Ceritasilat Novel Online

Kemelut Di Majapahit 4

Eps 4 Kemelut Di Majapahit - Kho Ping Hoo

Baca online Kemelut Di Majapahit - Kho Ping Hoo

Cersil Kemelut Di Majapahit - Kho Ping Hoo.

Wanita muda ini dengan senyum manis dan sinar mata berkilat-kilat seperti mata harimau melihat darah, menonton pertandingan itu dan dia mengepal-gepal tangannya yang kecil,dan dari dalam lehernya yang panjang dan indah bentuknya itu terdengar geram-geram kecil seperti orang merintih kenikmatan, seperti orang yang terpuaskan nafsu berahinya.

"Ibu... ibu... Tejo... lihatlah... hemmm... lihatlah... tidakkah puas hati kalian...?"

"Eh, kau bicara apa, manis?"

Mahapati merangkulnya dan memandangnya dengan heran. Lestari menggeserkan hidungnya dipipi yang mulai kisut itu, memberi ciuman hangat.

"Paduka hebat! Lihat betapa Lembu Sora dan kawan-kawannya terbasmi! Hati saya girang sekali!"

"Eh, giranglah hatimu? kenapa girang melihat pertempuran mengerikan di bawah itu?"

"Mengerikan? Mereka itu merintis jalan yang paling baik untuk paduka, bukan?"

Mahapati menarik kepala selirnya dan mencium mulutnya dengan penuh dan mesra.

"Untuk kita, manis, untuk kita berdua!"

Dia lalu memandang ke bawah lagi, lupa akan pertanyaannya ketika dia tadi seperti mendengar selirnya menyebut-nyebut "ibu", dan memang pertempuran di bawah itu sungguh hebat.

Ki jembros yang dikeroyok oleh dua orang kawannya itu,oleh Empu Tunjungpetak yang merupakan kakak seperguruannya dan memiliki tingkat kepandaian yang jauh lebih tinggi dari padanya, dan oleh Resi Harimurti yang juga tinggi tingkat kepandaiannya, akan tetapi tetap saja Ki Jembros memperhatikan keunggulan dan sama sekali tidak terdesak!

Akan tetapi selain Ki Jembros, semua pembantu Lembu Sora termasuk dia sendiri,mulai terdesak hebat.

Lembu Sora sudah menderita luka-luka karena dialah yang terkurung dan diserang oleh banyak perajurit yang membantu Patih Nambi, dan Joko Taruno yang kemudian muncul dan ikut mengeroyok untuk membalas kematian ayahnya,Tumenggung Pamandana dan beberapa orang perwira lagi.

Namun, tidak pernah senopati yang gagah perkasa ini mengeluh biar pun tubuhnya sudah mulai penuh belepotan darah dan entah sudah berapa banyak perajurit yang roboh oleh keris di tangan kanan kirinya.

Dia mengamuk sambil menggereng dan menantang-nantang,bahkan luka-lukanya membuat dia makin beringas, sepak terjangnya makin menggiriskan, seolah-olah darahnya sendiri itu menjadi penambah semangatnya!

Juru Demung juga mengamuk dan dia dihadapi oleh senopati Pranarojo yang sakti dan yang juga dibantu oleh banyak perajurit sehingga Juru Demung yang kelihatan letih itu mulai terdesak hebat.

Demikian pula Raden Gajah Biru yang dihadapi oleh Tumenggung Singosardulo dan belasan orang perajurit, sudah terdesak dan menderita luka-luka, sungguh pun dia masih terus bertahan sekuatnya.

Yang sudah kelihatan payah adalah para perajurit pengikut Lembu Sora.

Mereka itu adalah perajurit-perajurit pilihan dan kalau hanya dikeroyok oleh dua orang perajurit yang dibawa Patih Nambi, agaknya belum tentu mereka kalah.

Akan tetapi,perbandingan mereka adalah satu lawan sepuluh!

maka biar pun berhasil menjatuhkan lawan masing-masing sedikitnya dua orang, akhirnya mereka sendiri roboh seorang demi seorang sampi akhirnya habis sama sekali!

Mereka menggeletak di sana-sini di antara mayat-mayat berserakan dari pihak lawan yang roboh oleh amukan mereka.

"Kakangmas resi..."

"Emmm...?"

Resi Mahapati menjawab manja!

"Mereka itu memperlihatkan kegagahannya di sana, mengapa paduka diam saja?

Padahal sudah sering kali paduka memamerkan kejantanan paduka kepada saya.

Apakah kejantanan paduka itu hanya kalau berada di pembaringan dalam kamar saja?"

"Ihh? Ha-ha-ha, kau belum tahu akan sepak terjang suamimu, cah ayu? Kau lihat Resi Mahapati oleh ejekan kekasihnya itu, maka dipasanglah sebatang anak panah pada gendewanya yang memang telah disediakan dan dipersiapkan kalau-kalau teman-teman di bawah membutuhkan bantuan, maka sejak tadi dia diam saja tidak mau menggunakan gendewa dan anak panahnya. Akan tetapi ejekan kekasihnya membakar hatinya.

"Lihat panahku pertama. Aku akan membunuh Juru Demung dari sini dengan sekali jemparing!"

Katanya dengan penuh gaya sambil mementang gendewanya dan mengincar kearah mereka yang sedang bertempur di bawah.

"Mana bisa kena tepat? Dia sedang dikepung dan dikeroyok. Jangan-jangan malah mengenai orang lain!"

"Pasti kena dan kalau tepat mengenai dadanya, apa upahnya, sayang?"

"Upahnya?"

Lestari tersenyum manis, mencibirkan bibir bawahnya yang merah.

"Upahnya cium satu kali!"

Resi Mahapati tertawa, kemudian melanjutkan penarikan tali gendewanya.

"Nah,lihatlah dia roboh, Tari...!"

Tali gendewa dilepas, terdengar suara menjepret dan nampak sinar kilat meluncur dan menyambar ke bawah.

Sang Resi ini memang terkenal sebagai seorang ahli panah yang amat hebat.

Biar pun dalam hal ilmu pukulan dia masih kalah jauh dibandingkan dengan kakak seperguruannya, yaitu Empu Tunjungpetak, akan tetapi dalam hal ilmu sihir panah, dia jauh lebih unggul.

Juru Demung memang sudah payah.

Seperti juga hanya keadaan Lembu Sora, dia telah menerima banyak tusukan dan bacokan sehingga tubuhnya telah luka-luka.

Bahkan lebih parah daripada Lembu Sora.

Akan tetapi dia masih terus mengamuk dan tidak akan menyerah sebelum roboh.

Tiba-tiba, sinar kilat anak panah dari atas itu menyambar dan tepat mengenai dada Juru Demung!

"Wirrr...cepp..

aahhhh!"

Juru Demung mendekap anak panah yang menancap di dadanya, memandang terbelalak ke atas dan melihat Resi Mahapati berada di menara, dia mengeluarkan suara yang tak dapat dimengerti artinya, lalu roboh terjengkang dan tewas seketika.

Di atas menara, Lestari sudah merangkul Resi Mahapati dan ditarik ke dalam agar tidak nampak dari luar, kemudian dengan penuh kegirangan dan kemesraan dia mencium pipi kakek yang merasa amat bangga itu.

"Eehhh, kenapa cium di pipi? Janjinya cium yang mesra, bukan sekedar ambung saja."

Lestari tersenyum manja dan berkata.

"Upahnya haruslah sesuai dengan jasanya, kakangmas resi! yang paduka panah hanya seorang yang tidak begitu berharga, maka upahnya pun cukup berharga ditukar dengan ambung pipi kiri. Dan nyawa orang yang mengamuk di bawah itu, siapa namanya tadi, yang kakangmas katakan sebagai adik seperguruan Ronggo Lawe..."

"Raden Gajah Biru?"

"Ya, nah kalau nyawa dia saya mau menukar dengan ambung di pipi kanan."

"Ha-ha, engkau memang lucu. Nah, lihat betapa panahku akan menghabiskan nyawa Raden Gajah Biru!"

Kembali gendewanya dipentang, anak panah dibidikkan dan setelah gendewa menjepret dan anak panah meluncur ke bawah seperti kilat menyambar, di bawah sana, di antara mereka yang sedang bertanding, terdengar teriakan keras dan robohlah Raden Gajah Biru karena lehernya tertembus anak panah!

Tentu saja Lestari menjadi kagum sekali dan dengan kemesraan yang membuar si resi makin bangga hatinya, dia mencium pipi kanan sang resi dengan satu kali kecupan.

Watak sang resi, di samping kekejaman dan kecurangannya sebagai akibat dari pengejaran cita-citanya yang setinggi langit, juga dia suka sekali dipuji.

Apalagi kalau yang memujinya itu seorang seperti selirnya yang dicintainya itu.

Dan seperti watak semua orang yang suka sekali menerima pujian, makin dipuji makin hebatlah dia berusaha untuk memperoleh pujian selajutnya!

"Tari kekasihku, kalau sekarang aku menggunakan anak panahku untuk merobohkan Lembu Sora sendiri, apa upahnya darimu, manis?"

"Dia? benarkah paduka dapat merobohkan dia yang begitu perkasa itu dari sini dengan anak panah?"

Tanya Lestari girang.

"Tentu saja. Akan tetapi, aku minta upahnya cium di mulut."

"Baiklah, kakangmas resi!"

Sekali ini Resi Mahapati agak lama membidikkan anak panahnya, dan lebih kuat pula dia menarik tali gendewanya karena dia pun maklum bahwa merobohkan Lembu Sora dengan anak panah tidaklah semudah dua orang tadi.

Kalau saja Lembu Sora belum terluka seperti itu, agaknya malah tidak mungkin dapat mengharapkan panahnya akan mengenai tubuh senopati yang perkasa itu, apalagi melukainya.

Akan tetapi, pada saat itu Lembu Sora juga sudah payah sekali, gerakannya sudah mulai mengendur karena banyaknya darah yang keluar dari tubuhnya dan terutama sekali karena dia melihat bahwa dua orang pembantunya yang setia telah roboh sehingga kini hanya tinggal dia sendiri dan Ki Jembros saja yang masih mengamuk dan dikeroyok!

"Prattt...singgg...!!!"

Anak panah yang terlepas dari gendewa di tangan Mahapati kini tak nampak bayangannya, seperti kilat menyambar saja, dan karena Mahapati maklum akan kedigdayaan Lembu Sora, maka yang diarah adalah pusar senopati itu.

Memang tidak mudah memanah pusar dari atas, akan tetapi yang diarahnya itu merupakan tempat berbahaya, karena dari tempat dia berdiri, letak pusar sasarannya tertutup oleh ulu hati.

Pada saat itu Lembu Sora memang sedang sibuk membela diri dan juga mengirim serangan-serangan balasan yan masih berbahaya.

Sebagai seorang yang sakti, dia dapat melihat berkelebatannya sinar dari atas dan mendengar suara mendesingnya anak panah, dan biar pun dia sama sekali tidak sempat lagi mengelak karena dia masih dapat mendoyongkan tubuh atasnya ke belakang dan sinar itu menyambar ke bawah dan mengenai paha kaki kananya.

"Cappp...!"

Tubuh Lembu Sora terhuyung dan dia menengadah.

Tampak olehnya Mahapati di atas menara memegang gendewa.

Seperti sinar kilat memasuki kepalanya, Lembu Sora kini dapat melihat apa yang kemungkinan besar telah terjadi dan dilakukan oleh Resi mahapati, teringatlah dia akan semua perbuatan dan kata-kata resi itu dari sejak awal terjadinya desas-desus atau berita tentang kematian Kebo Anabrang olehnya,sampai kepada berita-berita selajutnya yang dibawa resi itu dan kunjungan resi itu ke Pegunungan Pandan.

Terbukalah matanya dan kini dia mengerti bahwa Resi Mahapati berdiri di balik ini semua, juga pengepungan dan penyerbuan terhadap dia seteman di alun-alun ini tentu akibat siasat sang resi itu!

"Mahapati penghianat...!"

Dia berteriak lantang.

"manusia macam engkau kelak akan mati cineleng-celeng (dicincang)!"

Akan tetapi Lembu Sora tidak dapat melanjutkan kutukannya karena tubuhnya telah dihujani senjata sehingga dia roboh dan tewas.

Joko taruno, atau Kebo Taruno putera Kebo Anabrang, cepat meloncat ke depan, menggunakan parangnya yang dicabetkan ke leher musuh besarnya itu,memenggal kepala Lembu Sora sebagai pelaksanaan pembalasan dendamnya.

Para perajurit Mojopahit bersorak-sorak menghabisakan sisa anak buah Lembu Sora dan akhirnya hanya tinggal Ki jembros seoarang yang masih terus melawan pengeroyokan dua orang pendeta itu.

Senopati Pranarojo yang mencoba untuk membantu dua orang pendeta itu, baru segebrakan saja sudah terlempar sampai bergulingan diserempet hawa pukulan dari tangan Ki Jembros.

Melihat ini, tidak ada lagi yang berani mencoba-coba untuk terjun ke gelanggang pertempuran yang amat dahsyat itu.

Setelah mendekap dan mencium mulut Lestari sebagai upahnya merobohkan Lembu Sora, kini Lestari berbisik manja.

"Kakangmas, lihat kakek mengerikan itu yang masih terus mengamuk."

Mahapati menjenguk ke bawah dan tertawa.

"Ha-ha, memang kakek itu hebat sekali dan sekarang aku dapat menduga siapa adanya orang itu, seperti yang diceritakan oleh Reksosuro dan Darumuko. Biar aku membantu kakang Empu Tunjungpetak dan kakang Resi Harimurti. Kalau tidak aku yang turun tangan, agaknya sukar merobohkan kakek gila itu,"

Katanya dengan nada suara sombong.

"Kalau benar paduka dapat merobohkan dia..."

"Ha-ha, upahnya...?"

"Upahnya malam nanti..., hi-hik...!"

Lestari terkekeh genit dan manja. Mahapati kembali merangkul dan menciumnya.

"Engkau selalu menyenangkan hatiku. Lihatlah baik-baik betapa suamimu akan merobohkan kakek gila di bawah itu. Kau tunggulah saja di sini!"

Setelah berkata demikian, Resi Mahapati lalu lari menuruni tangga menara dan berloncatan menghampiri tempat terjadinya pertandingan dahsyat itu yang dikurung oleh para perajurit dari tempat yang agak jauh karena mereka tidak berani mendekat sama sekali.

Sambil mengeluarkan pekik melengking yang bukan hanya ditujukan untuk menggetarkan Ki Jembros, akan tetapi terutama sekali agar tedengar dari jendela menara, Resi Mahapati terjun ke gelanggang pertarungan itu membantu Empu Tunjung Petak dan Resi Harimurti.

Dua orang pertapa ini merasa lega dengan masuknya Resi Mahapati karena mereka berdua sudah merasa kewalahan menghadapi Ki Jembros yang benar-benar amat sakti itu, sungguh pun Ki Jembros sendiri juga tidak begitu mudah saja untuk dapat merobohkan mereka berdua yang menggabungkan kekuatan untuk menghadapinya itu.

Kini, masuknya Resi Mahapati yang masih segar tenaganya membuat Ki Jembros terkejut dan terdesak.

Akan tetapi, kakek ini tidak menjadi gentar malah tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, inilah kiranya yang bernama Resi Mahapati, si pengecut laknat itu! Pantas saja muridku amat membencimu, biar pun belum pernah melihatmu. Kiranya memang wajahmu membayangkan seorang manusia berwatak rendah!"

"Kakek gila mampuslah engkau!"

Resi Mahapati membentak marah dan dia sudah menerjang ke depan sambil mengerahkan aji kesaktiannya dan juga dia mengerahkan kekuatan batinnya untuk menundukkan Ki Jembros.

Ki Jembros menangkis, akan tetapi diam-diam dia terkejut ketika merasa betapa jantungnya tergetar dan berdebar keras, kepalanya menjadi agak pening.

Itulah akibat kekuatan sihir yang mulai dipergunakan oleh Resi Mahapati melalui pandang matanya!

Kalau saja bukan Ki Jembros yang diserang kekuatan ilmu sihirnya ini,tentu sudah celaka karena kekuatan sihir ini dapat melumpuhkan lawan.

Betapa pun juga, serangan sihir itu merupakah hal yang amat mengacaukan Ki Jembros karena dia harus membagi perhatiannya, melawan serangan luar dan juga dalam!

Hal ini mengacaukan gerakannya, apalagi tiga orang pengeroyoknya itu menghujankan serangan dan setiap pukulan mereka merupakan pukulan-pukulan maut yang amat kuat.

"Plakkkk!"

Sebuah tamparan dari tangan kiri Empu Tunjung Petak menyelinat di antara banyak serangan yang dapat ditangkis Ki Jembros, dan tamparan yang satu ini sukar dielakkannya lagi sehingga mengenai pundaknya.

Bukan main hebatnya tamparan Empu Tunjungpetak ini karena tamparan tangan kirinya mengandung aji kesaktian Wisa Dahana yang panasnya melebihi api.

Dengan aji kesaktian ini,kabarnya tangan kiri Empu Tunjungpetak itu mampu membuat keris pusaka tanpa menggunakan api!

Ki Jembros mengeluarkan teriakan seperti seekor singa meraung dan tubuhnya terhuyung, akan tetapi segera dia meloncat dan kaki tangannya bergerak seperti badai mengamuk sehingga tiga orang pengeroyoknya terpaksa tidak berani mendekat dan mengelak.

Pertarungan dilanjutkan dan biar pun Ki Jembros merasa betapa pundaknya amat nyeri dan panas, namun amukannya masih hebat sekali dan setiap kali tiga orang pengeroyoknya itu beradu lengan dengannya, mereka tentu mencelat atau terdorong mundur sampai beberapa langkah.

Akan tetapi, begitu mereka bertiga mendesak dan menyerang dengan berbareng dari tiga jurusan, ditambah dengan serangan sihir yang tetap memancar dari pandang mata Resi Mahapati, Ki Jembros menjadi bingung dan kembali terkena pukulan dari seorang di antara mereka.

Dan pukulan dari orang-orang tua ini bukanlah pukulan biasa, melainkan pukulan yang mengandung kekuatan dahsyat dari aji kesaktian mereka, yang bagi lawan lain yang tidak memiliki kekebalan seperti Ki Jembros tentu dapat mematikan.

"Ki Jembros, berlututlah engkau...!"

Tiba-tiba terdengar teriakan terdengar dari bentakan mulit Resi Mahapati dan secara aneh, Ki Jembros merasa kedua lututnya lemas dan hampir saja dia menjatuhkan diri berlutut.

"Gila...!"

Bentaknya dan.

"Wuuuuttt...!"

Lengan kirinya yang panjang menyambar kearah Mahapati, akan tetapi resi ini dengan tangkas sudah mengelak dengan loncatan ke belakang sedangkan Empu Tunjungpetak dan Resi Harimurti sudah menubruk dari belakang sehingga Ki Jembros terpaksa membalik dan tidak mendesak Resi Mahapati.

"Plak-plak... desss....!"

Ketika Ki Jembros menangkisi serangan-serangan Resi Harimurti yang menggunakan kipas bambunya dan Empu Tunjungpetak yang menggunakan tangannya yang ampuh, Resi Mahapati menggunakan kesempatan ini untuk menghantam dari belakang dan tepat mengenai punggung Ki Jembros.

Kembali Ki Jembros terhuyung dan dari dalam dadanya keluar gerengan melalui kerongkongannya.

Dia membalik dan terus mengamuk.

Kalau saja hantaman-hantamannya itu mengenai Resi Mahapati, tentu akan tamatlah riwayatnya.

Akan tetapi Mahapati adalah seorang yang cerdik dan dia sudah cepat-cepat menghindar dengan loncatan ke belakang, memberi kesempatan kepada dua orang temannya untuk menerjang selagi Ki Jembros mengejarnya.

Demikianlah, keadaan Ki Jembros tiada bedanya dengan seekor harimau buas yang amat kuat dan berbahaya dikurung oleh orang-orang yang cerdik dan curang, yang menyerang selagi harimau itu membelakanginya dan lari kalau harimau itu membalik dan mengejarnya untuk memberi kesempatan kepada pengurung di belakang harimau untuk menyerang.

Beberapa kali Ki Jembros menerima hantaman dari belakang, baik hantaman tangan Resi Mahapati atau Empu Tunjungpetak yang ampuh, juga hantaman kipas bambu atau lecutan pecut panjang di tangan Resi Harimurti.

Karena dia sendiri tidak pernah berhasil membalas pukulan-pukulan itu dan tiga orang pengeroyoknya selalu dapat menghindarkan setiap serangan balasan, marahlah Ki Jembros.

Kakek yang biasanya gembira dan tertawa-tawa itu, kini menggereng-gereng seperti harimau terluka.

Dia maklum bahwa dia telah dikepung pasukan Mojopahit dan bagaimana pun juga, dia tidak dapat meloloskan diri.

Lembu Sora dan kawan-kawannya yang dibantunya telah tewas semua dan dia harus berani mengadu nyawa dengan tiga orang lawan tangguh ini, karena kalau dilanjutkan bertanding seperti ini, dia akhirnya akan kehabisan tenaga dan kalah.

Terdengar teriakannya yang menggetarkan bumi dan banyak perajurit Mojopahit yang roboh pingsan, ada yang menjadi lumpuh seketika kedua kaki mereka dan ada pula yang menggigil ketika mendengar teriakan ini.

Lalu Ki Jembros menubruk maju,kedua tangannya menyambar ke arah Empu Tunjungpetak yang baru saja kembali berhasil menampar dadanya.

Seperti tadi, Empu Tunjungpetak meloncat ke belakang untuk memberi kesempatan kepada dua kawannya agar menyerang dari belakang.

Dan memang, Resi Harimurti dan Resi Mahapati segera menyerang dari belakang dengan hebatnya, dan pecut panjang Resi Harimurti lebih dulu dapat mengenai punggung dan tengkuk Ki Jembros dengan lecutannya.

"Tarrr... plakkk, brettt...!"

Baju di punggung itu robek seperti dikerat pisau,punggung dan tengkuknya terkena lecutan, rasanya panas seperti disengat kalajengking.

Akan tetapi, sekali ini Ki Jembros tidak memperdulikan serangan dari belakangnya, menubruk ke arah Empu Tunjungpetak.

"Plakk! Desssss....!"

Empu Tunjungpetak cepat menangkis serangan lawan dan pada saat itu, pukulan kipas bambu di tangan Resi Harimurti telah mengenai lambung kiri dan hantaman tangan Resi Mahapati mengenai punggung dengan hebat sehingga tubuh Ki Jembros terdorong ke depan.

Hal ini mencelakakan Empu Tunjungpetak,karena kecepatan gerak tubuh Ki Jembros menjadi makin hebat tersurung oleh serangan dari belakang itu dan tiba-tiba tubuhnya telah berhasil menubruk tubuh Empu Tunjungpetak dan kedua tangannya telah berhasil mencekik leher Empu Tunjungpetak!

Empu Tunjungpetak cepat menggunakan kedua tangan untuk berusaha melepaskan cekikan, namun terdengar Ki Jembros tertawa tergelak-gelak dan cekikannya tidak pernah mengendur.

Resi Mahapati yang melihat kakak seperguruannya terancam bahaya, cepat melakukan pemukulan-pemukulan hebat dari belakang, demikian pula Resi Harimurti, akan tetapi Ki Jembros tidak mempedulikan serangan dan pukulan-pukulan mereka berdua itu, dan melihat betapa Empu Tunjungpetak yang telah dicekiknya itu masih juga belum menyerahkan nyawanya, Ki Jembros tertawa bergelak lalu dia menggerakkan kepalanya, dihantamkan ke depan mengenai kepala Empu Tunjungpetak.

"Prakkkk!"

Pecahlah kepala Empu Tunjungpetak dan pada saat itu, Resi Mahapati dan Resi Harimurti juga mengerahkan seluruh tenaga mereka menghantam kearah tengkuk dan punggung Ki Jembros.

"Dessss! Dessss...!"

Ki Jembros melepaskan tubuh Empu Tunjungpetak yang sudah tak bernyawa lagi, dan dia muntahkan darah segar, cepat membalik dengan kedua lengan menyambar.

Akan tetapi kedua orang lawannya itu telah mencelat mundur dan memandang dengan muka pucat, mata terbelalak penuh rasa kaget dan jerih melihat betapa Empu Tunjungpetak telah tewas dan juga betapa Ki Jembros yang telah menerima pukulan-pukulan maut bertubi-tubi itu masih dapat melawan dengan demikian hebatnya.

Muka yang penuh cambang bauk itu berlepotan dara yang menyembur dari mulutnya dan matanya terbelalak, mulutnya terbuka dan masih mengeluarkan suara tertawa!

Tiba-tiba Ki Jembros menubruk, mengembangkan kedua lengannya.

Resi Mahapati dan Resi Harimurti cepat mengelak ke belakang, akan tetapi ternyata Ki Jembros hanya menubruk tanah dengan kedua tangan yang dikembangkan dan sama sekali tidak bergerak lagi.

Ketika dengan hati-hati dua orang resi itu memeriksa tubuh kakek raksasa itu,ternyata Ki Jembros telah mati pula.

Para perajurit bersorak gembira melihat orang terakhir yang mengerikan dari pihak musuh itu tewas, akan tetapi diam-diam Resi Mahapati dan Resi Harimurti harus mengakui bahwa selama hidup, baru sekarang ini menghadapi lawan yang demikian saktinya.

Yang paling berduka mendengar berita kematian Lembu Sora adalah sang prabu sendiri.

Semenjak kematian Ronggo Lawe, sang prabu sudah merasa amat berduka,apalagi kini ditambah dengan kematian Lembu Sora, seorang yang paling dipercaya,paling disayang selama ini, sejak sebelum dia menjadi raja sampai sekarang!

Kalau dia teringat betapa Lembu Sora di waktu masih sengsara dahulu, melakukan perjalanan penuh derita bersama Dyah Tribuana, melindunginya dan membelanya dengan taruhan nyawa, bahkan pernah menyediakan tubuhnya untuk dijadikan tempat duduk oleh sang prabu dan isterinya karena tempat itu kotor dan becek, teringat akan semua pembelaannya di dalam perang, maka hati sang prabu seperti disayat-sayat rasanya mendengar kematian Lembu Sora sebagai seorang pemberontak!

Sang prabu adalah seorang manusia yang bijaksana, yang tidak akan berduka menghadapi kematian siapa pun, akan tetapi yang mendukakan hatinya adalah melihat Lembu Sora mati sebagai seorang pemberontak.

Apalagi ketika para isterinya, putri-putri mendiang Raja Kertanegara, menyatakan penyesalan mereka atas peristiwa yang mengakibatkan kematian Lembu Sora, sang prabu menjadi makin berduka.

Akan tetapi,rasa girang yang diperlihatkan oleh isterinya yang paling disayangnya, yaitu Sri Indreswari atau Dara Petak dari Malayu, yang merasa puas mendengar kematian Lembu Sora yang dianggapnya berdosa karena membunuh Kebo Anabrang senopati yang disayang oleh isteri dari Malayu ini, membuat hati sang prabu yang berduka itu menjadi hancur dan bingung.

Dan akhirnya, sang prabu jatuh sakit dan semenjak itu, kesehatannya mundur sekali, wajahnya sering sekali murung dan sang prabu banyak termenung dengan wajah muram.

Sementara itu, peristiwa yang terjadi berturut-turut semenjak pemberontakan Ronggo Lawe yang baru lima tahun kemudian disusul pemberontakan Lembu Sora, juga menyedihkan hati seorang senopati tua di Kerajaan Mojopahit.

Senopati itu adalah Aryo Pranarojo, yang juga merupakan seorang di antara deretan senopati yang setia dan sudah bertahun-tahun mengabdi kepada Sang Prabu Kertarajasa Jayawardhana semenjak sang prabu masih belum menjadi raja dan bernama Raden Wijaya dulu.

Aryo Pranarojo ini bukan lain adalah ayah dari Ki Patih Nambi!

Sebagai seorang yang bijaksana, Aryo Pranarojo berduka karena melihat kenyataan bahwa terjadinya huru-hara, terjadinya pemberontakan-pemberontakan itu, yang mengakibatkan gugurnya banyak senopati gemblengan dan pilihan, semata-mata adalah karena pengangkatan puteranya, Raden Nambi sebagai patih.

Dan ayah ini pun melihat betapa puteranya mempertahankan kedudukannya itu dengan mati-matian.

Melihat betapa kedudukan yang dipertahankan puteranya itu telah mengakibatkan gugurnya begitu banyak senopati dan perajurit, hati Aryo Pranarojo seperti diremas-remas rasanya.

Begitu banyak sahabat-sahabatnya yang gugur, Ronggo Lawe,Kebo Anabrang, Lembu Sora, Juru Demung, Raden Gajah Biru, bahkan juga pertapa-pertapa sakti seperti Empu Tunjungpetak dan Ki Jembros, belum lagi ratusan bahkan ribuan perajurit, telah tewas.

Dan setelah tewasnya Lembu Sora, dia melihat betapa sang prabu menjadi berduka dan kesehatannya mundur, maka makin sedihlah hatinya.

Maka dia teringat kepada sahabatnya yang terbaik sejak muda, yaitu Aryo Wirorojo,ayah Ronggo Lawe yang kini menjadi adipati di Lumajang.

Sahabatnya itu, biar pun telah kehilangan puteranya, namun tidak mau mencampuri urusan perebutan kekuasaan, bahkan kini mengundurkan diri ke Lumajang setelah menerima bagian tanah dan sama sekali tidak mau campur tangan dalam urusan Mojopahit.

Betapa bahagianya sahabatnya itu yang tidak mau mengikatkan dirinya.

Teringat akan sahabatnya, dia pun lalu mengundurkan diri dan membawa keluarganya berangkat ke Lumajang, meninggalkan puteranya, Ki Patih Nambi yang masih haus akan kekuasaan dan mempertahankan kedudukannya melebihi nyawanya sendiri.

Dan kepergian Aryo Pranarojo ini makin mendatangkan rasa kesepian di hari sang prabu, namun mengingat bahwa senopati ini sudah tua dan berhak untuk menghabiskan waktu hidupnya dengan tentram, sang prabu tidak tega untuk mencegahnya.

Waktu berjalan terus, tidak memperdulikan segala peristiwa yang terjadi di dunia.

Dan waktu akan menelan segalanya yang terbentang di hadapannya!

Waktu akan menghapus segala noda dan luka dari hati manusia.

Tidak ada kesukaan atau kedukaan yang dapat menahan, semuanya digulung oleh waktu!

Akan tetapi, sebelum sang waktu menggulung dan menghapusnya, kita selalu menyimpan segala peristiwa itu sebagai kenangan, baik yang menyenangkan mau pun yang tidak menyenangkan.

Dan penyimpanan sebagai ingatan atau kenangan inilah yang menimbulkan derita dalam hidup!

Peristiwa yang menyenangkan badan atau batin, kita simpan sebagai pengalaman yang nikmat dan menyenangkan dan hal ini membuat kita selalu teringat dan selalu mengejar terulangnya kembali peristiwa itu.

Dalam pengejaran inilah terjadi banyak sekali hal-hal yang menimbulkan derita hidup, karena pengejaran ini melahirkan kekerasan, yaitu kita ingin menyingkirkan segala penghalang tercapainya yang kita kejar-kejar sehingga dengan sendirinya perbuatan ini menimbulkan pertentangan dan permusuhan.

Juga,kalau pengejaran kita tidak berhasil, maka timbullah kecewa dan duka.

Sebaliknya,kalau pengejaran kita itu tercapai, kita akan menjadi bosan atau tidak lagi menghargai yang kita kejar-kejar itu karena kita haus akan pengalaman-pengalaman lain yang LEBIH menyenangkan.

Sebaliknya, peristiwa yang tidak menyenangkan disimpannya sebagai pengalaman yang tidak enak sehingga kita ingin selalu menjauhi dan menentangnya.

Di samping ini, peristiwa yang tidak menyenangkan menimbulkan amarah dan dendam sehingga membuat kita ingin sekali membalas kepada penyebab dari ketidaksenangan itu!

Demikianlah, peristiwa yang disimpan dalam kenangan, baik yang menyenangkan mau pun yang tidak, menimbulkan serangkaian hal yang dapat menyeret kita ke lembah derita dan duka, sebelum sang waktu menggulung dan menghapusnya.

Betapa akan lain keadaannya apabila kita dapat MENGAKHIRI segala peristiwa kita,baik yang menyenangkan maupun yang tidak, mengakhirinya pada saat itu pula dan tidak menyimpannya sebagai kenangan!

Mengakhiri segala peristiwa berarti lenyapnya keinginan untuk mengulang, dan lenyapnya sakit hati dan dendam.

Batin menjadi kosong dan hening, siap untuk menghadapi segala macam peristiwa yang terjadi saat ini tanpa dikotori oleh peristiwa masa lalu dan tanpa memusingkan perisitwa yang akan atau mungkin terjadi.

Akan tetapi sayang, kita sudah terbiasa untuk mengenangkan kembali, terbiasa untuk mengunyah kembali segala peristiwa.

Kalau kita berduka, kita sudah biasa untuk meremas-remas batin kita, mengenangkan semua yang mendukakan itu kembali sehingga timbullah penyesalan, sakit hati dan lain-lain.

Sebaliknya kalau kita merasakan suatu kesenangan kita menyimpannya dalam kesenangan sehingga timbul pengejaran terhadap kesenangan-kesenangan itu yang tiada hentinya.

Jadi sebelum sang waktu menggulung semua itu, sebelum sang waktu menggulung kita ke detik terakhir dari hidup kita, kita selalu dipermainkan oleh pikiran kita sendiri,diombang-ambingkan dalam kehidupan seolah-olah kita hidup dalam alam kenangan dan khayal dan tidak pernah hidup dalam alam kini atau saat ini!

Empat tahun telah lewat tanpa terasa, dan memang empat tahun bukan apa-apa bagi sang waktu yang tak dapat diukur lagi berapa tuanya.

Sejuta tahun, sepuluh juta tahun, seratus juta?

Mungkin lebih!

Dan dunia berputar terus.

Manusia lahir dan mati, dan hidup selalu penuh derita, penuh permusuhan, dengan hanya sedikit sekali suka cita dibandingkan dengan banyaknya duka.

Gunung Bromo merupakan sebuah di antara gunung-gunung yang besar dan tinggi di Jawa Dwipa dan merupakan sebuah gunung berapi yang mempunyai kawah besar yang selalu mengepulkan uap dan dianggap pula sebagai sebuah gunung yang keramat.

Sesuai dengan namanya, gunung itu dianggap sebagai tempat yang dikuasai oleh sang Bathara Bromo, Dewa Api.

Seperti keadaan gunung-gunung berapi, di lereng-lereng Gunung Bromo bayak terdapat batu-batu besar dan daerah-daerah tandus yang pernah dilalui oleh lahar,akan tetapi daerah-daerah lain di sekitarnya amat subur sehingga penuh dengan hutan-hutan yang lebat.

Juga pegunungan ini mempunyai banyak puncak-puncak yang indah pemandangan alamnya.

Puncak kecil itu merupakan daerah terpencil, jauh dari dusun yang kebanyakan terdapat di lereng agak bawah, dimana tanahnya paling subur.

Hanya ada sebuah gubuk di puncak itu, gubuk kecil berkamar dua terbuat dari bilik bambu sederhana dan atap daun ilalang.

Akan tetapi, biar pun amat sederhana dan tentu disebut miskin, harus diakui bahwa gubuk itu bersih dan terpelihara baik-baik, bahkan pelataran di sekitar gubuk itu pun bersih dari daun-daun kering, tanda bahwa setiap hari tempat itu tentu disapu orang.

Juga disebelah belakang gubuk terdapat sebuah taman kecil penuh dengan bunga-bunga indah yang memang amat subur hidupnya di tanah pegunungan.

Di sebelah dan taman itu terdapat kebun sayur yang cukup luas.

Pagi itu, seorang pemuda yang usianya kurang lebih delapan belas tahun,melenggang seenaknya keluar dari dalam kebun, tangan kanan membawa seikat sayur segar dan dengan wajah yang amat tampan dan cerah dia memasuki taman, lalu dengan tangan kirinya memetik setangkai kembang mawar merah dan mencium kembang itu lalu menancapkan tangkainya diantara rambutnya yang hitam.

Kemudian dia melenggang lagi menuju ke gubuk.

Ketika dia tiba di depan gubuk menuju ke pintu karena gubuk itu hanya mempunyai satu pintu depan saja, tiba-tiba wajahnya berubah dan heran melihat seorang kakek yang tua renta, pakaiannya hanya kain kuning yang dibelit-belitkan di tubuhnya yang kurus kering, rambutnya panjang,demikian pula jenggot dan kumisnya, semuanya telah putih.

Kakek itu duduk diatas dipan bambu yang berada di depan gubuk, duduk bersila dengan tenangnya.

"Ah, eyang guru telah berada di luar sepagi ini?"

Kata pemuda itu dengan suaranya yang halus namun penuh dengan gairah hidup, penuh dengan kegembiraan seperti biasa suara seorang muda yang belum dikotori batinnya oleh segala macam persoalan hidup.

Cepat dia menghampiri kakek itu, menaruh sayur di atas dipan lalu berlutut dan mencium tangan kakek itu penuh khidmat.

Wajah kakek yang lembut dan penuh ketenangan dan kesabaran itu tersenyum ketika dia memandang kembang mawat merah di atas kepala pemuda itu.

Lalu dia berkata dengan halus.

"Cucuku, Sulastri, engkau memang bocah yang aneh!"

Pemuda itu kini duduk di atas dipan setelah tangannya ditarik oleh kakek itu,dan sambil menatap wajah kakek yang lembut itu dia berkata matanya yang bening lebar terbelalak, alisnya terangkat dan dia menjawab lincah.

"Saya...? Aneh...? Eyang, apakah hidung saya dua, ataukah mata saya hanya sebuah maka eyang bilang saya aneh?"

Senyum di mulut ompong itu melebar.

Harus diakuinya bahwa semenjak cucu muridnya ini tinggal di dalam gubug itu, kecerahan dan kegembiraan selalu mengelilinginya dan dia yang sudah tua dan sudah biasa menyepi itu tidak dapat tidak terseret ke dalam arus kegembiraan cucu muridnya itu.

Siapakah kakek yang tua renta itu?

Dan siapa pula "pemuda"

Yang dipanggil dengan nama wanita itu?

Pembaca tentu masih ingat akan nama Sulastri, dara yang empat tahun lalu masih merupakan dara remaja yang lincah jenaka dan bengal, murid Ki Jembros, bocah perempuan yang datang dari dusun Gedangan itu.

Memang "pemuda"

Ini adalah Sulastri dan kakek itu adalah seorang pertapa yang sudah puluhan tahun bertapa di puncak itu, puncak Pegunungan Bromo dan dia adalah Empu Supamandrangi yang sakti mandraguna dan yang sudah tidak mencampuri lagi urusan duniawi.

Dahulu, puluhan tahun yang lalu sebelum dia menjadi pertapa, dia terkenal sebagai seorang ahli pembuat keris yang ampuh-ampuh, di antaranya adalah keris pusaka Kolonadah milik Ronggo Lawe.

Kakek ini adalah guru dari Ronggo Lawe, dan karena semenjak kecil Sulastri telah "mengaku murid"

Dari Ronggo Lawe, maka dia menyebut eyang guru kepada kakek yang kini menjadi gurunya itu.

Seperti telah diceritakan di bagian depan dari cerita ini, tadinya Sulastri,empat tahun yang lalu, masih ikut merantau dan berkeliaran tak tentu tempat tinggalnya bersama gurunya yang aneh, yaitu Ki Jembros.

Ketika Ki Jembros bertemu dengan Empu Tunjungpetak dan Resi Harimurti, kemudian bertanding di keroyok dua, Ki Jembros terluka dan kebetulan mereka lalu bertemu dengan Juru Demung dan Raden Gajah Biru di Pegunungan Pandan, di mana Ki Jembros akhirnya lalu beristirahat untuk menyembuhkan luka-lukanya di sebelah dalam tubuhnya.

Dan karena dia tidak ingin muridnya yang tersayang itu terlibat dalam keributan yang agaknya akan terjadi antara kawan-kawan Lembu Sora dan Mojopahit, maka dia menyuruh muridnya itu untuk pergi sendiri ke Pegunungan Bromo dan mencari kakek gurunya, yaitu Empu Supamandrangi di puncak Pegunungan Bromo.

Tentu saja perjalanan seorang diri itu merupakan perjalanan yang amat sukar dan berbahaya bagi seorang gadis yang ketika itu baru berusia empat belas tahun seperti Sulastri.

Namun berkat ketekunan dan keberaniannya, dengan susah payah,setelah menempuh banyak sekali kesengsaraan, akhirnya dapat juga Sulastri menemukan Gubug itu dia menyembah di depan kaki sang pertapa.

Setelah mendengar akan penuturan Sulastri, kakek itu menerimanya tinggal di situ dan menjadi muridnya.

Demikianlah, ketika pada pagi hari itu Sulastri melihat gurunya pagi-pagi telah berada di depan gubug, dia telah menjadi murid Empu Supamandrangi selama empat tahun dan kini dia bukan lagi Sulastri yang dulu, melainkan telah menjadi seorang dara perkasa yang dewasa, namun masih lincah dan kenes, jenaka dan manja seperti dahulu, bahkan kini dia mengenakan pakaian pria dan menjadi seorang "pemuda"

Yang amat tampan, bahkan "terlalu"

Tampan! "Kenapa eyang diam saja? Jawablah, eyang, kenapa saya dianggap aneh?"

Sulastri mendesak kakek itu ketika pertanyaannya tidak dijawab. Kakek itu menarik napas panjang.

"Sulastri, engkau adalah seorang anak perempuan yang cantik dan jenaka, seorang wanita tulen, akan tetapi engkau selalu memakai pakaian pria. Aku tidak hendak melarang kesukaan orang, hanya bukankah hal itu merupakan suatu keanehan?"

"Eyang, saya telah bersumpah kepada diri sendiri sebelum tercapai atau terlaksana idaman hati saya, maka saya akan terus mengenakan pakaian pria!"

"Hemmm... begitukah? Dan apakah idaman hatimu itu?"

"Pertama, membunuh Reksosuro dan Darumuko! Ke dua..."

"Sulastri, sungguh sedih hatiku mendengar ini. Amat tidak baik idaman hatimu,cucuku. Tak baik hidup menanggung dendam dan permusuhan. Apalagi membunuh orang."

"Habis untuk apa saya bersusah payah sejak kecil mempelajari ilmu kalau saya tidak boleh membunuh mereka yang telah melakukan perbuatan jahat terhadap saya,maksud saya terhadap mendiang kakek saya?"

"Mempelajari segala macam ilmu boleh dan baik saja, akan tetapi kalau dengan tujuan yang buruk, ilmu itu pun menjadi sesuatu yang buruk, merupakan kutukan. Yang paling penting adalah membela kebenaran, cucuku, dan pada siapa pun kebenaran itu berada, haruslah dibela. Sebaliknya, yang salah haruslah ditentang,biar pun yang salah adalah dirimu sendiri."

Kakek itu kembali menghela napas panjang karena dia maklum betapa sia-sianya memberi nasihat, seperti sia-sianya semua nasihat di dunia ini, karena yang paling penting adalah kesadaran diri sendiri.

Tanpa adanya kesadaran dan pengertian sendiri itu, sesmua nasihat dan wehangan hanya akan merupakan angin lalu berlaka, terasa semilirnya lalu lenyap tanpa bekas, atau lebih celaka lagi, wejangan itu hanya akan menjadi semacam hiasan untuk membanggakan diri, atau disalah gunakan sebagai "bukti"

Kebersihan dan kebaikan dirinya.

"Kalau engkau akan terus memakai pakaian pria, hal itu terserah kepadamu, akan tetapi janganlah berbuat kepalang tanggung, cucuku, karena kalau demikian,engkau hanya akan menjadi buah tertawaan orang lain saja."

"Maksud eyang...?"

Kakek itu memandang kearah bunga mawar merah di rambut Sulastri.

"Kembang mawar di rambutmu itu."

Sulastri meraba kembang itu dan tersenyum.

"Apa salahnya, eyang? Apakah seorang pria tidak boleh menghias rambutnya dengan kembang?"

"Tidak ada yang melarang dan tidak ada yang menganjurkan, hanya biasanya, wanita sajalah yang menghias rambutnya dengan kembang seperti itu. Maka, kalau memang engkau hendak menyamar sebagai pria, hal itu memang baik sekali dan menjauhkan kesulitan dalam perjalananmu, akan tetapi enkau harus pula menyembunyikan kesukaanmu bersolek seperti kebiasaan seorang wanita."

"Perjalanan? Apakah saya harus melakukan perjalanan, eyang?"

Kakek itu mengangguk.

"Karena itulah pagi-pagi aku menunggumu di sini, Sulastri. Hari ini juga engkau harus turun dari puncak dan melakukan perjalanan jauh."

"Ahhh...!"

Berita ini terlalu mengejutkan buat Sulastri.

Sudah selama setahun akhir-akhir ini dia selalu merengek minta ijin untuk turun gunung, akan tetapi kakek itu selalu melarangnya dan memerintahkannya untuk memperdalam ilmunya yang dikatakan masih belum cukup untuk bekal turun gunung.

Maka kini, ucapan kakek itu mengejutkan, sekaligus menggirangkan hatinya.

"Terima kasih, eyang...!"

Dia cepat menjatuhkan dirinya berlutut di depan kakek Empu Supamandrangi.

"Aihh, bocah ini..."

Sang Empu mengomel geli.

"Sikapmu seperti orang yang mau pergi ke pesta atau mau pesiar saja, padahal perjalananmu akan menempuh banyak macam bahaya. Engkau harus dapat merubah sikapmu yang seperti kanak-kanak,Lastri, karena hidup bukanlah main-main belaka. Apalagi hidup seorang seperti engkau yang diracuni oleh latar belakang penuh dendam. Mulai sekarang keputusan dalam langkah hidupmu sepenuhnya berada di tanganmu, dan kau boleh melakukan apa pun juga menurut keputusan dirimu sendiri, dan hal itu amat berbahaya. Aku hanya mempunyai suatu pesan yang kuharap engkau dapat memenuhinya."

"Pesan apakah itu, eyang? Saya berjanji akan melaksanakannya dan memenuhinya dengan sepenuh hati saya!"

Kembali kakek itu tersenyum.

"Cucuku, lain kali jangan engkau begitu mudah menjatuhkan janji dan sumpah. Yang penting dalam hidup ini bukan segala macam janji melainkan kenyataan dalam perbuatan. Pesanku adalah agar engkau suka mengambil kembali keris pusaka Kolonadah dan kemudian menyerahkan kepada Pangeran Kolo Gemet, putera sang prabu di Mojopahit."

"Eh, kenapa harus diserahkan kepada Pangeran Kolo Gemet, eyang?"

Sulastri bertanya, heran dan juga kecewa karena tadinya dia ingin memiliki sendiri keris pusaka itu.

"Tidak perlu kau mengetahui terlalu banyak akan rahasia ini, cucuku, hanya ketahuilah bahwa keris itu dahulu kubuat dengan susah payah dan kubuat khusus untuk seorang raja. Sayang bahwa keris itu memiliki wibaya yang demikian kuat sehingga muridku Ronggo Lawe-pun terdorong memperebutkan kekuasaan dan karenanya dia menemui kematian. Hanya demikian saja yang dapat kujelaskan, maka Kolonadah itu supaya kau serahkan kepada Pangeran Kolo Gemet."

Sulastri menyembah dan berkata.

"Baik, eyang, akan saya taati perintah eyang. Akan tetapi..."

"Hemm, apalagi? Mengapa ada bayangan keraguan di wajahmu?"

"Eyang sudah sangat tua, selama empat tahun ini ada saya di sini untuk membantu dan melayani eyang, memelihara tanaman, mencuci dan masak. Kalau saya pergi dan eyang hidup sendiri..."

"Ha-ha-ha, memang kehadiranmu di sini hanya membuat aku menjadi malas dan keenakan saja, cucuku. Kau kira siapakah yang melayani aku selama engkau belum tiba di sini? Kalau aku ingin dilayani orang, ingin hidup mulia secara lahiriah,apa kau kira aku bertapa dan berada di sini selama puluhan tahun? Ha-ha-ha,dengan membikin dan menjual keris saja aku dapat hidup kaya dan mempunyai banyak pelayan di kota. Jangan khawatir, cucuku, seekor semut saja dapat merawat dan memelihara diri sendiri, masa aku kalah oleh semut?"

Mendapat jawaban demikian, Sulastri tersenyum dan legalah hatinya.

Dia lalu berkemas, mengumpulkan pakaiannya yang tidak berapa banyak, semua pakaian pria yang sederhana namun cukup rapat menutupi tubuhnya sehingga tidak akan ada yang tahu bahwa dia seorang wanita.

Kemudian, dengan sebuah buntalan pakaian di pundaknya, dia berlutut lagi di depan kakek yang masih duduk bersila di atas dipan bambu di depan gubug.

"Apakah saya boleh berangkat sekarang, eyang?"

"Berangkatlah, cucuku, dan berhati-hatilah,"

Kata si kakek sambil tersenyum melihat bahwa kembang mawar merah tadi sudah tidak lagi menghias rambut kepala Sulastri.

"Dan engkau pun tentu saja tidak dapat mempergunakan nama Sulastri di dalam perjalanan. Mana mungkin ada seorang pemuda tampan seperti ini bernama Sulastri!"

Sulastri tersenyum lagi.

Kejenakaan eyangnya itu membuat hatinya ringan dan tidak terasa terlalu berat meninggalkan tempat di mana dia telah tinggal selama empat tahun, terutama meninggalkan kakek renta yang selama ini menggemblengnya dan dilayaninya itu.

"Mohon eyang sudi memberi nama samaran kepada saya."

"Kenapa tidak kau cari sendiri? Apakah kau sudah memilih sebuah nama yang baik?"

"Saya sudah memilih sebuah nama, eyang, nama yang sederhana dan mudah, yaitu Joko Bromatmojo."

"Heh-heh, cukup bagus. Bromatmojo berarti Bromo-atmojo (anak Bromo), anak Gunung Bromo. Nama yang baik sekali."

Setelah berpamit lagi dari kakek itu dan mendapatkan doa restunya, berangkatlah Sulastri turun dari puncak itu, diikuti pandang mata kakek Empu Supamandrangi dengan sinar mata sayu.

Setelah bayangan dara itu lenyap, kakek itu menarik napas tiga kali dan berkata lirih.

"Betapa kuatnya ikatan yang timbul dari pementingan diri!"

Dia lalu memejamkan matanya dan diam sampai lama sekali.

Memang demikianlah.

Biar pun seorang pertapa seperti Empu Supamandrangi yang sudah melepaskan keduniawian, begitu bertemu dengan sesuatu yang menyenangkan dirinya, sesuatu yang dinikmatinya, terjadi ikatan dan terasa nyeri di dalam hati kalau ikatan itu dipatahkan.

Hidupnya tadinya tenang dan tenteram, seperti air yang tiada gelombang.

Akan tetapi muncullah Sulastri yang membawa kecerahan di dalam hidupnya yang menyenangkan hatinya, melayaninya dan berbakti kepadanya sehingga timbul rasa sayang di dalam hatinya.

Perasaan sayang yang timbul karena dia disenangkan!

Perasaan ini menonjolkan sifat pementingan diri pribadi dan menciptakan suatu ikatan di dalam batinnya karena dia ingin agar kesenangan itu dilanjutkan dan jangan sampai diambil dari dia!

Karena itulah maka perpisahan merupakan sesuatu yang amat berat bagi orang yang terikat batinnya.

Jadi terang bahwa ikatan menimbulkan duka, yaitu apabila kita diharuskan berpisah dari yang terikat kepada kita, dan ikatan timbul dari keinginan melanjutkan kesenangan.

Hal ini sudah jelas.

Bukan berarti bahwa kita harus menolak atau menentang kesenangan, sama sekali tidak, melainkan kita tidak mengejarnya.

Dan kita baru bisa mengejar kesenangan kalau kita tidak menyimpan pengalaman yang menyenangkan di dalam ingatan atau kesenangan!

Pada suatu pagi tibalah Sulastri di sebuah hutan yang lebat.

Baru saja malam tadi dia bermalam di sebuah dusun, di rumah seorang petani tua bersama isterinya dan dari mereka ini dia mendengar bahwa hutan di sebelah barat dusun ini terkenal gawat.

Apalagi karena di situ akhir-akhir ini, selama beberapa bulan ini, berkeliaran seorang gila yang sudah membunuh beberapa orang.

"Anehnya, yang dibunuhnya selalu adalah orang muda yang tampan. Oleh karena itu,raden, kami harap andika jangan melalui hutan di barat itu,"

Kata tuan rumah dengan khawatir melihat betapa "pemuda"

Yang menjadi tamunya begitu tampan dan halus, kelihatan begitu lemah.

Sulastri berjanji akan mengambil jalan lain agar tidak mengkhawatirkan keluarga yang demikian baiknya, akan tetapi tentu saja penuturan itu malah membuat hatinya tertarik sekali dan andaikata dia tidak sedang melakukan perjalanan ke barat sekalipun, agaknya kalau mendengar cerita itu dia akan sengaja memasuki hutan itu untuk menyelidiki!

Ada orang gila berkeliaran membunuhi orang, sungguh amat berbahaya kalau didiamkannya saja.

Mendengar ada orang gila tukang bunuh,sama halnya bagi dara perkasa ini seperti melihat sebuah lubang tersembunyi di tengah jalan.

Hatinya tidak akan tenang sebelum dia menutup lubang itu agar jangan ada orang lain yang terperosok dan celaka.

Maka sekarang pun dia merasa tidak enak sebelum dia memasuki hutan itu dan menaklukkan orang gila yang berbahaya itu!

Sejak kecilnya Sulastri memang memiliki ketabahan luar biasa.

Keberanian hatinya ini digembleng pula oleh pengalaman-pengalaman pahit dan kemudian ditambah oleh gemblengan Ki Jembros sehingga dia hampir saja menjadi seorang yang liar dan ganas!

Untung baginya bahwa menjelang dewasa, dia terdidik oleh Empu Supamandrangi sehingga kesadarannya terbuka dan dia tidak lagi liar sungguh pun tidak dapat melenyapkan wataknya yang jenaka, aneh, dan Bengal suka menggoda orang!

Dengan hati agak ngeri juga, kengerian orang menghadapi orang gila, ngeri bercampur jijik, Sulastri memasuki bagian yang paling lebat di hutan itu.

Pohon-pohon besar yang usianya mungkin sudah ratusan tahun seperti raksasa-raksasa menyeramkan dan semak-semak belukar kadang-kadang demikian tebal menghalang jalan sehingga Sulastri harus mengambil jalan memutar.

Tentu saja dia sama sekali asing dengan daerah ini, dan dia pun sudah lupa lagi jalan mana yang diambilnya empat tahun lalu ketika dia datang dari barat menuju ke Pegunungan Bromo.

Satu-satunya pegangan baginya agar tidak tersesat hanyalah matahari yang dia tahu timbul dari timur dan kalau pagi hari itu dia menuju kearah depan dengan matahari di belakangnya, kemudian kalau sore atau lewat tengah hari dia mengambil arah dengan matahari di depannya, maka dia tidak akan tersesat!

"Hua-ha-ha-hah!"

Sulastri melonjak saking terperanjatnya.

Dia baru enak-enak melamun tiba-tiba saja ada suara ketawa sekeras itu, suara ketawa yang menyeramkan sekali dan orangnya yang tertawa itu tidak nampak!

Siapa orangnya tidak akan kaget dan merasa serem?

Sulastri menghentikan langkahnya, terasa betapa jantungnya membuat suara seperti sebuah gendang dipukul sekuatnya.

"Duk-duk-duk-duk..."

Berdenyut-denyut sampai terasa ke ubun-ubun kepalanya!

Dia menarik napas panjang untuk menenangkan jantungnya dan matanya menendang ke sekeliling dengan waspada.

Kewaspadaan ini yang membuat dia cepat memutar tubuh ke kanan ketika ada gerakan dari semak-semak belukar di sebelah kanannya.

"Wuuuuutttt.... blukkkk!"

Batu sebesar gentong itu terbaring ke atas tanah di dekat kakinya ketika Sulastri cepat mengelak, kemudian memandang dengan penuh perhatian ketika dari balik semak-semak belukar itu muncul seorang laki-laki yang bentuk tubuhnya sedang saja, namun wajahnya bengis dan pakaiannya biar pun ada bekasnya sebagai pakaian yang mahal dan pantas, namun karena tidak terawat kini menjadi compang-camping.

Matanya bukan seperti orang gila, pikir Sulastri.

Tentu ini dia yang disebut orang gila berbahaya itu, buktinya tiada hujan tiada angin tanpa sebab apa-apa orang itu hampir saja membunuhnya dengan lontaran batu yang demikian besarnya.

Kalau mengenai orang yang tidak pandai mengelak, tentu akan pecah kepalanya atau remuk badannya.

Akan tetapi di samping ini, ada bukti lain yang menarik hatinya, ialah bahwa orang ini bukan orang sembarangan.

Orang yang dapat melontarkan batu seberat itu dengan tenaga lontaran yang demikian kuat, tentu adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi.

"Hei, apa artinya ini?"

Sulastri bertanya kepada laki-laki yang kini sudah menghampirinya, laki-laki yang usianya kurang lebih lima puluh tahun.

"Ha-ha-ha, sekali ini tidak salah lagi. Engkaulah si manusia busuk!"

Laki-laki itu makin beringas matanya dan memang Sulastri melihat sinar mata yang lain daripada mata orang biasa, mengandung dendam kebencian dan kemarahan yang sudah mendekati kegilaan.

Orang itu sudah menubruk maju, serangannya cepat dan kuat,akan tetapi membabi buta seperti yang hanya dapat dilakukan oleh orang yang tidak lagi memperdulikan pembelaan dirinya, hanya ingin menyerang dan membunuh!

"Wirr-wirr...

plak-plakk!"

Orang itu terhuyung miring ketika Sulastri mengelak kemudian menangkis dengan lengan kirinya dua kali sambil mengerahkan sebagian tenaganya.

"Ha-ha-ha!"

Orang itu malah tertawa dan menyerang lagi.

"Eh, kisanak, nanti dulu!"

Sulastri mengelak sambil berseru.

"Mengapa engkau menyerangku? Kita belum saling mengenal dan aku tidak pernah melakukan suatu kesalahan kepadamu. Kalau ada urusan, mari kita bicarakan dulu sebelum kau menyerangku!"

"Wuuutt-wir-wirr...!"

Pukulan-pukulan yang keras menyambar-nyambar namun semua dapat dielakkan oleh Sulastri dengan mudah.

"Ha-ha-ha, jelas sekarang! Siapa lagi kalau bukan kau? Kau pandai bicara,suaramu merdu dan halus, dengan itu engkau telah merayu Katmi! Engkau juga pandai berkelahi, tenagamu kuat, dengan itu engkau telah membunuhnya. Bagus.... engkaulah orangnya, kini tidak salah lagi!"

Kakek itu berkata sambil tertawa-tawa dan terus menyerang tak pernah berhenti.

"Bukan! Jangan menuduh yang tidak-tidak. Mari kita bicara!"

Sulastri membentak sambil mengelak lagi.

Akan tetapi kini laki-laki itu tidak menjawab, hanya mengeluarkan suara menggereng dan tiba-tiba dia telah mencabut sebuah parang yang tajam mengkilap dan dengan senjata ini, dia menyerang dengan ganas.

Sulastri cepat mengelak.

"Hemm... orang sinting! Kau nekat dan hendak berkelahi? Baiklah, nah, terimalah ini!"

"Plakk...!!"

Sebuah tamparan yang dilakukan dari samping mengenai pundak kiri orang itu yang terpelanting dan berputar sampai beberapa langkah.

Namun orang itu hanya meringis dan sama sekali tidak gentar walau pun tamparan pertama ini saja sudah membuktikan bahwa dia tidak akan menang menghadapi lawan yang masih muda namun sakti ini.

"Ha-ha, mampus kau...!"

Dia menerjang dan menubruk seperti seekor srigala dan parangnya membacok kearah kepala Sulastri, tangan kirinya masih mencengkeram kearah perut! "Sialan! Kau memang sinting!"

Sulastri berseru kesal dan tubuhnya miring untuk menghindarkan cengkeraman ke perutnya, kemudian dia mengangkat tangan kiri menangkis ke atas dan tangan kanannya memukul dengan penambahan sedikit tenaga ke arah dada lawan dengan menggunakan punggung tangan.

"Dukk! Plakk...!"

Orang itu mengeluh, parangnya terlepas dari pegangan karena ketika tertangkis tadi, dia merasa lengannya seperti lumpuh dan tidak mampu lagi mempertahankan parangnya, sedangkan pukulan ke dadanya membuat dadanya terasa seperti pecah dan matanya berkunang, tubuhnya terjengkang dan dia roboh bergulingan.

Akan tetapi orang itu sungguh sudah nekat.

Dengan mata beringas, dia meloncat bangun lagi dan dengan teriakan seperti binatang buas dia menubruk, menggunakan kedua tangannya mencengkeram ke arah Sulastri.

"Dess...!"

Kaki Sulastri yang kecil menendang dan orang itu kembali terpelanting,memegangi perutnya yang kena tending tadi sambil meringis kesakitan. Akan tetapi,kembali dia maju menyerang.

"Orang gila, kau masih nekat?"

Sulastri berseru ganas dan kembali tangannya menampar, kini mengarah tengkuk.

"Plakk...! Aughhh...!"

Orang itu terpelanting dan roboh, mengeluh panjang dan ketika dia bangkit dan duduk, dia menggoyang-goyang kepala untuk mengusir kepeningan kepalanya, akan tetapi tetap saja pandang matanya berkunang dan dunia seperti berpusing di sekelilingnya.

"Heh... kau bunuhlah aku... hemmm, kau bunuhlah biar aku menyusul Katmi anakku..."

Katanya terengah-engah.

"Kisanak, engkau salah sangka,"

Sulastri berkata dengan tenang dan kasihan karena dia maklum bahwa orang ini adalah orang yang agaknya dibikin gila oleh dendam sakit hati yang hebat.

"Aku tidak merayu anakmu, tidak pula membunuhnya,akan tetapi kalau kau mau menceritakan kepadaku apa yang terjadi dengan anakmu, barangkali saja aku akan dapat membantumu menangkap pembunuhnya."

Laki-laki itu kini mengangkat muka, menatap wajah Sulastri, kembali menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu mengerutkan alisnya dan bicara kepada diri sendiri.

"Yang seorang tampan dan muda, dengan kumis kecil dan tahi lalat di pipi kirinya, dan dua orang lagi yang muda dan juga berkumis, yang seorang tinggi besar dan seorang lagi pesolek dan matanya agak sipit. Hemm... yang dua sudah mampus, akan tetapi kau biar pun muda dan tampan... kau tidak berkumis..." (Lanjut ke

Jilid 11) Kemelut Di Majapahit (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 11

"Aku memang... eh, belum berkumis!"

Kata Sulastri, meraba bibir atasnya.

"Dan tidak ada tahi lalat padamu..."

"Memang ada, akan tetapi bukan di pipi kiri,"

Jawab pula Sulastri.

Laki-laki itu berusaha bangkit berdiri, akan tetapi terhuyung karena kepalanya masih pening, maka dia menjatuhkan diri lagi, duduk di atas tanah.

Sulastri juga duduk di atas batu yang tadi disambitkannya kepadanya.

"Di mana...?"

Laki-laki yang seperti orang bingung itu otomatis bertanya. Sulastri merasa betapa mukanya menjadi panas, dia tidak tahu bahwa kedua pipinya menjadi merah. Dia tersenyum.

"Bukan urusanmu!"

Kemudian dia berkata lagi sambil memandang muka orang.

"Apakah engkau yang disohorkan sebagai orang gila pembunuh yang berkeliaran di hutan ini?"

Laki-laki itu mengeluh.

"Kau sudah mendengar akan itu dan masih berani memasuki hutan ini?"

"Kenapa aku takut? Dan nyatanya, orang gila pembunuh yang dikabarkan berbahaya itu, hanyalah seorang laki-laki tua yang bingung dan lemah."

Pria itu mengangguk-angguk dan menarik napas panjang berulang-ulang.

"Sungguh aneh, dia juga amat pandai, dan engkau... agaknya engkau lebih hebat. Mengapa aku bertemu dengan banyak orang muda yang sakti? Akan tetapi jelas dia berkumis dan bertahi lalat, dan engkau tidak berkumis, tidak bertahi lalat, mukamu halus dan engkau lebih tampan daripada dia."

Sulastri membungkuk dan tersenyum.

"Terima kasih atas pujianmu, akan tetapi siapakah si dia itu? Kalau kau mau menceritakan, aku berjanji akan membantumu dan kalau aku bertemu dengan dia, si tahi lalat di pipi kiri itu, tentu akan kupaksa dia datang kepadamu."

"Dia... dia... tak tahu aku namanya, akan tetapi Katmi, anakku.. telah mati..."

Dan tiba-tiba kakek itu menangis.

Agaknya baru sekarang dia dapat menangis.

Tangisnya mengguguk seperti anak kecil dan air matanya bercucuran di antara celah-celah jari tangannya.

Sulastri memandang dan merasa kasihan, akan tetapi dia mendiamkannya saja, tidak mengganggu karena dia maklum bahwa tangis itu akan dapat meringankan beban yang menekan batin kakek itu.

Setelah tangis mengguguk itu agak mereda, dia berkata halus.

"Nah, sekarang ceritakanlah, paman. Ketahuilah bahwa aku sengaja memasuki hutan ini untuk mencarimu setelah aku mendengar tentang paman dari seorang keluarga petani di luar hutan ini. Kalau paman mengandung hati penasaran, sebaiknya diceritakan kepada orang lain yang dapat membantumu, dengan demikian akan meringankan beban penderitaan batin paman."

"Engkau aneh... engkau masih muda dan sakti, juga bijaksana... orang muda, siapakah engkau?"

"Aku Bromatmojo, paman,"

Jawab Sulastri.

"Aihh, jadi andika seorang pemuda sakti mandraguna yang baru turun dari Gunung Bromo?"

Sulastri mengangguk "Aku hanya orang biasa saja, paman, hanya aku akan suka menolong kepada siapa yang patut ditolong."

Kakek itu kelihatan lega dan harapannya kembali lagi, pandang matanya tidak beringas lagi, melainkan sayu diliputi kedukaan.

"Dengarlah ceritaku, orang muda yang perkasa dan apakah andika akan menganggap aku seorang yang patut ditolong atau tidak, terserah kepada andika."

Laki-laki itu mulai menuturkan riwayatnya.

Dia bernama Kaloka, seorang penduduk dusun Turen.

Kaloka adalah seorang pemburu yang terkenal dan keadaannya cukup mampu dan disegani karena selain dia termasuk orang berkecupukan, juga dia suka menolong orang, baik dengan kekayaan mau pun dengan tenaganya karena dia termasuk seorang yang memiliki kedigdayaan.

Akan tetapi, isterinya telah meninggal sejak anak tunggalnya berusia lima tahun.

Dia tidak mau menikah lagi dan seluruh rasa cinta kasihnya dicurahkan kepada anak tunggalnya, yaitu puterinya yang bernama Katmi.

Gadis ini telah berusia tujuh belas tahun ketika malapetaka hebat itu terjadi.

Sebagai seorang pemburu yang berani memasuki daerah-daerah berbahaya untuk mencari buruan yang paling berharga, Kaloka sering kali meninggalkan rumahnya untuk beberapa hari lamanya, kadang-kadang bahkan sampai setengah bulan.

Tentu saja Katmi tinggal seorang diri di rumah, hanya ditemani oleh seorang pelayan wanita tua yang telah mengasuhnya sejak dia masih kecil.

Pada suatu hari, ketika sedang pulang dari perburuan, Kaloka berjumpa dengan seorang penduduk Turen yang menceritakan kepadanya bahwa kalau dia pergi berburu,kadang-kadang ada seorang pemuda tampan sedang mengunjungi rumahnya.

"Sikapnya mencurigakan dan dia bukan penduduk Turen, kakang Kaloka,"

Kata tetangga itu.

"Kami khawatir kalau-kalau puterimu sampai terkena bujuk rayunya karena pemuda itu tampan dan bicaranya manis, namun sikapnya mencurigakan."

Mendengar berita ini, Kaloka langsung menemui anaknya dan menanyakan siapa pemuda yang suka mengunjungi di waktu dia tidak ada di rumah itu.

Wajah anaknya menjadi merah dan dengan gugup puterinya itu menjawab bahwa dia tidak mengenal nama pemuda itu.

"Dia adalah seorang tamu dari luar dusun yang katanya telah mendengar akan nama ayah dan hanya singgah sebentar, ayah,"

Kata Katmi sambil menundukkan mukanya.

Mula-mula, mendengar alasan puterinya ini, Kaloka tidak mau mengusut lebih jauh.

Dia terlalu sayang kepada puterinya dan terlalu percaya.

Akan tetapi, Katmi terkenal sebagai kembang dusun Turen dan tentu saja semua pemuda di Turen tergila-gila kepadanya dan mengharapkan untuk dapat memetik bunga ini, yang cantik jelita dan anak orang kaya pula!

Memang Katmi cantik, dan dalam usia tujuh belas tahun seperti setangkai bunga sedang mulai mekar.

Wajahnya bulat dan manis, bentuk tubuhnya montok padat, agak gemuk tetapi tidak terlalu gemuk,melainkan kegemukan yang mendatangkan gairah karena sesuai dengan bentuk mukanya yang bulat.

Kulitnya halus dan agak gelap, akan tetapi bukan hitam, hanya kecoklatan dan yang biasa disebut hitam manis.

Karena banyak pemuda yang menaruh hati kepadanya itulah yang membuat peristiwa itu tidak habis sampai disitu saja.

Makin banyak Kaloka mendengar laporan-laporan tentang pemuda tampan yang mengunjungi puterinya di waktu dia tidak berada di rumah, terutama pelaporan yang datangnya dari pemuda-pemuda se-dusun itu.

"Aku tidak akan merintangi kesenangan hati anakku,"

Kaloka mengeluh pada Sulastri yang mendengarkannya dengan tenang.

"Akan tetapi cara pemuda itu menggauli anakku sungguh tidak wajar. Kalau memang dia suka, mengapa dia tidak datang saja menemuiku dan melamar? Mengapa dia mengunjungi anakku di waktu aku tidak berada di rumah?"

Dengan hati mulai digoda rasa curiga, pada suatu malam Kaloka pulang dengan tiba-tiba karena memang dia tidak melanjutkan perjalanannya berburu.

Dan dengan kedua matanya sendiri, dia melihat betapa seorang pemuda sedang mengadakan pertemuan dengan puterinya itu di dalam taman di belakang rumah, dan pemuda itu merangkul leher puterinya dengan mesra sambil berbisik-bisik!

Dapat dibayangkan betapa marahnya ayah itu dan dengan bentakan keras dia meloncat ke dalam taman, dengan maksud menangkap dan menghajar pemuda yang dianggapnya menganggu puterinya itu.

Akan tetapi betapa kagetnya ketika pemuda itu dapat mengelak dengan mudah, dan ketika Kaloka yang marah itu memukulnya, dia dapat pula menangkis dan terjadilah perkelahian di dalam taman!

Setelah pukul-memukul beberapa lamanya, akhirnya pemuda yang cekatan itu dapat memukul Kaloka, membuat Kaloka terpelanting jatuh dan si pemuda menggunakan kesempatan ini untuk meloncat dan menghilang di dalam gelap.

Katmi menubruk ayahnya dan menangis.

Ayahnya marah sekali, akan tetapi karena sayang sekali kepada puterinya, Kaloka menahan kemarahannya, Kaloka bertanya siapa adanya pemuda yang berkumis dan bertahi lalat di pipi kirinya itu.

"Aku tidak tahu namanya, ayah..."

"Hemmm..."

Kaloka mengertak gigi saking mengkalnya.

"Kau belum mengenal namanya akan tetapi kau membiarkan saja dia merayu dan merangkulmu?"

"Ampunkan aku, ayah. Dia... dia pandai sekali bicara.... dia bercerita macam-macam dan dia amat manis budi..."

"Bodoh! Engkau harus dapat menghargai kehormatan dan namamu, masa begitu mudah menyerahkan diri karena bujuk rayu seorang yang sama sekali tidak kau kenal siapa namanya dan di mana tempat tinggalnya? Kau bodoh, Katmi. Kalau dia berani muncul lagi sewaktu aku tidak ada, jangan kau terima dia sebagai tamu, katakan bahwa kalau memang dia mencintaimu, agar orangtuanya datang melamar!"

"Baik, ayah..."

Jawab gadis itu sambil berlinang air mata.

Sampai sebulan kemudian, pemuda itu tidak pernah muncul kembali.

Beberapa kali Kaloka pura-pura pergi berburu, akan tetapi sesungguhnya dia tidak berburu melainkan kembali lagi melakukan pengintaian.

Akan tetapi, pemuda itu tidak muncul lagi dan tidak terjadi sesuatu yang mencurigakan.

Hatinya menjadi lega dan dia menganggap bahwa tentu pemuda itu sudah tobat dan tidak berani muncul,hal yang menggirangkan hatinya karena dia amat khawatir.

Pemuda itu tampan,pandai merayu, dan di samping itu juga memiliki kepandaian berkelahi yang hebat sehingga dia, yang terkenal jagoan dapat dirobohkannya dengan begitu mudahnya.

"Karena dia tidak muncul lagi selama satu bulan lebih, maka hatiku menjadi tenang dan aku mulai pergi berburu lagi. Akan tetapi, begitu aku pergi berburu benar-benar, terjadilah malapetaka itu..."

Dan Kaloka menghentikan ceritanya sambil menutupi mukanya dengan kedua tangan seolah-olah dia merasa ngeri untuk membayangkan kembali apa yang dilihatnya beberapa bulan yang lalu.

"Apa yang terjadi, paman Kaloka?"

Tanya Sulastri yang mulai tertarik oleh cerita orang tua itu.

"Ketika aku kembali dari berburu, aku disambut dengan tangis oleh pelayan kami yang menceritakan bahwa semalam Katmi telah minggat!"

Kaloka melanjutkan ceritanya.

Tentu saja dia menjadi marah bukan main dan sebagai seorang pemburu ulung, dia dapat pula mencari jejak puterinya itu dan akhirnya, pada keesokan harinya pagi-pagi sekali, dia mendapatkan puterinya berada di dalam sebuah hutan tak jauh dari dusun Turen.

"Akan tetapi dia... dia...."

Kaloka kembali menghentikan ceritanya.

"Sudah mati...?"

Tanya Sulastri yang merasa kasihan dan juga ngeri. Kaloka menggeleng kepalanya dan mengusap air mata yang menetes turun.

"Belum,ketika aku menemukan dia, dia belum mati.. dia menggeletak hampir mati dalam keadaan mengerikan dan menyedihkan. Aku melihat darah... dan dia sama sekali telanjang, pakaiannya cabik-cabik di kanan kiri tempat itu... dia sempat bercerita kepadaku bahwa dia diajak pergi oleh pemuda berkumis bertahi lalat itu,akan tetapi... sampai di tempat itu, dia diperkosa dan dipermainkan, dihina oleh pemuda itu yang mentertawakannya dan mengatakan bahwa hal itu dilakukan untuk menebus penyeranganku malam itu di taman. Anakku sampai menjadi pingsan dan ketika dia siuman, dia melihat seorang pemuda tinggi besar dan seorang lagi pemuda pesolek bermata sipit dan mereka... jahanam-jahaman itu... mereka juga memperkosa anakku..."

"Keparat..!!"

Sulastri membentak sehingga kakek itu terkejut sekali karena suara pemuda itu meninggi dan nyaring seperti pekik dahsyat.

Jantungnya sampai terguncang mendengar pekik yang dilakukan dengan pengerahan tenaga sakti itu.

"Dan anakmu lalu mati...?"

Kakek itu mengangguk, menelan ludah dan mengejap-ngejapkan mata.

"Dia mati setelah menceritakan semua itu. Aku lalu bersumpah untuk membalas dendam, kucari-cari mereka bertiga itu, terutama si pemuda berkumis dan bertahi lalat. Yang dua dapat kutemukan, si pemuda tinggi besar dan pemuda pesolek bermata juling,karena mereka itu adalah pemuda-pemuda dusun Turen sendiri. Agaknya ketika mereka yang ikut pula mencari Katmi, melihat anakku telanjang di hutan, mereka berdua lalu menggunakan kesempatan itu untuk melakukan perbuatan mereka yang terkutuk. Aku telah berhasil membawa mereka ke hutan ini, mereka mengaku dan kubunuh mereka. Penduduk dusun yang mendengar ini mencariku, akan tetapi aku dapat memukul mundur mereka, lalu aku masuk keluar hutan untuk mencari pemuda berkumis dan bertahi lalat dan akhirnya aku berkeliaran di hutan ini. Sulastri mengangguk-angguk.

"Untung paman bertemu dengan aku, kalau tidak,bukankah paman akan membunuh seorang pemuda yang sama sekali tidak berdosa?"

"Engkau begini muda dan tampan, dan semenjak peristiwa itu, aku merasa benci kepada semua pemuda, terutama yang tampan."

"Aku bisa mengerti, paman. Akan tetapi tentu paman menyadari bahwa hak itu amat keliru. Sebaiknya kalau paman menenangkan hati dan pikiran, kemudian baru perlahan-lahan mencari pemuda berkumis dan bertahi lalat itu. Dan aku pun berjanji bahwa kalau aku bertemu dengan seorang pemuda seperti itu, akan kutangkap dia dan kubawa dia kepada paman."

"Terima kasih, raden. Andika sungguh baik dan sekarang aku telah sadar akan dendam yang membuat aku seperti gila. Memang aku harus menenangkan hati dan pikiran dan sebaiknya hal itu kulakukan di sini agar aku selalu dapat teringat kepadamu dan dapat mengenangkan kembali kesalahanku. Aku akan bertapa di sini,dan setelah tenang, baru aku akan keluar dari hutan ini."

"Terserah kepadamu, paman. Nah, aku pergi sekarang dan jangan sebut aku raden karena aku hanya seorang biasa saja, aku Joko Bromatmojo."

Setelah berkata demikian Sulastri bangkit dan menggunakan aji kesaktiannya, sekali dia melompat lenyaplah dia di antara pohon-pohon.

Melihat ini, Kaloka terkejut bukan main,terbelalak dan bengong sampai lama, kemudia tiba-tiba dia menjatuhkan diri berlutut di tempat Sulastri tadi berdiri!

Iring-iringan pengantin itu cukup megah dan meriah.

Pengantin pria naik kuda besar dan melihat pakaiannya, tentu dia seorang yang memiliki kedudukan dan jelas seorang yang kaya.

Pakaiannya indah dihias benang emas gemerlapan, dari jauh kelihatan gagah perkasa sehingga Sulastri yang melihat dari jauh merasa kagum.

Pengantin prianya gagah, pikirnya.

Di depan berjalan pasukan yang membawa tombak, disusul pasukan memegang parang, kemudian barulah joli pengantin puteri yang dipikul oleh enam orang.

Pengantin pria menjalankan kudanya kadang-kadang di dekat joli, kadang-kadang di depan.

Di belakang nampak pula rombongan keluarga, yang wanita naik joli, yang pria naik kuda, dan paling belakang kembali pasukan yang memegang tombak.

Akan tetapi, setelah Sulastri yang menahan langkahnya untuk menonton iring-iringan pengantin itu melihat sang pengantin pria dari dekat, dia kecewa dan keliru.

Hanya dari jauh saja dia kelihatan gagah karena pakaiannya gemerlapan dan kudanya tinggi besar, akan tetapi setelah dekat, ternyata pengantin pria itu adalah seorang laki-laki yang sudah hampir kakek-kakek, usianya tentu ada lima puluh tahun!

Memang gagah dan berwibawa duduk tegak diatas punggung kuda dengan dada terangkat, akan tetapi tetap saja merupakan kejanggalan melihat seorang pengantin pria yang usianya sudah setengah abad!

Tadinya Sulastri sudah akan melanjutkan perjalanannya kembali, akan tetapi alisnya berkerut ketika dia melihat sebuah joli dekat joli pengantin tersingkap dan seraut wajah wanita yang cantik, usianya kurang lebih tiga puluh lima tahun,memandang kepadanya dan tersenyum manis penuh daya pikat dan matanya pun mengerling tajam!

Dan pada saat itu, dia pun mendengar suara isak tangis keluar dari joli pengantin puteri yang tertutup rapat!

Kalau saja dia hanya mendengar isak tangis biasa, dia pun tidak akan merasa aneh karena bukankah sudah lumrah kalau seorang pengantin puteri menangis?

Bahkan sudah merupakan semacam "keharusan"

Karena kalau tidak menangis, kata umum, seolah-olah si pengantin puteri kegirangan menjadi pengantin dan tentu saja hal ini amat memalukan bagi seorang perawan!

Akan tetapi, kalau telinga orang-orang lain tidak dapat menangkapnya,telinga Sulastri lain lagi.

Telinga dara perkasa ini sudah terlatih sedemikian rupa sehingga dia dapat menangkap lapat-lapat suara seorang wanita mengeluh di antara isak tangis itu.

"Ayah, ibu... tidak kasihankah kalian kepadaku...? Cabutlah saja nyawaku... dan bawa aku beserta kalian...!"

Sulastri menjadi tertarik sekali. Tidak ada seorang pengantin puteri di mana pun juga, melakukan tangis "pengantin"

Seperti itu!

Itu adalah tangis seorang wanita yang merasa berduka sekali, yang menderita dan jelas merupakan kawin paksaan yang keji.

Tadinya dia masih tidak akan terlalu memperhatikan karena merasa bahwa hal itu bukan urusannya, akan tetapi karena tadi dia melihat wanita cantik yang tersenyum genit kepadanya, timbul perasaan penasaran dan kasihan kepada pengantin puteri yang belum dilihat wajahnya itu.

Karena rasa penasaran, maka kedua kakinya membuat gerakan membalik dan Sulastri membayangi rombongan pengantin itu yang menuju ke timur, kemudian membelok ke utara, ke sebuah sungai yang melintang menghalang jalan.

Akan tetapi agaknya rombongan pengantin itu,terutama pengantin prianya, adalah seorang yang berpengaruh dan kaya raya, maka disitu memang sudah tersedia beberapa buah perahu yang siap menyeberangkan mereka, bahkan perahu-perahu itu pun di hias warna-warni.

Rombongan itu berhenti dan pengantin pria meloncat turun dari atas punggung kudanya, menghampiri joli pengantin puteri yang sudah diturunkan.

Tirai joli disingkap dan seorang gadis yang cukup manis berpakaian pengantin turun dari joli, akan tetapi ketika pengantin pria mengulurkan tangan untuk membantunya,pengantin puteri menarik tangannya dan tiba-tiba saja sambil menjerit pengantin puteri itu lari ke arah sungai!

"Heee...!"

Seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebuh yang bertubuh kurus tinggi menubruk dan menangkap lengan pengantin wanita yang hendak melarikan diri itu.

Pengantin itu meronta-ronta dan menjerit-jerit.

"Paman.... paman, lepaskan aku... biarkan aku pergi... biarkan aku mati...!"

Kini wanita cantik yang tadi tersenyum kepada Sulastri, melangkah maju dan mengangkat tangannya.

"Plak-plak-plak-plak!!"

Pipi pengantin puteri itu telah ditamparnya berkali-kali! "Diam kau, bocah tak tahu malu! Engkau membikin malu paman dan bibimu!"

"Sudahlah, bibi. Sudahlah...!"

Pengantin pria yang jauh lebih tua itu melerai dan menyebut bibi kepada wanita cantik itu. Pada saat itu Sulastri sudah tidak dapat menahan kemarahannya lagi.

"Jangan paksa orang yang tidak mau kawin!"

Bentaknya dan dia meloncat ke dekat pengantin wanita itu, sebuah tangannya mendorong ke arah si pengantin pria yang hendak merangkul calon isterinya.

"Heiiitt!"

Pengantin pria itu menangkis, akan tetapi tetap saja tubuhnya terjengkang dan terdengar suara berdebuk ketika pinggulnya terbanting ke atas tanah sampai mengepulkan debu.

"Tangkap perampas pengantin!"

"Bunuh!"

"Serbu...!"

Keadaan menjadi geger ketika para pengawal yang memegang tombak dan parang itu maju mengepung Sulastri.

Akan tetapi Sulastri yang sudah marah itu cepat menggerakkan tubuhnya ke kanan kiri, amat cekatan dan sigap dan kemana pun dia bergerak, kaki tangannya menyambar dan robohlah seorang pengeroyok.

Dalam waktu singkat saja sudah ada lima orang pengeroyok jungkir balik dan mengaduh-aduh!

Sementara itu, di dalam keributan ini, pengantin puteri berhasil melarikan diri dan terjun ke sungai!

Padahal sungai di bagian itu merupakan kedung yang amat dalam, maka paniklah pengantin pria yang berteriak-teriak minta tolong karena dia sendiri tidak mampu berenang.

Akan tetapi, para pengawalnya juga sibuk mengepung Sulastri sehingga mereka tidak mendengar teriakan ini.

Hanya pengantin pria, paman dan bibi pengantin puteri itu yang berteriak-teriak dan lari ke sana-sini di tepi sungai seperti induk ayam melihat anak ayam terjatuh ke air.

Karena tadinya para tukang perahu juga sudah berloncatan ke darat untuk membantu para pengawal membekuk pemuda yang dianggapnya hendak merampas pengantin, maka mereka pun tidak tahu bahwa pengantin puteri terjun ke dalam Kedung (bagian air sungai yang dalam).

Pada saat itu, nampak seorang pemuda yang bertubuh tinggi tegap, berlari cepat seperti terbang dan tanpa ragu-ragu lagi pemuda itu melompat ke dalam air.

Caranya melompat dan terjun ke air membuktikan bahwa dia memang mahir bermain dalam air, dengan lompatan lurus dan kepalanya didahului oleh kedua lengan yang disatukan dan dilonjorkan ke depan.

Juga ketika tubuhnya menimpa air, tidak terdengar suara seperti sebatang pisau yang runcing menusuk agar-agar saja.

"Cluuuuppp..!"

Tubuhnya sudah lenyap di telan air ketika pemuda itu terjun dan langsung menyelam.

Akan tetapi tidak lama kemudian, dia telah timbul kembali,merangkul pengantin puteri yang sudah lemas dan pingsan, lalu berenang dengan cepatnya ke pinggir sungai, terus merayap naik sambil memondong tubuh pengantin puteri itu.

Kini para tukang perahu yang sudah diberi tahu dan sudah berlarian ke pinggir sungai, membantunya naik dan gadis itu direbahkan di atas rumput,ditangisi oleh paman dan bibinya.

"Raden... tolong... dia orang jahat hendak merampas keponakanku!"

"Apa? Di siang hari ada orang berani merampas pengantin?"

Pemuda itu mengerutkan alisnya yang hitam tebal dan dia lalu bangkit dan memandang ke arah pertempuran itu.

Terkejut juga dia melihat pemuda tampan itu mengamuk dengan amat hebatnya dan biar pun dikeroyok oleh belasan orang perajurit, namun dengan enaknya pemuda itu menggerakkan kaki tangan dan para perajurit menjadi mawut, tombak-tombak dan parang-parang beterbangan disusul robohnya tubuh para perajurit itu.

Melihat ini, pemuda tinggi tegap itu menjadi marah.

Dia lalu meloncat ke gelanggang pertempuran dan begitu pemuda tampan itu kembali merobohkan dua orang perajurit sehingga yang lain menjadi ragu-ragu dan mundur, pemuda tinggi tegap yang pakaiannya basah kuyup itu menerjang sambil membentak keras.

Bagaikan seekor harimau menubruk, dia telah menyerang Sulastri dari depan dengan pukulan tangan kiri ke arah dada sedangkan tangan kanan menyambar ke arah leher.

"Ihhh...!"

Sulastri berteriak kaget ketika merasa ada angin dahsyat menyambar dari pukulan itu, apalagi melihat bahwa pukulan itu menuju ke arah dadanya!

Cepat dia mengerahkan tenaga saktinya pula dan kedua tangannya memapaki dua tangan lawan yang memukulnya itu.

"Dukkk! Desss...!"

Keduanya terlempar dan terhuyung ke belakang! "Ahhh...!"

Pemuda tinggi tegap itu terkejut setengah mati.

Dia tadi telah mengerahkan tenaga saktinya dan dia maklum bahwa jarang ada orang sanggup menahan pukulan-pukulannya ini, akan tetapi bocah tampan kurus itu tidak hanya dapat menangkisnya, malah tangkisan itu mengandung tenaga sakti yang tidak kalah kuatnya sampai dia terhuyung dan hampir terjengkang jatuh!

Adapun Sulastri juga terkejut karena dia memperoleh kenyataan bahwa pemuda tinggi tegap yang tampan dan gagah itu ternyata kuat bukan main!

Dan ketika mereka beradu lengan tadi, air yang membasahi pakaian pemuda itu memercik ke muka dan pakaiannya, maka dia menjadi mendongkol bukan main.

Sambil mengusap mukanya yang basah oleh percikan air, dia mengomel.

"Orang gila! Kalau mau berkelahi, kenapa tidak berganti pakaian dulu?"

Pemuda tinggi tegap itu tercengang mendengar bentakan ini.

Pemuda tampan dan sakti itu sungguh seperti anak kecil saja!

Yang diributkan malah basahnya pakaiannya!

Akan tetapi dia masih marah mendengar bahwa pemuda tampan yang wajahnya sama sekali tidak mencerminkan kejahatan ini hendak merampas pengantin,jadi dibalik ketampanannya ini bersembunyi kecabulan!

Maka dengan marah dia membentak.

"Memang biasanya orang gila memaki orang lain gila!"

Sulasti melotot.

"Kau bilang aku gila? Kau yang gila! Kau gila, gila, gila!!"

Dia menudingkan telunjuknya ke arah muka pemuda tinggi tegap itu.

"Huh, siapa lagi kalau bukan orang gila yang hendak merampas pengantin wanita di waktu siang hari dan di jalan raya?"

Sulastri menjadi makin marah dan dia melangkah maju dengan dua tangan dikepal.

"Siapa yang merampas pengantin? Siapa?"

"Siapa lagi kalau bukan engkau pemuda cabul?"

"Keparat! Ngawur bicaramu, ya? Kurobek bibirmu nanti! Aku tidak merampas pengantin, tidak merampas siapa-siapa. Mulutmu layak ditampar!"

Sulastri menerjang dan benar-benar tangannya bergerak dengan cepatnya menampari ke arah mulut dan pipi pemuda itu.

Pemuda itu cepat menangkis dan mengelak sambil mundur.

Beberapa orang perajurit maju meyerbu, akan tetapi kini mereka yang menjadi sasaran kedua tangan Sulastri yang mengamuk dan tamparan gadis ini amat hebat,membuat mereka yang kena tampar roboh dengan pipi bengkak-bengkak dan gigi copot-copot!

"Heee-heeittt, tahan dulu...!"

Pemuda tinggi tegap itu melompat ke depan dan menangkisi tamparan-ramparan Sulastri yang menyambutnya dengan serangan.

"Kalau kau memang tidak merampas pengantin, kenapa kau mengamuk di sini sehingga pengantin wanita sampai terjun ke dalam kedung...?"

"Ehh..?"

Sulastri terkejut dan menghentikan serangan-serangan yang selalu dapat ditangkis tadi.

"Dan dia mati...?"

Pemuda itu cemberut.

"Kalau tidak aku cepat-cepat menyelam dan menyelamatkannya,tentu dia sudah mati karena gara-garamu!"

Kini Sulastri memandang pemuda tinggi tegap itu dengan penuh perhatian. Pemuda yang tampan gagah, dan kumisnya tipis membuat wajah itu makin menarik.

"Jadi kau kira bahwa dia melompat ke sungai karena gara-garaku?"

"Tentu saja! Kalau tidak, karena apalagi?"

Pemuda itu balas bertanya.

"Dan kau anggota rombongan ini?"

"Bukan, aku baru datang karena tertarik oleh ribut-ribut yang terjadi di sini,kemudian aku melihat pengantin wanita meloncat ke sungai. Kuselamatkan dia dan..."

"Kalau begitu engkau orang tolol ngawur! Orang yang memiliki kesaktian namun bodoh dan goblok!"

"Eh, mulutmu jahat sekali, penuh dengan makian!"

"Habis engkau memang tolol sih! Kau menuduh orang dengan ngawur saja tanpa penyelidikan dulu. Kau tahu mengapa aku menyerang mereka dan mengapa pengantin wanita itu hendak membunuh diri? Dia dipaksa kawin!"

"Ehhh..?"

"Jangan percaya omongannya! Dia seorang perampok, seorang penjahat yang hendak merampas isteriku!"

Pengantin pria yang tadi roboh terjengkang berteriak sambil menuding ke arah Sulastri. Sulastri tersenyum mengejek.

"Dan kau pemuda sakti tolol tentu percaya omongan kakek yang doyan daun muda ini, bukan? Lihat baik-baik mempelai wanita itu dan taksir berapa umurnya. Seorang dara cantik yang pantasnya kawin dengan aku atau engkau..."

"Ihhh...! Ceriwis benar kau!"

Pemuda tinggi tegap itu membentak dan mukanya berobah merah. Sulastri tersenyum mengejek lagi.

"Akan tetapi dara itu dikawinkan dengan seorang kakek sombong. Maka kalau dia tadi hendak membunuh diri, aku tidak menyalahkan dia. Kalau aku menjadi dia... hemm, memang lebih senang mati daripada kawin dengan kakek seperti ini!"

"Kurang ajar kau, monyet!"

Kakek itu menjadi marah.

"Hayo keroyok, tangkap dia!"

Akan tetapi Sulastri yang dimaki monyet itu sudah menjadi marah. Ketika ada enam orang perajurit maju, dia menerjang sehingga mereka itu terjengkang ke kanan kiri, kemudian tangannya menampar.

"Plak...! Aduhhh...!"

Kakek itu menjerit dan mulutnya berdarah. Sulastri hendak memukul lagi akan tetapi dia dicegah oleh pemuda tinggi tegap.

"Sudah, sudahlah.... tak perlu membunuh orang!"

"Hemm, lihat siapa yang seperti monyet! Engkau yang menjadi monyet ompong!"

Sulastri mengejek dan pengantin pria itu meludahkan darah dan beberapa buah giginya yang patah oleh tamparan tadi.

"Sesungguhnya, apakah yang terjadi dan bagaimana kau bisa mengatakan bahwa gadis itu dikawinkan dengan paksa?"

Pemuda tinggi tegap itu menjadi bingung dan kini dia menghadapi Sulastri pemuda yang kelihatan masih remaja dan kurus akan tetapi yang memiliki kepandaian hebat dan juga amat galak itu.

"Tentu saja aku tahu! Tidak seperti engkau yang ngawur!"

Sulastri menjawab galak.

"Aku bersuara dengan mereka di jalan dan aku mendengar pengantin puteri di dalam tandu menangis dan bersambat ke pada ayah bundanya minta mati. Tentu saja mendengar ini aku menjadi curiga dan mengikuti rombongan ini. Setelah tiba di sungai ini, tiba-tiba pengantin puteri turun dan melarikan diri, akan tetapi ditangkap oleh orang yang disebutnya paman itu, dan ditampari oleh dia..."

Dia menuding ke arah wanita cantik yang masih berjongkok di dekat tubuh pengantin wanita yang agaknya sudah siuman.

"Nah, tentu saja aku marah dan membela si pengantin puteri, sampai kau datang dan menyerang aku secara membabi buta!"

Pemuda tinggi tegap itu kini membalik dan memandang ke arah pengantin pria yang masih mengusapi mulutnya yang berdarah dengan sehelai saputangan.

"Benarkah begitu?"

"Bohong! Dia bohong...! Tidak ada kawin paksaan...!"

Pemuda tinggi tegap itu menjadi bingung.

"Hemm, siapakah yang harus kupercaya...?"

Sulastri tersenyum mengejek.

"Kalau bodoh mengaku saja bodoh, jangan pura-pura mau menjadi orang pintar mengadili urusan orang lain. Kalau kau bingung, mengapa tidak tanya saja kepada yang berkepentingan langsung, yaitu si pengantin puteri?"

Wajah pemuda itu berseri.

"Ah, kau benar!"

Dan dia menoleh ke arah wanita yang ditolongnya ke luar dari kedung tadi.

Akan tetapi pada saat itu, pengantin puteri tadi agaknya sudah mendengarkan semua percakapan itu dan kini dia bangkit,meronta lepas ketika dipeluk bibinya dan dipegangi pamannya, lalu dia lari menghampiri tempat itu dan menjatuhkan diri berlutut di depan Sulastri!

"Raden, tolonglah saya...

tolonglah saya agar jangan saya dipaksa menikah dengan bapak lurah Jati..."

Wanita itu menangis dan merangkul kedua kaki Sulastri. Sulastri tersenyum, mengerling ke arah pemuda tinggi tegap tadi dan mengejek.

"Nah,katakan apakah aku seorang perampok pengantin wanita?"

Kini pemuda tinggi tegap itu mengerutkan alisnya yang hitam tebal dan membalik kepada bapak lurah Jati, pengantin pria tadi sambil membentak.

"Ternyata benar bahwa gadis ini dipaksa kawin. Hemm, lekas kalian minggat sebelum kuhajar kalian sampai babak belur!"

"Tapi... tapi... mas kawinnya..."

Pengantin pria itu berkata.

"Desss...!"

Pemuda tinggi tegap itu menendang sampai pengantin pria terlempar dan jatuh bergulingan.

"Inilah mas kawinnya!"

Pengantin pria berteriak kesakitan lalu melarikan diri bersama para pengiringnya,jerih karena kini pemuda tinggi yang tadinya berpihak kepada mereka itu telah berubah sikap memusuhi mereka.

Menghadapi pemuda kecil tampan itu sudah payah,apalagi ditambah pemuda tinggi tegap itu.

Kini tinggal pengantin puteri dan paman serta bibinya yang juga sudah menjatuhkan diri berlutut.

Sulastri memandang kepada dua orang itu dengan alis berkerut, apalagi ketika melihat betapa bibi cantik itu kini mengucurkan air mata dan si paman kelihatan pucat ketakutan.

"Berdirilah kau..., nimas...!"

Kata Sulastri sambil memegang kedua pundak pengantin puteri yang manis itu. Pengantin itu bangkit berdiri dan merasa betapa kedua tangan "pemuda"

Tampan yang menolongnya itu masih berada di kedua pundaknya dengan sentuhan halus, dia menundukkan mukanya yang berubah merah.

"Eh, kalian berdua siapakah?"

Tegurnya kepada suami isteri itu.

"Kami... kami adalah... paman dan bibinya..."

Jawab si suami gugup. Akan tetapi tiba-tiba bibi pengantin puteri yang cantik itu bangkit berdiri dan berkata dengan hormat, setelah menghapus air matanya.

"Harap paduka maafkan, raden. Ini suami saya, Parjito, dan saya adalah bibi dari nini Warsini yang sudah yatim piatu. Semenjak kecil Warsini kami pelihara seperti anak sendiri."

"Hem, seperti anak sendiri? Kenapa kalian memaksanya menikah dengan bandot tua itu?"

Sulastri membentak.

"Maaf..."

Dan wanita itu kembali mengucurkan air mata.

"Kami yang terpaksa, raden... sehingga kami terpaksa mempunyai banyak hutang kepada bapak lurah dari dusun Jati. Kemudian, bapak lurah jatuh cinta kepada keponakan kami ini dan... karena terpaksa, kami membujuk Warsini untuk menjadi isterinya..."

"Isteri yang ke lima raden!"

Warsini berkata.

"Ternyata kalian berdua adalah orang-orang mata duitan yang hendak mengorbankan keponakan sendiri untuk mendapatkan uang! Betapa kejinya!"

Pemuda tinggi tegap itu berkata dengan nada suara marah pula.

"Kami terpaksa... ah, sekarang pun kami menjadi bingung. Apa yang harus kami lakukan, raden? Paduka berdua yang memiliki kesaktian boleh jadi tidak takut kepada lurah Jati, akan tetapi kami... ah, mungkin saat ini dengan adanya paduka berdua, kami terlindung akan tetapi setelah paduka berdua meninggalkan kami..."

Wanita cantik isteri Parjito itu berkata lagi.

Sulastri yang tadi merasa gemas kepada wanita ini karena melihat wanita ini menampari pipi Warsini, sehingga kini menjadi bingung karena dia dapat melihat kebenaran dalam kata-katanya.

"Habis, apa yang harus kami lakukan?"

Terdengar Parjito bertanya bingung.

"Pak lurah Jati sudah pasti tidak akan tinggal diam saja dan kami serumah akan celaka..."

Kini pemuda tinggi tegap itu berkata.

"Di mana rumah kalian?"

"Kami dari dusun Kriten, raden."

"Mari kami antar kalian pulang, dan kita cari jalan bagaimana baiknya nanti."

"Oh, terima kasih, raden. Paduka berdua sungguh baik sekali."

Sang bibi berkata dengan nada suara gembira dan penuh harapan.

Tadinya Sulastri tidak ingin mencampuri urusan itu lagi, akan tetapi melihat pemuda tinggi tegap itu begitu baik hendak mengantarkan mereka, tiba-tiba timbul rasa curiga dan rasa penasaran di dalam hatinya.

Dia curiga karena siapa tahu apa isi hati pemuda ini, dan pula, dia yang tadi menolong si gadis pengantin,akan tetapi agaknya pemuda itu yang akan melanjutkan dan menerima jasa dan pujiannya.

Oleh karena itu, tanpa membantah dia pun ikut pergi mengantar gadis pengantin bersama paman dan bibinya itu ke luar dari hutan.

Hari telah gelap ketika mereka tiba di dusun Kriten sehingga tidak sampai menarik perhatian banyak penduduk yang tentu akan menjadi heran dan ribut melihat sang pengantin puteri kembali lagi tanpa pengantin prianya.

Setelah tiba di rumah Parjito, wanita cantik isteri Parjito yang bernama Gianti itu agaknya telah menemukan kembali ketenangannya dan dia melayani dua orang pemuda itu dengan penuh keramahan.

Bersama keponakannya yang pendiam itu dia segera memasak air, menanak nasi dan mempersiapkan hidangan dan minuman kepada mereka sedangkan Parjito sendiri lalu menemani dua orang pemuda itu bercakap-cakap di serambi depan.

Setelah menerima hidangan dan makan bersama, mereka lalu bercakap-cakap membicarakan persoalan mereka yang terancam oleh ki lurah Jati.

Dari sikap dan percakapan dengan mereka itu, Sulastri makin tidak suka kepada suami isteri ini yang agaknya merupakan orang-orang malas yang hanya pandai menghamburkan uang,maka tidaklah heran kalau mereka sampai mempunyai banyak hutang kepada ki lurah Jati yang sebenarnya menghendaki keponakan mereka.

Dan agaknya, paman dan bibi ini sengaja hendak mempergunakan Warsini sebagai sumber penghasilan!

"Pak lurah Jati pasti datang dan memaksa kami menyerahkan Warsini,"

Demikian kata Parjito dengan sikap khawatir.

"Dan mungkin peristiwa siang tadi akan mengakibatkan dia marah kepada kami."

"Apakah kalian tidak mempunyai keluarga di dusun lain ke mana kalian dapat mengungsi?"

Tanya pemuda tinggi tegap. Mereka menggeleng menyatakan tidak punya.

"Kalau lurah itu hendak memaksa, apakah kalian tidak melapor kepada pejabat yang lebih tinggi kedudukannya?"

Pemuda tinggi tegap itu menoleh kepadanya dan berkata.

"Agaknya andika tidak tahu, kawan, bahwa melaporkan seorang pejabat kepada pejabat yang lebih tinggi sama artinya dengan minta bantuan seekor harimau untuk mengusir seekor srigala."

Semua orang menjadi bingung karena tidak tahu bagaimana memecahkan persoalan itu,dan Warsini yang sejak tadi mendengarkan saja sambil menundukkan mukanya, tiba-tiba berkata sambil memandang kepada Sulastri.

"Raden, jalan satu-satunya hanyalah bahwa saya harus minggat dari dusun ini. Kalau paduka sudi menolong saya,setelah paduka membela saya di hutan itu, saya... saya akan menghambakan diri kepada paduka... harap paduka membawa saya ke mana pun, menjadi hamba atau apa saja juga saya rela... raden..."

Pemuda tinggi tegap itu mengerutkan alis dan memandang kepada Sulastri, lalu kepada gadis pengantin itu, akan tetapi dia diam saja.

Sedangkan Sulastri yang mendengarkan penyerahan ini menjadi merah mukanya.

"Warsini jangan begitu! Kalau kau pergi bersama raden ini... lalu... bagaimana dengan kami...?"

Bibinya, Gianti yang sejak tadi bersikap manis sekali, terlalu manis kepada Sulastri, berkata khawatir.

"Pak lurah telah mengancam, kalau hutang-hutangku tidak dilunasi... dan ditambah lagi mas kawin itu..."

"Bibi yang menerima uangnya, dan bibi pula yang menerima mas kawinnya... saya tidak tahu menahu tentang itu!"

Jawab Warsini.

"Eh, eh... kau bocah tak mengenal budi! Dan sejak kecil siapa yang memeliharamu sampai sebesar ini? Siapa yang memberi makan setiap hari, memberi pakaian kepadamu? Dan kami harus mengurus agar engkau mendapatkan suami yang baik dan mencukupi, masih kurang bagaimanakah kami?"

Gianti berkata dengan marah, dan suaminya cepat menyabarkannya dan memegang lengan isterinya, akan tetapi si isteri merenggutkan lengannya dan suami itu agaknya pun tidak berani banyak cakap lagi.

Sikap suami itu jelas membayangkan bahwa dia kalah pengaruh, bahkan takut kepada isterinya yang cantik.

"Sudahlah, tidak perlu ribut-ribut!"

Sulastri berkata. Gianti kini berkata kepada Sulastri.

"Raden, paduka melihat betapa sulitnya keadaan saya. Saya telah melakukan segala sesuatu demi kebaikan keponakan suami saya ini, akan tetapi sekarang hanya kesulitan saja yang saya peroleh darinya..."

Dan dia menangis sesenggukan.

"Sudah, aku mempunyai jalan yang baik. Besok, keponakanmu akan kubawa dan kuserahkan kepada seorang yang tentu akan mengganggapnya sebagai anak sendiri dan akan sanggup menghadapi ancaman yang akan muncul. Dia adalah seorang sahabatku yang sudah setengah tua dan kehilangan anak perempuannya."

"Terima kasih, raden...!"

Warsini berseru dengan girang sekali.

"Kau mau ikut bersamaku dan kuberikan kepada seorang sahabatku untuk menjadi anaknya?"

Tanya Sulastri.

Gadis itu mengangkat mukanya dan memandangnya, memandang dengan sinar mata yang luar biasa, yang membuat hati Sulastri merasa tidak enak karena pandang mata itu demikian mesra dan penuh penyerahan!

"Saya akan menurut saja apa pun yang akan paduka lakukan terhadap diri saya."

Ucapan ini sudah mengandung makna yang luas dan kerut alis pemuda tinggi tegap itu makin mendalam.

"Akan tetapi bagaimana dengan kami kalau Warsini pergi?"

Kini Parjito berkata gelisah.

"Pak lurah Jati tentu akan..."

"Ada dia ini yang akan melindungi kalian!"

Kata Sulastri sambil menudingkan telunjuknya ke arah pemuda tinggi tegap itu.

"Hemm, tak mungkin aku tinggal di sini terlalu lama. Banyak pula urusanku sendiri. Hal itu tidak perlu diributkan. Kalau pak lurah datang, katakan saja bahwa keponakan kalian telah dilarikan oleh dia itu."

Dia pun menudingkan telunjuknya ke arah Sulastri. Sulastri mengangguk-angguk.

"Hemm, kiranya tidak begitu bodoh. Memang itu merupakan alasan yang baik sekali. Kalian katakan saja bahwa keponakan kalian kularikan, tentu mereka akan mengejarku, kalau berani!"

Setelah mengambil keputusan bulat, akhirnya mereka setuju untuk bermalam di rumah itu semalam.

Parjito memberikan kamar tamu yang sederhana untuk dua orang pemuda itu, akan tetapi Sulastri tegas-tegas menolak.

"Aku tidak bisa tidur berdua, tidak biasa! Kalau tidak ada kamar lain, biarlah aku tidur di luar, di lantai saja!"

"Ah, mana bisa begitu raden?"

Warsini cepat berseru.

"Biarlah paduka memakai kamar saya, dan saya tidur di lantai."

Kini Gianti yang cepat berkata kepada suaminya.

"Kenapa kau tidak tidur saja di rumah tetangga malam ini? Aku bisa tidur bersama Warsini, dan kamar kita biar dipakai oleh Raden ini."

Sang suami mengangguk-angguk.

"Baiklah. Nah, selamat tidur, raden berdua,"

Kata Parjito yang segera ke luar dari rumahnya itu.

Pemuda tinggi tegap itu mendapatkan kamar tamu sedangkan Sulastri kebagian kamar suami isteri itu, sedangkan Gianti memasuki kamar keponakannya bersama Warsini.

Lampu-lampu dipadamkan dan mereka pun merebahkan diri di atas pembaringan di kamar masing-masing.

Sulastri tidak dapat tidur.

Peristiwa tadi siang membayang di dalam pikirannya dan dia membayangkan betapa akan gembiranya bapak Kaloka kalau dia datang bersama Warsini.

Tidak ada jalan lain, sebaiknya Warsini diserahkan kepada Kaloka yang kehilangan anak perempuannya itu.

Dengan mempunyai seorang ayah seperti Kaloka, tentu keselamatan Warsini terjamin, dan Kaloka juga akan terobati dari luka di hatinya kerena kehilangan puterinya.

Dia teringat pula kepada pemuda tinggi tegap yang tidur di kamar sebelah.

Seorang pemuda yang tampan dan ganteng, juga gagah perkasa.

Ingin dia menguji kepandaiannya!

Terdengar bunyi kentongan ronda malam yang menandakan bahwa waktu tengah malam telah tiba.

Mendadak Sulastri mendengar suara berkeresekan di arah pintu kamarnya.

Sinar lampu satu-satunya yang masih dipasang di ruangan tengah,menembus celah-celah bilik dan membuat kamarnya remang-remang, namun dia masih dapat melihat ketika daun pintu terbuka perlahan dari luar.

Jantungnya berdebar dan semua urat syaraf di tubuhnya menegang.

Tentu maling, pikirnya.

Atau seorang penjahat.

Kaki tangan lurah Jati?

Dia pura-pura tidur, akan tetapi matanya memandang penuh perhatian.

Daun pintu terbuka perlahan-lahan dan sesosok bayangan memasuki kamar itu,bayangan seorang wanita yang bertubuh ramping!

Sulastri makin terheran-heran.

Kini wanita itu yang hanya bentuk tubuhnya yang ramping, berjalan perlahan menghampiri pembaringannya.

Rambut wanita itu terurai lepas.

Tercium olehnya bau wangi bunga dan teringatlah dia akan bau yang sama dari Gianti, bibi Warsini.

Dia cepat bangkit duduk.

"Mau apa kau...?"

Tanyanya heran.

"Ssttt... raden..."

Suara Gianti terengah-engah dan lalu dia duduk di tepi pembaringan, tangannya meraba-raba dan memegang tangan Sulastri.

"Raden... saya tidak dapat membalas budi kebaikanmu kecuali... dengan tubuhku ini..."

Dan dia lalu merangkul leher Sulastri dan seperti seekor harimau betina kelaparan dia menciumi muka Sulastri.

"Eh...! Sulastri gelagapan akan tetapi cepat tangannya mendorong dan tubuh wanita itu terdorong ke belakang.

"Jangan..., aku tidak bisa... tidak mau... eh,kau ini seorang wanita yang sudah bersuami mengapa..."

"Raden... terimalah saya..., sejak saya melihat raden di tepi jalan itu, ingatkah paduka? Ketika saya menyingkap tirai joli... melihat paduka di tepi jalan, hati saya telah terpikat dan saya tergila-gila... raden, kasihanilah saya yang jatuh cinta kepada paduka..."

Kini Sulastri melompat turun dari pembaringan.

Hatinya geli akan tetapi juga marah.

Betapa tidak geli hatinya melihat betapa ada seorang wanita yang jatuh cinta dan tergila-gila kepadanya?

Hampir saja dia tertawa.

Ditahannya geli hatinya dan dia cepat berkata lirih agar jangan sampai membangunkan semua orang,"Bibi, pergilah.

Aku tidak sudi, dan kau ingatlah kepada suamimu.

Pergi!!"

Wanita itu terisak dan dengan perlahan lalu meninggalkan kamar itu, keluar dengan langkah tersaruk-saruk.

Sulastri cepat menutupkan kembali daun pintunya.

Akan tetapi peristiwa itu membuat dia makin tidak dapat tidur lagi.

Dia masih merasa geli, serem dan juga marah kalau teringat kelakuan Gianti yang dianggapnya tak tahu malu itu.

Dan karena tidak dapat tidur inilah maka lewat tengah malam menjelang pagi dia mendengar suara-suara yang tidak wajar di sebelah luar.

Dia menjadi curiga dan cepat dia membuka daun jendela kamar itu dan dengan gerakan ringan sekali dia meloncat keluar jendela ke dalam kebun di belakang rumah, cepat menyelinap ke bawah ketika melihat betapa beberapa bayangan orang di sekitar tempat itu.

Dengan pandang matanya yang awas Sulastri mendapatkan kenyataan yang mengejutkan bahwa rumah itu telah dikurung oleh banyak orang!

Ketika dia mendengar suara tertawa yang diikuti suara wanita yang dikenalnya,yaitu wanita yang malam tadi menyelinap ke dalam kamarnya, dia cepat merunduk, menyelinap diantara semak-semak dan pohon-pohon, mendekati arah datangnya suara itu.

Kiranya suara itu datang dari sebuah gubuk kecil di sudut kebun dan di antara remang-remang cahaya bintang-bintang di langit dia melihat lurah Jati duduk di dalam gubuk dan di atas pangkuan lurah ini duduk Gianti yang merangkul leher pak Lurah itu!

"Kenapa susah-susah mengejar Warsini?"

Terdengar Gianti berkata manja.

"Bagaimana kalau diganti saja oleh saya, kakangmas?"

"Ha-ha-ha, engkau bibiku akan tetapi menyebut aku kakangmas!"

Terdengar suara lurah Jati.

"Engkau memang telah menjadi milikku, mengapa harus engkau menggantikan bocah itu? Jangan khawatir, cah ayu, kalau keponakanmu itu telah menjadi milikku, engkau pun akan kutarik ke dalam kelurahan. Kau tahu aku sayang padamu."

Terdengar suara cumbuan dan Sulastri cepat menyelinap mundur, mendekam sambil mendengarkan saja, hatinya panas dan marah bukan main melihat bahwa sesungguhnya Gianti yang tak tahu malu itu adalah kekasih lurah itu sendiri!

"Apakah kakangmas yakin akan berhasil?

Mereka itu adalah pemuda-pemuda yang berilmu tinggi."

"Ha-ha-ha, jangan khawatir. Lima puluh orang kaki tanganku mengepung tempat ini,dan dikepalai dua orang kepala pengawalku. Kalau ada mereka siang tadi, tentu dua orang bocah itu telah dapat ditangkap atau dibunuh. Di mana mereka berdua sekarang?"

"Hik-hik, di dalam kamar, tidur pulas agaknya. Suamiku sudah kusuruh keluar dan bermalam di rumah tetangga. Warsini pun tidur sendiri di kamarnya."

"Ha-ha, kau memang manis! Mari..."

"Ihh, masa di gubuk ini? Nanti ketahuan orang, kakangmas..."

"Hushh, siapa berani melihat kita? Dan masih ada waktu... anak buahku akan bergerak kalau hari sudah agak terang. Mari, manis, kau berjasa besar..."

Terdengar suara ketawa genit dan Sulastri sudah cepat meninggalkan gubuk itu dengan muka terasa panas.

Dia cepat memasuki lagi kamarnya, lalu membuka daun pintu setelah membereskan semua pakaiannya, menghampiri pintu kamar pemuda tinggi tegap.

Akan tetapi baru saja tangannya hendak mengetuk pintu, tiba-tiba daun pintu terbuka dan pemuda tinggi tegap itu telah berdiri di ambang pintu, kelihatan segar dan sama sekali tidak ada tanda-tandanya bahwa pemuda itu habis tidur!

"Eh...

Sulastri terkejut.

"Ssttt... aku sudah tahu bahwa kita dikurung oleh anak buah lurah jahanam itu,"

Kata si pemuda. Pemuda itu agaknya tidak mendengar ejekan Sulastri.

"Aku menduga bahwa paman dan bibi Warsini bukan orang baik-baik, dan mereka itu menjadi kaki tangan lurah Jati. Kita harus dapat melarikan Warsini dari rumah ini."

"Kaki tangan lurah Jati? Huh, perempuan jahanam itu adalah kekasih sang lurah bejat! Dan Parjito adalah suami lemah yang tunduk di bawah kaki isterinya."

"Ehh? Bagaimana kau tahu...? Sudahlah, yang penting adalah menyelamatkan Warsini!"

"Hemm, kau begitu bersemangat untuk membela Warsini. Kenapa?"

"Kenapa? Tentu saja karena aku kasihan padanya."

Sulastri tersenyum mengejek.

"Dia wanita lemah, bagaimana bisa diajak lari? Lebih baik dipondong dan dibawa lari, seorang di antara kita yang melindungi."

"Dipondong? Hemm...Ya, begitu kiranya lebih baik. Dilarikan dengan cepat dan seorang di antara kita melindungi dan membuka jalan darah di antara kepungan musuh."

Sulastri timbul sifat bengalnya dan dia hendak menggoda, atau mungkin juga hendak mencoba pemuda tinggi tegap itu.

"Nah, kau bangunkan dia dan kau pondong dia. Aku yang akan melindungimu melarikan gadis cantik itu."

"Heh? Aku? Memondong dia? Tidak... eh, maksudku kau saja..."

Jawabnya gagap dan di bawah sinar lampu, Sulastri melihat bahwa muka pemuda itu menjadi merah sekali.

"Mengapa?"

Dia bertanya geli melihat pemuda yang pemalu ini.

"Tidak baik... kalau aku yang memondong."

"Apa bedanya? Kita sama-sama pria, kau atau aku yang memondong sama saja. Pula, bukankah kau yang menyelamatkannya dari kedung dan tentu kau pernah memondongnya?"

"Justru itulah... aku... aku masih merasa ngeri kalau mengingat hal itu."

"Ngeri memondong tubuh gadis itu? Eh, kau aneh...!"

"Sudahlah, kau cerewet benar! Seperti perempuan saja!"

Seketika Sulastri membungkam mulutnya, kemudian berkata singkat.

"Baik, aku memondongnya, kau melindungi aku melarikan dia."

Diketuknya pintu kamar Warsini dan karena gadis itu yang telah beberapa malam tidak dapat tidur kini kelegaan hati membuatnya pulas dan tidak mendengar ketukan pintu, Sulatri tanpa ragu-ragu mendorong daun pintu dan memasuki kamar itu.

Melihat ini, pemuda tinggi tegap itu mengerutkan alisnya.

Tidak enak hatinya melihat "pemuda"

Yang terlalu tampan, cerewet dan tentu pandai merayu dan memikat hati gadis-gadis cantik itu begitu saja memasuki kamar seorang gadis yang masih tidur pulas.

Akan tetapi tidak lama kemudian, Sulastri telah keluar dari kamar itu, menggandeng tangan Warsini yang kelihatan pucat ketakutan.

(Lanjut ke

Jilid 12) Kemelut Di Majapahit (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 12

"Tak usah takut, ada kami yang akan melindungimu,"

Kata si pemuda tinggi tegap, pura-pura tidak melihat betapa gadis itu digandeng oleh si pemuda ceriwis!

"Warsini rumah ini telah dikepung oleh lima puluh orang anak buah ki lurah Jati,maka kita harus melarikan diri dari sini sekarang juga,"

Kata Sulastri.

"Ah, bagaimana..., raden? Tentu mereka akan mencelakakan paduka..."

Warsini memandang Sulastri dengan matanya yang terbelalak.

"Eh, kau malah mengkhawatirkan aku? Kaulah yang harus dilindungi, manis! Dan agar kita dapat berhasil, engkau akan kupondong dan kularikan dari sini,sedangkan dia itu yang akan melindungi kita."

Sulastri sengaja bersikap manis kepada Warsini ketika dia melihat betapa pemuda tinggi besar itu mengerutkan alis sejak dia menggandeng keluar gadis itu dari dalam kamar tadi.

"Dipondong...?"

Wajah yang pucat itu menjadi berubah merah.

"Terserah kepadamu,raden... dan saya hanya menurut saja..."

Sulastri lalu memondong gadis itu dengan lengan kirinya dan Warsini menjaga dengan keseimbangan tubuh, terpaksa merangkul pundak Sulastri.

Mereka kelihatan begitu mesra dan kembali pemuda tinggi tegap itu memandang dengan alis berkerut.

"Eh, kau sudah siap?"

Sulastri menoleh dan bertanya, hatinya makin geli melihat pemuda itu kelihatan tidak senang. Pemuda itu mengangguk tanpa mengeluarkan suara.

"Kita mengambil jalan belakang, melalui kebun,"

Kata Sulastri.

"Mari!"

Dia lalu berjalan cepat ke belakang, membuka pintu belakang, dan dengan dibayangi oleh pemuda tinggi tegap itu, dia meloncat ke dalam kebun sambil memondong tubuh Warsini yang bukan merupakan beban berat baginya itu.

Akan tetapi baru saja beberapa langkah mereka memasuki kebun itu, terdengar bentakan-bentakan nyaring dan enam orang anak buah lurah Jati sudah melompat keluar sambil menggerakkan senjata parang mereka.

Melihat ini, Warsini menjadi ketakutan dan dia menyembunyikan mukanya di leher Sulastri.

Sulastri sendiri meloncat maju dan dengan lengan kiri memondong tubuh Warsini, tangan kanannya memukul disusul kaki kirinya dan robohlah dua orang musuh yang menerjang dari depan.

Pemuda tinggi tegap itu pun dengan amat mudahnya telah merobohkan empat orang yang lain.

Mereka berlari terus ke belakang, menuju ke gubug di ujung kebun karena memang Sulastri ingin sekali bertemu dengan Gianti dan lurah Jati sebelum dia melarikan gadis yang dipondongnya itu.

Akan tetapi makin banyak kini anak buah lurah Jati berdatangan karena teriakan-teriakan memberi tahu mereka bahwa dua orang pemuda itu melarikan diri melalui kebun belakang.

Mereka dikurung dan mulailah mereka berdua mengamuk.

Biar pun Sulastri hanya dapat menggunakan kedua kaki dan satu tangan kanannya, namun sepak terjangnya hebat dan menggiriskan karena setiap kali tangan kanannya bergerak tentu ada seorang pengeroyok yang terpelanting roboh.

Juga pemuda tinggi tegap itu mengamuk seperti seekor banteng terluka.

Tiba-tiba terdengar bentakan keras dan muncul dua orang laki-laki setengah tua yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa dan berkumis sekepal sebelah.

Dua orang laki-laki inilah jagoan dari Jati yang menjadi kaki tangan lurah, dan mereka memang merupakan orang-orang kuat yang kini menerjang maju dengan golok mereka.

"Kawan, cepat lari biar aku menahan mereka!"

Teriak pemuda tinggi tegap kepada Sulastri ketika dia melihat munculnya dua orang yang dari gerakannya jelas tidak dapat disamakan dengan para pengawal lainnya itu.

Pemuda tinggi tegap itu telah merampas sebatang tombak dan kini dengan tombak rampasan itu dia menahan amukan dua orang raksasa itu sehingga terjadilah pertandingan yang hebat.

Sulastri maklum bahwa biar pun dia sendiri dapat menjaga diri, namun tubuh di dalam pondongannya itu terancam bahaya maut.

Kalau dilanjutkan pertarungan keroyokan, mungkin saja ada senjata yang salah alamat dan mengenai tubuh Warsini,maka dia segera meloncat sambil mendorong roboh seorang penghalang di depannya,terus dia lari ke arah gubug.

Pada saat itu lurah Jati dan Gianti sedang bermain cinta dan biar pun mereka mendengar suara ribut-ribut di kebun, namun karena asyik dan kepalang mereka tidak muncul ke luar.

Maka dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka ketika tiba-tiba gubug itu roboh oleh dorongan tangan Sulastri!

Sungguh lucu sekali melihat dua orang itu merangkak ke luar dan mengaduh-aduh.

Melihat Gianti merangkak ke luar dengan pakaian setengah telanjang, timbul rasa muak dan marah di hati Sulastri.

Dia menyambar sebatang ranting dan dengan pengerahan tenaga saktinya dia menyambitkan ranting itu ke arah muka Gianti yang baru saja hendak bangkit.

"Prat... auhhh...!!"

Gianti menjerit mengerikan karena ranting itu telah menghantam mukanya, meremukkan hidungnya dan membelah bibirnya! Dia roboh mandi darah dan pingsan.

"Huh, kau tidak akan dapat melacur dengan kecantikanmu lagi!"

Sulastri berbisik dan dia terus melarikan diri, tidak sempat menghajar ki lurah Jati karena para pengawal sudah datang berbondong-bondong mengejarnya.

Sementara itu, ketika pemuda tinggi tegap melihat bagaimana "pemuda"

Perkasa yang melarikan Warsini itu merobohkan gubuk dan melihat lurah Jati merangkak setengah telanjang sambil mengaduh-aduh, timbullah satu pikiran yang baik sekali.

Dua orang jagoan itu memang cukup tangguh dan biar pun dia yakin akan dapat mengalahkan mereka, namun jumlah pengeroyok terlalu banyak dan juga dia harus membiarkan kawannya itu berhasil lari tanpa dikejar musuh.

Setelah menangkis dua batang golok sambil mengerahkan tenaga sehingga dua orang jagoan itu terhuyung ke belakang, pemuda itu meloncat dan berlari cepat menghampiri lurah Jati.

Sebelum lurah itu dapat menghindar, dia sudah cepat menjambak rambut lurah itu yang terurai ketika gubuk tadi roboh.

Dijambaknya rambut itu dan diputar ke belakang, lalu tombak rampasannya itu ditodongkan ke leher sang lurah sambil membentak.

"Berhenti semua! Jangan mengejar, kalau tidak tombak ini akan menembus leher lurah kalian!"

Suara pemuda itu mengandung getaran hebat dan terdengar oleh semua orang.

Ki lurah sendiri menjadi takut setengah mati.

Kedua tangannya diangkat naik ke arah rambutnya yang seperti akan jebol rasanya sehingga kini karena tidak ada lagi tangan yang menahannya, celananya merosot ke bawah dan telanjanglah kini pengantin pria yang gagal ini!

"Aduhhh...

aduh...

ampun...

"Suruh mundur semua anak buahmu. Kalau tidak, akan kusembelih kau!"

Pemuda itu menghardik dan seluruh tubuh yang telanjang bulat itu menggigil ketakutan.

"Mundurrr... semua mundur... aduh, jangan maju...!"

Dua orang tinggi besar yang melihat lurah mereka ditangkap dan diancam, otomatis menghentikan gerakan kaki mereka dan mundur sehingga semua anak buahnya juga tidak ada yang berani berkutik.

"Kalau kalian berani mengejarku, kubunuh lurah jahanam ini!"

Pemuda itu berseru dan kini dia mengempit tubuh ki lurah yang telanjang itu dan membawanya lari dari situ.

Para anak buah lurah Jati tidak ada yang berani berkutik, saling pandang dengan bingung sampai bayangan pemuda itu lenyap.

"Hayo kejar...!"

Dua orang tinggi besar itu sadar bahwa lurah mereka diculik,maka mereka cepat mengejar ke arah larinya pemuda itu, yaitu ke timur.

Akan tetapi hampir saja mereka jatuh tunggang-langgang karena kaki mereka hampir menginjak tubuh lurah mereka yang ternyata ditinggalkan di tengah jalan dalam keadaan telanjang dan lurah itu menggigil ketakutan dan kedinginan.

Anak buahnya masih mencari ke sana ke mari, akan tetapi tidak dapat menemukan jejak dua orang pemuda yang telah melarikan Warsini itu.

Ki lurah mencak-mencak dan marah-marah, mengerahkan semua pembantunya untuk mencari Warsini sedangkan dia sendiri kembali ke dusun Jati setelah mengenakan kembali pakaiannya, dengan bersungut-sungut dan marah sekali, apalagi dilihatnya bahwa wajah Gianti yang tadinya cantik itu kini menjadi mengerikan, hidungnya remuk dan bibirnya sumbing!

Siapakah pemuda tinggi tegap berkumis tipis yang perkasa itu?

Pemuda berusia kurang lebih sembilan belas tahun yang sepak terjangnya gagah perkasa itu?

Dia ini adalah bukan lain adalah Sutejo!

Seperti telah diceritakan di dalam

Jilid pertama dari cerita ini, Sutejo pada sembilan tahun yang lalu hampir saja mati terbakar di dalam rumah ibunya yang menjadi lautan api.

Ibunya tewas dan kakaknya, Lestari, dibawa oleh Penewu Progodigdoyo sedangkan Sutejo sendiri menggeletak pingsan di dalam rumah yang sedang terbakar itu.

Akan tetapi memang dia belum tiba saatnya harus mati terbakar, pada saat yang amat berbahaya itu muncullah seorang kakek tua renta yang berkelebat memasuki rumah yang terbakar itu, menentang api seolah-olah api itu bukan apa-apa baginya dan kakek itu berhasil menyelamatkan Sutejo dan dibawa lari dari dusun Kembangsri.

Kakek itu bukan lain adalah Panembahan Ciptaning, seorang pertapa yang sakti mandraguna, bijaksana dan hidup seperti dewa di lereng gunung Kawi.

Panembahan Ciptaning ini dahulu adalah guru dari Raden Lembu Tirta, ayah dari Sutejo.

Setelah siuman dari pingsannya dan mendapatkan dirinya berada di pondok sederhana di lereng gunung Kawi, Sutejo terheran-heran.

Ketika dia mendengar jelas bahwa kakek tua renta di depannya itu adalah Panembahan Ciptaning, eyang gurunya sendiri dia menangis dan menceritakan semua yang terjadi, semua malapetaka yang menimpa keluarganya.

Sang Panembahan hanya menarik napas panjang mendengar penuturan itu dan kakek ini lalu mendidik Sutejo sebagai cucu muridnya.

Selama sembilan tahun lamanya Sutejo digembleng segala macam ilmu di lereng gunung Kawi dan akhirnya dia diperkenankan turun gunung untuk mencari mbakayunya,yaitu Lestari yang dia tahu dibawa lari oleh Panewu Progodigdoyo.

"Angger, Sutejo. Ingatlah selalu semua pesan dan nasehatku. Semua ilmu yang kau pelajari dariku bukan sekali-kali dimaksudkan untuk kau pakai mencelakakan atau membunuh orang begitu saja, bukan sekali-kali untuk urusan balas dendam. Kalau ilmu-ilmu itu kau pergunakan untuk melampiaskan balas dendam dan kebencian, maka ilmu-ilmu itu menjadi ilmu hitam, kulup! Aku tahu, Progodigdoyo telah melakukan perbuatan yang tidak patut dan jahat terhadap keluargamu, akan tetapi kalau engkau mencari dia dengan hati penuh dendam dan benci, lalu kau membunuhnya untuk melampiaskan kebencian dan dendammu, maka engkau tidaklah lebih baik daripada si Progodigdoyo sendiri! Bertindaklah melihat keadaan pada saat itu juga, tanpa didasari kebencian dan dendam. Aku menurunkan ilmu-ilmu kepandaian agar engkau dapat menyumbangkan tenagamu untuk kemanusiaan, angger. Ketahuilah bahwa kemelut sedang terjadi di Mojopahit, dan apabila negara sedang dilanda kemelut, hanya orang-orang muda seperti engkaulah yang dapat mendatangkan penerangan dan menghalau semua malapetaka, angger."

Demikianlah antara lain wejangan dari Sang Panembahan Ciptaning.

Dengan bekal wejangan dan ilmu kesaktian dari pertapa ini, Sutejo turun gunung dan secara kebetulan sekali pada hari itu dia bertemu dengan Sulastri atau Bromatmojo yang sedang mengamuk terhadap rombongan pengantin itu.

Sutejo mengerutkan alisnya ketika dia tidak melihat ke mana larinya pemuda tampan yang memondong Warsini.

Dia menggunakan ilmunya berlari cepat, lalu dia meloncat naik ke atas pohon waringin yang tinggi.

Dari tempat tinggi ini dia dapat melihat berkelebatnya bayangan pemuda itu ke arah timur, maka cepat dia turun dan mengejar lagi ke timur.

Hatinya merasa tidak senang.

Pemuda tampan itu memang memiliki kepandaian yang cukup hebat, akan tetapi sikapnya mencurigakan sekali.

Pemuda itu terlalu ceriwis dan jangan-jangan pemuda itu mengandung niat yang kurang senonoh terhadap Warsini!

Sudah beberapa kali dia melihat pemuda itu bersikap terlalu mesra terhadap Warsini, hal yang amat tidak patut dilakukan seorang pria kepada seorang wanita yang bukan apa-apanya.

Dan dia dapat menduga bahwa agaknya Warsini, bekas pengantin wanita itu, juga jatuh hati kepada pemuda itu!

Tidak mengherankan.

Memang pemuda itu tampan sekali, ganteng dan juga pandai merayu, dengan sinar matanya yang seperti bintang itu, dengan senyumnya yang benar-benar amat manis menarik hati.

Dia mengejar terus dan kini sudah dapat menyusul pemuda itu tidak lari lagi,kini bahkan memondong tubuh Warsini sambil berjalan kaki memasuki sebuah hutan!

Hati Sutejo menjadi makin tidak senang.

Kenapa gadis itu dibawa masuk ke dalam hutan?

Apa yang terkandung dalam hati pemuda tampan yang amat ceriwis itu?

Kalau ternyata benar seperti yang dicurigainya bahwa pemuda tampan itu setelah menolong Warsini lalu hendak merayu dan menodai gadis itu, dia akan turun tangan menghajarnya!

Sutejo membayangi mereka di dalam hutan, sama sekali tidak tahu bahwa tadi "pemuda"

Tampan itu telah melihat berkelebatnya bayangannya.

Dan dia pun tidak tahu bahwa melihat pemuda tinggi tegap itu membayanginya secara tidak wajar, timbul pula kecurigaan di dalam hati Sulastri!

Mengapa pemuda tinggi tegap itu tidak secara langsung saja menemui dan membayangi seperti itu?

"Warsini, kurasa sekarang telah aman, kau dapat berjalan sendiri,"

Katanya sambil menurunkan pondongannya. Warsini lalu berlutut dan menyembah.

"Raden, sungguh besar sekali budi paduka yang telah menyelamatkan saya, entah bagaimana saya harus membalas budi yang demikian besarnya."

Sulastri menghela napas panjang.

"Sudah saja tak usah dibalas,"

Jawabnya.

Matanya melirik ke sana-sini mencari-cari karena dia tahu bahwa pemuda tinggi tegap pasti sedang mengintai mereka!

"Tapi...

tapi saya...

tidak mempunyai sanak kadang...

maka harap kau suka menerima saya, raden.

Saya akan ikut bersamamu ke mana juga..."

"Bangkitlah, dan mari ikut bersamaku,"

Kata Sulastri singkat karena dia sudah melihat bayangan pemuda tinggi tegap itu di balik sebatang pohon di depan...

Alisnya berkerut dan dia menjadi makin curiga.

Jangan-jangan pemuda tinggi tegap dan tampan itu...

"Ahhh...!"

Sulastri tiba-tiba berseru kaget.

"Ada apa, raden?"

Warsini bertanya karena gadis ini pun kaget ketika dia berdiri melihat wajah pemuda itu berubah.

"Tidak apa-apa, mari kita pergi,"

Kata Sulastri dan karena ketegangan hatinya,sejenak dia lupa bahwa dia adalah seorang "pemuda"

Dan tanpa ragu-ragu lagi dia menggandeng tangan Warsini.

Gadis itu terkejut, mukanya menjadi merah sekali,akan tetapi mata yang indah itu bersinar girang dan bibirnya tersenyum.

Mereka lalu melangkah maju dengan bergandengan tangan!

Sulastri masih memandang ke depan, alisnya berkerut dalam karena kini dia teringat akan cerita kakek Kaloka.

Pemuda tampan berkumis!

Jangan-jangan pemuda tinggi tegap itu yang dimaksudkan!

Dan kini pemuda itu membayanginya, bahkan menghadang di depan seolah-olah ada niat tersembunyi terhadap dia, ah, tentu saja terhadap Warsini!

Mengingat akan ini, dia membayangkan mendiang Katmi, puteri Kaloka yang diperkosa sampai mati dan otomatis Sulastri merangkul pundak Warsini dengan sikap melindungi.

Melihat ini, Warsini menjadi makin merah mukanya, nafasnya terengah dan dia menggigit bibirnya sendiri.

Di balik batang pohon, Sutejo memandang dengan mata bersinar penuh kemarahan karena dia menduga bahwa sudah pasti pemuda tampan itu mempunyai niat yang tidak senonoh terhadap diri Warsini.

Kiranya pemuda itu menolong bukan berdasarkan prikemanusiaan, melainkan berdasarkan niatnya yang tidak senonoh terhadap gadis cantik itu.

Keparat!

Sutejo meloncat dan tahu-tahu berdiri di depan Warsini dan Sulastri dengan kedua tangan bertolak pinggang, mukanya merah dan matanya memancarkan kemarahan sehingga mata itu seperti berkilat.

Melihat sikap ini, Sulastri makin curiga dan dia mendorong Warsini ke belakangnya, kemudian melangkah maju, mengangkat dada, teringat bahwa hal itu akan membuat buah dadanya menonjol maka dia menarik lagi dadanya ke dalam..

"Eh,mau apa kau menghadang kami? Kenapa kau membayangi kami dan kini menghadang seperti seorang perampok?"

Sulastri menghardik.

"Dan kenapa kau membawa gadis itu ke dalam hutan?"

Sutejo balas bertanya,suaranya penuh tuduhan dan kemarahan. Sulastri kini memperhatikan kumis itu.

"Mau kubawa ke mana pun, apa perdulimu? Kau mau apa?"

"Mau mencegahmu membawa pergi gadis itu dan..."

"Apa?"

Sulastri membentak dan kini yakinlah dia bahwa pemuda tinggi tegap itu ternyata hendak merampas Warsini, tepat seperti yang diduganya.

"Jadi kau hendak merampas Warsini dari tanganku?"

Sutejo juga merasa yakin bahwa pemuda tampan ini benar-benar hendak menguasai Warsini, maka dia pun menjadi marah.

"Benar!"

Berikan gadis itu padaku!"

Tentu saja maksudnya agar pemuda tampan itu membebaskan Warsini. Ucapan ini membuat Sulastri makin marah.

"Ahh, sungguh kebetulan. Dicari-cari setengah mati belum tentu dapat berjumpa, kiranya engkau datang sendiri seperti ular pencari penggebuk. Kiranya engkau orang itu, ya?"

Sulastri mengangguk-angguk dan tersenyum mengejek. Tentu saja Sutejo menjadi terheran-heran.

"Apa maksudmu?"

Tanyanya karena dia sungguh tidak mengerti apa yang dimaksudkan dengan ucapan itu.

"Kiranya engkau bedebah itu dan selagi arwah Katmi masih penasaran dan berkeliaran, engkau sudah mencari korban baru lagi, ya?"

Sutejo makin bengong dan ia memandang Sulastri penuh perhatian. Gilakah pemuda ini? Mungkin! Pemuda yang luar biasa tampan, galak dan ceriwis ini mungkin saja gila! "Apakah engkau gila?"

Tanyanya. Tentu saja pertanyaan ini sama saja dengan mencubit hidungnya, membuat Sulastri marah bukan main.

"Jangan pura-pura. Engkau tampan, dan engkau berkumis!"

Sutejo meraba kumisnya, kumis tipis yang baru tumbuh belum lama ini.

"Memang aku berkumis, mengapa?"

Tanyanya, agak tersinggung juga karena kumisnya dianggapnya indah dan pantas.

"Tapi tidak ada tahi lalat... hemm, tentu kau sudah buang tahi lalat itu atau kau tutupi dengan bedak..."

Sutejo memandang penuh perhatian, lalu menggeleng-geleng kepalanya.

"Sayang,engkau benar-benar telah gila. Dan engkau gila karena watakmu yang tidak senonoh."

"Eh, orang gila memaki gila, orang cabul memaki orang lain tidak senonoh."

"Tentu saja engkau tidak senonoh. Engkau membawa gadis itu ke dalam hutan dan merayunya, dengan maksud apa lagi kalau bukan maksud cabul dan tidak senonoh?"

Sutejo mengepal tinjunya.

"Sejak tadi aku membayangimu. Setelah berhasil melepaskan diri dari kepungan, engkau sengaja melarikan gadis ini ke hutan. Mengapa ke hutan? Karena engkau hendak menghindar dari aku, karena engkau ingin berdua saja dengan gadis ini, untuk merayunya. Akan tetapi jangan kira engkau akan mudah saja melakukan perbuatanmu yang terkutuk itu selama di dunia ini masih ada Sutejo!"

"Siapa itu Sutejo!"

"Aku!"

Tiba-tiba Sulastri tertawa dan cepat dia menutupi mulutnya.

Ucapan pemuda tinggi tegap itu telah membuka matanya bahwa dia salah duga, bahwa tidak mungkin pemuda ini yang memperkosa Katmi dan tahulah dia sekarang mengapa pemuda yang bernama Sutejo ini tadi membayanginya dan bersikap demikian mencurigakan.

Kiranya justru pemuda itu yang mencurigai dia, mengira dia hendak melakukan kekurangajaran terhadap Warsini!

Mana mungkin seorang dara seperti dia melakukan perbuatan terkutuk terhadap seorang gadis lain seperti Warsini?

"Jadi namamu Sutejo?"

"Ya, dan kenapa kau tertawa seperti setan?"

"Apa kau tidak tanya namaku?"

"Hemm, siapa namamu?"

"Namaku Bromatmojo!"

"Bocah dari Bromo! Hemm, namamu aneh, seperti orangnya. Akan tetapi kenapa kau tertawa?"

"Karena geli mendengar bahwa kau menduga aku hendak berbuat yang bukan-bukan terhadap dia ini."

Sulastri menuding ke arah Warsini yang berdiri menundukkan muka di belakangnya.

"Tentu saja aku menduga demikian! Kau bilang bahwa kau hendak menyerahkan dia kepada seorang sahabatmu untuk menjadi anaknya, akan tetapi kenapa kau membawanya ke dalam hutan?"

"Aku membawanya ke hutan, atau ke lautan atau ke mana pun juga apa sih hubungannya dengan kau? Mengapa kau perduli amat?"

"Karena aku tidak ingin melihat engkau melakukan perbuatan terkutuk..."

"Apa perdulimu aku melakukan perbuatan apa pun?"

"Maksudku, aku tidak ingin melihat gadis ini menjadi korban kebiadabanmu."

Tiba-tiba Warsini melangkah maju dan berkata kepada Sutejo.

"Raden, harap paduka jangan salah sangka. Saya merasa yakin bahwa raden ini... Raden Bromo..."

"Eh, jangan disingkat begitu, Bromo kan nama dewa atau nama bukit!"

Sulastri menegur dan Sutejo menutupi mulutnya menahan tawa.

"Namaku Bromatmojo!"

"Ah, maaf, Raden Bromatmojo bukanlah orang yang begitu rendah wataknya, dan saya... saya sudah percaya sepenuhnya... dan saya pun rela dibawa ke mana pun juga."

Sulastri memandang Sutejo dengan sikap seperti anak kecil yang menang.

"Nah,katakan lagi apakah aku seorang yang hendak melakukan perbuatan terkutuk? Kau ini memang kurang ajar sekali. Baru bertemu pertama kali saja sudah menuduh aku perampok pengantin, sekarang menuduh hendak melakukan perbuatan biadab. Hem,kalau saja kau mempunyai tahi lalat di pipi kirimu, tentu sekarang juga sudah kuhancurkan kepalamu!"

Sutejo mengerutkan alisnya.

"Mendengar omonganmu, siapa pun tentu akan menduga bahwa engkau sinting. Dan biar pun gadis ini sudah terpengaruh oleh rayuanmu, akan tetapi tentu saja aku curiga karena kalau kau hendak memberikan dia kepada seorang sahabatmu untuk diambil anak, mengapa ke dalam hutan?"

"Tentu saja, tolol! Orang itu memang tinggalnya di tengah hutan! Wah, goblok benar engkau!"

Sulastri berseru penuh kemengkalan hati.

"Di dalam hutan?"

"Ya, dan sudah dekat tempatnya. Hayo kau ikut kalau tidak percaya!"

Sulastri memang ingin mempertemukan Sutejo dengan Kaloka, kalau-kalau memang benar pemuda ini yang dulu memperkosa Katmi.

Berangkatlah mereka ke dalam hutan dan ketika tiba di tengah hutan, Sulastri mengajak mereka menghampiri sebuah pondok kayu di tengah hutan.

"Paman Kaloka...!"

Dari jauh dia memanggil.

Seorang laki-laki muncul dari pondok itu dan Sulastri memperoleh kenyataan dengan hati girang bahwa Kaloka kini berbeda dengan ketika dia temui pertama kali.

Kini pakaiannya tidak awut-awutan seperti dulu lagi, bahkan wajahnya bersih dan kelihatan sebagai seorang setengah tua yang baik-baik.

"Oh, Raden Bromatmojo...!"

Katanya dan dengan cepat dia menghampiri mereka,memandang kepada Warsini dan kepada Sutejo dengan penuh perhatian dan dengan sinar mata terheran-heran.

Sulastri memperhatikan sikap Kaloka dan hatinya kecewa.

Agaknya orang tua itu tidak mengenal Sutejo!

"Paman, apakah engkau tidak mengenal pemuda ini?"

Tanyanya. Kaloka memandang kepada Sutejo penuh perhatian, lalu menggeleng kepala.

"Belum pernah saya bertemu dengannya."

"Dia berkumis..., ingat paman?"

Kaloka menggeleng kepala .

"Memang dia berkumis, akan tetapi kumisnya tidak setebal si tahi lalat itu dan wajahnya pun berbeda, juga raden ini lebih tinggi..."

"Wah, sayang,"

Sulastri berkata dan memandang gemas kepada Sutejo yang tersenyum mengejek.

"Apa yang kalian bicarakan aku tidak mengerti, akan tetapi sekali ini engkau patut mendapatkan hidung panjang, Bromo, karena sembarangan menuduh orang!"

Kata Sutejo yang sengaja menyebut Bromo untuk mengejek. Sulastri hendak mengamuk, akan tetapi karena dia memang merasa salah sangka, dia hanya melotot dan dia lalu berkata kepada Kaloka.

"Paman, aku datang untuk menyerahkan gadis ini kepada paman sebagai pengganti Katmi."

Dia lalu menceritakan riwayat Warsini dan akhirnya berkata.

"Paman telah kehilangan Katmi,dan Warsini tidak mempunyai sanak kadang lagi, maka paman mendapatkan seorang pengganti sebagai puteri paman, sedangkan Warsini pun kini ada seorang ayah yang dapat melindunginya dan tidak akan memaksanya kawin dengan seorang tua bangka. Bagaimana pendapat kalian, paman Kaloka dan kau, Warsini?"

Kaloka memandang kepada Warsini dan ketika mendengar riwayat gadis itu, tadi pun dia telah merasa kasihan dan suka.

"Kalau... kalau dia sudi menjadi anakku... tentu saja akan kulindungi dia dengan taruhan nyawaku dan akan kujadikan dia anakku yang berbahagia."

"Dan kau, Warsini?"

Warsini mengangkat muka memandang Sulastri dan matanya menjadi basah. Kemudian dia menunduk dan berkata lirih.

"Telah saya katakan bahwa saya menurut segala kehendak paduka, raden."

"Bagus kalau begitu. Paman Kaloka, setelah engkau memperoleh seorang anak sebagai pengganti Katmi, apakah engkau akan membiarkan anakmu hidup di tengah hutan seperti ini?"

Tanya Sulastri memancing, sedangkan kini Sutejo memandang Sulastri dengan sinar mata lain, lenyaplah semua keraguannya dan kini dia memandang dengan sinar mata kagum.

Biar pun galak, suka memaki, dan sikapnya ceriwis, ternyata pemuda tampan ini benar-benar seorang pendekar yang gagah dan berbudi!

"Ah, tentu saja tidak, raden!

Tentu saja saya tidak ingin melihat anak saya hidup seperti ini, seperti binatang buas di hutan.

Saya akan kembali ke dusun saya di Turen di mana saya masih mempunyai rumah dan mempunyai harta.

Saya akan hidup biasa lagi dan hidup berbahagia dengan anak saya nini Warsini!"

"Nah, lega hatiku, paman Kaloka. Sekarang aku minta diri, aku harus melanjutkan perjalananku."

"Selamat jalan, raden dan semoga para dewata melindungi paduka. Paduka telah menyadarkan saya, dan bukan itu saja, paduka telah menghidupkan lagi saya dengan mencarikan seorang pengganti Katmi bagi saya. Terima kasih, raden, terima kasih..."

Dan Kaloka menggunakan punggung kepalan tangannya untuk mengusap dua tetes air mata dari pipinya.

"Warsini, aku pergi. Yang baik-baik kau berbakti kepada ayahmu. Dia seorang yang baik, dan boleh diandalkan."

Warsini hanya menangis dan menutupi mukanya dengan kedua tangan, sesenggukan.

Sulastri menoleh kepada Sutejo, tersenyum mengejek dan tanpa berkata apa-apa dia meninggalkan tempat itu.

Sejenak Sutejo termangu-mangu, merasa serba salah, kemudian dia pun mengangguk kepada Kaloka dan kepada Warsini yang masih menangis, dan dia pun melangkah pergi.

"Raden Bromatmojo...!"

Warsini berlari-lari menghampiri Sulastri yang sudah agak jauh. Sulastri berhenti dan membalikkan tubuhnya, sedangkan Sutejo juga berhenti agak jauh memandang tanpa mengeluarkan kata-kata.

"Raden...!"

Sulastri terkejut ketika melihat Warsini menubruk kedua kakinya dan menangis sesenggukan sambil merangkul kedua kakinya.

"Raden...paduka meninggalkan saya dan... dan... entah kapan dapat bertemu kembali..."

Sulastri melirik ke arah Sutejo yang menonton dengan sikap tertarik sekali.

Sulastri lalu membungkuk, memegang kedua pundak Warsini dan menariknya berdiri.

Dengan sikap mesra dia menyingkap rambut yang mawut itu dari wajah yang basah air mata, lalu tersenyum dan berkata lembut.

"Warsini, ada waktunya bertemu tentu ada waktunya berpisah. Jangan kau berduka, karena aku yakin benar dengan kebaikan hati paman Kaloka. Engkau boleh melegakan hatimu karena engkau memperoleh seorang ayah yang baik sekali. Dan aku berjanji bahwa aku tidak akan melupakan engkau, cah ayu, dan kelak, tentu aku akan singgah di rumahmu."

"Be... benarkah... paduka tidak akan melupakan saya?"

"Ahhh..."

Sulastri kembali melirik ke arah Sutejo yang menonton dengan alisnya yang tebal itu berkerut.

"Bagaimana bisa melupakan seorang gadis manis seperti engkau, Warsini? Nah, selamat berpisah, cah ayu."

Sulastri lalu mendekatkan mukanya dan sambil melirik ke arah Sutejo, dia mengambung pipi kiri Warsini dengan hidungnya dengan mesra.

Warsini masih berdiri dengan mata terbelalak, mukanya merah sekali dan tangannya mengusap-usap pipi kirinya ketika Sulastri sudah berkelebat dan berjalan cepat meninggalkan tempat itu, diikuti oleh Sutejo.

Tiba-tiba dia merasa pundaknya disentuh tangan dari belakang dan terdengar suara Kaloka.

"Anakku, memang Raden Bromatmojo seorang yang gagah perkasa dan patut kau puja dalam hatimu. Akan tetapi, aku melihat dia itu masih muda sekali sehingga agaknya hatinya belum dapat tersentuh oleh rasa kasih seorang wanita, anakku."

"Tenanglah, anakku, tenangkan hatimu. Hidup memang selalu penuh kekecewaan bagi orang yang banyak mengharap. Jangan engkau mengharapkan sesuatu yang kiranya tidak akan terjangkau olehmu, anakku. Mari, kita pergi ke Turen dan di sana engkau akan hidup sebagai anakku yang tersayang, dan sebagai anakku tidak ada seorang pun yang akan memaksamu melakukan sesuatu di luar kehendakmu."

Kaloka lalu mengajak anak angkatnya itu pergi meninggalkan hutan, menuju ke Turen untuk memulai hidup baru, di mana Warsini hidup sebagai seorang gadis yang terlindung oleh seorang ayah yang benar-benar mencintainya dan ingin melihat dia hidup bahagia.

Sampai lama mereka berjalan cepat tanpa mengeluarkan suara.

Sulastri maklum bahwa pemuda itu berjalan di belakangnya, akan tetapi dia mengambil sikap pura-pura tidak tahu sampai mereka tiba di luar hutan, karena dianggapnya bahwa mereka hanya akan bersama-sama ke luar dari hutan itu.

Akan tetapi setelah keluar dari hutan itu dan dia membelok ke barat, pemuda itu pun masih terus mengikuti di belakangnya.

Sulastri berhenti dan menengok, bertolak pinggang.

"Eh, Tejo! Mau apa kau mengikuti aku terus?"

Dia melihat betapa wajah pemuda tinggi tegap yang gagah itu merah dan sinar matanya berkilat.

"Bromo aku mengikutimu untuk mengatakan penasaran yang terpendam di hatiku.

"Hemm, penasaran terhadap siapa?"

"Terhadap andika, Bromo!"

"Eh, eh, kalau begitu coba katakan! Penasaran apakah itu?"

"Bromo, ingin sekali aku mengatakan bahwa engkau adalah seorang pemuda yang ceriwis, tak tahu malu, mata keranjang dan kurang ajar! Nah, puas sudah hatiku!"

Wajah yang halus tampan itu menjadi merah, sepasang mata yang bening tajam itu bersinar-sinar.

"Dan engkau seorang pemuda yang gila dan tolol! Kenapa tiada hujan tiada angin kau memaki-maki orang? Kalau memang kau berani, majulah dan jangan banyak mulut memaki orang!"

"Eh, eh, kau menantang? Kau kira aku tidak berani melawan seorang pemuda ringkih,kecil kurus macam engkau?"

Sutejo makin marah karena memang hatinya sudah gemas sekali melihat sikap Bromatmojo itu, apalagi ketika dia tadi melihat keadaan Warsini yang begitu mengenaskan hati, ditinggal pergi oleh pemuda tampan itu setelah menaklukkan hatinya.

Dia melangkah maju dengan kedua tangan dikepal.

"Sombongnya!"

Kau belum mengenal kedigdayaan anak gunung Bromo, ya?"

"Bromo bocah kementus! Kalau aku tidak bisa mengalahkan engkau, jangan panggil lagi aku Sutejo!"

"Heeeeiiiittt...!!"

Sulastri sudah memekik dengan suara melengking, lalu dia secepat kilat sudah menerjang ke depan, melancarkan pukulan kepalan tangan kiri ke arah lambung Sutejo sedangkan tangan kanannya menampar ke arah kepala.

"Aiiiihhhh...!!"

Sutejo juga melengking dan menggerakkan kaki tangannya,menangkis dua pukulan itu dengan kedua tangan.

"Dukk! Plaakk!!"

Dua pasang lengan bertemu dan keduanya terdorong ke belakang saking kuatnya tenaga lawan.

Diam-diam Sulastri terkejut.

Dia tadi telah mengerahkan tenaganya untuk menguji pemuda ini dan ternyata tangkisan pemuda itu membuat dia terdorong ke belakang.

Diam-diam dia merasa kagum sekali.

Di lain pihak, Sutejo kagum dan kaget.

Biar pun dia telah mempergunakan tiga perempat tenaganya untuk menangkis, tetap saja dia terdorong mundur, tanda bahwa tenaga pemuda ceriwis ini hampir mengimbangi tenaganya sendiri.

Sulastri yang terkejut dan kagum itu juga merasa penasaran dan marah.

Dia lalu memekik lagi dan kini dia melancarkan serangan bertubi-tubi yang dilakukan dengan gerak cepat!

Tubuhnya berkelebat seperti seekor burung srikatan menyambari capung, cepat bukan main dan setiap pukulannya mengandung tenaga dasyat.

Namun Sutejo juga sudah mempercepat gerakannya dan setiap kali menangkis atau mengelak, dia tentu membalas dengan satu serangan sehingga terjadilah pukul-memukul, tangkis-menangkis dan tendang-menendang antara dua orang muda yang sama tangkas dan sama kuatnya itu.

Setelah puluhan jurus lewat dan dia belum juga mampu menyentuh tubuh lawan, Sulastri menjadi gemas bukan main.

"Hiaaatttt...!!"

Dia melengking panjang dan kini gerakannya berubah, kedua tangannya melakukan serangan yang amat hebat sehingga dari kedua tangan itu datang angin menyambar-nyambar dahsyat.

Kiranya dalam keadaan penasaran dan marah, dia telah mengeluarkan ilmu pukulan yang dipelajarinya dari Ki Jembros dan yang oleh Empu Supamandrangi dianggap sebagai ilmu yang keji dan terlalu dahsyat.

Akan tetapi diam-diam di puncak Gunung Bromo itu, Sulastri malah memperdalam ilmu pukulan ini, yang dinamakan Hasto Bairowo (Tangan Dahsyat).

"Ehhh!!"

Sutejo terkejut bukan main karena tahu bahwa sekali ini lawannya benar-benar mengeluarkan ilmu yang amat hebat dan dua buah tangan yang jari-jari tangannya terbuka itu, jari-jari yang kecil dan kelihatan lemah, merupakan tangan-tangan maut yang amat berbahaya.

Maka dia pun lalu menggetarkan kedua lengannya, mengerahkan aji kesaktiannya, yaitu Ilmu Kolocokro yang dahsyat pula dan ketika dia menggerakkan kedua tangan yang telah mengandung Ilmu Kolocokro ini, nampak uap putih mengepul dari kedua telapak tangannya.

Hebat bukan main pertempuran itu kali ini.

Dua pasang tangan yang sama-sama mengandung getaran tenaga mujijat itu jika bertemu menggetarkan pohon-pohon di sekeliling mereka dan keduanya tentu terhuyung ke belakang.

Sulastri yang merasa betapa ada hawa panas memasuki tubuhnya melalui lengannya yang bertemu dengan lengan lawan, merasa terkejut bukan main.

Beberapa kali dia merasa lengannya panas dan setengah lumpuh ketika dia terhuyung ke belakang.

Maklumlah dia bahwa sesungguhnya pemuda ini benar-benar amat digdaya.

Akan tetapi dia masih belum mau menerima kalah.

Ketika mendapat kesempatan, tangan kirinya menampar dengan pengerahan tenaga sakti Hasto Nogo.

Memang hebat bukan main tamparan tangan dengan tenaga mujijat ini.

Terdengar suara keras ketika Sutejo menangkis dan sekali ini pemuda tinggi tegap inilah yang terhuyung sampai beberapa langkah.

Dia memandang dengan mata terbelalak dan Sulastri tersenyum puas karena sedikitnya dia telah mampu membalas dan mengejutkan pemuda itu.

Pada saat itu terdengar suara berisik dan muncullah banyak sekali orang mengurung tempat itu.

Mereka adalah orang-orang yang membawa senjata dan dikepalai oleh dua orang laki-laki setengah tua yang bertubuh tinggi besar.

Orang-orangnya pak lurah Jati!

"Nah, inilah mereka!"

"Tangkap!"

"Bunuh!"

Sulastri dan Sutejo saling pandang dan dalam pertemuan pandang mata sebentar itu, terhapuslah semua kemarahan di antara mereka dan terjalin persetujuan tanpa kata untuk menghadapi bahaya ini bersama-sama.

Seperti mendapat komando, dua orang muda itu lalu menerjang ke kanan dan ke kiri dan mengamuklah mereka dikeroyok oleh puluhan orang.

Kalau tadi mereka saling serang dalam pertandingan, kini mereka agaknya berlomba untuk menang banyak dalam merobohkan para pengeroyok!

Segera terdengar teriakan-teriakan kesakitan dan senjata-senjata golok, pedang,tombak dan penggada beterbangan jatuh disusul tubuh pemiliknya.

Dua orang setengah tua itu kini sudah menerjang Sulastri dan Sutejo dan ternyata mereka ini bukan orang-orang sembarangan, pandai pula dalam ilmu berkelahi sehingga dua orang muda itu kini bertemu tanding.

Akan tetapi, dua orang setengah tua itu segera terdesak hebat dan andaikata mereka tidak dibantu oleh banyak orang,tentu mereka sudah roboh oleh dua orang muda yang sakti itu.

Hampir semua pengeroyok telah mengalami jatuh bangun dan setelah kakek pertama remuk tulang pundaknya kena hantaman tangan Sutejo sedangkan kakek ke dua hancur daun telinga kanannya kena disambar pukulan Hasto Nogo dari tangan Sulastri,akhirnya dua orang kakek itu terpaksa melarikan diri diikuti oleh anak buah mereka yang menyeret kawan-kawan yang terluka dan tidak mampu jalan sendiri.

Sulastri dan Sutejo hanya berdiri bertolak pinggang mengikuti mereka dengan pandang mata sambil tersenyum dan tidak mengejar.

Setelah para pengeroyok itu pergi semua dan suara mereka tidak terdengar lagi, barulah mereka kini membalikkan tubuh dan saling berhadapan lagi.

Akan tetapi segala nafsu saling serang sudah lenyap dari pandang mata mereka.

"Kita lanjutkan pertandingan kita?"

Sulastri menantang akan tetapi suaranya meragu karena dalam perkelahian keroyokan tadi, beberapa kali Sutejo melindunginya dengan merobohkan orang-orang yang menyerangnya dari belakang,sungguh pun dia sama sekali tidak membutuhkan perlindungan ini.

Juga tadi dia melihat pemuda itu terhuyung karena kakinya keserimpet akar pohon, telah meloncat dan merobohkan dua orang lawan yang menubruk pemuda itu.

Mereka telah bertanding melawan pengeroyokan musuh bersama, saling bantu, tentu saja Sulastri merasa tidak enak kalau kini mereka harus saling gempur sendiri!

Sutejo saling menggeleng kepala.

"Bromo, aku telah bersikap kasar kepadamu. Ternyata engkau seorang pemuda yang gagah perkasa yang patut menjadi sahabatku. Kalau kau masih penasaran, kau boleh pukul aku dan aku tidak akan membalas."

"Akulah yang salah! Engkau seorang pemuda perkasa yang baik, Sutejo, hanya engkau bodoh."

Sutejo menundukkan mukanya.

"Aku tentu lebih tua daripada engkau, akan tetapi agaknya engkau memang lebih pintar daripada aku, lebih pintar dalam segala-galanya!"

Sulastri tersenyum.

"Ah, engkau terlalu memuji. Dalam hal kesaktian, kalau dilanjutkan pertandingan kita, akhirnya aku pasti akan kalah."

"Sudahlah, kita belum ada yang kalah atau menang. Yang pasti, kita telah berhasil memukul mundur kaki tangan lurah Jati dan kita telah bantu-membantu,jadi kita bukanlah musuh karena tidak ada hal yang membuat kita saling bermusuhan."

"Kalau begitu kita menjadi sahabat?"

"Kalau kau suka..."

"Tentu saja! Siapa tidak suka bersahabat dengan seorang pemuda gagah perkasa seperti engkau, Tejo? Akan tetapi agar tidak ganjalan di antara kita sebagai sahabat, aku masih ingin tahu mengapa tadi engkau memaki aku sebagai pemuda ceriwis, tak tahu malu, mata keranjang dan kurang ajar?"

"Ah, kau maafkan kata-kataku tadi, Bromo."

"Memang sudah kumaafkan, hanya aku akan terus merasa penasaran kalau belum kau jelaskan mengapa kau mengatakan seperti itu. Siapa tahu, aku betul-betul seperti yang kau katakan itu! Nah, secara hati terbuka, jelaskanlah, Tejo, aku tidak akan marah."

Sutejo menarik napas panjang.

Dia kagum kepada Bromatmojo karena dari cara pemuda tampan tadi bertempur melawan peneroyokan musuh, dia memperoleh kenyataan bahwa memang pemuda tampan ini amat hebat sepak terjangnya, dan juga seperti dia pula, pemuda tampan ini tidak mau membunuh lawan.

Kalau dikehendaki dengan tamparan-tamparannya yang ampuh dan sakti, tentu dengan mudah Bromatmojo akan dapat membunuh banyak orang dalam pertempuran tadi.

Hal ini saja sudah menimbulkan rasa suka di dalam hatinya dan dia maklum bahwa pemuda ini pun seorang pendekar yang bukan orang jahat haus darah.

Akan tetapi, harus diakui pula bahwa pemuda ini terlalu tampan, terlalu ceriwis, dan terlalu cerewet!

"Baiklah, aku pun tidak ingin menyembunyikan semua perasaan hatiku kepada seorang sahabat.

Nah, dengarlah dan jangan marah seperti telah kau janjikan tadi.

Aku mengganggap engkau ceriwis karena sikapmu kepada Warsini terlalu mesra dan terlalu berani, aku mengatakan engkau tak tahu malu karena engkau telah membelai dan merayunya di depan orang lain, aku menganggap engkau mata keranjang karena engkau pandai memikat hati Warsini dan engkau kurang ajar karena engkau telah memperlihatkan cintamu akan tetapi engkau lalu meninggalkannya begitu saja sehingga hatinya menjadi tersiksa.

Nah, aku telah minta maaf, akan tetapi itulah isi hatiku tadi."

Sulastri tersenyum.

"Hemm, mengapa baru kau nyatakan tadi?"

"Karena aku makin tidak tahan ketika melihat engkau menciumnya."

Sulastri tertawa.

"Aaahh, kalau begitu itu berarti bahwa engkau iri dan cemburu,Tejo!"

Sutejo mengangkat mukanya tiba-tiba dan pipinya menjadi merah.

"Tidak mungkin! Aku sama sekali tidak iri atau cemburu!"

"Tejo, apakah engkau tidak ingin pula mencium pipinya yang halus?"

"Tidak sudi!!"

"Kalau begitu, benar makianku tadi bahwa engkau adalah seorang pemuda yang gila dan tolol!"

"Mengapa? Mengapa karena aku tidak sudi mencium pipi gadis kau maki gila dan tolol?"

"Tejo! Karena sudah sepatutnya gadis cantik dicium pria muda yang tampan seperti engkau!"

"Huhh!"

"Wanita adalah seperti kembang..."

"Hemm..."

"Cantik indah dan harum, tentu haus akan pujian seorang pria tampan dan akan merasa senang dan bangga sekali kalau dipuji dan dicium..."

"Bohong!"Wanita macam apa itu! Mau saja dicium oleh sembarang laki-laki?"

"Bukan sembarang laki-laki, melainkan pria yang disuka dan dipujanya tentu! Apakah engkau tidak suka mencium bunga yang cantik dan harum, Tejo?"

"Sudahlah! Aku tidak suka bicara tentang cium-mencium!"

"Akan tetapi pipinya halus sekali, keringatnya sedap dan kulitnya hangat..."

"Kau kurang ajar memang!"

"Aku menciumnya tadi dan kau melihat sendiri betapa dia tidak mengelak, tidak marah, dan aku tidak memaksanya."

"Memang dia telah tergila-gila kepadamu karena kepandaianmu merayu. Akan tetapi engkau lalu meninggalkannya begitu saja, bukankah kau kejam sekali? Betapa akan hancur hatinya."

"Andaikata engkau yang menjadi aku..."

"Tidak mungkin. Aku bukan perayu wanita!"

"Benarkah engkau belum pernah mencium wanita, Tejo?"

"Hushh! Ceriwis kau! Tentu saja belum."

"Dan dalam mimpi pun belum?"

Sutejo menggeleng kepalanya.

"Benar-benar belum pernah mimpi mencium wanita?"

Sulastri mendesak.

Sutejo termenung.

Tentu saja sebagai seorang pemuda yang usianya sudah sembilan belas tahun, dia pernah membayangkan seorang puteri yang cantik dan menarik hatinya.

Akan tetapi dengan nekat dia menggeleng.

"Jadi engkau belum pernah mencinta wanita?"

"Belum. Sudahlah, kau cerewet benar sih?"

Hening sejenak dan Sulastri agak cemberut.

Sutejo pun diam ketika melihat temannya cemberut, agak menyesal mengapa dia memakinya cerewet.

Sebagai seorang sahabat baru agaknya Bromatmojo ini ingin sekali mengetahui segala hal tentang dirinya.

Hal itu lumrah, mengapa dia marah-marah dan memakinya cerewet?

"Bromo maafkan aku..."

"Kenapa minta maaf? Untuk apa?"

"Karena aku mengatakan engkau cerewet. Sesungguhnya, kalau bicara tentang hal lain aku akan suka sekali. Akan tetapi tentang wanita..., hemm, aku... aku belum ada waktu untuk memperhatikan wanita."

"Kenapa belum ada waktu?"

"Karena... hemm, agaknya aku tidak suka kepada wanita!"

"Wah-wah sombongnya manusia ini!"

Sutejo terheran-heran melihat Bromatmojo seperti orang yang marah.

"Jadi engkau ini seorang pemuda yang alim, ya? Seorang pertapa yang tahan uji, yang suci dan alim."

"Bukan pertapa tapi... ah, sudahlah, mungkin juga alim!"

"Hemm..., pemuda Sutejo yang gagah perkasa, yang tampan dan ganteng, dia membenci wanita."Sulastri kini duduk di atas akar pohon dan Sutejo juga duduk di atas sebuah batu tak jauh dari situ.

"Aku tidak bilang membenci,"bantahnya sambil menoleh.

"Tidak ada bedanya. Kau bilang tidak suka, itu berarti benci. Tejo, aku yakin sekali bahwa engkau..."

"Ya? Teruskan!"

"Kelak kalau bertemu dengan seorang gadis yang berkenan di hatimu, engkau akan bertekuk lutut menyembahnya, mengharapkan cinta kasihnya..."

"Tak mungkin!"

"Dan wanita itu akan melihat ketololanmu, kesombonganmu, dan dia akan mencemoohkanmu."

"Biar saja! Aku tidak butuh dengan dia."

"Aku sendiri pun muak melihat sikapmu."

"Ehhh?"

Sutejo membalik dan mendekati.

"Kenapa sih engkau ini?"

Dengan muka merah dan mulut cemberut, Sulastri menjawab tanpa menoleh.

"Habis,engkau begitu sombong, seolah-olah engkau seorang pria yang paling hebat, yang suci murni, yang tidak membutuhkan wanita, yang memandang rendah wanita. Hati siapa tidak akan menjadi muak melihatmu?"

Sutejo tertawa dan memegang pundak Sulastri, akan tetapi tentu saja dara ini tidak membiarkan pundaknya dipegang dan dia cepat mengelak dan menangkis lalu meloncat berdiri.

"Eh, eh, engkau marah benar, Bromo? Sudahlah, aku minta maaf. Aku lupa betapa engkau amat mengagungkan wanita. Engkau seorang pembela wanita agaknya. Nah,biarlah aku minta maaf kepadamu."

"Tidak, sebelum engkau menarik kembali omonganmu."

"Omongan yang mana? Tadi begitu banyak."

"Bahwa engkau membenci wanita dan tidak butuh wanita."

"Hemm, baiklah. Memang ucapanku tadi mungkin terlanjur. Aku tidak membenci wanita, dan siapa tahu... mungkin saja kelak aku membutuhkan wanita... eh, tapi aku sungguh tidak mau kalau dikatakan bahwa aku mata keranjang seperti..."Sutejo menahan kata-katanya karena tidak ingin dia membikin marah lagi hati kawannya yang agaknya selain ceriwis juga mudah naik darah ini.

"Seperti aku?"Sulastri tertawa dan hati Sutejo menjadi lega.

"Biarlah, biar aku mata keranjang dan kau pertapa alim. Eh, Tejo, sebenarnya engkau dari manakah? Dan hendak ke mana?"

Melihat perubahan yang demikian cepatnya, Sutejo terheran.

Baru saja marah-marah sekarang telah memperlihatkan sikap manis sekali, sikap manis dan ramah penuh rasa persahabatan.

Dia pun duduk di atas akar berhadapan dengan sahabat barunya akan tetapi yang dirasakannya seperti telah dikenalnya bertahun-tahun.

Betapa tidak?

Dengan sahabat yang baru dijumpainya kemarin ini dia telah berkelahi,saling serang mati-matian, kemudian saling membela ketika dikeroyok, dan sudah cekcok sampai ribut pula!

Betapa anehnya!

Maka timbul kepercayaan yang luar biasa di dalam hatinya terhadap sahabat ini dan Sutejo pun menceritakan semua riwayatnya.

Betapa sembilan tahun yang lalu ibunya diperkosa di depan matanya oleh Progodigdoyo, kemudian rumah terbakar dan kakak perempuannya, Lestari, entah bagaimana nasibnya.

"Si jahanam busuk! Manusia iblis macam itu harus kuhancurkan kepalanya!"

Sulastri sudah meloncat berdiri dan mengepalkan tinjunya, mengamang-amangkan tinju kanannya di atas seolah-olah pada saat itu Progodigdoyo sudah berdiri di depannya! (Lanjut ke

Jilid 13) Kemelut Di Majapahit (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 13 Sutejo kembali terbelalak keheranan melihat sikap Bromatmojo itu dan diam-diam ada rasa terima kasih yang besar di dalam hatinya terhadap pemuda yang kelihatannya masih remaja ini.

"Memang dia seorang manusia yang jahat sekali, Bromo. Sebelum itu, ayahku juga tewas karena kecurangannya, padahal ayah adalah teman seperjuangannya. Dia membunuh ayah dengan tusukan dari belakang dan semua itu dilakukannya untuk merebut ibuku."

Sulastri menghampiri Sutejo dan menaruh tangan kanannya di atas pundak pemuda itu.

"Jangan khawatir, Tejo. Aku akan membantumu sampai engkau berhasil membalas jahanam keparat itu. Sungguh engkau seorang yang amat malang..."

Sutejo memegang tangan yang berada di atas pundaknya itu dan sejenak mereka berada dalam keadaan demikian.

Kemudiaan Sulastri menarik tangannya dan mundur,duduk kembali ke atas akar pohon di depan pemuda itu.

"Lalu bagaimana, Tejo? Engkau pingsan di dalam rumahmu yang terbakar..."

"Agaknya Yang Maha Kuasa masih melindungiku, Bromo. Aku sempat diselamatkan oleh kakek guruku sendiri, guru dari mendiang ayahku, yaitu eyang guru Panembahan Ciptaning yang bertapa di lereng gunung Kawi. Aku lalu menjadi murid eyang sampai sekarang, dan baru saja aku diperkenankan turun gunung dan bertemu denganmu di tepi sungai itu."

"Ah, kasihan sekali nasibmu, Tejo. Entah bagaimana dengan nasib mbakayumu itu."

"Aku akan mencarinya, Bromo. Mudah-mudahan dia masih hidup."

"Jangan khawatir, aku akan membantumu, Tejo. Di mana sih dusun tempat tinggalmu itu?"

"Dusun Kembangsri dekat Tuban."

"Ah, kalau begitu kita masih satu daerah! Aku berasal dari dusun Gedangan dekat sungai Tambakberas, juga daerah Tuban!"

"Hemm, dan sekarang orang tuamu masih tinggal di sana, Bromo?"

"Orang tuaku?"

Sulastri menunduk.

"Di dunia ini hanya mempunyai tiga orang, yaitu ayah ibu, dan mbakayuku. Akan tetapi ketiganya itu sudah meninggal semua."

"Ahhh! Maaf... ah, Bromo, engkau kasihan kepadaku, akan tetapi kau sendiri..., betapa sama nasib kita. Engkau sebatang kara, dan aku pun juga!"

"Tidak sama benar, Tejo. Engkau mempunyai penasaran besar, ayahmu, ibumu, dan mbakayumu juga mungkin dibunuh orang. Akan tetapi aku tidak mempunyai musuh tertentu, kecuali dua orang yang telah menghina jenazah mbakayuku, dan majikan mereka."Sulastri yang juga merasa akrab sekali dengan Sutejo, telah menaruh kepercayaan besar, lalu menceritakan riwayatnya, betapa mbakayunya bela pati atas kematian Adipati Ronggo Lawe yang dicintanya, kemudian betapa dia ditolong oleh Ki Jembros yang kemudian menjadi gurunya selama lima tahun.

"Ki Jembros? Pantas engkau amat digdaya, kiranya engkau murid Ki Jembros. Eyang guruku, Panembahan Ciptaning, pernah menyebut nama Ki Jembros sebagai orang yang gagah perkasa yang sakti. Di mana beliau sekarang?"

"Entahlah, dahulu kami berpisah di Pegunungan Pandan, guruku menyuruh aku pergi ke tempat pertapaan eyang guru Supamandrangi di puncak gunung Bromo sedangkan dia sendiri tinggal bersama paman Juru Demung, Gajah Biru dan lain-lain paman yang melarikan diri dari Mojopahit."

"Jadi akhirnya engkau berguru kepada Empu Supamandrangi?"

Tanya Sutejo.

"Ya, empat tahun lamanya dan sekarang aku diperbolehkan turun gunung untuk mencari Kolonadah."

"Kolonadah?"

"Ya, keris kepunyaan mendiang Adiapati Ronggo Lawe, ciptaan eyang guru Supamandrangi. Menurut eyang, keris itu diciptakan untuk seorang raja, maka harus kuambil pusaka itu dan harus kuserahkan kepada Pangeran Kolo Gemet putera sang prabu di Mojopahit."

Sutejo mengangguk-angguk.

"Hemm, tugasmu berat, Bromo. Apakah kau tahu di mana adanya keris pusaka Kolonadah itu?"

"Tentu saja! Akulah yang menyimpannya, akulah yang menguburnya."

"Menguburnya?"

Sutejo bertanya kaget.

"Belum kuceritakan tadi. Mbakayuku berbela pati atas gugurnya Adipati Ronggo Lawe dan mbakayuku melakukan suduk seliro (membunuh diri dengan keris)menggunakan keris pusaka Kolonadah milik adipati itu. Ketika aku mengubur jenazah mbakayuku, keris itu masih menancap di dadanya."

"Ahhh...!"

Sutejo memandang dengan mata terbelalak.

"Kalau begitu, tentu bisa saja diambil oleh orang lain."

Sulastri menggeleng kepala sambil tersenyum dan Sutejo yang sedang menatap wajahnya itu diam-diam mengakui bahwa pemuda ini benar-benar luar biasa tampannya, senyumnya benar-benar amat memikat.

Dia saja yang sama-sama pria merasa tertarik sekali, apalagi wanita!

Benar-benar wajah seorang pemuda yang amat "berbahaya"bagi seorang gadis.

"Tidak ada yang melihat ketika aku mengubur jenazah mbakayuku Sri Winarti. Tempatnya pun tersembunyi dan hanya aku seorang yang bisa mencari makamnya yang tidak ada tanda-tandanya sama sekali."

"Sembilan tahun yang lalu engkau tentu masih amat kecil..."

"Ketika itu aku berusia sembilan tahun."

"Dan kau sudah dapat melakukan itu. Hebat! Dan juga mbakayumu itu seorang wanita yang hebat. Tentu dia adalah isteri dari Adipati Ronggo Lawe, bukan?"

Sulastri menggeleng kepalanya.

"Bukan."

"Kalau begitu selirnya?"

"Juga bukan."

"Eh, kalau begitu, mengapa mbakayumu berbela pati atas gugurnya adipati itu?"

Sutejo bertanya, terheran-heran.

"Mbakayu dan aku pernah ditolong oleh Adipati Ronggo Lawe ketika kami diganggu perampok, dan karena pertolongan itu, mbakayu diam-diam jatuh cinta kepada sang adipati. Maka, melihat orang yang dicintanya itu gugur dalam peperangan itu,mbakayuku demikian berduka sehingga dia lari menghampiri dan membunuh diri di dekat jenazah Adipati Ronggo Lawe di tengah Sungai Tambakberas. Dengan susah payah aku menyelamatkan jenazah mbakayuku dan kumakamkan di tempat tersembunyi."

Sutejo menarik napas panjang.

"Betapa sama nasib kita. Engkau kehilangan orang tua dan satu-satunya kakakmu, demikian pula aku. Dan kita bertemu secara kebetulan sekali. Sembilan tahun yang lalu engkau berusia sembilan tahun,berarti kini usiamu delapan belas tahun, dan usiaku sembilan belas tahun. Aku lebih tua setahun. Eh adi Bromatmojo, bagaimana kalau kita saling bantu seperti kakak dan adik? Kita pun sudah saling bantu sejak bertemu pertama kali dan saling menceritakan riwayat seolah-olah tidak ada lagi rahasia di antara kita."

Hati Sulastri merasa terharu sekali.

Semenjak bertemu untuk pertama kali, dia sudah merasa kagum dan suka sekali kepada pemuda ini, pemuda yang tampan dan gagah perkasa, pemuda yang pemalu, pemuda yang canggung namun amat cekatan apabila menghadapi lawan.

Hampir dia melinangkan air mata ketika mendengar pemuda itu menyebutnya adi dan mengakuinya sebagai adiknya.

Akan tetapi cepat ditekannya perasaan hatinya dan dia menjawab sambil tersenyum.

"Terima kasih,kakang Tejo. Engkau memang seorang yang baik sekali. Akan tetapi, engkau mempunyai tugas mencari mbakayumu dan mencari musuh besarmu, sedangkan aku mempnyai tugas mencari keris pusaka Kolonadah lebih dulu, baru akan kucari dua orang keparat yang pernah menghina jenazah mbakayuku."

"Tidak mengapa, adi Bromo. Bukankah perjalanan ke dusunku di Kembangsri harus melewati tempat kau mengubur mbakayumu itu? Biarlah aku akan menemanimu mencari keris pusaka sampai dapat, baru aku akan pergi ke Kembangsri."

Berseri wajah Sulastri.

Tentu saja jauh lebih senang melakukan perjalanan dengan pemuda perkasa ini daripada sendirian saja, akan tetapi ada beberapa hal yang amat membingungkan hatinya, maka dia cepat berkata.

"Akan tetapi, kakang Tejo. Aku khawatir kalau kita melakukan perjalanan bersama, aku hanya akan menjengkelkan hatimu saja."

"Ah, mengapa begitu? Tentu saja tidak!"

Jawab Sutejo cepat-cepat.

"Karena aku mempunyai watak yang aneh. Aku kadang-kadang ingin menyendiri dan tidak mau ditemani orang, biar pun orangnya sebaik engkau, kakang. Terutama sekali aku tidak pernah tidur sekamar dengan orang lain, kalau ada temanku, aku tidak bisa tidur. Hal ini mungkin karena sudah kebiasaanku sejak kecil, yaitu tidur sendirian."

Sutejo tertawa.

Memang dia melihat sifat-sifat aneh pada pemuda tampan ini,terutama sekali wataknya yang sukar untuk diukur, kadang-kadang gembira, kadang-kadang galak, kadang-kadang baik sekali!

"Tenangkan hatimu, adi Bromo.

Aku pun bukan orang yang suka mengganggu teman, apalagi engkau yang seperti adikku sendiri.

Aku tidak akan mengganggu tidurmu."

Sulastri tersenyum dan menatap wajah yang tampan gagah itu dengan hati gembira.

"Terima kasih, kakang Tejo."

Maka berangkatlah mereka melanjutkan perjalanan menuju ke barat lalu membelok ke utara karena mereka ingin langsung pergi ke Sungai Tambakberas yang menjadi tapal batas antara Mojopahit dan Tuban.

Malam itu terang bulan.

Bulan purnama, bulat penuh dengan sinarnya yang keemasan mendatangkan suasana yang redup dan sejuk, dan hanya kadang-kadang saja bulan bersembunyi di balik segumpal awan tipis yang lewat seperti kucing-kucing berbulu tebal yang ingin membelai dan dibelai sejenak lalu pergi lagi.

Tepi Sungai Tambakberas itu rungkut, penuh dengan semak belukar yang tidak pernah dibersihkan oleh manusia.

Tempat itu merupakan sebuah hutan kecil yang lebat dan jarang didatangi manusia.

Suasana yang amat sunyi, ditimpa cahaya bulan, membuat tempat itu kelihatan serem dan angker.

Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 8

Baca Juga: Petualang Asmara 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert