Eps 8 Kemelut Di Majapahit - Kho Ping Hoo
Baca online Kemelut Di Majapahit - Kho Ping Hoo
Cersil Kemelut Di Majapahit - Kho Ping Hoo.
Mereka ingin agar dua ekor kuda yang mereka tunggangi itu benar-benar tunduk lebih dulu karena kalau tidak demikian,di waktu mereka memanah dan melepaskan kendali, ada bahayanya kuda itu meronta dan menggagalkan pelepasan anak panah seperti yang terjadi pada beberapa orang peserta terdahulu.
Oleh karena itu, sampai dua kali mereka memutari lapangan itu tanpa melepaskan anak panah.
Baru pada putaran ke tiga, setelah kuda mereka mulai mantap larinya, dua orang kakak beradik itu mempersiapkan busur dan anak panah mereka yang sejak tadi telah mereka kalungkan di pundak.
Ketika kuda mereka lari melewati orang-orangan itu, dari tempat yang sudah diberi tanda, mereka mengincar dan melepaskan anak panah mereka dengan cekatan.
Terdengar bunyi mendesir dan dua batang anak panah itu meluncur dengan cepat dan menancap di tubuh orang-orangan itu, di perut dan di dada!
Terdengar kembali sorak dan tepuk tangan memuji.
Sampai tiga kali dua orang kakak beradik ini melarikan kuda mereka melewati orang-orangan itu dan tiga batang anak panah mereka semua menancap di tubuh orang-orangan.
Sambutan para penonton mengegap gempita karena mereka itulah merupakan peserta-peserta pertama yang berhasil dalam ujian ke dua.
Mereka turun dari kuda masing-masing dan para tukang kuda cepat memegangi kendali dua ekor kuda yang kembali menjadi liar setelah terlepas dari pengaruh aji penyirepan kuda kakak beradik itu dan perwira yang bertugas lalu menyambut mereka ke tempat tersendiri untuk menanti sampai ujian ke dua itu berakhir.
Kembali beberapa orang telah gagal, ada yang gagal pada saat menunggang kuda,ada pula yang gagal dengan anak panahnya.
Kegagalan mereka ini disambut sorak-sorai ditertawakan oleh para penonton dan mereka bergegas meninggalkan lapangan, ada yang menyelinap di antara penonton untuk menyaksikan kelanjutan sayembara itu, ada pula yang langsung pergi meninggalkan tempat itu karena merasa kecewa dan juga malu atas kegagalan mereka.
Ketika tiba giliran Joko Handoko untuk mengikuti ujian ke dua ini, banyak penonton menyambutnya dengan sorak-sorai karena pemuda ini banyak pula menarik rasa simpati penonton dengan gerak-geriknya yang halus dan sopan serta wajahnya yang membayangkan kejantanan dan kegagahan.
Dengan langkah tenang Joko Handoko menghampiri kuda berbulu putih dan memberi isyarat kepada pemegang kendali kuda bahwa dia memilih kuda itu.
Setelah dia mengambil sebuah gendewa dan tiga batang anak panah tanpa memilih lagi, dia lalu memegang kendali kuda dan sekali melompat dia telah duduk di atas punggung kuda putih.
Kuda ini sudah beberapa kali ditunggangi orang dan hal ini membuat dia makin ketakutan dan marah, makin liar.
Maka begitu dia merasa punggungnya dicengklak orang, dia meringkik keras dan meloncat dengan kaki depan ke atas.
Akan tetapi sekali meloncat, dia segera menurunkan kedua kaki depannya itu kembali.
Dia meronta, akan tetapi keempat kakinya gemetaran dan ketika dicobanya untuk melompat lagi, dia tidak mampu menggerakkan kaki dan diam saja,hanya keempat kakinya yang masih gemetar.
Ternyata Joko Handoko telah menggunakan aji memberatkan tubuhnya sehingga kuda itu hampir tidak kuat menahannya.
Setelah kuda itu tidak lagi meronta, barulah Joko Handoko menghentikan ajinya dan kuda itu tidak lagi gemetar.
Akan tetapi, begitu dia hendak meronta, kembali tubuh penunggangnya menjadi berat sekali dan akhirnya agaknya kuda putih itu mengerti bahwa dia tidak akan mampu melemparkan penunggang ini maka dia menerima kekalahannya dan menjadi jinak.
Setelah kuda itu menjadi anteng, barulah Joko Handoko menggerakkan kendali dan kuda itu lalu berlari ke depan dengan cepat dan tetap.
Ketika lewat di tempat yang ditandai di mana dia harus melepaskan anak panah, terdengar tali gendawa menjepret dan seperti kilat cepatnya, sinar anak panahnya menyambar dan tepat mengnai kepala orang-orangan itu di tengah-tengahnya,di antara kedua mata!
Sungguh merupakan bidikan yang tepat sekali dan para penonton bersorak memuji.
Akan tetapi hal itu masih belum hebat.
Sorak-sorai meningkat ketika pemuda halus itu membalapkan kudanya dan setiap kali lewat di depan orang-orangan , terdengar tali gendawa menjepret.
Tiga kali dia lewat, tiga kali anak panah meluncur dan tiga kali pula anak panah menancap tepat di antara kedua mata orang-orangan itu sehingga kini nampak tiga batang anak panah menancap di tempat yang sama seperti bedesak-desakan!
Tentu saja hal ini cukup membuktikan kemahiran Joko Handoko mempergunakan anak panah dan dia lulus dengan baik, disambut oleh senyum Raden Turonggo dan sorak-sorai para penonton, terutama dari mereka yang memang menjagoi pemuda yang mereka beri julukan Gatutkaca itu.
Berturut-turut para peserta lain memasuki ujian ini dan di antara banyak yang gagal, ada pula beberapa orang yang berhasil lulus, sungguh pun mereka nyaris gagal, terpontang-panting di atas punggung kuda liar dan bidikan anak panah mereka hanya mengenai bagian tubuh tidak berbahaya dari orang-orangan itu, yaitu di pundak, lengan, paha dan sebagainya.
Hanya ketika tiba giliran pemuda berwajah muram dan tinggi kurus tadi saja maka para penonton kembali bersorak dan memuji, karena pemuda tinggi kurus itu kembali telah membuktikan kesaktiannya.
Dia memilih kuda dawuk dan begitu dia meloncat ke atas punggung kuda itu seketika berubah menjadi jinak dan sama sekali tidak meronta!
Ketika kuda itu lari sampai di tempat yang sudah diberi tanda, dengan tenang akan tetapi mukanya masih cemberut dia sekeligus memasangkan tiga batang anak panah pada busurnya, membidik dan sekali terdengar bunyi menjepret keras, nampak tiga sinar meluncurke arah orang-orangan dan tiga batang anak panah menancap dengan tepat di dada orang-orangan itu, berjajar dengan rapi dari kiri ke kanan, ketiganya merupakan anak panah yang mematika apabila mengenai tubuh lawan!
Tentu saja semua penonton bersorak-sorai dengan penuh kagum, bahkan Raden Turonggo sendiri menggelengkan kepala dengan kagum karena harus diakuinya bahwa di sendiri tidak akan dapat meniru perbuatan Si Tinggi Kurus yang berwajah muram itu.
Setelah kembali beberapa orang peserta maju, ada yang gagal dan ada yang lulus namun tidak begitu mengesankan, orang terakhir yang maju adalah Bromatmojo.
Pemuda tampan seperti Arjuno ini melangkah maju dan tersenyum manis ketika disambut tepuk sorai gemuruh.
Melihat dia tersenyum, sorak-sorai makin hebat dan terdengarlah teriakan-teriakan memuji, di antaranya terdengar teriakan.
"Kuda hitam! Kuda hitam!"
Bromatmojo tersenyum.
Maklum dia bahwa para penonton itu mengharapkan agar dia menunggang kuda hitam, satu-satunya kuda di antara lima ekor kuda liar yang sejak tadi belum ada yang berani mencoba untuk menungganginya.
Memang kuda itu paling ganas dan liar, bahkan tadi, ada seorang penjaga yang tergigit pundaknya sampai remuk tulangnya ketika dia lengah dan kuda itu meronta.
Kini yang menjaga kuda ini ada tiga orang, kendalinya dipegang oleh dua orang, namun tetap saja dia meronta-ronta dan mencoba untuk membebaskan diri.
Sudah kepalang tanggung, pikirnya.
Sulastri memang seorang dara remaja yang lincah dan jenaka, gembira dan memiliki sedikit watak ugal-ugalan.
Mungkin watak ini ditirunya dari gurunya yang pertama, yaitu Ki Jembros!
Maka, melihat sambutan para penonton dan terutama sekali karena hatinya agak "panas"
Melihat kehebatan Si Tinggi Kurus berwajah muram, dia lalu menghampiri kuda hitam.
Hal ini kembali disambut tepuk sorak dan tiga orang penjaga kuda hitam itu memandang kepada Bromatmojo dengan wajah khawatir.
Mereka telah mengenal betul kuda hitam yang ganas dan liar ini.
Sedangkan para peserta lain yang kelihatan kuat-kuat tidak berani mencoba untuk menunggang kuda liar ini.
Apakah pemuda bertubuh kecil ini hendak bunuh diri?
Gagal menunggang kuda yang lain mungkin hanya akan luka-luka dan babak bundas saja, akan tetapi kalau sampai terjatuh dari punggung si Kuda Hitam ini akan berbahaya sekali bagi penunggangnya karena kuda hitam ini buas, kalau penggang nya terjatuh tentu akan disepaknya, digigitnya dan mungkin juga diinjak-injaknya!
Bromatmojo tidak memperdulikan pandang mata khawatir dari tiga orang itu, melainkan tersenyum dan mengambil kendali dari tangan mereka.
Tiga orang itu mundur dan Bromatmojo meloncat dengan gerakan yang ringan dan cekatan, tahu-tahu tubuhnya telah berada di atas punggung kuda hitam.
Karena dia mempergunakan aji meringankan tubuh, maka dia seperti seekor burung gereja saja ketika hinggap di atas punggung kuda.
Namun kuda itu memang liar dan ganas.
Biarpun hanya terasa sedikit saja olehnya bahwa ada orang menduduki punggungnya, dia sudah meringkik keras dan berloncatan seperti kemasukan setan!
Bromatmojo yang hendak memperlihatkan ketangkasannya, tidak mau mempergunakan aji memberatkan tubuhnya seperti yang dilakukan oleh Joko Handoko dan juga oleh pemuda berwajah muram.
Sebaliknya malah, dia membiarkan dirinya pontang-panting dan terlempar-lempar ke atas, akan tetapi berkat aji meringankan tubuh, dia selalu dapat duduk kembali ke atas punggung kuda itu.
Semua penonton memandang dengan mulut ternganga, bengong penuh ketegangan dan kekhawatiran melihat tubuh pemuda tampan itu dipontang-pantingkan dan dilempar-lemparkan ke atas, Celaka,pikir mereka, tak lama lagi tentu pemuda itu akan terlempar dan terbanting jatuh!
Akan tetapi, ternyata tidak demikian karena pemuda itu malah tertawa-tawa, tersenyum dan melambaikan tangan kepada mereka!
Melihat sikap ini,barulah mereka percaya akan kehebatan pemuda itu dan bersorak mereka.
Terutama para perawan yang sedang berani terhadap pemuda seperti Arjuno itu, mereka berteriak-teriak seperti gila, menjerit-jerit dan kedua tangan mereka mencengkeram, ada yang mengembangkan kedua lengan seperti hendak memeluk pemuda itu, mata mereka basah air mata memandang Arjuno yang memang kelihatan gagah perkasa dan tampan sekali ketika mempermainkan kuda liar itu.
Joko Handoko diam-diam memandang dengan hati penuh kagum.
Hebat sekali dara itu,pikirnya dan jantungnya berdebar keras.
Dia mengerti benar bahwa semenjak dia tahu bahwa Bromatmojo adalah seorang dara cantik jelita bernama Sulastri, dia sudah jatuh cinta!
Kini, melihat dara perkasa itu demikian hebatnya mempermainkan kuda liar yang dia sendiri tadi tidak berani mencobanya, dia makin kagum.
Bromatmojo memang sengaja membiarkan si Hitam itu mengamuk, meronta, meringkik dan membeker-beker, berloncatan ke atas, menarik punggungnya sampai melengkung,mencak-mencak seperti gila, bahkan menjatuhkan diri bergulingan!
Namun, dengan mengandalkan aji meringankan tubuh, dia selalu dapat membiarkan tubuhnya mencelat ke atas untuk kemudian turun cepat di atas punggung kuda itu kembali,dan ketika kuda hitam itu menjatuhkan diri bergulingan, dia meloncat ke atas sampai tinggi kemudian turun tepat di atas punggung kembali setelah kuda itu berdiri kembali.
Kuda hitam itu seperti gila dan membuat loncatan-loncatan aneh dan lucu.
Napasnya terengah-engah,mulutnya mengeluarkan busa, matanya menjadi merah liar, hidungnya kembang-kempis dan akhirnya dia kehabisan tenaga atau kehabisan napas, gerakannya meronta makin lemah dan ringkikannya berkurang,akhirnya dia berdiri mendengus-dengus, tidak meronta lagi, keempat kakinya menggigil.
Pecah sorak-sorai menyambut kemenangan ini, kemenangan yang amat gemilang dan enak dipandang karena tampak betapa Bromatmojo benar-benar berjuang untuk menundukkan itu, kekuatan dan keganasan kuda dilawan dengan kecekatan dan kelincahan, tidak seperti para pemenang lain yang menggunakan aji penyirepan dan lain-lain sehingga kuda yang mereka tunggangi itu ditundukan tanpa perjuangan hebat seperti yang diperlihatkan oleh Bromatmojo!
"Anak itu hebat sekali, Dimas Aryo.
Ilmunya tinggi...."
Sang Adipati Wirorojo memuji. Aryo Pranarojo mengerutkan alisnya.
"Memang dia sakti, akan tetapi bocah itu sungguh kementus dan kemaki (sombong dan berlagak). Kalau diserahi urusan besar dia bisa membikin gagal tugas yang diserahkan kepadanya."
"Hemm, belum tentu begitu, Dimas Aryo. Kulihat dia masih muda sekali, dan kurasa dia tidak sombong, melainkan seperti lumrahnya pemuda remaja dia ingin menggembirakan orang dan memperoleh pujian."
"Mungkin pendapat Andika benar, Kakangmas Adipati. Akan tetapi saya pribadi lebih suka kepada pemuda tinggi kurus yang wajahnya muram itu. Dia tentu seorang yang serius dan dapat diserahi tugas penting yang tentu akan dibela dengan mati-matian."
Percakapan mereka terhenti oleh sorak-sorai para penonton melihat Bromatmojo yang sudah berhasil menudukkan si Hitam itu kini menggerakkan tali kendali kuda itu meloncat ke depan seperti terbang.
"Haiiii..... panahnya....! Panahnya....!!"
Seribu buah mulut lebih meneriakkan "panah"
Untuk mengingatkan Bromatmojo bahwa dia lupa mengambil busur dan anak panah,sedangkan kudanya sudah mulai dia larikan ke depan.
Mendengar ini, Bromatmojo baru teringat.
Ah, mau apa dia membalapkan kuda ke depan kalau tidak membawa anak panah?
"Hirrrrr......!!"
Dia berteriak dengan nyaring sekali mengatasi teriakan para penonton dan dia menarik kendali.
Kuda hitam itu berhenti dan mengangkat kedua kaki depan ke atas, kemudian membalik ke tempat semula.
Bromatmojo tidak turun dari atas kuda, melainkan miringkan tubuhnya dan menyambar tumpukan anak panah di atas meja tanpa memilih lagi.
Dia telah mengambil tiga batang anak panah dan kini kudanya mengulangi lagi larinya membalap yang tadi ditunda.
Cepat seperti terbang saja lari kuda itu dan terdengar lagi sorakan para penonton dengan teriakan-teriakan nyaring.
"Gendawanya...! Gendawanya....!"
Akan tetapi Bromatmojo sambil tertawa mengangkat tinggi-tinggi tiga batang anak panahdan tidak lagi untuk mengambil busur.
"Hemm, dia mengambil anak panah tanpa gendawa. Mau apa lagi anak itu?"
Aryo Pranarojo berkata terheran-heran.
Semua orang kini mengikuti gerak-gerik Bromatmojo yang tubuhnya terguncang-guncang naik turun di atas tubuh kuda hitam yang mata kuat itu.
Ketika kuda itu tiba tepat di tempat yang diberi tanda, Bromatmojo menggerakkan tangannya tiga kali berturut-turut.
Yang nampak hanya sinar berkilat menyambar ke arah orang-orangan itu tiga kali dan terdengar suara "cart.....tak...tak!!"
Semua orang yang menyaksikan orang-orangan itu disambar tiga batang anak panah,menjadi bengong sejenak, kemudian meledaklah sorak-sorai yang gegap-gempita.
Sekali ini, bahkan Sang Adipati sendiri bertepuk tangan memuji dan Aryo Pranarojo juga mengganguk-angguk, karena apa yang diperlihatkan oleh pemuda tampan itu benar-benar amat luar biasa.
Anak panah yang pertama dengan jitu sekali telah menancap di tenggorokan orang-orangan itu, anak panah ke dua menyambar dan membelah anak panah pertama, terus menancap di tempat yang sama,dan anak panah yang ke tiga membelah anak panah ke dua, juga menancap di tempat yang sama pula.
Dan ketiga anak panah itu menyambar tanpa bantuan gendawa, hanya dengan lontaran tangan saja!
Gegerlah semua penonton.
Ribuan orang penonton yang seperti semut itu bergerak seperti serombongan semut diganggu.
Kalau tidak takut kepada Sang Adipati dan para penjaga, agaknya sudah banyak penonton, terutama dara-dara remaja, yang lari menyeberangi alun-alun untuk menghampiri Bromatmojo dan mengelu-elukannya.
Bromatmojo sudah melompat turun dari kuda hitamnya dan menyerahkan kuda itu kepada para penjaga.
Lalu dengan tersenyum dia duduk di tempat para peserta yang lulus ujian, dan bersama dia kini para peserta yang lulus dalam ujian ke dua berjumlah delapan orang.
Kini ujian ke tiga telah dipersiapkan oleh para perajurit pengawal, dipimpin sendiri oleh Raden Turonggo.
Sesuai dengan jumlah para peserta yang lulus ujian ke dua, di situ telah didirikan delapan batang bambu yang tingginya kurang lebih empat meter dan pada setiap ujung bambu itu dikatkan sebuah kelapa muda dengan tali lawe.
Lima orang perajurit anggota pasukan panah, yaitu ahli-ahli panah tepat, telah berdiri berjajar dalam jarak seratus langkah dan siap dengan busur dan anak panah mereka.
Ngeri juga hati para penonton melihat ini.
Mereka sudah mendengar bahwa ujian ke tiga amat berbahaya karena para peserta harus dapat memetik buah kelapa itu dari atas ujung bambu tanpa memanjat bambunya, dan untuk pekerjaan yang sudah amat sukar ini mereka masih dihalangi oleh lima orang itu yang kan menghujani mereka dengan anak panah!
Dua ujian pertama tidaklah berbahaya kalau dibandingkan dengan ujian ke tiga ini.
Baru memetik buah kalapa setinggi itu saja sudah merupakan hal yang amat sukar, apa lagi harus melindungi diri dari serangan hujan anak panah, Gila, sama saja dengan bunuh diri!
Peserta pertama yang bertubuh tinggi besar dan bercambang bauk (brewokan) maju dengan langkah lebar dan gagah.
Begitu dia tiba di tanah yang sudah di beri tanda lingkaran di bawah bambu, Raden Turanggo memberi aba-aba dan lima orang pemanah itu segera melepaskan anak panah meraka.
Berdesinglah anak panah menyambar-nyambar ke arah tubuh Si Tinggi Besar dan peserta ini yang sudah bersiap-siap lalu menggerakkan tubuh mengelak ke sana-sini dan kaki tangannya juga bergerak menangkisi anak-anak panah itu.
Belasan batang anak panah dapat dia halaukan dan dia lalu meloncat ke atas.
Akan tetapi kembali anak-anak panah menyambar dan orang itu terpaksa sibuk melindungi tubuhnya dari serangan anak-anak panah itu sehingga dia gagal untuk mengambil buah kelapa.
Dia meloncat lagi, akan tetapi setiap kali di meloncat, pasukan panah tadi melepas anak-anak panah mereka sehingga sampai lima kali dia meloncat, laki-laki tinggi besar itu masih belum mampu mengambil buah kelapa, bahkan sebatang anak panah telah melukai betisnya.
Dia meloncat turun dan betisnya berdarah.
Gagallah peserta pertama ini dan dia meninggalkan gelanggang.
Peserta ke dua yang dipanggil adalah Joko Handoko.
Dengan tenang pemuda tampan gagah dan bersikap halus ini maju, disambut oleh tepuk sorak memberi semangat.
Joko Handoko lalu menghampiri sebuah di antara delapan batang bambu itu dan begitu kakinya memasuki lingkaran, Raden Turonggo memberi isyarat dan berhamburanlah anak-anak panah seprti hujan menyambar ke arah tubuh pemuda perkasa ini.
Namun, Joko Handoko sudah mempersiapkan diri, sejak memasuki lingkaran dia telah mengerahkan aji kekebalannya dan melihat anak-anak panah datang menyambar, dia hanya menggerakkan kedua tangan untuk menyapok anak panah yang menuju ke matanya.
Anak-anak panah yang menuju ke bagian lain dari tubuhnya didiamkan saja.
Semua orang terkejut akan tetapi lalu bernapas lega dan bersorak memuji ketika anak-anak panah yang mengenai tubuh pemuda itu runtuh seperti mengenai besi baja, dan pada saat itu tubuh Joko Handoko sudah mencelat ke atas.
Terdengar dia berteriak nyaring karena untuk meloncat setinggi itu memang bukanlah hal mudah baginya.
Biar pun dia telah mengerahkan tenaga, namun tetap saja tangannya yang meraih buah kelapa masih tidak sampai, kurang dua tiga jengkel lagi!
Terpaksa dia melayang turun dengan tangan hampa dan para penonton menahan napas, merasa kecewa.
Kembali anak-anak panah menyerbu dan sekali ini,setelah meruntuhkan semua anak panah, dia meloncat lagi sambil menarik ikat kepalanya.
Seperti juga tadi, loncatannya masih belum cukup tinggi untuk meraih buah kelapa itu, akan tetapi dia mengerakkan ikat kepalanya memukul ke atas dan putuslah tali yang mengikat dawegan (kelapa muda) itu sehingga buah itu runtuh ke bawah dan cepat disambarnya sebelum dia melayang turun.
Tepuk sorak menyambut kemenangan ini dan dengan sikap hormat Joko Handoko menyembah ke arah panggung di mana Sang Adipati duduk dan meninggalkan buah kelapa di atas tanah lalu dia disambut oleh Raden Turonggo sendiri yang mengajaknya menunggu dan duduk di tempat yang telah disediakan untuk para pemenang, yaitu di sebuah panggung yang sama tingginya dengan panggung Sang Adipati, hanya panggung ini dibentuk seperti gelanggang karena memang di sinilah nanti para pemenang di uji pula untuk menentukan tingkat mereka, yaitu dengan saling bertanding kesaktian!
Peserta ke tiga gagal lagi, biar pun dia tidak terluka seperti peserta pertama,namun hujan anak panah membuat dia sibuk mengelak dan menangkis sehingga dia sama sekali tidak memperoleh kesempatan untuk mengambil kelapa muda itu.
Dia merasa tidak sanggup dan meninggalkan lapangan.
Kini tiba giliran dua orang kakak beradik yang mendaftarkan diri sebagai Gendana dan Gendini, dua saudara kembar itu.
Ketika Gendana dipanggil, adiknya ikut pula maju dan kembali Raden Turonggo memberi berkenan kepada mereka untuk maju bersama.
Dia telah banyak mendengar tentang perasaan saudara kembar yang sukar untuk dipisahkan satu dari yang lain.
Dua orang muda itu dengan cepat menghampiri bambu dan dari sikap mereka yang tenang dapat dipastikan bahwa mereka sudah mengatur rencana untuk menghadapi ujian berat ini.
Dan memang demikianlah.
Begitu mereka memasuki lingkaran, lima orang pemanah itu sudah menghujankan anak panah mereka.
Dua orang itu bergerak, akan tetapi gerakan mereka berbeda, Si Adik hanya mengelak sedangkan Si Kakak selain mengelak juga menyambar anak-anak panah dengan kedua tangannya dia menangkap banyak anak panah di kedua tangannya.
Tiba-tiba Si Adik berseru keras dan meloncat, bukan meloncat ke atas puncak bambu, melainkan ke atas tubuh kakaknya dan Si Kakak, menggunakan kedua tangan setelah menyelipkan anak-anak panah itu di ikat pinggang, menerima kedua kaki adiknya dan dari tangan kakaknya itulah Si Adik kini menggenjot tubuhnya ke atas!
Pada saat itu, anak-anak panah kembali menyerangnya, akan tetapi kini Si Kakak menggunakan kedua tangan untuk melempar-lemparkan anak panah yang tadi dirampasnya dan dengan demikian dia memukul runtuh anak-anak panah yang mengancam adiknya!
Karena Si Adik meloncat dari atas tangan kakaknya,tentu saja tempat kelapa muda itu tidak tinggi lagi dan dia berhasil memetik dawegan dengan baiknya lalu meloncat turun.
Begitu dia turun, Si Kakak lalu Si Kakak lalu meloncat ke atas, seperti tadi dia diterima oleh kedua tangan adiknya dan kembali dia menggenjot tubuhnya berlandaskan dua telapak tangan adiknya.
Anak-anak panah menyambar, namun dengan sigapnya Si Kakak ternya lebih pandai dari Adiknya, dapat menangkis dan menyepak anak-anak panah itu dan dengan mudah tangannya meraih dan memetik buah kelapa dari bambu ke dua, lalu turun dan mereka berdua berdiri dan membungkuk dengan hormat ke arah panggung Sang dipati di bawah sorakan dan pujian para penonton.
"Hemm, kemenangan mereka itu terjadi karena saling bantu,"
Aryo Pranarojo berkata.
"Kalau maju seorang saja saya kira belum tentu berhasil."
Sang Adipati Wirorojo tersenyum dan meraba kumisnya.
"Biar pun demikian, dengan kerja sama yang baik, dua orang itu boleh juga diandalkan."
Raden Turonggo juga ragu-ragu untuk menyatakan kakak beradik ini lulus ujian akan tetapi ketika dia menengok ke arah eyangnya duduk, dia melihat Sang Adipati menganggukkan kepalanya, maka dia lalu menyambut kakak beradik itu dan di ajak pergi duduk menanti di atas panggung di mana telah duduk Joko Handoko.
Ketika bertemu pandang dengan Joko Handoko, kakak beradik itu tersenyum dan Si Adik berkata dengan suara halus.
"Andika sungguh gagah perkasa dan hebat, Kisanak....!"
Joko Handoko tersenyum dan menjawab.
"Dan Andika berdua sungguh cerdik bukan main!"
Mereka berdua tersenyum lebar dan Joko Handoko merasa betapa pandang mata Gendini kepadanya mengandung sesuatu yang membuat dia mengerutkan kening. Dia dapat menduga bahwa "Pemuda"
Ini adalah seorang gadis yang berpakaian pria,seperti halnya Sulastri.
Hanya bedanya, kalau Sulastri dalam penyamarannya itu benar-benar hendak menyembunyikan kewanitaannya sehingga tidak mudah dikenal,sebaliknya gadis ini tidak menyembunyikan kewanitaannya, suaranya pun halus, dan agaknya dia berpakaian pria agar leluasa bergerak saja.
Melihat betapa dara itu terus menerus memandang kepadanya dengan senyum penuh arti, dia merasa malu dan memalingkan muka tidak berani memandang lagi.
Kini tinggal tiga peserta yang belum menempuh ujian, yaitu pemuda tinggi kurus,seorang peserta yang bermuka hitam dan pendek gemuk, dan orang ke tiga adalah Bromatmojo.
Tibalah giliran pemuda tinggi kurus yang berwajah muram.
Dia memasuki lingkarang di bawah bambu dengan tenang dan ketika anak-anak panah datang menyambar dia sama sekali tidak mengelak atau menangkis, seperti Joko Handoko tadi, ternyata dia melindungi dirinya dengan aji kekebalan dan tanpa memperdulikan hujan anak panah, dia sudah menggenjot kakinya dan tubuhnya mencelat dengan ringan dan mudahnya, tangannya meraih dan di lain saat dia telah memetik buah kelapa itu!
Jelas bahwa dalam hal meringankan tubuh, dia menang jauh dengan kakak berdik itu, bahkan masih menang kalau dibandingkan dengan Joko Handoko yang tadi terpaksa harus menggunakan bantuan ikat kepalanya untuk dapat mengembil kelapa muda itu.
Tentu saja kemenangan pemuda tinggi kurus ini amat menonjol dan dia menerima sorak pujian para penonton, sungguh pun penonton tidak suka melihat pemuda yang berwajah muram dan bersungut-sungut itu.
Peserta pendek gemuk menerima giliran kembali dia gagal karena loncatannya tidak dapat mencapai buah kelapa.
Karena jengkel agaknya, Si Pendek gemuk ini menggunakan kekuatan kedua tangannya, merobohkan bambu sehingga buah kelapa itu ikut pula jatuh ke bawah lalu diterimanya dengan tangan.
Tentu saja hal ini menyalahi syarat dan dia dinyatakan tidak lulus.
Di bawah sorak-sorai penonton, Si Pendek Gemuk ini meninggalkan lapangan.
Agaknya dia memiliki aji kekabalan yang paling hebat karena anak-anak panah yang mengenai tubuh atasnya yang telanjang itu banyak yang patah-patah!
Akan tetapi dalam hal kegesitan dan keringanan tubuh, dia harus banyak belajar lagi.
Tibalah kini giliran Bromatmojo dan sebelum pemuda itu melangkah, dia sudah disambut sorak dan tepk tangan riuh rendah.
Jelas sekali betapa simpati para penonton pada umumnya dilimpahkan kepada Bromatmojo.
Melihat ini, Raden Turonggo sendiri tersenyum dan memandang kagum.
Memang peserta yang satuini amat mengagumkan, amat tampan dan pandai mengikat hati.
Dan Bromatmojo sendiri yang tahu betapa para penonton menjagoinya, mengambil keputusan untuk memperlihatkan kepandaian agar menyenangkan hati para penonton yang telah bersikap demikian baik kepadanya.
Maka begitu dia tiba di bawah bambu, belum memasuki lingkaran, dia tersenyum dan mengangguk ke empat penjuru, disambut oleh para penonton yang bersorak gembira memuji jagoan mereka.
Kemudian dia lalu meloncat masuk ke dalam lingkaran dan pada saat itu, Raden Turonggo telah memberi isyarat dan lima orang pemanah segera menghujankan anak panahnya ke arah Bromatmojo.
Di antara ilmu-ilmu kesaktian yang dipelajarinya dan sangat boleh diandalkan,terutama sekali adalah ilmunya meringankan tubuh yang disebut Aji Turonggo Bayu, ilmu kesaktian yang membuat tubuh dara itu dapat bergerak secepat kilat dan dapat berlari secepat angin.
Kini, melihat datangnya anak panah yang bertubi-tubi seperti hujan, Bromatmojo memperoleh kesempatan untuk mendemonstrasikan gerak cepatnya.
Tubuhnya melesat ke kanan kiri, atas bawah dan depan belakang, begitu cepatnya sehingga tubuhnya berubah menjadi banyak!
Tentu saja para penonton menjadi kagum dan gembira sekali.
Mereka bertepuk tangan dan bersorak memuji Bromatmojo yang memang sengaja hendak memamerkan kepandaiannya, tidak cepat-cepat meloncat ke atas melainkan "bermain-main"
Dengan hujan anak panah itu.
Para pemanah juga kagum sekali maka tanpa diperintah lagi mereka seperti hendak melayani pemuda luar biasa itu untuk bermain-main dan mereka terus melepaskan anak panah dengan gencar, karena mereka pun yakin bahwa tidak akan ada anak panah yang dapat mengenai tubuh yang demikian gesit gerakannya, melebihi seekor burung walet!
Setelah puas bergerak ke sana-sini mengelak dari semua anak panah, Tiba-tiba Bromatmojo mengeluarkan suara melengking keras dan tahu-tahu tubuhnya mencelat tinggi sekali ke angkasa!
Dia berjungkir balik sampai empat kali dan ketika anak panah kembali menyambar ke arah tubuhnya yang berjungkir balik membuat salto di udara itu, Bromatmojo lalu menangkapi anak panah itu dengan kedua tangan, bahkan ada yang digigitnya ketika anak panah itu lewat di depan mukanya, dan kedua kakinya kini menggunting tali yang mengikat dawegan.
Ketika tubuhnya melayang turun, dia melempar-lemparkan anak panah yang ditangkap-tangkapinya tadi ke arah anak panah lain yang datang menyambar dan anak-anak panah itu jatuh berhamburan dan patah-patah!
Dengan berjungkir balik lagi, dia menyambar buah kelapa yang melayang jatuh, kemudian, dibawah tepuk sorak gemuruh dari penonton yang berjingkrak-jingkrak saking gembiranya Bromatmojo menggunakan tangannya seperti sebatang golok dan sekali pukul saja kelapa muda itu pecah menjadi dua dan diminumnyalah air kelapa itu dengan enaknya!
Tentu saja para penonton menjadi makin gemuruh dan tertawa-tawa.
Bromatmojo lalu melemparkan dua pecahan kelapa muda itu ke arah penonton dan kini terjadilah tontonan yang amat menarik ketika para perawan yang kegilaan itu sudah saling memperebutkan dawegan yang dilemparkan oleh Sang Arjuna itu!
Raden Turonggo menggeleng-gelengkan kepala ketika menyambut Bromatmojo, dan putera mendiang Adipati Ronggo Lawe ini memandang tajam dan berkata kagum.
"Andika sungguh pandai...."
Bromatmojo belum tahu siapa adanya pemuda tampan gagah yang mengatur jalannya sayembara itu, akan tetapi dia dapat menduga bahwa tentu pemuda ini seorang yang penting di Lumajang, maka dia menjawab.
"Ah, tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan Paduka."
Diam-diam Raden Turonggo makin kagum.
Pemuda tampan ini selain memiliki kesaktian yang hebat juga pandai mengambil hati, ramah tamah, lincah jenaka dan agaknya akan dapat menjadi seorang sahabat yang menyenangkan.
Dia lalu mengajak naik ke panggung di mana Joko Handoko menyambut Bromatmojo dengan seruan nyaring saking bangga dan girang hatinya.
"Engkau sungguh hebat, Adimas Bromatmojo!"
"Andika juga lulus, Kakangmas Joko!"
Jawab Bromatmojo dan dia melirik ke arah pemuda tinggi kurus yang memandangnya dengan sinar mata tajam penuh selidik itu.
Hemm, agaknya dialah lawanku yang paling kuat nanti, pikir Bromatmojo.
Raden Turonggo menghadapi eyangnya untuk melaporkan dan Adipati Wirorojo setuju untuk menerima lima oarng muda itu sebagai pemenang sayembara.
"Laksanakan kini pemilihan untuk menentukan tingkat mereka, Kulup, akan tetapi jaga jangan sampai mereka itu saling melukai apalagi saling bunuh."
Raden Turonggo mengangguk, kemudian dia menuju ke panggung para peserta dan dengan suara lantang dia mengumumkan bahwa lima orang peserta ini adalah pemenang sayembara.
Pengumuman ini disambut oleh sorakan gembira dari para penonton dan Raden Turonggo lalu mengangkat kedua tangan ke atas, memberi isyarat agar semua penonton tenang.
Setelah mereka tidak bersorak lagi, Raden Turonggo berkata lagi dengan lantang.
"Sekarang hendak diadakan pertandingan ilmu di antara mereka. Bukan untuk mencari kemenangan atau kekalahan, hanya sekedar untuk menentukan tingkat di antara mereka. Maka diharap para peserta tidak bertanding untuk merobohkan lawan,melainkan untuk memperlihatkan kepandaian bertanding. Hendaknya diingat bahwa mulai sekarang, Andika sekalian kawan-kawan sejabat atau rekan-rekan seperkejaan."
Kakak beradik Gendana dan Gendini segera bangkit berdiri dan mereka berdua menjura kepada Raden Turonggo.
"Biarlah kami berdua saling bertanding untuk memperlihatkan kemampuan kami kalau diperkenankan."
Raden Turonggo mengangguk.
Sebaiknya begitu dan pertandingan antara kakak beradik ini tentu paling aman dan tidak mungkin mereka akan saling melukai.
Mulailah dua orang kakak beradik itu bergerak di tengah-tengah panggung biar pun hanya merupakan semacam latihan bagi mereka, namun gerakan mereka benar-benar amat tangkas dan cepat.
Pukulan, tendangan dan tangkisan dilakukan dengan sungguh-sungguh, dan hanya seorang ahli saja yang dapat berlatih seperti itu cepatnya, tiada bedanya dengan perkelahian sungguh-sungguh.
Dari gerakan mereka dan cara mereka menyerang dan menangkis atau mengelak, dapat dinilai sampai di mana kehebatan mereka dalam ilmu seni bela diri itu.
"Heiiiiiittt.....!!"
Tiba-tiba Gendini memekik dan tubuhnya meluncur cepat,kedua kakinya bergantian melakukan tendangan kilat.
"Plak! Plak!"
Kedua tangan Gendana menangkis tendangan-tendangan itu dan cepat sekali kini kedua tangan Gendini melakukan pukulan dengan dorongan dari samping tubuhnya, ke arah dada lawan.
Gendana menyambut dengan dorongan kedua tangan pula.
"Plakkk!"
Dua pasang tangan saling bertemu dan sekali Gendana mengerahkan tenaga,tubuh adiknya itu terangkat dan terlempar ke atas kepalanya seperti terbang!
Akan tetapi, dengan gerakan indah Gendini sudah berjungkir balik dua kali dan turun seperti seekor burung saja.
Tepuk tangan menyambut demontrasi ilmu silat yang telah berakhir itu.
Kakak beradik itu tersenyum dan kembali ke tempat duduk mereka.
Kini Joko Handoko bangkit berdiri, maksudnya hendak mencontoh kakak beradik itu dan hendak mengajak Bromatmojo untuk bertanding.
Akan tetapi sebelum Bromatmojo bangkit, pemuda tinggi kurus sudah bangkit lebih dulu dan sekali menggerakkan kakinya, dia sudah meloncat ke depan Joko Handoko sambil membungkuk.
"Kisanak, marilah kita main-main sebentar,"
Katanya dengan sikap kaku. Ucapan yang dikeluarkan dengan sikap kaku ini dapat diterima sebagai tantangan,maka Joko Handoko mengerutkan alisnya dan menjawab.
"Boleh, silahkan maju."
Raden Turonggo yang teringat akan pesan kakeknya, berdiri dengan sikap waspada dan siap untuk melerai sekiranya pertandingan itu menjadi berbahaya bagi kedua pihak.
"Tidak diperkenankan menggunakan senjata,"
Katanya kepada dua orang muda itu sebelum mereka bergerak.
Joko Handoko mengangguk dan lawannya diam saja, kemudian lawannya membentak nyaring sambil menggerakkan tangan kiri melakukan serangan pertama dengan tamparan dari samping.
"Wuuuutttt....! Wiirrrr...!"
Joko Handoko cepat mengelak dan diam-diam dia terkejut ketika merasakan angin sambaran tamparan itu amat kuat dan juga mengandung hawa panas.
Maklumlah dia bahwa lawannya itu bukan orang sembarangan, sungguhpun hal itu sudah dapat diduganya ketika melihat Si Tinggi Kurus tadi lulus dalam tiga macam ujian dengan baik, bahkan lebih unggul daripada dia.
Namun ketika pukulan ke dua datang menyambar, dia sengaja menangkis untuk mengukur kekuatan lawan.
"Wuuuuuuttt.....desss!!"
Joko Handoko terhuyung ke belakang sedangkan pemuda tinggi kurus itu berdiri tegak.
Tentu saja Joko Handoko terkejut.
Jelas bahwa dia kalah tenaga, bahkan kalah jauh.
Akan tetapi dia tidak merasa gentar dan cepat pemuda ini sudah menerjang dan balas menyerang.
Lawannya mengelak, gerakannya lambat-lambat saja akan tetapi anehnya, semua serangan Joko Handoko hanya mengenai angin belaka.
Sampai pukulan jurus Joko Handoko menyerang, namun lawannya terus mengelak dengan mudahnya.
Ketika Joko Handoko menjadi makin penasaran dan mengirim pukulan dengan pengerahan tenaga sakti ke arah lambung lawan, pemuda tinggi kurus itu mengeluarkan suara menggereng seperti harimau.
"Blukkk! Plakkk!"
Tubuh Joko Handoko terpelanting.
Ternyata Si Tinggi Kurus itu menerima hantaman Joko Handoko dan pemuda ini merasa betapa tangannya seperti menghantam benda yang kenyal dan kuat, dan pada detik berikutnya, Si Tinggi Kurus sudah menampar pundaknya dan tak dapat ditahan lagi, tubuh Joko Handoko terpelanting keras.
"Kakangmas....!"
Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan semua orang memandang dengan terheran-heran dan juga kagum ketika melihat bahwa yang meloncat seperti seekor kijang ke atas panggung itu adalah seorang gadis yang cantik sekali!
Gadis itu cepat memegang lengan kakaknya yang masih berlutut dan bertanya.
"Kakangmas, kau terluka....?"
Joko Handoko menggelang kepala lalu bengkit berdiri.
"Tidak apa-apa, Diajeng, tidak apa-apa...."
Dengan perasaan tidak enak karena melihat Roro Kartiko, adiknya itu meloncat naik ke atas panggung, Joko Handoko lalu memberi hormat kepada Raden Turonggo yang menghampirinya dan yang memandang kepada Roro Kartiko dengan heran.
"Harap Paduka maafkan, Raden. Dia ini adalah adik saya yang mengkhawatirkan keadaan saya...."
Raden Turonggo juga kagum melihat dara cantik yang ternyata dapat melompat sejauh dan secepat itu, maka dia menggeleng kepalanya.
"Tidak mengapa, sekarang harap Andika mundur...."
Sementara itu. Bromatmojo sudah meloncat ke tengah panggung menghadapi Si Tinggi Kurus.
"Karena tidak ada peserta lain, benanikah Andika menemani saya bertanding?"
Tanya Bromatmojo sambil tersenyum.
Biar pun pertanyaannya itu merupakan tantangan, akan tetapi karena dilakukan dengan senyum, maka Si Tinggi Kurus itu tidak dapat berbuat lain kecuali mengangguk.
Dan Raden Turonggo juga tidak dapat mencegah mereka karena begitu terlihat Si Tinggi Kurus mengangguk, Bromatmojo sudah cepat menerjang dengan serangan-serangannya!
Bertandinglah kedua orang ini dan sekali ini para penonton disuguhi pertandingan yang amat seru dan hebat!
Sementara itu, Joko Handoko dan Roro Kartiko disambut oleh kakak beradik kembar.
Gendana memandang kepada Roro Kartiko penuh kekaguman.
Karena dua orang bersaudara itu bersikap manis, Joko Handoko lalu memperkenalkan mereka kepada adiknya.
"Diajeng, mereka ini adalah saudara Gendana dan Gendini...."
"Ah, itu adalah nama samaran kami,"
Kata Gendana.
"Sebetulnya nama saya adalah Murwendo, Raden Murwendo, dan adik saya ini bernama Murwanti." (Lanjut ke
Jilid 23) Kemelut Di Majapahit (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 23 Joko Handoko mengangguk, karena memang dia pun sudah menduga bahwa nama mereka itu adalah nama samaran yang berarti saudara kembar laki-laki dan perempuan.
"Adik saya ini bernama Roro Kartiko."
"Nama yang indah...."
Kata Raden Murwendo.
"Kepandaianmu hebat juga, mengapa engkau tidak ikut sayembara?"
Tanya Roro Murwanti kepada Roro Kartiko.
"Tadinya saya hendak ikut, akan tetapi saya ngeri melihat kuda liar itu,"
Jawab yang ditanya.
Sorak-sorai penonton membuat mereka berempat menoleh dan memandang ke tengah panggung.
Pertempuran itu memang hebat dan seru.
Baru sekarang Joko Handoko mendapat kenyataan bahwa lawannya tadi memang tinggi ilmunya, maka dia pun tidak merasa penasaran telah dikalahkan oleh Si Tinggi Kurus.
Dia tahu betapa saktinya Bromatmojo, namun pemuda dari puncak Bromo itu ternyata masih belum mampu mengalahkan lawannya!
Memang Bromatmojo merasa penasaran sekali.
Dia mengeluarkan ilmu-ilmu yang ampuh, sudah menerjang dengan menggunakan Aji Hasto Bairowo, yaitu ilmu pukulannya yang amat kuat dan cepat.
Namun, lawannya ternyata dapat mengimbangi serangannya, dapat mengelak dan bahkan berani menangkis pukulan Hasto Nogo yang mengandung daya melumpuhkan dan mujijat itu!
Ternyata ketika mereka berdua beradu lengan, keduanya terdorong mundur, tanda bahwa kekuatan tenaga sakti mereka berimbang!
Hal ini membuat Bromatmojo menjadi pensaran dan marah, maka dia lalu mengeluarkan pekik melengking dan tubuhnya segera bergerak seperti seekor burung walet menyambar-nyambar.
Demikian cepat gerakannya seolah-olah kedua kakinya tidak menginjak papan panggung lagi dan tubuhnya seperti berubah menjadi banyak, yang menyerang secara bertubi-tubi kepada Si Tinggi Kurus dari segala jurusan.
Barulah sekarang Si Tinggi Kurus kelihatan terdesak!
Para penonton bersorak-sorai,hampir semua orang menjagoi Bromatmojo.
Akan tetapi Si Tinggi Kurus itu memang tangguh sekali.
Biar pun kini dia tidak memperoleh kesempatan untuk membalas karena kecepatan gerak tubuh Bromatmojo benar-benar amat hebat, namun belum juga Bromatmojo dapat memukulnya secara tepat sehingga dia masih dapat melindungi dirinya dan bahkan beberapa kali tangkisan yang dilakukan dengan pengerahan tenaga seperti membendung serangan berantai dari Bromatmojo.
"Hyaaaaaahhh.........!!"
Bromatmojo tiba-tiba memekik keras dan dengan kecepatan luar biasa dia telah mengirim serangkaian pukulan sakti dengan kekuatan Hasto Nogo!
Si Tinggi Kurus mengelak dan menangkis, namun dia kalah cepat dan pundaknya masih kena terdorong oleh tangan kiri Bromatmojo yang mengandung tenaga mujijat sehingga dia terhuyung ke belakang.
Hanya terhuyung!
Padahal tamparan Hasto Nogo itu dapat meremukan batu karang!
"Cukup harap kalian mundur!"
Raden Turonggo tiba-tiba melangkah maju dan melerai mereka.
Dua orang itu sejenak berpandangan seperti dua ekor jago yang masih haus darah, akan tetapi Bromatmojo lalu tersenyum dan orang tinggi kurus itu makin merengut.
Keduanya lalu kembali duduk di panggung itu, diiringi sorak-sorai penonton yang kegirangan karena jelas nampak oleh mereka tadi bahwa jagoan mereka Sang Arjuna telah menang, biar pun lawannya belum roboh.
Karena para perwira yang bertugas mengumumkan bahwa sayembara telah bubar, maka mereka semua lalu bubaran.
Banyak di antara mereka, laki-laki dan perempuan, tua muda, desakan ingin mendekati Sang Arjuno, akan tetapi para perajurit melarang mereka sehingga mereka hanya menonton dari jauh dan melambaikan tangan kepada Bromatmojo.
Adipati Wirorojo mengundurkan diri memasuki istana dan lima orang muda yang dipilih itu, bersama Roro Kartiko yang diperkenankan pula menghadap bersama kakaknya, dipanggil masuk dan diantar oleh Raden Turonggo.
Ruangan itu luas dan bersih, dan Sang Adipati duduk dihadap oleh semua hulubalang dan para pembantunya.
Aryo Pranarojo duduk di sebelah kirinya,sedangkan Raden Kuda Anjampiani atau Raden Turonggo lalu menghadap mendampingi lima orang peserta sayembara bersam Roro Kartiko.
Di ruangan itu hadir pula para senopati yang merupakan kawan-kawan seperjuangan dari Sang Adipati, bekas-bekas jagoan mojopahit yang telah mengungsi ke Lumajang.
Mereka ini antara lain adalah Tumenggung Pamandana yang usianya sudah lima puluh tahun lebih, Aryo Semi yang masih muda dan kelihatan gagah perkasa, usianya paling banyak tiga puluh lima tahun, Aryo Jangkung dan Aryo teguh yang sedikit lebih tua, kemudian nampak pula Panji Samara dan Panji Wironagari.
Mereka ini semua adalah orang-orang gagah perkasa yang sejak muda telah banyak membantu Mojopahit dan semenjak tewasnya Adipati Ronggo Lawe kemudian tewasnya Demang Lembu Sora lalu melarikan diri ke Lumajang karena mereka tidak tahan lagi melihat betapa kekuasaan Puteri Melayu makin kuat mencengkeram Sang Prabu sehingga merekalah yang berkuasa di Mojopahit.
Mereka semua tadi ikut pula menyaksikan pertandingan sayembara dan kini mereka memandang orang-orang muda itu dengan penuh perhatian dan kekaguman.
Setelah semua peserta yang lulus itu menghadap, dengan wajah berseri karena gembira memperoleh pembantu-pembantu muda demikian gagah perkasa, Sang Adipati lalu memandang kepada Bromatmojo, peserta yang dianggapnya paling hebat.
"Eh, bocah bagus, engkau sungguh mengagumkan hati semua orang. Siapakah Andika dan dari mana asalmu, orang muda yang ganteng?"
Bromatmojo cepat menyembah dan dengan kedua pipi berubah merah dia lalu menjawab, suaranya halus namun penuh keriangan dan nyaring karena memang demikianlah watak dara ini.
"Mohon Paduka sudi mengampuni hamba. Sesungguhnya hamba bukanlah seorang pria, melainkan wanita....."
"Jagad Dewa Bathara! Wanita....?"
Sang Adipati berseru kaget.
"Ah, wanita....?"
Terdengar bisikan mereka yang hadir di situ dan semua mata menatap Bromatmojo dengan penuh rasa selidik, dengan mata terbelalak heran seolah-olah dara itu merupakan seorang manusia aneh dari bulan.
Memang siapakah yang yang menyangka bahwa pemuda yang demikian tinggi kepandaiannya, yang keluar sebagai juara dalam sayembara itu, hanyalah seorang wanita muda, seorang dara?
Kini barulah mereka mengerti mengapa pemuda itu demikian tampannya, demikian memikatnya.
Kiranya seorang wanita, seorang dara, yang cantik!
"Ampunkan hamba, Gusti Adipati.
Nama Bromatmojo adalah nama penyamaran hamba, karena hamba datang dari puncak Bromo.
Nama hamba yang sesungguhnya adalah Sulastri, murid dari Eyang Empu Supamandragi di puncak Bromo."
"Hammm, pantas....pantas.... kiranya Andika murid Kakang Empu Supamandrangi...!"
Adipati Wirorojo mengangguk-angguk. Tentu saja dia mengenal Empu yang sakti itu karena puteranya sendiri, mendiang Adipati Ronggo Lawe adalah juga murid Sang Empu itu.
"Baiklah, Nini Sulastri, kami girang sekali mendengar bahwa Andika adalah murid gemblengan Kakang Empu Supamandrangi. Penyamaranmu baik sekali sehingga Andika mampu mengelabui orang se-Lumajang. Sekarang, katakanlah Nini, mengapa Andika sebagai seorang wanita muda bersusah-payah menyamar sebagai pria, dan memasuki sayembara yang kami adakan?"
"Maaf, Gusti Adipati. Hamba menyamar agar mudah melakukan perjalanan dan hamba sengaja hendak menghambakan diri di sini kepada Paduka karena hamba tahu bahwa Paduka adalah ayah dari orang yang hamba junjung sebagai seorang Guru hamba yang paling baik, yang telah meninggalkan benda ini kepada hamba."
Bromatmojo atau Sulastri mengeluarkan kalungnya yang tersembunyi di balik bajunya, yaitu kalung Kundolo Mirah pemberian mendiang Adipati Ronggo Lawe.
"Kundolo Mirah....!!"
Seruan ini keluar dari mulut Sang Adipati dan dari mulut Raden Turonggo.
"Duh Jagat Dewa Bathara......! Kiranya Andika ada hubungan demikian erat dengan mendiang puteraku Ronggo Lawe? Coba ceritakan kepada kami, Nini, bagaimana Andika bisa mendapatkan Kundolo Mirah itu."
"Beberapa bulan sebelum terjadi perang antara Tuban dan Mojopahit, Sang Adipati Ronggo Lawe pernah menolong Kakak hamba dan hamba dari gangguan orang-orang jahat. Karena kagum maka hamba minta menjadi murid beliau. Akan tetapi pada waktu itu beliau sedang sibuk dengan urusan kerajaan, maka sebagai gantinya Beliau memberikan Kundolo Mirah ini kepada hamba. Kemudian hamba menjadi murid Eyang Jembros...."
"Ki Jembros.... yang tewas pula membantu Demung Lembu Sora?"
"Benar, Gusti. Karena Eyang Jembros terluka dan hendak membantu Paman Juru Demung dan Paman Gajah Biru yang ketika itu berada di Pegunungan Pandan, hamba lalu disuruh pergi ke puncak Bromo menghadap Eyang Empu Supamandrangi dan di sanalah hamba digembleng dan menjadi murid Eyang Empu."
"Ahh, sungguh beruntung sekali bagi kami mendapatkan bantuan seorang seperti Andika, Nini Sulastri. Lalu bagaimana asal mulanya maka Andika berada di Lumajang dan mengikuti sayembara?"
"Hamba sedang menyelidiki hilangnya Kolonadah, Gusti...."
Sang Adipati mengelus jenggotnya dan semua orang terkejut, saling pandang dan terdengarlah bisik-bisik halus. Sang Adipati lalu mengangkat tangan dan berkata.
"Baiklah, kita akan bicarakan hal itu nanti setelah kami berkenalan dengan para peserta lainnya."
Dengan kata-kata ini Sang Adipati hendak memberi tahu bahwa urusan Kolonadah tidak akan dibicarakan secara terbuka di persidangan itu dan Sulastri lalu menyembah dan menundukkan muka tanda bahwa dia mengerti.
Sang Adipati kini memandang kepada kakak adik kembar itu, memberi isyarat kepada mereka agar mendekat laju maju.
Murwendo dan Murwanti lalu maju sampai berjongkok dan Sang Adipati tertawa.
"Ha-ha-ha, biar pun engkau menggunakan pakaian pria pula, Nini, akan tetapi semua orang dapat mengetahui atau menduga bahwa Andika adalah seorang wanita,tidak seperti Nini Sulastri. Apalagi dalam pendaftaran, nama Andika berdua adalah Gendana dan Gendini, tanda bahwa Andika adalah kakak beradik kembar, laki-laki dan wanita. Sebenarnya siapakah Andika berdua dan datang dari mana?"
"Tepat seperti dugaan Paduka, Gusti, hamba berdua adalah kakak beradik kembar, nama hamba Murwenda dan adik hamba bernama Murwanti. Kami berdua adalah kakak beradik dari pantai selatan, dari keluarga nelayan yang ingin meluaskan pengetahuan maka ketika hamba mendengar bahwa di Lumajang diadakan sayembara, hamba ingin memasukinya, dan Adik hamba ini tidak pernah mau ketinggalan selalu bersama hamba. Harap Paduka maafkan kebodohan hamba berdua."
Sang Adipati girang melihat sikap kakak beradik ini penuh hormat dan sopan bagi anak-anak nelayan.
"Kepandaian kalian cukup baik dan kami merasa girang mendapat bantuan Andika, Murwendo dan Murwanti. Pembagian tugas bagi Andika semua akan diatur kemudian."
Sang Adipatii lalu menyuruh maju pemuda tinggi kurus yang wajahnya muram dan mulutnya bersungut-sungut itu.
"Siapakah Andika? Kami lihat kepandaian Andika hebat, kiranya mengimbangi kesaktian Nini Sulastri."
Pemuda tinggi kurus itu menyembah.
"Hamba bernama Harwojo dan hamba berguru kepada Ayah hamba sendiri yang bertapa di Lereng Gunung Anjasmoro dan yang sekarang sudah meninggal dunia. Hamba tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap, merantau dan kebetulan hamba sampai di sini mendengar tentang sayembara, maka hamba memasukinya."
Sang Adipati mengangguk-angguk.
"Baik, Harwojo. Melihat kepandaianmu, tentu Andika akan banyak berguna bagi Lumajang. Mudah-mudahan saja Andika akan dapat melaksanakan tugas Andika dengan baik."
Kini Sang Adipati memandang kepada Joko Handoko yang berlutut di dekat adiknya yang cantik, Roro Kartiko.
Tentu saja tadi Sang Adipati juga melihat gerakan Roro Kartiko ketika dara itu meloncat seperti seekor kijang ke atas panggung,dan diam-diam Sang Adipati kagum sekali.
"Dan Andika siapakah, orang muda? Dan Nini Dewi itu apakah benar adik Andika? Sungguh mengherankan, sayembara ini sekaligus menarik datangnya tiga orang wanita Srikandi, ha-ha-ha!"
Sang Adipati tertawa karena gembira hatinya.
"Hamba bernama Joko Handoko dan adik hamba ini bernama Roro Katiko. Sebelum hamba memperkenalkan keluarga hamba, hamba mohon sudilah kiranya Gusti Adipati mengampuni hamba."
Adipati Wirorojo mengerutkan alisnya dan memandang dua orang kakak beradik itu dengan penuh perhatian.
"Hemm, apa sebabnya Andika datang-datang minta pengampunan? Tentu saja kalau ada sesuatu akan kami pertimbangkan dengan seadilnya, dan tidak mungkin kami menolak atau memberi pengampunan sebelum mendengar persoalannya. Ceritakanlah, Joko Handoko, siapakah keluargamu dan apa artinya sikapmu ini?"
"Hamba berdua datang dari tuban dan Ayah hamba.... mendiang Ayah hamba Progodigdoyo...."
Terdengar seruan-seruan kaget di ruangan itu dan Sang Adipati juga terkejut,memandang pemuda itu dengan mata tajam penuh selidik.
"Progodigdoyo bupati Tuban?"
Tanyanya menegas dan ketika Joko Handoko mengangguk.
Adipati itu mengerutkan alisnya.
Tentu saja dia sudah mengenal baik siapa itu Progodigdoyo dan mendiang Ki Ageng Palandongan sudah banyak bercerita tentang sepak terjang Progodigdoyo yang menjadi kaki tangan Resi Mahapati.
"Hemm, Joko Handoko, apa sebabnya Andika datang ke Lumajang dan memasuki sayembara? Hayo ceritakan yang jelas karena mendengar bahwa Andika berdua adalah putera dan puteri Progodigdoyo, sungguh mengherankan hati kami mengapa Andika bisa berada di sini!"
Di dalam suara Sang Adipati terkandung keraguan dan kecurigaan. Joko Handoko dan Roro Kartiko menunduk, muka mereka sebentara merah dan sebentar pucat.
"Setelah apa yang terjadi dengan ayah hamba di Mojopahit...."
Akhirnya Joko Handoko berkata sambil menunduk.
"...hamba dan Adik hamba mengajak Ibu hamba berdua untuk lari dari Tuban..... dan hamba berdua ingin menghambakan diri di Lumajang untuk menentang kelaliman sebagai penebusan dosa orang tua hamba..."
Adipati Wirorojo mengelus jenggotnya.
Tentu saja hatinya meragu.
Progodigdoyo terkenal sebagai seorang yang berwatak jahat, dan biarpun kini putera dan puterinya kelihatan baik-baik, akan tetapi siapa berani tanggung apakah kedatangan mereka ini membawa hati yang jujur?
Selagi dia ragu-ragu, tiba-tiba Bromatmojo atau Sulastri menyembah dan berkata.
"Maaf, Gusti Adipati! Untuk Kakangmas Joko Handoko dan Diajeng Roro Kartiko, hambalah yang sanggup menanggung mereka! Telah lama hamba mengenal mereka, dan biarpun mereka adalah putera dan puteri mendiang Progodigdoyo, namun mereka berdua orang-orang gagah perkasa dan budiman yang dapat dipercaya penuh. Mereka adalah pemimpin-pemimpin dari perkumpulan Sriti Kencana yang menggegerkan Tuban karena sepak-terjang mereka menentang para pembesar lalim dan membela rakyat yang tertindas, bahkan mereka tidak segan-segan untuk menentang kelaliman Ayah mereka sendiri. Hamba kira, kelaliman Progodigdoyo tidak boleh ditimpakan kepada mereka, Gusti."
Dengan singkat namun padat Sulastri menceritakan sepak-terjang kakak beradik itu, betapa mereka berdua itu bersama dia malah telah membasmi Kakek Durgakelana, dan betapa jauh bedanya antara dua orang muda itu dengan ayah mereka yang sesat.
"Dengan penuh harapan mereka berdua membawa Ibunda mereka ke Lumajang dan memasuki sayembara dengan niat menebus dosa-dosa Ayah mereka, hal itu tentu saja mereka lakukan karena mereka telah mendengar akan kebijaksanaan Paduka sebagai Adipati di Lumajang."
Sulastri menutup ceritanya dan Sang Adipati mengangguk-angguk.
"Nini Sulastri, Andika sungguh merupakan seorang wanita muda yang seperti Srikandi, selain sakti mandraguna juga amat setia terhadap kawan. Senangkanlah hati kalian, wahai orang-orang muda belia, karena tanpa pembelan Nini Sulastri tadi, kami tentu saja dengan hati dan tangan terbuka suka menerima janda Progodigdoyo beserta kedua putera puterinya di Lumajang."
Dengan hati terharu Joko Handoko dan Roro Kartiko menghaturkan terima kasih dengan sembah mereka, dan mereka menceritakan pula kepada Sang Adipati bahwa tujuh orang anggota Sriti Kencana, yang merupakan wanita-wanita terlatih, juga ikut bersama mereka ke Lumajang dan mereka pun menyiapkan diri untuk mengabdi dan membantu Lumajang apabila diperlukan.
Hal ini menggirangkan hati Sang Adipati Wirorojo.
Tak lama kemudian persidangan dibubarkan dan keenam orang muda itu ditahan disitu karena Sang Adipati bersama Aryo Pranarojo masih ingin bicara dengan mereka, ditemani Raden Turonggo.
Joko Handoko diberi sebuah rumah untuk ibunya dan para anggota Sriti Kencana,rumah yang cukup baik dan berada di dekat istana, sebuah di antara rumah-rumah para punggawa yang dipercaya.
Kemudian mereka semua diberi tugas.
Sulastri diangkat menjadi kepala pengawal dalam istana, Roro Kartiko sebagai pengawal bagian kaputren, Joko Handoko sebagai pengawal pribadi Sang Adipati, sedangkan Harwojo dibantu oleh Murwendo dan Murwanti menjadi perwira perwira pengawal bagian luar istana.
Pembagian tugas ini saja sudah membayangkan bahwa Sang Adipati telah menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Sulastri dan bahwa kepercayaannya terhadap putera-puteri Progodigdoyo juga diperkuat oleh jaminan sulastri.
Dan memang sesungguhnya demikianlah.
Sang Adipati masih meragukan Harwojo dan kakak beradik kembar yang belum diketahui benar riwayat asal-usulnya itu.
Sebaliknya Sulastri, Joko Handoko dan adiknya merupakan orang-orang yang sudah jelas riwayatnya dan latar belakangnya, apalagi Sulastri yang mengaku guru kepada mendiang Adipati Ronggo Lawe.
Demikianlah, mulai hari itu, orang-orang muda yang perkasa itu mulai dengan tugas mereka masing-masing, dan Sulastri menjadi buah bibir semua penghuni kadipaten ketika mereka mendengar bahwa pemuda tampan seperti Arjuna itu ternyata adalah seorang dara perkasa!
Tak terhitung banyaknya hati perawan Lumajang yang menjadi trenyuh dan kecewa, sebaliknya banyak hati kaum muda yang bangkit penuh kekaguman terhadap dara yang bernama Sulastri dan yang kini menjadi pengawal dalam istana Sang Adipati itu.
"Brakkkk!!"
Meja di depannya pecah oleh tamparan tangan Resi Mahapati. Mukanya menjadi merah, keruh dan metanya jalang, giginya berkerot menahan kemarahan.
"Celaka, Kakang Resi Harimurti! Peraturan Andika sungguh menambah kebingungan hatiku! Kenapa kita begini sial?"
Gerutunya sambil memandang kepada Resi Harimurti yang duduk di depannya, sedangkan Lestari cepat menghampiri dan merangkul pundaknya, menghiburnya.
"Kakangmas, sabarlah. Kemarahan hanya akan mengeruhkan hati dan pikiran, sebaliknya ketenangan akan memungkinkan kita berpikir dengan baik dan mencari jalan keluar dari segala kesukaran."
"Jalan keluar yang mana?"
Resi Mahapati menghardik, tak sabar.
"Sebulan yang lalu aku dipanggil menghadap oleh Gusti Ratu Sri Indreswari dan di situ, bersama Gusti Pangeran Pati Kolo Gemet, aku ditegur, dicaci-maki, karena sampai sekarang aku belum bisa mendapatkan keris pusaka Kolonadah yang mereka inginkan. Terpaksa aku mohon Beliau bersabar dan aku mohon waktu tiga bulan. Sekarang, sebulan telah lewat dan kini datanglah Resi Harimurti menceritakan bahwa Kolonadah terampas orang-orang Lumajang! Siapa tidak menjadi bingung?"
"Adimas Resi Mahapati, harap Andika maafkan saya. Sebetulnya saya sudah berhasil membunuh Ki Ageng Palandongan dan merampas keris pusaka, akan tetapi siapa kira saya telah dipermainkan dan keris pusaka itu mereka rampas secara curang. Kalau mereka tidak menggunakan tipu daya, tidak mungkin keris pusaka itu dapat mereka rampas! Selain itu, saya masih ragu-ragu apakah benar dua orang itu adalah orang-orang Lumajang dan hal ini harus kita selidiki lebih dulu. Betapapun juga, saya akan menyelidiki dan demi para dewa, saya pasti akan merampas kembali pusaka itu!"
Kata Resi Harimurti dengan marah dan ia memang masih mendongkol sekali kalau mengingat akan peristiwa itu.
"Akan tetapi, baik yang merampas itu orang Lumajang atau bukan, waktunya sudah mendesak sekali, Kakang Resi Harimurti. Tinggal dua bulan lagi dan kalau sampai tiba waktunya aku belum dapat menyerahkan pusaka itu kepada Gusti Ratu, hemmm....entah apa yang akan terjadi dengan diriku. Tentu kepercayaan Beliau kepadaku akan berkurang atau bahkan akan lenyap."
Harimurti mengerutkan alisnya.
"Saya berani menanggung bahwa kelak keris itu pasti akan dapat saya temukan, akan tetapi kalau waktunya ditentukan, dua bulan lagi, hemm.....mana mungkin saya berani menjamin? Bagaimana kalau belum berhasil? Ahh, janjimu terhadap Gusti Ratu itu sungguh berat, Adimas Resi Mahapati."
"Hemm, sudah kujanjikan kepada Beliau dan sudah bertahun-tahun aku mencari tanpa hasil. Pusaka itu lenyap ditelan bumi setelah secara tak terduga-duga terdengar berita bahwa pusaka itu terjatuh ke tangan Ki Ageng Palandongan dan Andika mengejarnya, Andika berhasil merampasnya akan tetapi... ternyata hilang kembali! Pendeknya, bagaimana pun juga, dalam waktu sebulan duabulan ini, Kolonadah harus sudah berada di tanganku! Lestari, panggil adikmu Tejo ke sini!"
Resi Mahapati yang sedang bingung dan marah itu kini bahkan bersikap kasar kepada selirnya yang tercinta sehingga Lestari menjadi kaget dan cepat-cepat wanita itu pergi sendiri untuk mencari adiknya, tidak menyuruh pelayan.
Setelah Lestari pergi, Resi Mahapati berkata kepada Harimurti.
"Kakang Resi Harimurti. Amat penting sekali agar sebelum dua bulan pusaka itu dapat kuserahkan kepada Gusti Ratu Sri Indreswari dan Pangeran Kolo Gemet karena kalau sampai gagal, tentu aku akan kehilangan kepercayaan Beliau. Padahal, hanya melalui Beliau sajalah maka cita-cita kita akan tercapai."
Sesi Harimurti hanya mengangguk-angguk dan dia merasa makin menyesal mengapa dia sampai dapat tertipu oleh dua orang itu yang dia tahu kini tentu sengaja mempergunakan perawan dusun itu untuk membuat dia lengah!
Dia kini hanya dapat menyesal dan mendongkol, mengepal tinju dan memaki-maki di dalam hatinya.
"Adimas Sutejo,"
Kata Resi Mahapati setelah pemuda itu muncul bersama kakaknya.
"Kini tiba saatnya bagi Adimas untuk membuktikan dharma baktimu kepada Mojopahit! Gusti Pangeran Pati telah memerintahkan kepadaku untuk mendapatkan keris pusaka Kolonadah dan memberi waktu kepadaku selama dua bulan saja. Padahal, menurut penuturan Kakang Resi Harimurti, kerispusaka itu kini berada di tangan orang-orang Lumajang."
Sutejo mengerling ke arah Resi Harimurti.
Tentu saja di dalam hatinya dia merasa tidak senang kepada Resi Harimurti ini, akan tetapi karena ternyata bahwa Resi ini membantu kakak Iparnya, Resi Mahapati yang merupakan seorang ponggawa setia dari Mojopahit, maka dia harus menanam rasa tidak sukanya itu.
"Bukankah kabarnya keris itu berada di tangan Ki Ageng Palandongan?"
Tanya Sutejo dengan sikap tenang.
"Memang benar, dan aku telah merempas pusaka itu dari tangannya,"
Kini Resi Harimurti yang menjawab.
"Ketika mendengar bahwa keris itu terampas olehnya dari tangan Empu Singkir, aku lalu melakukan pengejaran dan akhirnya perhitunganku tepat, dia mengambil jalan selatan dan di Pegunungan Kidul aku berhasil menyusulnya. Kami bertempur dan aku berhasil merobohkannya dan merampas Keris Kolonadah. Akan tetapi musuh dua orang yang tidak kukenal, akan tetapi kuyakin meraka tentulah orang-orang Lumajang, dan dengan menggunakan tipu daya curang mereka berdua akhirnya dapat merampas pusaka itu dari tanganku."
"Hemmm, bagaimana mungkin mereka dapat merampas pusaka itu dari tangan seorang sakti seperti Andika?"
Sutejo bertanya dengan pandang mata penuh selidik. Wajah Harimurti menjadi merah.
"Aku.....tertidur di dalam hutan saking lelahku,dan di dalam tidur itulah aku kehilangan keris pusaka itu. Mereka mencurinya dan aku melakukan pengejaran. Tentu keris pusaka itu dapat kurampas kembali kalau mereka tidak melakukan tipu muslihat curang. Mereka melemparkan keris itu dan tentu saja aku tidak mengejar lagi melainkan mencari keris yang dilemparkan ke dalam jurang. Ketika itu aku mendapatkan keris itu, ternyata keris itu adalah keris palsu, bukan Kolonadah dan ketika aku naik dari jurang, mereka telah lenyap."
"Jelas bahwa mereka itu tentulah orang-orang Lumajang. Siapa lagi kalau bukan orang-orang Lumajang yang tahu tentang pusaka Kolonadah? Karena itu, Adimas Sutejo, waktunya sudah amat mendesak, Gusti Pangeran hanya memberi waktu dua bulan, maka kuharap Adimas dapat membuktikan dharma bhaktimu terhadap Mojopahit dan membantu Kakak Iparmu dari tugas berat ini. Kau bersama Kakang Resi Harimurti pergilah ke Lumajang untuk menyelidiki dan merampas kembali pusaka itu. Adimas Sutejo."
Sutejo mengerutkan alisnya yang tebal, lalu menghela napas dan menjawab.
"Dengan senang hati saya akan menempuh bahaya demi membela dan berbakti kepada Mojopahit,saya kira tidaklah mungkin untuk bisa menemukan keris pusaka itu di Lumajang dalam waktu sesingkat itu. Pertama, dua orang yang merampas keris dari tangan Paman Resi Harimurti itu belum dikenal siapa orangnya. Ke dua, andaikata benar mereka itu orang-orang Lumajang, bagaimana mungkin mencari sebatang keris di antara penduduk Lumajang yang tentu puluhan ribu rumah banyaknya? Ke tiga,andaikata keris itu terjatuh ke tangan Sang Adipati di Lumajang, saya kira lebih sukar lagi karena di sana terdapat banyak orang sakti. Mana mungkin kami berdua akan dapat mencuri atau merampas yang tentu dijaga dengan kuat oleh orang-orang sakti? Bukan saya berkeberatan untuk menempuh bahaya, akan tetapi kita harus memperbandingkan kemungkinan dan hasil-hasilnya yang dapat dicapai. Bukankah kalau dalam waktu dua bulan kami belum berhasil, berarti gagal usaha kita ini,Kakangmas Resi?"
Resi Mahapati mengerutkan alisnya dan memegangi jenggotnya, mengangguk-angguk dan menarik napas panjang.
"Aku mengerti. Adimas. Akan tetapi jalan apa lagi yang dapat kutempuh? Karena sudah kehabisan akal maka aku minta bantuanmu,Adimas Sutejo."
"Kalau memang itu jalan satu-satunya, tentu saja saya akan berangkat, Kakangmas. Akan tetapi saya tidak berani menjamin akan berhasil! Dalam waktu dua bulan."
Tiba-tiba Lestari berkata nyaring.
"Mengapa harus menempuh jalan yang sukar yang sedikit sekali kemungkinanya berhasil kalau ada jalan yang jauh lebih mudah dan lebih baik daripada itu?"
Meraka bertiga memandang kepada wanita cantik itu dan wajah Resi Mahapati berseri penuh harapan.
"Diajeng Lestari, istriku yang jelita.....lekas katakanlah kepadamulah aku mengantungkan harapanku, lekas katakan, jalan apakah yang lebih mudah itu?"
Lestari tersenyum penuh kebanggaan. Akan tetapi di depan adiknya dan Resi Harimurti, dia merendah dan berkata.
"Sebetulnya sederhana saja dan baru terpikir olehku ketika kau mendengar cerita Sang Resi Harimurti tadi. Kalau dia dapat tertipu dengan keris palsu, mengapa kita tidak menggunakan itu untuk menyenangkan Gusti Ratu dan Gusti Pangeran Pati?"
"Keris palsu?"
Sutejo berseru. Resi Mahapati mengerutkan alisnya, penuh kekecewaan.
"Ah, mana mungkin hal itu dilakukan? Kakang Resi Harimurti sendiri telah mendapatkan keris palsu itu segera mengenalnya, apalagi Gusti Ratu dan Gusti Pangeran. Kalau mereka itu tahu bahwa yang kuserahkan adalah keris palsu, tentu tidak akan lama kepala ini tinggal di leherku."
"Memang tidak mungkin dilakukan hal itu."
Kata pula Resi Harimurti.
"Keris pusaka Kolonadah tidak bisa sembarangan saja dipalsukan. Gusti Ratu dan terutama Gusti Pangeran Pati tentu akan mengenalnya."
"Dan pula, berdosa sekali untuk mengelabui Gusti Ratu dan Gusti Pangeran,"
Sutejo berkata karena dia sama sekali tidak merasa setuju dengan usul mbakayunya (kakak perempuannya) itu.
Melihat tiga orang laki-laki itu semua menyatakan tidak setuju, Lestari tidak menjadi kecil hati, sebaliknya dia malah tersenyum lebar, manis sekali, sepasang matanya yang mengandung kecerdikan itu bersinar-sinar.
"Tentu saja aku akan bodoh sekali kalau menganjurkan pemalsuan begitu saja. Akan tetapi yang kumaksudkan bukan sembarangan pemalsuan, bahkan tidak boleh disebut pemalsuan kalau yang membuat keris ke dua yang serupa segala-galanya dengan Kolonadah itu adalah pencipta Kolonadah sendiri."
"Apa maksudmu, Mbakayu...?"
Sutejo berseru kaget.
"Bukankah Kolonadah itu kabarnya dibuat oleh Empu Supamandrangi yang bertapa di puncak Gunung Bromo? Nah, daripada susah payah mencari Kolonadah yang belum diketahui dengan pasti berada di mana, bukankah jauh lebih mudah mendatangi Empu Supamandrangi untuk dibuatkan sebuah keris yang serupa benar dengan Kolonadah dan menyerahkan keris itu kepada Gusti Ratu?"
"Aaahh.....ha-ha-ha.... engkau memang hebat! Engkau istri yang cantik dan bijaksana, sungguh.....ha-ha-ha, mengapa aku begitu bodoh dan tidak terpikirkan olehku hal ini sebelumnya? Aduh, terima kasih Diajeng Lestari, terima kasih! Ha-ha,bagaimana pendapatmu, Kakang resi? Hebat bukan siasat istriku tercinta ini?"
Harimurti sejenak memandang kagum kepada Lestari, kemudian mengangguk-angguk dan menjawab.
"Saya kira tidak ada akal yang lebih baik daripada itu, Adimas Resi. Memang tepat sekali."
"Tidak, saya tidak setuju!"
Tiba-tiba Sutejo berkata.
"Kita sebagai Kawula-kawula (hamba) Mojopahit yang setia bagaimana mungkin akan menipu Gusti Ratu Pangeran?"
Resi Harimurti melotot akan tetapi Resi Mahapati mengedipkan matanya kepadanya, lalu berkata kepada Sutejo.
"Ha-ha-ha, Adimas Sutejo. Tidak mengherankan kalau Andika beranggapan demikian karena Andika masih muda, berdarah panas dan belum pandai menggunakan akal yang halus. Tentu saja kami pun tidak setuju untuk menipu Gusti Ratu, bahkan kami akan menghalangi siapa saja yang akan menipu Beliau dengan keris di tangan! Akan tetapi kita sama sekali tidak akan menipu Beliau, Adimas. Renungkan baik-baik. Beliau minta waktu hanya dua bulan dan kalau samai dua bulan aku belum dapat menyerahkan Kolonadah, tentu Beliau akan merasa berduka sekali dan marah kepadaku. Maka, penyerahan keris buatan Empu Supamandrangi juga yang mirip dengan Kolonadah, sama sekali bukan untuk menipu, melainkan untuk meredakan kedukaan dan kemarahan Beliau. Tentu saja kita masih akan terus berusaha mencari Kolonadah yang asli, dan kalau pusaka itu sudah terdapat oleh kita, tinggal menukarkannya saja, bukan?"
"Andika Sutejo yang baik, kalau engkau tidak setuju dengan akal itu, apakah engku lebih suka melihat Kakak Iparmu menerima kemarahan Gusti Ratu dan menerima hukuman?"
Kata Lestari kepada adiknya. Sutejo menarik napas panjang dan dia memang dapat melihat kebenaran semua ini,akan tetapi hatinya masih merasa berat.
"Kalau memang demikian yang Andika sekalian anggap baik, terserah, akan tetapi berat bagi saya ikut pergi ke puncak Bromo. Empu Supamandrangi adalah guru dari sahabatku yang baik, yaitu Bromatmojo. Mana bisa aku ikut membujuknya membuat Kolonadah palsu....? Bagaimana kalau Beliau menolak? Aku tidak mungkin harus memaksanya."
Kembali Resi Mahapati berkedip kepada Lestari dan Resi Harimurti, lalu menyentuh pundak pemuda itu dan berkata dengan ramah.
"Adimas Sutejo, jangan salah mengerti. Tidak ada paksaan dalam hal ini. Kalau Empu Supamandrangi benar seorang pertapa yang suci, seorang yang setia, tentu dia tidak akan menolak permintaan kita, demi untuk kebaikan Mojopahit. Dan pula, ada satu hal yang amat penting mengenai diri sahabatmu yang bernama Bromatmojo itu, Adimas, dan aku yakin Andika belum mengetahuinya."
Seketika Sutejo timbul gairahnya dan dengan penuh semangat dia memandang Kakak Iparnya itu dan bertanya.
"Ada apa dengan dia? Apa yang terjadi dengan dia?"
"Baru saja ada pelaporan dari anak buah Kakang Gagaksona bahwa sahabatmu itu telah melindungi istri Progodigdoyo dan anak-anaknya yang melarikan diri ke Lumajang. Sahabatmu itu malah telah membunuh Kakang Gagaksona dan Klabang Curing serta banyak prajurit dan kini dia dan keluarga Progodigdoyo tentu telah berada di Lumajang."
Akan tetapi berita ini tidak mengejutkan hati Sutejo.
"Hemm, saya kira hal itu tidak aneh. Adi Bromo tentu saja membela mereka karena kedua orang anak dari Progodigdoyo itu adalah orang-orang yang baik."
"Tapi mereka adalah anak-anak yang telah berdosa, Adimas Sutejo!"
Kata Resi Mahapati.
"Mereka pun harus dihukum!"
"Saya tidak setuju dengan hukum itu, Kakangmas Resi. Yang bersalah boleh dihukum, akan tetapi keluarganya yang tidak bersalah, tidak semestinya menerima hukuman pula."
Resi Mahapati menarik napas panjang.
"Mungkin Andika benar... akan tetapi tidak sayangkah andika melihat sahabat baik Andika itu menyeberang ke Lumajang dan membantu pihak pemberontak? Tidak sayangkah hati Andika melihat dia menentang Mojopahit sebagai seorang pemberontak dan pengkhianat?"
"Memang sayang sekali, akan tetapi apa dayaku, dia berhati keras...."
Kata Sutejo dengan suara menyesal.
"Nah, sayang sekali, bukan? Memang sayang kalau seorang seperti dia, murid Empu Supamandrangi, kini membantu pemberontak. Apalagi karena dia itu seorang wanita, seorang dara remaja....."
Sutejo terkejut dan memandang kepada Resi Mahapati dengan mata terbuka lebar.
"Apa maksud Andika....?"
Resi Mahapati tersenyum.
"Hanya seorang pemuda seperti Andika yang masih polos, jujur dan belum berpengalaman saja yang mudah dikelabui, Adimas. Akan tetapi banyak orang-orang yang berpengalaman ketika bertemu dengan sahabatmu itu segera mengetahui bahwa dia sebenarnya adalah seorang dara remaja yang menyamar sebagai seorang pemuda."
"Ah, tidak mungkin......! Biar pun dia amat tampan..... akan tetapi.... ah, kalau dia pria, tentu dia tidak akan bohong kepadaku. Dan dia....ah, tidak mungkin!"
Sutejo tidak melanjutkan kata-katanya yang hendak menceritakan betapa Bromatmojo telah memperlihatkan "Kejantanannya"
Dengan sikapnya yang mata keranjang dan suka menggoda wanita.
"Siapa yang lebih tahu kalau bukan Gurunya, Adimas? Mengapa Andika tidak sekalian menanyakan hal itu kepada gurunya, Empu Supamandrangi? Dan kalau Empu itu mendengar bahwa Andika sahabat baik dari muridnya, tentu dia akan suka membuatkan keris itu demi kepentingan Mojopahit."
Sutejo menjadi bimbang dan akhirnya, setelah dibujuk-bujuk oleh Resi Mahapati dan Lestari, dia pun menyerah dan pada keesokan harinya, berangkatlah Resi Harimurti bersama Sutejo menuju ke timur, ke Gunung Bromo.
Dia terdesak oleh bujukan Resi Mahapati bahwa semua yang dilakukannya itu adalah demi kepentingan Mojopahit, demi perjuangan!
Tidaklah mengherankan kalau Sutejo dapat terbujuk.
Betapa semenjak sejarah berkembang sehingga kini, kita selalu tertipu dengan kata-kata indah yang berupa slogan kosong, yaitu perjuangan!
Di setiap penjuru dunia di mana terjadi perang,baik perang melawan bangsa lain, perang saudara, perang agama, atau perang antar suku, selalu terdengar slogan kosong yang berbunyi indah itu berdengung.Perjuangan!
Dan betapa kita semua, tua muda, terpelajar mau pun buta huruf,seperti mabok kepayang oleh keindahan kata-kata ini, meninggalkan rumah,meninggalkan sawah, meninggalkan pekerjaan, untuk membunuh atau dibunuh yang dinamakan orang.
Perjuangan!
Berjuang demi kerajaan!
Berjuang demi bangsa, demi negara, demi agama, dan sebaginya lagi.
Berjuang demi rakyat!
Demikianlah yang didengung-dengungkan oleh para pemimpin.
Benarkah semua itu?
Benarkah perjuangan, perang bunuh-membunuh,semua itu dilakukan demi bangsa, demi agama, demi rakyat?
Kalau kita mau meneliti jalannya sejarah, maka siapa saja yang mau membuka mata melihat kenyataan akan dapat melihat bahwa sesungguhnya tidak demikianlah kenyataannya.
Kata-kata perjuangan demi ini dan itu yang didengung-dengungkan oleh para pemimpin itu pada hakekatnya adalah demi kepentingan mereka itu, kepentingan para pemimpin itu sendiri, atau juga demi politik pemerintah yang pada hakekatnya juga terdiri dari kelompok pemimpin pula.
Sudah sejak sejarah berkembang terbukti nyata bahwa setiap peperangan yang didengung-dengungkan sebagai perjuangan itu, hasilnya selalu sama.
Kalau kalah, para pemimpin itu jatuh dan menyeret rakyat yang menjadi korban perang dan korban pihak yang kalah.
Kalau menang, para pemimpin itulah yang terangkat setinggi langit dan memperoleh kemuliaan.
Rakyat yang tadinya menjadi alat untuk meraih kemuliaan itu dengan dalih perjuangan?
Cukup mendapatkan "kepyuran"
Hadiah, seperti segenggam beras diseberkan untuk ayam-ayam bodoh, sesudah itu, sudahlah!
Rakyat pula yang menjadi korban perang, baik kalah maupun menang, dengan korban nyawa anggota keluarga, harta benda dan kadang-kadang kehormatan.
Akan tetapi mengapa kita, rakyat, begitu bodoh dan seperti dapat dilihat dalam sejarah, perang yang diselimuti kata-kata perjuangan itu berulang terus?
Mengapa?
Begitu bodohkah rakyat di dunia ini dipermainkan oleh sekelompok orang-orang yang dinamakan pemimpin, yang tidak lain hanya berambisi besar, yang mengejar kesenangan diri pribadi melalui kedudukan, kekuasaan, harta benda, atau nama besar belaka?
Yang demi pengejaran semua itu, tidak segan-segan menyeret rakyat ke dalam api peperangan?
Kalau kita mau mengenal diri sendiri, akan nampaklah bahwa hal ini adalah karena kita merasa diri sendiri kosong, hampa, tidak berarti.
Oleh karena itu kita mencari sesuatu yang lebih berarti, yang akan dapat "mengangkat"
Diri pribadi kita ke tempat yang lebih berarti, melalui partai, melalui perkumpulan, melalui negara,melalui bangsa, melalui agama.
Dan untuk meraih nilai yang lebih tinggi ini maka kita mengesampingkan diri pribadi sendiri, kita menyamakan diri dengan bangsa, negara, dan sebagainya.
Dan di dalam semua itu TERDAPAT KESENANGAN!
Inilah sebabnya!
Kalau begitu, agaknya tidak akan pernah mungkin ada perdaimaian di dunia ini!
Tidak mungkin perang berakhir!
Kapankah dunia ini akan menjadi tempat yang aman damai tanpa perang untuk seluruh manusia, di mana selain tidak ada perang juga tidak ada permusuhan, dan manusia hanya mementingkan kesejahteraan seluruh manusia di dunia yang merata dan tidak ada lagi kelaparan dan penindasan?
Agaknya kalau sudah tidak ada pemimpin-pemimpin yang mementingkan diri pribadi,sudah tidak ada orang perorangan, atau kelompok yang mengejar-ngejar kekuasaan melalui kedudukan , harta, kepandaian dan lain-lain, kalau sudah tidak ada perpecahan-perpecahan yang melenyapkan nilai manusia, kalau yang menjadi faktor utama dan terpenting adalah manusia, bukan agama, bukan politik, bukan negara,bukan bangsa, bukan kedudukan atau harta, kepandaian atau kekuasaan, barulah mungkin bicara tantang perdamaian.
Selama nilai manusia sendiri tenggelam,teruruk oleh perpecahan-perpecahan yang lebih dipentingkan seperti agama, politik, bangsa, dan sebegainya itu, sudah tentu saja akan selalu timbul pertentangan, permusuhan, iri hati, kebencian, yang kesemuanya terkumpul lalu meletus menjadi perang.
Dan itu tentu saja berlaku untuk seluruh manusia di dunia, karena kalau sudah benar-benar manusia yang menjadi faktor utama, maka sebutan bangsa dan lain-lain itu tidak ada pengaruhnya lagi bagi kehidupan.
Dua orang cantrik itu terheran-heran melihat Sang Empu bangun dan duduk dengan mata masih terpejam, kemudian berkata perlahan.
"Cantrik, apakah kalian berdua masih ingat kepada muridku Sulastri?"
Dua orang cantrik itu saling pandang.
Tentu saja mereka ingat, karena gadis lincah murid pertapa ini selama empat tahun berada di situ dan mereka berdua adalah penghuni dusun di lereng Bromo dan sudah mengenal dara itu.
Mereka baru saja menjadi cantrik melayani Empu Supamandrangi, semenjak kepergian Sulastri dari situ.
"Hamba ingat, Sang Empu!"
Jawab seorang di antara mereka.
"Kalau begitu ingat baik-baik, jika ada terjadi sesuatu kelak di pertapaan ini, kalian pergi carilah Sulastri."
"Ke mana hamba harus mencarinya?"
"Ke Mojopahit, Tuban, atau Lumajang....."
Setelah berkata demikian, Empu Supamandrangi merebahkan diri kembali dan tidur pulas, seolah-olah dia tadi hanya mimpi saja.
Dua orang cantrik itu saling pandang dan merasa heran.
Sudah tiga pekan Sang Empu menderita sakit.
Tadi mereka sedang bekerja di ladang ketika mereka seperti mendengar suara Empu Supamandrangi memanggil meraka.
Bergegas mereka memasuki kamar Sang Eampu hanya untuk mendapatkan kakek itu tidur nyenyak!
Dan tiba-tiba kakek itu bangun duduk dengan mata terpejam dan mengatakan pesan itu kepada mereka!
Memang terjadi perubahan di pondok pertapaan Empu Supamandrangi semenjak Sulastri meninggalkannya.
Dahulu, kakek ini sudah biasa hidup menyendiri.
Akan tetapi semenjak Sulastri menjadi muridnya dan adanya gadis itu merupakan cahaya cerah dalam kehidupannya, lalu gadis itu pergi turun gunung, Empu Supamandrangi seringkali merasa kesepian!
Pula, dia merasa bahwa usianya sudah amat tua, hidup tentu tidak akan lama lagi dan daripada dia membawa semua pengertiannya itu lenyap bersama kematiannya lebih baik dia tinggal-tinggalkan kepada orang lain agar dapat diamalkan.
Oleh karena itu, dia lalu mengambil dua orang cantrik dari penghuni dusun yang berada di lereng gunung dan mereka ini selain menjadi cantrik yang mempelajari soal-soal kebatinan, juga bertugas melayaninya.
Beberapa hari kemudian setelah pagi hari itu Sang Pendeta meninggalkan seperti orang mimpi, keadaan kesehatan Empu Supamandrangi berangsur sembuh dan biar pun tubuhnya masih lemah, namun dia sudah dapat turun dari pembaringan dan berjalan-jalan.
Pesan itu tidak lagi disinggung-singgung, dan sudah hampir terlupa oleh dua orang cantrik itu yang menganggap bahwa mungkin Sang Pendeta itu hanya bermimpi.
Akan tetapi pada suatu senja, muncullah dua orang tamu di depan pondok Sang Pertapa.
Ketika dua orang cantrik itu mendengar bahwa mereka datang dari Mojopahit, dari kota raja dan hendak bertemu dengan Sang Empu, bergegas mereka melaporkan kedatangan dua orang tamu itu kepada Empu Supamandrangi.
Kakek ini cepat membereskan pakaiannya dan keluar dari dalam kamar, menyambut dua orang yang mengaku datang dari Mojopahit itu.
Ketika melihat bahwa yang datang adalah seorang kakek berpakaian resi dan seorang pemuda yang amat gagah perkasa, dia cepat menyambut dengan hormat, mempersilahkan mereka duduk di ruang tamu dan menyuruh cantrik mengambil minuman.
"Sungguh merupakan kehormatan besar bagi saya menerima kunjungan tamu-tamu yang terhormat, akan tetapi juga merupakan hal yang mengejutkan dan mengherankan karena tempat yang sunyi ini jarang sekali didatangi tamu,"
Empu Supamandrangi berkata sambil menatap tajam wajah pemuda itu setelah mengerling kepada kakek berpakaian resi.
"Siapakah Andika berdua, dari mana dan ada keperluan apakah datang berkunjung ke pertapaan yang sunyi ini?"
Resi itu tersenyum lebar dan menjawab.
"Harap Andika maafkan kalau kedatangan kami mengganggu. Saya adalah Resi Harimurti dan dia ini adalah Sutejo. Kami berdua sengaja datang karena diutus oleh Adimas Resi Mahapati dari Mojopahit. Kiranya Andika mengenal nama Adimas Resi Mahapati."
Empu Supamandrangi mengerutkan alisnya yang sudah hempir putih semua itu.
"Resi Mahapati? Hemm, saya teringat nama itu.... kalau tidak salah, seorang Resi Kerajaan Mojopahit dan menjadi seorang punggawa, bukan? Akan tetapi....biar pun saya sudah dengar tentang dia, saya tidak mengenalnya secara pribadi dan seingat saya, tidak ada urusan antara dia dan saya...."
"Memang sebenarnyalah demikian, Saudara Empu Supamandrangi. Akan tetapi kami diutus oleh Adimas Resi Mahapati sebagai ponggawa setia dari Kerajaan Mojopahit yang menerima perintah dari Gusti Ratu Sri Indreswari dan Gusti Pangeran Pati sendiri."
"Ah, begitukah?"
Empu Supamandrangi memandang dengan mata terbelalak dan hatinya merasa tidak enak.
"Sungguh makin menakjubkan sekali. Ada urusan penting apakah gerangan maka kerajaan teringat kepada seorang tua seperti aku, Sang Resi?"
"Begini persoalannya, Saudara Empu. Sudah lama sekali Gusti Pangeran Pati Kolo Gemet menginginkan keris pusaka Kolonadah."
Dia berhenti sebentar dan memandang kepada kakek yang mengangguk-angguk itu.
"Dan karena sampai kini keris pusaka itu belum juga berhasil didapatkan untuk dihaturkan kepada Gusti Pangeran, maka Adimas Resi Mahapati mohon bantuan Saudara Empu."
Empu Supamandrangi mengerutkan alisnya.
Dia sudah mengutus muridnya, Sulastri,untuk menyerahkan keris pusaka itu kepada Pangeran Kolo Gemet, mengapa sampai kini belum juga pusaka itu diterima oleh Sang Pangeran?
"Kalau keris pusaka itu lenyap dan belum bisa didapatkan, bagaimana saya dapat menolong, Sang Resi?"
Tanyanya.
"Karena Andika adalah pencipta keris pusaka Kolonadah, maka kini untuk meredakan kedukaan dan kemarahan Gusti Pangeran, Resi Mahapati minta bantuan Andika agar suka membuatkan sebatang keris yang sama dengan Kolonadah untuk diberikan kepada Gusti Pangeran."
"Ahhh.....!"
Empu Supamandrangi tertegun, lalu menggelengkan kepalanya.
"Hal itu tidak mungkin saya lakukan! Kolonadah tidak boleh dipalsukan begitu saja! Keris itu adalah sebuah pusaka kerajaan yang mengandung daya mujijat...."
"Hendaknya Andika ingat bahwa keris ini adalah untuk meredakan kedukaan Gusti Ratu Sri Indreswari dan puteranya, Gusti Pangeran Pati Kolo Gemet."
Akan tetapi Empu Supamandrangi menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sungguh bukan pertanda baik untuk mempermainkan ratu dan Pangeran Pati, dan sungguh lebih tidak baik lagi untuk memalsukan Kolonadah...."
"Akan tetapi ini merupakan perintah dan kepentingan Mojopahit, Saudara Empu!"
Suara Resi Harimurti sudah berubah kaku karena hatinya mengkal melihat kekerasan hati kakek yang menolak itu.
"Apakah harus saya katakan bahwa Andika membangkang perintah dan tidak mau berbakti kepada Mojopahit, bahkan menentang Mojopahit?"
Sang Empu mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke atas dan menggeleng kepala.
"Sama sekali tidak! Wahai.... betapa mudahnya sekarang ini orang dikatakan menentang dan membangkang kerajaan!"
Dia menarik napas panjang.
"Bukan sekali-kali saya menentang dan menolak Sang Resi, akan tetapi karena itu bukanlah jalan yang baik. Seharusnya keris Kolonadah yang asli itulah yang harus dihaturkan kepada pangeran."
"Apakah Andika tahu bagaimana harus memperoleh kembali Kolonadah yang hilang?"
"Ah, mana saya tahu? Saya telah mengutus murid saya untuk mencari keris itu dan menyerahkan kepada Pangeran Pati, akan tetapi...."
Dia termangu-mangu karena merasa heran mengapa muridnya itu belum berhasil.
"Maaf, Eyang Empu. Apakah Eyang maksudkan Bromatmojo?"
Tiba-tiba Sutejo yang sejak tadi mendengarkan saja bertanya. Empu itu membelalakkan mata, memandang kepada Sutejo dengan mata tajam dari bawah alisnya yang putih.
"Orang muda, Andika mengenal murid saya?"
"Bukan hanya mengenal, Eyang, bahkan menjadi sahabat baik! Bahkan kami berdua telah berhasil mendapatkan keris pusaka Kolonadah itu, akan tetapi ketika keris itu kami titpkan kepada Empu Singkir, keris itu lenyap dilarikan oleh Ki Ageng Palandongan. Kemudian keris itu dapat diperoleh kembali oleh paman Resi ini dari Ki Ageng Palandongan, akan tetapi telah dirampas kembali oleh orang-orang yang sampai kini belum kami ketahui siapa. Mungkin orang-orangnya meraka yang hendak memberontak terhadap Mojopahit. Sedangkan Adi Bromo......eh, maksud saya murid Eyang.....yang selama ini menyamar sebagai pemuda tampan..."
"Ha-ha, memang dia bocah nakal sekali! Paling suka menyamar sebagai pria, akan tetapi Sulastri adalah anak cerdik. Tentu dia akan bisa mendapatkan kembali keris pusaka itu."
Sutejo menjadi bengong, jantungnya bedebar keras dan matanya terbelalak memandang kakek itu.
Tadi dia memancing, dan ternyata benar bahwa Bromatmojo adalah seorang gadis yang bernama Sulastri!
Dan mengakunya dahulu nama aslinya Sulastomo!
"Eh, kau kenapa, orang muda?"
Empu Supamandrangi bertanya.
"Tidak apa-apa, Eyang..... hanya.....eh, Adi Bromo itu..... tidak pernah mengaku bernama Sulastri..."
Sampai di sini Sutejo tidak membuka mulut lagi, masih bedebar jantungnya dan membayangkan Bromatmojo yang mata keranjang terhadap wanita itu!
Pantas saja menggodanya dan sengaja menciumi wanita, bersikap mesra terhadap wanita.
Kiranya semua itu hanya untuk menggodanya!
"Bagaimana, Sudara Empu?
Keris pusaka Kolonadah sudah lenyap dan tentu kami akan terus mencari sampai kembali ke tangan kami.
Akan tetapi sementara ini, Adimas Resi Mahapati ingin meredakan kedukaan dan kemarahan Gusti Pangeran dengan keris buatan saudara Empu juga, yang serupa dengan Kolonadah.
Tentu saja kalau Kolonadah sudah kembali ke tangan kami, akan segera kami haturkan kepada Gusti Pangeran sebagai pengganti sementara itu."
Empu Supamandrangi menundukkan kepalanya dan berpikir.
Dia sudah mempunyai banyak pengalaman hidup, dan dapat menilai orang.
Resi yang duduk di depannya ini bukan seorang manusia yang baik, penuh diliputi hawa nafsu yang berkobar-kobar.
Juga dia dapat menduga bahwa resi itu mempunyai kesaktian tinggi.
Apalagi pemuda itu!
Biar pun masih muda, namun pemuda yang datang bersama resi itu jelas merupakan murid seorang yang amat sakti, dan pemuda itu biar pun tidak dapat dia katakan seorang yang berwatak buruk, namun sekali ini datang sebagai pengemban tugas kerajaan.
Kalau dia berkeras, menolak, sudah pasti akan timbul keributan dan dia yang baru saja sembuh dari sakit harus mengukur dulu sampai di mana kekuatan kedua lawan ini sebelum mengambil keputusan.
Setelah menarik napas panjang.
Empu Supamandrangi lalu berkata.
"Resi Harimurti,karena memang perintah yang Andika bawa itu datang dari Mojopahit dan demi kepentingan Gusti Ratu dan Gusti Pangeran Pati, sudah tentu saja saya sebagai rakyat kecil tidak berani untuk menolak. Akan tetapi, membuat keris seperti Kolonadah bukan hal yang main-main dan harus menggunakan bahan yang khas. Baiknya saya masih mempunyai bahan Tosan aji (baja mulia) yang dulu saya pergunakan untuk membuat Kolonadah. Namun ada satu hal yang tidak dapat saya paksakan untuk membuat keris itu kalau syaratnya tidak dapat dipenuhi, Sang Resi."
"Hemm, apakah syarat itu? Tanya Resi Harimurti.
"Tosan aji ini bukan sembarang besi atau baja dan seolah-olah mempunyai naluri yang kuat. Dia memberi tanda apakah dia mau dibentuk menjadi keris ataukah tidak, tanda yang merupakan syarat yaitu apabila dia dapat ditekuk, itu tandanya bahwa dia rela dibentuk menjadi keris. Akan tetapi apabila tidak dapat, apa pun yang akan kita lakukan, dia tidak mungkin bisa dibentuk menjadi keris."
"Hemm, keluarkan tosan aji itu hendak kulihat!"
Kata Resi Harimurti yang percaya penuh bahwa dia akan mampu menekuk besi itu.
Berapa sih kuatnya sepotong besi?
Terbungkuk-bungkuk Empu yang sudah tua itu meninggalkan ruangan tamu dan memasuki kamarnya.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Resi Harimurti kepada Sutejo.
"Bagaimana pendapatmu, Sutejo. Apakah dia akan membohongi kita?"
Sutejo menggeleng kepalanya.
"Kurasa tidak, Paman Resi. Dia tidak bohong dan kita harus percaya kepadanya dan mencoba apakan tosan aji itu dapat ditekuk atau tidak. Kita tidak dapat melawan kekuatan alam."
Jawaban ini tidak memuaskan hati Resi Harimurti, akan tetapi dia tidak berkata apa-apa lagi karena Empu Supamandrangi telah datang kembali membawa sebuah bungkusan kain kuning yang panjangnya ada satu kaki lebih.
"Inilah tosan aji itu, Sang Resi,"
Katanya sambil meletakkan bungkusan di atas meja dan membukanya.
Tampaklah kini sepotong besi yang kelihatannya biasa saja, hanya bersinar agak kehijauan.
Empu Supamandrangi maklum bahwa dalam keadaan lemah seperti sekarang, dia tidak akan mampu menekuk baja itu, bahkan dalam keadaan sehat sekali pun hanya dengan mengerahkan seluruh tenaganya saja dia akan dapat menekuknya.
Maka dia mempergunakan kekuatan tosan aji itu untuk menguji kepandaian dua orang tamunya.
Kalau mereka mampu menekuk baja itu, berarti dia tidak akan mampu melawan mereka dan dia harus mentaati permintaan mereka.
"Ah, inikah, Saudara Empu? Kalau begitu, coba Andika menekuknya."
Empu Supamandrangi menggeleng kepala.
"Tosan aji ini seperti hidup dan mempunyai pengertian. Dia hanya memandang kepada orang yang menghendaki dia menjadi keris. Kalau, dia setuju, biar pun yang menghendakinya itu anak kecil, dia akan dapat ditekuk oleh anak itu. Sebaliknya, kalau dia tidak mau, biar yang menghendakinya itu orang yang bertenaga besar, kiranya tidak akan kuat menekuknya."
Resi Harimurti memandang potongan besi itu dengan mata mengejek.
"Jadi kalau kami berdua yang menghendaki, harus kami berdua yang menekuknya?"
"Begitulah."
"Hemm, apa sih anehnya besi semacam ini? Berapa sih kekuatan besi seperti ini? Empu Supamandrangi, kami bukanlah anak-anak kecil yang bodoh dan dapat dipermainkan."
"Resi Harimurti, kalau orang-orang yang memiliki kesaktian seperti Andika berdua tidak mampu menekuknya, apalagi saya seorang tua, bagaimana mungkin saya akan dapat memaksa tosan aji ini menjadi keris? Cobalah dan lihat apakah dia rela atau tidak dibentuk pusaka."
Sambil tertawa Resi Harimurti mengambil potongan besi itu dan dia merasa betapa besi itu dingin sekali, dingin dan berat.
Akan tetapi, mengandalkan kesaktiannya sendiri, dia tetap tersenyum, lalu memegang besi itu di kedua ujungnya dengan dua tangan, kemudian dia mengerahkan aji kesaktiannya, mengumpulkan tenaga saktinya kemudian menekuk potongan besi itu.
Akan tetapi, betapa kagetnya ketika dia mendapat kenyataan bahwa besi itu kuat bukan main dan seperti (Lanjut ke
Jilid 24) Kemelut Di Majapahit (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 24 terdapat tenaga mujijat di dalamnya yang menahan tenaga tekukannya. Potongan besi itu tidak dapat ditekuknya! "Ehhh....??"
Dia berseru heran dan penasaran, kemudian dia mengerahkan pula seluruh tenaganya, kedua kakinya memasang kuda-kuda sehingga dia hampir berjongkok, kemudian mengerahkan tenaga dari pusar yang naik ke dalam kedua lengannya, menjalar ke dalam tangannya dan jari-jari tangannya, lalu dia memusatkan tenaga itu dan kembali berusaha menekuk potongan besi itu.
"Heeggghhh....!"
Dari tenggorokannya keluar suara dari tenaganya yang membocor keluar, namun tetap saja potongan besi itu kaku tak dapat ditekuknya! "Uhhhh!"
Dia merasa malu, penasaran dan juga marah. Hampir saja dia membuang potongan baja itu saking malu dan marahnya, akan tetapi Sutejo cepat mengulurkan tangannya dan berkata.
"Paman Resi, biarkan saya mencobanya."
Mendengar ini, dengan muka merah Resi Harimurti tidak jadi membuang besi itu dan menyerahkannya kepada Sutejo, lalu duduk dengan wajah muram dan menggunakan tangan mengusap keringat di dahinya, matanya mengerling ke arah Empu Supamandrangi dengan marah.
"Jangan kecil hati Sang Resi. Andika tidak dapat membekuknya itu berarti bahwa Andika tidak berjodoh."
"Biar saya mencobanya, Eyang Empu, siapa tahu saya yang berjodoh,"
Kata Sutejo dan karena pemuda ini maklum bahwa tosan aji itu merupakan benda mujijat yang mempunyai kekuatan mujijat pula.
Maka dia tidak mau main-main dan begitu dia hendak mulai membekuk tosan aji itu, lebih dulu dia memegang tosan aji itu dengan kedua tangan, mengangkat tinggi di atas ubun-ubun kepalanya sebagai tanda penghormatan, kemudian dia menyembah ke arah Empu Supamandrangi, dan barulah dia memasang kuda-kuda, kedua kakinya terpentang lebar, lutut agak ditekuk, kemudian dengan kedua tangan memegang kedua ujung besi itu, dia menggerakkan lengannya mula-mula lurus ke depan, lalu membuat lingkaran ke atas dan tiba-tiba ditarik ke arah ulu hatinya, diam sejenak, memejamkan mata, bibirnya bergerak membaca mantera kemudian tiba-tiba dia mengeluarkan suara melengking nyaring, suara yang menggetarkan ruangan itu sambil mengerahkan tenaga menekuk potongan besi.
Empu Supamandrangi memandang dengan mata terbelalak, dan Resi Harimurti memandang kagum ketika melihat betapa potongan besi itu ternyata telah dapat ditekuk oleh Sutejo!
Pemuda itu dengan tenang dan tersenyum lalu meletakkan besi yang sudah melengkung itu ke atas meja, lalu duduk kembali.
"Aha, kiranya tosan aji itu berjodoh dengan Sutejo!"
Kata Resi Harimurti, memuji sambil menutupi rasa malunya karena dia tadi tidak kuat menekuknya.
Dengan mengatakan berjodoh, maka berarti bahwa dia bukan kalah kuat oleh pemuda itu, melainkan besi itu yang tidak berjodoh dengan dia dan tidak mau ditekuk olehnya!
Dengan pandang mata masih menatap wajah Sutejo, Empu Supamandrangi berkata lirih.
"Benar....memang berjodoh dengan dia...."
Kemudian tiba-tiba dia bertanya kepada Sutejo, dengan suara mendesak.
"Anakmas Sutejo, ada hubungan apakah antara Andika dengan Kakang Panembahan Ciptaning?"
Terkejutlah Sutejo mendengar pertanyaan ini, apalagi ketika dia melihat betapa sinar mata kakek itu mencorong penuh selidik.
"Beliau adalah Guru saya, juga Eyang Guru saya karena dahulu, mendiang Ayah saya Lembu Tirta adalah murid Beliau. Bagaimana Eyang Empu dapat mengetahuinya?"
Sepasang mata tua itu terbelalak dan mulut ompong itu tersenyum.
"Aihh, kiranya engkau putera Lembu Tirta dan murid Kakang Panembahan Ciptaning? Tentu saja aku mengetahui karena aku mengenal gerakanmu tadi, orang muda. Gurumu itu sahabat baikku. Andaikata aku tahu bahwa engkau adalah muridnya tadi, tentu saja aku tidak akan ragu-ragu lagi......ah, Anakmas Sutejo, mengingat akan persahabatan antara Gurumu dan aku, maukah engkau berjanji kepadaku?"
Sutejo meresa kagum dan suka kepada kakek ini, apalagi mengingat kakek ini adalah Guru Bromatmojo.
"Tentu saja, Eyang Empu. Katakanlah, apa pesan Eyang itu?"
"Kelak, aku titip Sulastri muridku kepadamu, Kulup. Kau amat-amati dia, karena dia amat muda.... kau bimbinglah dia. Maukah kau berjanji?"
Berdebar rasa jantung Sutejo dan terbayanglah wajah tampan yang nakal dan suka menggodanya itu, yang kini terbayang sebagai wajah seorang dara jelita yang kenes. Dia mengangguk-angguk.
"Saya berjanji, Eyang. Dan sebelum Eyang pesan pun, dia adalah seorang sahabat saya yang akrab."
"Syukurlah, Kulup. Nah, lega sekarang hatiku. Resi Harimurti, kini tidak ragu-ragu lagi untuk membuatkan keris itu, keris yang akan serupa benar dengan Kolonadah."
"Berapa lama kiranya dapat selesai?"
Tanya Resi Harimurti.
"Tiga hari tiga malam cukuplah. Dan Andika berdua tentu saja boleh tinggal di sini menjadi tamuku. Bocah cantrik.....?"
Empu Supamandrangi yang kini tiba-tiba kelihatan gembira dan tangkas itu berteriak. Dua orang cantrik yang berada di luar itu bergegas datang dan menyembah.
"Kau bersihkan kamar-kamar untuk para tamu dan engkau cepat membuat api di puputan."
Dua orang cantrik itu menyembah dan cepat pergi untuk mengerjakan perintah guru mereka.
Selama tiga hari Sutejo dan Resi Harimurti tinggal di pertapaan itu.
Sutejo tinggal di puncak yang indah itu, dan setiap hari dia pergi menikmati pemandangan alam di sekeliling puncak sambil membayangkan betapa selama empat tahun Bromatmojo berada di tempat ini, berguru kepada Empu Supamandrangi.
Kalau tidak pergi berjalan-jalan, dia membantu para cantrik bekerja di ladang dan kalau malam dia lebih senang tidur bersama cantrik sambil membicarakan keadaan Sulastri yang dikenal oleh cantrik sebagai murid Empu Supamandrangi ketika mereka belum menjadi cantrik, dan tidak pernah Sutejo tidur bersama Resi Harimurti.
Dia memang tidak suka kepada resi itu dan kalau dia terpaksa bekerja sama adalah karena mereka sama-sama melakukan tugas yang diperintahkan oleh kakak iparnya, Resi Mahapati.
Pada hari itu, karena merupakan hari terakhir dan menurut janji Empu Supamandrangi keris akan jadi pada hari itu, Sutejo kembali pergi berjalan-jalan sampai jauh meninggalkan pondok dan menuju ke puncak dekat kawah Bromo yang amat dasyat, mengerikan dan mempesonakan.
Dia hendak menikmati keadaan di sekitar tempat itu pada hari terakhir ini sebelum dia meninggalkan gunung ini.
Sama sekali pemuda ini tidak menyangka akan terjadi hal yang amat hebat di dalam pondok pertapaan Empu Supamandrangi.
Karena pada hari ke tiga itu merupakan hari terakhir di mana Sang Empu menyempurnakan keris itu dengan duduk bersamadhi, kemudian menghaluskan keris itu dengan pijatan-pijatan jari-jari tangannya, maka bantuan cantrik tidak diperlukan lagi dan mereka itu sejak tadi telah sibuk di ladang.
Selagi Sang Empu duduk bersila dalam keadaan samadhi, keris yang serupa benar dengan Kolonadah itu di pangkuannya, dengan kaki berjingkat masuklah Resi Harimurti ke dalam kamar Sang Empu.
Biarpun dia masuk dengan perlahan-lahan,namun Empu Supamandarngi dapat mengetahui kedatangannya dan kakek ini membuka matanya lalu memandang dengan sinar mata penuh pertanyaan.
Melihat kakek itu sudah sadar dari samadhinya, Resi Harimurti tersenyum dan berkata.
"Maaf, Empu Supamandarngi, karena hari yang dijanjikan telah tiba dan saya ingin segera melihat hasil pekerjaan Andika, maka saya tidak sabar lagi menanti dan masuk ke sini untuk melihat keris itu."
"Masuklah, Sang Resi dan duduklah. Memang keris ini sudah jadi, tiada ubahnya seperti Kolonadah, akan tetapi tentu saja memiliki daya dan hawa yang berbeda. Kolonadah adalah sebuah keris pusaka yang diperuntukkan raja-raja, dan pembuatannyapun memakan waktu bertahun-tahun. Biar pun keris ini serupa dengan Kolonadah, namun hanya serupa luarnya belaka. Betapa pun juga, karena terbuat dari tosan aji yang mujijat, sebahan dengan Kolonadah, maka hanya boleh berada di tangan yang berjodoh saja. Oleh karena itu, melihat bahwa yang berjodoh adalah Sutejo, maka saya hanya menyerahkan kepada Sutejo untuk dibawa ke Mojopahit dan diserahkan kepada Pangeran pati."
Resi Harimurti tentu saja merasa mendongkol sekali, akan tetapi dia pura-pura tersenyum dan mengangguk-angguk.
"Memang benar sekali apa yang Andika katakan, Saudara Empu."
"Selain dari itu, keris ini tidak boleh dinyatakan sebagai Kolonadah, tidak boleh menjadi keris palsu. Amat tidak baik membohongi Pangeran Pati. Sebaiknya diserahkan kapada Beliau dengan terus terang mengatakan bahwa keris ini untuk sementara sebagai pengganti Kolonadah yang masih dicari-cari. Jangan sekali-kali dipakai untuk membohongi keluarga Sang Prabu di Mojopahit."
Hati Resi Harimurti makin mendongkol.
Mana mungkin begitu?
Justru kehendak Resi Mahapati adalah untuk membohongi pangeran agar keris ini dianggap Kolonadah.
Sementara itu, Kolonadah yang asli kalau sudah dapat mereka peroleh, tentu tidak akan mereka berikan kepada siapa pun, melainkan akan disimpan oleh Resi Mahapati sendiri!
Agaknya Empu Supamandrangi dapat menduga pikiran dan isi hati Resi Harimurti, maka dengan napas terengah-engah karena merasa lemah sekali, dia berkata.
"Kalau sampai terjadi keris ini dipakai sebagai pemalsu Kolonadah, aku sendiri yang akan melaporkan ke Mojopahit, Sang Resi."
Resi Harimurti mengangguk-angguk, lalu tersenyum dan berkata.
"Tentu akan kami taati semua pesanmu, Empu Supamandrangi. Sekarang, bolehkah saya memegang keris itu sebentar?"
"Tentu saja boleh."
Empu Supamandrangi menyerahkan keris itu kepada Resi Harimurti.
Resi Harimurti bangkit berdiri dan menghempiri Sang Empu, mengulurkan tangan mengambil keris itu, diamatinya sebentar, lalu berkata sambil tersenyum.
"Apakah benar keris yang Andika buat selama tiga hari ini merupakan keris yang ampuh, Empu Supamandrangi?"
"Hemm, biarpun tidak seampuh Kolonadah, namun saya kira jarang ada keris pusaka yang akan mampu menandinginya."
"Boleh kucoba?"
"Coba? Coba bagaimana?"
"Coba kepadamu!"
Secepat kilat Resi Harimurti menusukkan keris itu ke ulu hati Empu Supamandrangi.
Sang Empu kaget sekali, akan tetapi karena tubuhnya amat lemah, tubuh yang baru saja sembuh lalu diperas tenaganya untuk membuat keris pusaka itu, dia terlambat mengelak dan "cresssssss......!!"
Keris pusaka itu menancap tepat di ulu hatinya sampai ke ganggangnya! "Uuhhhhh..... uhhhh....."
Empu Supamandrangi terjengkang di atas pembaringannya, tangan kiri mendekap gagang keris yang menancap di ulu hatinya, telunjuk kanan menuding ke arah Resi Harimurti, matanya terbelalak dan terdengar kata-katanya.
"....Resi Harimurti... terkutuk kau dan keris ini..... kau akan lebih tersiksa dari pada aku menghadapi kematianmu... dan... dan keris ini.... akan mendatangkan malapetaka bagi pemegangnya.... uhhh...."
Kepala Sang Empu terkulai dan nyawanya melayang.
Resi Harimurti menoleh ke kanan kiri, lega bahwa perbuatannya tidak ada yang menyaksikan.
Dia lalu cepat menghampiri mayat Sang Empu, memaksa tangan kanan Empu Supamandrangi menggenggam gagang keris, kemudian dia berteriak-teriak.
"Tolooong! Sang Empu membunuh diri.....!!"
Teriakannya terdengar oleh dua orang cantrik dan mereka cepat-cepat lari ke dalam pondok dan memasuki kamar itu.
Mereka terbelalak, berlutut dan menangisi kakek yang menggeletak tak bernyawa di atas pembaringannya itu, dengan tangan kanan masih menggenggam gagang keris yang menancap di ulu hatinya.
Ketika Sutejo disusul oleh seorang cantrik dan diberitahu, dia terkejut setengah mati dan cepat dia lari ke pondok meninggalkan cantrik yang memberitahukannya.
Dia terbelalak memandang mayat Empu Supamandrangi, lalu menoleh kepada Resi Harimurti dan bertanya.
"Paman Resi, apakah yang telah terjadi?"
Resi Harimurti menutupi mukanya dan menggeleng-geleng kepala, lalu menarik napas panjang.
"Aahh".., mengapa seorang pertapa yang sudah menjadi arif bijaksana masih tidak mampu mengendalikan perasaannya? Ah, Sang Empu Supamandrangi,sungguh bodoh sekali tindakan Andika ini......! Sutejo, ternyata Empu Supamandrangi amat keras hati dan keras kepala. Ketika aku masuk hendak minta lihat keris, dia menyatakan bahwa dia membuat keris ini karena terpaksa dan sebelum sempat aku mencegahnya, dia telah membunuh diri dengan keris ini."
Sutejo mengerutkan alisnya dan memandang lagi kepada mayat Empu Supamandrangi.
"Hemmm, mengapa begitu? Mengapa? Dan apa artinya Andika mengatakan bahwa dia keras hati dan keras kepala, Paman Resi?"
"Ah, tidak dapatkah kau menduga, Sutejo? Sebenarnya dia tidak suka dan tidak setuju membuat keris itu, sebetulnya di dalam hatinya dia memberontak terhadap Mojopahit, seperti yang jelas diperihatkan oleh muridnya pula, sebetulnya dia tidak rela membuatkan keris ini untuk Mojopahit, hanya karena dia tidak berani menolak, maka dia melakukannya dengan terpaksa, kemudian setelah keris itu jadi,dia mengotori keris dengan darahnya sebagai pernyataan tidak setuju dan dia membunuh diri untuk menyatakan penyesalannya."
"Hemmm..."
Sutejo masih mengerutkan alisnya, akan tetapi biar pun dia tidak dapat menerima begitu saja dugaan Resi Harimurti, dia melihat bukti bahwa Empu Supamandrangi memang membunuh diri, maka dia lalu melangkah keluar dengan hati tidak enak.
Resi Harimurti lalu mencabut keris dari ulu hati Sang Empu.
Tidak mudah dia melakukan ini, seolah-olah keris itu ada yang menahan dari dalam dada kakek itu, sehingga dia harus mengerahkan seluruh tenaganya barulah keris itu tercabut dan ternyata ujung keris itu berwarna hitam oleh darah!
Betapa pun Sang Resi mencoba untuk membersihkannya, namun tetap saja darah hitam itu melekat di ujung keris.
Resi Harimurti dan Sutejo membantu dua orang cantrik itu mengurus pembakaran jenazah Empu Supamandrangi dan sesuai dengan pesan Sang Empu di waktu hidupnya, abunya lalu ditaburkan ke dalam kawah Gunung Bromo.
Setelah selesai, Resi Harimurti dan Sutejo meninggalkan puncak gunung itu.
"Paman Resi Harimurti, saya tidak ikut kembali ke Mojopahit,"
Kata Sutejo setelah mereka tiba di kaki Gunung Bromo. Resi Harimurti memandang tajam.
"Dan kenapa, Sutejo?"
"Pertama, saya tidak mau ikut mencampuri penipuan itu, menyerahkan keris yang palsu kepada Gusti Ratu. Dan ke dua saya akan menyelidiki dan mencari keris pusaka Kolonadah yang asli. Ke tiga sesuai dengan pesan Kakangmas Resi Mahapati,saya akan mencari Sulastri untuk saya bujuk agar jangan membantu pemberontak, sesuai pula dengan pesan mendiang Eyang Empu Supamandrangi agar saya mengamat-amati muridnya itu."
Tadinya, mendengar alasan pertama dari pemuda itu, Resi Harimurti mengerutkan alis dengan hati tidak senang, akan tetapi ketika mendengar alasan berikutnya,dia mengangguk dan berkata.
"Baiklah, kalau begitu kita berpisah di sini. Mudah-mudahan Andika akan berhasil baik dalam tugas itu, Sutejo."
Berpisahlah mereka. Resi Harimurti manuju ke barat dan Sutejo menuju ke timur,ke Lumajang.
"kakangmas Murwendo, kalau aku tidak bisa mendapatkan dia, aku lebih baik mati saja, Kakangmas...."
Murwanti menangis dalam rangkulan kakak kembarnya. Murwendo mengelus rambut adiknya yang ikal mayang itu, menghiburnya.
"Hemm, jangan begitu mudah putus asa seperti anak kecil, Adikku. Aku tidak menyalahkan engkau, memang Joko Handoko seorang pemuda yang pantas menerima cinta kasihmu dan aku yakin bahwa Ayah dan Ibu juga tidak akan berkeberatan mempunyai mantu seperti dia dan Roro Kartiko....."
"Ehh....?"
Murwanti kini melepaskan diri dari rangkulan kakaknya dan memandang wajah kakaknya dengan muka merah dan air mata membasahi pipi.
"Apa, Kakangmas? Roro Kartiko.....? Kalau begitu engkau..... engkau...."
Dan gadis itu tertawa dalam tangisnya, menertawakan kakaknya yang ternyata tanpa sengaja telah membuka rahasia hatinya pula. Karena sudah terlanjur, Murwendo mengangguk dan menarik napas panjang.
"Agaknya karena kita saudara kembar, maka perasaan kita pun sama, Adikku. Kita sama-sama mencintai kakak beradik itu, engkau mencintai Joko Handoko dan aku tergila-gila kepada Roro Kartiko semenjak pertama kali melihat dia meloncat naik ke atas panggung itu. Dia hebat, Diajeng Murwanti."
Murwanti kelihatan gembira! Ternyata kakaknya mengalami hal yang sama.
"Aku girang sekali, Kakangmas. Memang dia seorang wanita yng hebat. Akan tetapi....."
Gadis itu mengerutkan alisnya.
"Bagaimana kalau.... kalau mereka tidak membalas cinta kita?"
Murwendo dan Murwanti adalah dua orang kakak beradik yang semenjak kecil tidak pernah dikecewakan, segala yang dikehendaki terpenuhi belaka.
"Hemm, lupakah engkau bahwa kita adalah putera-puteri rama yang menjadi raja di Puger? Kita harus berterus terang, menyatakan cinta kasih kita kepada mereka dan membujuk mereka untuk menikmati hidup mulia dan bahagia bersama kita di Puger. Mereka adalah orang-orang pelarian dari Mojopahit, pengungsi yang menumpangkan hidup di Lumajang, kalau mereka mendengar bahwa kita adalah putera raja di Puger, dan mereka menjadi mantu-mantu raja di Puger, hidup mulia dan terhormat, tentu mereka akan merasa girang."
"Akan tetapi...aku melihat mereka itu bukanlah orang-orang biasa, Kakangmas. Mereka berkepandaian tinggi dan bersikap agung. Bagaimana kalau mereka menolak?"
"Menolak? Ha-ha-ha! Menolak kehendak kita? Diajeng Murwanti, pernahkah kehendak kita tidak terpenuhi dan pernahkah ada orang berani menolak kehendak kita? Ha-ha-ha, Diajeng, jangan khawatir, kalau benar mereka menolaknya, kita masih dapat menggunakan kekerasan."
Tiba-tiba Murawanti juga tertawa dan sikapnya berubah, tidak lagi penuh kekhawatiran seperti tadi.
Kakak beradik kembar itu berangkulan dan tertawa girang, saling berciuman seperti orang-orang gila.
Wajah mereka pun berubah beringas dan memang ada sesuatu yang aneh pada diri kakak beradik kembar ini.
Mereka adalah putera dan puteri raja di Puger yang masih ada hubungannya darah dengan kerajaan Blambangan.
Semenjak kecil, kakak dan adik kembar ini dimanja dan sudah biasa semua kehendak mereka dipenuhi belaka oleh ayah bunda mereka.
Bahkan, terjadi hubungan yang aneh dan bahkan mesum dan kotor antara mereka, namun semua itu tidak mendapat tentangan dari siapa pun!
Orang-orang yang mengenal mereka sebagai saudara kembar yang tampan dan cantik, yang bersikap sopan dan menarik, tentu akan terkejut dan terheran-heran kalau menyaksikan sikap mereka pada saat itu di dalam kamar Murwanti.
Beberapa hari kemudian, Murwendo dan Murwanti berhasil mangajak Joko Handoko dan Roro Kartiko untuk mengadakan pertemuan di dalam taman di istana Lumajang.
Mereka memang sudah menjadi sahabat-sahabat baik, rekan-rekan sepekerjaan di istana dan biarpun Joko Handoko dan Roro Kartiko merasa terheran-heran atas ajakan kakak beradik kembar itu, namun mereka tidak berkeberatan dan tidak menolak ketika dua saudara kembar itu mengundang mereka bertemu di dalam taman dan untuk membicarakan sesuatu yang penting.
Malam itu cuaca diterangi oleh sinar bulan yang lembut.
Sinar keemasan memandikan taman dan menciptakan bayang-bayang lembut dari pohon-pohon yang warnanya menjadi serba menguning.
Tidak ada angin bersilir, daun-daun pohon diam tak bergerak seperti sudah tidur pulas, akan tetapi di dalam keheningan itu penuh dengan suara kutu-kutu walang atogo, yaitu segala macam belalang dan jengkerik serta binatang serangga lain yang hidup dan berdendang di waktu malam.
Namun suara yang riuh rendah itu, yang menghidupkan suasana, tidak mempengaruhi keheningan, bahkan melengkapi keheningan itu sendiri karena suara-suara itu tercangkup di dalamnya.
Biar pun tidak ada angin bersilir, namun hawanya sejuk sekali, mendekati dingin, sungguhpun dari tanah di bawah rumput-rumput keluar hawa yang hangat.
Ketika Joko Handoko dan adiknya, Roro Kartiko tiba di taman, ternyata kakak beradik kembar itu telah menanti di situ, duduk di atas bangku panjang di dalam taman, di dekat kolam ikan mas yang bermain-main di antara daun-daun teratai merah.
Melihat kedatangan mereka, Murwendo dan Murwanti cepat bangkit dan mempersilahkan mereka berdua untuk duduk.
"Ah, sungguh girang sekali hati kami melihat Andika bedua sudi memenuhi undangan kami,"
Kata Murwendo sambil memandang kepada Roro Kartiko dengan sepasang mata yang bersinar-sinar.
Mereka duduk berhadapan, Murwendo dan Murwanti berjajar di sebuah bangku, sedangkan Joko Handoko dan Adiknya duduk di bangku ke dua, di depan mereka.
Joko Handoko tersenyum.
Selama di mengenal kakak beradik kembar ini, memang dia melihat betapa mereka mempunyai watak yang lincah jenaka dan selalu gembira.
"Murwendo, engkau dan adikmu sungguh aneh dan ada-ada saja. Ada urusan penting apakah gerangan maka kalian berdua mngundang kami untuk bertemu di taman sunyi ini?"
"Joko Handoko, aku..."
Murwanti terpaksa menghentika kata-katanya ketika kakaknya menyetopnya dengan memberi isyarat dengan telunjuk ke depan mulut.
"Diajeng Murwanti, biarkan aku yang menjelaskan kepada mereka,"
Kata Murwendo. Bibir yang merah itu cemberut, akan tetapi Murwanti lalu berkata sambil memandang kepada Joko Handoko dengan kerling memikat.
"Sesukamulah."
"Begini, Diajeng Roro Kartiko dan Joko Handoko.... kami berdua hendak memperkenalkan diri kepada kalian."
Roro Kartiko memandang dengan bibir tesenyum.
"Eh, kalian ada apa sih? Kami berdua sudah cukup mengenal kalian kakak beradik kembar yang aneh selama beberapa pekan. Masa sekerang baru memperkenalkan diri?"
Murwendo tersenyum lebar, jantungnya jungkir balik melihat Roro Kartiko tersenyum semanis itu.
Selama ia bertualang di kerajaan ayahnya, bermain-main dengan banyak wanita, belum pernah dia menemukan seorang wanita sehebat Roro Kartiko!
"Andika berdua belum tahu siapa sebenarnya kami.
Ketahuilah, aku adalah Pangeran Murwendo dan ini adalah Adikku Puteri Murwanti, kami adalah putera dan puteri dari Rama Prabu Bandardento dari Kerajaan Puger di Pantai Laut Selatan!"
Setelah berkata demikian, dua orang kakak beradik itu memandang dengan sikap bangga.
Dan memang Joko Handoko dan Roro Kartiko terkejut dan terheran-heran mendengar pengakuan ini!
Mereka memandang dengan mata terbelalak, dan Roro Kartiko hanya dapat mengeluarkan kata-kata.
"Ahhhh.....!"
Joko Handoko mengerutkan alisnya.
"Sungguh aneh sekali Andika berdua, kalau benar kalian putera-puteri raja, mengapa memasuki sayembara? Dan apa pula artinya semua ini kalian ceritakan kepada kami kakak beradik!"
"Ha-ha-ha!"
Murwendo tertawa dan begitu pemuda tampan itu tertawa, Joko Handoko dan terutama sekali Roro Kartiko terkejut dan merasa ngeri.
Sungguh jauh bedanya setelah pemuda itu tertawa bergelak seperti itu, menimbulkan suasana yang mengerikan.
"Ketahuilah, Diajeng Roro Kartiko dan Joko Handoko, kami kakak beradik jauh-jauh meninggalkan kerajaan kami dan merantau sampai ke Lumajang dengan meksud mencari jodoh! Dan di sinilah kami menemukan jodoh kami. Mengapa hanya kepada Andika berdua kami menceritakan dan membuka rahasia kami? Ha-ha, Diajeng Murwanti,jawablah, mengapa?"
"Karena aku menemukan jodohku di sini, karena aku mencintaimu, Joko Handoko,"
Jawab Murwanti.
"Dan aku jatuh cinta kepadamu semenjak pertama kali malihatmu meloncat ke atas panggung itu, Diajeng Roro Kartiko!"
"Ihhhh.....!!"
Roro Kartiko bangkit berdiri, wajahnya menjadi merah sekali dan matanya mengeluarkan sinar kemarahan.
"Hemmm..... kalian..... sungguh aneh....!"
Joko Handoko juga menjadi merah mukanya dan memandang kepada kakak beradik kembar itu sambil meraba-raba dagunya.
Betapa anehnya kakak beradik itu, menyatakan cinta demikian terang-terangan dan di waktu mereka berada berempat seolah-olah urusan yang hanya menyangkut rahasia hati dua orang itu boleh dibicarakan seperti hal-hal biasa saja di depan orang-orang lain!
"Joko Handoko....
Kakangmas Joko Handoko, aku sudah bersumpah bahwa kalau tidak menjadi jodohmu, aku.....aku lebih baik mati saja!"
Murwanti berkata lagi dan sepasang matanya memandang wajah pemuda itu penuh dengan kemesraan, penuh gairah dan seluruh air mukanya, dari tatapan pandang matanya, gerakan cuping hidungnya,kedua bibirnya yang terbuka sedikit dan tarikan bibirnya, semua membayangkan gairah nafsu yang panas!
"Dan aku pun demikan, Diajeng Roro Kartiko, Andika berdua, kakak beradik, telah menjadi pilihan hati kami berdua, kakak beradik kembar.
Oleh karena itu, marilah Andika berdua ikut bersama kami, marilah kita menikmati hidup penuh kemuliaan, kehormatan dan cinta kasih di kerajaan kami.
Engkau akan menerima kedudukan pangkat tinggi, Joko Handoko, dan engkau Diajeng Roro Kartiko, engkau akan menjadi seorang puteri mulia di sampingku, isteri pangeran dan kelak menjadi permaisuri raja kalau aku sudah menggantikan tahta kerajaan Ayahku.
Kalian berdua akan kami angkat naik sampai ke tempat paling tinggi dan....
dan Ibu kalian boleh saja ikut dan menikmati pula kehormatan dan kemuliaan di Puger......"
Saking kaget, heran dan juga malu, kakak beradik dari Tuban itu sejenak tidak mampu bicara dan beberapa kali mereka hanya saling pandang.
"Kakangmas Joko Handoko, jangan berkata demikian.... aku sungguh mencintaimu, mencintai dengan seluruh jiwaku dan seluruh ragaku mencintaimu sampai ke setiap lembar rambut yang tumbuh di tubuhku..."
Joko Handoko mengkirik dan merasa serem.
"Cukuplah! Aku tidak mencintaimu, Murwanti."
Gadis itu terbelalak dan wajahnya seketika menjadi pucat, lebih pucat daripada sinar bulan di atas pupus daun jeruk yang tumbuh di dekat situ.
"Dan aku pun tidak mencintaimu, Murwendo!"
Kata pula Roro Kartiko dengan tegas dan lantang.
"Hemmmm......!"
Terdengar pemuda Puger itu mendengus.
"Kenapa, Kakangmas Joko Handoko? Kenapa? Aku diperebutkan oleh semua orang laki-laki di Puger! Semua pemuda menyembah-nyembah mengharapkan balasan cintaku. Dan aku hanya cinta kepadamu akan tetapi kau...."
"Aku tidak cinta kepadamu!"
Sambung Joko Handoko tegas.
"Diajeng Roro Kartiko, tidak kelirukah pendengaranku? Kau tidak mencintai aku,seorang pangeran mahkota.....?"
Murwendo juga bertanya dengan penuh penasaran.
"Tidak, sama sekali tidak!"
Jawab Roro Kartiko.
"Ahhhh.....!"
"Kakang..... Kakangmas Murwendo....uh-huuuu-hu....!"
Murwanti menubruk kakaknya dan mereka berangkulan dan bertangisan dengan penuh kesedihan.
Melihat ini, Roro Kartiko mendekati kakaknya dan memegang tangan kakaknya,karena dia merasa serem dan juga kasihan.
Mereka berdiri saling bergandengan tangan dan memandang kepada dua orang saudara kembar yang masih berangkulan dan bertangisan itu.
Timbul rasa iba di dalam hati mereka.
"Sudahlah, Murwendo dan Murwanti. Harap jangan menangis dan terlalu bersedih. Cinta kasih tidak dapat dipaksakan....."
Kata Joko Handoko. Murwanti melepaskan rangkulan kakaknya dan kini dia menghadapi Joko Handoko,memandang dengan sepasang mata basah.
"Akan tetapi, aku tidak percaya bahwa engaku tidak bisa mencintai seorang seperti aku, Kakangmas. Mengapa? Mengapa kau tidak bisa cinta kepadaku? Apakah karena kau sudah mencintai seorang wanita lain?"
Ditanya demikian, merah wajah Joko Handoko dan terbayanglah wajah Sulastri dalam pakaian pria yang amat tampan itu. Dan dia merasa kasihan kepada gadis Puger ini, lalu mengangguk dan berkata lirih.
"Benar, Murwanti."
"Aaahhh.....hu-hu-huuu....!"
Murwanti menangis lagi, sambil menjatuhkan dirinya duduk diatas bangku, kedua punggung tangan mengusap-usap air mata seperti seorang anak kecil merajuk dan menangis manja.
"Dan bagaimana dengan engkau, Diajeng Roro Kartiko? Mengapa kau tidak bisa mencintai seorang pangeran pati seperti aku? Apakah juga karena engkau telah mencintai seorang laki-laki lain?"
Tentu saja Roro Kartiko merasa marah dan malu sekali mendengar pertanyaan yang melanggar kesusilaan ini, akan tetapi karena dia tahu bahwa pemuda Pugeritu sedang menderita kekecewaan dan kedukaan, dia pun hanya meniru saja kakaknya,mengangguk dan berkata.
"Benar."
"Ahhh....celaka.... kami kakak beradik yang celaka....."
Murwendo terhuyung dan menjatuhkan diri berlutut di dekat adiknya dan mereka berdua itu bertangis-tangisan lagi.
Joko Handoko menyentuh lengan adiknya,memberi isyarat dengan mata dan mereka berdua lalu meninggalkan taman itu, meninggalkan kakak beradik kembar yang sedang bertangis-tangisan dengan sedihnya itu.
Murwendo dan Murwanti menangis dan tenggelam dalam kekecewaan dan kedukaan mereka sehingga tidak tahu bahwa telah lama Joko Handoko dan Roro Kartiko meninggalkan mereka, juga tidak tahu bahwa sejak tadi, ada bayangan orang yang mengintai dan mendengarkan semua yang terjadi di situ.
Kini, setelah Joko Handoko dan adiknya sudah agak lama pergi,bayangan itu muncul dari balik semak-semak dan melangkah dengan tenang menghampiri kakak beradik kembar yang masih bertangis-tangisan itu.
"Kegagalan tidak cukup dengan ditangisi, melainkan harus diusahakan agar berhasil. Dan amat tidak enak melihat orang-orang gagah menangisi kegagalan!"
Murwendo dan Murwanti terkejut dan mereka cepat meloncat dan berbareng mereka menyerang dan menghantam bayangan orang yang berdiri di situ dan menegur mereka tadi.
"Plak! Plak!"
Kakak beradik kembar itu terhuyung ketika orang itu menangkis.
"Murwendo dan Murwanti, tenanglah, aku bukan musuh, melainkan kawan yang datang hendak membantu kalian."
"Harwojo....!"
Murwendo berseru kaget ketika mengenal siapa orangnya yang muncul dan mengejutkan mereka.
"Kau? Hendak membantu kami? Dengan cara bagaimana kau hendak membantu kami, kau yang seperti setan telah mengintip pebuatan orang lain?"
Murwanti menegur marah. Harwojo yangberwajah keruh itu tersenyum sedikit, namun senyum itu hanya sebentar saja karena wajahnya sudah menjadi keruh kembali, dengan alis dikerutkan.
"Kalian duduklah dan mari kita bicara."
Murwendo dan Murwanti yang merasa putus asa karena cinta mereka ditolak mentah-mentah itu lalu duduk bejajar dan Harwojo duduk di depan mereka.
"Jadi kiranya Andika berdua ini adalah putera-puteri Sang Prabu Bandardento di Puger?"
Tanya Harwojo dengan suara lirih.
"Harap Andika suka merahasiakan hal ini,"
Kata Murwendo.
"Jangan khawatir. Andika berdua dapat percaya kepada saya karena kita mempunyai kepentingan bersama dan harus saling bantu-membantu. Ketahuilah Pangeran....."
"Sementara ini sebut saja namaku Murwendo."
"Baik dan maafkan saya, Murwendo. Ketahuilah kalian berdua bahwa saya adalah seorang utusan dari kerajaan Mojopahit...."
"Ahhh......!"
Kakak beradik kembar itu memandang dengan mata terbelalak.
"Saya adalah orang kepercayaan dari Pangeran Pati Kolo Gemet di Mojopahit. Gusti Pangeran bersama Gusti Ratu yang mengutus saya untuk secara rahasia melakukan penyelidikan di Lumajang, karena saya adalah seorang pembantu rahasia yang tidak akan dikenal orang di sini."
"Hemm, kiranya begitu? Dan apa kehendakmu menghubungi kami?"
Murwanti yang kini tertarik hatinya melupakan kesedihannya, bertanya sambil memandang penuh selidik.
"Saya diutus untuk menyelidiki hilangnya keris pusaka Kolonadah dan merampasnya kembali. Oleh karena itu, melihat bahwa Andika berdua adalah putera-puteri Kerajaan Puger yang tentu dapat mengerahkan pasukan untuk membantu saya melakukan penyelidikan, marilah kita saling membantu terlaksananya tugas saya dengan hasil baik, saya pun akan membantu Andika berdua untuk melaksanakan hasrat hati Andika berdua terhadap kakak beradik putera mendiang Bupati Tuban itu."
"Hemm, tentang keris pusaka, kiranya tidak akan sukar kalau kami mau melakukan penyelidikan, bahwa kami dapat menjanjikan bahwa kami tentu akan berhasil. Akan tetapi...."
"Benarkah itu, Murwendo? Tahukah engkau di mana adanya Kolonadah?"
Kakak beradik kembar itu saling pandang dan tersenyum.
"Jangan khawatir kataku, kami akan sanggup mencarikan pusaka itudan menyerahkannya kepadamu, akan tetapi kami ingin mendengar dulu bagaimana Andika dapat membantu kami mendapatkan kekasih kami yang telah menolak cinta kasih kami itu. Dengan guna-guna?"
Kata Murwendo.
"Tidak, selain aku tidak pandai mengguna-guna, juga jangan memandang rendah orang-orang Tuban dalam hal guna-guna. Tidak akan berhasil kiranya kalau kalian menggunakan guna-guna, biarpun saya mendengar bahwa daerah Blambangan menjadi pusat orang-orang yang ahli dalam hal itu. Satu-satunya jalan untuk membawa mereka berdua ke Puger sehingga niat hati Andika berdua dapat terlaksana adalah menculik mereka!"
"Hemmm....."
Dua orang kakak beradik itu saling pandang.
"Saya dapat menduga bahwa tanpa bantuan saya pun Andika berdua tentu suatu saat akan melakukan hal itu. Akan tetapi ingat bahwa mereka berdua memilikiilmu kepandaian tinggi, apalagi karena di samping mereka ada Sulastri yang kepandaiannya lebih tinggi lagi, dan tentu saja, kalau Andika berdua tidak bekerja sama dengan saya, saya pun akan berpihak kepada mereka. Sebaliknya,kalau kita bekerja sama, Andika berdua dibantu oleh orang-orang Andika dapat menculik Joko Handoko dan adiknya, sedangkan Sulastri, serahkan saja kepada saya."
"Tapi dalam sayembara, engkau telah dikalahkan oleh Sulastri. Harwojo tersenyum mengejek.
"Saya, Raden Harwojo adalah utusan Gusti Ratu yang dipercaya penuh, masa kalah oleh seorang wanita? Kalau saya kalah di waktu itu adalah karena saya sengaja mengalah agar tidak menimbulkan kecurigaan. Bagaimana,apakah Andika berdua setuju untuk bekerja sama dengan saya dan berjanji akan benar-benar menyerahkan Kolonadah kepada saya kalau Andika berhasil merampasnya?"
"Baik, Raden Harwojo,"
Kata Murwendo dan mereka lalu melanjutkan percakapan dengan bisik-bisik mengatur rencana.
Dalam percakapan ini, secara terus terang Raden Harwojo mengatakan bahwa tugasnya di samping mencari dan merampas Kolonadah, juga menghancurkan atau setidaknya mengurangi kekuatan Lumajang.
"Karena Sulastri merupakan seorang kuat dan berbahaya, maka aku akan menundukkannya, membujuknya atau kalau perlu juga membunuhnya,"
Demikianlah katanya kepada kedua orang saudara kembar itu.
Demikianlah, suatu persekutuan yang berbahaya telah terjalin, persekutuan yang mengancam keselamatan Joko Handoko, Roro Kartiko, dan juga Sulastri.
Bagi orang-orang seperti Murwendo, Murwanti dan Harwojo itu, tentu saja rencana mereka itu mereka anggap benar dan sudah tepat atau semestinya.
Mereka bertindak demi mencapai kesenangan yang mereka idam-idamkan, dalam halnya dua saudara kembar itu tentu saja mengejar kesenangan dari kepuasan hasrat cinta yang tak lain hanyalah nafsu birahi belaka, sedangkan Raden Harwojo pada hakekatnya juga mengejar kesenangan melalui berhasilnya tugasnya, karena berhasilnya tugas ini tentu saja membuat dia dipuji oleh majikannya dan akan menerima ganjaran dan imbalan.
Segala bentuk penyelewengan dalam hidup selalu didorong atau diawali oleh pikiran yang mengenangkan segala macam pengalaman enak dan ingin mengulangnya di masa depan atau di masa mendatang.
Kita lupa bahwa justru keinginan untuk mengejar atau mencapai sesuatu yang belum berada di tangan kita, sesuatu yang kita anggap lebih enak, lebih baik dan pendeknya lebih daripada yang ada sekarang, keinginan inilah yang menghancurkan nikmat hidup.
Keinginan untuk mengejar sesuatu yang belum ada, sesuatu yang tak terjangkau oleh kekuatan kita,diselimuti dengan kata-kata indah seperti ambisi, cita-cita, dan lain sebagainya.
Ada pula yang menganggap bahwa cita-cita ini yang mendatangkan kemajuan!
Benarkah demikian?
Dan apa yang kita maksudkan dengan "kemajuan"
Itu?
Mari kita membuka mata dan melihat!
Tuhan telah memberi kenikmatan hidup secara berlimpah-limpah sehingga dalam segelas air putih pun terkandung kenikmatan.
Air jernih itu mengandung manfaat teramat besar dan kenikmatan, merupakan nikmat hidup untuk meminumnya di waktu haus.
Akan tetapi, di waktu tangan memegang segelas air jernih, lalu pikiran membayangkan es jeruk dan ingin memperolehnya padahal es jeruk itu belum ada dan tidak akan dapat kita adakan, maka, ketika itu juga lenyaplah kenikmatan dari air jernih itu.
Lenyaplah nikmat hidup dalam segala sesuatu apabila pikiran ini menghendaki yang lain daripada yang ada.
Demikian pula dengan segala hal yang kita miliki, lahir maupun batin.
Pikiran yang ditujukan untuk memperoleh sesuatu yang belum ada dianggap lebih sempurna daripada yang telah berada di tangan, melenyapkan keindahan dan kenikmatan dari yang telah kita miliki.
Dan sekali kita menyandarkan diri kepada cita-cita,sampai kita mati pun kita tidak akan dapat menikmati sesuatu, nikmat hidup akan terus didesak minggir oleh kesenangan membayangkan kenikmatan sesuatu yang belum kita miliki.
Pejalan kaki tidak akan menikmati jalan kaki kalau dia menginginkan sepeda yang belum dimilikinya.
Pemilik sepeda tidak akan menikmati sepedanya kalau dia menginginkan sepeda motor yang belum dimilikinya.
Pemilik sepeda motor tidak akan menikmati sepeda motornya kalau dia menginginkan mobil, dan selanjutnya terus meningkat.
Herankah kita kalau melihat orang-orang yang sudah muak dengan segala kendaraan itu lalu INGIN KEMBALI BERJALAN KAKI?
Keinginan akan membentuk lingkaran setan yang tiada habisnya, dan hidup kita menjadi hamba daripada nafsu keinginan yang tiada kenyangnya.
Tidak ingin bukan berarti menjadi malas dan acuh tak acuh.
Sebaliknya malah!
Segala sesuatu yang dilakukan tanpa memandang akan hasilnya, melainkan dilakukan karena kita mencintai pekerjaan yang kita lakukan itu, barulah nikmat hidup namanya!
Karena cinta terhadap apa yang ada, tidak membayangkan hal-hal yang tidak ada, maka akan terciptalah hal-hal yang baru!
Karena cinta terhadap pekerjaan akan membuat kita tekun dan rajin.
Sebaliknya kalau kita bekerja dengan tujuan mengejar uang misalnya, maka akan terjadilah penyelewengan-penyelewengan dalam bentuk korupsi, pencurian, penipuan, perjudian, pendeknya apa saja yang memungkinkan kita untuk cepet-cepat mendapatkan uang yang kita kejar-kejar itulah!
Pernahkah ada orang besar dalam sejarah yang tadinya adalah orang yang bercita-cita menjadi orang besar?
Kalau demikian, dia bukan orang besar namanya,melainkan mengejar kesenangan pribadi!
Orang menjadi besar karena karyanya,bukan karena pengejaran sesuatu melainkan karena cintnya terhadap karyanya,karena cintanya itu melahirkan total dari perhatiannya.
Dapatkah kita hidup tanpa mengejar-ngejar dan mencari-cari kesenangan yang hanya akan menyeret kita ke dalam kemaksiatan dan penyelewengan karena kita diperhamba oleh nafsu keinginan itu?
Ini bukanlah berarti bahwa kita MENOLAK kesenangan.
Tidak mengejar bukan berarti menolak!
Dan apabila kita tidak mengejar, maka kesenangan itu terdapat disetiap saat, dan di dalam setiap hal!
Kesenangan yang bukan merupakan pemuasan nafsu, karena pemuasan nafsu dalam bentuk apapun juga hanya akan menimbulkan kebosanan, pertentangan dan karenanya berakhir dengan kekecewaan dan kesengsaraan.
Setelah merasa yakin bahwa tiga di antara tiga di antara orang-orang muda yang menjadi orang-orang kepercayaan baru di Lumajang itu benar-benar dapat dipercaya,pada suatu hari Adipati Lumajang memanggil Sulastri, Joko Handoko dan Roro Kartiko dan kepada mereka ini diserahi tugas untuk menyelidiki Kolonadah dan kalau mungkin merampasnya kembali dari tangan Resi Harimurti atau siapa saja di Mojopahit yang telah merampasa keris pusaka itu.
"Kami tidak ingin memberontak, tidak ingin bentrok secara terbuka dengan Mojopahit selama di sana masih ada Sang Prabu yang kami junjung tinggi menduduki tahta kerajaan,"
Demikian antara lain Sang Adipati berkata.
"Akan tetapi Kolonadah harus dijaga agar jangan sampai terjatuh ke tangan Pangeran Kolo Gemet, seorang pangeran berdarah melayu. Maka kami mengutus kalian, dan boleh kalian membawa pasukan yang menyamar untuk menyelidiki ke Mojopahit dan berusaha mendapatkan Kolonadah itu."
Sulastri, Joko Handoko dan Roro Kartiko lalu menerima baik perintah ini dan mereka bertiga tidak membawa pasukan Lumajang, melainkan hanya membawa tujuh orang wanita para anggota Sriti Kencana.
Setelah berpamit dan mohon doa restu dari Sariningrum, yaitu ibu dari Joko Handoko dan Roro Kartiko, berangkatlah tiga orang muda perkasa ini bersama tujuh orang anggota Sriti Kencana meninggalkan Lumajang.
Sore hari itu, sepuluh orang utusan ini berhenti di sebuah hutan dekat perbatasan, di kaki Pegunungan Bromo sebelah timur untuk beristirahat dan mereka lalu mengadakan perundingan dan mengatur siasat.
"Karena Ki Ageng Palandongan terbunuh oleh Resi Harimurti, maka jelaslah bahwa keris pusaka Kolonadah itu berada di tangannya, maka setelah tiba di Mojopahit kita harus mencari Resi Harimurti,"
Kata Roro Kartiko yang tidak lagi menyebut Sang Resi itu sebagai gurunya.
"Akan tetapi Resi Harimurti adalah pembantu dan orang kepercayaan Resi Mahapati,maka kurasa keris pusaka itu sudah berada di tangan Resi Mahapati. Sebaiknya kalau kita langsung melakukan penyelidikan ke istana Resi Mahapati,"
Kata Joko Handoko.
"Aku mengharap agar kalian suka mengesampingkan urusan dendam pribadi karena kita adalah utusan-utusan yang memikul tugas yang amat berat,"
Sulastri berkata sambil memandang kakak beradik itu berganti-ganti. Joko Handoko menarik napas panjang.
"Harap Andika jangan salah mengerti, Diajeng Sulastri. Biarpun Ayah kami terbunuh di istana Resi Mahapati, namun kami sadar bahwa kematian Ayah adalah karena kesalahannya sendiri dan kami tidak menaruh dendam kepada siapa pun walau tentu saja kematian Ayah amat menyedihkan hati kami."
"Benar, Mbakyu Sulastri. Ketika kami bicara tentang Kolonadah dan Resi Mahapati,adalah dalam rangka tugas kita, sama sekali tidak mengandung maksud lain."
"Bagus, dan maafkan saya kalau begitu. Memang tidak keliru pendangan kalian bahwa keris pusaka itu hanya mungkin berada di antara dua orang, yaitu Resi Harimurti atau Resi Mahapati. Akan tetapi, kita harus berhati-hati dan sama sekali tidak boleh bertindak ceroboh. Di Mojopahit terdapat banyak sekali orang sakti. Resi Mahapati sendiri adalah seorang yang memiliki kesaktian hebat,ditambah lagi ada Resi Harimurti di sana yang kalian sudah tahu betapa saktinya dia. Dan jangan lupa, kini Kakang Tejo juga berada di sana. Inilah yang meragukan hatiku. Kakang Tejo amat sakti, aku sendiri tidak dapat menandinginya! Karena itu, kita harus dapat bekerja dengan hati-hati, menyelidiki secara menggelap jangan sampai bentrok dengan mereka sehingga urusan menjadi gagal. Kita melakukan penyelidikan dengan mengenakan pakaian dan topeng Sriti Kencana,dan hanya di waktu malam gelap saja. Kita mencari kesempatan dan saat yang tepat untuk turun tangan kalau sudah tahu benar di mana adanya keris pusaka itu."
Joko Handoko, Roro Kartiko dan tujuh orang anak buah Sriti Kencana itu menganggk-angguk tanda setuju.
"Awas....!!"
Tiba-tiba Sulastri meloncat berdiri dan membalikkan tubuh sambil mengepal tinju.
Sembilan orang lainnya itu terkejut dan juga serentak mereka bangkit, mata mereka mencari-cari karena mereka belum tahu apa sebabnya Sulastri meloncat berdiri dengan tiba-tiba itu.
Tangan meraka meraba gagang keris dan sikap mereka tegang.
Akan tetapi hati mereka mejadi tenang ketika mereka melihat siapa yang muncul dari balik pohin-pohon itu.
Ternyata tiga orang yang kedatangannya telah dilihat atau didengar oleh Sulastri lebih dulu adalah Raden Harwojo, Murwendo dan Murwanti, tiga orang jagoan Lumajang yang menjadi rekan-rekan mereka pula.
Sulastri segera melangkah maju menyambut mereka.
Dia merupakan pemimpin rombongannya, maka dengan alis berkerut dan pandang mata penuh selidik dia lalu menegur.
"Saudara-saudara Harwojo murwendo dan Murwanti bertiga, ada keperluan apakah Andika bertiga menyusul kami? Apakah Sang Adipati yang mengutus kalian?"
Raden Harwojo yang mukanya muram itu menggeleng kepala.
"Sama sekali tidak, Sulastri. Kami bertiga tidak menyusul, melainkan sudah menanti di sini dan kami tidak diutus oleh Adipati Lumajang, melainkan kami ingin bicara dengan Andika bertiga atau lebih tepat, aku ingin bicara dengan Andika, sedangkan Murwendo dan Murwanti ingin bicara dengan Joko Handoko dan adiknya."
Sulastri memandang makin curiga.
"Harwojo di antara kita tidak ada persoalan sesuatu, apa yang hendak kau bicarakan dan mengapa pula memilih waktu sekarang padahal sebelum ini banyak waktu di Lumajang?"
"Justeru sekaranglah waktunya yang tepat, Sulastri. Sebelum engkau terlambat dan menjadi seorang pemberontak dan pengkhianat aku ingin memperingatkan kepadamu bahwa amatlah tidak baik bagimu untuk memberontak terhadap Mojopahit dengan menjadi kaki tangan pemberontak Lumajang."
Terkejutlah hati semua orang, temasuk Sulastri. Dia menatap tajam wajah yang keruh itu dan berkata dengan suara marah.
"Harwojo! Apa yang kaukatakan ini? Kita adalah sama-sama seorang ponggawa Lumajang, mengapa engkau bicara tentang pemberontakan terhadap Mojopahit? Apakah engkau hendak mengkhianati Lumajang?"
"Hemm, aku bukanlah ponggawa Lumajang, Sulastri, melainkan seorang kawula Mojopahit, bahkan aku seorang utusan dari Gusti Ratu dan Gusti Pangeran di Mojopahit! Oleh karena itu, aku meperingatkan agar engkau suka menghentikan kesesatanmu dan lebih baik membela Mojopahit daripada menjadi kaki tangan pemberontak Lumajang."
"Keparat! Kau berani membujukku seperti itu? Kau pengkhianat besar!"
Sulastri memberontak dan sudah siap menerjang. Akan tetapi Raden Harwojo mengangkat tangan ke atas dan berkata dengan nyaring.
"Tahan, Sulastri! Lihatlah di sekelilingmu!"
Sulastri dan sembilan orang temannya menengok ke sekeliling dan berubah wajah mereka melihat bahwa tempat itu telah terkurung oleh puluhan orang perajurit yang dipimpin oleh dua orang laki-laki berusia empat puluhan tahun.
Mereka itu seperti arca berjajar tanpa bergerak, dengan sikap yang mengandung penuh ancaman!
"Ha-ha-ha!"
Tiba-tiba Murwendo berkata sambil tertawa.
"Diajeng Roro Kartiko,lihatlah betapa pasukanku telah siap untuk menyambut engkau dan kakakmu untuk pergi ke Puger. Marilah Diajeng, mari kita hidup penuh kebahagiaan di sana, engkau menjadi calon permaisuriku, ha-ha!"
Murwendo tertawa bergelak.
"Kakangmas Joko Handoko, aku mohon kepadamu, jangan engkau melawan. Marilah kulayani dengan cinta kasihku yang mendalam, Kakangmas!"
Murwanti juga berkata dengan sikap mesra dan sedikit pun tidak merasa malu memperlihatkan sikap itu di depan begitu banyak orang.
"Tidak sudi aku!"
Bentak Joko Handoko.
"Lebih baik mati!"
Seru Roro Kartiko.
"Hemm, ternyata kalian adalah pengkhianat-pengkhianat hina!"
Sulastri memaki marah.
"Adalah menjadi tugas kami untuk membasmi pengkhianat-pengkhianat macam kalian!"
"Serbu......!!"
Dengan suara berbareng, Joko Handoko dan Roro Kartiko memberi komando kepada anak buahnya dan tujuh orang anggota Sriti Kencana itu bergerak tangkas membentuk lingkaran menghadap keluar untuk menyambut lawan yang amat banyak itu.
Sulastri sendiri sudah mencelat ke depan dan langsung saja mengirim pukulan Hasto Nogo yang amat ampuh kepada Harwojo.
Pemuda dari Mojopahit ini cepat mengelak dan balas memukul dengan sama dasyatnya.
Sulastri menangkis dan keduanya terdorong mundur, akan tetapi Sulastri terkejut karena kini dia merasa betapa tangkisan tangan Harwojo itu mengandung tenaga yang bukan main kuatnya, jauh lebih kuat daripada ketika dia melawan Harwojo di atas panggung sayembara dahulu itu!
"Hemm, Sulastri, dulu aku sengaja mengalah kepadamu, akan tetapi sekarang, kalau engkau tidak mau sadar akan kesesatanmu, terpaksa aku akan menggunakan kekerasan,"
Kata Harwojo sambil mengelak dari sambaran tangan Sulastri dan membalas dengan tendangan kilat sehingga Sulastri harus mundur untuk menghindarkan tendangan itu.
"Keparat, manusia palsu! Engkaulah yang akan mampus di tanganku!"
Bentaknya sambil menerjang lagi.
Sementara itu, Joko Handoko dan Roro Kartiko juga sudah menerjang maju dan Murwanti segera menyambut Joko Handoko, sedangkan Murwendo menyambut Roro Kartiko.
Dua orang kakak beradik kembar itu hanya mengelak sana-sini sambil merayu sehingga dua orang muda dari Tuban itu menjadi makin muak dan marah, menyerang terus dengan sengit.
"Paman Padas Gunung dan Paman Pragalbo, bantulah kami!"
Teriak Murwendo dan kini dua orang laki-laki berusia empat puluh tahunan yang memimpin para perajurit itu meloncat maju membantu Si kembar itu.
"Akan tetapi tangkap saja, jangan sampai lukai mereka!"
Kata Murwanti.
"Semua perajurit maju!"
Teriak Murwendo.
"Tangkap sepuluh orang ini, jangan sampai mereka terluka!"
Kini pasukan yang jumlahnya mendekati seratus orang itu bergerak maju, dan dengan nekat tujuh orang anggota Sriti Kencana menyambut mereka mati-matian.
Terjadilah pertempuran yang berat sebelah dan dalam waktu singkat saja tujuh orang anggota Sriti Kencana telah dapat diringkus semua dan kaki tangan mereka diikat.
Joko Handoko dan adiknya mengamuk dengan keris mereka sehingga Murwendo dan Murwanti merasa kewalahan.
Akan tetapi dua orang laki-laki setengah tua itu ternyata hebat sekali.
Seorang di antara mereka yang bernama Padas Gunung memegang sebatang suling yang ampuh, sedangkan Pragalbo juga menggunakan kerisnya untuk menangkis serangan-serangan Roro Kartiko, sedangkan Murwendo dan Murwanti hanya membantu dan mencari kesempatan untuk meringkus orang yang mereka cinta tanpa melukai mereka.
Betapa pun mereka berdua mengamuk dengan nekat, namun ketika keris mereka terlepas oleh tangkisan suling dan keris Padas Gunung dan Pragalbo, dua orang kakak beradik ini akhirnya dapat diringkus pula dan diikat kaki tangan mereka.
"Murwendo, engkau sudah gila! Lepaskan aku!"
Joko Handoko meronta dan memaki. Sambil tertawa Murwanti memeluknya dan mengelus dagunya.
"Tenanglah, wong bagus,kelak engkau akan berterima kasih kepadaku untuk kejadian ini."
Sementara itu, pertandingan antara Sulastri dan Harwojo masih berlangsung dengan hebat.
Sulastri merasa penasaran sekali karena sedemikian jauh dia belum juga dapat merobohkan lawannya dan baru sekarang dia tahu bahwa memang Harwojo kini tidak dapat disamakan dengan ketika mereka bertanding di atas panggung dahulu itu gerakan pemuda berwajah muram ini kuat dan tangkas sehingga dapat mengimbangi serangan-serangannya walaupun dia sudah mengerahkan tenaga dan mengeluarkan semua kepandaiannya.
Betapa pun juga, ketika Sulastri mengerahkan Aji Turonggo Bayu sehingga tubuhnya berkelebatan seperti kilat menyambar-nyambar, Harwojo menjadi sibuk juga dan dia lebih banyak menangkis untuk melindungi tubuhnya dari hujan serangan lawan itu daripada balas menyerang.
Melihat bahwa dalam hal kecepatan saja dia lebih unggul, Sulastri yang cerdik tentu saja girang dan hendak menggunakan kecepatannya itu untuk meraih kemenangan.
Dia menyerang terus dengan cepat dan mulailah dia mendesak lawan itu.
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara keras dan sebatang suling menyambar ke arah pundaknya.
Sulastri terkejut, cepat mengelak dan kakinya melayang ke arah pemegang suling.
Akan tetapi Padas Gunung, si Pemegang Suling itu, cepat mengelak dan sulingnya terus diputar untuk menyerang Sulastri dan membantu Harwojo.
Padas Gunung maju atas perintah Murwendo.
(Lanjut ke
Jilid 25) Kemelut Di Majapahit (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 25 Pertempuran menjadi makin seru ketka Sulastri dikeroyok dua oleh Harwojo dan Padas Gunung.
Namun dara perkasa ini tidak menjadi jerih.
Sebaliknya malah,melihat betapa teman-temannya tertawan, dia menjadi marah sekali dan dicabutnyalah sebatang keris pemberian Adipati Lumajang.
Maka mengamuklah Sulastri, dari mulutnya terdengar bentakan-bentakan nyaring dan gerakannya makin cepat sehingga biar pun dia dikeroyok dua namun tetap saja dia masih mampu mendesak Harwojo, bahkan pada suatu saat yang baik, tamparan tangan kirinya yang menyerempet bahu Padas Gunung membuat tokoh Puger terhuyung ke belakang dengan muka pucat.
"Trik-trik-sringgg.....!!"
Bunga api berpijar ketika berkali-kali keris di tangan Sulastri bertemu dengan keris di tangan Harwojo yang menangkisnya.
Pada saat itu, Padas Gunung yang menjadi marah telah menerjang lagi, sulingnya mengeluarkan bunyi mendesing ketika menyambar ke arah leher Sulastri.
Gadis ini terkejut karena serangan yang datang dari samping itu cepat dan berbahaya sekali, maka dia menjatuhkan diri ke kanan, kakinya menendang untuk mencegah lawan mendesaknya.
Akan tetapi pada saat itu, ada bayangan hitam yang lebar menyambar dan lain saat tubuh Sulastri telah tertutup oleh sehelai jala yang berwarna hitam.
Jala ini dilepas oleh Pragalbo,laki-laki bermuka hitam, tokoh ke dua dari Puger.
Pragalbo turun tangan membantu setelah diperintah oleh Murwendo pula yang melihat betapa hebatnya Sulastri biarpun sudah dikeroyok oleh dua orang namun masih tetap mengamuk dan membuat Padas Gunung terhuyung itu.
"Ihhhhh.....!!"
Sulastri membentak dan biarpun tubuhnya diselimuti jala itu, dia meronta dan kakinya menendang dari dalam jala.
"Desss......!!"
Pragalbo terpaksa mundur karena tendangan itu berbahaya sekali,dan Harwojo cepat menghantam dari belakang, menggunakan tangan kirinya, mengarah tengkuk Sulastri.
"Plakkk! Heiiiiittt....!!"
Sulastri berhasil mengkis pukulan itu dengan tangan kirinya sambil membalik, namun gerakannya terhalang oleh jala sehingga tetap saja pundaknya kena terpukul.
Dia terhuyung dan menggunakan kerisnya untuk membabat jala.
Akan tetapi pada saat itu, jala ke dua dilempar ke atas tubuhnya.
Sulastri meloncat namun kakinya terlibat jala dan ketika Pragalbo menarik tali jala dengan sentakan keras, tak dapat dicegah lagi tubuh dara itu terguling dan diringkus oleh jala.
Harwojo menubruknya dan menekuk kedua lengan gadis itu ke belakang lalu membelenggunya, demikian pula Padas Gunung cepat mengikat kedua kaki Sulastri.
Dara itu tidak dapat meronta lagi, seperti seekor harimau yang sudah terjebak di dalam jala dengan kaki tangan teringkus dan terbelenggu.
"Pengkhianat! Keparat-keparat berhati palsu! Jahanam.....!"
Sulastri memaki-maki,akan tetapi tidak mereka tidak memperdulikannya.
"Murwendo dan Murwanti, harap jangan melupakan janji kalian,"
Kata Harwojo kepada dua orang kakak beradik kembar itu.
"Jangan khawatir, Harwojo,"
Jawab Murwendo.
"Dan sekarang kami akan membawa mereka ke Puger."
"Pergilah, akan tetapi seperti yang kalian janjikan, kalian tidak boleh sekali-kali menyia-nyiakan mereka! Ingat, aku yang membantu kalian mencapai apa yang kalian idam-idamkan."
"Ha-ha-ha, perlukah engkau bertanya lagi? Kami berdua amat cinta kepada mereka. Dan bagaimana dengan dia? Akan kami bawa sajalah dia itu bersama ke Puger?"
Murwendo menunjuk ke arah Sulastri yang masih rebah terbelenggu di dalam jala. Harwojo menggeleng kepala.
"Dia tidak masuk dalam perjanjian kita. Serahkan saja dia kepadaku."
"Hik-hik, agaknya engkau pun tidak mau ketinggalan dari kami, Harwojo. Selamat menikmati...."
"Ha-ha-ha, dia memang cantik jelita dan......"
"Cukup! Jangan kalian bicara yang bukan-bukan! Pergilah!"
Harwojo tiba-tiba menghardik dan dua orang kakak beradik kembar itu sambil tertawa-tawa lalu masing-masing memanggul tubuh Joko Handoko dan Roro Kartiko, meloncat ke atas punggung kuda yang sudah dipersiapkan oleh orang-orangnya dan tak lama kemudian,pergilah dua orang saudara kembar itu membawa semua tawanannya, diiringkan oleh pasukan yang dipimpin oleh Padas Gunung dan Pragalbo.
Harwojo memandang mereka sampai mereka itu lenyap dan hanya meninggalkan debu yang memenuhi hutan yang mulai gelap itu.
Kemudian dia duduk di atas rumput dekat Sulastri yang masih meringkuk dalam keadaan tak berdaya di dalam jala.
"Harwojo manusia keparat!"
Sulastri memaki dengan marah.
"Engkau curang, licik dan tak tahu malu! Hayo kau bebaskan aku dan kita boleh bertanding sampai salah seorang di antara kita mengeletak tanpa nyawa di sini kalau engkau memang jantan sejati! Atau kalau tidak, kau boleh cabut kerismu dan bunuh aku sekarang, dan aku kan mati sambil mengenangmu sebagai seorang manusia pengecut yang hina-dina!"
Harwojo menghadapi maki-makian Sulastri dengan tenang saja, hanya menarik menarik napas panjang dua tiga kali dan mengerling ke arah gadis itu dengan sikap tak acuh.
Kemudian dia berkata setelah gadis itu dengan memaki-maki lagi.
"Sulastri, kalau aku tidak sayang kepadamu, apa kau kira saat ini engkau masih hidup?"
"Jahanam besar! Siapa yang haus akan sayangmu? Siapa yang takut mati? Kau mau bunuh aku lekas bunuh, aku tidak sudi minta-minta belas kasihanmu, pengkhianat keji!"
Harwojo menggeleng-geleng kepalanya.
"Engkau memang memiliki ilmu kepandaian tinggi, sungguh mengagumkan sekali bagi seorang wanita semuda engkau. Akan tetapi engkau masih muda, keras hati dan keras kepala, ceroboh dan nekat."
"Dan engkau seorang penjahat yang berhati palsu, laki-laki mata keranjang dan busuk!"
Alis pemuda itu berkerut dan ia cepat menoleh kepada gadis itu.
"Hemm, jangan samakan aku dengan orang macam Murwendo tadi! Jangan kira aku sayang kepadamu karena engkau seorang perawan cantik! Sama sekali tidak! Aku sayang padamu melihat kepandaianmu karena engkau akan menjadi seorang yang berguna bagi Mojopahit. Namun engkau telah tersesat, menghambakan diri kepada Lumajang,kepada sarang pemberontak."
"Dan kau sendiri? Phuh, muak aku mendengarnya!"
"Engkau memang bodoh akan tetapi keminter (berlagak pinter)! Aku adalah utusan Gusti Ratu dan Gusti Pangeran di Mojopahit, aku menyamar sebagai seorang peserta sayembara, untuk menyelidiki Lumajang, untuk mencari Kolonadah."
"Hemm.....dan kau menjerumuskan Joko Handoko dan Roro Kartiko ke dalam jurang kecelakaan, dan engkau menangkap aku.....!"
"Tentu saja. Tugasku untuk menghancurkan kekuatan yang mendukung Lumajang. Dan Joko Handoko bersama adiknya adalah pelarian-pelarian Mojopahit, anak-anak dari Progodigdoyo. Masih baik aku tidak membunuh mereka, dan aku melihat nasib mereka tidak akan sengsara di Puger sana. Dan kau.... hemm, aku hanya ingin agar engkau sadar daripada kesesatanmu, dan marilah kau ikut denganku ke Mojopahit,menghambakan diri kepada Mojopahit sehingga tidak akan percuma engkau selama ini mempelajari ilmu-ilmu yang tinggi."
"Tak usah kau pura-pura baik. Bebaskan aku dan mari kita bertanding secara jujur, ingin kulihat sampai di mana kedigdayaanmu, Harwojo!"
Pada saat itu, sebelum Harwojo sempat menjawab, terdengar suara nyaring.
"Adi Bromo, aku datang membantumu!"
"Kakang Tejo....!"
Harwojo sudah meloncat berdiri akan tetapi dia harus cepat membuang diri ke samping karena Sutejo telah menerjang dengan dahsyat.
Harwojo membalik dan balas memukul, ditangkis oleh Sutejo dan terjadilah perkelahian yang hebat antara dua orang pemuda yang sama tangkas dan sama digdaya ini.
Pukul memukul terjadi,tendang-menendang dan tampar-menampar, masing-masing mengeluarkan aji kesaktian mereka, desak-mendesak dan saling berusaha untuk merobohkan lawan.
Sementara itu, malam mulai menggulung hutan itu dalam kegelapan.
Namun mereka yang berkelahi tidak menghiraukan kegelapan dan biarpun pandang mata mereka tidak lagi dapat diandalkan dalam perkelahian itu, mereka yang merupakan orang-orang terlatih masih dapat mengandalkan ketajaman pendengaran dan perasaan mereka.
Akan tetapi Harwojo yang menyangka bahwa lawannya adalah orang Lumajang dan karenanya membela diri mati-matian, akhirnya harus mengakui keunggulan lawan setelah dia mempertahankan diri selama seperempat jam perkelahian mati-matian di mana dia telah mengeluarkan segala ilmunya dan mengerahkan seluruh tenaganya.
Akhirnya, dalam keadaan lemas dan lelah sekali karena sebelumnya dia sudah harus bertanding melawan Sulastri yang juga tidak mudah dia robohkan, sebuah tamparan dari tangan kiri Sutejo mengenai lehernya dan dia terpenting roboh dalam keadaan setengah pingsan.
Dia mencoba bangun, akan tetapi hanya berhasil bangkit duduk dan menggoyang-goyang kepalanya yang terasa pening dan pandang matanya berkunang-kunang.
Ketika Sutejo menghampiri, terdengar Sulastri berteriak.
"Kakang Tejo, jangan bunuh dia!"
Sutejo menoleh, tentu saja dia tidak mempunyai niat membunuh lawannya yang tangguh dan yang sudah dikalahkannya itu.
Pemuda ini seperti kita ketahui datang dari Gunung Bromo di mana dia berpisahan dengan Resi Harimurti yang menuju ke barat, kembali ke Mojopahit.
Sutejo menuju ke Lumajang dan kebetulan sekali ketika dia tiba di dalam hutan itu dan berniat untuk beristirahat dan melewatkan malam itu di dalam hutan, dia mendengar suara yang amat dikenalnya, suara Bromatmojo yang lantang dan galak!
Tentu saja dia merasa terkejut sekali dan cepat dia menuju ke arah suara itu tanpa memperdulikan kaki tangannya tergores-gores duri yang dilanggarnya karena hutan itu sudah diliputi kegelapan remang-remang.
Dan ketika dia melihat Bromatmojo rebah tak berdaya dalam keadaan terbelenggu kaki tangannya dan digulung jala pula, tentu saja Sutejo menjadi marah dan dia lalu menyerang laki-laki yang berada di dekat Bromatmojo dan yang tadi dimaki-maki dan ditantang-tantang olehnya.
Kini mendengar Sulastri berteriak mencegahnya agar dia jangan membunuh laki-laki itu, Sutejo cepat menghampiri Sulastri, menggunakan kerisnya untuk membabat jala dan belenggu kaki tangan sehingga gadis itu bebas dari ikatan.
"Siapakah dia.... Adi....Bromo?"
Sutejo memandang Sulastri yang masih seperti dulu, berpakaian seperti seorang pemuda tampan.
Kini setelah bebas, Sulastri teringat bahwa yang membebaskannya ini adalah Sutejo, bukan lagi Sutejo sahabatnya yang dahulu, melainkan Sutejo kaki tangan Resi Mahapati!
Oleh karena itu, sikapnya berubah menjadi dingin, dan dengan suara kaku dia menjawab.
"Apakah engkau tidak mengenal dia? Dia bernama Harwojo dari Mojopahit!"
Sutejo menggeleng kepalanya.
"Aku tidak mengenal orang yang bernama Harwojo. Mengapa dia berada di sini dan engkau terbelenggu?"
Sulastri duduk di atas akar pohon, hatinya masih panas, panas terhadap Harwojo dan juga panas terhadap Sutejo yang kini telah berdiri di pihak musuhnya.
"Kau tanyalah sendiri kepadanya."
Sutejo merasa tidak enak mendengar suara Bromatmojo yang kaku itu, akan tetapi dia mendekati Harwojo yang sudah duduk dan tidak lagi menggoyangkan kepalanya karena kepeningan kepalanya sudah mereda.
"Kisanak, siapakah engkau dan mengapa engkau memusuhi..... Adi Bromatmojo?"
Harwojo mengangkat mukanya dan memandang wajah Sutejo yang kelihatan remang-remang tertimpa cahaya bulan yang mulai muncul itu dengan penuh kagum.
Baru sekali ini dia bertemu lawan yang benar-benar tangguh, di samping Sulastri.
"Saya bernama Harwojo dan saya utusan dari Gusti Ratu Pangeran Pati di Mojopahit. Saya diutus untuk menyelidiki dan mencari keris pusaka Kolonadah yang kabarnya berada di tangan orang-orang Lumajang. Dan kau siapakah, orang muda yang gagah perkasa?"
"Aku.... namaku Sutejo."
"Dan dia adalah adik ipar dari Resi Mahapati,"
Sulastri melanjutkan.
"Ahhh.....! Kiranya begitu?"
Harwojo berseru kaget.
"Maafkan aku karena aku tidak tahu siapa engkau maka aku menyerangmu, Kisanak. Pula, melihat Adi Bromo...."
Sutejo tidak melanjutkan kata-katanya.
"Aku meresa menyesal sekali harus menangkapnya, akan tetapi sungguh aku tidak berniat buruk terhadap dia, aku hanya hendak membujuk agar dia tidak membantu pemberontak. Karena kita belum saling mengenal, maka ketika engkau menyerang,aku tentu saja mengira engkau seorang ponggawa Lumajang pula yang belum kuketahui."
Sutejo menarik napas panjang.
"Kalau begitu tugas kita sama. Aku pun sedang menyelidiki Kolonadah dan hendak pergi ke Lumajang."
"Kalian ini hamba-hamba Mojopahit yang bodoh!"
Tiba-tiba Sulastri berkata dengan nada mengejek.
"Dan engkau Sutejo, engkau pun telah dibodohi orang dengan mudah! Kuberi tahu kalian bahwa Kolonadah tidak berada di Lumajang, melainkan berada di tangan orang Mojopahit!"
"Ah, mana mungkin....?"
Sutejo dan Harwojo berseru kaget.
"Memang kalian bodoh! Kalau sudah berada di Lumajang, perlu apa Adipati Wirorojo mengutus aku untuk menyelidikinya dan mencarinya di Mojopahit? Keris itu sudah berada di tangan Resi Harimurti! Tadinya memang keris pusaka itu dilarikan oleh Ki Ageng Palandongan dari Tuban, untuk dibawa ke Lumajang. Akan tetapi di tengah jalan, Ki Ageng Palandongan diserang oleh Resi Harimurti!"
"Akan tetapi..... menurut Gusti Ratu, sampai sekarang tidak ada yang menyerahkan keris pusaka itu!"
Kata Harwojo.
"Hemm, kalau keris sudah berada di tangan Resi Harimurti, tentu diserahkan kepada Resi Mahapati, bukan kepada Sri Ratu!"
Kata Sulastri.
"Akan tetapi, Resi Mahapati adalah tangan kanan Gusti Ratu, dan Resi Mahapati juga belum menyerahkan keris pusaka itu,"
Bantah Harwojo.
"Dan menurut cerita Resi Harimurti, biarpun dia telah berhasil merampas keris dari tangan Ki Ageng Palandongan, akan tetapi orang-orang Lumajang telah berhasil merampas dari tangannya pula,"
Kata Sutejo.
"Aneh!"
Sutejo dan Harwojo berkata hampir berbareng dan ketiganya duduk termenung dengan bingung.
Keris pusaka itu tidak berada di tangan Resi Harimurti seperti yang disangka oleh Sulastri, tidak juga berada di tangan Orang-orang Lumajang.
Lalu di mana?
Siapa yang merampasnya dari tangan Resi Harimurti?
"Apakah ada yang menyaksikan ketika keris itu dirampasnya dari tangan Resi Harimurti?"
Sulastri bertanya tanpa menujukannya kepada orang tertentu.
"Tidak,"
Sutejo menjawab dengan alis berkerut.
"Menurut penuturannya, dia seorang diri ketika keris itu dirampas orang-orang yang menggunakan akal mengeroyoknya."
"Huh,kalau begitu kalian dibohongi oleh Resi jahanam itu!"
Harwojo lalu bangkit berdiri.
"Maafkan saya...., kalau begitu saya harus cepat pulang ke Mojopahit untuk melaporkan hal ini........."
Baik Sulastri mau pun Sutejo tidak menjawab apa-apa, juga tidak mencegah ketika Harwojo meninggalkan tempat itu.
Mereka berdua masih duduk berhadapan di atas tanah sampai lama setelah Harwojo tidak tampak lagi dan tidak terdengar suara apa-apa kecuali jangkerik dan belalang yang riuh rendah menghidupkan suasana yang sunyi di dalam hutan itu.
Bulan sudah naik agak tinggi dan karena tempat mereka duduk merupakan tempat terbuka yang cukup luas, maka sinar bulan dapat menimpa tempat itu tanpa terhalang, mendatangkan penerangan yang cukup sehingga mereka dapat melihat wajah masing-masing dengan jelas.
"........Adi Bromo...."
Akhirnya suara Sutejo memecah kesunyian. Dia merasa canggung sekali kalau harus mengganti sebutan ini, sungguhpun kini dia sudah yakin bahwa "pemuda"
Yang berada di depannya ini adalah seorang dara yang cantik jelita dan gagah perkasa.
Sulastri mengira bahwa Sutejo belum tahu akan rahasia pribadinya, dan teringat akan jurang yang memisahkan mereka karena pemuda ini membantu Resi Mahapati, dia lalu menjawab dengan sikap dingin dan suara kaku.
"Sutejo di antara kita tidak ada lagi hubungan persahabatan."
Wajah pemuda itu menjadi agak pucat dan matanya terbelalak, kemudian dia berkata dengan suara yang bernada sedih.
"Adi Bromo, setelah segala yang kita alami bersama, mengapa....engkau bersikap seperti ini kepadaku? Tidakkah engkau sudi memaafkan aku, seandainya aku ada kesalahan terhadapmu?"
"Tidak perlu bicara tentang kesalahan dan masihkah engkau bertanya lagi mengapa aku bersikap begini, Sutejo? Lupakah engkau bahwa engkau dan aku berdiri di dua pihak yang bertentangan? Aku adalah musuhmu dan engkau adalah musuhku!"
"Adi Bromatmojo!"
Sutejo berkata sambil melangkah maju.
"Jangan kau berkat demikian. Malah kedatanganku ini sengaja hendak mencarimu. Hendak menyadarkan engkau telah menempatkan dirimu di dalam bahaya besar dan juga dalam penyelewengan yang kelak hanya akan membuatmu menyesal."
Sulastri mengerutkan alisnya.
"Hemm, engkau malah berani berkata seperti itu? Hendak menyadarkan aku? Dalam hal apakah?"
"Adi Bromo...."
Teringat bahwa yang diajaknya bicara dengan sebutan pria itu sebetulnya adalah seorang dara, Sutejo tidak berani lama-lama menentang wajah Sulastri dan ia melanjutkan sambil menunduk, dan hanya sekali-kali saja mengangkat muka memandang.
"Aku mendengar bahwa engkau telah menghambakan diri kepada adipati di Lumajang, bahkan engkau sendiri tadi mengatakan bahwa engkau menjadi utusan Sang Adipati untuk mencari keris pusaka Kolonadah. Adi Bromo.....hendaknya engkau insaf dan menyadari bahwa engkau telah tersesat......"
Mendengar ucapan itu, otomatis kedua tangan Sulastri bergerak naik ke pinggangnya dan sepasang matanya memandang marah.
Mulutnya tersenyum mengejek, senyum yang sudah amat dikenal oleh Sutejo, senyum yang akan keluar kalau temannya itu sedang mengkal hatinya.
"Aku? Tersesat? Memang aku menghambakan diri kepada Adipati Wirorojo, Adipati Lumajang. Tidak tahukah engkau siapa beliau? Beliau adalah seorang yang arif bijaksana, seorang pemimpin sejati. Kenapa kau berani mengatakan aku tersesat?"
"Ah, itulah salahnya, Adi Bromo. Engkau tidak sadar bahwa engkau telah menghambakan diri kepada pemberontak."
"Sutejo jangan sembarangan menuduh. Adipati Wirorojo bukanlah pemberontak!"
"Memang belum memberontak, akan tetapi di sanalah ditampungnya semua orang yang memusuhi Mojopahit. Semua bekas pengikut Ronggo Lawe, pengikut Lembu Sora, semua pergi ke Lumajang, bahkan bekas-bekas perejurit mereka pun kini menjadi perajurit Lumajang. Apakah itu bukan suatu bukti bahwa Lumajang adalah sarang pemberontak?"
"Huh,hati dan pikiranmu memang sudah diracuni oleh Resi Mahapati, Sutejo! Maka wawasanmu juga ngawur! Telingaku sendiri yang mendengar ucapan keluar dari mulut Sang Adipati Lumajang baru beberapa hari yang lalu bahwa Beliau tidak ingin memberontak, bahkan tidak ingin bentrok dengan Mojopahit selama di sana masih ada Sang Prabu yang Beliau junjung tinggi itu menduduki tahta kerajaan. Akan tetapi Beliau tidak setuju kalau Kolonadah terjatuh ke tangan Pangeran Kolo Gemet. Dan engkau tahu siapa gerangan pangeran itu? Pangeran berdarah Melayu, dan Resi Mahapati justeru berhamba kepada Pangeran itu! Orang-orang Lumajang bukan berjiwa pemberontak, bahkan amat mencintai Mojopahit dan Sang Prabu. Hanya membenci para ponggawa Mojopahit yang jahat dan sewenang-wenang itu."
Baca Juga: Pendekar Mata Keranjang 9
Baca Juga: Si Kumbang Merah Penghisap Kembang 12