Eps 5 Kemelut Di Majapahit - Kho Ping Hoo
Baca online Kemelut Di Majapahit - Kho Ping Hoo
Cersil Kemelut Di Majapahit - Kho Ping Hoo.
Demikian sunyinya tempat itu sehingga bunyi kelapak ikan yang melompat dari bawah permukaan air, untuk mencaplok sesuatu yang hanyut oleh air yang tenang itu, atau agaknya ikan-ikan yang bergembira hendak bercanda dengan cahaya bulan di atas air, sampai dapat terdengar dari dalam hutan kecil itu.
"Tidak salahkah engkau, adi Bromo? Benar di sini tempatnya?"tanya Sutejo yang sejak tadi berjongkok di dalam hutan itu bersama Sulastri, meneliti tempat di mana Sulastri sembilan tahun yang lalu telah mengubur jenazah Sri Winarti.
"Tidak, kakang. Di sinilah tempatnya. Aku ingat benar. Lihat pohon-pohon raksasa itulah yang menjadi tanda bagiku, dan ini... nah, ini lagi..."
Sulastri mengambil tombak-tombak patah yang terpendam di situ.
"Dengan tombak dan golok patah inilah dahulu aku menggali lubang untuk mengubur jenazah mbakayuku Narti..."
Suara Sulastri terhenti oleh keharuan yang mencekik leher.
"Kalau begitu, mari kita gali, adi Bromo,"
Kata Sutejo yang sudah menyiapkan cangkul untuk keperluan itu.
Memang mereka bersepakat untuk mencari keris pusaka itu di malam hari karena menurut Sutejo, bukan tidak mungkin kalau ada fihak lain yang juga menginginkan pusaka itu dan kalau mereka menggali di siang hari,banyak bahayanya akan ketahuan orang lain sehingga akan terdapat banyak gangguan dan halangan.
Tanpa kata-kata lagi, kedua orang muda itu lalu menggali lubang dengan cangkul.
Karena keduanya adalah orang-orang yang memiliki kepandaian dan tenaga sakti,pula mereka kini menggunakan cangkul, tentu saja pekerjaan itu dilakukan dengan mudah dan cepat sekali, jauh bedanya dengan sembilan tahun yang lalu ketika Sulastri yang berusia sembilan tahun menggali lubang dengan susah payah,menggunakan tombak dan golok sampai semalam suntuk baru selesai!
"Hati-hati, kakang, pelan-pelan saja jangan sampai cangkulmu mengenai mbakayu Narti,"
Kata Sulastri setelah galian mereka cukup dalam dan dia tahu bahwa sedikit lagi sampai pada jenazah mbakayunya yang sekarang entah telah bagaimana macamnya.
Jantungnya berdebar keras, keharuannya mencekik lehernya dan membuat matanya terasa panas akan tetapi dia menahan tangisnya.
"Baik, adi Bromo..."
Sutejo juga tergetar suaranya ketika dia mendengar perubahan pada suara kawannya itu yang jelas amat terharu dan berduka.
Akhirnya mereka hanya menggunakan tangan untuk mencokel-cokel tanah karena sudah nampak tulang-tulang putih dan tak lama kemudian, ketika semua tanah yang menutupi sudah diangkat dan sinar bulan sepenuhnya menimpa lubang galian itu, kelihatan dengan jelas sebuah kerangka manusia yang lengkap, dengan sebatang keris menancap di antara tulang-tulang iga depan!
"Mbakayu Narti...!"
Sulastri tidak dapat menahan lagi kesedihan hatinya dan dia menutupi mukanya, menahan tangisnya sampai sesenggukan.
Kalau saja dia tidak ingat bahwa dia adalah seorang yang menyamar sebagai pria, tentu dia sudah menjerit-jerit.
Maka ditahannya jeritnya dia mingseg-mingseg dan sesenggukan,air matanya bercucuran ketika dia memandang ke arah kerangka itu, jari-jari tangannya menutup hidung dan mulutnya.
Sutejo menepuk bahu kawannya.
"Sudahlah, adi Bromo. Tidak ada gunanya lagi meremas hati sendiri. Lebih baik kita sempurnakan sisa-sisa jasmani mbakayumu dan kau ambillah pusaka itu."
Sulastri mengangguk-angguk tidak berani mengeluarkan suara karena sukarlah bagi hati yang seperti ditusuk-tusuk rasanya itu untuk bicara.
Akan tetapi pada saat itu, mereka berdua terkejut sekali oleh suara gaduh di sekeliling mereka.
"Aha, ini mereka!"
"Tangkap!"
"Serbu... !!"
Sulastri dan Sutejo terkejut bukan main.
Kiranya tempat itu telah dikepung oleh belasan orang yang tinggi besar dan kelihatan kuat-kuat, dan di tangan mereka nampak senjata-senjata tajam berkilauan tertimpa cahaya bulan.
Dua orang muda itu maklum bahwa orang-orang itu tentu memang telah menanti sejak tadi dan tentu ada hubungannya keris pusaka Kolonadah, maka Sulastri yang sedang dilanda kesedihan melihat jasmani mbakayunya telah berubah menjadi kerangka yang mengerikan itu, kini meloncat dan mengeluarkan suara melengking nyaring, begitu meloncat dia telah menerjang dua orang di depannya yang memegang tombak.
Dua orang itu cepat menggerakkan tombaknya, seperti dua orang pemburu menghadapi tubrukan seekor harimau mengamuk.
Akan tetapi Sulasrti bukanlah seekor harimau bodoh yang hanya mengandalkan kekuatan dan kebuasannya saja.
Melihat dua batang tombak itu menyambut dan menusuknya, cepat tubuhnya merendah, merunduk dan ketika dua tangannya menyambar dari bawah dengan kekuatan aji kesaktian Hasto Bairowo, terdengar suara "Krakk-krakk!"
Dan dua batang tombak itu pun patah-patah.
Dua orang itu terkejut bukan main, akan tetapi Sulastri tidak memberi kesempatan lebih lanjut kepada mereka itu kaget-kagetan, karena dia sudah melangkah maju dan dua kali tangannya melayang.
"Plak! Plak!"
Dua orang itu mengeluh, tubuh mereka terjungkal dan mereka roboh pingsan tak dapat bergerak lagi!
Sementara itu, Sutejo sudah dikepung dan mengamuk.
Maka di dalam hutan belukar itu, di bawah penerangan yang kadang-kadang gelap oleh halangan awan dari bulan purnama, terjadilah pertempuran yang hiruk-pikuk karena dua orang muda itu dikeroyok oleh belasan orang yang rata-rata memiliki kepandaian yang tidak rendah.
Kalau dua orang pertama tadi dengan amat mudah dirobohkan oleh Sulastri,adalah karena mereka berdua terlalu memandang rendah kepada pemuda tampan yang bertubuh kecil itu.
Betapa pun juga, mereka tidak kuat menahan amukan Sulastri dan Sutejo dan dalam waktu yang tidak berapa lama, enam orang di antara mereka telah roboh oleh tamparan-tamparan Sulastri dan Sutejo.
Tiba-tiba Sulastri mendengar Sutejo berseru.
"Adi Bromo, awas ada yang menyerbu lubang kuburan...!"
Sulastri cepat menengok dan dia melihat berkelebatnya bayangan hitam yang mukanya memakai topeng hitam dan kepalanya yang juga tertutup kedok itu dihias sebuah burung emas! "Keparat...!"
Sulastri meninggalkan para pengeroyoknya dan langsung dia menerjang bayangan yang sudah membungkuk di dekat lubang kuburan jenazah mbakayunya itu.
Bayangan itu meloncat dan memandang Sulastri dengan sepasang mata berkilat di bawah kedoknya, kemudian menangkis.
"Dukkk!!"
Akibatnya, Sulastri terdorong dua langkah akan tetapi orang itu mengeluarkan jerit tertahan dan meloncat ke belakang.
Sementara itu para pengeroyok sudah menerjang lagi sehingga terpaksa Sulastri harus membela diri dan kembali dia dikepung dan dikeroyok seperti halnya Sutejo dan karena pada saat itu bulan tertutup awan yang agak tebal, maka cuaca menjadi gelap dan dia tidak melihat lagi orang berkedok hitam tadi.
Sulastri menjadi marah sekali, sepak terjangnya makin hebat dan sungguh pun dia masih selalu menjaga agar jangan sampai membunuh orang, namun tamparannya kini lebih berat daripada tadi sehingga roboh pula dua orang pengeroyok.
Sutejo juga sudah merobohkan beberapa orang.
Hal ini membuat sisa para pengeroyok mereka menjadi jerih dan mereka lalu melarikan diri sambil menyeret teman-teman mereka yang pingsan terkena tamparan dua orang muda perkasa itu.
Dalam kemarahannya, Sulastri hendak mengejar, akan tetapi Sutejo bekata.
"Tidak perlu mengejar mereka, adi Bromo. Yang penting kita melihat apakah... ah, celaka, lihatlah, adi!"
Sulastri datang berlari ke dekat lubang dan mukanya menjadi pucat ketika melihat bahwa keris pusaka yang tadinya menancap di antara tulang-tulang iga kerangka mbakyunya itu kini telah lenyap!
"Keparat!
Tentu si topeng hitam tadi...!"
Seru Sulastri.
"Aku harus mengejar dan mencarinya!"
Dia sudah melompat, akan tetapi Sutejo memanggilnya.
"Adi Bromo, kembalilah!"
Sulastri kembali dan memandang heran.
"Adi, kita tidak tahu ke mana dia lari. Akan tetapi, kita telah tahu bahwa yang mencuri pusaka adalah seorang yang memakai kedok hitam."
"Dan seorang wanita."
"Eh, bagaimana kau tahu, adi?"
"Ketika menangkis pukulanku tadi, dia terkejut dan menjerit."
"Lebih baik lagi kalau begitu. Biarlah kita nanti menyelidiki dan mencarinya perlahan-lahan. Kalau sekarang kita berdua pergi, bagaimana dengan jenazah mbakayumu ini? Apakah ditinggal begini saja dan ada kemungkinan akan diganggu orang jahat? Bukankah lebih baik kita menyempurnakan sisa-sisa jenazah mbakayumu ini seperti yang kita rencanakan semula, kemudian baru kita mencari pencuri pusaka itu?"
Sulastri memandang ke arah kerangka mbakayunya, kemudian kepada pemuda itu dan menarik napas panjang.
"Engkau benar, kakang Tejo. Hampir saja aku menyia-nyiakan jenazah mbakayu Narti. Ke mana pun terbangnya pencuri itu, kita tentu akan dapat menangkapnya."
Mereka lalu mengumpulkan kayu dan daun kering sampai banyak sekali dan ditumpuknya tinggi di pinggir sungai, kemudian dengan hati-hati mereka mengumpulkan dan mengangkuti tulang-tulang Sri Winarti dan meletakkannya di atas tumpukan kayu kering dan daun.
Setelah mereka mengheningkan cipta dan melakukan sembahyang dan berdoa, maka dibakarnyalah tumpukan kayu kering itu.
Api berkobar tinggi.
Nyala api dan asap menyelelimuti tulang-tulang itu.
Sulastri berdiri dengan kedua lengan bersedakap, memandang nyala api yang menjilat-jilat,kemudian memandang asap yang membubung tinggi, membayangkan betapa arwah mbakayunya dengan ringan melayang naik menuju ke bulan purnama yang sudah condong ke barat.
Pada keesokan harinya, dua orang muda itu meninggalkan tepi pantai Sungai Tambakberas setelah mereka melarung abu jenazah ke sungai itu, dan mulailah mereka melakukan perjalanan untuk mencari jejak si pencuri pusaka Kolonadah.
Sebagai seorang yang sejak kecilnya tinggal di daerah itu, Sulastri tentu saja mengenal daerah itu dan dia mengajak temannya pergi ke dusun Gedangan, di mana dia dan kakaknya dahulu tinggal, karena kalau menyelidiki pencuri itu, agaknya paling tepat kalau dia menyelidiki dari Gedangan.
Siapa pun adanya pencuri itu, agaknya dia tahu akan rahasia Kolonadah, dan kalau orang tahu akan rahasia pusaka itu, tentu telah tahu pula akan riwayat Sri Winarti dan tahu pula tempat tinggal mbakayunya.
"Kakang sudah sembilan tahun aku meninggalkan Gedangan, dan karena kita sedang menyelidiki pencuri, sebaiknya kalau aku tidak memperkenalkan diri kepada penduduk Gedangan keadaan diriku. Mereka pun tentu telah lupa kepadaku, apalagi karena namaku telah kuubah..."
Tiba-tiba Sulastri menghentikan kata-katanya karena dia terkejut mendengar mulutnya sendiri membuka rahasianya itu. Akan tetapi sudah terlanjur dan hatinya lega ketika Sutejo berkata.
"Aku sudah menduga bahwa tidak mungkin namamu Bromatmojo, adi. Engkau bukan asal dari gunung Bromo, maka tentu nama itu hanyalah nama samaran. Sedangkan namamu sendiri, kalau kau tidak suka memberi tahu kepadaku, aku pun..."
"Ah, tentu saja kepadamu aku tidak perlu menyimpan rahasia!"
Kata Sulastri yang merasa lega dan gembira bahwa keterlanjuran mulutnya tadi tidak dan belum berlarut-larut.
"Namaku yang sebenarnya adalah Sulastomo, akan tetapi sebaiknya kalau kakang Tejo tidak mengingat nama itu agar jangan salah panggil dan tetap menyebutku Bromo saja!"
"Sulastomo... nama yang bagus. Akan tetapi aku akan tetap menyebutmu adi Bromo,jangan kau khawatir."
Maka berangkatlah dua orang ini memasuki dusun Gedangan.
Jantung Sulastri berdebar keras.
Ternyata dalam waktu sembilan tahun lamanya, sedangkan dia sendiri yang dahulu adalah seorang anak perempuan yang baru berusia sembilan tahun kini telah berubah menjadi seorang gadis dewasa berusia delapan belas tahun, bahkan telah berubah menjadi seorang "pemuda"
Adalah dusun itu masih sama saja seperti sembilan tahun yang lalu!
Rumah-rumahnya masih sama, hanya lebih butut lagi, tegalan dan kebun-kebun masih sama pula, penuh dengan tanaman jagung dan kacang, dan jalan dusun itu penuh kerikil dan di bagian kiri jalan becek seperti juga sembilan tahun yang lalu!
Mereka berjalan-jalan di dalam dusun itu, mencari-cari kalau-kalau ada orang yang mencurigakan, dan Sulastri mengharapkan akan terjadi sesuatu yang akan dapat membawa mereka menuju kepada jejak si pencuri, atau setidaknya jejak orang-orang yang semalam menyerang dia dan Sutejo, karena tentu saja ada hubungan antara orang berkedok dan belasan orang yang menyerang itu.
Akan tetapi, tidak terjadi sesuatu.
Sulastri mengenal wajah beberapa orang kakek dan nenek yang memandang kepada dia dan Sutejo dengan sikap kagum dan juga hormat.
Tentu mereka itu menyangka bahwa dia dan Sutejo adalah dua orang muda bangsawan!
Kembali Sulastri merasa terharu dan membayangkan betapa akan gembiranya kalau tidak ada urusan apa-apa menyangkut dirinya dan dia kembali ke dusun itu sebagai Sulastri dan menjumpai para tetangga-tetangga lama itu!
Sulastri mengajak Sutejo lewat di depan rumah gedung lurah Gedangan.
Ada kenang-kenangan pahit terhadap lurah ini di dalam hatinya.
Lurah Gedangan itu dahulu pernah membujuk-bujuk Sri Winarti untuk menjadi selirnya, dan hanya karena campur tangan Adipati Ronggo Lawe diserahkan ke dalam perlindungannya.
Akan tetapi baru saja mereka tiba di depan gedung itu, nampak banyak orang berlari ke luar dari halaman kelurahan dan berteriak-teriak menghadang dan mengurung mereka berdua!"
"Nah ini mereka!"
"Benar, ini mereka semalam!"
"Tangkap saja mereka!"
"Bunuh...!"
"Minggir semua!"
Bentakan terakhir ini terdengar berpengaruh sekali dan semua orang yang ribut-ribut itu membuka jalan.
Sulastri dan Sutejo mengenal beberapa orang di antara mereka yang semalam mengeroyok mereka di dalam hutan.
Giranglah hati Sulastri dan dia bersama Sutejo dengan sikap tenang menanti siapa yang akan muncul, orang yang mengeluarkan bentakan terakhir tadi.
Ketika ada tiga orang laki-laki muncul, Sulastri segera mengenal lurah Gedangan yang kini sudah tua dan keriput mukanya.
Di sampingnya berjalan dua orang laki-laki, yang seorang sudah tua berusia enam puluh tahun dan yang ke dua bertubuh tinggi agak kurus, usianya tentu sudah empat puluh tahun lebih.
Sulastri memandang kepada dua orang ini penuh perhatian.
Orang yang tua, yang berjenggot panjang dan yang lengannya memakai gelang akar bahar, tidak dikenalnya.
Akan tetapi orang tinggi kurus yang sama sekali tidak dikenalnya itu kini memandang kepada Sutejo dengan penuh perhatian, seolah-olah dia hendak meneliti apakah dia belum mengenal pemuda itu.
Sebaliknya, Sutejo memandang laki-laki kurus itu dan dia segera mengenalnya.
Laki-laki tinggi kurus itu bukan lain adalah si Klabang Curing, pembantu Panewu Progodigdoyo yang dulu pernah hendak membunuhnya!
Ketika Progodigdoyo melakukan perbuatan terkutuk di rumah ibunya, dia disuruh bunuh oleh panewu itu, dibawa oleh Klabang Curing ini ke hutan untuk dibunuhnya, akan tetapi dia mampu melarikan diri setelah melukai Klabang Curing dengan keris pusaka ayahnya, yaitu keris Nogopusoro yang kini terselip di ikat pinggangnya!
"Hemm, kalian ini semua mau apakah?"
Sulastri bertanya sambil menentang pandang mata lurah Gedangan dengan sinar mata mengejek dan memandang rendah.
"Kisanak,"
Lurah itu berkata, suaranya mengandung suara bujukan yang amat dibenci oleh Sulastri karena dia pun mendengar sendiri ketika dahulu lurah ini sering kali membujuk-bujuk mbakayunya untuk dijadikan selirnya.
"Kalian berhadapan dengan lurah Gedangan!"
Dia berhenti sebentar akan tetapi ketika melihat betapa dua orang pemuda itu agaknya tidak terkesan oleh kedudukannya, dia cepat melanjutkan.
"Kami mengemban perintah kanjeng gusti bupati di Tuban..."
Tentu saja hati Sulastri tertarik sekali karena dia ingin tahu siapa gerangan yang kini menjadi bupati di Tuban, yang kini agaknya menggantikan kedudukan mendiang Adipati Ronggo Lawe.
Maka dia cepat bertanya.
"Ki lurah, siapakah sang bupati di Tuban?"
Semua orang kelihatan terkejut dan heran, saling pandang karena pertanyaan itu sungguh aneh.
Orang dari manakah pemuda-pemuda ini maka tidak tahu siapa Bupati Tuban padahal mereka berdua berada di daerah Tuban?
"Heh-heh, andika sungguh lucu, orang muda.
Siapa lagi kalau bukan Kanjeng Gusti Bupati Progodigdoyo?"
"Ahhh...!!"
Seruan ini keluar dari mulut Sutejo yang tentu saja merasa terkejut dan juga marah.
Orang jahat itu kini malah diangkat menjadi bupati?
Seruan dan perubahan wajah Sutejo itu dianggap oleh lurah Gedangan sebagai tanda kaget dan jerih, maka dia mengurut kumisnya dan berkata.
"Nah, karena itu, orang-orang muda yang bagus lebih baik kalian berdua cepat minta maaf dan kalian serahkan pusaka itu kepada kami."
"Pusaka? Apa maksudmu?"
Sulastri bertanya heran karena dia menyangka bahwa orang-orang ini yang semalam menyerang dia dan Sutejo tentu bersekongkol dengan pencuri berkedok itu, akan tetapi mengapa kini malah menuntut pennyerahan pusaka?
"Hemmm, tidak perlu berpura-pura lagi!"
Seorang di antara orang-orang tinggi besar yang semalam ikut mengeroyok membentak.
"Semalam kalian membongkar kuburan dan mengambil pusaka Kolonadah..."
Kini yakinlah Sulastri bahwa pencuri berkedok itu agaknya merupakan pihak ke tiga, dan timbul kemarahannya kepada lurah Gedangan.
"Ki lurah, dengan hak apakah andika minta agar kami menyerahkan Kolonadah?"
Ki lurah mengurut kumisnya.
"Orang muda, sikapmu sungguh lancang. Tentu saja atas perintah Kanjeng Gusti Bupati Progodigdoyo."
Tiba-tiba kini Klabang Curing melangkah ke depan. Dengan mengangkat dadanya si tinggi kurus ini membentak, pandang matanya angkuh sekali.
"Ki lurah, kenapa banyak melayani mereka? He, kalian orang-orang muda. Tidak perlu banyak cakap,lekas berlutut menyerah dan serahkan Kolonadah!"
Sutejo mendahului Sulastri dan dia sudah melangkah ke depan.
"Klabang Curing, lihat baik-baik, apakah kau sudah lupa kepadaku?"
Klabang Curing terkejut dan memandang dengan alis berkerut, mata terbelalak marah.
Sejak tadi dia merasa seperti pernah melihat pemuda tinggi tegap yang tampan ini, akan tetapi dia sudah lupa lagi kapan dan di mana.
Kini, melihat pemuda itu menyebutkan namanya dan mengajukan pertanyaan seperti itu, dia memandang dengan penuh perhatian dan penyelidikan, mengingat-ingat.
"Eh, siapakah andika? Aku merasa pernah mengenalmu, akan tetapi lupa lagi..."katanya.
"Lupakah engkau kepada anak kecil yang sembilan tahun yang lalu hendak kau bunuh? Kalau masih lupa, raba lambungmu yang pernah merasakan gigitan pusakaku Nogopusoro ini!"
Dia menepuk keris di pinggangnya. Makin terbelalak mata Klabang Curing. Tentu saja dia teringat dan seketika matanya menjadi merah, giginya berkerot dan kedua tanganya dikepal.
"Babo-babo...! Kiranya engkau bocah setan itu! Engkau putera Lembu Tirta, hemm siapa namamu?"
"Sutejo!"
"Benar, namamu Sutejo! Bagus, engkau dicari-cari oleh Gusti Bupati Progodigdoyo, dan aku pun sudah lama mencarimu untuk membalas tusukan kerismu. Dulu aku gagal membunuhmu, akan tetapi sekaranglah saatnya!"
Klabang Curing sudah membentak keras dan lengannya yang panjang sudah menyambar ke arah Sutejo, cepat dan kuat karena Klabang Curing termasuk jagoan di Tuban.
Dahulu pun, kalau orang lain yang tertusuk keris pusaka Nogopusoro, tentu telah tewas.
Akan tetapi, ketika dulu ditusuk keris lambungnya oleh Sutejo dalam keadaan tidak menyangka sama sekali, Klabang Curing telah dapat mengerahkan kekebalannya sehingga keris itu hanya menusuk ujungnya saja dan karena daya keampuhan pusaka itu maka dia roboh pingsan, akan tetapi tidak sampai tewas.
Melihat Klabang Curing sudah menyerang, kakek berjenggot panjang yang memakai gelang akar bahar itu pun menerjang maju dengan kedua tangan membuat gerakan mencengkeram seperti cakar garuda, menyerang Sulastri.
Orang-orang tadi yang sudah mengurung, kini pun membantu dua orang itu maju mengeroyok.
"Haaaaiiiittt...!"
Sutejo cepat mengeluarkan bentakan keras ketika melihat Klabang Curing maju menyerangnya dan diikuti pula oleh belasan orang.
Dengan cepat sekali dia mengelak dari serangan Klabang Curing dan serbuan orang-orang itu, tubuhnya berkelebat ke kanan kiri dan kakinya menendang roboh dua orang pengeroyok, tangannya menangkis tombak dengan kuat sekali sehingga tombak itu membalik dan merobohkan orang ke tiga.
Sulastri yang melihat serangan kakek berjenggot panjang itu, maklum bahwa kakek ini ternyata kuat sekali.
Gerakannya cepat, aneh mengandung tenaga sakti yang cukup berbahaya.
Apalagi di samping kakek itu, masih ada belasan orang lain mengepungnya dan menggerakkan bermacam senjata untuk mengeroyoknya.
"Hyaaaahhhh!"
Dia mengeluarkan suara melengking panjang, membuat para pengeroyoknya tergetar dan dengan gerakan tiba-tiba dara perkasa ini meloncat ke atas untuk menghindarkan semua serangan, kemudian dari atas kedua kakinya bergerak menendang dan mengenai kepala dua orang pengeroyok yang menjerit dan roboh tak berkutik lagi, sedangkan kakek yang memakai akar bahar lengannya itu pun cepat menghindar ketika Sulastri melakukan tendangan lagi sebelum tubuhnya meluncur turun...
Tendangan itu luput dan kakek itu cepat menggerakkan tangannya untuk menangkap kaki Sulastri.
"Ihh...!"
Sulastri berseru kaget, tubuhnya membuat gerakan jungkar balik dan dia sudah membalikkan tubuhnya, lalu tangannya bergerak menangkis lengan kakek itu.
"Dukkk...!"
"Ahh...!"
Kini kakek itu berseru kaget karena tangkisan "pemuda"
Tampan itu membuat tubuhnya tergetar dan terasa panas, sedangkan Sulastri sudah meloncat turun lagi ke atas tanah.
Para pengeroyok menerjangnya lagi seperti sekumpulan semut mengeroyok seekor jangkerik.
"Setan kalian, pengecut-pengecut tukang keroyok!"
Sulastri mengomel dan dia mengamuk, kaki tangannya bergerak dan terpelantinglah empat orang pengeroyok.
Melihat kehebatan pemuda tampan ini, para pengeroyok menjadi gentar.
Semalam pun mereka itu, sebagian dari mereka sudah merasakan kesaktian pemuda ini, maka kini mereka merasa gentar juga.
Akan tetapi, kakek yang memakai akar bahar telah maju lagi ketika para pembantunya mundur.
Dia mengangkat tangan ke atas menahan gerakan Sulastri sambil berseru.
"Nanti dulu, orang muda! Siapakah namamu? Aku tidak ingin bertanding dengan orang yang tidak mempunyai nama sehingga kalau dia tewas aku tidak tahu siapa yang tewas di tanganku!"
"Kakek sombong!"
Sulastri tersenyum mengejek.
"Engkaulah yang akan mampus dalam pertandingan ini, maka sepatutnya kalau engkau yang memperkenalkan diri terlebih dahulu!"
"Orang muda, engkau terlalu besar kepala. Ketahuilah bahwa aku adalah Gagaksona, seorang perwira Mojopahit yang terkenal!"
"Mungkin, akan tetapi aku tidak mengenalmu, Gagaksona. Dan kalau kau ingin mengetahui siapa calon pembunuhmu, aku adalah Bromatmojo!"
Lagak dan kata-kata Sulastri memanaskan telinga Gagaksona.
Dia adalah seorang tokoh di Mojopahit yang terkenal digdaya dan dia telah dipercaya sebagai seorang di antara pembantu-pembantu Resi Mahapati yang terkenal sakti itu, dan dia bahkan diserahi tugas untuk mengepalai sepasukan perajurit untuk mencari pusaka Kolonadah di daerah Tuban, bekerja sama dengan Bupati Tuban yang juga menjadi kaki tangan Resi Mahapati.
Ketika dia mendengar berita bahwa anak buahnya melihat dua orang muda menggali tanah di dekat sungai Tambakberas, kemudian melihat kerangka manusia di mana terdapat sebatang keris pusaka yang disangka tentu keris pusaka Kolonadah, dan betapa anak buahnya itu tidak mampu mengalahkan dua orang muda itu, maka Gagaksona langsung pergi ke tempat itu bersama Klabang Curing orang kepercayaan Bupati Progodigdoyo.
Akan tetapi dua orang muda itu telah pergi dan mereka lalu menghubungi kelurahan Gedangan dan kebetulan sekali mereka melihat dua orang muda itu berada di dusun Gedangan!
Mendengar nama Sulastri yang tidak terkenal, yang menggunakan nama sebuah gunung, Gagaksona dapat menduga bahwa tentu pemuda ini seorang yang baru turun dari gunung, murid seorang pertapa yang sakti, maka dia lalu mencabut senjata yang berkilauan saking tajamnya, sebatang kelewang yang lebar dan tipis...
"Keluarkan senjatamu, Bromatmojo!"
Teriaknya sambil menggerakkan kelewangnya sehingga terdengar suara bersuitan tajam mengerikan. Akan tetapi Sulastri tersenyum mengejek.
"Senjata? Melawan seorang seperti engkau dengan golok penyembelih kerbaumu itu tidak perlu menggunakan senjata, cukup dengan tangan dan kakiku saja..."
"Heeeettt...!!"
Gagaksona sudah menerjang dengan marah sekali karena kata-kata Sulastri benar-benar amat merendahkan.
Kelewang atau golok di tangannya itu bergerak cepat, membentuk lingkaran sinar yang bergulung-gulung menyelimuti diri lawannya.
Sulastri hanya sikapnya saja sengaja bersombong diri untuk memancing kemarahan lawan, akan tetapi sebenarnya dia amat waspada karena maklum bahwa lawannya ini bukan orang sembarangan bahkan jauh lebih sakti daripada orang tinggi kurus yang bersama anak buahnya kini mengeroyok Sutejo.
Maka begitu golok berkelebat, dia juga cepat mengerahkan aji kesaktiannya, tubuhnya menjadi ringan dan cepat gerakannya berkat aji kesaktian Turonggo Bayu, dan dia pun mengisi kedua tangan dengan Aji Hasto Bairowo.
Dengan gesit dan trengginas dia mengelak dari setiap sambaran golok dan membalasnya dengan pukulan Hasto Bairowo atau tendangan kaki yang amat cepat.
Melihat pukulan yang sampai mengeluarkan suara mencicit itu terkejutlah Gagaksona karena dia pun mengenal pukulan sakti yang tidak kalah berbahayanya dengan segala macam senjata tajam.
Maka, dia pun tidak melarang ketika anak buahnya sudah maju pula membantunya dan mengeroyok pemuda tampan bertubuh ramping itu.
Pertandingan itu lebih hebat daripada malam tadi di tepi sungai Tambakberas,karena di situ terdapat Klabang Curing dan Gagaksona yang memiliki kepandaian tinggi, pula, jumlah para pengeroyok bertambah dengan perajurit-perajurit yang kuat dari Mojopahit yang datang bersama dua orang itu.
Akan tetapi, sebetulnya kalau dua orang muda itu menghendaki, dengan mudah saja mereka berdua akan dapat merobohkan dan menewaskan semua pengeroyok itu.
Akan tetapi baik Sulastri mau pun Sutejo sudah menerima gemblengan dari guru masing-masing yang bijaksana,maka merupakan pantanganlah bagi mereka untuk sembarangan saja membunuh orang.
Mereka memang merobohkan banyak pengeroyok, akan tetapi tanpa membunuh mereka,paling hebat mereka hanya menderita patah tulang saja.
Sutejo telah berhasil merobohkan Klabang Curing, mematahkan keris lawan ini dan juga mematahkan tulang lengannya.
Kemudian dengan gerakan cepat, Sutejo melompat dan sekali sambar saja dia telah dapat membekuk batang leher ki lurah Gedangan.
Dengan mengempit tubuh ki lurah yang berteriak-teriak minta tolong itu, Sutejo meloncat ke dekat tempat Sulastri bertempur, dengan kakinya merobohkan dua orang dan tangan kanannya menghantam ke arah Gagaksono yang sudah terdesak hebat oleh Sulastri.
Gagaksona terkejut, berusaha mengelak akan tetapi karena pada saat itu Sulastri mendesaknya, dia terlambat dan pundaknya kena ditampar oleh Sutejo.
Dia berteriak dan terpelanting.
"Adi Bromo, mari kita pergi, kita boleh mencari keterangan dari lurah ini!"kata Sutejo sambil melompat jauh. Sulastri juga sudah yakin bahwa bukan orang-orang ini yang mencuri keris pusaka Kolonadah dan mereka ini jelas tidak ada hubungannya dengan pencuri keris yang berkedok hitam, maka setelah merobohkan empat orang pengeroyok lainnya dengan tendangan-tendangan kakinya, dia pun melompat dan lari mengejar Sutejo. Dua orang muda itu membawa Ki Lurah Gedangan ke Sungai Tambakberas dan Sutejo menjambak rambut kepala lurah itu, membenam-benamkan kepalanya di air sampai ki lurah mengap-mengap dan matanya terbelalak penuh ketakutan.
"Hayo kau jawab semua pertanyaan kami dengan benar, kalau tidak, kubenamkan kepalamu sampai putus napasmu!"
Sutejo menghardik. Ki Lurah itu mengeluh, menangis dan mengangguk-angguk ketakutan.
"Pertama, benarkah bahwa semua pengeroyokan itu adalah atas kehendak Bupati Tuban?"
Ki Lurah mengangguk-angguk.
"Benar... benar, Raden... kami hanya melakukan perintah... pasukan dari Mojopahit yang dipimpin oleh Gagaksona dan pasukan dari Tuban yang dipimpin oleh Klabang Curing, memang bertugas mencari keris pusaka Kolonadah, menaruh penyelidik di mana-mana. Ketika mendengar bahwa andika berdua menggali tanah di dekat Sungai Tambakberas, mereka lalu berusaha untuk merampas keris pusaka Kolonadah... saya... saya tidak turut-turut..."
Sutejo dan Sulastri saling pandang dan makin yakinlah hati mereka bahwa jelas keris itu tidak berada di tangan para perajurit itu.
"Pertanyaanku yang ke dua, siapakah wanita yang memakai pakaian dan kedok hitam?"
Mendengar ini, mata Pak Lurah terbelalak dan dia memandang kepada Sutejo dengan heran.
"Wanita berkedok hitam...?"
Dia kelihatan ketakutan dan hal ini merangsang hati Sutejo untuk mengetahui lebih banyak.
"Ya, wanita berpakaian hitam, berkedok hitam..."
"Dan di kepalanya ada hiasan seekor burung emas!"
Sambung Sulastri. Wajah Pak Lurah itu makin kaget dan dengan suara berbisik dia berkata gagap.
"Ehh... Sriti... Sriti Kencana..."
Sutejo mengguncang leher baju Pak Lurah dan menghardik.
"Siapa itu Sriti Kencana? Hayo ceritakan yang jelas!"
"Baik... baik..."
Pak Lurah mengap-mengap, takut kalau kepalanya dibenamkan lagi dan setelah Sutejo melepaskan cengkeramannya pada leher bajunya, dia melonggarkan leher bajunya, menelan ludah beberapa kali, lalu berkata.
"Sriti Kencana adalah sekelompok orang-orang penuh rahasia yang selama satu tahun lebih ini mulai muncul di seluruh daerah Tuban. Mereka itu kabarnya terdiri dari wanita-wanita berpakaian hitam, berkedok hitam dan di kepalanya ada hiasan seekor burung sriti dari emas, karena saya sendiri belum pernah melihatnya. Semua orang takut kepada mereka karena mereka sudah membunuh banyak orang, di antaranya banyak pula pejabat-pejabat yang tidak melakukan tugasnya dengan baik. Dan yang mereka bunuh itu juga adalah kaum penjahat yang suka mengacau di daerah Tuban. Oleh karena itu, maka Gusti Bupati seolah-olah melindungi atau membiarkan saja mereka itu bergerak di seluruh daerah Tuban. Dan kami... para pejabat... merasa takut kepada mereka, karena kabarnya mereka terdiri dari orang-orang sakti..."
Kembali Sutejo dan Sulastri bertukar pandang.
"Di mana sarang mereka? Hayo katakan, di mana sarang Sriti Kencana?"
Sulastri membentak tidak sabar lagi. Ki Lurah memandang bodoh.
"Saya... saya tidak tahu, Raden. Siapakah yang bisa mengetahui di mana sarang mereka? Saya rasa tidak ada yang mengetahuinya..."
"Bodoh! Engkau seorang lurah, masa tidak tahu?"
Sulastri menghardik lagi.
"Saya rasa...eh, karena Kanjeng Gusti Bupati di Tuban seolah-olah melindungi.., saya rasa kalau andika berdua menyelidik dan mencari di Tuban, tentu akan dapat menemukan mereka. Apalagi kabarnya putera-puteri kanjeng gusti bupati adalah murid-murid orang sakti, akan tetapi saya tidak tahu benar... harap ampunkan saya..."
Sutejo dan Sulastri saling mengangguk dan Sutejo berkata lagi.
"Pertanyaanku yang terakhir dan ke tiga, engkau sebagai lurah bawahan Bupati Tuban tentu telah mendengar akan keadaan dan sepak terjang Bupati Progodigdoyo itu. Ceritakan apa yang terjadi dengan keluarga Lembu Tirta di dusun Kembangsri sembilan tahun yang lalu."
"Keluarga Lembu Tirta di Kembangsri...? Ah, andika maksudkan janda Kembangsri yang cantik itu dan anak-anaknya...? Ya, saya ingat... rumah mereka terbakar dan kabarnya, janda yang cantik itu tewas terbakar akan tetapi anak-anaknya lenyap..."
"Anak gadisnya diculik oleh Progodigdoyo! Apa yang terjadi dengan gadis itu?"
Sutejo mendesak, jantungnya berdebar tegang. Akan tetapi Ki Lurah menggeleng kepalanya.
"Sungguh mati, saya tidak tahu, Raden. Memang saya mendengar tentang peristiwa itu, yang terjadi sebelum Sang Adipati Ronggo Lawe memberontak terhadap Kerajaan Mojopahit, akan tetapi apa yang terjadi selanjutnya, saya tidak tahu dan juga tidak berani menyelidiki. Siapa yang berani mati hendak menyelidiki urusan pribadi Kanjeng Gusti Bupati Progodigdoyo?"
Sutejo memandang Sulastri dan berkata.
"Adi Bromo, apa yang akan kita lakukan kepada lurah ini?"
Dia berkedip.
"Kita bunuh saja?"
"Hemm, lemparkan ke kedung agar dimakan buaya, Kakang,"
Kata Bromatmojo. Mendengar ucapan dua orang pemuda itu, pak lurah itu lalu menyembah-nyembah dan menangis minta diampuni.
"Baik, kami tidak akan membunuhmu. Akan tetapi engkau harus bersumpah untuk menjadi seorang lurah yang baik, jangan sewenang-wenang terhadap rakyat. Mengerti?"
Sutejo membentak.
"Dan jangan memaksa wanita untuk menjadi selirmu!"
Bentak pula Bromatmojo.
"Baik... baik... saya bersumpah... memang selama ini pun saya telah menjadi seorang lurah yang tidak berani melakukan penyelewengan, apalagi ada nama Sriti Kencana yang selalu akan turun tangan membunuh mereka yang menyeleweng. Saya bersumpah, Raden."
Kembali lurah itu menyembah-nyembah, dan ketika ia mengangkat mukanya, dia terbelalak dan bulu tengkuknya meremang karena dua orang muda itu telah lenyap dari depannya!
Dengan seluruh tubuh gemetar dan kedua kaki seperti lumpuh rasanya, lurah dusun Gedangan itu menyeret tubuhnya kembali ke dusun di mana dia disambut oleh orang-orangnya dan keluarganya dengan girang karena mereka mengira bahwa lurah itu tentu akan dibunuh oleh dua orang muda yang sakti itu.
Beberapa hari kemudian, pagi-pagi dua orang pemuda itu telah tiba di luar kota Kabupaten Tuban yang sudah tampak dinding temboknya dari jauh.
Mereka berjalan perlahan di sepanjang jalan raya itu, melewati sebuah warung di tepi jalan yang agaknya sepagi itu sudah buka.
"Kisanak berdua, silahkan mampir!"
Tiba-tiba terdengar suara merdu seorang wanita dari warung itu.
"Kami menjual teh dan kopi panas, dawegan (kelapa muda), ketan dan jagung rebus, semua masih hangat!"
Menyusul suara ke dua yang tidak kalah merdunya.
Sutejo dan Bromatmojo menoleh ke arah warung dan mereka melihat ada empat orang wanita muda yang cantik-cantik dan manis-manis di dalam warung itu.
Belum ada tamu lain dan empat orang wanita itu memandang ke arah mereka dengan senyum manis dan pandang mata memikat.
"Kita sarapan (makan pagi) dulu, Kakang Tejo."
"Tidak, kita terus saja!"
Jawab Sutejo sambil mengerutkan alisnya.
"Tapi sejak tadi malam saya belum makan, perut saya lapar sekali, Kakang."
"Kita makan di tempat lain saja."
"Eh, apa bedanya? Dan aku suka sekali makan jagung rebus!"
"Tapi... perempuan-perempuan itu..."
"Mengapa? Mereka cantik-cantik dan manis-manis malah! Hayo, Kakang Tejo!"
"Hemm, perempuan warungan!"
Tejo yang ditarik tangannya oleh Bromatmojo mengomel.
"Ha, apa bedanya? Mereka juga manusia, dan... hemm, cantik manis yang berbaju hijau itu.
"Huh, kau mata keranjang!"
Bromatmojo masih tertawa-tawa ketika menarik tangan Sutejo memasuki warung disambut oleh empat orang wanita yang memang benar masih muda-muda dan cantik manis.
Usia mereka antara dua puluh sampai tiga puluh tahun, dan yang berbaju hijau, yang usianya termuda, memang paling manis di antara mereka, kulitnya putih mulus, matanya bening dan mulutnya yang berbibir merah dan indah bentuknya itu selalu tersenyum penuh daya pikat.
"Silahkan duduk, Kisanak...!"
Kata yang berbaju ungu.
"Aihh, mbakayu, apakah engkau tidak melihat bahwa mereka adalah bangsawan muda? Harap maafkan, Raden!"
Si baju hijau berkata merdu.
"Heh-heh, tidak apa, disebut kisanak atau raden bagi kami sama saja. Betul tidak, Kakang Tejo?"
Yang ditanya diam saja, merengut dan duduk dengan muka merah, sama sekali tidak berani menentang empat wajah wanita yang tersenyum manis dan mengelilingi mereka dengan sikap amat ramah itu.
Terlalu ramah malah, pikirnya.
Tentu wanita-wanita ini bukan wanita baik-baik!
Dia mendongkol sekali mengapa Bromatmojo bersikap demikian bebasnya, seolah-olah pemuda tampan ini sudah biasa bergaul dengan segala macam wanita begituan!
Lekas hidangkan jagung rebus hangat!"
Dengan sikap gembira sekali Bromatmojo berkata.
"Engkau hendak makan apa, Kakang? Jagung rebus atau ketan? Dan minumnya?"
"Apa saja pun boleh,"
Jawab Sutejo sambil memandang kepada dua tangannya yang berada di atas meja di depannya. Bromatmojo memandang wanita baju hijau yang paling dekat dengannya.
"Aku minta jagung rebus dan sahabatku ini memesan apa saja pun boleh."
Empat orang wanita itu tertawa cekikikan dan wajah Sutejo menjadi makin merah.
Dia melirik ke arah Bromatmojo dengan marah sehingga empat orang wanita itu makin terkekeh geli, sedangkan Bromatmojo juga tertawa.
"Pendeknya, hidangkan seadanya di sini, manis, biar sahabatku memilihnya nanti. Dia pemalu sih, maklumlah dia masih perjaka thing-thing (tulen)!"
"Hik-hik!"
Empat orang itu terkekeh genit dan si baju hijau yang kelihatan memandang kepada Bromatmojo dengan sinar mata kagum dan bersinar-sinar itu bertanya, suaranya halus merdu dan jelas kemanja-manjaan.
"Lalu minuman apakah yang harus saya hidangkan untuk paduka, Raden?"
Bromatmojo memandang dan tersenyum.
"Kau sungguh cantik manis, Nimas. Aku minta minuman air dawegan saja."
Kini Sutejo yang sejak tadi diam saja dan membiarkan dirinya dijadikan godaan sahabatnya, melihat kesempatan untuk membalas.
"Sepagi ini minum air dawegan, sungguh orang aneh sekali kau!"
Akan tetapi dengan tangkasnya Bromatmojo menangkis.
"Eeh, apa kau tidak tahu, Kakang Tejo? Air dawegan di pagi hari menambah kekuatan dan kejantanan. Betul tidak, manis?"
Dia menoleh pada empat orang wanita itu dan mereka pun terkekeh,membuat Sutejo menjadi makin malu dan tidak berani lagi bicara.
"Kau mau minum apa, Kakang?"
"Apa saja pun..."
"Nah, sediakan minuman apa saja pun boleh!"
Kata Bromatmojo memancing gelak ketawa empat orang wanita itu.
Makanan dan minuman dihidangkan dan tanpa setahu Sutejo, ketika minum air dawegan, Bromatmojo melempar sebutir benda kecil seperti kacang ke mulutnya dan menelannya bersama air kelapa itu.
Mereka lalu makan minum dilayani oleh empat orang wanita itu yang selain ramah juga genit dan manja.
Sutejo makan dan minum dengan sikap sungkan dan gugup, berbeda dengan Bromatmojo yang kelihatan gembira sekali, makan jagung sampai habis tiga buah dan makan ketan sebungkus.
Sutejo dengan diam tanpa banyak cakap makan ketan hitam dan minum segelas air teh.
Tak lama kemdian, Sutejo mengerutkan alisnya dan berkata.
"Adi Bromo... aku merasa pening dan mengantuk...
"Kalau andika lelah, Raden, mari silahkan tidur di dalam. Kami mempunyai sebuah kamar untuk andika mengaso..."
Kata Si Baju Ungu kepada Sutejo. Tentu saja Sutejo menggelengkan kepalanya dengan keras.
"Kakang, kalau kau pening, dan mengantuk, apa salahnya kau mengaso sebentar? Biar aku menanti di sini." (Lanjut ke
Jilid 14) Kemelut Di Majapahit (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 14
"Tidak, aku... ahhh..."
Sutejo kelihatan terkejut karena rasa kantuk dan pening itu makin menghebat menyerang kepalanya.
"Mari, mari Raden... kata wanita baju ungu dan dia sudah menghampiri Sutejo hendak memegang lengan pemuda itu. Sutejo terkejut, tidak mau membiarkan dirinya dipegang, maka dalam keadaan pening dia mendorong. Akan tetapi dengan sedikit gerakan saja wanita baju ungu itu dapat mengelak. Hal ini kelihatan jelas oleh Bromatmojo yang juga sudah bangkit berdiri.
"Mari aku yang mengantarmu, Kakang,"
Katanya sambil menggandeng tangan Sutejo.
"Di mana kamarnya, Nimas yang manis? Tolong kau antarkan..."
Katanya kepada gadis baju hijau tadi.
"Mari, Raden. Ke sini..."
Kata Si Baju Hijau dengan manis dan dia mendahului jalan dengan langkah yang membuat buah pinggulnya menari-nari! Bromatmojo melihat Sutejo terhuyung.
"Aihh...!"
Dia berseru kaget dan dia pun terhuyung.
"Hik-hik, mari kubantu, Raden!"
Si Baju Hijau cepat membalik dan memegang lengannya agar pemuda tampan ini tidak sampai jatuh.
Yang berbaju ungu juga sudah memegang lengan kiri Sutejo dan kini pemuda itu tidak menolak karena dia seperti orang tidur saja, berjalan terhuyung dan membiarkan dirinya dipapah sambil memejamkan matanya.
Bromatmojo juga sama keadaannya dengan Sutejo.
Ketika mereka dipapah sampai ke dalam kamar di mana terdapat sebuah pembaringan kayu yang lebar, kedua orang muda itu didorong ke atas pembaringan dan sebentar saja mereka tak bergerak lagi, rebah miring dan tidak ingat apa-apa lagi.
Empat orang gadis cantik itu memasuki kamar sambil terkekeh girang.
"Bagus! Mereka dengan mudah dapat kita tundukkan!"
Kata Si Baju Hijau dengan suara garang dan tegas, jauh bedanya dengan tadi ketika merayu Bromatmojo.
"Mbakayu Ambar dan Tarmi, kalian pergilah melapor kepada Den Bagus dan Den Roro, katakan bahwa mereka telah ditangkap dan kita menanti keputusan mereka."
"Baik, Ayu,"
Kata Si Baju Merah dan baju biru. Mereka cepat meninggalkan tempat itu, pergi ke belakang dan tak lama kemudian terdengar bunyi derap kaki kuda yang dibalapkan.
"Cempaka, kau pergi cepat menutup warung itu agar jangan sampai ada tamu mengganggu."
"Baik, Ayu,"
Dan gadis baju ungu segera pergi ke depan, menutupkan warung,kemudian kembali lagi ke dalam kamar.
Dia tertawa ketika melihat wanita baju hijau itu menggunakan tangan membelai pipi dan dagu Bromatmojo.
"Ah, kau agaknya tergila-gila kepada yang satu itu, Ayu."
Ayu atau Si Baju Hijau itu, menarik napas panjang.
"Siapa yang tidak tergila-gila kepada pemuda sehebat ini? Cempaka, agaknya akan bahagia hidupku kalau aku akan dapat menjadi isteri pemuda ini... heemmmm..."
"Tapi dia adalah tawanan kita, Ayu. Kita harus menanti keputusan Den Roro atau Den Bagus..."
"Tentu saja. Akan tetapi mudah-mudahan mereka ini, atau setidaknya pemuda ini,jangan sampai dibunuh. Sayang..."
"Engkau tahu, kita mana bisa tidak mentaati perintah mereka? Ayu, kita harus cepat mengenakan pakaian kita sebelum Den Roro atau Den Bagus datang. Dan dua orang ini harus cepat dibelenggu. Mereka ini tentu memiliki kepandaian tinggi,berbahaya kalau tidak diringkus ketika mereka nanti sadar kembali."
"Engkau benar, Cempaka."
Dua orang gadis itu lalu menanggalkan baju dan kain, lalu mengenakan pakaian serba hitam, bahkan muka dan kepala mereka tertutup kain hitam dan di kepala mereka terdapat hiasan seekor burung emas!
Setelah kini mengenakan pakaian aneh itu, gerakan mereka terlihat tangkas sekali ketika mereka mengambil dua helai tali untuk membelenggu kaki tangan Sutejo dan Bromatmojo.
Dengan cekatan, gadis baju ungu yang kini telah menjadi seorang berpakaian hitam dan bertopeng hitam pula, membelenggu kedua kaki dan tangan Sutejo dan tentu saja pemuda yang sedang tidur atau pingsan itu tidak bergerak sama sekali.
Sedangkan baju gadis hijau yang tadi bersikap mesra terhadap Bromatmojo, menghampiri "pemuda"
Tampan itu sambil membawa sehelai tali besar. Pada saat itu, Bromatmojo meloncat turun dan menggunakan lengan kirinya merangkul dan memuntir leher gadis baju hijau.
"Cempaka... tolong...!"
Gadis bernama Ayu yang kini juga sudah menjadi seorang berpakaian dan bertopeng hitam itu menjerit.
Cempaka melepaskan Sutejo yang telah terbelenggu, lalu dengan tangkasnya dia menerjang ke arah Bromatmojo untuk menolong kawannya.
Akan tetapi kaki Bromatmojo menendang.
"Bukk... ahhh...!"
Cempaka terpental dan terbanting roboh.
Akan tetapi dia sudah meloncat lagi dan kini tangan kanannya memegang sebatang pisau mengkilap yang amat runcing.
Bromatmojo berdiri dengan tenang, lengan kirinya masih mengempit leher Ayu sambil memegang pergelangan tangan kanan gadis itu yang tadi dipuntirnya ke belakang sehingga Ayu tidak mampu berkutik.
Dengan sinar mata tajam Bromatmojo memandang ke arah Cempaka yang telah memegang pisau belati itu.
"Haiiiiittt!"
Cempaka menerjang dan pisau belati di tangannya menghunjam ke arah Bromatmojo, namun dengan tenang "pemuda"
Ini menggerakkan tangan kanannya, menampar ke arah pergelangan lengan dan kakinya juga meluncur lagi ke depan.
"Plakk! Dukk...!!"
Untuk kedua kalinya tubuh Cempaka terlempar dan pisaunya terlepas dari pegangan karena lengannya terasa lumpuh terkena tamparan tangan Bromatmojo tadi.
Dia terkejut bukan main, nanar sejenak, lalu merangkak bangun,memandang penuh keraguan, lari keluar dari pintu belakang dan tak lama kemudian terdengar pula derap kaki kuda meninggalkan tempat itu.
"Nah, semua temanmu telah pergi, tinggal engkau sendiri. Sekarang, kau beri obat penawar kepada sahabatku itu!"
Kata Bromatmojo sambil melepaskan wanita itu.
"Heiiiiittt!"
Tiba-tiba wanita yang berpakaian hitam dan bertopeng hitam itu menyerangnya.
Gerakannya gesit sekali, jauh lebih gesit daripada gerakan wanita yang menyerang dengan pisau tadi.
Pantas saja wanita termuda ini menjadi pemimpin antara empat orang tadi, kiranya dia memang memiliki kelebihan, bukan saja paling muda dan paling cantik, akan tetapi melihat gerakannya juga memiliki kepandaian paling tinggi.
Akan tetapi tentu saja dia bukanlah lawan Bromatmojo yang dapat menangkis dengan cepat dan sekaligus menampar dengan tangan kirinya, mengenai pundak wanita itu.
"Plakk! Aduhhh...!"
Wanita itu menjerit, akan tetapi begitu terhuyung dia sudah meloncat lagi, gerakannya seperti burung sriti yang amat lincah, menerjang dengan kedua tangan mengirim pukulan keras.
"Plak! Plak! Bresss...!"
Untuk kedua kalinya, wanita itu dapat digagalkan serangannya dengan tangkisan oleh Bromatmojo yang kemudian mendorong sehingga wanita itu terlempar dan terbanting ke atas lantai.
"Ah...!"
Wanita itu mengeluarkan seruan kaget bukan main, agaknya tidak mengira bahwa pemuda tampan itu demikian hebat ilmunya, maka dia lalu meloncat ke belakang dan hendak melarikan diri.
"Perlahan dulu! Hendak lari ke mana kau?"
Bromatmojo juga meloncat dan loncatannya jauh lebih gesit sehingga dia dapat merangkul pinggang wanita itu dari belakang dan mereka terguling bersama!
Dengan mudah saja Bromatmojo memegang dan menelikung kedua tangan wanita itu ke belakang tubuh sehingga biar pun dia meronta-ronta namun sia-sia saja.
"Kau kenapa? Aku hanya minta kau menyembuhkan sahabatku!"
Kata Bromatmojo. Sejenak wanita itu tidak bergerak, lalu menarik napas panjang dan berkata,suaranya rendah menunjukkan bahwa dia tidak berdaya dan merasa kalah.
"Engkau hebat sekali, Raden. Melawan pun tidak ada gunanya bagiku, dan pula, sahabatmu itu tanpa diobati pun nanti akan sadar sendiri."
"Aku menghendaki agar dia dapat sadar sekarang!"
Kata Bromatmojo.
"Baiklah, aku mempunyai obatnya."
Bromatmojo melepaskan pegangannya.
Wanita itu membalik dan memandang kepadannya melalui dua lubang di topeng itu, matanya yang bening itu bersinar-sinar penuh kekaguman, kemudian kembali dia menarik napas panjang dan mengeluarkan sebungkus obat bubuk dari dalam saku baju hitam itu, menghampiri Sutejo dan menaburkan sedikit obat bubuk pada lubang hidung Sutejo, dipandang dan dijaga oleh Bromatmojo.
Tiba-tiba Sutejo berbangkis dua kali dan dia terbangun memandang heran, lalu meloncat bangun.
"Ada apa, Adi Bromo...?"
"Hemm, wanita-wanita itu ternyata adalah anggota-anggota Sriti Kencana, Kakang. Dan hampir saja kita kena dibius."
Sutejo teringat akan semua yang dialaminya, maka melihat wanita bertopeng itu berdiri di situ, dia cepat meloncat dan biar pun wanita itu berusaha mengelak, tetap saja Sutejo telah menangkap pergelangan tangannya dan tangan kiri pemuda itu merenggut topeng dari muka itu.
"Bretttt...!"
Dan nampaklah wajah cantik manis dari wanita termuda yang tadi memakai baju hijau! Sepasang mata yang bening itu memandang Sutejo dengan terbelalak, terkejut dan juga gentar.
"Hayo katakan!"
Sutejo berkata, suaranya mengandung kemarahan besar.
"Siapa pemimpin kalian dan siapa pula yang mencuri keris pusaka Kolonadah, dan di mana keris itu sekarang? Hayo cepat kau mengaku!"
Tiba-tiba terjadi perubahan wajah yang cantik manis itu. Kalau tadinya dia kelihatan gentar, tiba-tiba sinar matanya penuh tantangan.
"Kami para anggota Sriti Kencana bukanlah kaum pengkhianat dan pengecut. Kami tidak takut mati dan kalau kau hendak membunuhku, kau bunuhlah!"
Mendengar tantangan ini Sutejo makin marah.
"Kau penjahat wanita sombong! Orang seperti engkau masih bicara tentang kegagahan, bukan pengkhianat dan bukan pengecut? Huh, kalian anggota-anggota Sriti Kencana adalah sekumpulan maling betina, menggunakan rayuan palsu untuk menjatuhkan kami. Hayo mengaku tidak?"
Sutejo memperkeras cekalannya pada pergelangan tangan itu dan gadis itu menyeringai.
Bukan main nyerinya rasa lengannya, seperti akan hancur dalam cengkeraman tangan pemuda tinggi tegap itu.
Maklumlah dia bahwa pemuda ini sakti bukan main dan dia bukanlah lawannya, akan tetapi tetap saja dia tidak mau menyerah.
"Tidak perlu banyak cakap. Bunuhlah! Aku tidak takut mati!"
Sepasang mata yang bening itu bersinar-sinar penuh tantangan.
"Bagus! Aku tidak akan membunuhmu, akan tetapi aku bisa memotong hidungmu dan merobek pipi dan bibirmu!"
Sutejo melepaskan gadis itu, secepat kilat dia menyambar pisau belati milik Cempaka yang tadi menyerang Bromatmojo.
Ketika merasa dirinya dilepaskan gadis bernama Ayu itu cepat menyambar burung sriti emas di kepalanya, lalu menyambitkan burung emas itu ke arah Sutejo.
Kiranya hiasan kepala itu pun dapat dipergunakan sebagai senjata rahasia yang ampuh karena ketika menyambar ke arah Sutejo, burung emas itu mengeluarkan suara mengaung dan cepat sekali luncurannya, dengan patuk siap menusuk sasaran!
Akan tetapi, tentu saja serangan seperti itu bukan apa-apa lagi bagi Sutejo.
Dia miringkan tubuh dan ketika tangan kirinya menyambar, dia telah menangkap burung emas itu yang dia lemparkan ke arah Bromatmojo.
Ayu hendak meloncat dan lari, terkejut menyaksikan betapa sambitannya dihindarkan dengan demikian mudahnya.
Akan tetapi tahu-tahu dia melihat bayangan berkelebat dan ketika dia mengangkat mukanya, ternyata pemuda tinggi tegap itu telah berdiri di depannya, menghadang jalan keluar melalui pintu belakang.
Karena nekat, Ayu lalu menubruk dan mengirim serangan, akan tetapi dengan tangkisan dan tamparan, kembali lengannya dapat dipegang dan ditelikung ke belakang, dan kini pisau tajam itu ditempelkan di lehernya!
"Bunuhlah!
Bunuhlah aku!"
Dia menantang. Sutejo menggeleng dan tersenyum mengejek.
"Tidak, karena aku tahu bahwa engkau tidak takut mati. Akan tetapi ingin kulihat apakah engkau tidak takut kalau hidungmu kupotong, pipi dan bibirmu kurobek dengan pisau ini!"
Wajah itu pucat sekali, matanya terbelalak ketika pisau itu kini menempel di hidungnya yang kecil mancung. Air mata menetes-netes turun dari kedua matanya.
"Nah, kau masih tidak mau mengaku dan menjawab pertanyaanku tadi?"
Sutejo mengancam. Ayu menggeleng kepala sehingga Sutejo harus menarik kembali pisaunya agar jangan sampai mengiris hidung yang bentuknya indah itu.
"Kalau begitu, aku akan benar-benar akan membuntungi hidungmu!"
Pisau itu ditekan dan Ayu memejamkan matanya. Air matanya turun seperti hujan menetes-netes melalui kanan kiri hidungnya.
"Tahan Kakang Tejo! Jangan siksa dia!"
Tiba-tiba Bromatmojo berkata setelah tadi dia berkedip dan bermain mata dengan Sutejo.
"Huh, kenapa kau membela penjahat wanita ini, Adi Bromo? Sudah patut kalau dia kehilangan hidungnya, pipi dan bibirnya robek-robek agar dia tidak dapat menggunakan kecantikannya untuk menjebak orang lain!"
Kata Sutejo dan dia mendorong tubuh Ayu sehingga gadis itu terlempar ke atas pembaringan.
Ayu membuka matanya, meraba hidungnya dan dia menangis sesenggukan ketika mendapat kenyataan bahwa hidungnya masih ada, pipi dan bibirnya belum terobek.
Akan tetapi dia takut setengah mati.
Bromatmojo sudah mendekatinya dan merangkulnya.
"Ahh, sungguh keterlaluan sekali Kakang Tejo sahabatku itu..."
Katanya berbisik mesra.
"Masa orang cantik manisnya hendak dirusak mukanya. Terlalu sekali, terlalu! Pipi yang begini halus,hidung mancung dan bibir begini indah..."
Bromatmojo mengambung pipi dan hidung itu, kemudian dia mengecup bibir itu.
Ayu tersedak dan membuka matanya yang tadi dipejamkan, memandang wajah Bromatmojo yang begitu dekat.
Dia kaget bukan main ketika tadi pipi dan hidungnya diambung, bibirnya dicium.
Melihat betapa sepasang mata pemuda tampan itu memandangnya demikian mesra, dia tidak dapat menahan keharuan hatinya.
Dia menubruk, merangkul dan menangis di atas pundak Bromatmojo.
"Ahhhh..., Raden... saya... bukan penjahat wanita..."
Dia terisak-isak. Bomatmojo mengelus-elus rambut yang panjang hitam dan harum itu.
"Hemm, tentu saja bukan, Nimas. Engkau seorang gadis yang amat manis dan gagah perkasa..."
Kata Bromatmojo sambil memandang kepada Sutejo dari pundak Ayu, mengedipkan mata dan tersenyum.
Akan tetapi Sutejo memandang marah, mulutnya cemberut lalu membalikkan tubuhnya dengan gerakan cepat untuk menunjukkan kemarahannya dan kemuakannya melihat rayuan maut yang dimainkan oleh Bromatmojo kepada Ayu itu.
Dengan marah Sutejo mengepal tinju, duduk di atas bangku di dalam kamar itu dengan punggung menghadap pembaringan di mana Bromatmojo sedang merayu Ayu.
"Nimas, siapakah namamu?"
Ayu terisak-isak, menahan tangisnya kemudian terdengar suaranya lirih.
"Nama saya Ayu Kunti, Raden..."
"Nama yang bagus, dan tepat. Memang kau ayu sekali, Nimas. Akan tetapi orang yang cantik manis dan masih muda seperti engkau ini, kenapa menjadi anggota Sriti Kencana, bahkan rela mati untuk perkumpulan itu? Aku Bromatmojo dan aku percaya bahwa engkau bukan orang jahat. Akan tetapi engkau pun harus mengerti bahwa kami juga bukan orang jahat."
"Akan tetapi sahabatmu itu..., dia begitu kejam..."
Kata Ayu Kunti.
"Dia? Ah, dia sedang marah karena ingat bahwa dia telah kalian bius sampai pingsan! Ha-ha, akan tetapi dia adalah seorang yang amat baik, sama sekali tidak kejam,"
Kata Bromatmojo.
"Dan andika sendiri, Raden? Kenapa tidak pingsan terbius...? Padahal andika juga minum dan makan ketan..."
"Aku? Tak mungkin kau dapat membius aku, Ayu. Aku adalah racun! Aku telah minum obat penawar sebelumnya."
"Bagus! Dan kau membiarkan aku terbius, ya? Sahabat macam engkau, Adi Bromo!"
Sutejo membalik dan memandang marah.
"Maaf, Kakang. Tidak waktu untuk memberimu obat penawar itu. Akan tetapi mari kita dengarkan penuturan Ayu Kunti. Sebagai seorang wanita perkasa dan orang baik-baik kuyakin dia suka menceritakan tentang Sriti Kencana. Bukankah begitu, Nimas Ayu?"
Ayu Kunti menarik napas panjang.
Menghadapi pemuda yang begini tampan, begini halus, begini mesra, sedangkan ciumannya tadi saja sudah bisa membikin dia semaput, dia menjadi "mati kutu", tak mungkin dia mampu menolak permintaannya.
"Baiklah, akan kuceritakan, Raden..."
"Hushh, jangan menyebutku raden. Kakangmas kan lebih akrab?"
Wajah dara itu menjadi merah.
Bukan main pemuda ini!
Begitu menyenangkan, begitu pandai mengelus hatinya.
Ingin dia merangkul dan mencium pemuda ini kalau saja di situ tidak ada Sutejo yang masih keruh wajahnya dan marah pandang matanya.
"Terima kasih, Kakangmas!"
Bromatmojo tersenyum ketika melihat sinar mata Sutejo seolah-olah hendak membakarnya!
Maka dia sengaja hendak mempermainkan sahabatnya itu dan juga untuk menundukkan hati Ayu Kunti yang dia dapat menduga seorang gadis yang penuh keberanian dan kesetiaan terhadap perkumpulan Sriti Kencana,akan tetapi juga seorang gadis yang "panas"
Dan tentu mau melakukan apa saja kalau sudah jatuh hati.
Apalagi dia mendengar pula pernyataan Ayu Kunti ketika dia pura-pura pingsan tadi, bahwa Ayu Kunti akan hidup bahagia kalau bisa menjadi isterinya!
Hal ini berarti bahwa Ayu Kunti telah tergia-gila kepadanya,maka dia sengaja merayu dengan mesra gadis ini untuk memancing keterangan darinya.
"Nah, Nimas Ayu Kunti yang cantik manis! Engkau tentu maklum bahwa sesungguhnya antara kami berdua dan Sriti Kencana tidak terdapat permusuhan apa pun, dan mungkin hanya karena keris pusaka Kolonadah itu sajalah maka kami dimusuhi oleh Sriti Kencana. Oleh karena itu, setelah kita menjadi sahabat, kau ceritakanlah sejelasnya tentang rahasia ini semua."
"Saya percaya sepenuhnya kepadamu, Kakangmas Bromatmojo. Dengarlah, saya akan menceritakan semua karena sesungguhnya tidak ada rahasia yang memalukan dalam perkumpulan kami. Perkumpulan kami dikenal sebagai Sriti Kencana karena hiasan kepala yang merupakan senjata rahasia kami berupa burung sriti emas itu. Perkumpulan kami didirikan kurang lebih dua tahun yang lalu dan kami para anggota Sriti Kencana terdiri dari dua puluh wanita yang kesemuanya memiliki kepandaian pencak silat yang kemudian ditambah dengan bimbingan dua orang pimpinan kami. Kami dipimpin oleh dua orang yang hanya kami kenal sebagai seorang pria dan seorang wanita yang keduanya masih muda remaja."
"Siapakah mereka?"
"Kami tidak tahu, Kakangmas. Tidak ada seorang pun di antara kami yang pernah melihat wajah mereka berdua dan karena kami tahu dari suara dan tingkah laku mereka bahwa mereka itu keduanya masih amat muda sungguh pun ilmu kepandaian mereka hebat sekali dan mereka itu sakti mandraguna, maka kami semua anggota hanya menyebut mereka Raden Bagus dan Raden Roro saja."
"Hemm, sungguh menarik,"
Kata Sutejo yang kini ikut pula bicara, kemarahannya agak mereda karena dia tertarik mendengarkan penuturan Ayu Kunti.
"Apa saja yang dilakukan oleh Sriti Kencana?"
Ayu Kunti melirik ke arah Sutejo, akan tetapi Bromatmojo mengelus lengannya dengan mesra sehingga dara itu yang belum pernah dibelai oleh seorang pria,belum pernah disentuh tangan pria, apalagi begitu mesranya, merasa betapa seluruh bulu di tubuhnya meremang dan jantungnya berdebar tidak karuan.
"Kami melakukan semua pekerjaan yang diperintahkan oleh dua orang pimpinan kami itu, dan selalu pekerjaan itu merupakan pekerjaan menentang kejahatan. Terutama sekali kami harus menghajar, kalau perlu membunuh, para pejabat yang berlaku sewenang-wenang terhadap rakyatnya dan banyak lagi yang kami lakukan, akan tetapi semua itu adalah demi rakyat yang tertindas."
"Hemm, sungguh hebat dan aneh!"
Bromatmojo berseru.
"Dan kalian menjadi anggota-anggota yang demikian setia dari perkumpulan aneh seperti itu? Sungguh luar biasa sekali kalau tidak ada latar belakangnya!"
"Begini, Kakangmas. Kami sebetulnya adalah penduduk di sekitar Tuban. Ada pula yang telah bersuami, dan saya sendiri adalah anak dari seorang yogo (penabuh gamelan) yang bekerja di Kabupaten Tuban, ibu saya seorang pesinden yang terkenal. Kami, wanita-wanita yang usianya antara delapan belas sampai tiga puluh tahun, yang memiliki ilmu silat, diterima menjadi anggota Sriti Kencana oleh Raden Bagus dan Raden Roro, setelah disumpah untuk setia dan memang kami semua mempunyai tekad yang sama, yaitu memberantas kejahatan dan membela rakyat yang tertindas. Dan untuk ini, kami menerima upah yang cukup besar dari pimpinan kami. Tentu saja kami memegang rahasia kami, bahkan ayah ibu saya pun tidak tahu bahwa saya menjadi anggota Sriti Kencana yang ditakuti orang-orang jahat itu, juga para isteri itu tidak ada yang berani membuka rahasia kepada suami mereka."
"Akan tetapi engkau telah membuka rahasia kepadaku, Nimas,"
Bromatmojo sengaja berkata sambil merangkul.
"Karena... karena saya telah tertawan... dan paduka... eh, biarlah, saya siap untuk menerima hukuman dari pimpinan kami."
"Hukuman? Apa hukumannya?"
"Apalagi kalau bukan hukuman mati? Akan tetapi saya rela mati untuk paduka..."
Ayu Kunti balas merangkul, tidak memperdulikan lagi kepada Sutejo. Melihat pemuda itu kembali menjadi merah mukanya dan sinar matanya tak senang, Bromatmojo cepat melepaskan rangkulannya.
"Tidak, Nimas. Aku akan bertemu dengan pimpinanmu dan aku akan mintakan ampun untukmu. Sekarang ceritakan tentang keris pusaka Kolonadah. Ketika kami berdua diserbu oleh para perajurit Tuban itu, ada seorang anggota Sriti Kencana yang mencuri atau mengambil keris itu, bukan? Siapa dia?"
"Dia adalah Den Roro sendiri, Kakangmas!"
"Ah...!"
Bromatmojo berseru, teringat betapa kuatnya tenaga pimpinan Sriti Kencana itu ketika mereka saling beradu tangan.
"Kami telah lama menerima perintah untuk menyelidiki dan membayangi gerak-gerik para perajurit Tuban yang dipimpin oleh Klabang Curing dan para perajurit dari Mojopahit yang dipimpin oleh Gagaksona. Ketika malam itu mereka mengurung andika berdua yang sedang menggali di tepi Sungai Tambakberas di dalam hutan itu, kami cepat mengirim laporan kepada Den Roro yang kebetulan berada di dekat tempat itu. Den Roro lalu turun tangan sendiri, mengambil keris pusaka itu setelah melihat andika berdua dan para perajurit itu memperebutkan keris pusaka Kolonadah yang memang sudah lama dihebohkan orang dan dicari-cari itu. Kemudian Den Roro memerintahkan kepada kami berempat untuk membayangi andika dan menangkap andika berdua karena pimpinan kami menganggap andika berdua adalah pencuri-pencuri yang telah berhasil menemukan tempat keris pusaka itu tersembunyi. Kami diperintahkan menangkap, bukan membunuh karena menurut Den Roro, biar pun andika berdua adalah pencuri-pencuri, akan tetapi telah berjasa menemukan keris pusaka itu."
"Hemm, keparat! Dia yang menjadi kepala maling yang mencuri keris itu dan dia menuduh kami pencuri-pencuri!"
Sutejo membentak marah.
"Tenanglah, Kakang. Kita hanya disangka saja, karena Den Roro itu belum mengenal siapa kita. Betapa pun juga, dia adalah kepala dari sekelompok wanita-wanita perkasa..."
"Huh! Kau selalu lemah kalau berhadapan dengan wanita!"
Sutejo berkata dengan nada suara kesal dan muak. Bromatmojo tersenyum dan bertanya kepada Ayu Kunti.
"Nimas, sekarang di mana adanya Den Roro itu dan apakah keris itu dibawanya?"
"Benar, Kakangmas."
"Sebenarnya, siapakah dia dan di mana dia tinggal?"
"Sudah saya katakan, kami semua tidak ada yang pernah melihat wajahnya, dan karena cara bicaranya seperti priyayi agung, maka kami menyebutnya Den Roro dan Den Bagus. Tentu saja kami tidak tahu di mana mereka tinggal?"
"Dan di mana biasanya kalian berkumpul dan mengadakan pertemuan?"
"Ah, rahasia besar..., Kakangmas."
Bromatmojo mengerutkan alisnya dan memandang tajam, mengambil sikap seperti orang kecewa dan berduka.
"Ahhh... jadi engkau masih belum percaya benar kepadaku, Nimas?"
Ayu Kunti cepat memegang lengan "pemuda"
Itu.
"Tidak, tidak sama sekali, Kakangmas. Aku sudah menceritakan semuanya, bahkan saya rela untuk mati demi andika, tentu saja saya sudah percaya sepenuhnya. Cuma saya... andika berdua demikian sakti, dan saya tidak ingin melihat andika berdua menghancurkan perkumpulan kami."
"Ihh, bocah ayu yang bodoh!"
Bromatmojo mencubit dagu meruncing halus itu.
"Siapa yang akan menghancurkan perkumpulanmu yang gagah itu? Kami hanya ingin ke sana untuk bertemu dan bicara dengan pimpinanmu."
"Akan tetapi, kalau saya yang mengantar andika berdua ke sana, hal itu merupakan dosa dan pelanggaran sumpah yang amat besar, Kakangmas. Pula, kedua orang teman saya tadi, bahkan juga mbakayu Cempaka, tentu kini telah memberi pelaporan tentang andika berdua dan sebentar lagi Den Roro tentu akan berada di sini."
Tiba-tiba terdengar suara suitan nyaring melengking dari luar rumah itu dan wajah Ayu Kunti seketika menjadi pucat sekali, tangannya yang tadi memegang lengan Bromatmojo menggigil.
"Omonganmu benar, Ayu!"
Terdengar suara halus merdu namun cukup nyaring.
"Ajak mereka menemui kami ke tepi sungai di kaki pegunungan kapur di barat!"
Sutejo sudah melompat dan lari keluar dari warung itu, memandang ke kanan kiri, akan tetapi tidak melihat ada orang, kecuali beberapa orang petani yang agaknya mulai pergi ke sawah ladang mereka memanggul cangkul dan beberapa orang wanita menggendong dan yang laki-laki memikul, agaknya mereka yang dari dusun-dusun hendak berdagang ke kota Tuban.
Tidak kelihatan ada orang berpakaian hitam, apalagi bertopeng hitam.
Maka dia cepat berlari kembali ke dalam.
"Mari, Kakang Tejo. Nimas Ayu Kunti akan mengantarkan kita bertemu dengan mereka. Tadi adalah Den Roro pemimpin mereka yang mengundang kita,"
Kata Bromatmojo yang sudah berdiri dan menggandeng tangan Ayu Kunti. Sutejo mengerutkan alisnya.
"Adi Bromo, aku tidak suka akan semua ini. Kita tentu akan terjebak lagi. Aku paling tidak percaya kepada wanita-wanita, mereka itu curang dan licik."
"Kakang Tejo, jangan bicara begitu bodoh!"
Bromatmojo membentak, marah sehingga mengejutkan Sutejo.
"Kalau Kakang merasa takut, tinggallah saja di sini dan biar aku sendirian menghadapi mereka!"
Sutejo membelalakkan mata.
"Eh, eh... bagaimana kau bisa berkata demikian, Adi Bromo? Tentu saja aku tidak takut dan akan membantumu sampai berhasil. Akan tetapi, aku hanya khawatir mereka ini akan berlaku curang seperti tadi..."
Ayu Kunti segera maju membela Bromatmojo.
"Raden sebetulnya kami sama sekali tidak dan bukan orang-orang yang bersikap curang dan pengecut, apalagi pimpinan kami! Kalau kami tadi menggunakan obat bius untuk menangkap andika berdua hanyalah karena kami merasa tidak akan menang menggunakan kekerasan, sedangkan perintah pimpinan kami adalah bahwa kami harus menawan andika berdua."
"Maaf, Kakang Tejo. Bukan maksudku menyatakan engkau penakut, akan tetapi untuk mendapatkan keris pusaka itu, kita harus berani menghadapi bahaya apa pun juga."
Sutejo menarik napas panjang.
"Baiklah, sebetulnya aku tidak akan takut menghadapi musuh yang bagaimana pun juga, asal jangan perempuan-perempuan yang..."
"Sudahlah!"
Bromatmojo memotong dengan nada suara tak sabar.
"Mari kita berangkat!"
Mereka bertiga lalu pergi meninggalkan warung itu.
Di sepanjang perjalanan Bromatmojo menggandeng tangan Ayu Kunti dan mereka kelihatan bersikap mesra dan saling mencinta.
Hal ini membuat hati Sutejo menjadi semakin panas dan tidak senang.
Dia tidak dapat menduga, karena pikirannya penuh dengan kemarahan, bahwa Bromatmojo melakukan hal itu untuk mencegah kalau-kalau anggota Sriti Kencana itu menggunakan akal untuk melarikan diri.
Dengan adanya Ayu Kunti di tangannya, setidaknya dia dapat mencegah kecurangan dilakukan oleh pihak musuh.
Tempat yang dimaksudkan itu ternyata tidak begitu jauh.
Terletak di sebelah barat kota Tuban di mana terdapat pegunugan kapur yang memanjang dari barat ke timur dan di kaki sebuah di antara gunung-gunung kapur itu memang terdapat sebatang sungai kecil yang airnya sedikit sekali, hampir kering.
Akan tetapi kaki gunung kapur ini masih cukup mempunyai tanah sehingga berbeda dengan gunungnya sendiri yang gundul dan keputih-putihan, di tempat ini masih ditumbuhi pohon-pohon dan rumput yang tidak begitu rimbun dan segar keadaannya.
Tempat itu sunyi sekali karena kaum tani juga enggan untuk mengolah tanah yang dangkal dan bercampur kapur itu yang hasilnya tidak dapat banyak diharapkan.
Ketika tiga orang itu tiba di situ, Bromatmojo makin erat menggandeng tangan Ayu Kunti dan gadis ini memandang kepadanya dengan sinar mata mesra di balik topeng yang sudah dipakainya lagi itu, dan terdengar dia berbisik.
"Terima kasih Kakangmas, dengan andika di samping saya, saya tidak takut apa-apa lagi..."
Bromatmojo hanya tersenyum dan memandang ke depan penuh kewaspadaan, seperti juga dilakukan oleh Sutejo.
Tiba-tiba, ketika mereka telah tiba di tepi sungai kecil itu, nampak bermunculan dari balik-balik batang pohon dan batu, banyak sekali orang-orang yang berpakaian serba hitam dan bertopeng hitam, semua memakai hiasan kepala seekor burung sriti emas yang berkilauan tertimpa sinar matahari yang sudah mulai condong ke barat.
Bromatmojo melepaskan tangan Ayu Kunti karena setelah dia berhadapan dengan mereka dan tidak mengkhawatirkan jebakan lagi, dia tidak memerlukan Ayu Kunti.
Sutejo berdiri tegak dan memandang ke sekeliling dengan sinar matanya yang tajam.
Sejenak mereka semua diam dan dua puluh satu orang bertopeng itu, termasuk Ayu Kunti, telah mengurung dua orang muda ini.
Bromatmojo menghitung dan tahu bahwa jumlah mereka itu kurang satu.
Karena pakaian mereka sama semua, dia tidak dapat menduga yang mana di antara mereka itu yang menjadi pemimpin, maka dia hanya menanti.
Juga Sutejo hanya mencari-cari dengan pandang matanya, namun dia tidak dapat menduga pula yang mana pemimpinnya.
Akan tetapi, tiba-tiba dengan suaranya Sang Pemimpin memperkenalkan dirinya sendiri dengan kata-kata yang berwibawa namun merdu terhadap Ayu Kunti.
"Ayu! Bagaimana sikap mereka terhadap dirimu?"
Ayu Kunti kelihatan terkejut, menghadapi kepalanya yang bertubuh ramping kecil itu dan berkata.
"Den Roro, mereka adalah pemuda-pemuda yang gagah dan sakti mandraguna, juga mereka tidak melakukan sesuatu yang buruk terhadap saya."
Diam-diam Sutejo harus mengakui bahwa hanya berkat rayuan maut Bromatmojo saja maka Ayu Kunti tidak melaporkan kepada pemimpinnya betapa gadis itu tadi dia ancam akan dipotong hidungnya dan dirobek pipi dan bibirnya, sungguh pun hal itu hanya dipergunakannya untuk menakuti-nakutinya saja.
"Hemm, sudah kusangka demikian. Eh, Kisanak berdua. Kami melihat bahwa kalian berdua adalah pemuda-pemuda yang perkasa dan gagah...!"
"Tidak seperti kalian yang menggunakan kecurangan untuk mencelakakan kami!"
Sutejo memotong dengan suara tegas. Orang yang bertopeng yang disebut Den Roro itu, yang tubuhnya ramping kecil, menoleh kepadanya dan memandang tajam sejenak.
"Maaf, Kisanak. Anak buah kami hanya menjalankan tugas untuk mencoba menangkap kalian, akan tetapi ternyata gagal. Kalau boleh kami mengetahui, siapakah kalian?"
"Namaku Bromatmojo dan sahabatku ini bernama Sutejo."
"Sungguh mengherankan, orang-orang muda yang gagah perkasa seperti kalian ini mengapa melakukan perbuatan yang demikian tak terpuji, membongkar kuburan orang dan hendak mencuri sebatang keris pusaka?"
"Eh, eh, perlahan dulu engkau menuduh orang!"
Bromatmojo berseru marah.
"Keris pusaka Kolonadah itu banyak diperebutkan banyak orang, dan kami yang mengetahui tempatnya mengambil keris itu dengan baik. Akan tetapi andika malah mencurinya selagi kami menghadapi serbuan perajurit-perajurit itu, dan sekarang andika menuduh kami mencuri! Sungguh tidak pantas!"
"Memang aku telah mengambil keris itu. Inilah dia!"
Den Roro yang berkedok itu mengeluarkan keris pusaka Kolonadah yang dibungkusnya dengan kain kuning.
"Akan tetapi aku tidak mencuri, aku hanya mengambilnya lebih dulu untuk menentukan siapa yang berhak karena tadinya aku menyangka bahwa andika berdua adalah pencuri-pencuri yang tidak berhak, demikian pula para perajurit itu. Tahukah kalian milik siapa keris pusaka Kolonadah ini?"
Bromatmojo menjawab cepat.
"Milik mendiang Adipati Ronggo Lawe di Tuban!"
"Hemm, ternyata andika tahu benar. Lalu bagaimana andika tahu bahwa keris itu berada bersama kerangka itu di sana, padahal orang seluruh Tuban dan Mojopahit mencari-carinya tanpa hasil?"
"Den Roro atau siapa pun juga namamu, orang bertopeng! Kalau andika merahasiakan keadaan andika, bahkan wajah pun dirahasiakan, maka kami pun mempunyai rahasia kami sendiri. Bagaimana kami mengetahui tentang di mana adanya Kolonadah merupakan rahasia kami yang tidak akan kami ceritakan kepada siapa pun."
Sepasang mata di balik topeng itu bersinar-sinar, agaknya dia kagum akan tetapi juga penasaran melihat sikap Bromatmojo, pemuda yang amat tampan dan berani itu.
"Akan tetapi setidaknya tentu andika dapat mengatakan apakah andika berdua berhak atas pusaka ini?"
"Tentu saja!"
"Atas hak yang bagaimana?"
"Tahukah andika, wahai gadis bertopeng, siapa pencipta Kolonadah?"
Gadis bertopeng itu menggeleng kepala.
"Aku... aku tidak tahu."
"Penciptanya adalah guru mendiang Adipati Ronggo Lawe. Tahukah andika siapa beliau?"
Kembali wanita itu menggeleng kepala.
"Guru mendiang Adipati Ronggo Lawe adalah Empu Supamadrangi di puncak Bromo, dan beliau adalah guruku pula! Nah, beliau yang mengutus aku untuk mengambil pusaka itu, akan tetapi ternyata ketika kami dikeroyok orang, engkau telah mencurinya!"
Sepasang mata itu berkilat-kilat.
"Kami bukan pencuri!"
Bentaknya, nyaring akan tetapi merdu suaranya itu.
"Kalau bukan pencuri, mengapa tidak kau kembalikan kepadaku?"
Bromatmojo berkata dengan suara lantang.
"Kini kau malah mengumpulkan semua anak buahmu, dan agaknya hendak mengeroyok kami berdua, bukankah hal itu menunjukkan bahwa engkau bukan hanya pencuri melainkan juga perampok?"
"Hemm, Bromatmojo, lancang sekali ucapanmu! Sudah kukatakan bahwa aku tidak mencuri, hanya karena tidak ingin pusaka ini terjatuh ke tangan orang jahat, maka aku mengambilnya ketika terjadi pertempuran itu, karena aku belum tahu siapa adanya andika berdua. Akan tetapi sekarang, setelah kami mengetahui bahwa engkau adalah utusan pencipta keris ini, semestinya memang harus kukembalikan kalau saja engkau tidak begitu lancang mulut."
"Hemm, bocah ayu..."
"Ceriwis! Bagaimana kau bisa mengatakan ayu kalau kau belum melihat wajahku?"
"Orang yang suaranya seperti andika, dengan bentuk tubuh seperti andika, tidak bisa tidak tentu ayu seperti bidadari dari Kahyangan. Kalau benar aku lancang mulut, lalu kau mau apa?"
Bromatmojo menantang.
"Adi Bromo! Jangan begitu...!"
Sutejo mencela karena menganggap sikap sahabatnya itu keterlaluan. Akan tetapi Den Roro yang memakai topeng itu sudah menjadi marah.
"Bromatmojo, kalau begitu, engkau harus bisa mengalahkan aku lebih dulu sebelum engkau berhak memiliki keris pusaka Kolonadah!"
Setelah berkata demikian, dia menyerahkan keris yang dibungkus kain kuning itu kepada seorang anak buahnya dan ia melangkah maju, memasang kuda-kuda menghadapi Bromatmojo.
"Hemm, boleh saja, manis. Bersiaplah engkau!"
Kata Bromatmojo dan dia segera menggerakkan kaki tangannya menerjang ke depan dengan hebat, melakukan tamparan-tamparan dari kanan kiri.
"Plak-plak-plak!"
Kepala perkumpulan yang memakai nama samaran Sriti Kencana itu mengelak mundur sambil menangkis dengan tangannya pula, kemudian balas menyerang dengan kecepatan luar biasa.
Tubuhnya seperti terbang saja menyerang dengan kedua tangannya membentuk sayap-sayap burung yang menampar dari kanan kiri sambil meloncat tinggi.
"Hemm, engkau memang patut menjadi burung sriti!"
Kata Bromatmojo sambil cepat mengelak karena dia melihat betapa gerakan lawannya memang amat cepat dan tangkas.
Sebetulnya, biar pun Sriti Kencana memiliki kelebihan dalam ilmu meringankan tubuhnya, namun dalam hal pukulan dan aji kesaktian, Bromatmojo masih lebih menang, karena memang memiliki dasar yang lebih matang.
Akan tetapi Bromatmojo kini telah yakin bahwa Sriti Kencana memang bukan sekumpulan orang-orang jahat dan sekarang buktinya, kepalanya tidak mengerahkan anak buah yang sebanyak itu untuk mengeroyok.
Semua wanita bertopeng itu hanya mengurung tempat itu dan menjadi penonton, dengan kedua lengan bersilang di dada, sama sekali tidak ada tanda-tanda mereka hendak mengeroyok.
Agak lega juga hati Sutejo melihat betapa sahabatnya itu tidak melakukan pukulan yang sungguh-sungguh, melainkan mendesak lawan dengan tamparan-tamparannya yang mengandung hawa pukulan ampuh dan kuat sekali.
Seru dan hebat pertandingan itu, berlangsung lama juga.
Akan tetapi lama kelamaan Sriti Kencana kelihatan lemah gerakannya dan setiap kali lengannya beradu dengan lengan Bromatmojo, dia mengeluh dan terhuyung.
Akhirnya, tamparan Bromatmojo mengenai pundak kirinya dan dia terhuyung lalu jatuh terduduk.
Napasnya terengah-engah dan dengan lengan bajunya dia menghapus peluhnya.
Dengan anggukan kepala dia memberi isyarat kepada anak buahnya yang membawa keris.
"Berikan pusaka itu kepadanya!"
Anak buahnya itu cepat menghampiri Bromatmojo yang berdiri dengan bertolak pinggang, menyerahkan keris yang diterima dengan bangga oleh Bromatmojo.
Dibukanya kain kuning itu dan setelah melihat bahwa keris itu memang benar pusaka Kolonadah yang mengeluarkan hawa panas menyeramkan sehingga cepat-cepat dia membungkusnya kembali dengan kain kuning, dia memandang ke arah Sriti Kencana yang telah bangkit berdiri.
"Terima kasih, Sriti Kencana ataukah... Den Roro?"
Wanita bertopeng itu hanya berkata.
"Engkau telah menang, tidak ada perlunya lagi mengejek. Engkau memang gagah dan sakti, akan tetapi sikapmu menyakitkan hati."
Dengan isak tertahan, Sriti Kencana membalikkan tubuhnya dan cepat pergi diikuti oleh dua puluh orang anak buahnya. Setelah mereka pergi, Sutejo berkata mengomel.
"Engkau benar-benar terlalu sekali, Adi Bromo. Sikapmu memang benar menyakitkan hati seperti kata-katanya tadi."
"Eh, eh..., sejak kapan engkau membela musuh, Kakang Tejo? Apakah engkau akan lebih senang kalau aku tadi kalah dan pusaka ini tetap dibawa olehnya?"
"Engkau tahu bahwa bukan begitu maksudku. Akan tetapi, jelas bahwa dia seorang gadis yang hebat, gagah perkasa dan pemberani, menentang kejahatan dan membentuk kelompok wanita-wanita yang begitu hebat berani menentang kejahatan. Dan engkau... engkau bersikap begitu memandang rendah, padahal dia bukan pencuri, bahkan dia menyerahkan keris itu dengan baik-baik."
"Hemm..., kalau menurut pendapatmu, bagaimana sebaiknya menghadapi mereka?"
"Sikapmu sudah jelas, mengapa pakai tanya-tanya segala?"
"Sikapku bagaimana maksudmu?"
"Tadi engkau merayu Ayu Kunti, dan kini engkau menghina pemimpinnya. Aku tahu mengapa engkau melakukan hal itu."
"Memang kau pandai, Kakang tejo, kau tahu segala. Nah, katakan, apa yang kau ketahui sehingga aku melakukan hal itu?"
"Karena kau telah melihat bahwa Ayu Kunti cantik, maka kau merayunya sehingga dia jatuh hati. Sebaliknya, pemimpinnya itu belum kau lihat wajahnya, dan karena kau takut kalau-kalau dia tidak cantik, maka kau tega menyakitkan hatinya dengan sikapmu yang merendahkan dan sombong."
"Sombong? Aku...? Sombong?"
"Ya, kau sombong sekali menghadapi seorang wanita yang begitu gagah dan baik budi. Engkau terlalu mengandalkan kepandaian hanya untuk menghina wanita,padahal dia sudah berjasa terhadapmu."
"Eh, Kakang Tejo. Kau menuduhku sembarangan dan kau bilang dia berjasa? Jasa yang mana?"
"Kalau bukan dia yang mengambil keris pusaka itu dan menyimpannya, dalam keributan ketika kita dikeroyok itu, bukankah ada bahaya pusaka itu lenyap diambil orang lain?"
Bromatmojo mengangguk-angguk, lalu memandang tajam.
"Agaknya pembelaanmu terhadap wanita itu ada benarnya juga, Kakang Tejo. Akan tetapi mengapa sekarang kau tiba-tiba saja membela dia secara mati-matian? Kakang, engkau belum melihat wajahnya bagaimana, namun engkau sudah membelanya..."
"Aku tidak seperti engkau yang gila wanita cantik!"
Tejo berkata marah.
"Eh, eh, kau memandang rendah wanita cantik?"
"Aku tidak memandang kecantikannya, melainkan budi pekertinya. Wanita cantik biasanya berhati curang dan karena mengandalkan kecantikannya maka dia memandang rendah kaum pria dan suka mempermainkannya. Wanita cantik seperti ular berbisa..."
"Eh, eh! Mengapa kau ini? Tiada hujan tiada angin memaki-maki wanita cantik? Kakang Tejo, kalau engkau kelak memilih kekasih..."
"Aku bukan tukang merayu wanita seperti engkau, aku tidak akan memilih kekasih!"
"Hemm, kalau engkau kelak berpacaran..."
"Aku muak dengan itu!"
Bromatmojo memandang dengan mata terbelalak.
"Muak? Muak dengan pacaran, berkasih-kasihan? Ah, Kakang Tejo, apakah engkau sudah gila?"
"Hemm, berani kau bilang begitu? Mengapa kau mengatakan aku sudah gila?"
"Karena, Kakang, manusia dijelmakan berkelamin dua jenis, untuk saling tertarik,saling mencinta, berpacaran, menikah sebagai suami isteri, mempunyai keturunan..."
"Tapi tidak untuk saling menggoda, saling merayu palsu seperti engkau! Pemuda macam apa engkau ini, setiap melihat wanita cantik lalu menjadi hijau matanya,merayu setiap wanita cantik dengan kata-kata dan sikap halus, mengandalkan ketampanan. Adi Bromo, engkau harus sadar dari penyelewenganmu dan kembali ke jalan benar!"
Kata Sutejo dengan sikap sungguh-sungguh. Bromatmojo bersedekap dan memandang pemuda itu dengan mata bersinar-sinar.
"Ehem,sahabatku yang mulia, yang alim, yang agaknya akan menjadi pertapa muda yang tahan uji, seorang pria utama yang memandang rendah kaum wanita, yang membutakan mata terhadap keindahan dan kecantikan, ceritakanlah kepadaku, wejanglah aku agar aku dapat kembali ke jalan benar!"
Sutejo tidak memperdulikan kata-kata dan sikap yang mengejek ini, lalu dia duduk di atas batu besar dan dengan bersungut-sungut tanpa memandang wajah Bromatmojo dia berkata.
"Aku tahu bahwa engkau seorang pemuda yang baik dan memiliki kesaktian, murid seorang pertapa yang sakti, Adi Bromo. Akan tetapi engkau masih amat muda, masih seperti kanak-kanak sehingga engkau tidak tahu bahayanya seorang wanita, apalagi wanita cantik. Apakah engkau tidak pernah mendengar dongeng-dongeng tentang riwayat jaman dahulu? Betapa banyaknya ksatria-ksatria runtuh kegagahannya, raja-raja berkuasa runtuh kekuasaannya, pendeta-pendeta runtuh kealimannya, bahkan dewata sekali pun runtuh kesuciannya hanya karena kecantikan wanita! Oleh karena itu aku prihatin sekali melihat sifatmu yang suka sekali merayu wanita. Adikku, percayalah kepadaku, jangan engkau menuruti nafsu,karena kalau engkau melanjutkan kesesatan itu, aku khawatir kelak engkau pun akan jatuh oleh wanita. Wanita adalah pusat keindahan dan keburukan, wanita adalah sumber kemanisan dan kepahitan, wanita adalah tempat kebaikan dan kejahatan, sumber kecintaan dan kebencian, pencipta kebahagiaan dan kesengsaraan!"
Sepasang mata Bromatmojo makin bersinar-sinar. Lalu mulutnya berjebi dan dia merubah kedudukan kedua lengannya, kini dia bertolak pinggang.
"Kakang Tejo, agaknya engkau tentu sudah mempunyai banyak pengalaman dengan wanita, tentu sudah sering sekali jatuh cinta kepada wanita sehingga..."
"Tidak, tidak sama sekali!"
Sutejo menggoyang-goyangkan tangannya.
"Aku tidak akan mudah begitu saja jatuh cinta kepada wanita!"
Kedua tangan di pinggang itu bergerak dan kini kembali bersedakap di depan dada,dan Bromatmojo menengadah, memandangi awan yang bergumpal-gumpal seperti sekumpulan domba putih dan berarak perlahan-lahan hendak pulang ke kandang nan jauh di puncak bukit.
Mulutnya berkemak-kemik dan terdengar dia bicara perlahan,"Wahai para dewi dan bidadari di kahyangan, dengarkanlah pemuda tinggi hati ini!
Dia selama hidupnya belum pernah mencinta wanita, belum pernah berhubungan dengan wanita, namun pengetahuannya tentang wanita demikian luas, demikian mendalam, agaknya dia telah mempelajari dan menyelidiki tentang mahluk yang dinamakan wanita itu...
Sutejo tidak memperdulikan sikap Bromatmojo yang dianggapnya mengejek.
Dia membantah.
"Wanita adalah seperti tulisan daun lontar yang terbuka, mudah dibaca dan dimengerti..."
"Huh...!"
"Wanita adalah seperti bunga mawar, harum akan tetapi penuh dengan duri..."
"Wahai awan di angkasa, tidakkah kalian mau berhenti sejenak mendengarkan wejangan sang bijaksana ini? Sang arif bijaksana yang tak pernah dan tak mau jatuh cinta namun pandai bicara tentang cinta...?"
Bromatmojo tetap mengejek.
"Cinta adalah semacam penyakit!"
"Waduhh!"
"Laki-laki yang jatuh cinta adalah lemah dan bodoh sudah sepatutnya laki-laki macam itu menjadi permainan wanita sampai bertekuk lutut, menjadi kesed kaki wanita, diinjak-injak, akhirnya merana dan kelak hanya menjadi umpan api neraka..."
"Uwahhh...!!"
Bromatmojo tak dapat menahan kemarahan hatinya lagi. Kini dia menghadapi Sutejo yang duduk di atas batu, telunjuk kanannya menuding sampai hampir menyentuh dahi Sutejo.
"Dan kau... manusia sombong dan tinggi hati, aku berani mempertaruhkan nyawaku bahwa kelak, laki-laki macam engkau ini, kalau sudah jatuh cinta kepada seorang wanita, kelak engkau akan menyembah-nyembahnya, menciumi ujung kakinya, memujanya dan wanita itu akan menghinamu, akan memaksamu menelan kembali semua kata-katamu tadi, dan aku akan bersorak melihatmu, karena aku muak melihatmu!"
Bromatmojo lalu membalikkan tubuhnya dan lari meninggalkan Sutejo.
Tak dapat ditahan lagi kedua matanya menjadi panas dan air mata mengalir di sepanjang kedua pipinya.
Bromatmojo cepat menghapus air matanya dan terus lari secepatnya meninggalkan Sutejo yang menimbulkan kemarahan besar di dalam hatinya itu.
Pemuda sombong!
Pemuda besar kepala!
Pemuda gila!
Demikian hatinya memaki-maki.
Akan tetapi..., dia merasa bingung dan heran sekali mengapa kakinya menjadi berat dan hatinya seolah-olah tertinggal bersama pemuda itu di sana!
Bromatmojo akhirnya dapat menenangkan hatinya dan tidak ada tanda air mata lagi di kedua pipinya, hanya matanya agak merah sedikit.
Wajahnya muram ketika dia tiba di luar kota Tuban karena perasaannya sungguh tidak nyaman, seolah-olah kehidupan menjadi berbeda sekali setelah dia meninggalkan Sutejo.
Dunia seperti sunyi, warna-warna menjadi pucat dan suara-suara menjadi sumbang!
"Adi Bromo...!"
Bromatmojo hampir berteriak dan bersorak saking girangnya mendengar suara ini.
Akan tetapi dia menahan gelora hatinya dan memasang muka merenggut dan membalikkan tubuh seenaknya seolah-olah suara itu hanya mengganggu ketenangannya!
Hari telah lewat senja dan malam hampir tiba, namun dia mengenal baik bayangan laki-laki yang melangkah lebar menghampirinya itu.
Sejenak mereka berdiri berhadapan, Bromatmojo merengut dan Sutejo tersenyum.
"Kenapa engkau mengikuti aku?"
Tanya Bromatmojo setelah menekan hatinya sehingga suaranya tidak begitu gemetar.
"Karena banyak hal, Adi Bromo. Pertama, karena memang aku hendak ke Tuban. Ke dua, karena tidak tahan aku melihat engkau pergi meninggalkan aku dalam keadaan marah setelah kita menjadi sahabat baik. Ke tiga, karena aku merasa penasaran."
"Hemm, engkau malah yang merasa penasaran?"
Bromatmojo bertanya dengan mata terbelalak heran.
Siapa yang tidak merasa heran?
Kata-kata dan sikap Sutejo membuat dia penasaran setengah mampus, eh, kini pemuda itu datang menyatakan merasa penasaran!
"Setelah engkau pergi, aku merasa penasaran sekali mengingat mengapa engkau,seorang laki-laki, seorang pemuda seperti aku pula, begitu mati-matian membela wanita dan marah-marah karena aku mencela wanita.
Nah, itulah yang ingin kuketahui sebabnya, Adi Bromo."
Berdebar rasa jantung Bromatmojo. Celaka, hampir saja dia membuka rahasia pribadinya oleh (Lanjut ke
Jilid 15) Kemelut Di Majapahit (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 15 sikapnya itu!
Dia hampir lupa bahwa dia adalah seorang "pria", dan memang tidak semestinya kalau dia mati-matian membela wanita.
Akan tetapi,dia adalah seorang yang cerdik dan sambil tersenyum mengejek dia menjawab.
"Mengapa sikapku itu membuat engkau penasaran, Kakang Tejo? Kau merasa dirimu sebagai pria terlalu tinggi dan agungkah? Engkau lupa agaknya, bahwa tanpa adanya wanita di dunia ini, seorang Sutejo tidak akan dapat lahir di dunia! Engkau lupa bahwa ibu-ibu kita adalah wanita, saudara-saudara perempuan kita adalah wanita, bibi-bibi kita adalah wanita. Apakah engkau pun hendak mengutuk mereka, termasuk ibumu sendiri?"
"Ah..., ah...! Tidak begitu sama sekali! Aku tidak mengutuk wanita, dan tidak semua wanita jahat. Sriti Kencana itu seorang wanita yang hebat. Aku hanya ingin menasihatimu agar engkau jangan terlalu banyak main cinta dengan wanita, Adi Bromo, dan..."
"Sudahlah, Kakang Tejo. Agaknya memang tidak ada kecocokan dalam urusan wanita ini antara engkau dan aku. Sekarang, setelah aku menjelaskan mengapa aku membela ibu-ibu kita, tentu engkau tidak penasaran lagi. Nah, selamat tinggal!"
Bromatmojo sudah melangkah dan berjalan cepat memasuki pintu gerbang Kadipaten Tuban. Akan tetapi Sutejo cepat mengejarnya.
"Eh, Adi Bromo. Benar-benarkah engkau marah sekali kepadaku? Apakah engkau tidak suka memaafkan aku?"
Sambil melangkah terus Bromatmojo hanya mendengus.
"Hemmm...!"
"Kita adalah sahabat-sahabat kontan, sahabat-sahabat karib yang sudah mengalami suka duka bersama. Maukah engkau... eh, bolehkah aku menemanimu, Adi Bromo? Tujuan kita juga sama..."
"Asalkan engkau tidak lagi menghina kaum ibu..."
"Tidak, sungguh mati tidak!"
Maka masuklah dua orang muda itu ke kota Tuban di waktu orang-orang telah mulai menyalakan lampu penerangan.
Karena dua orang muda itu sudah sejak kecil meninggalkan dunia ramai dan hidup sebagai pertapa di pegunungan, dan baru sekarang mereka melihat kota sebesar kota Tuban yang ramai, keduanya melihat-lihat dengan hati kagum.
Setelah mereka makan di dalam warung, menikmati nasi dan goreng udang yang banyak dijual di kota pelabuhan itu, Bromatmojo lalu mengajak Sutejo untuk mencari tukang menjual warangka (sarung keris).
"Tidak enak membawa pusaka dibungkus begini, kakang. Kita harus membeli sebuah warangka untuk Kolonadah."
Mereka segera mendatangi pedagang warangka dan keris, lalu memilih sebuah warangka yang cukup indah ukirannya karena Bromatmojo menghendaki agar keris pusaka itu memperoleh warangka yang indah.
"Aku ingin segera menyelidiki si keparat Progodigdoyo, Adi Bromo."
"Memang semestinya demikian, aku pun ingin mendengar apa jadinya dengan mbakayumu, akan tetapi kita akan menyelidiki sebuah gedung kadipaten di mana terdapat banyak penjaganya, Kakang. Oleh karena itu, sebaiknya kalau kita mencari rumah penginapan lebih dulu sehingga kalau sampai terjadi apa-apa, kita dapat dengan mudah menyembunyikan diri."
Sutejo mengangguk tanda setuju dan pergilah mereka mencari sebuah rumah penginapan kecil di ujung kota.
Mereka menyewa dua buah kamar karena seperti biasa, Bromatmojo ingin tidur menyendiri.
Akan tetapi baru saja mereka memasuki kamar masing-masing, Bromatmojo sudah mengetuk pintu kamar Sutejo dan ketika pemuda ini membuka pintunya, Bromatmojo berkata dengan muka tegang.
"Kakang Tejo,terjadi suatu hal yang luar biasa. Mari kau lihat di kamarku!"
Sutejo cepat mengikuti Bromatmojo memasuki kamarnya dan di situ Bromatmojo memperlihatkan warangka Kolonadah yang telah menjadi pecah berantakan sehingga keris pusaka itu kelihatan, mencorong mengeluarkan sinar yang panas!
"Eh, apa yang terjadi?"
Sutejo bertanya heran.
"Aku sendiri tidak tahu. Begitu memasuki kamar, aku mengeluarkan pusaka ini dan meletakkannya di atas meja. Tiba-tiba terdengar suara membeletak dan kulihat warangka itu telah pecah berantakan. Sutejo memeriksa warangka itu dan menggelengkan kepalanya.
"Warangka itu terbuat dari kayu yang tua dan kuat, sungguh aneh sekali bagaimana bisa pecah seperti ini. Akan tetapi bukankah engkau tadi membeli dua buah warangka?"
"Benar, yang sebuah adalah warangka kayu galih asem yang amat indah ukirannya dan kubeli karena aku suka akan ukirannya."
"Nah, kalau begitu pakai saja itu,"
Kata Sutejo.
Bromatmojo lalu mengeluarkan warangka ke dua yang tadi dimasukkan bungkusan pakaiannya, dan mencabut Kolonadah dari warangka yang sudah pecah-pecah itu dan dimasukkan keris pusaka itu ke dalam warangka galih asem.
Akan tetapi, begitu dia meletakkan keris itu di atas meja, terdengar suara membeletak dan ketika mereka memandang, ternyata warangka galih asem yang terukir indah itu pun pecah berantakan!
"Luar biasa...!!"
Kata Sutejo sambil memandang Kolonadah di atas meja dengan mata terbelalak.
Bromatmojo mengambil keris itu, mengeluarkannya dari warangka yang pecah, lalu membungkusnya dengan kain kuning.
Sebagai murid seorang empu yang sakti, ahli pembuat keris pusaka, Bromatmojo mengerti apa yang telah terjadi.
"Kakang Tejo, Kolonadah adalah pusaka sakti, maka tentu saja tidak mau bertempat tinggal di warangka biasa saja. Warangka biasa itu tentu saja tidak kuat menahan hawa sakti yang keluar dari pusaka ini. Sebaiknya sekarang kita mencari seorang empu yang sakti di kota ini dan minta dibuatkan sebuah warangka yang cocok."
"Baiklah, Adi Bromo. Sungguh hebat sekali pusaka itu..."
Kata Sutejo yang masih belum hilang kagum dan kagetnya akan keampuhan pusaka peninggalan Adipati Ronggo Lawe itu.
Setelah mencari keterangan kepada pelayan rumah penginapan, mereka mendengar bahwa di ujung barat kota Tuban terdapat seorang empu tua yang berilmu tinggi.
Menurut keterangan itu, empu ini dahulu menjadi empu di Mojopahit dan kini telah mengundurkan diri, kembali kepada tempat asalnya, yaitu di Tuban dan di Tuban hanya melayani pesanan-pesanan yang penting saja, dengan bantuan dua orang cantriknya.
Kedua orang muda itu lalu berangkat malam itu juga, menuju ke rumah Empu Singkir, demikian nama empu terkenal dan sudah tua itu.
Ketika mereka tiba di depan rumah sederhana itu mereka sudah mendengar berdentingnya baja digembleng, suaranya perlahan namun melenting nyaring tanda bahwa yang digemleng adalah baja murni yang baik.
Seorang cantrik menerima kedatangan mereka dan ketika Bromatmojo menyatakan bahwa dia datang untuk mohon pertolongan Empu Singkir untuk memilihkan atau membuatkan sebuah warangka untuk keris pusakanya, cantrik itu lalu mempersilakan mereka menanti di ruangan depan dan melaporkan kepada Empu Singkir yang sedang bekerja.
Suara baja digembleng itu terhenti dan tak lama kemudian muncullah seorang kakek yang sudah tua sekali, sedikitnya delapan puluh tahun usianya, kurus kering dan berpakaian sederhana dan jalannya sudah terbongkok-bongkok.
Sutejo dan Bromatmojo cepat bangun berdiri dan memberi hormat kepada kakek ini.
"Siapakah andika berdua, Raden?"
Tanya kakek itu dengan suara yang sudah gemetar.
"Saya bernama Bromatmojo dan sahabatku ini bernama Sutejo, Eyang."
"Uh-hu-huh... andika berdua adalah orang-orang muda yang gemblengan, dapat saya lihat dari sikap dan pandang mata kalian. Akan tetapi, menurut laporan cantrik, andika datang untuk dibuatkan warangka? Sungguh aneh sekali, biasanya orang datang untuk memesan, curigo (keris), bukan warangka! Warangka hanyalah wadah dan merupakan hiasan belaka, angger, dan yang terpenting adalah isinya, yaitu kerisnya. Mengapa andika hanya memesan warangkanya saja?"
Sebagai murid Empu Supamandrangi yang sakti, Bromatmojo cepat dapat menangkap arti kata-kata yang tidak begitu dimengerti oleh Sutejo itu, dan menjawablah pemuda Bromo itu.
"Maaf, Eyang. Sungguh pun apa yang Eyang katakan itu benar,akan tetapi warangka tidaklah kalah pentingnya dengan curigo, karena tanpa warangka, curigo tidaklah lengkap, bahkan tidak berwujud dan tidak kelihatan. Karena itu, betapa pun baiknya curigo, tanpa mempunyai warangka yang indah dan kuat, berarti tidak sempurna. Tentu saja sebaliknya pun demikian, betapa pun indah dan kuatnya warangka, tanpa curigo, juga tidak ada artinya dan hanya merupakan kemewahan yang sia-sia. Bukankah demikian, Eyang?"
"Hu-hu-huh... wawasanmu memang tajam dan tepat, Angger. Dan karena andika bernama Bromatmojo, agaknya datang dari Bromo dan..."
"Terus terang saja, saya adalah murid dari eyang guru Empu Supamandrangi."
Sepasang mata tua itu memandang terbelalak, kemudian dia membungkuk penuh hormat.
"Jagad Dewa Bathara..., sungguh mata tua ini sudah lamur... maafkan saya, Raden. Kiranya saya berhadapan dengan murid seorang yang sakti mandraguna... ahh,sungguh merupakan kehormatan besar bagi saya kalau andika sudi minta bantuan seorang bodoh seperti saya. Andika tadi katanya memesan warangka. Untuk apakah, Raden Bromatmojo?"
"Untuk sebuah pusaka, Eyang. Pusakaku itu demikian ampuhnya sehingga sudah dua buah warangka pecah berantakan olehnya."
"Bolehkah saya melihat pusaka yang ampuh itu, Raden?"
"Silakan, Eyang."
Bromatmojo mengeluarkan bungkusan kain kuning dan menyerahkannya kepada Empu Singkir.
Dengan jari-jari tangannya yang lentik panjang dan halus, tangan seorang seniman, Empu Singkir membuka bungkusan itu dan memeriksa gagang keris pusaka Kolonadah.
Matanya terbelalak lebar.
"Kolonadah...?"
Dia berteriak, keras sekali teriakannya dan Bromatmojo cepat merampas kembali keris pusakanya karena tiba-tiba dia mendengar suara gaduh dari balik pintu ruangan.
Empu Singkir yang tua renta itu kini tiba-tiba meloncat ke belakang dan dari balik pintu muncullah seorang kakek tinggi besar yang mukanya brewok penuh cambang bauk, sikapnya gagah bukan main dan biar pun usianya tentu sudah tujuh puluh tahunan, namun dia masih kelihatan gagah perkasa menyeramkan, dengan pakaiannya serba hitam dan ikat kepala yang hitam pula.
"Dia... dia membawa Kolonadah!"
Teriak pula Empu Singkir sambil menudingkan telunjuknya kepada Bromatmojo. Mendengar ini, kakek berpakaian hitam itu menerjang ke depan dan berkata kepada Bromatmojo.
"Serahkan Kolonadah kepadaku!"
Bentakan ini dibarengi dengan uluran tangan hendak merampas keris pusaka yang sudah dipegang oleh Bromatmojo, namun pemuda ini dengan mudah mengelak dan membungkus keris pusaka itu, menyelipkan di pinggangnya kemudian dia menghadapi serangan kakek tinggi besar yang ternyata memiliki gerakan cepat dan pukulan ampuh yang mendatangkan angin besar itu.
Ketika Sutejo hendak membantu sahabatnya, Empu Singkir bersama dua orang cantriknya sudah menyerang dan mengeroyoknya sehingga terjadilah pertempuran hebat di dalam ruangan depan yang cukup luas itu.
Sutejo tidak tega untuk sembarangan melukai empu tua dan dua orang cantriknya itu, maka dia hanya bersikap mempertahankan diri, mengelak dan menangkis.
Akan tetapi tidak demikian dengan Bromatmojo.
Melihat kakek raksasa itu bertekad untuk merampas Kolonadah, maka dia menyangka buruk dan dia mengerahkan tenaga pada setiap tangkisannya dan beberapa kali kakek raksasa itu terhuyung dan berseru kaget.
Ketika melihat bahwa pemuda tampan itu ternyata sakti dan kuat sekali, kakek itu melolos ikat kepalanya yang hitam dan dengan seruan menggeledek dia menggerakkan ikat kepala itu melecut.
Angin menyambar dan Bromatmojo terkejut bukan main karena merasa betapa ikat kepala itu menyambar dengan kekuatan dahsyat.
Namun, tentu saja dia tidak takut, bahkan mengangkat tangan kirinya menangkis.
"Plakk! Brettt...!"
Ikat kepala itu tertangkis tangan Bromatmojo, membalik, akan tetapi ujungnya tadi masih menyambar melalui tangan Bromatmojo dan mengenai leher baju orang muda itu sehingga leher bajunya terkoyak dan nampaklah kalung yang selalu dipakainya.
Karena tidak tertutup leher baju, kalung itu terjuntai keluar.
"Eh... Kundolo Mirah...??"
Kakek berpakaian hitam itu berteriak sambil melompat mundur.
"Tahan dulu...! Hentikan pertempuran...!!"
Bromatmojo memandang tajam dan Empu Singkir bersama dua orang cantriknya yang kewalahan menghadapi Sutejo, kini juga mundur. Napas empu itu empas-empis seperti ikan berada di darat.
"Memang ini Kundolo Mirah. Habis mengapa?"
Tanya Bromatmojo sambil memandang kakek raksasa itu dengan sikap menantang.
"Dan memang keris ini pusaka Kolonadah. Apakah kalian masih hendak merampasnya?"
Kakek raksasa itu memandang dengan mata terbelalak.
"Engkau... engkau siapakah...? Dari mana engkau memperoleh Kolonadah dan Kundolo Mirah?"
Bromatmojo memandang tajam dan kini dia teringat bahwa dia pernah bertemu dengan kakek ini.
Dia mengingat-ingat dan tiba-tiba teringatlah dia ketika sembilan tahun yang lalu dia hendak disiksa oleh Reksosuro dan Darumuko, dia ditolong oleh seorang kakek berpakaian hitam, kakek raksasa yang bernama Ki Ageng Palandongan!
Inilah dia kakek itu!
Akan tetapi, Bromatmojo segera teringat bahwa dia tidak mungkin mengaku kepada kakek ini, bahwa dia adalah anak perempuan sembilan tahun yang lalu itu, maka dia lalu berkata.
"Harap andika ketahui bahwa saya Bromatmojo adalah murid eyang guru Empu Supamandrangi, dan bahwa atas perintah Empu Supamandrangi maka saya mengambil keris pusaka Kolonadah ini."
"Ehh..., tapi... tapi Kundolo Mirah itu...?"
"Ini?"
Bromatmojo memegang mainan kalungnya dan memasukkannya kembali ke balik bajunya.
"Kundolo Mirah ini adalah hadiah yang saya terima dari...eyang guru.."
Dia terpaksa membohong.
"Serupa benar dengan milik mantuku, mendiang Adipati Ronggo Lawe!"
Kata Ki Ageng Palandongan.
"Tentu saja,"
Kata Bromatmojo cerdik.
"Bukankah mendiang Adipati Ronggo Lawe adalah murid dari eyang guru Empu Supamandrangi?"
Sementara itu, mendengar ucapan kakek raksasa itu, Sutejo menjadi terkejut.
"Jadi paduka adalah ayah mertua mendiang Adipati Ronggo Lawe?"
"Benar. Aku bernama Ki Ageng Palandongan, dan aku sering kali datang ke Tuban untuk menyelidiki hilangnya Kolonadah, pusaka milik mendiang Adipati Ronggo Lawe. Memang pusaka itu adalah ciptaan gurunya, yaitu Paman Empu Supamandrangi dan setelah kini Paman Empu sendiri mengutus muridnya dan telah berhasil mendapatkan kembali pusaka itu, hatiku merasa lega. Harap andika berdua suka memaafkan kelancangan seorang tua. Ketika aku mendengar teriakan sahabatku, Empu Singkir bahwa ada orang datang membawa Kolonadah, tentu saja aku menjadi terkejut dan menyangka buruk kepada andika berdua."
"Tidak mengapalah, Paman Ki Ageng Palandongan. Sudah biasa di antara orang-orang gagah bahwa setelah bertanding baru saling berkenalan. Dan memang agaknya sudah ditakdirkan bahwa antara kita akan terjadi pertemuan dan perkenalan. Sahabatku ini bernama Sutejo."
"Bukan main, sungguh andika memiliki kesaktian yang hebat, Raden Sutejo. Aku dengan bantuan dua orang cantrikku sama sekali tidak berdaya menghadapi kedigdayaanmu."
Empu Singkir memuji sambil memandang kepada Sutejo dengan sinar mata kagum.
"Tentu saja, Eyang Empu, sahabatku ini adalah murid dari Panembahan Ciptaning di lereng Gunung Kawi,"
Kata Bromatmojo yang merasa bangga akan kesaktian sahabatnya.
"Ahhh...!"
Seru Empu Singkir.
"Ohhh...!!"
Ki Ageng Palandongan juga berseru kaget karena tentu saja dia mengenal nama Panembahan Ciptaning yang sakti mandraguna itu.
"Kiranya andika berdua adalah murid orang-orang sakti dan tentu kedatangan andika berdua di Tuban mempunyai maksud tujuan yang penting."
Bromatmojo melirik ke arah Sutejo yang mengerutkan alis, lalu berkata.
"Pertama-tama, kami merasa pusing karena sukar sekali mencarikan warangka untuk keris pusaka Kolonadah, maka kami sengaja datang minta bantuan Eyang Empu Singkir."
Empu yang tua itu tersenyum.
"Tidaklah mudah mencarikan warangka yang tepat bagi sebuah keris pusaka seampuh Kolonadah. Saya tahu akan sifat keris pusaka seperti ini, yang mengandung hawa panas sekali. Pusaka ini harus sebuah warangka yang dingin, yang dibuat oleh tangan seorang perawan dan untuk membuat warangka yang baik, tentu saja gadis itu haruslah mempunyai kesaktian."
Mendengar ini, Bromatmojo menjadi bingung. Tentu saja dia sendiri memenuhi syarat untuk membuatkan warangka itu, akan tetapi hal ini akan berarti membuka rahasianya. Maka dia lalu berkata.
"Kalau begitu, saya menyerahkan pembuatan warangka itu kepada Eyang. Dan urusan ke dua dari kami yang amat penting adalah urusan sahabatku, Kakang Sutejo ini."
Sutejo yang memang ingin menyelidiki keadaan mbakayunya, tidak menghendaki urusannya itu diceritakan oleh Bromatmojo kepada orang-orang lain, maka dia lalu berkata.
"Saya mempunyai urusan pribadi dengan Progodigdoyo dan malam ini juga saya harus menyelidiki tempat tinggalnya."
Mendengar ini, baik Empu Singkir maupun Ki Ageng Palandongan memandang tajam penuh selidik, dan kening kakek raksasa berpakaian hitam itu berkerut khawatir.
"Raden, amatlah berbahaya untuk menyelidiki keadaan kabupaten. Selain sang Bupati memiliki kepandaian tinggi, juga pembantu-pembantunya adalah orang-orang sakti. Harap saja andika berdua bersikap hati-hati sekali kalau hendak melakukan penyelidikan."
"Saya tahu orang macam apa adanya Progodigdoyo, Paman. Adi Bromo, aku ingin pergi sekarang juga,"
Katanya kemudian kepada Bromatmojo.
"Tunggu sebentar Kakang Tejo,"
Kata Bromatmojo yang kemudian menyerahkan keris pusaka Kolonadah yang terbungkus kain kuning itu kepada Empu Singkir sambil berkata.
"Eyang Empu, saya titipkan pusaka ini agar Eyang buatkan warangkanya. Tidak enak membawa-bawa pusaka ampuh ini tanpa warangka."
"Baiklah, Raden. Akan saya usahakan mencarikan orang yang akan membantu kita membuatkan warangka itu,"
Jawab Sang Empu sambil menerima bungkusan kuning itu dengan kedua tangan gemetar.
Pusaka ampuh ini selama bertahun-tahun menimbulkan keributan karena banyak sekali orang ingin memperebutkannya, dan kini secara tidak terduga sama sekali, pusaka itu berada di tangannya.
Setelah menyerahkan pusaka dan berpamit dari Empu Singkir dan Ki Ageng Palandongan, dua orang muda itu meninggalkan rumah kecil itu dan menyelinap di dalam kegelapan malam hendak menyelidiki istana Kabupaten Tuban.
Malam itu gelap karena langit tertutup mendung, dan kalau ada yang kebetulan melihatnya, tentu orang itu akan menjadi ketakutan dan menyangka setan berkeliaran ketika dua orang muda ini mempergunakan aji kesaktian mereka untuk bergerak cepat sekali melalui jalan yang sunyi menuju ke bangunan-bangunan rumah besar berkelompok di sebelah dalam lingkungan tembok kabupaten yang tebal dan tinggi.
"Adi Bromo kenapa engkau begitu sembrono meninnggalkan Kolonadah kepada mereka? Kita baru saja mengenal mereka dan tidak tahu apakah mereka dapat dipercaya..."
"Jangan khawatir, Kakang Tejo,"
Jawab Bromatmojo yang kini mengerti mengapa tadi sahabatnya itu kelihatan tidak senang melihat dia menyerahkan keris pusaka kepada empu itu.
"Aku percaya penuh kepada Ki Ageng Palandongan."
"Akan tetapi, baru saja kita mengenalnya, dan hanya karena pengakuannya saja kita tahu bahwa dia adalah mertua dari mendiang Adipati Ronggo Lawe."
Bromatmojo menggeleng kepala.
"Percayalah, Kakang Tejo. Dia benar Ki Ageng Palandongan yang gagah perkasa dan kita boleh percaya sepenuhnya kepada orang tua itu. Dahulu aku pernah bertemu dengan dia, hanya dia yang lupa kepadaku."
"Ah, begitukah?"
Hati Sutejo menjadi lega karena memang tadi dia tidak senang melihat keris pusaka itu diberikan kepada Empu Singkir, hal yang dianggapnya amat sembrono.
Kini mereka tidak bercakap-cakap lagi dan melanjutkan perjalanan mereka menuju ke Kabupaten Tuban.
"Maling...! Maling...!!"
"Kepung...! Tangkap...!"
Bromatmojo dan Sutejo terkejut bukan main.
Mereka sudah bergerak dengan hati-hati sekali, berhasil melompati pagar tembok dan melalui tempat penjagaan para pengawal tanpa ada yang melihatnya.
Mereka telah meloncat ke atas atap dan bergerak perlahan, hati-hati tidak menimbulkan suara ketika mereka mulai menyelidiki keadaan rumah-rumah gedung di kabupaten itu.
Akan tetapi, ketika mereka melompat turun ke bagian samping rumah-rumah besar itu, tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan itu dan dari mana-mana bermunculan pengawal-pengawal yang mengepung dan menerjang mereka!
Dari kepungan itu muncul empat orang pengawal yang bertubuh tinggi besar dan langsung mereka itu menerjang kepada Bromatmojo dan Sutejo.
Ketika dua orang muda ini mengelak dan menangkis dua orang penyerang masing-masing, mereka terkejut karena ternyata empat orang itu memiliki tenaga yang cukup kuat dan gerakan yang tangkas.
Benarlah cerita Ki Ageng Palandongan bahwa Kabupaten Tuban memiliki orang-orang pandai.
Akan tetapi tentu saja Bromatmojo dan Sutejo tidak merasa takut.
Mereka berdua mengeluarkan aji kesaktian mereka dan begitu mereka balas menyerang, biar pun empat orang itu sudah berusaha menghindar, tetap saja mereka berempat terlempar ke kanan kiri!
"Serbu!
Keroyok!"
Lebih dari dua puluh orang pengawal kini maju menyerbu dan makin lama makin banyak juga berdatangan perajurit-perajurit yang menjaga di luar.
Sutejo dan Bromatmojo merobohkan beberapa orang dan selagi mereka hendak mencari jalan keluar, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan ada angin pukulan itu dilakukan oleh seorang kakek yang berpakaian pendeta.
Pendeta itu usianya sudah enam puluh lima tahun lebih, akan tetapi kelihatan masih gagah, dengan kumis dan jenggot terpelihara baik-baik, dengan pandang matanya yang amat tajam dan ketika tangannya yang terbuka itu menghantam, ada angin pukulan dahsyat sekali dan terasa panas oleh Bromatmojo!
"Heiiitt...!"
Bromatmojo membentak dan menangkis sambil mengerahkan tenaga saktinya.
"Desss...!"
Bromatmojo terpental ke belakang dan kakek pendeta itu berseru kaget karena sama sekali tidak disangkanya bahwa seorang di antara "maling-maling"
Itu memiliki tenaga sedemikian kuatnya sehingga bukan saja mampu menangkis pukulannya, juga dia merasa betapa lengannya tergetar!
Sementara itu, ketika Sutejo melihat betapa Bromatmojo terpental, dia terkejut.
"Kiranya ada pendeta yang begini sakti di tempat ini", pikirnya dan dia pun lalu berteriak nyaring, tubuhnya mencelat ke arah pendeta itu sambil menampar untuk mencegah pendeta itu mendesak Bromatmojo. Pendeta itu bukan lain adalah Resi Harimurti, sahabat dari mendiang Empu Tunjungpetak. Seperti kita ketahui, Resi Harimurti menjadi pembantu dari Resi Mahapati dan karena ini maka dia menjadi sahabat dari Bupati Progodigdoyo pula dan keduanya merupakan rekan-rekan yang dipengaruhi oleh Resi Mahapati. Sering sekali Resi Harimurti berkunjung ke Tuban dan menjadi tamu kehormatan, bahkan untuk memikat hati pendeta cabul yang memiliki kesaktian hebat ini, Progodigdoyo biasa memberi "hidangan"
Berupa wanita-wanita cantik kepada Resi Harimurti sehingga resi ini menganggap Tuban sebagai tempat pelesir dan bersenang-senang.
Ketika Resi Harimurti merasa ada hawa pukulan menyambar dan melihat "maling"
Ke dua menyerangnya dengan gerakan yang demikian tangkasnya, dia pun menangkis sambil mengerahkan tenaga saktinya.
"Desss...!!"
"Ehhh...??!"
Resi Harimurti kini makin terkejut karena hampir saja dia terjengkang ketika bertemu tangan dengan pemuda itu, yang ternyata jauh lebih kuat daripada pemuda pertama sehingga dalam pertemuan tenaga itu dia sampai terhuyung dan hampir terjengkang!
Marahlah Resi Harimurti dan begitu tangannya bergerak, dia telah mengeluarkan kipas bambu dan pecutnya.
"Tar-tar-tarrrr...!"
Pecut itu meledak-ledak di udara, akan tetapi Sutejo yang tahu bahwa keadaan di situ amat berbahaya bagi dia dan sahabatnya, sudah menarik tangan Bromatmojo dan diajaknya ke atas wuwungan!
"Kita harus pergi, Adi Bromo!"
Bisik Sutejo.
"He, maling-maling hina! Kalian mau lari ke mana?"
Resi Harimurti membentak sambil melompat pula ke atas wuwungan, mengejar.
Lebih dari dua puluh orang pengawal kini maju menyerbu dan makin lama makin banyak juga berdatangan perajurit-perajurit yang menjaga di luar.
"He, maling-maling hina! Kalian mau lari ke mana?"
ResHarimurti membentak sambil melompat pula ke atas wuwungan, mengejar.
Ketika dua orang muda itu hinggap di atas wuwungan, tiba-tiba dari depan dan kanan kiri menyambar puluhan batang anak panah ke arah mereka.
Kiranya di atas wuwungan telah menanti pasukan anak panah.
Memang penjagaan di Kabupaten Tuban ini amat kuat.
Hal ini adalah karena Progodigdoyo selalu takut akan pembalasan musuh-musuhnya, maka dia sengaja mengatur penjagaan yang kuat siang dan malam.
Maka begitu tadi diketahui bahwa di kabupaten kemasukan maling, semua penjaga telah bersiap-siap di tempat penjagaan masing-masing, termasuk pasukan panah yang bertugas jaga di atas wuwungan.
"Celaka...!"
Sutejo berbisik dan dengan cepat dia mengajak Bromatmojo melompat ke belakang, kemudian mereka melompat turun lagi.
Enam orang penjaga di bawah menyambut mereka dengan serangan tombak, namun dengan mudah Sutejo dan Bromatmojo merobohkan mereka dalam waktu singkat.
"Maling-maling hina, menyerahlah kalian!"
Terdengar bentakan Harimurti di belakang mereka.
"Adi Bromatmojo, padamkan lampu-lampu...!"
Sutejo berbisik dan dia bersama Bromatmojo cepat menyambar batu-batu kerikil di bawah dan dengan cekatan mereka menyambiti lentera-lentera dan lampu-lampu yang tergantung di sekitar tempat itu sehingga terdengar suara ledakan-ledakan dan gelap gulitalah sekeliling mereka.
"Heii... gelap sekali!"
"Nyalakan lampu! Nyalakan obor! Cepat...!"
Tentu saja Resi Harimurti dan beberapa orang perwira pengawal yang melakukan pengejaran bersama dia menjadi bingung dan marah karena mereka tidak lagi dapat melihat ke mana larinya dua orang muda yang mereka kejar-kejar itu.
Obor-obor dinyalakan dan Resi Harimurti sendiri memimpin pasukan pengawal untuk mencari ke mana-mana.
Resi ini khawatir sekali karena dari pertemuan tenaga dengan dua orang tadi, maklumlah dia bahwa mereka itu bukan maling-maling biasa saja,melainkan dua orang muda yang memiliki kedigdayaan luar biasa, bahkan yang seorang di antara mereka memiliki kesaktian yang hebat.
Orang-orang dengan kepandaian seperti itu tidak mungkin hanya maling-maling biasa saja!
Sementara itu, Bromatmojo dan Sutejo yang memadamkan lampu dengan sambitan batu-batu kerikil, terus melarikan diri ke sebelah dalam, tidak tahu bahwa mereka itu memasuki bagian Keputren (tempat kediaman para puteri/wanita) yang berada di sebelah belakang.
Barulah mereka sadar bahwa mereka bukan menuju jalan keluar melainkan masuk makin dalam ke bagian keputren ketika mereka bertemu dengan para dayang dan puteri-puteri yang menjerit ketakutan dan lari ke sana-sini.
"Wah, kita salah masuk, Adi Bromo!"
Sutejo berkata dan mereka berhenti sebentar di dalam sebuah ruangan.
"Benar, ini agaknya bagian keputren, Kakang Tejo!"
Kata Bromatmojo ketika mereka memandang ke sekeliling dan melihat hiasan-hiasan ruangan itu yang indah.
"Maling...!!"
Terdengar suara jeritan agak jauh dan dua orang muda itu cepat meloncat dan lari melalui lorong yang menembus ruangan itu.
Makin berisik suara orang berteriak-teriak dan akhirnya dua orang muda itu menerobos masuk ke dalam sebuah kamar yang gelap.
Mereka mengira bahwa kamar itu tentu merupakan kamar kosong yang gelap dan mereka bersembunyi sebentar di situ, membiarkan suasana agak mereda karena mendengar suara berisik yang datang dari semua penjuru itu membingungkan mereka.
Akan tetapi, begitu mereka memasuki kamar yang gelap itu, mereka merasa ada hawa pukulan menyambar, dibarengi bentakan nyaring seorang pria.
"Maling keparat,kalian mengantar nyawa ke sini!"
"Dess...!"
"Plakk...!"
Menggunakan ketajaman pendengaran mereka, Bromatmojo dan Sutejo berhasil menangkis pukulan-pukulan yang menyambut mereka dari dalam kamar dan mereka pun membalas.
Dua orang yang berada di dalam kamar itu ternyata dapat pula menangkis dan gerakan mereka gesit sekali.
Terjadilah pertempuran yang aneh di dalam kamar gelap itu.
Pertempuran yang hanya mengandalkan ketajaman pendengaran karena yang mereka lihat hanya bayangan hitam remang-remang saja!
Dalam pertandingan ini,ketajaman naluri dan perasaan mereka benar-benar diuji dan dua orang muda itu tidak mengecewakan menjadi murid-murid orang sakti karena biar pun mereka berada di dalam gelap, dan agaknya tentu saja kalah biasa dengan dua orang penyerang itu yang menjadi penghuni tempat itu, namun Bromatmojo dan Sutejo sama sekali tidak terdesak, bahkan dua orang penyerang mereka itulah yang kadang-kadang berseru kaget dan terdesak.
Dari seruan inilah, tahulah Bromatmojo bahwa lawannya adalah seorang wanita, sedangkan lawan Sutejo adalah seorang pria.
"Plak-plak-plak!"
Bromatmojo menangkis pukulan bertubi-tubi itu yang dilakukan oleh lawannya dengan loncatan-loncatan seperti terbang "Heiii... bukankah engkau Sriti Kencana?"
Tiba-tiba Bromatmojo berseru kaget. Mendengar seruan ini, wanita yang menjadi lawannya itu pun terkejut.
"Tahan..., Kakangmas Joko, hentikan serangan!"
Terdengar suara merdu seorang wanita berseru.
Pertempuran dihentikan dan dua orang muda itu pun menghentikan gerakan mereka ketika dua orang itu tidak menyerang lagi.
Laki-laki yang menyerang tadi menyalakan sebuah lentera, kamar itu menjadi terang benderang dan Bromatmojo dan Sutejo terbelalak melihat bahwa mereka berada di dalam sebuah kamar besar yang amat indah dan di depan mereka berdiri seorang laki-laki muda yang tampan dan gagah bersama seorang dara yang amat cantik jelita seperti bidadari!
Mereka berempat berdiri saling pandang sejenak, dan sepasang mata yang indah dan bening dari dara itu menatap wajah Bromatmojo, kemudian kedua pipinya menjadi merah sekali dan dia menunduk sebentar lagi.
"Eh..., jadi... andika ini... si burung Sriti Kencana itu?"
Bromatmojo berkata setelah reda keheranannya.
Dara jelita itu mengangguk, kemudian agaknya dia telah menguasai kembali ketenangannya, mengangkat muka memandang kepada Bromatmojo dan Sutejo bergantian, lalu berkata.
"Sudah kuduga bahwa tentu kalian dua orang yang menimbulkan geger di sini, aku menduganya begitu setelah kalian dapat menangkis pukulanku dan pukulan Kakangmas Joko..."
Bromatmojo memandang kepada pemuda tampan gagah di samping dara jelita, menduga-duga "Ah, tentu kalian berdua pemimpin perkumpulan Sriti Kencana yang disebut Den Roro dan Den Bagus itu?"
Akan tetapi sebelum pemuda dan pemudi itu menjawab, terdengar teriakan-teriakan dan ribut-ribut di luar kamar itu.
"Bayangan mereka tadi berkelebat memasuki keputren. Mereka tentu bersembunyi di sini!"
Terdengar suara Resi Harimurti.
"Akan tetapi, kaum pria tidak diperkenankan memasuki tempat ini kecuali anggota keluarga!"
Terdengar bantahan pengawal wanita.
"Heh, pengawal bodoh! Apakah engkau tidak tahu siapa aku? Hayo minggir dan biarkan aku sendiri yang memeriksa dan mencari maling-maling itu!"
Terdengar suara Resi Harimurti menghardik.
"Baiklah, baiklah, Sang Resi, akan tetapi para pengawal pria tidak boleh..."
Mendengar suara ribut-ribut itu, tiba-tiba dara jelita yang berada di dalam kamar itu melompat ke sudut kamar dan mengambil pakaian hitam, melemparkan pakaian-pakaian itu kepada Bromatmojo dan sambil berkata.
"Lekas kalian pakai pakaian anggota Sriti Kencana ini. Cepat!"
Dia lalu memadamkan lampu sehingga kamar itu menjadi gelap lagi.
Di dalam kegelapan ini, Bromatmojo dan Sutejo yang maklum akan maksud dara jelita itu, lalu mengenakan pakaian hitam itu dan menutupi kepala mereka dengan kedok hitam dengan burung sriti emas di atas kepala mereka.
Lampu dinyalakan kembali dan ternyata kini pemuda tampan dan dara jelita itu sudah berobah menjadi dua orang berkedok hitam, demikian pula Bromatmojo dan Sutejo sudah mengenakan pakaian anggota Sriti Kencana!
Dara cantik dan pemuda tampan itu memandang sebentar, kemudian menghampiri Bromatmojo dan Sutejo untuk membereskan kedok mereka yang kurang benar letaknya.
"Kalian harap jangan mengeluarkan kata-kata, dan duduklah saja di situ,"
Kata pemuda tampan tadi sambil menuding ke arah sebuah bangku panjang.
Bromatmojo dan Sutejo mengangguk dan duduk berjajar di atas bangku panjang, menanti dengan jantung berdebar akan tetapi juga siap menjaga segala kemungkinan.
Pintu yang tadi ditutup oleh dara jelita itu diketuk dari luar.
"Siapa?"
Dara itu berteriak nyaring.
"Roro Kartiko ini ada aku, gurumu, Resi Harimurti!"
Terdengar suara dari luar.
"Bukalah pintunya sebentar!"
Pemuda yang tampan yang sudah memakai pakaian Sriti Kencana itu melangkah maju dan terdengar suaranya.
"Bapa Guru, ada kepentingan apakah malam-malam datang ke sini? Saya dan Dinda Roro sedang sibuk..."
"Ah, kiranya engkau berada di situ pula, Joko Handoko? Kebetulan sekali!"
Biar pun suara itu mengatakan kebetulan, akan tetapi suaranya terdengar sumbang seperti suara orang kecewa.
"Bukalah pintunya, ada keperluan penting sekali. Ada maling mengacau di kabupaten."
Pintu itu dibuka oleh pemuda yang bernama Joko Handoko itu. Harimurti agak tercengang ketika melihat betapa dua orang muridnya itu berpakaian hitam-hitam dan berkedok hitam.
"Ah, lagi-lagi kalian main-main dengan pakaian seperti ini!"
Dia mengomel.
"Bapa Guru telah berjanji tidak akan mencampuri urusan kami dan tidak akan mengganggu Sriti Kencana!"
Terdengar Roro Kartiko, gadis cantik itu,memperingatkan. Resi Harimurti mengangguk-angguk.
"Baiklah, baiklah! Kalian seperti anak-anak kecil saja, suka main-main seperti ini. Akan tetapi ketahuilah, tadi ada dua orang maling mengacau di kabupaten dan bayangan mereka berkelebat masuk ke keputren."
"Sungguh aneh sekali, bapa guru Resi Harimurti, kenapa hanya dua orang maling saja diributkan seperti ini?"
Joko Handoko menegur.
"Mereka bukan maling biasa, melainkan orang-orang yang memiliki kesaktian."
Resi Harimurti memandang ke dalam, ke arah dua orang berpakaian anggota Sriti Kencana yang duduk tanpa bergerak.
"Siapa mereka itu? Tanyanya.
"Mereka adalah dua orang di antara anggota-anggota kami. Sejak tadi kami berempat sedang memperundingkan urusan perkumpulan ketika Bapa Guru mengetuk pintu,"
Kata Roro Kartiko.
"Hemm... yakinkah kalian bahwa mereka itu bukan palsu?"
"Tentu saja kami yakin!"
"Suruh mereka membuka kedok sebentar... biar aku melihat wajah mereka...
"Bapa Guru!"
Joko Handoko berkata dengan nada marah.
"Di antara para anggota Sriti Kencana dan kami tidak pernah ada yang membuka kedok. Apakah andika hendak mengatakan bahwa andika tidak percaya kepada kami berdua?"
Resi Harimurti menghela napas panjang.
"Sudahlah, tentu saja aku percaya. Cuma aku tidak senang dengan segala rahasia-rahasian ini, dan aku akan membicarakannya dengan ayah kalian kelak."
"Terserah akan tetapi kami sedang sibuk, harap Bapa Guru suka memaklumi,"
Kata Roro Kartiko.
Resi Harimurti menggerakkan kedua tangan tak sabar, akan tetapi dia lalu mundur dan daun pintu kamar itu ditutup kembali oleh Joko Handoko.
Terdengar suara Sang Resi itu marah-marah di luar dan masih lama suaranya terdengar ketika resi itu mencari-cari di seluruh keputren, mencari dua orang maling itu yang lenyap tanpa meninggalkan bekas.
Sementara itu di dalam kamar tadi, mereka telah membuka kedok masing-masing.
"Jangan menanggalkan pakaian hitam itu,"
Bisik Joko Handoko.
"sebelum kalian keluar dari kabupaten."
Mereka duduk berhadapan dan terdengar Sutejo menarik napas panjang, lalu memandang kepada Joko Handoko dan Roro Kartiko penuh perhatian, kemudian berkata,"Jadi kalian berdua yang memimpin perkumpulan Sriti Kencana, adalah putera dan puteri kabupaten, jadi putera dan puteri Bupati Progodigdoyo?"
"Dan kalian malah murid dari pendeta sakti itu?"
Tanya Bromatmojo.
"Bukankah dia itu Resi Harimurti?"
Bromatmojo pernah bertemu dengan Resi Harimurti, yaitu empat tahun yang lalu ketika dia sebagai Sulastri melihat gurunya, Ki Jembros, bertanding melawan Resi Harimurti dan Empu Tunjungpetak, bahkan dia sendiri pernah ketika itu bertanding melawan Resi Harimurti yang sakti itu.
Roro Kartiko hanya menghela napas dan menundukkan mukanya setelah beberapa kali dia bertemu pandang dengan Bromatmojo.
"Kakangmas Joko, kau sajalah yang menceritakan,"
Bisiknya kepada pemuda tampan itu.
"Adikku yang baik, engkau sudah menceritakan kepadaku tentang dua orang pemuda sakti ini, akan tetapi bagimana kita boleh membuka rahasia kita sebelum mengenal betul siapakah sesungguhnya mereka ini? Kisanak, andika berdua telah melihat adikku sendiri, Roro Kartiko, telah menyelamatkan dan melindungi kalian. Hal ini saja sudah jelas membuktikan iktikad baik kami yang hendak bersahabat. Akan tetapi, sebelum kami memperkenalkan diri, hendaknya andika berdua suka memperkenalkan diri lebih dulu dan hendaknya tidak menyembunyikan sesuatu."
"Sudah kujelaskan siapa adanya aku kepada Den Roro... eh kepada... Sriti Kencana..."
"Namaku Roro Kartiko!"
Kata dara itu dengan muka merah.
"Nama yang indah sekali!"
Kata Bromatmojo yang tersenyum melihat betapa mata Sutejo melotot kepadanya.
"Sudah kuceritakan kepada... Diajeng Roro Kartiko bahwa aku bernama Bromatmojo, murid dari Eyang Empu Supamandrangi pencipta keris pusaka Kolonadah, dan sahabatku ini bernama Sutejo, dia adalah murid dari Eyang Lereng Gunung Kawi, murid Sang Panembahan Ciptaning."
"Ahhh...!"
Terdengar Joko Handoko berseru kaget dan memandang kepada Sutejo dengan kagum.
"Lalu apakah kehendak andika berdua datang seperti ini, malam-malam dan penuh rahasia, ke kabupaten ini?"
Joko Handoko bertanya dengan sinar mata penuh selidik, juga sepasang mata Roro Kartiko yang indah bening itu memandang wajah Bromatmojo penuh selidik. Bromatmojo tersenyum.
"Sebelum kami menceritakan hal itu, sebaiknya kalau andika berdua juga memperkenalkan diri lebih dulu, jadi di antara kita tidak ada rahasia bukan?"
Berkata demikian, Bromatmojo memandang langsung kepada wajah cantik Roro Kartiko sehingga kembali dara itu menunduk dengan kedua pipinya menjadi merah. Joko Handoko menarik napas panjang.
"Tentu andika berdua sudah dapat menduga. Kami kakak beradik adalah putera dan puteri Bupati Tuban. Ayah kami adalah Bupati Progodigdoyo. Namaku Joko Handoko dan adikku ini adalah Roro Kartiko."
Pemuda tampan gagah itu mulai bercerita, kemudian dengan singkat dia menceritakan keadaan dia dan adiknya.
Mereka adalah anak-anak yang kurang mendapat perhatian dari ayah mereka, karena ayah mereka sibuk dengan pengejaran kedudukan dan kesenangan.
Akan tetapi ibu mereka, Sariningrum, adalah seorang wanita keturunan ksatria yang bijaksana, seorang isteri yang sering dirongrong oleh suaminya.
Di bawah asuhan dan pendidikan ibu bijaksana ini, Joko Handoko dan Roro Kartiko sangat berbeda dengan ayah mereka.
Kedua orang anak ini sejak kecil memperoleh pendidikan kebudayaan, kesenian dan juga ilmu membela diri yang didatangkan oleh Sariningrum dari pegunungan.
Karena sejak kecil digembleng oleh pendidikan ibu yang bijaksana, mereka berdua mewarisi watak ibu mereka dan mereka makin jauh dari ayah mereka.
Mereka tahu betapa ayah mereka selalu mengejar kesenangan, berhubungan dengan orang-orang jahat, akan tetapi seperti juga ibu mereka, dua orang anak ini tentu saja tidak dapat berbuat apa-apa kecuali merasa menyesal.
Ketika mereka tahu bahwa Resi Harimurti yang menjadi sahabat ayah mereka itu adalah seorang resi yang amat sakti, mereka lalu minta menjadi muridnya.
Dan memang mereka memperoleh kemajuan pesat di bawah bimbingan Resi Harimurti.
Akan tetapi kemudian mereka memperoleh kenyataan bahwa resi ini ternyata adalah seorang pertapa yang cabul, yang banyak disuguhi wanita-wanita cantik oleh ayah mereka.
Bahkan setelah Roro Kartiko makin dewasa, dia melihat betapa sikap Resi Harimurti kadang-kadang melanggar batas kesopanan terhadap dirinya, di waktu melatih suka memegang-megang dan mengusapnya.
Hal ini menimbulkan rasa benci di hati Roro Kartiko.
Untung baginya bahwa Resi Harimurti yang tergila-gila oleh kecantikannya itu masih tidak berani bertindak lebih jauh.
Melihat kenyataan betapa ayah mereka bersahabat dengan orang jahat, bahkan di antara para pembantu ayah mereka itu banyak terdapat orang-orang kejam dan jahat,diam-diam dua orang muda itu merasa penasaran dan timbul reaksi mereka.
Kalau ayah mereka menindas rakyat, maka mereka akan berusaha untuk membela rakyat!
Inilah sebabnya mengapa mereka lalu mengumpulkan para wanita yang memiliki kepandaian dan membentuk perkumpulan Sriti Kencana.
Perbuatan ini sebenarnya adalah perbuatan Roro Kartiko, oleh karena itu, semua anggotanya adalah wanita.
Akhirnya ketika Joko Handoko mengetahui usaha adiknya, dia mendukung, bahkan dia pun terjun ke dalam pimpinan Sriti Kencana dan para anggota mengenal dua orang pimpinan mereka sebagai Den Bagus dan Den Roro!
"Perbuatan kami itu kami tujukan untuk memprotes ayah kami,"
Roro Kartiko melanjutkan penuturan kakaknya.
"Dan Ayah memang sudah tahu akan Sriti Kencana,dan beliau juga mulai sadar, bahkan pernah memuji kami sebagai orang-orang muda perkasa yang menjunjung tinggi kehormatan keluarga. Akan tetapi, sayang karena lingkungannya memang tidak sehat, Ayah masih saja belum menghentikan persekutuannya dengan orang-orang jahat. Padahal, dahulu Ayah adalah seorang yang gagah, seorang ksatria yang menentang kejahatan, demikian menurut penuturan Ibu kami. Ketika itu, nama Ayah dan nama mendiang Paman Lembu Tirta merupakan nama-nama yang dihormati dan disegani di Mojopahit."
Mendengar nama ayahnya disebut, Sutejo berkata "Ahh...! Jadi paduka telah mengenal pula Ayah saya..."
Roro Kartiko dan Joko Handoko kaget mendengar ucapan pemuda tinggi tegap yang gagah dan tampan itu.
"Siapa? Ayah andika...?"
Tanya Roro Kartiko.
"Ayah adalah Lembu Tirta yang paduka sebut-sebut tadi. Hamba dahulu tinggal di Kembangsri bersama ibu dan mbakayu hamba..."
"Dimas Sutejo, harap kau jangan merendahkan diri terhadap kami. Benarkah andika putera mendiang Paman Lembu Tirta?"
Kata Joko Handoko cepat. Sutejo mengangguk dan Joko Handoko memegang lengan pemuda itu.
"Ahh, sungguh tak kusangka akan bertemu dengan putera Paman Lembu Tirta yang kami kagumi itu. Ibu tentu akan berbahagia mendengar itu..."
Sutejo menggeleng kepala.
"Akan tetapi Bupati Progodigdoyo agaknya tidak sebahagia itu mendengarnya."
"Mengapa? Ada apakah dengan ayah kami?"
Roro Kartiko bertanya.
"Hemm, justru ayah kalianlah yang telah menghancurkan keluarga Kakang Tejo!"
Tiba-tiba Bromatmojo berkata.
Roro Kartiko dan kakaknya memandang dengan mata terbelalak kepada Sutejo.
Pemuda ini menarik napas dan diam-diam dia merasa menyesal mengapa dia dan Bromatmojo telah kelepasan omong dan membuka rahasia pribadinya terhadap anak-anak musuh besarnya ini.
Sudah jelas baginya bahwa anak-anak Progodigdoyo ini adalah orang-orang gagah yang sama sekali berbeda dengan watak ayah mereka.
Namun bagaimana pun juga, Progodigdoyo adalah ayah kandung mereka!
"Apakah yang terjadi?
Apakah yang telah dilakukan oleh ayah kami?"
Roro Kartiko bertanya lagi dengan suara mendesak penuh ketegangan sedangkan pandang matanya terus melekat pada wajah Sutejo.
"Sudahlah,"
Sutejo berkata.
"Semua ini adalah urusan kami dengan ayah kalian, tidak ada sangkut-pautnya dengan kalian."
"Dimas Sutejo, biar pun di antara kita baru saja bertemu, akan tetapi saya telah merasa kagum kepada kalian berdua. Apalagi sekarang nama ayah kami tersangkut, maka kiranya sudah sepatutnya kalau kami berdua mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang telah dilakukan oleh ayah terhadap keluarga andika. Jangan mengira bahwa kami tidak tahu akan watak ayah kami yang kadang-kadang membuat kami merasa berduka sekali. Ceritakanlah, Dimas Sutejo,"
Kata Joko Handoko dengan sinar mata penuh duka. Melihat Sutejo masih ragu-ragu dan kadang-kadang memandang kepada wajah Roro Kartiko yang cantik itu dengan bingung, Bromatmojo lalu berkata.
"Kakang Tejo, biarlah aku yang menceritakan mereka."
Dan sebelum Sutejo menjawab, Bromatmojo sudah mulai menceritakan.
"Hendaknya kalian ketahui apa yang telah dilakukan oleh ayah kalian terhadap keluarga kakang Tejo. Mula-mula sekali, ayah kalian sebagai seorang sahabat baik telah bersikap khianat dan di dalam medan perang telah membunuh ayah Kakang Tejo secara curang sekali."
"Ahhhh...!"
Roro Kartiko menjerit lirih.
"Paman Lembu Tirta dibunuh ayah? Mengapa?"
Joko Handoko bertanya kaget dan heran.
"Karena dia merasa suka dan ingin mendapatkan ibuku..."
Kata Sutejo sambil menundukkan mukanya, merasa tidak enak sekali terhadap Roro Kartiko.
"Kemudian sembilan tahun yang lalu, ayah kalian mendatangi rumah keluarga janda Galuhsari, ibu kandung Kakang Tejo, di dusun Kembangsri dan di rumah keluarga itu, secara keji ayah kalian memperkosa ibu Kakang Tejo di depan anak-anaknya dan..."
"Cukup, Adimas Bromo!"
Sutejo berseru keras ketika mendengar jerit tertahan disusul isak tangis Roro Kartiko.
Bromatmojo diam dan memandang kepada pemuda itu, sebaliknya Sutejo memandang kepada Roro Kartiko yang menangis dan menutupi mukanya, dan kepada Joko Handoko yang memandang dengan wajah pucat kepadanya.
"Kami tahu bahwa ayah kami bukanlah orang yang boleh dibanggakan, selalu mengejar kedudukan, wanita dan kesenangan, akan tetapi kalau bukan kalian yang menceritakan, agaknya kami tidak akan percaya bahwa ayah melakukan hal yang demikian rendah dan terkutuk."
"Hal itu telah terjadi sembilan tahun yang lalu..."
Kata Sutejo dengan hati makin tidak enak melihat Roro Kartiko menangis sesenggukan yang hendak ditahan-tahannya itu.
"Dimas Sutejo, harap kau lanjutkan, lalu apa yang terjadi selanjutnya?"
Sukar bagi Sutejo untuk bicara sendiri.
Andaikata kedua orang anak Progodigdoyo bukan orang-orang yang demikian baik dan gagah, andaikata mereka itu jahat seperti ayah mereka, tentu dia akan mudah menceritakan untuk merusak perasaan mereka, untuk membikin malu mereka.
Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang baik dan dia merasa berat untuk menyusahkan hati mereka.
Dan karena dia telah menceritakan semua itu kepada Bromatmojo, bahkan tadi yang memulai dengan cerita itu pun Bromatmojo, maka dia memandang kepada Bromatmojo dan berkata.
"Adi Bromo, harap kau lanjutkan..."
Bromatmojo kelihatan senang sekali dengan tugas ini.
Dia memang amat membenci Progodigdoyo setelah mendengar cerita Sutejo tempo hari, dan kini dia merasa senang melihat anak-anak bupati yang jahat itu menyesali perbuatan ayah mereka yang terkutuk.
"Dalam peristiwa itu, Kakang Tejo yang hendak menyerang Progodigdoyo, dipukul pingsan. Kemudian Kakang Tejo diselamatkan oleh gurunya ketika rumah keluarganya itu terbakar. Ibunya tewas terbakar dan mbakayunya yang bernama Lestari diculik oleh Progodigdoyo! Nah, sekarang Kakang Tejo datang ke sini untuk menyelidiki tentang mbakayunya yang diculik oleh ayah kalian itu."
Hening suasana dalam kamar itu, hanya isak tertahan dari Roro Kartiko saja yang terdengar.
"Terkutuk perbuatan itu!"
Tiba-tiba Roro Kartiko berkata di antara isaknya.
"Dimas Sutejo kalau begitu, andika tentu menyimpan rasa dendam sakit hati terhadap ayah kami dan sekarang andika mencari ayah untuk membalas dendam itu dan membunuhnya, bukan?"
"Kau bunuhlah kami lebih dulu!"
Tiba-tiba Roro Kartiko berseru dan memandang Sutejo dengan mata merah.
"Kami adalah anak-anaknya, dan biarlah kami memikul sebagian daripada dosa-dosanya!"
Sutejo merasa terharu melihat sikap dua orang itu, dia menggeleng kepala dan menarik napas panjang, lalu berkata.
"Harap andika berdua tenang. Saya tidak menaruh dendam kepada siapa pun juga. Saya hendak mencari Mbakayu Lestari, ada pun tentang Bupati Progodigdoyo, kalau dia sekarang menjadi seorang jahat, sudah tentu saya akan menentangnya sekuat tenaga untuk membela kebenaran dan melindungi mereka yang tertindas. Akan tetapi, kalau saya menentangnya bukanlah karena rasa dendam, melainkan karena sudah menjadi kewajiban saya untuk menentang kejahatan, siapa pun juga dia yang melakukannya!"
Bromatmojo mengerutkan alis tanda tidak setuju dengan ucapan ini, akan tetapi Roro Kartiko dan Joko Handoko memandang kagum.
Joko Handoko lalu melangkah maju dan memegang tangan Sutejo sambil berkata dengan suara menggetar.
"Dimas Sutejo, engkau sungguh merupakan seorang pemuda yang bijaksana dan mulia. Kebijaksanaanmu ini lebih menusuk hati daripada seandainya engkau memaki-maki atau menyerang kami."
"Maaf, andika berdua adalah orang-orang yang gagah perkasa dan baik, yang tidak ada sangkut-pautnya dengan perbuatan ayah kalian, dan kalian pun, seperti juga kami, menentang kejahatan. Bukan maksud saya untuk menyakitkan hati kalian. Hanya saya harap sukalah kalian memberi tahu kepada saya tentang nasib mbakayu saya itu."
"Saya tidak tahu tentang dia..."
Kata Joko Handoko.
"Saya tahu!"
Roro Kartiko tiba-tiba berkata dan mengusap air matanya, kini memandang kepada Sutejo dengan sinar mata yang membuat jantung pemuda ini berdebar.
Dia maklum sekali kepada dara ini dan merasa menyesal telah membuat dara itu bersusah hati.
"Saya pernah mendengar tentang mbakayumu yang bernama Lestari itu. Menurut penuturan yang saya dengar, dia sekarang berada di Mojopahit, menjadi selir dari Sang Resi Mahapati."
"Ahh...!"
Sutejo berseru, perasaannya terombang-ambing antara kegembiraan mendengar mbakayunya masih hidup dan kedukaan mendengar mbakayunya menjadi selir Resi Mahapati karena dia dapat mengerti bahwa kakaknya itu tentu dipaksa menjadi selir orang.
"Dan bagaimana keadaannya? Bagaimana dia bisa menjadi selir Resi Mahapati?"
Roro Kartiko menggelengkan kepalanya.
"Tentang itu, saya tidak tahu. Saya hanya mendengar beberapa tahun yang lalu bahwa dulu pernah ayah pernah mendapatkan seorang selir baru, akan tetapi selir itu bertekad melawan dan tidak mau menjadi selir ayah, kemudian selir yang bernama Lestari itu dibawa ke Mojopahit. Selanjutnya, saya tidak tahu bagaimana jadinya dengan dia."
Sutejo menundukkan kepala dan termenung.
"Kalau begitu, saya harus menjumpai ayah kalian, untuk menanyakan tentang mbakayu Lestari."
"Ayah juga tidak berada di sini!"
Kata Roro Kartiko cepat-cepat, agaknya lega hatinya karena kebetulan ayahnya tidak ada.
"Sudah sepekan lamanya ayah berkunjung ke Mojopahit." (Lanjut ke
Jilid 16) Kemelut Di Majapahit (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 16
"Kalau begitu, saya harus menyusul ke Mojopahit untuk mencari mbakayu saya. Adi Bromo, mari kita pergi."
"Ah, nanti dulu!"
Roro Kartiko berkata.
"Berbahaya sekali kalau pergi dari sini begitu saja. Bapa Guru Resi Harimurti tentu masih merasa penasaran dan melakukan penjagaan ketat."
"Benar apa yang dikatakan oleh Diajeng Roro Kartiko. Sebaiknya andika berdua berdiam dulu di sini sampai keadaan aman, baru kalian pergi meninggalkan tempat ini,"
Kata Joko Handoko.
"Itu yang sebaiknya,"
Kata Bromotmojo.
"Karena saya pun ingin minta tolong kepada... Sriti Kencana!"
Roro Kartiko memandang pemuda itu dan memandang dengan sinar mata tajam penuh teguran.
"Harap andika jangan menyebut saya demikian, nama saya Roro Kartiko, Kakangmas Bromatmojo."
Bromatmojo tersenyum mendengar ini.
"Terima kasih... eh, Diajeng... sesungguhnya saya membutuhkan bantuanmu, yaitu sukalah kiranya andika membuatkan sebuah warangka untuk saya..., yaitu untuk keris pusaka saya..."
"Ehhh...!"
Roro Kartiko menjadi merah sekali mukanya dan dia menunduk, sedangkan Joko Handoko mengerutkan alisnya.
"Dimas Bromatmojo, apa artinya ucapanmu itu?"
Bromatmojo merasa heran mengapa dara itu kelihatan malu-malu dan kakaknya itu kelihatan marah.
Dia memandang kepada mereka berdua dengan heran, sepasang matanya yang jeli itu terbuka lebar dan dia berkata.
"Eh, apa yang salah dengan permintaanku itu? Saya telah berhasil mendapatkan keris pusaka Kolonadah, akan tetapi semua warangka yang saya beli tidak ada yang dapat bertahan, semua pecah berantakan kalau dimasuki Kolonadah. Dan menurut nasehat Ki Empu Singkir, katanya pusaka itu panas dan harus diberi warangka buatan seorang dara yang memiliki kesaktian. Maka melihat Sriti... eh, Diajeng Roro Kartiko, timbul ingatan saya untuk minta bantuannya membuatkan warangka. Apa salahnya hal itu?"
"Ah, begitukah...?"
Roro Kartiko berkata dan tersenyum. Juga wajah Joko Handoko menjadi cerah.
"Ah, kalau begitu tentu saja adikku ini akan suka sekali membantu!"
"Habis anda berdua menyangka apa?"
Tanya Bromatmojo yang masih tidak mengerti.
"Tidak apa-apa, hanya tadi kami belum mengerti, Kakangmas Bromatmojo. Akan tetapi... aku tidak pernah membuat ukiran, bagaimana mungkin membuat warangka keris?"
"Tidak usah diukir, asal merupakan warangka dan dapat untuk menyimpan Kolonadah, karena tidak enak membawa-bawa pusaka tanpa warangka, hanya dibungkus saja."
"Baiklah, akan kucoba untukmu."
Karena urusan pembuatan warangka ini, pula karena Joko Handoko melihat bahwa gurunya dan para pengawal masih terus melakukan penjagaan ketat dengan penuh kewaspadaan, maka dua orang muda itu tinggal di dalam gedung sampai tiga hari tiga malam lamanya.
Mereka menyamar sebagai dua orang anggota Sriti Kencana sehingga para pelayan tidak ada yang menaruh curiga, karena memang seringkali ada orang-orang berpakaian hitam bertopeng hitam berkeliaran bersama dua orang putera-puteri bupati itu.
Dan selama tiga hari itu, sikap dua orang putera-puteri Progodigdoyo itu amat baik, bahkan sikap Roro Kartiko amat manis kepada mereka, terutama sekali kepada Bromatmojo yang pandai mengambil hati dan yang memang amat tampan itu.
Sutejo sendiri makin kagum dan merasa suka kepada puteri musuh besarnya itu, dan diam-diam dia menyayangkan mengapa seorang dara seperti itu menjadi puteri seorang jahat macam Progodigdoyo.
Selain itu, juga dia merasa tidak senang menyaksikan sikap Bromatmojo yang begitu manis terhadap dara itu dan melihat Roro Kartiko bersikap seperti seorang dara yang amat tertarik oleh sahabatnya yang pandai merayu wanita itu.
Setelah tiga hari, selesailah sudah pembuatan sebuah warangka yang sederhana,yang dibuat oleh tangan Roro Kartiko sendiri dan tentu saja pembuatannya itu menurut petunjuk Bromatmojo yang sebagai murid seorang empu atau ahli keris, mengerti akan cara pembuatan keris dan warangkanya.
Tentu saja ketika memberi petunjuk, sikap Bromatmojo dan Roro Kartiko makin akrab dan Sutejo hanya memandang dengan alis berkerut.
Pemuda ini benar-benar merasa tidak senang akan hal itu, karena dia yang mengagumi Roro Kartiko sebagai seorang gadis yang gagah dan baik, merasa tidak senang melihat gadis itu digoda oleh Bromatmojo yang ceriwis dan mata keranjang!
Setelah warangka jadi, maka Bromatmojo dan Sutejo lalu mohon diri meninggalkan kabupaten itu.
Penjagaan para pengawal sudah tidak begitu ketat lagi karena Resi Harimurti pun sudah meninggalkan Tuban, tidak ada yang tahu ke mana, mungkin ke Mojopahit menyusul Bupati Progodigdoyo.
Ketika kedua orang muda itu pamit, Roro Kartiko kelihatan merasa berat sekali untuk berpisah.
"Selamat jalan, Adimas berdua. Kami hanya dapat berdoa semoga andika berdua selalu dalam selamat dan bahagia,"
Kata Joko Handoko.
"Harap Kakangmas berdua tidak melupakan kami,"
Kata Roro Kartiko yang sejak tadi memandang kepada Bromatmojo dengan mata bersinar-sinar dan kadang-kadang juga sayu.
"Kami menganggap Kakangmas Sutejo sebagai putera mendiang Paman Lembu Tirta sebagai saudara kami sendiri..."
"Wah, dan aku bagaimana? Dianggap seperti apakah?"
Bromatmojo bertanya. Joko Handoko yang juga dapat menduga bahwa adiknya tertarik kepada pemuda yang tampan dan jenaka itu, tersenyum dan melirik kepada adiknya.
"Sebagai apa, ya? Andida Roro, dianggap sebagai apakah sebaiknya Adimas Bromatmojo ini?"
Roro Kartiko mengangkat muka memandang kakaknya, lalu memandang kepada Bromatmojo dan kedua pipinya berubah merah sekali.
"Kami selalu menganggap andika sebagai seorang sahabat yang amat baik, dan terserah bagaimana anggapan Bromatmojo terhadap kami..."
"Ahhh..."
Sebagai sahabat baik?
Terima kasih!
Dan saya selalu menganggap Kakangmas Joko Handoko sebagai seorang sahabat yang gagah perkasa, dan Diajeng Roro Kartiko sebagai seorang puteri yang cantik jelita dan gagah perkasa seperti...
seperti..."
"Ya? Seperti apa sih?"
Roro Kartiko mendesak, matanya bersinar-sinar, bibirnya yang merah seperti mawar sedang mekar itu tersenyum manja.
"Seperti Srikandi!"
"Ihh, saya tidak mau dianggap genit dan galak seperti Srikandi."
"Kalau begitu seperti Dewi Suprobo saja, seperti bidadari dari kahyangan..."
Roro Kartiko menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali.
"Kakangmas Bromatmojo terlalu memuji."
"Elho! Siapa yang memuji? Memang andika cantik jelita seperti bidadari dari kahyangan, betul tidak, Kakang Tejo?"
Sutejo yang memandang dengan mata melotot tidak menjawab, melainkan berpamit.
"Kami harus berangkat sekarang. Mari, Adi Bromo!"
Suaranya berat dan kaku.
"Nanti dulu!"
Joko Handoko berkata.
"Biar pun sekarang cukup gelap, akan tetapi sebaiknya kalau andika berdua pergi dengan pakaian anggota Sriti Kencana dan kami antar sampai keluar dari kabupaten."
"Benar, demi keselamatan andika dan jangan sampai menimbulkan keributan lagi,"
Sambung Roro Kartiko dan kakak beradik ini lalu memberi kesempatan kepada dua orang sahabatnya itu untuk mengenakan pakaian dan kedok hitam, kemudian berangkatlah Bromatmojo dan Sutejo sebagai dua orang anggota Sriti Kencana diantar oleh Joko Handoko dan Roro Kartiko.
Dengan pengawalan dua orang putera-puteri bupati itu, tentu saja dengan mudah mereka dapat keluar dari kabupaten, keluar dari pintu gerbang tanpa ada gangguan dari para penjaga.
Ketika mereka hendak saling berpisah, Roro Kartiko mendekati Bromatmojo berkata lirih.
"Kakangmas, harap jangan melupakan saya..."
"Ah, mana mungkin orang dapat melupakanmu, Diajeng?"
Bromatmojo dengan beraninya lalu memegang tangan puteri itu, tangan yang berkulit halus lembut dan hangat.
"Saya tidak akan melupakanmu dan sampai berjumpa kembali, Diajeng."
Akhirnya berangkatlah dua orang muda itu meninggalkan kabupaten.
Joko Handoko dan Roro Kartiko memandang sampai bayangan dua orang muda itu lenyap ditelan kegelapan malam.
Sutejo dan Bromatmojo melakukan perjalanan tanpa bicara dan biar pun beberapa kali Bromatmojo mencoba untuk mengajak sahabatnya bicara, Sutejo hanya menjawab dengan anggukan atau gelengan saja, bahkan beberapa kali sama sekali tidak menjawab.
Mereka lalu pergi ke rumah Empu Singkir di ujung barat kota Tuban.
Seperti biasa, sunyi di sekitar rumah kecil itu, tidak kelihatan ada orang,bahkan malam itu tidak terdengar bunyi berdencingnya baja digembleng.
Bromatmojo menghampiri pintu dan diketuknya pintu rumah Empu Singkir.
Namun, sampai lama dia mengetuk, tidak ada jawaban dari dalam.
"Eyang! Eyang Empu...!"
Berkali-kali Bromatmojo memanggil tanpa mendapat jawaban.
"Kakang Cantrik!"
Dia memanggil cantrik, namun juga tanpa mendapat jawaban.
"Hemm, mencurigakan sekali,"
Terdengar Sutejo berkata dan pemuda ini lalu mendorong daun pintu terbuka. Ternyata daun pintu tidak dipalang dari dalam, hanya ditutupkan saja.
"Hati-hati, Kakang Tejo,"
Kata Bromatmojo dan keduanya memasuki rumah yang gelap itu.
"Eyang Empu....! Kakang Cantrik...!"
Keduanya memanggil, namun sunyi saja yang menyambut panggilan mereka. Dengan meraba-raba Sutejo menemukan lampu dan alat pembuat apinya. Tak lama kemudian lentera itu telah dinyalakannya.
"Ahhh...!"
Bromatmojo berteriak dengan kaget dan Sutejo melihat mereka itu rebah malang-melintang di ruangan itu, mandi darah dan tidak bernapas lagi!
Empu Singkir dan dua orang cantriknya telah tewas dan melihat dada dan leher mereka yang terluka parah, mudah diduga bahwa mereka dibunuh orang.
"Lekas cari Kolonadah!"
Bromatmojo berteriak.
"Percuma saja, tentu telah dibawa pergi oleh yang membunuh mereka,"
Kata Sutejo. Dan memang benar, setelah mencari-cari di seluruh rumah, mereka tidak menemukan Kolonadah. Juga Ki Ageng Palandongan tidak nampak.
"Hemm, kakek itu, si keparat palsu! Siapa lagi kalau bukan dia yang membunuh mereka ini dan membawa lari keris Kolonadah?"
Bromatmojo berkata marah.
"Tidak baik menuduh tanpa bukti. Kematian mereka belum lama, siapa tahu kita dapat mengejar dan menyusul pembunuhnya. Mari!"
Sutejo berseru dan mereka lalu berloncatan keluar dari rumah itu, terus lari keluar dari Kabupaten Tuban menuju ke selatan.
Mereka mengejar dan mencari-cari jejak sampai pagi, namun tanpa hasil.
Keris pusaka Kolonadah lenyap dan Empu Singkir bersama dua orang cantriknya tewas, Ki Ageng Polondangan tidak ada.
Dengan hati penuh penasaran dan marah, Bromatmojo melanjutkan perjalanan ke selatan, diikuti oleh Sutejo yang banyak diam dan mengerutkan alisnya yang tebal itu.
"Si keparat Ki Ageng Palandongan! Kalau aku dapat berjumpa dengan dia, akan kucekik leher kakek berhati palsu itu!"
Bromatmojo berkata dengan marah sekali ketika dia dan Sutejo pagi hari itu duduk di bawah pohon besar untuk mengaso setelah semalam suntuk mereka mencari-cari jejak pencuri keris Kolonadah tanpa hasil.
"Tidak semestinya engkau menuduh sembarangan saja kepada Ki Ageng Palandongan,"
Sutejo mencela dan dari suaranya, jelas bahwa pemuda ini merasa tidak senang. Bromatmojo sedang marah, maka dicela demikian dia menjadi makin mendongkol.
"Habis, aku harus menuduh siapa? Jelas bahwa yang tahu tentang Kolonadah hanyalah Empu Singkir, dua orang cantriknya, dan Ki Ageng Palandongan. Sekarang, Empu Singkir dan dua orang pembantunya dibunuh orang, keris pusaka lenyap dan Ki Ageng Palandongan juga lenyap. Siapa lagi kalau bukan dia pembunuh dan pencurinya? Siapa lagi yang harus kusalahkan?"
"Hemm, orang pertama yang bersalah dalam hal ini adalah engkau sendiri!"
Bromatmojo menoleh dan memandang kepada pemuda itu dengan sinar mata penasaran.
"Aku? Aku malah yang bersalah? Kakang Tejo, apa maksudmu?"
"Engkau terlalu sembrono! Aku sudah merasa tidak setuju ketika engkau dengan mudah begitu saja meninggalkan keris pusaka itu kepada Empu Singkir. Akan tetapi engkau nekat meninggalkannya. Engkau masih begini muda akan tetapi engkau sudah tinggi hati, sembrono, dan mempunyai kebisaan-kebisaan yang tidak patut."
Bromatmojo membelalakkan matanya. Baru sekarang dia tahu bahwa temannya ini sedang marah kepadanya. Pantas saja sejak malam tadi jarang mau bicara. Kiranya marah kepadanya.
"Wah-wah, ada apalagi ini? Kau marah-marah dan memaki-maki orang!"
"Aku tidak memaki, hanya mengatakan yang sebenarnya dengan maksud agar engkau dapat mengubah kebisaanmu yang buruk itu, demi kebaikanmu sendiri."
Bromatmojo mengerutkan alisnya dan memandang tajam.
"Coba katakan, perbuatan dan kebisaanku yang mana yang kau anggap tidak patut itu?"
"Banyak! Selain engkau kementus (besar kepala), kemaki (banyak lagak), terutama sekali engkau kurang susila terhadap wanita."
Bromatmojo terbelalak, mukanya menjadi merah dan dia sudah bangkit berdiri.
"Kakang Tejo! Apa mksudmu?"
Dia membentak, marah. Sutejo juga berdiri namun sikapnya masih tenang sungguh pun dia jelas kelihatan marah pula.
"Maksudku, engkau perayu wanita, engkau mata keranjang, engkau tidak sopan sehingga engkau tidak dapat membedakan wanita mana yang pantas kau rayu dan mana yang tidak."
"Eh, eh, mengapa kau tiba-tiba menjadi marah-marah begini? Siapa yang kurayu?"
"Engkau berani bersikap tidak sopan, tidak pantas dan merayu Roro Kartiko..."
"Ohhh, begitukah? Jadi engkau cemburu, ya? Engkau iri hati? Engkaulah yang tergila-gila kepada Roro Kartiko!"
"Hemm, boleh jadi aku kagum kepadanya. Dia seorang wanita yang hebat, seorang wanita yang berbudi, gagah perkasa, cantik jelita dan halus budi pekertinya..."
"Tapi dia anak musuh besarmu!"
"Aku tidak perduli akan hal itu, tidak boleh menyamakan ayahnya dengan anaknya. Akan tetapi, aku tidaklah tergila-gila macam engkau. Aku bukan seorang pemuda macam engkau yang mata keranjang."
"Eh, Kakang Tejo bicaramu makin lancang saja! Sikapmu ini saja jelas menunjukkan bahwa engkau jatuh cinta kepada puteri itu dan cemburu kepadaku, kau iri melihat aku dapat bersahabat akrab dengan dia!"
"Tidak! Andaikata hubunganmu dengan dia itu sewajarnya, sepatutnya, aku tidak akan merasa iri. Aku bukan cemburu, hanya aku tidak rela kalau engkau menyamakan dia dengan wanita-wanita biasa yang boleh saja kau bujuk rayu dan kau jatuhkan dengan ketampananmu, dengan lagak dan gayamu yang memikat, dengan kepalsuanmu..."
"Keparat!"
Bromatmojo marah bukan main, kedua matanya seperti berapi-api.
"Kau yang cinta dan tergila-gila kepadanya, tapi kau menuduh aku yang bukan-bukan. Hemm, Sutejo, kalau benar aku merayunya, habis, kau mau apa?"
"Bromatmojo, aku menganggap engkau sebagai seorang sahabat. Akan tetapi kalau engkau menyeleweng, tentu akhirnya engkau akan dihajar orang dan daripada orang lain yang menghajarmu, biarlah aku sendiri yang menghajarmu kalau engkau tidak bisa kuberi nasehat untuk merubah kelakuanmu yang tidak patut."
"Babo-babo keparat Sutejo! Sumbarmu seperti laki-laki tanpa tanding, seolah-olah engkau dapat mengukur tingginya langit dalamnya lautan! Kau hendak menghajar aku,ya? Keparat sombong, coba ingin aku melihat bagaimana engkau akan dapat menghajarku!"
Sutejo juga sudah marah sekali, kemarahan yang ditahan-tahannya semenjak dia melihat sikap Bromatmojo yang terlalu bermanis-manisan terhadap wanita.
"Baik,kau majulah, Bromatmojo!"
"Kau terlalu memandang rendah kepadaku, setan!"
Bromatmojo berteriak dan dia lalu meloncat ke depan sambil memekik nyaring.
"Haaiiiittt...!"
Langsung dia menyerang Sutejo dengan pukulan-pukulan Hasto Bairowo setelah dengan gemas dia membanting-banting kakinya.
"Ehhh...!!"
Sutejo bergerak mengelak sambil menangkis.
"Dukkk!!"
Dua lengan bertemu dengan dahsyatnya dan keduanya terhuyung ke belakang.
"Rasakan ini...!"
Bromatnojo kembali menyerang, kini dia bergerak cepat, lalu tiba-tiba tubuhnya merendah, tangan kirinya dengan aji kesaktian Hasto Nogo yang amat dahsyat itu menyambar ke arah lambung lawan.
"Wuuuttt... ehhh!"
Sutejo cepat mengelak dari sambaran pukulan sakti yang amat berbahaya itu, akan tetapi tiba-tiba kaki kanan Bromatmojo mencuat dan menendang dari bawah ke arah perutnya.
"Plakk!"
Sutejo menangkis dari samping dan berusaha menangkap pergelangan kaki lawan, akan tetapi pada saat itu, tangan kanan Bromatmojo sudah menyambar dengan jotosan dari depan sehingga terpaksa dia mengelak dengan miringkan tubuh dan menangkis, tidak sempat lagi menangkap kaki.
Terjadilah pertandingan yang amat seru.
Berkali-kali keduanya mengeluarkan bentakan, teriakan dan tangan kaki mereka bergerak-gerak dengan cepatnya, saling serang, saling pukul, saling tampar, saling tendang.
Kemarahan Bromatmojo sudah memuncak.
Sebetulnya, dara ini merasa hatinya sakit sekali.
Dia yang diam-diam telah jatuh cinta kepada Sutejo kini mengira bahwa Sutejo telah jatuh hati kepada Roro Kartiko, pemuda yang kelihatannya pendiam dan yang selalu menjauhkan diri dari wanita itu, kini jatuh cinta kepada Roro Kartiko maka diam-diam dia merasa cemburu, sakit hati dan marah sekali!
Apalagi mendengar dia memaki-maki sebaliknya Roro Kartiko dipuji-puji, membuat dia lupa sedang menyamar sebagai seorang pria dan bahwa Sutejo menganggap dia seorang pria!
Dia dibakar oleh api cemburu.
Di lain fihak, Sutejo juga marah dan kecewa.
Diam-diam dia suka sekali kepada sahabat barunya ini, suka dan kagum.
Akan tetapi, melihat Bromatmojo menggoda Roro Kartiko, dia merasa tidak senang.
Dia tidak ingin melihat puteri yang dikaguminya itu menjadi korban keceriwisan Bromatmojo, juga dia tidak ingin melihat sahabatnya itu melanjutkan kebisaannya yang tidak patut.
Dia ingin menyadarkan Bromatmojo, kalau perlu menghajarnya seperti seorang kakak menghajar adiknya yang menyeleweng.
Justru karena dasar yang mendorong pertempuran itulah yang membuat pertempuran itu ramai dan seru sekali, bahkan setanding.
Sebetulnya tingkat kepandaian Sutejo masih lebih tinggi daripada tingkat kepandaian Bromatmojo.
Akan tetapi,kalau Bromatmojo yang diamuk cemburu itu berkelahi dengan sungguh-sungguh,mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua aji kesaktiannya, di lain fihak Sutejo banyak mengalah dan tidak mempunyai niat sedikit pun untuk melukai sahabatnya itu, apalagi membunuhnya dengan pukulan sakti yang terlalu kuat.
Pertandingan itu berlangsung dengan hebat, dan agaknya serangan-serangan kedua fihak tidak pernah mengendur.
Sampai matahari naik tinggi, masih saja mereka saling hantam dan tubuh mereka bergerak cepat berkelebatan di bawah pohon itu.
Hawa-hawa pukulan mereka sampai merontokkan daun-daun pohon.
Peluh telah membasahi seluruh tubuh mereka, dan keduanya sudah terasa kelelahan.
"Desss...!"
Untuk ke sekian kalinya, dua lengan mereka bertemu dan keduanya terhuyung ke belakang.
Bromatmojo hampir roboh saking lelahnya.
Kedua kakinya sudah gemetar rasanya.
Dia mengusap peluh di dahinya dengan punggung tanganya yang terasa nyeri-nyeri.
Lengannya sudah matang biru karena sering bertemu dengan lengan Sutejo, tangannya juga panas dan nyeri.
Napasnya sudah terengah-engah dan kepalanya agak pening.
Kemarahannya makin memuncak dan mengingat betapa Sutejo tidak mau mengalah kepadanya, kejengkelannya memenuhi dada dan dia mengusap lagi peluh yang menetes turun sehingga kelihatan dia agak lambat menyerang lagi.
"Hayo keluarkan seluruh tenaga dan kesaktianmu, Bromatmojo! Sebelum engkau menyatakan bertobat dan tidak akan melanjutkan sikapmu yang ugal-ugalan terhadap wanita, aku akan menghajarmu!"
"Keparat...!!"
Kemarahan yang bagaikan api mengamuk itu mendatangkan tenaga baru kepada Bromatmojo dan dia sudah meloncat dan menyerang lagi dengan hebatnya.
"Bress!!"
Kembali keduanya terlempar ke belakang oleh pertemuan dua telapak tangan yang sama-sama memiliki aji kesaktian, akan tetapi karena kedua kaki Bromatmojo sudah gemetar kelelahan, dia jatuh terduduk sedangkan Sutejo hanya terhuyung saja.
Kedua tangannya terasa panas dan sakit sekali, maka tanpa dapat dicegah lagi, Bromatmojo menangis!
Sutejo terkejut dan terheran-heran.
Seorang pemuda yang memiliki kesaktian seperti Bromatmojo jarang sekali dapat ditemukan, begitu muda dan begitu halus akan tetapi benar-benar amat perkasa, jauh lebih sakti daripada Joko Handoko.
Akan tetapi kenapa menangis?
"Huh, kau pemuda cengeng!
Belum patah tulangmu, belum robek kulitmu, sudah merenggek seperti perempuan saja!"
"Keparat sombong kau, Sutejo!"
Bromatmojo meloncat lagi dan seketika tangisnya terhenti oleh kemarahan dan dengan pengerahan tenaganya, dia telah menggunakan ilmu meringankan diri Turonggo Bayu, tubuhnya seperti kilat saja menyambar ke arah Sutejo dan dia mengerahkan tenaga Hasto Nogo memukul dengan dahsyat.
"Bresss...!!"
Kini Sutejo yang terpental, karena biar pun dia sudah berhasil menangkis, ternyata dia kalah cepat sehingga kedudukan kedua kakinya belum kuat dan dia tidak dapat bertahan sehingga terpental dan terguling-guling.
Bromatmojo terkejut bukan main, cepat dia meloncat mendekati.
"Kau... kau tidak apa-apa?"
Tanyanya. Sutejo sudah bangkit berdiri.
"Ilmumu meringankan tubuh bukan main hebatnya, kau terlalu cepat bagiku,"
Kata Sutejo.
"Akan tetapi aku belum kalah!"
Dan kini dialah yang menyerang sehingga Bromatmojo cepat menghindarkan diri, mengandalkan kegesitan tubuhnya.
Mereka bertanding lagi dengan hebatnya.
Tiba-tiba terdengar seruan-seruan kaget dan dua sosok bayangan berkelebat datang.
Mereka itu ternyata adalah dua orang yang berpakaian hitam-hitam dan berkedok hitam, pakaian Sriti Kencana.
"Tahan...! Dimas Sutejo, tahan...!"
Terdengar suara Joko Handoko.
"Kakangmas Bromatmojo, hentikan pertempuran ini!"
Terdengar pula suara Roro Kartiko dan kakak beradik ini cepat meloncat ke tengah-tengah, melerai dan menghadang mereka yang sedang bertempur.
Sutejo dan Bromatmojo cepat melompat mundur dan berdiri terengah-engah mandi peluh.
"Apa yang terjadi? Kenapa Andika berdua saling bertanding sendiri?"
Roro Kartiko bertanya dengan penuh keheranan dan kekhawatiran.
"Eh, Diajeng Roro Kartiko, siapa yang bertempur?"
Bromatmojo balas bertanya.
Baca Juga: Jodoh Rajawali 15
Baca Juga: Si Bangau Merah 10