Ceritasilat Novel Online

Beruang Salju 9

Eps 9 Beruang Salju - Sin Liong

Baca online Beruang Salju - Sin Liong

Cersil Beruang Salju - Sin Liong.

Sekarang walaupun kami sebagai bangsa asing yang berkuasa di negeri kalian inilah disebabkan maksud baik kami untuk memulihkan ketenteraman dan keamanan di negeri kalian.

Di samping itu memberikan kemakmuran kepada kalian!

"Seharusnya kalian berterima kasih kepada kami!

Seperti apa yang telah diutarakan oleh ke tiga orang tokoh Kay-pang kepada kami, mereka itu menyatakan terima kasih yang tidak terhingga kepada kami, karena dengan adanya kami, tentu rakyat negeri ini akan terpimpin dengan baik sekali.....!"

Muka Wie Liang Tocu berobah merah padam.

Dia adalah salah seorang Tianglo dari Kay-pang.

Memang beberapa saat yang lalu dia telah mendengar berita pengkhianatan Kan Tianglo, Pheng Tianglo dan Nyo Tianglo.

Ke tiga yang pernah dipecat oleh Oey Yong dan diturunkan tingkatannya menjadi murid delapan karung.

Ke tiga orang itu bermaksud meminta bantuan kerajaan Boan ini untuk dapat menindas musuh-musuh mereka, merebut kekuasaan tertinggi di Kay-pang.

Dengan begitu, mereka mengharapkan bantuan dari jago-jago kerajaan tersebut.

Akan tetapi ke tiga Tianglo itu rupanya tidak menyadarinya bahwa dengan meminta ikut campurnya pihak Boan-ciu, berarti mereka sama saja telah menyerahkan Kay-pang berada dalam telapak tangan kerajaan penjajahan tersebut.

Walaupun kelak mereka bertiga diangkat sebagai pemimpin tertinggi Kay-pang, akan tetapi mereka akan dikendalikna dan hanya merupakan pemimpin boneka saja.

Dengan mengeluarkan suara berkata.

"Kalian tidak perlu berdebat bicara denganku. Mari kita coba-coba kepandaian kita!"

Tampak Wie Liang Tocu telah menjejakkan kakinya, tubuhnya dengan ringan telah mencelat, ke dua tangannya telah digerakkan dan dia menyerang dengan beruntun kepada Gochin Talu.

Lengky Lumi yang sejak tadi berdiam diri saja, tiba-tiba telah mencelat maju sebelum Gochin Talu mengelakkan serangan Wie Liang Tocu.

Justru Lengky Lumi telah mendahuluinya, dia telah menangkis dengan kuat mewakili Gochin Talu, yang waktu itu mundur beberapa langkah.

Gerakan yang dilakukan oleh Lengky Lumi membuat Wie Liang Tocu jadi gusar, karena dia memang tengah menyerang Gochin Talu, sekarang menyelak Lengky Lumi, membuat dia marahnya semakin meluap.

Dia mengempos semangat murninya, dia menyerang semakin hebat dan kuat, karena waktu ke dua tangannya digerakkan serentak, di waktu itulah tenaga dan ke dua telapak tangannya telah mengalir keluar dengan cepat dan dahsyat menyambar ke arah Lengky Lumi.

Tenaga lweekangnya yang menyambar dari ke dua tangan Wie Liang Tocu bisa menghancurkan sebongkah batu yang besar dan kuat, maka sekarang disambut oleh Lengky Lumi dengan mempergunakan kekerasan juga.

Terjadi bentrokan yang sangat kuat, membuat tubuh Lengky Lumi tergetar dan hatinya tercekat kaget, karena dia sama sekali tidak menyangka bahwa pengemis tua ini memiliki tenaga dalam yang begitu hebat.

Karenanya, begitu dia merasakan desakan tenaga dari lawannya yang luar biasa kuatnya.

Lengky Lumi telah melompat miring ke samping kanannya, berbareng tampak ke dua tangannya digerakkan pula dengan cara disilangkan.

Tangan kanan akan mencengkeram tulang iga Wie Liang Tocu, sedangkan tangan kirinya diulurkan untuk menotok beberapa jalan darah tubuh lawannya.

Wie Liang Tocu tidak jeri oleh totokan dan cengkeraman karena dengan gerakan yang berani sekali dia bukannya mengelakkan diri dari serangan lawannya, malah telah mempergencar serangannya lagi, sehingga angin serangannya itu menyambar tambah kuat saja.

Lengky Lumi tidak menyangka sama sekali bahwa pengemis tua ini dapat berlaku begitu sebat dan juga tenaga yang dipergunakannya dahsyat sekali.

Walaupun kepandaian yang dimiliki Lengky Lumi memang merupakan kepandaian yang tidak lemah, kenyataannya tidak dapat dia menerima serangan yang kuat seperti itu dari lawannya dengan mempergunakan kekerasan.

Karenanya waktu merasakan menerjangnya angin serangan dari ke dua telapak tangan lawannya, cepat bukan main tampak Lengky Lumi telah menyingkir lagi.

Lalu dengan dibarengi oleh suara bentakan yang sangat keras, diapun telah menggerakkan sepasang tangannya, menyerang dengan dahsyat.

Serangan Lengky Lumi hanya berhasil membendung kekuatan tenaga serangan dari Wie Liang Tocu, setelah itu tubuh Lengky Lumi mundur beberapa langkah lagi.

Hampir saja dia terpelanting dari atas genting.

Untuk itu cepat-cepat dia telah mengendalikan kuda-kuda ke dua kakinya dan dia berhasil berdiri diam pula.

Wie Liang Tocu tidak menyerang lebih jauh, dia memandang dengan tatapan mata yang tajam sekali.

"Hemmm, kepandaian kalian tidak seberapa..... aku telah menetapkan bahwa hari ini kalian harus mampus.....!"

Setelah berkata begitu Wie Liang Tocu melirik kepada anak buah Gochin Talu yang menimbulkan suara berisik di bawah genting karena mereka telah berkumpul di sana.

Di saat itu Gochin Talu tidak membuang-buang kesempatan yang ada.

Di saat Wie Liang Tocu tengah melirik ke bawah dan lengah, dia telah menjejakkan kakinya.

Tubuhnya telah melambung tinggi ke tengah udara, tangan kanannya menyambar akan menghantam batok kepala pengemis tua itu.

Merasakan menyambarnya angin pukulan, Wie Liang Tocu melirik, dia menghantam pula dengan tangan kanannya.

Benturan tenaga yang terjadi tidak bisa dielakkan.

Waktu menyerang, Gochin Talu begitu bernafsu, karenanya kini dia sudah tidak sempat menarik pulang tangannya pula, dan telah menyebabkan tenaga mereka saling bentrok kuat sekali, menimbulkan getaran dan tubuh Gochin Talu terpental balik ke arah asalnya, kemudian meluncur jatuh di atas genting, sehingga dia menginjak hancur pecah beberapa genting.

Untung saja Lengky Lumi yang sejak tadi berwaspada ketika melihat keadaan kawannya, telah menyambar Gochin Talu.

Dengan demikian Gochin Talu tidak sampai ambruk amblas ke dalam hancuran genting itu, dia bisa melompat lagi berdiri di bagian lainnya.

Wie Liang Tocu memperdengarkan suara tertawanya yang nyaring.

Di saat ke dua orang itu belum lagi sempat untuk memperbaiki kedudukan mereka, dia telah melompat menyerang lagi.

Serangan tangan kanannya menuju kepada Gochin Talu, sedangkan tangan yang lainnya manghantam kepada Lengky Lumi.

Gochin Talu maupun Lengky Lumi telah mengetahui bahaya yang tengah mengancam mereka, karenanya ke duanya pun mengempos semangat mereka untuk menghadapi serangan itu dengan kekerasan.

Untuk mengelakkan diri dari hantaman Wie Liang Tocu sudah tidak keburu lagi karenanya kini baik Lengky Lumi maupun Gochin Talu telah menangkis serangan yang dilakukan oleh Wie Liang Tocu.

Gerakan yang dilakukan itu sangat kuat dan cepat maka tenaga mereka saling bentrok satu dengan yang lainnya.

Kekuatan tenaga yang saling bentrok itu menimbulkan getaran yang dahsyat dan telah menghancurkan beberapa genting.

Tetapi Wie Liang Tocu tidak menarik pulang tangannya, di mana sepasang tangan itu dengan kekuatan yang sangat dahsyat sekali menindih tangan Lengky Lumi dan Gochin Talu.

Gochin Talu maupun Lengky Lumi masing-masing tidak bisa menarik pulang tangan dan tenaganya mereka, disebabkan tenaga menindih dari lawannya tetap menggencet tangannya, jika memang mereka memaksakan diri untuk menarik pulang tenaga dan tangan masing-masing, maka mereka akan menghadapi ancaman bahaya yang cukup besar.

Di sana kekuatan tenaga dalam dari Wie Liang Tocu akan menghantam terus kepada mereka, yang akan membuat dada mereka masing-masing hancur remuk dan terluka di dalam yang berat.

Begitulah, mereka berkutetan mengadu kekuatan tenaga lweekang, dan mereka tidak bergeming dari tempat mereka berada.

Sedangkan orang-orangnya Gochin Talu yang berkumpul di bagian bawah dari bangunan tersebut telah mengeluarkan suara yang berisik.

Tetapi mereka tidak ada yang berani melompat naik ke atas genting untuk membantui majikan mereka, karena mereka melihat lawan dari majikan mereka merupakan pengemis yang memiliki kepandaian yang luar biasa tingginya.

Sedangkan majikan mereka dan sahabatnya itu, Lengky Lumi, yang diketahui oleh mereka memiliki kepandaian sangat tinggi sekali, dibuat tidak berdaya oleh pengemis tua tersebut.

Jika saja mereka memaksakan diri untuk membantui majikan mereka, bukannya memberikan bantuan diharapkan oleh majikan, babkan akan membuat mereka sama saja mengantarkan kematian masing-masing di tangan Wie Liang Tocu, Waktu itu tampak Wie Liang Tocu telah mengempos semangatnya.

Sepasang tangannya itu tampak tergetar karena dia telah mengerahkan tenaga dalam yang jauh lebih kuat lagi.

Gochin Talu dan Lengky Lumi menyadari jika memang mereka memaksakan diri untuk bertahan terus seperti itu tentu diri mereka sendiri yang akan rugi dan kena dicelakai oleh Wie Liang Tocu, karena mereka semakin terdesak dan akhirnya akan binasa di tangan si pengemis tua tersebut.

Sedang mereka berkutetan memberikan perlawanan terhadap tenaga tindihan dari Wie Liang Tocu, ke duanya telah memutar otak dengan keras untuk mencari daya dan jalan guna meloloskan diri dari tangan Wie Liang Tocu.

Waktu itu, ada salah seorang pahlawan Gochin Talu yang menyaksikan Wie Liang Tocu tengah berada dalam keadaan terkepung oleh tenaga Gochin Talu dan Lengky Lumi.

Tampak jelas Wie Liang Tocu tidak bisa menarik pulang ke dua tangannya dan berada dalam keadaan berdiri tegak tidak bisa maju dan tidak bisa mundur.

Pahlawan Gochin Talu ini yang melihat keadaan Wie Liang Tocu seperti itu ingin memanfaatkan kesempatan tersebut, karenanya dia telah diam-diam telah melompat ke atas genting, lalu mengayunkan goloknya membacok dari belakang si pengemis tua tertebut.

Wie Liang Tocu menyadari dan mengetahui bahwa dirinya tengah dibokong oleh lawan tersebut.

Akan tetapi pengemis tua ini berdiam diri saja di tempatnya, sama sekali tidak merobah posisi dirinya, dia telah menindih terus Gochin Talu dan Lengky Lumi dengan tenaga dalamnya.

Karenanya, ketika golok menyambar dekat sekali di punggungnya, Gochin Talu dan Lengky Lumi yang menyaksikan hal itu jadi girang bukan main.

Mereka mengharapkan pahlawannya itu bisa menyerang pada sasarannya dengan tepat, sehingga Wie Liang Tocu bisa dicelakainya dan dibuat tidak berdaya.

Akan tetapi harapan mereka itu merupakan harapan kosong belaka.

Karena di saat itu, waktu golok hanya terpisah beberapa dim saja dari sasarannya, tidak terduga sama sekali Wie Liang Tocu mengambil tindakan yang mengejutkan, yaitu ke dua tangannya tetap menindih kekuatan tenaga ke dua lawannya, sedangkan kaki kanannya tahu-tahu telah melayang ke belakang.

Gerakan kaki dari Wie Liang Tocu begitu cepat dan di luar dugaan sama sekali, malah tahu-tahu tangan dari penyerang gelap itu telah kena ditendang dengan keras.

Orang itu merasakan tangannya kesemutan dan tahu-tahu belum lagi dia menyadari apa yang terjadi, goloknya telah terbang dari cekalan tangannya, malah tubuhnya sendiri ikut melayang ke tengah udara.

Ketika tubuh orang itu meluncur jatuh di atas genting, tubuhnya itu amblas masuk ke dalam dengan menghancurkan genting dalam jumlah yang banyak, dan terdengar suara pekiknya, suara jerit kesakitan bercampur perasaan kaget.

Wie Liang Tocu sama sekali tidak merobah cara untuk menindih ke dua lawannya itu, dia terus juga mengempos semangatnya.

Karenanya, seketika itu juga Gochin Talu dan Lengky Lumi yang semula tengah gembira dan bergirang hati sebab menduga salah seorang pahlawannya akan berhasil menyerang Wie Liang Tocu, berbalik jadi menurun semangatnya.

Karena selain orang mereka itu telah dirubuhkan dengan kegagalannya menyerang, justru sekarang tenaga Wie Liang Tocu yang menindih tenaga mereka tampak semakin kuat dan dahsyat saja.

Tubuh Gochin Talu dan Lengky Lumi sampai gemetaran, karena mereka harus mengerahkan seluruh tenaga yang ada pada mereka.

Dan juga tampak mereka telah menginjak retak gentinggenting itu.

Jika saja genting-genting itu pecah dan hancur, niscaya akan membuat mereka kehilangan keseimbangan tubuh.

Dan waktu itulah mereka akan bercelaka sebab dengan lenyap keseimbangan tubuh dan kuda-kuda ke dua kaki yang tergempur berarti sulit bagi mereka untuk mengerahkan tenaga dalamnya, dan mereka akan tertindih oleh kekuatan tenaga dalam lawannya.

Wie Liang Tocu berulang kali memperdengarkan suara tertawa mengejek, tampak dia juga telah menindih semakin kuat.

Butir-butir keringat memenuhi kening dan muka Wie Liang Tocu.

Namun keadaan Gochin Talu dan Lengky Lumi pun semakin parah, juga keringat membasahi tubuh mereka yang mulai gemetaran.

Dan dibarengi dengan suara "krakkk!"

Di mana genting tempat mereka berpijak itu telah hancur pecah, tubuh mereka amblas ke dalam dan di saat itulah lenyap keseimbangan tenaga mereka, karenanya di waktu tenaga dalam dari Wie Liang Tocu menghantam terus ke duanya telah terluka di dalam yang cukup parah.

Dikala tubuh mereka telah tiba di lantai dalam ruangan di bawah genting yang hancur itu, muka mereka berdua pucat pias, di samping itu pula ke duanya telah memuntahkan darah segar yang banyak sekali dan berulang kali.

Wie Liang Tocu tidak membuang-buang waktu lagi, tubuhnya telah meluncur turun juga untuk menyusul.

Karena Wie Liang Tocu dalam kesempatan ini bermaksud untuk menurunkan tangan kematian pada ke dua lawannya itu.

Maksudnya di saat lawannya tersebut tidak memiliki kesempatan memberikan perlawanan lagi, Wie Liang Tocu ingin menghabisi nyawa mereka.

Waktu tubuh Wie Liang Tocu tengah meluncur turun dari lobang bekas hancuran genting di mana tubuh Gochin Talu dan Lengky Lumi tadi meluncur jatuh, tampak Lengky Lumi dan Gochin Talu tengah berdiri memuntahkan darah segar.

Tanpa berayal lagi, cepat luar biasa tangan Wie Liang Tocu telah melayang.

Gerakannya ini hebat bukan main, selain cepat juga tenaga dalam yang dipergunakannya sangat kuat sekali.

Angin serangannya itu telah meluncur dahsyat sekali.

Gochin Talu dan Lengky Lumi jadi mengeluh, karena walaupun bagaimana mereka tidak bisa memberikan perlawanan lagi.

Sekarang, mereka hanya pasrah untuk menerima kematian di tangan Wie Liang Tocu belaka.

Girang bukan main hati Wie Liang Tocu karena melihat ke dua lawannya tidak mungkin terhindar dari tangannya, dan berarti dia akan berhasil membunuhnya.

Akan tetapi waktu tangan Wie Liang Tocu meluncur semakin dekat, di samping itu juga dia tengah mengempos menambah kekuatan tenaga pukulannya, mendadak sekali menyambarnya juga selendang putih yang cukup lebar.

Angin yang menyambar ke arah tangan Wie Liang Tocu itu tidak lain dari selendang tersebut, dan selendang putih itu digerakkan oleh sesosok tubuh dengan gerakan yang gesit sekali.

Sesosok tubuh itu adalah seorang manusia bertubuh tinggi besar dan tampaknya memiliki kekuatan lweekangnya sangat dahsyat.

Waktu Wie Liang Tocu menarik pulang tangan dan serangannya dengan gusar, di saat itulah dia mengenali bahwa orang tersebut adalah seorang Lhama yang pernah berjumpa dengannya, tidak lain dari Tiat To Hoat-ong.

Wie Liang Tocu pernah ketemu muka dengaa Lhama yang jadi Koksu negara itu di istananya pangeran Ghalik beberapa waktu yang lalu.

Tiat To Hoat-ong setelah berhasil menggagalkan serangan maut Wie Liang Tocu kepada Gochin Talu dan Lengky Lumi dan tertawa gelak-gelak dengan suara yang menyeramkan sekali.

"Bagus! Bagus! Rupanya ada orang Kay-pang yang hendak mencari urusan dengan orang-orangku.....! Hemmm, apakah kau telah memiliki enam kepala dan duabelas tangan sehingga berani bentrok dengan pihak kerajaan?"

Sambil berkata begitu, Tiat To Hoat-ong mengawasi bengis sekali pada Wie Liang Tocu.

Sedangkan pengemis tua inipun tidak mau kalah dengan lawannya, memperdengarkan suara tertawa yang nyaring penuh ejekan, katanya.

"Kukira siapa, tidak tahunya hanya seorang kerbau gundul saja! Mari! Mari kita bermain sepuas hati!"

Dan berbareng dengan perkataannya itu, tampak Wie Liang Tocu tidak berdiam diri saja, karena dengan menggerakkan tenaga lweekangnya, tampak ke dua tangannya telah digerakkan dengan serentak.

Akan tetapi Tiat To Hoat-ong seorang Kok-su Mongol yang telah memiliki kepandaian sangat tinggi sekali, terlebih lagi diapun telah mahir dengan ilmu andalannya, yaitu Soboc.

Ilmu yang sangat hebat dan aneh.

Sekarang menyaksikan Wie Liang Tocu menyerangnya dengan serangan yang begitu kuat dan hebat, tidak berayal lagi Tiat To Hoat-ong menggerakkan selendangnya yang berwarna putih Selendang putih itu memang merupakan sebagian dari jubah Tiat To Hoat-ong dan terbuat dari kain belaka, akan tetapi di tangan Tiat To Hoat-ong, Koksu yang memiliki kepandaian sangat tinggi itu, kain tersebut telah berubah sifatnya bisa lunak dan keras.

Jika dipergunakan dengan tenaga lunak, akan selunak kapas, akan tetapi jika memang kain itu dipergunakan dengan tenaga yang bersifat keras, akan sekeras lapisan dan lempengan baja belaka yang bisa menghancurkan lawan dengan sekali hantam saja.

Selendang kain putih itu menyambar ke arah batok kepala Wie Liang Tocu, menyebabkan Tianglo pengemis yang memiliki kepandaian tinggi itu harus menarik pulang serangan dan tenaganya.

Diapun mengelakkan diri ke samping kanan.

Akan tetapi belum lagi Wie Liang Tocu sempat untuk merobah cara menyerangnya, waktu itu selendang kain telah berobah arah sambarannya.

Jika semula memiliki sifat yang keras sehingga menyerupai lempengan baja, sekarang selendang kain itu telah berobah menjadi lunak sekali, seperti juga seekor ular yang menyambar akan melilit batang leher We Liang Tocu.

Kagum juga Wie Liang Tocu menyaksikan kepandaian lawannya yang telah mencapai puncak kesempurnaan seperti itu.

Namun Wie Liang Tocu sama sekali tidak merasa jeri atau gentar, malah dengan cepat dia telah mengulurkan tangan kanannya.

Dia menyambar akan mencekal dan membetot selendang putih itu.

Akan tetapi, selendang putih tersebut bagaikan memiliki mata saja.

Waktu tangan Wie Liang Tocu menyambar akan mencekal dan membetotnya, justru waktu itu selendang itu telah berbalik arah kembali ke arah Tiat To Hoat-ong.

Kekuatan tenaga yang terkandung dalam selendang putih itu memang bisa berobah menurut kehendak hati dari Tiat To Hoatong.

Dengan demikian, sekarang setelah ditarik pulang, selendang putih itu kembali merupakan kain belaka yang lemas tidak mengandung kekuatan apapun juga.

Wie Liang Tocu mengawasi tajam sekali, "Hemmm......

kepandaianmu ternyata cukup tinggi!"

Serunya.

Sembari dengan seruannya, Wie Liang Tocu telah melompat dengan sebat, ke dua tangannya juga meluncur menyerang beruntun sampai lima jurus.

Tiat To Hoat-ong memperdengarkan suara tertawa dingin.

"Lebih bijaksana jika kau menyerahkan diri secara baik-baik untuk diadili oleh kami!"

Terdengar Tiat To Hoat-ong mengejek.

"Hemmm, jika memang engkau berkepala batu, tentu engkau akan bercelaka dan menemui kematian dengan cara yang tidak menggembirakan!"

Setelah berkata begitu.

Tiat To Hoat-ong beruntun mengelakkan diri dari setiap serangan yang dilancarkan oleh Wie Liang Tocu.

Dan kemudian dalam suatu kesempatan, selendang putihnya itu seperti juga seekor ular yang menyambar telah melibat ke dua tangan Wie Liang Tocu!

Tercekat hati Wie Liang Tocu, karena dengan terlibat sepasang tangannya, jelas dia tidak bisa mempergunakan sepasang tangannya itu buat membalas menyerang.

Dalam waktu hanya beberapa detik itu, Wie Liang Tocu telah mengambil keputusan yang nekad.

Tahu-tahu dia telah menjejakkan sepasang kakinya, tubuhnya telah melompat menerjang kepada Tiat To Hoat-ong.

Karena sepasang tangannya tengah terlibat oleh selendang pendeta yang menjadi Koksu negara Boan-ciu tersebut.

Wie Liang Tocu menggantikannya dengan ke dua kakinya yang menendang dengan beruntun bagian-bagian yang bisa mematikan tubuh lawannya.

Akan tetapi Tiat To Hoat-ong dengan memperdengarkan suara tertawa mengejek mengelakkan diri ke samping kanan, sedangkan selendangnya itu tetap melibat ke dua tangan Wie Liang Tocu.

Di waktu tubuh Wie Liang Tocu tengah melayang di tengah udara dan sepasang kakinya itu gagal dengan serangannya.

Tiat To Hoat-ong pun tidak mensia-siakan kesempatan seperti itu, dia telah menghentakkan selendang putihnya itu yang telah disaluri tenaga lweekangnya, sepasang tangan Wie Liang Tocu terbetot kuat sekali.

Wie Liang Tocu juga bukan seorang yang berkepandaian lemah, di dalam Kay-pang dia merupakan salah seorang tokoh yang memiliki kepandaian tertinggi.

Bahkan Pangcu Kay-pang sendiri, yaitu Yeh-lu Chin menghormatinya benar.

Sekarang menghadapi bahaya yang tidak kecil buat keselamatan dirinya dengan sepasang tangan yang terlibat oleh selendang putih dan ia telah ditarik sehingga kehilangan keseimbangan tenaga.

Dan tubuhnya cepat bukan main, Wie Liang Tocu melakukan gerakan melentik tanpa menantikan tubuhnya terbanting di lantai.

Dengan demikian, bila menolong dirinya tidak sampai terbanting, dia berdiri di atas ke dua kakinya.

Tiat To Hoat-ong menyaksikan gerakan lawannya, memperdengarkan tertawa dingin.

Dia menghentakkan lagi selendang putihnya itu.

Karena gentakan yang dilakukan oleh Koksu negara itu disertai dengan kekuatan tenaga lweekangnya yang dahsyat, dengan sendirinya tenaga itu membuat tubuh Wie Liang Tocu berjumpalitan lagi.

Malah Wie Liang Tocu merasakan sepasang pergelangan tangannya dilibat oleh selendang putih itu seperti akan remuk, akibat kuatnya libatan selendang putih yang mengandung tenaga lweekang yang dahsyat.

Sambil mengeluarkan seruan gusar, Wie Liang Tocu berusaha mengerahkan seluruh tenaganya pada pergelangan tangannya, telah membetot ke dua tangannya dari lilitan selendang putih itu, maksudnya ingin menarik robek selendang itu.

Akan tetapi gerakan yang dilakukan oleh Wie Liang Tocu ternyata gagal sama sekali.

Selendang itu memiliki kekuatan yang sangat mengagumkan, dan tubuhnya berjumpalitan.

Hal ini tidak tertolong lagi, di mana Wie Liang Tocu jadi terbanting keras sekali, sehingga dia merasakan matanya berkunang-kunang.

Cepat bukan main Tiat To Hoat-ong menghentak lagi, dia ingin mengulangi bantingannya itu.

Akan tetapi Wie Liang Tocu juga tidak manda dan berdiam diri saja, dia telah mengempos semangat dan tenaganya berusaha bertahan, agar dirinya tidak kena dibuat terpelanting pula.

Waktu itu tampak Tiat To Hoat-ong telah mengerahkan tenaga dalamnya lagi, maksudnya ingin membuat Wie Liang Tocu terjengkang.

Tiga kali dia mencoba dengan usahanya itu, namum gagal.

Wie Liang Tocu telah berhasil memasang kuda-kuda kakinya sehingga sedikitpun tubuhnya tidak bergeming oleh tenaga hentakan Tiat To Hoat-ong.

Rupanya Koksu negara itu jadi penasaran.

Dengan diiringi oleh suara bentakan mengguntur, dia menghentak lagi menarik selendangnya, dengan menambah kekuatan tenaga lweekangnya.

Wie Liang Tocu sendiri merasakan hebatnya tenaga tarikan tersebut.

Akan tetapi dia tetap berusaha memberikan perlawanan dengan menahan diri, ke dua kakinya berdiri tegak dengan kudakuda yang kokoh dan kuat.

Ketika dia merasakan betapa tenaga Koksu itu membetot semakin kuat, Wie Liang Tocu segera memutuskan untuk mengambil tindakan nekad.

Waktu Tiat To Hoat-ong tengah menarik pula dengan menambah kekuatan tenaga dalamnya, Wie Liang Tocu tiba-tiba menjejakkan ke dua kakinya.

Tubuhnya dengan, gesit dan ringan, karena tenaga melompatnya ditambah dengan tenaga tarikan dari Tiat To Hoatong, membuat Wie Liang Tocu menerjang kepada Tiat To Hoatong dengan kecepatan seperti angin.

Tiat To Hoat-ong tidak menyangka akan kenekadan lawannya.

Waktu melihat tubuh Wie Liang Tocu menerjang padanya, dia tercekat hatinya, namun sebagai seorang yang memiliki kepandaian telah tinggi, dia tidak menjadi gugup karenanya.

Sepasang tangannya tiba-tiba meluncur memapaki tubuh Wie Liang Tocu.

Waktu ke dua tangannya menyampok tubuh Wie Liang Tocu, selendang putihnya itu telah dilepaskannya.

Dan tenaga sampokan itu dahsyat sekali.

Itulah kekuatan tenaga dalam dari ilmu Soboc simpanan Koksu negara tersebut.

Wie Liang Tocu terkesiap, hatinya tercekat karena kaget tidak terkira, diapun merasakan sambaran angin serangan yang sangat kuat ke arah dirinya.

Di saat itu Wie Liang Tocu telah kepalang tanggung dan terlanjur mengerahkan tenaga dalamnya menyerang Koksu itu.

Dan sekarang dia dipapaki dengan kekuatan tenaga yang demikian hebat, membuat Wie Liang Tocu tidak memiliki pilihan lainnya lagi, sehingga telah terjadi bentrokan yang kuat sekali.

Tubuh Wie Liang Tocu terpental sampai tiga tombak lebih.

Hampir saja punggungnya menghantam dinding.

Dan juga di saat itu tubuh Tiat To Hoat-ong sendiri tergetar, dia melangkah mundur sampai lima langkah.

Dilihat dari kesudahan mengadu kekuatan tenaga lweekang di antara ke dua orang tersebut, jelas tenaga dalam Wie Liang Tocu masih berada di sebelah bawah tenaga dalam Tiat To Hoat-ong.

Sesungguhnya kekuatan tenaga lweekang Tiat To Hoat-ong tidak menang terlalu banyak dari Wie Liang Tocu.

Jika sampai Wie Liang Tocu terpental seperti itu, sedangkan Tiat To Hoat-ong hanya terhuyung melangkah ke belakang lima tombak, itulah disebabkan tenaga dari Soboc memang sangat aneh sekali.

Dengan mengandalkan keanehan bawaan sinkangnya itulah menyebabkan Tiat To Hoat-ong menang di atas angin.

Wie Liang Tocu cepat berjumpalitan dan berhasil berdiri tegak kembali, hanya saja muka pengemis tua ini agak pucat.

Tiat To Hoat-ong tertawa dingin, katanya.

"Lebih baik kau menyerah secara baik-baik untuk ditawan oleh kami, jika tidak terpaksa kami akan mengambil tindakan kekerasan.....!"

Wie Liang Tocu waktu itu tengah gusar bukan main. Dia mendengus dengan penuh amarah, katanya.

"Jika memang aku sudah tidak bernapas, barulah kalian bisa menangkap diriku! Hemmm, dari pada menyerahkan diri kepada kalian, aku lebih baik mampus dengan membuang jiwa tua ini, asalkan dapat membunuh salah seorang di antara kalian.....!"

Setelah berkata begitu, dengan penuh kemarahan Wie Liang Tocu menerjang lagi menyerang Tiat To Hoat-ong.

Memang sebagai seorang Tianglo dari Kay-pang mana mungkin Wie Liang Tocu menyerahkan diri begitu saja.

Walaupun dia harus menerima kematian di tangan Tiat To Hoat-ong tidak nantinya dia menyerah.

Karena baginya lebih, baik bertempur sampai menemui kematiannya dari pada harus menyerah kepada lawan.

Melihat Wie Liang Tocu begitu nekad dan telah menyerang lagi ingin mengadu jiwa, Tiat To Hoat-ong jadi merasa mendongkol dan murka.

"Hemmm, manusia tidak tahu diri.....!"

Menggumam Koksu itu, dia memusatkan kekuatan tenaga dalamnya, menyalurkan pada ke dua telapak tangannya kemudian dia mengayunkan tangannya menyerang kepada Wie Liang Tocu yang tengah menerjang kepadanya dengan gerakan nekad dan kalap.

Wie Liang Tocu yang memang sudah nekad tidak mau membiarkan serangannya ditangkis, karenanya begitu melihat lawannya hendak menangkis dan balas menyerang, Wie Liang Tocu tidak menanti sampai serangannya itu kena ditangkis, dia telah merobah arah serangannya.

Jika semula dia menyerang ke arah dada dari Tiat To Hoat-ong, sekarang dia menaikkan sedikit ke dua tangannya merobah arah sasarannya ke arah batok kepala Koksu tersebut.

Tiat To Hoat-ong kembali terkesiap karena dia tidak menyangka sama sekali bahwa lawannya dapat menarik dan merobah kembali tenaga serangannya itu pada sasaran yang lain, yaitu ke arah batok kepalanya.

Waktu Tiat To Hoat-ong menangkis, dia telah memperkirakan titik tempat tangkisan tersebut, dengan demikian tenaga lweekang yang dipergunakannya itu telah diperkirakanya.

Jika memang dia menangkis dengan menaikkan ke dua tangannya terlebih tinggi lagi, berarti akan menyebabkan kekuatan tenaga tangkisan itu berkurang banyak dan yang akan tertimpah bencana dan bahaya adalah dirinya, yang akan menderita terluka di dalam.

Sebab itu, tidak ada jalan lain yang bisa diambil Koksu ini selain membatalkan tangkisannya, kemudian dengan cepat menghindarkan dirinya dari serangan Wie Liang Tocu telah dimiringkan.

Sambil berbuat seperti itu dengan gerakan yang cepat sekali tampak Tiat To Hoat-ong menyerempang mempergunakan ke dua kakinya.

Wie Liang Tocu semula tengah bergirang hati karena merasa yakin serangan ke arah batok kepala lawannya akan berhasil dengan baik.

Akan tetapi dia kembali jadi mendongkol dan terkejut, sebab tahu-tahu pendeta yang menjadi Kok-su negara itu telah menarik pulang tenaga tangkisannya, dan mempergunakan kelicikannya menghindar saja, sehingga tidak ada hasil yang berarti diperoleh Wie Liang Tocu.

Saking gusarnya, Wie Liang Tocu tidak memperdulikan serampangan kaki Koksu tersebut, dia telah memperhebat serangan pada ke dua telapak tangannya.

"Dukkk! Bukkk!"

Dua kali suara benturan terdengar keras sekali, di mana tendangan kaki Tiat To Hoat-ong mengenai telak sekali perut Wie Liang Tocu, sedangkan telapak tangan kanan Wie Liang Tocu menghantam tepat sekali pundak Koksu itu.

Dengan demikian mereka berdua saling terpental.

Namun ketika ke duanya telah dapat berdiri tetap pula, ke duanya tidak saling menerjang atau menyerang lagi, mereka hanya berdiri saling pandang dengan sikap bersiap siaga.

Sebenarnya serangan yang dilakukan olah Wie Liang Tocu bukanlah serangan yang ringan, akan tetapi Tiat To Hoat-ong yang telah berhasil meyakinkan ilmu Soboc nya sampat tingkat ke delapan, menyebabkan dia sanggup menerima serangan Wie Liang Tocu yang dahsyat tanpa mengakibatkan dia terluka di dalam.

Walaupun demikian, tidak urung si pendeta merasakan matanya berkunang-kunang.

Wie Liang Tocu sendiri yang menerima tendangan kaki si Koksu menyebabkan perutnya jadi mual.

Dia merasakan seluruh isi perutnya seperti terbalik.

Pandangan mata Tianglo dari Kay-pang inipun terasa gelap, menyebabkan tubuhnya agak sedikit membungkuk.

Hanya saja disebabkan Wie Liang Tocu mengetahui bahwa keselamatan dirinya terancam, dia tetap memusatkan kekuatan tenaga lweekangnya, dan bersiap siaga menantikan serangan berikutnya dari Koksu negara itu.

Untung saja Tiat To Hoat-ong pun tidak menyerangnya lebih jauh disebabkan hantaman telapak tangan Wie Liang Tocu.

Untuk sementara itu Koksu tersebut seperti tengah mengempos semangatnya.

"Baiklah, kukira cukup sampai di sini, lain kali kita bertemu lagi!"

Berseru Wie Liang Tocu sambil memutar tubuhnya untuk melompat ke atas genting guna pergi meninggalkan tempat itu.

Gochin Talu dan Lengky Lumi sejak tadi telah mengawasi jalannya pertempuran antara Tiat To Hoat-ong dengan Wie Liang Tocu, dan melihat bahwa kepandaian Wie Liang Tocu memang berada di atas kepandaian mereka.

Jika saja di waktu itu tidak muncul Tiat To Hoat-ong, niscaya mereka berdua tidak berdaya menghadapi Wie Liang Tocu.

Dengan demikian telah membuat mereka mengakui juga, bahwa kepandaian mereka memang masih berada di bawah kepandaian Tiat To Hoat-ong maupun Wie Liang Tocu.

Mereka telah memandang dengan tatapan mata yang mengandung rasa kagum.

Dan di waktu itulah mereka telah menyaksikan Tiat To Hoat-ong terserang pundaknya dan Wie Liang Tocu sebaliknya kena ditendang hebat oleh si Koksu negara, membuat ke dua orang itu untuk sejenak lamanya, telah berdiam diri seperti juga tengah bersiap-siap hendak saling menerjang lagi.

Sebenarnya Gochin Talu dan Lengky Lumi ingin mempergunakan kesempatan itu untuk menyerang Wie Liang Tocu, guna mengeroyoknya.

Karena mereka yakin, jika memang mereka mempergunakan kesempatan itu untuk menyerang Wie Liang Tocu, jelas pengemis itu tidak akan sempat untuk menghadapinya dengan baik.

Mereka yakin Wie Liang Tocu telah terluka di dalam yang cukup parah.

Hanya saja mereka masih bimbang kalau-kalau Wie Liang Tocu masih memiliki kekuatan tenaga dalam yang hebat, dan kemungkinan mereka berdua yang bercelaka.

Karena itu, akhirnya Gochin Talu dan Lengky Lumi hanya berdiam diri mematung saja mengawasi.

Dan di saat itulah Wie Liang Tocu telah berkata seperti itu dengan maksud ingin berlalu meninggalkan tempat tersebut.

Gochin Talu dan Lengky Lumi terkejut, mana bisa Wie Liang Tocu dibiarkan berlalu begitu saja.

Sedangkan Tiat To Hoat-ong yang waktu itu telah berhasil menyalurkan pernapasannya dan memulihkan tenaganya serta lenyap perasaan sakit di pundaknya, memperdengarkan suara tertawa mengejek.

mendengus "Hemmm, untuk datang ke mari memang mudah tetapi tidak semudah itu kau hendak angkat kaki.....

Tempat ini bukan sebangsa tempat pelacur dan bunga raya yang bisa didatangi dan berlalu begitu saja!

Hemmm, terimalah seranganku ini!

Jika memang kau bisa menerima, silahkan kau angkat kaki!"

Sambil mengejek seperti itu, Tiat To Hoat-ong menggerakkan ke dua tangannya.

Dia telah menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya, di mana dia telah mempergunakan tenaga latihan ilmu sobocnya.

Dengan cepat sekali ke dua telapak tangannya itu menghantam.

Dari ke dua telapak tangannya meluncur angin, serangan yang dahsyat sekali.

Wie Liang Tocu sebenarnya waktu itu ingin berlalu menyudahi pertempuran di antara mereka sampai di situ saja.

Akan tetapi dia merasakan sambaran angin yang hebat bukan main di belakangnya.

Dengan demikian telah membuat Wie Liang Tocu batal untuk berlalu dan memutar kembali tubuhnya, dia menyambuti angin serangan itu dengan mengulurkan ke dua tangannya, dia menyampok sekuat tenaganya dengan kekerasan pula!

Benturan yang terjadi antara dua kekuatan yang dahsyat bukan main tidak bisa dielakkan lagi, karena itu ruangan tersebut jadi tergetar hebat sekali.

Karena dua kekuatan yang saling bentrok menimbulkan getaran bagaikan gunung meletus atau gempa bumi.

Wie Liang Tocu sendiri yang tengah terluka di dalam, merasakan napasnya jadi menyesak waktu kekuatan tenaganya saling bentrok dengan tenaga lweekang Tiat To Hoat-ong.

Berbeda dengan Wie Liang Tocu, justru Tiat To Hoat-ong telah merasakan getaran yang tidak seberapa.

Dia membarengi dengan susulan serangan selanjutnya lagi, yang kekuatan tenaga dalamnya tidak kalah dari tenaga serangan yang semula.

Wie Liang Tocu jadi mencelos hatinya.

Dia tengah terhuyung karena desakan yang begitu kuat akibat bentrokan tenaga dalam yang terjadi, dan sekarang dia telah diserang seperti itu lagi.

Dengan demikian membuat Wie Liang Tocu terdesak hebat sekali, diapun berada dalam keadaan terancam keselamatannya.

Jika dia mempergunakan kekerasan untuk menangkis, niscaya akan menyebabkan dia terluka lebih hebat lagi pada bagian dalam tubuhnya, tetapi jika dia berkelit, hal itupun sudah tidak mungkin dilakukannya.

Dalam beberapa detik yang menentukan itu, Wie Liang Tocu sudah tidak memiliki jalan lainnya.

Dia telah mengempos sisa tenaganya dan tahu-tahu ke dua tangannya telah digerakkan, dengan kekerasan dia menangkis.

Tiat To Hoat-ong girang melihat gerakan lawannya, karena Koksu ini telah melihatnya bahwa Wie Liang Tocu dalam keadaan terluka.

Jika memang serangannya kali ini ditangkis dengan kekerasan oleh Tianglo pengemis ini, niscaya akan menyebabkan Wie Liang Tocu terluka hebat.

Bcntrokan yang terjadi antara tenaga tangkisan Wie Liang Tocu dengan serangan yang dilakukan Tiat To Hoat-ong menyebabkan Wie Liang Tocu menderita hebat sekali.

Dia merasakan matanya gelap, tubuhnya tergetar, karena dia merasakan tubuhnya seperti diterjang oleh ribuan kati tenaga yang tidak tampak, dan Wie Liang Tocu juga hilang keseimbangan tubuhnya, di mana dia telah terhuyung, kemudian mengeluarkan suara keluhan perlahan.

Tubuhnya kejengkang rubuh, di mana dia sudah tidak sadarkan diri lagi, pingsan.....

Tiat To Hoat-ong sendiri yang telah mempergunakan ilmu Sobocnya melewati batas, segera duduk bersila untuk mengatur pernapasannya ketika melihat lawannya telah pingsan.

Gochin Talu dan Lengky Lumi yang menyaksikan keadaan Wie Liang Tocu jadi girang bukan main.

Segera juga mereka berdua menubruk maju menubruk Wie Liang Tocu.

Akan tetapi, waktu Gochin Talu don Lengky Lumi tengah menubruk atau membekuk Wie Liang Tocu, tiba-tiba sekali tubuh Wie Liang Tocu telah meletik bangun melompat sambil menggerakkan ke dua tangannya menghantam kepada Gochin Talu dengan tangan kiri dan tangan kanannya menghantam Lengky Lumi.

Ke dua kaki tangan Tiat To Hoat-ong ini tidak menyangka akan terjadi urusan seperti itu di mana Wie Liang Tocu ternyata hanya pura-pura terluka belaka, dan sekarang di luar dugaan mereka, telah menyerang dengan cara yang seperti membokong.

Hebat tenaga serangan dari Wie Liang Tocu, dilakukannya juga dengan mendadak sekali.

Dengan demikian, Gochin Talu dan Lengky Lumi yang ke duanya tengah berada dalam keadaan terluka di dalam tidak sempat menghindarkan diri dari hantaman itu.

Dengan telak mereka terkena serangan Wie Liang Tocu.

Tubuh mereka terpental dan ambruk pingsan di lantai didahului oleh suara jeritan mereka......

Tiat To Hoat-ong membuka matanya lebar-lebar dengan hati terkejut.

Di waktu itulah dia melihat Wie Liang Tocu tengah melompat naik ke atas genting dan melarikan diri lenyap di dalam kegelapan sang malam yang kian larut juga.

Bukan main gusarnya Tiat To Hoat-ong.

Semula dia bermaksud untuk mengejar Wie Liang Tocu, akan tetapi segera juga dia teringat akan keselamatan Gochin Talu dan Lengky Lumi.

Ke duanya perlu segera ditolongnya, karena jika terlambat, jelas akan membuat Gochin Talu dan Lengky Lumi yang terluka berat di dalam tubuhnya akan menemui ajalnya......

Wie Liang Tocu sebenarnya telah terluka parah sekali di dalam tubuhnya.

Dia memang sengaja pura-pura pingsan sambil menahan sekuat tenaganya agar dia tidak pingsan.

Sesungguhnya dia bersikap seperti itu dikarenakan ingin agar Gochin Talu dan Lengky Lumi maju mendekatinya untuk membekuknya.

Dan apa yang diinginkannya itu memang terjadi, maka dengan seluruh kekuatan tenaga dalam yang ada padanya, Wie Liang Tocu telah menyerang ke dua lawan itu.

Jika memang serangannya itu gagal, niscaya Wie Liang Tocu sudah tidak memiliki tenaga lagi, karena dia telah mempergunakan seluruh tenaga yang ada padanya untuk menghantam kepada Gochin Talu.

Jika memang waktu itu Tiat To Hoat-ong melompat dan menyerangnya niscaya Wie Liang Tocu sudah tidak memiliki sisa tenaga lagi.

Dia telah melarikan diri dan tidak ada yang mengejarnya, dengan sendirinya Wie Liang Tocu jadi bisa bernapas lega.....

Malam itu hanya udara dingin sekali, juga dengan menderita luka di dalam yang tidak ringan menyebabkan Wie Liang Tocu merasakan tubuhnya menggigil.

Setiap langkah kakinya seperti juga terhuyung dan seakan dia akan terguling rubuh.

Namun Tianglo Kay-pang ini telah menguatkan dan merasakan hatinya.

Dia mengempos seluruh sisa tenaga yang masih ada padanya, dan berlari-lari terus di atas genting menuju keluar kota raja......

◄Y► Waktu berada di luar kota tubuhnya sudah lemah dan langkah kakinya seperti juga sudah tidak bertenaga.

Jika memang Wie Liang Tocu tidak mengeraskan hati, mungkin dia sudah rubuh terjungkal di tanah dan pingsan.

Akan tetapi sebagai seorang tokoh Kay-pang yang memiliki kepandaian sangat tinggi dan lweekang yang terlatih dengan sempurna, walaupun dalam keadaan terluka parah seperti itu, dia tokh masih bisa mempertahankan diri dan berlari terus.

Ketika tiba di depan permukaan sebuah hutan, tampak Wie Liang Tocu sudah tidak berhasil untuk mempertahankan diri terus.

Dia telah terduduk di tanah.

Napasnya memburu keras sekali.

Bola matanya mencilak ke sana ke mari, seperti juga mencari-cari tempat yang sekiranya baik untuk beristirahat.

Hal itu disebabkan Wie Liang Tocu kuatir kalau Tiat To Hoat-ong perintahkan orang-orangnya untuk melakukan pengejaran.

Dan waktu melihat di sebelah kanan dari permukaan hutan itu terdapat sebungkah batu yang berukuran besar sekali, dengan di sisi kiri kanan batu tersebut tumbuh cukup lebat pohon-pohon Yang-liu, maka Wie Liang Tocu mengempos seluruh sisa tenaganya, dia berusaha untuk berdiri.

Namun usaha itu gagal, dia telah terjatuh duduk lagi di tanah.

Tiga kali Wie Liang Tocu berusaha untuk berdiri, namun dia selalu gagal.

Sepasang kakinya begitu lemas dan seperti juga tidak memiliki kekuatan lagi.

Dan akhirnya terpaksa Wie Liang Tocu telah merangrak menghampiri batu tersebut.

Dengan demikian dia bisa menghampiri batu itu lebih dekat.

Tenaga yang dipergunakannya itupun terlalu dipaksakan, dan napasnya memburu keras sekali.

Wie Liang Tocu beberapa kali berhenti merangkak, untuk melancarkan pernapasannya.

Setelah beberapa saat lamanya dia merangkak dan berhenti seperti itu, akhirnya Wie Liang Tocu berhasil mencapai belakang batu tersebut.

Dengan menyenderkan tubuhnya di batu itu, Wie Liang Tocu duduk menyender sambil mengatur pernapasannya,dia berusaha memulihkan tenaga dalamnya.

Lewat lagi beberapa saat, kesegarannya agak pulih.

Namun Wie Liang Tocu masih tetap duduk menyender di tempatnya, sama sekali dia tidak bergerak, karena memang dia ingin memulihkan seluruh tenaga dalamnya tersebut, agar dia tidak terluka di dalam yang bisa membahayakan jiwanya.

Diam-diam Wie Liang Tocu juga kagum atas kepandaian yang dimiliki Tiat To Hoat-ong Memang perihal diri Koksu negara itu telah lama didengar akan ketangguhannya, di mana Tiat To Hoat-ong memiliki kepandaian yang sangat tinggi sekali.

Jika memang Wie Liang Tocu tidak memiliki lweekang yang telah terlatih dengan sempurna, niscaya akan menyebabkan dia menemui kematian ditangan Tiat To Hoatong.

Masih beruntung baginya, karena dia memiliki latihan lweekang yang cukup sempurna sehingga ilmu soboc yang hebat dari Tiat To Hoat-ong tidak berdaya menghabisi jiwanya.

Wie Liang Tocu menghela napas.

Sebulan yang lalu dia telah bertemu dengan Yo Ko dan rombongannya, yang terdiri dari Ciu Pek Thong, Swat Tocu, Yeh-lu Chi dan lainnya.

Dari Pangcunya itulah Wie Liang Tocu telah mendengar bahwa pangeran Ghalik telah membunuh diri.

Dan urusan dengan Pengeran Ghalik itu pun telah dapat dibikin terang.

Dengan adanya penjelasan Yeh-lu Chi, yang perintahkan padanya agar menghabisi urusan Pangeran Ghalik sampai di situ saja, karena tidak ada perlunya Kay-pang memusuhi keturunan Pangeran Ghalik.

Juga Wie Liang Tocu jadi girang mendengar bahwa Sasana, puteri pangeran Ghalik telah menjadi kekasih Yo Him, adik angkatnya itu.

Karena memang Wie Liang Tocu menyampaikan juga pada Yeh-lu Chi, bahwa persoalan Kay-pang telah dihabisi sampai di situ saja dengan kematian pangeran Ghalik dan tidak akan ditarik panjang sampai pada puteri pangeran yang malang nasibnya itu.

Hanya saja kepada Yeh-lu Chi, Tianglo dari Kay-pang ini melaporkan juga perihal penghianatan Kan Tianglo, Pheng Tianglo dari Nyo Tianglo.

Ke tiga Tianglo itu bermaksud mengadakan kerja sama dengan pihak Tiat To Hoat-ong, di mana ke tiga Tianglo itu bermaksud untuk merebut kekuasaan tertinggi di Kay-pang dengan mempergunakan bantuan tenaga dari jago-jago istana raja penjajah tersebut.

Karenanya, Wie Liang Tocu, lebih jauh melaporkan, pihak kerajaan Boan itu terdiri dari Gochin Talu dan Lengky Lumi, yang menjadi penghubung dengan ke tiga Tianglo tersebut.

Perihal diketahuinya pengkhinatan ke tiga Tianglo itu secara kebetulan sekali.

Seorang murid Wie Liang Tocu telah secara kebetulan mendengar percakapan mereka yang bermaksud menghubungi Gochin Talu dan Lengky Lumi, guna meminta bantuannya agar membantu mereka merebut kedudukan Pangcu Kay-pang.

Mendengar laporan muridnya tersebut Wie Liang Tocu terkejut.

Segera juga Tianglo yang seorang ini melakukan penyelidikan.

Selama dua bulan Wie Liang Tocu melalukan penyelidikan tanpa kenal putus asa dan lelah, karena dia menyadari bahwa urusan yang tengah dihadapinya ini adalah urusan besar yang menyangkut mati hidupnya dan maju mundurnya Kay-pang sebagai perkumpulan pengemis yang diakui oleh orang-orang gagah dalam rimba persilatan sebagai sebuah perkumpulan yang paling dihormati, karena di dalam Kay-pang banyak sekali terdapat tokoh-tokoh saktinya.

Sekarang terdapat maksud buruk dari ke tiga Tianglo itu yang ingin mengkhianati partai mereka sendiri dengan mengadakan kerja sama bersama orang Boan, tentu saja membuat Wie Liang Tocu jadi murka.

Dan usaha dari Wie Liang Tocu dalam menyelidiki urusan tersebut tidak sia-sia belaka, di mana dia telah berhasil menyelidikinya dengan baik dan juga memperoleh banyak bukti-bukti tentang maksud pengkhianatan ke tiga Tianglo itu.

Dengan demikian, jalan pertama yang dilakukan oleh Wie Liang Tocu adalah berusaha membunuh Gochin Talu dan Lengky Lumi, guna mencegah terjadinya persekutuan antara dua orang Boan itu dengan Kan Tianglo, Pheng Tianglo dan Nyo Tianglo.

Tetapi usaha Wie Liang Tocu untuk membunuh Gochin Talu dan Lengky Lumi ternyata gagal.

Sebab di saat dia mulai dapat merubuhkan ke dua orang itu dan bermaksud ingin menghabisi jiwa ke dua orang Boan itu, ternyata telah muncul Tiat To Hoatong.

Ternyata Tiat To Hoat-ong berada di gedungnya Gochin Talu pun hanya kebetulan sekali.

Waktu Gochin Talu, bersama Lengky Lumi mengundurkan diri setelah memberikan laporan mereka perihal akan adanya kerja sama mereka dengan ke tiga Tianglo Kay-pang itu, Tiat To Hoat-ong tidak mempercayai seluruhnya laporan ke dua orang bawahannya ini Karenanya secara diam-diam dia telah menguntitnya dan berusaha mendengarkan percakapan mereka.

Siapa tahu justru ketika Tiat To Hoat-ong tengah asyik mendengarkan secara diamdiam percakapan Gochin Talu dan Lengky Lumi, waktu itu muncul Wie Liang Tocu.

Semula Tiat To Hoat-ong yang telah mendengarkan perundingan ke dua orang itu, mengetahui Gochin Talu dan Lengky Lumi memberikan laporan yang sebenarnya.

Melihat kedatangan Wie Liang Tocu, salah seorang tokoh Kay-pang, Tiat To Hoat-ong bermaksud segera keluar untuk menempurnya.

Namun akhirnya Koksu yang licin dan licik ini segera berobah pikirannya.

Dia ingin melihat bagaimana tindakan dan cara Gochin Talu serta Lengky Lumi menghadapi tokoh Kay-pang tersebut, untuk mengetahui kesungguhan diri dari ke dua orang itu dalam mengabdikan diri pada pihak kerajaan.

Itulah sebabnya membuat Tiat To Hoat-ong berdiam diri saja menyaksikan betapa Gochin Talu dan Lengky Lumi terdesak hebat oleh Wie Liang Tocu, akhirnya Gochin Talu dan Lengky Lumi terancam jiwanya di tangan pengemis tua itu.

Barulah Tiat To Hoatong muncul untuk melindunginya.

Teringat akan semua peristiwa yang dialaminya tadi, Wie Liang Tocu menghela napas dalam-dalam.

Dia merasa heran bahwa Koksu negara Mongolia tersebut memiliki kepandaian yang begitu hebat.

Sama sekali diluar dugaannya, karena dia telah mendengar akan kehebatan kepandaian Koksu tersebut, akan tetapi Wie Liang Tocu merasa yakin banwa tidak mungkin Koksu itu dapat merubuhi dan melukai padanya.

Namun kenyataannya berlainan sekali dengan keyakinannya itu.

Mereka telah bertempur cukup banyak jurus, dan memang dirinya tidak dibinasakan oleh Tiat To Hoat-ong dengan mudah.

Hanya saja sekarang Wie Liang Tocu telah terluka demikian berat.

Dengan demikian Wie Liang Tocu menghela napas beberapa kali menyesali dirinya mengapa kepandaiannya tidak terlatih lebih sempurna lagi.

"Tetapi..... diapun pasti terluka di dalam!"

Menghibur Wie Liang Tocu pada dirinya sendiri karena dia yakin, walaupun dirinya sendiri telah terluka cukup parah seperti ini, akan tetapi Tiat To Hoat-ong pun tidak terhindar dari luka di dalam yang cukup parah.

Karena Wie Liang Tocu jadi jauh lebih tenang dan dia memusatkan seluruh tenaga murninya untuk berusaha menyembuhkan luka di dalam tubuhnya.

Yang paling utama adalah berusaha melancarkan pula pernapasannya, karena jika hawa murni dapat dikumpulkan menjadi bulat kembali, dengan demikian mudah sekali baginya untuk menyembuhkan luka di dalam tubuhnya.

Sayangnya justru tenaga murninya itu telah terpecahkan buyar, dengan begitu pula agak sulit buat Wie Liang Tocu menyembuhkan luka di dalam tubuhnya.

Angin malam berhembus dingin sekali, menerjang kepada Wie Liang Tocu.

Tetapi Wie Liang Tocu tidak memperdulikannya.

Dia memejamkan matanya rapat-rapat dan berusaha keras untuk menyalurkan seluruh hawa murninya.

Berangsur-angsur memang Tianglo dari Kay-pang ini berhasil juga untuk menyatukan kembali seluruh hawa murninya yang pecah tergempur oleh kekuatan tenaga dalam Tiat To Hoat-ong.

Dan walaupun demikian dia tidak bisa segera mempergunakan kekuatan tenaga murninya itu, karena inti dari hawa murninya itu belum lagi dapat dikumpulkan bulat menjadi satu.

Wie Liang Tocu mengakhiri usahanya untuk mempersatukan kembali tenaga dalamnya yang semula buyar, dia beristirahat dan duduk menyandar di batu tersebut.

Menurut dugaannya, mungkin memakan waktu sampai satu bulan dia harus bersemedhi setiap harinya sepuluh jam guna memulihkan kesehatannya.

Untung saja luka di dalam tubuh yang di deritanya itu tidak terlalu parah sehingga tidak sampai membuat dia bercacat karenanya.

Wie Liang Tocu waktu itu melihat rembulan mulai condong ke arah barat.

Tidak lama lagi memang terlihat matahari fajar telah mulai memancarkan sinarnya yang kemerah-merahan.

Angin pagi yang berhembus mengenai dirinya terasa mulai hangat.

Agak lama juga Wie Liang Tocu berdiam diri di situ, dia beristirahat sejenak lamanya lagi baru kemudian berusaha untuk bangun berdiri.

Akhirnya dia berdiri sendiri.

Akan tetapi sepasang kakinya masih gemetaran lemas tidak bertenaga.

Cepat-cepat Wie Liang Tocu duduk pula, karena dia tidak mau terlalu memaksakan diri, karena jika dia terlampau mengerahkan seluruh kekuatannya, bisa membuat dia terluka di dalam yang tidak ringan.

Maka Wie Liang Tocu telah duduk bersemedhi kembali.

Di antara kesunyian pagi seperti itu, tiba-tiba pendengaran Wie Liang Tocu yang sangat tajam mendengar suara langkah kaki seseorang yang tengah menghampiri ke arah tempat di mana dia berada.

Wajah Wie Liang Tocu berobah, karena menduga tentunya Tiat To Hoat-ong yang telah perintahkan kaki tangannya melakukan pengejaran terhadap dirinya.

"Keadaanku sedang demikian lemah. Jika mereka berhasil mencariku dan menemui jejakku niscaya aku akan menghadapi kesulitan yang tidak kecil.....!"

Diam-diam Wie Liang Tocu membathin di dalam hatinya.

"Akan tetapi, biarlah aku akan mengadu jiwa dengan mereka. Jika memang aku bisa membinasakan tiga orang dari mereka, itupun sudah lebih dari cukup sebagai imbalannya......!"

Karena berpikir seperti itu, diliputi oleh semangat untuk berbuat nekad, Wie Liang Tocu sudah tidak memperdulikan akan kesehatan tubuhnya yang belum pulih.

Dia menyalurkan seluruh sisa kekuatan tenaga dalamnya, kemudian memusatkan pada ke dua telapak tangannya.

Karena Wie Liang Tocu bermaksud begitu lawan memperlihatkan diri, dia akan menyerangnya dengan hebat untuk mengadu jiwa.

Suara langkah kaki semakin dekat juga.

Malah Wie Liang Tocu yang memiliki pendengaran sangat tajam seketika mengetahui bahwa suara langkah kaki itu bukan hanya seorang saja, sedikitnya terdiri dari empat orang.

Menyadari bahaya yang mengancam keselamatan dirinya membuat Wie Liang Tocu selain berbuat nekad dan bersiap sedia untuk menghadapi kematian bersama-sama dengan lawanlawannya itu, juga dia telah berpikir keras untuk mencari daya lain yang sekiranya lebih baik.

Saat itu Wie Liang Tocu mendengar suara langkah kaki itu semakin dekat juga.

Dia membuka matanya lebar-lebar mengawasi ke arah dari mana didengarnya suara langkah kaki itu mendekati.

Dan akhirnya dilihatnya beberapa sosok bayangan yang telah munculnya dari bagian sebelah kanannya.

Wie Liang Tocu mengempos semangatnya.

Dia mengawasi lebih tajam lagi menantikan kesempatan untuk mendahului lawannya yang akan dibinasakannya dengan satu kali pukulan maut dari seluruh sisa tenaga yang masih dimilikinya.

Ke empat sosok bayangan tubuh yang muncul itu ternyata empat orang laki-laki bertubuh kurus, dengan usia yang tidak sama.

Ada yang berusia limapuluh tahun lebih, ada yang berusia empatpuluh lima tahun, akan tetapi yang termuda di antara mereka, ada yang berusia empatpuluh tahun.

Ke empat orang itu berpakaian compang camping, pakaian mereka penuh tambalan.

Wie Liang Tocu waktu melihat ke empat orang tersebut, yang ternyata merupakan empat orang pengemis, ia mengeluarkan seruan tertahan karena heran dan girang.

"Wie Liang Tocu.....!"

Berseru ke empat orang itu yang melihat Wie Liang Tocu dengan kegirangan yang meluap-luap.

"Kami mencari Wie Liang Tocu kemana-mana dengan bersusah payah, kiranya Wie Liang Tocu berada di sini, terimalah hormat kami!"

Wie Liang Tocu sudah tidak sempat mendengar terus perkataan ke empat pengemis itu, karena dirasakan seluruh tenaganya telah habis.

Tubuhnya lemah dan dia lunglai tidak sadarkan diri, pingsan.

Ke empat orang pengemis itu terkejut melihat keadaan Wie Liang Tocu.

Salah seorang di antara mereka segera maju untuk memeriksanya, dan mereka jadi saling pandang satu dengan yang lainnya.

Waktu mereka memperoleh kenyataan Wie Liang Tocu terluka di dalam yang tidak ringan, juga tampaknya Tianglo dari Kay-pang ini pun dalam keadaan pingsan disebabkan kehabisan tenaga.

Tanpa berjanji terlebih dulu, mereka telah mengangkat tubuh pemimpin mereka ini.

Dua orang mengangkat kaki, dua orang lagi mengangkat punggung Wie Liang Tocu, yang mereka bawa lari dengan gesit sekali.

Wie Liang Tocu sendiri tidak mengetahui bagaimana kelanjutan dari pertemuan dengan ke empat orang pengemis itu.

Dia hanya merasakan dirinya melayang-layang, dan kemudian pandangan matanya gelap sekali, lenyaplah kesadarannya.....

◄Y► Ke empat orang pengemis tersebut lain dari ke empat orang tokoh Kay-pang yang memiliki tingkatan delapan karung, mereka memiliki kepandaian yang tidak lemah.

Akan tetapi mereka pun tidak berani sembarangan untuk berusaha mengobati Tianglo mereka ini dengan mempergunakan lweekang masing-masing, walaupun mereka telah melihatnya bahwa Wie Liang Tocu terluka di dalam yang cukup berat.

Karena itu mereka cepat-cepat membawa Wie Liang Tocu ke tempat mereka, untuk menemui salah seorang tokoh Kay-pang, agar tokoh Kay-pang itu, yang memiliki lweekang berada di atas tingkatan mereka, dapat mengobati luka Wie Liang Tocu.

Dengan berlari-lari cepat di pagi itu, dalam waktu sekejap mata saja telah puluhan lie yang mereka lalui dan telah meninggalkan kota raja semakin jauh juga.

Memang Wie Liang Tocu tengah dicari oleh pihak Kay-pang, karena sebagai tianglo tentu saja kehadirannya di tempat rapat besar Kay-pang sangat diperlukan sekali.

Karena itu, banyak murid-murid Kay-pang yang telah diperintahkan untuk mencari Wie Liang Tocu guna diundang hadir di Hou-ciu, dalam rapat besar Kay-pang yang akan diselenggarakan malaman Cap-go di bulan mendatang.

Siapa sangka, ke empat pengemis delapan karung itu, telah berhasil menemui Wie Liang Tocu, di saat Tianglo itu tengah dalam keadaan sekarat, karena terluka begitu parah.

Disamping girang, juga ke empat murid Kay-pang tersebut berkuatir sekali.

Mereka begitu bergegas untuk kembali ke tempatnya membawa Wie Liang Tocu.

Setelah berlari-lari lagi sejenak lamanya, waktu mendekati tengah hari, sampailah mereka di muka sebuah dusun.

Dusun itu tidak terlalu besar, rumah penduduk di situpun tidak padat, satu dengan yang lainnya terpisah cukup jauh, sehingga keadaan di tempat itu tenang sekali.

Dan ke empat murid Kay-pang itu telah melarikan Wie Liang Tocu ke arah selatan dari dusun tersebut, di mana akhirnya, di permukaan sebuah bukit, dekat kaki bukit sebelah barat, berdiri sebuah kuil yang tidak begitu besar.

Kuil tersebut adalah kuil tua yang merupakan tempat sembahyang penduduk dusun itu.

Akan tetapi disebabkan tidak ada yang merawatnya, kuil tua itu semakin rusak dan ada bagiannya yang telah gugur.

Maka semakin sedikit sekali orang-orang dusun tersebut yang datang bersembahyang di kuil itu.

Akhirnya kuil tua itu merupakan kuil tua yang kosong dengan tidak terawat sama sekali.

Dan dengan demikian segera juga kuil itu dijadikan tempat berkumpul dari anggota-anggota Kay-pang yang berada di sekitar kota itu.

Dan sekarang ke empat pengemis delapan karung itu telah membawa Wie Liang Tocu ke kuil tua tersebut, karena memang mereka ingin menemui seorang tokoh Kay-pang yang didengarnya berada di kuil tersebut.

Ketika ke empat pengemis tingkat delapan karung yang membawa Wie Liang Tocu tiba di muka kuil tersebut, mereka melihatnya bahwa di depan kuil duduk bersemedhi dua orang pengemis muda.

Ke dua pengemis muda itu walaupun tampaknya tidur sesungguhnya tidak tidur.

Merekalah dua orang penjaga dari golongan Kay-pang kalau ada orang asing yang datang ke kuil tersebut.

Karenanya, begitu mereka melihat empat orang pengemis Kay-pang dari tingkat delapan karung mendatangi, mereka terkejut dan cepat-cepat melompat bangun untuk berlutut di hadapan ke empat pengemis itu.

"Jangan banyak peradatan!"

Perintah salah seorang dari ke empat pengemis itu.

"Cepat beritahukan kedatangan kami kepada Samcie-sin-kay!"

Sam-cie-sin-kay adalah Pengemis Sakti dengan Tiga Jari, yang di dalam kalangan Kang-ouw sangat terkenal sekali, sebab kepandaiannya yang sangat tinggi.

Akan tetapi perangai pengemis tersebut sangat aneh.

Setiap turun tangan dia selalu tidak pilih bulu dan mengambil sikap keras.

Hanya kepada murid-murid Kay-pang belaka Sam-cie-sin-kay bersedia menolong kesulitan si murid Kay-pang.

Akan tetapi untuk orang luar, walaupun orang itu menangis sambil berlutut memohon agar dirinya ditolong dari suatu kesulitan, tidak nantinya Sam-ciesin-kay mau menolonginya.

Ke dua murid Kay-pang itu, yang merupakan murid Kay-pang tingkat tiga karung telah mengiyakan cepat sekali.

Mereka mempersilahkan dulu ke empat pengemis itu agar masuk ke dalam kuil, lalu mereka berlari ke dalam untuk memberikan laporan.

Tidak lama kemudian keluar seorang pengemis tua berusia limapuluh tahun lebih, dengan langkah lebar.

Di belakangnya mengikuti pengemis yang tadi.

Ke empat pengemis delapan karung itu di waktu melihat si pengemis tua tersebut, cepat-cepat merangkapkan sepasang tangan masing-masing, karena mereka telah meletakkan Wie Liang Tocu yang rebah pingsan di atas sebuah kursi panjang.

"Harap Toako menerima hormat kami,"

Kata ke empat pengemis itu berbareng.

"Kami datang dengan membawa sedikit persoalan buat partai kita!"

Pengemis tua yang baru keluar itu tidak lain dari Sam-cie-sin-kay. Dia cepat-cepat membalas hormat ke empat pengemis yang tingkatannya di dalam Kay-pang setingkat dengannya.

"Jangan terlalu banyak peradatan, walaupun bencana apa saja yang terjadi, tentu membuat Sam-cie-sin-kay mempertaruhkan jiwanya guna membela Kay-pang!"

Setelah berkata begitu Samcie-sin-kay dengan memperlihatkan sikap sungguh-sungguh telah berkata lagi.

"Nah, sekarang katakanlah, apakah sekiranya persoalan yang kalian sebutkan tadi?!"

Ke empat pengemis itu kembali memberi hormat.

Walaupun Samcie-sin-kay merupakan tokoh Kay-pang tingkat delapan karung sama halnya dengan mereka, akan tetapi justru ke empat pengemis tersebut mengindahkan sekali Sam-cie-sin-kay yang memiliki suatu keahlian yang melebihi mereka, bahkan memiliki ilmu andalan yaitu ilmu pengobatan yang sangat hebat.

Setiap anggota Kay-pang yang terluka bagaimana berat dan parahnya tentu akan dapat disembuhkan oleh Sam-cie-sin-kay.

"Kami ingin minta pertolongan dari Toako guna menyembuhkan Wie Liang Tocu Tianglo.....!"

Menjelaskan salah seorang dari ke empat pengemis itu. Mendengar disebutnya Wie Liang Tocu Tianglo, wajah Sam-ciesin-kay berobah, bola matanya mencilak memain tidak hentihentinya.

"Wie Liang Tocu Tianglo? Apa yang telah terjadi pada diri Wie Tianglo!"

Waktu bertanya begitu, bola mata Sam-cie-sin-kay melirik kepada Wie Liang Tocu yang rebah pingsan di kursi panjang.

Diapun bukan hanya melirik saja, dengan gerakan yang ringan sekali dia nelompat ke samping Wie Liang Tocu, kemudian mengeluarkan seruan kaget, katanya dengan murka.

"Siapa yang demikian kurang ajar telah berani melukai Wie Tianglo sedemikian rupa?"

Suaranya menggeledek sekali. Ke empat pengemis yang membawa Wie Liang Tocu jadi terkejut, mereka cepat-cepat merangkapkan tangan masing-masing memberi hormat.

"Maafkan dan ampunilah kami murid-murid yang tidak punya guna, sehingga kami hanya kebetulan belaka menemui Wie Tianglo dalam keadaan yang telah terluka parah. Belum lagi kami sempat untuk memberi hormat dan meminta keterangan, Wie Tianglo telah jatuh pingsan di depan sebuah hutan belukar..... "

Dengan demikian kami tidak mengetahui siapa yang telah melukai Wie Tianglo!

Tetapi jika memang Wie Tianglo telah tertolong dan tersadar dari pingsannya, tentu Wie Tianglo dapat memberikan keterangan siapa yang telah menganiaya dirinya!

Kami berempat bersumpah, walaupun harus membuang jiwa di dalam kobaran api dan rendaman minyak yang mendidih, kami akan mempertaruhkan jiwa kami untuk membalaskan sakit hati Wie Tianglo!"

Bola mata Sam-cie-sin-kay mencilak beberapa saat, kemudian katanya dengan semangat yang terbangun.

"Kukira kalian membawa persoalan apa! Tidak tahunya persoalan Wie Tianglo! Jangankan kalian yang meminta pertolongan dan bantuanku agar menolongi Wie Tianglo, jika tidak meminta, itu sudah jadi kewajibanku untuk menyelamatkan jiwa Wie Tianglo.....!"

Setelah berkata begitu Sam-cie-sin-kay cepat-cepat memeriksa keadaan Wie Tianglo.

Setelah sekian lama memeriksa dia memperoleh kcnyataan bahwa luka di dalam tubuh Wie Tianglo sangat parah sekali, karena banyak urat-urat halusnya yang telah hancur dan putus.

Dengan demikian, hawa murninya tidak dapat diatur seperti semula.

Disamping itu pula memang hawa murni dari Wie Tianglo tampak mengalir kacau sekali, tidak teratur.

Jantungnya berdegup lemah sekali dan darahnya beredar acak-acakan.

Selesai memeriksa, Sam-cie-sin-kay menghela napas.

"Entah siapa yang memiliki tangan begitu telengas melukai Wie Tianglo, dengan cara seperti ini.....?!"

Menggumam Sam-cie-sinkay dengan suara mengandung kemarahan. "Apakah Wie Tianglo masih bisa diselamatkan, Toako?!"

Tanya ke empat pengemis itu dengan suara berkuatir sekali. Sam-cie-sin-kay tidak segera menyahuti, dia berdiam diri bagaikan berpikir keras. mulutnya menggumam perlahan.

"Sam-cie-hiat yang hancur, Bo-liang-hiat yang putus, Tiang-ku-hiat yang remuk dan beberapa jalan darah terpenting di tubuh yang tersumbat. Semua itu merupakan tanda-tanda dari korban keganasan ilmu tenaga dalam yang dahsyat! Entah siapa yang telah turunkan tangan demikian keji pada Wie Tianglo dan siapa orang liehay itu.....!"

Sambil menggumam seperti itu, tidak hentinya Sam-cie-sinkay memeriksa terus tubuh Wie Liang Tocu Akhirnya, sambil bangkit, dia menghela napas, katanya kepada ke empat pengemis yang membawa Wie Tianglo padanya.

"Walaupun tidak sampai menemui kematian akan kukuatirkan luka Wie Tianglo akan membuatnya bercacad seumur hidup.....!"

Kata Sam-cie-sin-kay.

"Apakah...... apakah Toako tidak bisa menolongnya agar Wie Tianglo sembuh tanpa kurang suatu apapun juga?"

Tanya ke empat pengemis itu.

Mereka seperti juga memohon kepada Sam-cie-sinkay, karena mereka mengetahui benar bahwa Sam-cie-sin-kay mengerti dan liehay ilmu pengobatannya.

Sam-cie-sin-kay menghela napas lagi, tampak dia seperti berpikir lama sekali.

Baru kemudian dia berkata lagi.

"Aku akan berusaha untuk menolongi jiwa Wie Tianglo, walaupun dengan cara pengobatan yang akan kutempuh itu kemungkinan bisa mengorbankan sebagian dari tenaga lweekangku, hal itu tidak menjadi soal. Namun yang tengah kupikirkan, jika saja pengobatan seperti itu gagal, tentu akan membuat Wie Tianglo cacat seumur hidup! Ada satu ramuan obat yang bisa meringankan luka Wie Tianglo dan hanya satu-satunya di dunia obat tersebut yang bisa menyalamatkan jiwa Wie Tianglo.....!"

"Obat apakah itu Toako?"

Tanya ke empat pengemis tersebut serentak.

"Obat itu sangat sulit diperoleh, hanya tumbuh satu kali dalam seratus tahun! Karena itu, jarang sekali, boleh dibilang hampir sama sekali tidak ada orang yang memiliki obat tersebut.....! Karena itu, untuk memperoleh obat itu, jika tidak secara kebetulan, jangan harap kita bisa memperolehnya......!"

"Katakanlah Toako, obat apakah itu? Kami berempat akan berusaha mencari sahabat-sahabat kami. Seumpama di antara mereka ada yang menyimpan obat yang toako maksudkan! Yang terpenting jiwa Wie Tianglo dapat diselamatkan.....!"

Sam-cie-sin-kay menghela napas tagi, dia tersenyum pahit, katanya kemudian.

"Memang kalian berempat mungkin memiliki banyak sahabat dan bisa saja meminta pertolongan dan bantuan mereka kalau-kalau mereka menyimpan obat yang kumaksudkan itu! Tetapi aku yakin, walaupun kalian mengelilingi seluruh permukaan dunia ini untuk mencari sahabat-sahabat kalian, belum tentu obat itu berhasil ditemukan......!"

Setelah berkata begitu, Sam-cie-sin-kay menghela napas lagi berulang kali, wajahnya muram sekali. Ke empat pengemis itu tampak penasaran, tanya mereka dengan serentak.

"Tetapi tidak ada salahnya jika Toako memberitahukan kami obat apakah yang ingin dipergunakan itu, dan tidak salahnya juga, jika kami berusaha mencarinya!"

"Tetapi percuma dan akan sia-sia. Dalam waktu dua kali duapuluh empat jam pengobatan terhadap diri Wie Tianglo sudah harus dilakukan. Jika terlambat satu hari saja, berarti keselamatan jiwanya sulit ditolong lagi..... Maka dari itu, untuk memperoleh obat mujarab tersebut, bagaimana mungkin kalian bisa menemuinya hanya dalam dua hari saja?!"

Muka ke empat pengemis itu berobah pucat, merekapun tampaknya jadi muram sekali.

Malah salah seorang di antara mereka, telah duduk numprah di lantai dan menangis menggerung-gerung.

Di antara ke empat pengemis itu mungkin dialah yang paling lemah hati dan perasaannya, sehingga tanpa malu-malu lagi, karena terlalu berkuatir dan berduka memikirkan keselamatan jiwa Wie Tianglo, dia menangis terisak-isak.

Waktu itu Sam-cie-sin-kay telah menghiburnya.

"Sudahlah, kalian jangan berduka seperti itu! Aku akan berusaha untuk menolongi jiwa Wie Tianglo! Kita berusaha, tentang berhasil atau tidaknya usaha kita, saja serahkan kepada Thian!"

Setelah berkata begitu Sam-cie-sin-kay perintahkan pada pengemis tingkat tiga karung itu untuk mempersiapkan kamar buat ke empat tamunya, ke empat pengemis yang sama tinggi tingkatnya dengan dia dan juga sebuah kamar untuk Wie Liang Tocu.

Pengemis tingkat tiga karung itu bekerja cepat sekali, karena sebentar kemudian dia telah datang melapor kepada Sam-cie-sinkay bahwa kamar yang disiapkan untuk Wie Lieng Tocu dan ke empat pengemis itu telah selesai dan telah dibersihkan maka dengan dibantu oleh ke empat pengemis Kay-pang itu, Sam-ciesin-kay mengangkat Wie Tianglo ke sebuah kamar.

Wie Tianglo adalah seorang tokoh Kay-pang dia telah menggemblok sembilan lapis karung, dengan demikian berada satu tingkat di atas kedudukan Sam-cie-sin-kay.

Dengan begitu pula, Sam-cie-sin-kay ingin berusaha sedapat mungkin untuk menolongi jiwa Tianglonya ini.

Wie Tianglo ini yang sebenarnya adalah tocu sebuah pulau, sangat cepat sekali naik tingkatnya dalam partai Kay-pang.

Pertama masuk Kay-pang dia dianugerahi kedudukan tujuh karung oleh pangcu Kay-pang yaitu Yeh-lu Chi.

Dan setelah dia mengangkat saudara dengan Yo Him (dalam cerita Sin-tiauw-thian-lam) karena memang ilmu silatnya yang sangat tinggi dan jasanya yang tidak sedikit dalam Kay-pang, maka dalam waktu yang singkat dia naik tingkat menjadi delapan karung.....

Dan kemudian sekarang tingkatnya telah naik pula menjadi Tianglo Kay-pang dengan karung sembilan.

Semua anggota Kay-pang serta pangcu Kay-pang sendiri menaruh rasa hormat dan segan pada Wie Tianglo ini.

Setelah meletakkan dengan baik Wie Liang Tianglo di atas pembaringan, Sam-cie-sin-kay mulai bekerja untuk menolongi Tianglo ini.

Pertama-tama dia menotok puluhan jalan darah di tubuh Wie Liang Tocu, kemudian dia menguruti sekujur tubuh Tianglo itu, sampai keringat membasahi seluruh tubuh Sam-cie-sin-kay.

Namun Samcie-sin-kay tidak berhenti dan terus juga menguruti dan menotok berbagai bagian anggota tubuh Wie Liang Tocu, dengan demikian tampak dia letih bukan main.

Ke empat orang pengemis yang bertingkat delapan karung berdiri di samping pembaringan mengawasi dengan berkuatir.

Sebenarnya mereka ingin menanyakan kepada Sam-cie-sin-kay apakah mereka berempat diperkenankan untuk bantu menyalurkan lweekang mereka guna menguruti tubuh Wie Liang Tocu.

Walaupun bagaimana lweekang ke empat pengemis itu sangat tinggi sekali, hanya saja mereka tidak mengerti ilmu pengobatan.

Dengan demikian mereka tidak bisa turun tangan bantu menolongi Tianglo mereka yang seorang itu.

Tetapi jika mereka berempat berdiam diri saja juga membuat mereka jadi tidak tenang, karena melihat betapa Sam-cie-sin-kay telah mandi keringat seperti itu, tampaknya sangat lelah bukan main.

Sedangkan Wie Liang Tocu masih berada dalam keadaan pingsan.

Salah seorang di antara ke empat pengemis itu rupanya sudah tidak dapat menahan diri.

Dialah yang tadi menangis duduk numprah di atas lantai, dialah yang memiliki perasaan sangat halus dan hati yang lemah.

Sekarang menyaksikan keadaan seperti itu, segera juga dia bertanya kepada Sam-cie-sin-kay.

"Toako, apakah..... apakah aku diperbolehkan untuk bantu menguruti mewakili kau sejenak, asal kau memberitahukan jalan darah mana yang perlu ditotok. Dengan demikian Toako dapat beristirahat dengan baik, agar toako pulih kembali!"

Sam-cie-sin-kay berhenti menguruti. Dia mengerutkan sepasang alisnya, tanpa menjawab tampaknya dia ragu-ragu. Akan tetapi setelah dia berpikir beberapa saat, akhirnya dia mengangguk.

"Baiklah!"

Katanya.

"Memang ada baiknya kita bergantian dan aku akan memberitahukan bagian-bagian mana yang perlu diurut dan bagian mana yang perlu ditotok!"

Setelah berkata begitu, tampak Sam-cie-sin-kay bangun dari pembaringan itu, dan meminta pengemis karung delapan itu duduk di pembaringan.

Dengan duduk di samping pembaringan, Sam-ciesin-kay telah memberikan petunjuknya.

"Totok jalan darah Gu-peng-hiat, Sam¬-tiang-hiat, lalu Kian-huhiat..... totok pula jalan darah Ma-liang-hiat, lalu mengurut jalan darah Huang-cie-hiat, kemudian jalan darah Gu-sie-hiat..... lalu menotok jalan darah.....!!"

Begitulah seterusnya Sam-cie-sin-kay telah memberikan petunjuknya seperti juga dia tengah menghapal.

Sedangkan pengemis delapan karung telah menuruti setiap petunjuk yang diberikan oleh Sam-cie-sin-kay, jalan darah mana yang ditotok, jalan darah mana yang harus diurutnya.

Sebentar kemudian keringat telah memenuhi tubuh pengemis itu, napasnya memburu.

Setiap kali dia menotok, dirasakannya dari ujung jari telunjuknya seperti menerobos keluar hawa yang panas sekali.

Itulah tanda bahwa tenaga dalamnya telah mengalir keluar.

Dengan begitu pula jelas dia telah membuang tenaga dalamnya yang tidak sedikit.

Rupanya cara pengobatan yang tengah dijalankan oleh Sam-ciesin-kay merupakan cara yang sangat luar biasa, di mana membutuhkan lweekang yang mahir dan tinggi sekali.

Jika seorang yang berusaha menolong itu memiliki sinkang dan lweekang yang tidak terlalu tinggi, malah akan membuat orang itu sendiri yang terluka di dalam dan kemungkinan bila memperoleh kematian!

Waktu itu, melihat si pengemis telah bermandikan keringat yang banyak dan deras sekali.

Segera juga Sam-cie-sin-kay memintanya untuk diganti pula olehnya.

Akan tetapi dengan serentak ke tiga pengemis lainnya menawarkan diri mereka untuk menggantikan kedudukan teman mereka.

Sam-cie-sin-kay, tidak keberatan, segera meluluskannya permintaan mereka, di mana tampak mereka telah bergantian menyalurkan kekuatan lweekang masing-masing menotok jalan darah dan mengurut berbagai jalan darah yang disebutkan oleh Sam-cie-sin-kay.

Cepat sekali seorang demi seorang mereka telah bermandikan keringat yang deras sekali, juga tampak mereka sangat lelah.

Terakhir, setelah ke tiga pengemis itu bergiliran menotok dan mengurut berbagai jalan darah di tubuh Wie Liang Tocu, segera juga digantikan pula oleh Sam-cie-sin-kay, yang telah menotok dan mengurut tubuh Wie Liang Tocu.

Akan tetapi Wie Liang Tocu tetap berada dalam keadaan pingsan.

Tidak terlihat sedikitpun kemajuan yang diperoleh atas pengobatan itu.

Setelah menotok dan mengurut sekian lamanya, di mana keringat telah membanjiri sekujur tubuh Sam-cie-sin-kay, tampak Sam-ciesin-kay menggumam dengan suara yang perlahan.

"Walaupun bagaimana tidak ada jalan lain hanya mempergunakan obat mujarab itu barulah Wie Liang Tocu bisa diselamatkan jiwanya!"

Waktu mengucapkan perkataannya itu Sam-cie-sin-kay memperlihatkan wajah yang suram. Ke empat pengemis itu, yang masing-masing tengah berkuatir dengan hati yang berdebar keras, serentak bertanya.

"Toako, tolong kau beritahukan pada kami sesungguhnya obat apakah yang kau maksudkan itu?"

Wajah Sam-cie-sin-kay tampak masih muram, ia menghela napas beberapa kali tanpa menyahuti pertanyaan ke empat orang pengemis itu.

Walaupun bagaimana keadaan Wie Tianglo memang menguatirkan sekali, membuat ke empat pengemis itu tidak bisa bersabar lagi.

Malah salah seorang di antara mereka berkata.

"Apakah toako dapat lebih cepat memberitahukan kepada kami, sesungguhnya obat apa yang dapat menyembuhkan luka dalam yang diderita oleh Wie Tianglo? Jika terlambat, kami kuatir bisa membahayakan jiwanya!" Setelah berkata, beberapa kali ke empat pengemis tersebut menghela napas sambil memperlihatkan wajah suram mengandung kedukaan yang sangat. Sam-cie-sin-kay melihat keadaan ke empat orang pengemis tersebut jadi tidak tega hati untuk berdiam diri terlalu lama, akhirnya dia berkata.

"Baiklah, aku akan memberitahukan pada kalian obat mujarab yang kumaksud itu!"

Setelah berkata begitu, Sam-cie-sin-kay memandang lagi bergantian kepada ke empat pengemis tersebut, katanya lagi.

"Jika memang ingin dibicarakan lebih jauh, luka Wie Liang Tianglo sangat berat sekali. Banyak urat dan jalan darahnya yang terputus, dengan demikian sulit untuk menyembuhkannya. Jika tokh berkat obat mujarab itu kesehatannya bisa pulih, tokh itupun belum berarti Wie Liang Tianglo akan sehat keseluruhannya.

"Kemungkinan ia akan lumpuh atau bercacad dengan punahnya seluruh latihan tenaga dalamnya. Karena dari itu, semula aku tidak bermaksud memberitahukan kepada kalian tentang obat mujarab tersebut.

"Namun apa salahnya jika memang kalian berempat tokh berusaha untuk mencari obat itu karena kulihat kalian memang bertekad walaupun bagaimana ingin menolongi jiwa Wie Liang Tocu dari kematian dan dari kecacatan yang bakal terjadi! Hemmm, walaupun hanya tinggal waktu dua hari, di mana dalam dua hari kalian sudah harus memperoleh obat yang kumaksudkan itu, dan tidak yakin bahwa kalian akan dapat berhasil mencarinya. "

Namun tidak ada salahnya jika memang aku memberitahukan agar kelak kalian tidak penasaran dan merasa puas telah berusaha mencari obat tersebut.....! Dengarkanlah oleh kalian baik-baik.

"Obat itu semula merupakan Swat-lian dari Thian-san, akan tetapi berkat kecerdasan dari seorang Locianpwe pada ribuan tahun yang lalu, telah mempergunakan teratai salju itu sebagai pohon induk yang "

Dikawinkan"

Dengan pohon Jin-som dari Tibet, maka terlahir semacam pohon yang luar biasa sekali khasiat dan kegunaannya, hasil dari perkawinan yang terjadi antara Swat-lian dan Jin-som yang telah berusia ribuan tahun!

"Itulah baru berhasil setelah locianpwe itu bersusah payah membuang waktunya selama tigapuluh tahun!

Pohon yang ditemukannya dari hasil perkawinan tersebut diberi nama Liansom.

Dan pohon itu baru berkembang puluhan tahun dari kembang sebelumnya.

Semula memang dalam sepuluh tahun pohon tersebut memberikan hasil bunga pertamanya hanya dalam tigapuluh tahun, bunga gelombang ke dua empatpuluh tahun, dan limapuluh tahun kemudian baru memperoleh kembang gelombang ke tiga.

"Begitu seterusnya setiap kali bertambah sepuluh tahun. Semakin tua usia pohon itu, makin jarang sekali berkembang..... dan jarang pula orang yang mengetahui perihal pohon Lian-som tersebut. Karena dari itu, jika memang tidak kebetulan jangan harap kita bisa memperoleh kembang pohon mujarab dan ajaib tersebut..... Bukan disebabkan harganya, akan tetapi khasiat yang dimiliki pohon tersebut memang sangat luar biasa.....!" Setelah berkata begitu, Sam-cie-sin-kay menghela napas berulang ka1i dengan wajah yang muram. Sedangkan ke empat pengemis yang memiliki tingkat delapan karung itu jadi berobah wajah mereka pucat pias. Merekapun mengeluh. Karena didengar dari keterangan Sam-cie-sin-kay memang tidak mudah buat mereka memperoleh Lian-som, pohon ajaib dan mujijat tersebut. Semangat mereka untuk mencari kembang dari Lian-som tersebut pun menurun separoh. Jika sebelumnya mereka memiliki harapan besar untuk berusaha memperoleh pohon Lian-som, sekarang setelah mengetahui asal usul pohon itu, mereka jadi berkurang keyakinannya.

"Kepada siapa kalian ingin mencari kembang Lian-som itu? Nah, semuanya telah kuberitahukan, karena itu jika memang Wie Liang Tianglo memiliki usia panjang dan juga diberkahi oleh Thian, tentu dalam dua hari secara mujijat dan ajaib sekali kalian bisa menemukan kembang pohon Lian-som tersebut!"

Ke empat pengemis itu memandang dengan muka yang kaku dan muram mengandung kedukaan dan kekuatiran.

Walaupun bagaimana merekapun kini diliputi perasaan bingung, karena memang mereka sendiri tidak mengetahui kemana harus mencari pohon ajaib yang dimaksudkan oleh Sam-cie-sin-kay.

"Kalian berempat boleh pergi mencari pohon bunga ajaib itu, sedangkan aku akan tetap di sini mengobati dan menotok seluruh jalan darah dari Wie Liang Tianglo. Dengan demikian, kekuatan daya tubuh Wie Tianglo bisa lebih panjang. Akan tetapi perlu kujelaskan dan kutegaskan di sini, selewatnya dua hari, akupun tidak berdaya apa-apa lagi untuk menyelamatkan jiwa Wie Tianglo......"

Setelah berkata begitu, Sam-cie-sin-kay menghela napas penuh putus asa.

Jika sekarang dia ingin menotok dan mengurut sekujur tubuh dan jalan darah Wie Tianglo, itulah disebabkan agar Wie Tianglo memiliki daya tahan yang jauh lebih kuat.

Dan apa yang dikatakannya tadi memang benar.

Jika saja terlambat memperoleh kembang Lian-som, dalam dua hari, selewatnya dari waktu itu jiwa Wie Tianglo sudah sulit dilindungi lagi.

Tetapi ke empat pengemis itupun menyadari dari diam pasrah melihati saja betapa Wie Tianglo menghadapi detik-detik kematiannya, maka alangkah baiknya jika dalam dua hari ini mereka berusaha untuk mencari Lian-som.

Memang untuk mencari kembang itu di toko-toko obat sudah tidak mungkin, namun untuk mencarinya di sahabat-sahabat mereka yang banyak sekali berdiam di kota raja, atau juga berusaha mencari dan mencuri dari istana raja Boan, kemungkinan besar kembang Lian-som itu akan dapat diperoleh.

Teringat kepada istana Kaisar, semangat ke empat pengemis itu terbangun.

"Baiklah!"

Kata salah seorang di antara mereka.

"Kami akan berusaha mencarinya di istana Kaisar Boan. Siapa tahu kembang Lian-som terdapat di sana, dan kami akan berusaha untuk mencurinya..... Jika saja kami berhasil mencuri bunga itu, jelas jiwa Wie Tianglo akan dapat ditolong......!"

Setelah berkata begitu pengemis ini membungkukan tubuhnya memberi hormat kepada Sam-cie-sin-kay.

Demikian juga halnya dengan ke tiga pengemis lainnya, mereka pun telah memberi hormat.

Akan tetapi Sam-cie-sin-kay tersenyum.

"Kalian akan menyatroni istana Kaisar Boan itu?!"

Tanyanya dengan suara yang tawar dan tersenyum pahit.

"Aku bukan tidak mempercayai akan kepandaian kalian yang tinggi di mana kepandaian kalian kemungkinan besar berada di atas kepandaianku sendiri, akan tetapi di istana Kaisar Boan itu banyak sekali terdapat jago-jagonya yang memiliki kepandaian sangat tinggi! "

Aku sendiri telah puluhan tahun berkeliaran di kota raja ini, dengan demikian aku mengetahui dengan jelas semua jago-jago di istana Kaisar Boan itu.....

terutama sekali Koksu atau guru negara yang bernama Tiat To Hoat-ong.

Dia memiliki kepandaian yang sangat tinggi sekali.

Jika memang kalian dipergoki olehnya, tentu kalian sulit untuk meloloskan diri dari tangannya......!"

Setelah berkata begitu Sam-cie-sin-kay mengawasi ke empat pengemis itu, maksudnya ingin menasehati ke empat sahabatnya itu agar tidak menerjang bahaya menyatroni istana Kaisar Boan tersebut.

Namun ke empat pengemis tua yang telah bulat tekad dan yakin akan kesanggupan mereka dan juga memang mereka ingin mempertaruhkan jiwa tanpa memikirkan resikonya, karena walaupun bagaimana mereka ingin mempertaruhkan jiwa mereka masing-masing, asal dapat memperoleh kembang Lian-som.

"Baiklah Toako, terima kasih atas nasehatmu.....

Kami akan tetap pergi ke istana Kaisar Boan itu untuk mencari kembang Lian-som."

Setelah berkata begitu, ke empat pengemis merangkapkan tangan mereka memberi hormat dan mengundurkan diri.

Sam-cie-sin-kay menghela napas dia tidak mencegah terlebih jauh.

Hanya saja segera juga dia mulai menotok dan menguruti tubuh Wie Liang Tianglo, yang waktu itu masih berada dalam keadaan pingsan.

◄Y► Ke empat orang pengemis dengan tingkat delapan karung itu sebenarnya di dalam kalangan Kang-ouw terkenal sebagai Empat Hantu dari Kay-pang.

Mereka dijuluk sebagai Sie-mo-kay-pang atau Empat Hantu dari Partai Pengemis.

Hal ini disebabkan mereka memiliki kepandaian yang sangat tinggi juga setiap tindakan mereka luar biasa, jika membasmi penjahat, mereka tidak memandang bulu, juga selalu menurunkan tangan berat.

Yang paling tua bernama Yang Kiong Sian sedangkan yang ke dua bernama Phoa Tiang Ie yang ke tiga Sun Kiang Lo dan yang ke empat dan paling muda usianya adalah Bo Siang Hong.

Mereka berempat selalu bersama, dan setiap kali melakukan suatu pekerjaan, diselesaikan oleh mereka berempat.

Sehingga orang-orang rimba persilatan baik yang menaruh hormat dan segan padanya, maupun yang merasa jeri dan takut menamakan mereka sebagai Sie-mo-kay-pang, Tetapi ke empat pengemis tersebut tidak keberatan menerima gelaran seperti itu, karena mereka beranggapan gelaran tidak membawa persoalan apa-apa buat mereka, yang terpenting justru tindak tanduk dan perbuatan mereka dalam rimba persilatan.

Biarpun orang menggelari mereka dengan sebutan Empat Iblis atau Empat Hantu, tetapi yang pasti mereka berempat selalu berdiri di jalan yang benar dan adil.

Sekarang untuk berusaha menolongi jiwa Wie Liang Tocu, mereka bermaksud mendatangi istana Kaisar Boan, untuk mencari kembang Lian-som.

Jika memang di istana Kaisar Boan itu terdapat kembang Lian-som tersebut, walaupun harus mempertaruhkan jiwa mereka, ke empat pengemis Kay-pang itu akan berusaha untuk mencuri kembang Lian-som tersebut.

Dari ke empat pengemis Sie-mo-kay-pang itu yang memiliki kepandaian tertinggi adalah Yang Kiong Sian, karena ia memang memiliki bermacam-macam kepandaian yang aneh-aneh di samping itu juga ilmu totokannya yang istimewa.

Setiap korban yang telah ditotokannya niscaya tidak akan dapat dibuka totokan itu, jika memang bukan Yang Kiong Sian sendiri yang membukanya.

Sekarang mereka berempat telah bertekad untuk menyatroni istana Kaisar karenanya begitu meninggalkan kuil tua tersebut, mereka berempat dengan mengandalkan ilmu lari cepat telah melesat bagaikan empat sosok bayangan saja, di mana mereka berlari-lari menuju ke arah kota raja.

Waktu itu telah menjelang sore hari, dan ketika mereka tiba di dekat pintu kota, keadaan di sana mulai banyak orang yang mereka jumpai.

Karenanya agar tidak menarik perhatian orangorang itu, ke empat Sie-mo-kay-pang ini tidak mempergunakan ginkang mereka, hanya berjalan dengan langkah lebar memasuki kota raja.

Keadaan di kota raja memang berbeda jika dibandingkan dengan kota-kota lainnya, sebagai tempat bermukimnya Kaisar.

Jelas kota raja merupakan kota yang sangat ramai dan besar sekali dengan bangunan-bangunan yang tinggi menjulang dengan kemewahannya.

Juga sepanjang hari keadaan di kota raja ini selalu ramai, di mana banyak rumah penginapan dan rumah makan yang buka sepanjang hari, siang dan malam, karena di kota raja selalu saja ramai baik siang maupun malam hari.

Yang Kiong Sian telah menganjurkan kepada ke tiga orang adiknya itu bahwa mereka baru bergerak jika hari telah menjelang malam.

Dengan begitu, mereka akan lebih leluasa dan mudah berkeliaran di dalam istana Kaisar.

Jika saja mereka memaksakan diri bergerak di sore itu juga, jelas mereka akan memperoleh banyak kesulitan, yang akan menghambat dan kemungkinan menggagalkan pekerjaan mereka untuk memperoleh kembang Lian-som tersebut.

Ke tiga orang adik Yang Kiong Sian telah menyetujui pendapat kakak tertua mereka, begitulah mereka berempat telah mengelilingi kota raja untuk menyelidiki keadaan di tempat tersebut, kalau-kalau nanti mereka dapat dipergoki oleh para pahlawan Kaisar dan mereka tentu akan melarikan diri, meloloskan diri dari jalan-jalan yang telah mereka kenali sekarang ini.

Menjelang tengah malam, ke empat pengemis itupun bersiap-siap.

Yang Kiong Sian waktu itu memberitahukan kepada ke tiga orang adiknya bahwa mereka akan bekerja dengan membagi diri menjadi dua rombongan.

Yang Kiong Sian akan bersama-sama Phoa Tiang Ie memasuki istana dari sebelah barat, sedangkan Sun Kiang Lo dan Bo Siang Hong memasuki istana dari sebelah timur.

Dengan demikian mereka akan dapat bekerja lebih cepat sehingga seluruh tempat dan bagian istana kemungkinan dapat mereka datangi untuk diselidiki.

Jika memang mereka berempat bergabung jelas hanya akan membuat perhatian para pahlawan di kota raja lebih besar, malah kemungkinan mereka akan dipergoki lebih mudah.

Phoa Tiang Ie, Sun Kiang Lo dan Bo Siang Hong menyetujui rencana yang diatur oleh Yang Kiong Sian.

Begitulah mereka segera membagi diri menjadi dua rombongan.

Di saat kentongan ke dua tiba, ke empat pengemis itu membagi diri menjadi dua rombongan, Phoa Tiang Ie bersama Yang Kiong Sian telah pergi ke bagian barat dari sebelah istana Kaisar yang tampak begitu megah, dan Sun Kiang Lo bersama Bo Siang Hong tentu mengambil bagian timur.

Keadaan di istana Kaisar waktu itu sangat ketat sekali pengawalnya.

Mereka semua melakukan penjagaan dengan rapat dan boleh dibilang tidak ada bagian yang lowong dari pengawasan mereka.

Karenanya ke empat pengemis dari Kay-pang itu bukannya mudah untuk menerobos ke dalam istana.

Malah menurut pengamatan ke empat orang pengemis Kay-pang itu justru para pahlawan raja yang mengadakan penjagaan dengan ketat itu umumnya memiliki kepandaian yang lumayan.

Yang Kiong Sian bersama Phoa Tiang Ie yang mengambil bagian barat dari istana Kaisar ternyata tidak bisa segera bekerja, karena di bagian barat dari istana Kaisar, penjagaan sangat ketat sekali.

Untuk sementara waktu Yang Kiong Sian bersama Phoa Tiang Ie telah berdiam diri bersembunyi di balik batu-batu marmer yang menyerupai tugu yang terdapat di bagian istana tersebut.

Mereka menantikan kesempatan yang baik baru mulai bekerja.

Dikala itu, tampak yang mengadakan penjagaan, yang terdiri dari belasan orang pengawal kerajaan yang berpakaian seragam dan mereka semuanya memiliki wajah yang keras dan tubuh yang tinggi tegap.

Dilihat dari langkah kaki mereka, para pengawal istana tersebut memiliki kepandaian yang tidak rendah.

Karena itu Yang Kiong Sian dan Phoa Tiang Ie tidak berani bergerak sembarangan.

Sekali saja mereka bergerak ceroboh dan jejak mereka terendus oleh para pengawal itu, niscaya akan membuat mereka sulit bekerja di waktu-waktu mendatangnya.

Disebabkan itu pula Phoa Tiang Ie telah membisiki Yang Kiong Sian.

Jika memang pengawalan di bagian istana di tempat mereka berada itu berlangsung sampai pagi hari, mereka terpaksa harus bertindak dengan mempergunakan kekerasan dan berusaha untuk membinasakan para pengawal tersebut, karena mereka tidak dapat menanti terlalu lama.

Mereka hanya memiliki kesempatan hanya dua hari.

Jika hari ini mereka tidak bekerja, dan besok mereka menemui rintangan, niscaya rencana mereka untuk menerobos istana Kaisar gagal sama sekali.

Yang Kiong Sian pun menyetujui pendapat kawannya, karena itu mereka mengawasi dengan ketat, di mana mereka memperhatikan gerak gerik dari belasan orang pengawal istana itu.

Setelah mendekati kentongan ke tiga, waktu udara malam dingin sekali, tampak beberapa orang di antara mereka telah duduk beristirahat dengan menyenderkan tubuh di tempat penjagaan mereka.

Rupanya untuk beristirahat atau memang mereka telah dipengaruhi oleh hawa mengantuk.

Sedangkan beberapa orang sisanya lagi telah berkeliling untuk memeriksa keadaan di sekitar tempat itu.

"Mari kita mulai bekerja.....!"

Bisik Phoa Tiang Ie. Akan tetapi Yang Kiong Sian menggeleng perlahan, bisiknya.

"Jangan, kita tunggu sampai beberapa orang yang tengah meronda berkeliling itu kembali. Waktu itu kita lihat apakah mereka akan beristirahat dan tidur atau memang meronda terus.....!"

Phoa Tiang Ie mengangguk mengiyakan, begitulah mereka memasang mata dengan tajam mengawasi terus.

Tampak tidak lama kemudian beberapa orang pengawal kerajaan yang tadi berkeliling telah kembali.

Mereka semua tampak mengantuk dan letih sekali.

Dan juga beberapa orang di antara mereka telah menguap.

"Dari hari ke hari kita mengadakan penjagaan, keadaan selalu seperti ini-ini saja!"

Kata salah seorang di antara mereka.

"Mana ada lalat yang berani memasuki mulut singa? Hem lebih baik kita tidur saja..... Bukankah keadaan selalu aman?!"

"Akan tetapi jika terjadi sesuatu, tanggung jawab kita sangat besar, kemungkinan leher kita akan dipotong....."

Bergurau salah seorang kawannya.

Tetapi orang yang tadi bicara menganjurkan untuk tidur itu tidak memperdulikan gurau kawannya.

Dia telah merebahkan dirinya di kursi yang terdapat di tempat penjagaan itu, dan mereka telah memejamkan matanya bersama-sama dengan para pengawal yang terlebih dulu telah rebah di situ.

Sisanya para pengawal itupun rupanya merasa mengantuk dan mereka beranggapan memang apa yang dikatakan oleh kawan mereka bahwa keadaan selalu aman, membuat mereka pun terangsang lebih kuat oleh rasa kantuk.

Akhirnya mereka kalah dengan perasaan kantuk tersebut, membuat mereka memilih tempat masing-masing untuk duduk.

Walaupun mereka tidak tidur, akan tetapi bermaksud untuk beristirahat.

Menyaksikan keadaan seperti itu, Yang Kiong Sian dan Phoa Tiang Ie jadi girang bukan main, karena mereka yakin, jika saja para pengawal kerajaan itu kalah oleh rasa kantuk mereka dan tertidur, mereka akan dapat bekerja dengan leluasa.

Dengan demikian, ke dua pengemis itupun berdoa tidak hentinya memohon kepada Thian agar membantu usaha mereka dalam hal mencari kembang Lian-som.

Tidak lama kemudian beberapa orang pengawal kerajaan yang semula tidak ingin tidur itu, telah terkalahkan oleh kantuknya.

Mata mereka terpejam dan kepala mereka sering lunglai dan akhirnya tertidur, terdengar suara menggeros mereka.

Yang Kiong Sian memberi isyarat kepada Phoa Tiang Ie, begitulah setelah menanti sekian lama lagi, dan merasa bahwa keadaan aman untuk mereka bertindak.

Ke duanya berindap-indap keluar dari tempat persembunyian mereka.

Dengan gerakan tubuh yang sangat gesit sekali, tampak ke dua pengemis itu telah melompat melewati beberapa batang pohon di tempat itu dan melewati juga batu-batuan gunung buatan.

Dengan tidak menimbulkan suara sedikitpun juga, mereka berdua telah memasuki ruangan dalam istana di bagian tersebut.

Keadaan di dalam istana ternyata sunyi.

Rupanya penghuni istana tengah dibuai oleh tidur mereka yang nyenyak sekali.

Dikala itu tampak Yang Kiong Sian telah melompat ke belakang sebuah tiang besar, tangannya melambai kepada Phoa Tiang Ie, yang segera menyusul menempati dirinya di belakang tiang itu di sisi Yang Kiong Sian.

Tidak lama kemudian waktu mereka memasang mata, tampak seseorang tengah melangkah dengan tindakan kaki yang lunglai dan tubuh sempoyongan dan mata setengah terpejamkan.

Tampaknya orang ini berjalan dalam keadaan mengantuk.

Yang Kiong Sian mengedipkan mata kepada Phoa Tiang Ie, dia ingin memberitahukan bahwa inilah kesempatan baik mereka untuk menangkap orang itu.

Karenanya, waktu orang itu lewat di dekat tempat mereka bersembunyi, dengan gerakan yang sangat gesit sekali Yang Kiong Sian telah melesat keluar dari balik tiang besar itu sambil mengulurkan tangannya.

Sedangkan orang yang berpakaian sebagai pelayan istana itu merasakan sambaran angin di sisi tubuhnya, segera dia membuka matanya untuk melihat.

Akan tetapi, ketika melihat seseorang yang tidak dikenalnya berdiri bengis disampingnya, dia jadi kaget.

Dan rasa kaget nya itu terlambat, sebab belum lagi dia bisa bertanya atau berteriak, justru tangan Yang Kiong Sian telah bekerja menotok beberapa jalan darahnya, seketika lenyap tenaga orang itu, tubuhnya lunglai dan rubuh di lantai.

Yang Kiong Sian bekerja cepat sekali, dia menyeret tubuh orang tersebut.

Kemudian dia membuka totokannya, lalu katanya dengan suara yang bengis sekali.

"Jangan menimbulkan keributan. Jika kau berteriak atau menimbulkan kegaduhan, sekali totok jiwamu akan kukirim ke Giam-lo-ong.....!"

Orang yang berpakaian sebagai pelayan istana itu, yang baru berusia antara tigapuluh tahun lebih, ketakutan bukan main, dia mengangguk berulang kali.

"Aku..... aku akan menurut.....!"

Katanya dengan suara yang kaku mempergunakan bahasa Han, karena tampak jelas dia merupakan seorang pelayan suku bangsa Mongolia, yang mungkin belum begitu lama dibawa ke daratan Tiong-goan.

"Kau harus menjawab setiap pertanyaanku dengan benar dan juga jujur. Sekali saja kau berdusta, maka jiwamu akan kukirim ke neraka! Mengerti kau?"

"Mengerti!?"

"Hemm, di mana letak ruangan tempat penyimpan obat Kaisar?! Cepat katakan!"

Bentak Yang Kiong Sian dengan suara bengis, namun perlahan sekali.

Muka orang itu memang telah pucat.

Waktu ditanya perihal ruangan tempat penyimpanan obat-obatan milik Kaisar, mukanya jadi semakin pucat dan dia bingung.

"Aku tidak begitu jelas mengetahui tempat penyimpanan obat itu karena aku bertugas di bagian dapur.....!"

Berkata orang tersebut dengan suara gemetar.

"Dusta.....!"

Bentak Yang Kiong Sian semakin bengis.

"Bagaimana mungkin kau tidak mengetahui ruangan tempat penyimpanan obatobatan milik Kaisar, sedangkan kau termasuk sebagai salah seorang penghuni istana ini!"

Orang itu tambah ketakutan, katanya.

"Aku tidak akan berdusta..... aku mengatakan yang sebenarnya. Memang aku tidak mengetahui jelas di mana letak ruangan tempat penyimpanan obat-obatan Kaisar...... Akan tetapi yang kudengar dari cerita-cerita kawanku, katanya ruangan itu berada di sebelah selatan dari istana ini, di mana berhadap-hadapan dengan kamar pribadi Kaisar......!"

Yang Kiong Sian merasa cukup dengan keterangan tersebut, dia mengangguk sambil katanya.

"Baiklah, terima kasih atas keteranganmu itu, dan agar kau tidak menimbulkan kerewelan, lebih baik kau beristirahat disini dulu...... Jika memang kau tidak berdusta dan kelak kami telah menemui ruangan tempat penyimpanan obat-obatan Kaisar, kami akan kembali ke mari. Selain untuk membebaskan kau, juga kami akan menghadiahkan kepadamu beberapa tail emas sebagai tanda terima kasih kami!"

Berbareng dengan habisnya perkataan Yang Kiong Sian, tangan pengemis ini telah bekerja dengan cepat sekali, dia menotok beberapa jalan darah di tubuh pelayan istana tersebut.

Dengan demikian tubuh pelayan istana tersebut jadi kaku tidak bisa bergerak dan juga tidak bersuara.

Dalam keadaan seperti itu, tampaknya Yang Kiong Sian ingin bekerja dengan cepat.

Dia bersama dengan Phoa Tiang Ie telah melompat ke arah sebelah selatan dari bagian istana itu, di mana mereka mencari kamar pribadi Kaisar.

Waktu mereka tiba di sebuah ruangan yang mewah, ruangan yang merupakan ruangan untuk sidang Kaisar.

Tampak penjagaan di tempat itu tidak ada sama sekali.

Akan tetapi begitu melewati ruangan mewah tempat bersidang Kaisar tersebut, Yang Kiong Sian dan Phoa Tiang Ie telah melihat di depan sebuah kamar berpintu berukiran emas, tampak berjaga dua orang Thaykam dengan perlengkapan senjata.

Segera juga Yang Kiong Sian dan Phoa Tiang Ie menduga bahwa kamar yang dikawal itu tentunya kamar pribadi Kaisar.

Ke dua pengemis Kay-pang itu segera bekerja.

Mereka berdiam diri di tempat persembunyian mengawasi keadaan di sekitar tempat itu.

Juga Yang Kiong Sian telah menduga, tentu ke dua pengawal itu adalah dua orang pengawal yang memiliki kepandaian yang sangat tinggi.

Karena ke dua pengawal itupun bertanggung jawab jika terjadi sesuatu atas diri kaisar, karenanya mereka harus mengadakan penjagaan yang ketat.

Walaupun setiap hari mereka mengadakan penjagaan dan tidak pernah terjadi sesuatu yang luar biasa, tidak pernah ada penjahat yang datang, akan tetapi mereka tidak pernah kenal bosan melakukan penjagaan itu.

Dengan demikian, penjagaan di depan kamar pribadi Kaisar itu walaupun hanya dikawal dua orang saja, tokh keadaan ini sulit sekali untuk Yang Kiong Sian dan Phoa Tiang Ie menerobosnya.

Karena ke dua pengawal itu selain memiliki kepandaian yang tinggi sekali tentunya, juga mereka melakukan dan mengadakan pengawal dengan ketat, dengan sepasang mata yang selalu terpentang lebar-lebar.

Yang Kiong Sian berbisik di sisi telinga Phoa Tiang Ie dengan suara yang perlahan sekali.

"Sulit buat kita menerobos masuk, atau memang kita berusaha untuk memasuki kamar di seberang kamar itu saja, yaitu kamar tempat penyimpanan obat-obatan Kaisar..... Lihatlah kamar di seberangnya itu tidak dikawal..... berarti kita bisa memasuki jauh lebih mudah.....!" Phoa Tiang Ie mengangguk beberapa kali. Begitulah mereka telah mencari kesempatan yang baik. Selama itu mereka melihat bahwa ke dua pengawal itu tidak pernah lengah.

"Jalan satu-satunya kita harus memasuki kamar obat-obatan itu dari balik jendela yang berada di belakang kamar tersebut. Jika memang kita berusaha memasukinya dari depan niscaya ke dua pengawal itu akan mengetahui..... Lihatlah mereka tidak pernah lengah sedikitpun juga.....!"

Phoa Tiang Ie telah memberikan usulnya.

Yang Kiong Sian menyetujui usul kawannya.

Begitulah mereka berdua telah jalan memutar untuk mengelilingi ruangan tersebut.

Mereka mencari jendela dari kamar tempat penyimpanan obat-obatan Kaisar.

Dan mereka berhasil.

Mereka menemui sebuah jendela.

Seketika itu juga tampak Yang Kiong Sian tanpa membuang-buang waktu lagi telah bekerja.

Ia telah membongkar jendela terbuka, dan cepat sekali daun jendela dapat dibukanya.

Waktu itu Phoa Tiang Ie sendiri selama Yang Kiong Sian membongkar jendela telah mengawasi sekeliling tempat itu, kalaukalau ada pengawal istana yang lewat.

Selama itu mereka dapat bekerja dengan aman, karena tidak seorangpun yang lewat di tempat itu.

Tidak lama kemudian daun jendela itu dapat dipentang lebih lebar.

Segera juga Yang Kiong Sian melompat masuk, menyusul Phoa Tiang Ie.

Mereka setelah berada di dalam kamar obat-obatan itu, segera iapun menutup kembali daun jendela, karena jika kebetulan ada pengawal yang lewat, tentu pengawal istana itu tidak akan menaruh kecurigaan apa-apa.

Setelah berada di dalam kamar obat itu, Yang Kiong Sian dan Phoa Tiang Ie melihat banyak sekali obat-obatan yang tersimpan di situ, juga botol obat beraneka warna dan macamnya memenuhi kamar tersebut.

Dengan begitu jelas terlihat bahwa Kaisar Boan-ciu ini memang menyimpan berbagai macam obat-obatan yang jarang bisa diperoleh di luaran, dan juga merupakan obat-obat mujarab yang langka sekali di dunia.

Di antara bau obat-obatan tersebut, Phoa Tiang Ie dan Yang Kiong Sian telah memeriksa setiap botol obat itu.

Menurut keterangan dari Sam-cie-sin-kay bahwa Lian-som merupakan hasil perkawinan antara Swat-lian dan Jin-som.

Dengan demikian mereka mencari obat atau kembang Lian-som dari baunya, yang mereka duga tentu menyiarkan dua macam bau harum, yaitu harumnya Swat-lian dan Jin-som.

Akan tetapi mereka mencari ke sana ke mari, telah ratusan botol yang mereka buka dan ciumi, akan tetapi tetap saja mereka tidak berhasil menemui obat yang mereka cari itu.

Sedang mereka bergelisah mencari terus tanpa kenal putus asa, tiba-tiba mereka mendengar suara langkah kaki yang ringan di luar kamar itu, di arah dekat jendela.

Muka Phoa Tiang Ie dan Yang Kiong Sian jadi berobah, mereka saling pandang.

Mereka menduga tentu ada pengawal istana yang mengendus jejak mereka.

Ke duanya segera juga bersiap siaga.

Yang lebih mengejutkan mereka, justru waktu itu didengarnya jendela seperti dikorek.

Muka Phoa Tiang Ie dan Yang Kiong Sian berobah semakin pucat.

Mereka pun jadi was-was dan bersiapsiap untuk menghadapi segala kemungkinan, karena jendela itu hanya tertutup daunnya belaka dan tidak terkunci.

Dengan begitu, sekali dikorek, tentu akan terbuka dan akan diketahuinya bahwa ada orang yang memasuki kamar obat tersebut.

Daun jendela itu memang terbuka dengan mudah dan di luar melompat dua sosok tubuh dengan gesit.

Salah seorang di antara ke dua sosok tubuh itu telah mengeluarkan seruan tertahan.

Yang Kiong Sian dan Phoa Tiang Ie yang melihat ke dua sosok tubuh yang melompat masuk, jadi berbalik girang, karena seketika dia mengenali bahwa ke dua sosok tubuh itu tidak lain dari dua orang sahabat mereka, yaitu Sun Kiang Lo dan Bo Siang Hong, yang semula memasuki istana dari sebelah timur.

Cepat-cepat Yang Kiong Sian dan Phoa Tiang Ie melompat keluar.

Sun Kiang Lo dan Bo Siang Hong yang melihat dua sosok tubuh melompat keluar dari balik lemari obat-obatan jadi terkejut bukan main.

Tangan mereka dikibaskan untuk bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan karena mereka menduga bahwa ke dua sosok tubuh yang keluar itu tidak lain dari dua orang pengawal yang berada di kamar obat-obatan Kaisar ini.

Namun cepat sekali mereka dapat mengenali ke dua orang tersebut, yaitu Yang Kiong Sian dan Phoa Tiang Ie "Yang Toako.....!"

Berseru Bo Siang Hong dan Sun Kiang Lo dengan suara tertahan.

"Kalian berdua telah berada disini?"

Begitulah mereka telah bertemu dengan girang, karena berempat mereka telah berhasil berada di kamar obat-obatan ini.

Hanya sekarang yang membuat mereka bingung bagaimana caranya mencari kembang Lian-som.

Waktu itu Yang Kiong Sian telah mengemukakan usulnya.

"Bagaimana jika kita membawa beberapa macam obat-obatan yang kita perkirakan sebagai Lian-som? Dengan berempat tentunya kita akan dapat membawanya cukup banyak dan dengan begitu pula akan membuat kita akan dapat memperlihatkan kepada Sam-cie Toako, obat manakah yang dicari itu.....?!"

Usul yang dikemukakan oleh Yang Kiong Sian ternyata disetujui oleh ke tiga orang kawannya.

Karena mereka seketika telah mengiyakan dan mulai mengantongi sebanyak mungkin obatobatan yang mereka perkirakan adalah obat-obat yang mereka cari itu.

Begitulah, dalam waktu sekejap mata saja, ke empat orang pengemis ini telah mengantongi banyak sekali bermacam-macam obat-obatan.

Mereka memang berpikir, dalam sekian banyak obat yang mereka bawa itu, tentu salah satu di antaranya terdapat obat yang mereka cari itu.

Waktu itu, Yang Kiong Sian yang merasa telah cukup mengantongi bermacam-macam obat-obatan telah mengisyaratkan kepada ke tiga orang adiknya, bahwa mereka harus segera meninggalkan tempat itu.

Begitulah mereka berempat telah keluar dari jendela kamar obat-obatan tersebut.

Dan di saat mereka melompat keluar, keadaan sunyi dan sepi sekali, tidak terlihat seorangpun juga.

Ke empat pengemis ini dapat bernapas lega karena walaupun bagaimana mereka bergirang hati, usaha mereka memasuki istana Kaisar telah berhasil.

Sekarang yang menjadi harapan mereka adalah bahwa di antara obat yang mereka bawa itu tentu terdapat Lian-som.

Dengan demikian tentu jiwa Wie Liang Tocu akan dapat tertolong.

Akan tetapi, waktu Yang Kiong Sian tengah menutup daun jendela, agar tampak seperti keadaan semula dan tidak mendatangkan kecurigaan, mendadak sekali menyambar sesosok bayangan dengan gerakan yang sangat ringan sekali.

Dan sosok bayangan tersebut juga bukan hanya sekedar melompat menubruk saja, akan tetapi ke dua tangannya telah bekerja dengan cepat sekali menyerang dengan mempergunakan lweekang yang sangat dahsyat sekali.

Yang Kiong Sian yang waktu itu berada paling dekat dengan jendela kamar obat-obatan tersebut merasakan betapa angin serangan itu menyambar menyesakkan napasnya.

Demikian pula halnya dengan ke tiga orang kawannya, ke tiga pengemis itu merasa dada mereka seperti ditindih oleh hawa panas yang luar biasa, membuat tubuh mereka bagaikan disambar oleh lidah api, membuat mereka berempat kaget bukan main.

Seketika itu pula sebagai seorang yang memiliki kepandaian tinggi, ke empat pengemis Kay-pang itu menyadarinya bahwa orang yang menyerang mereka itu tentunya memiliki kepandaian yang sangat tinggi dan istimewa sekali.

Sedangkan Yang Kiong Sian tidak mau berayal lagi, dia telah menyampok tangan orang tersebut dengan tangannya yang telah disaluri oleh tenaga lweekangnya.

Dan kesudahannya sangat luar biasa.

Dua kekuatan tenaga raksasa telah saling bentur, menggetarkan keadaan di sekitar tempat itu.

Yang membuat ke tiga pengemis lainnya terkejut dan hati mereka terkesiap, justru waktu itu tubuh Yang Kiong Sian telah terhuyung.

Itulah benar-benar keadaan yang mengejutkan sekali, terbukti bahwa lweekang penyerang itu berada di atas lweekang Yang Kiong Sian.

Sedangkan ke tiga orang pengemis lainnya, yaitu Phoa Tiang Ie, Sun Kiang Lo dan Bo Siang Hong, cepat sekali menerjang kepada sosok bayangan yang baru datang dan telah menyerang Yang Kiong Sian itu.

Mereka bertiga serentak telah melancarkan serangan ke bagian yang mematikan di tubuh orang itu.

Sosok tubuh itu memperdengarkan suara tertawa mengejek.

Diapun tidak tinggal diam, karena dengan sebat sekali ke dua tangannya telah bergerak, menyampok tangan Phoa Tiang Ie dan juga kaki Bo Siang Hong.

Gerakan orang itu benar-benar mengagumkan sekali, sebab begitu dia menggerakkan tangan dan kakinya, seketika itu tubuh Bo Siang Hong dan Phoa Tiang Ie telah terpental ke belakang.

Tinggal Sun Kiang Lo yang menerjang sambil mempergunakan ke dua tangannya.

Sun Kiang Lo merupakan pengemis yang memiliki ilmu cengkeram seperti cakar Garuda.

Menyaksikan cara menyerang Sun Kiang Lo yang menerjang kepadanya dengan ke sepuluh jari tangan, yang terpentang dengan demikian, memaksa sosok tubuh itu harus mundur beberapa langkah.

Begitu sepasang tangan Sun Kiang Lo mengenai tempat kosong, sebat bukan main dia telah membarengi untuk menyerang lagi mempergunakan hantaman telapak tangannya.

Cara dia menghantam seperti itu benar-benar sangat kuat.

Tenaga dalamnya berkesiuran dan terlihat betapa tubuh dari Sun Kiang Lo telah terpental.

Namun Sun Kiang Lo yang telah menyaksikan betapa Bo Siang Hong dan Phoa Tiang Ie tadi, telah dibuat terpental maka dia bersiap sedia.

Sekarang di waktu dirinya sendiri yang terpental, dia cepat-cepat berjumpalitan dan mengempos semangatnya dan tenaganya guna memberati tubuhnya.

Di antara berkesiuran angin serangan lawan dan meluncurnya sang tubuh, Sun Kiang Lo berhasil memperlambat meluncur tubuhnya, sehingga dia tidak sempat menubruk dan membentur dinding.

Dia telah jatuh dengan ke dua kaki terlebih dulu.

Berdiri tegak dan wajahnya saja yang agak pucat, karena tampak jelas bahwa gempuran yang diterima dari orang itu telah menimbulkan goncangan-goncangan yang sangat kuat dan dahsyat sekali pada dadanya, menyebabkan dia terluka di dalam yang tidak ringan.....

Orang itu berdiri tegak dengan memperdengarkan berulang kali suara tertawa mengejek, wajahnya bengis sekali.

Dialah seorang yang bertubuh tinggi besar dengan kepala yang botak dan juga memakai jubah kependetaan.

Rupanya dia seorang Lhama, yang berusia antara empatpuluh tahun lebih.

"Hemm, anjing-anjing kurap dan budukan yang benar mencari mampus berani masuk ke dalam istana Kaisar! Aku Dalpa Tacin akan membuat kalian jera coba-coba kembali masuk ke dalam istana!"

Setelah berkata bengis seperti itu, dengan gerakan yang sangat cepat sekali tampak Dalpa Tacin bergerak dengan sepasang tangan yang menimbulkan angin berkesiuran sangat kuat sekali.

Dalam waktu yang sangat singkat sekali, segera juga terlihat bahwa Yang Kiong Sian berempat dengan Phoa Tiang Ie, Sun Kiang Lo dan Bo Siang Hong seperti terkurung oleh angin serangan ke dua tangan dari Dalpa Tacin.

Akan tetapi Yang Kiong Sian berempat merupakan Sie-mo-kaypang yang memiliki kepandaian tidak rendah.

Jika tadi mereka telah dibuat terpental karena mereka sama sekali tidak mengerahkan tenaga yang kuat.

Disamping itu memang mereka tidak menyangka bahwa lawan demikian liehay.

Tadinya mereka hanya menduga seorang pengawal istana biasa saja.

Sekarang setelah mengetahui bahwa mereka berhadapan dengan Lhama yang liehay dan tangguh, membuat Yang Kiong Sian jadi mengeluarkan seluruh kepandaiannya.

Berempat pengemispengemis Kay-pang ini telah bergerak dengan lincah, masingmasing mengincar bagian yang mematikan di tubuh si Lhama.

Dalpa Tacin memiliki semacam ilmu yang aneh.

Setiap kali dia menggerakkan sepasang tangannya, maka dari ke dua telapak tangannya itu keluar angin yang panas sekali seperti kobaran api.

Dan juga terlihat jelas sekali bahwa Dalpa Tacin bagaikan memiliki ilmu weduk, yaitu semacam ilma kebal yang tidak mempan oleh senjata tajam atau juga pukulan tangan kosong dan cengkeraman.

Dengan demikian membuat Dalpa Tacin leluasa sekali untuk bergerak mendesak ke empat orang lawannya.

Sedangkan Yang Kiong Sian berempat semakin lama jadi semakin terdesak.

Walaupun bagaimana memang terlihat jelas bahwa Sun Kiang Lo dan Phoa Tiang Ie telah terdesak sangat hebat.

Beberapa kali mereka berjumpalitan karena terpaksa harus mengelakkan diri dengan tergesa dari serangan lawan yang tangguh itu dengan gerakan yang terpaksa, jika tidak tentu mereka akan bercelaka.

Sedangkan Bo Siang Hong sendiri telah dua kali memuntahkan darah segar, sebab dadanya telah kena dihantam dengan hebat sekali oleh tangan Dalpa Tacin.

Dalpa Tacin sendiri yang memiliki kepandaian sangat tinggi biasanya tidak pernah memandang sebelah mata kepada lawanlawannya.

Akan tetapi sekarang setelah lewat belasan jurus dan ternyata dia belum juga berhasil merubuhkan lawan-lawannya itu membuat Dalpa Tacin penasaran bukan main.

Dengan mengeluarkan suara teriakan dan bentakan yang keras, Dalpa Tacin telah melompat menerjang sepasang tangannya telah berobah cara bergeraknya, di mana sepasang tangan itu sebentar menyilang ke atas dan ke bawah tidak dapat diduga sebelumnya.

Hanya yang jelas dan pasti bahwa dari ke dua telapak tangan Dalpa Tacin mengalir kekuatan tenaga dalam yang luar biasa hebatnya dan selalu mendesak Yang Kiong Sian berempat dengan keras.

Yang Kiong Sian selama bertempur telah memperhatikan cara bertempur Dalpa Tacin.

Sesungguhnya hatinya mulai tidak tenang, karena jika keadaan seperti ini berlangsung beberapa saat lagi, niscaya akan menyebabkan Dalpa Tacin bisa memanggil pengawal istana lainnya, atau juga pengawal istana lainnya bisa mendengar suara keributan tersebut dan berdatangan.

Dengan demikian, tentu Yang Kiong Sian berempat akan menghadapi ancaman yang cukup hebat.

Dan tampak jelas, betapa Yang Kiong Sian berusaha secepat mungkin untuk mengetahui di mana letak kelemahan Dalpa Tacin.

Menurut penglihatannya, mengamati cara bersilat Dalpa Tacin, bahwa Lhama itu selalu mempergunakan telapak tangannya untuk menyerang dengan tenaga dalamnya.

Dan biasanya seseorang yang telah mahir kepandaian lweekangnya, sehingga setiap kali menyerang mengandalkan lweekangnya tersebut untuk menyerang, tentu kelemahannya terletak di ke dua kakinya.

Setiap jago yang memiliki lweekang yang tinggi dan selalu mengandalkan lweekangnya niscaya jika tengah bertempur dengan lawannya akan mengerahkan seluruh kepandaiannya pada ke dua telapak tangannya, dan itu akan membuat dia lengah dan tidak menyalurkan kekuatan tenaga lweekangnya pada ke dua kakinya.

Dengan begitu, setelah memperhatikan sejenak lamanya, segera juga tampak Yang Kiong Sian merobah cara bersilatnya.

Jika semula dia bersilat mengandalkan kekerasan untuk keras dilawan keras.

Sekarang ini justru Yang Kiong Sian telah merobah cara bersilatnya.

Dia telah mempergunakan kelunakan, dia lebih banyak mengelakkan diri dari setiap serangan lawannya, dan jika menyerang Yang Kiong Sian mengincar bagian bawah dari lawannya, yaitu ke dua kaki dari Dalpa Tacin.

Waktu itu, Yang Kiong Sian pun telah meneriaki ke tiga orang kawannya dengan mempergunakan kata-kata sandi, memberitahukan kelemahan dari Dalpa Tacin, agar mereka bertiga juga menyerang Dalpa Tacin dengan mempergunakan taktik seperti yang dipergunakannya, yaitu menyerang bagian bawahnya.

Serentak mereka berempat selalu menyerang bagian bawah penjagaan Dalpa Tacin.

Dan apa yang diduga oleh Yang Kiong Sian tidak salah, karena setelah diserang dengan gencar bagian bawahnya, yaitu pada ke dua kakinya, telah membuat Dalpa Tacin jadi kelabakan dan bergelisah, di mana Lhama ini jadi sibuk sekali untuk berkelit ke sana ke mari menghindarkan diri.

Dan serangannya jadi berkurang, karena dia sibuk sekali untuk menghindarkan diri dari setiap serangan lawan pada ke dua kakinya.

Tubuh Dalpa Tacin telah berkelebat-kelebat bagaikan bayangan saja.

Akan tetapi ke empat pengemis itupun bukan lawan yang ringan, karena mereka tidak jarang sengaja telah bergulingan di lantai.

Dengan demikian mereka dapat menyerang bagian bawah Dalpa Tacin dengan gencar.

Sedangkan Dalpa Tacin sendiri yang menyaksikan hal seperti itu, jadi gusar dan penasaran.

Dia menyadari bahwa ke empat orang lawannya ini telah mengetahui kelemahan dirinya, karenanya telah mendesak terus ke bagian bawah pada arah ke dua kakinya, di mana memang memiliki kuda-kuda yang tidak begitu kuat.

Di saat itu Yang Kiong Sian yang tidak mau membuang-buang waktu lagi telah berseru nyaring, tahu-tahu tubuhnya telah menggelinding di lantai.

Sepasang tangan dan juga ke dua kakinya telah bergerak ke sana ke mari dengan cepat sekali menyerang ke dua kaki Dalpa Tacin.

Dalpa Tacin sendiri sibuk sekali melompat ke sana ke mari menghindarkan diri.

Beberapa kali ke dua kaki dari Dalpa Tacin kena diserampang oleh tendangan kaki Yang Kiong Sian, di mana dia hampir jatuh terpelanting.

Akan tetapi memang dasarnya lweekang dari Lhama itu sangat kuat, dia bisa melindungi ke dua kakinya itu dengan tenaga lweekang tersebut.

Dengan demikian tendangan dari Yang Kiong Sian akhirnya mengenai tempat sasaran yang sangat keras sekali.

Waktu kakinya membentur kaki Dalpa Tacin, membuat Yang Kiong Sian menderita kesakitan yang cukup hebat.

Sedangkan ke tiga orang adik angkat Yang Kiong Sian, yaitu Phoa Tiang Ie dan Sun Kiang Lo serta Bo Siang Hong, pun tidak tinggal diam, dengan gencar mereka pun telah menyerang bagian bawah penjagaan Dalpa Tacin.

Setiap kali mereka menyerang, semuanya dilakukan dengan serentak.

Hal ini membuat Dalpa Tacin jadi agak repot.

Walaupun setiap serangan yang dilancarkan mereka dapat dihindarkan si Lhama, akan tetapi tidak urung Lhama ini berulang kali hampir terkena serangan itu.

Boleh dibilang sekarang berbalik keadaan mereka, jika sebelumnya Dalpa Tacin selalu mendesak dengan seranganserangannya yang mengandung maut.

Akan tetapi sekarang justru Dalpa Tacin yang lebih banyak berkelit, sedangkan ke empat orang lawannya itu, pengemis-pengemis Kay-pang, telah melancarkan serangan dengan gencar.

Dengan begitu Dalpa Tacin jadi marah dan penasaran, dan dia menyadari jika hal ini berlarut-larut, jelas akan membuat ke empat orang lawannya memiliki kesempatan untuk berusaha meloloskan diri.

Karena Dalpa Tacin tidak mau membuang-buang waktu lagi, dia telah mengeluarkan suara siulan yang nyaring sekali, dan tampak jelas betapa tubuh Dalpa Tacin juga telah melompat ke tengah udara.

Gerakannya itu untuk menyelamatkan diri dari serangan Yang Kiong Sian berempat.

Juga dengan mempergunakan kesempatan yang hanya beberapa detik itu, Dalpa Tacin berusaha untuk bersiul kembali dengan suara yang nyaring bukan main.

Dengan demikian, segera juga tampak beberapa sosok bayangan tengah berlari-lari mendatangi dengan cepat.

Yang Kiong Sian jadi terkesiap hatinya, demikian juga ke tiga pengemis Kay-pang lainnya.

Mereka menyadari, bahwa suara siulan dari Dalpa Tacin tadi rupanya memanggil orang-orangnya atau pengawal istana lainnya, untuk meminta bala bantuan.

Jika saja di situ telah berkumpul para pengawal istana, walaupun bagaimana tingginya kepandaian Yang Kiong Sian berempat, jangan harap mereka bisa meloloskan diri!

Menyaksikan hal itu, Yang Kiong Sian berpikir cepat sekali.

"Angin keras......!"

Dia berseru meneriaki kawan-kawannya.

Ke tiga orang kawannya mengerti bahwa mereka dianjurkan agar melarikan diri.

Begitulah, di saat tubuh Dalpa Tacin melayang di tengah udara, Yang Kiong Sian berempat mempergunakan kesempatan tersebut untuk memutar tubuh.

Dengan mengerahkan seluruh ginkang mereka, ke empat pengemis itu melompat meninggalkan ruangan itu.

Maksud mereka ingin melarikan diri.

Akan tetapi Dalpa Tacin mana mau membiarkan mereka berempat meloloskan diri begitu saja?

Ketika melihat ke empat pengemis itu ingin melarikan diri, dengan sebat sekali Dalpa Tacin telah bergerak.

Ternyata dia telah melontarkan beberapa batang jarum halus yang menyambar kepada Yang Kiong Sian berempat.

Yang Kiong Sian berempat merasakan angin yang menyambar halus di belakang mereka.

Dengan gesit mereka mengelakkan diri.

Namun dengan demikian, gerakan mereka sendiri untuk meloloskan diri terlambat.

Waktu itu Dalpa Tacin telah meluncur cepat sekali menyusul mereka.

Terpisah cukup jauh tampak belasan orang pengawal istana yang tengah berlari mendatangi.

Yang Kiong Sian menyaksikan keadaan seperti itu jadi nekad.

"Kalian bertiga pergi meloloskan diri lebih dulu, biarlah aku yang akan menghadapi Lhama ini.....!"

Teriaknya.

Dia menganjurkan Phoa Tiang Ie bertiga pergi meloloskan diri terlebih dulu, dan dia memang memutar tubuhnya, dengan gerakan yang sangat cepat sekali, sepasang tangannya menyerang memapak kepada Dalpa Tacin.

Karena serangan Yang Kiong Sian menyebabkan Dalpa Tacin mau atau tidak mau harus menangkis dengan mempergunakan tangan kirinya.

Dan karena dia menangkis, Phoa Tiang Ie dari yang lainnya telah berlari jauh.

Bukan main murkanya Dalpa Tacin.

Dengan bengis berulang kali dia menyerang Yang Kiong Sian.

Yang Kiong Sian memang merasakan betapa tenaga serangan Dalpa Tacin membuatnya sesak bernapas.

Akan tetapi dia masih sanggup untuk menghadapi serangan itu dengan berulang kali berkelit dan balas menyerang dengan mempergunakan seluruh kekuatan yang ada padanya.

Gerakan yang dilakukan oleh Yang Kiong Sian merupakan jurusjurus untuk membela diri saja.

Gerakan-gerakan seperti itu walaupun menyebabkan Dalpa Tacin tidak bisa menyerang dan merubuhkan dirinya, akan tetapi dia pun tidak bisa mendesak Dalpa Tacin untuk meloloskan diri.

Sedangkan belasan orang pengawal istana telah tiba di tempat tersebut segera mereka mengepungnya dengan ketat.

"Kalian bekuk anjing kurap ini!"

Berseru Dalpa Tacin sambil melompat mundur, dan waktu itu belasan orang pengawal istana tersebut telah meluruk menyerang kepada Yang Kiong Sian.

Sedangkan Dalpa Tacin sendiri telah menjejakkan kakinya, tubuhnya seperti terbang telah mengejar Phoa Tiang Ie dan juga berusaha untuk merintangi mereka melarikan diri.

Karena dia memiliki ginkang yang berada di atas ke tiga orang itu, dengan demikian dalam waktu sekejap saja dia telah berhasil mengejar ke tiga orang itu.

Dengan gerakan tubuh seperti seekor burung rajawali tengah menyambar mangsanya, tampak tubuh Dalpa Tacin telah meluncur melintang di hadapan ke tiga orang itu.

Sepasang tangan Dalpa Tacin juga tidak tinggal diam.

Dia telah menggerakkan sepasang tangannya untuk menyerangnya.

Kali ini Dalpa Tacin telah menyerangnya dengan mempergunakan delapan bagian tenaga lweekangnya.

Angin yang menerjang kepada Phoa Tiang Ie bertiga seperti juga terjangan angin puyuh.

Dengan demikian membuat ke tiga orang pengemis itu harus berusaha membendung tenaga serangan lawannya dengan tangkisan yang sekuat tenaga.

Akan tetapi tidak urung mereka bertiga telah terpelanting oleh desakan angin serangan Dalpa Tacin.

Sedangkan Dalpa Tacin mengulangi lagi serangannya, dan ke dua telapak tangannya yang serentak, maka kekuatan tenaga serangannya itu jauh lebih kuat dibandingkan dengan sebelumnya.

Hebat bukan main cara menyerang Dalpa Tacin waktu itu.

Phoa Tiang Ie baru saja melompat bangun, dan ketika itulah angin serangan Dalpa Tacin telah menyambar datang sehinggga tubuh orang she Phoa tersebut terpental bergulingan di atas lantai.

Sedangkan ke dua pengemis lainnya telah melompat menerjang kepada Dalpa Tacin.

Dua pasang tangan mereka, menyambar ke arah batok kepala dan bahu Dalpa Tacin.

Namun Dalpa Tacin bergerak sangat cepat sekali.

Dia telah menangkis dengan kibasan tangannya membuat ke dua lawannya itu terpental, sama nasibnya seperti halnya Phoa Tiang Ie.

Dalpa Tacin mengeluarkan suara tertawa mengejek, segera juga dia melompat untuk menyerang lebih jauh, sehingga membuat ke tiga pengemis itu mengeluh.

Mereka telah terluka di dalam tubuh yang tidak ringan akibat serangan yang tadi oleh Dalpa Tacin.

Sekarang Dalpa Tacin telah menyerang mereka pula tidak kalah hebatnya.

Dengan demikian, jika memang menyambuti dengan kekerasan, jelas mereka akan terluka lebih hebat lagi.

Tetapi jika mereka tidak menangkis, tentu mereka pun akan menjadi korban serangan itu di mana mereka sudah tidak memiliki kesempatan untuk mengelakkan diri.

Dalpa Tacin yang menyaksikan keadaan ke tiga orang lawannya itu telah memperdengarkan suara tertawa mengejek, sedangkan tenaga serangannya itu telah ditambah pula lebih kuat, dengan semangat yang terbangun dan mata yang memancarkan sinar yang bengis, Dalpa Tacin telah bernafsu sekali ingin membinasakan ke tiga orang lawannya dalam satu kali serangan ini.

Waktu itulah tampak Phoa Tiang Ie menjadi nekad.

Dia mengetahui bahwa dirinya dan ke dua orang kawannya itu tidak bisa meloloskan diri, karenanya dia telah mengeluarkan suara bentakan nekad.

Justru waktu tangan kanan dari Dalpa Tacin meluncur ke arah dirinya, Phoa Tiang Ie telah melompat menerjang Lhama itu sambil mengerahkan seluruh tenaga dalamnya pada ke dua telapak tangannya yang diulurkan untuk menyampok serangan Lhama tersebut.

Sedangkan Bo Siang Hong sendiri telah mengeluarkan pekik yang keras, tubuh melompat sambil menyerang tidak kalah hebatnya, karena diapun berpikiran sama seperti Phoa Tiang Ie.

Gerakan ke dua pengemis ini mengejutkan Dalpa Tacin.

Semula dia girang sebab melihat bahwa serangannya itu tentu akan berhasil dengan memuaskan untuk membinasakan ke tiga orang lawannya.

Siapa tahu ke dua pengemis itu berlaku nekad, dan tenaga serangan mereka, walaupun tidak setangguh ilmu pukulannya, akan tetapi juga tidak bisa diremehkan oleh Dalpa.

Waktu itulah dua kekuatan antara ke dua pengemis dan tenaga Dalpa Tacin saling bentur.

Bentrokan yang terjadi membuat tubuh Dalpa Tacin terhuyunghuyung beberapa langkah.

Sedangkan tubuh ke dua pengemis itu, Phoa Tiang Ie dan Bo Siang Hong sendiri terpental keras sekali, tubuh mereka bergulingan di lantai dan tidak bergerak lagi.

Pingsan tidak sadarkan diri.

Pengemis yang seorangnya lagi, yaitu Sun Kiang Lo yang menyaksikan nasib ke dua sahabat mereka itu telah menjadi nekad juga.

Dia mengeluarkan suara jeritan gusar dan ingin mengadu jiwa.

Dengan cepat dia menerjang, dan setiap serangan dari ke dua tangannya memaksa Dalpa Tacin sementara menghindarkannya dengan kelitan-kelitan yang gesit sekali.

Dalpa Tacin memang telah terluka di dalam akibat serangan ke dua pengemis lainnya, belum lagi dia bisa mempersatukan kembali lweekangnya, justru telah datang serangan dari Sun Kiang Lo, membuat dia memaksakan diri untuk menangkis sedapat mungkin.

Namun ini justru merupakan suatu keuntungan yang tidak kecil buat Sun Kiang Lo, karena tenaga tangkisan yang dilakukan Dalpa Tacin tidak sekeras seperti tadi, sehingga tenaga dalam dari Sun Kiang Lo telah berhasil membuatnya terhuyung beberapa langkah.

Mempergunakan kesempatan itu, Sun Kiang Lo menyambar tubuh ke dua orang kawannya, yang pinggang mereka masing-masing dikempit oleh tangan kiri dan tangan kanannya laluu melompat keluar dari ruangan itu, menerobos lari ke taman yang luas, dan menyembunyikan diri di balik batu-batu gunung buatan.

Waktu itu Yang Kiong Sian yang tengah dikepung oleh puluhan orang pengawal istana memberikan perlawanan dengan gigih.

Hanya saja kepandaian dari para pengawal istana itu tidak sehebat Dalpa Tacin, dengan sendirinya Yang Kiong Sian walaupun telah terluka di dalam yang parah, tokh dia masih bisa memberikan perlawanan.

Malah beberapa kali Yang Kiong Sian telah berhasil merubuhkan tiga orang pahlawan istana, kemudian menerobos ke bagian yang lowong.

Tubuhnya melesat cepat sekali ke tengah udara, lalu dengan segera berlari meninggalkan tempat itu.

Para pahlawsn istana yang lainnya segera mengejar dengan cepat sekali.

Dan di dalam keadaan seperti itu, tampak jelas mereka berusaha untuk dapat menangkap Yang Kiong Sian.

Hanya saja Yang Kiong Sian telah mengerahkan seluruh kekuatan ginkangnya.

Dia berlari dengan cepat sekali, dan berbelok masuk ke dalam taman.

Ketika berada dalam taman segera juga dia melompati dinding, dan tubuhnya melesat keluar istana.

Gerakannya itu memang cukup menolongnya, karena para pengejarnya yang memiliki ginkang tidak setinggi dia, tidak dapat melompati dinding dan harus jalan memutar untuk keluar dari taman tersebut.

Mempergunakan kesempatan yang ada itulah, Yang Kiong Sian telah menghilang dan lenyap dalam kegelapan malam.

Hanya saja hati Yang Kiong Sian jadi bergelisah sekali, karena dia menguatirkan keselamatan ke tiga orang kawannya, yang tidak diketahuinya.

Apakah dapat meloloskan diri atau tidak.

Waktu itu di antara kegelapan malam, di belakang tubuhnya tampak api yang terbang dari obor yang dibawa oleh para pengejarnya, namun Yang Kiong Sian tidak memperdulikannya.

Dia berlari terus dengan cepat sekali, sehingga dalam waktu sekejap mata saja dia telah meninggalkan kota raja cukup jauh.

Pilihan satu-satunya buat Yang Kiong Sian adalah kembali ke kuil tua di mana Sam-cie-sin-kay berada.

Hatinya tetap tidak tennang, karena dia menguatirkan ke tiga orang kawannya, kalau tertangkap oleh Dalpa Tacin dan orangorangnya.

Ketika Yang Kiong Sian tiba di kuil tua itu memang ke tiga orang kawannya itu masih juga belum kembali.

Sam-cie-sin-kay yang telah menyambut kembalinya dia.

Dan waktu Yang Kiong Sian mengeluarkan seluruh obat-obatan yang telah dicurinya itu, Samcie-sin-kay memeriksanya.

Wajah Sam-cie-sin-kay tetap muram, karena dia tidak berhasil menemukan barang yang diinginkannya yaitu Lian-som.

Setelah menantikan sekian lama, masih juga ke tiga orang pengemis lainnya belum kembali, membuat Yang Kiong Sian dan Sam-cie-sin-kay bergelisah.

Malah Sam-cie-sin-kay sendiri mengusulkan untuk mengirim orang-orangnya pergi ke kota raja guna mencari keterangan.

Namun Yang Kiong Sian telah menyadari bahaya yang tidak kecil buat orang-orangnya Sam-cie-sin-kay jika mereka berkeliaran di kota raja.

Jelas Dalpa Tacin maupun orang-orangnya itu, para pahlawan istana, telah melihat bahwa Yang Kiong Sian dan ke tiga orang sahabatnya adalah orang-orang Kay-pang yang pakaian bagai pengemis.

Karena itu, akibat adanya kejadian tersebut, boleh jadi setiap pengemis yang berkeliaran di kota raja akan ditangkap oleh orang-orang Kaisar.

Itulah sebabnya mengapa Yang Kiong Sian telah menolak usul yang diberikan oleh Sam-cie-sin-kay.

Sedangkan Phoa Tiang Ie bertiga yang tengah bersembunyi di balik batu gunung-gunungan buatan, telah berdiam diri sampai menjelang fajar, Dalpa Tacin bersama para pahlawan istana telah mencari ke sana ke mari, namun tidak berhasil menemui jejak mereka.

Iapun menduga bahwa ke tiga pengemis itu telah melarikan diri.

Pagi telah tiba dan sinar matahari, pagi pun yang hangat telah menyinari seluruh permukaan bumi.

Waktu itu Bo Siang Hong sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk meloloskan diri, karena di istana Kaisar telah dijaga ketat.

Bertiga dengan ke dua kawannya mereka tetap mendekam di tempat persembunyiannya.

Bo Siang Hong bermaksud untuk menanti sang malam telah tiba kembali, barulah di saat itu mereka akan berusaha meloloskan diri.

Berusaha meloloskan diri di waktu siang hari seperti itu hanyalah bahaya yang akan mereka terima.

Dengan demikian, mereka harus bersabar.

Bukankah untuk menyelamatkan jiwa Wie Liang Tocu masih terdapat kesempatan satu hari?

Karena itu Bo Siang Hong bertiga tetap berdiam di tempat persembunyian mereka.

Malam harinya, istana Kaisar tetap dijaga dengan ketat.

Apa yang diduga oleh Yang Kiong Sian memang terbukti, karena sejak pagi tadi setiap pengemis yaug terdapat di kota raja, tentu ditangkap dan dijebloskan dalam tahanan.

Mereka di periksa dengan keras dan bengis, dan juga mereka disiksa untuk dipaksa memberikan pengakuan.

Akan tetapi, pengemis-pengemis itu yang memang tidak tahu menahu perihal Yang Kiong Sian berempat, jadi tidak bisa memberikan keterangan apapun juga.

Di waktu itu, Sam-cie-sin-kay sendiri sibuk sekali menyebar orangorangnya, karena walaupun bagaimana Sam-cie-sin-kay tidak bisa membiarkan murid-murid Kay-pang ditawan oleh orang-orang istana, dan Sam-cie-sin-kay ingin berusaha membebaskan mereka.

Yang Kiong Sian yang menantikan kembalinya Bo Siang Hong bertiga dengan Phoa Tiang Ie dan Sun Kiang Lo, maka menduga bahwa ke tiga orang kawan mereka itu telah tertawan oleh pihak kerajaan.

Karenanya hati Yang Kiong Sian berduka bukan main.

Yang membuat dia tambah berduka justru obat-obat yang telah dicurinya tidak satupun yang merupakan obat yang tengah dicarinya untuk menyelamatkan Wie Liang Tocu.

Tetapi ketika sang rembulan mulai memperlihatkan diri lagi, tidak terduga sama sekali Bo Siang Hong bertiga dengan Phoa Tiang Ie dan Sun Kiang Lo telah kembali.

Bo Siang Hong mengempit ke dua sahabat itu di tangan kiri dan tangan kanannya.

Keadaan Sun Kiang Lo dan Phoa Tiang Ie dalam keadaan yang cukup parah.

Mereka bertiga telah mengantongi cukup banyak bermacammacam obat, dan justru ketika mereka mengeluarkan obat-obatan itu, Sam-cie-sin-kay memeriksanya.

Beberapa macam ramuan obat segera diberikan kepada Phoa Tiang Ie dan Sun Kiang Lo agar mereka dapat berkurang rasa sakitnya.

Begitu juga dengan Yang Kiong Sian, dia telah diberikan semacam obat untuk menyembuh luka di dalam tubuhnya.

Sam-cie-sin-kay waktu mencari-cari Lian-som di antara obatobatan itu, wajahnya muram.

Sejauh itu dia masih belum juga menemui obat yang dicarinya.

"Jika dilihat demikian tampaknya sulit untuk menolong jiwa Wie Tianglo, karena obat yang kita cari itu tidak terdapat disini!"

Samcie-sin-kay sambil menyingkirkan separuh dari obatan-obatan yang telah dipilihnya.

"Memang telah kuduga, bahwa untuk memperoleh Lian-som tidak mudah.....!"

Tetapi berkata sampai di situ, tiba-tiba matanya terpentang lebarlebar, wajahnya berobah. Dan katanya dgngan suara setengah berseru.

"Ihhhh, apa ini.....?!"

Diapun telah me ngeluarkan isi dari botol obat tersebut, yang ternyata merupakan sekuntum bunga berwarna jingga dan kehijau-hijauan.

Waktu bunga itu dikeluarkan dari botolnya, seketika ruangan tersebut dipenuhi oleh bau harum semerbak yang aneh sekali, namun menyegarkan.

Sam-cie-sin-kay mencium-cium kembang itu beberapa saat, wajahnya berseri-seri.

"Apakah kalian tidak menciumnya?"

Tanya Sam-cie-sin-kay dengan sikap gembira.

"Inilah bau harum dari Swat-lian dan Jin-som, tentu kembang inilah yang tengah kita cari!"

Kemudian Sam-cie-sin-kay lebih menelitikan kembang itu, dia mengangguk-angguk girang bukan kepalang.

Sedangkan Yang Kiong Sian dan yang lainnya mengawasi dengan hati berdebar-debar.

Karena tidak percuma mereka mempertaruhkan jiwa menyatroni istana Kaisar, karena terbukti sekali ini bahwa usaha yang mereka cari itu telah ditemukan.

Malah yang lebih menguntungkan, mereka telah mencuri obatobatan yang tidak ternilai harganya, karena umumnya obat yang mereka 'sikat' dari kamar obat Kaisar Boan-ciu itu justru merupakan obat-obatan yang langka sekali dan jarang bisa diperoleh dalam dunia ini.

Yang Kiong Sian menghela napas lega.

Sedangkan Sam-cie-sin-kay telah bekerja cepat sekali, di mana sepasang tangannya telah mengurut dan menotok tidak hentinya.

Sedangkan kepada Yang Kiong Sian dia meminta agar kembang Lian-som tersebut dihancurkan dan dicampur dengan secangkir teh.

Yang Kiong Sian bekerja cepat sekali.

Waktu itu Wie Liang Tocu masih berada dalam keadaan pingsan, walaupun hampir dua hari lamanya dia selalu ditotok dan diurut, namun tetap saja dia masih belum sadarkan diri.

Karenanya, keadaannya itu menguatirkan sekali.

Akan tetapi dengan ditemukannya kembang Lian-som tersebut, maka harapan masih ada buat para pengemis itu.

bahwa Wie Liang Tocu akan dapat tertolong.

Kala itu, Sam-cie-sin-kay bekerja keras untuk menotok dan mengurut bagian-bagian terpenting di tubuh Wie Liang Tocu, dan Yang Kiong Sian telah selesai menghancurkan kembang Lian-som tersebut yang dicampur dengan secangkir teh.

Lalu perlahan-lahan diminumkan kepada Wie Liang Tocu.

Mereka meminumkannya dengan memegang ke dua rahang Wie Liang Tocu.

Walaupun Wie Tianglo dalam keadaan pingsan, namun air hasil ramuan kembang Lian-som tersebut dapat tertelan juga sedikit demi sedikit.

Setelah meminumkan habis satu cangkir penuh air ramuan kembang Lian-som tersebut, Sam-cie-sin-kay menghela napas lega.

"Mudah-mudahan jiwa Wie Tianglo dapat diselamatkan!"

Dia menggumam perlahan. Yang Kiong Sian dan ke tiga pengemis lainnya memandang tegang.

"Apakah..... apakah setelah diminumkannya air ramuan kembang Lian-som, jiwa Wie Tianglo akan selamat?"

Tanya Yang Kiong Sian dengan suara mengandung ketegangan. Sam-cie-sin-kay tersenyum, katanya.

"Biasanya, luka di dalam yang bagaimanapun hebatnya, jika diberikan minum air campuran kembang Lian-som, tentu akan sembuh kembali. Karena jangankan yang terluka hebat dan pingsan, sedangkan yang jiwanya hampir keluar dari ujung kepala, jika minum air campuran kembang Lian-som, tentu jiwanya itu akan kembali ke raganya......!"

Mendengar penjelasan Sam-cie-sin-kay, ke empat pengemis berkarung delapan itu jadi girang.

Mereka bersyukur bahwa mereka berhasil memperoleh kembang Lian-som tersebut.

Sedangkan Sam-cie-sin-kay telah meneruskan perkataannya.

"Jika memang dalam dua hari Wie Liang Tianglo masih belum siuman maka kita harus membuka beberapa jalan darah pusat di dekat dadanya, agar air campuran Lian-som yang mengaliri sekujur tubuhnya itu dapat menerobos masuk ke bagian-bagian penting pada jalan darah pusatnya!"

Ke empat pengemis itu mengangguk.

Mereka beristirahat, karena selama dua hari beruntun mereka sangat letih sekali.

Sekarang setelah mereka berhasil memperoleh kembang Lian-som juga telah berhasil pula meminumkannya kepada Wie Tianglo, maka mereka jadi jauh lebih tenang dan dapat beristirahat.

Sedangkan di kota raja sendiri tengah diadakan pencarian yang ketat sekali terhadap Yang Kiong Sian berempat.

Setiap pengemis yang ditemukan di dalam kotaraja tentu ditangkap tanpa pilih bulu.

Semua anggota Kay-pang yang biasanya memiliki tempat 'operasi' di kota raja, telah mematuhi perintah dari Sam-cie-sin-kay untuk tidak berkeliaran dulu di dalam kota.

Karenanya mereka berkumpul di kuil tua tersebut.

Waktu beredar terus dengan cepat, satu hari telah herlalu......

Wie Liang Tianglo masih tetap dengan keadaannya, pingsan tidak sadarkan diri.

Dan Sam-cie-sin-kay berulang kali telah berusaha menotok heberapa jalan darahnya, akan tetapi kemajuan tidak diperoleh pada diri Tianglo pengemis itu.

Keadaan Wie Liang Tianglo seperti itu telah membuat Yang Kiong Sian dan yang lainnya berkuatir.

Mereka jadi selalu mendampingi Wie Liang Tianglo, di mana Tianglo itu masih berada dalam keadaan pingsan.

Sedangkan Sam-cie-sin-kay tidak tinggal diam, bergantian dia telah menotok jalan darah di sekujur tubuh Wie Liang Tianglo, dibantu oleh Yang Kiong Sian berempat.

Setelah lewat satu malaman lagi, mulai terlihat perkembangan yang cukup menggembirakan pada diri Wie Liang Tianglo, karena Wie Liang Tocu mulai memperdengarkan keluhan.

Walaupun dia masih berada dalam keadaan antara sadar dan tidak.

Sedangkan saat itu, Sam-cie-sin-kay semakin mempergiat totokan dan urutannya, dan juga telah meminta kepada Yang Kiong Sian dan ke tiga pengemis berkarung delapan lainnya untuk bantu menguruti dan menotok jalan darah di tubuh Tianglo tersebut.

Akhirnya Wie Liang Tianglo tersadar dari pingsannya, sepasang matanya terbuka perlahan-lahan dan terdengar dia bertanya dengan sikap keheranan.

"He, di mana aku berada.....?!"

Dan bola mata itu telah mencilak ke sana ke mari. Waktu melihat Sam-cie-sin-kay dan yang lainnya, segera juga dia menggumam perlahan.

"Oohh, kiranya aku berada di tengahtengah sahabat......!"

Sam-cie-sin-kay, Yang Kiong Sian dan yang lainnya girang bukan main.

Mereka selain bersenyum juga telah mengucapkan rasa syukur mereka kepada Thian, yang mana akhirnya Wie Liang Tianglo telah tertolong jiwanya.

Waktu itu, Sam-cie-sin-kay sendiri telah mendekati kepalanya pada Wie Liang Tianglo katanya.

"Harap Tianglo beristirahat dengan tenang, kami menjaga di sini dan Tianglo tidak perlu kuatir terjadi suatu apapun juga......!"

Wie Liang Tianglo berusaha tersenyum, walaupun tampaknya sulit sekali buatnya tersenyum, dan katanya.

"Terima kasih.....!"

Lalu dia memejamkan kembali matanya dan tidak mengucapkan kata-kata lainnya, tampaknya dia masih lemah sekali dan ingin beristirahat.

Sam-cie-sin-kay menghela napas lega, dia berseru perlahan kepada Yang Kiong Sian dan yang lainya.

"Akhirnya tertolong juga!"

Yang Kiong Sian berempat dan juga pengemis-pengemis lainnya yang banyak berkumpul di kuil tua itu, telah bergirang dan mengucapkan syukur atas kesembuhan dan tertolongnya jiwa Wie Liang Tianglo.

Sam-cie-sin-kay menanti sesaat lagi lamanya, sampai akhirnya dia telah mulai menotok pula beberapa jalan darah di tubuh Wie Liang Tocu.

Tianglo itu tertidur nyenyak sekali.

Wajahnya sudah tidak pucat kehitam-hitaman lagi, karena sekarang pada pipinya terlihat warna kemerah-merahan.

Sedangksn Sam-cie-sin-kay pun telah beristirahat.

Lewat lagi satu hari, kesehatan Wie Liang Tianglo pulih, dan dia telah tersadar benar-benar dari pingsannya, mulai berangsur tenaga dan semangatnya pulih sebagai biasa.

Hanya saja yang masih terlihat jelas, dia lemas dan membutuhkan istirahat yang cukup panjang, namun kesehatannya itu tidak terancam bahaya lagi.

Sore itu Wie Liang Tocu berusaha duduk dari rebahnya.

Akan tetapi Sam-cie-sin-kay telah mencegahnya dan memintanya agar dia tetap rebah untuk beristirahat.

Satu hari lagi Wie Liang Tocu beristirahat dan selama itu dia dilayani oleh Sam-cie-sin-kay dan yang lainnya, untuk makan dan minumnya.

Sementara itu Sam-cie-sin-kay hanya memberikan bubur kepada Tianglo ini, karena kesehatannya dikala itu baru saja sembuh, tidak boleh memakan nasi yang keras, yang kemungkinan bisa mengganggu kesehatannya.

Dan bubur itu dimasak sendiri oleh Sam-cie-sin-kay.

Bukan main berterima kasihnya Wie Liang Tianglo memperoleh pertolongan dan rawatan demikian baik dari Sam-cie-sin-kay dan para pengemis lainnya.

Kesehatannyapun mulai pulih pula lebih baik.

Di hari ke tiganya, Wie Liang Tianglo telah dapat duduk dan bercerita.

Tianglo ini menceritakan, bagaimana dia telah dilukai oleh Tiat To Hoat-ong, karena sebelumnya dia telah bertempur dengan Gochin Talu dan Lengky Lumi.

Juga tujuan Wie Liang Tocu yang bermaksud membunuh Gochin Talu dan Lengky Lumi, dua orang Boan yang merupakan sumber kepengkhianatan dari ke tiga orang Tianglo Kay-pang yaitu Nyo Tianglo, Pheng Tianglo dan Kan Tianglo.

Karena dari itu, walaupun bagaimana, Wie Liang Tianglo mengatakan kepada Sam-cie-sin-kay, jika kelak kesehatan telah pulih, tetap akan pergi mencari Gochin Talu dan Lengky Lumi, untuk membinasakan ke dua orang Boan itu.

Dan Wie Liang Tocu pun berpesan, sejak sekarang para pengemis Kay-pang tidak perlu memperdulikan dan melayani setiap perintah dari Nyo Tianglo, Kan Tianglo dan Pheng Tianglo.

"Ke tiga Tianglo itu akan memperoleh hukuman yang setimpal dengan perbuatan mereka,"

Kata Wie Liang Tianglo lebih jauh.

"Dan dalam rapat besar di malaman Cap-go mendatang, keputusan itu akan diumumkan, oleh Pangcu.....!"

Sam-cie-sin-kay dan pengemis-pengemis lainnya telah mengiyakan dan mereka terkejut bukan main mengetahui bahwa tiga orang Tianglo partai mereka seperti Nyo Tianglo, Pheng Tianglo dan Kan Tianglo telah berkhianat mengadakan kontak serta kerja sama dengan pihak Boan, membuat mereka selain heran juga sangat gusar sekali.

Wie Liang Tianglo tersenyum pahit, katanya.

"Hal ini disebabkan perasaan yang tidak puas, karena Nyo Tianglo, Kan Tianglo dan Pheng Tianglo pernah dipecat dari kedudukannya sebagai Tianglo oleh Oey Pangcu (Oey Yong). Mereka bertiga telah diturunkan tingkat kedudukannya dari sembilan karung menjadi delapan karung. Rupanya sakit hati dan dendam mereka itu terpendam terus, dan kini di saat mereka melihat Kay-pang akan terpecah belah, mereka ingin mempergunakan kesempatan itu untuk merebut kedudukan dan kekuasaan di dalam Kay-pang.

"Tentu saja jika hanya mereka bertiga serta para pengikutnya, mereka tidak mungkin berhasil merebut kekuasaan di Kay-pang. Namun jika memang mereka memperoleh bantuan dari orang1014 orang Boan, di mana Kaisar Boan itu menggerakan para pahlawan kerajaan, niscaya Kay-pang menghadapi urusan yang tidak kecil.....!"

Sam-cie-sin-kay dan pengemis-pengemis lainnya, seketika bertambah murka.

Malah di antara mereka ada yang tidak dapat menahan diri dan telah mengeluarkan kata-kata makian yang ditujukan kepada ke tiga Tianglo Kay-pang yang berkhianat itu.

Sedangkan Wie Liang Tianglo menghela napas.

"Sementara itu kita tidak bisa mengatakan suatu apapun juga karena mereka masih resmi dengan kedudukan mereka sebagai Tianglo, dengan sendirinya kitapun tidak bisa bertindak main hakim sendiri! Walaupun data-data dan bukti telah berkumpul di tangan Pangcu, keputusan itu harus diambil dalam rapat besar Kay-pang seperti lazimnya.....

"Karenanya kita harus menantikan sampai malaman Cap-go yang akan datang, saat mana Pangcu akan mengumumkan hasil perundingan tersebut dan juga memberitahukan kepada saudarasaudara kita di Kay-pang, bahwa ke tiga Tianglo itu akan dipecat dari jabatan mereka dan juga akan dijatuhi hukuman......!"

Mendengar penjelasan Wie Liang Tocu itu, Sam-cie-sin-kay, Yang Kiong Sian, Phoa Tiang Ie, Bo Siang Hong dan Sun Kiang Lo serta para pengemis lainnya telah mengiyakan.

Dan mereka menyadari betapa pentingnya arti dari hasil rapat besar yang akan diselenggarakan oleh Kay-pang tidak lama lagi, karena keputuan seluruh pemimpin pertemuan atau rapat besar tersebut.

Begitulah, banyak yang mereka perbincangkan, selama itu pula Wie Liang Tocu banyak sekali menceritakan perkembangan yang terjadi di markas Kay-pang.

Semua pengemis mendengarkan sebaik-baiknya karena memang mereka umumnya berkelana dan jarang sekali berkumpul di markas pusat.

Mereka baru akan pulang ke markas pusat jika saja Kay-pang mengadakan pertemuan atau rapat tertentu.

Dengan begitu, banyak di antara mereka yang tidak begitu jelas mengenai perkembangan terakhir dan partai mereka.

Dan sekarang Wie Liang Tocu, salah seorang Tianglo mereka telah menceritakan keadaan di markas besar mereka, karenanya mereka jadi tertarik sekali.

Tiga hari lagi telah lewat dengan cepat, kesehatan Wie Liang Tocu pun telah pulih kembali sebagaimana sedia kala.

Beruntung ia memperoleh pertolongan dengan kembang Lian-som sehingga Wie Liang Tocu, sembuh tanpa kurang suatu apapun juga.

Pada pagi itu, Wie Liang Tocu menyatakan keinginan guna menyatroni lagi Gochin Talu dan Lengky Lumi.

Akan tetapi Sam-cie-sin-kay dan para pengemis yang lainnya telah mencegahnya.

Menurut Sam-cie-sin-kay, walaupun Win Liang tocu telah sembuh keseluruhannya dan kepandaiannya itu tidak berkurang, namun tetap saja dia agak lemah dengan membutuhkan waktu satu bulan untuk beristirahat, sampai benarbenar keadaan dan kekuatan maupun semangatnya pulih benar.

"Yang paling penting lagi justru tidak lama lagi akan tiba waktunya rapat besar Kay-pang kita.....!"

Kata Sam-cie-sin-kay.

"Memang lawan memiliki kepandaian di bawah kepandaian Wie Tianglo, akan tetapi jika sampai pertempuran itu menyebabkan Wie Tianglo terluka pula oleh akal bulus mereka, bukankah hal ini akan membuat kita semua menyesal bahwa Wie Tianglo tidak dapat hadir dalam rapat itu? "

Bukankah rapat besar yang akan diselenggarakan di malaman Cap-go itu memiliki arti yang penting sekali, karena di dalam rapat itu akan ditentukan hukuman apa yang akan dijatuhkan kepada ke tiga orang Tianglo pengkhianat itu?

Dan yang terpenting lagi, tentunya pangcu perlu bantuan dan dukungan dari Wie Tianglo dan di samping Tianglo-tianglo lainnya, agar pangcu dapat mengambil tindakan yang cepat.

Dengan di samping Wie Tianglo tentu pangcu lebih muda mengatasi ke tiga orang Tianglo pengkhianat itu.....?"

Wie Liang Tocu mendengar saran Sam-cie-sin-kay tanpa mengatakan suatu apa pun juga.

Namun akhirnya setelah ia memikirkannya agak lama, Wie Liang Tocu mengakui jnga benarnya perkataan Sam-cie-sin-kay maka ia mengangguk.

"Baiklah, aku lebih baik menahan diri tidak pergi mencari orangorang Boan itu..... Jika memang kelak aku sudah berhasil mendampingi Pangcu dalam repat besar itu, aku akan berangkat ke kota raja untuk mencari orang-orang Boan itu guna membasmi mereka.....!"

Berkata Wie Liang Tocu Sam-cie-sin-kay girang mendengar Wie Liang Tocu tidak bersikeras hendak menyatroni Gochin Talu dan Lengky Lumi.

Dan berlega hati.

Begitulah, selanjutnya mereka membicarakan rencana perjalanan mereka ke Hou-ciu guna menghadiri rapat besar yang akan diselenggarakan oleh partai mereka.

◄Y► Hou-ciu merupakan sebuah kota yang cukup besar di dalam lingkungan propinsi Ciat-kang dan di kota tersebutlah penempatan bala tentara Monggolia yang telah berhasil menguasai daratan Tiong-goan, merupakan bagian yang paling sedikit dan berkedudukan lemah.

Disebabkan pertimbangan itulah maka Yehlu Chi telah memilih Hou-ciu sebagai tempat berkumpul para anggota Kay-pang untuk hadir dalam rapat besar yang akan diselenggarakannya.

Masih setengah bulan lagi waktu diselenggarakannya pertemuan atau rapat besar para pengemis dari seluruh daratan Tiong-goan itu, namun di Hou-ciu sudah terlihat banyak sekali berkeliaran para pengemis-pengemis yang berusia telah lanjut dan ubanan.

Mereka semuanya berkelompok, sehingga di saat itu Hou-ciu kebanjiran dikunjungi para pengemis.

Banyak juga penduduk kota Hou-ciu yang merasa heran dan bingung mengapa kota mereka bisa kebanjiran pengemis yang demikian banyak.

Akan tetapi orang-orang rimba persilatan segera mengetahui tentu ada sesuatu urusan yang hendak dilakukan Kaypang dengan mengumpulkan anggautanya di tempat ini.

Segera juga, orang-orang rimba persilatan dan kang-ouw yang berada di sekitar daerah dan kota Hou-ciu menaruh perhatian yang besar terhadap berkumpulnya para pengemis itu di kota Hou-ciu.

Banyak yang sengaja berdatangan ke Hou-ciu hanya khusus untuk menyaksikan keramaian.

Jago-jago Kang-ouw yang berdatangan itu dari kota Lim-kwan, Ciu-ting-kwan dan kota-kota lainnya yang berdekatan dengan Houciu.

Mereka yakin bahwa di Hou-ciu dengan berkumpul sedemikian banyaknya pengemis-pengemis Kay-pang, tentu akan ada keramaian yang menarik hati.

Di Hou-ciu sebenarnya terdapat belasan rumah penginapan.

Walaupun Hou-ciu merupakan kota yang besar, akan tetapi setiap harinya rumah penginapan maupun rumah makan tidak sepenuh seperti akhir-akhir itu.

Setidak-tidaknya tentu masih ada saja kamar kosong dan jika seseorang pelancongan datang ke Hou-ciu tentu tidak kesulitan rumah penginapan.

Akan tetapi beberapa hari belakangan ini banyak orang-orang yang datang dari luar Hou-ciu ingin meminta kamar di rumah penginapan harus kecewa, karena permintaan mereka tidak bisa dipenuhi, di mana kamar-kamar di berbagai rumah penginapan yang terdapat di Hou-ciu itu telah terisi penuh.

Bahkan, banyak juga penduduk Hou-ciu yang sengaja menyewakan rumah mereka, untuk orang-orang yang tidak ke bagian kamar di rumah penginapan.

Keramaian yang terlihat di akhir-akhir ini di kota Hou-ciu memang menyolok sekali.

Dan ditambah dengan penuhnya pengemis yang berkeliaran keluar masuk setiap rumah penginapan maupun rumah makan sekedar meminta sedekah.

Hampir seluruh penduduk Hou-ciu menduga-duga, entah apa yang akan terjadi di Hou-ciu dengan perobahan yang ada dan keramaian seperti itu.

Pada pagi itu nampak belasan orang penunggang kuda yang memasuki Hou-ciu.

Mereka merupakan orang-orang yang bertubuh tinggi besar dengan wajah yang bengis.

Akan tetapi cara berpakaian mereka itu memperlihatkan mereka adalah para saudagar.

Rombongan ini telah menghampiri rumah penginapan Su-kiantiam-lauw, sebuah rumah penginapan yang terbesar di kota Houciu.

Dan dengan gerakan yang gesit sekali semuanya telah melompat turun dari kuda masing-masing.

Cara mereka turun dari kuda masing-masing memang mengherankan sekali.

Mereka berpakaian sebagai saudagar, akan tetapi gerakan mereka yang gesit itu menunjukan bahwa mereka mengerti ilmu silat.

Dengan demikian membuat banyak orang yang mengawasi mereka jadi terheran-heran, terutama sekali beberapa orang kang-ouw yang terdapat di dalam rumah penginapan itu.

Tanpa memperdulikan tatapan keheranan dari orang-orang itu, belasan orang saudagar tersebut telah memasuki rumah penginapan itu.

Salah seorang di antara mereka telah menepuk meja dengan keras.

"Pelayan! Pelayan!"

Ia memanggilnya dengan suara yang keras dan bengis. Bergegas menyambut seorang pelayan, dengan sikap hormat dia cepat-cepat berkata.

"Sayang sekali kedatangan tuan-tuan terlambat..... kamar sudah penuh.....!" Muka belasan orang saudagar itu berobah, mereka telah memperdengarkan suara tertawa dingin. Orang yang tadi menepuk meja juga telah memperdengarkan suara bentakan bengis.

"Cepat siapkan kamar, kami tidak mau tahu apakah kamar telah penuh atau tidak, yang terpenting kami meminta lima kamar kosong dan kalian harus mempersiapkannya! Jika sudah ada tamu yang mengisinya, usir mereka.....! Cepat laksanakan!"

Pelayan itu jadi tidak senang oleh sikap kasar sang tamu ini, akan tetapi dia memaksakan diri untuk bersenyum.

"Maafkan kami tuan-tuan..... mana mungkin kami mengusir tamutamu yang terlebih dulu datang ke mari dan menempati kamarkamar itu...... Harap tuan-tuan memaklumi dan mau mengerti..... Sangat menyesal sekali kami tidak bisa menyediakan kamar! Mungkin di rumah penginapan lain tuan-tuan bisa memperoleh kamar. Jangan kuatir di Hou-ciu ada belasan rumah penginapan.....!"

"Plakkk!"

Tahu-tahu saudagar yang seorang itu telah mengayunkan tangannya, dia menempeleng pelayan itu dengan keras, sampai tubuh pelayan tersebut terhuyung mundur dengan menjerit kesakitan.

"Kau..... kau.....?"

Pucat dan memerah muka si pelayan karena mendongkol, kaget dan gusar sekali. Sedangkan saudagar yang seorang itu tanpa memperdulikan sikap si pelayan telah mendelik, katanya.

"Jika memang kau tidak mau mengusir tamu-tamu itu, biar nanti kami yang mengusirnya. Kami dapat melakukannya sendiri.....!" "Ini..... ini mana boleh..... mana bisa begitu?"

Pelayan itu berseru penasaran. Mata saudagar itu mendelik, kawan-kawannya memperdengarkan tertawa mereka.

"Apakah kau ingin dihajar lebih keras?"

Tegur saudagar itu.

Pelayan itu jadi ciut juga nyalinya, karena tadi dia telah merasakan betapa kuatnya tempilingan tangan si saudagar itu, sehingga dia merasakan pipinya seperti dihantam oleh lempengan besi saja.

Dia jadi mundur tiga langkah, namun dia masih tetap berkata.

"Janganlah tuan-tuan menimbulkan kerusuhan di sini, nanti orangorang Tie-kwan tentu akan menghukum tuan-tuan, jadi memperoleh kesulitan.....!"

Tetapi saudagar itu dengan mata mendelik menghampiri si pelayan, dia mengulurkan tangan kanannya dan mencengkeram baju di dada pelayan itu.

Dengan gerakan yang enteng dan mudah, dia telah mengangkat tubuh si pelayan dan melontarkannya, sehingga tubuh pelayan itu melayang di tengah udara dan terbanting di lantai dengan keras.

Mungkin karena terbanting dan kesakitan sehingga pelayan itu menjerit-jerit seperti anjing yang dikemplang.

Saudagar itu tertawa bengis, dia menghampiri meja kasir.

Sejak tadi memang kasir telah mengawasi kejadian itu, hanya saja kasir ini tengah ketakutan dan tidak berani mencampuri, di mana dia melihat pelayannya dihajar babak belur seperti itu.

Dia kuatir jika mencampuri nanti para tamu-tamunya itu mengalihkan kemarahan padanya dan menghajarnya seperti tadi orang itu menghajar pelayannya.

Itulah sebabnya si kasir berdiam diri saja di belakang meja kasirnya dengan tubuh mengkeret.

Akan tetapi sekarang melihat belasan orang saudagar itu melangkah menghampiri ke arahnya, jantungnya jadi berlompatan tidak hentinya, dia juga menggigil ketakutan, mukanya pucat.

Belum lagi tamunya, saudagar yang tadi melontarkan tubuh si pelayan berkata-kata dia melihat mata orang yang mendelik seperti itu padanya, si kasir telah berkata dengan suara yang ketakutan.

"Aku..... aku tidak tahu menahu urusan pelayan kurang ajar itu...... harap tuan-tuan jangan gusar..... Apakah ada sesuatu yang bisa kutolong untuk membantu tuan-tuan.....?!"

Tetapi saudagar yang bermuka bengis itu telah membentak keras.

"Kau harus menuruti perintah kami!"

Katanya. Tangannya juga telah menghantam meja dengan keras sekali. Sampai jantung kasir itu berlompatan, dan semangatnya seperti terbang meninggalkan raganya.

"Ya, ya.....!"

Kata kasir itu ketakutan bukan main.

"Katakanlah apa yang harus kulakukan?!"

"Sediakan lima buah kamar kosong buat kami!"

Kata saudagar itu.

"Ini..... ini....!"

Si kasir jadi sangat gugup, mukanya semakin pucat.

"Kenapa?!"

Mata saudagar itu mendelik besar sekali.

"Kamar-kamar telah penuh, menyesal sekali..... menyesal.....!"

Kata si kasir dengan gugup. "Plakkk!"

Mejanya telah dihantam dengan keras oleh saudagar itu.

Semangat kasir itu melayang terbang meninggalkan raganya, dan tubuhnya menggigil semakin keras.

Di samping itu juga tampak dia telah melompat mundur menjauhi meja kasirnya tiga langkah.

"Apakah kau ingin dihajar dulu baru melaksanakan permintaan kami?"

Tegur saudagar itu.

"Ohhh, mana berani kami berayal atas permintaan tuan-tuan....! Akan tetapi..... akan tetapi.....!"

Suara si kasir mandek sampai di situ, karena saudagar itu dengan cepat sekali telah melayang mencengkeram lengannya.

Sekali menarik dengan digentakkan, tubuh si kasir itu yang kurus kerempeng telah melayang ambruk bergulingan di lantai, mukanya mencium lantai dan dari hidungnya seketika mengucur darah segar.

Si Kasir mungkin kesakitan dan kaget melihat darahnya yang keluar dari hidungnya, dia jadi menangis sesambatan.

"Ampunnn..... ampun jangan mempersakiti aku..... janganlah tuantuan menurunkan tangan keras padaku si orang tua.....!"

Saudagar yang seorang itu telah melangkah menghampirinya kepada si kasir yang masih tengkurap di lantai, dia mengangkat kaki kanannya, menginjak punggung kasir itu.

Sedangkan belasan orang saudagar lainnya telah tertawa bergelak, tampaknya mereka girang sekali.

"Hemmm atau memang kami sendiri yang perlu mengusir tamutamumu itu?"

Tanya saudagar tersebut dengan suara yang dingin. "Itu..... itu mana boleh..... mereka datang lebih dulu dan mereka juga membayar dengan harga yang telah ditetapkan.....!"

Kata si kasir kesakitan dan ketakutan.

"Aduhhhh..... jangan diinjak seperti itu..... aku sudah tua, tulang punggung sudah rapuh, nanti patah..... ampunilah aku si orang tua.....!"

Saudagar itu mendengus mengeluarkan suara tertawa mengejek.

"Hemm..... jika memang mereka itu membayar menurut tarif yang telah ditentukan, maka kami akan membayarnya dua kali lipat kamar-kamar itu. Cepat kosongkan dan usir mereka!"

"Lepaskan dulu injakanmu, tuan...... aduh, aku bisa mati jika diinjak lebih lama lagi.....!!"

Berseru-seru kesakitan dan juga ketakutan. Saudagar tersebut injakannya. mengangkat kakinya, dia melepaskan "Cepat kau laksanakah perintahku!"

Bentaknya bengis, dia yakin tentunya si kasir akan mematuhi perintahnya itu. Kasir itu merangkak bangun sambil menangis, dia menyusut mulut dan hidungnya yang mengucurkan darah segar.

"Aku..... aku mohon kepada tuan-tuan, janganlah menghancurkan usaha kami..... kami berusaha dengan modal kecil. Jika saja kami mengusir tamu-tamu itu, tentu kami akan memiliki nama jelek dan kelak tentu tidak ada tamu-tamu lainnya yang sudi menginap di sini..... Maafkan dan ampunilah tuan-tuan..... janganlah tuan-tuan memaksa aku untuk melakukan perbuatan rendah seperti itu, walaupun tuan-tuan bersedia membayar dua kali lipat, akan tetapi aku tidak bisa menerimanya..... Maafkanlah tuan-tuan." Mendengar itu, si saudagar jadi mendelik lebar lagi matanya, dia berkata dengan suara bengis.

"Bagus! Bila demikian jelas kau ingin dihajar pula baru mau memenuhi perintahku. Kau mencari penyakit dulu.....!"

Sambil berkata begitu, si saudagar tersebut menghampiri dengan langkah perlahan-lahan.

Kasir itu tambah ketakutan, lemaslah sepasang kakinya, cepatcepat dia menekuk ke dua kakinya dan berlutut di hadapan saudagar itu sambil menganggukkan kepalanya berulang kali.

"Ampun..... ampun..... janganlah aku si orang tua disiksa.....!"

Dan dia memohon pengampunan itu sambil menangis, karena dia tahu, jika saja dia dibanting berulang kali, jelas tulang tuanya akan berantakan.

Saudagar itu tidak memperdulikan ratapan si kasir, dia telah mengulurkan tangannya akan menjambak punggung si kasir.

Si kasir tambah ketakutan bukan main, sampai dia menjerit dengan suara yang nyaring.

Di waktu itulah si saudagar, telah mengangkat tubuh kasir itu, maksudnya akan membantingnya.

Akan tetapi, waktu jiwa si kasir terancam tiba-tiba terdengar suara orang membentak.

"Tahan.....!"

Nyaring sekali suara tersebut, Segera juga terlihat, dari salah satu meja di sudut ruangan itu melompat sesosok tubuh, ringan sekali, menghampiri saudagar yang seorang tersebut.

Si saudagar tersebut menahan gerakan tangannya, dia batal membanting.

Di kala itu, dengan mata beringas dia menoleh kepada orang yang mencegah dia membanting si kasir.

"Ampun..... ampunnnn.....!"

Si kasir yang masih dicengkeram itu telah menjerit-jerit kalap, karena dia kuatir kalau-kalau dirinya dibanting ke lantai.

Berarti jika dia tidak mati tentunya akan terluka parah, patah tangan atau kakinya atau boleh jadi tulang punggungnya.

Dengan demikian, telah membuat dia menjerit sejadi-jadinya.

Saudagar itu rupanya sebal oleh jeritan-jeritan si kasir tersebut, dia melemparkan ke samping, tubuh kasir itu terbanting dan bergulingan di lantai.

Sedangkan orang yang tadi mencegah telah melompat ke hadapan si saudagar, tegurnya dengan suara mengandung perasaan tidak puas.

"Kau keterlaluan..... Selain meminta kamar seenakmu saja seperti juga rumah penginapan ini milik kakek nenekmu saja. Juga telah menganiaya pelayan dan kasir tua itu! Jika memang dibiarkan begitu saja, tentu akan mengumbar kejahatanmu itu!"

Bola mata dari saudagar itu telah memancarkan sinar yang bengis mencilak beberapa kali, diapun memperdengarkan suara mendengus karena murka.

Dilihatnya orang yang mencampuri urusannya adalah seorang lelaki berpakaian seorang petani bertubuh sedang saja, berusia antara tigapuluh tahun.

Wajahnya tidak begitu tampan, akan tetapi juga tidak buruk.

Hanya saja dari sorot matanya, jelas dialah seorang pemuda yang gagah.

"Lalu kau ingin memberikan petunjuk?!"

Tanya saudagar tersebut dengan suara yang bengis.

Dan dia bukan hanya sekedar bertanya.

Rupanya memang sudah menjadi sifatnya, dia selalu berlaku telengas dan ringan tangan karena begitu bertanya, ke dua tangannya telah diulurkan untuk mencekal ke dua pergelangan tangan dari si pemuda petani itu.

Pemuda berpakaian sebagai petani itu rupanya bukan petani biasa.

Dia memiliki kepandaian ilmu silat yang tinggi, terlihat dari cara bergeraknya yang begitu ringan.

Ketika melihat tubuh saudagar itu doyong maju dan dengan ke dua tangan diulurkan padanya maka cepat sekali pemuda petani itu telah membungkukkan tubuhnya, tahu-tahu dengkul kakinya sebelah kanan telah naik, di mana dia menekuk lututnya dan menghantamkan lututnya itu pada perut lawannya.

Saudagar itu kaget.

Baca Juga: Nona Berbaju Hijau Kho Ping Hoo

Baca Juga: Kesatria Baju Putih 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert