Eps 2 Kemelut Di Majapahit - Kho Ping Hoo
Baca online Kemelut Di Majapahit - Kho Ping Hoo
Cersil Kemelut Di Majapahit - Kho Ping Hoo.
"Bocah setan, kau masih juga membandel? Apa kau tidak takut melihat keris pusakaku ini? Ini adalah Kyai Bandot, mengandung bisa ular, sekali kerat saja kulitmu akan melepuh dan bengkak-bengkak!"
Sulastri berjebi, bahkan meludah ke arah muka bermata juling yang didekatkan kepadanya.
"Cuhhhh!! Crottt".. !"
Air ludah itu tepat mengenal tengah di antara matanya yang juling sehingga mata itu makin menjuling memandang air ludah yang menempel di atas hidung. Lalu dia membanting kaki.
"Setan alas, kau minta disiksa!"
Reksosuro menubruk, kerisnya digerakkan untuk meyayat lengan anak itu dan untuk menyiksa dan memaksanya mengaku.
"Plak!"
Reksosuro terhuyung ke belakang memandang kepada seorang kakek yang pakaiannya serba hitam, juga ikat kepalanya hitam, mukanya tertutup brewok dan cambang bauk yang lebat, menyeramkan sekali apa lagi matanya besar dan ketika itu memandang penuh kemarahan.
Kakek itu muncul dari balik batang pohon dan tadi menggunakan kakinya menendang sehingga Reksosuro terhuyung ke belakang dan sayatan kerisnya ke arah lengan Sulastri luput.
"Manusia-manusia tak bermalu, menggangu seorang kanan-kanan!"
Kakek itu membentak dengan suara yang dalam.
Reksosuro dan Darumuko mengenal kakek ini dan mereka saling pandang, akan tetapi mengingat bahwa kakek ini adalah angota keluarga Tuban yang telah baru saja dikalahkan, dan mengingat bahwa mereka adalah abdi-abdi terkasih dari Resi Mahapati, Reksosuro mengangkat dada dan berkata.
"ah, kiranya paman Ki Ageng Palandongan yang datang!"
Ki Ageng Palandongan, kakek itu, adalah ayah dari mendiang Mertaraga, isteri pertama dari (Lanjut ke
Jilid 04) Kemelut Di Majapahit (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 04 mendiang Ronggo Lawe. Dia seorang yang sederhana dan tidak suka pangkat, hidup seperti petani di pedusunan setengah pertapa, maka dia tidak mengenal dua orang ini.
"Andika adalah dua orang perwira Mojopahit yang diutus oleh sang prabu untuk menangkap anak ini!"
Darumuko yang cerdik itu mendahului temannya. Ki ageng Palandongan mengerutkan alisnya yang tebal.
"Mustahil kiranya kalau sang prabu mengutus kalian menangkap seorang anak kecil. Aku lihat tadi kalian hendak menganiaya dia dan pergilah andika berdua dari sini, jangan membuat ribut di sini."
Reksosuro bertolak pinggang dan membetak.
"Paman Ki Ageng Palandongan! Ucapan apakah ini? Kami melakukan tugas kali, dan paman berani menghalagi kami?"
"Persetan dengan kalian!"
Kakek itu membentak marah.
"Kalau begitu paman hendak memberontak pula!"
Reksosuro membentak.
"Keparat bermulut lancang!"
Ki Ageng Palandongan marah, kakinya terayun dan untuk kedua kalinya Reksosuro terhuyung.
Dia dan temannya cepat mencabut keris dan menyerang kakek itu.
Akan tetapi, Ki Ageng Palandongan yang usianya sudah enam puluh tahun lebih itu adalah bekas jagoan yang berilmu tinggi, maka biar pun dua orang lawannya memegang keris dan dia sendiri bertangan kosong, akan tetapi dengan mudah dia menghindarkan diri dari semua serangan, kemudian secepat kilat dia membagi-bagi tamparan sehingga Reksosuro dan Darumuko gelayaran.
Kakek itu menyusulkan dua kali tendangan dengan kakinya yang besar dan kuat seperti mengaduh-aduh, terlempar dan jatuh terguling.
"Tahan, paman Palandongan".!!"
Tiba-tiba terdengar suara orang dan muncullah Panewu Progodigdoyo!"
Eh, eh, saya lihat dua orang ini adalah pamong Mojopahit! Betulkah kalian ini"."
"Maaf sang panewu yang mulia, memang kami berdua adalah perwira-perwira Mojopahit yang mengemban tugas gusti sinuwun untuk menangkap anak perempuan ini. Akan tetapi paman Ki Ageng Palandongan menentang kami."
Panewu Progodigdoyo yang kini untuk sementara menjabat kepala di Tuban itu, menoleh ke arah Sulastri, kemudian memandang Ki Ageng Palandongan dan bertanya dengan sikap hormat namun penuh teguran.
"Benarkah, paman? benarkah paman Palandongan menentang utusan Sang Prabu Mojopahit?"
Karena kini bekas pembantu utama mantunya itu telah menjadi kepala, maka Ki Ageng Palandongan menyabarkan hatinya, lalu dia berdehem dan menjawab, suaranya dalam dan lantang.
"Benar, akan tetapi sebetulnya paman tidak menentang siapa pun juga, nak panewu. Karena melihat mereka berdua ini bersikap kasar dan menganiayanya seorang bocah, maka paman turun tangan melarang mereka."
"Ah, paman. Mengapa paman tidak bersabar? Baju saja Tuban diberi pengampunan oleh gusti sinuwun, bagaimana paman sekarang berani menentang dua orang utusan beliau? Bukankah hal itu akan mendatangkan kesan buruk sekali? Eh"., kisanak, saudara-saudara perwira yang gagah. Harap kalian maafkan atas kesalah pahaman ini, ya? Dan lupakan urusan ini, jangan terdengar oleh sang prabu."
Reksosuro dan Darumuko yang sebetulnya sudah mengenal baik Progodigdoyo itu mengangguk dan Reksosuro berkata.
"Tidak mengapalah. Kami akan kembali ke Mojopahit, membawa bocah ini!"
Reksosuro menggerakkan tangannya dan sebelum Sulastri dapat lari, anak itu telah dipengang kedua lengannya dengan satu tangan. Sulastri meronta-ronta, menendang-nendang.
"Lepaskan! Monyet juling! Lepaskan aku! Dan dia hendak menggunakan giginya untuk mengigit tangan yang memegangi kedua lengannya, akan tetapi Reksosuro menutir lengan itu dan kini memegangi kedua lengan anak yang ditarik ke belakang tubuhnya sehingga anak kecil iti tidak mampu berkutik lagi.
"Nanti dulu"."
Ki Ageng Palandongan berkata marah menyaksikan peristiwa ini.
"Mau diapakan anak itu? Mustahil kalau gusti sinuwun mengutus kalian menangkap seorang bocah".."
"Paman Palandongan, bukanlah semua rakyat adalah kawula (hamba sahaya dari Mojopahit) Lebih baik kita sebagai pamong yang setia tidak mencampuri urusan ini dan menyerahkannya kepada kebijaksanaan gusti sinuwun. Eh, kisanak, kalian pergilah dan bawa anak itu, hanya kuminta agar kalian tidak berlaku kasar terhadap anak itu di sini!"
Ucapan Progodigdoyo ini membuat Ki Ageng Palandongan tak dapat membantah lagi, dan dua orang itupun mengerti akan apa yang dimaksudkan oleh mereka itu, maka Reksosuro lalu mengangkat dan memondong Sulastri, biar pun masih memegangi kedua lengannya, dan dengan sikap halus berkata.
"Marilah, anak manis, jangan takut dan jangan melawan. Gusti sinuwun memanggil, manis."
Maka pergilah mereka, diikuti oleh pandang mata kedua orang itu, Progodigdoyo tersenyum akan tetapi Ki Ageng Palandongan mendelik menahan kemarahan.
Reksosuro dan Darumuko melanjutkan perjalanan dan reksosuro masih terus memondong Sulastri sampai mereka menyeberangi Sungai Tambakberas.
Setelah mereka tiba di daerah sendiri, yaitu daerah Mojopahit, Reksosuro melemparkan tubuh anak itu ke atas tanah.
"Bruukkkk!!"
Sulastri yang setengah dibanting itu menyeringai kesakitan, akan tetapi tidak mengaduh.
"Sialan! Hayo kau sekarang mengaku di mana kau sembunyikan mayat mbakayumu itu!"
Bentaknya sambil menuding telunjuknya ke arah muka Sulastri. Sulastri kini tidak mau menjawab lagi, malah membuang muka dengan sikap amenghina sekali.
"Heh-heh, kakang Rekso, bagaimana kalau dia kutelanjangi dan kupermainkan dulu? Biar pun masih kecil setelah kutundukkan agaknya dia baru akan mau jinak! Ha-ha-ha!"
"Hah, kau rakus sekali, adi Darumuko! Masa anak sekecil ini, dia tentu akan mampus tak kuat menahan, dan kita akan mendapat marah sang resi!"
Tukas Reksosuro.
"Kalau begitu, biar kucambuki dia agar mengaku!"
Darumuko lalu mematahkan sebatang ranting pohon kemlandingan di tepi jalan.
Ranting kemlandingan adalah ranting yang ulet dan lemas Sambil terkekeh si bibir tebal ini merantasi daun-daun kemlandingan yang kecil-kecil itu sehingga berhamburan ke bawah.
"Ha-ha, bocah bandel. Apakah engkau masih juga tidak mau mengaku? Ataukah harus kupaksa dengan ini?"
Dia menamang-amangkan cambuk ranting mlandingan itu.
Akan tetapi Sulastri bukanlah seorang anak kecil biasa.
Jangankan baru diancam ranting kemlandingan, biar diancam tombak atau keris sekali pun, dia tidak akan merasa gentar.
Sudah terlalu banyak orang-orang yang dicintanya mati di depan matanya, maka kematian bukanlah apa-apa bagi anak ini, bahkan berarti dia menyusul orang-orang yang dicintanya.
Juga dia sudah mengalami banyak hal-hal ngeri.
Sudah melampaui batas puncak kengerian sehingga dia kini tidak mengenal kengerian lagi, bahkan tidak takut apa-apa lagi!
Maka ancaman Darumuko itu malah membuatnya tersenyum mengejek.
"Anjing bibir tebal, engkau pantasnya memang memegang cambuk menggembala kerbau!"
Makinya. Muka Darumuko menjadi merah padam matanya yang liar tajam itu melotot dan bibirnya yang tebal karena cemberut, cuping hidungnya kembang kempis seperti hidung kerbau mencium bahaya.
"Bangsat, anak setan, kau pingin mampus, ya?"
Dengan marah sekali mulailah dia menggerakkan ranting kemlandingan itu, diayun sekuatnya dan bertubi-tubi ranting kemlandingan itu menimpa tubuh anak kecil itu.
"Siuuuuuttt".. prat!! Siuuuuttt". pratt-pratt-pratt!!"
Dihajar bertubi-tubi oleh cambukan ranting itu, Sulastri menyeringai dan bergulingan seperti seekor cacing terkena abu panas.
Hampir saja dia mengeluh, maka cepat dia menggigit bibirnya kuat-kuat dan terus bergulingan, kedua tangannya meraba sana-sini di bagian tubuhnya yang terkena cambukan untuk mengusir rasa panas dan perih yang menggerogoti kulit-kulit tubuhnya.
Akan tetapi sedikit pun dia tidak mengaduh, bahkan kelihatan darah dari kanan kiri mulutnya, yaitu darah dari bibir bawahnya yang robek tergigit ketika dia menahan sakit.
"Cepratt-cepratt-pratt-pratt".!"
Darumuko terus mencambuki tanpa pilih tempat sehingga yang terkena cambuk adalah seluruh tubuh Sulastri dari kaki sampai kepala.
Cambuk ranting kemlandingan yang ulet dan lemas itu mengigiti kulitnya, tidak sampai merobek kulit akan tetapi meninggalkan bekas merah kebiruan.
"Hayo mengaku kau, sundal kecil, hayo mengaku kau, keparat! Prat-prat-prat!"
Akan tetapi jangankan mengaku, mengeluh satu kali pun tidak dan anak itu hanya terus bergulingan dan menggeliat-geliat, makin lama makin lemah sampai akhirnya dia tidak berkutik lagi, rebah miring dan sama sekali tidak bergerak ketika cambuk ranting kemlandingan itu masih terus menimpa tubuhnya.
"Setop! Setop! Adi Darumuko, apa kau sudah gila? Apa kau hendak membunuhnya?"
Reksosuro berseru dan menahan lengan temannya yang masih terus mencambuki.
"Keparat"! Sedikit pun dia tidak minta ampun, tidak mengeluh. Menantang dia, keparat! Biar kucambuk dia sampai mampus!"
Darumuko terengah-engah dan keringatnya bercucuran.
"Hussh, bodoh! Sekarang kau boleh mencambuki sampai dia mampus, akan tetapi kelak kau yang akan dicambuki oleh sang resi sampao robek-robek semua kulitmu!"
Mendengar ini, Darumuko terkejut dan baru sadar. Dia memandang cambuk ranting itu, lalu membuangnya dan cepat dia menunduk dan berlutut.
"Wah, apa dia mampus?"
Reksosuro juga berlutut, memeriksa Sulastri.
"Tidak, dia masih bernapas, hanya pingsan saja."
"Dia keras kepala, anak luar biasa sekali dia, seperti setan. Bagaimana baiknya sekarang, kakang Reksosuro?"
"Sebaiknya kita bawa saja dia pulang dan kita serahkan kepada sang resi. Beliau tentu mempunyai daya upaya untuk membuka mulut anak ini. Dan karena kau yang mencambukinya sampai dia tidak bisa berjalan dan pingsan, kau pula yang harus memondongnya sampai ke gedung sang resi, Adi Darumuko."
"wah-wah sialan"!"
Darumuko mengomel, akan tetapi karena merasa bersalah, terpaksa dia memondong anak itu, disampirkan di pundaknya dengan kaki di depan dan kepala di belakang, merangkul kedua paha anak itu dan berangkatlah dua orang ini melanjutkan perjalanan mereka ke Mojopahit.
Hari telah menjelang senja ketika mereka harus melewati sebuah hutan yang cukup lebat.
"Wah, kakang Reksosuro, kita akan melewati hutan ini dan malam sudah hampir tiba."
Darumuko mengomel dan memandang khawatir juga.
"Uwaahh, masa kau takut? Malam ini terang bulan."
"Tapi hutan ini terkenal banyak orang jahat dan setannya""
"Huh, siapa berani merampok setelah baru saja terjadi perang itu? Kita kan perwira-perwira Mojopahit? Kalau ada perampok berani muncul, aku malah akan merampas semua miliknya, huh, aku Reksosuro adalah sahabat-sahabat setan!"
"Hushh! Bicaramu kok begitu?"
Darumuko menegur, merasa serem.
"Ha-ha, mengapa tidak? Apakah percuma saja setiap Selasa dan malam Jumat biniku membakar kemenyan sekepal besarnya dan menghindangkan kembang setaman? Percayalah, setan-setan tidak akan mengganggu kita, malah akan melindungi. Mereka semua sudah jinak kepadaku."
Biar pun ucapan Reksosuro itu sungguh-sungguh dan kelihatan meyakinkan, namun tetap saja meremang bulu tengkuk Darumuko ketika mereka memasuki hutan yang gelap itu.
Si muka bulat bibir tebal ini memang seorang pemberani dan kejam, tidak pernah takut bertempur melawan siapa pun juga.
Hanya dia mempunyai satu kelemahan yaitu amat takut terhadap setan yang belum pernah dilihatnya, takut dan ngeri sehingga setiap malam Jumat di rumahnya, kalau dia pada waktu malam terpaksa oleh kebutuhan badan harus ke kamar mandi untuk buang air kecil atau besar, dia selalu menggugah bininya untuk minta diantar!
Andaikata ada lima orang maling mengganggu rumahnya, Darumuko tentu akan meloncat dan membawa tombaknya, siap menghadapi lima orang maling itu.
Akan tetapi begitu mendengar tentang setan, atau diingatkan akan setan, dia menggigil dan cepat berkerudung selimut minta didekap bininya seperti anak kecil minta dilindungi!
Malam itu cuaca memang terang karena bulan purnama tidak terhalang mendung.
Hawa udara dingin menyusup tulang, apa lagi di tengah-tengah hutan itu, karena banyaknya pohon-pohon yang lebat daunnya menambah dinginnya hawa, seolah-olah di sekeliling tempat itu, di kanan kiri depan belakang dan atas, terdapat air dingin yang mengurung.
"Ihhh, dinginnya"! Apa kita tidak berhenti dulu, kakang?"
Darumuko menggigil dan suaranya gemetar, entah oleh dingin saja atau juga oleh hal lain, karena jelas mukanya membayangkan ketakutan dan kengerian.
"Nanti kita berhenti di dekat belik (sumber air) sana sambil minum,"
Jawab Reksosuro.
"Ihhhh"
Terdengar suara dari mulut Darumuko, seperti orang kedinginan.
"Kau kenapa, adi?"
"Di"
Dingin"!"
"Sikapmu seperti orang takut! Hati-hati, anak itu agaknya sudah siuman."
"Ti"
Tidak takut". hanya dingin". hhiiii!"
"Ada apa?"
"Ssssttt, kakang"."
Darumuko memegang lengan temannya. Matanya terbelalak memandang ke depan.
"Kau lihat tadi"?"
"Uhh, melihat apa?"
Reksosuro membelalakkan mata, mencari-cari akan tetapi tidak melihat sesuatu yang aneh.
"Aku melihat bayangan orang""
"Hemm, kalau bayangan orang saja mengapa takut? Orang pun kita tidak takut! Pula, siapa ada orang di malam-malam begini dan tempat seperti ini? Mungkin bayangan setan yang kau lihat."
Reksosuro berkelakar, akan tetapi kelakar ini malah membuat Darumuko makin menggigil seperti orang terkena penyakit demam.
"Huh, penakut. Hayo!"
Reksosuro menarik tangan temannya dan melanjutkan perjalanan.
"Nguuuuukkk"!"
Darumuko melonjak kaget.
"Ihhh"!"
"Hemm, itu hanya suara lutung."
Reksosuro mencela temannya yang penakut itu. Mereka berjalan terus, suasana sunyi sekali, membuat Darumuko merasa tengkuknya tebal.
"Huuuuukkkk-huk-hukkk!"
"Hiii"!!"
Darumuko hampir saja melepaskan tubuh kecil yang dipondongnya saking kagetnya dan dia memegang lengan Reksosuro dengan jari-jari menggigil.
"Apa"
Apa itu.. kakang?"
"Aah, penakut benar kau, adi. Itu hanya suara burung hantu! Kulu-kulu-hu-hu-huuukk!"
Reksosuro menirukan suara burung hantu itu sambil tertawa. Darumuko menjadi malu pada diri sendiri, akan tetapi dia membela diri.
"Ah, tentu saja kau lebih tabah, kakang. Dahulu engkau sudah biasa berkeliaran di dalam hutan sebagai perampok."
"Hushh! Jangan gali-gali riwayat lama, kawan. Kini aku perwira Mojopahit, tahu?"
"Maaf, kakang Reksosuro."
Mereka berjalan lagi dan Darumuko memandang cemas ke depan.
Dari jauh sudah nampak sebatang pohon beringin yang besar sekali sehingga keadaan di sekeliling pohon raksasa itu menyeramkan karena bawahnya gelap dan mereka agaknya akan lewat di bawah pohon beringin itu.
Reksosuro agaknya mengerti akan keseraman hati temannya.
Temannya yang selalu ketakutan itu membuat hatinya menjadi tidak enak juga, maka dia berkata.
"Adi Darumuko, jangan takut. Takut akan setan sesungguhnya hanyalah permainan pikiran sendiri yang membayangkan hal yang bukan-bukan."
"Baik, kakang aku akan berusaha agar tidak takut."
Mereka kini tiba di bawah pohon.
"Lepaskan aku"! Kalian manusia-manusia jahat dan keji! Lepaskan aku!"
Tiba-tiba Sulastri yang kini sudah siuman betiul itu meronta lemah dalam pondongan Darumuko.
"Diam kau, bocah setan. Atau". kucekik kau nanti!"
Darumuko membentak.
"Heh-heh, diamlah, manis. Nanti kau akan diberi hadiah yang enak-enak oleh sang resi."
Reksosuro juga membujuk dengan suara mengejek.
Mereka kini tiba di bawah pohon beringin yang agak gelap, suram muram.
Tiba-tiba tubuh Darumuko terhuyung roboh, Sulastri yang tadinya dipondong terlepas dari pondongannya.
"Aduhh"
Kakang". tolong".. ssseee"
Ssseeetan".!"
Darumuko merintih dan telunjuknya menuding kearah batang pohon beringin.
"Apa"? Heii"
Aduhhhh".!"
Kini Reksosuro juga terhuyung ke depan dan terjelengup.
Kedua tangannya dapat menahan tanah sehingga mukanya tidak sampai bertemu dengan tanah seperti halnya Darumuko.
Akan tetapi dia kaget sekali karena tahu bahwa jatuhnya bukan sembarangan, melainkan dijegal orang!
Cepat dia meloncat berdiri dan membalikkan tubuh ke arah batang pohon beringin yang amat besar itu.
"Tolong kakang". ada setan"!"
Kembali Darumuko merintih dan berusaha untuk bangkit akan tetapi dia mendekam kembali sambil menendang dengan tubuh gemetar ke arah bayangan hitam yang bersandar pohon beringin itu.
"Huh, adi, bangunlah! Setan apa? Dia seorang manusia yang sudah bosan hidup, berani mengganggu kita!"
Kata Reksosuro.
Mendengar ucapan ini, seketika timbul semangat Darumuko dan lenyaplah rasa takut dan ngerinya tadi.
Sungguh tadi dia menyangka bahwa bayangan hitam yang bersandar pada batang pohon beringin itu adalah setan yang mengganggunya.
Akan tetapi kini mendengar ucapan temannya, dia menjadi marah sekali.
"Apa? Manusia"?"
Dia lalu meloncat berdiri dan mendekati temannya yang sudah melangkah maju.
Setelah rasa takutnya hilang, kini Darumuko dapat melihat bahwa memang bayangan hitam yang bersandar di batang pohon beringin itu adalah seorang manusia.
Keadaanya tidaklah segelap ketika dia ketakutan tadi.
Sinar bulan purnama masih menerangi tempat itu.
Kini dia melihat jelas seorang kakek yang pakaiannya serba hitam duduk bersandar batang pohon sambil melenggut, kakinya yang panjang dilonjorkan di depan tubuhnya.
Sulastri yang tadi terlepas dari pondongannya, kini sudah lari ke dekat orang tua yang tertidur itu, agaknya minta perlindungan kakek itu.
Sejenak dua orang perwira Mojopahit pembantu Resi Mahapati itu mengira bahwa lagi-lagi Ki Ageng Palandongan yang menghadang mereka, karena orang itu pun sudah tua dan di dalam cuaca yang suram muram itu pakaiannya seperti hitam.
Akan tetapi setelah mereka memandang penuh perhatian, mereka terkejut, terheran dan marah bukan main.
Orang itu hanyalah jembel!
Seorang pengemis tua!
Seorang jembel pengemis yang pakaiannya hanya merupakan gombal-gombalan saking kotornya sehingga kelihatan hitam, rambutnya gimbal panjang terurai dan tak pernah dicuci sehingga ruwet dan kotor, kumis dan jenggotnya menutupi bagian bawah mukanya.
Pakaiannya yang kotor itu hanya merupakan sebuah baju yang tidak ada kancingnya lagi, terbuka memperlihatkan dadanya yang penuh rambut, dan sebuah celana komprang (besar) sampai ke lutut, kemudian di pinggangnya dilibat kain yang kumal.
Dari tempat mereka berdiri pun, dalam jarak dua meter, sudah tercium bau apak, bau pakaian yang sering terkena keringat dan tak pernah dicuci.
Seorang jembel!
"Sialan!
Jembel busuk!"
Darumuko yang tadi ketakutan setengah mati, menjadi marah dan mendongkol sekali bahwa yang membuatnya ketakutan sampai celananya basah sedikit karena tadi dalam takutnya tanpa disadarinya lagi dia "ngompol", kini menjadi "berani"
Luar biasa dan ia menyepak paha orang tua itu! "Jembel tua bangka busuk! Berani kau menjegal kakiku?"
Kakinya menyepak.
"Plak!"
Dan tubuh orang itu terguncang, akan tetapi tetap saja dia masih tidur.
"He, kere tua mau mampus! Bangunlah!"
Reksosuro juga membentak, kakinya mencongkel sebuah batu sebesar kepalan tangan. Batu itu melayang kearah dahi kakek itu.
"Tukkk!"
Batu mengenai dahi dan menggelinding ke bawah. Akan tetapi tetap saja kakek itu tidak bangun! Melihat ini, Sulastri lalu mengguncang pundak orang tua itu dan berbisik di telinganya.
"Kakek, bangunlah. Dua orang jahat ini akan mencelakakan engkau dan aku. Bangunlah, kek!"
Kakek jembel itu membuka mata sedikit, dikejap-kejapkan dan menggeliat, kedua tangannya direntangkan ke depan dan terdengar suara berkerotokan pada punggungnya seolah-olah semua tulang punggungnya patah-patah.
Sulastri terkejut bukan main dan memandang dengan mata terbelalak.
Akan tetapi kakek itu tidak apa-apa, lalu membuka matanya dan memandang kepada dua orang yang berdiri di depannya, lalu menoleh kearah Sulastri, mulutnya yang tertutup kumis itu bergerak-gerak yang dapat diduga bahwa dia tersenyum!
Sejenak matanya memandangi tiga orang itu bergantian, kemudian terdengar ada suara keluar dari balik kumis brewok itu.
"Ela-dhalah.. demi segala setan demit iblis bekasakan yang menjaga hutan ini! Dari mana datangnya dua ekor serigala dan seekor anak harimau ini?"
Jelas bahwa kakek jembel itu menganggap dua orang perwira Mojopahit itu dua ekor serigala, dan Sulastri disebutnya anak harimau.
Itu merupakan hinaan yang amat hebat bagi Reksosuro dan Darumuko!
"Tua bangka bau busuk!
Kami adalah dua orang perwira Mojopahit, tahu?
Dan kau berani menganggap kamu serigala?
Berapa rangkap sih nyawamu maka kau berani berlancang mulut seperti ini?"
Bentak Reksosuro.
"Gebuk mampus saja sudah, kakang!"
Kata Darumuko. Kakek itu memandang kedua orang itu dan terkekeh dalam.
"Heh-heh, aku melihat orang bukan dari pakaian atau pangkatnya, melainkan dari sifat-sifatnya. Lihat anak perempuan ini, biar pun masih kecil dan perempuan, dia mempunyai sifat seperti seekor harimau, calon harimau betina yang ganas dan tangkas! Dan kalian.. hemm"
Kalian seperti serigala, licik dan hanya berani kalau sudah yakin menang, sebetulnya di dalamnya penakut.
Srigala hanya akan menyerang binatang lain yang lebih lemah, atau kalau menyerang yang kuat tentu dengan keroyokan.
Nah, itulah sifat kalian."
Tentu saja Reksosuro dan Darumuko menjadi marah bukan main.
Jembel tua itu terang-terangan, tanpa tedeng aling-aling, telah menghina mereka!
Seorang kere tua berani menghina mereka, dua orang perwira Mojopahit?
Sungguh sialan!
"Dan engkau adalah calon bangkai yang sudah membusuk!"
Darumuko memaki.
"Hayo katakan, apa perlumu menghadang kami dan menjegal kaki kami?"
"Wah, wah, siapa yang menjegal siapa? Tidak ada jegal-jegalan disini seperti yang terjadi di Mojopahit! Di sini hanya ada aku yang tidak membutuhkan apa-apa, perlu apa menjegal orang?"
"Kakek hina! Jelas kau tadi menjegal kami!"
Reksosuro juga membentak, agak hati-hati karena dia dapat menduga bahwa mendengar bicaranya, kakek jembel itu tentulah bukan sembarangan orang."Nah, nah fitnah-memfitnah sudah menjadi watak semua orang di Mojopahit!
Jangan dibawa-bawa ke sini, kisanak!
Tadi aku sedang tidur di sini, enak-enak mimpi bercengkerama dengan para iblis bekasakan yang berpesta pora di hutan ini, eh, tahu-tahu kalian menginjak-injak kakiku dan bilang bahwa aku menjegal kalian.
Mojopahit sekarangkah ini?"
Mendengar ucapan yang makin tidak karuan itu, Darumuko berkata.
"Kakang, dia tentu orang gila!"
Kakek itu cepat membantah.
"Nah, sudah biasa orang gila memaki orang lain gila!"
"Apa?"
Darmuko melotot.
"Kau memaki aku gila?"
"Bukan aku yang memaki, orang muda, melainkan engkau sendiri!"
"Kakek, dia itu memang orang ceriwis, suka memaki orang, lihat bibirnya sampai menjadi tebal karena terlalu sering memaki orang!"
Tiba-tiba Sulastri berkata, terbawa gembira oleh sikap kakek itu yang tabah dan seolah-olah menggoda dua orang itu.
"Ha-ha-ha-ha! Kau benar"
Ha-ha-ha! Bibirnya". ahhh, sampai menggandul begitu panjang. Aduh lucunya"!"
Kakek itu terbahak-bahak dan memegangi perutnya. Dapat dibayangkan betapa marahnya hati Darumuko. Selama hidupnya, belum pernah dia dihina orang seperti ini.
"Kere busuk, kuhancurkan isi perutmu!"
Sambil membentak demikian, dia menerjang maju dan mengayun kaki kanannya, menendang dengan pengerahan tenaga sepenuhnya kearah perut kakek itu yang masih tertawa dan perutnya kelihatan karena bajunya terbuka.
Perut yang agak gendut biar pun tubuhnya kurus itu tak terhindarkan lagi menerima tendangan kilat yang amat kuat.
"Bukkk!"
Sungguh aneh sekali.
Sulastri yang melihat dengan mata terbelalak mengkhawatirkan keselamatan kakek itu melihat betapa wajah Darumuko berobah, sedangkan kakek itu tetap saja masih tertawa.
Darumuko menyeringai, kemudian roboh terpelanting ke atas tanah dan menjerit-jerit, mengaduh-aduh memegangi perutnya.
"Aughh"
Waduh perutku"
Aduhhh, mulas sekali"
Aih, tak kuat aku..."
Dia menekan perutnya dengan kedua tangan, menggeliat-geliat seperti dalam sekarat, dan segera terdengar suara memberobot dan Darumuko cepat-cepat membuka tali kolor celananya dan melepaskan celana itu.
Tercium bau yang amat tidak sedap dan begitu dia mengerti apa yang terjadi dengan orang yang dibencinya itu, Sulastri membuang muka dan mengomel.
"Huh, manusia tak tahu malu!"
Kiranya Darumuko yang diserang perut mulas dan sakit tak tertahankan itu, tanpa dapat dicegahnya lagi telah terberak-berak disitu!
Diam-diam Sulastri kagum sekali dan anak yang cerdas ini mengerti bahwa kakek jembel itu adalah ternyata adalah seorang manusia sakti.
Dia duduk dekat kakek itu dan tadi dia melihat betapa ketika kakek itu ditendang perutnya, kakek itu tidak mengelak akan tetapi dia melihat tangan kiri kakek itu bergerak naik kearah perut orang yang menendangnya.
Tendangan yang amat hebat itu mengenai perut si kakek, akan tetapi kakek itu tetap tertawa dan sebaliknya Darumuko yang kena "diraba"
Perutnya itu sampai terberak-berak!
Melihat hal kawannya ini, tentu saja Reksosuro menjadi malu dan marah sekali.
Dia makin yakin bahwa kakek jembel ini tentu bukan orang smebarangan, maka dia lalu cepat mencabut kerisnya, keris pusaka yang dibangga-banggakan, yang dinamakan Kyai Bandot karena selalu dilumuri bisa ular Bandotan.
"Kere busuk, rasakan pusakaku Kyai Bandot ini!"
Reksosuro menerjang ke depan, menghunjamkan kerisnya yang panjang berluk sembilan itu kearah dada kakek yang telanjang. Kakek itu tertawa geli.
"Kyai Bandot? Ha-ha-ha"
Memang bandot tua tak tahu malu"!"
"Cuss"!"
Keris itu tepat mengenai dadanya, akan tetapi Reksosuro memekik kesakitan, kerisnya terlepas dan dia terhuyung mundur memegangi tangan kanan dengan tangan kirinya.
Tangan kanannya itu nyeri sekali dan sudah membengkak, agaknya salah urat, kiut-miut rasanya membuat Reksosuro menggigil dan peluhnya memenuhi mukanya, sebesar-besar jagung!
Dia menusukkan kerisnya ke dada orang, dan irang itu tidak mengelak tidak menangkis, akan tetapi tangannya sendiri malah keseleo (salah urat) dan bengkak-bengkak!
"Ha-ha-ha, Kyai Bandot tua"
Ha-ha"!"
Kakek jembel itu mengambil keris Kyai Bandot yang tadi terlepas dari pegangan pemiliknya.
Dadanya tidak luka sedikit pun juga, dan kini dengan jari-jari tangannya yang kurus kecil, dia menekuk-nekuk keris itu seolah-olah keris itu terbuat daripada tembaga atau timah lemas saja!
Pemiliknya yang masih mengaduh-aduh itu terbelalak melihat kerisnya yang terbuat daripada baja tulen itu ditekuk-tekuk seperti itu, kemudian dilemparkan ke atas tanah!
Sulastri tiba-tiba bangkit berdiri, mengambil keris yang sudah ditekuk-tekuk itu dan menghampiri dua orang yang masih merintih-rintih kesakitan.
"Sekarang kalian mampus""
Anak itu berkata dengan kemarahan yang ditahan-tahan.
"Heiii"
Pengecut".!"
Kakek itu berseru tangannya bergerak ke depan dan Sulastri terjungkal! Anak itu bangkit lagi, meraih keris, akan tetapi untuk ke dua kalinya dia terjungkal dan kini dia memandang ke arah kakek itu.
"Kau mau apa? Mau jadi pengecut? Huh, aku yang mengalahkan mereka, bukan kau, tahu? Kalau kau yang mengalahkan mereka, boleh saja kau mau melakukan apa yang kau suka!"
Sulastri menjadi merah mukanya. Dia dapat mengerti dan dia lalu mengangguk.
"Maaf, eyang!"
Sementara itu, Reksosuro mengerti bahwa dia berhadapan dengan orang yang sakti sekali. Cepat dia menyambar kerisnya dengan tangan kiri, kemudian dia berkata kepada temannya.
"Adi Darumuko"
Cepat"
Lari"!"
Dan dia mendahului sambil memegangi tangan kananya yang ketika dipakai lari dan bergerak, nyerinya bukan alang kepalang.
"Kakang.u.. tungguuuuu"!"
Darumuko cepat meloncat dan tergopoh-gopoh lari.
"Kakooaaang.. tungguuuu...!"
Kakek itu melihat tahi kotoran yang ditinggalkan Darumuko, mengendus jijik, lalu menggunakan sehelai daun mengambil kotoran itu dengan tangan kirinya dan dia berteriak kepada Darumuko.
"Heii"
Bibir tebal"
Ini milikmu ketinggalan!"
"Ehh? Milik apa"?"
Otomatis Darumuko menengok ke arah kakek itu dan pada saat itu sebuah benda menyambar ke arah mukanya. Dia berusaha mengelak namun kurang cepat.
"Plokk..!!"
Kotorannya sendiri mengenai muka, memasuki mulut dan hidungnya.
"Uaakkk"huekkk"kakooaanngg"hueekkk, tunggu""
Darumuko lari pontang-panting seperti dikejar setan, kadang-kadang muntah-muntah, mengejar kawannya, diikuti suara ketawa, kini terdengar dua suara ketawa, yaitu suara ketawa yang parau dan dalam dari kakek jembel dan suara ketawa nyaring tinggi dari Sulastri.
Baru sekarang terdengar suara ketawa anak itu.
Tak lama kemudian, tiba-tiba suara ketawa kakek itu berhenti.
Sulastri juga berhenti tertawa.
Anak itu masih duduk di atas tanah, dan kakek itu masih duduk bersandar batang pohon beringin seperti tadi.
Keduanya saling pandang sampai lama sekali, sinar mereka menembus kesuraman dan akhirnya kakek itu berkata.
"Matamu seperti mata harimau!"
"Dan matamu seperti mata setan!"
"Uhh!"
Kakek itu senang.
"Benarkah?"
"Benar, eyang menyeramkan, tajam berpengaruh dan aneh!"
"Hemm, eh siapa namamu?"
"Sulastri."
"Bagus! Nah, Sulastri, lekas kau angkat kaki dan pergi dari sini!"
Anak itu mengangkat muka, memandang kakek itu dan menggelengkan kepalanya, lalu menjawab, suaranya tegas.
"Tidak, aku tidak mau pergi, eyang."
"Heh, kenapa?"
"Karena aku mau turut eyang saja."
"Aku bukan eyangmu."
"Akan tetapi aku menganggapmu eyang guruku."
"Wah, eyang guru? Kau mengangkat aku menjadi guru?"
Sulastri mengangguk.
"Gila! Aku orang miskin dan bodoh, kau mau belajar apa dari orang macam aku?"
"Belajar ilmu kesaktian, eyang."
"Ilmu kesaktian? Ha-ha-ha, kau kira mudah?"
"Kesukaran apa pun akan kutempuh, dan semua perintah eyang akan kulakukan."
Kakek itu memandang dengan alis berkerut.
"Anak luar biasa kau ini. Siapa sih orang tuamu dan kenapa kau tadi dibawa mereka?"
"Aku sudah tidak mempunyai ayah bunda, sudah tidak mempunyai sanak keluarga. Aku seorang yatim piatu yang sebatangkara, eyang. Keluargaku menjadi korban orang-orang jahat itu. Untung ada eyang yang menolongku, dan aku ingin belajar kesaktian dari eyang agar kelak aku dapat membasmi orang-orang macam mereka tadi."
"Ha-ha-ha, mudah saja kaubicara. Sudah bangkitlah dan pergi!"
"Tidak, aku takkan mau pergi dan aku akan terus berlutut di sini sampai mati kalau eyang tidak mau menerimaku sebagai murid."
"Keras kepala kau!"
"Eyang juga!"
"Celaka, bertemu anak begini kurang ajar mau minta menjadi murid! Hendak kulihat sampai kapan kau kuat berlutut terus di sini."
Kakek itu lalu meraih sebuah bungkusan kain hitam dari balik batang pohon, kemudian dia pergi dari situ tanpa menoleh lagi.
Dapat dibayangkan betapa susah dan kecewannya hati Sulastri, akan tetapi anak ini maklum bahwa kalau kakek itu tidak mau membawanya, dia tentu akan jatuh ke tangan dua orang jahat tadi dan akan celaka.
Maka dia sudah nekad tidak mau pergi dari situ, dan biar pun kakek itu sudah pergi, dia tetap berlutut di situ, hatinya seperti ditusuk-tusuk, akan tetapi dia tidak menangis.
Udara malam makin dingin, dan tubuh sulastri yang tadinya mengalami siksaan masih sakit-sakit, perih dan panas rasanya seluruh tubuh, kepalanya masih pening, namun dia bertekad untuk berlutut di situ sampai mati.
Kedua kakinya kesemutan, akan tetapi dia tetap tidak bergerak sampai akhirnya rasa kesemutan itu lenyap lagi.
Dalam keadaan kelelahan, kelaparan dan kedinginan anak itu terus mendekam di situ sampai akhirnya, menjelang dia berada dalam keadaan setengah pingsan.!
Matahari pagi mulai mengusir embun dan hawa dingin.
Sulastri masih berlutut di tempat semula, menghadap pohon berdingin seolah-olah dia sedang memuja pohon raksasa itu.
Tubuhnya seperti beku, dan memang rasanya seperti hampir beku tubuhnya, begitu dingin dan kaku, dan lelah, dan lapar, dan pening.
Dia sudah tiga perempat bagian pingsan ketika tiba-tiba terdegar orang tertawa di balik pohon itu.
Kiranya kakek malam tadi tidak pernah pergi dari situ, hanya menyelinap ke balik pohon besar dan tidur di sebelah sana sehingga tidak kelihatan oleh Sulastri!
Dalam keadaan setengah pingsan itu, Sulastri mengangkat muka memandang.
Kini cuaca sudah terang dan dia melihat kakek itu dengan hati terkejut.
Kakek itu memang mirip setan!
Tubuhnya kurus, tinggal tulang-tulang terbungkus kulit akan tetapi perutnya agak gendut, dan tulang-tulangnya besar.
Rambutnya gimbal, ruwet dan kotor, panjang sampai kepinggang, dibelah tengah, matanya tajam bersinar-sinar dan bagian bawah mukanya tertutup brewok.
"Ha-ha-ha, kau ini bocah sungguh hebat. Kau lebih keras kepala daripada aku ketika aku masih sebesar engkau. Baiklah, aku kalah. Sulstri, kau boleh menjadi muridku""
"Terma kasih, eyang guru"!!"
Sulastri berseru girang, suaranya terhenti karena lehernya tercekik keharuan.
"Akan tetapi tidak demikian mudah! Engkau harus selalu menurut perintahku!"
"Aku berjanji, eyang."
"Nah, bangkitlah berdiri!"
Sukar sekali bagi Sulastri untuk bangkit berdiri.
Otot-ototnya berbunyi dan dia berdiri dengan susah payah, beberapa kali terjatuh lagi karena otot-ototnya terasa kaku.
Kakek itu hanya memandang saja acuh tak acuh, akan tetapi ketika untuk kesekian kalinya Sulastri jatuh lagi, dia menggerakkan tangannya dengan cepat, tahu-tahu Sulastri merasa ada tangan mengangkat di bawah kedua ketiaknya dan ada hawa yang amat hangat menjalar memasuki tubuhnya, mengusir semua kelakuan ototnya dan dia berdiri!
Kakek itu memaksa tubuh Sulastri dengan teliti, melihat kulit yang bilur-bilur bekas siksaan cambuk ranting kemlandingan.
"Wah, kau telah mendapat latihan yang baik sekali!"
"Latihan?"
Sulastri bertanya tidak mengerti, meniru kakek itu memandangi tubuhnya yang penuh jalur-jalur merah menghitam.
"Pecut ranting kemlandingan, ya?"
Barulah Sulastri mengerti dan dia mengangguk.
"Si bibir tebal itulah yang mencambuki tubuhnya dengan pecut ranting kemlandingan, eyang."
"Bagus!!"
Kau harus berterima kasih kepadanya!!"
Sulastri melirik ke arah kakek itu.
Celaka, pikirnya, mendapatkan guru seperti ini!
Memang benar sakti, akan tetapi di samping sakti juga agaknya miring otaknya!
Akan tetapi seorang bocah yang memiliki kecerdasan luar biasa, maka dia tidak memperlihatkan rasa mendongkolnya, bahkan dia lalu menjawab lancar.
"Memang, eyang guru. Saya amat berterima kasih kepadanya dan kelak akan saya perlihatkan terima kasih itu dengan balasan yang sama berikut bunga-bunganya. Saya akan membalas kebaikan si bibir tebal itu!"
Kakek itu tertawa, kemudian melemparkan bantalan hitam itu ke dekat kaki Sulastri.
"Kau lapar, ya?"
Sulstri mengangguk.
"Nah, tunggu apa lagi? Kau anak perempuan tentu bisa masak, kan?"
"Bisa, eyang."
"Bagus, lekas kau membuat api, masak air dan nasi. Semua perabot dan berasnya air terdapat di dalam bantalan itu. Lekas kau masak nasi, perutku sudah lapar, aku mau tidur dulu karena semalam engkau membuatku tidak bisa tidur. Awas, setelah aku bangun nanti, nasi dan wedang teh harus sudah tersedia!"
Setelah berkata demikian, kakek itu merebahkan tubuhnya di bawah pohon beringin itu dan sebentar kemudian dia sudah tidur mendengkur.
Sulastri membuka buntalan itu dan ternyata di dalam buntalan kain hitam itu terdapat perabot masak lengkap.
Juga terdapat beras, bumbu masak, garam, teh, minyak kelapa dan lain-lain!
Sulastri yang melihat kakek itu sudah tidur mendengkur, lalu membawa kwali dan pergi mencari air.
Untung bahwa tak jauh dari pohon itu terdapat sebuah belik yang airnya jernih.
Dia memenuhi kwali dengan air, kemudian menggodok air setelah membuat api unggun di bawah pohon itu.
Mudah saja baginya untuk membuat api karena di dalam buntalan itu terdapat batu api berikut alat pengoreknya dan banyak pula di tempat itu daun-daun kering dan ranting-ranting kering.
Sulastri adalah seorang anak yang sudah ditinggalkan orang tuanya dan hidup berdua dengan kakaknya, maka biar pun usianya belum genap sepuluh tahun, dia sudah biasa menggodok air dan menanak nasi.
Dengan cekatan dia membuat air teh, kemudian menanak beras di dalam kwali.
Hanya dia merasa binggung harus memasak apa?
di dalam hutan itu tidak terdapat sayur-mayur dan di dalam buntalan itu tidak terdapat ikan asin atau bahan masakan lain, kecuali hanya garam dan bumbu-bumbu.
Maka setelah dia menanak nasi, dia lalu mendekati kakek itu dan dengan suara lirih dia memanggil,"
Eyang", eyang guru", eyang", bangunlah sebentar, eyang."
Kakek itu menggulet dan menggerutu,"
Bocah bodoh. Nasi belum matang sudah membangunkan orang."
"Yang, wedang teh sudah kubikin, nasi pun sudah hampr matang. Akan tetapi apa yang harus kumasak untuk teman nasi?"
"Heh, bodoh. Kau lihat lubang-lubang cacing di sebelah kiri pohon. Hayo kau cari cacing sebanyaknya. Cari yang besar-besar saja, yang kecil jangan!"
Lalu kakek itu tidur lagi mendengkur.
Sulastri bengong.
Mau membangunkan lagi tidak berani, akan tetapi untuk apa dia harus mencari cacing?
Dia lalu teringat.
Ah, untuk apa kalau bukan untuk mancing ikan?
Agaknya di dekat hutan itu ada sungainya atau telinganya, dan nanti kakek itu akan mancing ikan, maka suruh mencarikan cacing sebanyaknya.
Akan tetapi kalau hanya untuk mancing saja mengapa banyak-banyak?
Betapa pun juga, dia teringat bahwa kakek itu telah memesan bahwa dia mau menerimanya sebagai murid kalau semua perintahnya ditaati.
Baik, dia akan mentaatinya.
Sambil menanti liwetannya masak, dia akan mencari cacing sebanyaknya.
Apa sih sukarnya mencari cacing?
Sulsatri lalu mencari cacing di sebelah kiri pohon.
Biar pun dia seorang anak perempuan, akan tetapi karena dusun Gendangan di mana dia tinggal adalah dusun dekat kali dan dia biasa pula memancing ikan, maka dia pun tidak asing mancing ikan.
Dia tidak merasa jijik ketika menggali dan mengumpulkan banyak sekali cacing-cacing besar yang panjangnya ada satu kilan (sejengkal) dan gemuk-gemuk, berkulit bersih hitam kemerahan.
Cacing kalung yang besar-besar.
Dia tahu bahwa untuk memancing ikan, sebaiknya kalau mendapatkan cacing ungker, yaitu sejenis cacing yang suka melingkar.
Akan tetapi, di tempat itu yang ada hanya cacing kalung yang panjang dan gemuk kemerahan.
Akhirnya nasi sudah matang.
Ketika dia membuka tutup wajah kwalinya, bau nasi masak yang sedap agaknya cukup untuk menggugah kakek itu yang segera mengulet dan menguap.
"Aahhhh"bau nasi sedap. Akan tetapi mana lauknya?"
"Lauk apa, eyang? Belum ada lauk apa-apa karena eyang keenakan tidur dan belum mancing ikan."
Jawaban ini membuat kakek itu seketika meloncat bangun.
"Memancing ikan? Siapa yang mau memancing ikan? Bodoh! Kau kusuruh mencari cacing tadi"mana?"
"Itu di sana, eyang, sudah dapat banyak. Tinggal membawa alat pancing dan pergi ke kali""Kakek itu membanting-banting kakinya, kelihatan gemas sekali.
"Wah, celaka tiga belas, dapat murid begini tolol! hayo lekas bersihkan cacing-cacing itu dan siapkan wajan dan minyak kelapa"
Sulastri melongo.
"Dicuci maksud eyang? Untuk memancing ikan mengapa cacing itu harus dicuci?"
"Wah-wah, benar-benar goblok! Lihat nih, begini kalau membersihkan lauk cacing!"
Mendengar kakek itu mengatakan "lauk cacing" , Sulastri bengong dan beberapa kali menelan ludah menahan kemuakan yang naik dari perutnya.
Lauk cacing?
Apa maksudnya?
Dia memandang kakek itu mengeluarkan beberapa ekor cacing gemuk.
"Wah, kau pandai juga. Cacing-cacing ini gemuk sekali"hemm, tentu lezat!"
Sulastri terbelalak memandang kakek itu menggunakan kuku-kuku jarinya untuk memotong sedikit bagian kepala dan ekor cacing-cacing itu, kemudian dari satu ujung dia memijit tubuh cacing itu, dipelurutnya sampai ke ujung yang lain dan keluarlah benda kehitam-hitaman seperti tanah dari dalam tubuh cacing itu.
"Nah, begini, pijit dan pelurutlah yang kuat akan tetapi jangan terlalu kuat agar tidak putus, keluarkan tanah dari dalamnya."
Sulstri mengangguk dan dengan perasaan jijik juga dia meniru perbuatan gurunya itu, memotong kepala dan ekor setiap cacing, memijit dan mengeluarkan isi tubuhnya yang seperti tanah dan ada sedikit darahnya.
Cacing-cacing itu mati dan tinggal seperti kulit panjang yang sudah tidak ada isinya lagi.
"Sekarang sediakan bumbunya, bawang, garam dan merica yang agak banyak! "kakek itu memerintah. Sulastri menurut dan menyediakan apa yang diminta gurunya.
"Nah, sekarang goreng! Jangan sampai gosong, akan tetapi juga yang kering agar kemripik!"
Kembali Sulstri menelan ludah. Gurunya ini benar-benar seorang gila. Masa cacing digoreng dan dimakan?"
Tapi eyang"cacing bukan makanan"menjijikan"! "Hush!"
Kakek itu mendelik dan matanya amat menakutkan, sebesar jengkol dan seperti mau meloncat keluar dari rongga mata, akan tetapi pandangnya tajam bukan main.
"Siapa bilang menjijikkan? Bangkai tetap bangkai, biar bangkai sapi, bangkai ayam atau bangkai cacing! Yang enak kan bumbunya! Bodoh, kau kira tidak enak goreng cacing? Kau belum pernah memakannya?"
Sulastri menggeleng kepala.
"Bodoh, kau masih harus banyak belajar. Hayo goreng, aku akan mencari lauk lainnya lagi!"
Terdengarlah bunyi srang-sreng-srang-sreng ketika Sulstri menggoreng cacing-cacing yang sudah diredam bumbu itu.
Dia memandang jijik melihat cacing-cacing itu agak mekar ketika terkena minyak panas, akan tetapi sungguh aneh, cacing-cacing yang digoreng itu mengeluarkan bau yang gurih!
Akan tetapi dia hampir berteriak saking jijik dan ngerinya ketika kakek itu datang dan kedua tangannya menggengam banyak sekali binatang kelabang dan luwing!
Sulastri agak takut melihat kelabang karena maklum bahwa binatang-binatang ini berbisa, dan sejak dulu dia memang jijik melihat luwing karena binatang ini memang menjijikan, kakinya banyak sekali dan selalu melingkar kalau disentuh!
"Itu"
Itu kelabang dan luwing juga di"
Dimakan eyang?"
"Wooohhh, ini paling enak, bodoh!"
Kakek itu berkata, membunuhi binatang-binatang itu dengan meremukkan kepalanya sekali tekan dengan kukunya, kemudian dia menggunakan air panas merendam bangkai-bangkai kelabang dan luwing itu.
Tak lama kemudian, dia menguliti bangkai binatang-binatang itu dan setelah terkena air panas, ternyata kulit kelabang dan luwing itu dapat dikupas dengan mudah dan tinggal hanyalah dagingnya yang putih kemerahan seperti daging udang.
"Nah, goreng juga ini!"
Katanya kepada Sulastri.
Anak itu menelan ludah menahan muak, lalu digorengnya daging kelabang dan luwing itu.
Dan kembali dia terheran-heran ketika mencium bau yang gurih lagi, seperti bau udang digoreng!
"Wah, hayo makan, Sulastri.
Mumpung masih panas-panas.
Hemm, itu di dalam bungkusan daun jati, masih ada beberapa butir lombok rawit, bawa sini!"
Kakek itu makan di layani oleh Sulastri. Akan tetapi anak itu hanya mengambil nasi saja, lalu mengambul sejumut garam untuk makan dengan garam saja.
"Eih, ini gorengannya, hayo dimakan!"
Sulastri menggeleng kepala.
"Ushhh, bodoh, hayo makan. Enak sekali ini!"
Kakek tidak mendesak.
"Aku"
Aku tidak doyan", eyang"
Biarlah aku makan dengan garam saja, dan itu"untuk eyang saja."
"Mana bisa begitu? Kau yang sudah payah menggoreng, masa aku saja yang makan? Dan kau makan dengan garam saja, mana enak? Hayo cobalah, engkau belum pernah makan ini, kan? Lihat, betapa lezatnya!"
Kakek itu mengambil seekor cacing goreng dan memakannya. Terdengar suara keremus-keremus seperti orang makan goreng usus ayam dan kakek itu kelihan menikmati makanan ini.
"Bukan main! Gorenganmu ternyata amat sedap! Bumbunya pas, gorengannya juga sedang. Kalau aku yang menggoreng, selalu gosong dan terlalu asin! Ha-ha, kata orang kalau masak terlalu asin tandanya kepingin kawin. Ha-ha! Nah, ini daging kelabang, menguatkan badan dan membuat kita tahan racun. Enak sekali dan ini"
Daging luwing banyak gajihnya. Hemm, sedap!"
Kakek itu kini makan dengan daging kelabang dan daging luwing, memang kelihatan enak daging kedua binatang ini, seperti daging udang yang sudah dibuang kulitnya, putih kemerahan dan baunya gurih bukan main.
Sulastri tidak berani menolak, takut kalau-kalau gurunya marah dan tersingung.
Dengan hati ngeri dia lalu mengambil seekor cacing goreng yang bengkak-bengkok itu, lalu dengan mata terpejam dia memasukkan ke mulutnya bersama nasi.
"Kriakkk..kriak""
Dan Sulastri membuka lebar matanya.
Ternyata enak!
Gurih sekali, seperti"hampir seperti kulit ayam goreng.
Gurih dan baunya pun sedap!
terus saja dimakannya cacing itu dan mendengar gurunya tertawa, dia memandang gurunya ikut pula tertawa.
"Nah, enak, kan?"
"Enak, eyang. Tak kusangka seenak ini goreng cacing!"
Sulastri mengambil seekor lagi dan mulai makan nasi dengan goreng cacing.
"Ah, coba kau makan goreng kelabang dan terutama goreng luwing itu, cobalah dan kau akan lebih terheran-heran lagi!"
Dengan agak memaksa diri Sulastri mengambil sepotong kelabang goreng dan memakannya.
Benar, saja!
Tiada ubahnya udang goreng!
Tanpa ragu-ragu lagi kini dia memakan sepotong luwing goreng dan mulutnya mengecap-ngecap.
Bukan main!
Seperti udang goreng tetapi lebih berminyak dan manis!
Maka lenyaplah rasa ragu dan muaknya dan anak itu makan dengan lahapnya dan durunya juga kelihatan girang, tertawa-tawa dan sebentar saja nasi dan semua gorengnya habis sama sekali!
Kakek itu mengelus perutnya yang agak gendut dan minum air teh panas.
"Cruupp! Ahhh, air tehnya pun sedap kalau kau yang membuat. Waduh untung sekali aku mempunyai murid seperti engkau, Sulastri. Sekarang kita ngomong-omong, akan tetapi harus mencari kutu. Kepalaku gatal bukan main!"
Sulastri berlutut di belakang gurunya yang kembali merebahkan dirinya, dan mulailah anak itu mencari kutu rambut di kepala kakek itu.
"Pantas saja kepalamu gatal-gatal, eyang. Habis kutunya banyak benar!"
Sebentar saja Sulastri sudah mendapatkan kutu rambut yang cukup besar.
"Ke sinikan!"
Kata kakek itu dan setelah muridnya meletakkan kutu itu ke atas telapak tangannya, dia lalu menggunakan lidahnya menjilat dan terdengar suara "Tess!"
Ketika kutu itu digigitnya!"
"Ihh, kau apakan kutu itu, eyang?"
"Aku balas gigit dia!"
Kurang ajar, habis-habis kulit kepalaku digigitnya!"
Sulastri geli hatinya. Gurunya ini orang aneh sekali. Akan tetapi kalau sampai kutu rambut digigit dan ditelan seperti itu, dia tidak akan menirunya.
"Sekarang kau ceritakan riwayatmu, Sulastri."
Anak itu lalu menceritakan riwayatnya dengan sejelasnya, bagaimana dia hidup berdua saja dengan kakaknya, kemudian betapa dia pernah ditolong oleh Adipati Ronggo Lawe kemudian betapa kakaknya membunuh diri membela pati karena cintanya kepada Ronggo Lawe.
Betapa dia ditangkap oleh dua orang perwira Mojopahit itu karena dipaksa untuk mengaku di mana dia menyembunyikan mayat kakaknya.
"Dan kau memang menyembunyikan mayatnya?"
Tanya kakek itu.
"Sudah kukuburkan mayat mbakayuku, eyang." (Lanjut ke
Jilid 05) Kemelut Di Majapahit (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 05
"Kenapa kau tidak memberi tahu mereka?"
"Mereka itu jahat. Aku khawatir mereka akan membongkar kuburan itu, maka aku tidak mau mengaku."
"Hemm, kau anak luar biasa.
"Kakek itu mengangguk dan tidak mau bertanya lebih lanjut lagi sehingga anak itu pun tidak mau bercerita tentang kundolo mirah yang tergantung di lehernya dan tetang keris pusaka yang sama-sama terkubur jenazah kakaknya.
"Dan siapakah nama eyang? Masa mempunyai guru tidak tahu namanya!"
"Aku? Ha-ha-ha, aku adalah Ki Jembros dan orang bahkan menyebutku Setan Jembros, ha-ha-ha!"
"Di manakah rumah eyang?"
"Rumahku? Rumahku di mana-mana, langit itu atapku, gunung-gunung itu dindingku, dan bumi ini lantaiku, ha-ha-ha ! Kau mau ikut aku terlantar dan berkeliaran tak tentu tujuan ?"
"Tentu saja bukankah aku murid eyang? Asal eyang jangan lupa mengajarkan kesaktian kepadaku!"Demikianlah, anak kecil itu semenjak saat itu ikut bersama kakek aneh itu, hidup penuh dengan kesukaran dan kekurangan, hidup seperti jembel yang tidak pernah mengemis, tidur di sembarang tempat, makan seadanya, akan tetapi penuh dengan kebenasan yang aneh. Sudah terlalu lama kita meninggalkan keluarga janda Galuhsari yang kita kenal di dalam permulaan cerita ini. Seperti telah dituturkan di bagian terdepan dan cerita ini, nyi Galuhsari, janda cantik isteri mendiang panglima Mojopahit Lembu Tirta, setelah mengalami penghinaan digagahi secara keji di depan anaknya oleh Panewu Progodigdoyo, mengalami nasib yang mengeraikan. Rumahnya terbakar dan dia terbakar hidup-hidup di dalam rumahnya di mana terjadi kemaksiatan yang dilakukan oleh Progodigdoyo itu. Seperti kita ketahui, Lestari, perawan remaja yang cantik itu setelah hampir pingsan saking ngerinya menyaksikan ibunya diperkosa oleh Progodigdoyo, lalu diculik dan dilarikan oleh Panewu yang telah gila oleh nafsu berahi itu. Ada pun anak ke dua janda itu, Sutejo, sejak tadi sudah rebah pingsan karena pukulan Panewu Progodigdoyo. Ketika rumah itu terbakar, yang terancam maut adalah dua orang, yaitu Sutejo yang masih pingsan dan ibunya, janda Galuhsari. Justru karena pingsan, Sulastri belum dimakan, tidak seperti ibunya yang berusaha mengejar Panewu Progodigdoyo, malah kesambar api, kejatuhan atap yang ambruk dan lebih dahulu dimakan api, terbakar hidup-hidup. Namun, kiranya hanya tinggal menanti saatnya saja bagi kematian Sutejo karena diapun sudah terkurung api dalam keadaan pingsan. Pada saat yang amat berbahaya bagi keselamatan anak itu, tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu seorang kakek berpakaian putih, dengan rambut, kumis dan jenggotnya juga sudah putih, tahu-tahu telah berada di dalam rumah tang terbakar itu. Pada saat itu Sutejo siuman dari pingsannya.
"Ibuuuu"!"
Dia berteriak dan bangkit dengan binggung.
"Mbakayuuu"!"
Dia berteriak lagi ketika melihat api berkobar mengurung dirinya.
Teringatlah dia akan segala peristiwa yang dialaminya, maka hatinya menjadi gelisah.
Tiba-tiba dia melihat kakek berpakian putih itu dan dia berteriak.
"Eyanggggg"tolonglah"tolonglah ibu dan mbakayu""
Dengan satu gerakan saja kakek itu telah berada di dekatnya, dan memegang tangannya."
Berpeganglah padaku, angger. Kita harus cepat keluar dari tempat ini ! "
"Tidak, tidak"eyang, harap eyang suka menolong ibu dan mbakayuku"! Biar aku nanti saja, yang perlu adalah mereka"!"
Sutejo berteriak pula dan melepaskan tangannya. Kakek itu tersenyum dan memandang dengan sinar matanya yang halus.
"bu dan kakakmu tak dapat ditolong lagi, kulup dan aku datang sengaja untuk menyelamatkanmu. Marilah"!"
Kakek itu memegang tangan Sutejo dan anak ini tidak jadi membantah karena dia sudah terkejut dan ngeri ketika merasa betapa tubuhnya meluncur dengan amat cepatnya menerjang api!
Dia hanya merasakan hawa panas menyambar, akan tetapi tahu-tahu dia telah berada di luar rumah, kemudian dengan cepat sekali tubuhnya terasa dibawa meluncur oleh kakek itu seperti terbang saja cepatnya meninggalkan rumahnya yang masih terbakar dan menyala-nyala dengan dahsyatnya.
"Eyang"
Lepaskan aku"
Aku ingin menolong ibu dan mbakayu..!"
Suteko berteriak-teriak dan meronta-ronta.
Mereka telah tiba di sebuah hutan.
Rumah terbakar itu sudah tidak tampak lagi dan kakek itu terhenti, lalu mngelus kepala Sutejo.
Elusan ini demikian mesra, demikian halus sehingga seolah mendatangkan kesejukan luar biasa ke dalam kepala Sutejo, membuat anak itu menjadi tenang dan tidak meronta lagi.
"kehendak Hyang Widhi Wisesa tak mungkin dirobah oleh siapa pun juga, angger. Ibumu telah tewas atas kehendak Hyang Widhi melalui kekuasaan Hyang agni (Dewa Api)."
"Ibuuuu"!!"
Sutejo menutupi mukanya, menjatuhkan dirinya berlutut dan menangis.
"Tidak perlu dan tidak ada gunanya lagi ditangisi, kulup. Ibumu sudah sempurna dan terbebas dari penderitaan."
"Akan tetapi"bagaimana ibu bisa tewas dan"
Dan bagaimana pula rumah itu bisa terbakar, eyang"!"
Sutejo bertanya dengan hati penasaran. Kakek itu menarik napas panjang.
"Kelak akan tiba saatnya engkau mengetahui sendiri, angger, sekarang bukan waktunya engkau mengetahui hal itu."
"Akan tetapi"mbakayu Lestari"di mana dia dia eyang? Apakah dia juga ter"
Bakar"?
Kakek itu menggeleng kepala "Hanya ibumu yang tewas, dan tentang kakakmu kelak engkau dapat mencarinya sendiri.
Sekarang sebaiknya engkau ikut bersamaku ke tempat pertapaanku, angger.
Hanya inilah jalan satu-satunya yang kulihat agar engkau dapat menyelamatkan diri dari pengejaran panewu Progodigdoyo."
"Si keparat itu! Si jahanam itu! Tentu dia yang telah membakar rumah kami!"
Tiba-tiba Sutejo bangkit berdiri dan mengepal tinjunya, matanya mengeluarkan sinar seolah-olah berapi-api.
"Eyang aku akan kembali ke sana, aku akan mencari panewu keparat itu, aku""
Sutejo lalu mencabut keris yangterselip di pinggangnya, kemudian hendak lari pergi. Kakek itu memegang lengannya dan berkata halus.
"Angger, apakah dayamu terhadap seorang seperti panewu itu ? Engkau masih kecil dan dia adalah seorang panewu yang selain digdaya, juga mempunyai banyak anak buah, dia adalah kepercayaan Sang Adipati Ronggo Lawe. Apakah kau hendak mengantar nyawa dan menentangnya? Itu bukan perubahan gagah berani namanya, melainkan suatu kebodohan dan kesombongan belaka, berarti engkau akan membunuh diri."
Ucapan yang halus ini menyadarkan anak yang baru berusia sepuluh tahun itu dan tiba-tiba Sutejo menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu sambil menangis.
Kakek itu membiarkan saja Sutejo menangis, hanya mengangguk-angguk dan beberapa kali menarik napas panjang.
"Eyang"kumohon kepada eyang"sukalah eyang membantunya untuk membalaskan kematian ibu, untuk membalas kepada Progodigdoyo!"
"Oho, bocah bagus"permintaanmu itu tidak masuk akal. Bagaimana mungkin aku dapat membunuh seorang manusia lain, biar pun manusia itu sejahat Progodigdoyo sekalipun? Tidak, angger, seorang seperti aku tidak mungkin mau membunuh"!"
Sutejo sudah sering kali mendengar dongeng ibunya tentang orang-orang sakti dan orang-orang yang hidupnya mengasingkan diri, bertapa dan tidak mau mencampuri urusan perang dan bunuh membunuh.
Kata ibunya, mendiang ayahnya dahulupun seorang murid dari pertapa sakti seperti itu.
Maka dia teringat akan cerita ibunya dan dia lalu menyembah.
"Kalau begitu, eyang, saya mohon sudilah eyang menerima saya sebagai murid eyang""
"Ho-ho, bocah bagus, tanpa kau minta sekali pun engkau memang telah menjadi cucu muridku, angger."
Sutejo terkejut dan cepat dia menengadah, memandang wajah yang sudah amat tua dan yang tersenyum ramah dan mata itu memandang mesra.
"Kalau begitu"akahan eyang ini"eyang Penembahan Ciptaning seperti yang sering diceritakan oleh ibu"?"
Kakek itu mengangguk ramah.
"benar, cucuku. Aku telah mendengar akan kemarian ayahmu""
"Keparat Progodigdoyo""
"Sttt", tidak bijaksana menanam kebencian cucuku."
"Akan tetapi dia manusia jahat, eyang! membunuh ayah dengan curang, kemudian dia menghina ibu dan"tentu dia pula yang menyebabkan kematian ibu, dan mbakayuku""
"Seorang ksatria bertindak bukan untukm kepentingan diri pribadi, angger! Kalau engkau kelak menghadapi Progodigdoyo karena kebencianmu kepadanya disebabkan dendam pribadi, maka engkau berbeda banyak dari Progodigdoyo sendiri! Akan tetapi seorang kstaria akan menghadapi dan menentang bulu, dan tanpa membedakan apakah dia itu Pegodigdoyo ataukah keluargamu sendiri sekali pun. Yang jahat haruslah ditentang tau diingatkan, angger."
Sutejo tidak berani mebantah.
Dia maklum bahwa eyang gurunya ini adalah seorang yang guntur tapa, seorang yang memiliki kesaktian hebat disamping juga seorang yang berbudi dan tidak mau mencampuri urusan duniawi yang serba ruwet oleh tingkah laku manusia.
Maka dia yang merasa bodoh tidak berani lancang membantah, melainkan dengan masih berlutut dia berkata.
"Eyang, saya mohon petunjuk."
Tanpa disadari oleh Sutejo, fajar telah menyingsing dan sinar matahari pagi kemerahan membakar langit di ufuk timur.
Sang panembahan memandang ke angkasa disebelah timur dan dia sejenak takjub akan keindahan pemandangan itu.
Langit yang terbakar merah itu menciptakan penglihatan yang sukar dituturkan dengan kata-kata, awan-awan yang beraneka warna, ada warna merah tang bermacam-macam, warna biru yang bermacam-macam bercampur warna kuning yang bermacam-macam pula, diselang-seling sinar keemasan, semua itu begitu indah, membuat setiap kelompok awan menciptaa bentuk-bentuk yang amat laur biasa, keindahan yang hening, keindahan yang baru, keindahan yang merepesap kedalam jiwa dan pada saat itu sang begawan sudah kehilangan dirinya, si aku yang menjadi sumebr segala macam kemaksiatan dan kesengsaraan serta permusuhan.
Dia seolah-olah merasa menjadi satu dengan semua keindahan itu, dari keindahan sinar lembayung dan keemasan di angkasa, sampai keindahan ujung rumput yang terhias mutiara embun berkilauan tersenyum cantiknya.
Kemudian kembali dia menarik napas-napas kelegaan yang memasukkan hawa murni di dalam tubuhnya, dan dia menunduk, memandang kepala cucu muridnya sambil berkata lirih.
"tengoklah ke angkasa timur, cucuku. Lihat, setiap pagi matahari muncul can mulai hidup baru. Engkaupun harus demikian, cucuku. Tinggalkan semua kenangan lalu, semua itu telah mati dan tiada gunanya mempertahankan yang mati. yang kemarin sudah mati. sekarang inilah hidup."
Anak berusia sepuluh tahun itu tentu saja tidak dapat menangkap arti dari wejangan yang sederhana namun mengandung arti amat mendalam itu. Sang panembahan lalu berkata lagi.
"Bangkitlah, mari kita duduk di atas batu itu, mengaso dulu karena keindahan seperti ini jarang kita temui angger, maka sudah selayaknya jika kita menikmatinya,"
Sutejo bangkit dan bersama kakek gurunya dia lalu duduk diatas sebongkah batu, berhadapan dengan kakek itu.
"Kesempatan ini akan kupergunakan untuk mendongeng kepadamu, angger, tentang Sang Prabu Yudistira, atau yang juag biasa dicebut dengan nama Samiaji, raja dari Ngamarta, dan yang sulung diantara lima saudara Pendawa Lima."
Pertapa tua itu lalu mendongengkan tokoh pewayangan yang amat terkenal itu, didengkarkan oleh Sutejo dengan penuh perhatian.
Beginilah dongeng yang mengandung arti amat baik itu.
Pada suatu hari Yudistira melihat empat orang adik-adiknya telah tewas di tepi sebuah sumber air, mati setelah minum air beracum itu.
Tentu saja Yudistira berduka sekali, dan tiba-tiba di amendengar suara tanpa rupa, yaitu suara setan penjaga mata air atau sumber air itu."Heh, Yudistira, aku akan menghidupkan lagi seorang di antara saudara-saudaramu ini jika engkau dapat menjawab pertanyaan-pertanyaanku dengan tepat."
Yudistira dengan tenang menjawab.
"Ajukanlah pertanyaanmu, Yakso (sebutan untuk bangsa raksasa atau setan), aku akan mencoba untuk menjawabnya."
"Apakah yang lebih berat daripada bumi? Apakah yang lebih tinggi daripada langit? Apakah yang lebih cepat daripada angin? Apakah yang lebih baik daripada binatang?"
"Ibu lebih berat daripada bumi. Ayah lebih tinggi daripada langit. Jiwa lebih cepat daripada angin. Pikiran lebih baik daripada binatang.
"Jawab Yudistira tanpa berpikir lagi karena jawaban-jawabannya bukanlah berdasarkan hasil pemikiran, melainkan merupakan jawaban langsung karena melihat kenyataan.
"Siapakah teman terbaik dalam perjalanan? Siapakah teman terbaik di dalam rumah? Siapakah teman terbaik di waktu sakit? Siapakah teman terbaik di waktu mati?"
"Kafilah adalah teman terbaik dalam perjalanan. Isteri adalah teman terbaik di dalam rumah. Tabib adalah teman terbaik di waktu sakit, dan kedermawaan adalah teman terbaik di waktu mati."
"Musuh apa yang paling sukar dikalahkan? Penyakit apa yang sukar disembuhkan? Orang apakah yang disebut baik? Orang apa pula yang disebut tidak baik?"
"Wahai, raja yang arif bijaksana! Apakah yang dinamakan buta? Apakah yang artinya sombong? Apakah yang dimaksudkan dengan terlambat? Dan apa pula penderitaan itu?"
"Yang sesungguhnya bisa adalah buta akhlak. Kecongkaan merasa diri pandai adalah yang dinamakan orang sombong. Tidak mengenal diri saat ini juga adalah suatu keterlambatan, dan kebodohan adalah penderitaan yang paling besar."
"Apakah yang disebut ketetapan hati? Apakah keberanian itu? Apakah kedermawaan itu? Dan apakah sebenarnya yang dinamakan seorang Brahmana sejati?"
"Pelaksanaan kebenaran dalam hidup adalah ketetapan hati. Menyadari keburukan diri pribadi lahir batin adalah kedermawaan sesungguhnya. Dan pertanyaanmu yang terakhir itu memerlukan jawaban yang agak panjang, Yakso."
"Duhai, sang raja yang budman, jawablah dan hamba akan mendengarkan!"
Suara yang tanpa rupa itu terdengar menggetar.
"Brahmana yang sejati bukan terletak dalam keturunan atau asal usulnya, bukan pula karena dia pandai membaca kitab-kitab Weda, bukan pula karena kepandaiannya, bukan pula karena nama besar dalam riwayatnya, bukan pula karena nama besar dalam riwayatnya. Brahmana sejati adalah yang mengutamakan hidup hidup dalam kebenaran, yaitu kebaiakan. Selama hidupnya belum bercacat, dan dia tidak akan bercacat pula. Orang yang tidak dapat melenyapkan hawa nafsu sendiri, biar pun dia mengaku seorang yang cerdik pandai, sesungguhnya dia hanyalah seorang gila dan sama sekali tidak patut disebut seorang Brahmana sejati. Dia tidak pantas disebut Brahmana biar pun dia hafal akan isi semua kitab Weda utama yang empat jumlahnya, hafal diluar kepala, apabila munafik dan bertindak durjana di dalam hidupnya, dan orang begini derajatnya tidak lebih tinggi daripada seorang sudra! Dia yang bersih lahir batinnya, batinnya selalu hening dan lahirnya selalu mengatasi nafsu-nafsunya, dialah Brahmana sejati, Yakso!"
Mendengar semua jawaban ini, sang Yakso menjadi kagum dan tunduk, maka diberilah kesempatan kepada Yudistra untuk memilih siapa di antara saudaranya yang harus dihidupkan kembali.
Saudara kandung Yudistra adalah Bima dan Arjuna.
Sedangkan yang dua lagi, Nakula dan sadewa adalah saudara tiri, satu ayah lain ibu.
Kalau menurutkan kepentingan di aku pribadi, sudah tentu dia akan memilih seorang di antara adik kandungnya.
Akan tetapi Yudis tira adalah seorang manusia yang sudah tipis atau bersih dari cengkaraman keaku-annya.
Dia lebih mementingkan keadilan daripada kesenangan pribadi, maka yang dipilihnya adalah seorang di antara dua orang adik tirinya!
Sang Yakso mengerti akan isi hati Yudistira, maka dia menjadi makin kagum dan tunduk, dan dihidupkan keempat adiknya yang telah mati keracunan itu!
"Demikianlah, Sutejo, cucuku.
Kebijaksanaan selalu akan menghasilkan kembang dan buah yang baik."
Sang panembahan mengakhiri ceritanya.
"Oleh karena itu, di dalam kehidupanmu, jangan engkau dibuai oleh cita-cita, oleh harapan-harapan, leh tujuan-tujuan. Semua itu adalah kosong, hampa dan khayali belaka. Yang lebih penting adalah cara hidup, sepak terjangmu dalam hidup, pada saat ini, pada hari ini, pada setiap detik. Kalau caranya benar, maka akhirnya pun tentu benar! Sebaliknya, kalau engkau selalu mementingkan tujuan, banyak kemungkinan engkau akan tersesat mengambil jalan yang keliru, mengambil cara yang sesat, angger. Tujuan atau cita-cita dapat membutakan matamu sehingga engkau tidak melihat lagi bahwa cara yang kau tempuh adalah jahat dan sesat, matamu akan buta dan silau oleh cita-cita yang kelihatannya amat menarik dan indah."
Sutejo mendengarkan dengan penuh perhatian, mencatat semua itu di dalam benaknya.
Dia masih terlalu kecil untuk menangkap semua inti sari wajangan itu, namun nalurinya membisikkan dia sehingga membuka kesadarannya, menambah kewaspadaannya.
Tiba-tiba terdengar suara banyak orang dan lapat-lapat terdengar suara orang berkata.
"Agaknya dia lari ke sini. Kawan-kawan hayo kita kejar dan cari sampai dapat, kalau tidak gusti panewu tentu akan marah."
"Heran sekali, rumah itu terbakar habis, mengapa anak itu dapat menghilang? Jangan-jangan dia sudah menjadi abu!"
"Mana mungkin! Tulang-tulang ibunya yang hangus masih dapat dikenal, tak mungkin dia habis sama sekali. Tentu dia dapat melarikan diri, atau ada orang yang menolongnya!"
Mendengar ini, Sutejo terkejut dan cepat dia meloncat turun dari atas batu, kedua tangan dikepal. Dia sama sekali tidak takut, hanya mengkhawatirkan keselamatan". Kakek gurunya!"
Eyang, harap eyang bersembunyi", kalau ketahuan eyang menolong saya, tentu eyang akan celaka. Mereka itu orang-orangnya Panewu Progodigdoyo!"
Kakek itu tersenyum dan menggandeng tangan Sutejo.
"Tenanglah, angger. Tenanglah dan mari kau ikut denganku pergi dari sini."
Sutejo menurut dan sekarang barulah ia teringat bahwa kakek gurunya adalah seorang sakti!
Kakek gurunya itu membawa berjalan menuju ke arah suara orang-orang itu!
Jantung di dalam dada Sutejo tergetar dan berdebar keras saking tegangnya.
Dia hanya mendengar eyangnya itu berkemak-kemik dan terengar suara bisikannya berulang kali.
"Hong Iiaheng Awignam Astuna Masidam".!!"
Kini mereka berpapasan dengan sepasukan perajurit Tuban yang terdiri dari dua losin orang.
Mereka itu mencari ke sana-sini, menengok ke kanan kiri, akan tetapi sungguh aneh, mereka itu membiarkan kakek itu dan Sutejo lewat di depan mereka seolah-olah mereka tidak melihat kakek itu, atau andai kata melihat juga, seolah-olah mereka itu menganggap sudah semestinya kakek dan bocah itu lewat di situ, tanpa mereka ganggu sedikit pun!
Tentu saja Sutejo menjadi terheran-heran dan makin kagum kepada kakek itu, karena dia mengerti bahwa eyangnya itu telah mempergunakan aji kesaktiannya sehingga para perajurit Tuban itu tidak dapat melihat dia dan eyangnya yang lewat begitu dekat dengan mereka!
Setelah jauh Sutejo bertanya.
"Eyang, apakah artinya ucapan eyang tadi? Saya sudah hafal eyang! Hong Iiaheng Awignam Astuna Masidam!"
"Itu hanyalah mataram sebagai doa untuk mohon keselamatan, angger. Akan tetapi jangan mengira bahwa setiap orang akan dapat memanfaatkan mantera ini, karena mantram apa pun juga di dunia ini hanya berguna dan menjadi sakti bagi orang-orang yang telah menghayati kebenaran di dalam hidupnya. Kalau setiap saat, setiap kata-kata ucapan, setiap pikiran, dan setiap perbuatan selalu beelandaskan kebenaran, maka kesaktian telah berada di dalam dirinya angger."
Demikianlah, mulai hari ini, Sutejo diajak oleh eyang gurunya, yaitu Panembahan Ciptaning, pergi ke lereng Gunung Kawi, selain untuk menghindarkan pengejaran Panewu Progodigdoyo, juga untuk mempelajari ilmu kesaktian dan hidup sebagai seorang petani di lereng pegunungan yang hawanya dingin sejuk dan udaranya bersih itu.
Dara itu menangis sesenggukan dengan hati pilu di dalam kamar yang indah itu.
Cuping hidungnya yang mancung dan sepasang matanya yang bening sampai menjadi merah karena banyak menangis.
Dia menelungkup di atas pembaringan, tidak menghiraukan dan bujukan dua orang emban (pelayan) yang berlutut di depan pebaringan.
"Sudahlah, den roro"
Tiada gunanya lagi menangis"
Setiap hari berduka saja sampai tubuh paduka menjadi kurus"."
Kata emban yang hidungnya pesek.
"Diamlah, gusti, diamlah, nanti hanya akan membikin marah gusti panewu saja. Beliau amat mencintai paduka", lihat ini, hamba disuruh memberikan pakaian yang serba indah dan baru""
Kata emban ke dua yang mulutnya lebar.
Dan ini hamba sudah menyediakan makanan dan buah-buahan untuk paduk,"
Sela si hidung pesek.
Akan tetapi dara remaja itu menggeleng-geleng kepala, bahkan ketika pakaian baru itu ditumpuk di dekatnya, dia lalu mengibaskan tangan sehingga tumpukan pakaian itu berantakan ke atas lantai.
"Eihh-eihhm bagaimana ini? Sayang, den roro, pakaian mahal dan bagus"!"
Si hidung pesek mengambil pakaian itu.
Dara itu bengkit duduk.
Mukanya pucat dan agak kurus, akan tetapi tidak menyembunyikan wajahnya yang cantik jelita.
Bahkan tambutnya dan pakaiannya yang kusut itu membuat kecantikannya makin aseli dan menonjol.
Hidungnya yang kecil mancung menjadi merah ujungnya, matanya yang bening dan bersinar tajam itu sampai agak membengkak karena terlalu banyak menangis, kulitnya putih kuning dan kedua lengannya padat dan mulus.
Seorang perawan yang cantik.
Dia ini bukan lain adalah Lestari, puteri janda Galuhsari yang dilarikan oleh Panewu Progosigdoyo dan dikeram di dalam sebuah kamar di gedungnya.
Kamar itu dijaga ketat oleh sepasukan pengawalnya dan selain dara remaja itu tidak diperkenankan keluar dan seperti orang hukuman dikurung di dalam keputren itu, juga tidak ada seorang pun boleh memasuki tempat ini kecuali dua orang emban itu yang memang ditugaskan untuk membujuk perawan itu.
Namun Lestari tetap menolak cinta kasih Panewu Progodigdoyo yang amat dibencinya.
Biar pun dia belum diganggu oleh panewu itu yang sibuk menghadapi perang dengan Mojopahit, dan biar pun dia dilayani dengan penuh keramahan oleh para emban, tetap saja lestrai merasa berduka dan setiap hari hanya menangis.
Betapa hatinya akan hancur kalau dia mengingat ibunya dan adiknya?
Mereka mati terbakar!
Dan bukan itu saja!
yang membuat dara ini kadang-kadang seperti ingin menjerit-jerit ketakutan adalah kalau di mengenangkan betapa sebelum kebakaran rumah ibunya, dia diharuskan melihat ibunya digagahi oleh panewu itu, digumuli dan diperkosa di atas pembaringan, di depan matanya!
Betapa dia melihat ibunya bercucuran air mata, menggigit-gigit bibir menahan penghinaan itu demi untuk mempertahankan kehormatan puterinya!
Teringat dan membayangkan ini semua, Lestari mengalami guncangan batin yang hebat dan ketika dia menutupi mulutnya untuk menahan mulutnya menjerit-jerit, dia menganguk, kemudian duduk termenung seperti orang kehilangan semangat!
Setelah perang terjadi dan Tuban dikalahkan oleh Mojopahit, seperti telah diceritakan di bagian depan, Panewu Progodigdoyo yang pandai bermuka-muka dan pandai menjilat-jilat itu melaporkan kepada para pembesar di Mojopahit betapa dialah orangnya yang selalu berusaha untuk mencengah pemberontakan Ronggo Lawe.
Kemudian dia pulalah yang memerintahkan semua pasukan Tuban untuk tunduk dan takluk, agar tidak melanjutkan perlawanannya terhadap Mojopahit.
Dalam usahanya mencari muka dan menjilat ini, dia memperoleh bantuan banyak dari Sang Resi Mahapati!
Mengapa demikian?
Hal itu tidaklah aneh karena sesungguhnya Sang Resi Mahapati yang menjadi seorang pembesar di istana Mojopahit itu masih terhitung paman gurunya sendiri.
Panewu Progodigdoyo adalah murid Empu Tanjungpetak, seorang empu yang digdaya di pertapaan atau pesanggrahan Tanjungpetak di pantai Laut Jawa, tak jauh dari Tuban.
Ada pun Empu Tanjungpetak ini adalah kakak seperguruan dari Resi Mahapati!
Progodigdoyo juga maklum akan cita-cita sang resi di istana Mojopahit itu, maka di antara keponakan dan paman guru ini antara keponakan dan paman guru ini terjalinlah kerja sama yang baik, maka tidaklah mengherankan kalau Resi Mahapati membantu murid keponakannya ini sehingga di dalam penumpasan pemberontakan Ronggo Lawe, Progodigdoyo dianggap "berjasa", bahkan dia lalu memperoleh kepercaaan untuk sementara menjabat "adipati"
Di Tuban, menggantikan kedudukan Ronggo Lawe sementara Tuban kosong dari seorang pejabat.
Dapat dibayangkan betapa besar kepala bekas panewu ini!
Dia masih bersikap hormat kepada keluarga Ronggo Lawe, apa lagi kepada aryo Wirorojo yang dia tahu merupakan seorang terhormat dan berpengaruh di lingkungan istana Mojopahit.
Terhadap mereka ini dia masih bersiap hormat sebagai seorang bekas pembantu Ronggo Lawe yang "setia".
Memang demikianlah sifat-sifat manusia yang terlalu tebal sifat akunya.
Demi kepentingan pribadi yang selalu haus mengejar kesenangan, dia tidak malu-malu untuk melakukan apa saja!
Demi mencapai cita-citanya, cara apa pun akan ditempuhnya.
Dan seperti yang sudah menjadi anggapan umum yang biar pun hampa dan salah namun sejak dahulu sampai kini manjadi semacam pegangan mutlak adalah bahwa kesenangan ialah kedudukan, kemuliaan, kehormatan atau nama, dan harta benda!
Demi untuk mencapai tiga macam "kesenangan"
Ini, seringkali manusia menjadi lebih kejam dan lebih ganas daripada binatang!
Apa pun akan dilakukannya, dan semua cara ini, betapa pun kejamnya, dianggapnya benar karena semua itu dilakukan untuk mencapai cita-citanya!
Pemujaan cita-cita itu lalu hanya mementingkan si cita-cita, tanpa menghiraukan lagi cara yang ditempuhnya, karena si cara itu hanya dianggap sebagai penyeberangan belaka.
Padahal, bukan cita-citalah yang penting, melainkan cara itu sendiri!
Cara inilah yang menentukan baik-buruknya, benar dan sesatnya.
Cara ini pula yang menentukan akibat dan akhirnya.
Di dalam benih yang ditanam itulah tercakup nilai buahnya kelak!
Cara inilah yang penting, yang nyata yang harus kita perhatikan setiap saat agar tidak sampai menyeleweng!
Namun demi si aku yang selalu mengejar kesenangan, manusia menjadi lupa, seperti halnya Progodigdoyo.
Dia merasa bangga sekali dengan kedudukannya.
Masih berdebar kalau dia teringat akan peristiwa yang terjadi sebelum pemberontakan pecah, yaitu peristiwa di dusun Kembangsari.
Tanpa disengajanya dia telah membunuh Galuhsari, janda mendiang sahabat baiknya, Lembu Tirta, dan hatinya berdebar menjadi agak gelisah kalau dia mengigat bahwa mayat anak laki-laki Lembu Tirta tidak dapat ditemukan di dalam rumah terbakar itu, juga usaha pencarian oleh pasukannya tidak berhasil.
Akan tetapi, debar jantungnya ini lenyap dan berganti dengan debar kegembiraan yang penuh dengan bangkitnya gairah nafsu berahinya kalau dia mengingat akan Lestari, perawan mungil cantik jelita yang telah berada di tangannya.
Makin dipandang, makin mirip perawan itu dengan ibunya di waktu muda, dengan Galuhsari, yang telah dirindukannya semenjak masih gadis dahulu, akan tetapi dalam memperebutkan cinta kasih gadis Galuhsari itu, dia kalah oleh Lembu Tirta.
Tidak mengapa, ibunya pun setelah janda terdapat olehnya, biar pun tidak memenuhi selera hatinya.
Kini anaknya yang menjadi gantinya.
Lebih muda, lebih cantik, dan masih perawan!
"Ha-ha-ha, Lestari, tidak begitu risau lagikah hatimu, manis?"
Panewu Progodigdoyo memasuki kamar itu dan agaknya lega hatinya melihat perawan itu tidak menangis lagi seperti sudah-sudah.
Sudah tiga bulan lamanya dia mengeram dara itu, akan tetapi setiap hari dara itu hanya menangis saja, makan pun hanya setengah dipaksa oleh para emban karena takut dara itu akan mati kelaparan, dan mengganti pakaian dan mandi juga dilakukan dengan setengah paksa.
Malam hari ini, gadis itu duduk termenung, tidak menangis lagi!
Melihat kedatangan Progodigdoyo, dua orang emban itu dengan kenesnya, sambil tersenyum-senyum dan saling lirik, meninggalkan kamar itu, membiarkan sang panewu yang kini menjadi pejabat adipati itu berdua saja dengan si perawan denok.
Progodigdoyo yang sudah berusia empat puluh tahun itu duduk di atas kursi yang ditariknya sehingga dia berhadapan dengan Lestari yang duduk bersimpuh di atas pembaringan.
Sejenak dia menatap wajah yang menunduk itu dan dia tersenyum, terpesona karena perawan itu benar-benar mirip sekali dengan Galuhsari di waktu masih gadis!
Betapa cantiknya!
Sinom rambut yang berikal itu semrawut berjuntai di atas dahi yang yang melengkung dan halus.
Alisnya seperti dilukis saja, melengkung hitam panjang kecil seperti bulan muda baru mlai tampak.
Hidungnya kecil menggemaskan, cupingnya yang kemerahan bergerak-gerak menyentuh perasaan.
Pipinya berkulit putih kuning halus kemerahan, segar dan mengar-mangar, dan mulutnya!
Seperti setangkai mawar.
Matanya dihias bulu mata yang panjang melengkung.
Pandang mata Progodigdoyo menurun, ke leher, ke dada yang tampak membusung kecil itu, ke pinggang yang ramping dan tanpa disadarinya tangan kanannya naik ke kumisnya yang panjang melintang, memutir-mutir kumisnya dengan keasyikan yang penuh gairah, membayangkan betapa akan nikmat dan senangnya kalau perawan ini mau menyerahkan diri kepadanya dengan suka rela.
Matanya yang lebar ini bersinar-sinar dan hidungnya yang mbengol (besar tidak mancung) kembang-kempis, hidung yang bentuknya menjadi ciri laki-laki yang gila perempuan, dan mulutnya bergerak-gerak dengan senyum dikulum.
"Lestari, cah ayu"
Malam ini"
Hemm, kau tentu sudah insyaf dan mau melayani aku, bukan?
Engkau akan kujadikan selir terkasih, atau"hemm, kalau kau menyenangkan hatiku, mungkin saja akan kucerai isteriku, atau kulorot dia menjadi selir tua dan engkau menjadi isteri adipati!
Ha-ha-ha, engkau menjadi permaisuriku!
Mau ya, manis?"
Bujuknya, seperti seorang tua membujuk seorang anak-anak yang akan dihadiahi kembang gula.
Dan memang sikap ini tidak dibuat-buat oleh Progodigdoyo karena memang Lestari itu seorang perawan kecil, masih setengah kanak-kanak maka otomatis sikapnya seperti kepada seorang kanak-kanak!
Sudah bosan dan muak Lestari mendengar ucapan ini yang merupakan bujukan yang selama berbulan-bulan ini hampir setiap malam didengarnya, baik keluar dari mulut wajah yang amat dibencinya ini atau keluar dari mulut para emban.
Akan tetapi saat itu dia menoleh dan merasa amat lucu mendengar ucapan itu, yang selama ini dibencinya!
Dia teringat akan masa lalu, di waktu pria ini masih menjadi sahabat ayahnya, bahkan seperti seorang adik kandung ayahnya sendiri.
Pria ini selalu bersikap manis terhadap dia dan ibunya, dan Sutejo, bahkan sering kali di waktu di masih kecil suka memangkunya, memondongnya.
Dan diapun suka kepada paman Progo ini!
Teringat akan semua itu, Lestari menjadi binggung dan merasa lucu!
Konflik jiwa berkecambuk di dalam batin perawan ini dan dia mulai berkata dengan kata-kata halus, jauh berbeda dengan hari-hari kemarin di mana dia selalu berteriak-teriak tidak sudi dan marah-marah.
sambil menangis.
"Paman"
Paman Progo""
Hampir terlonjak laki-laki itu saking girangnya.
Ingin dia menubruk dan mendekap perawan itu dan menciuminya saking bungah hatinya, akan tetapi sebagai seorang laki-laki yang sudah banyak pengalamannya dengan wanita, entah sudah berapa puluh kali dia mendapatkan wanita-wanita muda, baik dan halus mau pun kasar, dengan suka rela mau pun dengan paksa, dia menahan kesabarannya dan berkata girang "Lestari, sayang, apakah yang kau hendaki manis?"
"Paman Progodigdoyo, bukankah paman adalah sahabat baik dari mendiang ayahku Lembu Tirta?"
Pertanyaan yang halus dan keluar dari bibir yang manis itu sungguh-sungguh tak pernah disangkanya, akan tetapi dengan wajah berseri Progodigdoyo menjawab halus.
"Tentu saja, denok, tentu saja. Mendiang ayahmu adalah sahabat baikku, sahabat karib."
"Kalau sahabat baik, kenapa enkau membunuh ayahku, paman?"
Mata Progodigdoyo terbelalak. Akan tetapi karena hal itu sudah diketahui pula oleh perawan ini, dia pikir menyangkal pun tidak ada gunanya.
"Karena kami berebutan, manis, memperebutkan ibumu. Karena aku cinta ibumu dan kemudian ayahmu yang berhasil memperisteri ibumu."
"Paman mencinta ibuku?"
"benar, benar , sayang. Aku cinta pada ibumu."
"Kalau paman Progo mencinta ibu, mengapa paman melakukan"
Melakukan itu kepada ibu dahulu itu"?"
Dia membayangkan peristiwa pemerkosaan itu dan matanya terbelalak.
Wajah Progodigdoyo menjadi merah sekali.
Dia menjadi binggung sehingga tidak melihat perobahan pada wajah Lestari.
Akan tetapi dengan lancar dai menjawab pula,"
Ahh, kau maksudkan aku menggauli ibumu?
Karena aku cinta padanya, itulah!
Karena aku cinta padanya, Lestari, seperti aku cinta padamu.
Kau mirip sekali dengan ibumu di waktu muda, malah lebih manis, maka aku tergila-gila kepadamu, aku cinta padamu."
"Kalau cinta bukan begitu, paman."
"Habis bagaimana?"
Progodigdoyo menyerigai.
"Kalau paman mencinta ibu, tentu paman membiarkan ibu hidup berbahagia dengan ayah. Kalau paman mencintaku, tentu paman akan membebaskan aku."
Progodigdoyo menjadi jengkel. Kira-kira anak ini bersikap tenang hanya untuk membantah pula!"Lestari, jangan kau membikin aku kehilangan kesabaranku!"
Dia bangkit berdiri.
"Aku cinta padamu, tahukah kau? Karena kau mirip ibumu, karena kau lebih manis dari ibumu. Kalau aku tidak cinta padamu, apa kau kira aku sabar menunggu-nunggu dan membujuk-bujuk sampai berbulan-bulan lamanya? Kalau aku tidak cinta padamu, tentu sudah sejak malam pertama itu kau kupaksa. Apa kau kira aku bisa memaksamu, he? Lihat ini!"
Progodigdoyo menggerakkan tangannya dan di lain saat dia sudah mendekap tubuh Lestari, kedua tangan Lestari ditekuk ke belakang tubuh sehingga dada dara itu membusung ke depan.
Lalu dengan buasnya Progodigdoyo menciumi kedua pipi itu, hidung itu, dan mengecup bibirnya lama-lama serta mengggigitnya.
"Nah, kalau aku mau memaksamu, apa sukarnya? Tinggal merobek-robek pakaianmu!"
Dia mendengus dan mendorong tubuh anak dara itu sehingga jatuh terlentang di atas pembaringan.
Muka Lestari pucat sekali, matanya terbelalak lebar bibirnya berdarah karena digigit dengan gemasnya oleh laki-laki yang sudah kesetanan itu.
Napas Progodigdoyo terengah-engah.
"Kalau kau tidak mau melayaniku, aku tunggu sampai besok, hemm"
Terpaksa aku akan memperkosamu, akan memaksamu dan akan membuat engkau menjadi barang permainanku!
Akan tetapi kalau kau menyerahkan diri dengan suka rela, engkau akan menjadi isteriku yang terhormat.
Mengertikah engkau?"
Bentaknya.
Lestari memandang dengan mata terbelalak tanpa berkedip, kemudian dia bangkit duduk, lalu menudingkan telunjuk kanannya ke arah muka Progodigdoyo dan tiba-tiba perawan ini tertawa!
"Heh-heh-hi-hi-hi, kau"kau lucu", paman Progo!
Ha-ha, mukamu lucu seperti"
Seperti tikus werok"
Ha-ha! Kau cinta pada ibuku dan kau membunuhnya? Kau cinta padaku dan kau ingin melihat aku menderita, ingin mempermainkan tubuh ini? Heh-heh-hi-hi-hi, kau"
Kau gila, paman Progo! Aku sudah bersumpah bahwa sekali saja engkau menodai diriku, aku akan bunuh diri!"
Progodigdoyo memandang dengan mata terbelalak.
Tahulah dia bahwa perawan itu mengalami tekanan batin, guncangan batin yang hebat sehingga ada bahayanya akan menjadi gila.
Akan tetapi ucapan terakhir dari Lestari itu membuatnya marah.
"Kau mau membunuh diri? Huh, kau kira mudah? Para emban selalu menjaga dan aku mencegah kau membunuh diri!"
Perawan itu tertawa lagi dan suara ketawannya membuat Progodigdoyo bergidik.
Kini Lestari turun dari pembaringan dan menudingkan telunjuknya ke arah muka Progodigdoyo sambil menghampirinya.
Progodigdoyo bergidik dan melangkah mundur.
"Kau kira aku tidak mampu? Hi-hi-hik, Progodigdoyo, dengan mengigit putus lidahku sendiri pun aku akan mati. Siapa bisa mencegah aku menggigit lidahku sendiri? Akan tetapi sebelum mati, aku akan lebih dulu membunuhmu, ha-ha-ha!"
Melihat keadaan perawan itu, lenyaplah nafsu berani Progodigdoyo yang tadi berkobar setelah dia mendekap tubuh yang gempal hangat dan mencium mulut yang manis itu.
Kini dia menjadi ngeri dan khawatir.
Celaka, pikirnya.
Lestari telah mulai gila!
"Emban!"
Teriaknya dan dua orang emban yang tadinya mendengarkan di depan pintu sambil mesem-mesem mengharapkan untuk mendengarkan suara yang "mesra"
Seperti telah mereka bayangkan, terkejut dan cepat-cepat mendorong daun pintu dan masuk! "Jaga dia baik-baik, layani baik-baik!"
Katanya dan bergegeas Progodigdoyo meninggalkan kamar itu diiringi suara ketawa Lestari yang membuat kedua orang meban itu melongo. Betapa banyaknya manusia menyalah gunakan dan mengotori kata "cinta"
Yang sesungguhna amat indah dan suci itu!
Hampir semua orang mempunyai pandangan Progodigdoyo, hanya saja bedanya, ada yang bersikap halus dan ada pula sebagian orang yang bersikap kasar seperti Progodigdoyo.
Cinta yang kita dengung-dengungkan selama ini, benarkah itu cinta namanya?
Kalau kita berani bersumpah bahwa kita mencinta seseorang, selalu kita menginginkan agar orang yang kita cinta itu pun membalas cinta kita, bahkan lebih dari itu, kita menginginkan bahwa orang yang kita cinta itu menyenangkan kita, melayani kita, memenuhi hasrat kita dan juga kita menghendaki agar orang yang kita cinta itu jangan menoleh kepada orang lain!
Kalau semua keinginan ini dilanggar satu saja, tidak dipenuhi satu saja.
"cinta"
Kita itu berubah menjadi kebencian yang penuh dengan cemburu dan kekecewaan!
Apakah ini cinta?
Ataukah ini hanya merupakan suatu cara untuk memenuhi keinginan hati kita, yaitu memenuhi kesenangan, baik kesenangan batin maupun lahir?
Di dalam urusan yang kita namakan "cinta"
Itu, selalu kita arahkan atau maksudkan kepada hubungan Sex (kelamin)!
Seolah-olah dalam persoalan cinta kasih antara pria dan wanita, hanya sex itulah isinya semata-mata!
benarkah ini?
Ada pula yang mengatakan bahwa cinta kasih adalah pengorbanan, atau kewajiban, dan lain-lain sebutan lagi.
Ada pula yang menganggap bahwa tanpa cemburu, tidak ada cinta kasih!
Banyaklah anggapan-anggapan kacau-kacau dikemukanan dan semua anggapan itu hanya mempunyai satu dasar, yaitu untuk membela kepentingan si aku yang mengejar kesenangan!
Mengapa kita tidak berani membuka mata melihat segala kepalsuan kita sendiri?
Mengapa?
Tanpa adanya kesadaran akan kepalsuan kita sendiri, betapa mungkin kita akan dapat mengalami perobahan?
Jelaslah bahwa nafsu birahi thok bukanlah cinta kasih, juga bahwa cemburu, kekecewaan, kebencian, dendam, kesengsaraan, permusuhan, semua ini tidak terkandung dalam cinta kasih dan bkan cinta kasih!
Untuk dapat mengalami cinta kasih, semua penghalang berupa camburu, kebencian, kepentingan pribadi atau pengejaran kesenangan diri pribadi, semua ini haruslah lenyap sama sekali!
Hubungan Sex (kelamin) bukanlah sesuatu yang jahat, bukanlah sesuatu yag kotor!
Sama sekali bukan.
Bahkan merupakan sesuatu yang amat indah, sesuatu yang amat wajar, sesuatu yang amat suci apabila dilandasi oleh cinta kasih!
Akan tetapi, apabila hubungan sex dijadikan pujaan, maka sesuatu yang murni itu akan berobah menjadi sesuatu yang amat kotor!
Seperti halnya Progodigdoyo!
Dia menjadi hamba dari nafsu berahi, didorong oleh nafsu berahinya, yaitu untuk mengulang-ulang lagi kesenangan dan kenikmatan yang dialaminya dari nafsu berahi ini, maka mulailah dia mengejar-ngejar dan dalam pengejaran kesenengan inilah terjadi kemaksiatan, terjadi CARA-CARA yang sesat dan kotor!
Di dalam cinta kasih yang murni tidak ada tidak ada unsur pendorong untuk kepentingan si aku, bahkan sama sekali tidak ada lagi si aku, tidak ada lagi pengejaran kesenangan untuk aku.
Bukan berarti bahwa kita menolak kesenangan atau kenikmatan.
Sungguh sama sekali tidak demikian.
Bahkan siapa yang tidak lagi mengejar-ngejar kesenangan, dia penuh dengan kesenangan.
Siapa yang tidak mengejar-ngejar kenikmatan, dia sudah penuh dengan kenikmatan!
Setelah tiba kembali di dalam kamarnya sendiri, Progodigdoyo disambut oleh isterinya, seorang wanita yang cukup cantik akan tetapi bagi Progodigdoyo si hamba nafsu, perempuan ini kelihatan membosankan.
Dari isteri ini dia memperoleh dua orang anak, seorang laki-laki berusia dua belas tahun dan seorang perempuan berusia sembilan tahun.
Akan tetapi adanya dua orang keturunan ini tidak mempererat hubungan batin antara Progodigdoyo dengan isterinya itu.
Isterinya sudah mendengar bahwa suainya mengambil seorang selir baru, yang bernama Lestari, akan tetapi dia tidak tahu bahwa Lestari adalah puteri mendiang Lembu Tirta,tidak tahu pula bahwa suaminya telah memperkosa bahkan menyebaabkan kematian janda Lembu Tirta, yaitu Galuhsari.
Disangkanya bahwa Lestari, perawan berusia lima belas tahun ini, adalah seorang perawan dusun yang cantik.
Maka sebagai isteri seorang bangsawan, isteri ini pun tidak berani membantah, bahkan ketika melihat suaminya datang, dia menyongsong dengan pertanyaan lembut.
"Sudah berhasilkah paduka mempersunting gadis itu, kakangmas?"
Berkerut alis Progodigdoyo, karena pertanyaan yang sejujurnya dan setulusnya ini diterimanya sebagai suatu ejekan! "Diam, perempuan cerewet!"
Bentaknya dan dia menghempaskan dirinya di atas kursi. Isteri terkejut lalu cemburu.
"Ditanya baik-baik malah marah,"
Gerutunya sambil pergi dari kamar menuju ke kamar anak-anaknya.
Suaminnya akhir-akhir ini berobah sikapnya dan dalam keadaan seperti ini, ibu ini mencari hiburan pada anak-anaknya.
Di dalam hatinya Progodigdoyo malah girang melihat isterinya pergi meninggalkan seorang diri.
Dia memutar otak, mencari akal.
Dia memang tergila-gila kepada kecantikan Lestari yang mirip Galuhsari, akan tetapi setelah perawan itu memperlihatkan gejala penyakit gila, dan mengingat akan ancaman perawan itu, lenyaplah seleranya.
"Baik, aku tidak bisa menikmatinya untukku sendiri, akan tetapi aku harus dapat memanfaatkannya!"
Akhirnya dia mengepal tinjunya karena dia teringat kepada paman gurunya, Resi Mahapati!
Dia tahu bahwa paman gurunya itu, di samping ketamakan akan kedudukan dan kemuliaan, juga tak pernah melewatkan kesempatan untuk mendapatkan perawan-perawan muda dan cantik.
Dan dengan kepandaiannya, tentu paman gurunya itu akan dapat "menjinakkan"
Lestari, pikirnya.
Di samping dia dapat menyenangkan hati paman gurunya yang diharapkan untuk dapat menyokong dan mendukungnya agar dia dapat diangkat menjadi adipati di Tuban, menggantikan Ronggo Lawe, juga kalau dia teringat akan lenyaplah putera Lembu Tirta atau adik Lestari, di amenjadi agak khawatir, Oleh karena itu, kalau Lestari dia berikan kepada Mahapati untuk menjadi selirnya, kelak adik lestari kalau sampai menimbulkan keributan, tentu akan berhadapan dengan paman gurunya itu.
Setelah memperoleh akal ini, lapanglah dada Progodigdoyo dan bergegas dia utusan seorang kepercayaan untuk menyampaikan undangan kepada Resi Mahapati ke Tuban dengan pesan Khusus bahwa dia mempunyai hidangan istimewa untuk paman gurunya itu.
Dua pekan kemudian, datanaglah Resi Mahapati berkunjung ke Tuban.
Sebagai paman guru Progodigdoyo, tentu saja kunjungan ini tidak menimbulkan kedurigaan kepada aryo Wirorojo yang masih dalam keadaan berkabung sungguhpun puteranya, Ronggo Lawe, telah gugur hampir empat bulan lalu.
Tidak ada pula yang menduga yang bukan-bukan di dalam istana Progodigdoyo, padahal malam itu terjadi hal yang akan membikin marah hati setiap orang yang masih percaya akan kebenaan dan kebajikan hidup.
Tepat seperti yang dibayangkan oleh Progodigdoyo, begitu melihat Lestari, Resi Mahapati menjadi tergila-gila dan dia merasa girang sekali atas "budi kecintaan"
Murid keponakannya yang telah memberinya "hadiah hidangan"
Sehebat itu!
Lestari sendiri ketika dihadapkan dengan kakek bandot ini, merasa takut sekali, akan tetapi segera perawan ini menjatuhkan diri berlutut dan menyembah ketika dia terpengaruh oleh sihir ilmu hitam yang diterapkan oleh sang resi!
Dan pada malan hari itu, Lestari dalam keadaan seperti orang hilang ingatan, menyerahkan segala-galanya kepada sang resi!
Terjadilah malam yang penuh kemaksiatan dan kekejian di dalam kamar itu dan pada keesokan harinya, barulah Lestari menangis sejadi-jadinya.
Namun semua telah terlambat.
Resi Mahapati merangkul dan menghiburnya.
"Bocah ayu, mengapa menangis? Engkau akan menjadi selirku yang terkasih, engkau akan menjadi puteri terhormat dan hidup mulia di Mojopahit, engkau kelak akan mejadi selir terkasih dari orang yang berkedudukan paling tinggi di Mojopahit. Bergembiralah atas nasibmu yang baik karena engkau berkenan menggembirakan hati Resi Mahapati."
Tentu saja hiburan ini tidak ada artinya bagi Lestari dan dia tentu sudah membunuh diri kalau saja Resi Mahapati tidak membuatnya tidak berdaya di bawah pengaruh sihir dan ilmu hitamnya sehingga Lestari menjadi seperti seekor domba yang menurut saja digiring ke pejagalan!
Bahkan dia tidak membantah lagi ketika tiga hari kemudian dia dibiyong ke Mojopahit oleh sang resi sebagai selir barunya yang tercinta!
Demikianlah, mulailah kehidupan baru bagi Lestari dan peristiwa yang menghancurkan hatinya ini bahkan membuatnya menjadi matang!
Setelah beberapa bulan kemudian, Resi Mahapati tidak perlu lagi menggnakan ilmu hitamnya karena kini Lestari bukan lagi Lestari beberapa bulan yang lalu!
Wanita muda ini sekarang malah kelihatan girang, setiap hari bersolek dan kini dialah yang menyihir Resi Mahapati dengan segala kecantikannya dan kemudaannya!
Lestari telah mengorbankan seluruh perasaan hatinya, dan kini dia melihat terbukanya kesempatan baginya untuk membalas kepada semua orang yang telah menghancurkan keluarganya, melalui Mahapati!
Oleh karena itu, lebih dulu dia harus menundukkan kakek ini dan biar pun dia tadinya hanya seorang perawan hijau dan bodoh, namun berkat anugerah alam yang dimilikinya berupa wajah cantik jelita dan tubuh muda, denok montok menggairahkan tidaklah terlalu sukar baginya untuk membuat Resi Mahapati yang sakti mandaraguna itu bertekuk lutut kepadanya.
Memang banyak peristiwa mengerikan dan menyedihkan terjadi di dunia ini.
Semua itu ditimbulkan oleh ulah tingkah manusia yang selalu menuruti hawa nafsu pementingan diri sendiri, pengejaran kesenangan yang sesungguhnya hampa.
Dunia berputar terus dan peristiwa demi peristiwa terjadilah!
Aryo Wirorojo atau Aryo Adikoro, lebih terkenal dengan sebutan banyak Wide, bekas Bupati Sumenep yang telah banyak berjasa terhadap Kerajaan Mojopahit, semenjak jaman Sang Prabu Kertanegara dia telah menjadi pengawal terpercaya bahkan dianggap murid oleh Sang Prabu Kertanegara, sampai ketika Raden Wijaya memperjuangkan raja bergelar Kertarajasa Jayawardhana, di waktu mana Aryo Wirorojo juga memiliki jasa yang amat besar sekali.
Karena jasa-jasanya yang amat besar itulah, maka di waktu Raden Wijaya menjadi raja, beliau pernah berjanji bahwa kelak dia akan memberikan sebagian dari bumi Mojopahit kepada Aryo Wirorojo.
Setelah puteranya gugur dalam peristiwa pemberontakan atau lebih tepat dalam peristiwa pertikaian puteranya dengan Patih Nambi, Aryo Wirorojo menjadi kendur semangatnya.
Maka pada suatu hari, menghadaplah Aryo Adikoro atau Aryo Wirorojo ini ke hadapan Sang Prabu Kertarajasa Jayawardhana dan mengingatkan sang prabu akan janjinya itu.
Sang Prabu Kertarajasa Jayawardhana menerima peringatan ini dengan hati iklas.
Semenjak gugurnya Ronggo Lawe, hati sang prabu, selalu merasa menyesal dan berduka.
Apalagi kalau dia teringat akan jasa Aryo Wirorojo dan ronggo Lawe sendiri, dan mengingat pula betapa dalam peristiwa itu, biar pun puteranya sampai gugur, Aryo Wirorojo tidak pernah memperlihatkan sikap melawan Mojopahit atau membela puteranya.
Bahkan Lembu Sora, senopati yang menjadi adik Aryo Wirorojo, juga membela Mojopahit dan menentang keponakannya sendiri.
Kini, mendengar peringatan Aryo Wirorojo, sang prabu menerimanya dengan hati terbuka dan segera dikumpulkannya semua pembantu dan penasihatnya dan beliau segera mengumumkan pembagian bumi Mojopahit!
Wilayah Kerajaan Mojopahit sebelah timur, terus ke selatan sampai ke Laut Kidul, diserahkan kepada Aryo Wirorojo atau Aryo Adikoro atau Banyak Wide!
Maka berangkatlah Aryo Wirorojo membawa semua keluarganya, termasuk cucunya, Kuda Anjampiani atau juga disebut Raden Turonggo, ke Lumajang yangdijadikan kota raja dan di mana dia berdiri sendiri sebagai seorang adipati atau seorang raja muda yang merdeka.
Dia tidak lagi menjadi kawula Mojopahit dan tidak lagi diharuskan menghadap Sang Prabu Kertarajasa Jayawardhana!
Betapa pun juga Aryo Wirorojo selalu bersikap baik dan hormat kepada Mojopahit sehingga selama dia menjadi Adipati Lumajang, tidak pernah terjadi keributan antara dia pribdi dan raja di Mojopahit.
Peristiwa pembagian tanah di Mojopahit ini merupakan penghindaran malapetaka karena andaikata Sang Prabu Mojopahit tidak bijaksana, mka bahaya peberontakan kiranya tak dapat dihindarkan lagi!
Maka setelah aryo Wirorojo memboyong keluarganya ke Lumajang dan menjadi Adipati Lumajang, kelihatan keadaan Kerajaan Mojopahit menjadi tentram dan penuh damai, seolah-olah tidak pernah terjadi pemberontakan Tuban dan tidak akan terjadi sesuatu untuk selamanya.
Akan tetapi, ketentraman itu hanyalah kelihatannya saja.
Tanpa ada yang mengetahuinya, awan gelap sedang berkumpul mengancam kecerahan udara di atas Kerajaan Mojopahit!
Awan tebal ini muncul dari dalam gedung tempat kediaman Resi Mahapati!
Sebagai seorang di antara kepala-kepala agama, yaitu agama pemuja Dewa Syiwa, seperti kepala-kepala agama cabang lain, Resi Mahapati telah mendapatkan kedudukan yang cukup tinggi.
Akan tetapi cabang agama pemuja Dewa Syiwa ini bukan merupakan rolongan yang terbesar dan kuat, maka Resi Mahapati tidaklah puas dengan keduduka yang dipeolehnya.
Diam-diam dia menanam cita-cita yang amat besar, yaitu untuk memperoleh kedudukan tertinggi di bawah kekuasaan sang prabu, mengatasi para ponggawa yang lain.
Akan tetapi, dia melihat betapa kuatnya kedudukan para senopati di Mojopahit, dan betapa sulitnya mencapai cita-citanya kalau masih ada para tokoh Mojopahit yang setia dan tentu akan menghalangi semua cita-citanya itu.
Oleh karena itulah, maka di dalam peristiwa pemberontakan Ronggo Lawe, Resi Mahapati memegang peranan penting dan dia telah mempergunakan akalnya yang licik, tipu muslihat mengadu domba dengan cara yang curang, yaitu mempergunakan Maruto yang menjadi orang kepercayaannya.
Seperti telah diceritakan di bagaian depan, Maruto ini membakar hati Ronggo Lawe, kemudian melaporkan kepada sang prau menyamar sebagai seorag perajurit penjaga tapal batas.
Kemudian, karena tahu bahwa Maruto bukan seorang yang boleh dipercaya sepenuhnya, agar rahasiannya itu tidak ampai ada yang tahu, dengan kejamnya dia membunuh Maruto, pembantunya ini.
Sekarang, dengan mempergunakan kedudukannya dan terutama ilmu kepandaian yang tinggi, Resi Mahapati berhasil menghimpun banyak pembantu yang memiliki kepandaian tinggi.
Mereka ini siap melakukan segala macam perintahnya dan Resi Mahapati dengan gerombolannya ini merupakan kekuatan rahasia yang bersembunyi di dalam kerajaan Mojopahit.
Di antara para pembantunya, murid keponakannya sendiri, Progodigdoyo merupakan orang yang paling dipercayakannya.
Juga dalam rangka pelaksanaan cita-citanya itulah Resi Mahapati berjuang dan akhirnya berhasil mendukung murid keponakannya itu sehingga dapat diangkat menjadi Bupati Tuban!
Pada suatu malam, tanpa diketahui oleh siapapun juga, di dalam sebuah hutan di tepi Sungai Tambakberas, didalam rumah besar yang tampaknya hanya rumah seorang petani biasa, terjadilah pertemuan-pertemuan yang kalau ketahuan orang lain tentu akan menimbulkan keheranan karena yang hadir di situ adalah orang-orang penting dari Mojopahit!
Di antara para pembantunya, murid keponakannya sendiri, Progodigdoyo merupakan orang yang paling dipercayanya.
Juga dalam rangka pelaksanaan cita-citanya itulah Resi Mahapati berjuang dan akhirnya berhasil mendukung murid keponakannya itu sehingga dapat diangkat menjadi Bupati Tuban!
Pada suatu malam, tanpa diketahui oleh siapa pun juga, di dalam sebuah hutan di tepi Sungai Tambakberas, di dalam rumah besar yang tampaknya hanya rumah seorang petani biasa, terjadilah pertemuan-pertemuan yang kalau ketahuan orang lain tentu akan menimbulkan keheranan karena yang hadir di situ adalah orang-orang penting dari Mojopahit!
Yang memimpin pertemuan itu adalah Resi Mahapati sendiri, dibantu oleh Bupati Tuban, Progodigdoyo dan tampaklah Senopati Mojopahit yang bernama Singosardulo yang juga sudah terjaring oleh pengaruh Resi Mahapati, lalu nampak pula bebrapa orang tumenggung yang juga sudah menjadi anak buah resi.
Tidak ketinggalan Klabang Curing, tangan kanan Progodigdoyo hadir pula beserta beberapa orang yang kelihatan serem-serem dan jelas memiliki kepandaian yang tinggi.
"Tidak ada jalan lain, Si Sora harus dilenyapkan dari Mojopahit, kalau tidak, dia merupakan orang yang berbahaya."
"Akan tetapi, kedudukannya amat kuat, paman Resi!"
Tumenggung Singosardulo membantah.
"Dia merupakan seorang tokoh lama, seorang demang yang terkasih oleh sang prabu. Mana mungkin main-main dengan dia?"
"Ha-ha-ha!"
Resi Mahapati tertawa sambil mengelus jenggotnya yang masih hitam.
"Engkau tidak tahu, Tumenggung Singosardulo. Nyawa dia berada di dalam genggaman tanganku! Betul tidak, Progodigdoyo?"
Bupati Tuban itu tertawa gembira dan mengangguk-angguk.
"Kakang Tumenggung Singosardulo harap jangan ragu-ragu, percayalah kepada paman resi!"
"Akan tetapi""
Singosardulo masih penasaran karena hatinya memang miris kalau harus ikut-ikut menggangu Lembu Sora yang selain berkedudukan tinggi, juga merupakan seorang tokoh yang disegani karena wataknya yang jujur dan keras, dan juga terutama sekali karena kedigdayaanya.
"Reksosuro! Darumuko!"
"Hamba siap, sang resi!"
Dua orang itu sudah cepat maju dan memberi hormat dengan sikap gagah.
"Reksosuro, engkau berhadapan dengan orang-orang sendiri, sekarang ceritakanlah apa yang kalian saksikan di Sungai Tambakberas ketika terjadi pertandingan antara Ronggo Lawe dan Kebo Anabrang."
Dengan bangga Reksosuro lalu bercerita.
"Ketika itu, hanya hamba berdua tadi Darumuko saja yang masih memperhatikan mereka berdua tenggelam. Semua prajurit sudah bertempur kembali karena mengira mereka keduanya tewas dan tenggelam. Akan tetapi hamba berdua yang ketika itu aling bertaruh untuk kemenangan seorang di antara mereka, mengenal siapa adanya Senopati Kebo Anabrang yang terkenal ahli didalam air dan kabarnya kuat menyelam di dalam air sampai setengah jam lamanya. Benar saja, mereka muncul dan Adipati Rnggo Lawe berada dalam keadaan lemas karena kehabisan napas dan kepalanya dibentur-benturkan batu kali sampai pecah!"
Reksosuro menceritakan peristiwa itu dengan menggerak-gerakkan tagannya sehingga semua orang tertarik karena memang pertandingan antara dua orang senopati yang gagah perkasa itu selalu menjadi buah percakapan orang dengan kagum.
"Kemudian hamba berdua terkejut dan cepat bersembunyi ketika hamba melihat ada orang berloncatan di atas batu-batu kali sambil membawa sebatang keris terhunus. Orang itu dengan sigapnya meloncat ke belakang Senopati Kebo Anabrang. Kemudian menusukkan kerisnya ke belikat senopati itu sampai tembus dada. Hamba melihat sendiri, melihat betapa darah muncrat-muncrat dan Senopati Kebo Anabrang menoleh, terbelalak lalu terkulai di atas batu, lengannya masih memiting leher Ronggo Lawe yang juga sudah tewas! Mengerikan sekali!" (Lanjut ke
Jilid 06) Kemelut Di Majapahit (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 06
"Siapa orang itu? Siapa yang membunuh Kebo Anabrang dari belakang?"
Singosardulo membentak dengan penasaran dan terkejut bukan main.
"Bukan lain adalah Gusti Demang Lembu Suro"."
"Ahhhh"!!"
Singosardulu melompat dan kelihatan tidak percaya.
"Duduklah, Tumenggung singosardulo""
Resi Mahapati menenangkannya dengan gerakan tangan.
"Sudah jelas, mengapa engkau tidak percaya? Dan sebabnya mudah sekali diduga. Lembu Sora menyaksikan betapa Ronggo Lawe dianiaya, disiksa oleh Kebo Anabrang, maka dia menjadi tidak tega, mata gelap karena amarahnya lalu membunuh Kebo Anabrang. Apakah anehnya itu?"
"sekarang aneh"
Dan hebat""
Singo sardulo masih penasaran dan belum hilang kagetnya. Berita ini baru saja didengarnya dan memang mengejutkan.
"Sekarang sudah tiba waktunya membuka rahasia ini.
"kata Resi Mahapati."
Maka kita harus membagi-bagi tugas, Tumenggung singosardulo, andika merupakan seorang yang dekat dengan Lembu Sora.
Untuk menghilangkan keraguanmu, maka sebaiknya ansika menemui Lembu Sora, mengajaknya bercakap-cakap kemudian coba kemukakan berita yang andika dengar tentang pembunuhan yang dilakukan atas diri Kebop Anabrang.
Lihat saja bagaimana reaksinya!
Kalau sudah yakin hatimu, nah, sebarkan berita itu secara berbisik-bisik di anatara para ponggawa kerajaan."
Singosardulo mengangguk-angguk, merasa setuju karena dia tadinya khawatir kalau dia disuruh menyebarluaskan berita yang belum tentu benar itu.
Kalau berita itu palsu dan dia menyebarkannya, berarti fitnah dan melakukan fitnah atas Demang Lembu Sora bukan main-main !
Akan tetapi kalau dia boleh menjajangi dulu, bertanya lagsung, dia percaya bahwa seorang gagah perkasa seperti Lembu Sora tidak akan mengingkari perbuatannya.
"Selain itu ada satu hal lagi uang amat penting.
"kata Resi Mahapati kemudian."
Pusaka Kolonadah milik Ronggo Lawe belum juga dapat ditemukan.
Sungguh aneh sekali mengapa mayat Sri Winarti itu lenyap begitu saja.
Ini gara-gara dua monyet ini yang tidak becus menangkap Reksosuro dan Darumuko.
"Maafkan hamba berdua, bagaimana hamba berdua dapat berdaya setelah bertemu dengan Setan jembros? "
Bantah Darumuko dengan muka membayangkan kengerian.
"Setan"
Eh, maksudmu Ki Jembros?"
Tanya seorang tumenggung lain yang sejak tadi hanya mendengarkan saja.
Nama Ki Jembros sudah terkenal maka mendengar nama manusia yang sakti dan aneh seperti setan itu disebut-sebut, dia terkejut.
Hanya Progodigdoyo yang sudah diceritakan oleh paman gurunya yang tidak merasa heran.
Juga Tumenggung Singosardulo memandang dengan mata terbelalak.
"Benar, gusti tumenggung,"
Kata Reksosuro yang suka sekali menceritakan hal-hal yang menarik.
"Ki Jembros sendiri yang menolong bocah itu dan hamba berdua dibuat main-main, hampir dibunuh!"
Dia bergidik kemudian menceritakan pengalaman mereka.
Tumenggung singosardulo dan para pembantu Mahapati yang lain, yang belum mendengar tentang peristiwa itu, mendengarkan dengan mata terbelalak penuh kengerian.
"Akan tetapi kita tidak perlu takut menghadapi Ki Jembros.
"kata Mahapati membesarkan hati para pembatunya."
Apalagi karena ternyata dia hanya mempermainkan Reksosuro dan Darumuko, buktinya dia tidak membunuh mereka ini.
Aku sendiri ingin sekali waktu bertemu dan melihat sampai di mana kesaktiannya, apalagi aku akan mengundang kakak seperguruanku, yaitu Empu Tanjungpetak yang bertapa di pantai Laut Jawa.
Dengan adanya kakak seperguruanku itu, biar ada lima orang Ki Jembos, aku tidak takut!
Pula, dalam pelaksanaan tugas-tugas kita yang berat, kita haraus memperoleh bantuan banyak orang pandai.
Betapapun juga, Kolonadah harus dapat kumiliki.
Menurut penyelidikanku, pusaka Kolonadah itu diciptakan oleh Empu Supamandrangi khusus untuk seorang raja!
Siapa yang memiliki Kolonadah akan kuat menjadi raja!"
"Akan tetapi, paman Resi Mahapati. Kalau memang pusaka Kolonadah sebuah pusaka untuk seorang raja, mengapa Ronggo Lawe yang baru berpangkat adipati saja sudah tewas?"
Bantah Tumenggung Singosardulo.
"Ha-ha, betapapun ampuh dan saktinya sebuah pusaka, namun yang menentukan adalah sepak terjang si manusia sendiri. Aku percaya, dengan Kolonadah di tangannya, tentu akhirnya Ronggo Lawe akan terus menaik kedudukannya, tidak hanya menjadi Adipati Tuban. Akan tetapi dia murka, dia hendak menentang sri baginda secara berterang, maka sebelum keampuhan pusaka itu mengangkatnya, dia telah tersandung oleh kelakukan sendiri. Pendeknya, aku percaya akan kesaktian Empu Supamandrangi dalam menciptakan keris pusaka itu dan aku takkan menghantikan usahaku mencari Kolonadah sampai dapat. Eh, Progodigdoyo! Karena lenyapnya Sri Winarti dan pusaka Kolonadah terjadi di Sungai Tambakberas yang menjadi daerahmu, maka aku menyerahkan tugas menemukan kembali Kolonadah ini kepadamu. Sebarlah orang-orangmu untuk menyelidiki dan mencari pusaka itu sampai dapat."
"Baik, paman resi. Akan saya usahakan sampai berhasil."
Jawab Progodigdoyo. Setelah mengadakan percakapan semalam suntuk, membagi-bagi tugas, dan mengatur rencana "Perjuangan"
Mereka, menjelang pagi Resi Mahapati kembali ke Mojopahit, diiringi oleh beberapa orang pengawalnya.
Setelah tiba di gedungnya, dia membubarkan pengawal-pengawal itu dan langsung memasuki kamarnya.
Lestari yang berdandan rapi menyambutnya dengan senyum yang cerah, secerah matahari pagi itu.
Biar pun wanita muda ini telah beberapa bulan menjadi selirnya yang tidak pernah terpisah lagi setiap hari, namun untuk ke sekian kalinya Resi Mahapati terpesona oleh kecantikan dan kemudaan wanita ini, oleh sinar mata yang agaknya penuh dengan cinta dan kemesraan terhadapnya itu.
Langsung saja dirangkulnya Lestari dan dikecup pipinya.
"Aduh diajeng"
Sungguh makin cantik saja engkau!"
Lestari tersenyum manis dan dengan sikap manja melepaskan diri dari pelukan, lalu dengan lenggat-lenggut seperti anak manja dia menjauhkan diri dari Resi Mahapati yang duduk di atas pembaringan yang harum itu.
"Ke sinilah manis, cah ayu, cah denok"
Aku rindu padamu, Lestari. Aih, berpisah satu malam saja denganmu rasanya seperti berpisah satu tahun ! Kesinilah, Lestari, aku cinta padamu""
Resi yang usianya sudah setengah abad itu ternyata masih pandai merayu.
Tentu saja dia tidak mau menggunakan sihir sekarang, karena wanita yang ditundukkan dan menyerahkan diri kepadanya di bawah kekuatan sihirnya tidak wajar dan tidak memuaskan hatinya.
Berbeda kalau wanita itu menyerahkan diri dengan suka rela, seperti yang dilakukan oleh Lestari selama ini.
Penyerahan diri wanita muda belia ini secara suka rela tanpa pengaruh sihir lagi, membuat sang resi menjadi bangga, karena hal itu dianggapnya bahwa biar pun usianya sudah tua namun dia masih cukup "jantan"
Untuk menundukkan wanita dan meraih cinta kasihnya.
Dengan lenggang-lenggok yang dapat mencabut sukma pria, Lestari enggan mendekat, malah cemberut dan melerok, akan tetapi sikap ini malah menambah kemanisan wajahnya dalam pandang mata Mahapati yang benar-benar di luar kesadarannya telah terpesona di bawah kekuatan "sihir"
Kecantikan wajah, kemanjaan sikap, dan kepadatan tubuh muda itu.
"Ahh, siapa percaya rayuan pria? Di mulut menyatakan cinta, akan tetapi hatinya mengenangkan wanita lain yang semalam menemaninya tidur!"
Kata Lestari manja, sikapnya seperti seorang wanita yang kecewa karena pria yang dicintanya tidak setia kepadanya.
"Wah-wah"
Bagaimana kau bisa bilang begitu, diajeng Lestari?
Ah, bagaimana sih kau ini?
Dicinta orang, dirindukan setengah mati, sampai semalam suntuk badanku kesemutan semua karena rindunya akan sentuhanmu, eh, kau malah menyangka yang bukan-bukan."
"Ahhhh, kakangmas resi tidak perlu membohong kepadaku. Ke mana saja perginya seorang pria sampai meninggalkan kekasihnya semalam suntuk kalau tidak menemui wanita lain yang menjadi kekasih barunya? Paduka semalam bersenang-senang, tidur hangat dan nikmat, akan tetapi aku kedinginan dan kesepian, hanya bantal guling menyaksikan tangisku""
Sepasang mata yang indah itu mulai menjadi merah, tanda bahwa air matanya sudah hampir keluar.
"Diajeng"
Lestari kekasihku, pujaan hatiku, aku bersumpah tidak mempunyai kekasih lain kecuali engkau, manis. Aku bersumpah demi Hyang Bathara Syiwa, biar aku dikutuk kalau aku membohongimu."
Mahapati berkata dan dia sudah turun dari pembaringan, menghampiri Lestari dan merangkulnya dengan penuh kasih sayang.
"Ah, kakangmas, siapa yang tidak tau bahwa sumpah seorang pria di depan wanita adalah seperti halilintar tanpa hujan."
"Eh, apa maksudmu, nimas?"
"Hanya keras suaranya, mengesankan, akan tetapi tidak ada ada buktinya."
"Wah-wah apakah kau tidak percaya kepadaku? Marilah, nimas, jangan mengodaku, aku benar-benar sudah rindu setengah mati."
Resi Mahapati menarik selirnya terkasih itu ke arah pembaringan.
Lestari tidak menolak, akan tetapi ketika dia sudah duduk di atas pembaringan dan sang resi hendak memeluknya, dia menggeser pinggulnya menjauhi lagi.
Sikapnya seperti jinak-jinak merpati sehingga menambah gairah di hati sang resi yang seolah-olah mulai dibakar oleh nafsu berahinya.
"Lestari""
Suaranya gemetar penuh getaran nafsu. Lestari menggoyang-goyang pundak dan kepala dengan manja.
"Aku masih belum percaya, kakangmas resi. Kau tentu main gila dengan perempuan lain semalam, maka engkau tidak pulang!"
"Ah, sungguh sumpah tujuh turunan! Aku pergi untuk urusan yang amat penting, nimas, sama sekali tidak bertemu dengan seorang pun perempuan."
"Mana aku bisa percaya? Paduka harus menceritakan dulu kepada saya tentang apa yang paduka lakukan semalam, baru saya percaya""
Mahapati menarik napas panjang, merasa bahwa dia sama sekali tidak berdaya menghadapi selirnya ini.
"Baiklah, baiklah, sayang. Aku pergi ke Tuban""
"Oh, ke Tuban? Kenapa saya tidak diajak, kakangmas resi?"
"Ah, ada urusan penting, urusan negara, mana bisa mengajak wanita?"
Lestari merajuk lagi.
"Ceritakan kakangmas. Urusan apa yang demikian pentingnya itu. Ceritakan semua agar hati saya puas dan lega."
"Tak usah kuceritakan sejelasnya. Aku bertemu dengan Progodigdoyo, dengan teman-teman lain untuk membicarakan urusan negara, urusan kaum pria. Kuceritakan engkau tidak akan mengerti."
Lestari cemberut.
"Pasti urusan perempuan! Kalau tidak mengapa paduka enggan menceritakan?"
Mahapati hendak mencium bibir yang cemberut penuh masu itu, akan tetapi Lestari sengaja membuang muka sehingga hanya pipinya saja yang kena dicium.
"Eh, kau tidak suka dicium, Lestari?"
"Paduka tahu bahwa saya suka sekali, akan tetapi paduka menyimpan rahasia terhadap saya. Bukankah sudah sering kali saya katakan bahwa saya adalah milik paduka, bahwa saya menyerahkan jiwa raga saya kepada paduka? Kita dua badan satu hati, mengapa paduka menyimpan rahasia? Paduka hanya menyerahkan kepala akan tetapi masih memegangi ekornya, tidak sama sekali menaruh kepercayaan kepada saya."
Mahapati kehabisan akal, lalu dirangkulnya wanita itu.
"eh, ini rahasia, cah ayu. Rahasia, cah ayu. Rahasia besar!"
"Apakah kakangmas resi tidak percaya kepada saya? Saya yang sudah menyerahkan segala-galanya? Sungguh kejam""
Dan kini Lestari membiarkan air matanya menetes-netes menuruni kedua pipinya.
"Eh-eh", jangan menangis, sayang."
Mahapati memeluk dengan penuh iba.
"Baiklah kuceritakan. Akan tetapi"
Hemm, apa upahnya?"
Lestari menoleh, memandang, matanya masih basah akan tetapi mulutnya tersenyum dan dia lalu mengambung pipi yang ada cambangnya melintang itu.
"Upahnya cium""
Bisiknya manja.
"Hanya itu?"
"Selanjutnya terserah, apa pun yang paduka minta akan saya penuhi""
Ucapan ini disertai senyum dan kerling mata penuh janji.
"Ah, kekasihku, bagaimana aku dapat membohongimu? Kau begini cerdik""
Mahapati lalu merangkul dan menarik tubuh kekasihnya itu untuk rebah di atas pembaringan. Sambil merangkul leher Lestari dan rebah miring saling berhadapan, dia berbisik.
"Karena rahasia, kita harus hati-hati. Nah, dengarlah""
Sambil bebisik-bisik, tanganya sibuk menggerayangi dan membelai tubuh kekasihnya, kadang-kadang menciumi mulut, hidung, mata dan pipi yang sedemikian dekatnya, dengan suara tersendat-sendat didesak nafsu birahi yang makin memuncak, Sang Resi Mahapati lalu menceritakan semua peristiwa dan semua rencana yang di bicarakan di dalam pertemuan semalam kepada Lestari!
Tidak ada satu pun yang dirahasiakan terhadap wanita ini, karena dalam keadaan didesak nafsu yang menuntut pelepasan itu dia ingin cepat-cepat menyelesaikan ceritanya dan menuntut hadiahnya.
Sampai lama mereka saling bisik-bisik dan terbukalah semua rahasia yang kalau terdengar orang lain amat berbahaya itu, semua dituturkan tanpa ragu-ragu lagi kepada Lestari yang mencatat hal-hal yang penting di dalam hatinya.
Matahari telah naik tinggi ketika kamar itu menjadi sunyi untuk beberapa lamanya, kemudian terdengar suara mendengkur dari Resi Mahapati yang rebah pulas dalam keadaan lelah dan puas, dengan dahi masih berkeringat.
Perlahan-lahan Lestari turun dari pembaringan, menghapus keringatnya dari dahi dan leher dengan ujung tapih (kain), digosoknya muka dan lehernya kuat-kuat seperti orang hendak membersihkan kotoran, lalu mengerling ke arah Resi Mahapati yang tidur mendengkur itu dengan sinar mata penuh kebencian.
Tentu resi itu akan terkejut sekali kalau dapat melihat sinar mata ini, yang bagaikan bumi dan langit bedanya dari pada sinar mata wanita itu ketika melayani cumbuannya.
Tak lama kemudian, setelah mandi dan bertukar pakaian, Lestari sudah duduk kembali di dalam kamar itu, wajahnya segar kemerahan, akan tetapi pandang matanya kepada tubuh yang masih rebah terlentang di atas pembaringan itu masih penuh kebencian dan kemukaan yang ditahan-tahan, lalu dia duduk di atas kursi, termenung.
Kadang-kadang dia mengepal tinju, kadang-kadang mengerutkan alisnya yang berbentuk indah seperti dilukis, kadang-kadang dia tersenyum seorang diri, senyum yang membayangkan kemenangan.
"Bagus"
"bisik hatinya.
"Ayahku, ibuku, adikku, mengalami penasaran, tewas oleh si jahanam Progodigdoyo perwira Mojopahit di Tuban, dan tidak ada seorang pun pejabat dan penguasa Mojopahit yang peduli! Sekaranglah tiba saatnya aku membalas dendam, aku tumpas habis semua penguasa Mojopahit, akan kudatangkan kemelut di Mojopahit sebagai balas dendam hancurnya keluargaku, melalui si tua bangka Mahapati! Setelah itu, akan kuhancurkan si Progodigdoyo, baru kemudian si Mahapati! Hidik, ya, begitulah, dan usahaku pasti berhasil baik! Ayah"
Ibu"
Adik Sutejo"
Tenang-tenanglah kalian di alam baka"
Jangan mengira Lestari akan diam saja!
Tidak percuma aku mengorbankan tubuhku dan perasaanku, menerima perghinaan dan pemerkosaan dengan memaksa senyum di bibir!
Kelak akulah yang akan tertawa dan kalian, menusia jahanam di Mojopahit, kalian yang akan menangis!"
Lalu terdengar isak tangis wanita muda itu.
Akan tetapi hanya sebentar saja dia menangis karena begitu dia mendengar Sang Resi Mahapati menggeliat di atas pembaringan, dia lalu menghampiri dan mengambung pipi sang resi dengan hidungnya yang mancung, bibirnya tersenyum menyeringai dan mata yang basah itu berkilat-kilat.
Lembu Sora mengelus jenggotnya yang seperti jenggot Sang harya Werkudara itu, kemudian dia tenang kembali seperti memang telah menjadi sifatnya, lalu dengan suara halus, dia berkata.
"Dimas tumenggung, coba kau ulangi kembali desas-desus yang kau dengar itu."
Dengan lebih hati-hati tumenggung itu menjawab.
"Desas-desus terbawa angin yang saya dengar itu adalah bahwa kematian Kebo Anabrang bukanlah karena smpayuh (mati bersama) dengan Ronggo Lawe, melainkan ada yang membunuhnya, ada yang menusukkan kerisnya dari belakang pada saat Kebo Anabrang membentur-benturkan kepala Ronggo Lawe yang sudah kepayahan itu di tengah Sungai Tambakberas."
"Hemmm..., dan sudah jelas siapa yang membunuh Kebo Anabrang dengan tusukan keris itu?"
Kini lembu Sora menatap tajam sehingga sang tumenggung menunduk, tidak kuat menahan sinar mata tajam penuh selidik itu. Singosardulo mengangguk.
"Manurut bunyi desas-desus itu, andaikanlah kakangmas Lembu Sora yang membunuh Kebo Anabrang."
"hemmm..."
Lembu Sora sama sekali tidak kelihatan kaget.
"Karena khawatir akan desas-desus berbahaya itu, maka saya lalu cepat-cepat menjumpai andika untuk bertanya, kakangmas demang. Kalau berita itu hanya fitnah belaka, maka andika harus bertindak untuk memberantasnya. Kalau sampai berita ini terdengar oleh sang prabu, tentu tidak akan baik jadinya!"
Dia berhenti sebentar, lalu bertanya hati-hati.
"Sungguh pun saya sendiri tidak percaya akan isi desas-desus itu, akan tetapi belum lega hati saya kalau tidak mendengar sendiri jawaban andika, kakangmas demang. Benarkah desas-desus itu bahwa andika membunuh Kebo Anabrang?"
Kini singodardulo yang memandang penuh selidik karena untuk itulah sesungguhnya dia datang menghadap demang yang sakti ini.
"Sebelum aku menjawab, katalanlah apakah desas-desus itu menyatakan bahwa perbuatan Kebo Anabrang itu ada yang melihatnya?"
"Ada. Kabarnnya ada dua orang ponggawa yang ketika itu sedang berperang, yang melihat sendiri perbuatan itu. Kakangmas demang, jawablah bahwa berita itu bohong, bahwa andika tidak melakukan hal itu."
Lembu Sora menunduk dan menarik napas panjang, lalu berkata.
"aku tahu bahwa kenyataan tidak mungkin ditutup-tutupi. Seorang ksatria harus berani mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ya benar, adimas tumenggung. Akulah yang membunuh kebo Abarang!"
"Ahh...!"
Tumenggung Singosardulo benar-benar terkejut sekali mendengar pengakuan yang tidak disangka-sangka ini dan dia memandang dengan mata terbelalak.
"akan tetapi mengapa...? Bukankah andika sendiri yang memimpin pasukan menghadapi barisan Tuban? Bukankah andika sendiri yang membela Mojopahit dan menentang Ronggo Lawe?"
"Benar, dan aku pun agaknya tidak akan mencampuri pertandingan antara mereka. Buktinya, sampai Ronggo Lawe kalah pun aku tidak membantunya. Hanya saja, aku melihat kecurangan yang dilakukan Kebo Anabrang dalam pertandingan itu. Dia sengaja memancing Ronggo Lawe ke tengah sungai Tambakberas dan mengandalkan kepandaiannya di dalam air, dia menyeret Ronggo Lawe ke dalam air dan menanamkannya, kemudian menyiksanya. Hatiku tidak kuat menyaksikan itu, maka kubunuh dia. Andaikata pertempuaran itu terjadi sewajarnya, di darat seperti seorang gagah menghadapi lawannya, biar pun bagaimana aku tidak nanti akan mencampurinya."
Tumengung singosardulo masih belum hilang kagetnya.
"Akan tetapi... desas-desus itu mulai terdengar ke mana-mana, bagaimana kalau terdengar oleh sang prabu...?"
Dengan tenang Lembu Sora menjawab.
"Aku sudah berani berbuat, tentu berani pula menangung segala akibatnya, dimas tumenggung. Hal itu sudah terjadi, dan apa pun yang akan menjadi akibat, akan kuhadapi sendiri."
Tumenggung Singosardulo lalu berpamit dan tergopoh-gopoh dia menghubungi Resi Mahapati untuk menyampaikan berita penting tentang pengakuan Lembu Sora itu. Resi Mahapati tertawa girang.
"Nah, kau tunggu apa lagi, Tumenggung Singosardulo? Sekarang engkau telah mendengar sendiri dari mulut Lembu Sora. Nah, sebarkanlah berita ini ke lingkungan istana. Ha-ha-ha, Lembu Sora nyawamu telah berada di tanganku, ha-ha!"
Akan tetapi, Tumenggung Singosardulo masih merasa segan terhadap Deman Lembu Sora, maka dia bertanya.
"Paman resi, untuk memperoleh kedudukan tinggi saya kira semestinya kalau kita menyingkirkan Patih Nambi, akan tetapi mengapa kakangmas Demang Lembu Sora?"
Tiba-tiba Resi Mahapati menghentikan ketawanya dan memandang bengis ke arah tumenggung itu.
"Singodardulo Engkau hanya tahu membantuku dan kelak akan kebagian kedudukan yang baik, mengapa banyak cerewet?"
Tumenggung itu terkejut. Dia memang takut kepada resi ini dan sudah berada di bawah pengaruhnya, maka cepat dia berkata.
"Harap maafkan, paman resi..."
Resi Mahapati tersenyum, lalau berkata, suaranya berubah halus.
"Kau percayakanlah saja kepadaku, Tumenggung Singosardulo. Bukan semata-mata aku memusuhi Lembu Sora tanpa sebab yang kuat. Sudah kuperhitungkan masak-masak. Kau tahu, andaikata kita berhasil menyingkirkan Patih Nambi, siapa yang menjadi calon terkuat untuk menggantikan kedudukan patih itu? Bukan lain si Lembu Sora itulah! Karena itu, dia harus disingkirkan lebih dulu karena kita mempunyai alasan kuat setelah dosanya itu berada di tangan kita. Untuk menyingkirkan nambi masih belum begitu mudah karena belum ada alasanya. Nah, sekarang berangkatlah dan sebarkan berita tentang pengakuan Lembu Sora membunuh Kebo Anabrang itu."
Setelah tumenggung itu pergi, Resi Mahapati kembali ke kamarnya di mana telah menunggu Lestari dan seperti biasa, kini resi itu menuturkan segala percakapannya dengan Tumenggung Singosardulo tanpa menyembunyikan sesuatu.
Semenjak rayuan Lestari malam sekembalinya dari Tuban itu, Resi Mahapati mempercayai selirnya ini, bahkan dia mendapat kenyataan akan kecerdikan selirnya yang masih amat muda ini dalam mengatur siasat, maka dia tidak segan-segan untuk mendengarkan pendapat dan nasehat selirnya yang tercinta.
"Kakangmas resi,"
Kata Lestari setelah dia mendengarkan penuturan tentang pengakuan Lembu Sora itu.
"Saya mendengar bahwa Lembu Sora adalah seorang yang amat kuat kedudukannya, disayang oleh sang prabu dan mempunyai banyak pengikut. Oleh karena itu, paduka harus hati-hati, kakangmas dan sebaliknya jangan menentang secara berterang."
Resi Mahapati mendengarkan dengan kagum dan merangkul selirnya dengan hati bangga dan penuh kemesraan.
"Kalau menurut pendapatmu bagaimana baiknya, Lestari?"
"Sebaiknya kalau paduka bekerja ditempat gelap dan hanya dengan cara mengadu domba saja maka siasat paduka akan berhasil. Bukankah mendiang Kebo Anabrang mempunyai putera yang sudah dewasa?"
"Benar, namanya Joko Taruno,"
Jawab Mahapati.
"Nah, rahasia kematian Kebo Anabrang ini harus disampaikan kepada Joko Taruno itu agar bangkit dendamnya terhadap Lembu Sora."
"Akan tetapi, apakah yang dapat dilakukan oleh Joko Taruno itu agar bangkit dendamnya terhadap Lembu Sora."
"Setidaknya dia dapat menyalakan api permusuhan terhadap Lembu Sora, kakangmas resi. Dan sebaiknya kalau paduka membayangkan kepada sang prabu bahwa para ponggawa mereka tidak puas melihat betapa sang parbu bersikap baik terhadap Lembu Sora yang telah berkhianat dan membunuh Kebo Anabrang. Pendeknya, tentu paduka dapat mengorbankan kemarahan di hati sang prabu terhadap Lembu Sora. Di lain pihak, paduka dapat mengusik hati Lembu Sora dengan mengatakan bahwa putera Kebo Anabrang dibantu oleh Nambi akan membalas dendam. Pendeknya, dengan cara mengaduk sana-sini, tentu menimbulkan kekeruhan suasana itu, kiranya akan mudah saja untuk menyingkirkan Lembu Sora atau membuat Lembu Sora memberontak terhadap Mojopahit."
"Hebat..., hebat...!"
Resi Mahapati girang sekali dan mengelus rambut kepala yang hitam halus dan berbau harum itu.
"ah, agaknya Hyang Bathara Syiwa telah memberkahi aku dengan munculnya seorang seperti engkau dalam hidupku, Lestari. Engkau cantik jelita, cerdik pandai... ah, betapa bahagia hatiku."
"Saya hanya ingin melihat paduka memperoleh kedudukan yang tertinggi dan saya akan ikut merasakan kemuliaan paduka, kakangmas resi."
Hati sang resi makin menjadi girang dan dia segera mempersiapkan segala sesuatunya untuk menjalankan siasat yang direncanakan bersama selirnya itu.
Dikumpulkannya para pembantunya yang setia dan dikirim banyak mata-mata untuk menyelidiki gerak-gerik orang-orang yang menjadi sasarannya, terutama sekali gerak-gerik Patih Nambi, Joko Taruno dan Lembu Sora.
Resi Mahapati tidak bertindak tergesa-gesa.
Jaring itu mulai dipasangnya dengan teliti dan rapat, karena dia ingin agar sekali bertindak akan memperoleh hasil yang sebaiknya.
Dia maklum bahwa dia sedang mainkan suatu pekerjaan yang amat berbahaya dan kegagalan berarti bunuh diri, maka dia memperhitungkannya masak-masak dan tidak mau bertindak secara sembrono, menanti saat dan kesempatan yang sebaik mungkin.
Sementara itu, secara halus pula, tidak kentara dan tidak menyolok sehingga tidak ada yang tahu atau menduga bahwa sumbernya dari dia, Tumenggung Singosardulo mulai menyebarkan berita tentang rahasia kematian Kebo Anabrang yang sesungguhnya tewas di tangan Lembu Sora.
Hebat sekali desas-desus ini, seperti api dikipas angin, melanda seluruh istana, bahkan seluruh penduduk kota raja dalam waktu beberapa bulan saja sudah membicarakannya dengan bisik-bisik dan dengan penuh ketegangan, kemudian berita itu menjalar ke luar kota raja.
Akan tetapi, tidak ada yang berani membicarakan desas-desus.
Lembu Sora sendiri yang tahu akan adanya desas-desus itu, hanya tenang dan dengan sikap gagah dan menanti akibat daripada perbuatannya itu.
Bahkan untuk menjaga segala kemungkinan, tak lama kemudian, yaitu kurang lebih dua tahun setelah kematian Ronggo Lawe dan beberapa bulan setelah Aryo Wirorojo pindah ke Lumajang dan menjadi adipati di sana, Lembu Sora lalu mengungsikan keluarganya ke Lumajang sungguh pun dia sendiri masih tetap berada di Mojopahit dan setiap pertempuran selalu menghadiri di hadapan sang prabu dengan setia.
"Paman empu dan paman resi, matahari mulai condong ke barat, kita harus mempercepat perjalanan kalau tidak kita akan kemalaman di hutan itu,"
Kata Reksosuro yang jangkung bermata juling itu.
Mereka itu semua naik kuda.
Reksosuro, pembantu resi Mahapati dan lima orang pengawal lain yang ke semuanya memiliki kepandaian tinggi.
Enam orang ini mengiringkan dua orang kakek yang juga menunggang kuda dan melihat dua orang kakek itu menjalankan kuda perlahan-lahan sambil bercakap-cakap Reksosuro yang takut kemalaman di hutan itu membujuk mereka berdua agar mempercepat perjalanan.
Dua orang kakek itu adalah Empu Tanjungperak dan Resi Harimurti.
Empu Tanjungperak adalah kakak seperguruan dari Resi Mahapati.
Dia adalah seorang pertapa di pertapaan Tanjungperak yang terletak di Pantai Laut Jawa, di sebelah barat laut Tuban.
Beberapa hari yang lalu, Reksosuro bersama lima orang kawannya datang menghadap kepada Empu Tanjungperak menyerahkan surat undangan Resi Mahapati untuk kakak seperguruannya ini.
Kebetulan sekali pada waktu itu, di pertapaan Tanjungperak sedang kedatangan seorang tamu, yaitu Resi Harimurti, seorang sahabat baik Empu Tanjungpetak, bahkan sudah mengenal pula Resi Mahapati dengan baik.
Oleh karena itu, Empu Tanjungpetak lalu mengajak Resi harimurti untuk bersama-sama pergi mengunjungi Resi Mahapati di Mojopahit.
Demikianlah, dua orang kakek yang terkenal memiliki kesaktian ini lalu diiringi oleh Resksosuro dan lima orang temannya, menuju ke Mojopahit dan pada sore hari itu mereka telah tiba di kaki Gunung Kendeng yang kaya akan hutan-hutan liar.
Bagi Reksosuro dan kawan-kawannya, perjalanan itu terlalu lamban, akan tetapi agaknya dua orang kakek itu lebih suka melakukan perjalanan lamban sambil menikmati pemandangan alam yang indah di sepanjang perjalanan sambil bercakap-cakap.
"Reksosuro apa halangannya kalau kemalaman di dalam hutan?"
Empu Tunjungpetak menjawab.
"Melewatkan malam di hutan lebih menyenangkan. Kalian pergilah lebih dulu ke hutan itu, menanti kami di sana kalau perjalanan kami terlalu lambat bagi kalian."
"Baik, paman empu,"
Jawab Reksosuro yang memang tidak sabar mengikuti perjalanan yang seenaknya dan perlahan-lahan itu.
Dia memberi isyarat kepada teman-temannya dan menggeprak kudanya, maka membedalnya enam ekor kuda itu di depan, ke arah hutan yang nampak bergerombol dari situ.
Sebentar saja mereka telah jauh meninggalkan dua orang kakek itu.
Setelah tiba dihutan, Reksosuro dan teman-temannya meloncat turun dari atas panggung kuda masing-masing membiarkan tunggangan-tunggangan mereka makan rumput dan mereka sendiri duduk beristirahat melepaskan lelah.
Lembu Sora sendiri yang tahu akan adanya desas-desus itu, hanya tenang dan dengan sikap gagah dan menanti akibat daripada perbuatannya itu.
Bahkan untuk menjaga segala kemungkinan, tak lama kemudian, yaitu kurang lebih dua tahun setelah kematian Ronggo Lawe dan beberapa bulan setelah Aryo Wirorojo pindah ke Lumajang dan menjadi adipati di sana, Lembu Sora lalu mengungsikan keluarganya ke Lumajang sungguh pun dia sendiri masih tetap berada di Mojopahit dan setiap pertempuran selalu menghadiri di hadapan sang prabu dengan setia.
"Paman empu dan paman resi, matahari mulai condong ke barat, kita harus mempercepat perjalanan kalau tidak kita akan kemalaman di hutan itu,"
Kata Reksosuro yang jangkung bermata juling itu.
Mereka itu semua naik kuda.
Reksosuro, pembantu resi Mahapati dan lima orang pengawal lain yang ke semuanya memiliki kepandaian tinggi.
Enam orang ini mengiringkan dua orang kakek yang juga menunggang kuda dan melihat dua orang kakek itu menjalankan kuda perlahan-lahan sambil bercakap-cakap Reksosuro yang takut kemalaman di hutan itu membujuk mereka berdua agar mempercepat perjalanan.
Dua orang kakek itu adalah Empu Tanjungperak dan Resi Harimurti.
Empu Tanjungperak adalah kakak seperguruan dari Resi Mahapati.
Dia adalah seorang pertapa di pertapaan Tanjungperak yang terletak di Pantai Laut Jawa, di sebelah barat laut Tuban.
Beberapa hari yang lalu, Reksosuro bersama lima orang kawannya datang menghadap kepada Empu Tanjungperak menyerahkan surat undangan Resi Mahapati untuk kakak seperguruannya ini.
Kebetulan sekali pada waktu itu, di pertapaan Tanjungperak sedang kedatangan seorang tamu, yaitu Resi Harimurti, seorang sahabat baik Empu Tanjungpetak, bahkan sudah mengenal pula Resi Mahapati dengan baik.
Oleh karena itu, Empu Tanjungpetak lalu mengajak Resi harimurti untuk bersama-sama pergi mengunjungi Resi Mahapati di Mojopahit.
Demikianlah, dua orang kakek yang terkenal memiliki kesaktian ini lalu diiringi oleh Resksosuro dan lima orang temannya, menuju ke Mojopahit dan pada sore hari itu mereka telah tiba di kaki Gunung Kendeng yang kaya akan hutan-hutan liar.
Bagi Reksosuro dan kawan-kawannya, perjalanan itu terlalu lamban, akan tetapi agaknya dua orang kakek itu lebih suka melakukan perjalanan lamban sambil menikmati pemandangan alam yang indah di sepanjang perjalanan sambil bercakap-cakap.
"Reksosuro apa halangannya kalau kemalaman di dalam hutan?"
Empu Tunjungpetak menjawab.
"Melewatkan malam di hutan lebih menyenangkan. Kalian pergilah lebih dulu ke hutan itu, menanti kami di sana kalau perjalanan kami terlalu lambat bagi kalian."
"Baik, paman empu,"
Jawab Reksosuro yang memang tidak sabar mengikuti perjalanan yang seenaknya dan perlahan-lahan itu.
Dia memberi isyarat kepada teman-temannya dan menggeprak kudanya, maka membedalnya enam ekor kuda itu di depan, ke arah hutan yang nampak bergerombol dari situ.
Sebentar saja mereka telah jauh meninggalkan dua orang kakek itu.
Setelah tiba dihutan, Reksosuro dan teman-temannya meloncat turun dari atas panggung kuda masing-masing membiarkan tunggangan-tunggangan mereka makan rumput dan mereka sendiri duduk beristirahat melepaskan lelah.
"Wah, sialan!"
Reksosuro mengomel.
"Mengikuti orang tua bangka itu sungguh menjemukan. Tidur di hutan, makan seadanya dan kita sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk mengaso dan bersenang-senang. Celaka, sekarang kita harus bermalam di dusun kan kita bisa mencari anak perawan yang boleh disuruh memijati tubuh yang lelah."
"Yang ada di sini hanya lutung (monyet hitam)!"
Kawannya mengomel.
"Kalau kau telah boleh menangkap lutung betina, suruh memijati..."
Seorang teman menggoda.
"Memijati hidungmu!"
Reksosuro memaki "Aku heran sekali mengapa Sang Resi Mahapati mengudang kakek-kakek seperti itu!"
"Eh, kakang Reksosuro, apa kau lupa bahwa Sang Resi Mahapati sendiri juga seorang kakek-kakek?"
"Ah, kalau beliau lain lagi,"
Bantah si jangkung juling.
"Biar pun usianya sudah lanjut, akan tetapi tenaga dan semangatnya melebihi orang muda. Lihat saja, kalau tidak begitu masa selirnya yang cantik itu menjadi begitu tunduk dan mencinta? Wah, beliau hebat sekali... ha-ha!"
Dan mereka semua tertawa oleh kata-kata yang mengandung arti kecabulan itu.
"Siapa tahu kalau yang dua ini pun hebat!"
"Mestinya begitu karena paman Empu Tanjungpetak adalah kakak seperguruan Sang Resi Mahapati. Akan tetapi kelihatannya begitu loyo dan lemas, tidak seperti sang resi."
Mereka bercakap-cakap sambil melepaskan lelah dan menanti datangnya dua orang kakek yang tertinggal jauh sekali dan masih kelihatan jauh sekali dan masih belum kelihatan bayangannya itu.
Tiba-tiba enam orang itu terkejut dan menoleh ke dalam hutan penuh perhatian, wajah mereka mendadak tidak lesu lagi, bahkan bersemangat.
Mereka mendengar suara orang, suara wanita!
Suara wanita yang merdu menembang!
Tembang Asmaradana yang mengisahkan Prabu Ramawijaya menangis, meratap, mengeluh karena kehilangan Dewi Shinta.
Enam orang itu saling pandang dan mereka kagum sekali karena suara itu memang merdu dan terdengar amat janggal di dalam hutan yang lebat dan liar itu.
Akan tetapi wajah mereka tegang dan gembira.
Wanita yang dapat bertembang semerdu itu tentulah masih muda, dan sepantasnya cantik!
"Wah, dia tentu muda dan cantik...!"
Reksosuro berkata mengutarakan suara hatinya yang menduga-duga.
"Belum tentu, kakang Reksosuro. Sudah sering sekali aku keliru, mendengar suara yang amat merdu akan tetapi orangnya jelek!"
Bantah temannya.
Akan tetapi tidak ada yang menanggapi karena semua mata kini memandang ke dalam hutan.
Suara tambang itu telah berhenti karena telah habis, akan tetapi kini muncul seorang dara remaja yang membuat enam orang itu menahan napas.
Dara remaja itu usianya kurang lebih empat belas tahun dan tubuh yang dibungkus pakaian sederhana itu seperti buah mangga yang sedang ranum, matang belum akan tetapi mentah pun tidak, sedang segar-segarnya untuk dimakan dengan sambal pedas!
Kulitnya kuning langsat dan halus, akan tetapi di balik kulit tipis halus bersih itu mengandung kepadatan yang berisi, dengan urat-urat merah halus membayang di balik kulit.
Kakinya yang telanjang kelihatan bersih, seolah-oleh tidak pernah menginjak tanah becek.
Tangan kirinya memondong seikat kelapa muda dan pisang, sedangkan tangan kanannya membawa setangkai bunga mawar merah yang besar dan segar.
Wajahnya bulat lebat dan panjang merupakan mahkota hidup yang indah menghias wajahnya.
Sepasang matanya berkilat dan pandangnya tajam sekali, hidungnya kecil mancung dan mulutnya yang berbibir merah semringah itu selalu tersenyum.
Pembawaan dara ini gembira dan jenaka, dapat dilihat dari senyum bibirnya dan sinar matanya, akan tetapi segala sesuatu di depannya, senyum sinis yang hanya dapat timbul dari seorang manusia yang telah banyak menderita kepahitan dan kekecewaan dalam hidupnya.
Sukar mengatakan apakah dara remaja ini cantik dan manis, apakah ayu.
Pendeknya semua itu ada padanya!
Pada lehernya nampak seuntai kalung emas yang disambung dengan tali lawe sehingga tergantung panjang, dan hiasan kalung tersembunyi di antara buah dadanya yang mulai membusung tersembunyi di balik kain.
Enam orang yang memang selama dalam perjalanan diutus ke Tanjungpetak itu telah merasa kesepian dan kehilangan hiburan wanita yang ketika di kota raja hampir setiap malam mereka nikmati, tentu saja memandang ke arah dara remaja itu seperti pandang mata orang-orang kehausan melihat air sejuk jernih.
Pandang mata mereka seolah-olah hendak menelan dara itu bulat-bulat!
"Amboii...
cantiknya!"
"Ayu manis dan mulus...!"
"Denok montok menggairahkan!"
"Manis, mari ikut dengan aku dan aku akan menceraikan biniku!"
"Sayang, menembanglah lagi... suaramu merdu..."
Enam orang itu ribut memuji-muji, akan tetapi dara remaja itu seperti terpesona oleh Reksosuro dan sejak tadi dia terus memandang kepada si jangkung juling ini, bahkan kini dia melangkah perlahan menghampiri.
Langkahnya ini membuat mereka menelan ludah karena begitu lemah gemulai lenggangnya sehingga menonjolkan lekuk lengkung tubuhnya yang ranum dan belum matang benar namun setiap seginya menjanjikan bentuk-bentuk yang tentu amat mempesonakan dalam beberapa tahun lagi.
Kini dara itu berdiri dekat Reksosuro, wajah laki-laki itu terus diamatinya penuh perhatian, penuh selidik dan tak pernah berkedip sejak tadi setengah terbuka mengulum senyum, bergerak ketika bicara dan nampaknya sekilas deretan giginya yang kecil putih teratur rapi.
"Bukankah andika ini Reksosuro!"
Teriak seorang pengawal dengan kagum dan iri.
Reksosuro membusungkan dadanya yang kerempeng, mengurut kumisnya dengan bangga dan matanya yang juling itu sukar dikatakan melihat atau melirik ke mana karena mata ini selalu melirik ke arah yang tidak sedang dipandangnya.
Kemudian dia berkata dengan suara digagah-gagahkan.
"ah, bocah ayu kuning... kiranya engkau telah mengenal namaku? Ha-ha, wajahmu yang manis ini memang tidak asing bagiku, akan tetapi aku telah lupa lagi di mana aku pernah bertemu dengamu, perawan ayu!"
"ah, benarkah engkau telah lupa, Reksosuro? Dan mana kawanmu itu yang bernama Darumuko?"
"Eh, kau mengenal dia juga? Siapa kau dan mau apa kau mencari kami?"
Reksosuro mengingat-ingat akan tetapi tetap saja dia lupa.
Dara itu tersenyum manis bukan main melebihi madumongso, lalu dia melangkah maju mendekat ke depan reksosuro sehingga pria ini menjadi makin tertarik.
"Aku ingin memberi hadiah ciuman!"
Teriak seorang temanya.
"Dan jangan pelit, kakang Reksosuro, beri bagian sedikit-sedikit kepada kami!"
Reksosuro yang sudah kegirangan itu menggerakkan tangan menyuruh teman-temannya diam, lalu dia bertanya.
"Cah ayu, hadiah apa yang hendak kau berikan kepadaku?"
Dara itu menggerakkan setangkai bunga mawar yang dipegang di tangan kanannya, lalu berkata.
"Hadiah ini..."
"kembang...? Tiba-tiba dara itu menggerakkan tangan kanannya yang memegang bunga mawar dan tangan yang berkulit halus mulus dan bentuknya kecil mungil dengan jari-jari tangan panjang meruncing itu menyambar dengan kecepatan kilat ke arah muka reksosuro.
"Prakkkk...! Aduhhhh!!"
Tubuh reksosuro terpelanting dan dia terbanting roboh, mengaduh-aduh dan memegangi rahangnya yang ternyata telah pecah terkena sambaran tangan kecil itu.
Tulang rahangnya patah dan bibirnya pecah-pecah berdarah!
"Itu untuk penghinaanmu kepadaku, jahanam.
Dan kini nyawamu kucabut untuk membalaskan penghinaanmu atas jenazah mbakayuku!"
Dara itu berkata.
Sekarang teringatlah Reksosuro dan matanya yang juling itu tebelalak dan makin menjuling.
Inilah Sulastri, adik Winarti yang dulu ditangkapnya akan tetapi ditolong oleh Setan Jembros itu!
"Bocah setan...!"
Dia memaki sambil memegangi rahangnya dan suaranya menjadi pelo.
"Kawan-kawan... tangkap dia!"
Reksosuro menahan rasa nyeri pada rahangnya dan dia sudah meloncat bangun.
Lima orang pengawal yang menjadi anak buah Reksosuro terkejut bukan main melihat gadis cantik itu menampar muka Reksosuro sampai si juling itu terpelanting.
Mereka merasa heran karena mereka maklum bahwa Reksosuro memiliki kepandaian tinggi dan memiliki kekebalan, kenapa sekarang ditampar seorang dara remaja seperti itu saja sampai terpelanting dan mulutnya berdarah?
Mereka masih tidak tahu betapa Reksosuro menderita lebih hebat lagi karena tulang rahanya telah patah!
Kini mendengar teriakan Reksosuro untuk menangkap dara yang cantik itu, tentu saja mereka menjadi girang dan seperti lima ekor kucing kelaparan melihat seekor tikus gemuk, mereka menubruk seperti berlomba untuk menangkap dan mendekap dara remaja menggairahkan itu.
Akan tetapi, dengan gerakan yang amat lincah, Sulastri bergerak cepat sekali dan semua tubrukan itu hanya mengenai tempat kosong, bahkan dua orang yang menubruk dari dua arah yang berlawanan saling tubruk sehingga mereka saling beradu, menimbulkan benjol sebesar telur ayam pada dahi mereka!
Barulah mereka terkejut sekali dan cepat mereka membalikkan tubuh dan menubruk lagi dara yang tersenyum mengejek sambil bertolak pinggang itu.
Kini Sulastri telah melemparkan kelapa dan pisang, juga kembang mawar merah ke atas tanah dan dia menanti mereka dengan kedua tangan di pinggang, sikapnya angkuh akan tetapi mulutnya tersenyum mengejek.
Ketika lima orang menubruk lagi, dia tidak mengelak seperti tadi, melainkan menggerakkan kaki tangannya secara teratur menurut ilmu silat yang tinggi dan gerakannya itu selain cepat juga mengandung tenaga dahsyat.
"Palak-plak-plak-desss!!"
Lima orang itu terpelanting dan mereka cepat meloncat bangun dengan mata terbelalak.
Mereka adalah jagoan-jagoan yang kuat, akan tetapi mereka hampir tidak melihat bagaimana mereka sampai terpelanting ketika tangan dan kaki dara itu menyambar-nyambar seperti halilintar mengamuk.
"Bunuh dia...! Dia adalah adik Sri Winarti itu yang dicari-cari oleh sang resi! Kalau bisa tangkap hidup-hidup, kalau tidak bisa bunuh...!!"
Reksosuro berteriak akan tetapi matanya yang juling melihat ke kanan kiri karena dia merasa ngeri dan takut memikirkan Ki jembros.
Jangan-jangan kakek itu berada di situ!
Dengan keris Kyai Bandot di tangannya.
Reksosuro lalu maju dan bersama-sama lima orang temannya yang kesemuanya sudah mencabut keris, dia mengurung Sulastri yang masih berdiri dengan sikap tenang.
Bibir yang manis dari dara remaja itu tersenyum.
"Hemm, Reksosuro, kau pengecut besar! Tanpa mencarimu ke Mojopahit, sekarang engkau telah mengantar nyawa! Aku harus membunuhmu, mencongkel keluar matamu yang juling itu. Akan tetapi engkau mengandalkan pengeroyokan kawan-kawanmu. Heh, mundurlah kalian berlima, kalau tidak kalian juga akan mati konyol!"
Akan tetapi tentu saja lima orang pengawal jagoan itu tidak menjadi gentar.
Mereka adalah jagoan-jagoan dan mereka berenam membawa keris, menghadapi seorang dara remaja tentu saja mereka tidak menjadi takut.
"Kakang Reksosuro, iblis betina cilik ini sungguh liar. Mari kita tangkap dia beramai-ramai menjinakkan dia. Kalau tidak kita jinakkan, dia tentu akan makin sombong dan bertingkah!"
Kata seorang di antara mereka yang bertubuh pendek dan berkepala besar.
Biar pun tulang rahang-rahangnya yang patah menimbulkan rasa nyeri bukan main, akan tetapi karena dia ingin menyerahkan dara ini hidup-hidup kepada resi Mahapati, Reksosuro berkata dengan suara pelo karena mulutnya terasa nyeri bukan main kalau bergerak untuk bicara.
"Sulastri, lebih baik kau menyerah kami tangkap dan kami haturkan kepada sang resi. Melawan pun akan percuma dan dari pada kau mampus atau terluka..."
"Monyet juling! Engkau yang sudah berada di ambang pintu neraka masih berani mengancam aku?"
Sulastri mengejek.
Dara ini sungguh telah berobah banyak sekali.
Empat tahun lebih dia menjadi murid Ki Jembros, hidup menentang banyak sekali kekerasan alam dan kesukaran, digembleng secara istimewa oleh Ki Jembros yang aneh dan kini, dalam usianya yang masih remaja, empat belas tahun, Sulastri telah mempelajari banyak sekali ilmu-ilmu yang aneh-aneh dan yang hebat-hebat, ilmu kedigdayaan dan gerakan-gerakan silat, juga bermacam ilmu kekebalan.
Dara remaja yang pada dasarnya sejak kecil memiliki keberanian luar biasa ini, yang sejak kecil mengalami kesengsaraan dan rasa penasaran, kini berubah menjadi seekor singa betina muda yang berbahaya!
"Serbu...!"
Reksosuro membentak kaku dan teman-temannya mulai bergerak, memperketat lingkaran yang mengurung diri Sulastri.
Keris di tangan mereka menodong ke arah Sulastri penuh ancaman.
Dara itu melirik ke atas tanah, melihat betapa tanah di kaki pengunungan itu mengandung pasir, maka dia tersenyum lalu cepat tubuhnya bergerak merendah.
Gerakan yang tiba-tiba ini membuat enam orang pengurungnya waspada, akan tetapi mereka tidak melihat gadis itu menyerang mereka, maka mereka lalu melangkah maju mendekati Sulastri yang masih berlutut dengan tangan menyentuh tanah itu.
"Aduhhh...!"
"Ahhh...!"
"Ihhh, mataku...!"
Dua orang di antara mereka yang kurang waspada terkena pasir matanya sehingga mereka menjadi bingung dan panik, untuk sementara mereka tidak dapat membuka mata dan hanya menggosok-gosok kedua matanya dengan tangan kiri.
Empat yang lain sempat memejamkan mata akan tetapi pasir-pasir halus itu seperti jarum-jarum saja memasuki kulit muka sehingga mereka juga gelagapan.
Dan pada saat itu, tubuh Sulastri sudah menyerang ke depan, kedua kakinya bergantian bergerak.
"Dess! Bukk! Ngekkk!!!"
Kedua kaki yang kecil mungil itu bergerak menendangi mereka, membuat enam orang itu terlempar ke kanan kiri dan beberapa orang di antara mereka kehilangan keris mereka, ada pula dua orang yang tidak dapat bangun kembali, pingsan karena tanpa sengaja ujung kaki yang mungil itu telah menyepak bagian tubuh mereka yang berbahaya, yaitu di bawah pusar!
Reksosuro sendiri terlempar agak jauh karena ketika menendang orang yang dibencinya ini, Sulastri mengerahkan tenaganya.
Reksosuro terbanting keras akan tetapi dia merupakan orang yang paling kuat di antara mereka, maka dia telah bangkit kembali, kepalanya agak pening dan rahangnya terasa makin nyeri.
Ketika dia memandang, terkejutlah dia karena dara remaja yang luar biasa itu telah meloncat dan seperti seekor burung saja telah "melayang"
Dan tiba di depannya sambil tersenyum mengejek, senyum yang mengandung hawa maut!
Baru sekarang Reksosuro mengerti benar bahwa dara remaja ini adalah seorang manusia sakti.
Akan tetapi dia tidak dapat lari lagi dan dia lalu menjadi nekad.
Sambil mengeluarkan suara pekik dahsyat tanpa memperdulikan rasa nyeri di rahangnya, Reksosuro menerjang ke depan dengan keris Kyai bandot di tangannya, menusukkan keris berliuk sambilan itu ke arah perit Sulastri.
Dara itu miringkan tubuhnya, menggunakan tangan kiri menangkis pergelangan tangan lawan dan berbareng dengan itu, lutut kanannya diangkat secara tiba-tiba sambil melangkahkan kaki kiri merapat sehingga lutut kanannya itu dari bawah menghantam pusar lawan.
"Ngekk!!"
Tubuh Reksosuro terjengkang dan pada saat itu, sebuah tangan yang kecil mungil namun yang mengandung kekuatan dahsyat telah merenggut lepas keris Kyai Bandot dari tangannya.
"Reksosuro, sekarang engkau harus mampus!"
Suara merdu Sulastri terdengar seperti suara iblis bagi Reksosuro yang sudah roboh terlentang dan matanya terbelalak melihat dara itu perlahan-lahan melangkah maju dengan keris Kyai Bandot di tangan kanan, mulutnya tetap tersenyum mengerikan bagi Reksosuro.
"Tidak... tidak... jangan...!"
Reksosuro berteriak-teriak penuh kengerian ketika dara itu melangkah maju makin dekat.
Akan tetapi dari senyum dara itu, Reksosuro maklum bahwa tak mungkin dara itu mengampuninya maka dia lalu meloncat bangun dengan niat untuk melarikan diri.
"Desss!"
Sebuah tendangan membuat dia roboh terjengkang lagi, bahkan tendangan yang mengenai dadanya itu membuat dadanya terasa sakit dan napasnya sesak.
Kini dengan mata terbelalak dan muka pucat si juling ini memandang dara itu yang kembali melangkah menghampirinya dengan tenang.
"Wirrr...!!"
Benda kecil menyambar dengan kecepatan luar biasa ke arah Sulastri pada saat dia mendengar bunyi derap kaki kuda mendatangi.
Cepat dia menggerakkan keris Kyai Bandot menangkis benda yang menyambarnya itu.
"Cringgg...!!"
Sulastri terkejut bukan main.
Benda itu ternyata hanya sebuah kerikil kecil sebesar kelungsu (biji asam) akan tetapi ketika mengenai keris yang dipegangnya dan dipergunakannya untuk menangkis, keris itu tergetar hebat dan tangannya menjadi kesemutan!
Hal itu menjadi tanda bahwa kerikil itu disambitkan dengan tenaga sakti yang amat kuat dan bahwa penyambitnya adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.
"Paman empu... tolong...!"
Terdengar Reksosuro berteriak dan sulastri cepat menoleh ke arah suara kaki kuda yang sudah tiba di tempat itu.
Dia melihat dua orang kakek yang kelihatan lemah.
Yang seorang adalah kakek tinggi dengan pipi kempot dan mulutnya tertutup segumpal tembakau susur kecil dan matanya sipit, rambutnya panjang putih semua, sikapnya halus namun membayangkan ketinggian hati.
Kakek ke dua bertubuh tegap dan bersikap gagah, kumis dan jengotnya terpelihara rapi, tangan kirinya memegang sebuah kipas bambu yang bundar dan pinggangnya terselip sebatang pecut (cambuk) penggembala sapi yang amat panjang akan tetapi ujungnya dibelit-belitkan kepada gagangnya.
Tahulah sulastri bahwa dua orang kakek itu tentu orang-orang sakti dan sambitan kerikil tadi tentu dilakukan oleh seorang di antara mereka.
Akan tetapi begitu bertemu, dia merasa tidak suka kepada kakek ini mempunyai mata lebar yang pandangannya gelit dan tajam penuh kecabulan!
Memang dugaan dara remaja yang biar pun masih amat muda namun sudah mengalami hal-hal yang hebat itu dan memiliki pandangan tajam, adalah benar.
Kakek berambut putih yang sikapnya angkuh itu adalah Empu Tunjungpetak, seorang pertapa yang terlalu percaya akan kepandaiannya sendiri sebagai yang tak terkalahkan sehingga biar pun pada lahirnya dia kelihatan halus dan rendah hati, namun sesungguhnya hal itu hanya untuk menutupi batinnya yang angkuh dan tinggi hati.
Betapa banyaknya manusia di dunia ini yang seperti Empu Tunjungpetak ini.
Memaksa diri untuk kelihatan sederhana dan rendah hati, bersikap halus dan sabar, akan tetapi sayang, semua itu hanya seperti kedok belaka karena di sebelah dalamnya, batinnya penuh dengan perasaan angkuh dan sombong, merasa pintar sendiri, merasa yang paling suci, paling bersih, paling pandai, paling sakti.
Kita lupa bhawa kerendahan hati, atau kesederhanaan atau kebajikan, bukankah terletak di pakaian sederhana, bukan pula di sikap sederhana atau halus, bukan pula dalam tata hidup yang sederhana melainkan jauh mendalam di dalam batin kita msing-masing!
Pakaian, sikap, tata hidup yang kesemuanya nampak di luar hidup yang kesemuanya nampak di luar itu hanya untuk pamer dan untuk dinilai orang lain belaka, dan semua itu tidak ada gunanya karena palsu!
Yang penting adalah pengertian diri sendiri, karena kitalah yang mengerti dan mengenal diri kita sendiri, kepalsuan-kepalsuan dalam diri kita.
Dan kita pula yang dapat merobah diri sendiri.
Seorang pertapa di puncak gunung yang sunyi, yang hanya berpakaian sehelai cawat, yang tinggalnya di bawah pohon, yang kelihatannya saja seperti seorang yang paling sederhana, belum tentu memiliki batin sederhana dan semua kesederhanaan yang disengaja, yang dipergunakan hanya sebagai cara untuk mendapatkan sesuatu, bukanlah kesederhanaan namanya!
Kesederhanaan adalah palsu dan dibuat-buat.
Kalau batin sudah tidak mengejar apa pun juga, dialah namanya orang sederhana!
Kakek ke dua yang mengipas-ngipaskan kipas bambu di depan dadanya itu adalah Resi Harimurti.
Kakek ini adalah seorang pertapa yang suka merantau, tidak suka tinggal di tempat tertentu, kepandaiannyajuga tinggi dan memiliki bermacam kesaktian dan aji-aji yang dahsyat.
Akan tetapi, kakek ini memiliki suatu kelemahan, yaitu batinnya penuh dengan kecabulan.
Setaip kali melihat wanita muda, terutama yang cantik, hatinya segera tergetar dan menggelora dan entah berapa banyaknya sudah wanita muda yang menjadi korban nafsu berani kakek ini.
Maka, begitu melihat Sulastri yang memang cantik manis dan bagaikan setangkai bunga sedang mulai mekar, tentu saja jantung kakek ini sudah berdebar tidak karuan, seluruh syaraf di tubuhnya berdenyut-denyut, matanya berkilauan dan hanya karena di situ terdapat Empu Tunjungpetak, maka kakek cabul ini merasa sungkan dan dia menindih gelora nafsu berahinya dengan kipasan di depan dadanya, seolah-olah dengan kipasan itu dia dapat mendinginkan nafsunya yang terbakar.
Nafsu berahi mengusai orang tanpa pandang bulu, baik dia itu pria mau pun wanita, baik muda atau tua, nafsu berahi lahir dari kita sendiri, dari pikiran kita, dari ingatan atau kenangan kita.
Maka kita melihat seorang wanita muda dan cantik dan kita tertarik, hal itu sudah wajar dan nafsu belum timbul di sini, kita memandang setangkai bunga mawar yang indah semerbak harum, atau memandang buah mangga yang sedang ranum menguning atau memandang apa saja yang memang indah dan sedap dipandang.
Akan tetapi, begitu memandang, pikiran kita bekerja, ingatan kita mencampuri, pikiran mengenangkan pengalaman sex yang pernah dinikmati, pikiran membayangkan kesenangan-kesenangan yang dapat kita nikmati bersama wanita muda cantik yang kita pandang itu.
Nah, mulai saat itu lahirlah nafsu berahi yang kita kobarkan sendiri dengan bayangan-bayangan pikiran itu.
Dan mulailah kita mengejar kesenangan yang dibayangkan itu, melalui si wanita yang kita pandang!
Demikianlah sesungguhnya proses dari kecabulan yang bukan lain merupakan satu di antara ulah pikiran kita, yaitu kita sendiri!
Resi Harimurti yang mula-mula dikuasai oleh pikirannya sendiri, yang mendorongnya ke arah kecabulan, lalu menjadi kecanduan dan menjadi hamba dari nafsu-nafsunya sendiri dan kalau sudah kecanduan seperti itu, kalau pemuasan nafsu telah menjadi suatu kebiasaan, maka manusia itu akan merasa sukar untuk membebaskan diri.
Sulastri bersikap tenang namun waspada karena dia maklum bahwa dia berhadapan dengan orang-orang pandai.
Dia berdiri dan memandang dengan penuh perhatian ketika dua orang kakek itu turun dari atas panggung kuda.
(Lanjut ke
Jilid 07) Kemelut Di Majapahit (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 07
"Elaadalah...!"
Empu Tunjungpetak berseru kaget dan memandang ke sekeliling di mana enam orang pengawal itu berserakan dan mereka kini mencoba untuk bangkit sambil mengeluh kesakitan.
"Sungguh sukar dipercaya! Reksosuro dan kawan-kawannya, enam orang laki-laki yang kuat, tidak kuasa menahan amukan seorang dara remaja? Hebat...! Eh, nini, siapakah kau dan kenapa engkau seorang dara remaja begini ganas mengamuk dan hampir membunuh ponggawa-ponggawa Mojopahit?"
Sulastri sejenak memandang kepada Empu Tunjungpetak, sepasang matanya yang jeli dan tajam itu menentang penuh selidik dan dia dapat melihat kelembutan sikap kakek ini.
Baca Juga: Si Kumbang Merah Penghisap Kembang 6
Baca Juga: Pendekar Sakti 11