Eps 1 Kemelut Di Majapahit - Kho Ping Hoo
Baca online Kemelut Di Majapahit - Kho Ping Hoo
Cersil Kemelut Di Majapahit - Kho Ping Hoo.
Kemelut Di Majapahit (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 01
"Ibunda, haruskah kita meninggalkan semua ini dan pergi melarikan diri? Apakah tidak ada jalan lain, ibu...?"
Dara yang sedang remaja itu dengan suara nelangsa berkali-kali bertanya kepada ibunda.
"Ibu, kenapa kita tiba-tiba menjadi penakut-penakut seperti ini? Kalau ada bahaya mengancam, apakah kita tidak mendapat perlindungan dari Gusti Adipati Ronggo Lawe yang terkenal bijaksana itu?"
Adik dara itu, seorang anak laki-laki yang usianya kurang lebih sepuluh tahun, bertanya dengan dada dibusungkan.
"Dan tidakkah kita seharusnya membela diri dengan gagah perkasa seperti mendiang ayah?"
Ibu mereka yang sedang mengajak kedua orang anaknya itu berkemas, menarik napas panjang, lalu memberi isyarat kepada dua orang anaknya untuk mengikutinya masuk ke dalam bilik, di mana dia lalu duduk di atas pembaringan dan dua orang anaknya itu berlutut di atas lantai depan ibu mereka yang kelihatan gelisah dan bersungguh-sunguh sehingga mereka berdua ikut menjadi khawatir.
Ibu itu berusia kurang dari empat puluh tahun, masih cantik sekali biar pun pakaiannya sederhana saja.
Kulitnya kuning langsat dan wajahnya masih kelihatan segar dan belum ada keriput merusak kulit mukanya.
Dia kelihatan gelisah dan pandang matanya seperti mata seekor kelinci ketakutan, sering kali memandang ke arah pintu kamar itu seolah-olah setiap saat akan muncul mara bahaya dari pintu itu.
Kalau dia memandang kedua orang anaknya, alisnya berkerut karena sesungguhnya mereka gelisah, terutama kalau dia melihat anak perempuannya.
Janda Galuhsari merasa dadanya seperti ditusuk.
Dia tidak mengkhawatirkan dirinya sendiri, akan tetapi dia khawatir sekali kalau-kalau malapetaka menimpa kedua orang anaknya.
Lestari, dara remaja itu, memandang kepada ibunya dengan wajah agak pucat.
Pekerjaan berkemas tadi, yang dilakukan dengan pengerahan sedikit tenaga, membuat rambutnya yang ikal mayang agak kusut dan beberapa ikal rambut didahi berjuntai dan melingkar ke bawah, juga di depan kedua pelipisnya.
Beberapa kali jari-jari tangannya yang kecil meruncing itu menyibakkan anak rambut yang menggelitik, akan tetapi anak-anak rambut yang nakal itu terjuntai kembali ke atas dahi dan pipinya yang berkulit halus dan tipis.
Sepasang matanya jeli bersinar-sinar seperti bintang senja, dihias bulu mata yang panjang lentik dan lebat sehingga membentuk garis menghitam di sekeliling matanya, dilindungi oleh sepasang alis yang kecil panjang hitam melengkung seperti dilukis.
Hidungnya kecil mancung, cuping hidungnya tipis dan mudah tergetar, serasi sekali dengan sebuah mulut yang memiliki daya tarik paling kuat.
Mulut yang manis dan indah, dengan bibir yang penuh dan tiipis, merah basah seperti buah tomat matang yang membuat orang ingin sekali mengigitnya.
Di balik sepasang bibir yang agak terbuka ketika dia memandang ibunya itu mengintai deretan gigi putih mengkilap, rata dan menjadi lebih indah karena dipangur (dipasah) dan samar-samar nampak ujung lidah merah kecil menempel di antara dua deretan gigi yang agak terbuka.
Sukarlah melukiskan keindahan dara remaja ini, cantik jelita dan seperti setangkai bunga yang sedang mekar, harum semerbak mengandung sari madu berlimpah-limpah dalam usianya yang lima belas tahun itu.
Sutejo, adiknya yang baru berusia sepuluh tahun, telah membayangkan sikap gagah seorang kesatria.
Tarikan dagunya yang meruncing, mulut yang tidak cengeng, sepasang mata yang bersinar-sinar penuh keberanian, serupa benar dengan mendiang ayahnya, seorang perwira yang digdaya dan perkasa, Lembu Tirta yang terkenal sebagai seorang di antara benteng-benteng Mojopait, yang membantu perjuangan Raden Wijaya yang kini telah menjadi Raja Mojopait pertama bergelar Sang Prabu Kertarajasa Jayawardana.
Anak laki-laki ini baru berusia tiga tahun ketika ayahnya gugur di medan perang, akan tetapi karena seringnya dia mendengar penuturan ibunya tentang kegagahan ayahnya itu sehingga kini melihat ibunya ketakutan dan hendak melarikan diri, dia merasa penasaran sekali.
Sambil membelai rambut puterinya dan merangkul leher puteranya, janda Galuhsari berkata lirih.
"Tari, tidak perlu engkau menyayangkan semua harta milik kita yang tidak berapa banyak ini. Apakah artinya harta kalau jiwa raga kita terancam bahaya? Yang terpenting adalah menyelamatkan jiwa raga yang sekali hilang tak dapat kita cari lagi, sebaliknya, harta benda dapat dicari setiap saat, anakku. Dan kau, Tejo, jangan salah mengerti. Kita bukanlah penakut, ibumu tidak sudi mencemarkan nama besar ayahmu dengan menjadi penakut. Juga kita boleh percaya akan kebijaksanaan dan keadilan Sang Adipati Tronggo Lawe. Akan tetapi"..bahaya yang mengancam kita kiranya tidak akan dapat ditolong oleh sang adipati."
Janda yang masih nampak muda dan cantik itu kembali memandang ke pintu dengan gelisah.
"Kita harus melarikan diri malam nanti, tidak boleh ditunda-tunda lagi".."
"Akan tetapi mengapakah, ibu? Bahaya apakah yang mengancam kita?"
Lestari bertanya, kini mulai ikut gelisah dan juga memandang ke pintu.
"Ibu, siapa yang akan berani menganggu kita, keluarga mendiang Lembu Tirta?"
Sutejo berkata sambil mengepal tinjunya yang kecil.
"Tidak perlu kalian tahu akan hal itu, anak-anakku. Yang penting kalian ketahui adalah bahwa terdengar olehku adanya berita angin bahwa Kadipaten Tuban nampaknya bersiap-siap hendak memberontak Mojopahit. Dan aku tahu benar bahwa kekalutan ini tentu akan dipergunakan kesempatan baik oleh musuh besar kita."
"Siapa dia, ibu?"
Lestari dan Sutejo bertanya hampir berbareng.
"Dia".. Progodigdoyo".."
"Sang panewu"..?"
Lestari bertanya dengan matanya yang lebar jeli itu terbelalak.
"Kenapa dia musuh besar kita, ibu?"
Sutejo juga bertanya.
"Sebelum kita menghadapi bahaya, sebaiknya kalau kuceritakan kepada kalian, anak-anakku. Siapa tahu"", segera terjadi perang dan mungkin kita akan cerai-berai"..
"Ah, ibu""!"
Lestari ngeri membayangkan kemungkinan itu. Akan tetapi adiknya hanya memandang kepada ibu mereka, sinar matanya tajam menuntut penjelasan.
"Kalian tentu tahu bahwa Panewu Progodigdoyo masih terhitung sanak dengan sang adipati, karena dia adalah keponakan dari ibu Gusti Adipati Ronggo Lawe. Karena itu, kekuasaannya tinggi, apalagi dia diangkat sebagai penewu yang mengepalai pasukan besar. Sebaliknya, ibumu hanya seorang janda, dan kita tidak apat berbuat sesuatu. Memusuhi dia sama artinya seperti ketimun melawan duren, akan hancur sendiri kita."
"Ibu, ceritakan apa yang terjadi dan apa yang dilakukan oleh Panewu Progodigdoyo!"
Sutejo menuntut, suaranya penuh desakan dan penasaran.
"Semenjak belasan tahun yang lalu, Perwira Lembu Tirta, mendiang ayah kalian, dan Perwira Progodigdoyo di samping perwira-perwira lain termasuk Gusti Adipati Tuban, adalah pembantu-pembantu Gusti Prabu Kertarajasa Jayawardhana yang dahulu masih bernama Raden Wijaya. Mereka semua berjuang bahu membahu sebagai rekan-rekan yang saling setia. Akan tetapi, sejak"..mendiang ayah kalian menikah dengan ibumu...terjadi keretakan antara ayah kalian dengan Progodigdoyo..."
"Kenapa, ibu?"
Lestari bertanya ketika mendengar suara ibunya terputus-putus.
"Ahhhh"..,ibumu yang menjadi sebab anak-anakku. Progodigdoyo mencinta ibumu, akan tetapi aku memilih Perwira Lembu Tirta."
Lestari dan Suteja saling pandang, kemudian mereka memandang lagi kepada ini mereka, janda Galuhsari yang menarik napas panjang.
"Kemudian delapan tahun yang lalu, dalam sebuah peperangan, ketika mendiang ayah kalian dan Progodigdoyo sedang bertempur melawan musuh bahu membahu, tiba-tiba dari samping Progodigdoyo bertindak curang dan khianat, ayahmu diserang dengan keris dan ditusuk lambungnya sehingga roboh"
"Ihhh"..!"
Lestari menjerit dan terisak.
"Si keparat Progodigdoyo!!"
Sutejo mengepal tinju dan sepasang matanya yang amat tajam itu bersinar-sinar.
"Sstttt"., jangan berteriak seperti itu, tejo. Sudah kukatakan, kita tidak berdaya dan rasa pensaran ini harus kita kubur saja di hati."
Hening sejenak di balik itu. Sutejo masih berdiri mengepal tinju, Lestari masih terisak dan memeluk paha ibunya, sedangkan janda galuhsari duduk termenung memandang kosong ke depan.
"Bagaimana ibu bisa tahu apa yang terjadi di medan perang itu?"
Tiba-tiba Sutejo bertanya, pertanyaan yang menunjukkan kecerdikan seorang anak berusia sepuluh tahun.
"Ayahmu yang tersangka telah tewas oleh Progodigdoyo itu ternyata masih kuat untuk merangkak pulang dan dia mati di dalam pelukanku, masih kuat menceritakan penghianatan Progodigdoyo."
"Kenapa ibu tidak melaporkan kepada gusti adipati, atau kepada sang prabu?"
Lestari berkata penuh penasaran.
"Hemm, siapa yang akan percaya, anakku? Aku mengkhawatirkan keadaan kalian berdua yang masih kecil, maka aku diam saja, pura-pura tidak tahu karena kalau aku memusuhinya, kita semua akan celaka. Apa lagi karena Progodigdoyo adalah saudara sepupu Gusti Adipati Ronggo Lawe."
"Ibu penakut!"
Tiba-tiba Sutejo berteriak, mukanya merah dan matanya melotot memandang ibunya. Janda Galuhsari terkejut dan menangis.
"Kalian tidak tahu"..betapa hebat aku menderita"..betapa Progodigdoyo selama ini berusaha untuk membujukku, untuk mengambil aku sebagai selir, dengan janji-janji muluk namun aku".. aku selalu menolak dan memperahankan diri"..tanpa berani menyebut-nyebut peristiwa itu"..dia sudah mengancam akan tetapi agaknya belum memperoleh kesempatan baik. Sekarang"..ada beriat bahwa Tuban akan memberontak terhadap Mojopahit, hal ini berbahaya sekali, tentu dia akan mempergunakan kesempatan selagi keadaan kalut untuk melaksanakan ancamannya, yaitu memaksaku. Maka lebih dulu kita harus menyingkir, minggat ke daerah Mojopahit".."
Sejenak suasana hening sekali, yang terdengar hanya langkah-langkah halus janda Galuhsari yang mulai menyalakan lampu-lampu karena cuaca mulai gelap.
Kemudian janda cantik itu duduk lagi dan merangkul Sutejo yang kelihatan masih marah, mencium dahi puteraanya itu.
"Tejo ibumu bersabar dan menahan segala derita demi untuk keselamatan engkau dan mbakyumu. Kalau tidak ada kalian, apakah kau kira ibu masih suka hidup menderita seperti ini? Lebih baik menyusui ayah kalian."
"Ibu".!"
Tejo dan Lestari berteriak dan merangkul ibu mereka. Bertangisanlah tiga orang itu dan akhirnya janda Galuhsari dapat menenangkan mereka.
"Aku menjadi isteri ayah kalian karena kami saling mencinta, dan dengan cinta kasih segala apa pun dapat diatasi dan dihadapi, anak-anakku. Selain itu, ibu masih teringat akan wejangan-wejangan mendiang kakek kalian, yaitu ayahku yang menjadi pertapa, oleh karena itu, aku tidak menaruh dendam kepada Progodigdoyo. Dendam menimbulkan kebencian bersemi di dalam hati, maka hidup akan merupakan penderitaan karena kita tidak akan dapat mengenal cinta kasih."
"Apa maksudmu, ibu?"
Lestari bertanya.
"Mengapa kita tidak boleh membenci? Tentu saja kita membenci orang yang jahat kepada kita dan mencinta orang yang baik kepada kita, ibu."
Kembali janda Galuhsari menarik napas panjang.
"Kelak kalian akan mengetahui sendiri, anak-anakku, akan tetapi selagi masih ada waktu, biarlah kalian mendengar wejangan mendiang kakekmu tentang cinta kasih murni."
Maka terdengarlah nyanyian yang lirih namun merdu dari mulut yang menyanyikan tembang Sinom.
Kesunyian malam itu dipecahkan suara lembut yang menggetar penuh penasaran dan yang menyusup ke dalam kalbu dua orang anak yang mendengarkan dengan hati terharu itu.
"Cinta kasih tidak akan dapat terujud apabila lima macam penonjolan diri ini berkuasa . Loba, ialah ketamakan, Selalu merasa kurang, Moha, gla hormat, selalu Merasa benar sendiri, Murka, Mudah marah dan banya Membenci, Himsa, suka menyiksa dan membunuh, Matsarya, iri hati dan suka mencela Orang lain. Betapa indah dan agungnya cinta ksih, tanpa cinta kasih, hidup menjadi kering dan gersang!"
Suasana menjadi sunyi hening ketika tembang itu habis dinyanyikan, akan tetapi hanya sebentar saja karena segera terdengar suara kasar dari luar pintu.
"Ha, ha, ha, betapa tepatnya nyanyianmu itu, Galuhsari! Agaknya engkau sengaja menyambutku dengan nyanyian itu, ha-ha-ha!"
Janda yang cantik itu menahan jeritnya dengan punggung tangan kanannya, sedangkan Lestari memeluk pinggang ibunya dengan muka ketakutan ketika ibunya bangun berdiri dari tempat tidur.
Sutejo membalikkan tubuhnya dan dengan kedua tangan terkepal dia memandang laki-laki tinggi besar berkumis panjang melintang yang telah berdiri di ambang pintu.
Seorang laki-laki yang sikapnya gagah dan kasar, selain tubuhnya tinggi besar dan kumisnya panjang melintang di atas mulut seperti kumis Gatotkaca, juga pakaiannya sebagai seorang panewu itu membuatnya kelihatan rapi dan gagah.
Seorang bangsawan yang berwibawa.
Hidungnya besar membengol, ciri seorang laki-laki yang di kuasai hawa nafsu birahi yang besar dan matanya lebar tak megenal takut.
Inilah Panewu Progodigdoyo yang sejak muda menjadi seorang prajurit yang pilihannya, gagah perkasa dan sakti, masih saudara sepupu, juga kepercayaan Adipati Ronggo Lawe di Tuban.
Melihat munculnya panewu yang baru saja mejadi bahan percakapannya dengan kedua orang anaknya, muka janda Galuhsari menjadi pucat sekali.
Tak disangkanya bahwa musuh besar itu akan secepat itu muncul di dusun Kembangsari, yaitu tempat tinggalnya yang berada di sebelah selatan Tuban, akan tetapi masih termasuk Kadipaten Tuban.
Dusun ini adalah dusun kampung halaman mendiang suaminya, sebuah dusun yang kecil saja namun karena berada di lereng pengunungan.
Ha-ha-ha, engkau makin cantik saja Galuhsari.
Dan tembangmu tadi memang tepat.
Hidupku kering dan gersang karena rinduku kepadamu.
Galuhsari, setelah menanti selama delapan tahun, untuk yang terakhir kalinya aku datang sendiri meminangmu, manis!
Lihat, tidak kasihankah engkau kepada puterimu yang sudah remaja ini, cantik jelita seperti ibunya.
Dan lihat, puteramu yang masih kecil ini begitu gagah, mengingatkan aku kepada ayahnya, yaitu kakang Lembu Tirta.
Mari engkau ikut dengan aku ke kadipaten dan anak-ankmu akan menjadi anak-anakku, terhormat dan hidup mulia."
"Tidak sudi aku!!"
Bentakan nyaring ini keluar dari mulut Sutejo yang berdiri tegak memandang Panewu Progodigdoyo tanpa rasa takut sedikit pun.
"Engkau mendengar itu, Progodigdoyo? itulah suara mendiang kakangmas Lembu Tirta melalui mulut anak kami, dan juga menjadi suara hatiku. Engkau tahu bahwa aku tidak mau menikah dengan siapa pun, maka tiggalkanlah kami, Progodigdoyo, biarkan aku menjanda selama hidup mendidik sendiri anak-anakku."
Tanpa diundang, Progodigdoyo lalu duduk di atas kursi di bilik itu, dan memandang kepada ini dan dua orang anaknya yang kini duduk di atas pembaringan.
Matanya sejak tadi memandang dan menjelajahi wajah dan bentuk tubuh janda itu, kadang-kadang menelan ludah dan kalamenjing di keringkonangnya bergerak-gerak kalau matanya tiba di bagian-bagian tubuh yang membangkitkan birahinya, sinar matanya seperti membelai dan mengelus-elus tubuh janda itu.
"Galuhsari, kenapa sampai sekarang engkau masih bersikeras dan tega sekali engkau merusak hatiku? Aku kesepian, Galuh, aku rindu padamu..."
"Jangan berkata begitu, Panewu Progodigdoyo, bukankah di rumahmu telah ada isterimu dan para selirmu? "
"Ha-ha-ha, mereka itu kelihatan seperti sampah di waktu aku memandangmu. Kecantikan mereka dibandingkan dengan engkau seperti bintang-bintang berjajar bulan purnama! Ingat, Galuhsari, aku cinta padamu, aku kasihan kepadamu dan sudah sepatutnya kalau aku yang melindungi janda kakang Lembu Tirta, mengingat betapa kami seperti saudara sekandung. Kakang Lembu Tirta tentu akan rela melihat bekas istrinya menjadi kekasihku yang tercinta..."
"Bohong! Ayah tidak rela karena engkau telah membunuhnya!"
Tiba-tiba Sutejo berteriak dan panewu itu sampai terloncat dari tempat duduknya mendengar ini.
Lengannya yang panjang bergerak dan tangan kanannya sudah mencengkeram pundak Sutejo dan ditariknya anak itu ke dekatnya.
"Apa kau bilang?"
Bentaknya.
"Panewu Progodigdoyo...jangan kau ganggu anakku...!"
Janda Galuhsari menjerit sambil menubruk maju, memegang lengan puteranya dan menariknya.
Terjadi tarik menarik sebentar, kemudian tiba-tiba Progodigdoyo melepaskan cengkeramannya sehingga tubuh anak itu terlepas dan Galuhsari hampir jatuh, terhuyung ke belakang sambil memeluk Sutejo dan terjatuh duduk di atas pembaringan dipeluk oleh Lestari yang menangis.
Akan tetapi Sutejo tidak menangis, hanya memandang panewu itu dengan mata terbelakak penuh kebencian.
Panewu Progodigdoyo menantap wajah janda itu dengan mata mendelik dan sinar mata penuh selidik, kemudian dia berkata, suaranya lirih akan tetapi mengandung ancaman mengerikan.
"Galuhsari, jadi selama ini engkau tahu..."
Janda itu mengangguk.
"Sebelum meninggalkan dunia karena kecuranganmu, dia masih kuat merangkak pulang..."
Lalu ia terisak.
Progodigdoyo kelihatan terkejut dan juga tidak enak hati, akan tetapi rasa malu karena kecurangannya itu bukan membuat dia mundur, bahkan membuat hatinya yang sudah dibikin keruh oleh nafsu itu semakin nekat.
"Kalau begitu, ketahuilah bahwa apa yang kulakukan dahulu itu adalah demi cintaku kepadamu, Galuhsari! Maka, mau tak mau engkau menjadi milikku."
"Keparat hina!"
Sutejo tiba-tiba memaki dan seperti seekor harimau kecil anak ini menerjang ke depan, kepalan tangannya yang kecil itu emukul ke arah perut panewu itu.
Tentu saja sang panewu dengan amat mudahnya menangkap kedua tangan Sutejo yang meronta-ronta dengan sia-sia.
"Progodigdoyo, lepaskan anakku dan pergilah! Kalau tidak, aku akan menjerit dan menyerahkan seluruh penduduk dusun Kembangsari sudah dikepung oleh pasukanku, siapa yang akan berani melawan dan memberontak?"
"Kembalikan anakku!"
Akan tetapi Progodigdoyo yang kini mklum bahwa rahasiannya membunuh Lembu Tirta sudah ketahuan dan bahwa putera dari Lembu Tirta ini kalau dibiarkan hidup kelak hanya akan membikin repot saja, lalu memanggil pembantunya.
"Klabang Curing ke sinilah!"
Dari luar pintu berkelebat bayangan orang dan tampaklah seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun lebih, tubuhnya tinggi kurus dan begitu masuk, dia mengerling ke arah janda cantik itu dan anak daranya sambil tersenyum-senyum.
"Bawa anak ini ke dalam hutan dan..."
Progodigdoyo memberi isyarat dan hanya Klabang Curing saja yang maklum bahwa dia disuruh membunuh anak laki-laki itu di dalam hutan, atau jelasnya, anak itu harus dibunuh tanpa diketahui ibunya.
"Baik, kakang Panewu,"
Katanya sambil tertawa dan suara ketawannya makin keras ketika Sutejo berusaha meronta-ronta dan melepaskan diri ketika kedua lengannya dipegang oleh orang tinggi kurus itu dan tubuhnya diseret keluar.
"Kembalinya anakku!"
Jerit janda Galuhsari sambil menangis.
Dari luar Sutejo yang masih meronta-ronta itu dapat mendengar semua suara di dalam bilik, karena Klabang Curing sambil tersenyum-senyum menyeringai agaknya ingin pula mendengarkan maka dia belum meninggalkan tempat itu.
Sutejo mendengar ibunya menangis, juga tangis kakaknya, Lestari.
"Kau bunuh saja aku, akan tetapi kembalikan anakku".."
Ibunya meratap.
"Ha-ha, anakmu itu tidak apa-apa, dan anakmu yang manis itu pun tidak akan diganggu kalau kau menyerahkan diri dengan baik-baik kepadaku, Galuhsari. Ke sinilah, manis, sudah tiba saatnya kau menghentikan sikap bermusuh itu padaku. Aku cinta padamu dan sudah delapan tahun aku menahan rinduku kepadamu."
"Tidak"",tidak"..!"
Hening sejenak, kemudian Sutejo menengar jerit kakaknya. Lestari menjerit dan disusul lengking ibunya.
"Progodigdoyo".apa".apa yang hendak kau lakukan?"
Terdengar ibunya memekik di antara tangisnya.
"Kalau kau berkeras tidak mau, kau lihatlah betapa aku memaksa anakmu menggantikan engkau melayani aku".."
"Jangan"..ahhh"..lebih baik kau bunuh aku"..kau boleh siksa aku"..akan tetapi jangan kau ganggu Lestari".."
Ibunya meratap dan Sutejo meronta-ronta dan berteriak-teriak.
Klabang Curing yang takut kalau-kalau ketahuan oleh atasannya bahwa dia pun ikut mendengarkan dengan asyik, cepat mendekap mulut anak itu sehingga Sutejo meronta-ronta akan tetapi tidak mampu melepaskan diri dari jari-jari tangan yang kuat itu.
"Nah, bagaimana?"
Terdengar Progodigdoyo mengancam.
"Anakmu, atau engkau yang menyerah dengan suka rela?"
Sutejo mendengar ibunya merintih.
""..sesukamulah"..asal kau jangan menggangu anakku".."
Selanjutnya ia mendengar suara Progodigdoyo tertawa girang dan mendengar rintihan ibunya yang menahan tangis, diselingi tangis dan isak Lestari yang terdengar penuh perasaan takut dan ngeri.
"Heh-heh, hebat memang kakang Progodigdoyo".."
Klabang Curing tertawa lalu menyeret tubuh Sutejo dari tempat itu, meniggalkan rumahnya dan dusun Kembangsari, terus menyeret tubuh anak itu ke arah hutan yang gelap.
Sutejo berhenti meronta dan Klabang Curing melepaskan lengan kanan anak itu, hanya memegangi tangan kirinya sambil terus menarik.
"Paman"..aku hendak dibawa ke manakah?"
Sutejo bertanya, suaranya penuh rasa penasaran, akan tetapi sedikit pun dia tidak merasa takut, dan diam-diam tangan kanannya meraba-raba ke pinggangnya.
Di situ terselip sebatang keris yang tadi dibawannya ketika ibunya berkemas, Keris itu adalah keris peninggalan ayahnya, sebatang keris yang bernama Nogopusoro, keris pusaka yang selama berada di tangan mendiang Senopati Lembu Tirta telah minum darah entah berapa banyak lawan sehingga selain beracun, juga keris itu mempunyai wibawa menyeramkan.
"Hendak dibawa ke mana? Ha-ha-ha, ke mana lagi kalau tidak ke neraka?"
Klabang Curing terbahak.
"Salahnya ibumu yang tidak tahu bahwa sang panewu tergila-gila kepadanya".,ha-ha-ha!"
Klabang Curing tertawa sambil mengangkat mukanya ke atas sehingga tidak tahulah dia betapa anak kecil itu telah mencabut keris Nogopusoro yang sudah berkarat oleh darah lawan.
"Cepp".!Aughhhh"..!"
Klabang Curing adalah seorang panglima yang memiliki kedigdayaan, biar pun lambungnya tertusuk keris karena dia tadi sama sekali tidak menduganya, namun dia dapat sempat mengerahkan tenaga kekebalannya sehingga keris itu tidak masuk lebih dalam lagi.
Apa pula karena tenaga Sutejo memang tidak besar.
Sambil mengerahkan tenaga ke lambungnya, Klabang Curing memaki.
"Anak setan!"
Dan kakinya menendang.
"Dessss".!"
Keris itu tercabut dari lambungnya ketika tubuh anak kecil itu mencelat sampai beberapa tombak jauhnya.
"Setan cilik, kupatahkan batang lehermu ".. ahhhh!"
Klabang Curing yang meloncat hendak menubruk anak itu roboh terguling dan pingsan karena keampuhan keris Nogopusoro yang telah melukai lambungnya tadi.
Sutejo yang masih memegang keris di tangan, merasa kepalanya pening ketika dia terbanting jatuh, akan tetapi melihat musuhnya roboh, dia cepat menyimpan keris ayahnya dan bangkit berdiri, lalu berlari kembali menuju ke dusun Kebasari sambil membayangkan malapetaka yang mengancam ibunya dan kakaknya.
"Ibuuuu"..!"
Dia menjerit dan berlari terus dalam kegelapan malam.
Masih hidupkah ibunya dan kakaknya?
Sudah terlalu lama dia diseret oleh Klabang Curing tadi, hampir satu jam lamanya.
Akan terlambatkah dia?
Dengan berindap-indap dan menyusup-nyusup karena melihat ada beberapa orang penunggang kuda menjaga di sekeliling rumah dan dusun, dia akhirnya berhasil memasuki rumah ibunya dari pintu belakang.
Segera dia menyelinap mendaki kamar ibunya dan mengintai, tidak berani masuk secara sembrono karena dia mendengar suara di dalam.
Dilihatnya ibunya berdiri di dekat pembaringan, rambutnya yang hitam panjang sampai ke pinggul itu terurai lepas dan hanya mengenakan tapih pinjung (kain yang dililitkan ke tubuh sampai ke dada), memandang kepada Panewu Progodigdoyo yang tersenyum-senyum sambil mengenakan lagi jubahnya.
"Progodigdoyo!"
Ibunya membentak dan tangan kirinya memeluk Lestari yang menangis dengan muka pucat dan menyembunyikan mukanya ke dada ibunya "Engkau tadi berjanji tidak akan mengganggu anakku kalau aku mau menyerahkan diri kepadamu.
Akan tetapi"..apa yang kau katakan tadi?
Kau tidak boleh membawa Lestari"..!"
"Ha-ha-ha, Galuhsari, aku salah sangka tentang dirimu. Aku kecewa"..ternyata engkau sudah terlalu tua. Maka biarlah aku tidak jadi membawamu, dan sebagai gantinya anakmu ini akan kupersunting menjadi selirku. Dia cantik seperti engkau, akan tetapi dia masih muda dan segar, sedangkan engkau"..sayang, kau terlalu tua".."
"Jahanam busuk!"
Janda itu memaki dengan jerit melengking saking marahnya.
Dia telah mengalami penghinaan besar, menyeraahkan diri dan diperkosa di depan puterinya sendiri, hal yang dilakukan dengan hati berdarah demi keselamatan puterinya.
Akan tetapi yang didapatkannya sebagai imbalan pengorbanan hebat ini hanya penghinaan yang menyakitkan hati, dan puterinya tetap saja akan dibawa oleh musuh besar itu.
"Hemmm, perempuan tua, jangan banyak lagak engkau. Lebih baik kau serahkan anakmu itu menjadi selirku dan engkau boleh menjadi pelayan di rumahku, kalau engkau masih ingin selamat. Siapa tidak tahu bahwa engkau hendak melarikan diri, hendak memberontak terhadap Tuhan?"
Kemarahan Galusari mencapai puncaknya.
"Manusia berhati iblis"..! Dia memaki dan menyambar lampu di atas meja lalu dilemparnya lampu itu ke arah Progodigdoyo."
"Ehhh"..!"
Lampu itu pecah berantakan menghantam dinding bambu bilik itu dan api yang disiram minyak menjilat dan membakar dinding bambu.
"Perempuan busuk!"
Progodigdoyo meloncat ke depan, tangan kirinya menampar dan tangan kananya menyambar Lestari.
Galuhsari terpekik dan terlempar ke samping, sedangkan Lestari yang dapat dipondong oleh Progodigdoyo menjerit.
Akan tetapi Progodigdoyo meloncat ake pintu kamar hendak pergi dari kamar yang mulai terbakar itu.
"Progodigdoyo manusia keparat!"
Tiba-tiba terdengar bentakan Sutejo yang menyerbu dari luar pintu kamar denagn keris terhunus. Progodigdoyo terbelalak.
"Kau"..??"
Dia merasa heran sekali melihat anak ini karena bukankah anak ini sudah disuruhnya bunuh oleh Klabang Curing?
Mengapa bisa muncul di sini?
Bulu tengkuknya meremang karena dia menduga bahwa yang muncul ini tentu arwah atau setan dari anak itu.
"Dessss".!!"
Galuhsari mengeluh lemah, tubuhnya terlempar masuk kembali ke dalam bilik yang sedang terbakar, terbanting keras dan pingsan!
Progodigdoyo yang masih memondong tubuh Lestari yang meronta-ronta dan menjerit-jerit, hanya menoleh satu kali melihat betapa api mulai menjilat dan membakar rambut panjang dan kain yang hampir terlepas itu, kemudian meloncat ke luar.
"Ibu"..Tejo"..!"
Progodigdoyo memukul perlahan tengkuk Lestari dan dara remaja itu roboh lemas di dalam pondongannya, tak sadarkan diri.
Tak lama kemudian yang terdengar bergema di dalam dusun kembangsri yang menjadi sunyi senyap itu hanya ringkik kuda dan derap kaki kuda meninggalkan dusun itu, dan suara ini pun lenyap, terganti oleh suara api yang mengamuk dan melahap rumah bekas tempat tinggal janda Galuhsari.
Baru pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali setelah api sudah kenyang dan menghabiskan rumah dan seluruh isinya, para tetangga berani mendekati tempat itu.
Wajah mereka tegang karena semalam mereka mendengar bahwa pasukan dari Tuban datang untuk membikin pembersihan dan dikabarkan bahwa keluarga mendiang Lembu Tirta dicurigai dan diperiksa.
Kemudian mereka mendengar jerit-jerit itu dan disusul suara api membakar rumah.
Karena ketakutan mereka tidak berani keluar, dan baru pagi hari berikutnya mereka berani keluar memenuhi halaman rumah yang sudah menjadi puing itu dan menemukan kerangka yang sudah hangus dan sebagian menjadi abu.
Itulah kerangka janda Galuhsari yang segera mereka rawat dan melarungkannya (menghanyutkan) ke air Sungai ambakberas.
Anehnya, tidak ada bekas kerangka Sutejo, sedangkan mereka semua tahu bahwa Lestari telah ditawan dan dibawa ke Tuban, karena ketika pasukan itu meninggalkan dusun, ada penduduk yang sempat mengintai dengan tubuh mengigil dan melihat dara itu dalam pondongan Panewu Progodigdoyo.
Seperti biasanya terjadi di dalam jaman apa pun dan di mana pun, peraturan dan hukum hanya diterapkan untuk mengendalikan rakyat kecil belaka, sedangkan orang-orang besar biasanya atau sebagian besar adalah kebal terhadap hukum.
Andaikata peristiwa pembunuhan, pembakaran rumah dan penculikan gadis itu dilakukan oleh rakyat biasa, tentu hukum akan mengejarnya sampai dia ditangkap dan dihukum sesuai dengan kejahatannya.
Akan tetapi, kalau pembesar yang berkuasa melakukan sesuatu, biasanya peristiwa itu lewat begitu saja, karena pemegang hukum adalah para pembesar belaka.
Rakyat hanya bisa merasa penasaran akan tetapi lambat laun peristiwa-peristiwa yang menyakitkan hati itu terlupa juga.
Demikian pula dengan peristiwa di dusun Kembangsari ini.
Karena tahu bahwa yang melakukan pembakaan dan pembasmian atas keluarga mendiang Perwira Lembu Tirta adalah pasukan Tuban yang dipimpin oleh Panewu Progodigdoyo, maka siapakah yang akan berani membuat ribut?
Orang yang paling berkuasa di dusun itu hanyalah berpangkat lurah biasa, apa dayanya terhadap seorang senopati dari Kadipaten Tuban, tangan kanan Gusti Adipati Ronggo Lawe sendiri?
Maka semua orang hanay bisa saling pandang, menggeleng-geleng kepala dan merasa kasian kepada nasib janda Galuhsari sekeluarga, akan tetapi tak berani membuka mulut karena mereka maklum bahwa ribut-ribut mempersoalkan peristiwa itu berarti mengundang malapetaka yang mungkin lebih mengerikan daripada peristiwa itu sendiri.
Apa yang diceritakan oleh janda Galuhsari sebelum dia tewas dalam keadaan mengerikan itu kepada anak-anaknya tentang pemberotakan mengerikan itu kepada anak-anaknya tentang pemberontakan Tuban memang benar.
Api pemberontakan itu mulai menyala akibat rasa iri hati yang bergolak di dalam dada Sang Adipati Rongo Lawe.
Seperti dituturkan dalam Serat Panji Wijayakrama, Ronggo Lawe adalah putera dari Bupati Sumenep yang bernama banyak Wide, atau Aryo Wirorojo dan kemudian berganti nama menjadi Aryo Adikoro.
Ayah dan anak ini merupakan Senopati-senopati Mojopahit yang telah banyak berjasa, terutama terhadap Sang Prabu Kertarajasa Jayawardana semenjak sang prabu belum menjadi raja dan masih bernama Raden Wijaya.
Mereka itu merupakan ponggawa-ponggawa yang setia di samping tokoh-tokoh Mojopahit lainnya, terutama sekali Senopati Lembu Sora atau Ken Sora yang berpangkat demang, adik dari Aryo Wirorojo atau paman dari Ronggo Lawe, kebo Anabrang, Raden Nambi dan yang lain-lain.
Setelah Raden Wijaya berhasil menjadi Raja Mojopahit pertama bergelar Kertarajasa Jayawardhana, beliau tidak melupakan jasa-jasa para senopati (perwira) yang setia dan banyak membantunya semenjak dahulu itu membagi-bagikan pangkat kepada mereka.
Ronggo Lawe diangkat menjadi adipati di Tuban dan yang lain-lain pun diberi pangkat pula.
Dan hubungan antara junjungan ini dengan para pembantunya, sejak perjuangan pertama sampai Raden Wijaya menjadi raja, amatlah erat dan baik.
Akan tetapi guncangan pertama yang memperngaruhi hubungan ini adalah ketika sang prabu telah menikah dengan empat puteri mendiang Raja Kertanegara, telah menikah lagi dengan seorang puteri dari melayu.
Sebelum puteri dari tanah Malayu ini menjadi isterinya yang kelima, Sang Prabu Kertarajasa Jayawardhana telah mengawini semua puteri mendiang Raja Kertanegara.
Hal ini dilakukannya karena beliau tidak menghendaki adanya Kertanegara itu semua menjadi isterinya sehingga tidak akan timbul dendam dan perebutan kekuasaan kelak.
Keempat orang puteri itu adalah Dyah Tribunan yang menjadi permaisuri, yang kedua adalah Dyah Nara Indraduhita, ketiga adalah Dyah Jaya Inderadewi, dan yang juga disebut Retno Sutawan atau Rajapatni yang berarti "terkasih"
Karena memang puteri bangsu dari mendiang Kertanegara ini menjadi isteri yang paling dikasihinya.
Dyah Gayatri yang bungsu ini memang cantik jelita seperti seorang dewi kahyangan, terkenal di seluruh negeri dan kecantikannya dipuja-puja oleh para sasterawan di masa itu.
Akan tetapi, datanglah pasukan yang beberapa tahun lalu diutus oleh mendiang Sang Prabu Kertanegara ke negeri Malayu.
Pasukan ini dinamakan pasukan Pamalayu yang dipimpin oleh seorang senopati perkasa bernama Kebo Anabrang atau juga Mahisa Anabrang, nama yang diberikan oleh sang prabu mengingat akan tugasnya menyeberang (anabrang) ke negeri Malayu.
Pasukan ekspedisi yang berhasil baik ini membawa pulang pula dua orang puteri bersaudara.
Puteri yang ke dua, yaitu yang muda, bernama Dara Petak dan Sang Prabu Kertarajasa terpikat hatinya oleh kecantikan sang puteri ini, maka diambillah Dyah Dara Petak menjadi isterinya yang ke lima.
Segera ternyata bahwa Dara Petak menjadi saingan yang paling kuat dari Dyah Gayatri, karena Dara Petak memang cantik jelita dan pandai membawa diri.
Sang Prabu sangat mencintai isteri termuda ini yang setelah diperisteri oleh sang baginda, lalu diberi nama Sri Indreswari.
Terjadilah persaingan di antara para isteri ini, yang tentu saja dilakukan secara diam-diam namun cukup seru, persaingan dalam memperebutkan cinta kasih dan perhatian sri baginda yang tentu saja akan mengangkat derajat dan kekuasaan masing-masing.
Kalau sang prabu sendiri kurang menyadari akan persaingan ini, pengaruh persaingan itu terasa benar oleh para senopati dan mulailah terjadi perpecahan diam-diam di antara mereka sebagai fihak yang bercondong kepada yah Gayatri keturunan mendiang Sang Prabu Kertanegara, dan kepada Dara Petak keturunan Malayu.
Tentu saja Ronggo Lawe, sebagai seorang yang amat setia sejak jaman Prabu Kertanegara, berfihak kepada Dyah Gayatri.
Namun, karena segan kepada Sang Prabu Kertarajasa yang bijaksana, persaingan dan kebencian yang dilakukan secara diam-diam itu tidak sampai menjalar menjadi permusuhan terbuka.
Kiranya tidak ada terjadi hal-hal yang lebih hebat sebagai akibat masuknya Dara Petak ke dalam kehidupan sang prabu, sekiranya tidak terjadi hal yang membakar hati Ronggo Lawe, yaitu pengangkatan patih hamangku bumi, yaitu Patih Kerajaan Majopahit.
Yang diangkat oleh sang prabu menjadi pembesar yang tertinggi dan paling berkuasa sesudah raja sendiri itu adalah Senopati Nambi.
Pengangkatan ini memang banyak terpengaruh oleh bujukan Dara Petak.
Mendengar akan pengangkatan patih ini, merahlah muka Adipati Ronggo Lawe.
Ketika mendengar berita ini dia sedang makan, seperti biasa dilayani oleh kedua orang isterinya yang setia, yaitu Dewi Mertorogo dan Tirtowati.
Mendengar berita itu dari seorang penyelidik yang datang menghadap pada waktu sang adipati sedang makan, Ronggo Lawe merah bukan main.
Nasi yang sudah dikepalnya itu dibanting ke atas lantai dan karena dalam kemarahan tadi sang adipati menggunakan aji kedigdayaannya, maka nasi sekepal itu amblas ke dalam lantai!
Kemudian terdengar bunyi berkerotok dan ujung meja diremasnya menjadi hancur!
"Kakangmas adipati...harap paduka tenang..."
Dewi Mertorogo menghibur suaminya.
"Ingatlah, kakangmas adipati...sungguh merupakan hal yang kurang baik mengembalikan berkah ibu pertiwi secara itu..."
Tirtowati juga memperingatkan karena melempar nasi ke atas lantai seperti itu penghinaan terhadap Dewi Sri dan dapat menjadi kualat.
Akan tetapi Adipati Ronggo Lawe bangkit berdiri, membiarkan kedua tangannya dicuci oleh kedua orang isterinya yang berusaha menghiburnya.
"aku harus pergi sekarang juga!"
Katanya.
"Pengawal lekas suruh persiapkan si Mego Lamat di depan! Aku akan berangkat ke Mojopahit sekarang juga!"
Mego Lamat adalah satu di antara kuda-kuda kesayangan Adipati Ronggo Lawe, seekor kuda yang amat indah dan kuat, warna bulunya abu-abu muda.
Semua cegahan kedua istrinya sama sekali tidak didengarkan oleh adipati yang sedang marah itu.
Tak lama kemudian, hanya suara derap kaki Mego Lamat yang berlari congkalang yang memecah kesunyian gedung kadipaten itu, mengiris perasaan dua orang isteri yang mencinta dan mengkhawatirkan keselamatan suami mereka yang marah-marah itu.
Pada waktu itu, sang prabu sedang dihadap oleh para senopati dan ponggawa.
Semua penghadap adalah bekas kawan-kawan seperjuangan Ronggo Lawe dan mereka ini terkejut sekali ketika melihat Ronggo Lawe datang menghadap raja tanpa dipanggil, padahal sudah agak lama Adipati Tuban ini tidak datang menghadap sri baginda.
Sang prabu sendiri juga memandang dengan alis berkerut tanda tidak berkenan hatinya, namun karena Ronggo Lawe pernah menjadi tulang punggungnya di waktu beliau masih berjuang dahulu, sang prabu mengusir ketidak senangan hatinya dan segera menyapa Ronggo Lawe.
Di dalam kemarahan dan kekecewaan, Adipati Ronggo Lawe masih ingat untuk menghanturkan sembahnya, akan tetapi setelah semua salam tata susila ini selesai, serta merta Ronggo Lawe menyembah dan berkata dengan suara lantang.
"Hamba sengaja datang menghadap paduka untuk mengingatkan paduka dari kekhilafan yang paduka lakukan di luar kesadaran paduka!"
Semua muka para penghadap raja menjadi pucat mendengar ucapan ini, dan semua jantung di dalam dada berdebar tegang.
Mereka semua mengenal belaka sifat dan watak Ronggo Lawe, banteng Mojopahit yang gagah perkasa dan selalu terbuka, polos dan jujur, tanpa tedeng aling-aling lagi dalam mengemukakan suara hatinya, tidak akan mundur setapak pun dalam membela hal yang dianggap benar.
Sang Prabu sendiri memandang dengan mata penuh perhatian, kemudian dengan suara tenang bertanya.
"Kakang Ronggo Lawe, apakah maksudmu dengan ucapan itu?"
"Yang hamba maksudkan tidak lain adalah pengangkatan Nambi sebagai pepatih paduka! Keputusan yang paduka ambil ini sungguh-sungguh tidak tepat, tidak bijaksana dan hamba yakin bahwa paduka tentu telah terbujuk dan dipengaruhi oleh suara dari belakang! Pengagkatan Nambi sebagai patih hamangku bumi sungguh merupaan kekeliruan yang besar sekali, tidak tepat dan tidak adil, padahal paduka terkenal sebagai seorang Maha Raja yang arif bijaksana dan adil!"
Hebat bukan main ucapan Ronggo Lawe ini!
Seorang adipati, tanpa dipanggil, berani datang menghadap sang Prabu dan melontarkan teguran-teguran seperti itu!
Muka Patih Nambi sebentar pucat sebentar merah, kedua tangannya dikepal dan dibuka dengan jari-jari gemetar.
Senopati Kebo Anabrang mukanya menjadi merah seperti udang direbus, matanya yang lebar itu seperti mengeluarkan api ketika dia mengerling ke arah Ronggo Lawe.
Lembu Sora yang sudah tua itu menjadi pucat mukanya, tak mengira dia bahwa keponakannya itu akan seberani itu.
Senopati-senopati Gagak Sarkoro dan Mayang Mekar juga memandang dengan mata terbelalak.
Pendeknya, semua senopati dan pembesar yang saat itu menghadap sang prabu dan mendengar ucapan-ucapan Ronggo Lawe, semua terkejut dan sebagian besar marah sekali, akan tetapi mereka tidak berani mencampuri karena mereka menghormat sang prabu.
Akan tetapi Sang Prabu Kertarajasa tetap tenang, bahkan tersenyum memandang kepada Ronggo Lawe, ponggawanya yang dia tahu amat setia kepadanya itu, lalu berkata halus.
"Kakang Ronggo Lawe, tindakanku mengangkat kakang Nambi sebagai patih hamangku bumi, bukanlah merupakan tindakan ngawur belaka, melainkan telah merupakan suatu keputusan yang telah dipertimbangkan masak-masak, bahkan telah mendapatkan persetujuan dari semua paman dan kakang senopati dan semua pembantuku. Bagaimana kakang Ronggo Lawe dapat mengatakan bahwa pegangkatan itu tidak tepat dan tidak adil?"
Dengan muka merah, kumisnya yang seperti kumis Sang Gatotkaca itu bergetar, napas memburu karena desakan amarah, Ronggo Lawe berkata lantang.
"Tentu saja tidak tepat! Paduka sendiri tahu siapa si Nambi itu! Paduka tentu masih ingat akan segala sepak terjang dan tindak-randuknya dahulu! Dia seorang bodoh, lemah, rendah budi, penakut, sama sekali tidak memiliki wibawa..."
"Kakang Ronggo Lawe, tentu engkau tahu pula bahwa kakang Nambi adalah seorang ahli siasat dan ketatanegaraan.
"Sang Prabu memotong.
"Memang tukang siasat dia, tukang akal-akalan, akal bulus yang kotor dan busuk. Negara akan celaka kalau patihnya seperti dia yang penuh kelicikan. Dan hamba katakan bahwa pengangkatan ini tidak adil, karena apakah Mojopahit kekurangan orang-orang yang sudah jelas setia dengan jiwa raganya, yang sudah mendarmabaktikan seluruh kehidupannya untuk paduka, yang sudah berjasa besar dalam setiap peperangan?"
"Hemmm...aku mengangkat patih berdasarkan kecakapannya untuk jabatan itu, kakang Ronggo Lawe."
"Harap paduka mengampuni hamba. Akan tetapi, apabila paduka membutuhkan seorang patih hamangku bumi, seorang pembantu yang boleh diandalkan mengapa paduka mengangkat Nambi? Apakah Paman Lembu Sora kurang cakap? Seandainya paduka menganggap Paman Lembu Sora terlalu tua atau tidak memenuhi syarat, bukankah masih ada hamba? Mengapa justruh si Nambi yang picik itu yang diangkat?"
"Ronggo Lawe, engkau orang kasar yang sudah menjadi gila oleh iri hati!"
Tiba-tiba Nambi tidak dapat menahan dirinya lagi karena telah dihina berkali-kali di depan banyak orang.
Kalau tadi dia diam saja adalah karena dia tidak berani ribut-ribut di hadapan sang prabu."Iri hati katamu?
Bukan iri hati, melainkan ingin menegakkan Mojopahit karena kalau engkau yang menjadi patih, kedudukan Mojopahit pasti akan merosot, nama besar dan keagungan sang prabu akan terseret turun oleh kepicikanmu!
Siapa yang tidak tahu bahwa Paman Lembu Sora dan aku, ya aku si Rongga Lawe, telah menyerahkan seluruh jiwa raga untuk keagungan sang prabu dan Mojopahit?
Kalau tidak ada kami berdua di waktu sang prabu menghadapi tentara Tar-tar, apakah Mojopahit akan dapat terbangun?
Jasa Paman lembu Sora ini tidak diperhatikan, dan dikalahkan oleh orang macam engkau!"
Suasana menjadi panas sekali dan kalau tidak ada sang prabu di situ, tentu telah terjadi pertempuran!
Sang Prabu memandang dengan penuh kekhawatiran karena kalau sampai terjadi pertarungan antara pembantunya yang setia di depannya, maka selain hal itu amat memalukan, juga akan melemahakan kedudukannya.
Maka dengan berbagai usaha dia mencoba untuk meredakan kemarahan Ronggo Lawe, akan tetapi Adipati Tuban ini tetap merajuk dan dengan suara lantang dia berkata.
"Hamba tahu bahwa hamba telah melakukan dosa di hadapan paduka dengan sikap hamba ini. Akan tetapi, sikap hamba ini adalah wajar dan kalau hamba akan dijatuhi hukuman, hamba akan menerimanya! Siapa tidak akan meradang melihat betapa si pengecut licik, si penakut Nambi malah memperoleh kedudukan yang paling tinggi! Dan hamba serta Paman Lembu Sora dan para kawan lainnya harus tunduk dan menyembahnya! Keparat Nambi, entah dengan rayuan apa engkau dapat membujuk sang prabu. Kalau engkau hendak menyangkal semua kata-kataku, hayo keluar, pilihlah tempat yang kau sukai, waktu yang kau sukai, setiap saat, kapan saja, di mana saja, Ronggo Lawe siap untuk menghadapimu, menyelasaikan hal ini dengan taruhan nyawa sebagai ksatria! Tidak macam engkau yang hanya pandai bersilat lidah!"
Makin panaslah suasana di situ. Pendeta Brahmana yang diberi isyarat oleh sri baginda, lalu mendekati Ronggo Lawe dan berkata dengan suara halus dan tenang.
"Anakmas Adipati Ronggo Lawe, harap suka tenang dan mendinginkan hati dan pikiran, ingatlah baik-baik apakah sikap seperti ini di hadapan sri baginda merupakan sikap yang benar? Dan apakah akibatnya yang akan menimpa para keluarga anakmas dengan sikap seperti ini?"
Para senopati dan pembesar yang hadir membenarkan dan mendukung kata-kata pendeta ini, akan tetapi sia-sia saja karena Ronggo Lawe tetap saja marah-marah dan menantang-nantang Nambi untuk keluar dan menghadapinya sebagai ksatria.
Kebo Anabrang, senopati perkasa yang pemarah, tidak lagi dapat menahan dirinya, menuding telunjuknya kepada Ronggo Lawe dan membentak.
"Lawe, manusia kurang ajar kau! Kalau memang kau jantan, mengapa menangtang-nantang di hadapan sang prabu? Keluarlah dan siapkan segala senjata dan kedigdayaanmu di alun-alun!"
Ronggo Lawe menepuk dadanya.
"Babo-babo, aku akan menghadapi semua penjilat dan penghianat!"
Adipati Tuban ini meloncat ke luar dan tanpa pamit dia meninggalkan ruang permusyawaratan itu.
Dengan mata berapi-api dan muka merah Ronggo Lawe menuju ke alun-alun, menanggalkan bajunya, bertelanjang dada dan sambil meletakkan tangan di atas dahan kayu pohon, dia menanti keluarnya Nambi dan siapa saja yang berani melawannya!
Setelah agak lama tidak ada yang keluar, kemarahannya menjadi-jadi dan mulailah Ronggo Lawe merusak tanaman dan merobohkan bangunan di depan istana.
Jembangan-jembangan besar dan berat diangkatnya dan dibanting hancur berkeping-keping.
Memang hebat tenaga senopati ini, dadanya yang telanjang itu berkilauan karena keringat, bidang dan tegap penuh dengan otot-otot yang menggembung dan kuat, seperti banteng.
Matanya yang tajam itu bersinar-sinar dan tiada hentinya dia menantang mencelakakan Mojopahit dengan lidah beracun mereka!
Para pengawal dan penjaga di sekitar alun-alun tidak ada penjaga di sekitar alun-alun tidak ada yang berani bergerak, hanya memandang dengan muka pucat dan seorang perwira penjaga cepat melapor ke dalam istana.
Sementara itu, suasana di ruangan balai pertemuan amat sunyi setelah Ronggo Lawe pergi.
Semua orang terdiam, menunduk di hadapan Raja Kertarajasa yang berulang kali menghela napas.
Kemudian terdengar sang prabu berkata dengan jelas mengandung kedukaan hati.
"Paman Demang Lembu Sora, bagaimana pendapat paman dengan adanya peristiwa ini? Apakah sebaiknya Nambi kuturunkan kedudukannya sebagai patih dan mengangkat Lawe menjadi patih hamangku bumi, paman?"
Lembu Sora cepat menyembah.
"Hendaknya paduka tidak melakukan hal itu karena bagaimana mungkin paduka menyerah junjungan hamba semua akan menyerah saja kepada kehendak Ronggo Lawe? Hal itu hanya akan merendahkan kedudukan paduka, karena hendaknya paduka ingat akan ketentuan bahwa segala sabda yang dikeluarkan oleh raja tidak dapat tidak harus dilaksanakan. Paduka sudah mengangkat anakmas Nambi sebagai patih, tidak mungkin kalau sabda paduka itu digagalkan hanya oleh ulah tingkah Ronggo Lawe."
Biar pun Ronggo Lawe adalah keponakannya sendiri, namun Lembu Sora yang bijaksana tidak setuju akan sikap yang diperlihatkan Ronggo Lawe tadi, maka tentu saja dia pun tidak mau mebela keponakannya yang dianggapnya telah keliru dan salah.
Tiba-tiba seorang perwira penjaga datang menghadap dengan sembahnya, dilanjutkan dengan laporan yang diucapkan dengan suara gugup.
"Ampunkan hamba... hamba melaporkan bahwa...Adipati Tuban mengamuk di alun-alun, merusak tanaman-tanaman dan merobohkan bangunan di depan istana...,tanaman dicabuti, jembangan dibanting dan dihancurkan..."
Semua orang mengepal tinju mendengar ini.
"Perkenankan hamba ke luar dan menghajar pemberontak itu, gusti."
Kebo Anabrang yang sudah marah sekali itu menyembah, menggigit-gigit bibirnya dan mencancutkan kain, siap untuk melawan Ronggo Lawe.
"Hamba yang menjadi sebab kemarahannya, harap perkenankan hamba menghadapi Ronggo Lawe, Gusti."
Nambi pun menyembah. Akan tetapi sebelum sang prabu rapat mengambil keputuan, Senopati Pamandana menyembah dan berkata lantang.
"Hamba kira tidaklah selayaknya kalau di alun-alun terjadi pertempuran antara Senopati Mojopahit. Bagaimana kalau ada utusan dari luar yang datang bertamu melihatnya? Hal ini akan membikin suram kecemerlangan nama Kerajaan Mojopahit."
Sang prabu mengangguk-angguk.
"Pendapatmu bijaksana, paman. Akan tetapi, bagaimana sebaliknya harus dilakukan untuk meredakan kemarahan kakang Ronggo Lawe?"
Hening sejenak karena semua senopati juga merasa bingung. Bagaimana harus menghadapi Ronggo Lawe yang marah itu kecuali dengan senjata? Tiba-tiba senopati Singosardulo menyembah dan berkata.
"Hamba kira tidak ada seorang pun di antara hamba sekalian di sini yang akan dapat meredakan kemarahan Ronggo Lawe kecuali Paman lembu Sora.""Ah, kau benar!"
Sang prabu berseru girang.
"Paman Damang lembu Sora, sekarang ini tiba saatnya engkau memperlihatkan kesetiaanmu yang sudah berkali-kali kau buktikan kepadaku. Kau keluarlah, paman, dan bujuklah si Ronggo Lawe agar dia suka menghentikan amukannya."
"Hamba akan mencoba sekuasa hamba."
Lembu Sora menyembah, lalu berpamit dan keluar dari tempat itu, langsung menuju ke alun-alun di mana Ronggo Lawe masih merusak tanaman dan hiasan di depan istana.
Ketika Ronggo Lawe melihat orang keluar dari istana, dia menghentikan amukannya, akan tetapi betapa kagetnya ketika dia melihat bahwa yang keluar menemuinya adalah pamannya sendiri, Lembu Sora!
Hal ini sungguh tidak disangkanya.
Pamannya keluar untuk menyambut tantangannya?
Tidak mungkin!
Tidak mungkin dia berani melawan pamannya yang juga gurunya itu.
Maka begitu Lembu Sora tiba di depannya, denagn kaki lemas Ronggo Lawe lalu menjatuhkan diri berlutut dan menyembah, menahan dua titik air mata yang membasahi matanya.
"Aduh paman...,tak perlu paman memarahi saya. Saya sudah tahu betapa saya telah membikin malu kepada paman dengan semua sikap saya. Akan tetapi, tidak kuat hati saya melihat paman yang telah berjasa besar itu dikesampingkan dan dikalahkan oleh seorang macam Nambi." \ "Lawe, mengapa engkau menuruti hati yang kecewa dan marah sehingga engkau telah memperlihatkan sikap yang amat memalukan dan menghina sang prabu? Lupakan engkau akan segala kebaikan sang prabu, bahkan engkau telah dianggap sebagai seorang ponggawa kesayangan dan kepercayaan sang prabu, diperbolehkan ke luar masuk istana dengan bebas siang dan malam. Tidak tahukah engkau betapa sedihnya hati sang prabu, yang biar pun engkau telah bersikap seperti itu tadi masih menyarankan hendak menggantikan kedudukan Nambi dan menyerahkan kursi patih kepadamu?"
Ronggo Lawe menundukkan kepala mendengar ini. Dia mencabut kerisnya, menyerahkan keris pusakanya kepada Lembu Sora sambil berkata.
"Duhai paman Lembo Sora...saya menerima salah dan tentu paman datang sebagai utusan sang prabu untuk menghukum saya. Karena paman boleh membunuh saya dan saya tidak akan melawan, paman."
Lembu Sora menjadi terharus.
Teringat dia betapa keponakannya ini telah berjuang bersama dia, menyerbu bermacam-macam musuh untuk membela Kerajaan Mojopahit dan Sang Prabu Kertarajasa, betapa entah sudah berapa kali di dalam medan yuda keponakannya ini menyelamatkan nyawanya dari serangan musuh secara menggelap.
Dia menggeleng kepala dan diam-diam dia pun dapat mengerti akan rasa penasaran di dalam hati keponakannya yang berwatak keras ini.
"Lawe lebih baik engkau kembali saja ke Tuban dan ceritakan semua peristiwa ini kepada kakang Wirororjo. Kau dengarkan nasehat ayahmu, anakku, dan jangan kau mengamuk di sini karena pamanmu ini tentu akan merasa dan para Senopati Mojopahit."
"Jadi paman tidak ingin menghukum saya? Kalau paman tidak sampai hati membunuh saya, baiklah, saya akan pulang, paman. Akan tetapi, setelah terjadi peristiwa ini, hanya ada dua pilihan bagi saya. Yaitu, memberontak atau berhamba lagi kepada sang prabu di Mojopahit. Akan tetapi, kalau saya berhamba lagi, tentu akan terulang kembali peristiwa ini karena paman sendiri tahu betapa sang prabu telah terbujuk oleh suara-suara berbisa yang datangnya dari tanah seberang. Nah, selamat tinggal, paman."
Ronggo Lawe lalu meninggalkan tempat itu, diikuti pandang mata Lembu Sora yang mengandung kedukaan dan kekhawatiran besar, dan pandang mata para penjaga yang ketakutan dan segera mereka melaporkan ke dalam istana.
Mendengar pelapor para penjaga itu, dengan hati berat terpaksa sang prabu tidak melarang ketika para senopati lalu mengadakan persiapan, menyusun bala tentara untuk sewaktu-waktu digerakkan mengepung dan menggempur Kadipaten Tuban yang dianggap memberontak!
Hanya Lembu Sora yang mengikuti semua peristiwa ini dengan keluh kesah di dalam hatinya.
Batin orang tua perkasa ini tertekan hebat.
Tentu saja dia merasa berat sekali kepada keponakan-keponakan yang tercinta itu, akan tetapi betapa pun juga, dia tidak mungkin membalik muka terhdapat Mojopahit.
Panasnya badan dapat didinginkan dengan mandi air sejuk, akan tetapi panasnya hati sukar didinginkan dan tidak dapat diredakan dengan mandi di air Sungai Tambakberas seperti yang dilakukan oleh Adipati Ronggo Lawe, Kuda Mego Lumat dia tambatkan di sebatang pohon asam di tepi sungai dan karena hatinya yang panas membuat tubuhnya terasa gerah, adipati ini lalu meningalkan pakaian luarnya, lalu meredam tubuhnya di air sungai.
Namun, air sungai di seluruh dunia tidak akan dapat mendinginkan hatinya yang masih panas, terutama sekali kalau dia teringat akan Nambi yang dianggapnya licik dan curang dan Kebo Anabrang yang menantangnya di depan sang prabu.
Berulang kali tinjunya dikepal, giginya berkerot dan matanya liar memandang ke kanan kiri, mencari tempat penumpahan amarahnya.
Namun pada senja hari itu di sekitar sungai Tambakberas sunyi senyap, apalagi dia menyeberang di dekat sebuah hutan yang liar.
Hetinya yang panas, marah dan kecewa, membuat sang adipati tidak ingin bertemu dengan orang banyak, dan karena pada saat itu Sungai Tambakberas sedang surut, dia tidak menggunakan penyeberangan umum melainkan memilih tempat sunyi ini dan menyeberangkan kudanya tanpa bantuan perahu.
Akhirnya dia naik ke pentas dan selagi dia hendak mengenakan kembali pakaian dia hendak mengenakan kembali pakaian luarnya, tiba-tiba telinganya mendengar suara jerit wanita, datangnya jauh dari dalam hutan itu.
Trengginas, seperti seekor harimau, Sang Adipati Rongo Lawe melompat dan berlari memasuki hutan itu, meninggalkan kuda dan pakaiannya, mengerahkan seluruh aji kesaktiannya sehingga larinya secepat seekor suara tangis wanita yang makin jelas terdengar itu.
Tiba-tiba dia berhenti dan mengintai dari balik pohon dengan mata beringas.
Kemarahan yang sejak tadi sudah bernyala di dalam rongga dada adipati ini, kini menjadi makin berkobar ketika dia melihat lima orang laki-laki tinggi besar duduk seenaknya di atas rumput.
Tiga orang di antara mereka tertawa terkekeh sambil menonton adegan yang memuakkan hati Ronggo Lawe, yaitu seorang wanita yang sudah terlepas gelung rambutnya yang panjang dan hampir telanjang pakaiannya yang dicabik-cabik oleh laki-laki itu.
Si wanita berusaha mempertahankan kehormatan dengan meronta-ronta, mencakar dan kadang-kadang menjerit dan menangis, sedangkan laki-laki tinggi besar berperut gendut itu berusaha untuk menciumi bibir wanita itu dan menindihnya sambil terkekeh (Lanjut ke
Jilid 02) Kemelut Di Majapahit (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 02 menjijikkan.
Ada pun orang ke dua sedang mempermainkan seorang anak perempuan berusia delapan tahun yang terbelalak ketakutan dan mengigil ketika laki-laki tinggi besar yang memangkunya itu menciumi mukanya sambil terkekeh dan berkata.
"Engkau juga calon seorang dara cantik, ha-ha-ha!"
"He, Jubis, hayo cepat, kami sedang menanti giliran kami, ha-ha-ha!"
Tiga orang itu memandang laki-laki pertama yang menggumuli dara itu dengan mata mengandung penuh gairah nafsu.
Ronggo Lawe merasa betapa dadanya hampir meledak saking marahnya.
Bagi dia yang sedang marah kepada Mojopahit, pemandangan yang dilihatnya itu merupakan tanda keruntuhan kerjaan sehingga ada penjahat yang demikian nekat melakukan perbuatan laknat tidak jauh dari wilayah Mojopahit.
Dia mengeluarkan suara seperti harimau untuk melepaskan kemarahannya, kemudian tubuhnya meloncat ke depan, dua kali dia menendang dan dua orang laki-laki tinggi besar yang menggumuli dara cantik bersama anak perempuan itu terlepas dari cengkraman mereka dan terpelanting pula.
Si dara dengan muka pucat menengok, dan melihat bahwa penolongan itu seorang laki-laki gagah perkasa yang hanya memakai cawat dan pakaian dalam, dia cepat membetulkan kainnya yang koyak Sementara itu, dua orang yang kena tendang tadi mengaduh-aduh, akan tetapi dengan marah mereka bangkit berdiri, bersama tiga orang temannya mereka mencabut kelewang (golok) dan memandang kepada Ronggo Lawe penuh kemarahan.
Tentu saja mereka tidak mengenal adipati yang telah meninggalkan pakaian luarnya itu, dan mengira bahwa yang menganggu kesenangan mereka hanyalah seorang dusun belaka.
"Heh keparat siapa kamu, berani mengantar nyawa dengan mengganggu kesenangan kami?"
Bentak seorang di antara mereka yang jenggotnya sekepal sebelah dan matanya sebesar jengkol, agaknya pemimpin mereka yang tadi sedang berusaha memperkosa dara itu dan dipanggil dengan nama Jubris oleh kawan-kawannya.
Sinar mata Rongo Lawe ketika memandang mereka seperti api yang hendak membakar, kemarahan membuat dia sukar membuka mulut untuk bicara, akan tetapi akhirnya dapat juga dia berkata.
"Aku mewakili Sang Hyang Yomodipati untuk mencabut nyawa kalian manusia-manusia busuk!"
Lima orang itu menjadi makin marah dan dengan teriak-teriak liar mereka lalu menyerbu, mengeroyok dan menyerang Ronggo Lawe denagn golok mereka.
Terdengar angin bersuitan dan golok itu berdesing ketika senjata-senjata tajam itu menyambar-nyambar ganas ke arah tubuh Ronggo Lawe dari semua jurusan.
Ternyata bahwa lima orang penjahat itu bukanlah perampok-perampok sembarangan dan melihat gerakan mereka ketika menyerang, jelas bahwa mereka itu memiliki kepandaian dan kekuatan yang lumayan.
Adipati Ronggo Lawe memang sudah menduga akan hal ini karena melihat dua orang itu tadi masih sanggup bangkit lagi setelah terkena tendangan-tendangannya, dia mklum bahwa mereka bukan orang-orang lemah.
Akan tetapi betapa pun ganas dan kuatnya lima orang gerombolan penjahat yang pekerjaannya hanya merampok, membajak dan mangganggu rakyat kecil, tentu saja bukan apa-apa bagi Adipati Ronggo Lawe, Senopati Mojopahit yang sudah terkenal sekali memiliki kepandaian hebat, sakti mandraguna dan sudah memeiliki pengalaman luas dalam pertempuran dan perang campuh.
Maka begitu melihat lima orang yang amat dibencinya karena perbuatan mereka tadi kini menerjang dengan golok mereka yang berkilauan saking tajamnya dan sering diasah, Ronggo Lawe sama sekali tidak mau mengelak, bahkan dia memapaki mereka dengan gerakan cepat dan tangkas sekali.
Kedua tangannya sudah menyambar ke depan, menyambut dua batang golok yang datang paling dulu, tahu-tahu kedua tangannya dari bawah sudah menangkap pergelangan tangan dua orang yang memegang golok itu, kemudian dengan bentakan keras dia mengerahkan tenaga dan dua batang golok itu berikut tangan-tangan yang memegangnya telah terjerumus ke depan menyambut dua batang golok lain sedangkan kaki kirinya yang panjang menendang ke arah depan, tepat menghantam perut seorang diantara lima pengeroyoknya sebelum golok orang itu dapat mendekatinya.
"Tranggg...cringggg...bukkk...!"
Lima orang perampok itu berteriak kaget sekali, dan orang yang kena ditendang perutnya, sekali ini merupakan tendangan yang dilakukan denagn pengerahan tenaga sakti sehingga datangnya amat cepat dan kuat.
Batu gunung sekali pun akan ambyar terkena tendangan maut ini, apalagi hanya perut itu disisi dengan benda-benda kotor sedangkan hawa murni di tubuh itu sudah habis oleh penghamburan melalui nafsu-nafsu rendah.
Orang itu hanya sempat mengeluh pendek, tubuhnya terlempar ke belakang dan terbanting jatuh dalam keadaan tak bernyawa lagi karena dia tewas seketika pada saat kaki telanjang Ronggo Lawe bertemu dengan perutnya.
Ada pun empat orang perampok lainnya terbelalak kaget karena mereka tadi hanya merasakan senjata golok-golok mereka yang diadu dengan amat kerasnya itu menjadi patah-patah!
"Keparat, hidup kalian hanya mengotorkan jagad!"
Ronggo Lawe membentak dan tidak memberi kesempatan lagi kepada mereka.
Selagi mereka melongo saking kaget dan herannya, tubuh Ronggo Lawe bergerak cepat, dua tangannya menyambar-nyabar dan dua kali mesing-masing telapak tangannya menampar.
Tamparan yang tak mungkin dapat dielakkan lagi oleh empat orang itu.
"Plak-plak-plak-plak!"
Empat orang terpelanting dan berpusing seperti disambar halilintar, kedua tangan memegangi kepala, kemudian roboh tergelimpang dan tidak bergerak lagi karena kepala mereka retak-retak oleh tamparan maut itu dan mereka tewas seketika.
Ronggo Lawe berdiri tegak dan menunduk, memandang ke arah lima mayat yang dirobohkannya, dadanya yang tadi penuh hawa amarah menyesakkan napas, kini terasa lega seolah-olah telah tersalur ke luar segala rasa penasaran dan kemarahannya yang mulai menyala di dalam istana sang prabu di Mojopahit.
Lenyap rasa pening di kepalanya dan pandang matanya menjadi awas.
Mengingat akan kekejian yang dilakukan lima orang ini terhadap gadis dan anak perempuan tadi, dia melihat bahwa sudah semestinya turun tangan memberi hukuman kepada mereka, maka Ronggo Lawe tidak merasa menyesal telah membunuh mereka, bahkan merasa lega karena gadis dan anak perempuan kecil itu dapat terbebas dari bencana.
Ngeri itu membayangkan andaikata dia tadi datang terlambat!
"Saya dan adik saya menghaturkan banyak terima kasih atas pertolongan kisanak yang telah menyelamatkan kami".."
Suara halus di belakangnya inu membuat Ronggo Lawe sadar dan dia cepat membalikkan tubuhnya dan memandang ke bawah, di mana gadis tadi sambil menggandeng anak perempuan itu telah berlutut dan menyembah kepadanya.
Wajah gadis itu menengadah, memandang kepadanya denagn sinar mata lembut dan bening, penuh keharuan dan penuh rasa terima kasih, sepasang mata yang bercahaya terang di wajah yang masih agak pucat, wajah seorang dara ayu, seperti setangkai bunga yang masih basah dan kekelahan habis diserang badai mengganas.
"Hemmm"..siapakah engkau, nini???"
Tanya Ronggo Lawe, diam-diam dia mengagumi kecantikan yang asli dari gadis tepi sungai Tambakberas ini.
"Saya bernama Sri Winarti, dan ini adalah adik saya"."
"Saya Sulastri! Kepandaian paman hebat bukan main, dan saya ingin sekali dapat memiliki kepadanian seperti itu untuk melindungi kakak saya!"
Dengan lincah dan jenaka anak perempuan itu menyambung kata-kata kakaknya.
Ronggo Lawe tersenyum dan lenyaplah keangkeran wajahnya yang berkumis seperti Gatutkaca itu, berobah menjadi wajah tampan yang ramah.
Namun hanya sebentar saja perasaan ksatria ini tersentuh kegembiraan oleh sikap Sulastri, dan dia sudah memandang lagi penuh wibawa.
"Sudahlah, bahaya sudah lewat. Kalian pulanglah, aku akan melaporkan kematian mereka itu kepada lurah setempat."
Setelah berkata demikian, Ronggo Lawe melangkah hendak pergi mengambil pekaiannya di luar hutan dan melapor kepada kepala dusun yang berdekatan agar lima mayat penjahat itu dapat diurus sebagaimana mestinya.
Akan tetapi baru beberapa langkah dia berjalan, tiba-tiba terdengar suara halus merdu dari belakang memanggilnya.
"Kisanak"..!"
Ronggo Lawe berhenti dan membalikkan tubuhnya.
Dia tahu bahwa Sri Winarti yang memanggilnya dan maklum bahwa gadis itu tentu saja tidak tahu bahwa dia adalah Adipati Ronggo Lawe karena pada saat itu dia hanya mengenakan pakaian dalam dengan dada telanjang.
Diam-diam Ronggo Lawe tersenyum dan teringat akan kenyataan bahwa yang membedakan manusia, dari tingkat dan derajat, pandai dan bodoh, kaya dan miskin mulia dan hina, hanyalah pakaian belaka.
Tanggalkanlah pakaian dari tubuh mereka, dan semua manusia adalah sama saja!
Apa bedanya dia dengan seorang pentani atau nelayan?
Juga tidak ada bedanya antara dia dan ang prabu sekali pun!
Maka yang terpenting dalam kehidupan bukanlah benda-benda lahiriah, kedudukan, harta, pengetahuan dan nama, karena semua itu tidak ada bedanya dengan pakaian belaka.
Yang terpenting adalah batinnya!
Batinnya yang harus berubah, yang harus "maju", bukan lahir!
"Ada apakah, nini?"
Tanyanya halus, terharu juga dia mendengar sebutan "kisanak"
Tadi karena selamanya baru ini ada orang, gadis remaja lagi, menyebutnya kisanak, padahal biasanya dia disebut dengan penuh pengormatan dan sanjungan.
Sri Winarti menggandeng tangan Sulastri, berlari kecil menghampiri Ronggo Lawe, kemudian dara itu menjatuhkan dirinya berlutut lagi.
Ronggp Lawe mengerutkan alisnya, menduga bahwa agaknya gadis ini mengenal siapa dia maka menyembah-nyembah.
"Ah, aku hanya seorang dusun, jangan kau sembah-sembah, nini."
"Tidak, kisanak adalah sesembahan saya, bintang penolong saya".. dan harap suka menaruh kasiahan kepada saya".. kepada adik saya".."
"Hemm".. apa maksudmu?"
"Saya dan adik saya tentu telah tewas, bahkan lebih hebat daripada itu, apabila tidak ada pertolongamu, kisanak. Oleh karena itu, terimalah kami untuk menghambakan diri"..saya hendak menyerahkan jiwa raga saya kepadamu untuk membalas budi dan untuk mohon perlindungan selamanya".."
"Ehhh! Maksudmu". kau hendak menyerahkan diri menjadi isteriku?"
Wajah yang masih agak pucat itu menjadi merah dan cepat menunduk. Dengan suara gemetar dara itu berkata halus.
"Terserah kepada kehendakmu, saya menyerahkan jiwa raga kepadamu"., menjadi isteri, menjadi pelayan atau apa saja akan saya lakukan dengan tulus ikhlas dan setia."
Ronggo Lawe mengerutkan alisnya yang tebal.
"Hemm, nini, engkau masih amat muda akan tetapi telah mengambil keputusan begitu aneh dan nekad. Aku telah mempunyai dua orang isteri, dan aku menolongmu tadi tanpa pamrih balasan apa pun, aku tidak mempunyai niat untuk memperisterimu."
"Eh, paman, apakah mabkyuku ini kurang cantik? Dia adalah kembang dusun kami, dan aku akan girang sekali kalau mempunyai kakak ipar seperti paman yang gagah perkasa! Aku ingin belajar kesaktian tadi!"
Sulastri berkata lantang.
"Kisanak, maafkan saya. Kalau kisanak tidak berkenan mengambil saya sebagai isteri, biarlah saya menghambakan diri sebagai pelayan, mencucikan pakaianmu, membersikan lantai dan kebun rumahmu".."
"Tidak, aku tidak bisa menerima"..kalian pulanglah ke rumah kalian, aku masih mempunyai banyak urusan yang harus kuselesaikan."
Ronggo Lawe menganggap bahwa peluapan rasa terima kasih yang dirasakannya berlebihan dari dara muda cantik jelita itu sebagai suatu godaan, maka dia segera meninggalkan dara itu.
Akan tetapi ketika dia mendengar isak tangis, dia terheran dan cepat menengok.
Gadis itu berlutut sambil menangis dan menutupi mukanya dengan sedih sekali!
Sedangkan Sulastri, anak kecil itu, berdiri dekat kakaknya dan memandang kepadanya dengan mata mengandung rasa penasaran dan kemarahan!
"Eh, mengapa kau menangis, nini?"
Ronggo Lawe melangkah kembali dan bertanya dengan suara halus, penuh selidik.
Dengan suara terisak-isak Sri Winarti menceritakan keadaannya.
Dia dan adiknya adalah dua orang anak yatim piatu karena ayah dan ibunya telah tiada.
Semenjak ayahnya meninggal karena sakit menyusul ibunya, beberapa bulan yang lalu, dai hanya hidup berdua dengan adiknya di dusun Gendangan dekat sungai Tambakberas.
Dan mulailah mereka, atau lebih tepat dia, mengalami gangguan-gangguan dari para pria di mana pun dia berada.
Hari itu dia dan adiknya mencari kayu bakar di hutan dan hampir saja mereka menderita malapetaka yang amat mengerikan.
"Berkat pertolongan kisanak maka saya dan adik saya selamat dan saya merasa yakin bahwa di bawah perlindungan kisanak saja maka kehidupan saya dan adik saya akan terjamin keselamatannya. Saya tidak berani pulang".. setelah mereka ini tewas"., karena tentu hal ini akan terdengar oleh kawan-kawan mereka dan kami akan celaka"."
Demikian Sri Winarti melanjutkan kata-katanya. Ronggo Lawe menarik napas panjang, kemudian berlata.
"Jangan khawatir. Kalau begitu, marilah engkau ikut bersamaku ke dusun Gendangan, di mana aku akan menyerahkan engkau dan adikmu dalam perlindungan Ki Lurah Gendangan."
"Ahhhh".!"
Dara itu menjerit lirih seperti orang terkejut dan ketakutan.
"Kenapa?"
Ronggo Lawe bertanya heran.
"Telah lama Lurah Gendangan membujuk-bujuk saya untuk menjadi selirnya, akan tetapi selalu saya tolak. Menyerahkan saya dalam perlindungan Lurah Gendangan sama artinya sengan memasukkan saya ke dalam sarang harimau buas."
Makin dalam kerut merut di kening adipati itu.
"begitukah? Mari, kita lihat saja nanti di Gendangan. Aku tanggung bahwa lurah itu tidak akan berani bertindak sewenang-wenang lagi. Jangan kau takut, aku akan melindungimu."
Akhirnya Sri Winarti dan Sulstri mengikuti Ronggo Lawe yang mengambil pakaiannya di dekat sungai, setelah berpakaian di dekat sungai, setelah berpakaian dan menuntun kudanya lalu adipati itu mengajak Sri Winarati dan adiknya menuju ke dusun Gendangan.
Setelah Ronggo Lawe berpakaian, dia lalu berlutut dan menyembah.
"Harap paduka sudi mengampuni hamba, raden"..hamba tidak tahu bahwa paduka"..seorang bangsawan"."
"Hushhh, sudahlah. Bangsawan atau bukan, aku hanya seorang manusia saja, tidak ada bedanya dengan engkau. Mari kita berangkat ke Gendangan!"
Dapat dibayangkan betapa kaget hati Sri Winarti ketika mereka tiba di halaman gedung Ki Lurah Gendangan, dia melihat ki lurah sendiri bersama para pembantunya menyambut penolongnya sambil menyembah-nyembah dan menyebutnya gusti adipati!
Seluruh tubuh dara itu mengigil dan kedua kakinya lemas sehingga diapun berlutut dan menyembah sambil menarik adiknya untuk berlutut pula.
Kiranya yang menolongnya itu adalah Adipati Tuban, Adipati Ronggo Lawe yang terkenal!
Perasaan aneh menyelinap di dalam hati dara remaja ini.
Memang tdia dia telah merasa kagum dan berterima kasih, perasaan itu telah membangkitkan cinta kasih dan penyerahan di dalam hati dara ini terhdap penolongnya.
Biar pun penolongnya itu bukan seorang pria yang sudah matang, yang usianya hampir empat puluh tahun, namun dia melihat seorang pria yang jantan, gagah perkasa, berbudi dan halus tutur sapanya, membuat dia merasakan kemesraan yang mendalam.
Kini, setelah mendengar bahwa pria itu adalah Sang Adipati Tuban yang terkenal sakti mandraguna dan arif bijaksana, hati dara itu makin tertnduk dan cinta yang bersemi di lubuk hatinya menjadi makin subur.
Dengan singkat Ronggo Lawe menceritakan kepada Ki Lurah Genangan tentang lima penjahat yang hendak mengganggu Sri Winarti dan adiknya.
"Mereka telah kubunuh dan mayat mereka berada di dalam hutan,"
Adipati itu melanjutkan.
"Harap engkau suka mengurus mayat-mayat itu."
"Baik, gusti adipati,"
Ki lurah menjawab cepat.
"Selain itu, aku mendengar bahwa Sri Winarti dan Sulastri ini sudah yatim piatu, maka sudah sepatutnya kalau ki lurah melindungi mereka di dusun ini."
Wajah ki lurah yang sudah lebih dari lima puluh tahun usianya itu berseri gembira mendengar ini.
"Tentu ".., tentu mereka baik-baik, harap paduka jangan khawatir, gusti adipati.""Aku mendengar bahwa engkau pernah membujuk Sri Winarti untuk menjadi selirmu?"
Pertanyaan yang tiba-tiba ini sekaligus mengusir seri wajah ki lurah dan dia menjadi gugup.
"Ini". Ini"."
Dia tergagap.
"Aku tidak akan melarang engkau untuk mengambil selir. Itu adalah hakmu, ki lurah. Akan tetapi kalau engkau memaksa seorang wanita menjadi selirmu, dengan menggunakan kekuasaanmu, berarti engkau akan sama jahatnya dengan mereka yang kubunuh di dalam hutan itu!"
"Ti".Tidak ".Hamba takkan memaksa orang"."
"Baik kalau engkau tidak melakukannya, dan ingat dua orang anak ini berada di bawah perlindungaku, kalau sampai terjadi sesuatu atas diri mereka, aku akan minta pertanggungan jawabmu. Mengerti?"
Dengan muka berobah lurah itu mengangguk-angguk seperti seekor ayam mematuki gabah, menyatakan janji ketaatannya. Ronggo Lawe lalu menoleh kepada Sri Winarti dan Sulastri yang masih berlutut.
"Nini, kauajaklah adikmu pulang."
Sri Winarti menyembah, mengangkat muka dan memandang denagn muka penuh kedukaan kemudian pergi bersama adiknya dari halaman gedung kelurahan itu.
Setelah menerima penyambutan dan jamuan Ki Lurah Gendangan, tak lama kemudian Adipati Ronggo Lawe meninggalkan dusun Gendangan, membedal kudanya menuju ke Tuban.
Akan tetapi baru saja keluar dari batas dusun, di tengah jalan dia melihat di dalam gelap sosok tubuh seorang wanita.
Dia menahan kudanya dan ternyata Sri Winarti dan Sulastri telah menanti di tengah jalan.
"Eh, engkau lagi, nini? Mengapa kau menghadangku di sni?"
Ronggo Lawe meloncat turun dari atas kudanya dan menghampiri dara itu sambil menuntun kudanya.
Dengan isak tertahan Sri Winarti melangkah maju kemudian menjatuhkan diri berlutut di depan kaki sang adipati dan menyembah-nyembah.
"Gusti adipati". Hamba".Hamba sekali lagi mohon agar paduka menerima hamba bersuwita (menghambakan diri)"."
Setelah meragu sebentar seolah-olah berat dia mengeluarkan kata-kata itu, Sri Winarti menyambung.
"Hamba telah bersumpah tidak akan menghentikan usaha hamba untuk membalas budi paduka"."
"Sudahlah, nini. Engkau masih amat muda, dan cantik rupawan. Dunia terbentang luas dihadapanmu dan ki lurah tidak nanti akan berani mengganggumu lagi. Kau akan bertemu dengan seorang pemuda yang tampan dan cakap, yang sesuai untuk menjadi suamimu dan""
"Hamba juga sudah bersumpah tidak akan melayani lain pria kecuali paduka!"
Dara itu memotong cepat.
Ronggo Lawe terkejut sekali, apalagi ketika dia melihat di antara kesuraman cuaca senja yang hampir terganti malam, betapa sepasang mata yang jernih itu memandangnya dengan sinar yang mengandung asmara!
Ronggo Lawe menghela napas panjang.
"Dan hamba pun bertekad untuk berguru kepada paduka!"
Sulastri yang kecil dan pandai bicara, juga tabah sekali itu, berkata.
Ronggo Lawe lalu mengambil sebuah pundi-pundi kecil dari sela kudanya.
Pundi-pundi itu terisi uang yang diserahkan kepada Sri Winarrti.
"Nini ketahuilah bahwa aku sedang menghadapi persoalan negara yang amat ruwet, maka tentu saja pada saat seperti ini aku tidak mempunyai waktu dan minat untuk bicara tentang niatmu menghambakan diri padaku, sungguh pun aku menerimanya dengan hati terharu dan gembira. Kauterimalah pundi-pundi ini dariku, dan kelak kalau sudah selesai urusan negara, percayalah bahwa aku tidak melupakan seorang dara bernama Sri Winarti yang tinggal di susun Gendangan."
Ucapan halus yang merupakan bayangan janji itu membuat Sri Winarti girang bukan main, dan sendang sesengukan dia mencium kaki sang adipati sambil menerima pundi-pundi dan menghaturkan terima kasih.
Kemudian Adipati Ronggo Lawe juga menyerahkan sebuah benda kepada Sulastri.
Benda ini adalah sebuah cincin yang tadi dilolos dari jari manis kiri sang adipati.
Sulastri, aku tahu bahwa engkau adalah seorang calon pendekar wanita yang hebat, akan tetapi sekarang bukanlah saatnya bagiku untuk menerima murid seperti engkau ini.
Akan tetapi, kau terimalah Kundolo Mirah ini sebagai tanda bahwa engkau adalah murid Adipati Ronggo Lawe.
Kundolo ini akan membuka pintu bagimu untuk dapat berhubungan dengan orang-orang yang sakti mandra guna di seluruh Nusantara.
Sulastri menerima perhiasan itu dengan girang.
Kundolo adalah perhiasan cincin untuk telinga, yang oleh adipati itu dipakai di jari tangannya.
Terbuat daripada emas berukir dan di tengahnya terhias sebutir batu mirah yang aseli.
Setelah memberikan pundi-pundi dan kundolo, Adipati Ronggo Lawe lalu meloncat ke atas kudanya dan melanjutkan perjalanannya ke utara, ke Tuban.
Sri Winarti berdiri sambil memeluk adiknya dan memandang sampai bayangan pria yang telah merenggut cinta kasih hatinya itu lenyap dalam cuaca yang meulai menggelap.
Kemudian, dengan pundi-pundi ditekan di dada, seolah-olah benda itu menggantikan pemberinya, dara ini bersama adiknya perlahan-lahan memasuki dusun Gendangan, membayangkan wajah yang gagah perkasa itu penuh kemesraan.
Pada keesokan harinya, Aryo Wirorojo yang bernama Banyak Wide atau Aryo Adikoro, Bupati Sumenep yang semenjak Raden Wijaya menjadi raja di Mojopahit tidak kembali ke Madura, melainkan tinggal bersama puteranya, Ronggo Lawe di Tuban, pergi ke kadipaten untuk menemui puteranya setelah dia mendengar bahwa puteranya telah kembali malam tadi dari Mojopahit.
Senopati Mojopahit yang telah berusia enam puluh tahun lebih ini masih nampak gagah dan sehat, sikapnya tenang dan bijaksana, tidak seperti puteranya yang berdarah panas.
Semenjak Ronggo Lawe pergi dengan marah ke Mojopahit, ayah ini merasa tidak enak hatinya, maka begitu mendengar bahwa puteranya telah kembali, pagi-pagi itu dia sudah mengunjungi puteranya di kadipaten.
Begitu bertemu dengan Ronggo Lawe yang menyambutnya dan mereka duduk berhadapan di rungan dalam kadipaten, Aryo Wirorojo telah dapat menduga dari tingkah laku dan gerak-gerik puteranya bahwa ada sesuatu yang hebat terjadi dengan puteranya itu.
Makin khawatirlah hati orang tua ini dan dia cepat bertanya tentang kunjungan puteranya itu ke istana sri baginda di Mojopahit.
Semenjak peristiwa di dalam hutan di mana dia menyelamatkan Sulastri dan Sri Winarti, membunuh lima orang penjahat keji, Adipati Ronggo Lawe telah dapat menenangkan hatinya, sungguh pun perasaan penasaran dan marah masih merupakan titik api yang tak kunjung padam.
Maka kini mendengar pertanyaan ayahnya, diceritakannyalah semua peristiwa yang terjadi semenjak dia menghadap sang prabu sampai keributan yang terjadi sebagai semenjak dia menghadap sang prabu sampai keributan yang terjadi sebagai akibat protesnya terhadap pengangkatan Nambi sebagai patih hamangku bumi di Mojopahit.
Diceritakannya pula bahwa pamannya, Lembu Sora sendiri yang maju dan menasihatinya untuk pulang ke Tuban sehingga dia tidak melanjutkan amukannya.
Mendengar penuturan puteranya itu, Sang Aryo Wirorojo terkejut dan menjadi pucat wajanya.
Sejenak dia menatap wajah puteranya tanpa mampu mengeluarkan kata-kata.
Jantungnya seperti ditusuk-tusuk rasanya.
Betapa tidak akan sakit perasaannya.
Dia adalah seorang panglima yang amat setia kepada sang prabu dan dia rela untuk menyerahkan nyawanya sewaktu-waktu demi membela Mojopahit, dan kini puteranya yang amat dibanggakannya itu telah memperlihatkan sikap memberontak terhdap raja junjungannya, kiranya tidak akan dapat dibandingkan dengan cinta kasihnya terhadap puteranya.
Oleh karena itu, dia lebih mengutamakan keselamatan puteranya dan mendengar penuturan Ronggo Lawe, ayah yang tua dan sedang di himpit duka dan kebingungan karena dihadapkan pada pilihan berat, yaitu kesetiaan terhadap raja atau kecintaan terhdap putera, Sang Aryo Wirorojo meruntuhkan air mata yang segera diusapkan dengan kepalan tangannya yang masih kokoh kuat.
"Ayah menangis?"
Ronggo Lawe memandang heran, hampir tidak percaya.
Ayahnya adalah seorang ksatria utama yang amat gagah, dan bagi ksatria perkasa, air mata jauh lebih berharga dari pada darah.
Lebih baik mencucurkan darah dari badan daripada mencucurkan air mata!
Air mata dianggap ebagai permainan wanita dan tanda kelemahan jiwa.
"Apakah ayah pun hendak menyalahkan saya seperti senopati yang lain?"
Aryo Wirorojo menggeleng kepalanya dan sudah dapat menguasai dirinya kembali.
"Anakku, jangan engkau alah sangka. Memang, demi keadilan, rasa penasaran di hatimu itu benar. Melihat jasa dan kesetiaan, sepatutnya Lembu Sora atau engkau yang harus menjadi patih, bukan si Nambi. Akan tetapi engkau harus ingat bahwa seorang senopati mengutamakan kesetiaan dan kepatuhan terhadap semua sabda sang prabu yang menjadi junjungannya. Andaikata sang prabu menghendaki agar kita menempuh lautan api, kita akan mentaatinya, tanpa mengingat akan kepentingan diri pribadi. Hendaknya engkau ingat baik-baik, Lawe. Sikapmu itu berarti memberontak, dan pemberontakan berarti penghianatan terhadap sang prabu. Tahukah engkau apa akibatnya kalau engkau berkhianat? Akibatnya amat berat dunia akhirat, anakku. Nama keturunanmu akan terseret pula ke dalam lumpur kehinaan. Camkanlah baik-baik, pertimbangkanlah dengan kesadaran, sebelum terlambat oleh perbuatan yang hanya terdorong oleh nafsu amarah yang membuta."
Ronggo Lawe menjadi pucat wajahnya dan dia termenung dengan kepala tunduk menengar nasihat ayahnya itu.
Terbayang olehnya betapa dua orang isterinya dan terutama sekali puteranya yang terkasih dan masih kecil kelak akan menjadi orang-orang yang dipandang rendah dan terhina, sebagai keluarga pemberontak dan penghianat!
Melihat betapa puteranya mulai sadar, Aryo Wirorojo melanjutkan dengan penuh harapan.
"Puteraku, ksatria yang gagah, adipati yang bijaksana, ingatlah akan sabda dan janji sang prabu dahulu kepadaku. Bukankah sang prabu telah berjanji ketika beliau masih belum menjadi raja dahulu bahwa apabila Mojopahit berhasil dibangun, maka negara itu akan dibagi menjadi dua dan yang separuh akan diserahkan kepadaku sebagai imbalan jasa? Nah, kalau bagian itu sudah diserahkan kepadaku, siapa lagi kalau bukan engkau yang akan menjadi rajanya? Kalau sudah begitu, baru kita berdiri sendiri sebagai sebuah kerajaan yang terpisah dari kedulatan Mojopahit dan kalau kita sudah bukan menjadi ponggawa Mojopahit lagi, barukah engkau boleh bersikap sesuka hatimu tanpa ada bahaya akan dianggap sebagai pemberontak dan penghianat, anakku."
Ronggo Lawe mengangguk-angguk dan dia dapat melihat kebijaksanaan dalam kata-kata ayahnya itu.
Dia telah terburu nafsu, terdorong oleh amarah yang kini dia melihat jelas dibangkitkan oleh perasaan iri hati terhadap Nambi.
Timbul penyesalannya dan baru terbuka matanya kini betapa dia telah bersikap keterlaluan dan tidak hormat di depan sri baginda.
Dia harus mohon ampun kepada junjungannya itu!
Akan tetapi, selagi sang adipati mulai sadar dan mendengarkan wejangan-wejangan selanjutnya dari Aryo Wirorojo, tiba-tiba seorang pengawal melaporkan bahwa ada seorang prajurit datang dari Mojopahit yang mengaku sebagai utusan Sang Resi Mahapati.
Resi Mahapati adalah seorang di antara para pendeta yang mengepalai keagamaan di Mojopahit, dan Resi Mahapati adalah kepala Agama Syiwa.
Ronggo Lawe bertukar pandang dengan ayahnya.
Mereka tentu saja mengenal Sang Resi Mahapati yang sakti mandrahuna, seorang yang memiliki kedudukan tinggi di samping Pendeta Brahmanaraja yang mengepalai agama penyembah Brahma.
Resi Mahapati terkenal ramah dan baik sikapnya terhadap semua senopati di Mojopahit.
"Suruh dia masuk saja ke sini,"
Perintah Ronggo Lawe kepada pengawalnya.
Tak lama kemudian, seorang perajurit yang bertubuh tinggi kurus dan bermata tajam menandakan kecerdikannya datang.
Bersujud di depan Adipati Ronggo Lawe.
Adipati ini cepat bertanya siapa dia dan apa keperluannya datang menghadap ke Kadipaten Tuban."Harap paduka gusti adipati sudi mengampunkan kalau hamba mengganggu.
Hamba bernama Maruto, pengawal peribadi Sang Resi Mahapati dan hamba diutus oleh sang resi untuk menyampaikan berita yang amat penting bagi paduka gusti adipati."
Ronggo Lawe mengerutkan alisnya dan Aryo Wirorojo menyela.
"Apakah engkau tidak membawa surat dari beliau?"
Maruto menyembah hormat.
"Karena tergesa, sang resi tidak sempat surat dan hanya mengutus hamba untuk melapor ke sini secara lisan saja."
"Katakan, apa yang hendak diberitahukan oleh sang resi kepadaku?"
Ronggo Lawe bertanya tak sabar lagi.
"Sang resi menganjurkan agar paduka gusti adipati hendaknya segera menyelamatkan diri mengungsi dan pergi dari Kadipaten demi keselamatan paduka"."
"Apa".?"
Ronggo Lawe menggebrak meja dengan muka merah.
Biar pun pesan sang resi itu bermaksud baik, akan tetapi menyuruh dia melarikan diri sugguh-sungguh merupakan suatu berita yang merendahkan dan menghina!"
Apa maksud sang resi dengan anjuran itu?"
"Sang resi mengutus hamba memberi tahu bahwa sekrang ini, Sang Patih Hamangkubumi Nambi telah berhasil memperoleh ijin dari sang prabu hendak menyerbu Tuban dan membasmi paduka sekeluarga yang dianggap pemberontak."
"Jahanam Nambi".!!"
Ronggo Lawe bangkit berdiri dengan mata mendelik saking marahnya.
"Heh, Maruto, pulanglah engkau dan sampaikan terima kasihku kepada Sang Resi Mahapati, akan tetapi katakan bahwa Ronggo Lawe bukan seorang pengecut dan akan menyambut serbuan Nambi keparat dengan keris di tangan!"
Marunto menjadi ketakutan, menyembah dan bergegeas meninggalkan gedung kadipaten, melompat ke atas kudanya dan membalapkan tunggangannya itu keluar dari Kadipaten Tuban, kembali ke selatan ke Mojopahit.
Sementara itu, Aryo Wirorojo mencoba untutk menenangkan hati puteranya.
"Lawe, tenanglah dan pikirkan masak-masak sebelum melakukan sesuatu."
"Ayah, bagaimana saya bisa tenang dan bersabar lagi kalau dihina orang seperti ini? Siapakah bedebah Nambi itu sehingga berani dia menghina Ronggo Lawe? Ayah, paduka sendiri tentu maklum bahwa saya taidka berniat memberontak atau berkhianat terhdap junjungan kita, Sang Prabu Kertarajasa Jayawardhana di Mojopahit. Akan tetapi sebagai seorang ksatria, mundur dan lari merupakan pantangan besar bagi saya! Mati bukanlah apa-apa karena semua mahluk takkan terlepas dari kematian. Akan tetapi kehormatan merupakan hal yang jauh lebih berharga daripada nyawa. Lebih baik seribu kali mati sebagai seorang ksatria perkasa, mati sebagai seorang terhormat daripada hidup sebagai seorang pengecut yang lari tunggang langgang menghadapi bahaya. Tidak, ayah, saya harus melawan si Nambi keparat itu, biar pun dia menggunakan nama sang prabu di Mojopahit untuk menghina saya!"
Percuma saja Aryo Wirorojo menyabarkannya.
Ronggo Lawe lalu mengumpulkan para pembantunya yang dihimpun oleh Panewu Progodigdoyo dan segera mereka melakukan perundingan.
Semua ponggawa Tuban dikumpulkan dan para pembesar, akuwu, demang, dan tumenggung mengucapkan sumpah setia sampai mati kepada Ronggo Lawe Adipati Tuban.
Utusan dikirim ke daerah Mojopahit menghubungi kawan-kawan yang menaruh simpati kepada Adipati Tuban.
Mendung mulai menyuramkan langit di atas Kerajaan Mojopahit.
Api pemberontakan mulai bernyala dan api ini ternyata akan menjadi makin besar, merupakan kemelut di Mojopahit yang tak terlupakan orang dan tercacat di dalam sejarah sebagai lembaran-lembaran hitam, karena yang memberontak adalah senopati yang tadinya menjadi banteng Mojopahit, bahkan merupakan tiang-tiang pendiri Kerajaan Mojopahit Raden Wijaya yang kini menjadi raja!
Dua hari kemudian, ketika Sang Prabu Kertarajasa Jayawardhana sedang dihadap oleh para menteri dan senopati seperti biasa, dalam suasana anak murung karena peristiwa yang ditimbulkan oleh Ronggo Lawe masih berbekas di hati sang prabu dan para ponggawa, tiba-tiba datang seorang prajurit menghadap sang prabu, menghaturkan sembah dan dengan muka pucat prajurit itu melapor.
"Hamba adalah seorang prajurit penjaga di dekat Sungai Tambakberas, di perbatasan antara Mojopahit dan Tuban, gusti, dan pagi hari tadi hamba mendengar berita bahwa sang adipati di Tuban telah mempersiapkan pasukan untuk menggempur Mojopahit, bahkan hamba melihat sendiri banyak pasukan menyeberang ke Tuban""
Tentu saja sang prabu menjadi terkejut sekali, dan juga marah mendengar pelaporan perajurit yang bernama Maruto ini.
"Sungguh tak tahu diri sekali kakang Ronggo Lawe!"
Sang Prabu berseru.
"Ijinkan hamba memimpin pasukan untuk menghancurkan pemberontak, gusti!"
Nambi mendahului yang lain, mengajukan permohonan dengan kata-kata tegas.
Sang Prabu maklum bahwa Nambi menjadi sasaran kemarahan Ronggo Lawe, maka sudah sepantasnya kalau Nambi yang menanggulangi keributan itu pula, maka sang prabu memberi ijin persetujuannya.
Nambi menyembah dan dengan tangkas patih ini lalu keluar dari istana dan mempersiapkan pasukan besar yang terdiri dari seribu orang pilihan untuk menghadapi pasukan Tuban.
Hari itu juga Nambi memimpin pasukan ini menuju ke utara dengan gerakan cepat.
Sang Prabu membubarkan persidangan dan para senopati dengan prihatin kembali ke rumah masing-masing.
Tidak ada yang tahu, bahkan menduga pun tidak betapa setelah persidangan bubar, terjadi hal yang amat luar biasa di dalam gedung tempat tinggal Sang Resi Mahapati.
Seorang tinggi kurus dengan sikap sembunyi-sembunyi agar tidak kelihatan oleh orang lain menyelinap dan masuk ke dalam gedung itu, lagsung menuju ke ruangan belakang yang terjaga oleh beberapa orang prajurit pengawal Sang Resi Majapahit.
Sebagai seorang pendeta yang mempunyai kedudukan tinggi di istana, tentu saja Resi Mahapati bukanlah sebangsa pendeta miskin, melainkan seorang pendeta yang memiliki rumah gedung, lengkap dengan perabot rumah mewah dan dijaga oleh prajurit-prajurit pengawal.
Ternyata di ruangan itu telah menanti Sang Resi Mahapati dan orang yang menyelinap masuk tadi, yang bukan lain adalah Maruto, orang kepercayaan Mahapati yang telah disuruh oleh pendeta itu, mula-mula ke Tuban kemudian menghadap sang prabu.
Dengan muka girang Maruto memberi hormat dengan sembah, kemudian berkata, wajahnya berseri, suaranya mengandung kebanggaan dan kegirangan.
"Semua perintah paduka telah hamba jalankan denagn baik, Adipati Tuban menjadi terbakar hatinya dan mempersiapkan bala tentara, sedangkan sang prabu sendiri juga telah menyetujui Gusti Patih Nambi mempersiapkan pasukan untuk mengempur Tuban. Hamba telah melaksanakan tugas dengan baik agar paduka memakluminya."
"Apakah telah kaujaga baik-baik sehingga tidak ada orang kedua yang mengetahui semua perbuatanmu itu, Maruto?"
"Tidak ada, sang resi yang mulia. Setanpun tidak ada yang melihatnya."
"Kalau begitu, biarlah engkau menjadi setan!"
"Apa ".,apa maksud paduka"..? Maruto bertanya oucat ketika Resi Mahapati memberi isarat dengan tangan kirinya diangkat ke atas. Empat orang pengawal muncul dan menyerang Maruto dengan keris mereka. Maruto terkejut sekali, meloncat dan mengelak, berusaha melawan sekuatnya. Akan tetapi denagn satu lagkah saja, Resi Mahapati menerjang dengan pukulan tanagn terbuka.
"Plakk!"
Tubuh Maruto terpelanting dan sebelum mampu bangkit atau menangkis, empat batang keris telah menghujam di tubuhnya. Dia terpekik satu kali dan tewas.
"Singkirkan mayatnya, kubur denagn baik, jangan sampai ada yang tahu."
Resi Mahapati memerintah dan empat orang pengawal itu lalu membawa pergi mayat Maruto yang sial itu. Resi Mahapati lalu melangkah ke dalam kamarnya, tersenyum penuh kemenangan dan mengangguk-angguk.
"Ronggo Lawe harus dilenyapkan dulu, dia merupakan penghalang pertama yang berbahaya".."
Gerutunya seorang diri.
Berbondong-bondong memang pasukan-pasukan kecil yang dipimpin oleh mereka yang bersimpati kepada Adipati Ronggo Lawe, meninggalkan Mojopahit untuk menyeberang ke Tuban dan membantu adipati yang gagah perkasa itu.
Akan tetapi, ketika ratusan orang itu tiba di tepi Sungai Tambakberas, air sungai waktu itu sedang apsang karena di sebelah turun hujan lebat sehingga memenuhi sungai.
Selagi ratusan orang ini sibuk membuat persiapan untuk menyeberang sungai yang airnya naik tinggi itu, tiba-tiba datang pasukan seribu orang prajurit Mojopahit yang dipimpin oleh Nambi.
Patih Nambi yang merasa sakit hati dan marah oleh pemberontakan Ronggo Lawe yang ditujukan kepadanya itu, segera mengeraahkan bala tentaranya dan menyerbu.
Para pengikut Ronggo Lawe melakukan perlawanan mati-matian.
Mereka berdiri dari orang-orang gagah yang dipimpin oleh bekas perwira-perwira Mojopahit atau dahulu menjadi anak buah Ronggo Lawe ketika adipati ini masih menjadi senopati di Mojopahit, di antara mereka adalah Ki Tosan, Empu Siddhi, Kidang Glatik, dan Muringgang.
Namun jumlah pasukan Mojopahit yang dipimpin oleh Nambi itu jauh lebih bear sehingga akhirnya, setelah melawan mati-matian sampai senja hari, akhirnya para pengikut Ronggo Lawe dapat dihancurkan dan selain banyak yang roboh tewas, selebihnya lari cerai-berai mencari keselamatan masing-masing.
Patih Nambi yang memperoleh kemenangan di tepi Sungai Tambakberas itu tidak puas dengan hasil kemenangannya.
Pada senja hari itu, air sungai sudah surut, maka dia lalu menyeberangi Sungai Tambakberas dan menyerbu Tuban.
Kekalahan para pengikut Ronggo Lawe yang datang dari Mojopahit ini segera terdengar oleh Ronggo Lawe.
Sang adipati menjadi marah sekali, segera mengumpulkan pasukan dan menyuruh Panewu Progodigdoyo dan para pembantunya yang lain untuk mengerahkan pasukan, menyambut musuh yang atang dari selatan.
Ada pun sang adipati sendiri lalu memasuki istananya untuk minta diri kepada dua orang isterinya.
Begitu dia memasuki kamarnya, dia disambut oleh dua orang isterinya yang tercinta itu.
Mertaraga kelihatan muram wajahnya dan kusut rambut serta pakaiannya, sedangkan Tirtawati yang mengandeng Kuda Anjampiani, putera sang adipati yang baru berusia delapan tahun, juga kelihatan berduka.
Mereka telah mendengar akan usaha pemberontakan suami mereka dan kedua orang isteri ini merasa prihatin dan khawatir sekali.
Begitu melihat suaminya, Mertaraga lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki suaminya sambil menangis.
Melihat ini, Tirtawati juga menangis sedangkan Kuda Anjampiani atau yang juga disebut raden Turonggodewa, memandang kepada ibunya, ibu tirinya dan ayahnya dengan terheran-heran.
"Ah, kenapa kalian menangis? Mertaraga, adinda sayang, bangkitlah dan jangan seperti anak kecil."
Ronggo Lawe menarik lengan isterinya dan menuntunnya duduk di tengah kamar.
"Kakangmas adipati, saya mendengar bahwa Tuban akan berperang melawan Mojopahit. Benarkah itu?"
Tanya Tirtawati yang agak lebih tabah dibanding dengan madunya, Mertaraga.
"Benar demikian, adinda Tirtawati,"
Jawab sang adipati dengan tenang.
"Ohh, kenapakah, kakangmas? Kenapa paduka hendak memberontak terhadap Mojopahit?"
Pertannyaan ini diajukan oleh Tirtowati dengan suara terheran-heran dan terkejut, karena sesungguhnya sukar baginya untuk percaya bahwa suaminya yang dia tahu adalah seorang pahlawan Mojopahit yang setia kepada kerajaan sampai ke tulang sumsumnya itu kini dapat memberontak terhadap Mojopahit!
Melihat wajah isterinya dan mendengar suara serta menatap sinar matanya, Adipati Ronggo Lawe maklum apa yang bergolak di dalam batin isterinya, maka dia merangkul isteri ke dua, ibu kuda Anjampiani itu dan menjawab tenang.
"aku sama sekali tidak memberontak terhadap Mojopahit, isteriku sayang, melainkan sedang menentang kejaliman dan melawan penghinaan yang ditimpakan kepadaku."
Dengan singkat Adipati Ronggo Lawe yang dialaminya kepada dua orang isterinya dan memandang suami mereka tercinta denagn muka pucat dan sinar mata penuh kegelisahan.
"Demikianlah, diajeng sekalian, bukan aku memberontak melainkan hendak menentang si keparat Nambi yang hendak menghinaku dengan menggunakan nama sri baginda dan menggunakan bala tentara Mojopahit."
"Aduh, kakangmas adipati"."
Tirtawati menubruk suaminya sambil mengis."
Bagaimana mungkin paduka akan melawan bala tentara Mojopahit yang besar dan kuat itu?"
"Kalah menang bukan soal yang amat penting dalam hal ini, adinda. Ini adalah soal kehormatan dan sekarang si Nambi telah menyerang Sungai tambakberas, telah memasuki wilayah Tuban, berarti telah melanggar kedaulatanku dan aku harus berangkat untuk menumpasnya!"
"Kakangmas".!"
Mertaraga menjerit dan menjatuhkan diri berlutut, merankul kedua kaki suaminya dan menangis tersedu-sedu.
Melihat ini, Tirtawati juga ikut menangis, sedangkan Kuda Anjampiani berdiri serlongong di sudut kamar, bingung karena tidak tahu apa yang terjadi sehingga kedua orang ibunya itu menangis seperti itu.
Ronggo Lawe agak terheran melihat Mertaraga.
Isterinya yang pertama ini adalah puteri dari Ki Ageng Palandongan, seorang yang tahu akan sifat-sifat kegagahan dan isterinya ini pun bukan seorang wanita lemah.
Akan tetapi mengapa saat ini isterinya itu memperlihatkan sikap seorang wanita yang cengeng dan amat lemah?
Kekalahan para pengikut Ronggo Lawe yang datang dari Mojopahit ini segera terdengar oleh Ronggo Lawe.
Sang adipati menjadi marah sekali, segera mengumpulkan pasukan dan menyuruh Panewu Progodigdoyo dan para pembantunya yang lain untuk mengerahkan pasukan, menyambut musuh yang atang dari selatan.
Ada pun sang adipati sendiri lalu memasuki istananya untuk minta diri kepada dua orang isterinya.
Begitu dia memasuki kamarnya, dia disambut oleh dua orang isterinya yang tercinta itu.
Mertaraga kelihatan muram wajahnya dan kusut rambut serta pakaiannya, sedangkan Tirtawati yang mengandeng Kuda Anjampiani, putera sang adipati yang baru berusia delapan tahun, juga kelihatan berduka.
Mereka telah mendengar akan usaha pemberontakan suami mereka dan kedua orang isteri ini merasa prihatin dan khawatir sekali.
Begitu melihat suaminya, Mertaraga lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki suaminya sambil menangis.
Melihat ini, Tirtawati juga menangis sedangkan Kuda Anjampiani atau yang juga disebut raden Turonggodewa, memandang kepada ibunya, ibu tirinya dan ayahnya dengan terheran-heran.
"Ah, kenapa kalian menangis? Mertaraga, adinda sayang, bangkitlah dan jangan seperti anak kecil."
Ronggo Lawe menarik lengan isterinya dan menuntunnya duduk di tengah kamar.
"Kakangmas adipati, saya mendengar bahwa Tuban akan berperang melawan Mojopahit. Benarkah itu?"
Tanya Tirtawati yang agak lebih tabah dibanding dengan madunya, Mertaraga.
"Benar demikian, adinda Tirtawati,"
Jawab sang adipati dengan tenang.
"Ohh, kenapakah, kakangmas? Kenapa paduka hendak memberontak terhadap Mojopahit?"
Pertannyaan ini diajukan oleh Tirtowati dengan suara terheran-heran dan terkejut, karena sesungguhnya sukar baginya untuk percaya bahwa suaminya yang dia tahu adalah seorang pahlawan Mojopahit yang setia kepada kerajaan sampai ke tulang sumsumnya itu kini dapat memberontak terhadap Mojopahit!
Melihat wajah isterinya dan mendengar suara serta menatap sinar matanya, Adipati Ronggo Lawe maklum apa yang bergolak di dalam batin isterinya, maka dia merangkul isteri ke dua, ibu kuda Anjampiani itu dan menjawab tenang.
"aku sama sekali tidak memberontak terhadap Mojopahit, isteriku sayang, melainkan sedang menentang kejaliman dan melawan penghinaan yang ditimpakan kepadaku."
Dengan singkat Adipati Ronggo Lawe yang dialaminya kepada dua orang isterinya dan memandang suami mereka tercinta denagn muka pucat dan sinar mata penuh kegelisahan.
"Demikianlah, diajeng sekalian, bukan aku memberontak melainkan hendak menentang si keparat Nambi yang hendak menghinaku dengan menggunakan nama sri baginda dan menggunakan bala tentara Mojopahit."
"Aduh, kakangmas adipati"."
Tirtawati menubruk suaminya sambil mengis."
Bagaimana mungkin paduka akan melawan bala tentara Mojopahit yang besar dan kuat itu?"
"Kalah menang bukan soal yang amat penting dalam hal ini, adinda. Ini adalah soal kehormatan dan sekarang si Nambi telah menyerang Sungai tambakberas, telah memasuki wilayah Tuban, berarti telah melanggar kedaulatanku dan aku harus berangkat untuk menumpasnya!"
"Kakangmas".!"
Mertaraga menjerit dan menjatuhkan diri berlutut, merankul kedua kaki suaminya dan menangis tersedu-sedu.
Melihat ini, Tirtawati juga ikut menangis, sedangkan Kuda Anjampiani berdiri serlongong di sudut kamar, bingung karena tidak tahu apa yang terjadi sehingga kedua orang ibunya itu menangis seperti itu.
Ronggo Lawe agak terheran melihat Mertaraga.
Isterinya yang pertama ini adalah puteri dari Ki Ageng Palandongan, seorang yang tahu akan sifat-sifat kegagahan dan isterinya ini pun bukan seorang wanita lemah.
Akan tetapi mengapa saat ini isterinya itu memperlihatkan sikap seorang wanita yang cengeng dan amat lemah?
Dengan langkah lebar sang adipati meninggalkan istananya, akan tetapi baru beberapa langkah, dia menoleh, dan berkali-kali dia menoleh, hatinya penuh keharuan karena dia harus meninggalkan orang-orang yang amat dikasihinya itu.
Sedangkan Tirtawati dan Mertaraga mengikutinya dengan pandang mata sayu, dengan air mata seperti untaian mutiara membasahi pipi, akan tetapi kedua orang wanita itu dengan tabah menahan isak mereka dan bibir mereka yanag masih panas oleh ciuman-ciuman dan cumbuan-cumbuan suami mereka itu kini tersenyum mengantar keberangkatan suami mereka seperti yang diminta oleh sang Adipati Ronggo Lawe.
Para pelayan yang tahu benar akan perasaan sang adipati dan dua orang isterinya itu, tidak dapat bertahan menyaksikan perpisahan ini dan mereka yang menangis tersedu-sedu, menyembunyikan muka di belakang selendang.
Perpisahan yang amat mengharukan.
Setelah tiba di pintu gerbang, sang adipati untuk penghabisan kali menengok, memandang seolah-olah hendak menguburkan bayangan dua orang isterinya dan puteranya itu ke dalam lubuk hatinya, kemudian dia dengan cepat membalikkan tubuhnya dan meloncat cepat membalikkan tubuhnya dan meloncat ke atas punggung Ki Mego Lamat, kuda kesayangannya yang berbulu putih agaknya kelabu seperti warna awan tipis, lalu membedal kudanya menuju ke arah barisannya yang telah bersiap di luar kota tuban.
Dua orang isterinya tidak dapat melihat lagi bayangan suaminya, hanya mendengar derap kaki kuda Mego Lamat, makin lama makin lirih, makin jauh membawa terbang semangat mereka.
Tubuh mereka manjadi lemas dan tiba-tiba mereka terkulai, ditubruk oleh para emban yang menjerit-jerit, kemudian mereka dipapah masuk ke dalam kamar, diiringi tangis Kuda Anjampiani.
Baru saja Ronggo Lawe tiba di luar kota Tuban di mana pasukan-pasukannya telah siap dalam barisan yang rapi, dipimpin oleh Panewu Progodigdoyo dan para pembantunya yang lain, tiba-tiba seorang kakek menghampirinya.
Melihat kakek ini, Adipati Ronggo Lawe cepat meloncat turun dari kudanya dan memberi salam, karena kakek ini bukan lain adalah Ki Ageng Palandongan, ayah dari isterinya yang pertama, Mertaraga.
Setelah memberi salam balasan, Ki Ageng Palandongan dengan wajah yang keriputan itu membayangkan kecemasan hatinya, berkata.
"Puteranda adipati, saya mendengar bahwa Tuban akan berperang dengan Mojopahit! Apakah hal ini sudah kaupikirkan baik-baik? Apakah tidak ada lain jalan untuk mendamaikan urusan antara Tuban dan Mojopahit?"
Ronggo Lawe menggeleng kepala.
"Harap kanjeng rama tidak mencampuri urusan ini, karena urusan ini adalah urusan kehormatan antara saya dan Nambi. Nambi yang curang telah menghasut sang prabu, kini telah membawa pasukan untuk menggempur Tuban, biar bagaimana pun juga, harus saya tandingi dia!"
Melihat mantunya yang dia tahu amat keras hati, Ki Ageng Palandongan hanya menarik napas panjang.
"Kehendak Hyang Widhi tak apat dicegah oleh kekuasaan manusia. Saya hanya membekali pangestu, sang adipati dan hendaknya kau selalu ingat bahwa segala tindakanmu adalah demi kebenaran, bukan terdorong oleh kebencian."
"Terima kasih, kanjeng rama."
Demikianlah, tanpa menghiraukan bujukan mertuanya, Ronggo Lawe lalu menggerakkan pasukannya dan membanjirlah pasukan Tuban itu ke selatan, melakukan perjalanan semalam suntuk.
Pada keesokan harinya, bertemulah pasukan Tuban dengan pasukan Mojopahit yang dipimpin oleh Patih Nambi sendiri.
Begitu terjadi perang campuh, Ronggo Lawe membedal kudanya, berputar-putaran mencari musuh besarnya.
Akhirnya dia melihat Patih Nambi mengamuk di sebelah timur.
Nambi mengendarai seekor kuda yang berbulu ke kuningan, kuda yang bernama Brahma Cikur.
Melihat lawannya, Ronggo Lawe menggereng seperti seekor harimau kelaparan, lalu membedal kudanya mengejar ke tempat itu.
Setelah dekat dan berhadapan muka, Ronggo Lawe membentak keras.
"Si keparat Nambi! Macam engkau akan menjadi patih hamangkubumi di Mojopahit? Boleh kau menjadi patih kalau dapat melangkahi mayat Ronggo Lawe! Kalau tidak, maka engkau yang akan menggeletak di atas tanah, kepalamu akan kuinjak-ijak sampai lumat!"
"Babo-babo Ronggo Lawe manusia sombong, pemberontak hina dina. Majulah untuk menerima hukuman mati!"
Nambi juga membentak marah sambil mencabut kerisnya yang ber-luk tiga dan bernama kyai Bangodolong. Keris ini mengeluarkan sinar kehitaman dan merupakan keris pusaka yang ampuh.
"Bagus, majulah, keparat!"
Ronggo Lawe juga mencabut kerisnya, yaitu Kyai Kolondah, keris ber-luk lima yang mempunyai sinar kemerahan menggiriskan.
Keris Kyai Kolonadah ini adalah keris pusaka pemberian gurunya, bahkan keris ciptaan atau buatan gurunya itu sendiri, Sang Empu Supamandrangi yang sakti mandraguna, pertapa di puncak Gunung Bromo yang sudah amat terkenal.
Kini dua ekor kuda pilihan itu mulai berlaga, dikendarai oleh dua orang senopati perang yang sama digdaya, sama gemblengan.
Kuda Brahma Cikur dan kuda Mego Lamat meringkik dan menyepak-nyepak, menyirik dan berputar dalam lingkaran ketika kedua tuan mereka mulai bertanding.
Keris pusaka dan kepalan melayang saling tikam saling hantam dan saling tangkis.
Bunyi nyaring bertemunya dua pusaka disusul oleh berpijarnya bunga api yang menyilaukan mata dan setiap kali dua lengan mereka saling bertemu dengan dorongan tenaga sakti yang amat kuat, keduanya terdorong dan hampir roboh dari atas kuda.
Perang tanding yang amat seru di antara dua orang musuh yang saling membenci ini berlangsung di tengah-tengah perang campuh antara orang-orang Tuban dan orang-orang Mojopahit, yang dahulunya merupakan kawan-kawan seperjuangan yang berperang bahu-membahu menghadapi musuh mereka bersama.
Akan tetapi, di antara para perwira Mojopahit, dan juga para prajuritnya, banyak yang diam-diam merasa jerih an juga segan terhadap Adipati Ronggo Lawe, maka mereka berperang setengah hati, apalagi karena jumlah barisan Tuban lebih banyak daripada mereka.
Akhirnya, setelah berperang hampir setengah hari lamanya, setelah banyak korban berjatuhan, barisan Mojopahit terdesak mundur.
Apalagi ketika Ronggo Lawe berhasil menikam leher kuda Brahma Cikur yang menjadi kesakitan, meloncat-loncat dalam sekarat kemudian terbanting mati, semangat para perwira Mojopahit mengendur.
Untung bahwa Patih Nambi dapat cepat meloncat dan menyelamatkan diri dengan bersembunyi dalam pasukannya.
Dua orang wanita itu merangkul suami mereka dan mereka mencurahkan kasih sayang dan berkasih-kasihan dengan sepenuh jiwa raga karena mereka berdua sedang tenggelam dalam keharuan yang mendalam.
Tiada puas-puasnya agaknya Ronggo Lawe mencurahkan cinta kasihnya kepada mereka berdua, dan dua orang isterinya itu pun agaknya tidak pernah mau melepaskan suaminya tercinta dari dekapan mereka.
Setengah hari lamanya Ronggo Lawe dan kedua orang isterinya berada di dalam kamar mereka, saling mencurahkan cinta kasih mereka, lupa segala, lupa waktu, lupa diri dan tenggelam dalam kemesraan.
Akhirnya suara canang menyadarkan Ronggo Lawe bahwa bala bantuan tentaranya yang dikumpulkan oleh para pembantunya sudah siap, tinggal menanti dia untuk diberangkatkan menyambut musuh.
Dengan menggandeng tangan kedua isterinya yang kusut pakaian dan rambutnya, pucat mukanya namun wajah dan sinar mata mereka menyorotkan kemesraan, Ronggo Lawe lalu menuju ke kamar mandi.
Dengan bantuan dua orang isterinya, dia mandi keramas lalu mengenakan pakaian keprajuritan yang sederhana sekali, tubuh aatasnya hanya terhias pelindung pergelangan tangan, gelang perak di pangkal lengan, baju penutup dada, dan ikat pinggang emas melingkar di pinggang.
Celana abu-abu mencapai bawah lutut, tertutup kain yang dilipat pendek di atas lutut, dengan ujung diwiru berjuntai ke depan.
Kepalanya hanya terhias ikat kepala yang kecil saja, terbuat dari emas dan perak terukir, sehelai tali yang mengikat hiasan tanda pangkat sebagai adipati, merupakan permainan yang bermata mirah tergantung di leher.
Kyai Kolonadah, keris luk lima yang biasa dipakai dalam perang, terselip di pinggangnya.
Dengan wajah bercahaya dan sikap yang gagah sekali, Ronggo Lawe memeluk dan mencium bibir isterinya yang kini telah tenang dan pasrah itu, Tirtawati dan Martaraga, bergantian, dibalas denagn penuh kemesraan oleh mereka, kemudian adipati ini memondong puteranya yang dibawa masuk.
Tiba-tiba Kuda Anjampiani menangis, membuat ayahanya dan kedua orang ibunya terkejut dan terharu.
Diam-diam Ronggo Lawe makin yakin bahwa sesuatu pasti akan menimpa dirinya dan dia merasa bangga bahwa puteranya ini memiliki kepekaan halus.
"Hishh, anak yang gagah kenapa menangis?"
Ronggo Lawe berkata sambil mencium dahi puteranya.
"Rama jangan pergi meninggalkan saya,"
Anak itu berkata.
"Rama akan pergi ke Mojopahit, jangan menangis nanti akan rama belikan kereta kencana dan kuda sembrani."
Anak itu berhenti menangis dan memandang ayahnya denagn sepasang matanya yang bening dan tajam.
"Kuda sembrani yang pandai terbang, rama? Rama naik kereta kencana dan diterbangkan oeh kuda sembrani?"
Ucapan anak-anak itu makin mengandung arti, maka Ronggo Lawe hanya mengangguk-angguk saja, menyerahkan anak itu kepada Tirtawati, kemudian dia berkata.
"Selamat tinggal, aku berangkat!"
Sorak-sorai menggegap gempita menyambut kemenangan tentara Tuban yang terus dipimpin oleh Ronggo Lawe, melakukan pengejaran ke selatan.
Sisa pasukan Mojopahit melarikan diri ke selatan.
Ronggo Lawe yang merasa kecewa bahwa dia hanya dapat membunuh kuda tunggangan Nambi, (Lanjut ke
Jilid 03) Kemelut Di Majapahit (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 03 berteriak keras memberi aba-aba untuk mengejar terus dan dia sendiri dengan kuda Mego Lamat melakukan pengejaran terdepan!
Para perajurit Mojopahit yang berada di bagian terbelakang, tersusul dan mengamuklah Ronggo Lawe dengan kerisnya yang mengeluarkan sinar kemenangan.
Sepak terjangnya menggiriskan dan sisa pasukan Mojopahit mempercepat larinya, membawa kekalahan besar dan Nambi berada bersama mereka, bahkan menggunakan kuda terbaik untuk mendahului lari ke Mojopahit untuk melaporkan kekalahannya.
Sisa pasukan Mojopahit melintas Sungai Tambakberas.
Ketika pasukan-pasukan yang dipimpin oleh Ronggo Lawe tiba di tepi sungai itu dan hendak melanjutkan pengejarannya, dia ditahan oleh para pembantunya, termasuk Panewu Progodigdoyo yang merupakan pambantu utamanya.
"Jangan, kakang adipati, jangan mengejar ke seberang. Di seberang adalah daerah Mojopahit, jangan sampai kita terjebak di sana. Mojopahit belum mengerahkan semua kekuatan tentaranya, dan tak lama lagi si Nambi tentu akan mendatangkan bantuan yang lebih kuat. Sedangkan pasukan kita sudah lelah, pula harus disusun kembali karena sudah berkurang jumlahnya."
Ronggo Lawe yang merasa kecewa belum dapat membunuh Nambi, mklum bahwa nasihat ini memang tepat, maka dia mengurungkan niatnya untuk melakuan pengejaran terus.
Sebaliknya, Ronggo Lawe lalu mengumpulkan semua kekuatan dan sisa-sisa prajurit Tuban, kemudian memerintahkan para pembantunya untuk memperkuat pasukan dengan menerima pasukan-pasukan suka rela yang berdatangan dari seluruh Tuban, yaitu rakyat jelata yang setelah mendengar bahwa Tuban diserbu tentara Mojopahit lalu menawarkan diri untuk menjadi prajurit dan membantu sang adipati yang mereka hormati dan kagumi.
Dalam waktu dua hari saja, hampir selaksa orang dapat dikumpulkan dan secara kilat mereka ini digembleng olah keprajuritan.
Di antara mereka terdapat pula orang-orang sakti yang baru turun dari pertapaan untuk mendarmabaktikan kepandaian mereka kepada Kadipaten Tuban.
Sementara itu, sang prabu di Mojopahit tadinya bergembira mendengar berita kemenangan bala tentara Mojopahit yang berhasil mencerai-beraikan dan menumpas sebagian besar para simpatisan Ronggo Lawe dari daerah Mojopahit yang hendak menyeberang ke Tuban.
Akan tetapi pada hari berikutnya, beliau terkejut bukan main mendengar berita tentang Nambi.
Tak lama kemudian Nambi sendiri denagn pakaian kusut, muka pucat, napas terengah-engah, menjatuhkan diri berlutut di depannya dan dengan suara terputus-putus melaporkan kekalahan bala tentara yang dipimpinnya.
"Jumlah pasukan si pemberontak itu jauh lebih besar, gusti,"
Demikian antara lain Patih Nambi melapor.
"Pasukan-pasukan kita dihancurkan dan cerai-berai, sebagian melarikan diri mencari keselamatan menyusup ke dusun-dusun dan ke gunung-gunung, dikejar-kejar oelh pasukan Tuban yang kejam dan ganas. Kuda hamba tewas ditusuk si Ronggo Lawe yang curang. Tadinya dia sudah terdesak oleh hamba, akan tetapi dengan liciknya dia menyerang Brahma Cikur dan membunuhnya sehingga hamba terpelanting. Untung hamba masih dapat menyelamatkan diri dari di antara pasukan."
Bukan main marahnya hati sang prabu mendengar pelaporan ini.
"Hemm... Kakang Ronggo Lawe benar-benar telah memberontak! Para senopati, siapkan bala tentara! Sekarang juga aku sendiri akan memimpin pasukan besar untuk menggempur Tuban dan menangkap kakang Ronggo Lawe!"
Saking marahnya, sang prabu sampai turun dari kursi kencana dan bertolak pinggang, muknya merah, matanya berapi-api.
Lembu Sora dan Kebo Anabrang cepat menyembah dan menghibur hati sang prabu yang seang marah itu.
"ampun, kanjeng gusti, harap pasuka bersabaran tidak melanjutkan kemarahan paduka, karena kemarahan dapat mengurangi kewaspadaan. Perbuatan Ronggo Lawe memang harus dihukum, akan tetapi tidak sekarang karena pasukan-pasukan kita masih lelah."
Demikian Lembu Sora dengan suara tenang memperingatkan junjungannya.
"Apa yang dikatakan oleh paman Lembu Sora memang tepat, gusti sinuwun,"
Kata pula Kebo Anabrang yang juga menjadi merah telinganya karena marah mendengar perlawanan Ronggo Lawe yang menghancurkan pasukan Mojopahit.
"Kekuatan Mojopahit harus dipulihkan lebih dulu dan sebelum paduka turun tangan, sebaiknya diselidiki dulu sampai di mana kekuatan musuh. Si Ronggo Lawe bukanlah anak kemarin, melainkan seorang senopati yang sudah gemblengan, maka haruslah dihadapi denagn hati-hati pula, karena kalau hanya sembrono menurutkan kemarahan, jangan-jangan akan menggagalkan penyerbuan seperti yang telah dilakukan oleh Ki Patih Nambi."
Dalam ucapan ini sedikit banyak Kebo Anabrang juga menegur Nambi yang tadinya begitu sombong akan tetapi ternyata mengalami kegagalan sehingga merusak kekuatan Mojopahit dan kekalahan itu merendahkan nama besar Mojopahit sendiri.
Patih Nambi hanya mendengarkan dengan kepala tunduk.
Akhirnya sang prabu dapat terbujuk oleh dua orang senopati besar dan kemarahannya mereda.
Lalu diperintahkannya beberapa senopati dan perwira Mojopahit untuk mengumpulkan kekuatan dan mempersiapkan selaksa orang prajurit yang pilihan dalam waktu tiga hari.
Setelah memperoleh berita dari penyelidikan mata-mata akan kekuatan pasukan Tuban, sang prabu sendiri memimpin selaksa orang pasukan prajurit ojopahit yang pilihan, kemudian dengan dikawal oleh para senopatinya, sang prabu menggerakkan barisan Mojopahit ke utara, menyeberangi sungai Tambakberas.
Dari sebuah bukit kecil di seberang sungai, sang prabu memeriksa keadaan dan dari tempat tinggi itu dia melihat pasukan-pasukan Tuban yang teratur rapi bergerak dari utara dan dari jauh itu sang prabu melihat seorang penunggang kuda yang dengan gagah perkasa menjalankan kudanya di depan barisan.
Seorang senopati yang amat gagah, yang dari jauh nampak cahaya bersinar di atas kepalanya, dan tahulah sang prabu bahwa penunggang kuda itu bukan lain adalah Ronggo Lawe sendiri.
Trenyuhlah hati beliau, merasa nelangsa mengapa senopatinya yang paling setia itu, yang gagah perkasa dan yang sudah banyak jasanya, bahkan yang berjasa pula membantu dia menjadi raja, kini mengerahkan betapa sepasang matanya menjadi panas dan dua titik air mata mengancam untuk membasahi matanya.
Maka beliau lalu menunduk, menarik napas panjang.
Mengapa harus ada perang seperti ini?
Mengapa kehidupan manusia selalu penuh dengan permusuhan?
Setelah hatinya tidak dicekam keharuan dan kedukaan lagi, sang prabu mengangkat kepala memandang.
Ronggo Lawe yang menunggang kuda Nila Ambara, yang dari jauh kelihatan kehitam-hitaman, menghentikan bala tentaranya dan agknya telah siap untuk menghadapi serbuan pasukan Mojopahit.
Maka teringatlah lagi sri baginda bahwa beliau sedang menghadapi barisan musuh!
Dipanggilnya para senopatinya dan bersama mereka, sambil menyelidiki keadaan musuh, sang prabu menyusun siasat.
"Sedapat mungkin hindarkan perang campuh yang akan menjatuhkan banyak korban di kedua pihak,"
Kata sang prabu.
"Yang menjadi biang keladi perang ini adalah Lawe, maka cukuplah kalau dapat menawannya hidup atau mati. Kalau dia dapat ditundukkan, tentu perang dapat dihentikan."
"Demikian, siasat lalu disusun. Lembu Sora sendiri, biarpun dia itu paman Ronggo Lawe, mendapat tugas untuk memimpin pengepungan. Ronggo Lawe akan dikepung dari tiga jurusan, yaitu Kebo Anabrang akan menyergap dari jurusan timur, Gagak Sarkoro akan bergerak dari barat, sedangkan Mayang Mekar yang mengambil jalan memutar akan muncul dari utara sebagai pasukan penyergap dari belakang. Lembu Sora sendiri akan langsung datang dari selatan, lagsung menghadapi keponakannya yang memberontak itu sambil memimpin pengepungan. Tak lama kemudian terdengarlah bunyi canang, terompet dan keuntungan, disusul sorak-sorai yang seolah-olah meruntuhkan langit dari kedua fihak. Perang telah dimulai! Siasat sri baginda yang dilaksanakan oleh Lembu Sora dan kawan-kawannya itu berhasil baik. Mereka telah dapat menceraikan pasukan inti yang dipimpin Ronggo Lawe sendiri dari pasukan lain dan yang pertama menyerbu adalah Kebo Anabrang, senopati gemblengan yang telah terkenal amat sakti itu. Senopati Kebo Anabrang terkenal sekali setelah dia behasil memimpin pasukan menyeberang ke tanah Melayu, bahkan telah berhasil memboyong puteri untuk sang prabu sehingga puteri itu kemudian menjadi isteri terkasih, yaitu Dyah Dara Petak yang kini disebut Sri Indreswari! "Ronggo Lawe, lebih baik engkau menyerahkan diri agar dosamu tidak begitu besar terhdap sang prabu!"
Kebo Anabrang berteriak dengan suaranya yang tinggi besar dan bertubuh kokoh kekar itu amat menggiriskan.
Setiap gerakan tangan dan kaki dari atas kuda tentu merobohkan seorang perajurit, bahkan sebelum bertemu dengan Ronggo Lawe, kaki kanan Kebo Anabrang ini menendang seorang perwira yang menunggang kuda sehingga kuda dan penunggangnya terlempar dan terbanting remuk!
Merah muka Ronggo Lawe, kumisnya yang seperti kumis Gatotkaca itu bergetar ketika dia memandang kepada Kebo Anabrang dari atas punggung Nila Ambara.
"Babo-babo, Kebo Anabrang! Aku tidak melawan sang prabu, melainkan hendak membunuh si Nambi! Suruh dia keluar dan akan kuhirup darahnya! Kalau kau hendak membela di Nambi, berarti kau sudah bosan hidup!"
"Manusia sombong, majulah!"
Kebo Anabrang menantang dan mereka menggerakkan kendali kuda masing-masing.
Kuda tunggangan mereka melonjak dan saling tubruk, terdengar suara nyaring berdencing ketika keris mereka saling bentur berkali-kali, mengakibatkan muncratnya bunga api.
Bukan main hebatnya pertandingan anatara dua orang senopati gemblengan dari Mojopahit itu, dan sukarlah mengatalan siapa yang lebih gagah, biar pun tubuh Kebo Anabrang lebih besar daripada tbuh Ronggo Lawe.
Kalau boleh dibandingkan dengan tokoh pewayangan, tubuh Kebo anabrang seperti tubuh Sang Aryo Werkudoro, sedangkan tubuh Ronggo Lawe seeprti tubuh Sang Aryo Gatotkaca.
Akan tetapi tentu saja dua tokoh ayah dan anak itu tidak akan bertanding mengadu nyawa seperti yang dilakukan oleh dua orang senopati bekas kawan seperjuangan itu.
Ronggo Lawe adalah seorang ahli menunggang kuda dan tubuhnya lebih ringan daripada Kebo Anabrang, juga kudanya Nila Ambara adalah kuda pilihan, lebih gesit daripada kuda Mego Lamat.
kudanya yang dipergunakan ketika melawan Nambi kemarin dulu.
Karena tubuhnya lebih ringan, maka kuda Nila Ambara jauh lebih gesit gerakannya sehingag akhirnya keris di tangan Ronggo Lawe, yaitu keris pusaka berluk lima Kyai Kolonadah berhasil menggores moncong kuda yang ditunggangi Kebo Anabrang.
Kuda itu meringik dan berdiri di atas kedua kaki, berloncatan sehingga turun.
"Keparat".!"
Bentaknya dan dengan cekatan sekali seperti seekor kijang melompat, Kebo Anabrang yang sudah tidak berkuda lagi itu menubruk dengan tusukan kerisnya.
"Cringgg"!! "
Bunga api berpijar ketika keris di tangan Kebo Anabrang yang ber-luk tiga dan disebut Kyai Soka, bertemu dengan Kyai Kolonadah.
Keduanya merasa bertapa tangan mereka tergetar hebat.
Akan tetapi kemudian terpaksa Kebo Anabrang harus meloncat ke belakang dan menjatuhkan diri karena tanpa kuda, dia akan berada dalam keadaan berbahaya.
"Heh, Kebo Anabrang, pengecut kau kalau melarikan diri!!"
Ronggo Lawe menantang dan mengajukan kudanya untuk mengejar.
Dua perwira bawahan Kebo Anabrang yang melihat atasannaya dalam bahaya, cepat meloncat maju dan menyerang Ronggo Lawe dari kanan kiri dan menyerang Ronggo Lawe dari kanan kiri dengan tusukan tombak mereka.
Secepat kilat, Ronggo Lawe menyarungkan kerisnya, kemudian dengan tubuh ditarik ke belakang, dia menggerakkan kedua tangan menangkap tombak yang meluncur dari kanan kiri itu, terus ditariknya dengan pengerahan tenaga dan kakinya meneprak kuda.
Dua orang perwira itu memekik dan terguling roboh, kemudian disusul pekik mereka yang menyayat hati ketika kuda Nila Ambara yang mengangkat kaki depannya itu menurunkan kaki depan dengan keras, menginjak kepala dua orang perwira sehingga pecah-pecah dan mereka tewas seketika!
Bukan main marahnya hati Kebo Anabrang menyaksikan hal ini.
"Heh, ronggo Lawe, kalau memang engkau jantan, turunlah dari kudamu dan mari kita mencari tempat sepi untuk mengadu tebalnya kulit kerasnya tulang secara ksatria. Tentu saja kalau kau berani!"
Ronggo Lawe adalah seorang senopati perang, akan tetapi juga seorang ksatria, seorang pendekar yang tentu saja pantang mundur, apalagi ditantang seperti itu oleh Kebo Anabrang.
"Babo-babo, keparat, siapa takut padamu?"
Ronggo Lawe membentak dan meloncat turun dari kudanya, kemudian mengejar turun dari kudanya, kemudian mengejar Kebo Anabrang yang sengaja lari mencari tempat yang agak lega.
Akhirnya mereka tiba di Sungai Tambakberas yang pada waktu itu airnya agak surut sehingga nampaklah batu-batu besar, sebesar kerbau menjerum (mendekam dalam air).
Kebo Anabrang adalah seorang yang ahli dalam air.
Dia maklum betapa tanguhnya Ronggo Lawe, apalagi di atas kuda.
Maka dia tadi memancing Ronggo Lawe untuk turun dari kuda dan kini dia sengaja memilih tempat di sungai itu.
Bukan percuma saja Kebo Anabrang mengalami banyak hal ketika dia menyeberang ke tanah Melayu dan kini dia mempergunakan pengalamannya itu untuk mencari akal agar unggul dalam pertandingan menghadapi lawan yang amat sakti ini.
Dengan tangkas dia lalu meloncat ke atas batu-batu itu, biar pun tubuhnya tinggi besar namun gerakannya tangkas seperti seekor kijang berloncatan.
Dia berhenti di tengah-tengah sungai, di atas batu kali yang hitam, licin mengkilap dan besar, lalu mencabut kerisnya, keris Kyai Soka dan menantang-nantang.
"Hayo ke sinilah kau, Ronggo Lawe, kalau memang kau jantan. Jangan hanya berani kepada Nambi saja. Inilah Kebo Anabrang, laki-laki gemblengan yang menjadi tandinganmu dan yang akan menamatkan riwayatmu di tengah-tengah Sungai Tambakberas!"
Tadinya Ronggo Lawe agak meragu dan ngeri karena sesungguhnya dia bukanlah seorang ahli bermain di air.
Akan tetapi tantangan Kebo Anabrang memerahkan telinganya dan dia pun mencabut keris pusaka Kyai Kolonadah.
"Si keparat Kebo Anabrang! Ronggo Lawe adalah laki-laki sejati! Tunggulah kedatanganku! Adipati ini pun lalu meloncat ke atas batu-batu itu, dengan gesitnya berloncatan menghampiri Kebo Anabrang yang sudah siap.
"Terimalah ini!"
Ronggo Lawe membentak, tubuhnya meloncat dengan terkaman ganas, kerisnya menusuk, tangan kirinya menampar dengan Aji Gelap Sewu yang terkenal ampuh, karena tamparan dengan aji dapat menghancurkan batu kali!
"Bagus!"
Kebo Anabrang membentak dan cepat dia menangkis dengan kerisnya Kyai Soka.
"Cring".!"
Dua pusaka bertemu dan Kyai Soka cepat digerakkan oleh Kebo Anabrang untuk menangkis tamparan tangan kiri Ronggo Lawe.
"Plakkk!"
Tangan kiri Ronggo Lawe bertemu dengan keris Kyai Soka, akan tetapi lecet pun tidak, bahkan Kebo Anabrang merasa betapa lengan kanannya menjadi tergetar hebat oleh hawa panas yang timbul dari Aji Gelap Sewu!
"Wuuuutt".!"
Kaki kiri Kebo Anabrang menendang dengan sepakan tumitnya, keras sekali dan kalau mengenai lutut Ronggo Lawe tentu akan membikin adipati itu celaka, karena sekali lututnya patah tentu dia akan kalah.
Namun dengan cekatan Ronggo Lawe meloncat ke atas batu yang lain sambil mengelak.
Mulailah mereka serang-menyerang dengan ganas, seru dan mati-matian.
Keduanya sama kuat, sama cekatan, dan keris mereka pun sama ampuhnya Tusuk-menusuk, pukul-memukul, tendang-menedang mereka lakukan bergantian namun lawan tetap saja dapat menangkis, mengelak, bahkan kadang-kadang menerima pukulan dengan kekebalan kulit mereka!
Hebat bukan main pertandingan antara dua orang senopati gemblengan ini.
Peluh sudah bercucuran dari seluruh dari seluruh tubuh mereka.
Dan kini banyak prajurit kedua fihak yang berdekatan dengan tempat itu menghentikan perang mereka, dan mereka itu berdiri di kedua tepai sungai dan bersorak-sorak memberi semangat kepada jago masing-masing!
Pertandingan sehebat itu terlampau menarik untuk dilewatkan begitu saja, sungguhpun mereka sendiri sedang berperang campuh.
Tanpa dikomando lagi, perang di sekitar tempat itu berhenti, semua lebih suka menonton!
"Plak-plak-cringgg!"
Kembali mereka beradu lengan dan beradu keris, akan tetapi dengan kecepatan seekor burung kepinis, Ronggo Lawe meloncat dan tangan kirinya menampar ke arah kepala Kebo Anabrang.
"Wuuuuttt".dessss!!"
Biar pun Kebo Anabrang sudah mengelak dengan miringkan tubuh, tetap saja tamparan itu mengenai pundaknya.
Dia sudah cepat mengerahkan aji kekebalannya, akan tetapi tetap saja pundaknya terasa panas dan setengah lumpuh.
Dia meloncat ke sebuah batu lain dan memandang lawannya dengan sinar mata kagum bukan main!
Selama hidupnya sebagai seorang prajurit dan pendekar, belum pernah Kebo Anabrang menemui tandingan sehebat Ronggo Lawe ini.
Dia adalah seorang pendekar yang gagah perkasa, yang amat menghargai kegagahan, dan biar pun sudah lama dia menjadi kawan seperjuangan Ronggo Lawe dan banyak melihat kegagahan kawan itu, baru sekarang dia membuktikannya sendiri dan dia menjadi kagum bukan main!
"Hemmmm".!"
Dia menggeram, pandang matanya bersinar-sinar, peluhnya menetes-netes, diusapnya dengan tangan kirinya yang besar.
"Hebat engkau Ronggo Lawe!"
Ronggo Lawe yang berdiri di atas batu lain, juga mengusap peluhnya dengan tanagn kirinya dan memandang lawan dengan sinar mata berapi, penuh semangat.
"Babo-babo, keluarkan semua kesaktianmu, Kebo Anabrang!"
Tantangnya, kagum juga melihat betapa tamparannya dengan Aji Gelap Sewu yang mengenai pundak tadi tidak merobohkan lawannya ini.
"Engkau memang digdaya dan kalau saja engkau mau menakluk, menghentikan perang gila ini, aku". , akulah yang akan mohon kepada sang prabu untuk pengampunan atas dirimu, kawan!"Ucapan yang mengandung kemesraan dan perlindungan ini seperti minyak menyiram api. Sepasang mata Ronggo Lawe seperti mengeluarkan api.
"Tutup mulutmu, Kebo Anabrang! Hanya ada dua pilihan bagiku, menang membunuh Nambi atau tewas di medan yuda!"
Kebo Anabrang menarik napas panjang.
"Hemm, kau telah memilih mati, Ronggo Lawe. Baiklah, engkau akan mati di tanganku!"
Kembali kebo Anabrang memandang ragu, tangan kirinya menyendok air sungai dan membasahi leher dan dadanya, dilihat oleh Ronggo Lawe yang sudah siap menerjang lagi.
"Sambut serananku!!"
Ronggo Lawe membentak dan dia sudah menerjang lagi, ditangkis oleh keris Kebo Anabrang.
Kembali dua orang senopati gemblengan ini bertanding, lebih hebat daripada tadi malah.
Batu-batu sebesar karbau tergetar, air sungai muncrat-muncrat dan ikan-ikan berkelebekan, ada yang mati karena panasnya hawa dua keris pusaka yang kadang-kadang bergulat banting-membanting di air dangkal yang hanya sampai ke lutut.
Kebo Anabrang maklum bahwa sukarlah baginya untuk mengalahkan lawan ini, kalau tidak menggunakan akal.
Maka mulailah dia berloncatan dari batu ke batu, dikejar oleh Ronggo Lawe dengan ganas, tidak tahu bahwa lawannya itu memancingnya ke bagian yang airnya dalam, lebih dari ukuran orang.
Ketika sudah mendapat posisi baik di atas batu kali licin yang berdiri di tengah air yang dalam, kebo Anabrang menantang lagi, Ronggo Lawe meloncat, kerisnya berkilauan mengeluarkan sinar kemerahan.
Kebo Anabrang menyambut, keris Kyai Soka mengeluarkan sinar berkilauan dan bertemulah keris dan orangnya di udara.
"Cringgg"bresss".!!"
Keduanya terjatuh, bukan di atas batu itu, melainkan jatuh di air.
"Byuuuurrr".!!"
Air muncrat tinggi, mereka masih bergulat, akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget dan gugup hati Ronggo Lawe ketika kakinya terus tenggelam tidak ada tempat berpijak sampai seluruh kepalanya tenggelam!
Tentu saja dia gelagapan, akan tetapi dia harus mempertahankan diri karena diserang oleh Kebo Anabrang yang pandai bermain di air itu.
Beberapa kali Ronggo Lawe gelagapan dan menelan air.
Hal ini tampak oleh Kebo Anabrang, maka cepat dia menangkap pergelangan tangan kanan lawan, lalu merangkulnya, memitingnya dan membawa lawan menyelam ke dalam air sampai lama!
Para prajurit Tuban yang berdiri di tepi sungai memandang dengan mata terbelalak, mengira bahwa keduanya telah mati maka dengan marah mereka lalu menyerbu musuh dan perang terjadi kembali dengan hebatnya!
Mereka tidak tahu bahwa tak lama kemudian, tampak Kebo Anabrang tak bisa menggerakkan kerisnya, Kyai Soka tak dapat dia pergunakan karena kedua tangannya mendekap dan mencekik leher lawan, yang kiri memegang pergelangan tangan kanan lawan.
Dia lalu mencekik lebih keras, menenggelamkan kembali kepala Ronggo Lawe dan membentur-benturkannya ke batu kali yang berdekatan.
Air kali mulai merah oleh darah Ronggo Lawe.
Peristiwa yang mengerikan itu diisaksikan oleh sepasang mata.
Sepasang mata dari Ki Lembu Sora yang menonton dari dekat.
Dan dua pasang mata yang menonton agak jauh sambil bersembunyi di antara rumpun alang-alang di tepai sungai.
Melihat betapa keponakannya menderita siksaan seperti itu, tidak tahanlah hati Lembu Sora dan dia cepat berloncatan ke atas batu-batu kali, mendekati tempat pertandingan itu dengan keris di tangan.
"Cressss".!!"
Kerisnya menembus belikat Kebo Anabrang, sampai ke dada.
Kebo Anabrang terbelalak, sempat menenggok dan memandang Lembu Sora dengan wajah penuh keheranan, kemudian terkulai dan tewas, tubuhnya semampir di atas batu kali, tangannya masih mencekik leher Ronggo Lawe yang ternyata juga telah tewas!
Melihat ini, Lembu Sora cepat menggunakan kepandaiannya untuk meloncat pergi meninggalkan tempat itu.
Dilihat sepintas lalu, kelihatannya dua orang senopati gemblengan itu mati sampyuh, karena Ronggo Lawe yang mati itu masih memegang kerisnya.
Pada saat itu, dua pasang mata yang menonton pertandingan tadi terbelalak dan seorang di antara pemilik mata itu menjerit.
Ternyata mereka adalah Sri Winarti dan adiknya, Sulastri.
Ketika kakak beradik ini mendengar akan pertempuran antara pasukan Tuban yang dipimpin oleh Adipati Ronggo Lawe melawan pasukan Mojopahit, mereka terkejut dan menjadi ketakutan.
Apalagi ketika dusun Gendangan, yang terlanda perang, ditinggalkan semua penduduknya yang lari mengungsi, sri Winarti dan adiknya, Sulastri, menjadi binggung dan akhirnya mereka mencari tempat persembunyian di dekat sungai, di dalam rumpun alang-alang yang amat dikenalnya itu.
Akan tetapi betapa kaget hati mereka katika mendapatkan kenyataan bahwa justruh tempat itu di jadikan medan yuda!
Mereka terus saja besembunyi sambil menahan napas karena peperangan itu terjadi dekat sekali dengan tempat mereka bersembunyi.
Bahkan dari tempat mereka bersembunyi itu, Sri Winarti dengan mata terbelalak ikut menonton pertandingan yang amat hebat dan mengerikan antara pria yang dicintainya, dijunjung dan dipuja-pujanya, yaitu Adipati Ronggo Lawe melawan Kebo Anabrang!
Dapat dibayangkan betapa tegang dan gelisah rasa hati gadis ini yang beberapa kali hampir menjerit kalau saja dia tidak dirangkul adiknya dan didekap mulutnya.
Akan tetapi, ketika melihat betapa pria yang dipuja-pujanya itu tewas mandi darah dan tergolek bersama lawannya di atas batu, lawan yang dilihatnya terbunuh seorang senopati tua yang telah lari, Sri Winarti tidak dapat menahan kehancuran hatinya.
Dia menjerit, bangkit dan lari menghampiri, meninggalkan Sulastri yang masih bersembunyi dan memandang dengan mata terbelalak ketakutan.
"Gusti".Gusti adipati".Kakangmas pujaan hamba".!"
Sri Winarti berlari-lari, meloncat dari batu ke batu, kadang-kadang tergelincir dan bangun lagi, sampai akhirnya dia berenang menghampiri batu di mana menggeletak mayat Kebo Anabrang yang masih mengempit mayat ronggo Lawe.Melihat orang yang dicintainya itu rebah dikempit leh lengan kuat Kebo Anabrang, matanya setengah terbuka dan bibirnya setengah tersenyum, Sri Winarti menjerit dan menubruk.
"Aduh"..kakangmas".Adipati Ronggo Lawe".!! "
Dia menangis menjerit-jerit dan mengguncang-guncang bahu Ronggo Lawe, kemudian dengan beringas dia melhat keris pusaka Kolonadah yang masih terpegang oleh tangan kanan mayat Ronggo Lawe.
Diambilnya keris itu dan dengan mata terbelalak penuh kemarahan ditusuknya lambung Kebo Anabrang dengan penuh kebencian.
"Keparat! Berani engkau membunuh kekasihku, pujaanku".? Nih, mempuslah kau!"
Keris pusaka itu menusuk lambung Kebo Anabrang, akan tetapi tentu saja tidak terasa lagi oleh badan yang sudah tak bernyawa itu.
"Kakangmas adipati ".Ah, kakangmas ".hamba".hamba ikut".!"
Dengan beringas Sri Winarti lalu menggunakan keris Kolonadah, ditusukkan ke arah dadanya sendiri, menancap di ulu hatinya sampai ke gagangnya.
"Huuuukkk".kakangmas".!"
Dia menubruk, merangkul dan mencium muka Ronggo Lawe, lalu terkulai lemas menindih tubuh pris yang dicintanya itu.
Darah menetes-netes dari dadanya, di antara buah dadanya yang membusung itu, membasahi dada Ronggo Lawe.
Sepasang mata kecil Sulastri terbelalak tak pernah berkedip menyaksikan semua peristiwa itu yang mengakibatkan kakaknya membunuh diri.
Kemudian dia melihat dua orang laki-laki berloncatan menghampiri tempat itu.
Usia mereka tiga puluh tahun lebih, berpakaian perwira Mojopahit, yang seorang bertubuh jangkung dengan mata agak menjuling, dan orang ke dua kurus kecil dengan bibir tebal dan matanya liar tajam.
Mereka berloncatan dengan gerakan yang sigap gesit ke tempat itu, kemudian mereka saling bicara perlahan, namun cukup keras untuk dapat terdengar oleh Sulastri, anak yang masih bersembunyi di dalam alang-alang itu.
"Wah, kakang Reksosura! Kau liha? Senopati Kobo Anabrang tewas pula !"
Kata yang kurus berbibir tebal dan mukanya bundar itu.
"Jelas, adi Darumuko! Keris pusaka Senopati Lembu Sora tadi menusuknya, lihat itu, sampai tembus ke dadanya. Lembi Sora berlaku khianat!"
Jawab yang bertubuh jangkung.
"Sssshhhh".Mari kita laporkan kepada gusti Resi Mahapati"."
Kata pula yang kurus kecil.
"Dan gadis ini?"
Si Jangkung memandang.
"Hemm, tentu dia ini selir luaran dari Ronggo Lawe. Lihat, sampai mati pun dia masih mencium bibir sang adipati. Wahhh, aku jadi iri, adi Darumuko. Dia begini denok dan mulus". lihat dadanya tuh!"
"Hushhh, kakang, mari kita pergi!"
Kata yang kecil kurus, lalu dia meloncat pergi.
Si Jangkung yang bernama Reksosuro itu meludah, lalu kakinya menendang ke arah pinggul mayat Sri Winarti sehingga mayat gadis itu terguling dan terjatuh ke air, terbawa oleh arus air sungai Tambakberas dengan keris Kolonadah masih menancap di ulu hatinya.
Kemudian si jangkung meludah lagi dan berlompatan mengikuti temannya, lalu lenyap dari pandangan mata.Tidak ada orang lain melihat peristiwa terakhir ini kecuali sepasang mata Sulastri.
Sepasang mata yang menyinarkan kekerasan dan ketika ada dua tetes air mata meloncat ke luar, cepat diusap dengan tangannya dan bibirnya berbisik-bisik.
"Reksosura". Darumuko".Mahapati".!"
Ketika membisikkan nama-nama ini matanya menyinarkan api dendam.
Sementara itu, dengan suara menguntur Lembu Sora berteriak memberitahukan Lembu Sora tentang kematian Ronggo Lawe kepada mereka yang masih berperang dan memerintahkan agar perlawanan orang-orang Tuban dihentikan.
Semua orang terkejut mendengar bahwa Adipati Ronggo Lawe gugur, perlawanan dihentikan dan semua orang mengerumuni tepi Sungai Tambakberas di mana masih mengeletak mayat Kebo Anabrang yang dikabarkan "mati sampyuh"
Dengan Ronggo Lawe.
Sang Prabu sendiri berkenan mendatangi tempat itu dan melihat keadaan dua orang senopatinya yang dikasihinya itu, sang prabu memejamkan mata, lalu membuang muka dan memerintahkan untuk mengangkut jenazah dua orang senopati itu ke Mojopahit agar memperoleh pemakaman yang terhormat sebagai pahlawan-pahlawan Mojopahit.
Kemudian sang prabu mendahului pulang ke Mojopahit, dikawal psukan pengawal istimewa.
Selesailah pemberontakan Ronggo Lawe, dan selesai pula peperangan yang memakan waktu singkat dan segera dapat dipadamkan berkat kebijaksanaan Sang Prabu Kertarajasa Jayawardhana itu, yang menggunakan siasat mengepung dan menewaskan Ronggo Lawe untuk memadamkan pemberontakan.
Semua anak buahnya menakluk, bahkan dalam kesempatan ini Panewu Progodigdoyo dapat mencari muka, melaporkan kepada atasan di Mojopahit bahwa dia telah bersusah payah mencegah kehendak mendiang Ronggo Lawe agar jangan memberontak.
Karena memang Progodigdoyo pandai bermuka-muka dan apalagi diam-diam dia mengadakan hubungan dengan Resi Mahapati, oleh sang prabu dia diberi kepercayaan untuk sementara mengatur dan mengamankan Tuban sebagai pejabat adipati!
Sementara itu, setelah mendengar akan kematian Ronggo Lawe, ayah adipati itu, Aryo Adikoro atau Aryo Wirorojo, dengan hati penuh duka menyampaikan berita ini kepada kedua orang mantunya.
Akan tetapi betapa heran hatinya melihat dua orang mantunya ini menyambutnya dengan rambut terurai dan pakaian serba putih seolah-olah mereka telah tahu akan kematian suami mereka!
Dengan hati terharu, aryo Wirorojo mengajak dua orang mantunya dan cucunya, Kuda Anjampiani, juga besannya, ayah dari Mertaraga, untuk pergi ke Mojopahit, langsung menuju ke pura Mojopahit di mana disimpan jenazah Ronggo Lawe.
Dua orang isteri Ronggo Lawe berlari-larian memasuki kamar mati dan menubruk jenazah suaminya, menangis dengan sedih, kemudian, disaksikan oleh dua orang tua yang hanya bisa berlinang air mata, yaitu Aryo Wirorojo dan Ki Ageng Palandongan ayah Mertaraga, dua orang isteri yang amat mencintanya, yang setia dan sudah bersumpah sehidup semati dengan Ronggo Lawe, melakukan bela pati dengan jalan membunuh diri dengan keris yang ditusukkan ke arah jantung sendiri.
Kebiasaan yang amat menyedihkan dan mengharukan ini memang berlaku di jaman itu, kebiasaan yang merupakan tradisi dan isteri yang melaksanakan tradisi ini dipuji-puji sebagai isteri yang setia!
Sungguh menyendihkan betapa isteri yang setia!
Sungguh menyedihkan betapa manusia tunduk terhadap segala macam kebiasaan yang kolot dan totol.
Oleh karena itu, tiada gunanya kiranya diceritakan peristiwa yang amat mengerikan, menyedihkan dan juga membayangkan kebodohan manusia yang semenjak jaman dahulu dampai sekarangpun secara membuta menyesuaikan dirinya dengan segala macam bentuk tradisi dan kebiasan yang berbau ketahyulan.
Manusia memang selalu merupakan mahluk lemah, yang sudah kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri, menggantungkan hidupnya kepada kebiasaan dan pendapat umum tanpa memperdulikan apakah itu benar ataulah keliru.
Kita merasa ngeri untuk membuka mata melihat kebodohan-kebodohan dihan yang telah menjadi kebiasaan kita, bahkan segan untuk melepaskan kebiasaan-kebiasaan yang bodoh itu.
Betapa lemahnya kita dan kenyataan ini sungguh amat menyedihkan!
Setelah menghadiri upacara pembakaran jenazah Ronggo Lawe dan kedua isterinya yang melakukan bela pati, dengan hati berat Aryo Wirorojo bersama Ki Ageng Palandongan membawa Kuda Anjampiani yang masih kecil dan belum tahu apa-apa itu kembali ke Tuban.
Dari sang parbu sendiri sampai para senopati dan ponggawa kerajaan menyaksikan upacara penghormatan terhadap jenazah dua orang senopati yang sudah banyak jasanya terhadap Mojopahit itu, dan sang prabu sendiri berkenan menyatakan duka citanya, atas banyaknya korban yang tewas di dalam peperangan itu, terutama karena kematian dua orang senopati itu.
Akan tetapi, tidak ada seorang pun yang mengetahui akan peristiwa yang terjadi di malam berikutnya setelah Ronggo Lawe tewas di medan yuda.
Malam itu amat sunyi di tempat bekas peperangan itu.
Terutama di kedua tepi sungai Tambakberas amatlah sunyinya.
Tidak ada mayat yang nampak karena telah diangkut oleh para prajurit kedua fihak, akan tetapi tempat itu masih berbau amis oleh darah yang banyak tertumpah, dan keadaan amat menyeraamkan.
Tidak seorang pun manusia berani mendekati tempat yang dua hari yang lalu dijadikan pembantaian antara sesama manusia itu.
Akan tetapi menjelang tengah malam, terdengar suara anak kecil yang mengeluh dan merintih, menyebut-nyebut nama Sri Winarti!
Kalau ada orang mendengar suara ini, tentu dia akan lari tunggang langgang, mengira bahwa ada roh gentayangan atau iblis berkeliaran di tempat yang menyeramkan itu.
Akan tetapi sesungguhnya tidak ada roh gentayangan atau iblis berkeliaran di Sungai Tambakberas itu.
Yang ada hanyalah seorang anak perempuan kecil, yaitu Sulastri, adik dari Sri Winarti, gadis cantik yang membela pati di sungai itu ketika melihat pria yang dicintainya Ronggo Lawe, telah tewas di atas batu kali.
Anak ini tidak berani muncul dan tetap bersembunyi di dalam rumpun alang-alang sampai semua prajurit pergi membawa mereka yang tewas dan terluka di dalam peperangan itu.
Setelah semua orang pergi dan hal ini baru selesai sampai hampir tengah malam, dan keadaan amat sunyi, barulah dia berani ke luar dari rerumpun ilalang itu sambil memanggil-manggil nama kakaknya, yaitu Sri Winarti.
"Mbakyu Sri Winarti".! Mbakayu".kenapa kautinggalkan aku seorang diri".? "Dia berjalan perlahan menuju ke hilir di mana mayat gadis itu masih tersangkut di sebuah batu besar, terlentang dengan wajahnya yang cantik itu kelihatan putih sekali tertimpa sinar bulan, dan gagang sebatang keris yang menancap di ulu hatinya kelihatan! Sulastri memang sudah tahu bahwa kakaknya telah meninggal dunia, bahkan dia telah melihat sendiri dari tempat persembunyiannya betapa kakaknya dengan marah memasuki lambung mayat lawan Ronggo Lawe, kemudian menggunakan keris itu untuk menusuk dadanya sendiri. Dia melihat betapa mayat kakaknya ditendang dan diludahi oleh orang tinggi bermata juling bernama Reksosuro! Kini dia menghampiri mayat kakaknya itu, sejenak memandang mayat yang disinari bulan purnama itu dan berkali-kali mengeluh.
"Mbakyu Narti ".kau telah mati".dan aku bagaimana, mbakayu?"
Dengan susah payah anak itu lalu mengangkat setengah menyeret mayat kakaknya itu ke tepi sengai.
Kemudian, setelah meletakkan mayat itu di tepi sungai dalam keadaan terlentang, mulailah anak itu menggali sebuah lubang di dalam hutan di tepi sungai itu.
Memang luar biasa sekali anak ini.
Sejak kecil sudah ditinggalkan mati keluaraganya dan hanya hidup berdua dengan kakaknya.
Kehidupan yang serba sukar dan keras membentuk wataknya menjadi keras, dan seakan-akan telah terkuras air matanya sehinggakini menghadapi kematian kakaknya, satu-satunya orang yang digantunginya, biarpun dia bersambat, mengeluh dan merintih, namun matanya tidak mengalirkan air mata!
Kini dia menggali tanah, menggunakan golok dan tombak yang ditemukan berserakan di tempat itu sebagai bekas senjata perang yang ditinggalakan para prajurit dan tentu saja amat sukarlah bagi seorang anak kecil seperti dia untuk menggali sebuah lubang kuburan yang cukup besar hanya menggunakan golok dan tombak!
Akan tetapi, anak ini tidak pernah mengeluh, terus bekerja sampai setengah malam suntuk dan setelah malam berganti pagi, barulah selesai dia menggali lubang yang cukup besar!
Dia lalu berlutut di depan mayat kakaknya, membersihkan tanah dari mukanya, memandang kakaknya sampai lama dengan pandang mata mesra.
"Kau cantik, mbakayu, kau cantik manis sekali. Adipati Ronggo Lawe tentu senang melihatmu."
Dia membungkuk dan mencium pipi kakaknya, kemudian dia memetik beberapa tangkai bunga mawar dan menancapkan tangkai itu di rambut kakaknya yang terurai, di atas kedua telinganya.
Lalu dia mengangkat lagi setengah menyeret mayat itu, dimasukkan ke dalam lubang.
Untung ketika dia melepaskan mayat itu, mayat jatuh seperti di atur, terlentang di dalam lubang.
Kemudian dia berlutut lagi di dekat lubang, memandangi wajah kakaknya dan mulutnya berbisik-bisik.
"Mbakayu narti". engkau mati membela Adipati Ronggo Lawe, guruku. Guruku mati oleh Kebo Anabrang, akan tetapi musuhnya itu pun sudah tewas oleh Senopati Lembu Sora. Tidak ada lagi yang dibuat penasaran kecuali". Kecuali tiga orang itu! Reksosuro dan Darumuko yang menghinamu, dan orang yang menjadi majikan mereka, Resi Mahapti. Kelak kalau aku sudah besar, aku akan mencari mereka, mbakayu dan akan kubalaskan penghinaan mereka atas mayatmu."
Dia memegang kalungnya dan mempermainkan benda itu. Benda itu adalah sebuah Kundolo (cincin telinga) bermata mirah, pemberian Ronggo Lawe kepada Sulastri yang mengaku sebagai murid adipati itu.
"aku akan memperlajari kedigdayaan, aku harus sakti seperti sang adipati agar tidak ada orang berani menghinaku seperti mereka menghinamu, mbakayu."
Sampai lama anak itu berbisik-bisik mengajak kakaknya bercakap-cakap, kemudian dia mengaruk mayat di dalam lubang itu sampai tanah yang digalinya itu semua menimbun lubang, merupakan gundukan tanah yang cukup tinggi.
Kemudian dia berdiri, memandang ke sekeliling untuk mengukir pemandangan tempat itu di dalam ingatannya agar dia tak akan melupakan tempat dia mengubur mayat kakaknya itu, kemudian dengan tubuh lemah, lelah dan lapar, sulastri meninggalkan tempat itu menuju ke dusunnya, yaitu dusun Gedangan.
Akan tetapi baru saja dia tiba di luar dusun itu, masih menyusuri Sungai Tambakberas, dari jauh dia melihat empat orang laki-laki yang agaknya sedang berselisih dan bicara keras.
Ketika dia mengenal bahwa dua di antara mereka adalah Reksosuro dan Darumuko, jantungnya berdebar keras dan timbul keinginannya untuk mendekati tempat itu.
Dua orang itu adalah musuh-musuhnya, orang-orang yang telah menghina mayat kakaknya, maka dia harus tahu apa yang mereka lakukan dan apa yang mereka bicarakan dengan dua orang lain yang kelihatannya marah-marah itu.
Sulastri lalu menyusup-nyusup di antara semak-semak di sepanjang sungai, maju mendekat sampai dia dapat mengintai dan mendengar apa yang mereka bicarakan.
Kini jelas bahwa dua orang itu benar adalah dua orang yang menghina mayat kakaknya, dan mereka kini mengenakan pakaian perwira Mojopahit yang gagah dan mewah, dengan keris yang sarungnya terhias emas dan gagang kerisnya terhias beberapa buah mata intan gemerlapan.
Namun keindahan pakaian mereka itu tidak mengurangi kebencian hati Sulastri terhdap dua orang itu, yang wajahnya telah terukir di dalam ingatannya, dua wajah yang baginya merupakan wajah yang seburuk-buruknya!
Dia memperhatikan dua orang yang berhadapan dengan dua orang perwira Mojopahit itu.
Mereka itu adalah dua orang laki-laki yang usianya sudah empat puluh tahunan, berpakaian biasa seperti petani-petani miskin, namun dari kulit mereka yang bersih dan sikap mereka mudah diduga bahwa petani-petani saja, bukan petani-petani tulen.
"Heh, keparat, tidak perlu kalian membohong lagi!"
Bentak perwira kurus kecil bermuka bundar berbibir tebal yang sudah dikenal namanya oleh Sulastri, yang itu namanya Darumuko.
"aku sudah tahu bahwa kalian adalah orang-orang kepercayaan mendiang Ronggo Lawe! Hanya katakan kepada kami di mana adanya bocah itu? Kalian memang sengaja di utus oleh mendiang atasanmu itu untuk melindunginya, bukan?"
"Tidak, tidak".Kami tidak tahu!"
Jawab seorang di antara kedua orang itu.
"Keparat!"
Kini Reksosuro yang membentak dan menghampiri dengan sikap mengancam.
"Kalian ini pengecut-pengecut Tuban masih hendak berlagak keras kepala?"
Berkata demikian, Reksosuro mengayun tangannya menempiling kepada seorang di antara mereka yang berkumis pendek.
"Wuuuttt".Plakk!"
Orang itu menangkis dengan gerakan yang cukup cepat dan tangkas.
"Aeh"aeh"pengecut-pengecut Tuban berani melawan perwira-perwira Mojopahit, ya?"
Reksosuro mendelik marah. Orang ke dua yang matanya lebar, balas mendelik.
"Kalian ini hanya berpakaian perwira-perwira Mojopahit akan tetapi kelakukan kalian tiada bedanya dengan penjahat-penjahat tak mengenal aturan!"
Bentaknya marah dan mengepal tinjunya.
"Kami memang orang-orang Tuban dan kami sama sekali bukanlah pengecut-pengecut! Kami tahu pula bahwa para perwira Mojopahit adalah orang-orang gagah, bukan seperti kalian manusia-manusia sombong yang banyak tingkah!"
"Eitttt"! Berani menghina lagi, ya?"
Darumuko berteriak.
"Kakang Rekso, habisi saja mereka ini, tunggu apa lagi?"
Reksosuro dan Darumuko lalu menerjang maju, menghantam kepalan tangan mereka kepada si mata lebar dan si kumis pendek.
Mereka itu memang benar adalah bekas-bekas orang kepercayaan Ronggo Lawe, tentu saja mereka pun bukan orang sembarangan dan dengan sigap mereka mengelak, menangkis dan balas menyerang.
Siapakah adanya dua orang kepercayaan Ronggo Lawe yang menyamar sebagai petani itu dan apakah maksud kedatangan mereka menyamar sebagai petani ke dusun Gendangan?
Dan apa pula kehendak Reksosuro dan Dharumuka berada di tempat itu?
Dua orang kepercayaan Ronggo Lawe itu sebetulnya diutus oleh Aryo Wirorojo untuk memenuhi pesan terakhir Ronggo Lawe.
Di samping meninggalkan pesan kepada ayahnya bahwa andaikata dia gugur di medan yuda agar ayahnya itu suka merawat dan mendidik Kuda Anjampiani, yaitu cucunya, juga Ronggo Lawe minta tolong kepada ayahnya agar ayahnya suka mencari dua orang gadis yatim piatu bernama Sri Winarti dan Sulastri yang tinggal di dusun Gendangan.
"Mereka itu sudah tidak mempunyai sanak keluarga, ayah,"
Demikian pesan Ronggo Lawe.
"Sri Winarti itu amat baik dan adiknya, Sulastri itu telah mengaku guru kepada saya. Oleh karena itu sudah sepatutnya kalau ayah manarik mereka ke Tuban dan ayah mengatur kehidupan mereka agar mereka tidak terlantar. Demikian, dua orang itu lalu di utus oleh Aryo Wirorojo untuk mencari Sri Winarti dan Sulastri di dusun Gendangan, dan karena di dusun itu mereka mendengar bahwa sejak terjadi perang, dua orang anak perempuan itu tidak berada di Gendangan, maka mereka lalu mencari di sepanjang Sungai Tambakberas. Ada pun Reksosuro dan Darumuko yang telah melihat perbuatan Lembu Sora membunuh Kebo Anabrang dan melaporkan hal itu kepada Resi Mahapati, menerima pujian dari sang resi dan menerima banyak hadiah karena hal itu merupakan berita yang amat dan amat baik bagi Sang Resi Mahapati yang mempunyai cita-cita besar. Dengan adanya berita itu, seorang di antara para senopati yang ditakuti dan berpengaruh, yaitu Lembu Sora, telah berada di dalam genggaman tangannya. Akan tetapi ketika dua orang pembantunya itu menceritakan tentang gadis yang membela pati terhadap Ronggo Lawe, resi itu menjadi marah.
"Betapa bodohnya kalian! Kenapa kalian tidak mengambil keris pusaka yang dipakai membunuh diri gadis itu? Itulah konon adalah pusaka Ronggo Lawe yang ampuh sekali, buatan Empu Supamandrangi. Hayo kalian cepat mencari mayat gadis itu dan mengambil kerisnya!"
Demikian, dua orang pembantu Resi Mahapati itu bergegas pergi ke sungai Tambakberas, akan tetapi mereka tidak melihat mayat gadis cantik itu di sungai dan tidak ada bekas-bekasnya.
Mereka tidak tahu bahwa mayat itu telah dibawa ke tepi sungai dan dikubur oleh Sulastri, maka mereka lalu berangkat ke dusun Gendangan dan disitu atas penyelidikan mereka, mereka mengetahui bahwa gadis itu bernama Sri Winarti dan mempunyai seorang adik bernama Sulastri, bahwa mereka dahulu pernah ditolong oleh Ronggo Lawe!
Iranglah hati mereka dan mereka lalu berusaha mencari Sulastri, namun tidak berhasil menemukan gadis cilik itu.
Pada waktu itu, kepala dusun Gendangan yang menyambut dua orang perwira ini dengan penuh kehormatan dan keramahan, yang ingin menjilat para pembesar dari Mojopahit ini, diam-diam lalu melaporkan Ronggo Lawe yang juga mencari-cari dua orang wanita itu!
Reksosuro dan Darumuko cepat melakukan pengejaran dan mereka saling bertemu di luar dusun Gendangan, di tepi Sungai Tambakberas dan terjadilah pertengkaran itu.
Mereka sama sekali tidak tahu bahwa mereka jadikan bahan perebutan, si gadis cilik Sulastri, berada di dalam semak-semak mengintai dan menonton perkelahian mereka.
Sulastri yang menonton perkelahian itu, tentu saja diam-diam berfihak kepada dua orang Tuban itu.
Melihat betapa dua orang Tuban itu pun pandai bersilat dan memiliki ketangkasan, hatinya menjadi gembira dan tanpa disadarinya lagi dia keluar dari dalam semak-semak, bahkan lalu berteriak-teriak.
"Hantam anjing-anjing Mojopahit itu, paman! Jangan takut, culeg (tusuk) mata yang juling itu! Robek bibir yang tebal itu!"
Mendengar ini, empat orang itu terkejut dan untuk sesaat mereka berloncatan mundur dan memandang ke arah Sulastri.
Melihat anak perempuan ini, seketika timbul dugaan didalam hati Reksosuro dan Darumuko.
Darumuko yang bermata liar tajam itu cepat sekali bertanya.
"Apakah engkau yang bernama Sulastri adik Sri Winarti?"
"Mereka itu sudah tidak mempunyai sanak keluarga, ayah,"
Demikian pesan Ronggo Lawe.
"Sri Winarti itu amat baik dan adiknya, Sulastri itu telah mengaku guru kepada saya. Oleh karena itu sudah sepatutnya kalau ayah manarik mereka ke Tuban dan ayah mengatur kehidupan mereka agar mereka tidak terlantar. Demikian, dua orang itu lalu di utus oleh Aryo Wirorojo untuk mencari Sri Winarti dan Sulastri di dusun Gendangan, dan karena di dusun itu mereka mendengar bahwa sejak terjadi perang, dua orang anak perempuan itu tidak berada di Gendangan, maka mereka lalu mencari di sepanjang Sungai Tambakberas. Ada pun Reksosuro dan Darumuko yang telah melihat perbuatan Lembu Sora membunuh Kebo Anabrang dan melaporkan hal itu kepada Resi Mahapati, menerima pujian dari sang resi dan menerima banyak hadiah karena hal itu merupakan berita yang amat dan amat baik bagi Sang Resi Mahapati yang mempunyai cita-cita besar. Dengan adanya berita itu, seorang di antara para senopati yang ditakuti dan berpengaruh, yaitu Lembu Sora, telah berada di dalam genggaman tangannya. Akan tetapi ketika dua orang pembantunya itu menceritakan tentang gadis yang membela pati terhadap Ronggo Lawe, resi itu menjadi marah.
"Betapa bodohnya kalian! Kenapa kalian tidak mengambil keris pusaka yang dipakai membunuh diri gadis itu? Itulah konon adalah pusaka Ronggo Lawe yang ampuh sekali, buatan Empu Supamandrangi. Hayo kalian cepat mencari mayat gadis itu dan mengambil kerisnya !"
Demikian, dua orang pembantu Resi Mahapati itu bergegas pergi ke sungai Tambakberas, akan tetapi mereka tidak melihat mayat gadis cantik itu di sungai dan tidak ada bekas-bekasnya.
Mereka tidak tahu bahwa mayat itu telah dibawa ke tepi sungai dan dikubur oleh Sulastri, maka mereka lalu berangkat ke dusun Gendangan dan disitu atas penyelidikan mereka, mereka mengetahui bahwa gadis itu bernama Sri Winarti dan mempunyai seorang adik bernama Sulastri, bahwa mereka dahulu pernah ditolong oleh Ronggo Lawe!
Iranglah hati mereka dan mereka lalu berusaha mencari Sulastri, namun tidak berhasil menemukan gadis cilik itu.
Pada waktu itu, kepala dusun Gendangan yang menyambut dua orang perwira ini dengan penuh kehormatan dan keramahan, yang ingin menjilat para pembesar dari Mojopahit ini, diam-diam lalu melaporkan Ronggo Lawe yang juga mencari-cari dua orang wanita itu!
Reksosuro dan Darumuko cepat melakukan pengejaran dan mereka saling bertemu di luar dusun Gendangan, di tepi Sungai Tambakberas dan terjadilah pertengkaran itu.
Mereka sama sekali tidak tahu bahwa mereka jadikan bahan perebutan, si gadis cilik Sulastri, berada di dalam semak-semak mengintai dan menonton perkelahian mereka.
Sulastri yang menonton perkelahian itu, tentu saja diam-diam berfihak kepada dua orang Tuban itu.
Melihat betapa dua orang Tuban itu pun pandai bersilat dan memiliki ketangkasan, hatinya menjadi gembira dan tanpa disadarinya lagi dia keluar dari dalam semak-semak, bahkan lalu berteriak-teriak.
"Hantam anjing-anjing Mojopahit itu, paman! Jangan takut, culeg (tusuk) mata yang juling itu! Robek bibir yang tebal itu!"
Mendengar ini, empat orang itu terkejut dan untuk sesaat mereka berloncatan mundur dan memandang ke arah Sulastri.
Melihat anak perempuan ini, seketika timbul dugaan didalam hati Reksosuro dan Darumuko.
Darumuko yang bermata liar tajam itu cepat sekali bertanya.
"Apakah engkau yang bernama Sulastri adik Sri Winarti?"
Dua orang pembantu Ronggo Lawe berkedip memberi isyarat agar Sulastri jangan mengaku, akan tetapi gadis cilik ini adalah seorang anak yang memiliki bakat kekerasan hati dan ketabahan luar biasa, maka sambil cemberut dia menjawab.
"Ya, kalian ingat baik-baik yang kelak akan menghancurkan kepala kalian berdua!"
"Sulastri, larilah dari sini! Cepat".!"
Tiba-tiba orang yang berkumis pendek itu berseru dengan wajah penuh kekhawatiran.
Dia dan temannya sudah melompat dan menghadang di depan Reksosuro dan Darumuko.
Dua orang perwira Mojopahit ini terbelalak girang dan mereka menerjang seperti dua ekor harimau buas, kini dengan keris di tangan.
Dua orang ponggawa Tuban itu mencoba untuk menghindar, akan tetapi karena tingkat kepandaian mereka memang kalah tinggi dan kini dua orang perwira Mojopahit itu menggunakan keris dan menyerang untuk membunuh, mereka terhuyung dan lengan mereka berdarah karena terpaksa mereka tadi menangkis.
"Ihhh".!"
Sulastri berteriak kaget, lalu anak ini mengambil batu dan menyambit-nyambitkan batu ke arah Reksosuro dan Darumuko!
Akan tetapi tentu saja sambitan anak itu sama sekali tidak dihiraukan, karena selain banyak menyeleweng, juga kalau mengenai tubuh mereka yang sudah kebal terlatih tentu tidak akan terasa.
Mereka kini menubruk lagi dan dalam beberapa gebrakan saja mereka roboh mandi darah, berkelonjotan dan tewas karena dada mereka tertembus keris lawan.
"Ha-ha-ha, tidak berapa ketangguhan orang Tuban!"
Reksosuro bersumbar dengan bangga dan sombongnya.
"Heh-heh, manis juga bocah ini, sayang masih metah!"
Darumuko yang bermata liar dan tajam itu menghampiri Sulastri.
Anak itu berdiri tegak, matanya terbelalak memandang ke arah dua orang ponggawa Tuban yang telah tewas itu, kemudian dia memandang kepada dua orang itu dengan sinar mata penuh kebencian.
"Kalian manusia-manusia jahat seperti iblis!"
Dia memaki.
"Ha-ha-ha, coba lebih tua empat tahun lagi saya".Hemm, tentu lebih mulus daripada kakaknya dahulu!"
Reksosuro juga berkelakar dan sekali meloncat dia sudah berdiri di belakang Sulastri. Akan tetapi gadis ini makin marah dan memandang kepada dua orang itu yang telah mengurungnya.
"Pergi! Pergi kalian! Aku benci kepada kalian!"
Teriaknya marah.
"Ha-ha-ha, bocah ayu! Engkau tentu tahu di mana adanya mayat mbakayumu"."
"Dan keris itu"."
Darumuko menyambung.
"Ssssttt".!"
Reksosuro menegur temannya yang dianggapnya lancang bicara tentang keris.
Dan memang benarlah dia, temannya itu terlalu lancang mulut.
Andaikata dia tidak menyebut-nyebut tentang keris, agaknya Sulastri yang jujur itu akan mengaku bahwa dia telah mengubur jenazah mbakayunya.
Akan tetapi, begitu Darumuko menyebut keris itu teringatlah Sulsatri akan keris yang menancap di ulu hati mbakayunya.
Keris pusaka milik Ronggo Lawe.
Anak in memiliki kecerdikan luar biasa, maka mengertilah dia bahwa dua orang ini tentu mencari keris itu, maka dia lalu menegakkan kepalanya.
"Aku tidak tahu!!"
Akan tetapi Reksosuro dan Darumuko juga bukan orang-orang bodoh.
Sama sekali tidak.
Biar pun mereka itu kasar dan kejam, namun sebagai pembantu-pembantu yang dipercaya oleh Resi Mahapati yang bercita-cita besar, mereka selain memiliki ilmu silat yang kuat, juga memiliki kecerdikan.
Melihat sikap sulastri ketika menjawab, begitu ketus dan keras, mereka menduga bahwa anak ini tentu tahu lebih banyak.
"Hemm, hayo katakan, di mana mayat mbakayumu?"
Reksosuro sudah mengancam dan melangkah maju mendekati.
"Tidak tahu!"
"Plakkk!"
Pipi Sulastri ditampar oleh Reksosuro sehingga anak itu terpelanting.
Pipi yang halus itu menjadi bengkak kemerahan, rasa nyeri menggigit-gigit, kepalanya terasa penig, akan tetapi, Sulastri bangkit berdiri dan memandang dengan mata melotot kepada Reksosuro, sama sekali tidak menangis, tidak mengaduh, dan sedikit pun tidak takut.
Dua orang itu saling pandang dan merasa kaget dan heran juga.
Selama hidup belum pernah mereka berhadapan dengan seorang anak kecil, perempuan lagi, yang sedemikian keras dan tabah sikapnya, sungguh amat luar biasa.
"Eh, manis, katakanlah baik-baik, di mana mayat mbakayumu. Nanti kami beri hadiah uang perak. Kalau tidak, engkau akan kami siksa sampai mati!"
"Persetan! Aku tidak tahu dan tidak takut!"
"Anak setan!"
Darumuko marah sekali dan kaki kirinya bergerak.
"Desss".!!"
Tendangannya mengenai pinggul anak itu, membuat tubuh anak itu terlempar sampai tiga tombak dan terbanting ke atas tanah, terguling-guling sampai jauh akhirnya terhenti karena menabrak batang pohon.
"Wah, jangan-jangan kau membunuhnya!"
Reksosuro menegur temananya dan cepat mereka berdua lari mengampiri anak itu.
Kembali mereka tertegun.
Anak itu sama sekali tidak mati, bahkan pingsan pun tidak.
Tubuhnya babak-bundas, barut-barut dan berdarah, akan tetapi sama sekali anak itu tidak mengeluh, bahkan kini bangkit susuk, memegangi kepalanya yang berdarah dengan tangan kiri kanannya yang lecet dan matanya mendelik dengan penuh kebencian kepada dua orang itu.
Akan tetapi sama sekali tidak menangis, dan tidak takut!
Dua orang perwira Majapahit itu merasa serem.
"Eh, kakang Reksosuro, manusia atau ibliskah anak ini?"
Reksosuro juga penasaran.
"Manusia atau iblis, kita harus memaksakan membuka mulut!"
Dan dia sudah mencabut kerisnya sambil menghampiri Sulastri.
Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 6
Baca Juga: Pedang Kayu Harum 8