Ceritasilat Novel Online

Kemelut Di Majapahit 13

Eps 13 Kemelut Di Majapahit - Kho Ping Hoo

Baca online Kemelut Di Majapahit - Kho Ping Hoo

Cersil Kemelut Di Majapahit - Kho Ping Hoo.

Mereka ini antara lain adalah Sang Resi Mahapati yang mempunyai banyak kaki tangan orang-orang pandai, Tumenggung Singosardulo, dan yang lain-lain.

Biarpun dia masih menjadi patih yang resmi, namun di dalam hatinya, Ki Patih Nambi merasa gelisah dan tidak tenteram.

Juga dia merasa tidak senang, karena memang pada hakekatnya dia tidak suka melihat sepak terjang Sang Prabu Jayanagara semenjak raja ini masih menjadi pangeran mahkota.

Apalagi setelah terjadi peristiwa pembunuhan keponakan isterinya, Dyah Wulandari dan Sarjitowarman.

Hanya karena terpaksa sajalah dia masih menjadi patih, terpaksa karena sudah kepalang tanggung, karena dia adalah seorang senopati yang amat setia kepada Mojopahit.

Apalagi melihat perlakuan Raja Jayanagara terhadap para puteri dari mendiang Prabu Kertarajasa Jayawardhana, yaitu terutama sekali Puteri Tribuwanatunggadewi,dan Puteri Raja Dewi Maharajasa.

Oleh ibu mereka, kedua orang puteri ini ditunangkan dengan pangeran-pangeran dari kerajaan lain yang lebih kecil.

Akan tetapi, dengan cara yang amat kasar Raja Jayanagara telah menentang dan menolaknya!

"Dalam keluarga kerajaan, kepentingan pribadi tidaklah ada lagi, semua harus dilakukan menurut hukum kerajaan!"

Demikianlah antara lain dia berkata, kata-kata yang dihafalnya menurut ajaran para pembesar durna yang membisikinya.

"Karena Ayunda Tribuwanatunggadewi dan Ayunda Rajadewi adalah puteri-puteri dari mendiang Kanjeng Rama, maka mereka adalah keluarga terdekat dari kerajaan, dan urusan jodoh mereka merupakan urusan kerajaan yang harus diputuskan oleh hukum. Dan karena pada saat ini, sayalah yang menjadi raja, maka sayalah pula yang berhak menentukan perjodohan mereka! Oleh karena itu, saya menuntut agar pertunangan di luar kehendak saya itu dibatalkan sekarang juga agar kedua ayunda tidak melanggar hukum kerajaan! Ingat, semua ini kita lakukan demi kepentingan kerajaan, urusan pribadi harus kita singkirkan sejauhnya!"

Alasan yang dikemukakan oleh Raja Jayanagara ini hanya untuk menyelimuti kehendak hatinya yang penuh pamrih.

Pertama, dia memang tidak rela melihat kedua orang ayundanya yang cantik jelita seperti bidadari itu terjatuh ke dalam pelukan pria-pria lain dan dia mengandung maksud untuk memperisteri sendiri mereka itu!

Hal ini bukan hanya karena dia memang haus akan wajah cantik dan tubuh wanita yang indah menggairahkan, akan tetapi juga di baliknya terkandung niat untuk dapat menguasai Mojopahit seluruhnya secara mutlak.

Kalau kedua orang Ayundanya itu menikah dengan pria lain, maka tentu saja terbukalah kemungkinan bagi pihak lain untuk menentang kekuasaannya.

Sebaliknya kalau kedua orang puteri itu tetap berada di dalam kekuasaannya, maka boleh dibilang semua kedaulatan yang berasal dari mendiang Raja Kertanegara berada sepenuhnya di dalam tangannya.

Semua hal ini amat tidak menyenangkan hati Ki Patih Nambi.

Biarpun dia masih tidak mau meninggalkan tugasnya, namun hatinya telah merasa tawar dan dingin,dan hal ini tercermin di wajahnya yang kelihatan tua dan muram selalu.

Kesempatan ini tentu saja tidak disia-siakan oleh Resi Mahapati yang selalu awas akan terbukanya kesempatan baik untuk menumbangkan orang-orang yang dianggap menjadi penghalang bagi kemajuannya.

Kesedihan hatinya karena kehilangan selirnya yang tercinta, kini telah mulai sembuh dan tentu saja tidaklah sukar baginya untuk mencari pengganti wanita-wanita muda lainnya, sungguhpun sampai selama itu belum pernah dia menemukan seorang wanita yang mampu menggantikan Lestari, baik dalam pelayanan di dalam kamar maupun bantuannya dalam mengatur siasat yang amat cerdik dalam segala urusan yang penting.

Maka tentu saja Mahapati merasa kehilangan sekali.

Namun, Resi Mahapati masih merupakan seorang yang amat cerdik dan banyak akal, sungguhpun dia telah kehilangan Lestari, bahkan akhir-akhir ini dia kehilangan Resi Harimurti yang tewas di tangan Sulastri.

Ketika dia melihat sikap Ki Patih Nambi, maka pada suatu hari, menjelang senja, dia mengunjungi Ki Patih Nambi di istana kepatihan.

Mendengar bahwa tamunya adalah Sang Resi Mahapati, biarpun di dalam hatinya dia merasa segan untuk menemui orang yang tak disukanya itu, namun karena dia maklum bahwa kakek itu memiliki kedudukan penting dan menjadi orang kepercayaan Sang Prabu, maka terpaksa Ki Patih Nambi keluar juga menemui tamunya di ruangan tamu.

Setelah mempersilakan tamunya dan minuman dihidangkan oleh pelayan sebagai layaknya orang menerima tamu, Ki Patih Nambi lalu berkata.

"Sungguh merupakan kehormatan besar dan juga merupakan hal yang mengherankan bahwa Paman Resi Mahapati datang mengunjungi saya pada saat ini. Tentu membawa keperluan yang amat penting maka Paman membuang waktu yang amat berharga untuk mengadakan kunjungan ini."

Sang Resi tersenyum lebar.

"Ah, tidak keliru pendapat Andika, Ki Patih. Selain merasa rindu dan ingin bercakap-cakap, juga saya selalu merasa kurang enak hati,tidak nyenyak tidur dan tidak enak makan sebelum hal ini saya sampaikan kepada Andika. Sesungguhnya, sudah lama sekali saya mendengar desas-desus kalau Sang Prabu mengadakan pembicaraan di luar kehadiran Andika. Saya yang ikut mendengarnya merasa kurang enak sekali. Maklumlah, saya dengan Andika merupakan rekan sepekerjaan yang telah bertahun-tahun mengabdi Mojopahit, senasib sependeritaan, berjuang bahu membahu. Kini, mendengar hal-hal yang tidak menyenangkan bagi Andika, tentu saja saya ikut merasa tidak enak maka makin lama urusan ini makin menghimpit hati dan tidak akan membebaskan hati saya sebelum saya sampaikan kepada Andika."

Ki Patih Nambi mengerutkan alisnya.

Dia tidak terlalu mempercaya omongan orang seperti Sang Resi ini, akan tetapi kalau ada persoalan penting tentang Sang Prabu yang hendak disampaikan, tentu saja dia merasa tertarik sekali.

Dia membungkuk sebagai tanda hormat lalu berkata.

"Terima kasih atas kebaikan hati Paman yang masih mengingat akan hubungan sesama rekan. Saya bersedia untuk mendengarkan, berita apakah kiranya yang membuat hati Paman merasa tidak enak itu?"

Sang Resi menarik napas panjang.

"Aihh, bagaimana saya harus menyampaikannya? Hal ini amat pahit bagi pendengaran Andika."

Dengan wajah sungguh-sungguh Ki Patih Nambi menjawab.

"Saya bersiap untuk menerima berita yang paling pahit sekalipun. Berita pahit yang benar jauh lebih berharga daripada berita manis yang palsu, Paman Resi."

"Hemm, Andika benar bijaksana, Ki Patih. Baiklah, saya akan berterus terang saja bahwa dalam beberapa kali persidangan ini, di waktu Andika tidak hadir, Sang Prabu selalu membayangkan rasa tidak sukanya kepada Andika. Saya merasa tidak enak sekali, karena saya tahu betapa Andika adalah seorang yang amat setia, seorang ponggawa yang sudah mengorbankan segala-galanya untuk Mojopahit dan kini,Sang Prabu memperlihatkan sikap tidak menghargai dan kurang terima, bahkan kelihatan kurang suka kepada Andika."

"Paman Resi saya tidak ingin mendengarkan pendapat siapa pun tentang sikap Sang Prabu, kalau Paman memang ingin menyampaikan berita kepada saya, harap suka menyampaikan berita yang nyata saja, bukan pendapat-pendapat yang kosong!"

Jawab Ki Patih Nambi dengan suara tegas. Wajah pendeta itu menjadi merah, akan tetapi dia masih tidak malu-malu untuk tertawa dan berkata.

"Maaf..., maaf, memang berita yang hendak saya sampaikan ini nyata, hanya betapa sukarnya membuka mulut, karena amat tidak enak bagi Andika. Begini, dalam beberapa kali persidangan, dengan terang-terangan Sang Prabu Jayanagara menyatakan bahwa sesungguhnya Beliau terpaksa saja mempertahankan kedudukan Paduka sebagai patih hamangkubumi, bahwa sesngguhnya Beliau tidak ingin lagi melihat Andika membantunya karena Beliau masih merasa tidak senang dengan peristiwa keponakan Andika tempo dulu. Nah, semua itu saya dengar sendiri keluar dari mulut Beliau, maka tidak enaklah hati saya selama ini sebelum saya sampaikan kepada Andika, karena dengan berdiam diri saja saya merasa seolah-olah mengkhianati hubangan persahabatan antara kita."

Merah kedua telinga Ki Patih Nambi dan terasa panas pula mukanya.

Dia bukan tidak percaya kepada omongan Sang Resi Mahapati ini karena memang dia sudah tahu bahwa Sang Prabu tidak suka kepadanya, apalagi semenjak peristiwa kematian Dyah Wulandari itu.

Dia termenung dan sampai Sang Resi Mahapati berpamit, dia masih termenung, hanya mengucapkan beberapa perkataan yang menyatakan terima kasihnya kepada Sang Resi itu.

Dan semalam itu Ki Patih tidak dapat tidur sama sekali.

Ketika isterinya bertanya, dengan terus terang Ki Patih Nambi mengakui akan berita yang didengarnya itu.

"Memang semenjak peristiwa Dyah Wulandari dan Sarjitowarman, antara aku dan Pangeran Kolo Gemet terdapat perasaan yang tidak baik, maka setelah Beliau menjadi raja dan aku terpaksa menjadi patih atas kehendak mendiang Sang Prabu yang sepuh, perasaan itu makin menjadi-jadi. Aku memang sudah mencari jalan untuk mengundurkan diri saja."

Sebagai seorang wanita tentu saja amat mengagungkan kedudukan dan kemuliaan, isteri Ki Patih terkejut dan berkata.

"Akan tetapi, Paduka telah mengerahkan seluruh kemampuan Paduka, seluruh kesetiaan Paduka untuk kerajaan, mana mungkin sekarang Paduka akan melepaskan begitu saja?"

Ki Patih Nambi menarik napas panjang dan memandang langit-langit kamarnya dengan termenung, kemudian dia berkata.

"Kita turun-temurun bersetia kepada keturunan Sang Prabu Kertanegara, bersetia semenjak Mojopahit didirikan! Untuk Mojopahit,aku selalu siap dan rela untuk mengorbankan apapun juga, bahkan nyawaku tak kuragukan demi Mojopahit. Akan tetapi, agaknya Sang Prabu yang sekarang ini hendak menyeleweng dari anggeran yang diutamakan oleh para raja yang bijaksana dari nenek moyangnya. Perlakuannya terhadap para puteri keturunan Sang Prabu Kertanegara sungguh tidak adil, dan sikapnya terhadap para ponggawa yang setia juga tidak semestinya. Beliau terlalu mendengarkan bisikan-bisikan beracun dari para pembesar durna dan penjilat sehingga dengan pimpinan Beliau ini dikhawatirkan Mojopahit akan menghadapi keruntuhannya. Inilah yang menjadikan kedukaan hatiku, dan yang mendorong aku untuk mengundurkan diri saja agar di waktu Mojopahit runtuh, aku bukan lagi bertanggung jawab sebagai seorang nara praja."

Biarpun dihibur oleh isterinya, namun keputusan hati Ki Patih Nambi sudah tetap.

Hanya dia belum dapat menemukan cara bagaimana dia harus mengundurkan diri.

Kalau hanya menghadap Sang Prabu dan terang-terangan mohon berhenti, hal itu juga amat tidak enak dan dapat menimbulkan kesan bahwa dia tidak suka membantu raja yang baru itu.

Akan tetapi secara kebetulan sekali, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali datang utusan dari Lumajang yang mengabarkan bahwa ayah Ki Patih Nambi, yaitu Aryo Pranorojo, sedang menderita sakit keras!

Tentu saja hal ini amat mengejutkan hati Ki Patih Nambi.

Ayahnya memang telah tua dan memang akhir-akhir ini sering kali menderita sakit.

Kini, mendengar bahwa ayahnya menderita sakit keras, pagi hari itu juga Ki Patih Nambi lalu pergi menghadap Sang Prabu Jayanegara, mohon ijin untuk pergi ke Lumajang dan mengunjungi ayahnya yang menderita sakit.

Permohonan ini diijinkan oleh Sang Prabu.

Maka dengan tergesa-gesa Ki Patih dan sekeluarganya berkemas-kemas, lalu bersama-sama keluarganya berangkatlah Ki Patih Nambi menuju ke Lumajang untuk menengok ayahnya yang dikabarkan sakit keras itu.

Dia memang mohon diberi cuti yang agak lama, yaitu satu bulan dari Sang Prabu, selain untuk menengok dan menjaga ayahnya, juga untuk menenteramkan batinnya yang banyak terguncang akhir-akhir ini.

Maka diajaknyalah semua keluarganya sehingga nampaknya Ki Patih Nambi seolah-olah melakukan boyongan.

Sesampainya di dusun Ganding, yaitu di dekat tapal batas antara wilayah Mojopahit dan wilayah Lumajang, dia disambut oleh pasukan Lumajang yang diutus oleh Sang Adipati Lumajang untuk menyambut Ki Patih Nambi dan rombongan Ki Patih Nambi ini dikawal dan diantar sampai ke Lumajang.

Berita ini memang tidak bohong.

Aryo Pronorojo memang sedang menderita sakit keras.

Akan tetapi selain menjaga ayahnya yang sakit dan prihatin melihat keadaan ayahnya, juga Ki Patih Nambi yang sering kali bercengkerama dengan Adipati Lumajang, menuturkan keadaan di Mojopahit dan mereka semua bersepakat bahwa tindakan-tindakan Sang Prabu memang tidak tepat.

"Tidak patutlah kalau Gusti Puteri keturunan Sang Prabu Kertanegara direndahkan seperti itu, dijadikan ratu-ratu di Kahuripan dan Daha seperti boneka saja! Bahkan urusan perjodohan saja hendak ditentukan oleh Sang Prabu Jayanegara yang hanya menjadi adik kedua Beliau itu! Betapapun juga, yang berhak menjadi Ratu di Mojopahit sebetulnya adalah keturunan langsung dari Sang Prabu Kertanegara,bukan keturunan Melayu!"

Adipati Wirorojo berkata dengan muka merah. Kemudian dia melanjutkan.

"Sudah sejak dahulu kita mendengar kelaliman Pangeran Kolo Gemet, akan tetapi karena ketika itu kita memandang muka ayahnya, yaitu Sang Prabu Kertarajasa Jayawardhana yang menjadi junjungan kita bersama, kita hanya menahan diri dan tidak berani menentang. Sekarang, anak Melayu itu telah dinobatkan menjadi Raja Mojopahit, kalau kita tidak turun tangan, Mojopahit akan dibawa kepada keruntuhan! Sang Puteri Tribuwanatunggadewi yang berhak atas Kerajaan Mojopahit, bukan anak Melayu itu."

Pendapat pikiran para bekas Senopati Mojopahit yang berkumpul di Lumajang sama benar dengan pendapat Ki Patih Nambi, maka hatinya makin panas seperti dibakar rasanya.

Dan hati yang panas ini ditimpa kedukaan hebat ketika ayahnya yang menderita sakit itu akhirnya meninggal dunia, hanya beberapa hari setelah dia tiba di Lumajang.

Lumajang berkabung.

Berita tentang kematian Aryo Pronarojo itu terdengar sampai ke Mojopahit.

Atas nasehat Resi Mahapati yang selalu mengikuti peristiwa itu, dan juga para penasehat lainnya, Sang Prabu Jayanagara mengirim utusan ke Lumajang untuk menyatakan berbela sungkawa.

Para utusan ini terdiri dari Resi Mahapati, Pamandana, Lasem, Jaran Lejong dan beberapa orang pembesar lagi.

Kesempatan melayat atas nama Sang Prabu ini dipergunakan oleh Resi Mahapati sebaik-baiknya.

Banyak dia menemui Ki Patih Nambi dan menyebar hasutan-hasutannya,mengatakan bahwa keadaan, kedudukan bahkan keselamatan Ki Patih akan terancam karena Sang Prabu benar-benar masih menaruh dendam karena Dyah Wulandari tidak mau melayani beliau dengan baik, dan bahwa penolakan dara itu dihubungkan dengan sikap memberontak dari Ki Patih sehingga kini Sang Prabu ingin sekali menyingkirkan Ki Patih.

"Oleh karena itu, menurut pendapat saya, jauh lebih aman kalau Andika berada dulu di sini, Ki Patih. Terutama sekali untuk keselamatan para keluarga Andika. Nanti, kalau Sang Prabu sudah mereda kemarahannya, barulah Andika kembali ke Mojopahit". Karena pikirannya sendiri sedang ruwet dan bingung, pula dihimpit kedukaan, lama-kelamaan hasutan-hasutan itu termakan juga oleh hati Ki Patih Nambi yang menjadi makin panas.

"Memang saya belum mempunyai ingatan untuk kembali ke Mojopahit, Paman Resi. Oleh karena itu, sekalian mumpung Paman Resi berada di sini, saya mohon bantuan Paman untuk menyampaikan permohonan saya kepada Sang Prabu agar saya diberi ijin tinggal lebih lama di Lumajang berhubung dengan kematian ayah, sedikitnya sampai seratus hari."

Permintaan ini diterima dengan senang hati oleh Sang Resi.

Akan tetapi, permintaan Ki Patih Nambi itu dipergunakan oleh Sang Resi Mahapati untuk menjalankan siasatnya mengadu domba.

Begitu menghadap Sang Prabu,sepulangnya dari pelayatannya ke Lumajang, dia cepat memberi tahu kepada Sang Prabu bahwa di Lumajang telah dibuat persiapan untuk memberontak!

"Si Nambi itulah biang keladinya, Gusti!"

Antara lain dia berkata sambil menyembah.

"Dialah yang menganjurkan kepada Adipati Lumajang untuk membuat benteng pertahanan, dan dengan alasan kematian Ayahnya dia minta perpanjangan izin tinggal di Lumajang, padahal jelas bahwa dia tidak akan kembali ke Mojopahit. Bahkan hamba sendiri dibujuknya untuk ikut bersekutu dengan mereka!"

Tentu saja Sang Prabu yang masih muda itu marah sekali mendengar pelaporan ini.

"Dan banyak hamba lihat punggawa Mojopahit yang datang melayat ke Lumajang tanpa perkenan Paduka. Mereka itu harus dicurigai karena siapa tahu bahwa mereka itu datang ke Lumajang memang bermaksud untuk bersekutu dengan Si Nambi. Mereka adalah para pengikut ibu-ibu tiri Paduka yang memang sejak dahulu telah mempunyai hati khianat!"

"Keparat! Kalau begitu biar kusuruh tangkap mereka semua!"

Resi Mahapati mengangkat kedua tangannya. Sudah cukuplah siasatnya untuk membakar hati Sang Prabu.

"Harap Paduka bersabar, Gusti. Saat sekarang ini,sebaiknya kalau Paduka mengerahkan segenap perhatian, tenaga dan pikiran untuk menghadapi Lumajang. Urusan dalam negeri adalah urusan kecil dan biarlah hamba dan para pembantu hamba selalu memperhatikan gerak-gerik mereka dan turun tangan kalau perlu. Paduka percayalah kepada kesetiaan hamba."

"Lalu bagaimana baiknya, Paman Resi? Apakah kita membuat pertahanan dan menanti datangnya penyerbuan dari Lumajang?"

"Oooo, keliru, Gusti. Siasat menanti musuh menggempur merupakan siasat yang lemah dan tidak menunjukkan kewibawaan Paduka. Sudah jelas bahwa pihak Lumajang adalah pihak kawula dari Mojopahit. Semenjak dahulu, adipatinya tidak pernah datang menghadap ke Lumajang, hal itu saja sudah cukup menjadi alasan menggempur Lumajang dengan tuduhan memberontak. Apalagi sekarang Si Nambi berada di sana dan mengobarkan pemberontakan. Tidak, Paduka harus lebih dulu turun tangan, Gusti. Harap persiapkan semua senopati dan hamba yang sanggup untuk mengatur siasat agar Lumajang dapat dibumihanguskan dan ditundukkan dengan mudah". Sang Prabu menjadi girang sekali. Segera semua senopati dipanggil, persidangan darurat diadakan dan dibentuk serta disusunlah komandan-komandan pasukan yang kesemuanya diperbantukan kepada Resi Mahapati. Mulailah Resi Mahapati menjalankan peranannya yang penting di dalam pemerintahan raja yang masih muda ini. Persiapan-persiapan dilakukan dengan cepat dan siasat perang telah diatur. Tentu saja berita ini segera dapat ditangkap oleh para mata-mata Lumajang dan oleh mereka yang dalam hatinya memang condong kepada Lumajang. Juga mata-mata yang setia dari para puteri keturunan Sang Prabu Kertanegara tidak tinggal diam,cepat melaporkan kepada junjungan masing-masing yang di lain pihak juga mengutus kepercayaan mereka ke Lumajang untuk memberi kabar kepada Adipati Lumajang. Maka dalam waktu singkat, pihak Lumajang sudah mendengar bahwa Mojopahit telah siap untuk menyerbu Lumajang! Tentu saja mereka terkejut dan cepat membuat persiapan perang pula. Awan gelap yang berkumpul di atas Mojopahit kini berkumpul ke timur, ke atas Lumajang dan sebentar lagi hujan berupa perang saudara pasti akan pecah pula! Geger tentang persiapan perang yang akan terjadi antara Mojopahit dan Lumajang juga menggemparkan Puger. Sang Adipati di Puger tentu saja membela Lumajang. Begitu mendengar akan kegawatan keadaan, bahwa Lumajang akan diserang oleh Mojopahit, Sang Adipati sudah mempersiapkan pasukan dan dia lalu mengutus Pragalbo untuk memimpin pasukan ini dan membawa pasukan ke Lumajang untuk membantu Lumajang menghadapi penyerbuan dari Mojopahit. Mendengar ini, segera Joko Handoko juga mengajukan diri untuk memimpin pasukan, bahkan Sulastri juga segera mengajukan diri untuk membela Lumajang. Tentu saja Joko Handoko dan Sulastri tidak dapat membiarkan Lumajang diserang Mojopahit tanpa membantu, mengingat betapa baiknya Adiapti Lumajang terhadap mereka. Yang serba bingung adalah Sutejo. Pemuda ini sebetulnya ingin menjauhkan diri dari segala pertikaian. Dia teringat akan nasehat eyang gurunya dan dia ingin sekali pergi meninggalkan semua itu,hidup dengan tenang dan damai di lereng Gunung Kawi bersama eyang gurunya,menjauhkan diri dari segala keributan dan permusuhan. Akan tetapi betapapun juga,hatinya tidak dapat meninggalkan Sulastri! Dia tahu bahwa Sulastri masih mencinta dia, dan dia pun mencinta Sulastri, akan tetapi mereka tidak mungkin dapat melanjutkan cinta kasih mereka itu mengingat betapa Sulastri telah menjadi isteri Joko Handoko. Padahal dia pun tahu bahwa hubungan antara Sulastri dan Joko Handoko sama sekali tidak ada, yang ada hanya nama mereka sebagai suami isteri saja. Jadi serba salah dan serba membingungkanlah keadaannya di Puger itu. Ketika dia mengambil keputusan untuk pergi hari itu dengan hati berat, tiba-tiba saja terdengar berita tentang perang yang akan meletus antara Mojopahit dan Lumajang. Joko Handoko, Sulastri dan Sutejo bercakap-cakap di dalam taman. Mereka bertiga sengaja mengadakan pertemuan itu tanpa diketahui orang lain. Wajah Joko Handoko kurus dan masih pucat, sinar matanya layu dan mukanya muram. Semua orang menduga bahwa pria muda ini tentu masih berkabung dan berduka karena kematian adiknya. Memang hal ini ada benarnya juga, akan tetapi kedukaan tentang kematian adiknya ini menjadi makin berat terasa olehnya melihat keadaan isterinya, Sulastri dan Sutejo. Dia sengaja menemui Sulastri dan dengan terang-terangan dia menyatakan kerelaannya kalau Sulastri "kembali"

Kepada Sutejo. Malam itu dia sengaja menemui Sulastri dan mengajak wanita ini bicara empat mata.

"Diajeng, harap kau suka memaafkan kalau kata-kataku menyinggungmu. Akan tetapi aku bicara dari balik lubuk hatiku. Aku tahu bahwa semenjak dahulu Diajeng selalu mencinta Dimas Sutejo dan selalu mengharapkan akan dapat bertemu dengan dia. Dan sekarang, dengan cara yang amat aneh, agaknya Hyang Widhi Wasesa telah mengabulkan harapan Diajeng dan Diajeng telah dapat bertemu dan berkumpul kembali dengan Dimas Sutejo. Oleh karena itu, Diajeng Sulastri, aku masih selalu memegang teguh janji kita dan aku selalu memberi kesempatan kepadamu untuk bersatu kembali dengan Dimas Sutejo. Aku merelakan Diajeng untuk pergi dan berjodoh dengan Dimas Sutejo..."

Bukan main terharu rasa hati Sulastri mendengar ucapan Joko Handoko itu yang dikeluarkan dengan suara gemetar.

Saking terharunya, dia memegang kedua tangan pemuda itu dan menekan jari-jari tangan itu dengan lembut, lalu dilepaskan tangan itu dan dia pun berkata.

"Kakangmas Handoko, betapa mulia hatimu, Kakangmas. Ah, kalau kuingat, betapa mulia engkau dan betapa tak kenal budi adanya aku ini. Dan sampai sekarang... ah, entah bagaimana, belum juga ada kata sepakat antara aku dan Kakang Tejo. Entahlah, apa akan jadinya dengan kami nanti..."

Joko Handoko terkejut dan memandang penuh perhatian.

"Mengapa, Diajeng...?"

Dia bertanya penuh perhatian. Sulastri menggeleng kepalanya.

"Jangan tanyakan hal itu, Kakangmas Handoko. Jangan tanyakan hal itu...!"

Dan hanya sekianlah percakapan antara mereka karena Sulastri segera meninggalkannya dan Joko Handoko tahu betul bahwa "isterinya"

Itu pergi meninggalkannya sambil menangis.

Demikianlah, sejak malam itu, Joko Handoko mengandung kedukaan besar, bukan hanya duka karena kematian adiknya, melainkan juga duka memikirkan keadaan Sulastri.

Dia tadinya menghibur diri bahwa dia akan merasa ringan hatinya kalau melihat Sulastri hidup bahagia di samping Sutejo.

Akan tetapi, ternyata harapannya itu kosong belaka dan kini dia melihat Sutejo dan Sulastri tetap kelihatan murung dan berduka.

Sebagai seorang yang cerdas, dia lalu mengerti bahwa tentu kehadirannya yang menjadi sebab.

Dia mengenal Sutejo sebagai seorang satria sejati, maka sudah tentu Sutejo tidak akan mau merampas Sulastri yang telah menjadi isterinya!

Sungguhpun dia percaya bahwa Sulastri tentu telah menceritakan keadaan mereka sebagai suami isteri pura-pura itu.

"Dimas Sutejo,"

Demikianlah katanya ketika mereka bertiga mengadakan pertemuan setelah terdengar berita menggegerkan bahwa Lumajang akan diserang oleh Mojopahit.

"Kita telah mendengar akan ancaman Mojopahit terhadap Lumajang. Karena Lumajang merupakan tempat yang telah menampung kami sekeluarga, dan aku telah banyak berhutang budi kepada Adipati Lumajang, pila mengingat bahwa Mojopahit dipimpin oleh orang-orang yang lalim, dan betapa semenjak kematian Sang Prabu sepuh maka kini Mojopahit berada dalam kekuasaan orang-orang Melayu, maka sudah semestinya kalau aku ikut pula berjuang membela Lumajang."

Dia berhenti sebentar dan kesempatan ini dipergunakan oleh Sulastri untuk berkata pula.

"Aku pun harus membantu Lumajang dan menghadapi musuh-musuh besarku, orang-orang lalim yang berkuasa di Mojopahit!"

Melihat Sutejo diam saja, Joko Handoko berkata.

"Kami tentu saja tidak dapat mengharapkan Adimas Sutejo untuk ikut berperang, mengingat bahwa Adimas pernah membantu Mojopahit dan Adimas mempunyai kakak perempuan yang...."

"Cukuplah, Kakangmas Handoko. Aku telah menerima nasihat Eyang Guru, aku tidak mau lagi melibatkan diriku dalam perang antara siapapun juga. Aku sudah bosan dengan semua permusuhan ini, dengan semua kekerasan ini karena kekerasan yang kita lakukan hanya akan menimpa diri kita sendiri. Aku tidak akan mencampuri perang, Kakangmas. Dan tentang Diajeng Sulastri... jika boleh aku nasehatkan,apakah tidak lebih baik kalau Diajeng juga tidak mencampuri perang?"

Sulastri menggeleng kepala.

"Tidak mungkin, Kakang Tejo. Engkau tentu tahu sendiri akan riwayatku. Guruku yang pertama, Adipati Ronggo Lawe, tewas, oleh Mojopahit, kemudian Guruku yang ke dua, Ki Jembros, tewas pula oleh Mojopahit, bahkan Guruku yang ke tiga, Eyang Empu Supamandrangi, tewas pula oleh Mojopahit. Mereka semua adalah orang-orang yang kucinta, Kakang, dan mereka semua tewas oleh ulah orang-orang lalim yang kebetulan berkuasa di Mojopahit. Aku bukan membenci Mojopahit, melainkan orang-orang lalim yang menguasainya. Aku sudah membantu sampai keris pusaka Kolonadah terjatuh ke tangan yang berhak, yaitu Gusti Puteri Tribuwanatunggadewi. Kalau Beliau kelak yang menjadi Ratu di Mojopahit, barulah aku akan mencuci tagan. Akan tetapi sekarang, tidak, Kakang, aku harus membantu Lumajang."

Sutejo menghela napas panjang.

"Kalau begitu, aku akan ke Mojopahit, bukan untuk membantu Mojopahit berperang, melainkan untuk menengok Mbakayu Lestari, kemudian aku akan pergi ke Kawi mencari Eyang Guru. Sekali lagi, Diajeng Sulastri, apakah tidak lebih baik kalau engkau tidak ikut perang?"

Tiba-tiba Sulastri bangkit dan memandang pemuda itu dengan sinar mata tajam,kemudian dengan kepala dan dada terangkat dia bertanya terang-terangan di depan "suaminya"

Kepada Sutejo.

"Dan kau akan mengajak aku pergi bersama ke Kawi?"

Sutejo bangkit dan undur selangkah, mukanya berubah merah sekali dan dia menoleh kepada Joko Handoko yang hanya menunduk.

Sutejo merasa tidak enak sekali mendengar betapa Sulastri berani bicara tentang hal itu demikan terang-terangan di depan Joko Handoko.

"Ahh... tentang itu... tidak mungkin... Diajeng..."

Kini Joko Handoko dan Sutejo saling pandang, kemudian Sutejo menarik napas panjang dan duduk kembali. Sampai lama keduanya hanya diam saja, ditelan keheningan yang menyelimuti hati masing-masing.

"Dimas Sutejo, apakah... apakah yang terjadi antara Dimas dan Sulastri...?"

Akhirnya Joko Handoko bertanya. Sutejo terkejut, mengangkat muka memandang.

"Apa yang terjadi? Tidak apa-apa, Kakangmas Handoko. Seperti kau dengar sendiri, aku hanya mencegah dia ikut perang akan tetapi dia tidak mau, memang sejak dahulu hatinya keras sekali."

"Akan tetapi dia amat berbudi, Dimas, biarpun keras akan tetapi dia selalu membela kebenaran, setia, dan gagah perkasa!"

"Ya, mungkin benar, hanya dia keras hati dan keras kepala, tidak pernah mau menurut kata-kata orang..."

Sutejo menghela napas panjang, lalu tersenyum, senyum masam kepada Joko Handoko.

"Tidak pernah ada kecocokan antara dia dan aku, Kakangmas. Mungkin aku terlalu bodoh, atau aku pun keras hati. Betapapun juga, dia adalah isterimu, Kakangmas..."

"Dimas Sutejo! Kita berdua tahu apa artinya ikatan suami isteri antara kami yang hanya pura-pura itu. Dan engkau sudah datang, Dimas. Engkaulah yang ditunggu-tunggunya selama ini. Kalau aku menjadi penghalang...!"

Tiba-tiba Sutejo memegang tangannya.

"Jangan mengira yang bukan-bukan, Kakangmas! Jangan mengira bahwa aku Sutejo adalah seorang yang hanya memikirkan diri pribadi belaka! Tidak! Aku tahu jalan pikiranmu. Engkau agaknya akan rela mengorbankan diri, akan sengaja berlaku nekat agar engkau tewas dalam perang ini, bukan?"

Bukan main kagetnya hati Joko Handoko. Mukanya seketika menjadi pucat dan dia meloncat berdiri.

"Kau... kau tahu?"

Sutejo kembali memegang lengannya dan mengajaknya duduk kembali.

"Aku dapat menduga dengan melihat sinar matamu, Kakangmas Handoko. Aihhh... apa saja yang takkan dilakukan orang demi cinta kasihnya! Aku tahu bahwa engkau sengaja akan menghilang agar Sulastri dapat kembali kepadaku. Akan tetapi, kalau engkau sengaja membunuh diri seperti itu, Kakangmas, engkau akan membuat kami berdua menjadi manusia-manusia yang serendah-rendahnya, sehina-hinanya kalau kami bersenang-senang di atas mayatmu, di atas kematianmu. Oleh karena itu, jangan melakukan hal yang bukan-bukan...."

Joko Handoko memandang wajah pemuda di depannya itu dengan mata terbelalak dan sinar mata bingung. Sungguh dia tidak mengerti.

"Akan tetapi... kalau begitu, hubunganmu dengan dia... menjadi terhalang dan aku ingin melihat dia berbahagia, Adimas."

"Justeru kebahagian datang secara wajar, tidak mungkin dapat dibuat atau dipaksakan, Kakangmas. Biarkanlah segala hal berjalan sewajarnya. Aku sekarang mulai melihat bahwa selama ini kita semua hanya mengingatkan diri pribadi belaka, hanya ingin mendapatkan kesenangan lahir batin untuk diri sendiri, sehingga semua yang kita lakukan adalah untuk menaruh diri sendiri di tempat yang benar dan tinggi. Biarkanlah segala sesuatu berkembang sewajarnya dan nanti kita sama-sama lihat bagaimana kesudahannya, Kakangmas. Sekarang aku akan pergi, menengok Mbakayuku di Mojopahit."

"Akan tetapi... ingatlah Sulastri, Adimas Sutejo!"

"Siapa yang tidak ingat kepadanya? Aku cinta kepadanya, seperti juga engkau mencintanya, Kakangmas Handoko. Dan pesanku, jangan melakukan hal yang bukan-bukan!"

Setelah berkata demikian, Sutejo lalu meninggalkan Joko Handoko yang masih nampak bingung.

Joko Handoko adalah seorang yang benar-benar menaruh cinta kasih kepada Sulastri, isterinya yang sesungguhnya hanya menjadi isteri sebutan saja itu.

Dia rela berkorban apapun juga, rela melakukan apapun juga, bahkan tidak memperdulikan perasaan hatinya sendiri yang sakit demi untuk kebahagiaan wanita itu.

Rasa kehilangan di hatinya kalau dia sampai berpisah dari Sulastri tentu akan terobati kalau mengingat bahwa wanita itu hidup berbahagia di samping Sutejo,pria yang menjadi pujaan hati Sulastri.

Akan tetapi, kini dia melihat betapa hubungan antara Sulastri dan Sutejo merenggang, bahkan terdapat pertentangan pendapat antara keduanya itu.

Dia tahu bahwa hal itu mendatangkan duka dalam hati Sulastri dan juga dalam hati Sutejo.

Dia tadinya rela untuk mengorbankan diri saja, karena dialah yang agaknya menjadi hambatan atau halangan bagi bersatunya kedua orang yang saling mencinta itu.

Bahkan dia sudah mengambil keputusan untuk mati saja, seperti adik kandungnya, dan dengan kematiannya itu dia merasa yakin bahwa penghalang bagi bersatunya Sutejo dan Sulastri sudah hilang.

Akan tetapi, kiranya Sutejo, pemuda yang luar biasa itu, telah mengetahui rencana hatinya untuk tewas saja dalam perang!

Bahkan pemuda itu berpesan agar dia jangan melakukan rencana yang nekat untuk mengorbankan nyawa demi kebahagian Sulastri.

Maka bingunglah pemuda ini setelah Sutejo pergi.

Dia tidak dapat menyalahkan mereka, karena dia melihat kebenaran dalam pendapat mereka masing-masing.

Sutejo yang hendak menjauhkan diri dari perang tidak dapat dipersalahkan karena memang perang merupakan suatu hal yang amat buruk, bahkan terkutuk sekali karena dalam perang manusia menjadi lebih buas daripada binatang yang paling buas, haus darah akan tetapi kalau binatang haus darah terdorong oleh lapar atau menyelamatkan diri dari maut, adalah manusia haus darah karena terdorong oleh kebencian dan dendam, oleh nafsu membunuh!

Sebaliknya dia pun tidak dapat menyalahkan isterinya.

Sulastri ingin terjun ke dalam perang menghadapi para pembesar lalim di Mojopahit yang telah membunuh guru-gurunya,dan juga untuk membela Lumajang yang telah melimpahkan banyak kebaikan kepadanya.

Akhirnya Joko Handoko yang bingung memikirkan bagaimana agar Sulastri dapat berbahagia itu lalu mencari isterinya, mendapatkan Sulastri sedang rebah menelungkup di atas pembaringan di dalam kamarnya, sedang menangis lirih tanpa mengeluarkan suara, hanya tubuhnya saja kadang-kadang terguncang oleh isak.

"Diajeng...."

Tegurnya halus.

Sulastri bangkit lalu duduk di tepi pembaringan menghadapi suaminya.

Wajahnya pucat dan matanya merah, bantal di mana tadi dia menelungkupkan mukanya sudah basah, bahkan kedua pipinya yang pucat masih basah air mata.

Joko Handoko merasa terharu dan kasihan sekali.

"Boleh aku duduk untuk bicara denganmu, Diajeng?"

Belum pernah selama menjadi suami Sulastri, pemuda ini memasuki kamar Sulastri yang tadinya ditempati oleh isterinya itu berdua dengan Roro Kartiko.

Dan baru sekarang dia memasuki kamar itu dan mendengar betapa suaminya minta diijinkan duduk, Sulastri merasa terharu juga.

"Tentu boleh, duduklah, Kakangmas..."

Kata Sulastri sambil menghapus air matanya dan memandang kepada suaminya itu.

Sejenak mereka saling berpandangan.

Hampir sama pandang mata mereka itu.

Joko Handoko memandang penuh rasa kasihan, dan sebaliknya Sulastri memandang suaminya dengan perasaan kasihan dan tidak enak.

Dia merasa betapa suaminya itu mengalami banyak kepahitan dan tekanan batin karena dia.

"Diajeng Sulastri, baru saja Adimas Sutejo telah pergi, katanya hendak menengok Mbakayunya di Mojopahit."

"Biarlah, biar dia membantu Mojopahit sekali agar kami dapat saling berhadapan sebagai lawan dan musuh!"

Mendengar suara isterinya itu mengandung penasaran dan kemarahan, Joko Handoko menarik napas panjang.

"Diajeng, harap kau suka berpikir panjang dan jangan terburu nafsu. Aku dapat mengerti akan pandangan Dimas Sutejo. Dia melihat kesia-siaan perang yang hanya merupakan bunuh-membunuh antara sesama manusia belaka, karena itu maka dia hendak mengundurkan diri dan menjauhi perang."

Sulastri bersungut-sungut.

"Kalau dia ingin begitu, biarlah!"

Joko Handoko menarik napas panjang.

Betapa dia amat mengenal watak isterinya ini!

Segala isi hati dan gerak-gerik pikiran Sulastri seperti telah berada di telapak tangannya!

Dia mengenal betul semua pandangan hidup isterinya ini yang berwatak gagah perkasa, seorang satria wanita yang amat hebat!

"Diajeng, aku tahu benar betapa Dimas Sutejo amat mencintamu, dan aku tahu pula betapa Diajeng juga...

selalu mencinta Dimas Sutejo.

Oleh karena itu, mengapa kalian berdua tidak dapat saling mengalah?

Mengapa...."

"Kakangmas Joko Handoko! Engkau tentu telah mendengar sendiri ketika aku bicara dengan Kakang Tejo. Ketika dia membujuk agar aku tidak ikut perang, aku minta ketegasan darinya apakah dia mau mengajakku ikut ke Gunung Kawi bersamanya dan apakah jawabannya? Dia menolak! Nah, apalagi yang harus kuperbuat? Tak mungkin aku merengek-rengek mengharapkan... kasihan dan cintanya...!"

Sulastri kembali menangis.

"Ahhh... semua karena aku!"

Joko Handoko berkata dengan hati pedih.

"Diajeng, tidak tahukah engkau bahwa jawaban Dimas Sutejo itu membuktikan kebesaran hatinya? Sudah tentu dia tidak mungkin mengajakmu, mengingat bahwa engkau... menurut pendapat umum... adalah isteri orang lain! Kalau... kalau aku sudah tidak ada...."

"Kakangmas Joko...!"

Sulastri berseru dan menurunkan kedua tangan dari depan mukanya, memandang kepada "suaminya"

Itu dengan mata terbelalak penuh kengerian. Joko Handoko tersenyum dan menggeleng kepala sambil menarik napas panjang.

"Jangan salah sangka, Diajeng. Memang terus terang saja, tadinya timbul dalam pikiranku suatu keinginan gila, yaitu bahwa aku sengaja akan maju perang sampai mati, agar aku tewas dalam perang sehingga engkau dapat bebas dan tidak ada penghalang lagi antara engkau dan Dimas Sutejo...."

"Kakangmas...!"

Kembali Sulastri berseru kaget.

"Jangan khawatir, Diajeng. Keinginan gila itu sebelum terlaksana, bahkan sebelum ada yang mendengar dari mulutku, ternyata telah diketahui oleh Dimas Sutejo yang arif bijaksana! Dia telah dapat mengetahuinya dan menegurku sehingga dia telah mengusir pikiran yang bukan-bukan itu dari dalam kepalaku. Maka nampaklah kemungkinan lain daripada ingatan gila itu. Kalau kita lebih dulu bercerai dalam keadaan hidup, bukankah ini juga berarti bahwa engkau telah bebas dari ikatan pernikahan dengan aku, Diajeng? Dan aku rela untuk membebaskanmu dari ikatan itu agar..."

"Sudahlah, Kakangmas, jangan perpanjang lagi urusan itu. Ucapanmu hanya menambah bingung hatiku saja."

"Akan tetapi, aku tidak mau melihat engkau menderita, Diajeng... aku... aku..."

Sulastri memandang kepada suaminya itu melalui air mata yang mengembang di pelupuk matanya.

Betapa mulianya pria yang menjadi suami pura-pura ini!

"Kakangmas Joko Handoko, terima kasih atas segala budi kebaikanmu itu..., ah, entah bagaimana dan kapan aku dapat membalas segala budi kebaikanmu kepadaku.

Akan tetapi, sudahlah, jangan kita singgung lagi soal antara aku dan Kakangmas Tejo, biarlah terserah kepada kehendak Hyang Agung saja bagaimana nanti jadinya dengan kami...."

Ketika Joko Handoko hendak membantah lagi, tiba-tiba datang seorang pengawal yang menyampaikan berita bahwa suami isteri itu dipanggil menghadap oleh Sang Adipati.

Mendengar panggilan ayah angkatnya, Joko Handoko lalu cepat pergi menghadap bersama Sulastri.

Sang Adipati di Puger ternyata telah mendengar tentang persiapan perang di Lumajang dan untuk membantu Lumajang itulah maka dia dipanggil putera angkatnya dan mantunya.

"Agaknya perang sewaktu-waktu dapat meletus antara Lumajang dan Mojopahit,"

Kata Sang Prabu Bandardento kepada mantu dan puteranya.

"Oleh karena itu, sebaiknya kalau kalian berdua sekarang juga pergi ke Lumajang membawa pasukan dan menghadap Sang Adipati di Lumajang, menyampaikan salam hormatku dan menyerahkan pasukan sebagai bantuan dari Puger untuk Lumajang,"

Demikian antara lain pesan Sang Adipati itu.

"Kelak kalau perang sudah meletus, aku sendiri akan memimpin sisa pasukan untuk membantu."

"Baik, Kanjeng Romo. Memang hamba berdua sudah bersiap-siap,"

Jawab Joko Handoko.

Demikianlah, pada keesokan harinya pagi-pagi sekali, berangkatlah Joko Handoko dan Sulastri, memimpin pasukan dari Puger menuju ke Lumajang untuk membantu Lumajang menghadapi ancaman Mojopahit.

Kedatangan suami isteri ini disambut dengan gembira dan hormat oleh Sang Adipati di Lumajang dan mereka berdua langsung dipersilakan menghadap ke ruangan persidangan di mana Sang Adipati sedang berunding dengan semua senopatinya.

Joko Handoko dan Sulastri memasuki ruangan itu dan disambut oleh Sang Adipati dan semua senopati Lumajang yang kagum akan kesaktian dara perkasa yang sudah banyak berjasa terhadap Lumajang ini.

Akan tetapi berkerutlah alis yang hitam kecil di atas sepasang mata yang memandang marah ketika Sulastri melihat kehadiran Ki Patih Nambi di dalam ruangan itu.

Ki Patih Nambi juga merasa akan pandang mata yang mengandung kemarahan itu.

Dia tidak tahu mengapa dara ini marah kepadanya.

Sebelum Sulastri memasuki ruangan itu, dia mendengar dari para senopati bahwa Sulastri adalah mantu Adipati Puger yang amat sakti dan gagah, yang sudah banyak jasanya terhadap Lumajang karena pernah menjadi tokoh Lumajang.

Dan Patih ini merasa tidak pernah bertemu muka dengan Sulastri, maka tentu saja pandangan marah yang ditujukan kepadanya oleh sepasang mata yang jeli itu membuat dia terheran-heran.

Juga para senopati lain yang melihat betapa Sulastri memandang kepada Ki Patih Nambi dengan alis berkerut dan mata marah itu menjadi heran.

Suasana di dalam ruangan itu menjadi sunyi dan tegang.

Biar tidak ada seorang pun yang mengeluarkan suara, namun suasana yang tegang mencekam itu menyatakan kepada Sulastri bahwa sikap dan kemarahannya diketahui oleh semua orang.

Maka dia pun lalu bertanya kepada Sang Adipati Wirorojo.

"Mohon maaf kalau hamba bertanya kepada Paduka apakah persidangan ini untuk membicarakan tentang kemunafikan dan kelaliman para pembesar Mojopahit yang mengancam keselamatan Lumajang, Paman Adipati?"

Adipati Lumajang tersenyum dan mengangguk-angguk.

"Benar Sulastri."

"Akan tetapi hamba melihat hadirnya seorang pembesar Mojopahit di sini, seorang pembesar yang paling menonjol dalam wataknya yang sewenang-wenang di Mojopahit dan kehadirannya di sini sudah pasti tidak akan membawa kebaikan untuk Lumajang"

Semua orang terkejut dan Sang Adipati yang tua itu pun tersenyum maklum.

Dia sudah dapat menduga yang dimaksudkan oleh dara perkasa yang keras hati itu,namun dia tidak mau menyatakan ini, bahkan bertanya.

"Sulastri, apakah yang Andika maksudkan?"

"Kiranya Paman Adipati sendiri tentu sudah maklum. Lupakah Paman akan kematian mendiang Adipati Ronggo Lawe ketika Beliau memberontak terhadap Mojopahit karena kelaliman pembesar Mojopahit? Justru biang keladi pemberontakan yang mengakibatkan gugurnya putera Paduka itu kini berada di sini dan hendak ikut berbincang tentang perlawanan kita terhadap Mojopahit! Bukankah hal ini amat ganjil?"

"Ah, kiranya yang kaumaksudkan adalah kematian mendiang puteraku Ronggo Lawe dan kehadiran Ki Patih Nambi ini. Begitukah?"

Sang Adipati bertanya dan semua orang mendengarkan dengan hati penuh diliputi ketegangan.

"Maaf, Paman Adipati. Biarlah saya yang menjawab persoalan itu dan menghadapi Puteri perkasa ini!"

Tiba-tiba Ki Patih Nambi memotong ucapan Sang Adipati.

Sang Adipati tersenyum, mengangguk dan Ki Patih Nambi lalu memutar tubuhnya menghadapi Sulastri yang memandang kepadanya dengan sinar mata penuh kebencian.

"Maafkan, lebih dulu saya ingin bertanya, apakah gerangan hubungan Andika dengan mendiang Kakang Ronggo Lawe sehingga Andika merasa penasaran dan sakit hati atas kematiannya?"

Dengan sinar mata masih bernyala marah, Sulastri menjawab sambil menekan perasaannya, karena di depan Sang Adipati dan para senopati Lumajang, di dalam persidangan agung itu, tentu saja dia tidak berani bersikap kasar.

"Ki Patih Nambi, ketahuilah bahwa mendiang Adipati Ronggo Lawe adalah Guruku. Semua orang tahu belaka bahwa pemberontakan Beliau adalah karena Andika, dan kematian Beliau juga membawa kematian Mbakayuku yang berbela pati. Oleh karena itu, kematian Adipati Ronggo Lawe dan Mbakayuku berada di tanganmu!"

Ki Patih Nambi menghela napas panjang dan mengangguk-angguk.

"Begitulah keadaan perang, selalu membawa korban. Akan tetapi kalau ada pihak yang lalim dan tersesat, bagaimana kita mungkin dapat menghindarkan perang?"

Ucapan ini dikeluarkan dari mulutnya sambil menunduk, seolah-olah bicara kepada diri sendiri.

Kemudian Ki Patih Nambi mengangkat muka memandang kepada Sulastri dan suaranya terdengar penuh wibawa ketika dia berkata.

"Kematian Kakang Ronggo Lawe adalah karena kesalahannya sendiri karena dia telah berani memberontak terhadap mendiang Sang Prabu Kertarajasa yang sama-sama kita hormati dan cinta. Ketika itu, saya sebagai seorang senopati Mojopahit tentu saja menentang siapa pun juga yang memberontak terhadap Mojopahit. Bahkan Paman Wirorojo sendiri, sebagai ayah kandung Kakang Ronggo Lawe, juga melihat kekeliruan tindak dari Kakang Ronggo Lawe maka beliau tidak mau mencampuri. Memang semua orang tahu bahwa Kakang Ronggo Lawe marah dan memberontak terhadap Sang Prabu Kertarajasa oleh karena saya diangkat menjadi patih, akan tetapi apakah hal itu dapat dipersalahkan kepada saya?"

Sulastri mengerutkan alisnya dan berkata dengan nada mengejek.

"Kalau Andika benar merupakan seorang ponggawa yang sedemikian setianya terhadap Mojopahit, mengapa saat ini Andika berada di sini bersama-sama merundingkan pemberontakan terhadap Mojopahit?"

Pertanyaan ini luar biasa keras dan tajamnya sehingga semua orang terkejut memandang ke arah Ki Patih Nambi. Akan tetapi Ki Patih Nambi hanya tersenyum pahit, lalu menjawab.

"Wahai puteri yang gagah perkasa! Agaknya Andika memang belum mengerti benar akan duduknya perkara. Ketahuilah bahwa seluruh senopati Mojopahit adalah satria-satria utama yang tidak ragu sedetikpun juga untuk membela keturunan Sang Prabu Kertanegara dengan taruhan nyawa! Mojopahit dibangun oleh Sang Prabu Kertarajasa semenjak Beliau masih kami sebut sebagai Raden Wijaya! Kepada Beliau kami setia sampai mati, dan karena itulah maka ketika Kakang Ronggo Lawe memberontak terhadap Beliau, kami semua menentangnya. Akan tetapi sekarang? Andika bertanya mengapa kita semua kini hendak memberontak? Kami bukan memberontak terhadap Mojopahit,melainkan terhadap rajanya dan kaki tangannya yang lalim. Raja sekarang adalah keturunan Melayu, itulah sebabnya saya ikut berada di sini untuk bersama-sama menentang raja keturunan Melayu!"

Mendengar uraian panjang lebar ini, Sulastri yang memang tadinya sama sekali tidak begitu memperhatikan tentang urusan kerajaan, menjadi bingung dan dia lalu memandang kepada Sang Adipati Lumajang.

Adipati yang tua itu mengangguk dan tersenyum lalu berkata.

"Semua ucapan Ki Patih Nambi benar belaka, Sulastri. Kita bukan menentang Mojopahit, melainkan menentang rajanya. Seharusnya, pengganti dari mendiang Sang Prabu Kertarajasa Jayawardhana adalah puteri Beliau, keturunan langsung dari mendiang Sang Prabu Kertanegara, bukan keturunan Melayu itu."

Sulastri menundukkan mukanya, lalu mengerling ke arah Ki Patih Nambi.

"Karena saya kurang pengertian tentang itu semua, maka harap Ki Patih Nambi sudi memaafkan semua kelancangan saya."

Ki Patih Nambi tersenyum dan berkata.

"Andika sungguh hebat, gagah perkasa dan jujur. Memang seharusnya setiap orang gagah mengemukakan pendapat dan ganjalan pikirannya secara terang-terangan daripada menyimpan dendam dan sakit hati."

Kini perundingan dilanjutkan.

Siasat perang diatur dan dalam persidangan itu diputuskan bahwa mengingat akan kuatnya pasukan-pasukan Mojopahit, maka harus dilakukan siasat memancing musuh menyerbu Lumajang dan menyembunyikan pasukan-pasukan kuat di luar Lumajang yang kemudian akan menyergap musuh dari belakang.

Untuk keperluan ini, ditentukan dua tempat penting sebagai benteng di mana pasukan-pasukan penyergap itu bersembunyi, yaitu di Pajarakan sebagai benteng pertama dan di Ganding sebagai benteng ke dua.

Pasukan yang berada di Pajarakan dipimpin oleh beberapa orang senopati dan dibantu oleh Sulastri.

Sedangkan Joko Handoko diperbantukan kepada pasukan yang berada di Ganding.

Tentu saja Ki Patih Nambi sendiri yang memimpin langsung pasukan inti yang berada di Lumajang.

Adapun Adipati Wirorojo sendiri yang sudah tua hanya bertindak sebagai penasehat saja.

Banyak senopati setia yang ikut dalam persiapan perang melawan Mojopahit ini.

Di antaranya adalah Pamandana, Maesa Pawagal.

Panji Anengah, Jaran Bangkal, Semi,Lasem, Patih Emban dan masih banyak lagi senopati-senopati perkasa yang memperkuat pasukan Lumajang.

Sulastri berpisah dari suaminya dan ketika dia menunggang kuda bersama para senopati lainnya, memimpin pasukan yang menuju ke Pajarakan, diam-diam dia memikirkan suaminya ini.

Setelah Roro Kartiko meninggal, setelah dia berjumpa kembali dengan Sutejo, makin menonjol dan makin nampaklah kebaikan-kebaikan Joko Handoko dan diam-diam dia harus mengakui bahwa jarang di dunia ini terdapat seorang yang demikian mulia hatinya seperti Handoko yang benar-benar mencintanya dengan sepenuh jiwa raganya.

Ngeri dia membayangkan betapa suaminya itu akan sengaja bertempur sampai mati hanya agar dia bebas dan dapat kembali kepada Sutejo.

Teringat akan ini, jantungnya berdebar tegang penuh kekhawatiran.

Akan tetapi agak lega hatinya ketika dia teringat akan penuturan suaminya betapa Sutejo telah mengetahui akan niat rahasia itu dan telah mencegah suaminya berbuat nekat seperti itu.

Demikianlah, ketika melakukan perjalanan ini, Sulastri merasa gelisah, merasa kesepian, merasa nelangsa dan dia menghadapi peretempuran dengan semangat kendur dan tubuh lemas.

Sementara itu Sang Prabu di Mojopahit yang marah mendengar hasutan Resi Mahapati bahwa Ki Patih Nambi mempersiapkan pemberontakan di Lumajang, segera memerintahkan untuk mempersiapkan pasukan untuk menggempur Lumajang yang dianggapnya memberontak.

Karena kepercayaan Sang Prabu terhadap Resi Mahapati makin membesar, apalagi karena Ibu suri, yaitu Puteri Sri Indreswari juga menaruh kepercayaan kepada Sang Resi, maka Resi Mahapati diberi kekuasaan oleh Sang Prabu untuk mengatur siasat menghadapi Lumajang.

Resi Mahapati adalah seorang yang amat pandai mengatur siasat.

Dengan cerdik sekali Sang Resi ini berhasil menyelundupkan mata-matanya ke Lumajang dan dari mata-mata inilah dia berhasil memperoleh keterangan tentang keadaan di Lumajang dan tentang pasukan Lumajang yang disembunyikan di Pajarakan dan Ganding.

Setelah mendengar laporan ini, Mahapati lalu mengatur siasat.

Dia mengerahkan pasukan besar, memecah pasukan menjadi dua, yang dua pertiga bagian dikerahkan untuk menyerbu Pajarakan sedangkan yang sepertiga bagian menyerbu Ganding.

Penyerbuan kedua tempat itu dilakukan di waktu malam hampir serentak!

Malam itu sunyi saja di Pajarakan.

Akan tetapi tiba-tiba kesunyian itu dipecahkan oleh bunyi hiruk-pikuk dan dari sekeliling tempat pertahanan itu menyambar anak panah ke dalam benteng.

Malam itu Pajarakan telah diserbu oleh pasukan Mojopahit yang amat besar jumlahnya!

Para senopati yang memimpin Pajarakan bersama Sulastri adalah senopati tua yang gagah perkasa, yaitu Pamandana, Maeso Pawagal, dan Panji Anengah.

Mereka bertiga lalu melakukan perundingan kilat dengan Sulastri, kemudian mereka memecah menjadi empat kelompok yang mempertahankan benteng itu di empat penjuru.

Malam itu terjadilah perang anak panah dari dalam dan luar benteng Pajarakan.

Akan tetapi tentu saja pihak pasukan Lumajang yang banyak mengalami rugi karena kalau pihak musuh dapat mengarahkan anak panah mereka ke tempat tertentu, yaitu di dalam benteng pertahanan itu, sebaliknya mereka yang tidak dapat melihat musuh hanya melepaskan anak panah keluar secara ngawur saja.

Akan tetapi, tentu saja Pasukan Lumajang juga tidak mau membiarkan diri mereka menjadi sasaran anak panah yang datang bagaikan hujan.

Mereka berlindung sedapat mungkin sehingga tidak begitu banyak jatuh korban hujan anak panah ini.

Pada keesokan harinya, pihak musuh menyerbu dan menggempur pintu gerbang.

Pihak Pasukan Lumajang segera membuat perlawanan dan terjadilah perang campuh yang amat seru dan mati-matian di depan empat pintu gerbang benteng pertahanan Pajarakan.

Dalam perang ini, Sulastri mengamuk seperti harimau betina.

Sepak terjangnya menggiriskan lawan dan banyaklah perajurit pihak musuh yang roboh oleh hantaman tangan kirinya atau sambaran keris di tangan kanannya.

Akhirnya, tidak ada lagi perajurit yang berani mendekatinya dan mereka itu terpaksa mundur.

Juga tiga orang senopati Lumajang mengamuk penuh semangat sehingga pihak musuh, biarpun jumlah mereka lebih banyak, dapat diusir mundur dan pintu-pintu gerbang benteng dapat ditutup rapat dan dijaga ketat.

Malam tiba dan pertempuran dihentikan.

Kedua pihak mengambil kesempatan ini untuk beristirahat dan merawat yang luka, menyusun kekuatan kembali untuk menghadapi pertempuran selanjutnya.

Tiga orang senopati Lumajang kembali berunding dengan Sulastri.

Mereka semua maklum bahwa jumlah pasukan musuh jauh lebih besar dan bahwa Pajarakan sudah dikurung sehingga berada dalam keadaan berbahaya.

Mereka lalu mengambil keputusan untuk mengirim utusan yang harus dapat menerobos keluar dari kepungan untuk menyampaikan berita ke Lumajang dan mohon bala bantuan.

Akan tetapi, tiga kali mereka mengirim utusan, memilih perajurit-perajurit yang pandai untuk menerobos keluar dan hasilnya, mayat-mayat para utusan itu digantung di depan pintu gerbang, tanda bahwa usaha mereka itu sia-sia belaka dan para utusan itu menjadi korban penghadangan musuh!

Ternyata Pajarakan telah dikurung rapat sekali sehingga tidak ada seorang dari dalam benteng itu dapat keluar tanpa diketahui oleh musuh!

Tentu saja hal ini membuat tiga orang senopati itu menjadi panik.

Dalam keadaan berbahaya ini, Sulastri mengajukan diri untuk menerobos keluar.

"Ah, jangan...!"

Senopati Pamandana yang memegang kekuasaan dalam benteng itu mencegat kaget.

"Tenagamu amat dibutuhkan di sini untuk mempertahankan benteng ini! Menerobos keluar amat berbahaya!"

Sulastri tersenyum.

"Paman, kiranya Andika bertiga tidak perlu mengkhawatirkan saya. Dalam perang seperti ini, siapa sih yang takut akan kematian? Kalau sudah tiga kali utusan kita gagal, berarti bahwa keadaan di luar amat kuat, maka kiranya hanya saya seoranglah yang wajib menerjang keluar. Kalau saya gagal, yah sudahlah. Akan tetapi, tanpa datangnya bala bantuan dari Lumajang, agaknya kita semua tentu akan tewas juga. Harap Paman bertiga suka bertindak bijaksana dan membiarkan saya menyerbu keluar untuk minta bala bantuan ke Lumajang."

Akhirnya tiga orang senopati itu menyetujui juga, dan menjelang fajar, Sulastri menyelinap keluar dari pintu gerbang sebelah timur seorang diri saja dengan keris di tangan.

Masih gelap di luar dan dengan kecepatan kilat dia lalu meloncat dan berlari secepatnya menuju ke timur.

Akan tetapi setelah agak jauh dia meninggalkan pintu gerbang itu, tiba-tiba saja muncullah banyak orang dari balik pohon-pohon dan semak-semak dan tahu-tahu dia dihadang oleh belasan orang yang bersenjata tombak dan yang segera mengurung dan dikeroyok!

(Lanjut ke

Jilid 38) Kemelut Di Majapahit (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 38

"Tangkap mata-mata!"

"Bunuh...!"

"Ah, dia Si Panglima wanita itu!"

Ramailah para pengeroyok itu berteriak-teriak, akan tetapi teriakan itu mereka segera disusul oleh jerit-jerit mengerikan ketika beberapa orang di antara mereka roboh oleh tamparan tangan kiri Sulastri atau sambaran keris di tangan kanannya.

Karena maklum bahwa dia tidak boleh lengah atau terlambat di tempat itu kalau ingin selamat, maka Sulastri sudah mempergunakan segala kepandaiannya,mengerahkan Ilmu Pukulan Hasto Bairowo dan bergerak dengan Aji Turonggo Bayu,mengamuk untuk dapat cepat meloloskan diri dari kepungan.

Akan tetapi, teriakan-teriakan itu memancing datangnya lebih banyak perajurit dan tiba-tiba terdengar suara tertawa mengejek dan muncullah Resi Mahapati bersama beberapa orang senopati Mojopahit yang berkepandaian tinggi!

"Ha-ha-ha, kiranya Si Pemberontak Cilik, Si Perempuan Liar ini lagi!

Ha-ha-ha,engkau sudah terkurung, lebih baik menyerah, mungkin nyawamu masih dapat diselamatkan daripada harus mati dengan tubuh hancur di tempat ini!"

Melihat orang yang amat dibencinya ini, sepasang mata Sulastri terbelalak, mukanya menjadi merah dan dia membentak.

"Si Keparat Mahapati! Aku datang untuk membalas kematian Eyang Jembros dan Eyang Empu Supamandrangi!"

Setelah berkata demikian, tangan kirinya melayang dan dia menubruk ke arah resi itu.

"Dukk!"

Mahapati menangkis dan keduanya terdorong ke belakang. Mahapati menjadi marah sekali.

"Serbu! Bunuh perempuan liar ini!"

Maka mengamuklah Sulastri.

Kerisnya merupakan kilat yang menyambar-nyambar seperti maut yang haus nyawa, sedangkan tangan kirinya dengan pukulan-pukulan Hasto Nogo tidak kurang berbahaya.

Akan tetapi, pihak pengeroyok terlalu banyak baginya.

Dia hampir tidak mempunyai kesempatan untuk balas menyerang ketika para senopati yang dipimpin oleh Resi Mahapati itu, dibantu oleh banyak perajurit pilihan, mulai menyerangnya dan senjata mereka itu seperti hujan saja menyambar ke arah tubuhnya.

Dia hanya dapat menangkis atau mengelak dan hanya sekali-kali kerisnya atau tangan kirinya merobohkan seorang pengeroyok yang kurang kuat.

Biarpun demikian, sama sekali Sulastri tidak menjadi gentar, bahkan dia ingin merobohkan sebanyak mungkin lawan, lupa bahwa dia adalah seorang utusan yang harus dapat meloloskan diri dari tempat itu untuk menyampaikan berita ke Lumajang.

Yang menjadi lawan terberat bagi Sulastri adalah Resi Mahapati sendiri.

Resi ini maklum bahwa wanita muda ini amat sakti dan berbahaya, maka tidak seharusnya dibiarkan meloloskan diri.

Karena itulah maka Sang Resi ini sendiri turun tangan, ikut mengeroyok, bahkan dia selalu menyerang dengan dahsyatnya.

Tidak seperti biasanya, kini menghadapi lawan yang dia tahu amat kuat, Sang Resi telah mengeluarkan senjatanya yang ampuh, yaitu sebatang keris pusaka yang mengeluarkan cahaya kehijauan di tangan kiri sedangkan tangan kanannya dia mempergunakan sebatang tongkat kayu cendana yang juga merupakan sebuah senjata yang ampuh sekali, senjata yang telah ditapai dan dimantrainya sehingga mengandung kekuatan mujijat.

Terdengar teriakan ganas ketika seorang senopati melakukan serangan berbareng dengan seorang perajurit pilihan Mojopahit, menyerang dari kanan kiri dengan senjata golok dan tombak mereka.

Serangan ini hebat sekali karena tubuh Sulastri sedang terhuyung ketika dia menangkis tongkat Mahapati sehingga dia terdorong ke belakang, maka tubrukan dua orang itu benar-benar berbahaya baginya.

"Yaaaaaahhhh...!"

Tiba-tiba Sulastri mengeluarkan jerit melengking yang amat mengejutkan ini, lengan kirinya menangkis senopati itu dilanjutkan dengan tamparannya sedangkan kerisnya dia lontarkan ke depan, menancap ke dada perajurit yang sedang menombaknya!

"Prakk!

Cepp...!"

Senopati itu roboh dengan kepala pecah dan perajurit itu roboh pula dengan dada tertembus keris!

Sulastri meloncat ke atas ketika ada dua orang senopati menerjangnya dari belakang, memutar tubuhnya dan menggunakan kakinya menendang.

Senopati yang kena tendang itu berteriak kesakitan dan tulang pundaknya patah tercium ujung kaki Sulastri!

Akan tetapi pada saat itu, keris bercahaya hijau dari Mahapati menyambar perutnya dengan kecepatan kilat.

Sulastri merasa ada hawa panas menyambar, dia cepat membuang tubuh ke belakang sehingga tusukan itu luput.

Akan tetapi ketika dia menggulingkan tubuhnya, pundak kirinya kena disambar tongkat kayu cendana dari Mahapati.

"Desss...!"

Tubuh Sulastri yang sudah akan bangkit itu kembali rebah berguling-guling dan ketika dia meloncat bangun, dia menggigit bibir karena pundaknya terasa ngilu dan nyeri bukan main.

Kini teringatlah Sulastri bahwa dia harus pergi ke Lumajang, maka sambil menggeram dan mengeluarkan lengking panjang, tubuhnya menerjang ke belakang, merobohkan dua orang perajurit, lalu dia meloncat lagi dan tubuhnya menyelinap di antara para pengepungnya.

Di sana-sini terdengar teriakan para perajurit yang diamuknya dan roboh.

"Kejar! Tangkap! Bunuh dia!"

Mahapati berteriak marah dan dia sendiri melakukan pengejaran.

Akan tetapi kini ternyata bahwa pengepungan yang amat rapat itu,dengan terlalu banyak anggauta pasukan yang memenuhi tempat itu, bahkan merupakan penghalang baginya untuk dapat menyusul buronannya.

Dengan menyelinap dan mengamuk di antara para perajurit yang menjadi panik karena wanita yang melarikan diri di tengah-tengah mereka itu menyebar maut,akhirnya Sulastri berhasil lolos dari kepungan dan menghilang di keremangan cuaca pagi yang masih gelap, menahan rasa nyeri di pundaknya yang kena pukul tongkat Resi Mahapati, melanjutkan perjalanannya sambil berlari cepat menuju Lumajang.

Sang Adipati di Lumajang dan Ki Patih Nambi yang memimpin pasukan pemberontak, menjadi marah mendengar betapa Pajarakan telah diserbu musuh.

Cepat Ki Patih Nambi mengerahkan pasukan yang ditugaskan cepat menuju ke Pajarakan untuk membantu.

Melihat bahwa Sulastri terluka pundaknya, Ki Patih Nambi mempersilakan Sulastri mengaso dan diangkatlah Ki Lasem dan Ki Jaran Bangkal untuk memimpin pasukan bala bantuan ini.

Akan tetapi baru saja pasukan itu berangkat dengan tergesa-gesa, datang pula seorang utusan yang luka-luka parah dari Ganding,mengabarkan bahwa Ganding juga diserbu dan dikepung musuh.

Dia berhasil lolos, akan tetapi dalam keadaan luka-luka parah dan begitu menyampaikan berita ini, utusan itu pun roboh dan tewas!

Mendengar ini, Sulastri terkejut sekali.

Dia mengkhawatirkan keselamatan suaminya di Ganding.

Maka dia melupakan luka di pundaknya dan mengajukan diri memimpin pasukan yang akan membantu Ganding.

Karena keadaan terdesak, dan melihat betapa luka di pundak Sulastri tidak payah benar, Ki Patih Nambi meluluskan permintaan itu.

Dia sendiri harus memimpin sisa pasukan untuk mempertahankan Lumajang.

Tanpa mengaso berangkatlah Sulastri memimpin pasukan bantuan menuju ke Ganding.

Benar saja, Ganding sedang dikepung dan sedang terjadi perang tanding mati-matian antara pasukan Lumajang yang mempertahankan Ganding dan pasukan musuh dari Mojopahit yang dipimpin banyak senopati yang kuat.

Melihat ini, Sulastri lalu mengerahkan pasukan untuk membantu dan terjadilah perang campuh yang amat hebat dan mati-matian.

Sulastri sendiri menyerbu ke tengah dan akhirnya dia melihat Joko Handoko sedang dikeroyok oleh banyak perajurit.

Melihat ini, Sulastri membentak marah dan mengamuk.

Biarpun pundak kirinya terluka sehingga dia tidak lagi dapat mengerahkan Aji Hasto Nogo yang ampuh, akan tetapi dia masih dapat menggerakkan tangan kirinya dengan leluasa dan dia sudah menggerakkan kerisnya yang baru, yang dibawanya dari Lumajang, untuk mengamuk dan mendekati suaminya.

"Diajeng...!"

Joko Handoko berseru girang melihat isterinya masih dalam keadaan selamat dan munculnya wanita ini memperlipatgandakan tenaga dan semangatnya sehingga sepak terjang satria ini benar-benar menggiriskan musuh.

Akan tetapi Joko Handoko tidak tahu bahwa isterinya itu semalam suntuk telah bertanding melawan musuh-musuh yang amat tangguh, bahkan telah menderita luka, kemudian lari secepatnya ke Lumajang dan tanpa istirahat kini datang untuk membantunya!

"Syukur bahwa kau...

kau masih selamat..."

Ucapan ini keluar dari mulut Sulastri dan wanita itu tiba-tiba saja merasa lemas.

Kiranya kalau tadi dia seperti lupa akan segala rasa lelah dan rasa nyeri adalah karena dorongan rasa gelisah memikirkan keadaan Joko Handoko.

Akan tetapi kini setelah melihat suaminya itu selamat dan hatinya menjadi lega, tiba-tiba saja dia merasa betapa dia telah kehabisan tenaga!

Dia terhuyung dan tidak mampu lagi mempertahankan diri ketika banyak musuh menerjangnya.

"Wirrr..., ceppp... aughhh...!"

Tiba-tiba tubuh Sulastri terguling roboh ketika sebatang anak panah meluncur dan menancap di dadanya sebelah kanan!

Kiranya ada seorang senopati yang mengenal Sulastri, tahu akan kesaktian wanita ini maka diam-diam dia telah menyerang dengan anak panah selagi wanita itu terhuyung karena kelelahan.

"Diajeng...!!"

Joko Handoko yang sejak tadi tidak pernah lengah memperhatikan isterinya, berseru kaget, menggunakan tendangan dan hantaman merobohkan dua orang perajurit yang sudah akan menubruk Sulastri, kemudian menyambar tubuh isterinya yang pingsan itu, mengamuk dan menyelinap mundur, kemudian melarikan diri meninggalkan gelanggang pertempuran sambil memanggul tubuh isterinya yang masih pingsan!

Biarpun Pajarakan dan Ganding memperoleh bala bantuan dari Lumajang, namun kekuatan pihak Mojopahit terlalu besar.

Setelah dikurung dan diserbu terus-menerus,akhirnya pihak Lumajang tidak kuat bertahan dan terpaksa sisa pasukannya mengundurkan diri ke Lumajang.

Pajarakan dan Ganding dapat dijatuhkan.

Kini dengan seluruh kekuatan pasukannya, Resi Mahapati menuju ke Lumajang!

"Oughhhh...!"

Bibir itu bergerak lemah, mulut itu terbuka sedikit dan terengah-engah.

Joko Handoko meneteskan air di mulut isterinya.

Sulastri yang sudah setengah sadar itu menelan air itu sedikit demi sedikit, kemudian membuka matanya.

Segera ditutupnya kembali matanya karena begitu dibuka, segala sesuatu yang dilihatnya berputaran.

Tubuhnya panas sekali.

"Diajeng... harap kau tahankan... panah itu beracun dan aku harus mengeluarkan racun dari lukanya..."

Sulastri dapat mendengar suara Joko Handoko ini.

Kini kesadarannya telah berangsur-angsur kembali dan ketika dia menghentikan keluhannya.

Kegagahannya timbul kembali dan dia membuat gerakan dengan kepalanya tanda setuju.

Ketika merasa betapa mulut suaminya menempel dan menyedot luka di dada kanannya,Sulastri menggigit bibirnya.

Tak terasa lagi air matanya bertitik turun ketika dia miringkan kepala membuang muka.

Hatinya diliputi keharuan besar.

Suaminya selalu amat baik kepadanya, amat hormat, dan amat sayang kepadanya.

Sampai lima kali Joko Handoko mengecup luka itu dan meludahkan darah yang mengandung racun.

"Mudah-mudahan saja racunnya sudah habis, akan tetapi... kau harus beristirahat dan berobat, Diajeng..."

Suara Joko Handoko jelas mengandung kegelisahan hebat.

Sulastri membuka matanya.

Kini melihat dia dapat menatap wajah suaminya dengan jelas.

Agaknya matahari telah naik tinggi.

Pandang matanya tidak berputar lagi,kepalanya masih berdenyut pening, tubuhnya masih panas, pundak kirinya masih ngilu dan dadanya yang terluka panas sekali, akan teapi pikirannya terang.

Sejenak mereka berpandangan dan Sulastri melihat wajah suaminya pucat, matanya penuh dengan kegelisahan dan ada bekas air mata di bawah mata suaminya.

Suaminya menangis.

"Kakangmas... kau... kau tadi menangis?"

Tanyanya heran. Joko Handoko menundukkan muka untuk menghindarkan pandang mata isterinya,kelihatan gugup dan malu, kemudian memandang lagi dan mengangguk. menyerbu ke Lumajang.

"Aku khawatir sekali melihat keadaanmu, Diajeng. Kau pingsan, tidak mau sadar saja, badanmu panas sekali, dan ketika anak panah kucabut, keluar darah hitam tanda keracunan dan kau... ah, aku khawatir sekali, tak terasa lagi air mataku tumpah... dan..."

Sulastri meraih tangan suaminya dan bergerak untuk bangun.

Joko Handoko cepat membantunya sehingga dia dapat duduk.

Kembali mereka saling berpandangan dan ada sinar aneh keluar dari tatapan mata Sulastri.

Joko Handoko merasa kikuk oleh tatapan aneh ini, maka untuk membuyarkan perasaan kikuk itu, dia berkata lagi.

"Mari,Diajeng Sulastri, mari kita mencari tempat di mana engkau dapat mengaso dan berobat."

Sulastri seperti tidak mendengar ucapan itu, melainkan menatap wajah pria itu dengan pandang mata aneh.

"Kakangmas... kau... kau baik sekali kepadaku..."

Joko Handoko mengerutkan alisnya dan menarik napas panjang.

"Ahhh, Diajeng,dalam keadaan begini, mengapa engkau masih bersikap sungkan dan bicara tentang kebaikan? Engkau tahu, seluruh hidupku adalah untukmu, Diajeng, untuk kebahagianmu seorang. Apa pun akan kulakukan demi kebahagianmu, dan melihat engkau tadi pingsan seperti... seperti hampir mati..."

Joko Handoko terisak,lalu menekan perasaan hatinya.

"... melihat engkau seperti itu, tentu saja aku gelisah sekali...."

Sulastri tersenyum! Dan wajahnya berseri! Dan sinar matanya bercahaya aneh! "Selama ini aku buta, Kakangmas...!"

Joko Handoko memandang wajah isterinya dengan khawatir.

"Sudahlah, jangan banyak bicara. Sejak pingsan tadi engkau mengigau yang bukan-bukan. Hayo kita pergi dari sini. Biar kau kupondong dan kucarikan tempat yang baik untuk mengaso."

Sulastri menggeleng kepala.

"Kau kembalilah ke Ganding, Kakangmas. Kau harus melanjutkan perjuangan, membantu Lumajang. Tinggalkan aku di sini, aku dapat menjaga dan merawat diri...."

"Tidak! Sampai mati pun tidak! Ketahuilah, Diajeng. Sesungguhnya, aku pun sudah muak terhadap perang dan bunuh-membunuh itu! Aku hanya ingin membantumu dan sekarang aku tidak akan meninggalkanmu sebelum engkau mendapat perawatan yang layak."

"Akan tetapi Pajarakan dan Ganding..."

"Kiranya tak mungkin dapat dipertahankan lagi. Sebaiknya kita kembali saja ke Lumajang di mana engkau dapat beristirahat dan memperoleh perawatan yang baik."

Sulastri tidak membantah lagi dan dengan susah payah mereka melakukan perjalanan menuju ke Lumajang.

Akan tetapi segera terdengar berita oleh mereka betapa Pajarakan dan Ganding sudah jatuh ke tangan musuh dan betapa kini musuh sedang menyerbu ke Lumajang.

"Kalau begitu, kita pergi saja ke Turen, di sebelah timur Gunung Kawi,"

Kata Sulastri.

"Di sana ada seorang kenalanku yang baik, namanya Paman Kaloka. Kita mengaso di sana dan melihat perkembangan keadaan."

Melihat keadaan isterinya yang lemah dan mengkhawatirkan, Joko Handoko tidak banyak membantah.

Keadaan mereka memang tidak aman.

Kalau mereka bertemu pasukan Mojopahit, tentu mereka akan ditangkap dan dengan keadaan isterinya seperti itu,tak mungkin dia dapat melakukan perlawanan dengan baik.

Maka dia lalu memutar haluan dan cepat pergi menuju ke dusun Turen di dekat Gunung Kawi.

Kadang-kadang dia memondong tubuh Sulastri, dan kadang-kadang wanita itu berjalan dengan dipapahnya.

Kaloka bersama anak angkatnya, yaitu Warsini, menerima kedatangan Sulastri dengan gembira, akan tetapi juga khawatir ketika melihat betapa penolong mereka itu dalam keadaan luka dan sakit.

Dengan cepat Kaloka lalu berusaha mencarikan obat dan dengan amat teliti ayah dan anak pungut itu merawat Sulastri.

Seperti kita ketahui, Warsini adalah gadis yang telah diselamatkan oleh Sulastri dan Sutejo ketika gadis ini hendak dipaksa menjadi isteri ke lima dari seorang lurah di dusun Jati, dijual oleh Paman dan bibinya.

Sedangkan Kaloka adalah kakek yang hampir menjadi gila karena kematian anak perempuannya yang bernama Katmi, dan yang kemudian hidup berbahagia lagi setelah Warsini diserahkan kepada kakek ini sebagai anak angkat pengganti anaknya yang mati dan yang kini hidup berdua sebagai ayah dan anak di Turen.

Dua hari kemudian, di bawah perawatan yang amat tekun dari Kaloka dan Warsini, keadaan Sulastri sudah mendingan.

Biarpun tubuhnya masih lemah, namun dia tidak lagi demam dan luka di dadanya sudah mengempis.

"Kakangmas, harap kau suka menyelidiki keadaan di Lumajang. Biarpun aku sendiri masih lemah dan tidak dapat membantu Lumajang, akan tetapi sudah selayaknya kalau engkau berangkat membantu Lumajang, Kakangmas. Sungguh tidak enak hatiku mendengar betapa Lumajang diserang musuh dan kita tinggal enak-enak saja di sini, padahal para sahabat di Lumajang terancam bahaya maut."

Sebetulnya, di dalam hatinya Joko Handoko merasa enggan untuk meninggalkan isterinya yang belum sembuh betul.

Dia ingin terus melayani dan merawat Sulastri sampai sembuh betul.

Selama Sulastri sakit, dia tidak pernah meninggalkan isterinya ini dan membantu ayah dan anak angkat itu merawat isterinya, menjaga dan melayani segala keperluannya.

Akan tetapi dia mengenal kekerasan hati isterinya.

Isterinya merasa kecewa tidak dapat membantu Lumajang, maka mewakilkannya dan isterinya akan terhibur kalau dia dapat mewakilinya membantu Lumajang.

Aku cinta padamu, isteriku, atau suamiku, atau tunanganku!

Aku cinta padamu dan kata ini disambung dalam hatiku, berbisik kepada diri sendiri, akan tetapi,engkau harus menjadi milikku seorang, engkau harus selalu menyenangkan hatiku,engkau harus tunduk kepadaku, engkau harus melayaniku, engkau harus ini harus itu demi untuk menyenangkan hatiku.

Beginikah cinta?

Ingin disenangkan, ingin menguasai, ingin dihibur, ingin dipuaskan, ingin mengikat?

Dan tidaklah aneh kalau pada suatu hari si "dia"

Yang kucinta itu berpaling kepada orang lain, aku lalu membencinya!

Mengapa membenci?

Karena dia mengecewakan, karena dia tidak lagi menyenangkan hatiku, karena dia tidak lagi mau menjadi milikku seorang,pendeknya, karena dia tidak menyenangkan hatiku.

Ah, jelaslah sekarang!

Yang kunamakan cinta itu pada hakekatnya hanyalah nafsu keinginanku untuk senang saja!

Dan orang yang kucinta itu kujadikan alat untuk mencapai kesenangan itu!

Maka kalau alat itu tidak berhasil memberi kesenangan kepadaku, aku lalu membencinya,dan tentu aku akan mencari alat lain!

Tidak ada pula bedanya dengan kata "cinta"

Yang kita tujukan kepada anak kita,kepada sahabat kita, kepada apa saja yang kita cinta!

Semua itu kita cinta karena mereka memberi kesenangan kepada kita.

Karena cinta kita didasarkan atas kesenangan yang kita dapatkan dari apa yang kita cinta, maka sekali kesenangan itu tidak kita peroleh lagi, sudah pasti cinta itu pun buyar dan lenyap!

Karena itu, selama ada si aku yang ingin disenangkan, maka sudah jelas bahwa di situ tidak mungkin ada cinta!

Yang ada hanyalah nafsu keinginan untuk memperoleh kesenangan yang diberi etiket "cinta"!

Sudah pasti bahwa "cinta"

Macam ini selalu menimbulkan konfilk dan kesengsaraan, seperti halnya semua nafsu keinginan.

Nafsu keinginan timbul karena adanya si aku yang ingin senang, dan si aku yang ingin senang adalah pikiran yang mengenangkan hal-hal lalu,mengenangkan hal-hal yang menyenangkan dan menyusahkan maka muncullah si aku yang ingin mengulang hal-hal yang menyenangkan tadi dan ingin menghindarkan hal-hal yang menyusahkan.

Si aku adalah nafsu, si aku adalah pikiran si aku adalah keinginan, dan si aku adalah "cinta"

Yang berdasarkan pamrih kesenangan itu tadi!

Perang!

Puncak kebuasaan mahluk yang dinamakan manusia!

Hal yang paling terkutuk yang dapat dilakukan oleh kita manusia!

Peristiwa menyedihkan yang tidak terlepas dari kita semua, dari setiap orang manusia karena perang adalah persoalan kita manusia sehingga tak seorang pun dapat melepaskan tanggung jawab dari persoalan ini.

Semua orang tahu apa yang diakibatkan oleh perang!

Kesengsaraan apa, kekejaman bagaimana, penderitaan hebat macam apa yang diakibatkan oleh perang.

Namun, sejak ribuan tahun yang lalu, sejak sejarah manusia dikenal, manusia terus-menerus mengulang permainan kotor yang dinamakan perang ini.

Manusia melihat akibat yang mengerikan ini, maka manusia melakukan bermacam jalan untuk mencipta perdamaian, usaha-usaha ke arah perdamaian selalu diusahakan manusia sepanjang masa karena ngeri melihat akibat perbuatan mereka sendiri.

Akan tetapi apa hasilnya?

Perang masih terus berjalan, berhenti,meletus lagi, berhenti lagi, meletus lagi.

Dan usaha damai masih terus juga diakukan, tanpa hasil yang nyata.

Mana mungkin ada perdamaian kalau penyebab perang masih terus ada?

Dan penyebabnya adalah diri kita sendiri, pada diri setiap orang!

Perang hanyalah merupakan kelanjutan dari konflik yang pada diri setiap manusia.

Konflik dalam diri mencetus keluar, menjadi konflik antar manusia, konflik antar manusia ini menyeret orang lain menjadikan konflik antar kelompok, lalu antar ras, antar golongan baik agama, politik, kepercayaan dan lain-lain yang menjadi membesar lagi, menjadi konflik antar bangsa, antar negara dan sebagainya!

Perang terjadi karena masing-masing merasa benar, dan kebenaran yang diperebutkan sudah pasti adalah kebenaran yang didasarkan atas kesenangan!

Kesenangan untukku, untuk negaraku, untuk bangsaku!

Kesenanganku diganggu, maka terjadilah permusuhan, masing-masing yang merasa kesenangannya terganggu itu merasa diri masing-masing benar pula.

Setelah meletus perang yang timbul dari memperebutkan kebenaran masing-masing, maka banyak faktor menyelinap di dalamnya.

Dendam, iri, benci, dan sebagainya yang mendorong kepada kita untuk ingin menang,ingin mengalahkan musuh sebagai pemuasan rasa dendam dan benci.

Tidakkah perang antar bangsa itu sama saja dengan perang yang ada pada diri kita masing-masing sebagai perorangan?

Kita masing-masing pun mengejar kesenangan,ingin enak sendiri, ingin senang sendiri, maka kalau ada yang menghalangi kesenangan kita, maka kita lalu marah dan benci.

Akibat perang memang mengerikan.

Ketika Sulastri melakukan perjalanan dari Turen ke timur, ke Lumajang, maka nampaklah olehnya akibat perang itu.

Akibat dari penyerbuan bala tentara Mojopahit ke Lumajang.

Di sepanjang perjalanan itu dia melihat rakyat di dusun-dusun menderita dilanda oleh perang.

Terjadilah perbuatan-perbuatan biadab.

Perampokan harta benda, perkosaan terhadap wanita-wanita, pembunuhan-pembunuhan.

Mengerikan!

Ah, betapa mengerikan semua itu.

Dan kalau kita mau jujur, membuka mata kepada diri-sendiri, apakah bedanya semua itu dengan kita?

Dalam pikiran kita terdapat hal-hal yang jahat dan keji seperti semua itu.

Betapa kita mengejar-ngejar harta benda, haus akan harta benda sehingga di dalam batin kita ini sudah menjadi perampok besar yang ingin menguasai seluruh harta benda sebanyaknya tanpa memperdulikan orang lain kelaparan dan miskin!

Apa bedanya kita dengan para perampok itu?

Dan betapa kita menjadi hamba dari nafsu berahi kita, membayangkan wanita-wanita cantik, betapa mata kita menelan wanita-wanita cantik dan kita juga pemerkosa-pemerkosa dalam pikiran.

Betapa kita ini membenci kepada siapa saja yang merugikan kita,merugikan lahir batin, membenci kepada siapa saja yang menghalangi kesenangan kita, betapa kita sudah menjadi pembunuh-pembunuh dalam batin!

Semua kekejian yang mengotori dan membebani batin kita itu tercetus keluar menjadi perbuatan-perbuatan di waktu ada perang karena perang membuka kesempatan untuk pelaksanaan semua beban pikiran itu!

Betapa kita tiada bedanya dengan mereka!

Dapatkah kita berubah?

Tanpa adanya perubahan pada diri kita, mana mungkin ada perubahan pada bangsa dan dunia?

Karena tanpa kita tidak akan ada bangsa, tanpa kita tidak akan ada kemanusiaan di dunia ini.

Pada waktu Sulastri tiba di perbatasan kota Kadipaten Lumajang, tempat itu sudah terkepung oleh pasukan-pasukan Mojopahit, sudah mengalami gempuran-gempuran hebat.

Perang telah terjadi dan pihak Lumajang masih mempertahankan Lumajang dengan mati-matian.

Akan tetapi seluruh dusun di sekitar Lumajang sudah menjadi korban, hampir setiap hari, setiap malam terjadi hal-hal yang menjijikkan dan mengerikan.

Para perajurit Mojopahit adalah terkenal sebagai perajurit-prajurit gemblengan lahir batin.

Perajurit-perajurit yang segagah ini hanya mempunyai satu tekad, yaitu membela pasukannya sampai mati.

Perajurit-perajurit seperti ini tentu saja tidak mau melakukan hal-hal yang tidak patut seperti merampok, memperkosa, membunuh secara sewenang-wenang tanpa sebab.

Perajurit-perajurit juga manusia dan mereka yang baik seperti ini sungguh amat patut disayangkan bahwa mereka hanya menjadi alat-alat untuk memperebutkan kebenaran yang tidak benar sehingga nyawa mereka dikorbankan secara sia-sia belaka.

Akan tetapi, di antara anak buah pasukan, ada pula perajurit-perajurit gadungan yang tidak mementingkan pembelaan terhadap pasukannya, melainkan mementingkan kesenangan diri sendiri belaka.

Orang-orang yang hanya berpakaian perajurit namun sebenarnya adalah orang-orang tersesat yang jahat inilah yang berpesta pora setiap kali terjadi perang karena terbuka kesempatan selebarnya bagi mereka untuk memuaskan nafsu-nafsu mereka.

Mereka merampok sesuka hati, memperkosa sepuasnya dan membunuh orang seenaknya.

Apalagi pasukan yang dipimpin oleh Warak Jinggo dan Sarpo Kencono.

Dua orang pembantu Ki Durga Kelana ini memang dahulunya adalah perampok-perampok yang kejam.

Kini setelah mereka memperoleh kedudukan yang agak tinggi, menjadi perwira-perwira yang diperbantukan dan memimpin pasukan kecil, tentu saja melihat kesempatan yang terbuka lebar mereka lalu berpesta-pora mengumpulkan harta dan menculik wanita-wanita muda yang cantik untuk mereka permainkan bersama pasukan kecil mereka.

Apalagi di waktu malam di waktu pasukan diberi kesempatan beristirahat setelah penyerbuan-penyerbuan ke Lumajang, kesempatan ini mereka pergunakan untuk memuaskan nafsu-nafsu mereka.

Malam hari itu tidak begitu gelap karena bulan sepotong muncul di angkasa.

Namun, kalau biasanya di waktu malam terang bulan suasana menjadi teduh gembira, malam itu terasa dingin menyeramkan bagi para penghuni dusun-dusun di sekeliling Lumajang yang telah dihantui oleh perang sejak beberapa hari yang lalu.

Berbagai macam penderitaan mereka alami, penderitaan lahir dan batin akibat perbuatan orang-orang jahat yang menyelundup ke dalam pasukan-pasukan itu.

Di dalam sebuah hutan kecil yang sunyi sebelah selatan Lumajang, malam itu nampak beberapa orang yang kelihatan sibuk, sungguhpun pada malam hari itu perang dihentikan untuk sementara seperti pada malam-malam yang lalu.

Di antara kesibukan mereka kadang-kadang terdengar isak tangis wanita.

Mereka itu adalah anak buah dari Warak Jinggo dan Sarpo Kencono yang mempergunakan hutan itu sebagai tempat mereka berkumpul dan menyimpan harta rampokan mereka.

Para anak buah itu mengumpulkan harta rampokan dari pelbagai dusun di sekitar itu dan membawanya ke dalam hutan di mana Warak Jinggo dan Sarpo Kencono sudah menanti,dan di antara harta rampokan itu terdapat pula beberapa orang tangkapan, ada dua orang laki-laki setengah tua yang mereka seret ke tempat itu dan terdapat pula belasan orang gadis muda yang menangis ketakutan ketika digiring ke dalam hutan itu secara kasar oleh para perajurit yang menjadi anak buah dua orang perampok itu.

Sarpo Kencono dan Warak Jinggo duduk di atas bangku kasar dalam sebuah pondok darurat yang mereka buat sebagai tempat penyimpanan harta rampokan.

Mereka berdua tertawa girang ketika melihat gadis-gadis yang diseret masuk dan dihadapkan kepada mereka, akan tetapi mereka memandang dengan sikap keren kepada dua orang laki-laki setengah tua yang ikut pula diseret masuk.

"Hemm, untuk apa kalian menangkap monyet-monyet tua ini? Kenapa tidak cepat dibunuh saja mereka?"

Sarpo Kencana yang bermata lebar itu bertanya, matanya melotot bengis.

Dua orang laki-laki setengah tua itu menjadi ketakutan mendengar ini dan mereka menyembah-nyambah minta ampun.

Anak buah Warak Jinggo dan Sarpo Kencono memberitahu kepada dua orang kepala mereka itu bahwa seorang di antara mereka adalah hartawan dusun yang menyembunyikan simpanan hartanya, sedangkan orang ke dua telah menyembunyikan anak gadisnya yang menjadi kembang dusun.

Mendengar ini, Warak Jinggo mengerutkan alisnya.

"Kenapa repot-repot? Telanjangi mereka dan hajar punggung mereka dengan cambukan, cabik-cabik kulitnya kalau mereka tidak mau mengaku!"

Sambil tertawa-tawa para anak buah itu lalu merobek baju dua orang laki-laki setengah tua itu dan terdengarlah suara pecut meledak-ledak ketika mereka menyiksa dua orang laki-laki itu.

Para gadis yang hadir di situ hanya dapat memandang lalu menyembunyikan muka mereka sambil menangis.

Siksaan hebat yang diderita oleh kedua orang itu membuat mereka tidak kuat bertahan dan akhirnya mereka berdua mengaku.

"Harta itu... saya sembunyikan... di tepi sungai... di bawah pohon asem..."

Kata Si Hartawan.

"Mereka... mereka... menyamar sebagai pria dan sembunyi di rumah Bibi mereka..."

Kata Ayah yang mempunyai dua orang anak perempuan yang terkenal sebagai kembang dusun.

"Ha-ha-ha!"

Warak Jinggo tertawa girang.

"Buktikan omongan mereka dan seret mereka keluar. Cepat bawa dua orang dara itu ke sini!"

Dua orang laki-laki itu diseret keluar dalam keadaan setengah pingsan.

Dua orang kepala perampok yang kini menjadi perwira-perwira Mojopahit itu lalu meneliti para gadis yang diculik, akan tetapi mereka merasa kecewa karena gadis-gadis itu adalah gadis-gadis dusun yang berkulit kasar dan hitam, tidak menarik bagi mereka.

Akan tetapi, Warak Jinggo adalah seorang yang haus akan wanita, maka dia memilih seorang di antara mereka yang termuda, menarik tangan gadis itu dan merangkulnya.

Gadis itu menjerit ketakutan ketika muka penuh cambang bauk itu mencium pipinya.

Warak Jinggo tertawa lalu bertanya kepada kawannya.

"Adi Sarpo,engkau memilih yang mana?"

Sarpo Kencono sedang asyik memeriksa barang-barang rampokan. Dia menoleh dan tertawa.

"Ah, silakan kaupilih dua orang untukmu, Kakang, aku akan melihat-lihat ini saja, lebih menyenangkan daripada bocah-bocah dusun itu."

Warak Jinggo lalu menoleh kepada belasan orang anak buahnya.

"Bawa mereka keluar dan bagi rata antara kalian!"

Anak buah mereka itu tertawa girang dan segera terdengar sorak-sorai mereka disusul jerit tangis wanita-wanita yang mereka seret keluar dan menjadi korban kebuasan mereka.

Di dalam pondok itu sendiri, Warak Jinggo masih memangku,merangkul dan mencium gadis dusun yang menggigil ketakutan dan menangis dengan rintihan memilukan.

Tak lama kemudian, muncul dua orang anak buah mereka, masing-masing menyeret seorang gadis yang cukup manis dan cantik, sedangkan dua orang anak buah lain memanggul sebuah peti.

Itulah hasil penyiksaan terhadap dua orang laki-laki tadi.

Dua orang gadis itu adalah dua orang kakak beradik yang menjadi kembang dusun, sedangkan peti itu adalah harta yang disembunyikan oleh hartawan tadi.

Dua orang laki-laki itu setelah mengaku dan ternyata bahwa pengakuan mereka benar, telah dibunuh oleh para perampok ganas itu!

Warak Jinggo dan Sarpo Kencono girang bukan main setelah membuka peti melihat banyak barang dari emas dan memang cukup berharga.

Dan melihat dua orang gadis cantik itu, Warak Jinggo mendorong gadis yang dipangkunya ke arah anak buahnya.

"Nah, ambil dia ini!"

Dan dia sudah menangkap tangan seorang di antara dua orang gadis manis itu yang menjerit kesakitan dan juga ketakutan.

Kini Sarpo Kencono tidak menolak setelah melihat gadis ke dua yang cukup manis.

Akan tetapi pada saat itu, ketika empat orang anak buah itu menyeret gadis yang didorong oleh Warak Jinggo itu keluar pondok, mereka disambut oleh tendangan dan pukulan seorang pemuda tampan.

Serangan pemuda itu hebat sekali, pukulannya membuat seorang anak buah perampok roboh tak dapat bangun kembali dan dua orang ke dua yang kena ditendang dadanya, juga roboh dengan tulang iga patah.

Pemuda ini bukan lain adalah Joko Handoko!

Mendengar teriakan-teriakan anak buahnya, Warak Jinggo dan Sarpo Kencono terkejut, cepat mereka melepaskan gadis yang mereka geluti itu dan mereka berdua lari keluar.

Marahlah dua orang ini melihat betapa seorang pemuda tampan sedang mengamuk dan dikeroyok oleh enam orang anak buah mereka yang sudah datang ke tempat itu tertarik oleh teriakan-teriakan kawan-kawan mereka.

Joko Handoko dikeroyok, akan tetapi dia mengamuk terus, sungguhpun gerakannya tidak leluasa karena paha pemuda ini sudah terluka.

Pemuda ini telah beberapa kali mencoba untuk menembus kepungan dan memasuki Lumajang, akan tetapi usahanya gagal bahkan siang tadi dia ketahuan dan dikeroyok dan akhirnya dia dapat melarikan diri akan tetapi pahanya telah terluka oleh bacokan golok.

Dia dapat menyembunyikan diri di dalam dusun tak berjauhan dari situ.

Tadi, ketika dia sedang merawat luka di pahanya sambil bersembunyi di belakang pondok seorang petani, dia mendengar ribut-ribut dan jerit dua orang wanita.

Biarpun dia sendiri terluka, namun mendengar suara jerit wanita itu, Joko Handoko tidak dapat menahan hatinya dan dengan keris di tangan dia sudah keluar dari tempat sembunyinya dan bertanya kepada janda pemilik pondok apa yang telah terjadi.

Sambil menangis janda itu mengatakan bahwa dua orang gadis keponakannya yang bersembunyi di dalam kamarnya telah dilarikan oleh perajurit-perajurit Mojopahit ke dalam hutan.

Mendengar ini, Joko Handoko lalu melakukan pengejaran sampai ke pondok dalam hutan itu dan karena tidak dapat menahan kemarahannya,dia lalu menerjang para perajurit yang sedang keluar dari pondok menyeret seorang gadis itu.

Menghadapi pengeroyokan itu, repot jugalah Joko Handoko.

Warak Jinggo dan Sarpo Kencono adalah dua orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Melawan seorang di antara mereka saja dia tidak akan menang, apalagi kini dia yang sudah terluka pahanya dikeroyok oleh belasan orang anak buah mereka, dan dua orang kakek raksasa itu sendiri hanya mempermainkan dia.

Kalau dikehendaki oleh mereka berdua, tentu dengan mudah saja Joko Handoko dapat dirobohkan.

"Ha-ha-ha, Adi Sarpo, jangan kita bunuh dia. Bukankah dia ini putera Si Progodigdoyo yang memerontak itu dan pernah menjadi senopati Lumajang yang menjaga benteng Ganding?"

Kata Warak Jinggo sambil tertawa-tawa.

"Benar... benar... dan kabarnya dia mempunyai adik kandung yang cantik sekali!"

"Heh, pemberontak hina, lebih baik kau menyerah saja!"

Warak Jinggo berkata lagi.

Joko Handoko tidak menjawab, melainkan menyerang makin hebat dan agaknya dia sudah mengambil keputusan untuk melawan sampai mati, karena melarikan diri pun tidak akan ada gunanya.

Dengan pahanya yang terluka, tentu dia tidak akan dapat lari jauh.

Kerisnya menyambar dan dia sudah berhasil merobohkan seorang perajurit lagi.

Akan tetapi pada saat itu, kaki kanan Warak Jinggo juga telah menendangnya, mengenai pinggang dan tubuh Joko Handoko terguling!

Dua orang perajurit menubruk untuk menangkapnya, akan tetapi tiba-tiba tubuh mereka sendiri yang terlempar dan tak dapat bangun kembali!

Kiranya mereka itu telah kena ditampar oleh seorang yang baru muncul, yang gerakannya tangkas seperti seekor harimau menubruk.

Kalau Warak Jinggo dan Sarpo Kencono terkejut menyaksikan sepak terjang orang yang baru datang ini, adalah Joko Handoko yang menjadi girang sekali, akan tetapi juga khawatir ketika melihat yang muncul adalah isterinya yang beberapa hari yang lalu masih lemah dan sakit.

"Diajeng...!"

"Kau tidak apa-apa, Kakangmas?"

Joko Handoko sudah meloncat bangun. Kini di dalam cuaca yang remang-remang itu, Sarpo Kencono dan Warak Jinggo dapat mengenal Sulastri maka keduanya berseru heran dan juga girang.

"Ah, kiranya dia! Bagus, hayo kita tangkap dua orang mata-mata Lumajang ini hidup-hidup! Mereka merupakan tawanan-tawanan yang amat berharga! Sang Resi tentu akan girang sekali kalau kita bawa mereka ini menghadap sebagai tawanan!"

Kata Warak Jinggo dan bersama Sarpo Kencono dia sudah menubruk maju dan menyerang Sulastri, sedangkan anak buah mereka telah mengepung dan menyerang Joko Handoko.

Melihat gerakan suaminya kaku dan kakinya agak terpincang, Sulastri merasa khawatir sekali.

"Kau terluka, Kakangmas?"

Tanyanya sambil mengelak dari tubrukan Warak Jinggo, kemudian membalas dengan tamparan tangan kirinya yang juga dapat dihindarkan oleh lawan.

"Tidak apa-apa, Diajeng, cuma luka sedikit di paha..."

Kata Joko Handoko, akan tetapi ketika dia menangkis tusukan tombak dengan kerisnya, dia terhuyung.

Luka di pahanya bukan hanya luka sedikit, melainkan luka yang cukup parah dan luka yang baru itu kini pecah lagi dan mengeluarkan banyak darah karena dipakai bertempur.

Untung dia masih sempat menggulingkan dirinya ketika tombak ke dua melayang dan ketika dia berusaha meloncat bangun, dia terhuyung lagi.

"Kau... kau luka parah...!"

Sulastri kaget bukan main akan tetapi dia sendiri kini menghadapi pengeroyokan Warak Jinggo dan Sarpo Kencono yang amat digdaya sehingga dia tidak berhasil mendekati Joko Handoko yang makin payah menghadapi pengeroyokan perajurit itu.

Sulastri yang merasa amat khawatir melihat keadaan suaminya, kini menjadi marah bukan main.

"Keparat jahanam! Aku akan bunuh kalian semua...!"

Bentaknya dan gerakannya menjadi dahsyat sekali sehingga dua orang pengeroyoknya terpaksa mundur karena dari kedua tangan dara perkasa itu menyambar hawa maut yang mengerikan.

Dua orang kakek raksasa ini sudah tahu akan kehebatan gadis dari puncak Bromo ini, maka mereka pun bertempur dengan hati-hati sekali.

Pertandingan itu ramai bukan main, seru dan mati-matian karena Sulastri tentu saja ingin lekas-lekas dapat menolong suaminya yang makin payah.

Beberapa kali Joko Handoko roboh, akan tetapi setiap kali ditubruk dan akan diringkus, dia dapat meronta dan melepaskan diri lalu mengamuk terus pantang menyerah.

Selagi Sulastri bingung karena tidak dapat menolong suaminya dan dua orang raksasa yang mengeroyoknya itu benar-benar tangguh, tiba-tiba muncul seorang kakek lain yang mengejutkan hati Sulastri.

Kakek yang muncul ini bertubuh tinggi besar, membawa sebatang tongkat ular hitam dan kakek ini bukan lain adalah Ki Durga Kelana, kakek cabul yang pernah menyamar sebagai wanita mengelabuhi dan menyesatkan orang-orang dusun dengan penyembahan Sang Bathari Durga itu!

Malam itu, Ki Durga Kelana mengunjungi dua orang pembantunya tentu saja dengan harapan untuk memperoleh "bagian"

Dari keuntungan yang didapatkan oleh dua orang pembantunya itu.

Ketika melihat ribut-ribut dan mendekat lalu mengenal Sulastri,dia terkejut.

Akan tetapi melihat Sulastri terdesak dan Joko Handoko juga sudah hampir tertawan, dia tertawa mengejek.

"Heh-heh, kuda betina ini makin liar saja! Betapa akan senangnya menjinakkan kuda betina liar ini! Adi Warak dan Adi Sarpo, lihat aku menaklukkannya!"

Setelah berkata demikian, Ki Durga Kelana melontarkan tongkat hitamnya ke udara.

Tongkat itu melayang dan tiba-tiba Sulastri melihat betapa tongkat hitam itu berubah menjadi seekor naga hitam yang dahsyat, dengan matanya berkilauan dan mulutnya ternganga menyemburkan api kepadanya, menubruk secara dahsyat dan mengerikan sekali!

Akan tetapi, Sulastri adalah dara perkasa gemblengan seorang sakti di puncak Bromo, dan dia tahu siapa adanya Ki Durga Kelana ini.

Dia tahu bahwa kakek ini selain digdaya juga pandai ilmu sihir, maka tahulah dia bahwa naga hitam itu adalah hasil permainan sihir kakek itu.

Maka dia lalu mengerahkan seluruh tenaga batinnya, menahan napas dan ketika naga itu menyambar, dia mengeluarkan pekik dahsyat.

"Haiiihhhhhh...!!"

Sambil melengking nyaring, Sulastri menghantam ke arah naga hitam itu dengan pengerahan tenaga dan Aji Hasto Nogo.

"Dukkk!"

Tongkat hitam itu terlempar ke atas tanah dan naga hitam itu pun lenyap!

Melihat betapa ilmu sihirnya dipunahkan orang, Ki Durga Kelana marah sekali.

Dia menyambar tongkatnya yang terlempar itu lalu memutar tongkatnya dan maju ke depan, ikut mengeroyok Sulastri yang tentu saja menjadi makin repot.

Menghadapi pengeroyokan Warak Jinggo dan Sarpo Kencono saja sudah amat berat, apalagi kini ditambah dengan Ki Durga Kelana yang lebih tangguh daripada dua orang kakek raksasa itu!

Ketika melihat keadaan Joko Handoko dan Sulastri sudah amat repot dan berbahaya sekali, tiba-tiba Sulastri meloncat ke belakang, berjungkir balik dan tahu-tahu dia telah berada di dekat suaminya, lalu dia berdiri saling mengadu punggung dengan suaminya, berbisik lirih.

"Kakangmas, jangan khawatir, kita mati bersama..."

"Diajeng, larilah selagi ada kesempatan..."

"Tidak, lebih baik mati bersamamu, Kakangmas..."

Ucapan Sulastri ini mendatangkan perasaan girang yang amat besar dalam hati Joko Handoko sehingga dia seolah-olah memperoleh tenaga baru.

Dia membentak keras dan kembali kerisnya menghunjam dan merobohkan seorang perajurit.

Akan tetapi, dua pukulannya yang keras dari samping membuat dia terhuyung dan hampir roboh!

"Kakangmas...!"

Sulastri akan menolong akan tetapi sinar hitam menyambar ke arah kepalanya.

Itulah tongkat ular dari Ki Durga Kelana yang tak boleh dipandang ringan, maka terpaksa dia mengelak dan menghadapi lawan tangguh ini dan dia sudah dikurung lagi oleh tiga orang kakek itu.

Pada saat itu, nampak berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu empat orang perajurit yang sudah menubruk tubuh Joko Handoko, mencelat ke kanan kiri dan di situ telah berdiri Sutejo!

"Kakang Tejo...!"

Sulastri berseru girang bukan main.

"Tenanglah, dan hati-hati menghadapi lawan-lawanmu!"

Tejo berkata dan dia sudah melindungi tubuh Joko Handoko yang ternyata telah roboh pingsan.

Kini Sulastri dan Sutejo mengamuk, menandingi tiga orang kakek raksasa yang dibantu oleh anak buah mereka yang kini tinggal delapan orang itu.

Sutejo kini menghadapi Ki Durga Kelana, sedangkan Sulastri yang marah melihat suaminya roboh tak bergerak, menerjang dua orang kakek raksasa lainnya dengan sambaran keris dan pukulan tangan kirinya yang ampuh.

Munculnya Sutejo amat mengejutkan tiga orang kakek itu.

Mereka sudah mengenal Sutejo dan tahu akan kesaktian pemuda ini.

"Sutejo, apakah kau hendak memberontak terhadap Mojopahit?"

Bentak Ki Durga Kelana sambil memutar tongkatnya.

"Hemm, manusia sesat, jangan bawa-bawa nama Mojopahit dalam kejahatanmu!"

Jawab Sutejo dan dia sudah menyambut serangan Ki Durga Kelana dengan kedua tangan kosong.

Pertempuran berjalan makin hebat.

Gerakan Sutejo dan Sulastri demikian cepat dan kuatnya sehingga kini tidak ada lagi perajurit yang berani maju, hanya menonton pertempuran antara kedua orang muda perkasa melawan tiga orang kakek raksasa itu.

Kalau Sutejo bertempur dengan tenang dan hanya mengimbangi terjangan-terjangan Ki Durga Kelana, tidak demikian dengan Sulastri.

Wanita ini merasa khawatir sekali melihat suaminya yang menggeletak seperti telah tak bernyawa lagi, maka saking sedihnya dia menjadi marah bukan main dan sepak terjangnya, tidak mungkinlah untuk menangkapnya hidup-hidup, seperti orang harus menangkap hidup-hidup seekor harimau yang buas saja!

Bagaimanakah Sutejo dapat muncul demikian kebetulan?

Pemuda ini tadinya pergi ke Mojopahit untuk menjumpai mbakayunya, yaitu Lestari.

Akan tetapi betapa kaget dan duka hatinya ketika dia mendengar berita tentang mbakayunya yang telah mati membunuh diri bersama seorang kekasihnya!

Diam-diam dia merasa kasihan sekali kepada mbakayunya yang diracuni dendam sehingga akhirnya menuruti hati penuh dendam berubah menjadi orang yang kejam sekali dan akhirnya ketika menemui cintanya, harus menebus semua itu dengan nyawanya.

Ketika Sutejo yang hendak pergi ke Gunung Kawi menyusul gurunya itu mendengar bahwa Lumajang diserbu oleh pasukan Mojopahit, dia segera menuju ke Lumajang.

Sama sekali bukan untuk membantu perang, baik membantu Mojopahit maupun Lumajang, melainkan karena dia teringat kepada Sulastri dan ingin menyelamatkan wanita yang dicintanya itu.

Akan tetapi ketika melihat Lumajang dikepung, dia menjadi bingung dan akhirnya dalam usahanya memasuki Lumajang dan mencari tempat yang agak lemah penjagaannya, dia melihat Sulastri dan Joko Handoko dikeroyok dan cepat membantu mereka.

Sepak terjang Sulastri yang dahsyat itu membingungkan Warak Jinggo dan Sarpo Kencono, juga membuat mereka penasaran sekali.

Mereka adalah jagoan-jagoan yang digdaya dan jarang ada lawan yang mampu menandingi mereka, akan tetapi sekarang,mengeroyok seorang wanita muda saja mereka tidak mampu menang!

Karena penasaran dan marah, tiba-tiba Warak Jinggo mengeluarkan gerengan dahsyat dan dengan sikap buas dia menubruk ke depan, seperti seekor beruang menyerang, tangan kirinya membentuk cengkeraman ke arah kepala Sulastri, sedangkan golok di tangan kanannya yang sudah dicabut untuk menghadapi lawan yang tangguh itu kini membacok ke arah pinggang Sulastri.

Pada saat yang sama pula, Sarpo Kencono juga menusukkan kerisnya ke arah perut gadis itu dan tangan kirinya mencengkeram ke arah dada!

Melihat serangan yang amat hebat ini, Sulastri mengeluarkan teriakan melengking nyaring, tubuhnya mencelat ke atas karena dia sudah menggunakan ajinya Turonggo Bayu dan ketika kedua lawannya itu tercengang melihat serangan mereka luput dan tubuh dara itu melayang ke belakang dan ke atas, tiba-tiba saja Sulastri mengayun tangan kanannya yang memegang keris, menyambitkan kerisnya ke arah Sarpo Kencono.

Malam itu biarpun ada bulan, akan tetapi bulan hanya sepotong dan tempat itu agak gelap oleh bayang-bayang pohon, sedangkan sambitan keris ini dilakukan secara mendadak dan sama sekali tidak terduga-duga.

"Crepp... aduhhhhh...!"

Sarpo Kencono menjerit dan tangan kanannya mencengkeram ke arah lehernya di mana keris yang disambitkan oleh Sulastri tadi menancap sampai ke gagang sehingga ujung keris menembus leher itu.

Dia terhuyung lalu roboh menelungkup, tewas seketika!

Bukan main kagetnya hati Warak Jinggo melihat kawannya roboh dengan tiba-tiba itu dan pada saat itu, tubuh Sulastri dari atas sudah menyambar turun ke arahnya!

Cepat Warak Jinggo lalu menyambutnya dengan bacokan goloknya, akan tetapi Sulastri yang sudah marah sekali itu tidak mengelak, sebaliknya dia malah menerima sambaran golok itu dengan tangkisan lengan kirinya, sedangkan tangan kanannya menampar ke arah kepala lawan.

Warak Jinggo girang sekali melihat wanita itu menangkis golok pusakanya dengan lengan kiri karena dia merasa yakin bahwa lengan wanita itu tentu akan terbabat buntung.

Senjata pusaka yang kuat saja akan patah bertemu goloknya, apalagi lengan halus seorang wanita.

"Dukkk! Plakk... aughhh...!"

Warak Jinggo terkejut setengah mati ketika merasa betapa goloknya bertemu dengan lengan yang kerasnya melebihi baja murni!

Dan pada saat itu, tamparan tangan Sulastri telah menyambar ke arah kepalanya.

Untung dia masih mengelak dan menjatuhkan diri ke belakang sehingga tamparan itu mengenai pundaknya, akan tetapi cukup hebat untuk membuat dia terhuyung ke belakang!

Dan Sulastri yang penasaran itu seperti seekor hariamau haus darah sudah menubruk maju!

Warak Jinggo masih berusaha menyambut serangan itu dengan tusukan golok dan hantaman tangan kiri.

Namun Sulastri benar-benar sudah nekat.

Dengan mengandalkan ilmu kekebalannya Trenggiling Wesi, dia tidak menangkis maupun mengelak sehingga tusukan golok itu mengenai perutnya sedangkan hantaman lawan mengenai lehernya, akan tetapi aji kekebalannya melindungi tubuhnya.

Andai kata Warak Jinggo tidak sekaget itu melihat lawannya menerima serangannya dengan tubuh, agaknya aji kekebalan dari Sulastri belum tentu cukup kuat untuk menandingi kekuatan Warak Jinggo.

Akan tetapi kakek ini terlalu heran dan kaget maka tenaganya tidak sepenuhnya dan pada saat itu kedua tangan Sulastri sudah menyambar dari kanan kiri tepat mengenai kedua pelipis kepala Warak Jinggo.

"Prakkk...!"

Warak Jinggo terguling roboh dan tewas seketika tanpa sempat mengeluh.

Kalau tadi ilmu kekebalan Sulastri tidak kuat menerima serangan lawan, biarpun andaikata Sulastri tewas oleh serangan itu, agaknya Warak Jinggo juga tidak akan dapat terbebas dari pukulan Hasto Nogo yang ampuh itu dan tentu mereka akan mati sampyuh.

Akan tetapi karena kakek itu terkejut dan terheran, maka aji kekebalan Trenggiling Wesi cukup kuat untuk melindungi tubuh Sulastri.

Sulastri menjadi makin beringas, seperti harimau kelaparan mencium darah segar.

Dia cepat mencabut kerisnya dari leher Sarpo Kencono dan kini dia menubruk ke arah Ki Durga Kelana dengan dahsyat.

Ki Durga Kelana sedang sibuk melawan Sutejo yang amat tangguh itu.

Dia sudah merasa repot menghadapi pemuda itu dan dia sudah merasa gentar melihat robohnya dua orang pembantunya, maka kini ketika Sulastri secara tiba-tiba menerjangnya, dia makin gugup sehingga ketika tongkatnya menyambar, lengan kanannya kena dipukul oleh tangan Sutejo yang terbuka.

"Desss...!"

Tongkat ular hitam itu terlepas dari pegangannya dan pada saat itu Sulastri sudah datang menubruk.

Ki Durga Kelana terkejut bukan main, berusaha meloncat akan tetapi gerakannya jauh kalah cepat oleh gerakan Sulastri yang menubruk seperti seekor harimau itu.

"Crep-crep-crottt...!"

Tiga kali keris di tangan Sulastri menikami perut dan dada kakek raksasa itu.

Kakek itu mengeluarkan suara gerengan menyeramkan dan kedua tangannya masih berusaha mencekik leher Sulastri, akan tetapi dengan gesit dara itu menendang sehingga perut lawan kena tendang dan terjengkanglah tubuh kakek raksasa itu, berkelojotan di atas tanah dalam genangan darahnya sendiri!

Sementara itu, Sutejo mengerutkan alisnya dan cepat melompat ke dekat Joko Handoko.

Hatinya lega melihat bahwa pemuda itu tidak tewas, hanya pingsan saja.

Ketika dia mengangkat muka memandang, dia melihat betapa Sulastri yang baru saja menewaskan tiga orang kakek sakti itu, masih mengamuk dengan buasnya!

"Adi Bromatmojo!"

Bentaknya nyaring.

Mendengar Sutejo menyebutnya seperti itu, Sulastri terkejut dan menghentikan amukannya, membalikkan tubuh memandang ke arah Sutejo.

Sejenak mereka saling pandang di bawah sinar bulan yang remang-remang.

"Adi Bromo, engkau ternyata masih belum meninggalkan sifatmu yang keras dan ganas! Kuharap engkau insyaf dan menjauhkan diri dari segala kekerasan yang tidak artinya ini!"

Tiba-tiba Sulastri merasakan sesuatu yang aneh dalam hatinya terhadap Sutejo.

Nampak jelas olehnya betapa antara dia dan Sutejo tidak akan ada kecocokan.

Sutejo memang baik sekali, gagah perkasa dan sakti mandraguna.

Akan tetapi dia melihat kelemahan dalam diri orang muda ini.

Berbeda dengan Joko Handoko...

teringat akan suaminya, tiba-tiba dia mengeluh dan cepat dia memandang ke arah tubuh yang membujur itu.

Naik sedu-sedan dari tenggorokannya dan dia segera menubruk ke arah tubuh itu sambil menangis.

Melihat ini, diam-diam Sutejo tersenyum.

Dia seperti melihat cahaya terang dalam sikap Sulastri terhadap Joko Handoko ini.

"Dia tidak tewas, sudah kuperiksa, hanya pingsan dan tidak berbahaya. Akan tetapi kita harus cepat membawanya pergi dari sini sebelum pasukan musuh datang!"

Kata Sutejo.

Sulastri tidak menjawab, hanya cepat dia memondong tubuh suaminya.

Sutejo lalu bergerak di depan, merobohkan setiap orang perajurit lawan yang berani menghadang sehingga para perajurit itu menjadi gentar dan akhirnya dengan mudah mereka dapat lolos dari kepungan dan meninggalkan hutan itu.

Setelah mereka berada jauh dari musuh dan melihat bahwa Joko Handoko benar hanya pingsan saking lelah dan karena luka-lukanya, Sulastri menurunkan tubuh suaminya di dalam sebuah gubuk di tengah sawah yang sunyi, kemudian dia membalik menghadapi Sutejo.

Sampai beberapa lamanya kedua orang ini hanya berdiri di dekat gubuk swah itu, saling pandang dan saling berhadapan, tanpa kata-kata.

Akhirnya terdengar Sutejo menarik napas panjang dan terdengar dia berkata lirih.

"Diajeng Sulastri, rawatlah suamimu baik-baik, dan sadarlah engkau betapa Kakangmas Joko Handoko adalah seorang suami yang teramat baik, seorang pria yang amat mencintaimu. Dia dan mendiang Roro Kartiko, adiknya itu, telah berbuat banyak terhadap kita. Oleh karena itu, tidak semestinya kalau engkau melupakan budinya itu, Diajeng. Akan tetapi, aku tidak membujuk apa-apa, tidak memaksamu. Aku tetap berada di Gunung Kawi, tidak mengharapkan kedatanganmu, Diajeng, akan tetapi engkau tahu bahwa aku tidak akan pernah menolak kalau engkau datang. Nah, selamat tinggal!"

Sulastri merasa heran sekali mengapa hatinya ringan saja melepas Sutejo pergi. Bahkan dia dapat berkata.

"Selamat jalan, Kakang Tejo!"

Setelah bayangan Sutejo lenyap, dia lalu mulai merawat suaminya.

Sedikit pun dia tidak ingat lagi kepada Sutejo.

Setelah melihat suaminya sadar sebentar, mengeluh dalam keadaan tidak sadar kemudian tertidur, Sulastri menjaga dan melamun.

Kini mengertilah dia.

Insyaflah dia bahwa dia dan Sutejo sama-sama keras hati.

Dan dia kini baru sadar pula bahwa diam-diam, entah sejak kapan, dia telah jatuh cinta kepada suaminya sendiri!

Dia sebenarnya mencintai Joko Handoko.

Hanya ingatannya saja yang mengganggunya, ketinggian hatinya yang tanpa disadarinya mengingatkan dia bahwa Joko Handoko adalah anak orang jahat maka dia lebih condong kepada Sutejo.

Dan dia pun tidak tahu betul mengapa terjadi hal aneh dalam hatinya, terjadi kerenggangan dan kehampaan hatinya mengenai cinta kasihnya terhadap Sutejo.

Apakah hal ini dimulai semenjak dia melihat Sutejo menjadi suami orang lain?

Mungkin saja!

Betapapun juga, dia merasa girang mendapatkan kenyataan bahwa dia mencintai suaminya!

Tanpa disadarinya, melihat wajah suaminya yang tampan dalam tidur pulas, meraba paha suaminya yang tadi telah dirawat, dibersihkan lukanya dan dibalutnya, timbul rasa haru di dalam hatinya dan dia merebahkan kepalanya dengan lembut di atas dada Joko Handoko.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Sulastri telah memondong tubuh suaminya dan membawanya lari sampai ke Gunung Semeru di mana terdapat sebuah lapangan rumput dekat sebuah sungai kecil yang airnya bening.

Tempat ini sunyi sekali dan baik dijadikan tempat persembunyian sementara karena di situ jauh dari dusun-dusun sehingga tidak mungkin pasukan Mojopahit akan sampai ke tempat itu.

Ketika dia memondong tubuh Joko Handoko, pemuda ini masih belum sadar benar dan ketika Sulastri merebahkannya di atas rumput dan memeriksanya luka di paha suaminya dengan hati-hati, terdengar Joko Handoko mengeluh lirih.

Suastri cepat mendekati dan meraba dahi suaminya yang agak panas.

Joko Handoko membuka matanya, memandang ke kanan kiri, mencari-cari dengan pandang matanya.

"Mana dia...?"

Bisiknya.

"Siapakah yang kau cari, Kakangmas?"

"Dia... di mana Dimas Sutejo tadi?"

Sulastri tersenyum ditahan.

"Sudah sejak malam tadi dia pergi, Kakangmas."

Lalu dia menceritakan betapa Sutejo datang membantunya sehingga akhirnya dia dapat menewaskan tiga orang kakek raksasa yang tangguh itu, kemudian dengan bantuan Sutejo, dia berhasil membawa Joko Handoko melarikan diri dan melewatkan malam di sebuah gubug sawah.

"Baru pagi tadi kau kubawa ke tempat ini, Kakangmas, di tempat ini sunyi dan jauh dari pedusunan."

"Tapi... tapi ke mana perginya Dimas Sutejo?"

Kembali Joko Handoko bertanya dengan alis berkerut.

"Dia? Tentu saja menyusul Gurunya di Gunung Kawi,"

Jawab Sulastri.

Joko Handoko lalu mencoba untuk bangun dan Sulastri cepat membantunya sehingga dia kini di atas tanah bertilamkan rumput hijau tebal.

Begitu duduk, nampaklah oleh Joko Handoko betapa indah tempat itu.

Rumput menghampar luas seperti permadani hijau yang amat indah, tidak ada cacatnya seperti rumput yang sering diinjak manusia atau binatang.

Air sungai gemeririk berdendang sejuk dan nyaman, airnya jernih sekali sehingga nampak batu dan pasir di bawahnya, dan air bermain-main dengan batu-batu besar yang mandi di tengah sungai.

Pagi itu cerah sekali, sinar matahari keemasan membakar seluruh tempat itu dengan cahaya kuning keemasan yang luar biasa indahnya.

Di langit yang bersih nampak burung beterbangan dan di pohon-pohon tak jauh dari situ terdengar kicau burung saling bersahutan.

Pagi yang indah!

Joko Handoko teringat lagi akan Sutejo.

"Diajeng, tempat ini memang baik sekali untuk aku beristirahat. Sebaiknya engkau cepat menyusul Dimas Sutejo ke Kawi dan...."

"Cukup, Kakangmas, jangan lanjutkan lagi!"

Joko Handoko terkejut sekali.

Ketika dia bicara tadi, dia menunduk untu menyembunyikan perasaannya yang tertekan.

Maka kini, mendengar suara isterinya yang menggetar mengandung isak, dia terkejut dan cepat mengangkat muka memandang dan dia terpesona!

Pandang mata isterinya itu!

Wajah isterinya itu!

Senyum penuh keharuan itu!

Dan air mata yang bergantung di bulu mata itu!

Apa artinya ini semua?

"Apa...?

Mengapa...?"

Dia berbisik bingung. Sulastri mengejapkan mata dan dua tetes air mata jatuh (Lanjut ke

Jilid 39 -Tamat) Kemelut Di Majapahit (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 39 (Tamat) ke sepasang pipinya.

"Kau diamlah, jangan banyak bicara, kau perlu istirahat dan lukamu perlu dicuci. Tubuhmu agak panas, aku khawatir kau terserang demam karena lukamu,"

Kata Sulastri dan dengan cekatan dia lalu berlari ke sungai, mengambil daun lompong yang lebar dan mengambil air jernih dengan daun itu.

Kemudian, dengan teliti dan penuh perhatian, dengan sentuhan-sentuhan mesra, dia mencuci luka di paha kaki Joko Handoko.

Dicucinya darah di sekitar luka itu sampai bersih dan untung bahwa dia masih membawa obat luka berupa bubukan yang dulu dia dapat dari Kaloka untuk mengobati luka di dadanya.

Obat itu masih banyak dan sengaja dibawanya karena obat luka memang perlu bagi seorang yang sedang maju menghadapi perang seperti dia.

Kini dia dapat mengobati luka di paha suaminya dan membalutnya dengan robekan kembennya setelah luka itu ditutup dengan saputangan yang bersih.

"Bagaimana rasanya, Kakangmas? Nyeri sekalikah?"

Tanya Sulastri penuh perhatian setelah selesai merawat luka itu.

"Kau tunggu di sini dulu, ya? Aku akan mencarikan makanan untukmu..."

"Diajeng... ah, terima kasih sekali atas segala kebaikanmu ini, Diajeng. Akan tetapi, sungguh aku dapat merawat diri sendiri. Engkau sebaiknya cepat menyusul Dimas Sutejo. Jangan kausia-siakan kesempatan baik ini untuk meraih kebahagiaan hidupmu, Diajeng Sulastri."

Ucapan itu keluar dengan suara bersungguh-sungguh.

Sulastri menatap wajah suaminya, mukanya menjadi pucat karena tiba-tiba dia memperoleh dugaan bahwa suaminya ini telah menjadi patah hati dan berbalik tidak suka kepadanya!

Maka tanpa dapat dicegahnya lagi, dia lalu menangis sesenggukan sambil menutupi mukanya dengan kedua tangannya!

Bukan main kagetnya Joko Handoko melihat keadaan isterinya itu.

Dia mengenal Sulastri sebagai seorang wanita yang keras hati, yang tidak mudah menangis dan kalau sekali waktu menangis pun tidak pernah sesenggukan dan sesedih ini!

Sulastri menangis seperti anak kecil yang putus harapan!

"Diajeng!

Ada apakah...?

Mengapa kau...

kau berduka seperti ini...?

Apakah yang terjadi antara engkau dan Dimas Sutejo?"

Joko Handoko menduga bahwa tangis ini pasti disebabkan oleh persoalan antara isterinya dan Sutejo karena kiranya tidak ada persoalan yang dapat membuat Sulastri berduka seperti itu kecuali persoalan yang menyangkut diri pria itu.

"Ahh... Kakangmas... tidak dapatkah... tidak maukah engkau... melupakan Kakang Tejo dan tidak menyebut-nyebut namanya lagi?"

"Baiklah kalau engkau menghendaki demikian, Diajeng, aku tidak akan menyebut namanya lagi. Akan tetapi engkau... kenapa menangis?"

Sulastri mengangkat mukanya dan menurunkan kedua tangannya. Mukanya pucat dan basah air mata, dan kini mata yang basah itu menatap wajah Joko Handoko.

"Kakangmas... apakah... apakah kau sudah tidak cinta lagi kepadaku...?"

Joko Handoko melongo, penuh keheranan.

"Demi para Dewata yang Agung...! Mengapa engkau sampai hati pertanyaan seperti itu kepadaku, Diajeng? Aku tidak cinta lagi kepadamu? Ya Tuhan...! Masih perlukah aku harus menyatakan itu dengan kata-kata?"

Sulastri mengangguk.

"Katakanlah agar aku yakin Kakangmas..."

"Tapi... tapi... apa gunanya? Hanya akan menyakitkan hati kita berdua, Diajeng..., sudahlah, engkau tahu bahwa aku cinta padamu dengan sepenuh jiwa ragaku, Diajeng Sulastri, dan aku pun tahu bahwa engkau hanya mencinta Dimas Sutejo seorang..."

"Kau keliru, Kakangmas!"

"Apa...? Apa maksudmu...?"

Wajah yang berduka itu kini pucat dan mata itu terbelalak menatap wajah Sulastri.

Bukan main rasa kasihan wanita itu melihat keadaan pria itu seperti orang yang menggantungkan harapannya pada sehelai rambut.

Wajah yang patut dikasihani, patut dicinta!

"Maksudku..., lupakah engkau bahwa aku ini isterimu, Kakangmas?"

"Eh, Isteriku...?"

"Dan bahwa seorang isteri hanya mencinta suaminya seorang?"

"Ehh?"

Joko Handoko merasa seperti dalam mimpi.

"Apa maksudmu? Kau... maksudkan bahwa engkau... mencintaiku...? Tak mungkin...?"

"Mengapa tak mungkin, Kakangmas? Kalau engkau mencintaku dengan sepenuh jiwa ragamu, yang sudah kulihat kenyataannya, mengapa aku sebagai seorang isteri tidak mungkin membalas cinta kasih seorang suami yang demikian hebat seperti engkau?"

"Tapi, tapi... dia..."

"Selama ini aku seperti buta, Kakangmas. Sesungguhnya cinta kasihku hanya kepada kau seorang..., yaitu kalau... kalau belum terlambat... kalau kau sudi memaafkan segala kebodohanku selama ini..."

Naik sedu sedan di tenggorokan Joko Handoko. Sejenak dia hanya terbelalak memandang wajah isterinya, sukar mengeluarkan kata-kata. Matanya basah dan dua titik air mata tergantung di bulu matanya.

"Aku... memaafkanmu...? Diajeng...! Sulastri isteriku sayang...!"

Dan melupakan luka di pahanya, Joko Handoko lalu merangkul dan memeluk, mendekap kepala isterinya itu di dadanya, erat-erat seolah-olah dia khawatir kalau akan kehilangan isterinya, khawatir kalau-kalau semua itu hanya mimpi belaka, seolah-olah dia hendak membenamkan kepala itu dalam-dalam di lubuk hatinya!

"Kakangmas...!"

Sulastri terisak, hatinya penuh keharuan, penuh kebahagiaan! "Diajeng... tidak... tidak sedang mimpikah aku...?"

Joko Handoko berbisik, masih pening oleh pesona.

Sulastri menggerakkan kepalanya, mengangkat mukanya sehingga mukanya dekat sekali dengan muka Joko Handoko yang menunduk.

Sulastri mengangkat lagi mukanya lebih tinggi sehingga hidungnya menyentuh pipi suaminya, bibirnya menyentuh bibir suaminya, lembut dan halus, lalu dia berbisik.

"Apakah ini mimpi, suamiku?"

"Sulastri...!"

Joko Handoko memeluk dan menciumi wajah itu, mata itu, pipi dan bibir itu, berulang-ulang seolah-olah dia masih belum percaya benar.

Sulastri terisak dan membalas pencurahan kasih sayang suaminya.

Mereka lupa segala-galanya.

Bergembira seperti sepasang pengantin baru!

Sulastri bersikap seperti seekor burung merpati yang malu-malu, kadang-kadang menjauhi, lalu mendekat dan membiarkan dirinya dicumbu, menggoda dan menantang suaminya agar mengejarnya.

Tentu saja Joko Handoko tidak dapat mengejar karena berjalan saja dia masih pincang.

Mesra sekali kedua orang yang sedang diayun gelombang asmara itu.

Dan malamnya, di bawah cahaya bulan yang sejuk, bertilamkan rumput hijau tebal, di alam terbuka, di dekat sungai yang gemericik seperti lagu pengantin, Joko Handoko dan Sulastri saling mencurahkan cinta mereka yang menggelora.

Mereka seolah-olah ingin menebus semua penundaan antara mereka selama ini.

Perbuatan apa pun yang dilakukan orang dengan dasar cinta, termasuk perbuatan dalam hubungan sex, adalah indah dan bersih!

Tidak ada pikiran kotor di dalamnya,yang ada hanya pencurahan kemesraan dan kasih sayang antara pria dan wanita yang berpuncak pada hubungan sex yang wajar dan bersih.

Akan tetapi, hubungan sex tanpa didasari cinta kasih, hanya merupakan pengejaran kesenangan belaka, hanya keinginan memuaskan nafsu berahi belaka dan karenanya sudah pasti menimbulkan berbagai macam akibat yang buruk.

Dalam pelaksanaan pengejaran itu, terjadilah pelacuran, perjinaan, perkosaan, dan sebagainya dan semua itu pasti mendatangkan rasa takut, konflik batin dan penderitaan.

Cinta bukanlah permainan pikiran.

Sebaliknya, nafsu berahi dan kesenangan ditimbulkan oleh pikiran yang mengenangkan segala pengalaman yang lalu, baik pengalaman sendiri maupun pengalaman orang lain.

Pada malam terang bulan itu, di waktu suami isteri memadu kasih, saling mencurahkan kasih asmara penuh kemesraan dan keindahan di alam terbuka,beratapkan langit, bertilamkan rumput, berdinding pohon-pohon, diterangi sinar bulan dan dibuai gendang gemericik air sungai, tepat pada saat itu, jauh di puncak Gunung Kawi, seorang pemuda duduk bersila di luar sebuah pondok, duduk diam dan tenggelam ke dalam keheningan yang gaib, dengan wajah tenang berseri, mulutnya tersenyum dan bermandikan cahaya bulan.

Pemuda ini bukan lain adalah Sutejo!

Lumajang jatuh.

Bala tentara Mojopahit terlampau besar dan kuat bagi Lumajang sehingga pertahanan Lumajang bobol dan kadipaten itu ditundukkan.

Ki Patih Nambi, Adipati Wirorojo, dan para senopati lain, gugur dalam perang.

Ada pula sebagian senopati yang menakluk.

Perang pemberontakan Lumajang yang dipimpin oleh Ki Patih Nambi berakhir.

Akan tetapi hal itu bukan berarti bahwa kemelut di Mojopahit sudah berakhir!

Jauh daripada itu.

Pengangkatan Pangeran Kolo Gemet menjadi Raja Jayanagara menimbulkan serangkaian pemberontakan yang susul-menyusul.

Pertentangan yang bersumber pada persaingan antara keturunan Sang Prabu Kertanegara dan keturunan Dara Petak dari Melayu berlangsung terus, bahkan makin menghebat.

Setelah pemberontakan Ki Patih Nambi berhasil dipadamkan pada tahun 1316, maka dua tiga tahun kemudian pecah pula pemberontakan yang dipimpin oleh Semi dan Kuti.

Seperti tercatat dalam sejarah, dalam pemberontakan Kuti dalam tahun 1319, muncullah nama Gajah Mada, seorang berpangkat bekel dengan belasan orang anak buah pasukannya yang kebetulan pada waktu itu menjadi pengawal Sang Prabu Jayanagara.

Kepala bhayangkara Gajah Mada inilah yang kemudian mempersatukan Mojopahit setelah kematian Sang Prabu Jayanagara yang terbunuh oleh Tanca,seorang dharma putera, yaitu abdi kinasih dari Sang Prabu sendiri.

Kelak Gajah Mada ini yang menjadi Patih Gajah Mada yang terkenal dalam sejarah yang berhasil mendatangkan jaman keemasan kepada Mojopahit sehingga kerajaan itu menjadi sebuah kerajaan yang amat besar.

Resi Mahapati yang telah berjasa dalam penumpasan pemberontakan Lumajang, diangkat menjadi orang kepercayaan Sang Prabu dan menjadi orang yang berpengaruh besar.

Akan tetapi akhirnya setelah dia berhasil melakukan hasutan-hasutan yang mengobarkan pemberontakan Kuti, ketahuan pula akan kepalsuannya, bahwa selama ini dia adalah seorang penghasut dan pengadu domba, maka akhirnya Sang Resi Mahapati terbunuh juga!

Bermacam-macam catatan mengenai kematian Resi Mahapati ini, ada yang mengatakan bahwa dia dihukum picis, tubuhnya cineleng-celeng, yaitu disayat-sayat sampai mati.

Ada pula yang mengatakan bahwa dia tewas dalam tangan seorang wanita bernama Dyah Retnawulan yang membalas dendam.

Betapapun juga, jelas Sang Resi ini mati dalam keadaan tubuh tidak utuh, sesuai dengan kutuk yang dikeluarkan oleh Lembu Sora sebelum senopati ini tewas, juga oleh pengkhianatan Resi Mahapati.

Sampai di sini, berakhirlah cerita KEMELUT DI MOJOPAHIT ini, dan pengarang mengucapkan selamat berpisah sampai jumpa lagi di dalam karangan lain, dengan harapan mudah-mudahan karangan ini selain dapat menghibur hati pembaca di kala senggang, juga mengandung manfaat untuk dapat mengenal diri sendiri lahir batin setiap saat.

Sebagai catatan perlu diberitahukan bahwa latar belakang untuk cerita ini diambil dari buku sejarah Kerajaan Mojopahit yang ditulis oleh Prof.

Dr.

Slamet Mulyono berjudul "Menuju Puncak kemegahan"

Terbitan P.N. Balai Pustaka tahun 1965. TAMAT Kemelut Di Majapahit Karya . Asmaraman S Kho Ping Hoo Ebook oleh . Dewi KZ

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com

http.//dewikz.com

Baca Juga: Pendekar Lembah Naga 1

Baca Juga: Pendekar Kelana 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert