan pula.
Seandainya mereka sama-sama berjalan terus, tentu jaraknya akan semakin pendek, dan akhirnya pasti bertemu satu sama lainnya.
Tentu saja Kuan Tiong-liu tidak tahu Tok-ku Hong sedang melangkah ke arahnya.
Dia berjalan terus.
Tiba-tiba dia menghentikan langkah kakinya.
"Tidak benar!"
Serunya. Jit Po yang mengiringi di sampingnya merasa heran.
"Kongcu, ada apa?"
Mata Kuan Tiong-liu berkilau sekilas.
"Semua harap berhatihati!"
Katanya tiba-tiba.
Baru saja ucapannya selesai, beratus-ratus anak panah meluncur ke arah mereka.
Jit Po yang berada paling depan langsung terkena sasaran.
Para murid Go-bi-pay yang lain segera mengeluarkan senjata masing-masing.
Tapi tujuh orang segera roboh ke tanah.
Sejak tadi Kuan Tiong-liu sudah menghunus pedangnya.
Dia segera menyapu ke kiri dan kanan.
Liok An berhasil dilindungi, namun dia terlambat menyelamatkan Jit Po.
Kuan Tiong-liu melesat ke depan dan menyambut tubuh Jit Po 737 yang terjungkal.
"Jit Po!"
Panggilnya dengan suara parau. Jit Po masih bernapas. Dia berusaha menahan sakit yang dideritanya. Matanya setengah terbuka. Dia memandang Kuan Tiong-liu dengan mata sayu.
"Kongcu, aku tidak dapat melayanimu lagi."
Kemudian dia merintih.
"Li ... Liok ... An ...."
Liok An segera menghampirinya.
Namun nyawa Jit Po sudah melayang.
Liok An menangis meraung-raung.
Meskipun Jit Po bukan saudara kandungnya, namun hubungan mereka malah lebih dari saudara sendiri.
Hati Kuan Tiong-liu bagai disayat-sayat puluhan pisau.
Jit Po dan Liok An melayaninya selama bertahun-tahun.
Dia sudah memandang mereka bagai adiknya sendiri.
Panah masih meluncur terus.
Seratus lebih anggota Bu-ti-bun menerjang keluar dari balik gerombolan pohon.
Mereka semua berpakaian serbahitam.
Dalam sekejap mereka sudah mengurung rombongan Kuan Tiong-liu.
Seorang Tancu berpakaian putih keperak-perakan melayang turun dari udara dan berhenti tepat di hadapan Kuan Tiong-liu.
"Lagi-lagi anggota Bu-ti-bun!"
Kuan Tiong-liu tertawa dingin.
"Sebutkan namamu!"
Tancu itu tertawa datar.
"Asal sekitar Kuil Kuan-se, naga sakti menyapu seluruh Wei Kiang."
"Rupanya Sen-po Lu Kin yang dulu membasmi Wei-kiang-pat-sou!" 738
"Eh? Kau juga mengenal aku?"
Lu Kin tertawa terbahak-bahak.
"Tidak disangka setelah sekian tahun membersihkan tangan, hari ini aku dapat memancing seekor ikan besar dari Go-bi-san!"
"Bagus! Kedatanganmu memang tepat sekali!"
Bentak Kuan Tiong-liu lantang. Tubuh dan pedang berkelebat menjadi satu bayangan. Lu Kin segera mengeluarkan senjata cambuknya yang berkepala tiga belas.
"Serbu!"
Serunya memberi perintah.
Para anggota Bu-ti-bun menerjang seperti orang kalap.
Murid Go-bi-pay juga tidak tinggal diam.
Mereka menyambut terjangan orang banyak itu.
Kedua pihak saling bertarung.
Cahaya golok dan pedang bertaburan.
Darah memercik membasahi tanah.
Meskipun jumlah anggota Bu-ti-bun lebih banyak, tapi para murid Go-bi-pay melawan dengan kalap.
Hati mereka masih sedih karena kematian rekan yang begitu banyak.
Semangat mereka bangkit untuk membalaskan dendam bagi mereka.
Perlawanan mereka lebih mirip mengadu nyawa.
Kuan Tiong-liu sudah memerhatikan situasi dengan saksama.
Begitu berhasil melepaskan diri dari belitan cambuk Lu Kin, dia langsung menerjang ke dalam kerumunan anggota Bu-ti-bun.
Sekali gerak dia langsung mengerahkan tiga jurus terakhir Lok-jit-kiam.
Hanya terlihat bayangan pedang berkelebat bersamaan dengan gerakan tubuhnya.
Pedangnya menyapu ke kiri dan kanan.
Satu demi satu anggota Bu-ti-bun roboh bermandikan darah.
Melihat keadaan itu, Lu Kin segera maju mendekati.
Kuan 739 Tiong-liu tidak memedulikannya.
Tubuhnya melesat ke udara bagai seekor kupu-kupu beterbangan.
Pedangnya menikam terus.
Empat puluh enam lagi anggota Bu-ti-bun mati di bawah sapuan pedangnya.
Tentu saja Lu Kin tidak sanggup menghalanginya.
Para anggota Bu-ti-bun mulai tergetar hatinya melihat kekejian anak muda itu.
Saat itu Lu Kin baru sadar kehebatan ilmu yang dikuasai Kuan Tiong-liu.
Benar-benar di luar dugaannya.
Dia sendiri sudah pasti bukan tandingan anak muda tersebut.
Pikirannya segera tergerak.
Dia mundur beberapa langkah.
Siapa tahu Kuan Tiong-liu tiba-tiba melesat ke udara dan melayang turun tepat mengadang di depannya.
Lu Kin mengeraskan hatinya.
Cambuk di tangannya dikebaskan ke depan.
Ilmu cambuknya memang tinggi sekali, tapi ilmu silatnya jauh di bawah Kuan Tiong-liu.
Mereka segera terlihat dalam pertarungan yang seru.
Dalam waktu sekejap saja dia sudah terdesak.
Mana mungkin dia sanggup menandingi Kuan Tiong-liu yang merupakan murid kesayangan It-im Taysu.
Dia sendiri hanya Tancu dari Bu-ti-bun.
Sedangkan Hu-hoat Bu-ti-bun, Han-ciang-tiau-siu saja bukan tandingan Kuan Tiong-liu.
Apalagi dia!
Kedudukan dalam Bu-ti-bun ditentukan dari tingginya ilmu silat seseorang, sedangkan ilmu silat Lu Kin hanya pantas menduduki jabatan Tancu.
Tanpa sengaja dia menemukan jejak Kuan Tiong-liu dan rombongannya.
Hatinya segera berpikir untuk membuat jasa besar dan mendapat hadiah dari Tok-ku Bu-ti.
Dia tidak menilai kepandaiannya sendiri apakah mampu mengalahkan-Kuan Tiong-liu.
Apalagi Go-bi-pay dengan mudah berhasil disapu bersih oleh anggota Bu-ti-bun yang lain.
Oleh karena itu dia segera mengumpulkan anak 740 buahnya dan mengadang rombongan Kuan Tiong-liu.
Jumlah mereka memang jauh lebih banyak.
Hal ini tentu saja membesarkan hatinya.
Melihat dari keadaan luarnya, mereka pasti akan meraih kemenangan.
Baru meluncurkan beberapa batang anak panah, delapan orang pihak lawan sudah jatuh roboh bermandikan darah.
Sayangnya, dia terlalu meremehkan ilmu silat Kuan Tiong-liu.
Sebelum berhasil berlatih tiga jurus terakhir dari Lok-jit-kiam-hoat saja, Kuan Tiong-liu sudah berhasil mengalahkan Han-ciang-tiau-siu.
Apalagi tiga jurus terakhir Lok-jit-kiam-hoat sudah dikuasainya dengan baik, Lu Kin lebih-lebih bukan tandingannya lagi.
Seandainya Han-ciang-tiau-siu hidup kembali, belum tentu dia dapat menerima dua puluh jurus dari Kuan Tiong-liu sekarang ini.
Pada jurus keempat belas, cambuk di tangan Lu Kin sudah terlepas.
Sekali lagi Kuan Tiong-liu meluncurkan pedangnya, dia langsung berhasil menusuk dada Lu Kin.
Kuan Tiong-liu mengentakkan pedangnya.
Tubuh Lu Kin melayang di udara dan mencelat sejauh dua depa, lalu jatuh di antara kerumunan anggota Bu-ti-bun yang masih tersisa.
Pedang Kuan Tiong-liu tidak berhenti, berturut-turut dia membunuh puluhan lagi anak murid Bu-ti-bun.
Rekan-rekannya dari Go-bi-pay agak lega mendapat bantuan darinya.
Meskipun di pihak mereka sendiri telah roboh lagi sepuluh orang lebih, tapi korban di pihak Bu-ti-bun jangan dikatakan lagi.
Bagaimanapun mereka pernah berlatih dengan giat di atas Go-bi-san.
Ilmu mereka memang lebih tinggi dari anggota Bu-ti-bun.
Kalau bertanding satu lawan satu saja, tidak ada satu pun yang sanggup menandingi Liok An, si bocah pembawa harpa.
741 Setelah melihat kematian pemimpin mereka, Lu Kin, hati anggota Bu-ti-bun lainnya semakin ciut.
Nyali mereka terbang entah ke mana.
Mereka segera mengambil langkah seribu.
Gerakan mereka kalang kabut.
Tidak peduli lagi arah mana yang harus diambilnya.
"Jangan sisakan satu orang pun!"
Teriak Kuan Tiong-liu lantang.
Dia segera mencelat ke udara dan melayang turun di hadapan empat anggota Bu-ti-bun yang sedang lari pontang-panting.
Dalam tiga kali sapuan pedang saja, keempat orang itu sudah roboh bermandikan darah.
Para murid Go-bi-pay mengejar sisa anggota Bu-ti-bun yang lain.
Sebentar saja hanya tersisa satu orang yang masih hidup.
Orang itu segera menjatuhkan diri berlutut di depan Kuan Tiong-liu.
"Tayhiap! Ampuni jiwaku ...."
Ratapnya dengan tubuh gemetaran.
Kuan Tiong-liu menoleh kepada para rekannya.
Berikut Liok An, semuanya hanya tinggal sembilan orang yang hidup.
Hatinya sakit sekali.
Sisa anggota Bu-ti-bun yang hanya sendirian itu mengira Kuan Tiong-liu bersedia melepaskannya.
Dia segera menyembah satu kali, pedangnya diletakkan di tanah, dia berdiri dan berjalan perlahan.
"Mau ke mana?"
Tiba-tiba Kuan Tiong-liu berteriak.
Tubuhnya melesat lalu mengadang di depan orang itu.
Mata orang itu menyorotkan sinar ketakutan.
Belum sempat dia mengucapkan apa-apa, pedang Kuan Tiong-liu sudah menikam jantungnya.
Pedang ditarik kembali.
Orang yang sudah menjadi mayat itu terkulai ke tanah.
Mata Kuan Tiong-742 liu menatap tajam ke arah seseorang yang sedang berlari mendekati.
Dia adalah Tok-ku Hong.
Dari jauh dia mendengar suara benturan senjata.
Segera dia menghambur menghampiri.
Saat itulah dia sempat melihat Kuan Tiong-liu membunuh orang terakhir tadi.
Tentu saja dia mengenali bahwa mayat-mayat yang bergelimpangan itu adalah anggota Bu-ti-bun.
Dia teringat ketika Kuan Tiong-liu berusaha membunuhnya ketika dia dan Suhengnya sedang terluka di kaki gunung Bu-tong-san.
Hawa kemarahan segera memenuhi dadanya.
Sepasang golok segera dikeluarkannya.
"Kuan Tiong-liu!"
Bentaknya nyaring. Kuan Tiong-liu tidak menyahut.
"Tok-ku Hong ada di sini. Kemungkinan besar dia datang bersama Tok-ku Bu-ti. Laki-laki sejati harus berani menerima hinaan. Lebih baik menghindarkan diri untuk sementara,"
Pikir Kuan Tiong-liu dalam hati. Begitu ingatan tersebut melintas, dia segera menoleh kepada rekan-rekannya.
"Liok An dan lainnya cepat tinggalkan tempat ini. Aku akan menyusul belakangan!"
Katanya. Liok An tidak berani membantah. Dia menghampiri mayat Jit Po dengan maksud membawanya sekalian, tapi Kuan Tiong-liu sudah mencegah lagi.
"Jangan pedulikan yang lainnya, cepat pergi!"
Para rekan seperguruan yang melihat keseriusan Kuan Tiong-liu, dapat merasakan gentingnya suasana, mereka tidak berani berlambat-lambat lagi.
Semuanya meninggalkan 743 tempat itu dengan tergesa-gesa.
Tok-ku Hong juga tidak memedulikan mereka.
Dia hanya mendelikkan matanya lebar-lebar kepada Kuan Tiong-liu.
"Bagus sekali kau ini! Lagi-lagi membunuhi anggota Bu-ti-bun kami!"
"Ayahmu naik ke Go-bi-san dan membunuh dua ratus tujuh puluh satu jiwa anak murid kami. Apakah kau tidak tahu masalah ini?"
Sepanjang perjalanannya tadi, Tok-ku Hong memang sudah mendengar berita ini.
Dia juga merasa tindakan ayahnya kali ini agak keterlaluan.
Tapi setelah memandang mayat yang bergelimpangan di sana dan kebanyakan terdiri dari anggota Bu-ti-bun, hawa kemarahannya meluap kembali.
"Hari itu di kaki gunung Bu-tong-san aku sudah terluka parah, tapi kau tetap ingin membunuh aku. Kali ini aku akan bertanding sekali lagi denganmu untuk menentukan siapa yang lebih unggul di antara kita,"
Kata Tok-ku Hong datar.
"Pertarungan hidup dan mati?"
Pedangnya bergetar langsung meluncur ke arah Tok-ku Hong.
Sepasang golok Tok-ku Hong dibentangkan dan menyambut datangnya serangan Kuan Tiong-liu.
Golok dan pedang saling berkelebatan.
Golok Tok-ku Hong cepat, pedang Kuan Tiong-liu lebih cepat lagi.
Meskipun dia baru saja bertarung melawan sekian banyak musuh, tapi tenaganya tidak banyak terkuras.
Ilmunya memang jauh lebih tinggi daripada Tok-ku Hong.
Kira-kira sepuluh jurus kemudian, dia mulai menguasai keadaan.
744 Tok-ku Hong sendiri juga merasakan bahwa dia bukan tandingan Kuan Tiong-liu, tapi adatnya keras.
Sepasang goloknya bergerak makin cepat.
Serangannya makin lama makin gencar.
Dengan tidak memedulikan bahaya, dia menebas Kuan Tiong-liu berulang kali.
Tapi tebasannya selalu berhasil dihindari oleh anak muda itu.
Tok-ku Hong semakin kalap.
Sepasang goloknya dengan nekat menjepit pedang Kuan Tiong-liu.
"Lepaskan!"
Teriaknya lantang.
Tanpa dapat dipertahankan lagi, pedang Kuan Tiong-liu terlepas.
Baru saja Tok-ku Hong merasa bangga akan hasilnya, tahu-tahu tubuh Kuan Tiong-liu sudah mencelat di udara dan melayang turun di belakang punggung Tok-ku Hong.
Gadis itu belum sempat membalikkan tubuhnya ketika telapak tangan Kuan Tiong-liu menghantam tiga kali berturut-turut.
Blam!
Blam!
Blam!
Tubuh Tok-ku Hong mencelat sejauh dua depa, kemudian jatuh berdebum di atas tanah.
Mulutnya terbuka, segumpal darah segar terlihat muncrat keluar.
Tubuh Kuan Tiong-liu melesat lagi secepat kilat, dia menyambut pedangnya yang masih melayang di udara.
Semua itu terjadi dalam sekejap mata.
Dia melayang turun di hadapan Tok-ku Hong.
Matanya mendelik ke arah gadis itu.
"Tok-ku-siocia, bagaimana keadaanmu!"
Tanyanya pura-pura menaruh perhatian. Wajah Tok-ku Hong pucat sekali. Dia mendelik kembali kepada Kuan Tiong-liu.
"Membokong secara gelap, apakah kau termasuk laki-laki sejati?" 745
"Dalam bertarung siasat memang diperlukan. Menghadapi komplotan penjahat seperti kalian, untuk apa menuruti peraturan dunia Kangouw? Juga tidak memerlukan tindakan laki-laki sejati!"
"Manusia jenis apa kau ini, kau kira aku tidak tahu. Kau hanya menutupi rasa malumu sehingga mengeluarkan kata-kata seperti itu!"
Sahut Tok-ku Hong sambil berusaha bangkit. Namun baru saja tubuhnya bergerak sedikit, kembali dia memuntahkan darah segar. Tubuhnya terkulai ke tanah.
"Mau bunuh, silakan. Tidak usah banyak bicara!"
"Mau mati? Tidak begitu mudah?"
"Apa yang kau inginkan?"
"Aku akan mengoyak-ngoyak tubuhnya menjadi berkeping-keping, kemudian akan kukirimkan kepada Tok-ku Bu-ti!"
Kuan Tiong-liu tertawa terbahak-bahak. Tok-ku Hong terkejut sekali. Dia tidak meragukan apa yang dikatakan Kuan Tiong-liu. Hal ini terbukti dari kekejiannya membantai para murid Bu-ti-bun.
"Saat itu ada Wan Fei-yang yang menolongmu. Kali ini aku ingin lihat siapa yang akan datang menolongmu?"
"Wan Fei-yang?"
Tok-ku Hong malah tertegun.
Kuan Tiong-liu tertawa terbahak-bahak.
Selangkah demi selangkah dia menghampiri Tok-ku Hong.
Gadis itu panik sekaligus marah.
Dia berusaha untuk bangun, namun lukanya 746 cukup parah.
Akhirnya dia jatuh tidak sadarkan diri.
Melihat keadaan gadis itu, tawa Kuan Tiong-liu semakin keras.
Tiba-tiba dia melihat bayangan berkelebat.
Seseorang sudah berdiri mengadang di depan Tok-ku Hong.
Dia adalah Wan Fei-yang!
Suara tawa Kuan Tiong-liu sirap seketika.
"Lagi-lagi kau mengacau!"
Bentaknya marah. Wan Fei-yang tertawa getir. Wajah Kuan Tiong-liu menghijau.
"Kali ini apa maksudmu datang kemari?"
"Aku ... aku hanya kebetulan lewat ...."
Wan Fei-yang menarik napas panjang.
"Tidak usah berpura-pura lagi. Apa yang tersirat di dalam hatimu? Bilang!"
Pedang Kuan Tiong-liu menuding Wan Fei-yang.
"Dia toh sudah terluka parah, buat apa kau harus turun tangan keji lagi?"
Wan Fei-yang melirik sekilas ke arah Tok-ku Hong. Tok-ku Hong sama sekali tidak bergerak. Hati Wan Fei-yang malah menjadi tenang.
"Apa hubunganmu dengannya?"
Bentak Kuan Tiong-liu kembali.
"Dia ... dia tidak ada hubungan apa-apa denganku."
Kuan Tiong-liu mendengus dingin.
"Aku rasa kau adalah anak buahnya. Kau adalah anggota Bu-ti-bun!" 747
"Bukan ... aku bukan ...."
Wan Fei-yang gugup sekali.
"Tidak perlu mungkir lagi. Tempo hari kau menolong dia. Aku sudah curiga kau adalah anggota Bu-ti-bun. Hanya Susiokku saja yang tetap tidak percaya."
"Aku benar-benar bukan ...."
"Tutup mulut!"
Kuan Tiong-liu tidak memberinya kesempatan sama sekali. Dia malah tertawa dingin.
"Ya juga tidak apa-apa, bukan juga tidak apa-apa. Kau mau menolongnya? Tanyakan pada pedangku dulu!"
"Apakah kau hendak memaksa aku turun tangan?"
"Di tempat Susiok tempo hari, aku sudah mengampuni jiwamu. Sekarang tidak lagi! Aku menginginkan nyawamu!"
"Anggaplah aku memohon kepadamu, ampunilah dia kali ini."
"Omong kosong! Susiok mengatakan bahwa kau mengalah terhadapku tempo hari. Sekarang kau boleh keluarkan seluruh kepandaianmu!"
Perkataannya selesai, tubuh dan pedang Kuan Tiong-liu meluncur dalam waktu yang bersamaan.
Sekali gerak dia langsung mengerahkan tiga jurus terakhir Lok-jit-kiam-hoat.
Wan Fei-yang tidak dapat menghindar dari pertarungan ini.
Kakinya segera menjalankan langkah ajaib.
Jurus yang digunakan tentu saja Liong-gi-kiam-hoat.
Sebetulnya dia segan bertarung dengan Kuan Tiong-liu.
Ketika bertarung di pesisir pantai, dia sudah memerhatikan Lok-jit-kiam-hoat yang dipelajari Kuan Tiong-liu.
Kesannya 748 masih mendalam.
Kali ini dia dapat menghadapinya dengan santai.
Pandangan Hay-liong Lojin memang tidak salah.
Ilmunya memang lebih tinggi setingkat daripada Kuan Tiong-liu.
Begitu anak muda itu mengerahkan tiga jurus terakhir Lok-jit-kiam-hoat, pedang Wan Fei-yang sudah berhasil menempel di depan tenggorokan Kuan Tiong-liu.
Perasaan Kuan Tiong-liu saat itu bagai terjatuh ke dalam jurang yang dalam.
Dia berdiri terpaku.
"Mengapa setiap kali kau harus memaksa aku turun tangan?"
Tanya Wan Fei-yang sambil tertawa getir. Kuan Tiong-liu memandang Wan Fei-yang dengan pandangan menusuk.
"Pertarungan di pesisir pantai tempo hari, kau benar-benar mengalah terhadapku?"
Wan Fei-yang tidak menyahut.
"Mengapa kau masih tidak membunuh aku?"
Teriak Kuan Tiong-liu marah.
"Antara kau dan aku sama sekali tidak ada dendam apa-apa,"
Kata Wan Fei-yang sambil menyimpan pedangnya kembali.
"Kalau kau tidak membunuh aku, kelak kau pasti akan menyesal!"
Sahut Kuan Tiong-liu sambil menggertakkan giginya erat-erat. Wan Fei-yang mengibaskan tangannya.
"Lebih baik kau pergi saja."
Hampir saja Kuan Tiong-liu muntah darah karena jengkelnya.
749 Dia mengentakkan kakinya, kemudian membalikkan tubuh dan berlari meninggalkan tempat itu.
Wan Fei-yang memandangnya sampai menghilang di kejauhan.
Dia sendiri termenung serta berulang kali menarik napas.
***** Ketika Tok-ku Hong sadarkan diri, matahari sudah tenggelam.
Pada saat itu Wan Fei-yang sedang membuka mulutnya dan meminumkan air yang diambilnya dengan sarung pedang.
Tok-ku Hong hanya merasa lidahnya menjadi pahit, tapi setelah rasa pahit berkurang, dia malah merasa segar dan nyaman.
Akhirnya dia dapat melihat Wan Fei-yang.
Tok-ku Hong mengejap-ngejapkan matanya.
"Jangan bergerak. Yang ada dalam mulutmu itu obat. Cepat telan!"
Kata Wan Fei-yang menyarankan. Kesadaran Tok-ku Hong mulai pulih sedikit demi sedikit. Tanpa sadar dia mengikuti perintah Wan Fei-yang dan menelan obat itu.
"Siapa kau?"
Tanyanya kemudian.
"Aku hanya kebetulan lewat,"
Sahut Wan Fei-yang. Tangannya masih memegangi bahu Tok-ku Hong. Akhirnya gadis itu merasakan. Dia menepiskan tangan Wan Fei-yang.
"Lepaskan tanganmu!"
Wan Fei-yang tertegun.
Dia menyingkirkan tangannya.
Tubuh Tok-ku Hong hampir terjatuh, tapi gadis yang keras hati itu bertahan sekuatnya.
Dia menumpukkan kedua telapak tangannya di atas tanah.
Matanya mencari-cari.
"Mana manusia she Kuan itu?"
Tanyanya tiba-tiba.
"She Kuan?"
Wan Fei-yang pura-pura tidak mengerti.
"Pemuda yang mengenakan pakaian putih ...."
"Oh .... Pemuda berpakaian putih itu yang kau maksudkan? Dia sudah kabur."
"Kabur?"
Tok-ku Hong kurang begitu percaya.
"Siapa yang sanggup membuatnya kabur? Kau?"
"Aku mana punya kesanggupan sehebat itu,"
Wan Fei-yang menjawab sambil memutar otaknya.
"Seorang Hwesio bergebrak dengannya, pemuda itu tampaknya kalah, terus kabur."
"Hwesio?"
Tok-ku Hong semakin penasaran.
"Bagaimana tampangnya?"
"Usianya sudah lanjut, di kepalanya yang gundul ada sembilan lubang, orangnya agak pendek, rambutnya sudah putih semua, jenggotnya panjang menjuntai. Tampaknya ilmu Hwesio itu tinggi sekali. Baru bertarung beberapa saat, pemuda berpakaian putih itu sudah kabur."
"Kira-kira siapa yang mempunyai kepandaian setinggi itu?"
Tok-ku Hong seperti bertanya kepada dirinya sendiri. Dia merenung beberapa saat. Kemudian dia menoleh lagi kepada Wan Fei-yang.
"Ke mana Hwesio itu sekarang?"
"Dia memerhatikan engkau sambil menggelengkan kepalanya. 751 Kemudian lengan bajunya dikibaskan lalu tubuhnya melesat dan menghilang begitu saja."
"Oh?"
Tok-ku Hong merenung kembali.
"Siapa gelar Hwesio itu?"
"Dia tidak mengatakannya,"
Wan Fei-yang menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana perasaanmu setelah meminum obat tadi?"
Tok-ku Hong mencoba menghimpun hawa murninya, walaupun belum begitu lancar, tapi rasa sakitnya tidak seperti sebelum pingsan tadi lagi.
Malah terasa sekulum hawa yang sejuk menguap naik lewat tenggorokannya.
Dia merasa heran.
"Obat apa yang kau berikan kepadaku?"
"Aku juga kurang paham,"
Wan Fei-yang mengeluarkan botol obat dari balik pakaiannya.
"Obat ini merupakan resep turunan keluarga. Dibuat dari bermacam-macam daun obat-obatan. Menurut apa yang kudengar, obat ini khusus untuk menyembuhkan luka dalam."
Tok-ku Hong memerhatikan Wan Fei-yang dari atas kepala sampai ke ujung kaki.
"Siapa kau sebetulnya?"
"Aku? Kurang jelas juga,"
Wan Fei-yang benar-benar tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu.
"Apa?"
Tok-ku Hong semakin kebingungan.
"Yang aku maksudkan siapa namamu?"
"Aku she Yang. Orang-orang selalu memanggilku Siau Yang. Yang dari huruf Yang Ciu,"
Sahut Wan Fei-yang seakan takut 752 gadis itu kurang paham.
"Tidak ada nama?"
"Ada nama kecil, yaitu A Ha. Tapi lebih baik kau memanggilku Siau Yang saja."
Tentu saja Tok-ku Hong tidak tahu Wan Fei-yang sedang berdusta. Dia malah merasa anak muda ini lucu sekali dan menarik.
"Di mana rumahmu?"
Tanyanya kembali.
"Sebuah desa kecil tanpa nama yang kira-kira jaraknya keberapa puluh li dari sini. Di desa kami itu hanya ada belasan keluarga."
"Untuk apa kau datang ke tempat sejauh ini?"
"Cari pekerjaan,"
Untung saja otak Wan Fei-yang cukup encer.
"Bagaimana dengan kedua orang tuamu?"
Tanpa sadar Tok-ku Hong bertanya terus.
"Semuanya sudah mati,"
Wajah Wan Fei-yang tampak menyiratkan kesedihan. Dia cepat-cepat mengalihkan bahan pembicaraan.
"Kouwnio, aku rasa lukamu tidak ringan. Kalau kau diam di sini terus, nanti bisa masuk angin. Celakalah kau saat itu."
"Siapa yang memerlukan perhatianmu?"
"Jangan berkata demikian. Sekarang kau ibarat pasienku. Kalau sampai terjadi apa-apa pada dirimu, aku tentu tidak bisa makan tidur lagi."
"Aku tidak meminta kau bertanggung jawab atas diriku."
"Menolong orang merupakan kewajiban dalam hidup. Mana mungkin sementara aku melihat kau di ambang kematian lalu membiarkan saja?"
Sahut Wan Fei-yang seenaknya.
"Baru membawa obat keluarga saja sudah berani mengobati orang. Nyalimu tidak kecil juga!"
Tok-ku Hong mengomelinya, namun bibirnya menyunggingkan senyuman.
"Kalau nyaliku tidak besar, melihat begini banyaknya mayat yang bergelimpangan, pasti aku sudah kabur sejak tadi."
"Tahukah kau apa yang telah terjadi?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku mengenali sebagian besar dari mayat itu adalah anggota Bu-ti-bun."
"Kau kenal dengan mereka?"
"Tidak kenal. Tapi, sudah pasti itu dandanan anggota Bu-tibun."
"Tampaknya kau memerhatikan sekali."
"Karena aku memang pernah masuk menjadi anggota Bu-ti-bun."
"Mengapa?"
Kecurigaan Tok-ku Hong bangkit kembali.
"Bu-ti-bun tiada tandingannya di kolong langit. Coba kau perhatikan, mana ada murid Bu-ti-bun yang tidak terlihat 754 gagah?"
Wan Fei-yang sengaja menarik napas panjang.
"Sayangnya harus ada yang memperkenalkan dan ada orang yang menjamin. Aku sudah pergi ke kantor cabang mereka tiga kali, tapi setiap diuji, aku selalu tidak lulus dan tidak diterima."
"Tahukah kau siapa aku?"
Tanya Tok-ku Hong kembali.
"Siapa juga tidak jadi masalah,"
Wan Fei-yang menggelengkan kepalanya.
"Siapa tahu aku musuh Bu-ti-bun."
Wan Fei-yang pura-pura terkejut. Kemudian dia menggelengkan kepalanya kembali.
"Apa boleh buat? Melihat kematian tanpa menolong, aku tidak bisa melakukan hal seperti itu,"
Dia seakan teringat sesuatu.
"Oh ya .... Di depan sana ada kuil yang tidak terpakai, mari aku papah kau beristirahat di sana sejenak,"
Katanya. Tangan Wan Fei-yang terulur. Sudah pasti Tok-ku Hong menolaknya.
"Tidak perlu. Aku bisa berjalan sendiri!"
Dia menggunakan goloknya sebagai tongkat dan memaksakan dirinya bangun.
Bagian telapak tangannya masih sakit, walaupun tidak senyeri tadi lagi.
Dia memaksakan dirinya berjalan keberapa langkah, tapi bekas lukanya sakit sekali.
Langkahnya limbung, tubuhnya terhuyung-huyung, hampir saja dia jatuh ke tanah.
Wan Fei-yang yang mengikuti dari samping, cepat-cepat 755 memapahnya.
Tapi Tok-ku Hong masih bermaksud menolak, namun segulungan rasa pening tiba-tiba menyerang kepalanya.
Dia tahu dirinya tidak kuat berjalan, terpaksa dia membiarkan Wan Fei-yang memapahnya.
Diam-diam dia mengatur hawa murninya.
Sejenak kemudian rasa pusingnya agak berkurang.
Dia baru bisa melanjutkan langkahnya perlahan.
Melihat semua itu, diam-diam Wan Fei-yang merasa kagum.
Gadis yang keras hatinya seperti Tok-ku Hong memang tidak banyak.
***** Jarak kuil kosong itu dari tepi sungai tadi sebetulnya tidak terlalu jauh.
Tapi Wan Fei-yang memapah Tok-ku Hong dan melangkah perlahan.
Ketika mereka sampai di tempat tujuan, malam sudah merayap.
Namanya memang kuil bobrok.
Tapi beberapa hari sebelumnya Wan Fei-yang sudah menghabiskan waktu setengah harian untuk membersihkannya.
Dia juga pernah menginap satu malam di kuil tersebut.
Wan Fei-yang memapah Tok-ku Hong duduk di atas lantai.
Sebentar saja dia sudah mengambil setumpuk kayu kering dan menyalakan api unggun.
Tok-ku Hong memandangnya dengan tatapan heran.
Wan Fei-yang merasa dirinya diperhatikan.
Dia tertawa lebar.
"Kau tidak perlu heran. Aku pernah tinggal di sini,"
Katanya seakan menjelaskan. 756 Setelah api menyala, dia mengambil sebuah mangkuk yang sudah somplak.
"Kau istirahat dulu sebentar. Aku akan mengambil air dan kau harus minum obat sekali lagi."
Tanpa menunggu jawaban dari Tok-ku Hong, Wan Fei-yang segera menghambur keluar.
Tok-ku Hong terpaksa memandangi punggungnya sampai menghilang.
Setelah merenung sesaat, dia berusaha menegakkan badannya dan menghimpun kembali hawa murninya.
Obat yang diberikan Wan Fei-yang kepada Tok-ku Hong, sudah tidak perlu diragukan lagi merupakan obat racikan Hay-liong Lojin.
Memang bagus sekali untuk menyembuhkan luka dalam.
Sayangnya Wan Fei-yang tidak mengerti bagaimana cara meminumkannya sehingga obat itu tidak banyak menunjukkan reaksinya.
Sekarang Tok-ku Hong membantunya dengan menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuh, tentu saja obat itu segera buyar dan bekerja.
Tok-ku Hong merasakan kesegaran dan kenyamanan dalam waktu singkat.
Tok-ku Hong meminum obat itu sekali lagi.
Setelah beristirahat sejenak, tidak lama kemudian dia tertidur dengan pulas.
Ketika dia terbangun kembali, hari sudah pagi.
Cahaya matahari menyorot dari luar kuil.
Tok-ku Hong mengejapkan matanya.
Tiba-tiba dia tersentak, cepat-cepat dia memerhatikan tubuhnya sendiri.
Tapi dia tidak merasakan sesuatu yang tidak beres.
Hatinya menjadi lega.
Kemudian dia melihat Wan Fei-yang membawa sebuah mangkuk di tangan dan menghampirinya.
"Apa lagi itu? Obat?" 757
"Bubur .... Aku sengaja memasakkannya untukmu."
Di atas tungku api terdapat sebuah panci rombeng.
Di dalamnya terdapat bubur yang masih mengepulkan asap.
Tok-ku Hong memerhatikan Wan Fei-yang sekali lagi.
Pelupuk matanya mulai merah.
Dapat dipastikan bahwa pemuda itu tidak tidur sepanjang malam.
Hati Tok-ku Hong terharu sekali.
Dia menyambut mangkuk dari tangan Wan Fei-yang, kemudian mencicipnya sedikit, rasanya manis dan gurih.
Kalau dibandingkan dengan masakannya sendiri, jelas jauh lebih enak.
"Bubur apa ini?"
Tanyanya tanpa sadar.
"Bubur ikan lele."
Tampaknya Wan Fei-yang gembira sekali.
"Dari mana kau mendapatkan ikan lele?"
Tanya Tok-ku Hong yang keheranannya bangkit kembali.
"Aku menceburkan diri ke dalam sungai dan menangkapnya."
Wan Fei-yang balik bertanya.
"Bagaimana rasanya? "Enak sekali,"
Kata Tok-ku Hong memuji.
"Kepandaianmu banyak juga."
"Sejak kecil aku harus mengurus diriku sendiri, kalau yang beginian saja tidak bisa, sejak dulu aku sudah mati kelaparan."
Mendengar ucapannya, hati Tok-ku Hong semakin terharu. Dia merenung sejenak.
"Bukankah kau tadi mengatakan bahwa kau ingin sekali bergabung dengan Bu-ti-bun? 758
"Sekarang tidak lagi."
Jawaban Wan Fei-yang malah di luar dugaan gadis itu.
"Eh? Mengapa?"
"Aku sekarang sudah yatim piatu. Tidak punya siapa-siapa lagi. Siapa yang akan menjamin? Lagi pula di mana aku harus mencari orang yang bisa mengenalkan aku masuk Bu-ti-bun? "
Aku!"
Tok-ku Hong menyuap sesendok bubur.
"Kau? Kenapa kau?"
Tanya Wan Fei-yang seakan curiga. Tok-ku Hong mendengus dingin.
"Tok-ku Bu-ti adalah ayahku. Coba kau pikir, bisa atau tidak aku yang menjaminmu? Dan aku juga yang akan memperkenalkanmu."
Wan Fei-yang sengaja menatap Tok-ku Hong dengan pandangan kurang percaya.
"Anggaplah aku membalas budimu karena sudah merawatku,"
Kata Tok-ku Hong selanjutnya.
"Aku tidak mengharap balas budimu. Aku juga bukan jenis manusia yang sudah menolong orang lalu mengharapkan pembalasanmu,"
Sahut Wan Fei-yang bersungut-sungut.
"Kau kira aku jenis manusia yang sudah menerima pertolongan lalu melupakan begitu saja."
Tok-ku Hong meletakkan mangkuknya di atas tanah.
"Segala hal yang sudah aku tetapkan, tak dapat diubah oleh siapa pun juga!" 759 Wan Fei-yang tampak serbasalah.
"Ini ...."
"Ini itu apa lagi? Plintat-plintut, seperti bukan anak laki-laki saja!"
"Baik. Tapi kau tidak boleh sedikit-sedikit gembar-gembor pada semua orang dengan mengatakan bahwa aku mengandalkan engkau baru bisa menjadi anggota Bu-ti-bun."
Wajah Wan Fei-yang serius sekali ketika mengucapkan kata-kata ini.
"Siapa yang kebanyakan waktu menceritakan engkau?"
Tok-ku Hong geli melihat lagak Wan Fei-yang yang ketolol-tololan.
Dia tertawa cekikikan kemudian menghabiskan sisa buburnya.
Wan Fei-yang sendiri ikut tertawa geli.
Tiba-tiba tawanya sirap.
Dia sedang memikirkan apakah pantas dia mengelabui Tok-ku Hong dengan cara demikian.
Dia sudah berniat mengatakan dengan terus terang, tapi kata-kata yang sudah dipersiapkan dan sudah sampai di ujung lidah ditariknya kembali.
Akhirnya dia memutuskan untuk meneruskan sandiwaranya.
Tok-ku Hong sama sekali tidak menyadari.
Dia sudah memutuskan untuk kembali ke Bu-ti-bun.
Bukan karena Wan Fei-yang saja.
Tetapi dia sudah merasa jenuh dengan kehidupan semacam ini.
***** 760 Hay-liong Lojin orang yang periang.
Setiap hari dia selalu tertawa bebas.
Tapi ketika mendengar musibah yang terjadi pada Go-bi-pay, wajahnya berubah hebat.
Dia tidak sanggup tertawa lagi.
Dia tidak meragukan apa yang dikatakan Kuan Tiong-liu.
Apalagi luka yang diderita setiap murid Go-bi-pay yang mengiringi kedatangan Kuan Tiong-liu.
Kepala mereka tertunduk dalam-dalam.
Berkali-kali mereka menarik napas panjang.
Semangat mereka entah terbang ke mana.
Di atas meja yang terdapat di hadapannya ada sebuah kantong kecil yang berlumuran darah.
Itulah benda peninggalan It-im Taysu.
Darah sudah mengering.
Warnanya pun sudah mulai memudar.
Mata Hay-liong Lojin menatap benda itu lekat-lekat.
Hatinya semakin berduka.
"Benarkah si tua bangka It-im itu sudah mampus?"
Kata-kata itu memang tidak sopan, tapi mengandung kesedihan yang dalam. Kuan Tiong-liu menganggukkan kepalanya tanpa menyahut. Hay-liong Lojin menarik napas dalam-dalam.
"Betul kan? Sejak dulu aku sudah sering mengatakan, tidak perlu melelahkan diri menasihati manusia-manusia jahat seperti itu. Tempo hari Kui-kiam (Pedang Setan) Bu-tiang datang untuk membalas dendam. Dia masih mengatakan bahwa pada dasarnya orang itu masih mempunyai sifat yang baik. Untung saja aku keburu datang, kalau tidak waktu itu saja Pedang Setan Bu-tiang sudah mengantarnya ke neraka, tidak perlu menunggu sampai sekarang,"
Hay-liong Lojin merandek sejenak. Kemudian dia mengomel lagi panjang lebar.
"Tua bangka itu memang terlalu lugu. Sama sekali tidak melihat kenyataan hidup. Sedikit-sedikit Omitohud. Sekarang 761 baru dia rasakan, sekaligus dua ratus tujuh puluh lebih anak muridnya mati penasaran!"
Kuan Tiong-liu menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Para murid Go-bi-pay lainnya juga menundukkan kepala mereka.
Berkali-kali masih terdengar helaan napas panjang.
Hay-liong Lojin mengedarkan pandangannya kepada mereka sekilas.
"Untung kalian masih sempat melarikan diri."
Hay-liong Lojin mendongakkan wajahnya ke langit biru.
"Dapatkah Go-bi-pay tampil kembali ke dunia Kangouw, semuanya tergantung kepada kalian."
Orang tua itu berdiri dan menatap Kuan Tiong-liu.
"Terutama kau manusia she Kuan. Aku tahu bakatmu melebihi orang lain. Kau harus berlatih lebih giat lagi!"
"Susiok, jangan khawatir, aku pasti akan menonjolkan kembali nama Go-bi-pay!"
Sahutnya dengan suara berat.
"Bagus! Ada semangat!"
Orang tua itu menepuk bahu Kuan Tiong-liu dua kali kemudian mengambil benda peninggalan It-im Taysu dan berjalan pergi. Kuan Tiong-liu mengikuti dari belakang. Sesampainya di luar rumah, dia berkata.
"Susiok, apa yang kau katakan memang benar! Aku bukan tandingan Wan Fei-yang."
"Akhirnya kau percaya juga bahwa tempo hari Wan Fei-yang memang mengalah terhadapmu."
"Liong-gi-kiam-hoat dari Bu-tong-pay dan Lok-jit-kiam-hoat kita sama-sama terkenal di dunia Kangouw. Mengapa kita 762 bertarung, terpautnya demikian jauh?"
"Untuk mengembangkan Lok-jit-kiam-hoat diperlukan paduan Im dan Yang. Ciangbunjin generasi lalu keburu meninggal, lagi pula kami baru tahu sesudahnya. Maka dari itu, Lok-jit-kiam-hoat yang kulatih bersama It-im Taysu hanya mengandung kekerasan tenaga Yang, namun kekurangan kelembutan daya Im. Ciangbunjin generasi pendahulu tidak sempat mewariskannya kepada kami. Tentu saja kita tidak bisa mengerahkan Lok-jit-kiam-hoat dengan sempurna,"
Kata Hay-liong Lojin menjelaskan. Kuan Tiong-liu tertegun.
"Kalau begitu, Susiok juga tidak dapat mencapai kesempurnaan dalam berlatih Lok-jit-kiam-hoat."
Hay-liong Lojin tidak mengingkari. Kuan Tiong-liu menarik napas panjang.
"Apakah tidak ada jalan untuk membantu agar Lok-jit-kiam-hoat dapat terlatih sampai sempurna?"
"Bukannya tidak ada ...."
Wajah Hay-liong Lojin menjadi kelam.
"Susiok, katakanlah kepadaku. Bagaimana pun susahnya, aku bertekad untuk melatih Lok-jit-kiam-hoat sampai sempurna."
"Jalan satu-satunya adalah mempelajari kelembutan daya Im."
"Oh?"
Kuan Tiong-liu kurang paham maksud orang tua itu. Hay-liong Lojin terpaksa menjelaskan lebih terperinci.
"Seandainya kau dapat mempelajari Sim-hoat dari Si-im-kung (Istana Akhirat) maka semuanya akan menjadi mudah. Tapi tempo dulu, Si-im-kung pernah diserbu oleh sembilan partai besar sehingga terdesak keluar dari Tionggoan. Sejak itu mereka tidak pernah muncul lagi di dunia Kangouw. Tentu saja Lwekang Sim-hoat dari Si-im-kung tidak ada pewarisnya di daerah Tionggoan."
"Dari mana asal Si-im-kung sebenarnya?"
"Po-se (Portugis). Mereka pernah menggetarkan Bu-lim dalam jangka waktu yang cukup lama. Tapi karena mereka tergolong aliran sesat dan banyak membuat kericuhan, akhirnya tidak mampu menahan keroyokan sembilan partai besar dan menghilang begitu saja. Apakah mereka kembali ke negerinya sendiri atau hijrah ke tempat lain, tidak ada yang tahu lagi."
"Kecuali Lwekang Sim-hoat dari Si-im-kung, apakah tidak ada Sim-hoat lain yang dapat menggantikannya?"
Desak Kuan Tiong-liu.
"Bukan begitu juga. Menurut cerita, Hek-pay-suang-mo (Sepasang Iblis Putih dan Hitam) dari India juga mempelajari ilmu yang sama. Malah ada yang mengatakan bahwa tadinya mereka merupakan satu aliran dengan Si-im-kung., Sedangkan Han-ling-cu (Sukma Dingin) dari Tionggoan juga mempunyai semacam ilmu yang menggunakan Lwekang daya lembut ini. Tapi mereka semua terdiri dari golongan sesat. Seandainya iman kita tidak kuat, sifat kita akan terpengaruh menjadi jahat. Lebih baik kita cari akal lain, lihat saja, siapa tahu kita akan dapat menemukan Sim-hoat Go-bi-pay yang hilang itu."
Hay-liong Lojin menarik napas panjang.
"Mungkin dari angkatan pendahulu kita ada yang mempelajari ilmu ini 764 dan ada beberapa, dari mereka yang menurunkan kepada ahli warisnya."
Kuan Tiong-liu tidak bersuara. Entah apa yang sedang dipikirkannya.
"Aku menyimpan sebuah daftar nama yang di dalamnya tertera nama-nama anak murid Go-bi-pay angkatan pendahulu. Nanti aku akan menyerahkannya kepadamu. Tapi kau harus keliling dunia untuk mencari mereka. Siapa tahu ada di antara mereka yang mengerti Sim-hoat ilmu Lok-jit-kiam-hoat,"
Kata Hay-liong Lojin selanjutnya. Kuan Tiong-liu masih juga tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Akhirnya orang tua itu menyadarinya juga. Kakinya berhenti melangkah.
"Apa lagi yang kau pikirkan!"
"Tidak ada."
Kuan Tiong-liu mengertakkan giginya erat-erat.
"Sejak sekarang, Tecu akan mengelilingi dunia ...."
Hay-liong Lojin tidak menunggu sampai kata-kata Kuan Tiong-liu selesai, dia mengangkat jempolnya memuji.
"Sejak tadi aku sudah mengatakan bahwa kau memang bersemangat besar."
"Biar Liok An berdiam di sini saja, juga para rekan yang lain, Tecu harap Susiok bersedia menampung mereka."
"Omongan apa itu?"
Hawa kemarahan Hay-liong Lojin meluap lagi.
"Aku juga murid Go-bi-pay, tentu saja aku juga mempunyai tanggung jawab untuk menjaga mereka."
Liok An sejak tadi mengintil di belakang Kuan Tiong-liu. Dia tidak dapat menahan dirinya lagi.
"Kongcu, biar aku melayani 765 ...."
Kuan Tiong-liu memalingkan wajahnya menatap Liok An sekilas.
"Ilmu silatmu masih rendah sekali. Lebih baik kau berdiam di sini saja."
Kemudian dia menjura kepada Hay-liong Lojin.
"Susiok, aku berangkat."
"Baik. Kau pergilah!"
Orang tua itu menarik napas panjang sekali lagi.
Setelah itu dia melempar kantong kecil peninggalan It-im Taysu dengan tenaga sekuatnya.
Kantong kecil itu melayang ke tengah lautan.
Ombak putih bergelombang, sebentar saja kantong kecil itu terombang-ambing semakin jauh.
Di bawah aliran air mata para murid Go-bi-pay, Kuan Tiong-liu meneruskan langkahnya untuk mencapai cita-cita membangun kembali Go-bi-pay.
***** Kesunyian malam semakin merayap.
Dari luar tampaknya Bu-tong-san begitu tenang.
Kenyataannya sejak Wan Fei-yang meninggalkan tempat itu, di Bu-tong-san tidak pernah terjadi kericuhan lagi.
Penjagaan pada malam hari juga tidak begitu diperketat lagi.
Namun malam itu Fu Giok-su masih berhati-hati ketika meninggalkan kamarnya menuju bagian belakang gunung di mana terdapat hutan yang lebat.
Angin bertiup melambaikan dedaunan.
Dengan membelakangi rembulan, manusia tanpa wajah berdiri tegak di antara pepohonan yang lebat.
Dia melihat Fu Giok-su menghampiri ke arahnya.
"Kongcu ...." 766
"Lagi-lagi kau datang ke Bu-tong-san. Sebetulnya ada keperluan apa?"
Tanya Fu Giok-su dengan nada datar.
"Cujin tidak sabar lagi untuk membalas dendam. Orang tua itu meminta kau segera bertindak,"
Sahut manusia tanpa wajah sambil menyodorkan sepucuk surat kepada Fu Giok-su.
Fu Giok-su mengeluarkan surat tersebut.
Dia berdiri membelakangi rembulan agar mendapat cahaya dan bisa membaca surat itu.
Setelah membaca dengan saksama, dia mengeluarkan batu api lalu menyalakannya.
Surat itu dibakar hingga menjadi abu.
Dia memang seorang yang teliti.
Kemudian dia merenung sejenak.
"Kau pulang ke Siau-yau-kok dan laporkan kepada Yaya. Dalam jangka waktu sepuluh hari aku akan melakukan semuanya sesuai rencana. Pokoknya aku akan memancing Yan Cong-tian ke Ci-liong-ceng."
"Kongcu sudah menemukan akal yang baik?"
Fu Giok-su menganggukkan kepalanya.
Sambil berjalan dia menjelaskan apa yang sudah direncanakannya.
Manusia tanpa wajah mendengarkan dengan saksama.
Kepalanya manggut-manggut terus.
Fu Giok-su adalah pemuda yang sangat cerdas.
Siasat yang terpikir olehnya pasti rapi sekali.
Kali ini Yan Cong-tian tentu akan terjebak dalam perangkap yang berbahaya.
***** Fu Giok-su mengantarkan kepergian manusia tanpa wajah.
767 Dia kembali ke kamarnya.
Belum lagi dia mendorong pintu kamar itu, hatinya sudah merasa curiga.
Tadinya pintu itu dibiarkan sedikit terbuka, sekarang malah tertutup rapat.
Dia menempelkan tangannya pada pintu kamar.
Setelah mempertimbangkan sejenak, dia mendorong pintu itu dengan hati-hati.
Cahaya rembulan menyorot lewat jendela.
Keadaan di dalam kamar remang-remang.
Tapi dia dapat melihat ada seseorang duduk di atas tempat tidurnya.
Meskipun tidak jelas sekali, tapi dia sudah dapat menerka siapa gerangan orang itu.
Dia merapatkan pintu kamarnya kembali.
Fu Giok-su bergegas mendekati tempat tidur.
"Wan-ji, mengapa kau datang pada waktu seperti ini? Orang itu memang Lun Wan-ji. Tangan kanannya mendekapi ulu hati, seperti ingin muntah, tapi dia bertahan sebisanya jangan sampai muntah di tempat itu. Kemudian dia berdiri, kepalanya menyusup ke dalam dada Fu Giok-su. Dia menangis terisak-isak.
"Wan-ji, ada apa?"
Tanya Fu Giok-su lembut.
"Giok-su, aku ... aku ada beberapa patah kata yang ingin kukatakan kepadamu."
"Tentang apa?"
Fu Giok-su memandangnya dengan heran. Tubuh Lun Wan-ji semakin merapat ke dalam pelukan pemuda itu. Setelah beberapa saat baru dia membuka suara ....
"Beberapa hari belakangan ini, badanku terasa tidak enak. 768 Aku muntah setiap kali mengisi perut, kepala juga pusing terus. Jangan-jangan ...."
Baru mendengar setengahnya saja, wajah Fu Giok-su sudah berubah hebat. Dia termangu-mangu sekian lama.
"Coba katakan, apa yang harus kita lakukan? Kalau sampai orang tahu aku mengandung anakmu, maka ...."
Suara Lun Wan-ji menjadi serak dan tidak jelas. Dalam waktu singkat hati Fu Giok-su tenang kembali. Dia menepuk bahu Lun Wan-ji dengan lembut.
"Jangan takut. Aku akan mengatur segalanya."
Lun Wan-ji mendongakkan kepalanya. Air mata mengalir deras. Fu Giok-su mengulurkan tangan mengusap pipi gadis itu.
"Tidak perlu khawatir,"
Katanya sepatah demi sepatah.
Kemudian dia mengusap air mata Lun Wan-ji.
Air mata itu terasa dingin di tangan.
Perasaan hati Fu Giok-su pun menjadi sejuk.
***** Malam panjang berakhir jua.
Pagi-pagi sekali Fu Giok-su sudah mendatangi kamar batu di mana Yan Cong-tian berlatih diri.
Setelah berpikir semalam suntuk akhirnya dia mendapat akal untuk memancing Yan Cong-tian terperangkap dalam jebakannya.
Oleh karena itu, dia mengatakan bahwa para murid yang berada di kaki gunung menyampaikan berita bahwa Wan Fei-yang dan Thian-ti terlihat di desa Ci-liong.
Dia sudah dapat 769 meraba sifat Yan Cong-tian.
Kalau mendengar berita ini, dia pasti akan segera menyusul ke desa Ci-liong untuk mengadakan perhitungan dengan Wan Fei-yang.
Ternyata apa yang diduganya memang tidak meleset.
Mendengar kabar itu, Yan Cong-tian langsung bersemangat.
"Mengapa Wan Fei-yang bisa bersama-sama dengan makhluk tua itu?"
"Apakah Susiok sudah lupa. Sebelum meninggalkan Bu-tong-san, makhluk tua itu pernah berkata bahwa Wan Fei-yang adalah hasil didikannya."
"Betul! Tidak heran mereka bisa bersama-sama."
Yan Cong-tian bertanya lagi.
"Dari mana kau mendapatkan berita ini?"
"Bekas murid Bu-tong-pay yang membuka perusahaan pengawalan dekat desa Ci-liong. Orang itu she Suma ...."
"Kim-to (Golok Emas) Suma?"
Suatu ingatan terlintas di benak Yan Cong-tian.
"Apakah Suma Hong?"
"Suma-susiok sudah meninggal. Penggantinya yang sekarang adalah putranya yang bernama Suma Tian."
"Suma Hong juga sudah meninggal?"
Yan Cong-tian menarik napas dalam-dalam.
"Kami adalah sahabat karib. Satu keluarga itu sangat menarik. Mereka semua menggunakan tangan kiri dalam menggenggam golok. Ilmu golok tangan kiri Bu-tong-pay juga hanya mereka yang bisa menguasai dengan baik."
Dalam hati Fu Giok-su agak terkejut. Dia tidak menyangka 770 Yan Cong-tian sedemikian paham. Namun dia tidak menunjukkan perasaan apa-apa.
"Susiok, apa yang harus kita lakukan?"
"Masih perlu tanya? Aku akan segera menyusul ke desa Ci-liong. Aku akan menghancurkan tubuhnya hingga berkeping-keping!"
"Susiok, aku akan menemani kau orang tua ke sana!"
"Tidak perlu! Aku sendiri sudah cukup."
Mata Yan Cong-tian mengerling sekilas.
"Kau sekarang merupakan Ciangbunjin Bu-tong-pay. Kau harus berdiam di sini mengurus hal yang lainnya."
"Justru karena Tecu sekarang sudah menjadi Ciangbunjin, maka Tecu harus ikut pergi ke sana."
"Kalau kau ikut pergi, siapa yang mengurus Bu-tong-pay?"
Yan Cong-tian menggelengkan kepalanya.
"Lebih baik kau tetap di sini saja."
"Susiok ...!"
"Apakah perkataanku saja sudah tidak kau dengar lagi?"
Wajah Yan Cong-tian berubah kelam.
"Tidak .... Tapi Suhu dibokong oleh murid murtad itu. Sekarang sebagai murid, aku sudah menemukan jejak pembunuh tersebut. Masa aku tidak memberi bantuan sedikit pun? Hati rasanya tidak puas. Lagi pula apa yang harus Tecu kemukakan di depan umum apabila mereka mengetahui kejadian ini?"
Kata Fu Giok-su dengan wajah sendu. Dia 771 langsung menjatuhkan diri berlutut di hadapan Yan Cong-tian.
"Harap Susiok kabulkan permintaan Tecu."
Yan Cong-tian merasa apa yang dikatakan Fu Giok-su memang beralasan. Dia memandang wajah anak muda itu. Penampilannya tulus sekali. Akhirnya dia menganggukkan kepalanya.
"Baik. Kalau kau memang sudah bertekad untuk ikut."
Fu Giok-su menunjukkan tampang gembira.
Cepat-cepat dia menyembah sebanyak tiga kali.
Yan Cong-tian buru-buru memapahnya bangun.
Wajah Fu Giok-su menghadap ke bawah.
Yan-susiok itu tidak dapat melihat bibir pemuda itu yang menyunggingkan senyuman licik.
***** Di atas gunung hujan turun dengan lebat.
Angin membawa rintikan hujan menerobos lewat jendela yang memercik membasahi wajah Fu Giok-su.
Dia sedang membereskan perbekalan untuk kepergian.
Tanpa terasa sebuah dompet kecil yang memancarkan keharuman terjatuh dari dalam tumpukan pakaian.
Dompet kecil itu pemberian Lun Wan-ji Dia sering membawanya ke mana-mana.
Kadang-kadang dia suka mengeluarkan dompet itu dan menatapnya sampai lama.
Secercah kesunyian merayap dalam hatinya.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
Fu Giok-su masih memegangi dompet kecil tersebut.
Pikirannya melayang-layang.
Dia tidak menyadari suara ketukan di pintu.
Sekali lagi terdengar suara ketukan.
Fu Giok-su tersentak dari 772 lamunannya.
Cepat-cepat dia memasukkan dompet kecil itu di balik pakaiannya, berjalan menuju pintu dan membukanya.
Lun Wan-ji berdiri di depan pintu.
Tampangnya kusut.
Tidak kelihatan semangat hidup sedikit pun.
Wajahnya menyiratkan kesedihan yang dalam.
Fu Giok-su menariknya ke dalam.
"Apakah kau sudah mengatakannya kepada Susiok?"
Lun Wan-ji memandang Fu Giok-su dengan matanya yang sayu.
"Suhu mengatakan bahwa ilmu silatku masih rendah, kalau pergi malah akan merepotkan. Jadi aku tidak boleh ikut."
Fu Giok-su membimbing Lun Wan-ji duduk di atas tempat tidur.
Lun Wan-ji menatapnya lekat-lekat.
Hatinya perih kembali.
Tanpa sadar, air mata sudah menetes dengan deras.
Fu Giok-su menggenggam tangan Lun Wan-ji erat-erat.
Dia duduk di sampingnya.
Lun Wan-ji mengibaskan tangannya, sambil mengusap air mata dia berdiri.
"Biar aku membantumu membereskan perbekalan ...."
Fu Giok-su menarik tangan gadis itu dan memeluknya dalam dekapan. Lun Wan-ji tidak dapat menahan kesedihannya lagi. Dia menangis tersedu-sedu. Fu Giok-su menggelengkan kepalanya berkali-kali.
"Wan-ji ... jangan bersedih. Aku masih mempunyai akal yang lain."
Lun Wan-ji masih terisak-isak.
"Kita toh tidak mungkin menceritakan masalah ini kepada Suhu."
Semakin dipikirkan, hatinya semakin sedih. Air matanya mengalir semakin deras.
"Aku tidak akan meninggalkan kau telantar begitu saja,"
Kata 773 Fu Giok-su sambil mengetatkan pelukannya.
Rintik air hujan terempas lagi ke dalam melalui jendela.
Mata Fu Giok-su mengembang.
Hujankah atau air mata yang membasahi pelupuk matanya itu?
***** Hujan turun lagi.
Juga pada senja hari.
Senja pada hari ketujuh.
Fu Giok-su dan Yan Cong-tian sudah jauh dari Bu-tong-san.
Senja hari ini, mereka masuk ke dalam sebuah penginapan kecil di daerah Pek-ka-cik.
Yan Cong-tian duduk bersandar di atas tempat tidur.
Dia menarik napas berulang-ulang.
Hari ini mereka baru mendengar tentang diserbunya Go-bi-pay oleh Tok-ku Bu-ti.
It-im Taysu dan dua ratus tujuh puluh satu murid Go-bi-pay mati dalam satu hari.
Mereka mati penasaran.
Apalagi Yan Cong-tian pun ada jodoh bertemu muka beberapa kali dengan It-im Taysu.
Hatinya terpukul juga menerima berita tersebut.
Fu Giok-su menuangkan secangkir teh.
Yan Cong-tian menerimanya, kemudian menarik napas lagi.
"Tidak disangka sebuah partai besar seperti Go-bi-pay, bisa mengalami kemerosotan yang demikian mengenaskan."
Fu Giok-su ikut-ikutan menarik napas.
"Seandainya ada beberapa saja murid Go-bi-pay yang dapat diandalkan, Tok-ku Bu-ti juga tidak dapat menghancurkannya dengan demikian mudah."
"Jangan kata Go-bi-pay, bukankah Bu-tong-pay kita juga 774 makin merosot hari demi hari?"
Yan Cong-tian menarik napas dalam-dalam sekali lagi.
Tiba-tiba dia merasakan sesuatu.
Matanya mengerling tajam lalu melesat menuju pintu.
Fu Giok-su juga mendengar sedikit suara.
Tubuhnya berkelebat, melesat menuju samping pintu kemudian menariknya dengan cepat.
Seseorang rupanya sejak tadi berdiri di depan pintu tersuruk masuk.
Fu Giok-su mengulurkan telapak tangannya untuk menghantam.
Yan Cong-tian cepat-cepat mencegahnya.
"Orang sendiri!"
Fu Giok-su juga sudah melihat orang itu.
Telapak tangannya terhenti di tengah udara.
Orang yang tersuruk jatuh ke dalam rupanya Lun Wan-ji.
Bahunya menyandang sebuah bungkusan.
Wajahnya tampak tersipu-sipu.
"Kau rupanya? Untuk apa kau ke sini?"
Tanya Fu Giok-su pura-pura marah. Lun Wan-ji tidak menyahut. Kepalanya tertunduk. Melihat tampang gadis itu, Yan Cong-tian mengerutkan alisnya ketat.
"Susiok tidak mengizinkan kau ikut serta, tentu ada alasannya. Kami toh bukan pergi berpesiar, tapi kami sedang menyelidiki jejak pembunuh. Ilmu silatmu masih rendah. Bukan menolong akhirnya malah merepotkan. Kalau sampai terjadi apa-apa, kau suruh aku Ciangbunjin ini bagaimana harus bertanggung jawab? Kalau kau tidak berpikir demi dirimu sendiri, paling tidak kau harus berpikir demi Bu-tong-pay. Mengapa adatmu selalu begitu keras?"
Fu Giok-su masih mengomel panjang lebar.
775 Apa yang dikatakan Yang Cong-tian hari itu kepada Lun Wan-ji, hampir dikeluarkan semua oleh Fu Giok-su.
Bahkan nada suaranya lebih keras lagi.
Kepala Lun Wan-ji tertunduk semakin rendah.
"Masih tidak cepat pulang?"
Bentak Fu Giok-su sekali lagi.
Lun Wan-ji menatap Fu Giok-su dengan termangu-mangu.
Kebetulan Fu Giok-su memang sengaja berdiri membelakangi Yang Cong-tian.
Dia mengedipkan matanya kepada Lun Wan-ji sebagai isyarat.
Lun Wan-ji segera mengerti.
Dia melirik sekilas ke arah Yang Cong-tian, kemudian membalikkan tubuh dan meninggalkan tempat itu.
Yang Cong-tian memang sayang sekali kepada Lun Wan-ji.
Dia tidak sampai hati melihat keadaan gadis itu.
Akhirnya dia membuka suara ....
"Wan-ji, kembalilah."
Suaranya begitu lembut sampai di luar dugaan Fu Giok-su. Fu Giok-su pura-pura memandang Yang Cong-tian dengan tampang penasaran.
"Sudahlah ...."
Kata Yang Cong-tian tidak sabar.
"Susiok ...."
Fu Giok-su seperti masih ingin membantah.
"Kau pergi mencari pelayan, katakan padanya agar menyiapkan sebuah kamar lagi,"
Katanya datar. Fu Giok-su tampak masih bimbang.
"Cepat pergi!"
Bentak Yang Cong-tian sekali lagi.
776 Wajah Lun Wan-ji berseri-seri seketika.
Meskipun Fu Giok-su tidak memperlihatkan apa-apa, tapi dia juga tidak membantah lagi.
Dia mengayunkan langkah lebar keluar dari kamar tersebut.
Yang Cong-tian menggapaikan tangannya.
"Wan-ji, kemarilah,"
Katanya. Perlahan-tahan Lun Wan-ji menghampiri. Dia berhenti di depan meja dan tidak berani maju lagi. Yang Cong-tian memerhatikan dia lekat-lekat.
"Apakah kau sudah makan?"
Tanyanya lembut. Lun Wan-ji menganggukkan kepalanya. Yang Cong-tian menarik napas panjang.
"Maksud hatimu, Suhu mengerti sekali. Tapi kekukuhan Giok-su demi kebaikanmu juga. Kali ini mungkin kami akan menyerbu ke dalam Siau-yau-kok, bahaya atau selamat masih sulit diduga."
Dia berhenti sejenak.
"Pemuda seperti Giok-su ini sungguh sulit ditemukan duanya. Sudah tahu Bu-tong-pay tidak dapat kehilangan dia, dia malah rela mengorbankan cinta asmaranya. Seharusnya kau meneladani kebaktiannya."
Mendengar kata-kata itu, hati Lun Wan-ji getir sekali. Dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Yang Cong-tian kembali menarik napas panjang.
"Suhu bukan sengaja bermaksud memisahkan kalian. Tapi Giok-su sendiri yang sudah bertekad demikian. Kau harus memadamkan harapan hatimu dan restui niat baiknya."
Lun Wan-ji menatap Yang Cong-tian dengan pandangan sayu. 777
"Nasib Bu-lim di masa yang akan datang, juga tergantung di tangan generasi muda seperti Giok-su. Kau harus mengerahkan segenap tenaga untuk membantunya. Paling tidak kau bisa mengorbankan cinta di hatimu untuk masa depan semua orang. Ini adalah perbuatan yang mulia. Jangan karena luapan emosi sesaat, malah terjadi hal yang memalukan nama perguruan kita."
Tubuh Lun Wan-ji gemetar mendengar kata-kata itu.
"Semangat pahlawan hanya sebentar saja. Asmara perempuan hidup sepanjang masa,"
Gumam Yang Cong-tian. Kemudian dia menghela napas berkali-kali. Setelah itu dia mengusap kepala Lun Wan-ji dengan penuh kasih sayang.
"Kau sudah tahu apa yang harus kau perbuat, bukan?"
Air mata Lun Wan-ji semakin deras.
Dia menundukkan kepalanya dengan hati galau.
***** Siang pada tujuh belas hari kemudian, Yang Cong-tian, Fu Giok-su dan Lun Wan-ji menunggang kuda.
Akhirnya mereka sampai juga di desa Ci-liong.
Saat ini mereka memasuki Kian-wei-piaukiok.
Sepanjang perjalanan, Yang Cong-tian sangat terharu.
Pada waktu pembukaan perusahaan itu dulu, dia juga diundang dan hadir.
Siapa yang membuat papan mereka Kian-wei-piaukiok yang tergantung di atas pintu, masih berkesan dalam ingatannya.
Jilid 17 Tata ruangan dan daerah sekitar tidak tampak banyak perubahan, hanya orang-orangnya saja yang dia tidak merasa kenal satu pun.
Terhadap Congpiauthau (kepala pengawal) Suma Tian, dia pun merasa asing.
Ketika pertama kali melihat Suma Tian, dia masih seorang bocah berusia tujuh-delapan tahun.
Tapi dia mempunyai perasaan bahwa Suma Tian yang ada di hadapannya rada tua sedikit dari usia yang sebenarnya.
Yang paling dikenalinya justru golok bergagang emas yang tergenggam di tangan Suma Tian.
"Golok ini merupakan senjata yang mengangkat nama besar ayahmu di zaman dulu."
Ketika mengucapkan kata-kata ini, Yan Cong-tian sudah duduk di tengah ruangan utama. Kian-wei-piaukiok. Suaranya sampai serak karena terkenang sahabat baiknya yang sudah tiada.
"Kau juga menggunakan golok ini sebagai senjata?"
Suma Tian tertawa lebar.
"Seluruh keluarga kami menggunakan golok sejenis ini sebagai senjata,"
Sahutnya.
"Oh?"
Yan Cong-tian tersenyum.
"Samsiokmu tidak menggunakan Swipoa besi lagi sebagai senjata?"
Suma Tian tertegun.
"Akhir-akhir ini ilmu goloknya juga sudah dilatih dengan hebat,"
Sahutnya cepat.
"Mengagumkan!"
Yan Cong-tian menghela napas.
"Aku ingat tempo dulu dia pernah mengatakan bahwa Swipoa besinya merupakan senjata yang paling ideal untuk melawan golok 779 emas ayahmu. Dia tidak bersedia melatih ilmu golok. Urusan ini malah menjadi awal pertengkaran antara mereka. Tidak disangka ketika usianya sudah lanjut malah dia baru berniat melatih ilmu golok. Hati manusia memang tidak disangka-sangka, kadang-kadang perubahan seseorang sering mengejutkan."
Suma Tian tertawa lebar sambil mengangkat cawan araknya dan mengajak Yan Cong-tian minum. Belum lagi Yan Cong-tian menghabiskan araknya sampai kering, dari luar terdengar teriakan lantang....
"Kim-to Suma, di mana kau bersembunyi?"
Yan Cong-tian segera meletakkan cawan araknya di atas meja.
Keningnya berkerut.
Wajah Suma Tian berubah hebat.
Tidak urung wajah Fu Giok-su juga ikut berubah.
Seseorang menyibak kerumunan anak buah Piaukiok dan menerjang masuk.
Orang itu sudah tua sekali, tapi sikapnya masih berangasan, suaranya juga besar.
Matanya mendelik ke arah setiap orang yang ada dalam ruangan.
"Suma Tian, keluar kau!"
Teriaknya sekali lagi. Seseorang Piausu maju mengadangnya.
"Lopek ini ... Congpiauthau kami sedang ada urusan penting. Lebih baik Lopek pulang dulu, besok ...."
"Besok? Ada urusan apa yang lebih penting daripada barang titipanku?"
Hawa kemarahan orang tua itu seakan hampir meledak.
"Bagaimana dengan anakku?"
Teriaknya semakin keras.
"Sebetulnya bagaimana duduk persoalan Lopek ini?"
Tanya Suma Tian sambil berjalan ke depan. 780
"Tidak usah berpura-pura lagi. Aku datang untuk menagih barang titipan dan menagih nyawa!"
"Eh!"
Suma Tian tertegun.
"Suruh Suma Tian keluar!"
Kata-kata orang tua ini membuat para hadirin tercengang. Mata Yan Cong-tian menyorot tajam. Dia mendelik ke arah Suma Tian.
"Suma Tian sekarang sudah berdiri di hadapanmu,"
Sahut Suma Tian cepat. Mata orang tua itu membelalak.
"Kau adalah Suma Tian?"
Dia menggelengkan kepalanya.
"Kau bukan Suma Tian!"
"Apa maksud ucapanmu itu?"
Tanya Suma Tian sambil menenangkan hatinya. Mata orang tua itu mengedar ke sekeliling.
"Hari itu ketika aku datang menitipkan barang untuk dikawal, Suma Tian yang kutemui jauh lebih muda. Di pipi kanannya ada guratan luka!"
Suma Tian tertegun. Kening Yan Cong-tian berkerut ketat. Lun Wan-ji menatap dengan penuh kecurigaan. Fu Giok-su malah tegang sekali.
"Sekarang bukan waktu yang tepat untuk bergurau!"
Wajah Suma Tian berubah kelam.
"Lopek, aku belum pernah bertemu muka denganmu. Aku juga tidak pernah menerima titipan barang darimu. Coba bayangkan, aku Suma Tian mengurus Piaukiok ini kurang lebih sudah tujuh tahunan. Dalam jarak beberapa ratus li, siapa yang tidak kenal aku."
"Aku justru tidak mengenalmu!"
"Masih ingatkah kapan Lopek datang ke Piaukiok ini?"
"Tanggal lima belas bulan kemarin!"
Ucapan orang itu sangat yakin. Tidak tampak seperti sedang berdusta. Suma Tian juga tidak mirip sedang berdusta. Dia tertawa dingin.
"Kalau begitu kau salah mengenali orang. Tanggal lima belas bulan lalu aku sedang berada di Say Pak mengawal barang titipan Lie-wanggwe."
Tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya menatap tiga orang Piausu yang berdiri di sudut ruangan.
"Ketika itu hanya kalian tiga kakak beradik yang ada di sini. Apakah kalian yang bermain setan di belakangku?"
Tiga orang Piausu itu saling melirik sekilas. Ketiganya tampak tertegun. Kemudian salah satu yang paling tua segera maju ke depan dan menjatuhkan diri berlutut di atas tanah.
"Budak memang pantas dihukum ...."
"Tio Liong, jelaskan semuanya!"
Bentak Suma Tian.
"Budak menyuruh orang menyamar sebagai Congpiauthau."
Kepala Tio Liong tertunduk dalam-dalam.
"Nyalimu besar sekali! Untuk apa kau melakukan semua ini?"
"Pada waktu itu Piauthau dari Peng-a-piaukiok yang berasal dari desa Tung Pen datang bertandang. Dia adalah To-hen-houw (harimau yang mempunyai cacat bekas tebasan golok). 782 Melihat kedatangan Lopek ini, dia mengajak kami berunding dan menyamar sebagai Congpiauthau. Pada saat itu, hati kami dipenuhi keserakahan."
"To-hen-houw?"
Suma Tian mendelikkan matanya lebar-lebar.
"Seret dia kemari!"
"Dia sudah mati!"
Sahut Tio Liong gugup.
"Ketika gerobak kita melewati Sat-houw-ko, mereka diadang oleh tentara kerajaan."
"To-hen-houw tidak mengukur kekuatan sendiri. Dengan mengandalkan ilmu silatnya yang begitu rendah, mana bisa dia melewati Sat-houw-ko?"
Sindir Suma Tian.
"Budak tahu salah!"
Kata Tio Liong sambil membenturkan kepalanya di atas tanah. Orang tua itu tampaknya tidak sabar lagi melihat keadaan itu.
"Siapa yang salah di antara kalian, aku tidak mau tahu. Pokoknya ganti kerugian untukku."
"Lopek ...."
Wajah Suma Tian serius sekali.
"Jangan khawatir. Kami pasti akan mengganti kerugianmu. Berapa jumlah nilai karang titipanmu itu?"
"Jumlah seluruhnya lima ribu tiga ratus tahil uang perak!"
Suma Tian merenung sejenak. Dia mengeluarkan selembar Ginbio (semacam cek) dan meliriknya sekilas.
"Ginbio ini bernilai enam ribu tahil. Masih ada kelebihan 783 sebanyak tujuh ratus tahil. Anggap saja sebagai pengganti kerugian dari kami."
Orang tua itu menggelengkan kepalanya.
"Aku hanya ingin lima ribu tiga ratus tahil saja!"
Suma Tian menyodorkan Ginbio tersebut ke dalam genggaman tangan orang tua itu.
"Lopek, kesalahan ada di pihak kami. Kalau kau tidak bersedia menerimanya, kami tentu merasa tidak enak hati."
Akhirnya orang tua itu menganggukkan kepalanya.
"Dengan melihat ketulusan hatimu, Lohu akan menerima uang ini. Tapi nyawa anakku ikut melayang karena ikut dalam pengawalan tersebut. Hal ini tidak bisa disudahi begitu saja."
Suma Tian tertegun.
"Lopek, To-hen-houw sudah mengganti selembar nyawanya, belum lagi para Piausu lain yang ikut berkorban ...."
"Aku tidak peduli. Kau sendiri yang mengatakan bahwa kesalahan ada di pihakmu. Seandainya kau tidak memberi keadilan, kita sama-sama menghadap jaksa untuk menyelesaikan masalah ini."
Para hadirin tertegun seketika.
Suma Tian menarik napas panjang.
Tiba-tiba tangannya terulur dan menghantam ubun-ubun kepala Tio Liong.
Laki-laki itu sama sekali tidak menyangka, tentu saja dia juga tidak sempat menghindar.
Dalam sekejap mata dia roboh dengan kepala remuk.
Nyawanya juga melayang seketika.
784 Yan Cong-tian langsung berdiri.
Lun Wan-ji dan Fu Giok-su berubah hebat.
Dua orang Piausu yang tadi berdiri berjejer dengan Tio Liong terkesiap.
Mereka segera menghampiri tubuh saudaranya itu dan memapahnya.
Orang tua itu juga terkejut.
Kakinya sampai mundur dua langkah.
Suma Tian segera berjongkok di depan mayat Tio Liong.
"Hengte, jangan kau kira aku berhati keji. Hubungan kita selama ini sangat erat, bagai jari tangan layaknya. Sebetulnya aku tidak tega turun tangan seperti ini, tapi kau benar-benar semakin berubah. Tempo hari ketika mengawal barang ke Ci-si-ling, kau mencuri uang titipan sebesar dua ratus tahil. Aku sudah memaafkanmu. Sekali lagi ketika mengawal barang ke Pek-hua-lin, tiga peti barang titipan hilang di bawah kawalanmu. Aku tahu semua itu hasil tanganmu sendiri. Namun aku tidak mengatakan apa-apa. Aku masih berusaha memaafkanmu dengan harapan kau akan bertobat. Tapi kali ini .... Aih ... dosamu sudah terlalu besar!"
Air matanya mengucur dengan deras. Sesaat kemudian dia mendongakkan wajahnya menatap orang tua itu.
"Lopek, apakah kau sudah merasa puas sekarang?"
Orang tua itu tersurut mundur beberapa langkah. Wajahnya pucat pasi.
"Baik ... baik. Anggap saja aku yang sial!"
Selesai berkata, orang tua itu cepat-cepat meninggalkan tempat tersebut.
"Susiok, Tecu tidak becus mengurus bawahan. Hanya menjadi bahan tawaan kau orang tua saja." 785 Yan Cong-tian tidak menyahut.
"Dalam hal ini, kau juga tidak dapat disalahkan sepenuhnya."
Malah Fu Giok-su yang menjawab. Suma Tian membungkukkan badannya dalam-dalam.
"Samwi harap masuk dulu ke ruangan dalam. Tecu akan membersihkan tempat ini. Nanti baru masuk dan menemani Samwi lagi."
"Congpiauthau, silakan ...."
Sahut Fu Giok-su cepat.
"Terima kasih."
Suma Tian menepuk tangannya dua kali.
"Kalian antarkan tamu ke ruangan dalam!"
Perintahnya. Dua orang Piausu segera maju ke depan.
"Silakan!"
Kata mereka serentak.
Yan Cong-tian menggelengkan kepalanya sekali.
Dia melangkah ke dalam.
Lun Wan-ji dan Fu Giok-su tentu saja mengiringi dari belakang.
Suma Tian memandang mereka masuk ke ruangan dalam.
Setelah itu dia mengalihkan pandangannya pada mayat Tio Liong yang masih dipeluk oleh dua orang Piausu lainnya.
Kedua orang itu mendelik ke arah Suma Tian.
Mata mereka merah dan mengembeng air mata.
Mereka telah mengangkat saudara dengan Tio Liong.
Yang satu bernama Li Bu.
Sedangkan yang satunya lagi bernama Kiang Cin.
Mereka telah mengucapkan sumpah sehidup semati.
Hubungan mereka ibarat saudara kandung.
786 Suma Tian melirik mereka sekilas.
"Tidak usah bersedih lagi. Cepat kejar orang tua itu!"
Katanya dengan suara berbisik. Li Bu dan Kiang Cin menganggukkan kepala mereka dengan terpaksa. Mayat Tio Liong diletakkan kembali di atas tanah.
"Jangan mengambil tindakan apa-apa. Yakinkan kalau dia benar-benar sudah meninggalkan kota ini."
Li Bu dan Kiang Cin menyahut datar.
Dengan tidak bersemangat mereka membalikkan tubuh dan meninggalkan tempat itu.
***** Begitu masuk ke dalam ruangan dan terlepas dari kedua Piausu tadi, wajah Yan Cong-tian berubah semakin kelam.
"Membunuh orang seenaknya! Apa pantas disebut sebagai murid Bu-tong? Apakah ia memang Suma Tian yang pernah kukenal?"
"Aku pernah mendengar bahwa Suma Tian Suheng seorang manusia yang baik budi dan pekertinya. Seharusnya dia tidak begitu keji dan membunuh sesama saudara Piausu dengan cara demikian,"
Tukas Lun Wan-ji.
"Kalau dipikir-pikir, memang mencurigakan. Seluruh keluarga 787 Kim-to Suma selalu menggunakan tangan kiri. Tapi dia memegang sumpit dengan tangan kanan. Lagi pula Samsioknya yang selalu menggunakan swipoa besi sebagai senjata tidak mungkin berganti haluan dan mempelajari ilmu golok. Mungkinkah dia sama sekali tidak tahu adanya Samsiok yang satu itu? Dan mungkinkah jawabannya hanya asal menerka saja?"
Fu Giok-su yang mendengarkan dari samping segera merasakan ketegangan.
"Dia memang Suma Tian."
Akhirnya dia memberanikan diri berkata.
"Oh?"
Yan Cong-tian terpana.
"Sebelum masuk perguruan Bu-tong, aku sudah pernah bertemu muka dengannya. Pada saat itu sifatnya sudah berangasan. Dia paling benci ketidakadilan dan perbuatan yang semena-mena,"
Kata Fu Giok-su menjelaskan. Tanpa sadar Yan Cong-tian menganggukkan kepalanya berkali-kali.
"Murid Bu-tong selamanya memang paling benci perbuatan yang semena-mena."
"Mengenai menggunakan tangan kanan ketika memegang sumpit, mungkin dia takut dianggap kurang sopan dalam menjamu tamu,"
Kata Fu Giok-su selanjutnya.
"Memang beralasan,"
Yan Cong-tian merenung sesaat.
"Tapi perbuatannya itu masih rada keterlaluan. Kau sebagai Ciangbunjin Bu-tong-pay harus menasihatinya baik-baik."
"Saat ini kita masih memerlukan tenaga orang banyak,"
Fu Giok-su merandek sejenak.
"Nanti kalau kita sudah berhasil 788 membereskan Wan Fei-yang, Tecu akan menghukumnya sesuai peraturan kita."
Yan Cong-tian menganggukkan kepalanya dengan wajah menyiratkan kepuasan. Tiba-tiba dia mengalihkan pokok pembicaraan.
"Kapan kita mulai bergerak?"
"Lebih baik malam hari,"
Giok-su merapikan pakaiannya yang kusut.
"Kita bisa menggunakan waktu ini untuk beristirahat."
Sekali lagi Yan Cong-tian menganggukkan kepalanya.
"Jalan pikiranmu memang selalu tepat,"
Katanya.
Sampai saat itu, Fu Giok-su baru bisa bernapas lega.
***** Suma Tian sejak tadi menunggu di luar ruangan.
Mendengar kata-kata Fu Giok-su, akhirnya dia baru bisa mengusap keringat yang membasahi keningnya.
Suma Tian yang satu ini sudah dapat dipastikan palsu.
Tetapi dia juga she Suma.
Hanya nama sebetulnya ialah Suma Hung.
Dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan Kim-to Suma yang dikenal Yan Cong-tian.
***** 789 Satu kentungan telah berlalu.
Li Bu dan Kiang Cin sudah kembali dan masuk ke dalam kamar mereka.
Kiang Cin agak khawatir.
Dia menutupkan pintu kamar itu rapat-rapat.
"Kita disuruh jangan mengambil tindakan apa-apa. Tapi kau malah menganjurkan agar kita membereskan tua bangka itu. Coba kau kira-kira, apakah Suma Hung akan mengetahui kejadian ini?"
Tanyanya cemas.
"Dia yang menyebabkan kematian Toako kita. Mengapa kita tidak boleh membunuhnya? Apalagi dia membawa Ginbio sebesar enam ribu tahil,"
Sahut Li Bu sambil tertawa dingin.
"Benar juga. Kalau dia tidak minta penggantian nyawa anaknya, Toako juga tidak akan mati,"
Kata Kiang Cin.
"Aku lihat Suma Hung juga menggunakan kesempatan ini untuk melampiaskan kebencian dalam hatinya. Ingatkah kau ketika Toako melaporkan Su-tangke bahwa dia telah meracuni salah seorang anak murid Siau-yau-kok? Kali itu dia mendapat hukuman yang berat. Oleh sebab itu dia meminjam golok membunuh orang."
Kiang Cin menganggukkan kepalanya berulang kali.
Belum lagi dia berkata apa-apa, dari luar pintu terdengar suara langkah kaki seseorang.
Pembicaraan mereka pun terhenti untuk sementara.
Pintu didorong dari luar.
Suma Hung masuk dengan langkah lebar.
Dia memerhatikan kedua orang itu sekilas.
"Apakah kalian sudah mengikuti tua bangka itu? Sampai di mana?" 790
"Sampai lima li di luar kota Say Pak,"
Sahut Li Bu.
Mata Suma Hung mengedar.
Dia menatap ke bawah.
Tiba-tiba tangannya terulur dan mencengkeram pergelangan tangan Li Bu.
Jari tengah Li Bu memakai sebuah cincin giok yang warnanya sudah tua sekali.
Wajah Li Bu segera berubah.
Demikian pula wajah Kiang Cin.
"Kalian membunuhnya?"
Hardik Suma Hung.
"Tidak ...."
Nada suara Li Bu yakin sekali.
"Lalu dari mana datangnya cincin giok ini?"
"Beli di toko,"
Suara Li Bu sudah mula gugup.
"Masih menyangkal?"
Urat hijau bertonjolan di kening Suma Hung.
"Aku ingat dengan jelas, cincin batu giok ini tadi dipakai oleh orang tua itu."
"Kami tidak membunuhnya,"
Sahut Li Bu tetap tidak mau mengaku. Suma Hung melepaskan cengkeramannya. Dia tertawa dingin.
"Urusan ini, sekembalinya kita ke lembah biar Cujin yang putuskan. Kalau kalian mau membantah, membantahlah pada waktu itu."
Setelah itu dia mengibaskan tangannya dan meninggalkan kamar tersebut. Li Bu dan Kiang Cin memandangi kepergian Suma Hung. Wajah mereka berubah pucat.
"Suma Hung memang merasa sentimen kepada kita. Sekembalinya kita ke Siau-yau-kok, dia pasti akan membuat kita mati kutu di depan Cujin. Aku tidak berani membayangkan hukuman yang akan diberikan kepada kita pada saat itu,"
Kata Li Bu dengan kebencian yang meluap.
"Kalau menurutmu, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Tanya Kiang Cin yang kebanyakan menurut saja.
"Daerah sekitar ini sampai sejauh seratus li, masih ada saja orang-orang Siau-yau-kok. Apabila kita melarikan diri, tentu akan tertangkap kembali dalam waktu yang singkat,"
Li Bu mengertakkan giginya.
"Satu-satunya jalan keluar bagi kita hanyalah memihak kepada musuh ...."
"Musuh? Siapa?"
"Yan Cong-tian!"
Li Bu mengepalkan tinjunya.
"Biar Yan Cong-tian membuka kedok orang itu dan membunuhnya. Dengan demikian tidak akan ada orang yang mengadukan kita lagi. Kita bisa bebas kembali ke Siau-yau-kok dan juga sekaligus sudah membalaskan kematian Toako kita ...."
Kiang Cin tersadar mendengar kata-kata Li Bu.
Matanya bersinar terang.
***** Siasat Li Bu dan Kiang Cin memang bagus sekali.
Sayangnya 792 Fu Giok-su tetap berdiam di kamar Yan Cong-tian.
Dia melakukan semua ini untuk menghindari kecurigaan Yan Cong-tian dan agar Yan Cong-tian tidak keluar dari kamar seorang diri lalu bertanya macam-macam pada orang-orang lainnya.
Perbuatannya ini malah menyulitkan Li Bu dan Kiang Cin.
Mereka menunggu selama beberapa saat, tapi kesempatan tidak pernah ada.
Akhirnya mereka teringat akan Lun Wan-ji.
Selembar kertas kecil yang di kat dengan batu dilempar ke dalam kamar gadis itu.
Saat itu, waktu sudah memasuki kentungan pertama.
Dalam waktu yang bersamaan, Fu Giok-su melangkah keluar dari kamar Yan Cong-tian.
Mengapa tiba-tiba dia meninggalkan kamar itu?
Karena dia mendengar isyarat Suma Hung yang berupa kicauan burung sebanyak dua kali.
Dia segera menyadari ada sesuatu yang telah terjadi.
Fu Giok-su mendengarkan dengan baik-baik ketika Suma Hung melaporkan bahwa Li Bu dan Kiang Cin telah membunuh orang tua yang datang mengacau tadi.
Dia juga diberi tahu bahwa tindak tanduk kedua orang itu agak mencurigakan.
Fu Giok-su segera menduga akan terjadi perubahan pada rencananya.
Dia langsung memutuskan bahwa kedua orang itu tidak boleh dibiarkan hidup lebih lama.
Jangan sampai mereka keburu mengambil tindakan yang merugikan.
Oleh karena itu Suma Hung diperintahkan untuk membunuh kedua orang itu secepatnya.
Dia sendiri harus segera kembali ke kamar Yan Cong-tian.
Jangan sampai Li Bu serta Kiang Cin menggunakan kesempatan ketika dia tidak ada, menceritakan siasat mereka kepada Supeknya itu.
Setelah kembali ke kamar, dia memerhatikan dengan saksama tingkah laku Yan Cong-tian.
Tidak ada hal yang 793 mencurigakan.
Hatinya menjadi tenang kembali.
Tapi untuk menjaga segala kemungkinan.
Dia harus mengambil tindakan yang positif, yaitu mengajak Yan Cong-tian bergerak secepatnya.
Kalau ditilik dari bakatnya dalam berbicara, mana mungkin Yan Cong-tian tidak sampai terbujuk?
***** Setelah melemparkan kertas surat itu ke dalam kamar Lun Wan-ji, hati Kiang Cin dan Li Bu menjadi agak tenang.
Siapa sangka baru saja mereka mendorong pintu kamar, terlihat Suma Hung sudah menunggu di dalam.
Mereka terkejut sekali, tapi agak lega juga ketika melihat Suma Hung tersenyum.
Baru saja mereka melangkah mendekati, tiba-tiba tangan Suma Hung sudah terulur.
Hanya dengan satu gerakan saja, urat tenggorokan Kiang Cin sudah tercengkeram putus.
Tangan dan tubuhnya berkelebat, Li Bu bermaksud berteriak sekencang-kencangnya, namun mulut belum sempat membuka, telapak Suma Hung kembali bergerak menghantam dadanya.
"Ke mana kalian tadi?"
Bentak Suma Hung.
Sebetulnya dia tidak perlu mengajukan pertanyaan itu.
Isi perut Li Bu sudah terhantam hancur.
Untuk membuka mulut saja sudah tidak bisa, apalagi bersuara.
Dengan susah payah dia berusaha mengangkat kakinya dengan maksud menendang selangkangan Suma Hung.
Tapi tenaganya sudah 794 habis.
Dia jatuh terkulai.
Sedangkan untuk berjaga-jaga Suma Hung tidak kepalang tanggung dalam turun tangan.
Tangannya kembali mencekik leher Li Bu sampai terdengar suara gemertukan tulang patah.
Sekejap kemudian dia mengempas tubuh Li Bu ke atas tanah.
Bibir orang itu menyunggingkan senyuman tipis.
Melihat senyuman itu, tanpa terasa tubuh Suma Hung menggigil.
***** "Kim-to Suma yang Anda lihat palsu.
Yang aslinya sudah terbunuh dan dikuburkan di belakang gunung.
Hitung pohon Pek Hua-su yang ketiga.
Di bawahnya terkubur mayat Suma Tian yang asli."
Dalam kertas kecil itu hanya ada beberapa baris tulisan.
Tapi itu sudah cukup bagi Lun Wan-ji untuk membuktikan kecurigaannya.
Sekarang dia justru berada di bawah pohon yang dimaksudkan.
Tanah yang menggunduk di sana sudah digalinya.
Terlihat sesosok mayat yang mulai membusuk, tanpa peti mati ataupun kain untuk menutupinya.
Pada bagian kanan pipinya terlihat bekas guratan luka.
Persis seperti yang dikatakan oleh orang tua itu.
Inilah Suma Tian yang asli!
Lun Wan-ji menatap wajah itu lekat-lekat.
Tanpa terasa, tubuhnya bergetar.
Di sampingnya dinyalakan sebatang lilin.
795 Apinya bergoyang-goyang, menambah keseraman yang terlihat pada wajah Suma Tian yang sudah menjadi mayat.
Namun yang membuat Lun Wan-ji takut bukan wajah mayat ini, tapi seraut wajah lain yang tampan dan memesona.
Seraut wajah yang berhubungan erat dengannya.
Fu Giok-su!
Ternyata Kim-to Suma yang ini palsu.
Namun Fu Giok-su kukuh mengatakan bahwa sebelum naik ke Bu-tong-san dia sudah pernah berjumpa dengan Suma Tian yang ini.
Apa arti ucapannya itu?
Tiba-tiba serangkum rasa nyeri menusuk di hati Lun Wan-ji.
Ketika menerima surat tersebut tadi, dia bermaksud mencari Fu Giok-su merundingkan hal ini.
Toh dia sudah menjadi milik Fu Giok-su.
Tentu dia lebih memercayai anak muda daripada siapa pun.
Kemudian ia melangkah keluar dari kamarnya untuk mencari Fu Giok-su.
Tiba-tiba dia melihat anak muda itu sedang berkasak-kusuk dengan Suma Tian palsu.
Kecurigaan kembali menyelinap dalam hatinya.
Gerak-gerik Fu Giok-su tidak seperti biasanya.
Setelah mempertimbangkan berkali-kali, akhirnya dia mengambil keputusan untuk menyelidiki dulu kebenaran kata-kata yang tertulis dalam surat.
Sedangkan siapa yang melemparkan surat itu ke kamarnya, dia sama sekali tidak tahu.
Sekarang dia sudah tahu bahwa apa yang tertulis dalam surat itu memang kenyataan.
Perasaannya saat itu sungguh sulit diuraikan dengan kata-kata.
Dia tertegun beberapa saat.
Kemudian rasa takut menyelinap dalam dirinya.
Tubuhnya bergetar bagai lilin putih yang melambai-lambai di sampingnya.
Dengan sepasang tangannya yang gemetar, dia menguruk kembali tanah di 796 hadapannya dengan gagang pedang.
Setelah selesai, dia berdiri dan berjalan kembali dari arah datangnya semula.
Bukit yang naik-turun ibarat perasaan hatinya yang tidak menentu.
Tampangnya seperti orang yang terserang penyakit ayan dan menjadi idiot mendadak.
Pada saat itu, otaknya bagai baru dicuci dan kosong melompong.
***** Sekembalinya ke kamar, Lun Wan-ji membersihkan tangannya yang kotor, banyak tanah yang melekat.
Dia duduk termenung dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Dia juga tidak tahu bagaimana perasaan hatinya sekarang.
Sedihkah?
Kecewakah?
Dia seperti sedang bermimpi.
Tepat pada saat itu, Fu Giok-su mendorong pintu kamar dan melangkah ke dalam "Wan-ji ...."
Panggil Fu Giok-su dengan suara lirih.
Nadanya masih begitu lembut dan penuh perhatian.
Wajahnya masih demikian tampan serta meyakinkan.
Lun Wan-ji meliriknya sekilas.
Diam-diam dia merasa hatinya bergetar.
Kata-katanya sudah disiapkan di ujung lidah, tapi akhirnya dia tidak sanggup membuka suara.
Fu Giok-su tidak curiga sama sekali, dia mengira gadis itu masih sedih memikirkan kehamilannya.
Dia mengulurkan tangannya dan memeluk bahu Lun Wan-ji lembut.
"Wajahmu tampak kurang sehat. Mengapa tidak beristirahat saja?"
Katanya. 797 Air mata Lun Wan-ji mengalir dengan deras, padahal dia sudah menguatkan diri untuk bertahan sebisanya. Fu Giok-su mengusap air mata di pipinya.
"Apakah kau khawatir akan terjadi sesuatu yang membahayakan diriku?"
"Apakah kau akan menemui bahaya?"
Lun Wan-ji balik bertanya dengan suara gemetar.
"Mungkin saja,"
Fu Giok-su tidak merasa curiga.
"Menurut cerita orang-orang, barang siapa yang masuk ke dalam Siau-yau-kok, di antara sepuluh orang, sembilan yang mati dan hanya satu yang mempunyai kemungkinan hidup."
"Kalau begitu, Suhu ...."
Tanpa sadar Lu Wan-ji mengucapkan kata itu.
"Wan-ji, apabila aku dan Suhumu sudah berangkat, kau berdiam saja di sini baik-baik dan tunggu sampai kami kembali. Aku sudah berpesan kepada Kim-to Suma untuk menjagamu selama kami tidak ada,"
Kata Fu Giok-su.
"Kim-to Suma?"
"Hati orang ini sebetulnya baik. Aku merasa cocok juga bergaul dengannya."
Lun Wan-ji melirik sekilas kepada Fu Giok-su. Anak muda itu tidak menyadarinya.
"Kau sudah mengandung. Harus baik-baik menjaga diri,"
Kata Fu Giok-su selanjutnya. 798 Lun Wan-ji bagai disambar petir.
"Aku akan berhati-hati."
Kemudian dia menarik napas panjang.
"Kelak nasib anak ini tidak berbeda denganku. Apakah dia terhitung orang Bu-tong atau terhitung keluarga Fu kalian."
Fu Giok-su sama sekali tidak menyadari ada maksud lain dalam ucapan gadis itu. Dia malah tertawa lebar.
"Terhitung golongan apa juga sama saja. Pokoknya kau harus berjanji padaku. Meski apa pun yang terjadi, kau harus mengingat nyawa anak yang sedang tumbuh dalam rahimmu ini."
Lun Wan-ji menganggukkan kepalanya.
"Hari sudah larut. Lebih baik kau kembali ke kamarmu,"
Sahutnya.
"Wan-ji, penderitaanmu ...."
Kembali Fu Giok-su menarik napas panjang. Kepala Lun Wan-ji tertunduk semakin dalam.
"Kata-kata itu, lebih baik tidak usah diulangi lagi!"
Perlahan-lahan dia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah lain. Fu Giok-su memandangnya lekat-lekat. Hatinya terharu sekali.
"Jaga dirimu baik-baik,"
Katanya kemudian seraya mengundurkan diri dari kamar itu.
Lun Wan-ji mendengar suara pintu dirapatkan di belakangnya.
Dia membalikkan tubuh dan berdiri.
Baru berjalan satu langkah, dia menghentikan kakinya.
Air matanya tidak dapat dibendung lagi.
Ratapannya begitu menyayat.
Tapi dia berusaha jangan sampai bersuara keras.
Pakaiannya sudah basah kuyup.
Kenangan pertemuan antara dirinya dengan Fu Giok-su melintas di depan mata.
799 Cahaya lilin remang-remang.
Pandangan mata Lun Wan-ji semakin sayu.
Wajah Fu Giok-su yang terlintas di benaknya tiba-tiba berubah kelam.
Lun Wan-ji segera tersadar.
Suara kentungan berkumandang dari luar gedung itu.
Kentungan kedua.
Semakin didengarkan, Lun Wan-ji semakin panik.
Dia bingung mengambil keputusan.
Terbayang olehnya kasih sayang Suhunya selama ini.
Teringat olehnya nasihat dan bujukan Yan Cong-tian kalau dia berbuat kesalahan ataupun marah.
Air matanya berlinang semakin deras.
Akhirnya dia mengertakkan giginya erat-erat dan menghambur keluar dari kamar.
Dia berlari ke kamar Yan Cong-tian.
***** Lentera belum padam, pintu kamar setengah terkatup, tapi manusianya sudah tidak ada di dalam.
Lun Wan-ji menerjang ke dalam kamar.
Matanya memandang ke sekeliling.
Dia melihat di atas meja terdapat sebuah cangkir yang isinya tinggal setengah.
Tangannya menggenggam cangkir tersebut.
Rasa putus asa tersirat di wajahnya.
Air teh sudah dingin seperti air es.
Yan Cong-tian pasti sudah cukup lama meninggalkan kamar itu.
Mungkin saat ini dia sudah terperangkap dalam bahaya.
Lun Wan-ji memandangi cangkir itu dengan termangu-mangu.
Masih adakah kemungkinan bagi Suhunya untuk meloloskan diri dari maut?
Kesempatannya mungkin hanya satu di antara 800 seribu.
***** Malam sudah larut.
Gua di gunung itu sama sekali tidak gelap.
Dalam jarak beberapa depa, pasti ada sebuah lampu batu yang aneh.
Lampu batu itu berpijar-pijar.
Entah bahan apa yang membuatnya menyala.
Warnanya kehijauan.
Membuat perasaan semakin tegang.
Fu Giok-su berjalan di muka.
Langkahnya tidak cepat.
Dia bahkan merambat perlahan bagai orang yang pertama kali masuk ke dalam gua itu.
"Suma Tian justru melihat Wan Fei-yang dan makhluk tua itu masuk ke dalam gua ini. Tidak tersangka di dalam gua masih ada gua lainnya. Juga ada penerangan. Rasanya pencarian kita kali ini tidak akan salah lagi,"
Suaranya tidak keras, tapi masih juga bergema di dalam gua. Yan Cong-tian cepat-cepat memperingatinya.
"Jangan bersuara! Mungkin saja ini jalan masuk ke Siau-yau-kok!"
Diam-diam Fu Giok-su menertawakan dalam hati.
Dia menutup mulutnya rapat-rapat.
Gua itu dalam sekali.
Setelah melewati beberapa kelokan akhirnya di hadapan mereka terlihat sebuah pintu masuk.
Di situ pula batas perjalanan mereka.
801 Fu Giok-su berhenti di depan pintu batu.
Dia pura-pura mengulurkan tangannya dan mencoba mendorong.
Tahu-tahu pintu batu itu terangkat ke atas.
Suara gesekan batu memekakkan telinga.
Yan Cong-tian mengira terbukanya pintu hanya kebetulan saja.
"Aneh!"
Kata Fu Giok-su tetap memerankan sandiwaranya.
"Mungkin kebetulan tanganmu menyentuh alat pembuka pintu itu,"
Sahut Yan Cong-tian, setelah tertegun beberapa saat. Fu Giok-su melongokkan kepalanya dalam. Dia tidak masuk.
"Suara apa itu?"
Tanya Yan Cong-tian. Dia bertanya dengan suara keras. Tapi tetap tidak dapat menutupi suara gemuruh yang terpancar dari dalam gua di balik pintu. Fu Giok-su menggelengkan kepalanya.
"Mari kita lihat,"
Kata Yan Cong-tian. Dia mempercepat langkahnya mendahului. Melihat itu, Fu Giok-su sudah merasa gembira dalam hatinya.
"Susiok, hati-hati!"
Mulutnya pura-pura mengingatkan.
"Kau sendiri juga harus berhati-hati!"
Sahut Yan Cong-tian.
Dia memasang sepasang telapak tangannya di depan dada untuk berjaga-jaga.
Setindak demi setindak dia melangkah ke dalam.
Fu Giok-su mengikuti dari belakang.
Seandainya saat itu dia bermaksud membokong Supeknya itu, tentu bisa saja.
Tapi 802 dia tidak mengambil tindakan apa-apa.
Dia sama sekali tidak tahu bagaimana hasil latihan Tian-can-kiat Yan Cong-tian selama berpuluh tahun ini.
Bagaimana kalau sekali serangannya gagal, dan Yan Cong-tian masih mempunyai kekuatan untuk melawan?
Selamanya dia tidak pernah melakukan hal yang tidak diyakininya seratus persen.
Ia juga bukan jenis manusia yang terburu nafsu.
Apalagi sekarang Yan Cong-tian sudah berhasil dipancingnya ke sarang Siau-yau-kok.
Di dalam sana sudah menunggu Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek.
Apabila mereka tidak berhasil merobohkan Yan Cong-tian, masih ada kakeknya yang akan turun tangan.
Apabila masih gagal juga, masih belum terlambat baginya untuk membokong Yan Cong-tian.
Tentu saja Yan Cong-tian tidak tahu apa yang sudah direncanakan oleh Fu Giok-su.
Dia juga tidak pernah mencurigai anak muda itu.
Itulah sebabnya dia bisa terpancing ke dalam sarang harimau ini.
Hati Yan Cong-tian tegang sekali.
Dia juga semakin bersemangat.
Dapat menemukan sarang gerombolan Thian-ti sudah pasti suatu hal yang membuatnya bersemangat.
Namun dia sama sekali tidak berpikir panjang.
Bagaimana mungkin lembah Siau-yau-kok yang misteri dapat ditemukan dengan begitu mudah oleh seorang Piausu seperti Suma Tian?
Tetapi dia memang tidak menyangka gua ini akan menembus pintu masuk Siau-yau-kok.
Karena di luar dugaannya itulah, maka dia menjadi bersemangat.
Malah demikian bersemangatnya dia sehingga melupakan bahwa sejak melatih ilmu Tian-can-kiat, tenaganya kadang-803 kadang ada dan kadang-kadang hilang.
Seandainya tempat itu benar-benar Siau-yau-kok dan waktu bertarung dengan penjahat itu tenaganya tiba-tiba hilang, apa akibat yang akan diterimanya?
Pada dasarnya dia memang seorang manusia yang terburu nafsu dalam membasmi kejahatan.
Dia juga selalu membanggakan dirinya sendiri.
Kalau tidak, tentu tidak demikian mudah Fu Giok-su berhasil memancingnya masuk ke dalam Siau-yau-kok ini.
Semakin maju, suara gemuruh itu semakin jelas.
Seluruh gua seakan bergetar dibuatnya.
Setelah membelok sebuah tikungan lagi, di hadapan mereka terlihat tirai yang berkilauan.
Tirai tersebut tidak hentinya berkilauan, tidak hentinya bergerak.
Ibarat ada angin yang bertiup terus-terusan dan menjadi jalan keluar dari gua tersebut.
"Ternyata sebuah air terjun!"
Seru Yan Cong-tian yang langsung mengerti suara gemuruh apa yang didengarnya sejak tadi. Tirai itu memang sebuah air terjun yang deras. Tubuh Yan Cong-tian melesat ke dalam air terjun itu.
"Benar-benar sebuah air terjun yang indah. Juga merupakan pintu keluar yang mengagumkan!"
Kata Yan Cong-tian memuji. Fu Giok-su maju beberapa langkah dan berdiri di samping Yan Cong-tian.
"Susiok, aku merasa kita sudah berhasil mengetahui Siau-yau-kok yang misterius ini. Lebih baik kita mengundurkan diri sekarang,"
Sahutnya menyarankan. Suaranya keras sekali, tapi tidak dapat mengalahkan suara gemuruh air terjun itu. Yan Cong-tian menolehkan kepalanya 804 dan mendelikkan matanya lebar-lebar.
"Apa? Sudah sampai tahap begini, kau baru memikirkan untuk mundur!"
Bentaknya marah.
"Kita hanya berdua. Keadaan di balik air terjun ini belum kita ketahui dengan jelas. Lebih baik kita pulang dulu ke Bu-tongsan dan mengerahkan para murid lainnya baru menyerbu ke sini,"
Sahut Fu Giok-su.
Padahal dia memang sengaja memancing kemarahan Yan Cong-tian.
Dia sudah paham sekali sifat orang ini, mana mungkin dia mau menuruti nasihatnya untuk mengundurkan diri.
Malah semangatnya semakin menyala.
"Seberapa tinggi kepandaian bocah-bocah Bu-tong itu, meminta mereka menyerbu kemari sama saja menyuruh mereka menyambut kematian. Kau dan aku berdua saja sudah lebih dari cukup!"
Wajah Yan Cong-tian terlihat kurang senang.
"Pihak lawan hanya gerombolan tikus. Apa yang kau takuti?"
Fu Giok-su tertawa getir. Padahal dalam hatinya senang sekali.
"Susiok, setidaknya nama orang-orang ini pernah menggetarkan dunia Kangouw,"
Fu Giok-su masih pura-pura bimbang mengambil keputusan.
"Hanya lagak mereka saja yang besar. Kalau tidak, buat apa menyembunyikan diri di tempat kura-kura seperti ini. Tidak usah terlalu khawatir!"
Akhirnya Fu Giok-su tampak seperti mengalah. Dia 805 menganggukkan kepalanya berkali-kali.
"Ada Susiok yang menemani, Tecu sama sekali tidak khawatir, Susiok, siapa tahu di balik air terjun itu ada daratan atau rumah. Mari kita menerjang ke sana!"
Katanya menyarankan.
"Aku memang bermaksud demikian!"
Yan Cong-tian berteriak lantang.
Tubuhnya tiba-tiba mencelat dan menerobos melewati air terjun tersebut.
Sebentar saja bayangan tubuhnya sudah menghilang dari pandangan.
Fu Giok-su tidak dapat menahan dirinya lagi.
Dia tertawa terbahak-bahak.
Dia tidak usah khawatir suaranya akan terdengar karena gemuruh air terjun itu pasti dapat menutup suaranya.
"Tua bangka, hari ini kau benar-benar terperangkap!"
Sambil tertawa tubuhnya berkelebat dan ikut menerobos melewati air terjun yang deras.
Gerakan tubuh Fu Giok-su demikian ringan.
Air terjun yang deras itu sama sekali tidak memengaruhinya.
***** Bunga air memercik ke mana-mana.
Setelah menerobosi air terjun itu, tubuh Yan Cong-tian masih melesat ke depan.
Sinar matanya mengedar dengan tajam.
Tubuhnya mendarat di atas batu persegi di mana Thian-ti berdiri tempo hari.
806 Suasana sekitarnya mencekam.
Rembulan semakin pudar.
Di bawah cahaya rembulan, air terjun itu tampak semakin berkilauan.
Dalam pandangan mata malah menambah ketegangan di hati.
Air yang mengalir turun bagai makhluk aneh yang bergulingan lalu jatuh ke dalam sungai.
Suara gemuruh air terjun, suara aliran sungai, bagai irama yang membetot sukma.
Di kedua tepian terdapat hutan yang lebat.
Mata Yan Cong-tian mengedar.
Suara terjangan air terjun terdengar di belakangnya.
Fu Giok-su melayang turun di sampingnya.
Anak muda itu ikut-ikutan celingak-celinguk.
Seakan merasa asing dengan keadaan sekitarnya.
"Giok-su, di sini benar-benar ada daratan lain. Tapi tidak terlihat seorang pun,"
Nada suara Yan Cong-tian terdengar rada penasaran.
"Mungkin mereka masih belum sadar kalau kita sudah mengetahui rahasianya. Oleh karena itu mereka juga tidak mengadakan persiapan apa-apa. Tetapi kalau ditilik dari suasananya, mungkin tidak salah lagi, inilah Siau-yau-kok yang misterius bagi orang-orang dunia Kangouw,"
Sahut Fu Giok-su dengan wajah kelam.
"Setitik penerangan pun tidak ada. Apakah tempat tinggal mereka juga persis seperti mereka sendiri yang tidak berani menghadapi terang!"
Sindir Yan Cong-tian sambil tertawa sumbang. Belum lagi tawanya sirep, di kedua tepian terdengar suara "bles!"
Tiba-tiba tempat itu menjadi terang.
Beberapa obor menyala sekitar tempat itu.
Seratus lebih anak buah Siau-yau-807 kok muncul dalam waktu yang bersamaan.
Di tanah bebatuan yang terdapat di bawah air terjun juga menyala beberapa batang obor.
Thian-ti berdiri berkacak pinggang di tengah-tengah.
Di kiri-kanannya berdiri Hujan, Angin, Geledek, dan Kilat.
Cahaya api yang menerangi sekitar itu bagaikan sebuah lukisan putih.
Tanpa dapat menahan diri lagi, Thian-ti, Hujan, Angin, Geledek, dan Kilat tertawa terbahak-bahak.
Suara tawa mereka berbeda-beda, tapi sama memekakkan gendang telinga.
Gemuruhnya ibarat kilat menyambar, mengalahkan suara air terjun yang deras.
Yan Cong-tian mendongakkan wajahnya.
Alisnya bertaut sekilas kemudian biasa kembali.
Thian-ti masih tertawa terbahak-bahak beberapa saat.
Tiba-tiba suara tawanya terhenti.
"Tua bangka! Kami sudah menunggu sejak tadi!"
Wajah Yan Cong-tian tidak memperlihatkan rasa gentar sedikit pun.
"Aku yang tua hanya dapat mengucapkan sepatah kata. Maaf kalau menunggu terlalu lama!"
Sahutnya tenang. Thian-ti tertawa lebar.
"Kau hanya mencari kematian bagi dirimu sendiri!"
Katanya. Yan Cong-tian tertawa dingin.
"Kau sendiri yang terkurung dalam telaga dingin selama dua puluh tahun saja masih belum mati-mati. Bagaimana aku bisa mati dengan demikian mudah?"
Sindirnya tajam. Di ngatkan akan penderitaannya selama terkurung dalam telaga dingin, hawa kemarahan Thian-ti meluap seketika.
"Tua 808 bangka! Kalau hari ini kau bisa meloloskan diri hidup-hidup dari tempat ini, maka Lohu akan bunuh diri sebagai rasa malu terhadap leluhur kami!"
"Manusia sepertimu mati juga tidak perlu disayangkan!"
Sepasang telapak tangan Yan Cong-tian terangkat.
"Siapa duluan yang ingin menerima kematian?"
Bentaknya garang.
"Aku dulu yang pertama-tama menyambut kedatanganmu!"
Terdengar sahutan dari hutan sebelah kanan. Manusia tanpa wajah menerjang keluar dari kerumunan anak buah Siau-yau-kok. Tubuhnya meluncur dengan pedang panjang di tangan. Yan Cong-tian tertawa dingin.
"Seorang Bu-beng-siau-cut juga berani banyak lagak di hadapanku?"
Serunya sambil merentang sepasang telapak tangan.
Deru angin keras segera terpancar dari kedua telapak tangannya.
Dia tidak menunggu sampai manusia tanpa wajah itu mencapai ke dekatnya.
Dia sudah mengerahkan tenaga membalas menyerang.
Tubuh manusia tanpa wajah yang sedang melayang terhantam deruan angin telapak tangan Yan Cong-tian.
Tubuhnya terpental ke belakang sejauh satu depa.
Cepat-cepat dia berjungkir balik dan menutul di atas sebuah batu yang terdapat di tengah sungai.
Untung saja dia sempat mendarat dengan selamat dan tidak terpeleset jatuh ke dalam air sungai.
Thian-ti segera menggunakan kesempatan itu untuk melesat ke depan.
Sepasang telapak tangannya mengembang.
Yan Cong-tian tertawa terbahak-bahak.
Secepat kilat dia menarik 809 kembali tangannya dan mengumpulkan hawa murni.
Dalam waktu sekejap telapak tangannya sudah terentang kembali menyambut hantaman Thian-ti.
Tubuh Thian-ti tergetar dan mencelat mundur terkena getaran dari benturan sepasang telapak tangan Yan Cong-tian.
Ilmunya lebih tinggi dari manusia tanpa wajah.
Dengan mudah dia hinggap kembali di atas batu semula.
"Yan Cong-tian! Kalau berani naik ke atas ini dan kita buktikan siapa yang lebih hebat di antara kita!"
Tantangnya.
Dua kali berturut-turut Yan Cong-tian berhasil mendesak pihak mereka.
Semangatnya semakin menyala.
Pada dasarnya dia memang selalu ingin menang.
Tentu saja dia menerima tantangan tersebut.
Tubuhnya berkelebat, sekejap mata sudah sampai di daratan tempat Thian-ti berdiri.
Hujan, Angin, Geledek, dan Kilat bergerak dalam waktu yang bersamaan.
Gerakan tubuh Angin paling cepat.
Dia sampai duluan di hadapan Yan Cong-tian.
Lengan bajunya dikibas ke arah wajah Yan Cong-tian.
Pada saat itu juga Thian-ti mengembangkan sepasang telapak tangannya mengincar dada Yan Cong-tian.
Dengan menggeser sedikit tubuhnya Yan Cong-tian berhasil menghindari kibasan lengan baju Angin, kemudian berjungkir balik dan menyambut sepasang telapak tangan Thian-ti.
Kali ini Thian-ti hanya terdesak mundur dua langkah.
Rupanya tenaga telapak tangan Thian-ti lebih keras satu kali lipat dari sebelumnya.
Makhluk itu langsung tertawa "Tua bangka!
Apakah kali ini kau tidak terjerat dalam jebakan kami?" 810 Baru saja ucapannya selesai, tubuhnya sudah membentuk bayangan mencelat mundur beberapa tindak.
Yan Cong-tian bermaksud mengejar, tapi Hujan, Angin, Geledek, dan Kilat sudah mengadang di depannya.
"Sekarang biar kau rasakan dulu kehebatan barisan Hujan, Angin, Geledek, dan Kilat ini!"
Kata Thian-ti sambil tertawa terbahak-bahak.
Kibasan lengan baju Angin, jarum beracun Hujan, pedang Kilat, dan golok Geledek menyerang dari empat arah.
Yang ini maju, yang itu menggeser.
Yang ini menggeser, yang itu maju.
Empat orang dengan ilmu dan senjata yang berbeda mengeroyok Yan Cong-tian.
Golok Geledek mengandung kekejian, pedang Kilat bergerak berubah-ubah, kibasan lengan baju Angin datang dengan cepat, dan yang paling mengerikan justru jarum beracun Hujan yang memercik bagai bunga salju.
Jenis senjata rahasia yang digunakannya kecil tapi jumlahnya banyak.
Sulit sekali menghindarkan diri dari hujan senjata rahasia tersebut.
Apalagi dari bagian kiri, kanan, dan belakang ada pihak lawan yang menunggu kesempatan pula.
Beberapa kali Yan Cong-tian hampir terkena timpukan senjata rahasia Hujan.
Sejak kembalinya Thian-ti ke Siau-yau-kok, keempat orang ini berlatih keras membentuk barisan Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek.
Tujuannya memang untuk menghadapi Yan Cong-tian.
Meskipun belum mencapai kesempurnaan, tapi kekompakan keempat orang itu sudah lumayan.
Mereka sudah bisa membagi tugas dengan rata.
Siapa yang menyerang dan siapa yang berjaga-jaga.
811 Keempat orang itu menyerang secara bergiliran bagai kincir angin yang berputar tanpa berhenti.
Yan Cong-tian tidak memiliki kesempatan untuk beristirahat sejenak pun.
Siapa pun di antara Hujan, Angin, Geledek, dan Kilat, apabila turun tangan sendiri-sendiri menghadapi Yan Cong-tian, tidak ada satu pun dari mereka yang dapat menandinginya.
Tapi dengan bergabung, kekuatan mereka bagai terpadu.
Yan Cong-tian malah lama-kelamaan terdesak di bawah angin.
Apalagi gabungan mereka demikian kompak!
Sementara di sebelah sana masih ada Thian-ti.
Dia selalu mencari tempat lowong dari serangan keempat orang anak buahnya.
Setiap ada kesempatan, dia langsung menyerang Yan Cong-tian.
Di lain pihak, Yan Cong-tian sendiri menyadari.
Apabila bertarung dengan cara begini terus-menerus, yang rugi tentu diri sendiri.
Tapi setiap kali dia berusaha menerobos keluar, selalu terdesak kembali di dalam kurungan barisan tersebut.
Di sebelah sana Fu Giok-su sedang bertarung seru dengan manusia tanpa wajah.
Tentu saja pertempuran itu hanya sebuah kamuflase yang dipertunjukkan untuk Yan Cong-tian.
Dua macam senjata saling berbenturan.
Beberapa kali terlihat Fu Giok-su berusaha mendekati tempat Yan Cong-tian untuk memberikan bantuan, tapi selalu berhasil diadang oleh manusia tanpa wajah.
Sementara itu para anak buah Siau-yau-kok sebelumnya memang sudah dapat kisikan dari Thian-ti.
Mereka menerjang mengeroyok Fu Giok-su.
Yan Cong-tian mana tahu semua itu hanya siasat yang dijalankan anak muda itu sendiri.
Melihat keadaan Fu Giok-su, hatinya semakin panik.
812 Mereka hanya berdua saja.
Apalagi mereka berada di tempat musuh.
Tampaknya lebih banyak bahaya daripada menguntungkan.
Yan Cong-tian juga tidak lupa, bahwa tenaga dalamnya kadang-kadang ada, kadang-kadang hilang.
Dia tidak boleh bertempur terlalu lama.
Apabila kelemahannya itu menyerang secara mendadak, tamatlah riwayatnya.
Tadinya dia mengira di dalam Siau-yau-kok hanya Thian-ti yang ilmu silatnya paling tinggi.
Selain makhluk tua itu, tidak ada jago lainnya.
Dengan mengandalkan kepandaiannya dan Fu Giok-su berdua, sudah lebih dari cukup untuk menghadapi mereka.
Sambil menghindar dan balas menyerang, otaknya juga bekerja terus.
Dia harus mencari akal untuk menerobos keluar dari kepungan barisan tersebut dan bergabung dengan Fu Giok-su.
Thian-ti, Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek seakan dapat membaca pikiran Yan Cong-tian.
Serangan mereka semakin gencar.
Kepungan semakin diperketat.
Yan Cong-tian sudah menerima serangan sebanyak tujuh ratusan jurus.
Napasnya mulai tersengal-sengal.
Dia segera mencari kesempatan.
Telapak tangannya dibentangkan dan tenaga dikumpulkan.
Senjata rahasia yang dilemparkan oleh Hujan, diempas oleh deruan angin dari telapak tangannya dan menggeser mengancam Geledek.
Golok Geledek berputaran.
Dia menyapu senjata rahasia yang tadinya ditujukan kepada Yan Cong-tian dengan kalang kabut.
Yan Cong-tian segera mempergunakan sedikit celah yang terbuka itu.
Kedua lengan bajunya dikibaskan dan menangkis hantaman telapak tangan Thian-ti.
Angin segera membuka serangan.
Tapi karena Geledek yang sedang memutar goloknya mengibaskan senjata rahasia Hujan berdiri di sampingnya, gerakan Angin menjadi terhalang.
Hanya pedang Kilat yang meluncur mengancam punggung Yan Cong-tian 813 yang sudah melesat ke depan.
Yan Cong-tian sudah berhasil menerobos barisan tersebut.
Dia mendengar deru suara angin mengancam di belakang punggungnya.
Dia tidak berani ayal.
Kakinya menutul dan mengentak ke udara.
Tubuhnya berjungkir balik dua kali lalu mendarat turun.
Serangan pedang Kilat menemui kekosongan.
Dia hanya sempat menyayat sedikit lengan baju Yan Cong-tian.
Tiba-tiba terdengar teriakan Fu Giok-su.
Dia menerjang keluar dari kerumunan anak buah Siau-yau-kok.
Lengan kanannya berdarah.
Rupanya dia sempat tergores pedang manusia tanpa wajah.
Anak muda itu mencelat ke udara dan melayang turun di samping Yan Cong-tian.
Sekarang mereka berdiri bahu-membahu.
Para anak buah Siau-yau-kok berteriak lantang dan menyerbu bagai kesetanan.
Fu Giok-su membelakangi Yan Cong-tian.
Punggung mereka saling menempel.
Anak muda itu membalikkan tubuhnya.
"Susiok, bagaimana keadaanmu?"
Tanyanya menyelidik. Yan Cong-tian menggelengkan kepalanya. Dia menatap bahu Fu Giok-su yang berdarah.
"Apakah bahumu terluka?"
Nada suaranya rada bergetar. Sekarang Fu Giok-su yang menggelengkan kepalanya.
"Hanya luka kecil."
Dia sudah melihat tubuh Yan Cong-tian yang bergetar. Anak muda itu pura-pura cemas sekali.
"Susiok, apakah kau terserang senjata rahasia mereka?"
Tanyanya dengan penuh perhatian. 814
"Tidak ...."
Sahut Yan Cong-tian.
Dia menarik napas dalam-dalam.
Pada saat itulah, dia merasakan hawa murninya sudah buyar.
Dia tidak bertenaga sama sekali.
Pada saat itu para anak buah Siau-yau-kok sudah mengepung dari sekitar.
Hujan, Angin, Geledek, dan Kilat berada di hadapan orang-orang itu.
Thian-ti berdiri kira-kira lima langkah dari hadapan Yan Cong-tian.
Makhluk tua itu tertawa terkekeh.
"Tua bangka, meskipun sekarang kau tumbuh sayap, tetap tidak dapat meloloskan diri lagi dari tempat ini!"
Bentaknya lantang.
Yan Cong-tian tidak menyahut.
Dia pura-pura tidak memandang sebelah mata.
Tapi tubuhnya bergetar semakin hebat.
Keringat dingin pun mulai menetes.
Hal ini tidak luput dari pandangan Fu Giok-su.
Dia segera merasa heran.
Tiba-tiba Yan Cong-tian membisikinya.
"Giok-su, seandainya mereka menyerang, tolong hadapi dulu beberapa jurus."
Fu Giok-su semakin heran.
"Susiok, sebetulnya apa yang terjadi denganmu?"
Desaknya penasaran.
"Sejak berlatih ilmu Tian-can-kiat, tenaga dalamku kadang-kadang ada dan kadang-kadang menghilang. Hawa murni tidak dapat dikumpulkan. Apalagi setelah melalui pertarungan panjang, aku harus beristirahat sejenak baru dapat mengumpulkan hawa murniku kembali,"
Kata Yan Cong-tian dengan suara semakin rendah. Mendengar kata-kata itu, Fu Giok-su tertegun. Sejenak kemudian terlihat senyuman licik tersungging di ujung bibirnya.
"Baik, Susiok. Kau atur saja hawa murnimu tenang-tenang, aku akan menghadapi mereka,"
Mulutnya berkata demikian, tapi tubuhnya mencelat ke udara lalu melayang turun untuk menghantam punggung Yan Cong-tian dengan sepasang telapak tangannya.
Selama ini diam-diam Fu Giok-su berlatih Bu-tong-liok-kiat dengan giat.
Ilmu Pik-lek-ciang miliknya bahkan jauh lebih matang dari Cia Peng.
Tenaga dalamnya terlebih-lebih tidak usah diragukan lagi.
Hantaman Fu Giok-su kali ini disertai tenaga sebanyak sepuluh bagian, sedangkan pada saat itu hawa murni Yan Cong-tian sedang buyar, bagaimana orang tua ini dapat menahan hantaman sekeras itu.
Dalam saat yang bersamaan, tubuhnya terpental jauh ke depan.
Mencelatnya tubuh Yan Cong-tian ternyata mencapai beberapa depa dan jatuh tepat di hadapan Thian-ti.
Mulutnya terbuka dan segumpal darah kental langsung muncrat keluar.
Tubuhnya bahkan bergulingan di tanah beberapa kali.
Sayangnya di belakang punggung Yan Cong-tian tidak tumbuh mata.
Tapi para anak buah Siau-yau-kok dapat melihat jelas perbuatan Fu Giok-su.
Hati Thian-ti saat itu langsung berbunga-bunga.
Perlu diketahui bahwa dua puluh tahun yang lalu saja dia bukan tandingan Yan Cong-tian.
Apalagi selama dua puluh tahun ini dia berlatih ilmu Tian-can-kiat.
Meskipun belum kebal terhadap senjata tajam, tapi ilmunya tentu sudah tinggi sekali dan hampir tidak berani dibayangkan olehnya.
Dengan mengandalkan ilmu Fu Giok-su yang masih rendah itu ternyata berhasil membokong Yan Cong-tian sampai terluka demikian parah, bagaimana hatinya tidak menjadi senang dan bangga?
Tentu saja dia tidak tahu bahwa hawa murni Yan Cong-tian sedang buyar.
Kalau tidak meskipun bokongan Fu 816 Giok-su berhasil mencapai sasaran, tapi tenaga dalam orang itu sudah hampir mencapai taraf kesempurnaan.
Asalkan dia masih mempunyai sedikit tenaga dan langsung membalikkan tubuh lalu menyerang Fu Giok-su kembali, tentu anak muda itu lebih banyak celakanya daripada selamatnya.
Hujan, Angin, Geledek, dan Kilat juga sudah memikirkan kemungkinan itu.
Sekarang melihat Fu Giok-su berhasil dengan mudah dan Yan Cong-tian malah tidak memberikan perlawanan, mereka malah termangu-mangu.
Rasa terkejut mereka masih belum sirna, bayangan tubuh Fu Giok-su sudah berkelebat kembali dan sekaligus menutuk dua puluh tujuh jalan darah penting di tubuh Yan Cong-tian.
Sedikit pun hawa murni Yan Cong-tian belum dapat dihimpun, sudah tergetar kembali oleh tutukan Fu Giok-su.
Isi perut dan empat anggota tubuhnya terguncang parah.
Dia jatuh terkulai kembali di atas tanah.
Sama sekali tidak mampu memberikan perlawanan.
Meskipun sempat ceroboh beberapa waktu, sekarang dia sudah mengerti apa yang telah terjadi.
Matanya mendelik lebar-lebar ke arah Fu Giok-su.
Anak muda itu sama sekali tidak gentar.
Dia bahkan mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
"Susiok, bagaimana pendapatmu tentang Pik-lek-ciang yang kulatih ini?"
Yan Cong-tian tambah mengerti beberapa bagian.
"Ternyata selama ini kau yang main gila. Siapa kau sebenarnya?"
"Cucuku!"
Thian-ti yang menyahut pertanyaan itu. Yan Cong-tian menolehkan kepalanya memandang Thian-ti. Wajahnya berubah hebat. Dia memaling kembali memandang Fu Giok-su.
"Sejak semula seharusnya aku sudah melihat 817 bahwa kau ini rada kurang beres. Lalu siapa Wan Fei-yang? Apa dia merupakan komplotan kalian juga?"
"Masa? Bukankah sejak semula kau justru yang paling percaya padaku? Malah kau sendiri yang memaksa untuk datang ke tempat ini. Mengenai Wan Fei-yang, bocah tolol itu, sayangnya dia hanya pantas menjadi kambing hitam. Kalau kau mau tahu siapa dia, nanti saja di akhirat kau tanyakan kepada Ci Siong si hidung kerbau,"
Sahut Fu Giok-su seraya tertawa dingin. Yan Cong-tian tertegun.
"Murid murtad!"
Bentaknya marah. Fu Giok-su pura-pura tidak mendengar. Dia membalikkan tubuhnya menghadap Thian-ti.
"Kali ini keinginan Yaya benar-benar terkabul. Sun-ji seharusnya mengucapkan selamat!"
"Bagus, bagus!"
Thian-ti tiba-tiba memandang Fu Giok-su dengan heran.
"Bagaimana kau bisa merobohkannya dengan cara semudah itu?"
"Rupanya sejak tua bangka ini berlatih ilmu Tian-can-kiat, tenaga dalamnya kadang-kadang ada dan kadang-kadang menghilang. Dia tidak bisa bertarung lama-lama. Hawa murninya akan buyar seketika kalau terlalu dipaksakan."
"Kalau sejak semula kau sudah tahu, mengapa tidak cepat-cepat membokongnya? Malah membiarkan kami menguras tenaga begitu lama,"
Gerutu Thian-ti kesal.
"Benar, mengapa?"
Tukas Hujan. 818
"Sebetulnya ini sebuah rahasia besar. Di Bu-tong-san, mungkin kecuali Ci Siong Tojin yang sudah mampus itu, tidak ada orang kedua lagi yang mengetahuinya. Kalau tadi hawa murninya tidak tiba-tiba buyar dan meminta Sun-ji menghadapi kalian untuk sementara, sampai sekarang pun masih aku belum tahu."
"Tua bangka ini memang licik sekali!"
"Biar bagaimana pun liciknya orang ini, sekarang dia tidak bisa apa-apa lagi. Dan tidak ada lagi yang perlu kita khawatirkan,"
Kata Fu Giok-su sambil menarik ikat pinggang Yan Cong-tian.
Tubuh Tosu tua itu segera terangkat dan menghadap ke arah Thian-ti.
Yan Cong-tian sama sekali tidak ada tenaga lagi untuk melawan.
Apalagi seluruh jalan darahnya yang penting sudah ditutuk oleh Fu Giok-su.
Thian-ti tidak mengulurkan tangannya menyambut.
Dia mengangkat sebelah kakinya dan menendang tubuh Yan Cong-tian.
Orang itu mental ke arah Angin.
Lengan baju Angin dikibaskan.
Belum lagi tubuhnya mendarat di tanah, gagang golok Geledek sudah menyambutnya.
Orang itu kembali mengentakkan tubuh Yan Cong-tian ke udara, sedangkan Hujan di sebelah sana sudah menunggu.
Yan Cong-tian tidak mempunyai kemampuan sama sekali untuk melawan.
Dia menjadi bulan-bulanan kelima orang tersebut.
Hanya Fu Giok-su yang menyaksikan dari samping.
Dari wajah sampai seluruh tubuhnya sudah berlumuran darah, tapi dia masih sadar.
Matanya menatap Fu Giok-su dengan penuh kebencian.
Tanpa sadar tatapan anak muda itu juga 819 kebetulan sedang menoleh ke arahnya.
Tubuhnya tergetar seketika melihat tatapan dingin dan marah Yan Cong-tian yang menatapnya penuh kebencian.
Thian-ti dan empat anak buahnya malah kesenangan.
Mereka menjadikan tubuh Yan Cong-tian sebagai permainan yang mengasyikkan.
Mereka adalah orang-orang yang berilmu tinggi.
Tampaknya gerakan mereka sangat ringan, tapi bagi orang yang ilmu silatnya sudah tidak berfungsi seperti Yan Cong-tian, menjadi bulan-bulanan mereka merupakan penderitaan yang tidak terkirakan.
Beberapa saat kemudian, Yan Cong-tian sudah muntah darah sebanyak lima kali.
Akhirnya Thian-ti menyadari keadaan itu.
Dia tertegun sesaat.
"Berhenti semuanya!"
Bentak makhluk tua itu lantang.
Pada saat itu, tubuh Yan Cong-tian sedang mendarat ke arah Geledek.
Mendengar bentakan Thian-ti, golok Geledek segera ditarik kembali.
Tidak tertahan lagi, tubuh Yan Cong-tian ibarat seonggok daging bergabrukan di atas tanah.
"Kita toh sedang bersenang-senang, mengapa harus dihentikan?"
Tanya Geledek penasaran. Thian-ti menggelengkan kepalanya.
"Kalau kita permainkan dia dengan cara demikian, dalam waktu yang singkat tua bangka ini pasti akan mampus!"
Katanya. Hujan merasa tidak mengerti.
"Memangnya kita akan membiarkan tua bangka ini hidup terus?"
Thian-ti menganggukkan kepalanya.
"Membiarkan dia mati dengan cara seperti ini, bukankah terlalu enak baginya?" 820
"Maksudmu ....?"
Thian-ti tidak menjelaskan, dia hanya tertawa terbahak-bahak.
Suara tawa itu sungguh menggidikkan hati.
Kesadaran Yan Cong-tian masih ada.
Mendengar suara tawa itu, dia menyadari bahwa masih banyak cara kejam yang harus dilaluinya sebelum menerima kematian.
Thian-ti maju menghampirinya.
Dia langsung menarik Yan Cong-tian bangun dari atas tanah.
"Tua bangka! Tahukah kau apa yang akan kulakukan terhadapmu?"
Tanyanya seraya tertawa licik. Yan Cong-tian mengertakkan gigi-giginya menahan rasa sakit. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Thian-ti menunggu beberapa saat kemudian dia tertawa dingin.
"Seharusnya kau sudah dapat menduganya!"
Bentak Thian-ti sambil mengguncang-guncangkan tubuh Yan Cong-tian. Segumpal darah kembali muncrat dari mulut Tosu tua itu. Dia berusaha mempertahankan diri sebisanya.
"Kalau mau bunuh, silakan. Tidak usah banyak bicara!"
Sahutnya sambil meludah ke arah pipi Thian-ti.
Sayangnya semburan ludah itu tidak cukup kuat untuk mengenai Thian-ti.
Kalau tidak, mungkin pada saat itu juga Thian-ti sudah membunuhnya.
Dengan demikian dia juga terhindar dari berbagai siksaan.
Rupanya Thian memang menghendaki lain.
Thian-ti tertawa terkekeh-kekeh.
"Aku pasti akan membunuhmu!"
Dia merandek sejenak.
"Tapi, paling tidak kau harus menderita dulu selama dua puluh tahun!"
Kembali dia tertawa terbahak-bahak.
Dalam waktu yang bersamaan, Yan Cong-tian jatuh tidak sadarkan diri.
***** Entah berapa lama sudah berlalu, akhirnya Yan Cong-tian tersadar juga dari pingsan.
Tiba-tiba dia merasa kaki dan tangannya terikat dengan rantai.
Rasa nyeri dan ngilu segera menyerang.
Tenaganya hilang sama sekali.
Yan Cong-tian langsung sadar bahwa urat kaki serta tangannya sudah diputuskan semua.
Sedangkan sepasang kakinya terendam dalam telaga dingin.
Setelah memerhatikan keadaan sekitarnya dengan saksama, tanpa sadar dia tertawa getir.
Telaga itu bukan telaga dingin, tapi dibuat persis dengan telaga dingin yang terdapat di Bu-tong-san.
Hal ini membuktikan bahwa Thian-ti memang sudah merencanakan untuk meringkusnya hidup-hidup lalu menyiksanya dengan cara yang sama.
Tentu memerlukan waktu yang cukup lama untuk membuat telaga seperti ini.
Segulungan suara tawa yang aneh tertangkap oleh telinganya.
Yan Cong-tian mengedarkan pandangannya mencari.
Akhirnya dia melihat Thian-ti duduk di atas sebuah batu 822 berbentuk persegi.
Letaknya di seberang telaga buatan tersebut.
Suara tawanya lebih mirip suara anak kecil yang bersorak kegirangan.
Sepasang telapak tangannya terus menepuk tiada henti.
Mulutnya menyeringai.
"Tua bangka! Bagaimana penilaianmu atas hasil karyaku? Miripkah dengan telaga dingin di Bu-tong-san?"
Yan Cong-tian mulai merasa putus asa. Sepasang giginya mengertak erat-erat. Dia tidak menyahut sepatah kata pun.
"Kau tidak boleh terlalu kesal. Kalau sampai mati karena jengkel, bukankah menyia-nyiakan hasil karya kami yang besar ini?"
Kata Thian-ti selanjutnya. Yan Cong-tian sengaja menundukkan kepalanya. Dia enggan melihat tampang makhluk tua yang menyebalkan itu.
"Meskipun aku harus sembahyang memasang hio menyembah Buddha agar kau dapat diberi kehidupan dua puluh tahun lagi, aku rela melakukannya. Aku ingin kau merasakan bagaimana penderitaanku selama dua puluh tahun terkurung dalam telaga dingin,"
Thian-ti masih juga tertawa terbahak-bahak.
Tiba-tiba tangannya bergerak.
Seutas cambuk panjang sudah tergenggam olehnya.
Dia menggerakkan cambuk itu untuk memecut tubuh Yan Cong-tian.
Rasa sakit tidak terkirakan.
Tubuhnya tergetar hebat.
Kulitnya terkelupas dan mengeluarkan darah.
Rasa nyeri bahkan menyusup ke dalam tulang sumsum.
Dia tidak merintih sedikit pun.
Sebisanya dia menahan diri.
823 Cambuk di tangan Thian-ti bergerak terus.
Ratusan kali sudah berlalu.
Pakaian Yan Cong-tian compang-camping tidak keruan.
Darah mengalir membasahi seluruh tubuhnya.
"Tua bangka! Tidak pernah tersangka bahwa kau akan mengalami semua ini, bukan?"
Cambuknya diletakkan di samping. Thian-ti berdiri tegak dan kembali tertawa terbahak-bahak. Suaranya bergema di seluruh gua buatan itu.
"Hari ini cukup sekian permainan kita, besok aku akan kembali lagi untuk melayanimu sebaik-baiknya. Harap jangan bosan menjadi tamu agung di sini."
Yan Cong-tian mendongakkan wajahnya.
Matanya mendelik ke arah Thian-ti.
Seakan ada bara api yang berkobar-kobar di mata Tosu tua itu.
Melihat sinar mata Yan Cong-tian, Thian-ti semakin senang.
Sepasang tangannya dilipat di belakang.
Dia melangkah keluar dari tempat itu sambil tertawa terbahak-bahak tiada hentinya.
Yan Cong-tian memandangi kepergian Thian-ti.
Hatinya merasa putus asa.
Terkurung di tempat seperti ini, entah kapan baru dia dapat melihat sinar matahari lagi.
Apalagi kalau dia mengingat keselamatan Lun Wan-ji yang dianggapnya belum tahu apa-apa, hatinya semakin cemas.
Jilid 18 Sejak kecil Lun Wan-ji sudah yatim piatu.
Kedua orang tuanya meninggal karena desa kelahiran mereka tertimpa bencana alam.
Sejak kecil dia diasuh oleh Yan Cong-tian.
Laki-laki itu sudah menganggap Lun Wan-ji seperti anak kandungnya 824 sendiri.
Kalau melihat cara Fu Giok-su yang demikian keji, tentu dia juga tidak akan melepaskan Lun Wan-ji begitu saja.
Dia semakin mengkhawatirkan keadaan gadis itu.
Pikirannya melayang kepada Wan Fei-yang.
Seharusnya dia sadar bahwa bocah itu selalu jujur.
Namun satu hal yang membingungkan hatinya, kenyataannya Wan Fei-yang juga menguasai Bu-tong-liok-kiat.
Dari mana bocah itu mempelajarinya?
Dia tidak habis pikir.
Rasanya dia juga tidak akan mempunyai kesempatan untuk mengetahui semua hal yang tidak dimengertinya lagi.
Sedangkan nyawanya sendiri saat ini sulit dipertahankan.
***** Thian-ti kembali ke ruang utama, Fu Giok-su sudah menunggu di sana.
Pakaiannya masih yang tadi juga.
Semakin diperhatikan, hati Thian-ti semakin senang terhadap Fu Giok-su.
Bibirnya tersenyum terus.
Dia merasa bangga mempunyai cucu seperti Fu Giok-su.
Fu Giok-su segera berdiri menyambutnya.
"Yaya, bagaimana keadaan tua bangka Yan Cong-tian itu?"
Thian-ti tertawa lebar.
"Hm .... Tua bangka itu? Paling tidak aku akan mengurungnya selama dua puluh tahun. Biar dia rasakan penderitaan yang Yaya alami. Dengan demikian kejengkelan hati Yaya baru bisa terlampiaskan."
Fu Giok-su tersenyum manis.
"Terserah Yaya saja. Sun-ji hanya menurut apa yang Yaya anggap baik."
Thian-ti kembali tertawa terbahak-bahak. 825
"Bagaimanapun, kau memang cucu yang paling bisa diandalkan. Bukan saja kau berhasil menyelamatkan Yaya keluar dari telaga dingin malah sanggup memancing Yan Cong-tian masuk dalam perangkap kita sehingga Yaya bisa melampiaskan dendam kesumat ini."
Dia merandek sejenak.
"Sekarang kau sudah menjadi Ciangbunjin Bu-tong-pay. Kau harus bisa mempergunakan kesempatan ini baik-baik untuk menonjolkan kembali partai kita kelak. Suruh para murid Bu-tong itu berlatih dengan giat. Kelak kita akan memerlukan tenaga mereka."
"Yaya ingin menggunakan tenaga mereka untuk menggempur Bu-ti-bun?"
Tanya Fu Giok-su yang langsung dapat menerka maksud hati Thian-ti.
"Tidak salah!"
Thian-ti meremas-remas jari tangannya sendiri dengan wajah penuh semangat.
"Biar mereka saling membunuh dengan pihak Bu-ti-bun. Dan kita tinggal memungut hasilnya saja."
"Sun-ji juga mempunyai niat yang sama."
"Oleh sebab itu, untuk sementara ini kau harus tetap merahasiakan asal usulmu."
Sinar mata Thian-ti menerawang jauh.
"Aku dengar, budak perempuan yang bernama Lun Wan-ji itu juga ikut datang. Di mana dia sekarang?"
Fu Giok-su terperanjat mendengar pertanyaan itu. Dia berusaha menenangkan hatinya.
"Masih ada di Piaukiok."
Diam-diam Fu Giok-su mengerling sekilas kepada Thian-ti. Hatinya tergetar. 826
"Budak perempuan itu tidak boleh dibiarkan hidup. Kelak akan menjadi masalah bagi kita. Lebih baik kau membunuhnya saja!"
"Yaya ...."
Fu Giok-su hanya dapat memanggil kakeknya saja. Dia tidak dapat meneruskan kata-katanya.
"Kenapa? Kau tidak sampai hati?"
Bentak Thian-ti dengan wajah berubah.
"Yaya, Wan-ji sudah ...."
"Sudah apa?"
"Pokoknya, Sun-ji memohon Yaya melepaskannya ...."
Fu Giok-su menjatuhkan diri berlutut di depan Thian-ti. Makhluk tua itu tertegun sekian lama. Matanya menyorotkan kemarahan.
"Kalau tidak keji, tidak pantas disebut laki-laki sejati. Lihat tingkah lakumu ini, bagaimana kau bisa menangani urusan besar. Kalau kau tidak tega, biar Yaya yang turun tangan sendiri!"
Fu Giok-su terpaku di tempat.
Dia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan kepada kakeknya.
Hatinya galau sekali.
Bagaimanapun hubungannya dengan Wan-ji sudah demikian dalam.
Dia tidak tega turun tangan membunuh gadis itu.
Apalagi kalau mengingat anak dalam perut Wan-ji yang merupakan darah dagingnya sendiri.
Fu Hiong-kun juga tertegun.
Saat itu dia berada di luar ruangan utama.
Setiap patah kata yang mereka ucapkan sudah didengarnya dengan jelas.
Soal Yan Cong-tian yang 827 dipancing ke Siau-yau-kok lalu dibokong dengan cara yang keji juga sudah diketahuinya.
Hal itu memang sedang hangat dibicarakan setiap anak buah Siau-yau-kok.
Otomatis dia juga ikut mendengar kabar itu.
Justru karena hal inilah, dia bermaksud mencari Fu Giok-su dan menanyakannya.
Dalam hati kecilnya, Koko yang selama ini dikenalnya adalah orang yang tahu membalas budi dan tidak sekeji Hujan, Angin, dan Geledek maupun Kilat.
Kembali dia mendengar suara bentakan Thian-ti.
"Coba kau pertimbangkan baik-baik. Budak perempuan itu adalah murid Bu-tong-pay. Lagi pula dia adalah murid Yan Cong-tian. Kalau dia sampai tahu bahwa kau adalah orang Siau-yau-kok, biarpun kau tidak membunuhnya, ia juga tidak akan melepaskan dirimu begitu saja!"
Mendengar ucapan itu, Fu Giok-su sadar tidak ada gunanya banyak bicara.
Bukan saja Thian-ti tetap tidak mau mengerti, malah kakeknya itu akan marah besar dan kemungkinan akan pergi ke Kian-wei-piaukiok lalu membunuh Lun Wan-ji saat ini juga.
Pikirannya bekerja dengan cepat.
Tiba-tiba dia membusungkan dadanya dan pura-pura tersadar.
"Apa yang Yaya katakan memang benar!"
Fu Hiong-kun mana tahu isi hati Fu Giok-su. Dia terkejut sekali mendengar jawaban abangnya itu.
"Begitu baru betul,"
Kata Thian-ti memuji.
"Tidak usah khawatir kekurangan kaum perempuan. Yaya bisa mencarikan istri yang tercantik di dunia ini untukmu. Sekarang kau harus segera kembali ke sana dan jangan menunda waktu lagi. Bunuh gadis itu lalu kembali ke Bu-tong serta persiapkan apa yang Yaya katakan tadi." 828 Fu Giok-su menganggukkan kepalanya lalu mengundurkan diri. ***** Sesampainya di luar ruangan, dia langsung melihat Fu Hiong-kun yang berjalan dengan tergesa-gesa meninggalkan tempat itu.
"Hiong-kun ...."
Panggilnya seraya mengejar.
Fu Hiong-kun pura-pura tidak mendengar.
Dia meneruskan langkah kakinya.
Fu Giok-su tertegun sesaat, kemudian mengejarnya lebih cepat.
Dia melesat dan mengadang di depan gadis itu.
Akhirnya Fu Hiong-kun menghentikan langkah kakinya.
Dia menatap Fu Giok-su dengan pandangan dingin.
Seakan melihat seorang asing yang sama sekali tidak dikenalnya.
Fu Giok-su semakin heran.
"Hiong-kun, kau tidak mengenali Toako lagi?"
Tanyanya lembut. Fu Hiong-kun tertawa dingin. Dia tidak menyahut.
"Baru dua tahun tidak bertemu. Lagi pula wajah Toako juga rasanya tidak berubah banyak,"
Kata Fu Giok-su kembali.
"Wajah memang tidak berubah, hatinya bagai orang yang berbeda!"
"Oh?"
Giok-su tampaknya masih tidak mengerti apa yang diucapkan Hiong-kun. 829
"Ciangbunjin Bu-tong-pay seperti engkau ini rasanya terlalu keji dan tidak berperasaan sama sekali,"
Sindir Hiong-kun.
Fu Giok-su menundukkan kepalanya.
Dia tidak tahu bagaimana harus menyahut makian adiknya itu.
Dia merasa sunyi dan tak berdaya.
Hiong-kun menatapnya lekat-lekat.
Kemudian gadis itu menarik napas panjang.
"Rasanya aku tidak mungkin menemukan Toakoku yang dulu lagi. Oh ya, kau sudah berhasil menjabat sebagai Ciangbunjin Bu-tong-pay, seharusnya aku mengucapkan selamat kepadamu,"
Dia menjura satu kali kemudian mengibaskan tangannya dan melenggang pergi.
Fu Giok-su terpaku di tempatnya.
Setelah beberapa saat baru dia melangkahkan kakinya menuju ke luar.
Meskipun di mulut dia mengabulkan permintaan Thian-ti untuk membunuh Lun Wan-ji, tapi dalam hatinya dia sudah merencanakan bagaimana mengungsikan gadis itu ke tempat yang aman agar bayinya dapat terlahir dengan selamat dan mereka masih bisa berhubungan tanpa diketahui oleh pihak ketiga.
Harimau yang buas saja tidak pernah memangsa anaknya sendiri, apalagi manusia.
Meskipun hatinya sangat keji dan licik, tapi dia toh masih mempunyai perikemanusiaan.
Di dalam hatinya masih tersisa sedikit kesadaran.
Sambil berjalan dia memikirkan rencananya.
Akhirnya dia berhasil menemukan jalan keluar yang baik.
Satu hal yang tidak tersangka olehnya ialah Lun Wan-ji sudah mengetahui rahasianya dan meninggalkan Kian-wei-piaukiok.
***** 830 Lun Wan-ji termenung di atas tempat tidur.
Hatinya gelisah memikirkan keselamatan Yan Cong-tian.
Sedikit banyak dia sudah dapat meraba siapa adanya Fu Giok-su.
Wajah Wan Fei-yang yang ketolol-tololan melintas di depan pelupuk matanya.
Dulu dia selalu mengagumi anak muda itu sebagai orang yang jujur.
Sejak kedatangan Fu Giok-su, kepercayaannya mulai luntur.
Mungkinkah orang seperti Wan Fei-yang sampai hati membunuh Susioknya, Ci-siong Tojin?
***** Bagaimana kalau Fu Giok-su yang membunuh orang tua itu?
Hatinya sakit sekali, juga dibayangi ketakutan.
Apa jadinya kalau yang dibayangkan semua merupakan kenyataan?
Apakah benar anak yang dikandungnya ini merupakan darah daging dari seorang pembunuh berdarah dingin?
Seribu pertanyaan menggelayuti pikiran Lun Wan-ji.
Setelah mempertimbangkan bolak-balik akhirnya dia bangkit dari tempat tidurnya dan membereskan perbekalannya.
Dia tidak sanggup berpikir panjang lagi.
Dia merasa menyesal menuduh Wan Fei-yang sebagai pembunuh.
Tapi dia juga merasa tidak ada muka lagi untuk mencari anak muda itu dan menjelaskan segalanya.
Nasi sudah menjadi bubur.
Hanya satu hal yang dapat dilakukannya sekarang.
Hatinya pun bertekad mengambil keputusan tersebut.
***** Sesampainya Fu Giok-su di Kian-wei-piaukiok, hari sudah menjelang senja.
Suma Hung segera menceritakan peristiwa menghilangnya Lun Wan-ji kepada anak muda itu.
Tadinya Fu 831 Giok-su curiga jangan-jangan Suma Hung secara diam-diam telah menerima perintah dari Thian-ti untuk membunuh gadis itu.
Tapi setelah dia mendengarkan dengan saksama dan menyelidiki secara teliti, kenyataannya bukan.
Di dalam kamar Lun Wan-ji, dia menemukan sepucuk surat.
Surat itulah yang dilemparkan oleh Kiang Cin dan Li Bu ke dalam kamar gadis itu.
Fu Giok-su segera sadar bahwa gadis itu sudah mengetahui rahasianya.
Malah sebelum dia meninggalkan Piaukiok tersebut bersama Yan Cong-tian.
Saat itu dia baru mengerti sikap Lun Wan-ji yang aneh tadi malam.
Di atas meja hanya terdapat surat dari Kiang Cin dan Li Bu.
Lun Wan-ji sendiri tidak meninggalkan sepatah kata pun untuk Fu Giok-su.
Anak muda itu berdiri di dalam kamar termangu-mangu.
Dia seperti kehilangan sesuatu yang amat berharga bagi hidupnya.
Dia sama sekali tidak dapat menerka ke mana perginya Lun Wan-ji, tapi dia ragu apakah dia masih memiliki kesempatan untuk bertemu lagi dengan gadis itu selama hidupnya ini.
Yang pasti gadis itu tentu sangat membencinya sekarang.
***** Senja hari yang sama.
Tok-ku Hong mengajak Wan Fei-yang kembali ke kantor pusat Bu-ti-bun.
Mengetahui kepulangan gadis itu, yang paling gembira tentu saja Kongsun Hong.
Tapi gadis itu tidak memedulikannya.
Sikapnya masih dingin dan angkuh.
Kongsun Hong yang melihat Tok-ku Hong membawa pulang Wan Fei-yang merasa tidak senang, namun dia tidak berani 832 mengatakan apa-apa.
Entah mengapa, semakin memerhatikan Wan Fei-yang, hatinya semakin tidak suka.
Belum sempat dia menanyakan apa-apa, Tok-ku Hong sudah menjelaskan.
"Dia bernama Siau Yang. Dia pernah menolongku. Kau cari salah seorang anak buah kita dan suruh dia urus Siau Yang baik-baik."
"Tapi ... selamanya kita belum pernah melayani tamu di sini ...."
"Tamu?"
Sifat pemarah Tok-ku Hong meledak lagi.
"Orang yang kuajak pulang apa terhitung tamu. Ada urusan apa, aku yang tanggung jawab!"
Kongsun Hong mana berani banyak bicara lagi.
Kepalanya tertunduk.
Seorang anggota Bu-ti-bun menghampiri dengan tergesa-gesa dan melaporkan bahwa Buncu mengundang Tok-ku Hong masuk ke dalam kamar pribadinya.
Tok-ku Hong tampak bimbang sesaat, namun akhirnya dia menganggukkan kepalanya dan berjalan pergi.
Baru beberapa langkah dia menolehkan kepalanya kepada Wan Fei-yang.
"Sebentar aku akan kembali lagi,"
Katanya sambil tersenyum.
Hati Kongsun Hong semakin mendongkol.
Dia melengos ke arah lain.
***** Matahari mulai tenggelam.
Cahayanya menyorot lewat jendela sebelah barat.
Tok-ku Bu-ti berdiri membelakangi jendela.
Seluruh wajahnya hampir tidak kelihatan karena memunggungi cahaya.
833 Tok-ku Hong sudah melihatnya dari luar pintu ruangan pribadi tersebut.
Langkah kakinya terhenti.
Hatinya angkuh dan cepat tersinggung.
Dia paling tidak sanggup mendengar ocehan orang.
Mengingat Tok-ku Bu-ti mungkin akan memakinya habis-habisan, rasanya dia sudah enggan masuk ke dalam.
Dia mempertimbangkan sesaat, akhirnya mengertakkan gigi dan membalikkan tubuhnya.
Baru saja dia berniat meninggalkan tempat itu, Tok-ku Bu-ti sudah memandang ke arahnya.
Sinar matanya demikian lembut.
Cahaya mentari pudar.
Rambut di kepala Tok-ku Bu-ti yang setengahnya sudah memutih berkilauan.
Walaupun dilihat dari sudut mana, dia tampak seperti orang yang penuh perasaan.
Dua pasang mata saling menatap.
Tok-ku Hong tertegun.
Sedangkan Tok-ku Bu-ti segera mengembangkan seulas senyuman.
Seulas senyuman yang penuh kerinduan dan kesepian.
Tok-ku Hong mengeraskan hatinya menghampiri.
"Tia ...."
Sapanya dengan suara lirih.
"Kau sudah pulang,"
Tok-ku Bu-ti tersenyum lagi.
"Bagaimana rasanya bermain-main di luar sana?"
"Lumayan,"
Suara Tok-ku Hong masih dingin dan datar.
"Kadang-kadang berjalan-jalan keluar rumah ada baiknya juga."
Tok-ku Hong tidak menyahut. 834
"Apa kau sanggup menghadapi berbagai penderitaan di luar sana?"
Tanya Tok-ku Bu-ti kembali.
"Apanya yang menderita?"
Sahut Tok-ku Hong kurang senang. Dia menganggap Tok-ku Bu-ti sedang menertawakannya.
"Sifatmu persis dengan orang itu. Baik ...."
Nada suara Tok-ku Bu-ti berubah menjadi kurang sabar.
Perasaan Tok-ku Hong menjadi kurang senang seketika.
Tok-ku Bu-ti malah tersenyum lagi.
Kadang-kadang Tok-ku Hong sendiri kurang mengerti sikap ayahnya.
"Tia lain kali tidak akan memarahimu lagi,"
Dia menarik napas panjang.
"Anak sudah besar. Dimarahi sedikit saja langsung bertekad pergi dari rumah,"
Dia berhenti sejenak kemudian menarik napas lagi.
Tok-ku Hong semakin tidak tenang.
Tok-ku Bu-ti juga tidak mengatakan apa-apa lagi.
Keduanya terdiam beberapa saat.
Akhirnya Tok-ku Hong juga yang membuka suara.
"Apakah tidak ada hal lainnya lagi?"
Kepala gadis itu tertunduk rendah-rendah. Tok-ku Bu-ti memandangnya lekat-lekat.
"Masih marah kepada Tia?"
Tanyanya apa boleh buat. Tok-ku Hong menggelengkan kepalanya. Tok-ku Bu-ti menghampiri dan mengelus-elus kepala gadis itu.
"Tahukah kau bahwa Tia sangat merindukanmu?"
Mendengar kata-kata itu, tanpa dapat menahan keharuan 835 hatinya lagi Tok-ku Hong menyusupkan kepalanya ke dalam dada Tok-ku Bu-ti.
Kemudian dia terbatuk-batuk beberapa kali.
Alis Tok-ku Bu-ti segera berkerut mendengar suara batuk itu.
"Apakah kau pernah mendapatkan luka dalam?"
Tok-ku Hong menganggukkan kepalanya.
"Sudah hampir sembuh,"
Sahutnya.
"Siapa yang turun tangan terhadapmu?"
"Bocah Kuan Tiong-liu dari Go-bi-pay itu!"
Nada suaranya terdengar marah.
"Lagi-lagi bocah itu!"
Wajah Tok-ku Bu-ti menjadi kalem.
"Suatu hari nanti, aku akan memberi pelajaran pahit kepadanya."
"Kali ini untung saja ada Hwesio itu yang kebetulan lewat dan menolong aku."
"Hwesio yang mana?"
"Dia tidak menyebutkan gelarnya. Tapi tampangnya aneh sekali. Tubuhnya pendek, kepalanya ada sembilan lubang dan jenggotnya sudah putih semua ...."
Baca Juga: Pendekar Bego 9
Baca Juga: Perawan Lembah Wilis Kho Ping Hoo