Eps 10 Kemelut Di Majapahit - Kho Ping Hoo
Baca online Kemelut Di Majapahit - Kho Ping Hoo
Cersil Kemelut Di Majapahit - Kho Ping Hoo.
Kata Joko Handoko kepada dua orang senopati itu. Ketika dua orang tokoh Puger itu kelihatan ragu-ragu, tiba-tiba Sang Prabu Bandardento berkata dengan suara nyaring.
"Padas Gunung! Pragalbo! Kalian tunggu apa lagi? Cepat kumpulkan pasukan untuk membasmi para pemberontak ini!"
Mendengar perintah ini, barulah dua orang tokoh itu meloncat keluar sambil membentak-bentak marah.
Para perajurit menjadi gentar menghadapi dua orang tokoh yang merupakan tokoh utama Puger ini, maka tentu saja mereka membuka jalan untuk dua orang tokoh ini yang cepat berlari keluar untuk mepersiapkan pasukan.
Mereka terkejut sekali ketika melihat bahwa penyerbu itu terdiri dari pasukan yang ratusan ribu jumlahny, dan tahulah mereka bahwa putera dan puteri raja telah menggunakan pasukan di bawah pimpinan Menak Srenggo, Senopati yang berasal dari Selat Bali itu.
Sementara itu, Sulastri dengan sigapnya telah meloncat dan menghadapi Murwendo dan Murwanti.
Dengan Aji Hasto Bairowo dia mendesak dua orang ini karena dara perkasa ini marah bukan main.
Hampir saja Murwanti kena ditampar kepalanya dan kalau tamparan dengan Aji Hasto Nogo itu tepat mengenai sasaran, kiranya kepala Murwanti tentu akan pecah.
Akan tetapi, puteri adipati itu mengelak dan terhuyung, dan ketika Sulastri hendak mendesak, tiba-tiba dia merasa ada hawa yang dingin dan sinar merah menyambar ke arahnya.
Dia terkejut, mengelak dengan loncatan sigap, merobohkan dua orang pengeroyok di sebelah kirinya sambil menoleh.
"Kolonadah......!"
Teriaknya ketika dia melihat keris yang berada di tangan Murwendo yang tadi menyerangnya untuk menyelamatkan adiknya.
"Ha-ha-ha!"
Murwendo tertawa.
"Hayo keroyok, bunuh mata-mata Lumajang ini! Tangkap hidup-hidup Roro Kartiko, calon isteriku ha-ha!"
Sulastri marah sekali, akan tetapi di tidak dapat meyerang kakak beradik kembar itu karena dia telah dikepung dan dikeroyok oleh banyak sekali perajurit pemberontak.
"Bunuh Sang Adipati!"
Terdengar Murwanti juga berteriak.
"Bunuh Ayah palsu itu!"
Sulastri mengamuk dan sepak terjangnya seperti seekor naga betina marah.
Karena banyaknya pengeroyok, hatinya khawatir juga dan dia lalu mundur mendekati tempat Adipati di mana juga terjadi pertempuran hebat.
Ketika tiba di situ sambil terus mengamuk, mengadu punggung dengan Roro Kartiko dan Joko Handoko bersama para anggota Sriti Kencana, mengurung keluarga raja di tengah-tengah mereka, Sulastri tercenggang melihat Adipati itu tertawa!
"Ha-ha-ha, sungguh menyenangkan Joko Handoko!
Kartiko!
Anak-anakku yang baik, mari kita melawan para pemberontak bersama!
Kalian lihat, biar tua aku tidaklah selemah raja-raja yang lain.
Ha-ha-ha, mari kita hancurkan Si Kembar yang gila itu, pemberontak-pemberontak laknat ini!"
Dan kini Sang Prabu Bandardento juga ikut pula mengamuk dan memang dia hebat sekali!
Kiranya Adipati ini memiliki kepandaian yang tinggi, tidak kalah kalau dibandingkan dengan Padas Gunung atau Pragalbo!"
"Bunuh Sang Adipati!"
"Bunuh Sang Prabu!"
Teriakan-teriakan itu jelas terdengar dari mulut Murwendo dan Murwanti, akan tetapi meraka tidak berani mendekati raja yang kini melawan bersama Joko Handoko dan teman-temannya.
Si Kembar itu membiarkan Menak Srenggo dan anak buahnya yang mengepung raja, sedang mereka sendiri sambil tertawa-tawa membunuh-bunuhi para pengawal dan pelayan di situ, juga para tamu yang semua terdiri dari pejabat-pejabat dan yang tentu saja berusaha melawan, membela diri maupun membela Sang Adipati.
Terjadilah pertempuran yang amat hebat, akan tetapi yang berat sebelah sehingga semua pengawal dan pelayan yang tadi bekerja melayani pesta, kini roboh bergelimpangan.
Hanya pertahanan di sekitar keluarga Sang Adipati yang masih sukar ditembus oleh para pemberontak!
Joko Handoko dan Roro Kartiko, juga Sang Adipati sendiri dan tujuh orang anggota Sriti Kencana sudah luka-luka lengan mereka, akan tetapi tidak ada seorang pun di antara mereka yang roboh dan mereka melawan terus dengan gagah berani.
Hanya Sulastri yang tidak luka sama sekali, lecet pun tidak sungguhpun pakaiannya ada yang robek terkena senjata.
Hal ini adalah karena dara perkasa ini dilindungi aji kekebalan Trenggiling Wesi.
Amukannya menggetarkan hati para pengeroyok, akan tetapi karena jumlah mereka banyak, roboh satu maju dua, roboh sepuluh maju dua puluh.
Sulastri mulai merasa lelah juga.
"Ha-ha-ha, sungguh menggembirakan!"
Lagi-lagi Sang Prabu Bandardento tertawa terbahak-bahak.
Kedua lengannya sudah berdarah karena disambar golok, akan tetapi masih mengamuk hebat, setiap tendangan atau pukulannya tentu merobohkan seorang pengeroyok.
"Mati pun aku puas, dapat berkelahi bersama-sama kalian,anak-anakku! Ha-ha-ha!"
Raja tua itu seperti seorang anak kecil yang sudah lama dijauhkan dari permainan yang amat disukainya dan yang sekarang dia mainkan secara memuaskan sekali!
Melihat sikap ini, Joko Handoko dan kawan-kawannya merasa kagum dan juga terharu.
Sungguh seorang adipati yang baik budi, halus dan gagah perkasa!
Tiba-tiba terdengar sorak-sorai dan keadaan para perajurit pemberontak menjadi kacau seperti rombongan semut ditiup.
Mereka lari berserabutan dan berpencaran sehingga kini yang mengepung rombongan raja tidak seketat tadi.
Ternyata bahwa Padas Gunung dan Pragalbo telah datang bersama pasukan mereka yang jauh lebih besar jumlahnya!
Mulailah kini pasukan kadipaten menghajar dan membasmi pasukan pemberontak yang mulai menjadi kocar-kacir.
Menak Srenggo mulai merasa menyesal mengapa dia percaya kepada kakak beradik kembar itu yang katanya bahwa pasukan kedipaten tidak akan berani menghalangi mereka berdua!
Buktinya, kini pasukannya terhimpit oleh pasukan kadipaten.
Dia mulai mengamuk keluar dan segera dia dihadapi oleh Padas Gunung dan Pragalbo!
"Si keparat Menak Srenggo pemberontak hina!
Mampuslah kau!"
Bentak Pragalbo dan Padas Gunung dan mereka cepat menubruk ke depan, Padas Gunung menggerakkan suling hitamnya sedangkan Pragalbo sudah menusukkan kerisnya.
Dua tokoh utama Puger ini merasa yakin bahwa sekali serang saja mereka tentu akan merobohkan dan menangkap perwira pemberontak ini karena Menak Srenggo adalah senopati di bawah mereka yang kepandaiannya tidak melebihi mereka.
Melawan seorang di antara mereka saja akan kalah, apalagi dikeroyok dua.
Akan tetapi betapa heran dan kaget hati mereka ketika tiba-tiba Menak Srenggo mengelak dari keris Pragalbo dan menggunakan lengan kirinya menangkis sulung hitam.
"Dukkk!"
Dan suling itu terpental, tangan Padas Gunung terasa ngilu!
Bukan main kagetnya hati tokoh Puger ini.
Dalam tangkisan tadi dia mendapat kenyataan bahwa Menak Srenggo memiliki kekuatan yang tidak kalah besarnya dengan tenaganya sendiri!
"Ha-ha-ha, kau sangka aku selemah yang kalian kira, Padas Gunung?"
Padas Gunung dan Pragalbo menerjang lagi, akan tetapi Menak Srenggo benar-benar tangkas sekali dan serangan balasannya membuat dua orang tokoh Puger itu terdesak ke belakang.
Kesempatan itu dipergunakan oleh Menak Srenggo untuk menyambar lengan seorang perajurit musuh dan melontarkannya ke arah dua orang tokoh itu dengan kekuatan laur biasa.
Padas Gunung dan Pragalbo tentu saja cepat mengelak, akan tetapi Menak Srenggo sudah meloncat dan keluar dari kepungan, terus melarikan diri!
Terpaksa dua orang senopati itu mengamuk dan membabati perajurit-perajurit yang memberontak.
Sementara itu, setelah para pengeroyok kini berbalik diserbu dan dikeroyok oleh pasukan Puger, Sulastri membiarkan Joko Handoko dan Roro Kartiko dibantu tujuh orang anggota Sriti Kencana melindungi dan membela Raja Bandardento, sedangkan dia sendiri cepat menerjang Murwendo dan Murwanti yang kini telah terkurung di tengah-tengah!
Dua oarng saudara kembar itu menjadi nekat setelah melihat bahwa usaha mereka gagal, dan kini melihat Sulastri yang mereka anggap sebagai biang keladi kegagalan mereka, kakak beradik itu menyerang dengan membabi buta.
Sebetulnya, kakak beradik kembar ini bukan merupakan lawan yang terlalu tangguh bagi Sulastri.
Andaikata Murwendo tidak memegang Kolonadah, tentu mereka tidak akan lama dapat bertahan melawan Sulastri.
Akan tetapi, keris pusaka Kolonadah amat ampuhnya sehingga Sulastri sendiri tidak berani menggunakan Aji Trenggiling Wesi untuk menangkis keris itu dan dia selalu mengelak sambil membalas dengan serangan-serangan dari samping yang membuat dua orang itu selalu terhuyung mundur.
Tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan nyaring dan tahu-tahu Roro Kartiko dan Joko Handoko sudah menerjang maju membantu Sulastri.
Hal ini adalah karena kini keadaan Raja Bandardento sudah bebas dari bahaya, bahkan raja itu telah mengajak permaisuri dan para selirnya untuk menyingkir ke sebelah dalam.
Tujuh orang anggota Sriti Kencana mengawal keluarga raja masuk ke dalam istana kadipaten.
Karena itu, melihat betapa Sulastri dikeroyok oleh dua saudara kembar yang gila itu, kakak beradik ini tidak tahan melihatnya.
Mereka amat benci kepada Murwendo dan Murwanti yang menjadi penyebab sampai mereka menjadi tawanan di Puger, maka kini dengan keris -keris rampasan, Joko Handoko dan adiknya lalu menyerang mereka.
Dengan kemarahan meluap, Roro Kartiko menyerang Murwendo dengan keris di tangan.
"Hati-hati, Roro.....!"
Sulastri berseru.
"Trangg.....! Iihhhhh.....!"
Roro Kartiko menjerit ketika keris rampasannya menjadi patah oleh Kolonadah.
Akan tetapi Murwendo yang memandang wajah wanita yang digilainya itu meragu untuk menusuk dan pada saat itu Sulastri sudah melayangkan tangannya dari samping.
"Plakk! Aughhh.....!!"
Tubuh Murwendo terpelanting dan keris Kolonadah sudah disambar oleh tangan Sulastri.
Murwendo berkelojotan karena kepalanya retak oleh pukulan dahsyat dari Aji Hasto Nogo tadi.
Melihat ini, Murwanti menjerit dan menubruk kepada Sulastri, matanya merah, mulutnya berbusa seperti seekor harimau kelaparan.
Sulastri mengelak ke samping dan menendang.
"Dukkk!!"
Tubuh Murwanti terlempar dan Joko Handoko menyambut dengan kerisnya.
"Crappp.........!!"
"Auhhhh......!"
Tubuh Murwanti terpelanting dan darah mengucur dari dadanya.
"Celaka...., kalian sudah membunuh mereka....."
Roro Kartiko berkata dengan mata terbelalak.
"Kita harus cepat pergi dari sini.....!!"
Mendengar ini, Joko Handoko dan Sulastri menjadi pucat dan tanpa menanti lebih lama lagi, tiga orang muda itu lalu meloncat dan melarikan diri dari pendopo itu.
"Benar, kita harus pergi. Kolonadah sudah berada di tanganku,"
Kata Sulastri.
"Akan tetapi bagaimana dengan anak buah kalian?"
"Mereka berjasa terhadap Sang Adipati, dan tidak ikut membunuh putera-puteri Adipati, tentu mereka tidak akan diganggu,"
Kata Joko Hndoko dan mereka terus melarikan diri di dalam kegelapan malam.
Akan tetapi ketika mereka tiba di sebuah hutan yang gelap, ketiga orang muda ini terpaksa menghentikan lari mereka dan mereka berlindung di bawah pohon besar untuk berlindung di bawah pohon besar dan beristirahat.
"Kita tentu akan dikejar-kejar sebagai pembunuh putera-puteri Adipati Puger,"
Kata Sulastri.
"Habis bagaimana baiknya?"
Kata Roro Kartiko sambil memijit-mijit betisnya yang terasa nyeri dan lelah.
"Sebaiknya kita kembali ke Lumajang, menghaturkan keris Kolonadah kepada Adipati Lumajang."
Joko Handoko menarik napas panjang.
"Sayang sekali bahwa kita menjadi orang buruan Puger. Sang Adipati Puger sesungguhnya merupakan seorang yang bijaksana. Sayang putera-puterinya gila dan jahat."
Pemuda ini telah mengumpulkan kayu kering lalu membuat api unggun untuk mengusir nyamuk dan menghangatkan tubuh karena hawa di dalam hutan itu amat lembab.
Akan tetapi baru saja api unggun bernyala, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari arah mereka datang dan taklama kemudian terdengar suara-suara.
"Mereka di dalam hutan...!"
"Sialan!"
Joko Handoko menginjak-injak apinya sampai padam, kemudian terpaksa mereka melanjutkan perjalanan sambil meraba-raba di dalam gelap agar jangan sampai bertubruk dengan pohon atau batu.
Setelah tidak mungkin melakukan perjalanan lagi saking gelapnya karena langit mendung dan bintang-bintang tersembunyi di balik awan, mereka berhenti lagi akan tetapi mereka tidak berani membuat api unggun.
Dan ternyata bahwa para pengejar mereka agaknya juga tidak melanjutkan pengejaran, entah kembali lagi entah mengaso.
Akan tetapi pada keesokan harinya, begitu terang tanah, sudah terdengar lagi suara mereka, suara banyak kaki manusia dalam hutan itu dan suara mereka yang mencari-cari.
Mendengar ini, tiga orang muda itu segera bergerak lagi, hendak melanjutkan pelarian mereka menuju ke Lumajang di sebelah utara.
"Kenapa tidak kita lawan saja mereka, Diajeng?"
Tanya Joko Handoko dengan suara penasaran kepada Sulastri.
Dara itu memandangnya.
Mereka berdua saling pandang dan tiba-tiba Sulastri merasa kedua pipinya panas dan jantungnya berdenyut ketika dia melihat betapa Joko Handoko masih memakai pakaian pengantin pria dan dia sendiri masih memakai pakaian pengantin puteri dengan sanggul istimewa dan rambut sinom didahinya dikerik dan ditambah dengan riasan pengantin!
Teringatlah dia bahwa saat ini dia adalah "istri"
Dari Joko Handoko.
Di lain pihak, Joko Handoko juga melihat kenyataan yang sama dan dia memandang dengan hati terasa perih karena isterinya yang cantik ini, yang amat dicintainya, hanyalah isteri sebutan saja, pernikahan mereka hanyalah pura-pura saja!
Hal ini akan merupakan siksaan baginya, merupakan penderitaan yang lebih hebat daripada kalau dia tidak dapat menikah dengan dara itu dan dia harus saling berpisah.
Namun cinta kasihnya terhadap dara itu memperkuat batinnya.
Kalau perlu, dia masih sanggup menderita lebih hebat lagi, demi kebahagiaan Sulastri!
"Tidak baik kalau kita melawan mereka, Kakangmas Handoko.
Tidak mungkin kita melawan pasukan sekadipaten.
Pula, sekarang Kolonadah telah berada di tangan kita.
Sebaiknya kita cepat kembali ke Lumajang, menyerahkan pusaka ini kepada Sang Adipati di Lumajang.
Mari kita lanjutkan perjalanan."
"Cepat, mereka telah mengejar dekat!"
Kata Roro Kartiko sambil menoleh ke belakang darimana terdengar suara para pengejar yang banyak jumlahnya.
Mereka lalu lari ke depan dengan cepat, menyusup di antara semak-semak dan menyelinap di antara pohon-pohon sampai akhirnya mereka keluar dari hutan itu.
Akan tetapi, begitu mereka keluar dari hutan, mereka terkejut bukan main karena tiba-tiba dari balik pohon-pohon dan semak-semak belukar bermunculan banyak sekali orang yang dipimpin oleh Padas Gunung dan Pragalbo sendiri!
Kiranya pasukan Puger telah menanti dan menghadang di situ dan agaknya semalam telah diatur oleh dua orang senopati yang pandai itu!
Semalam, dua orang senopati ini telah membawa sebagian besar pasukannya untuk mengambil jalan memutar dan menghadang di laur hutan karena menurut perhitungannya, tiga orang muda itu tentu akan keluar dari sebelah utara hutan, sedangkan sebagian kecil saja dari pasukannya melanjutkan pengejaran di pagi hari itu.
Dan ternyata perhitungan mereka berdua tidak meleset karena tiga orang muda itu benar-benar muncul di sebelah utara hutan.
Melihat munculnya pasukan Puger, tiga orang muda itu terkejut bukan main, akan tetapi Sulastri menjadi marah, matanya mengeluarkan sinar berapi, sedangkan Joko Handoko lalu berkata sambil memandang dua orang senopati Puger itu.
"Paman Padas Gunung dan Paman Pragalbo, kalau kalian hendak mengambil jalan kekerasan,terpaksa kami akan melawan sampai titik darah terakhir!"
Akan tetapi dua orang senopati itu memandang dengan mata terbelalak seperti orang terheran-heran, sedangkan para perajurit yang amat banyak jumlahnya itu biarpun mengurung tempat itu namun tidak kelihatan seperti orang-orang yang bersikap hendak menyerang.
"Kami...... kami tidak mengerti apa yang Andika maksudkan, kami hanya menerima perintah dari Sang Prabu untuk menyusul Andika sekalian,"
Kata Padas Gunung dan pada saat itu terdengar derap kaki kuda.
Muncullah Sang Prabu Bandardento sendiri yang membalapkan kuda menuju ke tempat itu.
Ketika dia melihat tiga orang muda itu, dia berseru girang, melompat turun dari kudanya dan berlari menghampiri mereka.
"Ahhhh, anak-anakku..... kenapa kalian pergi meninggalkan aku?"
Katanya dan tiga orang muda itu memandang dengan terheran-heran. Sang Prabu yang tua itu kini memegang tangan Joko Handoko dan Roro Kartiko, memandang kepada Sulastri, lalu dia berkata lagi.
"Agaknya kalian bertiga telah salah mengerti. Kalian lari karena telah membunuh sepasang bocah kembar yang sinting itu, bukan?"
Joko Handoko dan Roro Kartiko yang masih terheran-heran itu hanya mengangguk. Sang Prabu Bandardento merangkul pundak Joko Handoko sambil tertawa.
"Ha-ha-ha,sudah kuduga demikian. Mengapa kalian lari karena membunuh mereka?"
Roro Kartiko tidak dapat menahan keheranannya.
"Karena.... mereka adalah putera-puteri Paduka...."
"Ha-ha-ha, Roro Kartiko cah ayu, anakku yang baik. Mereka itu bukanlah anakku, mereka adalah dua bocah gila yang bahkan telah berani memberontak! Kalian berdualah anak-anakku dan Sulastri adalah mantuku yang baik!"
"Apa... apa maksud Paduka?"
Joko Handoko bertanya terkejut sekali.
"Anak-anakku, tidak terasakah oleh kalian berdua betapa semenjak kalian tiba di Puger, aku telah merasa sayang kepada kalian seperti kepada anak-anak sendiri? Apalagi semenjak malam tadi, ketika bertempur bahu-membahu dengan kalian! Kalian berdualah anak-anakku yang sesungguhnya patut menjadi anak-anakku, biarpun hanya anak angkat, seperti halnya dua orang bocah kembar yang gila itu! Joko Handoko dan Roro Kartiko, kalian adalah anak-anakku, kuanggap anak-anakku sendiri dan marilah kita kembali ke Kadipaten di mana akan kami umumkan tentang pengangkatan kalian berdua sebagai anak-anakku yang sah, sedangkan Sulastri adalah anak mantuku. Marilah, anak-anakku, kita pulang dan menikmati kehidupan yang tenteram dan bahagia."
Tentu saja tiga orang muda itu terkejut sekali mendengar ini.
Joko Handoko dan Roro Kartiko memang merasa suka dan kagum kepada raja kecil yang bijaksana ini dan merupakan anugerah yang amat besar kalau mereka dapat menjadi anak-anak angkat raja ini.
Akan tetapi karena Ibu mereka masih di Lumajang, mereka menjadi ragu-ragu.
Juga Sulastri meragu karena di hendak menyerahkan keris pusaka Kolonadah kepada Adipati di Lumajang.
"Akan tetapi....kami.... kami hendak ke Lumajang....."
Kata Sulastri akhirnya karena agaknya dua orang kakak beradik itu agaknya tidak mampu menjawab. Raja tua itu mengangguk-angguk dan dia masih menggandeng Joko Handoko dan adiknya.
"Aku mengerti...., tentu yang kalian bertiga pikirkan adalah Ibu kalian di Lumajang dan keris pusaka Kolonadah, bukan? Jangan khawatir, mari kita pulang dan merundingkan hal itu. Setelah Joko Handoko dan Roro Kartiko secara resmi menjadi anak-anakku dan Sulastri menjadi mantuku, maka pada suatu hari kalian bertiga boleh secara resmi mengunjungi Lumajang disertai salam hormatku kepada Adipati Wirorojo di Lumajang, untuk menghaturkan keris pusaka kepada Beliau dan untuk menjemput Ibu Kalian dan pindah ke Puger."
Tiga orang muda itu saling pandang dan ketiganya setuju tentu saja.
Jauh lebih baik demikian daripada menjadi musuh Puger!
Dengan gembira raja atau Adipati Puger itu lalu mengajak tiga orang muda itu kembali ke istana, diiringkan oleh pasukan yang dipimpin Padas Gunung dan Pragalbo.
Memang Sang Prabu Bandardento tidak membohong kalau dia mengatakan bahwa dia amat sayang kepada Joko Handoko dan Roro Kartiko.
Apalagi setelah melihat betapa dua orang saudara kembar yang sesungguhnya bukan keturunannya sendiri itu berani memberontak sehingga akhirnya tewas dan melihat betapa Joko Handoko, istrinya dan adiknya itu membelanya mati-matian.
Maka dia mengambil keputusan untuk mengangkat meraka menjadi anak-anaknya.
Di samping ini, tentu saja ada segi lain yang dianggap amat menguntungkan Puger dengan pengangkatan itu.
Setelah melihat betapa Menak Srenggo membantu pemberontakan dua orang anak kembar itu, kemudian senopati itu melarikan diri, tahulah dia bahwa puger selalu diintai musuh karena Menak Srenggo adalah seorang yang berasal dari Selat Bali dan hal ini saja menunjukkan bahwa tentu mempunyai hubungan dekat dengan raja di Nusabarung.
Sangat boleh jadi bahwa Menak Srenggo sengaja diselundupkan oleh Raja Nusabarung ke Puger melalui saudaranya, yaitu Retno Sami.
Malam itu juga, Sang Prabu telah menyuruh tangkap Retno Sami dan setelah diancam, akhirnya selir ini mengakui semuanya, bahwa dia telah lama menjadi kekasih anak tirinya, yaitu Murwendo dan betapa dia yang membujuk Menak Srenggo untuk membantu pemberontakan putera-puteri Adipati itu.
Selir itu dihukum mati malam itu juga dan makin besar hasrat hati Sang Prabu Bandardento untuk mengankat anak kepada tiga orang muda itu karena dia tahu bahwa mereka, terutama sekali Sulastri, memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi dan hal ini tentu saja akan memperkuat Puger dalam menghadapi musuh-musuhmya,terutama Nusabarung.
Di samping itu, perstiwa itu tentu akan membuat Puger menjadi makin akrab dengan Lumajang, hal yang lebih menguntungkan lagi bagi Puger sebagai kadipaten yang kecil.
Demikianlah, pada keesokan harinya, dengan resmi Sang Prabu Bandardento mengangkat Joko Handoko dan Roro Kartiko menjadi putera dan puterinya, disahkan oleh para hulubalang, para pembesar di Puger.
Untuk peristiwa ini, Puger mengadakan pesta selama tiga hari tiga malam, menjadi tanda bahwa hati Sang Prabu Bandardento benar-benar merasa bahagia sekali.
Juga permaisuri dan para selir yang setia dari Sang Adipati, yang telah melihat sendiri betapa tiga orang muda itu gagah perkasa dan melindungi mereka ketika terjadi pemberontakan, merasa senang dengan peristiwa ini karena mereka maklum kini bahwa Sang Prabu tidak mungkin mempunyai keturunan, setelah sekian banyaknya selir tidak pernah ada yang mengandung, kecuali selir yang menjadi ibu kandung dua orang anak kembar itu, yang mengandung sebagai akibat perjinaannya dengan juru taman.
Beberapa hari kemudian, dengan iringan pasukan pengawal dan pakaian mewah sebagai seorang pangeran dan puteri-puteri dari Puger, Joko Handoko, Sulastri dan Roro Kartiko berangkat ke Lumajang.
Kedatangan mereka disambut dengan penuh kegembiraan oleh Sang Adipati Wirorojo dan para pembesar, terutama sekali oleh Ibu dua orang kakak beradik itu.
Sang Adipati Wirorojo merasa gembira dan kagum ketika Sulastri menghaturkan keris itu, dengan terharu Sulastri berkata.
"Harap Paduka ketahui bahwa penyerahan keris pusaka yang hamba lakukan ini sebetulnya merupakan suatu pelanggaran terhadap mendiang Empu Supamandrangi yang memesan kepada hamba agar hamba menyerahkan pusaka ini kepada Pangeran Kolo Gemet yang menjadi calon Raja Mojopahit. Namun, setelah melihat keadaan di Mojopahit yang sedang kacau, melihat sepak terjang orang-orang Mojopahit yang tersesat sehingga mendiang Eyang Empu Supamandrangi sendiri menjadi korban keganasan mereka sampai terbunuh, hamba merasa yakin bahwa mendiang Eyang tidak akan menyalahkan hamba kalau hamba kini menyerahkan pusaka kepada Paduka sebagai Adipati di Lumajang."
Sang Adipati Wirorojo menarik napas panjang.
"Mendiang Empu Supamandrangi memang benar bahwa pusaka ini seharusnya menjadi pegangan Raja di Mojopahit, Sulastri. Akan tetapi, aku sebagai Ayah dari pemilik pusaka ini, yaitu mendiang anakku Ronggo Lawe, juga berhak untuk menjaga pusaka ini dan menentukan kepada siapa semestinya pusaka ini diserahkan. Ketahuilah bahwa sepatutnya pusaka ini diserahkan kepada keturunan mendiang Sang Prabu Kertanegara, yang asli,sedangkan Pangeran Kolo Gemet adalah keturunan yang bercampur dengan darah melayu maka sesungguhnya tidak tepat kalau dia yang mewarisi pusaka ini."
"Hamba menyerahkan ke dalam pertimbangan dan kebijaksanaan Paduka,"
Jawab Sulastri.
Ibu kandung Joko Handoko dan Roro Kartiko, yaitu janda mendiang Progodigdoyo yang bernama Sariningrum, merasa girang bukan main ketika mendengar bahwa putera dan puterinya diangkat menjadi pangeran dan puteri Puger, sedangkan puteranya itu telah menikah dengan Sulastri.
Sambil mencucurkan air mata, Sariningrum merangkul mantunya dan Sulastri tidak dapat menahan pula tangisnya.
Hanya bedanya, kalau Sariningrum menangis saking girangnya, sebaliknya Sulastri menangis saking sedihnya.
Dia dan kakak beradik itu sudah berjanji untuk tidak membuka rahasia kepalsuan pernikahan itu kepada Ibu mereka, karena hal itu tentu akan menghancurkan hati orang tua itu.
Setelah beberapa hari tinggal di Lumajang, akhirnya berangkatlah rombongan ini,sekarang ditambah dengan Ibu kandung Joko Handoko, diiringkan oleh para abdi dan pengawal, dititipi salam pula oleh Adipati Wirorojo untuk Sang Prabu Bandardento,kembali ke Puger dan Sang Prabu Bandardento menyambut kedatangan Ibu Kandung dua orang putera dan puteri angkatnya itu dengan segala kehormatan dan pesta.
Semenjak hari itu, tiga orang muda ini hidup tenteram di Kadipeten Puger, dan Sariningrum hidup terhormat dan mulia sebagai Ibu kandung Pangeran Joko Handoko dan Puteri Kartiko.
Akan tetapi, di luar tahunya semua orang, tiga orang muda itu sering kali termenung dan menderita tekanan batin yang tidak ringan.
Roro Kartiko dan kakaknya sering kali termenung pucat sebagai akibat kepatahan hati mereka dalam cinta, terutama sekali Joko Handoko pada lahirnya saja disebut sebagi suami Sulastri, namun sesungguhnya tidak pernah mereka saling berdekatan!
Sulastri sendiri juga menderita batin karena dia tahu bahwa dia telah menyebabkan pemuda itu menderita.
Namun dia tetap merasa tidak mungkin melayani lain pria kecuali Sutejo yang dicintainya namun juga dibencinya itu.
Untung di situ terdapat Roro Kartiko yang menjadi sahabat baiknya, dengan siapa dia tidur sekamar setiap malam.
Andaikata tidak ada dara ini, kiranya Sulastri tidak akan dapat bertahan tinggal di Puger dan melihat wajah yang muram dan pandang mata sayu dari "suaminya"
Setiap hari.
Roro Kartiko mempergunakan kesempatan ini untuk mengobati luka-luka di hatinya dengan mempelajari ilmu-ilmu kesaktian dari Sulastri.
Kita tinggalkan dulu keadaan tiga orang muda di Puger itu, orang-orang yang muda rupawan namun sudah menderita kepedihan hati itu.
Sebaiknya kita menjenguk keadaan di Kerajaan Mojopahit yang tertutup awan mendung.
Keadaan Mojopahit makin muram dan diam-diam makin terasalah panasnya api persaingan antara isteri-isteri Sang Prabu Kertarajasa Jayawardana.
Sang Prabu makin tua dan makin sering berdiam di dalam kamar karena sakit-sakitan sehingga kekuasaan terpecah-belah dan terbagi-bagi.
Memang kendali pemerintahan masih lancar berkat ketrampilan Ki Patih Nambi yang cakap mengurus pemerintahan,namun pengeruh-pengaruh dari dua pihak yang bermusuhan di istana, yaitu pihaknya para isteri raja keturunan dari Sang Prabu Kertarajasa dan pihak Puteri Malayu Sri Indreswari Ibu kandung Pangeran Kolo Gemet, menyusup pula ke dalam pemerintahan sehingga sering kali mengacaukan keadaan dan membuat Ki Patih Nambi menjadi pusing sekali.
Para ponggawa besar kecil terpecah-pecah, dapat dikata terpecah menjadi tiga, yaitu mereka yang setia kepada Sang Prabu Kertarajasa, golongan ini dipimpin oleh Ki Patih Nambi, golongan ke dua adalah mereka yang mendukung permaisuri Dyah Tribuana dan adik-adiknya, sedangkan golongan ke tiga adalah para pendukung Sri Indreswari atau Dyah Dara Petak dari Malayu.
Tentu saja terdapat golongan-golongan lain yang bergerak secara diam-diam, yaitu mereka yang berambisi besar untuk mengangkat diri sendiri, diantaranya yang terkuat adalah golongan Resi Mahapati.
Kembali pada hari itu Sang Prabu tidak dapat memimpin persidangan dan tinggal di dalam kamar karena penyakitnya kambuh kembali, yaitu penyakit tua yang membuat dia pening dan lemas.
Dalam pelayanan ketika Sang Prabu mederita sakit pun terjadi persaingan antara dua golongan isteri dan abdi-abdinya, sehingga perawatan tidak menjadi baik malah sebaliknya makin manambah kepusingan Sang Prabu.
Di istana keputran, yaitu istana Pangeran Kolo Gemet yang kini telah menjadi seorang pemuda dewasa yang tampan dan pesolek, nampak pangeran itu duduk dalam taman bunganya yang indah bersama beberapa orang.
Pemuda ini memang tampan,hanya sayang bahwa sepasang matanya mengeluarkan sinar yang panas dan kejam, dan tarikan mulutnya membayangkan bahwa dia mulai menghambakan diri kepada nafsu berahi.
Di depannya duduk dengan sikap amat menghormat dua orang kakek,sedangkan di belakang pangeran ini selalu terdapat dua orang kakek lain yang seolah-olah menjadi bayangan pangeran itu, tak pernah melepaskan gerak-gerik pangeran itu dari pandang mata mereka.
Seorang di antara dua orang kakek yang duduk berhadapan dengan Pangeran Kolo Gemet adalah Resi Mahapati.
Resi itu masih tampak awet muda sungguhpun usianya sudah mendekati enam puluh tahun, rambut, kumis dan jenggotnya masih hitam beka ramuan jamu-jamu rahasia yang diminumnya dan dipakai meminyaki rambut-rambutnya.
Kakek ke dua lebih tua lagi, usianya tentu sudah enam puluh tahun, bertubuh tinggi besar dan dia selalu memegang sebatang tongkat panjang yang bentuknya seperti tubuh ular.
Kakek ini adalah seorang yang sakti, yaitu Ki Durgakelana yang sudah kita kenal.
Kakek pendeta penyembah Sang Batrhari Durgo yang pernah digempur oleh Sulastri, Sutejo, Joko Handoko dan Roro Kartiko dahulu.
Adapun dua orang kakek yang berdiri di belakang Sang Pangeran adalah Ki Warak Jinggo dan Ki Kencono, dua orang kakek yang menjadi kawan-kawan Ki Durgakelana.
Semanjak Sutejo menghilang dan tidak pernah muncul kembali ke Mojopahit, Resi Mahapati lalu mencari pembantu-pembantu baru dan Resi Harimurti lalu membawa tiga orang kakek sakti itu kepadanya.
Akhirnya Sang Resi Mahapati yang pandai mengambil hati Pangeran Kolo Gemet, memuji-muji tiga orang kakek ini di depan Sang Pangeran mahkota dan akhirnya Kolo Gemet menerima mereka bertiaga menjadi pengawal-pengawal dan pembantunya.
Ki Warak Jinggo dan Ki Sarpo Kencono siang malam bertugas menjaga keselamatannya, membayangi ke manapun Sang Pangeran pergi,sedangkan Ki Durgokelana melakukan segala perintah Pangeran Kolo Gemat.
Dan malam hari itu, di taman bunga yang indah, Pangeran Kolo Gemat kunjungan Resi Mahapati yang dihadiri pula oleh Ki Durgakelana, dan tentu saj tidak ketinggalan Ki Warak Jinggo dan Ki Sarpo Kencono berada di belakang Sang Pangeran seperti dua ekor anjing penjaga yang amat setia.
Sudah beberapa hari ini Sang Pangeran berwajah muram dan mudah marah-marah.
Hal ini adalah karena hatinya murung dan kecewa.
Beberapa hari yang lalu dia ikut dengan Resi Mahapati mengunjungi Ki Patih Nambi di waktu senja dan dalam kesempatan itu dia melihat seorang dara yang amat cantik jelita di dalam taman sari kepatihan.
Dan tidak tahu bahwa peristiwa ini sudah diperhitungkan dengan tepat oleh Mahapati yang lebih dulu telah menyebar mata-mata sehingga dia tahu betul kebiasaan Sang Patih yang sering bercengkerama dengan keluarganya di waktu senja itu sehingga ketika secara tiba-tiba dia datang, keluarga Ki Patih tidak dapat menghindar maka seperti secara kebetulan saja dia mempertemukan Sang Pangeran dengan dara cantik jelita itu.
Siapakah dara cantik itu?
Dia adalah Dyah Wulandari, seorang gadis berusia enam belas tahun yang amat cantik,berkulit kuning langsat dan halus tanpa cacat, wajahnya semringah segar seperti sekuntum bunga mawar bermandikan embun.
Dara ini adalah keponakan dari Ki Patih Nambi yang men-yayangnya seperti anak sendiri karena dara itu, anak darai kakak perempuannya, adalah seorang anak yatim piatu dan sejak kecil dipelihara Ki Patih.
Orang muda adalah seperti air yang jernih, mudah sekali terkena kotoran dari manapun datangnya.
Oleh karena itu pergaulan amatlah penting karena pergaulan ini dapat mempengaruhi orang muda, dapat mengotori air yang jernih itu.
Keadaan sekeliling dalam pergaulan amat kuat untuk membentuk watak seorang muda.
Pangeran Kolo Gemet sejak kecil amat dimanja dan dituruti segala kemauannya.
Setelah dia didekati oleh Mahapati apalagi setelah dia mempunyai pembantu-pembantu seperti Ki Durgakelana, Warak Jinggo dan Sarpo Kencono, sebentar saja segala sifat-sifat pengejar kesenangan dari mereka itu telah menular kepadanya.
Apalagi dalam, hal mengejar wanita!
Bujukan-bujukan manis yang berbisa dari Ki Durgakelana yang memang memiliki watak cabul, cepat tertelan oleh Pangeran Kolo Gemet sehingga dalam waktu singkat saja Pangeran muda ini mulai menghambakan diri kepada pengejaran kesenangan yang dinikmati dari pemuasan nafsu berahi.
Mulailah Pangeran ini memandang wanita dengan sinar mata lain dan dengan bantuan Ki Durgakelana yang pandai menggunakan ilmu hitam dan sihir, mulailah dia menikmati hubungan dengan wanita yang tentu saja amat mudah didapatinya.
Dari beberapa orang dayang keraton sampai abdi dalam, dari para seniwati istana sampai beberapa orang isteri dari ponggawa istana, banyak yang sudah menjadi korban kecabulan Pangeran Kolo Gemet yang dibantu oleh Ki Durgakelana itu!
Segala macam nafsu timbul dari pikiran.
Pikiran yang membayang-bayangkan segala macam kenangan akan kesenangan yang dirasakan, membangkitkan nafsu.
Celakanya,sekali nafsu dituruti, dia akan mencengkeram manusia sehingga Si Manusia tidak mampu lagi untuk membebaskan diri darinya.
Makin dituruti,makin kuatlah nafsu!
Nafsu apa saja, dan terutama sekali nafsu berahi.
Makin kita membiarkan diri dicengkeraman, makin kuat dia menguasai kita.
Makin diberi makan, makin hauslah nafsu berahi, seperti sifatnya api, makin diberi makan makin berkobar dan makin ganas.
Akan tetapi nafsu macam apa pun, betapa kuatnyapun, selalu didasari atas pikiran yang mengenangkan segala hal yang menyenangkan.
Tanpa adanya kenangan pikiran yang merupakan bahan bakar terutama, maka api nafsu akan kehilangan kekuatannya dan akan padam dengan sendirinya.
Orang yang menjadi budak nafsu makin lama menjadi makin lemah, hidupnya digerakkan oleh dorongan nafsu yang mengejar segala yang dianggapnya menyenangkan.
Demikian pula Pangeran Kolo Gemet.
Makin dia mengenal kenikmatan-kenikmatan dari perjinaan-perjinaan yang dilakukan dengan para wanita, makin hauslah dia untuk memuaskan nafsu berahinya.
Maka, begitu dia melihat Dyah Wulandari, nafsu berahinya berkobar-kobar dan dia menjadi tergila-gila kepada keponakan dari KI Patih Nambi itu.
Ki Patih Nambi bukanlah seorang yang bodoh.
Sekali melihat saja sikap Pangeran itu, dia maklum bahwa ada bahaya mengancam diri keponakannya.
Ki Patih ini sudah mendengar akan sepak terjang Pangeran Kolo Gemet yang suka mengganggu wanita.
Tentu saja hal ini membuatnya tidak senang, akan tetapi apakah yang dapat dia lakukan?
Untuk menegur, tentu saja dia tidak berani.
Untuk melaporkan kepada Sang Prabu Kertarajasa juga tidak berani, apalagi mengingat betapa raja yang sudah tua itu sakit-sakitan saja.
Dia hanya menyesalkan keadaan Pangeran itu dan maklum bahwa kerusakan Pangeran itu terutama adalah karena dimanja dan Ayahnya kurang memperhatikannya.
Maka karena sudah tidak dapat menghindar lagi dan keponakannya bertemu dengan Sang Pangeran, dia membiarkan keponakannya memberi hormat dengan sembah yang dilakukan dengan lemah gemulai dan amat menggairahkan.
"Paman Patih, siapakah dara yang amat cantik jelita ini? Tidak pernah saya melihatnya, dia cantik seperti bidadari dari khayangan!"
Dengan terus terang dan tidak tahu malu, dengan sikap seorang hidung belang tulen, Pangeran muda itu memandang wajah Sang Ayu yang menunduk itu.
Mendengar ucapan ini, dara itu menjadi merah wajahnya, menyembah lagi dan cepat dia meninggalkan tempat itu.
Ki Patih Nambi maklum bahwa tentu keponakannya itu merasa malu dan takut mendengar kekasaran sikap Sang Pangeran, akan tetapi dia juga khawatir melihat keponakannya pergi begitu saja, maka cepat di menjawab.
"Harap Paduka maafkanlah kecelingusannya, maklumlah dia tidak pernah bertemu dengan Paduka. Dia adalah keponakan saya, bernama Dyah Wulandari dan..... dia sudah bertunangan dengan seorang pemuda bernama Sarjitowarman, juga seorang keponakan jauh dari isteri saya."
Ki Patih sengaja menyambung keterangannya dengan bertunangan itu dan memang sikapnya itu tepat sekali.
Dia melihat seolah-olah ada awan mendung menyelimuti wajah Sang Pangeran yang tadinya berseri-seri.
"Dia.... dia sudah bertunangan.....? Ahhh.... selamat, selamat, Paman Patih."
Sejak itulah, Sang Pangeran menjadi murung dan suka marah.
Biarpun Ki Durgakelana mencoba menghiburnya dan menjanjikan wanita-wanita lain, namun tetap saja dia tidak senang dan yang dibayangkan hanya wajah Dyah Wulandari!
Hal ini dilihat oleh Ki Durgakelana dengan hati girang karena memang itulah yang dikehendaki oleh Resi Mahapati, maka diam-diam dia lalu melaporkan hal ini kepada Sang Resi Mahapati.
Dan pada senja hari itu, Sang Resi Mahapati datang berkunjung dan diterima oleh Pangeran Kolo Gemet di dalam taman sari karena sudah dua hari dia sering termenung di taman sari dan enggan meninggalkan tempat indah penuh bunga ini, kecuali apabila hari sudah malam dan hawa udara sudah amat dinginnya.
Ketika Sang Resi Mahapati datang menghadap Pangeran Kolo Gemet dan melihat wajah pangeran yang murung itu, dia cepat memberi hormat kemudian bertanya, seolah-olah dia merasa heran padahal tentu saja dia sudah mendengar laporan selengkapnya dari Ki Durgakelana.
"Menurut wawasan hamba, Paduka termenung dan diliputi kerisauan hati. Apakah yang terjadi, Kanjeng Pangeran? Ceritakan saja pada hamba dan hamba berjanji akan sanggup mengobatinya."
Pemuda itu cemberut dan memandang kepada Sang Resi.
"Sudah sepatutnyalah kalau Andika yang harus mengobatinya, Paman Resi, karena Andika pula yang menimbulkan penderitaanku ini."
"Ehh??"
Sang Resi yang cerdik pura-pura kaget.
"Apa yang Paduka maksudkan?"
"Paman Resi Mahapati, siapa yang membawa aku pergi berkunjung ke rumah Paman Patih Nambi tempo hari?"
"Hamba yang mengajak Paduka. Kenapakah...?"
"Andika tentu telah melihat dara itu..... hemm, seperti bidadari khayangan dan namanya begitu indah, Dyah Wulandari....."
Pangeran itu menengadah dan memejamkan matanya sambil menarik napas panjang. Resi Mahapati bertukar pandang dengan Ki Durgakelana yang menyembunyikan senyum. (Lanjut ke
Jilid 29) Kemelut Di Majapahit (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 29 Tiba-tiba terdengar Resi Mahapati tertawa.
Suara ketawa ini seperti memecahkan lamunan Sang Pangeran.
Dia cepat menunduk, membuka mata memandang wajah Sang Resi dan berkata dengan nada suara menegur.
"Apa yang ditertawakan, Paman Resi? Senangkah Andika melihat saya menderita? Atau lucukah kalau saya jatuh cinta kepada dara yang denok ayu itu?"
"Ampunkan hamba, Kanjeng Pangeran. Sama sekali bukan demikian. Hamba tertawa karena melihat Paduka merisaukan hal yang sebetulnya sederhana saja. Kalau Paduka menghendaki seorang dara, mengapa hal itu dirisaukan benar? Wanita mana yang tidak akan bersembah sungkem di depan kaki Paduka, yang akan siap dan rela menyerahkan diri untuk melayani cinta kasih Paduka? Kalau memangPaduka gandrung kepada keponakan Ki Patih Nambi itu, apa sih sukarnya meraih Si Denok ke pangkuan Paduka?"
"Hemm, mudah dan enak saja Andika bicara, Paman Resi. Kalau Wulandari itu anak atau isteri sekalipun dari seorang ponggawa biasa, tentu mudah aku memintanya. Bahkan kalau dia itu puteri seorang raja muda di luar Mojopahit, juga aku akan melamarnya atau merampasnya. Akan tetapi dia keponakan Paman Patih! Dan dia sudah bertunangan!"
"Apa salahnya, Gusti? Biar sudah menikah sekalipun, apalagi baru bertunangan,dapat saja diputuskan atau dibatalkan kalau Paduka menghendaki!"
"Ah, tapi dia keponakan Ki Patih Nambi!"
Pemuda itu berkata lagi sambil mengerutkan alisnya.
"Kalau begitu, mengapa? Paduka adalah Pangeran Mahkota dan Ki Patih hanya seorang abdi yang harus mentaati perintah Paduka."
"Hemm, Andiaka seperti tidak tahu saja, Paman Resi. Kita sama tahu siapa adanya Paman Patih Nambi. Dia kepercayaan Kanjeng Romo! Kanjeng Romo tentu akan marah sekali kalau sampai aku berani mengganggu Paman Patih Nambi. Dia sudah memper-kenalkan keponakannya itu kepadaku dan bahkan menambahkan bahwa keponakannya itu telah bertunangan dengan lain orang, hal itu berarti bahwa aku tidak boleh mengganggu Wulandari! Tidak ada jalan dan tidak ada alasannya. Kalau aku menggunakan kekerasan, tentu Kanjeng Romo akan marah kepadaku. Paman Resi,Andika harus menolongku..... ah, tidak kuat rasanya menanggung derita rindu ini!"
"Ha-ha-ha, segala hal kalau Paduka ceritakan kepada hamba, tanggung beres! Hamba yang mananggung bahwa Paduka akan dapat meraih dara jelita itu ke dalam rangkulan Paduka,ke atas pangkuan Paduka tanpa ada bahaya kemarahan dari Ramanda Paduka Kanjeng Gusti Sinuhun."
Sepasang mata yang sayu itu beserinar, wajah yang muram itu berseri.
"Benarkah,Paman? Bagaimana caranya? Ohh, cepat katakan kepadaku!"
"Paduka tentu maklum bahwa biarpun Beliau menjadi kepercayaan Sang Prabu, namun sebenarnya di balik wajah setia dari Ki Patih Nambi tersembunyi hati yang bengkok! Dia mempunyai hati yang condong kepada Lumajang, buktinya, Ayah kandungnya sendiri, Aryo Pranarojo, juga berada di Lumajang, bahkan kabarnya menjadi tangan kanan dari Adipati Lumajang, yaitu Aryo Wirorojo."
"Aku tahu, dan Kanjeng Romo juga sudah mengetahuinya, akan tetapi buktinya Ki Patih Nambi adalah seorang patih yang cakap dan setia. Apa hubungannya itu dengan Wulandari, Paman Resi?"
"Sekarang tiba saatnya untuk membuka kelemahannya itu, Kanjeng Pangeran. Kemarin hamba menerima laporan dari para penyelidik bahwa di kepatihan datang penyelidik bahwa di kepatihan datang seorang mata-mata dari Lumajang dan bermalam di kepatihan. Nah, kalau Paduka mendatangi kepatihan dan menyergap, menangkap mata-mata itu di kepatihan, bukankah hal itu akan membuka rahasia Ki Patih bahwa dia mempunyai hubungan dengan para pemberontak Lumajang?"
Sang Pangeran mengerutkan alisnya dan menggeleng-geleng kepalanya.
"Aku tahu betapa Kanjeng Romo paling tidak suka mendengar Lumajang dijelek-jelekkan. Bahkan Kanjeng Romo selalu menganggap Lumajang sebagai tempat orang-orang yang setia kepada Beliau. Kalau aku melakukan penangkapan terhadap orang Lumajang di rumah Paman Patih, hal itu hanya akan menimbulkan kegemparan dan kemarahan kanjeng Romo. Tidak, Paman Resi, aku tidak mau mencampuri urusan pemerintahan selama Kanjeng Romo masih menjadi raja, dan hal itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Wulandari."
"Justru penangkapan atas diri orang Lumajang itu merupakan satu-satunya jalan bagi Paduka untuk mendapatkan diri Dyah Wulandari, Kanjeng Pangeran."
"Ehhh....??"
Sang Pangeran kini menjadi tertarik sekali dan mendekat.
"Ceritakan,paman, Resi."
"Ketahuilah bahwa orang Lumajang itu bernama Sarjitowarman."
"Ahh...? Orang yang dikatakan tunangan Dyah Wulandari?"
"Benar, Kanjeng Pangeran. Tunangan Dyah Wulandari dan juga keluarga Ki Patih,keponakan dari isteri Ki Patih."
"Dan dia mata-mata Lumajang?"
"Bukan, Kanjeng Pangeran."
Pangeran Kolo Gemet bengkit berdiri dan memandang marah.
"Paman Resi, apakah Andika hendak mempermainkan aku?"
Resi Mahapati pura-pura gugup dan cepat dia memberi hormat.
"Harap Paduka tenang dan harap suka mendengarkan penjelasan hamba. Sarjitowarman tentu saja bukan mata-mata, melainkan datang berkunjung kepada pamannya dan tunangannya, tentu saja membawa pesan dan berita dari Aryo Pranarojo untuk puteranya, Yaitu Ki Patih Nambi. Akan tetapi, karena pemuda itu merupakan seorang asing di sini, juga seorang Lumajang, tentu saja Paduka dapat menangkapnya dengan tuduhan mata-mata Lumajang. Tentu tidak ada yang berani menentang, juga Ki Patih sendiri tidak berani kalau Paduka menangkap pemuda itu dengan dalih hendak memeriksanya demi keselamatan kerajaan. Nah, setelah di Paduka tangkap, selanjutnya Ki Durgakelana yang akan memberi jalan untuk menyelamatkan pemuda itu, yaitu agar Dyah Wulandari sendiri yang menghadap Paduka. Selanjutnya, segala hal dapat diatur..... heh-heh!"
Makin berseri wajah Pangeran Kolo Gemet.
Yang tebayang olehnya hanya dara yang denok ayu itu menyerah kepadanya dan betapa dia akan menikmati dara yang membuatnya tergila-gila itu!
Dia mendengarkan suara Resi Mahapati yang berbisik-bisik mengatur siasat, mengangguk-angguk puas.
Malam itu, rencana telah diatur untuk melaksanakan siasat Resi Mahapati yang cerdik itu.
Sang Resi Mahapati tidak pernah melepaskan ambisinya yang besar.
Dia telah berhasil mengadu domba dan meruntuhkan banyak tokoh yang dianggap dapat merintangi jalan menuju tercapainya cita-citanya, tanpa memperdulikan betapa jahat dan kejinya pelaksanaan untuk menjangkau cita-citanya itu.
Kini, mulailah dia bersiasat untuk menanam kebencian antara Ki Patih Nambi dengan Pangeran Kolo Gemet.
Raja sudah tua dan setiap saat tentu Pangeran Mahkota yang akan naik tahta.
Maka, Ki Patih Nambi harus lebih dulu disingkirkan, atau setidaknya diusahakan agar putera mahkota dan patihnya itu mempunyai dendam atauatau saling bermusuhan!
Dan jalan satu-satunya untuk berhasil, mengingat bahwa Ki Patih Nambi adalah seorang bijaksana yang sukar sekali dibujuk, adalah mempergunakan kelemahan Pangeran Kolo Gemet terhadap wanita.
Pada keesokan harinya, tentu saja Ki Patih Nambi terkejut bukan main ketika para pengawal melaporkan akan kedatangan Pangeran Kolo Gemet yang diikuti oleh sepasukan pengawal pangeran yang kelihatan marah-marah itu!
Cepat Ki Patih Nambi lalu menyambut keluar dan dia makin terkejut dan heran ketika Pangeran Mahkota itu langsung saja berkata kepadanya dengan suara lantang dan kaku.
"Paman Patih, harap Paman serahkan mata-mata dari Lumajang itu kepadaku!"
Sepasang mata Ki Patih Nambi terbelalak dan alisnya terkerut.
"Apakah yang Paduka maksudkan?"
Tanyanya bingung.
"Paman tidak perlu berpura-pura. Jangan mengira bahwa aku tidak tahu. Ketahuilah bahwa sebagai seorang Pangeran Mahkota, diam-diam aku pun memasang penyelidik-penyelidik untuk mengetahui keadaan kerajaan. Kemarin di sini datang seorang dari Lumajang dan bermalam di kepatihan. Tidak benarkah itu?"
Ki Patih tersenyum lega.
"Ah, dia? Memang benar, Kanjeng Pangeran. Kemarin ada datang seorang keponakan saya dari Lumajang yang bernama Sarjitowarman, akan tetapi dia adalah keponakan saya sendiri dan bukan mata-mata...."
"Paman Patih! Sebagai seorang ponggawa Mojopahit, tentu Paman cukup mengerti bahwa urusan negara lebih penting daripada urusan pribadi! Harap Paman suka menyuruh orang Lumajang itu keluar agar dapat kuperiksa dan kutanyai dia."
Dengan hati tidak enak Patih Nambi lalu menyuruh pengawalnya yang segera masuk dan tak lama kemudian pengawal itu kembali lagi bersama seorang pemuda yang tampan.
Melihat bahwa di samping Pamannya di situ terdapat pula Pangeran Mahkota pemuda itu cepat duduk bersila dan menyembah dengan sikap hormat.
Pangeran Kolo Gemet menatap wajah pemuda itu dan bibirnya tersenyum mengejek.
Begini sajakah tunangan Dyah Wulandari?
Demikian hatinya mengejek.
Tidak seberapa!
"Heh, kau orang Lumajang?"
Dia membentak dengan sikap congkak. Pemuda itu menyembah dan menjawab.
"Benar, Kanjeng Pangeran."
"Siapa namamu?"
"Hamba bernama Sarjitowarman, Gusti."
"Kau datang membawa berita-berita dari Lumajang, bukan?"
Pemuda itu mulai kelihatan gelisah, akan tetapi dia mengangguk.
"Benar, Kanjeng Pangeran,"
Katanya lirih, karena memang dia tidak mebohong.
Bukankah dia diutus oleh Aryo Pranarojo untuk menyampaikan berita keselamatan kepada Pamannya di Mojopahit?
"Kau menyampaikan berita rahasia dan melakukan penyelidikan di sini, memata-matai Mojopahit?"
Ki Patih Nambi memandang dengan kaget dan hendak memprotes, akan tetapi Sang Pangeran mengangkat tangan mencegahnya. Pemuda itu juga terkejut sekali dan menjawab gagap.
"Ti..... tidak, Kanjeng Pangeran...."
"Kau bohong! Tangkap dia!"
Bentak Sang Pangeran kepada para pengawalnya dan majulah Warak Jinggo, menagkap dan mengikat kedua tangan pemuda itu.
Ki Patih Nambi melangkah maju hendak mencegah, akan tetapi pada saat itu Ki Durgakelana berkata.
"Harap Paduka tenang, Gusti Patih. Ingat bahwa yang menagkap adalah Gusti Pangeran Pati sendiri."
Mendengar ini, Ki Patih Nambi menahan kemarahannya dan menghadapi Pangeran Kolo Gemet, memandang tajam dan bertanya dengan suara kaku.
"Kanjeng Pangeran, apakah artinya penangkapan yang Paduka lakukan terhadap keponakan saya ini?"
Pangeran muda itu tersenyum mengejek.
"Artinya? Artinya adalah bahwa saya telah menangkap seorang dari Lumajang yang disangka mata-mata dan dia akan diperiksa sampai ada bukti bahwa dia tidak bersalah, Paman Patih. Apakah Andika keberatan dengan tugasku itu? Biarpun dia adalah keponakanmu, akan tetapi saya harus mangutamakan keselamatan Mojopahit, Paman Patih."
Tentu saja Patih Nambi tidak dapat menjawab dan tidak berani menyatakan keberatan dan dia hanya memandang dengan wajah pucat ketika pangeran dan pasukannya pergi sambil membawa Sarjitowarman sebagai seorang tawanan.
Setelah rombongan itu pergi jauh, barulah Ki Patih Nambi melihat bahwa kakek itu masih berada di situ.
Dia mengenal kakek ini sebagai seorang kepercayaan dan pengawal Pangeran, seorang yang kabarnya memiliki kesaktian dan bernama Ki Durgakelana.
Ki Patih memandang heran dan matanya mengandung penuh pertanyaan.
"Eh, Paman masih berada di sini?"
Tanyanya.
"Saya ingin membicarakan hal tadi dengan Paduka, Gusti Patih,"
Jawab Ki Durgakelana kepada Patih Nambi sambil melirik ke arah para pengawal. Patih itu maklum dan segera berkata.
"Mari kita masuk ke ruangan tamu dan bicara, Paman Durgakelana."
Mereka memasuki sebuah kamar di serambi depan dan setelah mereka duduk berdua,Ki Patih Nambi manarik napas panjang menekan ketegangan hatinya dan bertanya.
"Apakah yang akan Andika sampaikan Paman?"
"Maafkan saya, Gusti Patih. Sesungguhnya, saya merasa ikut prihatin menyaksikan penangkapan yang dilakukan oleh Gusti Pangeran tadi. Terus terang saja, Gusti Pangeran melakukan penagkapan itu atas pelaporan penyelidik yang melihat orang asing di sini apalagi ketika mendengar bahwa pemuda itu datang dari Lumajang. Gusti Pangeran yang amat membenci orang-orag Lumajang tentu saja menjadi marah dan melakukan penangkapan."
"Habis, apa yang dapat saya lakukan atau Andika lakukan, Paman?"
"Saya akan berusaha menolong, akan tetapi harus dicarikan jalan yang baik, Gusti Patih. Kenyataan bahwa Sarjitowarman itu keponakan Paduka bukanlah merupakan alasan yang kuat. Harus ada alasan yang lebih kuat yang mengikatkan dia dengan Mojopahit....."
"Ah, dia bukan hanya keponakanku, akan tetapi juga calon suami keponakanku Dyah Wulandari! Itulah sebabnya maka dia sering berkunjung ke Mojopahit, selain untuk mengunjungi kami, terutama sekali untuk menjenguk tunangannya."
"Ahh! Begitukah?"
Wajah Ki Durgakelana itu berseri-seri, seolah-olah dia baru tahu akan hal ini.
"Kalau begitu, itulah satu-satunya jalan untuk membebaskan dia!"
"Maksudmu?"
"Gusti Pangeran paling lemah menghadapi wanita, maka kalau keponakan Paduka itu menghadap Gusti Pangeran dan mengajukan permohonan agar pemuda itu dibebaskan karena pemuda itu adalah calon suaminya, tentu Gusti Pangeran akan mereda kemarahannya dan melihat bukti bahwa pemuda itu tidak bersalah."
Sang Patih mengerutkan alisnya.
"Akan tetapi....."
Dia tidak melanjutkan kata-katanya karena hatinya bimbang.
Dia tentu saja sudah mendengar bahwa Pangeran Kolo Gemet adalah seorang pria mata keranjang dan suka menganggu wanita.
Akan tetapi dia pun tentu saja tidak berani menyatakan suara hatinya ini di depan Ki Durgakelana,orang kepercayaan Sang Pangeran.
Maka dia termenung bimbang.
"Selain itu, kiranya tidak ada cara lain untuk menolong pemuda tadi, Gusti Patih. Urusan ini cukup gawat, menyangkut soal tuduhan mata-mata. Ikatan antara Paduka dan pemuda itu hanyalah sebagai paman dan keponakan luar. Kurang kuat untuk mematahkan belenggu persangkaan itu. Akan tetapi ikatan antara calon suami isteri tentu lebih kuat dan Gusti Pangeran tentu lebih mempercayai puteri keponakan Paduka."
Ki Patih tetap termenung penuh keraguan. Dan Ki Durgakelana menggunakan kesempatan itu untuk mendesak.
"Saya kira, paling tepat kalau puteri keponakan Paduka itu sekarang juga menghadap Gusti Pangeran di istananya sebelum ada keputusan dijatuhkan atas diri pemuda itu. Dan sebaiknya di waktu menghadap ditemani saja oleh seorang dayang. Saya sudah bicara terlalu banyak, terdorong oleh rasa iba, Gusti Patih. Nah, saya mohon diri."
Kakek Raksasa itu memberi hormat lalu meninggalkan tempat itu, diantar oleh ucapan terima kasih dari Ki Patih Nambi yang masih ragu-ragu.
Ketika Ki Patih Nambi memasuki ruangan dalam, dia disambut oleh tangis isterinya dan tangis Dyah Wulandari.
Mendengar keponakan ditangkap, tentu saja isteri Ki Patih merasa khawatir dan berduka sekali.
Demikian pula Dyah Wulandari, karena dara cantik jelita ini sejak kecil telah mengenal Sarjitowarman dan setelah menjadi tunangannya, dia jatuh cinta kepada pemuda calon suaminya itu.
Ki Patih Nambi duduk dengan penuh kegelisahan, lalu dia menceritakan usul yang disampaikan oleh Ki Durgakelana tadi.
Mendengar ini, Dyah Wulandari lalu bangkit dan berkata.
"Kalau begitu, saya akan menghadap Gusti Pangeran, Kanjeng Paman!"
Wajah yang cantik itu agak pucat dan kedua pipinya basah air mata.
"Akan tetapi....ah, hatiku khawatir kalau aku menghadap Beliau, Wulan!"
Kata Ki Patih.
"Apa yang dikhawatirkan?"
Isterinya membantah.
"Kalau memang hanya itu jalannya untuk membebaskan Warman, biarlah Wulan pergi menghadap. Sudah selayaknya seorang calon isteri membuktikan darma baktinya kepada suami."
"Akan tetapi..... Gusti Pangeran itu terkenal mata keranjang dan......"
"Ahhh, mana dia berani mengganggu keponakan Paduka?"
Akhirnya setelah Wulandari dan isterinya mendesak, Ki Patih Nambi menyetujui juga, melepaskan keponakannya itu pergi dengan diantar oleh seorang dayang tua,dengan hati tidak enak.
Akan tetapi dia masih berharap bahwa Sang Pangeran tidak akan berani mengganggu dara itu dan memandang kepadanya.
Ketika Wulandari dan dayang yang mengantarnya tiba di istana Pangeran Kolo Gemet,dia segera dipersilakan masuk dan seketika tiba di ruangan dalam, dayang itu tidak diperkenankan masuk terus dan Dyah Wulandari diantar oleh pengawal sampai ke depan sebuah kamar yang pintunya tertutup.
"Kanjeng Gusti Pangeran menanti di dalam kamar ini, harap Andika masuk saja,"
Kata Ki Sarpo Kencono yang menjaga di depan kamar itu bersama Ki Warok jinggo.
Keduanya menyeringai penuh arti dan dyah Wulandari merasa seram terhadap dua orang kakek raksasa yang kasar dan buruk rupa itu.
Maka dia lalu membuka daun pintu dan bergegas memasuki kamar itu.
Sebuah kamar yang besar sekali.
"Klik!"
Dyah Wulandari terkejut dan menengok, kiranya daun pintu itu telah ditutupkan kembali oleh tangan-tangan raksasa di luar tadi.
Dia membalik lagi dan memandang ke dalam kamar.
Kamar itu besar dan mewah sekali, juga berbau harum seperti kamar pengantin.
Di sudut kamar itu terdapat sebuah pembaringan yang amat indah bertilam sutera merah muda yang tersulam bunga-bunga kuning dan daun-daun hijau.
Lantainya terhias permadani tebal dan semua perabot kamar itu merupakan benda-benda yang mahal dan indah.
Di atas sebuah meja dekat pembaringan tersedia minuman-minuman dalan guci dan cawan-cawan terbuat daripada emas dan perak.
Pendeknya, belum pernah selama hidupnya Dyah Wulandari melihat kamar semewah dan seindah itu biarpun kamar-kamar di istana kepatihan juga merupakan kamar-kamar yang mewah bagi ukuran rakyat biasa.
Akan tetapi Wulan jadi tidak begitu memperhatikan segala keindahan itu.
Jantungnya berdebar-debar penuh ketegangan, kegelisahan dan ketakutan dan kedua kakinya menggigil, tidak lagi dapat digerakkan ketika dia melihat seorang pemuda dengan pakaian sarung tipis menyelimuti tubuhnya yang telanjang, sedang duduk di atas pembaringan itu.
Pemuda itu bukan lain adalah Sang Pangeran Kolo Gemet yang memandang kepadanya dengan mulut tersenyum dan sepasang mata yang seolah-olah menelannya bulat-bulat!
"Ahhh...
Si Dewi Kahyangan......
Dyah Wulandari!
Akhirnya kau datang juga kepadaku, bocah denok ayu?"
Sang Pangeran bangkit berdiri dan menyambutnya dengan kata-kata yang membuat Wulandari makin ketakutan itu.
Saking takutnya, Wulandari tidak dapat lebih lama lagi berdiri, dia lalu mendeprok dan duduk di atas lantai sambil menyembah.
"Mohon.... mohon belas kasihan Paduka, Gusti...."
Dia berkata dengan suara gemetar.
"Ah, jangan begitu, cah ayu. Jangan duduk di bawah, mari kita duduk di sini dan bicara dengan baik dan enak. Marilah....."
Sang Pangeran menggapai. Wulandari memandang dengan muka pucat dan mata terbelalak ketakutan lalu menggeleng kepala dan berkata lebih lirih.
"Hamba.... hamba.....biar hamba duduk di sini saja........"
"Ah mana bisa begitu? Tidak enak bicara begini. Marilah, sayang kita bicara sambil duduk di sini. Marilah!"
Pangeran Kolo Gemet menghampiri dara itu yang menggigil ketakutan, memegang tangannya dan menariknya berdiri.
Karena takut, Dyah Wulandari terpaksa bangkit berdiri.
Sukar kakinya melangkah, akan tetapi dengan sikap halus dan mesra pangeran itu menggandengnya dan merangkul pinggangnya, menarik ke depan dan diajak menghampiri pembaringan yang lebar dan indah itu.
"Nah, duduklah di sini dan mari kita bicara seenaknya."
Dia memaksa Dyah Wulandari duduk di tepi pembaringan.
Pembaringn itu lunak dan halus, akan tetapi terasa oleh dara itu seperti ada bara api membakar pinggulnya atau ada ujung-ujung keris tajam menusuk pinggulnya ketika dia duduk sehingga duduknya mepet di sudut dan hanya menempelkan pinggulnya di tepi pembaringan, mukanya menunduk, sebentar pucat sebentar merah, jantungnya berdebar-debar sehingga terdengar olehnya bunyi debur jantungnya yang makin mengencang.
Melihat dara itu ketakutan, Pangeran Kolo Gemet melepaskan pegangan tangannya,kemudian dia pun duduk di samping dara itu, bertanya dengan halus.
"Diajeng Wulandari yang manis, yang cantik jelita, yang membuat aku seperti gila dalam beberapa hari ini, sungguh aku merasa kejatuhan bulan melihat engkau masuk ke dalam kamarku. Diajeng, sekarang katakanlah, apa yang membawa Diajeng datang ke sini menemui aku? Apakah karena engkau merasakan desakan rindu hatiku, jeritan hatiku setiap malam di waktu aku bermimpi dan bertemu denganmu?"
Dyah Wulandari merasa kepalanya pening karena jantungnya yang berdebar keras itu sehingga semua ucapan itu seperti terdengar amat jauh baginya.
Kata-kata yang amat asing baginya, kata-kata rayuan yang belum pernah didengarnya semula.
Bahkan tunangannya sendiripun Sarjitowarman, belum pernah mengeluarkan kata-kata merayu seperti itu.
Sarjitowarman hanya menyampaikan rasa cinta kasihnya melalui senyum dan pandang mata, Sarjitowarman!
Untuk tunangannya itulah dia kini berada di kamar ini!
Teringat akan tunangannya yang ditangkap, timbul pula keberanian di hati Wulandari dan kini dia mengangkat muka, memadang wajah pangeran yang tampan dan mengerikan baginya itu.
"Pangeran..."
Dia berhenti lagi, kerongkongannya terasa tersumbat ketika dia melihat pandang mata pemuda itu demikian liar dan seperti hendak menelanjanginya,maka dia terpaksa menundukkan mukanya lagi.
"Hamba datang menghadap Paduka karena hamba hendak mengajukan permohonan....."
"Ah, gembira sekali hatiku bahwa orang seperti engkau suka minta sesuatu dariku, Diajeng Wulandari. Permintaan apakah itu?"
"Hamba mohon agar Paduka suka mengampunkan.... Kakangmas Sarjitowarman. Dia bukanlah mata-mata Lumajang, Pangeran. Dia datang ke mojopahit karena memang mempunyai keperluan pribadi, yaitu..... untuk mengunjungi hamba. Hamba adalah tunangannya, calon isterinya, maka sudah sepantasnya kalau dia kadang-kadang untuk mengunjungi hamba, dan juga mengunjungi Kanjeng Paman Nambi, karena Kakangmas Sarjitowarman adalah keponakan dari Kanjeng Bibi. Maka, hamba mohon kebijaksanaan dan belas kasihan Paduka, sudilah kiranya Paduka membebaskan Kakangmas Sarjiowarman."
Setelah berbicara, dara itu merasa tenang dan dapat bicara dengan lancar.
"Ah, tentu saja.... tentu saja....! Dengan senang hati aku akan menolongmu dan memenuhi permintaanmu. Apa lagi baru permintaan seringan itu, biar engkau minta bulan pun akan kulaksanakan, Diajeng Wulandari. Akan tetapi tentu saja tidak ada kebaikan tanpa dibalas, dan aku yakin engkau adalah seorang yang mengenal budi."
Dara itu menjatuhkan diri berlutut dan menyembah.
"Terima kasih atas kebijaksanaan Paduka. Budi Paduka tidak akan hamba lupakan selama hidup..."
"Ah, tidak perlu begini, manis. Aku cinta padamu asal engkau bersikap manis dan suka melayaniku dengan suka rela dan manis, kuanggap budi ini sudah cukup terbalas. Marilah, sayang, aku cinta padamu.... ah, betapa rinduku kepadamu, Wulandari."
Pangeran itu mendekat dan merangkul.
"Ihhhh"..!"
Dyah Wulandari menjerit kecil.
"Jangan..... jangan, Kanjeng Pangeran, jangan.....!"
Dia meronta dan bangkit berdiri lalu melangkah mundur, dadanya berombak, mukanya pucat dan matanya terbelalak, seperti mata seekor kelinci menghadapi seekor harimau yang akan menubruknya dan mencabik-cabik dagingnya.
Alis pangeran itu berkerut.
"Wulandari, baru saja kau mengakatakan bahwa sampai mati kau tidak akan melupakan budiku, akan tetapi sekarang agaknya sudah kau lupakan!"
Aku cinta padamu dan aku ingin engkau melayani cintaku dengan suka rela tanpa paksaan..... Diajeng, percayalah, aku sungguh tergila-gila kepadamu....."
Pangeran itu menghampiri, menangkap pergelangan tangan dara itu, menariknya dan mendekapnya lalu mendekatkan mukanya hendak mencium.
"Tapi.... tapi hamba akan menjunjung tinggi Paduka sebagai seorang sesembahan yang bijaksana....... bukan untuk bersikap seperti.... itu....."
"Wulandari, pemuda Lumajang itu mestinya harus mati, akan tetapi demi melihatmu aku suka mengampuninya dan mengembalikan nyawanya kepadamu. Dan untuk pengganti nyawanya, aku hanya minta agar engkau suka melayaniku dengan manis budi. Bukankah itu sudah adil? Aku cinta padamu dan aku ingin engkau melayani cintaku dengan suka rela tanpa paksaan..... Diajeng, percayalah, aku sungguh tergila-gila kepadamu....."
Pangeran itu menghampiri, menangkap pergelangan tangan dara itu, menariknya dan mendekapnya lalu mendekatkan mukanya hendak mencium.
"Tidak... eh, jangan.... ampunkan hamba... jangan......!"
Wulandari meronta-ronta,dan sukar bagi pangeran itu untuk dapat mencium bibirnya karena dara itu mengelak terus dan mendorong-dorong sehingga akhirnya Pangeran Kolo Gemet melepaskan rangkulannya.
Mukanya menjadi merah, matanya liar dan napasnya mendengus-dengus, tanda bahwa dia marah dan nafsu berahinya sudah membuat matanya galap.
"Engkau menolak? Sungguh-sungguh engkau berani menolak cintaku?"
Wulandari menangis terisak-isak dan menjatuhkan dirinya di atas lantai, menyembah-nyembah.
"Ampunkan hamba, Gusti..... hamba akan menjunjung Paduka sebagai seorang sesembahan yang bijaksana, yang pemurah, akan tetapi jangan Paduka menghendaki yang itu.... karena hamba sudah bertunangan, hamba sudah mempunyai seorang calon suami...."
"Kalau begitu kau ingin melihat tunanganmu itu mampus?"
"Ampun, Gusti.... ampunkan hamba, ampunkan dia.... demi para dewata yang agung, ampunkan hamba dan dia...."
Wulandari meratap.
"Wulandari, jawablah pertanyaanku yang terakhir ini. Maukah engkau melayaniku dengan suka rela? Kalau mau, ke sinilah dan duduklah di pembaringan ini. Kalau tidak mau jawab saja sejujurnya!"
Suara Pangeran itu lantang dan penuh kemarahan. Dyah Wulandari menyembah, suaranya tergagap karena terganggu tangisnya.
"Ampunkan....hamba.... hamba....... tidak mungkin dapat melakukan hal itu, biar sampai mati sekalipun...., harap Paduka suka mengampuni hamba..."
"Keparat!"
Pangeran Kolo Gemet lalu bertepuk tangan tiga kali dan daun pintu kamar itu terbuka cepat dari luar dan dua orang kakek raksasa itu sudah meloncat ke dalam.
Mereka memandang kepada Sang Pangeran, hatinya merasa lega melihat Sang Pangeran tidak apa-apa hanya kelihatan marah, lalu mereka memandang kepada dara yang menangis dan berlutut di atas lantai itu.
"Bawa mata-mata Lumajang itu ke sini!"
Bentak Pangeran Kolo Gemet dengan penuh kegeraman.
"Baik, Gusti Pangeran!"
Jawab Warak Jinggo dan dia lalu meloncat keluar,sedangkan Sarpo Kencono masih berdiri di situ.
"Sarpo Kencono siapkan tali untuk meringkus mata-mata itu!"
Sarpo Kencono menyembah lalu keluar dari dalam kamar.
Seluruh tubuh Dyah Wulandari menggigil penuh ketegangan dan kegelisahan.
Dia maklum bahwa dia telah membikin marah pangeran, dan dia tidak dapat membayangkan apa yang hendak dilakukan oleh pangeran itu kepada tunangannya.
Tak lama kemudian terdengar langkah-langkah kaki menghampiri pintu kamar dan muncullah Warak Jinggo yang mendorong tubuh Sarjitowarman memasuki kamar, diikuti Sarpo Kencono yang membawa tali.
Kedua tangan pemuda Lumajang itu sudah dibelenggu ke belakang tubuhnya, mukanya pucat dan rambut serta pakaiannya kusut awut-awutan.
Ketika dia melihat bahwa Dyah Wulandari berada di dalam kamar itu,berlutut sambil menangis, dia terkejut bukan main.
"Diajeng....!"
Teriaknya lirih tertahan karena Warak Jinggo sudah menekan pundaknya sehingga dia menjatuhkan diri berlutut.
"Kakangmas....!"
Dyah Wulandari juga menjerit lalu menangis sesenggukan.
"Ikat dia di tiang pojok itu kuat-kuat, hadapkan ke sini!"
Sang Pangeran membantak dan dua orang pengawalnya lalu menyeret tubuh Sarjitowarman ke pojok di mana terdapat tiang besar berukir indah, kemudian dengan kasar pemda itu ditelikung pada tiang itu.
Tali yang kuat dan panjang itu dilibat-libatkan tubuhnya dari kaki sampai ke dada sehingga pemuda itu sama sekali tidak mampu bergerak lagi, hanya memandang ke arah tunangannya dengan penuh kekhawatiran.
Sementara itu, Dyah Wulandari menangis makin hebat, mencoba untuk lari menghampiri tunangannya, akan tetapi Pangeran Kolo Gemet menghadang dan mendorongnya sehingga dara itu terhuyung dan jatuh ke atas pembaringan.
Dia cepat turun lagi dan menyembah-nyembah sambil menangis sesenggukan.
"Gusti Pangeran, Paduka boleh menyiksa hamba, boleh membunuh hamba, akan tetapi janganlah Paduka mengganggu Diajeng Wulandari!"
Sarjitowarman berteriak dengan marah, matanya terbelalak berapi-api ditujukan kepada Pangeran Kolo Gemet. Pangeran itu meloncat dan menampar pipi pemuda itu.
"Plakkk!"
Dan darah mengalir dari ujung bibir yang pecah.
"Tutup dan ikat mulutnya yang lancang dengan kain agar tidak mampu mengeluarkan suara!"
Bentak Sang Pangeran dengan geram.
Warak Jinggo lalu mempergunakan sehelai kain hitam untuk mengikat mulut Sarjitowarman sehingga pemuda itu kini selain tubuhnya terbelenggu, juga mulutnya tertutup ikatan yang erat sehingga sama sekali tidak mampu bersuara, hanya matanya saja yang masih dapat memandang dengan marah.
"Sekarang keluarlah kalian, jaga di depan pintu, jangan perkenankan siapapun masuk ke kamar ini!"
Dua orang kakek itu saling pandang, tersenyum lalu menyembah dan mengundurkan diri ke luar kamar, menutupkan daun pintu dan menjaga di luar kamar itu.
Pangeran Kolo Gemet lalu menghampiri Dyah Wulandari yang masih berlutut sambil menangis itu.
"Nah, Wulandari, bagaimana sekarang? Apakah engkau masih bersikeras tidak mau memenuhi permintaanku?"
"Ampunkan, Gusti..... hu-hu-huhhh....... ampunkan hamba berdua...., lebih baik Paduka bunuh saja hamba berdua..... hu-huhhhhh......."
Dara itu menangis tersedu-sedu. Kolo Gemet menjadi semakin penasaran dan marah.
"Baik, kalau begitu kaulihat dia ini tersiksa!"
Dengan langkah lebar dia menghampiri Sarjitowarman yang terbelenggu di tiang.
"Brettt......!"
Sekali renggut, robeklah baju pemuda itu sehingga dadanya nampak telanjang. Pangeran Kolo Gemet lalu mencabut kerisnya.
"Aku akan membunuhnya perlahan-lahan di depan matamu. Lihat baik-baik.....!"
Pangeran itu lalu menggunakan ujung kerisnya menggurat kulit dada pemuda itu. Darah mengucur dari luka memanjang dan Sarjitowarman memejamkan mata menahan nyeri, hanya alisnya saja yang berkerut.
"Pangeran......!"
Dyah Wulandari yang tadi memandang terbelalak, kini menjerit dan menubruk kaki pangeran itu, menyembah-nyembah.
"Ampunkan dia.... ampunkan hamba.... demi para Dewata Yang Agung ampunkan dia....."
Pangeran Kolo Gemet tersenyum mengejek.
"Ampun? Mudah saja, manisku. Tentu saja aku akan mengampunkan kalian kalau saja engkau tidak keras kepala seperti itu. Nah, kau duduklah di pembaringan itu, hentikan tangismu dan bersiaplah untuk melayaniku dengan manis."
"Tapi.... tapi..."
"Apa kau ingin melihat dadanya kurobek-robek?"
Pangeran itu membentak dan dengan muka pucat Dyah Wulandari lalu bangkit dan melangkah manuju ke pembaringan, akan tetapi tiba-tiba dia menoleh dan memandang kepada Sarjitowarman Pemuda ini tidak mampu bersuara atau bergerak, akan tetapi dia masih dapat menggeleng-gelengkan kepalanya, memberi isyarat yang jelas agar tunangannya itu tidak memenuhi kehendak Sang Pangeran.
"Hamba......hamba tidak dapat....."
Akan tetapi kata-kata itu terhenti dan berubah menjadi jeritan lalu dia lari dan menubruk kaki pangeran itu ketika ujung keris itu kini dengan gerakan kasar dan marah menyambar dan mencoret-coret di atas dada yang telanjang itu sehingga dada itu kini belepotan darah dengan guratan-guratan merah malang melintang.
"Engkau masih berani membantah?"
Pangeran itu membentak.
"Baik... baik.... Gusti, akan tetapi jangan...... jangan siksa dia....."
Dengan ketakutan dan hati penuh kengerian melihat tunangannya disiksa seperti itu, Dyah Wulandari lalu setengah berlari menuju ke pembaringan dan duduk di situ dengan mata terbelalak dan muka pucat ketakutan terdengar rintih tangis Dyah Wulandari bersama rintih yang keluar dari kerongkongan Sarjitowarman yang hanya dapat memejamkan matanya rapat-rapat, akan tetapi air matanya menetes membasahi kedua pipinya.
"Ha-ha-ha, nah, begitu baru baik dan manis."
Dia lalu menyimpan kerisnya dan memandang wajah Sarjitowarman.
"Dan kau! Berani benar kau ya? Nah, untuk keberanianmu itu, hendak kulihat apakah engkau cukup berani untuk menonton apa yang akan terjadi!"
Sepasang mata Sarjitowarman kini memandang tanpa mengenal takut, tanpa rasa hormat, dan dia seolah-olah hendak mencekik pangeran itu dengan pandang matanya.
Akan tetapi pangeran Kolo Gemet hanya tertawa lalu dengan langkah lebar menghampiri pembaringan.
"Gusti.... jangan.... jangan....!"
Keluhan Wulandari itu makin menghebat keika pangeran itu menubruknya sehingga dia roboh terjengkang dan terlentang di atas pembaringan dan dia meronta-ronta berusaha melepaskan diri, namun tentu saja dia kalah tenaga dan dia pun agaknya takut kalau-kalau pangeran itu akan menyiksa tunangannya lagi.
Akhirnya, keluhannya itu berubah menjadi jeritan-jeritan menyayat hati, kemudian di dalam kamar itu hanya terdengar rintih tangis Dyah Wulandari bersama rintih yang keluar dari kerongkongan Sarjitowarman yang hanya dapat memejamkan matanya rapat-rapat, akan tetapi air matanya menetes membasahi kedua pipinya.
Selama sehari itu, berkali-kali Dyah Wulandari roboh pingsan dan kalau tidak pingsan, terdengarlah rintihan dan tangisnya, keluhan dan sambatnya minta mati akan tetapi yang hanya dijawab dengan suara ketawa dan bujuk rayu Sang Pangeran.
Karena asyik dengan pelampiasan nafsu-nafsu kotornya, Sang Pangeran tidak tahu betapa di luar pintu muncul Resi Mahapati yang berbisik-bisik dengan dua orang kakek pengawalnya, dan Resi Mahapati mengangguk-angguk tersenyum puas ketika mendengar suara rintihan-rintihan yang mengenaskan dari Dyah Wulandari di dalam kamar itu.
Lalu kakek itu cepat meninggalkan istana pangeran dan bergegas mengunjungi kepatihan, di mana Patih Nambi masih menanti kembalinya keponakannya dengan hati gelisah.
Ki Patih Nambi menerima kunjungan Resi Mahapati yang kelihatan gugup dan gelisah itu dengan hati tidak enak.
Dan sebelum Ki Patih dapat bertanya, Resi Mahapati telah mendahuluinya dengan suara gugup.
"Celaka, Adimas Patih! Paduka harus cepat-cepat bertindak, kalau tidak maka celakalah....."
Biasanya, menghadapi segala macam persoalan, Ki Patih Nambi selalu bersikap tenang, akan tetapi sekarang karena hatinya sejak pagi tadi sudah gelisah memikirkan Dyah Wulandari yang tak kunjung pulang, dia menjadi pucat mendengar ini.
"Kakang Resi Mahapati! Apakah yang telah terjadi? "Saya baru saja mendengar bahwa keponakan Paduka, Dyah Wulandari, telah ditangkap oleh Sang Pangeran!"
Ki Patih Nambi mengerutkan alisnya.
Dia memang sudah mengkhawatirkan hal ini,akan tetapi dia ingin mendengar lebih banyak dari resi yang dia tahu memiliki hubungan akrab dan dekat dengan Sang Pangeran itu.
"Apa dosanya, Kakang Resi? Keponakan saya itu hanya pergi menghadap Sang Pangeran untuk mohon dibebaskannya tunangannya."
Resi Mahapati menarik napas panjang, kelihatan bingung dan khawatir sekali.
"Saya sendiri hanya mendengar dari para pengawal Gusti Pangeran bahwa keponakan Paduka itu di tangkap dan dituduh membantu mata-mata dari Lumajang. Saya harap Paduka cepat-cepat pergi mendatangi pangeran untuk menolong keponakan Paduka itu, Dimas Patih."
Ki Patih Nambi adalah seorang yang bijaksana. Dia tahu bahwa kalau dia menuruti nasihat ini, dia hanya akan membuat suasana menjadi tambah panas dan keruh. Dia menggeleng kepalanya.
"Gusti Pangeran berhak untuk menahan siapa pun yang dia curigai, Kakang Resi. Saya tidak berhak mencampuri, biarpun hal ini menyangkut urusan keponakan saya sendiri."
"Apa?"
Resi Mahapati terbelalak.
"Paduka maksudkan bahwa Paduka akan tinggal berpeluk tangan saja mendengar keponakan Paduka terancam? Ahh..... saya kira....ah,maafkan, kalau begitu tidak ada artinya saya bersusah payah melaporkan kepada Paduka..."
"Bukan begitu, Kakang Resi. Saya berterima kasih sekali atas pemberitahuan Andika ini, akan tetapi saya hanya dapat mengharapkan kebijaksanaan Kanjeng Gusti Sinuhun. Mendatangi Sang Pangeran sendiri hanya akan menimbulkan suasana yang makin panas saja."
"Ah, benar sekali, Adimas Patih! Sebaiknya sekarang juga Paduka pergi melapor kepada Sang Prabu!"
Akan tetapi Ki Patih Nambi kembali menggelengkan kepalanya.
"Tidak sekarang, Kakang Resi, saya tidak berani mengganggu Sang Prabu di waktu hampir malam begini. Biarlah besok pagi saya akan mohon kebijaksanaan Sang Prabu."
Resi Mahapati mengangguk-angguk kemudian meninggalkan kepatihan.
Di dalam hatinya dia merasa girang sekali.
Biar pun pada lahirnya patih itu tidak kelihatan menaruh dendam, namun dia tahu bahwa di dalam hatinya tentu Ki Patih Nambi merasa sakit hati sekali.
Tunggulah kau, Nambi, pikirnya, tunggulah sampai kau mendengar sendiri betapa keponakanmu telah diperkosa oleh Sang Pangeran!
Dia menggosok-gosok kedua tangannya, membayangkan bentrokan antara Ki Patih Nambi dan Pangeran Kolo Gemet dan kalau hal itu terjadi, makin terbukalah kesempatan baginya untuk mengangkat diri sendiri memperoleh kedudukan patih yang diidam-idamkannya.
Keputusan Ki Patih Nambi untuk menunda permohonannya kepada Sang Prabu sampai besok pagi itu memperpanjang penderitaan batin Dyah Wulandari.
Dia tidak berdaya dan dipermainkan sepuasnya oleh Pangeran Kolo Gemet dan sehari semalam, itu dia tidak pernah dilepaskan oleh Sang Pangeran.
Kalau Dyah Wulandari mengalami penderitaan dan penghinaan yang lebih hebat menimpa jasmaninya, adalah Sarjitowarman yang mengalami sisaan batin amat hebatnya.
Pemuda ini harus melihat dan mendengar semua penderitaan kekasihnya, penghinaan yang paling hebat yang dapat diderita oleh seorang wanita.
Biarpun dia dapat memejamkan matanya agar tidak melihat kekasihnya meronta-ronta seperti seekor kelinci yang dicabik-cabik oleh seekor harimau buas, namun dia tidak dapat menutupi telinganya dan terpaksa harus harus mendengarkan rintihan dan ratap tangis yang terulang-ulang keluar dari mulut dara yang tidak berdaya itu.
Kalau selama sehari semalam itu Sang Pangeran mau melapaskan Dyah Wulandari sebentar saja, tentu dara itu akan menggunakan kesempatan ini untuk membunuh diri dengan cara apa pun.
Akan tetapi, pangeran itu sama sekali tidak pernah mau melepaskannya.
Dan pada keesokan harinya, dalam keadaan tertidur, pangeran itu memeluknya erat-erat dan setiap kali Wulandari bergerak hendak melepaskan diri, pelukannya makin diperkuat.
Hari telah agak siang ketika Sang Pangeran terbangun karena pintu kamar itu diketok orang dari luar.
Dia bangkit duduk, memandang kepada Dyah Wulandari yang menangis terisak-isak ketika dia melepaskan pelukannya.
"Manis, sudah jangan menangis Aku cinta kepadamu, Wulandari. Engkau telah menjadi milikku, dan aku akan membebaskan dia itu."
Dyah Wulandari tidak menjawab, hanya menutupi mukanya dengan bantal dan menangis sesenggukan. Ketukan pintu terulang dan Sang Pangeran turun dari pembaringan, mengenakan pakaiannya sambil berseru.
"Siapa?"
"Hamba, Gusti. Ada utusan dari Gusti Sinuwun untuk paduka."
Pangeran Kolo Gemet mengerutkan alisnya dan tanpa membuka pintu dia bertanya dari dalam.
"Ada urusan apakah? Hayo katakan saja dari luar!"
Terdengar suara lain, bukan suara Warak Jinggo yang tadi.
"Ampun, Gusti Pangeran. Hamba diutus oleh Kanjeng Gusti Sinuhun yang minta agar Paduka suka datang menghadap sekarang juga di ruang persidangan di mana Kanjeng Gusti Sinuhun menanti Paduka."
"Hemm baik, aku segera pergi. Warak Jinggo, kau masuklah!"
Pintu terbuka dan Warak Jinggo memasuki kamar itu, melirik ke arah Sarjitowarman yang masih terbelenggu di tiang dalam keadaan lemas lahir batinnya, kemudian melirik ke arah Dyah Wulandari yang masih menangis di atas pembaringan dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Kau ikat kaki tangan wanita itu agar dia jangan lari atau melakukan hal yang buruk, akan tetapi awas, jangan sakiti dia dan jangan ganggu dia, dia adalah kekasihku!"
Warak Jinggo menyembah, lalu menghampiri pembaringan, Dyah Wulandari yang sudah kehabisan tenaga itu diam saja ketika kaki dan tangannya diikat dengan hati-hati oleh kakek itu, menggunakan ikat pinggang dara itu sendiri yang berada di atas lantai di bawah pembaringan.
Setelah berganti pakaian dan membereskan rambutnya,pangeran itu lalu meninggalkan kamar dan memesan kepada Warak Jinggo agar menjaga dua orang tawanan itu dengan hati-hati.
Kemudian dia lalu pergi menghadap Sang Prabu, dikawal oleh Sarpo Kencono bersama Ki Dugakelana yang juga sudah datang pagi itu untuk menghadap Sang Pangeran seperti biasa setiap hari.
Ketika Sang Pangeran tiba di ruang persidangan, dia melihat Sri Baginda lengkap dengan para pengawal telah berada di situ.
Yang membuat hatinya merasa tidak enak adalah ketika dia melihat hadirnya Ki Patih Nambi di situ.
Ki Patih duduk bersila dengan kepala tunduk dan wajah muram.
Heran dia melihat Resi Mahapati juga hadir pula di situ.
Dia tidak tahu bahwa Sang Resi itulah yang menemani Ki Patih menghadap ayahnya untuk melaporkan perbuatannya!
Setelah melihat pangeran itu menghadap, Sang Prabu mengerutkan alisnya, lalu dia menegur.
"Puteraku, apakah artinya pelaporan dari Patih Nambi bahwa Andika telah menangkap keponakannya yang bernama Dyah Wulandari?"
Pangeran itu menyembah lalu berkata.
"Harap Kanjeng Rama ketahui bahwa Dyah Wulandari telah membela seorang mata-mata Lumajang yang hamba tangkap. Karena itu, hamba menganggap bahwa Dyah Wulandari itu membantu mata-mata, keadaannya mencurigakan dan perlu ditahan pula untuk pemeriksaan lebih lanjut."
"Hemm, siapakah orang yang kau anggap mata-mata Lumajang itu?"
Tanya Sang Prabu.
"Namanya Sarjitowarman, Kanjeng Rama."
"Sarjitowarman adalah keponakan luar dari Ki Patih Nambi, dan Dyah Wulandari masih keponakannya sendiri. Mereka bukan mata-mata Lumajang, dan pula, tidak ada permusuhan, tidak ada persoalan antara Mojopahit dan Lumajang, maka bagaimana kau mengatakan ada mata-mata dari sana? Ki Patih Nambi telah menanggung bahwa dua orang keponakannya itu sama sekali bukan mata-mata, oleh karena itu kuperintahkan kepadamu agar kau suka membebaskan mereka berdua sekarang juga. Mengerti?"
Pangeran Kolo Gemet terkejut.
Tak di sangkanya ayahnya akan marah dan tahulah dia bahwa ayahnya mempunyai kepercayaan besar sekali terhadap Ki Patih Nambi.
Maka dia tidak berani membantah.
Betapapun juga, dia telah dapat mencapai maksud hati dan keinginannya, dia telah berhasil menguasai diri Dyah Wulandari selama sehari semalam.
Dia telah merasa puas!
"Baiklah, Kanjeng Rama.
Hamba akan menjalankan perintah Paduka sebaiknya."
Pangeran itu menyembah, bangkit dan hendak pergi, akan tetapi Sang Prabu berkata lagi kepadanya dengan suara lantang.
"Pangeran, hayo kau minta maaf kepada Ki Patih atas perlakuanmu terhadap para keponakannya!"
Pangeran Kolo Gemet mengerutkan alisnya, akan tetapi dia lalu tersenyum dan membungkuk kepada Ki Patih Nambi sambil berkata.
"Paman Patih Nambi, saya harap Paman suka memaafkan saya atas apa yang saya lakukan terhadap Sarjitowarman dan Dyah Wulandari, Paman Patih!"
Ki Patih Nambi cepat memberi hormat dan berkata.
"Tidak apa, Gusti Pangeran. Semua kejadian itu terjadi karena kesalahpahaman, tentu saja hamba sudah melupakan semua itu dan sudah merasa girang dan berterima kasih kalau Paduka sudi membebaskan mereka berdua."
"Benarkah Paman Patih tidak akan menaruh hati dendam kepada saya karena urusan itu?"
"Ah, mana berani hamba menaruh dendam. Pula, perbuatan Paduka itu hanya terdorong oleh keinginan menyelamatkan kerajaan. Hamba tidak akan menaruh hati dendam, Gusti Pangeran."
"Paduka baik sekali, Paman Patih, dan saya amat berterima kasih atas kebijaksanaan Paduka itu."
Sang Prabu girang sekali mendengar percakapan antara patihnya dan puteranya itu, dia mengangguk-angguk dan memberi ijin dengan isyarat tangan ketika puteranya berpamit mengundurkan diri.
Sang Prabu lalu membubarkan persidangan dan yang pulang dengan hati penasaran dan kecewa adalah Resi Mahapati.
Semua jerih payahnya ternyata telah gagal!
Dia tidak membakar api permusuhan dan dendam di antara patih dan pengeran.
Mereka telah maaf-maafkan dan menyatakan tidak menaruh dendam di depan Sang Prabu sendiri!
Betapa pun juga hati Resi Mahapati masih penasaran dan dia cepat menghubungi Ki Durgakelana untuk selalu memberi kabar kepadanya mengenai perkembangan urusan itu lebih jauh.
Dengan wajah murung dia lalu pulang ke rumah, menanti berita dari Durgakelana.
Dan pada sore hari itu dia mendengar berita yang mengejutkan dari Ki Durgakelana tentang dua orang keponakan Ki Patih Nambi itu.
Apakah yang telah terjadi?
Ternyata bahwa setelah menerima perintah dari ayahnya, Sang Pangeran tidak berani membangkang, apalagi dia telah mendapatkan maaf dari Ki Patih di depan ayahnya, di depan Sang Prabu bahwa Ki Patih tidak akan menaruh dendam dan telah memaafkannya.
Betapapun juga, biar dia tidak dapat menahan Dyah Wulandari, namun dia telah menikmati gadis itu selama sehari semalam sepuasnya!
"Bebaskan mereka dan antarkan mereka pulang dengan kereta ke kepatihan, serahkan kepada Paman Patih,"
Demikian perintahnya kepada Warak Jinggo ketika pangeran itu kembali ke istananya.
Ketika dibebaskan dari belenggu, Sarjitowarman yang lemas lahir batinnya itu terguling roboh.
Dyah Wulandari menjerit dan lari menubruk kekasihnya itu, menangis tersedu-sedan.
Sarjitowarman hanya menghela napas perlahan-lahan,menggosok-gosok pergelangan tangan dan kakinya, kemudian dia merangkul tunangannya dan memapahnya keluar dari istana itu memasuki kereta yang sudah dipersiapkan.
"Tenanglah, Diajeng....betapapun juga kita telah bebas...."
"Aduh, kakangmas... akan tetapi aku..... aku.....ah, lebih baik aku mati saja..."
"Bukan salahmu, Diajeng. Mari kita hadapi semua ini bersama..."
Pemuda itu pun tidak dapat bicara banyak karena dia maklum betapa hebat penderitaan lahir batin dari kekasihnya itu.
"Kakangmas....!"
Dyah Wulandari menangis tersedu-sedu dalam pelukan tunangannya.
Makin hancur rasa hatinya melihat tunangannya itu bahkan menghiburnya, padahal dia tahu betapa tunangannya itu terhina secara hebat sekali, dipaksa menyaksikan ketika dia diperkosa dan dipermainkan oleh pangeran jahanam itu.
Setibanya kereta itu di gedung kepatihan, Dyah Wulandari turun dan sambil terisak-isak dia lari terhuyung-huyung ke dalam gedung, langsung memasuki kamarnya.
Ki Patih Nambi beserta isterinya dan keluarganya merasa terkejut sekali, dan Ki Patih segera bertanya kepada Sarjitowarman yang masih berlepotan darah bajunya.
"Apakah yang terjadi, Sarjitowarman?"
Pemuda itu menjatuhkan diri berlutut, mukanya pucat dan terengah-engah menahan tangisnya, kemudian dengan suara tersendat-sendat dia berkata.
"Saya.... saya..... tidak dapat bercerita di sini... Kanjeng Paman...."
Ki Patih Nambi maklum bahwa tentu telah terjadi sesuati yang amat hebat.
Dia cepat maju dan membuka baju pemuda itu.
Para wanita itu menjerit ketika melihat dada yang penuh luka gurat-guratan itu dan Ki Patih Nambi lalu menarik tangan Sarjitowarman, diajaknya pemuda itu memasuki kamarnya karena keponakannya itu tidak dapat bercerita di depan banyak anggota keluarganya.
Setelah mereka tiba di dalam kamar dan Ki Patih menutupkan daun pintu, patih itu berkata.
"Nah, sekarang ceritakanlah apa yang telah terjadi."
Dengan suara terputus-putus dan diseling tangisnya, Sarjitowarman lalu menceritakan kepada pamannya itu betapa dia ditawan oleh pangeran, kemudian betapa dia dibawa ke sebuah kamar di mana dia diikat pada tiang, ditutup mulutnya dan disiksa oleh pangeran untuk memaksa Dyah Wulandari, kemudian betapa tunangannya itu diperkosa, dihina dan dipermainkan selama sehari semalam oleh pangeran itu di depan matanya!
Sarjitowarman mengakhiri ceritanya itu sambil menangis dan berkata.
"Kanjeng paman.... harap Kanjeng Paman jangan menyalahkan Diajeng Wulan.... dia sudah menderita hebat sekali, Kanjeng Paman... dan jangan sampai berita ini terdengar oleh siapa pun, biarlah saya yang akan mencuci aib yang menimpanya, saya akan segera mengawininya...."
"Bedebah....!"
Ki Patih Nambi mengepal tinju dan mengatupkan giginya kuat-kuat sampai terdengar bunyi giginya berkerotan.
Matanya terbelalak merah penuh kemarahan terhadap Pangeran Kolo Gemet, akan tetapi alisnya segera berkerut ketika dia teringat akan janjinya memaafkan pangeran itu.
Janjinya memaafkan dan tidak mendendam yang telah diucapkan di depan Sang Prabu sendiri!
Dia tidak berdaya lagi!
Tiba-tiba terdengar jerit melengking dari kamar sebelah dalam.
Ki Patih Nambi terkejut bukan main dan dia segera meloncat dan lari ke dalam, diikuti oleh Sarjitowarman.
Terdengar tangis riuh-rendah di kamar Dyah Wulandari.
Ketika Ki Patih meloncat masuk, dia berdiri terpaku dengan mata terbelalak, memandang isteri-isterinya dan para keluarga merubuh tubuh yang menggeletak di atas pembaringan itu, tubuh yang sudah tidak bergerak lagi, tubuh Dyah Wulandari yng terlentang dengan sebatang cundrik menancap di ulu hatinya.
Dara itu telah tewas dengan jalan membunuh diri, suduk selira {menusuk diri sendiri}.
Darah masih mengalir dari dadanya, darah yang dimaksudkan untuk mencuci darah kehormatannya yang menodainya akibat perkosaan yang dilakukan oleh Sang Pangeran!
"Diajeng Wulan.....!!"
Sarjitowarman menubruk mayat itu, meratap tangis dan dengan beringas tangannya menyambar keris di dada kekasihnya, mencabutnya dan hendak ditusukannya di dadanya sendiri.
Akan tetapi dengan sigapnya, Ki Patih Nambi sudah menangkap lengannya, merampas keris dan berkata dengan suara berwibawa.
"Sarjitowarman! Seorang ksatria pantang membunuh diri! Apakah engkau bukan ksatria? Bukan laki-laki?"
Sarjitowarman yang masih dipegang lengannya itu hendak meronta, lalu menoleh dan melihat wajah pamannya, mendengar ucapan itu, dia menjadi lemas.
"Paman....!"
Dia menjatuhkan diri berlutut dan menangis, merangkul kedua kaki pamannya.
Ki Patih Nambi memejamkan matanya, menahan napas memulihkan kembali ketenangannya, lalu dia meraba kepala pemuda itu dan berkata.
"Sarjitowarman,kurasa Wulandari telah melakukan hal yang benar dan patut dihormati. Dia tidak ingin menyiksamu dengan kenangan buruk itu maka dia melakukan suduk salira agar kau terlepas dari ikatanmu bersama dia. Kalau dipikirkan dengan masak-masak,memang sebaiknya begitu, karena sebagai seorang puteri, tentu saja peristiwa itu akan menghantui kehidupannya selanjutnya. Sekarang, sebaiknya engkau pulang ke Lumajang agar tidak terjadi sesuatu atas dirimu."
"Tidak, Kanjeng Paman, saya ingin menunggui jenazah Diajeng Wulandari sampai selesai pemakamannya."
"Jangan, Warman. Aku merasa tidak enak, dan tentu ada ekornya semua peristiwa ini. Sebaiknya (Lanjut ke
Jilid 30) Kemelut Di Majapahit (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 30 kalau engkau malam ini juga pulang ke Lumajang."
Dengan suara sayau karena bercampur tangis, isteri Sang Patih, yaitu bibi dari Sarjitowarman berkata.
"Betapa kejamnya kalau memaksa dia pulang sekarang Kakangmas. Biarlah dia menunggu jenazah Wulan semalam ini dan besok pagi-pagi dia berangkat ke Lumajang. Saya kira kalau hanya semalam ini tidak akan terjadi sesuatu."
Akhirnya Ki Patih yang merasa kasihan sekali kepada pemuda itu, menyetujui dan pemuda itu diperkenankan menjaga jenazah kekasihnya itu di dalam kamar, membakar dupa dan duduk bersamadhi.
Demikianlah berita yang didengar oleh Resi Mahapati.
Tentu saja pembawa berita itu hanya memberitakan bahwa Dyah Wulandari telah mati membunuh diri dan bahwa Sarjitowarman besok pagi-pagi akan kembali ke Lumajang.
Juga bahwa di kepatihan tidak terjadi hal-hal lain, tidak nampak sikap marah atau sakit hati berhubung dengan peristiwa itu.
Di samping terkejut mendengar berita itu, perasaan girang yang mula-mula terasa di dalam hatinya berubah menjadi kekecewaan ketika mendengar bahwa Ki Patih agaknya sama sekali tidak terpengaruh oleh peristiwa kematian keponakannya itu.
Celaka, dia telah gagal menanam bibit permusuhan antara Ki Patih dan Sang Pangeran.
Bahkan kini Sang Pangeran tentu merasa menyesal sekali atas perbuatannya itu dan merasa amat berterima kasih bahwa Ki Patih tidak memperpanjang urusan itu.
Juga Sang Prabu sendiri tentu makin memuji kesetiaan dan kebijaksanaan KI Patih Nambi.
Gagallah usahanya memburukkan nama Ki Patih.
Kemurungannya karena kegagalan itu dibawanya ke dalam kamarnya malam itu.
Lestari, seperti biasa menyambut suaminya dengan ramah dan sikap yang menarik.
Ketika dia melepaskan jubah luar suaminya yang duduk di kursi, mencuci kakinya yang berdebu, dia melihat sikap suaminya yang murung.
Lestari tersenyum.
Mudah saja baginya untuk melenyapkan kemurungan suaminya yang tua ini.
Dia lalu memperlihatkan sikap manja, lalu duduk di atas pangkuan Resi Mahapati dan merangkul lehernya.
Kehangatan tubuhnya merayap keluar dan mempengaruhi Resi Mahapati yang segera memeluk selirnya terkasih yang amat pandai merayu dan menyenangkan hatinya itu, mengambung pipi halus itu dengan penuh kasih sayang.
Melihat gairah sudah timbul di dalam hati Sang Resi, Lestari lalu bartanya manja.
"Kakangmas Resi, awan mendung apakah gerangan yang menggelapkan matahari kegembiraan Paduka? Wajah Paduka muram, pandang mata Paduka penuh geram, urusan apakah gerangan yang menyusahkan hati dan memusingkan pikiran Paduka?"
Sang Resi menarik napas panjang dan jari-jari tangan yang tadi menelusuri leher wanita muda cantik itu berhenti karena gairahnya lenyap lagi ketika dia teringat akan kegagalannya.
"Aahhh....., hasil baik dan memuaskan yang hampir tercapai tangan telah gagal hanya karena sikap pengecut KI Patih Nambi."
Mendengar ini, Lestari menjadi tertarik sekali.
"Patih Nambi? Ada apakah, Kakangmas?"
Resi Mahapati lalu menceritakan tentang siasat yang telah diaturnya bersama Ki Durgakelana, Warak Jinggo dan Sarpo Kencono untuk memancing permusSang Resi menarik napas panjang dan jari-jari tangan yang tadi menelusuri leher wanita muda cantik itu berhenti karena gairahnya lenyap lagi ketika dia teringat akan kegagalannya.
"Aahhh....., hasil baik dan memuaskan yang hampir tercapai tangan telah gagal hanya karena sikap pengecut KI Patih Nambi."
Mendengar ini, Lestari menjadi tertarik sekali.
"Patih Nambi? Ada apakah, Kakangmas?"
Resi Mahapati lalu menceritakan tentang siasat yang telah diaturnya bersama Ki Durgakelana, Warak Jinggo dan Sarpo Kencono untuk memancing permusuhan antara Sang Pangeran dan Ki Patih Nambi, melalui diri Dyah Wulandari yang dikorbankan kepada Sang Pangeran.
Dia menceritakan semua hasil siasatnya yang sudah hempir berhasil, betapa Dyah Wulandari telah menjadi korban nafsu pangeran dan diperkosa oleh pangeran di depan mata tunangannya, keponakan dari isteri Ki Patih.
Pendeknya, telah terjadi hal-hal yang pasti akan membangkitkan kemarahan dan dendam di hati Ki Patih sehingga dapat diharapkan akan timbul peristiwa hebat antara Ki Patih dan pangeran yang akan menjatuhkan kedudukan Ki Patih sehingga dia memperoleh lowongan dan kesempatan baik sekali.
"Akan tetapi, Patih Nambi ternyata penakut dan pengecut. Keponakannya telah dipermainkan orang, diperkosa kehormatannya sampai sehari semalam, bahkan lalu membunuh diri. Akan tetapi dia tidak mau melakukan apa-apa, bahkan di depan Sang Prabu dia telah memaafkan Sang Pangeran. Dengan begini, derajat Ki Patih akan meningkat di mata pangeran dan Sang Prabu! Siasatku tidak menjatuhkannya, bahkan mengangkatnya! Celaka!"
Lestari turun dari atas pangkuan resi itu, lalu mengambilkan minuman untuk Sang Resi.
Setelah menaruh minuman di atas meja, dia lalu duduk di tepi pembaringannya yang selalu dijaga dan dirawat sehingga nampak bersih selalu, bersih dan menyenangkan, berbau harum.
Memang pembaringan inilah merupakan modal utama dari Lestari dalam menjatuhkan hati resi tua itu!
"Kakangmas Resi, mengapa Kakangmas menjadi murung?
Kegagalan itu terjadi akibat kesalahan dan kelengahan Paduka sendiri!"
Resi Mahapati memandang wajah selirnya itu dengan alis terngkat, lalu alisnya dikerutkan dan matanya memancarkan kemarahan.
"Tari, apa yang kaukatakan itu? Engkau tidak menghibur hatiku yang sedang kecewa dan susah, malah engkau mengejekku?"
"Maaf, Kakangmas. Mana berani Lestari yang mencintai Kakangmas dengan sepenuh jiwa raga ini mengejek Paduka? Sama sekali saya tidak mengejek, hanya memperingatkan Kakangmas yang sekali ini memang salah dan lengah."
"Hemm, coba jelaskan di mana letak kesalahan dan kelengahanku?"
"Kakangmas lengah karena Kakangmas telah melupakan saya. Kakangmas mengatur rencana dan menjalankan siasat sendiri tanpa saya. Itulah letak kesalahan Kakangmas sehingga mengalami kegagalan!"
"Ahh.....! Akan tetapi bukan maksudku untuk melupakanmu, sayang. Aku tahu akan kecerdikanmu dan betapa sudah banyak engkau berjasa dengan siasat-siasatmu yang berhasil dan amat hebat. Akan tetapi, urusan dengan Ki Patih Nambi adalah urusan kami kaum pria dan aku sudah mengatur siasat bersama siasat bersama Ki Durgakelana, Warak Jinggo dan Sarpo Kencono."
"Yang ternyata gagal, bukan? Hemm, orang-orang seperti Ki Durgakelana, Warak Jinggo dan Sarpo Kencono itu hanyalah orang-orang kasar yang hanya pandai menggunakan otot dan kaki tangan untuk membunuh orang, mana bisa mempergunakan otak? Sekarang setelah Paduka gagal, apa yang dapat mereka lakukan dan bagaimana pula siasat mereka?"
Resi Mahapati menghampiri selirnya, duduk di samping selirnya dan merangkulkan lengannya ke pundak selirnya itu.
"Manisku, apakah engkau mempunyai siasat baru? Apakah engkau mempunyai akal untuk menebus kegagalanku ini?"
Dengan sikap manja dan "jual mahal"
Lestari melepaskan dirinya, bangkit dan melangkah menjauhi Sang Resi dengan langkah lemah gemulai sehingga nampak buah pinggulnya yang manari-nari ketika dia melangkah meninggalkan resi itu, membuat Sang Resi yang tak pernah merasa bosan terhadap Lestari itu menelan ludahnya.
Lalu Lestari membalikkan tubuh, berpegang kepada sandaran kursi dan memandang suaminya itu.
"Apakah Paduka mau berjanji bahwa semenjak saat ini, Paduka tidak akan pernah meninggalkan saya dalam mengatur siasat Paduka menghadapi musuh-musuh Paduka? Ingatlah, hanya Lestari yang setia dan yang dapat membantu Paduka dan hendaknya Paduka tidak lupa bahwa semenjak semula kita berdua telah bekerja sama demi tercapainya cita-cita Paduka."
"Baik-baik, sayang.... maafkan aku bahwa aku telah meninggalkanmu dalam siasat memancing permusuhan antara Ki Patih dan Sang Pangeran yang ternyata gagal total itu! Sekarang, aku berjanji akan selalu mengajakmu serta, Lestari. Maaf, aku telah lupa dan selalu memandang rendah kepadamu."
Lestari menghampiri suaminya, lalu merangkul leher suaminya itu dan mencium mulut yang sebagian tertutup kumis tebal itu.
"Ah, Kakangmas, saya hanyalah isterimu yang setia, yang selalu akan berusaha demi untuk tercapainya cita-cita Paduka..."
"Cita-cita kita berdua, sayang. Sekarang ceritakan, apakah siasatmu itu untuk menembus kegagalanku?"
"Kakangmas, karena tadinya Paduka hanya mengatur siasat bersama Ki Durgakelana, Warak Jinggo dan Sarpo Kencono saja, maka sekarang saya minta agar meraka bertiga Paduka panggil ke sini agar mereka mendengarkan siasat saya dan selanjutnya agar mereka itu tunduk kepada perintah saya seperti juga kepada perintah Paduka."
Resi Mahapati mengerti akan maksud permintaan selirnya ini. Tentu karena tadinya ditinggalkan, kini Lestari ingin agar terpandang dan dihormati oleh tiga orang pembantunya itu.
"Adinda Tari, permintaanmu tidak mungkin dapat dilaksanakan semua. Ki Durgakelana dapat kupanggil, akan tetapi Warak Jinggo dan Sarpo Kencono kini menjadi pengawal-pengawal pribadi Sang Pangeran, tidak mungkin meninggalkan pangeran. Akan tetapi mereka adalah anak buah Ki Durakelana, sehingga kehadiran KI Durgakelana sudah cukup mewakili meraka."
"Kalau begitu, biarlah dia saja yang dipanggil bersama Resi Harimurti yang menjadi pembantu utama Paduka, Kakangmas Resi."
"Baiklah, memang semestinya demikian sehingga kita dapat berkumpul dan saling bertukar pikiran sehingga rencana kita menjadi lebih masak. Besok akan kupanggil mereka berdua."
"Bukan Besok, Kakangmas, melainkan sekarang juga! Siasat saya harus dijalankan sekarang dan besok tentu sudah akan terlambat."
"Ah, begitukah?"
Resi Mahapati segera memanggil dua orang pembantunya yang setia, yaitu Reksosuro si jangkung bermata juling dan Darumuko.
Si Bibir Tebal.
Mereka ini lalu diperintahkan untuk mengundang Resi Harimurti dan Ki Durgakelana agar mereka datang malam ini juga.
Tak lama kemudian, muncullah dua orang tokoh yang diundang itu dan mereka diterima oleh Resi Mahapati dan Lestari di ruangan tamu di mana telah disediakan minuman dan makanan untuk mereka.
Melihat bahwa yang menyambut kedatangannya adalah Resi Mahapati yang ditemani oleh selir muda yang cantik menggiurkan itu, Resi Harimurti dan juga Ki Durgakelana memandang dengan wajah berseri.
Dua orang kakek ini memang selalu merasa gembira kalau berhadapan dengan seorang wanita muda yang cantik, apalagi berhadapan dengan Lestari yang denok ayu itu.
Setelah saling memberi hormat, Resi Harimurti berkata sambil tersenyum lebar.
"Ah, tumben sekali Adi Resi Mahapati mengundang saya datang melam-malam begini."
"Benar, saya pun terkejut ketika Darumuko datang menyampaikan undangan Adimas Resi yang tiba-tiba, tentu ada urusan yang amat penting untuk dibicarakan,"
Sambung Ki Gurdakelana sambil menyandarkan tongkatnya yang hitam panjang bengkok-bengkok seperti ular itu di dinding belakang tempat dia duduk.
"Memang saya memanggil Kakang berdua untuk berunding setelah kita mengalami kegagalan dalam urusan Ki Patih,"
Kata Resi Mahapati.
"Ki Patih Nambi memang pengecut sehingga dihina seperti itu dia diam dan enak saja,"
Kata Ki Durgakelana yang ikut menyesal behwa semua kesukaran yang mereka lakukan itu tidak behasil menyalakan api permusuhan antara Ki Patih dan Sang Pangeran.
"Ah, setidaknya peristiwa itu telah merupakan pukulan hebat kepada Ki Patih yang begitu menjila-jilat terhadap Sang Prabu,"
Kata Resi Harimurti.
"Kakang Resi, pukulan itu tidakah penting karena yang kita kehendaki adalah permusuhan antara Ki Patih dan Sang Pangeran agar mempengaruhi kedudukan Ki Patih. Sekarang, setelah kita sama sekali gagal, bahkan peristiwa itu telah mengangkat derajat Ki Patih dalam mata Sang Pangeran dan Sang Prabu, apakah Andika berdua mempunyai siasat lagi untuk dapat dipergunakan menebus kegagalan kita itu?"
Resi Harimurti mengertkan alisnya dan menundukkan muka. Ki Durgakelana menggosok-gosok kedua tangan. Mereka merasa tidak enak dan akhirnya mereka berdua saling pandang lalu menggeleng kepala.
"Saya tidak mempunyai siasat lain, Adimas Resi,"
Kata Ki Durgakelana.
"Saya pun belum menemukan jalan yang baik, Adi resi,"
Kata Resi Harimurti.
"Nah, kalau begitu, hendaknya Andika berdua suka mendengarkan siasat yang akan diatur oleh selirku ini, isteriku yang tersayang ini!"
"Ahhh....., begitukah?"
Harimurti dan Durgakelana berseru hampir berbareng dan mereka kini memandang wajah yang manis itu penuh perhatian dan kekaguman.
"Paman Resi Harimurti dan Paman Durgakelana, saya telah mendengar akan semua kegagalan dari suami saya, Kakangmas Resi Mahapati. Kegagalan itu terjadi karena rencana yang mentah, dan juga karena Kakangmas Resi telah lupa untuk mengajak saya dalam perundingan itu. Setelah mendengar akan semua peristiwa itu, saya hanya melihat suatu jalan untuk menebus kegagalan itu sehingga apa yang tadinya gagal menjadi berhasil baik sekali. Kalau siasat saya ini dijalankan dengan baik, maka saya kira Ki Patih tidak akan dapat menahan kemarahannya lagi dan pasti terjadi pertikaian dan permusuhan antara Ki Patih dan Sang Pangeran."
"Hebat! Siasat bagaimanakah itu?"
Resi Harimurti tertarik sekali dan diam-diam dia merasa betapa untungnya Resi Mahapati memilikiselir yang begini denok montok,ayu dan cerdik, sedangkan Ki Durgakelana juga memandang bengong.
"Diajeng Tari, kekasih hatiku, lekas ceritakan apa siasat itu, sudah berdebar jantungku ingin mendengarnya."
"Menurut penuturan Paduka tadi, keponakan Ki Patih itu telah suduk selira membunuh diri, bukan?"
"Benar demikian, sayang."
"Dan pemuda yang bernama Sarjitowarman itu besok pagi akan kembali ke Lumajang, dengan demikian Ki Patih menghabiskan perkara itu dan tidak akan menuntut sesuatu?"
"Benar, dan itulah yang mengesalkan hatiku."
"Kalau begitu, mengapa tidak kita atur agar hatinya menjadi semakin sakit dan memaksanya untuk melakukan tindakan terhadap Sang Pangeran sehingga permusuhan di antara mereka terjadi juga?"
Resi Mahapati saling pandang dengan Resi Harimurti dan Ki Durgakelana. Kemudian Resi Mahapati berkata.
"Kalau bisa begitu, alangkah baiknya. Akan tetapi apalagi yang dapat kita lakukan?"
Lestari tersenyum.
"Hal itu mudah saja dilakukan. Menurut pendapat saya, sudah pasti sekali pemuda itu menaruh hati dendam yang amat hebat kepada Sang Pangeran, hanya dia tidak dapat berbuat sesuatu karena tidak terdapat kesempatan, maka dia mengalah dan menurut nasihat pamannya, yaitu Ki Patih, untuk kembali ke Lumajang tanpa melakukan sesuatu. Akan tetapi, kalau besok pagi-pagi dia pergi ke Lumajang, lalu seorang di antara Paduka dapat menemuinya, menghasut dan memanaskan hatinya, mengatakan bahwa Paduka ikut merasa sakit hati dan penasaran,dan menunjukkan bahwa terbuka kesempatan baik bagi pemuda itu untuk melampiaskan dendam dan sakit hatinya untuk membunuh Sang Pangeran, untuk membalas kematian tunangannya, saya rasa pemuda itu tidak akan menolak kesempatan yang amat baik itu."
Resi Mahapati dan dua orang pembantunya masih tidak mengerti dan mereka memandang dengan heran.
"Mana mungkin hal itu dilaksanakan?"
Resi Mahapati berkata penuh keraguan.
"Untuk menghasut pemuda itu, tentu saja amat mudah dan memang sudah pasti bahwa dia menaruh dendam sakit hati yang amat hebat terhadap Sang Pangeran. Akan tetapi tentu dia segera akan melihat bahwa hal itu tidak mungkin."
"Mengapa tidak mungkin?"
Lestari mempermainkan anak rambutnya yang berjuntai ke bawah, di atas dahinya yang berkulit halus dan berbentuk indah.
"Kalau diusahan dengan cerdik, tentu mungkin saja memberi kesempatan agar pemuda itu dapat bertemu dengan Sang Pangeran berdua saja dan memberi kesempatan kepadanya untuk menyerang Sang Pangeran."
"Eh, apa maksudmu?"
Resi Mahapati terbelalak memandang selirnya dengan kaget.
"Kau..... kau... mengusulkan agar pemuda itu membunuh Sang Pangeran?"
Lestari tersenyum, seperti seorang dewasa tersenyum menghadapi kebodohan seorang anak kecil.
"Kakangmas Resi, saya belum gila dan tak begitu bodoh untuk mengusulkan hal seperti itu."
"Akan tetapi kau tadi.... sudahlah, Nimas, coba kaubeberkan sejelasnya siasatmu itu dan jangan membuat kami menjadi bingung,"
Kata Resi Mahapati.
"Begini, Kakangmas. Kita hasut pemuda itu sehingga dia mau melakukan percobaan untuk menyerang dan membunuh Sang Pangeran, besok pagi-pagi kalau dia hendak pergi meninggalkan Mojopahit. Dan di samping itu, kita harus dapat membujuk Sang Pangeran, tentu saja melalui Paman Warak Jinggo dan Paman Sarpo Kencono, agar Sang Pangeran suka keluar dari istana pagi hari besok dan berada di dalam tamansari seorang diri saja. Dengan demikian, tentu Sarjitowarman itu akan mencoba untuk menyerang dan membunuh Sang Pangeran. Nah, pada saat itu, Sarjitowarman ditangkap dengan tuduhan menyerang dan hendak membunuh Sang Pangeran. Kalau Sang Prabu mendengar ini, tentu Beliau tidak akan sangsi lagi bahwa Sarjitowarman memang mata-mata Lumajang dan kalau keponakannya melakukan dosa seperti itu, bukankah pamannya, Ki Patih, juga akan terbawa-bawa? Dengan berhasilnya siasat itu, bukankah kegagalan Kakangmas dapat tertebus dan berbalik menjadi suatu hasil yang amat gemilang di mana Ki Patih menjadi rusak namanya oleh perbuatan keponakan isterinya itu dan Kakangmas sekalian berjasa karena mencegah Sang Pangeran terbunuh dan berhasil menagkap mata-mata yang hendak membunuh Sang Pangeran?"
"Ahhh.......!"
Ki Durgakelana berseru kagum.
"Akal yang hebat....!"
Seru Resi Harimurti.
Resi Mahapati meloncat dari kursinya, langsung merangkul leher kekasihnya dan hendak menciumnya tanpa memperdulikan dua orang pembantunya itu, akan tetapi Lestari menolak dengan dorongan tangannya.
Melihat wajah isterinya cemberut, Resi Mahapati membatalkan niatnya lalu duduk kembali sambil berkata.
"Hebat! Engkau memang hebat, Diajeng hebat sekali! Takkan pernah terpikirkan olehku siasat sehebat itu. Benar-benar luar biasa!"
Resi Mahapati mengepal tinjunya.
"Dan sekali ini pasti akan berhasil!"
"Nanti dulu, Adi Resi,"
Kata Resi Harimurti kepada Resi Mahapati.
"Memang harus saya akui bahwa siasat itu amat halus dan hebat, dan tentu akan berhasil baik. Akan tetapi ada suatu hal yang membuat saya bersangsi, yaitu bagaimana caranya membuat Sang Pangeran dapat berada seorang diri di dalam taman besok pada hari,pagi-pagi itu?"
"Benar, hal itu sukar juga,"
Kata Ki Durgakelana sambil menggosok-gosok dahinya.
"Kanjeng Pangeran biasanya bangun dari tidur setelah matahari naik tinggi, dan tentu saja beliau tidak pernah pergi ke taman sendirian saja."
Mendengar ucapan dua orang pembantunya itu, Resi Mahapati mengerutkan alisnya dan menoleh kepada selirnya yang terkasih, bertanya.
"Nah, kalau sudah begini, bagaimana, Lestari?"
"Ah, hal itu mudah saja, Kakangmas Resi. Gusti Pangeran harus dapat dibuat agar besok di taman, dan saya kira untuk tugas ini, Paduka sendirilah yang paling tepat untuk melaksanakannya. Kalau Paduka malam ini menghadap Sang Pangeran, mengatakan bahwa Paduka melihat adanya perasaan dendam di hati Sarjitowarman, betapa pemuda itu mengeluarkan ancaman untuk membunuh beliau, dan Paduka nasihati beliau untuk bertindak sebagai umpan agar pemuda itu berani mencoba untuk menyerang beliau kemudian dia ditangkap basah."
Sang Resi mengangguk-angguk dan berkata perlahan.
"Hemm, hal itu memang dapat dilaksanakan....., tentu dapat...."
"Bagus kalau begitu, Kakangmas. Nah, sekarang tinggal membagi-bagi tugas saja. Seorang bertugas menghadang Sarjitowarman besok pagi-pagi untuk menghasut pemuda itu. Siapakah yang ditugaskan untuk ini?"
Tanya Lestari.
"Saya dapat melakukannya,"
Kata Ki Durgakelana. Lestari menggeleng kepalanya.
"Kalau Paman Durgakelana yang melakukannya, mungkin tidak akan berhasil baik. Paman telah dikenal sebagai pengawal Gusti Pangeran, maka kalau Paman yang menghasut, tentu pemuda itu menjadi curiga dan menduga akan perangkap yang sengaja diatur. Tidak, sebaiknya bukan Paman melainkan seorang yang tidak dikenal oleh pemuda itu, seorang yang dapat diterima kalau menyatakan bahwa dia juga merasa penasaran dan marah terhadap Sang Pangeran."
"Kalau begitu biarlah saya yang melakukan tugas itu,"
Kata Resi Harimurti.
"Pemuda itu tidak mengenal saya."
"Saya kira itulah yang terbaik,"
Kata Lestari menganggu-angguk.
"Akan tetapi, sebaiknya kalau Kakang Resi Harimurti menyamar. Kalau kelak pemuda itu setelah tertangkap lalu mengaku dan menyeret Kakang Resi sebagai penghasutnya, maka Sang Prabu akan menaruh curiga dan dapat menduga adanya siasat yang diatur ini,"
Kata Resi Mahapati.
"Hal itu memang benar sekali dan membuktikan bahwa Kakangmas Resi memang cerdik bukan main,"
Lestari memuji.
"Kemudian setelah tugas menghasut pemuda itu akan dilakukan oleh Paman Resi Harimurti dan tugas membujuk Sang Pangeran dilakukan oleh Kakangmas Resi Mahapati sendiri, maka tugas untuk menangkap pemuda itu di waktu dia menyerang Sang Pangeran sebaiknya dilakukan oleh Paman Durgakelana, Paman Warak Jinggo, dan Paman Sarpo kencono."
"Ha-ha-ha, untuk menghadapi seorang pemuda seperti dia itu, seorang di antara kami bertiga saja sudah cukup,"
Kata Ki Durgakelana sambil tertawa.
"Akan tetapi dalam hal ini kita harus berlaku hati-hati, Paman. Sebaiknya kita dapat yakin bahwa pemuda itu harus dapat ditangkap hidup-hidup agar dia dapat mengaku bahwa memang dia bermaksud membunuh pangeran. Itulah pokok persoalan yang kita hendak pergunakan untuk memukul Ki Patih,"
Kata Lestari dan kembali tiga orang kakek itu merasa kagum bukan main.
Setelah berunding masak-masak, maka pada malam itu juga Resi Mahapati pergi mengunjungi Sang Pangeran dan mohon untuk menghadap.
Resi Mahapati adalah tangan kanan Pangeran Kolo Gemet, maka tentu saja sewaktu-waktu dia boleh saja datang menghadap, apalagi untuk menyampaikan hal yang amat penting lebih mudah lagi baginya karena pengawal-pengawal pangeran itu adalah anak buahnya sendiri, yaitu Warak Jinggo dan Sarpo Kencono.
Sebelum menjumpai pangeran itu Resi Mahapati lebih dulu menemui dua orang kakek pengawal ini dan secara singkat menceritakan tentang siasat yang akan dilaksanakan besok pagi dan minta agar dua orang itu suka berunding dengan Ki Durgakelana.
Memang perhitungan Lestari tepat sekali.
Karena mendengar pelaporan dari mulut Resi Mahapati sendiri bahwa Sarjitowarman menaruh dendam sakit hati dan bermaksud membunuhnya jika ada kesempatan, Sang Pangeran percaya dan menjadi marah sekali.
"Si keparat itu! Biar kusuruh pasukan menangkapnya sekarang juga!"
Bentak Pangeran Kolo Gemet sambil bangkit dari tempat duduknya dan mengepal tinju. Akan tetapi Resi Mahapati cepat mengakat kedua tangan ke atas.
"Harap Paduka suka bersabar, Gusti Pangeran. Menangkapnya adalah mudah, akan tetapi mana buktinya bahwa dia hendak membunuh Paduka? Dia harus diberi kesempatan dulu, dan kita harus dapat menangkap basah pemuda pemberontak itu."
"Hemm, apa maksudmu, Paman Resi?"
"Sarjitowarman hanya menyebar desas-desus untuk menyatakan sakit hatinya terhadap Paduka, akan tetapi tentu saja dia tidak dapat melaksanakan ancamannya itu karena tidak mungkin ada kesempatan baginya untuk menyerang Paduka. Oleh karena itu, sebaiknya Paduka membuka kesempatan itu agar dia berani turun tangan menyerang Paduka......"
"Resi Mahapati apa maksudmu?"
Pangeran itu bertanya dengan terkejut sehingga suaranya membentak-bentak.
"Ampunkan hamba, Gusti Pangeran. Itulah satu-satunya jalan untuk menangkap orang yang membenci Paduka. Paduka bertindak sebagai umpan agar dia berani melakukan perbuatan terkutuk itu, dan tentu saja pengawal-pengawal Paduka yang sakti telah siap untuk menangkapnya apabila dia berani melakukan penyerangan. Dengan demikian, dia akan tertangkap basah dan untuk menghukumnya tentu tidak akan ada larangan dari Kanjeng Gusti Sinuhun."
Sang Pangeran mengangguk-angguk dengan alis berkerut.
"Akan tetapi.... apakah tidak berbahaya itu, Paman?"
"Ah, tidak, Gusti Pangeran. Sebelumnya, kita memberi tahu kepada Ki Durgakelana,Warak Jinggo dan Sarpo Kencono agar mereka bersembunyi dan bersiap melindungi Paduka dan menangkap pemuda itu. Selain itu tentu hamba sendiri juga selalu menjaga agar jangan sampai Paduka terancam bahaya. Kalau pemuda itu didiamkan saja, berarti Paduka selalu terancam bahaya, sebaliknya kalau dia diberi kesempatan sehingga berani turun tangan, hamba dan teman-teman akan menangkapnya dan kalau dia sudah dihukum mati, berarti Paduka terbebas daripada ancaman bahaya maut."
Kembali Sang Pangeran mengangguk-angguk.
"Lalu bagaimana caranya untuk membuka kesempatan agar dia mau turun tangan itu, Paman Resi?"
Sang Resi menoleh ke kanan kiri, lalu berbisik.
"Besok pagi-pagi sekali sebaiknya Paduka berada di tamansari seorang diri dan...."
Resi itu berbisik-bisik mengatur siasat yang didengarkan oleh pangeran itu dengan penuh perhatian sambil mengangguk-angguk.
Pagi itu sunyi sekali.
Cuaca masih gelap karena sang surya belum nampak,sungguhpun langit di timur mulai terang dan kokok ayam jantan saling bersautan menggugah semua mahluk yang telah beristirahat dan tidur semalam.
Jalan-jalan masih sunyi karena mereka yang baru saja terbangun masih segan meninggalkan rumah.
Di jalan yang sunyi itu, di luar pintu gerbang kepatihan, berjalan seorang pemuda.
Wajahnya muram, pandang matanya sayu dengan sepasang mata yang membengkak kemerahan bekas tangis, kedua pipinya pucat, rambutnya kusut dan pakaiannya kumal.
Langkahnya satu-satu dan lesu, sama sekali tidak bersemangat.
Pemuda ini adalah Sarjitowarman yang dengan hati berat meninggalkan kepatihan,meninggalkan jenazah kekasihnya yang masih membujur di atas pembaringan.
Atas nasihat Ki Patih, suami bibinya, dia terpaksa harus meninggalkan Mojopahit secepat mungkin di pagi hari itu agar jangan sampai terjadi hal yang berlarut-larut dengan pangeran.
Pangeran iblis!
Demikian hatinya mengumpat dan dia mengepal tinju.
Dadanya yang penuh luka guratan keris yang dilakukan oleh pangeran pada kemarin dulu, masih terasa perih, akan tetapi lebih perih lagi rasa hatinya mengingat akan semua hal yang telah dilakukan oleh pangeran itu kepada mendiang Dyah Wulandari, kekasih dan tunangannya yang kini telah membunuh diri untuk mengakhiri kehidupan penuh iab dan noda!
Pangeran keparat!
Pangeran iblis!
Demikian bisik hatinya dengan penuh geram.
Para penjaga pintu gerbang di timur membiarkan pemuda ini lewat tanpa mengganggunya karena mereka telah menerima perintah dari Ki Patih untuk membiarkan keponakan Ki Patih itu keluar dari pintu gerbang, kembali ke Lumajang.
Berita tentang pemuda ini yang ditangkap oleh pangeran, tentang tunangannya,yaitu keponakan Ki Patih yang telah mati membunuh diri, tentu saja telah terdengar oleh mereka, maka ketika pemuda itu lewat, para penjaga memandang dengan sinar mata mengandung perasaan iba, sungguhpun di antara mereka ada pula yang tersenyum mengejek.
Setelah tiba di luar benteng Mojopahit, Sarjitowarman lalu mempercepat langkahnya.
Ingin di cepat-cepat sampai di Lumajang di mana dia dapat menumpahkan perasaan hatinya kepada ayah bundanya dan kepada semua tokoh di Lumajang.
Ingin dia menceritakan siapa saja di Lumajang tentang kekejaman dan kejahatan pangeran iblis itu!
Lumajang harus bangkit dan memberontak terhadap pangeran laknat calon Raja Mojopahit itu!
Akan tetapi ketika dia tiba di tepi sungai, dia menghentikan langkahnya karena hatinya tertarik oleh alunan suara orang yang bertembang dengan suara yang memilukan.
Suara seorang laki-laki yang bertembang dengan tembang Asmaradana,suaranya jelas terdengar di pagi hari itu dan karena tertarik, Sarjitowarman menghentikan langkahnya lalu memperhatikan kata-kata dalam tembang itu.
Tembang itu mengandung kata-kata yang memilukan dan suar orang itu seperti mengandung isak tangis, sesuai benar dengan keadaan hatinya di saat itu.
"Duhai para Dewata di Suralaya dengarlah ratapan hambamu ini Hyang Komajaya Dewa Asmara Sang Hyang Wisnu Dewa Kebijaksaan Hyang Jagat Girinata Dewa Keadilan mengapa hamba mengalami siksa ini? Kekasih terbunuh, Si Laknat bebas dari hukuman duhai Hyang Yamadipati Dewa Maut cabutlah nyawa hamba untuk menghentikan derita!"
Sarjitowarman terkejut.
Betapa tepatnya isi tembang itu dengan keadaan dirinya!
Demikianlah bisikan hatinya semenjak kemarin, semenjak dia menagisi kematian Dyah Wulandari!
Dia cepat menghampiri dan akhirnya dia melihat penembang, seorang kakek tua berpakaian seperti seorang nelayan sedang duduk seorang diri di bawah pohon, di tepi sungai memegang tangkai pancing memancing ikan!
Melihat kedatangan pemuda itu, kakek ini menancapkan gagang pancingnya dan bangkit berdiri.
Tubuhnya kurus jangkung dan pandang matanya tajam.
"Maaf, Paman, kalau saya mengganggu. Pamankah tadi yang bertembang?"
Tanya Sarjitowarman sambil membungkuk. Kakek itu memandang kepada Si Pemuda dengan penuh perhatian, lalu mengangguk.
"Benar, mengapakah orang muda?"
"Kalau saya boleh bertanya, siapakah orang yang mengeluh dalam nyanyian itu, Paman?"
Kakek itu menarik napas panjang.
"Ah, siapa yang mengeluh seperti itu? Entah berapa banyak di dunia ini yang mengeluh seperti itu? Akan tetapi, aku menembang menggambarkan keluhan Dyah Anggraini yang menangisi kematian suaminya, Sang Prabu Palgunadi yang tewas dalam pertempuran melawan Sang Arjuna karena perebutan wanita itu."
Sarjitowarman tentu saja pernah mendengar cerita tentang Dyah Anggraini itu.
Memang cocok.
Dyah Anggraini, isteri Sang Prabu Palgunadi digoda dan di rayu oleh Sang Arjuna, akan tetapi isteri yang setia itu tidak mau melayani, lalu melaporannya kepada suaminya.
Terjadi perang tanding antara dua orang sakti itu dan akhirnya Sang Palgunadi tewas.
Sang Arjuna melanjutkan niatnya yang buruk mengejar Dyah Anggraini.
Akhirnya wanita ini membunuh diri pula dan nyawanya melayang bersama-sama nyawa suaminya ke Sorgaloka.
"Paman, mengapa Paman menembangkan tangis Dyah Anggraini itu di pagi hari seperti ini?"
"Ah, pertanyaanmu aneh sekali, orang muda. Aku menembang karena iseng, karena sunyi, akan tetapi mungkin juga karena aku tahu betapa banyaknya orang yang terlanda malapetaka dalam cinta mereka, yang membuat cinta meraka terputus. Dan betapa banyaknya terjadi di dunia ini perbuatan sewenang-wenang tanpa dapat dibalas oleh korbannya."
Mendengar betapa suara kakek itu menjadi gemetar dan melihat mata itu basah air mata, Sarjitowarman makin tertarik.
"Paman, agaknya Paman sendiri juga tertimpa malapetaka seperti itu?"
Kakek itu menarik napas panjang, lalu mengangguk.
"Di waktu aku masih muda, kekasihku dirampas oleh lurah dusun kami, dipaksa menjadi selirnya. Kekasihku tak dapat lama bertahan dan mati karena sakit beberapa bulan kemudian, meninggalkan aku yang hidup merana. Aku berhasil menuntut balas dan membunuh lurah jahanam itu."
"Kalau begitu, mengapa Paman kelihatan masih penasaran?"
"Aah, urusan pribadiku memang telah terbalas. Akan tetapi semenjak itu, aku melihat betapa banyaknya terjadi peristiwa yang sama tanpa si Korban mampu membalas. Seperti misalnya Pangeran Pati yang sekarang ini, kabarnya suka sekali mengganggu wanita. Hal itu membuat hatiku seperti dibakar dan ditusuk. Kalau saja aku masih muda, tentu akan kubunuh pangeran itu, akan tetapi aku sudah tua dan.... heii, kau kenapa, orang muda?"
Sarjitowarman tak dapat menahan tangisnya dan dia mengusap air matanya.
"Apakah daya kita, Paman? Aku pun menjadi korban pangeran itu, kekasihku.... kekasihku....."
Pemuda itu menangis lagi.
"Apa yang terjadi?"
Dengan suara tersendat-sendat, Sarjitowarman lalu menceritakan tentang kematian tunangannya oleh perbuatan keji Pangeran Kolo Gemet.
"Krekk!"
Gagang pancing itu patah di tangan kakek itu.
"Jahanam, memang sudah banyak kudengar tentang dia. Orang muda, mengapa engkau diam saja? Engkau masih muda dan kuat! Kalau aku menjadi engkau, sudah kucekik batang leher pangeran itu!"
"Paman, apakah dayaku? Seperti juga Paman, aku tidak berdaya. Apa yang dapat kulakukan terhadap seorang seperti pangeran itu yang selalu dikawal kuat?"
"Tidak selalu, orang muda. Tidak selalu! Dengar baik-baik, sudah lama aku menyelidiki karena aku membencinya. Aku mengintai dan melihat kebiasaan-kebiasaannya,maka aku tahu belaka bahwa pangeran itu suka sekali mengganggu wanita. Dia mempunyai kebiasaan untuk berjalan-jalan seorang diri saja di pagi hari dalam tamannya. Dan aku tahu pintu rahasia di antara semak-semak di belakang taman. Sudah kukatakan tadi, andaikata aku masih muda, tentu sudah kucekik dia! Mengapa engkau seorang pengecut yang membiarkan kekasihnya dihina sampai membunuh diri seperti itu?"
"Paman!"
Sarjitowarman bangkit semangatnya dan membentak, mukanya merah. Lalu disambungnya.
"Maukah engkau menjadi petunjuk jalan bagiku?"
"Untuk membunuh dia? Tentu saja! Sekaranglah saatnya yang baik sekali. Mari kuantar engkau sampai dapat berhadapan sendiri dengan dia di taman yang sunyi."
"Baik, Paman. Marilah dan sebelumnya terima kasih saya haturkan,"
Kata Sarjitowarman penuh semangat.
Mereka kembali ke kota raja melalui pintu gerbang timur dan para penjaga yang sudah mengenal Sarjitowarman ketika berangkat tadi, hanya memandang heran akan tetapi tidak berani menegur atau mengganggu.
Kakek nelayan itu pun berjalan sambil tunduk, akan tetapi setelah melewati penjagaan, dia mengajak pemuda itu bergegas menuju ke istana pangeran.
Dengan jalan memutar lewat belakang, benar saja kakek itu dapat membawa Sarjitowarman ke dalam taman melalui sebuah pintu tersembunyi di antara semak-semak.
Mereka menyelinap di antara pohon-pohon di dalam taman dan tak lama kemudian kakek itu berbisik.
"Sssttttt....... lihat itu....."
Sarjitowarman memandang dan jantungnya berdebar tegang.
Benar saja!
Dia melihat Sang Pangeran berjalan-jalan seorang diri di dalam taman, kemudian pangeran itu duduk di depan kolam ikan, termenung memandangi ikan-ikan yang berenang di dalam kolam.
Sarjitowarman mengepal tinjunya ketika dia melihat musuh besarnya itu.
Menurut gejolak nafsunya, ingin dia sekali tubruk mencekik leher pangeran itu.
Melihat sikap pemuda itu, kakek nelayan itu lalu menyentuh lengannya.
"Sst, sekaranglah saatnya untuk turun tangan, orang muda. Akan tetapi kasihanilah aku,aku orang tua yang tidak berdaya, aku harus pergi dulu dari sini."
Sarjitowarman yang sudah dikuasai nafsu amarah itu hanya mengangguk-angguk.
Dia maklum bahwa kakek ini yang telah membantunya dan memberi jalan, jangan sampai terlambat kalau usahanya gagal.
Kakek itu menyelinap pergi di antara kegelapan pagi itu dan setelah melihat kakek itu menyingkir.
Sarjitowarman lalu berindap-indap menghampiri tempat pangeran itu duduk seorang diri.
Dengan tangan gemetar pemuda ini mencabut kerisnya, kemudian dia meloncat ke depan sambil membentak.
"Manusia keji, terimalah pembalasanku!"
Dia langsung menyerang dengan menusukkan kerisnya ke arah leher Sang Pangeran yang masih duduk termenung itu.
Akan tetapi, tiba-tiba nampak sesosok bayangan berkelebat dan Sarjitowarman merasa betapa tubuhnya terlempar ke belakang, terpelanting dan terhuyung ke atas tanah sebelum kerisnya menemui sasaran.
Dia terkejut bukan main, melompat bangun dan melihat pangeran itu pun sudah bangkit berdiri dan di dekat pangeran itu terdapat tiga orang kakek yang berada di tempat itu entah sejak kapan.
Sarjitowaran sudah menjadi mata gelap, maka tanpa memperdulikan tiga orang kakek itu, tanpa menyelidiki mengapa tubuhnya tadi dapat terlempar seperti terdorong oleh angin yang dahsyat, dia telah meloncat lagi dan menyerang Sang Pangeran dengan kerisnya.
"Hemm, pemberontak rendah!"
Terdengar Ki Durgakelana membentak, sedangkan dua orang kakek yang lain menjaga di kanan kiri pangeran, hanya menonton sambil tersenyum lebar.
"Plak! Brukkk......!"
Serangan Sarjitowarman ke arah pangeran itu dihalangi oleh Ki Durgakelana yang menggunakan tangan kiri menangkis dari samping disusul tamparan tangan kanannya yang mengenai pundak pemuda itu, membuat Sarjitowarman kembali terpelanting ke atas tanah.
Kini terbukalah mata Sarjitowarman.
Maklumlah dia bahwa usahanya gagal dan keselamatannya terancam.
Dia tidak akan mungkin mampu membunuh Sang Pangeran,tidak mungkin pula melarikan diri.
Melawan pengawal-pengawal yang sakti itu pun percuma saja.
Dia akan tertangkap dan akan mengalami siksaan dan penghinaan lagi.
Mati baginya bukan apa-apa, apalagi kini tunangannya telah tiada, akan tetapi dia tidak mau tertangkap dan tersiksa.
Digerakkannya keris itu menusuk ke arah ulu hatinya sendiri.
"Plak! Desss.....!!"
Kerisnya terpental dan Sarjitowarman kembali terpelanting dalam keadaan pingsan.
Ki Durgakelana yang dapat bergerak cepat sekali itu telah mencegah pemuda ini membunuh diri dan memukulnya roboh pingsan, lalu cepat membelenggunya.
Pangeran Kolo Gemet berdiri memandang tubuh Sarjitowarman.
Mukanya merah dan dia marah sekali.
"Si Bedebah! Berani sekali menyerang aku! Paman Durgakelana, bunuh saja jahanam ini!"
Ki Durgakelana cepat menyembah.
"Maaf, Kanjeng Gusti Pangeran. Hamba kira mudah saja membunuh anjing ini, akan tetapi apakah hal itu bijaksana? Harap Paduka ingat bahwa dia ini adalah keponakan Ki Patih Nambi, dan mengingat akan apa yang terjadi kemarin dulu antara Paduka dengan dia ini dan Ki Patih, tidak baiklah kiranya kalau dia dibunuh begitu saja di sini. Tentu hal itu akan menimbulkan dugaan buruk di dalam hati Ki Patih. Sebaiknya kalau keparat ini diseret ke pangadilan di mana dia akan mengakui semua perbuatannya sehingga tidak ada kecurigaan di pihak Ki Patih bahwa Paduka sengaja membunuh dia tanpa dosa."
Pangeran Kolo Gemet mengangguk-angguk.
Tentu saja dia tidak tahu bahwa semua ini sudah diatur, dan bahwa ucapan Ki Durgakelana itu adalah ucapan yang dihafalnya dari Resi Mahapati.
Gegerlah keluarga istana dan juga keluarga kepatihan ketika mendengar berita bahwa pagi hari tadi, hampir saja Sarjitowarman membunuh Sang Pangeran!
Ki Patih Nambi yang mendengar bahwa keponakannya itu ditangkap dengan tuduhan hendak membunuh Sang Pangeran, menjadi terkejut setengah mati dan bergegas mendatangi ruangan pengadilan istana di mana pemuda itu sedang diperiksa dan diadili.
Persidangan itu dihadiri oleh Sang Prabu sendiri, juga Sang Pangeran, para pembesar seperti Resi Mahapati dan para nayaka praja.
Persidangan yang mendapatkan perhatian penuh oleh para pembesar karena peristiwa itu benar-benar menggegerkan.
Sang Pangeran hampir terbunuh oleh keponakan isteri Ki Patih!
Semua orang memandang kepada Ki Patih ketika Patih Nambi memasuki persidangan, menyembah kepada Sang Prabu lalu mengambil tepat duduk.
Pangeran Kolo Gemet membuang muka dan Sang Prabu juga melontarkan pandang mata penuh selidik kepada Ki Patih yang menundukkan mukanya yang agak pucat.
Sarjitowarman melihat ini semua dan tiba-tiba saja dia dapat menduga akan hal yang sebenarnya.
Pamannya telah tersudut oleh perbuatannya itu!
Teringatlah dia akan kakek nelayan yang membangkitkan semangatnya untuk membunuh Sang Pangeran.
Kini mengertilah dia bahwa memang ada pihak yang hendak menjerumuskan dia.
Bukan, bukan dia yang menjadi sasaran pihak yang mengutus orang menyamar sebagai kakek nelayan itu, pihak yang mengatur agar Sang Pangeran kelihatan sendirian saja di taman padahal diam-diam di situ terdapat pengawal-pengawal sakti yang melindunginya.
Jelaslah kini bahwa Sang Pangeran itu kelihatan sendirian dipergunakan sebagai umpan untuk memancingnya.
Bukan dialah yang menjadi sasaran pihak itu, melainkan pamannya, Ki Patih!
Akan tetapi tidak mungkin dia menuduh yang bukan-bukan kepada pihak yang tidak diketahuinya siapa itu, karena tidak ada bukti.
Yang jelas terbukti, dia hendak membunuh pangeran.
Dia harus berhati-hati,harus tidak melibatkan pamannya!
"Siapkah yang menyuruhmu mencoba untuk melakukan pembunuhan atas diri Gusti Pangeran?"
Terdengar lagi pertanyaan dari hakim yang berwenang memeriksanya. Sarjitowarman berlutut di atas lantai dengan kedua tangan dibelenggu ke belakang.
"Tidak ada siapa pun yang menyuruh hamba melakukan itu,"
Jawab Sarjitowarman dengan suara tegas.
"Ingat, kalau dosamu itu hanya sebagai pesuruh saja, maka akan jauh lebih ringan hukumannya. Maka sebaiknya engkau mengaku terus terang,"
Kata pula hakim sambil melirik ke arah tempat duduk Ki Patih. Tentu saja hakim ini telah lebih dulu dihubungi oleh Resi Mahapati maka berusaha untuk melibatkan diri Ki Patih.
"Katakan sejujurnya, siapa yang membujukmu, siapa yang memberimu semangat, dan siapa yang menyuruhmu? Apakah ada yang menyuruhmu dan yang mejadi sebab dari perbuatanmu itu?"
"Memang ada yang menjadi sebabnya, ada yang menyuruh hamba melakukan hal itu."
Tiba-tiba pemuda itu berkata dan suasana di dalam ruangan itu menjadi berisik karena para pendengarnya menjadi terkejut sekali.
Hamir semua mata kini ditujukan ke arah Ki Patih Nambi yang juga mengangkat mukanya, memandang sebentar ke arah Sarjitowarman dan ketika melihat betapa semua orang memandangnya, Ki Patih menundukkan mukanya lagi.
"Ha, benarkah demikian? Nah, ceritakanlah dengan jelas, apa sebabnya dan siapa yang menyuruhmu."
Hening sejenak.
Semua orang menahan napas dan memasang telinga penuh perhatian.
Keheningan yang mencekam sekali, di mana setiap orang seperti dapat mendengar bunyi degup jantungnya sendiri.
Pemuda yang berlutut itu mengangkat mukanya, memandang kepada Sang Pangeran dengan sinar mata penuh kebencian,kemudian dia berkata, suaranya tegas dan lantang sekali, sedikitpun tidak gemetar padahal semua mata memandangnya dan dia berada di dalam ruangan yang dihadiri oleh semua pembesar Mojopahit, bahkan Sang Prabu sendiri juga hadir.
"Yang menyuruh hamba adalah perasaan dendam sakit hati yang meracuni batin hamba! Hamba disuruh oleh perasaan benci yang mendalam terhadap Sang Pangeran, karena dendam sakit hati terhadap perbuatannya yang telah dilakukannya kepada hamba dan mendiang tunangan hamba, Dyah Wulandari. Hamba hendak membunuh Sang Pangeran untuk membalas kematian Diajeng Wulandari. Itulah sebabnya!"
Kembali suasana menjadi berisik karena jawaban itu sama sekali jauh daripada dugaan semua orang yang hadir.
Resi Mahapati dan kaki tangannya merasa kecewa sekali mendengar jawaban ini.
Hakim yang telah dipengaruhi Sang Resi itu masih mencoba untuk mendesak Sarjitowarman.
"Ah, mana mungkin hanya itu saja yang menggerakkan perbuatanmu yang jahat itu? Andika adalah seorang dari Lumajang! Sudah pasti ada orang atau pihak lain yang menyuruhmu untuk melakukan percobaan pembunuhan itu. Lebih baik Andika mengaku saja terus terang di depan Kanjeng Gusti Sinuhun dan para pembesar yang hadir!"
Sarjitowarman mengangkat mukanya dan memandang ke kanan kiri dengan sinar mata penuh ketabahan, lalu menatap wajah hakim itu dan menjawab lantang.
"Agaknya ada pihak yang hendak mendorong dan mendesak hamba untuk mengakui hal-hal yang tidak semestinya! Akan tetapi pihak ini harp jangan mimpi untuk dapat mencapai maksudnya yang keji. Hamba adalah seorang laki-laki sejati, berani berbuat berani bertanggung jawab. Hamba tidak disuruh oleh siapa pun, Hamba mencoba untuk membunuh Sang Pangeran karena dendam pribadi. Sekarang hamba telah ditangkap, silahkan kalau hendak menghukum hamba. Akan tetapi janganlah hamba didorong untuk mengakui hal-hal yang bukan-bukan!"
Ucapan yang dikeluarkan dengan nada lantang dan marah kembali membuat mereka yang hadir tertegun.
Sang Prabu sendiri diam-diam merasa kagum dan diam-diam merasa menyesal mengapa puteranya membuat gara-gara dengan menangkap pemuda ini dan tunangannya sehingga terjadi peristiwa ini.
Akan tetapi tentu saja Sang Prabu tidak mau menyalahkan dan merendahkan puteranya sendiri dalam persidangan itu.
Sinar mata Resi Mahapati yang ditujukan kepada pembesar yang mengadili pemuda itu memandang tajam ke arah hakim.
Hakim agaknya menerima isyarat pandang mata itu, maka untuk yang terakhir dia mendesak lagi.
"Sarjitowarman! Mungkin Andika merupakan kaki tangan yang setia dari mereka yang menyuruhmu melakukan perbuatan itu, akan tetapi bagi Mojopahit Andika adalah seorang pengkhianat, seorang kaki tangan pemberontak. Namamu akan menjadi rusak dan seluruh keluargamu akan akan tertimpa bencana oleh perbuatanmu itu! Akan tetapi kalau Andika mengaku siapa yang menyuruhmu, pengadilan akan mempertimbangkan dosamu dan mengajukan permohonan kepada Kanjeng Gusti Sinuhun untuk meringankan hukuman!"
Wajah Sarjitowarman menjadi merah sekali.
Dia marah bukan main karena dia melihat komplotan yang ingin sekali menyeret nama pamannya di dalam persidangan ini, di depan kehadiran Sang Prabu, maka dia lalu membentak dengan suara nyaring.
"Paduka hendak memaksa hamba mengaku? Nah, harap Paduka sekalian yang hadir di sini sudi mendengarkan pengakuan hamba ini. Yang menyuruh hamba melakukan percobaan pembunuhan terhadap diri Sang Pangeran bukan lain adalah......... Paduka sendiri!"
Dia menudingkan telunjuknya kepada hakim itu!
Tentu saja hakim menjadi pucat wajahnya, matanya terbelalak, kemudian mukanya berubah merah ketika mendengar suara ketawa ditahan dari beberapa orang yang hadir.
"Andika melakukan fitnah pula!"
Bentaknya dan dengan lancar dan dengan suara lantang dia lalu membacakan hukuman bagi Sarjitowarman.
Hukuman mati tentu saja.
Semua orang ramai membicarakan persidangan itu setelah persidangan dibubarkan, Sang Prabu dan pangeran telah lebih dulu meninggalkan sidang, kemudian orang hukuman itu diseret pergi untuk menerima hukuman yang dijatuhkan atas dirinya yang diterimanya dengan senyum karena Sarjitowarman merasa yakin bahwa kematiannya berarti bahwa dia akan bertemu kembali dengan tunangannya.
"Maafkan saya, Kakang Resi. Akan tetapi saya tidak mau lagi membicarakan urusan Sajitowarman yang telah berdosa terhadap Gusti Pangeran dan telah menjalani hukuman mati. Saya kira memang sebaiknya begitu."
Ki Patih Nambi berkata sambil mengerutkan alisnya, memandang kepada tamunya, Resi Mahapati yang duduk di depannya.
"Akan tetapi, Adimas Patih. Siapa lagi kalau bukan kita yang memikirkan keadaan di Mojopahit? Apakah kita kan membiarkan saja calon raja kita melakukan penyelewengan-penyelewengan itu? Sang Pangeran memang telah bersikap keterlaluan,bukan hanya kepada Paduka dan keponakan Paduka, bahkan terhadap puteri-puteri istana beliau melakukan penghinaan. Kabarnya malah beliau bersikap kurang baik terhadap saudara-saudara tirinya, yaitu puteri-puteri keturunan langsung dari mendiang Sang Prabu Kertanegara, yaitu Gusti Puteri Sri Gitarya dan Gusti Puteri Dyah Wiyat...."
"Cukup, Kakang Resi!"
Kini Ki Patih bangkit berdiri dengan alis berkerut dan pandang mata marah.
"Saya tidak mau lagi melayani percakapan seperti ini! Ketahuilah, Kakang Resi, bahwa saya adalah seorang ponggawa yang setia, yang bersedia mengorbankan apa saja, sampai keluarga dan nyawa saya, untuk mengabdi kepada Sang Prabu Kertarajasa Jayawardana dan tidak ada apa pun di dunia ini yang akan membuat kesetiaan saya terguncang!"
Wajah Resi Mahapati menjadi merah sekali.
Dia cepat minta maaf lalu berpamit pergi meninggalkan kepatihan.
Hatinya merasa kecewa dan mendongkol sekali.
Sia-sia saja semua usahanya selama ini.
Siasat selirnya yang dijalankan dengan amat baik itu, yang mangakibatkan terhukumnya keponakan isteri Ki Patih, hukuman mati, ternyata tidak pernah mengguncangkan hati Ki Patih yang amat setia kepada Sang Prabu!
Jadi percuma sajalah semua itu.
Dia tetap tidak dapat mengadu domba antara Ki Patih dan Sang Pangeran!
Dengan murung dia pulang ke gedungnya sendiri.
Dia mulai putus harapan.
Jelaslah bahwa kesetiaan Ki Patih tidak mungkin dapat dia guncangkan.
Sebaliknya mencari kesalahan Ki Patih untuk dilaporkan, untuk menghasut hati Sang Prabu atau Sang Pangeran, juga sukar sekali karena memang patih itu amat setia dan tidak pernah melakukan sesuatu yang dapat dijadikan bahan hasutan.
Lestari menyambut kedatangan resi itu dengan manis dan selir itu segera mengerti akan kemurungan suaminya.
Dia sudah mendengar bahwa siasatnya dijalankan dengan baik, akan tetapi dia juga dapat menduga bahwa tentu siasat yang dijalnkan dengan baik itu ternyata tidak mengakibatkan hasil yang mereka idam-idamkan, yaitu permusuhan antara Ki Patih dan Sang Pangeran.
Dia kini menduga pula, dari wajah suaminya yang muram, bahwa usaha suaminya menghasut dan memanaskan hati Ki Patih tentu gagal pula.
"Apakah Ki Patih tidak dapat dibakar hatinya?"
Tanyanya perlahan sambil mendekati resi itu. Resi Mahapati menggeleng kepala dengan kening berkerut.
"Dia tidak mungkin dapat dihasut dan mencari kesalahannya pun amat sukar. Dia berlindung kepada kesetiaannya terhadap Sang Prabu maka menjadi kebal dan sukar sekali diserang."
"Kalau dia sukar ditembus, mengapa tidak mengalihkan sasaran saja, Kakangmas?"
Kata Lestari tersenyum. Kakek itu mengangkat muka memandangnya.
"Maksudmu?"
"Kita alihkan kepada sasaran yang lebih lunak, yaitu Sang Pangeran. Kalau Sang Pangeran sudah dapat paduka kuasai dan pengaruhi, tentu apa pun yang paduka minta akan dilaksanakan olehnya."
"Akan tetapi, hubunganku dengan Sang Pangeran sudah cukup baik, beliau, bahkan Kanjeng Gusti Puteri sudah menaruh kepercayaan besar kepadaku."
"Masih belum cukup, Kakangmas. Saya kira, kita harus mempergunakan kelemahan Sang Pangeran untuk benar-benar menundukkan beliau itu. Beliau adalah calon raja,maka alangkah akan baiknya dan menguntungkan kalau Paduka dapat menguasai sepenuhnya. Saya kira, jalan satu-satunya adalah menyerang kelemahannya, yaitu terhadap wanita."
Resi Mahapati mengangguk-angguk.
Memang tepat sekali, pikirnya.
Mengapa dia tidak memikirkan hal ini?
Kalau Sang Pangeran dapat ditundukkan oleh seorang wanita, tentu segala permintaan wanita itu akan diturutinya belaka!
Dan satu-satunya wanita yang akan mampu melakukan hal ini adalah Lestari!
Selirnya yang tercinta!
Dia mencintai Lestari, akan tetapi dia lebih cinta kepada cita-citanya.
Terbayang di benaknya betapa Lestari mempermainkan pangeran sampai Sang Pangeran tunduk benar-benar di bawah telapak kaki wanita yang dia tahu amat hebat dalam menyenangkan hati pria ini.
Mungkin saja Lestari akan berhasil sedemikian jauhnya sehingga kelak dapat mengangkat diri menjadi permaisuri kalau Sang Pangeran telah menjadi raja!
"Ah, benar sekali!"
Tiba-tiba Sang Resi berseru girang dan dia memandang kepada selirnya itu dengan wajah berseri mata bercahaya.
"Itulah jalan satu-satunya,dan engkau tentu suka melakukannya untuk aku, Lestari!"
Wanita yang usianya dua puluh enam tahun namun masih kelihatan muda dan cantik manis itu memandang kepada Resi Mahapati dengan mata terbelalak, setengah dibuat-buat karena sesungguhnya otaknya yang cerdik sudah dapat menduga-duga apa yang dimaksudkan oleh suaminya, akan tetapi dia bertanya.
"Apa yang Paduka maksudkan, Kakangmas Resi?"
"Maksudku tidak lain adalah agar engkau sendiri yang melakukan pendekatan kepada Sang Pangeran dan berusaha untuk menundukkan hatinya dengan kejelitaanmu, Lestari."
Sepasang mata yang jeli itu terbelalak makin lebar, mulut yang berbibir merah dengan rongga mulut lebih merah lagi itu terbuka, lalu kedua tangannya menutupi muka itu.
"Ohhhh.... oh, uhhhhhhuuuuuuhhh......!"
Dan wanita itu menangis sesenggukan!
"Kakangmas.....
uh-huuuuh.......
Paduka kejam sekali...., sudah tahu bahwa saya adalah milik Paduka, jiwa raga ini adalah milik Paduka........
mengapa Paduka menyuruh saya melakukan hal itu.....
hu-huuu, nyuruh saya melakukan hal itu menandakan bahwa Paduka tidak lagi mencintai saya......"
Resi Mahapati cepat merangkul wanita itu.
Hatinya girang bukan main karena sikap wanita itu jelas membuktikan betapa besar cinta wanita ini terhadap dirinya!
"Tenanglah, manis, tenanglah kekasih hati pujaanku.
Ingatlah bahwa untuk mengangkat derajat kita berdua engkau harus berani berkorban sedikit."
"Sedikit kata Paduka? Sedikitkah itu kalau saya harus merendahkan diri merayu Sang Pangeran kemudian menyerahkan diri saya kepadanya? Ah, Paduka minta terlalu banyak dari saya...."
"Tidak, tidak, Lestari. Ingatlah bak-baik. Engkau memang harus menggunakan kecantikan dan keindahan tubuhmu, akan tetapi aku tahu bahwa hatimu tetap milikku! Nah, sedikit pengorbanan itu apa artinya kalau dibandingkan dengan hasilnya?"
"Paduka mengingat kepentingan sendiri saja. Berarti Paduka tidak lagi cinta kepada saya."
"Siapa bilang begitu? Justeru aku minta kepadamu melakukan hal itu adalah karena besarnya cintaku kepadamu, Lestari. Dengar baik-baik. Kalau engkau berhasil menundukkan hatinya, dan aku yakin engkau pasti akan berhasil, bukankah kelak engkau ada harapan untuk diangkat menjadi permaisuri kalau beliau telah menjadi raja? Nah, bukankah hal itu akan mengangkat dirimu ke tempat yang paling tinggi bagi seorang wanita? Lebih tinggi dari semua wanita di Mojopahit? Dan tentu saja, kalau engkau sudah menjadi permaisuri, mudah saja bagimu mengulurkan kepadaku, menarik aku ke (Lanjut ke
Jilid 31) Kemelut Di Majapahit (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 31 atas kursi kepatihan, bahkan lebih tinggi lagi!"
Memang sesungguhnya hati Lestari sudah girang sekali dengan usul itu, maka kiranya tidak usah dibujuk pun dia sudah setuju sekali.
Hanya dia berpura-pura saja untuk membuat Sang Resi makin percaya dan makin cinta kepadanya.
Setelah berhasil membalas dendam atas kematian ayah bundanya terhadap diri Progodigdoyo dan melampiaskan dendamnya pula kepada para ponggawa Mojopahit yang dibencinya semua, kini timbul nafsu lain dalam diri Lestari yang telah menjadi hamba dari nafsu kebencian itu.Dia ingin memperoleh kedudukan tertinggi agar dapat menguasai semua orang yang dibencinya!
Tentu saja, sebagai selir yang tercinta dari Resi Mahapati, dia tak berani mendekati Sang Pangeran, namun dia sudah lama tahu bahwa jalan satu-satunya untuk mencapai cita-cita itu hanyalah mendekati Pangeran Pati itu, dan tadi dia sudah memancing-mancing dan memberi jalan untuk melakukan pendekatan kepada Sang Pangeran.
Dia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa resi itu akan memperkenan dia, bahkan menyuruh, untuk merayu sendiri Sang Pangeran.
Hal itu sungguh merupakan hal yang amat menyenangkan hatinya.
Memancing teri memperoleh kakap namanya!
Maka bujukan-bujukan Sang Resi itu hanya menambah kebesaran hatinya karena kepura-puraannya telah behasil pula mengelabui mata Sang Resi yang menganggap wanita ini amat mencintainya dan telah menerima tugas dengan hati "berat".
Maka mereka lalu mengatur rencana untuk mulai menjebak Sang Pangeran ke dalam perangkap yang mereka atur bersama.
Tentu saja perangkap ini dipasang dengan kerja sama para pembantu resi itu, terutama sekali Resi Harimurti, Ki Durgakelana, Ki Warak Jinggo dan Sarpo Kencono.
Empat orang kakek inilah yang membantu terlaksananya siasat itu karena mereka mempunyai kepentingan yang sama dengan Resi Mahapati, yaitu memperoleh kedudukan setinggi-tingginya di Mojopahit kelak setelah Pangeran Kolo Gemet naik tahta.
Demikianlah pada suatu pagi, dengan diantar oleh tiga orang kakek pengawal,yaitu Ki Durgakelana, Warak Jinggo dan Sarpo Kencono, Pangeran Pati itu pergi berburu ke hutan di dekat kota raja.
Hutan ini memang merupakan hutan yang istimewa diperuntukkan keperluan Sang Prabu kalau pergi berburu.
Rakyat tidak boleh berburu di hutan ini, bahkan banyak binatang dari luar sengaja dilepas di dalam hutan ini untuk kesenangan raja sekeluarganya.
Setelah matahari naik tinggi dan berhasil merobohkan seekor kijang dengan anak panahnya, atas bujukan para pengawal itu, Sang Pangeran pergi ke sebuah telaga di tepi hutan untuk beristirahat di tempat yang teduh dan nyaman itu, dengan maksud untuk mandi karena menyusup-nyusup ke dalam semak belukar tadi membuat tubuh menjadi penat dan juga gatal-gatal.
Ketika mereka tiba di tepi telaga, dari jauh Ki Durgakelana sudah berbisik kepada Sang Pangeran sambil menuding ke depan, ke pinggir telaga.
"Ah, Gusti Pangeran..... harap suka memeriksa ke sana itu.... agaknya Paduka telah didahului orang yang mandi di telaga..."
"Ah, benar! Dan dia seorang wanita....!"
Kata Ki Warak Jinggo.
"Wanita muda yang mandi seorang diri di telaga! Jangan-jangan dia itu peri....!"
Kata pula Sarpo Kencono. Sang Pangeran tertarik sekali, lalu dia berkata.
"Kalian tunggu di sini, biar aku yang mendekati dan melihat siapa dia."
Sikap pangeran itu seperti tadi ketika dia melihat bayangan kijang dan hendak merobohkannya sendiri kijang itu.
Tiga orang kakek itu menyembah lalu duduk di bawah pohon tak jauh dari telaga itu sambil saling lirik dan mengulum senyum penuh arti.
Berindap-indap Sang Pangeran menghampiri telaga.
Dari jauh dia memang melihat seorang wanita muda sedang mandi berkecipung di pinggir telaga.
Di mana air telaga yang jernih itu dalamnya hanya sampai di dada.
Ketika tiba di tepi telaga, dia melihat tumpukan pakaian wanita itu dan jantungnya berdebar.
Wanita itu mandi telanjang bulat!
Dan makin berdebar lagi jantung pangeran muda yang mata keranjang ini melihat rambut yang hitam panjang dan halus, kulit yang kuning bersih dan bentuk tubuh yang padat menggairahkan.
Akan tetapi dia belum melihat wajah orang itu karena wanita itu berdiri di dalam air membelakanginya Setelah puas menikmati keindahan bentuk tubuh dan kulit punggung dan leher yang kuning langsat dan halus itu, Sang Pangeran mendehem.
Wanita itu terkejut,membalikkan tubuhnya dan.....
Sang Pangeran terpesona!
Dia memandang dengan mata terbelalak penuh kegum, menikmati kecantikan wajah itu dan keindahan dada yang tidak tertutup itu.
Sejenak wanita itu seperti berubah menjadi patung, agaknya saking kagetnya melihat ada seorang laki-laki muda di tepi telaga, di dekat pakaiannya, lalu agaknya dia teringat dan cepat membenamkan tubuhnya ke dalam air sampai sebatas lehernya.
Mukanya berubah merah sekali menambah keayuannya.
Sampai lama barulah Sang Pangeran mampu mengeluarkan suara yang agak gemetar.
"Aihhh, siapakah Andika? Bidadarikah? Perikah? Siapakah Andika, wanita cantik jelita,yang telah mendahului aku yang hendak mandi di telaga?"
Sepasang tangan dengan jari-jari yang meruncing terpelihara muncul dari dalam air, lalu membuat sembah ke arah pangeran, dan terdengar suara yang halus lembut dan merdu.
"Hamba mohon Paduka sudi mengampunkan hamba, Kanjeng Gusti Pangeran. Karena hamba tidak tahu bahwa Paduka hendak mandi di sini, maka hamba berani lancang turun mandi."
Sang Pangeran tersenyum bangga.
"Ha-ha, Andika telah mengenal aku, manis?"
"Hamba adalah kawula Mojopahit, tentu saja mengenal Paduka Kanjeng Gusti Pangeran yang mulia."
Wanita muda itu berhenti sebentar, mengerling dengan manis sekali, lalu berkata lagi.
"Akan tetapi Paduka belum menyatakan bahwa Paduka mengampuni hamba......"
Kembali pangeran itu tersenyum.
"Tidak, engkau harus dihukum!"
Wanita itu membelalakkan matanya yang lebar dan bagus, kelihatan takut.
"Harap Paduka sudi mengampuni hamba....... karena hamba tidak sengaja....."
"Engkau harus dihukum berat! Ha-ha, jangan takut, sayang, engkau terlalu cantik untuk dihukum. Pula, apa salahnya engkau mandi di sini? Aku pun hendak mandi, apa salahnya kita mandi bersama?"
Setelah berkata demikian, Sang Pangeran tanpa malu-malu dan tanpa ragu-ragu lagi lalu menanggalkan pakaiannya di tepi telaga itu, menumpuk pakaiannya di dekat tumpukan pakaian wanita itu.
Melihat ini, wanita muda itu memalingkan mukanya dan tidak berani memandang.
Baru setelah mendengar bunyi air ketika pangeran itu turun ke dalam telaga, dia menoleh dan berkata dengan suara memohon.
"Gusti harap...harap perkenankan hamba keluar dulu...."
"Eh, apa salahnya kita mandi bersama?"
"Jangan Gusti....... hamba.... hamba...."
"Kau kenapa?"
"Hamba malu...."
"Malu? Malu kepada siapa?"
"Hamba takut...."
Pangeran itu masih muda dan masih hijau, maka melihat sikap ini, dia makin tertarik dan dia sudah mendekat, lalu memegang lengan Lestari yang pura-pura meronta dan menjauhkan diri, akan tetapi tidak cukup kuat sehingga lengannya masih terpegang oleh tangan pangeran itu.
"Bocah ayu, engkau malu dan takut kepada siapa? Kepadaku?"
Lestari mengerling dengan manisnya lalu menundukkan mukanya, senyum malu-malu yang membuat wajahnya menjadi semakin menarik.
"Paduka..... Paduka adalah seorang Pangeran dan hamba..... hamba takut berdosa....."
Pangeran itu sudah menarik lengan Lestari dan dicobanya untuk merangkul leher itu.
"Jangan malu-malu, jangan takut. Aku adalah Pangeran Pati, aku berkuasa dan tidak akan ada orang yang berani menggangguku atau mengganggumu. Aku cinta padamu, manis. Siapakah namamu?"
"Hamba..... hamba Lestari...."
"Ah, namamu semanis wajahmu."
Pangeran itu mendekatkan mukanya dan mencium.
"Hamba..... hamba takut...."
Lestari mengelak dan miringkan mukanya, akan tetapi tidak cukup jauh sehingga membiarkan bibir pangeran itu menyentuh sedikit ujung bibirnya yang lembut dan basah.
Dia sudah berpengalaman dan banyak menerima ajaran dari Resi Mahapati tentang permainan cinta.
Dia tahu bahwa memberi sedikit-sedikit dengan sikap jinak-jinak merpati merupakan bahan bakar yang amat baik untuk makin mengobarkan api nafsu berahi.
Tentu saja kalau menolaknya sama sekali juga berbahaya, dapat memadamkan api yang mulai menyala itu.
Kalau memberinya terlalu murah dan mudah, akan menimbulkan kebosanan.
Pengatahuan ini sekarang dipraktekannya atas diri pangeran yang masih hijau itu.
Dan memang hasilnya baik sekali.
Sang Pangeran yang hanya dapat menyentuh sedikit ujung bibir Lestari, menjadi bergairah.
"Jangan takut, cah ayu. Aku tidak akan membikin sudah padamu, aku cinta padamu,manis."
Pangeran itu membujuk lagi dan merangkul.
"Benarkah, Gusti? Benarkah Paduka cinta kepada hamba? Kalau begitu jangan.... jangan di sini, Gusti. Hamba bukanlah wanita rendah dan murahan..... kalau memang Paduka cinta kepada hamba, hamba..... hamba bersedia melayani Paduka dengan segala senang hati. Hamba suka menyerahkan jiwa raga hamba kepada Paduka junjungan hamba, akan tetapi bawalah hamba ke istana Paduka, jangan di sini....."
Lestari meronta halus. Pangeran itu membelalakkan matanya, lalu tertawa.
"Ha-ha-ha, aku senang sekali. Itulah yang amat baik."
Dia lalu mencium dan kini Lestari menggunakan kepandaiannya membalas ciuman itu sehingga Sang Pangeran makin tergila-gila.
"Marilah kita naik ke darat dan kita berangkat pulang ke.... kamarku...."
Pangeran itu menggandeng tangan Lestari dan mereka keluar dari dalam air.
Sang Pangeran makin kagum dan makin tergila-gila ketika dia melihat wanita itu mengenakan pakaian dengan gaya yang amat memikat, malu-malu akan tetapi juga menantang.
Setelah mereka berdua berpakaian, Sang Pangeran lalu memanggil dua orang pengawalnya dan tergesa-gesa dia mengajak Lestari yang diboncengnya naik kuda pulang ke istananya.
Dua orang pengawalnya itu, Ki Warak Jinggo dan Ki Sarpo Kencono, pura-pura tidak mengenal Lestari, sungguhpun mereka berdua girang sekali bahwa siasat yang dilakukan oleh Lestari itu telah berhasil dengan amat baik.
Setelah berada di dalam kamar istana pangeran, Lestari mempergunakan seluruh kepandaiannya untuk menjatuhkan hati Sang Pangeran.
Dia berhasil baik sekali karena pada keesokkan harinya, setelah semalam lamanya dipermainkan oleh Lestari, Sang Pangeran benar-benar telah terpikat sehingga dia menyatakan bahwa Lestari diangkat sebagai selirnya terbaru.
Akan tetapi, Lestari tiba-tiba menangis sehingga pangeran itu terkejut dan heran.
Dipeluknya wanita itu dan dihiburnya.
"Ah, kenapa engkau menangis Lestari? Apakah engkau tidak senang menjadi selirku, setiap hari berdampingan dengan aku di dalam kamar ini?"
Lestari merangkul pinggang pangeran itu dan menangis di atas dada orang muda itu.
"Mohon Paduka sudi mengampuni hamba..... sebenarnya hamba....hamba adalah selir dari seorang resi...."
Sang Pangeran terkejut, akan tetapi mempererat rangkulannya.
"Eh?? Resi mana? Siapa dia?"
"Dia adalah Resi.... Resi Mahapati......"
Bukan main kagetnya Sang Pangeran mendengar nama ini.
Rangkulannya terlepas dan dia bergerak mundur di atas pembaringan itu, menatap wajah yang cantik itu.
Wajah itu agak pucat, air matanya membasahi pipi, rambutnya masih kusut bekas belaiannya semalam.
Tubuh itu demikian padat dan bagus bentuknya, dengan kulit yang halus dan putih kuning.
Jantung Sang Pangeran berdebar tegang.
Selir Resi Mahapati?
Sejenak timbul kecurigaannya.
"Lestari, benarkah engkau selir dari Paman Resi Mahapati?"
Wanita itu mengangguk dan menghapus air matanya dengan ujung kain.
"Kalau begitu..... mengapa engkau tidak berada di istana Paman Resi, melainkan di dalam hutan itu, mandi di telaga? Dan kenapa engkau tidak mengaku demikian sebelum kubawa ke sini?"
Di dalam pertanyaan pangeran ini terkandung kecurigaan besar. Lestari terisak, kelihatan bersedih sekali.
"Paduka.... Paduka tidak tahu.... betapa hamba menderita batin yang hebat semenjak menjadi selir Sang Resi...."
Sang Pangeran mengerutkan alisnya. Ini merupakan berita baru baginya! "Eh, apa yang telah terjadi, Nimas? Apakah dia berlaku kejam kepadamu?"
Wanita itu mengeleng kepalanya, lalu menjawab sambil menunduk.
"Baru beberapa bulan semenjak hamba diambil sebagai selir, dia..... dia... jatuh sakit...."
"Eh? Sepanjang pengetahuanku, Paman Resi tidak pernah sakit, melainkan sehat saja. Apa maksudmu?"
"Tubuhnya memang sehat dan tidak kelihatan sakit, Gusti, akan tetapi.... dia.... sakitnya itu....eh..."
Lestari masih mengeluarkan air mata, akan tetapi bibirnya menahan senyum malu-malu dan dia menundukkan mukanya.
Tentu saja Sang Pangeran menjadi makin tertarik dan heran.
Dia lalu merangkul wanita yang telah membuatnya tergila-gila semalam itu dan mencium pipinya yang masih basah air mata.
"Lestari, jangan takut-takut, jangan malu-malu. Katakanlah segalanya kepadaku dan aku akan menolongmu sedapat mungkin. Apa sebenarnya yang terjadi antara engkau dan Paman Resi?"
"Ampun, Gusti..... dia itu terkena penyakit dan..... dia tidak lagi dapat melakukan tugas sebagai seorang suami.... dia....eh, dia telah menjadi lemah....."
"Ahh......?"
Sang Pangeran terbelalak, mulutnya ternganga, kemudian dia tertawa bergelak dan mencubiti paha dan pipi wanita itu, lalu merangkul menciumi sambil tertawa-tawa.
"Ha-ha-ha, sudah berapa lama semenjak itu sampai sekarang?"
"Sudah bertahun-tahun, Gusti, maka dapat Paduka bayangkan betapa saya merasa tersiksa dan menderita...."
"Ha-ha-ha! Kau bocah nakal! Pantas saja engkau begitu..... begitu kehausan semalam!"
"Ah, Pangeran....!"
Lestari menyembunyikan mukanya dengan sikap malu-malu.
"Kiranya begitukah? Dan.... mengapa pula engkau berada di dalam hutan itu?"
"Begini, Gusti. Hamba dalah seorang anak yang dahulu biasa hidup di dusun dan suka bermain-main di dalam hutan. Hamba suka menyendiri dalam hutan dan mandi sepuasnya untuk menghibur hati hamba. Karena hutan itu hamba tahu tidak boleh dimasuki orang lain, maka hamba berani memasukinya dan mandi seorang diri di dalam telaga."
"Tanpa pengawal dan pengiring?"
"Hamba sudah biasa ketika kecil bermain-main seorang diri di hutan."
"Dan Paman Resi boleh saja kau pergi sendirian, bahkan sampai semalam tidak pulang?"
"Ahhh..... semenjak dia.... sakit itu, dia tidak lagi memperdulikan hamba, Gusti. Agaknya kalau hamba pada suatu hari menggeletak mati di depan kakinya pun ia tidak akan tahu atau peduli. Hamba diberi kebebasan seluasnya, dan biarpun dia tidak pernah berlaku buruk terhadap hamba, namun hamba tidak diperdulikannya lagi. Oleh karena itu, hamba berani ikut dengan Paduka kemarin ke istana Paduka ini."
"Bagus, kalau begitu engkau tidak usah kembali ke sana. Engkau tinggal di sini sebagai selirku yang tercinta!"
Lestari menggeleng kepalanya.
"Hamba kira hal itu tidaklah baik, Gusti. Hamba tahu betapa baiknya hubungan antara Paduka dengan Kakangmas Resi, maka janganlah kiranya soal diri hamba yang tidak berharga ini akan menjadi pemisah atau penghalang hubunga baik itu."
"Akan tetapi katamu tadi, Paman Resi sudah tidak peduli lagi kepadamu."
"Benar, akan tetapi sebetulnya dia mencintai hamba, Gusti. Dan semua orang tahu bahwa hamba adalah selirnya yang dahulu amat dicintainya. Maka, apabila hamba pindah ke sini ikut dan mengabdi Paduka, tentu hal itu akan merupakan pukulan hebat bagi kehormatannya dan dapat mengganggu kesetiaannya kepada Paduka. Oleh karena itu, hamba mohon pertimbangan dan kebijaksaan Paduka agar hamba diperkenankan pulang ke gedung Kakangmas Resi."
Pangeran itu mengerutkan alisnya.
"Lestari, apakah kau tidak cinta kepadaku?"
Ditanya demikian, tiba-tiba Lestari menjatuhkan diri menelungkup dan menyembunyikan mukanya di atas pangkuan pangeran itu sambil menangis.
"Aduh Pangeran......., tidak terasakah oleh Paduka betapa hamba telah menyerahkan seluruh jiwa raga hamba kepada Paduka semalam? Tidak terasakah oleh Paduka getaran cinta kasih hamba kepada Paduka? Hamba rela.... mati demi untuk Paduka yang hamba junjung tinggi, hamba puja-puja dan hamba cinta. Belum pernah hamba mencinta seorang pria seperti terhadap Paduka."
Pangeran itu tersenyum dan mengelus rambut halus di atas pangkuannya.
"Kalau begitu, mengapa engkau memperdulikan benar bagaimana Paman Resi akan tersinggung kalau kau tinggal di sini?"
Lestari bangkit duduk kembali dengan muka basah.
"Gusti, Paduka salah tampa! Hamba sama sekali bukan memikirkan kepentingan Sang Resi, melainkan kepentingan Paduka sendiri! Sang Resi adalah pembantu dan orang kepercayaan Paduka, kalau sampai terjadi rasa tidak enak, maka Padukalah yang menderita rugi. Andaikata dia bukan orang kepercayaan Paduka yang setia, ah, tentu saja hamba tidak sudi kembali ke sana, lebih baik mati hidup di sini bersama Paduka!"
Pangeran itu lalu mencium bibir yang pandai mengeluarkan kata-kata dengan lancar dan menyenangkan itu.
"Akan tetapi, cah ayu, kalau engkau kembali ke sana..... apakah kau tega membiarkan aku merindukanmu setiap hari?"
Lestari menggunakan ujung jari-jari tangannya mengusap dagu pangeran itu.
"Sudah hamba katakan tadi bahwa Sang Resi tidak lagi memperdulikan hamba, maka dia tentu tidak akan marah mendengar hamba.... eh, di sini bersama Paduka. Maka,biarpun hamba masih tinggal di sana, setiap waktu Paduka..... eh, rindu kepada hamba, apa sukarnya? Paduka tinggal menyuruh pengawal Paduka menjemput hamba,dan hamba akan datang berlarilari memenuhi panggilan Paduka dengan hati penuh kerinduan!"
"Benarkah begitu? Paman Resi tidak akan berkeberatan?"
"Hamba tanggung, Gusti. Dia memang sudah tidak membutuhkan hamba lagi, dan kiranya dia akan merasa senang sekali kalau hamba melayani Paduka yang juga menjadi junjungannya. Percayalah kepada hamba."
Baca Juga: Pedang Kayu Harum 10
Baca Juga: Pendekar Sakti 9