Eps 10 Beruang Salju - Sin Liong
Baca online Beruang Salju - Sin Liong
Cersil Beruang Salju - Sin Liong.
Biasanya seorang yang diserang seperti itu olehnya, yaitu dengan ke dua tangan terulurkan dan juga akan mencengkeram lengan lawan maka sang lawan akan menghindarkan diri dengan segera, melompat ke belakang, ke samping kiri atau kanan, atau juga menangkisnya dengan kuat.
Baru pertama kali ini saudagar itu memperoleh lawan yang demikian aneh yang menyambut serangannya dengan tubuh, yang agak dibungkukkan dan juga dengan lutut yang dipakai menyerang ke perutnya.
Saudagar itu mengetahui bahwa tenaga serangan lutut kaki lawannya tidak ringan, karena jika saja lutut petani itu berhasil menghantam perutnya, tentu seluruh isi perutnya akan hancur.
Karenanya saudagar itu tidak meneruskan serangannya, dia menarik pulang ke dua tangannya dan melompat mundur.
Dengan demikian dia berhasil menghindarkan perutnya dari benturan lutut kaki si petani tersebut.
Akan tetapi saudagar itu tidak bisa bernapas lega dalam waktu yang lama, karena baru saja dia berdiri dengan ke dua kakinya, waktu itu si petani telah melompat ke dekatnya dan telah menyerang dengan tangan kirinya.
Telapak tangannya itu menyambar ke arah dada saudagar tersebut dengan kekuatan tenaga lweekang yang mengejutkan sekali, karena ingin serangan itu bagaikan menyambarnya angin topan belaka.
Saudagar tersebut mengeluarkan seruan tertahan, sedangkan kawan-kawannya telah mengeluarkan suara teriakan kaget dan berusaha untuk melompat maju.
Tapi saudagar yang seorang itu telah berseru.
"Biarkan aku sendiri yang menghajarnya!"
Semua kawan-kawan saudagar itu batal mengepung si petani.
Mereka telah kembali mundur ke tempat masing-masing.
Sedangkan ssudagar yang seorang itu tidak berusaha mengelakkan hantaman telapak tangan si petani, karena dengan berani dia malah menangkis.
Rupanya dia bermaksud keras lawan keras, dan benar saja, dua kekuatan tenaga telah saling bentur dengan hebat.
Namun si petani itu tidak berlaku sungkan, karena begitu tangannya ditangkis, dia telah menggerakkan tangannya yang satunya, menyerang jauh lebih hebat.
Saudagar itupun telah mengempos semangatnya, maka mereka berdua bertempur seru.
Si kasir yang telah merangkak bangun, cepat-cepat merangkak ke kolong mejanya, dan mendekam di situ dengan ketakutan.
Pelayan-pelayan lainnya tidak berani ikut mencampuri urusan itu, karena mereka kuatir kalau-kalau merekalah yang dijadikan sasaran dari kemarahan saudagar yang pemberang dan ganas tangannya itu.
Mereka hanya berkumpul di sudut ruangan dengan ketakutan dan wajah yang pucat.
Petani muda itu merasakan bahwa kepandaian saudagar itu memang tinggi dan juga ilmu yang dipergunakannya bukanlah ilmu silat sembarangan.
Akan tetapi petani muda itu pun tidak jeri atau gentar, dia malah telah menyalurkan tenaga lweekangnya pada ke dua tangannya.
Tampak ke dua tangannya itu telah digerakkan berulang kali seperti juga kitiran, menyambar ke sana ke mari dengan gerakan yang cepat luar biasa disertai tenaga lweekang yang kuat.
Saudagar itu bukan seorang lawan yang lemah, dia memberikan perlawanan yang gigih.
Diam-diam di dalam hatinya saudagar itu penasaran bukan main.
Karena dilihat dari usianya, petani muda itu masih tidak begitu terlalu tua.
Dengan usia semuda itu dia bisa memiliki kepandaian yang lumayan, di mana saudagar itu tidak bisa merubuhkannya, membuat saudagar itu penasaran sekali.
Berulang kali saudagar itu telah mengeluarkan suara bentakan nyaring dan sepasang tangannya menyambar-nyambar dengan kekuatan yang dahsyat, karena dia bermaksud mendesak lawannya.
Akan tetapi, petani yang masih berusia muda itu terbawa oleh sifatnya yang panas, dia bukannya gentar menerima serangan-serangan yang berbahaya dari saudagar itu, malah dia memberikan perlawanan yang gigih.
Berulang kali tangan mereka telah saling bentrok dan menyebabkan mereka melompat mundur, namun selalu pula mereka menerjang maju untuk mengukur tenaga dan kepandaian lagi.
Keringat telah memenuhi muka saudagar dan petani itu, mereka masih juga saling serang dengan seru.
Banyak meja dan kursi yang telah terjungkal kena ditendang dan dihantam tangan mereka, benda-benda itu banyak yang rusak.
Namun ke dua orang yang tengah bertanding itu tidak memperdulikan keadaan seperti itu.
Kasir dan beberapa orang pelayan yang melihat kerusakan terjadi pada kursi dan meja jadi berseru-seru.
"Jika ingin bertanding di luar saja..... janganlah menghancurkan usaha kami yang bermodal kecil ini..... harap bertempur di luar saja.....!"
Tetapi si petani dan saudagar itu mana memperhatikan teriakanteriakan mereka.
Ke duanya tetap bertempur dengan seru.
Suatu kali rupanya petani muda itu berlaku ayal dalam hal mengelakkan diri dari gempuran tangan kanan saudagar itu, karena tahu-tahu kepalan tangan saudagar itu telah hinggap di pundaknya, tubuh petani itu terhuyung beberapa langkah dengan muka yang berobah merah padam.
Saudagar itu tampak bangga, dia telah mengejek dengan sikap yang bengis.
"Hemm, apakah kau ingin meneruskan pertempuran ini?"
"Mengapa tidak?!"
Berseru petani muda tersebut.
Dia telah melompat dengan gesit, tubuhnya bagaikan terbang menerjang nekad kepada saudagar itu.
Ke dua tangannya yang bergerak dengan cepat sekali, sehingga saudagar itu yang tidak menduga lawannya akan menyerang seperti itu telah terhantam telak dadanya.
Tubuhnya terjungkal bergulingan di lantai.
Kawan-kawan saudagar itu yang menyaksikan nasib kawannya, jadi mengeluarkan seruan marah, mereka juga menerjang maju untuk mengeroyok si petani.
Sedangkan petani itu tetap memberikan perlawanan atas serangan-serangan dari belasan orang saudagar itu.
Dia tidak mengenal mundur, dan setiap serangan dihadapinya dengan kekerasan.
Namun yang rugi adalah petani muda itu, berulang kali tubuhnya itu telah dihantam oleh kepalan tangan para saudagar tersebut.
Tubuh petani itupun akhirnya terjungkal di lantai, namun para saudagar itu tidak mau menyudahi begitu saja, mereka tetap menyerang dengan ganas.
Sedangkan saudagar yang seorang itu, yang tadi telah dirubuhkan oleh petani muda tersebut, telah bangkit kembali dan ikut menyerang, di mana dia menyerang dengan hebat sekali dan tanpa mengenal kasihan.
Dengan kakinya dia menjejak muka petani itu, sehingga darah mengucur deras sekali dari muka si petani.
Sedangkan petani muda tersebut walaupun telah diserang bertubitubi masih melakukan perlawanan yang gigih.
Malah di saat dirinya dikeroyok beramai-ramai seperti itu, membuat petani muda tersebut jadi nekad dan kalap.
Di antara suara teriakan gusar dia menerjang kepada salah seorang saudagar yang menjadi lawannya, sehingga mereka berdua bergulingan.
Cepat sekali saudagar-saudagar lainnya menyerang lagi kepada petani muda itu.
Dua orang di antara mereka telah berusaha menarik si petani dari rangkulannya pada diri kawan mereka.
Dan waktu ke dua tangan petani itu dapat dicekal dengan kuat, maka di saat itulah saudagar-saudagar lainnya telah menghantami petani muda itu dengan pukulan-pukulan yang keras.
Petani muda itu telah jatuh pingsan tidak sadarkan diri, karena darah banyak sekali mengalir keluar, membuat dia rubuh di lantai ketika cekalan para saudagar itu dilepaskan.
Sedangkan saudagar-saudagar itu cepat membersihkan pakaian mereka, salah seorang memanggil pelayan dengan suara yang bengis.
Dua orang pelayan rumah penginapan karena ketakutan menghampiri dengan tubuh yang terbungkuk-bungkuk dan wajahnya pucat.
Tubuh mereka tampak menggigil ketakutan, sebab kuatir kalau para saudagar itu melimpahkan kemarahan mereka kepada dirinya.
"Bawa dan lemparkan manusia tidak kenal mampus ini keluar!"
Perintah saudagar yang seorang itu.
"Dan cepat siapkan kamar buat kami!"
Setelah berkata begitu, tangan saudagar yang seorang itu mendorong dengan gerakan yang perlahan.
Akan tetapi kesudahannya memang luar biasa, sebab ke dua orang pelayan itu telah terjungkal rubuh bergulingan di lantai.
Sambil merangkak bangun dengan wajah yang pucat dan tubuh menggigil, ke dua pelayan itu cepat-cepat,menghampiri tubuh si petani muda, diangkatnya oleh mereka dan dibawa keluar.
Akan tetapi baru beberapa langkah ke dua pelayan itu menggotong tubuh pemuda tersebut, terdengar seseorang berseru.
"Berhenti, jangan berlaku kurang ajar pada pemuda itu......!"
Ke dua pelayan itu terpaku di tempat mereka, ke duanya melirik dengan takut-takut.
Sedangkan para saudagar itu telah melirik kepada orang yang berseru itu, dan ternyata dari sebelah kanan ruangan itu, di balik sebuah meja yang hanya terpisah tidak begitu jauh dari rombongan saudagar tersebut, tampak seorang hwesio bertubuh sedangsedang saja, usianya telah telah lanjutdan memelihara jenggot yang telah memutih.
Sikapnya sabar sekali, dan matanya yang bening memancarkan sinar yang tajam sekali.
Wajah para saudagar itu berobah dan mereka memandang dengan sikap tidak senang.
"Apakah kau pun ingin mencampuri urusan ini, keledai gundul?!"
Bentak salah seorang saudagar itu tidak sabar dan mendongkol sekali.
Pendeta itu telah beranjak dari tempat berdirinya dan dia melangkah menghampiri para saudagar itu dengan tindakan kaki yang tenang dan wajahnya tetap sabar.
Katanya dengan sikap yang tenang sekali.
"Jangan kau cepat-cepat marah! Siancai, nanti sicu sekalian cepat tua.....!"
Saudagar-saudagar itu bukannya bertambah lunak oleh perkataan si pendeta, malah semakin gusar. Yang tadi telah mengejek pada pendeta itu malah berkata dengan gesit.
"Jika memang kau kenal penyakit dan sayang akan jiwamu, cepat pergi menggelinding, Jangan coba mencampuri urusan kami..... atau memang kau ingin merasakan apa yang dialami oleh pemuda dungu itu?"
Hwesio itu merangkapkan sepasang tangannya sambil memuji akan kebesaran sang Budha. Baru kemudian katanya.
"Siancai! Pinceng kira tidak ada seorang manusia di dunia ini bersedia dirinya dipukuli, dianiayai oleh orang lainnya.....! Dan begitu pula halnya dengan diri pinceng, tentu saja pinceng tidak mau jika memang seorang bermaksud menganiaya diri pinceng.....!"
"Jika demikian segera kau menggelinding pergi dari hadapan kami! Hemmm, memandang dari kedudukanmu sebagai seorang pendeta, maka kami mau berlaku sedikit lunak padamu! Tetapi jika memang kau lancang ingin mencampuri urusan kami, kepalamu yang gundul itu akan kami hajar sampai pecah dan keluar polo serta otaknya.....!"
Setelah berkata begitu, saudagar yang seorang tersebut memperdengarkan suara tertawa mengejeknya berulang kali.
Hwesio tersebut tetap membawa sikap yang tenang dan sabar, dia hanya mengucapkan kebesaran sang Budha, baru kemudian dengan melirik kepada pemuda yang terluka parah akibat dianiaya oleh saudagar-saudagar tersebut, berkata dengan suara mengandung iba dan kasihan.
"Walaupun pemuda itu bersalah pada kalian, akan tetapi Sicu semua tidak boleh main hakim sendiri memukulnya sampai begitu rupa. Jika memang pemuda itu hilang jiwa, tidakkah hal itu akan dibuat sayang? Dia masih berusia muda! Sedangkan pinceng kira kesalahan yang dilakukannya juga tidak terlalu besar, dia hanya ingin membela pelayan itu agar tidak diperlakukan kasar oleh Sicu, bukankah begitu? Mengapa harus dipukuli beramai-ramai seperti itu?"
Setelah berkata begitu, dengan matanya yang amat tajam pendeta tersebut telah mengawasi saudagar itu seorang demi seorang bergantian, dan sambil tersenyum dia berkata lagi.
"Nah, cobalah sekalian sicu, sekalian pikirkan, tidakkah apa yang pinceng katakan itu benar adanya?"
Mendongkol sekali para saudagar itu.
Mereka memang orang yang selalu bertindak dengan kasar dan juga segera turun tangan keras jika saja tidak menyukai seseorang.
Dan kini mereka ditegur seperti itu oleh si pendeta, dengan sendirinya mereka jadi tidak senang.
Akan tetapi sebagai orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi, tentu saja saudagar-saudagar itu menyadari apa artinya sinar mata yang tajam dari pendeta tersebut, yang tentunya merupakan seorang pendeta yang memiliki kepandaian dan lweekang yang tinggi sekali.
Disebab dugaan itulah mereka tidak berani bertindak sembarangan dan ceroboh.
"Siapakah kau sebenarnya keledai gundul?"
Tanya salah seorang saudagar itu dengan suara dan sikap yang tetap kasar. Pendeta itu tetap tenang dan sabar, walaupun orang menyebut dia berulang kali dengan sebutan "keledei gundul"
Namun dia sama sekali tidak marah, dan dengan tersenyum ramah dan sabar si pendeta menyahuti diiringi oleh ke dua tangannya yang dirangkapkan dan tubuhnya yang membungkuk memberi hormat.
"Sesungguhnya Pinceng bergelar In Lap Siansu......!"
"Hemm, In Lap Siansu.....!"
Berseru beberapa saudagar itu dengan suara yang bengis.
"Rupanya kau seorang pendeta yang selalu banyak menimbulkan kerusuhan dan juga keonaran, mengganggu ketenangan pemerintah! Banyak laporan yang telah sampai pada pihak kerajaan bahwa kau merupakan seorang pendeta yang terlalu bertingkah dan mengandalkan kepandaianmu untuk menindas orang-orang pemerintahan......!"
In Lap Siansu mencilak matanya mengawasi para saudagar tersebut, hatinya heran juga mendengar perkataan saudagar itu.
"Mengapa Sicu menyebut-nyebut soal pemerintahan? Atau memang sicu sekalian adalah orang-orang kerajaan?"
Tanya si pendeta dengan suara yang tetap sabar. Saudagar itu rupanya menyadari bahwa dia telah keterlepasan berkata, maka cepat-cepat dia membetulkan perkataannya itu.
"Kami hanya para pedagang, akan tetapi sebagai pedagang kami memiliki hubungan yang luas dengan orang-orang kerajaan dan kami juga telah seringkali mendengar perihal sepak terjangmu! "
Karena dari itu, tidak heran jika sekarang kaupun usil mencampuri arusan ini!
Atau memang kau beranggapan kepandaianmu telah sempurna dan tidak ada orang yang bisa menandingimu lagi di dalam dunia ini, dan kau bertingkah demikian rupa.....!"
In Lap Siansu seorang yang sabar dan ramah, walaupun saudagarsaudagar tersebut membawa sikap yang kurang ajar dan kasar, tokh dia tetap membawa sikap yang sabar luar biasa.
Hanya dia telah menaruh kecurigaan, bahwa saudagar-saudagar ini bukanlah saudagar-saudagar yang sesungguhnya.
Jelas mereka merupakan saudagar tiruan.
Pertama dilihat dari gerak-gerik mereka, di mana semuanya memiliki kepandaian dan ilmu silat yang lumayan.
Juga dilihat dari cara saudagar-saudagar itu bicara yang menyebut-nyebut perihal kerajaan, membuat si pendeta mau menduga bahwa mereka tentunya orang orang kerajaan yang tengah menyamar diri.
Memiliki dugaan seperti itu, sikap In Lap Siansu jadi berobah, dia tidak berlaku selunak tadi.
Dengan wajah yang tawar dia berkata.
"Baiklah, sebagai seorang yang patuh pada agama yang berdiri di dasar perikemanusiaan, maka Pinceng ingin meminta agar Sicu sekalian tidak bertindak kasar dan semau Sicu saja dalam meminta kamar! Tadi kebetulan Pinceng telah mendengar bahwa di rumah penginapan ini kamar sudah penuh semuanya, dengan begitu sicu sekalian tentu saja tidak bisa memaksa untuk meminta kamar dan mengusir tamu-tamu yang datang terlebih dulu dari Sicu! Nah, silahkan, Sicu sekalian pergi mencari kamar di rumah penginapan lainnya, mungkin masih terdapat kamar kosong.....!"
Setelah berkata begitu, In Lap Siausu merangkapkan tangannya memberi hormat, dia membawa sikap seperti juga mempersilahkan para saudagar itu berlalu meninggalkan rumah penginapan ini dan tidak menimbulkan keonaran lagi.
Tetapi para saudagar itu mana mau diperlakukan seperti itu?
Mereka memang tengah mendongkol dan tidak senang, dia sekarang merasa seperti diusir seperti itu.
Karenanya salah seorang di antara mereka yang rupanya tidak bisa menahan diri lagi, yang wajahnya bengis dan memelihara kumis yang tipis, telah maju sambil mencengkeram ke arah si pendeta.
In Lap Siansu memiliki kepandaian yang tinggi, dia sekali lihat saja mengetahui bahwa lawannya ini ingin mencengkeram dengan mempergunakan ilmu cengkeraman Eng-jiauw-kang, atau ilmu cengkeraman garuda.
Dan sambil tersenyum sabar, In Lap Siansu mengelakkan diri ke samping, tubuhnya bergerak lincah, tangan lawannya jatuh di tempat kosong.
Akan tetapi saudagar itu, yang rupanya memang telah dapat menduga bahwa si pendeta akan mengelakkan diri dari serangannya, sebab dia melihat bahwa pendeta ini bukanlah pendeta sembarangan dan tentu memiliki kepandaian yang tinggi, karenanya, begitu tangannya mengenai tempat kosong segera tangannya menyambar lagi ke arah dada si pendeta.
"Ohhh, pukulan telengas sekali!"
Berseru si pendeta dengan suara yang tawar, dan tubuhnya telah bergerak cepat sekali, meloloskan diri dari serangan lawannya.
Akan tetapi si saudagar tersebut tidak berhenti sampai di situ saja.
Cepat bukan main dia telah membarengi menyerangnya lagi.
Hebat kali ini saudagar itu menyerang, sebab dia mempergunakan ke dua tangannya.
In Lap Siansu kali ini tidak berusaha berkelit, dengan gesit dan sebat sekali, tangannya telah bergerak ke depan, tahu-tahu telah menyampok tangan dari lawannya sekaligus dia telah menyampok ke dua tangan dari saudagar itu.
Sampokan yang dilakukannya oleh In Lap Siansu ternyata mengandung tenaga lweekang yang dahsyat, karena biarpun gerakannya sangat perlahan, tokh begitu tangannya membentur ke dua tangan si saudagar tersebut, seketika ke dua tangan dari saudagar itu telah kesampok ke samping.
Dan membarengi dengan itu, sebelum saudagar tersebut sempat untuk memperbaiki kedudukan, tubuhnya dan ke dua kakinya In Lap Siansu telah menyerang lagi dengan totokan jari telunjuknya.
Gerakan yang dilakukan oleh In Lap Siansu sangat cepat sekali, dengan tepat dia menotok jatan darah Ma-tiang-hiat dari lawannya, maka tidak ampun lagi tubuh saudagar itu telah terjungkal rubuh bergulingan di lantai dengan mengeluarkan suara keluhan.
Kawannya saudagar itu, yaitu saudagar-saudagar lainnya, terkejut bukan main.
Mereka mengeluarkan bentakan marah ketika menyaksikan kawan mereka dirubuhkan begitu mudah oleh si pendeta.
Akan tetapi disamping perasaan gusar, merekapun jadi terkejut, karena seketika mereka mengetahui bahwa pendeta itu memang memiliki kepandaian yang tidak rendah.
Dalam dua jurus, dan dengan gerakan seenaknya saja, si pendeta berhasil merubuhkan kawan mereka.
Padahal para saudagar itu menyadari dan mengetahui jelas, kepandaian kawan mereka itu tidak rendah.
Cepat sekali belasan orang saudagar itu telah melompat mengepung si pendeta.
In Lap Siansu tetap berdiri tenang di tempatnya, dia merangkapkan sepasang tangannya sambil bergumam perlahan.
"Harap Sicu sekalian jangan menimbulkan keonaran.....!"
Belasan orang saudagar itu mana mau mendengar permintaan si pendeta. Salah seorang di antara mereka dengan bengis telah berkata.
"Keledai gundul, kami ingin meminta petunjukmu!"
Dan setelah berkata begitu, saudagar yang seorang tersebut malah melompat dan telah mulai menyerang dengan pukulan yang kuat sekali dan bisa mematikan.
Dalam keadaan seperti ini tidak ada pilihan lain buat In Lap Siansu.
Cepat luar biasa dia telah melompat ke samping dan berkelit.
Namun saudagar lainnya telah menyambutinya dan menyerang pula padanya.
Begitulah beruntun beberapa kali In Lap Siansu telah melompat ke sana ke mari dengan gerakan yang ringan sekali, dan selalu dia dapat menghindarkan diri dari serangan lawannya itu.
Hal ini disebabkan memang kepandaian In Lap Siansu berada di atas kepandaian dari para saudagar itu.
Sambil berkelit ke sana ke mari In Lap Siansu juga memperhatikan cara menyerang dari saudagar-saudagar tersebut.
Pendeta itu semakin yakin bahwa mereka bukanlah saudagar yang sesungguhnya, tentunya mereka hanya menyamar saja.
Itulah sebabnya.
semakin lama In Lap Siansu telah menyerang makin cepat dengan ke dua tangannya, memaksa lawannya tidak bisa mendekatinya.
Para saudagar itu rupanya juga telah melihat bahwa pendeta ini bukanlah lawan yang ringan.
Mereka berusaha mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian mereka, akan tetapi mereka tidak berhasil merubuhkan pendeta itu.
Walaupun mereka telah mengeroyok seperti itu, akan tetapi pendeta itu dapat menghadapi mereka bagaikan kucing yang tengah mempermainkan rombongan tikus.
Para saudagar tersebut semakin lama jadi semakin gusar dan penasaran.
Suara bentakan mereka terdengar berulang kali, karena mereka menyerang semakin hebat.
Dalam keadaan seperti itu, tampak jelas, betapa tubuh In Lap Siansu berkelebat ke sana ke mari menghindar dari pukulan lawannya.
Dan dalam suatu kesempatan yang ada, tahu-tahu tangan kanan In Lap Siansu telah menyambar dan mencengkeram baju salah seorang saudagar itu.
Kemudian dia melontarkan ke samping kanan.
Menyusul lagi dia mencengkeram dua orang lawannya, yang juga dilontarkannya.
Cepat sekali cara bekerja In Lap Siansu, karena dalam sekejap mata saja telah tiga orang lagi yang dilontarkannya.
Begitulah para saudagar tersebut jadi tak berani terlalu mendesak si pendeta, mereka telah mengepung sambil sekali-kali menyerang.
Akan tetapi, mereka tidak berani terlalu mendesak seperti tadi.
In Lap Siansu tertawa sabar, katanya.
"Apa untungnya kita bertempur seperti ini, lebih bijaksana jika memang sicu sekalian menyudahi pertempuran ini......!"
Akan tetapi para saudagar itu bukannya pengepungan yang mereka lakukan, justru semakin gencar.
Sekarang mereka telah kedudukan diri mereka masing-masing pula.
semakin ketat dan kuat.
berhenti-henti dari mereka menyerang berhasil mengatur Mereka menyerang In Lap Siansu berpikir, jika memang dia menghadapi lawannya dengan cara seperti itu terus, tentu selamanya dia akan dikepung dan pertempuran itu tidak akan berkesudahan.
Karena berpikir seperti itu, In Lap Siansu merobah cara bertempurnya.
Kini dia menggerakkan ke dua tangannya yang sering disilang.
Setiap kali ke dua tangan itu dipentang, dari telapak tangannya meluncur angin serangan yang luar biasa kuatnya.
Dan yang menakjubkan, angin serangan itu menerjang kepada salah seorang lawannya, dan lawannya itu kejengkang ke belakang, rubuh di atas lantai, karena dia seperti juga dihantam oleh lempengan besi yang keras dan kuat.
Setiap kali In Lap Siansu mengulangi gerakan tangannya, seorang lawannya rubuh.
Dan setelah melakukannya enam atau tujuh kali.
In Lap Siansu bertanya lagi, akan tetapi suaranya tawar dan dia sudah habis sabar.
"Apakah kalian masih ingin memaksa aku turunkan tangan keras......?"
Sisa dari saudagar-saudagar itu telah melompat ke belakang dengan wajah gusar. Sedangkan saudagar yang semula telah rubuh, lompat bangun dengan wajah merah padam.
"Kami akan mengadu jiwa.....!"
Teriak mereka sambil mencabut senjata masing-masing, yaitu pedang panjang yang berkilauan dan tajam sekali.
Pedang itu digerakkan untuk menikam dan menabas kepada In Lap Siansu.
Sebagai seorang pendeta yang memiliki kepandaian sangat tinggi, sebenarnya In Lap Siansu bisa saja menurunkan tangan keras mempercepat selesainya pertempuran itu.
Namun jika In Lap Siansu mempergunakan serangan yang mengandung kekerasan, lawan-lawannya itu disamping terluka parah, pun kemungkinan di antara mereka ada yang mati.
Inilah yang tak diinginkan oleh In Lap Siansu, karena dia tidak mau jatuh korban dalam pertempuran tersebut.
Bukankah di antara mereka memang tidak terdapat urusan yang perlu diperbesar?
Dan juga In Lap Siansu hanya bermaksud mengusir orang-orang ini dari rumah penginapan tersebut, agar mereka tidak berlaku bengis kepada pelayan dan tamu-tamu rumah penginapan ini.
Karena itu In Lap Siansu dalam menurunkan tangan menghadapi serangan lawan-lawannya setengah hati.
Dia tidak mendesak terlalu keras, akan tetapi justru lawan-lawannya itu seperti nekad sekali.
Karena desakan yang terus menerus dari lawannya, akhirnya In Lap Siansu bertindak keras sedikit dengan menghadapi pedang lawannya itu.
Dengan mempergunakan jepitan jari telunjuknya, pedang lawannya telah patah berulang kali.
Setiap menyambar salah satu pedang lawannya, In Lap Siansu telah menjepitnya dan pedang itu menjadi patah.
Para saudagar itu jadi terkejut, mereka melompat mundur, dan akhirnya tanpa mengucapkan sepatah perkataan juga telah memutar tubuh mereka berlalu dari rumah penginapan itu.
Kasir dan pelayan rumah penginapan dapat bernapas lega, dan mereka cepat-cepat mengucapkan terima kasih kepada In Lap Siansu.
Sedangkan In Lap Siansu sendiri tidak berdiam terlalu lama di rumah penginapan tersebut, karena dia menaruh kecurigaan kepada saudagar-saudagar tersebut.
Setelah membayar harga minuman dan makanan yang telah dimakannya, In Lap Siansu meninggalkan rumah penginapan itu pula, karena pendeta ini bermaksud untuk mengikuti belasan orang saudagar tersebut.
Ternyata belasan orang saudagar tersebut telah berhasil menumpang di sebuah rumah penduduk, yang mereka bayar dengan harga yang mahal sekali.
In Lap Siansu mengawasi dari kejauhan, dan menantikan sampai sang malam tiba.
Ketika itu, di sekitar tempat tersebut lewat belasan orang pengemis.
Waktu melihat In Lap Siansu berdiam di balik sebatang pohon, mereka bercuriga.
Segera salah seorang di antara pengemis itu menghampiri si pendeta dan menegurnya.
"Taysu, apa yang tengah kau lakukan di situ?"
In Lap Siansu tersenyum.
"Aku sedang mencari tempat yang baik untuk membaca Liamkheng, hanya sayangnya justru Pinceng belum herhasil menemui tempat yang baik, untuk Pinceng dengan tenang membaca Liamkheng.....!"
Dusta In Lap Siansu. Pengemis itu mencilak matanya, dia rupanya masih bercuriga dan tidak mempercayai keterangan In Lap Siansu.
"Jika memang Taysu kesulitan untuk menemukan tempat yang tenang membaca Liam-kheng, mari ikut bersama dengan kami. Kami akan menunjukkan sebuah tempat yang sangat baik.....!"
Kata pengemis tersebut.
In Lap Siansu ragu-ragu sejenak akan tetapi waktu itu diapun telah berpikir, bahwa dia telah mengetahui tempat berdiamnya belasan orang saudagar yang diduganya sebagai saudagar gadungan itu.
Dan dalam menantikan tibanya sang malam, memang tidak perlu dia berada di situ terus!
Karenanya, In Lap Siansu mengiyakan dan ikut bersama rombongan pengemis itu.
"Siapakah sebenarnya Taysu dan berasal dari kuil mana?"
Tanya beberapa orang pengemis itu, yang rupanya ingin mengetahui siapa adanya pendeta ini, yang tampaknya agak luar biasa.
In Lap Siansu menyebutkan gelarannya.
Tiba-tiba muka belasan orang pengemis itu jadi berobah, mereka memperlihatkan sikap terkejut.
"Akh, jika begitu..... Taysu ternyata seorang yang patut kami hormati..... maafkan kami tadi berlaku kurang hormat!"
Kata belasan orang pengemis itu sambil merangkapkan tangan mereka memberi hormat. In Lap Siansu cepat-cepat membalas hormat pengemis-pengemis itu.
"Janganlah sicu sekalian berlaku sungkan seperti itu!"
Katanya.
"Kami telah mendengar dari beberapa orang Tianglo di partai kami, bahwa Taysu merupakan seorang yang selalu bertindak di atas keadilan, karena itu, sungguh suatu keberuntungan yang tidak ternilai harganya buat kami dengan adanya pertemuan seperti ini.....!"
Kata pengemis-pengemis itu.
"Tianglo kalian hanya membesar-besarkan saja diriku!"
Kata In Lap Siansu.
"Oya menurut apa yang Pinceng dengar, bahwa kalian berkumpul di Hou-ciu untuk menghadiri rapat besar yang akaa diselenggarakan oleh Kay-pang. Bukankah begitu?!"
Pengemis-pengemis itu mengangguk.
"Benar, kami memang telah diperintahkan untuk berkumpul di Houciu karena di malaman Cap-go di bulan ini kami yang akan mengadakan rapat besar. Pangcu kami yang akan langsung memimpin rapat besar partai kami itu,"
Menjelaskan si pengemis. Pengemis-pengemis lainnya juga membenarkan hal itu, banyak yang mereka ceritakan. In Lap Siansu tersenyum.
"Justru Pinceng datang ke Hou-ciu ingin menyaksikan keramaian, malah ada sesuatu yang ingin Pinceng sampaikan kepada Pangcu kalian! Ada sesuatu urusan yang sangat penting, menyangkut keselamatan Kay-pang. Secara kebetulan sekali Pinceng mengetahui urusan tersebut, sehingga Pinceng merasa bertanggung jawab juga sebagai sesama sahabat dalam rimba persilatan, untuk memberikan kisikan pada Kay-pang mengenai ancaman yang akan mengganggu partai kalian.....!"
Pengemis-pengemis itu jadi terkejut.
"Urusan apakah itu, Taysu?!"
Tanya mereka serentak. In Lap Siansu menghela napas.
"Sebulan yang lalu, secara kebetulan di In-kang-kwan, Pinceng telah menginap di sebuah rumah penginapan. Bersama Pinceng di dalam rumah penginapan itu bermalam juga empat orang hamba negeri, dan mereka tengah bercakap-cakap di kamar mereka. Sesungguhnya Pinceng tidak bermaksud untuk mendengarkan parcakapan mereka, akan tetapi mereka menyebut-nyebut perihal Kay-pang beberapa kali, menyebabkan pinceng jadi tertarik dan mendengarkan juga percakapan mereka.....!"
In Lap Siansu menceritakan pengalamannya.
"Dan apa yang pinceng dengar ternyata benar-benar mengejutkan, karena mereka tengah membicarakan perihal pengepungan dan juga menghancurkan rapat besar yang akan diselenggarakan oleh Kay-pang. Dari percakapan mereka itu dapat ditarik kesimpulan bahwa pihak kerajaan akan mengutus orangnya untuk menggagalkan rapat besar itu, malah ingin juga menghasut Kaypang agar terpecah bela! Itulah yang diketahui oleh pinceng. Dan sesungguhnya pinceng ingin menawan mereka, untuk meminta keterangan yang lebih jelas. Namun pinceng pikir, jika pinceng melakukan hal seperti itu, sama saja dengan memukul rumput mengejutkan ular..... Karenanya Pinceng mengambil keputusan untuk cepat-cepat menemui Pangcu Kay-pang saja!"
Pengemis-pengemis itu jadi kaget, dan mereka telah bisik-bisik satu dengan yang lainnya. Akhirnya salah seorang diantara mereka telah berkata.
"Jika demikian, Taysu memang perlu cepatcepat dipertemukan dengan Pangcu kami, akan tetapi justru kami belum lagi mengetahui apakah Pangcu kami telah tiba di Hou-ciu ini. Tetapi ada baiknya jika memang kalau kami ajak bertemu dengan seorang pemimpin kami!" In Lap Siansu menyetujui usul pengemis-pengemis itu. Demikianlah In Lap Siansu telah diajak oleh para pengemis tersebut ke sebuah kuil tua yang terletak di sebelah barat dari Houciu. Kuil itu merupakan kuil yang tidak begitu besar, masih terawat baik sekali. Dan kuil tersebut merupakan kuil milik Kay-pang cabang Hou-ciu, di mana semua pengemis memang biasanya berkumpul di kuil itu. In Lap Siansu ternyata dipertemukan dengan seorang peagemis tua, yang di punggungnya menggemblok lima karung. Dan dia merupakan seorang pengemis yang senang tersenyum dan ramah. In Lap Siansu melihat betapa di kuil tersebut berkumpul banyak sekali pengemis-pengemis dari segala tingkatan. Ada yang membawa dua karung, tiga karung dan empat karung. Dan jumlah mereka pun hampir meliputi limaratus orang lebih. Biasanya, di kuil tersebut paling tidak berkumpul limapuluh lebih orang pengemis. Namun justru sekarang di Hou-ciu akan diselenggarakan rapat besar Kay-pang, maka banyak pengemispengemis dari luar daerah yang ditampung di kuil tersebut, tidak terlalu mengherankan jika jumlah pengemis-pengemis yang terdapat di kuil itu sangat banyak sekali. Akan tetapi walaupun jumlah mereka lebih dari limaratus orang pengemis, namun tidak ada seorangpun di antara mereka yang menimbulkan suara berisik. Pengemis tua yang menggemblok lima karung itu ternyata bernama Kay Cing Kay. Dia seorang yang ramah. Dan waktu itu telah menanyakan maksud kedatangan In Lap Siansu. Sebelum In Lap Siansu menjelaskan, salah seorang dari belasan orang pengemis yang membawa In Lap Siansu ke kuil tersebut telah menceritakan apa yang tadi telah diceritakan oleh In Lap Siansu, Kay Cing Kay terkejut bukan main, dia sampai mengeluarkan seruan tertahan.
"Ihhh, apakah ada urusan penting seperti itu?!"
Berseru Kay Cing Kay.
"Inilah urusan yang tidak boleh dibuat main-main, karena jika kelak sudah tiba waktunya dan kita telah berkumpul tanpa bersiaga, lalu menerima serangan dari orang-orang kerajaan, tentu rapat itu akan kacau atau......"
Setelah berkata begitu, Kay Cing Kay menoleh kepada In Lap Siansu, tanyanya dengan sikap menghormat sekali.
"Taysu bisakah Taysu memberitahukan kepadaku, apakah memang yang didengar oleh Taysu dapat dipertanggung jawabkan?!"
In Lap Siansu menghela napas dalam-dalam sambil tersenyum, dia merangkapkan sepasang tangannya, katanya.
"Jika memang urusan biasa tentu Pinceng tidak akan, bercapai lelah melakukan perjalanan ke Hou-ciu ini..... Justru karena mengetahui bahwa Kaypang merupakan sebuah perkumpulan yang berdiri di atas keadilan dan Pangcu dari Kay-pang pun patut dihormati, dengan sendirinya Lolap merasa bertanggung jawab untuk memberitahukan secepat mungkin ancaman yang akan terjadi pada Kay-pang!"
"Soal benar atau tidaknya berita tersebut, memang Pinceng mendengar langsung dari hamba-hamba negeri itu..... karena itu tidak dapat Pinceng menyatakan sendiri, apakah itu bisa dipertanggung jawabkan atau tidak. Namun jika memang Pinceng telah memberitahukan hal itu kepada Kay-pang, dan yang perlu dilakukan oleh Kay-pang adalah bersiap siaga saja. Tokh hal itu tidak ada ruginya? Yang Pinceng kuatirkan justru kalau-kalau ada orang-orang kerajaan yang sempat menyelusup ke dalam barisan Kay-pang!"
Kay Cing Kay mengangguk sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
"Kami bukan tidak mempercayai keterangan Taysu, akan tetapi inilah urusan besar. Jika memang pihak kerajaan benar-benar menaruh perhatian pada rapat besar yang akan diselenggarakan oleh Kay-pang dan mengandung maksud tidak baik. Memang sudah seharusnya kami berlaku waspada..... Terima kasih atas jerih payah Taysu......!"
In Lap Siansu pun segera menjelaskan perihal pertempurannya dengan belasan orang yang berpakaian sebagai saudagar.
Dan In Lap Siansu telah mengemukakan kecurigaannya bahwa belasan orang saudagar tersebut adalah hamba-hamba negeri yang tengah menyamar.
"Kemungkinan besar orang-orang kerajaan menyelusup masuk ke Hou-ciu dengan cara menyamar, misalnya dengan menyamar sebagai saudagar atau juga dengan cara lainnya.....!"
In Lap Siansu mengemukakan dugaannya. Kay Cing Kay pun mengangguk mengiyakan, katanya bahwa In Lap Siansu akan segera dibawa menghadap Pangcunya jika saja Pangcu mereka telah datang di Hou-ciu.
"Sayangnya sampai hari ini Pangcu kami belum lagi tiba di Houciu, dan kami sendiri tengah menantikan kedatangan Pangcu kami itu. Jika memang Taysu tidak keberatan, maukah kiranya Taysu menantikan sampai tibanya Pangcu kami itu, agar dapat menjelaskan seluruh apa yang diketahui oleh Taysu?"
In Lap Siansu mengangguk dan katanya.
"Justru Pinceng memang ingin menyelidiki keadaan belasan orang yang berpakaian sebagai saudagar itu...... Jika memang mereka adalah orang-orang istana Kaisar yang tengah menyamar, maka pinceng tentu akan turunkan tangan keras pada mereka tanpa sungkan-sungkan lagi!"
"Jika demikian, biarlah begitu malam tiba Taysu bersamaku pergi menyelidiki keadaan belasan orang saudagar itu! Apakah Taysu tidak keberatan jika aku ikut serta?"
In Lap Siansu tersenyum.
"Mengapa harus keberatan? Bukankah dengan bersedianya sicu untuk pergi bersama-sama Pinceng menyelidiki keadaan belasan orang yang berpakaian sebagai saudagar itu, jika terjadi pertempuran lagi akan meringankan pekerjaan Pinceng?!"
Kata In Lap Siansu sambil tertawa lebar.
Begitulah, banyak yang dibicarakan oleh In Lap Siansu dengan Kay Cing Kay.
Menurut keterangan yang diberikan Kay Cing Kay bahwa tokohtokoh Kay-pang yang sudah memperoleh enam karung ke atas, mereka berdiam sementara di sebuah gedung yang terletak di sebelah timur kota itu, yaitu rumah milik hartawan she Bun.
"Jika memang Pangcu telah tiba di Hou-ciu tentu pangcu pun akan di bawa ke rumah Bun Wangwe, karena di sanalah semua tokohtokoh Kay-pang telah berkumpul.....!"
Kay Cing Kay mengakhiri penjelasannya. Waktu itu, In Lap Siansu telah meminum teh yang disajikan untuknya, lalu tanyanya.
"Jika memang demikian, apakah setelah kita pergi menyelidiki keadaan belasan orang yang berpakaian sebagai saudagar itu, kita akan pergi menemui tokoh-tokoh Kaypang yang lainnya? Siapa tahu ada di antara mereka yang bisa memberikan petunjuk yang lebih baik lagi?"
Kay Cing Kay mengangguk mengiyakan.
Begitulah mereka telah melewati waktu sambil bercakap-cakap.
Dan akhirnya malam pun telah tiba......
In Lap Siansu dan Kay Cing Kay pun bersiap-siap untuk pergi menyelidiki keadaan belasan orang saudagar itu.
Rumah di mana belasan orang saudagar itu bermalam ternyata sebuah rumah yang tidak begitu besar.
Dari kejauhan In Lap Siansu dan Kay Cing Kay telah melihat api penerangan di rumah itu belum dipadamkan, memperlihatkan bahwa belasan orang saudagar tersebut tentunya belum tidur.
In Lap Siansu memperingati Kay Cing Kay agar pengemis ini berhati-hati.
"Mereka semuanya memiliki kepandaian yang lumayan, jika kita kurang hati-hati, tentu akan menimbulkan kecurigaan mereka!"
Pesan In Lap Siansu.
In Lap Siansu berpesan begitu karena selama berangkat dari kuil tempat di mana berkumpul murid-murid Kay-pang, dia memperoleh kenyataan Kay Cing Kay memiliki kepandaian yang masih berada di bawahnya beberapa tingkat.
In Lap Siansu kuatir kalau-kalau nanti Kay Cing Kay menimbulkan gerakan yang bisa memancing kecurigaan belasan orang yang berpakaian sebagai saudagar itu, yang tentu saja akan mempersulitkan mereka juga dalam hal menyelidiki keadaan belasan orang-orang itu.
Kay Cing Kay tidak tersinggung oleh pesan In Lap Siansu, sebab dia memang menyadari juga bahwa In Lap Siansu memiliki kepandaian yang jauh di atas kepandaiannya.
Malah diam-diam Kay Cing Kay sendiri merasa kagum sekali akan kemahiran ginkang si pendeta, yang dapat berlari cepat dan ringan sekali.
Begitulah, mereka mengambil tempat di belakang rumah tersebut, mereka melompat masuk dari pekarangan di belakang yang sepi dan tidak terlihat seorang manusia pun juga, karena semua orang tengah berkumpul di ruang depan bercakap-cakap.
Tuan rumah rupanya telah menyediakan beberapa macam masakan dan arak untuk belasan orang tamu mereka.
Waktu In Lap Siansu dan Kay Cing Kay melewati ruangan dapur, mereka melihat nyonya rumah berseri-seri, karena dia rupanya telah memperoleh hadiah besar dari tamunya, membuatnya jadi memasak dengan bersemangat seperti itu.
Dengan gerakan yang ringan dan tanpa bersuara, In Lap Siansu dan Kay Cing Kay melewati dapur.
Dengan berani mereka telah masuk ke ruang tengah, dan menempatkan diri mereka di sebuah kamar.
Mereka mendekam di bawah pembaringan.
Dengan demikian mereka dapat mendengarkan dengan leluasa percakapan dari belasan orang yang berpakaian sebagai saudagar tersebut.
In Lap Siansu dan Kay Cing Kay mendengar mereka tertawa-tawa dengan gembira.
Salah seorang di antara mereka tengah berkata dengan sikap yang riang.
"Jika memang usaha kita nanti berhasil, tentu kita akan memperoleh kenaikan pangkat. Dan Kaisar tentu akan memberikan tanda jasa buat kita di samping hadiah yang cukup banyak..... Karena dari itu, walaupun bagaimana kita harus bekerja sebaik mungkin!"
"Ya!"
Beberapa orang kawannya telah menyahut. Lalu salah seorang kawannya yang lain telah bertanya.
"Sesungguhnya semua yang dikerahkan ke Hou-ciu ini berjumlah berapa orang?"
"Cukup banyak, hampir meliputi sepuluhribu orang! Dari istana saja telah diutus dua ribu orang...... semuanya merupakan pahlawan dan jago-jago istana. Maka Kay-pang jangan harap dapat hidup lagi, pasti akan hancur lebur...... hahahahaha.....!!"
Orang itu tertawa keras sekali, tampaknya dia tengah gembira dipengaruhi oleh arak yang telah cukup banyak diteguknya.
Sedangkan kawan-kawannya tertawa keras mengiringi tertawa kawannya, dan mereka tampaknya gembira sekali.
Waktu itu In Lap Siansu dan Kay Cing Kay telah saling pandang.
Mereka telah mendengar jelas betapapun juga saudagar-saudagar ini memang merupakan orang-orang dari kerajaan yang tengah menyamar dan ingin menghancurkan kay-pang.
Setidak-tidaknya memang mereka tentunya bermaksud untuk menggagalkan rapat besar Kay-pang yang akan diselenggarakan di Hou-ciu.
Di kala itu, dengan suara yang cukup nyaring, salah seorang di antara belasan orang saudagar itu telah berkata dengan suara yang mengandung perasaan bangga.
"Seperti yang telah diucapkan oleh Kaisar bahwa kalau urusan ini berjalan lancar dan Kay-pang dapat disapu bersih, atau sedikitnya harus terjatuh ke dalam tangan kita, maka jasa yang akan diimbali oleh Kaisar bukan merupakan imbalan yang kecil. Selain menerima hadiah yang besar juga akan memperoleh kenaikan pangkat! Karena itu, kita harus bekerja sungguh, dalam beberapa hari itu tentu kawan-kawan kita akan tiba!"
"Ya,"
Di saat itu, kita harus bersikap tidak saling kenal satu dengan yang lainnya.....!"
Kata yang lainnya. Jika telah tiba waktunya, yaitu di malam Cap-go mendatang, kita serentak bergerak. Tidak mungkin lagi Kay-pang bisa mengadakan persiapan untuk memberikan perlawanan yang berarti!"
"Hemmm, kalau tidak salah, Ho Ciangkun juga ikut serta dalam penghancuran Kay-pang ini?"
Tanya seorang yang lainnya.
"Ya, Ho Ciangkun memang akan tiba di Hou-ciu tanggal tigabelas, dan selama satu hari akan memberikan petunjuknya apa yang harus kita lakukan. Karena itu, selama beberapa hari ini kita masih memiliki kesempatan untuk bersenang-senang, asalkan kita tetap tidak membuka rahasia diri kita. Tentu seluruh penduduk Hou-ciu menduga bahwa kita adalah saudagar-saudagar yang kebetulan singgah di kota ini!"
"Pengemis-pengemis yang berkumpul di Hou-ciu telah cukup banyak. Menurut apa yang kulihat mungkin jumlah mereka telah meliputi beberapa ribu orang! Hemmm, mereka sama sekali tidak menyadari bahwa saat-saat kehancuran buat Kay-pang telah di ambang pintu!"
Dan mereka tertawa lagi.
Muka Kay Cing Kay merah padam, dia sangat marah.
Apa yang dilaporkan oleh In Lap Siansu ternyata tidak meleset bahwa pihak kerajaan memang bermaksud untuk menghancurkan Kay-pang.
Dengan demikian membuat Kay Cing Kay gusar bukan main.
Jika memang In Lap Siansu tidak menahannya, tentu Kay Cing Kay telah melompat keluar dari tempat persembunyiannya untuk menerjang orang-orang kerajaan yang menyamar sebagai saudagar-saudagar itu.
"Jangan menimbulkan keonaran dulu!"
Bisik In Lap Siansu.
"Kita masih membutuhkan banyak sekali keterangan dari mulut mereka! Biarkan mereka bicara, kita akan mengetahui lebih banyak apa yang ingin mereka lakukan kelak dalam rapat Kay-pang!!' Karena cegahan dari In Lap Siansu, Kay Cing Kay terpaksa menindih perasaan gusarnya itu, dia hanya mengintai dari tempatnya dengan sorot mata yang merah mengandung kemurkaan yang sangat. Sedangkan In Lap Siansu sendiri telah melihat salah seorang dari belasan orang saudagar itu telah merogoh sakunya, mengeluarkan segulungan kertas.
"Ini adalah surat dari Ho Ciangkun!"
Kata orang itu.
"Apakah kalian ingin mendengarnya?"
Beberapa orang kawannya mengiyakan.
Orang itu membuka membacanya.
gulungan surat tersebut, dia mulai "....Jika memang kawan-kawan melakukan tugas dengan baik, tentu akan dikurniakan pangkat yang tinggi sekali, jika perlu akan memperoleh kenaikan pangkat dua tingkat.
Akan tetapi, kalau memang terjadi kegagalan disebabkan kalian, tentu kalian akan memperoleh hukuman yang tidak ringan dari pihak kerajaan!
Kaisar merestui perjuangan kalian dalam menghancurkan Kay-pang!" Semua kawanan orang-orang itu mengeluarkan suara tertawa gembira, dan mereka tampaknya senang sekali.
Malah di antara mereka ada yang meneguk beberapa cawan arak lagi.
Di antaranya juga ada yang mengoceh.
"Sekarang ini kita masih memiliki kesempatan yang baik, jika memang telah tiba saatnya kita berjuang, tentu kita tidak memiliki ketika yang baik untuk menikmati arak..... Ayo, mari kita keringi beberapa cawan arak lagi..... Untuk merestui perjuangan kita agar berhasil dengan baik!"
Setelah berkata begitu, mereka semuanya mengangkat cawan dan meneguk kering.
Sedangkan tuan rumah dan isterinya sejak tadi, setelah selesai menyajikan makanan dan arak kepada tamutamunya ini, mengajak mereka berdiam di ruang belakang rumahnya.
Tamu-tamu ini memang terbuka sekali tangannya, tadi saja mereka telah diberi hadiah sebanyak limabelas tail perak, dan itu merupakan jumlah yang sangat banyak bagi mereka, cukup untuk mereka pergunakan hidup selama satu bulan.
Saat itu, In Lap Siansu dan Kay Cing Kay telah berbisik satu dengan yang lainnya.
"Apa yang akan kita lakukan, Taysu?"
Tanya Kay Cing Kay.
"Kita jangan memukul rumput mengejutkan ular!"
Menyahuti In Lap Siansu dengan suara berbisik juga.
"Tetapi jika kita melepaskan mereka, berarti mereka dapat bergerak lebih leluasa! Bukankah lebih baik kita menawan mereka dan kita kurung di dalam kuil? Dengan demikian, selain kita mengurangi jumlah lawan yang akan mengacaukan rapat besar Kay-pang, pun dari mereka kita dapat mengorek keterangan yang kita perlukan.....!"
In Lap Siansu tidak segera menyahuti, dia berdiam diri beberapa saat, sampai akhir nya dia mengangguk.
"Baiklah! Kepandaian mereka memang tidak terlalu tinggi, karena ilmu silat mereka biasa-biasa saja! Namun, jika memang kita gagal menangkap mereka semua dan ada salah seorang di antara mereka yang berhasil meloloskan diri. Tentu hal ini hanya akan merepotkan kita pula, di mana orang yang lolos itu dapat memberitahukan kepada kawan-kawannya bahwa Kay-pang telah mengetahui rencana mereka, tentu mereka dapat merobah rencana kerja mereka..... Dengan demikian kita akan menghadapi kesulitan baru.....!"
Mendengar penjelasan In Lap Siansu, Kay Cing Kay jadi ragu-ragu. Dia berdiam diri beberapa saat, sampai akhirnya dia berkata juga.
"Kita coba saja. Bagaimanapun kita harus menangkap semuanya, tidak seorangpun dari mereka yang akan kita biarkan lolos.....!"
Dan setelah berkata bcgitu, secepat kilat Kay Cing Kay telah melompat ke depan, gerakan tubuhnya itu seperti bayangan saja, karena dia mempergunakan ginkangnya, sehingga tubuhnya dapat melompat secepat angin.
Sedangkan In Lap Siansu yang melihat kawannya telah bergerak, cepat sekali menyusul.
Karena walaupun bagaimana dia tidak mau membuang waktu lagi.
Kalau sampai terlambat, dan Kay Cing Kay bergerak, lalu memperoleh kesulitan dari belasan orang saudagar palsu itu, tentu hanya akan mempersulit mereka juga, di mana para saudagar palsu itu bisa mempersiapkan diri buat menghadapi mereka.
Waktu itu, belasan orang saudagar itu telah dipengaruhi oleh arak, dan mata mereka sudah tidak bisa melihat dengan jelas.
Hanya melihat sesosok bayangan melompat ke depan dari salah seorang di antara mereka.
Cepat luar biasa sosok bayangan itu menggerakkan tangannya menyerang ke arah dada orang itu.
Suara "Bukkk!"
Yang keras terdengar, seketika tubuh orang itu terjungkal dan pingsan.
Kawan-kawan orang itu jadi terperanjat bukan main.
Mereka melompat bangun dan dengan gerakan yang gesit mereka menyerang kepada sosok bayangan itu.
Rupanya rasa kaget dan bingung mereka telah membuat pengaruh arak berkurang, sehingga mereka bisa menyerang dengan baik.
Sedangkan Kay Cing Kay bergerak cepat sekali, ke dua tangannya menyambar ke sana ke mari dengan gerakan yang sebat, dia melontarkan dua orang lawannya.
Berbareng dengan itu In Lap Siansu juga telah tiba.
Dengan gerakan yang sangat lincah dia telah bergerak menotok beberapa orang saudagar palsu itu.
Dengan demikian tubuh orang-orang itu terkulai rubuh tanpa bisa berkutik lagi.
Kawan-kawan dari para saudagar itu tampak lebih terkejut lagi.
Dan benar-benar pangaruh arak yang tadi masih bersisa di dalam diri mereka telah lenyap.
Dan mereka bergerak cepat sekali, melompat mengepung dan melancarkan serangan yang bertubitubi kepada In Lap Siansu dan Kay Cing Kay.
Akan tetapi mereka telah berada di bawah angin, karena memang In Lap Siansu dan Kay Cing Kay telah menyerang terlebih dulu dan merebut waktu.
Dengan demikian, dalam keadaan terdesak dan panik, saudagar-saudagar palsu yang memang kepandaiannya berada di bawah kepandaian In Lap Siansu dan Kay Cing Kay, jadi terdesak hebat.
Mereka telah tertotok seorang demi seorang, rubuh terkulai tidak bisa berkutik.
Waktu keributan itu terjadi, tuan rumah suami isteri telah muncul.
Di saat itu Kay Cing Kay bergerak cepat.
Dia sadar jika tuan rumah ini tidak ditawan juga, tentu berita terjadinya peristiwa tersebut dapat tersiar.
Karenanya, dengan cepat Kay Cing Kay melompat ke arah suami isteri itu, di mana sepasang tangannya bergerak sebat, tangan kanan menotok sang suami, sedangkan tangan kirinya menotok jalan darah si isteri pemilik rumah tersebut.
Tidak ampun lagi sepasang siuami isteri itu telah terjungkal rubuh tidak bisa bergerak lagi.
Sedangkan In Lap Siansu juga telah berhasil menotok semua lawan-lawannya.
Para saudagar itu telah menggeletak tidak bisa bergerak sama sekali, karena jalan darah mereka telah tertotok.
Di waktu itu, Kay Cing Kay telah berkata kepada In Lap Siansu, bahwa dia akan kembali ke kuil di mana kawan-kawannya berkumpul, untuk memanggil beberapa anggota Kay-pang, guna membantui mereka mengangkuti saudagar-saudagar palsu itu yang kini telah menjadi tawanan mereka.
In Lap Siansu menyetujui untuk menanti di situ, menjagai para tawanannya.
Kay Cing Kay pergi dengan cepat, dan tidak lama kemudian dia kembali dengan membawa lima orang Kay-pang.
Dengan demikian mereka dapat membawa tawanan ke kuil tempat mereka berkumpul dengan cepat.
In Lap Siansu girang juga, karena melihat tidak ada seorangpun dari saudagar-saudagar palsu, yang ternyata merupakan orang orang kerajaan yang tengah menyamar itu, yang bisa meloloskan diri.
Dengan demikian Kay-pang akan bisa memperoleh keterangan yang lebih banyak dari tawanan mereka.
Waktu tiba di kuil itu Kay Cing Kay memimpin pemeriksaan terhadap belasan orang saudagar palsu itu.
Setelah disiksa barulah para saudagar palsu itu mengakui dengan terus terang, bahwa mereka adalah orang-orang kerajaan yang memang ditugaskan untuk menyamar menyelusup ke dalam Houciu, guna mengacaukan rapat besar Kay-pang.
Dan mereka juga menyatakan, walaupun bagaimana Kay-pang dapat dihancurkan, karena banyak sekali orang-orang kerajaan yang dikerahkan di Hou-ciu, sehingga tidak seorangpun dari anggota Kay-pang yang bisa lolos.
Malah salah seorang diantara mereka telah mengancam, agar membebaskan mereka.
Jika tidak, kelak di waktu tiba saatnya orang-orang kerajaan bergerak, dan Kay-pang dihancurkan, mereka akan membinasakan orang-orang yang telah menawan mereka.
Sedangkan salah seorang di antara mereka ada juga yang membujuk.
Dikatakannya jika Kay Cing Kay dan In Lap Siansu mau membebaskan mereka, tentu mereka akan memberi tahukan kepada Ho Ciangkun bahwa In Lap Siansu dan Kay Cing Kay bersama beberapa anggota Kay-pang itu tidak perlu dimusnahkan, malah mereka mungkin akan diberi imbalan yang cukup besar atas jasa-jasa mereka.
Jika memang Kay Cing Kay ingin hidup senang, merekapun akan membujuk Ho Ciangkun agar pengemis ini diberikan pangkat dan kedudukan.
Mendengar itu, Kay Cing Kay jadi tambah marah, bukannya tertarik oleh tawaran istimewa tersebut, malah telah dihajarnya orang tersebut sampai babak belur.
Begitulah, limabelas orang perwira kerajaan yang menyamar sebagai saudagar-saudagar palsu itu telah ditahan di kuil tersebut, di mana mereka akan dihadapkan pada tokoh-tokoh Kay-pang.
◄Y► Tinggal tiga hari lagi rapat besar akan diadakan oleh Kay-pang di kota Hou-ciu segera tiba, dan kota itu semakin penuh juga didatangi oleh pengemis-pengemis dari berbagai daerah.
Yang lebih luar biasa juga di kota ini telah dibanjiri dengan orang-orang yang berpakaian bermacam ragam, ada yang sebagai pelajar, sebagai busu, sebagai pedagang, sebagai petani, juga orang1065 orang asing lainnya.
Mereka semuanya berjumlah ribuan orang, sehingga membuat kota Hou-ciu ramai luar biasa.
Sedangkan pihak pengemis, telah berjumlah hampir sepuluh ribu orang.
Dengan demikian kemana saja orang berjalan di Hou-ciu tentu akan bertemu dengan rombongan pengemis.
Banyak tingkah laku mereka, ada yang menjalankan kebiasaan mereka untuk meminta-minta sedekah makanan sisa, ada juga yang telah duduk bergerombolan di pinggir-pinggir rumah penduduk, dan ada juga yang berkeliaran.
Tetapi mereka semuanya tidak ada yang menimbulkan keonaran.
Menyaksikan jumlah pengemis yang luar biasa banyaknya, membuat penduduk Hou-ciu jadi bergelisah juga.
Mereka rupanya bingung dan tidak mengerti mengapa kota mereka bisa kebanjiran pengemis yang demikian besar jumlahnya, di samping orangorang asing lainnya.
Dengan sendirinya mereka menduga-duga akan terjadi sesuatu yang luar biasa di kota mereka.
Pada pagi itu, tampak lima orang yang tengah berjalan di sebuah jalanan di kota Hou-ciu.
Mereka adalah dua orang pemuda, seorang laki-laki tua berusia limapuluh tahun lebih, dengan seorang wanita berusia tigapuluhan tahun dan seorang anak perempuan berusia belasan tahun.
Sikap mereka tenang, waktu memasuki sebuah rumah makan, yang penuh oleh pengunjung.
Dengan sabar mereka menanti sampai ada meja yang kosong dan mereka baru memesan makanan.
Ke lima orang ini bercakap-cakap dengan tenang, hanya mata mereka yang mengawasi ke sekitarnya dengan sinar matanya yang tajam seperti juga tengah mencari-cari seseorang.
Dilihat dari sikap mereka itu, tampaknya ke lima orang ini bukan orang sembarangan.
Terlebih lagi orang tua berusia limapuluh tahun lebih, dari sinar matanya diketahui bahwa ia memiliki lweekang yang tinggi.
Sedangkan wanita yang berusia tigapuluh tahun lebih itu demikian menyayangi si gadis cilik, yang dengan manja duduk di sampingnya.
Mendengar dari panggilan si gadis cilik kepada wanita tersebut, jelas wanita itu adalah ibu dari si gadis cilik yang manja tersebut.
Ke dua pemuda itupun tampak tenang sekali, yang seorang berusia enambelas tahun, sedangkan yang seorang lagi berusia antara duapuluh tahun lebih.
Mereka berpakaian sederhana sekali, akan tetapi dilihat dari sikap mereka yang gagah, dan di punggung masing-masing tergemblok sebatang pedang.
Rupanya mereka berasal dari dunia persilatan.
Waktu itu pemuda yang berusia enambelas tahun telah menoleh kepada seorang yang duduk di meja lainnya, dia memperhatikan dengan seksama.
Tampak matanya itu memancarkan sinar yang tajam sekali.
Orang yang diperhatikannya itu adalah seorang laki-laki berusia hampir enampuluh tahun, tubuhnya masih tegap dan tampaknya memiliki tenaga yang kuat.
Wajahnya berpotongan telur dan lonjong di bagian dagunya, matanya memancarkan sinar yang licik.
Mengetahui pemuda itu mengawasi padanya, orang tua tersebut berkata kepada kawannya, seorang lelaki berusia tua seperti dia juga, yang duduk dihadapannya.
"Bocah itu minta dihajar......!"
Kawannya tertawa dingin.
"Hmm, memang matanya harus dicongkel keluar!"
Sahutnya sambil memperdengarkan suara tertawa dingin lagi.
"Tetapi kita telah dipesan tidak boleh menimbulkan keonaran.....!"
Waktu itu, tampak kawannya masih mendongkol dan tidak bisa menahan kemendongkolannya itu, dia berkata lagi.
"Tetapi jika dihajar satu-dua kali hantaman, itu tentunya bukan merupakan hal yang terlalu hebat..... tentu tidak menimbulkan keonaran yang lebih jauh....!"
"Jangan.....!"
Mencegah kawannya.
"Kita harus dapat menahan diri.....!"
"Tetapi matanya itu kurang ajar sekali!"
"Kita jangan mencari urusan.....!"
"Tetapi pemuda itu kurang ajar sekali. Lihat, dia masih mengawasiku seperti juga aku ini kakeknya.....!"
Berkata kawannya dengan sikap tidak senang.
Mendengar itu, kawannya yang duduk di hadapannya jadi berdiam diri sejenak, dan akhirnya menghela napas.
"Laote, jika memang kau ingin menghajarnya satu-dua kali hantaman, baiklah.....
tetapi cegah jangan sampai timbul keonaran yang lebih besar.....!"
Orang tua itu mengangguk, dia bangkit dari duduknya.
Dengan mulut memperlihatkan senyuman mengejek, dia menghampiri si pemuda berusia enambelas tahun itu.
Sedangkan si pemuda telah melihat orang tua itu menghampirinya, dia tertawa.
"Ha, rupanya benar dia yang tengah kita cari.....!"
Kata pemuda itu. Kawan-kawan si pemuda menoleh mengawasi orang tua tersebut yang telah sampai di depan meja mereka. Dengan gusar, orang tua itu membentak kasar.
"Matamu perlu dikorek bocah!"
Dan orang tua itu bukan hanya sekedar berkata saja, karena cepat bukan main tangan kanannya bergerak, dia telah menyerang dengan jari telunjuknya ke arah mata si pemuda.
Karena memang dia bermaksud untuk mengorek biji mata si pemuda itu.
Belum lagi pemuda belasan tahun itu bergerak untuk menghindarkan totokan tangan orang tua itu, yang meluncur sangat cepat, kawan si pemuda yang berusia limapuluhan tahun lebih itu tiba-tiba mengangkat sumpitnya.
Dengan gerakan yang sulit diikuti oleh pandangan mata orang biasa, sumpit itu tahu-tahu telah menjepit jari telunjuk orang tua itu.
Jepitan yang dilakukan sumpit tersebut ternyata sangat kuat sekali, sehingga tangan orang tua itu tidak bisa bergerak lagi.
Malah orang tua tersebut merasakan jari telunjuknya sakit bukan main, sehingga dia merasakan tulang jari telunjuknya itu seperti akan patah terjepit sumpit itu.
Dengan gusar orang tua itu mengerahkan tenaga dalamnya, dia menarik pulang tangannya.
Setelah itu dengan mata yang bengis dia mengawasi kawan si pemuda yang berusia limapuluh tahun lebih itu.
Katanya dengan gusar.
"Kau ingin mencampuri untuk dihajar pula?"
Tetapi orang tua berusia limapuluh tahun lebih itu bersikap tenang sekali. Dia menyahuti.
"Ha, rupanya engkau seorang yang galak sekali...... Kami tidak saling kenal dengan kau, dan tidak memiliki kesalahan apapun juga. Mengapa justru tidak angin tidak hujan kau mau menyerang kawanku itu? Apakah memang kau selalu memerlukan biji mata, sehingga begitu menyerang ingin mengorek biji mata kawanku itu?"
Disanggapi seperti itu telah membuat orang tua itu jadi penasaran, dia tambah gusar, serunya.
"Aku Hong Tia Liang baru hari ini melihat manusia-manusia kurang ajar tidak tahu peradatan seperti kalian! Bocah itu mengawasiku seperti juga memandangi kakek moyangnya, karenanya kukira ada baiknya jika biji matanya dikorek agar lain kali tidak kurang ajar!"
Sambil berkata begitu, orang tua yang mengaku bernama Hong Tia Liang tidak tinggal diam.
Belum lagi perkataannya itu habis diucapkan, tangannya cepat bergerak, di mana dia bermaksud menotok biji mata si pemuda itu.
Akan tetapi, sekali ini justru pemuda yang berusia duapuluh tahun lebih, yang berrada di samping si pemuda berusia belasan tahun, yang bergerak sangat sebat.
Belum lagi tangan Hong Tia Liang menyambar tiba pada sasaran, tangannya itu telah ditangkis dan disampok kuat sekali.
Dengan demikian membuat tangan Hong Tia Liang tersampok ke samping.
Tangkisan yang dilakukan oleh pemuda berusia duapuluh tahun lebih itu ternyata kuat sekali, dan ini di luar dugaan dari Hong Tia Liang.
Jika sebelumnya dia hanya bermaksud untuk mengorek biji mata pemuda belasan tahun itu dan tidak menimbulkan keonaran lebih jauh, sekarang dalam saat murkanya seperti itu, telah membuat dia jadi kalap.
Dua kali serangannya telah gagal, karenanya sekarang dia menyerang dengan kekuatan yang penuh dan gerakan yang cepat sekali.
Tangan kirinya menyambar akan mencengkeram pundak si pemuda berusia duapuluh lebih, sedangkan tangannya yang lain tetap menotok ke arah biji mata pemuda belasan tahun itu.
Tetapi sekarang pemuda berusia belasan tahun tersebut tidak tinggal diam.
Melihat orang tua she Hong itu menyerang lagi padanya, dengan tetap duduk berdiam di tempatnya, tangan kanannya telah diangkat.
Kemudian secepat kilat tahu-tahu dia telah menceagkeram pergelangan tangan dari Hong Tia Liaug, diapun telah mengerahkan tenaga dalamnya dan meremas tangan Hong Tia Liang.
Gerakan yang dilakukan oleh pemuda belasan tahun itu membuat Hong Tia Liang kaget tidak terkira.
Melihat dari usianya yang baru belasan tahun itu, tentunya pemuda ini memiliki kepandaian yang belum berarti.
Akan tetapi kenyataan yang ada, remasan tangan pemuda ini kuat sekali, telapak tangannya sangat panas, membuat Hong Tia Liang merasakan pergelangan tangannya seakan kena diremas sampai hancur.
Sambil mengeluarkan seruan tertahan, dia berusaha menarik tangannya untuk melepaskan dari remasan dan cekalan tangan pemuda itu, berbareng kaki kanannya juga telah menendang untuk menyepak tubuh pemuda itu dari tempat duduknya.
Namun, apa yang dilakukan oleh Hong Tia Liang ternyata gagal.
Bukan saja dia gagal untuk menarik pulang tangannya dari cekalan atau ceagkeraman tangan si pemuda belasan tahun itu, malah tendangan kakinya telah mengenai tempat kosong, sebab pemuda itu hanya menggeser duduknya saja.
Dengan demikian Hong Tia Liang tambah gusar dan penasaran.
Baru saja dia ingin menyerang lebih jauh, di waktu itulah si pemuda, belasan tahun tersebut membentak.
Tangannya yang mencengkeram pergelangan tangan Hong Tia Liang telah dihentakkan, sehingga tidak ampun lagi tubuh Hong Tia Liang terhuyung akan rubuh.
Beruntung bahwa Hong Tia Liang memiliki lweekang yang cukup tinggi, walaupun tubuhnya telah terhuyung, akan tetapi dia masih sempat untuk menguasai ke dua kakinya, sehingga dia bisa berdiri tetap lagi.
Dengan muka yang merah padam, dia mendelik kepada pemuda belasan tahun itu.
Walaupun kawannya tadi telah berpesan agar tidak menimbulkan keonaran dan cukup jika telah menghajar pemuda belasan tahun tersebut, akan tetapi sekarang justru Hong Tia Liang telah lupa diri.
Karena gusar dan penasaran, dia jadi melupakan segalanya dan dengan gesit dia melompat maju lagi.
Kali ini serangan ke dua tangannya sangat dahsyat sekali, dia telah menyerang dengan ke dua tangannya sekaligus kepada pemuda belasan tahun tersebut.
Angin serangan yang dilancarkan Hong Tia Liang menderu-deru mendesak pemuda itu, akan tetapi pemuda belasan tahun itupun telah berdiri dari tempat duduknya, dia mengangkat ke dua tangannya untuk menangkis tangan Hong Tia Liang.
Apa yang dilakukan oleh pemuda belasan tahun itu membuat Hong Tia Liang tambah murka.
"Hemmm, usiamu belum seberapa dan tentunya ilmu silat yang kau pelajaripun tidak seberapa tinggi, akan tetapi kau berani menyambut seranganku dengan kekerasan, berarti kau mencari mampus sendiri.....!"
Pikir Hong Tia Liang.
Sebagai seorang yang telah kenyang makan asam garam dunia persilatan dan juga memiliki kepandaian yang tinggi, disamping pengalaman yang banyak, membuat Hong Tia Liang tidak meneruskan serangan ke dua tangannya itu.
Dia mandek dan menahan ke dua tangannya waktu menyaksikan pemuda belasan tahun itu ingin menangkis serangannya dengan kekerasan.
Berbareng dengan itu, dia telah membentak nyaring, tahu-tahu tangannya telah meluncur turun ke bawah, dengan serentak ke dua tangannya itu menghantam ke arah dada si pemuda belasan tahun itu.
Si pemuda belasan tahun tersebut tampaknya kaget juga menyaksikan lawannya merobah serangannya.
Dengan gerakan yang cepat sekali dia mandek untuk berjongkok sedikit, karena waktu itu dia tidak memiliki kesempatan untuk menghindarkan diri dari serangan Hong Tia Liang.
Karenanya, dengan berjongkok sedikit itu, si pemuda belasan tahun ini dapat menangkis dengan hanya menaikkan ke atas ke dua tangannya.
Terjadi bentrokan yang keras antara dua kekuatan yang dahsyat itu.
Tubuh si pemuda belasan tahun seperti diterjang oleh sesuatu tenaga yang dahsyat sekali.
Akan tetapi pemuda belasan tahun tersebut tidak menjadi gugup, dia telah mengempos tenaga dalamnya yang disalurkan kepada ke dua tangannya.
Dan waktu tubuhnya diterjang oleh tenaga serangan orang tua she Hong tersebut, dia telah mendoyongkan tubuhnya ke belakang, seperti juga orang yang keserang, karena dia bermaksud untuk mengurangi tenaga tindihan dari lawannya.
Dan apa yang dilakukannya memang berhasil baik sekali, tenaga serangan Hong Tia Liang seperti mengenai tempat yang lunak dan kehilangan sasarannya.
Waktu itu karena dia menyerang dengan tenaga yang kuat sekali, dia kehilangan keseimbangan tubuhnya, membuat dia jadi terjerunuk ke depan.
Waktu tubuh Hong Tia Liang tengah terjerunuk, pemuda belasan tahun tersebut telah mengangkat kakinya, dia akan menghantam perut dari Hong Tia Liang dengan lututnya itu.
Inilah gerakan yang berbahaya dan tidak pernah dipikirkan oleh Hong Tia Liang, dan orang she Hong tersebut terkejut dalam keadaan sudah terdesak seperti itu, di mana perutnya hanya terpisah beberapa dim lagi saja dari lutut pemuda belasan tahun itu.
Sedangkan pemuda belasan tahun itupun telah mengerahkan kekuatan lweekangnya, dia telah berusaha hendak menghantam perut Hong Tia Liang dengan keras.
Hong Tia Liang walaupun bagaimana merupakan seorang yang sangat berpengalaman serta memiliki kepandaian yang tinggi mengetahui bahaya yang tengah mengancam dirinya, cepat-cepat dia telah mengempiskan perutnya.
Di samping mengempiskan perutnya, dalam waktu yang hanya beberapa detik saja, diapun telah menghantam pemuda belasan tahun itu dengan tangan kanannya, ke dua jari tangannya, jari telunjuk dan jari tengah, telah dipentangnya, mengincar ke biji mata pemuda itu.
Pemuda belasan tahun tersebut menyadari juga walaupun dia berhasil buat menghantamkan lututnya ke perut Hong Tia Liang, akan tetapi jika dia memaksakan diri meneruskan serangan niscaya diapun akan menerima bencana yang tidak kecil, yaitu ke dua biji matanya akan dikorek keluar oleh jari telunjuk dan jari tengah dari orang she Hong tersebut.
Karena itu, pemuda ini tentu saja tidak mau bercelaka bersamasama dengan lawannya, terlebih lagi wanita yang berusia tigapuluh tahun lebih telah memperingatinya.
"Ji-jie, hati-hati!"
Pemuda belasan tahun tersebut batal dengan serangan lututnya, dia telah menarik pulang lututnya dan kemudian membarengi dengan hajaran tangan kanannya.
"Bukkk!"
Pinggang Hong Tia Liang kena dipukulnya dengan keras.
Hong Tia Liang sendiri terkejut melihat pemuda itu menarik pulang lututnya.
Sebenarnya orang she Hong tersebut bermaksud mempergunakan kesempatan itu buat melompat mundur.
Justru perhatiannya terpecahkan, belum lagi dia berhasil melompat mundur, pinggangnya telah kena dihantam begitu keras oleh pemuda belasan tahun itu.
Memang benar pukulan pemuda belasan tahun itu tidak terlalu dahsyat dan tidak bisa mematikan, akan tetapi Hong Tia Liang merasakan pingggangnya seperti juga ingin patah!
Waktu dia meringis seperti itu justru pemuda belasan tahun tersebut telah membentak dan ke dua tangannya silih berganti telah menyerang lagi!
Tenaga serangan yang dipergunakan pemuda belasan tahun tersebut semakin lama semakin kuat.
Rupanya setelah melihat bahwa serangannya pada pinggang Hong Tia Liang tidak membcrikan hasil dan tidak menyebabkan orang she Hong tersebut rubuh, dia jadi penasaran dan setiap serangannya telah ditambah dengan kekuatan lweekangnya.
Di antara berkesiuran angin serangan ke dua tangannya itu, tampak pemuda belasan tahun tersebut juga sekali-kali mempergunakan ke dua kakinya melakukan tendangan yang silih berganti.
Sesungguhnya Hong Tia Liang seorang jago rimba persilatan yang memiliki nama tidak kecil di dalam rimba persilatan di daratan Tiong-goan, akan tetapi sekarang dia seperti dipermainkan oleh seorang pemuda belasan tahun, dengan sendirinya dia jadi gusar bukan main.
Sepasang tangan Hong Tia Liang telah menyambar dengan kekuatan lweekang yang penuh karena sekali saja mengenai sasarannya, niscaya akan menyebabkan korban pukulannya menjadi terluka di dalam yang cukup berat dan parah.
Pemuda belasan tahun itupun rupanya menyadari bahaya yang mengancam dirinya, sehingga cepat-cepat dia telah merobah cara bertempurnya.
Jika tadi dia menyerang dengan beruntun, sekarang ini justru dia kerap kali lebih banyak mengelakkan diri dari serangan Hong Tia Liang.
Melihat perobahan cara bertempur dari pemuda belasan tahun tersebut, semangat Hong Tia Liang terbangun.
Diiringi oleh suara bentakan berulang kali yang sangat bengis sekali, dia telah menyerang semakin gencar.
Sedangkan ke empat orang kawan dari pemuda belasan tahun ini jadi berkuatir juga.
Mereka telah melihatnya bahwa tenaga serangan dari Hong Tia Liang selalu mengandung kekuatan lweekang yang kuat, juga sangat telengas sekali.
Sepatutnya pemuda itu bukan tandingan Hong Tia Liang.
Hanya saja disebabkan pemuda belasan tahun tersebut memang sangat tabah dan dengan sendirinya dia masih dapat memberikan perlawanan terus.
Sedangkan Hong Tia Liang sendiri semakin lama semakin bernafsu.
Apa lagi dilihatnya pemuda belasan tahun itu telah mandi keringat dan jatuh di bawah angin tanpa bisa membalas menyerang, membuat dia semakin gencar menyerang lawannya.
Sedangkan pemuda belasan tahun itu diam-diam mengeluh di dalam hatinya.
Diapun sangat mendongkol, karena dia berpikir bahwa Hong Tia Liang tentunya bukan sebangsa manusia baikbaik, dilihat dari cara menyerangnya yang memang telengas dan juga selalu mengincar bagian-bagian yang mematikan.
Setelah lewat lagi beberapa jurus, tampak pemuda belasan tahun tersebut mengeluarkan seluruh tenaganya, disertai seruan yang sangat nyaring, dia menerjang maju dengan sepasang tangan diputar bagaikan kitiran.
Hebat cara menyerang yang dilakukan pemuda itu.
Itulah serangan yang seperti juga pukulan nekad buat mengadu jiwa dengan lawan.
Hong Tia Liang yang tengah bergirang karena berhasil mendesak pemuda belasan tahun tersebut dan yakin pemuda itu akan dapat dirubuhkan, tidak memperdulikan serangan pemuda belasan tahun tersebut, malah waktu tangan si pemuda belasan tahun itu menyambar datang ke dekatnya dia telah menangkisnya dengan sampokan.
"Bukkk!"
Terdengar suara benturan yang keras sekali, disusul dengan suara seruan tertahan dari pemuda belasan tahun tersebut.
Tubuh pemuda belasan tahun itu terhuyung, dan akhirnya dia terjengkang ke belakang.
Ke empat orang kawan pemuda belasan tahun itu terkejut bukan main, malah oranq tua yang berusia limapuluh tahun lebih telah melompat akan memberikan pertolongan kepada pemuda belasan tahun itu.
Akan tetapi Hong Tia Liang di saat itu yang melihat adanya kesempatan baik buat dirinya, dia tidak mau mensia-siakannya.
Dia melompat sambil melancarkan pukulan dari jarak jauh.
Sedangkan pemuda belasan tahun itu waktu terjengkang ke belakang, juga tidak tinggal diam.
Begitu punggungnya menyentuh lantai segera dia bergulingan.
Setelah berguligan tiga tali, pemuda belasan tahun tersebut melompat bangun.
Pemuda belasan tahun tersebut yang merasakan berkesiuran angin serangan dari arah belakangnya, cepat sekali berjongkok dan tahu-tahu dengan jurus "Kuda Merah Marah Menendang", dia telah menyepak ke belakang.
Tendangan kaki pemuda belasan tahun ini justru menjurus ke arah selangkangan Hong Tia Liang.
Hati Hong Tia Liang terkesiap.
Dia tidak membayangkan adanya serangan seperti itu.
Akan tetapi karena sudah tidak keburu mengelakkan diri, Hong Tia Liang membatalkan serangannya, hanya saja tangan kanannya telah diturunkan, dan dia mencengkeram kaki dari pemuda belasan tahun itu.
Cekalan yang dilakukan Hong Tia Liang sangat kuat sekali dan membarengi dengan mana diapun telah menyentaknya, melontarkan tubuh pemuda belasan tahun itu.
Hati pemuda belasan tahun tersebut terkesiap kaget, waktu mengetahui bahwa kakinya telah kena dicengkeram oleh Hong Tia Liang.
Akan tetapi buat menarik pulang kakinya sudah tidak keburu.
Dalam keadaan seperti itu, dia merasakan Hong Tia Liang menyentak, membuat tubuhnya melayang ke tengah udara.
Celakanya Hong Tia Liang justru tidak melepaskan cengkeramannya, dia telah memutar tubuh pemuda belasan tahun tersebut.
Dengan demikian membuat pemuda itu terputar-putar di tengah udara dan merasakan kepalanya sangat pusing di samping matanya telah berkunang-kunang.
Orang tua yang berusia limapuluh tahun lebih yang bermaksud menolong, pemuda belasan tahun tersebut, juga telah melihat apa yang terjadi.
Dia melompat dan menghantam pundak Hong Tia Liang.
Tubuhnya berkelebat sangat cepat sekali, dan tangannya sangat sebat.
Yang luar biasa tenaga serangannya sangat lunak dan tidak menimbulkan suara sedikitpun juga.
Cuma saja, waktu akan tiba pada sasarannya, di waktu itulah tenaga serangan dari orang tua tersebut berobah sifatnya menjadi sangat keras dan kuat.
Hong Tia Liang yang tengah asyik memutar-mutar tubuh pemuda belasan tahun itu baru dapat merasakan menyambarnya angin serangan di saat kepalan tangan dari orang tua itu hanya terpisah beberapa dim saja dari punggungnya.
Sebagai seorang yang telah kawakan dan memiliki pengalaman yang cukup banyak di dalam rimba persilatan.
Hong Tia Liang tidak menjadi gugup.
Justru, dia telah menyentak tangan kanannya, membiarkan tubuh pemuda itu sebagai tamengnya.
Jika saja orang tua itu meneruskan serangannya, niscaya akan menyebabkan pukulan itu jatuh di tubuh pemuda belasan tahun tersebut.
Akan tetapi orang tua berusia limapuluh tahun itu memiliki mata yang celi, dia tidak meneruskan serangannya, karena menyadari bahwa yang terancam adalah jiwa dari kawannya sendiri.
Dia telah menarik pulang tangannya dan berbareng telah mendupak dengan mempergunakan kaki kanannya.
Sekali ini Hong Tia Liang sudah tidak bisa menghindarkan diri.
Tendangan yang dilakukan orang tua itu sangat cepat dan kuat sekali, mengenai pinggulnya.
Tidak ampun lagi tubuh Hong Tia Liang bergulingan di lantai, sedangkan cengkeramannya pada kaki pemuda belasan tahun tersebut terlepas.
Orang tua berusia limapuluh tahun lebih itu telah melompat membuntuti pemuda belasan tahun tersebut berdiri, kemudian memayangnya kembali ke meja mereka.
Setelah mendudukkan pemuda belasan tahun tersebut di kursinya, orang tua tersebut kembali menghampiri Hong Tia Liang.
Dengan sorot mata yang tajam sekali, orang tua itu mengawasi kepada Hong Tia Liang.
Hong Tia Liang waktu itu baru saja merangkak bangun berdiri dengan muka yang merah padam.
"Bagus! Kau pandai sekali main bokong seperti itu!"
Mengejek Hong Tia Liang dengan sengit dan gusar. Orang tua itu tetap membawa sikap yang sabar hanya matanya yang memancarkan sinar sangat tajam sekali.
"Hemmm, main bokong? Mana lebih baik, main bokong atau memang menghina seorang anak kecil yang tidak pantas menjadi tandingannya?"
Menyahuti orang tua tersebut dengan memperlihatkan senyum mengejek.
Hong Tia Liang dari malu jadi tambah gusar, karena itu tanpa mengucapkan sepatah perkataan pun juga, tubuhnya telah melesat menerjang kepada orang tua tersebut.
Dia mengerahkan lweekangnya pada ke dua tangannya, angin serangan itu menyambar bagaikan badai yang bergemuruh.
Orang tua tersebut berdiri dengan sikap yang tenang sekali.
Dia telah mengawasi meluncurnya tangan lawannya, dan waktu terpisah hanya beberapa detik saja, saat itulah orang tua tersebut bergerak lincah mengelakkan serangan itu.
Telapak tangan kanannya menepuk ke pundak lawannya.
Hong Tia Liang mengeluarkan suara tertahan.
dia telah berkelit ke samping dengan gerakan Rajawali Membuka Sayap.
Di mana sambil tubuhnya miring ke samping, dia telah mementangkan ke dua tangannya dan mencelat pergi.
Waktu itulah, orang tua berusia limapuluh tahun lebih tersebut telah mengeluarkan seruan.
Sedikitpun juga dia tidak ingin memberikan kesempatan kepada Hong Tia Liang buat memperbaiki kedudukan dirinya.
Orang tua itu menyusul dengan sepasang tangannya menyerang dengan cepat dan kuat sekali, namun tidak menimbulkan suara, karena memang orang tua berusia limapuluh tahun itu sengaja mempergunakan tenaga yang bersifat lunak.
Tetapi Hong Tia Liang telah menduga bahwa lawannya akan menyusuli dengan serangan hebat kepadanya.
Dia telah mengibas ke belakang dengan tangan kanannya tanpa menoleh lagi.
"Dukk!"
Tangan kanannya berhasil menyambut tangan orang tua tersebut.
Akan tetapi buat kagetnya Hong Tia Liang justru sampokannya itu malah membuat tubuhnya terjerunuk ke depan.
Hampir saja Hong Tia Liang kehilangan keseimbangan tubuhnya dan akan terjerunuk ke depan.
Beruntung Hong Tia Liang masih sempat buat mengimbangi keseimbangan tubuhnya.
"Hemmm, kepandaian seperti ini ingin dipertontonkan di hadapanku!"
Mengejek orang tua itu lagi.
Dan dia melangkah ingin menyerang pula kepada Hong Tia Liang yang waktu itu telah berhasil berdiri tetap walaupun matanya terasa berkunang-kunang.
Hong Tia Liang mengeluh.
Jika memang orang tua tersebut benar-benar menyerangnya lagi, sedangkan dia sendiri belum dapat memusatkan seluruh kekuatannya.
Dan rasa pusing di kepalanya belum lagi berkurang, pandangan matanya masih berkunang-kunang, niscaya hanya akan membuat dia jadi pecundang belaka.
Dalam keadaan terancam seperti itu, Hong Tia Liang mengempos seluruh sisa tenaganya.
Dan dia berusaha juga buat menghampiri kalau-kalau lawannya menyerang lagi.
Sedangkan orang tua berusia limapuluh tahun lebih itu telah melangkah mendekati.
Di waktu itu terlihat jelas, betapa pun juga, Hong Tia Liang memang bukan menjadi tandingan dari orang tua berusia limapuluh tahun lebih itu.
Jika memang pertandingan itu dilanjutkan sampai beberapa jurus lagi, niscaya akan menyebabkan Hong Tia Liang sendiri yang menderita kerugian yang tidak kecil malah kemungkinan ada terluka berat atau terbinasa memang dia.
Waktu itu orang tua berusia limapuluh tahun itu telah tidak jauh lagi terpisah dari Hong Tia Liang.
"Hemmm, sekarang kau siap-siaplah buat menerima seranganku lagi!"
Kata orang tua itu dengan suara mendesis dan sangat dingin sekali.
Ke dua tangan orang tua tersebut digerakkan buat melancarkan serangan.
Hong Tia Liang mementang matanya lebar-lebar, walaupun dia menyadari, bahwa dirinya bukan menjadi tandingannya orang tua tersebut.
Akan tetapi dalam keadaan terdesak seperti itu, dia telah mengerahkan seluruh sisa tenaganya.
Mendadak sekali berkelebat sesosok bayangan, disusul bentakan.
"Lihat serangan!"
Dan orang tua berusia limapuluh tahun tersebut merasakan menyambarnya angin serangan yang sangat kuat ke arah pundaknya.
Tanpa berayal lagi, orang tua itu memutar tubuhnya.
Dia memang tengah mengerahkan tenaga sinkangnya pada ke dua tangannya, dan sekarang menerima serangan bokongan seperti itu, dia mempergunakan tenaga yang telah disalurkan pada ke dua telapak tangannya tersebut buat menangkis.
"Brukkkk!"
Tenaga tangkisan dari orang tua itu saling bentur dengan tenaga penyerangnya, dan tubuh orang yang menyerang secara membokong tersebut telah bergoyang-goyang beberapa kali, akan tetapi tetap saja terdengar suara mengejeknya.
"Hemmm, kau ternyata memiliki kepandaian yang lumayan!"
Dan dia telah melompat lagi menyerang.
Penyerang gelap itu tidak lain dari orang tua yang menjadi sahabatnya Hong Tia Liang.
Dia rupanya telah melihat bahwa Hong Tia Liang tidak mungkin dapat menghadapi lawannya lagi.
Dan juga dia melihat Hong Tia Liang seperti telah kehabisan tenaganya, maka cepat-cepat dia melompat buat mewakili Hong Tia Liang menghadapi orang tua berusia limapuluh tahun lebih itu.
Kepandaian kawan Hong Tia Liang ini jauh lebih tinggi dari kepandaian Hong Tia Liang sendiri.
Orang tua yang berusia limapuluh tahun lebih itu sendiri telah merasakan bahwa lweekang lawannya ini berada di atas lweekang Hong Tia Liang, karenanya dia berlaku jauh lebih hati-hati.
Di saat itu terlihat betapa kawannya Hong Tia Liang telah mengeluarkan suara bentakan yang nyaring sekali dan ke dua tangannya dengan berbareng telah menyerang lagi silih berganti.
Di antara berkesiuran angin serangan tersebut, terlihat betapa orang tua limapuluhan tahun itu membentak.
"Tahan! Aku ingin bicara dulu!"
Kawan Hong Tia Liang sebenarnya telah menggerakkan ke dua tangannya, akan tetapi mendengar teriakan itu, dia telah menahan ke dua tangannya! "Apa yang ingin kau katakan?!"
Tanya kawan Hong Tia Liang dengan sikap mengejek.
"Hemmm, apakah engkau kuatir mampus di tanganku?!"
Mendengar pertanyaan seperti itu, orang tua berusia limapuluh tahun lebih itu memperdengarkan suara tertawa dingin, kemudian dia menyahuti.
"Hemmm, disini tidak ada perkataan takut atau berani, akan tetapi yang ingin kukatakan justru di antara kita tidak terdapat permusuhan dan persoalan apapun juga, dan bentrokan tadi yang terjadi dengan kawanmu itu hanya disebabkan salah paham belaka! Jika memang kau tetap bersikeras hendak menarik panjang urusan ini, aku orang she Tung tidak bisa berkata apaapa!" Sedangkan kawan Hong Tia Liang telah tertawa mengejek.
"Tidak perlu kau bicara memutar seperti itu, tadi di saat engkau berada di atas angin, dan dapat mendesak hebat kepada kawanku, justru kau telah mendesaknya terus dengan serangan-serangan yang bisa mematikan. Karena dari itu, sekarang di saat kau berurusan denganku, Wie Sung Ie, ternyata kau menyadari bahwa kepandaianmu tidak ada artinya di mataku dan tidak mungkin engkau dapat menghadapiku. Dan karenanya engkau telah berusaha buat menyudahi saja pertempuran ini! Hemm! Hm! Mari maju! Mari maju! Mari kita mengukur kepandaian kita!"
Dan berkata sampai di situ, cepat bukan main dia telah menjejakkan ke dua kakinya, tubuhnya mencelat menyerang lagi kepada orang she Tung itu.
Orang she Tung tersebut yang melihat Wie Sung Ie menyerang, juga tidak mau tinggal diam.
"Baiklah!"
Katanya.
"Kau terlalu memaksa!"
Wie Sung Ie tertawa mengejek waktu melihat orang she Tung itu telah mulai balas menyerang, karena dia pun telah melompat ke atas dan sepasang tangannya telah menyerang silih berganti.
Karena memang orang she Tung itu telah bermaksud balas menyerang, dia kali ini tidak berkelit, hanya menantikan tibanya serangan lawannya.
Dengan gerakan yang sangat manis sekali.
tubuhnya didoyongkan agak ke belakang.
Orang she Tung tersebut telah mengangkat ke dua tangannya, dia mendorong ke depan.
"Bukkk!"
Kuat sekali tenaga dorongan dari orang she Tung tersebut.
Wie Sung Ie sendiri tergetar akibat terjangan tenaga tangkisan dari lawannya itu.
Hanya saja, karena memang lweekangnya sangat tinggi dia tidak menjadi gugup, dan cepat sekali dia dapat menguasai keadaan dan balas menyerang.
Orang she Tung itu baru saja menyerang dengan sendirinya dia belum memiliki kesempatan buat menarik pulang ke dua tangannya.
Sedangkan serangan Wie Sung Ie telah tiba.
Dia jadi mengeluh, dan cepat membuang diri.
Celakanya, waktu dia tengah membuang diri seperti itu, tiba-tiba sekali datang serangan dari arah belakangnya.
Kiranya Hong Tia Liang telah dapat menguat dirinya, pening di kepalanya telah mulai berkurang sedangkan matanya sudah tidak berkunang-kunang lagi.
Waktu itulah Hong Tia Liang melihat betapa kawannya telah berhasil mendesak orang she Tung tersebut.
Tanpa membuangbuang waktu Hong Tia Liang telah melompat mendekati orang she Tung tersebut.
Waktu orang she Tung itu tengah melompat ke belakang, dia membarengi dengan serangannya.
Orang she Tung itu sudah tidak memiliki jalan lain lagi, karenanya dia hanya dapat menangkis.
Cuma saja disebabkan kuda-kuda ke dua kakinya sudah tidak kuat lagi karena waktu itu tubuhnya tengah melompat, dia tidak bisa menangkis dengan baik.
Sedangkan saat itu Hong Tia Liang telah menyerang dengan sekuat tenaganya.
"Bukkk!"
Tubuh orang she Tung itu terpental. Wanita setengah baya yang menjadi kawannya mengeluarkan seruan tertahan. Kemudian menoleh kepada gadis cilik di sampingnya dan kepada ke dua pemuda itu, katanya.
"Kalian hatihati, aku ingin menolong paman Tung kalian."
Dan setelah berpesan begitu, dengan gerakan yang ringan sekali, wanita setengah baya tersebut telah melesat kepada Hong Tia Liang, di saat mana sebenarnya Hong Tia Liang tengah bermaksud melompat menerjang lagi.
Di waktu itulah, menghantam.
cepat luar biasa wanita tersebut telah Hong Tia Liang di saat itu tengah bernafsu sekali buat menghantam lagi kepada orang she Tung itu.
Akan tetapi tiba-tiba dia melihat berkelebat sesosok bayangan, disusul dengan berkesiuran angin serangan kepadanya.
Karena dari itu, cepatcepat dia membatalkan maksudnya hendak menyerang orang she Tung itu, melainkan dia menghadapi serangan bokongan dari lawannya yang baru.
Waktu dia mengetahui bahwa yang menyerangnya itu adalah wanita kawan orang she Tung tersebut, Hong Tia Liang tertawa mengejek.
"Hemm, mengapa engkau membela laki-laki yang tidak punya guna seperti itu?"
Tegur Hong Tia Liang dengan suara mengejek.
"Baiklah aku akan memberikan saran kepadamu. Lebih baik engkau menjadi isteriku saja, kau tentu akan bahagia sekali!"
Dan setelah mengejek ceriwis seperti itu, tampak Hong Tia Liang telah tertawa bergelak-gelak dengan nyaring sekali.
Bukan main gusarnya wanita setengah baya tersebut.
Tanpa mengatakan suatu apapun juga tampak dia telah menggerakkan ke dua tangannya, dia menyerang dengan hebat sekali.
Tenaga serangannya itu ternyata tidak berada di sebelah bawah kekuatan orang she Tung, karenanya Hong Tia Liang tidak berani memandang remeh.
Hong Tia Liang pun mengempos semangatnya dia menangkis, kemudian membarengi menyerang lagi.
Kekuatan mereka rupanya berimbang.
Sedangkan Wie Sung Ie sendiri telah melompat ke dekat orang she Tung.
Dia tidak mau membuang-buang waktu lagi, cepat-cepat dia melancarkan serangan.
Orang she Tung tersebut rupanya baru saja dapat menguasai dirinya, dan menyadari akan bahaya yang mengancam dirinya.
Orang she Tung tersebut mengempos semangatnya, dan dengan mempergunakan sisa tenaganya, dia telah menangkisnya.
"Bukkkk!"
Terdengar suara benturan lagi yang sangat kuat.
Waktu tubuh orang she Tung itu terhuyung, justru Wie Sung Ie telah melompat dan menyerang pula dengan beruntun.
Orang she Tung itu dalam keadaan terancam bahaya yang tidak kecil.
Laki berusia enambelas tahun dan pemuda yang seorangnya lagi, serta si gadis cilik itu, yang menyaksikan keselamatan orang she Tung tersebut terancam, telah mengeluarkan suara seruan tertahan.
Dan mereka bermaksud akan bergerak buat memberikan pertolongan.
Akan tetapi belum lagi mereka bergerak, telah berkelebat sesosok bayangan yang sangat gesit sekali dari arah luar rumah makan itu, disusul dengan suara orang tertawa dan mengejek.
"Hai, hai, mengapa harus telengas seperti itu?"
Menyusul dengan ejekan tersebut, tampak sosok bayangan itu telah menggerakkan tangan kanannya.
Dia telah menangkis serangan Wie Sung Ie.
Tenaga tangkisannya tampak sangat perlahan, akan tetapi begitu tangan mereka saling bentur, seketika itu juga tubuh Wie Sung Ie terlempar ke belakang.
Rupanya tenaga tangkisan dari sosok tubuh itu walaupun tampaknya perlahan sekali, tokh kekuatan tenaga dalam yang dipergunakannya tersebut sangat hebat sekali.
Wie Sung Ie sendiri kaget tidak terkira.
Sama sekali di luar dugaan, bahwa orang yang baru datang itu dapat membuat dia terlempar seperti itu!
Sesungguhnya Wie Sung Ie memang memiliki kepandaian yang tinggi.
Dan sekarang dia hanya dalam satu gebrakan telah dapat dibuat terpental seperti itu benar-benar membuat ia penasaran sekali.
Orang yang baru datang itu telah berdiri tegak dengan ke dua tangan bertolak pinggang, tidak hentinya tertawa.
Wie Sung Ie mementang matanya lebar-lebar dan dilihatnya orang tersebut tidak lain dari seorang pengemis tua yang bertubuh tegap.
Dengan gusar Wie Sung Ie telah mendelik dan membentak kepada pengemis itu.
"Pengemis bau! Mengapa kau mencampuri urusanku?"
Pengemis tersebut tertawa lagi, sikapnya acuh tak acuh.
"Hemmm, justru aku ingin bertanya, mengapa tanganmu begitu telengas?!"
Sambil berkata, si pengemis telah mengulurkan tangan kanannya, dia telah mengambil hio-lonya, di mana dia telah meneguk isinya, yang tentunya merupakan cairan arak.
Kemudian sambil menutup tutup hio-lo tersebut, dia telah berkata lagi.
"Dan sekarang aku si pengemis tua yang tidak punya guna serta miskin, ingin meminta petunjuk darimu, ingin merasakan betapa telengasnya tanganmu itu?"
Sambil berkata begitu, si pengemis telah mencantelkan hio-lonya pada ikat pinggangnya.
Di waktu itu, tampak Wie Sung Ie sudah tidak bisa mempertahankan dirinya lagi, karena dilihatnya si pengemis tua tersebut seperti juga sudah tidak memandang sebelah mata kepadanya, dan ini membuat dia naik darah.
Karena dari itu, ketika melihat pengemis tersebut tengah mencantelkan hio-lonya pada ikat pinggangnya, tanpa mensia-siakan kesempatan itu, tampak Wie Sung Ie telah menjejakkan ke dua kakinya, tubuhnya telah mencelat gesit sekali, ke dua tangannya telah dipergunakan menyerang.
Beberapa meja dan kursi di dekatnya telah terbalik, akibat kuatnya angin serangan Wie Sung Ie.
Sedangkan si pengemis yang telah menolong orang she Tung itu membawa sikap yang tenang dan sabar, sama sekali dia tidak berusaha untuk berkelit dari serangan lawannya, malah dia telah berbalik tertawa dan mengawasi datangnya serangan lawannya tersebut.
Wie Sung Ie yang melihat lawannya tidak berusaha berkelit, dia berpikir di dalam hatinya.
"Hemm, walaupun engkau memiliki kepandaian yang sangat tinggi, tidak nantinya engkau dapat menghadapi seranganku ini dengan berdiam diri saja!"
Karena berpikir seperti itu, maka Wie Sung Ie telah mengempos dan menambah kekuatan tenaga serangannya.
Dan dikala itu tampak ke dua telapak tangannya telah berobah warnanya jadi memerah.
Sedangkan pengemis itu tetap tenang dan setelah telapak tangan dari Wie Sung Ie menyambar dekat, hanya terpisah beberapa dim, tiba-tiba si pengemis telah mengangkat tangan kirinya, dia menggunakan jari telunjuknya saja buat menyambuti!
Wie Sung Ie terkesiap hatinya, dia kaget tidak terkira.
Mengapa?
Karena cara menyerang yang dilancarkan oleh Wie Sung Ie merupakan ilmu yang agak sesat, yaitu ilmu yang mengandalkan kekuatan sinkang yang bersifat panas.
Karena itu, jika bertemu dengan seorang lawan yang tangguh dan lawan itu mempergunakan kekuatan satu jari, di mana seluruh kekuatan sinkangnya dikerahkan pada ujung jari telunjuknya itu dan juga memiliki lweekang yang tidak berada di sebelah bawah dari Wie Sung Ie.
Jika saja mengenai jalan darah Pai-tie-hiat, niscaya akan menyebabkan tenaga dalam dari Wie Sung Ie akan buyar.
Dengan demikian, berarti juga akan menyebabkan Wie Sung Ie terluka di dalam yang parah.
Wie Sung Ie mati-matian berusaha menarik pulang ke dua tangannya.
Sedangkan pengemis itu telah tertawa cekikikan dengan suara mengejek dan sikap yang memandang rendah kepada Wie Sung Ie.
Wie Sung Ie mendelik, bentaknya.
"Siapa kau sebenarnya?!"
"Aku? Akulah si pengemis miskin yang paling melarat di dalam dunia ini!"
Menyahuti si pengemis itu.
"Yang ingin kuketahui, di dalam Kay-pang kau terhitung sebagai pengemis yang menduduki tingkatan keberapa?"
Tanya Wie Sung Ie dengan suara yang mengandung kemarahan.
"Kukira tidak perlu kau bertanya seperti itu, karena kau bukan Tiangloku, dan kau tak memiliki hak bertanya seperti menghakimi diriku! Hemmm, atas kelancanganmu dengan sikapmu yang kurang ajar seperti itu, justru aku akan memberikan ajaran adat buatmu!"
Dan setelah berkata begitu, tanpa menantikan jawaban dari Wie Sung Ie, justru pengemis itu telah melompat dengan ringan sekali, sepasang tangannya bergerak secepat kilat.
Wie Sung Ie sendiri tidak bisa melihat cara bergeraknya pengemis itu.
Tahu-tahu dia hanya merasakan pipinya yang kiri dan kanan sakit bukan main, lalu mulutnya dirasakan seperti dihantam sesuatu yang sangat keras sekali.
Rupanya pengemis itu telah berhasil menempelengnya beberapa kali.
Sedangkan si pengemis itu sendiri telah melompat mundur lagi, sambil masih tertawa mengejek, dia telah bertanya lagi.
"Apakah kau masih berani bersikap kurang ajar terhadap anggota Kaypang?"
Bukan main murkanya Wie Sung Ie.
Tadi dia telah kena ditempeleng seperti itu, karena .dianggapnya memang kurang waspada dan bersiaga.
Karena dari itu sekarang Wie Sung Ie telah mengerahkan seluruh kekuatannya, dia mendesis murka.
"Aku akan membunuh dan mencincang tubuhmu, pengemis bau!"
Teriaknya dengan sikap kalap. Pengemis itu tertawa mengejek.
"Memang di dalam dunia ini tidak ada pengemis yang memiliki tubuh harum dan wangi bunga. Semua pengemis di dalam dunia ini tentu bau! Nah, kau dengan cara apa ingin mencincang diriku? Nah, silahkan, aku justru ingin melihatnya!"
Dan setelah berkata begitu si pengemis memperlihatkan sikap yang menantang sekali.
Sedangkan Wie Sung Ie tanpa membuang-buang waktu lagi telah melompat, di mana dia telah menyerang dengan mempergunakan ke dua tangannya.
Tenaga lweekang yang dipergunakannya sangat hebat sekali, karena sekarang dia tengah murka, akan tetapi dalam kemurkaannya dia juga berlaku waspada dan bersiap siaga.
Sedangkan si pengemis telah tertawa lagi.
"Hemm, rupanya mulutmu itu ingin minta dihajar lagi, bukan?"
Katanya mengejek.
Dan mata si pengemis telah mengawasi datangnya serangan dari Wie Sung Ie.
Sama sekali dia tidak bergerak dari tempatnya berdiri.
Dan waktu tenaga serangan dari Wie Sung Ie hampir tiba, di saat itulah tahu-tahu tubuh si pengemis telah mencelat lenyap dari hadapan Wie Sung Ie.
bagaikan bayangan belaka.
Dengan hati terkesiap Wie Sung Ie memutar tubuhnya.
Benar saja pengemis itu telah berdiri di belakangnya terpisah dua tombak lebih tengah mentertawai dirinya.
Di waktu itu tampak Wie Sung Ie sudah meluap kemarahannya, karenanya dia telah membentak lagi dan tubuhnya telah mencelat sangat gesit sekali.
Si pengemis juga sudah tidak mau mempermainkan lebih jauh.
"Kukira sudah tiba saatnya engkau menerima hajaran dariku!"
Bentak si pengemis.
Berbareng dengan bentakannya itu, tampak tubuh si pengemis telah berkelebat beberapa kali mengelilingi Wie Sung Ie.
Gerakan yang dilakukan pengemis itu benar-benar cepat sekali, karena Wie Sung Ie sendiri tidak bisa melihat jelas pengemis tersebut, di mana Wie Sung Ie melihat pengemis itu seperti telah menjelma menjadi empat orang pengemis yang sama dengannya, dan mengelilinginya.
Wie Sung Ie berusaha buat menghadapi serangan pengemis itu, dia memutar tubuhnya mengikuti gerakan si pengemis.
Akan tetapi memang kepandaian pengemis itu lebih tinggi dari kepandaiannya.
Setelah mengajak Wie Sung Ie berputar-putar beberapa saat, segera juga ke dua tangan pengemis bergerak.
Terdengar suara "Plakkk, plooookkk"
Berulang kali, muka Wie Sung Ie telah bengkak merah.
Orang she Tung yang melihat betapa mudahnya pengemis yang menjadi tuan penolongnya itu mempermainkan Wie Sung Ie.
Tanpa disadarinya dia telah bersorak memuji akan kehebatan pengemis itu.
Demikian juga halnya dengan wanita setengah baya itu, diapun telah tertawa dan mengejek kepada Hong Tia Liang, katanya.
"Lihatlah kawanmu seperti gentong nasi tidak punya guna!"
Hong Tia Liang sendiri tengah berdebaran hatinya, karena melihat Wie Sung Ie yang memiliki kepandaian jauh lebih tinggi dari kepandaian dia sendiri, dengan begitu mudah telah dapat dipermainkan oleh pengemis itu.
Jika memang Wie Sung Ie dapat dirubuhkan si pengemis, tentu dia sendiri tidak akan sanggup melayani si pengemis.
Karena berpikir seperti itu, telah membuat Hong Tia Liang jadi bertempur setengah hati dalam menghadapi wanita setengah baya tersebut, karenanya perlahan-lahan dia jatuh di bawah angin dan terdesak.
Sedangkan wanita setengah baya itu tidak mau membuang-buang waktu.
Diapun telah mendesak Hong Tia Liang dengan gencar.
Setiap serangan yang dilancarkan oleh wanita setengah baya itu selalu membuat Hong Tia Liang mundur berulang kali dan telah terdesak hebat.
Sedangkan Hong Tia Liang sendiri mengeluh di dalam hatinya.
Jika dia menghadapi terus wanita setengah baya ini dengan setengah hati, di mana perhatiannya terpecah, niscaya dia akan celaka.
Karena dari itu, Hong Tia Liang telah menetapkan hatinya.
Dia mengerahkan seluruh sisa tenaganya, dan dia juga telah berbalik menyerang kepada wanita setengah baya tersebut.
Setiap serangan yang dilancarkan memiliki kekuatan yang dahsyat, karena sekarang dia telah berhasil menenangkan dan mensatukan kembali pikirannya.
Wanita setengah baya itupun tidak bisa mendesaknya lebih jauh, dia hanya bisa sekali-sekali melancarkan serangan balasan, dan juga seringkali mengelakkan diri dan menghindarkan dari setiap serangan yang dilakukan Hong Tia Liang.
Waktu itu Wie Sung Ie sendiri telah mengeluarkan seruan atau lebih mirip jeritan kalap.
Tubuhnya melompat ke sana ke mari dengan cepat.
Sepasang tangannya menyerang serawutan di mana dia menghantam dengan sepenuh tenaga dan sekenanya.
Akan tetapi si pengemis tetap seperti mempermainkannya, bergerak dengan ringan dan lincah.
Setiap serangan yang dilancarkan Wie Sung Ie sama sekali tidak pernah mengenai sasarannya.
Hanya saja yang menjadi korban justru adalah meja dan kursi, yang banyak terbalik dan menjadi hancur.
Sedangkan pengemis itu, setelah mempermainkan sekian lama.
Akhirnya berkata dengan suara maupun sikap sungguh-sungguh, katanya.
"Dengarlah. Sekarang sudah tiba waktunya aku menghajar keras padamu!"
Wie Sung Ie yang mendengar perkataan pengemis tersebut, segera juga mementang matanya, sementara dia menunda serangan-serangan kalapnya.
Akan tetapi si pengemis bukannya menyerang malah telah berdiri tenang-tenang di tempatnya dengan bibir tersenyum simpul seperti tengah mentertawainya.
Wie Sung Ie jadi tambah kalap.
Dengan mengeluarkan suara bentakan kalap, dia telah menyerang lagi.
Tangan kanannya menghantam dengan hebat.
Pengemis itu sama sekali tidak berusaha menghindar.
Dia membiarkan dadanya itu dihantam.
"Dukkk!"
Keras sekali dada si pengemis telah dihantam oleh pukulan yang dilancarkan oleh Wie Sung Ie.
Sebenarnya pukulan itu sangat kuat sekali, akan tetapi bagaikan tidak berpengaruh apa-apa bagi diri si pengemis, yang tetap berdiri tegak di tempatnya.
Dada si pengemis keras seperti baja dan sama sekali tubuhnya tidak bergeming.
Malah waktu itu si pengemis telah tertawa dan berkata dengan sikap mengejek.
"Kau boleh pilih bagian yang terempuk di tubuhku si pengemis melarat!"
Katanya.
"Hemm, aku akan mengadu jiwa dengan kau!"
Berteriak Wie Sung Ie.
Dan berbareng dengan teriakannya itu, tubuhnya berkelebat menerjang lagi.
Sekali ini dia menyerang jauh lebih hebat, karena dia telah mempergunakan seluruh kekuatan tenaga dalamnya.
Setiap pukulan yang tadi dilancarkan oleh Wie Sung Ie seperti tidak dipandang sebelah mata oleh si pengemis.
Akan tetapi sekarang ini justru di saat Wie Sung Ie menyerang demikian hebat, si pengemis memperlihatkan sikap bertambah tidak memandang mata.
Dia tetap berdiri tenang-tenang di tempatnya, sama sekali tidak terlihat tanda-tanda bahwa dia akan mengelakkan diri dari serangan Wie Sung Ie yang hebat ini.
"Bukkk!"
Kembali pukulan dari Wie Sung Ie mengenai sasarannya, yaitu perut dari pengemis tersebut.
Akan tetapi yang kesakitan bukan si pengemis, justru Wie Sung Ie sendiri yang menjerit kesakitan sambil melompat-lompat, karena dia merasakan seperti memukul besi, dan kepalan tangannya itu berobah merah.
"Memang hebat tenaga pukulanmu, akan tetapi apakah engkau masih penasaran dan tidak mengakui bahwa engkau dalam satu jurus dapat kurubuhkan?!"
Ejek pengemis.
"Jika dalam satu jurus kau dapat merubuhkan aku, biarlah selanjutnya aku akan mengakui engkau sebagai guruku!"
Kata Wie Sung Ie dengan kemurkaan yang meluap dan diliputi oleh perasaan takut. Pengemis itu tertawa.
"Siapa yang kesudian mempunyai murid seperti engkau?!"
Kata si pengemis.
"Cis, aku juga tidak kesudian mempunyai murid yang tampangnya seperti kau. Yang terpenting engkau harus dihajar dengan keras karena ketelengasan tanganmu!"
Dan setelah berkata begitu, dengan cepat si pengemis melangkah maju mendekati Wie Sung Ie.
Sama sekali dia tidak memperlihatkan sikap mengancam, karena dia melangkah menghampiri dengan mulut tersenyum, seperti juga dia tengah bertemu dengan seorang sahabat lama.
Waktu itulah tampak Wie Sung Ie yang tegang sendirinya.
Dia telah bersiap-siap buat menghadapi segala sesuatunya.
"Kau sudah bersiap-siap buat menghadapi seranganku?"
Tanya si pengemis.
Wie Sung Ie hanya mendengus.
Si pengemis menghampiri lebih dekat.
Setelah terpisah hanya beberapa langkah, tampak pengemis itu mengangkat tangan kanannya.
Wie Sung Ie menduga si pengemis ingin menyerangnya, cepatcepat ia menggerakkan tangannya buat menangkis.
Akan tetapi ternyata pengemis itu bukan menyerang, melainkan dia menggaruk pahanya.
"Gatal!"
Katanya sambil nyengir.
Bukan main mendongkolnya Wie Sung Ie, tubuhnya sampai gemetaran.
Coba jika bukannya dia memang mengetahui bahwa pengemis ini sangat liehay dan kepandaian si pengemis berada di atasnya beberapa tingkat, jelas dia akan menerjang buat mengadu jiwa.
Sedangkan si pengemis telah bertanya lagi.
"Benar-benar kau sudah siap?"
Wie Sung Ie tetap tidak menyahuti, hanya matanya yang terpentang lebar-lebar.
"Nah, aku akan segera menyerang?"
Kata si pengemis.
"Kau bersiap-siaplah!"
Dan setelah berkata begitu, dengan cepat sekali ke dua tangan si pengemis digerakkan, dia telah menyerang.
Serangan yang dilakukannya aneh sekali.
Dia seperti juga ingin merangkul Wie Sung Ie.
Menyaksikan cara menyerang dari lawannya tersebut, membuat Wie Sung Ie sementara waktu berdiam diri saja tidak menangkis, karena dia yakin itulah serangan gertakan belaka.
Akan tetapi untuk kagetnya justru waktu itu dia merasakan terjangan tenaga yang luar biasa hebatnya.
Dan ketika Wie Sung Ie tersadar akan bahaya yang mengancamnya, dia telah terlambat, karena tahu-tahu dia telah merasakan napasnya sesak, matanya berkunang-kunang, dan juga tubuhnya seperti dihantam oleh sesuatu kekuatan yang dahsyat sekali.
Tanpa bisa melakukan gerakan apa-apa lagi, tubuh Wie Sung Ie telah terpental rubuh.Waktu tubuh Wie Sung Ie jatuh terjerembab ke lantai, dia segera juga memuntahkan darah segar.
Rupanya serangan yang dilakukan pengemis membuat dia terluka di dalam yang tidak ringan.
Dan darah segar yang dimuntahkannya itu bukan sedikit, karena berulang kali dia telah memuntahkan darah segarnya itu.
Di kala itu tampak Wie Sung Ie tengah berusaha buat bangun berdiri.
Si pengemis telah tertawa cekikikan, dia menghampiri, lalu kaki kanannya telah ditendangkan, membuat tubuh Wie Sung Ie menggelinding lagi.
"Sudah kuperingati tadi bahwa engkau harus bersiap-siap dan hatihati menghadapi seranganku, akan tetapi engkau terlalu sombong, dengan demikian engkau sendiri yang menderita kerugian terluka di dalam.....!" Mendengar perkataan pengemis itu, Wie Sung Ie berusaha buat menguatkan hatinya. Dan diam-diam dia telah menyalurkan sisa tenaganya tersebut pada ke dua telapak tangannya. Di saat pengemis tengah melangkah mendekatinya, tampak Wie Sung Ie mendadak sekali telah melompat dan menyerangnya. Hebat sekali tenaga terakhir yang dipergunakannya ini, karena selain ilmu pukulan yang dipergunakannya merupakan ilmu simpanannya, juga sisa seluruh tenaganya tersebut merupakan kekuatannya yang terakhir. Si pengemis sama sekali tidak menyangka bahwa Wie Sung Ie akan berlaku nekad seperti itu. Dia mengeluarkan suara tertawa mengejek, tahu-tahu tubuhnya mencelat dan berhasil mengelakkan serangan Wie Sung Ie. Dia juga telah berhasil menggerakkan kaki kanannya, di mana dia menyepak dengan keras sekali. Sedangkan waktu itu terlihat betapa tenaga tendangan dari si pengemis membuat tubuh Wie Sung Ie meluncur dengan cepat sekali. Dan juga telah membuat kepala dari Wie Sung Ie menghantam dinding ruangan rumah makan tersebut. Hantaman kepala Wie Sung Ie kepada dinding tersebut membuat batok kepalanya menjadi hancur. Dan waktu tubuhnya rubuh, dia tidak bisa mengeluarkan suara jeritan apa-apa lagi, karena jiwanya seketika melayang ke neraka! Di kala itu, si pengemis telah mendengus beberapa kali, dia telah berkata dengan suara menggumam.
"Hemmm, manusia tidak tahu diuntung!" Di saat itu terlihat betapa wanita setengah baya yang tengah bertempur dengan Hong Tia Liang telah berhasil berada di atas angin, karena Hong Tia Liang, yang melihat kawannya telah terbinasakan dengan cara seperti itu, jadi ciut nyalinya. Dia segera terdesak hebat, sebab pikirannya waktu itu jadi kalut. Sedangkan wanita setengah baya tersebut tidak mau membuangbuang waktu lagi. Dia telah menggerakkan ke dua tangannya menyerang dengan beruntun. Tenaga serangan yang dilancarkan itu sangat hebat sekali, sehingga Hong Tia Liang selalu main mundur tidak hentinya, dan diam-diam Hong Tia Liang juga mengeluh. Jika melihat keadaan pada saat itu, tentunya sulit buat dia meloloskan diri. Bukankah jika memang dia berhasil menghadapi wanita setengah baya tersebut masih ada lagi yang lainnya yaitu orang she Tung dan juga si pengemis yang hebat luar biasa kepandaiannya itu. Pemilik rumah makan dan juga para pelayan, telah memandang dengan hati yang ciut sekali. Mereka sangat ketakutan, sebab dilihatnya telah terjadi korban jiwa. Waktu itu si pengemis yang telah berhasil membinasakan Wie Sung Ie, memperdengarkan suara tertawanya. Sambil menggarukgaruk pahanya, dia melangkah mendekati kepada wanita setengah baya dengan Hong Tia Liang yang tengah bertempur.
"Berhenti!"
Teriak si pengemis kemudian, dengan suara yang nyaring.
Wanita setengah baya itu menyadari bahwa pengemis ini berdiri di pihaknya.
Karena begitu mendengarnya perintah si pengemis agar dia menghentikan pertempuran tersebut, segera juga dia mendesak Hong Tia Liang, kemudian waktu orang she Hong itu tengah melompat mundur, wanita setengah baya tersebut melompat mundur menjauhi diri.
Sedangkan saat itu Hong Tia Liang sendiri telah berdiri dengan muka yang pucat.
"Hemm, ternyata kalian main keroyok!"
Memaki Hong Tia Liang dengan gusar, karena dia sengaja memperlihatkan sikap gusar dan menindih perasaan takutnya. Dia ingin dapat meloloskan diri dari tangan si pengemis.
"Tidak pernah aku si pengemis miskin melarat dalam pertempuran main keroyok. Tentunya kau sendiri tadi telah melihatnya bahwa kawanmu itu menemui kematiannya karena dia mencari penyakit sendiri. Jika memang engkau penasaran, aku akan mempersilahkan engkau menyerang diriku, aku akan melayani engkau seorang diri!"
Hong Tia Liang jadi menyesal telah terlanjur dengan perkataannya. Karena sekarang jelas dia sudah tidak bisa mundur lagi dari keadaannya seperti itu.
"Baik!"
Sahutnya.
"Aku akan melayanimu!"
Dan setelah berkata begitu, Hong Tia Liang menoleh ke kiri dan ke kanan.
"Kenapa?!"
Tanya si pengemis sambil tertawa mengejek. "Aku kuatir bahwa kau tidak bisa menghargai perkataanmu sendiri, di mana jika kita telah bertempur, kau akan main keroyok dengan kawan-kawanmu itu!"
"Hahaha!"
Si pengemis telah tertawa bergelak-gelak.
"Aku tidak akan sehinamu! Majulah aku berjanji tidak akan mengecewakan kau!"
Hong Tia Liang masih takut, karena memang tadi dia hanya mencari-cari alasan buat mengulur-ngulur waktu belaka.
"Ayo maju!"
Desak si pengemis waktu melihat si orang she Hong tersebut tetap ragu. Sedangkan Hong Tia Liang telah menggelengkan kepalanya, katanya.
"Tunggu dulu, ada sesuatu yang ingin kukatakan!"
"Katakanlah!"
Kata si pengemis.
"Hemmm, apakah dalam pertempuran yang selenggarakan itu tidak ada batas-batasnya?!"
Akan kita "Maksudmu?!"
"Apakah kita bertempur sampai salah seorang di antara kita ada yang binasa?!"
Si pengemis tertawa "Sudah tentu tidak..... aku bersedia berjanji kepadamu, di dalam lima jurus engkau akan dapat kurubuhkan!" "Benarkah?"
Tanya Hong Tia Liang sengaja mengulur waktu.
"Aku tidak akan mendustaimu. Jika dalam lima jurus engkau masih belum dapat kurubuhkan, maka anggap saja aku yang kalah dan aku akan rela buat menggorok leherku sendiri. Mendengar perkataan si pengemis, Hong Tia Liang jadi girang, karena memang inilah yang dikehendakinya, sebab memang dia ingin, memancing kemarahan si pengemis.
"Dalam lima jurus aku harus dapat berusaha mengelakkan diri dari serangannya. Jika aku tidak bernafsu buat menyerangnya, tentu aku dapat menghadapinya selama lima jurus. Dengan demikian berarti, aku yang menang!"
Setelah berpikir begitu, Hong Tia Liang mengangguk-angguk.
"Baik! Apakah kita mulai?"
"Ya, kau yang mulai!"
Sahut si pengemis.
"Tidak! Kau saja!"
Kata Hong Tia Liang yang tidak bersedia menyerang.
"Hemm, jika aku yang menyerangmu, tentu dalam satu jurus kau telah dapat kurubuhkan!"
"Aku tidak percaya!"
Si pengemis tertawa. Kemudian dengan cepat ia melangkah menghampiri Hong Tia Liang.
"Lihatlah, dalam satu jurus ini aku akan merubuhkan dirimu!"
Kata si pengemis.
Berbareng dengan habisnya perkataan pengemis itu.
tangan kanannya telah digerakkan menghantam kepada Hong Tia Liang.
Cara menyerang si pengemis biasa saja, karena dia telah menyerang dengan gerakan tangan yang sederhana sekali, bahkan dia seperti tidak mempergunakan kekuatan tenaga sama sekali.
Hong Tia Liang sendiri semula menduga bahwa serangan dari si pengemis merupakan serangan menggertak belaka.
Akan tetapi waktu angin serangan itu menyambar datang, dia jadi kaget sendirinya, karena dia merasakan angin serangan itu kuat sekali, menerjang ke dadanya.
Bahkan Hong Tia Liang merasakan napasnya sesak dan pandangan matanya berkunang-kunang!
Waktu itulah Hong Tia Liang mati-matian mengempos semangatnya.
Dia telah mengerahkan seluruh tenaganya, dan berusaha buat menghindar.
Akan tetapi terlambat......
Karena tampak tubuh Hong Tia Liang telah terpental bergulingan di lantai.
Si pengemis tertawa keras.
"Apa yang kukatakan tadi tidak salah, bukan?"
Tanyanya.
"Jika aku yang menyerangmu tentu dalam satu jurus aku dapat merubuhkan dirimu! Tokh aku menyerangmu hanya mempergunakan dua bagian tenaga dalamku! Jika memang aku mempergunakan lima bagian tenaga dalamku, jangan harap engkau masih bisa bernapas dan hidup lebih lama lagi!"
Hong Tia Liang jadi menggidik.
Dan dia mengakui jika saja memang si pengemis membuktikan perkataannya itu dan menyerang dia lebih kuat, jelas dia tidak bisa hidup lebih lama lagi.
Tadi saja serangan si pengemis telah membuat napasnya jadi sesak dan matanya gelap berkunang-kunang.
Akan tetapi Hong Tia Liang tidak mau menyerah begitu saja.
"Tinggal..... tinggal empat jurus lagi!"
Katanya dengan suara tergagap.
"Ya, empat jurus lagi!"
Kata si pengemis. sambil tersenyum.
"Selama empat jurus itu engkau boleh menyerang diriku. Jika memang aku tidak bisa merubuhkan dirimu, itulah nasibku yang benar-benar sial, karena aku harus menggorok leherku sendiri!"
Sambil berkata begitu, si pengemis telah tertawa bergelak-gelak.
Hong Tia Liang saat itu telah berhasil berdiri, mukanya pucat.
Tubuhnya juga agak sempoyongan.
Sejenak lamanya dia berdiri, berusaha mengatur jalan pernapasannya, buat mengempos dan mengumpulkan tenaga dalamnya!
Dan setelah dia merasakan bahwa tenaga dalamnya kumpul, Hong Tia Liang membentak bengis.
Tubuhnya menerjang kepada si pengemis dengan terjangan nekad dan pukulan yang mengandung maut, karena dia bermaksud menghantam binasa si pengemis.....!
Hong Tia Liang rupanya menyerang dengan sekuat tenaganya.
Dia percaya, jika memang serangannya ini berhasil mengenai sasarannya, niscaya si pengemis akan terhajar binasa.
Akan tetapi pengemis itu memang benar-benar sangat tangguh sekali, selain lweekangnya yang telah mahir, ginkangnya sangat sempurna sekali.
Waktu melihat Hong Tia Liang telah menyerangnya, dia berdiam diri dulu sejenak.
Baru kemudian di waktu serangan Hong Tia Liang akan tiba, dia telah mencelat dengan gesit sekali.
Dalam waktu yang singkat dia telah lenyap dari hadapan Hong Tia Liang, karena pengemis itu telah berada di belakang orang she Hong tersebut.
Belum lagi Hong Tia Liang sempat memutar tubuhnya, waktu itulah tangan kanan si pengemis telah menepuk pundaknya, dengan tepukan yang tampaknya sangat perlahan sekali.
akan tetapi hasilnya memang sangat luar biasa, karena tubuh Hong Tia Liang seketika terjungkal terjerunuk ke depan, di mana mukanya telah mencium tanah!
Hong Tia Liang terbang semangatnya, dia kaget tidak terkira.
Dalam keadaan seperti itu Hong Tia Liang sudah tidak bisa menguasai keseimbangan tubuhnya.
Dia telah terjungkal dengan membarengi bergulingan belaka.
Hanya itu satu-satunya jalan buat menghindarkan agar tidak menerima luka di dalam yang terlalu hebat.
Pengemis itu sendiri telah tertawa dingin, katanya dengan mengejek.
"Nah, kau berdirilah, marilah kita teruskan lagi! Tinggal tiga jurus lagi!"
Sedangkan Hong Tia Liang telah merangkak bangun, dari hidungnya yang telah bocor mengalir keluar darah yang merah membasahi bibir dan pipinya.
Waktu itu dia berdiri dengan hati yang bimbang dan ngeri.
Sebab dia telah menyadari bahwa dirinya memang bukan menjadi tandingan dari pengemis tersebut.
Kalau tokh pertempuran ini diteruskan, niscaya dirinya yang akan terbinasa seperti juga Wie Sung Ie, kawannya itu.
Akan tetapi si pengemis telah tertawa dingin berulang kali dan menantangnya agar dia menyerang lagi.
Akhirnya dengan nekad, Hong Tia Liang menyerang lagi.
Kali ini dia berlaku nekad dan kalap karena dia telah berpikir, jika tokh dia harus terbinasa di tangan si pengemis, maka sedikitnya dia harus dapat membinasakan pengemis itu juga, agar mereka mati bersamasama.
Setelah menerjang dengan kuat, sepasang tangan dan kakinya digerakkan dengan serentak.
Dia telah menyerang dengan membabi buta dan juga mempergunakan seluruh kekuatan tenaga yang masih bersisa di dirinya.
Orang she Tung, wanita setengah baya, gadis kecil dan ke dua pemuda itu, berdiri kagum memandang si pengemis yang mempermainkan Hong Tia Liang.
Mareka sangat kagum atas kepandaian pengemis itu.
Sedangkan si pengemis sendiri yang menghadapi kenekadan Hong Tia Liang, tidak merobah cara bertempurnya, karena dia tetap saja tertawa-tawa dan berulang kali menggerak tangannya buat menangkis serangan lawannya.
Dan jika memang Hong Tia Liang menyerang dengan desakan nekad, dia telah mencelat ke samping, sambil terus menghitung.
"Tinggal dua jurus lagi....., tinggal satu jurus lagi!"
Hong Tia Liang semakin kalap saja waktu melihat telah empat jurus dia masih belum bisa merubuhkan pengemis itu.
Sedangkan untuk mendesak saja dia sudah tidak bisa, apa lagi mengharapkan bisa merubuhkan pengemis itu.
Karenanya pada jurus yang terakhir itu, Hong Tia Liang sudah tidak memikiri keselamatan dirinya.
Sambil disertai bentakan yang bengis tubuhnya mencelat cepat sekali, dia telah menyerang sekuat tenaga dengan ke dua telapak tangan yang dibuka.
Si pengemis sendiri tidak menyingkir, dia menantikan sampai tibanya serangan Hong Tia Liang.
Setelah dekat, dia menyambuti dengan ke dua telapak tangannya.
"Bukkkk!"
Luar biasa sekali tenaga tangkisan dari pengemis itu, sehingga tubuh Hong Tia Liang terpental sejauh empat tombak lebih, kemudian terbanting di lantai dengan napas yang telah putus!
Dia telah menemui ajalnya!
Si pengemis berdiam diri sejenak, dia menghela napas dalam.
Rupanya pengemis ini mengatur jalan pernapasannya buat memulihkan semangat dan tenaganya.
Hong Tia Liang tadi waktu menyerang kiranya telah mempergunakan seluruh sisa tenaganya, sehingga tenaga serangannya itu hebat bukan main.
Walaupun si pengemis memang memiliki kepandaian yang tinggi, tokh kenyataannya serangan dari Hong Tia Liang menyebabkan goncangan yang tidak kecil pada kuda-kuda ke dua kakinya, di mana tenaga murninya telah tergoncang juga.
Itulah sebabnya si pengemis telah cepat-cepat mengatur jalan pernapasannya, karena dia bermaksud untuk dapat memulihkan tenaga dan semangatnya, agar tidak terluka di dalam akibat serangan nekad Hong Tia Liang tadi.
Orang she Tung itu cepat-cepat menghampiri si pengemis guna menyatakan terima kasihnya.
Sambil merangkapkan ke dua tangannya dia menjura kepada pengemis itu, katanya.
"Terima kasih atas pertolongan yang diberikan in-kong!"
Si pengemis tertawa, dia telah menyingkir tidak mau menerima pemberian hormat yang dilakukan orang she Tung tersebut. Dia hanya bilang.
"Jangan banyak peradatan..... jangan banyak paradatan...... sudahlah..... sudahlah..... itu suatu yang tidak berarti sama sekali, dia memang seorang manusia busuk yang patut memperoleh ganjaran!" Sedangkan kawan orang she Tung, yaitu wanita setengah baya, gadis cilik dan ke dua pemuda itu, juga telah datang menghampiri dan menjura menghaturkan terima kasih kepada pengemis itu. Si pengemis pun sama seperti tadi telah menghindar tidak mau menerima pemberian hormat tersebut, bahkan dia telah bilang juga.
"Jika kalian selalu mempergunakan cara-cara peradatan, maafkan, aku si pengemis melarat tak bisa menemani terlalu lama!"
Karena si pengemis berkata begitu, ke lima orang tersebut jadi tidak memberikan hormat lebih lanjut, cuma saja orang she Tung itu telah berkata.
"Sesungguhnya, memang kami sangat berterima kasih sekali. Jika memang in-kong tidak mau menerima pernyataan terima kasih kami, itulah yang tidak bisa kami katakan. Akan tetapi tetap saja di dalam hati kami sangat berterima kasih sekali!"
Sedangkan si pengemis telah tertawa, katanya.
"Mengenai ucapan terima kasih, dapat dipergunakan dalam kesempatan lainnya, tetapi memang apa yang telah kulakukan ini demi kepentingan Kay-pang juga, perkumpulanku. Karena ke dua orang ini sesungguhnya merupakan dua orang musuh Kay-pang yang membahayakan dan memang harus dimusnahkan. Karena dari itu, mau atau tidak, memang aku si pengemis melarat harus dapat turun tangan membinasakannya, guna melenyapkan bibit bahaya buat kaum kami! "
Mereka adalah dua orang perwira kerajaan yang tengah menyamar dan bermaksud ingin mengacaukan rapat besar Kaypang yang tidak lama lagi akan diselenggarakan!"
Mendengar perkataan si pengemis, orang she Tung tersebut telah memperlihatkan sikap yang terkejut, malah dia mengeluarkan seruan tertahan.
"Apa maksudnya ke dua orang itu berurusan dengan kami yang bukan anggota Kay-pang? Bukankah mereka memiliki tugas menyamar guna mengacaukan rapat besar Kay-pang? Jika memang mereka berdua tidak mencari urusan dengan kami, tokh penyamaran mereka itu, dapat berlaku dengan baik dan tidak akan diketahui?!"
Dengan bertanya seperti itu tampaknya memang orang the Tung tersebut diliputi perasaan heran. Si pengemis tertawa, kaatanya untuk menjelaskan.
"Kalian jangan heran justru mereka merupakan dua orang perwira yang memiliki adat aseran. Walaupun mereka memiliki tugas yang cukup berat dari atasannya guna menyamar dan menyelusup ke dalam rapat besar Kay-pang tokh kenyataannya mereka tidak bisa menahan diri, sehingga membuat mereka harus menemui kegagalan dalam melakukan tugas mereka dan malah telah menemui kematian di tanganku si pengemis melarat!"
"Dengan demikian, kami telah menyusahkan in-kong!"
Kata orang she Tung itu. "Uh tidak, mengapa harus menyusahkan diriku? Bukankah semua ini kulakukan atas kehendakku sendiri!"
Kata si pengemis cepat sekali.
"Ya, justru karena kami, maka in-kong telah membunuh ke dua orang itu, menyebabkan dendam dari pihak kerajaan terhadap Kay-pang semakin besar juga!"
"Tidak, kalian jangan berpikir seperti itu!"
Kata si pengemis cepat.
"Janganlah kalian menduga yang tidak-tidak!"
Setelah berkata begitu si pengemis menghela napas dalam-dalam, tampaknya dia tengah berpikir keras sekali, sampai akhirnya dia berkata lagi.
"Memang Kay-pang kamipun telah mengetahui perihal maksud pihak kerajaan yang ingin menghancurkan kami, karena bermaksud menanamkan kekuasaan yang besar di daratan Tionggoan, sehingga tidak ada sesuatu kekuatan pun yang bisa menggoyahkan kedudukannya di tahta kerajaan! Jika memang mau dipikirkan masak-masak maka tampaknya memang sulit sekali buat dihadapi secara berterang.
"Karena sekali saja kami melakukan suatu kesalahan yang kecil, maka kesalahan kecil tersebut segera di pegangnya oleh pihak kerajaan sebagai bahan untuk dapat menghancurkan kami dengan kekuatannya! Hemm, akan tetapi kami dari Kay-pang tidak merasa gentar!"
Waktu berkata begitu, tampaknya si pengemis memancarkan perasaan gusar dari wajahnya.
Sama sekali dia tak memperlihatkan perasaan gentar.
Walaupun dia tengah berurusan dengan pihak kerajaan, di mana memang diapun telah membunuh ke dua orang dari kerajaan berarti pihak kerajaan akan melakukan pengejaran yang sangat ketat padanya.
Orang she Tung itu, bersama dengan wanita setengah baya, si gadis cilik dan ke dua pemuda itu, juga merasa kagum sekali.
Di saat orang she Tung itu, yang telah mem perkenalkan dirinya bernama Tung Lo Sang, ingin berkata-kata lagi di saat itulah terdengar suara langkah kaki yang sangat berat dan ramai.
Di ambang pintu rumah makan tersebut telah muncul lima orang tentara berpakaian lengkap, yang sebagian terbuat dan besi.
Di pinggang mereka tampak tergantung masing-masing sebatang golok.
Dan dua orang di antara mereka telah mencabut goloknya dari sarungnya, dan telah mencekalnya kuat-kuat, sinar dari golok yang berkilauan itu tampak mengerikan.
"Siapa yang telah berani membunuh Hong Ciangkun? Siapa yang telah berani membinasakan Hong Ciangkun?"
Teriak mereka dengan suara yang berisik sekali. Akan tetapi si pengemis tersenyum mengejek, dengan tenang dia menyahuti.
"Aku yang telah membunuhnya!"
Waktu itu tampak jelas sekali, ke lima orang ini yang rupanya telah menerima laporan dari seseorang mengenai pembunuhan tersebut dan datang tergesa-gesa, sudah tidak mau banyak bicara lagi.
Mereka telah melompat dan cepat sekali telah menggerakkan golok masing-masing menyerang kepada si pengemis.
Gerakan mereka tampaknya tidak bisa diremehkan, karena ilmu golok mereka tidak ringamn.
Tampaknya mereka berlima bukanlah tentara kerajaan biasa, sedikitnya mereka merupakan orang-orang yang memiliki kepandaian cukup tinggi hanya saja menyamar sebagai tentara negeri.
Sedangkan si pengemis telah berkata dingin.
"Kalian menyingkir ke samping dulu, biarlah aku yang melayani mereka!"
Kata-kata itu ditujukan kepada Tung Lo Sang dan ke empat orang kawannya.
Tung Lo Sang dan ke empat orang kawannya tidak berani membantah, mereka segera menyingkir ke samping ruangan.
Mereka juga yakin bahwa pengemis ini memang memiliki kepandaian yang tinggi sekali, sehingga tidak perlu dikuatirkan untuk melayani ke lima orang tentara negeri tersebut.
Di waktu itu tampak ke lima orang tentara negeri tersebut telah menggerakkan golok mereka masing-masing menyerang dengan hebat.
Semula yang dua orang dulu menyerang dengan golok mereka, karena justru memang merekalah yang semula telah mencabut golok.
Menyusul kemudian ke tiga orang tentara negeri lainnya yang telah mempergunakan golok mereka ikut menyerang.
Mereka telah menyerang dari segala jurusan dengan cara mengeroyok.
Sinar golok telah berkilauan menyambar ke arah si pengemis.
Akan tetapi si pengemis tetap berdiri tenang-tenang di tempatnya, sama sekali ia tidak jeri dan tidak bergeming dari tempatnya berdiri.
Hanya saja matanya yang telah dipentang lebar-lebar dan telah mengawasi menyambarnya golok dari ke lima orang lawannya.
Waktu melihat senjata dan ke lima orang lawannya menyambar dekat, seketika itu juga si pengemis mulai bergerak.
Dia dapat bergerak gesit sekali, karena dengan menggoyangkan tubuh bagian atas, dia dapat menghindarkan diri dari sambaran ke dua golok lawannya, sedangkan ke tiga golok dari lawan-lawannya yang lain dihadapi dengan cara menyentil, menyampok dan juga mengibas dengan lengan bajunya.
Dengan mudah dan dalam waktu sekejap mata saja, dia berhasil memunahkan serangan dari lawan-lawannya itu.
Rupanya ke lima orang tentara negeri itu jadi terkejut melihat pengemis ini dapat dalam satu gerakan saja telah memunahkan serangan mereka bertiga.
Di antara seruan yang sangat nyaring dan bengis sekali, tampak mereka berlima telah mengulangi serangannya.
Akan tetapi sekarang ke lima tentara negeri itu berlaku hati-hati.
Dalam menyerang mereka pun memperhitungkan tenaga dan sasaran yang mereka intai dengan cermat.
Akan tetapi pengemis tersebut benar-benar sangat tangguh, karena dia memang memiliki kepandaian yang sangat tinggi sekali, sehingga setiap serangan yang dilancarkan oleh lawannya, dapat dihadapi dengan baik.
Malah ketika salah seorang tentara negeri itu melompat dan menyerang dengan bacokan yang mematikan ke batang lehernya, si pengemis kali ini tidak menyingkir, dia tidak berusaha mengibas dengan lengan bajunya.
Cuma saja, waktu golok menyambar detang, dia telah mempergunakan ke dua jari tangannya, di mana dia telah menjepit golok itu.
Hebat jepitan yang dilakukan oleh si pengemis.
Karena golok tersebut tidak dapat bergerak lebih jauh, dan telah mandek di tengah udara.
Cepat luar biasa si pengemis telah menggerakkan tangan kanannya, dia juga menotok ke arah biji mata lawannya.
Tentu saja hal ini membuat lawannya jadi kaget tidak terkira dan cepat-cepat telah melompat mundur, karena mau tidak mau dia harus melindungi ke dua biji matanya, di mana dia harus melepaskan goloknya dan melompat ke belakang.
Terlambat sedikit saja, niscaya biji matanya akan menjadi korban yang tidak akan dapat dielakkan lagi, dan berarti dia akan buta seumur hidupnya.
Sedangkan si pengemis sendiri setelah memperoleh golok rampasannya, dia melompat dan menggerakkan goloknya itu berulang kali, membacok ke sana ke mari.
Tampak golok-golok lawannya setiap kali terbentur oleh golok si pengemis, telah terpental dan hampir terlepas dari cekalan masing-masing.
Sedangkan si pengemis setelah bertempur belasan jurus lagi, merasa bahwa waktunya telah tiba.
Dia mengeluarkan suara bentakan nyaring dan di saat itu goloknya telah menyambarnyambar seperti juga menyambarnya petir.
Dengan cepat pula telah berhasil menyampok dua golok dari ke dua orang lawannya, yang seketika terpental terlepas dari tangannya, karena golok itu telah menancap di langkan ruangan rumah makan tersebut.
Ke dua orang tentara negeri itu melompat mundur dengan wajah yang pucat dan merasakan telapak tangan mereka sangat nyeri sekali.
Dalam keadaan seperti ini, si pengemis telah mengeluarkan suara seruan sangat nyaring, tubuhnya berkelebat dan goloknya telah bekerja kembali, di mana dia telah membacok ke dua orang lawannya yang lainnya!
Ke dua lawannya itu telah berusaha menangkis, akan tetapi salah seorang di antara mereka rupanya menangkis dengan tergesagesa, sehingga tenaga menangkisnya itu tidak sepenuhnya, membuat goloknya jadi terdorong dengan kuat, terpental dan belakang golok itu telah menghantam mukanya.
Untung saja dia masih dapat mempertahankan meluncurnya golok tersebut.
Dengan demikian telah membuat golok itu tidak sampai membelah kepalanya namun mukanya telah berlumuran darah segar.
Dengan mengeluarkan suara bentakan bengis, dia telah membacok buat mengadu jiwa.
Golok lawannya, dengan muka yang berlumuran darah segar itu telah menderu-deru menyambar sekuat tenaga, karena dia bermaksud untuk binasa bersama-sama dengan si pengemis.
Dalam keadaan seperti ini, seketika juga si pengemis mempergunakan jurus yang mementingkan penyerangan di bagian bawah.
Dia menekuk ke dua kakinya dan telah menggerakkan goloknya dengan cara menyilang, dia menyerang ke dua kaki lawannya.
Serangan tentara itu jatuh di tempat kosong karena si pengemis tahu-tahu telah berjongkok.
Belum lenyap kagetnya, justru ke dua kakinya telah disambar golok si pengemis.
Karena dalam keadaan terdesak seperti itu sudah tidak ada lain jalan, dia melompat ke atas.
Lompatan yang dilakukannya sangat tergesa-gesa sekali, dan lebih cepat lagi gerakan golok dari si pengemis yang menyambar ke arah atas, ke arah selangkangannya.
Seketika tubuh di bagian bawah dari tentara negeri tersebut telah terbelah dua, darah mengucur deras sekali, dengan diiringi oleh suara jeritan kematian.
Tubuhnya roboh menggeletak tidak bernapas lagi.
Si pengemis telah bersilat terus dengan goloknya yang berlumuran darah.
Dia menyerang ke sana ke mari dengan gerakan yang sangat cepat.
Akan tetapi ke empat orang lawannya, yang kini telah ciut nyalinya dan juga telah lenyap keberanian mereka karena menyaksikan pemandangan yang ngiris atas kematian kawan mereka yang seorang itu, membuat mereka menyerang dengan hanya main berputaran tidak hentinya.
Setiap serangan mereka tidak memiliki arti dan juga selalu main kucing-kucingan belaka, jika memang si pengemis menyerang salah seorang.
Setelah membinasakan salah seorang lawannya, si pengemis juga terpikir bahwa dia tidak dapat mengampuni ke empat orang lawannya itu, karena salah seorang di antara mereka ada yang lolos dari tangannya tentu mereka akan datang membawa kawan lagi yang jumlahnya lebih banyak.
Setelah berpikir begitu, si pengemis menggerakkan goloknya lebih cepat pula dengan jurus yang sulit diterka ke arah mana sasarannya.
Tak lama kemudian, setelah lewat tiga jurus, terlihat si pengemis berhasil membacok pundak salah seorang lawannya, yang seketika menjerit nyaring dan terhuyung mundur dengan tubuh yang bergoyang-goyang.
Muka orang tersebut pucat pias, dan tubuhnya menggigil, goloknya terlepas.
Ternyata bacokan dari si pengemis hampir saja membuat pundak orang itu putus.
Sedangkan ke tiga orang tentara negeri yang lainnya ketika menyaksikan kawan mereka telah rubuh lagi, segera berseru nyaring, mereka telah melompat mundur untuk menjauhi diri.
Rupanya mereka bertiga yakin bahwa diri mereka bukan tandingan dari si pengemis.
Jika memang mereka memaksakan diri juga buat bertempur terus, niscaya hanya akan menyebabkan mereka akan menemui kematian di tangan si pengemis.
Karena dari itu mereka bermaksud hendak melarikan diri.
Akan tetapi si pengemis tidak mau membiarkan mereka melarikan diri, secepat kilat golok si pengemis telah bergerak, dia telah menyerang dahsyat sekali.
Dalam penyerangannya itu dia melakukan tiga gerakan mengincar ke tiga orang lawannya sekali gus.
Si pengemis memang telah menyerang dengan gerakan yang sulit sekali dielakkan lawannya.
Karena disamping kekuatan tenaga dalamnya yang hebat, juga setiap serangan itu memiliki gerakan yang aneh, menyebabkan ke tiga orang lawannya bermaksud hendak menangkis, namun ternyata tidak dapat.
Karena memang gerakan si pengemis begitu aneh, dan tahu-tahu bahu mereka bertiga telah kena dibacok.
Seketika ke tiga orang itu mengeluarkan suara teriakan kesakitan.
Dengan tubuh terhuyung mereka mundur beberapa langkah dan berusaha mempertahankan diri dengan gerakan yang sangat lemah sekali, darah telah mengucur keluar dari tubuh mereka.
"Pengemis busuk, kami akan membalas kebaikan hatimu ini!"
Kata mereka hampir berbareng dengan suara mengancam dan mengandung dendam. Akan tetapi si pengemis malah tertawa dingin. Dia telah membentak.
"Kalian bermaksud hendak melarikan diri? Hemm, jangan harap. Tidak nantinya aku akan melepaskanmu....!"
Setelah berkata dia telah membentak nyaring sekali, suara bentakannya itu bagaikan guntur.
Dia telah melompat sambil menggerakkan goloknya, di mana dia menyerang dengan bacokan yang lurus ke arah salah seorang tentara negeri yang berada di sebelah kanan.
"Ceppp!"
Kuat sekali golok si pengemis telah membacok kepala dari lawannya yang seorang itu, sehingga batok kepala lawannya terbelah menjadi dua.
Dengan demikian, tampak jelas bahwa si pengemis telah bertekad hendak menghabisi ke lima orang lawannya ini, tanpa membiarkan seorangpun dari lawannya meloloskan diri.
Lawannya yang terbacok batok kepalanya sampai terbelah itu tidak sempat mengeluarkan suara jeritan, karena tubuhnya seketika terjungkal dan rubuh binasa di saat itu juga.
Sisanya yang dua orang ketakutan bukan main, muka mereka pucat sekali.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun juga, mereka tebah membuang golok masing-masing dan telah memutar tubuh mereka, melarikan diri.
Gerakan mereka sangat cepat, akan tetapi lebih cepat lagi gerakan yang dilakukan si pengemis karena dengan disertai suara bentakan bengisnya, dia menyerang hebat sekali.
Serangan goloknya itu telah menabas melintang, maka robeklah punggung dari salah seorang tentara negeri itu, yang seketika rubuh tidak dapat bergerak lagi.
Sedangkan tentara negeri yang seorang itu, yang tinggal sendirian, jadi ketakutan bukan main.
Dia melarikan diri sekuat tenaganya, berusaha menerobos keluar dari ruangan rumah makan itu.
Akan tetapi si pengemis telah melompat kembali dengan goloknya yang menyambar ke punggung tentara negeri yang seorang itu.
Tubuh si pengemis meluncur bagaikan seekor burung rajawali.
Dan dia telah bertekad, lawannya yang seorang inipun harus dibinasakannya.
Dalam keadaan seperti itu tentara negeri yang seorang ini, rupanya menyadari bahwa dirinya sulit meloloskan diri dari tangan si pengemis.
Dia telah membalikkan tubuhnya dan menggerakkan goloknya, dia telah menangkis sekuat tenaga.
"Tunggu!"
Golok si pengemis telah tertangkis.
Waktu goloknya kena ditangkis dan tubuhnya tengah meluncur turun, si pengemis tidak tinggal diam, karena cepat sekali dia telah membacok pula.
Sedangkan tentera negeri yang seorang itu pun, begitu dapat menangkis serangan si pengemis, segera juga dia menyerang dengan membabi buta.
Goloknya digerakkan ke sana ke mari, dan membacok tidak hentinya.
Berulang kali golok mereka saling bentur.
Dalam keadaan terdesak dan nekad seperti itu di saat ketakutan, si tentara negeri tersebut segera memperoleh kelebihan tenaga, yang entah datang dari mana.
Karena setiap bacokannya maupun tangkisan yang dipergunakan dengan golok yang disertai tenaga sepenuhnya, dapat menghadapi serangan si pengemis.
Akan tetapi si pengemis sendiri tidak tinggal diam.
Melihat lawannya nekad, diapun telah memperhebat serangannya.
Hanya saja si pengemis setiap kali menyerang selalu disertai dengan perhitungan yang matang.
Waktu itulah terlihat si pengemis rupanya memperoleh kesempatan yang baik, di saat mana tentara negeri yang seorang itu telah menyerang tempat kosong dan tubuhnya terjerunuk, si pengemis membarengi dengan menekuk kaki kirinya.
Waktu tubuhnya tengah doyong, cepat sekali dia telah membacok dengan sikap menyerampang ke arah pinggang si tentara negeri.
Tentara negeri itu telah kehilangan keseimbangan tubuhnya, karena dia sudah tidak memiliki kekuatan sama sekali.
Dan di waktu melihat si pengemis menyerang seperti itu, dia mengeluarkan suara seruan nyaring sambil menangkis.
Akan tetapi gerakannya terlambat.
Waktu itu golok si pengemis telah mengenai pinggangnya dan darah mengucur keluar, golok yang dipergunakan tentara negeri itu baru tiba.
Dan benturan ke dua batang golok itu sangat perlahan sekali, sebab tenaga tangkisan dari tentara negeri itu lenyap di tengah jalan.
Dengan sepasang mata melotot besar sekali dan mulut setengah terbuka, serta wajah yang memucat, tampak tubuh si tentara negeri itu terhuyung-huyung ke belakang dengan lemah, sampai akhirnya terjungkal rubuh tak bernapas lagi.
Sedangkan si pengemis masih dalam sikap berjongkok dan setelah melihat lawannya roboh tidak bergerak lagi, perlahan-lahan si pengemis memperbaiki kedudukan ke dua kakinya.
Dia telah menghela napas dalam-dalam, dan kemudian melemparkan golok di tangannya yang berlumuran darah.
Dia juga telah bergumam perlahan.
"Hem, dengan keadaan seperti ini, berarti Kay-pang akan menghadapi kesulitan tidak kecil. Di sini telah berkumpul banyak sekali orang-orang kerajaan. Mereka cepat sekali akan mendengar peristiwa ini! Pengemis-pengemis yang bertingkat masih rendah dan berkepandaian tidak tinggi harus dilarang keluar, karena kemungkinan orang-orang kerajaan itu akan membalas dendam dengan membinasakan pengemis-pengemis itu!"
Dan setelah menggumam seperti itu, si pengemis menghela napas lagi.
Apa yang dipikirkannya itu memang demi kepentingan Kaypang.
Yang dikuatirkan si pengemis justru keselamatan dari pengemis-pengemis yang memiliki kepandaian lemah.
Dan orangorang kerajaan itu melakukan balas dendam dengan asal bunuh terhadap setiap pengemis yang mereka jumpai.
Karena dari itu, si pengemis telah terpikir keras sekali.
Dia bermaksud untuk segera melaporkan apa yang telah terjadi kepada pemimpinnya.
Sedangkan waktu itu, tampak betapa Tung Lo Sang dan wanita setengah baya bersama si gadis cilik dan ke dua pemuda itu menghampiri si pengemis.
"Hebat sekali kepandaian in-kong. Ke lima tentara negeri itu sebenarnya memiliki kepandaian yang tinggi. Akan tetapi in-kong dapat menghadapinya dengan baik sekali, di mana in-kong telah berhasil membinasakan mereka dengan segera.....!"
Memuji Tung Lo Sang. Sedangkan si pengemis hanya mengulapkan tangannya.
"Soal ini bukan menjadi persoalan di mana kepandaian yang harus dibicarakan, karena seperti kalian lihat, urusan ini menyangkut keselamatan Kay-pang. Dilihat perkembangan yang ada memperlihatkan bahwa orang-orang kerajaan memang telah berkumpul di tempat ini buat mengacaukan rapat besar Kay-pang. Dan juga, tentunya memang pihak kerajaan telah mengerahkan sejumlah besar kekuatannya buat menumpas Kay-pang.....! Hemm..... hemm!"
Berulang kali si pengemis mendengus seperti itu. Dia juga mengerutkan alisnya dalam-dalam, memperlihatkan bahwa dia tengah berpikir keras sekali. Sedangkan Tung Lo Sang menghela napas.
"Jika memang In-kong tidak menertawai kami, maka kami bersedia buat membantu Kay-pang sekuat tenaga kami!"
Kata Tung Lo Sang menawarkan jasa baiknya. Akan tetapi si pengemis telah menggeleng, dia berkata dengan suara yang mulai agak sabar.
"Terima kasih! Tentu saja kami tidak mau mempersulit orang lain! Urusan ini menyangkut dengan Kaypang. Tentu saja Kay-pang akan dapat menyelesaikan urusan ini sebaik mungkin! "
Bukan berarti bahwa kami tidak menghargai tawaran dari kalian yang bermaksud baik membantu kami.
Akan tetapi memang kenyataan yang ada memperlihatkan bahwa jika kalian ikut serta dalam urusan ini, akan menimbulkan penafsiran lain lagi, di mana kalian merupakan orang luar dari golongan kami kaum pengemis.
"Dan jika pihak kerajaan menuduh bahwa kami justru mengundang orang luar buat membantu pihak kami, maka malapetaka yang hebat akan mengancam dunia persilatan, di mana pihak kerajaan bisa saja memiliki alasan buat memusuhi orang rimba persilatan!"
Tung Lo Sang dan ke empat orang kawannya berdiam diri saja, mereka sama sekali tidak memberikan komentar apa-apa.
Sedangkan si pengemis telah memanggil beberapa orang pelayan, dan dia telah perintahkan pelayan-pelayan itu buat membereskan meja dan kursi yang tadi berantakan karena pertempuran, dan juga membawa mayat-mayat dari tentara negeri itu, serta membersihkan lantai.
"Semua kerugian yang diderita kalian, akan kuganti!"
Kata si pengemis sambil merogoh sakunya.
Dia telah mengeluarkan beberapa puluh tail perak, dan memberikan kepada si pelayan.
Pelayan itu menerima sambil mengucapkan terima kasih berulang kali.
Setelah berdiam sejenak di rumah makan tersebut, si pengemis menyatakan dia harus berlalu untuk pergi melaporkan peristiwa tersebut kepada pimpinan-pimpinan Kay-pang.
Tung Lo Sang dan kawan-kawannya tidak bisa menahan juga, karena mereka menyadari bahwa Kay-pang memang tengah menghadapi urusan besar.
Jika memang pihak kerajaan telah menaruh perhatian pada Kay-pang dan bermaksud ingin menumpasnya, besar kemungkinan Kay-pang akan mengalami badai dan gelombang yang tidak kecil.
Sedangkan Tung Lo Sang bersama wanita setengah baya dan si gadis cilik serta ke dua pemuda telah meneruskan makan mereka, baru kemudian meninggalkan rumah makan tersebut.
◄Y► Jika hari-hari sebelumnya di kota tersebut banyak berkeliaran pengemis-pengemis yang memenuhi berbagai jalan, justru setelah peristiwa berdarah di rumah makan tersebut, keadaan di kota itu sangat sepi sekali.
Karena boleh dibilang jarang sekali ada pengemis yang berkeliaran, dan juga, hanya sekali-kali saja tampak pengemis di jalan kota tersebut.
Akan tetapi itupun bukan pengemis sembarangan, karena dia tentunya seorang yang memiliki kepandaian tinggi, sedikitnya memiliki empat atau lima karung di punggungnya.
Dengan begitu pula, segera terlihat betapa pun juga memang pengemis tua yang telah membinasakan beberapa orang tentara kerajaan dan Hong Tia Liang berdua kawannya, telah melaporkan kepada pimpinannya perihal yang menyangkut dalam ancaman yang bisa saja terjadi.
Karena dari itu, walaupun memang pihak Kay-pang jeri pada pihak kerajaan negeri, tokh tetap saja untuk mencegah jatuhnya korban pada pihak Kay-pang, mereka telah dilarang berkeliaran di kota tersebut.
Ini untuk mencegah bentrokan.
Selama itu pula, pihak Kay-pang telah perintahkan berapa orang pengemis yang memiliki kepandaian tinggi untuk pergi melakukan penyelidikannya, karena walaupun bagaimana tetap saja mereka berwaspada, di mana mereka bersiap-siap kalau saja pihak kerajaan bertindak.
Sedangkan tokoh-tokoh pengemis yang berdatangan ke kota tersebut semakin banyak juga, dan mereka telah berdiam di beberapa tempat.
Tokoh-tokoh rimba persilatan yang memiliki hubungan erat dengan Kay-pang pun telah banyak berkumpul.
Rapat besar Kay-pang hanya tinggal beberapa hari lagi.
Dan di kota tersebut telah diliputi oleh hawa yang tegang karena bentrokan besar di antara Kay-pang dengan pihak kerajaan sulit dielakkan lagi.
Jika pihak Kay-pang dibantu oleh tokoh-tokoh sakti rimba persilatan justru pihak kerajaan telah mengerahkan para pahlawannya yaag semuanya memiliki kepandaian tinggi.
Dengan begitu pula, keadaan yang tegang ini menguasai semua penduduk kota tersebut.
Jika memang tidak perlu membeli sesuatu atau mengurus suatu persoalan penting, tentunya penduduk kota tersebut tidak berani keluar rumah.
Mereka seperti juga menyadari akan bahaya yang bisa saja mencelakai mereka.
Karena dari itu, banyak juga penduduk kota yang berusaha mencegah anak-anak atau kerabat mereka berada di luar rumah.
Selain keadaan yang sepi dari para penduduk kota itu, juga hanya tampak orang-orang asing dengan cara berpakaian mereka masing-masing.
Orang-orang asing yang banyak memenuhi rumah makan dan penginapan.
Semuanya terdiri dari beberapa golongan, akan tetapi dari sikap mereka terlihat jelas bahwa mereka memiliki sikap yang keras dan agak bengis.
Karena besar kemungkinan orang-orang asing yang berpakaian sebagai pelajar, pedagang maupun sebagai petani, semuanya adalah para pahlawan kerajaan yang tengah menyamar.
Karena dari itu, ketegangan yang berlangsung di kota itu sangat terasa sekali oleh penduduk.
Pada malam itu, sehari lagi akan tiba rapat besar Kay-pang, tampak di atas genteng penduduk, beberapa sosok tubuh yang berkelebatan sangat gesit sekali.
Di saat itu sudah mendekati kentongan ke dua.
Dan gerakan dari sosok-sosok tubuh tersebut sangat lincah sekali, mereka telah melompat dari genting rumah yang satu ke genting rumah yang lainnya, di mana membuktikan bahwa ginkang mereka tinggi sekali.
Setelah berlari-lari sekian lama di atas genting penduduk, sosok tubuh yang bergerak bagaikan bayangan tersebut, berhenti di atas genting salah sebuah rumah penduduk, yang merupakan rumah yang cukup besar.
Mereka di bawah cahaya rembulan tampak seperti orang-orang yang memiliki bentuk tubuh sangat tinggi serta tegap.
Sikap mereka gagah sekali.
Mereka semuanya mengenakan pakaian yaheng-ie, yaitu pakaian untuk jalan malam.
Waktu itu, salah seorang di antara mereka yang memelihara kumis tipis dan wajahnya berbentuk segi empat, dengan hidung yang terlalu mancung seperti patuk burung, telah berkata kepada kawan-kawannya dengan suara yang datar.
"Tampaknya tidak ada pengemis busuk yang berani memperlihatkan diri!"
Kawan-kawannya mengangguk.
"Ya, mereka semua menyembunyikan diri!"
Menyahuti salah seorang di antara kawan-kawannya itu, yang mukanya berbentuk segi tiga tirus, suaranya nyaring sekali.
"Hemmm, walaupun sekarang mereka-mereka menyembunyikan diri, akan tetapi besok malam tokh tiba waktunya, di mana mereka akan mengadakan rapat besar, dengan begitu mereka pasti berkumpul dan kita bisa menumpas mereka!"
Menyahuti orang yang berkata-kata tadi.
"Ya..... jika demikian kita tunggu saja sampai mereka berkumpul, barulah kita bergerak!"
Kata kawannya yang lain. Orang itu mengangguk, tetapi kemudian dia seperti berpikir sesaat lamanya, barulah kemudian dia berkata lagi.
"Jika memang dilihat begini, rupanya kita akan berhasil menumpas mereka! Hanya saja yang perlu kita perhitungkan, justru Kay-pang dibantu oleh tokoh-tokoh rimba persilatan yang umumnya memiliki kepandaian tinggi! Penyelidikan yang telah dilakukan oleh bawahanku, menyatakan bahwa Yo Ko, Kwe Ceng juga tokohtokoh Kang-ouw lainnya, telah berkumpul di kota ini, hanya saja mereka datang dengan menyamar!!" "Lalu, apakah kita harus bergerak malam ini agar memancing mereka memperlihatkan diri?"
Tanya dua orang kawannya hampir berbareng.
"Jangan, kita tidak bisa memukul rumput mengejutkan ular!"
Menyahuti orang yang memiliki hidung terlalu memancung seperti patuk burung itu.
"Lalu, bagaimana langkah-langkah yang perlu kita lakukan sekarang?"
Tanya lagi yang memiliki potongan muka segi tiga.
"Menurut perintah yang diberikan oleh Lauw Ciangkun, kita tidak boleh bertindak sembarangan. karena jika sampai mereka mencium tindakan kita dan rencana-rencana yang telah disusun itu diketahui oleh mereka, niscaya kita bisa memperoleh kegagalan!"
Setelah berkata begitu, orang bermuka segi empat tersebut menghela napas beberapa kali, diapun telah berpaling melihat sekelilingnya, mengawasi sekitar tempat itu.
Di waktu itulah terlihat betapapun juga telah terdapat kebimbangan di antara mereka.
Dan rupanya mereka belum lagi memiliki rencana untuk melakukan penyelidikan kepada pihak Kay-pang.
Jika saja memang mereka mencoba dengan kekerasan buat mendatangi tempat-tempat berdiamnya anggota Kay-pang, tentunya akan membuat mereka menghadapi kesulitan yang tidak kecil.
Sebab mereka akan menghadapi tokoh-tokoh rimba persilatan yang berkepandaian sangat tinggi.
Di waktu itulah, orang yang bermuka empat persegi telah berkata dengan suara yang datar.
"Apakah tidak lebih baik jika kita pergi menculik beberapa orang pengemis buat mengorek keterangan dari mereka?"
Kawan-kawannya setuju.
Begitulah mereka telah berlari-lari lagi di atas genting penduduk, mereka memang memiliki ginkang yang tinggi, dengan demikian mereka dapat berlari cepat sekali, sehingga tubuh mereka seperti juga bayangan.
Di antara dinginnya udara malam, orang-orang yang berpakaian ya-heng-ie tersebut, yang mungkin berjumlah sembilan orang itu, telah berkelebat-kelebat terus, sehingga jika waktu itu kebetulan ada penduduk yang melihatnya, tentu akan menduga bahwa itu adalah bayangan hantu yang tengah berkeliaran.
Setelah memutari kota tersebut dengan mengambil jalan di atas genting, maka orang-orang tersebut berhenti di muka sebuah kuil tua.
Kuil itu telah rusak, pintunya yang reyot tertutup rapat.
Keadaan di sekitar tempat tersebut sangat sepi sekali.
Akan tetapi, orang-orang itu yang memang memiliki kepandaian tinggi dan pendengaran yang tajam seperti mendengar suara napas manusia.
Semuanya saling pandang beberapa saat, kemudian yang hidungnya mancung seperti patuk burung, telah berkata kepada kawan-kawannya dengan berbisik.
"Hati-hati.....!" Kawan-kawannya mengangguk, karena mereka pun mendengar suara napas manusia. Bahkan didengar dari napas manusia itu jumlah orang di dalam kuil tersebut tentunya bukan seorang diri. Orang berhidung mancung itu telah memberikan isyarat kepada kawan-kawannya. Salah seorang diantara mereka mengerti arti isyarat tersebut, dia telah mengangguk dan tubuhnya mencelat ke dinding kuil. Akan tetapi, waktu itu tubuhnya dengan ringan hinggap di atas dinding kuil, orang tersebut mengeluarkan suara seruan kaget, karena dari dalam telah menyambar angin serangan yang kuat sekali, sehingga menyebabkan tubuhnya tidak bisa berdiri tetap di dinding kuil tersebut, di mana dia telah terjengkang ke belakang dan jatuh rubuh kembali. Kawan-kawannya yang berjumlah delapan orang jadi terperanjat mereka seketika bersiap-siap. Sedangkan orang yang tadi rubuh, telah membentak marah setelah dia berdiri di atas tanah.
"Manusia rendah, keluarlah perlihatkan dirimu!"
Bentakan itu dibarengi dengan tubuhnya melompat lagi ke atas dinding, sekarang dia berlaku waspada sekali.
Benar saja dalam kuil itu menyambar lagi angin serangan yang kuat.
Sekarang orang berpakaian ya-heng-ie itu telah bersiap-siap, sehingga dia bisa bertahan dari angin serangan tersebut, dan telah berhasil menangkisnya, sehingga tubuhnya bergoyang sedikit saja.
Namun tidak sampai rubuh.
Membarengi dengan itu dia bermaksud untuk melompat masuk.
Akan tetapi belum lagi dia menjejakkan sepasang kakinya, tampak berkeliauan beberapa titik cahaya, yang menyambar dengan cepat sekali ke arahnya.
Orang itu menyadari bahwa itulah sambaran senjata rahasia.
Segera juga dia mengibas dengan tangannya, angin kibasan itu membuat senjata-senjata rahasia tersebut gugur kembali ke tanah.
Sedangkan orang berpakaian ya-heng-ie tersebut tidak membuang waktu pula.
Dia telah melompat ke dalam, dan sambil melompat turun, diapun menggerakkan sepasang tangannya, yang digerakkan seperti titiran.
Maksudnya untuk menjaga serangan gelap yang tiba-tiba.
Benar saja, belum lagi ke dua kakinya hinggap di tanah, justru dia telah disambar oleh suatu kekuatan yang sangat dahsyat, sehingga orang berpakaian ya-heng-ie tersebut mengeluarkan seruan kaget bercampur marah.
Dia tengah berada dalam kedudukan lemah, tubuhnya sedang terapung di tengah udara sehingga dia tidak bisa mengerahkan seluruh kekuatannya.
Ketika dia menangkis justru tubuhnya yang telah terpental dan punggungnya menghantam dinding kuil.
Sebenarnya orang yang berpakaian ya-heng-ie itu telah berusaha buat mengendalikan meluncur tubuhnya.
Dia berusaha agar tubuhnya tidak sampai terbanting dan membentur keras pada dinding kuil tersebut.
Akan tetapi dia gagal dengan usahanya itu.
Karena dia telah terpental dan punggungnya telah menghantam cukup keras pada dinding kuil, menyebabkan dia merasakan kepalanya pening, disamping matanya berkunang-kunang tidak bisa melihat dengan jelas.
Waktu itu ke delapan orang kawannya telah melompat naik ke atas dinding kuil.
Mereka semuanya berlaku sangat waspada sekali, gerakan mereka pun sangat ringan sekali.
Akan tetapi begitu ke dua kaki mereka masing-masing hinggap di atas dinding kuil tersebut, seketika mereka merasakan menyambarnya angin serangan yang sangat kuat dan datangnya bergelombang.
Cepat-cepat mereka telah berusaha buat menangkis dan memunahkan tenaga serangan itu.
Dua orang di antara mereka yang berada di tengah, rupanya gagal dengan usahanya, sebab begitu mereka menangkis, tidak ampun lagi tubuh mereka terpental keluar kuil.
Sedangkan enam dari orang berpakaian ya-heng-ie tersebut, dengan dipimpin oleh orang yang memiliki hidung mancung seperti patuk burung, telah mengeluarkan suara bentakan dan melompat turun menerjang ke tengah-tengah taman kuil tersebut.
Rupanya di depan pekarangan kuil ini memang telah berkumpul belasan orang.
Di bawah cahaya rembulan, mereka semuanya berpakaian sebagai pengemis, dan merekapun telah berdiri dengan berbaris menghadapi dinding kuil tersebut.
Itulah sebabnya, setiap kali ada orang yang melompat mereka telah menyerang dengan mempergunakan lweekang mereka dari jarak jauh.
Keenam orang berpakaian ya-heng-ie tersebut telah melompat turun dan berhasil menginjak tanah.
Merekapun memiliki kepandaian yang tinggi, karenanya mereka segera membarengi dengan serangannya, untuk mencegah pengemis-pengemis itu menyerang mereka lagi.
Akan tetapi barisan pengemis tersebut sangat tenang sekali, di mana mereka telah mengeluarkan bentakan yang serentak, lalu mengacungkan sepasang tangan masing-masing serentak ke depan, mereka menyerang dengan dahsyat sekali.
Walaupun keenam orang berpakaian ya-heng-ie itu memiliki kepandaian yang tinggi dan kekuatan tenaga lweekang yang cukup tangguh tokh mereka masih terdesak.
Serangan mereka seperti lenyap, malah tenaga serangan dari barisan pengemis itu membuat mereka terhuyung-huyung beberapa langkah.
Orang yang berpakaian ya-heng-ie berhidung mancung mengeluarkan suara seruan yang mengandung kemarahan.
Dia menyerang ke depan dengan terjangan yang kuat sekali.
Dalam keadaan seperti ini segera juga terlihat betapapun tangguhnya barisan pengemis, akan tetapi menghadapi serangan nekad dan juga kalap dari orang yang memiliki kepandaian tinggi seperti yang dimiliki si hidung mancung seperti patuk burung itu, membuat barisan pengemis itu tidak bisa menyerang lebih jauh.
Sedangkan ke lima orang berpakaian ya-heng-ie yang lainnya telah mengeluarkan suara bentakan, merekapun membarengi menerjang juga.
Tidak bisa dielakkan, segera terjadi pertempuran.
Akan tetapi rombongan pengemis yang berjumlah belasan orang, yang sejak tadi menutup mulut rapat-rapat, telah menyerang lawan-lawannya dengan berdiam diri.
Hanya sepasang tangan mereka menyerang hebat sekali, semakin lama tenaga dalam yang mereka pergunakan semakin hebat dan kuat.
Sedangkan ke dua orang Ya-heng-ie yang tadi terpelanting keluar kuil, telah melompat masuk pula.
Waktu mereka melompat dan berdiri di atas dinding, segera mereka menyaksikan betapa ke enam orang kawan mereka tengah bertempur dengan barisan pengemis yang jumlahnya belasan orang.
Segera juga mereka tidak membuang waktu lagi dan melompat buat menyerang.
Hebat pertempuran yang berlangsung itu.
Kepandaian dari delapan orang berpakaian ya-heng-ie tersebut tidak rendah, disamping itu memang kepandaian dari barisan pengemis tersebut pun cukup tinggi.
Pertempuran itu menyebabkan mereka bergerak gesit sekali, dan gerakan mereka secepat bayangan, karena mereka masing-masing selain mengeluarkan kepandaian simpanan juga telah mempergunakan ginkang tingkat tinggi.
Sedangkan orang yang berpakaian ya-heng-ie yang tadi telah terlempar dan punggungnya menghantam dinding sehingga menyebabkan pandangan matanya berkunang-kunang, menyebabkan dia jadi pusing, telah berdiri perlahan-lahan.
Dia menggedikkan kepalanya beberapa kali, rasa pusingnyapun telah berkurang, sedangkan matanya tidak berkunang-kunang seperti tadi.
Waktu itu dia melihat ke delapan orang kawannya tengah bertempur dengan belasan orang pengemis.
Setelah mengawasi sekian lamanya, diapun segera melompat ikut menyerang.
Belasan orang pengemis yang tengah mengepung ke delapan orang berpakaian ya-heng-ie tersebut, rupanya telah dapat melihat penyerangnya orang yang berpakaian ya-heng-ie tersebut.
Mereka tidak menjadi gentar dengan adanya tambahan seorang lawan ini, karena mereka telah menyambuti dan mengepung orang yang berpakaian ya-heng-ie itu bersama ke delapan orang kawankawannya, dengan rapat dan ketat.
Sembilan orang berpakaian ya-heng-ie tersebut semakin terkurung dan mulai terdesak.
Mereka memang memberikan perlawanan yang gigih, akan tetapi mereka tidak bisa membuka kepungan itu guna menerobos keluar.
Di saat pertempuran itu tengah berlangsung justru tampak berkelebat sesosok bayangan dari ruangan dalam kuil tersebut.
Begitu orang itu muncul, dibarengi dengan bentakannya yang nyaring.
"Hentikan.....!"
Maka belasan orang pengemis yang mendengar suara bentakan tersebut, telah cepat-cepat melompat mundur, membuka kepungan mereka.
Mereka juga telah melompat ke dekat orang yang baru melompat keluar itu, yang ternyata seorang pengemis berusia lanjut, lebih dari enampuluh tahun.
Pengemis tua tersebut rupanya telah menyaksikan sejak tadi jalannya pertempuran tersebut, karenanya dia telah melompat keluar dari tempat persembunyiannya waktu melihat kawankawannya belum berhasil merubuhkan kesembilan lawanlawannya.
Dengan sinar mata yang sangat tajam, pengemis tua tersebut telah mengawasi ke sembilan orang berpakaian ya-heng-ie tersebut, sikapnya sangat gagah sekali.
"Siapakah kalian dan apa maksud kalian masuk ke tempat kami?!"
Tegurnya dengan suara yang tawar sedang matanya telah memandang tajam memancarkan sinar yang berkilauan, menunjukan bahwa dia memiliki lweekang yang tinggi sekali.
Di waktu itu terlihat ke sembilan orang berpakaian ya-heng-ie tersebut telah memandang si pengemis tua itu dengan sikap bermusuhan mengandung dendam, malah yang berhidung mancung seperti patuk burung telah melangkah maju dan membentak.
"Hemmm, apakah kuil ini milik kalian? Kami datang ke mari buat bersembahyang, akan tetapi tidak hujan tidak angin justru pengemis-pengemis rendah itu telah menyerang kami! Hemmm, bagus kami masih belum menurunkan tangan keras kepada mereka buat membinasakannya......!"
Mendengar jawaban seperti memperdengarkan tertawa dingin.
itu, si pengemis tua "Kalian datang ke kuil ini hendak bersembahyang?
Hemmm, apakah kalian menduga bahwa kami ini adalah bocah-bocah ingusan yang bisa didustai begitu saja?
Baik!
Baik!"
Dengan demikian kami tidak akan sungkan-sungkan lagi kepada kalian, karena dilihat dari cara berpakaian kalian, yang mengenakan Ya-heng-ie, disamping itu juga melihat kepandaian kalian yang tidak rendah, memperlihatkan bahwa kalian datang ke mari tentunya dengan mengandung maksud tidak baik!
Sekarang katakan siapa yang telah perintahkan kalian datang ke mari dan juga siapa diri kalian sebenarnya?!"
Mendengar begitu, orang yang memiliki hidung sangat mancung, telah berkata tawar.
"Baik, kami memang ingin membekuk tikustikus jembel yang tidak tahu diri.....!"
Setelah berkata begitu, tanpa menanti para pengemis itu mengepung mereka, justru dia melompat sambil menyerang dengan ke dua tangannya.
Gerakan dari orang berhidung mancung tersebut telah diikuti oleh kawan-kawannya, di mana ke delapan orang berpakaian ya-hengie yang lainnya seperti telah mengetahui bahwa mereka harus menyerang terlebih dahulu buat merebut waktu.
Para pengemis itu segera bergerak hendak melayani serangan dari orang-orang tersebut.
Akan tetapi pengemis tua itu telah mengibaskan tangannya memberi isyarat agar kawan-kawannya mundur.
Sedangkan serangan orang berhidung mancung tersebut telah meluncur datang.
Jarak mereka sangat dekat sekali.
Jika memang pengemis tua tersebut tidak dapat bergerak cepat dalam beberapa detik itu, niscaya dia akan menjadi korban dari cengkeraman tangan lawannya.
Akan tetapi kepandaian pengemis tua tersebut memang cukup tinggi.
Dalam keadaan terdesak seperti itu, sama sekali dia tidak menjadi gugup, dia telah memiringkan tubuhnya, sehingga serangan dari lawannya itu hanya menyerempet dadanya dan kulit dadanya itu telah robek.
Darah tampak mengucur dari dada si pengemis tua, akan tetapi merupakan luka ringan yang tidak membahayakan.
Melihat darah mengucur dari dadanya, pengemis tua tersebut telah mengeluarkan bentakan nyaring.
Dia mencengkeram punggung orang berhidung mancung tersebut, kemudian membarengi lagi dengan hajaran lututnya pada dagu orang berhidung mancung.
Waktu lawannya tengadah karena tendangan lututnya seketika tangan si pengemis tua yang satunya telah bergerak mencekik leher lawannya.
Cekikan itu dilakukan dengan mempergunakan jari telunjuk dan jempol.
Itulah cekikan Kim-na-ciu yang sangat hebat.
Cekikan kecil yang bisa memutuskan napas lawan, begitu leher lawan terkena cekikan tersebut.
Karena justru bagian yang dicekik tersebut terdiri dari jalan darah yang sangat penting dan bisa mematikan.
Sedangkan waktu itu terlihat betapa si pengemis tua tersebut bermaksud untuk membinasakan lawannya.
Rupanya luka didadanya akibat serempetan cengkeraman tangan lawannya, membuat pengemis tua tersebut jadi murka sekali.
Dan di saat menyerang, dia tidak berlaku sungkan pula.
Hebat sekali ancaman yang dialami orang berhidung mancung tersebut yang mengenaskan dan tidak akan dapat memberikan perlawanan lagi begitu lehernya tercekik.
Baca Juga: Alap Alap Laut Kidul 1
Baca Juga: Kemelut Di Majapahit 1