Eps 8 Beruang Salju - Sin Liong
Baca online Beruang Salju - Sin Liong
Cersil Beruang Salju - Sin Liong.
Kwie Losam melihat Sun Kauw-cu agak sibuk mengelakkan diri dari terjangannya, semakin bersemangat melancarkan pukulannya dengan diiringi oleh suara bentakan-bentakan yang disertai lweekangnya.
Dengan cara begitulah, akhirnya dia berhasil menyingkirkan pengaruh suara Khim tersebut.
Waktu itu Yo Him yang mengikuti cara pertempuran seperti itu telah mengawasi dengan tajam dan penuh perhatian.
Dia melihatnya bahwa kepandaian Sun Kauw-cu memang benar-benar tinggi, karena setiap kali pukulan Kwie Losam hampir mengenai dirinya, dia selalu berhasil mengelakkannya dengan gerakan tubuh yang sangat aneh dan luar biasa cepatnya.
Dikala itulah Sun Kauw-cu juga telah mulai mengeluarkan kepandaiannya.
Sambil tetap memetik Khimnya, ke dua sikut tangannya sering dipergunakan untuk menyikut dan membentur bagian tubuh Kwie Losam, di mana terletak jalan darah yang mematikan.
Cara itu dilakukan dengan membenturkan sikutnya itu pada tubuh Kwie Losam, sambil dia juga bergerak mengelakkan diri dari serangan dan gempuran Kwie Losam.
Itulah cara bertempur yang aneh sekali!
Karena Sun Kauw-cu masih tetap memetik Khimnya, selain dia mempergunakan sikutnya sebagai senjatanya.
Kwie Losam sendiri menyadari, jika dia berlaku ayal dan kurang waspada, niscaya akan menyebabkan suatu kali dia terkena sikutan lawannya.
Dan itu akan membuat dia jadi terluka di dalam yang tidak ringan.
Sikutan yang dilakukan oleh Sun Kauw-cu bukanlah sikutan ysug sembarangan, karena pada sikutan itu mengandung tenaga yang luar biasa tangguhnya.
Di samping itu juga memang Sun Kauw-cu masih berusaha mempergunakan suara Khimnya untuk menguasai Kwie Losam.
Sehingga Kwie Losam selain menerjang berulang kali, juga harus melompat mundur menjauhi diri dari Sun Kauw-cu berulang kali juga.
Setiap kali Kwie Losam melompat mundur, setiap kali pula suara Khim itu jadi meninggi, dengan demikian kembali suara Khim itu berusaha mempengaruhi perasaan Kwie Losam.
Tampaknya lweekang Kwie Losam memang tinggi, tapi menghadapi Sun Kauw-cu yang mempergunakan Khim kecil itu sebagai senjata istimewanya, membuat Kwie Losam memperoleh kesulitan yang tidak kecil.
Berulang kali Kwie Losam berusaha untuk menerjang lagi, tapi selalu pula dia dapat dipukul mundur dengan cara menyerang Sun Kauw-cu yang mempergunakan ke dua sikutnya itu.
Rupanya, walaupun hanya mempergunakan ke dua sikutnya belaka, yang selalu dipergunakan untuk menyikut dan menghantam jalan-jalan darah Kwie Losam, serangan itu sangat berbahaya karena Sun Kauw-cu melakukannya dengan gerakan tubuh yang aneh sekali.
Setiap kali dia menyikut, tubuhnya itu sering doyong ke samping, ke belakang, ke depan, seperti juga orang hendak rubuh.
Itu untuk memperdekat jarak antara sikutnya dengan sasaran yang diincernya.
Menyaksikan sekian lama, akhirnya Yo Him merasa telah cukup waktunya buat dia bertindak.
Maka dengan gerakan yang ringan, tahu-tahu dia telah melompat ke tengah gelanggang, dia juga telah mengibaskan lengan bajunya.
Maksudnya ingin mengibas terpental Khim yang berada di tangan Sun Kauw-cu.
Gerakan yang dilakukan Yo Him mengejutkan Sun Kauw-cu, karena selain gesit, di mana pemuda ini tahu-tahu berada di hadapannya, juga kebutan lengan bajunya itu mengandung kekuatan lweekang yang tidak pernah diduga oleh Sun Kauw-cu.
Angin kebutan itu menderu-deru.
Tangannya yang memegang Khim kecil itu tergetar, hampir saja Khim itu terlepas dari cekalannya.
Untung saja dia bisa menguasai diri dan keadaan dengan cepat, di mana dia telah menjejakkan kakinya, tubuhnya telah melompat gesit sekali menjauhi.
Namun mukanya merah padam, matanya mendelik memancarkan sinar yang luar biasa tajamnya menatap kepada Yo Him.
"Siapa kau, pemuda keparat?!"
Bentak wanita setengah baya itu, jari tangannya siap untuk memetik tali-tali Khimnya lagi. Yo Him tidak segera menyahuti, karena dia telah menoleh kepada Kwie Losam, katanya.
"Lopeh, kau pergilah beristirahat dulu, kau tentunya masih lapar dan ingin makan. Biarlah aku yang main-main dengan nyonya itu!"
Kwie Losam telah tersenyum lebar, dia mengangguk sambil katanya.
"Baik, baik, tetapi kau harus hati-hati, Khimnya itu merupakan Khim maut.....!"
Kwie Losam berkata begitu dan mau menyingkir, karena dia telah menyaksikan betapa Yo Him bisa mengibas dengan lengan bajunya kuat sekali.
Dan sebagai seorang yang memiliki kepandaian tinggi serta telah berpengalaman, Kwie Losam sekali lihat saja segera mengetahui bahwa Yo Him memiliki kepandaian yang tidak sembarangan.
Waktu itu Yo Him telah menoleh kepada Sun Kauw-cu, sambil tersenyum sabar dia telah menyahuti pertanyaan si wanita.
"Siauwte she Yo, dan bernama Him.....!"
"Hemm, kau she Yo? Ada hubungan apa kau dengan Yo Ko?!"
Tanya Sun Kauw-cu dengan, mata tetap memandang tajam sekali.
"Itulah ayahku....!!"
Menyahuti Yo Him.
"Pantas.....!"
Kata Sun Kauw-cu. Kemudian dia menoleh kepada ke lima lelaki bertubuh tinggi besar dan ke dua orang penggotong joli itu, dia telah berkata dengan tawar.
"Apa yang ku duga ternyata tidak meleset. Memang bocah ini memiliki hubungan dengan orang she Yo itu, dialah anaknya.....!"
Ke lima orang lelaki bertubuh tinggi besar dan ke dua orang penggotong joli itu telah mengangguk mengiyakan.
"Inilah yang dibilang dicari ke empat penjuru tidak ditemukan, tidak tahunya berada di depan biji mata!"
Berkata Sun Kauw-cu lagi.
"Bagus! Bagus! Bocah kau bersiaplah untuk menerima kematianmu!"
Yo Him tetap sabar, sambil tersenyum dia telah bertanya.
"Tunggu dulu Sun locianpwe..... sesungguhnya ada ganjalan apakah antara kau dengan ayahku itu?"
Mendengar pertanyaan Yo Him, Sun Kauw-cu telah tertawa dingin, mukanya bengis sekali.
"Hemmm, kau ingin tahu dosa apa yang telah dilakukan oleh orang she Yo itu terhadapku? Nanti akan kuceritakan, jika aku telah membekukmu.....!" Dan memang Sun Kauw-cu ini rupanya bernafsu sekali untuk membekuk Yo Him, karena begitu suaranya habis diucapkan segera tubuhnya bergerak, di mana sambil memetik tali khimnya, suara Khim itu mendengung sangat hebat, bergema berulang kali. Menyusul dengan itu juga tubuhnya telah berputaran, dengan sekali-kali tangannya menyambar akan menghantam Yo Him, memukul dan menotok, mencengkeram atau menampar dengan telapak tangan. Yo Him menghadapi dengan tenang serangan Sun Kauw-cu. Suara Khim yang mengandung maut itu dihadapinya dengan memusatkan lweekangnya, sehingga suara Khim itu tidak membawa pengaruh untuk dirinya. Dia telah mengikuti gerakan Sun Kauw-cu, malah sepasang tangan Yo Him bergerak-gerak perlahan sekali namun tenaga lweekang yang tersalurkan hebat bukan main, karena begitu sepasang tangan itu bergerak, segera tenaga serangan Sun Kauw-cu dapat ditolaknya. Kejadian seperti itu berulang kali. Sun Kauw-cu rupanya sangat penasaran, tubuhnya menggigil dengan muka marah setelah belasan jurus, dia masih tidak bisa merubuhkan Yo Him, yang dianggapnya sebagai bocah bau pupuk, yang seharusnya tidak merupakan lawan berarti baginya. Namun sekarang mulai dia yang telah merasakan betapa tenaga tangkisan Yo Him, yang dilakukan dengan perlahan itu, namun mengandung tenaga yang luar biasa. Beberapa kali hampir membuat Sun Kauw-cu itu terhuyung mundur kalau saja tidak cepat-cepat memusatkan tenaga dalam pada kuda-kuda ke dua kakinya. Dengan demikian, tampak Sun Kauw-cu telah menyadari bahwa kali ini dia menghadapi lawan yang tidak ringan, yang kepandaiannya mungkin tidak berada di sebelah bawah kepandaiannya. Selama itu Yo Him juga memperlihatkan sikap yang tenang sekali karena dia beberapa kali hanya menggerakkan tangannya, dan dia telah mengibaskan tangannya itu memunahkan tenaga serangan Sun Kauw-cu. Akhirnya, ketika melihat beberapa kali lagi dia gagal menyerang Yo Him, maka Sun Kauw-cu telah mengeluarkan suara seruan perlahan. Ia berdiri dengan sepasang kaki direntangkan, dan waktu itu rupanya dia telah memusatkan tenaga lweekang pada sepasang kakinya itu sehingga ke dua belah kakinya itu telah melesak ke dalam lantai, di mana ke dua kaki itu masuk beberapa dim ke dalam lantai. Yo Him tidak jeri, walaupun dia telah melihat lawannya ini mengeluarkan kepandaian istimewanya itu.
"Hemmm, rupanya wanita ini mempelajari ilmu selaksa kati memberatkan tubuh. Ke dua kakinya itu memang terlatih dengan sempurna dan memiliki tenaga yang kuat sekali karena dia telah berhasil menginjak melesak lantai ini!"
Waktu Yo Him berpikir sampai di situ, di saat itulah terlihat Sun Kauw-cu telah maju lagi dengan disertai suara bentakannya yang nyaring, dia telah menggerakkan ke dua tangannya.
Tangan yang satu, yang kosong tanpa mencekal senjata, menyambar dari telapak tangannya angin serangan yang kuat sekali.
Sedangkan tangan yang satunya lagi yang mencekal Khim kecil itu, menyambar ke arah beberapa jalan darah terpenting di tubuh Yo Him.
Dengan cara seperti itu, rupanya Sun Kauw-cu bermaksud untuk menotok beberapa jalan darah Yo Him dengan mempergunakan Khim kecilnya.
Yo Him menggelakkan serangan itu dengan memutarkan tubuhnya beberapa kali, sehingga serangan Sun Kauw-cu gagal mengenai sasaran.
Namun membuat Yo Him terkejut, di saat dia tengah berkelit begitu, tiba-tiba dia merasakan mendesir beberapa angin serangan yang halus namun tajam.
Tampak beberapa sinar berkelebat ke arahnya.
Rupanya ada beberapa batang jarum kecil yang halus menyambar ke arah Yo Him.
Dan itulah serangan yang dilakukan oleh Sun Kauw-cu.
Cara menyerangnya itu juga istimewa sekali.
Jarum kecil itu ternyata melesat dari Khim kecil di tangannya, yang rupanya diperlengkapi dengan perkakas alat rahasia, sehingga begitu dia memijit alat rahasianya, jarum-jarum itu telah melesat keluar menyambar ke berbagai bagian tubuh Yo Him yang mematikan.
Jarak mereka memang dekat, jarum-jarum kecil yang halus menyambar dengan tiba-tiba sekali, karena dari itu kesempatan buat Yo Him mengelakkan diri sulit sekali.
Tetapi memang dasarnya Yo Him memiliki kepandaian yang sangat tinggi, walaupun dalam keadaan terdesak seperti itu, tokh dia bisa menyelamatkan diri.
Dengan mengeluarkan suara bentakan, tahu-tahu tubuhnya telah mencelat ke tengah udara, ke dua tangannya digerakkan.
Dia telah berkelit sambil membalas menyerang kepada lawannya dengan mempergunakan salah satu jurus Am-jian-sio-hun-kan, yaitu jurus yang bernama Sim-khia-jiok-tiauw (Hati takut daging melonjak), di mana sepasang tangannya bergerak aneh.
Itulah semacam ilmu yang digubah oleh Yo Ko sendiri, waktu dia berpisahan dengan Siauw Liong Lie.
Ilmu itu memang hebat, dan jadi lebih hebat setelah Yo Ko lebih menyempurnakan beberapa waktu berikutnya, di mana setelah dia terjumpa dengan Siauw Liong Lie dan hidup bahagia sebagai pasangan suami isteri di puncak Giok-lie-hong.
Di sana Yo Ko telah sempurnakan ilmunya itu, bagian-bagian yang lemah dan kurang sempurna telah disempurnakannya dan bagian-bagian yang kurang perlu telah dibuangnya.
Dengan demikian Am-jian-sio-hun-kan menjadi ilmu yang hebat luar biasa.
Lalu sekarang setelah menurunkan kepandaian itu kepada puteranya Yo Him, ilmu itu telah memiliki keistimewaan yang sempurna sekali.
Sun Kauw-cu yang diserang dengan jurus Sim-khia-jiok-tiauw itu jadi terkejut.
Dia menyingkir dengan tergesa.
Dia meninggalkan kedudukannya semula, tubuhnya telah menyingkir ke arah belakang tiga langkah.
Setiap langkah kakinya telah meninggalkan bekas tapak kakinya di lantai yang ceglok dalam sekali beberapa dim.
Yo Him begitu meluncur turun tidak tinggal diam, karena ia telah menyusuli lagi dengan serangan Kie-jin-yu-thian atau Kesedihan Yang Melampaui Batas, di mana ke dua tangannya bergerak-gerak lagi untuk menyerang Sun Kauw-cu.
Wanita setengah baya ini kembali sibuk menghindarkan diri.
Cara menyerang Yo Him luar biasa anehnya, gerakannya juga aneh sekali.
Dengan diemikian, dia menduga-duga entah ilmu apa yang dipergunakan oleh Yo Him.
Tetapi sebagai seorang yang tangguh, dengan sendirinya Sun Kauw-cu juga cepat sekali menguasai diri.
Setelah dua jurus melihat cara menyerang Yo Him, diapun mempersiapkan kepandaian dan ilmu yang akan dipergunakannya untuk menghadapi ilmu Yo Him yang aneh itu.
Waktu itu Yo Him telah berteriak sambil menyerang lagi.
"Awas pukulan berikutnya.....!"
Di mana ke dua tangannya silih berganti menyambar kepada Sun Kauw-cu.
Dia telah mempergunakan jurus Lu-tiong-seng-yu atau Dalam Kekosongan Terdapat Isi.
Angin dari pukulan itu berkesiuran sangat hebat sekali, menyambar ke berbagai jalan darah yang mematikan di tubuh Sun Kauw-cu.
Jika saja serangan ini mengenai sasarannya niscaya Sun Kauw-cu akan mengalami luka yang parah, atau juga kemungkinan besar bisa terbinasa di saat itu juga.
Tetapi Sun Kauw-cu sambil memeluk tali Khim nya, dia telah melompat dengan gesit, tubuhnya tahu-tahu berputar seperti gangsing, dan dengan cara seperti itu dia menghindarkan serangan Yo Him.
Berikutnya juga dia menghadapi serangan Yo Him dengan cara seperti itu.
Ternyata Sun Kauw-cu telah mengelakkan diri dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuh semacam langkahlangkah yang aneh.
Setiap kakinya melangkah dalam kedudukan tertentu, serangan Yo Him bisa dihindarkannya dengan baik, tanpa ujung bajunya terkena oleh sambaran angin serangan Yo Him!
Tentu saja Yo Him jadi penasaran, karena dia melihat Sun Kauwcu sekarang ini seperti juga tidak terdesak lagi oleh serangannya yang hebat itu, bagaikan Am-jian-sio-hun-kan itu tidak berarti apaapa.
Maka cepat luar biasa Yo Him telah menggerakkan tangan kirinya yang ditekuk agak ke dalam, lalu mendorong dengan tangan kanannya juga menyambar akan menolak iga si wanita setengah baya itu.
Dia mempergunakan jurus Heng-sie-cauw-jiok atau Mayat Berjalan.
Sun Kauw-cu mengelakkan diri dengan caranya yang sama, yaitu tubuhnya telah berputaran seperti gangsing.
Setiap gerakan yang dilakukan oleh Sun Kauw-cu mengandalkan kegesitannya di samping memang rupanya dia memiliki semacam ilmu melangkah yang aneh, yang menuruti keadaan delapan penjuru, Pat-kwa.
Yo Him tidak mau sudah sampai di situ, baru saja dia selesai menyerang dengan jurus Yong-jin-cu-yu atau Si Goblok Kejengkelan Sendiri.
Kali ini serangan yang dilakukan Yo Him luar biasa dahsyatnya, sepasang tangannya itu bergerak cepat sekali, dan dalam waktu sekejap mata, sepasang tangan itu telah menyambar beberapa jurusan, akan menotok puluhan jalan darah dari Sun Kauw-cu.
Didesak demikian rupa, Sun Kauw-cu pun kaget tidak terkira.
Dia tidak menyangka dalam usia demikian muda, belum lagi mencapai tigapuluh tahun, Yo Him telah memiliki kepandaian yang demikian tinggi di samping, lweekangnya yang sempurna.
Memang benar Yo Him adalah puteranya Yo Ko, tetapi di dalam hal ini, adalah luar biasa dalam usia semuda itu bisa memperoleh kepandaian sesempurna seperti itu.
Hampir sulit bagi Sun Kauwcu mempercayainya, karena walaupun seseorang belajar sejak berada dalam kandungan ibunya tidak mungkin sebelum mencapai tigapuluh tahun, bisa memiliki lweekang yang demikian tangguh.
Tetapi waktu itu Sun Kauw-cu tengah terdesak sekali, dia berulang kali harus mengelakkan diri ke sana ke mari dengan gesit.
Bahkan untuk memetik tali Khimnya satu kali saja dia tidak memiliki kesempatan.
Karena dari itu setelah belasan kali melompat ke sana ke mari, dengan suatu gerakan agak membungkuk, Sun Kauw-cu telah mengulurkan ke dua tangannya.
Kali ini dia menyambut serangan Yo Him dengan keras dilawan keras.
Hebat bukan main cara menangkis Sun kauw-cu, rupanya sudah tidak ada jalan keluar lagi buatnya menghindarkan diri, karena dari itu dia menangkis dengan memusatkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, maka terdengar suara "Dukkkk!"
Yang kuat sekali.
Tubuh Sun Kauw-cu bergoyang-goyang, namun tidak mundur setapak pun juga, hanya lantai yang diinjaknya telah melesak sampai beberapa dim!
Yo Him sendiri, begitu tangannya membentur tangan Sun Kauw-cu telah merasakan getaran yang menyesakkan dadanya.
Dia mengempos semangatnya, dan menyalurkan lweekangnya berusaha menindih lweekang lawannya.
Tubuhnya tegak bagaikan gunung, tidak bergeming sedikitpun juga, mukanya tetap tenang, hanya tangannya itu yang terulur tetap tergantung di tengahtengah udara, dan tersanggah oleh ke dua tangan Sun Kauw-cu Mereka berdua jadi diam bagaikan patung-patung hidup belaka.
Dan kali ini mereka tengah melakukan pertempuran dengan hanya mengandalkan tenaga lweekang, di mana masing-masing telah mengeluarkan seluruh kekuatan lweekangnya, untuk menindih lawannya.
Sebetulnya, cara bertempur yang tengah mereka lakukan seperti itu tidak kalah berbahayanya dengan bertempur mempergunakan senjata tajam.
Satu kali saja tenaga dalam mereka tergempur dan mereka tidak bisa bertahan dari tindihan lweekang lawannya, maka salah seorang di antara mereka akan terluka parah sekali kemungkinan juga urat dan otot di tubuh mereka akan putus!
Dan juga, jika memang lweekang mereka itu berimbang sampai mereka bersama-sama merasa letih, dan berkurang tenaga mereka, di saat itulah mereka akan terluka bersama.....!
Sun Kauw-cu dan Yo Him juga menyadari akan ancaman bahaya yang hebat itu.
Karenanya mereka telah berusaha untuk mengempos semangat mereka masing-masing, berusaha uutuk secepat mungkin dapat menindih kekuatan lawannya.
Dan cara mereka memusatkan seluruh tenaga lweekang pada tangan masing-masing merupakan hal yang bisa membawa ke tingkat pertempuran yang menentukan sekali, di saat mana Sun Kauw-cu merasakan dadanya menyesak, napasnya mulai tidak lancar, dan tubuhnya malai kesemutan seperti juga dialiri listrik.
Dengan demikian, jika saja dia bertahan sepeminuman teh lagi, niscaya dia akan terluka berat di tangan Yo Him.
Dengan keadaannya seperti itu Sun Kauw-cu jadi bingung bukan main, dia juga mengeluh di dalam hatinya.
Dia sadar, jika tidak cepat-cepat berusaha melepaskan dari libatan tenaga lweekang Yo Him, niscaya dia menderita kerugian yang tidak kecil buat keselamatan dirinya.
Harapan untuk merubuhkan Yo Him tampaknya tipis sekali.
Sedangkan ke dua telapak kakinya itu telah melesak masuk ke dalam lantai lebih dalam lagi beberapa dim.
Sun Kauw-cu tidak berani menambah tenaga lweekangnya itu, karena jika sampai dia mengerahkan seluruh kekuatannya, sampai tidak bersisa, dengan sendirinya begitu dia terdesak dan tenaga lweekangnya tertindih, tenaga lweekangnya sendiri itu yang akan berbalik menghatam dia.
Dia masih mempergunakan delapan bagian tenaga dalamnya.
Yo Him sendirinya beberapa kali telah mengempos semangat dan tenaga lweekangnya.
Dia berusaha merobohkan lawannya itu.
Dengan demikian, beberapa kali pula dia berusaha menurunkan tangannya untuk menindih lawannya lebih hebat.
Kwie Losam yang menyaksikan jalannya pertempuran itu, telah memandang kagum tidak terkira.
Dia sama sekali tidak menyangka bahwa Yo Him memiliki kepandaian sehebat itu.
Semula waktu dia melihat Yo Him dan Sasana memasuki ruangan rumah penginapan, di mana pasangan muda mudi itu menggantung pedang di pinggang masing-masing, Kwie Losam menduga mereka hanya jago-jago muda.
Dan yang membuat Kwie Losam jadi tidak kurang kagetnya, karena waktu itu dia telah mengetahui Yo Him adalah putera Yo Ko, Sin-tiauw-tay-hiap yang sangat terkenal kehebatannya, mungkin sebagai orang yang memiliki kepandaian ilmu silat nomor satu di kolong langit ini.
Dengan mata tidak berkedip, dia telah mengawasi jalannya pertempuran itu.
Dan di waktu melihat ke dua kaki Sun Kauw-cu melesak lebih dalam di lantai itu.
Diam-diam Kwie Losam juga merasa kagum, dia berpikir.
"Hemmm! Tidak kusangka dia memperoleh kemajuan yang demikian pesat..... Telah empat tahun kami tidak bertemu, ternyata kepandaiannya telah jadi demikian hebat!"
Yang dimaksudkan oleh Kwie Losam dengan sebutan "dia"
Adalah Sun Kauw-cu.
Waktu itu keringat telah mengucur deras sekali di kening dan muka Sun Kauw-cu, tampaknya dia telah tertindih dan dalam keadaan terdesak untuk membendung tenaga lweekang Yo Him, dan keadaannya telah jatuh di bawah angin.
Yo Him sendiri sebetulnya waktu itu tengah berpikir keras, karena dia melihat lawannya ini benar-benar tangguh sekali.
Dia bisa saja waktu itu mempergunakan jurus-jurus dari Kong-beng-kun yang dikombinasi dicampur dengan jurus-jurus Am-jian-sio-hun-kan, untuk memecahkan pikiran, di mana di samping menindih dengan lweekang dia bisa juga menghantam dengan hebat merubuhkan Sun Kauw-cu atau setidak-tidaknya melukainya.
Namun hatinya tidak tega.
Dia baru pertama kali bertemu dengan Sun Kauw-cu, dan dia pun tidak memiliki ganjalan apa-apa, karena dari itu, dia jadi setengah hati.
Namun disebabkan dia setengah hati itu, membuat Sun Kauw-cu tetap dapat bertahan diri dari tindihan lweekang Yo Him Sasana memandang kuatir untuk keselamatan Yo Him, karena dia kuatir bahwa Yo Him tidak sanggup menghadapi Sun Kauw-cu, walaupun Sasana telah mengetahui, Yo Him telah memiliki kepandaian hebat sekali, tokh lawannya kali ini, Sun Kauw-cu, bukanlah lawan yang ringan.
Waktu itu tangannya juga telah bersiap-siap mencekal gagang pedangnya, dia mengawasi tajam, jika saja salah seorang dari ke lima lelaki bertubuh tinggi besar atau ke dua orang penggotong joli itu, maju untuk membantu Sun Kauw-cu, Maka Sasana akan segera menerjang maju untuk menghadapi mereka!
Waktu itu Yo Him juga telah berpikir.
"Locianpwe ini memiliki kepandaian yang tinggi sekali, yang tentunya dilatih bukannya memakan waktu yang singkat di samping itu dia juga seorang wanita. Di antara kami tidak terdapat urusan apapun juga, mengapa aku harus menurunkan tangan bengis? "
Juga, jika aku menurunkan tangan keras, sehingga terluka, bukankah hanya menambah dalamnya sakit hati belaka?
Di lihat dari cara dia berkata ketika menyebut ayahku, tampaknya dia menaruh dendam pada ayah!
Hemmm, biarlah aku sudahi saja pertempuran ini!" Karena berpikir begitu, Yo Him telah mengempos semangatnya, tahu-tahu dia telah menggunakan Kong-beng-kun.
Dia telah memecahkan dua pikiran.
Walaupun sepasang tangan itu masih menindih, tapi dia bisa melakukan sesuatu gerakan tanpa terikat dengan lweekang yang tengah dikerahkannya itu.
Sebab tahutahu, tenaga pada lweekangnya yang semula mengandung unsur "
Keras"
Itu telah berubah menjadi "lunak", dan kemudian "keras"
Lagi lalu berobah menjadi "lunak"
Lagi, beruntun beberapa kali keadaan seperti itu berlangsung.
Sun Kauw-cu kaget bukan main, sampai dia berseru dan matimatian berusaha untuk menguasai dirinya karena tenaga lawan yang berobah sebentar keras dan lunak itu, membuat dia harus berwaspada.
Jika suatu kali dia lengah, di saat dia tengah mendesak dengan hebat pada lweekang lawannya, dan kebetulan lawan mempergunakan lweekang dengan unsur "lunak", bukankah dirinya akan celaka?
Karena dari itu, sekarang Sun Kauw-cu memutar otak mencari jalan keluar untuk meloloskan diri dari libatan tenaga lweekangnya Yo Him.
Dalam keadaan seperti inilah, tampaknya Yo Him juga sudah berhasil mencari jalan keluar.
Mendadak sekali, di saat dia mempergunakan tenaga lunak, dan waktu itu Sun Kauw-cu juga telah menarik pulang tenaganya, dia membarengi untuk menarik pulang tenaga dalamnya dan melompat mundur, sambil diiringi serunya.
"Tahan Sun Locianpwe!"
Sun Kauw-cu memang tidak mengejar, dia hanya mengawasi dengan sorot mata yang tajam kepada Yo Him.
Sun Kauw-cu memang mengetahui, bahwa Yo Him sengaja memisahkan diri untuk menyudahi pertempuran.
Padahal waktu itu keadaan Sun Kauw-cu sudah gawat sekali.
Sedikit lagi dia bertahan lebih lama, tentu dia tidak akan tahan menghadapi tenaga yang sebentar lunak sebentar keras itu.
Dengan demikian, sekarang si pemuda telah mundur memisahkan diri, diapun tidak segera mengejar untuk menyerang, hanya berdiri untuk mengatur pernapasannya.
Sasana bernapas lega melihat Yo Him telah berhasil memisahkan diri dari libatan tenaga lawannya tanpa kurang suatu apapun juga.
Sedangkan Kwie Losam juga telah menghela napas, sambil tidak hentinya memuji.
"Benar-benar hebat..... benar-benar hebat!"
Ciang-kui dan para pelayan rumah penginapan itu telah mengawasi dengan perasaan tegang menguasai mereka, karena mereka menyadari jika pertempuran itu berlangsung sampai ke lima orang yang bertubuh tinggi besar itu dan ke dua orang penggotong joli ikut maju, bukankah berarti perabotan rumah penginapan di ruangan itu akan hancur porak poranda.
Sedangkan waktu itu saja, lantai ruangan itu telah rusak melesak di sana sini bekas telapak kaki Sun Kauw-cu Tamu-tamu lainnya juga tetap di tempat mereka di sudut ruangan dengan hati berdebar.
Mereka sesungguhnya tertarik menyaksikan pertempuran seperti itu, mereka memang ingin sekali menyaksikan pertempuran berikutnya.
Namun di sudut hati masing-masing juga terdapat perasaan kuatir, kalau-kalau nanti mereka yang jadi sasaran dari kemarahan ke lima lelaki bertubuh tinggi besar dan ke dua penggotong joli yang semuanya adalah anak buahnya Sun Kauw-cu.
"Tidak kusangka orang she Yo itu bisa memiliki putera sehebat engkau!"
Kata Sun Kauw-cu dengan muka yang berobah dingin tetapi tidak sebengis tadi.
"Hemmm, jika melihat demikian, tampaknya sakit hatiku yang telah berlangsung puluhan tahun, tidak akan dapat dibalas!"
Yo Him mengangkat tangannya, dia memberi hormat, sambil katanya.
"Sakit hati apakah yang dikandung Locianpwe pada ayahku?!"
Tetapi Sun Kauw-cu tidak menyahuti, dia hanya mendengus beberapa kali, kemudian memutar tubuhnya, dia berkata kepada ke lima anak buahnya dan ke dua penggotong joli itu.
"Mari kita berangkat!"
Tampaknya Sun Kauw-cu batal untuk menginap di rumah penginapan ini.
Ke lima orang bertubuh tinggi besar itu mengiyakan, mereka cepat memanggil pelayan, diperintahkan untuk mempersiapkan kuda mereka masing-masing.
Ke dua penggotong joli itu telah siap di samping joli.
Sun Kauw-cu telah melangkah keluar, dia telah menggumam dengan suara yang perlahan.
"Kelak kita bertemu lagi.....!"
"Tahan, tunggu dulu, Locianpwe!"
Teriak Yo Him, memanggilnya.
Sun Kauw-cu menahan langkah kakinya, dia menoleh dengan muka yang dingin dan pancaran mata yang bengis, dia bilang.
"Bocah, apakah kau berani menahanku?
Atau memang engkau hendak bertempur lagi sampai salah seorang di antara kita ada yang terbinasa.....?!"
"Bukan begitu maksudku, harap Locianpwe tidak salah paham..... Aku hanya ingin menanyakan, ada hubungan apakah antara Locianpwe dengan ayahku.....?!"
"Itu bukan urusanmu.....!"
Menyahuti Sun Kauw-cu.
Diapun telah meneruskan langkahnya keluar, naik ke dalam joli, dan digotong pergi dengan ke lima lelaki bertubuh tinggi besar itu mengiringinya.
Yo Him menghela napas.
Kwie Losam telah menghampirinya sambil katanya.
"Hebat sekali kau Laote.....!"
Yo Him cepat-cepat merendahkan diri, diapun segera bertanya.
"Locianpwe, siapakah Sun Kauw-cu itu?"
"Dialah Kauw-cu dari perkumpulan Lang-kauw. Sebenarnya dia murid tertua dari Lam-hay-sin-nie yang murtad, selalu melakukan banyak perbuatan bengis dan tangannya telengas sekali..... Tindak tanduknya memang mengerikan sekali, karena dia tidak pernah satu kali pun melakukan perbuatan baik! Sekarang Yo Laote telah bentrok dengannya, maka kau harus berhati-hati untuk selanjutnya.....!"
Yo Him terkejut mendengar Sun Kauw-cu adalah murid tertua dari Lam-hay-sin-nie.
Karena dia pernah mendengar cerita ayahnya, ketika ibunya keracunan, ibunya itu Siauw Liong Lie, telah dibawa pergi oleh Lam-hay-sin-nie, untuk selama satu tahun.
Dan akhirnya barulah Siauw Liong Lie dan Yo Ko bertemu pula di Pek-hoakok.
Perihal Lam-hay-sin-nie dan kisah perpisahan Yo Ko dan Siauw Liong Lie yang dibawa oleh Lam-hay-sin-nie, dapat diikuti selengkapnya dalam Sin-tiauw-hiap-lu.
"Sesungguhnya,"
Kata Kwie Losam lagi.
"Lam-hay-sin-nie memiliki tiga orang murid. Murid pertama, adalah Sun Kauw-cu itu, yang nama sesungguhnya Sun Cie Siang. Sejak dia berguru pada Lamhay-sin-nie, memang dia telah terlihat wataknya yang kurang begitu baik, maka Lam-hay-sin-nie tidak menurunkan seluruh kepandaiannya, hanya memberikan enam bagian dari kepandaiannya. Namun, biarpun demikian, tokh dia telah memiliki kepandaian yang sulit ada tandingannya, karena Lam-hay-sin-nie merupakan manusia setengah dewa yang kepandaiannya sudah sulit diukur lagi.....! "
Sedangkan murid ke dua dari Lam-hay-sin-nie adalah Bun Sam, seorang lelaki yang gagu dan tuli, dia agak dungu, dia hanya mempelajari ilmu silat apa yang diwarisi oleh Lam-hay-sin-nie.
Sifatnya jujur dan dia sebagai murid juga merangkap menjadi pelayannya Lam-hay-sin-nie.
Dengan demikian, selamanya dia tidak pernah berpisah dari gurunya.
Kepandaian murid itu luar biasa tingginya, namun karena kedunguannya itu, Lam-hay-sin-nie tidak pernah mengijinkan dia mengembara, berkelana di dalam kalangan Kang-ouw, kuatir Bun Sam akan diperalat seseorang, sedangkan kepandaiannya demikian tinggi, tentu bisa membawa malapetaka yang tidak kecil."
Disamping itu, karena keadaan murid ke duanya yang dungu, dan murid pertama yang telah berkelana dan mengumbar kebengisan dan ketelengasan tangannya di mana sulit untuk mengendalikan muridnya yang pertama itu, maka Lam-hay-sin-nie akhirnya mengambil murid lagi.
Sebagai murid penutup itulah seorang gadis yang memiliki tabiat dan watak yang lembut sekali dan juga gadis itu, yang katanya she Auwyang, tidak seorangpun pernah melihatnya.
Cuma, yang didengar oleh sahabat-sahabat rimba persilatan, gadis she Auwyang itu, yang menjadi murid penutup dari Lam-hay-sin-nie, telah mewarisi seluruh kepandaian gurunya itu, karena dialah yang kelak akan mengendalikan Sucinya itu, suci seperguruan itu.....!"
Yo Him mengangguk beberapa kali mengiyakan, hal itu memang telah didengarnya.
Juga perihal Lam-hay-sin-nie yang telah menutup mata belasan tahun yang lalu telah didengarnya.
Cuma mengenai sepak terjang murid tertua dari Lam-hay-sin-nie itu, yaitu Sun Cie Siang, dia tidak pernah mendengarnya, di mana Sun Cie Siang telah membangun sebuah perkumpulan yang diberi nama Lang-kauw, yaitu perkumpulan Serigala.
Malah perkumpulan itu menurut Kwie Losam, telah menyebar luaskan kekuasaannya di kalangan Kang-ouw.
Banyak orangorang rimba persilatan yang telah dipaksa untuk masuk menjadi anggota Lang-kauw.
Bagi orang Kang-ouw yang keberatan dan tidak bersedia menjadi anggauta Lang-kauw, akibatnya sangat buruk, yaitu dia akan ditemukan dalam keadaan terbinasa......
Mendengar cerita Kwie Losam itu, Yo Him menghela napas berulang kali, sampai akhirnya dia berkata.
"Apakah selama itu, si gadis she Auwyang itu, yang menurut Locianpwe adalah murid penutup Lam-hay-sin-nie, tidak pernah mengambil tindakan apaapa untuk mengendalikan Sucinya itu?!"
Kwie Losam menghela napas, dia menggeleng kepala.
"Inilah urusan rumah tangga pintu perguruan Lam-hay-sin-nie, dan aku kurang begitu jelas mengetahuinya! Tetapi menurut apa yang telah kudengar bahwa si murid penutup Lam-hay-sin-nie itu telah dua kali turun gunung untuk mencari Sucinya."
Sejauh itu dia tidak berhasil menemui jejak Sucinya, karena Sun Cie Siang seorang yang licik dan tajam telinganya.
Mengetahui adik seperguruannya itu mencari, dia menghilang tanpa meninggalkan jejak.
Dia pun merupakan Kauw-cu dari perkumpulan Lang-kauw, yang beranggota ribuan.
Dengan demikian, telah membuat Sun Cie Siang selalu bisa mengawasi gerak-gerik adik seperguruannya itu."
Menurut orang yang mengetahui, bahwa Sun Cie Siang sebetulnya tengah mengincar barang-barang peninggalan gurunya, karena dia ingin merampas dari tangan adik seperguruannya.
Dan barang-barang peninggalan Lam-hay-sinnie itu tentu saja merupakan catatan ilmu silat yang hebat sekali.
Sun Cie Siang sendiri mengetahui bahwa dia hanya memperoleh enam bagian dari kepandaian gurunya, namun dia sudah bisa menjagoi seperti itu.
"Dengan demikian, cita-cita untuk memperoleh catatan ilmu silat Lam-hay-sin-nie semakin keras juga mendorong hatinya karena dia beranggapan, jika saja ia memperoleh kitab-kitab pusaka peninggalan Lam-hay-sin-nie, jelas ia akan dapat memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi lagi dan dapat menjagoi rimba persilatan disamping tidak perlu jeri lagi terhadap adik seperguruannya yang bungsu itu!"
Setelah bercerita sampai di situ Kwie Losam menghela napas dalam-dalam. Wajahnya berobah muram, iapun kemudian melanjutkan ceritanya dengan perlahan-lahan, katanya.
"Sekarang, memang Sun Cie Siang tengah berusaha, walaupun bagaimana ia bermaksud untuk dapat merebut dan mencuri kitabkitab pusaka dari adik seperguruannya itu. Dan karenanya sekarang orang-orang Lang-kauw telah disebar untuk menyelidiki keadaan adik seperguruannya yang bungsu itu, disamping dia sendiri juga telah turun tangan sendiri.....!"
Yo Him yang mendengar hal itu segera menyadari bahwa di dalam rimba persilatan tentu akan timbul pergolakan yang tidak kecil akibat sepak terjang dari Sun Cie Siang, dan ini tentunya merupakan suatu hal yang tidak baik untuk keselamatan orangorang rimba persilatan.
Karenanya Yo Him berpikir keras, dia tengah berusaha untuk memecahkan persoalan tersebut.
Walaupun kini ia tengah sibuk mengurusi persoalan Sasana untuk menuntut balas terhadap musuh-musuhnya, namun urusan Sun Cie Siang pun bukan merupakan urusan yang boleh dibiarkan begitu saja.
Kwie Losam telah berkata lagi memecahkan kesunyian di antara mereka.
"Sekarang Yo Laote telah terikat permusuhan yang tidak ringan dengan Sun Cie Siang, karena itu, kau selain harus hati-hati juga harus dapat secepat mungkin menyingkir diri dari daerah ini, agar Sun Cie Siang tidak bisa mempergunakan kaki tangannya membokong dan mencelakaimu dengan menggelap. Sebab orangorang Lang-kauw tidak segan-segan akan mempergunakan tipu muslihat yang rendah dan licik untuk merubuhkan musuhnya yang tangguh.....!"
Yo Him tersenyum sambil mengangguk.
"Terima kasih.....!"
Katanya.
"Dan sekarang Locianpwe apakah memiliki sesuatu rencana dalam menghadapi Lang-kauw ataupun Sun Cie Siang itu?!"
Kwie Losam menghela napas dalam-dalam sambil tersenyum pahit.
"Bicara soal diriku dalam berurusan dengan Lang-kauw, itulah suatu hal yang bisa menimbulkan tertawaan dari para orangorang gagah di rimba persilatan, karena memang jelas bahwa aku tidak mungkin dapat menghadapi mereka.....! "
Tetapi jika memang Yo Laote dan para orang-orang gagah lainnya bermaksud untuk menumpas Lang-kauw, sebuah perkumpulan dari manusia-manusia tersesat itu, hal ini tentu masih bisa diterima oleh akal sehat, dan merupakan suatu pertolongan yang sangat berharga sekali buat keselamatan orang-orang rimba persilatan!"
Yo Him mengeluarkan kata-kata merendah.
Begitulah mereka bercakap-cakap membicarakan persoalan Sun Cie Siang dengan perkumpulan Lang-kauw nya dan kemungkinankemungkinan timbulnya pergolakan di dalam rimba persilatan.
Setelah berselang sejenak, mereka kembali ke kamar masingmasing.
◄Y► Keesokan paginya Yo Him dengan Sasana melanjutkan perjalanan mereka, berpisah dengan Kwie Losam.
Perjalanan yang diambil oleh Yo Him dan Sasana ke arah Barat, dan mereka kemudian mengambil arah ke Selatan.
Mereka berdua memang tengah saling jatuh cinta, karenanya walaupun harus menghadapi berbagai kejadian dan peristiwa, namun ke duanya selalu bergembira dan bahagia.
Setiap ada kesempatan mereka beristirahat dan bercakap-cakap dengan intim, membicarakan masa depan mereka, terutama sekali perihal hubungan mereka berdua.
Pagi itu mereka berada di kaki gunung Lung-san di sebelah utara Hunan.
Gunung yang tidak begitu tinggi, namun subur tanahnya dan pohon-pohon yang bertumbuhan di gunung tersebut tampak semarak sekali, lebar dengan daun-daunnya yang segar, menambah keindahan di tempat tersebut.
Walaupun hujan turun rintik-rintik, namun Yo Him bersama Sasana telah melakukan perjalanan mereka tanpa berhenti, karena mereka memang tengah asyik bercakap-cakap.
Dan yang membuat mereka gembira melakukan perjalanan bersama-sama di saat hujan turun rintik-rintik seperti itu merupakan pengalaman yang mengasyikkan sekali buat mereka, di mana ke duanya tengah dilanda oleh api asmara.
Kuda mereka dibiarkan berjalan perlahan-lahan baik Yo Him maupun Sasana, berdua mereka seperti tidak mengacuhkan jatuhnya air hujan yang telah membasahi seluruh pakaian mereka.
Ke duanya tertawa-tawa gembira sambil bercakap-cakap.
"Koko. menurut cerita-cerita orang tua di Mongolia bahwa sepasang kekasih yang tengah memupuk jalinan cinta mereka di bawah tumpahan air hujan merupakan hal yang membahagiakan, karena memiliki arti tersendiri..... Kau tahukah akan cerita di Mongolia mengenai seorang kekasih yang berada di bawah curahan air hujan?!"
Tanya Sasana. Sambil tersenyum Yo Him menggeleng.
"Dapatkah kau menceritakannya kepadaku perihal cerita itu, adikku?!"
Tanyanya.
"Menurut cerita-cerita orang tua di sana, sepasang kekasih yang tengah menjalin percintaan mereka dan mendadak turun hujan, maka itu berarti hubungan mereka diberkahi oleh para malaikat!"
Menjelaskan Sasana.
"Dan kepercayaan akan hal itu memiliki dongengnya.
"Ribuan tahun yang lalu di padang pasir Mongolia sebelah selatan, hidup seorang pemuda yang sangat mencintai kekasihnya. Demikian juga sebaliknya, gadis yang dicintai pemuda itu, sangat menyayangi kekasihnya tersebut.....!" Bercerita sampai di situ, Sasana melirik Yo Him dengan pipi berobah merah. Tetapi Yo Him hanya menatapnya sambil tersenyum.
"Lalu bagaimana adikku?"
Tanya Yo Him.
"Tetapi hubungan mereka memperoleh tentangan keluarga masing-masing. Keluarga si pemuda yang merupakan keluarga yang miskin tidak mengijinkan putera mereka, mencintai seorang gadis yang kaya raya, karena ayah gadis yang dicintai oleh pemuda itu memang merupakan orang terkaya di daerah mereka. Menurut orang tua si pemuda, jika saja si pemuda menikah dengan gadis hartawan itu niscaya kelak hidup si pemuda akan mengalami tekanan bathin yang hebat, yang akan membuat si pemuda bersengsara."
Kembali Sasana melirik kepada Yo Him, sambil kemudian mendehem untuk melancarkan tenggorokannya yang terasa seperti tersumbat.
Air hujan yang berbutir-butir di pipi dan bagian lainnya di wajah si gadis yang memang cantik, menambah kerupawanan si gadis bangsawan ini.
"Lalu si pemuda menuruti nasehat orang tuanya?"
Tanya Yo Him.
"Ya! Pemuda itu berada dalam dua pilihan. Dia tengah dalam kebingungan yang sangat. U-hauw (bakti) kepada orang tuanya dan menuruti nasehat mereka serta meninggalkan atau menjauhi gadis yang dicintainya atau memang dia itu telah menjadi juga seorang anak yang put-hauw (tidak berbakti) meneruskan hubungannya dengan gadis itu. "
Inilah yang membuat pemuda itu selama beberapa hari jadi berada dalam kebingungan yang tidak berkesudahan.
Tidak enak makan tidak enak minum, tidak enak pula makan, tubuhnya cepat sekali mereyot menjadi sangat kurus.....!"
"Jika demikian pemuda itu tidak memiliki sifat kejantanan dan tidak memiliki ketegasan sama sekali!"
Kata Yo Him. Sasana menghela napas.
"Kau tidak bisa berkata begitu, Koko..... Memang mudah memberikan penilaian dan pendapat, karena bukan kau sendiri yang mengalami peristiwa itu. Jika kau sendiri yang mengalami hal tersebut, kemungkinan besar kau akan bingung sama halnya seperti si pemuda yang tengah jatuh cinta itu.....!"
Kata Sasana dengan wajah yang cemberut. Yo Him tersenyum.
"Mengapa kau harus marah seperti itu adikku? Bukankah itu hanya merupakan dongeng belaka dan bukan peristiwa yang terjadi sesungguh?!"
Kata Yo Him ketika melihat wajah kekasihnya yang cemberut memperlihatkan perasaan kurang senang.
"Walaupun hanya cerita dalam dongeng belaka, namun semua itu di dalamnya terkandung tamsil kemanusiaan yang mendalam.....!"
Kata Sasana tetap tidak senang, wajahnya yang cemberut itu tambah cantik dan manis saja, sehingga Yo Him menatapnya terus, sambil tersenyum.
"Jika kau dalam keadaan seperti itu, wajahmu tambah cantik dan manis, adikku!"
Kata Yo Him.
"Aku bukan sedang bergurau!"
Kata Sasana tambah tidak senang.
Diam-diam hatinya girang, namun gadis itu tetap memperlihatkan sikap tidak senang karena Yo Him seperti menyepelekan percintaan si pemuda dan si gadis Mongolia yang tengah diceritakannya, walaupun si pemuda dan si gadis yang tengah bercintaan itu hanya dalam dongeng belaka.
"Ya, sudahlah..... lalu bagaimana terusnya cerita itu? Apa yang dilakukan si pemuda yang tengah mabuk kepayang oleh cinta kasihnya yang terhalang itu?!"
Tanya Yo Him. Tetapi Sasana menggeleng dengan mulut cemberut agak monyong dia bilang.
"Tidak! Aku tidak mau menceritakannya lebih jauh! Bukankah kau sendiri tidak senang mendengarnya?!"
Melihat kekasihnya ngambek seperti itu, Yo Him tersenyum lebar, katanya.
"Adikku yang manis, mengapa kau harus marah seperti itu?! Baiklah, aku berjanji akan mendengarkan baik-baik ceritamu...... nah, kau teruskanlah ceritamu......!"
Sasana melirik pada Yo Him, lalu dia menghentak tali kendali kudanya, ia melarikan kudanya agak cepat di bawah rintik-rintik butiran air hujan.
"Hei adikku yang manis, mau kemana kau?!"
Teriak Yo Him tertawa, dia tahu bahwa kekasihnya ini masih mengambul dan membawa adatnya karena mendongkol.
Diapun telah menghentak tali kendali kudanya yang segera juga mencongklang berusaha mengejar kekasihnya tersebut.
Setelah melarikan kudanya beberapa saat, berhasil juga Yo Him berendeng di samping Sasana yang masih terus juga melarikan kuda tunggangannya.
Namun terlihat jelas betapapun Sasana tidak bersungguh-sungguh dalam melarikan tunggangannya itu, karena dia telah melarikannya tidak begitu cepat, menyebabkan Yo Him dapat melarikan kudanya berendeng dengan kuda tunggangan si gadis.
Hanya saja Sasana masih tidak mau mengacuhkan Yo Him, sama sekali dia tidak melirik dan berdiam diri dengan wajah yang ditekuk cemberut.
Kudanya tetap dilarikan, dia membawa sikap seperti tengah berusaha melarikan kudanya lebih cepat.
Menyaksikan hal itu Yo Him tersenyum, katanya bersungguhsungguh untuk membujuk.
"Adikku, maafkanlah jika memang aku salah bicara..... aku berjanji akan mendengarkan ceritamu baikbaik!"
Sasana melirik, tetapi dia masih melarikan terus kudanya.
"Apakah kau benar-benar akan menepati janjimu?"
Tanya Sasana masih melarikan terus kuda tunggangannya itu, sedangkan air hujan yang menyiram tubuhnya semakin besar seperti tidak diperdulikannya.
"Janji? Janji apa?!"
Tanya Yo Him heran. Muka Sasana berobah, tambah cemberut saja dan lebih ngambek lagi, serunya.
"Kau memang pemuda pembohong!"
Dan dia menghentak tali kendali kudanya, yang dilarikan lebih cepat lagi.
Yo Him kaget, dia sampai berseru dan cepat-cepat melarikan kudanya lebih cepat untuk mengejar.
Diapun baru mengingatnya bahwa tadi dia telah berjanji untuk mendengarkan cerita kekasihnya baik-baik.
Dan itulah yang disebut sebagai "janji"
Oleh si gadis Mongolia tersebut.
"Adikku! Adikku, kau dengarlah dulu!"
Berseru Yo Him sambil mengejar.
"Aku berjanji akan menepati janjiku! Maafkanlah! Aku, kembali telah salah bicara padamu!"
Sambil berseru begitu, Yo Him tetap mengejar, hatinya mengikuti dirinya sendiri, mengapa bisa jadi tolol seperti itu.
Memang Yo Him sendiri heran, berhadapan dengan kekasihnya ini, ia seringkali melakukan perbuatan-perbuatan yang "tolol"
Yang seharusnya tidak akan dilakukannya dalam waktu-waktu biasa.
Dan entah mengapa, sering pula ia melakukan kesalahankesalahan yang sebenarnya tidak pernah dilakukannya.
Pikirannya sering macet rasanya jika tengah berurusan dengan gadis yang dicintainya itu!
Setelah mengejar beberapa saat Yo Him masih belum berhasil menyandak kuda Sasana.
Si gadis rupanya tengah mendongkol dan kini benar-benar ngambek sebab merasakan bahwa Yo Him ingin mempermainkannya.
Dia tidak memperdulikan teriakan-teriakan Yo Him yang memintanya agar menghentikan lari kuda tunggangnya dan menantikannya.
Malah kini Sasana telah melarikan kudanya itu semakin cepat, berulang kali dia menghentak tali kendali kudanya dan juga ke dua kakinya menjepit kuda itu, membuat binatang tunggangannya itu mencongklang cepat sekali menerjang curahan air hujan yang semakin deras saja.
Yo Him merasakan tamparan air hujan yang menerjang mukanya, matanya juga perih karena mengejar terlalu cepat.
Namun walaupun bagaimana ia memang harus berusaha mengejar kekasihnya yang tengah ngambek itu, tanpa memperdulikan rasa pedas di wajahnya dan rasa perih di sepasang matanya yang sebentar-sebentar dipenjamkannya itu.
Yo Him telah melarikan kuda tunggangannya tersebut semakin cepat juga.
Sasana yang mengetahui bahwa Yo Him terus juga mengejarnya dan berusaha menyandaknya, diam-diam tersenyum.
Hatinya jadi tidak tega juga, apalagi ketika dia mendengar teriakan Yo Him yang terakhir.
"Adikku yang manis, yang baik, dengarlah keteranganku dulu! Jika memang aku bersalah, aku rela dihukum olehmu, walaupun hukuman yang bagaimana berat sekalipun.....! Aku mohon agar kau mau mendengar keteranganku dulu adikku yang manis. Berhentilah dulu!"
Berulang kali Yo Him telah berteriak-teriak begitu.
Akhirnya lemahlah hati Sasana, mencairlah kemendongkolannya, ia menghentikan kuda tunggangannya.
Girang Yo Him melihat Sasana mau menghentikan larinya kuda tunggangannya itu.
Segera juga ia dapat menyandak dan menghentikan ke duanya tepat di sisi kuda Sasana sambil cepatcepat merangkapkan sepasang tangannya, katanya sambil memperlihatkan sikap bersungguh-sungguh.
"Adikku..... maafkanlah kesalahan engkomu ini..... Aku bersedia untuk menerima hukuman apa pun dari kau atas kelancanganku tadi!"
Pipi Sasana berobah memerah, kemendongkolannya telah lenyap.
Memang tadi diapun sesungguhnya hanya ingin melihat apa yang dilakukan Yo Him jika ia tengah "ngambek’.
Dan dilihatnya Yo Him memang sangat mencintainya, karena kekasihnya ini bersedia untuk dihukum dengan apapun juga.
"Baiklah! Aku akan memaafkanmu dan berbaik padamu, jika telah menjalankan hukumanku!"
Kata Sasana sambil memperlihatkan sikap cemberut, walaupun hatinya waktu itu sangat senang sekali.
"Katakanlah, hukuman apapun yang akan kau jatuhkan padaku akan kulaksanakan dengan senang hati walaupun harus terjun dalam kobaran api atau terjun dalam kolam minyak yang mendidih.....!"
"Aku tidak sekejam itu! Atau memang kau beranggapan aku ini seorang iblis yang berhati kejam?"
Tegur Sasana cemberut lagi, walaupun hatinya tertawa geli dan bahagia. Yo Him tersentak kaget lagi, tetapi setelah tertegun sejenak dia mengayunkan tangan kanannya menampar bibirnya.
"Hai, hai, kembali aku salah bicara, maafkan adik..... Aku memang heran mengapa sekarang aku jadi demikian tolol?!"
Kata Yo Him cepat, dengan sikap bersungguh-sungguh. Hati Sasana jadi tidak tega melihat sikap Yo Him, walaupun bagaimana ia memang tidak bersungguh-sungguh dengan "ngambek"
Nya itu. Sekarang melihat betapa Yo Him menampar bibirnya berulang kali sampai bibirnya berobah merah seperti bengap.....! "Sudah! Sudah engko Him!"
Berseru Sasana yang jadi gugup melihat Yo Him masih menampari bibirnya berulang kali.
"Hentikanlah engko Him..... sudah cukup.....!"
Tetapi Yo Him melihat sikap Sasana yang matanya memancarkan sinar kasih sayang seperti itu jadi girang.
Dia berbalik ingin mempermainkan kekasihnya ini untuk melihat sampai berapa jauh cinta kasih Sasana terhadapnya.
Yo Him menggelengkan kepalanya sambil serunya dengan wajah memperhatikan penyesalan.
"Tidak! Tidak! Selama kau tidak memaafkan dengan setulus hati, biarlah aku menghantami terus bibirku, biar hancur lodoh.....!"
Dan benar-benar Yo Him menampari terus bibirnya itu, sampai terdengar suara "ketepak, ketepuk"
Berulang kali, dan bibirnya itu membengkak. Sasana terkejut, dia kaget dan berkasihan.
"Engko Him, sudah! Sudah! Aku sudah memaafkanmu..... tadipun aku hanya bergurau saja. Aku tidak marah sungguh-sungguh.....!"
Teriak Sasana sambil mendekatkan kudanya ke kuda Yo Him. Tetapi Yo Him tetap menghantam bibirnya yang telah bengkak jontor itu, dia tetap berseru.
"Tidak! Tidak! Bibirku ini selalu salah bicara, biarlah kuhajar biar lain kali bibir kurang ajar ini tidak bicara salah.....!"
Sasana berseru kaget sambil melompat menubruk mencekal tangan kanan Yo Him yang tengah meluncur itu, sambil berteriak.
"Sudah! Sudah engko Him..... Mengapa kau harus mempersakiti dirimu sendiri?"
Dan karena dia menubruk begitu dia mencekal tangan Yo Him, tubuh si gadis telah berada dalam rangkulan Yo Him.
Yo Him memeluknya erat-erat dan mereka jadi saling pandang penuh arti dengan bibir tertutup rapat, tidak sepatah perkataan pun yang meluncur dari bibir masing-masing.
Hanya mata mereka saja yang memancarkan perasaannya hati masing-masing.....
dan sinar mata mereka itu ribuan lebih banyak dari perkataan yang paling indah di dunia ini......
Setelah tersadar dari keadaannya, Sasana berusaha meronta rangkulan Yo Him, pipinya berobah merah karena likat.
Akan tetapi Yo Him tetap memeluknya, dan malah Yo Him berbisik.
"Betapa cantiknya kau, adikku.....!"
Dan kepala Yo Him menunduk, ingin mencium bibir si gadis.
Pipi Sasana berobah memerah terasa panas sekali, namun ia tidak berusaha memberikan perlawanan dan menolak tubuh kekasihnya, bibirnya terbuka merekah dan bibir mereka bertemu hangat sekali.....
menumpahkan seluruh perasaan mereka.
Tetapi waktu bibir Sasana dilumat oleh Yo Him, waktu itulah si gadis tiba-tiba meronta dan telah mendorong dada Yo Him, kemudian melompat turun ke bumi dengan gerakan yang ringan, dia memutar tubuhnya berdiri membelakangi Yo Him.
Sebab si gadis malu sekali, seraya ingin menyembunyikan mukanya ke dalam bumi.....
"Kau..... kau pemuda kurang ajar!"
Menggumam si gadis pura-pura marah.
Sesungguhnya hati Sasana tengah berlompatan bahagia.
Yo Him cepat-cepat melompat turun dari kudanya, dihampirinya si gadis.
Dengan lembut dipegangnya ke dua bahu kekasihnya, katanya lirih.
"Adikku yang manis. adikku yang baik.....! Memang bibirku ini terlalu kurang ajar sekali..... karena itu pantas jika dihajar terus.....!"
Dan setelah berkata Yo Him menggerakkan tangan kanannya, dia bermaksud untuk menghajar bibirnya lagi.
Akan tetapi Sasana cepat sekali menyambar tangan Yo Him, dicekalnya kuat-kuat.
katanya dengan suara yang lirih.
"Engko Yo Him, jangan aku..... aku tidak marah.....!"
Yo Him dan Sasana saling tatap, sampai akhirnya mereka berpelukan lagi.
Begitulah, mereka melanjutkan perjalanan dengan gembira, hati mereka terjalin lebih kuat dan cinta mereka semakin mendalam.
Tidak ada kekuatan apapun juga di dunia ini yang sanggup untuk memisahkan mereka......
"Bagaimana kelanjutan ceritamu mengenai dongeng si pemuda dan si gadis yang cinta mereka memperoleh tentangan kuat dari pihak keluarga masing-masing?!"
Tanya Yo Him setelah mereka berada di kuda tunggangan masing-masing.
Hujan masih turun, walaupun tidak sederas tadi, tapi air hujan tetap seperti tercurah dari langit dan membasah kuyupkan seluruh tubuh Yo Him dan kekasihnya itu.
Si pemuda yang tengah kebingungan itu tidak mengetahui harus mengambil jalan mana yang sekiranya bisa membawa kebaikan untuk ke dua pihak.....
Karena dari itu akhirnya dia menjadi nekad dan meminta untuk bertemu dengan gadisnya.
"Kekasihnya itu tidak keberatan dengan permintaan si pemuda, sebab memang iapun sangat mencintai pemuda itu, karenanya, mereka telah bertemu di depan permukaan sebuah hutan yang terletak di luar kota..... Mereka saling menangis, saling menyesali nasib mereka yang buruk, saling rangkul..... sampai akhirnya si pemuda mengatakan selamat tinggal kepada kekasihnya itu......!"
"Apakah....., pemuda itu bermaksud uutuk pergi merantau dan meninggalkan kekasihnya itu?!"
Tanya Yo Him yang kini jadi tertarik mendengar cerita Sasana mengenai pasangan yang tengah bercintaan itu.
"Tidak! Bukan!"
Menyahuti Sasana.
"Keluarga si gadis yang kaya raya memang menantang percintaan puteri mereka dengan si pemuda miskin. Akan tetapi merekapun tidak berdaya untuk membendung cinta si gadis kepada kekasihnya, walaupun pemuda itu telah diancam berulang kali oleh tukang pukul keluarga si gadis, namun kenyataannya mereka selalu mengadakan pertemuan sembunyi-sembunyi..... Hal ini disebabkan cintanya kasih mereka yang mendalam sekali..... Dan perkataan si pemuda mengenai selamat tinggalnya kepada kekasihnya itu adalah untuk menyatakan bahwa mereka di dunia tidak mungkin dapat bersatu, dan mungkin setelah berada di sorga mereka baru bisa berkumpul."
Di luar dugaan si gadis, waktu gadis itu tengah tertegun mendengar ucapan selamat berpisah dari kekasihnya itu, si pemuda telah menikamkan sebatang pedang pendek di dadanya, pedang mana memang dibawanya waktu dia berangkat dari rumahnya.....
maka pedang telah menembus dalam sekali di dadanya, darah memancur deras sekali bagaikan pancuran, menyiram tubuh si gadis kekasihnya.....
"Si gadis menjerit memanggil nama si pemuda berulang kali, tubuh pemuda itu terkulai rubuh tidak bergerak lagi, karena napasnya seketika telah berhenti..... Sambil menangis menggerung-gerung gadis itu telah merangkul tubuh kekasihnya sambil menangis mengutuki akan malaikat dan dewa yang tidak mau mengasihani mereka!"
Sasana berhenti dari ceritanya, matanya menatap jauh sekali, seperti juga si gadis terpengaruh oleh cerita yang tengah dibawakannya itu.
Iapun menghela napas berulang kali.
Yo Him sendiri tergoncang perasaannya, karena diapun tengah jatuh cinta dan merasakan manisnya madu cinta dengan Sasana dan sekarang mendengar kegagalan percintaan dari pasangan muda-mudi itu, perasaannya jadi terharu dan iba.
"Lalu..... bagaimana?"
Tanyanya.
"Si gadis merasa hidupnya hampa dan tidak ada gunanya lagi, walaupun ke dua orang tuanya kaya raya tetapi dia telah kehilangan kekasih dan cintanya, karena itu, diapun menjadi nekad. Diambilnya pedang pendek di dada si pemuda, kemudian menikam dadanya sendiri, sehingga pedang itu menancap dalam sekali di dada si gadis, darahpun memancur deras sekali..... Tubuhnya seketika terkulai menindih mayat kekasihnya.....! Itulah menunjukkan akan kesetiaannya terhadap cinta dan kasihnya.....! "
Langit bergoncang, Raja langit terharu.
Naga langitpun meraung menangis, para malaikat menghela napas, bumi tergoncang dan para dewa-dewi dari kerajaan Langit telah turun untuk menebarkan bunga, langitpun menangis, mengucurkan butir-butir air mata, menyiram ke dua sosok jenazah dari pasangan kekasih yang tidak tercapai percintaan mereka!"
Itulah sebabnya, jika sepasang kekasih yang tengah berkasihkasihan di bawah derasnya hujan, cinta mereka direstui oleh Raja Langit, Malaikat dan dewa-dewi di Kahyangan.....
Mereka akan bahagia dan juga seperti halnya kita tadi!"
Berkata sampai di situ, Sasana melirik kepada Yo Him dengan pipi yang berobah jadi merah.....
Dia menghela napas berulang kali.
Yo Him merasakan betapa hatinya tergoncang, dan dia mengulurkan tangan kanannya.
Dicekalnya tangan si gadis, dan meremasnya dengan penuh perasaan, hati mereka yang bicara.
Dan waktu kuda mereka berjalan perlahan-lahan ke duanya masih berpegangan tangan dengan mata saling tatap dan mesra.
Ke dua ekor kuda merekapun seperti mengerti apa yang tengah dialami oleh ke dua orang majikan mereka, ke dua ekor binatang tunggangan itu berjalan berendeng.
Sejauh itu Sasana dan Yo Him masih dapat saling bergenggam tangan......
◄Y► Matahari senja tampak telah merangkak turun ke tempat peraduannya di ufuk sebelah Barat, dan sebentar lagi sang malam akan segera menyelimuti permukaan bumi.
Rembulan yang mulai mengintip di ufuk Timur pun telah mulai merangkak naik.
Sasana dan Yo Him telah tiba di depan kota Ma-siang di daerah Ho-lam.
Pasangan kekasih ini memang melakukan perjalanan yang meletihkan, namun ke duanya tidak merasa letih sama sekali disebabkan ke duanya diliputi oleh kebahagiaan, manisnya cinta dan juga disebabkan dengan melakukan perjalanan berdua.
Kesukaran apapun juga dan keletihan yang bagaimana pun juga tidak akan terasa oleh mereka.
Ma-siang merupakan sebuah kota yang tidak begitu besar, tetapi memang memiliki penduduk yang sangat padat.
Di sebuah rumah penginapan yang cukup besar, Yo Him dan Sasana telah singgah.
Seorang pelayan segera menyambut mereka, untuk membawa kuda tunggangan ke dua tamu ini, sedangkan seorang pelayan lainnya telah memimpin ke dua tamu ini ke ruang tengah, untuk memesan kamar pada pengurus rumah penginapan.
Barangbarang Yo Him dan Sasana dibawa oleh pelayan itu.
Ternyata rumah penginapan ini telah menerima tamu yang cukup banyak, sehingga tinggal beberapa buah kamar yang kurang bagus masih kosong.
Yo Him meminta dua kamar untuk mereka.
Kemudian dengan diantar oleh pelayan, mereka telah dibawa ke ruang belakang rumah penginapan.
Walaupun ke dua kamar yang mereka peroleh itu kurang baik, namun tidak membawa kesan kurang baik untuk Yo Him dan Sasana yang tengah dimabuk alunan cinta kasih.....
Mereka merasakan kamar yang sederhana itu sebagai ruangan sorga buat mereka.
Tampak Yo Him maupun Sasana selalu gembira.
Waktu pelayan membawakan mereka makanan dan minuman, ke duanya bersantap malam sambil tertawa-tawa.
Banyak yang mereka bicarakan dan juga cerita-cerita yang mereka percakapkan, sehingga menimbulkan gelak tawa mereka, jika suatu saat mereka menceritakan hal-hal yang lucu.
Setelah beristirahat sejenak, Yo Him mengajak Sasana untuk menikmati keindahan kota tersebut, di mana walaupun hari mulai malam, namun justru keramaian di kota tersebut tidak berkurang.
Dari lorong yang satu ke lorong yang lainnya Yo Him dan Sasana telah mengelilingi kota yang tidak begitu besar.
Yang menarik perhatian mereka justru kota yang ramai ini tampaknya penduduknya riang gembira.
Boleh dibilang mereka tidak pernah bertemu dengan seorang penduduk yang berwajah muram.
Hal ini memperlihatkan bahwa penduduk kota ini hidup tenteram dan makmur, di samping itu tentu saja keamanan di kota tersebut juga terjamin.
Ketika mereka sampai ditengah-tengah koya, di sebuah lapangan rumput yang cukup besar, di sebelah selatan kota itu, tampak seorang penjual obat.
Tabib yang tengah menjual obat itu adalah seorang laki-laki berusia hampir enampuluh tahun, tubuhnya tinggi kurus, di samping bentuk mukanya yang panjang tirus.
Waktu itu tabib tersebut, sambil memukul gembrengnya tidak henti-hentinya berseru.
"Nah, jika memang saudara-saudara memakan obat ini, usia tuan-tuan akan bertambah sepuluh tahun dari yang semestinya! "
Percayalah obat ini merupakan obat mujarab yang bisa membawa kebahagiaan buat orang yang memakannya, karena terbuat dari teratai salju dari Thian-san.
Juga dicampur dengan Giok-bun, Samciok, Kiok-cie, dan beberapa macam ramuan bahan obat yang langka.
Jika memang sengaja kita mencari salah satu dari bahan obat itu saja sulit setengah mati.
Jika memang ada, tentu harganya pun sangat tinggi.
"Sekarang kebetulan aku datang di kota ini, merupakan kesempatan yang sangat baik untuk tuan-tuan membelinya dengan harga yang murah! Satu butirnya hanya tiga bun. Dan dibandingkan dengan khasiat dan manfaat obat ini dari harganya yang begitu ringan, tentu saja tidak dapat dikatakan apa-apa lagi, pasti akan puas dan bahagia! "
Nah, siapa yang ingin membelinya?
Ayo, siapa yang akan membelinya?
Akh hanya singgah satu hari saja di kota ini, besok pagi aku akan berangkat pula melanjutkan perjalanan.....
Jika besok kalian membelinya walaupun berani membayarnya dengan harga yang tinggi, itu sudah terlambat dan tidak mungkin memperoleh obat mujarab yang khasiatnya menyamai obat dewa.....
Ayo siapa yang ingin membeli......?
Siapa yang ingin membeli?!"
Dan tabib itu telah memukul gembrengnya berulang kali, memukulnya dengan keras, dan berteriak-teriak menanyakan siapa yang ingin membeli obatnya.
Yo Him dan Sasana berdiri di antara orang lainnya yang mengelilingi tabib tersebut.
Mereka saling bergenggam tangan dengan sikap yang mesra sekali.
Waktu tabib itu tengah menanyakan siapa yang ingin membeli obatnya, Yo Him dan Sasana berulang kali saling lirik dan tersenyum.
Mereka mengetahui, itulah cara penjual obat untuk menawarkan barang dagangannya.
Tidak mungkin jika obatnya itu dibuat dari Teratai Salju yang berasal dari Thian-san, dicampur juga dengan bahan-bahan obat Giok-bun, Sam-ciok, Kiok-cie dan beberapa macam ramuan lainnya, obatnya bisa memiliki harga yang begitu murah.
Jelas tabib itu hanya bicara besar tentang obat itu.
Setelah melihat ada beberapa orang penduduk kota itu yang membeli obat tersebut, Yo Him dan Sasana meninggalkan lapangan itu.
Mereka bermaksud untuk menyaksikan keramaian di tempat lainnya.
Tetapi baru beberapa langkah mereka berjalan, tiba-tiba Yo Him merasakan di belakangnya menyambar angin yang berkesiuran perlahan sekali.
Jika memang seseorang yang berkepandaian biasa saja, jelas tidak mungkin dapat merasakan sambaran angin yang perlahan dan halus itu.
Akan tetapi Yo Him memang telah memiliki kepandaian yang tinggi sekali, disamping itu memang iapun memiliki pendengaran yang sangat tajam.
Dengan sendirinya membuat Yo Him dapat mengetahui menyambarnya angin serangan tersebut.
Segera juga Yo Him menduga kepada serangan menggelap seseorang.
Dengan sikap yang tenang, Yo Him tetap melangkah seperti juga tidak terjadi suatu apa pun juga.
Waktu merasa sambaran angin itu semakin dekat dan hampir mengenai pinggangnya dengan gerakan yang gesit sekali, Yo Him telah memiringkan pinggangnya sedikit kemudian sikutnya bekerja menuju ke bawah.
Seketika itu juga tangan si orang yang tengah terulur ke arah pingang Yo Him terhantam sikut si pemuda.
Terbentur tidak sebegitu keras, namun akibatnya hebat sekali, karena seketika itu juga orang tersebut menjerit nyaring dan tubuhnya telah terlempar beberapa tombak.
Yo Him dan Sasana segera menoleh ke belakang, dan mereka melihat seorang laki-laki berusia limapuluhan, tengah meringis tidak jauh dari beradanya mereka.
Dia tengah mengurut-urut tangannya dengan mata terpentang lebar-lebar mengawasi bengis.
Rupanya dia tengah gusar sekali.
Yo Him telah menghampiri laki-laki tua itu.
Dengan sabar dan suara yang ramah, tanyanya.
"Paman mengapa kau tidak hujan tidak angin menyerang menggelap seperti itu kepadaku? Apa salahku? Dan mengapa kau ingin mencelakaiku?" Orang tua itu masih menguruti tangannya dengan wajah meringis. Waktu itu dia telah mengerang perlahan, tahu-tahu tangannya yang kanan telah bergerak. Dia akan mencengkeram dada Yo Him. Gerakan yang dilakukannya itu sangat kuat. Juga tangan kirinya telah menyusul menyerang lagi. Diapun telah menerjang dengan tiba-tiba sekali, dengan cara membokong. Akan tetapi Yo Him memiliki kepandaian yang tinggi, mana mau dia membiarkan orang menyerang dirinya seperti itu. Sambil mengeluarkan suara heran karena tidak mengerti mengapa orang tua itu telah beruntun menyerangnya lagi, tanpa mau memberikan penjelasan, Yo Him menghindarkan diri dari serangan orang tersebut. Begitu Yo Him menjejakkan kakinya, tubuhnya telah berada di belakang tubuh orang tua yang menyerangnya. Karena menyerang tempat kosong dan lawannya tahu-tahu telah lenyap dari penglihatannya, orang tua tersebut mengeluarkan seruan kaget. Tenaga yang telah dikerahkan dan dipergunakan untuk menyerang itu sudah tidak keburu untuk ditarik lagi, karenanya seketika tubuhnya terjerunuk ke depan beberapa tindak. Namun memang orang tua itu rupanya memiliki kepandaian yang tidak rendah, sebab begitu dia mengempos semangatnya, seketika dia dapat memperkuat kedudukan ke dua kakinya. Dia berhasil untuk memperkokoh kuda-kuda kakinya berdiri tetap lagi, dan cepat bukan main dia memutar tubuhnya. "Hemmm, kau memiliki kepandaian yang lumayan tingginya.....!"
Mendengus orang tua tersebut, dari matanya dan wajahnya terlihat bahwa dia tengah penasaran sekali.
Sedangkan Yo Him telah menyaksikan bahwa orang tua ini walaupun memiliki kepandaian itu sebetulnya tidak terlalu luar biasa.
"Paman, tunggu dulu..... coba kau jelaskan sesungguhnya mengapa kau menyerangku terus menerus seperti itu. Apa kesalahanku? Katakanlah.....!"
Berseru Yo Him waktu melihat orang tua tersebut telah melangkah dan menghampiri ke arah dirinya untuk mulai menyerang lagi.
Akan tetapi orang tua tersebut telah mendengus, dia tidak memperdulikan perkataan Yo Him, melainkan tangan kanannya telah bergerak lagi.
Dia menyerang dengan hebat, beruntun tiga jurus.
Tangan kirinya juga tidak tinggal diam, sebab dia telah menyusuli menyerang beberapa kali pula.
Dengan demikian Yo Him juga tidak hisa berdiam diri, berulang kali dia harus berkelit ke sana ke mari menghindarkan diri dari serangan orang tua tersebut.
Tetapi diam-diam Yo Him juga berpikir bahwa dia tidak bisa tinggal berdiam diri saja.
Itulah sebabnya ketika melihat orang tua itu menyerang dirinya lagi, Yo Him telah memutar ke dua tangannya.
Hal ini untuk melindungi tubuhnya dari serangan orang tua tersebut, sedangkan kaki kanan Yo Him telah menendang dengan kuat ke arah kempolan lawannya.
Orang tua tersebut mengeluarkan suara seruan tertahan karena kaget.
Waktu itulah terlihat betapa tampak jelas dia tidak bisa mengelakkan diri, karena dengan mengeluarkan suara jeritan yang nyaring, tubuhnya telah terpental dan melayang di tengah udara.
Kemudian dirinya meluncur jatuh ambruk di tanah, menimbulkan suara bergabrukan yang nyaring disertai juga dengan suara jeritannya.
Orang-orang yang berada di sekitar tempat itu telah melihatnya keributan ini.
Mereka segera juga mengelilingi Yo Him dan orang tua tersebut, karena mereka memang ingin menyaksikan keramaian.
Di saat itu Sasana telah mendongkol bukan main, karena melibat orang tua itu tidak keruan dan tidak juntrungannya telah menyerang Yo Him.
Waktu melihat orang itu ambruk terbanting di tanah akibat tendangan Yo Him, seketika Sasana menepuk tangannya berulang kali dan memuji Yo Him yang kakinya sangat hebat.
Orang-orang yang menonton keramaian ini juga banyak yang telah berseru-seru dan memuji akan kehebatan Yo Him.
Yo Him berdiri tenang di tempatnya, sama sekali dia tidak berobah sikapnya, tetap ramah dan tenang sekali.
Dia bilang dengan sabar kepada orang tua yang tadi menyerangnya dan kini tengah merangkak untuk bangun.
"Paman, sekali lagi kutanyakan, apa sebabnya kau menyerangku secara membabi buta seperti itu?!"
Orang tua itu telah merangkak dan sanggup berdiri lagi, walaupun sepasang kakinya agak gemetar karena dia tengah menahan kemarahan, yang bukan main di dadanya.
Matanya yang memandang kepada Yo Him juga berapi-api memancarkan sakit hati dan penasaran.
"Kau tidak perlu rewel menanyakan apa sebabnya, yang pasti kau harus mampus.....!"
Berseru orang tua itu, dan membarengi dengan habisnya seruannya tersebut, tahu-tahu tubuhnya telah mencelat dengan gesit sekali, sepasang tangannya telah digerakkan, dia menyerang lagi.
Sekali ini orang tua tersebut menyerang dengan hebat, tenaga serangannya juga sangat kuat.
Rupanya tadi telah dirasakannya betapa Yo Him bukanlah lawan yang mudah diserang, karenanya sekarang dia menyerang bertubi-tubi dengan pukulan yang jauh lebih hebat.
Yo Him melihat dirinya diserang terus menerus, jadi mengerutkan alisnya.
Karena dia melihat orang tua yang selalu menyerangnya ini bukanlah seorang baik-baik yang dapat bicara.
Melihat menyambarnya tangan orang tua tersebut, Yo Him berkelit dengan cepat, berbareng tangan kanannya mengibas.
Kali ini Yo Him tidak berlaku sungkan-sungkan lagi, karena waktu dia mengibas, dari tangannya itu telah meluncur kekuatan tenaga dalam yang cukup kuat, menderu-deru menyambar kepada orang tua itu.
Seketika tubuh orang tua tersebut terhuyung mundur dengan muka yang pucat, karena dia seperti juga diterjang oleh sesuatu pukulan yang sangat dahsyat dan hebat sekali.
Seketika itu pula, setelah dia mundur beberapa langkah ke belakang, dengan muka yang pucat, dia memuntahkan darah segar beberapa kali!
Yo Him tertawa dingin, katanya.
"Kau tampaknya bukan seorang manusia baik-baik! Aku tidak kenal denganmu, juga tidak memiliki kesalahan apapun juga, namun kau berulang kali berusaha menyerangku! Karenanya, sekarang aku akan memberikan hajaran yang setimpal dengan perbuatanmu itu, agar kau mau membuka mulut dan memberikan penjelasan yang sesungguhnya!"
Sambil berkata begitu Yo Him telah melangkah mendekati orang tua tersebut.
Dia memang bermaksud untuk membekuk orang tua itu, untuk memaksanya agar dia mau membuka mulut guna memberikan keterangan padanya, apa sebenarnya yang diinginkan oleh orang tua itu.
Tetapi melihat Yo Him melangkah maju menghampirinya.
orang tua tersebut cepat-cepat merogoh saku bajunya, dan mengeluarkan sesuatu.
Kemudian tanpa mengatakan sepatah kata pun, dia menggerakkan tangannya, melontarkan benda yang berada di tangannya.
Benda itu adalah semacam benda bulat seperti telor menyambar ke arah Yo Him.
Melihat itu Yo Him telah menyampok dengan tangannya, dan tidak diduganya, tahu-tahu benda bulat yang semula diduganya adalah senjata rahasia, telah meledak dengan suara ledakan yang sangat keras sekali.
Asap pun segera tersebar di sekitar tempat tersebut memedihkan mata.
Yo Him kaget juga, karena dia kuatir asap itu adalah asap beracun.
Cepat sekali dia melompat ke belakang untuk menghindarkan diri dari asap tersebut.
Mempergunakan kesempatan tersebut, orang tua itu telah menjejakkan kakinya, tubuhnya mencelat gesit sekali, karena dia bermaksud melarikan diri.
Sasana yang menyaksikan peristiwa itu, semula memang kaget, dia mengeluarkan seruan marah.
Dan waktu melihat orang tua itu ingin melarikan diri, Sasana telah mengejarnya.
Tubuh si gadis bergerak dengan lincah dan ringan sekali, di tangannya juga telah mencekal pedangnya, mata pedang ditujukan ke punggung orang tua itu.
Merasakan menyambarnya angin serangan di belakangnya, cepatcepat orang tua itu telah mencelat ke samping, dia menghindarkan diri.
Akan tetapi Sasana tidak mau melepaskannya, dia telah menyerang lagi dengan pedangnya.
Pedangnya berkelebat beberapa kali, dia telah menikam ke berbagai tempat yang bisa mematikan di tubuh orang tua itu.
Rupanya orang tua tersebut menyadari bahwa dia sulit melarikan dan meloloskan diri dari lawannya.
Hanya saja yang melegakan hatinya, dilihatnya kepandaian Sasana tidak setinggi kepandaian Yo Him, karenanya dengan hati yang lebih tabah, dia menghadapi tikaman-tikaman pedang Sasana.
Malah tangan kanannya cepat sekali mencabut senjatanya yaitu sebatang golok yang berukuran besar, dia menangkis dan balas membacok.
Gerakan golok orangtua itu memang merupakan bacokan yang berbahaya, karena jika lawannya tidak dapat bergerak gesit dan terkena bacokan tersebut, niscaya dia akan terbinasa di mata golok itu.
Karenanya, Sasana tidak berani berayal, menyadari akan kepandaian orang itu memang cukup tinggi, maka dia memutar pedangnya menangkis beberapa kali, lalu berbareng pedang Sasana berkelebat-kelebat balas menyerang.
Begitulah mereka berdua telah terlibat dalam pertandingan yang menyebabkan sinar dan senjata masing-masing berkilauan tertimpah oleh cahaya lampu penerangan.
Yo Him sendiri telah berhasil menghindarkan diri dari gumpalan asap dari senjata rahasia aneh orang tua itu, sedangkan gumpalan asap itu telah menipis terhembus oleh siliran angin.
Dengan tenang Yo Him menyaksikan pertandingan antara Sasana dengan orang tua itu.
Sebenarnya terkandung maksud di hati Yo Him untuk menerjang maju guna membekuk orang tua itu.
Akan tetapi menyaksikan Sasana telah bertanding dengan orang tua tersebut, justru Yo Him jadi berpikir lagi.
Ia ingin melihat ilmu pedang si gadis yang menjadi kekasihnya itu, apakah telah memperoleh kemajuan.
Karena itu Yo Him telah berdiam diri saja, dan hanya menyaksikan jalannya pertempuran itu dari samping.
Orang yang berkumpul di tempat juga semakin banyak, karena mereka ingin menyaksikan keramaian yang menarik hati itu, terlebih lagi yang tengah bertempur adalah seorang gadis yang cantik manis.
Suara mereka yang berseru-seru memuji akan kelincahan Sasana, dengan pedangnya seperti mendesak hebat pada lawannya, menambah semangat Sasana.
Karena semangatnya terbangun seperti itu Sasana semakin gencar dan hebat.
Orang tua itu sebelumnya memang telah mengetahui bahwa kepandaian Sasana dan Yo Him sangat tinggi.
Waktu sebelum menempur ke dua orang itu, ia sama sekali tidak mempercayai keterangan yang diperolehnya, karena merasa yakin bahwa kepandaiannya sangat tinggi.
Sebab itulah, walaupun dia telah mendengar perihal ke dua muda-mudi yang memiliki kepandaian tinggi, namun kenyataannya sama sekali dia tidak memandang mata.
Akibat kecerobohannya itu dan tidak memandang mata kepada Yo Him, orang tua tersebut berulang kali telah kena dihajar oleh Yo Him.
Hal ini menyadarkannya akan kehebatan pemuda tersebut.
Dan sekarang menghadapi Sasana ia berlaku jauh lebih hati-hati lagi.
Dengan begitu, Sasana tidak semudah Yo Him untuk merubuhkan orang tua itu, apa lagi kepandaian Sasana memang berada di bawah kepandaian Yo Him.
Orang tua itu menggerakkan goloknya berulang kali dan setiap kali goloknya menyambar, ia menggerakkan untuk menyerang ke bagian yang mematikan di diri Sasana.
Maksudnya agar si gadis tidak mendesaknya lebih jauh dan melonggarkan desakannya.
Akan tetapi, Sasana ternyata memang tetap mendesaknya dengan hebat, setiap serangan yang dilancarkannya itu merupakan serangan yang sulit untuk dihadapi.
Apa lagi memang Sasana bertekad, walaupun bagaimana ia tidak boleh dirubuhkan lawannya itu di hadapan kekasihnya, yang tentu akan menyebabkan ia menderita malu.
Menghadapi kepandaian si gadis, orang tua itu berulang kali terancam bahaya tidak kecil.
Ujung pedang Sasana hampir mengenai bagian-bagian tubuhnya.
Hanya saja, disebabkan ia memang memiliki kepandaian yang cukup tinggi juga, masih dapat menghindarkan dan menyelamatkan dirinya dengan baik, walaupun untuk selanjutnya dia terdesak lebih hebat.
Di antara menderu-deru angin sambaran golok dan pedang, ke dua orang yang tengah bertempur itu bergerak sangat gesit sekali.
Dengan demikian telah membuat Sasana harus dapat memperhatikan baik-baik agar dirinya tidak terserang bokongan orang tua itu, yang tadi telah mempergunakan senjata asapnya.
Beberapa kali Sasana memang melihatnya orang tua itu telah menggerakkan tangannya ke sakunya, tangan kiri itu seperti ingin mengambil sesuatu dari dalam sakunya.
Hanya saja disebabkan Sasana menyerangnya dengan deras, sehingga orang tua itu tidak memiliki kesempatan untuk merogoh sakunya.
Akibat desakan Sasana itu, orang tua tersebut jadi mendongkol dan penasaran.
Pernah sstu kali goloknya itu melayang ke kiri dan ke kanan menyambar deras sekali, memaksa Sasana untuk mengelakkan diri dengan melompat mundur.
Mempergunakan kesempatan tersebut, orang tua itu telah menggerakkan tangan kirinya untuk merogoh sakunya, karena dia bermaksud untuk mengambil sesuatu dari dalam sakunya.
Akan tetapi Sasana cepat sekali menjejakkan kakinya, tubuhnya telah melayang seperti juga seekor burung rajawali, pedangnya telah meluncur menikam ke arah dada orang tua itu.
Adanya serangan seperti itu membuat orang tua tersebut batal kembali merogoh sakunya dan menggerakkan goloknya menangkis pedang Sasana.
Lalu dia menyingkir ke belakang beberapa langkah mencegah Sasana melanjutkan serangannya.
Yo Him yang menyaksikan sejak tadi dari pinggir tidak sabar lagi.
Dia telah melompat ke tengah gelanggang dan mengulurkan tangan kanannya.
Maksudnya ingin merampas golok orang tua itu, akan tetapi Yo Him gagal dengan keinginannya itu, karena begitu tangannya meluncur golok orang tua itu dimiringkan ke samping kanan, kaki kanan orang tua itu berusaha menendang selangkangan Yo Him.
Sambil memperdengarkan suara tertawa dingin, Yo Him telah menotok kaki orang tua itu.
Memang apa yang dilakukan oleh Yo Him merupakan gerakan yang tidak terduga, begitu orang tua tersebut menyadari bahaya yang mengancamnya dan ingin menarik pulang kakinya sudah terlambat, sebab tepat sekali jalan darah Pai-tu-hiat nya telah kena ditotok jari tangan Yo Him, sehingga seketika orang tua tersebut terhuyung-huyung tidak bisa berdiri tetap lagi.
Dengan demikian Yo Him dapat mempergunakan kesempatan tersebut untuk menyusuli dengan hantamannya.
Telapak tangan kirinya telah menyampok ke arah dada lawannya.
Orang tua itu mengeluarkan suara keluhan kaget karena dia tengah terhuyung dan tidak bisa berdiri tetap.
Sekarang dia diserang begitu kuat oleh Yo Him, sehingga tidak memiliki kesempatan untuk melolosi diri dari gempuran tersebut.
Tidak ampun lagi, dadanya menjadi tatakan dari telapak tangan Yo Him.
Dengan mengeluarkan suara bentrokan yang keras, tubuh orang tua itu terpental dan bergulingan di tanah beberapa kali......
Yo Him tidak menyerang lebih jauh, dia hanya berdiri di tempatnya mengawasi orang tua itu.
Sasana sendiri telah menyimpan pedangnya.
Orang tua itu tidak bisa segera bangun karena rupanya dia terluka di dalam yang cukup berat, mukanya pucat, dan tidak hentinya memuntahkan darah.
Tubuh orang tua itu juga menggigil tampaknya dia tengah menahan sakit yang tidak ringan.
Mulutnya mengeluarkan suara rintihan perlahan.
Yo Him menghampiri orang tua itu, katanya dengan sikap yang tenang dan sabar.
"Paman, kau telah mendesak kami untuk turun tangan keras padamu.... Sebenarnya apa maksudmu mendesak dan menyerang kami sedangkan kita tidak saling kenal satu dengan yang lainnya dan juga kita tidak memiliki urusan apapun juga.....?"
Orang tua itu berusaha untuk merangkak bangun. Waktu itu matanya memandang penuh kebencian pada Yo Him sampai akhirnya dia berkata.
"Baik! Kalian memperoleh kemenangan dengan cara mengeroyok seperti tadi. Hemm, di lain waktu aku akan mencari kalian untuk meminta penghajaran pula dari kalian!" Rupanya orang tua yang angkuh itu tidak mau menerima kenyataan yang ada, bahwa sebenarnya kepandaiannya masih berada jauh di bawah kepandaian Yo Him. Sedangkan dibandingkan dengan Sasana saja belum tentu dia dapat menghadapi dengan baik gadis itu, yang kepandaiannya tidak lebih rendah dari kepandaiannya sendiri. Dan rupanya dia berkata begitu hanya sekedar menutupi malunya yang telah dirubuhkan oleh Yo Him. Yo Him tercengang sejenak, dia kemudian tertawa tawar, katanya.
"Paman, kami tidak bermusuhan denganmu..... Jika memang kami menghendakinya, dengan mudah kami dapat merubuhkanmu siang-siang tadi, malah dapat pula menghabisi sekalian jiwamu......
"Hanya saja disebabkan kami memang tidak menaruh dendam atau sakit hati padamu, disebabkan itu pula kami tidak menurunkan tangan keras padamu. Namun tampaknya engkau sama sekali tidak mau menerima kenyataan seperti itu..... Bahkan sekarang menaruh dendam pada kami, dan bermaksud kelak hendak mencari kami guna membalas sakit hatimu ini yang disebabkan kekalahanmu ditangan kami! Nah, sekarang katakanlah paman, apa alasanmu dengan perbuatanmu tadi, yang tidak hujan tidak angin telah menyerang kami secara membuta seperti itu.....?!"
Orang tua itu telah berdiri dengan susah payah, tubuhnya sering bergoyang-goyang, tampaknya seperti akan rubuh, namun dia memaksakan diri untuk bertahan.
Sampai akhirnya dia menyahuti dengan suara yang kasar dan mata mendelik memancarkan kebencian yang sangat kepada Yo Him dan Sasana.
"Baiklah!
Kalian dengarlah baik-baik, aku akan memberitahukan apa sebabnya kalian harus mampus ditanganku!
Aku telah diutus oleh Sun Kauw-cu dari Lang-kauw.....
Dan aku telah menerima tugas agar menghabisi jiwa kalian berdua.....!
Walaupun bagaimana, kalian memang harus mampus dan tidak bisa melewati hari ini sampai besok menjelang terbitnya matahari pagi......!"
Waktu berkata-kata begitu tampak orang tua itu memancarkan kebencian yang bukan main pada Yo Him dan Sasana, matanya juga memancarkan sinar yang bengis sekali.
Yo Him dan Sasana tercengang juga mendengar orang tersebut utusan Sun Cie Siang Kauw-cu dari Lang-kauw itu.
Sedangkan Kauw-cu itu sendiri telah hampir dirubuhkan oleh Yo Him, sekarang ini justru hanya mengutus orang seperti orang tua di hadapan mereka ini untuk membinasakannya.
Dengan sendirinya membuat Yo Him dan Sasana tidak mempercayainya.
Bukankah Sun Kauw-cu dari Lang-kauw mengetahui bahwa Yo Him memiliki kepandaian yang sangat tinggi sekali, sedangkan dia tidak berdaya untuk merubuhkan Yo Him, terlebih lagi utusannya yang hanya memiliki kepandaian tidak berapa tinggi itu......
"Lalu, apakah dengan hanya mengandalkan kepandaian seperti yang kau miliki itu, kau yakin akan dapat membinasakan kami?!"
Tanya Yo Him yang mulai mendongkol. Orang itu tersenyum mengejek, hanya sejenak saja, karena dia kemudian meringis seperti menahan sakit, tangan kanannya juga telah memegang dadanya.
"Ya, kalian tidak akan melewati malam ini, tidak sempat buat kalian menyaksikan matahari pagi terbit dikeesokan pagi.....!"
Menyahuti orang tua itu.
"Dan walaupun bagaimana kalian berdua memang harus mampus di tanganku.....!"
Yo Him tersenyum sabar, walaupun hatinya mendongkol, namun pemuda ini yakin bahwa orang tua itu hanya bicara besar untuk menutupi perasaan malunya belaka.
"Baiklah! Kami akan menantikan saja apa yang ingin kau lakukan pada kami!"
Kata Yo Him akhirnya. Bola mata orang tua itu telah mencilak-cilak memain tidak hentinya, katanya.
"Aku orang she Bin tidak pernah bicara kosong. Dan bisa kalian buktikan malam ini, di mana kalian tidak bisa melihat lagi terbitnya matahari pagi besok karena malam ini juga kalian berdua akan menemui kematian ditanganku!"
Setelah berkata begitu, orang tua she Bin itu telah mendengus beberapa kali, namun mata Yo Him dan Sasana yang awas melihat bahwa tangan kiri orang tua tersebut telah merogoh sakunya, seperti akan mengambil sesuatu apa dari dalam saku bajunya.
"Akh, dia mau main gila?!"
Pikir Yo Him.
Sambil berpikir begitu, cepat luar biasa tampak Yo Him telah mencelat akan menyambar tangan orang tua she Bin itu.
Akan tetapi terlambat.
Rupanya orang she Bin tersebut juga menyadarinya bahwa Yo Him jelas tidak mungkin membiarkan dia merogoh saku bajunya.
Begitu melihat Yo Him menerjang kepadanya, dia telah berhasil mengeluarkan tangannya dari dalam sakunya, kemudian melontarkan empat benda bulat.
Yo Him hendak menyanggapi benda-benda itu, agar tidak terbanting.
Akan tetapi gerakan orang tua itu yang cepat, dan cara membantingnya yang langsung dibantingkan dekat kakinya, telah menyebabkan ke empat benda itu meletus keras sekali.
Dan seketika di sekitar tempat itu dipenuhi oleh gumpalan asap yang tebal sekali.....
Yo Him merasakan matanya pedih bukan main, dia menjejak ke dua kakinya, tubuhnya melompat ke belakang.
Demikian juga halnya dengan Sasana, yang menjauhi diri dari tempat tersebut dan menghindar dari gumpalan asap itu.
Orang-orang yang menyaksikan di sekitar tempat tersebut terkejut waktu mendengar letusan dan melihat gumpalan asap yang memenuhi sekitar tempat tersebut.
Mereka segera lari berebutan.
Bahkan yang hatinya kecil serta penakut menjerit-jerit dengan ketakutan, menjauhi diri dari tempat itu.
Yo Him mengucek-ucek matanya, dia telah merasakan bahwa asap yang dari benda-benda bulat yang bisa meledak itu mengandung racun.
Karena itu dia telah berusaha untuk dapat menghindarkan diri sejauh mungkin dari gumpalan asap.
Orang tua she Bin itu sendiri telah menjauhi diri, mempergunakan kesempatan di saat tempat itu tengah dipenuhi oleh asap yang menganggu pandangan mata.
Orang tua ini telah berlari ke arah barat, dan terdengar suara siulannya yang nyaring sekali.
Suara siulan orang tua tersebut telah disusul dengan suara siulan dari berbagai tempat.
Lalu tampak belasan tubuh yang menghampiri orang tua tersebut.
Belasan orang yang memapak orang tua she Bin itu, rupanya kawan-kawannya.
Mereka umumnya memiliki wajah yang seram, dengan bentuk tubuh yang tidak rata, ada yang gemuk, ada yang kurus, ada yang jangkung tinggi!, ada yang pendek cebol.....
tetapi mereka semuanya mencekal senjata tajam, dan bentuk senjata tajam mereka itu bermacam-macam bentuknya.
"Kita harus membinasakannya malam ini juga!"
Berseru orang tua she Bin itu.
Terdengar belasan orang kawannya itu mengiyakan dan dengan suara pekik yang berbisik sekali.
Tampak belasan orang itu dengan senjata telanjang telah menyerbu ke arah Yo Him dan Sasana, yang waktu itu tengah sibuk mengucek-ngucek mata mereka yang pedih.
Senjata belasan orang tersebut juga telah meluncur menyerang Yo Him dan Sasana dengan serentak.
Orang tua she Bin itu yang telah terluka di dalam, rupanya tidak dapat menyerang lagi, karena dia sudah tidak memiliki tenaga pula, karenanya dia hanya berdiri menyaksikan saja kawan-kawannya itu menyerang Yo Him dan Sasana.
Waktu itu, tampak jelas Yo Him dan Sasana mengelakkan serangan belasan senjata tajam yang menyerang diri mereka, tetapi mereka terus juga didesak.
Sedangkan waktu itu baik Yo Him maupun Sasana tidak bisa melihat dengan jelas karena mata mereka terganggu oleh asap.
Dan belasan orang itu rupanya memang telah terbinasa dengan gumpalan asap tersebut.
Dengan mendongkol tampak Yo Him telah menggerakkan sepasang tangannya, malah suatu saat, dia telah berhasil merampas senjata tajam dari salah seorang lawannya.
Dengan gerakan yang sangat cepat sekali, dia telah memutar senjata itu, dia telah menangkis jatuh tiga batang senjata tajam lawannya.
Kemudian bagaikan seekor harimau terluka Yo Him telah mengamuk dengan senjata rampasannya itu, yaitu sebatang pedang.
Gerakan Yo Him sangat cepat sekali dan setiap serangan yang dilancarkannya itu merupakan serangan yang bisa mematikan, terlebih lagi memang kepandaian belasan orang tersebut biasa-biasa saja dan tidak ada keistimewaannya, karena mereka hanya merupakan anggota Lang-kauw yang memiliki kepandaian biasa.
Dalam waktu yang singkat sekali, tampak Yo Him telah bisa merubuhkan tujuh orang lawannya.
Sasana juga tidak tinggal diam.
Sejak diserang oleh lawanlawannya itu, dia menggerak-gerakkan pedangnya, bertubi-tubi menyerang kepada lawannya yang berada paling dekat dengannya.
Dan tampak pedangnya itu telah berulang kali melukai beberapa orang lawannya.
Gerakan pedang Sasana selalu mengincar bagian-bagian yang bisa mematikan.
Karenanya, lawan-lawannya akhirnya tidak berani terlalu mendesak.
Terlebih lagi setelah beberapa orang yang dirubuhkan Yo Him itu bangun dan melarikan diri dari tempat tersebut dengan menenteng senjata mereka.
Sisanya jadi ketakutan dan mereka pun memutar tubuh, ikut melarikan diri.
Orang tua she Bin itu waktu melihat kawan-kawannya melarikan diri, diapun tidak bisa tinggal diam terus di tempat itu, karena dia telah memutar tubuhnya dia melarikan diri.
Yo Him dan Sasana tidak mengejarnya, karena mereka merasa, tidak bermaksud untuk terlalu mendesak lawan-lawan mereka.
Hanya saja yang membuat mereka mendongkol adalah pandangan mata mereka yang, masih saja terhalang oleh asap yang timbul dari keempat benda bulat yang tadi meledak.
Asap itu menyebabkan mata mereka berair dan juga tidak bisa melihat dengan jelas.
Setelah berdiam diri sejenak, akhirnya sisa gumpalan asap itu sirna terhembus oleh angin.
Orang-orang yang semula ramai menyaksikan keramaian di tempat tersebut, telah bubar melarikan, diri entah kemana.
Tidak ada orang lain, selain Sasana dan Yo Him berdua.
Setelah saling pandang sejenak, Yo Him menghela napas, dia tersenyum, katanya.
"Sungguh keterlaluan Sun Kauw-cu itu. Rupanya dia memang memusuhi kita..... Dan juga tampaknya dia hanya ingin mengorban anak buahnya yang tidak berarti, untuk melakukan perbuatan-perbuatan hina belaka. Dengan demikian, jika memang anak buah yang dikirimnya itu menemui kematian, itulah memang tidak berarti apa-apa baginya, akan tetapi jika saja anak buahnya itu berhasil untuk mencelakai kita, tentu besar sekali artinya buat Sun Kauw-cu tersebut......! "
Hemm, dilihat demikian, tampaknya memang Sun Kauw-cu itu telah berusaha untuk menancapkan kekuasaannya di dalam rimba persilatan.
Setiap orang yang tidak disenanginya tentu akan dimusnahkannya dengan mempergunakan berbagai cara dan jalan.....!"
Setelah berkata begitu, Yo Him menghela napas berulang kali.
Sedangkan Sasana mengangguk dan menghela napas.
Namun gadis ini gembira juga, karena mereka telah berhasil merubuhkan lawannya itu, membuat lawan-lawannya itu akhirnya melarikan diri.
Dengan demikian telah membuat mereka merasa puas juga, dan Sasana setelah menghela napas satu kali lagi baru berkata.
"Engko Him, apakah kita perlu mencari Sun Kauw-cu itu? Dia telah mengirim belasan orang kaki tangannya, dengan demikian, jelas dia berada di sekitar tempat ini! Kita bekuk saja salah seorang dari kaki tangannya itu, lalu kita memaksanya agar orang itu memberikan keterangan di mana beradanya Sun Kauw-cu?!"
Yo Him menggeleng.
"Sekarang bukan waktunya..... karena kita masih memiliki tugas yang jauh lebih penting.....!"
Kata Yo Him kemudian.
"Perihal Sun Kauw-cu itu dapat kita urus di kemudian hari, juga sahabat-sahabat kita, para pendekar gagah dari rimba persilatan tidak akan tinggal diam, mereka pasti akan mengambil tindakan jika mendengar perihal sepak terjangnya Sun Kauw-cu tersebut..... karenanya kita tidak perlu terlalu tergesa-gesa.....!" Sasana telah mengangguk.
"Ya..... jika memang kau berpandangan seperti itu, aku hanya menurut saja!"
Jawab si gadis.
Begitulah, mereka kembali ke rumah penginapan.
Di rumah perginapan, orang tengah ramai membicarakan pertempuran yang terjadi tadi.
Dan waktu orang-orang yang tengah bercerita itu melihat datangnya Yo Him dan Sasana, ke dua orang yang tadi bungkam menutup mulut.
Hanya diam-diam mereka melirik dengan kepala tertunduk takut.
Yo Him dan Sasana kembali ke kamar masing-masing, tampaknya mereka tidak memperdulikan sikap orang-orang itu.
Malam itu, Yo Him dan Sasana tertidur nyenyak.
Walaupun demikian, mereka tetap berlaku waspada dan tidak lenyap kesiap siagaan mereka, kalau-kalau orang-orang Lang-kauw menyatroni mereka.
Tetapi malam itu berlalu tanpa terjadi sesuatu apapun juga.....
Keesokan paginya, waktu matahari pagi telah terbit agak tinggi, Yo Him dan Sasana telah melanjutkan perjalanan mereka.
Ke duanya tetap mempergunakan kuda mereka yang dijalankan perlahanlahan, karena memang mereka melakukan perjalanan tidak terlalu tergesa-gesa.
Setelah meninggalkan kota tersebut belasan lie, tiba-tiba pasangan muda mudi ini bertemu dengan suatu peristiwa yang menegangkan sekali, peristiwa yang di luar dugaan dan bisa mendirikan bulu tengkuk.
Awal peristiwa tersebut dimulai ketika Yo Him akan mengajak Sasana untuk beristirahat.
Waktu itulah mata Sasana telah melihat sesuatu yang menggeletak di tengah jalan.
"Engko Him...... lihat.....!"
Teriak Sasana sambil menunjuk ke arah benda itu.
Yo Him memperhatikan arah yang ditunjuk oleh Sasana sehingga dia bisa melihat benda yang menpgeletak di tengah jalan.
Setelah memperhatikan dengan cermat, maka dia memperoleh kenyataan itulah sesosok tubuh manusia yang tengah rebah di tengah jalan.
Tentunya itulah sesosok tubuh manusia yang telah mati, karena sama sekali tidak bergerak.
Cepat-cepat Yo Him melarikan kudanya lebih cepat menghampiri sosok tubuh itu.
Sasana mengikuti di belakang si pemuda.
Ketika sampai di dekat sosok tubuh itu, Sasana mengeluarkan seruan tertahan terlebih dulu, sedangkan muka Yo Him berobah, karena dilihatnya sosok tubuh itu merupakan sosok tubuh manusia yang telah menjadi mayat.
Hanya saja keadaan mayat tersebut luar biasa, tubuhnya seperti dicingcang oleh senjata tajam.
Orang tersebut menemui kematian dengan cara yang mengenaskan sekali, tubuhnya hancur seperti juga tidak ada salah satu anggota tubuhnya yang utuh.
Yo Him cepat melompat turun dari kudanya, dia memeriksa keadaan mayat itu.
Mayat seorang laki-laki berusia antara limapuluh tahunan.
Walaupun mukanya tercacah rusak dan sulit dikenali lagi, namun masih bisa diketahui akan usia lanjut itu.
Sasana yang tidak kuat hatinya melihat pemandangan yang mengiriskan hati itu, telah membuang pandang ke arah lain, dan dia tidak mau melihat keadaan mayat tersebut yang telah rusak seperti itu.
Sedangkan Yo Him memeriksa terus keadaan mayat tersebut, sampai akhirnya dia melihat dari cara berpakaian mayat tersebut, tentunya orang ini adalah seorang rimba persilatan.
Dia mungkin telah bertempur dengan musuhnya dan dibinasakan dengan cara yang mengenaskan seperti itu.
Setelah memeriksa sekian lama, akhirnya Yo Him menghampiri Sasana.
"Korban dari pertempuran, dia mungkin di binasakan oleh seseorang yang telengas sekali dan tubuhnya telah dicingcang hancur lumat....."
Menjelaskan Yo Him.
"Mari kita berangkat!"
Mengajak Sasana yang tidak mau melihat lagi mayat yang telah hancur rusak itu.
Yo Him mengangguk tunggangannya.
sambil melompat ke atas kuda Tetapi baru saja Yo Him duduk di atas kudanya, tiba-tiba menyambar dua batang panah yang pesat sekali.
Panah itu telah melesat sebatang ke arah punggung Yo Him, sedangkan yang sebatang lagi menyambar ke punggung Sasana.
Panah itupun menyambar dengan cepat dan kuat, menimbulkan kesiuran angin yang keras sekali.
Sasana terkejut, dia mempergunakan cambuk di tangannya menyampok anak panah yang menyambar ke arah punggungnya, karena untuk mengelakkan sambaran anak panah itu, penyerangnya memang memanah secara membokong.
Tetapi berbeda dengan Yo Him, waktu dia merasakan sambaran anak panah ke arah punggungnya, pemuda ini tetap tenang.
Dia memutar tubuhnya sedikit, kemudian mempergunakan jari telunjuknya untuk menyentil.
Perlahan sentilan yang dilakukan Yo Him namun kesudahannya sangat hebat, karena anak panah itu seketika menjadi patah dua dan jatuh di atas tanah.
Sedangkan Sasana melompat turun dari kudanya, tangannya cepat sekali mencabut pedangnya.
Gerakan yang dilakukannya itu merupakan gerakan berwaspada terhadap serangan berikutnya dari musuh.
Yo Him bukan bertindak seperti Sasana, karena tahu-tahu tangan pemuda ini telah menekan pelana kudanya.
Kemudian tubuhnya dengan ringan melesat ke belakang berjumpalitan beberapa kali di udara, tubuhnya melesat ke arah dari mana datangnya sambaran anak panah itu.
Waktu tubuh Yo Him tengah meluncur di tengah udara, telah menjepret lagi suara yang keras, disusul dengan mengaungnya menyambar sebatang anak panah lagi.
Sasana menjerit perlahan dengan kaget, sebab Yo Him tengah terapung di tengah udara.
Jelas sulit baginya untuk menghindarkan diri dari sambaran anak panah itu.
Terlebih lagi anak panah itu dilepaskan dengan tenaga yang kuat sekali, menyambarnya sampai mengaung.
Yo Him sebenarnya terkejut juga waktu melihat sebatang anak panah menyambar ke arahnya dengan pesat.
Waktu itu jaraknya pun sudah tidak jauh lagi.
Akan tetapi sebagai seorang yang memiliki kepandaian telah tinggi, ia tidak menjadi gugup.
Anak panah menyambar lurus ke arah dirinya, melesat dengan cepat.
Dan jalan satu-satunya Yo Him hanya mementang mulutnya.
Begitu anak panah itu menyambar tiba, dia menggigitnya.
Sedangkan tubuhnya sendiri meluncur turun terus dengan pesat.
Tangan kanannya digerakkan menghantam ke arah sebatang pohon yang ada di dekat tempat itu.
Batang pohon itu bergoyang keras, karena seperti dihantam oleh lempengan baja, banyak daunnya yang rontok.
Dari atas pohon itu telah melesat sesosok tubuh, dengan tangan kanannya mencekal busur yang berukuran besar.
Rupanya akibat goncangan di pohon tersebut memaksa dia melompat turun.
Dialah seorang laki-laki berusia empatpuluh tahun lebih, dengan muka yang bengis.
Dan orang tersebut, dengan memakai baju singsat warna hijau dan celana biru, telah menggerakkan busurnya ketika tubuhnya tengah meluncur turun, di mana tubuh Yo Him juga berada tidak jauh dari tempatnya berada.
Karena itu ujung anak panah itu menyambar tepat di jurusan pundaknya pemuda she Yo itu.
Yo Him rupanya telah mengetahui bahwa penyerang gelap itu bersembunyi di atas pohon tersebut, karenanya dia menghantam dengan kekuatan lweekangnya ke arah pohon tersebut.
Sekarang melihat orang itu melompat turun dari atas pohon dan mempergunakan busurnya untuk menyerang dan menotok pundaknya, Yo Him telah memperdengarkan tertawa dingin.
Cepat sekali tangan kanannya digerakkan, dia menyampok dengan kuat.
"Takkk.....!"
Terdengar suara benturan antara tangan Yo Him dengan busur tersebut.
Tetapi Yo Him jadi terkejut, hatinya terkejut, karena dia merasakan pergelangan tangannya sakit bukan main.
Jika sebelumnya Yo Him menduga bahwa busur itu terbuat dari kayu seperti umumnya busur yang ada, tetapi sekarang dia menemui kenyataan yang mengejutkan.
Busur itu terbuat dari semacam benda logam yang keras sekali.
Karenanya waktu pergelangan tangannya menangkis dan saling bentur dengan ujung busur tersebut, membuat Yo Him menderita kesakitan.
Tetapi laki-laki yang bersenjata busur itupun bukannya tidak kaget karena diapun mengeluarkan seruan-seruan tertahan dan melompat mundur beberapa langkah ke belakang dengan muka berobah.
Kiranya tangkisan tangan Yo Him yang mengandung kekuatan lweekang, membuat busur logamnya itu tergetar, dan getaran yang terjadi menyebabkan telapak tangan orang tersebut pedih sekali.
Itulah sebabnya dia mengeluarkan seruan jeritan tertahan.
Yo Him mengawasi orang itu beberapa saat, kemudian tanyanya dengan sabar.
"Siapa kau? Mengapa menyerang menggelap seperti itu kepada kami?!"
Laki-laki bersenjata busur tersebut melintangi busurnya, sahutnya angkuh.
"Tidak perlu kau mengetahui siapa aku dan dari mana datangnya, lalu apa sebabnya aku menyerang kalian...... yang terpenting kalian harus mampus di tanganku!"
Yo Him tidak segera menyahuti.
Dia mengawasi orang itu sampai akhirnya dilihatnya, orang tersebut memiliki mata yang sipit sekali seperti mata elang, sedangkan bibirnya lebar dengan hidung yang besar bengkung.
Karenanya dia segera menduga orang ini memang bukan sebangsa manusia baik-baik.
"Hemmm, aku mengerti, tentunya kau tidak mau menyatakan bahwa dirimu adalah anak buah dari Sun Cie Siang Kauw-cu, dari Lang-kauw itu, bukan?!"
Orang tersebut mukanya berobah, tetapi sejenak kemudian dia telah berkata.
"Hemmm, dari mana kau mengetahui bahwa aku adalah orang kepercayaan dari Sun Kauw-cu? Memang Sun Kauw-cu mengutus diriku untuk mengambil jiwa kalian.....!"
Yo Him tersenyum. "Apakah belasan orang kawanmu yang telah kami berikan pelajaran sedikit pahit itu cukup sebagai contoh dan kau pun ingin minta diberikan hajaran?!"
Tanyanya dengan suara yang tawar. Orang tersebut telah gusar dan bentaknya.
"Kau terlalu bicara besar, tahukah kau siapa diriku sebenarnya?!"
"Bukankah tadi kau sendiri yang mengatakan bahwa aku tidak perlu mengetahui siapa namamu, dari mana asalmu.....? Karena itu, akupun tidak ingin mengetahui siapa adanya kau! Hanya saja sebagai salah seorang kaki tangan Sun Cie Siang dari Lang-kauw, jelas kau bukan sebangsa manusia baik-baik!"
Kembali orang bermuka bengis itu telah mengibaskan busurnya, serunya gusar.
"Hemm, engkau terlalu congkak, pemuda jelek! Kau kira di Lang-kauw tidak terdapat orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi, sehingga kau menjadi congkak seperti itu.....! Baiklah! Baiklah kau terimalah ini!"
Dan berbareng dengan perkataannya itu, dengan sebat sekali tangan kanannya bergerak ke arah sampingnya.
Tahu-tahu dia mengambil sebatang anak panah, tanpa mengatakan suatu apapun juga, terdengar suara menjepret dari busurnya.
Anak panah itu melesat menyambar ke arah Yo Him dengan cepat sekali.
Yo Him berdiam diri di tempatnya, sama sekali tidak mengelakkan sambaran anak panah itu, walaupun jarak mereka sangat dekat sekali.
Orang dari Lang-kauw yang bersenjata panah itu rupanya girang bukan main, dia yakin Yo Him akan celaka oleh kesombongannya sendiri.
Jarak mereka terlalu dekat, dan jarang sekali ada orang yang bisa menghindarkan anak panahnya dari jarak sedekat itu.
Sedangkan untuk menghindarkan diri dari sambaran anak panahnya di jarak yang cukup jauh saja sudah sulit bukan main.
Dengan senyum dikulum, dia telah menggerakkan tangan kirinya lagi, menyusul busurnya itu menjempret, dan menyambar pula anak panah lainnya.
Yo Him telah melihat anak panah pertama menyambar ke arahnya.
Cepat luar biasa Yo Him membuka mulutnya, dia menunduk sedikit dan tahu-tahu telah menggigit anak panah itu.
Kemudian tampak anak panah ke dua yang telah menyambar.
Yo Him mempergunakan anak panah tersebut, dia menjepit dengan mempergunakan ibu jari dan telunjuknya, menjepit anak panah tersebut yang tidak bergeming lagi.
Bukan main terkejutnya orang dari Lang-kauw tersebut karena betapa kuatnya tenaga gigitan gigi Yo Him dan jepitan dari telunjuk dan ibu jarinya itu, sehingga menunjukkan bahwa Yo Him memang memiliki lweekang yang tinggi sekali.
Sebagai seorang ahli panah yang telah puluhan tahun mengandalkan kepandaian memanahnya tersebut, yang selain memiliki kekuatan memanahnya tersebut, yang selain memiliki kekuatan memanah yang kuat sekali, karena busur yang yang dipergunakannya terbuat dari besi, juga memang orang tersebut memiliki tenaga dalam yang cukup terlatih baik.
Dengan demikian, setiap kali dia melepaskan anak panahnya ke korbannya, tentu tenaga melesat anak panah itu bisa menembus sebungkah batu dalam sekali.
Terlebih lagi jika menembusi tubuh manusia, tentu akan menembusi sampai anak panah itu meluncur keluar dari bagian lainnya tubuh sang korban.
Tetapi sekarang Yo Him dengan mudah memunahkan sambaran anak panahnya.
Ada yang digigit tidak berdaya oleh giginya, juga hanya dijepit oleh jari telunjuk dan ibu jarinya.
Dengan demikian membuat orang tersebut jadi memandang tercengang sejenak.
Yo Him tertawa sambil melontarkan anak panah yang dijepitnya tadi oleh telunjuknya.
Dia melontarkan ke arah batang pohon di belakang orang tersebut.
Anak panah itu melesat memperdengarkan suara mengaung yang keras.
Orang itu melompat ke samping kiri karena menyangka dirinya yang diserang.
Sedangkan anak panah yang dilontarkan Yo Him telah menyambar batang pohon tersebut dan menancap dalam sekali, sampai di ekornya.
Tentu saja satu kali lagi orang Lang-kauw itu tercengang dengan hati tercekat.
Yo Him melontarkan anak panah tersebut dengan mempergunakan tangannya belaka, diapun melempar dengan seenaknya dan tampaknya tidak mempergunakan tenaga.
Namun anak panah bisa menembus begitu dalam di batang pohon.
Dengan demikian memperlihatkan tenaga menimpuk Yo Him memang sangat luar biasa.
Sedangkan anak panah yang tergigit di gigi Yo Him telah diturunkan oleh tangan kiri Yo Him.
Kemudian kembali Yo Him menimpuk.
Kali ini Yo Him menimpuk ke arah atas, ke tengah udara.
Anak panah ini melesat tinggi sekali, kemudian membalik, meluncur turun, dan kemudian menancap di bumi.
Akan tetapi yang luar biasa melesatnya anak panah itu menancap bukan pada mata panah belaka, melainkan telah menembus terus ke dalam bumi sampai lenyap, ekor anak panah itu sama sekali tidak terlihat lagi.
Itulah satu pertunjukan yang benar-benar mengagumkan sekali tanpa terasa orang Lang-kauw itu berseru memujinya.
"Bagus!"
Dan di saat itu tangan kirinya berperak dengan cepat sehingga disusul dengan beruntun suara menjepret yang tidak berkesudahan.
Ternyata orang Lang-kauw itu telah memanah tidak hentinya.
Dia melepaskan anak panahnya disusul dengan anak panah yang berikutnya, lalu disusul dengan yang lainnya lagi, sehingga anak panah itu seperti berangkai dalam menyambar ke arah sasarannya, yaitu Yo Him.
Yo Him kagum terhadap kesebatan tangan dari orang tersebut, yang bisa memanah begitu cepat.
Disamping itu yang membuat Yo Him kagum juga adalah kekuatan memanahnya.
Busur yang dipegangnya adalah busur yang terbuat dari benda logam dan berat sekali.
Untuk merentangkan busur tersebut memerlukan tenaga menarik yang kuat sekali.
Sekarang orang tersebut telah dapat memanah beruntun seperti itu.
Bisa dibayangkan tenaga yang telah dipergunakan.
Waktu itu Yo Him tidak bisa berpikir terlalu lama, karena melihat sambaran anak panah yang begitu beruntun tidak hentinya saling susul menyambar ke dirinya.
Tapi dengan sebat Yo Him bisa menghadapi ancaman bahaya serangan anak panah itu dengan mudah.
Anak panah yang pertama telah disentilnya dan anak panah itu terpental ke sampingnya, menyambar ke arah sebatang pohon dan menancap dalam di situ.
Anak panah ke dua disentil lagi, kemudian anak panah ke tiga dielakkannya dengan melompat ke samping, anak panah keempat telah disentil pula.
Akan tetapi orang dari Lang-kauw itu juga liehay dalam hal mempergunakan panahnya.
Waktu Yo Him merobah ke dua kakinya, dia pun telah merobah arah memanahnya, sehingga anak panahnya itu tetap saja berangkai dan bagaikan memiliki mata, mengikuti arah di mana Yo Him berada.
Karena jengkel dan mendongkol, Yo Him mengeluarkan pedangnya, diputar pedangnya sehingga bergulung-gulung menimbulkan angin berkesiuran.
Kemudian anak panah yang menyambar datang ditabasnya.
Dengan demikian, setiap anak panah yang menyambar ke arah Yo Him, selain terpental ke arah lain tidak berhasil mengenai sasaran, juga anak panah itu telah tertabas putus menjadi dua atau tiga potong.
Tidak bosannya orang Lang-kauw itu memanah terus, dan anak panah menyambar membanjir ke arah Yo Him.
Dan selama itu Yo Him melindungi dirinya dengan pedangnya yang diputar cepat dan kuat.
Terdengar suara "tringg, trakkkk, trukkk!"
Berulang kali.
Anak panah yang dilepaskan oleh orang Lang-kauw yang bermuka bengis itu selalu gagal mengenai sasarannya.
Rupanya orang tersebut telah habis sabar.
Dia melihat biarpun dia memanah terus tentu tidak mungkin dapat mendesak Yo Him, kalau saja dia mempergunakan cara memanah seperti itu.
Karenanya, sekarang dia merobah cara memanahnya.
Cepat bukan main, dia memanah berbagai tempat.
Jika sebelumnya dia memanah satu jurusan, sehingga anak panahnya itu seperti berangkai dan menyambar beruntun ke arah Yo Him.
Sekarang justru anak panah itu dibagi empat arah.
Dia memanah ke arah tengah di dada Yo Him, memanah paha, memanah lengan dan juga memanah ke arah atas, yaitu tenggorokan pemuda itu.
Dengan demikian telah membuat Yo Him harus memecahkan perhatiannya, arah dan sasaran anak panah orang tersebut tidak berketentuan menyambarnya, juga sebentar ke bawah, ke atas atau ke kiri kanan tidak menentu dan sulit diterka.
Akan tetapi yang jauh lebih hebat lagi anak-anak panah itu seperti nyambung menyambung tidak pernah terpisah satu dengan yang lainnya.
Karena bernafsu sekali memanah seperti itu, tanpa disadarinya persediaan anak panahnya telah habis.
Karena sudah tidak memiliki anak panah lagi yang bisa dipergunakan, orang Langkauw itu telah menggereng gusar.
Begitu dia melepaskan anak panahnya yang terakhir, berbareng tubuhnya juga menerjang kepada Yo Him.
Gerakan yang dilakukannya itu sangat cepat dan bengis sekali, di mana busurnya yang terbuat dari logam itu telah menyambar ke bagian yang bisa mematikan, yaitu jalan darah Su-kiong-hiat di dekat dada sebelah kiri Yo Him.
Menyaksikan menyambarnya serangan busur lawannya, Yo Him tidak tinggal diam.
Setelah pedangnya itu menangkis anak panah terakhir yang dilepaskan lawannya, Yo Him pun cepat sekali menekuk kaki kanannya, tubuhnya mencongkol dan di waktu itulah pedangnya telah diangkat dengan mata pedang menghadap ke arah atas.
Dengan demikian, jika saja orangnya Sun Cie Siang menyerang terus dengan busur besinya tersebut, niscaya dada orang itu akan berlobang oleh mata pedang lawannya!
Menyaksikan apa yang dilakukan oleh Yo Him, orang tersebut terkejut, cepat-cepat dia menarik pulang busurnya.
Dia membalingkannya satu kali, ujung busurnya itu telah menyampok pedang Yo Him, sehingga terdengar suara benturan yang keras sekali, pedang Yo Him jadi mencong ke samping.
Yo Him juga mempergunakan kesempatan tersebut untuk melompat mundur.
Akan tetapi orangnya Sun Cie Siang tersebut kembali menerjang bengis sekali dengan busurnya.
Busur besi itu diputar, sehingga ke dua ujung busur itu menyambar silih berganti mengancam akan menotok bagian-bagian yang mematikan Yo Him.
Akan tetapi kepandaian Yo Him telah mencapai tingkat yang tinggi sekali.
Mana mungkin orang itu bisa berhasiI dengan busurnya tersebut untuk menotok jalan darah di tubuh Yo Him?
Karena waktu pedangnya itu mencong, dengan mudah Yo Him menggeser kaki kanannya, dan cepat luar biasa pedangnya telah menyambar kembali ke arah perut lawannya!
Orangnya Sun Cie Siang tersebut kaget bukan main, karena dia tidak menyangkanya bahwa Yo Him bisa bertindak secepat itu.
Dengan menggeser kedudukan kakinya, Yo Him telah menghindarkan diri dari totokannya.
Dan kini malah pedang pemuda tersebut yang telah menikam ke arah perutnya.
Jika memang dia tidak keburu berkelit, niscaya perutnya itu akan berlobang.
Lekas-lekas orang itu berusaha untuk menangkis dengan mempergunakan busurnya, dia telah mengibas, dan busur besi itu telah menyampok pedang Yo Him.
Dan berbareng dengan itu, tangan kanannya telah diulurkan lebih panjang sehingga busurnya itu akan menyampok ke arah muka Yo Him.
Hebat cara menyerang orang itu, karena dia bertindak bagaikan dia telah nekad dan hendak mengadu jiwa dengan Yo Him.
Tetapi Yo Him dengan mudah dapat menghindarkan kembali serangan busur orang tersebut dan pedangnya berkelebat dua kali.
Kali ini tidak ampun lagi pundak dari lawannya tergores mata pedangnya, sehingga bajunya pecah robek dan juga kulit di pundaknya telah terluka sehingga darah mengucur dengan deras.
Orang itu mengeluarkan seruan gusar, tanpa memperdulikan lukanya itu, dia menerjang lagi dengan busurnya.
Kali ini benarbenar dia kalap dan nekad sekali.
Sebab dia tidak memperdulikan keselamatan dirinya pula, dia menyerang beruntun sampai lima jurus.
Yo Him menggerakkan pedangnya dengan lincah, tiga kali beruntun pemuda ini berhasil melukai tubuh orang itu, sehingga darah melumuri sekujur tubuh orang tersebut.
Barulah lawannya itu menghentikan penyerangannya dan meloncat mundur dengan wajah merah padam karena murka dan penasaran.
Yo Him tersenyum sabar, katanya.
"Lebih baik kau menggelinding pergi..... Hemmm, jika memang engkau memaksa terus, maka aku akan menurunkan tangan yang lebih keras lagi. Jelas jiwamu sulit untuk dilindungi.....!"
Lawannya yang telah terluka sama sekali tidak mengacuhkan perkataan Yo Him, telah menggerakkan busurnya, untuk mulai menyerang pula.
Belum lagi dia menerjang maju, justru dari kejauhan terdengar suatu suara nyaring.
"Thang Suko mengapa kau terluka seperti itu?!"
Suara itu terdengar jelas sekali, walaupun dari jarak yang cukup jauh.
Yo Him menoleh ke arah datangnya suara tersebut, dilihatnya bahwa sesosok tubuh tengah melesat mendatangi dengan cepat sekali, dan sosok tubuh itu adalah seorang laki-laki berusia empatpuluh tahun lebih, dengan tubuh yang penuh oleh bulu-bulu halus.
Wajahnya yang bengis berpotongan panjang, dengan bibir yang lebar, tampak mirip sekali dengan muka seekor kera!
Sasana juga telah melihat muka orang itu yang menyerupai muka monyet, hampir saja si gadis mengeluarkan seruan kaget.
Dia memandang heran, mengapa ada seorang manusia yang memiliki muka demikian buruk sehingga mungkin lebih baik muka seekor monyet dibandingkan dengan mukanya itu.
Cepat sekali orang bermuka seperti monyet itu telah tiba di dekat Yo Him dan yang lainnya berada.
Dia segera juga menghampiri orang yang bersenjata busur besi sambil serunya.
"Thang Suko, apakah orang ini telah menghinamu?!"
Orang yang bersenjata busur besi tersebut, yang dipanggil dengan sebutan Thang Suko itu mendengus perlahan, katanya dengan penuh kebencian pada Yo Him.
"Ya, kami tengah bertempur, dan aku bermaksud untuk membunuhnya, karena ini ada perintah dari Sun kauw-cu!"
Orang bermuka monyet, dengan sekujur tubuh yang ditumbuhi bulu-bulu kuning keemas-emasan itu, telah tertawa keras sekali, tubuhnya sampai tergoncang, katanya.
"Baik, serahkanlah kepadaku..... biar aku saja yang membunuhnya..... Tahu beres, kau tidak perlu bersusah payah, Thang Suko!"
Thang Suko itu mengangguk, dia masih sempat bilang.
"Kau harus hati-hati Sam laote!"
Orang bermuka seperti monyet itu, yang dipanggil dengan sebutan Sam laote telah mengangguk, dia tidak menyahuti dan tubuhnya meluncur menerjang ke arah Yo Him.
Gerakannya memang gesit sekali.
Tadi saja waktu dia mendatangi telah diperlihatkannya ginkang yang tinggi.
Karena dari tempat yang begitu jauh, dalam waktu hanya beberapa detik saja, telah berhasil tiba di dekat Thang sukonya, dan kini juga menyerang dengan gerakan yang sama lincah dan gesitnya.
Sepasang tangannya itu telah meluncur ke arah Yo Him.
Yang mengherankan Yo Him, gerakan sepasang tangan Sam laote mirip dengan gerakan sepasang tangan seekor kera yang hendak menyerang lawannya, yaitu dengan ke sepuluh jari tangan yang terbuka lebar bagaikan ingin mencakar.
Yo Him tertegun sejenak, setelah itu waktu serangan lawannya yang istimewa ini hampir tiba pada sasarannya, Yo Him baru bergerak menghindarkan diri.
Karena Sam laote ini bertangan kosong, dengan sendirinya Yo Him tidak mau mempergunakan pedangnya, senjatanya itu dimasukkan kembali ke dalam sarungnya, waktu tubuhnya miring ke kanan mengelakkan sambaran tangan lawannya.
Namun kembali Yo Him terkejut, baru saja dia meloloskan diri dari sambaran ke dua tangan lawannya, tahu-tahu Sam laote itu telah mengeluarkan pekik yang sangat nyaring memekakkan anak telinga, tubuhnya telah melambung tinggi, dan ke dua tangannya ingin mencengkeram lagi.
Yo Him melihat cara menyerang dari Sam laote itu memang mirip dengan gerakan seekor kera dan Yo Him telah merasakan sambaran angin yang kuat sekali dari ke dua tangan lawannya itu.
Angin serangan itu bukan angin serangan biasa saja, karena begitu menyentuh kulit tubuhnya mendatangkan rasa nyeri dan pedih.
Yo Him menghindar lagi.
Serangan Sam laote itu jatuh di tempat kosong.
Sebagai gantinya justru sebatang batang pohon di dekat tempat tadi, Yo Him berada telah kena dicengkeramnya, tampak asap mengepul dan batang pohon itu telah hangus.
Ternyata telapak tangan dari Sam laote itu mengandung hawa yang panas seperti api, apa yang kena dicekalnya tentu akan terbakar!
Kembali Yo Him kaget.
Sasana yang menyaksikan dari samping juga memandang tercengang.
Jika memang lweekang dari Sam laote itu telah sempurna, belum tentu dia bisa sekali cekal menghanguskan benda yang dipegangnya.
Tetapi sekarang justru begitu batang pohon itu kena dicekalnya telah menyebabkan batang pohon itu hangus dan juga berasap!
Betapa tinggikah kepandaian dan tenaga dalam dari Sam laote yang memiliki muka seperti monyet itu?!
Sedang Yo Him memandang tertegun kepada batang pohon itu, Thang Suko, orang yang bersenjata busur besi itu, telah tertawa nyaring sambil serunya.
"Sam laote, kau habisi jiwa pemuda angkuh itu, biar dia mengetahui bahwa di dalam Lang-kauw masih terdapat banyak orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi.....!"
"Ya, aku akan membunuhnya!"
Menyahuti Sam laote itu.
Kemudian dengan diiringi oleh suara pekiknya yang nyaring, tubuhnya mencelat gesit sekali.
Sepasang tangannya telah menyambar lagi menyerang Yo Him.
Kali ini Yo Him tidak main berkelit seperti tadi karena dilihatnya bahwa dia memang tidak bisa membiarkan Sam laote itu menyerang terus menerus.
Ketika melihat lawannya telah menubruk ke arahnya lagi.
Yo Him telah menggerakkan tangan kanannya, dia mendorong dengan telapak tangan yang terpentang.
Dengan demikian Yo Him ingin menyambut serangan lawannya dengan kekerasan.
Sasana yang memyaksikan hal itu terkejut bukan main, hatinya tercekat.
"Hati-hati engko Him.....!"
Berseru si gadis dengan kekuatiran yang sangat.
Yo Him tidak sempat memperhatikan peringatan Sasana, karena waktu itu serangan Sam laote telah tiba.
Dan telapak tangan kanan Yo Him menangkisnya dengan kuat.
Diapun telah mempergunakan lweekang yang tinggi.
Dan bentrokan yang terjadi itu luar biasa sekali.
Telapak tangan Sam laote itu mengandung hawa panas, demikian juga dengan Yo Him, telapak tangan pemuda itu dipenuhi oleh kekuatan Yang dari lweekangnya.
Panas bertemu panas, maka seketika itu terlihat asap mengepul naik dari ke dua telapak tangan yang saling menempel itu.
Sam laote mengeluarkan seruan kaget bercampur kesakitan, karena dia merasakan betapa telapak tangannya seperti pecah kulitya akibat terlalu panasnya telapak tangan Yo Him.
Rupanya Yo Him telah mempergunakan dan mengempos enam bagian tenaga dalamnya.
Dengan demikian telapak tangannya itu diselubungi oleh kekuatan tenaga dalamnya, yang panasnya melebihi panasnya api.
Ketika telapak tangan Sam laote itu bersentuhan dengan telapak tangan Yo Him, telah menyebabkan hawa panas di telapak tangan Sam laote itu kalah, karena telapak tangan Yo Him, jauh lebih panas.
Itulah sebabnya Sam laote itu telah melompat mundur sambil mengeluarkan suara seruan kaget bercampur kesakitan.
Yo Him juga tidak tinggal diam, begitu melihat lawannya mundur, tubuhnya telah berkelebat seperti bayangan dengan telapak tangan masih diliputi oleh hawa lweekangnya yang enam bagian itu, dia telah menyerang lagi.
Angin serangannya berkesiuran sangat kuat.
Dan gerakan yang dilakukan oleh Yo Him itu tidak memungkinkan lawannya itu menghindar dengan jalan melompat mundur atau ke samping kiri kanannya.
Sam laote dengan mengeluarkan seruan tertahan karena dirinya terdesak seperti itu, terpaksa harus menyambut serangan Yo Him dengan kekerasan juga.
Tangan kanannya disilangkan dengan tangan kiri di sebelah atas, dia telah menangkisnya.
Kali ini dia tidak mempergunakan telapak tangannya sebab begitu dia menangkis, berarti dia akan menderita kesakitan oleh hawa panas telapak tangan Yo Him.
Akan tetapi cara menangkis yang dilakukan oleh Sam laote, itupun tidak menolong banyak padanya.
Begitu telapak tangan Yo Him ditangkis oleh tangan kirinya, maka terdengar suara benturan yang keras.
Dan tubuh Sam laote telah terhuyung mundur dua langkah.
Yang membuat hati Sam laote jadi terkesiap waktu itulah dia melihat Yo Him menyusuli dengan serangan berikutnya.
Dan tenaga serangan yang kali ini dipergunakan Yo Him jauh lebih kuat dibandingkan dengan tenaga serangannya tadi.
Terpaksa Sam laote tidak memiliki jalan lain.
Dia telah mengeluarkan suara bentakan nekad, dan mendorong dengan ke dua tangannya, dia mengerahkan seluruh kekuatan tenaga lweekangnya.
Kesudahannya justru membawa kerugian buat Sam laote sendiri.
Dia mempergunakan seluruh kekuatan lweekangnya dengan tujuan untuk memaksa Yo Him mundur.
Namun siapa sangka, bukannya mundur justru Yo Him telah menggerakkan tangannya terus dengan menambah kekuatan tenaga dalamnya.
Dengan demikian terlihat bahwa kekuatan tenaga lweekang yang dipergunakan Sam laote tidak berarti apaapa, di mana tubuhnya sendiri yang terpental akibat kuatnya tenaga lweekang yang berasal dari telapak tangan Yo Him.
Bicara soal kekuatan tenaga lweekang, Yo Him masih menang beberapa tingkat dari lawannya.
Jika dari Sam laote dapat menyerang dengan kekuatan lweekangnya dan Yo Him mengelakkannya dengan tergesa itulah karena Yo Him belum mau turun tangan sungguh-sungguh.
Karena diapun merasa tidak memiliki permusuhan apapun dengan Sam laote.
Sekarang di saat lawannya mempergunakan lweekangnya sekuat tenaga, membuat Yo Him memutuskannya tidak bisa membiarkannya.
Diapun mengempos delapan bagian tenaga dalamnya.
Begitu kekuatan mereka saling bentrok di tengah udara, tidak ampun lagi tubuh Sam laote yang terpental melayang di tengah udara, sehingga tubuhnya itu bagaikan sehelai daun yang terhembus angin.
Kemudian terbanting di tanah dalam jarak beberapa tombak bergulingan di tanah......
Thang Suko yang menyaksikan keadaan kawannya kaget bukan main dan dia melompat ke dekat Yo Him, dengan mempergunakan busur besinya, dia menyerang.
Cara menyerang yang dilakukan Thang suko itu, hanya sekedar menolongi kawannya, agar Yo Him tidak meneruskan serangannya mendesak Sam laote itu.
Thang suko juga menyadari serangan yang dilancarkan olehnya itu hanya merupakan ancaman baginya.
Jika tidak dihindarkan oleh Yo Him, tentu akan disampok dengan angin pukulannya dan dia tidak akan kuat menghampiri kekuatan tenaga lweekang Yo Him.
Tadi dia telah merasakannya, betapa tenaga lweekang Yo Him berada di atas lweekangnya.
Yo Him memang hanya mendongkol menghindarkan diri dari serangan busur besi lawannya.
Kemudian dengan kaki kanannya menendang kuat sekali.
Cara menendang Yo Him berada di luar dugaan Thang Suko, karenanya dia tanpa bisa berkelit tertendang telak sekali, tubuhnya melambung ke tengah udara dengan mengeluarkan suara jeritan tertahan, dan ketika tubuhnya terbanting di tanah, dia tidak bisa segera bangkit berdiri lagi.
Yo Him hanya tersenyum sinis, katanya.
"Sekarang aku bersedia memberikan kelonggaran pada kalian. Tetapi jika di lain saat kita bertemu dan kalian tetap memiliki tangan telengas hendak mendesakku, maka di waktu itu akupun tidak akan segan-segan lagi membunuh kalian!"
Setelah berkata begitu, Yo Him memutar tubuh, dan dia mengajak Sasana untuk berlalu meninggalkan tempat tersebut.
Thang Suko dan Sam Loate tidak menahan kepergian mereka, karena ke duanya menyadari bahwa mereka bukan tandingan Yo Him.
Begitulah Yo Him dan Sasana telah melanjutkan perjalanan mereka dengan menjalankan kuda mereka tidak terlalu cepat.
Sepanjang jalan mereka bercerita mengenai kelakuan ke dua orang itu, yang merupakan anak buahnya Lang-kauw.
"Dilihat demikian, memang Lang-kauw memiliki banyak sekali anggota yang berkepandaian tinggi, dan yang kudengar jumlah mereka seribuan orang..... maka jika semuanya memiliki kepandaian seperti Thang Suko maupun Sam laote, jelas hal itu hanya akan membuat orang-orang rimba persilatan menghadapi ancaman tidak kecil, mereka dapat saja dengan mengandalkan jumlah banyak untuk melakukan keonaran.....!"
Setelah berkata begitu. Yo Him menghela napas dalam. Sasana telah memperlihatkan wajah yang muram, menunjukkan bahwa diapun tengah berpikir keras. Sampai suatu kali dia menepuk pahanya, katanya.
"Engko Him..... apakah kau melihat sesuatu yang aneh kepada diri ke dua orang anggota Lang-kauw itu?!"
"Sesuatu yang aneh? Apa itu?!"
Tanya Yo Him heran.
"Itulah tanda Serigala yang berada di atas telapak tangan mereka! Serigala itu digambar dengan mempergunakan warna merah! Tadi waktu orang yang dipanggil dengan sebutan Sam laote itu mempergunakan telapak tangannya untuk menyerangmu, aku telah melihatnya di telapak tangannya terdapat gambar lukisan kepala serigala yang menakutkan sekali, lengkap dengan taringnya.....!"
Yo Him mengerutkan alisnya.
"Jadi..... apa anehnya? Bukankah itu gambar yang memperlihatkan bahwa mereka adalah anggota dari Lang-kauw.....?!"
"Kukira bukan begitu.....!"
Menyahuti Sasana.
"Lalu, apa yang telah kau duga tentang gambar serigala itu?!"
Tanya Yo Him.
"Kukira setiap anggota Lang-kauw yang memiliki kepandaian cukup tinggi, mereka akan memiliki gambar lukisan kepala serigala di telapak tangannya. Sedangkan anggota biasa tidak memiliki gambar lukisan kepala serigala tersebut! Nah, coba kau ingatingat, bukankah ketika, belasan anak buah Lang-kauw bertempur dengan kau beberapa waktu yang lalu, sama sekali tidak ada gambar lukisan kepala serigala di telapak tangan mereka?!"
Yo Him mengangguk, dia menjalankan kudanya terus dengan pikiran yang bekerja. Sampai akhirnya dia bertanya.
"Jadi..... apakah kau ingin maksudkan, jika memang kelak kita bertemu dengan seorang anggota Lang-kauw dan melihat di telapak tangannya terdapat gambar lukisan kepala serigala, berarti orang itu memiliki kepandaian yang lumayan tingginya?!' Sasana mengangguk.
"Benar!"
Dia bilang dengan segera.
"Karena itu, jika memang kita berhadapan dengan orang-orang Lang-kauw yang telapak tangannya terdapat lukisan kepala serigala, kita harus lebih waspada!"
Yo Him tersenyum.
"Memang Lang-kauw merupakan perkumpulan yang baru saja lahir dalam rimba persilatan, akan tetapi perkumpulan itu dipimpin oleh seorang yang berambisi untuk merajai dan menjagoi rimba persilatan seperti Sun Cie Siang. Karenanya, jika memang orangorang gagah rimba persilatan tidak segera mengambil tindakan, bahaya dan kerusuhan yang akan ditimbulkan oleh orang-orang Lang-kauw tidak kecil.....! "
Hem, menurutmu, adikku, apakah yang harus kita lakukan, setidaknya untuk membendung perbuatan-perbuatan dan tindakan-tindakan mereka?
Atau memang kita perlu segera kembali untuk memberitahukan kepada ayahku dan para orang gagah lainnya perihal Lang-kauw ini?!"
Sasana menghela napas. dia mengerutkan alisnya berpikir keras. Sampai akhirnya katanya.
"Aku hanya akan menurutmu saja, engko Him. Menurutmu, tindakan apa sebaik-baiknya yang kita lakukan?!"
"Menurutku, lebih baik kita kembali saja untuk memberitahukan kepada ayahku dan orang-orang gagah lainnya.....!"
Menyahut Yo Him.
Sasana mengangguk mengiyakan, menunjukkan bahwa ia setuju saja dengan apa yang ingin dilakukan oleh Yo Him.
Dan diputuskan oleh mereka, untuk segera menemui Yo Ko dan para orang gagah lainnya, guna memberitahukan perihal Lang-kauw dengan segala tindak tanduk perkumpulan itu.
Demikanlah, ke dua muda-mudi itu telah merubah arah tujuan mereka, dan ke duanya telah memutar kudanya, mengambil ke jurusan Selatan.
Urusan sakit hati Sasana memang cukup penting, di mana Yo Him bermaksud membantu Sasana sekuat tenaganya agar Sasana berhasil membalas dendam.
Akan tetapi melihat perkembangan yang terjadi dalam rimba persilatan, dan juga tindak tanduk dari anak buah Lang-kauw, yang tampaknya merajalela, membuat Yo Him beranggapan urusan orang-orang Lang-kauw jauh lebih penting dibandingkan dengan persoalan Sasana.
Apalagi Sun Cie Siang memang salah seorang murid Lam-hay-sie-nie yang memiliki hubungan dekat dengan ayahnya.
◄Y► Tiat To Hoat-ong tengah gusar bukan main, berulang kali dikepraknya meja di hadapannya.
Sedangkan di sisi kiri dan kanan tampak berdiri Lengky Lumi dan Gochin Talu.
Ke dua orang tersebut menundukkan kepala mereka dalam-dalam, tampaknya mereka bergelisah.
"Walaupun bagaimana, kita harus berhasil dengan urusan ini!"
Berseru Tiat To Hoat-ong dengan mata berapi-api memandang bergantian pada Gochin Talu dam Lengky Lumi.
"Kalian tentu mengerti..... walaupun bagaimana memang kita harus berhasil, dengan keturunan dari Ghalik harus kita tumpas, agar kelak tidak menimbulkan kesulitan baru.....!"
Lengky Lumi mengangguk.
"Koksu perintahkan saja, kami akan segera melaksanakan perintah Koksu sebaik mungkin,"
Menyahuti Lengky Lumi dengan kepala masih tertunduk, karena dia tidak berani menentang mata Tiat To Hoat-ong yang memancarkan sinar berapi-api akibat kemarahannya itu.
"Hemmm!"
Mendengus Tiat To Hoat-ong dengan suara masih mengandung kemendongkolannya.
"Baiklah, sekarang kita harus bertindak seperti rencana kita yang semula! "
Kalian berdua tentu telah mengetahui, beberapa orang panglima perang yang mengetahui pangeran Ghalik telah menjadi buronan pemerintah, sekarang tengah kasak kusuk untuk berserikat mengadakan pemberontakan!
Hal inilah yang perlu kita selidiki sampai keakar-akarnya untuk menumpas mereka!
Jika sampai meletus pemberontakan, tentu Khan akan menduga kita yang menerbitkan semua itu, yang merupakan ekor dari peristiwa pangeran Ghalik, dan kita akan disesalkan.....!"
Lengky Lumi dan Gochin Talu telah mengiyakan. Dan malah kemudian Gochin Talu berkata.
"Koksu tentu telah mengetahui siapa-siapa yang bermaksud memberontak dan merupakan pengikut-pengikut setia pangeran Ghalik?"
"Cukup banyak nama-nama yang telah kuketahui..... namun kita belum dapat bertindak sebelum memiliki alasan yang kuat! Jika saja kita bergerak terlalu ceroboh, niscaya pemberontakan akan menjalar dengan hebat! Jika dapat kita harus mempengaruhi mereka, agar maksud-maksud memberontak itu batal dengan sendirinya. Dalam hal mempengaruhi mereka, kita juga boleh mengambil dua cara, yaitu dengan cara lunak ataupun dengan cara kekerasan!"
Setelah berkata begitu Tiat To Hoat-ong memandang bergantian kepada Lengky Lumi dan Gochin Talu. Kemudian baru melanjutkan perkataannya.
"Tentu kalian berdua mengerti apa tugas kalian masing-masing.....!"
Lengky Lumi dan Gochin Talu mengiyakan cepat sekali. Merekapun memberi hormat kepada Tiat To Hoat-ong.
"Nah, sekarang kalian boleh mengundurkan diri!"
Kata Tiat To Hoatong. "Koksu, ada sesuatu yang ingin kulaporkan.....!"
Kata Gochin Talu cepat.
"Katakanlah..... apakah kau memperoleh sesuatu yang penting dalam penyelidikanmu?"
Tanya Tiat To Hoat-ong. Gochin Talu mengangguk.
"Ya.....!"
Katanya.
"Menurut hasil penyelidikan terakhir memperlihatkan tanda-tanda bahwa Kay-pang tampaknya bermaksud mengganggu keagungan dan kewibawaan dari Khan kita yang agung.....!"
"Hemm, apakah kau telah mengetahui pasti, tokoh-tokoh Kay-pang mana saja yang terlibat dalam urusan itu?!"
Tanya Tiat To Hoatong.
"Ada dua orang tokoh Kay-pang yang menemuiku beberapa hari yang lalu dan telah menceritakan dan membongkar rencana dari Pangcu mereka, yang bermaksud ingin memberontak dan mengganggu keamanan di ibu kota. Kay-pang merupakan perkumpulan pengemis yang memiliki anggota tidak sedikit, dan karena itu, jika memang mereka memberontak, inilah yang lebih sulit dihadapi, dibandingkan dengan maksud beberapa panglima perang yang bermaksud untuk memberontak, karena kay-pang jika bergerak serentak, mereka dapat bergerak sekali gus dari lima propinsi!"
Tiat To Hoat-ong mengerutkan alisnya, tampaknya tercekat juga. "
Urusan yang menyangkut dengan maksud Kay-pang yang memberontak itu, hal ini harus segera dilaporkan kepada Khan, karena Kay-pang memang merupakan sebuah perkumpulan yang sangat besar dan kuat, disamping itu memiliki banyak sekali tokohtokoh pandai!
Jika terjadi Kay-pang memberontak, niscaya kita dari pihak kerajaan akan menghadapi persoalan yang tidak ringan.....!"
"Menurut laporan terakhir yang sampai menyatakan bahwa Kaypang akan mengadakan pertemuan besar di Hou-ciu!"
Melapor Gochin Talu lebih jauh. Tiat To Hoat-ong mengerutkan alisnya beberapa saat tanpa berkata-kata sampai akhirnya menghela napas.
"Dilihat demikian, memang tampaknya untuk menundukkan orangorang Han bukan pekerjaan yang mudah!"
Menggumam Koksu tersebut.
"Walaupun kita telah berhasil menundukkan kerajaan Song ini dan telah berhasil untuk berkuasa di daratan Tiong-goan, akan tetapi pemberontakan demi pemberontakan selalu muncul di mana-mana.....! Hemmm, dilihat demikian, kita harus mempergunakan tangan besi juga!"
Waktu berkata seperti itu muka Tiat To Hoat-ong merah padam, rupanya dia gusar sekali. Gochin Talu telah mengangguk mengiyakan.
"Kaisar tentu akan mendengarkan baik-baik petunjuk Koksu!"
Kata Gochin Talu.
"Karena Khan tentu akan berusaha membuat negeri menjadi aman dan seluruh kewibawaan dan keagungannya Kaisar yang berkuasa penuh di daratan Tiong-goan. Khan akan berusaha untuk menindas golongan-golongan yang ingin menggoyahkan kedudukannya itu..... Karena dari itu, jika saja Koksu memberikan berbagai pendapat kepada Khan, niscaya akan memperoleh tanggapan yang sangat baik sekali dari Khan.....!"
Tiat To Hoat-ong menggeleng perlahan.
"Sulit.....!' menggumam Koksu negara tersebut.
"Mengapa sulit?"
Tanya Lengky Lumi menyelak.
"Akibat adanya urusan dengan pangeran Ghalik, akupun tengah disorot oleh Khan..... Walaupun Khan memang mempercayai penuh padaku, akan tetapi Khan pun ragu-ragu akan maksud buruk pangeran Ghalik, karena Khan mengetahui benar bagaimana sifat dan tabiat dari pangeran Ghalik. Karena dari itu, Khan kurang dapat mempercayai bahwa pangeran Ghalik ingin mengadakan pemberontakan untuk merubuhkannya dari takhta kerajaan......
"Karena dari itu, selama persoalan pangeran Ghalik belum dapat kita selesaikan, sehingga Ghalik hancur luluh berikut pengikutpengikut setianya, setiap laporanku yang ditujukan untuk persoalan lainnya masih diragukan oleh Khan......!"
Setelah berkata begitu, Tiat To Hoat-ong menghela napas berulang kali, tampak wajahnya berubah muram, rupanya ada sesuatu yang menyusahkan hatinya.
Koksu ini sesungguhnya seorang yang terpenting dalam pemerintah kerajaan yang paling berkuasa di daratan Tiong-goan untuk masa itu, karena dia merupakan Koksu negara yang memiliki kekuasaan tidak kecil dan hanya satu tingkat di bawah kekuasaan Kaisar.
Dengan begitu, jika Koksu ini bisa dipusingi oleh persoalan pangeran Ghalik, inilah persoalan yang tidak ringan.
Koksu ini telah dapat melihatnya bahwa menghancurkan pangeran Ghalik bukan urusan yang mudah, karena pangeran ini memiliki banyak sekali pengikut-pengikut setia.
Jika saja waktu itu Tiat To Hoat-ong mengetahui bahwa pangeran Ghalik telah menghabisi jiwanya sendiri, tentu Koksu ini tidak akan sepusing seperti itu.
Namun berita kematian pangeran Ghalik tidak pernah didengarnya, para orang gagah merahasiakan kematian pangeran Ghalik.
Kebijaksanaan seperti itu diambil oleh para orang gagah.
Mereka tidak menghendaki adanya pergolakan di dalam negeri.
Jika saja para panglima perang muda dan jenderalnya yang menjadi pengikut setia pangeran Ghalik mendengar perihal bunuh dirinya pangeran yang seorang itu, niscaya akan membuat mereka marah dan akhirnya memberontak.
Jika terjadi pemberontakan, Kaisar tentu akan mengirim pasukannya untuk menindas dan terjadi peperangan.
Kalau sudah berkobar peperangan, yang celaka dan menjadi korban adalah rakyat juga.
Karena dari itu, perihal kematian pangeran Ghalik dirahasiakan benar.
Gochin Talu dan Lengky Lumi juga melihat wajah Koksu yang murung, mereka tidak berani bicara terlalu banyak.
Didiaminya Tiat To Hoat-ong termenung, tenggelam dalam kemasgulan hatinya.
Sampai akhirnya Tiat To Hoat-ong mengangkat kepalanya menatap kepada Gochin Talu dan Lengky Lumi bergantian tanyanya.
"Apakah kalian telah memperoleh berita yang pasti kapan akan diselenggarakannya pertemuan besar di kalangan Kay-pang?!"
Gochin Talu mengangguk.
"Ya, bertepatan dengan malaman Cap-go bulan depan!!"
Menjelaskan Gochin Talu.
"Jika demikian, kita harus pergi ke sana, guna mengacau dan menggagalkan pertemuan tersebut! Jika saja Kay-pang bisa menghimpun kekuatan, dan tokoh-tokoh Kay-pang seluruh wilayah hadir di situ, niscaya kerajaan akan menghadapi gangguangangguan yang tidak kecil!"
Berkata Tiat To Hoat-ong.
"Akan tetapi, jika persoalan ini ku laporkan kepada Khan, tentu akan menambah kesan kurang baik dari Khan kepadaku, di mana seperti juga aku selalu melaporkan hal-hal yang belum dapat teratasi olehku.....!"
Gochin Talu telah memberi hormat, sambil katanya.
"Koksu, percaya kepadaku dan saudara Lengky, kami berdua akan bertindak sebaik mungkin, di mana kami akan memimpin beberapa orang sahabat untuk menimbulkan keonaran dalam pertemuan para pengemis itu di Hou-ciu. Jika memang kami berhasil menggagalkan pertemuan mereka itu, jelas akan terjadi urusan yang menggembirakan! Kami akan berusaha mengadu domba sesama mereka.....! Karena Kay-pang terdiri dari lima cabang utama di lima propinsi, inilah yang memegang peranan besar, karena setiap propinsi memiliki seorang Tianglo.
"Jika ke lima Tianglo itu dapat kita adu domba satu dengan yang lainnya, sehingga terjadi bentrokan di antara sesama mereka, Kaypang akan terpecah belah. Waktu terpecah belah seperti itu kekuatan mereka sangat lemah, kita boleh segera bertindak untuk menumpas mereka.....! "
Perlu Koksu ketahui, kami sebelum melaporkan hal ini, dengan memberanikan diri telah mulai bekerja.
Kami telah berhasil menjalin hubungan yang baik dengan tiga orang tokoh Kay-pang yang merasa tidak puas pada Pangcu mereka, yang menurut pendapat mereka selalu memilih kasih terhadap beberapa orang Tianglo dari dua propinsi!"
Mereka bertiga telah meminta bantuan kami untuk menggagalkan pertemuan besar Kay-pang dan berusaha membunuh Pangcu Kay-pang.
Setelah itu ke tiga orang pengemis itu akan maju sebagai ganti Pangcu.
Salah seorang diantara mereka menjadi Pangcu dan dua yang lainnya sebagai wakil!
Jika memang usaha kami berhasil, tentu ke tiga pengemis bulukan itu akan mudah kita kendalikan.....!"
Mendengar laporan terakhir dari Gochin Talu, wajah Tiat To Hoatong berubah berseri-seri, cerah dan tersenyum. Diapun menepuk pahanya, sambil katanya.
"Bagus! Jika memang kalian telah berhasil merintis segalanya dengan baik, tentu aku tidak akan melupakan budi dan jasa kalian.....! "
Nah, aku mempercayai kalian herdua untuk mengurus persoalan ini, sedangkan urusan Ghalik akan kita bicarakan lagi nanti!
Jika memang kalian berhasil untuk menggagalkan pertemuan Kaypang dan memecah belahkan mereka satu dengan yang lainnya, jasa kalian akan kusampaikan kepada Khan untuk memperoleh imbalan jasa dari Kaisar kita itu....."
Girang Gochin Talu dan Lengky Lumi, karena jelas Tiat To Hoatong telah menyetujui rencana mereka untuk menghancurkan Kaypang.
Gochin Talu dan Lengky Lumi pun telah melaporkan rencana kerja mereka, di mana jago-jago istana, dan beberapa orang sahabat mereka yang akan ikut dalam operasi tersebut.
Tentu saja Tiat To Hoat-ong pun banyak memberikan petunjuk dan memberikan kekuasaan pada mereka untuk mengatur segalanya, dengan mengajak beberapa orang murid Tiat To Hoat-ong yang akan mendengar di bawah perintah mereka.
Demikianlah, mereka bertiga telah berunding sampai jauh malam.
Akhirnya Gochin Talu dan Lengky Lumi telah pamitan untuk kembali ke tempat mereka.
Waktu Lengky Lumi dan Gochin Talu meninggalkan istana Tiat To Hoat-ong, ke duanya hermaksud kembali ke istana Gochin Talu untuk merundingkan persoalan tersebut lebih jauh.
Memang selama berada di kota raja, baik Gochin Talu maupun Lengky Lumi telah dihadiahkan sebuah istana kecil (gedung besar yang sangat mewah) oleh Koksu negara tersebut.
Tiat To Hoat-ong dalam hal menghadiahkan gedung mewah tersebut, masing-masing sebuah gedung, baik kepada Gochin Talu maupun Lengky Lumi dan beberapa orang kepercayaan lainnya, karena Koksu tersebut bermaksud mengambil hati mereka, agar mereka tetap kesetiaannya.
Gochin Talu dan Lengky Lumi selama ini memang selalu memperlihatkan kesetiaannya.
Mereka bersungguh-sungguh mengabdi kepada Tiat To Hoat-ong, merupakan orang-orang kepercayaan Koksu negara tersebut.
Tiat To Hoat-ong telah melihatnya dan yakin bahwa ke dua orang ini dapat dipercaya sepenuhnya, bahkan dilihatnya, walaupun harus berkorban jiwa, Gochin Talu dan Lengky Lumi memang akan menjalankan tugas sebaik-baiknya.
Dan kesetiaan mereka itu telah diuji beberapa kali oleh Tiat To Hoat-ong, yang mempergunakan beberapa orang kapercayaannya untuk berurusan dengan Gochin Talu atau Lengky Lumi, yang setiap akhirnya selalu Lengky Lumi maupun Gochin Talu memperlihatkan kesetiaan mereka yang kuat sekali kepada Koksu tersebut.
Waktu itu Gochin Talu dan Lengky Lumi telah tiba di istana Gochin Talu, sebuah gedung yang sangat besar dan mewah sekali, yang diperlengkapi dengan taman yang luas dan penuh oleh pohonpohon bunga beraneka warna dan macam.
Dua orang pengurus istana kecil tersebut telah menyambut mereka, segera salah seorang di antara pengurus itu telah menyediakan teh dan makanan kecil buat majikan dan kawannya itu.
Setelah selesai pelayan dari pengurus itu, Gochin Talu perintahkan mereka menanti di luar.
"Siapapun tidak diperkenankan masuk mengganggu kami! Dan jika ada seseorang yang bermaksud untuk bertemu denganku, katakan bahwa besok baru dapat kuterima! kalian berdua pun tidak boleh masuk jika tidak dipanggil,"
Pesan Gochin Talu.
Ke dua pengurus mengnudurkan diri.
gedung itu mengiyakan dan mereka Gochin Talu dan Lengky Lumi segera berunding, untuk merundingkan urusan mengacaukan rapat besar Kay-pang yang tidak lama lagi akan segera diselenggarakan oleh orang-orang Kay-pang itu.
Walaupun sebuah perkumpulan pengemis, namun Kay-pang merupakan sebuah perkumpulan pengemis yang memiliki banyak sekali anggota-anggotanya, yang merupakan tokoh-tokoh rimba Persilatan yang memiliki kepandaian sangat tinggi sekali.
Karena dari itu, walaupun hanya perkumpulan pengemis, namun Gochin Talu dan Lengky Lumi tetap tidak berani meremehkannya.
Sisa kewibawaan dari Ang Cit Kong yang pernah menjadi pemimpin dan Pangcu dari Kay-pang masih di dalam kalangan kang-ouw.
Memang jika dibandingkan dengan beberapa orang tokoh lainnya, seperti Yo Ko dan Kwee Ceng maupun Oey Yok Su, Ang Cit Kong merupakan tokoh yang selalu hidup dalam kenangan anggota Kaypang, karena setiap pengemis selalu mengagungkan Pangcu mereka yang telah marhum itu, yang berhasil untuk mempersatukan seluruh Kay-pang di seluruh daratan Tiong-goan.
Jasa besar yang telah didirikan Ang Cit Kong semasa hidupnya sebagai Pangcu Kay-pang yang sangat berhasil sekali, di mana dia telah berhasil mengembangkan kekuasaan Kay-pang di seluruh daratan Tiong-goan dan juga Kay-pang pada saat di pimpin oleh Ang Cit Kong barada dalam jaman keemasannya dan kejayaannya.
Boleh dibilang di seluruh orang-orang gagah dalam rimba persilatan, semua menaruh hormat dan jeri pada Kay-pang dan hampir sama sekali tidak pernah ada orang yang berani membentur anggota Kay-pang.
Setelah jabatan Pangcu jatuh ke dalam tangan Oey Yong, kemudian diserahkan kepada Lou Yoe Kiak, kemudian kedudukan Pangcu dipegang oleh Yeh-lu Chi, entah telah berapa banyak peristiwa hebat yang melanda perkumpulan pengemis tersebut.
Waktu jabatan Pangcu berada di tangan Ang Cit Kong, seluruh rimba persilatan beranggapan Kay-pang merupakan satu-satunya perkumpulan pengemis yang bisa menjagoi dan memiliki anggota yang sangat banyak dan besar.
Dengan demikian, walaupun bagaimana liehaynya seseorang, niscaya tidak akan berani untuk bentrok dengan Kay-pang.
Setelah jatuh ke dalam tanpan Oey Yong jabatan Pangcu itu, maka Kay-pang tetap dengan jaman keemasannya.
Hanya saja setelah jabatan Pangcu itu diserahkan kepada Lou Yoe Kiak, Kay-pang mulai mengalami kemunduran dan tidak kecil.
Hal itu disebabkan kepandaian Lou Yoe Kiak walaupun cukup tinggi, tokh ia masih berada di bawah kepandaian Oey Yong maupun Ang Cit Kong.
Terlebih lagi setelah jabatan Pangcu itu jatuh ditangan Yeh-lu Chi, yang kepandaiannya sangat tinggi, Kaypang tetap tidak tertolong, merosot terus.
Jika ingin dibanding-bandingkan, walaupun kepandaian Yeh-lu Chi sangat tinggi, karena dia murid tunggalnya Ciu Pek Thong.
Namun tetap saja kepandaian Pangcu yang berusia masih sangat muda itu masih berada jauh di bawah tingkat kepandaian Oey Yong maupun Lou Yoe Kiak, belum lagi jika dibandingkan dengan kepandaian Ang Cit Kong yang sempurna itu.
Dengan demikian, perlahan-lahan Kay-pang telah meluncur ke dalam kemerosotan yang tidak kecil.
Banyak juga anggotaanggotanya yang memiliki kepandaian tinggi memisahkan diri dan hidup mengasingkan diri, sebagian lagi hidup dengan mendirikan lain perkumpnlan pula.
Dan gangguan yang ditimbulkan oleh Kan Tianglo, Pheng Tianglo, dan Nyo Tianglo yang telah diturunkan tingkat kedudukannya, yang semula sama tingginya dengan Lou Yoe Kiak, lalu terpecah dari jabatan Tianglo dan menjadi murid dengan pangkat delapan karung!
Karena tidak puas oleh keputusan Oey Yong yang memecat mereka dari jabatan Tianglo, ke tiga bekas Tianglo tersebut banyak sekali menimbulkan kerusuhan dan kesulitan buat Kay-pang.
Mereka bagaikan musuh dalam selimut yang selalu merongrong kewibawaan Kay-pang.
Ke tiga orang bekas Tianglo tersebut memang mengandung maksud dan hasrat ingin menjadi Pangcu dari perkumpulan pengemis tersebut.Untuk mengetahui lebih jelas perihal peristiwa diturunkannya pangkat Nyo Tianglo, Pheng Tianglo dan Kan Tianglo oleh Oey Yong, bacalah kisah "Asmara Rajawali", semuanya dituturkan dengan jelas.
Justru sekarang Yeh-lu Chi bermaksud untuk menghimpun suatu pertemuan besar di kalangan Kay-pang.
Karena di saat kebetulan adanya Yo Ko dan jago-jago luar biasa lainnya, seperti Ciu Pek Thong dan lainnya, Yeh-lu Chi bermaksud untuk memperbaiki keadaan Kay-pang yang telah merosot kewibawaannya itu.
Dengan demikian, jika saja perhimpunannya dan rapat besar yang akan di selenggarakan pada malaman Cap-go di bulan mendatang di Hou-ciu, maka Kay-pang dapat diatur lebih baik dan untuk mengangkat nama Kay-pang pula.
Persoalan tersebutlah yang telah dibicarakan oleh Gochin Talu dan Lengky Lumi.
Karena ke dua orang kepercayaan Koksu negara itu bermaksud untuk menghancurkan Kay-pang.
Terlebih lagi memang mereka telah membuka kontak dengan Nyo Tianglo, Pheng Tianglo dan Kan Tianglo.
Ke tiga orang tokoh Kay-pang yang tidak bermaksud baik buat partainya itu dan bekerja sama dengan Gochin Talu maupun Lengky Lumi, agar pihak kerajaan Boan mau turun tangan membantu mereka membinasakan Yeh-lu Chi dan pengikutpengikut setianya, agar salah seorang di antara mereka bertiga dapat menjadi Pangcu Kay-pang.
Janji yang mereka berikan, jika Kay-pang terjatuh ke dalam tangan mereka, maka Kay-pang akan bersetia pada kerajaan Boan dan bekerja untuk kerajaan Boan.
Hanya saja yang membuat Pheng Tianglo, Kan Tianglo don Nyo Tianglo jeri, justru di dalam rapat besar Kaypang itu akan hadir jago-jago luar biasa seperti Yo Ko, Ciu Pek Thong, Swat Tocu dan yang lainnya.
Dengan meminta bantuan pada Gochin Talu maupun Lengky Lumi mereka memiliki tulang punggung tidak lemah, sebab mereka yakin, jika memang kerajaan Boan bersedia turun tangan ikut campur dalam urusan ini, jelas pihak kerajaan bisa mengutus banyak sekali jago-jago istana yang umumnya memiliki kepandaian tinggi untuk membantu mereka.
Itulah pula sebabnya Pheng Tianglo, Kan Tianglo dan Nyo Tianglo terbangun semangatnya.
Mereka bekerja di dalam dan akan menyambut Gochin Talu maupun Lengky Lumi bersama orangorangnya, untuk mengacaukan rapat besar Kay-pang itu, sampai kelak mereka akan berhasil muncul sebagai pemimpin-pemimpin Kay-pang.
Jika terjadi hal seperti itu, jelas Kay-pang yang ada telah berobah wajah dan pendiriannya.
Jika sebelumnya Kay-pang paling membenci Boan-ciu, kerajaan Mongolia yang menjajah negeri mereka, justru jika dipegang oleh Pheng Tianglo, Kan dan Nyo Tianglo, Kay-pang malah merupakan pengikut setia buat kerajaan Boan!
Di saat Gochin Talu dan Lengky Lumi tengah berunding dengan cermat sekali membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi jika mereka telah berada di Hou-ciu dalam mengacaukan rapat besar Kay-pang.
Justru di dalam ketenangan malam terdengar suara jeritan menyayatkan hati.
Suara jeritan yang memecahkan kesunyian malam itu merobek-robek ketenangan tempat tersebut, mengejutkan Gochin Talu dan Lengky Lumi, membuat ke dua orang ini melompat dari tempat duduk mereka dengan gerakan ringan, menerobos keluar tanpa berjanji terlebih dulu.
Tidak jauh dari pintu kamar tersebut tampak menggeletak sesosok tubuh, yang diam tidak bergerak.
Rupanya telah menjadi mayat.
Sedangkan terpisah belasan tombak, menggeletak sesosok tubuh lagi, yang juga telah menjadi mayat.
Rupanya, ke dua sosok tubuh itu tidak lain dari ke dua orang pengurus gedung yang menyerupai istana kecil ini.
Muka Gochin Talu dan Lengky Lumi jadi berobah waktu mereka mengenali bahwa ke dua sosok tubuh yang telah menjadi mayat itu tidak lain dari dua orang pengurus gedung tersebut.
Bahwa Gochin Talu telah mengeluarkan suara jeritan marah dan tubuhnya melompat ke atas genting, dan dia mengawasi sekitar tempat itu.
Tidak tampak sesosok bayanganpun juga.
Hanya kekelaman malam saja yang terlihat.
Disamping itu, tampak juga rembulan mengambang di langit dengan sinarnya yang kemilau......
Lengky Lumi juga telah menyusul sahabatnya, dia melompat ke atas genting.
Waktu itu tampak berlari-lari dari belakang gedung beberapa sosok tubuh dengan gerakan yang cepat.
Ternyata mereka adalah beberapa orang pengawal gedung tersebut yang mendengar suara jerit kematian dari ke dua orang pengurus gedung, segera mereka mendatangi.
"Apakah kau melihat sesuatu, laote.....?!"
Tanya Lengky Lumi kepada Gochin Talu. Gochin Talu menggeleng. Orang itu dapat bergerak cepat sekali, si pembunuh tentu telah melarikan diri.....!"
Menggumam Gochin Talu.
"Lalu apa keperluannya dia membinasakan ke dua orang pengurus gedung? Jika memang orang itu mengandung maksud tertentu jelas dia akan mencari kita.....!"
Lengky Lumi mengemukakan pendapatnya dan dugaannya.
Gochin Talu mengangguk "Ya.....
Apakah memang pembunuh itu mencari sesuatu di gedung ini dan kebetulan kesemprok dengan ke dua pengurus ini, dan dia membunuhnya?!"
Lengky Lumi menggeleng perlahan, dia masih tidak yakin.
Waktu itu angin malam berhembus dingin sekali, kesunyian yang ada telah diisi oleh suara tertawa yang dingin sekali dari kejauhan, disusul kemudian dengan suara orang berkata mengejek.
"Hemmm, apakah kalian duga aku seorang pengecut, setelah membunuh ke dua orang kaki tanganmu, aku angkat kaki untuk menyimpan ekor.....?"
Gochin Talu dan Lengky Lumi tercekat hatinya, mereka merupakan dua orang pahlawan istana orang kepercayaan Tiat To Hoat-ong, Koksu negara itu.
Sekarang mereka tidak berhasil mencari jejak si pembunuh, bahkan rupanya si pembunuh telah bisa melihat mereka dengan jelas dari tempat persembunyiannya.
Waktu itu Gochin Talu dan Lengky Lumi yakin bahwa si pembunuh belum pergi, malah Gochin Talu dengan gusar telah berkata tawar.
"Jika memang tuan memiliki urusan denganku, keluarlah memperlihatkan diri. Mari kita bicara!"
Terdengar suara tertawa mengejek sebelum perkataan Gochin Talu selesai diucapkan. Disusul kemudian perkataan yang tawar dari orang yang tengah bersembunyi itu.
"Hemm, inilah merupakan penghargaan yang sangat tinggi sekali buatku..... Hahaha, baru kali ini aku pernah mengalami dipanggil dengan sebutan "
Tuan"
Oleh seorang pahlawan istana kerajaan yang memiliki pangkat dan kekuasaan tidak kecil! Sungguh menggembirakan dan lucu...., sungguh menggembirakan dan lucu!"
Lalu disusul dengan suara tertawa lagi tergelak-gelak.
Kemudian tampak berkelebat sesosok tuhuh bayangan melompat dari balik genting.
Gerakannya sangat ringan sekali, dan dia telah tiba di depan Gochin Talu dan Lengky Lumi.
Gochin Talu dan Lengky Lumi memperhatikan orang yang baru muncul itu.
Keadaannya agak luar biasa, pakaiannya penuh tambalan oleh kain-kain yang beraneka warna.
Usianya telah lanjut sekali, mungkin lebih dari enampuluh tahun.
Wajahnya kurus dan lancip, dengan senyum selalu mekar di wajahnya.
Dengan segera Gochin Talu dan Lengky Lumi dapat menduganya bahwa orang yang ada di hadapan mereka ini tidak lain dari seorang pengemis Kay-pang.
"Hemmmm, kami tidak menyangka sedikit pun bahwa Kay-pang ternyata demikian kurang ajar, sehingga ada salah seorang anggotanya yang berani berkeliaran di istanaku!"
Berkata Gochin Talu dengan gusar. Orang yang baru datang itu, yang memang seorang pengemis telah tertawa bergelak.
"Hemmmm, datang berkeliaran dan bersikap kurang ajar di hadapan tuan-tuan pembesar mulia ini?!"
Dia menggumam dengan suara mengejek, kemudian katanya lagi dengan suara yang tetap nyaring.
"Justru kedatanganku ke mari ingin membunuh kalian!!"
Gochin Talu dan Lengky Lumi memandang dengan sinar mata yang mengandung kemurkaan.
Akan tetapi tadi mereka telah melihat betapa gerakan pengemis tua itu sangat ringan sekali menunjukkan ginkang pengemis tersebut tidak rendah.
Dan juga melihat dari cara dia berkata, tentunya memang pengemis ini memiliki kepandaian yang tinggi dan bisa diandalkan sehingga dia berani berkeliaran dan mengancam ingin membunuh Gochin Talu dan Lengky Lumi berdua, walaupun dia hanya seorang diri.....
Karena itu, Gochin Talu dan Lengky Lumi telah menahan diri.
Gochin Talu waktu itu telah merangkapkan ke dua tangannya, dia mengambil sikap lunak sambil menindih kegusaran hatinya, katanya.
"Sebagai tuan rumah, aku mengundang kau untuk bercakap-cakap dalam rumah, silahkan..... Mari kita ke ruang tamu, mungkin kau memiliki urusan yang penting dengan kami!"
Tetapi pengemis tua itu tetap memperlihatkan sikap yang tidak sedap.
"Hemm, kalian berdua tidak perlu bermain-main kepadaku.
Karena sudah kukatakan, kedatanganku ke mari ingin membunuh kalian berdua, yang tentunya adalah Gochin Talu dan Lengky Lumi, dua orang memang tengah ku cari-cari."
Mendengar perkataan pengemis tua tersebut yang tampaknya tidak bisa diajak bicara dengan baik-baik, habislah kesabaran Gochin Talu dan Lengky Lumi. Kata Gochin Talu dengan murka.
"Baiklah! Kau tentunya seorang anggota Kay-pang.....!"
"Benar!"
Memotong pengemis tua tersebut sebelum Gochin Talu sampai menghabisi perkataannya itu.
"Memang aku pengemis melarat adalah salah seorang anggota Kay-pang!"
"Hemm, kau berada di bawah perintah Tianglo yang mana?"
Tegur Gochin Talu.
"Aku bebas dan tidak ada yang dapat perintahkan diriku selain hanya Pangcu!"
Menyahuti pengemis tua itu dengan tegas.
"Dan tak perlu kau menggertak aku dengan segala macam sebutan Tianglo!"
"Masih ada hubungan apa kau dengan Kan Tianglo, Pheng Tianglo dan Nyo Tianglo?!"
Tegur Gochin Talu lagi, yang masih mengharapkan bahwa pengemis tua ini adalah salah seorang anak buah dari salah satu di antara ke tiga Tianglo itu, sehingga Gochin Talu ingin menindihnya dengan kekuasaan ke tiga Tianglo itu.
Akan tetapi orang tersebut bukannya menjadi gentar disebutnya nama ke tiga Tianglo itu, malah pengemis tua itu mengeluarkan suara tertawa bergelak-gelak, lalu katanya.
"Aku sendiri justru seorang Tianglo. Jika memang aku memiliki bukti yang kuat, tentu ke tiga Tianglo penghianat itu akan kuringkus untuk diserahkan pada Pangcu agar dihukum yang setimpal......!"
Mendengar perkataan pengemis tua itu seperti ini, Gochin Talu dan Lengky Lumi segera menyadari bahwa kedatangan pengemis tua tersebut tentu ada sangkut paut dan hubungannya dengan penghianatan ke tiga Tianglo Kay-pang tersebut.
Gochin Talu cepat-cepat pura-pura tidak mengerti, tanyanya.
"Selama ini hubungan antara kerajaan dengan Kay-pang terjalin baik sekali, juga memang dalam keadaan seperti sekarang di mana negeri aman dan rakyat hidup dengan tenteram dan aman, tentunya Kay-pang pun tidak akan mempersulit kerajaan, yang hanya akan mengundang bentrokan! Lalu apa maksud kedatanganmu ke mari? Dan siapakah sebenarnya kau?!"
Pengemis tua itu telah memain bola matanya mencilak beberapa kali, wajahnya memperlihatkan sikap mengejek, lalu katanya.
"Kalian berdua, walaupun bagaimana harus mampus di tanganku, hemmm, dengan demikian ada baiknya juga jika aku memberitahukan siapa adanya diriku, agar kalian berdua setelah menemui kematian di tanganku tidak menjadi penasaran..... Kalian dengarlah baik-baik. Aku adalah Wie Liang Tocu, Tianglo Kaypang.....!"
Muka Gochin Talu dan Lengky Lumi jadi berobah.
Mereka berdua memang telah mendengar nama besar Wie Liang Tocu, salah seorang Tianglo Kay-pang yang memiliki kepandaian yang tinggi.
Sebelum menjadi anggota Kay-pang dan memperoleh kedudukan sebagai Tianglo, Wie Liang Tocu sebenarnya majikan sebuah pulau yang memiliki kepandaian sangat tinggi sekali.
Dialah seorang tokoh rimba persilatan yang tangguh sekali.
Hanya saja disebabkan Wie Liang Tocu memang sangat mengagumi akan kehebatan dan kegagahan Ang Cit Kong, ketika pihak Kay-pang mengundangnya untuk membantu memimpin Kaypang, dia tidak keberatan.
Hanya disebabkan dia memang telah terbiasa mempergunakan sebutan sebagai Wie Liang Tocu, yaitu pemilik pulau yang namanya Wie Liang dan juga orang-orang gagah di dalam rimba persilatan selain menyebutnya dengan sebutan Wie Liang Tocu.
Dengan sendirinya sampai sekarang walaupun telah memperoleh kedudukan sebagai salah seorang Tianglo Kay-pang, namun Wie Liang Tocu tetap memakai sebutan Wie Liang Tocu.
Banyak rekanrekannya di Kay-pang yang menganjurkannya agar Wie Liang Tocu mengganti sebutan Tocu itu menjadi Tianglo, yaitu lengkapnya sebagai Wie Liang Tianglo.
Akan tetapi Wie Liang Tocu keberatan dan tetap mempergunakan sebutan Tocu di belakang namanya.
Memang jika bicara soal kepandaian dan ilmu dari Wie Liang Tocu, hampir semua orang rimba persilatan sudah mengetahui dan menaruh rasa kagum dan hormat, karena Wie Liang Tocu merupakan seorang tokoh rimba persilatan yang memiliki kepandaian hebat dan juga ilmunya sangat aneh.
Sehingga jarang sekali ada orang yang bisa menandinginya, dan sulit sekali orang berpikir untuk dapat merubuhkannya.
Belum pernah seumurnya Wie Liang Tocu dirubuhkan oleh lawannya, karena jika dia bertemu dengan seorang lawan yang benar-benar tangguh, tentu Wie Liang Tocu akan mempergunakan ilmunya yang aneh, membuat lawannya tidak bisa merubuhkannya walaupun memiliki kepandaian yang sangat tinggi.
Dengan demikian, walaupun Wie Liang Tocu sendiri tidak bisa untuk merubuhkan lawannya, tetapi dengan ilmunya yang aneh itu dia dapat memanfaatkan kesempatan yang ada padanya untuk meloloskan diri.
Sekarang Wie Liang Tocu telah muncul di hadapan mereka, di mana Gochin Talu dan Lengky Lumi memang telah mendengar akan kehebatan tokoh Kay-pang yang seorang ini.
Merekapun jadi maklum dan mengerti, mengapa ke dua orang pengurus gedung Gochin Talu yang sesungguhnya memiliki kepandaian cukup tinggi karena memperoleh didikan Gochin Talu sendiri, dapat dibinasakan oleh si pengemis tua ini begitu mudah tanpa memberikan perlawanan dan tahu-tahu telah menggeletak menjadi mayat.
Maka Gochin Talu dan Lengky Lumi, berlaku jauh lebih hatihati.
Dengan muka yang tetap tenang tidak memperlihatkan perasaan kaget atau kuatir, Gochin Talu sengaja memperlihatkan senyum memandang rendah kepada si pengemis tua itu, katanya tertawa.
"Apakah memang kau ingin mencari-cari persoalan denganku dan sengaja ingin mengacaukan dan menimbulkan keonaran, sehingga akhirnya bentrok dengan pihak kerajaan?"
Wie Liang Tocu tersenyum mengejek. "Tidak perlu kau menjual nama kerajaan kalian! Hemmm, walaupun bagaimana penjajah tetap tidak kami hormati, dan akan kami usir ke negeri asal kalian!"
Sekarang justru aku ingin membinasakan kalian karena ada beberapa orang Kay-pang yang telah kalian celakai.
Di samping itu pula kalian berdua telah membujuk tiga orang anggota kami untuk berkhianat!
Memang mereka bermaksud berkhianat, akan tetapi tanpa uluran tangan kalian jelas maksud buruk mereka tidak akan dilaksanakan.....
Maksud jahat kalian yang ingin menghancurkan Kay-pang telah kami ketahui.....!"
Setelah berkata begitu Wie Liang Tocu berulang kali memperdengarkan suara tertawa mengejek.
Sedangkan Gochin Talu waktu mendengar perkataan Wie Liang Tocu, telah memandang dengan sepasang mata terpentang lebarlebar, katanya.
"Ohhh, jika demikian kalian dari Kay-pang tentunya telah mengetahui hubungan kami dengan ke tiga Tianglo Kay-pang yang setia pada negara dan rakyat itu.....? Mereka bermaksud untuk bekerja sama dengan pihak kerajaan karena mereka tidak mau mencelakai rakyat dan mereka ingin hidup tenteram dan damai.....!"
"Tidak perlu kalian memutar balik kenyataan yang ada. Dengan adanya kalian di negeri kami sebagai penjajah, karenanya rakyat kami telah hidup sengsara dan menderita! Peperangan di masa lalu saja telah menyebabkan sebagian besar dari rakyat kami hidup sengsara dan menderita karena tindasan kalian! "
Karena itu, sebagai penjajah kalian tidak perlu bicara akan memperjuangkan kepentingan rakyat kami.
Hmmm, tidak ada penjajah yang akan berbuat baik pada negeri yang dijajah!
Baiklah sekarang kalian bersiaplah untuk menerima kematian!"
Gochin Talu mendadak tertawa bergelak-gelak keras sekali, sampai tubuhnya tergoncang, kemudian katanya dengan sikap meremehkan Wie Liang Tocu.
"Hmmm, kau bicara dengan seenaknya karena memang lidahmu itu tidak bertulang! Hemmm, jika memang kami tidak datang ke negeri kalian untuk membebaskan rakyat kalian dari penderitaan karena raja kalian yang dungu itu, mana mungkin rakyat bisa hidup dengan tenang dan tenteram? "
Baca Juga: Rase Emas 3
Baca Juga: Pedang Kiri Pedang Kanan 3