Ceritasilat Novel Online

Kemelut Di Majapahit 9

Eps 9 Kemelut Di Majapahit - Kho Ping Hoo

Baca online Kemelut Di Majapahit - Kho Ping Hoo

Cersil Kemelut Di Majapahit - Kho Ping Hoo.

"Hemm, tentu saja mereka tidak mau mengaku, Adi Bromo. Tidak ada maling yang mengaku pencuri, tidak ada perampok mengaku begal, tidak ada orang bersalah mengaku tidak benar. Adipati Lumajang sudah mambuktikan dengan sikapnya yang tidak mau tunduk lagi kepada Sang Prabu di Mojopahit yang seharusnya ditaati oleh semua kawula Mojopahit yang setia."

"Kawula Mojopahit yang setia? Huh, kau anggap orang-orang macam Resi Mahapati dan Resi Harimurti itu orang-orang yang baik? Betapa engkau sudah buta!"

"Aku tidak peduli akan pribadi mereka, selama mereka tidak menggangguku dan tidak melakukan kejahatan di depan mataku karena kalau demikian halnya, tentu aku akan menentangnya. Aku harus setia kepada Mojopahit dan karena kulihat Resi Mahapati dan Resi Harimurti setia kepada Mojopahit, maka aku rela membantu. Coba Resi Mahapati memberontak terhadap Mojopahit, biar dia kakak iparku sendiri,sudah pasti akan kulawan. Karena itu, Adi Bromo, marilah engkau kembali ke jalan benar, jalan satria utama yang tidak akan keliru dalam menentukan langkah,membela yang benar dan setia kepada kerajaan. Mari kita bersama kembali dan kita melihat dengan mata sendiri siapa yang tidak benar, kita lawan bersama."

"Wah, sungguh engkau telah mabok, Sutejo! Mabok oleh bujuk rayu Resi Mahapati! Muak aku mendengar semua kata-katamu, kata-kata yang tentu telah diatur sebelumnya oleh Resi keparat itu! Nah, kita sekarang berhadapan sebagai musuh. Tidak perlu banyak cakap lagi, Sutejo. Engkau adalah kaki tangan Resi Mahapati yang dibenci dan dimusuhi oleh Adipati Lumajang, dan aku adalah seorang pengawal dari Adipati Lumajang. Engkau berada di sini tentu sebagai mata-mata Resi Mahapati, maka hayo kita menentukan kebenaran melalui kepandaian. Kau sambutlah!"

Setelah berkata demikian, Sulastri sudah menerjang ke depan dan menyerang Sutejo dengan sungguh-sungguh sambil mengerahkan seluruh tenaganya karena dia maklum betapa saktinya pemuda ini.

"Eh, eh, nanti dulu ....!"

Sutejo mengelak dan mundur ke belakang, menghindarkan diri dari sambaran tangan yang kecil namun mengandung hawa pukulan dan tenaga sakti yang ampuh itu.

"Sutejo, sudah jelas engkau adalah kaki tangan Resi Mahapati dan aku adalah ponggawa Lumajang. Di antara kita terdapat permusuhan besar, dan dalam memperebutkan Kolonadah pun kita akan berhadapan sebagai musuh."

"Adi Bromo, nanti dulu, mari kita bicara dulu.....!"

"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Sambutlah, atau minggatlah kau dari sini!"

Sulastri yang merasa amat kecewa dan penasaran melihat Sutejo berkukuh dalam pendiriannya membenarkan Resi Mahapati, sudah menerjangnya lagi dengan dahsyat dan sungguh-sungguh karena kekecewaan hatinya itu mendatangkan kemarahan besar.

Sutejo yang dikagumi, yang amat disukai, yang dianggap sebagai sahabat paling baik di dunia ini dan yang sedetik pun tidak penah dilupakannya, Sutejo telah mengecewakan hatinya dengan menjadi kaki tangan Resi Mahapati!

Dan yang lebih mengecewakan hatinya lagi adalah kenyataan yang memaksa pemuda itu membantu Resi Mahapati yang dibencinya, yaitu bahwa pemuda itu adalah adik ipar dari Sang Resi itu.

Inilah yang membuatnya kecewa dan marah sehingga kini dia menyerangnya kalang kabut untuk melampiaskan rasa penasaran dan kekecewaan hatinya.

Sutejo terkejut menghadapi serangan Sulastri karena dia maklum bahwa dara itu menyerangnya dengan sungguh-sungguh.

Dahulu, pernah temannya ini menyerang dan memaksanya berkelahi, dan bairpun murid dari Gunung Bromo ini amat sakti, namun dia masih dapat mengatasinya.

Kalau dia mau, tentu saja dia dapat membendung semua serangan kilat itu dan balas menyerang.

Akan tetapi, setelah kini tahu bahwa yang menyerannya ini adalah seorang dara, bagaimana dia tega untuk melawannya?

Pula, rasa suka dan sayangnya kepada Bromatmojo yang tadinya dianggap sebagai sahabatnya yang terbaik, kini mengalami perubahan besar setelah dia tahu bahwa Bromatmojo adalah Sulastri, seorang dara.

Dia sendiri masih belum dapat menentukan apakah perubahan itu dan bagaimana kini perasaan hatinya terhadap Sulastri, akan tetapi yang sudah jelas tidak mungkin baginya untuk melawan Sulastri, apalagi mencoba untuk merobohkan dara ini!

Maka dia pun hanya mengelak dan menangkis saja, dan tangkisan ini pun dilakukannya tanpa pengerahan tenaga sakti sepenuhnya karena dia khawatir kalau-kalau tangkisan yang keras akan melukai lengan atau tangan dara itu!

Akan tetapi dia lupa bahwa Sulastri bukanlah seorang lawan yang sembarangan saja.

Bahkan dia yang telah memiliki kesaktian tinggi, dibandingkan dengan dara itu hanya menang sedikit saja.

Oleh karena itu, mana mungkin dia mengadapi amukan Sulastri hanya dengan elakan dan tangkisan yang dibatasi tenaganya?

Apalagi karena Sulastri, dara yang berhati baja itu, ketika malihat sikap Sutejo yang hanya mengelak dan menangkis, merasa dipandang rendah dan hina, maka serangan-serangannya menjadi semakin menghebat dan dara itu telah mainkan Ilmu Hasto Bairawa dan mengisi kedua tangannya dengan hawa sakti dari Hasto Nogo, terutama tangan kirinya yang setiap menyambar mengeluarkan suara bersiutan keras itu.

Sutejo masih tetap mengelak dan menangkis, akan tetapi ketika Sulastri mendesak,dia kalah cepat.

Tamparan Hasto Nogo tangan kiri Sulastri menyusul serangan tangan kanannya yang tertangkis.

Tangan kiri yang ampuh itu menyambar ke arah pelipis Sutejo.

Pemuda itu terkejut dan cepat mengelak, akan tetapi dia masih kalah cepat dan tamparan itu masih mengenai pangkal lehernya dekat pundak kanan.

"Plakkk.... uhhh....!!"

Tubuh Sutejo terpelanting dan ia roboh ke atas tanah dalam keadaan pingsan!

Yang terakhir kelihatan oleh Sutejo hanyalah wajah Sulastri yang berputar-putar, dengan sepasang mata yang indah lebar itu terbelalak dan telinganya mendengar jerit tertahan, kemudian gelaplah semua baginya dan dia merasa betapa dia hanyut di air bengawan yang sedang banjir.

Tubuhnya seperti tersedot ke bawah dan tenggelam dan biarpun dia sudah berusaha untuk timbul ke permukaan, namun tetap saja dia tenggelam lagi.

Pergulatan melawan air ini berjalan lama sekali dan agaknya kepalanya tertumbuk batu karena tiba-tiba terasa berdenyut-denyut nyeri bukan main.

Dia tidak kuat lagi dan menghentikan rontaannya, membiarkan dirinya hanyut terbawa air bengawan yang sedang banjir.

Dia merasa dihanyutkan ke pinggir,napasnya terhenti dan rasa nyeri sudah hampir lenyap ketika dia mendengar suara sayup-sayup, suara orang memanggil-manggilnya.

Karena dia mengenal baik suara itu, maka dia mengerahkan tenaga terakhir untuk mendengarkan, untuk melawan kekuatan dahsyat yng menyeretnya agar dia dapat menangkap kata-kata dari suara yang amat dikenalnya ini.

"Kakang Tejo.....! Kakang Tejo....!!"

Sutejo merasa berada di dalam sebuah jurang atau sumur yang amat dalam dan amat gelap.

Akan tetapi suara itu mendorongnya, menariknya agar dia keluar dari jurang gelap itu.

Dia seperti meraba-raba dalam gelap, hanya suara itu yang menjadi pedomannya keluar dari dalam kegelapan yang menelannya.

"Kakang Tejo... kau maafkan aku, Kakang...."

Sutejo merasa terheran-heran mendengar suara ini, suara yang disambung dengan isak tangis!

Dia mengenal suara itu, tentu saja.

Suara siapa lagi yang renyah itu kalau bukan suara Bromatmojo?

Akan tetapi Bromatmojo menangis?

Pemuda yang gagah perkasa itu, yang tidak mengenal takut, kini menangis terisak-isak?

Aneh!

"Kakang Tejo....., jangan kau mati, Kakang......, kalau kau mati, aku pun tidak sudi hidup sendirian.........Kakang Tejo......!"

Tubuhnya diguncang-guncang dua tangan dan suara tangis itu makin menjadi.

Akan tetapi, dia teringat betapa Bromatmojo memusuhinya, menyerangnya dan menamparnya.

Ingatan ini membuat hatinya sedih bukan main dan mengendurkan lagi semangatnya untuk bangkit dari kegelapan.

Biarlah dia mati saja, pikirnya dan kembali dia ditelan kegelapan jurang itu.

"Kakang Tejo.....aduhh, Kakang..... bangunlah..... tidak tahukah engkau bahwa aku cinta padamu....? Kakang...."

Ucapan itu seperti halilintar menyambar dan menerangi jurang yang gelap itu!

Kini teringatlah dia bahwa Bromatmojo adalah Sulastri, seorang dara.

Dan apa yang diucapkan Sulastri tadi?

Ah, dia tidak percaya!

Akan tetapi, kini Sulastri menangis di atas dadanya, tidak mengguncang-guncang lagi dengan tangan, akan tetapi tubuh dara yang menangis itu sudah terguncang-guncang sehingga tubuhnya sendiri ikut terguncang pula.

"......aku cinta padamu, Kakang Tejo........... aku cinta padamu dan aku yang membunuhmu......"

Tangis itu makin mengguguk kini dan Sutejo merasa betapa muka yang halus itu melekat pada mukanya, betapa air membasahi pipinya.

Air mata!

Sulastri menangis dan menciuminya!

Kini gadis itu kembali menangis di atas dadanya.

Dengan halus kedua tangannya mengusap kepala itu, dan terdengar pula suaranya,kedengarannya aneh bagi telinganya sendiri, karena suaraya gemetar.

".....jangan menangis....., jangan kau menangis....."

Sulastri mengangkat mukanya dari atas dada Sutejo, dengan kedua mata basah dan pipi kemerahan dia memandang wajah Sutejo.

"Kakang Tejo....."

Dia berseru girang bukan main.

"Kau.... kau..... tidak mati....??"

Sutejo membuka matanya. Kedua tangannya kini merangkul leher itu.

"Belum, Diajeng....... aku nyaris mati akan tetapi suaramu memanggilku kembali...."

"Kakang kau menggeletak dengan muka pucat, tak bernapas lagi, tadi aku yakin bahwa engkau tentu telah tewas..... ahhh, olah pukulan Hasto Nogo yang terkutuk......, betapa khawatir aku....."

"Jangan khawatir, Nimas. Aku tidak mati dan kau.....Diajeng Sulastri...."

"Ehh.....?"

Sulastri terbelalak.

"Kau....kau sudah tahu.... bahwa aku......"

Sutejo bangkit duduk dan kedua tangannya masih merangkul pinggang dan leher dara itu. Dia mencoba tersenyum.

"Aku.... telah menduganya.... eh, aku telah mengetahuinya..... Sulastri....aku... aku pun cinta kepadamu, Diajeng....."

"Apa....??"

Sulastri meronta dan melompat berdiri.

"Kau... kau... tadi mendengar semua kata-kataku?"

Mata itu terbelalak lebar sekali, mukanya menjadi pucat lalu merah sekali.

"Aku...... berada di jurang gelap..... tiba-tiba mendengar suaramu memanggil.....dan pernyataan cintamu......."

"Kau pura-pura mati! Kau.... ah, kau tak tahu malu.....! Kau menyalahgunakan penyesalanku, pura-pura mati dan memancing aku membuka rahasia hati.... saking menyesalku memukulmu.... ah, kau.... kau.....!"

Dara itu menangis lagi, menangis karena marah!

"Ah, Sulastri, tidak.......

sama sekali tidak......!

Aku memang hampir mati....

kiraku tentu mati kalau tidak ada engkau yang memanggilku......

Sulastri, aku....

cinta padamu, baru sekarang kusadari benar hal ini.

Sulastri, ah, jangan kau memandang kepadaku dengan marah seperti itu...."

Dan sutejo bangkit berdiri akan tetapi dia terguling pula, kepalanya berdenyutan dan pandang matanya gelap,berkunang-kunang dan dia roboh seperti tadi.

Kini pingsan kembali untuk ke dua kalinya.

Ketika Sutejo siuman kembali.

Seketika dia teringat kepada Sulastri dan bangkitlah dia, menengok ke sana-sini akan tetapi tempat itu kosong, sekosong hatinya karena Sulastri tidak nampak di situ.

Dirabanya pangkal lehernya dekat pundak itu dan ternyata bekas pukulan itu telah diberi obat dan dibalut.

Siapa lagi kalau bukan Sulastri yang mengobatinya.

Akan tetapi dia tidak ada lagi!

"Ah, Sulastri........, Sulastri.....!"

Dia mengeluh dan memanggil-manggil.

"Aku di sini, Kakang Tejo!"

Sutejo cepat bangkit berdiri, biar pun lehernya terasa agak nyeri namun dia tidak peduli dan dia menengok.

Terbelalak dia memandang, terpesona ketika melihat seorang dara cantik jelita berdiri di bawah pohon, agaknya baru datang dan tangan kirinya membawa sesisir pisang yang sudah matang, tangan kanannya membawa kelapa muda.

Bukan main cantiknya dara itu.

"Sulastri.....!!"

Mereka berdua melangkah dan saling menghampiri, pandang mata mereka melekat.

"Kakang Tejo, kau.... maafkan aku?"

Bibir itu berbisik dan mata itu masih sayu karena habis menangis.

"Sulastri, tentu saja. Kau tidak bersalah, bahkan sudah selayaknya aku kau pukul mati! Kau.... ah, Lastri..... betapa..... betapa cantiknya engkau.......!"

"Kakang, ini kucarikan pisang dan kelapa muda untukmu. Air kelapa muda ini baik sekali untuk cepat menyembuhkan bekas pukulan itu, Kakang...."

Akan tetapi Sutejo tidak memperdulikan itu semua dan kini dia sudah berdiri dekat di depan Sulastri dan merangkul pinggang dara itu, menariknya dekat-dekat dengan tubuhnya.

Sepasang mata itu saling melekat, saling menyelami sedalam-dalamnya,seperti hendak saling menjenguk isi hati masing-masing.

"Nimas.... aku berterima kasih untuk pukulanmu ini....... kalau tidak begitu agaknya kita akan terus saling bermusuhan. Sulastri, betapa bodohnya aku selama ini. Aku selalu memikirkan diri sendiri, memikirkan kerajaan dan lain-lain yang sama sekali tidak ada artinya dibandingkan engkau. Semenjak engkau kukenal sebagai Bromatmojo engkau telah menjadi sebagian dari hidupku. Begitu Bromatmojo pergi dari sampingku, hidup terasa sunyi kosong tak berarti. Aku telah jatuh cinta semenjak aku mengenalmu sebagai Bromatmojo, Diajeng Sulastri! Hanya, tentu saja perasan itu terkekang dan terbentur oleh kenyataan bahwa engkau tadinya kusangka seorang pria. Kini ternyata engkau seorang wanita dan memang cinta kasih dan perasaan hatiku lebih awas daripada aku yang bodoh dan seperti buta."

"Dan engkau.... engkau memarahkan hatiku karena engkau memandang rendah wanita."

"Dan engkau juga memanaskan hatiku dengan bersikap ceriwis dan mata keranjang terhadap wanita yang kita jumpai."

"Kusengaja untuk menggodamu..... kau yang bersikap sebagai seorang pria yang tidak suka jatuh cinta kepada wanita......"

"Kemudian engkau cemburu terhadap Roro Kartiko!"

"Dan karena itu aku sengaja menjatuhkan hatinya, agar dia....jangan sampai jatuh cinta kepadamu, karena.... semenjak kita bertemu, Kakang, aku...... tidak ingin ada wanita lain yang kau cinta, kecuali aku....."

"Sulasri.....!"

Mereka berangkulan dan ketika Sutejo menciumnya, berjatuhanlah pisang dan kelapa itu dari kedua tangan Sulastri.

Mereka tidak peduli, karena kini kedua tanganya merangkul leher pemuda yang sejak dahulu dicintainya itu.

Mereka lupa akan segala sesuatu, seperti diayun ke sorgaloka.

Mereka saling mendekap, saling mencium dan saling membelai, sampai sesak napas mereka berciuman, seolah-olah tidak ingin lepas kembali.

Sulastri tertawa kecil ketika Sutejo memondongnya, lalu berputaran seperti seorang anak kecil yang memperoleh mainan baru, kemudian pemuda itu jatuh terduduk di atas rumput bersama Sulastri yang dipangkunya.

Sulastri tertawa,lalu meloncat bangun dan berlari.

Sutejo juga tertawa dan mengejarnya.

Mereka berkejaran di dalam hutan itu sampai bercucuran peluh mereka, kemudian Sulastri membiarkan dirinya berpegang dan mereka berdua kembali jatuh bergumul di atas rumput.

"Lihat keringatmu....!"

Sutejo berbisik dan mengusap keringat Sulastri dari leher dan dahinya.

"Engkau juga, Kakang,"

Bisik Sulastri.

Mereka saling mengusap keringat masing-masing,dan tak lama kemudian Sutejo duduk bersandar pohon dan merasa amat berbahagia memandang wajah dara yang amat cantik manis dan yang kini rebah di atas pangkuannya itu.

Dia mengelus rambut sinom yang melingkar di depan dahi Sulastri,membungkuk dan mencium sepasang alis yang hitam melengkung indah itu.

Sulastri memejamkan matanya, dadanya berombak penuh kebahagiaan.

"Sulastri darimana engkau memperolah pakaian wanita ini?"

Tanya Sutejo dan kedua tangan mereka saling berpegangan, dua puluh buah jari tangan itu saling melingkar seperti bergelut.

"Semenjak berada di Lumajang, aku selalu membawa pakaian wanita, Kakang. Mereka semua sudah tahu bahwa aku wanita. Hanya engkau seorang yang belum tahu, akan tetapi ketika tadi aku mendengar kenyataan bahwa kau pun sudah tahu, aku cepat berganti pakaian."

"Mengapa?"

Sutejo mengelus rambut yang hitam panjang halus itu.

"Karena sejak dahulu, sejak kita bertemu, betapa besar keinginanku untuk muncul di depanmu sebagai seorang wanita, Kakang."

"Ahhh, dan engkau begini cantik jelita, begini ayu dan manis merak ati, begini kewes dan luwes....engkau seperti Dewi Komaratih......"

Sutejo mencium mulut yang terbuka kegirangan mendengar pujian itu.

Sulastri menyambut ciuman itu sepenuh hatinya dan kembali mereka tenggelam di dalam alam asyik masyuk.

Kini Sulastri yang duduk bersandar pohon dan Sutejo rebah dengan kepalanya di atas pangkuan kekasihnya.

Jari-jari tangan Sulastri yang lentik memijat-mijat leher yang dipukulnya tadi, penuh kasih sayang.

"Kakang, aku tidak mau berpisah lagi darimu."

"Jangan khawatir, aku pun tidak sudi meninggalkan engkau seorang diri, Dewiku. Sampai mati kita tidak akan saling bepisah lagi."

"Dan bagaimana dengan Mojopahit?"

Sulastri bertanya, alisnya berkerut khawatir.

"Ha-ha, kita telah bersikap bodoh. Apa peduli dengan Mojopahit atau Lumajang? Apa peduli dengan semua orang lain? Yang terpenting adalah kita berdua, Dewiku."

"Akan tetapi, Kakang......."

Sutejo bangkit dan mereka duduk berhadapan.

"Ada apakah, Diajeng?"

"Kita lalu akan ke mana?"

"Ke mana pun yang kau kehendaki, aku menurut, Sulastri. Akan tetapi sebaiknya kalau kita berdua membebaskan diri dari ikatan mereka agar tidak terjadi lagi kesalahpahaman. Mari kita pergi saja, yang jauh....."

"Tidak mungkin, Kakang Sutejo. Kita harus menolong mereka."

"Siapa?"

"Joko Handoko dan Roro Kartiko."

"Mereka telah diculik oleh Murwendo dan Murwanti, dua orang kembar dari Puger itu."

Sulastri lalu menceritakan tentang pengalamannya ketika dia dan dua orang muda dari tuban bersama para anggota Sriti Kencana dikurung kemudian ditangkap oleh Pasukan Puger di bawah pimpinan Murwendo dan Murwanti.

Setelah mendengar penuturan itu, dengan alis berkerut Sutejo berkata.

"Sulastri, Dewiku, pujaan hatiku, sudahlah mari kita berdua jangan melibatkan diri dengan urusan orang lain. Mari kita berdua pergi dari sini dan menjauhkan diri dari semua urusan, Hidup berbahagia berdua saja, jauh dari semua keributan dan urusan,sayang."

Sulastri memandang wajah kekasihnya yang gagah dan tampan, yang amat dicintainya itu, dengan alis berkerut dan pandang mata aneh.

"Ah, Kakang Sutejo, apa yang telah terjadi denganmu? Mana jiwa satriamu dan mana watak gagahmu yang amat kukagumi itu? Tidak mungkin kita mebiarkan mereka tertawan dan terancam. Pula, tidaklah mungkin kita berdua menyendiri saja. Selama kita masih hidup, tentu kita akan berhubungan dengan orang lain dan tentu akan timbul persoalan, Kakang. Dan kalau timbul persoalan, tentu kita akan menghadapinya sebagai orang-orang yang berjiwa satria. Sekarang melihat Joko Handoko dan Roro Kartiko tertawan oleh orang-orang Puger, bagaimana kita dapat tinggal berpeluk tangan saja?"

"Sulastri aku takut..... aku khawatir untuk kembali kepada waktu lampau, kepada hal-hal yang lalu. Mari kita tinggalkan ini semua dan mulai hidup baru, susana baru dan....."

"Sulastri...... ahh, Sulastri....!"

Dua orang itu terkejut dan cepat menoleh.

Sutejo sudah meloncat bangun diikuti oleh Sulastri.

Muka Sutejo pucat sekali karena kaget, apalagi ketika dia mengenal siapa yang datang itu.

Akan tetapi Sulastri cepat lari menghampiri orang yang datang dan memanggilnya itu.

"Bukankah Andika.... Kakang cantrik dari Bromo....?"

Sulastri bertanya dan memandang laki-laki setengah tua yang bertubuh kurus itu. Orang itu mengangguk-angguk, akan tetapi matanya terbelalak memandang kepada Sutejo.

"Ada apakah Kakang Cantrik? Bagaimana Andika dapat tiba di tempat ini?"

"Aku sengaja mencarimu, Sulastri. Dengan susah payah aku mencarimu. Sebetulnya kami berdua yang mencarimu dan kami berpencar setelah tiba di Lumajang. Syukur bahwa aku dapat bertemu danganmu di sini Sulastri."

"Apa yang terjadi?"

Sulastri memandang dengan jantung berdebar, perasaan hatinya tidak enak melihat wajah cantrik itu dan melihat betapa cantrik itu memandang kepada Sutejo dengan sinar mata penuh kebencian!

"Terjadi hal yang amat hebat, Sulastri.

Guru kita, Eyang Supamandrangi, beberapa pekan yang lalu ini telah dibunuh orang!"

"Ehhh.......!!"

Sulastri menjerit dan memegang lengan cantrik itu.

"Eyang......dibunuh orang? Siapa? Mengapa?"

"Mau tahu siapa yang membunuh? Dia itulah seorang di antaranya! Dan mengapa? Tanya saja kepada kaki tangan Resi Mahapati itu! Orang Mojopahit sungguh kejam!"

Cantrik itu menudingkan telunjuknya kepada Sutejo dengan wajah pucat.

"Hemm, harap jangan menuduh yang tidak-tidak, Kisanak!"

Sutejo berkata tenang namun mukanya juga menjadi pucat dan dia memandang kepada Sulastri dengan wajah penuh kegelisahan.

"Menuduh yang tidak-tidak? Sutejo, beranikah engkau menyangkal? Siapa yang datang bersama Resi Harimurti ke pertapaan puncak Bromo? Hayo jawab, bukankah Andika yang datang bersama dia?"

Tanya cantrik itu sambil telunjuknya masih menuding, dipandang oleh Sulastri dengan wajah pucat sekali.

"Benar, sayalah orangnya,"

Jawab Sutejo tenang namun jantungnya berdebar penuh kekhawatiran.

"Kemudian Andika dan Resi Harimurti memaksa Eyang Supamandrangi untuk membuatkan Kolonadah palsu. Bukankah begitu?"

"Tidak memaksa, tapi...."

"Tidak memaksa? Kalau tidak dipaksa, mana mungkin Eyang Empu sudi membuatkan keris pusaka palsu? Kalian memaksa, bahkan ketika Eyang Empu Supamandrangi mengeluarkan tosan aji untuk ditekuk, Resi Harimurti tidak kuat menekuknya. Akan tetapi, Andika yang turun tangan menekuknya sehingga terpaksa Eyang Empu membuatkan keris Kolonadah palsu. Hayo jawab, tidakkah begitu?"

"Benar, saya yang menekuk tosan aji itu, akan tetapi Eyang Empu Supamandrangi tidak terbunuh, melainkan membunuh diri...."

Biarpun mulutnya berkata demikian, namun sebenarnya di dalam hatinya dia masih curiga dan ragu-ragu untuk menerima kenyataan itu.

"Membunuh diri? Eyang membunuh diri?"

Sulastri menjerit, sedikit pun tidak peraya.

"Nah, siapa bisa percaya, Sulastri? Kami pun tidak percaya. Eyang adalah seorang manusia yang arif bijaksana, seorang pertapa yang sudah mencapai tingkat tertinggi, mana mungkin melakukan perbuatan rendah itu? Dia dibunuh! Ini sudah pasti, andaikata benar membunuh diri pun, kalianlah orang-orang Mojopahit yang menjadi pendorongnya! Kalian pura-pura tidak tahu, pura-pura berduka, orang-orang khianat dan jahat! Cantrik itu makin marah dan cepat dia menerjang dan menyerang Sutejo dengan keris terhunus. Akan tetapi dalam beberapa gebrakan saja, tubuh cantrik yang kurus itu terlempar dan kerisnya pun terlepas dari tangannya.

"Sutejo manusia keji!"

Tiba-tiba Sulastri menerjang dengan pukulan hebat ke arah Sutejo.

"Duk!"

Sutejo menangkis dengan keras sekali.

"Diajeng....! Nanti dulu, jangan...!"

Akan tetapi semua ucapannya percuma saja karena Sulastri sudah menyerangnya dengan ganas dan dahsyat sekali, menyerangnya sambil menangis.

"Tidak..... tidak, Nimas, tidak....! Aku tidak membunuhnya. Demi para Dewata aku tidak......."

"Cukup!"

Sulastri membentak dan memandang dengan mata merah.

"Siapa percaya kepada sumpahmu? Kalau benar engkau bersih, mengapa tadi engkau sama sekali tidak menceritakan tentang hal itu? Engkau mendatangi Eyang, memaksa membuat keris, sampai Eyang terbunuh...... hu-huk, engkau harus mati di tanganku, Sutejo!"

Dan kembali Sulastri menyerang sambil menangis.

"Sulastri..... aduh, Sulastri, aku cinta padamu..... lupakah engkau Nimas? Kita saling mencinta...."

"Cintamu palsu, sepalsu hatimu! Engkau tidak menceritakan peristiwa itu kepadaku,hal itu cukup menujukkan kepalsuanmu!"

Sulastri menyerang lagi dan ketika Sutejo menangkis, pemuda ini terhuyung ke belakang karena lehernya masih terasa nyeri dan tangannya belum pulih kembali.

"Aku.... aku... takut kalau hal itu mengganggu...."

Sutejo menghentikan kata-katanya karena merasa bahwa ucapannya itu salah dan tidak akan memperbaiki keadaan, dan kembali dia mengelak.

Kini Sulastri tidak mau mendengarkan lagi, terus menyerang dan semua ucapan Sutejo tidak didengarnya lagi.

"Plak....brukkk....!"

Sutejo terpelanting dan cepat pemuda ini menggulingkan dirinya karena Sulastri sudah menyusulnya dengan tendangan maut.

Maklumlah dia bahwa Sulastri marah sekali dan sungguh-sungguh hendak membunuhnya, maka dia merasa jantungnya seperti ditusuk-tusuk rasanya.

"Aduh, Sulastri....teganya engkau kepadaku....?"

Dia merintih dan meloncat sambil mengelak lagi.

"Tega? Siapa yang tega dan kejam? Engkau laki-laki palsu!"

Sulastri menerjang lagi dan kini Sutejo melompat jauh dan melarikan diri karena dia maklum bahwa kalu dia melanjutkan bertahan seperti itu, akhirnya dia akan terbunuh dan untuk melawan sungguh-sungguh, selain dia tidak mau, juga dalam keadaan masih terluka itu dia tidak akan menang melawan Sulastri.

Pula, dia tidak merasa bersalah,tidak merasa membunuh Empu Supamandrangi dan kemarahan Sulastri itu hanya karena salah sangka belaka.

Maka dia tidak ingin terbunuh, sekarang setelah dia tahu bahwa dia dan Sulastri saling mencintai, juga dia tidak ingin melihat Sulastri menjadi pembunuh.

Biar pun hatinya terasa hancur, Sutejo cepat melarikan diri.

Sulastri yang sejak tadi menahan-nahan hatinya dan menyerang dengan air mata bercucuran, tidak mengejar, melainkan menjatuhkan diri di atas rumput sambil menangis terisak-isak.

Cantrik itu menghampirinya dan berkata.

"Tidak perlu ditangisi lagi, Sulastri, kelak kita masih akan dapat membalas kamatian Sang Empu dan mencari Sutejo dan Resi Harimurti."

Mendengar suara cantrik itu, Sulastri terkejut, meloncat bangun dan menghadapi cantrik dengan mata bersinar-sinar penuh kemarahan.

"Mengapa kau datang? Mengapa kau ke sini!!"

Cantrik itu terkejut melihat mata yang terbelalak dan bercucuran air mata itu.

"Aku....aku.... eh, kau kenapa. Sulastri?"

Tanyanya bingung dan gagap. Sulastri teringat bahwa sikapnya amat tidak sepatutnya, maka dia lalu menundukkan mukanya dan berkata.

"Kakang Cantrik, kau kembalilah ke Bromo. Biarkan aku sendiri, aku yang kelak membalaskan kematian Eyang Empu Supamandrangi, Pergilah...."

"Akan tetapi biar aku membantumu, Sulastri...."

"Tidak! Pergilah, lekas pergi jangan sampai aku menjadi marah!"

Tentu saja cantrik itu menjadi makin terheran-heran, dan sambil mengangguk-angguk dan bersungut-sungut pergilah dia meninggalkan gadis itu yang masih berdiri seperti patung.

Setelah cantrik itu pergi, Sulastri mengambil buntalan pakaiannya dan sambil terisak-isak dia pun pergi dengan cepatnya dari tempat itu, menuju ke selatan karena dia mengambil keputusan untuk mencari dan menolong Joko Handoko dan Roro Kartiko.

Kalau dia teringat kepada Sutejo, teringat akan pengalamannya yang mesra dan penuh madu asmara bersama Sutejo di dalam hutan itu, hampir dia tidak kuat melangkahkan kaki dan ada dorongan kuat agar dia lari kembali mencari Sutejo.

Namun dia mengeraskan hatinya.

Jelas bahwa Sutejo bukanlah orang yang jujur, dan telah menjadi manusia jahat, kaki tangan Resi Mahapati yang tidak segan-segan membunuh Empu Supamandrangi untuk memaksa Empu itu membuatkan Kolonadah yang palsu.

Dan itu masih belum hebat, yang amat menyakitkan hatinya lagi adalah bahwa setelah ikut membunuh atau menyebabkan kematian Empu Supamandrangi, Sutejo masih begitu tak tahu malu untuk membujuk rayu dia,bermain cinta dengan dia tanpa memberitahukan tentang keadaan Empu Supamandrangi yang telah dibunuhnya!

Inilah yang amat menyakitkan hatinya, rasa sakit hati yang memaksa dia melupakan cintanya terhadap Sutejo.

Jelaslah bahwa sakit hati, dendam dan kemarahan tidak mungkin dapat bergandeng tangan dengan cinta kasih!

Sakit hati dan dendam hanya mendatangkan kebencian dan di mana terdapat kebencian, tidak mungkin ada cinta kasih.

Cinta kasih bukanlah kebalikan daripada kebencian.

Cinta kasih adalah cahaya yang bersinar-sinar,akan tetapi tentu saja cahaya cinta tidak dapat menerangi batin yang penuh dengan debu dan kotoran berupa sakit hati, dendam, dan kebencian.

Dan kebencian hanya akan mendatangkan derita dan kesengsaraan kepada batin sendiri!

Bagi orang yang membenci, sudahlah jelas bahwa yang pertama kali menderita adalah dirinya sendiri.

Setelah melihat kenyataan yang jelas ini, bahwa kebencian hanya mendatangkan deritadan kesengsaraan bagi diri sendiri, begitu bodohkah kita untuk melanjutkan kebencian yang merusak batin sendiri itu?

Sayang bahwa Suastri belum melihat kanyataan itu, kebencianlah yang menjadi akibat sakit hati dan dendamnya, kebencian yang dipaksakan menutupi rasa cintanya, dan mulailah dara ini memasuki kehidupan penuh derita dan kesengsaraan batin ketika dia berlari-lari keluar masuk hutan sambil kadang-kadang menangis itu.

Peristiwa yang terjadi di dalam hutan itu, yang mengahancurkan kebahagiaan Sulastri, membuat dara itu seperti orang gila berlari-larian menyusup-nyusup hutan sambil menangis, ternyata juga mendatangkan akibat yang amat hebat bagi Sutejo.

Pemuda ini semenjak berpisah dari Bromatmojo yang meninggalkanya di mojopahit, telah mulai merasa kehilangan kegembiraan hidupnya yang didapatkannya semenjak dia bersahabat dengan Bromatmojo.

Kemudian, terjadi pergolakan dan konflik di dalam batinnya ketika dia melihat mbakayunya menjadi selir seorang seperti Resi Mahapati yang sebetulnya tidak disukainya.

Akan tetapi oleh bujukan mbakayunya, satu-satunya orang yang dicintainya dan menjadi keluarganya, juga melihat kenyataan bahwa Mahapati setia kepada Mojopahit, maka Sutejo mengeraskan dan memaksa hatinya untuk membantu Mahapati.

Ketika dia mendengar bahwa Bromatmojo adalah seorang gadis, seketika dia sudah jatuh hati dan tahulah dia bahwa sesungguhnya dia jatuh cinta kepada Bromatmojo yang ternyata seorang gadis itu!

Mulailah dia merasa bimbang dan berduka teringat bahwa Bromatmojo dan dia berpisah bukan sebagai sahabat.

Ketika melihat kesempatan untuk mencari Bromatmojo, maka dia pun bersedia menemani Resi Harimurti mendatangi Empu Supamandrangi di puncak Bromo.

Akan tetapi sungguh di luar persangkaannya bahwa pertemuan itu berakhir dengan kematian Sang Empu yang masih meragukan hatinya.

Dia curiga bahwa Harimurti yang membunuh Empu itu, akan tetapi karena tidak ada bukti, dia pun tidak dapat berbuat apa-apa.

Kemudian, pertemuannya dengan Bromatmojo yang disambung dengan perkelahian,kemudian dilanjutkan dengan pertemuan asyik masyuk yang dilanjutkan dengan pernyataan saling cinta yang penuh kemesraan antara dia dan Sulastri!

Kebahagiaan yang berlimpah-limpah ini membuat Sutejo tidak ingin kembali lagi kepada hal-hal yang lalu, tidak ingin kembali ke Mojopahit, tidak ingin menghadapi urusan kerajaan dan dia tadinya ingin mengajak Sulastri pergi jauh,hidup baru dan tidak mengingat lagi hal-hal yang lampau.

Akan tetapi, dia terlambat ketika muncul cantrik Gunung Bromo dengan ceritanya tentang kematian Empu Supamandrangi sehingga membuat Sulastri marah-marah dan menuduh dia sebagai seorang di antara pembunuh-pembunuh Empu Supamandrangi.

"Aduh, Sulastri....!"

Sutejo menjatuhkan dirinya di atas rumput di mana tadi dia dan Sulastri saling menumpahkan perasaan cinta kasih yang bergelora.

Dia tidak menyalahkan Sulastri, tidak pula menyalahkan cantrik.

Dia menyesali diri sendiri mengapa dia mendengarkan bujukan Resi Mahapati dan mbakayunya.

(Lanjut ke

Jilid 26) Kemelut Di Majapahit (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 26

"Sulastri......ah, aku telah menghancurkan hatimu, Sulastri....."

Sutejo mengeluh dan dia memeluk batang pohon yang tadi menjadi sandaran dara itu ketika Sulastri duduk dan memangku kepalanya.

Membayangkan kemesraan yang terjadi antara dia dan Sulastri tadi, Sutejo tidak dapat menahan keluarnya air matanya.

Dia terguling dan lehenya yang masih nyeri itu menipa akar pohon.

Sutejo rebah dalam keadaan setengah pingsan dan seperti mengigau menyebut-nyebut nama Sulastri!

Tadi, dia tidak lari jauh.

Hatinya tidak dapat bertahan untuk meninggalkan Sulastri, maka setelah dia mendapat kenyataan bahwa Sulastri tidak mengejarnya,dia berhenti dan tak lama kemudian, berindap-indap dia kembali ke tempat tadi dengan penuh harapan mudah-mudahan kemarahan Sulastri sudah mereda.

Akan tetapi,ketika tiba di situ, dia hanya mendapatkan tempat sunyi dan kosong.

Sulastri telah pergi, cantrik itu pun tidak kelihatan lagi, yang ada hanya bekas-bekas rumput rebah di mana dia tadi memangku dan dipangku Sulastri!

Akibat pukulan Hasto Nogo dari Sulastri yang mengenai pangkal lehernya memang belum sembuh benar dan kini ditambah dengan himpitan batin yang amat hebat, maka tidaklah mengherankan kalau Sutejo tak dapat bangun lagi dan terserang demam yang cukup hebat, membuat dia mengingau sepanjang malam!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, dua orang nampak memasuki hutan itu dan bercakap-cakap.

Suara dua orang ini amat berbeda, seperti suara burung nuri dan burung gagak, yang satu halus merdu dan yang satu lagi parau dan kasar seperti gerengan harimau.

Suara dua orang itu makin mendekati tempat Sutejo rebah dalam keadaan tidak sadar dan gelisah itu "Kakang Bandu, aku lapar sekali, Kakang."

Terdengar suara yang halus itu merengek dan seperti suara wanita yang manja dan bersikap kekanak-kanakan.

"Hemmm, di dalam hutan dan sepagi ini, mana mungkin mencari makanan, Sari?"

Terdengar suara parau besar itu menjawab.

"Ahhh, Kakang Bandupati, perutku lapar sekali, kakiku gemetar. Sejak kemarin siang kita tidak makan dan aku ingin sekali sarapan. Kalau belum sarapan aku tidak mau melanjutkan, Kakang. Biar aku tinggal di sini dan mati kelaparan di sini."

Suara halus itu merengek makin manja.

"Wah-waaahhh.......jangan kau rewel lagi, Sariwuni. Marilah kita maju sedikit lagi. Aku tadi mendengar suara kokok ayam hutan di depan. Kalau tidak ada buah-buahan di depan biar kutangkapkan ayam hutan dan kupanggang dagingnya untukmu. Adikku yang manis."

"Benarkah, Kakang? Aku sudah lapar sekali, kakiku lemas hampir tidak kuat melangkah."

"Kalau begitu, mari kugendong kau, Sari."

"Ah, tidak mau. Malu kalau kelihatan orang!"

"Hemm, di hutan sunyi begini mana ada orang!"

"Biar pun begitu aku tidak mau digendong, aku bukan anak kecil, Kakang. Kalau memang di depan ada ayam hutan, mari kita maju lagi."

Mereka kini sudah dekat sekali dengan tempat Sutejo rebah.

Ternyata mereka adalah dua orang yang seperti juga suaranya, orangnya pun jauh berbeda.

Yang seorang adalah wanita muda, dara yang usianya tidak akan lebih dari sembilan belas tahun, wajahnya cantik dan kemerahan karena kelelahan, sepasang matanya tajam bersinar-sinar namun kadang-kadang mengandung kelembutan, dihias sepasang alis yang hitam kecil melengkung seperti dilukis, hidungnya kecil mancung dan mulutnya amat manis dengan bibir merah yang kelihatan seperti merajuk atau setengah mengejek terus, akan tetapi justeru di situlah terletak daya tariknya yang luar biasa, membuat wajah itu kelihatan menggemaskan yang mendatangkan rasa sayang, membuat orang gemas ingin mencubit, mencium!

Tubuhnya agak kecil, pinggang tawon kemit, agaknya empat jari tangan kedua tangan seorang pria normal akan dapat melingkari pinggang itu.

Karena pinggang yang kecil inilah maka pinggulnya kelihatan besar dan penuh, menonjol dan padat.

Orang ke dua adalah seorang laki-laki yang tubuhnya tinggi besar, seperti raksasa, atau lebih pantas seperti Brotoseno atau Werkudoro, tinggi besar namun tegap dan gagah, wajahnya dihias kumis dan jenggot yang tumbuhnya bagus sehingga biar pun dia tinggi besar, namun dia kelihatan gagah dan tampan.

Seperti juga wanita itu, laki-laki tinggi besar ini memiliki sepasang mata yang amat tajam bersinar-sinar, namun agak liar memandang ke sana-sini, dan kadang-kadang mengandung sinar yang kejam dan ganas.

Siapakah dua orang ini?

Yang wanita demikian cantik manis seperti puteri keraton,akan tetapi yang laki-laki biar pun gagah perkasa dan tampan, begitu tinggi besar dan kasar seperti seorang raksasa.

Mereka ini, seperti dapat diketahui dari percakapan mereka, adalah kakak beradik.

Mereka bukanlah orang dusun atau orang gunung biasa saja, apalagi dari pakaian mereka pun dapat diketahui bahwa mereka adalah orang-orang yang kaya dan memiliki pakaian yang serba indah dengan hiasan kaki tangan dari emas permata.

Dan sesungguhnyalah, mereka bukanlah orang-orang biasa saja, melainkan putera dan puteri dari majikan atau kepala, juga boleh dinamakan raja kecil, dari Pulau Nusabarung yang terkenal di Laut Selatan.

Atau mereka yang mengangkat diri sendiri sebagai raja kecil atau adipati, terkenal dengan nama sebutan Adipati Menak Dibyo, seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun yang bertubuh raksasa, brewok dan sakti mandraguna, seorang yang selain ahli dalam olah yuda, juga digdaya dan mahir pula bermain di dalam air samudra seperti seekor ikan saja.

Adipati Menak Dibyo mempunyai seorang permaisuri dan beberapa orang selir yang cantik-cantik, namun dia hanya mempunyai dua orang anak, yaitu Bandupati yang lahir dari permaisurinya dan Sariwuni yang lahir dari seorang selir.

Dua orang kakak beradik yang berada di hutan itu adalah Bandupati dan Sariwuni.

Bandupati berusia dua puluh enam tahun, sedangkan Sariwuni baru berusia sembilan belas tahun.

Mungkin karena dia wanita, dan merupakan puteri tunggal, juga anak bungsu, maka terhadap orang tua dan juga terhadap kakaknya, Sariwuni bersikap luar biasa manjanya.

Dia memang disayang oleh Adipati Menak Dibyo, bahkan permaisuri Sang Adipati yang hanya mempunyai seorang putera seperti ayahnya, tinggi besar dan kasar, amat menyayang Sariwuni yang cantik jelita, kenes dan lincah jenaka itu.

Tentu saja Bandupati yang hanya mempunyai satu-satunya saudara, amatlah sayangnya kepada adiknya ini dan sejak kecil, apa pun yang diminta oleh Sariwuni selalu dituruti belaka oleh Bandupati.

Demikianlah pada suatu hari, kurang lebih sebulan yang lalu, ketika kakak beradik itu seperti biasa sedang berperahu di sekitar Pulau Nusabarung, melihat para nelayang yang mencari ikan, timbul keinginan di hati Sariwuni untuk pergi merantau ke daratan Nusa Jawa yang nampak melintang panjang dan amat luasnya di sebelah utara itu.

"Jangang, Sari. Berbahaya sekali di sana. Banyak orang-orang sakti dan banyak pula orang jahat. Ayahnya selalu melarang kita untuk pergi ke daratan besar di sana."

"Akan tetapi, sejak kecil aku ingin sekali ke sana, Kakang. Sudah banyak dongeng-dongeng kudengar tentang kebesaran dan kehebatan Nusa Jawa, akan tetapi sampai sekarang belum juga aku melihatnya."

"Berbahaya sekali, Adikku."

"Aku tidak takut, Kakang! Apakah engkau takut? Kalau begitu apa perlunya sejak kecil kita digembleng oleh Ayah mempelajari segala macam aji kesaktian kalau kita hanya menjadi orang-orang penakut?"

"Aku tidak takut, hanya tidak berani, karena Ayah tentu melarangnya dan akan memarahi kita, Sari."

"Kalau begitu, jangan bilang-bilang kepada Ayah. Kita pergi dan setelah kita melihat-lihat sampai puas di sana, kita kembali lagi. Kita tidak mempunyai niat buruk, apa perlunya takut? Nanti kalau sudah kembali dan Ayah marah, biarlah Beliau marah kepadaku, aku yang bertanggung jawab!"

Mula-mula Bandupati tidak mau, akan tetapi setelah setiap hari ditangisi dan dibujuk-bujuk, bahkan adiknya itu merajuk dan mengatakan hendak pergi sendiri dan tidak akan sudi lagi bicara dengan Bandupati, terpaksa Bandupati memenuhi permintaan adiknya.

Demikianlah, mereka berkemas dan membawa bekal secukupnya,kemudian mereka naik perahu meninggalkan Nusabarung pergi ke utara mendarat di pantai yang sunyi, menyembunyikan perahu mereka lalu mulailah mereka melakukan perjalanan ke utara.

Keadaan di sepanjang perjalanan mengecewakan hati Sariwuni,karena ternyata penuh dengan gunung dan hutan, sedangkan dusun-dusunnya kecil dan miskin, tidak ada bedanya dengan Nusabarung, bahkan tempat tinggalnya itu lebih bagus, rumah-rumahnya lebih besar.

Maka dia merengek lagi dan mengajak kakaknya itu pergi ke Mojopahit karena dia banyak mendengar dongeng tentang Mojopahit yang katanya amat besar dan menakjubkan.

Terpaksa Bandupati menuruti permintaan adiknya dan pada pagi hari itu sampailah mereka di dalam hutan di tapal batas antara Lumajang dan Mojopahit.

Ketika mereka berdua melangkah menyusup di antara semak-semak belukar di dalam hutan itu, dengan rengekan Sariwuni yang bersambat lapar dan lelah, tiba-tiba mereka mendengar suara orang merintih atau mengeluh.

"Eh, Kakang ada orang di depan....."

Bisik Sariwuni.

"Ssssttt......!"

Bandupati yang selalu berhati-hati karena dia sudah mendengar betapa banyaknya orang sakti di daerah Mojopahit, memberi isyarat kepada adiknya agara tidak mengeluarkan suara.

Mereka lalu berindap-indap menghampiri arah suara tadi mendatang.

Akhirnya mereka tiba di tempat di mana Sutejo masih rebah dengan gelisah, mengeluh dan dalam keadaan setengah sadar setengah tidak.

Melihat itu, Bandupati memberi isyarat kepada adiknya untuk tinggal bersembunyi di balik semak-semak dan dia sendiri lalu berindap menghampiri.

Sejenak dia melihat pemuda tampan yang mengeluh dengan mata terpejam itu, lalu di menyentuh pundak Sutejo sambil betanya.

"Kisanak, apakah yang terjadi denganmu? Apakah Andika sakit?"

Sutejo miringkan tubuhnya dan membuka matanya.

Dalam keadaan setengah sadar, dia melihat seraut wajah yang menyeramkan dan sama sekali asing baginya, maka dia lalu mengeluarkan teriakan keras dan tiba-tiba tubuhnya mencelat ke atas dan langsung dia menghantam ke arah laki-laki tinggi besar seperti raksasa itu.

"Ehhhh.....!"

Bandupati terkejut bukan main melihat pemuda itu tiba-tiba meloncat dengan amat cepat dan sigap dan menyerangnya, apalagi ketika dia merasa betapa pukulan tangan pemuda itu didahului oleh angin yang berdesir tajam sekali.

Cepat dia mengangkat lengannya menangkis.

"Desss.....!"

Tubuh Bandupati terpelanting jatuh bergulingan oleh pertemuan tenaga sakti yang dahsyat melalui kedua tangan itu.

Melihat ini, Sariwuni depat meloncat untuk membantu kakaknya.

Akan tetapi begitu Sutejo melihat munculnya Sariwuni, pemuda ini lalu menjadi lemas tubuhnya,menjatuhkan dirinya berlutut dan dengan sikap memelas dan suara penuh permohonan dia berkata.

"Sulastri, pujaanku.......kau ampunilah aku, Sulastri.....!"

Tentu saja Sariwuni menjadi terheran-heran, terbelalak memandang dan menghentikan langkahnya.

Dia melihat betapa pemuda tampan itu mengulurkan kedua tangan kepadanya, seperti akan memeluknya, dengan mata memandang penuh kasih sayang, penuh kemesraan, penuh harapan dan kedukaan.

"Sulastri.... aku bersalah.......ampunilah aku......"

Kata pula Sutejo seperti orang yang hilang ingatan.

Pada saat itu, Bandupati yang sudah bangkit dan menghampiri Sutejo dari belakang,cepat menggerakkan tangannya, memukul dengan tangan miring ke arah tengkuk Sutejo.

Pemuda ini sedang terpesona oleh Sariwuni yang dalam pandangan matanya adalah Sulastri, maka dia sama sekali tidak mengelak maupun menangkis.

"Dukkk!"

Pukulan itu tepat mengenai tengkuknya dan Sutejo terguling roboh.

"Jangan, Kakang! Jangan bunuh dia!"

Sariwuni cepat berteriak ketika dia melihat kakaknya sudah hendak menghantam lagi ke arah tubuh yang sudah rebah pingsan itu. Bandupati menahan tangannya dan memandang kepada adiknya dengan heran.

"Sari, dia berbahaya sekali. Kalau dia siuman, belum tentu kita akan dapat menandinginya. Serangannya tadi hebat bukan main, hampir tidak kuat aku menangkisnya."

Bandupati memandang kepada tubuh yang tidak bergerak itu.

"Lihat pukulanku yang hebat tadi pun hanya membuat dia pingsan, padahal jarang ada orang di dunia ini yang dapat menahannya, pukulanku tadi adalah pukulan maut. Sari, dia inilah satu di antara orang-orang sakti mandraguna seperti yang kita dengar dari dongeng. Banyak orang sakti seperti dia di Mojopahit. Sebaiknya dia dibunuh selagi pingsan....."

"Jangan, Kakang. Jangan, aku". entah mengapa, aku suka padanya. Dan kurasa aku dapat menguasainya. Tidakkah engkau melihat betapa dia tadi berlutut kepadaku dan memandangku dengan penuh kasih sayang?"

"Dia belum pernah mengenal kita. Sikapnya terhadapmu tadi menandakan bahwa dia telah kehilangan ingatannya."

"Justeru karena itulah maka aku akan dapat menguasainya, Kakang. Dia menganggap aku sebagai seorang wanita bernama Sulastri yang agaknya amat dicintainya. Kakang, bukankah kita amat membutuhkan orang sakti mandraguna seperti dia? Kalau kita ajak dia ke Nusabarung dan kalau aku dapat menguasainya, bukankah berarti kita mempunyai seorang pembantu yang amat berguna? Ayah tentu akan senang pula memperolah seorang pembantu yang memiliki kesaktian seperti dia. Dan dengan menggunakan akar Lalijiwo yang tentu kau bawa pula sebagai bekal di antara obat dan racun lainnya, akan lebih mudah kita menguasainya, bukan?"

Bandupati mengerutkan alisnya, akan tetapi seperti biasa, dia tidak dapat menolak keinginan hati adiknya.

"Aku tahu, melihat betapa pemuda ini amat gagah dan tampan, tentu hatimu telah tercuri olehnya, bukan?"

"Ah, Kakang Bandupati.....! Kau...."

Wajah yang cantik itu menjadi merah dan dara itu tersenyum simpul.

"Betapa pun juga, ada benarnya dalam omonganmu tadi, Sari. Memang tentu saja tenaga seperti dia amat berguna bagi kita, bagi kekuasaan Ayah. Apalagi mengingat akan ancaman dari Kadipaten Puger terhadap kita yang selalu ada. Memang kata-katamu tadi benar, kita sebaiknya menguasai orang ini sebagai pembantu kita."

Bandupati lau cepat mengeluarkan bungkusan dan memilih obat bubuk berwana kuning.

Setelah Sariwuni mencarikan airnya, bubukan itu dicampur dengan air lalu dengan paksa mereka cekokkan (masukkan) dalam mulut Sutejo yang terpaksa menelannya dalam keadaan setengah sadar.

Ketika Sutejo siuman, dia membuka matanya dan mendaptkan dirinya rebah di atas rumput dan melihat wajah cantik itu berada di atasnya, sepasang mata yang bening itu memandangnya, dia berbisik.

"Diajeng Sulastri.....!"

"Kakangmas...."

Wanita itu tersenyum dan berkata mesra. Melihat ini, Sutejo menjadi girang sekali dan dia bangkit duduk, kepalanya agak pening dan wanita itu membantunya dan merangkul pundaknya.

"Diajeng, kau maafkan aku...?"

Tanyanya dengan suara gemetar. Wanita itu yang bukan lain adalah Sariwuni, tersenyum lebar dan mengangguk.

"Tentu saja, Kakangmas. Aku girang sekali melihat Kakangmas telah sembuh dan sadar kembali..."

Sutejo mengerutkan alisnya dan menggunakan kedua tangan untuk meraba-raba tengkuk dan kepalanya, lalu menggeleng-gelengkan kepala.

"Apa yang terjadi? Di mana aku? Kepalaku pening dan aku lupa segala...., Diajeng Sulastri, apa yang telah tejadi dengan aku? Aku hanya ingat bahwa aku telah bersalah kepadamu...."

"Sudahlah, Kakangmas. Aku tentu saja memaafkan segala kesalahanmu kepadaku. Engkau memang sakit dan aku merawatmu di sini. Apakah sekarang engkau ingin kembali? Ingatkah engkau siapa namamu, Kakangmas?"

Sutejo termenung, mengingat-ingat, lalu enggeleng kepala.

"Aku tidak ingat lagi,satu-satunya nama yang kuingat adalah namamu, Diajeng Sulastri......"

Sariwuni memandang dengan sinar mata tajam penuh selidik.

"Coba kau ingat-ingat benar, Kakangmas, masa engkau tidak dapat ingat namamu sendiri? Setidaknya, coba ingat akan nama seorang pria."

Kembali Sutejo termenung, kemudian tiba-tiba dia berseru.

"Ah, aku ingat nama pria. Bromatmojo....!"

"Itukah namamu?"

Sutejo memandang bodoh.

"Aku tidak tahu, tidak ingat lagi."

"Satu-satunya nama pria yang kau ingat hanya Bromatmojo?"

Dia mengangguk.

Sariwuni berpikir.

Dalam keadaan terpengaruh racun akar Lalijiwo, memang orang menjadi lupa segelanya, terhapus segala ingatannya, akan tetapi pemuda ini mengingat nama Bromatmojo.

Siapa lagi kalau bukan namanya sendiri?

Biasanya, nama sendiri yang paling dulu teringat atau yang sukar untuk terhapus dari ingatan.

"Memang itulah namamu, Kakangmas Bromatmojo!"

"Ahhh.....!"

Sutejo mengangguk girang, lalu memandang wajah Sariwuni.

"Diajeng, benar-benar kau memaafkan aku?"

Sariwuni mengangguk.

"Dan..... dan engkau masih cinta kepadaku, Diajeng Sulastri?"

Tiba-tiba sepasang pipi itu menjadi merah sekali, akan tetapi sambil tersenyum Sariwuni mengangguk pula. Sutejo lalu merangkul dan menarik tubuh dara itu ke dadanya.

"Diajeng....... betapa mulia hatimu, engkau sudi memaafkan aku dan bahkan masih mencintaiku. Hampir aku tidak dapat percaya karena aku berdosa besar kepadamu.........., maka harus kau buktikan bahwa engkau benar mencintaiku agar aku tidak ragu-ragu lagi, Diajeng...."

"Bukti? Bukti bagaimana....?"

Sariwuni agak menggigil dengan jantung berdebar ketika merasa betapa pemuda itu memeluk dan mendekapnya demikian mesra.

"Bukti ini....!"

Sutejo menunduk lalu mencium mulut Sariwuni dengan bibirnya, mencium dengan seluruh perasaan cintanya sehingga Sariwuni terkejut, gelagapan, akan tetapi akhirnya karena dia memang tertarik dan kagum sekali kepada pemuda itu, dia pun merasa bahagia sekali dan membalas ciuman Sutejo.

"Terima kasih, Diajeng.... engkau benar masih cinta kepadaku...."

Bisik Sutejo ketika bibir mereka saling berpisah.

Sariwuni gelagapan, terengah-engah dan jantungnya berdebar, dadanya bergelombang,sampai lama dia tidak mampu mengeluarkan kata-kata.

Akhirnya dia melepaskan diri perlahan, lalu memandang pemuda yang telah menciumnya itu, pemuda yang secara tiba-tiba menjadi kekasihnya, dan dia merasa bahwa dia benar-benar jatuh cinta kepada pemuda ini!

"Kakangmas Bromatmojo, coba katakan dosa apa yang Kau lakukan kepadaku."

Nada suaranya itu seperti orang menguji. Sutejo mengerutkan alis mengingat-ingat, akan tetapi dia lalu menggeleng kepala dan menarik napas panjang.

"Aku tidak ingat lagi, Diajeng, hanya aku tahu bahwa aku telah berdosa besar kepadamu."

Sariwuni tertawa manis.

"Kalau begitu, lebih baik dilupakan sama sekali saja. Engkau sudah tidak ada dosa apa pun kepadaku, Kakangmas. Kita saling mencinta,bukan? Nah, orang-orang yang saling mencinta tidak ada dosa satu sama kepada yang lain. Akan tetapi coba ingat, apakah engkau masih siapakah aku? Siapakah kekasihmu yang kau sebut Sulastri ini? Dari mana asalnya, anak siapa?"

Sutejo menatap wajah yang cantik itu dan dia makin kagum.

Wajah itu memang cantik sekali, kulit mukanya halus kemerahan, merah jambu yang amat mempesonakan, bibirnya merah, lebih merah daripada pipinya, sepasang matanya bersinar-sinar seperti sepasang bintang kejora.

Siapa lagi kalau bukan kekasihnya yang bernama Sulastri?

"Diajeng, jangan main-main!"

Kata Sutejo sambil merangkul dan mengecup bibir itu dan dia merasa betapa bibir itu bergerak menyambut ciumannya.

"Ehhh.....ahhh, nanti dulu, Kakangmas. Kau jawab dulu pertanyaanku tadi!"

Sariwuni menarik diri dan melepaskan rangkulannya dengan sikap manja, matanya bersinar-sinar penuh kebahagaiaan kerena memang baru pertama kali ini dia merasakan kegembiraan dan kebahagiaan yang membuat jantungnya berdebar tegang.

Baru pertama kali ini dia diciumi seorang pria sehebat itu, semesra itu!

"Diajeng, jangan kau menggodaku,"

Sutejo berkata lagi, jari-jari tangannya saling belit dengan jari tangan gadis itu dan jari-jari mereka terasa getaran-getaran hangat yang menjalar sampai ke sudut hati mereka.

"Sudah terang bahwa engkau adalah Diajeng Sulastri, mengapa bertanya lagi? Dari mana asalmu dan anak siapa..... ini..... aku tidak tahu lagi, Diajeng. Akan tetapi pentingkah itu?"

"Ah, Kakangmas, sungguh kasihan sekali engkau, engkau sampai lupa akan semua itu......"

Akan tetapi pada saat itu, Sutejo tiba-tiba melepaskan diri dan meloncat berdiri, memandang dengan mata beringas kepada laki-laki yang bertubuh tinggi besar dan brewok, siap untuk menyerang.

"Eh, nanti dulu, Kakangmas Bromatmojo! Apa kau lupa? Dia adalah Kakang Bandupati,dia Kakakku, apakah kau tidak ingat kepadanya?"

Teriak Sariwuni sambil memeluk pinggang Sutejo dari belakang. Sutejo mengerutkan alisnya, mengingat-ingat, akan tetapi dia menjadi makin bingung.

"Kakakmu....?"

Bandupati yang baru kembali memanggul bangkai seekor kijang yang dirobohkannya, melemparkan bangkai kijang itu ke atas tanah, lalu tertawa tergelak dan melangkah maju menghampiri mereka.

"Ha-ha-ha, Adimas Bromatmojo! Lupakah engkau kepada Bandupati, calon kakak iparmu? Ha-ha-ha!"

Sutejo makin bingung, akan tetapi mendengar ucapan itu, cepat dia memberi hormat.

Kiranya raksasa muda yang gagah ini adalah kakak dari kekasihnya, Sulastri.

Jantungnya berdebar mendengar betapa raksasa itu mengatakan "calon kakak iparmu".

Dia menoleh kepada dara itu dan melihat dara itu juga memandangnya sambil tersenyum lebar dan mengerling indah.

"Maafkan..... aku.... aku lupa semua...."

Sutejo berkata gagap. Bandupati tertawa lagi.

"Memang engkau baru saja sembuh dari sakit, Dimas. Tenaglah dan kau menurut saja dalam perawatan Adikku......eh, Sulastri ini."

Bandupati segera menyeret kijangnya untuk dikuliti dan dipanggang dagingnya.

Sariwuni mengajak Sutejo duduk di bawah pohon, menggandengnya dengan mesra.

Mereka duduk berhimpit-himpitan di bawah pohon dan bicara dengan penuh kemesraan.

"Kakangmas, kasihan sekali bahwa engkau telah lupa segala. Kau dengarkan baik-baik. Agaknya engkau lupa bahwa kekasihmu ini mempunyai dua nama. Namaku yang sesungguhnya adalah Sariwuni, akan tetapi agaknya engkau lupa dan yang teringat hanya nama aliasku saja, yaitu Sulastri."

"Sariwuni......?"

Sutejo mengingat-ingat, akan tetapi nama itu seperti asing baginya.

"Kenapa namamu sampai dua, Diajeng?"

Sariwuni tersenyum dan nampaklah deretan gigi kecil-kecil rapi, membuat Sutejo ingin memeluk dan menciuminya lagi, akan tetapi Sariwuni yang tidak tahan lagi mengalami kemesraan yang hampir membuatnya hampir pingsan itu, dengan kedua tangannya menolak dada Sutejo dengan halus.

Selamanya belum pernah dia bermesraan dengan pria, dan pengalamannya tadi sungguh membuat jantungnya terasa hampir pecah.

"Nanti dulu, Kakangmas. Dengarkan dulu semua keteranganku karena aku hendak membantumu mengingatkan segala tentang diriku. Aku mempunyai nama dua karena aku adalah seorang puteri Adipati."

"Kau....? Puteri adipati....? Ah, ya tentu saja, engkau puteri Adipati, Diajeng,"

Sutejo berkata, kaget dan bingung, akan tetapi membenarkan penuturan itu karena dia tahu bahwa dia memang sudah lupa segalanya!

"Agaknya engkau sudah lupa sama sekali akan keadaan diriku.

Aku bernama Sariwuni,alias Sulastri yang kupergunakan dalam perjalanan keluar dari Nusabarung agar jangan dikenal orang.

Akan tetapi setelah kita kini akan kembali ke Nusabarung,kau harus mulai menyebut namaku yang asli, yaitu Sariwuni."

"Ah, tapi bagiku lebih manis nama Sulastri, Diajeng,"

Kata Sutejo sambil membelai anak rambut yang melingkar-lingkar di tengkuk dara itu sehingga membuat semua bulu di tubuh dara itu meremang, geli dan nikmat.

"Biarpun begitu, akan luculah kalau di Nusabarung orang mendengar engkau menyebutku dengan nama asing itu. Kau sebutlah aku Sariwuni, Kakangmas."

"Baiklah, Diajeng Sariwuni. Nama apapun yang kaupakai, tetap manis bagiku,karena bagiku yang penting adalah orangnya, bukan namanya."

"Kakangmas Bromatmojo, tentu engkau lupa tentang Nusabarung dan tentang Ayah Bundaku, bukan?"

Sutejo menggeleng kepala.

"Aku tidak ingat sama sekali."

"Ayahku adalah Adipati Menak Dibyo, adipati di Nusabarung, sebuah pulau besar Laut Selatan. Orang tua kami hanya mempunyai dua orang anak, yaitu Kakang Bandupati dan aku."

Sariwuni lalu menceritakan keadaan di Nusabarung, akan tetapi Sutejo hanya mendengarkan dengan setengah hati karena jari-jari tangan dan matanya lebih senang menjelajahi rambut di leher, lalu garis-garis dagu, pipi dan seluruh wajah yang cantik itu.

Bandupati memanggang daging kijang dan tak lama kemudian mereka bertiga makan daging kijang, beramah-tamah dan sebentar saja Sutejo telah mulai merasa biasa dan tak canggung lagi.

Dia menerima begitu saja bahwa memang dia bernama Bromatmojo, dan dia bertunangan dengan Sariwuni dan kini dia bersama Sariwuni dan Bandupati sedang melakukan perantauan meninggalkan Nusabarung, bahwa mereka di tengah jalan bertemu orang-orang jahat, bertanding dan dia terpukul kepalanya sehingga pingsan dan kehilangan ingatannya, bahwa mereka kini akan kembali ke Nusabarung dan bahwa dia harus menurut saja dan menyerahkan diri di bawah perawatan kekasihnya, Sariwuni.

Semua ini dia dengar dari Sariwuni dan tentu saja dia hanya menurut saja.

Dengan Sariwuni atau Sulastri di sampingnya, apa pun yang dikehendaki oleh kekasihnya itu, akan dia lakukan!

Yang dia tahu hanyalah bahwa dia telah berdosa besar kepada Sulastri dan bahwa di sekarang harus menebus dosanya itu dengan menaati semua permintaan dara itu.

Demikianlah, tanpa banyak kesukaran, Sariwuni dan Bandupati mengajak Sutejo yang mereka kenal sebagai Bromatmojo itu kembali ke Nusabarung.

Racun akar Lalijiwo mengandung khasiat melupakan ingatan orang dan bekerja selama satu bulan, dan sebelum lewat sebulan, Sutejo selalu diberi minum racun ini oleh Sariwuni melalui minuman atau makanan sehingga pemuda itu tak pernah mengingat kembali keadaannya sendiri.

Sutejo terheran-heran ketika dia dibawa naik perahu oleh kakak beradik itu, akan tetapi dia hanya menyesalkan diri sendiri yang kehilangan ingatan dan menaruh kepercayaan penuh kepada mereka, terutama sekali kepada Sariwuni yang amat dicintainya.

Ketika mereka tiba di pualu Nusabarung, para atau anak buah pulau itu memandang dengan heran kepada Sutejo, akan tetapi tentu saja tidak ada yang berani bertanya kepada putera dan puteri adipati.

Sesampainya di istana kedipaten Bandupati mendahului adiknya masuk dan dengan singkat dia menceritakan tentang pemuda yang bernama Bromatmojo itu kepada ayah bundanya, betapa pemuda itu adalah seorang satria Mojopahit yang amat sakti dan betapa adiknya, Sariwuni,jatuh cinta kepada pemuda itu.

"Mereka saling mencintai, Kanjeng Romo, oleh karena itu, sebaiknya Diajeng Sariwuni dijodohkan dengan Bromatmojo."

"Hemm, begitu mudahnya?"

Adipati Menak Dibyo meraba jenggotnya. Adipati ini berusia lima puluh tahun lebih, tubuhnya tinggi besar seperti Bandupati dan wajahnya keren.

"Aku harus melihatnya dulu dan dia harus diuji apakah benar-benar dia memiliki kesaktian. Aku harus melihat bukti bahwa calon mantuku bukanlah orang sembarangan."

Lalu dia menoleh kepada isterinya, yaitu permaisurinya, Ibu kandung Bandupati dan berkata.

"Yayi, harap suka menyuruh pelayan memanggil Ibunya Sariwuni menghadap". Permaisuri lalu memerintahkan dayang untuk memanggil selir adipati yang cantik,yaitu Ibu kandung Sariwuni dan tak lama kemudian muncullah seorang wanita yang usianya hampir enam puluh tahun, namun dia cantik jelita dan kelihatan masih muda. Dia menyembah dengan hormat lalu disuruh duduk di dekat permaisuri. Tak lama kemudian, Bandupati menjemput adiknya dan masuklah mereka bersama Sutejo yang kelihatan canggung dan bingung. Akan tetapi, dengan bisikan-bisikan Sariwuni yang memberi petunjuk, dia lalu bersama dua orang kakak beradik itu bersila, menyambah dengan hormat dan merasa kikuk sekali ketika tiga pasang mata memandangnya dengan penuh perhatian. Ibunya Sariwuni dan permaisuri segera merasa suka dan tertarik kepada pemuda yang halus gerak-geriknya dan tampan itu. Adipati Menak Dibyo sendiri sebagai seorang sakti, dapat melihat bahwa di balik kehalusan itu tersembunyi tenaga yang hebat, maka dia juga merasa kagum dan ingin sekali mencoba kehebatan pemuda yang katanya saling jatuh cinta dengan puterinya yang terkasih itu. Bandupati telah menceritakan kepada Ayah Bundanya bahwa pemuda itu, Bromatmojo, adalah seorang satria Mojopahit yang sudah tak berkeluarga lagi, hidup sebatangkara di tepi pantai Laut Selatan. Dan Sutejo juga sudah mendapatkan pesan dari kekasihnya bahwa dia adalah seorang yang hidup sebatangkara, dengan demikian tidak terjadi kejanggalan-kejanggalan ketika dia berhadapan dengan keluarga Adipati Nusabarung itu. Sang Adipati lalu cepat memerintahkan para jagoannya untuk menguji Sutejo di Alun-alun.

"Mengapa aku harus bertanding dengan meraka?"

Tanya Sutejo kepada Sariwuni ketika mereka mengundurkan diri setelah diberi tahu bahwa dia akan dipertandingkan dengan lima orang jagoan Nusabarung.

"Kakangmas. Ayahku adalah seorang sakti. Oleh karena itu, tentu saja dia ingin memperolah mantu yang memiliki kepandaian paling tinggi di Nusabarung ini. Dan kau tahu, banyak sekali orang muda yang ingin meminangku. Olah karena itu,pertandingan ini dimaksudkan oleh Ayah agar mereka semua yang merasa penasaran karena aku memilihmu sebagai calonku, terbuka mata mereka bahwa engkau adalah orang yang paling sakti di Nusabarung ini."

Sutejo mengerutkan alisnya.

Sebenarnya dia tidak setuju dengan cara itu.

Dia memang mencintai Sulastri atau Sariwuni, akan tetapi dia tidak ingin memperebutkan seorang gadis dengan menggunakan kekerasan.

"Kita sudah saling mencintai, mengapa harus memperdulikan orang lain, Diajeng? Andaikata aku tidak sakti, apakah engkau akan tidak mencintaiku lagi?"

Sariwuni merangkulnya dan merengek.

"Kakangmas, apakah kau tidak mau menyenagkan haitku? Kalau engkau tidak berani maju, betapa mereka semua akan mengejek aku! Aku ingin membanggakan kekasihku yang gagah perkasa. Pula, aku adalah puteri adipati, tentu saja Ayah ingin memiliki mantu yang digdaya. Kakangmas, aku majulah dan menangkan pertandingan ini demi cintamu kepadaku. Kau akan membuat aku bangga sekali, Kakangmas. Sebaliknya, kalau kau tidak berani, aku akan malu sekali, bisa mati saking maluku!"

Sutejo menarik napas panjang.

"Hemm, siapakah lima orang itu, Diajeng?"

"Mereka adalah lima jagoan Nusabarung yang disebut Lima Harimau Nusabarung. Mereka adalah senopati-senopati yang perkasa dan paling hebat adalah dua di antara mereka, Kakangmas. Engkau harus berhati-hati menghadapi mereka. Mereka adalah senopati-senopati dan merupakan orang-orang kepercayaan dari Kanjeng Romo Adipati dan tingkat kepandaian mereka hanya di bawah tingkat kesaktian Kanjeng Romo sendiri."

"Apakah aku harus membunuh mereka?"

Tanya Sutejo dengan nada suara kesal.

"Jangan, Kakangmas. Mereka adalah pembantu-pembantu Kanjeng Romo, jadi bukan musuh kita. Mereka hanya bertindak sebagai penguji, akan tetapi tentu saja mereka berusaha untuk mengalahkanmu, kalau perlu membunuhmu. Kalau ada di antara mereka tewas dalam pertandingan itu, tentu tidak apa-apa dan sudah wajar. Hanya tentu saja Ayah akan merasa lebih kagum dan gembira kalau engkau bisa mengalahkan mereka tanpa membunuh mereka, Kakangmas. Dan aku minta agar engkau suka mengalahkan mereka tanpa membunuh, Kakangmas."

Sutejo mengangguk-angguk.

"Aku tahu, Diajeng. Engkau tentu tidak menghendaki aku membunuh orang tanpa dosa. Aku sendiri pun tidak mau membunuh orang. Akan tetapi seingatku....."

Dia mengerutkan alisnya.

"Bukankah kau sendiri memiliki kepandaian hebat, Diajeng?"

Sariwuni memandang tajam dan dia menduga bahwa dara yang bernama Sulastri itu agaknya juga memiliki kesaktian.

Akan tetapi karena tidak ada tanda-tanda bahwa pemuda itu sudah berubah dan mendapatkan kembali ingatannya, dia menjadi lega dan tersenyum.

"Tentu saja aku mempunyai sedikit kemampuan yang tidak dapat dibandingkan denganmu, Kakangmas. Akan tetapi, lima orang itu lebih pandai daripada aku. Hanya aku memeringatkan kepadamu agar kau berhati-hati terhadap penggabungan tenaga mereka, Kakangmas. Mereka itu memiliki keistimewaan, yaitu dapat menggabungkan tenaga dengan saling berpegang tangan. Hati-hatilah kalau melihat mereka sudah saling bergandeng tangan."

Sutejo mengangguk-angguk dan dengan hati besar dia lalu memasuki gelangang pertandingan yang sudah dipersiapkan di alun-alun.

Di atas panggung nampak Adipati Menak Dibyo sendiri, didampingi Ibu kandung Bandupati dan Ibu kandung Sariwuni, duduk dengan wajah gembira seperti orang menonton pertunjukan yang menarik.

Lingkaran telah dibuat di dekat bawah panggung, dan Bandupati yang mengatur tempat itu karena dialah yang bertugas menjadi wasit!

Para ponggawa, pembesar-pembesar berkedudukan tinggi belaka di kadipaten atau kerajaan kecil Nusabarung, sudah berkumpul pula untuk menyaksikan kehebatan orang muda yang kabarnya menjadi calon suami Puteri Sariwuni.

Banyak di antara mereka, terutama yang muda-muda dan yang belum berkeluarga, merasa iri dan ingin melihat sendiri apakah benar calon mantu adipati itu lebih hebat daripada mereka.

Dan memang mereka harus mengakui bahwa tidak ada seorang pun di Nusabarung,kecuali mungkin Sang Adipati sendiri, yang akan mampu menandingi lima orang jagoan itu sekaligus.

Bahkan Pangeran Bandupati sendiri, yang memiliki kesaktian cukup hebat, tidak akan mungkin dapat menandingi lima orang jagoan itu kalau mereka maju bersama mengeroyoknya.

Lebih dari tiga puluh orang ponggawa hadir dan menonton, di samping banyak sekali penduduk yang kebetulan dapat meninggalkan pekerjaan mereka, semua memenuhi alun-alun dan berjejal di seputar lingkaran di bawah panggung.

Dengan langkah tenang Sutejo memasuki lingkaran, disambut oleh Bandupati yang tersenyum ramah.

Sutejo memberi hormat dengan sembah ke arah panggung dan disambut dengan tangan terangkat oleh Sang Adipati, sedangkan ibu Sariwuni tersenyum ramah karena ibu ini merasa suka kepada pemuda ini, merasa rela kalau anaknya menikah dengan pemuda Mojopahit ini.

Daia sendiri berasal dari daratan utara, dari daratan Mojopahit dan semenjak kecil dia diculik oleh orang Nusabarung dan menjadi anak orang Nusabarung itu sampai kecantikannya menarik hati Sang Adipati dan dia diangkat menjadi selir.

Maka, tentu saja dia akan merasa bahagia sekali kalau puterinya menjadi isteri satria Mojopahit, apalagi melihat pemuda itu memang tampan dan halus, tidak seperti para muda di Nusabarung yang sikap dan bicaranya kasar.

Atas perintah Bandupati yang memberi isyarat dengan tangan, masuklah lima orang jagoan Nusa barung itu ke dalam lingkaran.

Semua penonton menahan napas menyaksikan perbedaan antara satria Mojopahit itu dengan lima orang ini.

Mereka adalah orang-orang yang tinggi besar, kelihatan kokoh kuat dan pemuda Mojopahit itu hanya setinggi pundak mereka!

Akan tetapi, Sutejo merasa tenang dan lega ketika melihat calon-calon lawannya.

Mereka itu boleh jadi bertubuh tinggi besar dan kelihatan kokoh kuat bertenaga, namun jelas bahwa mereka itu hanya orang-orang yang mengandalkan kekuatan otot-otot belaka, tidak memiliki kedigdayaan yang tersembunyi di balik kulit tubuh yang halus.

Andaikata yang muncul itu adalah orang-orang yang kelihatan lemah, tentu Sutejo akan menjadi lebih waspada dan hati-hati.

"Dimas Bromatmojo,"

Kata Bandupati.

"Atas kehendak Kanjeng Romo, Andika harus menghadapi pengeroyokan lima orang jagoan kami ini. Mereka akan berusaha sungguh-sungguh untuk mengalahkah Andika, Dimas, maka berhati-hatilah."

Sutejo mengangguk dan berkata.

"Kakangmas Bandupati, apakah yang menjadi tanda bagi pihak yang kalah?"

"Pertama, kalau sampai terlempar keluar dari lingkaran dapat berarti kalah. Ke dua, kalau sampai terluka dan tidak dapat melawan lagi, dan ke tiga, tentu saja kalau menggeletak tak bernyawa lagi. Dan andaikata Andika terluka atau tewas dalam ujian ini, mereka tidak akan dipersalahkan karena wajarlah kalau terluka atau tewas dalam pertandingan adu kedigdayaan ini, Dimas. Oleh karena itu, kalau Andika merasa tidak kuat melawan sebaiknya meloncat keluar dari lingkaran."

Sutejo mangangguk-angguk, lalu berkata.

"Aku sudah mengerti dan silakan dimulai!"

Bandupati memberi tanda dan oangeran ini lalu melangkah keluar dari lingkaran yang dibuat dengan lawe merah itu.

Dia berdiri di luar lingkaran untuk mengamati jalannya pertandingan.

Dengan tenang Sutejo berdiri menghadapi lima orang lawannya.

Kedua kakinya terpentang lebar, kedua tangannya tergantung di kanan kiri tubuhnya tergantung lepas namun setiap lebar syarat berdenyut-denyut penuh perasaan, siap untuk menggerakkan semua anggota tubuh untuk melindungi diri dan menyerang.

Sutejo memang telah kehilangan ingatannya, telah lupa nama sendiri dan lupa segala,akan tetapi kesaktiannya yang dipejarinya sejak dahulu, telah mendarah daging pada dirinya sehingga ilmu ini sama halnya dengan kalau dia berjalan, bicara dan lain pergerakan lagi, sudah secara otomatis tanpa menggunakan ingatan lagi.

Tentu saja dia sudah lupa akan nama-nama ilmu itu, sungguhpun ingat, menggerakkan dan mengerahkan secara otomatis pula.

Lima orang raksasa itu tidak memandang rendah lawan mereka.

Sebagai senopati-senopati yang sudah banyak pengalaman, mereka mengenal kedigdayaan, mereka mengenal kedigdayaan orang-orang daratan utara yang biarpun kecil kelihatan lemah, namun memiliki kesaktian luar biasa.

Sudah sering mereka bertemu dengan orang-orang seperti itu, maka kini menghadapi Sutejo, mereka tidak berani memandang rendah.

Melihat pemuda itu sudah berdiri siap, lima orang jagoan ini lalu bergerak mengepungnya, dua orang di depannya, dan yang tiga orang di kanan kiri belakangnya.

Sutejo sama sekali tidak bergerak, hanya bola matanya saja yang bergerak melirik ke kanan kiri sedangkan gerakan orang yang berada di belakangnya dia ikuti dengan pendengarannya.

Tiba-tiba dua orang yang di depannya membentak nyaring dengan suara gerengan seperti harimau dan bentakan itu agaknya merupakan aba-aba bagi kawan-kawannya karena serentak mereka itu menerjang ke depan, menyerang Sutejo dari empat penjuru.

Namun pemuda itu sudah siap.

Dia maklum bahwa dalam keadaan terkurung,kalau lima orang pengeroyok itu malakukan sergapan secara mendadak dan berbareng,sukar baginya untuk melindungi dirinya, maka cepat dia menggenjotkan kedua kakinya ke atas tanah dan pada saat lima orang lawannya bergerak menyergapnya, tubuhnya sudah mencelat ke atas seperti kilat menyambar cepatnya dan tahu-tahu dia sudah berjungkir balik ke belakang dan turun di luar kepungan itu!

"Ehhh......?"

"Ahhhh.....!!"

"Mana dia.....?"

Lima orang raksasa itu hampir saja saling bertumbukan dan mereka terkejut karena pemuda yang mereka keroyok itu tiba-tiba lenyap.

Demikian cepatnya gerakan Sutejo tadi ketika meloncat sehingga yang nampak oleh mereka hanya bayangan berkelebat dan tahu-tahu orangnya sudah lenyap.

Tentu saja orang yang tadi berada di depan Sutejo, kini melihat pemuda itu yang telah berdiri di belakang pengeroyok yang tadi menyerangnya dari belakang, maka mereka berdua cepat menerjang diikuti oleh tiga orang kawan mereka.

Melihat mereka berlima kini menyerbu dari depan semua dan tentu saja tidak mingkin bagi mereka untuk melakukan serangan secara berbareng, mulailah Sutejo menggerkkan kaki tangannya, mengelak, menangkis dan membalas serangan mereka dengan temparan-tamparan dan tendangan-tendangan yang terkendali tenaganya karena dia tidak ingin membunuh mereka.

Terdengar suara plak-plak-buk yang cukup keras ketika tamparan-tamparan dan tendangan-tendangannya yang dilakukan dengan kecepatan kilat itu mengenai sasaran.

Kecepatan pemuda itu tak dapat ditandingi oleh lima orang jagoan yang saking besarnya tidak mampu bergerak gesit itu, dan biarpun Sutejo telah mengendalikan tenaganya dan tidak menggunakan seluruh kesaktiannya, namun tamparan-tamparan itu cukup untuk membuat pingsan seorang lawan yang tangguh.

Akan tetapi lima orang itu hanya terpelanting saja dan dengan cekatan mereka sudah meloncat bangkit kembali karena tamparan dan tendangan itu hanya membuat mereka pening sebentar dan kini mereka sudah mengamuk lagi, menyerang Sutejo kalang-kabut seperti harimau-harimau buas.

Serangan mereka dibarengi gerengan-gerengan menyeramkan.

Sutejo terkejut juga.

Baru dia tahu bahwa lima orang lawannya itu memiliki kekebalan yang cukup kuat.

Kini penyerangan mereka yang dahsyat, ganas dan membabi buta itu membuat dia agak kewalahan.

Terpaksa dia mengelak dan mengandalkan kecepatan gerakannya, menyelinap di antara mereka sambil manangkis dan mengelak, namun selalu manjaga agar jangan sampai dia terdesak keluar dari lingkaran yang ditandai lawe merah.

Hebatnya, lima orang itu terus mendesaknya,bahkan ada yang menggunakan cara berguling-guling di atas tanah untuk mengejarnya dan lengan-lengan mereka yang berbulu dan panjang itu menyambar dari bawah untuk menangkap kakinya, tentu dengan maksud diseret atau dibanting dan dilempar keluar dari lingkaran!

Tiba-tiba dua orang di antara mereka mendapat kesempatan untuk menubruk Sutejo dari depan.

Dengan kedua lengan dikembangkan, kedua tangan membentuk cakar harimau, mereka menubruk dari kanan kiri secara berbareng.

Sutejo tidak dapat mengelak ke belakang karena di belakangnya, hanya dalam jarak dua meter,terdapat lingkaran dan kalau dia meloncat ke belakang, ada bahayanya, dia keluar dari ringkaran dan dianggap kalah.

Kanan dan kiri sudah terjaga oleh dua orang lawan pula.

Maka dia menggunakan kecepatanya pula, mendahului penyerang yang datang dari kanan dengan tendangan kakinya, sedangkan kedua tangannya menyambut kedua lengan penyerang dari kiri, lalu tubuhnya diputar miring dan dengan pengerahan tenaga dia membanting penyerang itu ke samping.

"Dukk!"

Bresss....!!"

Dua orang raksasa itu mengeluh, yang seorang memegangi perutnya yang tertendang, sedangkan yang dibanting itu bangkit duduk dan menggoyang-goyangkan kepala karena dunia berpusing di depan matanya!

Namun, tiga orang yang lain sudah menyerang lagi sehingga Sutejo kembali sudah berloncatan dan mengelak ke sana-sini dengan sigapnya, kemudian dia pun membalas dengan tamparan berturut-turut,sekali ini menambahi tenaganya dan tiga orang itu terpelanting pula dan mengaduh-aduh.

Tamparan tangan Sutejo terasa panas sekali bagi mereka.

"Aarrgghhhhh.....!!"

Seorang di antara mereka meloncat dan mengeluarkan gerengan hebat yang seolah-olah menggetarkan bumi yang berada di sekitar tempat pertandingan itu.

Dan agaknya gerengan ini pun merupakan aba-aba bagi kawan-kawannya karena kini mereka menggunakan sebelah lengan untuk saling merangkul pinggang dan dengan cara demikian, mereka berlima begerak maju, sebelah lengan lagi dilonjorkan dan tangan mereka disatukan di depan dengan telapak tangan dibuka dan diarahkan kepada Sutejo.

Lima buah tangan yang besar siap untuk mendorong pemuda itu dengan kekuatan dahsyat yang dipersatukan.

Sutejo merasa heran sekali melihat cara mereka menghadapinya.

Dia tidak merasa gentar karena dengan cara maju bersama seperti itu, dia tidak perlu lagi menjaga diri dari serangan kanan kiri maupun belakang, maka dia pun melangkah maju memapaki dan ketika lima buah tangan itu bergerak mendorongnya, dia mengelak sedikit saja dan menggerakkan lengannya menangkis.

"Desss.....!"

Hampir Sutejo berteriak saking kagetnya karena tiba-tiba dia terpelanting!

Para penonton yang menjagoi lima orang itu kini untuk pertama kalinya tersenyum.

Mereka sudah datang lagi, dengan saling rangkul dan melangkah maju berbareng seperti seekor kelabang yang aneh, sebelah lengan mereka diluruskan dengan tangan menjadi satu, menghampiri Sutejo, agaknya hendak mendorong pemuda itu atau memaksanya keluar dari lingkaran.

Sutejo melirik ke arah panggung di mana duduk pula Sariwuni di samping ayah bundanya.

Gadis itu memandang dengan mata terbelalak.

Teringatlah Sutejo akan peringatan dara yang dikenalnya sebagai Sulastri atau Sariwuni itu, tentang lima orang yang dapat menyatukan tenaga.

Dia merasa penasaran.

Memang dirasakannya ketika bertemu dengan tangan mereka tadi dalam tangkisannya, betapa dari tangan itu mengalir keluar tenaga yang amat kuat dan yang membuatnya terpelanting.

Akan tetapi, hal itu hanya dapat terjadi karena di sama sekali tidak menduganya sehingga dia terkejut dan tidak siap sebelumnya.

Kalau dia mengerahkan tenaga kesaktiannya, belum tentu dia kalah.

Melihat lima orang itu sudah maju lagi dengan sikap mengancam, Sutejo juga melangkah maju menyambut dan mengerahkan aji kesaktiannya yang amat hebat, yaitu Aji Kolo Cokro.

Ketika dia menggosok kedua tangannya, dari kedua telapak tangannya mengepul uap!

Kemudian dia menghadapi para musuhnya dengan kedua kaki terpentang dan segera menyambut tangan-tangan lima orang yang disatukan itu dengan kedua tangannya yang mengepulkan uap.

"Plak! Plak!"

Dua telapak tangannya bertemu dengan dua telapak tangan lawan yang dibantu oleh tiga telapak tangan lain itu.

Kembali dia merasa betapa dari telapak tangan mereka menyambar tenaga dahsyat, namun sekali ini dia sudah siap dan cepat dia mengerahkan tenaganya untuk menentang.

Terjadi dorong-dorong dan biarpun tidak nampak oleh mata, namun semua orang tahu bahwa sekarang telah terjadi adu tenaga sakti yang amat hebat.

Sutejo mendapat kenyataan bahwa lima orang itu memang benar hebat sekali setelah menyatukan tenaga mereka!

Dia merasa betapa tenaga saktinya bertemu dengan tenaga yang kokoh kuat seperti gunung karang, dan dorongan yang amat hebat yang menghimpitnya itu, namun dia maklum bahwa menggunakan kekuatan untuk memaksa mereka mundur kiranya merupakan hal yang amat sukar.

Tentu saja dia dapat membagi tenaganya dan menggunakan tangan kirinya mengirim pukulan kepada mereka,akan tetapi hal itu akan berbahaya sekali bagi mereka, mungkin dapat menewaskan dan dia tidak ingin membunuh seorang pun di antara mereka.

Sutejo mencari akal, tidak seperti lima orang itu yang mati-matian mengandalkan kekuatan mereka untuk bertahan dan untuk menang.

Mereka diam-diam juga terkejut sekali ketika merasa betapa telapak tangan mereka amat panas dan betapa tenaga mereka bertemu dengan tenaga mujijat yang keluar dari telap tangan pemuda itu.

Namun mereka merasa penasaran dan tidak percaya kalau mereka akan kalah kuat, maka mereka mengerahkan pula seluruh tenaga mereka untuk mendorong.

Tiba-tiba Sutejo menggerakkan jari-jari tangannya dan kalau tadi mereka beradu telapak tangan, kini bagaikan dua ekor ular, kedua lengan Sutejo meluncur dan kedua tangannya menangkap pergelangan tangan orang pertama, mulutnya mengeluarkan bentakan nyaring dan menggetarkan jantung, tubuhnya merendah lalu kakinya bergerak sehingga tubuhnya miring dan kedua tangannya yang tadi mendorong dan mempertahankan, secara tiba-tiba sekali berubah menjadi daya tarik dengan betotan mendadak dan amat kuat.

Lima orang itu sedang mengerahkan seluruh tenaga mereka mendorong, maka ketika kini tidak ada perlawanan yang menentang tenaga dorong mereka, bahkan Sutejo menggunakan kekuatan sakti untuk membetot, tanpa dapat dicegah lagi tubuh mereka tertarik ke depan!

Sutejo menyentakkan dan melepaskan pegangannya dan.....

seperti daun-daun kering tertiup angin, dan mengeluarkan suara seperti bata runtuh, lima orang itu terdorong ke depan dan roboh tunggang-langgang keluar dari lingkaran lawe merah yang menjadi putus keterjang tubuh mereka!

Tepuk tangan nyaring dari atas panggung memecahkan kesunyian dan ketegangan yang mengikuti robohnya lima orang itu.

Tepuk tangan Sariwuni memancing tepuk tangan dan sorak-sorai semua orang yang menyatakan kekagumannya kepada Sutejo yang merak kenal sebagai Raden Bromatmojo!

Lima orang itu merangkak bangun, mengaduh-aduh karena baru sekarang mereka melihat betapa lengan tangan mereka merah sekali dan bengkak-bengkak akibat pengaruh Aji Kolo Cokro yang amat panas.

Pangeran Bandupati menghampiri Sutejo dan menyatakan kemenangan pemuda ini dengan mengangkat lengan pemuda ini ke atas yang pula oleh sorak-sorai para penonton.

Adipati Menak Dibyo girang bukan main, girang dan kagum.

Diam-diam dia mengakui bahwa agaknya di sendiri belum tentu akan mampu menandingi pemuda itu.

Dengan adanya pemuda seperti ini di sampingnya, apalagi sebagai mantunya, tentu dia tidak takut lagi menghadapi musuh-musuh sakti.

Terbayang sudah di depan matanya betapa dia akan dapat membasmi musuh besarnya, yaitu Kadipaten Puger di seberang!

Demikianlah, pertunangan antara Raden Baromatmojo dan Puteri Sariwuni diumumkan,dan semenjak hari itu, Sutejo hidup sebagai Raden Bromatmojo dan calon mantu adipati, dan dia masih belum ingat akan keadaannya sebelum dia bertemu dengan Sariwuni dan sebelum lewat setengah bulan, Sariwuni tidak pernah lupa untuk mencampurkan akar Lalijiwo dalam hidangan tunangannya.

Kita tinggalkan dulu Sutejo yang seolah-olah hidup sebagai seorang manusia baru dengan nama Raden Bromatmojo, dan satu-satunya orang yang masih diingatnya adalah Sulastri yang ditemukan dalam diri Sariwuni, dan bahwa dia mencintai Sulastri, bahwa dia bersalah terhadap Sulastri dan dia harus menaati semua kehendak Sulastri untuk menebus dosanya.

Baru sekarang dia "tahu"

Bahwa Sulastri juga bernama Sariwuni, puteri Adipati Nusabarung!

Mari kita mengikuti perjalanan Sulastri yang asli, atau Bromatmojo yang tulen.

Dengan muka agak pucat, wajah muram dan mata merah karena banyak menangis, tubuh agak kurus karena kurang tidur dan kurang makan, Sulastri melakukan perjalanan seorang diri ke selatan, menuju ke Kadipaten Puger untuk menyusul dan menolong dua orang sahabatnya yang tertawan, yaitu Joko Handoko dan Roro Kartiko.

Perjalanan ini amat melelahkan dan amat sukar melaui pegunungan kapur yang memanjang dari timur ke barat, memalui hutan-hutan liar yang penuh pohon-pohon raksasa dan semak-semak belukar.

Kalau teringat kepada Sutejo, bermacam perasaan menyakitkan hatinya.

Dia mencinta Sutejo, dan hatinya sakit karena duka bahwa dia terpaksa harus berpisah dari pria yang dicintainya itu.

Penyesalan dan kekecewaan memenuhi hatinya ketika teringat betapa Sutejo telah diperalat oleh Mahapati sehingga pemuda itu sampai hati untuk membantu Mahapati menyebabkan kematian gurunya.

Padahal,gurunya yang pertama, Ki Jembros, juga tewas di tangan Mahapati yang mengeroyoknya.

Kini Gurunya ke dua yang amat disayangnya pula, Empu Supamandrangi, juga mati di tangan orang-orang Mahapati.

Dan Sutejo mambantu Mahapati!

Hal ini amat menyakitkan hatinya.

Akan tetapi ketika dia tiba di tepi daerah Kadipaten Puger, melihat penduduk dusun-dusun yang termasuk wilayah Puger, dia melupakan penderitaan batinnya sendiri karena perhatiannya kini tertuju untuk menyelamatkan Joko Handoko dan Roro Kartiko.

Bagaimanakah keadaan mereka, pikirnya.

Bagaimanakah sesungguhnya keadaan kakak beradik yang telah tertawan oleh dua orang kakak beradik kembar dari Puger itu?

Seperti telah kita ketahui, Joko Handoko dan Roro Kartiko, juga tujuh orang anggota Sriti Kencana, semua tertawan oleh pasukan ang dipimpin oleh Murwendo dan Murwanti, kakak beradik kembar dari Puger itu.

Mereka itu tergila-gila kepada Joko Handoko dan Roro Kartiko dan setelah berhasil manawan dua orang muda ini dan tujuh orang wanita anggota Sriti Kencana, Murwendo dan Murwanti lalu bergegas pulang ke selatan, ke Kadipaten Puger yang terletak di pantai Laut Selatan.

Setelah pasukan tiba di Puger, Murwendo dan Murwanti langsung membawa tawanan mereka ke dalam istana kadipeten, menghadap ayah mereka dengan wajah berseri.

Mereka menurunkan tubuh tawanan yang mereka panggul itu ke atas lantai dalam keadaan terbelenggu, lalu berlutut menyembah kepada ayah dan ibu mereka.

Raja di Puger, memandang dengan mata terbelalak kepada kedua orang anaknya,demikian pula permaisurinya.

Raja ini usianya sudah enam puluh tahun, rambutnya putih dan gerak-geriknya halus.

Permaisurinya berusia empat puluh lima tahun, masih cantik jelita dan seperti juga suaminya, wanita ini halus gerak-geriknya.

Para pengawal dan pelayan yang berada di ruangan itu juga memandang dengan terheran-heran ketika putera dan puteri raja itu datang memanggul seorang dara dan seorang pemuda yang cantik dan tampan.

Sang Prabu Bandardento, Raja Puger itu, sudah mengenal keadaan putera-puterinya.

Raja yang cukup bijaksana ini maklum bahwa ada sesuatu yang tidak wajar pada dua orang anak kembar ini.

Melihat kedatangan mereka membawa tawanan, Sang Prabu lalu cepat memberi isyarat kepada semua pengawal dan pelayan untuk meninggalkan ruangan itu.

Para pengawal dan pelayan menyembah dan cepat keluar dari situ, meninggalkan Sang Prabu dan permaisurinya berdua saja menghadapi Murwendo, Murwanti dan dua orang tawanan itu.

Setelah semua orang pergi, barulah Sang Prabu bangkit dari kursinya.

"Apa artinya ini? Darimana kalian berdua dan siapa yang kalian bawa sebagai tawanan ini?"

Di dalam suaranya Sang Prabu Bandardento terkandung kemarahan dan teguran.

"Kanjeng Romo, ini adalah Roro Kartiko, calon mantu Paduka,"

Kata Murwendo.

"Dan ini adalah Joko Handoko, juga calon mantu Paduka, Kanjeng Romo dan Kanjeng Ibu,"

Sambung Murwanti sambil meraba pundak Joko Handoko yang rebah miring dan tidak mampu bergerak karena kaki tangannya terbelenggu.

Sang Prabu saling pandang dengan permaisurinya, alisnya berkerut dan jantungnya terasa perih.

Kedua orang anak kembarnya itu sudah mendekati kegilaan, pikirnya.

Sakit sekali perasaannya kalau diingat.

Dia tidak pernah mempunyai keturunan.

Permaisurinya yang belasan orang selirnya tidak pernah ada yang mempunyai keturunan.

Hanya seorang selir saja yang mempunyai keturunan, yaitu melahirkan anak kembar ini!

Akan tetapi, selir itu meninggal dunia ketika melahirkan Si Kembar ini, dan Sang Prabu tahu bahwa anak kembar ini bukanlah keturunannya!

Si kembar ini lahir karena selir itu mengadakan hubungan rahasia, berzina dengan seorang juru taman.

Seorang yang rendah dan hina!

Namun, untuk menjaga kehormatan, diam-diam Sang Prabu menyuruh pengawal membunuh juru taman itu.

Kini pembuat aib itu, baik yang wanita maupun pria, telah mati semua hingga dia dapat menerima Si Kembar sebagai anaknya!

Betapa dia sayang kepada dua orang anak kembar itu karena Sang Prabu tidak pernah dapat menikmati perasaan seorang ayah.

Dilupakannya kenyataan bahwa Si Kembar itu bukan darah dagingnya.

Disayang dan dimanja oleh Sang Prabu,permaisuri dan semua selir, dua orang kembar (Lanjut ke

Jilid 27) Kemelut Di Majapahit (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 27 malah menjadi rusak!

Ataukah mungkin sudah terdapat dalam darah mereka?

Mula-mula Sang Prabu hanya melihat gejala buruk itu ketika melihat anak kembar itu bersikap kejam dan keras terhadap ponggawa dan pelayan.

Apalagi setelah mereka mepelajari ilmu kedigdayaan, mereka suka bertindak sewenang-wenang.

Hanya terhadap Sang Prabu saja mereka tunduk dan taat, akan tetapi mereka tidak lagi tunduk kepada ibu-ibu mereka, apalagi kepada para ponggawa!

Akhirnya kenyataan yang amat pahit mulai manusuk hati Sang Prabu ketika Beliau menerima bisikan dari para pengawal penyelidik bahwa Murwendo dan Murwanti mengadakan hubungan sebagai suami isteri!

Dua orang anak kembar itu telah mulai dewasa, telah melakukan perjinaan!

Hal ini sungguh merupakan pukulan berat bagi raja itu.

Akan tetapi, dia sendiri tidak tahu bagaimana harus menghadapi keadaan itu.

Menegur mereka?

Peristiwa itu sudah terjadi, sudah terlanjur.

Marah-marah?

Kalau umum mengetahui, akan menimpa aib dan noda yang lebih hebat lagi daripada noda yang ditimbulkan oleh selirnya yang berzina dengan juru taman dahulu!

Didiamkan saja?

Juga makan hati!

Diam-diam raja ini menderita tekanan batin dan rasa sayangnya terhadap dua orang anak kembar itu mulai menipis.

Biarpun dua orang anak kembar itu kini menjadi seorang pemuda dan seorang dara yang berwajah tampan dan cantik, namun dia tahu benar bahwa watak mereka amat tidak baik, selain kejam juga rendah dan hina.

Hanya ada satu hal yang merupakan hiburan besar di dalam hati Sang Prabu bahwa dua orang anak itu bukanlah keturunannya.

Dan selain dia sendiri, yang tahu akan hal itu hanyalah permaisurinya, dan tentu saja orang-orang kepercayaannya, yaitu pengawal-pengawal pribadinya yang dua orang, Si Sulung Hitam Padas Gunung dan Si Demit Kinang Pragalbo.

Kedua orang tokoh Puger inilah yang dulu disuruhnya membunuh juru taman dan mereka berdua itulah yang tahu akan rahasia Murwendo dan Murwanti.

Ketika Sang Prabu melihat dua orang anak kembar itu pulang membawa dua orang tawanan, dia terkejut dan merasa tidak senang.

Dan jawaban mereka bahwa pemuda dan dara yang ditawan itu merupakan calon-calon mantunya, membuat wajahnya menjadi merah sekali.

Betapa tidak tahu aturan adanya dua orang anaknya ini!

Mana mungkin mencari jodoh sendiri dengan paksa itu, seperti dua orang liar,tanpa minta dulu pendapat dan perkenannya.

Ingin Sang Prabu membentak-bentak marah, akan tetapi dia menahan diri, hanya bertepuk tangan membari isyarat kepada pengawal.

Cepat sekali pengawal kepala datang memasuki kamar itu dan menghadap Sang Prabu.

"Cepat panggil Padas Gunung dan Pragalbo ke sini!"

Teriak Sang Prabu suaranya jelas mengandung kemarahan.

Pengawal itu cepat berlalu memenuhi perintah Sang Prabu yang segera duduk kembali dan memandang ke arah dua orang tawanan itu sambil mengelus jenggot.

Harus diakuinya bahwa pemuda tawanan itu tampan dan gagah, sedangkan dara itu pun cantik dan seperti puteri istana.

Makin tidak enaklah rasa hatinya Melihat keadaan mereka, tentu pemuda dan dara itu bukan orang-orang sembarangan di Mojopahit dan perbuatan dua orang anaknya itu berarti menanam bibit permusuhan hebat dengan Mojopahit.

Perbuatan yang amat berbahaya!

Dia melihat betapa Murwendo mengusap rambut di dahi tawanan wanita itu dengan mesra, dan melihat sianr mata penuh kebencian dari dara tawanan itu yang cepat membuang muka.

Demikian pula, pemuda yang menjadi tawanan itu membuang muka ketika Murwanti mengelus pundaknya dengan sikap mesra dan tak tahu malu.

Betapa jauhnya sikap sepasang tawanan itu dengan sikap dua orang anaknya!

Padas Gunung dan Pragabo, dua orang tokoh Puger yang memiliki kepandaian tinggi itu, kini sudah datang menghadap.

Sang Prabu memandang kepada mereka dengan sikap marah, kemudian terdengar dia membentak.

"Padas Gunung dan Pragalbo! Apa saja yang kalian lakukan bersama Pangeran dan Puteri? Mengapa kalian menawan dua orang muda ini?"

Padas Gunung yang bermuka kuning itu tidak dapat bicara dan hanya menunduk dengan sikap bingung dan dia menyerahkan jawabannya kepada Pragalbo yang memang lebih pandai bicara daripada dia.

Namun, menghadapi junjungannya yang sedang marah itu, Pragalbo juga kelihatan gugup dan dia cepat menyembah lalu berkata.

"Mohon beribu ampun apabila hamba berdua melakukan hal yang tidak berkenan di hati Paduka, Gusti. Sesungguhnya, hamba berdua dan pasukan hanya melaksanakan perintah dari Gusti Pangeran dan Gusti Puteri. Pemuda dan gadis ini, juga tujuh orang wanita lain yang menjadi anak buah mereka, adalah orang-orang Lumajang,dan karena Gusti Pangeran dan Gusti Puteri menghendaki, maka hamba berdua terpaksa lalu menangkap mereka dan...."

"Hayo cepat lepaskan belenggu kaki tangan mereka!"

Sang Prabu menghardik marah dan hatinya menjadi makin khawatir mendengar bahwa mereka itu adalah orang-orang Lumajang!

Dia sudah mendengar bahwa Lumajang kini tidak tunduk kepada Mojopahit,dan hal ini amat menguntungkan Puger, karena Lumajang dapat menjadi perisai atau benteng yang akan dapat menghadang gerakan Mojopahit kalau-kalau kerajaan itu hendak meluaskan wilayah ke timur.

Sebelum Mojopahit berkesempatan menyerbu Puger, haruslah lebih dulu membobolkan pertahanan Lumajang.

Oleh karena itu, sungguh tidak baik untuk menanam permusuhan dengan Lumajang.

Mendengar perintah yang dikeluarkan dengan bentakan marah ini, dua orang pengawal yang juga menjadi senopati itu cepat menghampiri dua orang tawanan itu.

Murwendo dan Murwanti juga tidak berani menghalangi dan mereka mundur dan duduk bersimpuh sambil memandang kepada dua orang tawanan itu dengan sinar mata penuh kemesraan.

Setelah dibebaskan dari belenggu, Joko Handoko dan Roro Kartiko menggosok-gosok pergelangan tangan dan kaki mereka yang terasa sakit setelah kini darahnya berjalan lancar kembali.

Kemudian Joko Handoko memandang kepada raja yang berambut putih dan bersikap agung itu.

Dia segera menyembah, diikuti oleh adiknya yang seperti juga kakaknya merasa lega bahwa raja itu kiranya tidaklah sejahat kakak beradik kembar itu.

Melihat sikap pemuda dan dara itu, Sang Prabu Bandardento menjadi makin kagum dan makin keras dugaannya bahwa memang mereka ini bukan orang sembarangan.

Yang jelas mereka itu tahu akan susila, maka dengan suara halus dai lalu bertanya kepada Joko Handoko.

"Orang muda, maafkanlah perlakuan yang tidak patut dari putera dan puteri kami. Sebelum mendengar keterangan dari pihak putera-puteri kami, lebih baik dulu kami mendengar darimu, siapakah engkau dan gadis ini, dan bagaimana sampai menjadi tawanan anak-anak kami?"

Karena Joko Handoko maklum bahwa dia berhadapan dengan raja yang bijaksana dan berkuasa di Puger, dia menyembah lagi sebelum menjawab.

"Hamba bernama Joko Handoko dan ia ini adalah adik kandung hamba yang bernama Roro Kartiko. Mendiang ayah hamba berdua adalah bekas bupati di Tuban yang karena menentang Mojopahit telah terhukum mati dan hamba berdua bersama ibu hamba telah mengungsi ke Lumajang dan....."

"Maksudmu Bupati Ronggo Lawe?"

Tanya Raja Puger itu.

"Bukan, Sri Baginda. Mending Ayah hamba adalah pengganti Beliau dan bernama Progodigdoyo. Kini hamba berdua tinggal di Lumajang dan telah diterima menjadi perwira pengawal oleh Sang Adipati di Lumajang."

"Pengawal Lumajang? Hemmm..."

Hati Raja itu menjadi makin khawatir.

"Lalu bagaimana Andika berdua sampai tertawan oleh pasukan kami?"

Joko Handoko bukan orang bodoh.

Raja ini adalah ayah dari dua orang kembar yang aneh itu, maka mengadu kepada raja ini merupakan hal yang sia-sia belaka,sungguh pun raja ini kelihatan bijaksana dan halus.

Dia menjadi serba salah dan bingung juga, akan tetapi dengan hati-hati pemuda ini lalu menjawab.

"Maaf, Sri Baginda, sesungguhnya hamba berdua juga masih merasa heran. Berdua saudara Murwendo dan Murwanti, yang baru sekarang hamba ketahui adalah putera-puteri Paduka tadinya adalah rekan-rekan hamba setelah mereka berhasil pula memasuki sayembara dan diangkat menjadi perwira pengawal seperti hamba. Akan tetapi,selagi hamba berdua dan teman-teman hamba yang sedang melaksanakan tugas yang diperintahkan oleh Sang Adipati Lumajang, mereka berdua mengajak hamba untuk ikut ke Puger. Hamba dan adik hamba menolak dan mereka menggunakan paksaan sehingga terjadi perkelahian. Hamba berdua dikeroyok dan tertawan."

Wajah Sang Prabu Bandardento menjadi merah.

Dia merasa malu sekali atas perbuatan dua orang putera kembarnya itu.

Akan tetapi, membebaskan dua orang muda ini pun tidak baik karena tentu mereka akan kembali ke Lumajang dan Adipati Lumajang tentu akan marah dan memusuhi Puger kalau mereka mendengar bahwa perwira-perwiranya diganggu oleh Puger, apa lagi kalau mendengar bahwa putera-puteri Puger telah menyelundup ke Lumajang dan menjadi penggawal.

Tentu akan menimbulkan sangkaan yang tidak baik.

Maka dia lalu berkata kepada Joko Handoko dan Roro Kartiko dengan suara yang halus namun tegas.

"Dua orang putera kami telah melakukan kekasaran terhadap Andika berdua, harap Andika berdua tidak menaruh dendam. Setelah Andika berdua barada di sini, kami menganggap Andika berdua sebagai tamu-tamu terhormat dan kami minta sukalah kiranya Andika berdua menjadi sahabat-sahabat putera-puteri kami dan mengajarkan kesusilaan dan kebajikan kepada mereka."

"Tapi, Kanjeng Romo, hamba ingin menikah denga Roro Kartiko!"

Tiba-tiba Murwendo berkata.

"Hamba juga, kawinkan hamba sekarang juga dengan Joko Handoko, Kanjeng Romo!"

Kata Murwanti.

"Diam....!!!"

Sang Prabu Bandardento membentak, marah dan malu bukan main.

"Awas, kalian tidak boleh menggunakan paksaan! Padas Gunung dan Pragalbo, aku perintahkan kalian untuk mengawasi dan menjaga agar pangeran dan puteri tidak memaksa dan mengganggu dua orang tamu kita dan tujuh orang pengiring mereka itu! Murwendo dan Murwanti, perjodohan tidak boleh dipaksakan. Kalau memang mereka berdua ini suka menjadi jodohmu tanpa paksaan, aku akan merasa senang dan bangga sekali mempunyai mantu seperti mereka. Akan tetapi, kalau kalian melakukan paksaan dan kotor, aku sendiri akan menentangmu!"

Setelah berkata demikian, Sang Prabu membubarkan persidangan dan Joko Handoko bersama Roro Kartiko dipersilakan keluar oleh Padas Gunung dan Pragalbo.

Dua orang kakak beradik ini terkejut dan bingung, akan tetapi mereka tidak diberi kesempatan untuk membantah lagi.

Maka mereka terpaksa untuk sementara menerima nasib, karena bagaimana pun juga, keputusan raja itu membuat mereka terlepas daripada ancaman saudara kembar itu.

Mereka diperbolehkan bebas di Puger dan diberi rumah pemondokan yang cukup baik bersama tujuh orang anak buah Sriti Kencana, namun mereka maklum bahwa untuk lolos dari tempat itu adalah tidak mungkin karena siang malam mereka selalu diawasi.

Murwendo dan Murwanti memang tidak berani melanggar pantangan ayah mereka.

Mereka berdua tidak berani menggunakan paksaan, apalagi karena mereka berdua maklum bahwa Joko Handoko dan Roro Kartiko bukanlah orang-orang lemah yang dapat dipaksa begitu saja.

Dahulu pun kalau tidak ada bantuan Padas Gunung dan Pragalbo, tidak mungkin mereka mampu menawan kakak beradik yang membuat mereka tergila-gila itu.

Sekarang, dua orang tawanan itu telah menjadi tamu-tamu yang terhormat dan bebas, bahkan diawasi selalu oleh Padas Gunung dan Pragalbo yang mereka tahu amat setia kepada ayah mereka sehingga dua orang tokoh yang juga menjadi guru-guru mereka itu tentu tidak akan segan-segan menentang mereka untuk mentaati perintah junjungan mereka kalau mereka berdua berani mengganggu Joko Handoko dan Roro Kartiko.

Murwendo dan Murwanti merasa penasaran sekali, namun mereka hanya dapat menimbun rasa kekecewaan mereka di dalam hati saja.

Mereka berdua bersikap manis dan berusaha memikat hati dua orang muda itu dengan cara halus, akan tetapi Joko Handoko dan Roro Kartiko sama sekali tidak pernah mau melayani mereka setiap kali dua orang saudara kembar itu muncul, Joko Handoko dan adiknya tentu meninggalkan mereka dan mengunci diri dalam kamar masing-masing,sedikit pun tidak mau bicara dengan mereka!

Hal ini tentu saja membuat Murwendo dan Murwanti merasa tersiksa sekali.

Dan kalau sudah begini, yang menjadi bulan-bulan kemarahan mereka tentulah para abdi yang melayani mereka, dipukul, ditendang dan dimaki hanya karena kesalahan yang kecil saja.

Dan untuk menghibur diri dari kekecewaan, kakak beradik kembar ini saling menumpahkan rasa rindu dan tergila-gila mereka itu satu kepada yang lain, dan makin berlarut-larutlah hubungan gelap, perjinaan yang amat mencemarkan Kadipaten Puger antara dua orang kakak beradik kembar yang agaknya mempunyai kelainan batin ini.

Sesungguhnya hidup ini sempurna, menjadi tidak sempurna karena kita sendiri yang membuatnya.

Sesungguhnya hidup ini bahagia, menjadi tidak bahagia karena kita menganggapnya demikian.

Sesungguhnya kebahagiaan tidak pernah meninggalkan kita,melainkan kitalah yang meninggalkannya untuk mengejar bayangannya!

Mengapa kita tidak pernah menghadapi segala sesuatu yang terjadi pada kita sebagai sesuatu kewajaran, menghadapinya tanpa sorak kemenangan atau keluh kekalahan?

Selalu kita nilai dengan keuntungan atau kerugian sehingga tentu saja menimbulkan kepuasan atau kekecewaan, kesukaan atau kedukaan.

Dan terseretlah kita ke dalam lingkaran setan yang tiada putusnya, tenggelamlah kita ke dalam gelombang suka duka, di mana dukanya lebih banyak daripada sukanya, di mana apa yang dinamakan kebahagiaan hanya kadang-kadang saja bercahaya seperti kilat di musim hujan yang selalu penuh awan gelap.

Bagi seorang biasa yang melihat Sang Prabu Bandardento sebagai seorang yang paling berkuasa dan paling mulia di Puger, tentu menganggapnya sebagai ukuran tertinggi orang yang hidup bahagia.

Akan tetapi apa kenyataannya bagi Sang Prabu Bandardento sendiri?

Tidak ada bedanya dengan orang-orang yang paling miskin di puger.

Tetap saja dilanda kecewa dan kedukaan.

Hal-hal yang dianggapnya sebagai sumber bahagia oleh orang-orang kecil, seperti kekayaannya, kekuasaannya kini sama sekali tidak dirasakan sebagai keadaan berbahagia oleh raja yang sudah memiliki semua itu semua!

Dan demikian pula keadaan kehidupan kita semua!

Kita melihat orang lain yang memiliki kelebihan daripada kita sebagai orang yang berbahagia, akan tetapi kenyataanya tidak demikian karena orang yang kita anggap beahagia itu pun akan meliah orang lain dan menganggap orang lain itu berbahagia sedangkan dia tidak!

"Mengapa demikian?"

Karena kesalahan yang satu ini kita miliki bersama, yaitu kesalahan membayang-bayangkan selalu bahwa kebahagiaan berada DI SANA, sama sekali tidak pernah meneliti dan menyelidiki keadaan DI SINI atau saat ini!

"Ah, kami merasa kuat bertanggung jawab atas perpisahan dua pasang merpati,"

Kata Sang Prabu Bandardento kepada Joko Handoko dan Roro Kartiko pada suatu senja ketika dia dan permaisurinya memanggil dua orang kakak beradik itu dalam taman sari.

"Kami akan berusaha untuk mendatangkan tunangan-tunangan kalian, Joko dan Roro. Katakanlah, siapakah tunangan kalian itu?"

Wajah Joko Handoko dan Roro Kartiko menjadi merah sekali mendengar pertanyaan ini.

Mereka saling pandang dan dalam sinar mata mereka berdua, kakak beradik ini sama-sama mengerti bahwa untuk menghindarkan diri dari harapan Sang Prabu untuk menjodohkan mereka dengan Si Kembar, memang sebaiknya kalau mengaku saja rahasia hati mereka secara terbuka.

Joko Handoko maklum pula akan isi hati adiknya, maka dia lalu menyembah dan berkata.

"Harap Paduka maafkan karena hamba berdua pun tidak tahu di mana mereka sekarang. Akan tetapi kalau Paduka ingin mengetahui, pujaan hati hamba itu adalah seorang dara yang cantik jelita dan gagah perkasa yang bernama Sulastri."

"Hemm, Sulastri? Dan dia pun gagah perkasa seperti Roro?"

Tanya Sang Permaisuri.

"Seperti hamba? Ah, hamba tidak ada seperempatnya!"

Kata Roro Kartiko. Sulastri adalah murid dari puncak Bromo, murid Empu Supamandrangi...."

"Ahh.....!"

Adipati Puger itu kelihatan terkejut sekali.

"Pantas dia gagah perkasa......, dan di manakah dia sekarang, Joko Handoko?"

Pemuda itu menarik napas panjang.

"Hamba tidak tahu, Gusti. Ketika itu, dia dan hamba berdua sedang diutus oleh Adipati Lumajang untuk menyelidiki pusaka ke Mojopahit, akan tetapi muncul pasukan dari Puger dan hamba berdua ditawan....."

"Menyelidiki pusaka? Pusaka apakah itu?"

"Keris pusaka Kolonadah...."

"Ahhh....!"

Kembali Sang Prabu Bandardento berseru kaget dan mengangguk-angguk,lalu dia bertanya kepada Roro Kartiko.

"Dan Engkau, Nini? Siapakah pujaan hatimu itu, yang membuatmu tidak mau menerima cinta kasih Murwendo?"

Roro Kartiko terkejut dan dia menundukkan mukanya.

Kedua pipinya menjadi kemerahan, bibirnya tersenyum malu-malu dan beberapa kali bibir itu bergerak,namun tidak mampu mengeluarkan suara!

Melihat ini, Sang Prabu Bandardento tertawa bergelak dan Sang Permaisuri berkata.

"Ah, tentu saja dia malu untuk mengaku."

"Joko Handoko, Andika sajalah yang menceritakan, siapa pujaan hati Adikmu itu? Apakah dia juga seorang yang sakti mandraguna? Agaknya di mojopahit banyak sekali orang-orang muda yang digdaya."

"Sesungguhnyalah, Gusti. Pria yang menjadi pujaan Roro adalah seorang pemuda yang kesaktiannya bahkan melebihi kesaktian Sulastri. Namanya adalah Sutejo, putera dari mendiang Senopati Mojopahit yang bernama Lembu Tirta,"

Kata Joko Handoko.

"Hebat! Dan Murid siapakah dia?"

"Kalau tidak salah, dia adalah murid Panembahan Ciptaning...."

"Pertapa di lereng Gunung Kawi? Hebat sekali.... luar biasa....! Dan di mana dia sekarang?"

Dengan alis berkerut karena kecewa mengenang sahabatnya ini, Joko Handoko berkata.

"Dia menjadi hamba di Mojopahit."

"Ah, sayang.... kalau dia berada di sini, juga Sulastri itu...."

Tiba-tiba Adipati itu menghentikan kata-katanya karena tiba-tiba muncul beberapa orang pengawal yang tugasnya menjaga di sekitar tamansari.

"Harap Paduka mengampuni hamba kalau hamba mengganggu...."

Kata seorang di antara mereka dengan napas terengah-engah.

Pada saat itu, Sang Prabu Bandardento, Permaisuri dan dua orang muda itu telah pula mendengar suara ribut-ribut yang terdengar di sebelah depan istana kadipaten.

"Apa yang terjadi, pengawal?"

Tanya Sang Prabu Bandardento dengan sikap tenang.

"Di pendapa istana ada seorang wanita mengamuk, dia digdaya sekali, banyak pengawal yang sudah roboh dan sekarang Ki Padas Gunung dan Ki Pragalbo sedang berusaha menandinginya, Gusti."

"Diajeng, kau kawal Gusti Puteri ke dalam, biar aku melihat siapa pengacau itu!"

Kata Joko Handoko yang kemudian berkata pula kepada Sang Prabu Bandardento.

"Harap Paduka suka menanti saja di dalam, hamba akan menangkap pengacau itu."

Sang Prabu Bandardento mengagguk dan tersenyum girang menyaksikan sikap pemuda itu.

Lalu dia bersama permaisuri memasuki istana dari pintu belakang, dikawal oleh Roro Kartiko dan beberapa orang pengawal.

Setelah mengawal raja dan permaisuri sampai ke dalam dengan selamat, Roro Kartiko juga cepat lari keluar untuk membantu kakaknya menangkap pengancau.

Apakah yang terjadi di luar?

Ketika itu, malam telah mulai tiba dan lampu-lampu di sekitar istana kadipaten telah dinyalakan oleh para perajurit penjaga.

Akan tetapi, ketika dua orang perajurit sedang sibuk memasang lampu besar yang tergantung di tengah ruangan pendopo, tiba-tiba ada sinar hitam menyambar.

"Pyarrrr....!!"

Lampu itu pecah berantakan terkena sabitan batu hitam yang menyambar tadi.

Dua orang perajurit itu terkejut bukan main dan ketika mereka melihat ada bayangan orang melompat masuk ke ruangan pendopo, mereka terkejut dan cepat menyerang.

"Maling!"

Teriak mereka, akan tetapi teriakan mereka itu terhenti di tengah karena dua kali tamparan yang amat cepat datangnya membuat tubuh mereka terpelanting dan mereka roboh pingsan seketika!

Para perajurit penjaga lainnya mendengar suara pecahnya lampu penerangan itu dan melihat pula robohnya dua orang teman mereka.

Cepat mereka berlari-larian menuju ke ruangan pendopo itu dan di situ, di dalam cuaca yang remang-remang, nampak berdiri sesosok tubuh manusia ramping dan terdengar suara halus seorang wanita yang berteriak nyaring.

"Murwendo dan Murwanti, keluarlah kalau kalian memang gagah!"

Mendengar wanita itu menantang pangeran dan puteri, tentu saja par perajurit yang jumlahnya tujuh orang itu cepat menerjang dengan marah.

Akan tetapi wanita itu menggerakkan kaki tangannya dan para pengeroyoknya roboh terpelanting ke kanan kiri.

Terdengar teriakan-teriakan disusul robohnya tubuh mereka.

Kini para pengawal yang mendengar suara ribut-ribut, berlarian keluar dan sebentar saja lebih dari dua puluh orang perajurit pengawal mengurung pendopo itu.

"Pengacau gila, hayo kau menyerah sebelum mampus dalam pengeroyokan kami!"

Bentak seorang perwira pengawal.

Wanita itu berdiri sambil bertolak pinggang di tengah ruangan, memandang kepada para pengepung dan melihat betapa beberapa orang yang sudah dia robohkan itu terseret keluar, lalu dia berkata.

"Babo-babo, majulah semua orang Puger kalau Si Kembar pengecut Murwendo dan Murwanti tidak berani menandingi aku!"

Tentu saja para pengawal menjadi marah dan mereka serentak maju, kini dengan keris dan tombak karena mereka menganggap wanita ini seorang pengacau yang amat berbahaya dan yang mengencam keselamatan pangeran dan puteri.

Akan tetapi, tiba-tiba tubuh wanita itu berkelebat dan pandang mata pengeroyok menjadi kabur.

Cuaca remang-remang itu membantu kecepatan gerakan wanita itu yang seolah-olah pandai menghilang dan tahu-tahu para pengeroyok di sebelah kirinya mawut diterjang oleh tamparan-tamparan dan tendangan-tendangan kakinya sebelum mereka sempat menggerakkan senjata mereka.

Teriakan-teriakan terdengar disusul robohnya mereka dan senjata mereka beterbangan berjatuhan di atas lantai.

Para pengeroyok mendesak maju dari belakang, akan tetapi, tiba-tiba wanita itu membalikkan tubuh dan tangannya bergerak.

Sebatang tombak yang telah dirampasnya menyambar dan membabat dari samping.

"Des-des-plakk!"

Tiga orang rubuh dan tangkai tombak itu patah-patah, kemudian wanita itu melanjutkan amukannya dengan gerakan yang amat kuas tangkas dan cepat.

Gerakannya seolah-olah di pandai terbang, seperti seeekor burung srikaan menyembari kupu-kupu dan setiap kali tangannya bergerak manampar, tentu ada seorang pengeroyok yang terpelanting.

Dalam waktu singkat saja lebih dari sepuluh pengeroyoksudah roboh!

Akan tetapi, lebih banyak lagi perajurit pengawal datang dan sebagian di antara mereka membawa obor sehingga ruangan pendopo yang luas itu kini menjadi terang benderang.

Para pengawal terkejut dan heran bukan main bercampur kagum ketika sinar obor menerangi wajah dan tubuh wanita yang mengamuk itu.

Ternyata yang mengamuk itu adalah seorang dara yang amat cantik dan masih muda belia!

Akan tetapi, beberapa orang pengawal yang dulu ikut dalam pasukan yang dipimpin oleh Padas Gunung dan Pragalbo, mengenal dara itu dan mereka berseru.

"Dia orang Lumajang!"

Dara perkasa itu memang Sulastri adanya.

Dengan hati tertekan penderitaan yang amat berat, Sulastri manuju ke Puger dan melakukan penyelidikan.

Dari penduduk dia mendengar bahwa Adipati Puger, yang berjuluk Sang Prabu Bandardento, adalah seorang raja yang amat bijaksana dan baik.

Akan tetapi menurut berita itu,putera Sang Prabu yang kembar tu, Pangeran Murwendo dan Puteri Murwanti, memang terkenal sebagai orang-orang muda yang aneh dan kadang-kadang suka melakukan hal-hal yang tidak terpuji, bahkan mendekati kekejaman.

Tentu saja dia tidak dapat benyak memancing berita tentang kejahatan saudara kembar itu.

Akan tetapi dia mendengar pula akan adanya tawanan-tawanan yang kini bereda di istana, kabarnya di antara para tawanan terdapat seorang pemuda dan seorang gadis yang dikabarkan akan menjadi mantu-mantu raja!

Mendengar ini, tidak syok lagi hati Sulastri bahwa memang Joko Handoko dan Roro Kartiko yang dicarinya berada di situ,menjadi tawanan istana agaknya.

Dia merasa penasaran dan marah sekali.

Andaikata Sulastri tidak sedang dihimpit kedukaan dan kekecewaan berhubung dengan adanya peristiwa Sutejo yang amat mengecewakan hatinya, agaknya dia akan bersikap hati-hati dan akan berusaha menolong kawan-kawannya itu dengan cara yang lebih halus.

Akan tetapi, kedukaan dan kekecewaan membuat dia menjadi nekat.

Dia seperti orang yang tidak peduli lagi akan nasibnya, tidak peduli lagi ada bahaya mengancamnya.

Dengan marah dia malam itu juga lalu menyerbu istana kadipaten dan menantang-nantang kepada Murwendo dan Murwanti!

Pengeroyokan para pengawal tidak membuat dia menjadi gentar, bahkan dia mengamuk dan merobohkan banyak pengawal dengan menggunakan kegesitan dan ketangkasannya.

Betapa pun juga, dia tidak hendak menumpahkan rasa marah dan bencinya kepada para pengawal yang dia tahu hanya merupakan alat-alat belaka, maka dia tidak mau menyebar maut dan hanya merobohkan mereka dengan tenaga terkendali agar tidak ada yang tewas oleh tendangan atau pukulannya.

Biarpun demikian, karena kedua tangannya mengandung aji kesaktian Hasto Nogo, maka setiap kali ada yang terkena sentuhan jari tangannya tentu terpelanting dan kalau tidak pingsan, tentu sedikitnya patah tulang atau salah urat, membuat mereka tidak dapat melanjutkan pengeroyokan lagi.

Dengan Aji Hasto Nogo di jari-jari tangannya dia mainkan Ilmu Silat Hasto Bairowo, dengan kecepatan seperti kilat menyambar-nyambar tubuhnya bergerak ke sana-sini dan kedua lengan yang sudah menjadi kebal oleh aji kesaktian itu, dia pergunakan untuk menangkis patah tombak-tombak dan memangkap keris-keris lawan yang kemudian dilemparkan begitu saja ke atas lantai.

Para pengeroyoknya menjadi panik dan gentar sekali menghadapi wanita muda yang demikian saktinya, seolah-olah bukan manusia yang mereka hadapi melainkan seorang dewi kahyangan yang mempergunakan kesaktiannya yang mujijat!

"Tahan!

Mundur semua!"

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan muncullah dua orang laki-laki di ruangan pendopo itu.

Mereka ini bukan lain adalah Padas Gunung dan Pragalbo, dua orang senopati dan tokoh yang paling kuat dari Kadipeten Puger.

Para pengawal tentu saja cepat mundur dan memberi jalan kepada dua orang ini dengan hati lega karena mereka semua tahu bahwa hanya dua orang senopati ini sajalah yang kiranya dapat menandingi dara yang mengamuk ini.

Sulastri menghentikan gerakannya dan memandang.

Dia segera mengenal dua orang laki-laki itu dan dia menjadi marah sekali.

Itulah dua orang laki-laki yang membantu Murwendo dan Murwanti dan yang mengerahkan pasukan menawan Joko Handoko dan Roro Kartiko dan tujuh orang anak buah Sriti Kencana.

Dia memandang penuh perhatian.

Yang seorang memegang sebatang suling hitam, kulitnya kuning dan mukanya berbentuk bulat telur.

Orang ke dua bermuka hitam berbentuk persegi,matanya berseri dan pinggangnya terselip sebatang keris panjang.

"Hemm, aku mengenal kalian!"

Sulastri menudingkan telunjuknya ke arah hidung mereka.

"Kalian adalah kaki tangan Murwendo dan Murwanti yang pengecut, mengandalkan pengeroyokan dan menawan teman-temanku. Hayo suruh Murwendo dan Murwanti keluar menerima hajaran kaki dan tanganku. Kalau tidak berani, cepat bebaskan Joko Handoko dan Roro Kartiko bersama tujuh orang anak buah mereka. Kalau tidak, hemm,........ Kadipaten Puger akan kubikin rata dengan Bumi!"

Hebat sekali tantangan dan ancaman itu, juga terdengar amat sombong dan semua itu terdorong oleh kemarahan Sulastri.

Kemarahannya terhadap Sutejo ditumpahkan semua kepada orang-orang Puger maka tentu saja apa yang diucapkannya itu sudah tidak terkendali lagi olehnya.

Padas Gunung dan Pragalbo adalah dua orang tokoh Puger yang berkepandaian tinggi.

Karena merasa bahwa mereka memiliki kepandaian tinggi, maka tentu saja mereka tadi meresa malu dan tidak senang menyaksikan betapa para pengawal mengeroyok seorang dara muda, sungguhpun dari gerakan gadis itu mereka dapat menduga bahwa gadis itu memang hebat sekali.

Apalagi setelah mereka mengenal gadis itu bukan lain adalah seorang di antara pengawal-pengawal Adipati Lumajang yang pernah mereka saksikan sepak terjangnya.

Akan tetapi, mendengar tantangan dan ancaman Sulastri, mereka menjadi marah sekali.

"Bocah sombong! Kaukira aku takut padamu?"

Bentak Padas Gunung yang tak pandai bicara. Akan tetapi Pragalbo tersenyum lebar.

"Ha-ha-ha, bocah yang bermulut lancang. Kau seperti seekor anak harimau yang baru pandai mengaum. Berani benar kau menyombongkan diri di Puger, seolah-olah di sini tidak ada yang jantan. Ketahuilah, Kakang Pads Gunung ini, dan aku Pragalbo, adalah banteng-banteng dari Puger, maka lebih baik kau menyerah dan kami hadapkan Sang Adipati daripada engkau sampai roboh terluka. Sungguh kami berdua akan merasa malu kalau harus melawan bocah yang masih ingusan!"

Sulastri membelalakkan matanya dan membanting kaki kanannya, tanda bahwa dia marah bukan main disebut bocah ingusan. Sepasang matanya yang lebar itu seolah-olah hendak menelan dua orang itu.

"Keparat! Aku Sulastri tidak takut menghadapi celeng-celang macam kalian. Jangankan hanya kalian berdua, biar kelian kerahkan seluruh perajurit Puger, aku tidak akan mundur setapak!"

"Babo-babo! Sumbarmu seperti dapat memecahkan Gunung Bromo dan melangkahi Gunung Mahameru saja! Langkahmu seperti Srikandi! Coba, hendak kulihat apakah benar-benar engkau segagah Srikandi!"

Padas Gunung yang sudah tak dapat menahan kemarahannya itu sudah menerjang ke depan, menggerakkan suling hitamnya menusuk ke arah ulu hati Sulastri.

"Hehh!"

Sulastri membentak dan menggerakkan tubuhnya miring sambil menangkis dengan lengan kirinya.

Melihat dara muda itu berani manangkis suling hitamnya,diam-diam Padas Gunung tersenyum mengejek.

Rasakan sekarang, pikirnya dan dia mengerahkan tenaganya.

Sulingnya itu terbuat dari baja hitam yang keras sekali,dapat mematahkan keris pusaka yang ampuh, maka kini tentu lengan anak perempuan itu akan patah karena berani menagkis suling hitamnya.

"Dukkk!"

Padas Gunung kaget setengah mati.

Bukan saja lengan dara itu tidak apa-apa,malah tangannya manjadi gemetar dan hampir saja sulingnya terlepas karena tangan itu seperti lumpuh terserang tenaga sakti yang menggetar dari lengan lawan.

Dia tidak tahu bahwa kedua tangan Sulastri telah terisi oleh Aji Trenggiling Wesi, yaitu ilmu kekebalan yang dahulu diwariskan oleh Ki Jembros!

Dan sebelum dia tenang kembali dari kagetnya, Sulastri sudah menggerakkan kakinya menendang ke arah dada.

Padas Gunung terkejut dan satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri dari kaki yang menyambar seperti kilat itu hanya dengan cara melempar tubuh ke belakang!

Dia membanting tubuh ke belakang dan bergulingan sehingga dia terhindar dari tendangan kilat, namun pakaiannya menjadi kotor terkena debu dan mukanya menjadi merah sekali karena dalam segebrakan saja hampir dia roboh oleh dara ini!

Karena merasa malu, dia menjadi marah bukan main.

Teriakan panjang mengiringkan gerakannya menyerang dengan menggunakan suling hitamnya dan memang Padas Gunung bukan seorang lawan yang lemah.

Sulingnya berubah menjadi sinar hitam yang bergulung-gulung dan dari gulungan sinar hitam itu terdengar suara melingking nyaring.

Akan tetapi sekali ini dia menghadapi seorang lawan yang amat luar biasa.

Sulastri yang maklum akan keampuhan senjata lawan dan kesaktian laki-laki itu,cepat mengerahkan ajinyayang disebut Turonggo Bayu sehingga tubuhnya berkelebatan, kadang-kadang seperti lenyap dari pandangan banyak orang saking cepatnya sehinga kalau tadinya Padas Gunung menyerang dengan pengerahan segala macam ilmunya, kini oleh kecepatan Sulastri, dia berbalik menjadi terdesak hebat.

Sedemikan cepatnya gerakan dara itu sehingga dia sama sekali tidak memperoleh kesempatan sedikit pun untuk membalas menyerang.

Beberapa kali dia terhuyung-huyung kerena desakan Sulastri dan bahkan satu kali pundaknya terserempet tamparan Hasto Nogo sehingga dia memekik kesakitan dan mukanya menjadi pucat.

Melihat ini, Pragalbo memekik panjang dan terjun ke dalam medan laga.

Kerisnya merupakan sinar kehijauan yang menyambar ke arah lambung Sulastri.

Dara ini cepat meloncat ke belakang mengelak dan mengejek.

"Huh, sudah kuketahui bahwa orang-orang Puger hanya merupakan sekelompok pengecut kecil yang bermulut besar. Majulah semua, hayo keroyoklah!"

Dia membentak dan kini mengamuk, bukan hanya gerakannya yang amat cepat,namun kini tangannya juga melakukan serangan bertubi-tubi sehingga Pragalbo dan Padas Gunung kembali terdesak biarpun mereka maju berbareng!

Tiba-tiba terdengar bentakan.

"Hayo keroyok! Bunuh dia, bunuh!"

Mendengar teriakan ini Sulastri meloncat ke belakang dan memandang.

Bangkit kemarahannya ketika dia melihat Murwendo dan Murwanti sudah berdiri dengan keris terhunus di tangan, akan tetapi ketika dia hendak menyerbu, Padas Gunung dan Pragalbo sudah menghadang dan menyerangnya lagi sehingga kembali dia mengamuk dengan kemarahan yang semakin meluap ketika dia melihat dua saudara kembar itu.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar seruan.

"Diajeng Sulastri.....!"

Dan berkelebatanlah bayangan Joko Handoko yang meloncat ke tengah ruangan itu.

"Tahan, Padas Gunung dan Paman Pragalbo......!"

"Bunuh perempuan ini! Bunuh...!"

Kembali Murwanto berseru.

"Mbakayu Sulastri....!"

Terdengar suara wanita menjerit dan muncullah Roro Kartiko meloncat ke dalam kepungan itu dan memeluk Sulastri.

"Kakangmas Joko! Diajeng Roro! Kalian selamat....?"

Sulastri girang bukan main sambil memeluk Roro Kartiko.

"Bunuh pengacau ini! Joko Handoko dan Roro Kartiko, mundur kalian!"

Terdengar Murwendo membentak lagi sambil mengacungkan kerisnya demikian pula Murwanti yang memandang kepada Sulastri dengan penuh kebencian.

"Jangan ganggu dia!"

Joko Handoko berseru.

"Aku akan membelanya!"

"Dan aku akan melawan mati-matian!"

Kata pula Roro Kartiko.

Kini tiba orang itu sudah berdiri saling membelakangi, membentuk pertahanan segi tiga dengan sikap gagah, kedua tangan terkepal dan mata mereka bersinar-sinar penuh kemarahan.

Mereka bertiga maklum bahwa keadaan mereka gawat sekali.

Mereka telah dikepung dan terancam bahaya maut.

Namun, mereka tahu bahwa lebih baik mati daripada menyerah kepada dua orang kembar yang gila itu.

Dan kakak berdik dari Tuban itu tidak rela membiarkan Sulastri celaka sendiri.

Kalau perlu,mereka akan mati bersama!

Terutama sekali Joko Handoko yang mencintai Sulastri,tentu saja siap untuk mengorbankan apa saja, nyawa kalau perlu, demi membela dan melindungi wanita perkasa yang dicintanya itu.

"Akan tetapi Andika belum tahu apakah akan demikian mudah saja Andika dapat membuat aku tidak berdaya, Sulastri. Jangan mengira bahwa Andika akan mudah saja manawanku. Aku tidak selemah Padas Gunung dan Pragalbo!"

Sulastri mengerutkan alisnya. Dia tahu bahwa Adipati ini mencobanya saja,menyerang dengan kata-kata.

"Hemm, hal itu harus dibuktikan dulu."

"Andika juga tidak memperhitungkan siasat dan kecerdikanku. Lihat saja!"

Tiba-tiba Adipati itu menekan ujung meja dan tiba-tiba saja kursi yang didudukinya meluncur ke belakang dan lenyap di belakang sebuah pintu yang cepat tertutup kembali.

Tentu saja Sulastri terkejut bukan main, akan tetapi Joko Handoko dan Roro Kartiko yang sudah mengenal Adipati itu, tidak menjadi heran atau kaget.

Pintu terbuka kembali dan kursi yang diduduki Adipati itu meluncur datang lagi mendekati meja.

"Ha-ha-ha, bukankah mudah saja aku menyelamatkan diri? Dan belum Andika lihat ini pula!"

Dia bertepuk tangan tiga kali dan tiba-tiba semua pintu yang jumlahnya ada lima buah di ruangan itu terbuka dan muncullah lima orang dari masing-masing pintu, berjumlah dua puluh orang perajurit bersenjata lengkap dan dipimpin oleh Padas Gunung dan Pragalbo sendiri!

Mereka itu sudah siap membela Sang Adipati dan kini mereka semua memandang kepada adipati itu dengan tegang.

Akan tetapi Sang Prabu Bandardento tertawa dan melambaikan tangan kepada dua orang senopati yang juga bertugas sebagai pengawal itu.

"Ha-ha, mundurlah dan tarik kembali pasukanmu. Ini hanya main-main saja!"

Dua orang tokoh Puger itu kelihatan lega dan mereka memberi isyarat. Semua perajurit itu tanpa mengeluarkan mundur dan lenyap dari pintu-pintu itu dan daun pintu tertutup kembali.

"Nah, lihatlah Sulastri. Bukankah tidak akan mudah bagimu andaikata kami menggunakan perangkap?"

Sulastri tertegun dan diam-diam harus mengakui bahwa memang sukar sekali baginya untuk menyelamatkan diri.

Tidak disangkanya bahwa Adipati Puger demikian cerdiknya.

Dia menarik napas panjang dan berkata.

"Hamba tidak mengira bahwa Paduka adalah seorang Adipati yang amat bijaksana dan juga amat cerdik. Hamba mengaku kalah."

"Ha-ha-ha, jangan Andika merendahkan diri, Nini. Aku amat suka kepada orang-orang muda gagah perkasa dan baik budi. Aku telah menganggap bahwa Joko Handoko dan Roro Kartiko selain sebagai tamu agung, juga sebagai keluarga sendiri. Dan sekarang, Andika sebagai tunangan Joko Handoko telah datang, sungguh baik sekali......"

"Apa.....???"

Sulastri berseru dengan mata terbelalak. Muka Joko Handoko menjadi merah sekali dan cepat dia berkata.

"Diajeng Sulastri, harap kau suka maafkan aku dan terserah kalau kau anggap aku tidak tahu malu, aku siap menerima kemarahan dan hukuman darimu. Ketahuilah, aku dan Adikku ditawan oleh Murwendo dan Murwanti dan mereka berdua itu hendak memaksa kami berdua menjadi jodoh mereka. Kami menolak dan kepada Sang Adipati tidak dapat membohong, maka dengan terus terang aku katakan bahwa aku tidak dapat menikah dengan Murwanti karena aku telah mempunyai seoerang dewi pujaan, seorang yang kucintai sepenuh jiwa ragaku. Orang itu adalah Andika sendiri, Diajeng Sulastri. Aku tahu bahwa aku tidak berharga, akan tetapi..... aku tidak dapat berbohong dan...."

"Mbakayu Sulastri, kakangmas Joko Handoko telah berkata dengan terus terang. Seperti juga aku telah membuka rahasia hatiku bahwa aku hanya dapat berjodoh dengan Kakangmas Sutejo...."

"Ahh....??!"

Kembali Sulastri terbelalak dan mukanya berubah menjadi pucat.

Sang Prabu Bandardento cepat menengok ke kanan dan semua orang juga menengok.

Dari sebuah pintu muncullah Murwendo dan Murwanti.

Mereka memberi hormat kepada Ayah mereka dan memandang kepada tiga orang muda itu dengan mata beringas, terutama kepada Sulastri.

Akan tetapi ayah mereka sudah cepat mempersilahkan dua orang muda itu duduk, lalu menegur.

"Kalian berdua datang tanpa kupanggil, ada keperluan apakah gerangan?"

Murwendo cepat memandang ke arah tiga orang muda itu dan Murwanti melirik ke arah Ayahnya sambil cemberut. Lalu terdengar Murwendo berkata.

"Kanjeng Romo,bukankah saya dan Diajeng Murwanti putera dan puteri Kanjeng Romo sendiri?"

Adipati Puger itu mengerutkan alisnya dan matanya menatap tajam wajah puteranya, penuh selidik, lalu menegur.

"Murwendo, ucapan apakah yang keluar dari mulutmu ini? Tentu saja kalian berdua adalah putera dan puteriku. Pernahkah aku menyangkal akan hal itu?"

"Paduka memang tidak pernah menyangkalnya, akan tetapi Paduka bersikap lebih manis kepada mereka ini daripada terhadap kami berdua! Paduka bercengkerama dengan mereka bertiga ini seolah-olah kami berdua yang menjadi orang luar!"

Murwendo menyatakan rasa penasaran hatinya.

"Benar, Kanjeng Romo memang tidak suka kepada kita, Kakangmas!"

Murwanti juga berkata dengan bibir cemberut. Adipati itu menarik napas panjang.

"Memang demikianlah anak-anakku. Aku selalu tidak suka kepada yang busuk dan jahat. Mereka bertiga ini adalah ornag-orang yang gagah perkasa dan patut dipuji. Jangankan kalian sebagai anak-anakku, biarpun diriku sendiri, kalau jahat dan busuk, tentu aku tidak akan menyukainya."

"Kenapa Kanjeng Romo menganggap kami busuk? Kami ingin menikah dengan Roro Kartiko dan Joko Handoko, apakah itu jahat dan busuk? Mengapa Ayah tidak memenuhi permintaan anak sendiri dan melindungi mereka?"

Murwendo mendesak.

"Sepatutnya Kanjeng Romo mendukung kehendak kami ini kalau Kanjeng Romo ingin melihat anak-anak sendiri berbahagia. Akan tetapi Kanjeng Romo malah menghalangi!"

Murwanti juga menuntut.

"Dan kalau memang tidak boleh menikah dengan kami,mengapa mereka tidak dilepas kembali saja, akan tetapi malah diagung-agungkan di sini? Bukankah itu membuat kami berdua merasa panas dan menderita?"

"Atau sebaiknya mereka dibunuh saja karena telah membikin kecewa hati kami! Akan tetapi Ayah memperlakukan mereka lebih manis daripada kami!"

Murwendo kembali menyerang.

Diserang bertubi-tubi oleh kedua orang anaknya itu, Sang Prabu Bandardento menjadi pucat.

Di dalam hatinya dia ingin menjerit bahwa dia membenci mereka, bahwa dia muak terhadap mereka karena ulah mereka sendiri, karena dua orang kakak beradik kembar itu telah berbuat hina, telah berjina sendiri.

Ingin dia membuka rahasia bahwa mereka bukanlah anak-anaknya, bukan darah dagingnya, melainkan hasil perjinaan selirnya dengan Ki Juru Taman!

Akan tetapi tak mungkin dia melemparkan noda dan aib itu di depan semua orang yang hanya akan mencemarkan nama keluarganya sendiri.

Dia menarik napas panjang berkali-kali sedangkan Sulastri, Roro Kartiko dan Joko Handoko hanya mendengarkan dengan hati tegang sambil bersiap-siap kalau-kalau hasil teguran-teguran dua orang kembar itu akan mendatangkan akibat buruk bagi mereka.

Akhirnya Sang Prabu Bandardento berkata sambil memandang tajam kepada dua orang anaknya itu.

"Murwendo dan Murwanti! Sikap kalian ini saja menunjukan betapa kalian berdua adalah orang-orang yang bersikap durhaka terhadap orang tua, akan tetapi dengarlah engapa aku bersikap menentang niat kalian mengawini Joko Handoko dan Roro Kartiko! Sudah kukatakan bahwa aku tidak suka melihat kalian memaksa mereka menjadi jodoh kalian. Kalau mereka dengan suka rela menjadi jodoh,aku akan merasa beruntung sekali. Akan tetapi, jodoh hanya dapat dilakukan secara suka rela oleh kedua pihak berdasarkan cinta, dan aku tahu bahwa mereka tidak dapat berjodoh dengan kalian karena mereka tidak mencintai kalian, karena mereka telah mempunyai pujaan hati masing-masing yang mereka harapkan menjadi jodoh mereka. Joko Handoko dan Roro Kartiko sampai ke Puger karena tindak kekerasan kalian maka untuk menebus kesalahan kalian itu, aku bersikap baik terhadap mereka dan menganggap mereka sebagai tamu agung. Hal itu adalah wajar, bukan?"

"Memang wajar, akan tetapi wajarkah kalau Kanjeng Romo juga menerima wanita pengacau ini sebagai tamu yang dihormati dan yang boleh beramah-tamah dengan Kanjeng Romo? Padahal baru saja dia hampir membunuh belasan orang pengawal kita!"

Murwendo membantah sambil menuding ke arah Sulastri. Namun Sang Prabu Bandardento tenang saja menghadapi serangan puteranya itu.

"Murwendo, jangan menuruti panasnya hati dan pikirlah baik-baik, karena panasnya hati hanya akan mengeruhkan pikiran dan mengacaukan pertimbangan. Nini Sulastri ini adalah seorang dara perkasa, murid Sang Empu Supamandrangi dari Puncak Bromo yang arif bijaksana, maka segala tindakannya tentu mempunyai dasar yang kuat. Dia memang datang menyerbu ke Puger, akan tetapi tindakannya itu hanya menjadi akibat daripada perbuatan kalian yang sesat, yang telah menculik Joko Handoko dan Roro Kartiko. Dia datang dengan niat menolong dua orang muda yang menjadi sahabat baiknya. Tentu saja dalam penyerbuan itu terjadi pengeroyokan oleh para pengawal dan dia terpaksa merobohkan belasan orang pengawal. Akan tetapi, tidak ada seorang pun pengawal yang tewas, padahal akan mudah saja dia menewaskan para pengawal kalau dikehendakinya! Selain itu, dia adalah dewi pujaan Joko Handoko, dara yang dicintainya, maka sudah sepatutnya kalau dia datang menolong mereka......"

"Keparat! Kalau begitu dia harus mampus!"

Tiba-tiba Murwanti memekik dan meloncat ke depan, mencelat dari kursinya dan dengan keris terhunus dia menyerang Sulastri yang masih duduk di kursinya dan memandang dengan sikap tenang saja.

"Wuuuuttt..... plakkk.... dessss.......!!"

Tubuh Murwanti terpelanting ketika Sulastri sambil duduk menangis serangan kerisnya dan balas menampar.

Murwanti terbanting ke atas lantai dengan keras, kerisnya terlampar jauh.

Melihat ini, Murwendo sudah bangkit dan mencabut kerisnya.

"Murwendo! Murwanti! Jangan kurang ajar kalian! Hayo kalian duduk kembali dan jangan bergerak!"

Sang Prabu Bandardento menghardik dan dua orang kembar itu duduk kembali dengan muram dan mata memandang penuh kebencian kepada Sulastri.

"Kanjeng Romo, lebih baik Kanjeng Romo sekarang membunuh kami berdua saja!"

Tiba-tiba Murwanti berkata dan menangis terisak-isak. Murwendo juga mengusap air matanya.

"Ah, kalian benar-benar amat tak tahu diri!"

Sang Prabu Bandardento juga menjadi marah.

"Kanjeng Romo amat tidak adil terhadap kami. Kanjeng Romo lebih percaya kepada tiga orang yang asing ini. Padahal siapa tahu mereka ini adalah mata-mata Lumajang yang menyelidiki keadaan kita? Siapa tahu kalau mereka itu hanya membohong saja? Kami berdua melihat sendiri betapa antara mereka hanya ada persahabatan biasa, akan tetapi kini tiba-tiba saja mereka mengaku bahwa antara Joko Handoko dan Sulastri ada hubungan cinta. Kami tidak percaya kalau tidak ada bukti! Kanjeng Romo, kalau memang benar bahwa Sulastri adalah pujaan hati Joko Handoko mereka harus membuktikannya dengan menikah di sini! Kalau tidak, kami tidak percaya dan kami terpaksa akan menyiarkan berita keluar istana kadipaten bahwa Kanjeng Romo bersikap tidak adil terhadap kami berdua dan lebih membela orang-orang luar seperti mereka ini!"

Sulastri terkejut sekali mendengar ini.

Ingin dia turun tangan menghajar dua orang kembar itu, akan tetapi dia teringat kepada dua orang sahabatnya dan kepada Sang Adipati, maka dia menahan sabar.

Adipati Puger juga terkejut, akan tetapi dia lalu berpikir.

Memang amat memalukan kalau sampai dua orang anaknya itu menyiarkan berita yang tentu akan dilebih-lebihkan di luar istana.

Dan memang bukan niatnya untuk memanjakan tiga orang muda dari luar itu.

Sikapnya yang baik itu hanya berdasarkan kebijaksanaan dan berhati-hati karena dia tidak mau bermusuhan dengan Kadipaten Lumajang yang besar dan kuat.

Tantangan Murwendo untuk mengawinkan Joko Handoko dengan Sulastri tidak ada buruknya.

Tentu mereka yang bersangkutan tidak akan keberatan dan baginya ada dua keuntungan.

Pertama, dia akan menunjukkan kepada anak kembar itu bahwa tidak ada niat memanjakan luar dalam hatinya.

Ke dua, dia kan berjasa bagi mereka berdua dan berarti berjasa pula bagi Lumajang yang kelak mendengar akan hal itu.

"Baiklah! Aku akan membuktikan bahwa mereka ini adalah orang-orang muda gagah perkasa yang tidak sudi menipu dan bebohong seperti kalian! Joko Handoko dan Nini Sulastri, kuharap Andika berdua tidak menolak untuk merayakan pernikahan di Kadipaten Puger ini, dan aku sendiri yang akan menjadi wali kalian!"

Wajah Joko Handoko menjadi merah sekali dan wajah Sulastri menjadi pucat. Melihat ini, tiba-tiba Murwanti berkata.

"Lihat, Kanjeng Romo. Mereka itu membohong! Lihat wajah perempuan itu yang menjadi pucat, tanda bahwa dia membohong dan dia tidak mau menikah dengan Joko Handoko!"

Joko Handoko mengangkat muka memandang dan Sulastri juga memandang kepadanya.

Tiba-tiba kedua pipinya menjadi merah sekali dan dua titik air matanya hampir keluar karena dia teringat kepada Sutejo.

Akan tetapi, mendengar serangan Murwanti itu, cepat dia berkata sambil menunduk.

"Terserah kepada Paduka....."

Jawaban itu mengejutkan Murwanti dan menggirangkan hati Joko Handoko dan Roro Kartiko.

Bahkan Roro Kartiko lalu merangkul dan menciumi pipi Sulastri dengan mata basah air mata!

"Bagaimana, Joko Handoko?

Andika belum menjawab.

Setujukah?"

Tanya Sang Prabu Bandardento.

"Hamba.... setuju, Gusti."

"Ha-ha-ha, lihat anak-anakku. Tidak ada apa-apa yang perlu dicurigai. Dan pernikahan itu akan segera diresmikan dan dirayakan, dan aku akan memberi hadiah yang amat berharga, yang tentu akan menggirangkan sepasang mempelai. Joko Handoko dan Nini Sulastri, tahukah kalian hadiah apa yang akan kuberikan kepada kalian? Ha-ha, tentu kalian tidak akan dapat menerkanya. Aku akan menghadiahkan keris pusaka Kolonadah kepada kalian."

"Ehhh......??!!"

Seruan ini keluar dari tiga buah mulut, yaitu mulut Sulastri,Joko Handoko, dan Roro Kartiko.

"Ha-ha-ha, tentu kalian merasa heran, bukan? Ketahuilah bahwa keris pusaka itu berhasil dirampas oleh Padas Gunung dan Pragalbo dari tangan Resi Harimurti, setelah Resi Harimurti membunuh Ki Ageng Palandongan di tengah jalan, tidak jauh dari batas wilayah Puger. Keris pusaka itu berada ditanganku, dan tersimpan di dalam kamar pusaka Puger. Akan tetapi, pusaka itu akan kuhadiahkan kepada sepasang mempelai dan kalian bertiga setelah itu boleh kembali ke Lumajang membawa keris pusaka Kolonadah dan menghaturkannya kepada Adipati Aryo Wirorojo di Lumajang disertai salam hormatku."

Tiga orang muda perkasa itu saling pandang dan diam-diam mereka merasa girang karena tidak mereka sangka-sangka bahwa mereka akan begitu mudah mendapatkan kembali keris pusaka itu.

Akan tetapi Murwendo dan Murwanti makin marah, makin keruh wajah mereka dan mereka lalu pergi meninggalkan ruangan itu setelah mohon diri dengan sikap kaku dari ayah mereka!

Tiga orang muda itu pun diperkenankan mengundurkan diri dan Sulastri diperkenankan untuk berdiam di satu kamar bersama Roro Kartiko.

Setelah tiba di dalam kamarnya, Roro Kartiko merangkul dan menciumi Sulastri dengan penuh kebahagiaan.

"Aduhh, Mbakayu Sulastri....., betapa bahagia rasa hatiku. Ingatkah engkau betapa dulu aku tergila-gila kepadamu sebagai Bromatmojo? Aku mengharapkan manjadi isterimu dan aku cinta kepada.......Bromatmojo. Akan tetapi ternyata engkau adalah Mbakayu Sulastri dan sekarang bahkan engkau akan menjadi isteri Kakangmas Joko Handoko, menjadi kakak iparku! Betapa gembira rasa hatiku dan terima kasih kepadamu, Mbakayu Sulastri.... eh, Mbakayu.... ehh, kenapa kau? Kenapa kau menangis.......?"

Roro Kartiko terkejut sekali melihat Sulastri, dara perkasa yang amat gagah dan sakti itu, yang amat dikaguminya semenjak dahulu menyamar sebagai pria, kini menjatuhkan diri di atas pembaringan, menyembunyikan mukanya di atas bantal dan menangis tersedu-sedu!

Dia cepat merangkulnya dan mengguncang-guncang pundaknya,akan tetapi Sulastri tetap menangis terisak-isak karena dara ini sedang membiarkan semua ganjalan hatinya mencair dan membanjir keluar dari air matanya.

Semua ganjalan hatinya sejak perpisahannya dengan Sutejo selama ini ditahan-tahannya.

Kesedihan yang dideritanya yang tak pernah dapat dikeluarkan sebagai pencurahan di depan siapa pun, hanya ditanggungnya secara diam-diam, dan hanya dapat managisi kekecewaannya secara diam-diam pula, kini mendapatkan kesempatan di depan Roro Kartiko.

Pertahanan itu bobol dan air kedukaan yang sudah hampir meluber itu kini ambrol dan membanjir tak dapat dibendung lagi.

Dia menangis, mengguguk seperti seorang anak kecil.

Duka timbul dari perasaan iba diri.

Makin diingat, makin nyata nampak betapa dirinya patut dikasihani, betapa dirinya amat menderita, bahkan segala macam peristiwa duka yang dulu-dulu bermunculan dan teringat semua sehingga menambah besar rasa iba diri itu.

Demikian pula dengan Sulastri.

Ketika dia manangis itu,ketika dia teringat betapa hancur hatinya karena perpisahannya dengan Sutejo,karena melihat pemuda itu melakukan hal-hal yang amat menyakitkan hatinya,teringatlah dia akan keluarganya yang sudah tidak ada, teringat akan Mbakayunya,dan guru-gurunya, yaitu Ki Jembros dan Empu Supamandrangi yang keduanya mati karena kejahatan Resi Mahapati.

Teringat betapa dia kini sebatangkara, tanpa masa depan yang baik, dan kini di bahkan terpaksa akan menikah dengan Joko Handoko!

Tentu saja dia tidak membenci Joko Handoko yang diketahuinya merupakan seorang sahabatnya, sahabat mereka, yaitu dia dan Sutejo!

Akan tetapi, mana mungkin dia menjadi isteri orang lain selama dia tahu bahwa hatinya masih tetap mencintai Sutejo?

Melihat Sulastri menangis begitu sedih, mengguguk seperti anak kecil, Roro Kartiko maklum bahwa dia harus mendiamkan dulu sahabatnya itu.

Dan mendengar serta melihat tangis menyedihkan itu, dia tidak dapat menahan pula air matanya.

Dipeluknya dan diusapnya rambut kepala Sulastri dan kadang-kadang dia mengusap air matanya sendiri.

Pada dasar batin manusia memang terdapat cinta kasih yang suci.

Setiap orang akan merasa terharu dan ikut pula bersedih kalau menyaksikan orang lain dalam duka cita yang hebat.

Air mata kita sukar ditahan karena rasa haru menggerogoti hati kita kalau kita melihat pemandangan yang menyedihkan,melihat penderitaanorang lain.

Sebaliknya, sukar pula bagi kita untuk menahan senyum kalau kita mendengar atau melihat orang orang lain tertawa gembira.

Kita mempunyai dasar watak yang seperti itu, gembira kalau melihat orang lain berbahagia, dan terharu kalau melihat orang lain menderita.

Bukankah itu cinta kasih namanya?

Sayang, sinar kasih yang hanya tinggal sedikit ini akhirnya lenyap sama sekali tertiup oleh loba, tamak dan angkara murka dari si aku yang terlalu mementingkan diri pribadi sehingga perasaan yang amat suci itu tidak nampak lagi, berubah menjadi perasaan gembira melihat orang lain menderita dan iri hati melihat orang lain bahagia!

Setelah mereda tangis Sulastri, akhirnya Roro Kartiko bertanya halus.

"Mbakayu Sulastri, kita adalah antara orang sendiri, setidaknya, aku adalah sahabatmu, bukan? Kita sudah sering berjuang bahu-mambahu dan bantu-membantu, sama-sama terancam bahaya maut. Maka, kiranya sudah sepantasnya kalau engkau memberi tahu kepadaku mengapa engkau begini berduka, Mbakayu? Ataukah hal itu merupakan rahasia bagimu? Setidaknya, katakanlah apa yang dapat kulakukan untuk membantumu?"

Sulastri mengusap air matanya dan terisak, dada dan pundaknya berguncang, mukanya agak pucat dan kedua matanya merah.

Bantal yang dipakai menyembunyikan muka tadi sudah basah semua.

Akhirnya berhenti juga tangisnya dan dengan kekuatan batinnya, dia membuat dirinya tenang kembali.

Dipandanginya Roro Kartiko dan berkatalah dia dengan suara serak.

"Diajeng Roro, aku hanya membuat engkau dan kakangmas Joko Handoko kecewa dan berduka saja."

Roro Kartiko mengerutkan alisnya dan menatap wajah yang agak pucat dengan rambut kusut namun makin nampak kecantikannya yang wajar itu, lalu memegang tangan Sulastri.

Mereka duduk berdampingandi atas pembaringan itu.

"Mbakayu Sulastri, sudah kukatakan tadi bahwa kita adalah sahabat-sahabat yang akrab dan baik, yang patut membagi suka-duka, bukan? Apakah kau kira kami kakak beradik akan senang kalau melihat kau berduka? Tidak, katakanlah saja, Mbakayu, seperti jamu yang pahit, hal-hal yang tidak menyenangkan lebih baik dikatakan terus terang, daripada dipendam dalam hati."

Sulastri menarik napas panjang.

"Ketahuilah, Diajeng Roro, aku tidak mungkin dapat menikah dengan kakakmu, akan tetapi.... aku tahu pernikahan itulah yang akan menyelamatkan kita bertiga, yang memungkinkan kita bertiga lolos dengan selamat dari tempat ini."

Pengakuan ini amat mengejutkan hati Roro Kartiko, juga amat menyakitkan hatinya karena dara itu maklum betapa Kakaknya menaruh hati cinta yang mendalam terhadap Sulastri. Akan tetapi, dia (Lanjut ke

Jilid 28) Kemelut Di Majapahit (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 28 tidak memperlihatkan hal itu pada wajahnya yang tetap tanang ketika dia bertanya.

"Kalau boleh aku mendengar, mengapa engkau tidak dapat menikah dengan Kakangmas Joko, Mbakayu?"

Biarkan Roro Kartiko bersikap tenang dan biasa, namun pandang mata Sulastri yang tajm dapat melihat kekecewaan membayang di ujung bibir dan pandang mata dara itu,maka dia menarik napas panjang, menunduk dan menjawab lirih.

"Aku..... aku tidak cinta kepadanya, Diajeng. Engkau juga tahu, aku....aku mencintai orang lain, mana mungkin aku menjadi isterinya? Aku tidak mungkin menjadi isterinya, akan tetapi pernikahan itu sajalah yang dapat menyelamatkan kita bertiga. Aku menjadi bingung sekali, Diajeng Roro Kartiko."

Hening sejenak.

Sulastri tahu bahwa pengakuannya itu memukul dan menyedihkan hati Roro Kartiko yang tadi kelihatan begitu gembira mendengar keputusan Adipati Puger.

Akan tetapi dia tidak tahu bahwa ada hal lain yang menghancurkan hati Roro Kartiko pada saat itu.

Roro Kartiko membuang muka untuk menyembunyikan matanya yang terasa panas dan air matanya memenuhi rongga matanya.

Jantungnya seperti ditusuk keris beracun.

Tadinya dia melihat cahaya harpan amat indah bagi kakaknya dan bagi dia sendiri.

Memang dia pernah mendengar pengakuan Sulastri bahwa dara itu mencintai Sutejo dan hal ini kadang-kadang membuat hatinya perih kalau dia mengenangkan Sutejo sebagai pria yang menarik hatinya dan sekaligus menjatuhkan hatinya, sebagai pengganti Bromatmojo.

Akan tetapi, Sulastri tidak pernah lagi membicarakan Sutejo dan perpisahan mereka membuat dia menduga-duga penuh harapan bahwa hubungan cinta kasih antara Sulastri dan Sutejo telah putus.

Apalagi, melihat kemungkinan pernikahn Sulastri dan Kakaknya.

Semua begitu indah, begitu tepat!

Akan tetapi sekarang, tiba-tiba saja Sulastri mengatakan bahwa dia tidak mencintai kakaknya, melainkan mencintai orang lain.

Siapa lagi kalau bukan Sutejo?

"Ahhhh...!"

Tiba-tiba Roro Kartiko menjerit dan meloncat berdiri, lalu berlari.

Sulastri kaget bukan main mendengar jerit ini.

Cepat dia mengankat muka memandang dan melihat Roro Kartiko sudah berlari hendak keluar dari dalam kamar itu.

"Eh, Diajeng Roro....!!"

Dia meloncat bangun dan memanggil.

"Aku....aku harus memberi tahu kepada Kakangmas Joko...!"

Roro Kartiko berkata tanpa menoleh dan dari suaranya Sulastri maklum bahwa dara itu menangis.

Dia lalu membanting dirinya di atas pembaringan, menelungkup dan termenung.

Dia sudah mengecewakan hati Roro Kartiko, pikirnya, dan tentu Joko Handoko akan merasa lebih kecewa lagi.

Akan tetapi,memang jamu itu pahit, benar Roro Kartiko, pikirnya.

Lebih baik berterus terang sehingga jelas semua daripada memendam perasaan di dalam hati.

Biarlah Joko Handoko minun jamu pahit, mendengar bahwa dia tidak membalas cinta pemuda itu karena telah mencintai pemuda lain.

Penjelasan itu ada baiknya bagi Joko Handoko.

Akan tetapi, mereka harus menikah!

Kalau tidak sudah pasti Murwendo dan Murwanti tidak akan diam begitu saja, tentu akan membunuh mereka bertiga dengan alasan bahwa mereka bertiga membohong dan mungkin benar mata-mata Lumajang seperti yang dituduhkan.

Dan kalau mereka menolak untuk menikah, Sang Adipati Puger tentu juga kehilangan kepercayaannya.

Memberontak dan berusaha meloloskan diri?

Agaknya akan sukar sekali dan membahayakan, apa lagi kalau dia harus melindungi Joko Handoko, Roro Kartiko,dan tujuh orang anggota Sriti Kencana!

Tidak mungkin dia menghadapi dan melawan orang sekadipaten Puger!

Ah, dia merasa betapa hancur hati Joko Handoko dan Roro Kartiko.

Dia tadi tidak dapat mengelak lagi dan terpaksa mengakui bahwa orang yang dia cintai adalah Sutejo!

Pengakuan yang sekaligus menghancurkan hati kakak beradik itu karena kakanya mencintai dia dan adiknya mencintai Sutejo!

Adakah suatu kebetulan yang lebih kejam daripada ini?

Sulastri termenung.

Dia sendiri merasa betapa hancur hatinya karena cinta gagal, bukan karena Sutejo tidak membalas cintanya, sama sekali tidak.

Akan tetapi cinta di antara mereka juga hancur karena perbuatan Sutejo yang telah membantu Mahapati dan membunuh gurunya,Empu Supamandrangi!

Dia sendiri merasakan penderitaan cinta gagal, dan kini dialah yang menjadi penyebab gagalnya cinta dalam hati Joko Handoko dan Roro Kartiko!

Tiada yang lebih manis daripada cinta Seperti madu di waktu dua hati berpadu Dan tiada aral apa pun datang mengganggu Dunia terasa bagaikan surga!

Tiada yang lebih pahit daripada cinta Seperti empedu di waktu du hati berpisah Menjadi permainan antara cinta dan benci Dunia terasa bagaikan neraka!

Mata yang sudah merah itu kembali digenangi air mata.

Di sudut hatinya terasa benar oleh Sulastri betapa dia amat mencintai Sutejo, betapa bahagianya ketika dia dipeluk dan saling berciuman dengan pemuda itu, betapa ingin hatinya untuk terus berdampingan dengan Sutejo, tidak pernah terpisah lagi sampai mati.

Akan tetapi, pikirannya tidak dapat melepaskan ingatan bahwa Sutejo membantu musuh yang membunuh Empu Supamandrangi, bahwa Sutejo telah menjadi kaki tangan Mahapati.

Iangatan ini membuat dia amat menyesal dan benci kepada Sutejo.

Perasaannya yang mencinta dihantam oleh pikirannya yang mendatangkan benci!

Tak lama kemudian dia mendengar langkah-langkah kaki.

Cepat dia bangkit dan mengeringkan air matanya, lalu membereskan pakaian dan rambutnya.

Akan tetapi kedua tangan yang baru membereskan rambut itu terlepas lagi ketikadia melihat bahwa yang muncul adalah Joko Handoko dan Roro Kartiko!

Jantungnya terasa perih seperti tertusuk keris pusaka ketika dia melihat pemuda itu berdiri dengan muka pucat dan wajah muram, sedangkan Roro Kartiko jelas kelihatan merah-merah kedua matanya, bekas tangis.

Sulastri bangkit berdiri, sejenak mereka bertiga saling berpandangan tanpa mampu mengeluarkan kata-kata.

Akhirnya Sulastri yang memaksa mulutnya mengeluarkan kata-kata dengan suara gemetar dan lirih.

"Kakangmas Joko Handoko, harap kau suka memaafkan saya......"

Lalu disambungnya sambil menatap Roro Kartiko.

"Roro,maafkanlah aku...."

Ucapan itu seperti air dingin menyiram hati dua orang kakak beradik itu. Joko Handoko seperti baru sadar dan cepat dia berkata.

"Ah.... tidak... tidak...! Akulah yang tidak tahu diri, aku dan Adikku yang seperti buta, tidak mengetahui bahwa engkau dan Sutejo saling mencinta. Aku datang bukan untuk mengungkit kembali soal itu, Diajeng, biarlah kesalahan ini dipendam saja agar tidak menimbulkan luka-luka di hati. Aku datang untuk membicarakan tentang.... eh, maksud Sang Adipati. Setelah keadaannya begini, jelas bahwa tidak mungkin engkau.... menikah dengan aku...."

"Duduklah, Kakangmas Joko Handoko dan Diajeng Roro,"

Sulastri berkata, sikapnya tenang kembali. Mereka duduk di atas kursi-kursi yang berada di kamar itu,kemudaian Sulastri memandang mereka dan berkata.

"Kurasa, tidak ada pilihan lain bagi kita. Dua orang kembar yang gila itu jelas hendak menjerumuskan kita, dan Sang Adipati sengaja menikahkan kita untuk menangkis tuduhan mereka. Kalau kita menolak, sudah pasti dua orang gila itu akan menang dan kita akan terancam malapetaka. Untuk menggunakan kekerasan, kurasa percuma saja karena tidak mungkin kita dapat melawan perajurit-perajurit kadipaten yang amat banyak. Jadi, jalan satu-satunya untuk dapat menyelamatkan diri kita dan akhirnya lolos dari sini, adalah.... memenuhi keinginan Sang Adipati, kita....eh, menikah dan menerima kembali Kolonadah, bayangkan betapa mengejutkan kenyataan ini, kemudian kita dapat lolos dengan aman."

Joko Handoko mengerutkan alisnya dan menggelengkan kepalanya.

"Diajeng, engkau tentu cukup maklum bahwa Joko Handoko bukanlah seorang manusia rendah macam itu,yang hanya untuk menyelamatkan secuil nyawa ini akan sudi melakukan kerendahan itu. Sampai mati pun aku tidak akan mungkin suka untuk mengkianati Dimas Sutejo dan engkau..."

"Ah, engkau tidak mengkhianati siapa-siapa, Kakangmas Joko. Aku yang menghendaki ini, dan pernikahan kita itu hanya pura-pura saja, untuk mencari kesempatan lolos dari sini dengan aman!"

Sulastri membantah. Joko Handoko tetap menggeleng kepalanya.

"Biarpun demikian, kalau kita sudah dinikahkan secara resmi, hal itu tentu akan merupakan pukulan hebat bagi Dimas Sutejo yang kelak akan menjadi jodohmu, Diajeng...."

"Tidak! Dia tidak akan menjadi jodohku! Dia....dia musuhku....!"

"Ihhh.....!"

Roro Kartiko menjerit.

"Bukankah dia cinta kepadamu, Mbakayu Sulastri?"

"Dia boleh cinta, akan tetapi aku... aku benci padanya! Aku ingin membunuhnya!"

"Eh,eh... bagaimana pula ini?"

Joko Handoko terbelalak.

"Mbakayu Sulastri...."

Roro Kartiko memandang dengan khawatir, takut kalau-kalau kedukaan membuat dara perkasa itu berubah ingatan! "Ingalah, tadi engkau mengatakan bahwa engkau mencintai Kakangmas Sutejo dan....."

"Memang, kami saling mencinta, memang aku tidak bisa menikah dan menjadi isteri orang lain, akan tetapi aku... aku juga membencinya, ingin membunuhnya. Dia musuh besarku, dia telah membunuh Eyang Empu Supamandrangi!"

Sulastri mengepal tinju dan matanya menyinarkan api kemarahan. Joko Handoko dan adiknya saling pandang dan menggeleng-geleng kepalanya.

"Agaknya antara engkau dan Dimas Sutejo selalu ada ketegangan-ketegangan, tentu ada kesalahpahaman dalam hal itu, Diajeng....."

"Sudahlah, hal ini adalah urusan dia dan aku, Kakangmas Joko. Tidak perlu engkau merasa tidak enak kepada musuhku Sutejo itu! Kita melakukan upacara pernikahan, biarpun diresmikan, agar kita dapat lolos dari sini, dan terutama sekali bagiku agar kalian dan tujuh orang anak buah kalian dapat diselamatkan. Tentang pernikahan itu, bagi kita hanya pura-pura, kita tidak sungguh-sungguh menjadi suami isteri.... eh, maafkan, Kakangmas."

Sulastri menyambung ketika melihat Joko Handoko memejamkan mata dengan wajah pucat.

Setiap kata dalam ucapan Sulastri bagaikan tikaman keris di ulu hatinya terasa olehnya.

Joko Handoko menarik napas panjang.

"Kalau begitu kehendakmu, terserah, Diajeng."

"Hanya pernikahan pura-pura, Kakangmas."

Joko Handoko makin pucat.

"Aku tahu, Diajeng, dan jangan khawatir, aku selalu ingin melihat engkau bahagia."

"Maaf, aku hanya ingin agar di kemudian hari tidak terjadi keributan mengenai pernikahan pura-pura ini. Diajeng Roro menjadi saksinya,"

Kata Sulastri.

Roro Kartiko hanya mengangguk lemah.

Ruangan pendopo yang luas dari istana Kadipaten Puger terhias meriah.

Suara gamelan yang dipukul berirama menyambut datangnya para tamu yang membanjiri pendopo itu.

Tamu-tamu ini terdiri dari pembesar-pembesar dan penduduk terhormat di Puger, untuk menghadiri perayaan pesta pernikahan antara Joko Handoko dengan Sulastri sebagai tamu-tamu kehormatan Sang Adipati yang oleh Sang Prabu Bandardento sendiri dianggap sebagai keluarga dan diresmikan pernikahan mereka di bawah perwalian dan restu Sang Prabu sendiri!

Setelah melakukan upacara pertemuan pengantin, sepasang pengantin itu duduk bersila di atas panggung yang disediakan untuk mereka, didampingi oleh Roro Kartiko dan tujuh orang anggota Sriti Kencana.

Mereka tidak mau saling berjauhan dalam peristiwa ini, selalu siap menghadapi apa pun.

Sulastri menunduk dan menahan air matanya karena kembali dia teringat kepada Sutejo dan membayangkan betapa akan bahagianya kalau dia dapat bersanding sebagai pengantin bersama Sutejo, kalau saja Sutejo tidak membunuh Empu Supamandrangi!

Dan Joko Handoko juga duduk dengan anteng, hatinya terasa perih sekali karena semua kebahagiaan yang tentu akan mengayunkannya ke sorgaloka ini ternyata hanyalah pura-pura belaka!

Para tamu memuji ketampanan pengantin pria dan kecantikan pengantin puteri, juga kecantikan Roro Kartiko dan anak buahnya, terutama sekali Ayu Kunti dan Cempaka.

Setelah upcara pertemuan pengantin selesai dan pengantin sudah duduk bersanding di atas panggung yang terhias dengan kembar mayang dan segala hiasan pengantin,mulailah pesta yang meriah.

Setelah minuman-minuman keras memasuki perut melalui tenggorokan yang lahap, mulailah terdengar suara tertawa-tawa dan suasana menjadi lepas dan bebas, menjadi gembira.

Sang Adipati sendiri juga tertawa-tawa gembira karena tercapailah hasil kecerdikannya.

Peristiwa ini tentu akan menyenangkan Lumajang dan tanpa banyak kesukaran dia telah dapat menaklukkan hati orang-orang Lumajang, berarti menghindarkan musuh yang berbahaya!

Murwendo dan Murwanti tidak hadir dalam pesta pernikahan itu.

Akan tetapi Sang Prabu Bandardento tidak peduli, dia dapat menduga bahwa dua orang kembar itu tentu tidak senang hati mereka, akan tetapi biarpun mereka itu adalah anak-anaknya,dia tidak mungkin dapat membela mereka yang salah.

Bahkan teringat kepada mereka,hati Sang Prabu menjadi tidak senang dan kecewa.

Betapa akan bahagianya kalau anak-anaknya itu bukan Murwendo dan Murwanti, melainkan Joko Handoko dan Roro Kartiko!

Kalau saja Sang Prabu Bandardento tahu apa yang dilakukan oleh dua orang anaknya itu!

Kalau saja dia tahu apa yang telah terjadi selama beberapa hari ini, semenjak penyerbuan Sulastri!

Sudah beberapa bulan lamanya, seorang selirnya yang bernama Retno Sami, seorang wanita berusia hampir tiga puluh tahun yang cantik manis, tergila-gila kepada Murwendo.

Sebagai seorang selir yang ke sekian kalinya, apalagi seorang selir dari seorang Adipati yang sudah setua Sang Prabu Bandardento, yang dalam hal pengumbaran nafsu sudah banyak berkurang, tidak bergairah lagi, tentu saja seorang wanita muda seperti Retno Sami itu menjadi kehausan seperti seekor ikan kekurangan air.

Tidak ada pelayan pria di kaputren, dan semenjak terjadinya peristiwa aib, hubungan perjinaan yang terjadi antara selir raja dan juru taman, kini bahkan juru taman pun seorang wanita!

Satu-satunya pria yang dapat memasuki kaputren hanyalah Pangeran Murwendo, maka anehkah kalau selir ini tergila-gila kepada pemuda yang memang tampan, gagah dan kuat ini?

Murwendo juga bukan seorang yang berbatin teguh.

Biarpun Retno Sami adalah seorang "ibu"

Baginya, seorang ibu tiri, namun bujuk rayu yang keluar dari pandang mata, gerak bibir dan suara wanita itu menggerakkan hatinya, membangkitkan berahinya.

Apalagi ketika Retno Sami membisikkan bahwa dia mengetahui rahasia dari saudara kembar itu!

Segera Murwendo dan Murwanti menarik "ibu"

Ini menjadi sekutu mereka dan tentu saja, sebagai imbalannya, Murwendo menuruti hasrat hati wanita itu dan sudah sejak beberapa bulan ibu itu menjadi kekasihnya, berbuat jina dengan dia dan disetujui pula oleh Murwanti!

Bahkan di antara tiga orang manusia yang dikuasai oleh nafsu ini, terjadilah perbuatan-perbuatan yang amat kotor dan mereka bertiga sudah biasa tidur sekamar di mana terjadi hal-hal yang sukar dibayangkan dapat terjadi di antara mereka!

Tentu saja tidak ada seorangpun selir lain yang berani membocorkan rahasia ini karena perbuatan itu memungkinkan mereka dibunuh oleh Murwendo dan Murwanti.

Retno Sami inilah yang membocorkan rahasia kelahiran Murwendo dan Murwanti sehingga dua orang saudara kembar itu tahu bahwa sesungguhnya mereka bukanlah keturunan Sang Prabu Bandardento, bahwa Ibu mereka telah meninggal ketika melahirkan mereka, dan betapa "ayah"

Mereka yang sesungguhnya adalah seorang juru taman yang telah dibunuh atas perintah Sang Prabu Bandardento!

Hal itu masih dapat dimengerti olah kakak beradik kembar ini.

Akan tetapi ketika Sang Prabu menolak kehendak mereka mengawini Joko Handoko dan Roro Kartiko, timbullah kebencian mereka terhadap orang yang selama ini mereka anggap sebagai ayah kandung itu.

Mereka merasa dikesampingkan, dan merasa bahwa sesungguhnya adipati itu tidak sayang kepada mereka.

Dan mulailah timbul keinginan mereka untuk memberontak, menggulingkan Sang Adipati untuk merampas kekuasaan, dengan Murwendo menjadi raja dan Murwanti menjadi permaisurinya, Retno Sami menjadi selirnya!

Pikiran yang gila memang bagi orang waras!

Maka diam-diam kakak beradik kembar ini, dibantu oleh Retno Sami, menghubungi Menak Srenggo, yaitu kakak misan dari Retno Sami yang menjadi senopati di Puger, mengepalai pasukan yang cukup besar jumlahnya.

Persekutuan dibentuk dan Menak Srenggo yang dapat terbujuk untuk diangkat sebagai patih kelak, telah berhasil mengumpulkan lima ratus orang perajurit bawahannya untuk dipergunakan sewaktu-waktu.

Kemudian, saat yang dinanti-nanti itu telah tiba, yaitu pada saat pernikahan antara Joko Handoko dan Sulastri!

Dan sebelumnya, Murwendo dan Murwanti telah berhasil memasuki gedung pusaka dan membunuh lima orang penjaga yang tidak menyangka sesuatu, kemudian Murwendo mengambil keris pusaka Kolonadah yang dianggapnya sebagai keris pusaka calon raja!

Para tamu sedang makan minum dengan gembira ketika tiba-tiba di luar pendopo terdengar suara riuh rendah.

Karena pendopo di malam perayaan itu amat terang, tentu saja dari dalam memandang keluar amat gelap sehingga semua orang yang terkejut itu tidak segera tahu apa yang telah terjadi.

Akan tetapi, Padas Gunung dan Pragalbo sudah meloncat bangun dan memandang keluar.

Joko Handoko, Sulastri, Roro Kartiko dan tujuh orang wanita Sriti Kencana juga sudah siap.

Sulastri adalah seorang wanita perkasa yang cepat dapat menguasai keadaan, maka mendengar suara ribut-ribut di luar disusul pekik-pekik kesakitan tanda bahwa di luar terjadi pertempuran itu, dia dengan cepat berbisik kepada Joko Handoko dan Roro Kartiko.

"Kalian berdua dibantu oleh tujuh orang anak buahmu harap melindungi Sang Adipati!"

Dara perkasa ini maklum bahwa dalam keadaan apa pun di daerah Puger itu, satu-satunya orang yang dapat melindungi mereka hanyalah Sang Adipati, oleh karena itu keselamatan Sang Adipati amatlah penting bagi mereka.

Agaknya Joko Handoko dan Roro Kartiko juga mengerti akan maksud hati Sulastri itu, apalagi karena memang dua orang kakak beradik ini merasa suka sekali kepada Sang Adipati yang selama ini memperlakukan mereka dengan baik.

"Bunuh! Bunuh mata-mata Lumajang......"

Terdengar teriakan-teriakan dan kini para penyerbu itu sudah memasuki pendopo.

Para tamu menjadi panik dan bubar!

Pekik kesakitan terdengar di sana sini dan kini tampak oleh Sulastri bahwa yang menyerbu itu adalah Murwendo dan Murwanti, diikuti oleh banyak sekali perajurit, ratusan orang banyaknya!

Padas Gunung dan Pragalbo sudah cepat lari mendekati Sang Adipati dan Permaisuri, para selir menjerit kecuali tentu saja Retno Sami yang diam-diam tersenyum penuh harapan.

Akan tetapi Sang Adipati dan keluarganya telah dikelilingi dan dijaga oleh Joko Handoko, Roro Kartiko dan tujuh anggota Sriti Kencana yang berdiri dengan gagah dan siap sedia!

"Paman Padas Gunung dan Paman Pragalbo, kami akan melindungi Sang Prabu!"

Baca Juga: Istana Pulau Es 10

Baca Juga: Jodoh Si Mata Keranjang 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert