Ceritasilat Novel Online

Kemelut Di Majapahit 6

Eps 6 Kemelut Di Majapahit - Kho Ping Hoo

Baca online Kemelut Di Majapahit - Kho Ping Hoo

Cersil Kemelut Di Majapahit - Kho Ping Hoo.

"Jelas bahwa kalian berdua tadi bertanding mati-matian!"

Kata pula Joko Handoko.

"Dimas Sutejo, bukankah kalian tadi bertanding?"

Sutejo memandang ke arah Bromatmojo yang sudah tersenyum sambil menghapus peluh dari dahi dan leher, dan dia lalu menggeleng kepala tanpa menjawab.

"Kami tidak bertanding, mengapa harus saling serang? Kami hanyalah berlatih saja! Saya dan Kakang Tejo sedang berlatih agar tidak menjadi kaku gerakan kami,"

Kata Bromatmojo.

"Benarkah begitu, Kakangmas Sutejo?"

Roro Kartiko bertanya sambil menoleh kepada Sutejo, akan tetapi dia masih berdiri dekat Bromatmojo.

"Benar, kami hanya berlatih,"

Jawab Sutejo.

"Aihh, kalian berlatih demikian hebatnya, sampai kami berdua merasa kaget bukan main. Baru latihan saja sudah demikian hebat, apalagi kalau sungguh-sungguh,benar-benar kalian adalah dua orang yang memilki kesaktian hebat!"

Joko Handoko berseru kagum bukan main.

"Hebat apanya? Jangan terlalu memuji, Kakangmas Joko Handoko. Kami adalah orang-orang bodoh, terutama aku sendiri, sehingga mudah saja ditipu orang,"

Kata Bromatmojo,menarik napas panjang dan diam-diam dia merasa lega karena kalau saja dua orang ini tidak cepat datang, agaknya dia harus mengakui keunggulan Sutejo.

"Eh apa maksudmu?"

Roro Kartiko bertanya.

"Keris pusaka Kolonadah yang saya titipikan kepada Empu Singkir telah lenyap!"

"Ehh?? Apakah Empu Singkir melarikannya?"

Tanya Joko Handoko.

"Tidak,"

Jawab Bromatmojo.

"Malah dia dan dua orang cantriknya kami dapati tewas di rumahnya, dan pusaka itu lenyap tak meninggalkan bekas, tentu dilarikan oleh pembunuh mereka. Dan semua itu adalah karena kelalaian saya yang mempercayakan pusaka itu di sana."

Sambil berkata demikian, Bromatmojo melirik ke arah Sutejo karena kata-katanya itu seolah-olah pengakuan bahwa memang dia lalai dan sembrono.

"Hemm, kami berjanji akan mengerahkan saudara-saudara kami untuk menyelidiki hal itu, Dimas Bromatmojo. Kami akan membantu kalian,"

Kata Joko Handoko.

"Terima kasih,"

Sutejo yang sejak tadi diam saja ikut menjawab.

"Akan tetapi,Andika berdua hendak pergi ke manakah?"

Joko Handoko menarik napas panjang lalu menceritakan.

"Setelah malam tadi Andika berdua pergi, datang seorang anak buah Sriti Kencana yang melaporkan adanya peristiwa yang patut kami selidiki sendiri. Menurut laporan itu, di Pegunungan Kendeng terdapat beberapa orang penyembah Bhatari Durga yang kabarnya banyak memikat para wanita untuk menjadi pengikut mereka. Hal itu sebenarnya bukanlah hal aneh dan tentu kami tidak akan melakukan penyelidikan kalau saja tidak ada laporan bahwa keadaan para pendeta penyembah Bhatari Durga itu, pendeta-pendeta perempuan yang aneh, amat mencurigakan. Selain banyak wanita cantik yang seperti tergila-gila dan berbondong menjadi murid mereka, juga terdapat berita bahwa tiga orang wanita yang tadinya masih gadis, setelah menjadi Anggota selama beberapa bulan, pada suatu hari pulang ke dusun mereka dalam keadaan hamil dan membunuh diri! Nah, itulah sebabnya maka Anggota kami lalu melapor dan karena kabarnya pendeta-pendeta Durga memiliki kesaktian, kami berdua sendirilah yang akan pergi menyelidikinya. Kalau Adimas berdua suka, kami harap Andika berdua ikut menyelidiki ke sana, dan kalau Andika berdua mau, sungguh pertemuan ini merupakan hal yang amat menguntungkan."

Bromatmojo yang ingin cepat menyelidiki tentang keris pusaka Kolonadah yang lenyap, sebetulnya ingin menolak ajakan itu. Akan tetapi dia didahului oleh Sutejo yang berkata.

"Maaf, saya harus cepat-cepat menuju ke Mojopahit, dan karena pusaka Kolonadah juga lenyap, maka saya kira kami tidak bisa dan..."

Terdorong oleh hati yang sedang marah terhadap Sutejo, penolakan Sutejo itu sudah cukup untuk mendorong hati Bromatmojo untuk mengambil sikap yang berlawanan.

Kalau tadinya dia sendiri ingin menolak, kini cepat dia berkata.

"Tentu saja aku suka sekali untuk membantu Andika berdua! Gunung Kendeng tidak jauh dari sini, mari kita berangkat sekarang juga!"

Sutejo menerutkan alisnya, memandang kepada Bromatmojo.

"Akan tetapi, Adi Bromatmojo, kalau kita tidak lekas mengejar, tentu pembunuh dan pencuri keris itu akan lari makin jauh."

"Seorang ksatria mendahulukan hal yang terpenting,"

Kata Bromatmojo, sengaja menentang untuk melampiaskan perasaanya yang mengkal terhadap pemuda itu.

"Orang-orang jahat penyembah Bhatari Durga menyebar kemaksiatan dan mengganggu rakyat, hal itu tidak boleh ditunggu lagi dan harus cepat ditanggulangi, sedangkan urusan keris Kolonadah yang dilarikan pencuri, lain hari masih boleh diselidiki dan dicari. Bukankah benar demikian, Diajeng Roro?"

Bromatmojo sengaja bersikap manis kepada puteri itu. Wajah Roro Kartiko yang kini sudah tidak tertutup kedok itu menjadi merah.

"Andika adalah seorang ksatria utama, dan saya menghaturkan terima kasih atas bantuan yang andika janjikan itu, Kakangmas Bromatmojo."

Hati Sutejo meradang, akan tetapi di depan kakak beradik itu, apa yang dapat dia lakukan kecuali menahan kemarahannya? "Baiklah, mari kita berangkat,"

Katanya singkat sambil menelan kemarahannya terhadap Bromatmojo yang jelas hendak menggunakan kesempatan itu untuk menarik hati puteri jelita itu.

Bromatmojo tentu saja mengerti bahwa temannya itu marah-marah dan mendongkol, akan tetapi karena dia tahu bahwa marahnya itu karena dia berbaik dengan Dyah Roro Kartiko,dia malah makin menjadi dan makin mesra sikapnya terhadap Roro Kartiko untuk menggoda hati Sutejo!

Demikian mesra dan terang-terangan dia menggandeng tangan dara itu, sampai Raden Handoko sendiri menyentuh tangan Sutejo dan memberi isyarat dengan matanya ke arah pasangan yang bergandengan tangan itu.

Tentu saja Sutejo menjadi makin meradang!

Tidak, dia tidak cemburu, dia tidak mempunyai rasa cinta kasih terhadap Roro Kartiko, akan tetapi dia kagum terhadap dara itu dan tidak rela hatinya kalau melihat Roro Kartiko dipermainkan oleh Bromatmojo yang dia tahu adalah seorang "pemuda mata keranjang!"

Apakah yang terjadi di Pegunungan Kendeng?

Daerah pegunungan ini selamanya tenteram dan tenang, tanahnya subur, dan hawanya sejuk, tidak pernah terjadi sesuatu yang menggegerkan rakyat yang tinggal di sekitar daerah itu.

Akan tetapi sejak beberapa bulan terakhir ini, ramai rakyat membicarakan datangnya seorang nenek yang kabarnya memiliki kesaktian seperti dewa!

Nenek itu bertubuh tinggi besar dan dia datang entah dari mana tidak ada orang mengetahuinya, seorang nenek yang membawa tongkat panjang yang mula-mula menimbulkan rasa takut di hati orang, akan tetapi tak lama kemudian menjadi seorang yang dipuja-puja seperti seorang dewa yang sakti.

Munculnya nenek itu sudah aneh.

Pada suatu sore yang tenteram, beberapa bulan yang lalu, ketika suami isteri Parmono dan Partiwi sedang sibuk menggodok ketela untuk makan malam sambil bercakap-cakap karena mereka adalah pengantin baru yang belum ada sebulan menjadi pengantin, terdengar suara dari luar pondok mereka,suara seperti orang minta dibukai pintu.

"Ihh, siapa yang datang bertamu di waktu surup (senja) begini, sih?"

Partiwi mengomel karena merasa terganggu. Parmono sedang membelah kayu bakar dengan kapak, maka dia berkata.

"Mungkin seorang tetangga, atau seorang yang datang untuk minta-minta. Keluarlah sebentar,manis."

Sebutan ini menyenangkan hati Partiwi dan dia mau melakukan perintah apa saja kalau suaminya, yang baru dikenalnya kurang dari sebulan itu, menyebutnya seperti itu.

Setelah mendorong beberapa kayu baru ke dalam perapian, dia lalu keluar dan membukakan daun pintu depan.

Setiap matahari telah terbenam, pintu-pintu depan harus ditutup agar jangan ada "setan masuk"

Ketika daun pintu terbuka, bulu tengkuk meremang di tengkuk pengantin baru itu.

Hampir saja dia menutupkan lagi daun pintu dan lari masuk, akan tetapi ketika nenek itu tersenyum memandangnya, dia tidak jadi menutupkan daun pintunya.

Kiranya yang berdiri di luar pintunya adalah seorang nenek yang usianya tentu tidak kurang dari tujuh puluh tahun, bertubuh tinggi besar dengan punggung agak bongkok, tangan kiri membawa sebatang tongkat panjang berwarna hitam dan berbentuk tubuh ular, tangan kanannya menyangga sebuah arca yang amat bagus,arca yang ukirannya amat indah membentuk tubuh seorang wanita cantik, arca Bathari Durga!

"Ommm...

syanti...

syanti...

syanti...!"

Nenek itu berdoa dengan suara yang parau dan besar.

"Semoga para dewata memberkahimu, cah ayu. Genduk, bocah ayu,kau tolonglah seorang nenek tua seperti aku, berilah aku sekedar makan dan tempat untuk melewatkan malam ini, dan aku akan berdoa agar Sang Hyang Bhatari Durga memberkahimu dengan seorang putera yang bagus dan mulia."

Wajah yang manis itu seketika menjadi merah padam, akan tetapi tentu saja Partiwi cepat tersenyum dan mempersilakan nenek itu masuk.

"Silakan masuk, Nek. Akan tetapi tempat kami kotor dan kami tidak mempunyai hidangan yang layak."

"Hik-hik! Senyummu telah menerangi semua tempat sehingga nampak indah, dan sinar matamu membuat semua hidangan menjadi lezat, genduk bocah ayu!"

Makin tersipu-sipulah Partiwi oleh pujian ini dan dia menutupkan kembali daun pintu setelah nenek itu memasuki pondoknya yang sederhana.

"Siapa dia, isteriku?"

Tiba-tiba Parmono muncul membawa kapak di tangan dan sepotong kayu bakar di tangan kiri. Ketika dia melihat seorang nenek tua bongkok, dia memandang penuh keheranan.

"Kakang dia ini adalah seorang nenek yang kemalaman di jalan dan minta ikut makan dan bermalam di sini."

"Hemm, kalau saja aku tidak mengganggu, orang muda,"

Nenek itu berkata sambil memandang kepada Parmono.

Parmono mendapat kenyataan dengan hati kaget bahwa nenek itu biar pun sudah tua sekali namun sinar matanya tajam dan penuh wibawa!

"Tentu saja tidak, sama sekali tidak!"

Katanya gugup.

"Akan tetapi, kami miskin,tidak punya apa-apa, hanya godokan ketela..."

Nenek itu terkekeh.

"Benarkah, mari kita lihat!"

Katanya.

Suami isteri itu saling pandang, tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh nenek itu dan ketiganya lalu kembali ke dalam dapur.

Nenek itu tanpa diminta lalu membuka tutup dandang dan melihat bahwa memang benar mereka menggodok ketela, atau lebih tepat mengedang ketela.

"Kenapa tidak menanak nasi?"

Tanyanya. Suami isteri itu saling pandang.

"Belum waktunya panen padi, Nek, dan kami tidak mempunyai simpanan beras,"

Kata Partiwi.

"Heh-heh, mengapa amat susah? Mari kuberi kau beras, cah ayu,"

Katanya sambil terbongkok-bongkok keluar dari pintu kecil belakang dapur.

Suami isteri itu merasa bingung dan dengan bingung mengikutinya.

Nenek itu lalu mengambil pasir di luar pondok dan memasukkan pasir itu ke dalam sebuah tumbu (tempat beras dari bambu).

"Nah, kau masaklah beras ini."

Partiwi hendak membantah dengan marah, akan tetapi suaminya menyentuh lengannya dan mengedipkan pandang matanya.

Celaka, pikir Partiwi, agaknya nenek ini adalah seorang gila dan suaminya tidak berani membantahnya, khawatir kalau-kalau nenek itu mengamuk.

Padahal bukan demikianlah pandangan Parmono.

Dia melihat nenek itu datang membawa sebuah arca Bathari Durga yang amat indah, sikapnya pun aneh dan luar biasa sekali pandang matanya, maka timbul kepercayaan di dalam hatinya.

Dengan bersungut-sungut Partiwi mulai menanak "beras"

Itu dan setelah memasukkan pasir itu di atas kuwali dan menggodoknya, nenek itu berkata.

"Genduk bocah ayu, jangan kau buka tutup kuwali itu sebelum berasnya matang, ya?"

Partiwi hanya mengangguk dan nenek itu hanya terkekeh duduk di atas dingklik yang terdapat di dalam dapur. Parmono lalu menanggapnya.

"Kalau boleh kami mengetahui, Nenek ini siapakah dan datang dari manakah?"

"Ha-ha-ha, aku adalah Nyi Durgakelana, orang muda. Sang Hyang Bathari Durga sendiri yang berkenan mengutus aku untuk berkelana di seluruh jagad raya untuk memberi penerangan kepada umat manusia yang sedang dilanda kegelapan. Jangan kalian khawatir, karena kebetulan Sang Hyang Bathari Durga yang memilih kalian untuk menjadi pembantu-pembantuku, maka aku datang malam ini di sini."

Parmono terkejut.

"Tapi..."

Bantahnya. Pada saat itu terdengar suara tangis riuh rendah dari rumah tangga di sebelah kiri.

"Hemm, mengapa ribut-ribut menangis itu?"

Nenek yang mengaku bernama Nyi Durgakelana bertanya. Tiba-tiba Parmono mendapat gagasan yang baik.

"Nenek yang baik, kalau memang benar Andika adalah pilihan Sang Hyang Bathari, maka tolonglah keluarga Karyo di sebelah itu. Anaknya sakit keras dan agaknya sudah sukar untuk diobati lagi, maka mereka itu selalu menangis dengan sedih."

"Benar, Nenek yang sakti. Tolonglah mereka."

Partiwi juga membujuk karena dia merasa amat kasihan kepada keluarga yang ditimpa kemalangan itu.

"Heh-heh-heh, apa sih sukarnya? Suruh bawa si sakit ke sini!"

Jawab Nyi Durgakelana.

Tanpa diperintah dua kali, Parmono segera meloncat dan lari ke tetangga di sebelah.

Sementara itu, Partiwi mengusap keringat di dahinya dan mengusap sinom (anak rambut) yang melingkar di dahinya.

Sejak tadi dia selalu bermain di dekat api, tadi menggodok ketela, kini menanak "beras".

Dia tidak tahu bahwa sejak tadi nenek itu memandangnya dengan pandang mata penuh gairah.

"Siapa namamu, cah ayu?"

Tiba-tiba nenek itu bertanya.

"Partiwi, Nek."

"Hemm, namamu bagus sekali, akan tetapi orangnya lebih bagus. Engkau sungguh manis sekali, Partiwi."

Biar pun, yang memujinya hanya seorang wanita tua, namun jantung wanita muda itu berdebar aneh dan mukanya menjadi merah.

"Ke sinilah, genduk cah ayu."

Dengan hati tegang dan agak takut-takut Partiwi mendekat dan nenek itu lalu memegang kedua pipinya yang halus dengan jari-jari tangan kasar, kemudian mengecup dahi yang berkeringat itu.

"Cupp...!!"

"Ah, Nek. Dahiku berkeringat..."

Partiwi cepat menjauhkan diri, jantungnya makin berdebar tidak karuan.

Biar pun nenek ini seorang wanita tua, akan tetapi selama hidupnya belum pernah ada orang mengecup dahinya semesra itu, kecuali suaminya tentu.

Akan tetapi itu lain lagi.

"Ke sinilah, genduk cah ayu, aku masih belum puas menikmati kecantikanmu!"

Kata pula nenek itu dengan nada suara yang aneh.

Partiwi hendak membantah, akan tetapi sungguh aneh sekali, hatinya tidak kuasa membantah, tidak berani dia menentang dan di luar kehendaknya, kakinya kembali melangkah mendekati nenek itu.

"Heh-heh-heh, kau menjadi muridku yang pertama, engkau menjadi kepercayaanku dan engkau yang akan menjadi bendaharaku, akan tetapi engkau harus mentaati aku dan menjadi kesayanganku, cah ayu."

Berkata demikian, jari-jari tangan yang kasar dan panjang-panjang itu mulai menggerayangi ke seluruh tubuh Partiwi. Bukan main kagetnya wanita muda itu.

"Ih... Nek...!"

Akan tetapi dia tidak kuasa menolak, apalagi menjauhkan diri sehingga dia hanya memejamkan mata ketika nenek itu memeluk dan menggerayangi dadanya.

Akan tetapi nenek itu segera melepaskan pelukannya dan mendorong tubuh Partiwi yang sudah menggigil dan panas dingin itu ke samping ketika terdengar suara dari pintu dapur.

Parmono muncul dan suami ini tidak melihat betapa isterinya yang berjongkok di depan perapian itu menggigil seluruh tubuhnya seperti orang kedinginan dan mukanya pucat, matanya sayu.

Suami ini sedang sibuk membantu Pak Karyo menggotong seorang bocah laki-laki berusia sepuluh tahun yang sakit dan pingsan,ditangisi oleh ibunya dan saudara-saudaranya yang ikut pula mengantar si sakit ke rumah Parmono karena menurut orang muda itu, dia kedatangan seorang "dukun"

Yang aneh.

Anak kecil yang pingsan itu dibaringkan ke dalam kamar Parmono, di atas balai-balai bambu dan nenek itu lalu menghampirinya.

Tiba-tiba tubuh nenek itu mengejang, matanya terbelalak dan mulutnya berkemak-kemik membaca mantera, kedua tangannya mengejang kaku dengan jari-jari terbuka lebar ditodongkan ke arah si sakit.

Kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari dalam bajunya, membuka mulut si kecil yang pingsan itu dengan paksa dan meludahi mulut itu.

"Ambil batok dan air!"

Bentaknya, suaranya sudah menjadi lain.

Parmono cepat lari mengambilkan air dalam batok kelapa.

Nenek itu lalu memasukkan sedikit bubuk hitam dari bungkusan yang diambil dari saku tadi ke dalam air dan dengan bantuan Parmono, dia menuangkan cairan hitam itu ke dalam mulut si anak yang sakit.

Kemudian kembali dia dengan kedua lengan mengejang,menggerak-gerakkan jari-jari tangan di atas badan anak itu sampai lama sekali.

"Angger, bangunlah, Angger. Bangunlah!"

Suaranya penuh dengan pengaruh mujijat sehingga mereka yang tadinya duduk pun otomatis bangkit berdiri seolah-olah suara itu ditujukan kepada mereka dan bukan pada Si Anak yang sakit.

Dan terjadilah keanehan!

Anak itu mengeluh, lalu bangkit duduk!

Ibunya menjerit dan menubruk, merangkul dan menangis tersedu-sedu.

Anaknya sudah dianggap mati tadi, dan sekarang hidup kembali!

Semenjak peristiwa itu, Nenek Nyi Durgakelana menjadi terkenal sekali.

Dia tetap tinggal di pondok Parmono dan makin banyaklah orang yang datang, bukan hanya orang-orang sakit minta diobati, akan tetapi juga nenek ini menerima banyak sekali murid-murid.

Dan hebatnya, yang dapat diterima menjadi muridnya hanyalah wanita-wanita muda yang cantik-cantik yang menjadi "murid kepala"

Adalah Partiwi!

Tidak ada seorang pun tahu, juga Parmono sendiri tidak tahu, apa yang terjadi pada malam itu setelah anak tetangga itu disembuhkan.

Parmono hanya tahu bahwa isterinya mendapatkan bahwa "pasir"

Itu berubah menjadi nasi dan malamnya, nenek itu minta agar ditemani oleh Partiwi!

Dan Parmono tentu saja tidak berani membantah, bahkan merasa bahagia sekali bahwa isterinya dipilih dan disayangi oleh nenek utusan Sang Bathari Durga itu!

Dia tidak tahu apa yang terjadi, hanya semenjak malam itu, isterinya jarang menggaulinya, wajah isterinya agak pucat,matanya sayu dan seringkali isterinya termenung seperti orang bingung.

Dia hanya mengira bahwa isterinya tentu telah menjadi murid dan mulai menerima ilmu maka sikapnya berubah aneh!

Di dalam beberapa bulan itu, beberapa kali Sang Nenek aneh ini menerima tamu, yaitu dua orang kakek yang sama anehnya.

Akan tetapi dua orang kakek itu hanya bermalam satu malam saja, tidak mau menemui lain orang, hanya bicara dengan Nyi Durgakelana di dalam kamar tanpa ada yang berani mengintai atau mendengar percakapan mereka.

Dan kedatangan mereka selalu di waktu bulan purnama, sehabis dusun itu mengadakan pesta persembahan kepada Bathari Durga yang dilakukan dengan meriah dan penuh kegembiraan oleh para murid Nyi Durgakelana.

Murid-muridnya sudah banyak sekali, lebih dari dua puluh orang wanita muda yang cantik, yang datang dari berbagai dusun, dan Partiwi tetap menjadi murid kepala dan orang kepercayaan, bahkan wanita ini pula yang memegang segala harta sumbangan yang datang membanjir dari segenap dusun.

Bahkan kepala-kepala desa pun tunduk kepada nenek ini dan menganggapnya sebagai seorang keramat yang suci!

"Dusun-dusun kita telah menjadi dusun yang suci "murni!"

Demikian antara lain Nyi Durgakelana berkata dalam berbagai "ceramahnya".

Dusun-dusun kita telah dipilih Sang Bathari sendiri.

Oleh karena itu, janganlah kalian melakukan kejahatan dan taatilah semua permintaan Sang Bathari yang dilakukan melalui mulutku.

Apa pun yang dimintanya adalah baik dan jangan menafsirkan dengan akal budi dan pikiran, karena kehendak Sang Bathari tentu saja berlainan dengan kehendak manusia.

Semua orang yang melakukan kejahatan, sudah pasti akan dihukum secara langsung di dusun-dusun ini!"

Dan memang benar.

Semenjak ada agama baru ini berkembang di dusun-dusun itu,tidak ada lagi maling berani beraksi dan orang merasa takut melakukan kejahatan!

Apalagi setelah ada dua orang maling tahu-tahu telah tewas di dalam rumah yang dimalinginya tanpa ada yang tahu apa sebabnya!

Dan dua orang laki-laki dan wanita yang melakukan perjinaan di tengah sawah dalam gubug, Si Wanita seorang janda dan Si Pria sudah beristeri, tahu-tahu mati pula di dalam gubuk itu tanpa luka!

Tentu saja tidak ada yang menduga bahwa kematian maling-maling dan orang-orang yang bermain cinta haram di gubuk itu terbunuh oleh Nyi Durgakelana yang memiliki kesaktian!

Untuk mencari nama dan pengaruh, pada malam-malam pertama nenek ini selalu menggunakan kepandaiannya untuk meronda di dusun-dusun sekitarnya, bahkan dia berhasil pula mendatangkan "mimpi-mimpi"

Kepada semua kepala dusun sehingga mereka ini ketakutan dan tunduk kepada Si Nenek ajaib!

Akan tetapi tidak ada sesuatu yang kekal di dunia ini.

Apalagi hal-hal yang sifatnya jahat, bahkan yang baik sekali pun menurut ukuran umum belum tentu selalu lancar dan tidak ada gangguan.

Pada malam bulan purnama dua bulan yang lalu, di antara para wanita muda cantik yang menjadi "Anggota"

Baru dari perkumpulan penyembah Bathari Durga itu, terdapat tiga orang gadis-gadis cantik.

Yang dua orang adalah gadis-gadis dusun yang jujur dan mulus, semulus tubuh mereka.

Akan tetapi yang ke tiga sebenarnya adalah seorang Anggota Sriti Kencana yang merasa curiga dan melakukan penyelidikan!

Bersama dua orang gadis dusun itu,dia diterima menjadi Anggota baru dan seperti biasa dalam penerimaan Anggota baru, mereka bertiga diberi minum "darah suci"

Dan di dalam keadaan setengah mabok, mereka bertiga lalu diharuskan "bertapa"

Di dalam kamar-kamar tertentu tanpa ada yang boleh mengganggu mereka.

Setelah pesta habis dan bubar, apa yang terjadi?

Sungguh amat mengerikan bagi tiga orang gadis itu!

Nyi Durgakelana mendatangi mereka diharuskan "bertapa"

Selama tiga hari tiga malam di dalam kamar masing-masing, tidak boleh keluar dan tidak boleh bicara dengan siapa pun juga.

"Ingat, selama tiga hari tiga malam itu mungkin saja kalian menerima ilham dan anugerah dari para dewata dan jangan heran atau terkejut kalau ada dewa datang dari kahyangan untuk menemani kalian karena dengan menjadi Anggota kami, kalian adalah pilihan-pilihan para dewata. Kalian menurutlah saja karena apa pun yang terjadi yang dilakukan oleh para dewa, tentu saja amat baik bagi kalian!"

Demikian pesan nenek itu dan pada malam pertama itu juga, di kamar masing-masing muncullah seorang kakek dalam keremangan penerangan kecil di dalam kamar itu, seorang kakek yang sama sekali tidak bersikap sebagai dewa karena kakek itu merayu mereka dan kemudian memperkosa mereka yang sama sekali tidak berani melawan karena ketakutan!

Sampai tiga hari tiga malam tiga orang kakek itu selalu muncul untuk mempermainkan mereka!

Pada hari ke empatnya, dua orang gadis dusun itu dinyatakan sebagai murid dan diharuskan tinggal di asrama, sedangkan Anggota Sriti Kencana itu diangkat menjadi pelayan nenek itu, bekerja di sebelah dalam sedangkan dua orang temannya bekerja di sebelah luar.

Dua bulan kemudian, pada suatu malam dua orang gadis manis itu melarikan diri, pulang ke kampung mereka dan tahu-tahu ada berita bahwa mereka itu membunuh diri di rumah mereka dalam keadaan sudah mengandung hampir dua bulan!

Anggota Sriti Kencana yang tadinya seperti orang tidak sadar karena selalu diberi minum "darah suci", menjadi terkejut dan cepat dia melarikan diri lalu melaporkan hal yang aneh itu kepada pimpinan Sriti Kencana, yaitu Joko Handoko dan Roro Kartiko yang menjadi marah dan berangkat sendiri untuk melakukan penyelidikan.

Malam itu bulan purnama berser-seri di langit cerah.

Di lereng Pegunungan Kendeng, di dusu Kabalan yang kini menjadi dusun yang amat terkenal di seluruh daerah Kendeng karena menjadi dusun pusat agama Durga yang baru itu, lampu-lampu dinyalakan dengan terang sekali dan dari jauh saja sudah terdengar suara gamelan yang mengiringi suara pesinden yang merdu.

Gamelan dan pesinden itu sengaja didatangkan dari dusun Kabangan, merupakan gamelan dan pesinden yang paling terkenal dan mahal di seluruh daerah itu dan yang membiayainya adalah seorang hartawan dari dusun Kabangan yang telah menerima berkah dari Sang Hyang Bathari.

Pondok kecil milik Parmono yang dulunya kecil sederhana, kini telah berubah menjadi sebuah rumah besar yang mewah dan di sebelah belakang bangunan itu, yang dulunya hanya merupakan tegalan luas yang ditanami ketela dan jagung, kini telah menjadi sebuah taman di mana terdapat sebuah panggung dari kayu jati yang kokoh kuat dan di tempat inilah diadakan pesta meriah malam itu untuk memuja Sang Bathari Durga seperti biasa setiap bulan, yaitu di waktu bulan purnama menghias langit.

Taman bunga itu penuh dengan orang yang menonton, mereka terdiri dari orang laki-laki perempuan, tua muda yang datang dari dusun-dusun di sekitar Gunung Kendeng.

Banyak pula yang membawa Anggota keluarga yang sakit untuk minta berkah dan penyembuhan di malam istemewa itu, yang menurut Nyi Durgakelana, pada malam seperti itu Sang Bathari Durga amat gembira dan welas asih, menolong siapa saja yang minta pertolongannya.

Akan tetapi seperti biasa, yang paling banyak mengunjungi tempat itu adalah para wanita, karena agaknya Sang Bathari ini paling suka memberkahi wanita.

Yang tidak mempunyai anak minta agar bisa mempunyai seorang anak yang amat baik dan yang kelak dapat "mendem jero mikul duwur", yang belum menikah minta agar dapat segera bertemu jodoh seorang pria yang amat baik, dan perawan-perawan yang sudah agak terlambat usianya, sudah lewat dari delapan belas tahun dan belum menikah, mereka inilah yang paling prihatin dan tentu akan menurut dan taat biar disuruh apa pun oleh Nyi Durgakelana asal mereka dijamin akan cepat memperoleh jodoh!

Biar disuruh menginap dan "bertapa"

Di situ sampai sebulan lamanya pun mereka bersedia.

Juga ayah bunda mereka tidak menaruh keberatan.

Orang tua manakah yang tidak akan bangga mendengar bahwa anak perawan mereka ada harapan untuk menjadi isteri orang besar?

Tidak kurang pula banyaknya para janda yang ingin kawin lagi, dan para pedagang yang ingin dagangannya maju dan laris, pejabat-pejabat yang ingin agar pangkatnya segera mendapat kenaikan.

Karena agaknya Sang Bathari Durga ini seolah-olah menuruti keinginan semua orang, dari yang bertingkat rendah sampai yang bertingkat tinggi, maka tidak ada orang yang menentang Nyi Durgakelana.

Agaknya seluruh manusia di dunia ini, tidak ada yang tidak mempunyai keinginan untuk "maju"

Dan untuk mengecap keuntungan dan kesenangan, maka tentu saja sumber pemberi kesenangan seperti Nyi Durgakelana itu memperoleh dukungan orang sejagad!

Mengapa hampir semua manusia di dunia ini condong untuk menyembah sesuatu yang dianggapnya lebih tinggi, lebih agung, dan lebih berkuasa?

Semenjak sejarah berkembang sampai di jaman ultra modern ini, masih tidak ada bedanya.

Setiap orang manusia ingin untuk memuja dan menyembah sesuatu yang dianggapnya lebih tinggi, suci dan berkuasa.

Baik sesuatu itu diberi nama dengan sebutan Setan, Dewa, Nabi, Guru dan sebagainya lagi menurut pendidikan lingkungan masing-masing.

Mari kita selidiki mengapa kita ini menyandarkan diri kepada sesuatu yang lebih tinggi dan lebih berkuasa daripada kita?

Apakah artinya kalau kita membakar kemenyan dan menyediakan kembang setaman di malam Jumat dan malam Selasa?

Apa artinya kalau kita berdoa kepada para Dewa?

Apa artinya kalau kita bersujud kepada guru-guru kebatinan yang kita percaya!

Apakah yang MENJADI DASAR dari pada semua perbuatan itu?

Kita merasa berdosa!

Itukah satu di antara sebab-sebabnya?

Kita merasa berdosa dan kita mohon ampun daripada dosa!

Dengan lain kata-kata, kita ingin bersih dari dosa, karena dosa itu mendatangkan hukuman kesengsaraan.

Atau berarti, kita ingin terbebas dari hukuman!

Atau juga berarti, kita ingin terbebas dari kesengsaraan, jadi kita ingin enak, ingin senang, ingin terbebas dari kesengsaraan yang melenyapkan kesenangan.

Jadi jelaslah bahwa kita berdoa kepada sesuatu yang lebih berkuasa karena dorongan ingin hidup senang, baik lahir maupun batin!

Kita hanya mau berdoa memuja sesuatu yang KUASA MEMBERI KESENANGAN kepada kita, sebaliknya kita mengutuk sesuatu yang mendatangkan kedukaan kepada kita.

Kita selalu mengejar kesenangan, dengan jalan apa pun juga, dengan kekerasan, dengan kelembutan dengan kemunafikan!

Kita tidak pernah mau membuka mata melihat betapa semua itu timbul karena perbuatan kita sendiri!

Kita tidak pernah mau sadar dan waspada akan kekotoran diri sendiri!

Kita mau enaknya saja!

Kita melakukan hal-hal yang menimbulkan kesenangan dan akibat daripada itu,kalau kita sengsara karenanya, kalau kita berdosa karenanya, kita lontarkan semua itu kepada sesuatu yang lebih tinggi untuk minta dibersihkan dan diampuni lagi, agar kita tetap berada dalam kesenangan, kesentausaan, kedamaian dan ketenteraman!

Betapa munafiknya kita ini!

Demikian pula mengapa tempat pemujaan Sang Hyang Bathari Durga penuh dengan manusia yang meminta-minta.

(Lanjut ke

Jilid 17) Kemelut Di Majapahit (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 17 Minta senang tentunya.

Kesenangan menurut ukuran masing-masing, menurut keinginan hati masing-masing.

Ada yang akan merasa senang kalau penyakitnya sembuh, kalau laku kawin, kalau dagangannya laris, kalau pangkatnya naik, bahkan lebih gila lagi, ada yang merasa senang kalau dapat mencelakakan orang yang dibencinya!

Kesenangan memang bermacam-macam karena kesenangan berarti terpenuhinya keinginan hati!

Dan untuk memenuhi keinginan hati, yang dikejar-kejar itu, manusia tidak segan melakukan apa pun juga, lupa bahwa segala kesengsaraan hidup, segala permusuhan, segala kebencian dan konflik, semua timbul karena pengejaran itulah!

Bulan purnama terang sekali.

Langit bersih tiada awan dan dalam keadaan seperti itu sinar bulan yang murni dan sepenuhnya menyinari bumi menciptakan suasana yang sejuk dan tenteram, dengan sinarnya yang keemasan dan jernih, membuat segala sesuatu nampak cukup terang namun tidak menyilaukan, mendatangkan suasana mujijat kepada setiap benda di permukaan benda yang bermandikan cahaya bulan.

Daun-daun dan kembang-kembang menjadi lebih hidup di dalam keadaan yang tenang, tidak seperti di waktu siang, daun-daun dan kembang-kembang hidup seperti memprotes panasnya sinar matahari dan amukan angin lalu.

Kini, semua kelihatan tenang dan tenteram, seolah-olah dunia merupakan tempat yang amat menyenangkan, seperti gambaran sorga loka, bukan merupakan neraka yang lebih terasa di siang hari di mana manusia mengumbar hawa nafsu keinginannya yang jutaan macam itu.

Gamelan pun terdengar lebih indah di waktu malam.

Di waktu siang, suara-suara hanya terbatas sekali jarak jangkauannya, ditelan oleh suara lain dan dihembus pergi oleh angin lalu, dikeringkan oleh hawa panas matahari.

Akan tetapi di waktu malam, suara dapat bergema sampai jauh.

Bahkan dari bawah bukit, dari kaki Pegunungan Kendeng, terdengar suara gamelan itu, lapat-lapat mengandung daya tarik yang amat kuat sehingga banyak pula orang-orang yang tinggal di kaki Pegunungan Kendeng berbondong naik ke lereng gunung untuk menonton keramaian pemujaan Sang Hyang Bathari Durga.

Menurut kepercayaan para penyembah Durga, apalagi karena propaganda dari Nyi Durgakelana, Sang Candra (bulan) sendiri menghormati Sang Hyang Bathari Durga sehingga malam itu muncul sepenuhnya untuk membantu pesta pemujaan itu!

Dan pada malam itu kabarnya banyak pula wanita yang ingin masuk menjadi Anggota baru.

Kabarnya tidak kurang dari dua puluh orang wanita muda dan cantik!

Para Anggota yang sudah dianggap agak "tinggi"

Tingkatnya, yaitu wanita-wanita yang telah "berkenalan"

Dengan para dewa yang malam-malam di waktu sunyi memberkahi mereka, sudah duduk berjajar, berlutut di atas panggung di sekeliling arca Sang Hyang Bathari yang dikalungi rangkaian bunga dan asap kemenyan mengepul tebal menyiarkan bau yang harum aneh menyeramkan.

Nyi Durgakelana sendiri duduk di atas kursi rendah di sebelah kanan arca itu, tersenyum-senyum sehingga wajahnya yang kasar hitam dan buruk itu kelihatan makin menyeramkan,tangan kanannya memegang tongkat hitamnya yang panjang dan bentuknya seperti ular.

Nyi Durgakelana sendiri yang kadang-kadang menambah dupa di pedupaan, dan mulutnya selalu berkemak-kemik kalau dia menambah dupa, seolah-olah dia bercakap-cakap dengan arca Sang Hyang Bathari Durga yang kelihatan tersenyum manis itu.

Kini semua penduduk yang memuja Dewi Durga yang berbentuk arca batu itu, sudah berduyun-duyun datang membawa sesajen dan di dalam tumpukan sesajen inilah terdapat banyak benda yang amat berharga.

Ada yang memberi buah-buahan dan sayur-mayur,makanan, akan tetapi ada pula yang menyertai kain dan benda-benda berharga seperti perhiasan emas perak dan lain-lain karena menurut ceramah Nyi Durgakelana, makin berharga sesajen di waktu terang bulan itu diserahkan kepada Sang Bathari Durga, makin banyak pula berkah yang dilimpahkannya.

Setelah para pemuja Durga yang sebagian besar terdiri dari kaum wanita itu sudah menaruh sesajen mereka di atas panggung di depan arca itu dan menerima "berkat"

Dari Nyi Durgakelana, mereka mengundurkan diri dan kini naiklah dua puluh orang wanita muda yang ingin masuk menjadi "murid"

Sang Bathari Durga. Akan tetapi tiba-tiba keadaan menjadi geger dengan naiknya seorang laki-laki yang masih muda. Laki-laki ini meloncat ke atas panggung dengan membawa sebatang keris.

"Sang Bathari, kau telah merampas isteriku!"

Bentaknya dan dengan keris di tangan pemuda itu lalu menerjang dan menusukkan kerisnya ke arah dada arca Bathari Durga.

"Takkk!"

Keris itu terpental dan laki-laki itu terdorong ke belakang lalu roboh terjengkang dalam keadaan pingsan!

Nyi Durgakelana yang tadi menggerakkan kedua tangan melihat pemuda itu mengamuk, diam-diam telah menggunakan kesaktiannya memukul pemuda itu dari jarak jauh.

Ketika pemuda itu terpukul roboh, dia pura-pura kaget dan cepat bangkit berdiri, lalu dengan lemah lembut dia menolong menyadarkan pemuda itu.

Pemuda itu mengeluh dan ketika melihat Nyi Durgakelana,dia cepat berlutut.

"Hemm, orang muda, mengapa engkau seperti gila berani kurang ajar terhadap Sang Bathari?"

Nyi Durgakelana membentak marah.

"Ampunkan saya... saya menjadi gelap mata karena... karena sejak isteri saya menjadi murid Sang Bathari, sikapnya terhadap saya menjadi dingin..."

Terdengar suara ketawa di sana-sini menyambut keterangan suami muda yang dikecewakan oleh isterinya itu dan orang muda itu menjadi makin malu dan akhirnya setelah dia menyembah kepada Nyi Durgakelana, dia lalu meninggalkan panggung dan menyelinap di antara para penonton, diantara sorak dan ejekan.

"Kau lihat pukulan tadi?"

Bromatmojo berbisik kepada Sutejo.

"Sudah kuduga, dia bukan orang sembarangan."

Sutejo yang berada di antara banyak penonton bersama Bromatmojo dan Joko Handoko, mengangguk dan dia melirik ke atas panggung di mana telah berkumpul wanita-wanita muda yang malam itu hendak dilantik menjadi murid-murid baru.

Hatinya terasa tidak enak ketika pandang matanya bertemu dengan Roro Kartiko yang juga berlutut di atas panggung, di antara banyak wanita muda itu.

Roro Kartiko sengaja memasuki rombongan calon murid-murid baru itu untuk mengungkapkan rahasia apa yang tersembunyi di balik perkumpulan Pemuja Bathari Durga ini.

Sedangkan tiga orang temannya melindunginya dari dekat, berada di antara penonton.

Bromatmojo mengerutkan alisnya, hatinya merasa tidak enak sekali akan keselamatan Roro Kartiko.

Dia memberi isyarat kepada dua orang temannya dan mereka menyisih keluar, ke tempat yang agak sunyi.

Suara gamelan masih ramai sehingga mereka dapat saling berbisik tanpa khawatir didengarkan orang lain.

"Nini, kau sungguh cantik jelita."

Tangan yang merangkul pinggang ramping itu menurun dan mencubit pinggul.

"Dan kau tentu masih perawan, bukan?"

Wajah Sulastri menjadi merah sekali dan kalau saja dia tidak sedang melakukan tugas yang berbahaya dan penting, tentu sudah ditamparnya wanita genit itu. Dia mengangguk.

"Hi-hik, malam ini engkau tentu akan terpilih. Mudah-mudahan saja seorang perawan cantik seperti engkau akan dipilih oleh dewa yang muda dan tampan, dan tidak sampai terpilih oleh dua orang raksasa mengerikan itu."

"Raksasa? Apa maksudmu?"

Sulastri bertanya kaget.

"Hi-hik, engkau tidak tahu, bukan? Di antara para dewata memang terdapat mereka yang wajahnya seperti raksasa. Pagi tadi sudah muncul dua orang. Tuh di kamar sebelah kiri. Mereka sedang makan minum. Siang tadi mereka kenyang mengganyang daging domba dan malam ini tentu akan menikmati perawan-perawan yang terpilih. Mudah-mudahan bukan engkau. Mereka itu memang dewa, akan tetapi... uhh, mengerikan."

Wanita itu lalu melepaskan rangkulannya dan menuding ke arah sebuah kamar besar.

"Nah, itulah kamar Nyi Durgakelana."

Bergegas dia pergi meninggalkan Sulastri, agaknya ngeri mengingat akan dua raksasa yang diceritakannya tadi.

Sulastri berdiri termangu-mangu.

Dia merasa heran dan juga curiga.

Jelas bahwa ada sesuatu yang tidak beres di dalam rumah ini.

Suasana sunyi sekali, dan benar dugaannya bahwa semua orang tentu sibuk di luar, di panggung yang ramai karena sedang diadakan upacara pemujaan dan pemilihan murid-murid baru sehingga rumah itu sunyi.

Sulastri mendengar suara orang laki-laki bicara dan tertawa dia dalam kamar yang ditunjukkan oleh wanita setengah tua tadi sebagai kamar yang didiami oleh dua orang "raksasa".

Karena merasa heran dan curiga, dia lalu berindap menghampiri kamar besar itu, mempergunakan kepandaiannya sehingga dia dapat mengintai ke dalam melalui celah-celah pintu tanpa menimbulkan suara apa-apa.

Apa yang tampak olehnya di dalam kamar itu membuat Sulastri terperanjat sekali.

Dia melihat dua orang laki-laki yang bertubuh tinggi besar sedang duduk menghadapi meja sambil bercakap-cakap dan tertawa.

Di sudut kamar itu terdapat dua buah pembaringan dan dua orang kakek raksasa itu duduk seenaknya dengan mengangkat sebelah kaki ke atas bangku.

Benarkah mereka ini adalah sebangsa dewa?

Sulastri tidak percaya.

Andaikata benar mereka itu bukan manusia, mereka ini tentulah sebangsa iblis jahat, sama sekali tidak pantas kalau menjadi dewa!

"Hemm, kenapa lama amat?"

Seorang di antara mereka yang hidungnya besar berkata, suaranya jelas membayangkan ketidaksabaran.

"Ha-ha-ha, Adi Warak, agaknya kau sudah tidak sabar menanti lagi. Ha-ha-ha, tenanglah mereka sedang sibuk bersembahyang. Nanti kita tentu akan berpesta pora. Ha-ha, betapa akan senangnya. Durgakelana telah menjanjikan kepada kita masing-masing menerima dua orang perawan!"

"Kakang Sarpo, engkau sebagai seorang saudara tua harus mengalah dan membiarkan aku memilih lebih dulu nanti,"

Kata orang ke dua yang hidungnya besar itu. Orang pertama yang matanya lebar tertawa.

"Ha-ha-ha, apa sih bedanya bagiku? Mereka tentu perawan-perawan yang muda dan mulus-mulus. Durgakelana tidak begitu tolol untuk memilih perawan yang buruk. Ha-ha, sekali ini dia pegang janji dapat menyenangkan kita."

"Tentu saja, dia tentu belum lupa ketika kita menyelamatkan dia dari tangan-tangan musuh-musuhnya ketika dia dikeroyok di pantai Madura itu."

Cukuplah bagi Sulastri mendengar percakapan itu.

Dadanya terasa panas dan ingin dia membobol pintu dan menghajar dua orang raksasa itu.

Mereka ini sama sekali bukanlah iblis, apalagi dewa, melainkan dua orang laki-laki yang jahat dan berbatin kotor.

Dan mereka ini adalah sahabat-sahabat Nenek Durgakelana yang agaknya hendak menghidangkan murid-murid wanita yang baru itu kepada dua orang raksasa ini!

Keparat jahanam!

Sulastri marah bukan main.

Pantas saja menurut cerita Joko Handoko yang mendengar dari anak buah Sriti Kencana, banyak gadis yang membunuh diri karena mengandung.

Kiranya terjadi kekotoran macam ini!

Perawan-perawan yang terjebak menjadi murid Sang Bathari Durga, ternyata oleh Nyi Durgakelana disajikan kepada pria-pria jahat yang menjadi sahabatnya.

Dengan hati panas sekali Sulastri lalu berindap menghampiri kamar Nyi Durgakelana.

Setelah mengintai dan mendapat kenyataan bahwa kamar yang amat mewah itu kosong,dia lalu membuka pintunya dan menyelinap masuk.

Heran dan kagumlah dia melihat isi kamar yang serba lengkap dan serba indah, seperti kamar seorang pembesar berkedudukan tinggi yang kaya raya saja.

Bahkan tidak kalah indah dan lengkapnya dibandingkan dengan kamar Joko Handoko dan Roro Kartiko, kedua orang putera-puteri Bupati Tuban itu!

Sementara itu, Sutejo dan Joko Handoko yang menyelinap di antara para penonton, melihat pertunjukan yang amat hebat dan meriah.

Dengan sikap seperti seorang dukun sakti, Nyi Durgakelana membaca mantera-mantera sambil memimpin para murid wanita untuk memuja dan menyembah arca Bathari Durga.

Asap kemenyan yang mengepul tebal, dan suara doa yang menyeramkan itu seolah-olah menyihir semua orang di situ.

Bahkan Sutejo seperti melihat betapa arca batu itu seperti berkedip-kedip kepadanya dan mengulum senyum!

Akan tetapi dia cepat menekan batinnya dan arca itu kembali seperti batu biasa, hanya ukirannya memang amat halus, tanda bahwa pembuat arca itu seorang ahli yang pandai.

Dari tempat duduknya yang agak tinggi, Nyi Durgakelana tadi sudah melirik-lirik dan pandang matanya yang tajam sudah memilih-milih, dan segera pandang matanya tertarik sekali kepada kecantikan Roro Kartiko yang memang luar biasa dan amat menonjol di antara kecantikan perawan-perawan dusun itu.

Kulitnya yang putih kuning, matanya yang seperti bintang, bulu matanya yang melengkung ke atas,wajahnya yang mengandung keagungan telah memikat hati Nyi Durgakelana.

Kemudian, pandang matanya kembali mencari-cari dan dia sudah memilih empat orang wanita muda lainnya di samping Roro Kartiko, yang dianggapnya tepat untuk menjadi murid-murid baru malam itu.

Perayaan itu memuncak dengan diadakannya tari-tarian oleh para murid Sang Bathari, yang menari dalam keadaan mabok sehingga tari-tarian mereka itu lebih berani dan menggairahkan.

Kemudian, lewat tengah malam, seperti biasa setiap malam bulan purnama, Nyi Durgakelana "kesurupan"

Oleh Sang Bathari Durga sendiri.

Tiba-tiba saja nenek ini roboh kemudian mengeluarkan kata-kata yang tidak dimengerti orang, lalu dia meloncat bangun, tongkat hitamnya diputar cepat sampai berubah menjadi gulungan sinar hitam yang menutupi tubuhnya.

Melihat gerakan ini, Sutejo terkejut karena dia mengenal gerakan yang mengandung kesaktian.

Gerakan tongkat itu makin melambat dan akhirnya nenek itu menggunakan tongkatnya untuk menuding.

Yang pertama dituding adalah Roro Kartiko, kemudian empat orang perawan lain yang memang diam-diam sudah dipilihnya tadi.

Para anak muridnya cepat maju dan mengangkat bangun Roro Kartiko dan empat orang gadis itu, diiringi sorak-sorai para anak murid yang lama dan juga para penonton ikut bersorak.

Keluarga empat orang gadis itu tertawa bangga sekali, hanya Roro Kartiko yang tersenyum seorang diri karena pancingannya berhasil.

Dia melirik dan melihat Sutejo dan kakaknya, Joko Handoko tidak jauh dari panggung.

Akan tetapi dia mengerutkan alis ketika tidak melihat adanya Bromatmojo.

Ke manakah perginya pemuda itu, pikirnya.

Dengan suara tinggi melengking, seperti suara yang datangnya dari angkasa, Nyi Durgakelana lalu memerintahkan murid-muridnya untuk memberi minum "darah suci"

Kepada lima orang gadis yang dipilih sendiri oleh Sang Bathari itu!

Tentu saja Roro Kartiko tidak akan sudi minum apa yang dinamakan darah suci itu kalau memang minuman itu benar-benar darah, akan tetapi ketika dia melihat bahwa yang berada di cawan itu dan yang dinamakan darah itu sebenarnya hanyalah minuman tuwak yang diberi warna merah, maka untuk tidak menimbulkan kecurigaan, dia meminumnya seperti yang dilakukan oleh empat orang gadis lainnya.

Kemudian dia dan empat orang itu disuruh berlutut menyembah arca Bathari Durga, kemudian menyembah Nyi Durgakelana dan dituntun oleh murid-murid lain memasuki rumah.

Upacara itu pun selesai dan semua penonton bubaran, juga keluarga empat orang perawan yang pulang dengan hati girang karena anak gadis mereka terpilih sebagai murid Sang Bathari dan tentu hal ini akan mendatangkan berkah berlimpah-limpah!

Sunyi sekali malam itu.

Lima orang perawan itu dihadapkan kepada Nyi Durgakelana yang sudah duduk di atas kursi dalam sebuah ruangan besar.

Lalu nenek ini memberi isyarat kepada para murid lain agar mereka itu mundur karena dia ingin memberi "wejangan"

Kepada murid-murid baru ini.

"Kalian pandang aku baik-baik dan dengarkan semua pesanku, Nini,"

Nyi Durgakelana mulai dan lima orang gadis itu semua mengangkat muka memandang.

Roro Kartiko terkejut bukan main ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata yang tajam luar biasa, seperti mata kucing, pandang mata yang seperti menembus jantungnya dan mencengkeram atau melekat pada nenek itu!

"Engkau, Nini, engkau ikut bertapa bersamaku di dalam kamarku dan kalau malam nanti terjadi apa pun, jangan engkau kaget atau menolak.

Mungkin sekali ada dewa yang akan datang melantikmu dan kalau kau menolak atau melawan tentu engkau akan kena kutuknya dan akan celaka.

Sebaliknya kalau engkau menurut, maka engkau akan memperoleh berkah berlimpah-limpah.

Dan kalian berempat harus bertapa dalam sebuah kamar besar bersama-sama.

Juga kalian jangan sekali-kali melawan atau menolak kalau ada para dewata datang mengunjungi kalian.

Mengertikah?"

Empat orang gadis itu menyembah dan mengangguk dan Roro Kartiko merasa heran dan terkejut sekali karena dia merasa bahwa di luar kehendaknya, dia pun mengangguk!

Kemudian, dengan lemas dia merasa tangannya dipegang dan digandeng, lalu diajak bangkit berdiri oleh nenek yang pakaiannya berbau apak itu!

Empat orang gadis itu pun disuruh bangkit, kemudian mereka disuruh memasuki sebuah kamar besar yang dibuka sendiri oleh Nyi Durgakelana.

Mereka memasuki kamar itu seperti boneka-boneka hidup, tidak tahu bahwa sudah ada dua orang kakek raksasa yang telah menanti mereka dengan air liur membasahi bibir.

Sambil tersenyum Nyi Durgakelana berkata.

"Terimalah tanda persahabatanku, sahabat-sahabatku!"

Dia lalu menutupkan pintu kamar itu dan menggandeng tangan Roro Kartiko.

"Nini, siapakah namamu, cah ayu?"

Dengan suara gemetar Roro Kartiko menjawab.

"Nama saya Kartiko..."

"Bintang! Sungguh hebat, memang kau cantik dan cemerlang seperti bintang di langit! Marilah, manis."

Roro Kartiko terkejut sekali mendengar ucapan itu dan menyaksikan perubahan sikap nenek ini, akan tetapi anehnya agaknya tubuhnya tidak mau menurut kata-kata hatinya dan dia seperti bergerak sendiri mengikuti nenek itu yang menggandeng tangannya memasuki sebuah kamar yang amat indah.

Sulastri yang kini telah mengenakan kembali pakaian pria dan yang bersembunyi di balik lemari besar sambil mengintai, tentu saja memandang dengan jantung berdebar ketika melihat Nyi Durgakelana memasuki kamar itu sambil menggandeng tangan Roro Kartiko.

Penerangan di dalam kamar besar itu cukup terang dan melihat betapa Roro Kartiko melangkah masuk seperti boneka berjalan.

Sinar mata dara itu memandang jauh, tak pernah berkedip, mulutnya setengah terbuka dan wajahnya membayangkan keheranan besar, akan tetapi agaknya dia menurut saja dibimbing masuk oleh nenek itu.

Nenek Nyi Durgakelana lalu duduk di atas tepi pembaringan dan menarik gadis itu duduk pula di sebelahnya, kemudian dia berkata.

"Nini Kartiko, cah ayu. Engkau telah dipilih oleh Sang Bathari dan mulai sekarang engkau berhak memasuki alam kahyangan, akan tetapi engkau harus menyucikan diri lahir batin. Untuk menyucikan jasmanimu, engkau harus kumandikan dengan air suci."

Dia bangkit dan mengambil sebuah tempayan yang penuh air dengan ada kembang mawar di dalamnya, membawanya ke dekat pembaringan.

"Nah, tanggalkan semua pakaianmu, Nini."

Bromatmojo melihat dan mendengar semua itu dengan mata terbelalak.

Dia melihat betapa Roro Kartiko mengerutkan alisnya, wajahnya jelas membayangkan penolakan atas permintaan itu, akan tetapi anehnya, kedua tangan dara itu melepaskan kemben yang melilit dadanya yang membusung padat.

Roro Kartiko mulai menanggalkan pakaiannya!

Karena dia sendiri adalah seorang wanita, tadinya Bromatmojo tentu akan mendiamkannya saja, ingin melihat apa yang akan terjadi selanjutnya karena bukankah Nyi Durgakelana itu pun hanya seorang nenek wanita tua?

Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kaget dan marahnya ketika kemben yang melilit dada Roro Kartiko itu mulai terlepas dan sebagian dari buah dada yang indah bentuknya itu kelihatan, tiba-tiba saja tangan Nyi Durgakelana bergerak menyentuh ke arah dada itu!

"Cah ayu...

engkau benar-benar cantik jelita...

manis menggairahkan...

ah, aku tidak akan perdulikan perempuan-perempuan yang lain setelah memperoleh dirimu, manis..."

Dan nenek itu dengan cepat menanggalkan jubahnya.

Baru tahulah Bromatmojo bahwa nenek itu sebenarnya adalah seorang pria karena dadanya rata dan tenggorokannya yang biasanya tertutup leher jubah lebar itu nampak ada kalamenjingnya!

"Keparat jahanam!"

Bromatmojo membentak dan tubuhnya sudah mencelat keluar dari balik lemari dan langsung saja dia menerjang kakek yang menyamar sebagai nenek itu dengan marah sekali.

"Bressss!! Bromatmojo yang marah sekali itu menyerang dengan aji kesaktian Hasto Bairowo, hebatnya bukan kepalang sehingga biar pun kakek itu sudah menangkisnya, tetap saja dia terlempar dan terbanting roboh sehingga kakek itu terkejut sekali. Selain terkejut, kakek itu pun marah bukan main karena ada seorang pemuda berani bersembunyi di dalam kamarnya dan selain menentangnya, juga rahasianya telah diketahui orang. Dengan menggereng seperti seekor harimau marah, dia lalu menyambar tongkat hitamnya yang panjang dan menerjang Bromatmojo tanpa bicara lagi. Rahasianya sebagai pria telah diketahui pemuda ini, maka dia harus dapat cepat membunuhnya, hanya inilah isi hatinya.

"Wuuuutttt....! Brakkk!"

Bromatmojo maklum akan kehebatan tongkat itu maka dia sudah cepat menggunakan kegesitan tubuhnya mengelak dan tongkat itu menghantam lemari di belakangnya sampai hancur berantakan!

Sementara itu, seperti baru terbangun dari tidur nyenyak, Roro Kartiko kelihatan terkejut dan setengah menjerit menutupi dada dengan tangan, lalu tergesa-gesa membereskan kembennya lagi, wajahnya merah dan kedua matanya bersinar-sinar penuh kemarahan.

"Jahanam busuk!"

Bentaknya setelah pakaiannya beres dan dia sudah menyambar sebuah bangku untuk menyerang Durgakelana dengan dahsyat.

"Brakkk!!"

Bangku itu pecah berhamburan ketika ditangkis oleh tongkat di tangan Durgakelana dan tubuh Roro Kartiko agak terhuyung ke belakang.

"Desssss....!!"

Ketika Durgakelana menangkis serangan Roro Kartiko tadi,Bromatmojo mempergunakan kesempatan itu untuk menampar dengan telapak tangannya yang ampuh.

Durgakelana terkejut dan mengelak, akan tetapi tetap saja pundak kirinya kena tamparan ampuh dan dia terlempar dan terbanting jatuh.

"Ahhhh...!!"

Dia terkejut bukan main.

Baru tahu dia sekarang bahwa memang pemuda dan gadis ini agaknya sengaja memancingnya.

Dara cantik jelita itu tentu bukan sembarangan hendak menjadi murid Bathari Durga, melainkan sengaja memancing karena ternyata dara iu bukan orang lemah melainkan seorang yang sudah menyelundup masuk.

Celaka, pikirnya dan dia lalu meloncat ke luar dari dalam kamar itu.

"Keparat busuk hendak lari ke mana kau?"

Bromatmojo membentak dan bersama Roro Kartiko dia meloncat keluar untuk mengejar.

Ketika mereka tiba di luar kamar, ternyata di ruangan tengah juga sedang terjadi pertempuran hebat.

Sutejo dan Joko Handoko sedang menyerang dan mendesak dua orang kakek raksasa dan beberapa kali dua orang kakek itu terbanting jatuh lalu bangkit kembali dan melawan mati-matian.

"Kakang Durgakelana, tolong...!"

Seorang di antara dua raksasa itu, yang didesak oleh pukulan-pukulan sakti dari Sutejo, tiba-tiba berteriak ketika dia melihat Durgakelana.

Akan tetapi, tentu saja kakek cabul ini sendiri tidak mampu membantu mereka karena dia sendiri pun segera diterjang oleh Bromatmojo yang dibantu oleh Roro Kartiko.

Kiranya Sutejo dan Joko Handoko tadi pun segera menyelinap ke dalam rumah gedung itu ketika pesta berakhir dan lima orang gadis itu dibawa ke dalam.

Dan karena dua orang raksasa itu berbeda caranya menguasai korbannya dengan Durgakelana yang menggunakan kekuatan sihir, yaitu hanya mengandalkan tenaga kasar, maka dua orang pemuda itu segera mendengar jerit ketakutan di antara suara gelak tawa mereka.

Dan ketika dua orang pemuda itu mengintai dan melihat betapa empat orang gadis itu dipermainkan oleh dua orang kakek raksasa, tentu saja mereka tidak dapat menahan kemarahan mereka lagi dan sekali tendang, pintu kamar itu jebol dan menyeret keluar dua orang raksasa itu untuk dihajar di luar kamar!

Pertandingan yang berlangsung di ruangan itu hebat sekali, akan tetapi jelas bahwa fihak Durgakelana dan dua orang temannya terdesak hebat.

Beberapa kali mereka bertiga terbanting roboh dan mereka hanya melakukan perlawanan untuk membela diri saja, sama sekali tidak mampu balas menyerang lagi.

Sebetulnya, kepandaian Dugakelana cukup tinggi, akan tetapi dia tidak tahan menghadapi ilmu-ilmu kesaktian Bromatmojo.

Demikian pula dua orang raksasa itu memiliki kedigdayaan yang cukup hebat dan kiranya kalau hanya sendirian saja, Joko Handoko dan Roro Kartiko tentu tidak akan mampu menandingi mereka.

Akan tetapi dengan adanya Sutejo, maka dua orang raksasa itu pun menemukan lawan yang terlalu berat sehingga mereka jatuh bangun.

"Kakang Tejo, kita basmi saja iblis-iblis ini!"

Bromatmojo berseru.

Dia sudah amat marah kepada Durgakelana dan dia tahu bahwa Sutejo adalah seorang pemuda yang agaknya berpantang membunuh dan merasa khawatir kalau-kalau Sutejo akan membebaskan mereka itu.

Sebelum Sutejo menjawab, tiba-tiba berkelebat bayangan dari luar rumah dan terdengar suara yang nyaring.

"Tahan dulu! Jangan berkelahi!"

"Plak-plakk!"

Dua kali bayangan itu berkelebat cepat dan menangkis pukulan Bromatmojo yang ditujukan ke arah kepala Durgakelana dan tamparan Sutejo yang menyerang dua orang raksasa.

Bromatmojo dan Sutejo merasa betapa lengan mereka bertemu dengan tangan yang amat kuat, yang mengandung tenaga ampuh.

Keduanya terkejut dan siap, memandang dengan penuh perhatian.

"Bapa Guru!"

Joko Handoko dan Roro Kartiko berseru kaget ketika melihat orang yang datang itu bukan lain adalah Resi Harimurti, guru mereka sendiri.

Sementara itu, ketika mereka tidak lagi diserang oleh orang-orang muda yang sakti itu, Durgakelana dan dua orang raksasa cepat meloncat keluar dan melarikan diri.

"Kejar...!!"

Bromatmojo berteriak akan tetapi Resi Harimurti sudah menghadang di pintu.

"Tahan...!"

Harimurti membentak.

"Joko dan Roro, kalian tidak boleh kurang ajar!"

"Akan tetapi, Bapa Guru, mereka adalah orang-orang jahat!"

Joko Handoko membantah.

"Hemm, kita sama sekali tidak boleh mencampuri urusan agama golongan lain, apalagi menghina mereka. Kalau Nyi Durgakelana hendak mengembangkan agama menyembah Sang Bathari Durga dan menerima murid-muridnya, hal itu tidak ada sangkut-pautnya dengan kita dan kita tidak boleh mengganggunya."

"Bapa Guru, yang menyebut diri Nyi Durgakelana itu sesungguhnya adalah seorang kakek cabul dan jahat! Dia memikat para wanita muda yang dikatakan hendak menjadi murid Sang Bathari Durga, padahal wanita-wanita itu menjadi korban kebiadabannya bersama dua orang kawannya tadi! Apakah melihat hal seperti itu kami harus diam saja?"

Roro Kartiko membantah dengan suara penasaran. Resi Harimurti kelihatan terkejut sekali.

"Ahh... benarkah itu? Apakah itu bukan fitnah saja?"

Roro Kartiko yang diam-diam merasa benci kepada gurunya ini karena kakek ini pun pernah bersikap kurang ajar dan tidak semestinya terhadap dirinya, menjadi marah.

"Bapa Guru tidak percaya kepada saya? Saya sendiri yang membuktikan dengan masuk menjadi murid, dan hampir saja saya menjadi korban kebiadababan Kakek Durgakelana itu!"

"Kakang Tejo, mari kita kejar mereka. Mereka tentu belum lari jauh!"

Bromatmojo berseru.

"Ah, kalau begitu, sungguh mereka harus dihukum dan biar aku sendiri yang akan menghukum mereka!"

Resi Harimurti berseru dan dia lalu melompat keluar dan melakukan pengejaran.

Kalau saja di situ tidak ada Joko Handoko dan Roro Kartiko, tentu Bromatmojo dan Sutejo sudah melakukan pengejaran karena mereka tidak percaya kepada Resi Harimurti.

Akan tetapi mereka merasa tidak enak kalau harus menentang Resi itu di depan orang muda yang menjadi murid Resi itu.

Roro Kartiko mengepal tinjunya.

Dia pun tidak percaya kepada gurunya sendiri,akan tetapi merasa tidak enak kalau harus memusuhi gurunya.

"Biarkan Bapa Guru berurusan dengan mereka. Kita basmi tempat ini dan menolong wanita-wanita itu,"

Katanya.

Ternyata banyak wanita muda yang dikeram di tempat itu, ada yang seperti sudah tidak waras ingatannya, ada yang menangis menyesali nasib akan tetapi ada pula yang sudah menerima nasib karena tidak berdaya melawan Nyi Durgakelana.

Ketika empat orang muda itu mengumpulkan para wanita itu, tiba-tiba muncul Parmono dan Partiwi dan suami isteri ini langsung berlutut dan menyembah empat orang muda perkasa itu.

Tentu saja kini Parmono telah tahu siapa adanya "Nyi"

Durgakelana itu dan tahu pula bahwa sebagai "murid kepala"

Isterinya telah dijadikan kekasih kakek yang menyamar wanita itu.

Akan tetapi dia tidak berani berkata apa-apa karena maklum akan kesaktian kakek itu dan pula, bukankah mereka kini memiliki rumah yang besar dan menjadi kaya raya?

"Raden, harap sudi mengampuni kami yang tidak tahu apa-apa, yang hanya diperalat oleh Nyi Durgakelana..."

Parmono meratap.

"Hemm, siapa kalian?"

Bromatmojo bertanya sambil memandang tajam.

"Mereka ini adalah suami isteri yang memiliki pondok ini dan diangkat menjadi murid-murid kepala dan pembantu dari Durgakelana,"

Kata seorang di antara wanita-wanita yang kini telah berkumpul di situ.

"Ampun, kami ditipu... kami tidak berdaya..."

Partiwi berkata sambil menangis.

"Beberapa bulan yang lalu, dia datang dan mengobati orang-orang sakit... kami diangkat menjadi murid dan pembantu..."

"Sudahlah,"

Roro Kartiko berkata.

"Kalian semua hanyalah orang-orang bodoh dan tahyul yang menjadi korban penipuan keparat itu. Sekarang kalian keluarkan semua harta kekayaan dari kakek jahanam itu dan kumpulkan di sini!"

Parmono dan Partiwi cepat melakukan perintah ini. Kemudian, harta itu dibagi-bagi di antara mereka semua.

"Sekarang kalian semua boleh pulang ke dusun masing-masing dan bagian harta itu adalah milik kalian. Nah, pergilah sekarang juga karena kami mau basmi tempat terkutuk ini,"

Kata Roro Kartiko.

Para wanita itu menyembah dan menghaturkan terima kasih.

Juga Parmono dan Partiwi yang mendapatkan bagian pula, tidak berani membantah dan mereka berdua lalu pergi dari tempat itu untuk memulai hidup baru di tempat lain dengan modal pembagian harta yang mereka terima.

Menjelang pagi, nampak api berkobar menjulang tinggi ketika empat orang muda perkasa itu membakar rumah yang tadinya menjadi sarang kemaksiatan itu.

Empat orang muda itu tidak melihat betapa di tempat gelap terdapat seorang kakek yang memandang semua itu dengan tangan dikepal dan muka marah.

Kakek ini adalah Resi Harimurti!

Sebenarnya Durgakelana adalah seorang teman dari Sang Resi ini dan sudah beberapa kali Resi Harimurti berkunjung ke tempat temannya itu di waktu malam terang bulan dan sudah beberapa kali Kakek Pendeta yang berbatin kotor ini disuguhi pula "murid"

Baru dari Durgakelana.

Malam itu Harimurti datang untuk mengharapkan bagian murid baru pula dan secara kebetulan saja dia dapat menyelamatkan Durgakelana dan dua orang raksasa yang menjadi sahabatnya.

Setelah melakukan pengejaran, dia menasihatkan kepada Durgakelana yang sudah terbuka rahasianya itu untuk pergi sejauh mungkin, kemudian dia kembali dan melihat tempat yang merupakan tempat hiburan amat menyenangkan baginya itu dibakar oleh dua orang muridnya dan dua orang pemuda tampan yang sakti itu.

Hatinya panas dan marah, akan tetapi tentu saja dia tidak berani sembarangan membela Durgakelana yang sudah terbuka kedoknya itu.

Hemm, Bupati Progodigdoyo sedang berada di kota raja, pikirnya.

Dan dua orang anaknya, yang menjadi murid-muridnya, telah berkawan dengan dua orang muda yang mencurigakan.

Dia harus cepat pergi ke kota raja dan memberitahukan hal itu kepada Progodigdoyo.

Kalau dia sendiri yang turun tangan terhadap dua orang muridnya, sungguh tidak baik.

Tentu Bupati Tuban itu akan dapat mengendalikan dua orang pemuda yang hendak mengacau di Tuban.

Maka pergilah Resi Harimurti, meninggalkan Tuban pada pagi hari itu juga.

Sementara itu, dengan berpakaian sebagai Sriti Kencana, Roro Kartiko dan kakaknya, Joko Handoko lalu mendatangi para lurah di dusun-dusun sekitar tempat itu untuk memperingatkan mereka agar jangan mudah tertipu dan terbujuk oleh penjahat-penjahat seperti Durgakelana yang menyamar sebagai nenek itu.

Mereka berdua ditemani oleh Sutejo dan Bromatmojo yang memakai pakaian anggauta Sriti Kencana.

Para lurah itu sudah mendengar akan pembasmian tempat maksiat itu,mendengar bahwa wanita itu sebenarnya tertipu dan bahwa Durgakelana adalah seorang kakek cabul, tentu saja merasa terkejut dan menghaturkan terima kasih kepada empat orang Sriti Kencana.

Semenjak itu, makin terkenallah nama Sriti Kencana yang ditakuti oleh para pejabat dan penjahat, yaitu para pejabat yang bersikap sewenang-wenang dan menindas rakyat dan para pejabat yang ketenteraman hidup rakyat.

Hari telah siang ketika mereka akhirnya menyelesaikan tugas mereka itu dan ketika Bromatmojo dan Sutejo menyatakan hendak melanjutkan perjalanan ke Mojopahit, Roro Kartiko dan kakaknya mengantar mereka sampai ke perbatasan Tuban.

Kelihatan berat sekali bagi Roro Kartiko untuk berpisah dengan dua orang pemuda itu.

"Sudah cukup sampai di sini saja Andika berdua mengantar kami, Dimas Joko dan Diajeng Roro Kartiko,"

Kata Sutejo.

"Benar, sudah cukup jauh. Terima kasih atas kebaikan kalian dan mudah-mudahan kelak kita akan dapat saling berjumpa kembali,"

Kata Bromatmojo. Roro Kartiko mengangkat mukanya dan memandang wajah Bromatmojo.

"Benarkah kita akan dapat saling bertemu kembali? Kapan dan di mana? Apakah Andika berdua sudi berkunjung ke Tuban dan tidak melupakan kami?"

"Kalau sudah selesai semua urusan kami, dan kalau sekali waktu kami lewat Tuban,pasti kami tidak akan lupa untuk singgah,"

Kata Sutejo.

"Ah, siapa dapat melupakan seorang seperti engkau, Diajeng Roro Kartiko? Sampai mati pun aku tidak akan dapat melupakanmu. Akan tetapi, ada waktunya bertemu tentu ada saatnya berpisah, dan sekarang kami berdua harus cepat melanjutkan perjalanan. Selamat tinggal dan selamat berpisah!"

Bromatmojo melambaikan tangan dan berjalan pergi dari situ bersama Sutejo. Kakak beradik itu memandang dan tiba-tiba terdengar suara Kartiko.

"Kakangmas Bromatmojo... aku menanti kunjunganmu...!"

Bromatmojo hanya menoleh, tersenyum dan melambaikan tangan, tidak menjawab,namun senyumnya yang manis sudah cukup bagi Roro Kartiko karena senyum itu terukir di dalam hatinya.

Setelah dua orang itu lenyap di tikungan jalan, Joko Handoko menarik napas panjang.

"Sungguh hebat mereka itu... dan aku tidak menyalahkan engkau kalau hatimu tertarik dan jatuh cinta kepada seorang pemuda seperti Dimas Bromatmojo itu..., akan tetapi aku lebih kagum kepada Dimas Sutejo yang pendiam. Dia benar-benar seorang ksatria yang gagah perkasa."

Roro Kartiko tidak menjawab, hanya menunduk dengan muka berubah merah. Akhirnya dia berkata tanpa menyinggung dua orang pemuda itu.

"Aku curiga sekali kepada Bapa Guru, agaknya ada apa-apa antara dia dan kakek jahanam Durgakelana itu."

Joko Handoko mengangguk-angguk.

"Aku pun berpikir demikian, akan tetapi kita harus waspada dan mengerahkan teman-teman kita untuk melakukan penyelidikan,jangan sampai kakek jahanam itu mengulangi perbuatannya di wilayah Tuban."

Kakak beradik ini lalu kembali ke Tuban sambil membicarakan ayah mereka yang sudah agak lama meninggalkan Tuban dan pergi ke kota Raja Mojopahit.

Memang agak sudah lama Bupati Progodigdoyo pergi ke Mojopahit.

Biasanya, kalau Bupati ini bepergian ke Mojopahit, dalam waktu seminggu dia tentu sudah pulang ke Tuban.

Akan tetapi sekarang, sudah hampir tiga minggu dia pergi dan belum juga pulang.

Seperti biasa, setelah menghadap Sang Prabu untuk melaporkan keadaan Tuban yang aman dan makmur seperti yang selalu keluar dari mulut para bupati kalau melaporkan daerah yang dikuasainya kepada atasan, Progodigdoyo lalu pergi mengunjungi Resi Mahapati.

Memang sesungguhnya inilah yang menjadi inti kunjungannya ke Mojopahit.

Kalau dia menghadap Sang Prabu untuk menghaturkan sembah bakti dan melaporkan keadaan wilayah Tuban, itu hanya untuk basa-basi belaka, akan tetapi sesungguhnya dia ingin menghadap Resi Mahapati dan seperti biasa mengadakan perundingan dengan orang yang dianggap sebagai pemimpinnya ini.

Ada suatu hal lain yang makin menarik hati Progodigdoyo untuk berkunjung sesering dan selama mungkin di istana Resi Mahapati, yaitu Lestari!

Pada kunjungannya yang terakhir, pada suatu kesempatan ketika Resi Mahapati sedang tidur siang, tiba-tiba saja Lestari mengunjungi dia yang sedang duduk di ruangan belakang.

Begitu bertemu berduaan, Lestari lalu menangis sehingga hal ini amat mengejutkan dan mengherankan hati Progodigdoyo.

Sepanjang pengetahuannya, puteri dari mendiang Lembu Tirta ini, setelah diselir oleh Resi Mahapati, menjadi kekasih dan mendapatkan kedudukan paling tinggi di samping Sang Resi yang amat mencintanya.

Bahkan dia sendiri setelah mendengar betapa segala permintaan Lestari diturut belaka oleh Sang Resi, dia menjadi agak gentar terhadap wanita muda yang amat cantik jelita ini.

Dan kini, begitu bertemu dengan dia di tempat itu, Lestari menangis sesenggukan!

"Eh, maaf.....

ada.....

ada apakah?

Mengapa kau menangis?"

Tanya Progodigdoyo dengan kaget, heran dan juga gugup karena baru sekarang dia sempat bertemu berdua saja dengan wanita muda yang dulu hampir dipaksanya menjadi selirnya itu.

Sekarang, setelah usianya cukup dewasa dan menjadi seorang wanita yang sudah matang, Lesatri benar-benar mirip sekali dengan mendiang ibunya, Galuhsari yang pernah dicintanya, hanya tentu saja Lestari ini jauh lebih muda dan lebih cantik.

Akan tetapi persis seperti inilah Galuhsari ketika masih perawan dahulu, ketika dia memperebutkan cintanya dengan Lembu Tirta akan tetapi akhirnya Lembu Tirta yang menang dan menjadi suami Galuhsari.

Harus diakuinya bahwa dia dahulu tergila-gila kepada Galuhsari sehingga pernikahannya dengan Sariningrum yang cantik jelita pun tidak dapat mengobati rasa rindunya kepada Galuhsari yang sudah menjadi isteri Lembu Tirta.

Karena iri hati dan cemburu, timbullah dendam dan bencinya kepada Lembu Tirta, padahal Lembu Tirta adalah sahabatnya yang paling baik, yang seolah-olah telah menjadi saudaranya sendiri, kawan seperjuangan yang selalu bahu-membahu dalam perang ketika mereka bersama-sama menghamba kepada Raden Wijaya.

Kebenciannya itulah yang membuat dia tega untuk membunuh Lembu Tirta secara curang, ketika mereka berdua sedang berada dalam medan perang melawan musuh.

Progodigdoyo membunuh Lembu Tirta dari belakang dan hal ini dilakukan hanya karena dia ingin memperoleh jandanya, yaitu Galuhsari!

Namun, Galuhsari yang sudah tahu akan kekejaman Progodigdoyo, menolaknya sehingga akhirnya terjadilah kemaksiatan di malam itu, di mana Progodigdoyo dengan kekerasan memaksa Galuhsari menyerahkan diri kepadanya, diperkosanya di depan anak-anaknya!

Akan tetapi karena cintanya hanya cinta terdorong oleh nafsu berahi belaka, setelah dia memperoleh apa yang dikejar-kejar selama bertahun-tahun itu, dia kecewa.

Galuhsari telah terlalu tua untuk dapat dinikmatinya dan pandang matanya beralih kepada Lestari, gadis remaja puteri Galuhsari.

Namun dia gagal memperoleh Lestari sehingga terpaksa dia menyerahkan gadis itu kepada Resi Mahapati dalam usahanya menjilat resi yang sedang berkuasa itu.

Dan kini, Lestari yang usianya sudah dua puluh empat tahun, yang seperti bunga sedang mekar-mekarnya, seperti buah sedang ranum-ranumnya, sehingga membangkitkan kembali gairahnya yang telah lama terpendam, wanita cantik itu menangis di depannya!

"Lestari....

Mengapa kau menangis?

Apa yang menyusahkan hatimu?"

Tanyanya dengan nada suara halus ketika wanita itu tidak menjawab pertanyaannya tadi dan terus menangis sesenggukan.

Dia sudah bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri wanita itu.

Mendengar nada suara pertanyaan yang penuh dengan perhatian, lembut dan penuh perasaan itu, Lestari makin keras menangis, lalu dia berlari maju, menubruk dan merangkul, menangis di atas dada Progodigdoyo yang bidang!

"Eh.....

eh.....!

Mengapa begini...?

Ada apa ini?"

Progodigdoyo tentu saja terkejut bukan main melihat kekasih Resi Mahapati ini merangkulnya begitu saja.

Tentu saja dia merasa takut kalau sampai ketahuan orang, akan tetapi tidak urung jantungnya berdebar keras dan otomatis jari-jari tangannya balas merangkul dan mengelus rambut kepala yang halus dan berbau harum itu.

"Kakangmas Progodigdoyo, kau... kau kejam terhadap aku...."

Sepasang mata bupati yang lebar itu membelalak, kumisnya yang panjang melintang itu bergerak-gerak.

"Aku....? Kejam terhadapmu......?"

"Engkau kejam sekali, Kakangmas...."

Kumis itu makin bergerak-gerak dan jantung Bupati Progodigdoyo makin berdebar tidak karuan.

Kakangmas?

Lestari menyebutnya kakangmas!

Padahal dahulu menyebutnya paman, dan memang sejak kecil Lestari menganggapnya seorang paman.

Akan tetapi sekarang tiba-tiba saja menyebutnya kakangmas!

"Engkau keliru, Lestari.

Aku selalu sayang padamu....."

"Kalau sayang, mengapa dahulu Kakangmas menyerahkan aku kepada tua bangka itu? Mengapa Kakangmas melempar aku ke dalam lembah kekecewaan dan kesengsaraan ini?"

Lestari kembali menangis dan membasahi dada baju Progodigdoyo dengan air matanya.

"Eh, bukankah kau hidup bahagia di sini? Bukankah kau menjadi kekasih Paman Resi dan hidup penuh kemuliaan? Aku mengira engkau berbahagia......"

"Berbagia hidup di samping kakek tua bangka yang sudah tidak mampu apa-apa itu? Ah, Kakangmas jangan mengejek aku! Di luar saja aku kelihatan bahagia, akan tetapi di sebelah dalam...... terutama di waktu malam...... aku merana dan sengsara, kecewa dan... ah, tidak mengertikah kau, Kakangmas? Semestinya aku yang masih muda ini hidup di samping seorang pria yang kuat dan perkasa seperti Kakangmas...... akan tetapi kau kejam sekali, menyerahkan aku kepada seorang tua bangka yang loyo dan sudah hampir mati!"

Debar jantung Progodigdoyo makin menghebat.

Benarkah ini?

Hampir dia tertawa.

Benarkah bahwa Resi Mahapati yang sakti mandraguna itu sudah tidak ada gunanya lagi dalam hubungan suami isteri?

"Akan tetapi....

Lupakah engkau, Lestari?

Dahulu aku ingin sekali mengangkatmu sebagai selirku yang terkasih, akan tetapi engkau tidak mau sehingga terpaksa aku menghadiahkan engkau kepada Paman Resi..."

Lestari mengangkat mukanya, merenggangkannya dari dada Progodigdoyo dan menatap tajam wajah bupati itu dengan kedua mata kemerahan karena tangis.

"Kakangmas,sebagai seorang wanita yang masih perawan, seorang gadis remaja, apakah aku harus tertawa girang menerima pinanganmu dahulu? Tentu saja aku malu, dan sebagai gadis baik-baik tentu saja aku pura-pura menolak, padahal di dalam hati... aku... aku selalu mengagumi kegagahanmu. Apalagi sekarang..... setelah bertahun-tahun aku selalu kecewa dalam pelukan tua bangka itu....."

"Ahhh.....!"

Progodigdoyo berseru dengan hati merasa terharu, lalu mempererat rangkulannya.

"Benarkah itu, Lestari? Benarkah bahwa engkau sejak dahulu suka kepadaku? Apakah kau sampai sekarang..... masih.... cinta kepadaku.....?"

Dia tergagap karena pertanyaan itu dianggapnya tidak mungkin.

Akan tetapi, tiba-tiba kedua lengan yang kecil bulat itu seperti dua ekor ular merayap merangkul lehernya, sepasang mata yang masih basah itu memandangnya penuh kemesraan, dan muka itu dekat sekali ketika berbisik.

"Masih perlukah kau bertanya lagi.....? Masih ragukah kau kepadaku, melihat sikapku ini, Kakangmas....?"

Mulut itu setengah terbuka, bibirnya basah dan merah, deretan gigi yang putih mengkilap nampak sedikit dan napas yang hangat keluar dari mulut itu menghembus pipinya.

"Lestari.....!"

Progodigdoyo menunduk dan entah siapa yang mendahului gerakan itu, tahu-tahu mulut mereka saling bertemu dalam kecupan mesra dan panas karena Progodigdoyo sudah dibakar oleh berkobarnya nafsu berahinya.

Merasa betapa mulut wanita itu bergerak penuh gairah, dia mencium lebih bernafsu lagi dan dengan mata terpejam Progodigdoyo mencengkeram tubuh yang padat, lembut dan hangat itu seperti seekor burung garuda menerkam kelinci.

"Eh, jangan Kakangmas....."

Lestari terengah-engah setelah berhasil melepaskan mulutnya dari kecupan Progodigdoyo, lalu dengan halus dia mendorong dada pria itu dan melangkah mundur.

Mukanya kemerahan, air matanya masih membasahi pipi dan matanya bersinar-sinar penuh kemesraan.

Cantik bukan main dia dalam keadaan seperti itu.

"Jangan terburu-buru, Kakangmas. Bukan di sini tempatnya....."

Dia berbisik dan menjilati bibirnya.

Melihat lidah kecil merah itu menjilati bibir, Progodigdoyo hampir saja menubruknya lagi, akan tetapi cepat Lestari menghindar dan berbisik,"Jangan...., kalau terlihat orang nanti....."

Bisikan ini membuat Progodigdoyo sadar kembali.

Terkejutlah dia mengingat apa yang baru saja terjadi.

Kalau sampai ketahuan orang dan terdengar oleh Resi Mahapati tentu celakalah dia!

Akan tetapi, melihat kini Lestari tersenyum manis dan menggunakan kedua tangan untuk membereskan gelung rambutnya sehingga untuk pekerjaan itu dia mengangkat kedua lengan ke atas, memperlihatkan ketiak yang halus dan ditumbuhi sedikit rambut keriting yang mendatangkan daya tarik yang luar biasa, dan juga gerakan kedua lengan itu membuat buah dada yang tertutup kain tipis itu menonjol penuh tantangan, jantungnya berdebar lagi dan seluruh tubuhnya terbakar api gairah.

Beberapa kali dia menelan ludah sebelum berkata.

"Lestari, kekasihku.... ah,pujaan hatiku, kalau tidak di sini, di manakah dan kapankah....?"

Lestari tersenyum dan matanya menyambar dengan kerlingan tajam.

"Bukan hanya engkau, Kakangmas, akan tetapi aku pun haus sudah....., akan tetapi kita harus berhati-hati....."

"Mari kau kubawa minggat saja, kuboyong ke Tuban, sayang....."

"Ah, kau mencari penyakit. Tentu akan geger."

"Tidak takut! Kalau perlu kukerahkan pasukanku untuk melawan!"

"Ssstt, jangan begitu. Tidak perlu menggunakan kekerasan. Di sini pun bisa asal kita dapat mengaturnya dengan tepat. Besok siang, kalau tua bangka itu sudah tidur, aku akan mandi di pemandian. Kau tahu bukan, pemandian puteri di dekat taman? Nah, aku akan mandi di sana dan aku akan menyuruh semua pelayan mundur. Kau dapat memasuki pemandian itu dari belakang, dari taman, dengan memanjat tembok, lalu masuk ke pemandian. Aku akan menantimu di sana. Kau lihat saja, kalau aku diiringkan oleh para pelayan sudah menuju ke taman, tak lama kemudian kau boleh masuk ke sana dan kita dapat leluasa...."

Lestari tidak melanjutkan kata-katanya, hanya senyum dan pandang matanya yang penuh gairah itu menjanjikan sesuatu yang membuat jantung Progodigdoyo dag-dig-dug tidak karuan.

"Aku akan ke sana!"

Saking girangnya, Progodigdoyo melompat, menerkam dan merangkul, lalu menciumi lagi mulut itu. Lestari meronta dan melepaskan diri.

"Ssstt, cukup... besok banyak kesempatan bagi kita dan aku akan menyerahkan segala-galanya untukmu, Kakangmas Progodigdoyo yang tercinta...."

Bisiknya dan wanita itu lalu membalikkan diri, meninggalkan ruangan itu di mana Progodigdoyo berdiri bengong, mengikuti lenggang yang membuat kedua bukit pinggul itu bergoyang-goyang amat menggairahkan.

Setelah bayangan Lestari lenyap, Progodigdoyo ingin sekali bersorak dan menari-nari!

Begitu girang hatinya dan dia lalu berjalan kembali ke kamarnya sambil bersiul-siul, sikapnya seperti seorang pemuda remaja yang baru saja mencium pacarnya untuk yang pertama kalinya.

Dia dicinta oleh Lestari!

Bukan main bahagia hatinya.

Dia haus akan cinta kasih dan isterinya sendiri,Sariningrum, tak pernah memperlihatkan cinta kasih demikian berkobar seperti yang diperlihatkan oleh Lestari tadi!

Bahkan dua orang anaknya juga kelihatan acuh tak acuh kepadanya, tidak terasa ada rasa kasih dari mereka kepadanya.

Tidak ada seorang pun yang benar-benar mencintanya, dan baru sekarang dia melihat bukti cinta kasih seorang wanita yang demikian berkobar seperti yang diperlihatkan Lestari tadi!

Memang demikianlah.

Seperti Progodigdoyo itu pulalah kebanyakan dari kita manusia.

Kita selalu haus akan cinta.

Kita ingin agar kita DICINTA oleh semua orang, oleh siapa saja di sekeliling kita.

Namun kita tidak pernah menjenguk batin sendiri apakah kita ada cinta kasih di dalam batin kita, apakah kita MENCINTA orang dalam arti kata seluas-luasnya dan semurni-murninya.

Kita ingin agar semua orang baik kepada kita, namun kita tidak pernah melihat atau menyelidiki apakah kita pernah baik kepada orang lain!

Kalau toh kita merasa bahwa kita sudah mencinta dan sudah baik, perlu pula kita teliti apakah cinta dan kebaikan kita itu benar-benar ataukah bukan sesuatu yang mengandung pamrih untuk mengharapkan imbalan?

Biasanya, kita tidak mencinta orang, kita tidak baik kepada orang, kita melainkan ingin mengejar kesenangan kita melalui cinta kita kepada orang lain itu, kita juga mengejar kesenangan dengan kebaikan kita kepada orang lain, baik itu kesenangan batin mau pun kesenangan lahir!

Kita mencinta seseorang dengan TUJUAN atau HARAPAN agar orang itu pun mencinta kita, melayani kita, pendeknya menyenangkan kita!

Kita berlaku baik kepada orang lain dengan tujuan atau harapan agar orang itu mengingat akan budi kita, membalas kebaikan kita, atau agar kita memperoleh pahala batiniah dan sebagainya.

Cinta model itu bukanlah cinta namanya, kebaikan model itu bukanlah kebaikan, melainkan pengejaran kesenangan diri pribadi melalui yang dinamakan cinta atau kebaikan!

Dengan demikian, semua titik tujuan kita hanya satu, yaitu demi kesenangan diri pribadi.

Kita ingin dicinta orang, karena dicinta orang ini mendatangkan kesenangan bagi kita.

Kalau toh kita merasa mencinta orang, hal itu pun didorong oleh keinginan untuk memperoleh kesenangan bagi kita sendiri.

Padahal, dicinta orang lain atau dibaiki orang lain itu tidak mungkin ada kalau kita tidak ada cinta dan kebaikan di dalam batin kita terhadap orang lain!

Tidak mungkin orang lain baik kepada kita kalau kita tidak baik kepadanya!

Dan kalau kebaikan kita kepadanya itu palsu, pura-pura atau hanya penilaian belaka, tentu kebaikan kepada kita pun palsu adanya!

Kalau cinta kita kepada orang lain itu hanya cinta yang merupakan jembatan untuk pemuasan nafsu keinginan kita mengejar kesenangan, maka sudah tentu cinta orang lain kepada kita itu pun ada iri, tidak ademikian pula.

Cinta adalah wajar, tidak dibuat-buat, tidak ada pamrih, tidak ada benci, tidak ada kecewa.

Dari cinta timbul kebajikan atau kebaikan yang wajar pula, tidak dibuat-buat, tidak mengharapkan imbalan, melainkan timbul dari welas asih (belas kasihan) yang juga cinta kasih adanya.

Cinta kasih Progodigdoyo terhadap Lestari sama sekali bukanlah cinta kasih dan hal ini sudah dibuktikan ketika dia hendak memaksa Lestari sembilan tahun yang lalu.

Cintanya hanyalah cinta untuk mengejar kesenangan diri sendiri, dalam hal ini kesenangan itu adalah nafsu berahi!

Cintanya hanya untuk mencari kepuasan nafsu berahinya belaka.

Dan cinta yang hanya merupakan jembatan untuk mengejar kesenangan, dalam bentuk apa pun juga, sudah pasti hanya akan menimbulkan kekecewaan, kebosanan, dan kesengsaraan belaka Karena itu, perlu sekali kita membuka dada menjenguk isi batin kita.

Adakah cinta kasih itu di dalam hati kita?

Kita selalu ingin agar Tuhan mencinta kita,akan tetapi kita tidak pernah memeriksa diri sendiri apakah ada cinta kasih kita itu terhadap Tuhan?

Ataukah yang ada hanya perbuatan-perbuatan kita yang hanya merongrong Tuhan, yang selalu melanggar dan menyeleweng, kemudian minta ampun dan minta diberkahi, seperti seorang anak bengal yang tak pernah mau bertobat, selalu mengulangi kenakalannya kemudian merengek dengan manja minta diampuni?

Adakah cinta kasih kita terhadap Tuhan atau terhadap sesama manusia?

Kalau tidak ada, mengapa?

Inilah pertanyaan pokok yang harus kita selidiki selama kita hidup, kalau benar-benar kita ingin mengetahui apakah sebenarnya hidup ini mengapa ada penderitaan di dunia ini, mengapa ada kematian dan sebagainya.

Sinar cinta kasih akan menerangi segalanya, dan cinta kasih tidak dapat dikejar, tidak dapat dipupuk, tidak dapat dicari dengan akal budi.

Akan tetapi kalau semua kotoran,kebencian, iri hati, ambisi yang merupakan inti dari pementingan diri pribadi, itu lenyap, maka sinar cinta kasih akan bercahaya kembali.

Progodigdoyo malam itu tidak dapat tidur.

Dia sudah tiga minggu berada di Mojopahit dan sebetulnya akan pulang hari ini.

Akan tetapi dengan adanya perkembangan luar biasa dalam sikap Lestari kepadanya, dia sama sekali tidak ingat untuk pulang!

Yang diingatnya hanya perjanjian Lestari untuk menerimanya besok di dalam tempat pemandian!

Di tempat pemandian!

Dia sudah menyeringai dan mengusap-usap kumisnya teringat akan ini dan membayangkan betapa akan mesranya pertemuan mereka di kolam pemandian!

Sama sekali tidak disangkanya bahwa Lestari yang dirindukannya, yang sudah dibayangkannya akan membalas belaiannya, membalas ciumannya seperti yang dilakukannya siang tadi, membalas peluapan cintanya besok di kolam pemandian yang lebar, pada malam itu dengan suara merengek manja berkata kepada Resi Mahapati setelah kakek ini tergolek kelelahan sehabis dilayani hasrat nafsunya oleh selir terkasih itu.

"Kakangmas Resi, saya merasa muak melihat sikap Progodigdoyo itu."

"Eh, jangan berkata begitu, sayang. Dia seorang baik, bahkan bukankah yang menjadi perantara pertemuan kita dahulu adalah Progodigdoyo?"

Lestari merangkul.

"Benar, Kakangmas Resi. Akan tetapi aku tidak senang melihat pandang matanya kepadaku yang kelihatan mengandung kekurangajaran itu. Paduka harus berhati-hati terhadap orang seperti dia, Kakangmas Resi. Agaknya di dalam hatinya terkandung niat yang kurang senonoh terhadap diri saya."

Resi Mahapati mengelus pipi yang halus itu.

"Sudahlah, dia tidak berbahaya, dan aku akan menegurnya."

Akan tetapi di dalam hatinya, kakek ini tersenyum.

Mana mungkin Progodigdoyo akan berani kurang ajar terhadap Lestari?

Kalau Progodigdoyo memandang kepada selirnya ini penuh gairah dan tertarik, hal itu sudah lumrah.

Pria mana di dunia ini yang tidak akan memandang wajah cantik jelita dan tubuh padat menggairahkan itu dengan mata tertarik?

Diam-diam dia merasa bangga sekali dan kecurigaannya terhadap Progodigdoyo pun lenyap berbareng dengan dengkurnya yang menandakan bahwa dia telah tidur pulas.

Dengan hati-hati Lestari melepaskan lengan berbulu yang merangkul lehernya dan menimpa dadanya itu, kemudian dia membereskan pakaiannya, lalu turun dari pembaringan dan menyelinap keluar, menemui empat orang pelayannya yang amat dipercayanya dan yang sudah dibanjiri hadiah sehingga empat orang itu benar-benar amat setia kepadanya.

Dengan suara bisik-bisik dia mengatur rencananya dan empat orang emban itu mengangguk-angguk.

Setelah empat orang emban itu mengerti benar apa yang dimaksudkan, barulah Lestari kembali ke dalam kamarnya, menutupkan pintunya, menghampiri pembaringan dan setelah memandang ke arah Resi Mahapati yang tidur mengorok itu dengan pandang mata menghina dengan hidung dikernyitkan dan bibir dicibirkan, wanita itu lalu naik ke atas pembaringan dan rebah miring membelakangi Sang Resi.

Pada keesokan harinya Progodigdoyo sudah lupa makan dan lupa segalanya.

Sejak masih pagi Progodigdoyo sudah menanti di ruangan tengah, di mana Lestari tentu akan lewat kalau hendak pergi ke taman.

Kagetlah dia ketika menjelang tengah hari, seorang pengawal mengundangnya atas perintah Resi Mahapati, padahal,setiap siang dia dijamu makan oleh tuan rumah dan hanya kalau (Lanjut ke

Jilid 18) Kemelut Di Majapahit (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 18 malam dia makan sendiri. Resi Mahapati menyambut kedatangannya dengan senyum.

"Wah, pakaianmu indah sekali, Nakmas Bupati,"

Kata Sang Resi dan memang pagi itu Progodigdoyo memakai pakaian serba baru sehingga dia nampak makin gagah.

Lestari yang juga hadir dalam makan siang itu tersenyum saja dan ketika mereka bertemu pandang, di luar tahu Resi Mahapati Lestari mencibir dengan lagak menantang cium kepada Progodigdoyo.

"Ah... eh, biasa saja, Paman Resi..."

Katanya gagap lalu duduk menghadapi meja makan dan mereka makan bersama.

Sejak tadi Resi Mahapati yang teringat akan rengekan kekasihnya semalam, memperhatikan Progodigdoyo, akan tetapi bupati ini dengan pandainya menyembunyikan perasaannya dan jarang sekali dia mengerling ke arah Lestari.

"Nakmas Bupati, sudah tiga minggu Andika berada di Mojopahit. Apakah Andika tidak ditunggu-tunggu oleh urusan pemerintahan di Tuban?"

"Ah... masih ada sedikit urusan, Paman Resi. Dalam beberapa hari ini saya akan kembali ke Tuban,"

Katanya sambil mengerling ke arah Lestari, akan tetapi karena lirikannya ini biasa saja, Resi Mahapati pun tidak menaruh curiga.

Dalam pandangannya, Bupati Tuban ini tetap sopan seperti biasa, tidak ada apa-apa yang mencurigakan.

Tentu hanya karena watak manja Lestari saja yang semalam melapor yang bukan-bukan.

Tak lama kemudian, lewat tengah hari, seperti biasa Resi Mahapati memasuki kamarnya ditemani oleh Lestari.

Selir yang tercinta ini memijiti kaki Sang Resi dan tak lama kemudian mendengkurlah Resi Mahapati.

Lestari lalu turun dari atas pembaringan dan keluar kamar memanggil empat orang emban kepercayaannya.

Mereka mempersiapkan segala keperluan untuk mandi Sang Puteri terkasih itu, kemudian dengan diiringkan oleh empat orang emban itu, Lestari meninggalkan keputren dan menuju ke taman untuk pergi ke pemandian.

Dan untuk perjalanan ini, tentu saja dia harus melewati ruangan tengah di mana Bupati Progodigdoyo sudah duduk menunggu sejak tadi.

Melihat Lestari lewat, Progodigdoyo cepat bangkit berdiri dan mengangguk dengan hormat, sedangkan Lestari membalas penghormatan itu dengan senyum ramah, akan tetapi tidak berhenti dan melanjutkan langkahnya diikuti para emban.

Progodigdoyo tersenyum dan mengurut kumisnya melihat gerak pinggul Lestari yang seperti menggapai-gapai kepadanya itu!

Dia menanti sebentar.

Setelah kira-kira wanita dan para emban itu sudah tiba di pemandian, barulah dia berjalan, dengan perlahan, seenaknya agar tidak menarik perhatian para penjaga, lalu memasuki taman.

Untung bahwa di taman itu sunyi tidak nampak penjaga, dan hal ini memang sudah diketahui baik oleh Lestari sebelum dia mengatur rencananya, maka dengan mudah Progodigdoyo lalu menyelinap di antara rumpun di taman itu, menghampiri tembok yang mengurung tempat pemandian itu.

Jantungnya berdebar penuh ketegangan dan penuh harapan.

Progodigdoyo sudah berusia hampir lima puluh tahun, namun dia adalah seorang laki-laki yang bertubuh kuat dan berhati muda.

Sudah banyak dia bermain cinta dengan segala macam wanita, namun tidak ada wanita yang benar-benar memikat hatinya seperti Lestari ini!

Wanita muda ini mirip benar dengan Galuhsari, wanita yang dicintanya di waktu dia masih perjaka, dan kini Lestari menjanjikan kemesraan yang luar biasa!

Belum pernah ada wanita baik-baik bersikap mesra dan berani seperti Lestari, yang dalam ciuman pertama sudah menggerakkan bibir membalas ciumannya dengan mesra.

Yang pernah dan berani melakukan hal seperti itu hanyalah wanita-wanita pelacur, akan tetapi dia tahu bahwa semua itu hanya palsu belaka.

Dan kini Lestari kiranya telah mencintanya!

Dan dia makin nikmat membayangkan betapa Lestari tentu akan puas bermain cinta dengan dia yang masih kuat dan gagah perkasa, setelah sembilan tahun lamanya setiap hari dikecewakan oleh pelukan seorang tua bangka yang loyo!

Dengan kesaktiannya, mudah saja bagi Progodigdoyo untuk merayap naik ke atas tembok pemandian.

Ketika dia berjongkok di atas tembok, sudah nampak olehnya Lestari sedang mandi kungkum (membenamkan tubuh) dalam air jernih kolam pemandian itu.

Rambutnya terlepas, hitam panjang dan halus, kulit tubuhnya dari dada ke atas sampai kedua lengannya nampak halus kuning bersih dan halus.

Dadanya yang menonjol itu hanya tertutup tapih pinjung, yaitu kain tipis yang menutupi dada sampai ke bawah, tanpa dibelit kemben (ikat pinggang), lepas-lepas saja dan dengan sekali gerakan saja akan terlepaslah kain itu!

Lestari tersenyum dan melambaikan tangannya.

Tangan kanan menggapai dengan isyarat menyuruh Progodigdoyo turun, sedangkan telunjuk tangan kiri ditaruh di depan bibir tanda agar pria itu tidak membuat gaduh.

Melihat senyum itu, Progodigdoyo lalu meloncat turun, ke sebelah dalam, lalu berindap-indap mendekat.

"Kakangmas..."

Lestari berseru lirih dengan mesra dan membuka kedua lengannya, kedua lengan mengembang seolah-olah hendak memeluk tubuh pria itu dan kain itu hampir terlepas dipermainkan air yang sepinggang dalamnya.

"Lestari..."

Progodigdoyo berseru lirih pula penuh kegembiraan dan saking besarnya hasrat yang mendorongnya, bupati ini lupa diri dan dengan pakaian masih lengkap dia langsung saja terjun ke dalam kolam air!

"Hi-hi-hik!

Pakaianmu basah semua...

hemmmmmppp..."

Lestari tidak dapat melanjutkan ketawa dan kata-katanya karena dia sudah dipeluk oleh Progodigdoyo dan mulutnya diciumi penuh nafsu oleh pria itu.

Progodigdoyo tidak tahu bahwa sejak dia meloncat turun tadi, seorang di antara empat orang emban yang berada di luar dan pura-pura tidak tahu namun sebenarnya mengintai dan melihat gerakan Progodigdoyo, kini berlari-lari melalui taman menuju ke kamar di mana Resi Mahapati sedang tidur mendengkur.

Sang Resi Mahapati meloncat bangun dari tempat tidurnya ketika dia mendengar suara emban yang menggugahnya.

Matanya melotot marah ketika dia tidak melihat Lestari melainkan emban yang berani menggugahnya.

"Keparat, kau sudah bosan hidup? Berani benar kau mengganggu tidurku?"

"Ampunkan hamba..."

"Di mana gusti puterimu?"

"Hamba... hamba hendak melaporkan... gusti puteri sedang siram (mandi) di pemandian... dan... hendaknya paduka ketahui... di dalam pemandian terdapat seorang pencuri...!"

Karena masih setengah mengantuk, Resi Mahapati bersikap acuh tak acuh.

"Maling? Beri tahu penjaga. Maling masuk di pemandian mau mengambil apa? Mau mencuri airkah?"

"Tapi... gusti puteri sedang siram di sana..."

"Wahh..., benar juga! Dan maling itu laki-laki atau perempuan?"

"Laki-laki..."

"Babo-babo, keparat!"

Resi Mahapati meloncat lagi dan hendak lari ke pintu,karena dia tergesa-gesa dia sampai lupa bahwa dia masih setengah telanjang! Memang kebiasaan Resi ini untuk tidur tanpa pakaian.

"Maaf... paduka lupa..."

Emban itu menahan ketawa sambil menuding ke arah tubuh Sang Resi.

"Eh, celaka hampir aku malu. Kenapa tidak dari tadi kau bilang? Hayo ambilkan celanaku...!"

Sambil menahan ketawa emban yang muda dan cantik itu mengambil celana dan baju Sang Resi.

Terpaksa emban itu membantu Sang Resi mengenakan pakaiannya dan karena mereka begitu berdekatan, baru tampak oleh Sang Resi betapa emban ini memilki kulit yang halus dan kuning.

Tiba-tiba saja dia merangkul dan mencium pipinya.

"Eh..., eh...!"

Emban itu menjerit kecil.

"Denok, apakah engkau pernah melayani aku di pembaringan?"

Sang Resi bertanya sambil meraba sana-sini sehingga emban itu menjadi kegelian.

"Be... belum..."

Jawabnya.

"Ha-ha, kalau begitu sewaktu-waktu engkau harus melayani aku. Kau manis denok..."

Sang Resi Mahapati yang memang mata keranjang itu agaknya lupa akan pelaporan tadi dan mulai membelai.

"Akan tetapi... maling itu..."

"Eh, maling? Oya, keparat jahanam, dia harus mampus!"

Dan Pendeta itu meloncat keluar dari dalam kamar, langsung dia berlari menuju ke taman dan tempat pemandian.

Sementara itu setelah memeluk tubuh yang padat dan basah air pemandian, yang hanya terbungkus kain tipis sehingga terasa olehnya lekuk lengkung tubuh itu, biar pun basah namun masih terasa kehangatan yang membakar, apalagi ketika merasa betapa bibir dan lidah wanita cantik itu menyambut ciuman-ciumannya, nafsu berahi telah berkobar-kobar membakar seluruh tubuh Progodigdoyo.

"Lestari... kekasihku... dewiku..."

Bisiknya dengan gemetar, jari tangannya meraba-raba.

"Hi-hik, kau lupa... Kakangmas... pakaianmu..."

Lestari berbisik manja dan jari-jari tangannya yang runcing halus itu membantu Sang Bupati membukai kancing bajunya.

Dengan tergesa-gesa Progodigdoyo menanggalkan pakaiannya, menjadi setengah telanjang dan dia sudah memondong tubuh Lestari, hendak dibawanya keluar dari dalam air menuju ke bagian yang lebih dangkal.

Lestari melirik ke kiri dan dia melihat seorang emban telah memberi isyarat dari balik daun pintu gapura pemandian dengan sehelai saputangan yang dilambaikan.

Itulah tandanya bahwa Sang Resi telah hampir tiba di pintu gapura pemandian!

Tiba-tiba saja dia merangkul dan mencium mulut Progodigdoyo penuh gairah.

Tentu saja Progodigdoyo membalasnya dan memeluknya erat-erat, hampir tidak kuat menahan gelora nafsunya.

Dan pada saat itu, bagaikan halilintar menyambar telinganya, dia mendengar Lestari menjerit-jerit nyaring.

"Lepaskan aku... ahhh,tolonggg...! Tolonggg...! Kakangmas Resi..., tolong...! Lepaskan bedebah!"

"Eh, Lestari...?"

Progodigdoyo yang masih menciumnya dan memeluknya itu terkejut, akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan di pintu gapura pemandian.

"Jahanam kau, Progodigdoyo!"

Progodigdoyo terkejut bukan main ketika menoleh dan melihat bahwa yang berdiri di ambang pintu gapura adalah Resi Mahapati!

Tentu saja Sang Resi marah bukan main melihat Lestari meronta-ronta, tapih pinjungnya terlepas bagian atasnya sehingga nampak buah dadanya yang menonjol, dan betapa Progodigdoyo memeluk kekasihnya itu dan menciumnya!

Saking kagetnya, Progodigdoyo melepaskan pelukannya dan Lestari lalu terhuyung menjauhkan diri dan keluar dari kolam pemandian sambil membereskan tapih pinjungnya dan lari menangis menubruk Resi Mahapati.

"Aduhhh... Kakangmas Resi... dia itu... jahanam itu... dia hampir memperkosa saya... hu-hu-huuuukkk.."

"Tidak..., tidak... saya tidak..."

"Keparat kau!"

Resi Mahapati melepaskan pelukan Lestari dan tubuhnya sudah menerkam ke depan, ke arah Progodigdoyo yang pucat ketakutan dan hendak menaiki tangga kolam itu dalam keadaan setengah telanjang.

"Bresss!!"

Progodigdoyo menangkis pukulan itu akan tetapi tetap saja tubuhnya terpelanting dan terjatuh kembali ke dalam kolam air.

"Byurrrr!"

Progodigdoyo cepat bangkit berdiri, matanya terbelalak dan mukanya pucat sekali.

"Nanti dulu, harap sabar dulu, Paman Resi... saya tidak bersalah... saya..."

"Keparat, kau masih hendak menyangkal? Mataku telah melihat sendiri dan kau masih berani untuk menyangkal?"

Resi Mahapati sudah marah sekali dan dia lalu meloncat ke dalam kolam sambil menerkam dengan serangan kilat ke arah Progodigdoyo.

Progodigdoyo maklum bahwa dia harus melawan, karena kalau tidak tentu dia akan mati konyol.

Melihat Resi itu menubruk dan mengirim dua pukulan yang dahsyat bukan main, cepat dia mengelak, akan tetapi gerakannya di dalam air tentu saja kurang gesit dan serangan Sang Resi datangnya seperti halilintar.

"Desss...!! Kembali tubuh Progodigdoyo terpelanting dan sekali ini dia merasa seluruh tubuhnya panas dan kepalanya pening karena pukulan tadi masih menyerempet pundaknya, padahal Sang Resi menggunakan aji kesaktiannya sehingga pukulan itu amat ampuh."

"Aduh...! Tunggu saya tidak berdosa..."

Progodigdoyo masih berusaha membela diri dan menangkis pukulan susulan, namun dari samping tangan Sang Resi menampar,mengenai tengkuknya dan dia terguling roboh dan pingsan!

Sang Resi sudah menjambak rambutnya dan membenamkan kepala Progodigdoyo ke dalam air.

"Tunggu, Kakangmas, jangan bunuh dia!"

"Ehh...?"

Resi Mahapati yang sudah merah mukanya itu memandang kepada Lestari dengan mata terbelalak.

"Kau minta aku tidak membunuh keparat ini?"

Tanyanya dengan nada suara hampir tidak percaya. Jangan-jangan kekasihnya itu mencinta laki-laki ini, pikirnya penuh cemburu.

"Ya, jangan Kakangmas membunuhnya karena saya hendak membunuhnya dengan kedua tangan saya sendiri! Dia telah berani menyentuh saya, memeluk dan menciumi saya, kalau saja Kakangmas dapat merasakan betapa hebatnya penghinaan itu. Saya harus membunuhnya dengan tangan saya sendiri!"

"Ha-ha-ha-ha!"

Legalah hati Resi Mahapati dan dia menjambak rambut Progodigdoyo keluar dari dalam air, lalu diseretnya Bupati yang pingsan itu keluar dari kolam.

"Keinginan hatimu akan terlaksana, manis. Engkau boleh membalas dendam sepuas hatimu!"

Resi Mahapati lalu memanggil penjaga dan para penjaga menjadi terheran-heran ketika mereka melihat bupati yang setengah telanjang itu dan setelah mereka mengerti bahwa Progodigdoyo tentu telah mengganggu Sang Puteri, mereka tidak ragu-ragu lagi ketika diperintah untuk mengikat kaki tangan Progodigdoyo dan membawanya ke dalam kamar tahanan dan mengikatnya pada tiang di dalam kamar itu.

Ketika Progodigdoyo siuman dari pingsannya dan mendapatkan dirinya diikat di tiang dalam kamar itu, dia teringat akan segala pengalamannya dan tubuhnya menggigil.

Mengertilah dia kini bahwa dia telah masuk perangkap yang dipasang oleh Sulastri!

Rasa takut merayapi seluruh parasaannya.

Dia tahu bahwa Lestari sengaja hendak membalas dendam dengan cara yang amat licik dan dia, Si Mata Keranjang Tolol, dia begitu saja dengan mudah dapat terjebak!

Progodigdoyo memaki-maki dirinya sendiri, akan tetapi kembali dia terbelalak ketakutan karena dia teringat akan segala hal yang telah dilakukannya terhadap Galuhsari dan dua orang anaknya itu.

Dia ketakutan, akan tetapi tidak berdaya meloloskan diri,apalagi karena di luar kamar tahanan itu terdapat banyak penjaga.

Dia seperti seekor harimau yang telah terjebak dalam kerangkeng, menanti kematian.

Bahkan dia sudah tidak berdaya sama sekali karena selain dijebloskan dalam tahanan,juga kaki tangannya terikat!

Saat-saat itu merupakan siksaan yang amat hebat bagi Progodigdoyo dan dia merasa seakan-akan bayangan Lembu Tirta dan Galuhsari muncul untuk menagih nyawa kepadanya!

"Kita harus menyelidiki ke mana hilangnya Kolonadah,"

Kata Roro Kartiko kepada kakaknya.

"Benar, kita harus membantu Adimas Sutejo dan Bromatmojo,"

Jawab Joko Handoko setelah dia dan adiknya kembali ke kamar mereka di Kabupaten Tuban.

"Akan tetapi ke mana kita harus menyelidikinya?"

Joko Handoko mengerutkan alisnya.

"Kita tahu bahwa sejak dahulu Ayah selalu mengerahkan pasukannya untuk menyelidiki dan mencari Kolonadah, sehingga hampir semua orang di Tuban tahu belaka bahwa pusaka itu dicari oleh Ayah. Dan melihat kenyataan bahwa lenyapnya pusaka itu di Tuban, tentu ada orang Tuban yang mengetahuinya. Sebaiknya kita menyelidiki di sini, mungkin di antara para perajurit ada yang mendengar sesuatu tentang peristiwa kematian Empu Singkir dan cantrik-cantriknya itu. Kabarnya, pagi harinya sepasukan perajurit datang ke rumah Empu itu, dan ini berarti tentu ada sesuatu yang mereka ketahui."

Dua orang muda itu lalu melakukan penyelidikan dan akhirnya mereka mendengar dari seorang anak buah Sriti Kencana bahwa ada perajurit yang menceritakan bahwa malam terjadinya pembunuhan itu, seorang cantik dari Empu Singkir yang ikut pula terbunuh, telah mengunjungi kabupaten dan tadinya bermaksud mencari dan menghadap Sang Bupati.

Karena Bupati Progodigdoyo tidak ada, maka cantrik itu diterima oleh seorang perwira yang bernama Klabang Curing, yaitu orang kepercayaan Sang Bupati.

Kemudian pada keesokan harinya, perajurit itu dan pasukannya dipimpin oleh Perwira Klabang Curing, mendatangi rumah Empu Singkir dan melihat bahwa empu dan dua orang cantriknya telah tewas.

Hanya itulah yang dapat diceritakan oleh perajurit itu kepada isterinya yang secara rahasia menjadi anggota Sriti Kencana.

Setelah mendengar penuturan itu, Joko Handoko dan Roro Kartiko lalu menemui Klabang Curing.

Karena yang bertanya adalah putera puteri atasannya, Klabang Curing lalu menceritakan bahwa memang benar pada malam hari itu cantrik pembantu Empu Singkir telah datang melapor bahwa keris pusaka Kolonadah berada di rumah Empu itu, akan tetapi di situ terdapat pula Ki Ageng Palandongan, mertua mendiang Ronggo Lawe maka Empu Singkir minta agar Bupati Progodigdoyo mengirim pasukan untuk melindungi Empu Singkir dari Ki Ageng Palandongan dan keris pusaka itu akan diserahkan kepada Bupati Progodigdoyo oleh Sang Empu.

"Karena Gusti Bupati tidak ada, maka hamba tidak berani sembrono dan pada keesokan harinya baru hamba membawa pasukan pergi ke sana. Dan ternyata sesampainya di tempat itu, Empu Singkir dan dua orang cantriknya telah tewas, Ki Ageng Palandongan tidak ada di sana dan keris pusaka itu pun tidak ada."

Demikian Klabang Curing melanjutkan ceritanya. Joko Handoko dan Adiknya lalu pulang dan mereka bercakap-cakap di dalam kamar mereka.

"Tidak salah lagi, tentu Ki Ageng Palandongan yang melarikan keris itu,"

Kata Joko Handoko.

"Kita harus mengejarnya! Kakang Joko, kalau aku mengingat akan sikap Ayah, aku merasa malu sekali dan biarlah kita berdua menebus dosa-dosa Ayah dengan membantu Kakangmas Sutejo dan Kakangmas Bromatmojo. Kita pergi ke kota raja untuk melaporkan hal itu kepada Ayah yang masih berada di sana, kemudian kita menyelidiki dan mengejar Ki Ageng Palandongan yang kurasa membawa pusaka itu ke Lumajang."

Joko Handoko mengangguk-angguk.

"Agaknya dugaanmu itu benar, Diajeng. Akan tetapi, sungguh aku tidak mengerti mengapa Ki Ageng Palandongan sampai membunuh Empu Singkir dan dua orang cantriknya. Padahal aku mendengar bahwa beliau adalah seorang yang gagah perkasa dan berbudi."

"Tidak perduli bagaimana dia itu, aku harus dapat merampas keris itu untuk kuserahkan kepada Kakangmas Bromatmojo..."

"Hemm, Adikku yang manis. Agaknya hatimu sudah benar-benar terpikat oleh Adimas Bromatmojo yang tampan itu, ya?"

Joko Handoko menggoda Adiknya.

Sepasang pipi itu menjadi merah dan Roro Kartiko menundukkan mukanya.

Akan tetapi hanya sebentar karena dia segera memandang Kakaknya, satu-satunya orang yang disayang dan dipercayanya karena hubungannya dengan Ayah mereka hambar saja,sedangkan ibu mereka pun kelihatan tidak suka kepada suaminya.

"Memang benar, Kakang Joko aku... aku jatuh cinta kepadanya dan aku malah telah bersumpah dalam hatiku bahwa aku hanya mau menjadi isteri Kakangmas Bromatmojo seorang."

"Ah, sudah demikian jauh?"

Kakak itu berseru dengan terharu sambil memegang lengan adiknya.

"Jangan khawatir, Adikku. Aku melihat bahwa Dimas Bromatmojo agaknya mencintamu pula, sikapnya jelas kelihatan mesra, dan aku pasti akan membantumu agar tercapai apa yang menjadi idaman hatimu."

"Terima kasih, Kakang Joko Handoko, engkau memang Kakakku yang amat baik."

Pada keesokan harinya, berangkatlah kakak beradik ini menuju ke kota raja.

Ibu mereka hanya menyetujui saja karena ibu ini mengerti bahwa kedua orang anaknya adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi sehingga dia tidak perlu mengkhawatirkannya, apalagi karena dua orang anaknya itu berpamit untuk menyusul ayah mereka yang sudah terlalu lama pergi ke Mojopahit.

Apakah sesungguhnya yang terjadi di malam hari itu di rumah Empu Singkir?

Dan benarkah Ki Ageng Palandongan membunuh Empu Singkir dan dua orang cantriknya lalu membawa lari keris pusaka Kolonadah?

Dugaan Joko Handoko dan Roro Kartiko hanya benar sebagian saja.

Pada malam hari itu, secara kebetulan Ki Ageng Palandongan terbangun dari tidurnya karena ingin buang air kecil.

Agar tidak mengganggu tuan rumah, Kakek ini dengan hati-hati keluar dari dalam biliknya dan hendak pergi ke luar, ke belakang rumah.

Akan tetapi ketika dia berindap-indap melalui kamar Empu Singkir,dia mendengar percakapan bisik-bisik antara Empu Singkir dan dua orang cantriknya.

"Bejo, engkau sekarang juga pergilah ke kabupaten, menghadap Sang Bupati dan katakan bahwa aku yang menyuruhmu untuk memberi tahu kepada Sang Bupati bahwa keris itu berada di sini! Katakan agar Gusti Bupati mengirim pasukan untuk melindungi kita karena di sini terdapat Ki Ageng Palandongan. Kalau kita serahkan pusaka itu kepada Sang Bupati, tentu akan mudah bagiku untuk mencari kedudukan lagi. Nah, kau berangkatlah, Bejo!"

Dapat dibayangkan betapa kaget hati Ki Ageng Palandongan mendengar ini.

Dia cepat menyelinap dan setelah cantrik yang bernama Bejo itu pergi, dia mengintai lagi, lupa akan keinginannya untuk kencing tadi.

Sampai Bejo kembali melaporkan bahwa Sang Bupati belum pulang dan bahwa besok pagi seorang perwira akan datang bersama pasukan, Ki Ageng Palandongan terus mengintai dan mengetahui rencana mereka.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ki Ageng Palandongan sudah keluar dari kamarnya dan dia disuguhi sarapan ketan dan minuman teh oleh cantrik Bejo.

Karena sudah tahu akan rencana mereka, Ki Ageng Palandongan menangkap tangan cantrik itu dan berkata.

"Bejo, coba kau minum tehku ini."

"Tidak... tidak... kenapa begitu, Ki Ageng...?"

"Hayo minumlah, aku hendak melihat apa jadinya!"

Hardik Ki Ageng Palandongan.

"Tidak... saya tidak mau...!"

Cantrik yang bernama Bejo menjadi pucat sekali mukanya dan dia melarikan diri.

Akan tetapi sekali menggerakkan lengannya, Ki Ageng Palandongan telah menangkap pundaknya dan dengan sentakan kuat dia memaksa Bejo menghadapinya, kemudian dengan tangan kirinya dia memaksa cantrik itu membuka mulutnya dengan menekan kedua pipinya kuat-kuat dan dengan tangan kanannya dia menuangkan isi cangkirnya, yaitu air teh yang disuguhkannya tadi,ke dalam mulut Bejo dan memaksa cantrik itu menelannya dengan memencet hidungnya.

Air teh itu di "cekokkan"

Ke dalam perut cantrik Bejo.

"Aaaahhh... aahhh, tolong... Bapa Empu...!"

Cantrik itu menjerit-jerit, akan tetapi dia segera roboh dan melolong-lolong sambil memegangi perutnya karena racun warangan telah mulai bekerja di dalam perutnya.

Sebagai seorang ahli keris, tentu saja Empu Singkir menyimpan banyak warangan yang dipakai untuk mencuci keris pusaka dan racun ini memang amat dahsyat.

Empu Singkir dan cantrik ke dua datang berlarian dan terkejutlah melihat Bejo telah berkelojotan dalam sekarat.

"Ki Ageng, apa yang kau lakukan ini?"

Empu Singkir menegur, pura-pura heran.

"Empu Singkir, tidak perlu lagi berpura-pura. Aku telah mendengar semua rencanamu bersama para cantrikmu semalam. Aku memaksa dia minum racun yang kau suguhkan untukku. Hayo kau serahkan Kolonadah!"

Empu Singkir terkejut bukan main dan sebagai jawabannya, dia dan cantriknya sudah menyerang dengan keris di tangan.

Namun, Empu yang lemah dan tua itu bersama cantriknya merupakan lawan yang lunak bagi Ki Ageng Palandongan yang gagah perkasa, maka biar pun Kakek tinggi besar ini tidak menggunakan senjata, namun dengan mudah dia dapat merampas keris di tangan Empu itu dan keris itu makan tuan ketika ditusukkannya ke dada Empu Singkir.

"Ki Ageng Palandongan... aku... aku sahabatmu..."

Empu itu merintih ketika dia roboh ke atas tanah.

"Hemm, keadilan tidak kawan atau lawan, Empu Singkir. Engkau berkhianat dan dalam usia tua masih loba akan kedudukan dan kemuliaan duniawi!"

"Ahhh... aku menyesal sekali... aku bertobat..."

Empu itu merintih dan tewas. Cantriknya hendak lari akan tetapi Ki Ageng Palandongan menyambitnya dengan keris rampasan itu.

"Wuuuttt... cesss... !"

Keris itu menancap di lambungnya sampai ke gagangnya dan robohlah cantrik itu, tewas seketika karena ampuhnya keris milik Empu Singkir.

Ki Ageng Palandongan cepat mencari-cari ke dalam kamar Sang Empu dan akhirnya dia menemukan Kolonadah yang masih dibungkus kain kuning karena belum memperoleh warangka.

Tanpa membuang waktu lagi, dibawanya pusaka itu dan larilah Ki Ageng Palandongan di waktu pagi sekali, sewaktu belum ada seorang pun penduduk Tuban keluar dari rumah mereka.

Dia mengambil keputusan untuk melarikan keris Pusaka Kolonadah ke Lumajang.

Demikianlah, maka ketika pasukan kabupaten yang dipimpin oleh Klabang Curing itu muncul di depan pintu pondok Empu Singkir, mereka hanya menemukan jenazah tiga orang itu, sedangkan keris Pusaka Kolonadah telah lenyap,demikian pula Ki Ageng Palandongan tidak dapat ditemukan jejaknya lagi.

Wanita muda yang cantik jelita itu kini wajahnya amat mengerikan dan menakutkan bagi Progodigdoyo.

Dia bergidik dan bulu tengkuknya berdiri ketika dia melihat siapa yang memasuki kamar tahanannya.

Lestari masih cantik jelita, akan tetapi kini sinar matanya seperti sinar mata iblis yang haus darah ketika dia berdiri dan memandang Progodigdoyo yang berdiri bersandarkan tiang dan diikat kaki tangannya itu.

Tentu saja bagi orang lain, mata itu indah sekali dan bersinar-sinar menggairahkan, namun, bagi Bupati Tuban itu, sinar mata Lestari seperti mata iblis yang penuh hawa maut.

Senyumnya yang manis itu kini nampak seperti senyum kuntilanak yang siap untuk menyedot darahnya!

Tubuh Progodigdoyo menggigil.

Dia adalah seorang laki-laki yang pemberani dan tak pernah mengenal takut, bahkan di antara hujan anak panah dan keroyokan musuh di dalam perang, dia dapat tersenyum tabah dan sedikit pun tidak pernah merasa gentar.

Akan tetapi sekarang,menghadapi Lestari yang memandangnya penuh dendam, dia merasa ngeri juga.

Apalagi karena sejak kemarin dia selalu membayangkan wajah Lembu Tirta dan Galusari.

"Lestari, kau... kau sengaja hendak mencelakakan aku...!"

Akhirnya dia dapat berkata juga.

Lestari tersenyum lebar dan sepasang matanya ikut pula tersenyum.

Wanita itu kelihatan girang dan bernafsu sekali, bahkan kelihatan seperti orang yang sedang diamuk gairah berahi!

Atau seperti sinar mata seorang calon ibu yang mengidam dan melihat apa yang diidamkannya!

"Hi-hik, kau baru tahu sekarang?

Nah, sekarang kita berhadapan di sini, berdua saja dan aku dapat melakukan apa pun atas dirimu sesuka hatiku.

Hi-hi-hik!

Progodigdoyo, sekarang kau hendak mengeluh kepada siapakah?"

Wanita itu melolos sebatang pisau belati yang kelihatan amat tajam dan runcing, yang tadi diselipkan di ikat pinggangnya.

"Lestari, kau... kau mau apa...?"

Progodigdoyo bertanya, suaranya kering,sekering mulutnya dan kini lidahnya berusaha untuk membasahi bibir dengan jilatan gugup.

"Mau apa? Hi-hi-hik, kau masih bertanya mau apa lagi, Progodigdoyo? Mau merayu engkau? Ha-ha, mau melayanimu agar nafsu berahimu terpuaskan? Mau menyanjungmu karena engkau telah begitu gagah perkasa membunuh Ayahku secara curang dan pengecut? Dan engkau mau mengulangi perkosaanmu atas tubuh Ibuku yang suci itu kepada diriku? Dan memujimu karena Adikku telah mati kau bakar? Begitukah Progodigdoyo?"

Lestari mendekati dan mengejek. Progodigdoyo melihat sinar mata itu dan kembali dia bergidik ngeri. Sinar mata itu serupa dengan sinar mata Lestari ketika dia hendak memperkosanya dahulu.

"Kau... kau... gila!!"

Dia berseru.

"Ha-ha-ha, aku memang gila, gila oleh dendam! Dan kau pun gila, gila karena nafsu angkara. Dan sekarang aku memperoleh kesempatan untuk membalas dan menyiksamu sepuas hatiku!"

Lestari mendekati sampai hampir menyentuh tubuh Progodigdoyo dan pisau belatinya diamang-amangkan di depan wajah Progodigdoyo.

"Kau gila! Kau boleh bunuh aku sekarang juga. Jangan kira aku takut mati!"

Progodigdoyo menghardik, tetapi di dalam hatinya dia takut sekali, takut oleh ancaman siksaan dan penghinaan.

"Hi-hik, enak saja kau minta mati. Lupakah kau betapa Ibuku memohon-mohon kepadamu, betapa Ibuku merintih-rintih ketika kau perkosa dan kau hina? Sekarang,aku ingin mendengar kau juga merintih-rintih dan memohon ampun!"

"Tidak sudi!"

Progodigdoyo yang maklum bahwa dia tentu akan mati itu mengeraskan hatinya dan tidak mau menerima penghinaan itu. Dia ingin mati dalam keadaan gagah.

"Tidak sudi? Hi-hik, kita sama lihat saja. Engkau seorang hidung belang, ya? Begitukah macamnya seorang laki-laki hidung belang? Hidungnya harus dibuang saja!"

Sambil berkata demikian, Lestari menggunakan pisaunya yang amat tajam itu untuk membacok hidung Progodigdoyo. Akan tetapi Progodigdoyo menggerakkan kepalanya dan mengelak.

"Crottt"

Pipinya yang tertusuk dan berdarah.

Akan tetapi Lestari sambil tertawa-tawa seperti seorang anak kecil memperoleh sebuah mainan baru, terus menghunjamkan pisaunya dan akhirnya karena kaki tangannya terikat, tentu saja Progodigdoyo tak dapat terus mengelak dan hidungnya kena dirobek dan dikerat sampai buntung!

Darah mengucur deras, dan hidung itu kini merupakan lubang hitam melompong yang berdarah, di samping bibir dan pipinya yang tadi terkena ujung pisau dan juga luka-luka berdarah ketika dia mengelak.

Namun siksaan ini masih belum mendatangkan rasa takut bagi Progodigdoyo, sungguh pun dia menderita rasa nyeri dan perih.

Matanya melotot lebar memandang kepada Lestari penuh kebencian.

"Perempuan iblis, terkutuk..."

Dia memaki akan tetapi suaranya terdengar aneh dan lucu karena hidungnya buntung itu.

Lestari tertawa terkekeh seperti iblis,kegirangan dan kegembiraannya makin bertambah ketika dia melihat keadaan musuhnya dan dia seperti seekor binatang buas yang mencium darah dan menjadi makin buas.

"Dan kau laki-laki mata keranjang. Ya, mata keranjang, maka harus dibuang satu matanya, hi-hik!"

Dan kini pisau itu menyambar ke arah mata kiri Progodigdoyo! Progodigdoyo mengelak dan miringkan kepalanya.

"Crepp!"

Pelipisnya tergores pisau, bukan main nyeri dan perihnya. Dan mulailah dia merasa takut sekali.

"Lestari, bunuh sajalah aku!"

Katanya dengan suara pelo dan gemetar.

"Ha-ha, kau boleh minta ampun!"

Saking ngeri dan takutnya, Progodigdoyo tidak dapat lagi mempertahankan kekerasan hatinya.

"Ampunkan aku, Lestari. Ampunkan aku dan kau bunuh sajalah aku... ohhh..."

"Engkau belum menangis! Engkau harus minta ampun sambil menangis, seperti Ibuku dulu!"

"Ah... kurang bagaimana lagi, Lestari? Aku sudah minta mati..., kau ampunkan aku..."

"Crott!"

Kembali pipi atasnya dekat mata termakan ujung pisau ketika dia mengelak dari tusukan ke dua.

"Kau mintalah ampun kepada Ayahku!"

"Kakang Lembu Tirta, saya minta ampun kepadamu...!"

"Kepada Ibuku!"

"Diajeng Galuhsari... ampunkan aku... ampunkan aku..."

"Creppp...! Aughhhh...!"

Progodigdoyo menjerit kesakitan ketika pisau itu menancap di mata kirinya, diputar dan dicongkelkan, diiringi suara ketawa Lestari yang kini benar-benar telah menjadi seperti orang gila!

"Aduhh...

Lestari...

Lembu Tirta...

Galuhsari...

ampun...!"

Progodigdoyo juga merintih-rintih seperti gila saking takutnya.

"Dan sekarang hukumanmu ketika kau memperkosa Ibuku! Brettt ..."

Pisau itu bergerak dan terbukalah celana di depan tubuh Progodigdoyo.

"Jangan, Lestari...! Bunuh saja aku...! Akan tetapi kata-kata ini disusul pekik mengerikan ketika pisau itu menyambar dan menusuki alat kelaminnya yang dilakukan dengan ganas sekali oleh Lestari yang tertawa-tawa. Para penjaga di luar kamar tidak berani menjenguk karena mereka sudah dipesan agar membiarkan kekasih Sang Resi itu menyiksa dan membunuh tawanan itu. Mereka bahkan tertawa-tawa karena semua penjaga merasa marah mendengar betapa Progodigdoyo berusaha untuk memperkosa Sang Puteri di tempat pemandian! Akan tetapi betapa pun Progodigdoyo merintih, mengeluh, minta ampun dan merengek-rengek, semua itu bahkan menambah buasnya Lestari dan wanita yang sudah seperti gila ini terus-menerus menggerakkan pisaunya yang tajam, mengiris sana mengerat sini, menusuk dan mengiris lagi, semua dilakukan perlahan karena dia tidak ingin cepat-cepat membunuh orang yang disiksanya. Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat memasuki tempat tahanan itu dan seorang pemuda memandang dengan mata terbelalak penuh kengerian. Pemuda ini adalah Sutejo! Seperti telah diceritakan di bagian depan, dengan ditemani oleh Bromatmojo, Sutejo yang mendengar bahwa Mbakayunya, Lestari, kini telah menjadi selir dari Mahapati, juga ketika mendengar bahwa Progodigdoyo yang dicari-carinya itu kebetulan sekali sedang menjadi tamu di gedung Resi Mahapati, malam itu cepat mempergunakan kesaktiannya, bersama Bromatmojo dia meloncat ke atas genteng istana Resi itu dan mencari-cari. Ketika dia mendengar pekik-pekik kesakitan yang mengerikan itu, cepat dia bersama Bromatmojo menghampiri dan mengintai dari atas genteng. Alangkah kaget rasa hati Sutejo ketika dia melihat seorang wanita yang seingatnya mirip benar dengan Mbakayunya, sedang menyiksa seorang pria yang bukan lain adalah Progodigdoyo. Baru setelah orang yang disiksa itu menyebut nama Lestari dan minta diampuni dan dibunuh saja, dia tidak merasa ragu-ragu lagi.

"Adi Bromo, harap kau menjaga di sini. Aku harus mencegah Mbakayuku melakukan kekejaman seperti itu!"

Katanya kepada Bromatmojo, kemudian dia membuka genteng dan meloncat turun seperti seekor burung garuda.

"Mbakayu Lestari...!"

Lestari yang tadinya terkekeh dan matanya bersinar-sinar, mulutnya terengah-engah dan peluhnya membasahi leher dan dahi, mukanya agak pucat, terkejut mendengar suara panggilan itu dan cepat dia menoleh, pisau yang sudah berlepotan darah itu di tangan kanannya, sebagian bajunya juga terkena darah yang muncrat-muncrat dari luka-luka baru setiap kali pisaunya menusuk atau mengerat.

Sejenak mereka berpandangan dan Lestari tidak lagi mengenal Adiknya.

"Engkau siapa?"

Bentaknya marah.

"Mbakayu Lestari, ini aku... Sutejo!"

Kata Sutejo dengan leher seperti dicekik rasanya.

Mbakayunya kini telah menjadi seorang wanita dewasa yang cantik sekali,bukan lagi seorang dara remaja, akan tetapi dia tidak akan dapat melupakan wajah Mbakayunya.

Akan tetapi, melihat keadaan Mbakayunya seperti itu, teringat betapa tadi Mbakayunya menyiksa orang itu, dia bergidik.

Dia menoleh ke arah Progodigdoyo dan bergidik lagi.

Seluruh tubuh orang itu tidak ada yang utuh,tidak ada yang tidak terkena darah sehingga sukar dilihat bagian mana yang belum terluka.

Pakaiannya compang-camping dan terutama di bagian kelaminnya hanya kelihatan warna merah, penuh darah!

Mengerikan sekali, dan Progodigdoyo kini hanya dapat merintih perlahan-lahan, ah-ah-uh-uh mengerikan dan menyedihkan sekali.

"Sutejo...!! Engkau...? Tejo adikku...!"

Lestari hendak memeluk Adiknya, akan tetapi Sutejo mundur dan memandang Mbakayunya dengan alis berkerut.

"Mbakayu Lestari, apa yang kau lakukan ini?"

Tegurnya, suaranya nyaring.

"Hi-hik, Tejo adikku. Arwahmu kah ini yang datang untuk menyaksikan sendiri balas dendam keluarga kita?"

Wanita itu bicara seperti gila.

"Tidak, Mbakayu. Ini aku, Sutejo, aku belum mati, ketika rumah kita terbakar,aku ditolong oleh Eyang Guru. Mbakayu, mengapa kau melakukan perbuatan yang amat kejam ini?"

"Aku? Kejam? Heii! Bagaimana kau ini? Dan kau mau bilang bahwa jahanam Progodigdoyo ini tidak kejam? Ah, kau tidak melihat ketika Ibu diperkosa, ya? Jahanam, aku harus hancurkan itu...!"

Pisaunya sudah diangkatnya pula ketika dia membalikkan tubuhnya dan dengan beringas dia hendak membacokkan pisau itu ke arah bawah pusar yang sudah penuh darah itu.

"Prakkk!"

Kepala Progodigdoyo yang sukar dikenal lagi itu karena hidungnya buntung dan matanya buta sebelah, juga mukanya penuh coret-coret bekas keratan pisau, tiba-tiba pecah dan orangnya tewas seketika.

Lestari menoleh ke arah Sutejo dan memandang dengan marah.

"Ah, kenapa kau tergesa-gesa membunuhnya, Tejo? Belum puas hatiku menyiksanya. Sebetulnya dia harus mati sedikit demi sedikit, akan tetapi kau bunuh dia. Sungguh terlalu enak bagi Si Keparat ini. Cuh-cuh!"

Dia meludah ke arah muka mayat Progodigdoyo.

Sutejo mengerutkan alisnya.

Tak disangkanya bahwa Mbakayunya telah berubah menjadi seperti iblis.

Begitu cantik jelita, akan tetapi begitu kejam luar biasa.

Dan dengan hati penasaran dia lalu menegur.

"Mbakayu Lestari, engkau ternyata telah tersesat terlampau jauh! Engkau seperti gila oleh dendam! Perbuatanmu ini kejam sekali dan membikin aku merasa malu, Mbakayu!"

Lestari juga memandang kepada adiknya dengan marah.

"Kau? Malu? Kau kira selama bertahun-tahun ini siapa yang menderita sengsara? Siapa yang mengorbankan dirinya, rela dihina, rela menanggung segala kepedihan, berkali-kali mempertahankan keinginan untuk membunuh diri, yang sampai kehabisan air mata untuk menangis,yang hatinya selalu bercucuran darah, yang ..."

Suaranya habis dan dia menangis sesenggukan. Sadarlah Sutejo bahwa dia bersikap terlalu keras kepada Mbakayunya.

"Mbakayu Lestari, kau maafkanlah aku..."

Katanya perlahan sambil menundukkan mukanya, tidak tahan melihat Mbakayunya menangis. Sama benar Mbakayunya ini dengan mendiang Ibunya ketika menangis.

"Tejo...!"

Lestari menubruk, mereka berangkulan dan bertangisan, sungguh pun sebenarnya hanya Lestari yang menangis karena Sutejo dapat menekan keharuannya dan masih belum hilang rasa kaget dan ngerinya melihat kekejaman yang dilakukan oleh Kakaknya itu kepada Progodigdoyo.

Secara terpaksa sekali dia tadi menggerakkan tangan menampar kepala Progodigdoyo dan membunuhnya karena dia tidak ingin melihat orang itu lebih lama tersiksa lagi oleh Mbakyunya, sungguh pun orang itu adalah musuh besar keluarganya.

Tamparannya tadi dilakukan untuk mengakhiri penderitaan Progodigdoyo yang amat hebat itu.

"Adikku sayang... kau harus mengerti keadaanku. Aku tadinya mengira bahwa kau sudah mati dan aku seorang diri, bagaimanakah aku dapat membalas dendam? Apa dayaku? Bagaimana mungkin aku dapat membalas dendam selain mempergunakan kecantikan dan kewanitaanku? Dan dendam keluarga kita bertumpuk setinggi gunung! Mendiang Ayah kita telah berjuang mati-matian selamanya untuk kejayaan Mojopahit,akan tetapi imbalan apa yang kita terima? Ayah dibunuh secara curang Ibu diperkosa, dihina dan dibunuh, engkau hampir mati, dan aku... sudah rusak hidupku, hancur semua harapanku. Akan kubasmi seluruh Mojopahit!"

"Hushhh, Mbakayu, apa yang kau katakan itu?"

Sutejo terkejut.

"Musuh keluarga kita hanya dia dan dia sudah mati."

"Tidak! Yang melakukan memang jahanam itu, akan tetapi mengapa Mojopahit diam saja melihat ponggawanya berbuat kejahatan terhadap kita? Dari Rajanya sampai semua ponggawanya adalah tidak baik semua dan harus kubasmi, baru akan puas hatiku!"

"Mbakayu, buanglah jauh-jauh pikiran gila itu..."

Sutejo menghentikan kata-katanya karena pada saat itu muncul Resi Mahapati dan Resi Mahapati diiringi para pengawalnya membuka pintu kamar tahanan dan memasuki tempat itu.

Resi Mahapati tidak berani lancang membunuh Progodigdoyo begitu saja karena orang itu adalah seorang Bupati, seorang ponggawa pula, maka dia menghadap Sri Baginda dan melaporkan tentang perbuatan Progodigdoyo yang melanggar kesusilaan.

Pada waktu itu, Kerajaan Mojopahit telah mempunyai undang-undang hukum, dan barang siapa mengganggu seorang wanita yang sudah bersuami, maka pengganggu itu dihukum mati dan pelaksanaan hukumannya dapat dilakukan oleh Si Suami.

Marahlah Sang Prabu mendengar pelaporan itu dan tentu saja sebagai seorang raja yang adil dan bijaksana, dia mengijinkan Resi Mahapati untuk menghukum mati kepada Progodigdoyo dan Sang Prabu mengutus Panji Samara dan Empu Wahono pergi ke Tuban untuk sementara mengatur kabupaten itu yang tidak mempunyai kepala daerah lagi.

Kebetulan sekali pada hari itu, Resi Harimurti tiba dan segera dua orang Resi ini bercakap-cakap sambil makan minum dan di situ Resi Harimurti menceritakan semua pengalamannya ketika dia berada di Tuban.

Tentang dua orang muda yang sakti dan yang menyerbu kabupaten lalu menghilang.

Kemudian dia menceritakan pula tentang kematian Empu Singkir dan cantrik-cantriknya dan tentang keris Pusaka Kolonadah yang kabarnya tadinya berada di tangan Empu Singkir.

"Menurut berita itu, agaknya tidak salah lagi bahwa yang membunuh Empu Singkir dan merampas Kolonadah adalah Ki Ageng Polondangan, Adi Resi Mahapati."

Resi Harimurti mengakhiri ceritanya.

Tentu saja Resi Mahapati merasa tertarik sekali.

Dia maklum bahwa keris Pusaka Kolonadah adalah sebatang keris pusaka ampuh ciptaan Maha Empu Supamandrangi dan keris itu khusus diciptakan untuk menjadi pegangan para raja besar.

Pemegang keris itu akan mempunyai wibawa untuk menjadi raja besar.

Hanya karena khasiat ini sajalah maka dia mati-matian mencari keris pusaka Kolonadah itu dan kini dia mendengar bahwa keris yang dicari-cari itu telah terjatuh ke dalam tangan Ki Ageng Palandongan!

"Hemm, berita ini penting sekali, Kakang Resi Harimurti,"

Katanya sambil mengelus jenggotnya yang masih hitam.

"Kalau benar Ki Ageng Palandongan yang memperoleh pusaka itu, tentu dia akan membawanya lari ke Lumajang. Kita harus dapat merampasnya kembali, Kakang."

Resi Harimurti mengangguk-angguk.

"Memang seharusnya begitu, Adi Resi. Dengan pusaka itu di tangan Andika, kiranya baru lengkaplah perabot-perabot untuk mencapai cita-cita Andika. Dan saya akan siap untuk membantu sampai akhir tujuan cita-cita kita tercapai. Akan tetapi, ada apakah ribut-ribut yang kudengar dibicarakan orang di rumah Andika ini? Saya mendengar berita tentang Progodigdoyo ketika dalam perjalanan ke sini."

Resi Mahapati menarik napas panjang.

"Aahhh, sungguh menggemaskan sekali Si Progodigdoyo, Kakang Resi Harimurti. Dia telah tergila-gila kepada kekasiku, Si Lestari!"

Resi Mahapati mengepal tinjunya. Resi Harimurti tersenyum dan minum tuwaknya.

"Ha-ha-ha, Adi Resi. Apakah anehnya itu? Selirmu itu demikian cantik jelita, siapa orangnya tidak akan tergila-gila kepadanya? Mengapa hal seperti itu saja diributkan benar?"

"Kakang Resi, Andika tidak tahu. Kalau hanya tergila-gila saja, tentu saya tidak begitu bodoh untuk meributkannya, akan tetapi dia telah berani melanggar kesusilaan dan berusaha memperkosa selirku di waktu dia sedang berada di kolam pemandian."

"Ahhh...! Tertangkap basah?"

Resi Mahapati mengangguk.

"Saya sendiri yang menangkapnya. Hal itu berarti menghinaku dan bolehkah dibiarkan begitu saja?"

Resi Harimurti menarik napas panjang.

"Ahhh..., tak kusangka dia akan segila itu! Habis sekarang bagimana, Adi Resi?"

"Mungkin saja, mengingat dia belum berhasil dalam usahanya memperkosa, dan mengingat dia merupakan seorang pembantu yang baik, saya sendiri akan dapat mengampuninya. Akan tetapi saya sangsi apakah Lestari sudi untuk melupakan peristiwa itu!"

Mahapati termenung dan mengerutkan alisnya.

"Selirku merasa sakit hati sekali, bahkan dia melarang saya membunuh Progodigdoyo dalam kemarahanku yang meluap kemarin, dan dia minta agar dia sendiri yang akan membunuhnya."

Resi Harimurti tentu saja merasa sayang sekali kalau seorang pembantu seperti Progodigdoyo sampai dibunuh hanya karena urusan wanita.

Dia sendiri sudah menerima banyak kesenangan dari Bupati itu, bahkan putera dan puteri Bupati itu telah berguru kepadanya.

"Kalau sekiranya mungkin, sebaiknya kalau dia diampuni, Adi Resi. Diberi hajaran dan peringatan saja pun sudah cukuplah. Kita menghadapi urusan besar, jangan sampai urusan besar dihalangi oleh segala urusan yang lebih kecil, sungguh pun saya tahu bahwa perbuatannya itu benar-benar keterlaluan terhadap Andika."

Resi Mahapati mengangguk-angguk.

"Saya mengerti, Kakang. Akan saya coba untuk membujuk Lestari nanti."

Para pelayan yang menghidangkan masakan-masakan yang masih panas datang dan Mahapati segera berkata.

"Sudahlah, mari kita makan dulu dan kita lupakan saja hal-hal yang tidak menyenangkan itu. Malam masih panjang dan masih banyak waktu untuk urusan itu."

Harimurti tertawa dan Mahapati memberi tanda kepada para pengawal.

Gamelan dibunyikan dan segera beberapa orang wanita cantik menari dan bertembang mengikuti irama gamelan untuk menghibur dua orang Resi yang sedang pesta itu.

Akan tetapi, Resi Mahapati tidak dapat menikmati makanan dan suasana yang meriah itu.

Alisnya berkerut dan semua masakan yang dicobanya terasa cemplang (hambar).

Karena itu, dia lebih banyak menuangkan minuman tuwak ke dalam perutnya daripada makanan, sehingga mukanya menjadi merah sekali karena hawa minuman keras itu.

Kelezatan tidaklah sepenuhnya terletak di dalam piring.

Memang harus diakui bahwa bumbu-bumbu menambah sedap makanan, namun sesungguhnya keselarasanlah yang membuat kita makan terasa enak.

Keselarasan atau keseimbangan antara kesehatan jasmani, ketenangan batin, dan rasa dari makanan itu sendiri.

Kalau ketiganya ini seimbang atau selaras, barulah makanan terasa enak.

Bahkan yang memegang peran utama adalah kesehatan badan dan ketenangan batin itulah.

Makanan yang sederhana sekali pun, kalau dimakan dalam keadaan perut lapar, badan sehat dan pikiran tenang, maka akan terasa nikmat.

Sebaliknya, biar pun menghadapi puluhan macam masakan yang paling lezat seperti yang dihadapi oleh Mahapati, kalau pikirannya tidak tenang seperti dia, akan terasa tidak enak semua masakan itu.

Demikian pula, betapa pun enaknya masakan, kalau badannya sedang tidak sehat,akan terasa tidak enak pula masakan itu.

Maka yang penting bagi manusia adalah kesehatan badan dan ketenangan batin.

Malam makin larut dan gamelan dipukul makin keras, suara tembang para penari makin nyaring menyusup dalam kegelapan malam.

Tiba-tiba beberapa orang pengawal datang mengiringkan dua orang muda memasuki ruangan makan itu.

Karena para pengawal telah mengenal pemuda dan gadis yang datang ini, maka mereka berdua itu langsung saja diantar ke ruangan makan di mana Resi Mahapati sedang makan minum bersama Resi Harimurti.

Resi Harimurti terkejut dan cepat bangkit berdiri ketika mengenal bahwa yang datang itu adalah Joko Handoko dan Roro Kartiko, dua orang muridnya.

Juga Resi Mahapati merasa tidak enak.

Dia sudah pula mengenal dua orang muda itu sebagai putera-puteri Progodigdoyo, maka cepat dia menyambut kedatangan mereka.

"Andika berdua datang di waktu malam begini, ada keperluan apakah?"

Mahapati bertanya.

"Maaf, Paman Resi. Kami datang untuk mencari Ayah. Kami mendengar bahwa Ayah bertamu di sini dan karena tadi mendengar adanya suara di luar bahwa di sini terjadi keributan yang menyangkut nama Ayah, maka malam-malam ini juga kami memberanikan diri untuk datang menghadap. Di manakah Ayah, Paman Resi? Benarkah berita di luar bahwa Ayah telah Paman tangkap?"

Tanya Joko Handoko.

"Benar,"

Jawab Mahapati tenang saja.

"Mengapa?"

Roro Kartiko bertanya dengan suara nyaring.

"Mengapa Paman menangkap Ayah? Apa dosanya?"

"Kalian berdua boleh bertanya sendiri kepada Ayah kalian mengapa dia sampai kami tangkap,"

Kata Resi Mahapati dan dia mengangkat tangan memberi isyarat sehingga suara gamelan dan nyanyian berhenti.

Begitu suara itu berhenti, terdengar suara teriakan mengerikan dari arah belakang.

Mahapati terkejut.

"Mari cepat ikut dengan kami!"

Katanya kepada Resi Harimurti dan dua orang muda itu, dan dia juga memberi isyarat kepada para pengawal yang cepat berkumpul dan mengikuti Sang Resi bergegas menuju ke tempat tahanan yang letaknya di belakang.

Kiranya,gamelan dan nyanyian yang nyaring tadi membuat mereka tidak mendengar teriakan-teriakan Progodigdoyo ketika mengalami siksaan dari Lestari, dan baru setelah gamelan berhenti, terdengar teriakan itu.

Hanya Mahapati seorang yang dapat menduga suara teriakan itu datang dari mana, maka dia cepat mengajak mereka untuk menuju ke tempat tahanan.

Demikianlah, ketika Sutejo sedang bercakap dan berbantahan dengan Mbakayunya, pintu tahanan terbuka dan muncullah Resi Mahapati dan Resi Harimurti.

Akan tetapi segera terdengar teriakan tertahan dan dua orang menerobos masuk.

Mereka itu adalah Joko Handoko dan Roro Kartiko.

Kedua orang itu menubruk mayat Progodigdoyo sambil menangis.

Dengan kerisnya, Joko Handoko membabat putus ikatan-ikatan tangan dan kaki mayat Ayahnya, kemudian dia membuka bajunya dan menutupi tubuh bawah Ayahnya dengan baju itu, lalu diletakkan mayat itu di atas lantai.

Sementara itu, Lestari yang melihat betapa suaminya memandang kepada Sutejo dengan mata penuh ancaman, cepat menghampiri suaminya dan berkata.

"Kakangmas Resi, dia... dia adalah Adikku yang bernama Sutejo..."

Sementara itu, Sutejo juga mengkhawatirkan keselamatan Mbakayunya, maka dengan sikap tenang dia berkata.

"Sayalah yang telah membunuh Progodigdoyo!"

Mendengar ini, Roro Kartiko melompat dan menghadapi Sutejo.

Dia sudah mendengar penuturan Bromatmojo tentang kejahatan Ayahnya terhadap keluarga Sutejo, akan tetapi melihat Ayahnya disiksa seperti itu, dengan mata mendelik dan muka pucat dia menghadapi Sutejo, mengepal tinjunya dan membentak.

"Kenapa kau menyiksa Ayahku? Kenapa kau membunuh Ayahku?"

Sutejo menarik napas panjang, memandang gadis itu dengan sinar mata penuh iba karena dia maklum bahwa gadis ini adalah seorang yang gagah dan baik, hanya sayang Ayahnya demikian jahat.

Betapa pun juga, Progodigdoyo adalah ayah kandung gadis ini maka dia dapat memaklumi kemarahan yang diperlihatkan oleh Roro Kartiko melihat Ayahnya mati secara demikian mengenaskan.

"Mengapa? Karena dia telah memperkosa Ibuku dan membunuh Ibuku setelah dia membunuh pula Ayahku..."

"Dan dia hendak memperkosa aku pula, setelah dia memperkosa Ibu di depan mataku! Itulah sebabnya Sutejo membunuhnya!"

Hardik Sulastri. Ucapan itu seperti ujung keris menghunjam di ulu hati Roro Kartiko. Mendengar Ayahnya melakukan hal-hal sejahat dan sekeji itu, membuat dia merasa sakit sekali di dalam hatinya.

"Ahhh... Ayah...!"

Dia menubruk jenazah Ayahnya dan menangis sesenggukan.

"Sudahlah, Diajeng. Mari kita bawa pergi jenazah Ayah, tidak ada gunanya lagi kita berlama-lama di sini,"

Kata Joko Handoko dan dia sudah memondong jenazah Ayahnya, lalu keluar dari situ diikuti oleh Adiknya.

Tidak ada orang yang berani mencegah mereka pergi, juga Resi Mahapati diam saja karena lebih baik mereka itu membawa mayat yang sudah tidak karuan rupanya itu cepat-cepat pergi dari rumahnya, pikirnya.

Sementara itu, diam-diam Resi Harimurti berbisik di dekat telinga Mahapati.

"Adi Resi, inilah satu di antara dua orang muda yang mengacau di Tuban itu. Mungkin dia mempunyai hubungan dengan lenyapnya Kolonadah."

Resi Mahapati lalu menghampiri Sutejo.

"Orang muda, biar pun Lestari mengakui engkau sebagai adiknya, akan tetapi karena kau telah melakukan pembunuhan di sini, engkau harus kutangkap dan kulaporkan. Yang kau bunuh adalah seorang ponggawa kerajaan, maka urusan ini harus dilaporkan ke istana."

"Kakangmas...!"

Lestari menjerit dan merangkul suaminya.

"Dia adalah Adikku,adik kandungku sendiri. Dia Sutejo! Dia membunuh jahanam itu karena marah mendengar aku hampir diperkosanya!"

"Biar pun begitu, dia harus ditahan dulu, Lestari. Kalau sampai urusan ini terdengar oleh Sang Prabu dan aku melepaskan dia yang telah membunuh seorang ponggawa, tentu akan celaka kita semua. (Lanjut ke

Jilid 19) Kemelut Di Majapahit (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 19 Sutejo, menyerahlah sebagai tawanan."

Akan tetapi tentu saja Sutejo tidak mau ditangkap begitu saja. Dia membusungkan dadanya dan mengerling ke arah Resi Harimurti sambil berkata.

"Siapa pun boleh mencoba untuk menangkap aku kalau bisa!"

"Keparat! Kau sombong sekali! Di Tuban kau terlepas dari tanganku, kini jangan harap dapat mengulangi lagi hal itu!"

Resi Harimurti sudah menubruk ke depan dan tangannya mencengkeram ke arah pundak Sutejo sedangkan tangan yang kiri menampar ke arah pelipis kanan lawan.

Dia maklum bahwa pemuda ini amat sakti dan pernah dia bertanding segebrakan dengan Sutejo, maka begitu menyerang dia telah mempergunakan aji kesaktiannya dan mengeluarkan serangan maut.

Melihat ini,Mahapati terkejut karena dia mengenal kesaktian temannya, akan tetapi dia hanya menonton saja sambil menggandeng tangan Lestari yang memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat.

"Plakk! Desss!!"

"Ahh...!"

Resi Mahapati terkejut dan berseru kagum ketika melihat betapa tangkisan kedua tangan pemuda itu berhasil membuat Resi Harimurti terpental dan terhuyung ke belakang!

Bukan main!

Adik dari selirnya ini ternyata adalah seorang pemuda yang sakti!

"Kakangmas Resi, maafkanlah Adik saya itu...

bebaskan dia..."

Lestari meratap. Mahapati mengelus lengan kekasihnya.

"Diamlah, Lestari. Adikmu hebat, biar dia diuji oleh Harimurti,"

Kata Mahapati tanpa melepaskan pandang matanya dari dua orang yang sedang bertanding itu.

Resi Harimurti juga terkejut sekali.

Tadi dia sudah mengerahkan tenaganya,sungguh tidak disangkanya bahwa tangkisan pemuda itu akan membuatnya terpental dan terhuyung, dan dia merasa betapa dari lengan pemuda itu menyambar keluar hawa panas yang dahsyat bukan main!

Dia adalah pembantu dan kini menjadi tangan kanan Resi Mahapati, dan dia terkenal sebagai seorang yang memiliki kesaktian hebat.

Tentu saja di depan Mahapati dia sampai terhuyung oleh tangkisan seorang pemuda, hatinya menjadi panas dan dia mengeluarkan suara melengking nyaring, suara yang menggetarkan dinding-dinding tahanan itu dan membuat Mahapati cepat merangkul kekasihnya dan membawanya keluar, sedangkan para pengawal juga menggigil mendengar lengking yang mengandung wibawa hebat itu.

Namun, Sutejo berdiri dengan tenang, kedua kakinya terpentang dan kedua lengannya tergantung lepas di kanan kiri tubuhnya,sepasang matanya tak pernah berkedip mengikuti gerak gerik Resi Harimurti.

"Hyaaaaaahhhh...!!"

Dengan gerengan nyaring seperti suara orang penjaga sawah menggertak dan mengusir burung-burung yang makan padi di sawah, Resi Harimurti sudah menerjang lagi dengan gerakan kilat dan kedua tangannya sudah menghujankan tamparan-tamparan maut.

Bunyi angin bersiutan menyambar-nyambar menandakan betapa dahsyatnya kedua tangan kakek itu ketika menyerang bertubi-tubi dari kanan kiri, atas dan bawah ke arah tubuh Sutejo dan pada bagian-bagian yang berbahaya.

Sutejo sudah waspada sejak tadi, maka begitu tubuh lawannya menerjangnya, dia sendiri pun menggerakkan kedua kakinya bergeser ke sana sini dan kedua tangannya juga bergerak secepat kilat, menangkis, mengelak dan membalas dengan pukulan-pukulannya yang tidak kalah ampuh dan dahsyatnya.

Terdengar suara nyaring berkali-kali ketika kedua pasang lengan mereka saling bertemu, dan setiap kali terjadi bentrokan paling keras karena kedua pihak mengerahkan seluruh tenaga, tentu Resi Harimurti yang terpental dan terhuyung ke belakang.

"Keparat!"

Bentak Resi Harimurti dan kedua tangannya bergerak ke pinggangnya.

"Tar-tar-tarrr...!"

Sehelai senjata pecut panjang telah meledak-ledak di udara, dan tangan kirinya sudah memegang pula senjatanya yang kedua, yang tidak kalah aneh dan hebatnya,yaitu sebuah kipas bambu yang bentuknya bundar.

Melihat ini, Sutejo cepat mencabut kerisnya dan nampaklah sinar berkilauan ketika keris pusaka Nogopusoro tercabut keluar dari warangkanya.

Tiba-tiba Resi Mahapati berseru.

"Tahan!"

Dan dia sudah melompat ke tengah di antara mereka.

"Kakang Resi, harap simpan kembali senjata Andika!"

Setelah itu, Resi Mahapati lalu menghadapi Sutejo sambil tersenyum ramah.

"Dimas Sutejo, setelah mendengar penuturan Lestari, Andika ternyata adalah adik iparku sendiri, maka tidak baik kalau di antara kita terjadi kekerasan. Engkau harus mengerti bahwa kami adalah ponggawa-ponggawa kerajaan, maka terjadinya peristiwa pembunuhan atas diri Bupati Progodigdoyo, tentu saja tidak dapat didiamkan saja. Simpanlah keris pusakamu dan mari kita bicara dengan baik. Akan kucarikan jalan agar urusan ini dapat diselesaikan dan kita tidak mendapat marah dari Sang Prabu. Akan tetapi,kuharap agar engkau suka menjadi tamu di sini dan jangan pergi dulu sebelum urusan kematian Bupati Progodigdoyo ini selesai. Bagaimana, Dimas Sutejo?"

Lestari sudah lari dan memegang lengan Adiknya.

"Tejo Adikku! Apa yang dikatakan oleh Kakangmas Resi memang benar dan tepat. Marilah, kita bicara di dalam, Adikku. Aku sungguh rindu sekali padamu dan dapat kau bayangkan betapa bahagianya aku dapat bertemu dengan engkau yang tadinya kukira sudah mati."

Sepasang mata yang bening itu mengalirkan air mata dan Sutejo menghela napas panjang.

Kalau Resi Mahapati bersikap baik, tentu saja dia pun tidak akan melakukan kekerasan.

Akan tetapi tiba-tiba dia teringat kepada Bromatmojo.

"Nanti dulu, aku akan memanggil temanku!"

Katanya kepada Lestari dan dia memandang ke atas, ke arah genteng yang terbuka di atas kamar tahanan itu.

"Adi Bromo, turunlah!"

Akan tetapi tidak ada jawaban dari atas.

"Adi Bromatmojo!"

Sutejo kembali berseru memanggil. Namun sunyi saja yang menyambut panggilannya. Resi Harimurti sudah melompat dari luar kamar itu ke atas genteng, dan tak lama kemudian dia melayang turun kembali.

"Tidak ada siapa-siapa di atas,"

Katanya. Sutejo mengerutkan alisnya, merasa heran mengapa Bromatmojo meninggalkan dia.

"Siapakah temanmu itu, Tejo?"

Tanya Kakaknya.

"Dia? Ah, hanya seorang teman seperjalanan,"

Jawab Sutejo singkat karena dia tidak mau bicara lebih banyak tentang Bromatmojo.

Demi menjaga keselamatan kakaknya yang telah menjadi selir Resi Mahapati, Sutejo terpaksa tunduk dan dengan sabar dia menurut saja ketika digandeng oleh kakaknya meninggalkan kamar tahanan itu.

Ke manakah perginya Bromatmojo?

Tadi ketika Sutejo memasuki kamar tahanan itu,Bromatmojo hanya mengintai dari atas genteng.

Dia juga ikut merasa ngeri menyaksikan wanita cantik yang amat kejam itu, yang ternyata adalah Kakak dari Sutejo, wanita yang agaknya sudah hampir gila oleh dendam sehingga mampu melakukan penyiksaan sedemikian kejamnya.

Dia terkejut pula ketika melihat masuknya Joko Handoko dan Roro Kartiko dan diam-diam dia pun merasa amat kasihan kepada dua orang putera-puteri dari Progodigdoyo itu.

Kemudian, ketika melihat Sutejo bertanding melawan Resi Harimurti, dia pun tidak dapat turun tangan.

Pertandingan itu adalah satu lawan satu, maka tidak sepatutnya kalau dia mencampuri.

Apalagi, bukankah Sutejo berada di antara keluarganya sendiri?

Kalau dia melihat Sutejo dikeroyok misalnya, tentu dia sudah turun dan mengamuk.

Apalagi ketika dia mendapat kenyataan bahwa Sutejo tidak mungkin kalah oleh Resi itu.

Dia percaya akan kesaktian pemuda itu.

Ketika Resi Mahapati melerai dan dia mendengar percakapan di bawah, tahulah dia bahwa keadaan Sutejo tidak akan berbahaya, dan bahwa tentu wanita cantik itu akan melindungi adiknya.

Maka dia pun diam-diam lalu cepat pergi dari situ, karena dia sendiri maklum bahwa urusan Sutejo telah selesai dan kehadirannya di situ tentu hanya akan menimbulkan keributan saja.

Sutejo telah berhasil membunuh musuh besarnya dan bertemu dengan Mbakayunya.

Tidak perlu dia mengganggunya, dan pula, dia merasa tidak senang kalau harus berhadapan dengan Resi Mahapati, nama yang sudah tidak disenanginya semenjak dia mendengarnya sebagai majikan dari dua orang yang dibencinya, yaitu Reksosuro dan Darumuko.

Dan ternyata Mahapati itu adalah kakak ipar dari Sutejo!

Demikianlah, tanpa pamit Bromatmojo meninggalkan istana Resi Mahapati dan dia melakukan perjalanan cepat sehingga ketika Resi Harimurti mencari ke atas genteng dia sudah pergi jauh.

Malam itu dilewatkan oleh Bromatmojo di dalam sebuah gubuk di belakang sebuah candi tua yang sunyi di tepi kota.

Gubuk itu tadinya menjadi tempat penjaga, akan tetapi karena candi itu sudah tidak dipakai lagi, maka gubuk itu pun kosong.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali dia sudah melakukan penyelidikan untuk mencari dua orang yang dibencinya itu, yaitu Darumuko dan Reksosuro.

Tadinya,setelah melihat Sutejo bertemu dengan kakaknya, dia ingin melanjutkan perjalanan ke Lumajang, untuk mencari Ki Ageng Palandongan.

Akan tetapi ketika teringat kepada dua orang itu, dia ingin dulu bertemu dan memberi hajaran kepada dua orang yang dulu pernah menghina jenazah kakaknya itu.

Mahapati telah dia lupakan karena dia mau memaafkan Mahapati yang ternyata adalah kakak ipar dari Sutejo, akan tetapi dua orang pria yang pernah menghina jenazah Mbakayunya dan pernah pula menghinanya di waktu dia masih kecil, harus dihajar!

Tidaklah sukar bagi Bromatmojo untuk mencari dua orang itu yang cukup dikenal sebagai perwira-perwira pembantu Resi Mahapati.

Dengan mengaku sebagai keponakan Darumuko, akhirnya Bromatmojo mendengar dari seorang perajurit pengawal Mahapati yang suka sekali mengobrol bahwa tadi dia melihat kedua orang perwira itu mengunjungi ledek (penyanyi/penari) Madumirah.

"Ledek Madumirah? Di manakah rumahnya?"

Tanya Bromatmojo dengan wajar, akan tetapi mendengar pertanyaan itu, perajurit tadi dan dua orang temannya tertawa-tawa sehingga Bromatmojo memandang heran.

"Orang muda, hati-hati kau kalau ke sana. Engkau muda dan wajahmu tampan sekali,bisa dimakan bulat-bulat engkau!"

Kata seorang di antara mereka.

"Ha-ha-ha, engkau akan dikeroyok dan dihisap sampai kering!"

Orang ke dua tertawa.

"Ahh, mana mungkin? Ada Pamannya, Darumuko dan Reksosuro berada di sana, siapa berani mengunjungi tempat itu kalau ada mereka?"

Tentu saja Bromatmojo menjadi bingung dan sama sekali tidak mengerti.

"Kisanak yang baik, tolong Andika beritahukan di mana rumah ledek Madumirah itu karena aku sungguh belum pernah mengetahuinya."

"Setiap hidung di Mojopahit tahu belaka di mana rumahnya. Dia adalah seorang pensiunan ledek istana yang terkenal karena dia memelihara banyak sekali gadis-gadis cantik, heh-heh. Kau pergilah ke dusun Pemintihan di luar pintu gerbang sebelah barat. Aihh, kalau saja Pamanmu tidak sedang berada di sana dan kau mau membiayaiku, tentu suka sekali aku mengantarmu ke sana, Kisanak."

Bromatmojo belum mengerti betul, akan tetapi baginya penunjukkan tempat itu sudah cukuplah.

Maka berangkatlah dia ke pintu gerbang sebelah barat dari kota raja itu dan setelah tiba di dusun Pamintihan yang berada di luar kota raja,barulah dia tahu bahwa ledek Madumirah itu terkenal sebagai seorang germo yang mempunyai banyak sekali anak buah yang terdiri dari gadis-gadis cantik dan bahwa tempat itu sering kali dikunjungi oleh pejabat-pejabat Mojopahit yang datang untuk mencari hiburan!

Hari telah siang ketika dia tiba di depan rumah yang cukup besar dan bersih itu,dan dengan langkah tenang dia memasuki pekarangan rumah.

Baru saja tiba di depan pintu, dia telah disambut senyum manis dan kerling memikat dari dua orang wanita muda yang cantik.

Sikap mereka menarik dan genit sekali, akan tetapi Bromatmojo harus mengakui bahwa mereka adalah dua orang yang tergolong cantik dan menarik.

"Raden, silakan masuk..."

"Agaknya baru sekarang kami melihat paduka, Raden. Dari istana manakah Paduka datang?"

Bromatmojo tersenyum dan jantung dua orang wanita pelacur yang biasanya terpaksa melayani orang-orang tua dan buruk itu berdebar.

Bukan main gagah dan tampannya pemuda ini, masih remaja pula.

Tentu masih seorang perjaka yang belum tahu apa-apa,masih segar dan bersih!

"Terima kasih, Nimas berdua.

Aku datang dari tempat jauh dan ingin mencari dua orang yang bernama Darumuko dan Reksosuro.

Apakah mereka berada di sini?"

Kata Bromatmojo setelah dia dipersilakan duduk di ruangan depan.

"Ahh... mereka memang berada di sini"

Kata yang seorang.

"Tetapi, mereka sedang... ehmmm..."

Bromatmojo tidak mengerti.

"Sedang apa?"

Tanyanya karena dia sungguh tidak mengerti apa artinya kata-kata yang disambung dengan deheman itu.

"Hi-hik, masa Paduka tidak tahu, Raden?"

Kata yang baju hijau sambil mencubit lengan Bromatmojo dengan sikap manja.

Bromatmojo bergidik.

Celaka, pikirnya.

Wanita-wanita di sini sungguh amat tak tahu malu dan genitnya bukan main.

Dia tersenyum dan teringatlah dia akan pengalamannya bersama Sutejo ketika dirayu oleh wanita-wanita cantik yang kemudian ternyata adalah anggota-anggota Sriti Kecana.

"Manis, aku sungguh tidak mengerti. Mereka itu di mana sekarang?"

Yang bajunya merah terkekeh genit, kemudian jari tangannya lancang mengusap dagu Bromatmojo yang halus itu.

"Aih, ada orang kok begini gantengnya! Aduh, Raden, rasanya aku mau dijadikan tebu..."

"Heh? Dijadikan tebu? Apalagi artinya ini?"

Bromatmojo memang tidak biasa dengan kelakar-kelakar mereka yang mengandung sindiran cabul.

"Ya, biar menjadi tebu dan dihisap-hisap oleh bibir ini..."

Si Baju Merah kini menyentuh bibir Bromatmojo dengan sikap memikat sekali.

"Dan saya ingin sekali dijadikan selimut, biar setiap malam menyelimuti Paduka kalau kedinginan, Raden,"

Kata Si Baju Hijau.

"Heii...! Ada apakah ramai-ramai di situ? Wah, ada tamu rupanya!"

"Amboi, agaknya Raden Janoko yang datang ini. Aduh, bagusnya diborong sendiri saja!"

"Pantas aku semalam mimpi kejatuhan bulan, kiranya akan bertemu dengan Sang Hyang Komajaya!"

Tiga orang wanita yang baru datang dari dalam itu pun muda-muda dan cantik-cantik akan tetapi kesemuanya genit dan bersikap memikat.

Sebentar saja Bromatmojo dikurung oleh mereka, bahkan sudah ada yang berani mendekatkan muka ingin menciumnya.

Dengan tertawa dan menyabarkan hatinya Bromatmojo mengelak dan menolak rayuan-rayuan mereka.

"Maafkan, Nimas sekalian yang cantik manis. Kedatanganku ini sungguh bukan hendak bersenang-senang dengan kalian, sungguh pun hatiku bingung untuk memilih siapa di antara kalian yang paling cantik jelita. Semuanya cantik manis seperti bidadari dari kahyangan!"

"Hi-hi-hik! Pandainya merayu!"

"He-heh, sungguh persis seperti Raden Arjuno ketika dirayu oleh bidadari dari kahyangan!"

Lima orang wanita muda itu menjadi makin gemas, bahkan kini ada yang mencoba untuk menarik-narik tangan Bromatmojo agar suka mengikuti masuk ke dalam kamarnya.

"Kau tidak usah memberi hadiah apa-apa, Bagus..."

"Aku malah rela menyerahkan semua tabunganku..."

Mereka berebutan dan nyaris terjadi perkelahian antara wanita-wanita itu kalau tidak muncul seorang laki-laki dari sebelah belakang.

Laki-laki ini usianya sudah empat puluh lima tahun, bertubuh jangkung dan pakaiannya cukup garang dan indah.

Sikapnya angkuh dan bajunya terbuka memperlihatkan dadanya yang kurus sehingga nampak tulang iganya.

Akan tetapi sebatang keris panjang terselip di pinggangnya.

"Heh, siapa berani membuat gaduh di sini? Mengganggu orang yang sedang bersenang-senang dan mengaso! Hayo mengaku siapa kau atau kuhancurkan kepalamu!"

Bentak orang itu sambil melotot memandang kepada Bromatmojo.

Seorang wanita yang cantik pula,tidak berbaju hanya memakai tapih pinjung dan rambutnya kusut, leher dan mukanya berpeluh, agaknya dialah wanita yang melayani laki-laki galak ini, keluar dari kamar dan menyentuh lengan laki-laki itu.

"Kenapa marah-marah, Kakangmas...?"

"Minggir kau! Aku akan menghajar bocah lancang ini! Berani kau datang ke sini,ya? Tidak tahu bahwa aku sedang bersenang di sini dan tidak sudi diganggu oleh bocah macam engkau? Mau menjual tampang, ya?"

Laki-laki itu makin marah ketika melihat wanita yang baru saja melayani itu kini juga memandang kepada pemuda tampan itu dengan sinar mata kagum!

Si Baju Merah yang amat bernafsu untuk meraih cinta kasih pemuda tampan seperti Arjuno itu cepat berkata.

"Harap maafkan, Kakangmas, Raden ini katanya adalah masih keluarga dari Kakangmas Darumuko. Bukankah begitu katamu tadi, Raden?"

Bromatmojo mengangguk tersenyum, akan tetapi matanya tajam memandang kepada laki-laki di depannya itu.

Tentu saja dia tidak dapat melupakan mata yang juling itu.

Kiranya hanya seorang saja laki-laki jangkung sombong yang bermata juling seperti Reksosuro ini di atas dunia atau setidaknya di seluruh Mojopahit!

Akan tetapi dia menahan sabar karena dia ingin mendapatkan dua-duanya.

"Benar, manis. Di manakah Paman Darumuko?"

Tanya Bromatmojo sambil mencubit dagu Si Baju Merah sehingga wanita itu menjadi merah mukanya.

Matanya bersinar-sinar dan bibirnya tersenyum gemetar seperti seorang anak perawan yang baru pertama kali jatuh Cinta!

Mendengar bahwa pemuda tampan ini adalah keponakan Darumuko, tentu saja Reksosuro tidak mau bertindak ceroboh.

Akan tetapi dia merasa tidak percaya bahwa temannya itu mempunyai seorang keponakan yang tampan ganteng seperti ini,maka dia lalu berteriak.

"Adi Darumuko! Ke sinilah sebentar! Keluarlah, ada urusan penting!"

Dari dalam sebuah kamar yang daun pintunya tertutup terdengar suara orang,nadanya tidak senang.

"Aah... bagaimana sih Kakang Reksosuro. Mengganggu saja!"

"Keluarlah sebentar saja, ada orang mengaku sebagai keponakanmu!"

Kata pula Reksosuro yang masih belum hilang marahnya.

Lama terdengar suara orang bersungut-sungut diselingi kekeh seorang wanita dari dalam kamar itu, lalu daun pintu berbunyi dan terbuka.

Muncullah seorang laki-laki yang pakaiannya masih kedodoran diikuti seorang wanita yang juga hanya bertaping pinjung dengan rambut kusut dan badan penuh keringat.

Siang itu memang hawanya panas sekali.

Pria ini usianya kurang lebih empat puluh tahun, tubuhnya kurus kecil, bibirnya tebal sekali dan matanya liar, mukanya bulat.

Girang sekali hati Bromatmojo ketika dia mengenal bahwa orang ini memang benar Darumuko.

Dua orang musuhnya itu telah berada di depannya sekarang!

"Apa maksudmu, Kakang Reksosuro?

Mana orangnya yang mengaku keponakanku itu?"

Darumuko bertanya dengan muka jelas memperlihatkan ketidak-senangan hatinya.

"Itu dia. Katanya dia adalah keponakanmu."

Darumuko sudah siap untuk memaki orang yang mengaku-aku dan mengganggu kesenangannya itu, akan tetapi ketika dia melihat wajah yang tampan dan ganteng itu, dia tidak jadi marah.

Mempunyai seorang keponakan seperti ini sungguh boleh dibanggakan!

Maka dia lalu berkata dengan lagak sombong, memandang ke arah wanita-wanita itu dengan matanya yang liar.

"Mungkin saja dia ini seorang di antara keponakanku yang sangat banyak."

"Adi Darumuko, engkau benar mempunyai keponakan sehebat ini?"

Reksosuro heran dan kagum.

"Biasa saja. Banyak keponakanku yang seperti ini. Memang sudah kukatakan berkali-kali,ada darah priyayi mengalir dalam tubuhku, Kakang Reksosuro!"

"Hemm, karena keturunan dan darah priyayi luhur, kenapa ada yang keluar seperti engkau itu?"

Reksosuro yang sudah biasa berkelakar itu berkata sambil tertawa.

"Ha-ha, apakah aku kurang gagah? Memang tidak begitu tampan, akan tetapi aku menuruni kegagahannya. Mungkin darah endeg-endeg (bagian yang kotor) yang menjadi aku, dan yang bening-bening menjadi seperti dia inilah. Eh, kulup,benarkah engkau mencari Pamanmu yang bernama Darumuko?"

Tanya Darumuko dengan sikap manis kepada Bromatmojo yang hanya tersenyum mendengar percakapan mereka yang konyol itu.

"Benar, aku mencari Darumuko dan Reksosuro."

"Akulah Darumuko! Engkau tentu keponakanku!"

"Dan akulah Reksosuro! Jangan-jangan aku Pamanmu itu!"

Reksosuro tidak mau kalah. Bromatmojo tersenyum dan bangkit berdiri dari bangku yang tadi didudukinya sambil mendorong wanita-wanita yang masih mengerumuninya itu ke kanan kiri.

"Sungguh kebetulan sekali aku dapat bertemu dengan kalian berdua di sini. Memang aku mencari kalian karena ada pesan untuk kalian."

"Eh, pesan? Untuk kami? Pesan dari mana?"

Reksosuro kini memandang tajam karena dia melihat betapa sikap pemuda itu sama sekali tidak menghormat lagi dan tidak menyebut Paman lagi.

"Dari kuburan!"

Jawab Bromatmojo.

Wanita-wanita itu menjerit lirih dan melangkah mundur, terbelalak memandang kepada Bromatmojo.

Dua orang laki-laki yang sudah biasa menghadapi musuh itu adalah orang-orang yang tangguh dan pemberani, akan tetapi semenjak kecil sampai usianya empat puluh tahunan, Darumuko yang pemberani dan kejam itu amat penakut terhadap setan.

Maka begitu mendengar bahwa pesan itu datang dari kuburan, seketika mukanya menjadi pucat dan kakinya menggigil!

"Bocah, jangan main-main dan kurang ajar kau!

Hayo berkata yang benar!"

Reksosuro membentak dan mulai curiga dan marah.

"Memang sesungguhnya aku mendapat pesan dari orang yang sudah mati untuk disampaikan kepada kalian berdua,"

Kata Bromatmojo dengan sikap dan suara sungguh-sungguh.

"Hiiihhhh"

Darumuko mendekati Reksosuro, matanya makin liar dan mukanya makin pucat dan mulutnya berkemak-kemik.

"Hong...wilaheng...nir boyo sedyo rahayu...! "Keparat, kau berani mempermainkan kami? Hayo mengaku siapa kau dan apa niatmu datang mencari kami!"

Reksosuro membentak dan melangkah maju mendekati Bromatmojo.

Betapa pun juga, tentu saja dia tidak merasa takut menghadapi pemuda remaja yang tampan dan halus itu, yang agaknya dengan sekali pukul saja sudah akan dapat dia robohkan.

"Reksosuro dan Darumuko, dengarlah baik-baik. Buka lebar-lebar kedua telingamu dan kedua matamu! Ingatkah kalian akan seorang dara suci murni bernama Sri Winarti yang tewas suduk seliro (bunuh diri dengan keris) di Sungai Tambakberas karena berbela pati atas kematian Adipati Ronggo Lawe? Nah, dara suci itulah yang menyuruh aku menyampaikan pesan kepada kalian!"

Wajah Reksosuro menjadi pucat dan kini Darumuko makin menggigil.

Mereka segera teringat dan terbayanglah di depan mata mereka dara cantik jelita yang bunuh diri dengan keris pusaka Kolonadah itu, yang kemudian lenyap entah ke mana,seolah-olah jenazah itu hidup kembali dan dapat melarikan diri begitu saja!

Kemudian mereka mendengar pelaporan yang disampaikan kepada Resi Mahapati oleh Gagaksona malam tadi bahwa keris pusaka Kolonadah telah diambil orang dari sebuah kuburan tersembunyi di dalam hutan dekat Sungai Tambakberas.

Dan sekarang,pemuda ini menyatakan bahwa dia membawa pesan dari gadis yang mati itu untuk mereka!

Betapapun juga, timbul harapan di hati Reksosuro untuk mendengar tentang keris pusaka Kolonadah yang kabarnya tidak berhasil dirampas oleh orang-orang Resi Mahapati.

"Hemm, tentu kami ingat. Bukankah yang membunuh diri dengan keris pusaka Kolonadah itu? Apakah kau hendak memberitahukan kepada kami di mana adanya keris pusaka Kolonadah? Jangan khawatir, engkau akan mendapatkan hadiah besar, orang muda."

"Sayang sekali, pesannya bukan begitu, Reksosuro dan Darumuko."

"Habis, apa... apa... pesannya?"

Darumuko mencoba untuk mengatasi rasa takutnya dengan bersikap garang dan membentak-bentak, akan tetapi tetap saja bentakan-bentakan itu keluar dengan gagap.

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 16

Baca Juga: Mutiara Hitam 9

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert