Ceritasilat Novel Online

Kemelut Di Majapahit 12

Eps 12 Kemelut Di Majapahit - Kho Ping Hoo

Baca online Kemelut Di Majapahit - Kho Ping Hoo

Cersil Kemelut Di Majapahit - Kho Ping Hoo.

Mengapa kita yang merasa beradab dan berkebudayaan menjadi sekejam ini?

Mengapa sejak kecil kita dilolohi kepalsuan dan kebohongan ini?

Sehingga tertanam di dalam benak kita bahwa dalam bunuh-membunuh sesama manusia dalam perang itu adalah sesuatu yang patut dibanggakan dan dipuja-puja?

Mengapa kita menanamkan benih kejahatan ini ke dalam anak-anak kita sehingga setiap orang manusia ingin sekali menjadi seorang pahlawan yang aakhirnya nanti menjadi pembunuh banyak manusia atau juga terbunuh?

Siapa pun yang berjuang untuk membunuh atau dibunuh ini, terdorong oleh semangat yang ditanamkan sejak ribuan tahun yang lalu tentang betapa mulianya seorang pahlawan.

Dia berjuang untuk mendapatkan sebutan pahlawan di samping pamrih lainnya seperti memperoleh kedudukan, nama besar, kemuliaan dan sebagainya.

Perjuangan seperti itu pada umumnya, di dunia manapun juga, disebut sebagai perbuatan gagah perkasa, perjuangan demi negara, demi bangsa, demi tanah air,bahkan ada pula yang berani membawa-bawa nama Tuhan di dalam urusan bunuh-membunuh antara manusia ini!

Membunuh sesama manusia demi Tuhan!

Perang demi Tuhan!

Betapa palsu dan munafiknya kita ini.

Padahal siapakah yang sesungguhnya yang untung, siapakah sesungguhnya yang menjadi biang keladi semua permusuhan, semua perang yang telah melanda seluruh dunia selama ribuan tahun ini?

Jawabannya sudah terdapat di situ.

Kalau kita mempelajari sejarah di dunia manapun juga,jelaslah siapa yang menjadi biang keladi perang, siapa pula yang jatuh bangun oleh perang.

Tiada lain hanyalah manusia-manusia yang bercita-cita untuk duduk di tempat teratas.

Yang patut disebut seorang pemimpin rakyat adalah dia yang tidak menjerumuskan rakyat ke dalam perang!

Yang hanya mencurahkan segala daya upaya untuk ketenteraman dan kemakmuran hidup rakyat yang dipimpinnya.

Yang memajukan pembangunan lahir batin untuk rakyat.

Yang menjauhkan rakyat daripada permusuhan, dendam-mendendam, dan pertikaian.

Yang mengarahkan seluruh kekuatan yang ada untuk perbaikan-perbaikan taraf kehidupan rakyat.

Kalau ada pemimpin yang menyeret rakyat ke dalam perang, itu berarti bahwa dia bukanlah seorang pemimpin, melainkan seorang pembesar yang membesarkan ambisi dan keinginan diri pribadi untuk enak, untuk senang, untuk menang!

Seorang yang demikian itu biasanya tentu seorang yang berjiwa pengecut!

Sejarah telah membuktikan semua itu.

Mereka yang mengaku pemimpin-pemimpin rakyat yang mengobarkan perang, yang menjerumuskan rakyat dalam peperangan, adalah orang-orang yang ingin menang dan ingin senang,ingin mempertahankan kedudukannya dan sebagainya.

Dan orang-orang macam begini,dapat tersenyum bangga jika dapat memenangkan peperangan sehingga kedudukannya menjadi makin baik dan makin tinggi, sungguhpun untuk "kemenangan"

Itu telah dikorbankan nyawa ratusan ribu orang manusia, baik yang termasuk sebagai rakyat bangsanya maupun rakyat bangsa lawannya.

Akan tetapi bagaimana kalau perang itu,perang yang dikobarkan demi kepentingan mereka-mereka itu dengan diselubungi istilah-istilah muluk-muluk "Demi bangsa".

"Demi negara".

"Demi tanah air"

Dan sebagainya itu sampai kalah?

Kalau sampai kalah, dan ini sudah banyak terbukti dalam catatan sejarah, maka dia atau mereka ini yang paling dulu melarikan diri!

Sambil membawa harta benda yang telah dikumpulkannya, tentu saja!

Siapakah yang dapat membantah kenyataan ini?

Dapatkah "peradaban"

Dan "kebudayaan"

Macam sekarang ini berubah sama sekali?

Dapatkah manusia di dunia ini hidup tanpa terpecah-pecah, tanpa permusuhan,tanpa senjata pembunuh, tanpa perang?

Kiranya baru akan terdapat kemungkinan berubahnya dunia kalau kita masing-masing ini sudah berubah!

Karena kitalah yang membentuk keadaan di dunia ini!

Kitalah yang membentuk masyarakat dan kita pula yang membentuk negara.

Kalau kita sendiri, setiap orang, masih dikuasai oleh kekerasan, masih mengandung kebencian, mengandung permusuhan, masih iri hati,masih ingin menang sendiri, ingin senang dan enak sendiri, maka tak dapat dicegah lagi sudah tentu masyarakat kita pun demikian pula sifatnya, dan seluruh dunia pun demikian pula.

Dan kalau seperti itu keadaannya, anehkah kalau di sana-sini berkobar perang?

Jadi, kuncinya adalah pada diri kita sendiri masing-masing!

Kitalah yang harus berubah, bukan dirubah, karena dirubah berarti bentuk pemaksaan.

Dan semua yang dipaksa itu adalah palsu dan setiap waktu akan terbuka kepalsuannya.

Perubahan harus terjadi dalam diri sendiri, bukan dirubah karena undang-undang, oleh propaganda-propaganda, oleh hukum dan sebagainya.

Seorang akan terus-menerus melakukan pencurian biarpun dia sudah dihukum beberapa kali karena mencuri!

Akan tetapi, kalau orang itu sudah berubah di sebelah dalam batinnya, berubah karena sudah tidak ada lagi keinginan mencuri itu, maka tanpa ada ancaman hukuman pun dia tidak akan sudi melakukan pencurian!

Karena itu, yang terpenting adalah mengenal diri sendiri lahir batin, mengenal kepalsuan dan kekotoran diri sendiri, segala macam kebusukan yang memenuhi batin sendiri haruslah dikenal dan diketahui baik, bukan hanya untuk diketahui belaka lalu habis.

Sama sekali tidak!

Haruslah dipelajari setiap saat, yaitu diawasi,diamati, dipandang setiap saat penuh kewaspadaan!

Pengamatan tanpa pamrih inilah yang mendatangkan kebijaksanaan.

Pengamatan tanpa pamrih apa pun ini yang akan mendatangkan perubahan, yang akan mendatangkan kebebasan.

Dan hanya yang bebas sajalah yang akan mengenal apa artinya cinta kasih, dan di mana ada cinta kasih,tidak ada permusuhan, tidak ada kebencian, tidak ada iri hati, tidak ada perang!

Dalam keadaan perang, gembar-gembor tentang perdamaian adalah omong kosong belaka!

Jangan perang, maka tak perlu lagi bicara tentang perdamaian!

Akan tetapi anehnya, semua orang ingin bicara tentang perdamaian!

Kita adalah manusia-manusia lemah yang menjadi korban dari konflik dalam batin kita sendiri.

Kita begini,itu kenyataannya, namun kita ingin begitu.

Kita perang, itu kenyataannya, akan tetapi kita ingin damai.

Kita pemarah, akan tetapi kita ingin sabar, dan demikian selanjutnya sehingga kita hidup dalam alam keinginan belaka.

Mengapa kita tidak menghadapi kenyataan, membuka mata mempelajari dan mengenal keadaan kita sendiri, membuka mata dan melihat bahwa kita ini pemarah, kita ini gila perang, kita penuh kebencian dan sebagainya?

Kita membayang-bayangkan yang bersih-bersih bagi kita sehingga kita tidak melihat bahwa kita ini sesungguhnya kotor.

Dan dalam keadaan kotor begini, membayangkan kebersihan adalah sia-sia,menutupi kekotoran dengan pakaian bersih pun percuma, hal itu tidak akan melenyapkan kekotoran itu.

Akan tetapi kalau kita meneliti diri sendiri, membuka mata dan melihat kenyataan, maka kewaspadaan inilah yang akan mendatangkan perubahan, yang akan membebaskan kita dari segala kotoran, segala ikatan, segala bayangan-bayangan dan khayal.

Dan ini jauh lebih penting daripada mengkhayalkan kebersihan.

Karena bantuan Sulastri, akhirnya Raden Turonggo dapat lolos dari Kahuripan dan ketika mereka menanti di luar batas kota dan belum juga melihat kembalinya empat orang senopati itu, Raden Turonggo menangis terisak-isak.

Mereka berdua maklum bahwa empat orang teman mereka itu sudah pasti tidak dapat lolos lagi dari kepungan yang demikian ketatnya, dan tentu telah menemui kematian mereka.

Sulastri menghibur Raden Turonggo dan berkata.

"Sudahlah, Adimas. Ditangisi pun tidak ada gunanya lagi. Sebaiknya kita cepat kembali ke Lumajang dan melapor kepada Sang Adipati."

Raden Turonggo mengangguk dan dengan muka pucat dan mata merah, dia mengikuti Sulastri melanjutkan perjalanan menuju ke Lumajang.

Raden Turonggo menubruk kaki eyangnya ketika dia dan Sulastri tiba di Lumajang dan menghadap Sang Adipati bersama para tokoh Lumajang lainnya.

Pemuda ini menangis dengan sedihnya.

"Kulup, tenangkan hatimu. Apakah yang terjadi? Apakah tugasmu gagal dan pusaka itu tidak berhasil engkau haturkan kepada Gusti Puteri?"

Tanya Adipati Wirorojo sambil mengelus kepala cucunya.

"Sudah saya haturkan... Eyang, akan tetapi... eh, keempat Paman... mereka... tertinggal dan..."

Pemuda itu menangis lagi.

Melihat keadaan pemuda itu, Sulastri lalu menceritakan dengan tenang semua peristiwa yang terjadi di waktu mereka berenam pergi ke Kahuripan, betapa Raden Turonggo berhasil menyerahkan keris pusaka Kolonadah kepada Puteri Tribuwanatunggadewi, akan tetapi betapa mereka ketahuan oleh Resi Harimurti dan pasukannya sehingga terjadi perkelahian dan empat orang tokoh Lumajang itu, Panji Wironagari, Panji Samara, Aryo Jangkung, dan Aryo Teguh telah tertinggal untuk menahan pasukan yang hendak mengejar.

Dia sendiri melarikan Raden Turonggo untuk menyelamatkannya atas permintaan dan perintah empat orang gagah itu.

Mendengar ini, Sang Adipati mengerutkan alisnya dan merasa gelisah sekali.

Kegelisahan yang berubah menjadi kedukaan ketika datang laporan dari mata-mata Lumajang yang bertugas di Kahuripan bahwa keempat orang gagah itu benar-benar telah tewas oleh pengeroyokan banyak sekali perajurit dan pengawal.

Keadaan di Kadipaten Lumajang masih dalam suasana berkabung ketika datang utusan dari Kadipaten Puger yang mengabarkan bahwa Kadipaten Puger diserang oleh pasukan-pasukan dari Nusabarung yang amat kuat sehingga mengalami kerugian besar.

Ketika utusan ini datang menyampaikan berita itu kepada Sulastri, wanita perkasa ini masih menghadap Sang Adipati di Lumajang, maka semua orang mendengar akan malapetaka yang menimpa Puger itu.

Sulastri terkejut bukan main dan cepat dia menyembah kepada Sang Adipati dan berpamit.

Tanpa menanti jawaban, dia lalu melesat keluar dan berlari cepat menuju ke selatan, ke Puger!

Sang Adipati Wirorojo lalu memerintahkan kepada Maesa Pawagal, seorang tokoh Lumajang bekas senopati Mojopahit, untuk memimpin seribu orang perajurit dan membawa pasukan ini ke selatan untuk membantu Puger.

Tentu saja Sang Adiapti ini membantu Puger hanya karena mengingat kepada Sulastri, Joko Handoko dan Roro Kartiko yang sudah banyak berjasa terhadap Lumajang dan kini menjadi keluarga Prabu Bandardento di Puger.

Terutama sekali Sulastri telah banyak berjasa, maka Sang Adipati merasa sudah selayaknya kalau dia membantu Puger.

Andaikata tidak ada tiga orang muda itu di Puger, agaknya dia tidak akan mau mencampuri urusan antara Puger dan Nusabarung, karena Lumajang sendiri harus memperkuat diri untuk menghadapi Mojopahit yang kini dikuasai oleh keturunan Melayu itu.

Dengan kecepatan luar biasa, Sulastri tiba di Puger.

Hatinya prihatin sekali menyaksikan keadaan Puger, di mana jelas nampak orang-orang berkabung, berduka,dan juga gelisah.

Cepat dia menemui Sang Prabu yang sedang berunding dengan dua orang putera puterinya, yaitu "suaminya"

Joko Handoko dan Roro Kartiko bersama para senopati.

Padas Gunung dan Pragalbo yang kelihatan luka-luka lengan mereka juga hadir.

Suasana di dalam persidangan itu jelas nampak suram diliputi ketegangan.

Kedatangan Sulastri disambut oleh mereka semua dengan gembira dan ada sekilas cahaya harapan nampak di wajah Sang Prabu yang tadinya muram.

Bahkan Sang Prabu Bandardento segera bangkit berdiri menyambut kedatangan Sulastri, sedangkan Roro Kartiko segera memeluknya.

"Syukur Andika telah datang, Anakku! Kami amat mengharapkan bantuanmu untuk dapat menyelamatkan Puger!"

Sulastri mengerutkan alisnya, bergantian dia memandang kepada para senopati,kepada Padas Gunung, Pragalbo, kemudian kepada Roro Kartiko dan Joko Handoko, lalu berkatalah dia dengan penasaran.

"Kita telah memiliki pasukan yang kuat dan banyak senopati yang digdaya, bagaimanakah kita sampai dapat terpukul oleh pasukan musuh dari Nusabarung? Paman Padas Gunung, demikian hebatkah kekuatan musuh?"

"Ah, engkau tidak tahu, Anakku. pihak musuh dipimpin oleh seorang senopati baru yang amat sakti. Lihat, Padas Gunung dan Pragalbo sendiri sampai terluka olehnya,dan banyak senopati yang terluka atau tewas,"

Kata Sang Prabu dengan sedih.

"Sekarang,agaknya harus aku sendiri yang memimpin pasukan menghadapi senopati Nusabarung itu!"

Sang Prabu yang sudah tua itu mengepal tinju dan sinar matanya berapi karena marahnya.

"Dan kalian... Kakangmas Handoko dan Diajeng Kartiko? Apakah kalian tidak turun tangan bersama para pembantu kalian?"

Joko Handoko menarik napas panjang.

"Mereka itu dua kali menyerang dan untuk kedua kalinya, aku dan Roro Kartiko, dibantu oleh para anggota Sriti Kencana,memperkuat pasukan, akan tetapi... ah, musuh terlampau kuat..."

Dan Joko Handoko lalu menundukkan mukanya.

Sikapnya ini amat mengherankan hati Sulastri, maka dia menoleh kepada Roro Kartiko dan memandang dengan sinar mata penuh pertanyaan.

Roro Kartiko memegang lengan Sulastri, lalu berkata kepada Sang Prabu.

"Kanjeng Romo, perkenankan kami bicara di dalam..."

Sang Prabu Bandardento mengangguk dan Roro Kartiko lalu menarik tangan Sulastri,diajaknya masuk ke dalam kamar, Roro Kartiko berkata,"Ah, engkau tidak tahu apa yang telah terjadi, Mbakayu Sulastri.

Ada peristiwa yang amat aneh dan hebat.

Kau tahu, ketika kami membantu pasukan mengamuk, muncullah senopati muda yang menggemparkan itu dan dapat kau bayangkan betapa kaget rasa hati kami ketika mengenal senopati itu!"

"Hemm, siapa dia?"

Sulastri bertanya dengan alis berkerut.

"Dia... dia adalah... Kakangmas Sutejo..."

"Ehhh...??"

Sulastri terlonjak kaget dan mengepal tinju.

"Dia? Dia menjadi senopati di Nusabarung?"

"Benar, Mbakayu Sulastri, dan agaknya dia... dia tidak mau mengenal kami lagi..., bahkan ketika kami menegurnya, dia seperti bingung dan tidak kenal kami, dan... nyaris kami tewas pula di tangannya. Akan tetapi... agaknya dia pun tidak mau terlalu mendesak kami dan membiarkan kami melarikan diri. Akan tetapi pasukan menjadi kacau dan hancur sehingga terpaksa untuk kedua kalinya, pasukan Puger harus ditarik mundur."

"Hemm, keparat!"

Sulastri mengepal kedua tinjunya.

Sudah bertahun-tahun dia tidak pernah bertemu dengan Sutejo dan biarpun tidak ada seorang lain yang tahu,diam-diam dia harus mengaku bahwa dia tidak pernah dapat melupakan Sutejo.

Betapa di waktu malam, setelah Roro Kartiko tidur nyenyak, dia bersila dan berusaha untuk bersamadhi, namun selalu gagal karena wajah Sutejo selalu terbayang dan betapa seringnya dia terisak-isak penuh kerinduan terhadap pemuda itu.

Dia sudah hampir melepaskan harapannya untuk dapat bertemu kembali dengan pemuda itu.

Dan kini, seperti halilintar menyambar, secara tiba-tiba saja pemuda itu muncul sebagai senopati musuh!

Dan begitu mendengar pemuda itu menjadi senopati musuh, seketika timbul kemarahannya!

Dia tidak tahu apakah kemarahan itu karena Sutejo menjadi senopati musuh, ataukah karena bertahun-tahun lamanya pemuda itu tidak pernah mengabarkan diri dan tidak pernah mencarinya.

Roro Kartiko terkejut juga melihat betapa wajah Sulastri menjadi marah sekali dan dia cepat mengejar ketika melihat Sulastri sudah lari keluar lagi ke ruang persidangan.

"Kanjeng Romo, perkenankan hamba memimpin pasukan untuk menghajar pasukan Nusabarung itu!"

Sulastri berkata kepada Sang "mertua".

"Engkau baru saja datang, Nini. Biarlah aku sendiri yang akan menghajar mereka yang kini menghaturkan barisan di perbatasan, di pantai laut. Biar mereka melihat bahwa Prabu Bandardento yang sudah tua ini masih sanggup untuk menghancurkan orang-orang Nusabarung!"

"Tidak, Kanjeng Romo, selama masih ada hamba, tidak selayaknya kalau Paduka yang harus turun tangan sendiri. Pula, hamba mengenal senopati keparat itu dan biarkan hamba yang menghadapinya. Kakangmas, harap kau suka atur barisan, kita berangkat sekarang juga!"

Melihat sikap Sulastri yang gagah perkasa, diam-diam Sang Prabu menjadi girang dan dia mengangguk memberi persetujuannya.

Dengan cekatan Sulastri mengajak suaminya dan adik iparnya keluar dan mengumpulkan para senopati untuk memimpin pasukan.

Tak lama kemudian, berangkatlah pasukan itu menuju ke selatan, ke pantai laut di mana pasukan dari Nusabarung telah membuat persiapan untuk menyerang Puger lagi.

Di tengah perjalanan, Sulastri mendengar penuturan Roro Kartiko yang telah mempelajari keadaan Nusabarung dari Ayahnya, yaitu ayah angkatnya, Sang Prabu di Puger.

"Nusabarung merupakan pulau yang dikuasai oleh Sang Adipati Menak Dibyo yang merupakan raksasa berkenpanadian tinggi,"

Dia mulai bercerita.

"Adipati Menak Dibyo mempunyai dua orang anak, yang laki-laki bernama Bandupati dan yang perempuan bernama Sariwuni, juga kedua orang anaknya itu memiliki kepandaian tinggi dan terkenal sakti mandraguna. Akan tetapi, karena Kadipaten Puger lebih besar, memiliki pasukan yang lebih kuat dan juga dalam hal kesaktian, para senopati Puger tidak kalah oleh tokoh-tokoh Nusabarung, maka selama belasan tahun Nusabarung tidak pernah berani menganggu Puger, setelah dahulu setiap serbuan dari Nusabarung selalu digagalkan dan pasukannya dipukul mundur kembali menyeberang laut ke pulau mereka. Akan tetapi sekarang, setelah kedua orang anak itu dewasa, mereka berani lagi, malah Kakangmas Sutejo tahu-tahu telah berada di antara mereka sebagai senopati, sungguh hal ini amat aneh dan juga mendatangkan rasa penasaran."

"Dia bukan seorang yang setia, sungguh menjengkelkan!"

Sulastri berkata dan di dalam suaranya terkandung kemarahan yang mengejutkan hati Roro Kartiko.

Dara perkasa ini maklum bahwa kakak iparnya ini sampai sekarang masih belum juga mau menjadi isteri kakaknya, dalam arti kata yang sesungguhnya.

Kakaknya dan Sulastri jarang sekali bicara, bahkan seperti saling menghindari, apalagi berada berdua saja di dalam kamar.

Diam-diam dia merasa kasihan kepada kakaknya, akan tetapi dia juga tidak dapat menyalahkan Sulastri karena dia tahu bahwa adanya Sulastri mau menjadi isteri kakaknya adalah untuk menyelamatkan mereka semua.

Dan dia menduga dengan hati berat bahwa kakak iparnya ini masih mencinta Sutejo,hal yang makin menyakitkan hatinya karena dia sendiri pun tidak pernah dapat melupakan Sutejo.

"Mbakayu Sulastri, kalau... kalau engkau berjumpa dengan dia... apa yang hendak kau lakukan?"

Tiba-tiba Roro Kartiko bertanya.

Sulastri yang sedang melamun itu terkejut dan otomatis menarik kendali kudanya sehingga binatang itu mengangkat kedua kaki depan ke atas.

Setelah berhasil menenangkan kudanya yang kaget itu, Sulastri menoleh, memandang kepada Roro Kartiko, lalu menjawab dengan sikap dingin.

"Akan kuperingatkan dia agar meninggalkan pasukan Nusabarung, mengingat akan... persahabatan kami yang lalu."

"Ah, aku dan Kakangmas Handoko juga sudah memperingatkan hal itu, Mbakayu, akan tetapi sia-sia belaka, bahkan dia seperti tidak mau mengenal kami lagi."

"Hemm, kalau dia berani bersikap demikian kepadaku, akan... kubunuh dia!"

Di dalam suara ini terkandung ancaman yang mengerikan hati Roro Kartiko, akan tetapi gadis ini pun merasa ragu-ragu apakah Sulastri akan mampu menandingi Sutejo yang benar-benar amat digdaya itu.

Sementara itu, Joko Handoko yang menjalankan kudanya di belakang dua orang wanita itu, hanya mendengarkan saja.

Wajahnya muram dan memang semenjak dia menjadi "suami"

Sulastri, pemuda ini berubah sekali menjadi seorang yang tak pernah bergembira, wajahnya sering kali muram dan dia nampak lebih tua daripada usianya.

Dia menanggung derita batin yang hebat, akan tetapi hal ini tidak pernah diperlihatkan kepada "isterinya", dan tidak pernah pula dia membicarakan hal itu kepada orang lain.

Dia amat mencinta Sulastri, dan dia tidak dapat menyalahkan isterinya yang bersikap dingin terhada dia.

Betapa setiap malam dia merindukan isterinya itu dan biarpun dia merasa yakin bahwa agaknya selama hidupnya Sulastri yang masih mencinta Sutejo itu tidak akan mau nyerahkan diri kepadanya, namun Joko Handoko tetap setia dan tidak pernah dia mau mengambil selir.

Padahal kedudukannya pada waktu itu adalah putera adipati!

Kita tinggalkan dulu pasukan Lumajang yang berbaris rapi menuju ke selatan itu dan mari kita tengok keadaan pasukan Nusabarung yang membentuk barisan di pantai Laut Selatan sebagai daerah perbatasan antara Puger dan Nusabarung.

Pantai ini tentu saja masih termasuk wilayah Puger, akan tetapi pasukan Nusabarung kini telah menguasainya dan menggunakan dusun pantai yang telah mereka rampok habis itu sebagai markas mereka.

Di dalam ruangan sebuah rumah besar di tengah dusun itu, yaitu bekas rumah kepala dusun yang telah mereka bunuh, duduklah dua orang laki-laki muda dan seorang wanita muda cantik jelita bercakap-cakap.

Mereka ini adalah Sutejo, Bandupati, dan Sariwuni.

Di atas meja di depan mereka nampak hidangan dan mereka makan minum sambil bercakap-cakap.

"Ha-ha-ha, orang-orang Puger lari cerai-berai, sungguh senang hati melihatnya! Besok kita harus terus menyerbu ke utara dan membumihanguskan Kadipaten Puger!"

Kata Bandupati, orang muda tampan bertubuh raksasa, brewok dan gagah seperti Raden Werkudoro itu.

"Kita harus menanti berita dari Paman Menak Srenggo, Kakang Bandupati. Kita tidak boleh ceroboh karena Puger merupakan kekuatan yang tak boleh dipandang ringan. Apalagi menurut kabar, ada seorang lagi jagonya yang datang, yaitu anak mantu Sang Adipati yang kabarnya adalah seorang wanita yang sakti mandraguna,"

Kata Sariwuni.

"Ha-ha, takut apa? Setelah ada Adimas Bromatmojo bersama kita, biar mereka itu mempunyai jago dewata, kita tak usah takut!"

Sutejo mendengarkan dengan sikap tenang, akan tetapi dia mengerutkan alisnya.

Melihat ini, Sariwuni berkedip kepada Kakaknya lalu menggeser bangkunya, duduk di dekat suaminya itu dan membelai lengan suaminya dengan sikap mesra dan manja.

"Kakangmas Bromatmojo, engkau memang hebat sekali! Putera dan puteri angkat dari Sang Adipati Puger itu ternyata tangguh sekali, akan tetapi menghadapimu, mereka lari ketakutan!"

Setelah berkata demikian, di depan kakaknya, secara terang-terangan Sariwuni lalu mendekatkan mukanya dan mengecup pipi suaminya.

Hal seperti ini selalu tidak menyenangkan hati Sutejo dan kini pun dia menarik mundur mukanya untuk mengelak.

Dia tidak senang melihat isterinya itu memperlihatkan kasih sayang di depan orang lain, biarpun orang lain itu kakaknya sendiri.

"Ah, kenapa harus ada perang ini? Kenapa harus ada bunuh-membunuh? Sesungguhnya,aku tidak suka melihat perang..."

Katanya, lalu dia menoleh kepada isterinya.

"Diajeng Sulastri, kenapa kita tidak pulang saja ke Nusabarung? Apa sih perlunya menyerang Puger?"

"Ah, Kakangmas, engkau tidak tahu. Puger adalah kadipaten yang selalu menghina Nusabarung dan baru sekarang kita mempunyai kesempatan untuk membalas dendam,"

Jawab Sariwuni yang oleh Sutejo dianggap bernama Sulastri.

"Dan telah lama aku mengidamkan seorang puteri yang cocok untuk menjadi isteriku,menjadi calon permaisuriku kalau kelak aku menggantikan Kanjeng Romo menjadi adipati di Nusabarung. Aku melihat puteri Adipati Puger itu cantik sekali,cantik dan gagah perkasa, pantas kalau menjadi calon isteriku,"

Kata pula Bandupati.

Seperti kita ketahui, Sutejo berada di bawah pengaruh racun Lalijiwo.

Karena racun itu diberikan kepadanya setiap hari, maka setelah lewat dua tahun saja dia sudah lupa akan segala riwayatnya yang lampau.

Yang diingatnya adalah semenjak dia bertemu dengan putera-puteri Adipati Nusabarung itu sampai sekarang.

Dan dia sudah menganggap pasti bahwa dirinya adalah Bromatmojo dan bahwa wanita yang menjadi isterinya itu adalah Sulastri, satu-satunya wanita yang memenuhi hatinya,satu-satunya wanita yang dicintanya, bahwa Bandupati adalah Kakak Sulastri.

Bahkan setelah melihat dia benar-benar melupakan asal-usulnya, Sariwuni berani menceritakan bahwa selain nama Sulastri, dia mempunyai nama lain, yaitu Sariwuni.

Setelah melihat keadaan Sutejo benar-benar berada di bawah pengaruh mereka, mulailah keluarga Adipati Nusabarung mengatur pasukan untuk menyerbu ke seberang daratan, ke Puger yang menjadi musuh sejak dahulu.

Dan tepat seperti yang mereka harapkan dan perhitungkan, di dalam pertempuran itu, Sutejo yang mereka kenal sebagai Bromatmojo itu telah berjasa besar, sepak terjangnya hebat sekali sehingga semua senopati dari Puger tidak kuat menghadapinya, bahkan putera dan puteri Adipati Puger yang terkenal digdaya itu pun tidak tahan melawannya dan sampai dua kali pasukan-pasukan Puger mereka pukul mundur!

Akan tetapi, untuk terus menyerbu ke Puger mereka masih belum berani, mengingat bahwa Puger memiliki pasukan yang jauh lebih kuat dan lebih besar.

Maka setelah memperoleh kemenangan sebanyak dua kali pertempuran, Bandupati yang memimpin penyerbuan itu lalu mengutus Pamannya, yaitu Menak Srenggo, untuk memimpin sepasukan mata-mata untuk melakukan penyelidikan ke Puger, untuk melihat perkembangan dan persiapan musuh.

Ketika tiga orang muda ini sedang merayakan kemenangan mereka dengan pesta, tiba-tiba muncul seorang kakek tinggi besar yang bercambang bauk dan bermuka merah.

Melihat tiga orang muda itu, kakek ini segera memberi hormat dengan menekuk sebelah kakinya dan menyembah lalu berdiri lagi.

"Ah, Paman Menak Srenggo, engkau sudah kembali? Duduklah dan ceritakan bagaimana keadaan fihak musuh? Tentu Puger sedang berkabung dan berduka? Ha-ha-ha!"

Bandupati tertawa bergelak.

Kakek ini adalah Menak Srenggo, bekas senopati Puger.

Seperti telah diceritakan di bagian depan Menak Srenggo ini adalah kakak misan dari Retno Sami, selir Adipati Puger yang bersekongkol dengan mendiang Murwendo dan Murwanti untuk memberontak kepada Adipati Puger dan akhirnya dua orang muda itu berikut selir yang tidak setia itu terbunuh.

Akan tetapi Menak Srenggo berhasil melarikan diri.

Menak Srenggo adalah adik misan dari Adipati Menak Dibyo, adipati dari Nusabarung, ayah kandung Bandupati dan Sariwuni.

Dan memang dia bersama Retno Sami dahulu sengaja menyelundup sebagai orang-orang taklukan ke Puger untuk memata-matai dan menghancurkan Puger dari dalam.

Maka setelah Menak Srenggo berhasil meloloskan diri dari Puger, dia langsung saja kembali ke Nusabarung untuk membantu kakak misannya memusuhi Puger.

"Raden, kita harus cepat bertindak! Pihak musuh telah mengirim pasukan yang besar jumlahnya, dipimpin oleh Puteri mantu Sang Adipati sendiri! Kalau kita berhasil menghancurkan pasukan ini, maka kita dapat terus menyerbu ke Puger,karena sekali ini pihak Puger mengerahkan seluruh kekuatan kepada pasukannya ini."

"Besar sekalikah jumlah pasukan mereka?"

Tanya Bandupati dengan jantung berdebar tegang.

"Kurang lebih dua kali lipat dari jumlah pasukan kita, Raden. Akan tetapi,semangat mereka sudah runtuh sedangkan semangat anak buah pasukan kita sedang berkobar."

"Kita tidak perlu takut, suamiku akan menghancurkan nyali mereka setelah berhasil merobohkan semua senopatinya. Kakangmas Bromatmojo, sekali ini kami benar-benar mengharapkan bantuanmu,"

Kata Sariwuni dengan sikap manja.

"Jangan khawatir, aku akan menghadapi semua senopati mereka. Akan tetapi apakah tidak ada jalan lain untuk menghentikan perang ini? Bagaimana kalau berdamai saja dan secara baik-baik Kakang Bandupati melamar puteri Adipati Puger? Bukankah dengan demikian, Puger dan Nusabarung menjadi keluarga dan dapat hidup dalam perdamaian?"

"Wah, mana bisa mereka menerima itu sebelum mereka dikalahkan!"

Kata Bandupati,sedangkan Menak Srenggo yang merasa sakit hati sekali terhadap Puger juga diam-diam tidak setuju dengan usul perdamaian itu.

"Puger selalu menghina Nusabarung, kalau sekali ini tidak dipukul hancur,selamanya tentu akan memandang rendah Nusabarung. Padahal, Nusabarung memiliki orang-orang sakti mandraguna, akan cemarlah nama kita sebagai orang-orang gagah kalau sampai harus tunduk kepada Kadipaten Puger tanpa menunjukkan kegagahan kita."

Sutejo hanya menarik napas panjang dan Menak Srenggo bersama Bandupati segera meninggalkan ruangan itu untuk mengatur barisan.

Menak Srenggo yang merupakan ahli perang itu mengatur pasukannya yang hanya setengah jumlah pasukan musuh dengan gaya barisan Kala Kroda yang membentuk seperti seekor kalajengking sedang marah.

Seperlima bagian pasukan menjadi kepala kalajengking yang menyambut musuh dari depan, lalu masing-masing seperlima bagian lagi membentuk bagian sapit kalajengking yang akan menyerang dari kanan kiri, kemudian sisanya, yang dua perlima bagian bersembunyi di atas pohon-pohon dengan busur dan anak panah lengkap.

Mereka ini diumpamakan bagian ekor yang mengandung sengatan kalajengking yang menyerang musuh dari atas secara menggelap.

Bagian kepala dipimpin langsung oleh Sutejo yang diharapkan akan dapat langsung menghadapi para senopati lawan dan merobohkan mereka, bagian kedua capit kanan kiri dipimpin masing-masing oleh Sariwuni dan Bandupati, sedangkan bagian ekor yang bersembunyi di pohon-pohon dan di balik semak-semak dipimpin oleh Menak Srenggo.

Demikianlah, dalam keadaan segar setelah beristirahat dan makan kenyang,penuh semangat karena sudah mengalami dua kali kemenangan, pasukan Nusabarung siap menanti kedatangan musuh.

Lewat tengah hari, pasukan Puger sudah mulai tiba di daerah pantai yang berhutan itu.

Debu mengebul tinggi diterjang kuda dan manusia yang berbondong datang menyerbu ke dusun yang menjadi markas besar pasukan Nusabarung.

Setibanya di depan pintu gerbang dusun yang terjaga ketat itu, dalam jarak puluhan meter,pasukan Puger berhenti.

Sulastri yang berpakaian pria, bersama Joko Handoko,Roro Kartiko, Padas Gunung, Pragalbo dan empat orang anak buah Sriti Kencana,telah meloncat turun dari atas kuda masing-masing dan berdiri dengan berjajar siap untuk menghadapi musuh.

Sulastri memberi isyarat kepada Pragalbo.

Demit Kinang yang berkulit hitam ini, meludahkan air sirih yang merah ke atas tanah,kemudian mengangkat dada dan mengeluarkan bentakan yang amat nyaring, ditujukan ke arah dusun yang menjadi benteng musuh, suaranya bergema sampai jauh.

"Haiiii...! Orang-orang kasar dari Nusabarung! Keluarlah untuk menerima kematian!"

Baru saja gema suara ini lenyap, terdengar sorak-sorai gegap-gempita dan dari dalam pintu gerbang dusun yang tiba-tiba terbuka, berbondong-bondong menyerbulah pasukan Nusabarung yang sepak terjangnya seperti gerombolan raksasa ganas dan buas itu.

Pasukan yang buas ini dipimpin oleh seorang pemuda yang bukan lain adalah Sutejo, yang kelihatan menyolok sekali di antara gerombolan raksasa itu karena berbeda sekali dengan mereka yang bersorak dan bergerak dengan liar,pemuda ini nampak tenang dan halus gerak-geriknya.

"Lihat, itulah dia, Mbakayu...!"

Roro Kartiko berseru, akan tetapi Sulastri memang telah melihatnya dan dara ini berdiri dengan muka pucat sekali, kedua kakinya menggigil dan jantungnya berdebar tegang.

Tak salah lagi, itulah Sutejo!

Akan tetapi, dia melihat Sutejo mulai mengamuk dan dengan kedua tangan dan kaki, tanpa mempergunakan senjata, pemuda itu mulai menampar dan menendangi para perajurit Puger, sedangkan para perajurit Nusabarung juga sudah menyerbu bagaikan harimau-harimau buas, dengan pekik-pekik dan gerengan-gerengan dahsyat, ke tempat mereka berdiri.

Timbullah kemarahan di hati Sulastri yang tadinya tersentuh keharuan hatinya melihat Sutejo.

Dia pun bergerak dan mengamuk, di samping "suaminya"

Yaitu Joko Handoko, Roro Kartiko dan teman-teman lain.

Terjadilah perang campuh yang kacau balau, tidak memilih lawan, sehingga agak sukar bagi Sulastri untuk dapat mendekati Sutejo.

Namun dia merobohkan setiap orang penghalang dalam usahanya mendekati pemuda yang kini menjadi senopati lawan itu.

Hal ini tidaklah mudah karena para perajurit Nusabarung benar-benar merupakan manusia-manusia raksasa yang sepak terjangnya seperti segerombolan binatang buas, yang bertempur dengan nekat dan kasar sekali.

Pada saat itu, terdengar sorak-sorai dari arah kanan dan kiri, dan ternyata muncul pasukan-pasukan dari kanan kiri yang tadinya sudah bersembunyi di luar dusun yang kini menghimpit pasukan Puger untuk membantu pasukan yang dipimpin oleh Sutejo itu.

Melihat siasat lawan ini, Padas Gunung segera membunyikan tanda untuk memecah pasukannya menjadi barisan segitiga yang menghadap ke depan, kanan dan kiri.

Mendengar isyarat ini, para perwira yang memimpin pasukan-pasukan kecil masing-masing lalu cepat memberi aba-aba dan berubahlah gerakan pasukan Puger, terpecah menjadi tiga sehingga perang campuh terjadi di tiga bagian dengan hebatnya.

Biarpun jumlah pasukan pihak Nusabarung jauh kalah banyak, akan tetapi karena sepak terjang mereka yang nekat, berkelahi penuh semangat seperti harimau-harimau kelaparan, maka perang campuh itu hebat dan seru sekali.

Setiap orang perajurit Nusabarung menghadapi pengeroyokan dua tiga orang lawan, namun mereka itu berkelahi seperti raksasa mabok, tidak mempedulikan keselamatan diri sendiri sehingga menggiriskan pihak Puger.

Akhirnya Sulastri dan suaminya serta adik iparnya dapat berhadapan dengan Sutejo!

Kini Sutejo telah bergabung dengan isterinya, yaitu Sariwuni, dan Bandupati.

Melihat Roro Kartiko, Bandupati segera berteriak kepada para perajurit yang mengeroyok.

"Jangan bunuh dara itu, jangan lukai dia! Tangkap hidup-hidup!"

"Kakangmas Sutejo...!"

Tiba-tiba Roro Kartiko menjerit ketika berhadapan dengan Sutejo. Orang muda itu kelihatan terkejut dan memandang dengan mata terbelalak.

"Sutejo...? Aku... aku mengenal nama itu..."

"Ah, Kakangmas Sutejo, apakah Andika tidak ingat lagi kepada Mbakayu Sulastri?"

Kembali Roro Kartiko berseru dan Sulastri yang kini tak dapat menahan dua titik air mata membasahi pipinya, mengambil sikap tidak perduli dan merobohkan seorang raksasa Nusabarung dengan tamparan Hasto Nogo tangan kirinya.

"Dessss...!"

Raksasa itu terguling dan tak dapat bangkit kembali karena kepalanya sudah pecah.

"Sulastri? Dia isteriku... eh, Sulastri, apa yang dikatakan wanita ini? Apa artinya ini?"

Sutejo memandang kepada Sariwuni yang cepat mendekatinya.

"Kakangmas Bromatmojo, jangan dengarkan dia, jangan pedulikan mereka. Hantam terus, hancurkan musuh Nusabarung!"

Kini pihak Sulastri dan dua orang kakak beradik itu yang terkejut bukan main.

Sutejo disebut Bromatmojo oleh Sariwuni, dan Sariwuni disebut Sulastri oleh Sutejo.

Apa artinya itu?

Apakah Sutejo sudah gila, ataukah mereka yang linglung?

"Dimas Sutejo, apakah artinya ucapan Andika itu?"

Joko Handoko membentak marah.

"Diajeng Sulastri itulah Bromatmojo, dan...!"

Akan tetapi dia tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena dia sudah diterjang oleh Bandupati yang berteriak nyaring.

"Plak-plak-plak...!"

Tiga kali Bandupati menyerang dan tiga kali pula Joko Handoko menangkis, akan tetapi Joko Handoko terhuyung saking kuatnya serangan yang dilakukan oleh Bandupati.

Mereka segera bertanding dengan hebat dan mati-matian,menggunakan keris masing-masing dan segera terpisah dari yang lain.

Sutejo makin bingung.

Dia memandang kepada Sulastri, kemudian kepada Roro Kartiko, dan kepada Sariwuni.

"Aku... akulah Bromatmojo dan isteriku ini Sulastri... kalian bicara apakah...?"

Sulastri tidak dapat menahan kemarahannya lagi.

"Keparat yang menjadi pengkhianat! Engkau tidak mengenal lagi Bromatmojo atau Sulastri? Baiklah, akan tetapi tentu engkau mengenal ini!"

Dan langsung dia menggunakan gerakan Turonggo Bayu, secepat kilat tubuhnya sudah meluncur dan tangannya menyambar ke arah kepala Sutejo dengan pukulan Hasto Nogo yang amat dahsyat!

"Syuuuuuuttt...

duk-duk-desss...!!"

Sutejo dapat menangkis dan pertemuan kedua lengan terakhir sedemikian hebatnya sehingga tubuh mereka terpental ke belakang dan agak terhuyung, Sulastri merasa betapa seluruh tubuhnya tergetar.

Dia maklum bahwa memang dalam hal kesaktian, dia masih kalah setingkat oleh pemuda itu.

Akan tetapi perasaan sakit hati dan marah membuat dia nekat dan dia sudah menerjang lagi sambil berseru.

"Engkau atau aku yang akan mati saat ini!"

Dan dia sudah menggerakkan tubuhnya dengan cepat, menyerang dengan Aji Hasto Bairowo yang amat dahsyat.

Sutejo dengan bingung dan bimbang menandinginya, akan tetapi lebih banyak menangkis atau mengelak daripada menyerang.

Juga berkali-kali dia meneriaki Sariwuni dan Bandupati agar jangan membunuh lawan mereka.

Dia merasa bingung, merasa seperti mengenal tiga orang lawan ini, akan tetapi tidak dapat mengingat lagi kapan dan di mana.

Dia makin bingung mendengar nama Sutejo!

"Sulastri, jangan bunuh dia...!

Kakang Bandupati, jangan membunuh dia, aku seperti...

seperti mengenal mereka dengan baik...!"

Berkali-kali dia berteriak sambil tetap menghadapi Sulastri yang menyerangnya dengan mati-matian.

Mendengar ini, Sulastri menjadi makin marah.

Kiranya Sutejo telah menikah dengan wanita cantik itu, dan wanita itu bernama...

Sulastri!

Ataukah hanya berpura-pura bernama Sulastri?

Buktinya, Sutejo kini beralih nama menjadi...

Bromatmojo!

"Tak perlu pura-pura dan banyak cakap, kau jahanam busuk!"

Bentaknya dengan suara nyaring dan dia sudah menerjang lagi dengan hebat.

"Wuuuttt... dessss!"

Biarpun Sutejo sudah berusaha menangkis, namun pukulan itu sedemikian hebatnya sehingga tetap saja pundak Sutejo kena pukulan Hasto Nogo sehingga dia terlempar dan terbanting.

"Kakangmas Bromatmojo...!"

Sariwuni menjerit dan meninggalkan lawannya, menubruk ke arah suaminya. Namun Sutejo yang memiliki kedigdayaan luar biasa itu hanya merasa pening saja dan dia sudah meloncat bangkit kembali.

"Mari kita mundur saja...!"

Sutejo berkata.

"Mereka... mereka itu..."

Dia bingung dan pada saat itu, Sulastri yang melihat Sutejo berangkulan mesra dengan Sariwuni yang menolongnya, sudah menerjang lagi dengan dahsyat dan dengan hati yang amat panas.

"Desss...!"

Sutejo menangkis dan keduanya terpental.

Sariwuni juga terpaksa harus melawan lagi Roro Kartiko yang sudah menerjangnya dengan keris di tangan.

Pertempuran berlangsung terus dengan hebatnya.

Kini pihak Nusabarung mulai terdesak juga karena memang kalah banyak.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar teriakan mengerikan dan banyak perajurit Puger roboh disambar anak panah dari atas.

Itulah ekor atau sengat kalajengking yang sudah mulai bergerak!

Barisan yang bersembunyi di atas pohon-pohon dan di balik semak-semak telah mulai bergerak menghujankan anak panak ke arah para perajurit Puger.

Karena mereka itu bersembunyi di atas pohon, maka mereka yang memang terdiri dari ahli-ahli panah itu dapat menujukan anak-anak panah mereka ke arah tubuh para perajurit musuh.

Tentu saja bantuan yang tak tersangka-sangka ini membuat pasukan Puger menjadi panik dan mereka terpaksa harus menggunakan perisai untuk melindungi diri dari serangan anak panah dari atas.

Dan dengan cara begini, tentu saja mereka menjadi kurang kuat untuk menghadapi serangan lawan yang berdepan.

Maka mulailah pasukan Puger terdesak dan banyak jatuh korban.

Melihat keadaan ini, Sulastri dan kawan-kawannya menjadi khawatir juga.

Sulastri merasa makin jengkel karena dia masih belum berhasil merobohkan Sutejo, sedangkan Roro Kartiko yang dibantu oleh Ayu Kunti dan Ambar, dua orang anak buah Sriti Kencana, dan Joko Handoko yang dibantu oleh Tarmi dan Cempaka, dua orang anak buah Sriti Kencana lainnya, juga belum berhasil menjatuhkan Sariwuni dan Bandupati.

Bahkan Joko Handoko dan dua orang anak buahnya mulai terdesak oleh Bandupati yang amat tangguh itu dan baru setelah Padas Gunung turun tangan membantu, Bandupati menjadi berbalik kena didesak dan terpaksa dibantu oleh dua orang pengawalnya.

Juga Pragalbo masih bertanding melawan Menak Srenggo yang sudah turun dari atas pohon dan membantu putera dan puteri adipati itu.

Melihat betapa pasukannya mulai terdesak hebat, Pragalbo cepat berlari ke belakang, menyelinap di antara perajurit-perajurit meninggalkan Menak Srenggo dan membunyikan tanda untuk menarik mundur pasukannya.

Akan tetapi tiba-tiba Sulastri meloncat dan merampas terompet yang ditiupnya.

"Kita melawan terus, Paman, sampai titik darah terakhir!"

Kata Sulastri dan dia langsung menerjang Sutejo lagi dengan kemarahan yang sudah meluap-luap! Pragalbo tercengang, bingung akan tetapi terdengar suara ketawa dan Menak Srenggo telah menerjangnya lagi.

"Ha-ha, Pragalbo, wanita itu lebih gagah daripadamu yang takut mampus. Ha-ha, bersiaplah untuk mati dan kucekik lehermu!"

"Manusia rendah, pengkhianat terkutuk!"

Pragalbo membentak dan dia pun melawan dengan hebatnya.

Kini tidak ada lagi sekelumit pun niat di hatinya untuk mundur.

Akan tetapi sekali ini benar-benar pihak Puger terdesak dan terhimpit.

Korban yang jatuh makin banyak dan semangat bertempur mereka pun mulai menurun, berbeda dengan semangat bertempur pihak Nusabarung yang makin menggelora.

Agaknya, sebelum senja terganti malam, pasukan Puger sudah akan dapat dihancurkan dan dibinasakan sebagian besar perajuritnya dan mereka akan terpaksa melarikan diri atau menyerah, matahari telah condong ke barat namun perang campuh itu masih berlangsung terus.

(Lanjut ke

Jilid 35) Kemelut Di Majapahit (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 35 Debu mengebul tinggi memenuhi udara bercampur dengan pekik dan sorak mereka yang mengantar nyawa mereka yang tewas dalam perang yang haus darah itu.

Mereka itu seperti bukan manusia lagi, melainkan sekelompok binatang buas yang haus darah.

Darah berceceran di mana-mana, kilatan keris, pedang dan tombak yang berlumur darah menyilaukan mata, peluh bercucuran bersama dengan darah, dan sinar mata yang mencorong penuh nafsu membunuh sungguh mengerikan untuk dipandang.

Yang ada hanyalah membunuh atau terbunuh inilah yang membuat mereka menjadi nekat.

Naluri untuk menyelamatkan diri bercampur dengan nafsu untuk menang, yang membuat manusia lupa akan segala sesuatu, membuat manusia menjadi kejam luar biasa.

Yang penting hanya menang, menang, dan untuk mencapai kemenangan itu, membunuh sesama manusia bukan apa-apa, bahkan merupakan hal yang terhormat dan tinggi nilainya!

Itulah "kebudayaan"

Perang dan celakanya,kebudayaan macam ini menjadi bagian penting dari "peradaban"

Manusia!

Kini kedua pihak sudah sama lelah sehingga teriakan-teriakan tidak bergitu terdengar lagi.

Yang meramaikan suasana hanyalah bunyi dencing bertemunya senjata-senjata dibarengi dengus napas mereka dan kadang-kadang diseling teriakan mengerikan kalau ada manusia yang roboh dan tewas.

Pihak Puger makin terdesak.

Pertempuran antara Sulastri dan Sutejo juga nampak perubahan ketika Sutejo mempercepat gerakannya.

Dalam benturan tenaga sakti, Sutejo mengeluarkan suara bentakan nyaring dan Sulastri terpental sampai beberapa meter lalu roboh terbanting.

Melihat ini, Sariwuni yang sejak tadi mendesak Roro Kartiko namun belum berhasil mengalahkannya karena dara ini dibantu dua orang, cepat meloncat dan mengayun kerisnya menikam ke arah leher Sulastri.

Sariwuni yang menyaksikan sikap Sutejo kini diam-diam mengerti bahwa gadis berpakaian pria inilah yang selalu disebut-sebut oleh suaminya.

Pantas saja suaminya yang baru sekarang diketahui bernama Sutejo itu hanya mengenal dua nama, yaitu Sulastri dan Bromatmojo, yaitu nama dari dara itulah!

Baru dia dapat menduga akan duduknya perkara.

Tentu "ada apa-apa"

Antara suaminya dan dara berpakaian pria yang sakti mandraguna itu, maka kini melihat Sulastri roboh, dia sudah menerjang untuk membunuhnya.

"Isteriku, jangan...!"

Sutejo melompat dan cepat menangkis tusukan itu.

Lengannya berdarah karena kulitnya lecet oleh tusukan keris Sariwuni, akan tetapi Sulastri lolos dari bahaya maut.

Dara ini sudah meloncat lagi, mukanya pucat dan matanya memandang dengan kemarahan meluap-luap.

Akan tetapi dia tidak merasa bahwa ada dua titik air mata menempel di atas kedua pipinya, di bawah mata.

Pada saat tentara Puger terdesak hebat, tiba-tiba terdengar sorak-sorai gegap gempita dan nampaklah pasukan baru yang datang menyerbu, langsung menyerang pasukan Nusabarung!

Itulah pasukan bantuan dari Lumajang yang dipimpin oleh Maeso Pawagal!

Seperti kita ketahui, melihat Sulastri meninggalkan Lumajang dan mendengar betapa Puger diserang oleh Nusabarung, Sang Adipati di Lumajang lalu mengutus Maeso Pawagal, seorang senopatinya, untuk memimpin seribu orang perajurit pilihan dan pergi ke selatan membantu Puger.

Ketika tiba di Puger,Maeso Pawagal mendengar bahwa bala tentara Puger telah menyerang ke selatan,maka dia segera membawa pasukannya mengejar.

Akhirnya, menjelang senja itu, dia tiba di pesisir dan melihat betapa pasukan Puger sedang terdesak hebat, maka dia lalu mengerahkan pasukannya untuk menyerbu.

Kini gemparlah keadaan di medan perang itu dan pasukan Nusabarung menjadi panik.

Kekuatan pasukan Lumajang masih segar dan tentu saja bantuan pasukan Lumajang ini membangkitkan kembali semangat pasukan Puger yang tadi sudah terdesak dan terhimpit itu.

Sebaliknya, pasukan Nusabarung menjadi geger dan nyali mereka menyempit.

Melihat gelagat yang tidak baik ini, apalagi karena senja telah mulai gelap, Menak Srenggo cepat membunyikan tanda untuk menarik mundur tentaranya.

Mereka segera mundur dan lari berserabutan ke laut, di mana telah siap perahu-perahu mereka.

Mereka berloncatan ke dalam perahu, dikejar-kejar oleh pasukan Puger dan Lumajang, meninggalkan mereka yang tewas dan terluka.

Juga Sutejo, Sariwuni, dan Bandupati telah lebih dulu mengundurkan diri dan kembali ke Nusabarung.

Sekali ini, biarpun tadinya pihak Nusabarung telah hampir merebut kemenangan, akhirnya mereka harus mengakui kekalahan karena bantuan dari Lumajang itu.

"Keparat! Aku akan membujuk Kakang Adipati Menak Dibyo untuk sewaktu-waktu menyerbu dan menghajar Lumajang!"

Menak Srenggo mengepal tinjunya di atas perahu ketika luka di paha kirinya dirawat oleh seorang ahli pengobatan.

Sementara itu, Sutejo duduk termenung di perahu, membiarkan saja isterinya merangkulnya.

Dia masih bingung dan betapapun dia memutar otaknya, dia tidak dapat mengingat siapa adanya tiga orang muda yang menjadi senopati Puger tadi.

Dia merasa sudah mengenal baik dengan mereka itu, terutama sekali gadis berpakaian pria yang gagah perkasa tadi.

Ada sesuatu yang aneh tergerak di dalam dadanya ketika dia bertemu dan bertanding dengan dara itu, sesuatu yang menyentuh perasaan dan amat mengharukan hatinya.

Akan tetapi juga membuat dia bingung sekali.

Apalagi mendengar nama Sutejo disebut orang, dia menjadi makin bingung karena nama ini pun amat dikenalnya!

"Kakangmas, mereka itu menggunakan ilmu hitam untuk membikin bingung padamu.

Sudahlah, jangan memikirkan mereka lagi.

Untuk kekalahan ini, Ayah tentu akan membalas dendam."

Sariwuni menghibur, biarpun hatinya sendiri merasa tidak enak,penuh dengan kegelisahan dan rasa cemburu mengingat akan sikap suaminya terhadap dara berpakaian pria tadi.

Akan tetapi Sutejo diam saja dan menghadapi belaian dan rayuan wanita yang dianggapnya Sulastri dan yang menjadi isterinya itu dengan sikap dingin.

Perahu-perahu itu membawa perajurit-perajurit Nusabarung, melaju karena layar-layarnya menerima hembusan angin sepenuhnya menuju ke Nusabarung.

Hampir sepertiga jumlah pasukan mereka menjadi korban dalam perang itu.

Biarpun pihaknya sendiri mengalami banyak korban yang jatuh, namun pasukan Puger kembali ke Puger dengan hati besar.

Sang Adipati lalu mengadakan pesta untuk menghormati kedatangan pasukan Lumajang yang membantu dan untuk merayakan kemenangan.

Beginilah perang!

Perang dikobarkan oleh manusia yang memperebutkan kemenangan, karena kemenangan dianggap sebagai jalan menuju ke kemuliaan dan kesenangan.

Demikian kejamnya perang, kejam dan palsu.

Manusia menjadi tidak ada artinya sama sekali, dipermainkan oleh nafsu-nafsu beberapa orang yang berada di atas yang menghendaki kemenangan di pihaknya karena kemenangan ini akan memperkuat kedudukannya, akan mempertahankan kemuliaan dan kehormatannya, akan menjamin keselamatan dan kesenangannya.

Dan untuk itu, semua rakyat dikerahkan untuk saling bunuh dengan musuh, yaitu manusia-manusia lain yang dianggap menghalangi kesenangannya atau membahayakan kedudukannya.

Dan kalau perang sudah selesai, kemenangan dirayakan dengan pesta pora.

Perajurit-perajurit yang masih hidup diberi hadiah, sekedar hiburan.

Yang sakit dirawat dan diberi hadiah pula,sekedar hiburan.

Yang mati akan dihormati namanya dan diingat untuk suatu saat tertentu, sekedar hiburan.

Mereka ini hanya alat cukup dipelihara sekedarnya agar sewaktu-waktu dapat dipergunakan lagi apabila perlu.

Dan yang benar-benar merayakan kemenangan ini adalah mereka yang benar-benar menang, mereka yang dapat mempertahankan kedudukan dan kesenangan bagi diri sendiri.

Penderitaan rakyat atau para perajurit hanya diingat sewaktu-waktu saja, lalu dilupakan.

Para keluarga perajurit yang tewas, kehilangan suami, ayah atau anak, dan sebagai gantinya menerima sekedar hiburan itu, juga hiburan batin bahwa mereka mengorbankan nyawa ayah, suami atau anak demi ini, demi itu yang muluk-muluk.

Akan tetapi, betapa banyaknya di keheningan malam di kala mereka merindukan dia yang telah "gugur sebagai bunga", mereka bertanya-tanya kepada diri-sendiri mengapa terjadi ini semua?

Mengapa nyawa manusia dikorbankan secara demikian sia-sia?

Dapatkah kebahagiaan diperoleh dengan cara saling sembelih?

Dapatkah kebenaran diraih dengan cara saling bunuh?

Hati nurani bertanya-tanya.

Mengapa kita suka perang?

Mengapa kita suka bermusuhan?

Mengapa kita membenci?

Semua orang mengatakan ingin damai.

Semua orang mengatakan ingin baik.

Semua orang mengatakan ingin bersahabat, ingin dicinta.

Betapa mungkin bicara tentang damai kalau kita masih suka bermusuhan?

Hentikan permusuhan dan tanpa dicari perdamaian pun akan muncul.

Betapa mungkin bicara tentang kebaikan kalau kita masih suka melakukan kejahatan.

Hentikan perbuatan jahat dan tanpa dicari lagi kebaikan pun akan timbul.

Yang penting adalah meneliti diri sendiri, mengenal diri sendiri, mengerti diri sendiri.

Hal ini baru mungkin terlaksana kalau kita mengawasi diri sendiri setiap saat, memandang dan mendengarkan segala gerak-gerik diri sendiri lahir batin setiap saat, mengamati jalan pikiran sendiri, suara hati sendiri, sehingga akan nampaklah semua kepalsuan dan kebusukan diri sendiri.

Kita selalu ingin merubah kedudukan, padahal keadaan itu adalah kenyataan,sedangkan keinginan merubah itu hanyalah khayal belaka.

Kita pemarah, akan tetapi kita ingin menjadi penyabar.

Mana mungkin ini?

Nanti hanya akan muncul paksaan, sabar pura-pura dan palsu, dan itu bukanlah sabar namanya.

Kesabaran akan ada kalau kemarahan sudah tidak ada.

Jadi yang penting bukan mengkhayalkan kesabaran yang tidak ada, melainkan mempelajari kemarahan yang berada di dalam batin sendiri itulah!

Aku marah!

Aku adalah kemarahan itu sendiri adalah pikiran,dan pikiran adalah kemarahan itu sendiri.

Kemarahan timbul karena pikiran mengingat-ingat hal yang merugikan Si aku lahir batin.

Si aku juga Si pikiran itulah, pikiran membentuk aku dan kalau aku dirugikan, maka aku menjadi kemarahan!

Aku marah, kemarahan itu tiada bedanya dengan aku, Si pikiran.

Lalu aku tidak marah, pikiran yang sesungguhnya adalah kemarahan itu ingin lain, ingin sabar,ingin tidak marah.

Mana mungkin?

Sebaliknya tanpa ingin apa-apa, hanya mengamati diri-sendiri, yaitu kemarahan itu, maka kita akan mengenal diri sendiri.

Pengenalan diri sendiri ini akan menimbulkan kewaspadaan dan pengertian, dan mendatangkan perubahan yang tidak dipaksakan oleh Si aku, yaitu pikiran itu sendiri pula.

Kalau sudah terjadi perubahan, kalau sudah tidak ada kemarahan,maka tidak lagi dibutuhkan kesabaran yang dicita-citakan itu tadi.

Demikian pula dengan perdamaian.

Perdamaian yang dicita-citakan hanyalah permainan dari pikiran, permainan dari Si aku yang sedang berada dalam keadaan perang.

Dalam keadaan perang mengkhayalkan perdamaian adalah omong kosong besar.

Perang di dunia merupakan bentrokan keinginan yang berbeda-beda dan berlawanan dari bangsa-bangsa, dan bangsa-bangsa adalah masyarakat-masyarakat, dan masyarakat adalah kita, saya dan anda dan dia.

Selama kita menjadi hamba dari keinginan-keinginan kita, mengejar keinginan yang diperluas dengan sebutan cita-cita dan sebagainya, maka sudah pasti akan terjadi bentrokan-bentrokan, konflik-konflik yang berupa bentrokan antar manusia, kemudian bentrokan antar ras, antar kelompok, antar suku, kemudian antara bangsa dan antara negara, juga antara agama dan politik!

Hal ini sudah jelas sekali bagi siapa yang sudi membuka mata dan telinga dan tidak menutup mata terhadap kenyataan, lalu hanya ikut-ikutan saja kepada ajaran-ajaran lapuk yang diulang-ulang.

Di Puger sedang dirayakan pesta, tentu saja mereka yang pulang dengan badan utuh saja yang dapat bersenang-senang.

Mereka yang terluka rebah merintih di atas pembaringan, ditangisi sanak keluarganya.

Mereka yang tewas dan bahkan jenazahnya saja tidak dapat dibawa pulang, juga hanya tinggal nama yang diratap tangisi oleh anak isterinya.

Sulastri juga menangis.

Sepanjang perjalanan pulang ke Puger, dia sudah menangis dan kini dia menangis di dalam kamarnya.

Semua ucapan hiburan dari Roro Kartiko tidak didengarnya dan dia masih menangis terisak-isak.

Hatinya sakit bukan main.

Sutejo telah berpihak kepada Nusabarung!

Bukan itu saja.

Sutejo tidak lagi mengenalnya atau mungkin memang tidak lagi sudi mengenalnya!

Dan lebih dari itu lagi.

Sutejo memanggil isterinya itu dengan Sulastri, yaitu namanya, bahkan Sutejo menggunakan nama Bromatmojo!

Bukankah semua itu ditujukan untuk mengejeknyam untuk memukul batinnya?

Sakit sekali hatinya!

"Sudahlah, Mbakayu, jangan terlalu berduka.

Saya yakin bahwa tentu ada apa-apa yang luar biasa terjadi pada diri Kakangmas Sutejo.

Kalau tidak begitu, tidak mungkin rasanya dia bersikap seaneh itu.

Mbakayu Sulastri,"

Roro Kartiko berkata untuk ke sekian kalinya, akan tetapi Sulastri hanya menggeleng kepala sambil sesenggukan, bahkan menjambaki rambutnya sendiri seperti seorang anak kecil yang mengambek.

Dengan air mata membasahi kedua matanya Roro Kartiko lalu meninggalkan Sulastri seorang diri dan diam-diam dia mendatangi Kakaknya, Joko Handoko yang juga sedang duduk bermuram durja dan termenung di dalam kamarnya.

"Kakangmas, kasihan sekali Mbakayu Sulastri. Tak dapat aku menghiburnya..."

Roro Kartiko menangis. Joko Handoko menarik napas panjang.

"Aku tahu, Adikku, aku tahu..., memang terlalu sekali Dimas Sutejo...."

"Jangan menyalahkan dia, Kakangmas. Aku tidak percaya bahwa Kakangmas Sutejo akan sengaja bersikap seperti itu. Tentu ada apa-apanya, ada rahasianya... dan aku akan pergi menyelidiki ke sana, Kakangmas."

"Tidak, jangan, Diajeng. Akulah yang akan pergi menyelidiki ke sana dan mengingatkan Adimas Sutejo. Sebelum kau datang memang aku sudah merencanakan itu. Aku harus melakukan itu demi Sulastri..."

"Tidak, aku harus pergi juga. Kakangmas, lupakah kau siapa adanya orang yang kucinta sepenuh hatiku di dunia ini? Selain engkau dan Mbakayu Sulastri, aku... aku hanya dapat mencinta seorang pria saja di dunia ini...."

Joko Handoko menunduk.

"Hemm, sungguh kasihan sekali engkau, Adikku. Kenapa nasib kita serupa benar? Engkau mencinta Sutejo dan aku mencinta Sulastri, akan tetapi mereka berdua tidak dapat membalas cinta kita karena mereka itu saling mencinta. Apalagi yang dapat kita lakukan untuk membalas budi mereka itu selain mempertemukan mereka? Marilah, Adikku, mari kita pergi bersama."

"Kita harus menyamar sebagai Sriti Kencana dan mengajak empat orang pembantu kita yang paling setia, yaitu Ayu Kunti, Ambar, Tarmi dan Cempaka. Urusan ini harus dilakukan dengan sembunyi. Kalau kita berhasil menyelundup ke Nusabarung dan dapat bertemu dengan Kakangmas Sutejo, aku rasa dia tidak akan melupakan kita. Tadi pun sikapnya terhadap kita sudah menunjukkan bahwa dia masih ingat kepada kita."

"Baik Adikku, mari kita mengadakan persiapan."

"Demikianlah, tanpa diketahui seorang pun, kakak beradik ini bersama empat orang anak buahnya, mengenakan pakaian Sriti Kencana dan mereka berenam lalu lolos dari Puger, meninggalkan orang-orang yang masih dalam suasana pesta kemenangan itu, menuju ke selatan. Tak lama kemudian, enam orang yang berpakaian serba hitam ini sudah berlayar dalam sebuah perahu kecil menuju ke Nusabarung. Untung bagi mereka bahwa ombak laut di waktu itu sedang surut sehingga mereka dapat berlayar tanpa banyak kesukaran. Bulan sepotong di langit menerangi permukaan laut dan mereka dapat melihat Pulau Nusabarung yang seperti seekor ikan raksasa sedang timbul di permukaan air, kelihatan menyeramkan. Sementara itu, Sulastri yang ditinggalkan seorang diri di dalam kamarnya,menangis sepuas hatinya. Makin dia mengenangkan Sutejo, makin hancurlah hatinya,membuat hatinya merasa merana dan lenyaplah segala harapannya. Selama ini, masih ada sedikit harapan yang bernyala semacam dian kecil di hatinya bahwa sekali waktu dia akan dapat bertemu dengan pemuda itu dan mungkin segala hal akan dibikin terang. Selama ini dia merasa betapa telah bersikap terlalu terburu nafsu terhadap Sutejo. Kini dia dapat menduga apa yang telah terjadi di puncak Bromo. Mengingat akan watak Sutejo yang sudah-sudah, memang tidaklah mungkin kalau pemuda itu melakukan pembunuhan terhadap Gurunya. Tentu semua itu adalah perbuatan Resi Harimurti dan dia merasa gembira bahwa dia telah dapat membalas kematian Gurunya dan telah berhasil membunuh Resi Harimurti. Mengapa dia tidak pernah mau mendengarkan pembelaan diri dan penjelasan Sutejo? Akan tetapi, pertemuannya dengan Sutejo sebagai senopati Nusabarung ini menghapus semua harapan, memadamkan sedikit api harapannya. Sutejo telah menikah dengan puteri Adipati Nusabarung! Bahkan Sutejo telah mengejek dan mempermainkannya, dengan menggunakan namanya, nama aselinya yang diberikan kepada isterinya dan nama samarannya dipakainya sendiri! Betapa anehnya! Sulastri bangkit duduk, teringat kepada Roro Kartiko. Dia menoleh ke sana-sini mencari-cari, namun tidak melihat Roro Kartiko. Roro Kartiko tadi menghiburnya dan menyatakan berkali-kali bahwa tentu ada tersembunyi rahasia yang membuat Sutejo bersikap demikian tidak wajar. Tidak wajar? Memang! Kini dia teringat akan pandang mata pemuda itu. Memang ada sesuatu yang aneh pada pemuda itu. Ada sesuatu yang tidak wajar, seolah-olah Sutejo menjadi berubah wataknya, berubah ingatannya, seperti orang lupa segala. Dia tahu, dalam perang tanding siang tadi,kalau Sutejo menghendaki, tentu dia sudah roboh dan tewas oleh pemuda yang amat sakti mandraguna itu. Sutejo banyak mengalah dalam pertandingan tadi, bahkan Sutejo menyelamatkan dia ketika dia hendak dibunuh oleh Sariwuni! Apa artinya semua itu? Kini baru dia teringat bahwa dia tadi tidak pernah mempedulikan Roro Kartiko dan kini dia membutuhkan dara itu untuk diajak bicara tentang sikap Sutejo yang amat aneh itu. Cepat dia turun dari pembaringan dan keluar dari kamar itu, mencari-cari Roro Kartiko. Akan tetapi di luar pun tidak ada. Dia lalu menuju ke kamar suaminya dan ternyata kamar itu pun kosong. Dia merasa heran dan hatinya mulai merasa curiga dan tidak enak. Apalagi ketika dia mendapat kenyataan bahwa para anggauta Sriti Kencana yang paling dekat dengan kakak beradik itu pun tidak nampak. Akhirnya dia bertemu dengan Sriwanti, seorang di antara anak buah Sriti Kencana.

"Sriwanti, katakan, di mana adanya Kakangmas Handoko dan Diajeng Kartiko?"

Dia bertanya.

Sriwanti telah dipesan untuk tidak membocorkan kepergian enam orang itu, akan tetapi terhadap Sulastri tentu saja dia tidak berani menyangkal.

Bukankah wanita ini adalah isteri Joko Handoko dan bahkan telah banyak berjasa terhadap Sriti Kencana sehingga tidak ada rahasia lagi baginya?

Dengan sinar mata terheran-heran Sriwanti memandang wanita itu dan merasa heran mengapa isteri Joko Handoko sendiri sampai tidak tahu ke mana perginya rombongan Sriti Kencana itu.

"Mereka berdua telah pergi bersama Ambar, Tarmi, Cempaka, dan Ayu Kunti. Berpakaian sebagai Sriti Kencana, sudah sejak tadi...."

"Eh, ke mana mereka?"

"Hamba-hamba tidak diberi tahu, hanya dipesan agar tidak mengatakan kepada siapa pun akan kepergian mereka. Akan tetapi terhadap Paduka hamba tidak berani menyembunyikan. Hamba tidak tahu ke mana mereka pergi...."

Sulastri merasa terkejut sekali, alisnya berkerut dan dia termenung.

Kemudian tiba-tiba dia teringat dan dia mengepal kedua tangannya, kemudian sekali berkelebat dia sudah lenyap dari depan Sriwanti, membuat wanita ini menjadi bengong dan kagum bukan main.

Juga dia tidak mengerti mengapa kalau lain orang merayakan kemenangan perang itu, dua orang Gustinya dan wanita perkasa yang baru saja menghilang itu kelihatan sama sekali tidak gembira.

Sementara itu, enam orang Sriti Kencana yang telah berlayar dengan perahu menuju ke Nusabarung, telah berhasil mendarat di pulau itu.

Untung bagi mereka bahwa keadaan pulau itu tidak terjaga terlalu kuat, bahkan para penjaga sudah pergi tidur karena selain mereka itu semua letih setelah melakukan perang selama beberapa hari ini, juga mereka mengira bahwa setelah terjadi perang itu, tidak mungkin pihak musuh akan dapat menyerbu, karena betapapun juga, pihak musuh telah kehilangan banyak korban dan juga tentu telah berada dalam keadaan letih sekali.

Enam orang itu mendarat dan menyembunyikan perahu, meninggalkan dua orang menjaga perahu agar mempersiapkan perahu kalau-kalau mereka nanti membutuhkan untuk melarikan diri dengan secepatnya.

Kemudian Joko Handoko dan Roro Kartiko mengajak dua orang pembantunya, yaitu Ayu Kunti dan Cempaka yang memiliki kepandaian paling tinggi di antara empat orang anggauta Sriti Kencana, untuk menyelundup ke dalam pulau dan melakukan penyelidikan.

Mereka berpencar menjadi dua, Roro Kartiko dan kakaknya membelok ke kiri dan kedua orang anggauta Sriti Kencana itu disuruh menyelidiki ke kanan dan mereka berjanji untuk kembali ke perahu sebelum fajar menyingsing.

Roro Kartiko dan Joko Handoko melakukan perjalanan cepat memasuki pulau itu,berlindung di kegelapan bayangan-bayangan pohon dan akhirnya mereka tiba di bangunan-bangunan besar di tengah pulau.

Karena malam itu di atas Pulau Nusabarung terdapat awan yang bergumpal-gumpal sehingga sering kali bulan sepotong tidak nampak, maka keadaannya cukup gelap bagi dua orang yang berpakaian hitam ini untuk menyelinap tanpa dicurigai oleh para penjaga yang bermalas-malasan itu.

Karena kegelapan itu, maka akhirnya tanpa banyak kesulitan mereka dapat menemukan gedung kadipaten yang cukup besar dan megah.

Juga di tempat ini penjagaan tidak begitu ketat.

Memang Kadipaten Nusabarung merupakan sebuah pulau, maka tentu saja tidak memerlukan penjagaan ketat di sekitar kadipaten karena musuh hanya bisa datang dari luar pulau, sedangkan di dalam pulau itu semua adalah perajurit atau anak buah Kadipaten Nusabarung.

Joko Handoko dan Roro Kartiko maklum bahwa kalau Sutejo telah menjadi mantu Adipati Nusabarung, maka dia tentu tinggal di dalam gedung kadipaten atau di dekatnya, maka mereka berdua lalu menyelinap ke dalam taman istana atau gedung besar kadipaten itu, lalu memasukinya melalui pintu belakang.

Dengan kepandaian mereka, kedua orang kakak beradik ini akhirnya dapat mengintai ke dalam ruangan belakang di mana mereka melihat dua orang putera dan puteri Adipati Nusabarung, yaitu Bandupati dan Sariwuni, sedang sibuk bercakap-cakap dengan suara lirih.

"Sari, perlukah itu? Aku khawatir kalau terlalu banyak engkau memberi sari akar Lalijiwo kepada Dimas Bromatmojo, hal itu akan merusak kesehatannya kelak. Sudah lama dia menjadi suamimu, perlukah engkau dibantu oleh Lalijiwo lagi?"

"Kakang Bandu, melihat sikapnya di medan perang siang tadi, sungguh hatiku merasa khawatir sekali. Kiranya itulah wanita yang bernama Sulastri, dan agaknya nama Bromatmojo adalah nama samaran wanita itu pula! Dan nama Kakangmas Bromatmojo sesungguhnya adalah Sutejo! Ah, kalau dalam keadaan lupa segala dia masih teringat akan nama Sulastri dan nama samaran wanita itu, agaknya dahulu... dia amat mencinta Sulastri. Kini mereka saling berjumpa dan kulihat wanita itu memang selain cantik juga amat sakti mandraguna, maka aku khawatir sekali, Kakang. Dia harus diberi minum lebih banyak lagi."

"Ah. Sari adikku yang manis. Dia telah menjadi suamimu, andaikata dia teringat akan masa lalu sekalipun, apa gunanya baginya? Dia adalah suamimu yang sah dan dia telah menerima banyak budi kebaikan dari kita, tentu dia tidak akan melupakan begitu saja. Pula aku mendengar bahwa senopati wanita yang ternyata adalah Sulastri itu adalah anak mantu Adipati Puger. Andaikata mereka berdua dulu memang saling mencinta, akan tetapi kalau keduanya telah menikah dengan orang-orang lain, mereka akan dapat berbuat apakah?"

Sariwuni menarik napas panjang akan tetapi dia melanjutkan kesibukannya membuat ramuan obat, cairan jamu berwarna hijau dari perasan akar Lalijiwo dan rempah-rempah lainnya.

"Biarpun begitu, hatiku merasa tidak enak, Kakang. Aku melihat dia sekarang termenung dan jelas kelihatan berduka dan murung. Agaknya, kalau dia sampai teringat masa lalu, tentu dia akan jatuh cinta kembali kepada wanita itu. Kalau saja kami mempunyai anak, tentu tidak begini khawatir hatiku. Akan tetapi semenjak dahulu, dia tidak pernah bersikap mesra yang sedalamnya terhadap diriku,seolah-olah ada jurang pemisah di antara kami. Kakang, aku... aku sudah terlanjur jatuh cinta kepadanya, dan aku takut kehilangan dia...."

"Hemm, kita semua juga tidak ingin kehilangan dia, Adikku. Dia merupakan tenaga bantuan yang amat hebat dan amat berharga bagi Nusabarung. Akan tetapi, alangkah baiknya kalau dia menjadi adik iparku dan menjadi senopati Nusabarung dalam keadaan sadar, tidak seperti yang sudah-sudah, seperti patung hidup karena pengaruh Lalijiwo...."

"Kakang, apakah kau berani tanggung kalau dia tidak kuberi Lalijiwo, lalu dia teringat akan segala hal dan kemudian lari meninggalkan aku dan meninggalkan Nusabarung?"

"Ah, memang bahayanya terlalu besar... sudahlah terserah kepadamu, Adikku. Dia adalah suamimu."

"Justru sekarang ini dia harus minum lebih banyak lagi sari Lalijiwo untuk membuat dia melupakan perempuan jahanam itu!"

Sariwuni lalu membawa cawan terisi jamu itu memasuki sebuah pintu yang berada di sebelah kiri ruangan di mana dia tadi bercakap-cakap dengan Bandupati.

Pemuda raksasa tampan ini menarik napas panjang, menggeleng-geleng kepala lalu pergi dari situ.

Roro Kartiko menyentuh lengan kakaknya, kemudian mereka menanti sampai Bandupati pergi dan tidak terdengar lagi langkahnya, mereka lalu cepat memasuki ruangan yang sunyi itu dan berindap-indap memasuki pintu di mana mereka tadi melihat Sariwuni pergi membawa cawan berisi jamu.

Jantung kakak dan adik ini berdebar keras.

Sekarang mereka berdua mengerti apa yang terjadi dengan diri Sutejo.

Kiranya pemuda itu telah diberi minum racun yang bernama Lalijiwo sehingga Sutejo lupa segala-galanya, bahkan agaknya telah lupa akan namanya sendiri dan yang diingatnya hanyalah dua nama, yaitu Sulastri dan Bromatmojo.

Nama Sulastri kemudian dipakai oleh Sariwuni dan nama Bromatmojo dipakai sendiri oleh Sutejo.

Melihat kenyataan ini, jantung kedua orang kakak beradik ini seperti ditusuk ujung keris berkarat.

Jelaslah betapa Sutejo tetap mencinta Sulastri!

Sebetulnya, penyelidikan mereka telah berhasil.

Mereka telah dapat membongkar rahasia keanehan yang meliputi diri Sutejo.

Akan tetapi mendengar dan melihat Sariwuni hendak mencekoki Sutejo dengan sari akar Lalijiwo yang lebih kuat lagi,tentu saja mereka berdua tidak dapat tinggal diam.

Keduanya lalu menyelinap dan mengejar dengan niat untuk menyelamatkan Sutejo, sungguhpun mereka berdua maklum bahwa perbuatan mereka ini amat berbahaya sekali.

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

"Mata-mata hina, sungguh berani mati mengantarkan nyawa!"

Dan secara tiba-tiba saja muncullah Menak Srenggo dari sebuah pintu dan menghadang kakak beradik itu!

Joko Handoko dan Roro Kartiko terkejut bukan main melihat kakek raksasa ini menghadang di depan mereka.

Mereka berdua cepat mencabut keris dan hendak menyerang, akan tetapi dengan tertawa Menak Srenggo bertepuk tangan tiga kali dan dari semua penjuru muncullah belasan orang pengawal yang bertubuh tinggi besar.

Dengan sikap mengancam dan menyeramkan belasan orang itu, dipimpin oleh Menak Srenggo, telah mengurung kakak beradik ini yang berdiri saling membelakangi dan siap untuk membela diri.

"Ha-ha-ha, kiranya Joko Handoko dan Roro Kartiko yang berani datang di sini. Bukan main! Sungguh berani sekali! Heran, mengapa Adipati Puger mengutus putera dan puteri angkatnya sendiri menjadi mata-mata? Apakah Puger sudah kehabisan jago? Hayo kurung dan bunuh mereka!"

Akan tetapi sebelum para pengawal bergerak, terdengar seruan nyaring.

"Tahan!"

Semua orang berhenti bergerak dan ternyata yang muncul adalah Bandupati.

Ketika Bandupati mendengar suara ribut-ribut itu, dan cepat menghampiri dan alangkah kaget dan juga girang serta heran rasa hatinya ketika dia mengenal putera dan puteri Adipati Puger!

Terutama sekali melihat Roro Kartiko yang telah menggerakkan hatinya itu, dia benar-benar merasa girang sekali.

Tanpa dicari, ternyata dara yang membuatnya tergila-gila itu telah datang sendiri!

"Jangan bunuh mereka!

Jangan sampai lukai mereka.

Tangkap mereka hidup-hidup, mereka adalah putera dan puteri Adipati Puger, calon tawanan-tawanan kita yang amat berharga!"

Teriak Bandupati.

Munculnya Bandupati ini menyelamatkan nyawa Joko Handoko dan Roro Kartiko, akan tetapi tetap saja mereka tidak sudi kalau dijadikan tawanan maka ketika Bandupati dibantu oleh Menak Srenggo menyerang, mereka membela diri dan menyambut dengan keris di tangan.

Bandupati menubruk untuk menangkap Roro Kartiko, akan tetapi dara ini dengan cekatan menyambut tubrukan itu dengan kerisnya yang menyambar ke arah dada.

Karena mereka berdua merasa tidak ada gunanya lagi menyembunyikan wajah mereka,maka mereka sudah merenggut lepas kain hitam yang menutupi muka.

Tadinya mereka bersama empat orang anak buah mereka mengenakan pakaian Sriti Kencana dan muka mereka sebagian besar, dari bawah mata ke bawah, ditutupi kain hitam.

Sungguh tidak mereka sangka bahwa mereka akan terlihat oleh Menak Srenggo dan tentu saja Menak Srenggo yang pernah menjadi senopati Puger itu segera mengenal mereka.

"Eh... hebat juga Andika, puteri yang manis!"

Bandupati berseru dan cepat dia mengelak dari sasaran keris.

"Bukankah namamu Dyah Roro Kartiko? Wong ayu, lebih baik engkau dan kakakmu menyerah saja. Sayang sampai kalau lecet kulitmu yang halus. Daripada bermusuhan, bukankah lebih baik kita bersahabat?"

Bandupati berkata sambil tersenyum dan memandang kagum.

"Siapa sudi bersahabat dengan orang macam engkau?"

Roro Kartiko memaki dan dia cepat menerjang lagi.

Namun Bandupati yang memiliki kepandaian tinggi itu sudah mengelak dengan mudahnya.

Di lain pihak, Joko Handoko juga sudah diserang oleh Menak Srenggo yang dia tahu memang amat digdaya itu, akan tetapi orang muda ini tidak merasa gentar dan mengamuk seperti banteng terluka.

"Pergunakan tali! Tangkap mereka hidup-hidup!"

Bandupati berseru dan kini para pengawal sudah mempersiapkan tali-tali yang dibuat seperti laso.

Dikepunglah Joko Handoko dan Roro Kartiko dan tali-tali itu beterbangan dari semua penjuru, merupakan laso-laso yang menyambar ke arah kepala mereka.

Dua orang kakak beradik itu tentu saja menjadi sibuk sekali.

Mereka berusaha mengelak, menangkis dan merobohkan para pengeroyok, akan tetapi kesibukan ini membuka kesempatan kepada Bandupati dan Menak Srenggo untuk menerkam ke depan.

Kedua lengan Joko Handoko dan Roro Kartiko dapat ditangkap, ditelikung dan di lain saat para pengawal telah menubruk dan mengikat kaki tangan mereka dengan tali sehingga mereka tak mampu bergerak pula.

Para pengawal lalu diperintahkan untuk mundur.

Bandupati memondong tubuh Roro Kartiko dan Menak Srenggo menyeret tubuh Joko Handoko, keduanya lalu memasuki sebuah ruangan dalam di mana duduk Sariwuni dan Sutejo.

"Kakang Bandu, apakah ribut-ribut itu? Eh, bagaimana mereka ini dapat kau tangkap?"

Sariwuni berseru heran sambil memandang dua orang tawanan itu yang sudah diturunkan oleh Bandupati dan Menak Srenggo.

Biarpun kaki tangan mereka dibelenggu, Joko Handoko dan Roro Kartiko berdiri dan memandang dengan mata mendelik penuh kemarahan, dan mereka memandang kepada Sutejo dengan sinar mata penuh rasa penasaran, akan tetapi juga mengandung kegelisahan dan kasihan karena mereka berdua maklum betapa pemuda yang gagah perkasa ini sama sekali tidak berdaya, seperti patung hidup dan kehilangan ingatan di bawah pengaruh racun yang dilolohkan kepadanya oleh putera-puteri Adipati Nusabarung yang kejam itu.

Ketika Sutejo melihat dua orang tawanan itu, dia memandang seperti orang linglung dan bingung, akan tetapi dia mengerutkan alisnya dan bangkit berdiri sejenak memandang bergantian kepada Roro Kartiko dan Joko Handoko.

Lalu bertanya.

"Siapakah mereka ini? Mengapa mereka ditangkap dan dibelenggu?"

Adimas Bromatmojo, apakah engkau lupa lagi?

Mereka adalah putera dan puteri Adipati Puger.

Mereka datang ke sini sebagai mata-mata Puger yang hendak menyelidiki keadaan kita, akan tetapi untung Paman Menak Srenggo melihat mereka sehingga mereka dapat ditangkap.

Ha-ha, Adimas Bromatmojo, inilah puteri Puger yang cantik dan mengagumkan hatiku itu.

Aku jadi ingat akan usulmu untuk berdamai dengan Puger dan melamar puteri Sang Adipati.

Dan ternyata dia sendiri telah datang ke sini sebelum kulamar, ha-ha-ha!"

"Kakangmas Sutejo! Ingatlah, Kakangmas, sadarlah! Engkau adalah Kakangmas Sutejo! Lupakah engkau akan namamu sendiri? Ingatlah betapa Mbakayu Sulastri selalu menanti-nantimu! Dan nama Bromatmojo adalah nama Mbakayu Sulastri kalau menyamar sebagai pria. Ingatlah, Kakangmas Sutejo!"

Tiba-tiba Roro Kartiko berseru nyaring.

Dua orang putera dan puteri Adipati Nusabarung itu tidak mencegah.

Memang mereka hendak menguji Sutejo dan mereka memandang kepada orang muda itu penuh perhatian.

Sutejo kelihatan makin bingung.

Dia memandang dara yang bicara itu dengan alis berkerut.

"Apa... apa artinya kata-katamu itu? Siapa Sutejo? Aku seperti mengenal nama itu, dan Sulastri...? Sulastri...?"

Dia memandang kepada Sariwuni, kepada isterinya yang selalu dikenalnya sebagai Suastri.

Sariwuni mendekati suaminya yang kembali duduk dengan alis berkerut dan dengan jari tangan memijit-mijit pelipis kepalanya itu.

Sariwuni datang membawa secawan jamu yang tadi belum sempat diminum oleh Sutejo karena terjadi keributan tadi.

"Kakangmas Bromatmojo, perlu apa mendengarkan ocehan pihak musuh? Mereka ini datang sebagai mata-mata dan sengaja hendak mengacaukan pikiran. Nah, kau minumlah jamu ini,Kakangmas. Jamu ini akan menghilangkan pening di kepalamu dan membuat pikiranmu tenang kembali."

Tanpa memperdulikan dua orang tawanan itu, dengan sikapnya yang manja, dengan langkah yang lemah gemulai dan lenggang yang membuat pinggulnya yang penuh montok itu menonjol dan bergerak-gerak hidup, Sariwuni menghampiri Sutejo sambil membawa jamu dalam cawan terbuat daripada emas itu.

"Perempuan iblis! Terkutuklah engkau! Kakangmas Sutejo, jangan mau minum! Itu adalah racun Lalijiwo dan karena minuman itulah maka engkau kehilangan ingatanmu!"

Setelah berkata demikian, dengan nekat Roro lalu mengerahkan seluruh tenaganya dan biarpun kedua kaki dan tangannya terikat, tiba-tiba tubuhnya sudah mencelat ke atas dan dengan kedua kakinya dia telah menerjang Sariwuni!

Kejadian ini sama sekali tidak disangka-sangka oleh semua orang.

Bagaimana mungkin dalam keadaan terbelenggu kaki dan tangannya itu, dara Puger ini masih berani melakukan serangan senekat itu?

Banduapti dan Menak Srenggo juga sama sekali tidak pernah menyangkanya, maka mereka tidak sempat mencegah.

Sariwuni sendiri juga tidak menyangka, maka ketika tiba-tiba tubuh Roro Kartiko itu menerjang ganas, dia terkejut bukan main.

"Ehhh...!"

Dia berteriak, mencoba menghindar akan tetapi gerakannya itu membuat cawan jamu itu miring dan isinya tumpah keluar, sedangkan kedua kaki Roro Kartiko tetap saja mengenai pundaknya sehingga Sariwuni roboh terguling!

Bersama robohnya tubuh Sariwuni, tubuh Roro Kartiko juga terguling karena dengan kedua kakinya terbelenggu tentu saja dia tidak dapat bergerak leluasa.

Semua orang terkejut, akan tetapi tidak merasa khawatir karena biarpun tendangan tadi amat keras, namun tidak membahayakan keselamatan Sariwuni dan hanya menumpahkan obat di dalam cawan.

Akan tetapi, Sariwuni menjadi marah bukan main.

Mukanya merah dan matanya mengeluarkan sinar berapi-api.

Dia meloncat bangun,memandang kepada Roro Kartiko yang tak dapat bangun kembali itu dengan mata mendelik.

"Perempuan jahanam, kau sudah bosan hidup!"

Secepat kilat Sariwuni menubruk dengan tangan mencabut kerisnya.

"Sari..., jangan...!"

Banduputi mencoba untuk mencegah, akan tetapi terlambat karena Sariwuni sudah menubruk dan sekali ayun, kerisnya menancap ke ulu hati Roro Kartiko.

"Plakk...!"

Sariwuni terhuyung ke belakang ketika lengannya ditampar oleh Sutejo, akan tetapi kerisnya tertinggal di dada Roro Kartiko dan menancap sampai ke gagangnya.

"Kenapa... kenapa kau membunuh dia...?"

Sutejo bertanya gagap dan menjadi bingung.

Ucapan Roro Kartiko tadi benar-benar mendatangkan kebingungan di dalam hatinya, seolah-olah angin badai yang menggoyahkan akar-akar yang telah lama terpedam.

Akan tetapi dia masih belum dapat menerobos awan gelap yang menyelimuti pikirannya.

Karena tadi dia termangu-mangu dan termenung bingung, maka dia juga tidak sempat mencegah Sariwuni menyerang Roro Kartiko.

Dengan bingung Sutejo berlutut dan mengangkat leher Roro Kartiko, memandang dada yang sudah menjadi sarung keris itu.

Roro Kartiko mengeluh akan tetapi ketika memandang wajah Sutejo, dia tersenyum.

Teriakan Joko Handoko memanggil namanya tidak diperdulikannya.

"Adikku... Roro..."

Joko Handoko hanya dapat berseru dengan hati seperti ditusuk rasanya, matanya terbelalak dan mukanya pucat. Sutejo masih memandang wajah dara itu, lalu perlahan-lahan dia berkata.

"Andika adalah puteri Adipati Puger, kenapa datang ke sini seperti ini...? Ah, Andika terluka parah, tak mungkin dapat tertolong lagi..."

Roro Kartiko masih tersenyum.

"Kakangmas Sutejo, aku datang untuk menyelamatkanmu... ingatlah, aku Roro Kartiko yang pernah kau bantu berkali-kali, aku dan Kakangmas Handoko adalah putera-puteri bekas Bupati Progodigdoyo. Ingat? Ayahku berdosa besar kepadamu, kepada keluargamu, biarlah aku mati dalam membelamu, Kakangmas. Ingatlah, engkau adalah Kakangmas Sutejo, dan Mbakayu Sulastri menanti-nantimu di Puger. Kau berada dalam cengkeraman orang-orang Nusabarung..."

"Tutup mulutmu, perempuan rendah!"

Sariwuni membentak dan menerjang maju, akan tetapi Sutejo memalangkan lengannya dan pada saat itu Roro Kartiko tersenyum dan menghembuskan napas terakhir.

Agaknya dara ini rela mati di dalam rangkulan Sutejo.

Sutejo merebahkan tubuh itu di atas lantai, lalu bangkit berdiri memandang isterinya, dan menarik napas panjang.

"Sulastri, isteriku, sungguh aku tidak mengerti mengapa seringkali engkau melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan hatiku?"

Sariwuni merangkul suaminya dan menarik tangan suaminya itu untuk duduk kembali, lalu dia duduk di atas pangkuan suaminya dan mencium pipinya, lalu berkata merengek manja.

"Suamiku, Kakangmas Bromatmojo, kenapa kau berkata demikian? Apakah kau tidak melihat betapa tadi dia menyerangku dan hampir membunuhku? Bahkan dia telah menumpahkan obat untukmu. Siapa yang tidak marah?"

Sutejo menarik napas panjang, menoleh kepada Joko Handoko yang memandang kepada mayat Adiknya dengan air mata bercucuran.

"Ah, permusuhan yang tiada habisnya ini sungguh tidak menyenangkan. Tadinya Kakang Bandupati berniat memperisteri puteri Puger, kini telah kau bunuh."

"Dimas Bromatmojo, dia memang cantik dan aku suka kepadanya. Akan tetapi perbuatannya tadi memang keterlaluan dan setelah dia dibunuh adikku, sudahlah. Itu adalah salahnya sendiri. Kita masih mempunyai putera Adipati Puger untuk sandera dan dapat kita pergunakan untuk menekan Sang Adipati di Puger agar supaya takluk."

"Kalian pengecut-pengecut hina!"

Tiba-tiba Joko Handoko berteriak dengan air mata masih mengalir di kedua pipinya.

"Kalian membunuh adikku setelah adikku tidak berdaya dan terbelenggu! Kalian manusia-manusia berhati iblis! Sutejo, dahulu engkau kami anggap sebagai seorang satria utama yang gagah perkasa, dan kami merasa berdosa kepadamu karena ayah kami telah mencelakakan keluarga Ibumu. Akan tetapi sekarang, ternyata engkau hanyalah menjadi permainan perempuan cabul yang hina dina ini! Sungguh engkau mengecewakan sekali!"

"Desss...! Plak-plak-plakk!"

Sariwuni sudah meloncat dan menendang lalu menampari muka Joko Handoko sehingga orang muda ini tidak dapat melanjutkan makiannya dan kalau saja Bandupati tidak mencegah Sariwuni, tentu wanita ini sudah membunuhnya pula.

"Manusia hina! Berani engkau memaki suamiku?"

Sariwuni memaki-maki.

"Sudahlah, Adikku yang manis. Sudahlah, kalau kau membunuhnya pula, tidak ada artinya lagi kita berhasil menangkap mereka."

"Kakang Bandu benar, isteriku. Kita tidak boleh membunuh tawanan yang telah tidak berdaya,"

Sutejo berkata dan alisnya selalu berkerut karena dia sekarang mulai merasa aneh dan menduga tentu terjadi hal-hal yang luar biasa sehingga orang-orang muda dari Puger itu menyebutnya Sutejo dan bicara seperti itu.

Pada saat itu, terdengar suara gaduh dan empat orang pengawal memasuki ruangan sambil menyeret tubuh dua orang wanita yang luka-luka.

Joko Handoko makin terkejut melihat bahwa yang diseret masuk dalam keadaan terbelenggu pula itu bukan lain adalah Ayu Kunti dan Cempaka.

Tubuh kedua orang pembantunya itu luka-luka dan pakaian mereka robek-robek sehingga nampak kulit tubuh mereka yang putih di balik pakaian robek.

Joko Handoko memejamkan mata dengan ngeri, dapat membayangkan betapa tangan-tangan kurang ajar dari para perajurit pengawal Nusabarung tentu telah mempermainkan tubuh kedua orang pembantunya yang masih muda dan cantik itu.

Sementara itu, Ayu Kunti dan Cempaka ketika melihat Joko Handoko terbelenggu, sedangkan Roro Kartiko menggeletak dalam keadaan terbelenggu, mandi darah dan agaknya telah tewas, juga menjadi terkejut bukan main dan seketika mereka menangis sesenggukan.

Ketika tadi ketahuan, dikeroyok, ditangkap dan banyak tangan mencomoti tubuh mereka, dua orang anggauta Sriti Kencana yang gagah ini sama sekali tidak pernah mengeluh.

Akan tetapi kini menyaksikan Roro Kartiko telah tewas, mereka benar-benar tak dapat menahan lagi kesedihan mereka.

"Raden... harap maafkan kami... kami telah ketahuan dan gagal..."

Ayu Kunti berkata kepada Joko Handoko, akan tetapi Joko Handoko tidak menjawab, hanya memejamkan matanya.

Memang sudah disengaja dari Puger untuk datang ke Nusabarung dengan maksud menolong Sutejo.

Kalau gagal, sudahlah.

Memang dia dan adiknya sudah siap untuk mengorbankan nyawa demi Sutejo dan terutama sekali demi Sulastri!

Dia ikut bersama adiknya mencoba untuk mengingatkan dan menyelamatkan Sutejo demi Sulastri.

Kini mereka telah gagal, adiknya telah tewas, maka dia pun tidak mempunyai keinginan lain kecuali tewas pula seperti adiknya.

Hidup pun sudah tidak ada artinya lagi baginya.

Kehidupannya telah sia-sia, kebahagiaannya telah kandas semenjak dia menikah dengan Sulastri!

Melihat tertangkapnya lagi dua orang wanita muda, Sutejo berkata.

"Kakang Bandu, kuharap engkau suka memaafkan mereka dan membebaskan mereka demi mencapai perdamaian dengan Puger."

"Ha-ha, tentu saja, Dimas Bromatmojo. Sudah kukatakan bahwa kematian Roro Kartiko ini adalah kesalahannya sendiri. Tadinya pun kami sama sekali tidak ingin membunuhnya. Kami akan menggunakan tiga orang ini sebagai sandera untuk menekan Adipati Puger agar suka menyerah saja dan..."

Tiba-tiba terdengar suara gaduh di luar jendela yang besar dari ruangan itu.

"Hei, tahan...! Tahan..., aduh... ahhh...!"

Terdengar suara gedubrakan dan nampak dua orang pengawal terlempar masuk,menabrak daun jendela yang menjadi runtuh.

Dua orang pengawal itu roboh terbanting ke dalam ruangan itu dengan kepala pecah!

Dan seperti kilat menyambar, sesosok bayangan berkelebat masuk dan tahu-tahu di situ telah berdiri Sulastri yang berpakaian wanita dengan sikap gagah perkasa, sepasang mata berkilat-kilat dan kedua tangan terkepal, kedua kaki terpentang lebar, sikapnya seperti seekor naga betina yang sedang mengamuk.

Dengan sepasang mata tajam bersinar-sinar dan penuh keberanian, Sulastri memandang ke kanan kiri, menatap wajah setiap orang yang hadir.

Akan tetapi ketika pandang matanya bertemu dengan wajah Roro Kartiko, seketika matanya terbelalak, mukanya agak pucat dan dia cepat menoleh ke arah wajah suaminya, Joko Handoko!

"Dia...

dia telah tewas...

dibunuh secara pengecut oleh perempuan iblis itu, dan...

dan Dimas Sutejo tidak sempat menolongnya...

ah, dia telah sengaja mengorbankan diri untuk kalian..."

Kata Joko Handoko yang tak dapat melanjutkan kata-katanya karena dia terisak menangis.

Perlahan-lahan kepala Sulastri bergerak, menoleh sampai dia bertemu pandang mata dengan Sutejo.

Sesaat dua pasang pandang mata itu bertemu, bertaut dan Sutejo merasa jantungnya tergetar hebat, akan tetapi tetap saja dia tidak dapat mengingat siapa adanya wanita yang demikian hebat mempengaruhi batinnya.

Melihat betapa kedua orang itu saling pandang sedemikian lamanya, timbul kekhawatiran di dalam hati Sariwuni dan dia cepat merangkul pundak Sutejo dan berkata.

"Kakangmas, inilah wanita yang mengaku bernama Sulastri, dan karena dia bernama seperti itu, maka sejak saat ini biarlah aku membuang nama Sulastri dan memakai namaku yang ke dua saja, yaitu Sariwuni. Kakangmas, dia adalah isteri mata-mata itu, isteri putera Adipati Puger. Agaknya dia datang untuk menolong suaminya."

Sulastri sudah marah sekali mendengar penuturan Joko Handoko tadi bahwa Roro Kartiko dibunuh oleh wanita ini.

Kini mendengar ucapan wanita itu dan sikapnya yang merangkul pundak Sutejo dengan mesra, kemarahannya sudah tak tertahankan lagi.

Terdengar suara lengking menyeramkan keluar dari tenggorokan wanita perkasa itu dan tiba-tiba tubuhnya sudah melesat bagaikan seekor burung walet saja, dia sudah menerjang ke arah Sariwuni yang masih merangkul leher suaminya.

"Dukk... dess!!"

Tubuh Sariwuni tergelimpang, akan tetapi tubuh Sulastri juga terpental karena tadi ketika Sariwuni menangkis, Sutejo juga mengangkat tangannya menangkis.

Tangkisan Sutejo inilah yang membuat dia terhuyung ke belakang.

"Sutejo, engkau membela perempuan sesat itu? Bagus, majulah!"

Sulastri membentak marah.

"Dia... dia isteriku... harap kau jangan membikin kacau di sini,"

Kata Sutejo bingung. Sariwuni telah bangkit berdiri.

"Kakangmas Bromatmojo, cepat kau bunuh perempuan itu!"

Teriaknya. Mendengar ini, Sulastri marah bukan main.

"Inilah Bromatmojo! Akulah Bromatmojo, murid puncak Bromo! Kalian semua boleh maju!"

Belasan orang pengawal yang sudah berkumpul di situ serentak maju menyerang, menggunakan senjata masing-masing.

Namun, dengan menggerakkan kaki tangannya, dalam sekejab mata saja Sulastri telah merobohkan empat orang pengeroyok.

Kemudian, dia mengeluarkan suara teriakan dahsyat dan tubuhnya seperti lenyap dan kadang-kadang nampak di sana-sini,seperti telah berubah menjadi banyak orang.

Demikian cepat gerakannya, menyambar-nyambar dan terdengar pekik kesakitan berganti-ganti disusul robohnya para pengawal yang mengepung itu sehingga dalam waktu singkat saja belasan orang pengawal telah roboh dan tak dapat bangun kembali!

Ruangan itu penuh dengan mayat dan tubuh mereka yang terluka, malang melintang dan berserakan!

Bandupati, Sariwuni, dan Menak Srenggo memandang dengan mata terbelalak.

Menak Srenggo maklum akan kesaktian wanita itu, akan tetapi sungguh tak pernah disangkanya betapa dalam keadaan marah, Sulastri menjadi makin dahsyat sehingga menggiriskan hatinya.

"Hayo serbu, keroyok, maju semua!"

Menak Srenggo berteriak keras untuk menyembunyikan perasaan girisnya.

"Hamuk-hamuk suramrata jayamrata! Orang-orang Nusabarung, majulah semua. setapak pun Sulastri tidak akan mundur! Inilah Bromatmojo, anak Bromo!"

Sulastri berteriak menantang, suaranya nyaring dahsyat sehingga Joko Handoko sendiri yang duduk terbelenggu dan bersandar dinding merasa ngeri. Dia tahu bahwa hati "isterinya"

Itu tertindih dan merasa berduka sekali, bukan hanya karena kematian Roro Kartiko, akan tetapi terutama sekali karena keadaan Sutejo, maka diam-diam dia merasa terharu dan kasihan di samping perasaan khawatir akan keselamatan wanita yang menjadi isterinya dalam sebutan saja itu.

Melihat kesaktian wanita itu, Bandupati dan Sariwuni, dibantu Menak Srenggo dan belasan orang pengawal yang sudah masuk ke dalam ruangan menggantikan belasan orang yang sudah roboh, mulai mengurung.

Di luar ruangan itu masih terdapat banyak sekali pengawal, akan tetapi tentu saja mereka tidak dapat masuk semua karena ruangan itu terbatas sekali.

Mayat-mayat dan tubuh-tubuh terluka para pengawal yang maju lebih dulu telah ditarik keluar, demikian pila meja kursi telah disingkirkan sehingga ruangan itu kini menjadi luas dan yang tinggal di situ hanya jenazah Roro Kartiko yang berada di sudut dan di dekat jenazah ini,Joko Handoko duduk bersandar tembok.

Sedangkan Ayu Kunti dan Cempaka yang hanya terbelenggu kedua tangan mereka, sudah mendekati Joko Handoko dan duduk mepet tembok sambil memandang dengan mata terbelalak kepada Sulastri.

"Serbuuuu...! Bunuh dia...!!"

Sariwuni kini berteriak.

Wanita ini khawatir sekali melihat sikap suaminya terhadap dara ini.

Tahulah dia kini dengan yakin bahwa memang gadis inilah pujaan hati suaminya dahulu, maka kini gadis ini harus dibunuhnya!

Kalau tidak, akan sukarlah menguasai suaminya yang biarpun masih terpengaruh Lalijiwo namun begitu berhadapan dengan gadis ini menjadi bingung dan ragu.

Tadi pun dia sudah membujuk suaminya untuk menandingi gadis ini, akan tetapi suaminya hanya duduk bengong memandang Sulastri dan sama sekali tidak mau bergerak.

Atas teriakan Sariwuni itu, semua pengawal bergerak dan mulailah pengeroyokan lagi atas diri Sulastri.

Karena kini Sariwuni, Bandupati dan Menak Srenggo sendiri maju mengeroyok, maka Sulastri mengamuk dengan hebatnya.

Tiga orang lawan ini bukan merupakan orang biasa, melainkan memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, maka tidak mudah bagi Sulastri untuk merobohkan mereka seperti yang telah dilakukannya tadi terhadap para anggauta pengawal Nusabarung.

Akan tetapi, biarpun keris di tangan Sariwuni, pedang di tangan Bandupati dan golok di tangan Menak Srenggo menghujankan serangan yang ditujukan untuk membunuh, dan dibantu dengan belasan batang golok atau tombak para pengawal Sulastri dapat selalu menghindarkan diri dengan baiknya dan setiap kali dia menangkis dengan jari tangannya, keris, pedang atau golok itu terpental karena tangannya dilindungi oleh aji kekebalan Trenggiling Wesi!

Bahkan setiap kali dia menangkap golok itu atau tombak yang dipakai seorang pengawal untuk menyerangnya, dia terus membetot senjata itu, menarik pemegangnya dan dengan sekali tendangan, tamparan atau lontaran senjata rampasan, dia merobohkan pengawal itu!

Pertempuran di dalam ruangan itu memang hebat dan seru bukan main.

Sulastri mengamuk bagaikan seekor singa yang buas sedang marah.

Rambutnya yang panjang awut-awutan, beterbangan ketika dia bergerak, sanggulnya terlepas dan kadang-kadang rambutnya itu menutupi sebagian mukanya.

Gerakan kakinya membuat kain yang dipakainya mengeluarkan bunyi seperti akan robek, kedua tangannya bergerak sedemikian cepatnya sehingga bagi pandangan mata biasa, kedua lengan gadis itu berubah menjadi lebih dari enam buah!

Tubuhnya berloncatan, berkelebatan dan setiap kali dia bergerak dan mengeluarkan pekik dahsyat, robohlah seorang pengawal!

Sepak terjang yang amat menggiriskan dari dara itu benar-benar membuat para pengawal menjadi gentar bukan main.

Mereka ini, para pengawal pilihan dari Nusabarung yang bertugas sebagai pengawal-pengawal di kompleks istana kadipaten, merupakan orang-orang yang memiliki kepandaian, banyak pengalaman berkelahi dan memiliki keberanian hebat, juga kejam dan sewenang-wenang, apalagi terhadap wanita.

Akan tetapi kini, menghadapi seorang wanita seperti Sulastri yang demikian gagah perkasa, yang dalam waktu kurang dari satu jam telah merobohkan lebih dari dua puluh orang pengawal, mereka benar-benar menjadi gentar bukan main.

Karena gentar, maka kini para pengawal itu mundur dan hanya mengurung sambil mengancam dengan tombak yang bergagang panjang sambil berteriak-teriak,membiarkan tiga orang yang berkepandaian lebih tinggi itu, yaitu Sariwuni, Bandupati, dan Menak Srenggo untuk mengeroyok dara itu.

Sebenarnya, setelah mengamuk sejam lebih itu, Sulastri yang semalam suntuk melakukan perjalanan yang melelahkan, menyeberangi laut menuju ke Nusabarung menggunakan sebuah perahu, padahal dia bukanlah ahli mengemudikan perahu, Sulastri merasa lelah bukan main.

Akan tetapi, kemarahannya membuat dia memperoleh kekuatan yang berlipat ganda, dan biarpun dia kini dikeroyok oleh tiga orang yang pandai, dia sama sekali tidak terdesak, sebaliknya tamparan-tamparan Hasto Nogo tangan kirinya seperti sambaran-sambaran kilat di musim hujan yang selalu mengancam kepala tiga orang lawannya itu.

Tiga orang lawannya menjadi penasaran sekali.

Mereka adalah orang-orang pandai,dan di Nusabarung, mereka merupakan orang-orang yang sukar dicari tandingannya.

Kini, mengeroyok seorang gadis saja, mereka sama sekali tidak mampu mendesak, apalagi merobohkannya.

Menak Srenggo, jagoan dari Blambangan itu menjadi penasaran sekali.

Dia mengeluarkan suara gerengan seperti seekor biruang marah, lalu goloknya diputar menerjang ke arah Sulastri.

Gerakannya ini diikuti oleh Bandupati yang juga menggerakkan pedangnya dengan cepat.

Melihat serangan dua orang ini dipercepat,Sulastri lalu mengerahkan ilmunya meringankan tubuh, dengan Aji Turonggo Bayu,tubuhnya seperti menunggang angin berkelebatan dan tidak tersentuh oleh gulungan sinar pedang dan golok.

Pada saat yang dianggapnya tepat dan baik sekali, tiba-tiba Sariwuni membentak.

"Mampuslah kau!"

Dan dengan keris di tangan, wanita ini meloncat dari belakang dan menghunjamkan kerisnya ke arah punggung Sulastri.

Ketika itu, Sulastri sedang menghadapi serangan pedang dan golok yang amat cepat, maka tentu saja bagian belakang punggungnya terbuka dan tidak terjaga, maka serangan dari belakang itu amat berbahaya.

Namun, Sulastri yang sudah marah dan nekat itu seolah-olah tidak melihat serangan ini, sungguhpun diam-diam dia mengerahkan Aji Trenggiling Wesi sambil menanti tusukan.

"Dukkk...!"

Ketika itu, Sulastri sudah berhasil menghindarkan diri dari ancaman pedang dan golok, dan tepat keris yang dihunjamkan Sariwuni itu tepat mengenai punggungnya.

Akan tetapi keris itu seperti mengenai benda dari karet yang ulet dan keras saja, tidak dapat menembus dan dengan dan dengan perhitungan yang tepat, tangan kiri Sulastri sudah menyambar dibarengi tubuhnya yang berputar ke belakang.

"Wuuuutttt...!"

Tangan berkulit halus berjari kecil runcing yang mengandung tenaga dahsyat dan ampuh dari Hasto Nogo itu menyambar ke arah kepala Sariwuni! "Sulastri, awas...!"

Terdengar Sutejo tiba-tiba berseru keras.

Sulastri terkejut dan cepat mencurahkan perhatiannya ke belakang dan kanan kiri, akan tetapi dia tidak melihat sesuatu yang mengancam dirinya.

Karena perhatiannya terbagi, maka pukulan Hasto Nogo itu kurang terarah.

Sebaliknya, mendengar seruan suaminya itu, Sariwuni sudah cepat membuang diri ke belakang.

Namun, tetap saja pundaknya kena disambar hawa pukulan Hasto Nogo dan dia merasa tulang pundaknya nyeri seperti retak-retak dan dia terhuyung ke belakang.

Sekarang tahulah Sulastri bahwa seruan yang dikeluarkan oleh mulut Sutejo tadi sama sekali bukan ditujukan kepadanya, melainkan kepada Sariwuni yang bagi Sutejo bernama Sulastri.

Marahlah dia!

Sementara itu, Sariwuni sudah merangkul leher Sutejo sambil merengek.

"Kakangmas, benarkah engkau tega melihat aku terancam bahaya dan tidak mau membantu? Dia itu mata-mata musuh, dia hendak mencelakai kita, bahkan dia hampir saja tadi membunuhku."

"Biarkan aku menangkapnya!"

Tiba-tiba Sutejo berseru.

Tadi dia merasa bingung dan serba salah.

Tentu saja dia harus membantu isterinya dan para pengawal Nusabarung.

Akan tetapi ada sesuatu pada diri wanita itu yang membuat dia bingung dan ragu-ragu.

Kini, melihat isterinya hampir celaka, pula, karena dia tidak ingin melihat wanita perkasa itu akhirnya tewas oleh pengeroyokan, dia mengambil keputusan untuk menangkap wanita itu hidup-hidup.

Begitu dia berseru demikian, tubuhnya sudah melesat ke depan dan tahu-tahu tangannya telah mencengkeram ke arah pundak kiri Sulastri.

Inilah serangan yang sekaligus mengarah kelemahan lawan!

Patut diketahui bahwa pukulan yang paling diandalkan oleh Sulastri adalah Hasto Nogo, aji pukulan ampuh yang menjadi inti dari ilmu berkelahi Hasto Bairowo, dan Hasto Nogo dipusatkan di dalam tangan kiri.

Maka kini secara langsung Sutejo menyerang dengan cengkeraman ke arah pundak kiri Sulastri, tentu saja serangan ini merupakan serangan berbahaya yang ditujukan kepada bagian paling lemah dari pemilik Ilmu Hasto Nogo!

Cara Sutejo menyerang ini sama sekali bukan karena dia teringat kepada Aji Hasto Nogo,melainkan karena memang dia cerdas sekali dalam menangkap inti gerakan ilmu dan aji kesaktian.

Maka setelah menyaksikan sepak terjang Sulastri beberapa lamanya, dia sudah tahu bagaimana harus menghadapi wanita ini.

"Aihhh...!"

Sulastri memekik dan cepat dia melempar tubuh ke depan, kemudian dia membalik dan kakinya melayang cepat, menendang ke arah pusar lawan.

Ketika melihat bahwa yang menyerangnya adalah Sutejo, hatinya menjadi makin panas dan dia pun menyusuli tendangannya dengan tamparan Hasto Nogo ke arah kepala orang muda itu.

"Kau maju? Bagus, mari kita bertanding mati-matian!"

Sutejo dapat menghindarkan diri dan dari belakang, Bandupati dan Menak Srenggo kembali telah menggerakkan padang dan goloknya.

Namun Sulastri tidak menjadi gentar.

Cepat dia mengelak dan balas menyerang, bahkan melihat Sariwuni berdiri di pinggir dia sudah menantang.

"Perempuan hina, hayo kau majulah sekalian untuk kubunuh!"

Akan tetapi Sariwuni tersenyum mengejek dan duduk di atas lantai sambil tersenyum dan menonton.

Setelah Sutejo maju, dia merasa yakin bahwa wanita itu pasti akan dapat ditundukkan, karena ketika berada di medan perang pun dia sudah tahu bahwa suaminya lebih sakti daripada wanita itu.

(Lanjut ke

Jilid 36) Kemelut Di Majapahit (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 36 Memang kini telah berlangsung pertandingan yang hebat luar biasa antara Sulastri dan Sutejo.

Gerakan dua orang ini sedemikian cepatnya sehingga Bandupati dan Menak Srenggo tertinggal dan kedua orang ini hanya membantu sedikit saja, yaitu sewaktu mereka dapat membedakan mana kawan mana lawan.

Kalau dua orang muda itu sedang berputaran cepat, mereka tidak berani menyerang, takut kalau-kalau senjata mereka mengenai tubuh kawan sendiri.

Makin lama, makin cepatlah gerakan Sutejo dan Sulastri.

Akan tetapi Sulastri yang memang kalah setingkat kepandaiannya itu, kini makin lelah.

Lelah dan pening.

Akhirnya, Sutejo berhasil menampar tengkuknya dan robohlah Sulastri, terguling dan cepat Bandupati dan Menak Srenggo menubruk dan mengikat kaki tangannya sehingga Sulastri yang sudah hampir tidak sadar karena hebatnya tamparan di tengkuknya itu, kini tidak dapat bergerak lagi.

"Sutejo, engkau benar-benar kejam dan terkutuk!"

Joko Handoko berteriak memaki dengan marah sekali.

"Lepaskan dia!"

Tiba-tiba Sutejo membentak kepada Bandupati dan Menak mundur.

Mereka tadinya sudah merah sekali kepada Sulastri yang telah membunuh banyak pengawal, maka setelah membuat gadis itu tidak berdaya, mereka bermaksud untuk menghina Sulastri dan merobek dan menanggalkan pakaiannya agar gadis itu telanjang bulat dan disaksikan oleh semua pengawal.

Akan tetapi, siapa duga, baru saja mereka menyentuh pakaian gadis itu, Sutejo telah menghardik mereka.

Sariwuni meloncat dan dengan keris di tangan dia sudah menyerang Sulastri yang sudah terbelenggu dan yang hanya dapat memandang kepadanya dengan mata mendelik.

Akan tetapi, tiba-tiba Sutejo meloncat dan menghadang di depan Sulastri.

"Sulastri, jangan kau membunuhnya!"

Sutejo berkata kepada Sariwuni.

"Kakangmas! Dia telah membunuh banyak pengawal, dan telah memukulku. Dia adalah musuh besar kita, orang yang sangat berbahaya, mengapa engkau membelanya?"

Melihat sikap Sutejo ini, selain Sariwuni, juga Bandupati dan Menak Srenggo menjadi tidak senang dan dengan senjata di tangan mereka pun menghampiri.

"Tidak! Tidak boleh dia dibunuh!"

Sutejo berseru keras, sikapnya kaku dan tegas.

"Dia seorang yang amat gagah, dan amat memalukan membunuh lawan yang sudah tak berdaya. Tidak. Sulastri, sebagai suamimu aku berhak melarang engkau untuk membunuh lagi seorang tawanan seperti yang kaulakukan kepadanya itu!"

Dia menuding ke arah mayat Roro Kartiko.

Melihat ini, Sariwuni tersenyum.

Hatinya lega karena pembelaan suaminya itu bukan berarti bahwa suaminya sudah ingat lagi kepada Sulastri, melainkan karena suaminya tidak kehilangan watak satrianya.

Maka dia lalu menggerakkan tangan menyuruh mundur kakaknya dan pamannya.

"Baiklah, Kakangmas. Yang penting, musuh telah tertangkap. Kakang Bandupati,harap segera memberi laporan kepada Kanjeng Romo. Paman Menak Srenggo, sebaiknya para pengawal dibubarkan dan suruh singkirkan semua mayat itu. Biarkan para tawanan itu di dalam tahanan dan jaga yang kuat jangan sampai lolos sambil menanti keputusan Kanjeng Romo. Sariwuni lalu merangkul leher Sutejo.

"Jangan khawatir, Kakangmas, kami tidak akan mengganggu musuh yang gagah mengagumkan itu sebelum ada keputusan dari Kanjeng Romo. Marilah, kubuatkan jamu agar kepeningan kepalamu dan kekacauan pikiranmu dapat hilang. Marilah sayang...!"

Sariwuni menggandeng tangan Sutejo dan sebelum meninggalkan ruangan itu, dia mengerling dengan senyum mengejek kepada Sulastri yang rebah dalam keadaan terbelenggu.

Sulastri membuang muka dan hatinya seperti dibakar.

Dia kini tahu sungguh-sungguh bahwa Sutejo berada dalam keadaan kehilangan ingatan, bahwa Sutejo tidak sengaja dan tidak sadar membantu Nusabarung, bahkan mungkin sekali Sutejo tidak sadar menjadi isteri Sariwuni yang dianggapnya Sulastri!

Hal itu saja sudah membuktikan bahwa Sutejo tidak pernah dapat melupakan nama Sulastri sehingga dalam keadaan linglung itu diperdaya dan menikah dengan seorang wanita bernama Sulastri.

Namun, biar dia tahu akan semua ini, bahwa Sutejo tidak sengaja, tetap saja hatinya terasa panas sekali dan marah kepada Sutejo, marah dan benci!

Benci karena cemburu tentu saja!

Dia masih mendelik marah ketika dia bersama Joko Handoko, Ayu Kunti dan Cempaka diseret oleh para pengawal dan dimasukkan ke dalam sebuah kamar besar yang amat kuat dan beruji besi.

Tempat tahanan itu kuat bukan main, dan di sebelah luarnya, di luar pintu baja itu, masih terdapat puluhan orang perajurit yang menjaga!

Namun Sulastri tidak menjadi putus asa.

Dalam keadaan rebah telentang, dia mengumpulkan hawa murni, mengembalikan semua tenaganya dan bersiap-siap untuk melawan sampai hembusan napas terakhir.

Joko Handoko dan juga dua orang pembantunya juga mencontoh perbuatan Sulastri ini, mereka menghimpun hawa murni dan tidak mau secara ceroboh untuk membuka belenggu yang amat kuat itu.

Sariwuni telah membuatkan secawan jamu sari akar Lalijiwo lagi untuk Sutejo.

Dia memasuki ruangan di mana Sutejo sedang duduk termenung itu membawa secawan jamu sambil tersenyum dan pada saat itu, kebetulan Bandupati dan Menak Srenggo juga datang.

"Ah, Kanjeng Romo girang sekali mendengar bahwa kita telah menangkap mata-mata musuh, apalagi ketika mendengar itu adalah putera dan mantu Sang Adipati di Puger. Besok Kanjeng Romo akan mengirim utusan ke Puger dan menuntut agar Sang Adipati Puger, yaitu Sang Prabu Bandardento sendiri, suka datang menghadap ke sini untuk membebaskan putera dan mantunya. Ha-ha, tak kusangka semudah ini kita dapat menundukkan Puger! Dan menurut Kanjeng Romo, kalau Puger sudah jatuh dan pasukannya dapat kita kuasai, kita akan sewaktu-waktu menggempur Lumajang!"

"Bagus!"

Menak Srenggo tertawa.

"Memang sudah lama sekali aku ingin untuk menggempur Lumajang, dan setelah itu, Mojopahit!"

"Ah, mimpimu terlalu jauh, Paman. Menggempur Mojopahit bukanlah hal yang mudah. Untuk itu kita harus menghimpun tenaga yang amat kuat. Mojopahit terkenal pula dengan para senopatinya yang sakti mandraguna,"

Bantah Bandupati.

"Hemm, betapapun digdayanya senopati Mojopahit, kalau ada suamiku di sini, kita takut apa?"

Sariwuni berkata sambil mendekati Sutejo yang hanya memandang dan mendengarkan tanpa mengeluarkan kata-kata.

"Kakangmas, ini obatmu. Minumlah dan nanti kutemani tiduran agar hatimu tenteram dan pikiranmua tenang."

"Obat? Mengapa aku harus sering minum obat, Diajeng? Aku tidak sakit,"

Sutejo menjawab sambil memandang cawan yang dipegang oleh wanita itu.

"Ah, engkau menderita sakit yang cukup lama, Kakangmas. Sampai pernah engkau lupa segala-galanya, bahkan isterimu ini pun pernah kaulupakan. Obat ini telah menolongmu, sekarang minumlah, tentu pikiranmu yang bingung itu akan mejadi tenang."

Sutejo menerima cawan emas itu.

"Memang pikiranku agak bingung..."

Dia mengakui, lalu dia mengangkat cawan itu, ditempelkan di bibirnya dan hendak diteguk.

"Tringgg...!"

Tiba-tiba cawan yang dipegang oleh Sutejo itu terpental, terlepas dari pegangannya, jamunya tumpah, sebagian membasahi bajunya.

Sutejo terkejut bukan main, memandang kepada cawan emas yang terbanting di atas lantai,mengeluarkan bunyi nyaring dan menggelinding sampai ke sudut ruangan itu.

Lalu di memandang ke kiri, ke arah pintu, dengan mata terbelalak.

Sariwuni, Bandupati dan Menak Srenggo juga terkejut sekali.

Mereka tadi melihat sinar putih menyambar dari kiri dan kini mereka kini juga menengok.

Kiranya di ambang pintu telah berdiri seorang kakek yang tua sekali, rambut, kumis dan jenggotnya telah putih semua, wajahnya membayangkan kesabaran dan kehalusan budi, pakaiannya sederhana sekali, dari kain berwarna kuning yang dilibat-libatkan tubuhnya, pakaian seorang pendeta atau pertapa, tangan kanannya memegang sebatang tongkat bambu yang panjang.

Sariwuni, kakaknya, dan pamannya memandang heran.

Dari mana datangnya kakek ini?

Semenjak terjadi penyelundupan orang-orang Puger, penjagaan telah diperketat, bahkan Menak Srenggo sendiri yang memerintahkan kepada para perwira penjaga untuk mengerahkan pasukannya menjaga agar jangan sampai ada lagi mata-mata musuh dapat menyelundup masuk pulau.

Akan tetapi tiba-tiba saja kakek ini muncul dan kemunculannya, juga sikapnya yang tenang itu membuat mereka bertiga tertegun dan sejenak mereka tidak dapat bergerak atau mengeluarkan kata-kata.

Juga Sutejo tidak dapat berkata-kata dan tidak bergerak, padahal biasanya, setelah cawan berisi jamu dipukul jatuh dari tangannya seperti itu, sudah pasti dia akan bergerak menyambut penyerangnya.

Dia pun seperti terpesona, pandang matanya lekat dan tidak dapat terlepas dari sinar mata kakek itu yang memandangnya penuh kasih sayang.

Akhirnya kakek itu yang bersuara, suaranya lirih namun jelas terdengar oleh mereka dan wajah yang lembut itu ramah sekali.

"Kulup, Sutejo, sudah terlalu lama engkau menderita sebagai akibat dari penyelewenganmu, aku kasihan kepadamu, maka jauh-jauh aku datang untuk menyelamatkanmu, kulup."

Mendengar ucapan itu, Sariwuni membentak nyaring.

"Darimana datangnya pengemis tua ini? Apa kau sudah bosan hidup?"

Wanita ini tiba-tiba saja merasa bahwa kehadiran kakek ini merupakan ancaman bagi Sutejo, atau lebih tepat, baginya, dan dia amat takut untuk kehilangan suaminya itu.

Maka sambil membentak itu, dia sudah meloncat ke depan dan mencabut keris, lalu menusuk dada kakek itu.

"Cusss...!"

Keris di tangannya itu mengenai kulit daging dan rasanya menembus ke dalam.

Akan tetapi mata Sariwuni terbelalak kaget ketika dia melihat kakek itu masih tetap tersenyum seolah-olah tidak merasakan apa-apa.

Melihat keanehan itu, Bandupati dan Menak Srenggo juga menerjang dengan senjata pedang dan golok mereka.

Mereka menusuk dan membacok.

"Wuttt, cap-capp!"

Pedang dan golok itu pun mengenai sasaran, akan tetapi sama sekali tidak mendatangkan bekas bacokan atau tusukan sungguhpun rasanya tidak seperti mengenai benda keras seperti kalau mengenai tubuh yang dilindungi kekebalan.

"Hemm, orang-orang muda. Menggunakan kekerasan berarti memancing kekerasan yang akan memukul diri sendiri,"

Kakek tua renta itu berkata dengan tenang ketika melihat tiga orang itu mundur-mundur dengan mata terbelalak.

Akan tetapi, tiga orang ini memang sudah biasa dengan kekerasan.

Biarpun mereka dapat menduga bahwa kakek yang berdiri di depan mereka ini merupakan seorang manusia yang luar biasa, namun karena kakek ini dianggapnya menentang mereka,maka mereka kini sudah menerjang lagi dengan lebih hebat daripada tadi.

Kakek itu menghela napas dan tersenyum.

"Kalian memang keras kepala!"

Katanya dan sekali ini, begitu senjata mereka mendekati tubuh kakek itu, ada semacam hawa yang luar biasa kuatnya keluar dari tubuh kakek itu dan mendorong mereka sehingga mereka bertiga berteriak kaget dan terjengkang jatuh!

Melihat kakek itu merobohkan isterinya, kakak iparnya dan paman isterinya, Sutejo merasa bahwa dia berkewajiban untuk membela, maka dia lalu bergerak,dengan pekik dahsyat dia menerjang maju dan menghantamkan tangan kanannya ke arah dada kakek tua renta yang dia tahu memiliki kesaktian luar biasa itu.

"Plakk!"

Pukulan yang dilakukan oleh Sutejo itu hebat sekali karena orang muda ini mengerahkan seluruh kekuatannya, akan tetapi ketika mengenai dada kakek itu, kepalan tangannya seperti mengenai benda lunak dan tenaganya amblas seperti sepotong batu dilempar ke dalam air dan tangannya tergetar hebat, seperti melekat pada dada itu.

Dan sebelum Sutejo dapat mengelak, tepat pada saat pukulannya mengenai dada lawan, kakek itu telah menggunakan tangan kanannya meraba dan mengusap muka Sutejo.

"Sutejo, pandanglah baik-baik, aku adalah Gurumu, Panembahan Ciptaning!"

Sutejo terbelalak.

Setelah mukanya diusap, dia merasa seperti ada hawa dingin sekali diulaskan ke mukanya, rasa dingin yang memenuhi kepalanya dan terus menyusup ke dalam dadanya.

Dia memandang kakek itu dan tiba-tiba dia menjatuhkan dirinya berlutut, menyembah dan bertanya dengan suara gemetar.

"Eyang Panembahan...!!"

Dia kini mengenal kakek itu, Panembahan Ciptaning, eyang gurunya, pertapa di lereng Gunung Kawi, kakek yang dulu menyelamatkannya dari dalam kobaran api yang membakar rumah ibunya dan yang selama bertahun-tahun mendidik dan menggemblengnya di lereng Gunung Kawi.

"Eyang., mengapa.. mengapa hamba menyerang Eyang...?"

Suaranya gemetar penuh penyesalan dan ketakutan.

Ngeri dia memikirkan bagaimana dia tadi berani menyerang gurunya itu dengan aji pukulan yang dipelajarinya dari kakek ini!

"Sutejo, sayang sekali bahwa engkau melupakan pesanku dan telah menyeleweng, bukan hanya menghambakan diri kepada orang-orang yang tersesat seperti Resi Mahapati, akan tetapi juga engkau telah melanggar pesanku agar tidak melakukan pembunuhan.

Kekerasan hanya akan mendatangkan kekerasan pula dan segala perbuatan sudah pasti akan mendatangkan hasil yang sama sifatnya dan akan menimpa diri sendiri.

Karena perbuatanmu sendirilah maka engkau merasakan penderitaan sampai hampir dua tahun, ingatanmu hilang karena pengaruh racun.

Karena melihat engkau sudah cukup terhukum, maka hari ini aku sengaja datang untuk menyelamatkanmu, Kulup."

Pada saat itu, Sariwuni, Bandupati dan Menak Srenggo sudah bangkit dan mendengar ucapan kakek itu, mereka terkejut bukan main.

Apalagi Sariwuni, dia merasa kaget karena melihat suaminya agaknya sudah mendapatkan kembali ingatannya, maka untuk mencegah kakek itu bicara lebih jauh, dia sudah menerjang pula, diikuti oleh kakaknya dan pamannya.

"Heiiii..., jangan kurang ajar!"

Sutejo berseru ketika melihat tiga orang itu menyerang gurunya, atau juga kakek gurunya. Akan tetapi, kakek itu hanya tersenyum, membiarkan dirinya diserang dari belakang.

"Dess! Dess! Desss...!"

Serangan tiga orang itu mengenai tubuh Si Kakek aneh, akan tetapi akibatnya, tiga orang itu menjerit dan memegangi tangan masing-masing karena senjata mereka terlempar dan terlepas, sedangkan tangan mereka yang tadi memegang senjata terasa nyeri bukan main.

Akan tetapi, memang mereka adalah orang-orang yang tidak biasa menerima kekalahan.

Mereka masih merasa penasaran karena kakek itu sama sekali tidak membalas.

Mereka berteriak dan menubruk maju,menyerang dengan kepalan tangan.

"Bukk! Bukk! Bukk!!"

Sekali ini, karena mereka memukul dengan tangan, akibatnya hebat.

Pukulan-pukulan itu seperti membalik dan memukul diri mereka sendiri, membuat mereka tergelimpang dan roboh pingsan!

Sutejo memandang heran.

"Eyang... mereka... mereka ini siapa dan saya berada di mana...?"

"Selama hampir dua tahun ini, wanita ini kau anggap sebagai isterimu, dia itu kau anggap sebagai kakak iparmu dan yang ini adalah Menak Srenggo, kau anggap Pamanmu karena dia adalah saudara misan Menak Dibyo, Adipati di Nusabarung. Mereka berdua itu adalah putera dan puteri Adipati Nusabarung dan engkau berada di Nusabarung."

Sutejo terbelalak.

"Apa... apa yang telah terjadi dengan saya...?"

"Engkau selama ini tidak sadar, engkau berada di bawah pengaruh racun Lalijiwo. Baru-baru ini engkau malah menjadi senopati Nusabarung dan menyerang Kadipaten Puger."

Tiba-tiba Sutejo berseru.

"Sulastri...!"

Dia terkejut bukan main. Teringatlah dia akan Sulastri, dan Roro Kartiko, dan Joko Handoko...! "Ah, di mana Sulastri? Dan Joko Handoko? Dan... dan... ah, Roro Kartiko...?"

Dia memejamkan mata, karena kini dia membayangkan Roro Kartiko telah tewas! Kakek itu mengangguk-angguk.

"Mereka memang datang ke pulau ini, tadinya berniat menolongmu, Sutejo. Akan tetapi mereka tertawan, dan Roro Kartiko telah tewas oleh Sariwuni. Engkau harus menyelamatkan mereka dan hal itu dapat kau lakukan karena di sini engkau dikenal sebagai senopati dan mantu Sang Adipati."

"Saya... saya akan menolong mereka, eyang. Lalu selanjutnya, apa yang harus saya lakukan? Ah, kepala saya menjadi pening dan saya bingung sekali, Eyang..."

Kakek itu mengeluarkan dua butir obat pulung yang bundar dan macamnya seperti kotoran kambing.

"Kau telahlah ini untuk mengusir semua racun itu. Ingatlah, semua belum terlambat kalau kau suka mengubah sikapmu, Sutejo. Setelah engkau menyelamatkan mereka, jauhkanlah dirimu dari segala permusuhan dan perang. Sebaiknya kalau engkau kembali ke Gunung Kawi, hidup tenang dan penuh damai bersamaku. Akan tetapi, segalanya terserah kepadamu Cucuku, karena nasib setiap orang berada di dalam genggaman tangannya sendiri. Dialah yang akan menentukan apa yang dilakukannya, dan kelakuannya sendirilah yang akan menentukan bagaimana keadaan selanjutnya. Nah, aku pergi, selanjutnya segala sesuatu tergantung dari dirimu sendiri."

"Eyang...!"

Sutejo berseru memanggil, akan tetapi kakek itu telah menghilang.

Hanya sejenak Sutejo termangu.

Kini telah pulih kembali ingatannya dan telah kembali pula ketangkasannya sebagai seorang satria yang sakti dan cerdas.

Tanpa ragu-ragu lagi ditelannya dua butir obat pemberian eyang gurunya itu, kemudian dia memandang kepada tiga orang yang masih pingsan itu.

Kini teringatlah dia setelah tadi mendengar penuturan singkat dari eyang gurunya.

Selama ini dia menganggap wanita ini sebagai isterinya, orang muda tinggi besar itu sebagai kakak iparnya dan kakek raksasa itu sebagai pamannya!

Padahal dia tidak mengenal siapa mereka ini!

Dan Sulastri, Joko Handoko dan Roro Kartiko telah mengalami bencana karena hendak menolongnya.

Bahkan Roro Kartiko telah tewas!

Ah, Roro Kartiko...!

Sulastri...!

Jantungnya berdebar.

Dia harus menyelamatkan mereka.

Cepat dia meloncat dan mengikat kaki tangan tiga orang yang masih pingsan itu dengan ikat pinggang mereka sendiri, lalu menggunakan ujung baju mereka untuk menutupi mulut dan mengikatnya ke belakang kepala.

Dia harus bekerja cepat.

Dia adalah mantu adipati!

Tentu mudah baginya untuk menolong mereka!

Dia lalu cepat menutupkan pintu ruangan itu dan keluar.

Tentu saja dia ingat di mana adanya tempat tahanan, maka dengan sikap biasa dan tenang dia menuju ke tempat itu.

Ketika para penjaga melihatnya, mereka semua memberi hormat dan tidak ada yang berani mencegah dia memasuki tempat itu.

Bahkan seorang perwira memberi hormat dan berkata sambil tersenyum.

"Raden, mereka diam saja di sebelah dalam, tidak ada yang menimbulkan keributan. Eh..., Raden Bromatmojo, kalau... kalau boleh... harap paduka nanti hadiahkan seorang di antara mereka, wanita-wanita anggota Sriti Kencana itu, kepada saya... heh-heh."

Sutejo menahan keheranan dan kemarahannya.

Dia disebut Raden Bromatmojo oleh perwira ini!

Dan mendengar tentang disebutnya anggauta Sriti Kencana, dia menduga bahwa tentu ada di antara mereka yang tertawan pula.

Dia dapat membayangkan.

Tentu Joko Handoko dan Roro Kartiko menyelundup ke tempat ini dibantu oleh para anggautanya, dengan niat menolongnya.

Juga dibantu oleh Sulastri tentu saja.

Sulastri!

Terakhir kalinya dia bertemu dengan Sulastri adalah di dalam hutan, ketika Sulastri marah-marah kepadanya, menuduhnya membunuh Guru gadis itu, yaitu Empu Supamandrangi!

"Keluarlah semua, aku harus membawa mereka keluar!"

Katanya singkat.

Para perwira merasa heran, akan tetapi tidak ada yang berani menghalangi ketika Sutejo memasuki kamar tahanan itu.

Mereka semua berkumpul di luar dan saling bicara, menduga-duga apa yang akan dilakukan oleh mantu adipati itu.

Mereka semua merasa segan dan hormat kepada mantu adipati ini yang mereka tahu memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat.

Dengan langkah lebar Sutejo memasuki kamar tahanan setelah pintunya dibuka dari luar.

Dia melihat Sulastri dan jantungnya berdebar tidak karuan.

"Diajeng Sulastri...!"

Dia menahan jeritnya dan yang keluar hanyalah bisikan penuh keharuan melihat Sulastri rebah terlentang dalam keadaan terbelenggu itu.

Sulastri mendengar bisikan ini dan membuka matanya.

Ketika melihat bahwa yang memanggilnya adalah Sutejo, dia terbelalak.

Kemudian teringatlah dia bahwa Sutejo sekarang bukanlah Sutejo dahulu lagi, melainkan suami Sariwuni yang telah kehilangan ingatan.

Maka karena tidak ingin menghadapi siksaan batin lebih lama lagi, dia berkata dengan suara mengandung isak.

"Kau bunuhlah aku sekarang juga...!"

"Tidak... tidak...! Diajeng, lihatlah aku... aku kini sudah ingat lagi... berkat pertolongan Eyang Guru...!"

Sutejo lalu menghampiri dara itu dan mulai membuka ikatan kaki dan tangannya.

Sulastri yang tadinya sudah memejamkan matanya lagi, lalu membuka matanya,memandang terbelalak seperti tidak percaya.

Akan tetapi dia melihat sinar mata yang lembut penuh duka itu, melihat dua titik air mata membasahi bawah mata pemuda itu, dan tak tertahankan lagi air matanya sendiri bercucuran.

Setelah kaki tangannya terlepas, dia berbisik.

"Kakang Tejo...!"

Tanpa dapat dicegah oleh apapun juga, keduanya lalu saling tubruk dan saling merangkul!

Rasa rindu yang bertahun-tahun terpendam, kini jebol dan Sulastri menangis mengguguk dalam pelukan Sutejo, terisak-isak dan hanya dapat menyebut nama pemuda itu berulang kali.

Tidak ada kata-kata keluar dari mulut mereka kecuali menyebut nama masing-masing dengan suara penuh kemesraan, kerinduan dan cinta kasih yang amat besar.

Seketika lenyaplah seluruh perasaan marah dan dendam, yang ada hanyalah cinta kasih yang mengharukan.

"Dimas Sutejo, engkau sudah ingat kembali? Syukurlah...!"

Suara ini adalah suara Joko Handoko.

Mendengar suara ini, seketika Sulastri melepaskan pelukannya, merasa seolah-olah ada halilintar menyambar kepalanya karena dia teringat bahwa dia adalah isteri dari Joko Handoko!

Dia melepaskan pelukan dan cepat dia menghampiri Ayu Kunti dan Cempaka untuk melepaskan ikatan kedua tangan mereka, sedangkan Sutejo juga cepat membebaskan kaki tangan Joko Handoko.

"Kakangmas Handoko, baru saja aku sembuh oleh pertolongan Eyang guruku. Akan tetapi kita harus berhati-hati. Mari kuantar kalian semua keluar dan kalian pura-pura tunduk kepadaku, sebagai tawanan-tawanan. Kita mencari perahu untuk lari dari pulau ini,"

Sutejo berbisik.

"Akan tetapi... Adikku... jenazah Adikku Roro Kartiko..."

Joko Handoko terisak.

"Aku sudah tahu bahwa Diajeng Roro Kartiko telah tewas. Berarti kita tidak dapat menolongnya lagi, Kakangmas. Maka biarlah nanti kalau kita kembali bersama pasukan, kita akan mencarinya. Sekarang, paling penting adalah agar kita dapat keluar dari pulau ini dengan selamat. Hayolah!"

Empat orang tawanan itu lalu berjalan keluar dengan kepala menunduk, digiring oleh Sutejo yang mengangkat muka dan mengangkat dada dengan gagahnya.

Ketika mereka tiba di luar, para perwira dan penjaga memandang dengan mata terbelalak penuh keheranan.

Akan tetapi Sutejo segera berkata.

"Mereka telah tunduk kepadaku dan aku menjalankan perintah Kanjeng Rama Adipati untuk membawa mereka ke suatu tempat. Kalian semua harus tetap menjaga di sini, seorang pun tidak boleh meninggalkan tempat ini sampai ada perintah lain. Berjaga-jagalah terhadap musuh yang berusaha memasuki tempat ini dengan usaha mereka untuk menolong tawanan yang sudah kukeluarkan ini."

Para perwira mengangguk, dan Sutejo cepat menggiring empat orang itu keluar dan menghilang ke dalam kegelapan cuaca yang mulai remang-remang karena fajar mulai menyingsing di ufuk timur.

"Kami mempunyai perahu di pantai, dijaga oleh Ambar dan Tarmi,"

Kata Joko Handoko dan bergegas mereka pergi ke arah pantai itu.

Di tengah jalan, mereka bertemu dengan dua orang penjaga yang sedang meronda, akan tetapi tanpa banyak cakap lagi Sutejo merobohkan mereka, membuat mereka pingsan dan dia mengajak teman-temannya untuk mempercepat langkah.

Ternyata perahu yang dijaga oleh Ambar dan Tarmi masih ada di tempat semula.

Kedua orang wanita pengikut Sriti Kencana itu bersembunyi di dalam semak-semak dan mereka berdua sudah merasa khawatir bukan main karena semalam suntuk teman-teman mereka tidak juga kembali, padahal fajar telah mulai mendatang.

Kini dengan girang mereka melompat keluar melihat bayangan lima orang itu, akan tetapi mereka terkejut ketika melihat Sulastri dan Sutejo, dan mereka tidak melihat adanya Roro Kartiko.

Mereka cepat bertanya, akan tetapi Joko Handoko menjawab.

"Tidak ada waktu banyak bicara, mari kita cepat pergi!"

Perahu didorong ke air, mereka meloncat dan mendayung perahu ke tengah, kemudian dengan bantuan layar terkembang, perahu meluncur cepat meninggalkan Nusabarung.

Setelah perahu meluncur pergi, barulah hati mereka merasa lega, akan tetapi hal ini justru mengingatkan mereka kembali akan tewasnya Roro Kartiko dan hal-hal lain.

Terdengar isak tangis dan ternyata Sulastri telah menangis lagi.

Sutejo cepat duduk mendekati gadis itu, memegang lengannya dan berkata halus.

"Diajeng, sudahlah harap jangan berduka. Diajeng Roro Kartiko tewas sebagai seorang wanita gagah perkasa, dan selama hidup kita harus selalu teringat akan pengorbanan dan pembelaannya itu. Karena dialah maka kita dapat bertemu dan berkumpul kembali..."

Akan tetapi, mendengar ucapan ini, Sulastri bukannya terhibur, bahkan menangis makin sedih.

Joko Handoko menghela napas dan hanya menundukkan muka, sedangkan empat orang anggauta Sriti Kencana saling pandang dengan bingung.

Sikap Sutejo yang demikian mesra terhadap Sulastri mendatangkan perasaan tidak senang dan heran dalam hati mereka.

Bagimana Sutejo berani bersikap demikian mesra dan lancang terhadap Sulastri, di depan suami mereka itu pula?

Dan mengapa pula Joko Handoko juga kelihatan tidak peduli, bahkan berduka?

Juga Ambar dan Tarmi terisak menangis ketika mendengar bahwa Roro Kartiko telah tewas dalam penyelundupan mereka ke pulau itu.

Sunyi di perahu.

Yang terdengar hanyalah isak tangis para wanita, karena melihat Sulastri, Ambar dan Tarmi menangis, tak tertahankan lagi Ayu Kunti dan Cempaka juga terisak-isak.

Hanya tinggal Joko Handoko dan Sutejo berdua yang diam, menundukkan muka dan tidak berkata-kata, semua tenggelam ke dalam kedukaan yang memberatkan hati.

Namun, Joko Handoko tidak pernah lengah untuk mengemudikan perahu, sedangkan Ambar dan Tarmi yang pandai berlayar itu mengatur layar dengan cermatnya.

Setelah matahari naik tinggi, dari jurusan daratan nampaklah banyak sekali perahu besar berlayar menuju ke Nusabarung.

"Itu adalah perahu-perahu kita!"

Joko Handoko berseru girang dan memang benar.

Setelah dekat, perahu-perahu besar itu ternyata adalah perahu-perahu yang membawa pasukan Puger.

Seperti kita ketahui, para anggauta Sriti Kencana yang dipimpin oleh Joko Handoko dan Roro Kartiko meninggalkan Puger tanpa pamit, kemudian disusul pula oleh Sulastri.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali barulah para dayang mengetahui hal itu dan dengan bingung mereka lalu melapor.

Mendengar pelaporan ini, tahulah Sang Prabu bahwa putera-puteri mereka tentu melakukan penyelidikan ke Nusabarung, maka pagi-pagi sekali Sang Prabu sendiri lalu memimpin pasukan besar, juga minta bantuan Maeso Pawagal untuk mengerahkan pasukan dari Lumajang, untuk melakukan penyeberangan ke Nusabarung untuk menyerbu musuh itu!

Pertemuan antara Joko Handoko dan Sang Prabu Bandardento amat mengharukan.

Sang Prabu Bandardento yang sudah tua itu tak dapat menahan linangan air matanya ketika mendengar akan tewasnya Roro Kartiko, puteri angkatnya yang amat disayangnya itu.

Saking berduka, Sang Adipati menjadi marah sekali.

Andaikata Roro Kartiko berada bersama mereka yang berhasil lolos dari Nusabarung, agaknya Sang Adipati akan membatalkan niatnya menyerbu Nusabarung.

Akan tetapi mendengar bahwa puterinya tewas oleh orang-orang Nusabarung, dia lalu dengan marah memerintahkan armadanya melanjutkan pelayaran menuju ke Nusabarung!

Sutejo belum sempat banyak bicara dengan Sulastri karena mereka berdua tidak memperoleh kesempatan untuk bicara berdua saja.

Namun, Sulastri melihat betapa sinar mata pemuda itu selalu ditujukan kepadanya dengan penuh kasih sayang,penuh rindu dan juga penuh penyesalan, membuat hatinya terharu sekali.

Dia ingin bicara banyak dengan pemuda itu dan dia merasa makin terharu kalau mengingat bahwa Sutejo tentu belum tahu bahwa dia kini telah bersuami!

Di lain pihak, Sutejo yang melihat sinar mata Sulastri kadang-kadang ditujukan kepadanya, dapat menangkap kesedihan besar di dalam sinar mata wanita yang dicintanya itu.

Dia pun ingin sekali bicara banyak dengan Sulastri, ingin mohon maaf dan ingin menjelaskan bahwa dia sungguh-sungguh tidak membunuh guru gadis itu, dan juga bahwa kalau benar dia telah menikah dengan puteri Adipati Nusabarung, hal itu terjadi karena dia telah kehilangan ingatan!

Hatinya gelisah melihat betapa gadis itu masih memandang kepadanya dengan sinar mata penuh duka, seolah-olah banyak sekali hal-hal yang mengganjal di hati gadis yang amat dicintanya itu.

Nusabarung menjadi geger ketika secara tiba-tiba pasukan Puger yang besar sekali jumlahnya, dibantu pasukan Lumajang yang kuat, datang menyerbu pulau dan melakukan pendaratan di sepanjang pantai utara.

Adipati Menak Dibyo, dibantu oleh Menak Srenggo dan putera-puterinya, sudah membantu para perwira melakukan penjagaan.

Pagi tadi baru ada penjaga mengetahu"Itu adalah perahu-perahu kita!"

Joko Handoko berseru girang dan memang benar.

Setelah dekat, perahu-perahu besar itu ternyata adalah perahu-perahu yang membawa pasukan Puger.

Seperti kita ketahui, para anggauta Sriti Kencana yang dipimpin oleh Joko Handoko dan Roro Kartiko meninggalkan Puger tanpa pamit, kemudian disusul pula oleh Sulastri.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali barulah para dayang mengetahui hal itu dan dengan bingung mereka lalu melapor.

Mendengar pelaporan ini, tahulah Sang Prabu bahwa putera-puteri mereka tentu melakukan penyelidikan ke Nusabarung, maka pagi-pagi sekali Sang Prabu sendiri lalu memimpin pasukan besar, juga minta bantuan Maeso Pawagal untuk mengerahkan pasukan dari Lumajang, untuk melakukan penyeberangan ke Nusabarung untuk menyerbu musuh itu!

Pertemuan antara Joko Handoko dan Sang Prabu Bandardento amat mengharukan.

Sang Prabu Bandardento yang sudah tua itu tak dapat menahan linangan air matanya ketika mendengar akan tewasnya Roro Kartiko, puteri angkatnya yang amat disayangnya itu.

Saking berduka, Sang Adipati menjadi marah sekali.

Andaikata Roro Kartiko berada bersama mereka yang berhasil lolos dari Nusabarung, agaknya Sang Adipati akan membatalkan niatnya menyerbu Nusabarung.

Akan tetapi mendengar bahwa puterinya tewas oleh orang-orang Nusabarung, dia lalu dengan marah memerintahkan armadanya melanjutkan pelayaran menuju ke Nusabarung!

Sutejo belum sempat banyak bicara dengan Sulastri karena mereka berdua tidak memperoleh kesempatan untuk bicara berdua saja.

Namun, Sulastri melihat betapa sinar mata pemuda itu selalu ditujukan kepadanya dengan penuh kasih sayang, penuh rindu dan juga penuh penyesalan, membuat hatinya terharu sekali.

Dia ingin bicara banyak dengan pemuda itu dan dia merasa makin terharu kalau mengingat bahwa Sutejo tentu belum tahu bahwa dia kini telah bersuami!

Di lain pihak, Sutejo yang melihat sinar mata Sulastri kadang-kadang ditujukan kepadanya, dapat menangkap kesedihan besar di dalam sinar mata wanita yang dicintanya itu.

Dia pun ingin sekali bicara banyak dengan Sulastri, ingin mohon maaf dan ingin menjelaskan bahwa dia sungguh-sungguh tidak membunuh guru gadis itu, dan juga bahwa kalau benar dia telah menikah dengan puteri Adipati Nusabarung, hal itu terjadi karena dia telah kehilangan ingatan!

Hatinya gelisah melihat betapa gadis itu masih memandang kepadanya dengan sinar mata penuh duka, seolah-olah banyak sekali hal-hal yang mengganjal di hati gadis yang amat dicintanya itu Nusabarung menjadi geger ketika secara tiba-tiba pasukan Puger yang besar sekali jumlahnya, dibantu pasukan Lumajang yang kuat, datang menyerbu pulau dan melakukan pendaratan di sepanjang pantai utara.

Adipati Menak Dibyo, dibantu oleh Menak Srenggo dan putera-puterinya, sudah membantu para perwira melakukan penjagaan.

Pagi tadi baru ada penjaga mengetahui bahwa Menak Srenggo, Sariwuni dan Bandupati dibelenggu di ruangan itu dan ditutup mulut mereka.

Setelah memperoleh pertolongan dan mereka itu bercerita kepada Sang Adipati Menak Dibyo tentang Sutejo yang memberontak, adipati ini marah sekali.

Apalagi ketika menerima laporan bahwa Sutejo yang mereka kenal sebagai Bromatmojo itu telah membawa pergi empat orang tawanan, Sang Adipati marah-marah dan segera memerintahkan para pengawal untuk mencari dan melakukan pengejaran.

Akan tetapi hasil pengejaran itu adalah berita yang amat mengejutkan, yang dibawa oleh para pengejar itu bahwa kini armada yang amat besar telah datang menuju ke pulau mereka, yaitu pasukan-pasukan dari Puger!

Tentu saja hal ini menimbulkan kegemparan.

Penjagaan dilakukan serentak, dan ketika pasukan-pasukan Puger mendarat, mereka ini disambut hangat oleh para pasukan Nusabarung yang sudah membuat persiapan secara tergesa-gesa sehingga pada pagi hari itu, terjadilah perang campuh yang amat hebat di pantai Pulau Nusabarung!

bahwa Menak Srenggo, Sariwuni dan Bandupati dibelenggu di ruangan itu dan ditutup mulut mereka.

Setelah memperoleh pertolongan dan mereka itu bercerita kepada Sang Adipati Menak Dibyo tentang Sutejo yang memberontak, adipati ini marah sekali.

Apalagi ketika menerima laporan bahwa Sutejo yang mereka kenal sebagai Bromatmojo itu telah membawa pergi empat orang tawanan, Sang Adipati marah-marah dan segera memerintahkan para pengawal untuk mencari dan melakukan pengejaran.

Akan tetapi hasil pengejaran itu adalah berita yang amat mengejutkan, yang dibawa oleh para pengejar itu bahwa kini armada yang amat besar telah datang menuju ke pulau mereka, yaitu pasukan-pasukan dari Puger!

Tentu saja hal ini menimbulkan kegemparan.

Penjagaan dilakukan serentak, dan ketika pasukan-pasukan Puger mendarat, mereka ini disambut hangat oleh para pasukan Nusabarung yang sudah membuat persiapan secara tergesa-gesa sehingga pada pagi hari itu,terjadilah perang campuh yang amat hebat di pantai Pulau Nusabarung!

Akan tetapi, kini semangat bertempur para pasukan Nusabarung menjadi menyempit,apalagi ketika mereka melihat betapa Sutejo yang tadinya menjadi landasan semangat mereka itu kini berpihak kepada musuh!

Melihat Sutejo mengamuk di samping Sulastri, senopati wanita dari Puger yang hebat itu, merobohkan lawan dengan mudah saja, hati para perajurit Nusabarung menjadi kecil sekali.

Sariwuni dan Bandupati yang melihat betapa Sutejo kini berfihak kepada musuh,bertanding bahu-membahu bersama wanita perkasa yang menjadi senopati Puger,menjadi marah sekali.

Dengan senjata di tangan mereka memapaki dua orang ini dan Sariwuni segera menudingkan telunjuknya kepada Sutejo.

"Kakangmas Bromatmojo! Aku adalah isterimu, apakah kini engkau hendak mencelakakan isterimu sendiri?"

Di dalam hatinya, Sutejo sudah marah sekali.

Wanita ini sungguh tak tahu malu, pikirnya.

Menguasai dirinya melalui racun Lalijiwo dan dalam keadaan lupa diri itu dia telah dibujuk untuk menjadi suaminya!

Apalagi ketika di dalam perahu dia memperoleh kesmpatan mendengar penuturan singkat Joko Handoko betapa di dalam keadaan kehilangan ingatan itu dia mengaku bernama Bromatmojo dan Sariwuni mengaku kepadanya sebagai Sulastri, hatinya terasa sakit sekali!

Wanita tak tahu malu ini mempergunakan kesempatan selagi dia tidak ingat apa-apa lagi, menggunakan cinta kasihnya terhadap Sulastri, wanita itu mengaku sebagai Sulastri sehingga dia mau saja dijadikan suaminya.

Akan tetapi saking marahnya, dia sampai tidak dapat mengeluarkan kata-kata, dan adalah Sulastri yang menjawab.

"Perempuan hina! Akulah yang bernama Bromatmojo, dan aku pula yang bernama Sulastri! Tanpa racun Lalijiwo, jangan harap kau akan dapat mempengaruhi lagi kepada Kakang Tejo. Akulah lawanmu, iblis betina!"

Dan Sulastri sudah menerjang maju, mengirim tamparan Hasto Nogo kepada Sariwuni.

Sekali ini Sulastri marah bukan main, kemarahan yang didasari oleh hati penuh cemburu bahwa wanita ini telah menggunakan namanya dan berhasil mempersuami Sutejo!

Melihat adiknya terdesak oleh segebrakan serangan itu, Bandupati hendak membantu, akan tetapi tiba-tiba Sutejo membentak dan sudah menyerangnya sehingga terpaksa Bandupati meninggalkan adiknya dan menghadapi terjangan Sutejo yang juga menyerang dengan kemarahan meluap-luap.

Sementara itu, Menak Srenggo kembali telah berhadapan dengan Padas Gunung dan Pragalbo, dua orang tokoh Puger yang amat membenci Menak Srenggo yang berkhianat itu.

Sedangkan Adipati Menak Dibyo memperoleh lawan yang setingkat, yaitu Sang Prabu Bandardento sendiri yang selalu dibayangi dan dilindungi oleh Joko Handoko.

Hebat bukan main perang campuh yang terjadi di pantai Pulau Nusabarung itu.

Makin lama, perang itu makin ke tengah pulau karena pihak Nusabarung terdesak dan terus mundur.

Teriakan-teriakan mereka menggegerkan seluruh pulau.

Burung-burung beterbangan dengan ketakutan, mengungsi ke pulau lain.

Ombak Lautan Kidul juga ikut mengamuk dan mendebur dahsyat ke pantai selatan Pulau Nusabarung, seolah-olah Sang Ratu Kidul sendiri menjadi marah menyaksikan kekejaman manusia yang saling sembelih itu!

Pertandingan antara Sariwuni dan Sulastri berjalan singkat saja.

Tidak sampai tiga puluh jurus, Sariwuni roboh terkena tamparan tangan kiri Sulastri.

Tamparan itu tepat mengenai pelipisnya, tak tertahankan oleh Sariwuni dan wanita ini roboh dengan kepala retak, tewas seketika.

Sebelum menghembuskan napas terakhir, dia memekik.

"Kakangmas Bromatmojo...!!"

Hampir bersamaan waktunya, Bandupati juga roboh, kena didorong dadanya oleh telapak tangan kanan Sutejo.

Tidak ada luka di dadanya, namun getaran hawa sakti yang mendorong dada itu merusakkan isi dadanya dan Bandupati roboh tak berkutik lagi, juga tewas seketika.

Perang menjadi makin kacau.

Setelah akhirnya Adipati Menak Dibyo juga roboh oleh Sang Adipati Puger, dan juga Menak Srenggo tidak kuat menghadapi keroyokan Padas Gunung dan Pragalbo, akhirnya roboh dengan leher berlubang dan dada berlubang terkena tusukan keris Pragalbo dan suling Padas Gunung, pasukan Nusabarung menjadi kacau-balau dan berserabutan melarikan diri.

Akan tetapi, mereka terus dikejar oleh pasukan-pasukan Puger yang mulai melakukan pembasmian.

Istana diserbu dan terjadilah pembunuhan besar-besaran yang amat mengerikan.

Setelah Sang Prabu Bandardento melalui para perwiranya mengumumkan isyarat, barulah pembunuhan berhenti dan para sisa pasukan Nusabarung tunduk kepada Puger dan Sang Prabu Bandardento lalu mengangkat Padas Gunung untuk menjadi penguasa setempat di Nusabarung, sebagai hadiah atas jasa-jasa senopati yang sudah lama menghambakan diri di Puger itu.

Sang Prabu Bandardento menangisi jenazah Roro Kartiko yang masih berada di Nusabarung.

Jenazah ini lalu diurus dengan penuh penghormatan, lalu dibakar sebagaimana mestinya, diiringkan tangis kakaknya dan semua keluarga kadipaten Puger.

Juga Sulastri menangis terisak-isak, sedangkan Sutejo berdiri dengan kepala tunduk, mukanya pucat karena dia tahu bahwa Roro Kartiko tewas karena membela dia!

Sampai saat itu dia tidak tahu bahwa sebenarnya Roro Kartiko diam-diam amat mencintanya, dan gadis itu seolah-olah putus harapan dan sengaja membelanya dengan taruhan nyawa setelah melihat kenyataan bahwa biarpun telah menjadi isteri kakaknya, Sulastri masih tetap mencinta Sutejo.

Setelah semua selesai, Sang Prabu Bandardento kembali ke Puger, menyerahkan kekuasaan atas Pulau Nusabarung kepada Padas Gunung yang dibantu oleh para perwira yang sudah takluk.

Tentu saja kemenangan perang ini menghasilkan barang-barang berharga yang menjadi rampasan, termasuk puteri-puteri Nusabarung.

Mereka ini dibawa keluar dari Nusabarung menuju ke Puger di mana, baik barang-barang berharga maupun para puteri dan wanita cantik itu akan dibagi-bagikan kepada mereka yang berjasa, tentu saja dimulai dari para perwira tinggi.

Dan sudah barang tentu, orang Pertama yang berhak memilih adalah Sang Prabu Bandardento sendiri!

Memang demikianlah yang menjadi kenyataan, yang terjadi semenjak dahulu sampai sekarang pun di dunia ini!

Manusia saling bermusuhan, saling berperang hanya untuk memperebutkan keuntungan yang pada hakekatnya hanyalah kesenangan belaka yang berselubung, karena bukankah keuntungan itu berarti kesenangan?

Keuntungan yang menyenangkan dan kerugian adalah menyusahkan.

Keuntungan berupa kedudukan,kehormatan, kemenangan, harta benda, puteri-puteri dan wanita-wanita rampasan yang menjadi syarat pemuasan kesenangan nafsu berahi, nama besar, dan sebagainya,yang semua itu menjamin datangnya kesenangan dan kepuasan.

Tentu saja tidak ada orang atau bangsa yang mau melihat kenyataan ini, tidak ada yang mau mengatakan bahwa mereka berperang demi keuntungan atau kemenangan yang menjamin kesenangan.

Mereka menyelimuti keuntungan itu dengan kata yang sudah makin menjadi kotor saja, yaitu kebenaran!

Mereka berjuang demi kebenaran!

Mereka berperang demi kebenaran!

Sungguh merupakan lelucon yang sama sekali tidak lucu.

Bagaimana mungkin kebenaran diperebutkan dengan saling membunuh?

Bagaimana mungkin kebenaran diperoleh dengan jalan saling bermusuhan?

Bermusuhan, berperang,saling membunuh, ini sudah jelas tidak benar.

Mana mungkin mencapai kebenaran melalui cara yang tidak benar?

Yang jelas, setiap peperangan mendatangkan kesengsaraan dan penderitaan,terutama bagi yang kalah, sedangkan pada akhirnya, yang menang menikmati kemenangan dan memperoleh kesenangan yang dinamakan kebenaran!

Semua ini demikian jelas, demikian sederhana dan demikian mudah.

Akan tetapi sungguh aneh.

Semua manusia di dunia ini tidak mau melihatnya!

Tidak mau memandangnya sebagai kenyataan hidup.

Terjadilah kepincangan-kepincangan, kejanggalan-kejanggalan yang demikian nyata, namun sama sekali tidak dapat menyadarkan manusia daripada kepalsuan itu.

Yang kalah dikutuk sebagai yang salah, yang menang dipuja sebagai yang benar.

Demikianlah kenyataan hidup manusia, di manapun juga tidak ada kecualinya.

Semenjak jaman dahulu sampai sekarang pun, yang tetap berlaku adalah hukum rimba, yaitu siapa kuat dia menang dan siapa menang dia benar dan dia kuasa!

Lihatlah di sekeliling kita, lihatlah di dunia ini.

Hukum rimba yang liar,dan pada hakekatnya kita ini masih hidup di jaman purba, seperti binatang di dalam hutan.

Hanya hukum rimba kita sekarang diperhalus, berselubung, terhias dengan segala macam peradaban, kebudayaan, politik, agama dan sebagainya.

Namun pada intinya, masih jelas nampak hukum rimba itu.

Tentu saja siapa pun boleh saja menyangkalnya, namun bagi siapa yang suka membuka mata dan telinga, melihat kenyataan hidup sehari-hari, tentu akan melihat kenyataan itu.

Dalam suasana gembira karena menang perang, akhirnya Sang Prabu Bandardento menerima mereka yang telah berjasa besar itu di dalam ruangan persidangan.

Semua senopati yang telah berjasa hadir, tidak ketinggalan Pragalbo, Joko Handoko, Sulastri, Sutejo, dan para bekas anak buah Sriti Kencana yang kini kehilangan kepalanya itu.

Setelah memuji-muji kesetiaan dan kegagahan para senopatinya,akhirnya dengan muka sedih Sang Adipati berkata.

"Amat disesalkan bahwa kedatangan kita terlambat sehingga puteri kami tercinta, Roro Kartiko, telah menjadi korban dan tewas di tangan musuh. Akan tetapi, pengorbanannya itu tidak sia-sia karena pengorbanannya itu membawa kemenangan bagi Puger sehingga Nusabarung dapat kita taklukkan! Biarlah, kami takluk terhadap kehendak para dewata yang telah mengambil puteri kami. Kami masih mempunyai putera kami, Handoko dan mantu kami, Sulastri. Dengan adanya putera dan mantu kami ini, Puger akan selalu kuat dan jaya...."

"Ohhhh...!"

Semua orang terkejut mendengar suara ini dan mereka menoleh. Mereka melihat Sutejo menjadi pucat sekali mukanya dan pemuda itu menundukkan mukanya, tubuhnya gemetar seperti orang sakit.

"Anakmas Sutejo, Andika telah berjasa besar dan tanpa bantuan Andika, kiranya akan sukarlah menundukkan Nusabarung! Juga Andika yang telah menyelamatkan putera dan mantu kami... eh, Andika kenapakah, Anakmas?"

Seluruh tubuh Sutejo menggigil dan dia memejamkan matanya.

Sulastri menoleh dan wanita ini menjadi pucat sekali, akan tetapi dia segera menundukan muka kembali, tidak berani memandang kepada Sutejo.

Memang selama ini, belum pernah dia berani mengatakan kepada Sutejo bahwa dia telah menikah dengan Joko Handoko.

Kini, mendengar disebutnya namanya sebagai mantu Sang Adipati, tentu saja Sutejo menjadi terkejut dan mengalami pukulan batin yang amat hebat.

Joko Handoko maklum akan keadaan Sutejo ini, maka cepat dia menghampiri dan berkata kepada Sang Adipati.

"Kanjeng Romo, agaknya Dimas Sutejo kambuh kembali penyakitnya, karena memang selama ini dia kurang sehat, harap Kanjeng Romo suka memaafkannya dan biarlah hamba mengantarkannya ke dalam kamarnya."

Sutejo maklum bahwa dia bersikap tidak sopan, maka dia pun membungkuk dengan hormat tanpa berani mengeluarkan kata-kata, kemudian setelah melihat Sang Adipati mengangkat tangan tanda menyetujui, dia bangkit dan dipapah oleh Joko Handoko, pergi meninggalkan ruangan sidang dan menuju ke dalam kamarnya.

"Aduh, Adimas... Adimas Sutejo, Kau ampunkan aku..."

Setibanya di dalam kamar,Joko Handoko berkata dan memandang wajah pemuda yang duduk di atas pembaringan itu dengan hati penuh rasa iba.

Sutejo yang tadinya memejamkan mata, kini membuka matanya, memandang kepada Joko Handoko.

Mata itu seperti mata orang yang kehilangan semangat, layu dan sama sekali tidak ada gairah hidup lagi sehingga Joko Handoko merasa terkejut bukan main.

"Dimas Sutejo, harap kau suka maafkan aku, maafkan kami berdua..."

Kembali dia berkata dengan suara tersendat-sendat.

"Sudah semenjak kita bertemu, ingin aku menyampaikan hal ini kepadamu, akan tetapi... ah, ketika itu engkau masih belum sadar, dan kemarin... kemarin ini, aku tidak mendapatkan kesempatan dan... dan agaknya aku ngeri untuk menyampaikan kepadamu, Adimas...."

Joko Handoko lalu menggunakan kedua tangannya menutupi mukanya.

Betapa dia merasa amat menyesal bahwa dia pernah menikah dengan Sulastri, pernikahan yang hanya mendatangkan kepahitan dan kedukaan di dalam hatinya, di dalam hati Sulastri, dan kini menghancurkan pula hati Sutejo.

Sunyi kembali dalam kamar itu setelah Joko Handoko mengeluarkan kata-kata itu.

Sampai lama mereka hanya duduk diam, Joko Handoko masih menutupi muka dengan kedua tangannya, sedangkan Sutejo termangu-mangu memandang wajah yang ditutupi jari-jari tangan itu.

Akhirnya terdengar dia berkata dengan suara halus, namun ketenangan sikapnya itu masih berlawanan dengan suaranya yang gemetar.

"Kakangmas Joko Handoko, mengapa engkau minta maaf kepadaku? Sudah sepatutnya kalau... kalau Diajeng Sulastri menjadi isterimu. Engkau kini adalah seorang putera adipati yang terhormat, engkau masih muda, tampan, sakti dan amat baik. Engkau patut menjadi suaminya, dan tidak ada yang harus disesalkan, Kakangmas... aku... aku malah ikut merasa girang bahwa kalian saling mencinta..."

"Tidak... ah, kalau saja demikian keadaannya, Dimas...."

Sutejo memandang tajam. Alisnya berkerut.

"Apa maksudmu, Kakangmas?"

Joko Handoko menurunkan kedua tangannya dan mukanya kini sama pucatnya dengan muka Sutejo, bahkan matanya basah, membuat Sutejo memandang khawatir dan heran.

"Kuakui saja bahwa memang aku amat mencinta Diajeng Sulastri, Dimas. Akan tetapi semenjak aku mengetahui bahwa dia mencinta dirimu seorang, aku sudah tahu diri dan tidak berani mengharapkan cintanya. Aku cinta padanya, sampai detik ini juga,akan tetapi dia... dia sama sekali tidak pernah mencintaku, Dimas. Hanya engkau seoranglah yang dicintanya sampai sekarang..."

Sutejo bangkit berdiri saking kagetnya mendengar pengakuan itu.

"Akan tetapi kalau begitu... mengapa... mengapa kalian menikah?"

Tanyanya dengan suara agak keras karena merasa penasaran. Joko Handoko menarik napas panjang.

"Terjadi hampir dua tahun yang lalu, Adimas. Kami menikah karena terpaksa dan itu pun atas desakan Diajeng Sulastri yang tidak melihat jalan lain untuk menyelamatkan diri kami bertiga dari bahaya maut."

Joko Handoko lalu menceritakan pengalamannya bersama Roro Kartiko dan Sulastri, betapa mereka terancam maut di tangan saudara kembar Murwendo dan Murwanti dan betapa mereka melihat jalan keluar untuk menyelamatkan diri, yaitu pernikahan antara Sulastri dan Joko Handoko seperti yang dikehendaki oleh Sang Prabu Bandardento untuk menghadapi tuduhan Murwendo.

"Demikianlah, Dimas Sutejo. Dan sampai... sampai sekarang..., setelah hampir dua tahun lamanya, kami... kami berdua, sungguhpun semua orang menganggap kami suami isteri, akan tetapi kami... kami tidak pernah tidur sekamar... kami tidak pernah menjadi suami isteri dalam arti kata yang sesungguhnya. Aku bersumpah demi para Dewata, Adimas."

Sutejo makin terheran-heran dan alisnya berkerut makin dalam.

"Akan tetapi,mengapa kalian berdua begitu gila? Mengapa melakukan hal seperti itu hanya untuk menyelamatkan diri? Itu bukanlah perbuatan satria utama!"

"Maafkan aku, Dimas. Sesungguhnya, jalan itu kutempuh karena dua hal. Pertama, seperti kuceritakan tadi, kami menikah untuk menyelamatkan nyawa kami bertiga, ke dua, karena... karena aku hendak memberi peluang dan kesempatan kepada Adikku... ah, kasihan Adikku Roro Kartiko, agar... dia dapat melaksanakan apa yang menjadi cita-cita hidupnya...."

Sutejo memandang dan tidak mengerti.

"Apa maksudmu?"

"Dia cinta kepadamu, Dimas Sutejo. Adikku yang malang itu, setelah gagal cintanya terhadap... Bromatmojo, lalu dia mendapatkan kenyataan bahwa dia sesungguhnya mencintamu, Dimas. Dia cinta kepadamu, dan dapat kau bayangkan betapa hancurnya ketika dia mendengar pengakuan Sulastri yang hanya mencintamu seorang. Sama hancurnya dengan hatiku yang mendengar Sulastri mencintamu. Kami berdua kakak beradik seperti menerima kutukan Dewata, mungkin karena dosa-dosa Ayah kami. Aku ingin memberi peluang kepadanya. Kalau Sulastri menikah denganku dan akhirnya dapat belajar mencintaku, tentu terbuka kesempatan baginya untuk menjadi jodohmu. Akan tetapi... ahh, segala sesuatu berjalan serba tidak kebetulan dengan kami...."

"Ah, kenapa begitu? Kenapa kalian begitu bodoh...??"

"Semuanya telah terjadi, Dimas Sutejo. Aku pun menyadari kesalahan itu setelah terlanjur. Aku tahu bahwa cinta kasih di hati Diajeng Sulastri hanya untukmu, oleh karena itulah, maka malam tadi Diajeng Roro Kartiko dan aku nekat menyelundup ke Nusabarung dengan maksud untuk mengingatkanmu. Semua itu kami lakukan demi engkau dan demi Sulastri. Diajeng Kartiko bertindak demi untukmu, dan aku bertindak demi Diajeng Sulastri. Kami tahu bahwa kami telah bertepuk tangan sebelah, bahwa cinta kasih kami tidak terbalas, oleh karena itu, kami ingin mengisi sisa hidup kami untuk membahagiakan kalian berdua, orang-orang yang kami cinta. Akan tetapi, Diajeng Roro Kartiko telah mengorbankan nyawanya dan aku menyesal mengapa aku seorang yang masih hidup...."

Setelah berkata demikian, Joko Handoko lalu meninggalkan kamar itu dengan muka pucat dan langkah kaki terhuyung.

Sutejo tidak mencegahnya dan dia sendiri duduk termenung dengan hati bingung.

Baru dia mengangkat muka ketika dia mendengar langkah kaki yang ringan dan merasa bahwa ada orang lain di situ.

Kiranya yang berdiri di depannya adalah...

Sulastri!

Wanita ini tadi merasa tidak enak ketika melihat suaminya pergi bersama Sutejo.

Dia khawatir kalau-kalau terjadi hal-hal yang tidak baik, maka diam-diam dia lalu berpamit dari depan ayah mertuanya dan cepat menyusul suaminya ke kamar itu.

Dia masih dapat mendengarkan percakapan mereka yang terakhir dan dia pun merasa terharu sekali akan keadaan Joko Handoko dan Roro Kartiko.

Memang telah diduganya hal itu, akan tetapi sungguh tak diduganya betapa rela hati kakak beradik itu demi cinta kasih mereka, cinta kasih yang murni, yang tidak mementingkan diri sendiri.

Sejenak kedua orang itu hanya berpandangan.

Perlahan-lahan Sutejo bangkit berdiri tanpa mengalihkan pandang matanya dari mata Sulastri.

Dua pasang sinar mata itu saling pandang, saling menyelami, saling bicara dan akhirnya terdengar Sulastri bertanya.

"Kau mau memaafkan kami?"

Sutejo seperti terkejut mendengar pertanyaan itu, lalu menundukkan mukanya dan menjawab lirih.

"Apa yang harus dimaafkan? Kalian tidak bersalah apa-apa, bahkan bertindak benar. Hanya sayang bahwa engaku menghancurkan hati Kakangmas Joko Handoko... dengan... dengan... menyia-nyiakan kasih sayangnya kepadamu..."

"Kakang Tejo!"

Sulastri berkata keras.

"Kau tahu bahwa kami hanya... pura-pura saja menikah! Mana bisa aku membalas cintanya?"

"Tidak mungkin! Sebelum kami menikah, kami telah saling berjanji bahwa pernikahan itu hanya pura-pura saja, hanya untuk menyelamatkan nyawa kami. Dia pun mengerti bahwa aku tidak sengaja untuk menghancurkan hatinya. Tak mungkin aku mencintanya, tidak mungkin aku mencinta pria lain, dan hal ini kau tentu sudah tahu!"

Sulastri berhenti sejenak, kemudian melanjutkan, nadanya menyesal sekali.

"Tidak tahu bahwa engkau telah hidup mulia dan senang, menjadi mantu seorang adipati, menjadi senopati terhormat...."

"Diajeng Sulastri! Kau tahu bahwa aku tidak sadar melakukan itu semua! Bahwa aku berada dalam pengaruh racun Lalijiwo dan agaknya masih akan terus dalam keadaan seperti itu kalau tidak muncul Eyang Guru yang menyembuhkan aku!"

Sulastri menarik napas panjang.

"Aku tahu, Kakang Tejo. Aku tahu dan tentu saja aku juga tidak dapat menyalahkan kau. Kau lihat, banyak hal-hal terjadi di luar kemauan kita, terjadi tanpa kita sengaja, seperti halnya pernikahanku dengan Kakangmas Joko Handoko. Sekarang, apa yang hendak kaulakukan selanjutnya, Kakang Tejo?"

Hati Sutejo merasa terharu sekali, terutama mendengar sebutan "Kakang Tejo", sebutan yang hanya dapat keluar dari mulut dara ini.

Begitu mesra, begitu sederhana, namun begitu menggugah perasaan hatinya!

"Aku tidak tahu, aku sudah kehilangan pegangan semenjak pertemuan kita yang terakhir itu.

Diajeng Sulastri, apakah engkau masih membenciku dan menganggap aku membunuh gurumu, Eyang Empu Supamandrangi?"

Sulastri menggeleng kepala.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi di sana, akan tetapi aku menduga bahwa tidak mungkin engkau mencampuri urusan khianat itu, dan aku sudah berhasil membunuh Resi Harimurti dalam pertandingan di Kahuripan. Aku sudah puas, karena aku mendapatkan perasaan bahwa dialah biang keladi kematian Guruku."

Sutejo mengangguk.

"Memang semua adalah akal yang diatur oleh Kakang Resi Mahapati yang ingin memperoleh sebatang keris pusaka Kolonadah tiruan untuk dihaturkan kepada Gusti Pangeran. Resi Harimurti memaksa Eyang Empu dan akhirnya Eyang Empu Supamandrangi membuatkan keris itu."

Sutejo lalu menceritakan tentang syarat menekuk bahan baja untuk keris itu yang dapat dilakukannya sehingga akhirnya Empu Supamandrangi mau membuatkannya.

"Ketika itu, aku sedang duduk seorang diri di puncak. Ketika aku turun, aku sudah melihat Eyang Empu menggeletak dengan keris di tangan menusuk dada sendiri. Nampaknya seperti membunuh diri. Akan tetapi aku pun merasa curiga, di dalam hatiku aku menduga bahwa tentu Resi Harimurti yang membunuhnya. Akan tetapi, tidak ada saksinya dan bukti menunjukkan pembunuhan diri, maka aku pun tidak dapat berbuat apa-apa kecuali membantu pengurusan jenazah Gurumu."

Teringat akan kematian gurunya, Sulastri menghapus beberapa titik air matanya dan berkata.

"Betapa banyaknya korban-korban yang jatuh akibat dari pertikaian antara keluarga raja di Mojopahit. Sampai-sampai orang-orang seperti Guru-guruku yang selama hidupnya mengasingkan diri dan tidak turut bermusuhan, menjadi korban pula. Keluarga-keluarga kita berantakan dan betapa banyaknya korban di antara rakyat jelata..."

Sutejo menarik napas panjang, teringat akan ucapan gurunya ketika hendak meninggalkan Nusabarung.

"Engkau benar, Diajeng dan kini aku teringat akan pertanyaanmu tadi apa yang akan kulakukan selanjutnya. Aku akan meninggalkan semua ini, meninggalkan semua peperangan, semua permusuhan, semua kekerasan, aku akan hidup sebagai petani di lereng Pegunungan Kawi, tidak mau lagi mencampuri urusan pertikaian di dunia."

Sulastri memandang dengan sinar mata mesra.

"Ah... Kakang Tejo, kau... kau bawalah aku... bersamamu!"

Di dalam sinar matanya itu timbul rasa cinta kasih yang mendalam, pengharapan yang setinggi gunung, bibir itu terbuka sedikit mengarah senyum namun terbayang pula kekhawatiran kalau-kalau pemuda itu menolak permintaannya.

Dan memang penolakan itu tiba-tiba dengan langsung dan mengejutkan hatinya.

"Tidak...!! Sekali lagi tidak! Sama sekali tidak boleh!"

Sutejo berkata seperti orang berteriak marah sehingga Sulastri memandang dengan mata terbelalak dan muka berubah pucat sekali.

"Kau kira aku ini orang macam apa, Diajeng Sulastri? Engkau... engkau adalah isteri orang! Dan bukan orang biasa yang menjadi suamimu itu, melainkan Kakangmas Joko Handoko! Bagaimana engkau dapat menyuruh aku melakukan perbuatan sekeji itu, membawa isteri Kakangmas Joko Handoko? Ah, lebih baik aku mati saja!" (Lanjut ke

Jilid 37) Kemelut Di Majapahit (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 37

"Akan tetapi... kami... kami tidak..."

"Apa bedanya? Diajeng Sulastri, lihatlah baik-baik. Engkau adalah isteri Kakangmas Joko Handoko, tidak perduli apa pun yang terjadi di antara kalian. Semua orang tahu belaka bahwa engkau adalah isterinya, dan engkau adalah anak mantu Sang Prabu Bandardento! Mana mungkin engkau pergi bersama aku? Ah, jangankan melakukannya, membicarakannya saja, bahkan memikirkannya saja sudah merupakan hal yang sama sekali tidak patut!"

Perlahan-lahan, air mata turun dari sepasang mata itu, membasahi kedua pipinya.

Sulastri tidak terisak, melainkan menggigit bibirnya dengan hati seperti ditusuk-tusuk rasanya.

Harapannya selama ini hancur berantakan seperti sebuah kendi jatuh dan pecah, isinya tumpah dan tak dapat diharapkan akan utuh kembali.

Sutejo telah menolaknya!

Menolaknya walaupun dia tahu bahwa pemuda itu masih amat mencintanya.

Hal itu dapat diketahui dari pandang mata pemuda itu.

Karena dia adalah isteri Joko Handoko!

Untuk memperoleh keyakinan, maka sambil menahan rasa nyeri di hatinya, Sulastri bertanya, suaranya agak gemetar namun masih jelas terdengar satu-satu.

"Kakang Tejo, jawablah. Apakah engkau masih mencintaku seperti dahulu? Apakah engkau menolak karena engkau telah beristeri dan cintamu kepadaku telah menipis dan lenyap? Ataukah karena engkau merasa kecewa mendapatkan diriku telah menikah dengan orang lain, tanpa memperdulikan apa pun alasan pernikahanku itu? Jawablah agar tidak ada rasa penasaran yang akan mencekik dan membunuhku!"

Sutejo yang tadinya sudah menjatuhkan diri duduk di atas pembaringan, kini bangkit berdiri lagi dan dengan suara sungguh-sungguh namun kering dan dingin dia berkata.

"Aku cinta padamu, Diajeng, aku cinta padamu semenjak dahulu sampai sekarang, sampai selama hidupku. Tentang aku sudah pernah beristeri dengan Sariwuni, hal itu terjadi di luar kemauanku, bahkan di luar kesadaranku sehingga sama sekali tidak pernah kuanggap. Apalagi sekarang dia telah meninggal, andaikata dia masih hidup sekalipun, aku akan memberontak terhadap pernikahan itu dan aku akan meninggalkannya, karena pernikahan seperti itu bukanlah pernikahan namanya! Berbeda dengan pernikahanmu. Apa pun yang menjadi alasannya, apa pun yang memaksa kalian menikah, namun kalian melakukannya dalam keadaan sadar. Pernikahan kalian itu adalah sah, dan disaksikan oleh orang-orang sekadipaten Puger! Karena itu, mana mungkin aku mementingkan diri sendiri saja, membawa kau pergi sehingga terjadi tiga hal yang amat mengerikan, pertama nama baikmu akan menjadi tercemar, nama keluarga Sang Adipati di Puger akan menjadi kotor dan rusak, sedangkan hati Kakangmas Joko Handoko akan menjadi hancur. Yang terakhir inilah yang aku tidak akan melakukannya, Diajeng, biar aku mati sekali pun. Mana bisa aku merusak hati Kakangmas Joko Handoko? Ah, kau mengajukan permintaan yang sama sekali tidak mungkin..."

Sutejo lalu meloncat dan lari meninggalkan kamar itu di mana Sulastri masih berdiri dengan muka pucat dan pandang mata kosong termenung.

Sementara itu terjadi hal-hal yang juga amat menarik di Mojopahit.

Kemelut Mojopahit bukan makin mereda, bahkan kini seolah-olah berkumpul awan gelap yang makin menebal, yang menggelapkan Mojopahit dan mengancam ketenangan negara itu.

Setelah Sang Prabu yang sepuh meninggal dunia, setelah kini kekuasaan pemerintahan berada di tangan Pangeran Kolo Gemet yang telah menjadi raja dengan gelar Sang Prabu Jayanagara.

Raja yang masih amat muda ini masih diembani oleh Ki Patih Nambi yang bijaksana dan pandai mengatur pemerintahan.

Akan tetapi, adanya Ki Patih Nambi yang masih dipertahankan kedudukannya hanyalah berkat pesanan terakhir dari mendiang Sang Prabu Kertarajasa Jayawardhana saja.

Dalam kenyataannya, Sang Prabu Jayanagara yang masih muda itu lebih percaya dan lebih bergantung kepada ibunya, yaitu yang kini menjadi ibu suri, Sang Dyah Sri Indreswari dan juga kepada para ponggawa lain yang setia kepadanya semenjak dia masih menjadi pangeran, yaitu mereka yang mendukungnya terhadap pihak lawan yang menjadi saingan.

Baca Juga: Si Kumbang Merah Penghisap Kembang 10

Baca Juga: Si Tangan Sakti 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert