Eps 3 Kemelut Di Majapahit - Kho Ping Hoo
Baca online Kemelut Di Majapahit - Kho Ping Hoo
Cersil Kemelut Di Majapahit - Kho Ping Hoo.
"Eyang, saya hanya mempunyai urusan dengan si Reksosuro seorang, akan tetapi mereka itu mengeroyok saya. Harap eyang tidak mencampuri urusan pribadi antara saya dengan Reksosuro si jahanam, dan saya tidak perduli apakah dia itu ponggawa Mojopahit, karena bagi saya dia adalah ponggawa neraka jahanam yang harus dilenyapkan!"
"Jagad Dewa Bathara...! Selama hidupku baru sekarang aku bertemu dengan seorang dara remaja seganas ini. Nini engkau hendak berbuat apakah terhadap Reksosuro?"
"Hendak saya congkel kedua matanya dan saya penggal lehernya!"jawab Sulastri dengan berani.
"Hemm, enak saja kau bicara, bocah lancang. Reksosuro adalah seorang ponggawa dan utusan dari Mojopahit. Apakah kau berani bicara selancang itu?"
"Tidak perduli. Siapa pun yang membela jahanam ini, terpaksa saya lawan!"
"Ha-ha-ho-ho! Kakang empu, serahkan saja bocah itu kepadaku.
"kata Resi Harimurti sambil melangkah maju.
"Terserah kepadamu, adi resi. Akan tetapi dia masih kanak-kanak, jangan membunuhnya."
"Membunuh? Ha-ha-ha, eman-eman (sayang) kalau dibunuh, kakang.
"Sambil tertawa-tawa Resi Harimurti melangkah maju menghampiri Sulastri yang berdiri tegak dan bersikap waspada. Mereka berhadapan. Pandang mata Sulastri tajam menusuk penuh keberanian, sedangkan Resi Harimurti sambil menggerak-gerakkan kipasnya memandang seperti pandang mata seorang tengklak kerbau sedang meneliti dan menaksir seekor kerbau betina muda yang akan dibelinya. Dia menganggul-angguk puas sekali.
"Nini, engkau sungguh denok dan jelita. Janganlah nekad seperti itu, mari kau ikut bersamaku dan kalau kau memang suka akan ketangkasan, kau bisa menjadi murid Resi Harimurti dan kau pasti akan menikmati kesenangan hebat, ha-ha-ha!"
"Resi menjemukan, kau pergilah dan jangan mencampuri urusan pribadiku dengan Reksosuro!"
Sulastri membentak.
"Ha-ha, kau seperti seekor kuda betina muda yang binal! Kalau begitu, engkau harus ditundukkan dan jinakkan, baru menyenangkan, ha-ha!"
Sulastri sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi mendengar ucapan-ucapan yang dianggapnya amat menghinanya itu.
"Tua bangka busuk!"
Dia memaki dan tubuhnya sudah bergerak cepat ke depan, tangan kirinya, menampar dari samping.
Tamparan tangan kiri dara remaja ini bukanlah sembarangan karena dia telah menggunakan Aji Hasta Naga, yaitu semacam aji kesaktian yang mendatangkan tenaga mujijat di dalam telapak tangan kirinya yang halus itu sehingga dengan pukulan Aji Hasta Naga ini, dara remaja itu sanggup memukul hancur batu karang!
Sang Resi Harimurti terkejut juga menyaksikan hebatnya angin pukulan tangan kini ini.
Dia mengenal pukulan ampuh dan sama sekali tidak menyangka bahwa dara yang usianya baru belasan tahun ini memiliki aji pukulan yang sedemikian hebatnya.
Dia pun tidak berani sembrono menerima tamparan yang dahsyat itu, maka dia cepat mengangkat tangan kanan menangkis.
"Desss!!"
Tangan kiri yang mengandung hawa sakti itu bertemu dengan tangkisan tangan kanan Resi Harimurti yang juga mengarahkan aji kesaktiannya dan akibatnya tubuh kakek itu tergetar hebat akan tetapi dara remaja itu terhuyung mundur dua langkah!!
Resi Harimurti terkejut bukan kepalang, karena jarang ada lawan yang dapat menggetarkan dia sembarangan rupa, apalagi hanya seorang dara remaja.
Untuk menutupi rasa kagetnya, dia tertawa dan hatinya makin tertarik oleh dara ini.
Selamanya entah berapa ratus atau ribu orang wanita muda sudah dia dapatkan, baik dengan suka rela mau pun secara paksa, namun belum pernah dia mendapatkan seorang dara yang hebat seperti ini!
Timbullah keinginannya untuk mendapatkan dara ini, hanya dia merasa binggung karena di situ terdapat Empu Tunjungpetak dan tentu saja dia merasa malu dan segan untuk memperlihatkan kelemahan atau kebiasaan yang sudah mencandu dan memalukan juga bagi seorang kakek seperti dia itu.
"Ha-ha-ha, tamparanmu seperti Gudir (agar-agar) lunaknya, nini!"
Tentu saja Sulastri menjadi semakin marah dan kini dia meloncat lagi ke depan, tangan kirinya sekali lagi menampar dan untuk kedua kalinya ini dia mengerahkan seluruh tenaganya dalam Aji Hasta Naga itu.
Akan tetapi kakek itu pun cepat menggerakkan tangan kanannya, sekali ini bukan menangkis melainkan menangkap lengan kiri dara itu.
"Cap...!"
Dengan tepat pergelangan tangan kiri Sulastri dapat ditangkap oleh tangan kanan Resi Harimurti.
Dara itu menjadi kaget dan marah, dia meronta dan mengerahkan tenaga untuk menarik kembali tangan kirinya, namun sama sekali tangannya itu tidak mampu terlepas dari pengangan tangan sang resi, bahkan Resi Harimurti masih dapat menggunakan telunjuk tangan kanan itu untuk mencolek pipi Sulastri sambil mulutnya berbisik.
"Kau memang manis sekali, cah ayu...!"
Tentu saja Sulastri menjadi makin marah.
Tak disangkanya bahwa kakek ini oleh Reksosuro dalam hal kekurangajarannya.
Dia baru teringat bahwa sejak tadi dia masih memegang keris pusaka Kyai Bandot milik Reksosuro yang tadi dirampasnya.
"Tua bangka keparat!"
Bentaknya dan tanpa berpikir panjang lagi, keris liuk sembilan itu ditusukkannya ke dada Resi Harimurti.
"Takkkk!"
Keris itu mengenai dada, menembus jubah akan tetapi tidak dapat menembus kulit dada sang resi yang sakti itu, yang hanya tersenyum mengejek.
"Betina yang liar...!"
Resi Harimurti berkata lirih kipasnya bergerak dan menyambar ke arah tangan Sulastri yang memegang keris.
"Prattt!!! Aughhh...!"
Sulastri menahan jeritnya.
Tangannya terasa sakit sekali dan keris rampasan itu terlepas dari pegangannya, jatuh ke atas tanah.
Akan tetapi Sulastri adalah seorang anak yang amat cerdik dan dia memang memiliki bakat baik sekali dalam ilmu silat.
Begitu melihat keris itu tidak mempan, tahulah dia bahwa resi ini memiliki kesaktian tinggi dan tubuhnya memiliki kekebalan, maka akan percuma saja kalau dia melakukan penyerangan biasa.
Dia harus memilih bagian yang tidak dapat terlindung kekebalan dan secara otomatis, karena tangan kirinya masih dipegang.
Dia menyerang dengan tangan kanannya.
Jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya menyambar ke arah sepasang mata resi itu, dengan kecepatan kilat sehingga sang resi terkejut bukan main.
Betapa pun saktinya, tentu saja matanya tidak bisa dibikin kebal dan dia tahu bahwa dara remaja ini bukan seorang bocah biasa, jari-jari tangan itu mengenai matanya, sungguh akan berbahaya sekali.
Dan pada saat itu, kaki Sulastri juga bergerak cepat, menendang ke arah selakangan lawan di bawah pusar, tempat yang merupakan kelemahan bahkan tempat kematian bagi setiap orang pria!
"Ehhhh...!"
Resi Harimurti makin kaget dan terpaksa untuk menyelamatkan dirinya dia melepaskan tangan kiri dara itu, menggunakan tangan kanan untuk menangkis tusukan ke arah matanya dan dia menggunakan kipasnya untuk menyambut tendangan kaki Sulastri.
Akan tetapi dara ini memang cerdik.
Di maklum bahwa kepandaiannya tidak akan mampu mengalahkan resi ini serangan-serangan tadi sesungguhnya hanya dia lakukan sebagai gertakan dengan maksud agar tangan kirinya yang tertangkap itu dilepaskan.
Setelah kini tangannya terlepas, dan melihat kipas pusaka itu menyambar kaki, dia cepat menraik kembali kakinya, melempar tubuh ke belakang dengan kuat sehingga tubuhnya berjungkir balik tiga kali ke belakang dan kini dia sudah berdiri agak jauh dari Resi Harimurti yang sakti itu.
"Hemm...!"
Suara geraman ini seperti auman singa dan menggetarkan hutan itu sehingga semua orang menjadi terkejut.
Akan tetapi itu bukan auman singa karena segera disambung suara manusia yang terdengar bergema dan mengandung getaran dahsyat.
"Siapa berani menggangu muridku? Lestari mundurlah...!"
"Eyangggg...!"
Sulastri menjadi girang bukan main dan dia cepat mundur beberapa langkah menjuhi orang-orang itu, matanya tajam dan waspada memandang gerak-gerik mereka.
Empu Tunjungpetak dan Resi Harimurti saling pandang.
Mereka mengerti bahwa guru dara remaja itu datang dan mereka terkejut dan kagum sekali karena suaranya sudah begitu dekat namun orangnya belum nampak!
Dari ini saja, apalagi merasakan getaran suara itu, mereka berdua sebagai orang-orang sakti mengerti bahwa yang akan datang ini adalah seorang luar biasa yang berilmu tinggi, maka keduanya tanpa bicara, hanya dengan pandang mata saja, sudah bersepakat untuk bersikap hati-hati.
Sementara itu Reksosuro yang tadi sudah merayap dan mengambil kerisnya, ketika mendengar suara itu, mukanya menjadi pucat sekali dan dia menyelinap ke belakang Empu Tunjungpetak seperti seorang anak kecil ketakutan yang bersembunyi di belakang orang dewasa untuk minta perlindungan.
Dia mengenal suara itu, suara orang yang amat ditakuti, dan yang mendatangkan kengerian di dalam hatinya.
Betul saja, tidak lama kemudian muncullah seorang kakek raksasa yang amat menyeramkan dan yang amat dikenal oleh Reksosuro dan yang sering dijumpainya dalam mimpi sehingga membuat dia hampir mati ketakutan.
Ki Jembros atau Setan Jembros!
Kakek jembel yang usianya sudah enam puluh sembilan tahun, bertubuh tinggi besar, bajunya terbuka, dadanya berbulu dan mukanya separuh tertutup oleh cambang bauk yang lebat, sepasang matanya lebar mempunyai sinar yang tajam dan aneh, dan biar pun tubuh tinggi besar akan tetapi sesungguhnya dia kurus.
Kakek ini telah tiba di situ, menoleh ke arah Sulastri dan pandang matanya melunak melihat dara itu tidak apa-apa, kemudian dia memandang kepada dua orang pendeta tua itu dengan sinar mata tajam penuh selidik, kemudian terdengar dia berkata, suaranya nyaring nadanya gembira seperti orang main-main.
"Heh, kalian ini dua kakek tua bangka dan enam orang laki-laki pengecut, kenapa hanya berani menggangu seorang bocah perempuan? Kalau mau main-main, inilah lawanmu, pria sama pria dan tua sama tua!"
Menyaksikan sikap kakek ini, Reksosuro dan lima orang kawananya menjadi gentar, dan dua orang pendeta itu pun menjadi makin hati-hati.
Empu Tunjungpetak melangkah maju dan memandang kakek itu dengan penuh perhatian dan dengan bibir tersenyum ramah, lalu pertapa pantai Laut Jawa itu bertanya.
"Bukankah andika yang bernama Ki Jembros?"
Dengan matanya yang terbelalak lebar, Ki Jembros menatap wajah Empu Tunjungpetak, dan melihat pipi yang kempot itu menyembunyikan sekepal tembakau susur di sebelah kiri sehingga nampak menjendol di pipi.
Ki Jembros tertawa.
"Ha-ha-ha, aku pernah mendengar akan seorang pertapa di pantai Laut Jawa yang mencoba untuk menundukkan segala nafsunya akan tetapi masih kalah oleh segenggam tembakau susur. Andikakah orangnya?"
Wajah yang kurus dari empu Tunjung petak menjadi merah.
Akan tetapi dia menahan kesabarannya karena pertapa ini memang sudah mendengar akan tokoh perantauan yang bernama Ki Jembros ini, yang kabarnya mempunyai watak ugal-ugalan dan aneh namun juga memiliki kesaktian yang hebat.
"Kisanak,"
Katanya lembut.
"Kami tidak tahu bahwa gadis ini adalah murid andika, dan kami tadi hanya mencegah dia membunuh para prajurit Mojopahit."
"Bohong, eyang!"
Sulastri membantah dengan suaranya yang nyaring.
"Eyang lihat siapa monyet juling itu!"
Dia menuding ke arah Reksosuro yang menjadi makin ketakutan, mencoba untuk menyembunyikan diri di belakang tubuh empu Tunjungpetak dari pandang mata Ki Jembros.
"Dia adalah seorang di antara dua orang keparat yang dahulu menghina saya. Saya tadi mengenalinya dan hendak membunuhnya, akan tetapi lima orang kawannya membelanya, maka terpaksa saya hajar mereka. Saya tidak akan membunuh yang lain-lain, hanya akan membunuh si lutung juling, akan tetapi lima orang kawannya membelanya, maka terpaksa saya hajar mereka. akan tetapi kakek setan itu menghalangi dan menyerang saya."
Kini dia menudingkan telunjuknya ke arah Resi Harimurti.
Pandang mata Ki Jembros beralih ke arah Resi Harimurti yang sejak tadi hanya memandang dengan senyum mengejek.
Dia pun sudah pernah mendengar nama Ki Jembros, akan tetapi dia memandang rendah, apalagi setelah kini bertemu dengan orangnya dan mendapat kenyataan bahwa orang yang namanya amat terkenal itu ternyata bukan lain hanyalah seorang jembel tua!
Di lain pihak, Ki Jembros juga menyelidiki wajah Resi Harimurti dan kakek ini segera dapat meneropong watak sang resi melalui sinar mata yang terpancar dari sepasang mata pertapa kelana itu.
"Aha, aku tidak mengenal dia ini akan tetapi biar pun pakaianmu jubah pendeta seperti seorang resi, akan tetapi jelas bahwa dia ini seorang hamba nafsu berahi yang amat lemah!"
Diam-diam Resi Harimurti terkejut dan malu sekali mendengar ucapan yang memang tepat itu.
Dia sendiri mengakui bahwa dia amat lemah terhadap cengkeraman nafsu berahi, maka ucapan Ki Jembros itu membuat dia malu dan akhirnya marah.
Sepasang matanya mengeluarkan pancaran sinar panas.
"Ki Jembros tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, tata susila dan kebaikan untuk melayani nafsu-nafsu binatang yang mengeram di dalam tubuhmu? Ha-ha-ha, sungguh berani mati! Siapa sih andika ini?"
Empu Tunjungpetak yang menjawab.
"Kisanak, harap jangan menghina sahabat kami. Dia Resi Harimurti..."
"Woooooohhhhh! Pantas... pantas....! Bukankah Harimurti yang dahulu pernah mengganggu isteri Empu Sangiran, membikin ribut di keputren istana Kediri, lalu mengganggu dan membunuh puteri ki lurah di Terung dan masih banyak lagi? Harimurti yang itukah?"
Harimurti menjadi terkejut bukan main.
Peristiwa-peristiwa yang disebutkan oleh Ki Jembros itu memang benar, akan tetapi peristiwa-peristiwa itu merupakan rahasia-rahasia yang ditutup rapat, bahkan Empu Tunjungpetak tidak mengetahuinya, maka kini Empu Tunjungpetak memandang kepadanya dengan sinar mata heran.
Harimurti menutupi rasa malunya dengan kemarahan.
"Keparat jembel tua! Jangan sembarangan membuka mulut! Andika melepas fitnah busuk. Apa sih yang andika kehendaki ?"
Ki Jembros tertawa.
"Ha-ha-ha, masih ada rasa malu? Harimurti, antara muridku dan lutung juling itu ada urusan pribadi, maka kalau sekarang muridku hendak melakukan apa pun terhadap dia, andika atau siapa pun tidak boleh mencampuri."
"Enak saja bicaramu! Reksosuro adalah prajurit dan utusan Mojopahit, sudah tentu aku akan membelanya."
Harimurti yang sudah marah membentak dan menggerak-gerakkan kipasnya ke arah dada seolah-olah hendak mendinginkan hatinya yang panas.
"Kalau begitu, biar muridku bertanding dengan monyet juling itu, dan andika boleh maju, akulah tandinganmu, tua sama tua!"
Ki Jembros tersenyum lebat nampak giginya berkilat di balik cembang bauknya yang lebat.
"Babo-babo, jembel tua busuk yang sombong! Andika agaknya sudah bosan hidup dan hendak merasakan tangan Resi Harimurti. Majulah!"
Resi Harimurti menantang.
"Ha-ha-ha, bagus sekali! Sudah lama tidak ada yang menanyangku sehingga semua tulang dan ototku menjadi kaku. Eh, Empu Tunjungpetak, apakah andika juga hendak maju pula meijati tubuhku yang lelah?"
Wajah Empu Tunjungpetak menjadi merah sekali dan kakek ini lalu menoleh ke arah pohon jati besar di sebelah kanannya.
"Cuhh!! Cepp!!"
Kakek itu menyemburkan tembakau susur dari mulutnya dan gumpalan tembakau basah itu menancap masuk ke dalam batang pohon jati!
Dari peristiwa ini saja sudah dapat diukur betapa kuatnya tenaga sakti kakek ini yang membuat tembakau susur yang disemprotkan itu seperti peluru saja amblas ke dalam batang pohon jati yang kuat.
Dia tidak menjawab ejekan Ki Jembros, hanya berkata kepada Resi Harimurti.
"Waspadalah, adi resi, dan jangan pandang ringan lawanmu."
Resi Harimurti mengangguk, lalu menudingkan kipasnya ke arah muka Ki Jembros sambil membentak.
"Ki Jembros kalau andika sudah siap, majulah!"
"Sudah sejak lahir aku telah siap, dan kau lah yang maju karena kau yang menantang, bukan aku,"
Ki Jembros menjawab sambil tertawa, sikapnya seenaknya saja seolah-olah dia sedang bersendau gurau dengan sahabat, bukan sedang berhadapan dengan seorang lawan yang berbahaya.
"Keluarkan senjatamu!"
Kembali Resi Harimurti membentak.
"Heh-heh, Resi Harimurti! Ketika andika lahir di dunia, alam telah memberi andika sepasang tangan, sepasang kaki, mata telinga dan segala sesuatu serba lengkap dan sempurna dan semua itulah senjatamu. Akan tetapi sekarang andika yang kurang menghargai semua itu malah mengandalkan senjata buatan manusia. Ha-ha, aku sih dari dulu mengandalkan anggota tubuhku."
"Babo-babo, keparat tua bangka, sumbarmu seperti mampu memindahkan Gunung Semeru saja. Engkau yang sengaja hendak membunuh diri, Ki jembros, dan jangan salahkan aku nanti karena aku memperingatkanmu untuk menggunakan senjata. Nah, sambutlah ini!"
Gerakan Resi Harimurti memang cepat bukan main.
Sulastri melihat ini dan merasa khawatir mengapa gurunya semikian sembrono, menghadapi lawan yang tangguh dengan seenaknya saja tanpa menggunakan senjata.
Dengan terkejut dara ini melihat betapa sekali bergerak, Resi Hawrimurti telah mengebutkan kipasnya yang mendatangkan angin dahsyat, kipas menyambar ke arah muka Ki Jembros, disusul dengan totokan gagang kipas ke arah tenggorokan sedangkan tangan kiri Resi Harimurti, dalam detik berikutnya telah mencengkeram ke arah pusar lawan harimau yang dahsyat!
"Plak-duk-dukk!"
Tiga kali Ki Jembros seenaknya menggerakkan kedua tangannya, akan tetapi ternyata gerakannya itu sudah cukup untuk dapat menangkis semua serangan lawan dengan tepat bahkan tangkisan terakhir membuat tubuh Resi Harimurti condong ke belakang oleh dorongan tenaga yang amat kuat.
Resi harimurti terkejut dan menjadi penasaran, apalagi ketika melihat Ki Jembros masih berdiri seenaknya sambil tersenyum di balik cambang bauknya.
Akan tetapi sebetulnya di balik sikapnya yang seenaknya itu, Ki Jembros juga waspada karena petemuan tenaga tadi saja sudah membuka matanya bahwa Resi Harimurti benar-benar bukanlah lawan yang boleh dipandang ringan begitu saja.
Resi Harimurti mengeluarkan gerenangan seperti beruang marah, kemudian kembali dia menerjang maju, lebih cepat dan lebih kuat dari pada tadi, menggunakan kipas bambunya, tangan kirinya dan juga kakinya yang bertubi-tubi mengirim serangan.
Terdengar suara bak-buk-dak-duk ketika Ki Jembros menangkis dan balas menampar atau memukul, akan tetapi serangan balasan ini pun dapat dihalau oleh Resi Harimurto dengan tangkisan-tangkisan dan elakan-elakan tubuhnya yang ternyata gesit sekali itu.
Tejadilah pertandingan yang seru dan seimbang.
Sulastri menonton dengan penuh perhatian.
Selama dia berkelana mengikuti gurunya, baru sekali inilah dia melihat gurunya bertanding melawan musuh yang kuat dan dia merasa kagum.
Resi Harimurti memang gesit sekali, gerakannya seperti burung kepinis saja, menyambar-nyambar dan sukar diikuti pandang mata.
Namun gurunya amat tenang, terlalu tenang malah, berdiri di tengah dan menghadapi serangan lawan yang menyambar-nyambar dari sekeliling itu dengan seenaknya.
Dia melihat gurunya mempergunakan Aji Pukulan Hasta Naga dengan tangan kiri setiap kali membalas serangan dan diam-diam dia bangga karena ternyata bahwa Resi harimurti gentar menghadapi tamparan Hasta Naga itu dan setiap kali menangkis tentu tubuhnya tergetar, maka resi itu lebih banyak mengandalkan kecepatan gerankannya untuk mengelak.
Tiba-tiba terdengar Ki Jembros berseru.
"Resi cabul, engkau menjemukan!"
Dan dengan gerakan cepat sekali, dia mengubah caranya membalas serangan, bukan memukul ke arah tubuh lawan, melainkan tangan kirinya dengan jari terbuka dan penuh dengan Aji Pukulan Hasta naga menampar ke arah kipas bambu lawan.
"Krakkk!!"
Kipas itu hancur berkeping-keping dan tubuh Resi Harimurti masih terhuyung saking hebatnya pukulan itu.
Akan tetapi sambil terhuyung sang resi diam-diam memegang gagang pecutnya dan tiba-tiba nampak sinar putih berkelebat dibarengi ledakan keras dan pecut itu telah menyambar ke arah Ki Jembros.
"Tarrrr...!!"
Ki Jembros miringkan tubuh sehingga mukanya terhindar dari pecutan cambuk, akan tetapi cambuk yang panjang itu masih mengenai punggungnya dan membuat bajunya robek.
"Ehhh...!"
Ki Jembros meraba punggungnya. Bajunya robek dan kulit punggungnya terasa panas. Pecut itu benar-benar amat dahsyat, pikirnya.
"Tar-tar-tarrr...!!"
Kembali pecut panjang itu meledak-ledak di udara dan bertubi-tubi melecut ke arah tubuh Ki Jembros, mengarah bagian-bagian yang berbahaya dan ujung pecut itu seperti patuk garuda saja atau seperti moncong ular yang mematuk-matuk.
Ki Jembros menangkis dengan tangan, mengelak, namun karena kakek ini tidak menggunakan kecepatan untuk mengelak atau senjata untuk melindungi tubuh, maka kembali panggung dan lambungnya terkena sambaran ujung cambuk dan bajunya robek-robek.
"Ehhhh??"
Ki Jembros kelihatan terkejut dan matanya terbelalak, sinar matanya mengeluarkan cahaya yang menandakan timbul kemarahannya dan yang hanya diketahui oleh Sulastri.
Dara remaja ini tahu bahwa eyang gurunya mulai marah.
Akan tetapi, hal ini tidak diketahui oleh Resi Harimurti yang tertawa-tawa mengejek dan terus menggerakan cambuknya, melecut-lecut dan terdengar cambuk itu meledak-ledak menyambar ke arah tubuh lawan.
Tiba-tiba tangan kiri Ki Jembros dapat menangkap ujung cambuk, lalu tangannya digerakkan berputar sehingga cambuk itu membelit-belit lengannya.
Suara ledakan terhenti dan Resi Harimurti menari-narik cambuknya.
Cambuk itu menegang, terjadi tarik-menarik dan tiba-tiba mulut Ki Jembros dan...
tubuh Resi Harimurti terangkat ke atas dan terlempar seperti seekor ikan besar kena pancing, lalu terbanting ke atas tanah mengebulkan debu.
Akan tetapi, tubuh Resi Harimurti terlindung kekebalannya dan biar pun dia terkejut bukan main karena tubuhnya terangkat melayang oleh tarikan lawan yang dahsyat dan tak tertahankan, namun dia dapat meloncat lagi bangkit berdiri dan kini, dengan kedua kaki terpentang dan dengan pengerahan tenaga sekuatnya sehingga kedua kakinya seperti berakar pada bumi, dia mempertahankan cambuknya dengan memegang gagang pecut erat-erat.
"Ha-ha-ha!"
Ki Jembros tertawa dan kembali kakek tinggi besar ini mengerahkan tenaganya menarik.
Resi Harimurti mempertahankan sekuat tenaga.
Pecut itu makin menegang dan tiba-tiba terdengar suara keras dan tubuh resi Harimurti terjengkang!
Pecut itu telah putus di tengah-tengahnya, tidak kuat menahan tarikan dua tenaga dahsyat itu.
"Ho-ho, resi cabul, terimalah hadiahku ini!"
Ki Jembros melangkah lebar ke arah Resi Harimurti yang sudah meloncat bangun lagi, dan kakek tinggi besar ini sudah melakukan pukulan dengan tangan kirinya yang didorong ke depan dengan telapak tangan terbuka.
Hanya pukulan dahsyat menyambar ganas ke arah Resi harimurti.
Melihat ini, Resi Harimurti juga cepat mendorongkan tangan kanannya menyambut serangan dahsyat itu, karena dia maklum bahwa mengelak pun tidak ada gunanya, bahkan membayangkan karena lawannya menggunakan pukulan sakti.
"Plakkk!"
Dua tangan sakti yang dahsyat melalui telapak tangan masing-masing bertemu di udara dan seolah-olah tempat itu tergetar hebat.
Seperti tadi ketika saling memperebutkan pecut, mereka berdua kini juga mengadu tenaga, hanya bedanya kini mereka saling mendorong.
Sungguh hebat dan menegangkan karena siapa yang kalah dalam adu tenaga sakti ini tentu terancam bahaya maut!
Dan kedua kaki Resi harimurti yang mempertahankan diri itu mulai kelihatan gemetar, tanda bahwa dia mulai terdesak hebat, sedangkan Ki Jembros masih tertawa-tawa agaknya hanya mengerahkan tenaga seenaknya saja.
Melihat kawannya terancam bahaya maut, Empu Tanjungpetak lalu meloncat kedepan, menghampiri Ki jembros dan berseru.
"Jangan terlalu mendesak orang, Ki Jembros! tegurnya halus sambil menggerakkan tangannya untuk menyentuh pundak kakek raksasa itu. Sebetulnya maksud Empu Tanjungpetak hanya untuk melerai dan mencegah Ki jembros membunuh Resi Harimurti yang sudah terdesak. Akan tetapi melihat ini, Ki Jembros menyangka bahwa Empu Tunjungpetak hendak menyerangnya, maka dia membentak keras.
"Enyahlah, empu Tunjungpetak!"
Dan tangan kanannya menyambar ke arah Empu Tunjungpetak.
"Ehhh...!"
Empu Tunjungpetak tentu saja terkejut sekali dan cepat dia pun mendorongkan tangannya menyambut.
"Plakk!"
Dua telapak tangan yang mengandung tenaga dahsyat bertemu dan melekat.
Kini terjadilah adu tenaga yang menegangkan sekali.
Ki Jembros berada di tengah-tengah, tangan kirinya saling dorong dengan tangan kanan Resi harimurti, sedangkan tangan kanannya saling menempel dengan tangan kanan Empu Tunjungpetak, juga saling dorong dengan pengerahan tenaga sakti.
Beberapa detik lamanya, tiga orang itu tidak bergerak seperti telah berobah menjadi arca.
Tiba-tiba terdengar Ki Jembros mengeluarkan teriakan melengking nyaring yang menyeramkan, seperti bukan suara manusia lagi, dan semua orang yang mendengar lengkingan ini terguncang jantungnya dan mengigil kakinya.
Ki Jembros mengerahkan tenaganya dan nampak tubuh Resi harimurti terlempar dan roboh ke atas tanah sambil muntahkan darah segar, sedangkan tubuh Empu Tunjungpetak terdorong ke belakang sampai jauh, wajah kakek ini pucat dan tubuhnya gemetar.
Ki Jembros sendiri masih berdiri di tempatnya, matanya terbelalak dan tubuhnya bergoyang-goyang.
"Eyang...!"
Sulstri menghampiri gurunya, maklum akan keadaan gurunya yang tidak sewajarnya.
"Lastri... mari kita pergi...! Suara gurunya terdengar aneh dan parau, lalu Ki Jembros memegang tangan muridnya dan membawanya pergi dari tempat itu dengan langkah lebar namun agak terhuyung sehingga Sulastri cepat mengerahkan tenaga dan memegang tangan gurunya kuat-kuat agar tubuh gurunya tidak sampai jatuh. Empu Tunjukpetak sendiri sudah cepat menghampiri kawannya dan berlutut di dekatnya, memijit tengkuk dan punggung lalu menempelkan telapak tangannya di dada temannya yang terluka parah di sebelah dalam itu. Reksosuro sudah tidak kelihatan mata hidungnya karena tadi diam-diam dia sudah lari bersembunyi saking takutnya melihat Ki jembros. Ada pun lima orang temannya tentu saja tidak berani mencegah Ki jembros dan dara yang sakti itu pergi dari tempat itu. Akhirnya Resi Harimurti siuman dari pingsannya dan mengeluh. Empu Tunjungpetak berkata lirih.
"Untung andika dapat tertolong, adi resi... ahhh, sungguh bukan nama kosong belaka Ki Jembros yang dikabarkan amat sakti..."
Resi Harimurti mengepal tinjunya.
"Aku masih penasaran... kelak aku akan membalas kekalahan ini!"
Empu Tunjungpetak menarik napas panjang, di dalam hatinya maklum bahwa akan sukarlah terlaksanannya dendam kawannya itu kalau hanya dilakukan seorang diri saja.
Tingkat kesaktian Ki Jembros jauh lebih tinggi daripada seorang di antara mereka.
Bahkan dikeroyok dua pun kakek jembel itu masih unggul dan untung saja tadi Ki jembros menyudahi urusan itu dan pergi.
Sungguh aneh dan sukar diselami isi hati Ki Jembros.
"Sudahlah mari kita melanjutkan perjalanan saja. Tidak baik bermalam di tempat ini,"
Kata Empu Tunjukpetak dan tak lama kemudian muncullah Reksosuro dari tempat persembunyiannya setelah dia yakin benar Ki Jembros dan muridnya telah pergi.
Rombongan itu lalu melanjutkan perjalanan berkuda perlahan-lahan.
Sementara itu, Ki jembros dan Sulastri berjalan terus memasuki hutan.
Malam tiba dan cuaca gelap sekali.
Akhirnya, di tengah hutan.
Ki Jembros berhenti dan mengeluh pendek, lalu berkata.
"Kita berhenti di sini... buatlah api unggun..."
Dia lalu merebahkan diri di atas rumput.
Sulastri cepat membuat api unggun dan api yang bernyala tinggi mengusir hawa dingin dan cahayanya menembus kegelapan malam.
Tiba-tiba terdengar suara muntah.
Sulastri cepat mendekati kakek itu dan ternyata Ki Jembros muntahkan darah segar!
"Eyang...!"
Ki Jembros sudah bangkit duduk, menggerakkan tangan agar muridnya tidak menjadi panik.
"mereka berdua... terlalu kuat..."
Katanya lirih lalu dia duduk bersila dan memejamkan mata.
Sulastri maklum bahwa gurunya menderita luka dalam tubuhnya dan kini gurunya itu sedang mengumpulkan lukanya, maka dia pun diam saja, hanya merasa gelisah dan cepat dia memasak air dengan alat-alat masak yang tak pernah ketinggalan berada dalam buntalan mereka.
Dalam keadaan seperti itu, gurunya membutuhkan air panas.
Ternyata bahwa kekuatan empu Tunjungpetak dan Resi harimurti digabung menjadi satu tadi terlalu kuat bagi Ki Jembros, apalagi dia telah tua sekali, usianya hampir tujuh puluh tahun.
Biar pun dia dapat menolong diri sendiri dan dapat terhindar dari bahaya maut, namun tubuhnya menjadi lemah dan karena lukanya di sebelah dalam tubuhnya, kakek ini untuk sementara tidak berani mengerahkan tenaga karena hal ini akan membahayakan nyawannya.
Tiga hari kemudian, setelah terhindar dari bahaya maut, kakek itu menghentikan samadhinya dan berkata.
"Sulastri, hanya karena mengingat akan keselamatanmu, maka setelah terluka aku mengajakmu pergi karena aku tidak mampu lagi melindungimu. Ahh... pihak yang menjadi lawanmu mempunyai banyak orang sakti, Lastri..."
Sulastri mengepal tinjunya yang kecil.
"Akan tetapi saya tidak takut, eyang! Pada suatu hari, saya harus dapat membunuh Reksosuro, Darumuko dan berhadapan dengan majikan mereka yang bernama Resi Mahapati!"
Ki Jembros menarik napas panjang, akan tetapi dia tidak kehilangan kegembiraannya, dan tersenyum memandang muridnya.
"Engkau memang hebat dan patut menjadi muridku! Ah, engkau tidak tahu siapa Resi Mahapati! Dia selain sakti, juga mempunyai kedudukan tinggi mempunyai banyak pasukan dan pembantu-pembantu yang sakti. Seorang dara muda seperti engkau ini, bisa berbuat apakah terhadap dia?"
"Saya tidak takut! Kalau perlu saya pun akan mengumpulkan banyak kawan untuk menyerbu tempat tinggalnya!"
"Wah, kalau begitu sama saja engkau akan memberontak terhadap Mojopahit."
"Tidak, eyang! Akan tetapi kalau mau dianggap demikian pun terserah. Saya hanya hendak membalas dendam terhadap memberontak Mojopahit masa bodoh! Guruku, mendiang Adipati Ronggo Lawe juga diperlakukan tidak adil oleh Mojopahit, terutama sekali Mahapati!"
Ki Jembros tertawa bergelak, kembali kegembiraan seolah-olah dia tidak berada dalam keadaan sakit parah.
"Ha-ha-ha, tentu saja anggapanmu demikian dan mengapa sebabnya engkau tidak suka kepada mereka? Karena kau merasa dirugikan, kau mengandung dendam. Coba kau diuntungkan, tentu akan lain lagi anggapanmu. Ha-ha, baik buruknya seseorang, baik perorangan mau pun kelompok, selalu ditentukan oleh untung rugi yang dirasakan. Akan tetapi sudahlah, engkau pun hanya seorang bocah yang masih mentah dan belum mengerti. Sekarang, demi keselamatanmu karena untuk beberapa bulan lamanya aku tidak mungkin dapat melindungimu, kita harus pergi ke Gunung Bromo."
"Ke Gunung Bromo? Di mana itu, eyang dan untuk apa pergi kesana?""Ada seorang sahabatku di Gunung Bromo, letaknya jauh di timur. Sahabatku itu adalah seorang yang hidup dengan damai, tidak pernah mencampuri urusan dunia. Namanya Empu Supamandrangi dan karena engkau menganggap dirimu murid Ronggo Lawe, maka empu itu berarti masih eyang gurumu sendiri karena dia adalah guru Ronggo Lawe."
Wajah Sulastri berseri.
"Kalau begitu, beliau tentu suka mengajarkan ilmu-ilmu kesaktian kepada saya dan suka membantu saya."
Ki Jembros tersenyum.
"Entahlah, kelak kau tanya kepadanya sendiri. Yang penting kalau kau berada disana, engkau akan terlindung dan aman, sedangkan aku sendiri akan mengaso, selain untuk mengembalikan kesehatan juga aku sudah bosan merantau."
Demikianlah guru dan murid itu melanjutkan perjalanan ke selatan dan pada suatu hari tibalah mereka di kaki Pegunungan Pandan.
Karena hari telah menjelang senja maka Ki Jembros mengajak muridnya untuk berhenti dan melewatkan malam di kaki gunung, di luar sebuah hutan.
Kakek itu mengeluh dan sebelum bersamadhi, dia berkata.
"Aahhh, sudah lama sekali aku tidak makan enak. Heran, beberapa hari ini aku ingin sekali makan ketan kelapa. Aih, sampai termimpi-mimpi olehku... akan tetapi di tempat seperti ini mana mungkin mendapatkan ketan kelapa...? Dasar mulut tua yang selalu rakus dan perut yang tak mengenal kenyang, ha-ha!"
Biar pun kata-katanya mengandung keluhan, namun kakek itu masih tertawa-tawa gembira.
Mendengar ini, hari Sulastri merasa terenyah sekali.
Dia mulai mengenal watak gurunya ini dan bersemilah kasih sayang dan ibanya terhadap kakek itu yang juga amat kasih kepadanya.
Kini, mendengar keluhan gurunya, dia merasa kasihan sekali.
Dara itu tahu bahwa gurunya itu tidak mempunyai kesenangan lain lagi kecuai makan enak dan biasanya, apa pun yang dikehendaki tentu akan tercapai berkat kepandaiannya yang tinggi.
Untuk memenuhi selera dan gairah mulutnya, kalau perlu gurunya itu tidak segan-segan untuk memasuki dapur istana dan mencuri makanan-makanan yang diinginkannya!
Sering kali dalam perantauannya yang empat tahun lebih lamanya itu, dia diajak oleh gurunya untuk mencuri makanan-makanan lezat di dalam gedung-gedung dan istana-istana bangsawan tinggi, masuk ke dalam dapur dan menyikat makanan-makanan yang mahal-mahal.
Bahkan pernah di rumah seorang panewu, gurunya yang kekenyangan itu sampai tertidur di dalam dapur dan pada keesokan harinya mereka konangan (ketahuan) dan dikejar-kejar!
Akan tetapi tentu saja berkat ilmu kesaktian gurunya, mereka dapat menyelamatkan diri dan terhindar dari pengejaran para penjaga.
Dan pernah pula gurunya mengajak dia mengunjungi pesta pernikahan tanpa diundang untuk menikmati hidangan dalam pesta itu!
Pendeknya, sudah banyak hal-hal yang lucu dan berbahaya dia alami bersama gurunya itu dan kini, dalam keadaan sakit, keinginan makan ketan kelapa saja tidak tercapai!
"Eyang saya mau pergi dulu,"
Tiba-tiba dara itu berkata. Gurunya memandangnya dan sepasang mata yang lebar itu berseri.
"Mau kemana, Sulastri?"
Dia bertanya, pura-pura tidak tahu.
"Mau ada keperluan sedikit, eyang. Harap eyang beristirahat sedikit dulu di sini, eyang. Saya pergi takkan lama."
Kakek itu mengangguk-angguk, akan tetapi ketika tubuh yang ramping itu sudah menyelinap lenyap di balik pohon-pohon, dia berteriak.
"Heii, Sulastri jangan lupa..., gula kelapanya!"
Terdengar suara dara itu tertawa.
"Hik-hik, jangan khawatir, eyang!"
Akan tetapi bayangan Sulastri sudah tidak nampak lagi.
Pesan gurunya itu menambah semangat Sulastri.
Gurunya tahu bahwa kepergiannya adalah untuk mencarikan ketan yang amat diinginkan gurunya itu.
Hal ini menandakan bahwa Ki Jembros sudah mengenal detil isi hati dan gerak-geriknya, pikir Sulastri.
Kasihan eyang guru, aku harus mendapatkan apa yang diinginkannya itu, kalau perlu aku akan mencuri beras ketan dan memasaknya sendiri!
Karena tidak mengenal daerah Pegunungan Pandan, Sulastri lalu memanjat sebatang pohon randu alas yang tinggi untuk mencari di mana adanya dusun yang terdekat.
Dari puncak pohon randu alas, dia memandang ke empat penjuru.
Ternyata yang nampak ada kelap-kelip api penerangan amat jauhnya, dan yang terdekat adalah api penerangan yang berada di dalam hutan di lereng bukit itu!
Setelah meneliti dan mengira-ngira di mana letaknya tempat yang ada api penerangan itu, Sulastri turun dan mulailah dia mendaki bukit menuju ke arah tempat yang tadi dilihatnya dari atas puncak pohon randu alas.
Ternyata tempat itu tidak begitu jauh dan kini dia sudah memasuki sebuah hutan kecil yang sunyi.
Untung malam itu bulan bersinar terang, hampir penuh, maka tidaklah begitu sukar untuk dara perkasa ini memasuki hutan dan melewati jalan setapak menuju ke lereng bukit.
Ada beberapa buah bangunan di hutan itu, di tengah hutan.
Hati dara itu kecewa karena agaknya bangunan-bangunan itu hanya merupakan bangunan darurat saja dan tidak menyerupai sebuah dusun.
Jangan-jangan tidak ada orangnya, pikirnya.
Akan tetapi tidak mungkin, karena ada lampu-lampu penerangan dinyalakan penghuni sebuah dusun, mana mungkin menyimpan beras ketan?
Betapa pun juga, dia harus memeriksa dan mencari lebih dulu.
Sulastri berindap-indap mendekati kelompok rumah-rumah itu dengan hati-hati, menyelinap di antara pohon-pohon dan bayangan-bayangan gelap.
Dia merasa agak heran mengapa keadaannya begitu sunyi, padahal ada lebih dari sepuluh buah rumah di situ, rumah-rumah besar pula.
Di tengah kelompok rumah itu terdapat bangunan terbesar yang agaknya terkurung oleh bangunan-bangunan lain, seolah-olah bangunan di tengah itu merupakan pintunya.
Akan tetapi Sulastri tidak memperhatikan hal itu, juga dia tidak memperhatikan betapa rumah-rumah yang mengelilingi bangunan besar di tengah itu menghadap ke delapan penjuru, seperti penjaga-penjaga yang menjaga keamanan rumah besar itu!
Sulastri malah menyelinap dan menghampiri rumah besar karena dia mengambil keputusan untuk mencuri saja beras ketan yang dikehendaki gurunya.
Kalau dia melihat ada orang-orang di luar rumah itu, tentu dia tidak akan merasa segan untuk minta beberapa genggam beras ketan untuk gurunya.
Akan tetapi karena dia mengambil keputusan untuk mencuri saja dan sama-sama mencuri, lebih baik mencuri dari rumah yang terbesar itu.
Seperti seorang kucing, tanpa mengeluarkan suara Sulastri meloncat dari satu tempat gelap ke lain tempat gelap, menyelinap diantara bangunan-bangunan di sekitar bangunan besar itu dan akhirnya tibalah dia di tempat terbuka, di lapangan rumput yang menjadi dasar antara rumah-rumah lain dengan rumah besar itu.
Karena di bagian ini tidak ada pohon-pohonnya, maka untuk menyeberang dari rumah biasa ke rumah besar itu harus melalui lapangan rumput yang diterangi sinar bulan.
Berindap-indap Sulastri melangkah dan menoleh ke kanan kiri.
Setelah dilihatnya bahwa benar-benar keadaan di situ sunyi tidak ada orang, dia lalu berloncat dan berlari sampai ke tengah lapangan rumput.
Tiba-tiba terdengar suara orang.
Sulastri terkejut, berhenti dan memandang ke sekelilingnya.
Tampak olehnya banyak orang bermunculan dari balik pohon-pohon dan rumah-rumah itu, dan lapangan rumput itu telah dikepung orang yang lebih dari tiga puluh banyaknya.
Sulastri terkejut bukan main dan sikapnya seperti seekor harimau terkepung.
Dia berdiri dengan kedua kaki terpentang, tubuhnya agak merendah karena kedua lututnya ditekuk dan dia membalik-balikkan tubuhnya dengan gerak cepat ke depan belakang dan kanan kiri, siap untuk menghadapi segala kemungkinan!
Sedikit pun dia tidak menjadi gentar atau takut, hanya merasa menyesal bahwa dia kurang hati-hati sehingga tidak tahu bahwa dia terjebak dan terkurung, bahwa kedatangannya telah diketahui orang sehingga sebelum dia berhasil mencuri beras ketan, dia telah terkepung!
Diam-diam Sulastri harus mengakui bahwa gerakan orang-orang itu amat luar biasa.
Rapi sekali cara mereka bersembunyi tadi sehingga kini telah mengepungnya, dan dia melihat bahwa pakaian mereka ringkas dan seragam, juga senjata di tangan mereka sama, yaitu tombak-tombak cagak yang bergagang panjang, bahkan cara mereka memegang tombak cagak itu pun sama, tanda bahwa mereka itu terlatih baik.
"Tangkap mata-mata musuh!"
Terdengar suara seorang laki-laki membentak dan Sulastri cepat menoleh ke kiri, lalu membalikkan tubuhnya menghadapi lima orang laki-laki tinggi besar yang melihat pakaian dan senjatanya tentu merupakan pimpinan mereka.
Lima orang ini berpakaian kembar dan mereka semua memegang sebatang parang atau golok yang mengkilap saking tajamnya.
Bentakan itu keluar dari mulut seorang di antara mereka.
"Tahan!"
Sulastri mengangkat tangan kanan ke atas ketika beberapa orang bergerak hendak menangkapnya.
Mendengar bentakan ini, seorang di antara lima pemimpin itu memberi isyarat dan beberapa orang itu mundur lagi.
"Mata-mata, kau hendak bicara apa?"
Bentak seorang di antara mereka yang berkumis tebal, sekepal sebelah, mukanya hitam dan matanya melotot besar. Agaknya dialah pemimpin pertama di antara lima orang itu.
"Aku bukan mata-mata,"
Jawab Sulastri dengan suara yang tabah dan nyaring. Terdengar suara tertawa menyambut di sana-sini tertawa yang menyatakan tidak percaya.
"Hemm, melihat bahwa engkau hanya seorang bocah perempuan yang masih remaja, memang tidaklah pantas kalau engkau menjadi mata-mata. Akan tetapi melihat keberanianmu memasuki tempat ini, dan gerakanmu yang cekatan tanda bahwa engkau bukan anak perempuan sembarangan, dan engkau berindap-indap memasuki daerah ini dengan sembunyi-sembunyi, apa lagi engkau kalau bukan mata-mata Mojopahit?"
"Kalian keliru. Aku bukan mata-mata Mojopahit!"
Jawab Sulastri, suaranya tegas meyakinkan.
"Sungguh luar biasa. Engkau bersikap tabah sekali, pasti engkau bukan seorang bocah dusun biasa! Eh, nini kalau engkau bukan mata-mata, habis mau apa engkau berkeliaran di sini dan bersikap seperti maling?"
"terus terang saja, aku memang tadinya berniat untuk mencuri."
Terdengar seruan-seruan kaget.
"mencuri?"
Si kumis tebal bertanya.
"Ya, karena kulihat tidak ada seorang pun yang bisa kumintai, maka aku terpaksa hendak memasuki dapur terbesar ini untuk mencuri."
"Memasuki dapur? Eh, bocah aneh, kau mau mencuri apa di dapur?"
"Mencuri beras ketan. Satu beruk (takaran batok kelapa) pun cukuplah."
Tiga puluh lebih orang laki-laki yang bersikap gagah dan kuat itu tertawa, akan tetapi mereka memandang penuh keheranan dan bahkan di antara mereka ada yang menyangka agaknya perawan cilik yang cantik manis ini tidak beres otaknya!
"Mencuri ketan?
jangan main-main, nini.
Engkau tentu mata-mata yang dikirim oleh Mojopahit atau oleh Progodigdoyo di Tuban.
Hayo mengaku sajalah!"
Bentak pemimpin ke dua.
"Siapa main-main? Aku membutuhkan ketan dan karena tidak ada yang kumintai, maka aku hendak mencuri. Apa anehnya itu? Aku bukan mata-mata, baik mata-mata Mojopahit mau pun mata-mata Tuban dan kalian jangan menuduh aku sembarangan saja!"
Sulastri mulai menjadi marah karena berkali-kali dituduh mata-mata.
"Nini, apa pun adanya engkau, sikapmu mencurigakan sekali maka menyerahlah. Engkau harus ditangkap dan kami periksa sebelum ada keputusan,"
Kata si kumis tebal. Tentu saja Sulastri enggan untuk ditangkap. Dia mengepal kedua tinjunya dan berkata marah.
"Sudah kukatakan bahwa aku membutuhkan sedikit beras ketan. Kalau kalian mau memberiku, aku akan menghaturkan terima kasih. Akan tetapi kalau kalian begitu pelit untuk memberi, sudahlah. Aku tidak bersalah apa-apa, siapa sudi ditangkap? Hayo coba siapa yang berani menangkap aku?"
Dia menantang.
Terdengar pula suara ketawa di sana-sini.
Mereka mulai merasa gembira menghadapi dara remaja yang kini kelihatan benar kecantikannya setelah ada beberapa orang yang menyalakan obor.
Sikap dara ini yang begitu lincah, begitu berani bahkan berani menantang mereka ketika hendak ditangkap, benar-benar menggembirakan hati mereka.
Bahkan lima orang pemimpin itu sendiri tersenyum dan saling pandang, diam-diam mereka menilai dan menduga bahwa bocah ini tentulah bukan bocah sembarangan sehingga makin yakinlah hati mereka bahwa anak perempuan ini tentulah seorang mata-mata dari Mojopahit, sungguh pun mereka belum pernah mendengar ada seorang prajurit wanita yang begini muda dan begini lincah.
Timbullah keinginan mereka untuk mencoba kepandaian anak perempuan ini.
"Gendro, kau tangkaplah bocah bengal ini!"
Si kumis tebal memerintah seorang anak buahnya yang berusia empat puluh tahun, bertubuh tinggi besar dan nampak kuat sekali.
Gendro melangkah maju, mengurut kumisnya dan jelas bahwa dia merasa sungkan sekali.
"Wah... wah... ini... seperti saya melawan anak sendiri. Wah, nini kenapa kau tidak menyerah saja? Percayalah, pimpinan kami adalah orang-orang gagah kalau memang kau tidak bersalah tentu akan dibebaskan kembali. Perlu apa engkau melawan kami? Hah, sungguh tidak enak bagiku..."
Begitu melihat sikap orang ini, hati Sulastri sudah melunak. Orang ini jelas adalah seorang laki-laki yang gagah dan jujur, biar pun sikapnya kasar. Maka dia pun menjawab.
"Paman, aku tidak merasa bersalah, kalau mau ditangkap tentu saja aku melawan. Siapa pun yang hendak menangkap aku, tentu saja akan kulawan. Terserah kepada kalian mau percaya atau tidak omonganku."
Laki-laki yang bernama Gendro itu meragu, akan tetapi dengan lantang si kumis tebal yang ingin menguji anak perempuan yang luar biasa itu membentak.
"Gendro, tangkap dia!"
Gendro menggerakkan kedua pundaknya seperti orang binggung.
Dia tidak mempunyai pilihan lain, maka dengan gemas dia lalu menancapkan tombaknya di atas tanah.
Tombak itu menancap sampai setengahnya, tanda betapa kuatnya lengan yang kekar itu.
Kemudian, dia pun melepaskan goloknya dan menyerahkan kepada seorang teman.
Kemudian dia melangkah maju dan berkata.
"Nini, kalau ada kepandaian, bersiaplah karena aku akan menangkapnya!"
Melihat Gendro meninggalkan dua senjatanya, Sulastri merasa makin suka kepadanya orang tinggi besar ini.
"Aku sudah siap, dan berhati-hatilah engkau menangkapku, paman. Jangan kira kau akan dapat menangkapku dengan mudah."
Orang-orang tertawa, menganggap kata-kata anak perempuan itu terlalu tinggi sehingga menjadi lucu kedengarannya.
Gendro lalu melangkah maju dengan mengembangkan kedua lengannya yang panjang, seperti hendak menangkap seekor ayam saja layaknya, dan dia ingin melihat bagimana sikap Sulastri.
Akan tetapi, anak perempuan itu berdiri tegak, tak bergerak sedikit pun, hanya pandang matanya saja yang bergerak-gerak penuh ketelitian, dan kedua tangannya tergantung di pinggir tubuh dengan lepas.
Sikap seorang pendekar yang tenang!
"Awas...!"
Gendro membentak dan tiba-tiba dia menubruk dengan langkah lebar ke depan karena dia memperhitungkan bahwa gadis cilik itu tentu akan mengelak ke belakang maka dia sudah mendahului melangkah lebar ke depan dan ditambah dengan panjangnya kedua lengannya, maka elakan itu tentu akan sia-sia belaka.
"wuuuttt...!!"
Gendro menubruk angin dan dia terkejut bukan main karena anak perempuan itu tiba-tiba saja lenyap dari depannya!
Dia terbelalak ke depan, menengok ke kanan kiri dan di sana-sini terdengar seruan heran!
Juga lima orang pimpinan itu terkejut bukan main melihat betapa dengan gerakan seperti terbang saja dara remaja itu tadi telah menloncat ke atas melalui kedua lengan lawan dan bahkan melewati kepala Gendro dan tiba di belakang si tinggi besar itu, agaknya tanpa diketahui oleh Gendro yang kebingungan.
Lima orang itu maklum bahwa kalau dikehendakinya, tentu perempuan luar biasa itu dapat saja memukul roboh Gendro dari belakang selagi si tinggi besar itu kebingungan!
"Paman engkau mencari apa di situ?
Aku berada di sini!"
Gendro cepat membalikkan tubuhnya dan matanya terbelalak lebar ketika dia melihat bahwa dara remaja itu ternyata telah berada di belakangnya tanpa dia ketahui!
Dia merasa heran sekali, akan tetapi suara ketawa kawan-kawannya membuat telinganya menjadi merah dan dia merasa penasaran sekali.
Dia terkenal sebagai jagoan di antara kawan-kawannya, akan tetapi sekarang dia dipermainkan oleh seorang bocah, dan bocah itu perempuan pula!
Gendro adalah seorang kasar yang hanya mengenal ilmu berkelahi yang kasar mengandalkan tenaga, maka dia belum sadar seperti lima orang pemimpinnya itu bahwa dia menghadapi seorang anak perempuan yang luar biasa!
"Hemm, kau berani mencoba menyakiti aku?"
Sulastri berkata dan kedua tangannya bergerak, yang kanan mendahului cengkraman ke arah kepala dan menangkis, sedangkan yang kiri menampar ke arah lengan yang besar itu dengan Aji Hasta Naga yang hanya dikerahkan sedikit saja.
"Plakk... auuughhh... aduuuhhhh...!"
Raksasa itu mengaduh-aduh sambil memegangi lengan kanannya yang kena tampar tadi, karena rasanya nyeri bukan main, myeri dan panas sampai menusuk tulang sumsumnya.
Masih ada sebagian anak buah yang tertawa, mengira bahwa jagoan mereka itu hanya pura-pura kesakitan, karena mana mungkin lengan sebesar dan sekuat itu menjadi kesakitan kena ditampar tangan yang kecil mungil itu?
Akan tetapi, si kumis tebal dan empat orang temannya sudah mengerti bahwa dara remaja itu benar-benar sakti.
Mereka terkejut sekali dan makin tebal keyakinan hati mereka bahwa dara remaja itu pastilah seorang mata-mata Mojopahit yang sengaja diutus untuk menyelidiki keadaan mereka.
Maka si kumis tebal memberi isyarat dengan pandang mata kepada empat orang temannya yang mengerti akan isyarat ini dan serentak mereka maju mengepung Sulastri!
Para anak buah mereka ini baru mengerti bahwa Gendro tidak berpura-pura, maka mereka memandang dengan hati tegang dan terheran-heran melihat lima orang pemimpin mereka mengepung dara remaja itu.
Sungguh merupakan penglihatan yang aneh dan ganjil sekali bahwa lima orang pimpinan mereka yang berkepandaian hebat itu harus mengepung seorang anak perempuan!
"Nini, kau menyerahlah untuk kami harapkan kepada pemimpin kami."
Si kumis tebal yang betapa pun juga merasa malu kalau harus menggunakan kekerasan terhadap dara remaja itu, berkata membujuk.
"Bocah sombong!"
Si kumis tebal membentak dan bersama empat orang temannya dia maju menubruk untuk menangkap anak perempuan itu.
Namun Sulastri mengelak ke sana-sini dengan amat cepatnya, kemudian dia membagi-bagi tamparan dengan Aji Hasta Naga.
Terdengar mereka mengaduh-aduh dan tiga orang di antara mereka yang terkena tamparan ini terpelanting.
Mereka sama sekali tidak bersiaga menghadapi tamparan yang sakti dan ampuh itu dan tadi terlalu memandang rendah maka sampai menjadi korban tamparan tanpa melindungi diri dengan kekebalan.
Kini terkejutlah semua orang!
Dalam segebrakan saja dara itu mampu membuat tiga di antara lima pimpinan itu terpelanting.
Bukan main!
Tiga orang itu hanya sebentar mengeluh dan cepat meloncat dengan muka merah.
Kini lima orang itu mengurung dengan mata mulai menyinarkan kemarahan.
"Mundur semua...!"
Tiba-tiba terdengar bentakan menggeledek dan lima orang itu cepat mundur dengan muka merah dan sikap malu.
Sulastri mengangkat mukanya memandang dan ternyata dari dalam bangunan besar itu muncul dua orang laki-laki setengah tua yang bersikap gagah perkasa dan berwibawa.
Semua anak buah yang mengepung tempat itu mundur dan tidak ada yang berani bersuara ketika dua orang itu maju menghampiri tempat itu.
Yang seorang berusia kurang lebih lima puluh tahun, bertubuh tinggi kurus, alisnya tebal dan matanya tajam sikapnya tenang.
Seorang lagi lebih muda beberapa tahun, bertubuh sedang dan berwajah tampan wajahnya berseri dan membayangkan sifat gembira.
"Apa yang terjadi di sini? Apa artinya keributan ini dan apakah anak perempuan ini?"
Si alis tebal bertanya, suaranya menggeledek dan agaknya dia marah dan menyangka bahwa anak buahnya mengganggu anak perempuan yang dia lihat amat cantik itu.
Pandang matanya seperti kilat menyambar-nyambar ke wajah lima orang pembantunya.
Si kumis tebal cepat memberi hormat dan menjawab.
"Harap paduka maafkan. Kami menemukan anak ini dalam keadaan mencurigakan, seperti mata-mata hendak menyelidiki keadaan kita. Ketika kami bertanya, dia memberi jawaban tak masuk akal, katanya hendak mencuri beras ketan. Kami yakin dia adalah mata-mata musuh dan ternyata dia memiliki kepandaian tinggi, hampir mengalahkan kami berlima yang hendak menangkapnya."
Dua orang pemimpin itu terkejut dan kini mereka memandang kepada Sulastri dengan penuh selidik. Orang ke dua yang berwajah gembira itu tersenyum dan melangkah maju.
"ah, sungguh aneh kalau bocah sebesar ini, wanita lagi, memiliki kepandaian yang luar biasa, dan kalau memang demikian, patut dicurigai, kakangmas Juru Demang. Biarlah aku mengujinya."
Si alis tebal yang disebut Juru Demang itu mengangguk setuju.
"Tapi jangan kau deritakan dia, dimas, aku melihat dia bukan bocah sembarangan."
Orang itu mengangguk lalu melangkah menghadapi sulastri.
"Nini, apakah benar kau hendak mencuri beras ketan kemudian ketika hendak ditangkap kau merobohkan beberapa orang kami?"
Sulastri merasa sudah kepalang tanggung karena sejak tadi memang dia sudah melawan. Dia mengangguk lalu berkata lantang.
"aku belum mencuri ketan, baru akan, belum terjadi, akan tetapi orang-orangmu hendak memaksa aku menyerah untuk ditangkap. Tentu saja aku tidak mau siapa pun yang hendak menangkapku, pasti akan kulawan!"
"Hemm, nini. Kalau engkau datang dari Mojopahit atau Tuban, tentu engkau mengenal kami. Andaikata belum pernah melihat orangnya, tentu engkau sudah mendengar namaku. Aku adalah Raden Gajah Biru. Nah, apakkah kau tetap hendak melawan dan tidak mau menyerah?"
Sulastri yang teringat akan gurunya dan merasa mendongkol sekali, mencari ketan untuk gurunya belum dapat malah kini dihadang dan diganggu orang banyak, lalu menjawab marah.
"sudahlah, aku belum melakukan pencurian apa-apa, mengapa kalian begini cerewet dan tidak membiarkan aku pergi? Aku tidak mengenal segala macam Gajah Biru, Gajah Hitam atau Gajah Putih!"
Semua anak buah yang kini berdatangan dan makin banyak mengurung tempat itu, menahan senyum.
Bocah itu tabah, lincah, liar dan juga lucu!
Bahkan Juru Demang sendiri tersenyum, akan tetapi segera mengeraskan hati dan berkata.
"Hemm... bocah ini kurang ajar sekali!"
Akan tetapi Gajah Biru, yang berwajah gembira itu, tertawa.
"Ha-ha-ha, kau hebat! Selama hidupku, baru sekali inilah nama hadiah dari sang prabu dijadikan permainan dan ejekan orang! Jelas bahwa (Lanjut ke
Jilid 08) Kemelut Di Majapahit (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 08 engkau belum pernah mendengar nama Gajah Biru dan Juru demang. Eh, nini, siapakah namamu dan dari mana kau datang?"
Sulastri membanting kaki kanannya, itulah tandanya kalau dia sedang menghadapi sekali hatinya dan habis kesabarannya.
"Sudahlah... sudahlah...! Kau mau apa sih? mau tangkap aku? Silahkan kalau kau berani!"
Gajah Biru adalah seorang bekas perwira Mojopahit yang memiliki kepandaian tinggi, maka dia makin gembira menyaksikan dara remaja ini.
Dia mengenal seorang yang memiliki keberanian besar, seorang yang patutnya berdarah ksatria, seorang yang berwatak pendekar.
Dia tidak marah melihat kekasaran dara itu karena maklum bahwa dara itu merasa terganggu dan marah, maka dia berkata.
"Memang aku hendak menangkapmu. Jaga dirimu baik-baik!"
Dia menerjang maju, hendak menangkap lengan kanan dan pundak kiri dara itu.
"Wuuttt.... Plak-plak-plak-plakkk..."
"Eh...!"
Gajah Biru melangkah mundur dan terbelalak.
Ketika hendak ditangkap, dara remaja itu mengelak dan balas menampar, gerakannya cepat dan mempunyai dasar gerakan silat yang hebat, dan luar biasa lagi, ketika dia menangkis sampai empat kali, dia merasakan betapa ampuh dan dahsyatnya tamparan-tamparan dara itu!
Andaikata tamparan itu dilakukan oleh seorang yang lebih matang latihannya, tentu dia sendiri pun akan kewalahan menghadapinya!
Akan tetapi, Gajah Biru adalah seorang perwira sakti, maka tentu saja dia mampu menangkis semua tamparan itu dan bahkan Sulastri merasa betapa tangannya panas ketika ditangkis.
Hal ini bukan membuat dara itu menjadi takut, bahkan dia makin marah.
"Bagus!"
Kiranya engkau seorang yang sakti!
Akan tetapi kesaktianmu hanya kau remehkan untuk menganggu seorang perempuan!
"Setelah membentak demikian, Sulastri kini menyerang dengan sungguh-sungguh, mengeluarkan semua gerak silat yang dipelajarinya dari Ki Jembros, gerakannya cepat sekali dan setiap pukulan dia lakukan dengan pengerahan tenaga sakti.
"ah, hebat... ahhh...!"
Gajah Biru yang hendak menguji dara itu makin kagum dan cepat dia mengelak ke sana-sini dan menangkis karena dia memperoleh kenyataan bahwa biar pun dara itu masih remaja, masih muda sekali, namun benar-benar telah memiliki kepandaian yang dahsyat.
Pantas saja kalau lima orang pembantunya tidak dapat mangatasi dara ini!
Saking marahnya dan saking cepat dan kuatnya gerakan tubuh Sulastri, kalung yang menjadi mainannya dan tadinya terselip di antara dada di balik kain, kini terkulai keluar dan tergantung di depan, berkilauan ketika bergoyang-goyang oleh gerakan tubuhnya.
Tampaklah mainan kalung itu yang bukan lain adalah Kundolo Mirah, yaitu cincin telinga yang matanya mirah (batu merah) yang dulu dia terima dari Adipati Ronggo Lawe.
"Heii, tahan dulu...!"
Tubuh Gajah Biru mencelat ke belakang, gerakannya cepat sekali membuat Sulastri terkejut.
Gajah Biru terbelalak memandang Kundolo Mirah yang tergantung di depan dada dara remaja itu, lalu dia menuding benda itu sambil bertanya.
"Bukankah itu Kundolo Mirah...?"
Sulastri menegakkan kepalanya.
"Kalau benar kau mau apa? Benda ini milikku sendiri, bukan hasil curian!"
Dengan mata masih terbelalak dan kini suaranya agak gemetar Gajah Biru bertanya.
"Nini... apa hubunganmu dengan mendiang kakangmas Ronggo Lawe...?"
Kini Sulastri yang memandang dengan sinar mata tajam penuh selidik. Orang ini memiliki kepandaian hebat dan menyebut gurunya "kakangmas".
"Sebelum aku menjawab, ingin aku tahu lebih dulu siapakah engkau yang menyebut kakangmas kepada Adipati Ronggo Lawe?"
"Kakangmas Ronggo Lawe adalah kakak seperguruanku!"
"Ahhh...?"
Sulastri melongo dan memandang laki-laki di depannya itu dengan heran dan juga kagum.
"Dan beliau... beliau adalah guruku..."
"Apa...??"
Gajah Biru berseru kaget lalu membentak karena dia tidak percaya.
"Nini, jangan kau sembarangan bicara! Aku tahu bahwa engkau adalah murid orang pandai, akan tetapi tidak mungkin engkau murid kakangmas Ronggo Lawe yang sudah meninggal dunia empat tahun yang lalu!"
Sulastri menarik napas panjang dan tangan kanannya memegang Kundolo Mirah yang tergantung di lehernya.
"Memang aku belum pernah menerima pelajaran dari beliau, akan tetapi ketika aku masih kecil, aku pernah ditolong olehnya dan ketika aku minta dijadikan murid, dia menyerahkan Kundolo Mirah ini dan aku selalu menganggapnya sebagai guruku..."
Suara dara itu berobah menjadi gemetar karena dia terharu kalau teringat kepada gurunya dan mbakyunya. Gajah Biru menghampirinya.
"Maaf, nini. Kalau begitu aku percaya. Orang seperti engkau ini tidak mungkin berbohong. Sekarang ceritakanlah, siapa gurumu dan mengapa kau sampai tiba di tempat ini?"
"Nanti dulu. Guruku, eyang Jembros menanti aku di sana..."
"Ki Jembros...??"
Gajah Biru dan Juru Demang terkejut bukan main mendengar ini.
"Jadi engkau murid Ki Jembros?"
Tanya Juru Demang.
"Aku murid Adipati ronggo Lawe, akan tetapi menerima pelajaran dari eyang guru Ki Jembros. Eyang mengutus aku mencuri beras ketan, maka aku datang ke tempat ini, karena tempat ini yang terdekat. Tidak tahunya, tempat ini bukan dusun..."
"Kalau hanya beras ketan saja, jangan khawatir, kami dapat memberimu berapa banyak pun. Mari kami antar aku menghadap beliau nini,"
Kata Gajah Biru.
"Jangan, nanti eyang marah. Biar aku kembali ke sana membawa beras ketan, dan akan kuceritakan bahwa di sini terdapat adik seperguruan Adipati Ronggo Lawe. Eyang sedang menderita luka dalam yang cukup parah."
"Akan tetapi, kami ingin bertemu beliau dan kami ingin bicara panjang lebar denganmu, nini... Siapakah namamu, nini...?"
"Namaku Sulastri."
"Sebaiknya kami mengantarmu ke..."
"Jangan paman. Jangan, karena eyang mempunyai watak yang luar biasa anehnya. Kalau paman sekalian datang ke sana, aku tidak tanggung kalau eyang marah dan membunuh paman sekalian."
"Ha-ha-ha-ha! Wah, wah, kau memperkenalkan aku sebagai seorang iblis, Sulastri! Akan lebih terkenal lagi julukan Setan Jembros, ha-ha-ha!"
"Eyang...!"
Sulastri membalikkan tubuhnya dengan girang ternyata kakek tua ini telah jongkok dan nongkrong di atas wuwungan rumah besar itu!
Kiranya sejak tadi dia telah menonton segala yang terjadi di bawah tanpa ada yang mengetahuinya.
"eh, bocah bengal. Kau disuruh mencari ketan kenapa malah cekcok dengan banyak orang di situ?"
"eyang... harap suka turun, biar saya jelaskan."
"Dan ikut dengan kau cekcok dengan orang banyak? Huh, tidak sudi aku!"
Semua orang tadi terkejut bukan main melihat seorang kakek yang begitu menyeramkan nongkrong di atas wuwungan.
Akan tetapi Juru demang dan Gajah Biru, sebagai dia orang sakti yang banyak mengenal orang pandai, sudah cepat memberi hormat dengan sembah ke arah kakek itu dan berkatalah Juru Demang.
"Mohon maaf sebanyaknya bahwa karena kami tidak mengetahui akan kunjungan paduka, maka kami tidak sempat menyambut, paman."
"Ha-ha-ha, selayaknya aku datang tanpa disambut dan pergi tanpa diantar..."
"Eyang saya sudah mendapatkan beras ketan. Mereka ini mempunyai beras ketan. Mari saya buatkan ketan kelapa dan gula!"
Ki Jembros tertawa dan tubuhnya melayang turun. Juru Demang dan Gajah Biru segera maju dan memberi hormat dengan sembah.
"Ah, tidak usah menyembah. Aku adalah orang biasa saja, Juru Demang dan Gajah Biru. Kalian adalah senopati-senopati Mojopahit, mengapa kalian berada di sini, seperti orang-orang bersembunyi bersama pasukan kalian?"
Juru Demang menarik napas panjang.
"Paman, ceritanya panjang. Marilah, kami mempersilakan paman untuk beristirahat di dalam, biar murid paman membuatkan ketan dan kita bicara dengan enak."
Sekali ini Ki Jembros tidak menolak.
Hal ini adalah karena dia sudah mulai tertarik akan keadaan di Mojopahit setelah dia bertemu dan bertanding melawan dua orang kakek sakti beberapa hari yang lalu.
Dua orang bekas senopati Mojopahit itu bersama lima orang pembantunya lalu mengiringkan Ki Jembros dan Sulastri memasuki bangunan besar.
Lampu-lampu besar dinyalakan dan Sulastri lalu berpamit pergi ke dapur untuk memasak ketan, bukan hanya beberapa genggam, melainkan banyak juga untuk hidangan mereka semua.
Tentu saja beberapa orang anak buah yang biasa bertugas di dapur membantunya dan mereka ini tiada habisnya mengagumi dara itu dan bercakap-cakap dengan ramah sambil sibuk memasak ketan, memarut kelapa dan lain-lain.
Setelah menghadapi ketan kelapa dan gula kelapa yang ditemani oleh minuman kopi, mereka mengelilingi meja.
Kini Sulastri berkesempatan mendengarkan penuturan dua orang bekas senopati Mojopahit itu, semenjak pemberontakan Ronggo Lawe sampai sekarang.
"Kami tidak tahan menghadapi desas-desus yang ditiupkan oleh orang-orang yang tentu memusuhi kakangmas Lembu Sora,"
Kata Juru Demang menutupi ceritanya.
"Desas-desus itu berbahaya sekali, apalagi karena kakangmas Lembu sora tidak pernah membantahnya bahwa dialah yang membunuh Kebo Anabrang, ditusuknya dari belakang. Padahal semua orang tahu bahwa Kebo Anabrang mati sampyuh dengan dimas Ronggo Lawe."
"Hemm, itu semua fitnah belaka, fitnah yang dilepas oleh mereka yang tidak suka kepada kakangmas Lembu Sora. Oleh karena itu, melihat kakangmas Lembu Sora dengan tenang saja menghadapi desas-desus fitnah itu, kami lebih dulu melarikan diri untuk mengadakan persiapan dan sewaktu-waktu kakangmas Lembu Sora digempur, tentu kami akan turun tangan membelanya,"
Gajah Biru menyambung.
"Bagaimana andaikata berita desas-desus itu bukan fitnah melainkan kenyataan yang sebenarnya?"
Sulastri ikut bicara. Gajah Biru memandang dara ini dengan mata terbelalak, lalu dia yang menjawab.
"Fitnah atau bukan, jelas bahwa penyebar desas-desus menghendaki agar kakangmas Lembu Sora tertimpa bencana. Dan bagi kami, baik kakangmas Lembu sora membunuh Kebo Anabrang atau tidak, kami tetap akan membelanya."
"Mengapa begitu?"
Kembali Sulastri bertanya.
"Karena kami sudah percaya sepenuhnya akan kemuliaan budi kakangmas Lembu Sora, akan kesetiaannya kepada sang prabu. Andaikata benar dia menikam mati Kebo Anabrang, hal itu tentulah dilakukan karena suatu sebab yang kuat. Bukan watak kakangmas Lembu Sora yang kami kenal sebagai seorang satria utama untuk berlaku curang."
Ucapan Gajah Biru ini dikeluarkan dengan penuh keyakinan.
"Ha-ha-ha..., ribut-ribut-ribut! Perang-perang-perang! Semua pihak tentu mempunyai pendirian dan alasan-alasan sendiri-sendiri dan ada saja yang mereka kemukakan untuk membela kebenaran masing-masing. Akan tetapi aku sudah mendengar bahwa Lembu sora adalah seorang laki-laki sejati."
Ki Jembros terdengar ikut pula bicara sambil minum kopinya setelah kenyang makan ketan dan gula kelapa.
"Desas-desus itu bukan fitnah!"
Ucapan tenang yang keluar dari mulut Sulastri itu bagaikan halilintar dan dua orang Senopati Mojopahit itu, juga lima orang pembantunya, bangkit serentak, memandang wajah Sulastri penuh selidik sampai beberapa saat lamanya suasana menjadi sunyi sekali.
Namun Sulastri tetap duduk tenang, lalu minum air teh dari cangkirnya.
"Nini Sulastri, apa artinya ucapanmu itu?"
Juru Demang menuntut, suaranya agak gemetar karena berita yang disampaikan oleh dara itu benar-benar mengejutkan hatinya.
Bagaimana setia pun mereka terhadap sahabat mereka Lembu sora, namun tadinya tidak seorang pun di antara mereka percaya bahwa Lembu Sora sudi melakukan kecurigaan seperti itu, membunuh Kebo Anabrang dari belakang.
"Heh-heh-heh, kalian duduklah dan dengarkan baik-baik. Muridku ini selama hidupnya tidak akan pernah mau membohong, dan apa yang diceritakan tentu benar. Aku menjamin hal itu!"
Ki Jembros juga berkata ketika melihat semua orang bersikap tegang seperti itu Juru Demang sadar dan dia lalu duduk diikuti oleh semua temannya.
"Nini, ceritakanlah semua apa yang kau ketahui,"
Katanya kemudian.
"Paman-paman sekalian, kiranya hanya aku dan dua orang lain yang menyaksikan peristiwa itu, juga mbakayuku yang telah meninggal dunia.
"dara remaja itu memulai."
Aku dan mbakayu bersembunyi di dalam alang-alang di tepi Sungai Tambakberas ketika terjadi pertandingan antara guruku.
Adipati Ronggo Lawe melawan Kebo Anabrang.
Pertandingan yang dahsyat!
Bertapa hebatnya mendiang guruku itu!
Akan tetapi, lawannya licik dan memancing guruku untuk bertanding di atas batu-batu di bagian sungai yang dalam.
Mereka bertanding dan lawan guruku menyeret guruku masuk ke dalam air yang dalam.
Lawannya ternyata ahli bermain di air, maka guruku kewalahan kehabisan napas dan dalam keadaan setengah pingsan dia disiksa dan kepalanya dibentur-benturkan ke batu kali sampai tewas.
Lalu muncul Senopati Lembu Sora tidak membunuhnya di waktu itu, tentu sekarang aku akan mencari Kebo Anabrang untuk membalas dendam kematian Adipati Ronggo Lawe."
Semua orang mendengarkan dengan sunyi dan dengan muka pucat. Malapetaka tergantung di atas kepala Lembu Sora kalau begitu! "Nini, lajutkan ceritamu. Lalu bagaimana selanjutnya?"
Suara Juru Demang memecah kesunyian setelah Sulastri menghentikan ceritanya.
"Senopati Lembu Sora lalu meloncat pergi dan mbakayuku yang melihat Adipati Ronggo Lawe tewas, lalu keluar dari tempat persembunyian kami, lari menghampiri dan menangisi jenazah adipati itu, kemudian mbakayu berbela pati, membunuh diri. Tak lama kemudian muncullah dua orang jahanam keparat itu. Akan kubunuh mereka karena mereka menghina jenazah mbakayuku! Dan dua orang itu agaknya tentu tahu pula akan peristiwa pembunuhan atas diri Kebo Anabrang oleh Senopati Lembu Sora."
"Brakkk!"
Gajah Biru menggebrak meja di depannya.
"Tidak salah lagi, pasti dua orang itu yang telah menyebar desas-desus ini!"
"Nini Sulastri, siapakah dua orang yang kau ceritakan itu?"
Juru Demang bertanya.
"Mereka itu bernama Reksosuro dan Darumuko."
Tujuh orang pimpinan pasukan yang melarikan diri dari Mojopahit itu saling pandang, akan tetapi tidak ada yang mengenal nama-nama ini.
"Siapakah mereka itu? Kami belum pernah mengenal nama mereka..."
Kata Juru Demang.
"Mereka adalah orang-orangnya Resi Mahapati. Karena itu, kelak aku harus membunuh dua orang itu dan Resi Mahapati."
"Ahhh...!"
Juru Demang dan Gajah Biru terkejut bukan main mendengar disebutnya Resi Mahapati.
Resi Mahapati itu mereka anggap sebagai seorang yang amat baik dan setia kawan, juga setia kepada sang prabu.
Maka keduanya termenung sejenak, kemudian berkatalah Juru Demang kepada Gajah Biru.
"Adimas Gajah Biru, tak dapat dielakkan lagi, kakangmas Lembu Sora pasti terancam bahaya maut. Oleh karena itu, dimas jangan berayal lagi, temulilah kakangmas Lembu Sora dan bujuklah agar dia suka cepat melarikan diri ke sini sebelum bahaya menimpa dirinya. Berangkatlah sekarang juga, dimas Gajah Biru dan karena tugas ini amat penting maka harus engkau sendiri yang melaksanakannya."
"Baiklah, kakangmas Juru Demang. Saya berangkat sekarang.
"Gajah Biru lalu berpamit dari semua orang dan pergilah dia malam itu juga menuju ke Mojopahit. Sementara itu, Ki Jembros yang sejak tadi hanya mendengarkan saja, tiba-tiba berkata dengan suaranya yang nyaring kepada muridnya.
"Lastri, besok engkau harus melanjutkan perjalanan sendiri ke puncak Gunung Bromo, menghadap kakang Empu Supamandrangi."
Sulastri terbelalak memandang kakek itu.
"Dan eyang sendiri...?"
Ki Jembros menggeleng kepala...
"aku tinggal di sini, beristirahat dan berobat..."
"Kalau begitu aku pun tidak mau pergi, eyang. Aku akan merawat eyang, memasakkan ketan untuk eyang."
Tiba-tiba Ki Jembros bangkit berdiri, matanya melotot lebar.
"Eh, jadi engkau mulai tidak taat lagi kepadaku, ya?"
Sulastri terkejut dan takut, cepat dia menyebah.
"Tidak, tidak... eyang, saya tidak berani membantah..."
"Nah, itu baru muridku yang baik. Kau harus pergi ke sana, menghadap kakang empu, kau ceritakan semua tentang dirimu, dan tentang Ronggo Lawe, juga katakan bahwa engkau adalah murid Ki Jembros. Selanjutnya terserah petunjuk kakang Empu Supamandrangi dan kau harus taat kepada eyang gurumu itu."
"Tapi... tapi..., eyang... kapan saya dapat berjumpa dengan eyang lagi?"
"Ha-ha-ha! Kalau aku masih hidup, apa sih sukarnya bertemu dengan aku? Hidup hanya berisi pertemuan dan perpisahan, apa anehnya? Kau besok harus berangkat, sendiri?"
"Besok eyang...?"
Sulastri nampak bingung.
"Akan tetapi saya belum mengenal jalan..."
Huh!
Pantaskah muridku merasa takut hanya untuk melakukan perjalanan ke Gunung Bromo saja?
Jangan membikin malu aku, Lastri.
Kalau kau pergi ke timur, setelah memasuki daerah Kadipaten Lumajang, kau bertanya kepada siapa pun tentu tidak ada yang tidak tahu di mana letaknya Pengunungan Bromo."
"Baik, eyang..."
Kata Sulastri dengan sikap masih agak ragu-ragu karena memang selama ini dia tidak pernah melakukan perjalanan seorang diri.
Melihat keraguan dara remaja itu, agaknya Juru Demang merasa kasihan.
Senopati ini sudah mengenal watak-watak aneh dari orang-orang sakti seperti Ki jembros, akan tertapi dia pun tahu betapa jauh dan sukarnya perjalanan dari situ ke Gunung Bromo, apalagi kalau ditempuh oleh seorang dara remaja seperti Sulastri itu.
Selain amat jauh dan amat berbahaya, terutama bagi seorang wanita, muda dan cantik pula.
Oleh karena itu, maka terdorong oleh rasa kasihan di dalam hatinya, Juru Demang berkata tenang.
"Harap paduka maafkan kelancangan saya. Paman. Bukan maksud saya untuk mencampuri urusan paman dan nini Sulastri, akan tetapi mengingat akan jauh dan sukar serta berbahayanya perjalanan dari sini ke Gunung Bromo, akan lebih amanlah kiranya kalau nini Sulastri menyamar sebagai seorang pria."
"menyamar pria? Aku...? Akan tetapi aku seorang wanita!"
Sulastri membantah.
"Ha-ha-ha, bagus! Itulah akal bulus yang cerdik sekali. Dan kau akan menjadi seorang pemuda yang amat tampan kalau menyamar sebagai pria, Lastri, ha-ha-ha!"
Memang Ki Jembros ini orangnya gembira dan dia suka akan hal yang aneh-aneh dan lucu-lucu.
Maka mendengar usul itu hatinya menjadi gembira dan dia sudah dapat membayangkan betapa lucunya kalau muridnya itu menyamar sebagai seorang pemuda.
"Akan tetapi..."
Sulastri masih mencoba untuk membantah. Bagi dara yang biasanya bersikap wajar ini amat anehlah membayangkan bahwa dia harus berpura-pura menjadi seorang pria.
"Begini, nini,"
Juru Demang menjelaskan dengan sabar.
"Amatlah berbahaya bagi seorang wanita muda untuk melakukan perjalanan sejauh itu, apalagi melalui tempat-tempat yang asing bagimu, melalui pegunungan dan hutan-hutan di mana terdapat banyak gerombolan perampok. Lebih-lebih lagi di waktu suasana kacau seperti sekarang ini..."
"Aku tidak takut!"
Sulastri memotong cepat, matanya bersinar penuh rasa penasaran.
Mengapa dia hendak ditakut-takuti?
"Tentu saja tidak takut, nini.
Rasa takut merupakan pantangan besar bagi seorang gagah.
Akan tetapi di samping keberanian, seorang gagah harus selalu waspada dan berhati-hati.
Keberanian bukanlah berarti kenekatan, melainkan tidak takut menghadapi bahaya demi membela kebenaran.
Namun, tanpa kecerdasan kita akan mudah tertimpa malapetaka dan mengandalkan keberanian saja belumlah cukup untuk menghindarkan malapetaka."
"Ha-ha, bagus, bagus! "Ki Jembros bertepuk tangan memuji.
"Maafkan saya paman. Bukan maksud saya untuk lancang memberi petuah kepada murid paman..."
"Lanjutkan, lanjutkan! Muridku ini memang keras batok kepalanya, dan baik kalau bisa menembus batok kepalanya yang keras itu agar dia mengerti, ha-ha!"
"Nini Sulastri, dengan gerakanmu yang tangkas, tidak akan ada orang dapat meyangka bahwa kau seorang wanita. Dan dengan dandanan pria, engkau akan dengan mudah, tanpa banyak gangguan, dapat melakukan perjalanan sampai ke Gunung Bromo dengan selamat. Sebaliknya, kalau engkau pergi dalam keadaan seperti itu saja, engkau akan menghadapi banyak sekali gangguan dan akan sia-sialah perjalananmu dan harapan paman jembros yang mengutus nini pergi ke Gunung Bromo."
Sulastri mulai dapat menerima nasihat itu, akan tetapi alisnya masih berkerut tanda bahwa hatinya masih penasaran dan belum puas benar.
"Akan tetapi dengan menyamar sebagai pria, bukankah itu berarti bahwa aku takut paman?"
"Takut atau tidak adalah urusan hati kita sendiri, dan takut atau tidak hanyalah kita sendiri yang mengetahuinya dengan jelas, bukan? Kalau kita sudah yakin bahwa tidak ada rasa takut di dalam hati kita, perduli apa dengan sangkaan orang lain? Yang penting, engkau yakin bahwa engkau menyamar bukan karena takut, melainkan untuk berhati-hati agar perjalananmu dapat lancar tanpa banyak rintangan di jalan."
"Akan tetapi, aku tidak biasa..."
"Jangan khawatir, nini. Sebagai seorang dara perkasa yang sejak kecil sudah digembleng berolah yuda, gerakan-gerakaanmu begitu gesit sehingga dengan sendirinya engkau sudah seperti seorang pria, maka penyamaranmu itu hanya mengenai pakaian belaka. Untuk keperluan penyamaranmu, ahli-ahli kami akan dapat mendadanimu dan kemudian melatihmu bagaimana harus bersikap sebagai seorang pria, nini."
"Ha-ha-ha, kau sungguh beruntung, Lastri! Kau akan memperoleh pengalaman hebat, bayangkan saja, menjadi pria, melakukan perjalanan seorang diri, bisa mempermainkan orang yang menyangkamu betul-betul pria. Wah, kalau ada wanita yang jatuh cinta padamu, he-he, dan hal itu bukan mustahil karena engkau tentu akan menjadi perjaka yang ganteng ha-ha, tentu lucu sekali! Ah, kau beruntung. Kalau saja aku berkesempatan menyamar sebagai seorang wanita tua, ha-ha-ha, betapa seneng dan lucunya, akan kupamerkan banyak orang, ha-ha-ha!"
Sikap dan ucapan gurunya ini membuat Sulastri juga tertawa-tawa.
Memang lucu membayangkan gurunya yang tinggi besar itu bergelung dan berpakaian seperti seorang nenek tinggi besar!
Timbul kegembiraannya dan malam itu juga Sulastri dilatih seorang ahli menyamar dalam pasukan Juru Demung untuk menyamar sebagai seorang pria, gurunya sendiri menjadi pangling!
Dia telah merobah menjadi seorang perjaka yang tampan dan gagah, yang suaranya renyah dan sikapnya jenaka.
Pada keesokan harinya, setelah menyambah dan mohon doa restu Ki Jembros, berangkatlah Sulastri seorang diri meninggalkan hutan itu menuju ke timur.
Dia menolak ketika diberi kuda karena dia tidak biasa menunggang kuda, akan tetapi dia tidak menolak ketika Juru Demung memberi bekal uang kepadanya.
Juga buntalan gurunya berisi segala macam perabot dapur dibawanya dan dipanggulnya.
Ki Jembros berdiri tegak mengikuti bayangan muridnya sampai lenyap di tikungan.
Kakek ini merasa seolah-olah semangatnya terbawa oleh murid yang amat dicintainya itu.
Dia menghela napas panjang dan berkata kepada Juru Demung yang berdiri di sampingnya.
"Kalau saja dia lebih tua lima tahun, tentu dia akan kutahan di sini untuk membantu Lembu Sora. Sekarang terpaksa aku sendiri yang akan membantu dan biarlah muridku itu selamat di Bromo, Lapang hatiku sudah karena dia pasti aman di sana."
Juru Demung terkejut dan girang sekali mendengar ucapan ini.
"Jadi paman berkenan membantu kami...?"
Tanyanya penuh harap, khawatir kalau-kalau dia tadi salah dengar.
"Hemm, kalau tidak akan membantu apakah kau kira aku senang ditinggal muridku? Biarkan aku mengobati lukaku dan memulihkan tenaga, dan kelak akulah yang akan menghadapi Empu Tunjungpetak dan Resi Harimurti, karena kurasa keduanya itu ke Mojopahit untuk urusan ini, untuk menghadapi Lembu Sora."
"Apa maksud paduka, paman?"
Ki Jembros lalu menceritakan tentang pertemuan dan pertempuran melawan Empu Tunjungpetak dan Resi Harimurti yang diundang ke Mojopahit oleh Reksosuro.
Juru Demung menjadi khawatir sekali, karena dia sudah mendengar akan kesaktian dua orang pendeta itu.
Akan tetapi, mendapatkan bantuan seperti kakek jembel ini benar-benar membesarkan hatinya dan dia mulai mengadakan persiapan setelah mengatur dan menyediakan sebuah tempat peristirahatan untuk Ki Jembros yang akan memulihkan tenaga dan mengobati lukanya.
Sebetulnya apakah yang telah terjadi di Kota Raja Mojopahit?
Banyak sekali!
Dalam waktu beberapa tahun akhir-akhir ini semenjak pemberontakan Ronggo Lawe, telah terjadi banyak hal yang mendatangkan kekeruhan di atas Kerajaan Mojopahit.
Pertama-tama dimulai dengan desas-desus tentang kematian Kebo Anabrang dalam pertandingan melawan Ronggo Lawe, yang didesas-desuskan bahwa Lembu Sora yang membunuh Kebo Anabrang dan membantu Ronggo Lawe secara diam-diam dalam pertandingan itu.
Dedas-desus ini mendatangkan kegemparan di seluruh Mojopahit dan otomatis terjadi perpecahan antara yang pro dan yang kontra Demung Lembu Sora, kekasih sang prabu itu.
Sesungguhnyalah, Lembu Sora merupakan abdi terkasih dari sang prabu, karena semenjak mudanya Lembu Sora merupakan seorang di antara para senopati yang saling setia.
Kesetiaan Lembu Sora sudah berulang kali teruji dan kepercayaan sang prabu kepada senopati ini adalah mutlak.
Oleh karena itu, tentu saja desas-desus itu menimbulkan kegemparan besar.
"Hendaknya paduka ingat akan semua jasa Lembu Sora, kakanda prabu,"
Demikian antara lain Permaisuri dyah Tribuana berkata dengan halus ketika melihat kemurungan wajah suaminya dan maklum apa yang menyebabkan sang prabu kelihatan duka.
Sang permaisuri juga sudah mendengar akan desas-desus itu, maka dia merasa khawatir dan cepat dia membela Lembu Sora dan membujuk sang prabu.
"Betapa Lembu Sora telah berkali-kali membela paduka dan membela Mojopahit dengan taruhan nyawa. Bukankah Lembu Sora sendiri yang memimpin pasukan menghancurkan pemberontakan Tuban? Dia menentang keponakannya sendiri, si Ronggo Lawe yang memberontak. Hal ini sudah jelas membuktikan kesetiaannya dan harap paduka tidak menjatuhkan hukuman kepada Lembu Sora."
"Itulah yang menyusahkan hatiku, adinda Tribuana,"
Kata sang prabu sambil menarik napas panjang.
"Kalau orang lain yang melakukan perbuatan itu, tentu dengan mudah saja kuhukum dia. Akan tetapi kakang Demung Lembu Sora? Heran sekali aku, sungguh tidak mengerti mengapa kakang Lembu Sora yang terkenal gagah perkasa dan sudah kukenal baik sebagai seorang jantan, dapat melakukan hal yang begitu rendah, membunuh orang secara pengecut dan keji."
"Akan tetapi, berita ini hanya desas-desus, hanya pergunjingan belaka, belum ada buktinya, kakanda."
"Kalau tidak benar, mengapa kakang Lembu Sora dia, saja? Kalau hanya fitnah kosong tentu kakang Lembu Sora sudah mengamuk dan mencari penyebar fitnah. Aku sudah mengenal benar wataknya,"
Bantah sang prabu.
"Benar atau tidak, hamba kira kakang Lembu Sora mempunyai alas dan yang kuat mengapa dia melakukan itu, kakanda. Dan benar atau tidak beraita itu, tegakah paduka menghukum orang yang pernah melakukan kesetiaan seperti yang dia buktikan itu kepada paduka? Lupakan paduka betapa dahulu, ketika kita berdua masih sengsara melakukan perjalanan yang amat sukar, Lembu Sora telah menyediakan tubuhnya di sawah yang berlumpur itu untuk menjadi tempat duduk kita... ah, kakanda, terlalu banyak kalau disebutkan jasa-jasa dan pengorbanan yang dilakukan oleh kakang Lembu Sora. Apakah semua itu akan kita lupakan saja?"
Sang prabu termenung.
Tentu saja dia tidak melupakan semua kebaikan Lembu Sora.
Terutama sekali ketika dia membawa Puteri Dyah Tribuana mengungsi ke Madura, yaitu ketika Kerajaan Singosari telah jatuh.
Betapa dia dan sang puteri melakukan perjalanan yang amat sengsara dan Lembu Sora selalu mengawalnya dengan penuh kesetiaan, bahkan ketika mereka kehabisan tenaga dan mengaso di ladang yang becek, Lembu Sora terlentang di atas tanah becek dan mempersilakan sang prabu dan dyah Tribuana untuk menduduki perut dan dadanya!
"Tentu saja aku tidak melupakannya, adinda.
Akan tetapi, mengapa dia melakukan kecurangan serendah itu, membnuh Kebo Anabrang dari belakang?"
Sang prabu terkejut.
Kebo Anabrang adalah seorang di antara para senopati yang setia pula.
Mengapa permaisurinya mengeluarkan ucapan seperti itu?
Seolah-olah membenci Kebo Anabrang?
Ketika mereka bertemu pandang, Dyah Tribuana menundukkan mukanya dan mengertilah sang prabu.
Teringatlah beliau mengapa permaisurinya membenci Kebo Anabrang dan Sri Baginda menarik napas panjang.
Tidak mengherankan.
Kebo Anabrang adalah senopati yang mengepalai pasukan ke negeri Malayu, bahkan senopati itulah yang ketika pulang membawa Puteri Malayu yang kini menjadi selirnya yang terkasih, yaitu Dara Petak yang telah diberi nama Sri Indreswari, ibu dari pangeran Kolo Gemet.
Karena inilah maka permaisurinya itu membenci Kebo Anabrang.
Hal ini membuat sang prabu termenung dan makin ruwetlah pikirannya.
Demikian berhari-hari Sang Prabu Kertarajasa Jayawarana berwajah murung.
Desas-desus makin santer dan hanya karena teringat akan jasa dan kesetiaan Lembu Sora saja maka Sri agenda menahan sabar dan tidak mau bertindak, bahkan di dalam persidangan tidak pernah menyinggung persoalan ini.
Juga para ponggawa yang maklum akan kesetiaan Lembu Sora, maklum pula bahwa senopati ini menjadi ponggawa terkasih oleh Sri Baginda, tidak berani menyinggung-nyinggung persoalan desas-desus yang menghebohkan itu.
Betapa pun juga, sang prabu mengerti bahwa berita tentang dibunuhnya Kebo Anabrang oleh Lembu Sora itu telah menggoncangkan persatuan para pembantunya, bahkan mempunyai sifat memecah belah karena di antara para menteri dan hulubalangnya banyak yang memihak Kebo Anabrang dan ada pula yang memihak Lembu Sora.
Yang lebih merisaukan hati sang prabu adalah pengaruh-pengaruh dari para isterinya sendiri.
Empat orang isterinya, kesemuanya puteri-puteri mendiang Sang Prabu Kertanegara, dipimpin oleh Dyah Tribuana yang menjadi permaisuri, dan didorong oleh Dyah Gayatri atau Rajapatni yang merupakan selir terkasih, di satu pihak mereka ini membela Lembu Sora, adalah Dara Petak selalu membujuk sang prabu agar dijatuhkan hukuman atas diri Lembu Sora untuk membalas kematian Kebo Anabrang yang oleh Puteri Dara Petak dianggap sebagai seorang senopati yang paling besar jasanya.
Tentu saja demikian, karena dia merasa bahwa keberangkatan ke Jawa Dwipa dibawa oleh Senopati Kebo Anabrang sehingga dia memperoleh kedudukan mulia di Mojopahit!
Resi Mahapati yang seolah-olah merupakan seorang penangkap ikan yang sengaja menumbulkan suasana keruh itu, tentu saja tak pernah melepaskan penyelidikan dan pengamatannya terhadap lubuk yang telah dikeruhkan untuk ditangkap ikan-ikannya!
Maka resi yang cerdik dan penuh ambisi ini melihat kesempatan baik selagi sang Prabu Kertarajasa bingung dan murung.
Kesempatan itu tidak dia sia-siakan begitu saja dan pada suatu senja dia mohon menhadap sang parbu di luar persidangan biasa.
Karena Resi Mahapati merupakan seorang pendeta yang dipercaya dan sudah seringkali memberi nasihat-nasihat yang berguna bagi sang prabu, maka sang prabu berkenan menerimanya, apa lagi karena pada saat itu sang prabu sedang murung dan berduka, maka kedatangan Resi Mahapati dianggap kebetulan sekali.
Setelah melewati segala upacara penghormatan yang telah menjadi tradisi di waktu menghadap raja, Resi Mahapati yang cerdik itu langsung saja berkata.
"Harap paduka sudi mengampunkan hamba yang dating menghadap tanpa dipanggil. Hamba melihat betapa paduka berada dalam keadaan bimbang dan berduka, dan telah dua kali paduka tidak mengadakan persidangan seperti biasa. Karena hamba khawatir akan keadaaan paduka, maka senja ini hamba bertindak lancang menghadap paduka untuk melihat kalau-kalau hamba dapat meringankan beban paduka."
Sang Prabu menarik napas panjang.
Betapa banyaknya ponggawanya yang amat setia kepadanya, akan tetapi justru karena kesetiaan mereka itulah kini dia menghadapi keadaan yang sulit!
Lembu Sora adalah seorang senopati yang setia, demikian pula Kebo Anabrang.
Kini, urusan yang timbul di antara dua orang ponggawa setia ini telah membuat dia menjadi pusing!
Andaikata seorang di antara kedua orang ponggawa itu ada yang tidak setia, betapa mudahnya mengambil keputusan!
"Kang Resi Mahapati, perlukah kiranya aku jelaskan lagi kepadamu?
Kurasa kakang resi yang arif bijaksana telah mengerti apa yang menyebabkan risaunya hatiku dan binggungnya pikiranku, kakang resi,"
Kata sang prabu. Resi Mahapati mengangguk-angguk.
"Sesungguhnyalah bahwa hanba telah mengetahuinya, akan tetapi hamba tidak berani lancang dan mengaku pandai. Apakah kedukaan paduka ada hubungannya dengan desas-desus yang santer bertiup di seluruh kerajaan sekarang ini?"
Sang parbu mengangguk-angguk.
"Benar kakang resi. Hal itulah yang membingungkan pikiranku karena aku selalu merasa ragu-ragu tindakan apakah yang harus kuambil. Akan tetapi yang lebih daripada itu, benarkah kakang Lembu Sora melakukan perbuatan yang hina dan keji itu?"
Dengan hati-hati Resi Mahapati menjawab.
"Menurut pendapat hamba memang demikianlah adanya karena andaikata tidak demikian, pasti dimas Demung Lembu Sora akan menjadi marah sekali. Pula, kabarnya malah dimas Lembu Sora telah mengakui akan kebenaran berita itu, sinuwun."
Sang prabu memukul telapak tangan kirinya sendiri.
"Sungguh aneh! Kakang Lembu Sora telah kukenal benar sebagai seorang satria utama yang gagah perkasa. Bagaimana mungkin dia melakukan perbuatan keji dan rendah itu?"
"Menurut pendapat hamba, hal itu tidaklah terlalu aneh, sinuwun. Betapa pun juga, Ronggo Lawe adalah keponakannya, maka anehlah kalau seorang paman membantu keponakannya melihat keponakannya itu terbunuh oleh Kebo Anabrang?"
"Akan tetapi kakang Lembu Sora adalah seorang yang amat setia kepadaku!"
"Hal itu tidak dapat disangkal pula, gusti. Akan tetapi ketika membunuh Kebo Anabrang, dimas Lembu Sora bukan bermaksud, memberontak atau berkhianat kepada paduka, melainkan karena perasaan pribadi melihat keponakannya terbunuh."
Sang prabu mengangguk-anggul, menyetujui.
"Kalau kupikir-pikir, memang wawasanmu itu agaknya tepat, kakang resi. Akan tetapi, lalu aku harus bertindak bagaimana?"
"Memang hamba akui amat sulit bagi paduka untuk mengambil tindakan. Akan tetapi hendaknya paduka ketahui bahwa banyak para ponggawa, menteri dan senopati merasa tidak puas dan penasaran karena melihat perbuatan keji dan curang dari dimas Lembu Sora itu tidak mendapatkan pengadilan dan hukuman. Timbul anggapan mereka bahwa paduka seolah-olah membenarkan tindakan Lembu Sora membunuh Kebo Anabrang secara keji demikian itu. Hal ini amatlah tidak baik sinuwun."
"Habis, bagaimana baiknya, kakang resi?"
Sang prabu makin tertekan hatinya.
"Yang terpenting dan terutama di antara segalanya adalah nama, kehormatan, dan kedaulatan paduka agar seluruh rakyat di Mojopahit tunduk dan menjunjung tinggi paduka sebagai seorang maha raja yang arif bijaksana dan adil! Oleh karena itu, dalam hal ini seyogianya kalau paduka mengesampingkan perasaan pribadi dan bertindak seadil-adilnya terhadap Lembu Sora yang jelas telah melakukan dosa besar itu. Sayangnya bahwa dimas Lembu Sora sendiri bersikap lengah, seolah-olah tidak menghargai paduka dan tidak terang-terangan saja menceritakan kepada paduka dan mohon kemurahan paduka."
Wajah sang prabu mulai merah. Terbakarlah hatinya dan timbul penasaran dan tidak senangnya kepada Lembu Sora.
"Hamba merasa heran sekali bahwa beberapa ponggawa yang masih membenarkan perbuatan Lembu Sora itu, bahkan dua orang di antaranya, yaitu Juru Demung dan Gajah Biru telah lolos dan tidak diketahui ke mana perginya, membawa pasukan yang berada di bawah asuhan mereka. Hal ini berbahaya, sinuwun. Kalau Gajah Biru berkhianat, masih tidak mengherankan karena dia adalah saudara seperguruan Ronggo Lawe, akan tetapi Juru Demung..."
"Juru Demung adalah tangan kanan kakang Lembu Sora!"
Sang prabu berkata marah.
"Kalau begitu biarlah sekarang juga kubebaskan Lembu Sora dan kaki tangannya itu dari tugas, kupecat mereka dengan tidak hormat!"
Sang prabu sudah mulai marah sekali.
Di sinilah nampak kecerdikan Resi Mahapati.
Setelah dia berhasil membakar hati sang prabu, cepat dia merobah sikap agar perbuatannya mengeruhkan suasana itu tidak nampak bekasnya, dan agar peranannya yang amat besar dan penting itu tersembunyi demi keamanan dirinya sendiri.
"Ampun, sinuwun. Harap paduka suka bersabar dan tidak menuruti kemarahan hati. Kalau paduka mengambil tindakan yang amat tiba-tiba ini, hamba khawatir akan terjadi pemberontakan dan melihat betapa banyak sekali kawan-kawan Lembu Sora, maka tentu akan terjadi malapetaka melanda Mojopahit. Harap paduka tidak terburu nafsu dan mencari kesempatan yangbaik untuk menyingkirkan Lembu sora dan kawan-kawannya tanpa menimbulkan huru-hara dan yang akan merugikan kerajaan paduka sendiri."
Sang prabu menarik napas panjang dan memandang kepada pendeta tua itu dengan sinar mata bersyukur.
"Terima kasih, kakang Resi bahwa engkau telah mengingatkan aku. Memang pendapatmu benar, aku tidak akan gegabah dan terburu nafsu. Akan kupikirkan jalan terbaik untuk urusan ini."
Setelah merasa berhasil meracuni hari Sri Baginda sehingga timbul rasa penasaran dan tidak senang di hati Sri Baginda terhadap Lembu Sora, Resi Mahapati lalu mohon diri.
Hatinya girang bukan main karena dia kini merasa yakin Sri Baginda tentu tidak akan ragu-ragu lagi mengambil tindakan.
Akan tetapi masih banyak yang harus dia kerjakan untuk terlaksananya rencana siasatnya yang semalam telah dia atur dan rundingkan dengan selirnya terkasih yaitu Lestari!
Betapa hebatnya, besar dan tingginya cita-cita Lestari, kekasihnya itu!
Kalau dia sendiri hanya mengincar kedudukan patih kekasihnya itu malah mengincar kedudukan raja untuk dia dan permaisuri untuk kekasihnya itu!
Bukan main!
Akan tetapi, siapa tahu?
Siapa tahu kalau-kalau Sang Hyang Bathara Syiwa akan memberkahinya sedemikian rupa sehingga cita-cita selirnya itu akan terlaksana!
Dengan hati yang besar Resi Mahapati lalu mengunjungi gedung Kebo Anabrang!
Langsung dia menjumpai Kebo Taruno atau Juko Taruno, putera dari mendiang Senopati Kebo Anabrang.
Joko Taruno ini sudah dewasa, usianya sudah dua puluh tahun lebih dan seperti juga mendiang ayahnya, pemuda ini bertubuh tinggi besar, pemberani dan semenjak kecil sudah digembleng dengan ilmu-ilmu kedigdayaan.
Ketika Resi Mahapati mengunjungi rumah Kebo Anabrang, dia disambut oleh Joko Taruno dan dipersilakan duduk di rungan tamu dengan hormat.
Kemudian dengan lagsung Resi Mahapati bertanya apakah pemuda itu dan keluarganya sudah mendengar desas-desus tentang kematian ayah pemuda itu hampir lima tahun yang lalu?
Wajah pemuda yang tinggi besar itu menjadi merah, dan jelas bahwa dia menahan kemarahannya mendengar pertanyaan tentang ayahnya itu.
"Kami sekeluarga justru sedang risau mendengar berita itu, paman resi."
"Apakah andika menaruh dendam atas kematian ayah andika itu?"
"Tentu saja! Kalau ayah tewas dalam perang, kami merasa bangga dan menganggap bahwa hal itu sudah sewajarnya bagi seorang satria yang menjadi senopati seperti mendiang ayah. Akan tetapi, kalau kematiannya seperti itu dibunuh secara curang seperti dikabarkan dalam desas-desus itu, apalagi dilakukan oleh kawan sendiri, hal itu sungguh menyakitkan hati dan bagaimana pun juga, harus kami balas! Mungkin kami bukanlah lawan dari Demung Lembu Sora, akan tetapi kami dapat menuntut keadilan kepada sang prabu!"
Resi Mahapati mengangkat tangannya dan menarik muka sungguh-sungguh untuk menutupi rasa girang di hatinya.
"Jangan khawatir dan jangan bertindak semborono, orang muda. Percayalah kepada Sang Hyang Syiwa yang maha adil, yang menjadi korban kejahatan! Ketahuilah bahwa aku sendiri baru saja bertemu dengan sri baginda di istana, dan sri baginda sendiri sudah mendengar akan berita itu. Sri baginda masih berduka atas kematian ayah andika dan Sri baginda sedang mencari kesempatan untuk membalas kematian ayah andika itu dan membasmi Lembu Sora. Karena itu, harap andika bersabar dan jangan melakukan tindakan sendiri karena hal itu akan mengeruhkan suasana dari sang prabu. Tunggu sajalah kalau saatnya tiba, tentu andika akan berkesempatan membalas dendam dan jangan khawatir, aku sendiri pun tidak senang melihat perbuatan keji dari Lembu Sora dan akulah yang akan membantumu, angger, karena ayahmu dahulu adalah sahabat baikku."
Tentu saja hati penuda itu menjadi girang dan terharu sekali, maka dia lalu menyembah dan menghaturkan terima kasihnya kepada pendeta istana yang baik hati itu.
Setelah menghibur sambil menaburkan racun dendam di dalam hati pemuda itu, Resi Mahapati lalu pulang ke gedungnya, disambut peluk cium oleh Lestari, selirnya yang sudah dirindukannya itu.
Di dalam pelukan waniat muda itu, Resi Mahapati seperti biasa menceritakan segala yang telah dilakukannya selama ini dan betapa jaring-jaring yang dipasangnya untuk menangkap ikan berupa Lembu Sora makin diperketat dan hanya tinggal menanti saatnya saja!
Dan hati Lestari menjadi girang dan puas.
Ayahnya adalah seorang senopati atau perwira Mojopahit.
Akan tetapi ayahnya tewas karena kecurangan Progodigdoyo, kemudian ibunya dan adiknya tewas pula oleh Progodigdoyo, dan dia sendiri sampai rela mengorbankan tubuh dan perasaan menjadi benda permainan dan pemuas hawa nafsu Resi Mahapati.
Dan semua itu, malapetaka yang menimpa keluarganya itu sama sekali tidak mendapat perlindungan dari Mojopahit, di mana ayahnya dahulu menghambakan diri.
Maka kini semua bangsawan Mojopahit harus dibasmi!
Caranya adalah mengadu domba di antara mereka, melalui suaminya yang cerdik itu, sampai habis!
barulah tidak akan sia-sia semua pengorbanannya.
Hanya inilah yang menjadi isi hati Lestari dan yang makin diperkuatnya dengan tindakan setiap harinya, yaitu dengan menyihir Resi Mahapati menggunakan kecantikan wajahnya, keranuman dan kehangatan tubuhnya, dan kehalusan rayuannya!
Resi Mahapati memang amat cerdik.
Dia tidak hanya berhenti di situ saja untuk menyudutkan Lembu Sora.
Dengan amat halus dia bahkan mencari kesempatan untuk menemui Lembu Sora sendiri!
Dan apa yang dikatakannya ketika dia bertemu dengan Lembu sora?
"Dimas Demung Lembu Sora, hendaknya andika berhati-hati..."
Katanya dengan suara mengandung kegelisahan.
"Keselamatan andika terancam hebat...!"
Lembu Sora menerima berita ini dengan sikap tenang saja.
Dia sudah malu akan adanya desas-desus tentang dirinya dan sebagai seorang satria, dia siap sedia menanggung semua akibat daripada tindakannya lima tahun yang lalu.
"Jika kakang resi mempunyai sesuatu yang hendak disampaikan kepada saya, silakan. Saya tidak gentar menghadapi ancaman bahaya apapun."
Memang pada hakekatnya Lembu Sora kurang suka kepada pendeta pemuja Bathara syiwa ini, yang dianggapnya seorang yang terlalu halus, sembunyi-sembunyi dan dia pun mendengar akan watak pendeta ini yang gila perempuan.
Akan tetapi, sebagai teman sejak lama menghambakan diri kepada Mojopahit, dia tetap menghormatinya.
"Ketahuilah, Dimas Demung. Saya telah bertemu dengan keluarga Kebo Anabrang, dan Joko Taruno yang termakan hatinya oleh desas-desus tentang kematian ayahnya, bersumpah untuk membalas dendam kematian ayahnya kepada andika!"
"Hemm, hal seperti ini sudah sewajarnya dan saya tidak akan gentar menghadapinya, kakang Resi Mahapati."
Jawaban yang tenang ini membuat Resi Mahapati sejenak kehilangan keseimbangannya dan tidak tahu harus berkata apa lagi.
Akan tetapi memang dia seorang yang cerdik dan banyak akal bulusnya banyak buslihatnya.
Dia teringat akan pesan dan nasihat selirnya yang tercinta bahwa untuk dapat menguasai kedudukan Mojopahit harus dibikin lemah dulu dan untuk membikin lemah kerajaan, para senopati harus diadu domba lebih dulu.
Teringat akan nasihat ini, dia lalu berkata dengan suara yang halus namun penuh pembelaan.
"Joko Taruno memang masih kanak-kanak, adimas Demung, dan dia sih boleh tidak usah dipikirkan. Akan tetapi mengingat akan permusuhan dan kebencian antara mendiang Ronggo Lawe dengan Patih Nambi, maka sudah pasti Joko Teruno akan minta bantuan Patih Nambi untuk menghadapi andika. Karena itu, maka hendaknya andika berhati-hati dan waspada."
Lembu Sora tersenyum tenang.
"Kakang Resi Mahapati, di Mojopahit ini, yang saya pandang dan saya hormati, yang saya junjung tinggi hanyalah Sri Baginda. Yang lain-lain saya tidak perduli dan kalau mereka hendak mengukur luasnya dada si Lembu Sora, boleh maju, saya tidak menjadi gentar!"
Diam-diam Resi Mahapati maklum bahwa ucapan ini bukan hanya kesombongan kosong belaka dan tanpa adanya campur tangan dari sang prabu sendiri, kiranya tidaklah akan mudah untuk menjatuhkan senopati gemblengan ini.
"Benar sekali sikapmu ini, dimas Demung! andaikata benar bahwa andika dahulu membunuh Kebo Anabrang, tentu ada alasannya dan karena itu tidak perlu takut terhadap mereka. Tentang Sri Baginda, saya percaya bahwa Sri Baginda akan mengingat jasa-jasa andika dan tidak membesar-besarkan urusan ini. Dan jangan lupa, kalau sampai terjadi sesuatu, Resi Mahapati tentu akan berdiri di pihak andika, dimas Demung Lembu Sora memperjuangkan di depan Sang baginda agar andika tidak sampai mengalami malapetaka.!"
"Terima kasih, kakang resi. Akan tetapi saya tidak ingin membawa orang lain dalam urusan pribadi saya."
Biar pun di dalam hatinya dia tidak ingin sama sekali menerima kebaikan dan bantuan resi itu, namun tentu saja Lembu sora tidak mungkin menolak iktikat baik orang, maka terpaksa dia menghaturkan terima kasihnya ketika Resi Mahapati itu bermohon diri.
Untuk menemui orang-orang penting yang bersangkutan dalam politik adu dombanya, Resi Mahapati tidak mempercayakan kepada orang lain, melainkan dikerjakannya sendiri.
Demikian pula, dia sendirilah yang menemui Patih Nambi dan di depan patih yang sebetulnya amat dibenci dan diirikan kedudukannya ini yang diincer untuk direbut pangkatnya, dia bicara secara berbeda sama sekali.
Kepada Patih Nambi, Resi Mahapati mengatakan bahwa sang prabu marah sekali kepada Lembu Sora yang telah membunuh Kebo Anabrang secara curang, akan tetapi sang prabu yang menganggap bahwa Lembu Sora merupakan senopati yang paling berjasa dan paling setia kepada sang prabu, maka tidak akan dihukum, melainkan akan dibebaskan dari tugasnya dan sebagai gantinya, sang prabu akan mengangkat Joko Taruno, putera Kebo Anabrang.
Juga diceritakan bahwa joko Taruno hendak membalas dendam kematian ayahnya, namun maksud itu dicegahnya karena kalau hal itu dicegahnya karena kalau hal itu dilaksanakan di luar kehendak sang prabu, maka tentu akan terjadi perang saudara.
"Tidak ada lain jalan,"
Resi Mahapati membakar hati Patih Nambi.
"Hanya andika saja yang dapat membereskan si Lembu Sora itu, karena dipilihnya andika sebagai patih oleh sang prabu, dan bukan Lembu Sora, membuktikan bahwa sang prabu lebih sayang kepada andika dari pada kepada Lembu Sora. Kalau andika yang menghadap sri baginda untuk menjalankan tugas menangkap dan menghukum itu, tentu sang prabu tidak akan keberatan."
Terpikat Patih Nambi oleh cerita Resi Mahapati yang memang pandai bicara itu.
Segera dia menghubungi Joko Taruno, kemudian mempersiapkan orang-orangnya, yaitu mereka yang berfihak kepada Dara Petak dan Pangeran Kolo Gemet, kemudian Patih Nambi pergi menghadapi sang prabu.
Dengan tegas Patih Nambi mengemukakan bahwa semua menteri dan senopati mengambil keputusan untuk mohon perkenan sri baginda untuk menghukum Lembu Sora yang telah membunuh Kebo Anabrang secara keji dan curang.
"Demi keselamatan Negara dan agar tidak sampai terjadi pemberontakan karena rasa penasaran di dalam hati para senopati, maka demi keadilan pula, hamba mohon agar paduka mengijinkan hamba pergi menangkap dan menjatuhkan hukuman mati kepada Lembu Sora."
"Patih Nambi,"
Sang prabu berkata dengan suara berduka.
"Apakah engkau lupa betapa besar jasanya Lembu Sora kepada kerajaan? Bagaimana hati kami dapat tega membiarkan dia terhukum mati?"
Nambi menyembah dengan khidmat.
"Hamba mengerti, sinuwun. Haba sendiri amat kagum dan suka kepada kakang Demung Lembu Sora yang hamba anggap sebagai guru hamba sendiri. Akan tetapi, hamba mengajukan permohonan ini sama sekali bukan karena perasaan pribadi hamba. Hamba tetap sayang dan menghormat kepada kakang Lembu Sora. Akan tetapi hamba lebih mementingkan keselamatan Negara, karena kalau hanya menuruti perasaan pribadi dan membiarkan kakang Lembu Sora tidak terhukum, hal ini akan mengurangi kewibawaan paduka dan tentu akan timbul anggapan bahwa paduka kurang adil. Hal itu berbahaya sekali, gusti."
Sang Prabu Kertarajasa maklum akan kebijaksanaan Patih Nambi, maka dia pun percaya sepenuhnya bahwa apa yang terucapkan oleh mulut patihnya itu adalah suara yang murni dari hati Patih Nambi.
Maka makin sedihlah hatinya dan akhirnya sang prabu berkata.
"Telah kupikirkan masak-masak dan telah kuputuskan Patih Nambi. Memang Lembu Sora telah berdosa dan untuk itu dia harus ditangkap kakang Lembu Sora, akan tetapi jangan dihukum mati. Dia harus dihukum buang, yaitu dibuang ke Tulembang. Nah, inilah keputusan kami, disaksikan oleh para menteri!"
Mendengar putusan sang prabu itu, Patih Nambi lalu mengadakan persiapan dan dan merundingkannya dengan para ponggawa dan senopati lainnya, karena tugas mengangkap Lembu Sora bukanlah merupakan tugas yang remeh!
Sementara itu, Resi Mahapati yang mendengarkan keputusan sang prabu ini, merasa kecewa.
Kalau hanya dihukum buang saja, Lembu Sora kelak masih merupakan bahaya besar dan perintang dari cita-citanya.
Juga Lestari tidak puas dan membujuk sang resi untuk mencari akal agar Lembu Sora dapat membinasakan.
Sang Resi Mahapati lalu cepat-cepat mengutus seorang kepercayaannya untuk pergi menghadap Senopati Lembu Sora dengan diam-diam.
Pesuruh atau utusan itu disuruh mengabarkan kepada Lembu Sora bahwa Patih Nambi bersama Joko Taruno sedang mempersiapkan pasukan untuk menangkap Lembu Sora sebagai seorang penghkianat, dan hal ini disetujui oleh sang prabu!
Dan Resi Mahapati berpesan agar Lembu Sora melarikan sesuatu.
Dialah yang akan memperjuangkan ke hadapan sang prabu agar Lembu sora diampuni.
Mendengar berita ini, Lembu Sora menjadi berduka sekali.
Dia tidak takut menghadapi ancaman Nambi dan Joko Taruno, akan tetapi merasa berduka mengapa sang prabu telah memberi ijin kepada dua orang itu untuk bertindak sendiri.
Mengapa tidak sang prabu saja yang memanggilnya?
Kalau demikian halnya, dia tentu akan menghadap dan menyerah tanpa perlawanan apa pun.
Akan tetapi diserbu oleh Nambi dan Joko Taruno.
Dia tidak mungkin mau menyerah.
Mendengar nasihat Resi Mahapati, Lembu Sora merasa setuju karena kalau dia melawan penangkapan itu, berarti dia memberontak dan hal ini dia sama sekali tidak menghendakinya.
Memberontak terhadap Mojopahit?
Dalam mimpi pun tak pernah terpikirkan hal ini olehnya!
Karena dia memang telah mengungsikan keluarganya semenjak ada desas-desus, dan kini setelah mendengar nasihat Resi Mahapati dan dia didatangi pula Gajah Biru yang menjadi sahabat baik dan pembantunya yang setia, akhirnya Lembu Sora lolos dari Mojopahit dan pergi bersembunyi di dalam hutan di tempat persembunyian Juru Demung, Gajah biru dan teman-teman lain serta pasukan mereka.
Kedatangan dua orang pertapa itu, Empu Tunjungpetak dan Resi Harimurti, yang dijemput oleh Reksosuro dan teman-temannya, amat menggirangkan hati Resi Mahapati.
Hatinya makin besar karena bantuan dua orang sakti ini amat dibutuhkannya.
Dia maklum bahwa Lembu Sora adalah seorang yang memiliki kepandaian hebat dan kiranya kalau hanya mengandalkan Nambi saja, akan sukar untuk membinasakan satria yang gagah perkasa itu.
Kalau dia sendiri yang turun tangan, dia yakin akan mampu mengalahkan Lembu Sora, akan tetapi hal ini sama sekali tidak dikehendakinya.
Belum waktunya untuk dia turun tangan sendiri, karena masih banyak rintangan-rintangan yang harus dilenyapkan dengan diam-diam sehingga dia akan selalu bertangan bersih dan leluasa bergerak sampai dia mendekati tujuan terakhir.
Malam itu dia menjamu kakak seperguruannya, Empu Tunjungpetak dengan hidangan-hidangan lezat, pakaian-pakaian indah dan benda-benda yang berharga mahal, sedangkan untuk Resi Harimurti, dia yang sudah tahu akan kesukaan resi perantauan ini segera menyuguhkan dua orang (Lanjut ke
Jilid 09) Kemelut Di Majapahit (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 09 wanita muda yang cantik-cantik, diambil dari deretan selir-selirnya sendiri, untuk menemani, melayani dan menghibur Resi harimurti yang menerima suguhan ini dengan girang sekali.
Setelah perjamuan selesai, Resi Mahapati mengajak dua orang sekutu atau pembantunya itu berunding dan mereka berdua siap untuk membantu melenyapkan Lembu Sora kalau saatnya sudah tiba.
Kemudian Resi Harimurti yang sudah merasa gatal-gatal tubuhnya itu mengundurkan diri untuk berpesta sendiri dengan dua orang wanita muda yang bertugas melayaninya, sedangkan Resi Mahapati dengan kakak seperguruannya bercakap-cakap membicarakan cita-cita mereka.
Ternyata kakek tua Empu Tunjungpetak itu pun tidak terbebas daripada pengejaran kemuliaan dan dia berjanji akan membantu Resi Mahapati asalkan kelak dia pun memperoleh kedudukan yang tinggi!
Sementara itu, Patih Nambi dan para pembantunya menjadi ribut ketika mendengar berita bahwa Sora telah lolos dari gedungnya dan tidak ada yang tahu ke mana perginya.
Mulailah di menyebar orang-orang dan mata-mata untuk mencari tempat persembunyian senopati yang lolos itu.
Kembali Resi Mahapati memperoleh kesempatan untuk menonjolkan diri.
Di dalam persidangan, ketika Patih Nambi melaporkan akan lolosnya Lembu Sora dan sri baginda menjadi marah, Resi Mahapati dengan berani berkata.
"Hamba mohon agar gusti sinuwun suka bersabar. Sebaiknya urusan mengenai adimas Demung Lembu Sora ini dipertimbangkan dengan kesabaran, mengingat akan jasa-jasanya."
"Bagimana dapat sabar kalau jelas bahwa dia melarikan diri?"
Tiba-tiba Patih Nambi membantah pendapat Resi Mahapati itu.
"Sikapnya itu saja sudah menunjukkan bahwa dia hendak memberontak!"
Resi Mahapati tersenyum sabar lalu menyembah kepada sang prabu yang hanya mendengarkan dengan bingung dan prihatin.
Raja ini memang benar-benar prihatin akan peristiwa yang menimpa Kerajaan Mojopahit.
Luka yang menggores perasaan sang prabu akibat tewasnya Ronggo Lawe dan Kebo Anabrang masih belum sembuh benar, kini ditambahinya lagi dengan urusan Lembu Sora yang lebih menyakitkan hatinya.
"Ampun, kanjeng sinuwun. Hamba tidak dapat menerima pendapat dimas Patih Nambi bahwa kepergian dimas Lembu Sora tanp pamit merupakan pemerontakan. Keputusan paduka belum disampaikan kepdanya, maka bagaimana dia bisa dianggap memberontak? Mungkin dia hanya merasa tidak enak dan untuk sementara menjauhkan diri."
"Kakang Resi Mahapati, apakah andika hendak melindungi Lembu Sora dan berpihak kepada pemberontak?"
Patih Nambi kembali menyerangnya. Resi mahapati tersenyum cerdik.
"Maaf, dimas patih, akan tetapi agaknya andika lupa bahwa kita sedang menghadap gusti sinuwun dan tidaklah patut untuk berbantahan di hadapan gusti sinuwun tanpa perkenan beliau."
Wajah Patih Nambi menjadi merah sekali dan cepat-cepat dia menyembah kepada sri baginda.
"Harap ampunkan hamba, gusti..."
Sang Prabu menarik napas panjang.
"Sudahlah, perlu apa bertengakar seperti anak kecil atau wanita cerewet? Paman Brahmonorojo, sebagai sesepuh Mojopahit, saya mengharapkan pandangan dan nasihat andika, paman pendeta."
Kakek yang usianya sudah tujuh puluh lima tahun itu, yang rambutnya sudah putih dan sikapnya sabar sekali, segera merangkap kedua tangan di depan dada.
"Awan hitam tebal tergantung di atas kerajaan paduka, gusti sinuwun. Kalau tidak pandai-pandai paduka menghadapinya, kemelut dapat mengegerkan Mojopahit. Hamba setuju dengan pendapat adi Resi Mahapati agar diadakan perundingan dan permusyawaratan mengenai anakmas Demung Lembu Sora. Jalan perundingan selalu lebih baik daripada jalan senjata."
Sang prabu mengangguk-angguk setuju.
"Akan tetapi kakang Lembu Sora telah lolos, tidak tahu ke mana perginya. Bagaimana kami dapat mengadakan perundingan dengan dia?"
Brahmana yang bijaksana dan berhati lembut itu lalu berkata lagi, Hyang Widhi Wasa selalu akan berpihak kepada yang penuh welas asih, gusti sinuwun.
Sang Hyang Brahma yang maha kuasa tentu akan melindungi dan memberkahi tindak bijaksana, adil namun penuh dengan welas asih.
Sebaiknya, kalau menurut pendapat hamba, paduka menulis sebuah surat kepada anakmas Lembu sora, surat peringatan yang halus dan bijaksana.
Kemudian biarlah seorang utusan mengantarkan surat itu kepada anak mas Lembu Sora.
Kalau dicari dan diselidiki oleh seorang utusan saja, tentu akan mudah ditemukan dan anakmas Lembu Sora tidak akan menaruh curiga, berbeda dengan kalau yang mencari itu merupakan pasukan."
Sri Baginda merasa girang sekali.
Segera diperintahkan seorang ahli sastera menyusun surat untuk Lembu Sora.
Surat itu cepat dibuat dan selesai, lalu diperiksakan oleh Sang Prabu yang mengangguk-angguk setuju.
Bunyi surat peringatan halus itu adalah bahwa menurut undang-undang Kutaramanawa yang merupakan hukum di Mojopahit, kesalahan yang dilakukan oleh Lembu Sora seharusnya dihukum mati.
Namun mengingat akan jasa-jasanya, sang prabu berwenang mengampuninya dan membaskan dengan hukuman mati itu dan sebagai gantinya, Lembu Sora dipindahkan ke Tulembang.
Patih Nambi lalu memilih seorang kepercayaannya yang bernama Rahino untuk membawa surat itu dan mencari Lembu Sora, menyerahkan surat dan minta balasannya.
Pada hari itu juga, berangkatlah Rahino membawa surat sri baginda, menunggang kuda dan mulai menyelidiki jejak Lambu Sora.
Persidangan dibubarkan.
Persidangan dibubarkan karena sri baginda merasa lemas lahir batinnya setelah menghadapi peristiwa-peristiwa yang menyedihkan dan menegangkan itu.
Usul-usul yang diajukan oleh Panembahan bahan Brahmonorojo memang tepat sekali, biar pun usul-usulnya yang diterima oleh sang prabu itu tidak memuaskan, bahkan mendatangkan rasa penasaran di dalam hati orang, yaitu Nambi dan Mahapati.
Menurut Nambi, Lembu Sora sudah jelas memberontak dan jalan satu-satunya untuk mengamankan Negara hanyalah menumpas dan membinasakannya untuk contoh para ponggawa lain.
Sedangkan Mahapati tidak puas karena pelaksanaan seperti yang diusulkan oleh Panembahan Brahmonorojo itu sama sekali menyimpang daripada rencana dan siasatnya semula.
Akan tetapi dia tidak berani menentang, hanya diam-diam dia memutar otak mencari akal dan ketika dia pulang dari persidangan, cepat-cepat dia berunding dengan selirnya dan juga dengan dua orang pembantunya yang amat dipercayanya, yaitu Resi Harimurti dan Empu Tunjungpetak.
Seperti yang telah diperhitungkan oleh Panembahan Brahmonorojo dalam usul-usulnya, benar saja amat mudah bagi Rahino untuk mencari jejak Lembu Sora.
Semua orang yang bersimpati kepada Lembu Sora tentu akan membungkam dan merahasiakan di mana adanya senopati yang lolos dari Mojopahit itu.
Akan tetapi ketika mereka ini mendengar bahwa Rahino adalah utusan sang prabu untuk menyerahkan surat dari sri baginda sendiri untuk Lembu Sora, mereka cepat membantu Rahino dan mengantarkan utusan ini ke Pegunungan Pandan di mana Lembu Sora bersembunyi!
Rahindo akhirnya tiba di tengah hutan yang menjadi tempat persembunyian Lembu Sora, Juru Demung, Gajah Biru dan para pasukan pengikut mereka.
Karena Rahino diantar oleh orang-orang yang telah mereka kenal, maka Rahino diterima dengan baik dan segera dihadapkan dengan Lembu Sora.
Rahino cepat menyembah dengan hormat, gentar hatinya berhadapan dengan senopati yang amat gagah, tinggi besar dan berwibawa seperti Sang Aryo Seno itu, akan tetapi yang rambutnya kusut dan wajahnya muram pada saat itu.
"Benarkah andika ini utusan gusti sinuwun?"
Lembu Sora bertanya dan pandang matanya tajam penuh selidik.
"Benar sekali, gusti demung. Hamba diutus menyerahkan surat dari gusti sinuwun kepada gusti demung."
"Berikanlah kepadaku!"
Lembu Sora berkata penuh gairah.
Selama bersembunyi ini, hatinya berduka bukan main.
Kalau ada hal yang paling disusahkan di dunia ini adalah bersikap sebagai pemberontak Mojopahit!
Dan sikapnya ini memang tiada bedanya dengan pemberontak.
Itulah yang menyusahkan hatinya!
Juru Demung, Gajah Biru dan kawan-kawan mereka memandang dengan penuh perhatian ketika Lembu Sora membuka surat dari sang prabu itu dengan kedua tangan gemetar kemudian membawa surat itu sambil berdiri saja.
Sukar mengira-ngira bunyi surat dari wajah yang tenang dan sama sekali tidak berobah tenang dan sama sekali tidak berobah itu, akan tetapi perlahan-lahan kedua mata itu menajdi basah dan dua butir air mata yang besar menetes turun.
Hanya dua bitir itu saja, namun sudah cukup bagi para satria yang menyaksikannya, karena melihat seorang satria seperti Lembu Sora menangis sama sukarnya dengan melihat hujan turun di musim kemarau.
Dua butir air mata itu cukup banyak untuk membuktikan betapa perasaan satria itu amat terharu dan tertusuk oleh bunyi surat dari junjungan yang dicinta dan dihormatinya itu.
Lembu Sora mengepal surat itu, mencium dan menekan pada dadanya, kemudian terdengar suaranya yang lantang.
"Aku telah berdosa besar! Juru Demung Gajah Biru dan kawan-kawan sekalian, kalian telah berdosa, kita berdosa kepada Gusti Sinuwun!"
Suaranya lantang terdengar penuh penyesalan.
"Kakang Lembu Sora, apakah yang kakang maksudkan?"
Juru Demung bertanya heran.
"Bagaimana isi surat dari sang prabu, kakang Lembu Sora?"
Gajah Biru juga bertanya, penasaran melihat sikap Lembu Sora selunak itu. Lembu Sora menoleh kepada utusan dari Mojopahit dan berkata.
"Kisanak, kau tunggulah di luar, aku hendak menulis balasan untuk gusti sinuwun."
Rahino memberi hormat lalu mundur, ke luar menunggu di ruangan depan. Setelah utusan itu keluar, Lembu Sora lalu berkata kepada dua orang pembantunya itu, didengarkan pula oleh banyak orang.
"Gusti sinuwun mengingatkan aku bahwa untuk segala perbuatan telah diatur undang-undangnya di dalam Kutaramanawa, dan menurut undang-undang Mojopahit, jelas bahwa aku harus dijatuhi hukuman mati. Akan tetapi gusti sinuwun mengampunkan kesalahanku dan tidak menjatuhkan hukuman mati, melainkan memindahkan aku ke Tulembang."
"Itu berarti dibuang!"
Seru juru Demung.
"Diasingkan!"
Sambung Gajah Biru. Lembu Sora menarik napas panjang.
"Dibuang, diasingkan atau apa pun juga, namun jelaslah bahwa gusti sinuwun memperlihatkan rasa sayangnya kepadaku, dan isi surat ini sekaligus menyadarkan aku bahwa kita telah salah besar! Kita terlalu mementingkan urusan pribadi sehingga lupa akan kepentingan yang lebih besar, yaitu ketenteraman Mojopahit! Kita terlalu mementingkan diri sendiri sehingga untuk mempertahankan kepentingan diri pribadi, kita lupa bahwa kalau dilanjutkan, akan terjadi perang dan hal ini akan mengakibatkan kerusakan hebat di Mojopahit, dan akan menimbulkan kesengsaraan besar kepada rakyat jelata. Kita salah, adi Demung dan adi Gajah Biru."
Sunyi senyap menyambut ucapan Lembu Sora yang lantang itu.
Mereka semua adalah satria-satria yang berjiwa pahlawan, yang mencinta Mojopahit melebihi nyawa sendiri, yang sudah banyak berjuang demi kejayaan Mojopahit dan kini mereka berdiri sebagai lawan yang berhadapan dengan Mojopahit.
Tentu saja hal itu amat menyedihkan hati mereka dan kini Lembu Sora yang mereka pandang sebagai pelopor dan pimpinan, mengingatkan mereka akan hal itu!
Otomatis semangat perlawanan mereka terhadap Mojopahit menjadi kendur dan semua orang menundukkan kepala, tidak dapat membantah kebenaran ucapan Lembu Sora bahwa sebetulnya yang membuat hati mereka memberontak terhadap Mojopahit adalah karena urusan pribadi, sama sekali bukan karena kelaliman sang prabu terhadap mereka!
Yang terjadi adalah pertikaian antara teman atau bekas teman seperjuangan, maka kalau sekarang karena urusan pribadi itu mereka menentang sang prabu, sungguh merupakan hal yang amat rendah bagi seorang satria!
"Kakang Lembu Sora, lalu bagaimana baiknya dan apa yang hendak kakang lakukan sekarang?"
Akhirnya Juru Demung mengajukan pertanyaan yang memecah kesunyian ini, dan semua orang seolah-olah menahan napas hendak mendengarkan jawaban pimpinan itu yang akan merupakan keputusan bagi mereka semua agaknya.
Agaknya lama Lembu Sora tidak menjawab, seolah-olah sukarlah jawaban itu keluar dari mulutnya.
Kemudian terdengar dia berkata lambat-lambat.
"Apa yang akan kulakukan ini sama sekali tidak merupakan keharusan untuk andika sekalian. Kalau andika sekalian mengikuti aku, hal itu amatlah baik, tanda bahwa kalian masih memiliki kesetiaan terhadap Mojopahit sebagaimana layaknya satria-satria utama. Akan tetapi kalau tidak pun aku tidak akan memaksa kalian. Aku harus menulis surat jawaban kepada gusti sinuwun dan selain aku akan mohon ampun atas disa-dosaku, juga aku akan menyatakan cinta kasih dan baktiku terhadap sang prabu dan Mojopahit, dan aku bersedia untuk menyerahkan jiwa ragaku kepada gusti sinuwun. Terserah kepada beliau, apa pun yang akan dilakukan kepadaku, hukuman apa pun yang akan dijatukan kepadaku akan kuterima sebagai tanda baktiku terhadap Negara. Pendeknya aku menyerah tanpa syarat."
Kembali keadaan di dalam rumah besar itu menjadi sunyi sekali.
Muka-muka menjadi pucat dan pandang-pandang mata kehilangan semangatnya.
Ada yang saling pandang di antara kawan-kawan terdekat, namun tidak ada yang dapat mengeluarkan suara karena mereka semua terhimpit di antara dua hal.
Pertama, kebenaran yang diucapkan oleh lembu Sora sebagai seorang satria dan Senopati Kerajaan Mojopahit yang setia, kedua, rasa penasaran dihati mereka untuk menentang sebagai pembelaan diri.
Namun akhirnya, kesunyian itu dipecahkan oleh suara Gajah Biru yang nyaring.
"Aku siap mengikuti jejak kakang lembu Sora!"
"Aku juga sehidup semati dengan kakang Lembu Sora!"
Sambung Juru Demung.
Dan ramailah suara-suara mereka menyatakan setuju dan hendak ikut Lembu Sora untuk menghadap sang prabu dan menyerahkan jiwa raga mereka ke tangan junjungan mereka itu.
Akan tetapi, ada juga beberapa perwira yang tidak setuju, terutama sekali para anggota pasukan yang tidak rela untuk mati atau menerima hukuman begitu saja.
Mereka ini tidak menjawab dan diam-diam mereka lalu mengundurkan diri dari persidangan itu.
Lembu Sora maklum akan hal ini akan tetapi dia tidak menentang mereka dan bahkan tidak mengatakan sesuatu.
Ditulisnyalah sepucuk surat untuk sang prabu oleh Lembu Sora, yang isinya menyatakan bahwa tiga hari lagi mereka akan menghadap ke Mojopahit untuk menyerahkan jiwa raganya kepada sang prabu di Mojopahit.
Rahino lalu dipanggil dan kepada utusan ini diserahkanlah surat jawaban Lembu Sora itu.
Setelah berpamit, berangkatlah Rahino membalapkan kudanya meninggalkan Pegunungan Pandan untuk kembali ke kota raja.
Biar pun senja telah larut, namun sebagai seorang utusan yang menempuh kegelapan malam agar secepatnya dapat tiba di mojopahit.
Dia orang perwira pasukan Lembu Sora mengawalnya dan tiga orang ini membalakan kuda mereka.
Untung bahwa malam itu tidak begitu gelap, karena selain bulan muncul sepotong, juga langit bersih dan bintang-bintang menambah cahaya bulan yang redup.
Akan tetapi, baru saja mereka meninggalkan daerah Pegunungan Pandan, di tengah perjalanan mereka bertemu dengan serombongan orang yang ternyata adalah rombongan pengawal yang mengawal Resi Mahapati!
tentu saja pertemuan ini bukan kebetulan belaka karena memang sang resi telah sejak tadi menghadang di tempat itu dan hanya pura-pura bertemu secara kebetulan.
"Eh, Rahino, apakah surat gusti sinuwun telah diterima dengan selamat oleh Lembu Sora?"
Mahapati yang pura-pura hendak menyelidiki keadaan Lembu Sora itu bertanya.
Sebetulnya utusan ini tidak senang karena terganggu perjalanannya, akan tetapi karena dia mengenal sang resi sebagai seorang yang berpengaruh di istana, maka dia menjawab juga.
"Sudah sang resi."
"Hemm, bagaimana penerimaan Lembu Sora? Apakah dia handak membangkang dan memberontak?"
"Hamba tidak tahu pasti, sang resi. Akan tetapi kelihatannya tidak sedemikian, bahkan menurut cerita para anak buahnya, Gusti Demung Lembu Sora tiga hari lagi akan menghadap gusti sinuwun dan sekarang hamba telah membawa surat balasannya untuk gusti sinuwun."
Hati Resi mahapati menjadi kecewa.
"begitukah? Coba aku hendak melihat bunyi surat pemberontak itu, Rahino."
Rahino terkejut sekali, juga terheran-heran dan khawatir.
Hampir dia tidak percaya akan pendengarannya sendiri.
Sebuah surat untuk sang prabu tentu saja tidak boleh dilihat oleh siapa pun juga.
Yang lancang melihatnya tanpa ijin sang prabu berarti melakukan dosa yang dapat dihukum mati!
Dan seorang yang berkedudukan tinggi seperti Resi Mahapati, kepala dari golongan pemuja besar juga di istana, berarti seorang yang berpangkat tinggi, tentu sudah tahu akan peraturan ini.
"Ah, hal itu tidak mungkin hamba lakukan, sang resi."
Resi Mahapati mengulurkan tangan kanannya dan berkata dengan suara bernada mengancam.
"Serahkan surat itu dan jangan banyak cakap, Rahino!"
"Tidak, tidak banyak akan hamba serahkan!"
Rahino menjawab keras dan dua orang pengawalnya pun sudah bangkit dan maju menghampiri.
"Bunuh mereka!"
Sang Resi Mahapati memerintah dan dua belas orang pengawalnya serentak maju menyerang rahino dan dua orang pengawalnya.
Dapat dibayangkan betapa heran dan kaget rasa hati utusan ini.
Dia dan dua belas orang temannya berusaha membela diri, namun dua belas orang pengawal Resi Mahapati itu adalah jagoan-jagoan pilihan, maka dalam waktu singkat saja Rahino dan dua orang itu tewas di ujung banyak keris dan Rahino membawa rasa kaget dan herannya ke alam kematian yang penuh rahasia!
Andaikata dua belas orang pengawal itu kurang kuat, masih ada Resi Mahapati sendiri yang sakti dan tentu dengan mudah merobohkan Rahino dan dua orang temannya, maka melawan pun tidak ada gunanya bagi utusan itu.
Sambil tersenyum lebar, Resi Mahapati mencari surat itu dan akhirnya menemukan surat balasan Lembu Sora itu di dalam saku baju dalam Rahino.
Dibukanya surat itu dengan hati-hati agar jangan sampai rusak sampulnya, lalu dibacanya di bawah penerangan obor yang dinyalakan oleh anak buahnya.
Membaca surat Lembu Sora yang menyatakan setianya terhadap Mojopahit dan yang menyerahkan jiwa raganya kepada sang prabu, Mahapati tersenyum dan menggeleng-geleng kepala.
"Tidak akan begitu jadinya, Lembu Sora. Tidak akan semudah itu kau lolos dari kematian!"
Dia lalu memerintahkan anak buahnya untuk melemparkan tiga mayat itu ke dalam jurang di kaki Pegunungan Pandan, kemudian pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali dia dan para pengawalnya mendaki pengunungan itu menuju ke dalam hutan yang menjadi tempat persembunyian Lembu Sora!
Para penjaga terheran-heran dan menaruh curiga melihat munculnya sang resi dan dua belas orang pengawalnya di luar hutan.
Mereka segera bersiap-siap menghadang, dan ada pula yang melapor kepada Lembu Sora.
Ketika Lembu Sora mendengar bahwa Resi Mahapati datang dan menyatakan hendak bertemu dan bicara dengannya, bekas senopati ini lalu keluar menyambut dan mempersilakan sang resi masuk ke dalam rumah untuk bicara.
Juru Demung, Gajah Biru dan beberapa orang teman mereka menemani Lembu Sora menyambut tamu yang tak terduga-duga datangnya dan yang menimbulkan keraguan dan kecurigaan itu.
"Ahh, untung bahwa akhirnya saya dapat berhadapan dengan dimas Lembu Sora!"
Resi Mahapati berkata dengan sikap lega.
"Setelah andika tiba dengan selamat di tempat persembunyian saya ini, kakang Resi Mahapati, sungguh amat mengherakan hati saya mengapa andika datang ke sini dan bagaimana pula andika datang ke sini dan bagaimana pula andika tahu bahwa saya berada di sini, kemudian berita apa yang anda bahwa?"
Mahapati menarik napas panjang.
"Inilah beratnya mempunyai seorang sahabat yang selalu kukagumi!"
Dia memandang kepada semua orang, lalu menyambung.
"Dimas Lembu Sora, terus terang saja, saya dengan sudah payah menyelidiki tempat persembunyian andika dan akhirnya dapat juga tiba di sini setelah melakukan perjalanan semalam suntuk, hanya karena saya mengkhawatirkan keselamatan andika yang terancam bahaya maut!"
Semua orang terkejut mendengar ini, akan tetapi Lembu Sora masih tenang dan bahkan menatap wajah resi itu dengan tajam penuh selidik.
"Apa sebabnya andika berpendapat demikian?"
"Dimas Lembu Sora, sayalah orangnya yang membujuk-bujuk gusti sinuwun, mengampuni dosa-dosa andika, sungguh pun usaha saya itu ditentang mati-matian oleh Patih Nambi yang menghendaki kematian andika."
"Hemmm, terima kasih kalau benar demikian, kakang resi. Lalu bagaimana?"
"Dalam persidangan itu, gusti sinuwun telah menyetujui untuk mengampunimu dan hanya memindahkan andika ke Tulembang. Apakah andika telah menerima surat keputusan gusti sinuwun yang dibawa oleh seorang utusan itu?"
"Utusan Rahino?"
Lembu Sora menjawab.
"Sudah, kakang resi, dan Rahino telah pula membawa balasan saya dan kembali ke Mojopahit malam tadi."
"Ahhh..., dan bagaimana pendapat andika? Kalau boleh saya mengetahui, bagaimana andika menjawab keputusan gusti sinuwun itu?"
Lembu Sora mengerutkan alisnya, berat rasa hatinya untuk menjawab.
Resi ini terlalu ingin tahu urusan orang, pikirnya, satu sifat yang amat tidak baik!
Agaknya Mahapati mengerti akan keraguan ini, maka dengan lagak yang meyakinkan dan cerdik sekali dia berkata.
"Dimas Lembu Sora, percayalah bahwa keinginan tahu dan kecerewetanku ini dengan kebaikan andika sendiri. Kalau tidak keliru perhitunganku atas watak satria andika, seperti telah kubayangkan ketika saya memperjuangkan pengampunan andika di depan gusti sinuwun, andika tentu siap sedia menyerah kepada junjungan kita itu, bukan?"
Lembu Sora mengangguk.
Memang tidaklah sukar bagi semua senopati dan ponggawa di Mojopahit untuk menduga apa yang akan dilakukannya karena mereka semua telah mengenal dia sebagai seorang senopati yang amat setia lahir batin terhadap Mojopahit.
"Memang benar demikian, kakang resi. Saya menjawab kepada gusti sinuwun bahwa tiga hari lagi saya dan kawan-kawan akan menyerahka diri ke Mojopahit, menyerah tanpa syarat dan akan mentaati segala perintah dan hukuman yang dijatuhkan oleh kanjeng sinuwun."
Mahapati menarik napas panjang.
"Inilah beratnya mempunyai seorang sahabat yang selalu kukagumi!"
Dia memandang kepada semua orang, lalu menyambung.
"Dimas Lembu Sora, terus terang saja, saya dengan sudah payah menyelidiki tempat persembunyian andika dan akhirnya dapat juga tiba di sini setelah melakukan perjalanan semalam suntuk, hanya karena saya mengkhawatirkan keselamatan andika yang terancam bahaya maut!"
Semua orang terkejut mendengar ini, akan tetapi Lembu Sora masih tenang dan bahkan menatap wajah resi itu dengan tajam penuh selidik.
"Apa sebabnya andika berpendapat demikian?"
"Dimas Lembu Sora, sayalah orangnya yang membujuk-bujuk gusti sinuwun, mengampuni dosa-dosa andika, sungguh pun usaha saya itu ditentang mati-matian oleh Patih Nambi yang menghendaki kematian andika."
"Hemmm, terima kasih kalau benar demikian, kakang resi. Lalu bagaimana?"
"Dalam persidangan itu, gusti sinuwun telah menyetujui untuk mengampunimu dan hanya memindahkan andika ke Tulembang. Apakah andika telah menerima surat keputusan gusti sinuwun yang dibawa oleh seorang utusan itu?"
"Utusan Rahino?"
Lembu Sora menjawab.
"Sudah, kakang resi, dan Rahino telah pula membawa balasan saya dan kembali ke Mojopahit malam tadi."
"Ahhh..., dan bagaimana pendapat andika? Kalau boleh saya mengetahui, bagaimana andika menjawab keputusan gusti sinuwun itu?"
Lembu Sora mengerutkan alisnya, berat rasa hatinya untuk menjawab.
Resi ini terlalu ingin tahu urusan orang, pikirnya, satu sifat yang amat tidak baik!
Agaknya Mahapati mengerti akan keraguan ini, maka dengan lagak yang meyakinkan dan cerdik sekali dia berkata.
"Dimas Lembu Sora, percayalah bahwa keinginan tahu dan kecerewetanku ini dengan kebaikan andika sendiri. Kalau tidak keliru perhitunganku atas watak satria andika, seperti telah kubayangkan ketika saya memperjuangkan pengampunan andika di depan gusti sinuwun, andika tentu siap sedia menyerah kepada junjungan kita itu, bukan?"
Lembu Sora mengangguk.
Memang tidaklah sukar bagi semua senopati dan ponggawa di Mojopahit untuk menduga apa yang akan dilakukannya karena mereka semua telah mengenal dia sebagai seorang senopati yang amat setia lahir batin terhadap Mojopahit.
"Memang benar demikian, kakang resi. Saya menjawab kepada gusti sinuwun bahwa tiga hari lagi saya dan kawan-kawan akan menyerahka diri ke Mojopahit, menyerah tanpa syarat dan akan mentaati segala perintah dan hukuman yang dijatuhkan oleh kanjeng sinuwun."
"Nah, itulah celakanya!"
Tiba-tiba Resi Mahapati berseru.
"Sudah kuduga demikian dan si licik Nambi pun sudah menduganya demikian, maka perangkap telah dipasangnya untuk mencelakakan andika!"
Semua orang terkejut sekali mendengar ini, dan Lembu Sora dengan tatapan mata penuh selidik dan ragu bertanya.
"Harap andika jelaskan, kakang resi. Perangkap apa yang andika maksudkan itu?"
"Begini, dimas Lembu Sora. Seperti telah saya katakan tadi, dengan susah payah saya membujuk gusti sinuwun agar mengampuni andika, akan tetapi Patih Nimbi berkeras menentangnya sampai akhirnya dia pun tunduk atas keputusan gusti sinuwun. Akan tetapi, para sahabatku mencium rahasia yang direncakan oleh Patih Nambi, bahwa jika andika muncul untuk menyerahkan diri, begitu tiba di depan istana, di alun-alun andika akan dikeroyok dan dibunuh oleh anak buah Patih Nambi."
"Ah, si keparat!"
Gajah Biru sudah sudah membentak dan mengepal tinju, matanya meyala-nyala.
"Akan kubunuh si keparat Nambi!"
Tentu saja Gajah Biru marah sekali karena memang satria ini membenci Nambi, mendendam atas kematian kakak seperguruannya, yaitu Ronggo Lawe yang juga memberontak karena Nambi.
"Sabarlah, dimas. Jangan terburu nafsu, karena belum ada bukti dan kenyataan bahwa Nambi akan melakukan hal yang rendah itu."
Ucapan Lembu Sora ini selain menyabarkan Gajah Biru, juga sekaligus terang-terangan menyatakan belum percaya kepada keterangan Resi mahapati.
Tentu saja sang resi yang cerdik itu maklum akan hal ini, dan dia memang sudah mempersiapkan jawaban dan siasat untuk menghadapi segala kemungkinan.
"Sudah sepantasnya kalau andika tidak percaya kepada keterangan saya, dimas Lembu Sora, dan memang demikianlah hendaknya, seorang satria harus selalu berhati-hati dalam segala tindakan dan tidak mendengarkan keterangan satu pihak saja. Dan saya pun bersusah payah memberi tahu andika tanpa pamrih untuk diri sendiri, hanya ingin melihat andika selamat dari marabahaya. Ada pun kemudian andika percaya atau tidak, terserah kepada andika, akan tetapi saya telah memenuhi kewajiban sebagai seorang manusia dan sahabat yang hendak menyelamatkan andika."
"Maaf, kakang resi. Bukan semata-mata saya tidak percaya. Akan tetapi kiranya mustahil kalau di Nambi berani berbuat seperti itu. Dan mengapa andika tidak melaporkan saja kepada gusti sinuwun, melainkan datang dan mengabarkan hal itu kepadaku?"
"Ahh, mengapa adimas masih bertanya lagi? Ki patih Nambi adalah seorang patih hamengkubumi yang berpengaruh dan berkuasa, sedangkan saya ini apakah? Saya hanya seorang kepala golongan agama yang kecil saja kedudukan saya. Karena Patih Nambi hanya baru merencanakan, tanpa bukti, mana saya berani melapor kepada gusti sinuwun? Akan tetapi sudah sepatutnya kalau andika curiga atau kurang percaya kepada saya, oleh karena itu sebaiknya andika berhati-hati dan untuk membuktikan kebenaran pemberitahuan saya ini, dapat andika atur kalau andika nanti menghadap ke Mojopahit. Sebaiknya jangan andika datang bersama-sama dengan adi Juru Demung, Gajah Biru dan yang lain-lain. Andika saja seorang diri dan yang lain-lain mengiringkan jauh di belakang sambil melihat gelagat. Kalau tidak terjadi sesuatu, sudahlah, dan anggap saja bahwa saya hanya seorang tua cerewet yang tak dapat dipercaya! Akan tetapi kalau pada saat andika tiba di depan istana lalu muncul Nambi dan para anak buahnya hendak menangkap atau membunuh andika, nah baru teman-teman andika turun tangan membela diri dan membasmi Nambi yang curang dan khianat itu."
Lembu Sora mengerutkan alisnya dan termenung. Setelah Mahapati bicara demikian mau tidak mau dia harus percaya juga dan mulailah dia bercuriga kepada Patih Nambi.
"Bagus! Memang sebaiknya diatur seperti itu, kakang Lembu Sora!"
Juru Demung berkata.
"Kalau tidak terjadi apa-apa kita menyerah tanpa syarat. Akan tetapi kalau benar Nambi bertindak curang, kita basmi dia dan sekutunya, kemudian baru kita menyerah kepada gusti sinuwun!"
"Tepat sekali! Aku setuju!"
Gajah Biru juga berseru dan yang lain-lain juga menyatakan setuju dengan sikap dan pendapat itu.
"Dan percayalah, saya selalu akan membantu andika, adimas Lembu Sora. Dalam keributan itu tentu saja saya tidak dapat mencampuri, akan tetapi sayalah yang kelak akan membela andika di depan gusti sinuwun setelah andika berhasil membasmi di penghianat Nambi. Sekarang, saya mohon diri, karena tidak baik kalau sampai diketahui kaki tangan Nambi bahwa saya datang berkunjung di sini."
Maka pergilah Resi Mahapati setelah menerima ucapan terima kasih dari Lembu Sora dan kawan-kawannya, yang kini menganggap sang resi itu benar-benar seorang yang baik hati dan membela mereka!
Setelah sang resi dan para pengawalnya pergi,mereka lalu mengaakan perundingan.
"Bagaimana pun juga, biar keterangan-keterangan dari Resi Mahapati agaknya boleh dipercaya, akan tetapi kita harus berhati-hati dan jangan sembrono turun tangan kalau tidak ada buktinya lebih dulu. Aku akan berjalan di depan dan kalian agak menjauh di belakang sambil melihat keadaan, jangan sembarangan turun tangan kalau aku belum memberi tanda, sungguh pun Nambi dan kaki tangannya telah muncul. Harap perhatikan ini, demi ketentraman Mojopahit."
"Ha-ha-ha. Memang benar sekali! Jangan terlalu percaya kepda manusia macam Resi Mahapati!"
Tiba-tiba terdengar suara tertawa dan kata-kata yang diucapkan dengan nyaring itu.
Lembu Sora terkejut sekali, akan tetapi Juru Demung dan Gajah Biru cepat bangkit dan memandang kearah pintu dengan wajah berseri.
Mereka mengenal suara Ki Jembros!
"Kakang Lembu Sora, itulah Ki Jembros seperti yang kami ceritakan kepadamu.
Agaknya dia telah keluar dari pertapaannya!"
Bisik Gajah Biru.
"heh-heh-heh, benar juga ucapanmu itu, Raden Gajah Biru! Akan tetapi aku tidak bertapa di gubuk ini, melainkan mengobati luka-lukaku. Untung telah sembuh karena aku harus melindungi kalian di Mojopahit nanti!"
Kiranya setelah dahulu bersama muridnya, Sulastri, tiba di tempat persembunyian gajah Biru dan Juru Demung dalam keadaan luka di sebelah dalam tubuhnya akibat adu tenaga melawan Empu Tunjukpetak dan Resi Harimurti.
Ki Jembros menyuruh muridnya menyamar sebagai pria dan melanjutan perjalanan seorang diri ke Gunung Bromo untuk mencari eyang gurunya, yaitu Empu Supamandrangi.
Sedangkan Ki jembros sendiri lalu membangun sebuah gubuk di hutan itu, dibantu oleh anak buah Juru Demung, kemudian dia memasuki gubug di hutan itu, dibantu oleh anak buah Juru Demung, kemudian dia memasuki gubuk dan berpesan agar siapa pun juga tidak boleh membuka pintu gubuk, bahkan mendekati pun tidak boleh!
Tentu saja semua orang yang mengenal kesaktian dan keanehan kakek itu, mentaati dan sampai dua bulan lebih gubuk itu tidak diganggu, bahkan tidak ada yang berani mendekati.
Kini, tahu-tahu suara kakek itu terdengar dengan lantang di waktu mereka mengadakan perundingan yang amat penting itu.
Lembu Sora terkejut dan kagum bukan main.
Kakek itu telah bicara dengan suara demikian jelasnya, padahal orangnya tidak kelihatan, dan dapat mendengar suara Gajah Biru tadi.
Hal ini saja sudah membuktikan bahwa kakek yang bernama Ki Jembros itu benar-benar seorang yang sakti mandraguna!
Maka dia pun cepat berkata dengan hormat.
"Kalau memang paduka berkenan membantu kami, saya persilakan paduka untuk menghadiri perundingan kami."
Terdengar suara nyaring dan angin menyambar dahsyat dari arah pintu, kemudian tahu-tahu ada bayangan berkelebat dan kakek itu telah duduk di atas sebuah bangku di antara mereka yang sedang berunding!
Kini keadaannya menjadi aneh jembel lagi.
Selama melakukan perjalanan dengan muridnya, Sulastri yang menyayang gurunya itu masih menjaganya, mencucikan pakaiannya dan seringkali membujuk gurunya untuk mandi.
Akan tetapi, selama dua bulan lebih dia berdiam di dalam gubug itu, maka kini begitu muncul, pakaiannya sudah lapuk-lapuk,rambutnya awut-awutan dan kusut, badannya penuh debu dan tanah, kelihatan kotor tiada bedanya dengan seorang jembel.
Akan tetapi Lembu Sora tidak pernah menilai manusia dari pakaian atau keadaan lahiriahnya.
Dia mengenal manusia sakti, maka cepat dia memberi hormat dan berkata.
"Saya Lembu Sora yang bodoh menghaturkan sembah dan hormat kepada paman penembahan yang mulia."
"Ha-ha-ha-ha! Nama besar Senopati Ki Demung Lembu Sora telah terkenal di seluruh jagad, sedangkan Ki Jembros seorang jembel tua, harap andika jangan terlalu mengangkat tinggi padaku, aku takut kalau jatuh, ha-ha! Makin tinggi kita duduk,makin ngerilah kalau sampai jatuh!"
Mereka melanjutkan perundingan dan makin besarlah hati mereka karena Ki Jembros yang ingin sekali bertemu kembali dengan Empu Tunjukpetak dan Resi Harimurti di samping hendak melindungi Lembu Sora, menyatakan hendak ikut menemani mereka dan akan membantu kalau-kalau benar terjadi seperti yang dikatakan oleh Resi Mahapati tadi, yaitu bahwa Patih Nambi telah memasang perangkap dan akan mencelakakan Lembu Sora dan kawan-kawannya.
Kita tinggalkan dulu Lembu Sora dan kawan-kawannya yang mengadakan perundingan untuk menghadapi perangkap yang mungkin dipasang oleh Patih Nambi pada saat mereka menghadap ke Mojopahit esok lusa, dan kita mengikuti perjalanan Resi mahapati yang penuh dengan tipu daya dan muslihat licik itu.
Setelah meninggalkan Pegunungan Pandan dan tiba kembali di Mojopahit lagsung saja Resi mahapati mohon menghadap sang prabu.
Dan begitu dia menghadap sri baginda, Sang Resi Mahapati menghaturkan sembah, lalu berkata.
"Mohon ampun bahwa hamba datang menghadap membawa berita yang amat buruk dan berbahaya, gusti sinuwun. Ternyata bahwa dugaan hamba meleset jauh dan Lembu Sora benar-benar hendak berkhianat terhadap Mojopahit!"
Berubah wajah sang mata mendengar ini dan cepat dia berkata.
"Kakang Resi Mahapati, cepat ceritakan apa yang telah terjadi!"
"Seperginya utusan Rahino membawa surat paduka untuk Lembu Sora, hati hamba merasa tidak enak, maka diam-diam hamba membawa pengawal untuk membayangi perjalanan Rahino yang menuju ke Pegunungan Pandan di mana Lembu Sora, Juru Demung dan Gajah Biru beserta teman-teman mereka bersembunyi. Hamba membayangi dari jauh dan hamba melihat betapa kemudian utusan paduka itu dibunuh oleh Lembu Sora dan kaki tangannya."
"Ah, si keparat! Berani membunuh utusan raja?"
Sang prabu membentak marah.
"Mereka melemparkan mayat Rahino dan dua orang yang menjadi petunjuk jalan dan dua orang yang menjadi petunjuk jalan ke tempat persembunyian itu. Melihat itu,hamba menjadi marah sekali dan pada keesokan harinya, hamba berkunjung ke tempat Lembu Sora."
"Hemm, berani sekali andika, kakang resi."
"Di antara hamba dan adimas Lembu Sora tidak ada permusuhan apa-apa, dan pula,hamba merasa perlu untuk menegurnya. Hamba lalu berjumpa dengan Lembu Sora dan terang-terangan hamba menegurnya, dengan berpura-pura memihaknya, dengan berpura-pura memihaknya dan baik kepadanya. Lalu hamba minta agar dia mengambil keputusan mengenai surat paduka. Ternyata Lembu Sora mengandung maksud yang amat licik. Dia menulis surat balasan untuk paduka dan inilah suratnya, diberikannya kepada hamba."
Sang prabu membaca surat dari Lembu Sora itu, surat yang tadinya dibawa oleh Rahino, surat yang meyatakan cinta dan baktinya kepada raja dan kepada Negara,surat yang menyatakan bahwa Lembu Sora mentaati semua perintah sang prabu dan bahwa pada hari esok akan menghadap dan meyerah tanpa syarat bersama kawan-kawannya.
Membaca surat ini, sang prabu membelalakkan matanya memandang kepada Resi Mahapati dengan marah.
"Kakang Resi Mahapati!"
Sang prabu membentak.
"Apakah andika tahu akan isi surat ini?"
Mahapati menggeleng dan menyembah.
"Mana berani hamba melihat surat yang dihaturkan kepada paduka."
"Hemmm, isi surat sama sekali berlainan dengan pelaporanmu, Mahapati. Menurut suratnya, Lembu Sora telah mengakui kedosaannya dan besok pagi akan datang menghadap bersama kawan-kawannya, menyerahkan diri tanpa syarat dan tunduk akan semua keputusan kami."
"Memang demikianlah yang dikatakan kepada hamba, gusti sinuwun. Dan itulah muslihatnya. Dia pura-pura tunduk, akan tetapi sesungguhnya dia besok datang bersama kawan-kawannya yang bersenjata lengkap dan selagi paduka tidak menyangka,dia dan kawan-kawannya akan mengamuk dan menyerbu!"
"Ah, tidak mungkin!"
Sang prabu membentak, lalu memanggil pengawal.
"Suruh semua senopati dan ponggawa menghadap! Suruh mereka datang sekarang juga untuk hadir dalam persidangan kilat!"
Para senopati, dipimpin oleh Patih Nambi yang terkejut mendengar perintah ini dari para pengawal, tergesa-gesa dan serentak datangmenghadap sri baginda dan mereka melihat bahwa Resi Mahapati sudah berada di situ, menghadap dengan muka tunduk, sedangkan sang prabu kelihatan marah sekali, mukanya merah dan sinar matanya berapi-api.
"Kakang resi, sekarang kau ceritakan lagi pelaporanmu kepada kami tadi, agar didengarkan oleh semua menteri dan senopati,"
Sang prabu bekata dengan suara keren.
Dengan tenang Resi Mahapati mengulang kembali ceritanya tadi, tentang kunjungannya kepada Lembu Sora di Pegunungan Pandan.
Setelah selesai bercerita,semua menteri menjadi terkejut sekali.
"Nah, menurut pelaporan kakang Resi Lembu Sora hendak berkhianat. Akan tetapi coba andika sekalian dengarkan bunyi suratnya ini. Kakang Resi Mahapati, andika kuberi wewenang untuk membaca surat dari kakang Lembu Sora ini dengan suara keras agar semua orang mendengarnya,"
Dengan sikap masih tenang Resi Mahapati menerima surat yang dilemparkan oleh sri baginda yang marah itu, kemudian membaca isi surat itu dengan lantang dan tenang.
Semua orang mendengarkan isi surat yang penuh dengan kesetiaan dan kebaktian,dan mereka semua menjadi makin terheran-heran.
Setelah selesai membaca surat itu dan menghaturkan kembali kepada sang prabu,sri baginda berkata lagi.
"Nah, kakang resi. Sekarang kemukakan pendapat dan pandanganmu tadi agar dipertimbangkan oleh semua orang."
Resi Mahapati menelan ludah, lalu berkata.
"seperti telah hamba bunuh, hamba lalu berpura-pura mengunjungi Lembu Sora sebagai sahabat yang berpihak kepadanya. Karena itu, Lembu Sora mempercaya hamba dan membuka rahasianya bahwa dia membalas surat gusti sinuwun seperti itu hanya merupakan siasat belaka, agar kita semua menjadi lengah. Akan tetapi, besok pagi dia akan datang bukan sebagai orang yang menyerahkan diri tanpa syarat, melainkan hendak mengadakan penyerbuan dengan tiba-tiba ke istana!"
Terkejutlah semua orang dan sebagian besar di antara mereka, seperti juga sang prabu sendiri, merasa tidak percaya.
"bagaimana pendapat andika, paman Brahmonorojo?"
Sang parabu bertanya kepada sesepuh itu. Pendeta tua ini menggeleng-geleng kepalanya.
"Agaknya sukar dipercaya bahwa seorang seperti anakmas Lembu Sora itu akan melakukan penghianatan seperti itu."
Para menteri dan senopati lain banyak pula yang menyatakan tidak percaya. Hanya Patih Nambi saja yang meragu dan berkata.
"Hendaknya paduka berhati-hati, gusti sinuwun. Seorang yang telah berani lolos tanpa pamit dari Mojopahit, yang telah berani membunuh seorang teman seperjuangan secara keji dan curang, hamba kita tidak segan-segan pula melakukan kekejian dan pengkhianatan yang lain. Bukan semata-mata kakang Lembu Sora, hanya sebaiknya kalau kita bersikap hati-hati."
"Itulah ucapan yang amat tepat, gusti sinuwun. Memang sangat boleh jadi hamba salah duga, akan tetapi hamba bukan hanya menyangka atau menduga, melainkan hamba mendengar sendiri dari Lembu Sora yang hendak menggunakan muslihat itu. Maka, sebaiknya kalau diatur begini saja, diam-diam diadakan baris pendam di depan istana, dan kalau besok Lembu Sora muncul, dia harus ditangkap dan dihadapkan ke persidangan. Kalau dia tidak melawan, demikian pula kawan-kawannya,berarti bahwa memang hamba yang salah duga atau salah dengar, akan tetapi kalau dia dan kawan-kawannya melakukan perlawanan, jelaslah bahwa memang dia telah bersiap-siap untuk memberontak dan menyerbu istana."
Usul ini diterima baik oleh sang prabu, juag semua menteri membenarkan, karena tiada gunanya berbantahan tentang setia atau tidaknya Lembu Sora.
Yang terpenting adalah membuktikannya besok.
Kalau memang Lembu Sora tidak ada niat memberontak, tentu ditangkap pun dia tidak akan melawan.
Kalau dia melawan,berarti memang dia berniat memberontak.
"Dan sebaiknya, kalau boleh hamba mengusulkan, agar penilaian terhadap diri Lembu Sora dapat seadil-adilnya, maka tugas penangkapan ini sebaiknya ditangani sendiri oleh Patih Nambi,"
Kata pula Mahapati setelah melihat betapa usulnya diterima dan dia mulai memperolah kepercayaan kembali.
Memang orang ini amat cerdik dan selalu memilih saatnya yang tepat untuk melaksanakan siasatnya yang licin.
Tentu saja sang prabu dan semua menteri setuju pula dengan usul ini, bahkan Patih Nambi menerima dengan girang sekali dan pandang matanya kearah Mahapati mengandung terima kasih.
Tidak ada tugas yang lebih menggirangkan hatinya daripada menangkap Lembu Sora yang dibencinya itu.
Setelah persidangan bubar dan Patih Nambi mempersiapkan pasukan yang pilihan, Mahapati menghampirinya dan berkata.
"Tugas andika berat sekali, dimas patih. Selain Lembu Sora sendiri seorang yang amat digdaya, juga saya melihat banyak orang gagah di sarangnya. Maka, kebetulan sekali saya sedang menerima kedatangan tamu-tamu yang sakti, yaitu kakang Empu Tunjungpetak dan kakang Harimurti. Dengan adanya dua orang sakti ini yang membantu, kiranya andika akan dapat melaksanakan tugas itu dengan sebaiknya. Mereka telah saya minta bantuannya dan mereka akan suka membantu dengan senang hati."
Tentu saja penawaran ini diterima amat girang oleh Patih Nambi karena dia pun maklum akan kesaktian Lembu Sora dan kawan-kawannya.
"Mereka berdua adalah sebagai wakil saya, dimas patih. Tentu saja andika maklum sendiri bahwa saya pribadi tidak mungkin dapat ikut turun tangan, karena tentu saja saya merasa malu berhadapan dengan Lembu Sora."
Patih Nambi mengangguk-angguk maklum.
"Saya mengerti, kakang resi, dan banyak terima kasih atas bantuan dan kebaikan anda."
Demikianlah, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Patih Nambi telah mempersiapkan baris pendam di alun-alun depan istana, sedangkan dia sendiri ditemani oleh dua orang kakek sakti, Empu Tunjungpetak dan Resi Harimurti,menanti di pendapa istana dengan hati tegang.
Sedangkan tak jauh dari situ, di atas menara di pinggir pendapa, duduklah Resi Mahapati bersama Lestari, selirnya yang tercinta itu.
Selir ini merengek dan membujuk agar dia diberi kesempatan menyaksikan pembasmian para pemberontak itu, dan resi Mahapati yang telah terbius oleh rayuan selirnya, akhirnya memperoleh ijin dari Patih Nambi untuk menonton dari atas menara penjagaan itu!
Karena pada hari itu semua abdi dalam dan ponggawa dilarang keluar masuk istana, maka Mahapati dan selirnya dapat naik ke menara tanpa banyak menimbulkan perhatian, dan dua orang itu mengintai dari balik jendela dengan hati berdebar tegang.
Mahapati berdebar karena ingin sekali melihat perintang utama kearah tangga kemuliaan yang dikejar-kejarnya itu lenyap,seangkan Lestari yang seperti gila oleh dendam sekeluarganya itu ingin menyaksikan betapa orang-orang yang dibencinya, yaitu semua pembesar Mojopahit yang dianggapnya semua jahat dan kejam terhadap keluarganya itu, saling bunuh di depan kakinya!
Matahari mendaki angkasa makin tinggi dan sinarnya amat cerah menerangi bumi.
Namun di sedikit bagian bumi itu, di Mojopahit, terutama sekali di istana,ketegangan makin memuncak dan kecerahan sinar matahari tidak dapat mengusir ketegangan yang mengerikan itu, sedikit pun tidak ada tanda-tanda dari alam bahwa hari itu akan terjadi hal yan hebat dan mengerikan di Mojopahit!
Tak lama kemudian muncullah Lembu Sora!
Mula-mula hanya terdengar dengan kaki kuda, di kejauhan.
Mahapati dan Lestari yang mengintai dari atas menara dapat melihat bahwa Lembu Sora naik kuda dan berjalan di depan, sedangkan agak jauh di belakangnya nampak Juru Demung, Gajah Biru dan lain-lain orang yang jumlahnya ada seratus orang!
Mahapati menggosok-gosok kedua tangannya.
Siasatnya berhasil baik sekali, semua menurut rencana!
Kini hati keduapfihak sudah ada kecurigaan besar.
Lembu Sora tentu menduga bahwa munculnya Patih Nambi akan membunuh dia seanak buahnya, sebaliknya Patih Nambi tentu menduga bahwa Lembu Sora dan anak buahnya itu akan memberontak!
Siasatnya memang hebat dan diam-diam Mahapati memuji diri sendiri sambil menonton dari balik jendela, tangannya merangkul pinggang ramping Lestari yang juga mengintai ke bawah dengan jantung berdebar tegang.
Lembu Sora menjalankan kudanya perlahan memasuki alun-alun yang kelihatan sunyi,teman-temannya mengiringkan agak jauh di belakangnya.
Melihat kesunyian alun-alun,mulailah hati Lembu Sora curiga akan kebenaran laporan Mahapati.
Kalau memang Patih Nambi benar-benar hendak menjebaknya, tentu dia dan kawan-kawanya sudah diserang sejak tadi.
Akan tetapi, di alun-alun sunyi saja!
Dia melompat turun dari kudanya, mencancang kudanya di bawah beringin kurung jalan kaki menuju ke halaman istana.
Demikian pula teman-temannya yang terus membayangi Lembu Sora dengan sikap waspada.
Di depan rombongan itu berjalan seorang kakek tinggi besar yang tidak dikenal oleh Mahapati.
Dia menduga-duga siapa gerangan kakek bercambang bauk yang berpakaian sederhana seperti petani itu.
Akan tetapi, Patih Nambi terkejut dan dia lalu bangkit berdiri, diam-diam dia mengangkat tangan memberi isyarat kepada pasukan-pasukan yang melakukan baris pendam, kemudian dia melangkah turun dari pendapa istana untuk menyambut kedatangan Lembu Sora.
Ketika Lembu Sora melihat munculnya Ki Patih Nambi bersama dua orang kakek pendeta dari penapa istana, terkejutlah dia, lalu cepat dia maju menghampiri dengan sikap wasapada.
Patih Nambi lalu berkata, suaranya dingin dan kaku.
"Lembu Sora, berlututlah engkau untuk kutangkap dan kuhaturkan ke depan gusti sinuwun tawanan!"
Sebelum Lembu Sora menjawab, terdegar suara gaduh dan bermunculanlah banyak sekali pasukan dari kanan kiri dan ternyata kini alun-alun itu telah dikurung oleh sedikitnya seribu orang prajurit!
melihat ini bukan main marahnya hati Lembu Sora, apalagi ketika dia melihat Patih Nambi tertawa bergelak dengan sikap mengejek, lalu mendengar Nambi berkata.
"Ha-ha-ha, Lembu Sora, hendak kulihat sebetulnya orang macam apa adanya engkau!"
Ucapan Patih Nambi ini diterima keliru oleh Lembu Sora yang sudah kemasukan racun pelaporan Resi Mahapati bahwa dia akan dihadang dan dibunuh oleh Patih Nambi.
Melihat Nambi muncul dengan seribu orang pasukan, dia kini tidak ragu lagi akan cerita Mahapati itu.
Maka dia alu membentak marah.
"Si keparat Nambi,kalau bukan engkau, tentu aku yang akan membanjiri alun-alun Mojopahit dengan darah!"
Tentu saja Nambi yang sudah kemasukan racun pelaporan Resi Mahapati bahwa Lembu Sora hanya berpura-pura saja menyerah akan tetapi sebenarnya hendak memberontak.
"penghianat hina, memang engkau layak mempus!"
Lembu Sora mengeluarkan pekik melengking dahsyat dan inilah tanda bagi Juru Demung, Gajah Biru dan para anak buahnya bahwa mereka benar-benar terjebak dan terpaksa harus membela diri agar jangan mati konyol.
Maka bergeraklah semua pengikut Lembu Sora, mencabut parang atau keris masing-masing menghadapi seribu orang pasukan Mojopahit itu!
Terjadilah perang tanding yang amat dahsyat di alun-alun depan istana!
Lembu Sora mengamuk dan Nambi terpaksa harus mundur dan berlindung di belakang dua orang kakek yang sudah melangkah maju untuk menahan amukan Lembu Sora yang selama waktu pendek saja sudah merobohkan belasan orang perjurit yang hendak menawan atau membunuhnya.
Amukannya seperti seekor gajah marah sehingga para perajurit Mojopahit menjadi gentar.
"Plak-plakkkk!!"
Tubuh Lembu Sora terdorong ke belakang ketika dua kali tangan kirinya bertemu dengan tangkisan seorang kakek yang tiba-tiba maju dan mencegah dia merobohkan lebih banyak perajurit lagi.
Lembu Sora terkejut karena tenaga yang keluar dari tangan kakek itu hebat bukan main.
Dia memandang dan membentak marah.
"Andika ini berpakaian pendeta akan tetapi bukan ponggawa Mojopahit! Siapakah andika?"
"Lembu Sora, mengapa engkau tidak berlutut dan menyerah saja? Engkau tidak akan kuat menandingi Empu Tunjungpetak."
"Bagus kau pendeta keparat kaki tangan Nambi!"
Lembu Sora menerjang dengan keris di tangan, menusuk kearah dada kakek itu.
"Dukk!!!"
Kerisnya terpental dan ternyata kakek itu memiliki kekebalan yang luar biasa! "Hemm, Lembu Sora, kau takkan menang melawan aku!"
Akan tetapi Lembu Sora yang sudah marah itu menubruk maju, mengerahkan aji kesaktiannya pada kepalan tangan kanannya dan menghantam.
"Dessss...!!"
Kini kakek itu mundur dua langkah.
"Jagad Dewa Bhatara, kau hebat juga, Lembu Sora!"
Kata Empu Tunjungpetak dan ketika senopati itu menyerang lagi, dia menangkis dan balas menampar.
"Plakkk!!"
Tamparan itu tidak begitu keras, akan tetapi begitu terkena tamparan itu pada pundaknya, tubuh Lembu Sora terpelanting dan sejenak dia tidak mampu bangun karena kepalanya terasa pening.
Saat itu dipergunakan oleh empat orang prajurit untuk menyerangnya dengan tombak di tangan.
"Desss-desss-plak-plakkk! Ha-ha-ha-ha!"
Empat orang itu terlempar dan terbanting ke atas tanah, tidak mampu bangkit kembali dan di situ telah berdiri Ki Jembros!
Kakek ini tadi mengamuk pula sambil terkekeh-kekeh.
Sepak terjangnya seperti seorang bocah yang bermain perang-perangan, tertawa-tawa, akan tetapi siapa pun yang kena cium ujung tangan atau kakinya tentu akan terlempar jauh.
Biar pun dia mengamuk dan main-main, Ki Jembros tidak pernah lengah dan selalu memperhatikan Lembu Sora maka begitu Empu Tunjung petak muncul, cepat dia menghampiri dan untung dia tidak terlambat karena nyaris Lembu Sora tewas di ujung tombak empat orang prajurit itu.
"Setan jembros keparat...!"
Empu Tunjungpetak berseru kaget dan marah.
"Ha-ha-ha-ha, bertemu lagi di sini. Tunjungpetak, engkau memang lawanku. Hayo,tua sama tua, jangan mencari bocah yang lemah saja!"
Ki Jembros berkata dan dia langsung menerjang sambil tertawa-tawa.
Empu Tunjungpetak cepat menangkis dan terjadilah pertandingan yang aneh di antara dua orang kakek ini.
Dikatakan aneh karena cara mereka berkelahi itu berbeda dengan para prajurit yang sedang mengeroyok dan menggempur anak buah Lembu Sora itu.
Para prajurit itu bertanding dengan senjata mau pun tangan, akan tetapi jelas mereka itu menyerang atau menangkis dengan pengerahan tenaga dan kelihatan seru dan ramai.
Berbeda dengan mereka, dua orang kakek ini bertempur seperti orang main-main saja.
Bahkan jarang kedua lengan mereka saling bertemu,sudah terpental sebelum saling sentuh dan gerakan mereka itu lambat-lambat,seolah-olah yang memukul memanti sampai lawan bersiap-siap dan menangkis menanti sampai lawan memukul!
Akan tetapi itu hanya kelihatannya saja.
Sebetulnya di antara kedua orang kakek ini menyambar-nyambar hawa maut yang amat dahsyat.
Buktinya, ketika ada dua orang prajurit tanpa disengaja mendekati tempat pertempuran itu, tiba-tiba mereka memekik dan roboh terus tewas.
Mereka utuh kena sambaran hawa pukulan sakti yang biar pun tidak mengakibatkan dua orang perajurit itu menderita luka-luka di sebelah dalam tubuh dan mereka tewas seketika!
Biar pun Empu Tunjungpetak telah mengeluarkan seluruh kesaktiannya namun tetap saja dia terdesak mundur.
Mereka itu saling pukul, akan tetapi setiap pukulan Ki jembros membuat Empu Tunjungpetak mundur tiga langkah sedangkan balasan pukulannya hanya membuat Ki Jembros mundur selangkah sambil tertawa-tawa!
jelas dia kalah kuat dan kalah ampuh pukulannya, kalah kebal tubuhnya dan kalau dilanjutkan, Empu Tunjungpetak tentu akan mengalami kekalahan.
Melihat ini, Resi Harimurti yang tadinya membiarkan Empu Tunjungpetak menghadapi Ki Jembros sedangkan dia sendiri hanya menonton, meloncat ke depan dan membentak.
"Jembel tau bangka busuk, sekarang tiba saatnya aku membalas dendam!"
"Ha-ha-ha, resi cabul, kau masih hidup? Bagus, majulah biar kukirim kau ke neraka jahanam di mana memang lebih pantas menjadi tempat tinggalmu."
"Keparat sombong!"
Resi harimurti maju dan kedua tangannya sudah mengeluarkan senjatanya, yaitu kipas bambu dan pecut panjang.
Dua buah senjata ini adalah senjata-senjata baru karena yang lama telah rusak ketika dia bertanding melawan Ki jembros beberapa bulan yang lalu.
Dengan bantuan Resi Mahapati, dia dapat membuat senjata-senjata ini dari bahan yang baik.
Melihat temannya mengeluarkan senjata, Empu Tunjungpetak diam saja, akan tetapi dia sendiri hanya menghadapi lawan dengan kedua tangan kosong.
"Ha-haha, pertapa cabul, kalau benar berani, majulah!"
Kata Ki Jembros sambil menangkis pukulan dari samping yang dilakukan oleh Empu Tunjungpetak.
Sebetulnya Empu Tunjungpetak, sebagai seorang ahli pula dalam pembuatan keris, tentu saja mempunyai sebatang keris pusaka ampun, akan tetapi melihat lawan juga bertangan kosong, maka dia segan mengeluarkan senjata, apalagi setelah melihat Resi Harimurti membantunya.
"Tar-tar-tarrr...! Wuuuuutttt... plak-plakkk!"
Serangan pecut dan kipas itu ditangkis oleh Ki Jembros sambil tertawa-tawa dan tangkisan yang dilakukan dengan pengerahan tenaga sakti itu membuat Resi Harimurti terdorong ke belakang.
Akan tetapi, Empu Tunjungpetak sudah menerjang lagi dengan dahsyatnya dan kini,menghadapi dua (Lanjut ke
Jilid 10) Kemelut Di Majapahit (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 10 orang lawan yang sama sekali bukan orang-orang lemah melainkan pertapa-pertapa yang sakti, Ki Jembros terpaksa harus mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya dan terjadilah pertandingan yang amat hebat dan seru,pertandingan yang menyebabkan debu berterbangan dan tercipta pusaran angin karena hawa sakti mereka yang terkandung dalam tiap gerakan sehingga tidak ada perajurit biasa-biasa berani mendekat.
Hebat bukan main perang kecil yang terjadi di alun-alun depan keraton itu.
Keduanya bertempur dengan mati-matian, karena pihak Lembu Sora menganggap bahwa mereka dikhianati dan hendak dibasmi oleh Patih Nambi, sedangkan pihak Patih Nambi menganggap bahwa Lembu Sora dan kawan-kawannya hendak memberontak dan hendak membunuh sang prabu.
Maka kedua pihak melawan mati-matian, sungguh pun keadaan mereka tidak seimbang sama sekali karena pihak Lembu Sora hanya ada seratus orang lebih sedikit, sedangkan pihak kerajaan yang dipimpin seribu orang pasukan!
Yang merasa gembira adalah Mahapati dan selirnya, Lestari.
Baca Juga: Bu Kek Siansu 8
Baca Juga: Suling Emas 9