Ceritasilat Novel Online

Kemelut Di Majapahit 11

Eps 11 Kemelut Di Majapahit - Kho Ping Hoo

Baca online Kemelut Di Majapahit - Kho Ping Hoo

Cersil Kemelut Di Majapahit - Kho Ping Hoo.

Sang Pangeran merasa girang sekali dan dia lalu menyuruh Ki Warak Jinggo untuk mengawal Lestari pulang ke gedung Resi Mahapati, mempergunakan keretanya sendiri Sama sekali Sang Pangeran tidak tahu betapa setibanya di rumah, Resi Mahapati memuji-muji kepandaian Lestari dan dia menuntut agar Lestari menceritakan semua pengalaman selirnya itu ketika melayani Sang Pangeran!

Lestari adalah seorang wanita yang cerdik sekali.

Dia bukan hanya berhasil menundukkan hati pangeran, bahkan dengan siasatnya jinak-jinak merpati dia telah benar-benar membuat hati Sang Pangeran tergila-gila.

Dia tahu bahwa kalau mau tinggal di istana, lebih banyak lagi harapannya untuk mempermainkan pangeran dan mencari kedudukan yang lebih baik.

Akan tetapi dia tahu bahwa Sang Pangeran masih amat muda, dan kalau dia berada di situ, berarti dia terlalu banyak memberi kesempatan kepada Sang Pangeran untuk bercinta dengannya.

Hal ini terdapat bahayanya, yaitu bahaya kebosanan.

Sebaliknya, kalau dia tetap tinggal di gedung Resi Mahapati, berarti bahwa tidaklah semudah itu Sang Pangeran memuaskan hasrat hatinya sehingga Sang Pangeran akan selalu kehausan.

Makanan yang diberi sedikit-sedikit akan selalu terasa enak dan lezat, akan tetapi kalau diberikan terlalu banyak dapat membosankan, demikian pendapat Lestari.

Selain itu, dia juga belum mau kehilangan pengaruh dan kekuasaan Sang Resi yang dapat diboncengnya.

Kini, ketika Sang Resi menuntut kepadanya agar dia menceritakan semua pengalamannya ketika dia melayani Sang Pangeran, Lestari bersungut-sungut dan merangkul leher resi tua yang masih kuat itu.

"Aahhh, kalau tidak demi Paduka, mana saya sudi melakukannya?"

Dan dia pun menangis! Memang Lestari berbakat sekali untuk bermain sandiwara. Air matanya dapat dipanggilnya secara tiba-tiba.

"Hushhh, kenapa menangis? Aku tahu bahwa engkau telah melakukan semua itu demi untukku, manis, dan aku berterima kasih sekali. Sudah, jangan menangis dan ceritakan bagaimana engkau melayani dia."

"Ahh, kalau tidak ingat betapa saya dapat tugas melaksanakan perintah Paduka, tentu saya sudah menangis karena merasa tersiksa sekali di depan beliau, Kakangmas."

"Ehh? Kenapakah? Apakah dia berlaku kasar? Apakah dia kejam terhadapmu?"

"Sama sekali tidak! Sebaliknya malah. Kalau dia kasar, setidaknya saya tidak akan begitu menderita. Akan tetapi, sangat lemah. Beliau seorang pemuda yang masih hijau dan ingusan dibandingkan dengan Paduka yang kuat dan berpengalaman. Ah, saya kecewa sekali....."

Tentu saja hati Sang Resi menjadi bangga dan senang.

Demikianlah, dengan pandainya Lestari dapat mengambil hati kedua pihak.

Di depan pangeran, dia mengatakan bahwa Resi Mahapati adalah seorang kakek yang sudah mati gairahnya,sebaliknya di depan Sang Resi dia mengatakan bahwa Sang Pangeran adalah seorang pemuda hijau yang masih ingusan dan mengecewakan!

Di depan Sang Resi dia memmuji kakek ini, di depan Sang angeran di memuji-muji pemuda itu.

Dan itulah kelemahan setiap orang pria!

Kalau seorang pria sudah dipuji-puji oleh wanita kekasihnya bahwa dia adalah seorang yang kuat dan memuaskan, kepala pria itu menjadi sebesar gentong kosong dan apa pun yang dikehendaki oleh kekasihnya itu pasti akan ditaati!

Hanya wanita bodoh sajalah yang mencela "kejantanan"

Kekasihnya atau suaminya! Kalau setiap orang wanita mengidamkan pujian kecantikannya dan "awet mudanya", maka sebaliknya setiap orang pria mengidamkan pujian tentang "kejantanannya"

Mulailah Lestari menanam bibit kekuasaannya melalui diri Sang Pangeran, makin mendekati tujuannya yang terakhir, yaitu kekuasaan di kerajaan Mojopahit!

Pada keesokan harinya, Sang Pangeran yang sudah tergila-gila kepada Lestari itu sengaja mengunjungi Resi Mahapati untuk melihat keadaan.

Begitu bertemu, Sang Resi menyambutnya dengan penuh kegembiraan dan kehormatan sehingga legalah hati Sang Pangeran.

Dan ketiak mereka berdua saja tanpa ada orang lain, Sang Resi berkata lirih.

"Hamba girang sekali mendengar laporan Lestari bahwa Paduka telah berjumpa dengan dia dan bahwa Paduka berkenan memberi kehormatan kepadanya untuk menghibur hati Paduka."

Betapa pun halusnya ucapan itu, wajah Sang Pangeran menjadi merah juga. Akan tetapi hatinya girang mendengar ucapa yang sama sekali tidak mengandung kemarahan itu, maka dia menjawab.

"Sesungguhnyalah, hati saya yang amat tertarik oleh Lestari, Paman. Saya akan merasa berterima kasih sekali kalau Paman suka merelakan dia untuk kadang-kadang ke istana saya untuk....eh, melayani saya....."

Sang Resi membungkuk-bungkuk sambil tersenyum dan mengelus jenggotnya.

"Tentu......, tentu sekali, dengan segala kerendahan dan kerelaan hati, Gusti. Sebetulnya....... hem, Lestari itu adalah sudah seperti...... anak hamba sendiri. Kapan saja Paduka membutuhkan, dia boleh pergi menghadap Paduka dan hamba akan merasa terhormat sekali."

Tentu saja Sang Pangeran merasa girang dan menganggap bahwa resi itu benar-benar amat setia kepadanya!

Dan memang inilah yang dikehendaki oleh resi itu.

Dia harus dapat memikat hati pangeran pati, calon raja ini, karena hanya melalui pangeran inilah jalan satu-satunya baginya untuk mencapai kedudukan tertinggi!

Sang Prabu Kertarajasa Jayawardana jatuh sakit!

Memang beberapa tahun ini kesehatan Sang Prabu terus-menerus terganggu dan keadaannya lemah sekali.

Semenjak pemberontakan yang dilakukan oleh Adipati Ronggo Lawe, maka Sang Prabu terus-menerus mengalami tekanan batin secara bertubi-tubi dalam beberapa tahun ini.

Mula-mula pemberontakan Ronggo Lawe, disusul matinya Ronggo Lawe dan Kebo Anabrang, lalu dilanjutkan dengan pemberontakan Lembu Sora, Juru Demung, Gajah Biru dan banyak para senopatinya dahulu terkenal gagah dan setia.

Hal ini membuat hati Sang Prabu menjadi tertekan dan prihatin.

Semua itu ditambah lagi dengan kenyataan betapa dalam keluarganya sendiri terjadi perpecahan yang biarpun dilakukan secara diam-diam namun makin menghebat saja.

Perpecahan antara para isterinya dan kedua pihak tentu saja menarik para pengikut masing-masing sehingga diam-diam terjadi pula perpecahan antara ponggawa dan senopati.

Hal ini membuat Sang Prabu merasa prihatin sekali kesehatannya makin lama makin mundur.

Setelah Sang Prabu jatuh sakit, kemelut di Mojopahit makin terasa.

Kini persaingan dan permusuhan itu behkan mulai nampak secara terang-terangan.

Kadang-kadang terjadi bentrok secara tebuka antara pengikut golongan Sri Indreswari, yaitu Dyah Dara Petak ibu Pangeran Pati Kolo Gemet di satu fihak dan pengikut golongan para isteri Sang Prabu dari keturunan Sang Prabu Kertanegara di lain Fihak.

Bahkan kedua fihak sudah menyebar mata-mata untuk saling menyelidiki kelemahan dan kalau mungkin kesalahan masing-masing.

Sementara itu, Sang Pangeran sendiri makin dalam tenggelam ke dalam pelukan dan rayuan Lestari yang telah menjadi kekasihnya hampir satu tahun lamanya.

Wanita itu pandai sekali merayu.

"jual mahal"

Sehingga ada kalanya sampai beberapa minggu dia tidak melayani panggilan Sang Pangeran dengan bermacam-macam alasan sakit dan sebagainya, padahal semua itu dilakukan dengan sengaja untuk membuat Sang Pangeran menjadi semakin terbakar!

Bau yang busuk sukar sekali untuk ditutup-tutupi, seperti juga keharuman tentu akan semerbak sampai jauh.

Perbuatan buruk mau pun baik, lambat laun tentu akan ketahuan orang juga, betapapun hendak ditutup-tutupi oleh yang melakukannya.

Demikian pula hubungan antara pangeran dan selir Resi Mahapati, lambat laun diketahui orang dan bukan merupakan rahasia lagi.

Berita itu terdengar sampai di telinga Sri Indreswari, ibu dari Pangeran pati itu.

Segera Sang Ibu memanggil puteranya dan memberinya nasihat.

"Puteraku, ingatlah akan kedudukanmu sebagai seorang Pangeran Mahkota, sebagai calon raja! Mengapa engkau menyeret nama baikmu serendah itu? Kalau engkau ingin dihibur seorang atau lebih banyak lagi wanita, apa sukarnya bagimu untuk mencari wanita-wanita yang muda lagi cantik jelita? Mengapa harus selir Sang Resi yang kaupilih? Sang Resi Mahapati adalah seorang di antara mereka yang setia kepada kita!"

Pangeran itu mengerutkan alisnya. Bagaikan seorang panghisap madat, dia sudah kecanduan terhadap rayuan maut Lestari sehingga tak mungkin dia dilepaskan dari kesenangan itu.

"Akan tetapi, Kanjeng Ibu. Paman Resi sendiri sudah merelakan Lestari kepada saya."

Betapapun sangat Sang Puteri membujuk puteranya, namun sia-sia belaka. Maka setelah mereka sampai berbantahan, akhirnya Sang Puteri berkata.

"Puteraku, engkau bukan anak-anak lagi, tentu sudah dapat berpikir sampai matang akan semua persoalan dan dapat mawas diri, dapat mengerti keadaan yang gawat dalam di kerajaan kita. Tidakkah engkau tahu betapa fihak sana sedang mati-matian berusaha untuk mencari-cari kesalahanmu? Bukankah kita harus menjaga agar kedudukanmu jangan sampai terguncang?"

"Ah, Ibu mengapa terlalu mengkhawatirkan yang bukan-bukan? Kanjeng Rama Prabu sudah mengangkat saya menjadi Pangeran Pati. Sudah jelas diterima oleh semua menteri dan ponggawa bahwa saya yang kelak akan menggantikan beliau. Selain itu, juga Kolonadah telah berada di tangan kita, maka apalagi yang perlu kita khawatirkan?"

Ibunya menarik napas panjang.

"Itulah, puteraku yang selalu mendatangkan was-was di dalam hati Ibumu ini. Baru saja yang mendengar pelaporan seorang petugas yang kuutus menyelidiki ke Lumajang sebelum Sang Resi Mahapati menyerahkan keris pusaka Kolonadah kepada kita, dan tahukah engkau apa yang dilakukannya?"

Pangeran itu memandang ibunya dengan mata penuh pertanyaan.

"Laporan apakah mengenai keris pusaka ini, Kanjeng Ibu?"

Tangan kiri pangeran itu meraba keris di pinggangnya.

"Bahwa keris pusaka Kolonadah masih dicari-cari oleh kadipaten Lumajang, bahwa mungkin saja keris yang didapatkan oleh Resi Mahapati itu adalah keris pusaka yang palsu."

"Palsu....?"

Sang Pangeran mencabut kerisnya dan mengamatinya dengan penuh perhatian.

"Kemungkinan besar begitu, dan engkau harus menanyakan hal ini sebenar-benarnya kepada Sang Resi. Kalau benar demikian, kita harus berusaha mendapatkan yang asli, agar jangan sampai terjatuh ke tangan orang Lumajang. Nah, kau lihat, betapa banyak dan pentingnya persoalan yang kita hadapi dan sekarang Kanjeng Ramamu sedang menderita sakit agak parah, bagaimana engkau hanya bersenang-senang dengan selir orang saja dan menjadi buah tertawaan para kawula?"

Dengan mengacung keris pusaka Kolonadah yang selama ini dianggapnya asli itu, Sang Pangeran berkata menantang.

"Siapa berani menertawakan saya dan Lestari? Akan dihirup darahnya oleh Kolonadah!"

"Pangeran!!"

"Maaf, Kanjeng Ibu. Tentang keris ini, saya tidak percaya bahwa ini adalah pusaka yang palsu. Pusaka ini amat ampuh dan mempunyi wibawa yang kuat sehingga tidak ada sebuahpun pusaka lain di kerajaan yang mampu menandingi getarannya yang amat kuat. Dan andaikata benar bahwa ada lagi yang aslinya, sebelum yang asli didapatkan orang, inilah yang asli, Ibu! Betapapun juga, sewaktu-waktu saya akan menanyakannya kepada Paman Resi."

Demikianlah, dengan hati berduka Dyah Dara Petak atau Sri Indreswari, isteri Sang Prabu yang berasal dari tanah Melayu ini segera menghubungi dua orang pengawal pribadinya.

Dia mengambil keputusan bahwa selir resi itu, yang mempermainkan puteranya dan membuat puteranya tergila-gila, harus dilenyapkan dari permukaan bumi ini!

Puteranya terlalu penting untuk merendahkan diri sedemikian rupa bersama seorang wanita yang menjadi selir Resi Mahapati itu!

Jalan satu-satunya hanyalah melenyapkan wanita itu!

Akan tetapi dia tidak mau pula menghadapi resiko bahwa perbuatan itu akan membuat puteranya merasa sakit hati, atau membuat Resi Mahapati tidak senang hatinya.

Oleh karena itu, dia memesan kepada dua orang pengawal pribadinya itu, yang amat setia dan yang mengawalnya semenjak dia dahulu dibawa dari tanah Malayu oleh senopati Kebo Anabrang ke Mojopahit, agar pelaksanaan itu diserahkan kepada segerombolan orang yang biasa bekerja sebagai penjahat-penjahat di laur kota raja.

Dengan demikian maka tidak akan ada yang menyangka bahwa dialah yang bersembunyi di balik layar usaha pembunuhan itu.

Tentu saja dua orang pengawal ini melakukan tugas yang diperintahkan itu sebaik-baiknya.

Mereka telah menyebar mata-mata untuk menyelidiki Sang Pangeran dan Lestari sehingga mereka dapat mengetahui semua setiap panggilan yang dilakukan oleh Sang Pangeran, dan bagaimana caranya wanita itu datang memenuhi panggilan.

Segala persiapan untuk melaksanakan tugas itu telah diatur sebaik-baiknya dan dua belas orang jagoan yang biasanya berkeliaran di dalam hutan-hutan di sebelah barat tapal batas Mojopahit, orang-orang kasar yang tidak tahu menahu tentang urusan kerajaan, hanya melakukan apa saja kalau diberi hadiah besar, telah siap untuk melakukan penghadangan dan pembunuhan atas diri Lestari.

"Ha-ha-ha! Untuk membunuh seorang perempuan muda dibutuhkan tenaga kami dua belas orang?"

Suro Bargolo berkata sambil tertawa bergelak ketika mendengar permintaan seorang utusan dua pengawal Sri Indreswari.

Utusan ini tentu saja sama sekali tidak tahu akan urusannya, hanya menerima perintah saja dari atasannya dan dalam jaman sekalut itu, perintah membunuh orang, siapa saja, tidak menimbulkan keheranan dan harus dilaksanakan tanpa banyak bertanya!

Suro bargolo adalah seorang warak yang memiliki kepandaian dan kekuatan luar biasa, disegani oleh semua orang.

Dia bersama sebelas orang anak buahnya, merupakan dua belas orang yang dianggap sebagai raja-raja dalam hutan-hutan itu.

Baru melihat bentuk tubuh dan wajah saja, orang sudah merasa gentar terhadap warok ini.

Suro Bargolo berusia empat puluhan tahun, pakaiannya sederhana, serba hitam, dengan celana sebatas betis, baju sederhana dan ikat pinggang yang amat besar dari lawe merah.

Di pinggangnya selalu terselip sebatang golok yang amat tajam mengkilap.

Tubuhnya tinggi besar seperti raksasa, otot-ototnya menonjol di lengan, leher dan dadanya terbuka, dada yang dihias bulu lebat.

Mukanya berkulit hitam kasar, matanya lebar dan mulutnya selalu menyeringai lebar dan sikapnya memandang rendah kepada siapapun juga!

"Suro Bargolo,"

Kata utusan itu yang sudah mengenal kepala jagoan ini.

"Pekerjaan itu tidaklah semudah yang kau kira. Perempuan muda yang harus dibunuh itu, pada besok pagi-pagi akan lewat dalam kereta di jalan raya dalam kota raja. Dan jangan kira bahwa dia tidak akan dikawal! Sedikitnya tentu ada seorang atau dua orang pengawal yang berkepandaian tinggi. Nah, apakah kau sanggup?"

"Ha-ha-ha, sanggup atau tidak tergantung dari imbalan pekerjaan itu!"

Tanpa banyak cakap, utusan itu membuka sebuah buntalan yang terisi emas dan perak berkilauan!

Sepasang mata Suro bargolo terbelalak dan teman-temannya juga mengilar ketika melihat harta sebanyak itu.

Mereka akan dapat minum arak, makan segala yang mahal-mahal, dan bermain perempuan sepuas-puasnya sampai beberapa hari lamanya kalau harta itu dibagi-bagi untuk mereka!

"Ha, kalau begitu boleh!"

Kata Suro Bargolo sambil mengulur tangan meraih ke arah buntalan itu. Utusan itu memegang tangannya dan berkata dengan suara tegas.

"Suro Bargolo, engkau sudah mengenal siapa aku! Aku mewakili pengawal-pengawal dari kerajaan! Maka kalau sampai engkau dan teman-temanmu melanggar janji dan tidak sampai berhasil, tentu tempat ini akan diobrak-abrik oleh pasukan-pasukan kerajaan dan mereka tidak akan berhenti sebelum dapat menggantung kalian dua belas orang sampai mampus!"

"Ha-ha-ha! Kapankah Suro Bargolo melanggar janji? Pasti beres! Sekarang ceritakan semua penjelasannya."

Utusan itu lalu menceritakan semua, betapa wanita yang akan dijadikan korban itu pada saat tertentu akan melalui jalan ini, kemudian melalui jalan itu menuju ke arah istana pangeran.

"Nah, di tempat yang sunyi di sini, kalian dapat turun tangan,"

Akhirnya dia berkata. Suro Bargolo memeluk buntalan emas dan perak itu, didekapnya di dadanya yang lebar.

"Baik, cukup jelas. Jangan khawatir, semua akan beres. Akan tetapi sebuah pertanyaan lagi."

"Tanyalah!"

"Perempuan muda itu.... heh-heh, bolehkah kalau sebelum kubunuh, kubawa dulu ke dalam hutan? Ha-ha, tahu sendiri kawan, dia merupakan hadiah tambahan bagi kita yang kesepian!"

"Ha-ha-ha!"

Semua anak buah Suro Bargolo tertawa-tawa dan saling siku. Utusan itu mengerutkan alisnya dan bangkit berdiri berkata tak acuh.

"Sesuka kamulah, pokoknya, wanita itu harus mati, kalau sampai gagal, tahu sendiri!"

Dia lalu pergi meninggalkan dua belas orang kasar itu sambil meludah.

Memang pada hari itu Lestari menerima panggilan Sang Pangeran dan mereka sudah berjanji bahwa besok pagi-pagi sekali Lestari akan naik kereta menuju ke istana pangeran seperti biasa.

Karena kini mulai terdengar desas-desus tentang hubungan mereka, maka semalam Lestari sudah berunding dengan Resi Mahapati bahwa dia akan minta "ditarik"

Ke dalam istana pangeran. Waktu bagi Sang Pangeran untuk naik tahta sudah semakin dekat, dan dia harus sudah "siap-siap"

Di samping pangeran itu kalau Sang Pangeran naik tahta menjadi raja sehingga dia akan lebih banyak mempunyai kesempatan untuk mempengaruhi Sang Pangeran agar memberi kedudukan setinggi-tingginya kepada Sang Resi.

Pagi-pagi sekali, Lestari sudah berdandan sebaik-baiknya, berkemas sehingga rambutnya yang hitam halus dan panjang itu mengkilap karena bersihnya, berbau harum karena sari bunga, dan dia mandi mandi air mawar sehingga kulitnya menjadi makin halus dan berbau harum pula.

Melihat ini, Resi Mahapati hampir saja tidak kuat bertahan dan dia sudah memeluk selirnya dan membelainya.

Lestari cemberut dan menolak tubuh resi itu sambil berkata.

"Ingat, saya akan berangkat menemui pangeran, apakah Paduka ingin agar saya mengecewakan Beliau? Kelak masih banyak waktu bagi kita untuk bersenang-senang, Kakangmas Resi."

Resi Mahapati sadar dan dia menjauh.

"Sudah banyak orang membicarakan hubunganmu dengan Sang Pangeran,"

Katanya sambil memandang jauh ke luar jendela kamar itu.

"Bahkan sudah ada yang secara halus menyindir-nyindir aku. Maka memang sebaiknya kalau engkau tinggal di sana. Dan pagi ini lebih baik tirai keretamu kaututup saja, tidak perlu kelihatan ada pengawal. Kusirnya saja biar diganti oleh seorang pengawal yang dapat dipercaya, untuk menjaga keselamatanmu."

"Baiklah, Kakangmas, terserah kepada Paduka. Lagi pula, di kota raja ini, siapa sih yang akan mengganggu saya? Mereka mengenal saya sebagai selir Paduka, hal itu saja sudah membuat orang merasa gentar untuk mengganggu saya apalagi kalau diketahui bahwa saya....."

Lestari tidak melanjutkan. Resi Mahapati mengangguk-angguk.

"Semua orang tahu engkau kekasih Gusti Pangeran, siapa berani mengganggumu? Kau benar, biarlah Darumuko saja yang menggantikan kusir kereta dan mengawalmu!"

Darumuko segera dipanggil menghadap.

Perwira setia yang sejak dahulu membantu Resi Mahapati ini merasa girang ketika ditugaskan untuk menggantikan kusir kereta dan mengantarkan Lestari ke istana pangeran.

Dari para kusir dia memperoleh keterangan bahwa setiap kali kusir mengantar Lestari ke istana pangeran, tentu mereka dan para pengawal memperoleh hadiah yang cukup banyak dari Sang Pangeran.

Dan kini, dia harus mengantar, menjadi kusir sekaligus menjadi pengawal.

Dia sudah membayangkan betapa banyaknya hadiah yang akan diterimanya.

Semua hadiah akan diborongnya!

Bibirnya yang tebal sudah menjilat-jilat lidahnya sendiri, matanya yang liar makin kocak dan mukanya yang bulat itu berseri-seri.

Setelah kereta disiapkan di depan gedung, Lestari memasuki kereta dan berangkatlah kereta itu, ditarik oleh dua ekor kuda, diikuti pandang mata Resi Mahapati yang mengepal-ngepal tinjunya.

Pengorbanan yang dilakukannya amat besar.

Dia merelakan selirnya yang amat dicintainya itu menjadi permainan Sang Pangeran.

Kadang-kadang dia merasa cemburu dan panas hatinya, akan tetapi semua ini dapat ditekan dengan bayangan kedudukan tinggi yang akan diperolehnya sebagai hasil pengorbanan selirnya itu.

Diam-diam dia merasa "kasihan"

Kepada Lestari yang harus "menderita"

Dalam pelukan pangeran yang masih ingusan itu!

Memenuhi pesan Resi Mahapati, Darumuko menjalankan kereta itu lambat-lambat saja agar tidak menarik perhatian orang, dan tirai di jendela dan pintu kereta ditutup rapat-rapat agar Lestari tidak nampak dari luar.

Ketika kereta meluncur melalui jalan sunyi di sebuah tikungan, dari depan nampak sepasukan perajurit yang bertubuh tinggi besar dan berpakaian seragam.

Seorang di antara mereka mengangkat tangan ke atas memberi tanda kepada Darumuko agar kereta dihentikan.

"Siapa kalian? Ada apa?"

Darumuko menegur sambil menahan kendali kudanya.

Orang tinggi besar yang memimpin pasukan perajurit itu tidak menjawab, melainkan dengan sigapnya meloncat dan telah duduk di sebelah Darumuko, di atas bangku depan.

"Kami adalah pasukan pengawal Gusti Pangeran, diutus untuk menjemput. Gusti Pangeran menanti di luar kota."

Tanpa menanti jawaban lagi, laki-laki tinggi besar bermuka hitam yang bukan lain adalah Suro Bargolo ini merampas kendali dan mecambuk kuda, membelokkan kereta ke kiri, diikuti oleh sebelas orang anak buahnya yang mengiringkan kereta dengan naik kuda.

Tentu saja semua ini sudah diatur oleh utusan Sri Indreswari yang menyediakan kuda dan pakaian pengawal untuk mereka.

Darumuko merasa bingung, akan tetapi menghadapi para pengawal pangeran, tentu saja dia tidak berani banyak membantah, sungguhpun diam-diam dia merasa penasaran mengapa pengawal-pengawal pangeran bersikap begini kasar-kasar terhadapnya.

Akan tetapi segera dia teringat bahwa pada saat itu dia bertugas sebagai kusir, maka tentu saja kerbau-kerbau ini menganggap dia sebagai kusir biasa, bukan seorang perwira pengawal jagoan dan kepercayan Resi Mahapati!

Para penjaga pintu gerbang barat juga tidak mengganggu ketika mereka melihat pasukan yang berpakaian sebagai pengawal-pengawal pangeran itu melarikan kereta bersama Darumuko yang dikenalnya.

Kereta dilarikan kencang dan ketika kereta memasuki sebuah hutan, dari dalam kereta terdengar bentakan Lestari.

"Heii, bagaimana ini? Ke mana kereta ini dibawa?"

Darumuko juga menoleh ke kiri dengan pandang mata penuh pertanyaan.

"Apakah artinya ini? Di mana Kanjeng Gusti Pangeran?"

Mendengar pertanyaan Darumuko ini, Lestari menjadi makin terkejut. Dibukanya tirai jendela dan melihat bahwa mereka telah berada di dalam hutan, ia berseru.

"Eh, aku dibawa ke mana?"

"Ha-ha-ha, mungkin ke sorga, mungkin juga ke neraka, manis!"

Kata Suro Bargolo sambil tertawa bergelak dan meloncat turun dari atas bangku depan kereta setelah kereta itu dihentikan.

Juga sebelas orang temannya sudah meloncat turun dari atas kuda masing-masing sambil tertawa-tawa.

Darumuko terkejut bukan main.

Cepat dia bangkit berdiri dan membentak dengan suara nyaring.

"Kalian bukan pasukan Kanjeng Gusti Pangeran!"

"Ha-ha-ha,baru sekarang kau mengetahuinya? Terlambat, kawan, terlambat!"

Suro Bargolo tertawa sambil memelintir kumis yang tebal.

"Heiii, kalian jangan main-main! Apakah kalian tidak tahu siapa aku?"

Darumuko membentak pula dengan marah, matanya yang lebar itu melotot.

"Ha-ha-ha, engkau kusir berbau tahi kuda!"

Jawab seorang anak buah Suro Bargolo sehingga kembali mereka tertawa-tawa geli, menudingkan telunjuknya ke arah mua Darumuko yang memang kelihatan lucu pada saat itu.

Darumuko merasa heran, kaget,khawatir dan marah menjadi satu.

"Hu-hu-huh, lihat, bibirnya sudah berubah menjadi bibir kuda!"

"Matanya seperti mata monyet ketakutan!"

"Eh, lihat lututnya sudah menggigil!"

Ejekan-ejekan ini membikin Darumuko menjadi marah.

Dengan sigap dia meloncat turun dari atas kereta dan berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar, lalu menggunakan tangannya untuk menumbuk-numbuk dadanya sendiri.

"Buk-buk-buk! Kalian tidak tahu siapa aku, ya? Akulah Darumuko, jagoan tanpa tanding, pengawal kepercayaan Sang Resi Mahapati! Kalian tidak tahu sudah beberapa ratus orang yang telah roboh menjadi korban pukulan dan keris pusakaku? Hayo cepat kalian berlutut minta ampun sebelum aku menghancurkan kepala kalian semua!"

Akan tetapi orang-orang itu hanya tertawa-tawa, agaknya sikap dan lagak Darumuko itu nampak amat lucu bagi mereka, seolah-olah mereka melihat seorang pelawak sedang beraksi di atas panggung.

"Eh, kalian masih nekat? Tahukah, kalian siapa Sang Resi Mahapati? Beliau adalah tangan kanan Sang Pangeran, dia adalah kepercayaan Sang Prabu!"

Kini Suro Bargolo tertawa bergelak dan melangkah maju menghadapi perwira itu.

"Ha-ha-ha, tidak perlu engkau menggunakan nama Sang Prabu atau Sang Pangeran, juga Sang Resi Mahapati untuk menakut-nakuti kami, kerbau dungu! Aku Suro Bargolo tidak takut kepada siapapun juga!"

Darumuko dalah seorang yang biasa bertindak keras, biasa ditakuti orang lain, biasa ditaati perintahnya oleh orang-orang bawahannya, maka dia menjadi makin marah.

"Babo-babo, keparat! Kau sudah bosan hidup kiranya!"

Bentaknya dan dengan kemarahan meluap dia lalu menerjang maju, menghantam ke arah dada yang telanjang, bidang dan di tumbuhi rambut itu dengan sekuat tenaganya.

Darumuko adalah seorang perwira yang sudah banyak mengalami pertempuran, dan sedikitnya di telah memiliki kepandaian yang lumayan dan tenaga yang terlatih.

Maka dalam hantamannya terkandung kekuatan yang cukup berbahaya dan dia sudah memastikan bahwa seperti biasa, pukulannya tentu akan meremukkan tulang-tulang iga orang yang dihantamnya.

Akan tetapi, sambil menyeringai, Suro Bargolo sama sekali tidak mengelak dan menerima pukulan itu dengan dada dibusungkan.

"Bukkk....!"

Hantaman itu dengan kerasnya melanda dada Suro Bargolo dan akibatnya keduanya terkejut setengah mati.

Suro Bargolo yang tadinya mengira bahwa Darumuko hanyalah seorang kusir biasa saja, terkejut ketika merasa betapa pukulan itu cukup antep dan membuat dia sampai terhuyung ke belakang.

Di lain pihak, Darumuko yang sudah merasa yakin akan meremukkan tulang dada orang tinggi besar itu, menyeringai ketika pukulan itu membuat tangannya terasa panas dan sakit-sakit karena dada orang itu amat keras seperti baja!

"Uhhh........keparat!"

Suro Bargolo memaki.

"Hemm, aku agaknya kuat juga, ya? Nah, makanlah pusakaku ini!"

Darumuko sudah melolos kerisnya, akan tetapi Suro Bargolo juga sudah mencabut golok yang terselip di pinggangnya. Ketika Darumuko menerjang ke depan, Suro Bargolo juga menubruk dan mengayun goloknya.

"Cring...... tranggg....!!"

Bunga api berpijar dan keduanya meloncat ke belakang untuk memeriksa senjata masing-masing yang tergetar hebat oleh pertemuan tadi.

Ternyata senjata mereka tidak rusak dan keduanya lalu saling menyerang lagi.

Terjadilah pertandingan yang amat seru, dan mulailah Darumuko merasa gelisah.

Kiranya lawannya ini amat tangguh.

Baru seorang ini saja sudah sukar dikalahkan, apalagi kalau lainnya maju.

Akan tetapi, para anak buah Suro Bargolo tidak ada yang maju.

Kalau tidak ada aba-aba dari pemimpin mereka,mereka tidak berani maju dan kini mereka hanya menonton sambil tertawa-tawa.

"Mampuslah!"

Darumuko berteriak dan tubuhnya sudah meloncat ke depan, didahului kerisnya yang menyerang dengan dahsyat.

Sesungguhnya demikian dahsyat dan gerakan-nya cukup cepat sehingga mengejutkan Suro Bargolo.

Kepala gerombolan penyamun ini terkejut, menangkis dengan goloknya, akan tetapi terjangan hebat itu membuat dia terjengkang dan roboh.

Kesmpatan ini dipergunakan oleh Darumuko untuk menubruk ke depan dengan keris ditusukkan.

"Wuuuuttt.... desss..... aughhh....!!"

Tubuh Darumuko terpelanting, kerisnya mencelat dan dia roboh dengan kepala pecah kena disambar senjata kolor {ikat pinggang} dari lawe yang merupakan senjata ampuh dari Suro Bargolo itu.

Ketika tadi dia terjengkang dan melihat lawan menubruknya, Suro Bargolo sudah memutar kolornya dan memapaki tubuh lawan dengan sabetan kolor yang tepat mengenai kepala lawan dan memecahkan kepala itu.

Darumuko roboh dan tewas seketika.

"Ha-ha-ha, anjing macam ini berani melawan Suro Bargolo!"

Kepala gerombolan itu menyombong dan menyimpan goloknya, membereskan kolornya.

Kemudian, diikuti oleh para anak buahnya, dia menghampiri kereta dengan penuh kegembiraan.

Lestari sejak tadi mengintai dari dalam kereta dengan tubuh menggigil.

Melihat sikap belasan orang kasar itu, dia merasa ngeri sekali dan tahulah dia telah dilarikan oleh gerombolan yang kasar dan ganas seperti sekelompok binatang buas.

Maka, ketika melihat Darumuko melawan kepala gerombolan, dia merasa agak lega.

Dia tahu bahwa Darumuko adalah orang kepercayaan Resi Mahapati yang telah memiliki kepandaian tinggi, maka dia mengharapkan Darumuko akan berhasil menundukkan dan mengusir mereka.

Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kagetnya dan gelisahnya ketika dia melihat Darumuko roboh dan tewas, sedangkan kini tiga belas orang itu sambil menyeringai lebar menghampiri kereta!

Wanita lain dalam keadaan seperti itu tentu akan menangis atau mungkin bisa pingsan.

Akan tetapi Lestari adalah seorang wanita yang amat cerdik.

Dia tahu bahwa kalau dia tidak dapat mepergunakan kecerdikannya, dia tentu akan celaka, akan mengalami nasib yang amat mengerikan, penghinaan yang lebih hebat daripada maut sendiri.

Terperanjatlah Suro Bargolo dan anak buahnya ketika mereka menghampiri kereta tiba-tiba saja tirai pintu kereta itu terbuka dan muncul seorang wanita yang membuat mereka terbelalak penuh kagum.

Bahkan mereka seperti terpesona oleh kecantikan wanita yang berdiri di ambang pintu kereta itu, yang menghadap dan memandang mereka dengan sikap agung, dengan sinar mata penuh wibawa, dengan mulut yang tersenyum manis sekali.

"Aduhai..... demi para dewata! Bidadarikah kiranya......?"

Suro Bargolo berseru kagum setelah dia mampu mengeluarkan suara.

"Bukan main cantiknya...."

"Mau akan mampus sepuluh kali setelah mendapatkannya!"

"Yang begini disuruh bunuh? Gila!"

"Sayang donggg....!"

Sejenak Lestari membiarkan orang-orang itu terpesona dan mengagumi wajahnya dan bentuk tubuhnya, kemudian dia menggerakkan tangan kanan ke atas dan berkata,suaranya amat halus dan merdu, akan tetapi juga mengandung bujukan di samping mengandung ancaman dan amat berwibawa pula.

"Kisanak, hendaknya kalian ketahui bahwa aku adalah kekasih dari Gusti Pangeran. Oleh karena itu, harap kalian jangan menggangguku, karena kalau kalian melakukan hal itu, Gusti Pangeran tentu akan menjadi marah sekali dan akan mengirim pasukan yang kuat untuk menghukum kalian. Sebaliknya, kalau kalian suka mengantar aku kembali dengan selamat sampai ke istana Gusti Pangeran, kalian akan menerima hadiah yang amat besar."

Lestari sengaja hendak mempergunakan nama Sang Pangeran untuk menakut-nakuti mereka.

Akan tetapi yang dihadapinya adalah gerombolan orang-orang kasar yang tidak pernah merasa takut kepada siapapun juga selama mereka berada di dalam hutan yang menjadi tempat kekuasaan mereka itu.

Sejenak mereka mendengarkan, akan tetapi kemudian mereka tertawa-tawa.

Sikap mereka amat mengejutkan hati Lestari.

"Aduh wong ayu....! Pantas saja seorang seperti Sang Pangeran pun tergila-gila kepadamu, karena memang engkau amat cantik jelita, amat manis, denok montok,menarik dan menggairahkan. Ha-ha-ha! Sekarang engkau telah berada di tengah-tengah kami, engkau harus menjadi milik Suro Bargolo, ha-ha-ha! Aduhh, sungguh beruntung sekali aku mendapatkan wanita seperti ini....!"

"Eh, jangan lupakan kami, Kakang Suro!"

"Benar, harus dibagi rata!"

"Kita sehidup semati, kelaparan sama diderita, kenyang sama dinikmati!"

"Ha-ha-ha, kalian tunggu saja, sampai aku puas dan bosan, ha-ha!"

Suro Bargolo kini melangkah maju dengan kedua lengan dibentangkan sehingga bukan hanya bulu dadanya yang nampak melainkan juga bulu-bulu yang tebal di bawah ketiaknya.

"Mari kupondong, manis, mari kita bersenang-senang!"

Wajah Lestari menjadi pucat. Akan tetapi dia masih mencoba untuk mengancam.

"Engkau bernama Suro Bargolo? Suro Bargolo, ingatlah bahwa aku adalah selir dari Resi Mahapati! Engkau tentu sudah tahu betapa saktinya Resi Mahapati, bukan? Dan suamiku mempunyai banyak pembantu, di antaranya adalah Resi Harimurti dan banyak orang-orang sakti lain. Kau bebaskan aku, kalau tidak engkau tentu akan menyesal kelak....!"

"Ha-ha-ha, lihat dia itu!"

Suro Bargolo menunjuk ke arah mayat Darumuko.

"Dia menggertak dan mengancamku menggunakan nama Sang Prabu sendiri. Akan tetapi aku tidak takut. Mari, jangan kau banyak gertak, manis. Mari kaulayani aku, kemudian anak buahku. Ha-ha, kami semua sudah mengilar dan rindu kepadamu. Ha-ha-ha!"

Kini Lestari benar-benar merasa takut dan kehabisan akal.

Matanya terbelalak dan bulu tengkuknya meremang.

Orang yang tinggi besar seperti raksasa bermuka hitam itu makin mendekat dan dalam jarak dua meter saja dia sudah mencium bau keringatnya yang apek seperti bau kambing bendot.

Hampir dia pingsan saking ngerinya.

Lalu sambil menjerit, Lestari meloncat turun dari pintu kereta dan berusaha untuk lari.

"Ha-ha-ha, lari ke mana?"

"Heh-heh-heh!"

"Ha-ha-ha!"

Lestari terkejut sekali. Suara ketawa itu berada di mana-mana dan ketika dia mengangkat muka memandang, ternyata dia telah dihadang oleh anak buah Suro Bargolo yang mengejarnya dari belakang.

"Lepaskan aku....!"

Dia menjerit dan hendak menerobos ke depan, akan tetapi sepasang tangan yang kuat menangkap kedua lengannya, lalu dia didorong lagi ke belakang.

"Aduh, kulit lengannya halussss..... heh-heh!"

Kata orang yang tadi memegangnya.

Lestari terhuyung, hendak lari ke kiri, namun dia ditangkap dan dipeluk oleh seorang anak buah lain yang mencium kepalanya dan mendorongnya lagi ke belakang,ke arah Suro Bargolo yang menghampiri sambil tertawa-tawa.

"Wah, rambutnya wangi seperti kembang setaman.....!"

Kata yang mencium rambutnya tadi sambil tertawa dan menyedot-nyedot hidungnya.

Lestari seperti seekor kelinci di antara segerombolan harimau, terhuyung ke kanan dan dia didekap lagi oleh seorang laki-laki lain, dekapan kasar yang mengerayangi tubuhnya dan hidung yang berkumis tebal telah mencium kulit lehernya, membuat dia menjerit dan hampir saja dia pingsan.

(Lanjut ke

Jilid 32) Kemelut Di Majapahit (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 32 Dia didorong dan kini tubuhnya terlempar ke belakang, diterima oleh kedua lengan yang amat kuat, lengan Suro Bargolo yang segera memondongnya!

"Aduhh, kulitnya sedap seperti kayu cendana......!"

Kata orang yang mencium lehernya tadi.

"Ha-ha-ha, kawan-kawan. Kalian sabarlah, biar aku lebih dulu menikmatinya. Baru kalian boleh mendapatkannya. Aku tanggung semua kebagian kalau tidak keburu dia....eh, mati! Ha-ha-ha!"

Suro Bargolo memondong tubuh yang meronta-ronta itu dan membawanya masuk ke dalam sebuah pondok terbuat dari kayu dan bambu yang berdiri tidak jauh dari situ.

Baru sekali ini selama hidupnya Lestari mengalami rasa ngeri yang sedemikian hebatnya.

Dulu pernah dia mengalami rasa takut ketika rumahnya dibakar oleh Progodigdoyo, ketika dia dilarikan orang itu, kemudian ketika dia hendak diperkosa.

Akan tetapi rasa takutnya ketika itu tidaklah sengeri sekarang ini.

Dia maklum akan nasibnya.

Dia akan dipermainkan dan diperkosa oleh kepala berandal ini, kemudian akan diserahkan kapada anak buahnya dan akan dipaksa harus melayani mereka.

Dia takut sekali, wajahnya pucat matanya terbelalak.

Masih dicobanya untuk menggunakan akal.

"Suro Bargolo..... kasihanilah aku.... aku akan menyerahkan diri kepadamu, aku akan melayanimu dengan senang.... akan tetapi untukmu sendiri saja.... biar aku menjadi milikmu selamanya, biar aku menjadi hambamu.... jangan berikan aku kepada mereka...."

Akan tetapi Suro Bargolo tertawa dan mencium mulut itu sehingga tidak dapat bicara lagi. Setelah melepaskan ciumannya, Suro Bargolo berkata.

"Apa? Ha-ha-ha,engkau tidak boleh hidup terus manis. Dan aku selamanya membagi-bagi apa pun juga dengan para anak buahku yang setia."

Habislah harapan Lestari ketika dia dipondong masuk ke dalam pondok itu dan dilemparkan ke atas sebuah pembaringan kayu yang kasar.

Sambil tertawa bergelak, Suro Bargolo menanggalkan bajunya lalu menubruk ke atas pembaringan.

"Jangan....! Ah, jangan....!!"

Lestari meronta dan mempertahankan diri.

Akan tetapi Suro Bargolo seperti seekor harimau menerkam kelinci.

Sekali renggut saja robeklah pakaian Lestari dan semua perlawanan Lestari sia-sia belaka.

Pukulan dan cakaran kuku tangan wanita itu sama sekali tidak dirasakannya dan dia sudah menekan tubuh Lestari ke atas pembaringan sambil tertawa terbahak-bahak.

"Keparat lepaskan dia!"

Tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan nampak seorang laki-laki muda bertubuh tinggi kurus berada di dalam pondok itu, mendekati pembaringan.

Akan tetapi, Suro Bargolo yang sudah dimabok nafsu berahi itu tidak mendengar bentakan ini.

Lestari hampir tidak kuat mempertahankan diri lagi, maka melihat berkelebatnya orang dia menjerit.

"Tolong... tolonglah saya.....!"

"Keparat busuk!"

Orang itu membentak lagi dan tangannya diayun.

"Desss....!"

Tamparan itu keras sekali, mengenai tengkuk Suro Bargolo dan raksasa ini mengeluh, tubuhnya terpelanting ke bawah pembaringan.

Dia nanar sejenak.

Suro Bargolo memiliki kekebalan yang amat hebat.

Kalau hanya tusukan dan bacokan senjata tajam saja belum tentu akan dapat memecahkan kulit dagingnya!

Karena itulah maka ketika tadi dia dipukul oleh Darumuko, dia tidak menangkis melainkan mengandalkan kekebalannya.

Tamparan yang baru diterimanya dari pemuda tinggi kurus itu hebat bukan main, dan tepat mengenai tengkuknya, akan tetapi dia hanya terpelanting saja biapun menjadi nanar sebentar.

Sambil terisak dan terbelalak, Lestari bangkit duduk di atas pembaringan, berlutut dan menyambar kainnya yang tersobek tadi, lalu menutupi tubuhnya yang telanjang.

Dia makin ketakutan dan merasa ngeri ketika melihat betapa Suro Bargolo kini sudah bangkit berdiri sambil mengeluarkan gerengan yang seolah-olah menggetarkan seluruh pondok.

"Jahanam, siapa kau berani mengganggu kesenangan Suro Bargolo?"

Bentak kepala penyamun itu sambil menyambar goloknya yang tadi diletakkannya di atas lantai ketika dia menggulat Lestari.

Pemuda itu berusia kurang lebih dua puluh lima tahun, bertubuh tinggi agak kurus, wajahnya muram seperti orang berduka, sikapnya tenang sekali dan pandang matanya tajam.

Menghadapi sikap mengancam raksasa itu, dia menjawab tenang,"

Tak peduli siapapun juga aku, namun perbuatanmu yang jahat itu layak dihukum seberat-beratnya!"

"Babo-babo keparat! Nyawamu seperti rangkap saja maka bicaramu demikian sombong. Makan golok ini!"

Suro Bargolo menerjang dengan sambaran goloknya yang mengeluarkan suara berdesing, mengarah leher pemuda itu.

Lestari menutupi muka dengan kedua tangannya, ngeri melihat betapa leher itu tentu akan putus dan darahnya akan muncrat-muncrat.

Akan tetapi dia mendengar perkelahian berlangsung terus maka dibukanya lagi kedua matanya dan biarpun kedua tangan masih menutupi muka, namun dia mengintai dari celah-celah jari tangannya.

Dia melihat hal yang amat luar biasa.

Bayangan pemuda itu berkelebatan seperti berubah menjudi banyak, dan betapapun golok itu berdesing menyambar-nyambar, namun tidak pernah dapat menyentuhnya!

Tiba-tiba pemuda itu berseru keras, kakinya menendang dan tepat mengenai perut Suro Bargolo.

"Bukkk!!"

Tandangan yang keras sekali dan tepat mengenai perut, akan tetapi akibatnya Suro Bargolo hanya terhuyung dan dia tertawa, terus menerjang lagi dengan hebatnya.

Pemuda itu terbelalak kaget, maklum bahwa lawannya memiliki kekebalan yang amat kuat, maka dia pun cepat mengelak dan mempergunakan kecepatan gerakannya untuk menghindarkan diri dari serangan golok itu yang selain ganas juga amat kuat.

Diam-diam pemuda itu mengerahkan seluruh kekuatannya pada telapak tangan kanannya, dan ketika dia melihat kesempatan baik,begitu golok itu menyambar dengan bacokan maut dari atas ke bawah, dengan maksud untuk membelah tubuhnya menjadi dua dari atas ke bawah, dia cepat miringkan tubuhnya ke samping kiri.

Begitu tangan yang memegang golok itu berdesing menyambar di samping kanan tubuhnya, dia memutar tumit kakinya dan tangan kanannya menghantam dengan seluruh tenaganya dari atas ke bawah, mengarah pergelangan tangan kanan lawan yang memegang golok.

"Dessss...... ahhhh! Syuuuuttt..... desss!!"

Tubuh pemuda itu terlempar ke balakang seperti sehelai daun kering tertiup angin.

Sedangkan Suro Bargolo menyeringai dan tangan kanannya tergantung seperti lumpuh.

Kiranya ketika pergelangan tangan kanannya dihantam, pergelangan tangannya seperti dihantam palu godam dari baja yang amat berat sehingga goloknya terlempar dan dia berteriak, akan tetapi berbareng pada saat itu, tangan kiri kepala perampok ini sudah mengayun kolornya, senjata mautnya itu menyambar dada pemuda itu, membuat tubuh pemuda itu terjengkang dan terlempar keluar dari pintu pondok itu!

"Keparat......

jahanam....!"

Suro Bargolo memaki-maki karena marahnya.

Tangan kanannya seperti lumpuh dan dengan kemarahan meluap dia mengejar, melompat keluar dari pintu pondok dengan tangan kiri mengayun-ayun kolornya yang ampuh itu.

Sementara itu, dua belas orang anak buah Suro Bargolo tadinya menyeringai dan terkekeh-kekeh mendengar hiruk-pikuk di dalam pondok itu.

Mereka membayangkan betapa kepala mereka itu sedang menggumuli wanita cantik tadi dan mereka mengira bahwa Si Wanita tadi tentu melawan agaknya maka terjadi pergumulan yang hiruk-pikuk.

Mereka membayangkan segala penglihatan cabul yang membuat mereka terkekeh-kekeh dan mengeluarkan ucapan-ucapan kotor pula.

Maka, dapat dibayangkan betapa heran dan kagetnya hati mereka ketika mereka melihat tubuh seorang pemuda tinggi kurus yang terlempar dari dalam pondok, terbanting ke atas tanah dan berguling-guling,kemudian disusul meloncatnya Suro Bargolo yang memutar-mutar kolornya dengan muka marah sekali!

Ketika pemuda itu kena dihantam kolor, Lestari yang melihat pertempuran itu dengan menahan napas, mengeluarkan jerit ngeri.

Dia mengira bahwa pemuda yang menolongnya itu tentu tewas pula seperti yang terjadi pada diri Darumuko,apalagi melihat pemuda itu terlempar keluar pondok dan dikejar oleh Suro Bargolo yang menyeramkan itu.

Biarpun kedua kakinya menggigil dan napasnya sesak saking ngeri dan gelisahnya, Lestari memaksa dirinya turun dari pembaringan dan mengintai dari balik pintu, selain untuk melihat apa jadinya dengan pemuda itu,juga untuk mencari kesempatan melarikan diri selagi Suro Bargolo mengejar Si Pemuda yang terlempar keluar.

Akan tetapi, tidak seperti yang dikhawatirkan oleh Lestari, biarpun dia telah terkena pukulan kolor yang ampuh itu dan sudah terlempar keluar, terbanting dan jatuh bergulingan, pemuda itu ternyata masih dapat melompat bangun lagi dengan sigapnya!

Hanya mukanya yang muram itu kini berubah agak pucat, akan tetapi sepasang matanya mengeluarkan sinar maut!

Sesungguhnya, tingkat kepandaian pemuda ini masih jauh lebih tinggi daripada tingkat kepandaian Suro Bargolo yang kasar.

Pemuda itu memiliki dasar ilmu pembelaan diri yang amat kuat, baik dan teratur.

Hanya karena dia tidak mengira bahwa lawannya memiliki senjata kolor yang demikian ampuhnya, maka dia menjadi lengah dan terpukul senjata kolor yang merupakan senjata mujijat para warok, senjata yang bukan sembaranga karena senjata itu telah ditapai, di manterai, dan mengandung jimat-jimat yang mujijat!

Betapapun juga, pemuda itu memang hebat.

Lain orang, terkena hantaman simpul di ujung kolor pada dadanya seperti itu, tentu akan remuk-remuk tulang iganya.

Akan tetapi pemuda itu hanya terlempar saja dan merasa betapa dadanya ampek dan agak nyeri, namun dengan mengerahkan tenaga dari pusar dan menghirup hawa murni, dia dapat memulihkan lagi kekuatannya dan begitu lawannya amat marah itu menerjang dengan kolornya diayun mengarah kepalanya, pemuda yang juga marah itu sudah waspada dan dapat mengelak cepat.

Suro Bargolo penasaran bukan main.

Tangan kanannya masih lumpuh, mungkin patah tulangnya atau terlepas sambungan sendi tulangnya.

Dia tadinya mengira bahwa tentu pemuda itu telah mampus dan dia mengejar keluar untuk menghancurkan kepala pemuda itu.

Siapa kira, pemuda itu bangkit kembali dan bahkan mampu mengelak dari hantaman kolornya dengan mudah.

Maka, dengan mata merah, cuping hidung berkembang-kempis, ujung mulut berbuih saking marahnya, bagaikan seekor kerbau gila dia mengamuk, menyerang dengan ganasnya.

Pemuda itu juga sudah mengambil keputusan untuk mengadu nyawa.

Begitu melihat lawannya menubruk, didahului sambaran kolor yang berubah menjadi segulung sinar merah, dia miringkan tubuhnya, secepat kilat tangan kanannya menyambar ujung kolor yang dibuat simpul besar itu, lalu dia meoncat dan....kolor itu membelit leher Suro Bargolo!

Si Warak Sakti itu terkejut, meronta dan hendak merenggut kolornya, namun pemuda itu sudah membelitkan dua kali dan kini berada di belakang tubuhnya, menarik ujung kolor yang mencekik leher itu sekuat tenaganya!

Tubuh Suro Bargolo meronta-ronta, kedua kakinya menyepak-nyepak, kedua tangannya tadinya hendak merenggut kolornya yang mencekiki leher, namun tak mungkin lagi karena kolor itu telah menggigit kulit lehernya maka kini kedua tangannya seperti dua ekor ular gila, bahkan tangan kanan yang lumpuh itu ikut juga bergerak, berusaha untuk mencengkeram ke arah lawannya yang berada di belakangnya.

Namun, pemuda itu menarik dan terus menarik.

Kolor itu mencekik makin dalam.

Semua anak buah Suro Bargolo memandang dengan mata terbelalak, tercengang dan bingung.

Kini muka Suro Bargolo menjadi merah sekali, matanya melotot sepeti hendak keluar dari rongga matanya, mulutnya terbuka dan mengeluarkan busa,lidahnya menjulur keluar, dari tenggorokannya keluar suara yang aneh.

Cekikan makin menghebat, sekali lagi tubuh itu meronta keras untuk yang terakhir kali,sedemikian kuatnya tubuh itu meronta sampai pemuda itu terbawa dan keduanya jatuh teguling.

Namun cekikan itu tidak pernah mengendur sedikitpun juga dan tubuh Suro Bargolo terkulai.

Pemuda itu menarik lagi dengan pengerahan tenaga terakhir sampai terdengar "krekkk"

Dari leher kepala perampok itu, tanda bahwa tulang tengkuknya patah!

Tewaslah Suro Bargolo dengan mata mendelik dan lidah terjulur keluar!

Pemuda itu bangkit berdiri, terhuyung-huyung dan dari ujung bibirnya menetes darah.

Kiranya dia telah mempergunakan seluruh tenaganya ketika mencekik tadi,padahal dia telah menderita luka di sebelah dalam tubuhnya akibat hantaman kolor.

Kini, melihat kepalanya tewas, dua belas orang perampok itu berteriak-teriak dan bagaikan kerbau-kerbau gila terlepas mereka menerjang Si Pamuda yang masih terhuyung!

Pemuda itu terkejut, cepat bergerak menangkis dan mengelak, akan tetapi tetap saja pundak kirinya terkena bacokan golok sehingga berdarah.

Pemuda itu pulih kembali tenaganya karena marah, sekali dia menampar, penyerang ini roboh terpelanting goloknya terampas dan kini pemuda itu mengamuk!

Dalam sinar golok yang tergulung-gulung, terdengar teriakan-teriakan dan berturut-turut robohlah empat orang pengeroyok!

Manyaksikan kehebatan ini, para pengeroyok itu menjadi gentar dan mereka melangkah mundur.

Pemuda itu berdiri tegak dengan golok berlumuran darah di tangannya, sikapnya gagah dan menyeramkan.

"Hayo, majulah kalau kalian sudah bosan hidup! Kalau tidak, pergilah dan bawalah bangkai-bangkai ini dari sini! Hayo cepat!!"

Sisa tujuh orang perampok itu maklum bahwa pemuda itu bukan orang sembarangan.

Kepala mereka yang amat sakti itu telah di bunuhnya, dan dalam beberapa gebrakan saja lima orang kawan mereka tewas pula.

Maka mereka lalu membungkuk-bungkuk,menyeret mayat-mayat teman-teman mereka dan kepala mereka, lalu melarikan diri dari tempat itu.

Pemuda itu masih berdiri tegak dengan golok berlumuran darah di tangan.

Dia memandang sampai mereka itu kabur dan tak nampak lagi, barulah dia mengeluh,goloknya terlepas.

Dia mencoba untuk melangkah, lalu mengeluh lagi, memegangi kepalanya yang menjadi pusing, lalu terhuyung dan roboh terguling!

"Ksatria yang gagah perkasa.....

ahh, pendekar yang berhati mulia......ohh, orang muda yang budiman....!"

Pemuda itu membuka matanya.

Mula-mula dia heran sekali melihat bahwa dia telah berada di atas pembaringan dalam sebuah pondok yang morat-marit keadaannya, dan ada lampu teplok remang-remang di sudut, lalu suara bisikan itu!

Dan dia merasa ada jari-jari tangan yang lembut meraba dahinya, mengelus rambut kepalanya.

"Kasihan orang muda yang gagah perkasa....."

Kembali suara itu berbisik lembut dan kini jari-jari tangan itu membuka bajunya, mencuci luka di pundaknya dengan sehelai saputangan yang dibasahi air.

Perih rasanya dan dia menyeringai,merintih lirih.

"Aduhhh...."

"Ah, engkau telah sadar? Syukurlah, ah, aku sudah takut kalau-kalau engkau mati...."

Suara bisikan lembut itu mengandung isak.

"Ya, Tuhan, terima kasih! Ternyata engkau masih hidup, pahlawanku, ksatria yang telah menyelamatkan hamba daripada malapetaka yang lebih hebat daripada maut....."

Dan wanita itu menangis perlahan sambil masih mencuci luka itu.

Kini wajah itu mulai nampak jelas tertimpa sinar redup lampu teplok.

Wajah yang amat manis, amat cantik jelita.

Wajah yang sudah lama dikenalnya dari jauh, yang sudah lama mendebarkan jantungnya, akan tetapi juga wajah yang telah lama membuatnya risau, membuatnya penasaran, membuatnya penuh penyesalan.

"Cukup.... besarkah lukanya....?"

Dia berbisik Wanita itu mengangguk.

"Tidak berapa besar, akan tetapi darahnya mengalir terus....ah, aku khawatir sekali....."

"Tolong carikan sarang laba-laba.... merupakan obat yang baik untuk sementara menghentikan darah....."

Pemuda itu berkata lemah karena dadanya terasa sakit.

Luka di pundaknya itu bukan apa-apa.

Dia adalah seorang ksatria yang sudah sering bertempur, maka luka di kulit dan daging bukanlah apa-apa, dapat cepat sembuh.

Akan tetapi luka akibat pukulan kolor tadi benar-benar hebat dan memerlukan pengobatan lebih teliti lagi.

Dia lalu bengkit duduk dan bersila,mengatur pernapasan untuk menghirup sebanyak mungkin hawa murni, mengumpulkan di pusar dan kemudian mengerahkan tenaga dalam yang bangkit dari pusar.

Hawa yang panas menjalar naik dan berputar-putar di dalam dadanya.

Itulah cara pengobatannya yang pertama sementara wanita itu membawa lampu teplok dan mulai mencari sarang laba-laba dan mengumpulkannya di tangan yang berjari kecil-kecil mungil dan berkulit halus putih itu.

Lestari sudah kembali lagi membawa sarang laba-laba yang merupakan kapas putih.

Melihat pemuda itu duduk bersila, cepat dia mendekatkan lampu teplok dan berkata lirih.

"Inilah obatnya....."

"Tolong tutupkan pada luka dan balut....."

Pemuda itu berkata singkat karena dia tahu bahwa dalam keadaan seperti itu, dia tidak boleh banyak bicara.

Kemudian dia mengatur kembali pernapasannya sementara Lestari lalu menaruh sarang laba-laba itu memanjang di atas luka yang masih meneteskan darah.

Benar saja, begitu tertutup oleh benda seperti kapas itu, darah berhenti menetes dan dia lalu membalut pundak itu dengan robekan sabuk suteranya.

Dibalutnya dengan hati-hati sekali dan dia kadang-kadang melirik ke arah wajah pemuda yang bersahaja dan tidak terlalu tampan, namun membayangkan kegagahan, membayangkan kedukaan, membayangkan sesuatu yang menimbulkan perasaan iba di dalam hati wanita itu,perasaan yang selama ini belum pernah dirasakannya.

Setelah membalut, Lestari melihat betapa pemuda itu masih bersila, kedua matanya terpejam, alisnya berkerut, napasnya panjang-panjang.

Dia tidak berani mengganggu, maklum bahwa pemuda itu adalah seorang yang sakti, mungkin sedang melakukan sesuatu yang bertalian dengan luka-lukanya.

Dia sendiri tahu bahwa suaminya, Resi Mahapati, sama sekali tidak mau diganggu kalau sedang duduk bersila seperti itu, sedang bersamadhi.

Lestari lalu menggodok air dengan alat-alat sederhana yang terdapat di dalam pondok itu.

Akan tetapi, air sudah lama mendidih, apinya sudah lama padam dan air mendidih itu sudah lama menjadi dingin kembali, dan pemuda itu masih juga bersila seperti arca, sama sekali tidak bergerak.

Bahkan tengah malam telah lewat dan pemuda itu masih juga duduk bersila di atas pembaringan.

Melihat ini, Lestari merasa khawatir sekali.

Didekatinya pemuda itu, dipandangnya dan dirabanya dahinya.

Duduknya begitu diam!

Begitu diam seperti arca, seperti...

seperti mayat!

Jantungnya berdebar tegang dan muka Lestari tiba-tiba pucat.

"Kisanak.....! Kisanak.....! Raden....! Raden.... bangunlah....!"

Dia menggoyang-goyang tubuh itu dengan sentuhan pada pundaknya, pahanya, namun yang duduk besila itu seperti sudah menjadi kaku, seperti mayat duduk!

Jangan-jangan sudah mati!

Raksasa itu memang sakti sekali.

Jangan-jangan pemuda ini juga sudah tewas seperti Darumuko!

Pikiran yang menyelinap di dalam benaknya ini membuat Lestari terbelalak, mukanya makin pucat menatap wajah itu dan tak terasa lagi dia menjerit dan menubruk tubuh yang duduk bersila itu lalu menangis sejadi-jadinya!

"Jangan tinggalkan aku.....

hu-huuuuh.......

raden, jangan mati....

oh, jangan...!"

Lestari menangis tersedu-sedu dan memeluki tubuh itu, menyembunyikan mukanya di dada dan di atas pangkuan pemuda itu yang masih duduk bersila seperti telah tidak bernyawa lagi.

Baru satu kali ini selama hidupnya Lestari benar-benar menangis sungguh-sungguh, benar-benar merasa hancur hatinya, merasa berduka karena kematian seseorang.

Peristiwa tadi benar-benar mengguncangkan seluruh batin Lestari.

Ancaman yang amat mengerikan hatinya, keadaannya yang sudah berada di ambang malapetaka dan kehancuran, di mana dia sudah menjadi putus harapan.

Kemudian meunculnya pemuda ini yang sama sekali tidak pernah disangka-sangkanya,muncul dan sekaligus menyelamatkan dirinya dari malapetaka.

Wajah pemuda ini yang kelihatan demikian muram seperti mengandung kedukaan hebat, kegagahan pemuda yang selain menyelamatkannya juga telah mengorbankan dirinya sampai terluka hebat, semua ini membangkitkan perasaan aneh di dalam hatinya.

Padahal,semenjak dia diculik oleh Pragodigdoyo, kemudian semenjak dia terpaksa harus menyerahkan dirinya kepada Resi Mahapati, hati wanita itu menjadi beku dan tertutup begi perasaan cinta kasih terhadap seorang pria.

Namun peristiwa siang hari ini seperti mendobrak semua kebekuannya dan perasaan wanitanya tergugah,membuat dia memandang pemuda itu seperti seorang pria yang amat berjasa, yang patut diserahi cinta kasihnya, jiwa raganya!

Maka, kini melihat pria itu duduk seperti arca, kemudian disangkanya telah mati, Lestari mengalami kehancuran hati yang selama ini belum pernah dirasakannya, bahkan belum pernah dimimpikannya.

Tiba-tiba Lestari menghentikan sedu-sedannya.

Ada jari-jari tangan mengelus rambut kepalanya, lalu jari-jari itu merayap ke bawah, membelai kedua pipinya,dan lehernya.

Dan suara berbisik-bisik lirih.

"Engkua sungguh cantik jelita....engkau sungguh agung.... engkau wanita yang patut dibela dengan nyawa......"

Lestari cepat mengangkat mukanya yang tadinya menelungkup di atas pangkuan pemuda itu dan dia melihat betapa pemuda itu telah membuka matanya dan memandang kepadanya dengan sinar mata mesra, sungguhpun wajah itu masih nampak muram berduka.

"Kau.... kau tidak mati....? Kau masih hidup, Raden? Akh, terima kasih kepada para dewata....!"

Lestari menangis lagi sambil merangkul.

Pemuda itu juga merangkulnya, mereka saling berpelukan.

Dengan air mata bercucuran Lestari mengangkat muka, mereka saling berpandangan dan muka mereka saling berdekatan.

"Kau.... kau menangis....? Kau.... menangisi aku....?"

Pemuda itu bertanya, suaranya gemetar.

"Mengapa...? Mengapa...?"

Suara yang penuh getaran ini seperti meremas-remas hati Lestari, dia menggunakan tangannya menutupi mulut itu agar tidak bicara lagi dan dia lalu memperketat dekapannya dan mencium pemuda itu dengan sepenuh perasaan hatinya.

Pemuda itu kelihatan terkejut, akan tetapi tak kuasa menolak, bahkan lalu membalas sehingga mereka berpelukan dan berciuman dengan penuh kemesraan.

Akhirnya, pemuda itu dapat bernapas dan berkata terengah-engah dan gagap.

"Maafkan...., hamba....hamba adalah...."

"Ssshhhh.... Kakang mas..... perlukah kita bicara....?"

Lestari memotong dan kembali jari-jari tangannya menutupi mulut itu yang kemudian diciuminya dan mereka berdua lalu berguling di atas pembaringan.

Hanya ada satu dorongan terasa oleh mereka, yaitu pencurahan kasih sayang mereka.

Bukan, sama sekali bukan dorongan nafsu berahi semata.

Ada sesuatu terasa oleh mereka, sesuatu yang melebihi pengaruh nafsu berahi belaka.

Lampu teplok itu kehabisan minyak, beredip-kedip dan nyalanya tiba-tiba mengecil,seperti mata berkedip-kedip, kemudian padam dan pondok itu menjadi gelap pekat.

Namun hal ini sama sekali tidak terasa oleh dua orang itu.

Mereka telah lupa segala, yang ada hanya mereka berdua dan perasaan cinta yang menggelora.

Sinar matahari yang masih amat muda, kemerahan bagaikan sinar emas, menerobos masuk melalui celah-celah bilik ke dalam pondok itu.

Sunyi sekali di dalam dan di luar pondok.

Hanya bunyi kicau burung di pohon-pohon di luar pondok yang menyemarakkan suasana pagi hari yang cerah dan indah itu.

Mereka masih berbaring di atas balai kayu di depan pondok.

Pemuda itu terlentang dan matanya menatap ke atas ke atap rumput alang-alang dari pondok itu.

Tangannya yang kanan mengelus-elus rambut yang panjang itu, rambut dari kepala yang rebah telentang, kepalanya berbantal dada pemuda itu, rambutnya yang hitam dan panjang, halus mengkilap karena kemarin pagi sebelum berangkat telah dikeramasinya, kini terlepas dari sanggulnya dan menyelimuti dada pemuda itu yang tak berbaju.

Wajah wanita ini seperti mengeluarkan cahaya, gemilang dan berseri biarpun agak pucat dan membayangkan kelelahan.

Bulu matanya yang panjang lentik itu masih digenangi dua butir air mata, dan bibirnya yang tipis merah itu tersenyum penuh kebahagiaan.

Sinar matanya sayu melamun, juga menerawang ke atas.

Ketika merasa jari-jari tangan itu membelai rambutnya, dia tersadar, menoleh sedikit sehingga bertemu pandang mata dengan pemuda itu, dia tersenyum, lalu menggerakkan tangan sehingga jari-jari tangan kirinya bertemu dengan jari-jari tangan kanan pemuda itu, mereka saling cengkeram dan jari-jari mereka saling dekap.

Getaran mesra terasa oleh mereka melalui sentuhan antara jari-jari tangan itu.

Dua butir air mata yang tergenang di bulu mata itu bertitik jatuh ke atas pipi yang halus dan agak pucat.

"Mengapa baru sekarang kita saling bertemu....? Mengapa tidak sejak dulu....?"

Lestari berbisik seperti orang yang menyalahkan nasibnya.

Ketika dia merasa betapa dada yang ditidurinya itu bergerak sedikit, Lestari menoleh dan kini menatap wajah itu.

Wajah yang masih kelihatan muram, akan tetapi sinar mata yang memandangnya itu demikian tajam, demikian penuh pernyataan cinta yang mesra.

Lalu Lestari berbisik nadanya menegur.

"Mengapa tidak dari dulu-dulu engkau menemui aku?"

Pemuda itu menarik napas panjang, jari-jari tangannya melepaskan tangan Lestari dan kini menelusuri pipi dan dagu itu.

"Mengapa? Ah, engkau begini cantik jelita, dan engkau selama ini.... ah, tempatmu begitu tinggi...."

Dia tidak melanjutkan kata-katanya, untuk sejenak hanya melamun, kemudian berkata lagi.

"sungguhpun telah lama aku mengagumimu, merindukanmu dari jauh...."

Tangan Lestari membelai dada yang telanjang itu, digurat-guratnya dengan kuku telunjuknya.

"Siapakah engkau? Siapakah namamu?"

"Aku? Namaku Harwojo dan aku hanya seorang abdi biasa saja, aku..."

"Tak mungkin! Engkau memiliki kesaktian, engkau gagah perkasa."

"Itulah pekerjaanku, mengandalkan sedikit kemampuan untuk berkelahi! Aku adalah seorang pengawal dan kepercayaan dari Gusti Ratu Sri Indreswari......"

"Ahh...!"

Lestari terkejut akan tetapi tidak bangkit dari dada pemuda itu, hanya kini dia rebah miring sehingga mereka dapat saling berpandangan.

"Dan bagaimana engkau dapat menolongku di tempat ini, Kakangmas Harwojo?"

"Kebetulan saja.... kebetulan saja aku dapat melihat keretamu dilarikan keluar dari pintu gerbang. Aku merasa curiga. Aku sudah mengenak betul keretamu, sudah terlalu lama mengenalmu, Diajeng Lestari, mengenalmu secara diam-diam. Hanya menyesal diriku sendiri.... akan tetapi, akan tetapi...."

Tiba-tiba dia bangkit duduk dan mendorong Lestari sehingga wanita itu bangkit duduk pula.

Mereka duduk berhadapan di atas pembaringan itu.

Wajah Harwojo nampak makin keruh dan sinar matanya berkilat, seperti orang marah.

"Kenapa, Kakangmas Harwojo....?"

Lestari bertanya, khawatir melihat orang itu seperti marah, merangkulnya. Harwojo menarik napas panjang, lalu balas merangkul dan ada sedu sedan naik dari dadanya.

"Eh, kau.... kau menangis?"

Lestari bertanya kaget, merangkul leher.

Harwojo menunduk, menyembunyikan mukanya dan dengan punggung kepalan tangannya,dia mengusir dua titik air mata yang tadi meloncat keluar.

Kemudian dia mengangkat mukanya, menggunakan kedua tangannya untuk memegang kedua pipi Lestari, dipandang wajah itu dan dia berkata, suaranya mengandung penasaran.

"Diajeng Lestari, engkau begini cantik, begini ayu..... begini manis....."

Tangan itu membelai seluruh muka yang amat mengagumkan hatinya itu.

"Akan tetapi mengapa.... mengapa engkau membiarkan orang mempermainkan dirimu? Mengapa engkau membiarkan orang lain memperalat dirimu, memperalat kecantikanmu?"

"Maksudmu, Kakangmas Harwojo?"

"Aku tahu bahwa engkau sengaja dipergunakan orang untuk memikat Sang Pangeran....."

Harwojo berhenti sebentar, lalu melepaskan kedua tangannya, membuang muka dan mengepal tinjunya.

"Ah, aku cinta padamu...... Diajeng Lestari, demi iblis! Biar terkutuk aku! Aku cinta padamu....!!"

Lestari memandang wajah itu dan air mukanya membayangkan kelembutan, membayangkan rasa sayang penuh iba.

"Kakangmas Harwojo, aku pun cinta padamu..... sungguh, langit dan bumi menjadi saksi, para dewata mendengarkan pengakuanku ini,baru sekarang ini selama hidupku, aku mencintai orang. Aku cinta padamu, Kakangmas Harwojo."

"Plak!"

Harwojo menghantam telapak tangan kirinya sendiri. Nyeri sekali rasanya, kiut miut rasanya pundak yang terluka, akan tetapi lebih nyeri lagi rasa hatinya.

"Setan! Kalau benar, mengapa engkau menjadi selir Resi Mahapati? Mengapa engkau menjadi kekasih Sang Pangeran? Aku ingin sekali percaya kepadamu, akan tetapi betapa mungkin??"

Tiba-tiba Lestari menangis menutupi mukanya.

Tangis sungguh-sungguh, bukan seperti biasa kalau dia menangis di depan Resi Mahapati atau Sang Pangeran.

Sudah terbiasa dia menangis secara palsu, tangis buatan sehingga kini tangis yang sungguh-sungguh membuat jantungnya terasa seperti akan putus!

Mendengar suara tangis yang demikian memilukan, melihat wanita itu sedemikian sedihnya, Harwojo menjadi terharu akan tetapi pandang matanya masih penuh selidik, hampir dia tidak percaya.

"Diajeng Lestari, seorang seperti engkau ini.... dengan kedudukan begitu tinggi dan mulia, penuh kesenangan, mana mungkin dapat merasakan penderitaan batin seperti aku? Semenjak kecil aku hidup sebatangkara, tidak pernah mengenal kebahagiaan. Kemudian, aku bertemu dengan engkau, Diajeng dan mulailah semua penderitaan kutanggung! Aku jatuh cinta, akan tetapi aku tidak berani bertemu denganmu, bahkan memandang pun sudah merupakan suatu hal yang lancang bagiku. Engkau adalah selir terkasih dari Resi Mahapati, seorang yang berkudukan tinggi, dan engkau adalah Kakak kandung dari Adimas Sutejo, ksatria yang memiliki kesaktian luar biasa. Sedangkan aku...."

"Engkau adalah seorang ksatria yang gagah perkasa pula, Kakangmas Harwojo,engkau seorang laki-laki sejati, engkau seorang pria yang kucintai, satu-satunya pria yang pernah kucinta."

"Jangan kau berkata demikian!"

Tiba-tiba Harwojo membentak marah.

"Ah, Diajeng Lestari, engkau yang begini cantik seperti dewi kahyangan, engkau yang begini kucinta, janganlah kau lontarkan kata-kata yang menyakitkan hatiku itu....yang mengingatkan aku betapa.... palsu hatimu..... betapa engkau setelah menjadi selir tercinta Resi Mahapati, engkau rela dijadikan umpan, menjadi kekasih Sang Pangeran, dan tadi..... bersamaku.... engkau...."

Harwojo tidak dapat melanjutkan, menutupi mukanya dan kini pria yang gagah perkasa ini menangis benar-benar!

Lestari memandang dengan mata terbelalak.

Kini dia mengerti dan persangkaan pemuda yang secara aneh telah menjatuhkan hatinya itu, menyakitkan hati sekali.

Dia belum pernah mencintai seorang pria, bahkan belum pernah dia merasa benar-benar hidup seperti ketika berada dalam pelukan pemuda itu tadi.

Belum pernah dia merasakan kesenangan sedemikian besarnya, yang membuat dia menangis dalam pelukan itu, yang membuat dia terheran-heran betapa berdekatan dengan seorang pria dapat membuat dia merasa betapa hidup ini seolah-olah berubah sama sekali,betapa segalanya nampak indah, segalanya terasa nikmat, semua terasa bahagia!

"Kakangmas Harwojo, kau pandanglah aku dan Kau dengarkanlah kata-kataku!

Aku bersumpah, selama hidupku baru sekali ini aku mengeluarkan isi hatiku, aku mengakui keadaanku."

Ucapan itu dikeluarkan dengan penuh semangat sehingga Harwojo mengangkat mukanya yang basah air mata dan enjadi pucat sekali.

Kini Lestari yang memegangi kedua pipi pemuda itu dan dengan mesra dikecupnya mulut pemuda itu,lalu berkata.

"Dengarlah baik-baik. Jangan sekali-kali engkau mengira bahwa aku pernah merasakan cinta kasih, pernah merasakan kebahagiaan dengan pria lain. Sama sekali belum pernah dan baru tadi aku merasa benar-benar hidup, merasa benar-benar jatuh cinta Hanya padamu seoranglah aku jatuh cinta, Kakangmas. Kau tahu mengapa aku menjadi selir Resi Mahapati? Karena dendam! Aku dipaksa menjadi selirnya, dan aku lalu menyerah untuk dapat melampiaskan dendamku, dendam keluargaku. Kemudian, kau tahu mengapa aku mau dijadikan umpan untuk menjadi kekasih Sang Pangeran? Karena keinginan mengejar kedudukan! Nah,sama sekali tidak ada cinta di situ. Aku muak! Kau tidak tahu betapa menderita batinku kalau aku terpaksa harus melayani Sang Resi dan Sang Pangeran! Aku ingin membunuh mereka karena benciku! Aku muak, aku mau muntah kalau mengingatnya, Kakangmas!"

Harwojo memandang wajah wanita itu dengan alis berkerut, penuh kasih sayang dan penuh rasa iba.

"Kalau begitu, mengapa engkau menyiksa diri sedemikian rupa, Diajeng? Mengapa masih kau kukuhi kedudukanmu itu kalau memang engkau tidak menemukan bahagia di situ?"

"Apa dayaku, Kakangmas? Apa pilihanku? Hanya tadi, setelah bertemu denganmu, setelah merasa betapa engkau benar-benar amat mencintaiku, setelah..... setelah tadi.... aku tahu bahwa selama ini aku hidup seperti dalam alam mimpi, tidak melihat kenyataan. Kini aku tahu bahwa semua itu, dendam dan pengejaran kedudukan, hanya kosong belaka dan makin dituruti makin membuatku kosong. Hanya dengan cintamu maka aku merasa penuh, aku merasa hidup, Kakangmas. Karena itu, mari kita tinggalkan segala kepalsuan dan kekosongan itu, mari kita hidup bersama, jauh dari segala kericuhan ini....kaubawalah aku pergi, Kakangmas, biar kita hidup miskin dan papa biar harus makan dua hari sekali, biar harus tinggal di gubuk dan memakai pakaian kasar...., aku akan bekerja, aku akan melayanimu, aku akan membahagiakan hidupmu karena kebahagianmu berarti kebahagiaanku pula....."

Harwojo menggeleng kepala.

"Tidak..... tidak....! Tidak mungkin!"

Dia lalu meloncat turun dari pembaringan, mengenakan pakaiannya kembali dan berjalan hilir mudik di dalam pondok.

Pikirannya kacau dan bingung sekali.

Seperti kita ketahui, Harwojo ini pernah menjadi mata-mata Sang Ratu Sri Indreswari dan bertugas di Lumajang.

Bersama dengan dengan Sulastri, Joko Handoko dan yang lain-lain, dia berhasil memasuki sayembara, lulus dan menjadi panglima.

Dia menjadi mata-mata ini untuk menyelidiki tentang hilangnya keris pusaka Kolonadah.

Kemudian, seperti telah diceritakan di depan, dia telah membantu Murwendo dan Murwanti menawan Joko Handoko dan Roro Kartiko yang dianggap sebagai anak-anak pemberontak yang patut dihukum, dan juga hal itu dilakukannya karena dia ingin agar orang kembar itu akan membantunya kelak dalam tugasnya mencari Kolonadah.

Akan tetapi, selain itu dia pun hendak mencegah gadis yang dikaguminya itu menjadi kaki tangan pemberontak Lumajang.

Akan tetapi,ketika dia berhasil menawan Sulastri, muncul Sutejo yang mengalahkannya.

Akhirnya, setelah tahu bahwa dia adalah utusan Sang Ratu, Sutejo membebaskannya dan dari pemuda perkasa dan dara itu tahulah Harwojo bahwa keris pusaka Kolonadah tidak berada di tangan orang-orang Lumajang dan masih lenyap.

Maka dia kembali ke Mojopahit untuk memberi pelaporan kepada Sang Ratu sehingga Sang Ratu menjadi curiga bahwa keris pusaka yang oleh Resi Mahapati diserahkan kepadanya itu adalah Kolonadah yang palsu!"

Sebenarnya telah lama Harwojo tergila-gila kepada Lestari.

Dalam suatu pertemuan, di pesta yang diadakan seorang ponggawa, di mana Resi Mahapati dan Lestari hadir, Harwojo melihat wanita ini dan pada saat itu pun dia telah jatuh cinta.

Akan tetapi, mengingat bahwa wanita itu adalah selir terkasih dari Sang Resi, tentu saja dia segera menjauhkan diri dan makan hati sendiri.

Tidak mungkin dia dapat dan berani mendekati selir terkasih dari resi yang sakti itu.

Pula, dia tidak ingin mengganggu isteri orang lain.

Akan tetapi, hatinya selalu gandrung dan baru terobati rasa nyeri hatinya kalau di sudah dapat melihat wajah wanita itu sewaktu-waktu, birapun hanya sebentar saja.

Maka, telah lama Harwojo kadang-kadang membayangi dan mencari Lestari, hanya untuk memandang wajahnya dari jauh.

Untuk melaksanakan rencananya membunuh wanita yang dianggapnya menggoda puteranya, Sang Ratu Sri Indreswari tidak mau mengutus Harwojo karena dia tahu bahwa Harwojo adalah seorang ksatria yang mengutamakan kesetiaannya terhadap Mojopahit, jadi bukan seperti ponggawa atau pengawal bayaran yang mau melakukan apa saja demi uang atau hadiah.

Maka, apa yang dilakukan oleh pengawal utusan ratu yang menghubungi Suro Bargolo, sama sekali tidak diketahui oleh Harwojo dan ketika dia secara kebetulan melihat Lestari dilarikan, tentu saja dia cepat menolong dan menentang Suro Bargolo, tidak tahu sama sekali bahwa di balik semua peristiwa ini berdiri Sang Ratu kepada siapa dia sendiri menghambakan diri!

"Kakangmas Harwojo, mengapa tidak mungkin?"

Lestari berkata sambil memandang pria yang telah merebut hatinya itu dengan pandang mata penuh permohonan.

"Tadinya,tidak pernah termimpi olehku bahwa aku akan dapat meninggalkan semua kedudukanku, semua cita-citaku. Akan tetapi setelah bertemu denganmu, Kakangmas, setelah aku menyerahkan segala-galanya kepadamu, aku yakin bahwa kebahagiaanku hanyalah berada di sampingmu. Aku seperti baru tergugah dari mimpi buruk dan baru terbuka mataku. Marilah, Kakangmas, mari kita pergi yang jauh, meninggalkan semua ini meninggalkan Mojopahit, di tempat sunyi.... jauh dari segala macam persoalan...."

Harwojo membalik dan menghampiri Lestari, memeluknya.

Lestari terisak dan menyambunyikan muka di dada orang yang dicintainya itu.

Sejenak mereka diam dan hanya merasakan betapa getaran yang terasa di antara mereka adalah getaran yang amat kuat, yang selama ini belum pernah mereka rasakan.

"Diajeng Lestari, aku cinta padamu, Hyang Wisesa mengetahui akan hal ini. Aku rela mengorbankan nyawa dan apa saja demi untuk dirimu, Diajeng. Akan tetapi, jangan minta aku melakukan hal itu. Kita tidak boleh melarikan diri, karena hal itu tentu akan membangkitkan kemarahan Resi Mahapati, bahkan Sang Pangeran sendiri akan menjadi marah. Kita tentu akan dicari-cari, dikejar-kejar...."

"Kakangmas, pujaan hatiku yang gagah perkasa, jangan katakan bahwa aku takut..."

"Engkau tahu bahwa aku tidak takut, kekasihku, tidak takut menghadapi apa pun demi untukmu. Akan tetapi aku tidak mau melihat engkau terancam bahaya......"

"Aku tidak takut! Mereka boleh mengejar, mencari, boleh menghukum, menyiksa dan membunuhku, aku tidak takut! Apa pun yang terjadi atas diriku, asal aku berada bersamamu, Kakangmas, akan kuhadapi dengan senyum di bibir!"

Harwojo mencium mulut yang mengeluarkan kata-kata yang amat menyenangkan hatinya itu, kemudian dia mengelus rambut yang hitam mulus dan panjang halus itu.

"Bukan begitu, Dewiku. Aku tidak takut mati, akan tetapi aku amat takut melihat engkau sengsara. Aku tidak takut dianggap pemberontak akan tetapi aku ngeri kalau namamu disebut sebagai seorang pengkhianat dan pemberontak. Sampai mati pun aku akan terus menyesal dan rohku akan menjadi setan penasaran kalau sampai menyebabkan engkau dikejar dan dihukum sebagai pemberontak. Tidak, Yayi, aku tidaklah sejahat itu. Tidak, Diajeng Lestari, engkau adalah selir Resi Mahapati yang mulia dan terhormat. Engkau bukan seorang wanita yang bebas. Sudah nasib kita begini....."

"Kakangmas Harwojo....!"

Lestari merangkul sambil menangis.

"Setelah pertemuanku denganmu, apa kau kira aku akan sanggup lagi menyerahkan diriku kepada Resi Mahapati, kepada Pangeran, kepada siapapun juga? Aku adalah milikmu, Kakangmas, lahir batin....."

Akan tetapi Harwojo tidak dapat dibujuk lagi.

Setengah memaksa dia membantu Lestari menganakan pakaiannya yang robek, kemudian dia mengajak Lestari kembali ke Mojopahit di dalam kereta itu.

Di sepanjang perjalanan itu, Lestari menangis terisak-isak.

Terbayanglah semua pengalaman hidupnya dan dia menyesal bukan main.

Dia merasa betapa dia telah menyia-nyiakan semua waktu hidupnya hanya dengan dendam dan sakit hati.

Sekarang, setelah dia bertemu dengan orang yang dicintainya, semua telah terlambat.

Harwojo tidak mau menyeret dia ke dalam kesengsaraan dan nama busuk.

Seolah-olah hidupnya yang sekarang ini penuh kebahagiaan!

Harwojo tidak tahu betapa hidupnya yang kelihatan senang dan mewah itu merupakan racun baginya!

Ingin dia membunuh diri saja.

Kalau saja Harwojo tidak telah menjanjikan bahwa pria yang dikasihaninya itu akan mau mengadakan pertemuan sewaktu-waktu, tentu dia sudah membunuh diri ketika Harwojo tidak mau memenuhi permintaannya untuk minggat berdua.

Sementara itu, di Mojopahit, Resi Mahapati dan Sang Pangeran telah menjadi bingung dan khawatir.

Kereta yang membawa Lestari lenyap tak meninggalkan bekas!

Pangeran yang memanggil kekasihnya itu, yang telah penuh kerinduan menanti kedatangan wanita yang amat memikat hatinya itu, menjadi makin penasaran karena belum juga Lestari tiba.

Padahal biasanya, setiap menerima panggilannya, wanita itu bergegas datang.

Maka dia lalu mengirim utusan untuk menanyakan ke istana Resi Mahapati.

Tentu saja Resi Mahapati terkejut bukan main mendengar penuturan utusan itu bahwa selirnya belum tiba di istana Pangeran.

Padahal sudah sejak pagi tadi Lestari berangkat.

Maka dengan jantung berdebar penuh kekhawatiran,dia sendiri lalu meninggalkan rumahnya pergi ke istana Pangeran.

Benar saja,tidak ada Lestari di sana dan wanita itu telah menghilang!

Baik Resi Mahapati maupun Pangeran lalu mencari, mengutus orang-orang untuk mencari.

Namun hasilnya sia-sia belaka.

Semua rumah dan semua sudut kota raja telah diperiksa, namun sampai malam tiba, mereka tidak berhasil.

Sang Resi menjadi resah sekali.

Pada waktu itu, persaingan antara dua kelompok di Mojopahit sudah menjadi makin sengit dan sudah berubah menjadi pertentangan kelompok dan permusuhan secara terbuka.

Dalam waktu beberapa bulan ini terjadi ketegangan-ketegangan, kematian-kematian yang aneh, pembunuhan-pembunuhan terselubung.

Oleh karena itu, Resi Mahapati mulai menaruh curiga bahwa jangan-jangan selirnya itu diculik orang dengan maksud untuk memukul dia, ataukah memukul Sang Pangeran?

Masih menjadi teka-teki yang takkan terjawab sebelum dia dapat menemukan kembali Lestari!

Hanya Sang Ratu Sri Indreswari dan pengawal utusannya saja yang tahu apa yang terjadi.

Sang Ratu Sri Indreswari tersenyum puas di dalam kamarnya.

Siasatnya berhasil.

Wanita tak tahu malu itu telah diculik dan tentu kini telah dibunuh.

Puteranya bebas, bebas dari bahaya aib dan malu.

Kini puteranya dapat menghadapi semua orang yang tidak menyukainya dengan dada dibusungkan, tanpa khawatir dihubungkan dengan wanita rendah itu!

Dapat dibayangkan betapa gelisah rasa hati Resi Mahapati dan Sang Pangeran.

Mereka berdua telah terikat oleh wanita itu dan sukarlah membayangkan hidup tidak dilengkapi adanya Lestari di samping mereka!

Bagi Sang Pangeran, dia seperti seorang anak-anak yang memperoleh sebuah mainan baru yang tak dapat membosankan, amat mengasikkan dan menyenangkan.

Maka tentu saja dia menjadi gelisah dan murung, takut kalau sampai kehilangan mainan yang disenanginya itu.

Resi Mahapati lebih parah lagi.

Dia amat khawatir.

Dia tidak hanya amat mencinta Lestari yang dianggapnya amat cinta dan patuh kepadanya, juga amat setia.

Semua rahasianya telah diketahui belaka oleh wanita itu sehingga kalau sampai Lestari terjatuh ke tangan orang lain, apalagi kalau terjatuh ke tangan musuh, sungguh amat berbahaya baginya.

Dan kini dia memperoleh dua macam kesenangan dari diri Lestari.

Kesenangan pertama yang tak pernah membosankan tentu saja pelayanan wanita itu terhadap dirinya.

Dan ke dua, yang kini merupakan kesenangan tersendiri baginya, adalah mendengar penuturan Lestari tentang tingkah laku Sang Pangeran dalam bercinta setelah wanita itu kembali dari pertemuannya dengan Pangeran!

Dan sekarang, dia terancam akan kehilangan semua itu!

Tentu saja Resi Mahapti menjadi gelisah.

Dia minta bantuan Resi Harimurti dan para jagoannya untuk mencari Lestari sampai dapat.

Di lain pihak, Pangeran juga mengutus Ki Durgakelana, Ki Warak Jinggo dan Ki Sarpo Kencono untuk mencari Lestari sampai dapat.

Akan tetapi, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ketika mereka sedang sibuk mengatur pasukan untuk mulai mencari keluar Mojopahit, mereka melihat kereta milik Resi Mahapati memasuki kota raja, dikusiri oleh Harwojo!

Kereta itu langsung menuju ke rumah gedung Resi Mahapati dan berhenti di depan pekarangan depan.

Harwojo dengan sigapnya lalu meloncat turun, membuka pintu kereta.

Tirai tersingkap dan.....

Lestari muncul dari dalam kereta, langsung lari memasuki rumah itu sambil menangis!

Resi Mahapati dan Sang Pangeran yang sepagi itu sudah berada pula di situ, menegur, akan tetapi Lestari tidak memperdulikan sama sekali kapada mereka,langsung saja lari menangis memasuki kamarnya!

Resi Mahapati terkejut bukan main.

Belum pernah Lestari bersikap seperti itu terhadapnya, apalagi terhadap Sang Pangeran yang hadir di situ.

Seolah-olah dia dan Pangeran tidak dianggap apa-apa oleh Lestari!

Resi Mahapati sudah melangkah ke depan menyambut Harwojo.

Pemuda itu kelihatan murung dan tenang.

"Anakmas Harwojo! Apa yang telah terjadi? Bagaimana Andika dapat membawanya pulang?"

Tanya Resi Mahapati dan Sang Pangeran juga berlari keluar.

Melihat Sang Pangeran berada pula di situ, hati Harwojo seperti ditusuk rasanya.

Lestari telah menjadi permainan dua orang laki-laki ini!

Resi Mahapati yang tak tahu malu, yang menjual selirnya kepada Sang Pangeran demi untuk mencari kedudukan dan untuk menjilat Sang Pangeran!

Dan Sang Pangeran, orang muda yang tak tahu malu, yang mau saja menerima hubungan itu di depan mata Resi Mahapati.

Dan betapa Lestari merasa tersiksa harus melayani dua orang pria yang sama sekali tidak dicintanya.

Kalau menurutkan hasrat hatinya, ingin rasanya dia menyerang dan membunuh dua orang pria yang telah menyiksa batin kekasihnya itu.

Akan tetapi Harwojo tahu diri, dia cepat berlutut dan menyembah ketika melihat Sang Pangeran.

"Ahh, kiranya Kakang Harwojo! Bagaimana engkau dapat membawa Lestari pulang, Kakang Harwojo? Ke mana saja dia pergi?"

Kalimat terakhir ini mengandung kecurigaan dan cemburu besar, dan sepasang mata Sang Pangeran ditujukan kepada Harwojo dengan tajam.

"Maaf, apakah boleh hamba bercerita di dalam saja?"

Jawab Harwojo ketika melihat betapa banyak orang ponggawa dan pengawal merubung pendopo itu untuk melihat kembalinya Lestari dan apa yang sebenarnya terjadi.

Juga mereka ingin sekali tahu ke mana perginya Darumuko yang tadinya mengusiri kereta itu.

Resi Mahapati maklum bahwa tentu telah terjadi sesuatu yang amat hebat, maka dia lalu mengangguk dan mempersilakan Sang Pangeran memasuki ruangan dalam,diikuti oleh dia dan Harwojo.

Setelah tiba di dalam, Resi Mahapati mempersilakan Sang Pangeran duduk, dan Harwojo yang agak pucat mukanya juga dipersilakan duduk.

"Nah, sekarang ceritakan, apa yang telah terjadi?"

Tanya lagi Sang Pangeran dengan tidak sabar dan matanya berkali-kali menengok ke dalam di mana Lestari tadi lari memasuki kamarnya.

"Kemarin pagi, selagi hamba berjalan di dekat pintu gerbang sebelah barat, hamba melihat kereta milik Paman Resi yang dikusiri oleh Kakang Darumuko lewat gerbang. Di samping Kakang Darumuko hamba melihat ada seorang laki-laki tinggi besar yang berpakaian seperti pengawal kerajaan, akan tetapi sikapnya amat mencurigakan. Juga di belakang kereta terdapat dua belas orang pengawal yang menunggang kuda,namun hamba sama sekali tidak mengenal seorang pun di antara mereka. Kecurigaan hamba makin keras, maka hamba lalu mencoba untuk mengejar kereta itu."

Harwojo berhenti sebentar sedangkan dua orang pendengarnya mendengarkan penuh perhatian.

"Karena kereta itu dan para penunggang kuda itu melarikan kuda amat cepat, sedangkan hamba hanya berjalan kaki, maka hamba tertinggal jauh. Hamba tetap mengejar dan akhirnya hamba melihat bekas tapak roda kereta memasuki hutan. Tentu saja hamba mekin curiga dan terus mengikuti jejak roda kereta itu. Akhirnya dari jauh hamba melihat kereta itu di tengah hutan....."

"Apa yang terjadi? Siapa mereka?"

Resi Mahapati bertanya dengan keinginan tahu yang memuncak.

"Ketika hamba tiba di sana,"

Kata Harwojo yang menunjukkan cerita itu kepada Sang Pangeran maka sikapnya masih terus menghormat.

"Hamba melihat Kakang Darumuko telah rebah dan tewas....."

"Ahh....!!"

Resi mahapati berseru dan mengepal tinju saking marahnya mendengar betapa orang kepercayaannya itu tewas.

"Teruskan..... teruskan....!"

Sang Pangeran mendesak, makin tertarik.

"Selain Kakang Darumuko yang sudah menggeletak tak bernyawa, di situ terdapat belasan orang kasar itu, sedangkan kepalanya yang bernama Suro Bargolo berada di dalam pondok bersama.... bersama di....... eh, bersama selir Paduka, Paman Resi!"

Harwojo masih ingat untuk mengurungkan sebutan "diajeng"

Terhadap Lestari.

"Lalu bagaimana? Apa yang dilakukan oleh si keparat jahanam itu?"

Sang Pangeran bertanya dengan mata terbelalak dan di dalam hati Harwojo terasa kenyerian yang membuat dia muak.

Selir orang yang terancam malapetaka, Sang Pangeran ini yang kebingungan seperti monyet kebakaran jenggot!

"Tidak apa-apa, atau belum, Gusti.

Memang keparat itu hendak melakukan perbuatan terkutuk terhadap di....

terhadap selir Paman Resi, akan tetapi hamba keburu datang dan mencegah perbuatannya itu.

Hamba bertempur melawan dia dan akhirnya hamba berhasil membunuh Suro Bargolo."

"Hemm, si kaparat! Sayang engkau telah membunuhnya, Harwojo. Kalau tidak, tanganku sendiri yang akan mencokel keluar sepasang matanya, merobek dadanya dan mencabut keluar jantungnya, memecahkan kepalanya dan mengorek keluar otaknya!"

Resi Mahapati berteriak, marah sungguh-sungguh.

"Bagus, Harwojo, bagus sekali engkau telah dapat membunuhnya. Ha-ha, aku pasti akan memberi hadiah besar kepadamu, Kakang Harwojo?"

Sang Pangeran berkata sambil tersenyum girang, puas dan lega hatinya mendengar bahwa kekasihnya selamat nyawanya, juga selamat pula kehormatannya.

Harwojo menghaturkan terima kasih dengan sembah.

Di dalam batinnya terjadi perang hebat.

Di satu pihak, dia adalah seorang hamba yang setia dari Mojopahit dan dia harus menjunjung tinggi Sang Pangeran Pati yang menjadi sesembahannya setlah Sang Prabu dan Sang Ratu Sri Indreswari.

Akan tetapi di pihak lain dia melihat Pangeran ini sebagai seorang di antara pria yang telah menyiksa batin kekasihnya!

"Anakmas Harwojo, aku pun amat berterima kasih kepadamu.

Lalu, bagaimana selanjutnya?"

"Ya, bagaimana lanjutannya, Harwojo?"

Sang Pangeran bertanya pula dengan suara halus dan ramah, suara seorang yang berterima kasih.

"Anak buah Suro Bargolo lalu mengeroyok hamba. Akan tetapi hamba berhasil membunuh beberapa orang di antara mereka dan mereka lalu melarikan diri sambil membawa mayat Suro Bargolo dan teman-teman mereka."

"Ah, kenapa tidak kau bunuh semua atau kau tangkap seorang di antara mereka hidup-hidup?"

Resi Mahapati bertanya.

"Kita harus mengetahui siapa yang menyuruh mereka Pasti ada yang menyuruh, kalau tidak, masa mereka berani memusuhi aku?"

"Hamba tidak dapat..... hamba terluka parah dan hamba terus pingsan,"

Kata Harwojo sambil menundukkan mukanya. Kini Resi Mahapati menggunakan pandang matanya yang waspada, memandang wajah orang muda itu.

"Hemm, agaknya Andika terkena pukulan yang ampuh, Anakmas Harwojo. Jangan khawatir, aku akan mengobatimu."

"Terima kasih, Paman Resi. Tidak perlu kiranya, sudah hampir sembuh. Memang hamba terkena pukulan ampuh dari senjata kolor Suro Bargolo."

Tiba-tiba Sang Pangeran berseru heran.

"Akan tetapi bukankah peristiwa itu terjadi kemarin pagi? Lalu kemarin siang, sore dan malam tadi...., mengapa kau tidak segera mengajak pulang Lestari?"

Mendengar pertanyaan Pangeran ini, Resi Mahapati juga memandang penuh kecurigaan.

Harwojo menundukkan mukanya.

Sukar baginya untuk menjawab.

Semalam?

Dia bermain cinta dengan Lestari!

Apa yang harus dijawabnya?

Pada saat itu, terdengar suara Lestari.

"Kakangmas Resi Mahapati! Gusti Pangeran! Harwojo telah mempertaruhkan nyawa untuk hamba, akan tetapi mengapa Paduka sekalian masih mencurigainya?"

Tiga orang itu memandang dan melihat Lestari muncul dari pintu dalam.

Dia telah berganti pakaian bersih dan indah.

Rambut yang disisir rapi dan biarpun wajahnya masih agak pucat, matanya sayu, mata orang yang kurang tidur, namun dia sudah kelihatan segar kembali.

Tadi dia diam-diam mendengarkan dari balik pintu dan mendengar Pangeran mendesak Harwojo dan bersikap mencurigai, dia cepat muncul dan mengeluarkan kata-kata itu.

"Dia hampir mati oleh luka-lukanya, pundaknya robek berdarah kena senjata, dia nyaris mati dan baru tadi pagi tadi dia sadar dari pingsannya terus mengantar hamba pulang. Kalau tidak ada dia, entah apa saja jadinya dengan hamba!"

Sang Pangeran bangkit dari tempat duduknya, melihat sinar matanya dan gerak-geriknya, ingin sekali dia menghampiri Lestari.

Kalau tidak ada orang lain di situ, tentu sudah ditubruknya wanita itu.

Akan tetapi dia malu terhadap Harwojo, maka dia duduk kembali.

"Hamba.... hamba luka parah, pukulan kolor itu amat dahsyat, hamba terluka di sebelah dalam dada, dan bacokan golok melukai pundak hamba..... harap ampunkan hamba yang tidak dapat mengantarnya kemarin....."

"Dia rebah pingsan, hampir mati, mana bisa mengantar hamba?"

Lestari berkata lagi. Resi Mahapati mengangguk-angguk.

"Sungguh besar jasamu, Anakmas Harwojo. Kami berterima kasih sekali."

"Kau pulanglah, Harwojo, dan nanti akan kukirim hadiah untukmu,"

Kata Pangeran.

Harwojo menghaturkan terima kasih menyembah dan mengundurkan diri tanpa berani melirik ke arah Lestari.

Sang Pangeran juga berpamit dan berpesan agar setelah lenyap kagetnya, Lestari suka datang ke istananya.

"Untuk menceritakan semua pengalamannya yang hebat itu", kata Sang Pangeran. Akan tetapi, Sang Pangeran terpaksa harus mengalami kekecewaan besar. Semenjak terjadinya peristiwa penculikan atas dirinya itu, Lestari tidak pernah lagi memenuhi panggilannya! Ada saja alasan yang dikemukakan oleh Lestari, sedang tidak enak badan dan sebagainya. Bahkan ketika secara terpaksa sekali, karena bujukan Resi Mahapati yang merasa khawatir sekali menyaksikan sikap selirnya itu, Lestari datang juga memenuhi panggilan ke istana Pangeran, dia tidak bersedia melayani gelora cinta Sang Pangeran, dengan alasan bahwa badannya tidak enak. Dia menerima cumbuan Sang Pangeran, akan tetapi hanya terbatas sampai di situ saja, dan minta tempo sampai lain kali kalau tubuhnya terasa sehat dan hatinya tidak dilanda ketakutan.

"Gusti, harap ampunkan hamba. Peristiwa tempo hari itu membuat hamba menjadi ketakutan setiap kali menghadapi rayuan pria. Kepala perampok itu amat kejam,amat mengerikan...."

Katanya sambil menangis dan terpaksa Sang Pangeran "melepaskannya".

Bukan hanya terhadap Sang Pangeran Lestari menghindarkan diri.

Juga terhadap Sang Resi Mahapati sendiri!

Dia tidak pernah mau melayani Sang Resi dengan alasan-alasan yang sama!

Dan kini dia lebih sering keluar dari rumah dan memang dia selalu memperoleh kebebasan dari Sang Resi.

Kemanakah dia pergi yang hampir dilakukan setiap hari dan paling lama dua hari sekali itu?

Kemana lagi kalau bukan mengadakan pertemuan dengan Harwojo!

Dan pemuda itu tidak mampu menolak permintaan Lestari untuk mengadakan pertemuan dan saling mencurahkan kasih sayang mereka.

Di dalam hutan itu!

Di dalam pondok bekas sarang Suro Bargolo itu, di mana mereka memadu kasih!

Makin dalam Lestari terbenam ke dalam kasih sayangnya terhadap pemuda itu.

Perasaan yang belum pernah dirasakannya dan yang membuatnya tersiksa setengah mati!

"Kakangmas, bawalah aku pergi....

tidak tahan lagi aku hidup di rumah Sang Resi.

Ketahuilah, semenjak pertemuan kita itu, aku selalu menghindarkan diri, aku selalu menolak kasih sayang Sang Resi maupun Sang Pangeran.....

dan aku takut bahwa aku tidak akan mungkin dapat menolak terus-menerus, Kakangmas...." (Lanjut ke

Jilid 33) Kemelut Di Majapahit (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 33 Harwojo mengelus rambut dari kepala yang bersandar pada dadanya.

Diciumnya dahi yang basah oleh keringat itu, di mana menempel anak-anak rambut dahi melingkar dengan indahnya, seperti dilukis.

"Lestari, mengapa engkau menolak mereka? Bukankah Sang Resi adalah suamimu dan bukankah sudah lama Sang Pangeran menguasai dirimu?"

"Kakangmas.....!"

Lestari menjerit kecil dan menangis sedih. Harwojo merangkulnya.

"Maafkan aku, sayang. Bukan maksudku untuk menyakiti hatimu, melainkan aku mengucapkan hal yang memang menjadi kenyataan, betapapun kenyataan itu selalu mengiris jantungku."

Lestari mengusap air matanya.

"Kakangmas, telah kuceritakan betapa dahulu aku menerima semua itu dengan batin tertekan. Betapa hanya tubuhku saja yang dapat mereka miliki, akan tetapi hatiku selalu kosong. Kemudian, setelah aku bertemu denganmu, Kakangmas, setelah aku menyerahkan badan dan hatiku kepadamu seorang, betapa mungkin lagi aku dapat melayani mereka atau siapapun juga di dunia ini? Tidak, aku lebih baik mati daripada harus membiarkan diriku dijamah oleh orang laki-laki lain!! Karena itu, bawalah aku pergi, Kakangmas......!"

Harwojo menggeleng kepala dan menarik napas panjang.

"Sukar bagiku untuk mengkhianati Mojopahit, Diajeng. Dan kalau aku membawamu pergi, melarikanmu,sudah pasti sekali aku akan dianggap sebagai seorang pengkhianat dan pemberontak."

"Aku tidak takut!"

Bentak Lestari.

"Aku pun tidak takut, Diajeng, aku tidak takut akan hukuman. Akan tetapi aku ngeri membayangkan bahwa aku telah menjadi pengkhianat dan pemberontak. Tidak,aku mau mati untukmu, akan tetapi jangan minta aku menjadi pengkhianat. Biarlah kita menyambung hubungan cinta kita sementara ini secara begini, sayang........."

"Akan tetapi engkau tidak tahu betapa hebat penderitaanku setelah aku harus berpisah darimu, setelah aku harus kembali ke rumah Sang Resi. Dan setiap waktu terancam bahaya! Aku tidak sudi lagi dijamah Sang Resi atau Sang Pangeran! Kakangmas, kasihanilah diriku."

"Aku cinta padamu, Diajeng, akan tetapi hal itu tidak mungkin....."

"Kalau begitu, dekaplah aku, peluklah aku sampai mati......!"

Lestari memeluk kekasihnya dan sambil menangis dan merintih dia dan Harwojo kembali saling mencurahkan cinta mereka dengan penuh kemesraan.

Matahari telah condong ke barat ketika keduanya terdengar bicara lagi, setelah untuk waktu yang agaknya tanpa batas itu mereka terlena setengah tidur dan setengah sadar, dalam ketenangan dan kedaimaian yang amat nikmat sehingga mereka lupa akan diri, lupa akan keadaan, lupa akan waktu dan lupa segalanya.

"Nimas, hari telah sore. Engkau harus kembali......"

Kata Harwojo, suaranya mengandung penuh perasaan sesal dan duka, seperti yang selalu dirasakannya kalau dia herus berpisah dengan kekasihnya itu biarpun hampir setiap hari dia dapat mengadakan pertemuan asyik dan masyuk dengan Lestari.

"Apa....? Hemmmmm....!"

Lestari menutupi mulutnya untuk menahan kuap dan kantuk.

"Sudah sore..... ahhh, biar saja, Kakangmas...."

Dia malah merangkul leher dan membenamkan mukanya di samping dada Harwojo.

"Eh, sudah menjelang senja, Jangan sampai kemalaman engkau pulang."

Harwojo mencoba hendak bangun, akan tetapi Lestari mempererat dekapannya, bahkan dia menarik leher pemuda itu dan mencium dengan penuh kemesraan.

Perasaan sayang yang amat besar datang mengakun, memenuhi dada Harwojo dan dia pun balas merangkul dan kembali keduanya tenggelam ke dalam buaian kasih sayang.

Mereka tidak sadar bahwa malam telah tiba, bahwa di luar sudah amat gelap dan lebih-lebih lagi, mereka tidak tahu betapa ada bayangan-bayangan banyak orang memasuki hutan itu dan menyelinap di antara pohon-pohon, mengurung pondok itu!

Sudah hampir dua bulan mereka sering mengadakan pertemuan di tempat ini dan merasa bahwa tempat itu amat aman dan bahwa tidak ada seorang pun yang tahu akan pertemuan itu.

Mereka tidak tahu bahwa peritiwa pulangnya Lestari dari hutan, lolosnya wanita ini dari malapetaka dan dari cengkeraman maut di tangan Suro Bargolo dan anak buahnya, disambut dengan tangan terkepal dan mata bersinar marah oleh Sang Ratu Sri Indreswari!

Apalagi ketika mendengar bahwa penyelamat wanita itu adalah pengawal kepercayaannya sendiri, Harwojo!

Akan tetapi tentu saja puteri ini tidak dapat melampiaskan kemarahannya secara terbuka.

Dia lalu memanggil pengawal yang diutusnya untuk membunuh Lestari itu, memarahinya karena kegagalannya, lalu memerintahkan untuk mencari jalan lain agar wanita itu dapat dilenyapkan dari muka bumi.

Pengawal itu menjadi ketakutan dan juga diam-diam dia marah kepada Harwojo yang telah menggagalkan rencana itu sehingga dia yang menerima kemarahan dari Sang Ratu.

Maka dia lalu menyebar para pembantunya untuk memata-matai Lestari,mencari kesempatan untuk melakukan siasat lain agar wanita itu dapat dibunuh sesuai dengan perintah Sang Ratu.

Dan ketika kaki tangannya membayangi Lestari itu, dengan sendirinya mereka melihat pertemuan-pertemuan mesra yang diadakan oleh Lestari dan Harwojo!

Cepat-cepat mereka lalu melapor kepada utusan Sang Ratu dan utusan itu menjadi girang sekali, cepat pula menyampaikan berita yang tak tersangka-sangka itu kepada Sang Ratu, yaitu bahea Lestari dan Harwojo telah saling jatuh cinta dan hampir setiap hari mengadakan pertemuan di dalam pondok bekas sarang Suro Bargolo itu!

"Ah, begitu ya?"

Sang Ratu Sri Indreswari mengosok-gosok kedua tangannya dengan girang sekali.

"Bagus, kalau begitu tidak perlu kita sendiri yang turun tangan melenyapkan wanita tak tahu malu itu. Biar pangeran sendiri melihat bepata perempuan hina yang memikat hatinya itu bukan lain hanyalah seorang pelacur! Dan biarlah Si Harwojo itu menerima bagiannya pula karena dialah yang telah menggagalkan rencana pertama kita!"

Ratu Indreswari yang cerdik itu lalu menyuruh orang-orangnya untuk menyampaikan berita ini kepada Resi Mahapati dan juga kepada Pangeran Kolo Gemet.

Menerima berita ini, baik Resi mahapati maupun Pangeran Kolo Gemat menjadi marah bukan main.

Kalau bukan utusan Sang Ratu yang menyampaikan berita itu, pasti telah mereka bunuh.

Mereka lalu mengadakan pertemuan dan keraguan mereka lenyap,kecurigaan mereka timbul karena mereka teringat betapa semenjak peristiwa penculikan itu, tidak satu kali pun Lestari pernah mau melayani Sang Resi maupun Sang Pangeran!

Demikianlah pada hari itu, ketika seperti biasa Lestari meninggalkan istana Sang Resi, sepasukan pengawal diam-diam membayanginya.

Mereka ini adalah utusan dari Pangeran Kolo Gemet.

Para pengawal itu bersembunyi dan melihat bepata Lestari memasuki hutan dan pergi ke pondok sunyi di tengah hutan itu.

Dan mereka melihat betapa di situ telah menanti Harwojo, betapa mereka berdua yang bertemu di depan pondok itu saling peluk, saling cium, kemudian sambil masih berpelukan meraka memasuki pondok!

Diam-diam pemimpin pasukan segera mengutus anak buahnya melapor kepada pangeran dan seorang anak buah lain disuruh melapor kepada Resi Mahapati.

Dua orang itu memang sedang menanti hasil penyelidikan para pasukan itu maka begitu menerima laporan, mereka lalu meninggalkan istana masing-masing dan bertemu di dalam hutan itu pada senja hari itu.

Kemudian, pangeran dan Sang Resi memimpin pasukan untuk mengepung pondok di mana dua orang yang sedang dibuai asmara itu sedang mencurahkan kasih sayang mereka dan melupakan dunia!

"Manis, malam telah datang.....

ah, lihatlah betapa gelapnya...."

Harwojo berkata, suaranya mengandung kekhawatiran.

"Ehmmmm......"

Lestari mengeliat, seperti seekor kucing malas bangun tidur dan jari tangannya meraba-raba wajah pemuda itu.

"Biar gelap, aku dapat mengenalmu, Kakang mas.."

"Hush, sudah gelap benar-benar...."

"Apa bedanya? Sejak tadi aku pun tidak pernah membuka mata...."

Lestari kini membuka matanya dan berkata.

"Ah, benar. Mengapa sudah gelap begini dan engkau belum menyalakan lampu?"

"Kau tidak ingat, minyak di lampu itu habis."

"Kalau begitu, biar gelap. Kita tidur...., aku lelah sekali.... hemmm...."

"Eh, jangan. Kita harus bangun, dan kau harus pulang. Mari kuantar....."

"Tidak, aku tidak mau pulang, Kakang mas. Aku ingin begini selamanya....."

"Diajeng...."

Tiba-tiba Harwojo menghentikan kata-katanya dan dia bangkit duduk, memasang telinga memperhatikan suara yang didengarnya di luar pondok.

"Kakang...."

"Sstttttt......!"

Harwojo mendekap mulut kekasihnya dan mendekatkan mulut ke telinga Lestari sambil berbisik.

"Aku mendengar suara.... kau jangan bergerak, biar kuselidiki......"

Lestari juga terkejut, bangkit duduk, matanya terbelalak mencoba menembus kegelapan dan melihat remang-remang bayangan kekasihnya menuju ke pintu pondok.

Sunyi sekali, sunyi yang amat menegangkan hati Lestari.

Tak lama kemudian dia melihat bayangan kekasihnya menyelinap masuk dan langsung merangkulnya.

Dada kekasihnya itu berombak, napasnya memburu dan kedua lengan yang memeluknya itu agak menggigil.

"Ada apakah....?"

Lestari berbisik. Sejenak Harwojo tidak menjawab, kemudian berbisik kembali.

"Kita celaka.... pondok sudah dikurung...."

"Siapa mereka, Kakangmas?"

"Agaknya para pengawal....."

Wajah Lestari menjadi pucat sekali, dia mencengkeram lengan pemuda itu.

"Kakangmas Harwojo, engkau adalah seorang yang mempunyai kepandaian, engkau tangkas dan gagah. Lekas kau melarikan diri, lekas....! Jangan sampai kau tertangkap...."

"Kau....?"

"Aku? Biarlah, jangan memikirkan aku, Kakangmas. Yang penting, engkau harus dapat melarikan diri....."

"Hemmm, kaukira aku dapat hidup tanpa engkau?"

"Jangan mengkhawatirkan aku..... mereka sayang padamu....., aku dapat menjaga diri dan diriku tidak penting.... ah, cepatlah kau larilah, Kakangmas, jangan pedulikan aku....."

"Tidak! Kalau aku dapat lari, engkau pun harus dapat lolos."

"Kalau begitu, mari kita terjang mereka! Mari kita keluar bersama, Kakangmas!"

Kata Lestari dengan suara gagah sedikit pun tidak merasa takut.

Bangkit semangat Harwojo oleh suara kekasihnya ini.

Dia membantu Lestari mengencangkan sabuk yang membelit pinggangnya, kemudian dia merangkul wanita itu dengan lengan kiri sedangkan tangan kanannya sudah menghunus kerisnya, siap untuk menerjang keluar.

Akan tetapi pada saat itu, nampak cahaya terang menerobos memasuki pondok.

Ketika dua orang di dalam pondok itu terkejut dan melihat dari celah-celah pintu bahwa cahaya itu adalah banyak obor yang dinyalakan orang, tiba-tiba mereka makin dikejutkan oleh suara yang amat mereka kenal.

"Harwojo pengkhianat dan pemberontak laknat! Hayo kau keluar dan merangkak di depan kakiku!"

Itulah suara Sang Pangeran! Lemaslah seluruh tubuh Harwojo mendengar suara junjungannya ini, tangannya yang merangkul pinggang Lestari menggigil.

"Lestari, perempuan rendah! Keluarlah engkau!"

Dan itu adalah suara Resi Mahapati!"

"Celaka.... Diajeng.... matilah kita..."

Melihat kekasihnya menggigil, Lestari segera merangkulnya.

"Engkau takut mati, Kakangmas?"

"Engkau tahu, aku tidak takut itu".. hanya".. ah, Gusti Pangeran di sana".. ah, aku menjadi pengkhianat".."

Pemuda itu terhuyung dan cepat Lestari merangkul dan menariknya kembali ke atas pembaringan.

Lestari mengambil keris dari tangan pemuda itu karena tangan itu menggigil.

Pemuda itu duduk di atas pembaringan, napasnya memburu dan tubuhnya lemas.

Lestari merangkulnya makin ketat, lalu berbisik di telinganya.

"Kakangmas Harwojo, apakah engkau cinta padaku, Kakangmas?"

"Masih tidak percayakah engkau, Nimas? Aku cinta padamu."

"Engkau mau mati untukku?"

"Setiap saat!"

Lestari menciumnya.

"Aku tidak minta kau mati untukku, Kakangmas, akan tetapi aku minta kepadamu, untuk penghabisan kali... harap kau jangan menolak..."

"Kau minta apa? Asal jangan menyuruh aku memberontak terhadap Gusti Pangeran."

"Aku tahu, aku sudah mengenal watakmu, Kakangmas, dan watakmu itu menambah kekagumanku kepadamu. Tidak, aku tidak minta agar kau meberontak. Aku hanya minta agar engkau suka menciumku.... ah, Kakangmas, untuk yang terakhir kali, cintailah diriku..."

Lestari sudah merangkul dan memaksa Harwojo rebah di atas pembaringan, menciumnya dan membelainya, tanpa memberi kesempatan kepada Harwojo untuk membantah lagi.

Dan Harwojo maklum bahwa pada saat terakhir itu, di mana keduanya pasti akan ditangkap, pasti akan saling berpisah, mungkin akan dihukum mati, kekasihnya ingin agar dia membuktikan cinta kasihnya.

Maka dia pun mengusir semua pikiran, merangkul wanita yang dicintainya itu sepenuh perasaan hatinya.

Di luar Sang Pangeran dan Sang Resi membentak-bentak menyuruh dua orang itu keluar dan menyerahkan diri.

Akan tetapi, Lestari dan Harwojo tidak memperdulikan, bahkan tidak mendengar suara mereka.

Terdengar Lestari terisak, merintih lalu merangkul ketat.

Harwojo terkejut, merasa dadanya basah.

Dia meraba dadanya, meraba dada kekasihnya dan dia hampir menjerit.

Di situ, di tengah-tengah dada Lestari, di antara sepasang bukit dada itu, tepat di ulu hati menancap keris tadi, menancap sampai ke gagangnya!

Dan yang basah-basah itu adalah darah yang masih mengalir keluar dari dada kekasihnya itu!

"Diajeng...!"

Dia berbisik, lehernya seperti dicekik rasanya. Lestari merintih lirih.

"Aku rela mati..... Kakangmas, aku mati dalam keadaan bahagia dan puas.... aku.... aku telah membuang semua dendam dan cita-cita... aku mati dalam cinta... ah, aku... aku mati bahagia, Kakangmas.... ahhh..."

"Diajeng Lestari...!!"

Kini Harwojo menjerit, suaranya menyeramkan, terdengar sampai keluar pondok.

Resi Mahapati menyerbu ke dalam, menendang pintu pondok sampai roboh.

Dia dan pangeran lalu masuk, didahului oleh beberapa orang pengawal yang memegang obor diatas kepala.

Banyak obor menerangi dalam pondok.

Resi Mahapati dan Pangeran Kolo Gemet menghampiri pembaringan di mana mereka melihat dua sosok tubuh itu dan mereka terbelalak!

"Jagat Dewa Bathara...!"

Resi Mahapati menggumam.

"Keparat jahanam.....!"

Sang Pangeran memaki penuh cemburu dan iri hati.

Mereka masih berpelukan, berselimutkan kain panjang Lestari yang penuh darah, mulut mereka saling berdekatan seperti tertidur karena kelelahan dan penuh kepuasan.

Lengan mereka saling rangkul penuh kemesraan, bahkan kaki kanan Lestari menggait kaki Harwojo seolah-olah dia tidak ingin melepaskan kekasihnya itu.

Dan keduanya telah tak berdaya lagi!

Keris yang menancap di dada kiri Harwojo masih dialiri darah yang memancur melalui gagangnya.

"Bakar pondok ini! Bakar semua!"

Perintah pengeran itu dengan penuh kegeraman, lalu ia melangkah keluar diikuti ileah Resi.

Mahapati setelah resi ini memeriksa dan mendapat kenyataan bahwa kedua orang itu memang telah mati.

Bahkan ia mencoba menarik lengan Lestari yang merangkul leher Harwojo, dan menarik lengan Harwojo yang merangkul pinggang Lestari, namun lengan-lengan itu ternyata telah menjadi kaku!

Resi Mahapati tidak berani membantah kehendak pangeran yang marah itu, maka dengan hati penuh duka dia melihat pondok itu dibakar dengan obor-obor para pengawal dan sebentar saja menjadi kobaran api yang menjulang tinggi, membakar semua yang berada di dalam pondok!

Namun diam-diam Resi Mahapati dapat menikmati kelegaan hatinya karena bersama matinya lestari, bersama lenyapnya wanita yang dicintainya itu, lenyap pula bahaya bahwa semua rahasianya akan diketahui orang lain karena Lestari merupakan satu-satunya orang didunia ini yang tahu akan semua rencana hidupnya yang dirahasiakan.

Pada saat api berkobar membakar pondok dimana terdapat jenazah Harwojo dan Lestari itu, tiba-tiba datang sepasukan pengawal utusan dari istana yang membawa kabar bagi sang Pangeran.

Tenyata bahwa penyakit yang diderita oleh Sang Prabu Kertarajasa Jayawardhana menjadi mekin berat dan kini keadaaan Sri Baginda menjadi gawat sehingga para isteri Beliau perlu untuk memberi tahu kepada seluruh keluarga dan tentu saja Sang Pangeran Pati merupakan orang pertama yang diberitahu dan dipanggil oleh ibu kandungnya.

Mendengar berita dan panggilan ini, Sang Pangeran terkejut dan cepat dia meninggalkan tempat itu diiringkan para pengawal menuju langsung ke istana Kerajaan Mojopahit.

Sedangkan Resi Mahapati juga cepat pergi meninggalkan hutan itu setelah meninggalkan pesan kepada beberapa orang pengawal untuk melanjutkan dan menjaga pembakaran pondok dan dua buah jenazah itu sampai habis.

Hatinya berdebar tegang.

Saat yang dinanti-nantinya agaknya telah mendekat.

Sang Prabu Kertarajasa Jayawardana sakit gawat!

Akan tetapi ketika tiba di dalam gedungnya, Resi Mahapati merasakan sesuatu kekosongan yang mencekam hatinya.

Kekosongan hidup tanpa adanya Lestari di sampingnya.

Ketika dia memasuki kamarnya, melihat pembaringan di mana biasanya Lestari menyambutnya dengan kedua lengan terbuka dan senyum menggairahkan, Sang Resi mengeluarkan keluhan lirih dan menjatuhkan diri menelungkup di atas pembaringan itu.

Sudah terlalu kuat dia mengikatkan diri kepada wanita itu sehingga kehilangan yang tiba-tiba ini amat berat dirasakannya.

Bukan hanya merasa kehilangan seorang wanita yang dapat menghibur hatinya, melainkan juga kehilangan seorang kawan seperjuangan, seorang pembantu yang mempunyai kecedikan yang dapat diandalkan!

Akan tetapi, kesedihan yang menggerogoti hati Sang Resi ini segera diusirnya.

Dia memiliki tugas yang lebih penting, cita-citanya belum terlaksana dan atau tidak adanya Lestari di sampingnya tidak akan merubah dilanjutkannya cita-cita itu!

Dia bangkit duduk, dan memanggil pengawal dan memerintahkan pengawal itu untuk segera memanggil Resi Harimurti yang menjadi pembantu utamanya.

Tak lama kemudian Resi Harimurti datang dan kedua orang resi itu lalu mengadakan perundingan di ruangan dalam, merundingkan keadaan Sang Prabu yang sakit gawat,dan tentang segala kemungkinan yang dapat terjadi apabila Sang Prabu meninggal dunia dan Sang Pangeran Pati menggantikan kedudukan Sang Prabu, kemungkinan tentang pergeseran dalam kedudukan-kedudukan para menteri dan senopati.

Mereka berdua sependapat bahwa satu-satunya orang yang memegang kekuasaan besar dalam pemerintahan adalah Ki Patih Nambi, oleh karena itu, mengingat bahwa Ki Patih Nambi tidak mungkin dijadikan sekutu mereka, maka harus dicari jalan untuk menyingkirkan Sang Patih itu.

"Dengan adanya Ki Patih Nambi, Andika tidak akan dapat leluasa bergerak, Adi Resi,"

Kata Resi Harimurti.

"Benar,"

Jawab Resi Mahapati sambil mengepal tinjunya.

"Hanya melalui mayat Si Nambi sajalah maka kita akan dapat memperoleh kedudukan yang paling tinggi dan dekat dengan Pangeran Kolo Gemet."

Dua orang resi yang memiliki kesaktian ini namun lemah terhadap nafsu keinginan mereka sendiri untuk memperolah kemuliaan dan kedudukan setingginya, mengadakan perundingan sampai jauh malam.

Sementara itu, menjelang tengah malam, terdengar jerit tangis di dalam istana.

Jerit tangis para wanita yang terdengar dari dalam kamar Sang Prabu Kertarajasa Jayawardhana telah meninggal dunia!

Pesan terakhir yang diucapkan oleh Sang Prabu itu kepada para isteri, anak dan para pembesar tinggi yang hadir adalah bahwa Sang Pangeran Kolo Gemet harus menggantikannya menjadi raja di Mojopahit, dan dia memesan kepada puteranya itu agar tetap mempertahankan kedudukan Ki Patih Nambi sebagai patih dan penasihat!

Pesan ini disaksikan oleh para isteri dan para ponggawa yang hadir sehingga biarpun di dalam hatinya Sang Pangeran tidak setuju untuk mempertahankan Ki Patih Nambi sebagai patihnya, namun tentu saja dia tidak berani membantah.

Seluruh Mojopahit berkabung atas kematian Sri Baginda Raja Kertarajasa Jayawardhana yang meninggal pada tahun saka 1231 {Masehi 1309}.

Jenazahnya dimakamkan di dalam sebuah pura yang dinamakan Antahpura dan sebagai peringatan didirikanlah arca Jina di dalam pura dan arca Sang Bathara Shiwa di samping.

{Baca tentang peristiwa ini dalam buku Menuju Puncak Kemegahan, sejarah Kerajaan Mojopahit tulisan Prof.

Dr.

Slamet Mulyono yang mengomentari tentang catatan-catatan dalam Kidung Ronggo Lawe, Kidung Sorandaka, Pararaton, Negarakretagama dan lain-lain, dari mana catatan sejarah dalam cerita ini diambil.} Akan tetapi di dalam perkabungan itu, terdapat pula banyak orang bergembira karena pengangkatan Pangeran Pati Kolo Gemet menjadi Raja Mojopahit menggantikan Sang Prabu Kertarajasa Jayawardhana telah mendatangkan keuntungan bagi mereka.

Mereka adalah para ponggawa yang tetap dalam kedudukan mereka, dan ponggawa-ponggawa baru yang diangkat atas pilihan Sang Pangeran dan tentu saja atas nasihat ibundanya, yaitu Sri Indreswari yang kini menjadi ibu suri!

Tentu saja banyak pula yang merasa kecewa, yaitu mereka yang tidak tercapai cita-citanya.

Di antara mereka yang kecewa ini terdapat Resi Mahapati.

Biarpun dia masih menjadi orang yang dipercaya oleh Sang Pangeran dan ibundanya, namun kedudukan yang diidam-idamkannya, yaitu menjadi patih, tidak dapat terlaksana oleh karena Ki Patih Nambi masih tetap menjadi patih, sesuai dengan pesan terakhir dari Sang Prabu yang telah meninggal dunia itu.

Pangeran Kolo Gemet kini menjadi raja di Mojopahit dengan julukan Sang Prabu Jayanagara.

Tentu saja, pengangkatan ini menimbulkan pertentangan yang diam-diam terjadi di antara keluarga kerajaan dan juga di antara para pembesar.

Para pembesar yang tua, mereka yang setia kepada darah keturunan Sang Prabu Kertanegara, diam-diam menentang pengangkatan Pangeran Kolo Gemet menjadi Raja Mojopahit.

Bagi mereka ini, raja yang sekarang diangkat ini bukanlah merupakan keturunan murni dari Sang Prabu Kertanegara, melainkan keturunan yang bercampur dengan darah Negara Melayu!

Dan hal ini benar-benar tak dapat mereka terima dengan senang hati!

Di samping itu, para ponggawa yang setia kepada darah keturunan murni dari Prabu Kertanegara tentu saja mengharapkan agar raja di Mojopahit adalah keturunan dari empat orang ratu yang lain, yaitu Sang Permaisuri sendiri, Dyah Tribuana, atau tiga orang saudaranya, yaitu Dyah Nara Indraduhita, Dyah Gayatri atau Dyah Jaya Indera Dewi.

Keturunan keempat orang puteri ini sajalah yang menurut mereka patut menduduki Mojopahit dan menjadi sesembahan mereka, bukan keturunan puteri dari Melayu!

Setelah Sang Prabu Jayanagara naik tahta, segera raja yang muda ini, atas nasihat dan desakan ibudannya, Sang Ibu Suri, mulai menjalankan "pembersihan"

Di kalangan ponggawa dan senopati!

Mereka yang dianggap berbahaya dan tidak setia terhadap kelompok mereka, segera digeser kedudukan mereka, bahkan banyak yang dibebas tugaskan!

Maka terjadilah geger akibat tindakan Sang Prabu Jayanagara ini!

Pemerintahan dilakukan dengan tangan besi dan siapa menentang tentu dibasmi!

Hal ini tentu saja membuat Ki Patih Nambi merasa bingung dan gelisah sekali.

Hanya berkat kebijaksanaan Ki Patih Nambi saja maka tindakan Sang Prabu yang masih muda itu tidak sampai berlarut-larut.

Dengan berani Ki Patih Nambi berusaha melunakkan perintah Sang Prabu dan karena KI Patih Nambi masih "diakui"

Dan pengangkatannya merupakan pesan terakhir dari mendiang Sang Prabu Kertarajasa Jayawardana, maka Sang Prabu yang muda itu tidak berani menekannya.

Betapapun juga, semenjak Sang Prabu Jayanagara naik tahta, Ki Patih ini mengalami guncangan-guncangan batin yang hebat sehingga tubuhnya menjadi kurus dan dia kelihatan lebih tua daripada usianya.

Dan harus diakui bahwa tanpa adanya Ki Patih Nambi yang bijaksana, agaknya perang saudara sudah pecah di Mojopahit setelah kematian Sang Prabu Kertarajasa, perang saudara memperebutkan kekuasaan.

Namun pengaruh dam kewibawaan Ki Patih Nambi masih terasa sehingga dialah yang dapat meredakan semua kemarahan dan dapat memadamkan api sebelum berkobar.

Betapapun juga, selalu terasa adanya ketegangan-ketegangan di Mojopahit dan agaknya Mojopahit masih belum terhindar dari kemelut yang masih selalu mengancamnya semenjak terjadinya pemberontakan Adipati Ronggo Lawe.

Atas usul Ki Patih Nambi pula, yang amat bijaksana dan yang ingin mencegah terjadinya pecah perang saudara yang pecah karena perebutan kekuasaan dari para keturunan raja dan juga atas persetujuan Ibu Suri Sri Indreswari, akhirnya dua orang puteri dari isteri-isteri mendiang Sang Prabu, keturunan dari Sang Prabu Kertanegara, oleh Sang Prabu Jayanagara diberi kedudukan.

Yaitu, puteri dari permaisuri, Dyah Tribuana, yang bernama puteri Tribuawanatunggaldewi, diangkat menjadi rani aiatu ratu di Kahuripan.

Sedangkan yang ke dua adalah Rajadewi Mahrajasa, puteri dari Sang Dyah Gayatri yang diangkatnya menjadi rani atau ratu di Daha.

Gelar atau julukan bagi kedua orang puteri ini adalah Bhreng Kahuripan dan Bhreng Daha.

Biarpun dengan cara demikian Ki Patih Nambi berhasil agak meredakan rasa penasaran, namun betapapun juga, Kahuripan dan Daha masih berada di dalam kekuasaan Mojopahit, dan Sang Prabu Jayanagara dengan jelas sekali memperlihatkan kekuasaannya yang mutlak atas kedudukan kedua orang saudara tirinya itu.

Ibu suri Sri Indreswari juga mempunyai banyak penasihat dan kaki tangan, di antara mereka terdapat pula Resi Mahapati yang dalam hal ini bertindak secara tidak resmi menjadi penasihatnya, melainkan hanya bertindak seolah-olah menjadi orang penengah, padahal Resi Mahapati inilah yang paling banyak memberi nasihat dan siasat kepada Sri Indreswari yang masih mengendalikan puteranya yang muda.

"Puteraku, kita harus melanjutkan cita-cita Kanjeng Ramamu yang ingin melihat Mojopahit tidak sampai terpecah-belah,"

Pada suatu hari Ibu Suri berkata kepada Sang Prabu Jayanagara.

"Dan hal itu baru dapat terlaksana kalau di antara keluarga keturunan Kanjeng Ramamu tidak sampai terpecah belah. Aku mendengar bahwa saudara-saudaramu yang menjadi rani di Kahuripan dan Daha, oleh ibu kandung masing-masing akan ditunangkan dengan orang lain. Hal ini berbahaya sekali, puteraku,karena kalau sampai ada orang lain yang menjadi suami mereka duduk di samping mereka, banyak terdapat bahaya perpecahan karena mereka tentu akan berdiri sendiri, dan kalau sampai Mojopahit terpecah belah, hal itu amat berbahaya."

Mendengar ini, Sang Prabu Jayanagara lalu cepat-cepat menemui dua orang saudara tirinya itu, dan dengan terang-terangan dia melarang mereka itu dijodohkan dengan dua orang lain dan menuntut agar rencana pertunangan itu dibatalkan!

Tentu saja Dyah Tribuana dan Dyah Gayatri mambantah.

"Perjodohan anak-anak kami berada sepenuhnya dalam tanggung jawab dan kewajiban kami yang menjadi ibu-ibunya,"

Kata Dyah Gayatri yang labih berani karena sesungguhnya Dyah Gayatri inilah yang menjadi kekasih mendiang Sang Prabu Kertarajasa sebelum Beliau tergila-gila kepada puteri Melayu Dyah Dara Petak atau Sri Indreswari yang kini menjadi ibu suri.

"Tidak demikian, Kanjeng Ibu. Kalau Paduka dan puteri Paduka itu bukan termasuk keluarga kerajaan kita, tentu saja sepenuhnya berada di tangan Paduka berdua yang menjadi ibu-ibu mereka. Akan tetapi, kedua orang puteri Paduka itu adalah keluarga kerajaan! Maka perasaan pribadi harus dikorbankan demi kebaikan keluarga kerajaan! Semua keluarga herus tunduk kepada peraturan kerajaan, dan sayalah yang berkuasa menentukan siapa-siapa yang boleh menjadi suami mereka! Saya melakukan ini pun bukan karena kepentingan pribadi, melainkan demi keutuhan Kerajaan Mojopahit!"

Betapapun mereka membantah, Sang Prabu Jayanagara akhirnya menang dan dua orang puteri itu tidak jadi ditunangkan.

Hal ini tentu saja menimbulkan perasaan tidak senang dan penasaran di kalangan mereka yang mendukung keturunan Raja Kertanegara.

Terdengarlah desas desus bahwa Sang Prabu Jayanagara melakukan perbuatan yang tidak senonoh terhadap kedua orang puteri yang menjadi saudara tirinya tunggal ayah lain ibu itu, bahwa Sang Prabu Jayanagara melarang perjodohan mereka karena Sang Prabu sendiri ingin memperisteri mereka!

Memang tuduhan semacam itu tidaklah terlalu berlebihan mengingat akan watak Sang Prabu yang masih muda dan yang terkenal suka mengejar wanita cantik itu.

Namun sesungguhnya, dasar yang kuat bagi keputusan Sang Prabu itu adalah karena seperti nasihat ibu kandungnya, dia tidak ingin melihat kelak akan terjadi perang saudara kalau dua orang saudara perempuan itu menikah dengan orang-orang lain dan kemudian kelak ingin berdiri sendiri terlepas dari wilayah dan kekuasaan Mojopahit.

Permusuhan terselubung dan kebencian makin memuncak.

Mojopahit mulai dilanda kemelut kembali, berupa pertentangan yang makin lama makin meruncing.

Semua ponggawa yang dipecat atau digeser oleh Sang Prabu Jayanagara, kini membanjiri Kahuripan dan Daha untuk menghambakan diri kepada Rani Kahuripan dan Rani Daha!

Dan keadaan Kahuripan dan Daha menjadi makin kuat saja.

Setiap malam, para pengawal yang mendukung Sang Prabu, mengadakan penjagaan ketat karena suasana yang tegang itu sehingga baik keadaan di Mojopahit sendiri,maupun di Daha dan Kahuripan, selalu seperti dalam persiapan perang!

Hal ini adalah karena terjadinya beberapa kali pembunuhan di waktu malam, tanpa diketahui siapa pembunuhnya dan yang mudah diduga bahwa tentu hal itu menjadi akibat daripada permusuhan antara para pengikut dua golongan yang diam-diam saling membenci itu.

Yang paling hebat menderita batin sebagai akibat keadaanini adalah Ki Patih Nambi!

Sebagai orang tengah dia merasa seperti berdiri di antara du api!

Di dalam lubuk hatinya dia memihak kepada para puteri Raja Kertanegara, akan tetapi karena kenyataannya yang menjadi Raja Mojopahit adalah Sang Prabu Jayanagara jeturunan Malayu, maka terpaksa dia harus setia kepada kerajaan, sebagai seorang patih yang berkedudukan tinggi!

Dia menjadi serba salah, dia tidak ingin mengkhianati Mojopahit, namun dia pun tidak ingin menentang keturunan Raja Kertanegara!

Berkat kepandaiannya mengambil hati, Sang Resi Mahapati dapat juga mengangkat dirinya sendiri ke tempat yang lebih tinggi.

Oleh Sang Prabu Jayanagara yang mengingat akan jasa-jasanya, terutama sekali mengingat akan mendiang Lestari, Resi Mahapati dinaikkan pangkatnya menjadi pendeta istana, menggantikan Pendeta Brahmorojo yang telah meninggal dunia karena tua.

Biarpun Resi Mahapati adalah seorang penyembah syiwa, namun kini dia menjadi kepala pendeta dan dialah yang mengatur dan menguasai semua pura-pura dan tempat-tempat sembahyang dan kekuasaannya makin besar saja di kalangan para pendeta, dan juga dalam istana.

Hanya satu orang saja selain Sang Prabu yang masih lebih tinggi kekuasaannya dari pada dia, yaitu Ki Patih Nambi.

Malam hari itu amat sunyi.

Seperti malam-malam yang lalu selama ini, suasananya amat tegang karena semua penjaga di Kerajaan Mojopahit selalu siap dan mangkhawatirkan terjadinya huru-hara.

Bukan hanya di Mojopahit, juga di Kahuripan dan Daha suasananya selalu tegang karena semua ponggawa maklum betapa di tempat mereka itu selalu penuh dengan mata-mata dari Mojopahit yang mengikuti gerak-gerik semua ponggawa di Kahuripan atau di Daha.

Hal itu bukanlah hanya dugaan semata.

Memang Ibu Suri Sri Indreswari selalu memperingatkan puteranya agar jangan lengah dan jangan melepaskan kedua orang puteri itu dari pengawasan yang ketat.

Oleh karena itu, Sang Prabu selalu memasang mata-mata di luar dan dalam keraton kedua orang saudara tirinya itu.

Di Kahuripan, yang menjadi kepala dari para penyelidik dan mata-mata adalah Resi Harimurti, sedangkan di Daha dipimpin oleh Ki Durgakelana.

Mereka ini selain menempatkan banyak pengawal untuk memata-matai dua tempat itu dan segala kegiatannya, juga mereka masih dibantu oleh orang-orang yang memiliki ilmu kesaktian.

Enam sosok berkelebat dengan gerakan cepat pada malam hari itu setelah mereka berhasil melewati penjagaan pintu gerbang di Kahuripan.

Mereka itu terdiri dari empat orang laki-laki setengah tua yang bersikap gagah perkasa, dan dua orang laki-laki muda yang tampan dan gesit gerak-gerik mereka.

Mereka berenam menyelinap di belakang sebuah pondok gelap dan berunding sambil berbisik-bisik.

"Harap Andika berdua hati-hati, kami berempat akan membayangi Andika berdua dari empat jurusan. Kami akan selalu menjaga dan melindungi,"

Bisik seorang di antara kakek gagah perkasa yang empat orang itu.

"Dan setelah berhasil, kita semua berkumpul di sini. Ingat, yang terpenting adalah Andika berdua harus berhasil dan tanpa ketahuan siapa pun. Rahasia itu harus kita lindungi dengan nyawa."

Lima orang itu mengangguk dan seorang di antara dua orang pemuda tampan itu berkata kepada pemuda ke dua.

"Marilah, Dimas. Engkau di depan, aku yang melindungimu."

Pemuda ke dua mengangguk dan mereka berdua lalu menyelinap di antara rumah-rumah penduduk, menuju ke istana Rani Kahuripan.

Sedangkan empat orang laki-laki setengah tua itu lalu berpencar, membayangi perjalanan dua orang muda itu dengan hati-hati dan waspada.

Siapakah mereka itu dan apa artinya sikap mereka yang penuh rahasia itu?

Mereka berenam itu datang dari Lumajang!

Mereka adalah utusan pribadi dari Sang Adipati Wirorojo di Lumajang.

Empat orang laki-laki setengah tua yang dipimpin oleh kakek berkumis tebal itu adalah bekas-bekas senopati Mojopahit yang kini menghambakan diri di Lumajang.

Kakek berkumis tebal itu adalah Panji Wironagari,sedangkan tiga orang temannya adalah Aryo Jangkung, Panji Samara, dan Aryo Teguh.

Dua orang pemuda itu adalah Sulastri yang berpakaian pria dan Raden Turonggo atau Raden Kuda Anjampiani, putera dari mendiang Adipati Ronggo Lawe, atau cucu dari Adipati Wirorojo di Lumajang!

Seperti telah diceritakan di bagian depan, keris pusaka Kolonadah akhirnya terdapat kembali oleh Sulastri yang merampasnya dari saudara kembar Murwendo dan Murwanti yang tewas dalam keributan ketika terjadi "pernikahan"

Antara Sulastri dan Joko Handoko.

Kemudian Sulastri menyerahkan keris pusaka itu kepada Sang Adipati di Lumajang.

Setelah itu dia bersama "suaminya", Joko Handoko dan Roro Kartiko tinggal di Kadipaten Puger, di mana Joko Handoko dan Roro Kartiko tinggal di Kadipaten Puger, di mana Joko Handoko dan Roro Kartiko diangkat anak oleh Sang Adipati di Puger, yaitu Sang Prabu Bandardento.

Ketika berita tentang meninggalnya Sang Prabu Kertarajasa Jayawardana sampai di Kadipaten Lumajang, berita itu diterima dengan tangis dan perkabungan oleh Adipati Wirorojo, dan para senopati yang dahulu menjadi pembantu-pembantu Sang Pabu itu ketika masih menjadi Raden Wijaya.

Kemudian, Adipati Wirorojo mengambil keputusan untuk menyerahkan keris pusaka Kolonadah kepada keturunan yang dianggapnya sebagai orang yang berhak menjadi Ratu Mojopahit, yaitu puteri mendiang Sang Prabu Kertarajasa yang lahir dari permaisuri, Dyah Tribuana, yaitu Sang Dyah Tribuwanatunggadewi!

Tentu saja seluruh tokoh Lumajang yang merasa penasaran dan tidak setuju pula dengan pengangkatan Pangeran Kolo Gemet menjadi Raja Mojopahit.

Maka Sang Adipati di Lumajang lalu mengutus cucunya sendiri, putera mendiang Adipati Ronggo Lawe, yaitu Raden Turonggo atau Kuda Anjampiani, untuk membawa keris pusaka peninggalan ayahnya itu, keris pusaka yang diperuntukan calon raja besar, untuk menyerahkan keris pusaka itu kepada keturunan langsung dari Sang Prabu dan mendiang Raja Kertanegara yaitu Sang Dyah Ayu Tribuwanatunggadewi yang kini menjadi Rani Di Kahuripan!

Mengingat bahwa penemu keris pusaka itu adalah Sulastri, dan mengingat pula akan kesaktian wanita perkasa itu, maka Sang Adipati Wirorojo lalu mengirim utusan ke Puger, memanggil Sulastri yang pernah menjadi perwira pengawal hasil sayembara dari Lumajang itu, dan minta bantuannya untuk menemani Raden Turonggo ke Kahuripan.

Selain Sulastri, juga Sang Adipati menunjuk empat orang pembantunya yang dipercaya, bekas senopati-senopati Mojopahit yang digdaya, yaitu Panji Samara, Panji Wironagari, Aryo Jangkung dan Aryo Teguh.

Demikianlah, malam hari yang sunyi itu, enam orang dari Lumajang ini memasuki Kahuripan dan dengan hati-hati mereka menuju ke istana Rani Kahuripan.

Mereka terpaksa mengambil jalan malam untuk memasuki tempat itu karena mereka tahu bahwa Kahuripan, seperti juga daerah lain, dijaga ketat dan penuh mata-mata dari Mojopahit.

Maka, mengunjungi tempat itu di siang hari amatlah berbahaya dan mengingat bahwa Raden Turonggo dan Sulastri membawa benda keramat yang amat berharga, maka mereka berlaku hati-hati agar benda itu jangan sampai dilihat orang lain dan dapat dengan selamat disampaikan kepada Rani Kahuripan.

Ketika Sulastri dan Raden Turonggo sedang menyelinap di antara bayangan-bayangan rumah dan pohon, tiba-tiba Sulastri melihat bayangan berkelebat di sebelah belakang, kanan dan kiri.

Dia terkejut.

Itulah bayangan orang-orang pandai,pikirnya.

Dan mereka telah tiba di dekat istana Rani di Kahuripan.

Karena curiga, Sulastri menggunakan kepandaiannya, menyusul Raden Turonggo yang berjalan di depan, menyentuh lengan pemuda itu dan memberi isyarat untuk bersembunyi di balik batang pohon yang gelap.

"Sttt, Dimas Turonggo... hati-hati, ada orang membayangi. Biarlah aku memancing mereka semua dan membikin ribut, agar para penjaga di pintu gerbang istana itu tertarik perhatian mereka pula. Setelah semua penjaga lari dan menyerbu ke tempatku, barulah Andika menyelinap masuk. Hati-hati, belum tentu para pengawal istana itu adalah orang-orang yang setia kepada Gusti Puteri. Sebaiknya Andika jangan sembarangan mempercaya orang dan menangkap seorang dayang saja,memaksanya agar membawa Andika menghadap sendiri kepada Gusti Puteri."

Raden Turonggo mengangguk maklum dan Sulastri berbisik-bisik memberi petunjuk kepada pemuda itu di mana dia harus bersembunyi dan menanti saat dan kesempatan baik untuk menyelinap masuk ke dalam istana tanpa diketahui orang lain.

Setelah pemuda itu mengerti dengan jelas dan sudah siap, Sulastri lalu meninggalkan tempat persembunyian itu, dengan sengaja dia melompat ke arah lain, bahkan sengaja pula memperlihatkan diri di bawah sinar penerangan bintang-bintang di angkasa.

Dia melihat bayangan dari kanan berkelebat, lalu terdengar bunyi bersuit nyaring, susul-menyusul.

Sulastri tersenyum, lalu dia mempergunakan kepandaiannya untuk bergerak cepat sekali, berkelebat beberapa kali di depan gardu penjagaan pintu gerbang istana.

"Hordah! Siapa itu?"

Bentak Si penjaga yang bertugas menjaga di depan gardu,sambil melintangkan tombaknya.

Akan tetapi, tanpa menjawab Sulastri sudah berlari pergi.

Terdengar suara gaduh di dalam gardu penjagaan itu dan enam orang penjaga yang tadinya berada di dalam gardu kini keluar semua dengan tombak di tangan dan golok di pinggang.

Akan tetapi, Sulastri sudah berlari jauh, sengaja menjauhi pohon di mana Raden Turonggo bersembunyi.

Dara perkasa itu maklum bahwa ada bayangan yang gerakannya amat cepat kini membayanginya dari dekat, maka sambil berlari, Sulastri menyambar beberapa buah batu di bawah kakinya, kemudian setelah melihat bahwa selain bayangan yang amat cepat itu di belakangnya itu ada pula bayangan beberapa orang di sebelah kiri, dia lalu menggerakkan tangan sambil membalikkan tubuhnya.

Beberapa sinar hitam dari batu-batu yang disambitkannya itu menyambar ke arah belakangnya dan ke sebelah kirinya.

"Aduh...!"

Terdengar suara orang memekik, tanda bahwa sebuah di antara batu-batu itu mengenai sasarannya.

"Hai keparat, berhenti kau!"

Terdengar bentakan orang dan tahu-tahu ada bayangan berkelebat cepat sekali disusul suara ledakan nyaring.

"Tar-tar-tarrr...! Sulastri terkejut sekali, cepat dia melempar tubuh ke belakang sambil berjungkir balik dan ketika dia sudah berdiri tegak lagi, dia melihat seorang kakek yang gagah berdiri di depannya. Seorang kakek berusia enam puluh tahun lebih namun masih nampak gagah, pakaiannya indah, kumis dan jenggotnya terpelihara rapi, tangan kanan memegang sebatang pecut sapi yang panjang dan tangan kirinya memegang kipas bambu bundar, kakek yang dikenalnya karena kakek ini bukan lain adalah Resi Harimurti yang sakti! Resi Harimurti memandang tajam dan dia segera mengenal "pemuda"

Itu dan teringatlah dia akan penuturan Resi Mahapati bahwa pemuda ini yang pernah dia tandingi sesungguhnya adalah seorang wanita.

Maka dia lalu tertawa, karena dia sudah mendengar pula bahwa wanita perkasa yang menyamar sebagai pemuda ini kabarnya telah menjadi seorang pembantu Adipati Lumajang.

"Ha-ha-ha, kiranya engkau, bocah keparat! Sekarang engkau muncul sebagai mata-mata Lumajang, ya? Ha-ha, sayang sekali, engkau cantik manis dan gagah perkasa, kalau engkau suka menyerah kepadaku, hemm... aku suka menarikmu menjadi pembantuku dan teman baikku. Bukankah namamu Sulastri dan engkau murid mendiang Empu Supamandrangi di puncak Bromo?"

Sejak tadi Sulastri sudah memandang dengan sepasang mata yang bernyala-nyala.

Inilah musuhnya!

Inilah dia orang yang telah membunuh gurunya di Bromo!

Dan kini jahanam ini masih berani menyebut-nyebut nama gurunya yang telah dibunuhnya secara keji!

Dendam dan kemarahan yang berkobar di dalam dada Sulastri membuat dia lupa akan tugasnya sebagai utusan Lumajang yang harus menemani Raden Turonggo menyerahkan keris pusaka kepada Dyah Tribuwanatunggadewi, Rani Kahuripan.

Kini yang nampak di depan mata dan di dalam hatinya hanyalah Resi Harimurti pembunuh gurunya yang harus dibalasnya, yang harus dibunuhnya!

"Resi Harimurti keparat jahanam engkau!

Engkau telah membunuh guruku secara curang dan licik!

Terimalah pembalasanku, keparat!"

Sulastri mencabut kerisnya.

"Ha-ha-ha, sedangkan gurumu sendiri mampus di tanganku, apalagi engkau yang hanya muridnya, dan seorang gadis muda pula! Ha-ha, Sulastri, bukankah lebih baik engkau menyerah saja dan bersenang-senang dengan aku?"

"Resi cabul yang jahat!"

Sulastri memaki dan dia sudah meloncat dengan terjangan dahsyat menggunakan keris di tangan kanan untuk menusuk ke arah dada Sang Resi.

Hebat bukan main terjangan Sulastri ini, karena kemarahan telah membuat dia buas seperti seekor harimau betina diganggu anaknya.

Dia melompat dengan aji kesaktian Turonggo Bayu, kecepatannya seperti kilat menyambar dan tahu-tahu dia telah menerjang dan keris itu telah menyambar ke arah dada lawan.

"Uhhh!!"

Resi Harimurti mengenal gerakan sakti yang amat berbahaya, maka dia cepat menggerakkan tubuhnya mengelak miring dan kipasnya menyambar dari samping untuk menangkis tusukan keris itu.

"Wuuuttt... plak... wirrr...!"

"Ehhh...?"

Resi Harimurti kini terkejut bukan main.

Kipasnya memang berhasil menangkis keris itu, akan tetapi secara cepat bukan main, tangan kiri dara itu sudah menyambar ke arah kepalanya dengan tamparan yang mengandung hawa panas sekali.

Memang tamparan ini bukan tamparan biasa dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan, karena dara itu telah mengerahkan ajinya Hasto Nogo yang berada di tangan kirinya.

Tamparan itu ampuh sekali dan biarpun Resi Harimurti merupakan seorang yang sakti, namun kalau kepalanya sampai terkena tamparan itu, agaknya dia tidak mampu menyelamatkan nyawanya.

Dia pun maklum akan hal ini, maka dia cepat melempar tubuh ke belakang sehingga dia seperti orang terjengkang lalu dia menggelundung ke belakang dan melihat dara itu mendesaknya, dia cepat menggerakkan cambuknya.

"Tar-tar-tarrrr...!"

Pecut sapi yang panjang meledak-ledak dan menyambar-nyambar, dan Sulastri terpaksa mengelak dan berusaha untuk menangkap ujung pecut itu.

Resi Harimurti menarik kembali pecutnya sambil meloncat berdiri.

Mereka berhadapan seperti dua ekor ayam aduan saling menaksir kekuatan lawan, mata mereka menembus kegelapan remang-remang yang hanya diterangi oleh bintang-bintang di langit dan sedikit cahaya penerangan dari samping istana yang dapat mencapai tempat itu.

Keduanya tidak mengeluarkan kata-kata, maklum bahwa saat bagi mereka untuk bertempur mati-matian telah tiba.

Resi Harimurti maklum bahwa murid dari mendiang Empu Supamandrangi ini tentu akan berusaha keras untuk membunuhnya,untuk membalas kematian gurunya itu.

Dan dia pun maklum bahwa dia harus mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk membunuh wanita ini, kalau sekiranya dia tidak mampu menawannya, hal yang dia tahu bukannya mudah.

Wanita ini hebat, pikir Resi Harimurti.

Sayang kalau Cuma dibunuh begitu saja.

Memang Sang Resi ini mempunyai kelemahan, yaitu mata keranjang.

Belum pernah dia mendapatkan seorang wanita gagah perkasa seperti dara yang kini berdiri di depannya seperti seekor singa betina ini, dan timbul keinginannya untuk memperoleh dara ini, untuk menawannya dalam keadaan hidup-hidup agar dia dapat mempermainkannya dan dapat melampiaskan gairah keinginannya!

Maka diam-diam dia lalu mengerahkan aji kesaktiannya, pandang matanya mencorong seperti mata harimau, mulutnya berkemak-kemik membaca mantera, seluruh kekuatan batinnya dikerahkan kepada pandang matanya dan kepada suaranya ketika dia berkata.

"Sulastri, bocah ayu, berlututlah kau, mengapa kita harus saling bertempur? Kita adalah sahabat baik, aku tidak akan memusuhimu, sayang, berlututlah dan aku akan menyenangkan dirimu...."

Suara itu mengandung bujukan yang luar biasa manisnya, bukan bujukan biasa melainkan bujukan yang didorong oleh aji kesaktian, kekuatan guna-guna.

Kepandaian ini didapatnya dari Ki Durgakelana, khusus dipelajarinya untuk menundukkan wanita!

Karena Resi Harimurti memang seorang gemblengan seorang pertapa yang memiliki kekuatan batin yang sudah hebat, maka aji guna sakti itu dengan mudah saja dapat dia kuasai setelah dia belajar dari temannya, yaitu Ki Durgakelana yang kini juga menjadi anak buah Resi Mahapati dan diangkat menjadi tangan kanan Sang Pangeran yang kini telah menjadi raja itu.

Akan tetapi, betapa kaget dan herannya ketika dia melihat wanita muda itu tersenyum mengejek, dan terdengar Sulastri berkata.

"Resi dukun lepus, hentikan badutanmu! Neraka jahanam sudah terbuka untukmu, dan kau masih hendak membadut?"

Setelah berkata demikian, gadis itu menerjang lagi, bagaikan seekor burung garuda menyambar-nyambar dia menerjang resi itu secara bertubi-tubi, dengan keris di tangan kanan dan pukulan Hasto Nogo di tangan kiri!

Resi Harimurti terkejut dan cepat dia mengelak atau menangkis dan mereka bertempur dengan amat seru dan hebatnya.

Tubuh mereka sampai lenyap ditelan kegelapan remang-remang itu dan yang terdengar hanya bentakan-bentakan mereka dan suara keris di tangan Sulastri bertemu dengan kipas lawan atau suara ledakan-ledakan pecut di tangan Resi Harimurti.

Sesungguhnya, bukan karena aji kesaktian berupa guna-guna yang dikerahkan Resi Harimurti tadi kurang kuat.

Andaikata Sulastri masih seperti dulu, mungkin saja dia akan celaka oleh kekuatan guna-guna itu.

Tadi pun Sulastri sudah merasa betapa seluruh tubuhnya menjadi lemas ketika Sang Resi menyerangnya dengan ilmu sihir itu.

Akan tetapi, dia cepat mengerahkan aji penolakan yang telah dipelajarinya selama dia berada di Kadipaten Pager!

Sang Prabu Bandardento adalah seorang yang ahli dalam hal ilmu-ilmu seperti itu, dan Sang Prabu Bandardento telah mengajarkan ilmu-ilmu ini kepada kedua orang anak angkatnya dan tentu saja Sulastri yang dianggap sebagai "mantunya"

Juga menerima pelajaran itu.

Karena Sulastri memiliki kekuatan batin yang lebih unggul daripada Joko Handoko dan Roro Kartiko, maka Sulastri dapat lebih dulu menguasai ilmu-ilmu itu sehingga ketika dia diserang oleh Resi Harimurti dengan ilmu sihir, dia dapat menolaknya dengan mudah.

Pertempuran antara kedua orang sakti ini hebat bukan main.

Sulastri mengamuk seperti seekor naga sakti, gerakannya dan terjangannya amat kuat dan mendatangkan angin menyambar-nyambar sehingga daun-daun pohon di sekeliling tempat pertempuran itu bergoyang-goyang.

Dia kini menggabungkan ilmu-ilmu yang pernah dipelajarinya dari Empu Supamandrangi dengan ilmu-ilmu aneh yang pernah dipelajarinya dari gurunya yang pertama, yaitu Ki Jembros.

Dan selama di Puger, setiap hari dia melatih diri, bukan hanya untuk membimbing Roro Kartiko, akan tetapi terutama sekali untuk mematangkan kepandaiannya sendiri, untuk memperkuat dirinya karena dia telah mempersiapkan diri untuk menghadapi musuh-musuhnya yang tangguh, di antaranya adalah Resi Harimurti ini yang telah membunuh gurunya.

Dia sudah mendengar pula akan kematian gurunya yang pertama, yaitu Ki Jembros yang mati dalam pengeroyokan tiga orang kakek itu, Resi Mahapati, Resi Harimurti, dan Empu Tunjungpetak yang tewas sampyuh bersama Ki Jembros.

Maka, tidak pernah terlupa dalam hati Sulastri untuk sewaktu-waktu menghadapi Resi Mahapati, Resi Harimurti, dan...

Sutejo!

Kini, ketika dia melaksanakan tugas yang diserahkan oleh Adipati Lumajang kepadanya, secara tak terduga-duga dia telah bertemu dengan Resi Harimurti di tempat ini, maka tentu saja kemarahannya berkobar dan dia lupa segala, yang diingatnya hanyalah bahwa resi ini adalah seorang di antara musuh-musuhnya yang harus dia binasakan untuk membalas kematian dua orang gurunya!

Resi Harimurti adalah seorang pertapa yang tinggi sekali ilmu kepandaiannya.

Dibandingkan dengan Resi Mahapati sendiri, agaknya tingkat kepandaiannya tidak akan kalah.

Akan tetapi, resi ini seperti juga Resi Mahapati, telah menjadi hamba dari nafsu-nafsunya sendiri, selalu mengejar kesenangan sehingga kekuatan mereka banyak berkurang.

Apalagi, usia mereka juga makin tua dan hal ini tentu saja juga mengurangi daya tahan mereka.

Terlalu banyak pelesir dan bersenang-senang membuat mereka lengah dan lalai, membuat mereka malas untuk berlatih sehingga mereka berdua pun banyak kehilangan kegesitan mereka.

Selain itu, juga tadinya Resi Harimurti memandang rendah kepada Sulastri yang dianggap hanya seorang perempuan muda yang betapa pun pandainya tidak mungkin dapat menandinginya.

Maka,kini setelah Sulastri menyerangnya dengan dahsyat, bertubi-tubi dan dengan semangat penuh, dia terkejut sekali dan terdesak hebat!

Memang hebat sekali sepak terjang gadis itu.

Dia mengamuk, gerakannya makin cepat, setiap tusukan kerisnya dan tamparan tangan kirinya merupakan serangan-serangan maut yang amat dahsyat, bahkan sambaran kakinya juga amat berbahaya, selalu tertuju kepada bagian-bagian tubuh yang berbahaya dari lawannya.

Kini Resi Harimurti terpaksa memutar pecutnya lebih gencar dan lebih cepat sehingga senjatanya ini berubah menjadi segulung sinar yang luas, yang melindungi tubuhnya, akan tetapi senjata ini lebih banyak menjadi senjata pelindung diri dan penahan daripada menjadi senjata penyerang.

"Resi keparat, mampuslah!"

Bentak Sulastri dan dia menerjang dengan lompatan seperti seekor harimau.

Cambuk panjang itu memapakinya, meledak dan menyambar ke arah mukanya.

Sulastri tidak membatalkan serangannya, tubuhnya masih menerjang, tangan kirinya diangkat menangkis cambuk.

"Tarrrr...!"

Cambuk itu meledak, tertangkis tangan kiri dan ujungnya mematuk pundak Sulastri.

"Brettt...!"

Baju gadis itu robek tertusuk atau terpatuk ujuang cambuk, akan tetapi aji kekebalan Trenggiling Wesi melindungi kulitnya sehingga ujung cambuk membalik ketika merobek baju dan bertemu dengan kulit pundak yang halus putih itu.

Resi Harimurti terkejut sekali melihat gadis itu tidak apa-apa terkena hantaman ujung cambuknya, bahkan keris di tangan gadis itu terus meluncur ke arah ulu hatinya.

"Aihhhh... prakkkk!!"

Kipasnya menangkis cepat dan tangannya terasa gemetar,kipasnya pecah di tengah-tengah tubuhnya terhuyung ke belakang.

"Majuuu...! Serbuuuuu...!"

Pekiknya ketika dia melihat lawannya masih mendesak terus, sambil memutar cambuknya melindungi dirinya.

Para pengawal yang tadi hanya menonton saja, ketika melihat Sang Resi terdesak dan mendengar aba-aba itu cepat bergerak maju dengan tombak dan golok mereka,mengeroyok Sulastri!

Gadis ini marah sekali, keris dan tangannya bergerak,disusul gerakan kakinya menendang.

Tendangannya hebat, kakinya dapat menyentuh dagu lawan dan dalam segebrakan saja, seorang pengeroyok roboh tertusuk keris,dua orang roboh terpelanting tersambar pukulan Hasto Nogo dan dua orang lain terpelanting karena dicium tumit kakinya yang halus namun sekuat baja itu!

Akan tetapi, Resi Harimurti sudah menyerangnya lagi dibantu oleh para anggauta pasukannya dan tentu saja Sulastri kini terdesak hebat.

Pada saat itu, kepungan ketat itu membuyar dan terdengar teriakan-teriakan keras.

Empat orang laki-laki yang gagah perkasa sudah menyerbu masuk membantu Sulastri.

Mereka ini bukan lain adalah Panji Wironagari, Panji Samara, Aryo Jangkung, dan Aryo Teguh!

Melihat mereka ini, Resi Harimurti membentak keras.

"Pemberontak-pemberontak hina! Kalian berani mengacau di sini!"

Tidak lekas berlutut dan menyerah?"

Panji Wironagari tertawa lebar.

"Ha-ha-ha, Resi keparat! Engkau adalah pendatang baru kaki tangan Mahapati, engkau adalah penjilat kotor yang hendak mencari kedudukan dengan kecuranganmu. Manusia macam engkau yang baru saja masuk Mojopahit berani mengatakan kami pemberontak? Bedebah, engkaulah yang harus mati sebagai seorang pengacau Mojopahit!"

Empat orang bekas senopati Mojopahit itu kini mengamuk dengan hebatnya, bahkan mereka berusaha untuk mengeroyok Resi Harimurti.

Akan tetapi, kini semua anak buah Resi Harimurti yang berada di Kahuripan telah berdatangan, jumlah mereka amat banyak sehingga Sulastri dan empat orang tokoh Lumajang itu menjadi kewalahan, menghadapi pengeroyokan yang banyak sekali dan mereka terkepung secara ketat!

Sementara itu Raden Turonggo atau Kuda Anjampiani telah menyelinap masuk ketika Sulastri mulai bertanding melawan Resi Harimurti tadi.

Munculnya gadis perkasa itu menarik perhatian para penjaga sehingga dengan mudah Raden Turonggo meloncat masuk, menyelinap di antara bayang-bayang pohon menuju ke istana Rani Kahuripan.

Dia melihat banyak pengawal berlari keluar, maka dia menyelinap melalui pinggir istana, kemudian terus menuju ke belakang melalui taman sari dari istana itu.

Di belakang, dia melihat seorang dayang sedang lewat, maka dia meloncat dan tahu-tahu telah berdiri di depan dayang itu.

Wanita ini terkejut, akan tetapi sebelum sempat menjerit, Raden Turonggo telah menggerakkan tangan mendekap mulut wanita itu, lalu berbisik.

"Manis, harap jangan berteriak. Aku bukanlah penjahat, aku adalah Raden Turonggo, cucu Sang Adipati di Lumajang. Aku datang untuk menghadap Gusti Rani, maka harap kau suka mengantarkan aku menghadap Beliau. Lihat di luar terjadi pertempuran. Mereka adalah sahabat-sahabatku, orang-orang Lumajang bertempur dengan mata-mata dari Mojopahit. Maka, cepatlah antar aku menghadap."

Wanita dayang itu memandang wajah yang tampan itu.

Dia adalah seorang pelayan yang setia maka tentu saja dia tahu bahwa orang-orang Lumajang adalah pendukung-pendukung yang setia dari Gustinya, maka dia mengangguk.

Raden Turonggo melepaskan dekapan tangannya, lalu dia mengikuti dayang ini memasuki pintu menuju ke dalam istana dari pintu belakang.

Dayang itu membisikkan kepada dayang-dayang lain yang bertugas di dalam.

Tak lama kemudian, Raden Turonggo dipersilakan masuk ke dalam sebuah ruangan di mana Rani Kahuripan, yaitu Sang Dyah Ayu Tribuwanatunggadewi telah duduk menanti.

Ketika pemuda itu melihat Sang Ratu yang masih muda dan amat cantik jelita dan agung, dia cepat menjatuhkan diri berlutut dan menyembah dengan penuh khidmat.

Terdengar olehnya suara halus Sang Puteri.

"Apakah Andika datang dari Lumajang? Siapakah Andika dan ada keperluan apakah mohon menghadap padaku di saat malam begini?"

Raden Turonggo menyembah lagi.

"Mohon beribu ampun atas kelancangan hamba. Hamba adalah utusan dari Lumajang, hamba bernama Turonggo dan hamba adalah cucu dari Sang Adipati di Lumajang..."

"Ahh...? Cucu Sang Adipati di Lumajang? Masih terhitung apakah dengan mendiang Paman Ronggo Lawe?" (Lanjut ke

Jilid 34) Kemelut Di Majapahit (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 34

"Beliau adalah Ayah hamba..."

"Ohh...! Kalau begitu, majulah mendekat, Turonggo,"

Kata Sang Puteri, suaranya terdengar makin ramah dan halus.

Raden Turonggo lalu merangkak mendekat, lalu duduk bersila di depan ratu itu.

Sejenak Sang Ratu yang masih muda dan seorang dara itu memandang wajah yang menunduk itu, kemudian dia menarik napas panjang dan berkata.

"Betapa sedih hatiku kalau teringat kepada Paman Ronggo Lawe. Dan Andika adalah puteranya! Tahukah Andika betapa dahulu, di waktu aku masih kecil, Paman Ronggo Lawe sering mengajakku bermain-main, bahkan dia yang mengajarku menunggang kuda? Ahh... semua itu hanya tinggal kenangan. Turonggo, engkau menjadi utusan Sang Adipati di Lumajang? Apakah tugas yang kau bawa?"

Raden Turonggo menyembah.

"Pertama-tama, hamba menjunjung perintah Kakek Adipati untuk menyampaikan sembah sungkemnya dan doa restunya kepada Paduka..."

"Terima kasih... sungguh dia seorang tua yang amat baik dan setia..."

"Dan kedua kalinya, Beliau mengutus hamba untuk menyerahkan sebuah pusaka kepada Paduka, yaitu pusaka Kolonadah ..."

Sang Puteri terkejut dan terbelalak.

"Keris pusaka Kolonadah yang diperebutkan itu? Aku sudah mendengar akan keributan yang terjadi karena keris itu, Turonggo. Bukankah itu keris peninggalan Ayahmu sendiri?"

"Benar, Gusti,"

Kata Turonggo sambil menyerahkan bungkusan kuning yang terisi keris Kolonadah kepada Sang Puteri.

Sang Dyah Tribuwanatunggadewi menerima keris itu dengan keraguan, membuka kain kuning itu dan memandang keris pusaka yang bersarung kayu cendana dan terletak di atas pangkuannya itu dengan alis berkerut.

"Akan tetapi... mengapa diberikan kepadaku? Bukankah... Sang Prabu sendiri menghendaki keris ini... dan bukankah keris ini dahulunya milik mendiang Ayahmu sehingga sudah sepatutnya kalau Andika yang menjadi ahli warisnya, Turonggo?"

Raden Turonggo menyembah.

"Gusti, pusaka ini diciptakan oleh Eyang Empu Supamandrangi di Gunung Bromo, khusus untuk calon raja terbesar. Karena itu, setelah pusaka ini terdapat oleh Eyang adipati di Lumajang, Beliau menganggap bahwa satu-satunya junjungan yang patut memegangnya adalah Paduka, karena Padukalah keturunan langsung dari mendiang Sang Prabu Kertanegara dari pihak ibu dan Paduka adalah puteri permaisuri dari mendiang Sang Prabu Kertarajasa. Eyang Adipati di Lumajang bersama segenap rakyat Lumajang menyatakan setia kepada Paduka, dan hanya mengakui Paduka sebagai satu-satunya junjungan di Mojopahit, oleh karena itu pusaka ini hamba persembahkan kepada Paduka."

Sang Puteri memejamkan kedua mata yang indah itu penuh keharuan, lalu katanya dengan suara sedih.

"Terima kasih atas kesetiaan semua kawula di Lumajang. Akan tetapi, sesungguhnya aku sendiri tidak menghendaki adanya permusuhan antara saudara sendiri, antara bangsa sendiri. Permusuhan antara bangsa di Mojopahit hanya akan melemahkan negara. Demikian mendiang Rama Prabu selalu memberi nasihat. Oleh karena itu, kepentingan pribadi harus dikesampingkan, dan keperluan untuk negara didahulukan."

Raden Turonggo tercengang juga mendengar ucapan yang penuh dengan kebijaksanaan itu keluar dari mulut Rani Kahuripan, wanita yang masih muda ini!

Ucapan yang sekaligus menghancurkan semua cita-cita para pendukung keturunan Sang Prabu Kertanegara!

"Harap Paduka suka mengampuni hamba.

Bukan hamba berani membantah sabda Paduka, akan tetapi di Mojopahit dan di Lumajang terutama, rakyat mendukung Paduka yang sepatutnya menjadi Raja di Mojopahit, bukan keturunan dari Melayu..."

"Hushh, Turonggo, jangan ulangi lagi kata-kata seperti itu! Kita harus ingat bahwa semua yang terjadi adalah kehendak mendiang Kanjeng Romo Prabu. Yang menentangnya, berarti bukan memberontak terhadap raja yang sekarang, melainkan terhadap mendiang Kanjeng Romo. Sudahlah, sampaikan kepada Sang Adipati di Lumajang bahwa pusaka ini kuterima dengan ucapan terima kasih dan akan kusimpan sebagai kenang-kenangan dan tanda bakti dan setia dari rakyat Lumajang, akan tetapi sampaikan pula pesanku bahwa mengingat akan mendiang Kanjeng Romo, hendaknya rakyat tidak akan bertindak terlalu jauh dan tidak akan terjadi perang saudara lagi. Ingat betapa pemberontakan-pemberontakan yang lalu telah menjatuhkan banyak sekali korban di antara saudara dan bangsa sendiri. Kalau hanya untuk aku seorang, untuk memenangkan kedudukan bagiku seorang, untuk memenangkan kedudukan bagiku seorang, harus mengorbankan laksaan jiwa rakyat, aku tidak sudi! Lebih baik aku menjadi kawula biasa saja! Aku akan selalu merasa berdosa, karena demi kedudukankulah maka banyak orang dikorbankan, dan aku tidak menghendaki hal ini terjadi. Pergilah, Turonggo, pulanglah kembali ke Lumajang disertai salamku untuk semua!"

Raden Turonggo benar-benar terpukau oleh omongan itu dan tidak berani menjawab,lalu menyembah dan mengundurkan diri.

Akan tetapi pada saat itu, seorang dayang masuk dengan muka pucat dan melapor bahwa di luar istana terjadi pertempuran hebat.

Sang Puteri terkejut sekali.

"Hati-hatilah, Turonggo!"

Katanya melihat pemuda itu mundur dengan cepat dan segera berlari-lari melalui jalan belakang darimana dia datang tadi.

Dengan keris pusaka terbungkus kain kuning, Sang Puteri lalu masuk dan menutupkan pintu kamarnya.

Pertempuran yang terjadi di luar istana itu masih berlangsung dengan hebatnya.

Kini, Sulastri seorang diri menghadapi Resi Harimurti, sedangkan empat orang tokoh Lumajang dikeroyok oleh puluhan orang perajurit Mojopahit yang menjadi mata-mata dan kaki tangan Resi Harimurti.

Mereka ini rata-rata terdiri dari perajurit-perajurit pilihan yang memiliki kepandaian tinggi, maka empat orang itu harus mengerahkan seluruh kepandaian dan kekuatan mereka.

Empat orang senopati itu mengamuk seperti banteng-banteng terluka, dan biarpun tubuh mereka semua sudah menderita luka-luka, namun amukan mereka berhasil merobohkan belasan orang lawan.

Sementara itu, Sulastri sudah mengamuk dengan amat hebatnya.

Tentu saja kalau diukur tingkat ilmu kepandaian antara Sulastri dan Resi Harimurti, tingkat Sang Resi itu lebih tinggi dan tentu saja lebih matang latihannya.

Namun, Sang Resi yang selalu berkecimpung dalam gelombang nafsu, menghambakan diri kepada nafsu-nafsunya sendiri itu, telah menjadi lemah.

Dia kalah tenaga, kalah kuat pernapasannya dan kalah cepat gerakannya.

Memang dengan gerakan aneh dari ilmu-ilmunya, dia beberapa kali berhasil memecut tubuh Sulastri dengan cambuknya atau menghantam dengan kipasnya.

Namun, Aji Trenggiling Wesi yang membuat tubuh dara perkasa itu kebal, melindungi Sulastri sehingga pecutan dan pukulan itu hanya membuat kulitnya lecet dan tubuhnya terpelanting.

Dan secepat kilat, setelah terguling, Sulastri setiap kali meloncat bangun kembali dan menyerang lagi dengan makin dahsyat!

Beberapa kali sudah dara ini berhasil pula mendaratkan pukulan Hasto Nogo dengan tangan kirinya.

Resi Harimurti juga melindungi tubuhnya dengan aji kekebalan, namun hantaman-hantaman yang mengandung tenaga sakti itu membuat dia terengah-engah dan getaran hebat dari pukulan itu seolah-olah merontokkan isi dada dan perutnya.

Resi Harimurti merasa penasaran sekali.

Masa dia, seorang pertapa yang amat terkenal dan ditakuti banyak tokoh, kini menghadapi seorang dara muda saja sampai ratusan jurus belum juga mampu mengalahkannya?

Tiba-tiba dia mengeluarkan suara bentakan nyaring dan cambuknya meledak-ledak di angkasa, lalu ujung cambuk itu menyambar ke bawah dengan kecepatan kilat.

Sulastri maklum bahwa kalau dia tidak nekat, akan sukarlah baginya untuk mengalahkan Sang Resi ini, maka dia tidak memperdulikan sambaran cambuk itu, melainkan membarengi serangan lawan untuk menubruk ke depan dengan keris di tangan kanan menusuk lambung dan tangan kirinya menghantam ke arah kepala Sang Resi.

"Brettt...!"

Sulastri terpekik kaget.

Tidak sangka sama sekali dia bahwa Sang Resi akan menggunakan kecurangan seperti itu.

Kiranya ujung cambuk tadi tidak menyerang tubuhnya melainkan menyerang bajunya dan merobek bajunya bagian depan sehingga dadanya terbuka dan menjadi telanjang sehingga nampak sepasang bukit dadanya!

Sementara itu, Sang Resi terbelalak kagum dan tersenyum menyeringai, cambuknya digerakkan dan tahu-tahu cambuk itu telah menyerang ke arah pakaian Sulastri bagian bawah!

Dara itu tadi terkejut dan tentu saja membatalkan serangannya, kini sibuk hendak menutupi dadanya.

Akan tetapi dia melihat cambuk yang menyambar ke bawah, maka tangan kirinya menangkap ujung pecut itu dan dipegangnya kuat-kuat, lalu dia melangkah maju, tanpa mempedulikan dadanya yang terbuka dan kerisnya sudah menusuk dengan kuatnya.

"Prakkk...!"

Kipas yang menangkis amat kuatnya itu bertemu dengan keris dan kipas itu patah, keris di tangan Sulastri pun patah!

Sulastri membuang gagang kerisnya dan tangan kanannya memukul.

Namun Sang Resi telah siap dan dia menangkap pergelangan kanan gadis itu, lalu menariknya sampai tubuh Sulastri menubruk tubuhnya.

Kini tangan Sulastri yang kiri masih memegang ujung cambuk dan tangannya yang kanan sudah dipegang lawan yang menariknya sehingga dadanya yang terbuka itu merapat ke dada Sang resi.

"Ha-ha-ha, manis... lebih baik kau bersenang-senang dengan aku..."

Merasa betapa tubuh yang muda dan mulus itu merapat ke dadanya, seketika bangkitlah nafsu dan gairah di hati Sang Resi.

Dia sudah merasa menang, tangan kanan gadis itu telah ditangkapnya dan tangan kiri Sulastri pun sedang memegang ujung cambuknya.

Dan dada yang terbuka itu, bau kewanitaan yang begitu dekat dengan dia, semua ini membangkitkan nafsu berahinya dan membuat Sang Resi lengah.

Dia tidak tahu bahwa tangan kiri Sulastri telah melepaskan ujung cambuk dan kini tangan kiri itu, dengan pengerahan aji kesaktian Hasto Nogo sepenuhnya, bergerak seperti kilat, menghantam ke arah dadanya di bawah tulang iga.

"Hekkk...!"

Sepasang mata Sang Resi terbelalak, tubuhnya terhuyung ke belakang dan otomatis pegangannya terlepas, lalu kedua tangan mendekap dada yang terpukul.

Karena tadi diamuk nafsu berahinya yang bangkit, maka dia menjadi lengah dan aji kekebalannya untuk sementara punah.

Tentu saja pukulan Hasto Nogo yang amat ampuh itu tidak dapat tertahan oleh tubuhnya yang sudah mulai tua tanpa dilindungi aji kekebalannya, maka pukulan itu biarpun di luarnya tidak melukai kulit, namun getaran hawa sakti yang dibawa pukulan itu telah meremukkan segala yang berada di rongga dadanya, termasuk jantungnya!

"Aughhhh...!"

Jerit terakhir Resi Harimurti terdengar mengerikan sekali, tubuhnya roboh dan untuk yang terakhir kali, dia masih mampu mengerakkan cambuknya sehingga terdengar bunyi "tarrr!"

Nyaring sekali.

Seperti lenyapnya bunyi itu, lenyap pula nyawanya dan meninggalkan tubuhnya yang sudah terkapar menjadi sesosok mayat mati!

Sulastri cepat membungkuk, menanggalkan baju dari seorang mayat perajurit dan memakai baju itu untuk menutupi ketelanjangan dadanya, kemudian dia mengamuk lagi membantu empat orang tokoh Lumajang yang sudah mulai lelah dan menderita luka-luka.

Amukan Sulastri ini membuat kepungan membuyar, akan tetapi seperti rombongan semut para perajurit sudah mengeroyoknya pula.

Pada saat itu muncul Raden Turonggo yang tanpa banyak cakap lagi telah terjun ke dalam medan pertempuran membantu teman-temannya yang dikeroyok.

Melihat pemuda ini, Panji Wironagari bertanya.

"Bagaimana, Raden?"

Sudah beres?.

"Sudah, Paman...!"

Jawab Turonggo sambil menendang roboh seorang pengeroyok yang menusukkan tombaknya dari kanan dan yang dapat dielakkannya. Dia merampas tombak itu dan mengamuk dengan hebat.

"Raden, cepat lari...!"

Kata Panji Wironagari.

"Cepat pulang memberi laporan, biar kami yang menahan mereka!"

"Akan tetapi, Paman...!"

Raden Turonggo membantah.

Mana mungkin dia melarikan diri dan meninggalkan empat orang itu bersama Sulastri dalam kepungan musuh dan terancam bahaya maut?

"Raden, ingat, ini tugas!

Dan saya yang memimpin.

Saya perintahkan engkau untuk pergi secepatnya!

Dan Nini Sulastri yang harus melindungimu!"

Melihat Raden Turonggo meragu, tiga orang tokoh Lumajang lainnya juga membujuk sambil mereka terus mengamuk. Akhirnya Sulastri yang mendengar ini semua mengerti bahwa memang sebaiknya demikian.

"Marilah, Dimas Turonggo!"

Katanya dan tanpa menanti jawaban, dia menyambar tangan pemuda itu dan diajaknya melompat jauh, merobohkan orang-orang yang berusaha menghadang dan mereka lalu melarikan diri di dalam kegelapan malam.

Empat orang bekas senoapati Mojopahit itu mengamuk terus, menghadang dan mencegah mereka untuk mengejar Turonggo dan Sulastri.

Keributan itu segera terdengar oleh para penjaga dan kini makin banyaklah perajurit yang datang mengeroyok.

Empat orang bekas senopati Mojopahit itu mengamuk sampai titik darah terakhir, akan tetapi akhirnya mereka itu roboh seorang demi seorang, roboh dan tewas di bawah keroyokan banyak senjata sehingga tubuh mereka hancur lebur, kematian seorang perajurit yang gagah berani.

Betapa banyaknya manusia-manusia yang berwatak gagah berani harus tewas secara sia-sia seperti empat orang tokoh Lumajang ini.

Betapa nyawa manusia menjadi tidak berharga kalau sudah dicengkeram oleh permusuhan dan dipermainkan oleh semangat bermusuhan dan saling membunuh demi apa yang biasa dinamakan perjuangan,demi negara, demi bangsa, demi kerajaan dan demi apa pun yang dianggapnya sebagai perbuatan mulia!

Mati dalam perang dalam usaha bunuh-membunuh di antara manusia, oleh kita yang menamakan diri sebagai manusia-manusia beradab,dinamakan dengan sebutan muluk, yaitu mati sebagai kusuma bangsa, mati gagah perkasa, mati mulia, mati sebagai pahlawan dan sebagainya!

Kalau berhasil membunuh lawan sebanyaknya, lupa bahwa lawan itu pun manusia juga seperti kita,maka sang pahlawan dipuja-puja.

Kalau dia yang tewas dalam perang itu, juga namanya dipuja-puja dan disanjung-sanjung!

Dia yang banyak membunuh sesama manusia dianggap pahlawan.

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 11

Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert