Ceritasilat Novel Online

Beruang Salju 11

Eps 11 Beruang Salju - Sin Liong

Baca online Beruang Salju - Sin Liong

Cersil Beruang Salju - Sin Liong.

Mati-matian orang berhidung mancung itu mendorongkan tubuhnya mendesak cengkeraman tangan dari pengemis tua tersebut.

Dan dengan cara seperti itu, dia telah berhasil menjauhi lehernya dari incaran tangan lawannya.

Akan tetapi pengemis tua tersebut tidak mau berhenti sampai di situ walaupun jarak sasarannya telah berobah.

Tangannya tetap mengincar leher lawannya yang ingin dicekiknya.

Namun saat seperti itu rupanya menguntungkan juga buat lawannya.

Orang berhidung mancung yang berhasil mendoyongkan tubuhnya dan lehernya terpisah cukup jauh, telah meneruskan juga cengkeraman tangannya.

Kali ini dengan kenekadannya itu dia berhasil mencengkeram dada si pengemis tua tersebut.

Waktu berhasil mencengkeram, seketika dia mempergunakan seluruh tenaga lweekangnya untuk mencengkeram sekuatkuatnya.

Si pengemis tua menderita kesakitan hebat dan menjadi sangat gusar, tanpa memperdulikan segala apapun juga, tahu-tahu tangan kirinya bergerak menampar batok kepala lawannya.

"Plakkk!"

Batok kepala dari orang berhidung mancung tersebut telah dihantam hancur, seketika dia terbinasa, tidak menarik napas lagi.

Di saat itu ke delapan orang kawan dari orang berhidung mancung tersebut waktu melihat kawannya telah terbinasa, jadi mengeluarkan seruan gusar.

Ketika melihat dada si pengemis tua telah robek kena dicengkeram oleh kawan mereka, seketika mereka telah melompat buat menyerang.

Waktu itu si pengemis tua mempergunakan tangan kirinya memegangi dadanya dia mengeluarkan suara keluhan kesakitan.

Dalam keadaan seperti ini, diapun telah melangkah mundur terhuyung-huyung beberapa langkah.

Wajahnya pucat pias.

Sedangkan ke delapan orang berpakaian ya-heng-ie itu telah menerjang maju, di mana mereka telah menyerang dengan pukulan yang bertubi-tubi.

Di saat itulah terlihat betapa si pengemis tua mengalami ancaman bahaya yang tidak kecil.

Dan dia masih berusaha buat mengerahkan seluruh kekuatannya, buat menerima dan menyambuti serangan ke delapan orang tersebut.

Belasan orang pengemis lainnya yang melihat kawan mereka terluka parah dadanya, mengeluarkan seruan marah.

Tidak menanti sampai ke delapan orang berpakaian Ya-heng-le tersebut berhasil menyerang si pengemis tua, belasan pengemis tersebut telah menerjang buat menghalangi.

Si pengemis tua ternyata terluka cukup parah, walaupun dia berusaha mengerahkan seluruh kekuatan dan tenaga dalamnya, akan tetapi akibat terlalu banyak darah yang mengucur dan beberapa urat jalan darah di dekat dadanya terputus, sehingga membuat dia lemas sendirinya.

Tidak ampun lagi dia telah rubuh terlukai dan numprah di tanah.

Untung saja belasan orang pengemis yang lainnya telah keburu datang, mereka segera mengepung dan menyerang ke delapan orang berpakaian ya-heng-ie tersebut.

Dengan begitu, ke delapan orang tersebut tidak bisa mendekati atau menyerang si pengemis tua.

Di saat itu, belasan orang pengemis tersebut yang menguatirkan keselamatan si pengemis itu , telah berulang kali menyerang dengan hebat, karena mereka bermaksud menyelesaikan pertempuran itu secepatnya, buat merubuhkan dan menangkap ke delapan orang berpakaian ya-heng-ie tersebut.

Karena sekarang orang berhidung mancung tersebut telah terbinasa, dengan demikian tidak dapat ke delapan orang berpakaian ya-heng-ie tersebut menyerang terlalu hebat.

Kepandaian mereka juga berada di sebelah bawah kepandaian belasan orang pengemis tersebut, di samping jumlah mereka yang lebih sedikit.

Begitulah, setelah bertempur beberapa jurus akhirnya ke delapan orang tersebut terdesak di bawah angin.

Dalam keadaan seperti itu terlihat ke delapan orang tersebut sebentar lagi tentu akan dapat dirubuhkan oleh belasan orang pengemis tersebut.

Sedangkan belasan orang pengemis itu yang melihat bahwa lawan-lawannya telah jatuh di bawah angin dan terdesak, mereka semakin bersemangat.

Lewat beberapa jurus lagi, tubuh orang dari orang-orang berpakaian ya-heng-ie tersebut terpental.

Menyusul yang seorangnya lagi terpental karena hantaman telapak tangan dari salah seorang pengemis yang mengepungnya, tubuhnya bergulingan di atas tanah.

Di saat itulah terlihat bahwa tenaga serangan pengemis itu semakin hebat kepada ke lima orang berpakaian ya-heng-ie itu.

Nyali dari ke lima orang berpakaian ya-heng-ie tersebut mulai ciut, dengan berseru nyaring, tampak mereka berusaha memberikan perlawanan yang lebih gigih.

Sedangkan belasan pengemis itu telah menyerang semakin hebat.

Ketika orang berpakaian ya-heng-ie yang tadi dibuat terpental, telah dapat bangun kembali.

Akan tetapi mereka tidak bisa segera maju buat menyerang dan membantu ke lima kawan mereka, di mana ke tiga orang tersebut berdiri dengan muka yang pucat karena disebabkan mereka terluka di dalam.

Dalam keadaan seperti ini rupanya ke lima orang berpakaian yaheng-ie yang sedang bertempur tidak bisa memberikan perlawanan yang lebih baik.

Permainan ilmu silat mereka semakin kacau, penjagaan diri mereka pun semakin lemah.

Ahirnya dua orang di antara mereka terpental lagi, karena kena dihantam oleh seorang pengemis yang berusia pertengahan.

Jumlah orang herpakaian ya-heng-ie tersebut hanya tinggal tiga orang.

Dan mereka semakin lemah serta terdesak.

Dalam keadaan seperti itu rupanya mereka juga berusaha mencari kesempatan buat meloloskan diri.

Di antara berkesiuran angin serangan, tiba-tiba seorang diantara ke tiga orang berpakaian ya-heng-ie tersebut mengeluarkan suara bentakan bengis.

Dia telah menggerakkan tangan kanannya menimpukkan beberapa butir benda hitam.

Benda hitam itu meluncur menyambar kepada beberapa orang pengemis di depannya.

Menduga bahwa benda-benda hitam tersebut adalah senjata rahasia, sambil memaki murka beberapa orang pengemis itu mengelakkan diri dengan melompat menyingkir.

Di saat itu, terlihat betapa beberapa benda bulat hitam tersebut jatuh di atas tanah, mengeluarkan suara ledakan yang nyaring sekali dan gumpalan asap yang sangat tebal.

Pengemis-pengemis tersebut jadi terkejut mereka melompat menjauhi diri.

Kesempatan ini telah dipergunakan sebaik-baiknya oleh orangorang berpakaian ya-heng-ie tersebut, di mana ke tiga orang itu telah menerjang keluar dan telah berusaha untuk mencapai dinding kuil tesebut, karena mereka bermaksud hendak melompat keluar melarikan diri.

Pengemis-peagemis lainnya tidak tinggal diam, mereka segera memburu.

Bahkan beberapa orang pengemis lainnya telah melompat untuk menyerang ke tiga orang berpakaian ya-heng-ie tersebut, karena memang mereka bermaksud mencegah lawanlawannya itu melarikan diri.

Sedangkan salah seorang dari orang berpakaian ya-heng-ie tersebut melontarkan lagi beberapa benda hitam yang bulat.

Malah jumlahnya semakin banyak, membuat di sekitar tempat tersebut dipenuhi oleh asap yang tebal sekali.

Sedangkan di waktu itu pengemis-pengemis tersebut kuatir asap itu beracun dan telah melompat mundur buat menjauhi diri.

Kesempatan kali ini tidak disia-siakan oleh ke tiga orang berpakaian ya-heng-ie tersebut, mereka melompati dinding kuil dengan segera dan sekuat tenaga mereka.

Akan tetapi beberapa orang pengemis yang penasaran telah menyerang mereka mempergunakan senjata rahasia, mereka menyerang sekenanya saja.

Terdengar suara jeritan dari salah seorang yang berpakaian yaheng-ie itu.

Rupanya serangan tersebut telah mengenai tepat sekali pada pundaknya.

Sedangkan ke lima orang berpakaian ya1152 heng-ie lainnya juga telah melompat buat melompati dinding kuil tersebut.

Gerakan mereka ternyata gesit sekali, tetapi lebih cepat lagi timpukan senjata rahasia dari beberapa orang pengemis tersebut.

Dengan begitu, segera juga dua orang di antaranya telah rubuh, dan seketika menghembuskan napasnya yang terakhir, karena senjata rahasia itu telah menembusi jantungnya.

Sedangkan ke tiga orang berpakaian ya-heng-ie itu meneruskan lompatan mereka, menyusul ke tiga orang kawan mereka.

Sebenarnya para pengemis itu bermaksud mengejarnya, namun pengemis tua yang terluka parah di dadanya telah berseru perlahan.

"Jangan dikejar.....!"

Karenanya belasan pengemis itu telah batal mengejar, dan mereka telah batal untuk memburu ke enam orang berpakaian ya-heng-ie tersebut.

Mereka segera menghampiri pengemis tua itu.

Dengan dipayang oleh dua orang pengemis, pengemis tua itu dibawa masuk ke ruangan dalam kuil tersebut.

Cepat sekali beberapa orang pengemis lainnya membawa air hangat dan obat, buat mengobati luka di dada dari pengemis tua tersebut.

Waktu itu terlihat betapa si pengemis tua menderita kesakitan yang hebat.

Darah yang mengucur keluar juga sangat banyak sekali.

Beberapa orang pengemis tersebut telah memencarkan diri, membagi diri di beberapa tempat sekitar ruangan, karena mereka rupanya berkuatir, kalau-kalau nanti ada musuh yang menyelinap masuk lagi.

Mereka melakukan penjagaan dengan penuh kewaspadaan.

Sedangkan pengemis tua itu walaupun menderita luka parah pada dadanya, dia tidak merintih.

Hanya berdiam diri dengan mengigit bibirnya.

Dan pengemis yang berusaha mengobati lukanya memandang berkuatir sekali.

Luka yang diderita oleh pengemis tua tersebut sangat parah sekali, dinding jantungnya kena diremas pecah oleh lawannya tadi.

Darah yang mengucur keluar dengan deras berasal dari luka di jantungnya itu.

Pengemis yang mengobat luka si pengemis tua tersebut pun yakin bahwa si pengemis tua tersebut tidak memiliki harapan buat hidup terus.

Hal ini disebabkan dinding jantung yang pecah itu mengeluarkan darah dengan deras.

Saat itu terlihatlah betapa si pengemis tua itu telah bermandikan keringat, karena dia menahan rasa sakit yang sangat luar biasa.

Dengan suara yang gemetar menahan rasa sakit, akhirnya pengemis tua itu tersebut berkata.

"Pergilah kalian memberitahukan kawan-kawan yang lain, bahwa orang-orang kerajaan mulai bergerak, agar mereka berwaspada.....!"

Berkata sampai di situ, si pengemis tua berhenti dan mengerang menahan rasa sakit.

Darah yang mengalir dari jantungnya semakin deras juga mengalirnya.

Di saat itulah terlihat bahwa keadaan pengemis tua ini makin semakin melemah.

Sedangkan pengemis yang tengah mengobatinya berusaha menutup luka di jantung dari pengemis tua tersebut.

Bahkan telah menaburkan dengan obat bubuk.

Akan tetapi gagal, karena di waktu itu tampak dia menggeliat beberapa kali, kemudian tubuhnya mengejang kaku dan diam tidak bergerak lagi, sedangkan mukanya pucat pias, sepasang matanya terpentang lebar-lebar.

Pengemis-pengemis lainnya yang melibat keadaan pengemis tua tersebut jadi mengeluarkan seruan tertahan, muka mereka pucat semuanya, kemudian menangis terisak-isak.

Akan tetapi pengemis tua tersebut diam mengejang kaku tidak bergerak lagi, karena memang dia telah berpulang ke alam baka.

Sedangkan keadaan di sekitar kuil tersebut sangat sunyi sekali, selain isak tangis dari pengemis-pengemis itu, suara lainnya tidak terdengar.

Suara keresekan daun-daun bagaikan musik yang mengiringi tangisan dari para pengemis tersebut Malam kian larut......

Akhirnya para pengemis itu berunding, dan mereka berkemaskemas meninggalkan kuil tersebut.

Rupanya mereka ingin memberitahukan kepada kawan-kawan mereka perihal kejadian tersebut, disamping mengurus penguburan dari pengemis tua itu.

Semua pengemis Kay-pang memang telah berkumpul di kota tersebut, hanya saja mereka terbagi-bagi di berbagai tempat, dan hanya di antara mereka-mereka saja yang mengetahuinya.

Sedangkan besok akan tiba saatnya rapat besar Kay-pang berlangsung.

◄Y► Rapat besar Kay-pang telah dibuka di lembah Kam-su-kok yang terpisah duapuluh lie lebih dari pintu sebelah timur-tenggara.

Dan banyak sekali orang yang sejak pagi-pagi buta berduyun-duyun berangkat ke lembah tersebut.

Orang yang berduyun-duyun pergi ke sana semuanya berpakaian pengemis.

Akan tetapi di samping itu, ada juga orang-orang yang berpakaian sasterawan, pedagang ataupun juga berpakaian sebagai rakyat jelata biasa saja.

Berbagai peristiwa telah mengawali pembukaan rapat besar Kaypang tersebut, di mana memang telah jatuh banyak korban.

Akan tetapi tokh rapat besar Kay-pang tersebut tetap berlangsung dan tetap diselenggarakan, seperti juga tidak pernah terjadi sesuatu pada hari-hari sebelumnya.

Sedangkan Yeh-lu Chi sebagai Pangcu dari Kay-pang telah membuka rapat besar tersebut dengan penuh semangat, dan penjagaan yang diatur pun sangat ketat sekali.

Karenanya, dia pun telah mengerahkan murid-murid Kay-pang dari berbagai golongan buat melakukan penjagaan yang keras sekali, karena menjaga kalau-kalau orang kerajaan menyelusup masuk ke dalam lembah buat mengacaukan rapat besar Kay-pang tersebut.

Banyak orang-orang yang berpakaian sebagai sasterawan, orangorang rimba persilatan dari berbagai pintu perguruan yang memiliki tali persahabatan dengan pihak Kay-pang harus melewati pemeriksaan yang ketat sebelum diijinkan masuk ke dalam lembah.

Akan tetapi, walaupun pemeriksaan dilakukan dengan ketat sekali, tokh tidak urung masih banyak juga orang-orang kerajaan yang berhasil menyelusup masuk ke dalam lembah tersebut buat mengikuti jalannya rapat besar Kay-pang tersebut.

Walaupun bagaimana rapat besar Kay-pang ini memiliki arti yang besar dan penting buat pihak kerajaan, karena di dalam rapat besar itu, pihak Kay-pang akan membicarakan bagaimana sikap mereka terhadap pihak kerajaan.

Memang pihak kerajaan telah dapat menduganya, bahwa Kaypang tentu akan mengambil keputusan yang tetap seperti yang lalu-lalu, yaitu memusuhi pihak kerajaan Mongolia yang telah berhasil berkuasa di daratan Tiong-goan.

Tetapi justru perkembangan jalannya rapat besar Kay-pang tersebut harus diikuti dulu sebelum bertindak dan menumpas Kay-pang, kalau saja perkumpulan pengemis tersebut bermaksud buruk buat mengganggu pemerintahan dari kerajaan yang sekarang.

Itulah sebabnya mengapa Kaisar dari pihak kerajaan telah mengerahkan orang-orangnya yang terdiri dari jago-jago yang memiliki kepandaian tinggi buat mengikuti jalannya rapat besar Kay-pang tersebut.

Sebagai Koksu negara, Tiat To Hoat-ong pun telah bekerja keras.

Dia berusaha menyusun kekuatan di mana sekiranya usaha penumpasan Kay-pang tidak akan gagal, kalau saja Kay-pang memang bermaksud menentang terhadap kekuasaan kerajaan yang ada pada saat itu.

Disamping Tiat To Hoat-ong, Gochin Talu dan Lengky Lumi juga telah dipercayakan oleh Kaisar buat memimpin tigaribu pahlawan istana, yang akan menumpas Kay-pang, kalau saja memang terbukti kelak hasil rapat besar Kay-pang memberikan tanda-tanda bahwa pihak Kay-pang ingin mengganggu pemerintah Mongolia.

Sedangkan pihak Kay-pang sendiri telah menerima dukungan yang kuat sekali dari segala lapisan orang-orang gagah dalam kalangan kang-ouw.

Dan karena dari itu pula menyebabkan pihak kerajaan tidak mau bertindak ceroboh dan sembarangan.

Sebab walaupun bagaimana tidak dapat pihak kerajaan main terjang saja, di mana korbankorban yang akan berjatuhan pasti sangat banyak.

Lengky Lumi dan Gochin Talu sendiri telah berusaha menghubungi beberapa orang tokoh Kay-pang, di mana tokoh-tokoh Kay-pang itu dipicuk oleh mereka dengan harta dan pangkat.

Dengan demikian tokoh-tokoh Kay-pang itu telah bekerja buat mereka, dan merupakan musuh dalam selimut buat pihak Kay-pang.

Tokoh-tokoh Kay-pang yang telah bekerja buat kerajaan Mongolia tersebutlah yang selalu memberikan keterangan-keterangan penting mengenai kegiatan Kay-pang belakangan ini, sehingga buat kerajaan mengetahui jelas keadaan dan kekuatan Kay-pang.

Yang masih diperhitungkan baik-baik oleh pihak kerajaan justru adalah kekuatan orang-orang gagah Kang-ouw seperti Yo Ko, Oey Yok Su, Kwee Ceng, Oey Yong, dan lain-lainnya.

Rapat besar Kay-pang tersebut memang merupakan rapat besar perkumpulan pengemis yang terbesar sepanjang sejarah yang ada.

Karena kali ini Yeh-lu Chi telah perintahkan seluruh pengemis dari berbagai tempat di seluruh daratan Tiong-goan agar menghadiri rapat besar tersebut.

Dengan begitu, bisa dibayangkan betapa banyak para pengemis yang berkumpul di tempat tersebut, di mana jumlah mereka meliputi puluhan ribu orang, dan juga terdiri dari berbagai golongan maupun tingkatan.

Boleh dibilang sebagian besar dari anggota pengemis hadir di lembah tersebut.

Sedangkan orang-orang gagah seperti Yo Ko, Oey Yong, Kwee Ceng, dan yang lain-lainnya, telah berkumpul di lembah tersebut.

Begitu pula halnya dengan Yo Him dan Sasana mereka telah hadir juga.

Ciu Pek Thong dan juga tokoh-tokoh Kang-ouw yang memiliki kepandaian tinggi, semuanya telah berkumpul buat memberikan bantuan mereka jika saja Kay-pang menerima ancaman dari luar, umpamanya dari pihak kerajaan.

Swat Tocu sendiri juga ikut hadir di lembah tersebut, di mana Swat Tocu tetap mengajak Ko Tie sehingga anak itu telah bisa melihat bahkan berkenalan dengan tokoh-tokoh terkemuka dari rimba persilatan di daratan Tiong-goan.

Memang di lembah tersebut telah berkumpul para orang-orang gagah yang semuanya memiliki kepandaian sangat tinggi dan juga namanya menggetarkan rimba persilatan.

Dengan demikian, Kaypang memiliki tulang punggung yang sangat kuat.

Memang semua ini terjadi secara kebetulan sekali, di mana Kaypang memang harus mengadakan dan menyelenggarakan rapat besar yang setiap limabelas tahun satu kali diselenggarakan dengan segala upacara kebesaran.

Disamping itu, bertepatan dengan diselenggarakannya rapat besar tersebut, justru situasi politik yang terdapat di daratan Tiong-goan tengah berkecamuk gelombang yang hebat sekali di mana Kaypang terancam kemusuhan oleh Kaisar yang tengah berkuasa di saat itu.

Karena dari itu orang-orang gagah yang waktu itu memang tengah berjuang, berusaha hendak menentang penjajahan di negeri mereka ternyata telah berkumpul di dalam rapat besar Kay-pang tersebut.

Mereka berkumpul buat mengadakan suatu pertemuan di antara mereka membicarakan situasi pada saat itu.

Karena dari itu pula, dalam keadaan demikian Kay-pang secara tidak langsung telah menerima bantuan dan dukungan yang kuat sekali dari para orang-orang gagah itu.

Seperti Yo Ko, sebenarnya tokoh persilatan yang sangat gagah ini sudah tak ingin mencampuri lagi urusan di dalam rimba persilatan, karena memang ia sudah ingin hidup tenang menyendiri.

Akan tetapi tokh Yo Ko akhirnya terlibat lagi dalam pergolakan yang terjadi.

Demikian juga halnya dengan Swat Tocu, seorang tokoh sakti, yang semula telah hidup menyendiri di pulau Salju.

Akan tetapi akhirnya setelah menerima Ko Tie sebagai muridnya maka sejak saat itu dia terlibat lagi dalam kancah pergolakan yang terdapat di dalam rimba persilatan.

Disamping itu, Sasana, puteri dari pangeran Ghalik merupakan salah satu sumber kericuhan yang terdapat di waktu itu.

Karena justru Sasana mengandung maksud buat mengadakan pembalasan dendam terhadap sakit hati ayahnya, yang akhirnya harus membuang jiwa dengan cara yang begitu mengecewakan.

Tentu saja jika seorang diri Sasana tidak mungkin sanggup melaksanakan pembalasan dendamnya itu.

Karenanya iapun telah meminta bantuan Yo Him, putera Yo Ko, buat membantu usahanya itu.

Disamping itu pula para orang-orang gagah di daratan Tionggoan sendiri telah menyatakan kesediaan mereka buat membantu Sasana, karena mereka telah memperoleh simpatik dari pangeran Ghalik yang mengakhiri masa hidupnya dengan keadaan yang begitu tragis.

Karena itu pula, karena menyaksikan pangeran Ghalik memiliki jiwa yang sebenarnya sangat baik, dan juga sekarang puterinya memang bermaksud menentang penjajahan yang ada di daratan Tiong-goan, walaupun yang menjajah negara Tiong-goan waktu itu adalah bangsanya sendiri, semua orang gagah jadi merasa simpati dan berkasihan kepada Sasana.

Dan disebabkan itu pula mereka bersedia membantu puteri pangeran Ghalik tersebut.

Begitulah mereka telah berkumpul di dalam lembah tersebut.

Karena justru di dalam rapat besar yang diselenggarakan pihak Kay-pang akan dirundingkan juga urusan yang sangat penting di luar kepentingan Kay-pang sendiri, terutama sekali perihal bagaimana menghadapi penjajah yang ada pada waktu itu.

Yeh-lu Chi yang telah membuka rapat tersebut dengan upacara sebagaimana biasa berlaku, di dampingi beberapa orang Tianglo Kay-pang.

Memang waktu rapat besar Kay-pang dibuka, sama sekali tidak muncul persoalan apapun juga, karena memang waktu itu pihak lawan, yaitu para pahlawan musuh belum lagi bertindak.

Rupanya yang dibicarakan Kay-pang adalah mengenai susunan pengurus Kay-pang, anggaran dasar perkumpulan itu sendiri dan penggantian beberapa orang Tianglo.

Disamping itu pula, persoalan yang pokok besar dibicarakan Kay-pang adalah bagaimana harus dapat menentukan sikap terhadap penjajah yang tengah berkuasa di saat itu.

Waktu Yeh-lu Chi membicarakan persoalan bagaimana sikap Kaypang yang harus di tempuh dalam menghadapi pemerintahan penjajah, keadaan sangat hening.

Di dalam keheningan yang ada, justru terlihat ketegangan meliputi wajah semua orang yang hadir pada waktu itu.

Juga terlihat betapa ancaman akan meledaknya suatu kerusuhan dan keonaran bisa saja terjadi di setiap detik.

Akan tetapi selama itu Yeh-lu Chi tetap dengan pendiriannya, mengemukakan tindakan-tindakan apa saja yang harus ditempuh oleh seorang anggota Kay-pang dalam menghadapi pemerintahan penjajah.

Pokok pembicaraan yang terpenting Yeh-lu Chi memang mengucapkan tentang menentang dan penentangan dan sikap tidak mau tunduk terhadap pemerintah penjajah.

Disamping itu Yeh-lu Chi pun menegaskan bahwa Kay-pang walaupun bagaimana tetap saja akan menentang adanya penjajahan di negeri mereka.

Walaupun bagaimana bentuknya peraturan yang dikeluarkan oleh pihak penjajah, tetap saja Kay-pang harus berdiri di atas keadilan dan menentang pemerintahan yang ada, disebabkan pemerintahan yang tengah berkuasa di daratan Tiong-goan merupakan bangsa asing yang tentu akan menindas rakyat Tionggoan.

Disamping itu, diperintahkan juga oleh Yeh-lu Chi, bahwa anggotaanggota Kay-pang harus berusaha membela rakyat yang ditindas oleh orang-orang pemerintahan penjajah itu.

Walaupun bagaimana bentuk persoalannya, akan tetapi jika seorang anggota Kay-pang bentrok dengan pemerintah penjajah disebabkan membela seseorang rakyat yang tertindas perbuatannya itu akan didukung oleh seluruh anggota Kay-pang yang ada.

Waktu Yeh-lu Chi berkata-kata sampai di situ ada seorang pengemis tua berjenggot putih telah mengangkat tangannya, katanya.

"Maaf Pangcu, dapatkan tecu bertanya?!"

Yeh-lu Chi mengawasi pengemis tua tersebut, dia tidak mengenalnya, karena dia merasa baru pertama kali ini bertemu dengan pangemis tua itu.

Diam-diam Yeh-lu Chi jadi heran, dia bertanya-tanya di dalam hatinya, entah siapa adanya pengemis tua berjenggot putih tersebut.

Anggota Kay-pang lainnya juga telah mengawasi pengemis tua itu.

Mereka menduga mungkin juga pengemis tua berjenggot putih itu berasal dari Kay-pang daerah, yang merupakan cabang-cabang Kay-pang yang terpencil dan sekarang mewakili perkumpulannya.

Setelah mengawasi mengangguk.

sekian lama, akhirnya Yeh-lu Chi "Baiklah!"

Katanya.

"Silahkan apa yang ingin kau tanyakan?!"

"Soal mengenai sikap Kay-pang terhadap pemerintahan yang ada sekarang ini!"

Menyahuti pengemis tua itu.

"Ya, apa maksudmu?"

Tanya Yeh-lu Chi.

"Apakah ada sesuatu yang kurang jelas?!"

"Sikap kita terhadap pemerintahan yang ada sekarang ini tentunya kurang bijaksana, jika saja disertai dengan rasa permusuhan! Kita harus melihat kenyataan yang ada, walaupun pemerintahan yang sekarang ini dikendalikan olek orang-orang Boan, akan tetapi mereka dapat memerintah dengan baik, mengatur negara dengan baik, sehingga kemakmuran negeri bertambah maju pesat sekali. Kemiskinan yang semula merajai seluruh daratan Tiong-goan perlahan-lahan mulai dapat di atasi.....!"

Berkata sampai di situ pengemis tua berjenggot putih tersebut telah mengawasi sekitarnya dengan sorot mata yang tajam bersinar, seperti juga ia tengah memandang dengan sikap yang berwibawa sekali, seakan juga ingin menindih pengaruh dari Yeh-lu Chi, agar semua pengemis yang hadir di tempat itu tunduk dan berdiam diri saja atas kata-katanya.

Akan tetapi kenyataannya, akibat perkataan pangemis tua berjenggot tersebut, beberapa orang pengemis telah berdiri dan mengeluarkan seruan marah.

Tampaknya pengemis-pengemis itu gusar karena pengemis berjenggot tersebut telah membela pemerintah penjajah.

"Apakah orang-orang Boan itu telah menyogok pangkat dan harta kepadamu?!"

Memaki beberapa orang pengemis itu.

"Atau memang engkau telah menjadi kaki tangannya orang-orang Boan itu?!"

Mendengar pertanyaan dan cacian-cacian yang menyindir langsung kepadanya, pengemis berjenggot putih itu tetap saja membawa sikap yang agung dan tidak memperlihatkan perasaan gentar.

Malah, pengemis berjenggot putih telah mendengus memperdengarkan suara tertawa dingin, katanya.

"Tenang! Tenang! Kalian tokh belum lagi mendengar seluruh perkataan dan pernyataanku? Bagaimana mungkin aku mengutarakan pendapat dan saranku, jika baru berkata sampai di situ saja kalian telah menimbulkan kegaduhan seperti ini?!"

"Cepat katakan, apa saranmu! Jika memang saranmu yang di luar dari kepantasan engkau harus dihukum!"

Teriak beberapa orang pengemis dari golongan lima karung dengan nada yang tetap gusar.

"Ya, jika memang saranmu itu menganjurkan kami agar berkhianat, maka engkau harus dihukum!"

"Katakan!"

"Ayo katakan!"

Begitulah para pengemis itu jadi ramai sekali berteriak-teriak dengan suara mengandung kegusaran.

Akan tetapi pengemis tua berjenggot tersebut tetap saja tenangtenang dengan sikapnya yang angkuh dan keagung-agungan, katanya.

"Hemm, jika memang kalian ingin menghukum aku, itu pun tidak menjadi sebab untuk aku batal menyebutkan saranku! Aku akan mengemukakan semua saran dan pendapatku, demi kebaikan Kay-pang secara menyeluruh! "

Perkumpulan Kay-pang bukan perkumpulan kecil, dalam Kaypang terdapat ribuan, bahkan puluhan sampai ratusan ribu anggota, yang semua keselematannya berada di tangan para pemimpinnya!

Jika memang para pemimpinnya membimbingnya ke arah yang salah dan sesat, yang bisa menghancurkan Kaypang, keselamatan mereka terancam!"

Berkata sampai di situ, kembali pengemis tua berjenggot putih itu telah menyapu ke sekeliling tempat tersebut dengan sorot mata yang sangat tajam sekali.

"Engkau tidak perlu menggunakan alasan-alasan apapun juga. Jika memang kau menganjurkan agar kami menghianati negara kami, dan engkaupun terbukti berkhianat, maka engkau harus dihukum seberat-beratnya!"

Teriak beberapa orang pengemis golongan tua dengan marah.

"Ya, dia telah berkhianat!"

Teriak beberapa orang pengemis lainnya.

"Hukum pengkhianat!' teriak yang lainnya dengan suara yang ramai dan berisik.

"Ya, hukum! Hukum!"

Teriak yang lainnya.

Dalam waktu sekejap mata saja, telah timbul keributan di tempat tersebut, karena memang waktu itu terlihat betapapun juga para pengemis itu menaruh kecurigaan kepada pengemis tua berjenggot putih itu telah berkhianat.

Didengar dari perkataannya jelas pengemis tua berjenggot putih tersebut seperti juga memihak, kepada pemerintahan penjajah.

Walaupun menghadapi situasi seperti itu, tampaknya pengemis tua berjenggot putih itu tetap tenang.

Dia menoleh kepada Yeh-lu Chi, dengan sorot mata yang tajam sekali dia bertanya.

"Bagaimana Pangcu, apakah tecu boleh meneruskan saran tecu ini?!"

Yeh-lu Chi yang melihat keadaan telah berobah menjadi ribut seperti itu, segera mengangkat tangannya. Seketika keadaan jadi sirap dan tenang kembali.

"Baik! Kau katakanlah apa saranmu itu!"

Kata Yeh-lu Chi.

"Akan tetapi, seperti saudara-saudara kita telah kemukakan, jika saja memang saran yang kau berikan itu sengaja membujuk kami agar berkhianat kepada tanah air sendiri dan juga memihak kepada pihak penjajah orang-orang Boan itu, hemmmm, tentu saja Kaypang harus memutuskan menghukum seberat-beratnya anggota yang memiliki hati bercabang seperti itu.....!"

Setelah berkata seperti itu, Yeh-lu Chi mengangkat tangannya, katanya lagi.

"Dengarlah wahai seluruh anggota Kay-pang! Berikanlah kesempatan orang ini bicara! Mungkin juga sarannya merupakan saran yang baik, kita harus mendengarkannya dulu, baru nanti mempertimbangkannya sebaik mungkin!"

Karena pangcu mereka telah meminta agar mereka tenang dan tidak menimbulkan keributan, membiarkan dan memberikan kesempatan kepada pengemis tua tersebut bicara guna mengemukakan sarannya, maka para pengemis itupun berdiam diri.

Di saat itu pengemis tua tersebut telah mendehem beberapa kali, barulah kemudian dia berkata dengan suara yang nyaring, sama sekali dia tidak memperlihatkan perasaan jeri.

"Sesungguhnya apa yang diinginkan oleh kita dari Kay-pang, tentunya kesejahteraan rakyat di seluruh negeri! Dan tentunya tujuan dan cita-cita seperti itu milik dari semua orang gagah! "

Jika kita menyaksikan dapat melihat bukti, bahwa rakyat berangsur-angsur dapat hidup lebih baik dan makmur, walaupun negeri berada di tangan bangsa asing.

Mengapa pula kita harus terlalu meributkan?

Bukankah hal itu hanya akan memancing keributan-keributan belaka dan bentrokan dengan pihak kerajaan, sehingga jika terjadi bentrokan yang lebih keras lagi, rakyat juga yang akan bersengsara......!"

Yeh-lu Chi mendengus perlahan, hatinya semakin tidak menyukai pengemis tua tersebut yang tidak diketahuinya duduk di dalam cabang perkumpulan daerah mana.

Dengan demikian Yeh-lu Chi juga memperhatikan baik-baik pengemis tua tersebut, waktu dia tengah berkata-kata seperti itu.

Sedangkan pengemis tua tersebut telah menyapu sekitar tempat itu dengan sorot mata yang sangat tajam, juga telah memandang kepada semua pengemis dengan sinar mata yang memancar bengis.

Sama sekali tidak terlihat perasaan jeri sama sekali pada dirinya, walaupun semua pengemis yang berkumpul di tempat itu memandangnya dengan sorot mata membenci dan juga penuh amarah.

Setelah berdiam diri sejenak, barulah pengemis tua tersebut berkata lagi dengan suara yang lebih nyaring.

"Dan kalian dengarlah, jika memang kalian bersikeras dan tidak mau mengambil sikap yang bijaksana, sehingga pihak kerajaan mengambil tindakan keras terhadap Kay-pang, siapa yang akan rugi? Memang kita dari sekian banyak tokoh-tokoh Kay-pang dapat menyelamatkan diri dengan mengandalkan kepandaian yang dimilikinya. Akan tetapi bagaimana nasib anggota Kay-pang, yang mulai dari tingkatan satu karung, dua karung, tiga karung dan empat karung, di mana kepandaian mereka tentunya masih lemah dan rendah, dan tentu mereka yang akan bercelaka!"

Terdengar suara yang riuh karena para pengemis itu telah meluap kemarahannya waktu orang tua berjenggot yang merupakan pengemis tua yang tidak diketahui asal usulnya tersebut berkata sampai di situ.

"Walaupun kami harus membuang jiwa, kami rela, jika memang orang-orang Boan itu bisa diusir dari daratan Tiong-goan!"

Teriak beberapa orang pengemis.

"Ya, kami bersedia buat mati demi negara dan tanah air!"

Teriak yang lainnya.

"Kami akan memperjuangkan kebebasan tanah air kami, agar tidak selamanya dijajah!"

Teriak pengemis-pengemis yang lainnya dengan suara yang bareng.

"Walaupun kami harus menebusnya dengan jiwa kami, akan tetapi kami rela!" Begitulah, masih banyak lagi pengemis-pengemis lainnya yang berteriak-teriak dengan suara yang berisik sekali penuh amarah. Sedangkan Yeh-lu Chi berusaha menenangkan mereka. Dari rombongan pengemis golongan enam karung, rupanya ada yang sudah tidak bisa membendung hawa amarahnya, karena dari rombongan itu telah melompat ke arah si pengemis tua tersebut seorang pengemis berusia empatpuluh tahun lebih. Dengan muka yang merah padam karena marah yang tidak bisa dibendung lagi, pengemis tersebut telah membentak.

"Siapa kau sebenarnya?! Aku yakin, kau tentunya bukan anggota Kay-pang, di mana kau hanya menyamar belaka.....!"

Mendengar perkataan pengemis tersebut, pengemis tua itu telah tertawa tawar, sikapnya tetap tenang dan sabar, sama sekali dia tidak menjadi marah atau menjadi takut. Malah jawabnya.

"Lho, aku biasa dipanggil dengan sebutan Cing Pang An!"

"Hemmm, kau berasal dari cabang daerah mana?!"

Tegur pengemis itu lagi. Pengemis tua itu, Cing Pang An, tidak segera menyahuti, bola matanya memain beberapa kali berputar-putar, tampaknya dia jadi mendongkol sekali.

"Melihat engkau membawa enam karung tentunya kedudukanmu masih satu tingkat di bawah kedudukanku! Apa yang termuat di dalam larangan dan pantangan Kay-pang? Salah satu dari larangan itu adalah bersikap kurang ajar terhadap yang tingkatannya lebih tinggi dan lebih tua! Pantaskah sikapmu ini terhadapku? Seharusnya, jika memang kita mematuhi peraturan yang terdapat di dalam Kay-pang, engkau harus dihukum berat sekali!"

Mendengar perkataan Cing Pang An, pengemis berkarung enam itu telah tertawa dingin.

"Aku tidak percaya bahwa engkau adalah anggota Kay-pang, tentu engkau orangnya Kaisar Boan itu, yang tengah menyamar sebagai pengemis!"

Setelah berkata begitu. tampak pengemis berkarung enam itu melangkah mendekati, maksudnya ingin menyerang kepada Cing Pang An. Akan tetapi Cing Pang An membawa sikap yang tenang sekali, katanya.

"Sebelum kau memperlihatkan kekurang ajaranmu lebih jauh, sekarang katakanlah siapa namamu?"

"Hemmmm, aku dipanggil Kay Som Song!"

Dan setelah menyahuti seperti itu, Kay Som Song mengeluarkan bentakan, ke dua tangannya juga bergerak dengan cepat sekali, karena jarak mereka memang terpisah tidak jauh.

Sedangkan Cing Pang An tidak bergerak dari tempat berdirinya, dia hanya mengawasi saja datangnya serangan dari Kay Som Song.

Tampaknya dia tidak memandang mata terhadap serangan lawannya.

Kay Som Song sendiri memperoleh kenyataan seperti ini jadi tambah murka, karena dilihatnya pengemis tua Cing Pang An bagaikan tidak memandang sebelah mata padanya.

Dia telah mengempos semangatnya, tenaga serangannya itu semakin hebat dan kuat.

Angin serangan yang menderu-deru menyambar kepada Cing Pang An, dan di waktu itu terlihat betapa Kay Som Song mengincar hulu hati sebagai sasarannya.

Dalam keadaan seperti itu, Cing Pang An menggerakkan tangan kirinya, dia menangkis seenaknya tanpa menggeser kedudukan ke dua kakinya.

Sepasang tangan itu saling bentur, bahkan benturan tersebut terjadi sangat kuat sekali.

Terlihat tubuh Kay Som Song telah terhuyung mundur, bagaikan terdorong oleh suatu kekuatan yang tidak tampak.

Di saat mana Cing Pan An, tidak tinggal diam, dia telah membarengi menghantam dengan telapak tangannya.

Kay Som Song pun tidak berani lengah dari berayal, sebab dia menyadarinya, jika saja dia berlaku lambat, niscaya akan membuat dirinya terluka parah.

Karena dari itu, cepat-cepat dia menangkis dengan ke dua tangannya namun kedudukan ke dua kakinya belum lagi bisa tetap, karena dari itu walaupun dia menangkis sepenuh tenaga, tokh tenaga tangkisan itu hanya sebesar enam bagian tenaga lweekangnya belaka.

Kembali terdengar benturan yang keras di antara tangan Kay Som Song dengan tangan Cing Pang An.

Tenaga bentrokan tersebut telah menyebabkan tubuh Kay Som Song terpental lagi.

Cing Pang An segera menyerang pula.

Akan tetapi baru saja dia menggerakkan tangannya buat menghantam, di waktu itu Yeh-lu Chi telah membentak.

"Tahan......!"

Cing Pang An tidak meneruskan serangannya, dia telah menahan meluncur tangannya, karena dia tidak berani melanggar cegahan dari Pangcu Kay-pang tersebut.

Alasannya, jika saja dia membandel, tentu Pangcu Kay-pang itu akan perintahkan tokohtokoh Kay-pang buat menghadapinya guna mencegahnya dengan kekerasan.

"Dia yang telah mencari-cari urusan denganku, Pangcu!"

Kata Cing Pang An dengan suara aseran.

"Hemmm, di dalam rapat besar kita ini ternyata masih terdapat anggota Kay-pang yang ingin main hakim sendiri, padahal yang di sini terdapat Pangcu Kay-pang, dan alangkah memalukan sekali tindakannya itu.....!"

Mendengar ejekan dari Cing Pang An, muka Kay Som Song berobah merah padam, dia gusar bukan main dan sebenarnya dia ingin menerjang lagi.

Jika saja tidak dilihatnya Yeh-lu Chi telah menggerakkan tangan kanannya, mengisyaratkan agar dia tidak menerjang lebih jauh.

"Dengarlah!"

Kata Yeh-lu Chi.

"Sebenarnya Kay Som Song tidak bisa dipersalahkan, karena kau sendiri tidak diketahui dengan jelas berasal dari cabang Kay-pang daerah mana, sehingga Kay Som Song bermaksud buat membuktikan bahwa engkau memang benar-benar anggota Kay-pang.....!"

Mendengar perkataan Yeh-lu Chi, muka Cing Pang An berobah, dia mendengus dua kali, katanya.

"Jika memang keputusan Pangcu seperti itu, tampaknya Pangcu pilih kasih dan berat sebelah!"

"Mengapa kau bisa berkata begitu?!"

Tanya Yeh-lu Chi sambil mengerutkan alisnya.

"Karena Pangcu tidak mendengar sampai habis dulu keterangan dan saranku, malah telah membenarkan orang menimbulkan keonaran disini, di dalam rapat besar kita yang tengah diselenggarakan!"

Yeh-lu Chi tertawa tawar, katanya.

"Jika memang dilihat demikian, tampaknya engkau masih penasaran! Baiklah! Baiklah! Justru sekarang ini aku yang akan menguji dirimu, akan menguji siapakah sebenarnya kau.....?!"

Setelah berkata begitu, Yeh-lu Chi melompat turun dari tempat duduknya, dia telah berhadapan dengan Cing Pang An.

Cing Pang An sendiri terkejut, karena dia tidak menyangka bahwa Pangcu Kay-pang akan turun tangan sendiri, karena dia, semula menduga tentunya Pangcu Kay-pang tersebut akan perintahkan tokoh Kay-pang lainnya buat menghadapi dirinya.

Dengan tersipu Cing Pang An segera berkata.

"Alangkah tidak pantasnya jika memang Pangcu yang turun tangan sendiri hanya sekedar buat membuktikan bahwa tecu adalah anggota Kay-pang. Sesungguhnya, kecurigaan Pangcu tidak pantas, karena memang sebenarnya tecu adalah anggota Kay-pang.....!" "Siapa pimpinanmu??"

Tanya Yeh-lu Chi tidak memperdulikan perkataan Cing Pang An.

"Itu..... itu......!"

Cing Pang An jadi tergugu.

"Hemmm, seperti apa yang telah kuduga, bahwa engkau memang bukan anggota Kay-pang dan hanya menyamar sebagai pengemis! Katakan siapa dirimu sebenarnya?!"

Bentak Yeh-lu Chi dengan sikap yang mendongkol. Cing Pang An tertawa tawar, rupanya dia telah berhasil menguasai kegugupannya.

"Ini..... tentu saja aku tidak bisa menyebutkannya, karena Pangcu menanyakannya tak wajar!"

Menyahuti Cing Pang An akhirnya.

"Hemmm, jika memang dilihat keadaan seperti ini, Kay-pang tidak mau membawa cara keadaan yang sesungguhnya menurut aturan yang ada. Bagaimana mungkin, di dalam rapat besar seperti ini, seorang Pangcu yang memiliki kedudukan sangat tinggi di dalam perkumpulan kita, harus memeriksa seorang anggotanya yang hanya dicurigai belaka?!"

"Sekarang katakan siapa dirimu sebenarnya dan apa maksudmu menyamar sebagai anggota Kay-pang?!"

Bentak Yeh-lu Chi yang tidak mau memperdulikan sikap dari Cing Pang An.

"Sejak kecil telah menjadi pengemis, hanya selama itu tecu tidak pernah masuk sebagai anggota Kay-pang. Baru tahun ke marin tecu telah masuk sebagai anggota Kay-pang! Jika memang tecu mengetahui Kay-pang bukanlah perkumpulan yang terlalu baik dengan aturannya yang acak-acakan, tentu tecu tidak sudi masuk sebagai anggotanya.....!"

Dan setelah berkata begitu, Cing Pang An memutar tubuhnya, maksudnya ingin berlalu dari situ. Yeh-lu Chi melihat orang ingin berlalu, jadi mengeluarkan suara tertawa dingin, katanya.

"Hemmm, apakah enak begitu saja kau ingin angkat kaki dari tempat ini?!"

Dan setelah berkata begitu, tangan kanan dari Yeh-lu Chi dengan cepat bergerak, ia bermaksud mencengkeram pundak Cing Pang An.

Akan tetapi Cing Pang An ternyata bukan seorang pengemis yang rendah kepandaiannya, karena ia memiliki kepandaian yang tinggi sekali.

Waktu mendengar berkesiuran angin serangan, cepat bukan main dia telah bergerak ke samping.

Dan tanpa menoleh lagi dia telah menggerakkan tangan kanannya, menyampok dengan kuat sekali.

"Bukkkk!"

Terdengar benturan yang sangat keras, di mana kekuatan tenaga dalam dari Cing Pang An saling bentur dengan tangan Yeh-lu Chi.

Akan tetapi Yeh-lu Chi memiliki kepandaian tinggi.

Dia tidak seperti Kay Som Song, karenanya, begitu tangannya saling bentur, seketika dia memutar tangannya itu, yang tidak ditarik pulang.

Kemudian dia bermaksud akan mencengkeram pergelangan tangan dari lawannya.

Cing Pang An terkejut juga, semula dia menduga bahwa Yeh-lu Chi tentunya akan menarik pulang tangannya begitu tenaga mereka saling bentur.

Namun kenyataannya Yeh-lu Chi malah meneruskan serangannya dengan maksud akan mencengkeram dan mencekal pergelangan tangannya.

Tentu saja Cing Pang An tidak mau membiarkan pergelangan tangannya kena dicekal lawannya.

Dia menarik pulang tangannya.

Namun apa yang dilakukannya itu terlambat, sebab tangan Yeh-lu Chi telah mengunci tangannya, sehingga tidak mungkin Cing Pang An menarik pulang tangannya.

Cing Pang An memang memiliki kepandaian yang tinggi, karenanya walaupun menghadapi keadaan yang terdesak dan terancam bahaya seperti itu, tokh dia tidak menjadi gugup.

Cing Pang An hanya terkejut sejenak, kemudian dia telah cepat-cepat merobah posisi tangannya.

Jika semula dia berada di sebelah atas dari tangan Yeh-lu Chi, justru kini telah memutar berada di sebelah bawah tangan Yeh-lu Chi.

Kemudian cepat sekali dia menghantam ke depan, ke arah perut pangcu Kay-pang tersebut.

Yeh-lu Chi sendiri tidak menyangka bahwa lawannya akan menyerang seperti itu.

Dia jadi kaget dan cepat-cepat membatalkan serangannya.

Dia tidak jadi mencengkeram dan kemudian melompat mundur ke belakang dengan jejakkan kaki yang kuat, tubuhnya ringan melompat ke belakang dua tombak.

Cing Pang An tertawa terbahak-bahak.

"Sudah tecu katakan, bahwa tecu adalah anggota Kay-pang, tentunya Pangcu tidak perlu menguji tecu lagi, dan jika memang pangcu masih tidak percaya, silahkan maju lagi! Walaupun tecu hanya memiliki tujuh karung, akan tetapi tecu merupakan anggota Kay-pang dan setiap anggota Kay-pang memiliki kepandaian yang tinggi.....! "

Ini bukan berarti tecu berani berlaku kurang ajar kepada Pangcu. Akan tetapi memang terpaksa sekali karena Pangcu sendiri yang tidak mau mempercayai keterangan Tecu!"

Setelah berkata begitu, Cing Pang An bersiap-siap hendak menerima serangan Yeh-lu Chi pula.

Sebagai seorang Pangcu yang memiliki kekuasaan terbesar dan tertinggi di dalam kalangan Kay-pang, sebenarnya Yeh-lu Chi merasa malu tidak bisa membekuk lawannya.

Dan sekarang dia mendengar perkataan Cing Pang An seperti itu, bukan main mendongkol hatinya, sehingga dia berseru nyaring.

Dan tanpa mengeluarkan sepatah perkataan pun juga telah melompat menerkam dengan sepasang tangan yang digerakkan sangat kuat sekali.

Karena sekarang Yeh-lu Chi telah mengetahui, bahwa lawannya memiliki kepandaian yang tinggi, dia tidak berani meremehkannya pula.

Sedangkan Cing Pang An sendiri tak tinggal diam.

Waktu melihat Pangcu Kay-pang tersebut menyerangnya, dia mengeluarkan suara seruan nyaring dan menggeser kedudukan ke dua kakinya.

Yeh-lu Chi mana mau membiarkan Cing Pang An berkelit menghindarkan diri begitu saja.

Karena melihat bahwa sebelum ke dua tangannya tiba pada sasarannya, lawannya telah mengelakkan diri, cepat luar biasa dia telah membentak dan menyerang semakin hebat dengan ke dua tangannya meluncur terus tanpa dikurangi kecepatan meluncurnya.

Cing Pang An mendengus perlahan, kemudian tanpa berkelit dan menggeser ke dua kakinya, dia telah menangkis.

"Bukkk!"

Serangan Yeh-lu Chi telah ditangkisnya.

Tubuh Cing Pang An tergoncang beberapa kali dan mundur lima tindak.

Sedangkan Yeh-lu Chi telah mundur selangkah ke belakang, mukanya merah padam karena murka.

Dalam keadaan seperti itu terlihat Yeh-lu Chi tidak berhenti dengan serangannya.

Dia murid Ciu Pek Thong, di mana Loo-boan-tong memang memiliki kepandaian yang tinggi hebat luar biasa dan telah diwarisi seluruh kepandaiannya itu padanya.

Karena dari itu, menghadapi lawan yang tangguh seperti sekarang.

Yeh-lu Chi pun tidak berlaku sungkan-sungkan pula, apa lagi sekarang dia mencurigai bahwa Cing Pang An adalah mata-mata pihak kerajaan.

Sekali ini Yeh-lu Chi telah menyerang dengan dahsyat sekali, dia menghantam dengan tenaga "Im"

Di tangan kiri, sedangkan tenaga "Yang"

Di tangan kanannya.

Hebat luar biasa tenaga serangannya itu, yang menyambar bergantian, tak serentak, akan tetapi saling susul.

Menghadapi serangan Yeh-lu Chi seperti itu, muka Cing Pang An berobah pucat.

Dia memang mcngetahui bahwa Yeh-lu Chi memiliki kepandaian yang tinggi dan tentu berada di atas kepandaiannya sendiri.

Akan tetapi semula Cing Pang An menduga bahwa Yeh-lu Chi tidak akan turun tangan sendiri.

Akan tetapi sekarang siapa tahu justru Yeh-lu Chi yang kecurigaannya semakin keras bahwa dirinya adalah mata-mata dari pihak kerajaan, telah menyerangnya dengan hebat sekali.

Berulang kali Cing Pang An berusaha mengelakkan diri, dia terdesak karena bingung menghadapi cara menyerang yang dilakukan Yeh-lu Chi.

Setelah terdesak beberapa kali, tampak Cing Pang An semakin sibuk menggelakkan dan menghindarkan diri dari setiap serangan Yeh-lu Chi.

Bahkan ketika suatu kali tampak Yeh-lu Chi telah mengeluarkan bentakan dengan tangan kiri mengancam buat menotok mata dari lawannya.

Dan waktu lawannya ini berkelit ke samping kanan, kesempatan ini dipergunakan sebaik mungkin oleh Yeh-lu Chi, dan dia telah mempergunakan tangannya yang satunya buat mencengkeram.

Cengkeraman yang dilakukan pangcu Kay-pang kali ini tepat sekali mengenai sasaran, dan telah berhasil mencengkeram dengan keras.

Malah waktu ia membentak sangat nyaring, tubuh lawannya kena dihentak terpental.

Bukan main kesakitan Cing Pang An, dia berseru kesakitan dan terhuyung tidak bisa berdiri tetap sejauh dua tombak lebih.

Malah, belum lagi dia sempat buat memperbaikkan kedudukan ke dua kakinya, cepat sekali Yeh-lu Chi telah melompat dan menyerang pula karena Yeh-1u Chi memang bermaksud tidak memberikan kesempatan sedikitpun juga pada lawannya.

Dalam keadaan seperti itu terlihat jelas betapapun juga Cing Pang An berusaha menghindarkan diri dari serangan Pangcu Kay-pang itu, tokh tetap saja dia tidak berhasil.

Mati-matian dia telah berusaha meloloskan diri dari gempuran itu, dan justru di waktu itulah serangan dari Yeh-lu Chi mengenainya dengan telak.

"Bukkkk!"

Keras sekali serangan itu menghantam Cing Pang An, sampai pengemis tua itu tersungkur di tanah.

Dalam keadaan seperti ini Yeh-lu Chi telah berhenti menyerang.

Dengan wajah yang angker dan penuh wibawa membentak.

"Sekarang kau jelaskan, siapa sebenarnya dirimu dan apa maksudmu menyamar sebagai anggota Kay-pang?!"

Cing Pang An tidak segera menyahuti, karena dia telah meringis menahan sakit beberapa saat, diapun merangkak buat berdiri, barulah kemudian dengan sorot mata penuh kebencian dia telah mendelik kepada lawannya yang berhasil merubuhkan dirinya.

"Aku tidak mcnyangka bahwa Pangcu Kay-pang akan bertindak serendah ini.....!"

Memaki Cing Pang An dengan sikap mengandung kemendongkolan yang meluap. Yeh-lu Chi telah bertanya dengan sengit.

"Rendah? Rendah bagaimana? Kau telah ku layani sebaik mungkin, dan engkau rubuh dengan hanya aku bertangan kosoag belaka! Sekarang kau mengatakan aku telah memperlakukan dirimu dengan rendah! Nah, coba kau katakan yang sebenarnya, di mana kerendahan itu dan juga di mana sifat-sifat rendah yang kumiliki?" Pengemis tua itu telah mendengus memperdengarkan suara tertawa dingin, katanya dengan sikap mengejek.

"Hemmm, sebagai seorang Pangcu dari Kay-pang yang merupakan perkumpulan besar, ternyata engkau tidak bisa mengetahui siapa adanya diriku, walaupun aku adalah salah seorang anggota Kaypang. Bukankah hal ini membuktikan Kay-pang merupakan sebuah perkumpulan yang tidak teratur baik? "

Dan juga, engkau sebagai seorang Pangcu dari Kay-pang, akan tetapi di tempat sendiri, dengan mengandalkan pengaruh jumlah yang banyak, disamping itu juga memang tampaknya engkau dengan sesungguhnya mempergunakan ilmu sesat buat merubuhkan diriku.....

Apakah semua itu bukan tindakan rendah?

Atau memang engkau masih mau menyangkalnya?"

Muka Yeh-lu Chi berobah merah padam, katanya.

"Baik! Baik! Sekarang katakanlah, apa yang kau inginkan? Dengan cara bagaimana aku harus menghadapi dirimu, sehingga engkau merasa puas?"

Mendengar pertanyaan Yeh-lu Chi seperti itu, segera juga Cing Pang An tertawa mengejek lagi, katanya.

"Jika memang engkau ingin melayaniku dengan cara yang wajar dan juga tidak mempergunakan ilmu sesat, mari kita bertempur lagi. Walaupun aku harus membuang jiwa disini, aku puas, karena aku hendak melakukan perbuatan dan tindakan mulia, guna mencegah banjir darah yang bisa saja terjadi di dalam lingkungan Kay-pang disebabkan kekuasaan yang mabuk hormat, di mana hendak mengunjuk gigi menentang pemerintahan yang ada! "

Dengan demikian, walaupun aku terbinasa, aku tidak menyesal, karena aku membuang jiwaka tidak percuma.

Karena ingin menyelamatkan saudara-saudara Kay-pang lainnya agar tidak terseret oleh ambisi dari ketuanya yang mabuk hormat itu......!"

Setelah berkata begitu, Cing Pang An memperdengarkan beberapa kali suara tertawa dingin, malah dia telah mengempos dan mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya, bersiapsiap untuk menerima serangan Yeh-lu Chi.

Waktu itu Yeh-lu Chi pun merasa gusar sekali, karena dengan berkata begitu ternyata Cing Pang An bermaksud menghasut anggota-anggota Kay-pang.

Sebagai seorang pangcu dari perkumpulan pengemis yang memiliki kecerdikan dan juga kebijaksanaan yang sangat besar, Yeh-lu Chi tidak menjadi kalap dari kegusarannya.

Segera juga ia berkata.

"Baik! Baik! Mari kita bertempur lagi, sampai kau rubuh dengan hati yang puas.....!"

Sambil berkata begitu, Yeh-lu Chi telah memasang kuda-kuda ke dua kakinya, dengan sepasang tangan dilintangkan di depan dadanya, katanya.

"Nah, kau majulah, marilah kita main-main lagi sampai seratus jurus......!"

Cing Pang An tidak berlaku sungkan-sungkan karena cepat sekali dia melompat menerjang, di mana sepasang tangannya telah menyerang dengan seluruh tenaga lweekangnya.

Akan tetapi Yeh-lu Chi telah memperdengarkan suara tertawa mengejek, karena tadi mereka telah bergebrak dan Yeh-lu Chi telah mengetahui bahwa kepandaian Cing Pang An memang masih berada di bawah kepandaiannya.

Karena dari itu, sekarang walaupun serangan yang dilancarkan Cing Pang An sangat hebat, tokh dia tidak menjadi gentar.

Dengan sikap yang tenang sekali, tampak Yeh-lu Chi telah menggerakkan ke dua tangannya yang diangkat sebatas dada, dengan sikap ke dua tangan yang sejajar dan telapak tangan menghadap ke arah lawan, kemudian dia mendorong ke depan.

Cara mendorongnya itu tidak cepat dan tampaknya tidak kuat, dia menggerakkan ke dua tangannya itu perlahan-lahan.

Akan tetapi justru tampak betapa dari telapak tangan Yeh-lu Chi telah mengalir keluar kekuatan yang luar biasa hebatnya, tenaga tangkisan ini membuat tenaga serangan dari Cing Pang An mendjadi punah.

Dalam keadaan seperti itu Cing Pang An yang amat takjub dan heran bercampur kaget, tidak bisa membendung diri lagi.

Karena cepat sekali dia telah terkena terjangan tenaga dalam dari Yeh-lu Chi yang telah menerjang padanya.

Tidak ampun lagi tubuh Cing Pang An telah terjungkal dan bergulingan beberapa kali.

Malah belum lagi dia sempat buat mengatur pernapasan dan juga berdiri pula, dia telah memuntahkan darah segar beberapa kali.

Tampak mukanya pucat pias dan tubuhnya menggigil menahan rasa sakit di dadanya, di mana tangan kanan dari Cing Pang An telah memegangi dadanya tersebut.

Dalam keadaan seperti ini, Yeh-lu Chi tidak tinggal diam, karena dia menyadari bahwa lawannya ini seorang yang licik.

Waktu melihat lawannya telah dapat dirubuhkan, segera dia melompat sambil menggerakkan tangan kanannya, karena dia bermaksud ingin menotok jalan darah yang bisa membuat Cing Pang An jadi tidak berdaya.

Akan tetapi waktu jari tangan dari Yeh-lu Chi meluncur akan mengenai sasarannya, dan waktu itu Cing Pang An memang sudah tidak berdaya buat mengelakkan dirinya, tiba-tiba dari kelompok pengemis telah melompat tiga sosok bayangan dengan gerakan yang sangat gesit sekali.

Malah salah seorang yang melompat dari sebelah kanan, telah menggerakkan tangan kanannya menghantam dengan pukulan jarak jauh.

Rupanya pukulan itu dilancarkan disebabkan dia sudah tidak keburu buat mencegah serangan pangcu pengemis tersebut, karena jarak mereka masih terpisah beberapa tombak.

Disebabkan itulah, dia menyerang dengan ilmu pukulan jarak jauh, bermaksud mencegah Yeh-lu Chi meneruskan serangannya itu.

Memang apa yang dilakukan orang tersebut berhasil.

Karena Yehlu Chi seketika merasakan berkesiuran angin serangan yang kuat di punggungnya.

Cepat-cepat Yeh-lu Chi membatalkan totokannya dan memutar tangannya, tanpa memutar tubuhnya dia telah menangkisnya.

sehingga terdengar suara benturan yang kuat, walaupun orang yang menyerang itu dari jarak jauh!

Begitu terdengar bentrokan tersebut, seketika Yeh-lu Chi menerima serangan dari dua orang lainnya, dari depan dan samping kirinya.

Ke dua sosok tubuh inipun menyerang dengan hebatnya.

Sehingga Yeh-lu Chi jadi tidak memiliki kesempatan buat menotok Cing Pang An lagi.

Dengan mendongkol tampak Yeh-lu Chi melayani ke tiga orang lawannya yang baru tersebut, di mana setiap kali datang serangan dari lawannya yang mengeroyoknya, tampak Yeh-lu Chi telah menghadapinya dengan kekuatan yang dahsyat.

Sambil bertempur Yeh-lu Chi telah mementang matanya lebarlebar mengawasi dan memperhatikan keadaan ke tiga orang lawannya tersebut.

Yang membuat Yeh-lu Chi tambah mendongkol dan tidak mengerti, dia melihatnya bahwa ke tiga orang itu berpakaian sebagai pengemis, sama halnya seperti Cing Pang An.

Seketika Yeh-lu Chi menyadari, bahwa di dalam pertemuan dan rapat besar Kay-pang ini telah kemasukan banyak sekali musuh yang menyamar sebagai pengemis.

Cuma saja yang membuat Yeh-lu Chi tidak mengerti, bagaimana mereka bisa memperoleh kode dan tanda-tanda isyarat buat masuk dalam pertemuan rapat besar Kay-pang.

Sedangkan setiap anggota Kay-pang diharuskan menyebutkan beberapa tanda isyarat setiap kali mereka ingin memasuki wilayah lingkungan tempat rapat itu berlangsung.

Dan juga mereka semuanya diperiksa dengan ketat oleh beberapa orang pengemis tua kepercayaan dari Yeh-lu Chi.

Dan sekarang telah terlihat bahwa yang berhasil menyelusup ke dalam rapat besar Kay-pang ini berjumlah tidak sedikit.

Waktu Cing Pang An terancam bahaya, justru telah muncul ke tiga orang kawannya, yang menyamar sebagai pengemis pula.

Tentu disamping mereka berempat, telah banyak lagi musuh-musuh yang berhasil menyelusup ke dalam rapat besar ini dengan menyamar sebagai pengemis.

Sambil bertempur menghadapi ke tiga orang lawannya yang baru, Yeh-lu Chi telah berpikir keras.

Sedangkan tokoh-tokoh tingkatan tua dari Kay-pang, jadi sangat marah.

Mereka melihat bahwa banyak musuh yang telah berhasil menyelusup ke dalam rapat besar ini dengan menyamar sebagai pengemis.

Dengan begitu, sulit buat mencari jejak mereka dan juga untuk mengetahui yang mana-mana saja di antara ratusan ribu pengemis itu, ternyata adalah pihak lawan.

Sedangkan Yo Ko dan para orang-orang gagah yang berkumpul di tempat tersebut, telah menghela napas beberapa kali dengan wajah yang muram.

Mereka telah melihat perkembangan.

Tampaknya bahwa pihak kerajaan penjajah telah sengaja mengirim orang-orangnya buat menyelusup masuk ke dalam rapat besar Kay-pang dan menimbukan kekacauan.

Dilihat dari perkembangan yang terjadi, tampaknya pihak kerajaan penjajah itu mengerahkan orang-orangnya tidak sedikit, karena ada tanda-tanda bahwa pihak kerajaan memang akan menumpas Kay-pang, jika saja perkumpulan pengemis tersebut menentang kebijaksanaan raja Boan-ciu tersebut.

Yo Ko telah memberitahukan kepada semua orang-orang gagah yang berada di tempat tersebut, agar mereka bersiap-siap, karena tampaknya memang Kay-pang menghadapi kesulitan yang tidak ringan.

Waktu itu Cing Pang An telah tertawa dingin, walaupun dia terluka di dalam tubuh yang cukup parah, akan tetapi dia berusaha memperlihatkan sikap yang gagah.

Walaupun mulutnya masih berlumuran darah malah yang membuatnya jadi mengerikan sekali.

"Hemm, kau lihatlah Yeh-lu Chi, betapa kami sebagai anggotaanggota Kay-pang, telah banyak yang menentang kebodohanmu, yang ingin menjerumuskan kami ke jurang bahaya yang membawa malapetaka tidak kecil buat Kay-pang! Kami tidak mau memusuhi pihak Boan-ciu, karena dari pemerintah yang seperti Kaisar yang sekarang ini tentu rakyat Tiong-goan dapat hidup lebih baik lagi!"

Sambil berkata begitu, berulang kali memperdengarkan suara tertawa mengejek.

Cing Pang An Bukan main gusarnya hati semua orang-orang gagah yang berkumpul di tempat tersebut.

Malah Yo Him sendiri sesungguhnya hampir saja tidak dapat menahan diri, dan dia bermaksud untuk melompat ke tengah gelanggang guna menghajar Cing Pang An.

Akan tetapi Swat Tocu telah menahannya mencegahnya agar dapat menahan diri dulu.

Di saat itu Yeh-lu Chi sendiri telah diliputi kemendongkolan, kemarahan dan juga rasa mendelu yang hebat.

Dia berulang kali membentak dan berusaha mendesak ke tiga orang lawannya.

Dalam keadaan seperti ini, Yeh-lu Chi telah mengempos dan mengerahkan seluruh kepandaiannya.

Akan tetapi ke tiga orang lawannya ternyata bukan lawan yang empuk.

Mereka bertiga memiliki kepandaian yang cukup tinggi, setiap tenaga serangan mereka hebat dan dahsyat, dan daya pertahanan diri mereka kuat bagaikan perbentengan yang sulit ditembus oleh setiap serangan Yeh-lu Chi.

Karena dari itu, walaupun telah berlangsung lebih dari duapuluh jurus, akan tetapi Yeh-lu Chi, sebagai Pangcu dari Kay-pang, masih belum berhasil merubuhkan ke tiga orang lawannya itu.

Semua anggota Kay-pang yang menyaksikan peristiwa seperti ini heran dan bingung.

Heran karena mereka menduga di dalam tubuh perkumpulan mereka telah menyelusup banyak sekali musuh yang menyamar sebagai pengemis.

Bingung, karena mereka belum lagi mengetahui apa yang harus mereka lakukan dalam menghadapi urusan seperti ini.

Waktu itu, beberapa orang tokoh Kay-pang sudah tidak bisa menahan diri.

Malah di antara mereka tampak dua orang telah melompat ke tengah gelanggang.

Mereka adalah Kan Tianglo, di mana dia segera menyerang hebat kepada salah seorang lawan Pangcunya.

Dan seorang lawannya adalah Sun Tianglo, dari cabang daerah Kay-pang.

Ke dua pengemis yang menduduki jabatan sebagai Tianglo ini memiliki kepandaian tidak rendah, di dalam kalangan Kang-ouw jarang ada orang yang bisa menandingi kepandaian mereka.

Dengan datangnya bala bantuan seperti ini, Pangcu Kay-pang itu hanya menghadapi seorang lawan, dia bisa mendesak hebat lawannya yang seorang ini.

Sedangkan ke tiga orang pengemis yang diduga adalah musuh yang tengah menyamar, telah menghadapinya dengan mempergunakan kepandaian yang hebat juga.

Waktu itu telah terjadi pertempuran yang seru pada ke tiga pasang lawan tersebut.

Angin serangan mereka berkesiuran menderu-deru.

Disamping itu juga terlihat, bahwa Pangcu Kay-pang, dihadapan para anggota Kay-pang dan orang-orang gagah, tidak mau memperlihatkan kelemahannya.

Beberapa kali dia berusaha mempersingkat waktu untuk merubuhkan lawannya.

Usaha dari Yeh-lu Chi memang hampir berhasil, akan tetapi celakanya lawannya licin seperti belut, karena dari itu, setiap kali serangan dari Yeh-lu Chi hampir mengenai sasaran, lawannya masih sanggup mengelakkan diri.

Begitulah pertempuran pada ke tiga pasang manusia tersebut telah berlangsung sampai limapuluh jurus lebih, dan waktu itu hanya tampak bahwa mereka terlibat dalam pertempuran yang panjang sekali.

Sedang pertempuran itu berlangsung, tiba-tiba di dalam keadaan yang hening dan hanya terdengar suara menderu angin serangan orang-orang yang tengah bertempur tersebut, meledak suara tertawa berkakakan yang sangat keras dan nyaring menggetarkan sekitar tempat tersebut.

Semua orang yang berkumpul di dalam rapat besar Kay-pang jadi berdetak hati mereka, karena terkejut dan heran.

Didengar dari suara tertawa yang begitu hebat, tentunya orang yang mengeluarkan suara tertawa tersebut memiliki lweekang yang sangat tinggi sekali.

Sedangkan pengemis-pengemis dari tingkatan muda telah memandang sekeliling mereka, tampaknya mereka memang ingin mengetahui tokoh sakti mana yang telah hadir di dalam rapat besar kaum mereka.

Berbareng dengan habisnya suara tertawa yang keras dan nyaring itu, tampak sesosok tubuh yang tinggi besar melesat keluar.

Itulah seorang pengemis yang tinggi besar dan agak gemuk.

Dia telah tertawa lagi sangat keras.

Dilihat dari gerakan tubuhnya yang begitu lincah luar biasa, ginkangnya sangat tinggi sekali.

Semua orang jadi menduga-duga entah siapa orang yang bertubuh tinggi besar ini, yang menyamar sebagai pengemis itu?

Yo Ko sendiri seperti mengenali suara tertawa orang tersebut, akan tetapi dia belum dapat memastikan entah siapa orang tersebut, karena Yo Ko sendiri merasa lupa-lupa ingat disebabkan dandanan dari orang bertubuh tinggi besar itu sebagai pengemis.

Orang yang bertubuh tinggi besar itu telah berkata dengan suara yang tawar.

"Hemmmm, Yeh-lu Chi, memang bagus tindakan dan ambisimu yang ingin menghasut Kay-pang buat menentang pemerintah kerajaan yang ada..... "

Baiklah!

Jika memang engkau masih berusaha buat menentang pemerintah dan mengajak serta menghasut pihak Kay-pang untuk memusuhi kerajaan, hemm, hemm, aku sebagai salah seorang angota Kay-pang, yang pertama-tama menentang niatmu yang buruk, yang akan menyeret Kay-pang ke tepi jurang kehancuran.....!"

Waktu itu lawan Yeh-lu Chi telah melompat mundur, sehingga Yehlu Chi bisa berhadapan dengan orang bertubuh tinggi besar itu yang diawasinya dengan sorot mata yang tajam sekali.

"Siapa kau? Tentunya kau bukan anggota Kay-pang. Lihatlah, cara berpakaianmu saja tidak benar. Tidak ada seorang anggota Kaypang yang berpakaian seperti itu, dengan mempergunakan ikat pinggang berwarna putih!"

Mendengar teguran Yeh-lu Chi, pengemis bertubuh tinggi besar tersebut tertawa bergelak-gelak lagi.

Pengemis-pengemis dari tingkatan bawah merasakan tanah yang mereka injak bergetar sangat keras sekali, seperti juga terjadi gempa bumi.

Dalam keadaan seperti ini, segera juga Yeh-lu Chi menyalurkan tenaga lweekangnya, dia berseru nyaring, buat menindih suara tertawa pengemis bertubuh tinggi besar tersebut.

Sedangkan Yo Ko segera teringat pada seseorang, dia menepuk lututnya.

"Akhhh, mungkinkah dia?!"

Menggumam Yo Ko. "Siapa?!"

Tanya Yo Him yang mendengar gumam ayahnya tersebut.

"Siapa lagi jika bukan Tiat To Hoat-ong!"

Menyahuti Yo Ko.

Yo Him memperhatikan pengemis bertubuh tinggi besar tersebut.

Memang jika diperhatikan baik-baik dan seksama, maka akan terlihat tanda-tanda bahwa pengemis bertubuh tinggi besar tersebut mirip dengan keadaan Tiat To Hoat-ong.

Hanya saja disebabkan dia menyamar sebagai pengemis, karena dari itu, tidak bisa orang segera mengenalinya.

Sedangkan Yo Ko sendiri mengenalinya dari suara tertawanya itu, dan juga telah dapat memperbandingkan keadaan bentuk tubuh orang itu yang sama dengan bentuk tubuh Tiat To Hoat-ong, yang membuat dia bisa menduganya bahwa pengemis bertubuh tinggi besar tersebut tidak lain dari Tiat To Hoat-ong.

Yo Him setelah mengangguk.

memperhatikan beberapa saat, akhirnya "

Ya, memang jika dilihat dari keadaan bentuk tubuhnya dan gaya bicaranya, pengemis ini tidak lain dari Tiat To Hoat-ong!

Hm, ternyata dia sendiri yang memimpin anak buahnya buat manyamar sebagai pengemis-pengemis dan menyelusup ke dalam rapat besar Kay-pang.....!"

Setelah berkata begitu, Yo Him menoleh kepada ayahnya, katanya.

"Thia-thia, apakah aku boleh turun ke gelanggang menghadapinya?!" Yo Ko menggeleng perlahan.

"Biarkan saja Yeh-lu Pangcu yang mengurus persoalan rumah tangga Kay-pang ini! Jika memang kelak Kay-pang menghadapi ancaman yang hebat, barulah terpaksa kita mencampurinya! Selama Yeh-lu Pangcu masih sanggup buat menghadapi keadaan dan situasi seperti sekarang, kita orang luar tidak bisa mencampurinya dulu.....!"

Waktu Yo Ko berkata sampai di situ, pengemis bertubuh tinggi besar yang diduga adalah Tiat To Hoat-ong yang tengah menyamar dan telah mencoreng-corengkan wajahnya dengan segala cairan warna hitam dan merah, membuat sulit dikenali, telah berkata dengan sikap yang angkuh dan congkak.

Suaranya nyaring menggetarkan keras sekali, seperti juga menggetarkan tempat tersebut, di mana waktu berkata-kata seperti itu, Tiat To Hoat-ong mempergunakan tenaga lweekangnya yang sempurna.

Karena suaranya itu bagaikan apa yang disebut sebagai raungan harimau dan pekik dari rajawali, di mana suaranya menggetarkan dan menggoncangkan perasaan dari para pengemis yang pada golongan empat karung ke bawah.

"Hemmm, Yeh-lu Chi, sekarang aku ingin tegaskan! Sebagai salah seorang anggota Kay-pang, aku berhak untuk mengetahui, sampai di mana kemampuan Pangcu kami ini memimpin kami! Karenanya, sekarang ingin kutanyakan, jika memang engkau bermaksud mengajak kami buat menentang pemerintahan Boan-ciu, apakah engkau telah mcmiliki pegangan buat menghadapi kekuatan angkatan perang kerajaan?!" Yeh-lu Chi tidak segera menyahuti, dia mengawasi pengemis tinggi besar tersebut dengan sorot mata yang sangat tajam kemudian katanya.

"Hemmm, dengan bertanya seperti itu engkau seakanakan memang anggota Kay-pang! Akan tetapi kami telah mengetahui bahwa kau adalah orang-orang Boan-ciu yang menyelusup ke mari karena dari itu, jangan sekali-kali engkau berpikir dapat mengadu domba dan memecah belah kami satu dengan yang lainnya!"

Orang yang bertubuh tinggi besar, yang diduga adalah Tiat To Hoat-ong yang tengah menyamar itu, memperdengarkan suara tertawanya yacg sangat nyaring, katanya.

"Baiklah! Engkau tidak bersedia menjawab pertanyaanku, karena dari itu tidak ada harganya aku menghormati dirimu sebagai Pangcu kami lagi!"

Baru saja orang bertubuh tinggi tersebut berkata sampai di situ, Yeh-lu Chi dengan sengit telah berkata.

"Hemm, engkau tidak perlu menghasut seperti itu, karena walaupun bagaimana kami dari pihak Kay-pang tidak bisa berhianat terhadap tanah air sendiri dan berteman dengan musuh untuk menginjak-injak negara sendiri! Walaupun kami harus membuang jiwa, kami puas, karena kami akan berusaha untuk tetap bersetia kepada negeri kami, kami mati dengan terhormat......!"

Pengemis bertubuh tinggi besar itu tertawa bergelak.

Dia melirik kepada Kan Tianglo dan Sun Tianglo, di mana ke dua Tianglo inipun sudah tidak bertempur terus, ke dua lawannya telah melompat mundur.

Setelah mengawasi sekian lama, barulah pengemis bertubuh tinggi besar tersebut berkata dengan suara nyaring.

"Walaupun Kaypang merupakan perkumpulan yang cukup besar dan kuat dengan anggotanya yang cukup banyak, akan tetapi tetap saja tidak bisa dipersamakan dengan kekuatan kerajaan, di mana pihak kerajaan memiliki laksaan kekuatan tentara perangnya. Dengan demikian, jika Kay-pang bentrok dengan pihak kerajaan, niscaya Kay-pang akan hancur dan dibasmi musnah oleh pihak kerajaan!"

Waktu berkata begitu, tampak pengemis bertubuh tinggi besar tersebut bicara dengan bersemangat sekali, karena dia tampaknya memang bermaksud membakar semangat dari pengemispengemis lainnya.

Banyak di antara pengemis-pengemis golongan empat karung ke bawah telah kasak kusuk.

"Dan cobalah kalian pikirkan!"

Teriak pengemis bertubuh tinggi besar yang diduganya adalah Tiat To Hoat-ong yang tengah menyamar itu.

"Jika saja pihak kerajaan membasmi Kay-pang, dan kita musnah, bukankah hal ini harus dibuat sayang, di mana Kaypang telah didirikan dengan bersusah payah dan akhirnya harus musnah di tangan pangcu kita yang sekarang, yang tidak bisa melihat keadaan dan telah menyeret kita ke tepi jurang kehancuran. Sambil bertanya begitu, dan berkata dengan suara yang sangat nyaring, tampak pengemis bertubuh tinggi besar yang diduga adalah Tiat To Hoat-ong tersebut telah menyapu sekelilingnya dengan sorot mata yang sangat tajam. Rupanya banyak juga pengemis-pengemis yang tergerak hatinya. Yeh-lu Chi menyadari, jika memang pengemis bertubuh tinggi besar tersebut berbicara terus, niscaya akan menyebabkan banyak pengemis yang terpengaruh oleh kata-katanya ini. Dan itu berarti memecah belahkan kekuatan Kay-pang, yang akan menderita kerugian tidak kecil buat Kay-pang sendiri. Karena dari itu, walaupun bagaimana tampak Yeh-lu Chi berusaha untuk mencegah pengemis bertubuh tinggi besar tersebut berbicara lebih jauh. Waktu dilihatnya pengemis bertubuh tinggi besar itu ingin meneruskan perkataannya lagi tanpa membuang waktu Yeh-lu Chi telah menjejakkan kakinya, tubuhnya dengan ringan telah melompat. Gerakan yang dilakukannya sangat luar biasa sekali, sehingga tubuhnya melesat sebat dengan sepasang tangan yang bergerak menghantam dengan dahsyat. Akan tetapi pengemis bertubuh tinggi besar tersebut juga rupanya sudah mengetahui bahwa Yeh-lu Chi suatu waktu akan menyerangnya seperti itu. Dia memang sudah bersiap dan berwaspada, karenanya, begitu serangan Yeh-lu Chi menyambar datang, cepat sekali pengemis bertubuh tinggi besar tersebut membentak dengan suara mengguntur. Tanpa menantikan serangan Yeh-lu Chi tiba, dia telah menghantam lebih dulu dengan kekuatan yang sangat hebat sekali. Tenaga serangan yang dipergunakan benar-benar sangat dahsyat sekali. Dan setiap serangan yang dilakukan pengemis bertubuh tinggi besar tersebut berlainan sekali dengan cara menyerang ke empat pengemis terlebih dulu, Cing Pang An, karena serangan pengemis bertubuh tinggi besar mendatangkan hawa yang panas sekali. Yeh-lu Chi sendiri terkejut menerima serangan yang mengandung hawa begitu panas, cepat-cepat ia berusaha untuk menghindarkan diri dan membatalkan serangannya sendiri. Akan tetapi tampaknya pengemis bertubuh tinggi besar tersebut tidak mau sudah sampai di situ saja. Cepat sekali dia telah menyerang dengan cepat dan beruntun dengan tenaga dalam yang kian panas dan hebat menerjang kepada Yeh-lu Chi. Akan tetapi Yeh-lu Chi sendiri memang bukan orang yang terlalu lemah. Dia murid tunggal Ciu Pek Thong, disamping itu juga diapun sebagai Pangcu dari Kay-pang, karena dari itu, kepandaiannyapun tidak bisa diremehkan. Hanya saja tenaga serangan dari lawannya yang seorang ini membuat Yeh-lu Chi jadi heran dan takjub disamping perasaan kaget. Sebab disamping kuatnya tenaga dalam itu, yang mungkin bisa menindih kekuatan tenaga dalamnya sendiri, serangan dari pengemis bertubuh tinggi besar tersebut mengandung hawa yang panas bukan main, sehingga membuat dia seperti terbakar. Cepat luar biasa Yeh-lu Chi berteriak sambil menyingkir. Melihat cara menyerang pengemis bertubuh tinggi besar itu, sepasang alis Yo Ko jadi bergerak, karena segera dia mengenali, bahwa cara menyerang dari pengemis bertubuh tinggi besar tersebut adalah ilmu Soboc, semacam ilmu yang hebat sekali dan hanya dimiliki oleh Tiat To Hoat-ong! Maka dari itu, Yo Ko berpikir.

"Yeh-lu Chi tidak mungkin sanggup menghadapi Tiat To Hoat-ong. Tampaknya pergolakan di tempat tersebut akan meledak hebat sekali, karena Tiat To Hoat-ong yang telah memimpin rombongannya. Tentu saja kawan-kawan Koksu dari Mongolia tersebut pun bukan orang sembarangan, karena dari itu, aku harus cepat-cepat turun tangan, buat menyelesaikan urusan ini, tidak menanti sampai jatuh korban yang terlalu banyak.....!"

Karena bepikir begitu, tanpa berkata suatu apapun juga tampak Yo Ko tahu-tahu telah melompat dari tempat duduknya.

Tubuhnya bergerak ringan, dan dengan mempergunakan tangan tunggalnya yang sebelah kiri, Yo Ko mengibas.

Kibasan yang dilakukan oleh Yo Ko ternyata memiliki arti yang sangat penting sekali buat Yehlu Chi.

Waktu itu Yeh-lu Chi tengah diserang oleh Tiat To Hoat-ong, dan dia juga tengah berusaha menghindarkan diri dari terjangan yang mengandung maut tersebut.

Akan tetapi justru memang terlihat, tenaga Soboc yang dilancarkan oleh Tiat To Hoat-ong merupakan serangan yang sulit dihadapinya.

Dan bertepatan di waktu Yeh-lu Chi merasa dirinya terdesak seperti itu, Yo Ko telah mendatangi, dan kibasan tangannya itu justru bertepatan untuk menangkis dan memunahkan tenaga sarangan Tiat To Hoat-ong.

Ilmu Soboc, yaitu tenaga serangan yang sangat panas sekali.

Walaupun Yo Ko hanya mengibas, akan tetapi lweekang yang dimiliki Yo Ko sangat sempurna sekali.

Di jaman itu, boleh dibilang sudah tidak ada orang yang sanggup menandingi kesempurnaan tenaga dalam Yo Ko, bahkan itupun juga terlihat jelas, betapa akibat kibasan lengan baju yang sebelah kiri, telah membuat pukulan ilmu Soboc tersebut jadi punah, sehingga Yeh-lu Chi tidak terancam lebih jauh.

Dalam keadaan seperti ini terlihat jelas, betapa pengemis bertubuh tinggi besar tersebut diliputi kemurkaan yang sangat.

Sejak tadi dia memang telah melihat Yo Ko berada di dalam rombongan para orang gagah lainnya, akan tetapi rupanya pengemis bertubuh tinggi besar itu, yang sebenarnya tak lain dari Tiat To Hoat-ong yang tengah menyamar, tidak merasa gentar.

Karena memang dia telah membawa anak buahnya yang tidak sedikit jumlahnya.

Di samping itu, semua anak buahnya juga memiliki ilmu dan kepandaian yang tinggi sekali.

Dalam keadaan demikian, di mana serangan ilmu Sobocnya telah dipunahkan oleh Yo Ko hanya dengan mempergunakan kibasan tangan kirinya, membuat Tiat To Hoat-ong jadi murka dan penasaran.

"Hem orang she Yo!"

Katanya dengan suara yang bengis.

"Rupanya engkau ingin menjadi pemberontak yang tidak kenal selatan! Baik! Hari ini aku bersama-sama dengan kawan-kawan yang tahu melihat kebaikan dari pemerintahan yang ada sekarang, ingin membuka mata kalian! Orang she Yo ini akan kami binasakan.....!" Tiat To Hoat-ong bukan hanya sekedar berkata begitu saja, disertai dengan bentakan yang sangat bengis, ke dua tangannya telah bergerak bergantian. Dari ke dua telapak tangannya itu bergantian mengalir keluar hawa pukulan yang mengandung sifat yang sangat panas sekali bagaikan api. Yo Ko tidak jeri menghadapi ilmu Soboc Tiat To Hoat-ong tersebut. Sambil tertawa dingin, Yo Ko telah berkata mengejek.

"Hemmm, sungguh harus dibuat kasihan, seorang Koksu yang memiliki kemuliaan begitu tinggi dan selalu berdiam di dalam istana yang mewah, ternyata demikian rela dan ikhlas buat menjadi seorang pengemis yang mesum dan kotor? Sungguh membuat kagum semua orang rimba persilatan...... Sungguh mengagumkan sekali!"

Dan setelah berkata begitu, Yo Ko sengaja memperdengarkan suara tertawa mengejek beberapa kali.

Dengan tidak mengucapkan makian atau bantahan, cepat sekali dua tangannya bergerak lebih hebat.

Yo Ko pun tidak tinggal diam.

Dengan tangan tunggalnya dia menghadapi setiap serangan yang dilakukan Tiat To Hoat-ong.

Dengan hanya gunakan tangan tunggal ternyata Yo Ko bisa menghadapi setiap serangan Tiat To Hoat-ong yang dipunahkan dengan mudah.

Malah setiap kali terdapat kesempatan tentu dia akan balas menyerang.

Jika serangan dari Tiat To Hoat-ong yang mempergunakan tenaga Soboc nya bersifat panas, justru Yo Ko memiliki kekuatan yang bisa dikeluarkan sekehendak hatinya, sebentar dingin, sebentar panas, sebentar keras, dan sebentar lagi lembut.

Dengan demikian membuat Tiat To Hoat-ong sementara waktu tidak bisa berdaya menghadapi Yo Ko.

Walaupun Tiat To Hoat-ong belakangan ini berhasil menembus tingkat pelajaran ilmu Sobocnya sampai pada tingkat kesembilan, akan tetapi justru lweekangnya masih kalah setingkat dibandingkan dengan Yo Ko.

Waktu itu Yo Ko dalam enam-tujuh jurus juga telah memperhatikan cara menyerang lawannya.

Setiap kali Tiat To Hoat-ong menggerakkan tangannya, di mana telah terpantul kekuatan tenaga dalam yang sangat hebat sekali dan sangat panas.

Tampak Yo Ko berkelit menjauhi diri.

Setiap serangan yang dilakukannya juga mengandung bermacammacam kekuatan dan membuat ilmu mujijat dari Tiat To Hoat-ong yang begitu hebat, yaitu Soboc, tidak bisa mendesak Yo Ko.

Sedangkan Yo Ko sendiri, bisa menghadapi setiap serangan yang dilancarkan dari Tiat To Hoat-ong dengan mudah, sehingga tidak terlihat tanda-tanda bahwa dia terdesak.

Akan tetapi tetap saja di dalam hatinya Yo Ko sendiri terkejut melihat kemajuan yang telah dicapai oleh Tiat To Hoat-ong.

Jika memang dua atau tiga tahun yang lalu Yo Ko harus menghadapi ilmu Soboc Tiat To Hoat-ong dalam tingkatan setinggi ini, tentu tidak mudah buat Yo Ko merubuhkannya.

Akan tetapi karena Yo Ko selain memiliki otak yang sangat cerdik dan ilmu yang telah sempurna, diapun dapat berpikir dengan baik sekali, di mana dia tidak menuruti bisikan hatinya buat menyerang terlalu hebat kepada Tiat To Hoat-ong.

Dia hanya menerima setiap setiap serangan lawannya, buat mengawasi dengan pengamatan yang cermat dan mencari kelemahan dari lawannya itu, agar dia dapat turunkan tangan kelak buat melumpuhkan Koksu negara tersebut.

Suatu kali, ketika Tiat To Hoat-ong tengah menghantam sekaligus dengan ke dua telapak tangannya, serta hawa panas yang meluncur dari ke dua telapak tangannya itu hebat luar biasa menerjang kepada tubuh Yo Ko, tampak Yo Ko sama sekali tidak bergerak dari tempatnya sendiri.

Berani sekali Yo Ko telah menantikan serangan itu lebih dekat.

Berbareng dengan tibanya serangan tersebut, tiba-tiba Yo Ko menggerakkan lengan jubahnya yang sebelah kanan, yang kosong itu, buat melibat ke dua tangan Tiat To Hoat-ong.

Apa yang dilakukan oleh Yo Ko dengan sikap yang begitu berani, menyebabkan Tiat To Hoat-ong sendiri kaget tidak terkira.

Pendeta ini ingin menarik pulang ke dua tangannya, namun terlambat.

Sepasang tangannya telah kena dilibat oleh lengan jubah sebelah kanan.

Seketika tangan kiri Yo Ko juga telah menghantam dengan kuat sekali.

Incaran yang dilakukan oleh Yo Ko justru batok kepala dari pendeta itu.

Apa yang dilakukan oleh Yo Ko memang berada di luar dugaan Tiat To Hoat-ong.

Mimpipun tidak bahwa Yo Ko bisa melakukan gerakan seaneh itu, di mana lengan jubah kanannya yang kosong telah berhasil melibat sepasang tangan Tiat To Hoat-ong, dan tangan kiri dari Yo Ko menyambar dengan kuat sekali ke arah batok kepalanya.

Dengan demikian segera juga terlihat betapa topi rombeng yang dikenakan oleh Tiat To Hoat-ong yang tengah menyamar itu telah kena disampok terlepas jatuh ke tanah, sehingga terlihat kepala si pendeta yang gundul pelontos dan licin itu.

Dengan murka Tiat To Hoat-ong mengerahkan tenaga dalamnya.

Dia menarik pulang ke dua tangannya dari libatan lengan jubah sebelah kanan dari Yo Ko.

Dan usaha Tiat To Hoat-ong memang berhasil, dia bisa melepaskan ke dua tangannya dan bisa melompat mundur.

Dengan begitu maksud Tiat To Hoat-ong buat mencegah Yo Ko menyusuli dengan serangan berikutnya.

Akan tetapi Yo Ko sendiri memang tidak berdiam diri saja, cepat luar biasa dia melompat sambil bersiul nyaring.

Tangan kirinya diulurkan, dia bermaksud menotok dengan mempergunakan jari telunjuknya, dengan totokan jari telunjuknya, tangan yang memantul dari jari telunjuknya tersebut sangat hebat dan kuat sekali mengincar jalan darah Ciang-tu-hiat dari Koksu negara tersebut.

Akan tetapi Tiat To Hoat-ong walaupun melompat mundur, dia tetap saja bersiap dan berwaspada.

Melihat Yo Ko mendesaknya seperti itu, dia telah menggerakkan sepasang tangan kanannya sambil mengeluarkan bentakan yang nyaring, menangkis totokantotokan itu dengan kekerasan.

Tenaga dalam yang dipergunakan oleh Tiat To Hoat-ong juga sangat hebat sekali, karena dia telah mempergunakan enam bagian dari kekuatan tenaga dalamnya, sehingga ia berhasil menyingkirkan dan menyelamatkan dirinya dari totokan lawannya tersebut.

Ke dua tokoh rimba persilatan yang masing-masing memang memiliki kepandaian sangat tinggi dan lweekang yang sempurna, telah bertempur dengan waktu yang cukup lama.

Masing-masing telah mengeluarkan seluruh ilmu dan kepandaian yang mereka miliki.

Dalam keadaan seperti itu terlihat betapa Yo Ko masih berusaha mendesak Tiat To Hoat-ong dengan beberapa kali serangan, lalu dia melompat mundur.

"Hemmm, memang telah kuduga bahwa engkau adalah Koksu Boan-ciu yang hina-dina.....!"

Kata Yo Ko mengejek.

"Tidak pernah kusangka bahwa seorang Koksu yang memiliki kedudukan begitu mulia di negerinya bersedia buat menyamar sebagai pengemis yang bau busuk.....

"Hahaha, sungguh sebuah sandiwara yang sangat hebat sekali! Entah apa maksud dari yang mulia dengan penyamaran ini? Dan entah berapa banyak kawan dari yang mulia telah ikut menyamar sebagai pengemis-pengemis bau busuk?!" Sambil mengejek, Yo Ko telah mengawasi tajam. Belum pernah Yo Ko segusar seperti ini. Sekarang justru menyangkut tentang negeri dan tanah airnya, di mana Tiat To Hoat-ong berusaha membujuk para pengemis agar bertekuk lutut dan mengakui orang Boan-ciu sebagai bapak mereka. Karena dari itu, kegusaran yang meledak dihati Yo Ko hebat sekali dan dia telah bertekad hendak membasmi Tiat To Hoat-ong musuh bebuyutan tersebut. Swat Tocu sendiri yang menyaksikan jalannya pertempuran itu, sebenarnya tangannya sudah gatal bukan main, karena dia sendiri sebenarnya bermaksud ingin melompat ke tengah gelanggang buat menyerang Tiat To Hoat-ong. Akan tetapi jika memang dia melakukan hal itu, jelas Yo Ko akan menyesalinya dan pendekar itu akan tersinggung oleh turun tangannya. Karena dari itu, Swat Tocu telah berdiam diri saja beberapa saat. Kemudian setelah melihat sekian lama Yo Ko masih belum juga berhasil merubuhkan Tiat To Hoat-ong, tampak Swat Tocu telak membentak.

"Tiat To Hoat-ong, mari main-main dengan Lohu.....!"

Diapun telah melompat ke tengah lapangan.

Akan tetapi Tiat To Hoat-ong tidak melayani tantangan Swat Tocu.

Dia hanya mende ngus mengejek.

Dengan perhatian yang tercurah keseluruhannya terhadap serangan-serangan Yo Ko, Tiat To Hoat-ong tengah memusatkan seluruh kekuatannya.

Karena dia ingin mengerahkan seluruh kepandaiannya buat dapat balas mendesak Yo Ko.

Akan tetapi dalam keadaan seperti itu, Tiat To Hoat-ong tidak mudah untuk mencapai keinginannya itu, karena memang terlihat jelas, betapa Yo Ko semakin lama menyerang semakin hebat.

Tenaga dalam Yo Ko pun terlatih sempurna sekali, karenanya Tiat To Hoat-ong tidak gampang buat memunahkan seluruh serangan Yo Ko.

Disamping memang bermaksud hendak balas menyerang kepada Yo Ko.

Walaupun tangan kanan Yo Ko buntung, tokh tetap saja lengan bajunya yang kosong itu hebat sekali.

Jika memang dipakai mengibas, maka lengan baju tersebut bagaikan lempengan baja belaka.

Akan tetapi yang lebih berbahaya lagi justru jika memang lengan baju yang kanan itu bermaksud akan melibat tangan Tiat To Hoat-ong.

Ancaman bahaya bertambah besar buat si Koksu, karena walaupun bagaimana memang tampak jelas, sekali saja tangannya kena dilibat oleh lengan baju Yo Ko, niscaya dia akan dibuat tidak berdaya.

Karena Yo Ko telah memusatkan seluruh tenaga dalamnya buat merubuhkan Tiat To Hoat-ong.

Waktu itu Swat Tocu semakin tidak sabar saja, dengan suaranya yang nyaring dia berseru.

"Yo hiante, mundurlah..... biarlah aku yang menghantamnya mampus.....!" Yo Ko tersenyum.

"Biarlah aku yang menghajarnya dulu..... manusia seperti ini tidak pantas dibiarkan hidup terus.....!"

Sahut Yo Ko kemudian.

"Akan tetapi tanganku telah gatal sekali, Yo Hiante, berilah kesempatan kepadaku!"

Yo Ko berdiam sejenak, akau tetapi serangannya telah meluncur hebat. Sampai akhirnya Yo Ko berseru.

"Baiklah!"

Dan dia mendesak Tiat To Hoat-ong dengan ancaman tangan kirinya disusul dengan lengan baju yang sebelah kanan yang kosong itu, memaksa Tiat To Hoat-ong harus melompat mundur tiga langkah.

Mempergunakan kesempatan itu, tampak Yo Ko telah menjejakkan ke dua kakinya, tubuhnya melompat mundur.

Dia pun segera memutar tangan kirinya, maksudnya melindungi kalau-kalau Tiat To Hoat-ong membarenginya menyerang dirinya.

Akan tetapi Tiat To Hoat-ong yang tampaknya telah letih karena dia terlalu mengempos seluruh tenaga dalammya waktu menghadapi Yo Ko, hanya berdiri di tempatnya mengatur jalan pernapasannya.

Swat Tocu tidak membuang waktu lagi, cepat sekali dia telah mencelat dan segera menyerang dengan dahsyat.

Berbeda dengan Tiat To Hoat-ong yang ilmu Soboc nya mengandung sifat dan hawa panas seperti api, maka Swat Tocu memiliki pukulan yang mengandung hawa dingin bagaikan es.

Memang waktu di istana pangeran Ghalik mereka pernah bertemu dan bertempur, diakhiri dengan kekalahan Tiat To Hoat-ong.

Dan sekarang mereka bertemu lagi, akan tetapi kepandaian dan kekuatan tenaga dalam Tiat To Hoat-ong telah mengalami kemajuan pesat.

Bertempur empat atau lima jurus, Swat Tocu diam-diam merasa kagum di dalam hatinya, karena memang dia tidak menyangkanya bahwa Tiat To Hoat-ong bisa mengalami kemajuan sepesat itu.

Di antara berkesiuran angin serangan mereka, Swat Tocu memperhatikan cara menyerang Tiat To Hoat-ong.

Diantara berkesiuran hawa serangan yang panas dari telapak tangan Tiat To Hoat-ong, tiba-tiba Swat Tocu telah menekuk ke dua kakinya dia mengambil sikap berjongkok.

Kemudian sambil mengeluarkan seruan yang sangat nyaring sekali, dia menghantam dengan lweekangnya yang berhawa dingin seperti es, sehingga hawa panas itu seperti ditindih oleh dinginnya hawa pukulan Swat Tocu.

Gempuran yang hebat dari Tiat To Hoat-ong dan tangkisan yang begitu dahsyat dari Swat Tocu telah bertemu di tengah udara, dan benturan yang terjadi itu sangat hebat sekali.

Akan tetapi yang bercelaka justru adalah para pengemis yang berasal dari tingkatan empat karung ke bawah, karena mereka menggigil kedinginan dan kepanasan, sehingga mereka merasakan diri mereka seperti tengah meriang menggigil, akan tetapi bukan kedinginan, justru kepanasan!

Karena dari itu, banyak pengemis-pengemis yang dari tingkatan rendah itu telah berusaha menjauhi diri dari gelanggang pertempuran tersebut.

Mereka menyadari, jika saja mereka terlalu lama dalam keadaan seperti itu, dikuasai oleh hawa dingin dan panas yang tidak menentu, seketika itu juga mereka akan terluka di dalam yang parah.

Dan jika sampai terjadi hal seperti itu, sulit buat mereka mengharapkan bisa terus hidup di dalam dunia ini.

Swat Tocu sudah tidak memperdulikan segala apapun juga, dia mengempos seluruh kekuatannya.

Swat Tocu merupakan tokoh tua yang sakti dan memiliki kepandaian yang luar biasa, dan sekarang menghadapi Tiat To Hoat-ong.

Walaupun mereka bertempur telah sekian banyak jurus, masih belum bisa merubuhkannya, membuat Swat Tocu jadi penasaran sekali, hingga dia jadi tambah mengerahkan tenaga dalamnya agar Tiat To Hoat-ong secepat mungkin dapat dirubuhkannya.

Sedangkan Tiat To Hoat-ong yang pernah menelan pil pahit dari Swat Tocu, yaitu di dalam istananya pangeran Ghalik pernah dilukai hebat, maka sekarang tidak berani ceroboh.

Karena dari itu, setiap serangan dan tangkisannya selalu diperhitungkannya dengan cermat sekali.

Dengan cara bertempur seperti itu Tiat To Hoat-ong bisa mempertahankan dirinya tidak sampai cepat-cepat dirubuhkan Swat Tocu.

Yo Ko yang menyaksikan jalannya pertempuran tersebut jadi mengerutkan sepasang alisnya.

Karena dia telah melihatnya bahwa kepandaian Swat Tocu sebenarnya menang satu tingkat dari Tiat To Hoat-ong.

Hanya saja yang membuat Yo Ko tidak mengerti, mengapa sejauh itu tokoh sakti dari pulau Salju tersebut tetap tidak bisa merubuhkan Tiat To Hoat-ong?

Dan diam-diam Yo Ko jadi lebih memperhatikan cara bertempurnya Tiat To Hoat-ong, sebab biar bagaimana memang dia ingin mencari kelemahan Koksu negara tersebut.

Sedangkan Yeh-lu Chi yang menyaksikan jalannya pertempuran tersebut menyadari jika saja dia sendiri yang harus menghadapi Tiat To Hoat-ong, tentu dalam beberapa jurus saja dia akan dirubuhkan dengan terluka parah atau terbinasa.

Karena itu, Yeh-lu Chi telah memperhatikan dengan seksama pertempuran yang tengah berlangsung itu.

Dalam keadaan seperti itu terlihat Tiat To Hoat-ong tengah mengerahkan seluruh kepandaiannya buat berusaha menindih lawannya.

Setiap serangan yang dilakukannya dengan disertai tenaga lweekang yang kuat sekali, semakin lama semakin panas, terasa, di sekitar gelanggang pertempuran itu sejauh empat tombak lebih, seperti dibakar kobaran api.

Dengan begitu, justru pengemis-pengemis yang berada di dalam lingkaran lima tombak lebih tidak bisa bertahan dari serangan hawa panas tersebut.

Demikian juga halnya dengan pukulan Inti Es dari Swat Tocu yang dingin, sehingga menimbulkan hawa yang sangat dingin sekali, dan telah membuat pengemis-pengemis tersebut merasakan sebentar panas dan sebentar dingin.

Dalam keadaan begitu terlihat Swat Tocu pun tidak tinggal diam, dia telah memusatkan seluruh kepandaiannya, dengan mengeluarkan suara tertawa yang nyaring, dia menyerang dengan dahsyat sekali berulang kali, karena memang Swat Tocu telah menang di atas angin.

Dia menang satu tingkat dari kepandaian Tiat To Hoat-ong, maka dia bisa mengendalikan lawannya yang berangsur-angsur telah berada di bawah angin dan lebih banyak menangkis atau mengelakkan diri dibandingkan dengan membalas menyerang.

Yo Ko yang melihat jalannya pertempuran tersebut yakin, jika saja tidak terjadi perobahan dalam pertempuran tersebut, tentu dalam duaratus jurus mendatang Tiat To Hoat-ong akan dapat dirubuhkan oleh Swat Tocu.

Sedangkan pertempuran tersebut masih berlangsung dengan seru, dan bagi anggota Kay-pang, pertempuran yang mereka saksikan tersebut merupakan suatu pertempuran yang baru pertama kali disaksikan.

Demikian menakjubkan dan juga sangat menegangkan sekali, karena justru ke dua orang yang tengah bertempur itu adalah dua orang tokoh sakti yang masing-masing memiliki kepandaian yang sama-sama tinggi dan sempurna.

Kwee Ceng, Oey Yong, dan para orang-orang gagah lainnya yang menyaksikan jalannya pertempuran tersebut berulangkali menghela napas.

Mereka merasa sayang, betapa Tiat To Hoat-ong yang memiliki kepandaian begitu tinggi, ternyata memiliki perangai yang buruk dan kejam.

Kalau saja kepandaian yang begitu sempurna seperti yang dimiliki Tiat To Hoat-ong dipergunakan buat melakukan kebaikan, niscaya banyak yang bisa dilakukannya.

Dalam keadaan seperti itu, para orang-orang gagah telah bersiapsiap hendak menghadapi segala kemungkinan.

Mereka yakin, dengan beraninya Tiat To Hoat-ong menghadapi Yo Ko atau Swat Tocu, dia tentunya sudah memiliki andalan lagi.

Karena dari itu, jika memang dalam waktu dekat ini terjadi perobahan dan Tiat To Hoat-ong akan perintahkan para pengikutnya, yang entah berapa banyak telah berhasil menyelusup ke dalam rapat besar Kay-pang tersebut buat menyerbu maju, tentu mereka telah bersiap-siap menghadapinya.

Dikala itu Yo Him sendiri sudah tidak bisa menahan diri.

Dia mengenali salah seorang dari ke tiga orang kawan Cing Pang An adalah Lengky Lumi, salah seorang musuh buyutannya.

Dengan segera Yo Him telah menjejakkan kakinya, tubuhnya telah mencelat ringan meninggalkan tempat duduknya, setelah dia membisiki sesuatu kepada Sasana dan gadis itu menganggukangguk beberapa kali.

Waktu sepasang kakinya menginjak tanah, Yo Him telah membentak pengemis yang diduga adalah Lengky Lumi yang tengah menyamar.

"Lengky Lumi, aku tidak menyangka bahwa engkau rela untuk berpakaian mesum dan menjadi pengemis.....!"

Pengemis tersebut menoleh, waktu melihat Yo Him, dia memperdengarkan suara tertawa dingin.

"Bagus! Rupanya kita bisa bertemu disini!"

Serunya.

Dan dia tanpa banyak bicara telah melompat dengan gerakan yang ringan menyerang Yo Him.

Sedangkan Yo Him sendiri yang bermaksud untuk menempur Lengky Lumi tersebut, tidak berlaku sungkan-sungkan, di mana dia menyambuti serangan lawannya dengan keras dilawan keras, sehingga tenaga serangan dari Lengky Lumi telah disambuti dengan kekerasan.

Hebat sekali cara menyerang yang dilakukan oleh Yo Him.

Setelah dia berhasil menangkis serangan Lengky Lumi, karena mendadak sekali, dengan serentak sepasang tangan Yo Him bergerak menghantam hebat luar biasa.

Sasana menyaksikan pertandingan yang terjadi dengan penuh perhatian.

Dia mengetahui siapa adanya Lengky Lumi.

Seorang jago Mongolia yang memiliki kepandaian yang sangat tinggi dan sulit sekali ditandingi oleh sembarangan lawan.

Sebagai puteri dari pangeran Ghalik, Sasana juga telah mengetahui sampai berapa jauh keganasan jiwa dan hati Lengky Lumi, karena dari itu si gadis sangat berkuatir sekali, kalau-kalau Yo Him akan lengah dan kena dirubuhkan dan dilukai oleh lawannya.

Akan tetapi setelah lewat beberapa jurus dan Sasana melihat Yo Him yang berhasil mendesak lawannya, si gadis jadi lebih tenang.

Dia mengawasi jalannya pertempuran tidak sedebar seperti hatinya tadi.

Sedangkan Yo Him tidak hentinya mendesak hebat kepada Lengky Lumi.

Walaupun Lengky Lumi memiliki kepandaian yang tinggi, tokh dia tidak bisa menandingi kepandaian putera dari Sin-tiauwtay-hiap.

Setelah lewat belasan jurus lagi, segera juga terlihat Lengky Lumi jadi kacau permainan silatnya, dia terdesak hebat sekali.

Karena merasa dirinya terdesak, cepat-cepat Lengky Lumi merobah cara bertempurnya dan sekarang dia berlaku lebih nekad serta kalap, di mana setiap kali dia membalas menyerang tanpa memikirkan lagi keselamatan dirinya.

Tubuh Lengky Lumi telah mandi keringat dan dia mengeluh di dalam hatinya.

Memang sejak dulu dia telah mengakuinya bahwa Yo Him memang memiliki tenaga dan kepandaian yang lebih tinggi dari kepandaiannya sendiri.

Karena dari itu, walaupun dia telah mengempos dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya, justru dia masih terdesak dengan hebat.

Pengemis yang seorang lainnya, yaitu Gochin Talu yang menyamar pula, telah melihat bahwa Lengky Lumi terdesak hebat sekali, karena dia telah tidak sanggup buat balas menyerang dan main mundur belaka.

Gochin Talu tidak bisa membuang-buang waktu terlebih lama lagi.

Waktu melihat Lengky Lumi tengah terhuyung akibat menangkis serangan yang dilancarkan Yo Him, cepat-cepat Gochin Talu telah melompat dengan sebat, dia telah menyerang punggung Yo Him.

Pukulan yang dilakukan Gochin Talu telah memaksa Yo Him tidak bisa meneruskan serangannya.

Pemuda itu telah memutar tangannya, dia bermaksud mencengkeram tangan Gochin Talu.

Akan tetapi serangan Gochin Talu hanya gertakan berlaka, dia menarik pulang tangan dan tenaganya cepat sekali.

Baru kemudian tangannya yang satu telah bergerak menghantam lagi, karena Gochin Talu menyadarinya bahwa kepandaian Yo Him sangat tinggi dan tak boleh dibuat main-main.

Dalam keadaan itu, Lengky Lumi juga telah menerjang maju lagi buat menyerang.

Begitulah Yo Him telah dikeroyok oleh ke dua orang lawannya.

Memang kepandaian Yo Him berada di atas dari kepandaian Lengky Lumi maupun Gochin Talu, akan tetapi dikeroyok berdua, kesempatan buat menindih salah seorang lawannya terbatas sekali.

Setiap kali Yo Him tengah mendesak Lengky Lumi, maka Gochin Talu mati-matian berusaha menyerang dengan dahsyat sekali kepadanya, sehingga perhatian Yo Him terpecah lagi dan harus melayani serangan Gochin Talu.

Demikian juga sebaliknya, jika Yo Him berusaha untuk merubuhkan Gochin Talu dengan serangan-serangan yang mematikan, maka Lengky Lumi akan menyerangnya dengan dahsyat serta Gochin Talu jadi bisa memiliki kesempatan mengatur pernapasannya, karena memang waktu itu tampak Yo Him harus menghadapi serangan Lengky Lumi.

Akan tetapi Yo Him sendiri menyadari, bahwa dia tidak bisa selamanya bertindak seperti itu dalam pertempuran tersebut.

Jika memang dia menghadapi dengan mengulur waktu seperti itu, tentu akhirnya Yo Him akan berkurang tenaga dan napasnya akan jadi pendek, sedangkan Lengky Lumi dan Gochin Talu berdua bisa bertempur secara bergantian.

Akhirnya Yo Him telah merobah cara bertempurnya.

Jika sebelumnya Yo Him membalas menyerang dengan dahsyat, bahkan selalu berusaha mendahului buat menyerang kepada ke dua orang lawannya dengan mempergunakan kekuatan yang dahsyat sekali, sekarang justru dia telah menutup diri.

Dia membela diri dengan ketat sekali, setiap serangan ke dua lawannya itu dihadapi dengan pertahanan yang gigih.

Dengan cara seperti itu, telah membuat Lengky Lumi dan Gochin Talu tidak bisa terlalu mendesaknya, karena setiap serangan mereka selalu dapat dipunahkan.

Sedangkan Lengky Lumy berdua dengan Gochin Talu telah mendelu dan murka, mereka penasaran sekali.

Di dalam hati mereka beranggapan, dengan merobah cara menyerangnya menjadi sikap menutup diri dengan pertahanan seperti itu, menandakan bahwa Yo Him telah mulai terdesak.

Dan ke dua orang ini jadi terbangun semangatnya, mereka telah menyerang semakin hebat.

Sesungguhnya Yo Him memang sengaja mengambil sikap demikian, karena dia justru ingin membiarkan ke dua lawannya menyerang terus menerus kepadanya dan mereka akan kehabisan tenaga pada akhirnya.

Dengan begitu waktu ke dua lawannya itu habis tenaga dan kekuatannya, barulah Yo Him akan membuka serangan lagi dengan hebat.

Disebabkan itu pula Yo Him juga menantikan dengan sabar.

Setiap serangan lawannya dihadapi dengan tenang dan pertahanan yang gigih sekali.

Sedangkan Lengky Lumy semakin tidak sabar, berulang kali dia mengeluarkan suara bentakan yang mengguntur.

Dia menyerang bertubi-tubi, setiap kali dia menyerang tenaganya berkesiuran menderu-deru.

Demikian juga halnya dengan Gochin Talu, dia mulai tidak sabar.

Hanya saja cara menyerang dari Gochin Talu lebih tenang jika dibandingkan dengan Lengky Lumi.

Di antara berkesiuran angin yang begitu cepat dan kuat sekali, Yo Him masih sanggup buat mempertahankan kedudukan dirinya.

Dia dapat mempertahankan kedudukannya dengan baik tanpa pernah terdesak.

Sedangkan ke dua lawannya semakin bernafsu menyerang.

Yo Him jadi girang hatinya dia selalu memunahkan serangan lawannya dengan tersenyum simpul.

Waktu itu pertempuran yang tengah berlangsung antara Tiat To Hoat-ong dengan Swat Tocu semakin hebat.

Ke duanya menggerakkan tangan mereka semakin lambat.

Akan tetapi semakin lambat gerakan tangan mereka, tenaga yang mereka pergunakan itu semakin kuat, sehingga tubuh mereka bergoyanggoyang seperti akan rubuh.

Yang luar biasa, sepasang kakinya mereka seperti telah tertanam dalam di dalam tanah, sama sekali tidak bergoyang walaupun tubuh mereka bergoyang seperti itu.

Swat Tocu yang memperoleh kenyataan seperti ini, beberapa kali berusaha mengempos seluruh kekuatannya, karena dia tidak mau jika harus binasa atau terluka bersama dengan lawannya.

Swat Tocu bermaksud hendak merubuhkan lawannya.

Dalam keadaan demikian, segera juga Swat Tocu telah mengerahkan tenaga dinginnya itu semakin kuat.

Seluruh tubuh Tiat To Hoat-ong seperti dilapisi oleh lapisan es.

Setiap butir keringat yang mengucur keluar dari pori-pori kulitnya, segera menjadi es.

Akan tetapi disebabkan Tiat To Hoat-ong memiliki ilmu sehebat Soboc, yang memiliki sifat sangat panas seperti api, maka dia masih tertolong jiwanya.

Jika tidak, tentu tubuhnya telah dilapisi oleh es yang tebal sekali, yang akan membuat darahnya membeku dan tidak bisa beredar dengan lancar.

Tiat To Hoat-ong sendiri tidak tinggal diam, karena dia melihatnya jika dia hanya menyambuti dan menerima serangan Swat Tocu niscaya akhirnya dia yang bisa rubuh.

Walaupun setiap tenaga serangannya itu bisa dipunahkan oleh Swat Tocu, akan tetapi dia tidak pernah berputus asa.

Dan dia telah berulang kali menyerang hebat sekali, dengan penuh kenekadan, karena mengetahui bahwa pertempuran kali ini merupakan pertempuran yang menentukan.

Jika satu kali saja dia dirubuhkan oleh Swat Tocu, niscaya dia akan terluka di dalam yang parah sekali, yang akan biasa membuatnya binasa.

Dalam keadaan seperti itu, Yo Ko juga sudah tidak bisa tinggal diam, sambil mengeluarkan seruan nyaring, tiba-tiba Yo Ko telah melompat dan menyelak ditengah-tengah Swat Tocu dan Tiat To Hoat-ong.

Dia tidak mempergunakan tangan kirinya, hanya tangan kanannya yang kosong tersebut buat mengibas.

Cara mengibasnya itu disertai dengan kekuatan tenaga dalam yang hebat.

Justru dengan caranya seperti yang itu Yo Ko berhasil memunahkan tenaga Tiat To Hoat-ong maupun tenaga Swat Tocu yang sejak tadi berhimpitan.

Yo Ko telah menghadapi Tiat To Hoat-ong sambil tersenyum mengejek.

"Hemmm, aku ingin sekali meminta pengajaran darimu, karena dari itu, maafkanlah aku telah mengganggu kegembiraan kalian.....!"

Setelah berkata begitu, tanpa menantikan lagi jawaban dari Tiat To Hoat-ong, tampak Yo Ko telah mengibaskan lengan baju sebelah kanan yang kosong itu.

Segera terlihat tubuh Tiat To Hoat-ong terhuyung lagi, karena waktu itu sebenarnya Tiat To Hoat-ong tengah mengerahkan tenaga dalamnya buat mengatur jalan pernapasannya.

Sebab dia masih merasa letih sekali, dan sekarang telah tiba serangan dari Yo Ko, membuat dia jadi terhuyung mundur hampir kejengkang.

Beruntung dia memang memiliki latihan lweekang yang sempurna, sehingga dirinya tidak sampai perlu jatuh terguling.

Dalam keadaan seperti itu Yo Ko tidak tinggal diam.

Dia sebagai seorang tokoh rimba persilatan yang memiliki nama sangat menggetarkan sekali, dan mengetahui bahwa Tiat To Hoat-ong lah yang merupakan sumber keributan yang ada selama ini.

Karenanya Yo Ko telah bertekad, walaupun bagaimana Tiat To Hoat-ong harus dibinasakan, dimusnakan.

Itulah sebabnya Yo Ko tanpa membuang-buang waktu telah mengerahkan tenaga dalamnya yang tertinggi dan menyerang beruntun tanpa memberikan kesempatan sedikitpun kepada Tiat To Hoat-ong.

Tiat To Hoat-ong bukan main mendongkolnya, beberapa kali dia berseru memaki ka-lang kabutan serabutan dengan bahasa Boan.

Di saat itu terlihat Tiat To Hoat-ong telah terdesak hebat sekali.

Berulang kali Tiat To Hoat-ong juga mengeluh di dalam hatinya.

Koksu negara ini yakin bahwa dalam beberapa jurus lagi dia tentu tidak akan sanggup menghadapi serangan Yo Ko, karena telah terkandung niat dalam hatinya buat meneriaki orang-orangnya, agar mereka ikut menyerbu dan dengan mempergunakan kesempatan di mana tengah terjadi kakacauan, Tiat To Hoat-ong ingin meloloskan diri.

Yo Ko sendiri telah memperhebat serangannya.

Sebagai tokoh sakti Yo Ko mengetahui paling lambat tujuh jurus lagi tentu dia akan dapat merubuhkan Tiat To Hoat-ong.

Sedangkan waktu itu Tiat To Hoat-ong memang sudah tipis sekali harapannya buat dapat menghadapi Yo Ko, dan dia telah mengambil keputusan.

Dia telah berseru dengan nyaring sekali.

"Serang semuanya, keluarlah kalian.....!"

Berbareng dengan aba-aba yang diberikan Tiat To Hoat-ong, tampak beberapa ratus orang pengemis telah menerjang maju ke tengah gelanggang.

Mereka semuanya berpakaian sebagai pengemis, sehingga mempersulit orang-orang Kay-pang sendiri buat mengenali mana kawan dan mana lawan.

Seketika terjadi pertempuran yang sangat kacau sekali, karena tampak beberapa orang pengemis yang tidak bisa mengenali mana kawan dan mana lawan, telah terbunuh di dalam arena pertempuran tersebut.

Yeh-lu Chi jadi terkejut, cepat-cepat dia melompat ke tempat yang tinggi, dia telah berseru nyaring.

"Semua murid Kay-pang mengambil tempat di kanan dan menghadapi mereka dengan tabah!" Maka dari itu, bergeraklah barisan pengemis ke sebelah kanan, dan mereka telah berusaha untuk memisahkan diri dari pihak lawan yang menyamar dengan berpakaian sebagai pengemis juga. Akan tetapi orang-orang Tiat To Hoat-ong juga tidak tolol. Melihat bahwa para pengemis itu berusaha memisahkan diri ke sebelah kanan, sehingga kelak akan diketahui mana kawan dan mana lawan, segera juga tanpa membuang waktu mereka pun berduyun-duyun ke sebelah kanan. Sambil bergerak ke kanan, merekapun telah menggerakkan senjata mereka, maka korban telah berjatuhan lagi dengan jumlah yang banyak. Yeh-lu Chi yang menyaksikan ini jadi berkuatir sekali, karena anggota Kay-pang sendiri telah bingung, selamanya mereka tidak bisa mengenali mana kawan dan mana lawan. Hanya saja jika memang mereka diserang oleh pengemis lainnya, maka mereka beranggapan pengemis yang menyerang mereka itu adalah pengemis palsu yang menyamar, dan mereka memberikan perlawanan. Akan tetapi dengan keadaan seperti itu, sangat kacau sekali keadaan di lembah tersebut. Rapat besar Kay-pang yang semula diselenggarakan untuk mengambil keputusan dan tekad dalam menghadapi bangsa penjajah itu, telah dibanjiri oleh darah..... Sedangkan para orang-orang gagah yang menyaksikan pertempuran yang tengah berlangsung itu telah berusaha untuk mencari-cari mana murid Kay-pang yang sebenarnya dan mana yang menyamar. Akan tetapi selama itu mereka tidak berhasil membedakannya. Dan para orang-orang gagah itu yakin bahwa mereka pasti akan berhasil menemukan tanda pengenal dari pengemis-pengemis palsu itu. Sebab walaupun bagaimana, di antara mereka, pihak musuh, akan ada tanda pengenal buat mereka mengenali satu dengan yang lainnya. Karena dari itu, setelah memperhatikan sekian lama, akhirnya Oey Yong yang sangat cerdik sekali telah bisa melihat ada kelainan pada pengemis-pengemis lawan. Dia menyaksikan betapa di setiap pinggang dari pengemis yang menyerang anggota Kay-pang tentu membawa sebatang pisau pendek yang diselipkannya di antara tengah-tengah pinggang mereka. Segera juga Oey Yong mengambil kesimpulan bahwa pisau pendek itulah sebagai tanda pengenal mereka. Seketika Oey Yong telah bersiul nyaring dia melompat ke samping Yeh-lu Chi. Dengan mengerahkan lweekangnya dia berseru nyaring.

"Semua murid Kay-pang dengarlah baik-baik! Setiap pengemis yang membawa pisau pendek di pinggang mereka adalah lawan kita, bunuhlah mereka.....!"

Dengan adanya pemberitahuan seperti itu, seketika para murid Kay-pang telah memperhatikan setiap pengemis di pinggangnya, dan jika memang terdapat sebilah pedang pendek di pinggang mereka, maka murid-murid Kay-pang telah menyerangnya dengan hebat.

Sekarang mereka sudah tidak ragu-ragu lagi, sebab memang mereka telah mulai dapat melihat mana kawan dan mana lawan.

Sedangkan pengemis-pengemis palsu itu sama sekali tidak berani melepaskan pedang pendek mereka dari pinggang masingmasing.

Walaupun mereka menyadari bahwa rahasia isyarat mereka telah diketahui oleh pihak lawan, sehingga tanda pengenal mereka itu malah membawa malapetaka buat mereka.

Jika mereka melepaskan pisau pendek tersebut, justru mereka kuatir akan dianggap oleh kawan-kawan mereka sebagai murid Kay-pang yang sebenarnya, dan murid Kay-pang juga akan menyerangnya, disamping kawan-kawan mereka sendiri yang akan menyerangnya.

Karena dari itu, segera juga mereka memperhebat perlawanan tanpa membuang pisau pendek di pinggang mereka.

Dengan demikian menentukan.

terjadi pertempuran mati hidup yang Mereka sudah tidak memandang siapa lawan mereka.

Jika memang pengemis palsu dengan pisau di pinggang melihat pengemis tanpa pisau di pinggangnya, segera menyerangnya dengan hebat dan mematikan.

Demikian juga sebaliknya.

Begitulah, banjir darah terjadi di lembah tersebut.

Sedangkan para orang gagah yang menjadi sahabat Kay-pang telah ikut turun tangan juga.

Dalam pertempuran tersebut, karena mereka memang memiliki kepandaian yang sangat tinggi, banyak pengemis palsu yang telah dibinasakan.

Sedangkan para pengemis palsu itu, yang.merupakan anak buah dari Tiat To Hoat-ong berusaha memberikan perlawanan yang gigih.

Dalam kekacauan seperti itu, tiba-tiba di tengah udara terlihat cahaya terang yang memijar dan seketika terlihat kobaran api di beberapa tempat.

Seketika timbul kepanikan dan kebingungan dari para pengemis itu.

Rupanya ada orang-orang yang telah membakar beberapa bagian dari lembah tersebut.

Terutama sekali bagian yang menuju keluar dari lembah itu, api telah berkobar sangat besar.

Jika mereka tidak berhasil menemukan jalan keluar dari lembah ini, niscaya akan menyebabkan mereka tertembus hidup-hidup di dalam lembah tersebut.

Karena itu pertempuran semakin kacau, selain mereka berusaha untuk membunuh dan membinasakan lawan mereka, juga masingmasing berusaha agar dapat meninggalkan lembah tersebut.

Akan tetapi, tampaknya tidak mudah buat mereka meninggalkan tempat itu.

Sebab pertempuran yang terjadi begitu kalut, sehingga membuat mereka selalu terlibat dalam pertempuran yang kacau balau.

Dan mereka sendiri tidak mengetahui harus melakukan apa selain hanya menggerakkan senjata buat membinasakan lawan mereka yang terdekat.

Pertempuran antara Yo Ko dengan Tiat To Hoat-ong juga semakin hebat.

Dalam kekacauan seperti itu, beberapa kali Tiat To Hoat-ong berusaha melepaskan diri dari libatan Yo Ko, karena dia bermaksud akan melarikan diri.

Akan tetapi Yo Ko sama sekali tidak mau melepaskannya, dia terus menyerang Tiat To Hoat-ong dengan hebat.

Swat Tocu yang menyaksikan pertempuran yang telah kalut seperti itu, segera melompat ke samping muridnya, yaitu Ko Tie, dia telah berseru menganjurkan agar muridnya itu melompat ke punggungnya, buat menggemblok di situ.

Segera juga Ko Tie menuruti perintah dari gurunya, dia telah melompat ke punggung Swat Tocu.

Dengan demikian Swat Tocu tidak perlu menguatirkan lagi keselamatan muridnya di dalam keadaan yang begitu kacau.

Dengan segera Swat Tocu dapat menggerakkan tangannya menghantami pengemis-pengemis yang memiliki pedang pendek di pinggangnya.

Setiap kali Swat Tocu menggerakkan tangannya, maka akan berjatuhan korban.

Dengan begitu korban yang berjatuhan semakin banyak korbannya.

Tiat To Hoat-ong melihat dengan keadaan seperti itu tentu tidak akan menguntungkan dirinya dan pihaknya.

Beberapa kali dia berseru dalam bahasa Boan, memberikan petunjuk kepada anak buahnya.

Sedangkan Yo Him yang tengah terlibat dalam pertempuran dengan Lengky Lumi dan Gochin Talu, juga tidak kurang serunya.

Dia menghadapi ke dua lawannya yang berusaha untuk merubuhkannya, sebab mereka bermaksud untuk segera membantui orang-orangnya.

Akan tetapi kepandaian Yo Him sangat tinggi, jangankan merubuhkan dan membinasakan Yo Him, sedangkan buat mendesak Yo Him saja mereka tidak sanggup.

Bahkan, tampak beberapa kali Yo Him membuat mereka kelabakan dan berusaha memperbaiki kedudukan mereka agar dapat memberikan perlawanan yang lebih gigih pada Yo Him.

Sasana yang melihat keadaan telah kacau seperti itu, pun tidak tinggal diam.

Gadis tersebut mencabut pedangnya, yang dibolang-balingkan.

Dia mendengar bahwa pengemis yang membawa pisau pendek di pinggangnya adalah musuh, maka pedangnya bekerja dengan cepat sekali kepada pengemis-pengemis yang membawa pedang pendek di pinggang mereka.

Sasana sambil bertempur mempergunakan pedangnya, dia juga berusaha mendekati Yo Him.

Akhirnya gadis tersebut berhasil menggeser kedudukan dirinya, dia telah berada di dekat Yo Him.

"Him Koko, jangan kuatir, aku akan segera membantumu!"

Berseru si gadis.

Sambil berseru begitu pedangnya juga telah menikam dengan sebat sekali ke arah punggung Lengky Lumi, yang waktu itu berada dekat sekali dengannya.

Sebenarnya Lengky Lumi tengah mencurahkan seluruh perhatiannya pada serangan-serangan Yo Him, dan dia jadi kaget tidak terkira waktu merasakan dari punggungnya telah menyambar angin serangan yang tajam sekali.

Cepat-cepat Lengky Lumi mengelakkan serangan itu, akan tetapi gerakannya terlambat sedikit maka pundaknya telah terluka dan darah mengalir keluar......

◄Y► Dengan kalap tampak Lengky Lumi telah mencabut senjatanya, yaitu sepasang Tia-kauw, yaitu gaitan yang menyerupai poankoan-pit, hanya saja senjata ini bisa dipergunakan buat menggaet senjata lawannya.

Dengan menggerakkan sepasang senjatanya tersebut, maka Lengky Lumi bisa memberikan perlawanan kepada tikamantikaman pedang Sasana.

Begitu juga halnya dengan Gochin Talu, yang telah mencabut senjatanya, sehingga Yo Him harus melayaninya dengan hati-hati dan waspada sekali, sampai akhirnya Yo Him juga telah mencabut keluar pedangnya, dia bersilat dengan tangkas sekali.

Pertempuran yang terjadi di lembah itu benar-benar sangat kacau sekali.

Swat Tocu yang melihat Yo Ko masih belum berhasil merubuhkan Tiat To Hoat-ong, segera juga melompat sambil ngulur tangannya dengan bermaksud mencengkeram pundak Tiat To Hoat-ong.

Swat Tocu bermaksud dengan membantui Yo Ko, dia bisa menyudahi pertempuran tersebut lebih cepat, sehingga mereka berdua dapat menawan Tiat To Hoat-ong, yang bisa dipergunakan buat menggertak anak buah si Koksu Mongolia itu.

Akan tetapi Tiat To Hoat-ong benar-benar sangat licik.

Dia memiliki pundak yang licin dan keras seperti belut.

Memang cengkeraman Swat Tocu berhasil mengenai sasarannya, akan tetapi dia tidak berhasil mencengkeramnya, karena jari-jari tangannya telah melejit.

Dalam keadaan seperti ini, Swat Tocu jadi penasaran sekali, dia membisiki Ko Tie, katanya.

"Kau saksikan, aku akan menyerang dengan hebat lagi!"

Sambil berkata begitu, Swat Tocu telah mengerakkan tangannya lagi, dia telah menghantam dari dua jurusan ke punggung Tiat To Hoat-ong.

Sedangkan waktu itu Tiat To Hoat-ong tengah menghadapi serangan Yo Ko, yang datang menyambar dengan hebat.

Tiat To Hoat-ong jadi dikepung dari dua jurusan, membuat Koksu negara itu mengeluh.

Jika dia menyambuti serangan Yo Ko dengan kekerasan dia akan menerima hantaman dari Swat Tocu.

Akan tetapi jika memang dia menghindarkan diri dari serangan Swat Tocu, tentu dia akan dihantam oleh gempuran Yo Ko.

Karena itu pula, Tiat To Hoat-ong jadi serba salah, benar-benar dia dalam keadaan terdesak sekali.

Diantara berkesiuran angin serangan yang sangat hebat sekali, dan hanya di dalam beberapa detik itu, Tiat To Hoat-ong segera mengambil keputusan yang nekad.

Dengan mengeluarkan suara raungan yang sangat bengis, Tiat To Hoat-ong mempergunakan tangan kirinya menangkis serangan Yo Ko, sedangkan tangan kanannya menyanggah serangan Swat Tocu.

Gerakan yang dilakukan Tiat To Hoat-ong sebenarnya sangat berbahaya sekali bagi dirinya.

Jika memang dia kurang tinggi tenaga dalamnya, dia bisa saja terbinasa tergencet dan tertindih di antara tekanan ke dua tenaga tenaga raksasa yang hebat itu.

Waktu itu dua kekuatan tenaga yang menyerang dirinya, tenaga Yo Ko dan Swat Tocu telah sampai dan saling bentur dengan tangan Tiat To Hoat-ong.

Akan tetapi Tiat To Hoat-ong hanya sebentar saja mempergunakan kekerasan menangkis kekuatan tenaga ke dua lawannya, hanya satu-dua detik belaka.

Segera dia segera mengambil sikap lunak, sehingga ke dua macam tenaga itu seperti dapat disalurkan dari tangan kiri ke tangan yang kanan.

Jelasnya tenaga Yo Ko disalurkan ke tangan kanan buat menghadapi gempuran tenaga Swat Tocu, sedangkan tenaga Swat Tocu disalurkan ke tangan kiri untuk menghadapi tenaga Yo Ko.

Dengan cara memindah dan meminjam tenaga lawan, Tiat To Hoat-ong berhasil dengan baik.

Memang sesungguhnya Koksu negara tersebut dengan perbuatan nekadnya itu mempertaruhkan jiwanya.

Jika dia gagal memindahkan dua kekuatan tenaga raksasa tersebut, niscaya dia akan terbinasa dengan tubuh yang hancur lebur.

Dalam keadaan seperti ini, segera juga Tiat To Hoat-ong membarengi dengan mengeluarkan bentakan nyaring sekali, tubuhnya telah melompat bergulingan di tanah.

Sedangkan Yo Ko sendiri merasakan tubuhnya tergoncang keras, walaupun tidak sampai merobah kedudukan ke dua kakinya, namun itu membuktikan tenaga yang menerjang kepada dirinya sangat kuat sekali.

Begitu pula halnya dengan Swat Tocu, yang kaget bukan main.

Selain tenaganya sendiri seperti lenyap, dia juga merasakan sambaran tenaga yang dahsyat sekali.

Swat Tocu telah mengetahui berapa tinggi dan kuatnya tenaga dalam dari Koksu Mongolia tersebut, dan sekarang tenaga menangkisnya begitu hebat, sehingga ia jadi bercuriga.

Hanya saja disebabkan memang dia memiliki lweekang yang sempurna, dia telah berhasil mencegah kuda-kuda kakinya tergempur.

Cepat sekali Swat Tocu mengatur pernapasannya.

Begitu pula halnya dengan Yo Ko.

Mereka berdiam diri sejenak buat meluruskan pernapasan mereka.

Mempergunakan kesempatan ini Tiat To Hoat-ong melompat bangun, dia segera bermaksud angkat kaki dari lembah itu, dia ingin melarikan diri.

Baru saja dia bergerak beberapa langkah, telah berkelebat sesosok bayangan putih.

Waktu Tiat To Hoat-ong mementang matanya lebar-lebar, segera terlihat betapa orang yang menghadang di depannya itu adalah Oey Yong, nyonya Kwee Ceng.

Hati Tiat To Hoat-ong tercengang dan kecut kaget, karena dia mengetahui siapa adanya Oey Yong dan berapa tinggi kepandaian yang dimiliki nyonya tersebut.

Oey Yong waktu itu telah mengejek.

"Hemmm, Koksu yang mulia, hendak kemanakah kau? Apakah semua anak buahmu akan ditinggalkan begitu saja!?"

Halus suara nyonya itu, ramah sikapnya, akan tetapi sinar mata Oey Yong sangat tajam sekali.

Muka Tiat To Hoat-ong jadi berobah dan waktu itu dia melihat kesempatan satu-satunya adalah berlaku nekad menerjang Oey Yong, karena jika dia terlambat dan Yo Ko bersama Swat Tocu berhasil telah meluruskan pernapasan mereka, tentu ke duanya akan mengejarnya.

Segera juga terlihat betapa Tiat To Hoat-ong tanpa mengatakan sesuatu apapun juga, telah melompat menerjang kepada Oey Yong, dia telah menghantam dengan ilmu sobocnya.

Oey Yong memperdengarkan suara tertawa dia berkelit ke samping dengan salah satu gerakan Tah-kauw-pang-hoat dari pintu perguruan Kay-pang.

Waktu itu terlihat Tiat To Hoat-ong tidak mau berhenti sampai di situ saja, karena dia telah menyerang lebih hebat lagi.

Lima atau enam kali serangan Tiat To Hoat-ong dielakkan dengan mudah oleh Oey Yong.

Dan pada jurus ketujuh, waktu Tiat To Hoat-ong akan menyerangnya lagi, di saat nyonya Kwee Ceng tersebut mulai membalas menyerang.

Serangan Oey Yong aneh sekali, dia seperti dapat melihat Tiat To Hoat-ong, sehingga Koksu negara tersebut seakan tidak memiliki jalan keluar buat meloloskan diri dari libatan Oey Yong.

Beberapa kali Tiat To Hoat-ong yang mulai gugup serta bingung telah melancarkan serangan yang dahsyat, namun Oey Yong selalu dapat memunahkannya dengan mudah, dan nyonya Kwee Ceng itu membalas dengan totokan-totokan ke dua tangannya.

Akan tetapi Tiat To Hoat-ong benar-benar licin, hingga selalu saja ia bisa menghindar diri.

Dalam keadaan seperti itu Tiat To Hoatong juga telah berpikir keras, karenanya di saat Oey Yong bermaksud menotoknya lagi, tangan kanan Tiat To Hoat-ong merabah jubahnya, dia telah mengeluarkan sesuatu dan melemparkan kepada Oey Yong.

Benda itu tidak sampai mengenai sasaran telah meledak di tengah udara dengan suara ledakan yang nyaring.

Asap bergumpal tebal sekali.

Oey Yong terkejut, dia menduga pada asap beracun, karena itu dia melompat mundur.

Tiat To Hoat-ong tanpa mensia-siakan kesempatan itu telah melompat berdiri, tanpa menoleh lagi, dia telah mementang ke dua kakinya dengan mempergunakan ginkangnya dia berlari sangat cepat sekali.

Oey Yong yang jadi mendongkol dan penasaran telah membentak.

"Mau kemana kau?"

Sambil membentak begitu, Oey Yong telah mengerahkan ginkangnya untuk mengejar.

Pertempuran yang berlangsung di lembah tersebut bertambah kacau.

Kwee Ceng yang memang memiliki hati mulia dan pengasih, tidak mau turunkan tangan keras.

Dia hanya menghantam pingsan setiap lawannya, tanpa melukai mereka.

Sedangkan Kwee Hu yang pada dasarnya memang memiliki tabiat yang aseran dan agak telengas (ingat.

tangan kanan Yo Ko ditabas buntung oleh Kwee Hu), telah turun ke gelanggang dengan menggerakkan pedangnya membinasakan puluhan orang pengemis palsu yang membawa pedang pendek di pinggang masing-masing.

Setiap kali pedang Kwee Hu menyambar tentu akan meminta korban jiwa.

Loo-boan-tong yang memang memiliki sifat jenaka, dia telah mempermainkan pengemis-pengemis yang membawa pedang pendek di pinggang mereka.

Baru kemudian setelah puas dia menghajar pingsan orang tersebut.

Begitulah, pertempuran tersebut berlangsung dengan kacau balau, sedangkan api yang berkobar tinggi dan besar di beberapa bagian dari lembah tersebut semakin mengerikan, karena banyak pohonpohon yang telah termakan oleh jilatan lidah api tersebut.

Asappun telah memenuhi lembah tersebut, karena angin berhembus keras sekali.

Disamping itu, hawa panas yang luar biasa membuat semua orang yang berada di dalam lembah itu merasakan tubuh mereka seperti di panggang dan juga keringat telah membasahi sekujur tubuh mereka.

Diantara teriakan dan jerit kematian, tampak korban-korban telah menggeletak memenuhi sekitar lembah tersebut.

Yeh-lu Chi juga tidak tinggal diam.

Pangcu Kay-pang ini bersama dengan beberapa orang Tianglo pengemis tersebut telah melabrak musuh.

Akan tetapi justru ada tiga orang Tianglo yang telah berbalik menyerang Yeh-lu Chi.

Mereka adalah Pheng Tianglo dengan ke dua kawannya, yang berusaha membokong Yeh-lu Chi.

Di waktu itulah Yeh-lu Chi baru menyadarinya bahwa ke tiga Tianglo inilah yang merupakan musuh dalam selimut.

Sambil menghadapi mereka bertiga, Yeh-lu Chi berulang kali telah berteriak, memberitahukan kepada semua kawan-kawannya, maupun orang-orang Kay-pang, agar mereka berhati-hati terhadap Pheng Tianglo bertiga, yang tampaknya berhianat.

Dan karena Pheng Tianglo bertiga telah terbuka kedoknya, mereka segera mengeluarkan aba-aba agar anak buah mereka berbalik menyerang Kay-pang.

Sekarang keadaan lebih kacau lagi, karena justru pengemis yang tidak membawa pisau pendek menyerang pengemis yang sama tidak membawa pedang pendek.

Begitu juga terhadap pengemis yang membawa pedang pendek dengan pengemis yang memihak kepada Yeh-lu Chi, mereka telah bertempur dengan kacau balau.

Sekarang antara kawan dan lawan benar-benar sudah sulit dikenalkan lagi, karena sekarang mereka asal menggerakkan senjata saja.

Oey Yong yang mendengar teriakan Yeh-lu Chi seperti itu jadi sangat gusar.

"Engko Ceng, ke mari kau!"

Teriaknya memanggil Kwee Ceng.

Kwee Ceng waktu itu tengah menghadapi beberapa orang pengemis yang ingin mengeroyoknya, para pengemis itu membawa pisau pendek di pinggang masing-masing.

Mendengar panggilan isterinya, segera juga Kwee Ceng telah mengibaskan ke dua tangannya, maka para pengemis itu terpental keras sekali, terpelanting bergulingan di tanah dengan keadaan tidak sadarkan diri.

Cepat dan gesit sekali, Kwee Ceng menghampiri Oey Yong.

Belum lagi dia mendekati isterinya, Oey Yong telah berseru.

"Engko Ceng, kita harus menangkap si gundul keparat itu dulu, baru kita bicara menghadapi semua orang-orangnya!"

Kwee Ceng yang jujur, percaya bahwa apa yang dikatakan oleh isterinya, yang memang diketahuinya sangat cerdik dan pandai mengatur, telah mengiyakan.

Tanpa sungkan-sungkan Kwee Ceng telah menyerang dengan jurus keenam dari Hang-liong-sip-pat-ciang.

Hebat serangan yang dilakukan Kwee Ceng.

Tiat To Hoat-ong tengah kehabisan tenaga dan sekarang justru dia dihantam oleh seorang tokoh rimba persilatan yang memiliki kepandaian sangat sakti seperti Kwee Ceng, karenanya dia menjadi gelagapan.

Mati-matian Tiat To Hoat-ong berusaha menghadapinya dengan ilmu Sobocnya.

Akan tetapi Tiat To Hoat-ong dalam keadaan letih dan kehabisan tenaga, setelah menghadapi tiga kali serangan Kwee Ceng, yang lalu menyerang mempergunakan jurus Hang-liong-sip-pat-ciang, membuat Tiat To Hoat-ong akhirnya terpental keras, sambil memuntahkan darah segar!

Koksu negara tersebut pun tidak bisa segera bangun berdiri lagi.

Di waktu itu Oey Yong tidak tinggal diam, dia telah melompat menyerang kepada ketiak Koksu itu.

Walaupun dalam keadaan terluka dan pandangan matanya tengah berkunang-kunang, Tiat To Hoat-ong tidak menerima begitu saja totokan Oey Yong.

Dia menyadari dirinya sudah tidak bisa menghindarkan diri dari totokan tersebut.

Karenanya dia jadi nekad sekali dan telah menghantam kepada Oey Yong tanpa berusaha menangkis totokan yang dilakukan nyonya Kwee Ceng tersebut, dengan mempergunakan seluruh sisa tenaganya.

Oey Yong tertawa mengejek.

Dia mana mau adu jiwa dengan lawannya tersebut.

Cepat sekali Oey Yong menarik pulang totokannya, kemudian dia mengulangi lagi menotok setelah mengelakkan diri dari serangan Tiat To Hoat-ong.

Kali ini Tiat To Hoat-ong tidak berdaya mengelakkan diri dari serangan Oey Yong, segera juga jalan darah Yang-kie-hiat nya kena tertotok.

Lemaslah tubuhnya dan punah tenaganya.

Di waktu itu cepat sekali Oey Yong meminta Kwee Ceng agar menelikung Tiat To Hoat-ong, sedangkan Oey Yong sendiri telah mengeluarkan sebatang pedang pendek.

"Dengarlah semua.....!"

Oey Yong telah berseru dengan suaranya yang nyaring sekali.

"Sesungguhnya, di dalam hal ini jika memang kalian masih mencintai Koksu kalian, cepat buang senjata kalian dan berlutut menyerah!"

Sambil mengancam begitu, Oey Yong telah mengandalkan mata pedang pendeknya di tenggorokan Koksu negara tersebut.

Walaupun dalam keadaan tertotok dan tidak berdaya karena tenaganya seperti telah lenyap semuanya, tokh Tiat To Hoat-ong masih dapat mengetahui dengan baik apa yang terjadi pada dirinya, karena pikirannya masih terang.

Dia jadi gelisah dan bingung, karena jiwanya sekarang benar-benar terancam.

Sedangkan para pengemis palsu yang menjadi pengikut Tiat To Hoat-ong telah terkejut dan bingung.

Akhirnya setelah saling pandang satu sama lainnya, mereka melemparkan senjata masing-masing dan berlutut tanda menyerah.

Oey Yong telah menoleh kepada semua orang gagah dan kemudian kepada Yeh-lu Chi.

"Yeh-lu Pangcu, mintalah pertolongan kepada semua Ho-han, buat menangkapi semua pengkhianat Kay-pang!"

Yeh-lu Chi menyadari tugas apa yang harus dilakukannya, segera dia mengiyakan.

Dengan ikut sertanya Yo Ko, Swat Tocu, Ciu Pek Thong dan para orang gagah lainnya, maka Pheng Tianglo bertiga, juga para pengikutnya telah berhasil diringkus.

Pengemis-pengemis palsu itupun telah diringkus oleh pengemispengemis Kay-pang.

Ternyata, walaupun mereka berpakaian sebagai pengemis, skan tetapi di dalamnya mereka mengenakan pakaian alat negara.....!

Segera juga kepanikan dan kegaduhan di lembah tersebut dapat di atasi.

Waktu itu Kwee Ceng masih mencekal menelikung Tiat To Hoatong, yang dalam keadaan tidak berdaya.

Walaupun dalam keadaan tidak bertenaga dan tidak berdaya seperti itu, Tiat To Hoat-ong sama sekali tidak memperlihatkan perasaan gentar waktu para orang-orang gagah mendatangi.

Mereka ditatapnya dengan sorot mata yang bengis sekali.

Lengky Lumi dan Gochin Talu tidak berani memberikan perlawanan lebih jauh, karena mereka kuatir begitu mereka melakukan gerakan, mungkin Tiat To Hoat-ong akan segera dibinasakan.

Demikian juga halnya dengan Cing Pang An dan tokoh-tokoh kerajaan yang lainnya.

Semuanya tidak berani menimbulkan gerakan yang bisa mendatangkan kecurigaan.

Dalam keadaan seperti ini, Yo Ko telah bertanya kepada Tiat To Hoat-ong, tampak berwibawa sekali.

"Tiat To Hoat-ong, kami sudah tidak mencampuri urusan pemerintahan, di mana Kaisar Boan itu sekarang berkuasa, akan tetapi kalian telah datang ke mari menimbulkan korban-korban yang tidak sedikit jumlahnya, seperti sekarang? Mengapa pihak kerajaan memusuhi pihak Kay-pang?!"

Tiat To Hoat-ong yang tertotok jalan darahnya yang membuat tenaganya lenyap, sebenarnya masih bisa bersuara, sebab Ah-hiat (jalan darah gagu) nya tidak ditotok Oey Yong.

Akan tetapi Koksu negara tersebut terlalu angkuh buat menjawab pertanyaan Yo Ko.

Dia hanya mengawasi mendelik, tidak sepatah perkataan juga yang disahutinya.

Yo Ko yang melihat sikap dari Tiat Ta Hoat-ong telah tersenyum.

"Lihatlah, bukankah dengan kedatangan kalian ke mari jelas-jelas kalian mencari kesulitan buat diri kalian sendiri!"

Katanya lagi.

"Ciissss! Phuiiii!"

Tiat To Hoat-ong tiba-tiba meludah.

"Jika memang kau ingin membunuhku, bunuhlah!"

Yo Ko tersenyum, dan menoleh kepada Kwee Ceng.

"Kwee Pehhu, tolong kau lepaskan Koksu ini, agar boanpwe bisa meminta pengajaran yang baik darinya!"

Kata Yo Ko.

"Dia memiliki keperkasaan yang lumayan, di mana dia tidak memperlihatkan sikap gentar dan penakut, walaupun telah terjatuh ke dalam tangan kita! "

Keberaniannya seperti ini, disamping ketabahan yang dimilikinya benar-benar harus dibuat sayang, karena justru berada pada orang yang tidak tepat, di mana dia seorang manusia yang jahat dan telengas sekali!

Hemmm, lepaskanlah Kwee Pehhu!" Kwee Ceng menurut, dia membebaskan Tiat To Hoat-ong, bahkan totokan pada diri Koksu itu juga telah dibebaskan.

Tiat To Hoat-ong menggerak-gerakkan tangannya, dia tertawa dingin waktu melancarkan jalan darahnya itu.

"Hemm, mengapa kalian tidak berani membunuhku?!!"

Ejeknya. Yo Ko tetap membawa sikap yang tenang dan sabar.

"Kami bukan tidak berani membunuhmu, Koksu!"

Sahutnya.

"Akan tetapi justru kami menghargai akan keberanian dan ketabahanmu itu. Nah, jika memang engkau ingin pergi, pergilah!"

Tiat To Hoat-ong tercengang, sehingga dia memandang Yo Ko dengan mata terpentang lebar-lebar.

Kemudian dia memandang Kwee Ceng dan yang lain-lainnya.

Sampai akhirnya Tiat To Hoat-ong bertanya ragu-ragu.

"Kalian akan membiarkanku pergi!"

Yo Ko mengangguk.

"Ya!"

Sahutnya sambil tersenyum.

"Kalian tidak akan menyesal!"

Yo Ko hanya menggeleng.

"Hemmm, sesungguhnya inilah suatu tindakan yang tolol sekali!"

Kata Tiat To Hoat-ong sambil memperdengarkan suara tertawa dingin.

"Tahukah kalian, dengan membebaskan diriku, tentu di waktu-waktu mendatang kalian akan berurusan lagi denganku, berarti kerugian akan berada di pihak kalian!"

Yo Ko sabar sekali, dia hanya tersenyum. Akan tetapi Oey Yong, walaupun telah menjadi nenek, tokh tetap saja tidak dapat menahan diri. Nyonya yang nakal ini telah menyahuti.

"Hemmm, engkau tidak perlu sesumbar disini. Jika memang kami ingin mencincang dirimu sekarang, tentu akan dapat kami lakukan! Setelah Sin-tiauw-tay-hiap membebaskanmu, mengapa kau tidak cepat-cepat berlutut mengucapkan terima kasih dan cepat-cepat angkat kaki buat menyembunyikan ekor."

Mendengar ejekan dari Oey Yong, muka Tiat To Hoat-ong berobah merah padam karena menahan gusar.

"Hemmm, kau tidak perlu terlalu memandang rendah seperti itu kepadaku!"

Katanya dengan suara yang bengis.

"Nah, jika kalian ingin membinasakan diriku, bunuhlah!"

Sambil berkata begitu, Tiat To Hoat-ong membuka jubahnya. Yo Ko mengulap-ngulapkan tangannya......! "Tidak perlu sampai begitu!"

Katanya sambil tetap tersenyum.

"Pergilah! Akan tetapi ada satu yang ingin kumohonkan kepada Koksu entah mau menerimanya untuk disampaikan kepada Kaisarmu itu atau tidak.....?!!" "Apa pesanmu?"

Tanya Tiat To Hoat-ong setelah berdiam diri beberapa saat.

"Yang kuminta justru tidak banyak dan tidak akan memberatkan. Agar Kaisar kalian tidak memancing untuk menimbulkan kerusuhan mendatangkan korban jiwa yang tidak sedikit lagi! Terutama sekali supaya Kaisar kalian memerintah dengan baik! Asal rakyat dapat hidup senang dan makmur, kami tentu tidak akan berusaha mengganggunya!"

Mendengar perkataan Yo Ko seperti itu, muka Tiat To Hoat-ong bersinar, akan tetapi dia sengaja memperdengarkan suara tertawa dingin.

"Hemmm, sekarang pun memang rakyat telah hidup senang dan makmur di bawah pemerintahan Kaisar kami!"

Katanya dengan angkuh sekali.

"Akan tetapi disamping semua ini, masih banyak yang ditindas, itulah yang membuat kami tidak gembira!"

Menyahuti Yo Ko dengan senyum ditahan, sabar sekali. Tiat To Hoat-ong mengangguk.

"Baik! Baik! Akan kusampaikan permintaanmu itu kepada Kaisar kami!"

Kata Koksu tersebut.

Dan tampak Koksu itu telah memutar tubuhnya, sedangkan Gochin Talu dan Lengky Lumi serta orang-orang Koksu yang lainnya telah bersiap-siap untuk meninggalkan tempat tersebut.

Waktu itu Tiat To Hoat-ong melangkah di samping Yo Ko, tiba-tiba dibenaknya timbul serupa pikiran.

"Hemmm, jika si buntung keparat ini dapat kuserang mampus dengan sekali pukulan, tentu yang lainnya tidak begitu sulit buat dihadapi!"

Karena timbul pikiran semacam itu, justru Tiat To Hoat-ong memiliki pikiran jahat terhadap Yo Ko.

Kebetulan waktu dia melirik, Yo Ko tengah menoleh kepada Kwee Ceng seperti ingin mengatakan sesuatu.

Segera Tiat To Hoat-ong mengempos seluruh kekuatan sinkangnya di telapak tangannya, dia bermaksud mempergunakan seluruh ilmu dan tenaga Sobocnya untuk ingin menghajar satu kali dan Yo Ko segera terbinasa.

Apa yang dipikirkannya memang dibuktikannya.

Dengan kecepatan yang di luar dugaan, Tiat To Hoat-ong telah menggerakkan tangan kanannya menghantam dada Yo Ko.

Jarak mereka dekat sekali, karena dari itu, serangan Tiat To Hoat-ong sangat berbahaya.

Walaupun seandainya Yo Ko memiliki sepasang sayap, tokh tidak mungkin dia akan bisa menghindarkan serangan dari Koksu negara tersebut.

Karenanya, terlihat Yo Ko terancam bahaya kematian.

Para orang gagah yang menyaksikan keadaan seperti itu, jadi sangat terkejut.

Mereka mengeluarkan jeritan gusar bercampur kaget.

Tiat To Hoat-ong girang bukan main, dia yakin bahwa serangannya akan berhasil membinasakan Yo Ko.

Yo Ko sendiri sangat kaget menyaksikan lawannya yang licik dan tidak tahu malu telah menyerang secara membokong seperti itu.

Akan tetapi sebagai tokoh sakti yang memiliki kepandaian telah sempurna, walaupun dia merasakan angin serangan yang begitu panas menyambar dirinya, tokh Yo Ko tidak jadi gugup.

Dengan gerakan yang sulit diikuti oleh pandangan mata, tampak Yo Ko telah menggeser sedikit tubuhnya dimiringkan.

"Breeetttt.....!"

Ternyata Yo Ko telah mengambil keputusan yang cepat sekali, hanya di dalam beberapa detik itu, di mana dia telah mengorbankan lengan baju sebelah kanan yang kosong itu.

Karena dia memutar tubuhnya sengaja membiarkan lengan bajunya yang sebelah kanan tersebut yang menjadi sasaran dari serangan Tiat To Hoat-ong, sehingga lengan baju tersebut menjadi robek putus!

Semua orang mengeluarkan jeritan kaget, karena mereka menduga Yo Ko telah terserang.

Tiat To Hoat-ong kaget tidak terkira waktu tenaga serangannya mengenai tempat kosong dan hanya berhasil merobek lengan baju Yo Ko.

Belum lenyap kagetnya itu, justru Yo Ko telah membarengi menghantam dengan tangan kirinya kepada Koksu tersebut.

Serangan tangan kiri Yo Ko hebat sekali, jarak mereka pun terlalu dekat, Tiat To Hoat-ong pun belum menarik pulang tenaga serangannya.

Karenanya tidak ampun lagi dadanya tergempur hebat sekali, sampai seluruh tulang dadanya hancur remuk ke dalam!

Oey Yong yang melihat Yo Ko terancam keselamatannya, dalam berapa detik itu telah melompat untuk menyerang Tiat To Hoatong.

Waktu serangan Oey Yong pada punggung pendeta itu tiba, justru baru saja Tiat To Hoat-ong terkena gempuran Yo Ko, di mana tulang dadanya baru saja remuk.

Dan sekarang serangan Oey Yong tiba, tulang punggung Koksu itu jadi remuk hancur, sehingga jelas, dia sudah tidak memiliki kesempatan buat menjadi manusia lebih lama lagi.

Dengan mengeluarkan suara jeritan yang menyayatkan, dan dari mulutnya menggelogok darah yang sangat banyak sekali, karena jantungnya telah pecah, tubuh Tiat To Hoat-ong telah terlempar ke depan.

Dia rubuh dan tidak bergerak lagi, karena jiwanya telah melayang!

Gochin Talu dan Lengky Lumi terkejut menyaksikan apa yang telah dialami oleh Tiat To Hoat-ong.

Akan tetapi di waktu semua orang tengah kesima memandang peristiwa tersebut, justru tampak Gochin Talu telah melompat akan menghantam batok kepala Ko Tie yang berada digendongan Swat Tocu.

Maksudnya dia ingin mengambil jiwa itu, karena dia yakin bahwa dirinya sudah tidak mungkin bisa terelak dari kematian.

Lengky Lumi sendiri tidak tinggal diam, yang berada di dekatnya Kwee Hu, karenanya dia telah menghantam dengan ke dua telapak tangannya.

Hebat bukan main cara menyerang Gochin Talu dan Lengky Lumi.

Akan tetapi Swat Tocu yang tengah menggendong Ko Tie, mana bisa membiarkan muridnya itu dihantam kepalanya oleh Gochin Talu.

Karena dari itu, waktu sambaran angin serangan Gochin Talu telah dekat, dengan gerakan yang sangat hebat, Swat Tocu memutar tubuhnya, kemudian dia menyambuti serangan Gochin Talu dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya balas menghantam.

Tubuh Gochin Talu menggigil hebat, karena seketika dia merasakan dirinya seperti dibungkus es.

Dengan disertai oleh keluhan perlahan, tubuhnya mengejang kaku dan rubuh menggetetak di tanah tidak bergerak lagi, sepasang matanya mendelik.

Rupanya dia telah terbinasa dengan cara yang sangat mengenaskan sekali.

Rupanya angin serangan dari tenaga dingin yang dilontarkan Swat Tocu telah membuat seluruh darah di tubuh Gochin Talu telah membeku.

Kematian yang dialami oleh Gochin Talu telah dilihat oleh Lengky Lumi.

Dia jadi kaget bukan main, pada waktu itu dia telah menyerang Kwee Hu.

Bicara soal kepandaian walaupun Kwee Hu liehay, tokh dia belum setangguh Lengky Lumi.

Karena dari itu, waktu dirinya diserang hebat seperti itu, telah membuat Kwee Hu jadi terkejut, dia mengeluarkan seruan kaget dan mempergunakan pedangnya buat menabas tangan Lengky Lumi.

Akan tetapi Oey Yong yang melihat puterinya terancam bahaya yang tidak kecil, segera juga membentak nyaring.

Dia telah melompat sambil menghantam dengan tangan kanannya.

Telak sekali telapak tangan Oey Yong menghantam tulang iga Lengky Lumi.

Tulang rusuk itu remuk dan juga seluruh isi perutnya telah hancur.

Lengky Lumi rubuh, masih sempat mengeluarkan jerit kematian yang sangat panjang, kemudian terguling beberapa kali di tanah dan diam tidak bergerak lagi.

Jiwanya telah melayang.

Oey Yong menghela napasnya dalam-dalam.

"Dia mencari mati sendiri!"

Menggumam nyonya Kwee Ceng waktu suaminya menegurnya, menyatakan Oey Yong menurunkan tangan terlalu keras.

Yo Ko juga menghela napas.

Dia telah melihat tokoh-tokoh kerajaan telah terbinasa demikian rupa, karena mereka ingin berbuat curang.

Cing Pang An yang waktu melihat peristiwa tersebut, hatinya kebat kebit.

Waktu semua orang tidak memperhatikan dirinya, segera juga diam-diam memutar tubuhnya.

Dia bermaksud akan melarikan diri.

Akan tetapi baru saja beberapa langkah Cing Pang An berlari, di waktu itu ke dua kakinya digaet sesuatu, sehingga dia terjerembab dan bergulingan di tanah.

Mukanya berlumuran darah, karena dari hidungnya telah bocor darah segar......

Ternyata yang teliah menggaet kaki Cing Pang An tidak lain dari Ciu Pek Thong.

Malah cepat sekali Ciu Pek Thong telah menjambak punggung orang she Cing tersebut.

Dia telah membantingnya lagi ke tanah.

Cing Pang An merasakan matanya berkunang-kunang dan pusing, dia mengeluh dan dengan tidak mengenal malu dia sesambatan minta diampuni.

Akan tetapi Yeh-lu Chi yang telah gusar, karena melihat bahwa orang-orang seperti Cing Pang An lah yang telah menimbulkan kerusuhan di lembah ini pada rapat besar Kay-pang, menghampiri dengan penuh kemarahan.

"Hemmmm, jika kami terjatuh di dalam tangan kalian, belum tentu kalian memiliki belas kasihan terhadap kami!"

Sambil berkata begitu, tangan Yeh-lu Chi telah bergerak menghantam batok kepala Cing Pang An, yang seketika remuk dan ia binasa di waktu itu juga .

Semua orang gagah yang menyaksikan kini menghela napas, mereka berusaha mencari jalan keluar dari lembah tersebut dengan menggiring para tawanan mereka, karena mereka bermaksud menghindarkan jilatan lidah api yang masih tetap berkobar sangat besar sekali.

Bau sangit terbakarnya mayat-mayat manusia tercium memuakkan.

Akhirnya para orang gagah itu berhasil menemukan jalan keluar disela lamping yang agak curam.

Mereka dengan hati-hati meninggalkan lembah tersebut......

◄Y► Penutup Rapat besar Kay-pang tetap diselenggarakan tiga hari kemudian di lembah tersebut.

Dalam rapat besar tersebut telah diambil permufakatan dan tekad bersama untuk meneruskan perjuangan mereka menentang pemerintah penjajah.

Bahkan semua orang gagah yang berkumpul di dalam kesempatan rapat besar tersebut menyatakan tekad mereka juga, yang akan membantu Kay-pang, jika saja ada anggota Kay-pang yang mengalami kesulitan di waktu-waktu mendatang.

Begitulah, rapat besar Kay-pang telah menghasilkan tiga keputusan.

Keputusan pertama mengadakan kerja sama yang erat dengan semua para orang-orang gagah di dalam rimba persilatan yang setia negara, dan ke dua merupakan persetujuan bersama untuk menghadapi penjajah dengan gigih, walaupun harus menebus dengan jiwa dan raga, keputusan yang ke tiga menegaskan jika memang ada anggota Kay-pang yang berkhianat, maka pasti akan dihukum berat sekali.

Begitulah, keputusan tersebut disiarkan di dalam rimba persilatan, sehingga semua orang-orang gagah di dalam rimba persilatan menaruh hormat kepada Kay-pang.

Di bawah pimpinan Yeh-lu Chi, memang Kay-pang mengalami kemajuan yang pesat, terutama sekali memang Kwee Ceng dan Oey Yong bersedia menyediakan waktu mereka buat membantu Yeh-lu Chi dalam memimpin Kay-pang.

Banyak persoalan besar yang dihadapi Kay-pang diselesaikan oleh Oey Yong dan Kwee Ceng, ke dua pendekar besar di jaman ini.

Yo Him dan Sasana juga telah meresmikan hubungan mereka dalam bentuk sebuah perkawinan, atas desakan Yo Ko dan Siauw Liong Lie.

Hal ini disebabkan Siauw Liong Lie, maupun Yo Ko, memang ingin cepat-cepat menggendong cucu, itulah sebabnya mereka mendesak agar Yo Him sngera menikah dengan Sasana.

Walaupun gadis itu keturunan Boan-ciu, tokh dia seorang gadis yang baik.

Begitulah perkawinan Yo Him dengan Sasana telah dimeriahkan sebuah pesta yang sangat ramai sekali, di mana hampir seluruh orang gagah dari segala macam golongan telah hadir di dalam pesta perkawinan tersebut.

Hanya saja yang membuat hati Sasana sering tidak tenang.

Dia bermaksud untuk meninggalkan daratan Tiong-goan dan hidup di tempat terpencil.

Selama dia masih berada di daratan Tiong-goan, selalu dia teringat kepada nasib buruk yang dialami ayahnya, sehingga selalu mendatangkan kesedihan belaka.

Beruntung Yo Him sangat mencintainya dan pandai sekali buat menghiburnya, karenanya dengan demikian Sasana dapat dikurangi kedukaannya.

Begitulah hari demi hari telah berlalu cepat sekali, sedangkan Kaisar Mongolia yang telah berkuasa penuh di daratan Tiong-goan semakin kuat kedudukannya, sehingga tipislah harapan dari para orang-orang gagah itu buat mengusir penjajah dari tanah air mereka.

Yo Ko dan Siauw Liong Lie telah hidup mengasingkan diri di sebuah tempat yang sulit sekali dicari manusia.

Tidak ada seorangpun yang mengetahui di mana Siauw Liong Lie bersama Yo Ko menyembunyikan diri maupun mengasingkan diri di hari tua mereka, karena dari itu, mereka telah hidup sebagai dewa dan dewi belaka.

Yo Him dan Sasana sendiri tidak mengetahui di mana beradanya ke dua orangtua mereka.

Waktu Yo Ko dan Siauw Liong Lie akan berpisah dengan Yo Him dan mantu mereka, kedaanya tidak mau menyebutkan di mana mereka akan menetap.

Itulah sebabnya mengapa Yo Him sendiri tidak mengetahui di mana ayah dan ibunya berada pada waktu itu, yang menurut kabar-kabar yang tersiar di dalam dunia Kang-ouw, Yo Ko dan Siauw Liong Lie telah berhasil menyempurnakan ilmu mereka.

Ke duanya telah sempurna dan akhirnya naik menjadi dewa dan dewi.

Waktu Yo Ko dan Siauw Liong Lie meminta diri kepada semua orang-orang gagah yang berkumpul di dalam pesta perkawinan Yo Him dengan Sasana, justru Ciu Pek Thong ngotot ingin ikut bersama ke dua manusia dewa itu.

Dan akhirnya memang Yo Ko bersama Siauw Liong Lie meluluskan permintaan Ciu Pek Thong.

Sejak saat itu, tidak pernah terdengar lagi sepak tcrjang Ciu Pek Thong maupun Yo Ko dan Siauw Liong Lie......

◄Y► Yo Him mengajak Sasana untuk berkelana, banyak yang mereka lakukan, untuk berusaha membangun kembali kerajaan dan bangsanya yang telah diinjak-injak oleh orang Mongolia, yang kini menjajah daratan Tiong-goan tersebut.

Disamping itu, Yo Him juga berhubungan dengan para orang gagah di seluruh daratan Tiong-goan, dalam mengumpulkan bahan-bahan yang sekiranya menghadapi penjajah Mongolia.

dapat dipergunakan untuk Akan tetapi keadaan di daratan Tiong-goan waktu itu sudah mengalami banyak sekali perobahan sejak Kublai Khan, Kaisar penjajah dari Mongolia tersebut mengeluarkan berbagai peraturan yang pelaksanaannya mengalami pengawasan yang ketat sekali.

Sejak kematian Tiat To Hoat-ong, bukan kepalang amarah dan murkanya Kaisar Kublai Khan.

Kaisar ini mengerahkan seluruh bala tentara dan para pahlawannya untuk mengejar pembunuhpembunuh Tiat To Hoat-ong.....

Kematian Koksu negara tersebut telah mendatangkan kegoncangan yang tidak kecil di daratan Tiong-goan, terutama sekali di kota raja.

Hal ini disebabkan karena memang Tiat To Hoat-ong orang yang penting dalam kerajaan Mongolia tersebut, juga sangat dimanjakan oleh Kaisar Kublai Khan.

Dan sekarang Koksu yang sangat disayang oleh Kaisar telah tiada.

Karena dari itu bisa dibayangkan betapa murka dan sakit hatinya Kaisar Kublai Khan terhadap para pembunuh Koksu tersebut.

Perintah yang dikeluarkan oleh Kublai Khan merupakan perintah yang keras sekali.

Dan kekuasaan yang diberikan kepada para panglimanya yang melakukan pengejaran kepada para pembunuh Tiat To Hoat-ong diberikan kekuasaan yang penuh.

Sehingga mereka berhak buat menangkap orang yang dicurigai dan menahannya serta memeriksanya.

Jika perlu, kalau orang yang ditangkap karena dicurigai itu tidak mau bicara, boleh dibunuh.

Kekuasaan untuk membunuh yang diberikan oleh Kaisar Kublai Khan ini telah menimbulkan kegoncangan yang tidak kecil di daratan Tiong-goan, di mana rakyat jadi begitu ketakutan.

Sebab bisa saja jika seorang tentara kerajaan Mongolia merasa tidak senang atau tidak menyukai seorang penduduk, ia lalu mempergunakan alasan bahwa orang tersebut mencurigakan, dan ditangkap, kemudian tanpa diperiksa lagi dibunuhnya dengan kejam.

Banyak pembesar tua Mongolia yang agak arif, telah mengajukan tentangan terhadap perintah Kaisar yang satu itu, yaitu melakukan pengejaran terhadap para pembunuh Tiat To Hoat-ong.

Yang mereka tentang sekali justru kekuasaan yang diberikan oleh Kaisar terhadap para panglimanya untuk memiliki hak membunuh dengan bebas tanpa memeriksa dan mencari bukti-bukti terhadap kesalahan orang yang dicurigai itu.

Akan tetapi Kaisar Kublai Khan yang telah kehilangan Tiat To Hoatong, Koksu yang sangat disayanginya itu, tidak memperdulikan tanggapan dari para pembesar itu.

Usul mereka yang mengatakan keberatan dengan adanya perintah dan kekuasaan istimewa yang diberikan kaisar kepada para panglimanya, telah dibekukan dan sama sekali.

Tidak dilayani oleh Kaisar tersebut.

Yo Him bersama Sasana dan juga para orang-orang gagah di daratan Tiong-goan yang melihat keadaan seperti itu yang tengah berlangsung di daratan Tiong-goan, jadi berduka sekali.

Kemana mereka sekali-kali bertemu dengan para tentara Mongolia yang tengah melakukan keganasan, akan tetapi merekapun tidak bisa selamanya turun tangan buat membinasakannya.

Terdapat cukup banyak bala tentara Mongolia yang dikerahkan Kaisar Kublai Khan.

Karena dari itu, jika Yo Him dan Sasana membinasakan satu atau dua orang bala tentara Mongolia yang tengah melakukan keganasan, tentu di tempat lainnya terdapat bala tentara lainnya yang tengah melakukan keganasan dan kejahatan juga.

Karenanya hal ini telah membuat Yo Him dan Sasana merasa bahwa semua itu hanya menimbulkan kedukaan yang semakin mendalam, jika saja mereka tetap menyaksikan kemelut yang timbul di daratan Tiong-goan.

Akibat matinya Koksu negara Mongolia tersebut, entah telah berapa ribu rakyat yang akhirnya menjadi korban, karena mereka menjadi sasaran dari keganasan bala tentara Mongolia tersebut, yang dilindungi kekuasaan yang diberikan Kaisar mereka.

Dengan begitu pula, akhirnya Yo Him memutuskan untuk mengajak Sasana hidup menyepi di sebuah tempat yang sangat sunyi dan juga jarang sekali didatangi orang.

Semula Sasana keberatan untuk mengikuti keinginan suaminya tersebut, di mana Sasana mengemukakan bahwa mereka masih muda usia dan tidak selayaknya mengikuti jejak ke dua orang tua mereka, Yo Ko dan Siauw Liong Lie yang kini telah hidup menyepi.

Tetapi Yo Him mengatakan, jika memang mereka masih menyaksikan keganasan-keganasan yang dilakukan oleh para tentara Mongolia, tentu mereka selalu akan berduka dan merasa sedih menyaksikan semua itu, di mana rakyat menjadi korban keganasan dari semua tindakan dan perbuatan para tentara Mongolia itu.

Akhirnya Sasana menyarankan agar mereka selama beberapa tahun ini tetap berkelana.

Walaupun tenaga mereka tidak seberapa jika dibandingkan dengan jumlah rakyat Tiong-goan yang menderita atas keganasan dari para tentara Mongolia tersebut, tokh semua tindakan dan perbuatan mereka mempunyai arti yang sangat penting, di mana mereka bisa menolong meringankan sebagian dari rakyat yang tengah menderita itu.

Jika memang mereka hidup mengasingkan diri dan menyepi, berarti mereka lari dari hidup kenyataan, melepaskan tanggung jawab sebagai orang-orang gagah dan meninggalkan begitu saja rakyat yang tengah menderita.

Alasan yang dikemukakan oleh Sasana memang dapat diterima oleh Yo Him, di mana akhirnya Yo Him membatalkan maksudnya buat menyepi.

Dan dia bertekad untuk sebanyak mungkin menolong rakyat yang tengah dalam keadaan bersengsara dan tertindas oleh keganasan tentara Mongolia tersebut.

Itulah sebabnya, banyak yang dilakukan Yo Him dan Sasana.

Mereka selalu dengan segera turun tangan membunuh atau juga menghajar para balatentara Mongolia yang tengah melakukan kejahatan dan keganasan.

Dan mereka walaupun hanya berdua, akan tetapi mereka memiliki kepandaian yang sangat tinggi sekali.

Dengan begitu tidak bisa para tentara tersebut melakukan perlawanan.

Akhirnya Yo Him dan Sasana merupakan momok yang sangat mengerikan di mata para tentara Mongolia.

Karena bagi mereka, jika memang mereka bertemu dengan Yo Him atau Sasana, sama mereka bertemu dengan malaikat elmaut.

Karena dari itu, jika saja para tentara Mongolia tersebut mendengar bahwa Yo Him dan Sasana berada di sekitar tempat mereka berada, para tentara negeri tersebut tidak berani melakukan keganasan mereka mengganggu penduduk.

Yo Him dan Sasana telah bertindak bagaikan sepasang manusia sakti yang sangat dihormati oleh semua orang-orang gagah di daratan Tiong-goan.

Walaupun mereka berusia muda belia, tokh orang-orang gagah dan golongan tua di dalam rimba persilatan, tetap menghormati mereka dan merasa kagum atas tindakan mereka melaksanakan perbuatan yang gagah perkasa dengan menolong rakyat yang tengah tertindas.

Tidak jarang juga Yo Him dan Sasana berkumpul dengan Yeh-lu Chi, pangcu dari Kay-pang, untuk tukar pandangan dan pikiran, guna menentukan langkah-langkah apa yang perlu mereka ambil.

Terlebih lagi sekarang, setelah kematian Koksu negara Mongolia tersebut, di mana semua anggota Kay-pang sangat dibenci dan dimusuhi oleh tentara Mongolia, yang mengetahui bahwa kematian Koksu mereka terjadi di dalam rapat besar Kay-pang tersebut.

Yeh-lu Chi sendiri telah beberapa kali mengalami kesulitan dalam menghadapi gangguan bala tentara kerajaan Mongolia yang berusaha untuk mempersulit Kay-pang.

Sedangkan para pengemis Kay-pang yang memiliki kepandaian masih rendah, jika melihat serombongan tentara negeri, tentu akan berusaha mengelak dan menyingkirkan diri.

Sebab mereka menyadarinya tidak mungkin mereka bisa menghadapi para tentara kerajaan tersebut.

Yo Him sangat murka mendengar semua cerita Yeh-lu Chi, kebenciannya kepada Kaisar Mongolia jadi semakin menjadi-jadi.

Terlebih lagi dari Yeh-lu Chi didengarnya, betapa Kaisar Mongolia tegas-tegas telah mengeluarkan perintah, untuk menangkap orang-orang tokoh Kay-pang.

Para pahlawan Kaisar, yang umumnya memiliki kepandaian sangat tinggi telah dikerahkan untuk penangkapan tersebut.

Walaupun usaha dari Kaisar Mongolia tersebut tidak berhasil, namun memang terlihat jelas, banyak kerusakan yang dialami oleh Kay-pang.

Juga beberapa tokoh penting Kay-pang telah tertawan dan mereka dibawa ke kota raja, untuk diadili langsung oleh Kaisar, yang hendak mengorek keterangan dari mulut mereka.

Yeh-lu Chi yakin bahwa tokoh-tokoh Kay-pang tersebut tentu akan lebih rela mati dari pada harus membongkar seluruh rahasia Kaypang.

Karena dari itu, hatinya tidak begitu gelisah.

Ia hanya berikhtiar untuk berusaha menolongi tokoh-tokoh Kaypang yang telah tertawan tersebut.

Yo Him dan Sasana yang mendengar keterangan seperti itu, menganjurkan kepada Yeh-lu Chi, agar mengambil tindakan yang lebih berani dan nekad, yaitu menyatroni istana Kaisar, buat berusaha menolongi tokoh-tokoh Kay-pang yang tertawan itu.

Akan tetapi Yeh-lu Chi telah menolak saran tersebut dengan ragu.

Menurut Yeh-lu Chi justru sekarang-sekarang ini Kaisar Mongolia tersebut telah menempatkan penjagaan yang sangat ketat sekali, banyak jago-jago yang memiliki kepandaian hebat telah didatangkan dari Mongolia.

Karena dari itu, jika memang mereka menyatroni istana Kaisar Mongolia tersebut dalam saat-saat seperti sekarang, niscaya sama saja seperti mereka mengantarkan diri dalam jaring.

Yo Him dan Sasana berpikir memang apa yang dikatakan oleh Yeh-lu Chi beralasan.

Hanya saja mereka tetap tidak rela jika tokoh-tokoh Kay-pang yang tertawan itu tetap berada di bawah pengawasan dari tentara Mongolia tersebut di mana mereka berada dalam keadaan yang tidak menggembirakan.

Jelas bahwa tokoh-tokoh Kay-pang itu merupakan orang-orang gagah yang tidak akan membuka mulut dan keterangan sepatah perkataanpun juga.

Akan tetapi yang pasti mereka juga akan menerima siksaan yang sangat hebat serta sadis sekali.

Karena itu, Yo Him dan Sasana tetap bermaksud untuk menolong membebaskan mereka.

Bahkan Yo Him telah memajukan dirinya bersama Sasana, di mana mereka berdua yang akan pergi ke kota raja untuk menyelidiki keadaan para tokoh Kay-pang yang telah terjatuh ke dalam tangan orang-orang Mongolia tersebut Yeh-lu Chi akhirnya menyetujui keinginan Yo Him dan Sasana.

Ia hanya berpesan agar mereka berhati-hati dan waspada.

Mereka hanya boleh menyelidiki dan tidak boleh turun tangan.

Hal ini untuk mencegah agar mereka tidak mengalami ancaman bahaya yang lebih hebat.

Walaupun kepandaian Yo Him dan Sasana memang sangat tinggi dan Yeh-lu Chi juga mengagumi mereka, namun menurut pendapat Yeh-lu Chi, sekarang-sekarang ini Kaisar Mongolia telah mendatangkan dan mengundang banyak sekali para jago-jago sakti dari Mongolia, yang didudukan sebagai pengawal pribadinya, menjadi pahlawan-lawan istananya.

Dengan demikian walaupun bagaimana, Yo Him dan Sasana yang hanya berdua, tidak mungkin dapat menghadapi mereka dengan baik.

Yo Him dan Sasana berjanji bahwa mereka tidak akan menempuh langkah-langkah yang bisa membahayakan diri dan jiwa mereka.

Mereka juga telah menghibur agar pangcu Kay-pang tersebut tidak perlu menguatirkan diri dan jiwa mereka, dan meminta Yeh-lu Chi agar bertenang diri.

Begitulah, setelah dua hari lagi berdiam di markas Kay-pang, Yo Him bersama Sasana telah mengambil keputusan untuk berangkat ke kota raja, dan merekapun berpamitan.

Perpisahan mereka diiringi dengan pesta yang meriah, pesta perpisahan yang cukup mengharukan, karena di dalam pesta perpisahan tersebut berulang kali Yeh-lu Chi telah berpesan kepada Yo Him dan Sasana, agar mereka dapat membawa diri sebaik-baiknya dan tidak melakukan tindakan nekad.

Keesokan harinya Yo Him dan Sasana melakukan perjalanan ke kota raja.

◄Y► Kaisar Kublai Khan sangat marah sekali, telah dua tahun pengejaran yang dilakukan para pahlawannya masih tidak memberikan hasil yang memuaskan.

Memang Kaisar tersebut telah mengerahkan para pahlawannya, yang umumnya memiliki kepandaian sangat tinggi, dengan harapan membasmi dan mengejar terus para orang-orang gagah daratan Tiong-goan yang telah membinasakan Koksunya.

Karena dari itu, betapa kecewanya setelah mengerahkan sekian banyak orang-orangnya yang semuanya memiliki kepandaian tinggi dan juga biayanya yang tidak kecil, namun orang yang diburunya tidak juga berhasil ditemuinya.

Karena dari itu, Kaisar Kublai Khan pada pagi itu telah marahmarah kepada para pembesarnya dan panglimanya.

Di dalam sidang tersebut telah ditegaskan oleh Kaisar.

Jika saja para panglimanya itu tidak bisa mengejarnya untuk membasmi para orang-orang gagah yang terdaftar nama mereka dalam daftar hitam Kaisar tersebut, mereka akan dipecat!

Malah besar kemungkinan mereka akan dijatuhi hukuman mati!

Perintah Kaisar, yang dikeluarkan dengan ancaman seperti itu, telah membuat semua para panglimanya jadi gelisah dan bingung.

Akan tetapi perintah Kaisar tidak bisa dibantah.

Jika memang mereka tidak melaksanakan sebaik mungkin, tentu akan membuat jiwa mereka sebagai tarohannya dan juga keluarga mereka akan menjadi korban.

Karena dari itu, para panglima tersebut segera mengumpulkan para bawahannya, dan para panglima ini juga marah-marah terhadap bawahannya tersebut.

Merekapun telah mengeluarkan perintah yang sama kerasnya seperti perintah yang dikeluarkan oleh Kaisar kepada para panglima tersebut, dengan ancaman jika para bawahan mereka ini tidak bisa bekerja lebih baik, maka mereka akan dijatuhi hukuman seberat-beratnya.

Dengan begitu, maka segera juga para pahlawan Kaisar telah melakukan tindakan yang jauh lebih bengis dan keras terhadap penduduk.

Para tentara negara juga telah berusaha untuk dapat menangkapi orang-orang yang mereka curigakan.

Yang menjadi korban akhirnya rakyat jelata.

Walaupun mereka tidak bersalah, tokh mereka telah ditangkap dan memperoleh hukuman yang tidak ringan, bahkan banyak di antara mereka yang telah dijatuhi hukuman mati.

Hal itu disebabkan para tentara negeri dan para pahlawan Kaisar yang tengah kebingungan dengan perintah Kaisar dan panglima mereka yang mengandung ancaman itu, telah membuat mereka sebanyak mungkin untuk menangkapi orang yang mereka curigakan, tanpa memperdulikan apakah orang tersebut bersalah atau tidak.

Yang terpenting mereka telah dapat menangkap sebanyak mungkin orang Han tersebut untuk dijatuhi hukuman, agar mereka dilihat oleh atasan mereka masing-masing memiliki kerja yang baik.

Para orang-orang gagah di daratan Tiong-goan gusar bukan main menyaksikan keganasan tentara Mongolia yang semakin menjadijadi itu.

Mereka telah berhimpun dan banyak diantara mereka yang telah berusaha untuk mengadakan pemberontakan dan gerakan di bawah tanah, memberikan perlawanan kepada para tentara dan kerajaan Mongolia tersebut.

Akan tetapi Kaisar Kublai Khan memang merupakan seorang Kaisar yang sangat cerdik sekali.

Ia memiliki kecerdikan yang luar biasa dalam mengambil taktik-taktik menundukan para pemberontak tersebut.

Pertama-tama Kaisar Kublai Khan mengerahkan tentara perangnya dalam jumlah yang besar.

Kekuatan tentara perang Mongolia tersebut sangat besar dan tidak mungkin ditandingi dan dilawan oleh para pemberontak tersebut, yang umumnya berjumlah sedikit sekali.

Karena dari itu, umumnya pemberontakan tersebut dapat ditindas dalam waktu singkat.

Hanya saja sebagai Kaisar yang cerdik, maka Kublai Khan bukan hanya mempergunakan kekerasan.

Setiap pembrontakan itu hampir dapat dibasminya, maka ia telah mengutus beberapa orang pahlawannya, untuk menghubungi pemimpin pemberontakan tersebut, guna membujuk mereka, agar dapat kembali kepada masyarakat dan juga bekerja untuk kerajaan Mongolia, dengan janji diberikan kedudukan dan harta.

Dalam keadaan tertindas seperti itu, di mana pasukan pembrontak tersebut hampir hancur dibasmi oleh kekuatan tentara perang Mongolia, dan justru kini menerima uluran tangan yang begitu manis dari Kaisar Kublai Khan, membuat para pemimpin pemberontak tersebut akhirnya menerima tawaran tersebut dan menakluk kepada Kaisar Kublai Khan, yang diakui sebagai majikan mereka.

Mereka memimpin pemberontakan, umumnya disebabkan perasaan tidak senang mereka terhadap kerajaan Mongolia tersebut, di mana mereka melihat rakyat yang tertindas.

Akan tetapi utusan Kaisar justru telah memberikan penjelasan kepada mereka, hal ini justru untuk mencegah pemberontakan, karena yang akan menjadi korban adalah rakyat juga.

Bahkan orang-orang Mongolia tersebut telah memperlihatkan berbagai usaha mereka untuk berusaha membangun daratan Tiong-goan menjadi kerajaan yang terbesar, dan juga mereka telah memberikan berbagai hadiah dan hiburan kepada para pemimpin pemberontak itu.

Dengan demikian para pemimpin pemberontak memperoleh kesan yang lain dari sebelumnya.

tersebut Justru mereka melihatnya betapa Kaisar Kublai sesungguhnya merupakan seorang Kaisar yang besar.....

Khan Bahkan merekapun dipersilahkan melihat, betapa kepada daerahdaerah yang tandus dan kering, di mana bahaya kelaparan mengancam penduduk daerah tersebut, Kaisar Kublai Khan telah mengirimkan bantuan rangsum dan uang.

Dengan demikian pemimpin para pemberontak itu menyerah dengan perasaan kagum di hati mereka, dan tunduk terhadap Kaisar Kublai Khan.

Begitulah pemberontakan-pemberontakan yang timbul di berbagai tempat di daratan Tiong-goan, telah dapat dipatahkan oleh Kublai Khan.

Memang rakyat masih menderita di bawah tindasan Kaisar Kublai Khan, akan tetapi sebagian lagi, yang kebetulan menerima "budi kebaikan"

Kaisar Mongolia tersebut karena memang politik dari Kaisar Kublai Khan, telah memajukannya.

Juga untuk menenangkan rakyat, Kaisar Kublai Khan telah mengeluarkan firman, untuk menghapus peraturan-peraturan lama.

Baca Juga: Bangau Sakti 26

Baca Juga: Mustika Gaib 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert