Ceritasilat Novel Online

Kemelut Di Majapahit 7

Eps 7 Kemelut Di Majapahit - Kho Ping Hoo

Baca online Kemelut Di Majapahit - Kho Ping Hoo

Cersil Kemelut Di Majapahit - Kho Ping Hoo.

Sementara itu, melihat bahwa suasana menjadi makin panas, para wanita pelacur itu sudah mundur-mundur menjauhkan diri dan sekarang di antara mereka terdapat seorang wanita setengah tua yang masih kelihatan cantik, dan dia ini adalah Nyi Madumirah bekas ledek keraton itu!

Wanita-wanita itu kelihatan ketakutan dan mengkhawatirkan pemuda tampan itu karena mereka semua sudah mengenal siapa adanya Reksosuro dan Darumuko yang kejam.

Pernah mereka berdua memukuli dan menghajar dua orang pemuda sampai pingsan ketika pemuda-pemuda itu berani datang ke tempat itu dan bercanda dengan para pelacur selagi mereka berdua berpelesir.

Tentu saja pemuda-pemuda itu bukanlah putera bangsawan, melainkan rakyat biasa, karena dua orang perwira ini pun bukan orang bodoh.

Terhadap putera-putera bangsawan yang orang tuanya lebih tinggi kedudukannya tentu saja mereka itu siap untuk setiap saat bersikap hormat dan menjilat-jilat.

Biasanya, seorang yang suka menindas ke bawah tentulah suka pula menjilat ke atas, seorang yang kejam terhadap bawahannya tentulah seorang penjilat terhadap atasannya.

Karena seorang penjilat adalah seorang yang mengejar kekuasaan, dan sikapnya yang menindas terhadap bawahan justru untuk menonjolkan kekuasaannya itulah!

Bromatmojo tersenyum mengejek.

Dia ingin menghajar dua orang ini bukan demi dirinya sendiri, maka dia tidak perlu memperkenalkan diri sebagai Sulastri,melainkan untuk menebus penghinaan terhadap jenazah Kakaknya.

"Mau tahu apa yang dipesan oleh Dyah Sri Winarti? Dia pesan kepadaku untuk mencari kalian berdua yang telah menghina jenazahnya dahulu itu, dan aku diharuskan menghajar kalian sampai setengah mati!"

"Babo-babo, keparat bermulut besar!"

Bentak Darumuko yang kini timbul kembali keberaniannya karena dia maklum bahwa pemuda ini hanya mempermainkannya saja,sama sekali bukan utusan dari alam baka! "Jahanam sombong, kau sudah bosan hidup!"

Reksosuro juga membentak dan dia sudah mendahului Darumuko untuk menubruk dan menghantam ke arah dada pemuda halus itu dengan pengerahan tenaga sekuatnya karena dia ingin sekali pukul memecahkan dada yang tidak berapa besar itu.

"Plak-plak, plengg...!!"

Tubuh Reksosuro berpusing seperti gasing ketika dia terkena tempilingan pipinya oleh tamparan tangan Bromatmojo setelah dua kali pukulannya tadi kena ditangkis.

Matanya berkunang-kunang dan kepalanya pening dan akhirnya dia jatuh bergelimpang, berpegang kepada bangku akan tetapi tetap saja dia masih terbanting dan bangku itu ikut pula terseret.

"Mampuslah!"

Darumuko marah sekali dan menerjang dengan tendangan kakinya yang kecil pendek.

Melihat menyambarnya kaki lawan ini, Bromatmojo miringkan tubuhnya membiarkan kaki itu lewat, kemudian secepat kilat dia menyambar mata kaki dan mendorong kaki itu ke atas.

"Blukk, ngekkk!"

Pantat yang kerempeng itu terbanting keras sekali di atas lantai dan perut Darumuko seketika terasa mulas, kepalanya berputar dan matanya menjadi juling menyaingi mata rekannya, Reksosuro yang kini sudah merangkak bangun.

Mereka bangkit dan menggoyang-goyang kepala mengusir pening dan keheranan.

Mereka merasa heran dan terkejut sekali karena sama sekali mereka tidak tahu bagaimana mereka tadi roboh, seolah-olah mereka disambar petir layaknya.

Akan tetapi mereka dapat menduga bahwa pemuda tampan itu tentu memiliki kesaktian hebat, maka mereka menjadi marah dan nekat.

Keduanya mencabut keris yang terselip di pinggang.

Keris di tangan Reksosuro adalah masih keris yang dulu juga.

Bromatmojo teringat dan menahan ketawanya.

Teringat dia akan gurunya yang pertama, yaitu Ki Jembros, ketika Ki Jembros mempermainkan kedua orang ini.

Keris di tangan Reksosuro itulah yang dulu oleh gurunya ditekuk-tekuk seperti terbuat dari timah saja!

Dan kini, keris itu telah lurus lagi, keris berluk sembilan yang namanya Kyai Bandot!

Sedangkan keris di tangan Darumuko juga panjang sekali, seperti golok saja!

"Hemm, kau mengeluarkan Kyai Bandot?"

Bromatmojo mengejek kepada Reksosuro.

Pemilik keris ini terkejut mendengar orang muda itu mengenal nama kerisnya, akan tetapi dia menjadi girang.

Agaknya pemuda itu telah mengenal keris pusakanya yang terkenal dan merasa jerih tentunya.

"Hemm, kau mengenal pusakaku yang ampuh? Kyai Bandot ini sekarang telah menjadi pusaka yang ampuhnya tidak kalah oleh Kolonadah! Ditusukkan gunung akan jebol,ditusukkan lautan akan kering..."

"...ditusukkan sate malah patah!"

Bromatmojo menyambung dan lagaknya demikian jenaka sehingga terdengar ada suara terkekeh di antara para pelacur yang tadi melihat betapa dalam segebrakan saja dua orang yang ditakuti itu gelayaran oleh pemuda luar biasa itu.

Benar-benar mereka merasa kagum, seolah-olah mereka menonton pertunjukkan wayang di mana Raden Arjuno dikeroyok dua oleh raksasa-raksasa cebol!

"Keparat, berani kau menghina pusakaku?"

Reksosuro membentak.

"Pusaka apa? Pisau dapur lebih tajam! Mari, kau boleh tusuk aku dengan keris tempe itu!"

Reksosuro marah bukan main.

Keris pusakanya itu adalah senjata pusaka yang setiap pekan sekali tentu dia bakari kemenyan, dia kutugi (diasapi kemenyan) dan beri sesajen kembang tujuh macam dan sekarang dimaki orang sebagai keris tempe dan ditantang!

Dengan kemarahan meluap, dia lalu menggerakkan kerisnya itu menusuk ke arah perut Bromatmojo yang sengaja agak dibusungkan ke depan.

Bromatmojo dulu melihat gurunya, Ki Jembros menerima keris itu dengan dada.

Kini,setelah dia berguru kepada Empu Supamandrangi, tentu saja dia juga sudah memiliki aji kekebalan yang amat kuat.

Karena dia tahu bahwa keris yang bernama Kyai Bandot itu hanya namanya saja yang serem, maka dia berani menerima tusukannya dengan mengandalkan aji kekebalannya.

Dan dalam hal ini, Bromatmojo sama sekali bukanlah seorang yang sembrono.

Dia adalah murid seorang empu,bahkan seorang maha empu.

Tentu saja pengetahuannya tentang perkerisan sudah cukup mendalam dan dia dapat melihat dari jauh apakah sebabnya keris itu ampuh atau tidak.

Dan keris Kyai Bandot di tangan Reksosuro itu hanyalah keris yang boleh dipakai untuk menakuti-nakuti orang saja!

"Tukk!"

Keris itu tepat mengenai perut atas dari Bromatmojo dan dapat dibayangkan betapa kaget hati Reksosuro ketika dia merasa seperti menusukkan kerisnya pada sebongkah besi saja.

Kerisnya membalik dan hampir terlepas dari pegangan tangannya!

"Mati kau!"

Darumuko juga membentak dan menusukkan kerisnya pada lambung Bromatmojo.

Pemuda itu sama sekali tidak mengelak, melainkan melindung lambungnya dengan hawa sakti dari tubuhnya, mengerahakan aji kekebalannya.

"Tukkk!"

Juga keris panjang di tangan Darumuko itu membalik dan "pemuda"

Tampan itu sedikit pun tidak terluka.

"Hemm, apa kataku?"

Bromatmojo mengejek.

Darumuko merasa bulu tengkuknya berdiri dan dia memandang kepada pemuda itu dengan mata terbelalak.

Tentu setan, pikirnya!

Celaka, agaknya orang ini benar-benar iblis.

Kalau tidak, mana mungkin bisa membawa pesan orang mati dan kini dapat menerima tusukan keris mereka sedemikian enaknya?

Saking ngerinya, dia hanya bengong saja.

Akan tetapi Reksosuro lebih cerdik.

Si Juling ini maklum bahwa pemuda di depan mereka itu benar-benar sakti dan bukan lawan mereka, maka dia mencari siasat untuk dapat melarikan diri.

"Aku tahu! Engkau menggunakan aji kekebalan. Kalau punggungmu yang kutusuk tentu kau akan mampus!"

Bentaknya.

Bromatmojo tersenyum mengejek.

Sebetulnya dia sayang kepada pakaiannya yang setidaknya tentu berlubang sedikit oleh ujung keris, akan tetapi karena ditantang seperti itu, dia tidak dapat mundur.

Dia berkata.

"Begitukah? Nah, kau boleh menusuk punggungku sekuatmu dengan keris tempemu itu!"

Dia lalu membalikkan tubuhnya, memberikan punggungnya sambil mengerahkan aji kekebalannya.

Reksosuro memberi isyarat kepada kawannya.

Mereka menggerakkan keris secara berbareng, Reksosuro menusuk ke arah punggung, dan Darumuko menusuk ke bukit pinggul kiri.

"Tukk! Tukk!!"

Apalagi punggungnya, bahkan bukit pinggul yang membulat dan yang mestinya lunak penuh daging itu ternyata berubah keras seperti besi!

Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Reksosuro menowel lengan temannya dan mempergunakan kesempatan selagi lawan yang tangguh itu berdiri membelakangi mereka, keduanya lalu menggerakkan kaki mereka, melarikan diri terbirit-birit keluar dari pintu depan.

"Hemm, enak saja mau lari!"

Tiba-tiba terdengar bentakan halus itu dan nampak bayangan berkelebat, tahu-tahu pemuda yang amat sakti itu telah berdiri di pekarangan depan menghadang mereka.

Kiranya Bromatmojo telah mempergunakan Aji Turonggo Bayu sehingga ketika dia meloncat dan lari, dia seperti angin saja cepatnya mendahului kedua orang lawannya dan menghadang di halaman depan.

Dua orang itu saking takutnya menjadi nekat.

Mereka berdua lalu menerjang dengan keris di tangan, menyerang secara membabi buta, Bromatmojo kini tidak lagi mau menerima tusukan-tusukan keris itu karena takut kalau-kalau pakaiannya rusak.

Beberapa kali dia mengelak dengan mudah, kemudian dua kali tangannya bergerak memukul dengan tangan terbuka dan miring mengenai pergelangan tangan kedua orang itu, dan keris mereka terlepas dari pegangan karena tulang pergelangan tangan mereka telah patah oleh pukulan yang dilakukan dengan pengerahan Aji Hasto Nogo itu!

"Duhh...

celaka...!"

Reksosuro berseru kaget dan memegangi lengan kanan dengan tangan kirinya.

"Ampun... desss!"

Darumuko terpelanting dan teriaknya minta ampun tadi berubah menjadi rintihan ketika kaki Bromatmojo menendang dan mengenai dadanya.

Serasa ambrol dadanya oleh tendangan kaki yang kecil itu.

Reksosuro yang licik itu sudah hendak melarikan diri lagi, akan tetapi kaki Bromatmojo lebih cepat lagi, sekali tendang robohlah Reksosuro.

Dia hendak bangkit lagi akan tetapi Bromatmojo sudah menggerakkan tangannya.

"Plakk! Ngekkk!"

Tengkuknya kena ditampar dan mata yang juling itu mendelik dan dia gelayaran seperti seekor ayam jago kena dijalu lawannya tepat pada lehernya.

Akan tetapi Bromatmojo memang tidak bermaksud membunuh mereka, maka dia membatasi tenaganya dan tamparannya itu pun hanya cukup untuk merobohkan orang tanpa membunuhnya.

Beberapa kali mereka berdua bangkit berdiri dan hendak lari,akan tetapi dengan tamparan dan tendangan Bromatmojo membuat mereka roboh lagi.

Semua pelacur kini berjubal di pintu, menonton ke luar dengan sinar mata kagum bukan main.

"Benar-benar dia Raden Arjuno..."

"Bukan, lebih pantas menjadi Raden Abimanyu, masih begitu remaja!"

Mereka berbantahan sendiri dan kini tidak merasa takut atau khawatir lagi setelah jelas tampak oleh mereka betapa dua orang "raksasa kerdil"

Itu sama sekali tidak berdaya mengeroyok Sang Arjuno.

"Hayo kalian berlutut dan minta ampun kepada Mbakayu Sri Winarti!"

Bentak Bromatmojo.

Akan tetapi pada saat itu datanglah sepasukan perajurit yang belasan orang jumlahnya.

Melihat kedatangan mereka, Reksosuro dan Darumuko bangkit kembali, semangat mereka menjadi besar lagi dan mereka segera berteriak-teriak.

"Tolong... tolong..."

"Penjahat ini hendak membunuh kami...!"

Belasan orang perajurit itu berlari-larian dan segera mengepung Bromatmojo.

Akan tetapi Bromatmojo tidak perduli, tetap dia merobohkan Darumuko dan Reksosuro setiap kali kedua orang ini hendak bangkit berdiri sambil menangkis dan merobohkan para pengeroyok lainnya.

Setiap orang perajurit yang berani datang mendekat tentu terlempar atau terguling dan kehebatan sepak-terjang Bromatmojo ini menggegerkan para perajurit yang menjadi jerih melihatnya.

Sedangkan Reksosuro dan Darumuko kini tidak berani bangkit lagi, hanya mendekam di atas lantai sambil menangis saking takutnya.

"Hayo kalian minta ampun kepada Mbakayu Sri Winarti!"

Bentak Bromatmojo berulang-ulang.

"Desss! Desss!"

Dua tendangan itu membuat dua orang itu untuk ke sekian kalinya terguling-guling.

Sudah bengkak-bengkak muka mereka, berdarah hidung mereka dan patah tulang pergelangan tangan mereka sehingga seluruh tubuh terasa nyeri semua.

Akan tetapi setelah kini datang pasukan yang menyaksikan, dua orang itu makin enggan untuk memenuhi permintaan Bromatmojo.

Mereka yang biasa berlagak dan menyombongkan diri di depan para perajurit, mana mungkin kini berlutut dan minta-minta ampun kepada seorang wanita yang tidak ada di situ?

Sungguh akan memalukan sekali dan tentu nama mereka sudah tidak akan laku dijual sekeping pun, dan akan menjadi buah tertawaan semua orang.

Tentu saja kekerasan hati dua orang itu membuat Bromatmojo menjadi makin gemas sekali.

Kalau saja kedua orang itu mau minta ampun dan menyebut nama mbakayunya,dia sudah akan merasa puas, karena sebetulnya dua orang ini hanyalah orang-orang sombong yang kosong belaka, yang terhadap semua orang yang dianggap lemah tentu akan bersikap menghina seperti yang telah mereka perlihatkan kepada jenazah mbakayunya dan kepada dirinya ketika dia masih kecil.

Kembali dia menendang dan sekali ini dia mengarahkan tendangannya ke kaki mereka.

"Krek! Krek!"

Terdengar tulang-tulang patah dan mereka mengaduh-aduh karena tulang kaki mereka tertendang patah.

Empat orang perajurit yang berusaha menolong dan mendekat, terlempar kembali oleh tamparan dan tendangan kaki Bromatmojo.

Kembali ada seorang perajurit berkelebat maju.

"Pergi kau!"

Bentaknya dan tangannya mendorong.

"Plakk!"

Terkejut bukan main Bromatmojo karena perajurit itu menangkis dan tangkisannya demikian kuatnya sehingga dia terdorong mundur! Cepat dia memandang dan alisnya berkerut.

"Kau...???"

Orang itu ternyata bukan seorang perajurit, melainkan Sutejo! Tentu saja Bromatmojo merasa heran, terkejut dan juga penasaran sekali.

"Kau... kau membela mereka?"

"Adi Bromo, hentikan amukanmu itu. Tidak baik menentang ponggawa-ponggawa Kerajaan Mojopahit,"

Tegur Sutejo dengan suara halus.

"Kakang Sutejo! Engkau tentu tahu siapa mereka ini! Mereka adalah Darumuko dan Reksosuro yang pernah kuceritakan kepadamu. Aku memang sengaja hendak menghajar mereka."

"Sudah cukup, Adi Bromo. Urusan pribadi tak perlu direntang panjang. Kalau sampai kau membunuh mereka, kau bisa dianggap sebagai seorang pemberontak terhadap Kerajaan Mojopahit!"

Memang tadinya sama sekali tidak ada niat di dalam hati Bromatmojo untuk membunuh mereka, akan tetapi melihat betapa Sutejo membela mereka, hatinya menjadi panas seperti dibakar.

Dia marah dan penasaran sekali!

Sutejo, teman seperjalanan yang selama ini bersama-sama dengan dia menghadapi kejahatan, yang berkelahi bahu-membahu menentang kejahatan, kini tiba-tiba saja berbalik dan menentang dia, membela dua orang musuhnya.

Hati siapa tidak akan panas?

"Tidak perduli mereka itu ponggawa Kerajaan Mojopahit atau ponggawa neraka sekali pun.

Aku mau menghajar mereka sampai mati atau tidak, tidak ada orang lain boleh mencampuri apalagi menentangku!"

Bentaknya dengan napas memburu saking marahnya.

Sutejo mengerutkan alisnya.

Dia amat suka kepada Bromatmojo, amat mengagumi pemuda yang tampan seperti Arjuno, yang cerdik bukan main dan yang biasanya berwatak jenaka, juga agak bengal suka menggoda orang, akan tetapi agak mata keranjang atau ceriwis terhadap wanita ini.

Akan tetapi, rasa sukanya itu kadang-kadang berkurang kalau Bromatmojo sudah bersikap merayu dan memikat wanita cantik, dan kini dia memandang marah karena Bromatmojo tidak mau diajak bicara baik-baik dan hendak memperlihatkan kekerasan kepalanya seperti yang pernah terjadi di antara mereka sehingga pernah mereka saling serang dengan hebat.

Kalau tidak muncul Joko Handoko dan Roro Kartiko, entah bagaimana jadinya dengan pertandingan hebat di antara mereka dahulu di dalam hutan itu.

Kalau dia mau, tentu dia akan dapat merobohkan dan melukai hebat pemuda tampan ini, akan tetapi sungguh hatinya tidak tega untuk melakukan itu dan Bromatmojo murid Supamandrangi itu memang sakti bukan main.

Dan kini, kembali Bromatmojo bersikap keras, bahkan menantangnya!

"Adi Bromo mengapa engkau selalu berkeras kepala?

Kita berada di luar tembok Kota Raja Mojopahit.

Tidak boleh engkau di sini bertindak sewenang-wenang.

Kalau kau dianggap pemberontak, selain engkau celaka, juga nama baikmu akan tercemar!"

Dinasihati seperti itu, Bromatmojo menjadi makin marah.

Dia teringat sekarang mengapa Sutejo datang bersama pasukan itu.

Sutejo adalah adik ipar Resi Mahapati,seorang ponggawa Kerajaan Mojopahit, seorang ponggawa Kerajaan Mojopahit yang berkedudukan tinggi!

Tentu saja kini Sutejo bersikap membela perajurit-perajurit Mojopahit termasuk Reksosuro dan Darumuko ini!

Hatinya makin panas.

"Kakang Tejo! Setelah kini engkau menjadi adik ipar Mahapati, engkau tentu menjadi kaki tangannya pula dan kau datang hendak membela dua orang jahanam ini? Majulah, siapa takut kepadamu, Sutejo?"

Bromatmojo sudah marah sekali, lebih marah lagi daripada dia cekcok dengan Sutejo di dalam hutan dahulu itu, karena sekarang hatinya merasa sakit bahwa Sutejo lebih berat kepada dua orang jahanam ini daripada dia!

"Adi Bromo wawasanmu sungguh terlalu.

Aku hanya tidak ingin melihat engkau membunuh ponggawa kerajaan dan dianggap pemberontak."

"Tak usah banyak cakap, mari kita lanjutkan pertempuran kita di hutan itu!"

Bromatmojo sudah menerjang dengan kemarahan yang meluap-luap.

"Hiaaattt....!"

Bromatmojo sudah menggunakan Aji Turonggo Bayu dan menyerang dengan pukulan-pukulan Hasto Bairowo yang amat dahsyat.

"Ehhh...!"

Sutejo mengenal pukulan yang mengandung aji kesaktian dahsyat itu,maka dia meloncat keluar, ke halaman yang lebih luas.

Akan tetapi Bromatmojo terus menerjangnya dan terjadilah pertempuran yang amat hebat di dalam halaman rumah pelacuran itu, ditonton oleh para perajurit.

Diam-diam Reksosuro dan Darumuko merangkak menjauhi dan mereka minta tolong kepada perajurit untuk memapah mereka pergi, juga mereka menyuruh perajurit untuk melapor dan minta bantuan untuk menangkap pemuda yang sakti mandraguna itu.

Ketika mendengar bahwa pemuda tinggi tegap yang baru datang dan yang kini melawan Bromatmojo dengan hebatnya itu adalah adik ipar dari Resi Mahapati, yaitu adik selir terkasih Lestari, mereka merasa heran akan tetapi bersyukur.

Entah akan apa jadinya dengan mereka kalau pemuda itu tidak cepat muncul.

Sementara itu, terpaksa Sutejo juga mengeluarkan kepandaiannya dan mengerahkan tenaganya untuk menandingi amukan Bromatmojo yang memang amat marah itu.

Kedua lengannya sampai terasa panas dan nyeri-nyeri karena seringnya bertemu dengan lengan Bromatmojo dan dalam kemarahannya, Bromatmojo sampai tidak merasakan betapa lengan kanan kirinya terasa panas, nyeri dan bengkak-bengkak semua!

Semenjak tadi, dia saja yang terus menyerang dan Sutejo hanya mempertahankan diri, mengelak dan lebih sering menangkis karena serangan pukulan-pukulan Bromatmojo terlalu cepat sehingga berbahaya kalau dielakkan terus, melainkan lebih baik dilawan dengan tangkisan yang sama kuatnya.

Hanya kadang-kadang saja Sutejo membalas dengan tamparan-tamparan ke arah bagian tubuh yang tidak berbahaya dari lawannya.

"Adi Bromo, sudahlah. Pergilah cepat!"

Berkali-kali Sutejo berkata lirih, akan tetapi hal ini merupakan minyak tanah yang disiramkan kepada api yang sudah berkobar sehingga kemarahan ini makin melangit.

Bromatmojo merasa seolah-olah Sutejo "mengalah"

Kepadanya, seolah-olah Sutejo mengasihinya dan bahkan mengusirnya!

Maka sambil menggigit bibir dan kedua matanya sudah panas-panas karena penuh air yang hendak membanjir keluar, dia menyerang makin dahsyat, kini seringkali mengeluarkan tamparan-tamparannya yang dapat mendatangkan maut, yaitu tamparan Hasto Nogo dengan tangan kiri!

Ketika untuk ke sekian kalinya dia memperoleh kesempatan, Bromatmojo melayangkan lagi tangan kirinya itu yang membawa angin berdesing saking kuatnya.

Sutejo cepat menggunakan tangan kanan memapaki.

"Derrrr...!!"

Seperti ledakan bunyinya kedua telapak tangan itu bertemu dan akibatnya, Sutejo terhuyung ke belakang dengan muka pucat sedangkan Bromatmojo terlempar dan terbanting keras! "Adi Bromo...!"

Sutejo melompat dan mengulur tangan hendak menolong Bromatmojo yang terbanting itu, akan tetapi tiba-tiba kaki Bromatmojo mencuat dan menendang.

"Desss...!"

Dada Sutejo kena ditendang dan pemuda ini gelayaran, dadanya terasa ampeg (sesak).

Bromatmojo sudah meloncat bangun lagi dan kini mendesak Sutejo dengan serangan-serangan kilat.

Pada saat itu, dari jauh nampak debu mengepul dan ternyata ada sepasukan besar perajurit datang menuju ke dusun itu!

"Celaka...!

Adi Bromo, cepat kau lari!

Ada pasukan besar datang, engkau tentu akan tertangkap dan celaka.

Cepatlah, aku...

aku sayang padamu, Adi Bromo!"

Kata Sutejo sambil meloncat mundur, tidak mau lagi melayani serangan Bromatmojo.

Bromatmojo menoleh dan melihat datangnya pasukan itu.

Kalimat terakhir yang diucapkan Sutejo membobolkan bendungan itu dan air matanya pun bercucuran.

Dengan isak tertahan dia membalikkan tubuhnya dan melompat dengan Aji Turonggo Bayu, melarikan diri dari tempat itu.

Tubuhnya berkelebat seperti tatit dan sebentar saja bayangannya lenyap.

Sutejo berdiri bengong, telinganya masih mendengar gema tangis Bromatmojo.

Dia menarik napas panjang dan menggeleng-geleng kepala.

Pemuda itu hebat sekali memang.

Akan tetapi pemuda yang amat aneh,begitu gagah perkasa, begitu lemah lembut, tampan, akan tetapi kadang-kadang amat pemarah dan juga...

cengeng!

Benar-benar seorang pemuda yang amat luar biasa dan aneh.

Hati Sutejo lega ketika Bromatmojo sudah tidak kelihatan lagi.

Dia percaya bahwa tidaklah mudah untuk mengejar seorang yang memiliki Aji Turonggo Bayu seperti pemuda tampan itu.

Dia lega karena dia melihat bahwa pasukan itu dipimpin oleh Sang Resi Mahapati sendiri!

Kalau Bromatmojo masih berada di situ, tentu akan repotlah dia!

Di mana dia, Adimas Sutejo?"

Mahapati bertanya, matanya memandang penuh perhatian ke kanan kiri. Sutejo menarik napas panjang.

"Dia sudah pergi, Kakangmas Resi."

"Kenapa tidak kau tangkap?"

Sutejo menggeleng kepala.

"Tidaklah mudah menangkap seorang yang memilki kesaktian seperti Adi Bromatmojo. Dan dia memiliki ilmu berlari cepat Turonggo Bayu yang sukar dilawan. Pula, dia sahabatku, perlu apa ditangkap? Keributan ini hanyalah karena urusan pribadi."

Resi Mahapati mengerutkan alisnya.

"Akan tetapi, dia ada hubungannya dengan keris pusaka Kolonadah..."

"Benar, Kakangmas Resi. Akan tetapi percayalah kepada saya, dia tidak membawa pusaka itu. Saya tahu benar dan melihat sendiri betapa keris pusaka itu dia tinggalkan kepada Empu Singkir. Sungguh sayang, setelah saya berhasil mencari Adi Bromo di sini, sebelum sempat menasihatinya dan membujuknya agar dia suka membantu usaha kita berbakti kepada Mojopahit, dia telah keburu marah-marah. Semua ini hanya karena ulah tingkah dua orangmu itu, Kakangmas Resi."

Sutejo merasa menyesal sekali.

"Siapa mereka, Dimas?"

"Reksosuro dan Darumuko. Hampir saja mereka dibunuh oleh Adi Bromatmojo, kalau saya tidak keburu datang tentu mereka sudah mati."

"Panggil mereka ke sini!"

Bentak Mahapati kepada pengawalnya.

"Mereka berdua luka-luka dan tidak bisa jalan, Sang Resi,"

Lapor seorang perwira.

"Seret dia ke sini!"

Bentak Resi Mahapati.

Tak lama kemudian, dua orang yang bengkak-bengkak dan berdarah mukanya, yang hanya dapat bergerak ketika dipapah itu telah berlutut di depan Resi Mahapati dengan muka membayangkan ketakutan.

"Apa yang kalian lakukan di sini?"

Bentak Resi Mahapati "Am...ampun Gusti... hamba berdua... eh, mencari hiburan..."

Kata Reksosuro mewakili mereka karena Darumuko sudah tak mampu bersuara saking takutnya.

"Kenapa ribut dengan pemuda itu?"

"Dia... dia yang datang mencari hamba berdua... dia... memukul hamba berdua..."

"Kenapa?"

"Katanya... katanya dia disuruh oleh... mendiang Sri Winarti yang membunuh diri dengan pusaka Kolonadah itu untuk menghajar hamba berdua..."

Resi Mahapati mengerutkan alisnya, tidak jadi marah kepada dua orang kepercayaanya itu, lalu menoleh kepada Sutejo.

"Dimas Sutejo, kiranya sahabatmu itulah yang sengaja datang untuk membikin ribut."

"Memang sudah dia ceritakan kepada saya, Kakangmas Resi. Dua orang ini dahulu pernah menghina jenazah mbakayunya yang bernama Sri Winarti dan karena itulah maka mereka ini dia cari untuk dihajar, membalaskan penghinaan itu. Kalau tidak gara-gara mereka ini, tentu saya sudah dapat bicara dengan dia dan meyakinkan hatinya untuk membantu kita."

"Saya... kami... tidak bersalah..."

Darumuko berkata gagap dan memandang kepada Sutejo dengan marah.

"Dess! Desss!"

Tubuh mereka terpental dan bergulingan kena ditendang oleh Resi Mahapati.

"Sekali ini kuampuni kalian. Lain kali kalau kalian melakukan sesuatu tanpa perintahku sehingga merugikan keadaan, kalian tentu akan kuhukum mati!"

Bentaknya.

"Mari, Dimas Sutejo, kita kembali saja."

Sutejo mengangguk dan mengikuti Kakak iparnya itu kembali ke kota raja.

Bagaimana ini?

Benarkah dugaan Bromatmojo bahwa Sutejo telah menjadi kaki tangan Mahapati?

Tidak sepenuhnya seperti yang disangka oleh Bromatmojo.

Memang benar bahwa Sutejo kini membantu Mahapati, akan tetapi sama sekali bukan untuk mencari kedudukan, sama sekali bukan karena pengaruh harta benda dan kemuliaan, bukan pula karena Mahapati adalah Kakak iparnya.

Dia membantu Mahapati setelah mendengar bujukan-bujukan Mahapati yang amat cerdik itu.

Dibantu oleh Lestari, Mahapati berhasil membujuk Sutejo untuk membantunya dengan alasan bahwa Mahapati berjuang mencari Kolonadah demi keselamatan Mojopahit!

Mahapati menceritakan betapa dia telah membela Mojopahit ketika terjadi pemberontakan-pemberontakan Adipati Ronggo Lawe, kemudian pemberontakan Lembu Sora.

Dan dari Mbakayunya, Sutejo mendengar bahwa Mahapati amatlah berbudi dan bijaksana, amat mencinta Mbakayunya itu, dan atas bantuan Mahapati pulalah Mbakayunya berhasil membalas dendam keluarganya kepada Progodigdoyo!

"Sekarang Kolonadah terjatuh ke tangan musuh,"

Demikian kata Resi Mahapati di antara bujukan-bujukannya, disaksikan oleh Lestari.

"Tentu oleh Ki Ageng Palandongan dibawa ke Lumajang. Di sanalah pusat orang-orang yang merasa tidak senang kepada Mojopahit, di sanalah sarang orang-orang yang mengandung hati khianat dan memberontak, diketuai oleh Aryo Wirorojo, Ayah mendiang Ronggo Lawe yang tentu selalu menaruh dendam kepada Mojopahit. Di sana pula larinya sisa-sisa pengikut Ronggo Lawe dan Lembu Sora. Karena itu, Dimas Sutejo, setelah Kolonadah dilarikan ke Lumajang, maka gawatlah keadaannya. Kolonadah itu adalah pusaka yang khusus diciptakan oleh Maha Empu Supamandrangi untuk raja! Akan tetapi oleh Ronggo lawe dikuasainya sendiri! Dan sekarang pusaka itu berada di Lumajang. Kita sebagai orang-orang gagah, sebagai kawula Mojopahit yang setia, berkewajiban untuk mempertahankan kejayaan Mojopahit. Kalau sudah begitu, barulah tidak sia-sia engkau mempelajari ilmu, Dimas Sutejo."

Sutejo menundukkan mukanya sehingga dia tidak melihat betapa Mahapati memberi isyarat dengan sinar matanya kepada Lestari.

Mbakayunya itu lalu mendekatinya, menaruh tangan di pundak Adiknya dengan mesra, lalu berkata.

"Tejo, Adikku sayang. Semua yang diucapkan oleh Kakak iparmu itu benar belaka. Kalau tidak ada dia, entah sudah bagaimana jadinya dengan diriku, dan kalau tidak karena bantuannya, entah bagaimana pula aku dapat membalas dendam keluarga kita terhadap Progodigdoyo. Kita berhutang budi kepada Kakangmas Resi Mahapati, Tejo."

"Ah, jangan bicara tentang budi, Diajeng Lestari. Aku cinta padamu dan semua yang kulakukan untukmu itu adalah demi cintaku, jadi bukan budi, memang sudah semestinya demikian,"

Kata Resi (Lanjut ke

Jilid 20) Kemelut Di Majapahit (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 20 Mahapati yang pandai sekali bicara dan bersikap tepat.

Sutejo makin termenung.

Dia teringat akan mendiang Ayahnya.

Nama Lembu Tirta adalah nama seorang pahlawan, seorang pembela kerajaan yang setia.

Dan sekarang, dia sebagai keturunan pahlawan itu melihat betapa Mojopahit terancam bahaya seperti yang diceritakan oleh Resi Mahapati.

Memang ada rasa tidak senang melihat kenyataan bahwa Mbakayunya hanya menjadi selir seorang yang sudah tua seperti Resi ini, akan tetapi dia harus mengesampingkan perasaan demi urusan pribadi dan keluarga, dan mementingkan pembelaan Mojopahit!

"Aku mendengar dari Kakang Resi Harimurti bahwa sahabatmu itu, pemuda tampan itu,juga memiliki kesaktian heabat, bahkan kabarnya dia adalah murid Empu Supamandrangi sendiri, pencipta pusaka Kolonadah.

Alangkah baiknya kalau kau dapat menarik dia agar bersama dengan kita berbakti kepada Mojopahit, Adimas Sutejo."

Sutejo yang berwatak polos dan wajar itu, yang masih belum banyak mengenal manusia sehingga dia tidak tahu bahwa di dunia ini jauh lebih banyak terdapat manusia yang curang, palsu dan jahat daripada yang jujur, wajar dan baik, mudah saja terkena bujukan Resi Mahapati dan Lestari.

Mengapa pula Lestari ikut membujuk Adiknya?

Sudah tentu saja!

Wanita ini tidak ingin melihat Adiknya bermusuhan dengan suaminya, dia ingin agar Adiknya itu selalu berada di dekatnya dan tidak akan berpisah lagi.

Selain itu, juga dia mempunyai cita-cita sendiri,yaitu dia hendak membasmi semua ponggawa Mojopahit yang amat dibencinya, ponggawa-ponggawa Mojopahit rekan-rekan Progodigdoyo yang mendiamkan saja ketika keluarganya dihancurkan!

Dan untuk dapat melaksanakan cita-cita itu, dia harus lebih dulu mempergunakan Mahapati yang sudah jatuh di bawah telapak kakinya.

Maka dia ingin melihat adiknya membantu pula, membantu terlaksananya cita-citanya demi untuk membalas dendam Ayah dan Ibu mereka.

Karena itulah maka dia turut membujuk, seolah-olah dia merasa setuju dengan siasat suaminya sehingga tentu saja hati Resi Mahapati menjadi makin jatuh karena hal ini dianggapnya sebagai kesetiaan dan cinta kasih dari Lestari kepadanya.

Demikianlah, setelah terkena bujukan Kakak ipar dan Mbakayunya, pada keesokan harinya Sutejo keluar diiringi pasukan untuk mencari Bromatmojo dan akhirnya seorang perajurit memberi tahu kepadanya bahwa temannya itu berada di dusun Pemintihan di rumah ledek Madumirah.

Bersama pasukan itu pergilah Sutejo menyusul ke sana sehingga terjadi perkelahian hebat antara dia dan Bromatmojo.

Hatinya terasa kecewa dan cemas sekali ketika dia pulang bersama Kakak iparnya,memikirkan Bromatmojo yang kini menganggapnya sebagai musuh.

Namun, karena dia merasa betapa dia memikul tanggung jawab dan kewajiban yang berat, juga amat penting, yaitu berdarma bakti kepada kerajaan, maka ditanggunglah derita batin itu dan dia mengesampingkan urusan pribadinya dengan Bromatmojo.

Sama sekali dia tidak tahu bahwa pada waktu itu ada dua orang lain yang merasa amat benci kepadanya.

Mereka ini adalah Reksosuro dan Darumuko!

"Huh, mentang-mentang menjadi Adik ipar Sang Resi, begitu datang dia sudah berani panjang mulut sehingga kita ditendang oleh Sang Resi!"

Darumuko mengomel ketika dia dan Reksosuro rebah di atas pembaringan dalam satu kamar di rumah pelacuran itu, dirawat oleh germo Madumirah yang memanggil dukun untuk mengobati tulang mereka yang patah-patah dan luka-luka lainnya.

"Dan dia itu kurasa hanya pura-pura saja baik kepada Sang Resi!"

Kata Reksosuro. Darumuko menoleh dan memandang kepada temannya.

"Apa katamu, Kakang Reksosuro? Apa yang kau maksudkan dengan kata-kata itu?"

"Hemm, apakah kau tidak melihat, Adi Darumuko? Kalau dia betul-betul setia kepada Sang Resi, tentu dia sudah menangkap atau setidaknya merobohkan bocah bernama Bromatmojo itu. Dia begitu sakti dan Bromatmojo itu, hemm... amat mencurigakan sekali. Tentu ada hubungan antara Sutejo ini dengan dara itu."

"Dara? Siapa yang kau maksudkan?"

Tanya Darumuko makin heran.

"Siapa lagi kalau bukan Bromatmojo itu,"

Jawab Reksosuro, meringis karena kakinya terasa nyeri bukan main, rasa nyeri yang menusuk ke ulu hatinya.

"Eh? Bukankah dia seorang pria, seorang pemuda yang amat sakti?"

Darumuko bertanya sambil membelalakkan matanya yang liar.

"Ha-ha, dia boleh mengelabuhi orang lain, akan tetapi aku adalah seorang laki-laki yang sudah kenyang bermain dengan wanita! Sejak berusia belasan tahun aku sudah banyak bergaul dengan wanita, sampai sekarang entah sudah berapa ribu orang wanita yang kugauli. Dan dia hendak mengelabuhi aku? Huh, tidak mungkin! Kulit mukanya begitu halus, matanya begitu bening, alis matanya kecil panjang, bulu matanya lentik, hidungnya kecil, bibirnya merah basah dan mungil, giginya pun keci-kecil, lehernya jenjang tanpa kalamenjing, rambutnya begitu panjang halus sekali, hemm, ketika kita melawan dia, apakah tidak tercium olehmu, Adi Darumuko?"

"Tercium apanya?"

"Ah, percuma saja engkau selama ini menjadi serigala penerkam wanita! Kiranya masih hijau. Tentu saja bau badannya, bau keringatnya!"

"Eh, apa bedanya?"

"Tentu saja beda! Wanita memiliki ciri bau yang khas, seperti juga pria, dan aku sudah hafal akan bau badan wanita..."

Darumuko terbelalak memandang kepada temannya dengan kagum.

Tak disangkanya temannya itu mempunyai pengetahuan begitu mendalam tentang wanita!

"Eh, Kakang Reksosuro, katakan kepadaku, bagaimanakah baunya?"

"Bau wanita mengandung bau seperti air susu, seperti bau bayi dan kembang, sedangkan bau pria mengandung bau seperti binatang jalang."

"Wah, kau pandai sekali, Kakang."

"Hemm, siapa bilang aku bodoh? Bukan itu saja yang kuketahui, akan tetapi untuk membuktikan kebenaran dugaanku, mari kita tanya kepada Si Tanjung. Njunggg...! Tanjungggg...! Ke sinilah sebentar!"

Dia berteriak keras dan tak lama kemudian terdengar suara menyahut dari luar, daun pintu kamar terbuka dan masuklah wanita muda berbaju merah yang tadi paling hebat merayu Bromatmojo.

"Ada apakah, Kakangmas Reksosuro?"

Tanya wanita itu, menekan perasaan tak senangnya kepada dua orang kasar itu.

"Anu, nduk cah ayu, engkau tadi sudah berdekatan dan bersentuhan dengan pemuda bernama Bromatmojo tadi. Nah, katakanlah terus terang, bagaimana kesanmu tentang dia?"

Dua orang itu memandang tajam penuh selidik ke arah wajah dan bibir wanita itu, menanti keluarnya jawaban.

"Kesan apa?"

Tanya wanita itu terheran-heran dan juga khawatir karena dia tidak mau tersangkut setelah melihat betapa Bromatmojo dimusuhi oleh para perajurit bahkan Sang Resi Mahapati sendiri tadi datang mencarinya.

"Jangan takut, katakan terus terang. Kau tadi sudah mencium pipiya, bukan? Dan meraba-raba badannya? Apakah tidak ada sesuatu yang luar biasa pada orang itu?"

Tanya Reksosuro memancing.

"Tidak... hanya dia... eh, tampan sekali, terlalu tampan..."

Jawab Tanjung mengingat-ingat dengan penuh dendam birahi.

"Terlalu tampan bukan? Terlalu halus kulitnya, bukan? Herankah kau kalau kukatakan bahwa dia itu seorang perempuan?"

Desak Reksosuro.

"Perempuan? Ya, Dewa Bathara...! Perempuankah dia? Ah, Andika benar juga, Kakangmas Reksosuro. Gerak-geriknya, senyumnya, pandang matanya... ah, pantas dia tampan bukan main. Dia mestinya seorang gadis yang cantik jelita. Aih,mengapa kami begitu bodoh? Akan tetapi, kalau perempuan... ah, dia begitu sakti..."

"Ha-ha-ha, apa kataku, Adi Darumuko? Nah, pergilah, Tanjung, sudah cukup keteranganmu, ha-ha-ha!"

Reksosuro tertawa-tawa girang sekali karena kini dugaannya dibenarkan dan diperkuat oleh Tanjung yang sebagai seorang wanita tentu akan mengenal kaumnya.

Tanjung cepat pergi meninggalkan kamar itu dengan hati lega.

Dia sudah khawatir kalau-kalau dua orang pria kasar itu akan minta dilayani, biar dalam keadaan seperti itu dan dia merasa jijik untuk melakukannya.

"Wah, engkau memang hebat, Kakang! Dan apalagi yang kau ketahui tentang dara yang menyamar sebagai laki-laki itu?"

"Ada lagi, lebih hebat!"

Jawab Reksosuro sambil tersenyum bangga.

"Biarpun dia telah menghajar kita, akan tetapi kita rugi. Aku telah tahu rahasianya, dan biar Sutejo itu tahu rasa! Tentu dia kekasih dara itu, tak salah lagi, dan pertempuran antara mereka itu agaknya hanya pura-pura saja! Aku tahu siapa dara itu."

"Eh, benarkah? Siapa dia, Kakang?"

"Kita berdua sudah seringkali bertemu dengan dia."

"Eh, aku tidak ingat lagi... siapa sih?"

"Ingat baik-baik, Adi Darumuko. Pernahkah keris pusakaku Kyai Bandot tidak mempan menusuk tubuh orang? Hanya satu kali sebelum ini, ingat saja."

"Ya, aku ingat pengalaman pahit itu. Ketika kau mempergunakannya menyerang Setan Jembros."

Benar, kau cerdik juga!

Nah, bukankah orang tadi pun sama kebalnya dengan Setan Jembros?

Tentu dia murid Setan Jembros!

Dan kau ingat anak perempuan dulu itu yang ditolong Setan Jembros dan menjadi muridnya?

Dia tadi datang untuk membalaskan dendam Sri Winarti, bukan?

Lupakah kau akan bocah perempuan bernama Sulastri, Adik Sri Winarti itu?

Dan dia tadi menyebut Sri Winarti sebagai Mbakayunya."

Makin lama makin berseri wajah Darumuko dan tiba-tiba dia menggebrak amben yang ditidurinya.

"Brakk! Kau betul... aduhhh..."

Dia menyeringi karena saking gembiranya dia sampai lupa dan hampir saja dia terloncat bangun sehingga gerakan itu membuat kaki dan tangannya yang patah tulang itu nyeri bukan main, kiut miut rasanya menyusup ke tulang-tulang sumsum.

"Jelaslah. Dia itu Sulastri, anak perempuan yang dulu itu! Dan pernah pula Ki Ageng Palandongan menolongnya ketika kita menangkapnya. Nah, jelas sekarang. Dan keris pusaka Kolonadah kabarnya dilarikan oleh Ki Ageng Palandongan. Tentu mereka itu sekomplotan! Sekomplotan yang diutus dari Lumajang. Tidak salah lagi. Dan Sutejo ini pun tentulah kaki tangan Lumajang!"

Kata Reksosuro.

"Hati-hati, Kakang, dia adalah adik dari Lestari, selir terkasih Sang Resi."

"Tentu saja. Cukup kita secara diam-diam melaporkannya kepada Sang Resi saja. Laporan ini penting sekali bagi Sang Resi dan tentu kemarahannya terhadap kita akan berubah menjadi pujian, dan tentu dia akan terus diawasi. Rasakan engkau, Sutejo, engkau telah membikin celaka kami, dan kelak kami akan membalasnya, tunggu saja!"

Demikianlah, rahasia penyamaran Bromatmojo telah dapat diketahui oleh dua orang ini sehingga tanpa disadarinya sendiri, Sutejo terancam bahaya dari fihak Kakak iparnya sendiri yang tentu saja mencurigainya dan selalu mengawasi gerak-geriknya setelah mendengar laporan dari dua orang itu, sungguh pun pada lahirnya Resi Mahapati tetap bersikap ramah.

Resi Mahapati terkejut juga ketika mendengar pelaporan dua orang itu yang disampaikan secara rahasia dan tidak diketahui oleh orang lain.

Setelah menyatakan kegembiraannya dan memberi hadiah kepada dua orang itu dengan pesan agar hal itu dirahasiakan, Sang Resi Mahapati termenung.

Dia masi ragu-ragu.

Benarkah Sutejo tersangkut dalam komplotan itu dan menjadi mata-mata Lumajang?

Dia harus berhati-hati dan menyelidiki hal ini sedalam-dalamnya.

Jadi Bromatmojo itu adalah anak perempuan, adik dari wanita yang membunuh diri menggunakan Kolonadah?

Murid Eyang Empu Supamandrangi?

Kalau begitu sungguh sayang dia tidak dapat menangkapnya.

Dan bagaimana dengan Sutejo?

Benarkah Sutejo tidak mampu menangkapnya ketika mereka bertempur?

Ataukah Sutejo sengaja melepaskannya?

Dia harus menyelidiki, katanya dalam hati sambil mengepal tinju.

Dan dia tidak akan memberitahukan hal ini kepada Lestari.

Sebaliknya, dia menarik Resi Harimurti dan membisikinya tentang rahasia itu.

Hanya mereka berdua, Reksosuro dan Darumuko saja yang mengetahui akan hal itu.

"Kau manusia bodoh..., kau manusia tolol dan lemah... ohhh... Sulastri, kau benar-benar tolol...!"

Bromatmojo menjambak rambutnya sendiri sambil berjalan di dalam hutan itu dan menangis.

Dia masih marah, kecewa, berduka dan penasaran setelah tadi lari meninggalkan dusun Pemintihan.

Ketika dia mendapat kenyataan betapa perasaan hatinya merasa trenyuh, sunyi, berduka dan kecewa karena Sutejo kini memusuhinya dan jauh dari padanya, tangisnya menjadi-jadi dan dia memaki dirinya sendiri.

"Engkau cinta padanya... ah, gadis bodoh, engkau cinta padanya...!"

Kini dia menghentikan langkahnya, bersandar pada batang pohon randu yang halus kulitnya itu sambil menangis.

Terbayanglah semua keakraban antara dia dan Sutejo selama dalam perjalanan berdua itu, semua kebaikan-kebaikan Sutejo terhadap dirinya dan tangisnya makin mengguguk.

"Kakang Tejo... engkau kejam padaku, Kakang, ah, kenapa engkau kejam padaku...?"

Setelah semua kesedihannya diluapkan melalui tangisan yang tidak ditahan-tahan,karena betapa seringnya dia menahan tangis selama bersama Sutejo, hatinya terasa agak ringan dan akhirnya dia duduk di atas batu di bawah pohon randu itu,termenung dan kadang-kadang masih terisak sebagai sisa tangis tadi.

Mulailah dia berpikir dan perasaannya makin ringan ketika dia teringat bahwa Sutejo melakukan hal itu karena belum tahu bahwa dia adalah seorang wanita.

Bagaimana kalau pemuda itu mengetahuinya?

Ah, tidak, dia tidak akan membuka rahasianya.

Selain memalukan, juga akan makin menyakitkan hati saja kalau pemuda itu tetap tidak senang dan marah kepadanya.

Kini Sutejo telah menjadi kaki tangan Mahapati!

Kenyataan ini sungguh menyakitkan hatinya karena dia tahu sekarang bahwa dia telah jatuh cinta kepada pemuda itu!

Tadinya, ketika mereka masih bersama-sama,dia hanya merasa suka sekali kepada pemuda itu, dan kini setelah mereka cekcok dan berpisah, baru dia tahu dari penderitaan batinnya bahwa dia mencinta pemuda itu!

Teringat semua olehnya betapa dia cemburu sekali kepada Roro Kartiko ketika mengira bahwa Sutejo mencinta puteri itu!

"Kakang Tejo, aku cinta padamu, akan tetapi jalan hidup kita bersimpang...!"

Dia mengeluh.

Akan ke manakah dia sekarang setelah dia berpisah dari pemuda itu?

Hidup seolah-olah menjadi begini sepi tanpa tujuan!

Kemudian dia teringat tugas yang diberikan oleh Gurunya kepadanya.

Dia harus mencari Kolonadah.

Bukankah Gurunya mengutusnya untuk menyerahkan keris pusaka Kolonadah itu kepada Pangeran Kolo Gemet, putera Sang Prabu yang menjadi Pangeran Pati atau Pangeran Mahkota?

Dan sekarang Kolonadah dilarikan oleh Ki Ageng Palandongan.

Akan tetapi sebelum mencari ke Lumajang, dia akan mencari Gurunya yang pertama lebih dulu.

Ki Jembros!

Dalam keadaan sepi seperti itu, tiba-tiba saja dia teringat kepada Ki Jembros.

Ingin dia berjumpa dengan kakek itu, menyampaikan semua keluhan hatinya,menyampaikan semua isi hatinya dan minta nasihat dari kakek yang aneh namun bijaksana dan amat mencintanya itu.

Ke Pegunungan Pandan!

Dahulu, di sanalah dia meninggalkan Gurunya itu yang katanya hendak beristirahat dan berobat bersama anak buah dua orang gagah yang menjadi pelarian Mojopahit, yaitu Raden Gajah Biru dan Juru Demung yang gagah perkasa.

"Benar,"

Pikirnya.

"Seorang diri saja mencari Kolonadah tentu akan sukar. Aku dapat minta bantuan Eyang Jembros, paman-paman yang gagah perkasa itu. Dan aku akan minta bantuan Eyang Jembros untuk menghadapi Resi Mahapati, untuk menginsyafkan Kakang Sutejo bahwa dia membantu orang jahat!"

Dengan pikiran ini yang menjadi keputusan hatinya, berangkatlah Sulastri atau karena dia masih berpakaian sebagai pria lebih tepat menyebutnya Bromatmojo,menuju ke Pegunungan Pandan di sebelah utara Mojopahit.

Dia melakukan perjalanan cepat dan dengan hati penuh harapan.

Akan tetapi, ketika dia tiba di Pegunungan Pandan beberapa hari kemudian, sunyi saja di pegunungan itu.

Bahkan dia tidak bertemu dengan seorang pun ketika dia tiba di tempat yang dulu dijadikan markas oleh Gajah Biru dan kawan-kawannya.

Dia masih ingat betul bahwa di tempat itulah dia dahulu berusaha mencuri ketan untuk Ki Jembros.

Akan tetapi rumah itu telah rusak-rusak dan kosong, tidak ada orangnya sama sekali.

Dengan hati kecewa Bromatmojo meninggalkan tempat itu, akan tetapi dia masih terus melakukan penyelidikan di sekitar Pegunungan Pandan.

Ternyata hanya sedikit saja orang yang tinggal di sekitar kaki pegunungan itu, dan dusun-dusun yang berada di lereng-lereng gunung telah kosng ditinggalkan para penghuninya.

Dan sedikit kelompok orang yang tinggal di kaki gunung adalah pendatang-pendatang baru yang tidak mengenal nama Ki Jembros, Gajah Biru atau pun Juru Demung.

Penghuni-penghuni lama sebagian besar ikut dalam pemberontakan dan tewas,sedangkan keluarganya yang tidak ikut telah melarikan diri takut kalau tersangkut.

Di bagian mana pun di dunia ini, dalam jaman apa pun, perang merupakan peristiwa yang paling jahat dan busuk di antara manusia.

Bukan hanya karena perang menjatuhkan korban manusia di kedua fihak, akan tetapi lebih dari itu.

Juga keluarga mereka yang tidak turut apa-apa akan terkena getahnya, ada yang ditangkap, dibunuh, difitnah dan dipermainkan.

Kalau tidak begitu, karena kepala keluarganya mati, maka wanita-wanita menjadi janda dan keluarga kehilangan mata pencaharian.

Dan masih banyak akibat-akibat dari perang yang amat jahat, yaitu munculnya kekacauan dan kekerasan, munculnya penjahat-penjahat yang mempergunakan kesempatan memancing di air keruh, munculnya pejabat-pejabat yang mempergunakan kedudukan dan kekuasaannya untuk menekan rakyat dengan dalih apa pun untuk menakut-nakuti mereka demi tercapainya kesenangan yang diinginkannya,pemerasan, perkosaan, dan lain sebagainya.

Dan lebih mengenaskan lagi, rakyat yang tak terhitung banyaknya itu, manusia-manusia itu, berperang karena digerakkan oleh beberapa gelintir orang pula yang kebetulan duduk di atas!

Manusia-manusia menjadi semacam boneka yang tidak berdaya menurut saja disuruh saling bunuh demi tercapainya kemenangan beberapa gelintir orang yang berkuasa itu, yang menutupi keinginannya untuk menang itu dengan slogan-slogan dan kata-kata indah dan suci.

Perang terjadi di mana-mana di dunia ini, di jaman apa pun, dan selalu didengungkan alasan-alasan yang amat baik untuk itu!

Bahkan tidak jarang alasannya adalah untuk menciptakan damai!

Menciptakan damai dengan jalan perang!

Betapa gilanya ini!

Namun, kita hidup di dalam kekerasan sejak nenek moyang kita.

Kita dilatih sejak kecil untuk menang, menang, menang!

Dalam hal apa pun juga, kita dididik untuk jangan kalah oleh orang lain!

Tentu saja dorongan atau hasrat untuk menang ini selalu menimbulkan kekerasan.

Hal ini dapat kita lihat setiap saat, setiap hari di sekitar kita, dapat kita lihat semenjak dalam kehidupan anak-anak.

Sekelompok anak-anak akan bermain tari-tarian atau nyanyi-nyanyian dengan rukun dan damai,akan tetapi begitu semacam permainan mereka lakukan, permainan di mana terdapat kemenangan dan kekalahan, maka timbullah percekcokan dan perkelahian!

Karena tidak berhasil mencari keterangan tentang Ki Jembros, akhirnya Bromatmojo mengambil keputusan untuk melanjutkan saja perjalanannya ke Lumajang.

Maka dia lalu kembali ke selatan untuk kemudian melanjutkan perjalanannya ke timur.

Dua hari kemudian ketika dia sedang berjalan di hutan sebelah utara Sungai Tambakberas, dekat perbatasan timur antara wilayah Tuban dan Mojopahit, dia mendengar teriakan-teriakan orang bertempur.

Bromatmojo mempercepat jalannya,bahkan dia lalu berlari menuju ke suara itu dan terkejutlah dia melihat bahwa yang bertempur adalah Joko Handoko, Roro Kartiko yang dibantu oleh tujuh orang wanita anggauta-anggauta Sriti Kencana, dikeroyok oleh dua puluh orang lebih perajurit Tuban yang dipimpin oleh Gagaksona dan Klabang Curing!

Di tengah-tengah tempat pertempuran itu nampak sebuah kereta di mana duduk seorang wanita setengah tua yang cantik dan bersikap tenang, menonton pertempuran itu dengan alis berkerut namun tidak memperlihatkan ketakutan.

Wanita itu adalah Sariningrum, ibu dari Joko Handoko dan Roro Kartiko, yang sedang mereka kawal untuk melarikan diri dari Tuban.

Karena jumlah musuh lebih banyak dan dua orang pemimpin mereka, terutama Gagaksona, memiliki kepandaian tinggi, maka pihak Joko Handoko terdesak hebat.

Melihat ini, Bromatmojo berteriak keras dan terjun ke dalam pertempuran,mengamuk dan sekali bergerak dia telah merobohkan empat orang perajurit pengeroyok!

Melihat munculnya Bromatmojo, tentu saja putera-puteri Progodigdoyo itu menjadi girang sekali dan demikian pula anak buah Sriti Kencana.

Mereka kini bertempur dengan semangat berkobar.

"Kakangmas Joko! Diajeng Roro! Serahkan dua ekor celeng (babi hutan) ini kepadaku!"

Teriak Bromatmojo sambil menerjang ke depan, menendang ke arah Gagaksona dan menampar ke arah Klabang Curing dengan dahsyat. Dua orang itu terkejut dan cepat meloncat ke belakang.

"Terima kasih, Kakangmas Bromatmojo!"

Roro Kartiko berkata dengan kedua pipi merah dan mata bersinar-sinar, lalu bersama Kakaknya dia membantu anak buah mereka, mengamuk di antara para perajurit Tuban.

Gagaksona dan Klabang Curing mengenal Bromatmojo yang pernah mereka lawan itu.

Tentu saja mereka menjadi marah sekali, juga girang karena inilah pemuda yang dulu menggali lubang kuburan dan menemukan keris pusaka Kolonadah!

Maka dengan keris di tangan, kedua orang itu lalu menerjang dengan hebat, mengeroyok Bromatmojo dari kanan kiri.

Boleh jadi Gagaksona merupakan lawan yang agak berat bagi Joko Handoko atau Roro Kartiko, akan tetapi dia adalah lawan yang ringan saja bagi Bromatmojo, biarpun dia masih dibantu oleh Klabang Curing.

Melihat bahwa dua orang temannya itu masih dikeroyok oleh banyak perajurit lawan, maka Bromatmojo tidak mau membuang banyak waktu dalam menandingi dua orang lawannya.

Dia tidak memandang kepada keris di tangan mereka, ketika mereka menyerang, dia malah maju memapaki dengan kedua tangan kosong, menyambut keris-keris itu dengan tamparan Hasto Bairawa!

"PLAK!

Plak!"

Dua orang itu terpental ke belakang dengan mata terbelalak.

Keris di tangan mereka tentu saja mengenai lengan Bromatmojo, namun lecet sedikit pun tidak kulitnya, rontok sehelai pun tidak bulunya, bahkan mereka merasa seolah-olah mereka tertiup badai yang dahsyat, yang membuat keris mereka membalik dan tubuh mereka terpental.

Tentu saja mereka kaget dan juga marah, penasaran, lalu sambil mengeluarkan gerengan seperti dua ekor singa mereka maju menubruk lagi dengan keris mereka.

"Robohlah kalian!"

Bentak Bromatmojo dan kedua tangannya menyambut tanpa memperdulikan tusukan keris lawan.

"Dess! Dess!!"

"Aduh...!"

Gagaksona terguling.

"Tobaaattt...!"

Klabang Curing juga terlempar dan terbanting.

Keduanya setengah klenger (pingsan) dan hanya dapat mengeluh panjang pendek memegangi kepala mereka yang seperti hendak pecah rasanya, telinga mereka penuh dengan suara terngiang-ngiang, mata mereka hanya melihat warna merah.

Bromatmojo lalu membantu kakak beradik itu mengamuk.

Tentu saja para perajurit Tuban menjadi gentar.

Memang di dalam hati, mereka sudah agak enggan untuk melawan Joko Handoko dan Roro Kartiko, putera-puteri bekas bupati mereka itu.

Mereka mengenal dua orang kakak beradik ini sebagai dua orang muda yang gemblengan dan juga amat baik.

Hanya karena terpaksa saja mereka tadi menurut perintah Gagaksona dan Klabang Curing melakukan pengeroyokan.

Akan tetapi setelah kini mereka berdua itu roboh, dan mereka memang tidak kuat menghadapi amukan wanita-wanita cantik dan seorang pemuda seperti Joko Handoko, kini ditambah pula oleh pemuda tampan yang amat sakti itu, maka para perajurit itu lalu melarikan diri sambil memondong tubuh Gagaksona dan Klabang Curing yang masih belum sadar betul.

"Mari cepat kita melarikan diri sebelum pasukan yang lebih besar datang lagi!"

Kata Joko Handoko yang mengkhawatirkan keselamatan Ibunya.

"Maaf, Adimas Bromatmojo, nanti saja kita bicara!"

Bromatmojo mengangguk, malah menghampiri kereta dan bertanya.

"Siapakah Bibi ini?"

"Dia Ibuku...!"

Kata Roro Kartiko yang sejak tadi menatap wajah Bromatmojo dengan penuh kagum.

"Kalau begitu, kita tinggalkan saja kereta. Biar kupondong beliau agar perjalanan lebih cepat,"

Kata Bromatmojo dan tanpa menanti jawaban lagi, dia menyembah kepada wanita setengah tua itu lalu memondongnya dan lari dengan cepat.

Joko Handoko dan Adiknya saling pandang, Roro Kartiko tersenyum dan mereka lalu cepat mengejar, diikuti oleh tujuh orang anak buah mereka.

Dan memang benar,melarikan diri memang lebih baik kalau berjalan kaki, mereka dapat lari nyusup-nyusup di antara semak belukar.

Kalau mereka naik kereta mengawal Ibu mereka, mereka harus melalui jalan besar yang kadang-kadang terhalang oleh jalan yang becek akibat hujan besar semalam dan juga pohon-pohan yang tumbang.

Mereka berdua makin kagum melihat betapa Bromatmojo dapat berlari lebih cepat dari mereka biarpun pemuda tampan itu memondong tubuh Ibu mereka.

Kalau saja mereka tidak sering meneriakinya, tentu pemuda itu sudah jauh meninggalkan mereka.

Dan mereka semua, termasuk para anggauta Sriti Kencana, telah terengah-engah kehabisan napas ketika mereka berlari terus menerus tanpa berhenti, akan tetapi Bromatmojo masih enak-enak saja berlari.

Hal itu adalah karena Bromatmojo mempergunakan aji kesaktian Turonggo Bayu sehingga dia dapat berlari cepat tanpa banyak mempergunakan tenaga.

Menjelang senja barulah mereka menghentikan perjalanan itu.

Mereka beristirahat di bawah pohon-pohon besar yang rimbun.

Ketika Bromatmojo menurunkan tubuh Sariningrum ke atas rumput di bawah pohon itu, wanita ini memandangnya dengan kagum dan tersenyum sambil berkata.

"Betapa kuatnya engkau!"

Setelah mereka mengaso, mereka mendapat kesempatan bercakap-cakap. Roro Kartiko menghampiri Bromatmojo dan dengan suara menggetar saking terharu dia berkata.

"Kakangmas Bromatmojo. Tak terukur besarnya rasa syukur dan terima kasih kami kepadamu. Kalau tidak ada Andika yang datang menolong, entah bagaimana jadinya dengan kami."

"Benar, ucapan Diajeng Roro, pertolonganmu besar sekali artinya bagi kami,Adimas Bromatmojo. Entah bagaimana kami akan dapat membalas budi pertolonganmu itu,"

Sambung Joko Handoko dengan pandang mata kagum dan penuh syukur.

"Sudahlah, di antara kita sebagai sahabat-sahabat, perlu apa bicara tentang budi?"

Kata Bromatmojo.

"Akan tetapi, bagaimanakah Andika berdua dengan Ibu Andika berada di tempat itu, hendak pergi ke mana, dan mengapa pula dikeroyok oleh pasukan Tuban?"

"Kami memang melarikan diri dari Tuban setelah Ayah meninggal... dan kami dikejar, tersusul di perbatasan. Kami hendak dijadikan orang-orang tawanan,tentu saja kami tidak mau dan melawan,"

Jawab Joko Handoko yang agaknya hendak menyembunyikan tentang kematian Ayahnya.

"Kakangmas Bromatmojo... sungguh tidak kusangka..."

Roro Kartiko menangis kini.

"Ayah kami... dibunuh secara kejam sekali oleh Kakangmas Sutejo..., disiksa dan dibunuh secara mengenaskan..., ahhh..."

Dara itu menangis terisak-isak.

Dia mengira bahwa Bromatmojo belum tahu akan hal itu.

Mendengar Sutejo dicela dan dipersalahkan, aneh sekali, hati Bromatmojo menjadi panas!

Tanpa disadarinya sendiri, timbul keinginan untuk membela pemuda itu!

"Sudahlah, Diajeng Roro Kartiko, yang sudah lewat tidak ada gunanya disesalkan lagi.

Dan saya kira tidak bijaksanalah kalau Andika mencela dan menyalahkan Kakang Sutejo tentang hal itu."

"Ah... hu-hukk... kau... kau tidak melihatnya, Kakangmas Bromatmojo... betapa kejamnya Kakangmas Sutejo... dia menyiksa Ayah sampai seperti itu..."

"Diajeng Roro! Apakah artinya kejam? Apakah engkau tahu apa yang telah dilakukan oleh mendiang Ayahmu terhadap dia dan keluarganya?"

Suara Bromatmojo terdengar keras sehingga Roro Kartiko memandang terbelalak karena kaget melihat pemuda itu marah. Wajahnya menjadi merah ketika dia berkata gagap.

"Aku tahu... mendiang Ayah telah membunuh Ayahnya dan Ibunya terbakar dalam rumahnya karena Ayahku... tapi... tapi mengapa menyiksanya seperti itu?"

"Hemm, agaknya engkau belum mendengar seluruhnya, Diajeng. Baiklah kuceritakan apa yang pernah kudengar dari Kakang Sutejo agar engkau dapat mempertimbangkan mengapa Kakang Sutejo dan Mbakayunya membunuh Ayahmu. Ketika Kakang Sutejo masih kecil, Ayahmu datang dan menyuruh bunuh Kakang Sutejo oleh kaki tangannya, kemudian... kemudian Ayahmu itu... memperkosa Ibunya di depan kedua anaknya itu! Bahkan lalu menculik Mbakayunya..."

"Ahhh...!!"

Seruan ini keluar dari mulut Roro Kartiko dan Joko Handoko karena sungguh baru sekarang mereka mendengar perbuatan keji yang dilakukan oleh Ayah mereka itu.

Muka mereka pucat sekali dan Joko Handoko tertunduk, termenung,sedangkan Roro Kartiko menangis sesenggukan.

Ibu mereka yang duduk agak jauh dari situ, yang tidak mendengar percakapan mereka, memandang dan menunduk,mengira bahwa anak-anak mereka itu kembali menangis ketika membicarakan kematian Ayah mereka.

Wanita ini cukup mengenal suaminya dan dia hanya merasa kasihan kepada suaminya yang semasa hidupnya terlalu mengejar kesenangan, mengumbar nafsu dan bertindak angkara murka dan sewenang-wenang sehingga akhirnya menemui kematian yang menyedihkan, dan kasihan kepada anak-anaknya yang sekarang menanggung akibat perbuatan Ayah mereka.

"Kakangmas Bromatmojo... maafkan aku... kalau begitu... Kakangmas Sutejo dan Mbakayunya tidaklah terlalu salah... mereka tentu mata gelap dan menaruh dendam sedalam lautan kepada Ayah. Ahh, Kakangmas, setelah Kakangmas mengetahui itu semua, mengetahui betapa kejamnya Ayah kami... tentu... tentu Kakangmas menganggap kami keturunan dari keluarga rendah..."

Gadis itu menangis makin sedih sampai terisak-isak.

Bromatmojo memandang dengan penuh iba.

Dia maklum apa yang menjadi gejolak hati dara ini.

Jelaslah bahwa Roro Kartiko jatuh cinta kepadanya!

Karena cintanya,maka gadis itu khawatir kalau-kalau dia akan memandang rendah kepadanya karena Ayahnya, khawatir kalau cintanya takkan terbalas.

Ah, hal seperti ini tidak boleh berlarut-larut, pikirnya.

Roro Kartiko seorang dara yang baik sekali,tidak semestinya kalau dia permainkan, tidak boleh menjadi korban cinta yang salah alamat ini!

Maka dia lalu memegang tangan gadis yang masih terisak-isak itu, lalu menariknya berdiri.

"Diajeng, mari kita bicara berdua saja di tempat lain, apakah kau mau...?"

Roro Kartiko yang masih dipegang tangannya itu mengangkat muka dan memandang dengan wajah basah oleh air mata dan rambutnya kusut.

Akan tetapi dalam keadaan seperti itu, gadis itu malah kelihatan cantik, kecantikan yang wajar dan asli.

Dia mengangguk pasrah, sungguhpun kedua pipinya menjadi merah sekali karena tangannya masih belum dilepaskan oleh Bromatmojo.

Joko Handoko juga memandang,akan tetapi lalu membuang muka, pura-pura tidak tahu karena dia tidak mau membikin malu Adiknya.

"Akan tetapi aku harus minta ijin Ibumu lebih dulu. Mari..."

Bromatmojo lalu menuntun tangan Roro Kartiko menghampiri Ibu gadis itu yang masih duduk menginang di bawah pohon dan kini memandang kedatangan mereka berdua dengan wajah cerah.

"Kanjeng Bibi, bolehkah saya mengajak Diajeng Roro untuk bicara berdua di depan sana? Kami ingin membicarakan urusan penting dan tidak ingin terlihat atau terdengar oleh orang lain."

Sariningrum memandang sejenak kepada mereka berdua, lalu mengangguk dan tersenyum!

Bukan main girangnya hati Roro Kartiko dan ingin dia menubruk, merangkul dan mencium Ibunya untuk menyatakan terima kasihnya!

Akan tetapi dia malu untuk melakukan ini, maka hanya memandang Ibunya dengan mata bersinar-sinar.

Kemudian mereka berdua meninggalkan tempat itu dan lenyap di antara gerombolan pohon dalam cuaca yang sudah mulai remang-remang itu.

Semua orang mengikuti mereka dengan pandang mata penuh kemesraan sampai mereka berdua lenyap.

Setelah berdua saja di antara pohon-pohon, tidak nampak dari tempat tadi,Bromatmojo memegang kedua tangan Roro Kartiko dan memandang wajahnya.

Gadis itu menunduk, merasa jengah dan malu, namun jantungnya berdebar tegang tidak karuan,menduga-duga apa yang akan dikatakan atau dilakukan oleh pemuda tampan seperti Arjuno ini.

"Diajeng Roro, katakanlah sebenarnya, apakah kau cinta kepadaku?"

Tentu saja Roro Kartiko merasa malu sekali.

Memang dia jatuh cinta kepada pemuda ini, akan tetapi sebagai seorang perawan, mana mungkin dia menjawab pertanyaan itu?

Bukankah wanita itu menyimpan cintanya di lubuk hatinya, diselimuti oleh kesusilaan dan hanya pasrah menanti saja, menikmati cinta kasihnya secara diam-diam bahkan kepada orang yang dicintanya pun tidak diperlihatkan secara nyata?

Bukankah cinta kasih terpendam dan menjadi rahasia pribadinya ini malah lebih dapat dinikmatinya daripada kalau dibuka secara terang-terangan dan menjadi hambar karenanya, karena sudah tidak ada ketegangan yang terkandung dalam setiap rahasia lagi?

"Bagaimana, Diajeng?

Kita sekarang sudah bertemu empat mata, berdua saja di sini, tidak ada yang melihat atau mendengar.

Nah, katakanlah terus terang, apakah engkau cinta padaku?"

Beberapa kali Roro Kartiko menggerakkan bibirnya, akan tetapi tidak ada suara yang keluar.

Sukar sekali bagi seorang wanita yang sejak kecil dididik untuk memegang teguh kesusilaan untuk membuka mulut mengaku cinta kepada seorang pemuda, biar pun perasaan cinta sudah menguasainya sepenuh hatinya.

Maka akhirnya karena tidak berhasil mengeluarkan suara, dia hanya mengangkat muka memandang sejenak, lalu mengangguk dan tunduk kembali.

Denyut jantungnya terasa sampai ke ubun-ubun kepalanya!

"Jangan kaget, Adikku yang manis.

Sungguh pun aku sama sekali tidak ingin mengecewakan hatimu, akan tetapi sungguh mati aku tidak mungkin dapat membalas cintamu itu, Roro Kartiko.

Karena sesungguhnya aku...

aku telah jatuh cinta kepada seorang lain..."

Muka Roro Kartiko seketika menjadi pucat dan matanya terbelalak menatap wajah pemuda itu, maka melihat hal ini, Bromatmojo cepat melanjutkan.

"aku telah jatuh cinta sejak dulu kepada... Kakang Sutejo!"

"Ihhh...!!"

Roro Kartiko melangkah mundur sampai tiga tindak, wajahnya sebentar pucat sebentar merah dan dia menatap wajah Bromatmojo seperti melihat setan di tengah hari, penuh kekagetan, penuh keheranan.

"Apa ... apa yang kau katakan ini?"

Dia berhasil mengeluarkan kata-kata dengan gagap.

"Akan tetapi dia... dia seorang pria..."

"Tentu saja! Karena dia seorang prialah maka aku mencintainya, dan karena kau seorang wanitalah maka aku tidak mungkin dapat membalas cintamu. Roro Kartiko, mendekatlah dan lihat baik-baik, aku siapa?"

Bromatmojo telah menangkap tangan dara itu, menariknya dan mendekapnya. Roro Kartiko meronta, akan tetapi Bromatmojo tetap memeluknya.

"Bocah ayu yang bodoh... apakah kau tidak tahu bahwa aku pun seorang wanita...?"

"Ihhh...!!"

Roro Kartiko meronta dengan keras dan berhasil melepaskan pelukan Bromatmojo. Tangan kanannya menutupi bibirnya agar dia tidak menjerit, matanya terbelalak memandang Bromatmojo dan bibirnya menggigil.

"Aku... aku tidak percaya...!"

Sepasang mata yang indah jeli itu makin terbelalak saja ketika melihat Bromatmojo perlahan-lahan membukai kancing bajunya dan tak lama kemudian sepasang mata itu memandang dengan penuh keheranan sepasang buah dada di dada "pemuda"

Tampan itu, jelas merupakan sepasang buah dada wanita muda yang tidak kalah indah bentuknya dengan dia punya sendiri!

Tak dapat diragukan lagi bahwa Bromatmojo adalah seorang wanita!

"Hi-hik, Adikku yang baik, bagaimana aku dapat menjadi suamimu?"

Bromatmojo atau Sulastri itu tertawa geli.

Roro Kartiko mengalihkan pandang matanya, dari dada ke mata Sulastri, sejenak mereka saling pandang dan meledaklah suara ketawa Roro Kartiko.

Gadis ini lalu berlari kembali ke tempat tadi dan suara ketawanya masih terdengar terus menerus seperti orang kegelian.

Sulastri merasa khawatir dan setelah membereskan bajunya dia lari mengejar.

"Ha-ha-ha, heh-heh...! Dia... dia seorang wanita... hi-hi-hik...! Bromatmojo seorang wanita...!"

Gadis itu berkata kepada ibu dan kakaknya sambil terus tertawa-tawa akan tetapi suara ketawanya itu makin lama kedengarannya seperti suara orang menangis dan akhirnya gadis itu menangis tersedu-sedu!

Kalau saja Roro Kartiko tidak pernah mendapat gemblengan batin ketika dia mempelajari aji-aji kesaktian, mungkin saja dia bisa menjadi gila oleh pukulan batin yang tiba-tiba dan amat hebat itu.

Bermacam perasaan teraduk di dalam hatinya.

Ada rasa terharu, rasa malu, kecewa dan juga geli.

Akan tetapi rasa kecewa yang lebih besar sehingga biarpun dia ingin sekali tertawa akan tetapi akhirnya dia menangis!

Bromatmojo mendekati dan memeluknya.

"Tenanglah, Adikku, tenanglah dan karena kau telah membuka rahasiaku kepada yang lain, maka biarlah hanya keluargamu dan anggauta Sriti Kencana ini saja yang tahu. Selanjutnya aku tetap Kakangmas Bromatmojo bagimu dan kau Adikku Diajeng Roro Kartiko."

"Hi-hik... hu-huuhhh..."

Roro Kartiko merangkul Bromatmojo dan menangis di atas dadanya. Bromatmojo mencium pipi yang halus itu.

"Sebagai Kakak dan Adik, kita masih dapat saling mencinta, bukan?"

Bisiknya.

Joko Handoko dan ibunya menghampiri mereka sedangkan para anggauta Sriti Kencana saling bisik-bisik sendiri, terutama sekali mereka mendengarkan cerita Ayu Kunthi yang menceritakan betapa dahulu mereka pernah "merayu"

Bromatmojo yang mereka kira juga pria itu.

Dan mereka tertawa-tawa sendiri setelah kini mereka mendengar bahwa pemuda yang terlalu tampan itu adalah seorang wanita!

"Dimas...

eh...

Diajeng Bromatmojo..."

Joko Handoko berkata gagap dan bingung. Bromatmojo tersenyum manis kepadanya.

"Kakangmas Joko, harap kau tetap menyebut aku Dimas Bromatmojo saja sungguh tidak pantas kalau Diajeng Bromatmojo, karena nama itu adalah nama pria, bukan?"

Joko Handoko juga tersenyum.

Kiranya pemuda tampan yang mengagumkan itu adalah seorang gadis, gadis yang riang jenaka pula!

"Harap kau maafkan, karena aku sendiri tidak pernah menduga bahwa engkau seorang wanita maka...

ah, mungkin sikapku kurang hormat..."

"Jangan berkata demikian, Kakangmas Joko. Laki-laki atau perempuan tidak ada bedanya bagi orang-orang yang bersahabat, bukan?"

Kata Bromatmojo.

"Hehhh, dasar kalian anak-anak yang bodoh. Sejak tadi aku sudah tahu bahwa dia ini seorang wanita. Kalau tidak, masa aku membolehkan dia mengajak Roro berdua saja ke tempat sunyi? Dan kalian malah sudah lama berkenalan. Hemm, anak muda sekarang memang bodoh!"

Tiba-tiba Ibu mereka berkata.

Joko Handoko merasa heran sekali mengapa tiba-tiba dia merasa canggung dan malu, maka dia lalu menjauhkan diri dan sikapnya termenung.

Setelah Joko Handoko menjauh, Roro Kartiko yang sudah menyusut kering air matanya dan kini merangkul pinggang Bromatmojo yang ramping itu dengan sikap mesra, bertanya kepada ibunya,wajahnya sudah cerah dan biarpun bekas air matanya masih membasahi pipi, namun bibirnya tersenyum.

"Ibu , bagaimana Ibu dapat menduga bahwa dia ini wanita?"

Ibu itu melirik ke arah Joko Handoko yang berdiri cukup jauh, kemudian setelah memadang ke arah tujuh orang anggauta Sriti Kencana yang kini mendekat, dia berkata sambil tersenyum.

"Kalian orang-orang muda memang kurang waspada dan kurang perhatian. Lihat saja, bukit pinggul wanita adalah bulat lebar dan menonjol rata, sedangkan bukit pinggul pria meruncing seperti kukusan atau trepes. Hanya pria gemuk saja yang kadang-kadang mempunyai pinggul menyerupai pinggul wanita. Karena Nakmas Bromatmojo bukan seorang pria gemuk, maka pinggulnya yang indah penuh dan bulat itu menunjukkan bahwa dia adalah seorang wanita, seorang perawan. Tentu saja, dengan melihat pinggulnya saja aku sudah menduganya, apalagi ditambah oleh ketampanannya yang amat luar biasa itu, mudah saja bagiku, sama dengan dua ditambah dua menjadi empat!"

Semua orang tertawa dan Bromatmojo lalu mengeluh.

"Wah, kalau begini tidak ada gunanya lagi menyamar! Untungnya menyamar pria belum ada, dan ruginya sudah jelas sekali, pertama . Diajeng Roro Kartiko tergila-gila kepadaku dan banyak lagi wanita lain yang tertarik,"

Dia mengerling ke arah sekelompok wanita anggauta Sriti Kencana dan Ayu Kunti menjadi merah mukanya.

"dan ke dua..."

Dia tidak melanjutkan, wajahnya berubah merah dan sinar matanya kelihatan lesu. Roro Kartiko berbisik.

"... adi dia belum tahu?"

Bromatmojo menggeleng. Hanya mereka berdua saja yang mengerti apa artinya tanya jawab terakhir ini.

"Mbakayu... eh, Kakangmas Bromatmojo, aku ingin sekali melihat engkau kalau berpakaian wanita. Mari kupinjami pakaianku..."

Roro Kartiko memaksa-maksa dan untuk menghibur hati gadis yang "patah hati"

Karena cinta yang salah alamat itu, Sulastri mau saja berganti pakaian wanita dan dibantu oleh Roro Kartiko dia menyanggul rambutnya. Setelah selesai, Roro Kartiko bertepuk tangan memuji.

"Bukan main! Engkau... engkau cantik sekali!"

Serunya. Ibunya mengangguk-angguk.

"Memang manis dan kewes, gagah dan luwes, seperti Srikandi!"

Joko Handoko yang dipanggil oleh adiknya dan datang mendekat, memandang kepada Sulastri dengan melongo ketika adiknya memperkenalkan.

Dia sendiri terkejut dan kagum melihat bahwa Bromatmojo sesungguhnya adalah seorang gadis yang demikian cantik jelita dan manisnya!

Dia hanya mengangguk kaku, kemudian duduk di atas rumput dan mulai membuat api unggun dengan umpan daun-daun dan kayu kering yang tadi dikumpulkan oleh para anggauta Sriti Kencana.

Senja telah larut dan cuaca makin suram, bahkan kegelapan mulai menyusup di antara cabang-cabang pohon.

Api unggun yang kini bernyala besar itu amat berguna bagi mereka.

Pertama untuk memberi cahaya penerangan, ke dua untuk menghangatkan badan melawan hawa dingin yang mulai menyusup datang, dan ke tiga untuk mengusir nyamuk dan menakut-nakuti binatang buas yang mungkin datang mengganggu.

Setelah mereka makan dari perbekalan dan ibu kedua orang kakak beradik itu mengaso sambil rebahan di bawah pohon, dijaga dan ditemani oleh tujuh orang anggauta Sriti Kencana yang sebagian lagi melakukan penjagaan di empat penjuru,tiga orang muda itu bercakap-cakap di dekat api unggun.

"Diajeng... eh, sungguh canggung menyebutmu Dimas Bromatmojo dalam pakaian seperti sekarang ini,"

Kata Joko Handoko yang sudah mulai dapat melenyapkan rasa gugup dan malunya.

"Bolehkah kami mengetahui nama aslimu?"

"Namaku Sulastri, dan karena aku mulai menyamar pria ketika turun dari Gunung Bromo tempat pertapaan Eyang Empu, maka aku menggunakan nama Bromatmojo,"

Jawab Sulatri.

"Diajeng Sulastri, sungguh untung sekali kami bertemu denganmu. Akan tetapi,mengapa bisa begini kebetulan? Andika sedang hendak pergi ke manakah dan datang dari mana?"

Tanya Joko Handoko.

"Aku pulang dari Pegunungan Pandan, mencari Guruku,"

Jawab gadis itu.

"Bukankah Gurumu Empu Supamandrangi di Bromo?"

Roro Kartiko bertanya.

"Itu adalah Guruku yang ke dua. Atau katakanlah Guru ke tiga. Guruku yang pertama adalah mendiang Adipati Ronggo Lawe yang belum pernah sempat mendidikku,dan Guruku kedualah yang kucari di Pegunungan Pandan itu. Dia adalah yang terkenal dengan nama Ki Jembros."

"Ki Jembros? Ah, yang juga terkenal dinamakan Setan Jembros?"

"Kau tahu di mana dia, Kakangmas Joko?"

Sulastri bertanya penuh harapan ketika mendengar bahwa pemuda itu mengenal nama Gurunya. Joko Handoko mengangguk dan menunduk, jawabannya datar.

"Ketika Senopati Lembu Sora memberontak kira-kira empat tahun yang lalu, dibantu oleh Raden Gajah Biru dan Juru Demung..."

"Ya, kedua orang Paman itulah yang ketika itu berada di Pegunungan Pandan bersama teman-teman mereka!"

Sulastri berkata girang.

"Dan Guruku tinggal beristirahat bersama mereka."

"Mereka menyerbu ke Mojopahit dibantu oleh Ki Jembros dan mereka semua telah tewas..."

"Eyang Jembros...?"

"Menurut cerita, Ki Jembros yang terakhir tewas dikeroyok oleh Resi Mahapati,Resi Harimurti dan Empu Tungjungpetak yang juga tewas oleh Ki Jembros."

"Eyang...!!"

Sulastri menjerit dan menangislah gadis ini dengan sedih.

Kakak beradik itu membiarkan Sulastri menangis.

Terasa perih hati Sulastri mendengar gurunya itu tewas.

Teringatlah dia akan semua kebaikan Ki Jembros kepadanya dan makin terasalah kesunyian menyusup hatinya, teringat akan nasibnya yang terpaksa harus berpisah dari Sutejo sebagai musuh!

Orang-orang yang menangisi orang mati selalu terdorong oleh perasaan iba diri,oleh perasaan kasihan kepada dirinya sendiri yang merasa ditinggalkan, merasa kehilangan dan sebagainya.

Sama sekali bukan menangis karena kasihan kepada Si Mati, karena kita yang tidak tahu apa jadinya sesudah mati, bagaimana bisa menaruh kasihan kepada orang mati?

Yang jelas, kita menangis dan berkabung karena merasa kasihan kepada diri kita sendiri yang ditinggal oleh Si Mati.

Akan tetapi sayang, jarang yang ingat akan kebenaran ini sehingga banyak air mata terbuang sia-sia, banyak kedukaan diderita tanpa ada gunanya dan banyak kepalsuan dipamerkan tanpa disadari.

Sulastri adalah seorang dara yang masih polos dan wajar.

Hanya sebentar saja rasa duka mencekam hatinya karena tak lama kemudian dia sudah dapat mengatasinya, termenung sejenak kemudian berkata sambil melihat pakaian yang dipakainya,"Untung aku sudah menjadi wanita, kalau masih menjadi pria tentu akan sukar untuk menangis sepuasnya.

Kalau menangis tentu akan ketahuan juga!"

Dia tersenyum dengan pipi masih basah air mata! Roro Kartiko tersenyum dan menggoda.

"Aih, engkau ini sungguh seorang yang aneh luar biasa! Belum juga berhenti tangisnya sudah tertawa!"

"Lebih enak begini, tidak menahan-nahan perasaan seperti kalau menjadi pria,"

Jawab Sulastri.

"Kalau begini, mau menangis, mau tertawa, menurut sekehendak hatiku."

Joko Handoko juga memandang heran, lalu cepat mengalihkan pandang matanya ketika gadis itu memandang kepadanya, takut kalau disangka memandang tak pernah berhenti.

Seorang gadis yang hebat, pikirnya, demikian sakti, demikian lincah gembira, dan wataknya polos, aneh dan amat menarik hati!

Memang tangis kadang-kadang merupakan jalan keluar untuk peluapan duka dan setelah orang menangis menumpahkan semua perasaan duka, pikiran menjadi kosong,hati menjadi lega dan orang lalu condong untuk mudah tertawa dan mudah gembira!

Sebaliknya, orang yang terlalu gembira, tertawa-tawa sampai keluar air matanya!

Kiranya jelas bahwa ada hubungan yang amat dekat, bahkan erat antara tawa dan tangis.

Betapa besar manfaatnya bagi hidup kalau kita menyadari kenyataan ini setiap saat.

Semenjak Adipati Ronggo Lawe gugur ketika berperang melawan Mojopahit, memang sudah ada rasa tidak senang dalam hati Sulastri terhadap Mojopahit, apalagi karena Reksosuro dan Darumuko adalah orang-orang Mojopahit.

Ketika dia ikut bersama Ki Jembros dan bertemu dengan Gajah Biru dan Juru Demung, kembali dia mendengar tentang ketidakadilan di Mojopahit sehingga orang-orang itu memberontak.

Biarpun semua perasaan kurang senang terhadap Mojopahit ini dibikin mereda oleh nasihat-nasihat Empu Supamandrangi dan oleh pesan Eyang Gurunya itu untuk menyerahkan Kolonadah kepada Pangeran Mahkota di Mojopahit, namun kenyataannya sekarang membuat rasa tidak senang itu timbul kembali.

Tewasnya Ki Jembros, kakek yang disayangnya itu pun oleh orang-orang Mojopahit, dan lebih lagi, Sutejo telah terbujuk oleh Mahapati pula.

Maka terdapat kecocokan antara dia dan kakak beradik itu yang mendendam kepada para ponggawa di Mojopahit.

"Sang Prabu yang sudah amat sepuh itu ternyata kurang bijaksana dan lemah,"

Demikian antara lain Joko Handoko berkata ketika mereka bertiga mengadakan perundingan di sekeliling api unggun itu.

"Dengan adanya isteri beliau dari Melayu itu, maka terpecahlah para senopatinya dan banyak senopati yang semenjak dahulu setia kepada Beliau, kini merasa kurang senang. Apalagi setelah Pangeran Kolo Gemet diangkat sebagai Pangeran Pati. Pangeran itu bukanlah keturunan dari Sang Prabu Kertanegara, padahal sebagian besar dari para Senopati Sepuh adalah para pengikut Sang Prabu Kertanegara yang tentu saja ingin melihat keturunan Sang Prabu Kertanegara memegang tampuk Kerajaan Mojopahit. Keadaan di kota raja sudah panas sejak dahulu, secara diam-diam telah terjadi perpecahan di antara para senopati. Mereka itu hanya karena rasa sayangnya kepada Sang Prabu, maka masih menyimpan rasa tidak senangnya itu."

"Dalam keadaan seperti itu tentu muncul orang-orang yang mementingkan diri pribadi, orang-orang yang menyeleweng seperti Resi Mahapati dan... dan... mendiang Ayah,"

Kata pula Roro Kartiko. Sulastri memegang tangan dara itu.

"Sudahlah, jangan menyebut lagi nama Ayahmu yang sudah tidak ada. Tentang Resi Mahapati, memang aku menduga bahwa dia adalah orang yang tidak baik. Sayang sekali bahwa kakak dari Kakang Sutejo telah menjadi selirnya, bahkan sekarang Kakang Sutejo terbujuk dan membantunya. Mahapati adalah pembunuh guruku Eyang Jembros, maka aku harus dapat membalasnya kelak."

Joko Handoko memandangnya dengan penuh selidik.

"Harap kau hati-hati, Diajeng Sulastri. Mahapati itu adalah seorang yang memiliki kesaktian tinggi, apalagi setelah ternyata Sutejo adalah Adik iparnya. Aku tahu Sutejo memilki kepandaian yang hebat pula. Dan di Mojopahit terdapat banyak orang-orang sakti, bahkan Guru kami, Resi Harimurti, juga menjadi pembantu Mahapati. Engkau hendaknya jangan sembrono untuk menyerbu ke sana."

Sulastri menggeleng kepala.

"Tidak, aku pun tidak sebodoh itu, Kakangmas Joko. Aku akan menanti saat yang baik dan tepat, dan sekarang yang penting bagiku adalah mencari pusaka Kolonadah yang hilang."

"Menurut pendapatku, pusaka itu tentu telah dibawa oleh Ki Ageng Palandongan."

Sulastri mengangguk-angguk.

"Kurasa pun begitulah. Eyang Empu memesan kepadaku untuk menyerahkan pusaka itu kepada Pangeran Pati. Akan tetapi melihat perkembangan keadaan, aku sendiripun merasa tidak cocok kalau Mojopahit dipegang oleh bukan keturunan mendiang Sang Prabu Kertanegara. Aku berfihak kepada mendiang Guruku Adipati Ronggo Lawe dan para pemberontak lain. Oleh karena itu,mengingat bahwa pusaka Kolonadah tadinya adalah milik Adipati Ronggo Lawe, maka aku akan menyelidiki apakah benar kini terjatuh ke tangan Ki Ageng Palandongan. Kalau benar demikian, aku hanya akan mengajak Ki Ageng Palandongan untuk berunding, kepada siapa sebaiknya pusaka itu diserahkan, karena beliau adalah mertua Adipati Ronggo Lawe."

Kakak beradik itu mengangguk-angguk.

"Pendapatmu itu bijaksana, mbakayu Sulastri,"

Kata Roro Kartiko.

"Menurut perhitunganku, tentu Ki Ageng Palandongan melarikan diri ke Lumajang karena semenjak gugurnya Adipati Ronggo Lawe, dia pun boyongan ke sana dan tentu berlindung di bawah kekuasaan Adipati Wirorojo, dan memang semua sisa anak buah Adipati Ronggo Lawe dan Senopati Lembu Sora juga berkumpul di Lumajang."

"Aku memang hendak menyusul ke sana."

"Kami pun bermaksud hendak ke sana, Diajeng Sulastri. Kami rasa, hanya di Lumajang sajalah tempat paling aman bagi kami sekarang ini,"

Kata Joko Handoko.

"Ah, kalau begitu, sungguh kebetulan. Kita dapat melakukan perjalanan bersama ke Lumajang!"

"Tidak ada hal yang lebih baik daripada itu!"

Roro Kartiko berseru sambil memegang tangan Sulastri.

"Akan tetapi aku akan menyamar sebagai pria lagi, Diajeng, dan jangan lupa, kau harus menyebutku Kakangmas Bromatmojo, pria yang kau cinta..."

"Hushhh!"

Roro Kartiko mencubit lengan Sulastri keras sekali sampai Sulastri menjerit-jerit minta ampun baru dilepaskan.

Ke manakah perginya Ki Ageng Palandongan?

Memang tepat dugaan semua orang bahwa Ki Ageng Palandongan melarikan diri dari Tuban, langsung menuju ke Lumajang dengan mengambil jalan memutar ke selatan dan menjauhi Kota Raja Majapahit.

Keris pusaka Kolonadah yang dahulu dimiliki mendiang mantunya itu masih terbungkus kain kuning dan disembunyikan di bawah jubahnya, terselip dan diikat pada pinggangnya dengan kuat.

Dia berjanji di dalam hatinya untuk melindungi keris pusaka itu dengan seluruh jiwa raganya.

Dia mengerti bahwa banyak orang menghendaki keris pusaka yang merupakan keris pegangan raja itu.

Tentu Sang Prabu di Mojopahit sendiri menghendakinya, untuk diserahkan kepada Putera Mahkota kelak, dan juga Mahapati menghendakinya melalui Progodigdoyo.

Belum lagi golongan-golongan lain, adipati-adipati dan raja-raja kecil yang sudah mendengar tentang pusaka itu.

Maka dia harus menjaganya dengan hati-hati sekali dan menyerahkan kepada Adipati Wirorojo, besannya yang kini menjadi Adipati Lumajang dengan kekusaan besar dan telah berdiri sendiri itu.

Terserah nanti kepada keputusan Sang Adipati hendak dikemanakan keris itu.

Ki Ageng Palandongan jalan menyusup-nyusup hutan melalui pegunungan kidul,sengaja mencari jalan yang sunyi.

Pada suatu pagi, jauh sekali di daerah selatan dari wilayah Mojopahit yang hampir tak pernah tersentuh kekuasaan Mojopahit karena terpencil, Ki Ageng Palandongan berjalan perlahan melalui sebuah dusun yang rakyatnya hidup sederhana dan serba kekurangan karena memang daerah selatan ini merupakan daerah yang kurang subur tanahnya, penuh dengan bukit-bukit gamping.

Selagi dia berjalan seenaknya karena kedua kakinya sudah terasa lelah, dia mendengar suara suling di sebelah depan.

Suara suling yang amat merdu dan mendengar jenis lagunya, dia merasa curiga karena agaknya (Lanjut ke

Jilid 21) Kemelut Di Majapahit (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 21 bukan orang dusun yang meniup suling itu.

Lagu dusun amat sederhana, akan tetapi gending yang dimainkan suling itu mempunyai banyak cengkok dan kembangan dan lagu seperti itu hanya dapat dimainkan oleh orang kota yang mengerti tentang seni suara!

Maka dia bersikap hati-hati, mengancingkan kembali kancing jubah paling atas biarpun hawanya amat panas.

Kemudian dia melanjutkan langkahnya kini lebih cepat daripada tadi, menuju ke timur, ke arah suara suling itu.

Jalan kecil ke arah timur hanya sebuah saja, maka dia tidak dapat menggunakan jalan lain dan terpaksa melanjutkan perjalanannya melalui jalan itu.

Betapapun juga, agaknya kecurigaannya tidak berdasar, karena daerah ini sudah jauh sekali dari Kota Raja Mojopahit dan lebih jauh lagi dari Tuban.

Siapa yang akan mengenalnya di tempat asing ini?

Bahkan dia sendiri baru pertama kali ini melalui daerah ini!

Hatinya tenang dan dari jauh dia sudah melihat bahwa yang meniup suling itu adalah seorang laki-laki yang usianya kurang lebih empat puluh tahun, meniup sebatang suling yang berwarna hitam sambil duduk di atas galengan sawah di tepi jalan itu.

Laki-laki itu kelihatannya berpakaian sederhana saja, dengan ikat kepala hitam,seperti pakaian seorang petani, akan tetapi Ki Ageng Palandongan tahu bahwa orang itu bukan petani.

Biarpun orang itu kelihatan asyik meniup suling, namun ada beberapa kali matanya yang seperti terpejam itu terbuka dan memandang ke arah dia.

Namun Ki Ageng Palandongan tidak perduli, seolah-olah tidak mendengar orang itu meniup suling dengan indahnya.

Padahal, andaikata dia tidak sedang membawa pusaka Kolonadah, ingin dia berhenti mendengarkan tiupan suling itu dan sekedar omong-omong dengan peniup suling yang amat pandai itu.

Setelah dia berjalan cepat kurang lebih dua ratus langkah, tiba-tiba suara suling itu terhenti.

Dia menoleh dan ternyata orang itu telah lenyap dari atas galengan sawah tadi.

Padahal tempat itu terbuka.

Ke mana perginya?

Tak mungkin demikian cepatnya lenyap kalau hanya berlari biasa!

Dia merasa curiga sekali,jantungnya berdebar bukan karena takut, melainkan karena tegang, merasa bahwa tentu akan ada sesuatu yang terjadi.

Ki Ageng Palandongan adalah seorang kakek yang gagah perkasa, sudah biasa menghadapi kekerasan dalam peperangan, maka tentu saja dia tidak gentar menghadapi bahaya bagi dirinya.

Hanya karena dia membawa Kolonadah, maka dia merasa tegang sekali.

Akan tetapi tidak terjadi sesuatu.

Hatinya lega ketika dia sudah meninggalkan dusun itu.

Di depan terdapat pohon trembesi yang besar, penuh dengan bunga dan dari jauh daun-daun kecil yang rontok tertiup angin nampak seperti hujan saja.

Memang daun pohon trembesi selalu rontok tertiup angin.

Akan tetapi bukan pohon itu yang menarik perhatian Ki Ageng Palandongan, melainkan seorang laki-laki yang duduk di bawah pohon itu.

Sesaat jantungnya seperti berhenti berdetik karena dia menyangka bahwa Si Peniup Suling tadi yang duduk di depan itu.

Kalau benar demikian betapa anehnya.

Akan tetapi hanya usianya saja yang s.a dan ikat kepalanya yang sama hitamnya.

Akan tetapi orangnya jauh berbeda.

Peniup suling tadi bertubuh jangkung, nampak kakinya yang panjang ketika duduk di galengan sawah dan mukanya bulat telur dengan kulit agak kuning, akan tetapi orang yang duduk di bawah pohon trembesi ini mukanya hampir persegi, telinganya lebar dan matanya lebar, kulitnya hitam sekali.

Akan tetapi orang itu ramah, dari jauh sudah menyeringai ramah ke arah Ki Ageng Palandongan.

Ternyata orang itu sedang menyiapkan kinang dan ketika Ki Ageng Palandongan sudah datang dekat, dia berkata dengan suaranya yang besar parau namun ramah,"Hari amat panas, Kisanak, silakan duduk istirahat sambil menikmati sekapur sirih!"

Melihat keramahan seperti itu, biasanya tentu Ki Ageng Palandongan akan menyambut dengan gembira.

Akan menyenangkanlah duduk mengaso di situ, makan sirih dan mengobrol dengan orang yang ramah ini.

Akan tetapi sekali ini dia mengeraskan hati, tersenyum dan berkata.

"Terima kasih, Kisanak, saya mempunyai urusan penting dan tidak ada waktu. Lain kali saja!"

Dan dia melanjutkan langkahnya dengan cepat.

Seperti ada isarat tertentu, kurang lebih dua ratus langkah kemudian dia menoleh dan jantungnya makin berdebar.

Orang ramah itu telah lenyap pula!

Sama anehnya dengan Si Peniup Suling tadi!

Ki Ageng Palandongan melanjutkan perjalanannya hampir lari.

Dan tiba-tiba saja terdengar orang membentak nyaring.

"Perlahan dulu, Ki Ageng Palandongan!"

Ki Ageng Palandongan yang sudah tegang hatinya itu terperanjat dan menoleh ke kiri.

Dari balik serumpun pohon muncullah seorang kakek yang kelihatan tegap dan gagah biarpun usianya sudah enam puluh tahun lebih, kumis dan jenggotnya masih hitam dan terpelihara baik, matanya tajam dan tangan kirinya memegang sebatang kipas bambu bundar yang dikebut-kebutkannya untuk mengipasi lehernya.

Ki Ageng Palandongan memandang penuh selidik, akan tetapi dia tidak mengenal kakek yang sudah tahu namanya itu.

Dia adalah seorang gagah.

Memang benar bahwa dia melakukan perjalanan melalui tempat-tempat sunyi agar jangan sampai bertemu dengan tokoh-tokoh Tuban dan Mojopahit, akan tetapi dia bukan seorang pengecut yang tidak berani mengakui namanya.

"Andika siapakah? Dan ada keperluan apa kiranya Andika menghentikan saya?"

Dia bertanya, sikapnya tenang namun penuh kewaspadaan.

"Ha-ha-ha, Ki Ageng Palandongan, susah payah aku sengaja mencari dan mengejarmu. Sudah kuduga bahwa engkau tentu akan mengambil jalan ini, ha-ha-ha. Resi Harimurti tidak pernah keliru dalam perhitungannya!"

Kakek itu mengipasi dadanya dan sikapnya jumawa sekali.

Ki Ageng Palandongan terkejut sekali, akan tetapi tidak diperlihatkan pada wajahnya.

Dia memang belum pernah bertemu dengan Resi Harimurti, akan tetapi sudah mendengar nama prtapa ini sebagai sahabat dan pembantu Resi Mahapati yang kabarnya memiliki kesaktian hebat sekali.

Maka dia dapat menduga bahwa tentu munculnya Resi ini adalah atas perintah Resi Mahapati.

Akan tetapi dia pura-pura tidak tahu dan berkata,"Ah, kiranya Andika adalah Sang Resi Mahapati yang namanya sudah terkenal sekali itu.

Saudara Resi jauh-jauh Andika mengejar dan menyusul saya, ada keperluan apakah?"

Wajah yang tadinya tertawa-tawa itu tiba-tiba saja berubah menjadi garang dan kipasnya berhenti bergerak, mulutnya membentak nyaring.

"Ki Ageng Palandongan, serahkan Kolonadah, baru aku mengampuni nyawamu!"

Ki Ageng Palandongan tidak kaget mendengar ini karena dia sudah menduga bahwa Resi ini tentu menghendaki Kolonadah. Dan dia pun tidak perlu lagi menyembunyikan diri.

"Resi Harimurti, memang benar aku yang membawa pusaka Kolonadah. Akan tetapi ketahuilah, pusaka ini adalah milik mendiang mantuku Ronggo Lawe, maka aku berhak melindunginya."

"Ha-ha-ha, pandai kau bicara, Ki Ageng Palandongan! Setelah engkau membunuh Empu Singkir dan dua orang cantriknya dengan keji!"

"Tidak perlu memutarbalikkan kenyataan, Resi Harimurti. Memang aku telah membunuh mereka, akan tetapi hal itu hanya merupakan pembelaan diri belaka karena sesungguhnya merekalah yang hendak meracuniku dan merampas pusaka Kolonadah."

"Tak perlu banyak cerewet! Berikanlah Kolonadah atau harus kubunuh dulu kau?"

"Resi Harimurti, siapapun juga tanpa kehendakku hanya akan dapat mengambil pusaka Kolonadah dari atas mayatku! "Babo-babo keparat, besar mulutmu, nyaring suaramu seolah-olah engkau dapat menumbangkan gunung menyurutkan air lautan!"

Resi Harimurti membentak dan dia pun segera menyerang dengan kipasnya yang ampuh.

Angin sambaran kipas seperti badai menyambar muka Ki Ageng Palandongan.

Kakek ini cepat mengelak dan dia sudah menduga bahwa di dalam angin itu tentu menyambar pukulan maut.

Benar saja,tangan kanan Resi Harimurti menyambar ke arah kepalanya dengan tamparan maut yang amat kuat.

Ki Ageng Palandongan cepat menangkis dengan tangan kirinya.

"Desss...!!"

Ki Ageng Palandongan mengeluh pendek dan tubuhnya terjengkang dan terbanting.

Resi Harimurti tertawa bergelak karena jelas bahwa dia menang kuat dalam penggunaan tenaga sakti.

Namun Ki Ageng Palandongan cukup sigap karena biarpun dia terpelanting, dia ternyata sudah dapat meloncat bangkit kembali dan kini ikat kepalanya yang hitam telah berada di tangan kanannya.

Dia maklum akan kedigdayaan lawan, maka dia tidak membuang waktu lagi segera melolos ikat kepalanya karena itulah senjatanya yang paling ampuh.

Kipas sudah menyambar lagi, kini lebih ganas diikuti oleh tamparan dari bawah oleh tangan kanan yang bersembunyi dari balik kipas dan sambarannya pun ditutupi oleh angin sambaran kipas.

Ki Ageng Palandongan sudah siap, maka ketika kipas menyambar, dia menggerakkan ikat kepalanya itu.

Gulungan sinar hitam berkelebat dan menyambut tamparan tangan kanan Resi Harimurti.

"Brakkk... plakkk!"

Kini Resi Harimurti juga terhuyung biarpun Ki Ageng Palandongan juga terdorong ke belakang dan merasa betapa tangan kanannya panas sekali.

Resi Harimurti kaget dan marah melihat kipasnya agak rusak pinggirnya.

Kiranya ikat kepala kain hitam itu merupakan senjata yang ampuh!

"Tar-tar-tarrrr...!"

Cambuk yang sudah dicabut dari pinggang itu kini meledak-ledak di udara.

Pecut sapi panjang itu memang hebat, tentu saja jauh lebih hebat daripada senjata kipas yang pendek.

Dan Resi Harimurti memang mahir mempermainkan pecut itu karena memang ketika dia masih kecil, dia bekerja sebagai penggembala sapi dan sejak kecil dia sudah biasa bermain-main dengan pecut.

Dengan mengeluarkan suara meledak-ledak nyaring, ujung pecut itu kini menyambar ke arah kepala Ki Ageng Palandongan.

Kakek ini mengelak dan berusaha menangkis dengan ikat kepalanya untuk membikin patah ujung pecut, akan tetapi sebelum tertangkis, pecut itu sudah mengelak dan menyambar lagi, seperti seekor ular hidup saja.

Diserang seperti itu, akhirnya pundak dan punggung Ki Ageng Palandongan terkena lecutan cambuk sehingga bajunya robek dan kulitnya pecah.

Kekebalannya tidak mempan ketika terkena lecutan cambuk yang digerakkan oleh tenaga sakti yang amat kuat itu.

Ki Ageng Palandongan melawan dengan mati-matian dan nekat.

Namun kini dia kena dihajar oleh Resi Harimurti yang ternyata memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi daripada lawan.

Pakaian Ki Ageng Palandongan sudah robek-robek dan berdarah, dan ketika dia menggerakkan ikat kepalanya dengan nekat untuk balas menyerang tanpa memperdulikan ujung cambuk yang seperti hidup itu, tiba-tiba ujung pecut menyambar ke bawah, menyambut ikat kepala dan membelit seperti ekor ular.

Ki Ageng Palandongan terkejut, berusaha menarik ikat kepalanya, akan tetapi pada saat itu, kipas di tangan kiri Resi Harimurti sudah menyambar ganas.

"Plakkk!!"

Hebat sekali pukulan itu yang mengenai Ki Ageng Palandongan.

Kakek ini tidak dapat mengeluarkan suara lagi, tubuhnya berputaran, ikat kepalanya terlepas dan akhirnya dia roboh ke atas tanah dan rebah miring, tak berkutik lagi dengan muka pucat dan dari mulutnya mengalir darah merah!

Resi Harimurti tersenyum, akan tetapi dengan tergesa-tesa dia cepat menggerayangi pinggang Ki Ageng Palandongan.

Dengan seruan girang dia mengambil keris pusaka Kolonadah yang terbungkus kain kuning itu.

Dibukanya bungkusan itu dan sekali pandang saja tahulah dia bahwa itu adalah pusaka yang dicari.

Dia bergidik melihat sinar pusaka itu, dibungkusnya kembali lalu diselipkan di ikat pinggangnya, tertutup jubah dan diikatnya kuat-kuat di pinggangnya.

Sekali lagi dia menoleh kepada Ki Ageng Palandongan yang diduganya tentu sudah tewas oleh pukulan kipasnya pada tengkuk tadi, maka karena maklum akan bahayanya membawa pusaka yang diperebutkan itu, dia cepat melarikan diri ke utara.

Ketika dia tiba di dalam hutan di depan, tiba-tiba terdengar suara suling di sebelah depan.

Resi Harimurti terkejut dan heran, memandang ke kanan kiri penuh curiga dan mengancingkan jubahnya untuk menyembunyikan pusaka Kolonadah.

Ketika dia hendak membalik, tiba-tiba di belakangnya ada suara orang tertawa dan tampak olehnya seorang laki-laki setengah tua meludah-ludahkan ludah sirih yang merah seperti darah dari mulutnya.

Dia membalik lagi dan kini dia melihat seorang setengah tua yang lain lagi berdiri di depannya, membawa sebatang suling!

"Hemm, kalian siapakah berani menghadang perjalananku?"

Resi Harimurti membentak dan berdiri tegak sambil membalikkan tubuhnya sehingga dia menghadapi dua orang itu yang tadi datang dari depan dan belakang menjadi berada di kanan kirinya dan kedua tangannya sudah siap memegang kipas dan pecutnya.

"Tidak perlu tahu kami siapa, Sang Resi. Berikan saja Kolonadah kepada kami!"

Kata yang memegang suling.

"Keparat! Jadi kalian adalah perampok-perampok!"

Bentak Resi Harimurti marah sambil meledakkan pecutnya di atas kepalanya.

"Tar-tarr!"

"Ha-ha-ha, kawan. Kalau kami perampok, Andika adalah begal (perampok), jadi kita sama-sama, tidak ada bedanya, ha-ha!"

Kata orang yang mukanya hitam dan bibirnya merah berlepotan ludah kinang itu dan kini tangan kanannya telah memegang sebatang keris.

Diejek seperti itu, Resi Harimurti menjadi makin marah.

Ejekan itu menandakan bahwa dua orang ini tadi telah melihat dia membunuh Ki Ageng Palandongan dan merampas keris, maka dia tidak mau merahasiakannya lagi.

"Jadi kalian merasa iri atas kematian Ki Ageng Palandongan? Nah, majulah, biar kukirim kalian ke neraka!"

Dua orang itu menerjang dari kanan dan kiri.

Agaknya mereka sudah maklum akan kesaktian Resi ini maka begitu menyerang mereka telah maju berbareng.

Dan ternyata mereka memiliki gerakan yang amat cepat, jauh lebih cepat daripada gerakan Ki Ageng Palandongan tadi.

Si Muka Kuning memainkan sulingnya yang berwarna hitam dan terbuat dari baja itu, sedangkan Si Muka Hitam menusukkan kerisnya dengan cepat dan kuat.

Namun Resi Harimurti cepat mengelebatkan pecutnya yang meledak-ledak dan mengibaskan kipasnya dan dua serangan itu tertangkis dan terpental.

Dua orang itu terkejut, maklum bahwa Sang Resi ini benar-benar amat sakti dan kuat.

Maka mereka lalu menyerang dengan hati-hati dan saling melindungi, kalau yang satu menyerang yang lain melindungi dan mereka dapat bekerja sama dengan baiknya.

Resi Harimurti bergerak cepat dan berusaha merobohkan mereka, akan tetapi dengan kerja sama yang baik itu, selalu serangannya dapat ditangkis atau dielakkan,sungguh pun semua serangan dua orang lawan itu juga dapat dia hindarkan dengan baik.

Sebetulnya, kalau mereka itu maju satu demi satu, mereka bukanlah lawan Resi Harimurti.

Baik dalam kekuatan tenaga sakti, mau pun dalam permainan senjata dan kecepatan gerak, mereka itu kalah jauh.

Namun karena mereka berdua mampu bekerja sama dengan baik sehingga mereka itu seolah-olah merupakan satu lawan yang bertangan empat dan dapat pindah ke kanan dan ke kiri, Resi Harimurti menjadi repot juga dan dua orang itu mampu mengimbanginya.

Makin lama pertempuran berjalan makin seru, akan tetapi kedua fihak berlaku hati-hati sehingga sekian lamanya belum juga ada yang terkena senjata.

Dua orang sekawan itu sudah mulai berkeringat dan napas mereka agak terengah-engah, sedangkan Resi Harimurti masih tetap segar saja.

Hal ini membuat mereka merasa khawatir.

Tahulah mereka bahwa mereka tidak akan mampu mengalahkan resi ini, dan celakanya, Kolonadah disimpan demikian rapatnya sampai tidak kelihatan.

Kalau Kolonadah kelihatan, mungkin mereka dapat menggunakan akal untuk merampasnya.

Akan tetapi keris pusaka itu disimpan di balik jubah dan tidak nampak, sedangkan pecut itu panjang sekali sehingga tidak memungkinkan mereka mendekati Sang Resi.

"Mundur...!"

Tiba-tiba Si Pemegang Suling berseru dan segera dia melompat ke belakang, diikuti oleh Si Muka Hitam dan dengan beberapa loncatan saja lenyaplah mereka di antara pohon-pohon di dalam hutan.

Resi Harimurti berdiri tegak, lalu tertawa bergelak sambil bertolak pinggang.

"Ha-ha-ha, belum lecet kulitmu secuwil, belum mengucur darahmu setetes, kalian sudah lari! Huh, pengecut!"

Dan dia melanjutkan perjalanannya dan baru sekarang nampak betapa napasnya juga memburu.

Cepat dia menarik napas panjang untuk menghilangkan kelelahannya dan dengan berjalan perlahan akhirnya dia dapat juga mengatur pernapasannya dan ketika dia tiba di tengah hutan, keadaannya sudah pulih kembali.

Sebetulnya, Sang Resi ini adalah seorang gemblengan yang sudah memiliki kepandaian tinggi dan tenaga sakti yang amat kuat.

Akan tetapi, oleh karena dia lemah menghadapi nafsu berahinya sendiri, dan terlampau sering dia melampiaskan nafsu berahinya secara melewati batas, maka daya tahannya berkurang dan kalau tadi dia tidak kelihatan lelah di depan orang lawannya adalah karena dia menggunakan ilmu hitam sehingga dua orang lawan itu melihat dia seolah-olah masih segar, padahal dia sudah mulai loyo dan kalau pengeroyokan itu dilanjutkan terus, keadaan bisa berbahaya juga baginya.

Ternyata hutan di Pegunungan Kidul itu lebat dan panjang juga sehingga menjelang senja barulah dia dapat keluar dari dalam hutan.

Dia sengaja mengambil jalan menyusup-nyusup di antara semak-semak untuk memotong jalan dan pedomannya hanyalah matahari yang condong ke barat.

Tujuannya adalah ke utara, maka kalau matahari yang condong ke barat itu berada di sebelah kirinya, sudah benarlah arahnya.

Hatinya lega ketika dia melihat betapa hutan itu habis di lereng bukit depan.

"Eeiiihhhh...!"

Dara itu menjerit dan otomatis tangan kirinya diangkat dan punggung tangan itu menutupi mulutnya dengan mata terbelalak memandang kepada Resi Harimurti.

Saking kagetnya barangkali, kemben yang melilit pinggang terus ke dada itu ujungnya terlepas sehingga kainnya melorot turun memperlihatkan kaki dan lereng sepasang bukit yang halus padat dan mulai membusung.

Apalagi ketika lengan kiri itu diangkat ke atas, nampak ketiak yang halus bersih menyambung kaki bukit kembar itu.

Resi Harimurti tersenyum dan matanya memandang penuh gairah dari atas ke bawah sambil menilai-nilai.

Seorang dara dusun yang kelihatannya masih "hijau"

Usianya tentu tidak lebih dari enam belas tahun,hidup di alam bebas membuatnya cepat matang namun tidak menyadari kematangannya sehingga kelihatan masih "polos".

Rambutnya awut-awutan namun membentuk keindahan yang wajar tanpa bantuan minyak, kembang dan sisir.

Mukanya bulat telur dan segar kemerahan tanda kesehatan berkat hawa yang bersih dan sinar matahari.

Matanya menyinarkan kebodohan yang murni dan mulutnya yang agak terbuka karena keheranan itu memperlihatkan empat buah gigi atas yang kecil dan rapi putih mengkilap.

Tubuhnya padat dan nampak berisi karena setiap hari otot-otot itu bergerak untuk bekerja seperti biasanya perawan gunung.

Resi Harimurti menelan air liurnya seperti seorang kelaparan melihat nasi putih mengepul hangat, atau seperti seekor harimau kelaparan melihat kelinci muda yang gemuk.

Pikirannya membayang-bayangkan segala kenikmatan nafsu berahi sehingga makin bangkitlah gairahnya.

Nafsu apa pun juga, terutama nafsu berahi, selalu timbul dari pikiran.

Kalau seorang pria, tua mau pun muda, yang sehat dan wajar, melihat seorang wanita muda merasa tertarik dan suka, hal itu sudah merupakan suatu kewajaran.

Seperti halnya orang akan tertarik melihat sesuatu yang indah dan yang mempunyai daya tarik tersendiri, seperti bunga-bunga, kupu-kupu, pemandangan alam, bulan, dan sebagainya.

Apalagi karena secara alamiah memang ada daya tarik pada diri wanita terhadap pria, maka wajarlah kalau seorang pria yang melihat seorang wanita, apalagi yang cantik dan muda, lalu merasa tertarik dan suka dengan apa yang dilihatnya.

Akan tetapi, hal ini adalah wajar dan tidak ada jahat atau buruknya,seperti kita melihat bunga, melihat keindahan alam dan sebagainya.

Kalau pikiran masuk dan mencampuri peristiwa itu, barulah menjadi rusak keadaannya dan menjadi jahat atau buruk akibatnya.

Pikirannya membayangkan semua pengalaman sendiri,atau yang didengar dari lain orang, tentang kenikmatan yang dapat direguk bersama wanita yang dipandangnya itu, dan bersama bayangan-bayangan itu datanglah gairah nafsu berahi!

Dan kalau nafsu berahi sudah menguasai batin,segala perbuatan dilakukan dengan membuta, yang ada hanya keinginan untuk menikmati seperti apa yang dibayangkannya itu.

Demikian pula halnya dengan Resi Harimurti orang yang sudah terbiasa membayangkan segala kesenangan duniawi, terutama sekali kesenangan bermain cinta dengan wanita, baik secara suka rela maupun secara paksa seperti yang sudah biasa dilakukannya.

Melihat perawan gunung ini, timbullah gairah berahinya.

"Eh, Gendhuk yang manis, cah ayu, kenapa kau menjerit? Sampai kaget aku!"

Katanya dengan wajah penuh kemarahan.

"Saya yang kaget... saya kira tadinya bukan manusia..."

Perawan itu berkata dan kini tangan yang menutupi mulut itu turun menekan ke atas sebuah di antara bukit kembar yang sebelah kiri.

Gerakan ini membuat jantung Harimurti berdebar karena dia merasa seolah-olah tangannyalah yang menjamah dada itu.

"Bukan manusia, habis kau kira apa, Nini?"

"Saya kira tadinya... celeng yang mau menyeruduk saya!"

"Ha-ha-ha! Celeng (babi hutan)? Kalau ada celeng sebesar dan setua ini, betapa akan alot dagingnya! Ha-ha-ha!"

Gadis itu pun tersenyum sehingga nampak sederet gigi yang putih rata.

"Ahh, tadi saya tidak melihat jelas, Kakek..."

"Kakek? Wah, sembarangan saja kau menyebut orang. Aku belumlah begitu tua, cah ayu. Dan aku adalah Resi Harimurti, seorang ponggawa Kerajaan Mojopahit. Dan kau menyebutku Kakek?!"

Dara itu kelihatan terkejut dan matanya terbelalak lebar, mengingatkan Resi Harimurti akan mata seekor kelinci berbulu putih yang manis.

"Ah, kiranya Paduka... bangsawan...?"

Tanyanya takut-takut.

"Ha-ha-ha, aku priyayi, aku priyayi agung, bangsawan besar yang tinggi pangkatnya, mulia kedudukannya dan kaya raya!"

Perawan dusun itu makin ketakutan dan dia lalu menjatuhkan diri berlutut dan menyembah.

"Harap Paduka mengampuni hamba..."

Katanya lirih.

"Tentu... tentu...! Siapa bisa marah kepada seorang ayu manis seperti engkau?"

Dan Harimurti lalu duduk pula di atas rumput tebal di dekat perawan itu, tangannya langsung mengelus dagu.

"Aihhhh...!"

Dara itu menjerit lirih dan mengusap dagunya seolah-olah baru saja terbakar api.

"Aahh, aku priyayi agung dari Mojopahit. Apakah engkau tidak senang melayani aku, cah ayu?"

Dara itu mengangkat muka memandang dengan mata terbelalak, ketika Resi itu mendekatkan mukanya, dia membuang muka dengan ketakutan.

"Hamba... hamba takut..., hamba adalah seorang pencari kayu yang kemalaman. Hamba mau pulang... nanti Ayah dan Ibu mencari-cari hamba..., disangkanya hamba di..."

"Diseruduk celeng?"

Harimurti menggoda dan gadis itu mau tidak mau tersenyum.

Melihat senyum ini, Harimurti tidak kuat lagi dan seperti seekor harimau buas saja, dia menerkam, memeluk gadis itu dan mencium mulut itu dengan ganas.

Gadis itu meronta-ronta, akan tetapi mana mungkin dia melawan tenaga Sang Resi yang amat kuat dan rontaannya itu menambah gairah hati Sang Resi sehingga pelukannya menjadi makin ketat.

"Aduhhh... perut dan dada hamba sakit tertekan itu..."

Setelah mulutnya dilepaskan gadis itu terengah-engah dan mengeluh.

Baru teringatlah Harimurti bahwa di pinggangnya terdapat banyak macam benda keras.

Keris pusaka Kolonadah yang terbungkus kain kuning, gagang pecut dan gagang kipas yang kesemuanya menonjol dan keras.

Tentu saja menyakitkan perut dan dada perawan itu.

"Ha-ha-ha, aku sampai lupa membawa senjata-senjata ini!"

Katanya dengan suara agak gemetar karena nafsu berahinya sudah memuncak setelah dia memeluk tubuh yang mengkal dan menciumi mulut yang lunak itu.

Dikeluarkannya tiga macam senjata itu dan dara itu memandang dengan mata terbelalak.

"Barang-barang aneh yang paduka bawa..."

Katanya lirih dan makin heran di samping rasa takut dan tegang yang membayang di wajahnya.

"Ha-ha-ha, ini adalah pusaka-pusaka ampuh, cah ayu. Lihat... prakk!"

Kipas itu digerakkan dan sebuah batu sebesar tangan pecah-pecah! "Dan ini, lihat betapa hebatnya pecutku!"

Dia menggerakkan pecutnya.

"Tarrr... bruukkk..."

Sebatang pohon yang dicambuknya tumbang. Dara itu pucat wajahnya dan memandang dengan mata terbelalak makin lebar. Melihat ini, Harimurti tertawa.

"Apalagi ini!"

Dia menyingkapkan kain kuning sehingga nampak keris pusaka Kolonadah yang mengeluarkan sinar aneh.

"Kalau sekali memasuki perut, akan hancur lebur tubuh orang itu. Maka, kau tahu sekarang bahwa selain priyayi agung, aku pun seorang yang memiliki kesaktian hebat, maka jangan kau menentang kehendakku, manis. Kau layanilah aku, cah ayu."

Harimurti perlahan-lahan meletakkan semua senjata di atas rumput di dekatnya, kemudian perlahan-lahan pula dia mulai membuka pakaiannya sendiri, dipandang dengan mata terbelalak oleh perawan itu.

"Ha-ha-ha, jangan kau kira hanya celeng saja yang pandai menyeruduk, aku pun bisa. Lihat!"

Dia menerkam lagi dan memeluk gadis itu yang tidak mampu mengeluarkan suara saking takutnya, bahkan tidak lagi meronta ketika Harimurti menarik kain dan kembennya.

Pada saat itu, tiba-tiba nampak dua bayangan berkelebat dan meloncat ke tempat itu dan sekali sambar saja, dua orang itu telah bergerak, yang satu menghantam ke arah Harimurti dengan suling hitam, yang ke dua menyambar bungkusan kuning keris pusaka Kolonadah.

"Wuuuuttt...!"

Suling hitam menyambar ke arah kepala Harimurti yang sedang lengah karena diamuk nafsu berahi yang sedang memuncak.

Akan tetapi berkat latihan puluhan tahun, dia mendengar suara mereka dan cepat serta otomatis lengannya menangkis sinar hitam yang menyambar ke arah kepalanya.

"Dukkk...!!"

Si Penyerang itu mengeluh dan terhuyung ke belakang lalu meloncat pergi menyusul Si Muka Hitam yang sudah melarikan Kolonadah.

"Eh, keparat jahanam!"

Resi Harimurti terkejut sekali karena melihat bahwa bungkusan kain kuning telah lenyap dari situ.

Cepat dia meloncat bangun, mengenakan kembali pakaiannya sejadi-jadinya kemudian lari mengejar.

Gerakannya memang cepat sekali dan kini dia lari sambil mempersiapkan kipas dan cambuk di tangannya.

Karena cepatnya Sang Resi berlari seperti terbang saja, dia sudah berhasil menyusul Si Peniup Suling yang tadi menyerangnya.

"Jahanam, hendak lari ke mana kau?"

Bentaknya dan pecutnya yang panjang itu menyambar sambil mengeluarkan suara ledakan-ledakan kecil.

"Plak-plak-tranggg...!!"

Berkali-kali Si Peniup Suling menangkis sampai akhirnya dia terhuyung dan sulingnya hampir terlepas dari tangannya.

"Bukan aku yang mengambil Kolonadah...!"

Teriak Si Pemegang Suling.

"Heh, Resi cabul! Mau minta kembali Kolonadah? Enaknya, ini dia sudah berada di tanganku!"

Terdengar suara di belakangnya.

Resi Harimurti yang sedang mendesak Si Pemegang Suling Hitam yang memegang keris dengan tangan kanan itu mengacung-acungkan bungkusan kain kuning di tangan kirinya, dia mengeluarkan suara gerengan dahsyat dan tubuhnya mencelat ke depan, langsung dia menyerang Si Muka Hitam itu dengan pecut dan kipasnya!

"Kembalikan pusaka itu!"

Bentaknya akan tetapi serangannya lebih cepat daripada bentakannya.

Hebat bukan main serangannya itu dan biar pun Si Muka Hitam berhasil menangkis pecut dengan kerisnya dan meloncat mundur untuk mengelak, namun tetap saja hawa dari kipas itu membuat dia terjengkang dan jatuh bergulingan di atas rumput.

"Mampus kau!"

Resi Harimurti membentak dan mengejar, akan tetapi tiba-tiba Si Muka Hitam itu mengayun tangan kirinya dan melemparkan bungkusan kuning itu ke kiri.

"Sambut ini...!"

Teriaknya dan Resi Harimurti cepat menoleh.

Ketika dia melihat Si Pemegang Suling menyambut bungkusan kuning itu dan lari, dia marah sekali dan tanpa memperdulikan lagi Si Muka Hitam, dia sudah mencelat dan mengejar Si Pemegang Suling.

Dia marah sekali kepada mereka berdua, akan tetapi untuk saat itu, yang terpenting adalah menghalangi mereka melarikan Kolonadah.

Setelah dia berhasil merebut kembali Kolonadah, baru dia akan membunuh mereka seorang demi seorang.

Si Pemegang Suling itu lari cepat sekali, akan tetapi Resi Harimurti lebih cepat lagi gerakannya dan sebentar saja dia sudah hampir dapat menyusulnya.

Akan tetapi tiba-tiba Si Pemegang Suling melemparkan bungkusan kuning itu ke arah semak-semak sambil berkata.

"Sambutlah!"

"Kresekkk...!"

Bungkusan kuning itu masuk ke dalam semak-semak tanpa ada yang menyambutnya.

Melihat ini, giranglah hati Resi Harimurti dan dia pun cepat menubruk ke semak-semak itu untuk mendahului kalau-kalau ada orang lain yang akan mengambil bungkusan itu.

"Wuuuttt... crott... aduhhh, keparat!"

Resi Harimurti masih sempat mengerahkan aji kekebalannya akan tetapi tetap saja keris yang menyambut tubrukannya dari dalam semak-semak itu telah menancap dan melukai pundaknya.

Biar pun hanya merobek beberapa senti ke dalam dagingnya, namun cukup panas dan nyeri, akan tetapi lebih nyeri lagi rasa hatinya ketika dia melihat Si Muka Hitam meloncat ke luar dari semak-semak tadi sambil membawa bungkusan kuning Kolonadah!

Kiranya mereka itu sengaja mempermainkan!

Si Muka Hitam itu telah menanti dalam semak belukar dan menyambut tubrukannya dengan keris ditusukkan.

Untung tadi dia masih sempat miringkan tubuh dan mengerahkan aji kekebalan, kalau bukan dia, tentu telah menggeletak dengan keris menembus ulu hati!

"Bedebah!"

Makinya dan dengan kepala pening saking marahnya dia sudah mengejar Si Muka Hitam yang lari ke atas sebuah lereng.

Dia mengejar terus akan tetapi kemarahannya membuat dia terengah-engah.

Hatinya girang melihat Si Muka Hitam juga makin lambat larinya dan ketika tiba di tepi jurang, hampir dia dapat menyusulnya.

"Hei, sambut ini, kawan!"

Teriak Si Muka Hitam sambil melempar bungkusan kain kuning ke bawah jurang! "Celaka...!"

Resi harimurti berseru dan cepat dia menjenguk ke bawah jurang.

Dilihatnya dengan girang bahwa bungkusan itu tertahan oleh sebatang pohon yang tumbuh di lereng tebing jurang itu dan tampak dari atas keris pusaka Kolonadah menancap pada batang pohon sedangkan kain kuning itu tersangkut di ranting pohon.

Bukan main girang hatinya yang penting adalah keris pusaka Kolonadah lebih dulu, pikirnya dan dengan hati-hati namun cepat dia menggunakan kesaktiannya untuk menuruni tebing yang curam itu.

Dengan hanya bergantungan pada akar-akar pohon dan batu-batu karang, akhirnya dapat juga dia tiba di pohon itu, mencabut keris dan membungkusnya kembali cepat-cepat, menyelipkan di pinggang dan menutupkannya dengan jubah, kemudian tergesa-gesa dia kembali ke atas dengan hati lega akan tetapi juga dengan hati panas sekali.

"Sekarang aku akan bunuh kalian anjing-anjing keparat!"

Dia memaki setelah tiba di atas tebing.

Akan tetapi tidak nampak lagi bayangan dua orang yang mempermainkannya itu.

Dia berteriak-teriak menantang, memaki-maki dan semua perbendaharaan kata-kata makian terlontar keluar dari mulutnya.

Namun tidak ada orang menjawab.

Lalu dia teringat kepada perawan itu dan tersenyum.

Masih ada obat kekecewaanku, pikirnya dan timbul kembali gairahnya ketika dia teringat kepada perawan tadi.

Cepat dia lari ke tepi hutan akan tetapi ternyata dara itu pun telah lenyap.

Yang ada hanya seikat kayu yang tadi dibawa oleh perawan itu.

Bekasnya pun tidak lagi, entah ke mana menghilangnya.

Tentu telah lari pulang ketakutan, pikirnya dengan penuh sesal.

Sialan!

Perawan yang sudah begitu menurut, seumpama domba tinggal menyembelih, seumpama makanan telah dikepal tinggal nyaplok, akhirnya gagal terlepas!

Dan pundaknya terluka, nyeri dan panas rasanya.

Sialan benar!

Keparat dua orang itu, pikirnya.

Awas, sekali waktu aku akan mendapatkan kalian dan jangan tanya lagi tentang dosamu!

Sambil bersungut-sungut Resi Harimurti mengeluarkan buntalan kain kuning dan membukanya.

"Heiii...!!"

Dia terlonjak kaget, sekali lagi memandang penuh ketelitian, kemudian dengan kemarahan meluap dia membanting keris itu. Memang mirip Kolonadah akan tetapi jelas bukan.

"Krakk!"

Keris itu patah dua karena dibanting menimpa batu. Kalau Kolonadah, tidak mungkin patah, paling-paling batunya yang akan hancur.

"Bedebah, keparat jahanam!"

Dia memaki-maki, mengepal-ngepal tinju, membanting kaki, akan tetapi kepada siapa kemarahannya harus ditimpakan?

Dua orang itu sudah lenyap.

Akan tetapi, hatinya masih penasaran dan sampai keesokan harinya, Resi Harimurti baru berhenti mencari-cari di sekitar tempat itu.

Dua orang laki-laki itu lenyap seperti ditelan bumi, lenyap bersama Kolonadah, dan juga perawan dusun itu lenyap pula.

Dan pundaknya makin nyeri karena tidak diobati, malah agak membengkak.

Celaka!

Sialan!

"Mereka tentu orang-orang Lumajang,"

Pikirnya karena ketika mencari-cari mereka, dia lewat di tempat di mana dia membunuh Ki Ageng Palandongan, akan tetapi mayat kakek itu pun sudah lenyap.

Tidak ada jalan lain baginya kecuali pulang ke Mojopahit untuk membuat laporan kepada Resi Mahapati dan berobat.

Ke manakah hilangnya mayat Ki Ageng Palandongan yang mengherankan hati Resi Harimurti?

Sesungguhnya, Ki Ageng Palandongan belum mati ketika ditinggalkan oleh Resi Harimurti yang tergesa-gesa karena ingin cepat-cepat membawa pergi keris pusaka Kolonadah.

Memang hebat sekali hantaman Resi Harimurti yang mengenai tengkuk Ki Ageng Palandongan dan membuatnya pingsan itu.

Dia terluka di sebelah dalam sehingga muntah darah.

Akan tetapi, tubuhnya yang kebal itu masih melindunginya sehingga dia belum tewas.

Dan semangatnya yang amat besar dapat membuat dia menahan rasa nyeri yang luar biasa.

Sambil setengah merangkak Ki Ageng Palandongan melanjutkan perjalanan setelah dia sadar.

Dia tidak boleh mati, pikirnya, tidak boleh mati dulu sebelum menyampaikan berita tentang Kolonadah ke Lumajang!

Dan Lumajang tidak begitu jauh lagi.

Dalam keadaan amat sengsara itu, tiba-tiba muncul dua orang perajurit Lumajang yang bertugas menyelidik keadaan tapal batas antara Lumajang dan Mojopahit di sebelah selatan itu.

Tentu saja mereka mengenal Ki Ageng Palandongan dan cepat menolongnya.

"Ah, Ki Ageng, apakah yang telah terjadi?"

Tanya mereka.

Ki Ageng Palandongan tidak berbesar hati melihat dua orang perajurit itu.

Mereka ini tidak boleh diandalkan untuk membantunya merampas kembali Kolonadah, karena mereka hanya perajurit biasa yang sama sekali bukanlah tandingan Resi Harimurti.

Akan tetapi setidaknya mereka dapat membantunya agar cepat dapat menghadap ke Lumajang.

"Cepat... bawa aku... ke Lumajang..., cepat dan jangan ditunda-tunda..."

Katanya. Dua orang itu segera menggotongnya dan cepat pergi dari situ, maka tidaklah aneh kalau Resi Harimurti tidak menemukan "mayat"

Ki Ageng Palandongan.

Biar pun keadaannya parah, lukanya berat sekali, namun Ki Ageng Palandongan tidak mau berhenti dan mendesak dua orang itu agar bersi cepat membawanya sampai ke Lumajang.

Akhirnya sampai jugalah mereka di Lumajang, akan tetapi keadaan Ki Ageng Palandongan sudah demikian payahnya sehingga dia harus diusung ketika dibawa ke dalam Kadipaten Lumajang.

Pada saat itu, di Kadipaten Lumajang sedang diadakan pertemuan dan perundingan.

Yang hadir dalam persidangan itu adalah Adipati Wirorojo sendiri yang didampingi oleh Aryo Pranarojo, beberapa orang bekas senopati Mojopahit yang dahulu membantu Ronggo Lawe dan Lembu Sora dan yang dapat lolos dari kematian dan melarikan diri ke Lumajang, dan di situ hadir pula seorang pemuda yang bertubuh tegap dan pendiam serta wajahnya serius sungguh pun usianya kurang lebih baru tujuh belas tahun.

Pemuda ini adalah cucu dari Adipati Wirorojo sendiri, yaitu Kuda Anjampiani atau yang juga disebut Raden Turonggo.

Mereka semua memperbincangkan berita kematian Progodigdoyo dan tentang keris pusaka Kolonadah yang kabarnya kini telah muncul dan membuat geger Tuban.

Ketika mendengar berita dari para penjaga bahwa Ki Ageng Palandongan datang dalam keadaan sakit payah, terkejutlah semua orang.

Apalagi ketika mereka melihat kakek itu diusung masuk ke persidangan.

Semua orang merubungnya dan bertanya-tanya.

Melihat keadaan Ki Ageng Palandongan demikian payah, Adiapati Wirorojo lalu menyuruh mundur semua orang dan memerintahkan pengawal untuk cepat memanggil ahli pengobatan.

"Tak usah... Kakangmas Adipati... dengarkan baik-baik, saya... saya sudah berhasil memperoleh Kolonadah... akan tetapi di jalan... saya dihadang oleh Resi Harimurti... Kolonadah dirampasnya... dan saya... saya..."

Napas kakek itu terengah-engah dan sukar sekali dia bernapas. Mendengar ini, Adipati Wirorojo menjadi merah mukanya.

"Di mana dia? Adimas Palandongan, di mana Resi Harimurti kini...?"

"Saya... bertemu di Pegunungan Kidul..."

Dengan suara tersendat-sendat, mengap-mengap seperti ikan terdampar di darat, Ki Ageng Palandongan menceritakan sedapat mungkin tentang keris pusaka Kolonadah.

Dia tidak dapat bercerita panjang lebar,hanya mengatakan bahwa keris itu sudah ada padanya dan sedang dibawanya dari Tuban ke Lumajang, akan tetapi di Pegunungan Kidul dia dihadang oleh Resi Harimurti, dia dipukul roboh dan keris pusaka dirampas.

Dia tidak sempat bercerita tentang Bromatmojo, Empu Singkir dan yang lain-lain.

"Harap... usahakan agar Kolonadah dapat diambil kembali... berbahaya kalau terjatuh ke tangan... orang... orang jahat..."

Ki Ageng Palandongan tidak kuat bertahan lagi dan menghembuskan napas terakhir pada saat ahli pengobatan datang.

Akan tetapi kakek tua renta yang pandai mengobati ini setelah memeriksanya hanya menarik napas panjang saja.

"Sudah hebat dia dapat bertahan sampai beberapa hari,"

Ujarnya. Jarang ada orang dapat bertahan hidup setelah menerima hantaman yang mendatangkan luka parah di bagian dalam tubuhnya."

Lumajang berkabung dengan kematian Ki Ageng Palandongan.

Setelah mengurus pembakaran jenazah sebagaimana mestinya, Adipati Wirorojo lalu mengadakan persidangan dengan para pembantunya yang dipercaya.

Juga Aryo Pranarojo ikut pula bersidang dan hal ini memang agak aneh.

Aryo Pranarojo adalah ayah Ki Patih Nambi yang kini masih menjadi patih di Mojopahit, namun jelas bahwa dia berpihak kepada Lumajang.

Hal ini sebenarnya tidaklah aneh kalau diingat bahwa Aryo Pranarojo adalah seorang hulubalang yang amat setia semenjak Raja Kertanegara.

Keadaan dalam istana Mojopahit sekarang tidak menyenangkan hatinya setelah Sang Prabu Kertarajasa Jayawardhana, yaitu Raden Wijaya yang perjuangannya dia bantu bersama-sama dengan Aryo Wirorojo yang kini menjadi Adipati Lumajang, jatuh ke dalam pengaruh isterinya yang dari Negeri Melayu.

Kematian-kematian Ronggo Lawe dan Lembu Sora makin menghancurkan hati Aryo Pranarojo maka dia tidak dapat bertahan lagi tinggal di Mojopahit dan pindah ke Lumajang, sungguhpun puteranya masih menjadi patih di sana.

"Sudah jelas bahwa Resi Harimurti adalah kaki tangan mereka yang mengabdi kepada keturunan Puteri Melayu,"

Kata Adipati Wirorojo dalam persidangan itu.

"Kalau keris pusaka Kolonadah terjatuh ke tangan Pangeran Pati, sungguh hal itu amat tidak baik. Bagaimanapun juga, kita harus dapat merampas kembali keris pusaka itu. Keris pusaka itu adalah milik anakku Si Ronggo Lawe, siapa pun juga tidak berhak memilikinya dan hanya akulah sebagai ayah Ronggo Lawe, yang berhak memutuskan kepada siapa pusaka itu harus diserahkan."

Semua orang setuju dan agaknya mereka yang sudah merasa tidak senang kepada Mojopahit itu ingin sekali untuk menyusun kekuatan dan menggempur saja Mojopahit.

"Sang Prabu sudah tidak dapat diberi ingat lagi, dan kekuasaan orang-orang Melayu makin mencengkeram Mojopahit. Hal itu tidak boleh dibiarkan saja, Kakang Adipati, dan sebaiknya kita gempur saja Mojopahit dan kita hukum orang-orang yang mendukung kekuasaan Melayu itu! Kita bebaskan Sang Prabu dari cengkeraman mereka dengan kekerasan!"

Demikian kata Aryo Semi, seorang senopati yang sangat dekat dengan Lembu Sora dan kini juga berada di Lumajang.

Hampir semua orang yang hadir membenarkan dan menyetujui pendapat Aryo Semi ini.

Sudah terlampau lama mereka menahan kemarahan semenjak Ronggo Lawe gugur sampai sekarang, sudah hampir sepuluh tahun lamanya.

Adipati Wirorojo mengangkat kedua tangan ke atas memberi isyarat agar semua pembantunya diam.

Lalu berkatalah dia dengan suara lantang, sepasang matanya mencorong dan biarpun sudah tua, ternyata Aryo Wirorojo masih mempunyai wibawa yang amat menakutkan sehingga semua orang mendengarkan dengan tekun dan hormat.

"Para sahabat dan kawan seperjuangan, dengarlah baik-baik! Kita semua adalah bekas perajurit-perajurit yang mengabdi kepada Raden Wijaya, bahkan sebelum itu di antara kita yang tua-tua telah mengabdi kepada Sang Prabu Kertanegara! Raden Wijaya yang sekarang telah menjadi raja di Majapahit adalah junjungan kita,benar atau salah! Kita adalah para ponggawanya yang setia. Memang sudah menjadi tugas kita pula untuk selalu mengingatkan Sang Prabu daripada kekeliruan-kekeliruan tindakan, akan tetapi sampai mati pun aku tidak akan memberontak kepada Sang Prabu di Mojopahit! Dengarkah kalian semua? Sampai mati aku tidak akan memberontak terhadap Sang Prabu di Mojopahit dan siapa yang akan memberontak, berarti akan menjadi musuh Wirorojo!"

Hebat bukan main ucapan ini dan semua orang berdiam, menahan napas. Lalu terdengarlah ucapan Aryo Pranarojo.

"Apa yang diucapkan oleh Kakangmas Adipati Wirorojo adalah benar dan tepat. Kita bukanlah pengkhianat-pengkhianat yang suka memberontak kalau keinginan kita tidak dipenuhi. Kalian hendaknya ingat ketika mendiang Ronggo Lawe memberontak karena tidak kuat menahan kemarahan hatinya. Bagaimana sikap Kakangmas Adipati Wirorojo? Apakah Beliau membela puteranya? Sama sekali tidak dan hal itu semata-mata membuktikan kesetiaannya yang luar biasa terhadap Sang Prabu. Oleh karena itu, lenyapkanlah semua pikiran hendak memberontak dan menggempur Mojopahit."

"Kalau begitu bagaimana baiknya sekarang? Keris pusaka Kolonadah juga sudah terampas oleh mereka yang mengabdi kepada kekuasaan Melayu,"

Kata Aryo Semi.

"Memang keris pusaka itu harus dirampas kembali, akan tetapi harus dilakukan tanpa perang. Dengan demikian maka hal itu merupakan urusan pribadi, bukan urusan kerajaan! Dan untuk mencapai tujuan itu, kita harus menyebar penyelidik yang terdiri dari orang-orang yang memiliki kesaktian karena kita tahu bahwa pihak mereka pun menggunakan orang-orang yang berilmu tinggi seperti Resi Harimurti dan yang lain-lain."

"Bagus, memang semestinya begitulah,"

Kata Aryo Wirorojo.

"Akan tetapi ke mana kita harus mencari orang-orang yang sakti?"

"Kita adakan sayembara adu kesaktian untuk memilih mereka!"

Tiba-tiba terdengar usul seorang yang hadir. Usul ini diterima baik oleh Adipati Wirorojo yang segera berpaling kepada cucunya, Raden Turonggo.

"Kulup, Turonggo, kuserahkan sayembara ini kepadamu. Engkau adalah seorang pemuda yang sejak kecil telah menerima gemblengan, maka kaulah yang sepatutnya memimpin sayembara ini dan mengatur sebaik-baiknya untuk mengumpulkan sebanyak mungkin orang sakti di seluruh daerah Lumajang. Umumkan kepada rakyat bahwa semua orang boleh mengikuti sayembara tanpa memandang kasta dan keturunan, dan bahwa siapa yang lulus akan diterima menjadi angagauta pasukan pengawal yang istimewa."

Raden Turonggo menyembah.

"Baik, Eyang Adipati."

Lalu disusunlah panitia untuk penyelenggaraan sayembara itu yang dipimpin sendiri oleh Raden Turonggo, pemuda remaja yang gagah perkasa dan pendiam itu.

Setelah berita sayembara itu disebar luas ke seluruh Lumajang, sampai jauh ke perbatasan dan ke pantai Laut Selatan, sebulan kemudian dimulailah sayembara itu.

Lumajang kebanjiran orang-orang muda dan tua yang berdatangan dari segala penjuru untuk mencoba-coba memasuki sayembara itu.

Raden Turonggo yang dibantu oleh banyak ahli-ahli keprajuritan telah mempersiapkan segala-galanya dan dengan cerdik pemuda remaja ini mengatur ujian-ujian bagi mereka yang memasuki sayembara.

Karena yang dipilih adalah orang-orang sakti, maka ujian-ujian yang diadakan untuk para calon juga amat berat dan yang kiranya hanya mampu dilakukan oleh orang-orang yang benar-benar memiliki aji kesaktian.

Pertama, pengikut sayembara harus dapat mengangkat sebongkah batu sebesar kerbau yang beratnya kira-kira hanya akan dapat diangkat oleh enam orang laki-laki biasa saja!

Melihat ujian pertama ini saja, sudah sebagian besar orang-orang yang berdatangan itu mundur teratur sebelum melangkah kepada ujian-ujian selanjutnya yang lebih berat.

Ke dua, setelah pengikut sayembara lulus dalam ujian pertama, dia diharuskan menunggang seekor kuda yang liar dan belum jinak, kemudian melarikan kuda itu di atas jalan yang tidak rata sambil membawa gendewa dan anak panah.

Di tepi jalan,amat jauh bagi ahli panah biasa, kira-kira seribu kaki jauhnya, dipasangi orang-orangan yang dapat digerakkan dengan tali dan dia harus dapat melepaskan tiga kali anak panah dari atas kudanya ke arah orang-orangan itu dan mengenai dengan tepat.

Tentu saja orang-orangan itu digerak-gerakan dan dapat mengelak ke sana-sini!

Ujian ini membuat para perajurit pasukan panah di Lumajang menjulurkan lidah mereka.

Mana mungkin?

Menunggang kuda liar saja sudah liar sudah sulit sekali, salah-salah bisa dibanting dan remuk tulang pinggulnya.

Apalagi sambil memanah orang-orangan yang bisa mengelak dari jarak begitu jauh.

Gila, pikir mereka.

Tidak gila, karena sayembara ini bukan diperuntukkan mereka, melainkan orang-orang yang sakti mandraguna!

Syarat ke tiga, setelah pengikut sayembara lulus dalam ujian pertama dan ke dua, dia harus mampu memetik buah kelapa yang digantungkan tinggi di ujung bambu tanpa memanjat bambunya dan sudah diperingatkan bahwa ketika dia berusaha memetik buah itu, akan ada pasukan anak panah menyerang dan tenghalang-halanginya.

Lebih gila lagi, pikir mereka yang merasa tidak sanggup, itu berarti bunuh diri!

Baru setelah pengikut sayembara lulus dari tiga macam syarat itu, dia dianggap lulus!

Tiga syarat itu diadakan bukan semata-mata untuk mempersulit orang yang hendak mengikuti sayembara, namun sudah diperhitungkan masak-masak oleh Raden Turonggo.

Syarat pertama adalah untuk menguji kekuatan orang.

Syarat ke dua untuk menguji kepandaian menunggang kuda dan mainkan anak panah, dan syarat ke tiga untuk menguji kecekatan dan ketrampilan, juga daya tahan mereka terhadap ancaman bahaya.

Semua itu memang diperlukan mutlak untuk orang-orang yang dapat dipercaya untuk menyelidiki dan merampas kembali pusaka Kolonadah!

Dan apabila tiga syarat itu sudah dipenuhi, maka untuk menentukan tingkat, barulah di antara mereka yang lulus itu akan dipertandingkan untuk menentukan tingginya kepandaian mereka dan kedudukan mereka kelak!

Alun-alun Lumajang telah dihias karena di alun-alun inilah diadakannya sayembara itu untuk memberi kesempatan kepada rakyat menonton pula.

Semenjak pagi, alun-alun yang luas itu telah dibanjiri orang.

Bukan hanya mereka yang ingin mengikuti sayembara, melainkan lebih banyak lagi adalah mereka yang ingin menonton!

Tua muda laki perempuan hari itu meninggalkan pekerjaan masing-masing karena tidak mau ketinggalan menyaksikan sayembara yang amat hebat itu.

Para perajurit yang menjaga, dengan teriakan-teriakan mereka menyuruh para penonton untuk jangan melanggar tali yang direntang membentuk lingkaran di tengah-tengah alun, juga mereka minta agar para penonton jangan berhimpit-himpitan,yang di depan duduk agar tidak menghalang yang berada di belakang.

Semua penonton mentaati teriakan-teriakan ini, dan itu merupakan pertanda bahwa rakyat tidak perlu ditekan karena rakyat menghormat dan mencinta para petugas yang tidak pernah menindas mereka.

Di sinilah letaknya kebijaksanaan Adipati Lumajang yang dapat mendidik para petugas pemerintah sedemikian rupa sehingga para petugas merupakan pelindung rakyat yang sesungguhnya.

Hanya apabila petugas-petugas pemerintah sudah benar-benar merupakan pelindung rakyat, tidak pernah menggunakan kekerasan dan tidak suka menindas, menghadapi pelanggaran dengan keadilan yang bijaksana, maka tanpa diperintah pun rakyat akan sayang kepada mereka, dan rasa sayang karena mempunyai pelindung inilah yang membuat rakyat akan tunduk tanpa dipaksa, tertib tanpa ditekan.

Sayang sekali bahwa Mojopahit pada waktu itu tidak terdapat ketertiban seperti yang diperlihatkan oleh sikap rakyat di alun-alun Lumajang itu.

Mojopahit dilanda kekacauan dan ketidakpuasan.

Semua ini disebabkan oleh kelalaian raja yang sudah sering sakit-sakitan itu, yang menimbulkan pertentangan sendiri di dalam istana antara isteri-isterinya, pertentangan yang menjalar sampai di antara ponggawa dan makin meluas di kalangan rakyat.

Kekacauan ini timbul dari atas dan menjalar atau mempengaruhi yang berada di bawah.

Selalu akan begitu keadaannya.

Kalau yang di atas tertib, tentu yang di atas dapat mengawasi yang di bawah akan dapat mencontoh yang di atas.

Kalau yang di atas kacau, yang di bawah lebih kacau lagi dan akibatnya, para petugas akan bersikap sewenang-wenang,bukan lagi menjadi pelindung rakyat, malah sebaliknya menjadi pengganggu rakyat dan kalau sudah begitu keadaannya, mana mungkin rakyat bersikap taat dan hormat?

Ketaatan dan kehormatan yang diperlihatkan oleh orang-orang yang tertindas tentu saja hanyalah ketaatan palsu belaka yang timbul dari rasa takut.

Dan dalam keadaan seperti itu, amatlah mudah bagi mereka yang hendak membangkitkan rasa tidak puas rakyat itu untuk memberontak.

Mengapa hal yang jelas dan nyata ini tidak disadari oleh mereka yang berada di atas?

Mereka hanya menyalahkan rakyat, tidak pernah meneliti keadaan diri sendiri.

Hampir sama dengan seorang ayah yang selalu menyalahkan anak-anaknya,tidak penurut, pemberontak, dan sebagainya.

Padahal, sikap anak-anak seperti itu adalah akibat dari kesalahan Si Ayah sendiri!

Kalau ayahnya tidak ada cinta kasih kepada anak-anaknya, kalau sewenang-wenang, kalau menekan, tentu diam-diam Si Anak tidak taat dan bahkan mungkin sekali membenci.

Jangan salahkan anak-anaknya,kenalilah diri sendiri sehingga kita dapat melihat kekotoran-kekotoran diri sendiri.

Kalau diri sendiri sudah bersih, kalau ada cinta kepada anak-anak,tentu anak-anak itu tanpa ditekan tanpa diperintah akan taat dan cinta kepada orang tuanya.

Demikian pula, kalau atasan ada cinta kasih kepada bawahan, kalau atasan bersih tindakannya, tentu berwibawa dan bawahan akan selalu mentaati dan menyayanginya, dan bawahan itu akan bersikap demikian bijaksananya pula kepada yang lebih bawah lagi dan seterusnya sampai kepada petugas-petugas terendah terhadap rakyat jelata!

Ini pasti dan jelas!

Jadi, ketertiban tidak dapat diciptakan dengan jalan kekerasan, dengan jalan penekanan dan melalui rasa takut yang ditanamkan di hati rakyat!

Ketertiban HARUS dimulai dari diri sendiri lebih dulu karena keadaan di luar itu selalu mencerminkan keadaan di dalam.

Kalau di dalam tidak tertib, maka keluarnyapun tentu menimbulkan ketidaktertiban.

Para penonton bersorak sorai menyambut munculnya Sang Adipati Wirorojo yang didampingi Aryo Pranarojo dan para pembesar lainnya.

Setelah Sang Adipati duduk,maka majulah barisan panjang terdiri dari kurang lebih tiga puluh orang yang dipimpin oleh seorang ksatria yang muda remaja dan gagah perkasa, yaitu Raden Turonggo sendiri.

Juga barisan panjang yang berjalan satu demi satu ini disambut sorak sorai karena mereka itulah adanya calon-calon pengikut sayembara!

Raden Turonggo memimpin barisan aneh yang terdiri dari bermacam-macam orang ini lewat di depan panggung tempat duduk eyangnya untuk memberi hormat, kemudian membawa mereka langsung ke tengah alun-alun di mana mereka disuruh duduk di atas bangku-bangku yang sudah disediakan.

Bangku-bangku ini nampak banyak sekali yang kosong.

Melihat ini Sang Adipati Wirorojo berbisik kepada Aryo Pranarojo yang duduk di sampingnya.

"Adimas Aryo, kenapa begitu sedikit yang ikut masuk sayembara? Hanya kurang lebih tiga puluh orang?"

"Hanya tiga puluh tiga orang, Kakangmas Adipati. Tadinya yang mendaftarkan ada seratus orang lebih, akan tetapi ketika mereka datang dan melihat tiga syarat itu, sebagian besar mundur teratur. Betapa pun juga, nama mereka sudah ada dalam daftar, kalau sewaktu-waktu kita membutuhkan pasukan, mereka boleh dipanggil. Agaknya yang tiga puluh tiga orang ini tentu orang-orang yang memiliki kedigdayaan, Kakangmas Adipati, buktinya mereka tidak mundur ketika melihat tiga macam syarat yang amat berat itu."

"Mudah-mudahan begitu, kita benar-benar membutuhkan orang-orang pandai,"

Kata Sang Adipati sambil menarik napas panjang.

Semalam dia sudah berunding berdua saja bersama Raden Turonggo cucunya, bahwa apabila mereka berhasil mendapatkan kembali keris pusaka Kolonadah, maka akan mereka ikhtiarkan agar keris itu dapat disimpan oleh seorang di antara isteri-isteri Sang Prabu keturunan Sang Prabu Kertanegara.

Dengan demikian diharapkan agar keris pusaka itu kelak dapat menjadi pegangan Raja Mojopahit berdarah Sang Prabu Kertanegara.

Akan tetapi hal ini menjadi rahasia mereka berdua saja, bahkan kepada Aryo Pranarojo sekali pun Sang Adipati tidak memberitahukan tentang rahasia itu.

Raden Turonggo nampak sibuk sekali, dibantu oleh belasan orang perwira yang bertubuh tegap-tegap dan gesit-gesit, tanda bahwa para pembantunya itu pun merupakan orang-orang yang cukup tangkas.

Raden Turonggo sendiri biar pun masih belum dewasa benar, namun sudah cukup berwibawa dan dia menjadi incaran dara-dara yang banyak pula berada di situ menjadi penonton.

Nama Raden Turonggo dihormati setiap orang dan dikagumi setiap orang dara Lumajang karena pemuda ini selain tampan dan gagah perkasa, juga amat ramah dan baik sikapnya terhadap semua orang,juga sopan dan tidak pernah menggoda wanita.

Atas isyarat pemuda itu, seorang perwira yang berdiri di atas panggung,memberitahukan dengan suara nyaring bahwa ujian pertama akan dimulai, yaitu pengangkatan batu sebesar kerbau itu.

Pemberitahuan ini disambut oleh suara berisik karena semua orang bicara sendiri dengan hati tegang, membicarakan batu besar itu yang agaknya belum tentu dapat terangkat oleh enam orang sekalipun.

Mulailah mereka menaksir-naksir dan memilih-milih di antara tiga puluh tiga orang yang duduk berderet di atas bangku-bangku itu, memilih jagoan masing-masing dan mulai pulalah orang bertaruh!

Pertaruhan adalah permainan yang digemari orang sejak jaman dahulu dan agaknya takkan pernah dapat lenyap selama orang masih menonjolkan keinginannya untuk senang sendiri.

Permainan ini amat berbahaya karena sekarang dituruti akan merupakan kebisaan yang sukar dilepaskan,bahkan akan mencengkeram seseorang melebihi candu!

Hanya orang yang menaruh belas kasihan kepada orang lain sajalah yang enggan bertaruh karena kesenangan yang didapat oleh si pemenang adalah kesenangan yang didasarkan kesusahan orang lain!

Akan tetapi ketika orang pertama telah dipanggil dan melangkah maju ke arah batu besar yang terletak di tengah alun-alun yang luas itu, semua suara terhenti dan keadaan menjadi sunyi sekali.

Semua mata mengikuti langkah kaki peserta pertama ini dan banyak yang merasa berdebar-debar jantungnya karena tegang.

Orang pertama ini adalah seorang laki-laki yang tubuhnya gempal pendek, dengan tengkuk seperti banteng sehingga nampaknya kuat sekali, usianya kurang lebih tiga puluh tahun dan dia menghampiri batu itu dengan sikap tenang.

Setelah tiba di dekat batu dia berhenti, menggosok-gosok kedua telapak tangannya, kemudian membungkuk dan memegang batu besar itu.

Terdengar dia berteriak keras dan tiba-tiba saja dia menggerakkan kedua lengannya dan terangkatlah batu itu di atas kepalanya!

Seluruh otot di lengan dan tengkuknya menonjol seperti ular dan mukanya merah, matanya agak melotot, namun dia kuat membawa batu itu berjalan keliling satu kali di dalam lingkaran putih di sekeliling batu yang sudah ada di situ, lalu dia menurunkan batu itu yang jatuh berdebuk di dekat kakinya.

Tepuk sorak menyambut keberhasilan Si Tegap Pendek ini dan dia pun membungkuk ke arah panggung Adipati, lalu mengikuti seorang perwira yang membawanya ke tempat terpisah, duduk di atas panggung untuk menanti giliran dalam ujian ke dua.

Dengan sehelai kain diusapnya sedikit peluh dari lehernya dan dia memandang ke arah orang ke dua yang sudah melangkah maju dengan wajah berseri.

Orang kedua ini tubuhnya seperti raksasa, tinggi besar, dua kali lebih besar daripada orang pertama tadi.

Kedua lengannya juga besar-besar dan berbulu sehingga menyeramkan, akan tetapi wajahnya ramah dan tersenyum-senyum malu ketika para penonton bersorak menyambutnya.

Ketika dia tiba di dekat batu,penonton hening kembali dan mengikuti gerak-gerik raksasa itu penuh kegembiraan dan ketegangan.

Banyak orang bertaruh untuk raksasa ini, bahwa dia akan dapat mengangkat batu (Lanjut ke

Jilid 22) Kemelut Di Majapahit (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 22 itu dengan mudah tanpa mengeluarkan peluh dan bahwa dia lebih kuat dari pada Si Pendek tadi.

Batu itu memang terangkat ke atas, akan tetapi seluruh tubuh raksasa itu menggigil, kaki dan lengannya tergetar hebat, matanya melotot dan akhirnya dia tidak tahan lagi.

Batu itu terpaksa dia lepaskan ke samping sehingga jatuh berdebuk di atas tanah.

Dia mengap-mengap sebentar,kemudian seperti baru sadar ketika penonton menyambut kegagalan ini dengan sorak mengejek dan tertawaan.

Dia lalu menjura ke arah panggung tempat Sang Adipati,lalu meninggalkan tempat itu, menghilang di antara penonton karena tentu saja kegagalan pertama ini berarti telah gugur dalam sayembara itu.

Namun, namanya telah dicatat oleh petugas sehingga kalau sewaktu-waktu Lumajang membutuhkan tenaganya, dia dapat dipanggil.

Memang terjadi banyak keanehan dalam ujian pertama ini.

Banyak di antara mereka yang kelihatan sebagai laki-laki yang bertubuh kuat dan tegap, gagal mengangkat batu besar itu, atau yang berhasil mengangkat ke atas kepala, tidak kuat membawanya berkeliling seperti yang disyaratkannya.

Akan tetapi sebaliknya, ada pula orang-orang yang kelihatan lemah, kurus kering dan pucat, ternyata berhasil mengangkat dengan mudah dan membawanya berkeliling.

Jelaslah bagi para penonton bahwa kesaktian tidak dapat diukur dengan besar dan tegapnya tubuh, seperti halnya kekuatan otot yang kasar.

Ketika tiba giliran seorang yang berwajah tampan, gerak-geriknya halus dan sikapnya agung melangkah maju, semua orang memandang dengan penuh kagum.

Pemuda seperti ini tentu masih berdarah bangsawan, tentu seorang kesatria seperti halnya Raden Turonggo sendiri memandang penuh perhatian dan menduga-duga darimana asal-usul pemuda tampan yang tenang ini.

Pemuda itu menghampiri batu besar, lebih dulu dia menjura dengan hormat ke arah panggung Sang Adipati,kemudian membungkuk, memegang batu itu dan sekali mengerakkan tangan, batu itu telah terangkat ke atas kepalanya!

Dia melukakan ini begitu mudah kelihatannya,seolah-olah batu itu ringan saja dan membawa berkeliling dengan langkah perlahan dan tidak tergesa-gesa.

Ketika dia menurunkan batu, dia tidak melemparkan seperti yang lain, melainkan menurukannya dengan perlahan-perlahan tidak menimbulkan suara.

Tepuk tangan dan sorak sorai bergemuruh menyambut kekuatan hebat ini dan kembali Si Pemuda menjura ke arah panggung di mana Sang Adipati dan para ponggawanya juga ikut bertepuk tangan.

"Perhatikan pemuda itu, Dimas Aryo. Dia bukan orang sembarangan,"

Kata Sang Adipati dan Aryo Pranarojo mengangguk karena dia pun mengenal seorang ksatria yang sakti.

Selain pemuda ini, ada seorang lain yang juga menarik perhatian semua orang.

Dia seorang laki-laki yang tubuhnya kurus tinggi, mukanya pucat seperti orang kurang makan, mulutnya cemberut terus dan ketika menghampiri batu itu, dia seperti orang tidak bersemangat sama sekali.

Akan tetapi begitu dia mengangkat batu,kelihatan batu itu seperti sebuah gentong saja, demikian ringan dan dibawanya berkeliling lalu diletakkannya kembali, menjulang ke arah panggung dan mengikuti perwira yang membawanya ke tempat tunggu ujian ke dua.

Dia sama sekali tidak tersenyum ketika disambut sorak sorai, masih saja merenggut seperti seorang anak kecil yang sedang ngambek!

Ada pula beberapa orang yang berhasil, banyak yang tidak, akan tetapi yang paling menarik dalam ujian pertama ini adalah peserta terakhir.

Peserta terakhir ini masih amat muda, akan tetapi juga luar biasa tampan, bahkan lebih tampan daripada pemuda tampan tadi dan bahkan lebih ganteng lagi daripada Raden Turonggo!

Dan usianya tentu paling banyak s.a dengan Raden Turonggo, kalau tidak lebih muda lagi karena tubuhnya lebih kecil, kedua lengannya halus seperti lengan anak yang tidak bertenaga!

Semua orang menduga bahwa tentu bocah ini seorang anak bangsawan atau hartawan yang manja.

Mana akan kuat mengangkat batu itu?

Andaikata kuat pun, banyak bahayanya akan kejatuhan.

Di antara para penonton, tidak ada seorang pun yang berani menjagoi pemuda remaja ini, akan tetapi mereka semua memandang dengan khawatir.

Seorang pemuda setampan Arjuno seperti itu tentu saja menarik perhatian semua orang, terutama sekali para dara yang menonton sehingga mereka menahan napas ketika melihat pemuda itu dengan lenggang seenaknya menghampiri batu.

Melihat pemuda remaja ini tersenyum-senyum, seolah-olah sama sekali tidak khawatir untuk mengangkat batu sebesar itu, perhatian penonton makin tertarik dan kini mereka merasa suka kepada pemuda yang tersenyum-senyum manis itu.

Para dara yang menonton menekan dada mereka yang seperti akan copot melihat senyum itu dan di antaranya ada yang menjerit.

"Angkatlah...!"

Pemuda itu menjura ke arah panggung dan sejenak dia menyapu ke sekeliling. Kemudian, dia memejamkan matanya, mulutnya berkemak-kemik dan tiba-tiba dia mengeluarkan bentakan nyaring.

"Haiiiiiittt!"

Nyaring sekali bentakan ini,mengejutkan semua orang dan ternyata dia telah mencongkel batu itu dengan kakinya dan batu sebesar kerbau bunting itu terlontar ke atas, lalu diterimanya dengan satu tangan saja, yaitu tangan kiri, sedangkan tangan kanan dipakai untuk bertolak pinggang!

Tepuk tangan menggegap-gempita dan sorak-sorai seperti hendak memecahkan istana kadipaten.

Orang berlonjak-lonjak saking kagumnya, tidak menanti sampai pemuda itu membawa batu tadi berkeliling dan mmang istimewa pemuda yang satu ini atau peserta yang terakhir ini.

Dia tidak hanya membawa batu itu berkeliling satu kali melainkan tiga kali!

Dan semua ini dilakukan dengan gerak-gerik jenaka dan gembira, sama sekali tidak kelihatan hendak menyombongkan diri dan dalam hal kegembiraan ini, sikapnya sungguh sama sekali terbalik dari sikap pemuda tinggi kurus muka pucat yang selalu cemberut tadi!

Para penonton seperti kesetanan!

Mereka bersorak-sorak dan bahkan ada dara-dara yang menangis saking kagumnya dan sekaligus jatuh cinta!

Ketika pemuda itu menaruh batu dengan cara istemewa, yaitu melemparkan batu ke atas, kemudian ketika batu itu melayang turun diterima dengan kakinya dan digulingkan begitu saja seenaknya, para penonton menjadi makin gaduh.

Sampai lama setelah pemuda itu sudah duduk di tempat penantian, orang-orang masih bersorak-sorai.

"Hemm, ingin sekali aku tahu siapa gerangan pemuda itu..."

Adipati Wirorojo juga kagum sekali. Aryo Pranarojo mengerutkan alisnya.

"Dia tentu keturunan orang pandai, murid seorang yang maha sakti, akan tetapi sikapnya yang seperti anak kecil itu sungguh sembrono sekali... orang seperti dia bisa menggagalkan tugas yang amat penting."

Ketika dia hendak duduk, pemuda tampan sebagai peserta terakhir itu memandang kepada pemuda tampan yang gerak-geriknya halus tadi, mereka saling bertukar senyum, akan tetapi pemuda yang selalu merengut tadi, matanya seperti mengeluarkan api karena dia amat memperhatikan peserta terakhir itu.

Demikian pula dua orang muda lain yang telah terdahulu lulus, dua orang pemuda yang juga tampan dan yang memiliki wajah mirip seperti kembar, saling berbisik dan kadang-kadang melirik ke arah peserta terakhir.

Di antara tiga puluh tiga orang yang mengikuti ujian pertama, yang lulus hanyalah delapan belas orang.

Lima belas orang telah gugur dalam ujian mengangkat batu sebesar kerbau bunting itu!

Dan kini, delapan belas orang itu bersiap-siap untuk mengikuti ujian ke dua, yaitu menunggang kuda liar sambil memanah orang-orangan.

Untuk keperluan ini, telah dipersiapkan lima ekor kuda liar dan orang-orangan itu telah dipasang pula di bagian yang agak jauh dari penonton dan di belakangnya dipasangi gunung-gunungan alang-alang agar anak panah yang nyasar tidak sampai mengenai penonton.

Semua orang merasa ngeri ketika melihat lima ekor kuda itu.

Kuda-kuda yang besar dan kuat, akan tetapi memang belum dijinakkan sehingga ketika dituntun masuk mereka itu berjingkrak-jingkrak dan meringkik-ringkik.

Terutama sekali seekor yang bulunya hitam, sungguh liar dan hampir saja penuntunnya kena digigit pundaknya, kalau saja dia tidak cepat menjatuhkan diri dan dua orang lagi maju membantunya, baru si Hitam itu dapat ditundukkan, dipegangi kendalinya, namun dia masih saja meronta-ronta.

Perwira yang bertugas memberi pengumuman menyerukan bahwa ujian ke dua akan dimulai.

Para peserta akan maju satu demi satu dan diperbolehkan memilih seekor di antara lima ekor kuda itu!

Mendengar semua ini penonton ramai pula bertaruh siapa yang akan keluar sebagai pemenang.

"Aku bertaruh lima lawan satu bahwa peserta yang terakhir, Sang Arjuno tadi yang akan keluar sebagai juara!"

Terdengar suara nyaring seorang penonton, terdengar pula oleh para peserta dan kembali peserta yang tampan halus itu menoleh ke arah peserta terakhir dan mereka sama-sama tersenyum.

Si Muka Cemberut makin cemberut lagi.

Akan tetapi karena semua orang pun menduga demikian, tidak ada yang berani melayani tantangan itu.

"Aku bertaruh bahwa di antara mereka tidak akan ada yang memilih kuda hitam!"

Ada pula yang bertaruh.

Ramailah para penonton itu sebelum ujian ke dua dimulai karena sedang dipersiapkan gendewa-gendewa dan anak-anak panah yang juga boleh dipilih oleh para peserta.

Hanya para dara saja yang semua memandang ke arah peserta terakhir sambil melirik-lirik dan tersenyum-senyum, sungguhpun tidak kurang pula yang memandang ke arah peserta yang tampan halus karena peserta ini yang lebih cocok dengan selera mereka.

Memang sama-sama tampan, akan tetapi peserta terakhir itu memang luar biasa sekali tampannya, hanya pemuda halus itu lebih jantan.

Kalau boleh dipakai perbandingan, pemuda halus itu seperti Raden Gatotkaca sedangkan peserta terakhir itu seperti Raden Arjuno.

Sama-sama tampannya, akan tetapi kalau yang seorang berpotongan ksatria perkasa, yang ke dua berpotongan kesatria...

petualang asmara!

Gong dibunyikan nyaring sebagai tanda bahwa ujian ke dua akan dimulai karena Raden Turonggo telah memberi isyarat siap.

Si Pendek bertengkuk seperti banteng itu segera maju dengan tegap dan langkahnya tenang ketika dia menghampiri lima ekor kuda yang dipegang erat-erat kendalinya oleh beberapa orang tukang kuda.

Dia memilih kuda putih.

Tukang kuda mengangguk dan menyeret kuda putih itu ke depan, melewati garis sebagai tempat pemberangkatan dan Si Pendek itu lalu memilih sebatang gendewa berikut tiga batang anak panah seperti yang diisyaratkan.

Dengan sigap dan membuktikan bahwa dia terlatih, dia mengikatkan tempat anak panah di punggungnya, dan mengalungkan gendewa di lehernya.

Kemudian dia menghampiri tukang kuda itu, mengambil alih kendalinya dan dengan cekatan dia meloncat ke atas punggung kuda putih dan menyentak-nyentak kendalinya.

"Hyeeeehhhh...!!"

Kuda putih itu meringkik dan meloncat ke atas, bukannya lari ke depan dengan cepat melainkan berloncat-loncatan sambil membongkokkan punggungnya, menggoyang-goyang tubuhnya untuk melontarkan penunggang yang duduk di atas punggungnya itu.

Akan tetapi Si Pendek mengempit perut kuda dan tidak mau turun, kedua kaki seperti kaitan baja mengempit tubuh kuda di kanan kiri,jari-jari kakinya mencengkeram, kedua tangan memegang kendali kuda dan tubuhnya mendoyong ke kanan kiri, muka belakang, naik turun, akan tetapi seperti seekor lintah menempel di kulit, dia tidak dapat dilontarkan oleh kuda liar itu.

Para penonton bersorak-sorak karena sekali ini pertunjukan itu memang menegangkan dan juga lucu.

Kuda liar berbulu putih itu seperti menjadi gila, meringkiki-ringkik,berusaha membalikkan lehernya yang panjang untuk dapat menggigit pengganggunya,punggungnya melengklung seperti punggung onta, pantatnya diangkat tinggi-tinggi ketika dia meloncat dengan kaki belakang, atau kadang-kadang merendah ketika kaki depannya yang meloncat dan kuda itu seperti berdiri di atas kedua kakinya.

Namun Si Pendek itu masih tetap menempel di punggung kuda, bahkan kini dia menarik-narik kendali dengan keras sehingga kuda liar itu merasa kesakitan dan larilah dia ke depan!

Para penonton bersorak memuji karena hal itu berarti Si Pendek itu telah berhasil mengalahkan kuda liar itu.

Semua mata mengikuti larinya kuda yang lewat di jalan yang sudah digariskan, kemudian setelah tiba di tempat yang diberi tanda bahwa dari situ dia harus melepaskan anak panah ke arah orang-orangan, dia cepat memasang sebatang anak panah kepada gendewanya.

Untuk dapat melakukan hal ini, tentu saja dia harus melepaskan kendali kudanya,tangan kiri memegang gendewa dan tangan kanan memegang gagang anak panah.

Dia menarik tali gendewanya, akan tetapi pada saat itu, kuda putih yang merasa betapa kendalinya terlepas, lalu meringkik dan mengangkat kedua kaki depan ke atas, tepat pada saat Si Pendek itu melepaskan anak panahnya.

"Singgg...!"

Anak panah itu meluncur ke atas! "Ahhh... bukkkk!"

Dan orang pendek bertengkuk seperti banteng itu terlempar dari punggung kuda dan terbanting ke atas tanah!

Para penonton bersorak dan tertawa-tawa, mentertawakan Si Pendek yang dengan wajah kecewa dan mulut bersungut-sungut terpaksa meninggalkan gelanggang karena dia dianggap tidak lulus setelah mengalami kegagalan itu.

Dia menyumpah-nyumpah kuda putih, menggosok-gosok pantatnya dan meninggalkan tempat itu dengan agak terpincang jalannya.

Namun, sebagai seorang yang telah lulus dalam ujian pertama mengangkat batu tadi, tentu saja namanya sudah dicatat pula dan dia setingkat lebih tinggi daripada mereka yang gagal dalam ujian pertama.

Dua orang lagi gagal pada permulaannya ketika mereka secara berturut-turut dilemparkan jatuh dari atas punggung kuda masing-masing, dan dua orang lagi biar pun seperti Si Pendek tadi berhasil menundukkan kuda liar, namun gagal pula ketika melepas anak panah, tidak mengenai sasaran sampai tiga kali karena kuda mereka tetap binal sehingga mereka tidak dapat menggunakan busur mereka dengan baik.

Melihat kegagalan berturut-turut itu, Bromatmojo bertukar pandang dengan Joko Handoko.

Tentu saja pemuda tampan seperti Arjuno yang menggegerkan para penonton dengan demonstrasi kesaktian hebat ketika mengangkat batu besar tadi adalah Sulastri atau Bromatmojo, sedangkan pemuda tampan dan gagah serta halus gerak-geriknya itu adalah Joko Handoko.

Roro Kartiko tidak ikut memasuki sayembara karena selain puteri ini ngeri untuk mengangkat batu sebesar kerbau bengkak itu, juga dia ngeri kalau harus menunggang seekor kuda liar.

Pula, dia tidak biasa menyamar sebagai pria dan tidak mungkin dia menyamar sebagai Sriti Kencana, sedangkan kalau maju sebagai seorang wanita pun tentu akan janggal dan hanya menjadi pusat perhatian saja.

Maka dia tidak ikut sayembara sungguh pun tentu saja dia berada di antara penonton yang berjubel itu.

Geli hatinya melihat lagak Bromatmojo dan diam-diam dia merasa terharu dan juga malu sendiri ketika dia melihat betapa perawan-perawan yang menonton pada saat itu, jelas memperlihatkan sikap tergila-gila kepada Bromatmojo.

Teringatlah dia betapa dia pun tadinya jatuh hati kepada "pemuda"

Setampan Arjuno itu, dan itu merupakan cinta kasihnya yang pertama, cinta kasih yang gagal tentu saja!

Yang menjadi perhatian Bromatmojo dan Joko Handoko di antara semua peserta sayembara hanya tiga orang muda.

Pertama adalah pemuda tinggi kurus yang bermuka muram dan cemberut itu karena mereka tahu bahwa pemuda itu memiliki kesaktian tersembunyi yang hebat.

Selain Si Tinggi Kurus ini, juga dua orang pemuda tampan yang dilihat dari air muka dan pakaiannya, jelas bahwa mereka tentulah kakak beradik.

Wajah mereka begitu mirip dan serupa malah, hanya bentuk tubuh mereka yang berbeda, yaitu yang satu agak lebih besar dan lebih tegap, juga lebih jangkung daripada yang kedua.

Anehnya, selain wajah mereka serupa benar, juga gerak-gerik mereka, senyum mereka, pandang mereka, semua sama!

Akan tetapi, dua orang muda yang tampan dan masih muda sekali itu ternyata tadi telah mampu mengangkat dan membawa batu besar itu berkeliling tanpa kelihatan berat.

Ketika tiba giliran pemuda tampan yang tubuhnya lebih besar itu, dia dan temannya yang berwajah sama lalu menghampiri perwira yang mengatur bagian ujian menunggang kuda, bicara bisik-bisik dengan perwira itu.

Perwira itu kelihatan bingung, lalu membawa mereka menghadap Raden Turonggo.

"Maafkan saya, Raden. Dua orang peserta ini hendak mengajukan suatu permohonan kepada Paduka mengenai ujian menunggang kuda dan memanah,"

Kata perwira itu kepada Raden Turonggo. Pemuda ini mengerutkan alisnya.

"Peraturan sayembara telah ditentukan, semua peserta telah diberi tahu syarat-syaratnya, mengapa masih hendak mengajukan permohonan lagi?"

Berkata demikian, Raden Kuda Anjampiani atau Raden Turonggo itu memandang kepada dua orang muda tampan itu.

Dua orang pemuda tampan itu maju dan berbisik hormat, namun tidak menjilat, dan pemuda yang lebih besar tubuhnya berkata.

"Harap maafkan kami, Raden. Hendaknya Paduka ketahui bahwa kami berdua adalah saudara kembar dan kami selalu menghadapi hal-hal sukar berdua. Dengan berdua, kami, terutama Adik saya ini mendapatkan semangat dan keberanian. Menghadapi ujian menunggang kuda liar itu cukup mengerikan Adik saya, maka kami mohon agar kami dapat diperbolehkan mengikuti ujian ini berbareng."

Raden Turonggo mengerutkan alisnya.

"Seorang laki-laki tidak akan takut menghadapi bahaya apa pun, apa lagi menunggang kuda liar!"

"Akan tetapi saya... saya bukan seorang laki-laki..."

Orang kedua yang lebih kecil menjawab.

"Ahhh...?"

Raden Turonggo bertanya dan matanya terbelalak memandang kedua orang pemuda tampan itu.

"Kami saudara kembar, saya laki-laki dan dia perempuan."

"Wanita? Kenapa memasuki sayembara?"

Tanya Raden Turonggo.

"Apakah ada pengumuman bahwa wanita dilarang?"

Dara yang menyamar sebagai pria itu menuntut.

"Ahhh... tidak, tapi..."

Raden Turonggo menjadi bingung, apalagi sepasang mata dara itu bersinar-sinar penuh kemarahan.

"Maafkan, Raden, Dia selalu tidak mau ketinggalan, apa pun yang saya lakukan dia tentu ikut."

Raden Turonggo menarik napas panjang dan mengangguk-angguk.

Seorang dara remaja sudah dapat mengangkat batu itu, sudah cukup hebat.

Kini hendak memasuki ujian ke dua dan merasa agak ngeri menunggang kuda liar.

Wajarlah.

"Baik, kalian boleh memasuki ujian ke dua ini berbareng. Akan tetapi hanya itu saja, dan syarat lulus tetap seperti apa yang telah diumumkan."

"Terima kasih, Raden."

Mereka berdua tersenyum girang lalu keduanya berlari ke tempat di mana lima ekor kuda itu berkumpul, dipegangi oleh para tukang kuda yang kewalahan mencegah lima ekor kuda liar itu mengamuk.

Raden Turonggo lalu cepat memeriksa daftar para peserta dan membaca nama mereka.

Gendana dan Gendini!

Hemm, tentu nama samaran, pikirnya.

Nama-nama itu hanya menunjukkan bahwa mereka adalah saudara kembar dan mereka datang dari pantai selatan.

Hemm, mereka ini harus diawasi karena mencurigakan, pikir Raden Turonggo.

Terdengar sorak-sorai dan dia pun cepat memandang ke arah tempat ujian.

Dia melihat betapa kakak beradik itu telah berada di atas punggung dua ekor kuda.

Gendana menunggang kuda putih dan Gendini menunggang kuda berbulu dawuk (abu-abu).

Dua ekor kuda itu meringkik-ringkik dan mengangkat kedua kaki depan tinggi-tinggi.

Dia melihat betapa dua orang kakak beradik itu dengan tenang tetap duduk di atas punggung kuda yang sudah berdiri itu dan menepuk-nepuk punggung kuda masing-masing,bibir mereka berkemak-kemik.

Tahulah dia bahwa kakak beradik itu ternyata menguasai ilmu mantram untuk menundukkan kuda dan ternyata dugaannya benar karena tidak lama kemudian, dua ekor kuda liar itu menjadi tenang seperti kuda jinak saja.

Setelah kedua ekor kuda itu diam biarpun para penonton masih bersorak-sorai memuji, sorak riuh-rendah yang cukup hebat untuk membuat kuda jinak sekalipun menjadi ketakutan, dua orang kakak beradik itu baru menggerakkan tali kendali dan dua ekor kuda liar itu meloncat ke depan dengan cepatnya.

Kakak beradik itu ternyata memang ahli-ahli menunggang kuda.

Mereka membalapkan kuda mereka memutari lapangan dan biar pun sudah melewati batas di mana mereka harus melepaskan anak panah kepada orang-orangan yang dijadikan sasaran, namun mereka belum menggunakan anak panah mereka.

Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 1

Baca Juga: Pendekar Sadis 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert