Ceritasilat Novel Online

Si Kumbang Merah Penghisap Kembang 10

Eps 10 Si Kumbang Merah Penghisap Kembang - Kho Ping Hoo

Baca online Si Kumbang Merah Penghisap Kembang - Kho Ping Hoo

Cersil Si Kumbang Merah Penghisap Kembang - Kho Ping Hoo.

Di depan mereka, malang melintang di tengah jalan raya, terdapat lima orang penunggang kuda yang jelas sengaja menghadang mereka dan memenuhi jalan.

Dia memandang tajam penuh perhatian kepada lima orang itu.

Matahari belum rendah benar dan sinarnya masih cukup terang.

Lima orang itu adalah pria semua, berusia antara dua puluh lima sampai tiga puluh lima tahun.

Mereka berpakaian cukup rapi dan bahkan mewah, pakaian yang ringkas dan melihat gagang pedang atau golok di punggung mereka, mudah diketahui bahwa mereka adalah orang-orang dunia persilatan.

Muka mereka terawat dan bersih, dan sikap mlerekapun tidak kasar seperti biasanya para perampok atau penjahat.

Sikap mereka itu lebih pantas sikap orang-orang muda bangsawan atau hartawan yang berlagak congkak mengandalkan kedudukan atau kekayaan orang tua mereka.

Ada pula lagak gagah-gagahan yang biasanya dimiliki orang-orang yang memiliki ilmu silat yang kepalang tanggung dan merasa bahwa dirinyalah orang yang paling lihai di dunia ini.

Ayam katai keruyuknya lebih nyaring dari pada ayam besar.

Gentong kosong gaungnya lebih nyaring dari pada gentong penuh isi.

Kelima orang ltu sama sekali tidak memperhatikan Hay Hay.

Mata mereka semua ditujukan kepada Mayang, dan mulut mereka tersenyum-senyum.

Sikap mereka tidak kasar, bahkan tidak ada ucapan-ucapan tidak sopan keluar dari mulut mereka yang tersenyum, akan tetapi pandang mata mereka itu amat dikenal oleh Mayang.

Pandang mata pria yang dibakar nafsu berahi kalau melihat wanita cantik.

Oleh pandang mata seperti itu saja, Mayang sudah merasa marah dan ia tahu dengan orang macam apa ia berhadapan.

Segera ia teringat akan keterangan kakek di dusun tadi, tentang sekelompok orang yang menamakan diri mereka ho-han atau orang gagah berjiwa pahlawan yang menentang kejahatan akan tetapi mereka suka mengganggu wanita.

"Apakah kalian ini yang dinamakan orang-orang Ho-han-pang?"

Mayang langsung saja berteriak dengan suara lantang dan membentak.

Lima orang pria muda itu saling pandang, kemudian mereka tertawa.

Sikap mereka ketika tertawapun tidak kasar, melainkan suara ketawa orang-orang yang biasa bersopan-santun, atau orang-orang terpelajar!

Seorang di antara mereka, yang berkumis tipis, mengajukan kudanya dan mewakili teman-temannya memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangan di depan dada.

"Selamat sore, nona. Maafkan kebodohan kami bahwa kami tidak mengenal nona yang ternyata telah mengenal kami. Kami berlima memang orang-orang Ho-han-pang. Bolehkah kami mengetahui siapa nama nona dan hendak pergi ke manakah?"

Melihat sikap mereka yang sopan, bagaimanapun juga Mayang merasa tidak enak untuk bersikap kasar.

Mulailah ia meragu.

Mereka ini harimau-harimau berkedok domba, ataukah keterangan kakek tadi yang tidak benar dan bersifat fitnah?

Ia harus berhati-hati, jangan sampai nanti ditertawakan oleh Hay Hay yang nampaknya hanya diam saja di belakangnya itu.

"Aku tidak ingin berkenalan dengan kalian, tidak perlu memperkenalkan nama. Aku hanya ingin tahu mengapa kalian sengaja menghadang dan merintangi perjalanan kami? Minggirlah dan beri jalan kepada kami!"

Kembali si kumis tipis mewakili teman-temannya dan dengan sikap hormat dia menjawab.

"Maafkan kami, nona. Kami memang sengaja menghadang bukan dengan itikad buruk, melainkan sudah menjadi tugas kami untuk menjaga keamanan di wilayah ini. Karena nona seorang yang asing dan belum kami kenal, maka sudah menjadi kewajiban kami untuk bertanya dan mengetahui siapa nona dan temanmu itu. Ketahuilah bahwa keamanan di seluruh daerah kota raja menjadi tanggung jawab Ho-han-pang, karena itu kami harus berhati-hati dan selalu menyelidiki pendatang yang belum kami kenal. Oleh karena itu, harap nona dan teman nona suka memperkenalkan diri dan memberitahukan kami, dari mana nona datang dan hendak kemana nona pergi."

"Hemm, apakah Ho-han-pang kini telah menggantikan pasukan pemerintah untuk menjaga keamanan? Bagaimana kalau kami tidak mau memperkenalkan diri. Apa yang hendak kalian lakukan?"

Kembali lima orang itu saling pandang, masih tersenyum dan kini pandang mata mereka bertambah kekaguman terhadap keberanian gadis jelita itu menantang mereka.

Dan si kumis tipis kembali berkata.

"Nona, agaknya nona belum mendengar tentang Ho-han-pang, maka nona tidak mempercayai kami. Ketahuilah bahwa ketua kami adalah Beng-cu yang hendak mempersatukan seluruh kekuatan di dunia persilatan. Beng-cu kami adalah seorang pendekar dan pahlawan yang berilmu tinggi, yang hendak menuntun semua tokoh kang-ouw untuk menjadi patriot pembela negara! Beng-cu kami membawa kami ke jalan kebenaran dan siapa yang menentang tentu akan tergilas oleh kebenaran. Karena itu, harap nona suka memperkenalkan diri sehingga kami tidak akan memberi laporan buruk tentang diri nona kepada ketua perkumpulan kami."

Empat orang temannya itupun memberi hormat kepada Mayang dan berkata.

"Maafkan kami, nona."

Sikap mereka berlima itu demikian sopan dan menarik, disertai senyuman menghias pada wajah mereka yang rata-rata memang tampan dan gagah.

Mayang hendak bersikeras tidak mau memperkenalkan diri, akan tetapi tiba-tiba ia mendengar suara Hay Hay di belakangnya.

"maafkan adikku ini, ngo-wi ho-han (lima orang gagah)! Terus terang saja, adikku enggan memperkenalkan diri karena maklumlah, sebagai gadis-gadis terhormat, bagaimana mungkin memperkenalkan diri begitu saja kepada lima orang pria muda?"

Mayang hendak menegur kakaknya dengan marah, akan tetapi ia bengong ketika melihat betapa lima orang laki-laki itu kini bersikap aneh sekali.

Mereka berlima itu memandang kepada Hay Hay dengan sikap aneh, kini mereka berlagak dan pasang aksi!

Bahkan seorang di antara mereka berkata lirih.

"Aduhhh... bukan main jelitanya nona berbaju biru ini..."

Mayang hanya sebentar saja terheran.

Setelah ia memperhatikan, ia dapat merasakan getaran tak wajar yang keluar dari arah Hay Hay, maka tahulah ia bahwa kakaknya sudah main-main lagi, mempergunakan sihirnya mempengaruhi lima orang itu yang agaknya melihat dia sebagai seorang wanita jelita!

Maka, Mayang kini diam saja, hanya senyum-senyum geli, hendak melihat apa yang akan dilakukan Hay Hay terhadap lima orang anggauta Ho-han-pang itu.

Si kumis tipis itu kini memandang kepada Hay Hay yang mengajukan kudanya.

Jelas betapa sinar mata si kumis tipis itu terpesona dan penuh kagum.

"Duhai nona yang cantik jelita dan manis budi! Terima kasih atas keramahanmu dan kami mohon sudi kiranya nona memperkenalkan diri bersama adik nona itu."

"Aku bernama Ma Hwa dan adikku ini bernama Ma Yang. Kami datang dari luar kota raja dan hendak melihat-lihat keindahan kota raja. Kalian sungguh sopan dan gagah, terutama engkau sungguh ganteng dengan kumis tipismu."

"Nona Ma Hwa dan nona Ma Yang. Ji-wi (kalian berdua) adalah gadis-gadis jelita dari luar kota yang memasuki kota raja, biarlah kami yang akan mengawal kalian agar jangan terdapat gangguan di dalam perjalanan."

"Ah, tidak perlu dikawal. Kami berani pergi berdua saja!"

Ma Yang cepat berkata karena ia tidak ingin ditemani lima orang itu.

Ia mendahului kakaknya karena takut kalau-kalau kakaknya itu akan menerima tawaran mereka.

"Kalau begitu, barangkali kami dapat membantu ji-wi?"

Si kumis tipis masih terus menawarkan jasa baiknya.

Sikap lima orang itu demikian sopan dan menarik, dan kini mengertilah Mayang mengapa banyak gadis yang terpikat dan menjadi isteri para anggauta Ho-han-pang.

Kiranya Ho-han-pang memiliki anggauta pria-pria muda yang pandai berlagak.

"Kalau sobat mau membantu kami, kami memang hendak mencari seorang perwira pengawal she Tang di kota raja..."

Hay Hay yang dengan kekuatan sihirnya telah membuat mereka memandangnya sebagai seorang gadis cantik itu memandang dengan penuh perhatian dan dia melihat betapa lima orang itu nampak kaget.

"Perwira she Tang...? Bagaimana rupa orang itu?"

Tentu saja Hay Hay tidak mampu menjelaskan karena dia sendiripun belum pernah melihatnya.

Dia hanya mendengar berita bahwa di kota raja terdapat seorang perwira muda she Tang yang membual bahwa dia adalah putera Ang-nong-cu.

Tentu saja Hay Hay tidak menganggap sebagai bualan belaka, karena memang benar bahwa Ang-hong-cu adalah seorang she Tang!

Kalau hanya membual, bagaimana nama keturunan itu demikian tepat?

Padahal, tak seorang mengetahui bahwa Ang-hong-cu adalah seorang she Tang.

"Dia... dia seorang perwira pengawal yang masih muda,"

Akhirnya Hay Hay hanya dapat menerangkan apa yang diketahuinya.

Namun agaknya hal itu sudah cukup karena lima orang itu nampak lega mendengar keterangan itu.

"Jangan khawatir, kami akan membantu ji-wi mencarinya. Kami akan menemui ji-wi sio-cia (nona berdua) di kota raja. Silakan melanjutkan perjalanan, nona Ma Hwa dan Ma Yang."

Mereka lalu meminggirkan kuda mereka, membiarkan Hay Hay dan Mayang lewat.

Setelah melewati lima orang itu, Mayang menegur kakaknya.

"Hay-ko, kenapa engkau memperkenalkan namaku dan mengapa pula engkau menyamar sebagai seorang wanita?"

"Mayang, orang yang kita cari ini lihai bukan main. Dia belum tahu namamu, akan tetapi dia sudah mengenal namaku, juga wajahku. Karena itu, tidak ada salahnya kalau engkau memperkenalkan rupa dan nama. Akan tetapi bagiku, lebih baik aku bersembunyi dan tidak sembarangan memperlihatkan diri."

"Koko, begitu takutkah engkau terhadap Ang-hong-cu?"

"Bukan takut, adikku, melainkan aku harus berhati-hati. Kalau dia tahu bahwa aku datang mencarinya di kota raja, dan kalau benar dia berada di sini, tentu dia akan lebih dulu melarikan diri. Dia lihai bukan main, juga licik dan pandai menyamar. Kita tidak ada waktu main-main dengan Ho-han-pang, maka lebih baik kita segera melepaskan diri dari mereka, karena kita memiliki tugas yang lebih penting. Sebaiknya kalau kita dapat masuk ke kota raja sebelum hari menjadi gelap sekali."

Mereka lalu membalapkan kuda mereka.

Setelah tiba di kota raja dan masuk melalui pintu gerbang tanpa menimbulkan kecurigaan, mereka menyewa dua buah kamar dalam sebuah rumah penginapan di kota raja.

Mereka menyerahkan dua ekor kuda mereka kepada pelayan untuk di pelihara dan diberi makan.

Tentu saja Hay Hay sama sekali tidak pernah mengira bahwa yang dinamakan Ho-han-pang adalah sebuah perkumpulan yang dipimpin oleh Ang-hong-cu sendiri!

Tidak pernah menduga bahwa lima orang anggauta Ho-han-pang itu adalah anak buah ayah kandungnya yang dicari-carinya.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, setelah keluar dari pekerjaannya sebagai perwira pasukan pengawal, dan telah membuat jasa-jasa, bukan hanya menangkap calon pembunuh kaisar, akan tetapi juga dia dianggap berjasa telah membuat daerah kota raja menjadi aman, keluar dengan terhormat, Ang-hong-cu Tang Bun An lalu menghilang dan muncullah Han Lojin memimpin Ho-han-pang!

Usahanya untuk menjadi seorang beng-cu atau pemimpin besar di dunia kang-ouw, mempersatukan atau lebih tepat lagi menalukkan semua tokoh dunia kang-ouw dan mengangkat diri sebagai beng-cu atau semacam raja, mulai berkembang dengan baik.

Hal ini berkat bantuan Sim Ki Liong, Tang Cun Sek, dan Ji Sun Bi.

Terutama sekali Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi yang amat banyak sekali hubungannya dengan para tokoh kang-ouw, telah menarik banyak tokoh kang-ouw untuk mengakui Han Lojin sebagai Beng-cu!

Biarpun kini perkumpulan Ho-han-pang mulai berpengaruh, mulai diakui para tokoh kangow, namun Han Lojin tetap bersikap waspada.

Dia selalu menyebar anak buahnya yang dipercaya untuk melakukan pengamatan di kota raja dan sekitarnya.

Kalau ada tokoh kang-ouw atau perkumpulan yang agaknya tidak mau tunduk, cukup dengan mengutus Sim Ki Liong, Tang Cun Sek atau Ji Sun Bi saja, mereka yang menentang itu pasti dapat ditundukkan.

Tidak usah dia sendiri yang turun tangan!

Han Lojin bukan orang bodoh.

Dia tahu bahwa selama para pembesar di kota raja, terutama para pejabat tinggi, mendukung Ho-han-pang, maka perkumpulannya itu akan semakin maju pesat.

Maka, diapun selalu menjaga agar Ho-han-pang mendatangkan kesan baik.

Dia memesan dengan ancaman keras kepada semua anak buahnya agar tidak melakukan perbuatan terlarang dan melanggar hukum.

Tidak boleh mencuri atau merampok, tidak boleh bersikap kasar terhadap rakyat, bahkan harus selalu menentang kejahatan.

Tentu saja mereka itu diberi jaminan yang cukup.

Kalau ada yang melanggar, Han Lojin tidak segan untuk memberi hukuman dan menyiksanya sehingga semua anak buahnya menjadi takut dan taat.

Bahkan diapun melarang keras anak buah Ho-han-pang untuk memperkosa wanita, hal yang biasanya dia sendiri suka melakukannya.

Mereka itu boleh saja memilih seorang gadis yang disukai sebagai isteri, akan tetapi harus dengan cara lain, tidak boleh memperkosa.

Dan anak buah Ho-han-pang banyak mendapatkan dari Ji Sun Bi dalam hal menundukkan gadis yang mereka pilih.

Banyak sudah para wanita berjatuhan dan terpaksa menjadi isteri seorang di antara anggauta-anggauta Ho-han-pang karena telah "dijatuhkan"

Secara yang tidak wajar, walaupun bukan dengan kekerasan.

Ji Sun Bi mempunyai banyak akal untuk membantu para anak buah Ho-han-pang untuk menjatuhkan seorang wanita, dengan ramuan obat, dengan rayuan dan bermacam akal lagi.

Beberapa orang gadis bahkan menyerahkan diri kepada seorang "pendekar"

Yang menyelamatkannya dari ancaman perampok ganas yang hendak memperkosanya.

Tentu saja semua itu hanya permainan saja, siasat yang diatur oleh Ji Sun Bi!

Demikianlah, Ho-han-pang dikenal oleh rakyat di kota raja dan sekitarnya sebagai perkumpulan orang-orang gagah yang menentang kejahatan, akan tetapi juga kenyataannya, banyak gadis yang menyerahkan diri menjadi isteri dari para anggauta Ho-han-pang itu.

Dan tentu saja Han Lojin sendiri belum dapat membebaskan diri dari kerakusannya terhadap wanita.

Setelah menjadi Beng-cu, baru beberapa bulan saja, dia sudah berhasil mengumpulkan banyak wanita muda yang cantik-cantik untuk menjadi pelayan dan pembantu dalam rumahnya di puncak bukit dalam hutan.

Nampaknya saja belasan orang gadis cantik itu menjadi pelayan dan pembantu, padahal sesungguhnya mereka dijadikan pemuas berahi Han Lojin yang tetap melakukannya karena rasa bencinya terhadap wanita dan ingin mempermainkan mereka.

Maka, dalam beberapa bulan saja sudah beberapa kali dia berganti pelayan.

Ada kalanya belum sampai satu bulan dia sudah mengeluarkan seorang gadis pelayan dari dalam rumahnya karena bosan, dan gadis itu dihadiahkan kepada seorang di antara para anak buahnya untuk diperisteri.

Anak buah ini tentu saja menerima dengan kedua tangan terbuka karena "hadiah"

Seorang gadis dari bengcu sudah dapat dipastikan amat cantik menarik!

Dan gadis itu sendiripun tidak mempunyai pilihan lain kecuali menerima.

Ia sudah ternoda, kalau dicampakkan begitu saja oleh beng-cu, mereka tentu akan terlantar dan mereka juga tidak berani pulang ke rumah orang tua karena malu.

Di antara para pelayan ini, tiada seorangpun yang diperkosa oleh Han Lojin.

Semua dijatuhkan dengan bantuan siasat Ji Sun Bi!

Dalam keadaan mabok atau lupa diri karena pengaruh ramuan obat, gadis-gadis itu menyerahkan diri dengan suka rela kepada Beng-cu dan mereka baru menyesal setelah terlanjur dan hanya mampu menerima nasib!

Ketika Han Lojin menerima Sim Ki Liong sebagai pembantu, dia sudah berjanji bahwa kalau pengaruhnya sudah mulai berkembang, akan mudah saja mencari orang-orang yang menjadi musuh besar pemuda perkasa itu, yaitu Siangkoan Ci Kang.

Dan dia memegang teguh janjinya.

Setelah banyak tokoh kang-ouw mulai mengakui kedudukannya sebagai Beng-cu di dunia kang-ouw Han Lojin menyebar penyelidik ke seluruh penjuru untuk mencari keterangan tentang Siangkoan Ci Kang.

Demikianlah, perlahan-lahan Han Lojin mulai memperkuat kedudukannya sebagai ketua Ho-han-pang dan juga sebagai beng-cu baru di dunia kang-ouw.

"Dua orang gadis Tibet katamu?"

Han Lojin minta penjelasan ketika dia mendengar laporan anak buahnya, si kumis tipis dan empat orang temannya.

"Benar sekali, Pangcu (ketua)."

Kata si kumis tipis.

Semua anak buah Ho-han-pang menyebut Pangcu (ketua) kepada Han Lojin sebagai ketua perkumpulan itu.

Akan tetapi para pembantunya yang utama seperti Sim Ki Liong, Tang Cun Sek, Ji Sun Bi dan para tokoh kang-ouw yang mengakui kedudukan Han Lojin sebagai bengcu, dan tidak menjadi anggauta Ho-han-pang, menyebutnya Beng-cu (pemimpin).

"Dua orang gadis peranakan Tibet yang cantik jelita bukan main. Belum pernah kami bertemu dengan dua orang gadis secantik itu!"

"Benar, Pangcu. Terutama yang lebih tua, yang bernama Ma Hwa. Dan yang muda bernama, Ma Yang."

Lima orang anggauta Ho-han-pang ini termasuk anggauta lama, bahkan telah menjadi anak buah sejak Han Lojin masih menjadi perwira Tang Bun An.

Tentu saja mereka termasuk orang-orang kepercayaan dan merekapun sudah tahu bahwa ketua mereka adalah seorang laki-laki yang suka mengumpulkan gadis cantik.

Akan tetapi, Han Lojin bukanlah seorang laki-laki yang mudah tertarik wanita cantik kalau dia tidak melihat sendiri.

"Kau bilang tadi bahwa mereka datang ke kota raja untuk mencari perwira Tang?"

"Benar, Pangcu. Akan tetapi yang mereka cari adalah seorang perwira Tang yang masih muda. Mungkin yang mereka maksudkan adalah perwira Tang Gun yang telah dihukum buang itu."

Kata si kumis tipis yang juga tahu akan peristiwa penangkapan Tang Gun yang kemudian dihukum buang, dan sampai kini tidak ada lagi kabar ceritanya.

Han Lojin mengerutkan alisnya, lalu menyuruh mereka mundur.

Dia sendiri termenung.

Kalau ada orang mencari Tang Gun, seperti dia dahulu, tentu karena tertarik mendengar bahwa Tang Gun membual sebagai putera Ang-hong-cu!

Dan ini hanya berarti bahwa dua orang gadis cantik itu tentu dua di antara para pendekar wanita yang mencarinya!

Dia mengingat-ingat para pendekar wanita yang pernah ditemuinya ketika terjadi pembasmian gerombolan pemberontak pimpinan Lam-hai Giam-lo.

Di antara mereka, yang paling mengesankan hanya beberapa orang, yaitu Cia Kui Hong, Kok Hui Lian, Siangkoan Bi Lian, Pek Eng, dan Cia Ling.

Dua yang terakhir itu, Pek Eng dan Cia Ling, tak pernah dapat dia lupakan karena mereka menjadi korban perkosaannya.

Kalau yang muncul adalah dua orang di antara mereka, dia tidak merasa heran karena para wanita pendekar itu memang memusuhinya.

Akan tetapi jelas Kui Hong tidak termasuk hitungan.

Cia Kui Hong yang telah menjadi ketua Cin-ling-pai itu telah berjanji dan dia merasa yakin bahwa gadis perkasa itu tidak akan melanggar janjinya sendiri.

Akan tetapi, agaknya juga bukan gadis-gadis pendekar lainnya itu yang kini mencari perwira Tang Gun.

Menurut anak buahnya, dua orang gadis itu bernama Ma Hwa dan Ma Yang, dan mereka adalah dua orang gadis peranakan Tibet.

Karena merasa tidak enak dan penasaran, Han Lojin lalu memanggil Sim Ki Liong, pembantu utamanya karena pemuda ini merupakan seorang yang berilmu tinggi.

Bahkan dalam hal ilmu silat, dia sendiri tidak akan mudah dapat mengalahkan Sim Ki Liong yang telah menguasai ilmu-ilmu silat tinggi dari Pulau Teratai Merah itu.

Ki Liong sudah menjadi seorang pemuda lain sejak menjadi pembantu Han Lojin.

Berkat ilmu penyamaran yang hebat dari Han Lojin, pemuda itu mengenakan kedok tipis, setipis kulit mukanya sehingga wajahnya berubah sama sekali.

Kini dia tidak khawatir akan dikenal oleh para pendekar.

Demikian pula Tang Cun Sek mengenakan kedok tipis yang merobah bentuk mukanya, seperti juga Ji Sun Bi.

Han Lojin tidak ingin para pembantunya itu dikenal orang.

Dia mengatakan bahwa penyamaran itu hanya untuk sementara saja.

Kalau kedudukan Ho-han-pang sudah kuat benar, maka tidak ada halangannya kelak tiga orang pembantunya itu memperlihatkan wajah yang sebenarnya.

"Kau selidiki dua orang gadis itu,"

Kata Han Lojin setelah menceritakan kepada Ki Liong tentang pelaporan anak buah Ho-han-pang tadi.

"Selidiki yang jelas siapa mereka, dan mengapa pula mereka mencari perwira Tang. Kalau mereka itu mencurigakan dan dapat merugikan kita, jangan kau ragu. Tangkap atau bunuh mereka, akan tetapi lakukan dengan hati-hati jangan sampai menimbulkan kekacauan di kota raja. Mengertikah engkau?"

Ki Liong mengangguk dan tersenyum.

"Itu urusan kecil saja, Beng-cu. Apa sih artinya dua orang gadis Tibet? Malam ini juga aku akan mendapatkan keterangan lengkap tentang mereka, dan kalau perlu malam ini juga kutangkap mereka dan kuhadapkan kepada Beng-cu."

"Bagus! Aku percaya akan kesanggupanmu, Ki Liong. Dan kau tahu, kalau bukan urusan penting, aku tidak akan mengutusmu, cukup anak buah saja. Jadi, urusan ini penting sekali karena hatiku merasa tidak enak."

Sim Ki Liong lalu meninggalkan puncak bukit yang kini menjadi perkampungan besar dan pusat perkumpulan Ho-han-pang itu, dan diapun memasuki kota raja dan mulai dengan penyelidikannya.

Karena memang Han Lojin memasang banyak sekali penyelidik dan anak buahnya di kota raja, maka bukan pekerjaan sukar bagi Ki Liong untuk mencari tahu di mana adanya dua orang gadis Tibet, dia tidak menemui kesulitan.

Menurut para penyelidik, yaitu anak buah Ho-han-pang yang berada di kota raja, tidak ada dua orang gadis Tibet.

Yang ada hanya seorang saja gadis Tibet bersama seorang pemuda yang mengaku sebagai kakaknya.

Dan mereka menyewa dua buah kamar di rumah penginapan Hok Likoan.

Tentu saja dia merasa heran sekali.

Bukankah menurut keterangan Beng-cu, lima orang anak buah Ho-han-pang itu melaporkan bahwa yang perlu diselidiki itu dua orang gadis Tibet yang cantik-cantik dan mereka bernama Ma Hwa dan Ma Yang?

Bagaimana sekarang yang ada hanya seorang saja gadis Tibet bersama kakak laki-lakinya?

Dan menurut para penyelidik, gadis Tibet yang berada di rumah penginapan Hok Likoan itu serupa benar dengan seorang di antara dua orang gadis Tibet, yaitu yang muda.

Ciri-cirinya yang menonjol adalah tubuhnya tinggi ramping dengan kulit yang putih kemerahan, pinggulnya besar dan bulat, rambutnya panjang dikepang dua, wajahnya manis, matanya agak sipit, hidungnya mancung besar dan mulutnya kecil.

Akan tetapi gadis Tibet pertama, yang kabarnya lebih cantik jelita dibandingkan adiknya, tidak nampak dan sebagai gantinya adalah seorang pemuda kakak gadis Tibet itu yang tampan.

Karena penasaran, maka malam hari itu juga Ki Liong mendatangi rumah penginapan itu.

Kebetulan sekali, pada saat itu dua orang kakak beradik yang hendak diselidikinya itu sedang makan malam di rumah makan sebelah rumah penginapan itu.

Begitu dia melihat pemuda yang mengaku kakak dari gadis Tibet, hampir saja Sim Ki Liong terpelanting jatuh saking kagetnya ketika dia mengenal pemuda itu yang bukan lain adalah Hay Hay atau Tang Hay, pemuda yang amat ditakutinya karena dia tahu betapa saktinya pemuda itu.

Dia tahu bahwa Hay Hay bukan saja amat tinggi ilmu silatnya, akan tetapi juga memiliki ilmu sihir yang amat kuat.

Kini mengertilah dia mengapa lima orang anggauta Ho-han-pang itu melihat dua orang gadis Tibet.

Tentu Hay Hay telah menggunakan sihirnya sehingga lima orang itu melihat dia sebagai seornag gadis.

Setelah dia merasa yakin bahwa pemuda itu benar Tang Hay, cepat Sim Ki Liong meninggalkan tempat itu dengan jantung berdebar.

Bahkan tadi ketika dia bertemu pandang dengan Hay Hay, dia merasa napasnya sesak, sungguhpun dia tahu bahwa tak seorangpun akan dapat mengenal wajahnya yang sudah berubah sama sekali oleh penyamaran yang dilakukan Han Lojin.

Dan memang Hay Hay sama sekali tidak mengenal Sim Ki Liong dengan wajah barunya itu.

Kalau dia tadi memandang tajam adalah karena dia melihat pemuda tampan itu mengerling ke arah Mayang dan dia.

Dengan napas masih memburu, malam itu juga Ki Liong menghadap han Lojin.

Tentu saja Han Lojin terkejut bukan main melihat pembantu utamanya itu kelihatan gugup dan seperti orang ketakutan!

Juga telah berani minta menghadap pada malam itu juga, tanda bahwa dia datang membawa berita yang teramat penting.

"Hayaaa, celaka, Beng-cu..."

Han Lojin mengerutkan alisnya dan memandang marah.

"Ki Liong, kenapa engkau? Sungguh tak kusangka engkau dapat menjadi seorang penakut macam ini! Hayo katakan, mengapa engkau kelihatan begini ketakutan?"

Wajah Ki Liong menjadi merah dan dia baru menyadari bahwa sikapnya tadi memang memalukan sekali.

"Maaf, Beng-cu. Saya tidak takut, hanya... eh, kaget sekali karena menemukan orang yang sama sekali tidak saya sangka-sangka. Karena terkejut itulah maka saya menjadi gugup dan ingin cepat-cepat memberi laporan kepada Beng-cu."

Kini sudah kembali harga dirinya.

Dia adalah seorang pemuda yang gagah perkasa, berilmu tinggi, bahkan murid dari Pendekar Sadis dan isterinya, majikan Pulau Teratai Merah yang terkenal di seluruh dunia kang-ouw.

Tidak sepatutnya dia memperlihatkan sikap ketakutan seperti tadi.

"Katakanlah, Ki Liong, jangan seperti anak kecil. Siapa orang itu?"

Kini ada perasaan was-was di hati Han Lojin karena dia cukup mengenal kegagahan dan kelihaian Ki Liong.

Kalau sampai seorang yang memiliki kelihaian seperti Ki Liong sampai begitu ketakutan, maka tentu orang yang ditakutinya itu benar-benar orang luar biasa.

"Dia adalah Hay Hay..."

Sepasang mata Han Lojin terbelalak dan dia merasa betapa jantungnya berdebar penuh keregangan.

"Dia... ? Dia... yang datang...?"

Sejenak kedua orang berdiam diri, tidak ada yang mengeluarkan suara karena keduanya melamun.

Terbayanglah semua peristiwa yang pernah mereka alami, ketika Han Lojin bertanding melawan Hay Hay puteranya sendiri dan terdesak hebat.

Juga Ki Liong membayangkan ketika dia bertanding melawan Hay Hay dan hampir saja dia celaka, bahkan akhir-akhir ini pedang pusaka yang dibawanya dari Pulau Teratai Merah, yaitu pedang pusaka Gin-hwa-kiam, juga dirampas oleh pemuda yang memiliki kesaktian hebat itu.

Akan tetapi Han Lojin segera dapat menguasai hatinya yang agak terguncang mendengar bahwa musuhnya nomor satu yang ditakutinya, juga merupakan putera kandungnya, kini telah datang ke kota raja dan sudah jelas niatnya.

Tentu untuk mencari dia!

Dia segera teringat akan kedudukannya dan kalau tadinya dia merasa gentar, kini dia dapat menguasai hatinya, bahkan otaknya yang cerdik segera mengatur siasat untuk dapat menundukkanTang Hay.

Kalau saja pemuda yang lihai itu, juga putera kandungnya sendiri itu, dapat membantu dia seperti halnya Tang Cun Sek, tentu kedudukannya akan menjadi semakin kuat!

Benar!

Dia harus dapat membujuk atau kalau perlu memaksa Tang Hay untuk membantu usahanya menjadi Beng-cu di seluruh dunia kang-ouw!

"Ki Liong, cepat kau pergi panggil Sun Bi dan Cun Sek ke sini!"

Ki Liong memandang Han Lojin.

"Sekarang?"

"Ya, sekarang juga. Cepat, kutunggu!"

Ki Liong segera pergi ke kamar kedua orang itu dan tak lama kemudian dia bersama Ji Sun Bi dan Tang Cun Sek sudah berada di dalam ruangan duduk di mana Han Lojin masih menanti dengan alis berkerut.

Dua orang itupun terkejut setengah mati mendengar dari Ki Liong bahwa Hay Hay telah tiba di kota raja.

Maka, mendengar bahwa Beng-cu memanggil, mereka bergegas datang dan kini empat orang itu sudah duduk mengelilingi meja dan bicara dengan wajah serius.

Biarpun wajahnya membayangkan kecemasan, namun Han Lojin dengan suara tenang menggambarkan siasatnya untuk menghadapi Tang Hay atau Hay Hay.

Sampai jauh malam baru mereka mengakhiri perundingan itu dan pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat karena besok mereka mempunyai tugas yang penting dan berat sebagai pelaksanaan siasat yang telah diatur oleh Han Lojin!

Pagi-pagi sekali Hay Hay sudah mandi kemudian keluar dari dalam kamarnya di rumah penginapan Hok Likoan.

Dia melihat pintu kamar Mayang masih tertutup dan diapun tidak mau mengganggu adiknya yang tentu lelah setelah pada hari-hari yang lalu melakukan perjalanan jauh itu.

Biarlah adiknya melepas lelah dan beristirahat.

Diapun pagi-pagi bangun untuk mulai dengan penyelidikannya tentang perwira Tang, dan dia tidak akan menyelidik jauh-jauh.

Pagi hari itu tentu dia akan dapat minta keterangan dari karyawan rumah penginapan itu secara santai, karena hari masih pagi dan sepi.

Ketika dia melihat tukang kebun rumah penginapan itu menyapu pekarangan diluar bangunan, dia melihat kesempatan baik sekali.

Tukang kebun itu sudah setengah tua, tentu sudah lama berada di kota raja.

Maka dihampirinya tukang kebun yang sedang menyapu pekarangan itu.

"Selamat pagi, paman."

Tegurnya.

Tukang kebun itu mengangkat muka dan memandang heran.

Baru sekali ini selama bertahun-tahun menjadi pegawai kasar dan yang dianggap rendah, yaitu menjadi tukang kebun, dia mendapat salam demikian akrabnya dari seorang tamu hotel!

"Selamat pagi, kongcu!"

Jawabnya gembira.

"Sepagi ini sudah bekerja, paman? Rajin amat?"

Tukang kebun itu menghentikan gerakan sapunya dan memandang sambil tersenyum.

Seorang tuan muda yang amat ramah, pikirnya.

"Kalau kesiangan sedikit, para tamu akan berlalu lintas di sini dan selain sukar, juga akan (Lanjut ke

Jilid 26) Ang Hong Cu (Seri ke 10 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 26 mengganggu tamu."

Hay Hay melihat sebatang sapu bersandar di dinding luar.

Diambilnya sapu itu dan diapun mulai menyapu, membantu pekerjaan si tukang kebun.

"Eh, jangan, kongcu. Pakaianmu nanti kotor...!"

Kata si tukang kebun dengan heran.

"Aih, tidak mengapa, paman. Aku ingin membantumu menyapu. Aku ingin engkau segera menyelesaikan pekerjaan mu ini, karena aku ingin mengajakmu bercakap-cakap sebentar."

Biarpun dia bukan tukang sapu dan tidak biasa menyapu pekarangan, akan tetapi berkat tenaganya yang besar dan kecekatan gerakannya, sebentar saja Hay Hay dapat menyelesaikan pekerjaan itu.

Si tukang kebun terheran-heran melihat seorang tamu, seorang tuan muda, dapat mengayun tangkai sapu sedemikian mahir dan cepatnya.

Dengan hati girang diapun melayani Hay Hay mengajaknya bercakap-cakap.

"Paman, aku hendak bertanya sedikit, harap paman suka membantuku dan memberi keterangan sejujurnya."

"Pertanyaan apakah, kongcu? Tentu saya akan menjawab sejujurnya."

"Begini, paman. Aku ingin mencari keterangan tentang seorang perwira di kota raja ini, seorang perwira she Tang yang mengaku sebagai putera Ang-hong-cu. Pernahkah engkau mendengar tentang Tang-ciangkun itu?"

Tukang kebun itu memandang kepada Hay Hay dengan wajah berkerut.

Nama Ang-hong-cu merupakan nama yang asing baginya.

"Saya pernah mendengar tentang seorang perwira she Tang, akan tetapi entah dia itu putera siapa..."

"Tidak apa, paman. Perwira she Tang yang paman ketahui itu, di mana dia tinggal?"

Tukang kebun itu menggeleng kepala.

"Dia sekarang telah mengundurkan diri, tidak menjadi perwira istana lagi. Entah ke mana perginya. Dia pernah berjasa kepada Sri Baginda Kaisar, demikian beritanya, dan dia diangkat sebagai perwira pengawal. Akan tetapi, sudah berbulan-bulan, mungkin sudah ada setahun, dia mengundurkan diri dan entah ke mana. Demikianlah yang saya dengar kongcu. Saya kurang memperhatikan urusan seperti itu, dan maaf kalau saya tidak memberi keterangan secukupnya."

"Keteranganmu sudah cukup berharga, paman,"

Kata Hay Hay berbohong karena sesungguhnya dia merasa kecewa sekali mendengar keterangan yang tidak lengkap itu.

"Akan tetapi, tahukah paman siapa nama perwira itu dan berapa kira-kira usianya?"

"Saya sendiri belum pernah melihatnya, hanya mendengar kabar saja bahwa dia setengah tua, lima puluhan tahun lebih, dan namanya... namanya Tang... Bo An atau semacam itu."

Hay Hay merasa semakin kecewa.

Kalau benar perwira itu putera Ang-hong-cu, tentu usianya tidak lima puluh tahun lebih!

Dan mana ada orang bernama Bo An (Tidak Selamat).

Mungkin Bu An atau Bun An.

Biarpun dia menduga bahwa tentu bukan perwira setengah tua itu yang dimaksudkan sebagai putera Ang-hong-cu, yang mengaku demikian dan merupakan satu-satunya jejak baginya untuk menyelidiki Ang-hong-cu, namun tidak ada cara lain baginya kecuali menyelidiki orang itu.

Akan tetapi perwira setengah tua itu telah mengundurkan diri!

Siapa tahu, masih ada orang di bekas tempat tinggalnya yang dapat bercerita lebih banyak, terutama sekali memberitahu kepadanya di mana sekarang perwira itu tinggal.

Bagaimanapun juga, she perwira setengah tua itu juga Tang, dan hal ini saja sudah menarik perhatiannya.

"Terima kasih sekali atas semua keterangan itu, paman. Sedikit lagi, di manakah rumah perwira Tang itu?"

Tukang kebun itu memandang heran.

"Sudah saya katakan bahwa saya tidak tahu ke mana dia pergi dan tidak tahu di mana rumahnya sekarang, kongcu."

"Maksudku, bukan rumahnya yang sekarang, melainkan rumahnya dahulu ketika dia masih menjadi perwira di kota raja ini."

"Ahh, kalau itu saya tahu. Siapa yang tidak tahu gedung perwira Tang yang amat terkenal itu?"

Lalu dia memberi petunjuk di mana adanya bekas rumah perwira Tang.

Hay Hay mengucapkan terima kasih, lalu meninggalkan tukang kebun itu yang melanjutkan pekerjaannya.

Dia tidak tahu betapa setelah dia pergi, wajah ketololan dari tukang kebun itu berubah.

Matanya berkilat dan mulutnya terhias senyum, tanda seseorang yang merasa puas akan pelaksanaan tugasnya.

Melihat betapa daun pintu Mayang masih tertutup, Hay Hay tidak mau mengganggu adiknya.

Biar Mayang tidur sampai sepuasnya.

Pula, yang akan di selidikinya hanyalah bekas tempat tinggal seorang perwira Tang yang agaknya lain dari pada yang mengaku sebagai putera Ang-hong-cu.

Dia akan melakukah penyelidikan ini sebagai iseng-iseng saja, sebagai jalan-jalan pagi selagi hawa udara masih sejuk dan bersih.

Maka, diapun segera menggapai seorang pelayan rumah penginapan yang sedang mencuci lantai dengan kain basah, pekerjaan yang dilakukan setiap pagi sebelum para tamu bangun.

"Toako,"

Kata Hay Hay kepada pelayan yang usianya sekitar tiga puluh tahun itu.

"maukah engkau menyampaikan pesan untuk adikku perempuan di kamar itu kalau ia terbangun nanti dan mencari aku?"

Pelayan itu mengangguk-angguk.

"Tentu saja, kongcu. Sudah menjadi tugas kami untuk melayani setiap orang tamu."

"Nah, kalau dia terbangun nanti, katakan bahwa aku pergi berjalan-jalan mencari hawa pagi yang segar, dan agar ia menanti kembaliku untuk makan pagi bersama."

Pelayan itu mengangguk.

"Baik, kongcu. Akan saya sampaikan pesan kongcu kepada siocia."

Hay Hay mengeluarkan dua keping uang kecil dan memberikannya kepada si pelayan yang menerimanya dengan ucapan terima kasih.

Hay Hay lalu pergi meninggalkan rumah penginapan itu lalu mengambil jalan ke arah bekas tempat tinggal Tang -ciangkun melalui jalan raya yang masih sepi.

Diapun tidak tahu betapa pelayan yang tadi mencuci lantai itu berubah sikapnya, bahkan lalu menyelinap masuk dan berbisik-bisik dengan tukang kebun tadi, dan beberapa orang pelayan lain.

Tidak sukar bagi Hay Hay untuk menemukan gedung yang megah itu karena dia sudah mendapat gambaran dari tukang kebun di rumah penginapan.

Seperti juga rumah-rumah lain, gedung itu masih nampak sunyi di pagi hari itu.

Di waktu sepagi itu, hanya burung-burung dan orang-orang miskin saja yang sudah keluar dari sarang dan rumah untuk mencari nafkah hidup sehari-hari.

Orang-orang kaya, bangsawan, dan mereka yang malas baru akan bangun setelah matahari naik tinggi.

Orang-orang seperti ini tidak pernah dapat menikmati indahnya pagi hari, sejuknya hawa pagi, segarnya mandi pagi yang kemudian menyegarkan pula badan sepanjang hari.

Orang yang terbiasa bangun pagi-pagi sekali, mandi air dingin, memulai kehidupan di hari itu dengan kegembiraan dan semangat yang timbul karena guyuran air dingin di pagi hari, akan selalu merasa segar badan dan batinnya selama sehari itu.

Sebaliknya, orang yang terlalu banyak tidur, yang bangun terlampau siang, tidak akan kebagian suasana gembira dan penuh semangat di pagi hari itu, Begitu bangun diserang panasnya sinar matahari yang sudah naik tinggi, menimbulkan kelesuan dan kemalasan di sepanjang hari itu.

Karena itu, bukan hanya omong kosong kalau para budiman jaman dahulu mengatakan bahwa siapa tidur tidak terlalu malam dan bangun pagi-pagi, akan banyak rejeki dan tubuh sehat hati bahagia!

Setidaknya, yang jelas badan menjadi segar dan sehat!

Gedung bekas tempat tinggal perwira Tang itu masih nampak sepi, bahkan lampu gantung di luar rumah masih belum dipadamkan.

Akan tetapi sepagi itu, sudah nampak seorang berpakaian pelayan atau tukang kebun menyirami bunga-bunga di pekarangan depan, taman bunga yang terawat rapi.

Ketika tukang kebun itu melihat seorang pemuda berdiri di pintu pagar dan memandang-mandang ke dalam, dia segera menghampiri dan menegur.

"Sobat, siapakah engkau dan ada keperluan apa berdiri di sini mengamati rumah ini?"

Sikapnya tidak bermusuh, akan tetapi mengandung kecurigaan.

Kebetulan sekali, pikir Hay Hay.

Kesempatan baik baginya untuk mencari keterangan.

"Maaf, lopek,"

Katanya sambil memandang kakek yang usianya tentu lebih dari lima puluh tahun namun tubuhnya masih kokoh kuat agaknya berkat terbiasa kerja keras.

"Aku hanya mengagumi gedung yang megah ini. Bukankah ini rumah Tang-ciangkun?"

"Orang muda, jangan ngawur! Ini adalah rumah perwira Su, bukan perwira Tang!"

"Akan tetapi, bukankah dahulu perwira Tang tinggal di rumah ini?"

Bantah Hay Hay dengan sikap seolah dia sudah mengenal benar perwira Tang.

"Semua orang juga sudah tahu, akan tetapi sudah setahun lebih rumah ini menjadi tempat tinggal Su-ciangkun."

"Dan ke manakah pindahnya Tang-ciangkun?"

"Mana aku tahu? Kabarnya dia mempunyai rumah peristirahatan di luar kota, di luar kota raja sebelah utara ada bukit dan kabarnya di sanalah tempat tinggal barunya. Akan tetapi, baru saja Tang-ciangkun lewat di jalan ini. Dia menunggang kuda di pagi hari, dan mungkin dia pulang ke rumah peristirahatannya."

"Ah, benarkah?"

Hay Hay bertanya penuh semangat.

"Baru saja dia lewat, kalau engkau cepat-cepat melakukan pengejaran, mungkin masih dapat melihatnya."

"Terima kasih, lopek!"

Kata Hay Hay dan begitu dia berkelebat, diapun lenyap dari depan kakek itu.

Tukang kebun itu tertegun, matanya terbelalak dan mulutnya ternganga.

Lalu dia menarik napas panjang.

"Aihhh"., pantas saja Beng-cu berpesan agar aku berhati-hati kalau bertemu pemuda itu. Kiranya dia memiliki kesaktian seperti setan, dapat menghilang!"

Dan diapun bergidik.

Hay Hay memang mengerahkan tenaga dan kepandaiannya untuk melakukan pengejaran.

Kalau dia dapat bertemu muka dengan perwira Tang, mungkin saja dia akan dapat mendengar tentang perwira Tang yang lain, yang dikabarkan membual sebagai putera Ang-hong-cu itu.

Karena hari masih pagi dan sepi, maka dia dapat dengan leluasa berlari cepat menuju ke pintu gerbang utara, tidak perduli akan keheranan tukang kebun yang melihat dia seperti menghilang.

Untung bahwa pintu gerbang utara sudah dibuka sejak pagi, ada saja orang-orang yang keluar dari pintu gerbang, yaitu mereka yang mempunyai keperluan keluar kota untuk berdagang atau untuk urusan lain.

Ketika dia keluar dari pintu gerbang, dia melihat debu mengepul di depan, dan tahulah dia bahwa di depan sana ada orang menunggang kuda yang dibalapkan.

Melihat ada dua orang petani memanggul cangkul berlenggang seenaknya dari depan, dia cepat bertanya kepada mereka.

"Sobat, tahukah kalian siapa penunggang kuda itu tadi?"

Dia menuding ke arah penunggang kuda yang tentu telah lebih dahulu berpapasan dengan mereka.

"Ah, dia? Dia adalah Tang-ciangkun..."

Kata seorang di antara mereka.

Mendengar ini, dengan girang Hay Hay melompat dan berlari cepat seperti terbang meninggalkan dua orang petani itu setelah mengucapkan terima kasih.

Dua orang petani itu berdiri bengong memandang, karena selama hidupnya belum pernah berlari secepat itu.

Hay Hay tidak tahu bahwa dua orang itu saling pandang dan tersenyum, dan seorang di antara mereka menjulurkan lidah.

"Wuiii... lihai dan berbahaya sekali orang itu!"

Hay Hay mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengejar penunggang kuda di depan.

Karena debu mengepul tebal dia tidak dapat melihat kuda dan penunggangnya, akan tetapi debu itu yang menunjukkan ke mana penungang kuda itu pergi.

Ketika penunggang kuda itu mendaki bukit dan tiba di lereng yang berhutan, debu pun menghilang karena jalan yang dilalui berumput.

Setibanya di luar hutan, Hay Hay terpaksa menghentikan larinya.

Dia kehilangan jejak.

Memang dapat dia melacak jejak kaki, akan tetapi hal itu akan memakan waktu lama dan tentu orang yang dikejarnya itu telah pergi jauh.

Dia tidak dapat terlalu lama pergi.

Mayang akan menanti, dan akan merasa khawatir.

Bagaimanapun juga, dia telah tahu ke arah mana Tang-Ciangkun itu pergi.

Dia akan kembali ke rumah penginapan lebih dulu, dan mengajak Mayang untuk kembali ke tempat ini, mencari sampai berhasil menemukan bekas perwira Tang, untuk menanyakan apakah bekas perwira itu mengenal Perwira Tang muda yang mengaku putera Ang-hong-cu.

Dia lalu menuruni lereng bukit itu dan kembali ke kota raja.

Matahari telah naik tinggi ketika dia tiba kembali di rumah penginapan Hok Likoan.

Dia segera menghampiri kamar Mayang.

Melihat pintu kamar itu masih tertutup, dia merasa heran.

Begitu lelahkah adiknya itu sehingga sesiang itu belum juga bangun?

Dia mengetuk daun pintu kamar itu, memanggil-manggil.

Akan tetapi tidak ada jawaban.

Seorang pelayan losmen itu, yang malam tadi menerima mereka, menghampirinya.

"Percuma diketuk, kongcu. Siocia tidak berada di dalam kamar ."

"Tidak berada di dalam kamarnya? Lalu ia ke mana?"

Tanya Hay Hay, sambil memandang ke kanan kiri untuk melihat kalau-kalau adiknya berada di dekat situ.

"Entah ke mana, kongcu. Tadi ia duduk di depan kamar, lalu datang seorang tamu, bicara dengan siocia kemudian mereka pergi tergesa-gesa meninggalkan rumah penginapan."

"Apakah ia tidak meninggalkan pesan?"

"Siocia sendiri tidak meninggalkan pesan, akan tetapi baru saja sebelum kongcu datang, tamu yang tadi mengajak siocia pergi, datang lagi dan menyerahkan sesampul surat agar saya berikan kepada kongcu."

"Apa? Cepat serahkan suratnya itu kepadaku!"

Hay Hay berseru dan hatinya mulai merasa tidak nyaman.

Ketika pelayan itu menyerahkan surat dalam sampul segera dibuka sampulnya dan dibacanya kertas yang mengandung tulisan yang rapi dan indah itu.

Singkat saja bunyinya, singkat namun membuat jantungnya berdebar penuh ketegangan.

Tang Hay.

Kalau ingin bicara tentang nona Mayang, silakan datang sendiri ke tempat kami.

Ho-han Pang-cu.

Celaka, demikian teriak Hay Hay dalam hatinya.

Semuanya jelas baginya kini.

Dia telah terjebak!

Dia seperti seekor harimau yang dipancing keluar meninggalkan sarang.

Sengaja orang memancingnya menjauhi rumah penginapan itu dan sementara dia pergi jauh, Mayang juga keluar dan tentu telah ditangkap.

Betapapun lihainya gadis itu, kalau dikeroyok, apalagi kalau lawan-lawannya pandai, tentu ia dapat ditawan.

Dia membayangkan kembali apa yang telah dialaminya sejak pagi tadi.

Tukang kebun rumah penginapan itu!

Dia yang pertama melempar umpan memancingnya, dengan mengatakan dimana rumah Tang-ciangkun.

Kemudian pelayan di rumah dulu menjadi tempat tinggal Tang-ciangkun, memancingnya dengan memberitahukan bahwa Tang-ciangkun baru saja lewat berkuda.

Dan dua orang petani yang ditanyainya tentang penunggang kuda yang lewat.

Mereka semua memancing sehingga dia semakin jauh meninggalkan rumah penginapan, meninggalkan Mayang seorang diri.

Dia memandang keluar dan melihat seorang tukang kebun sedang mencabuti rumput di taman pekarangan.

Orangnya masih muda, jelas bukan tukang yang dibantunya pagi tadi dan ditanyainya tentang perwira Tang.

"Diakah tukang kebun di rumah penginapan ini?"

Tanyanya kepada pelayan itu sambil menunjuk ke arah orang yang bekerja di pekarangan.

Pelayan itu memandang keluar lalu mengangguk.

"Benar, kongcu. Dia A Kiat tukang kebun kami."

"Apa selain dia ada tukang kebun lain? Yang lebih tua?"

Pelayan itu menggeleng kepala.

"Tidak ada lagi, kongcu."

Hemm, jelas bahwa tukang kebun pagi tadi palsu, atau diselundupkan dan menyamar sebagai tukang kebun.

Tentu anggauta Ho-han-pang.

"Sobat, tolong beritahukan, di mana adanya pusat perkumpulan Ho-han-pang?"

Pelayan itu tidak nampak heran.

Nama Ho-han-pang sudah terkenal di seluruh kota raja dan banyak sudah para tamu yang menanyakan tempat itu.

Banyak tokoh kang-ouw berkunjung ke sana.

"Di luar kota raja, melalui pintu gerbang utara, terdapat sebuah bukit dan di sanalah pusat Ho-han-pang..."

Belum habis dia bicara, Hay Hay sudah berkelebat lenyap dari situ.

Hay Hay sudah tahu di mana dia harus mencari Mayang.

Kiranya penunggang kuda tadi adalah orang Ho-han-pang pula, dan tentu di sana pula sarang perkumpulan Ho-han-pang itu.

Akan tetapi dia masih menduga-duga dengan hati mengandung keheranan mengapa Ho-han-pang memusuhinya?

Dan bagaimana pula mereka itu mengenalnya, mengenal namanya?

Apa yang telah terjadi dengan Mayang?

Pagi hari itu ia terbangun dan melihat betapa sudah ada sinar matahari pagi membayang di tirai dan kaca jendela, ia pergi ke kamar sebelah, kamar Hay Hay.

Akan tetapi, ternyata kakaknya itu tidak berada di kamarnya.

Selagi ia termangu dan menduga-duga ke mana kakaknya pergi, tiba-tiba pelayan rumah penginapan datang menghampiri.

"Selamat pagi, nona."

"Selamat pagi. Eh, paman, di mana kakakku?"

"Pagi-pagi sekali dia sudah pergi, nona. Dan ada seorang tamu sejak tadi menunggu nona keluar dari kamar. Dia bilang ada urusan penting sekali."

"Tamu? Aku tidak mempunyai kenalan di sini..."

Mayang berkata ragu.

"Entahlah, nona. Akan tetapi dia bilang penting sekali dan ada hubungannya dengan kakakmu..."

"Ahhh...! Suruh dia masuk!"

Kata Mayang begitu mendengar bahwa tamu itu datang untuk bicara tentang Hay Hay.

Tamu itu seorang laki-laki yang usianya sudah lima puluh tahunan dan sikapnya lembut, wajahnya bukan wajah orang jahat dan agaknya boleh dipercaya.

Begitu bertemu, dia mengangkat kedua tangannya dan berkata.

"Nona, saya datang membawa pesan dari kakakmu. Dia hanya menyuruh saya datang menemui nona di sini dan mengatakan bahwa kakakmu telah menemukan jejak dan nona diminta sekarang juga menyusulnya di sana."

Mayang mengerutkan alisnya.

"Hemm, bagaimana aku dapat percaya kebenaran omonganmu? Kita tidak saling mengenal dan..."

"Nona, hal itu sudah saya katakan kepada Tang taihiap, kakakmu akan tetapi dia hanya mengatakan bahwa dia dan nona sedang melakukan penyelidikan tentang seorang perwira she Tang di kota raja dan bahwa kini dia telah mendapatkan jejaknya maka dia minta agar nona secepatnya menyusul ke sana."

"Di mana dia?"

"Saya akan menjadi penunjuk jalan, nona. Di sebelah timur kota raja dan..."

"Baik, mari kita pergi! Paman pelayan harap keluarkan dua ekor kuda kami. Sebaiknya kita menunggang kuda agar lebih cepat,"

Tambahnya kepada laki-laki stengah tua itu.

"Sebaiknya begitu, nona. Kedua kakiku sudah lelah sekali ketika melakukan perjalanan cepat ke sini tadi."

Mereka lalu menunggang dua ekor kuda itu dan melarikan kuda ke luar kota raja melalui pintu gerbang sebelah timur.

Begitu ke luar dari pintu gerbang, laki-laki itu mempercepat larinya kuda.

Mayang mengikuti dari belakang dan ketika mereka tiba di kaki bukit yang sunyi, tiba-tiba pria itu menghentikan kudanya.

Mayang hendak bertanya, akan tetapi dari balik pohon-pohon dan semak-semak bermunculan belasan orang, dipimpin oleh dua orang pemuda yang tampan dan gagah.

"Hemmm, apa artinya ini?"

Mayang bertanya, alisnya berkerut.

"Turunlah, nona. Kita sudah sampai dan nona akan dapat bertemu dengan Tang Taihiap."

Kata pembawa berita itu yang sudah meloncat turun.

Dia bahkan membantu Mayang memegangi kendali kuda.

Gadis itupun melompat turun, pandang matanya dengan waspada menyapu belasan orang yang nampaknya bersikap gagah, bukan seperti gerombolan penjahat itu.

Pembawa berita itu menuntun dua ekor kuda ke bawah sebatang pohon dan belasan orang itu kini mengepung Mayang.

Barulah Mayang merasa curiga dan melihat betapa dua orang pemuda gagah itu berdiri di depan dan bersikap sebagai pimpinan, ia lalu menghadapi mereka dan mengamati dengan sinar mata tajam penuh selidik.

Mereka berdua itu lebih pantas menjadi pendekar dari pada penjahat.

Yang seorang masih muda, paling banyak dua puluh tiga tahun usianya.

Wajahnya tampan dengan tubuh sedang yang kokoh, sikapnya halus dan senyumnya sopan.

Akan tetapi dalam pandang matanya terdapat sesuatu yang membuat Mayang merasa marah dan bulu tengkuknya meremang.

Pandang mata pemuda tampan itu seolah menggerayangi dan meraba-raba seluruh bagian tubuhnya.

Pria yang ke dua tebih tua, usianya tiga puluh tahunan, tubuhnya tinggi besar dan gagah perkasa, kulit mukanya putih dan matanya mencorong, wajahnya juga tampan.

Yang membuat Mayang merasa semakin tidak enak adalah ketika ia melihat pembawa berita tadi, setelah menambatkan dua ekor kuda di batang pohon, kini berdiri di belakang dua orang pemuda itu dan jelaslah bahwa pembawa berita itu merupakan anak buah mereka pula.

Ia mulai merasa terjebak, seperti seekor kelinci yang dikepung oleh segerombolan srigala berkedok domba.

"Siapakah kalian? Mengapa mengepungku? Di mana adanya kakakku?"

Tanyanya dan sikapnya sudah siap siaga.

Ketika berangkat tadi ia telah membawa buntalan pakaiannya dan juga senjatanya yang ia andalkan, yaitu sebatang cambuk penggembala.

Sedikitpun ia tidak merasa takut dikepung belasan orang pria itu, akan tetapi ia khawatir bukan main memikirkan Hay Hay.

Dua orang pemuda yang memimpin serombongan orang itu bukan lain adalah Cun Sek dan Ki Liong.

Inilah hasil siasat yang dilakukan Han Lojin, yang dirundingkan semalam dengan para pembantu utamanya itu.

Han Lojin menyebar anak buahnya menyusup ke rumah penginapan, menyamar sebagai tukang kebun.

Hal ini mudah saja dilakukan karena boleh dibilang semua perusahaan di kota raja tentu akan memenuhi permintaan Ho-han-pang yang telah membuat nama baik dengan menciptakan suasana tenang dan tenteram di kota raja.

Dan tepat seperti yang diduga Hay Hay setelah pemuda ini kehilangan adiknya dan menyadari, si tukang kebun di rumah penginapan, pelayan di bekas rumah Tang Ciangkun, juga dua orang petani itu adalah orang-orang Ho-han-pang yang menyamar dan yang bertugas untuk melemparkan umpan memancing Hay Hay keluar dari kota raja, menjauhi Mayang.

Han Lojin sendiri lalu menunggang kuda dan membiarkan dirinya dikejar Hay Hay.

Maksudnya tentu saja hanya untuk memancing Hay Hay agar jauh meninggalkan Mayang seorang diri.

Setelah tiba di bukit di mana dia memimpin Ho-han-pang, sebuah bukit yang kini telah dilengkapi dengan banyak jebakan dan perangkap berbahaya dia menghilang ke dalam hutan.

Menurut rencananya, kalau Hay Hay mengejar terus, pemuda itu akan menghadapi banyak jebakan berbahaya.

Andaikata pemuda lihai itu dapat melewati semua jebakan dengan selamat, maka dia akan berhadapan dengan Han Lojin, Ji Sun Bi dan puluhan orang pembantunya dan akan dikeroyok!

Sementara itu, Sim Ki Liong dan Tang Cun Sek bertugas untuk pergi menangkap Mayang!

Untuk ini, Sim Ki Liong menyuruh seorang anak buah untuk mengundang Mayang keluar kota raja dengan alasan dipanggil Tang Hay.

Dan gadis yang masih kurang pengalaman itu masuk perangkap dengan amat mudahnya.

Kini, Mayang sudah berhadapan dengan Ki Liong dan Cun Sek, dalam keadaan terkepung.

Beberapa lamanya, pertanyaan Mayang itu tidak ada yang menjawab.

Sim Ki Liong seperti terpesona, dan Cun Sek juga kagum.

Ki Liong seketika jatuh cinta kepada gadis peranakan Tibet yang memiliki kecantikan yang khas itu.

Akan tetapi, tentu saja Ki Liong tidak berani menyimpang dari pada perintah yang sudah digariskan oleh Beng-cu.

Dia dan kawan-kawannya hanya mendapat tugas menangkap gadis peranakan Tibet itu, tidak boleh mengganggunya sama sekali.

Menangkap gadis peranakan Tibet itu hanya merupakan siasat Han Lojin untuk menundukkan Tang Hay dan memaksa puteranya itu untuk menaluk dan membantunya!

Maka, gangguan terhadap Mayang tentu saja dapat merusak siasatnya yang sudah diatur sebaiknya demi keuntungan dirinya.

"Haiiii! Apakah kalian semua ini tuli atau gagu? Engkau yang datang membawa berita tentang kakakku. Di mana sekarang kakakku berada?"

Mayang menbentak, suaranya mengandung kemarahan dan kini ia sudah mengeluarkan sebatang pecut panjang, seperti yang biasa dipergunakan para penggembala ternak.

Ki Liong saling pandang dengan Cun Sek dan keduanya tersenyum, semakin kagum karena sebagai orang-orang gagah, tentu saja mereka suka sekali melihat sikap gadis cantik yang demikian pemberani dan tabah.

Sim Ki Liong yang memimpin pasukan kecil yang ditugaskan menangkap Mayang, segera melangkah maju dan sambil tersenyum dia berkata.

"Nona manis, harap jangan marah dulu. Sepanjang yang kuketahui yang namanya Tang Hay itu tidak mempunyai seorang adik perempuan. Bagaimana engkau mengaku dia sebagai kakakmu? Sebenarnya, kakak ataukah pacar?"

Sepasang mata yang agak sipit jeli itu mencorong karena hati Mayang menjadi panas karena marah.

"Apakah dia itu kakakku, pacarku atau apakupun, apa hubungannya dengan kamu orang bermulut lancang? Hayo katakan di mana dia atau aku akan menghajar orang yang datang membawa berita palsu!"

Karena semua orang itu adalah orang-orang yang memiliki kepandaian silat dan tidak ada seorangpun dari mereka pernah mengenal Mayang tidak pernah melihat gadis ini mengeluarkan kepandaian, maka melihat seorang gadis berusia delapan belas tahun mengeluarkan ancaman seperti itu dan agaknya sama sekali tidak gentar menghadapi pengepungan belasan orang gagah, mereka merasa kagum akan tetapi juga geli.

Mereka merasa seperti melihat seorang anak kecil yang manja.

Memang Sim Ki Liong pernah melihat beberapa orang dara pendekar seperti Cia Kui Hong, Pek Eng, Siangkoan Bi Lian, Cia Ling, Kok Hui Lian dan beberapa orang lagi.

Akan tetapi gadis-gadis seperti mereka itu yang memiliki ilmu yang amat tinggi tidaklah banyak.

Apalagi gadis di depannya ini seorang peranakan Tibet, dan bawaannya hanya sebatang cambuk penggembala!

Diapun tersenyum mengejek.

"Nona, pembawa berita itu adalah seorang anak buah Ho-han-pang yang gagah perkasa. Jangan kau samakan seperti seekor kambing saja yang dapat kau hajar dengan cambukmu itu."

Semua orang tertawa mendengar ini, juga laki-laki setengah tua yang tadi membawa berita kini tersenyum mengejek.

Diapun tentu saja tidak takut kepada gadis Tibet itu, apalagi di situ terdapat banyak temannya dan dua orang pimpinan Ho-han-pang yang amat lihai.

"Nona kecil, kalau aku tidak mengatakan di mana adanya kakakmu, habis engkau mau apa? Ingin aku melihat bagaimana engkau akan menghajarku dengan cambuk itu, ha-ha".!"

Dan semua orangpun tertawa geli.

Sepasang mata Mayang seperti mengeluarkan kilat saking marahnya.

Namun, sikapnya tetap tenang ketika ia melangkah maju.

"Baik, kalian lihat bagaimana aku menghajarnya!"

Baru saja ucapannya itu habis, segera nampak sinar berkelebat dibarengi suara ledakan tiga kali.

"Tar! Tar! Tarrr!"

Ada sinar menyambar-nyambar ke arah pembawa berita tadi yang menjadi terkejut dan mencoba untuk mengelak.

Akan tetapi sia-sia saja.

Sinar yang menyambar itu terlalu cepat baginya dan setelah tiga kali mukanya disambar, dia terhuyung ke belakang, menutupi muka dengan kedua tangan dan merintih-rintih.

Sementara itu, Mayang sudah menarik kembali cambuknya dan berdiri sambil tersenyum mengejek, sikapnya tenang sekali.

Sim Ki Liong melompat ke dekat pembawa berita yang menutupi muka dengan kedua tangan sambil mengaduh-aduh itu.

Dia menangkap dan menarik kedua tangan itu sehingga mukanya kini nampak dan semua orang mengeluarkan seruan tertahan.

Kiranya tiga kali ledakan pecut itu telah mengakibatkan wajah itu menderita hebat sekali.

Lecutan pertama menyayat kulit muka dan membuat guratan melintang, lecutan ke dua membuat guratan membujur, dua guratan silang yang mengeluarkan darah, dan lecutan ke tiga membuat bukit hidung itu hancur dan rata dengan pipi!

Kini berubahlah pandang mata semua orang terhadap gadis Tibet itu.

Sim Ki Liong sendiri melangkah maju menghadapi Mayang dan menatap wajah gadis yang sikapnya amat tenang itu dengan sinar mata kagum sekali, akan tetapi juga penasaran.

"Hemm, kiranya engkau mempunyai sedikit ilmu memainkan cambuk, nona."

"Tidak perlu banyak cakap lagi. Katakan di mana kakakku, kalau tidak terpaksa aku akan menghajar kalian semua seperti sekumpulan kerbau tolol!"

Mayang nemotong ucapan Sim Ki Liong.

Merah kedua telinga pemuda ini karena dia dimaki di depan banyak anak buah Ho-han-pang!

Kesenangannya terhadap wanita cantik tidaklah sebesar keangkuhan dirinya, maka makian seorang gadis secantik Mayangpun membuat perutnya terasa panas sekali.

Akan tetapi dia masih merasa terlalu tinggi untuk turun tangan sendiri menangkap seorang gadis remaja.

"Tangkap bocah ini akan tetapi jangan melukainya. Kepung dan tangkap, belenggu kaki tangannya!"

Bentak Sim Ki Liong memberi aba-aba.

Belasan orang anak buah Ho-han-pang itu seperti mendapatkan perintah yang amat menyenangkan.

Mereka itu dengan gembira bergerak maju mengepung ketat dan hendak berlumba agar dapat lebih dulu meringkus tubuh gadis yang denok manis itu.

Melihat betapa belasan orang yang mengepungnya itu sudah mulai bergerak, dengan kedua tangan dijulurkan hendak mencengkeram dan menangkapnya, Mayang lalu menggerakkan cambuknya dengan cepat.

Cambuk itu berputar-putar ujungnya, seperti ujungnya berubah menjadi belasan banyaknya dan terdengar suara meledak-ledak dan mencicit saking cepatnya cambuk itu bergerak.

Ujung cambuk itu mematuk, menyengat, melecut dan para pengeroyok itu jatuh bangun, mengaduh-aduh karena lecutan cambuk itu sungguh amat nyeri.

Di bagian tubuh mana saja ujung cambuk mematuk, tentu kulit menjadi pecah berdarah dan terasa panas dan perih.

Karena mereka tidak dibenarkan menggunakan senjata, tidak boleh melukai, hanya maju dengan tangan kosong maka kini mereka menjadi gentar dan merekapun mundur menjauhkan diri dari jangkauan cambuk yang panjang.

Marahlah Sim Ki Liong.

Dia memberi tanda dengan mata kepada Cun Sek dan dua orang pemuda ini lalu meloncat ke depan dan menggerakkan tangan hendak menangkap lengan Mayang.

"Wuuuttt!"

Mayang terkejut ketika merasa betapa ada angin pukulan yang kuat sekali, dan tangan pemuda tinggi besar itu dari samping menyambar ke arah pundaknya.

Karena tangan itu mengandung tenaga dahsyat, Mayang cepat menangkis dengan tangan kiri sambil menggerakkan cambuknya menghantam dari atas ke arah kepala lawan.

"Dukk...! Tarrr...!"

Mayang mengeluarkan teriakan kecil ketika merasa tubuhnya tergetar dan terhuyung oleh pertemuan lengannya yang menangkis.

Ia tidak tahu bahwa pemuda tinggi besar itu adalah Tang Cun Sek, murid dari Cing-ling-pai yang telah menguasai tenaga Thian-te Sin-ciang (Tenaga Sakti Langit Bumi).

Akan tetapi, gadis ini lihai dan biarpun pertemuan tenaga itu membuat ia terhuyung ke belakang, namun tetap saja cambuknya menyambar dan melecut ke arah kepala Tang Cun Sek yang tadi menyerangnya.

Cun Sek terkejut, cepat miringkan kepalanya, namun ujung cambuk itu masih sempat mencium dan mencabik ujung pita rambutnya!

Dengan marah Cun Sek lalu menerjang dan kini dia menyerang dengan pukulan dari ilmu silat Thai-kek Sin-kun.

Kembali Mayang terkejut, akan tetapi pukulan yang datangnya dari kanan kiri dengan kedua tangan itu dapat dihindarkannya dengan meloncat jauh ke belakang dan cambuknya kembali menyambar kini ke arah leher Cun Sek.

Cun Sek yang sudah marah itu mengeluarkan kepandaiannya.

Dia mengerahkan tenaga sin-kangnya ke lengan kiri, menangkis sinar cambuk yang menyambar.

"Prattt!"

Ujung cambuk mengenai lengan dan melibat.

Cun Sek sengaja membiarkan lengannya dilibat, lalu tangan kanannya menangkap cambuk itu menariknya.

Mayang mempertahankan dan selagi keduanya mengerahkan tenaga saling tarik, saat itu dipergunakan oleh Sim Ki Liong untuk menyerang.

Tangannya menotok ke arah tengkuk Mayang.

Gadis itu berusaha untuk mengelak, namun karena ia sedang mengadu tenaga dengan Cun Sek, gerakannya lambat dan jari tangan yang kuat dan ampuh dari Ki Liong masih sempat mengenai jalan darah di pundaknya., Mayang mengeluh, dan iapun terpelanting roboh dengan tubuh lemas.

Sim Ki Liong segera meringkusnya dan dalam keadaan pingsan, Mayang dibawa pergi oleh rombongan orang Ho-han-pang itu.

Ketika Mayang siuman dan membuka matanya, ia segera teringat akan apa yang telah menimpa dirinya.

Cepat ia hendak bangkit, akan tetapi hanya untuk mendapatkan kenyataan bahwa kaki tangannya terbelenggu dan ia tidak mampu bangkit.

Ia menenangkan hatinya, lalu membuka mata untuk menyelidiki keadaannya.

Ia rebah telentang di atas sebuah pembaringan di dalam kamar yang luasnya kurang lebih lima kali tujuh meter.

Sebuah kamar yang cukup mewah.

Dinding dan langit-langit kamar itu dicat putih bersih, dimeriahkan oleh gantungan kain sutera beraneka warna.

Pembaringan itu sendiri berkasur tebal, dengan tilam kain sutera merah, kelambu kehijauan.

Ada sebuah meja kecil bundar dekat pembaringan, dengan empat buah bangku terukir indah.

Ia seorang diri saja di kamar itu.

Ia mengingat-ingat.

Ia dihadang serombongan orang Ho-han-pang yang lihai sekali, terutama dua orang pemuda tampan yang memimpin rombongan itu.

Ia dikeroyok dan kalah.

Agaknya ia pingsan dan ditawan, lalu dibawa ke tempat ini.

Dibelenggu di atas pembarigan!

Mayang mengerahkan tenaganya, mencoba melepaskan belenggu kaki tangannya.

Namun, ternyata tali pengikat kaki tangannya itu kuat bukan main, terbuat dari kulit.

Pergelangan kaki dan tangannya sampai terasa pedih dan panas ketika ia mencoba untuk membebaskan diri.

Akan tetapi ia berusaha terus.

Ia harus dapat membebaskan dirinya.

Ia maklum bahaya apa yang mengancam dirinya.

Kalau mereka itu memusuhinya dan ingin membunuhnya, tentu ia tidak akan ditangkap seperti ini.

Kulit pergelangan tangan dan kakinya mulai lecet-lecet.

Suara dibukanya pintu kamar itu membuat ia menghentikan usahanya dan iapun menoleh ke arah pintu dengan muka berubah karena hatinya tegang dan khawatir.

Mayang melebarkan matanya yang sipit untuk melihat dengan jelas orang yang memasuki kamarnya.

Bukan seperti orang jahat, pikirnya.

Juga bukan seorang di antara dua pemuda tampan yang telah menangkapnya.

Dia seorang laki-laki yang usianya lima puluh tahun lebih, dengan kumis dan jenggot yang terpelihara rapi sehingga wajahnya nampak ganteng dan berwibawa, juga jantan.

Pakaiannya rapi dengan rompi dari sutera mahal, sepatunya hitam mengkilap, rambutnya juga disisir rapi dan biarpun sudah bercampur uban, namun menambah jantan.

Sepasang matanya bersinar-sinar tajam, mulutnya terhias senyum.

Wajah seorang pria yang jantan dan matang, wajah pria yang menarik dan menimbulkan rasa suka dan percaya.

Dan ketika dia bicara, suaranya juga lembut dan dalam, suara yang berwibawa.

"Nona, percuma saja engkau mencoba untuk melepaskan diri. Tali belenggu itu terlalu kuat, dan hanya akan membuat kulit lengan dan kakimu lecet-lecet."

Mayang memandang kepada pria itu dengan alis berkerut.

"Siapakah engkau? Dan kenapa aku ditawan?"

Laki-laki itu tersenyum, lalu menghampiri dan duduk di tepi pembaringan sehingga tubuhnya menyentuh tubuh Mayang.

Gadis itu mencium bau harum cendana keluar dari orang itu!

"Nona, engkau manis sekali, dan sesungguhnya kami tidak mempunyai permusuhan denganmu.

Aku adalah Ho-han Pang-cu (Ketua Ho-han-pang), juga Beng-cu (pemimpin) dari dunia kang-ouw.

Engkau kami tawan untuk mengundang kakakmu itu ke sini..."

"Hay-koko?"

"Benar, Tang Hay. Dan tergantung dari sikap dialah nasibmu ditentukan. Kalau dia mau berbaik dengan kami, tentu engkau akan segera dibebaskan, bahkan engkau akan menjadi anggauta kehormatan kami. Tapi, nona bagaimana engkau dapat menjadi adik Hay Hay? Setahuku, dia tidak mempunyai seorang adik perempuan!"

Mayang mengerutkan alisnya.

Kiranya ia ditangkap untuk memancing Hay Hay!

Kakaknya berada dalam bahaya.

Ia tidak tahu siapa orang ini, akan tetapi tentu lihai sekali, maka tidak perlu ia menceritakan keadaan dirinya, dan apa hubungannya dengan Hay Hay.

Tidak boleh ia bersikap lancang, apalagi kini kakaknya terancam bahaya.

"Kalau engkau tidak mau membebaskan aku, aku tidak sudi bicara lagi denganmu!"

Katanya dan iapun membuang muka.

Han Lojin tersenyum.

Senang dia melihat gadis yang memiliki kecantikan khas ini.

Selain wajahnya cantik manis, juga bentuk tubuhnya padat dan indah menggairahkan.

Ditambah lagi sikap yang begitu tabah, pemberani dan penuh semangat!

Seorang wanita pilihan dan jelas wanita seperti ini membangkitkan gairahnya.

"Hemm, tidak ada untungnya bagimu bersikap angkuh, nona. Ketahuilah bahwa Ho-han-pang adalah perkumpulan para pahlawan, dan aku bukan orang jahat. Kalau kakamu itu suka membantu perjuangan kami mengamankan negara, dia akan menjadi pembantu utamaku, dan engkaupun akan kuangkat menjadi kepala pelayan dan pengawal pribadiku."

"Tidak sudi aku! Dan Hay-ko tentu tidak sudi pula menjadi pembantumu. Pergilah dan tidak usah merayu! Aku". huh, muak aku melihat mukamu!"

Mayang sengaja bersikap kasar dan menghina agar laki-laki itu marah dan kehilangan gairah yang membayang dimatanya, dan meninggalkan ia sendiri.

Akan tetapi Mayang tidak tahu dengan laki-laki macam apa ia berhadapan.

Makin galak ia, makin berkobar pula gairah berahi Han Lojin.

Pria setengah tua ini pada hakekatnya amat membenci wanita yang disebabkan oleh dendam sakit hati.

Dia tidak pernah dapat mencinta wanita.

Yang ada hanya nafsu berahi dan nafsu menyiksa, mempermainkan.

Mula-mula, wanita dirayunya sampai benar-benar bertekuk lutut dan amat mencintanya, setelah melihat wanita itu mencintanya setengah mati, lalu dia tinggalkan begitu saja, dia patahkan hatinya, dia hancurkan perasaannya.

Dan dia akan meninggalkan wanita yang menangisinya itu sambil tertawa bergelak, dengan hati amat puas.

Kalau melihat wanita yang galak dan angkuh, makin berkobarlah berahinya karena makin besar keinginannya untuk menalukkan wanita itu dan menghancurkan keangkuhan dan harga dirinya.

Oleh karena itu, ketika Mayang membentak dan marah-marah memperlihatkan kegalakannya, dimata Han Lojin ia nampak semakin menggairahkan!

"Ha-ha, engkau memang cantik dan gagah.

Seperti seekor kuda betina yang liar dan binal!

Ha-ha-ha, akulah yang akan mampu menundukkanmu, manis, seekor kuda betina yang binal akan menjadi seekor kuda betina yang jinak dan penurut, ha-ha-ha!"

Melihat perubahan sikap pria itu, Mayang merasa ngeri.

Akan tetapi juga kemarahannya dan kebenciannya bertambah.

"Cih, laki-laki tak tahu malu! Kiranya engkau ini pangcu dan bengcu macam apa? Hanya laki-laki rendah dan hina yang menghina wanita, pengecut yang hanya berani mengganggu kalau orang tidak berdaya. Lepaskan ikatanku dan aku akan menghancurkan kepalamu. Mari kita bertanding sampai mati!"

Tantangnya.

"Ha-ha-ha, engkau sungguh amat gagah dan menarik. Aku akan melepaskan engkau, lalu kita boleh bertanding. Akan tetapi kalau engkau kalah, engkau harus mau menjadi pelayanku dan juga kekasihku yang tercinta. Mau janji?"

Sepasang mata Mayang melotot.

"Kalau aku kalah, aku roboh dan mati. Siapa yang kalah akan mampus!"

Makin gembiralah hati Han Lojin.

"Ha-ha, mari kita main-main sebentar kalau begitu, akan tetapi bukan di sini tempatnya!"

Dengan cepat sekali tangannya bergerak, jari tangannya menotok jalan darah di bawah tengkuk dan Mayang seketika lemas.

Ia tadi miringkan tubuh ketika membuang muka maka mudah saja terkena totokan.

Ia tidak mampu menggerakkan kaki tangannya dan Han Lojin sudah melepaskan belenggu kaki tangannya, lalu memondong tubuhnya dan dibawa keluar dari kamar.

Mayang membuka mata memperhatikan keadaan.

Pria setengah tua itu memondongnya dengan ringan seolah-olah ia seorang anak kecil, lalu membawanya menuruni anak tangga, menuju ke ruangan bawah tanah!

Sebuah pintu besi terbuka sendiri, agaknya ada alat rahasianya di situ dan iapun dibawa masuk ke sebuah kamar.

Kamar ini luas dan mewah.

Terdapat sebuah pembaringan yang besar, yang agaknya cukup untuk ditiduri sepuluh orang!

Dan di situ terdapat pula meja besar dengan belasan buah kursi.

Luas kamar itu sama dengan lima kamar biasa dijadikan satu!

Dipasangi lampu penerangan siang malam, walaupun ada sedikit sinar matahari turun dari sebuah lubang berterali baja di atas sana.

Lantainya ditilami permadani hijau.

Kamar itu dilengkapi pula dengan sebuah kamar mandi yang lengkap.

Sebuah kamar yang besar dan mewah, enak ditinggali.

Sambil tersenyum Han Lojin merebahkan tubuh lunglai Mayang ke atas pembaringan yang besar itu.

Mayang sudah merasa gelisah bukan main karena ia mengira bahwa pria itu akan memperkosanya dan ia tidak akan mampu mencegah, tidak akan mampu meronta atau melawan.

Ia merasa ngeri sekali.

Akan tetapi, ternyata pria itu tidak menjamahnya lagi, melainkan meninggalkannya dan menghampiri pintu.

Ia tidak melihat pria itu menutupkan daun pintu, akan tetapi daun pintu itu menutup dengan sendirinya.

Tentu ada alat rahasianya pula, pikir Mayang.

Setelah menutupkan daun pintu besi itu, Han Lojin lalu menghampirinya sambil tersenyum dan kembali Mayang merasa ngeri, matanya membelalak, akan tetapi ia tidak mampu bergerak.

"Jangan khawatir, nona manis. Aku pantang memperkosa wanita sekarang. Wanita harus menyerah dengan suka rela, menyambutku dengan mesra, seperti yang akan kau lakukan nanti."

"Tidak sudi, lebih baik aku mati!"

Bentak Mayang.

Hanya kaki dan tangannya yang tak mampu bergerak, akan tetapi ia dapat bicara dan menggerakkan anggauta tubuh lainnya.

"Hemm, engkau cantik manis dan pemberani. Aku ingin melihat sampai di mana kelihaianmu pula. Menurut para pembantuku, engkau cukup lihai, berbahaya, maka dibelenggu kaki tanganmu. Sebaliknya, aku ingin melihat engkau menyambutku dengan rangkulan kaki tanganmu, bukan terbelenggu. Nah, sekarang aku akan membebaskan totokan itu, hendak kulihat engkau akan berbuat apa."

Dengan gerakan cepat, Han Lojin lalu menotok kedua pundak gadis itu.

Harnpir Mayang tidak percaya akan apa yang dialaminya.

Orang itu benar-benar telah membebaskan totokan pada tubuhnya.

Ia dapat bergerak lagi!

Ia maklum bahwa sehabis dihentikan jalan darahnya, maka kaki tangannya akan terasa kaku dan tidak leluasa bergerak.

Oleh karena itu, ia tetap tenang, menggerak-gerakkan dulu kaki tangannya agar menjadi lemas kembali.

Sementara itu Han Lojin berdiri di tengah kamar sambil bersedakap, memandang kepada gadis itu dengan senyum simpul.

Setelah merasa kedua tangan kakinya dapat bergerak dengan wajar barulah Mayang meloncat turun dari atas pembaringan.

Sikap ini saja sudah mengagumkan hati Han Lojin dan tahulah dia bahwa gadis yang usianya paling banyak delapan belas tahun itu cukup cerdik.

Kini mereka berdiri berhadapan.

Mayang dapat menduga bahwa pria ini tentu lihai sekali.

Baru pembantu-pembantunya saja, seperti dua orang pemuda yang memimpin rombongan anak buah dan telah menawannya, demikian lihai.

Akan tetapi ia sama sekali tidak merasa gentar.

Ia akan melawan sampai mati karena maklum bahwa kalau ia tertawan kembali, la akan terhina oleh pria yang mengaku sebagai pangcu dan juga bengcu ini.

"Pangcu, aku sudah mendengar pengakuanmu tadi mengapa engkau menawanku, yaitu untuk memancing kakakku datang ke sini dan engkau hendak membujuknya membantumu, membantu Ho-han-pang. Akan tetapi, aku yakin bahwa seperti juga aku, dia tidak akan sudi membantumu, karena biarpun perkumpulanmu mempergunakan nama yang muluk, yaitu Ho-han-pang (Perkumpulan Orang Gagah), namun sesungguhnya perkumpulan Orang Busuk! Kakakku adalah seorang pendekar besar. Dia akan marah dan akan menghancurkan engkau berikut Ho-han-pang. Oleh karena itu, sebaiknya engkau membebaskan aku dari sini dan kami berdua akan pergi, tidak akan mencampuri urusanmu."

Han Lojin tertawa.

Dalam keadaan terjepit, gadis itu masih dapat mengancamnya!

Betapa beraninya.

Ia juga dapat menduga bahwa gadis seperti ini tentu akan melawan mati-matian.

Andaikata dia sampai memperkosanya, tentu dalam suatu kesempatan gadis seperti ini akan membalas dendam atau membunuh diri.

Maka, dia harus dapat menundukkannya, karena sekali menyerah, ia akan menjadi seorang pembantu yang setia dan seorang kekasih yang penuh semangat dan panas.

"Sudah kukatakan bahwa aku mengharapkan bantuan engkau dan kakakmu. Aku tidak ingin memusuhi kalian. Akan tetapi aku ingin melihat sampai di mana kelihaianmu. Nah, majulah, nona manis dan keluarkan semua kepandaianmu."

Mayang kehilangan cambuknya.

Akan tetapi sebagai murid seorang guru yang berilmu tinggi, ia tentu saja tidak hanya mengandalkan cambuknya sebagai senjata.

Sepasang kaki tangannya masing-masing merupakan senjata yang cukup ampuh.

Ia tahu bahwa sekali ini tidak ada jalan lolos baginya.

Ia dan ketua Ho-han-pang ini berada di ruangan bawah tanah pintu besi itu telah tertutup.

Jalan satu-satunya hanyalah berusaha merobohkan lawannya yang ia tahu tentu lihai sekali.

Ia harus membela diri mati-matian, maka diam-diam Mayang sudah mengerahkan gin-kangnya, mengumpulkan kekuatan itu di dalam kedua lengannya sebelum ia melakukan penyerangan.

Kemudian, ia mengeluarkan bentakan nyaring dan menerjang dengan cepat dan kuat.

"Haiiiiiiittt!!"

Gerakannya cepat dan dahsyat.

Tangan kiri dengan jari-jari direntangkan menyambar ke arah muka lawan, sedangkan tangan kanannya juga dengan jari-jari terbuka, menusuk ke arah dada.

Gerakan tangan kiri merupakan gerak pancingan atau gertakan, sedangkan inti serangan terletak kepada tangan kanan yang menyerang dada.

Biarpun tangan kanan Mayang itu berjari kecil meruncing dengan kulit halus namun jangan keliru sangka.

Di dalam jari-jari tangan itu terkandung tenaga dahsyat yang akan mampu meremukkan tulang iga!

Han Lojin mengenal pukulan ampuh, maka diapun menghindarkan diri dengan melangkah ke belakang dan memutar kedua lengan melindungi tubuh, menangkis dengan cengkeraman untuk menangkap lengan lawan.

Namun Mayang sudah menarik kembali kedua tangannya yang gagal itu, lalu tubuhnya meloncat ke depan, kakinya melakukan tendangan kilat.

Kaki kanannya mencuat dengan cepat sekali sehingga hampir saja lambung Han Lojin termakan tendangan.

Namun, Han Lojin yang semakin kagum, sudah menangkis dengan lengan kirinya.

"Dukk!"

Mayang merasa betapa kakinya nyeri bertemu dengan lengan orang itu, namun ia menahan diri dan tidak mengeluh, melainkan melanjutkan serangan bertubi-tubi dan kini telapak tangannya yang kiri berubah menghitam.

Melihat tangan hitam ini menyambar dahsyat Han Lojin terkejut dan cepat melempar tubuh ke belakang, berjungkir balik beberapa kali.

"Heiiiii! Bukankah itu Hek-coa Tok-ciang (Tangan Beracun Ular Hitam)?"

Teriaknya ketika dia mencium bau amis terbawa oleh hawa pukulan tangan itu.

Mayang terkejut.

Orang ini sungguh lihai, telah mengenal ilmu pukulannya, pada hal ilmu pukulan itu merupakan ilmu simpanan yang ia pelajari dari Kim Mo Sian-kouw.

Gurunya berpesan bahwa kalau tidak sangat terpaksa, ia tidak boleh mempergunakan pukulan beracun itu karena pukulan beracun sesungguhnya bertentangan dengan watak subonya.

Kini, menghadapi ancaman yang lebih mengerikan dari pada maut, terpaksa ia tadi mengeluarkan ilmunya itu dan sama sekali tak disangkanya, bahwa lawannya segera mengenal pukulannya.

Hal ini membuktikan bahwa lawannya banyak pengalaman, tentu pernah berkelana ke daerah Tibet dan sangat boleh jadi pernah pula bertemu dengan subonya.

Mayang tersenyum mengejek.

"Aku adalah murid Subo Kim Mo Sian-kouw!"

Maksudnya dengan pengakuan ini agar lawannya menjadi jerih dan tidak akan mengganggunya.

Han Lojin nampak terkejut.

"Ahhh! Pantas engkau begini lihai, nona. Namamu Mayang, bukan? Nona Mayang, karena engkau murid Kim-mo Sian-kouw, pertapa yang sakti dan gagah itu, maka aku lebih senang lagi dan makin ingin menarikmu sebagai pembantuku dan sekutu kami, bersama kakakmu Hay Hay itu. O ya, bagaimana sebenarnya hubunganmu dengan Hay Hay? Engkau adiknya? Adik tirikah? Bagaimana Hay Hay dapat mempunyai seorang adik di Tibet?"

"Pangcu, lebih baik lagi kalau engkau sudah mengetahui tentang subo. Nah, sebaiknya engkau membebaskan aku dan tidak ada urusan lagi di antara kita. Kalau engkau masih kukuh ingin bermusuhan dengan kami, engkau akan menghadapi kehancuran. Pertama, aku akan melawan sampai mati, tidak sudi aku menjadi pembantumu atau sekutumu. Ke dua, kalau engkau menggangguku dan aku sampai tewas, kakakku Hay-koko tentu tidak akan mau sudah begitu saja, dan akan membalas kematianku dengan bunga yang berlipat ganda. Dan ke tiga, kalau subo mendengar bahwa aku tewas disini, beliaupun pasti tidak akan tinggal diam dan akan menghukummu!"

Kembali Han Lojin tertawa.

"Ha-ha-ha, nona Mayang. Engkau sungguh hebat. Engkau berada dalam tawanan, engkau yang terhimpit dan terancam bahaya, akan tetapi engkau pula yang mengancamku! Ha-ha-ha, sungguh lucu. Aku tidak bermaksud buruk, ingin memuliakan engkau dan kakakmu, takut apa? Nah, mari kita lanjutkan, aku masih ingin menguji kepandalanmu."

Karena maklum bahwa bicara tidak akan ada gunanya, Mayang lalu menerjang lagi sambil mengerahkan seluruh tenaganya, mengeluarkan semua ilmu silat yang pernah dipelajarinya.

Namun lawannya adalah seorang yang jauh lebih berpengalaman dari padanya, dan bahkan memiliki tingkat kepandaian yang lebih tinggi, maka bagaimana dahsyatpun ia menyerang, selalu Han Lojin dapat menangkis atau mengelak, bahkan melakukan serangan balasan yang membuat Mayang menjadi kewalahan dan terdesak.

"Haiiittt!"

Mayang kembali memukul sambil merendahkan diri sehingga pukulan tangannya mengarah perut lawan.

Ketika lawannya mengelak ke samping, tangan itu dibuka dan mencengkeram ke samping pula.

"Huttt!"

Han Lojin menangkis, lalu dari atas tangan kirinya menotok ke arah tengkuk gadis i tu.

"Ihhhh!!"

Mayang melempar diri ke belakang, lalu bergulingan dan ketika ia meloncat bangun, ia telah menyambar sebuah bangku ukiran yang indah, mempergunakan bangku ini sebagai senjata dan ia menyerang lagi kalang kabut, menggunakan bangku yang diayun ke kanan kiri.

"Hemm, kuda betina yang liar!"

Han Lojin memuji sambil berloncatan ke sana-sini untuk menghindarkan diri dari hantaman bangku.

"Mayang, bangku itu mahal, terbuat dari kayu pilihan dan diukir oleh ahli. Jangan kau rusakkan!"

Teriaknya.

"Lebih baik aku mati daripada harus menyerah kepadamu, iblis busuk!"

Mayang kini memaki karena ia sudah merasa penasaran dan marah bukan main.

Serangannya semakin hebat dan biarpun hanya bangku, namun di tangan gadis itu berubah menjadi senjata yang amat berbahaya.

"Wuuutt...!"

Bangku itu menyambar sedemikian cepatnya sehingga biarpun dapat dielakkan oleh Han Lojin, namun angin pukulannya sempat membuat rambut kepala ketua Ho-han-pang itu menjadi tertiup kusut.

"Ihhh! Kalau kubiarkan, bisa hancur kepalaku oleh bangkumu itu. Dan aku masih sayang kepada kepalaku ini, heh-heh!"

Tiba-tiba dia membuat gerakan aneh, tubuhnya bergulingan dan dari bawah, dia menyerang dengan tendangan bertubi-tubi, dengan gerakan memutar, ke arah kedua lutut dan kaki Mayang.

Gadis ini mengeluarkan seruan kaget dan berloncatan dengan kacau karena tendangan itu susul menyusul, menendang, menyapu dengan kekuatan luar biasa.

Selagi ia kebingungan menghindarkan diri dari semua tendangan itu, tiba-tiba Han Lojin mengeluarkan suara melengking panjang, tiba-tiba saja ada sinar putih mencuat ke atas dan lengan Mayang sudah terlibat sehelai kain putih.

Kain itu dibetot dan tubuh Mayang terhuyung, lalu Han Lojin meloncat dan sekali dia menggerakkan kedua tangan, yang kiri menotok dan yang kanan merampas, bangku itu sudah berpindah tangan!

Mayang terpaksa melepaskan bangku itu karena lengan kanannya seperti lumpuh terkena totokan tangan kiri lawan.

Han Lojin meloncat ke belakang, mengamati bangku itu untuk melihat kalau-kalau rusak.

Lalu dia meletakkan kembali bangku itu ditempatnya semula.

"Engkau kuda betina yang binal, perlu kutundukkan cepat-cepat!"

Kata Han Lojin.

Mayang sudah menjadi marah bukan main.

Dengan mata berapi-api ia sudah menyerang lagi, tidak perduli akan kenyataannya bahwa ia memang bukan tandingan ketua Ho-han-pang itu.

Ia menyerang kalang kabut, mengamuk dan dengan nekat ia hendak mengadu nyawa.

Ketika ia mendapat kesempatan, ia meloncat dan menggunakan tendangan terbang dengan kedua kakinya ke arah dada Han Lojin.

Tendangan dengan tubuh seperti terbang ini sungguh berbahaya sekali, baik bagi lawan maupun bagi diri sendiri.

Namun Mayang sudah nekat dan ingin merobohkan lawan yang tangguh itu, maka ia mempergunakan jurus tendangan terbang yang berbahaya itu.

"Wuuuttt... plakkk!"

Dengan perhitungan yang tepat mengandalkan tenaganya yang kuat, Han Lojin menyambut tendangan dengan kedua kaki itu dengan kedua tangannya dan dia berhasil miringkan tubuh lalu menangkap kedua kaki itu pada pergelangannya, dan dengan cepat sekali sabuk sutera putih tadi sudah melibat kedua kaki.

Gadis itu meronta, namun Han Lojin tertawa-tawa dan memutar tubuh gadis itu dengan berpegang kepada kedua kakinya.

Tentu saja tubuh Mayang berputar seperti kitiran, kemudian tubuhnya jatuh ke atas pembaringan dengan kedua kaki diluar dan masih dipegangi oleh Han Lojin, bahkan kini kedua kakinya telah terbelenggu sabuk sutera putih.

"Keparat, lepaskan kakiku!"

Bentak Mayang dan dia mencoba untuk bangkit duduk dan menyerang dengan kedua tangannya.

Namun, Han Lojin menjauh, kemudian menangkis kedua tangan itu seperti orang bermain-main saja.

"Engkau memang manis sekali, Mayang. Seekor kuda betina binal yang manis. Ingin kulihat apakah tubuhmu juga semanis mukamu!"

Han Lojin mencengkeram. Sia-sia bagi Mayang untuk menangkis.

"Bretttt!"

Leher bajunya kena dicengkeram dan direnggut sehingga robek memanjang, cukup lebar sehingga sepasang buah dadanya nampak sebagian karena pakaian dalamnya ikut robek oleh renggutan tangan yang kuat itu.

Dan Han Lojin berdiri bengong, terpesona, bukan terpesona melihat sebagian buah dada itu, melainkan terpesona melihat apa yang tergantung di antara buah dada.

Dia menuding ke arah dada gadis itu.

"Itu... itu... dari mana kau dapatkan benda itu?"

Tanyanya.

Tadi Mayang terkejut dan marah bukan main karena bajunya terobek dan tadinya ia menyangka bahwa ketua itu hendak menggodanya dan bermaksud cabul dengan menuding ke arah buah dadanya yang nampak sebagian.

Akan tetapi, ketika ia menggunakan kedua tangannya menutupkan kembali baju yang terobek, ia menyentuh benda yang tergantung di dada dan ia teringat bahwa Han Lojin menyinggung tentang benda itu, bukan tentang tubuhnya.

Dengan tangan kiri menutupkan kembali bajunya yang robek, Mayang menjawab dengan ketus.

"Benda ini tidak ada hubungannya dengan engkau!"

Kini Han Lojin sudah nampak tenang, hanya sepasang matanya mengeluarkan sinar mencorong yang aneh dan mulutnya juga tersenyum aneh.

Dia mengangguk-angguk.

"Hemm, sekarang mengertilah aku mengapa engkau menjadi adik Hay Hay. Hay Hay adalah seorang putera dari Ang-hong-cu, dan engkaupun mengenakan lambang Si Kumbang Merah pada dadamu. Jadi engkaupun seorang puteri dari Ang-hong-cu! Dan engkau datang dari Tibet? Apakah ibumu seorang wanita bernama... Souli?"

Mayang terkejut sekali, menatap wajah yang tampan itu dan berseru.

"Bagaimana engkau bisa tahu?"

Akan tetapi kini Han Lojin tertawa bergetak.

"Ha-ha-ha-ha!"

Pada saat itu, terdengar suara dari luar pintu.

"Bengcu, dia sudah datang!"

Daun pintu besi terbuka dengan sendirinya dan di luar pintu berdirilah Sim Ki Liohg.

Sejenak Sim Ki Liong memandang ke arah Mayang.

Gadis itu berdiri dengan tegak, seperti orang terheran-heran dan terkejut, dan tangan kirinya menutupkan baju bagian dada yang terobek.

Melihat ini, dia segera berkata kepada Han Lojin.

"Maafkan kalau saya mengganggu Beng-cu..."

Akan tetapi Han Lojin tidak marah, dan dia nampak tegang mendengar pemberitahuan Ki Liong itu.

Dia memandang lagi kepada Mayang dan berkata.

"Mayang, engkau tinggallah dulu di sini. Segalanya tersedia lengkap untuk keperluanmu. Kakakmu sudah datang dan aku akan menyambutnya. Jangan mencoba untuk melarikan diri karena engkau takkan berhasil. Tenang-tenang sajalah di sini."

Mendengar bahwa kakaknya sudah datang, ingin (Lanjut ke

Jilid 27) Ang Hong Cu (Seri ke 10 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 27 Mayang meloncat dan menerjang keluar dari tempat itu.

Akan tetapi ia bukan gadis bodoh.

Menghadapi seorang di antara mereka berdua saja ia tidak menang, apalagi kini bajunya di bagian dada robek sehinga kalau ia bergerak menyerang, tentu baju itu akan terbuka kembali dan dadanya akan nampak.

Maka iapun hanya berdiri sambil memandang dengan penuh kemarahan ketika dua orang itu melangkah keluar dan daun pintu besi itu tertutup dengan sendirinya.

Masih bergema dalam telinganya suara ketawa ketua Ho-han-pang itu, suara ketawa yang aneh dan menyeramkan baginya.

Kini, Mayang melupakan kekhawatiran terhadap dirinya sendiri, sebaliknya kini ia gelisah sekali memikirkan kakaknya, Hay Hay.

Kini iapun mengerti mengapa dirinya dipancing keluar kota kemudian ditawan.

Kiranya mereka itu menghendaki kakaknya!

Mereka menawannya hanya untuk memancing datangnya Hay Hay ke tempat berbahaya itu.

Dan membayangkan betapa lihainya sang ketua dengan para pembantunya itu, ia merasa khawatir sekali.

Akan tetapi ia harus membetulkan bajunya yang terobek tadi.

Semua gerakannya takkan leluasa kalau bajunya terbuka seperti itu.

Melihat di kamar itu terdapat sebuah almari, ia menghampirinya dan membukanya.

Ia terbelalak.

Di dalam almari itu terdapat tumpukan pakaian yang serba indah.

Ia hanya tinggal memilih saja!

Pakaian wanita, pakaian pria, semua masih baru.

Akan tetapi ia tidak sudi memakai pakaian bukan miliknya itu.

Diambilnya saja sehelai sabuk panjang dan dengan sabuk itu, diikatnya bajunya yang robek sehingga kini dadanya tertutup rapat kembali.

Kemudian, iapun meneliti keadaan di dalam kamar yang luas itu.

Benar kata-kata ketua tadi.

Kamar itu tertutup rapat, tidak ada jalan keluar.

Tidak ada jendela, dan jalan satu-satunya hanyalah melalui pintu.

Padahal daun pintunya terbuat dari besi yang tebal dan kokoh.

Jalan sinar matahari dan hawa dari atas itupun tidak mungkin dilewati.

Terlalu tinggi dan juga lubang di atas itu tertutup jeruji besi yang kokoh pula.

Terdengar suara pada pintu.

Ia cepat bersiap siaga.

Ia akan nekat menerjang keluar kalau pintu itu terbuka, tidak perduli siapa yang akan muncul di pintu.

Ia harus dapat keluar dari situ, harus membantu kakaknya.

Akan tetapi, yang terbuka hanya sebagian sedikit saja di ujung bawah pintu.

Terbuka lubang segi empat yang kecil saja, hanya cukup untuk memasukkan piring buah itu.

Sebuah tangan nampak mendorongkan sebuah piring penuh buah-buah segar.

Juga sebuah poci teh berikut mangkoknya didorong masuk.

Kemudian tangan itu lenyap dan lubang itu tertutup kembali.

Hemm, mereka memperlakukan aku sebagai seorang tawanan yang dilayani dengan baik, seperti seorang tamu saja, pikir Mayang.

Iapun tidak sungkan lagi.

Buah-buah itu perlu untuk memulihkan tenaganya.

Iapun memilih dan makan buah-buah yang segar dan pilihan.

Juga minum teh itu karena ia yakin bahwa tidak perlu tuan rumah meracuninya.

Ia sudah tidak berdaya.

Kini ia hanya bisa menanti terbukanya kesempatan baik baginya untuk meloloskan diri.

Setelah makan buah-buahan dan minum teh, iapun duduk termenung di atas pembaringan yang lebar itu.

Ia membayangkan sikap ketua tadi.

Bagaimana ketua itu bisa tahu bahwa Ia puteri Ang-hong-cu dan bahkan mengenal pula nama ibunya?

Orang itu tnengenal benda mainan kumbang merah yang tergantung dilehernya, juga mengenal nama ibunya, bahkan mengenal pula jurus Hek-coa tok-ciang!

Hal ini menunjukkan bahwa tentu orang itu pernah ke Tibet!

Siapakah ketua itu?

Ia hanya dapat termenung dan merasa bingung.

"Apakah Hay Hay muncul seorang diri?"

Di luar tempat tahanan bawah tanah itu Han Lojin bertanya kepada Ki Liong yang tadi mengabarkan kepadanya tentang datangnya seseorang.

"Bukan dia. Bengcu. Bukan Tang Hay yang muncul..."

"Ehh? Habis, siapa?"

Tanya ketua itu penasaran karena yang dipancing dan ditunggu-tunggu kemunculannya adalah Tang Hay.

"Ia adalah... Cia Kui Hong..."

Suara Ki Liong menunjukkan bahwa hatinya tegang.

Memang pemuda ini merasa tegang, bukan gentar, ketika mendengar dari anak buah Ho-han-pang bahwa ada seorang gadis muncul disarang mereka dan ketika dia mengintai, ternyata gadis itu adalah Cia Kui Hong!

Gadis itu adalah cucu dari suhu dan subonya di Pulau Teratai Merah, yaitu Pendekar Sadis Ceng Thian Sin dan Lam-sin Toan Kim Hong!

Memang dia tidak gentar terhadap gadis itu, akan tetapi mengingat bahwa dia telah melarikan diri dari Pulau Teratai Merah dan mencuri pedang pusaka, bahkan kini pedang pusaka itu tidak berada di tangannya lagi telah terampas oleh Tang Hay, tentu saja dia merasa tidak enak dan tegang.

Han Lojin sendiri tertegun, kaget dan heran mendengar bahwa yang muncul bukan orang yang dinanti-nantinya, melainkan gadis ketua Cin-ling-pai yang lihai itu!

Di antara semua gadis pendekar, gadis inilah yang dianggap paling berbahaya dan paling lihai, dan dia harus mengakui bahwa gadis itu memiliki tingkat kepandaian yang tinggi dan sama sekali bukan merupakan lawan ringan baginya.

Akan tetapi, sungguh membuat dia terkejut dan heran karena gadis itu telah terikat janji dengan dia.

Gadis itu telah berjanji untuk tidak memusuhinya dan tidak membuka rahasianya.

Apa maksud gadis itu kini muncul?

Ah, tentu ketua Cin-ling-pai itu tidak tahu bahwa Ho-han-pang dipimpin oleh Han Lojin yang juga Tang Bun An.

Tidak tahu bahwa dia yang memimpinnya, maka kini berani datang berkunjung.

"Cia Kui Hong? Biar aku yang menyambutnya sendiri. Engkau dan para rekanmu yang lain bersiap-siap saja turun tangan kalau sudah kuberi tanda."

Setelah berkata demikian, Han Lojin lalu keluar sedangkan Ki Liong cepat memberitahu kepada Ji Sun Bi dan Tang Cun Sek agar mereka bertiga siap membantu pimpinan mereka kalau dikehendaki.

Bayangan itu berlari cepat dan gerakannya cekatan dan ringan sekali.

Ia mendaki lembah bukit menuju ke puncak dimana terdapat kompleks bangunan markas Ho-han-pang.

Ketika tiba di pintu gerbang pertama, ia merasa heran karena tidak nampak seorang penjagapun di situ.

Ia mendorong pintu gerbang yang tertutup dan begitu pintu terbuka, terdengar suara berdesingan.

Ia cepat melompat tinggi ke atas untuk menghindarkan diri dari sambaran anak-anak panah yang meluncur dari kanan kiri pintu gerbang.

Ia memang sudah berhati-hati terhadap perangkap, maka ia mampu menghindarkan diri dengan loncatan tinggi.

Ketika ia melayang turun ke depan, begitu kakinya menyentuh tanah, tiga orang dari kanan dan tiga orang dari kiri menyambutnya dengan serangan tombak panjang.

Kui Hong menggerakkan kedua tangannya, nampak sinar berkelebat ketika sepasang pedangnya menangkis ke kanan kiri.

Terdengar suara nyaring, enam batang tombak itu patah-patah disusul pekik kesakitan dan dua di antara enam orang penyerang itu roboh terjengkang dengan pundak berdarah.

Mereka bergulingan ke belakang dan menghilang di balik semak belukar.

Kui Hong berdiri tegak sepasang pedang di tangan, siap menghadapi pengeroyokan.

Akan tetapi, tidak ada gerakan apapun nampak, dan terdengar suitan-suitan memanjang saling sahut di sekitar tempat itu.

Karena tidak ada serangan lagi, Kui Hong melanjutkan langkahnya, melalui jalan mendaki dari pintu gerbang pertama itu, menuju ke pintu gerbang ke dua.

Akan tetapi, di sinipun tidak terdapat penjaga, dan tidak ada pula serangan lain.

Keadaan sunyi saja.

Ia tidak tahu bahwa suitan-suitan panjang tadi merupakan isarat kepada para anggauta Ho-han-pang untuk tidak bergerak dan membiarkan gadis itu naik terus tanpa diganggu.

Bahkan perangkap-perangkap dimatikan dan tidak mengganggu perjalanan Kui Hong.

Setelah melampaui tiga lapis pintu gerbang, akhirnya Kui Hong tiba di depan bangunan yang nampak sunyi saja itu.

Sunyi dan megah, juga menyeramkan.

Ia berdiri dengan tegak, menyimpan kembali sepasang pedangnya, lalu ia berteriak dengan suara melengking nyaring.

"Ketua Ho-han-pang! Kalau engkau bukan seorang pengecut, keluarlah aku ingin bertemu!"

Ia tidak perlu mengulang teriakannya.

Karena sebelum gaung suaranya padam, daun pintu bangunan itu terbuka dari dalam.

Kemudian nampak sedikitnya dua puluh orang laki-laki yang berpakaian seragam putih-putih dengan ikat pinggang biru dan sepatu kulit hitam mengkilap, dengan topi merah, berbaris rapi di kanan kiri jalan keluar depan pintu.

Mereka itu memiliki pedang yang tergantung di pinggang dan sikap mereka gagah perkasa, seperti sepasukan pendekar!

Kemudian, barisan itu berdiri tegak dengan sikap menghormat, dan muncullah orang yang dinanti-nanti Kui Hong.

Seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih, nampak tampan dan gagah dengan kumis dan jenggot terpelihara rapi dan di kanan kiri dan belakang pria ini berbaris belasan orang wanita muda yang cantik-cantik dan yang berpakaian seragam pula.

Cantik akan tetapi gagah, dengan pedang di punggung masing-masing sikap mereka seperti pendekar-pendekar wanita sejati!

Melihat pria setengah tua itu, berkerut sepasang alis Kui Hong.

Tentu saja ia segera mengenal Han Lojin!

Dan karena ia tahu bahwa Han Lojin dan Tang Bun An adalah satu orang juga!

Entah yang mana yang merupakan muka aselinya, Tang Bun An atau Han Lojin, ia tidak tahu.

Akan tetapi ia yakin bahwa Tang Bun An, Han Lojin, dan Ang-hong-cu hanyalah satu orang yang kini menjadi ketua Ho-han-pang!

Biarpun perasaan hatinya tegang, Han Lojin tersenyum-senyum ketika dia melangkah menghampiri Kui Hong, sedangkan pasukan pria dan wanita yang mengawalnya kini berbaris rapi di kanan kiri, tidak ikut mendekat.

"Aih, kiranya Cia Pangcu (Ketua Cia)! Selamat datang, pangcu, dan kami ingin sekali mengetahui apakah kedatangan pangcu ini sebagai ketua Cin-ling-pai, ataukah sebagai pribadi?"

Dia memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan depan dada.

"Perkenalkan, kami adalah pangcu dari Ho-han-pang, juga Beng-cu dari dunia kang-ouw!"

Kui Hong tersenyum pula, senyum mengejek.

"Han Lojin, tidak perlu kita membawa-bawa nama perkumpulan. Aku datang sebagai Cia Kui Hong, dan kita sama tahu siapa engkau sebenarnya. Ini urusan pribadi antara aku dan engkau. Aku datang untuk menantangmu bertanding sampai seorang di antara kita menggeletak tak bernyawa!"

"Ck, ck, ck!"

Han Lojin mengeluarkan suara dengan lidahnya sambil menggeleng kepalanya.

"Cia Kui Hong, kenapa engkau bersikap seperti ini? Ingat, seorang pendekar memegang teguh janjinya, lebih menghargai janji dari pada nyawa!"

Wajah gadis perkasa itu berubah merah dan matanya mengeluarkan sinar mencorong.

"Aku tidak pernah melanggar janjiku, keparat! Sampai detik ini aku tidak pernah melanggarnya! Justeru karena janji itulah aku datang menantangmu. Aku ingin mencairkan dan membatalkan janji itu. Engkau boleh mengeroyokku, membunuhku. Lebih baik mati dari pada membiarkan iblis macam engkau berkeliaran tanpa dapat menentangmu karena terikat janji. Nah, aku datang untuk mematahkan ikatan janji itu. Majulah!"

Tantang Kui Hong dengan sikap tabah dan tenang.

"Ha-ha-ha, engkau tidak tahu malu, Kui Hong! Dulu ketika berjanji, engkau berada dalam keadaan tertawan dan tidak berdaya. Dan engkau berjanji bahwa kalau engkau kubebaskan, engkau tidak akan memusuhiku. Sekarang, setelah engkau kubebaskan, engkau datang menantangku. Bukankah itu berarti engkau melanggar janji?"

Bagi gadis lain, diserang dengan ucapan ini tentu akan menjadi bingung.

Akan tetapi, Kui Hong adalah seorang gadis yang cerdik sekali.

Hal inipun sudah ia pikirkan sebelumnya, maka mendengar ucapan itu, ia tidak menjadi bingung, bahkan tersenyum mengejek.

"Hemm, Ang-hong-cu, bercerminlah engkau! Lupakah engkau bagaimana cara engkau menangkapku dahulu itu? Bukan seperti seorang gagah, melainkan sebagai seorang pengecut yang curang. Engkau menawanku karena menggunakan perangkap! EngKau lah yang sepatutnya merasa malu, pengecut! Dan sejak berjanji, aku tidak pernah melanggarnya. Kalau aku melanggar, tentu aku sudah datang kembali membawa kawan dan tentu engkau kini telah mampus! Akan tetapi aku datang seorang diri saja, menghadapi engkau yang kini dibantu oleh banyak sekali anak buahmu. Engkau boleh mengeroyokku, menangkapku, menyiksa dan membunuhku! Bagiku, hanya ada dua pilihan. Membatalkan janji dan membunuhmu, atau terbunuh olehmu!"

Han Lojin mengerutkan alisnya.

Tahulah dia bahwa menggertak atau membujuk gadis ini tidak akan berhasil.

Kalau dulu dia membiarkan gadis ini bebas adalah karena dia merasa ngeri menghadapi akibatnya kalau dia membunuh Cia Kui Hong, ketua Cin-ling-pai.

Ngeri menghadapi pembalasan dari Cin-ling-pai, dan terutama sekali dari kakek gadis itu, Pendekar Sadis dan isterinya dari Pulau Teratai Merah!

Akan tetapi kini tidak, ada pilihan lain baginya.

Dan diapun kini berbesar hati karena dia kini memiliki banyak pembantu yang pandai.

Kalau Cin-ling-pai datang menyerbu, diapun memiliki Ho-han-pang untuk melawannya.

Kalau Pendekar Sadis dan isterinya datang menyerang, dia dan para pembantu utamanya pasti akan mampu menandingi mereka.

"Cia Kui Hong, sekali ini kalau aku menawanmu, aku takkan melepaskanmu kembali!"

Katanya dan dalam suaranya terkandung gairah yang membuat hati Kui Hong merasa ngeri.

Iapun sudah siap siaga mengadu nyawa.

Bagi gadis ini, hiduppun tak ada artinya dan ia akan selalu merasa menyesal kepada diri sendiri.

Ia telah mengikat perjanjian dengan seorang manusia iblis yang harusnya ia tentang mati-matian.

Dengan perjanjian itu, ia merasa seolah-olah menjadi pelindung dan pembantu Ang-hong-cu!

Hal ini selalu menggerogoti perasaannya, menumbuhkan penyesalannya.

Ia telah berjanji hanya karena ingin bebas dari ancaman perkosaan maut!

Melihat Ang-hong-cu bertindak sesuka hatinya, melaksanakan segala macam kejahatan dan ia mengetahuinya akan tetapi tidak dapat turun tangan mencegah atau menentangnya, sungguh merupakan siksaan yang tak dapat ia pertahankan lebih tama.

Itulah sebabnya maka ia memaksa diri untuk mencari Ang-hong-cu, dan membatalkan semua perjanjian itu dengan membiarkan dirinya ditangkap kembali!

Ia tahu bahwa sekali ini ia maju menentang Ang-hong-cu hanya untuk roboh binasa atau tertawan.

Ia datang seorang diri, menghadapi Ang-hong-cu dan banyak anak buahnya yang tergabung di dalam Ho-han-pang!

Sama dengan bunuh diri.

Akan tetapi ia tidak perduli.

Lebih baik mati sebagai pendekar dari pada hidup terpaksa harus menjadi pelindung seorang iblis macam Ang-hong-cu, demikian tekad hatinya.

Ia mencabut sepasang pedangnya dan bersiap-siap.

Apa yang disangkanya memang benar terjadi.

Ang-hong-cu yang merasa jerih menghadapi gadis itu seorang diri, karena pernah dia melawannya akan tetapi dia yang terdesak hebat, segera memberi isarat dengan tepuk tangan dan muncullah Ji Sun Bi, Tang Cun Sek, dan Sim Ki Liong!

Akan tetapi, mereka telah mengenakan kedok tipis sehinga Kui Hong tidak mengenal mereka.

Mereka bertiga tentu saja mengenal Kui Hong, mengenal dengan baik sekali!

Bahkan dua orang muda itu, Cun Cek dan Ki Liong, pernah jatuh cinta kepada gadis ini!

"Tangkap ia hidup-hidup!"

Hanya itulah, perintah Ang-hong-cu, namun tiga orang itu sudah maklum apa yang dikehendaki pemimpin mereka.

Hanya ada satu hal mengapa ketua mereka menghendaki gadis itu ditangkap hidup-hidup, yaitu bahwa pangcu itu membutuhkan Cia Kui Hong hidup untuk dimanfaatkan, entah untuk mengurangi kehausan dan kerakusannya akan gadis-gadis cantik, atau untuk kepentingan lain.

Perintah ini tidak berat bagi Cun Sek dan Ki Liong, karena bagaimanapun juga, dua orang muda yang pernah mencinta Kui Hong juga merasa sayang kalau gadis itu terbunuh.

Namun, tidak demikian dengan Ji Sun Bi.

Wanita ini amat membenci Kui Hong.

Dalam pertemuan terakhir di antara mereka, ketika Ji Sun Bi membantu pemberontakan yang dipimpin Lam-hai Giam-lo dan Kui Hong membantu pemerintah dengan para pendekar, ia pernah bertanding melawan Kui Hong dan akibatnya, ia terlempar masuk ke dalam jurang!

Nyaris la tewas di tangan gadis Cin-ling-pai itu.

Dan kini, melihat Kui Hong hanya seorang diri, sedangkan ia bersama rekan-rekan di bawah pimpinan Han Lojin melarang gadis itu dibunuh, hanya disuruh menangkap hidup-hidup!

Bagaimanapun juga, Ji Sun Bi tidak berani melanggar perintah pemimpinnya dan bersama Cun Sek dan Ki Liong, iapun sudah mengepung Kui Hong yang berdiri dengan sikap tenang dan waspada, sepasang pedang Hok-mo Siang-kiam (Sepasang Pedang Penakluk Iblis) siap di kedua tangannya.

Melihat Kui Hong memegang sepasang pedang yang dikenalnya sebagai Hok-mo Siang-kiam milik subonya, yaitu nenek Lam-sin Toan Kim Hong isteri Pendekar Sadis diam-diam Ki Liong bergidik.

Dia tahu akan keampuhan sepasang pedang itu dan dia merasa menyesal mengapa dia kehilangan Gin-hwa-kiam.

Kalau ada Gin-hwa-kiam di tangannya, tentu dia akan mampu menandingi sepasang pedang ampuh di tangan Kui Hong.

Akan tetapi, pedang Gin-hwa-kiam telah dirampas oleh Hay Hay, dan kini ia hanya memiliki sebatang pedang yang biarpun merupakan pedang pilihan dari baja yang baik, namun dia khawatir pedangnya itu akan rusak begitu bertemu dengan Hok-mo Siang-kiam.

Dia mencabut pedangnya dan mengepung.

Demikian pula dengan Tang Cun Sek.

Pemuda ini mengenal benar kelihaian Cia Kui Hong, dan diapun diam-diam gentar dan merasa menyesal mengapa dia kehilangan Hong-cu-kiam yang juga terampas oleh Hay Hay.

Akan tetapj karena di situ terdapat Sim Ki Liong dan Ji Sun Bi, bahkan Han Lojin juga kini ikut mengepung, dia merasa yakin mereka akan dapat menundukkan Kui Hong dan diapun sudah mencabut pedangnya, sebatang pedang yang cukup baik walaupun tak dapat disamakan dengan pedang pusaka Hong-cu-kiam yang sudah terlepas dari tangannya.

Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi juga sudah mencabut senjata, yaitu sepasang pedang pula, dan kini ia mengepung sambil melintangkan sepasang pedang di atas kepala.

Han Lojin sendiri juga maju, akan tetapi dia tidak memegang senjata apapun.

"Kau lihat, Kui Hong. Engkau telah kami kepung dan tidak mungkin dapat lolos. Apakah tidak lebih baik engkau menyerah saja, kita berdamai dan engkau membantu perjuangan kami membela negara dan bangsa?"

"Huh! Yang sudi bersekutu denganmu hanyalah golongan sesat, orang-orang yang jahat dan selayaknya dibasmi habis!"

Bentak Kui Hong dan tiba-tiba saja ia membalik ke kiri, pedang kanannya menusuk ke arah dada Cun Sek.

Gerakannya cepat bukan main dan pedangnya mengeluarkan sinar dan bunyi mendesing.

Cun Sek menangkis dengan pedangnya dari samping, tidak berani mengadu langsung karena takut pedangnya akan patah.

"Tranggg...!"

Nampak bunga api berpijar dan diam-diam Kui Hong terkejut sekali.

Tak disangkanya bahwa pembantu Ang-hong-cu ini, yang berwajah tampan dan bertubuh tinggi besar, demikian kuat tenaganya sehingga tangannya tergetar.

Ia memutar pedang dan kini pedangnya yang kiri membabat ke arah kedua kaki lawan tinggi besar itu.

Dan Cun Sek mengelak dengan loncatan yang membuat Kui Hong hampir mengeluarkan seruan kaget.

Gerakan kaki itu mempunyai dasar ilmu Thai-kek Sin-kun dari Cin-ling-pai!

Ia terkejut dan heran, akan tetapi masih belum yakin benar dan selagi dia hendak mendesak agar lawan tinggi besar itu mengeluarkan ilmu silatnya, terpaksa ia harus membalik dan memutar sepasang pedangnya untuk melindungi tubuh karena pada saat itu, wanita yang memegang sepasang pedang telah menyerangnya, disusul pengeroyok ke tiga, seorang pemuda yang tampan dan memiliki gerakan kuat pula.

Dan kembali ia terkejut ketika ia memutar siang-kiam melindungi tubuhnya karena ia seperti pernah melihat gerakan siang-kiam seperti yang dimainkan wanita itu.

Ketika ia membalas dengan tiba-tiba ke arah laki-laki ke tiga yang mengeroyoknya, dengan sambaran pedang kanannya, iapun hampir berteriak saking kagetnya melihat dasar gerakan kaki pemuda itu.

Jelas dia melihat dasar gerakan kaki ilmu silat Hok-te Sin-kun yang hanya dimiliki oleh kakek dan neneknya di Pulau Teratai Merah.

Dan jantungnya berdebar ketika ia memperhatikan bentuk tubuh mereka.

Biarpun wajah mereka itu berbeda, namun bentuk tubuh mereka, gerakan silat mereka, menunjukkan bahwa ia dikeroyok oleh si tinggi besar Tang Cun Sek, pemuda tampan Sim Ki Liong, dan wanita bersenjata siang-kiam Ji Sun Bi!

Tak salah lagi!

Namun, Kui Hong menahan perasaannya dan hanya memusatkan perhatiannya kepada penjagaan diri.

Ia membela diri mati-matian dan memutar sepasang pedangnya sehingga tubuhnya seperti dilindungi perisai yang kokoh kuat.

Sambaran senjata ketiga orang pengeroyoknya itu seperti menghadapi sinar perisai yang amat kuat dan semua serangan itu membalik!

Bahkan Han Lojin yang amat lihai, yang sejak tadi ikut mengepung dan mencari kesempatan untuk turun tangan, tidak pernah berhasil karena sama sekali tidak ada lubang yang dapat dimasuki serangannya!

Han Lojin memandang kagum sekali, akan tetapi juga khawatir.

Sampai puluhan jurus, tiga orang pembantu utamanya belum juga dapat membekuk Kui Hong!

Dia tahu bahwa kalau dia tidak mengeluarkan perintah agar gadis itu ditangkap hidup-hidup, kalau tiga orang pembantunya berniat membunuhnya maka tentu perkelahian tidak akan berlangsung selama itu.

Dengan dikeroyok tiga orang yang tingkat kepandaiannya hanya sedikit di bawah tingkatnya, Kui Hong tentu sudah roboh.

Akan tetapi justeru karena mereka bertiga menjaga agar jangan melukai apalagi membunuh lawan, dan senjata mereka hanya dipergunakan untuk menjaga diri dan untuk berusaha meruntuhkan sepasang pedang Kui Hong, maka pertandingan menjadi berlarut-larut dan memakan waktu lama.

Mungkin hanya kalau Kui Hong sudah kehabisan tenaga sajalah mereka itu akan berhasil.

Dan untuk menanti sampai Kui Hong kehabisan tenaga tidaklah mudah karena ia seorang gadis yang sehat, terlatih baik dan tangguh.

Kui Hong juga bukan seorang gadis bodoh.

Ia maklum bahwa para pengeroyoknya amat taat kepada perintah Han Lojin, dan mereka berusaha untuk membuat ia kehabisan tenaga dan napas agar dapat ditawan hidup-hidup.

Dan ia akan menderita penghinaan yang lebih mengerikan dari pada maut kalau sampai tertawan hidup-hidup.

Oleh karena itu, iapun dengan nekat hendak mengadu nyawa dan kini mulailah ia membalas serangan lawan dengan serangan-serangan dahsyat.

Dengan demikian ia membiarkan dirinya "terbuka"

Sehingga mungkin saja ia akan terkena serangan senjata para pengeroyoknya sehingga terluka atau mungkin tewas.

Ketika ia menyerang dengan dahsyat, makin yakin hatinya bahwa pemuda tinggi besar itu adalah Tang Cun Sek, dan pemuda tampan itu adalah Sim Ki Liong.

Serangan-serangannya yang dahsyat membuat mereka tidak dapat menyembunyikan gerakan dasar yang aseli dari ilmu silat mereka.

Dan dalam desakannya yang nekat, ia berhasil menendang paha Ji Sun Bi sehingga wanita itu terpelanting.

Akan tetapi, karena kini ia membuka diri dengan serangan-serangannya itu sehingga pertahanan dirinya tidak serapat tadi, Han Lojin memperoleh kesempatan.

Pada saat yang baik sekali, selagi sepasang pedang Kui Hong menempel kepada senjata di tangan Cun Sek dan Ki Liong, sebelum gadis itu mampu melepaskan sepasang pedangnya dari tempelan senjata lawan, Han Lojin menerjang ke depan dan tangannya berhasil menotok punggung Kui Hong.

Gadis ini mengeluh lirih dan terguling pingsan!

Hanya sebentar saja Kui Hong tak sadarkan diri.

Ketika ia siuman, ternyata tubuhnya lemas tak dapat digerakkan karena jalan darahnya tertotok dan ia dipondong oleh pernuda tinggi besar yang berjalan bersarna Han Lojin menuju ke lorong bawah tanah.

Ia berpura-pura pingsan setelah tahu bahwa dirinya tertotok dan tidak berdaya karena kalau ia sadar, tentu hanya akan mendengar penghinaan Han Lojin saja.

Setelah tiba di depan sebuah pintu besi yang tertutup, ia mendengar pemuda tinggi besar itu bicara dan begitu pemuda itu membuka mulut, tidak ada keraguan lagi dalam hatinya bahwa pemuda itu adalah Tang Cun Sek.

Wajahnya boleh berubah,akan tetapi suaranya dan bentuk badannya, dan dasar-dasar ilmu silat Cin-ling-pai tadi.

Akan tetapi ada yang amat mengherankan hatinya ketika ia mengikuti percakapan singkat mereka di depan pintu.

"Bengcu, kuharap bengcu suka memberikan gadis ini kepadaku. Ia gadis yang kucinta dan aku... aku ingin memperisterinya..."

"Hemm, berbahaya sekali ia, Cun Sek. Yang satu ini tidak boleh, aku sendiri yang akan menundukkannya agar tidak membahayakan kita."

"Tapi... tapi... hanya sekali ini saja aku memohon. Aku adalah puteramu, aku minta agar dijodohkan dengan Kui Hong..."

"Cukup! Masukkan dara ini ke dalam!"

Han Lojin membentak dan Cun Sek nampak ketakutan.

"Baik, ayah... eh, bengcu. Baik!"

Pintu terbuka secara otomatis dan dengan mata terbuka sedikit Kui Hong melihat seorang gadis yang cantik berdiri dengan sikap gelisah akan tetapi juga marah.

Gadis itu berdiri di dekat sebuah pembaringan besar dan ketika Cun Sek merebahkan tubuhnya di atas pembaringan itu, si gadis membentak dengan suara kasar sambil menudingkan telunjuknya kepada Han Lojin.

"Mana kakakku? Dan siapa pula gadis ini Ho-han-pang-cu, kalau engkau tidak segera membebaskan aku, kakakku pasti akan menghancurkan kamu dan perkumpulanmu! Sebaliknya, kalau engkau membebaskan aku, aku akan bicara dengan kakakku. Mungkin dia mau membantu perkumpulanmu, asal saja perkumpulanmu memang perkumpulan orang-orang gagah yang baik!"

Han Lojin tersenyum.

"Tenanglah, Mayang. Kakakmu tentu akan bicara denganku. Dia belum datang, dan sementara itu, biarlah nona ini menemanimu di sini. Kalau engkau dapat membujuknya agar ia suka membantu kami alangkah baiknya dan aku tentu akan berterima kasih sekali!"

Sebelum Mayang menjawab, pintu besi tertutup dan Han Lojin bersama Tang Cun Sek sudah keluar dari kamar itu.

Setelah yakin bahwa ia hanya berdua saja dengan gadis yang ia mendengar namanya disebut Mayang itu, Kui Hong membuka matanya, lalu bangkit duduk.

Melihat ini, Mayang segera menghampiri dan mereka duduk di atas pembaringan yang lebar itu, saling pandang dan saling mengagumi kecantikan masing-masing.

"Enci, engkau siapakah dan bagaimana engkau dapat tertawan oleh mereka?"

Mayang bertanya ketika melihat pandang mata penuh curiga dari gadis cantik itu.

"Engkau sudah tahu bahwa aku tawanan, akan tetapi aku belum tahu siapa engkau dan mengapa pula di sini."

Kata Kui Hong yang masih menaruh curiga.

Biarpun tadi ia mendengar betapa gadis Tibet ini mengancam Han Lojin bahwa kakaknya akan menghancurkan Han Lojin dan perkumpulannya, akan tetapi ia tidak tahu siapa gadis ini.

Mayang tersenyum, maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang gadis yang galak dan penuh prasangka.

"Namaku Mayang, enci. Jangan engkau khawatir. Aku masih menanti munculnya kakakku, dan kalau dia muncul, pasti dia akan dapat menghancurkan Ho-han-pang dan membebaskan kita."

"Hemm, siapa kakakmu itu?"

"Kakakku bernama Hay Hay. Hay-ko lihai sekali dan dia pasti akan datang dan..."

Mayang menghentikan ucapannya karena melihat betapa wajah gadis di depannya itu berubah, seperti orang terkejut dan memandang kepadanya dengan mata mencorong.

"Dia Tang Hay maksudmu?"

"Benar, enci!"

"Kau bohong! Dia tidak mempunyai adik perempuan, kecuali kalau engkau juga she Tang, berarti engkau juga puteri Ang-hong-cu!"

Kini Mayang berbalik terkejut sekali mendengar bahwa gadis ini sudah tahu bahwa ia dan kakaknya adalah anak-anak Ang-hong-cu.

"Enci, engkau mengenal ini?"

Ia menarik keluar mainan dari balik bajunya, yaitu mainan berbentuk seekor kumbang merah.

"Ang-hong-cu...! Jadi kau... kau puterinya?"

"Benar, aku puteri Ang-hong-cu, seperti juga Hay-koko putera Ang-hong-cu. Agaknya engkau sudah mengetahui..."

"Bagus sekali!"

Dan tiba-tiba saja, secepat kilat, tangan Kui Hong bergerak dan ia telah menotok jalan darah di pundak kiri dan Mayang terkulai lemas, kaki tangannya menjadi lumpuh.

Tentu saja Mayang terkejut dan marah sekali.

Ia diserang dalam keadaan sama sekali tidak menyangkanya, dan mereka duduk berdekatan maka ia tidak sempat mengelak apalagi gerakan tangan Kui Hong memang cepat seperti kilat menyambar.

Hanya kaki tangannya saja dan punggungnya yang lumpuh, akan tetapi Mayang masih dapat menggerakkan anggauta tubuh yang lain.

Ia memandang kepada Kui Hong dengan mata bersinar penuh kemarahan.

"Heiiii! Kenapa Kau lakukan ini?"

Bentaknya marah. Kui Hong tersenyum mengejek.

"Engkau puteri Ang-hong-cu. Engkau satu-satunya orang yang dapat membebaskan aku dari sini. Engkau kujadikan sandera agar aku dibebaskan. Kalau mereka tidak mau membebaskan aku, engkau kubunuh!"

Mayang juga seorang gadis yang keras hati dan tidak takut mati. Ia mendengus marah.

"Huh, aku tidak mengenal siapa engkau. Akan tetapi yang sudah jelas bagiku, engkau ini seorang pengecut yang tolol!"

Kalau saja ia tidak dalam tahanan, tentu Kui Hong menampar mulut yang berani memakinya pengecut dan tolol seperti itu.

Ia menahan kemarahannya.

"Jelaskan kenapa engkau mengatakan aku pengecut dan tolol. Kalau tidak ada alasannya yang kuat, akan kutampar mulutmu yang lancang itu!"

"Lebih dari pada pengecut dan tolol, engkau mungkin sudah gila!"

Mayang berteriak, tidak kalah galaknya dan walaupun ia rebah telentang tanpa mampu menggerakkan tubuhnya, namun ia membelalakkan matanya yang sipit, hidungnya kembang kempis dan mulutnya cemberut penuh kemarahan.

"Masih perlu penjelasan lagi? Engkau pengecut karena engkau menyerang dan menotokku secara curang, tanpa memberitahu bahwa engkau akan menyerangku. Tidak curang dan pengecutkah itu? Kalau memang gagah, kenapa tidak terang-terangan saja menantang? Kau kira aku takut kepadamu? Dan tentang tolol, engkau memang bodoh dan tolol bukan main. Kau bilang hendak menjadikan aku sebagai sandera agar engkau dibebaskan? Apakah engkau ingin melawak di atas panggung? Aku sendiri menjadi tawanan di sini! Bagaimana mungkin pangcu dari Ho-han-pang mau membebaskan engkau karena engkau menawan aku? Tawanan menyandera tawanan? Apakah ini tidak gila namanya?"

Belum pernah selama hidupnya Kui Hong dimaki-maki orang seperti itu, dimaki pengecut, curang, tolol, bodoh, bahkan gila!

Akan tetapi kemarahannya masih kalah oleh keheranannya mendengar semua ucapan itu.

Iakah yang gila, ataukah gadis ini yang sudah menjadi gila?

Gadis ini bicara tentang menjadi tawanan Ho-han Pangcu!

Padahal, Ho-han Pangcu itu bukan lain adalah Han Lojin alias Tang Bun An alias Ang-hong-cu alias ayah kandungnya sendiri!

"Hemmm, bocah bermulut lancang!

Sesungguhnya engKau lah yang tolol dan gila.

Engkau ini tidak tahu apakah pura-pura tidak tahu?

Coba jawab, siapakah yang menawan engkau?"

"Siapa lagi kalau bukan dia yang juga menawanmu tadi. Yang menawanku adalah pangcu dari Ho-han-pang..."

"Dan engkau tidak tahu siapa dia ?"

"Dia adalah ketua Ho-han-pang dan bengcu..."

"Bodoh! Dia itu Han Lojin!"

"Siapa Han Lojin?"

Ahh, kini mengertilah Kui Hong.

Gadis tolol ini belum tahu bahwa ia telah menjadi tawanan ayah kandungnya sendiri "Han Lojin adalah Tang Bun An!"

"Tang Bun An? Siapa pula..."

"Penawanmu itu adalah Ho-han Pang-cu, juga Han Lojin, alias Tang Bun An, alias Ang-hong-cu pula!"

"Ahhhh.....!"

Sepasang mata itu terbelalak.

"Dia... dia... Ang-hong-cu...? Aku tidak percaya!"

"Itulah ketololanmu! Ketua Ho-han-pang itu adalah Ang-hong-cu dan hal ini aku tahu benar!"

"Tapi... tapi... kalau benar dia Ang-hong-cu, berarti dia itu ayah kadungku? Akan tetapi kenapa dia... dia menawanku? Pantas saja dia mengenal nama ibu dan suboku...! Ah, akan tetapi mungkinkah itu? Kenapa dia menawanku dan sikapnya seperti itu?"

Ia teringat akan sikap cabul ketua Ho-han-pang itu.

"Apakah engkau belum pernah melihat ayahmu?"

"Sejak lahir belum pernah aku melihatnya."

"Dan kakakmu itu, Hay Hay, apakah dia pernah bercerita tentang jahatnya Ang-hong-cu?"

"Hanya sedikit... ah, enci yang baik, ceritakan kepadaku bagaimana sesungguhnya semua itu, tentang Han Lojin, tentang Tang Bun An, tentang Ang-hong-cu! Aku sungguh bingung sekali. Aku datang ke sini bersama kakakku menyelidiki perwira she Tang, dan aku dipancing ke sini, dikeroyok dan ditangkap, katanya untuk memancing agar kakakku datang pula ke sini. Tidak tahunya engkau yang muncul! Apa artinya semua ini, enci? Katakanlah. Engkau tidak ragu lagi dan percaya kepadaku, bukan?"

Kedua mata Mayang menjadi basah karena ia merasa tegang dan penasaran sekali, mendengar bahwa laki-laki setengah tua yang cabul dan menawannya itu adalah ayah kandungnya sendiri.

Biarpun masih muda, Kui Hong sudah berpengalaman dan iapun dapat membedakan sikap orang yang berbohong atau tidak.

Ia tahu bahwa Mayang tidak berbohong dan ia percaya kepada gadis Tibet itu yang ia tahu tentu puteri seorang wanita Tibet yang menjadi korban keganasan Ang-hong-cu pula, seperti ibu Hay Hay.

Maka, tanpa ragu-ragu lagi iapun membebaskan totokannya dan Mayang dapat menggerakkan kaki tangannya.

Gadis Tibet itu bangkit duduk, mengurut-urut kaki tangannya sambil memandang kepada Kui Hong.

"Enci, engkau mengenal kakakku?"

"Tang Hay?Tentusaja aku mengenalnya."

"Enci, siapakah namamu? Dan bagaimana engkau sampai tertawan oleh mereka? Dan ceritakanlah tentang semua ini..."

"Nanti dulu, Mayang. Namamu Mayang, bukan? Nah, adik Mayang, sebelum aku bercerita, lebih baik engkau lebih dulu menceritakan pengalamanmu bersama Hay Hay, agar aku dapat mengerti duduknya perkara dan dapat menentukan langkah selanjutnya. Kita berada dalam kekuasaan persekutuan yang amat berbahaya dan kuat, adik Mayang. Nah, kau ceritakan semuanya, juga hal yang mengherankan bahwa engkau tidak tahu akan kenyataan bahwa ketua Ho-han-pang adalah Han Lojin atau Tang Bun An atau Ang-hong-cu, yaitu ayah kandungmu sendiri!"

Rasa kaku pada kaki tangan Mayang sudah lenyap setelah ia mengurutnya, dan kini mereka duduk di tepi pembaringan, saling berhadapan.

"Baiklah, enci. Memang sudah sepatutnya kalau engkau curiga dan berhati-hati, dan maafkan semua kelancanganku tadi. Aku bertemu dengan kakakku Tang Hay ketika dia berada di Tibet bersama pendekar Pek Han Siong. Kenalkah engkau kepada pendekar itu?"

Kui Hong mengangguk.

Ia mengenal Pek Han Siong dan ada persamaan antara Hay Hay dan Han Siong.

Keduanya memiliki ilmu kepandaian tinggi, bahkan keduanya juga memiliki ilmu sihir yang hebat.

"Lanjutkan ceritamu."

Katanya.

"Setelah kami saling berjumpa, secara kebetulan kami saling melihat mainan yang tergantung di leher kami dan tahulah kami bahwa kami adalah kakak beradik. Ayah kami adalah Ang-hong-cu."

Mayang tidak mau menceritakan bahwa ia telah dinikahkan dengan Hay Hay, karena hal itu merupakan rahasia pribadinya, merupakan hal yang dapat mendatangkan aib.

Menikah dengan kakak sendiri!

"Dan ibumu?"

"Ibuku bernama Souli, seorang wanita Tibet yang pernah tergila-gila kepada pria yang oleh ibu disebut Tang Tai-hiap. Akan tetapi ketika ibuku mengandung, Tang Tai-hiap itu meninggalkannya dan tidak pernah kembali, hanya meninggalkan benda ini kepada ibu."

"Hemm, memang itulah sifat khas Ang-hong-cu."

Kata Kui Hong, gemas.

"Setelah mendengar dari kakakku, Tang Hay tentang ayah kandungku, aku lalu ikut Hay-ko untuk mencari ayah, mencari Ang-hong-cu, bukan untuk berbaik-baik antara anak dan ayahnya, melainkan untuk minta pertanggungan jawab Ang-hong-cu yang menurut Hay-ko telah melakukan banyak kejahatan. Nah, kami berdua pergi ke kota raja karena Hay-ko bilang bahwa dia mendengar di kota raja terdapat seorang perwira she Tang yang mengaku sebagai putera Ang-hong-cu. Dan selagi kami melakukan penyelidikan, kami mendengar bahwa yang ada seorang perwira she Tang yang sudah setengah tua, bukan perwira Tang muda. Ketika pagi kemarin Hay-koko pergi melakukan penyelidikan, ada orang datang mengabarkan bahwa Hay-ko memanggilku. Aku dipancing dan dijebak, dan aku dikeroyok sehingga akhirnya aku tertawan. Ternyata Ho-han-pang memiliki banyak orang pandai, terutama dua orang pemuda yang menawanku itu."

Kui Hong mengangguk-angguk.

Ia sudah tahu dan iapun tahu bahwa mereka dalah Sim Ki Liong dan Tang Cun Sek, juga ada Ji Sun Bi.

Bahkan baru sekarang diketahuinya pula hal yang mengejutkan hatinya, yaitu bahwa Tang Cun Sek adalah putera Ang-hong-cu pula!

Dan putera Ang-hong-cu yang satu ini sudah menyelundup ke Cin-ling-pai, mempelajari ilmu-ilmu Cin-ling-pai, bahkan melarikan pedang pusaka Hong-cu-kiam dari Cin-ling-pai.

Kini, ia tersentak kaget, teringat betapa ketika mengeroyoknya, Tang Cun Sek tidak memegang Hong-cu-kiam, dan Sim Ki Liong juga tidak memegang Gin-hwa-kiam!

Apakah hal itu sengaja mereka lakukan karena mereka menyamar dengan memakai kedok tipis, tidak mengeluarkan pedang-pedang pusaka itu agar ia tidak mengenal mereka?

"Lanjutkan ceritamu, Mayang."

"Aku ditawan di sini dan aku tantang Ho-han Pang-cu di kamar ini. Ia membebaskanku dan kami berkelahi. Akan tetapi diapun amat lihai, dia berhasil merobek bajuku dan dia melihat benda mainan ini!"

"Hemm, jadi dia tahu pula bahwa engkau puterinya?"

"Agaknya demikianlah biar dia tidak membuat pengakuan. Buktinya, dia mengenal nama ibuku, Souli, dan dia mengenal pula suboku."

"Siapa subomu?"

"Kim-mo Sian-kouw."

"Hemm, lalu apa yang dilakukan terhadap dirimu?"

"Dia tidak mengaku siapa dirinya, hanya mengatakan bahwa aku ditahan di sini dan baru akan dibebaskan kalau Hay-ko mau menyerah dan mau membantu Ho-han-pang. Akupun menanti saja di sini, diberi makan minum dan semua keperluan dicukupi, bahkan pakaian lengkap tersedia di sini, tidak pernah diganggu. Akan tetapi hatiku selalu khawatir akan nasib Hay-ko, sampai engkau masuk tadi, enci. Sekarang, setelah mengetahui bahwa engkau juga musuh mereka, dan engkau agaknya lihai, hatiku lebih tenang. Kita dapat bekerja sama melawan mereka, enci!"

Hati Kui Hong juga merasa lega.

Gadis ini tentu memiliki ilmu kepandaian yang cukup baik, kalau tidak demikian, tidak nanti Hay Hay mengajaknya mencari Ang-hong-cu.

Ia sendiri belum pernah mendengar nama gadis ini dan ibunya, akan tetapi nama guru gadis ini, Kim-mo Sian-kouw, pernah didengarnya.

Neneknya pernah bercerita bahwa di daerah Tibet selain terdapat banyak pendeta Lama yang sakti, juga terdapat seorang tokoh wanita yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan berjuluk Kim-mo Sian-kouw.

"Tentu saja, adikku. Ketahuilah, namaku Cia Kui Hong..."

"Wah, kiranya engkau ini enci Kui Hong!"

Mayang berseru dengan gembira sekali. Kui Hong memandang kepadanya dengan alis berkerut.

"Engkau telah mengetahui namaku?"

"Tentu saja! Engkau adalah sahabat terbaik dari kakakku, bagaimana aku tidak tahu? Hay-ko banyak bercerita tentang dirimu, katanya bahwa engKau lah sahabatnya paling dikaguminya dan yang paling baik."

"Ah? Dia berkata demikian?"

Wajah Kui Hong seketika berubah merah sekali sampai ke leher dan telinganya dan hal ini tidak dilewatkan pandang mata Mayang.

"Apa lagi yang dikatakannya tentang diriku?"

Mayang mengingat-ingat.

Memang atas pertanyaan dan desakannya.

Hay Hay banyak bercerita tentang pengalamannya yang lalu dan tentang para pendekar wanita yang pernah ditemuinya, bahkan yang pernah bekerja sama dengannya dalam menghadapi tokoh-tokoh sesat.

"Dia bilang bahwa enci merupakan seorang pendekar wanita yang cantik jelita dan manis budi, juga berkepandaian tinggi sekali..."

"Ihh! Engkau perayu seperti kakakmu!"

Kata Kui Hong tertawa.

"Tidak, enci. Dia bukan memuji kosong sebagai rayuan. Memang engkau cantik jelita dan manis budi, dan tentu kepandaianmu tinggi sekali"."

"Sudah, cukuplah. Lanjutkan ceritamu, adik Mayang."

Kata Kui Hong, akan tetapi bibirnya tersenyum manis dan hatinya terasa girang bukan main.

Hay Hay masih ingat kepadanya!

Bukan hanya ingat, akan tetapi bahkan memuji-mujinya!

"Hay-ko mengatakan bahwa engkau adalah puteri ketua Cin-ling-pai yang terkenal sebagai perkumpulan para pendekar yang gagah perkasa, juga engkau cucu Pendekar Sadis yang namanya menggemparkan dunia persilatan!"

"Cukup tentang diriku. Ceritakan bagaimana engkau sampai terjebak di sini dan kakakmu itu belum juga datang menolongmu."

Wajah Mayang nampak berduka.

"Entahlah, enci Hong. Aku tidak tahu di mana adanya kakakku, akan tetapi aku khawatir sekali kalau sampai diapun terperangkap oleh jahanam..."

"Dia ayah kandungmu!"

"Tidak perduli! Dia jahat! Dia telah meninggalkan ibu ketika ibu mengandung, membuat ibu menderita hebat. Dan sekarang, dia malah menawanku, menghinaku! Enci Hong, engkau yang seharusnya melanjutkan ceritamu tadi, tentang Ang-hong-cu, tentang kedatanganmu ke sini, tentang segalanya!"

Kui Hong teringat dan tersenyum.

Ceritanya terhenti karena ia tenggelam ke dalam kegembiraan mendengar Hay Hay memuji-mujinya dan masih ingat kepadanya.

"Aku mengenal Han Lojin sebagai Ang-hong-cu beberapa waktu yang lalu ketika para pendekar membantu pemerintah membasmi pemberontakan yang dipimpin oleh Lam-hai Giam-lo. Han Lojin muncul dan diapun membantu pemerintah. Di sanalah dia melakukan perbuatan-pebuatan jahat, memperkosa beberapa orang wanita dan di sana terdapat pula kakakmu Hay Hay. Ketika itulah kakakmu juga aku dan yang lain-lainnya, mengetahui bahwa Han Lojin adalah Ang-hong-cu, akan tetapi dia melarikan diri. Ketika aku tiba di kota raja, kebetulan aku bertemu dengan Tang Bun An yang menjadi perwira di istana dan aku mengetahui rahasianya, bahkan dialah Han Lojin dan juga Ang-hong-cu. Akan tetapi dengan licik dia menjebakku sehingga aku tertawan olehnya. Dan di situ aku melakukan suatu kebodohan yang membuat aku mneyesal bukan main. Aku telah berjanji takkan memusuhinya dan takkan membuka rahasianya. dan sebagai imbalannya, dia membebaskan aku. Padahal, sesungguhnya dia takut kepadaku, takut kepada Cin-ling-pai, takut pula kepada kakekku Pendekar Sadis. Setelah aku bebas, aku merasa menyesal sekali, merasa bahwa aku telah menjadi pelindungnya, menjadi sekutunya. Karena itu, aku lalu datang menantangnya dan maklum bahwa dia tentu akan menggunakan anak buahnya untuk mengeroyokku. Nah, aku dikeroyok dan ditawan, lalu dimasukkan ke sini."

Mayang memandang heran.

"Enci Hong! Engkau sudah bebas dan engkau sengaja membiarkan dirimu ditangkap dan terancam maut?"

Kui Hong tersenyum, mengangguk.

"Bukan hanya ancaman maut, malah lebih mengerikan lagi. Mungkin aku disiksa, dihina, lalu dibunuh. Akan tetapi, bagiku, lebih baik mati dalam menentang kejahatan daripada hidup menjadi sekutu orang jahat!"

"Hebat! Engkau hebat, enci Hong. Memang pantas sekali kalau kakakku kagum kepadamu. Engkau seorang pendekar wanita yang hebat! Akan tetapi jangan khawatir, enci. Kita kini bersatu. Kita berdua dapat melawan mereka! Dan masih ada kakakku. Dia pasti akan menolong kita, dan dia mempunyai sebuah hadiah untukmu. Hal itu dia katakan sendiri kepadaku."

"Hadiah? Untukku? Hadiah apakah itu, Mayang?"

"Sebatang pedang pusaka, enci."

"Pedang pusaka? Aku sudah memiliki Hok-mo Siang-kiam... ah, si keparat itu telah menyitanya!"

Katanya dengan wajah menyesal sekali.

"Jangan khawatir, enci. Pedang pusaka itu hebat, aku sudah melihatnya, dan kata Hay-ko, pedang itu memang milikmu, milik Cin-ling-pai. Namanya Hong-cu-kiam."

"Hong-cu-kiam?"

Sepasang mata yang tajam itu terbelalak.

Pedang pusaka itu dilarikan Tang Cun Sek dan kini telah berada di tangan Hay Hay?

Pantas saja Cun Sek tidak mempergunakan pedang pusaka itu.

Dan bagaimana dengan Gin-hwa-kiam yang tadinya dilarikan Ki Liong?

"Ah, memang benar itu pusaka Cin-ling-pai yang dilarikan orang.

Dan...

barangkali engkau tahu tentang pedang pusaka Gin-hwa-kiam?"

"Gin-hwa-kiam? Bukankah itu pedang pusaka yang kulihat dipergunakan oleh pendekar Pek Han Siong?"

"Sudah berada di tangan Pek Han Siong? Bagus!"

Kui Hong girang bukan main.

Kiranya Hay Hay dan Han Siong sudah dapat merampas kembali kedua pedang pusaka itu!

"Gin-hwa-kiam adalah pedang Pulau Teratai Merah yang dilarikan orang pula.

Aih, adikku, engkau menceritakan berita yang amat menggembirakan.

Sekarang, mari kita periksa tempat ini, kalau-kalau ada jalan untuk melarikan diri dari sini."

"Coba periksalah, enci. Aku sudah lelah memeriksa, namun tidak dapat menemukan jalan keluar. Ruangan ini adalah ruangan di bawah tanah dan jalan satu-satunya adalah pintu itu. Terbuat dari besi yang tebal dan kokoh kuat. Membukanyapun dengan alat rahasia. Dan lubang angin dan sinar di atas itu, selain terlalu tinggi, juga diberi terali besi yang kokoh pula."

Akan tetapi Kui Hong merasa tidak puas kalau tidak memeriksa sendiri.

Ia lalu mengadakan pemeriksaan dengan amat teliti.

Namun, ternyata benar seperti yang dikatakan Mayang tadi.

Tempat itu amat rapat dan tidak ada jalan keluar kecuali melalui pintu yang amat kokoh itu.

Satu-satunya jalan hanyalah menunggu sampai ada yang membuka pintu itu lalu menerjang keluar!

Karena itu, ketika ada yang mendorongkan makanan dan minuman melalui lubang di bagian bawah pintu, dua orang gadis itupun makan minum dengan cukup untuk membuat tubuh mereka tetap kuat.

Tadinya Kui Hong yang mengenal kecurangan lawan, merasa ragu untuk makan dan minum.

Ia tidak takut menghadapi racun karena ia dapat mengetahui kalau makanan atau minuman itu diracun, akan tetapi yang dikhawatirkan adalah kalau ada kekuatan sihir terkandung dalam makanan dan minuman itu yang akan menundukkan mereka.

Ketika ia menyatakan hal ini, Mayang tersenyum.

"Kalau terhadap serangan sihir, jangan takut, enci. Aku telah melatih diri secara khusus untuk menolak segala kekuatan sihir."

"Eh! Engkau pandai sihir seperti Hay Hay dan Han Siong?"

Kui Hong memandang gadis Tibet itu.

Mayang tersenyum.

Bukan main manisnya gadis Tibet itu ketika tersenyum.

Mulutnya yang kecil itu mekar bagaikan setangkai bunga merekah merah.

Ia tidak menutupi keindahan itu dengan tangannya seperti biasanya gadis Han yang sopan-sopan, dan Kui Hong memandang kagum.

Ada persamaan memang antara Mayang dengan Hay Hay.

Mungkin dalam bentuk mulut dan hidungnya itulah, dan kecerahan wajah itu kalau tersenyum.

"Tidak, enci. Akan tetapi, biar Hay-ko sendiripun tidak akan mampu menguasai aku dengan kekuatan sihirnya! Subo telah mengajarkan aku latihan untuk memperoleh kekuatan batin yang menolak segala macam kekuatan sihir yang bagaimana kuatpun. Oleh karena itu, jangan mampu menolaknya."

Kui Hong memandang kagum.

Mereka lalu makan minum dengan gembira, dan lupalah Kui Hong bahwa ia sedang berada dalam tahanan musuh, bukan dalam kamar hotel mewah bersenang-senang dengan seorang sahabat yang menyenangkan sekali.

Setelah makan dan beristirahat sejenak, Kui Hong lalu bangkit.

"Adik Mayang, sekarang bersiaplah. Kita mengadu kepandaian silat. Kamar ini cukup lebar sehingga leluasa bagi kita untuk bertanding silat di sini."

"Ehhh?"

Mayang memandang wajah Kui Hong dengan kaget, akan tetapi melihat wajah yang cantik itu cerah dan mulutnya tersenyum.

Mayang segera mengerti.

"Maksudmu, kita berlatih silat, enci Hong?"

Kui Hong mengangguk.

"Kita harus selalu siap, dan kita perlu berlatih, terutama untuk mengenal kepandaian masing-masing sehingga mudah bagi kita menentukan langkah selanjutnya. Jangan sungkan dan jangan main-main, adikku. Seranglah aku dan keluarkan kepandaianmu agar aku dapat menilai sampai di mana tingkatmu."

"Baik, enci Hong, akan tetapi jangan mentertawakan aku!"

"Aih, engkau terlalu merendahkan dirimu, Mayang. Aku pernah mendengar nama besar Subomu, maka aku tahu bahwa engkau tentu memiliki ilmu silat yang hebat. Nah, mari kita main-main sebentar!"

"Baik, enci Hong. Kau jaga baik-baik seranganku!"

Setelah melihat bahwa Kui Hong sudah memasang kuda-kuda, Mayang lalu mulai menyerang.

Karena iapun dapat menduga akan kelihaian Kui Hong, maka begitu menyerang, ia mainkan ilmu silat Kim-lian-kun (Ilmu Silat Teratai Emas) yang ampuh, yaitu ilmu silat andalan dari Kim-mo Sian-kouw.

Gerakannya amat cepat dan mengandung tenaga yang dahsyat sehingga dari tangannya mengeluarkan angin berdesir.

"Bagus!"

Kui Hong berseru sambil mengelak dan membalas serangan Mayang.

Iapun tidak main-main karena dari gerakan pertama itu saja tahulah ia bahwa Mayang sungguh lihai dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan.

Kui Hong telah mempelajari banyak macam ilmu silat, namun belum pernah ia melihat ilmu silat seperti yang dimainkan Mayang, maka iapun bersikap hati-hati sekali.

Serang menyerang terjadi di dalam kamar yang luas itu, dan terdengar angin berkesiur setiap kali mereka menggerakkan tangan.

Dan kalau sesekali terjadi adu lengan, keduanya tergetar dan, mundur dua langkah, saling pandang dengan kagum.

Makin lama, serangan Mayang semakin hebat dan Kui Hong kagum bukan main.

Ilmu silat gadis Tibet itu memang tangguh sekali.

Terpaksa ia harus mengerahkan ilmu gin-kang (meringankan tubuh) Bu-eng Hui-teng (Terbang Tanpa Bayangan) yang dipelajarinya dari Ceng Sui Cin, ibunya.

Dengan ilmu ini, tubuhnya bagaikan kapas saja dan Mayang terkejut dan kagum bukan main.

Lawannya itu seolah-olah dapat terbang dan tak pernah dapat disentuh tangannya yang menyerang.

Kui Hong menilai ilmu yang dimiliki Mayang, juga kekuatan kedua tangannya.

Harus diakuinya bahwa tingkat kepandaian Mayang sudah cukup tinggi, tidak kalah dibandingkan para pendekar wanita lainnya.

Ia sendiri, kalau tidak mendapatkan gemblengan dari kakeknya dan neneknya di Pulau Teratai Merah, tentu akan mengalami kesulitan untuk dapat mengalahkan Mayang!

Sampai lima puluh jurus lebih mereka berlatih dan kalau Kui Hong menghendaki, biarpun tidak sangat mudah, ia akan mampu mengalahkan Mayang.

Bagaimanapun lihainya gadis Tibet itu, Kui Hong masih menang tingkat, menang cepat dan lebih kuat tenaganya.

Akan tetapi Kui Hong tidak mau mengecilkan hati Mayang, dan ia sudah merasa cukup puas melihat kenyataan bahwa Mayang memang lihai dan dapat diandalkan untuk menjadi kawan dalam menghadapi Ang-hong-cu dan anak buahnya.

"Cukup, Mayang!"

Katanya sambil melompat ke belakang.

"Engkau lihai sekali!"

"Ihh, enci Kui Hong, jangan memuji! Kalau engkau mau, tentu sudah sejak tadi engkau dapat merobohkan aku. Ilmu aneh apakah itu yang membuat tubuhmu begitu ringan seperti kapas terbang saja? Semua seranganku tidak ada gunanya!"

"Itu adalah Bu-eng Hui-teng, yang kupelajari dari ibuku, Mayang. Sudahlah, kita beristirahat. Engkau cukup tangguh dan kurasa, kita berdua akan mampu menjaga diri kalau mereka muncul."

Kata Kui Hong sambil mengusap keringat dari lehernya, seperti yang dilakukan pula oleh Mayang.

"Sekarang, mari menghimpun tenaga dan memulihkan kelenturan otot-otot, mengatur pernapasan,"

Kata Kui Hong yang ingin agar keduanya berada dalam keadaan yang siap benar untuk memberontak sewaktu-waktu pintu besi itu dibuka.

Mayang mengangguk dan keduanya lalu duduk bersila di atas pembaringan, mengatur pernapasan.

Sebagai seorang pelarian, tentu saja Tang Gun tidak berani begitu saja memasuki kota raja.

Kalau ada yang mengenalnya, tentu akan terjadi geger.

Pasukan pemerintah tentu akan mengejar dan menangkapnya dan biarpun di sampingnya ada Sumoinya.

Siangkoan Bi Lian yang amat lihai sekali, kalau pasukan pemerintah mengepungnya, tentu mereka beruda tidak akan mampu melawan, bahkan sukar untuk dapat meloloskan diri dari kota raja.

Oleh karena itu, ketika memasuki pintu gerbang kota raja, Tang Gun menyamar sebagai seorang laki-laki setengah tua yang rambutnya sudah penuh uban, dengan kumis dan jenggot palsu.

Siangkoan Bi Lian yang berjalam di sampingnya mengaku sebagai uterinya.

Penyamaran itu cukup baik sehingga tak seorangpun mengenalnya.

Mereka masuk ke kota raja setelah hari menjelang senja.

Cuaca sudah mulai redup dan remang-remang.

Tang Gun mengajak Sumoinya agar langsung saja mencari seorang bekas anak buahnya yang dipercaya benar, karena mereka harus lebih dahulu menyelidiki, di mana adanya Tang Bun An yang mereka cari-cari itu.

Bekas anak buahnya itu bernama Gu Kiat dan sebagai seorang perajurit pengawal istana tentu dia tahu akan segalanya tentang Tang Bun An yang kabarnya menjadi perwira itu.

Dan Tang Gun pernah menyelamatkan Gu Kiat, maka dia merasa yakin bahwa Gu Kiat yang hidup sebatang kara tanpa keluarga itu pasti akan suka membantunya.

Gu Kiat kebetulan duduk di ruangan depan rumahnya ketika Tang Gun atau yang kini dikenal sebagai Tan Hok Seng tiba.

Dia cepat keluar dari pintu rumahnya dan memandang heran kepada pria dan wanita yang tidak dikenalnya itu.

Apa lagi ketika melihat betapa wanita muda itu amat cantik, keheranannya bertambah.

"Paman hendak mencari siapakah?"

Tanya Gu Kiat sambil melirik ke arah wajah Bi Lian yang nampak cantik sekali tersinar lampu gantung di depan rumah itu.

Hok Seng membalas penghormatan tuan rumah dan berkata.

"Saya mempunyai urusan penting sekali untuk disampaikan kepada saudara Gu Kiat."

"Saya sendiri yang bernama Gu Kiat."

Hok Seng berkata kepada Bi Lian.

"Anakku, engkau tunggu sebentar di sini, aku mau bicara empat mata dengan saudara ini."

Bi Lian mengangguk dan Hok Seng lalu berkata kepada Gu Kiat yang masih memandang keheranan itu.

"Saudara Gu Kiat, dapatkah kita bicara empat mata di dalam? Apa yang saya bicarakan ini amat penting dan tidak boleh diketahui orang lain."

"Tapi... tapi..., siapakah paman?"

Gu Kiat bertanya ragu. Hok Seng berbisik.

"Aku Tan Hok Seng dan aku ingin bicara tentang guci emas istana. Mari kita bicara empat mata di dalam."

Gu Kiat nampak terkejut bukan main, matanya terbelalak dan mukanya berubah pucat ketika dia memandang kepada Hok Seng.

Bi Lian tidak mengerti, hanya mengira bahwa kini orang itu telah mengenal Hok Seng yang menyamar.

Padahal Gu Kiat terkejut sekali karena mendengar bisikan tentang guci emas istana tadi.

Dahulu, pernah sebagai perajurit pengawal dia mencuri guci emas istana dan perbuatannya itu ketahuan oleh pengawal lain.

Kalau tidak ada Tang Gun yang menyelamatkannya, tentu dia sudah ditangkap dan dijatuhi hukuman berat.

Tidak mengherankan kini dia terkejut setengah mati mendengar laki-laki setengah tua yang tak dikenalnya itu berbisik tentang guci emas istana!

Maka, mendengar permintaan orang itu untuk bicara empat mata di dalam, dia lalu mengangguk dan memberi isyarat kepada orang itu untuk memasuki rumahnya.

Bi Lian tidak ikut masuk, melainkan duduk menanti di atas bangku di ruangan depan itu.

Biarlah suhengnya yang melakukan penyelidikan di mana adanya Tang Bun An yang telah melempar fitnah kepada suhengnya itu.

Nanti kalau sudah berhadapan dengan musuh itu, baru ia yang akan menandinginya.

Setelah berada di dalam ruangan sebelah dalam, hanya berdua saja dengan Gu Kiat, Hok Seng lalu berkata lirih.

"Gu Kiat, pandanglah baik-baik. Aku adalah Tang Gun yang menyamar!"

Gu Kiat memandang tajam dan dia segera mengenal bekas atasannya itu, mengenal suara dan pandang matanya.

"Tang-ciangkun...!"

Katanya terkejut dan heran. Disangkanya bahwa bekas komandannya ini telah (Lanjut ke

Jilid 28) Ang Hong Cu (Seri ke 10 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 28 tewas.

"Ahhh, jangan menyebut aku ciangkun lagi, aku sudah bukan seorang perwira."

"Tapi... tapi... apakah kehendak Tang-kongcu, (tuan muda Tang) mendatangi saya?"

Jelas bahwa Gu Kiat ketakutan karena kalau sampai diketahui orang bahwa dia kedatangan tamu bekas perwira yang menjadi orang hukuman dan pelarian ini, dirinya tentu saja akan celaka.

"Dengar baik-baik, Gu Kiat. Aku pernah menolongmu, dan sekarang saatnya engkau membalas budi itu, dan menolongku kembali. Pertama, lupakan bahwa namaku Tang Gun. Sekarang namaku adalah Tan Hok Seng, dan engkau boleh menyebutku Tan-kongcu. Mengerti?"

Diingatkan akan "budi"

Itu, Gu Kiat mengangguk patuh.

"Saya mengerti."

Katanya lirih.

"Dan ke dua, aku ingin mendengar tentang diri Tang Bun An. Nah, ceritakan tentang dia!"

Di dalam hatinya, Gu Kiat tersenyum.

Akan tetapi, wajahnya tidak membayangkan sesuatu ketika dia menjawab.

"Ah, dia? Setelah engkau pergi, dia diangkat menjadi seorang perwira tinggi pasukan pengawal di istana."

"Hemm, sudah kuduga. Di mana sekarang dia tinggal?"

Gu Kiat menggeleng kepalanya.

"Bagaimana saya bisa tahu? Sekarang dia sudah berhenti menjadi perwira."

"Berhenti?"

"Dia mengundurkan diri dan sejak itu, saya tidak tahu lagi di mana dia berada."

Tentu saja Hok Seng kecewa bukan main mendengar berita ini.

Musuh besarnya itu telah lolos, dan tidak lagi berada di kota raja!

"Akan tetapi, saya dapat membantumu, kongcu.

Di antara kawan-kawan yang pernah menjadi anak buahnya, tentu ada yang tahu di mana adanya bekas perwira itu."

Wajah yang tadinya dibayangi kekecewaan itu, menjadi cerah kembali.

"Ah, baik sekali! Terima kasih dan ternyata engkau seorang yang mengenal budi, Gu Kiat. Kapan engkau akan melakukan penyelidikan itu? Lebih cepat lebih baik!"

"Memang sebaiknya begitu, kongcu. Malam ini juga saya akan pergi menyelidiki di antara kawan-kawan. Dan sebaiknya kalau kongcu dan eh, siapakah nona yang menunggu di depan itu?"

"Ia Sumoiku."

"Sebaiknya kongcu dan nona bersembunyi saja di rumah saya ini. Kalau bermalam diluaran, amat berbahaya. Kong-cu berdua bermalam di sini, mengaso, dan saya akan pergi melakukan penyelidikan. Mudah-mudahahan saja malam ini juga saya sudah bisa mendapatkan keterangan."

Hok Seng menjadi girang bukan main.

Dia memesan kepada bekas anak buahnya itu agar tidak keliru menyebut namanya karena dia sudah berganti nama sejak menjadi pelarian, dan Sumoinya sendiripun mengenalnya sebagai Tan Hok Seng.

Setelah itu, mereka lalu keluar dan mempersilakan Siangkoan Bi Lian masuk ke dalam.

Setelah mereka berada di ruangan, dalam Hok Seng memperkenalkan Sumoinya kepada Gu Kiat.

"Gu Kiat, ini Sumoiku Siangkoan Bi Lian. Sumoi, saudara Gu Kiat ini dahulu pernah menjadi anak buahku yang setia dan sekarang dia suka membantu kita dan malam ini juga dia akan melakukan penyelidikan tentang perwira itu. Malam ini kita tinggal di sini, lebih aman."

Bi Lian mengerutkan alisnya dan dia menatap tajam wajah tuan rumah.

"Kenapa harus menyelidiki lagi? Asal diberitahu di mana tinggalnya dan kita dapat menyelidiki sendiri."

"Aih, engkau belum tahu, Sumoi. Orang yang kita cari itu ternyata sudah tidak menjadi perwira lagi, dan Gu Kiat ini tidak tahu ke mana dia pergi. Oleh karena itu, malam ini juga dia hendak mencari keterahgan dari kawan-kawannya yang dulu pernah menjadi anak buah perwira tua itu."

"Hemm, begitukah?"

Bi Lian merasa kecewa mendengar berita itu.

"Harap Tan-kongcu dan Siangkoan-siocia (nona Siangkoan) tenangkan hati. Kalau ji-wi (kalian) tinggal di sini malam ini, kiranya lebih aman dari pada kalau tinggal di luar. Dan percayalah, malam ini tentu saya sudah mendapatkan berita tentang perwira itu. Pakailah dua kamar di depan kamar saya, itu memang kamar tamu, dan kalau ji-wi membutuhkan makan minum, kiranya di dapur masih ada persediaan lengkap untuk masak dan membuat air teh. Juga masih ada arak di dalam almari. Silakan, harap ji-wi tidak sungkan."

Hok Seng merasa girang sekali.

"Saudara Gu Kiat, terima kasih. Ternyata engkau seorang sahabat yang baik sekali."

"Sekarang saya harus berangkat sebelum kawan-kawan tidur. Kalau sudah berhasil dengan penyelidikan saya, tentu malam ini juga saya pulang, atau paling lambat besok pagi-pagi. Harap ji-wi tinggal dengan tenang saja."

Dua orang muda itu mengucapkan terima kasih dan Gu Kiat lalu meninggalkan mereka.

Karena keduanya merasa lapar dan mereka tidak berani pergi ke rumah makan, mereka lalu memeriksa dapur dan dengan girang mereka mendapatkan bahan-bahan untuk dimasak.

Maka sibuklah mereka membuat masakan untuk makan malam mel-eka dari bahan-bahan yang ada.

"Ah, di mana-mana orang baik tentu menemukan penolong,"

Kata Hok Seng ketika mereka berdua menghadapi meja dengan makanan dan minuman sederhana.

"Tak kusangka bahwa Gu Kiat demikian mengenal budi, masih ingat akan banyak pertolongan yang kuberikan kepadanya ketika aku masih menjadi komandannya."

Bi Lian hanya tersenyum, lalu berkata lembut.

"Bagaimanapun juga, kita harus berhati-hati, suheng. Di dunia ini, lebih banyak terdapat orang yang busuk dari pada yang baik. Kalau belum terbukti, jangan tergesa-gesa menilai orang."

"Aku yakin bahwa dia orang baik, Sumoi. Apa lagi karena dia berhutang budi kepadaku. Kalau tidak ada aku yang menolongnya, mungkin dahulu dia telah dihukum mati!"

"Ehh? Perbuatan apa yang telah dia lakukan, suheng?"

"Ketika itu dia menjadi anak buah pasukanku, pasukan pegawal istana. Seringkali aku mengganti regu penjaga sebelah dalam istana secara bergiliran. Ketika dia bertugas dalam, dia telah mencuri sebuah guci emas. Perbuatannya itu ketahuan oleh pengawal lainnya. Tentu saja pengawal yang lain itu hendak melaporkan perbuatan itu dan kalau sampai dilaporkan dan didengar oleh kaisar, tentu dia sudah dihukum mati. Dosa besar mencuri barang istana, apa lagi dia bertugas sebagai seorang perajurit pengawal. Aku kasihan kepadanya, lalu aku melarang pengawal yang lain itu melapor, dan menyuruh Gu Kiat mengembalikan guci itu di tempatnya semula. Maka, selamatlah dia dan agaknya dia masih ingat akan budi itu dan sekarang berkesempatan untuk membalas kepadaku."

Bi Lian diam saja.

Ia sendiri tidak begitu perduli tentang budi dan sebagainya.

Sejak kecil, ia telah menjadi murid Pak Kwi Ong dan Tung Hek Kwi, dua orang datuk sesat yang jahat.

Biarpun ia pada dasarnya memiliki watak yang gagah perkasa, bahkan pantang melakukan kejahatan dan menuruti nafsu ingin menyenangkan diri sendiri, namun, kehidupan dalam lingkungan dunia sesat membuat ia bersikap keras, bahkan ganas dan tidak perduli.

Bahkan ia sempat mendapat julukan Tiat-sim Sian-li (Dewi Berhati Besi) karena kekerasan hatinya.

Namun setelah ia kembali berkumpul dengan ayah ibunya, ia menerima gemblengan ilmu dan juga keteguhan batin dari ayah dan ibunya yang sakti.

Bahkan orang tuanya itu menceritakan bahwa ia merupakan keturunan dari para datuk sesat yang pernah menggemparkan dunia persilatan dengan kesaktian dan kejahatan mereka.

Oleh karena itu, ia harus selalu ingat akan hal ini dan menunjukkan kepada dunia bahwa biarpun ia keturunan datuk sesat ia dapat bertindak sebagai seorang pendekar!

Kakek dalamnya, yaitu ayah dari ayahnya, adalah Siangkoan Lojin yang terkenal dengan julukan Si Iblis Buta!

Dan kakek luarnya, ayah dari ibunya, lebih hebat lagi karena kakek itu adalah mendiang Raja Iblis!

Raja Iblis dan isterinya, Ratu Iblis, benar-benar pernah merajai dunia sesat.

Dan ayah ibunya, Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu, pernah pula menjadi orang-orang terhukum di kuil Siauw-lim-si karena dianggap berdosa oleh ketua kuil.

Mereka berdua menerima hukuman ini untuk menebus dosa orang-orang tua mereka!

Perbuatan yang dianggap baik oleh pelakunya, apa lagi dianggap sebagai budi oleh pelakunya, bukanlah perbuatan baik lagi, melainkan suatu cara untuk memperoleh sesuatu.

Kalau kita menolong orang lalu kita menganggap bahwa pertolongan yang kita berikan itu sebagai budi, bukankah itu sama saja dengan menghutangkan sesuatu untuk kelak ditagih dan diharuskan membayar kembali berikut bunganya?

Baik buruk hanya penilaian, dan penilajan selalu didasari kepentingan pribadi.

Kalau segala sesuatu yang kita lakukan didasari cinta kasih, maka tidak ada pamrih lain, tidak ada lagi yang dinamakan budi dan dendam!

Budi maupun dendam hanyalah ikatan, perhitungan untung rugi dari hati akal pikiran yang bergelimang nafsu.

Penyesalan tidak ada gunanya!

Perbuatan yang dilakukan melalui pemikiran, selalu ditunggangi nafsu pementingan diri sendiri karena pikiran adalah si-aku yang sudah bergelimang nafsu.

Yang penting adalah kewaspadaan pengamatan terhadap diri sendiri lahir batin karena pengamatan sepenuhnya tanpa si-aku yang mengamati ini menimbulkan kesadaran.

Tidak mungkin kita mengubah sifat dan watak kita melalui pemikiran, karena pemikiran tak mungkin dapat lepas dari pengaruh nafsu daya rendah.

Setiap orang mudah saja menyadari dan mengetahui bahwa perbuatannya tidak benar, Namun setiap kali memikiran berniat mengubahnya, setiap perbuatan itu diulang dan pikiran yang berniat mengubah tadipun menipis dan lenyap.

Tidak mungkin pikiran dapat mencuci kekotoran perbuatan karena justeru perbuatan itu sudah dikendalikan oleh pikiran, dan pikiran itu bergelimang nafsu.

Bagaimana mungkin mencuci bersih sesuatu yang kotor dengan menggunakan air yang kotor pula?

Yang dapat membersihkan batin, yaitu hati dan akal pikiran, hanyalah kekuatan Tuhan!

Kita yang merasa bergelimang kekotoran, yang sudah dikuasai oleh nafsu daya rendah, hanya tinggal menyerah kepada kekuasaan Tuhan!

Biarkan kekuasaan Tuhan yang mencuci kotoran itu, biarkan kekuasaan Tuhan yang membimbing dan membersihkan batin kita.

Kalau batin sudah bersih, maka terbukalah jendela dan pintu batin kita untuk menerima masuknya sinar cinta kasih.

Kalau sudah begitu, maka setiap perbuatan kita diterangi oleh sinar cinta kasih.

Lalu ke mana perginya nafsu daya rendah?

Tidak pergi!

Masih ada dan masih penting bagi kehidupan kita.

Namun, nafsu daya rendah tidak lagi menjadi majikan, melainkan menjadi alat, menjadi pelayan untuk kepentingan hidup di dunia ini.

Bukan lagi menjadi liar, karena kalau nafsu daya rendah yang memegang kemudi, kita akan disesatkan ke arah pengejaran kesenangan nafsu sehingga menghalalkan segala cara, melakukan segala yang sifatnya merusak dan yang pada umumnya disebut jahat.

Malam itu tidak terjadi sesuatu.

Bi Lian dan Hok Seng menunggu di kamar masing-masing, namun tuan rumah tak kunjung pulang.

Baru pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, ketika mereka berdua sudah menyiram tubuh dengan air dingin dan sudah duduk di luar, muncullah Gu Kiat!

"Bagaimana, saudara Gu Kiat?

Berhasilkah?"

Hok Seng segera menyambutnya dengan pertanyaan yang ingin tahu sekali.

Gu Kiat tersenyum, menarik napas panjang lalu duduk di depan mereka.

"Tiada seorangpun tahu di mana pindah atau perginya bekas perwira itu. Ketika saya sudah putus asa dan menjelang pagi tadi berjalan pulang, di tengah jalan saya bertemu atau dihadang oleh seorang bertopeng hitam..."

"Topeng hitam...?"

Tang Gun berseru kaget.

"Ya, orang itu mengenakan kedok hitam. Dia muncul tiba-tiba dan bertanya mengapa saya mencari bekas perwira Tang Bun An. Karena sikapnya menyeramkan, terpaksa saya berterus terang, mengatakan bahwa kongcu yang mencarinya. Dan si kedok itu lalu menyuruh saya memberitahukan kongcu bahwa dia yang akan dapat menunjukkan kepada kongcu di mana adanya bekas perwira itu."

"Tapi... tapi... siapa dia?"

Tanya Tang Gun, suaranya menunjukkan ketegangan hatinya dan Bi Lian hanya mendengarkan saja dengan sikap tenang.

"Saya juga bertanya demikian, kongcu. Ketika saya bertanya siapa dia, dia hanya mengatakan bahwa dia pernah memberi sekantung emas kepada kongcu dan bahwa kongcu tentu mengenalnya!"

"Pendekar itu...!"

Tang Gun menoleh kepada Bi Lian.

"Sumoi, tentu dia pendekar yang menolongku itu!"

"Mungkin saja."

Kata Bi Lian.

"Akan tetapi bagaimana selanjutnya pertemuanmu dengan si kedok hitam itu?"

Tanyanya kepada Gu Kiat yang terputus ceritanya tadi.

"Oh, ya! Bagaimana selanjutnya, Gu Kiat? Apa yang dipesankan oleh pendekar berkedok hitam itu?"

Tanya Tan Gun.

"Pesannya aneh sekali, kongcu. Dia bilang bahwa kalau kongcu hendak mencari perwira Tang, kongcu harus menemuinya di kuil tua kosong yang berada di sebelah timur pintu gerbang kota. Dan dia pesan agar kongcu datang seorang diri, tidak boleh ditemani siapapun. Kalau kongcu tidak sendirian, dia tidak akan menemui kongcu dan tidak mau membantu lagi."

"Hemm, penuh rahasia orang itu. Mencurigakan juga!"

Kata Bi Lian sambil mengerutkan alisnya.

"Tapi dia... dia pernah menolongku, Sumoi! Tak mungkin sekarang dia hendak menjebak atau mencelakakan aku. Gu Kiat, kapan aku harus menemuinya."

"Sekarang juga, kongcu. Dia bilang jangan terlalu siang karena dia tidak mungkin dapat menanti terlalu lama."

"Sumoi, kalau begitu, aku akan pergi sekarang juga. Kau tunggulah cli sini, Sumoi. Aku takkan lama dan akan segera kembali setelah mendapatkan keterangan."

Bi Lian mengerutkan alisnya, akan tetapi ia berkata.

"Baiklah, suheng. Akan tetapi berhati-hatilah. Aku masih curiga akan sikap aneh orang itu."

"Dia bermaksud baik, Sumoi, hal ini aku yakin. Nah, aku pergi dulu. Kau tunggulah di sini."

Tang Gun atau Tan Hok Seng pergi dan Bi Lian diam-diam memperhatikan sikap tuan rumah.

Akan tetapi Gu Kiat kelihatan biasa saja, dan setelah Hok Seng pergi, dia minta maaf kepada Bi Lian untuk beristirahat di dalam kamarnya karena semalam suntuk dia tidak tidur.

Tak lama kemudian, Bi Lian mendengar dengkurnya dari dalam kamar dan iapun tidak mempunyai alasan untuk mencurigai Gu Kiat.

Akan tetapi, hatinya tetap saja merasa tidak enak.

Ingin ia membayangi suhengnya dan melihat sendiri siapa sebenarnya orang berkedok itu.

Akan tetapi, iapun tidak ingin menggagalkan usaha suhengnya mencari orang yang melakukan fitnah itu pula, kalau si kedok hitam itu berniat jahat, tentu dahulu tidak menolong Hok Seng.

Dengan pikiran ini, hatinya lega dan ia menanti saja di situ.

Sementara itu dengan cepat Hok Seng berjalan keluar kota melalui pintu gerbang timur.

Dia masih menyamar sebagai seorang setengah tua, dan dia dapat keluar dari pintu gerbang dengan mudah.

Dia sudah lama tinggal di kota raja dan tahu kuil tua mana yang dimaksudkan itu.

Diluar pintu gerbang timur terdapat sebuah bukit kecil dan di puncak bukit itulah adanya kuil tua yang sudah lama tidak pernah dipergunakan lagi.

Ke sanalah dia pergi dan setelah berada di tempat yang sepi, dia mengerahkan tenaga dan berlari cepat mendaki bukit.

Kuil tua itu sunyi.

Sepagi itu, belum ada anak-anak penggembala menggiring ternak mereka ke bukit yang banyak padang rumputnya itu.

Tidak nampak kehidupan di dalam atau di luar kuil.

Sunyi saja dan pagi itu langit amat cerah.

Sinar matahari pagi mulai mengusir kegelapan malam, seolah mempersiapkan kebersihan bagi munculnya sang matahari.

Tanpa ragu lagi Tang Gun memasuki kuil, menoleh ke kanan kiri.

Kosong saja di bagian depan kuil itu.

Selagi dia tidak tahu harus mencari di mana dan selagi hendak berseru memanggil, tiba-tiba terdengar suara orang.

"Aku di sini!"

Suara itu datangnya dari belakang.

Tang Gun segera menuju ke belakang dan di ruangan yang luas itu, karena dindingnya sudah runtuh, sehingga bagian belakang itu terbuka, berdiri seorang laki-laki bertubuh tegap dan mengenakan kedok hitam, di tengah ruangan sambil bertolak pinggang.

Tang Gun segera mengenal si kedok hitam yang dulu pernah menolongnya, maka cepat dia maju menghadapi orang itu dan memberi hormat dengan merangkap kedua tangan di depan dada, dan tubuhnya agak membungkuk dengan sikap hormat.

"Selamat berjumpa, Taihiap (pendekar besar)!"

Katanya.

Si kedok hitam itu diam saja, akan tetapi sepasang mata yang mencorong bersinar dari balik kedok, mengamati wajah Tang Gun.

"Hemm, engkau Tang Gun menyamar sebagai seorang tua?"

Suara itu dalam dan berwibawa.

"Maaf, Taihiap. Terpaksa saya menyamar karena khawatir kalau kehadiran saya di kota raja diketahui orang. Saya Tang Gun yang pernah menerima pertolongan Taihiap dan sampai sekarang saya tidak pernah melupakan budi itu."

"Tang Gun, mengapa engkau menyelidiki di mana tinggalnya Tang Bun An? Apa yang kau inginkan dari orang itu?"

"Ah, tentu Taihiap mengerti. Orang itulah yang telah mencelakakan saya, yang membuat saya dihukum. Oleh karena itu, saya hendak mencarinya dan membalas dendam kepadanya. Mohon bantuan Taihiap untuk memberitahu di mana saya dapat menemukan dia!"

"Hemm, dahulu kepandaianmu jauh kalah olehnya. Bagaimana sekarang engkau akan melawannya? Engkau akan kalah lagi!"

"Sekali ini saya tidak takut! Ada Sumoi Siangkoan Bi Lian yang membantu saya dan ia lihai sekali."

Kemudian Tang Gun mendapatkan pikiran yang baik sekali.

"Dan juga ada Taihiap di sini. Taihiap sudah menolong saya, mohon sekali ini suka pula membantu saya menghadapi Tang Bun An yang jahat itu."

"Tang Gun, engkau memang manusia tolol!"

Tiba-tiba orang berkedok hitam itu membentak.

Tentu saja bekas perwira itu terkejut sekali dan terbelalak heran melihat nada suara yang marah itu.

"Engkau memang layak dipukul!"

"Eh... maaf... apa kesalahan saya yang membuat Taihiap tiba-tiba menjadi marah kepada saya?"

"Anak bodoh! Kalau tidak ada Tang Bun An, engkau sekarang tentu sudah mampus!"

Baca Juga: Petualang Asmara 14

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert