Ceritasilat Novel Online

Beruang Salju 7

Eps 7 Beruang Salju - Sin Liong

Baca online Beruang Salju - Sin Liong

Cersil Beruang Salju - Sin Liong.

Biarpun, Sin-tiauw-tay-hiap memiliki ilmu silat yang tinggi serta sempurna namun satu kali saja dia dikuasai oleh ilmu sihir si pendeta, jelas untuk itu dia akan terpengaruh dan patuh pada setiap perintah si pendeta, tanpa dia dapat mengeluarkan kepandaiannya untuk melabrak si pendeta gemuk tersebut.....!"

"Lalu bagaimana terusnya cerita itu?"

Tanya salah seorang di antara pengemis-pengemis tersebut.

"Aku seharian telah bersembunyi di tempat yang agak jauh dengan goa itu. Aku hanya mengintai saja, dan menyaksikan betapa si pendeta telah berulang kali memerintahkan Sin-tiauw-tay-hiap bersilat, untuk membawakan beberapa jurus ilmu silat andalannya. Sedangkan pendeta itu mengawasi saja, rupanya dia tengah memperhatikan untuk mempelajari jurus-jurus ilmu silat......!"

Yo Him kaget bukan main.

Inilah berbahaya.

Jika memang apa yang diceritakan oleh si pengemis yang dipanggil dengan sebutan Kou Sie-ko itu benar, maka ayahnya tengah terancam bahaya yang tidak kecil, disamping itu ilmu silat ayahnya bisa dikorek habis oleh si pendeta.

Memang benar, untuk kepandaian silat mungkin ayahnya tidak ada tandingannya lagi, namun jika memang ayahnya itu dipengaruhi oleh semacam pengaruh ilmu sihir, inilah sulit untuk dibilang juga.

Jika memang Yo Him tidak berhasil untuk menindih perasaannya itu, tentu dia sudah lompat keluar untuk menanyakan lebih jelas perihal ayahnya pada Kou Sie-ko itu.

Namun akhirnya Yo Him bisa juga menahan diri.

Dia mendengarkan pula ceritanya Kou Sie-ko yang waktu itu telah meneruskan ceritanya pula.

"Kulihat Yo Tayhiap telah bersilat dengan tangan tunggalnya, mukanya begitu kaku, dibilang tertawa bukan tertawa, dibilang menangis bukan menangis. Dia bersilat dengan bola mata yang memandang lurus-lurus tidak pernah bergerak, maka dilihat selintasan, jelas dia seperti juga mayat hidup yang bisa bergerak. Sedangkan Pangcu dan yang lainnya hanya berdiri kaku seperti patung di pinggiran, sama sekali tidak bergerak, mereka benarbenar telah dipengaruhi oleh suatu kekuatan sihir."

Setelah Sin-tiauw-tay-hiap bersilat beberapa saat, akhirnya pendeta gemuk itu tertawa bergelak-gelak, diapun telah bilang.

"Bagus! Bagus! Sekarang aku ingin mengetahui ilmu andalanmu yang disebut Am-jian-sio-hun-kun!! Dan waktu itu, seperti juga seorang yang tidak memiliki perasaan lagi, Sin-tiauw-tay-hiap telah mengangguk, malah telah bersilat dengan jurus-jurus dari ilmu silat yang diinginkan oleh pendeta gemuk tersebut! "

Setiap gerakan tangan yang dilakukan Sin-tiauw-tay-hiap mengandung desiran angin yang kuat menderu-deru, dan memiliki kekuatan yang bisa menghancurkan batu-batu kerikil yang kena diterpa oleh terjangan angin pukulan itu.

Malah waktu itu, daundaun pohon telah berguguran dan ranting-ranting telah patah kena diterjang oleh gempuran tenaga ke dua tangan Sin-tiauw-tay-hiap, sedangkan si pendeta gemuk itu telah tertawa terbahak-bahak.

" Hebat cerita Kou Sie-ko ini, karena dia bukan hanya bercerita dengan mimik muka bersungguh-sungguh, malah Yo Him yang mendengarkan telah tergoncang hatinya. Ilmu Am-jian-sio-hun-kun merupakan ilmu gubahan ayahnya yang sangat hebat dan merupakan kepandaian andalannya Sin-tiauwtay-hiap Yo Ko. Dan Yo Him sendiri memang telah menerima pelajaran ilmu tersebut, memperolehnya langsung dari ayahnya, di mana dia telah berhasil menguasainya dengan baik. Am-jian berarti kedukaan yang sangat. Sio Hun berarti kehilangan roh, atau kehilangan semangat. Tapi jika Am-jian-sio-hun-kun dirangkap menjadi satu, empat huruf itu memiliki arti "

Perpisahan ", maka dari itu Am-jian-sio-hun-kun berarti "ilmu silat Perpisahan".

Dengan lain perkataan, ilmu itu digubah sebagai peringatan dari perpisahan yang mendukakan sangat ketika Yo Ko harus berpisah dengan Siauw Liong Lie.

Ilmu Am-jian-sio-hun-kun ini terdiri dari tujuhbelas jurus, semuanya berisikan ilmu pukulan yang luar biasa sekali, yang tersusun sebagai berikut.

Kie-jin-yu-thian (Kesedihan Yang Melampaui Batas), Bu-tiongseng-yu (Dalam Kekosongan Terdapat Isi), Toh-nie-tay-sui (Menyeret Lumpur Membawa Air), Sim-khia-jiok-tiauw (Hati Takut Daging Meloncat), Bu-beng-kie-miauw (Tak Tahu Apa Kebagusannya, berarti heran), Jiak-yu-so-sit (Seperti Juga Kehilangan Sesuatu), To-heng-gek-sie (Jalan Jungkir Balik), Keksie-sio-yang (Di balik Sepatu Menggaruk Rasa Gatal), Lat-putciong-sin (Kemauan Besar, Tenaga Kurang), Heng-sie-cauw-jiok (Mayat Berjalan) Yong-jin-cu-yu (Sigoblok Kejengkelan Sendiri), Bin-put-tui-tee (Karangan Tak Cocok Dengan Kalimat), Liok-sinput-an (Pikiran Tak Tenteram), Kiong-touw-bwee-louw (Menemui Jalan Buntu), Bin-bu-jin-sek (Di muka Tak Ada Cahaya Manusia), Hua-phia-ciong-kie (Menggambar Kuwe Menghilangkan Lapar), Siong-jip-hui-hui (Pikiran Melantur).

Itulah ke tujuhbelas jurus dari ilmu Am-jian-sio-hun-kun yang telah diciptakan oleh Yo Ko, Sin-tiauw-tay-hiap itu, waktu dia tengah merana disebabkan perpisahannya dengan Siauw Liong Lie, Kouw-kouwnya yang sangat dicintai dan akhirnya menjadi isteri.

Dalam kedukaan yang mendalam seperti itulah, akhirnya Yo Ko berhasil menggubah ilmu silat yang aneh dan luar biasa hebatnya itu.

Dengan demikian, sekarang mendengar bahwa Yo Ko tengah dipengaruhi oleh pendeta gemuk yang pandai ilmu sihir itu, dan juga ayahnya itu tengah dipengaruhi untuk dikorek ilmu silatnya tersebut, membuat Yo Him sangat berkuatir sekali.

Dengan tidak diinginkannya dia telah mengucurkan keringat dingin dan telah memasang telinga terus untuk mendengarkan lebih jauh cerita dari si pengemis tersebut.

Waktu itu Kou Sie-ko telah melanjutkan ceritanya lagi, dia bilang.

"Memang luar biasa sekali, bukan hanya Sin-tiauw-tay-hiap saja yang menurut dan patuh pada pendeta gemuk itu, bahkan tidak lama kemudian Pangcu dan juga kawannya, maupun isteri Pangccu, telah bersilat membawakan ilmu silat masing-masing untuk diperlihatkan kepada pendeta gemuk itu." "Si pendeta gemuk sambil menyaksikan mereka bersilat, telah berulang kali memuji-muji.

"Bagus, bagus! Hemm, tidak lama lagi, kalian harus menuruti perintahku membasmi orang-orang rimba persilatan..... Hahaha, jika aku berhasil mengumpulkan ilmu silat dari seluruh aliran yang ada di daratan Tiong-goan ini, tentu aku menjadi seorang jago nomor satu di kolong langit ini tanpa ada tandingannya lagi!"

Dan pendeta gemuk itu telah tertawa bergelakgelak keras sekali.

Hati Yo Him jadi tergetar, karena dia mendengar perkataan dari Kou Sie-ko itu, yang membawakan ceritanya demikian rupa mengenai perkataan pendeta gemuk itu mengandung maksud yang bisa membahayakan jago-jago Kang-ouw.

Dengan citacitanya yang ingin mempengaruhi semua jago-jago yang memiliki kepandaian hebat dengan mempergunakan ilmu sihirnya, lalu memaksa jago-jago itu, untuk mengeluarkan kepandaiannya, sehingga si pendeta gemuk itu bisa mencangkoknya.

Dengan demikian telah membuat Yo Him bisa menduga.

Badai yang akan ditimbulkan oleh pendeta gemuk itu di dalam kalangan Kang-ouw tentu hebat sekali.

Belum lagi sekarang negeri tengah dijajah oleh kerajaan Boan dan peperangan baru saja selesai, di mana rakyat masih juga bersengsara.

Jika memang terjadi badai dan gelombang hebat serta banjir darah di kalangan Kang-ouw oleh tingkah pola dari pendeta gemuk itu, niscaya akan berjatuhan korban yang sangat banyak sekali.

Waktu itu Kou Sie-ko telah meneruskan perkataannya lagi, menyambung ceritanya, dia bilang.

"Jika memang hendak dibilang, sungguh membuat hati jadi tidak mengerti. Aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri, kusaksikan benar dan tidak salah lihat, bahwa Sin-tiauw-tay-hiap, Pangcu dan juga yang lainnya, setelah selesai bersilat, membungkuk memberi hormat kepada pendeta gemuk itu, yang tetap duduk dengan sikap seorang Kaisar tengah menghadapi bawahannya.

"Acap kali dia hanya mengebutkan lengan jubahnya, barulah Sintiauw-tay-hiap dan yang lainnya menyingkir ke samping. Waktu pendeta gemuk itu menunjuk ke arah goa besar itu, maka berbarislah Sin-tiauw-tay-hiap dan juga yang lainnya, telah memasuki goa itu.

"Peristiwa itu terjadinya di daerah mana?"

Tanya kawan-kawannya Kou Sie-ko.

"Tidak jauh dari tempat ini..... jika memang kalian berjanji tidak menimbulkan onar, aku akan mengajak kalian, mengajaknya ke sana. Tetapi jika memang belum ada kesempatan yang baik, jangan sekali-kali kalian mencoba untuk menolong Pangcu, sebab bukan kita akan berhasil dengan usaha untuk menolongi Pangcu justru kita sendiri bisa-bisa ditawan pendeta gemuk itu juga. Dengan demkian, tentu akan membuat usaha kita selanjutnya siasia belaka, di mana kita tidak akan bisa memberikan laporan ke markas Kay-pang.....!"

"Hemm, walaupun bagaimana tangguhnya pendeta gemuk itu, tetap jika semua Tianglo kita turun tangan, tentu dengan mudah pendeta gemuk itu akan dirubuhkan dan Pangcu akan dapat tertolong.....!" "Atau salah seorang di antara kita pergi ke markas untuk memberikan laporan kepada para Tianglo...... agar mereka segera bisa datang ke mari, guna memberikan pertolongan kepada Pangcu kita.....!"

Usul salah seorang di antara pengemis-pengemis itu.

"Jika memang ada di antara kita yang bersedia untuk pergi ke markas guna memberikan laporan pada para Tianglo itulah memang lebih baik lagi!"

Dan setelah berkata begitu, maka segera juga Kou Sie-ko telah mengawasi kawan-kawannya itu, tanyanya lagi.

"Siapa di antara kalian yang ingin melakukan tugas tersebut?"

"Baiklah, biarlah aku akan pergi memberitahukan peristiwa ini kepada para Tianglo..... dan juga, jika memang kalian tidak bertemu dengan para Tianglo dalam lima hari, berarti terdapat kesulitan kami, namun kami usahakan dalam lima hari untuk tiba di tempat ini.....!"

Kou Sie-ko telah mengangguk, dan diapun telah berpesan.

"Jika memang dapat diusahakan, para Tianglo itu datang dengan beberapa Hu-tianglo......! Tampaknya pendeta itu bukanlah lawan yang ringan.....!"

Pengemis yang seorang telah mengiyakan.

"Tunggu dulu.....!"

Tiba-tiba Yo Him telah melompat dari tempat persembunyiannya, diapun tahu-tahu telah berada di hadapan Kou Sie-ko dan pengemis-pengemis yang lainnya.

Gerakannya itu memperlihatkan ginkangnya memang telah sempurna sekali.

Para pengemis jadi terkejut sekali, karena tahu-tahu pemuda itu telah berada di hadapan mereka.

"Siapa kau?!"

Bentak Kou Sie-ko dengan terkejut dan melompat berdiri, matanya mencilak memandang penuh curiga pada pemuda she Yo tersebut. Yo Him telah angkat tangannya memberi hormat, diapun bilang.

"Kou Locianpwe, jika memang Kou Locianpwe tidak keberatan, maukah Kou Locianpwe membawa aku untuk pergi menemui Yo tayhiap, karena aku ingin menolonginya!"

Kou Sie-ko dan kawan-kawannya telah memandang curiga, diapun telah bertanya.

"Siapa kau sebenarnya?!"

Yo Him tersenyum, dia menyahuti.

"Aku she Yo dan bernama Him, dan akulah putera dari Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko......!"

"Apa?!"

Tanya Kou Sie-ko dengan suara yang terkejut dan dia telah memandang setengah percaya dan tidak, tapi kemudian dia menyahuti juga.

"Jika demikian tentunya kau bisa memperlihatkan kepada kami, bahwa dirimu benar-benar putera Tayhiap itu....!"

Mendengar perkataan Kou Sie-ko, Yo Him telah tersenyum.

"Apakah itu ada perlunya untuk para Locianpwe? Bukankah tadi Kou Locianpwe telah menceritakan bahwa ayahku tengah berada dalam bahaya, maka dari itu aku hanya mohon pada Kou Locianpwe untuk mengajakku ke tempat pendeta gemuk itu. Nanti akan ku perlihatkan apakah aku sesungguhnya putera Yo Tayhiap atau bukan.....! Nanti kalian boleh melihat pula, setelah pertemuanku dengan ayahku itu, apakah aku berdusta atau tidak.....!"

Kou Sie-ko telah memandang dengan sorot mata mengandung kecurigaan, lalu tanyanya dengan hati-hati.

"Apakah kau bukan..... bukan orangnya si pendeta gemuk itu.....?!"

Yo Him tersenyum, dia telah memanggil.

"Sasana, ke mari kau!"

Sasana telah melompat keluar, dia kemudian menjura kepada para pengemis itu.

"Inilah muridnya Ciu Locianpwe, Ciu Pek Thong!"

Menjelaskan Yo Him.

"Dan jika memang kalian masih tidak mempercayainya, aku akan mengajak kalian bertemu dengan Ciu Locianpwe, karena memang Ciu Locianpwe bersama kami tengah melakukan perjalanan......!"

Para pengemis itu telah memandang Yo Him dengan sikap yang tidak dingin seperti tadi, dan Kou Sie-ko telah berkata.

"Baiklah, kami akan mengajak Yo kongcu untuk menemui pendeta gemuk itu, tapi dia memiliki ilmu sihir. Jika memang benar apa yang kau katakan, bersama kalian ikut serta Ciu Locianpwe maka ajak saja Ciu Locianpwe bersama kita, dengan demikian, tentu kita bisa menghindarkan bahaya yang tidak kita inginkan.....!"

Yo Him tersenyum, dia mengerti arti perkataan dari Kou Sie-ko itu, yaitu memang pengemis ini masih mencurigainya, maka dari itu secara tidak langsung pengemis ini ingin bertemu dengan Ciu Pek Thong.

Yo Yim beranggapan memang ada baiknya juga dia mengajak pengemis-pengemis tersebut bertemu dengan Ciu Pek Thong.

Bukankah dengan adanya bantuan Ciu Pek Thong, dia lebih leluasa untuk menghadapi pendeta gemuk.

Menurut cerita dari Kou Sie-ko, pengemis yang menggemblok lima lembar karung tersebut, memang pendeta gemuk itu belum tentu memiliki kepandaian ilmu silat yang tinggi, tetapi yang dikuatirkannya adalah ilmu sihirnya yang tangguh, di mana Yo Ko dan juga Yeh-lu Chi dan yang lainnya telah dipengaruhi oleh ilmu sihir itu.

Dengan demikian telah membuat Yo Him mengangguk menerima permintaan Kou Sie-ko tersebut.

Begitulah, Yo Him dan Sasana telah mengajak para pengemis itu untuk pergi menemui Ciu Pek Thong.

Setelah bertemu dengan Ciu Pek Thong, barulah para pengemis itu percaya habis, bahwa Yo Him adalah puteranya Yo Ko.

Dengan demikian, merekapun telah menceritakan sekali lagi semuanya dialami oleh Kou Sie-ko.

Ciu Pek Thong kaget bukan main mendengar Yeh-lu Chi tertawan oleh pendeta gemuk itu.

Seperti diketahui bahwa Yeh-lu Chi adalah murid kesayangannya.

Pangcu pengemis itu dalam bahaya yang cukup besar, maka Ciu Pek Thong sambil berjingkrak tidak sabar telah menarik tangan Yo Him, kemudian katanya.

"Ayo cepat ajak aku pergi ke tempatnya pendeta gemuk itu.....!" Kou Sie-ko yang jadi penunjuk jalan, dia telah mengajak Ciu Pek Thong dan yang lainnya ke sebuah permukaan hutan yang lebat, terpisah belasan lie dari tempat di mana Ciu Pek Thong dan rombongan pangeran Ghalik berada. Hutan itu besar dan lebat sekali. Selama dalam perjalanan menuju ke tempat itu tampaknya Ciu Pek Thong tidak sabar, karena selain Yo Him, yang lainnya memiliki ginkang yang tidak begitu tinggi, sehingga beberapa kali Ciu Pek Thong harus menunggui orang-orang itu, harus menanti dengan gelisah, karena dia memikirkan keselamatan muridnya itu. Akhirnya mereka tiba juga di hutan itu. Keadaan di sekitar tempat tersebut sepi sekali. Kou Sie-ko telah berkata.

"Kita harus hati-hati..... jika pendeta itu mengetahui kedatangan kita dan dia mendahului mempergunakan ilmu sihirnya, celakalah kita......!"

Ciu Pek Thong yang sudah tidak sabar segera melompat ke dalam hutan itu.

Benar saja, tidak jauh dari tempatnya berada, di antara pohon yang besar, tampak sebuah goa yang sangat besar.

Dan goa itu juga tidak kosong, tampak beberapa orang yang tengah duduk termenung.

Dan yang membuat terkejut Ciu Pek Thong segera dia mengenalinya orang-orang itu tidak lain dari Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko, Yeh-lu Chi, Kwee Hu, Yeh-lu Kie, Swat Tocu dan Ko Tie!

Yo Him tidak kurang terkejutnya, malah Yo Him telah lari menghampiri ayahnya.

"Ayah.....!"

Panggilnya.

Namun Yo Ko tidak bergerak dari tempat duduknya, dia hanya mengawasi Yo Him dengan sorot mata yang kosong, seperti juga arwahnya telah meninggalkan raganya, di mana dia seperti tidak kenal pada Yo Him, anaknya.

Di samping Yo Ko tampak duduk Yeh-lu Chi dan Kwee Hu.

Begitu juga keadaan ke dua orang ini sama seperti Yo Ko, mereka diam saja walaupun Ciu Pek Thong telah menggoyang-goyangkan tubuh Yeh-lu Chi, sambil sang guru itu telah memanggil-manggil muridnya ini.

Bukan main gusarnya Ciu Pek Thong melihat keadaan Yeh-lu Chi dan yang lainnya seperti itu.

Dia sampai berjingkrak dan berseru.

"Pendeta busuk itu entah telah mempergunakan ilmu siluman apa, sehingga membuat muridku seperti patung ini?"

Sambil berseru begitu, Ciu Pek Thong beberapa kali telah menotok beberapa jalan darah di tubuh Yeh-lu Chi, namun Yeh-lu Chi tetap dengan keadaannya itu, yang berdiam seperti patung.

Jadi sudah jelas bahwa Yeh-lu Chi bukan dalam keadaan tertotok.

Ciu Pek Thong jadi berjingkrakan bingung sekali, dia pun telah berseru-seru dengan panik, karena ilmu totokannya sama sekali tidak memberikan hasil.

Seumur hidupnya baru kali ini dia meng hadapi kejadian seperti ini.

"Mana pendeta busuk itu? Mana dia si pendeta busuk itu?!"

Berseru-seru Ciu Pek Thong berulang kali.

Dia juga telah memandang sekelilingnya untuk melihat dan mencari-cari si pendeta gemuk itu untuk mengadakan pembalasan.

Namun keadaan di sekitar hutan itu sunyi sekali, tidak ada orang lainnya, selain Yo Ko, Kwee Hu, Yeh-lu Chi, Yeh-lu Kie.

dan juga Swat Tocu dan Ko Tie, yang semuanya dalam keadaan seperti patung itu.

Pendeta yang mereka cari itu tidak terlihat batang hidungnya.

Bukan main penasarannya Ciu Pek Thong, dia pun tengah murka melihat keadaan muridnya seperti itu.

Dengan gerakan gesit sekali Ciu Pek Thong mengelilingi hutan itu, namun orang yang dicarinya itu masih juga belum dapat ditemuinya.

Di waktu itu, Yo Him juga bingung bukan main, sedangkan Kou Sieko dan pengemis-pengemis lainnya telah duduk di hadapan Yehlu Chi, mereka menguatirkan sekali keselamatan Pangcu mereka ini.

Tapi mereka tidak berdaya untuk menolong Pangcu mereka, yang keadaannya seperti patung itu.

Setelah berputaran ke sana ke mari di hutan itu, maka Ciu Pek Thong kemudian kembali lagi ke tempat dekat goa itu.

Dia menggerutu seorang diri.

"Jika memang aku berhasil menemui pendeta itu, hemm, hemm, akan kupatahkan batang lehernya menjadi bubur.....!"

Dan ocehan itu tidak hentinya diucapkan oleh Ciu Pek Thong.

Tetapi baru saja Ciu Pek Thong hendak mencoba menotok lagi Yeh-lu Chi guna menolonginya dari keadaannya yang seperti patung itu, tiba-tiba terdengar suara tertawa yang keras panjang sekali.

Suara tertawa yang mengalun seperti juga suara gelombang lautan yang datang sambung menyambung tidak hentinya, merupakan suara tertawa yang disertai tenaga lweekang yang sangat kuat sekali.

Ciu Pek Thong telah melompat gesit, dia berlari seperti terbang menuju ke arah datangnya suara tertawa itu, karena dia menduga orang yang tertawa panjang itu adalah si pendeta gemuk, yang tengah dicarinya.

Begitu cepatnya Ciu Pek Thong berlari ke arah datangnya suara tertawa tersebut sehingga dalam waktu sekejap mata saja dia telah lenyap dari pandangan mata semua orang.

Sedangkan Yo Him sendiri sebetulnya ingin ikut mengejarnya, namun dia membatalkan niatnya, karena dia segera teringat untuk menjaga ayah dan yang lainnya, yang keadaannya seperti patung itu.

Dengan Ciu Pek Thong seorang diri saja juga sudah lebih dari cukup.

Lama juga Ciu Pek Thong pergi, tetapi tidak lama kemudian dia telah kembali, dia melangkah perlahan-lahan, di depannya berjalan seorang pendeta gemuk.

Ciu Pek Thong yang biasanya berandalan dan jenaka, kali ini berjalan dengan langkah kaki satusatu bagaikan patung saja.

Yo Him dan yang lainnya ketika melihat keadaan Ciu Pek Thong jadi tertegun, apalagi di depannya berjalan pendeta gemuk itu, yang segera diduga oleh Yo Him sebagai pendeta yang tengah dicari oleh mereka, yaitu si pendeta yang tangguh ilmu sihirnya.

Sedangkan si pendeta gemuk itu telah melangkah dengan bibir tersungging senyuman.

Hanya matanya saja yang memancarkan sinar yang sangat tajam, di balik sinar matanya itu mengandung hawa pembunuhan yang buas......

"Locianpwe.....!"

Berseru Yo Him setelah tersadar dari tertegunnya.

Dia melompat ke dekat si pendeta gemuk.

Tetapi pendeta gemuk itu telah menggerakkan ke dua tangannya, mulutnya telah berkomat-kamit tidak hentinya, seperti tengah membaca mantera.

Yo Him mengeluarkan seruan panjang, karena dia merasakan matanya mendadak saja berkunang-kunang.

Diapun telah mengeluarkan seluruh tenaga lweekangnya, menghantam dengan tangan kanannya pada pendeta itu.

Si pendeta terkejut, semula dia membaca manteranya maka Yo Him akan dapat dipengaruhinya seperti juga yang lainnya.

Namun betapa terkejutnya ketika memperoleh kenyataan Yo Him tidak segera dapat dikuasainya, malah kini menghantamnya dengan pukulan yang begitu dahsyat.

Cepat-cepat si pendeta gendut telah melompat ke samping, dia membaca terus manteranya.

Yo Him merasakan kepalanya seperti juga dihantam oleh pukulanpukulan martil besi, sakitnya luar biasa, di samping matanya berkunang-kunang.

Namun mengetahui bahwa pendeta ini tangguh ilmu sihirnya, Yo Him berusaha untuk mengendalikan dirinya agar tidak sampai dikuasai oleh ilmu sihirnya si pendeta.

Dengan demikian, segera juga terlihat betapa pendeta itu berusaha merubuhkannya dengan menteranya.

Yo Him juga beberapa kali menyerangnya.

Pendeta itu jadi kelabakan.

Memang tangguh ilmu sihirnya, tapi bicara soal ilmu silat, dia hanya memiliki kepandaian yang tidak seberapa.

Maka diserang membabi buta oleh Yo Him seperti itu, dia jadi sibuk luar biasa, beberapa kali dia harus menggulingkan dirinya di tanah, karena terdesak hebat.

Sedangkan Yo Him telah mempergunakan seluruh lweekang yang ada padanya untuk menyerang si pendeta dengan gencar.

Dan pengaruh dari si pendeta memang dapat dibendung dengan mengerahkan seluruh lweekangnya.

Karena diserang membabi buta seperti itu, si pendeta jadi tidak bisa memusatkan seluruh manteranya guna menguasai Yo Him.

Sebetulnya, di dalam peristiwa ini terdapat suatu hal yang secara kebetulan sekali.

Seperti diketahui, jika ingin dibandingkan hal ilmu silat, maka biarpun Yo Him memiliki ilmu yang tinggi sekali, namun dia belumlah mencapai puncak kesempurnaan seperti Ciu Pek Thong atau Yo Ko.

Tetapi di saat ke dua orang itu berhasil dikuasai oleh pendeta gemuk itu, demikian juga halnya dengan Swat Tocu yang kepandaiannya tidak berada di bawah kepandaiannya Yo Ko pun berhasil dikuasai oleh ilmu sihir si pendeta, adalah Yo Him gagal dikuasai si pendeta.

Itu disebabkan pada diri Yo Him terdapat berbagai macam latihan lweekang, ke dua dia merupakan seorang yang polos jiwa dan pikirannya.

Di jamannya itu hanya ada dua orang yang keadaan jiwanya seperti Yo Him, yaitu yang seorang lainnya adalah Kwee Ceng.

Hanya bedanya jika Kwee Ceng agak tolol dan pikirannya sederhana, justru Yo Him memang cerdik.

Tetapi kepolosan jiwanya itulah membuat lweekang yang dimilikinya dari berbagai aliran itu jadi lurus, dan ilmu sesat seperti ilmu sihir yang dipergunakan si pendeta tidak dapat mempengaruhinya dengan sepenuhnya.

Memang ada juga pengaruh yang dirasakan oleh Yo Him atas ilmu sihir si pendeta, yaitu dia merasakan kepalanya sakit dan juga, tangannya mulai linu.

Namun Yo Him masih sanggup mempergunakan lweekangnya untuk menyerang si pendeta dan membuat pendeta itu jadi sibuk bukan main berkelit ke sana ke mari, sehingga dia tidak bisa untuk mencurahkan seluruh ilmu sihirnya guna menguasai Yo Him.

Malah semakin lama Yo Him semakin bisa menguasai dirinya dan menyerang semakin hebat.

Maka ketika suatu kali si pendeta tengah berkelit ke samping kanan, Yo Him membarengi dengan memukul mempergunakan tangan kirinya.

Si pendeta kembali cepat-cepat ingin menyingkir tetapi Yo Him rupanya hanya menggertak dengan tangan kirinya itu.

Dia telah menyusuli dengan pukulan tangan kanannya yang mengenai telak sekali dada si pendeta, sampai tubuh si pendeta terjungkir balik beberapa kali, bergulingan di tanah, dan tubuhnya yang bulat gemuk besar itu telah membentur keras sekali batang pohon.

Yo Him tidak membuang-buang kesempatan itu, dia telah melompat ke samping si pendeta dan menotoknya.

Maka segera juga si pendeta tidak berkutik, karena jalan darah Kie-cie-hiat nya telah tertutup oleh totokan Yo Him, dia tidak bisa bergerak lagi.

Malah Yo Him tidak berhenti sampai di situ saja, dia telah menotok pula Ah-hiat, jalan darah gagu dan juga jalan darah penting di tubuh si pendeta, yang terletak di pundak kiri dan kanan.

Dengan ditotok seperti itu, jangan harap si pendeta dapat membebaskan diri sebelum dua hari!!

Yo Him merasakan pengaruhnya ilmu sihir si pendeta telah lenyap, kepalanya yang semula sangat sakit telah hilang.

Dan kemudian Yo Him berjongkok, dia memijit jalan darah Lung-cie-hiat si pendeta, diapun membentak.

"Dengan ilmu apa kau pengaruhi ayahku dan yang lainnya itu.....? Cepat bebaskan mereka.....!"

Si pendeta cuma diam, matanya saja yang menatap Yo Him dengan sorot yang sangat tajam.

Dan waktu itu, Yo Him telah menggerakkan tangan kanannya, dia menghantam jalan darah tung-su-hiat si pendeta, dengan tepukan yang kuat sekali, sampai pendeta itu meringis kesakitan.

Jalan darah itu adalah jalan darah yang sangat penting di tubuh manusia, jika kena ditepuk dan jalan darah itu jadi terhambat, niscaya akan membuat orang tersebut bercacat dan juga akan membuat orang yang menjadi korban tepukan di jalan darah itu menderita kesakitan yang hebat.

Tubuh si pendeta telah menggigil, karena dia menahan rasa sakit yang luar biasa.

Akhirnya dia mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali, dia dalam keadaan tertotok dengan demikian dia tidak bisa bicara.

Yo Him yang melihat pendeta itu menganggukangguk, barulah dia membuka totokannya pada Ah-hiat si pendeta.

"Katakan, kau mau memulihkan keadaan ayahku dan yang lainnya itu atau engkau ingin mampus dengan cara yang tersiksa?!"

Bentak Yo Him dengan suara yang bengis.

Pendeta India itu menyadari, jika dia berkeras kepala tidak mau memulihkan keadaan Sin-tiauw-tay-hiap dan yang lainnya dan Yo Him naik darah, lalu menghantamnya, dia akan terbinasa.

Jika mati dengan segera, itu masih bagus.

Tetapi jika pemuda itu menyiksanya terus menerus?

"Baiklah......

aku akan memulihkan keadaan mereka!"

Kata si pendeta.

Yo Him telah membebaskan si pendeta dari totokaanya, dan dia bisa bergerak.

Namun karena si pendeta menyadari kepandaiannya tidak bisa menandinginya Yo Him, ia menurut saja.

Mulutnya berkomat-kamit perlahan sekali membaca mantera, dan dia telah memulihkan keadaan Yo Ko dan yang lainnya, yang waktu itu telah tersadar dari keadaannya, seperti juga mereka dari mimpi.

Yo Ko dan yang lainnya terheran-heran, tetapi setelah mendengar cerita Yo Him, yang menceritakan kebusukan pendeta itu, bukan main murkanya Swat Tocu.

Tanpa bisa mengendalikan diri lagi, Swat Tocu telah melompat, di mana tangannya bergerak, akan menghantam batok kepala si pendeta.

Namun tubuh si pendeta telah mencelat, melarikan diri......

" Yo Ko dan Ciu Pek Thong yang waktu itu telah tersadar dari "tenungan"

Si pendeta, sebetulnya hendak mencegah, namun mereka terlambat.

Karena tubuh mereka masih dalam keadaan lemah, akibat bekas pengaruh ilmu sihir si pendeta yang luar biasa sekali.

Sedangkan Yo Ko juga telah menceritakan, bahwa dia sesungguhnya tengah berkelana untuk mencari Yo Him, untuk diajaknya pulang ke tempat mereka, karena Yo Ko baru saja berhasil merampungkan seluruh ilmu ciptaannya, yang telah disempurnakan.

Dia bermaksud akan mewarisi seluruh kepandaiannya kepada Yo Him.

Tetapi siapa sangka dia bertemu dengan pendeta itu, dengan demikian dia telah kena di "tenung"

Oleh pendeta tersebut yang mempergunakan ilmu sihirnya, membuat dia akhirnya tidak ingat diri.

Si pendeta sebetulnya berasal dari Thian-tiok, India.

Dia bernama Hosing Polong.

Memang sejak dilahirkan pada tubuh dan pancaran mata Hosing Polong ada semacam kekuatan gaib.

Sehingga ketika dia berusia lima tahun, seorang pendeta sakti dari India telah tertarik hatinya untuk mendidik Hosing Polong dengan ilmu sihir dan ilmu silat.

Pada usia duapuluh tahun Hosing Polong telah memiliki ilmu sihir yang luar biasa hebatnya, juga ilmu silatnya cukup tinggi.

Sehingga ketika latihan mengadu kekuatan ilmu sihirnya dengan gurunya, bahkan gurunya yang mendidiknya itu bisa dipengaruhi oleh kekuatan ilmu sihirnya.

Sehingga di negara India, Hosing Polong sudah tidak ada tandingannya lagi.

Banyak tokoh-tokoh sihir dari India yang dirubuhkannya dengan mudah.

Alkisah pernah suatu ketika Hosing Polong, pergi ke istana raja India dan dapat memasuki kamar raja dengan mudah sekali.

Semua pengawal-pengawal raja dan panglima-panglima kerajaan dapat disihirnya dengan mudah.

Sehingga apabila Hosing Polong bermaksud mencelakai rajanya, dia dapat melaksanakannya dengan mudah sekali.

Namun karena Hosing Polong hanya bermaksud untuk main-main saja dan tidak mempunyai niat jahat, maka dia hanya mencuri kitab-kitab kuno kerajaan untuk dipelajarinya.

Raja India tidak menjadi marah atas perbuatan Hosing Polong, maka raja India telah mengirimkan utusan dengan membawa satu peti permata untuk membujuk Hosing Polong agar mau menjadi Koksu Negara.

Namun karena Hosing Polong ingin hidup bebas, dia menolak permintaan rajanya.

Demikanlah nama Hosing Polong sangat terkenal sekali di India, sehingga dia dijuluki sebagai "Dewa Sihir"

Oleh jago-jago sihir India, yang mengakui Hosing Polong sebagai rajanya jago-jago sihir.

Akhirnya Hosing Polong merasa bosan juga tinggal di India, karena dia sudah tidak ada tandingannya lagi di negara itu.

Pada suatu hari Hosing Polong mendengar bahwa di Tiongkok banyak sekali tokoh-tokoh saktinya, terutama yang paling menonjol yaitu nama-nama Yo Ko, Oey Yok Su, Ciu Pek Thong, It Teng Taysu dan lain-lainnya.

Maka pergilah Hosing Polong ke daratan Tiong-goan untuk mengajak bertanding tokoh-tokoh sakti tersebut.

Sekalian apabila tokoh-tokoh itu telah bisa dikuasai oleh ilmu sihirnya, maka ia akan menyuruh tokoh-tokoh sakti itu untuk mengeluarkan ilmu silat simpanannya yang ada guna dicangkoknya.

Karena walaupun Hosing Polong memiliki ilmu sihir yang luar biasa hebatnya, tetapi ilmu silatnya tidak begitu tinggi.

Demikianlah Yo Ko yang dalam keadaan tertidur, Swat Tocu yang tidak percaya ilmu sihir dan menganggap ringan lawannya, serta tokoh-tokoh Tiong-goan lainnya, dapat dipengaruhi ilmu sihirnya.

Yo Ko yang kena dikuasai oleh pengaruh ilmu sihir Hosing Polong menjadi kagum kepada pendeta India itu, karena di daratan Tionggoan tiada seorangpun tokoh sihir yang dapat mempengaruhi diri Yo Ko, walaupun dalam keadaan tertidur.

Namun Swat Tocu yang beradat berangasan ketika telah tersadar, dia melompat ingin menghajar batok Hosing Polong.

Tapi secepat kilat tokoh sihir itu telah melarikan diri.

Demikianlah Hosing Polong yang disegani dan dihormati di negaranya sebagai "Dewa Sihir"

Harus melarikan diri guna menyelamatkan nyawanpa dari tangan tokoh-tokoh sakti daratan Tiong-goan yang sangat marah atas perbuatannya yang menyihir tokoh-tokoh tersebut.

Setelah saling berkenalan satu dengan yang lainnya, di antara Sasana dengan Swat Tocu dan yang lain-lainnya, maka rombongan Yo Ko dan Swat Tocu telah diajak untuk bertemu dengan pangeran Ghalik.

Memang semula dalam pertemuan antara Yo Ko denyan pangeran Ghalik terdapat suatu ganjalan, namun setelah tukar pandangan beberapa saat di antara mereka, dan mendengar nasib buruk yang menimpa keluarga pangeran Ghalik, malah melihat hubungan yang intim antara Yo Him, puteranya itu dengan Sasana, puteri pangeran Ghalik, Yo Ko akhirnya mau juga melenyapkan ganjalan itu.

Dia hanya mengharapkan agar pangeran Ghalik mengundurkan diri dari dunia politiknya.

"Apakah gunanya nama dan pangkat, terlebih lagi Tayjin telah difitnah sedemikian rupa oleh Tiat To Hoat-ong, dan diperlakukan oleh Kaisar tidak selayaknya, bukankah terlebih baik Tayjin mengambil jalan hidup sebagai rakyat jelata saja....?!"

Kata Yo Ko. Pangeran Ghalik tidak segera menyahuti, dia menghela napas, dan termenung beberapa saat lamanya, sampai akhirnya dia menyahuti.

"Ya, apa perlunya nama dan pangkat. Bukankah jika memang aku melepaskan pangkat dan kedudukan, aku dapat melewati hari-hari tuaku dengan tenang.....!"

Dan setelah berkata demikian, pangeran Ghalik menghela napas lagi, lalu kemudian iapun berkata lagi.

"Tetapi sulit buat aku menghilangkan jejak, karena Tiat To Hoat-ong dan orangorangnya akan tetap melakukan pengejaran kepadaku. Disamping itu, Kaisar juga tentu akan menyebarkan jago-jagonya untuk mencari jejakku.....!"

"Jika memang Tayjin terbentur akan hal itu, dapat kami janjikan bantuan untuk berusaha menghadapi mereka. Inipun jika memang 'l'ayjin kelak dipersulit oleh mereka, orang-orangnya Kaisar dan Tiat To Hoat-ong.....!"

Pangeran Ghalik menyatakan terima kasihnya, dan dia telah mengatakan ingin memikirkan dulu selama beberapa hari perihal usul yang diberikan Yo Ko.

Malam itu, Yo Ko menceritakan pengalamannya kepada Yo Him dan yang lainnya, mengapa dia sampai bisa terjatuh dalam pengaruh ilmu sihirnya Si pendeta India yang bernama Hosing Polong itu.

Sesungguhnya, jika saja Yo Ko disihir dalam keadaan sadar, belum tentu dia bisa dipengaruhi ilmu sihir si pendeta.

Namun justru si pendeta telah melancarkan ilmu sihirnya itu untuk mempengaruhi Yo Ko di saat Sin-tiauw-tay-hiap ini tengah tertidur nyenyak di kamar dalam rumah penginapan tempat persinggahannya.

Dan sekali dia kena dipengaruhi, seterusnya dia dipengaruhi dengan mudah sekali oleh pendeta itu, di mana Yo Ko setelah diperalat oleh pendeta itu tanpa dia sadari dan setiap perintah dari si pendeta India itu akan di patuhinya dengan segera tanpa memiliki daya lawan sedikitpun juga......

Lweekang Yo Ko sudah sempurna, jika berhadapan berterang, pendeta itu jangan harap dapat menguasainya.

Berbeda dengan Swat Tocu yang tidak mempercayai akan ilmu sihir.

Waktu itu dia bersama-sama dengan Yeh-lu Chi, Kwee Hu, Ko Tie dan Yeh-lu Kie tiba di daratan Tiong-goan, dan tengah melakukan perjalanan untuk diajak oleh Kwee Hu ke tempat berdiamnya Kwee Ceng dan Oey Yong, justru mereka melihat Yo Ko, yang keadaannya begitu luar biasa maka mereka segera juga mengikutnya.

Namun Yo Ko dan si pendeta telah keburu melenyapkan jejaknya.

Dengan demikian, mereka mengejarnya terus setelah memperoleh keterangan dari Cu Kun Hong.

Dengan demikian, mereka telah berhasil bertemu dengan si pendeta gemuk itu, dan karena Swat Tocu tidak mempercayai akan ilmu sihir, waktu dia akan menyerang si pendeta, tahu-tahu dia lenyap kesadarannya, dan telah dikuasai oleh si pendeta.

Dengan demikian, semua ilmu dan kepandaian silatnya yang begitu sempurna jadi tidak ada artinya lagi.....

Apa lagi Yeh-lu Chi, Kwee Hu dan yang lainnya, mereka memang memiliki lweekang di bawah Swat Tocu, dengan demikian mudah sekali Hosing Polong menguasai mereka dengan ilmu sihirnya itu.

Dengan terjadinya peristiwa itu, maka semua jago-jago itu jadi kumpul di situ.

Yo Ko memberikan kesanggupannya untuk membantu pangeran Ghalik memberikan hajaran pada Tiat To Hoat-ong.

Waktu itu, Sasana jadi girang bukan main, karena dengan berkumpulnya tokoh-tokoh persilatan yang memiliki ilmu sulit dicari tandingannya di kolong langit ini, niscaya Tiat To Hoat-ong akan dapat mereka hadapi.

Sedangkan Ciu Pek Thong jadi sibuk sekali mengajak Yo Ko bercakap-cakap.

Malah Ciu Pek Thong tidak hentinya meminta adik angkatnya itu agar bercerita padanya tentang kerajaan Langit.....

Yo Ko yang mengetahui tabiat dari kakak angkatnya ini telah tersenyum dan meluluskan permintaan orang, dia segera menceritakan berbagai dongeng mengenai keadaan di kerajaan Langit.....

◄Y► Tiat To Hoat-ong berhari-hari telah menyebarkan orang-orangnya untuk melakukan penyelidikan dengan ketat.

Selama itu memang Tiat To Hoat-ong selalu diliputi penasaran dan dia bertekad, walaupun bagaimana harus dapat mencari jejak Ciu Pek Thong dan Yo Him.

Karena itu, dengan demikian Tiat To Hoat-ong mengerahkan kurang lebih seribu orang jago-jago istana untuk melakukan penyelidikan terhadap jejak Ciu Pek Thong dan Yo Him.

Usaha yang dilakukan oleh Tiat To Hoat-ong ternyata tidak sia-sia, sebab akhirnya, pada hari ke tujuh, dua orang penyelidik dari istana telah berhasi1 mengetahui tempat berdiam atau bersembunyinya Ciu PekThong dan Yo Him.

Malah pengawal istana yang telah berhasil dalam penyelidikannya itu melaporkan, disamping Ciu Pek Thong dan Yo Him masih terdapat Yo Ko, yaitu Sin-tiauw-tay-hiap itu, Yeh-lu Chi, Yeh-lu Kie, Ko Tie, Swat Tocu, pangeran Ghalik, dan juga Hek Pek Siang-sat dan beberapa orang jago-jago yang menjadi pahlawannya pangeran itu.

Tiat To Hoat-ong girang bercampur terkejut.

Dia tidak menyangka bahwa pangeran Ghalik bisa menarik Yo Ko untuk membantu pihaknya.

Namun dengan Yo Ko membantu pangeran Ghalik, dengan sendirinya hal itu lebih mempermudah Tiat To Hoat-ong melontarkan fitnahnya kepada pangeran itu.

Hasil penyelidikan itu telah dilaporkannya kepada Kaisar, dan dengan demikian Kaisar pun telah mengeluarkan perintah untuk menangkap pangeran Ghalik dan semua "kaki tangan"nya.

Sekarang Kaisar mempercayai penuh laporan yang diberikan oleh Tiat To Hoat-ong.

Sama sekali raja itu tidak menyangka bahwa itu hanya merupakan laporan palsu dan fitnah belaka yang ditujukan kepada pangeran Ghalik, yang sesungguhnya cinta negara dan rakyatnya serta pada kerajaannya, yaitu kerajaan Boan.

Bahkan berhasilnya Kaisar Kublai Khan merebut Tiong-goan meruntuhkan kerajaan Song hanyalah disebabkan kerja kerasnya pangeran Ghalik.

Sekarang mendengar laporan bahwa pangeran Ghalik memperoleh bantuan Yo Ko, yaitu orang yang memang tengah dikejar-kejar, Kaisar semakin membenci pangeran Ghalik yang disangka benar-benar hendak meruntuhkannya dan menghianatinya.

Pasukan yang diperintahkan menangkap pangeran Ghalik itu berjumlah duaribu tentara.

Di dalam pasukan itu juga ikut serta jago-jago kelas satu dari istana.

Bahkan Tiat To Hoat-ong, Koksu negara itu telah ikut pula dalam pasukan itu.

Dia yang telah memimpinnya sendiri, dibantu oleh Gochin Talu dan Lengky Lumi dan jago-jago Tiong-goan yang bekerja di bawah perintahnya.

Daerah sekitar rumah penduduk di mana pangeran Ghalik dan yang lainnya berkumpul telah dikepung ketat sekali.

Tiat To Hoat712 ong juga mempersiapkan pasukan panah yang siap dengan busur dan anak panah yang telah direntang, yang setiap detik dapat dilepaskan menyerang kepada rombongan pangeran Ghalik.

Pangeran Ghalik melihat keadaan seperti itu, tidak menjadi panik, dia hanya menghela napas dengan wajah yang muram mengandung kedukaan, dia bilang.

"Hai, hai, aku tidak menyangka sebelumnya bahwa aku akan mengalami peristiwa seperti ini, di mana Kaisar meragukan kesetiaanku...... dan Kaisar juga mempercayai begitu saja fitnah yang dilontarkan Tiat To Hoatong......!"

Yo Ko telah bilang.

"Sudahlah Tayjin, mari kita hadapi mereka untuk merobos keluar dari kepungan yang diatur oleh Koksu mereka..... Aku lihat Tiat To Hoat-ong kali ini tak main-main, dia berusaha untuk menyapu bersih kita semua, yang hendak dibasmi.....! Dan memang sebenarnya sudah lama juga kami tidak pernah bertemu, justru inilah suatu kebetulan yang menggembirakan, di mana aku akan dapat meminta pengajaran darinya."

Waktu itu Kwee Hu telah menoleh kepada Swat Tocu, dia bilang sambil tertawa.

"Saat sekarang ini merupakan saat yang baik untuk kau menguji kepandaianmu, kepandaian Tiat To Hoat-ong tidak berada di sebelah bawah dari kepandaian ayah ibuku. Jika memang kau bisa menghadapinya dengan baik Koksu itu, barulah kau memiliki arti untuk menjadi lawan ibu dan ayahku. Jika memang Tiat To Hoat-ong tidak berhasil kau rubuhkan, tentunya.....!" Baru saja Kwee Hu berkata begitu, Yeh-lu Chi telah memotongnya.

"Adik Hu, jangan bergurau.....!"

Kwee Hu monyongkan mulutnya, dia telah bilang kepada Yo Ko.

"Yo Ko, apa yang kukatakan tadi benar atau tidak? Tiat To Hoatong memiliki kepandaian yang tinggi sekali, mungkin dia tidak berada di sebelah bawah dari kepandaian ayah dan ibuku. Apakah aku salah dalam kata-kata itu.....?!"

Yo Ko tersenyum, dia menyahuti.

"Memang Koksu itu memiliki kepandaian yang tinggi, tetapi itu tidak terlalu istimewa dan tidak melebihi kami, juga tidak melebihi kepandaian ayah dan ibumu.....!"

Swat Tocu juga telah ikut berkata, dia bilang.

"Hemmmmm, engkau hendak memancing lagi agar aku mengajar si kepala gundul Monggol itu, bukan?! Baik! Baik! Aku akan memperlihatkan kepadamu, bagaimana si gundul itu kuhajar babak belur..... Dulu aku pernah menghajarnya, sampai dia terluka di dalam, cuma aku masih tidak mengetahui duduknya persoalan...... aku menghajarnya setengah hati.....!"

Kwee Hu sengaja memperdengarkan tertawanya, dia bilang.

"Justru soal yang lalu itu, tidak kusaksikan. Aku menginginkan bukti, karena dari itu aku ingin kau menghajar si gundul itu sekarang agar aku bisa melihat bahwa engkau memang benarbenar memiliki kepandaian yang berarti, sehingga engkau pantas menjadi lawan ayah dan ibuku.....!"

Mendengar perkataan Kwee Hu seperti itu rupanya Swat Tocu sudah tidak bisa menahan sabar lagi, dia telah menoleh kepada Ko Tie, dia bilang.

"Kau tunggu di sini dulu, aku ingin pergi menghajar si gundul itu, agar engkau bisa melihat bahwa gurumu bukan orang yang mudah diejek dan dianggap tidak punya guna......!"

Setelah berkata begitu, dengan gerakan yang ringan sekali, Swat Tocu telah melompat ke dekat pintu, dan dia menerobos keluar.

Di luar memang terdengar ramainya suara para tentara kerajaan yang mengepung.

Yo Ko sebetulnya hendak menahan keinginan Swat Tocu yang menerjang keluar namun dia tidak keburu mencegahnya, karena waktu itu Swat Tocu telah melompat keluar menerjang kepada pasukan kerajaan.

Sepasang tangannya telah digerakkan dengan cepat bergantian, dari telapak tangannya telah keluar tenaga Inti Es nya, sehingga tubuh para tentara kerajaan yang terkena angin pukulannya seketika menjadi beku seperti dibungkus oleh lapisan es, dan napas mereka juga segera berhenti.....!!!"

Dalam waktu yang singkat sekali, telah puluhan tentara kerajaan yang dibinasakan oleh Swat Tocu dengan cara seperti itu, di mana setiap kali tangannya bergerak, maka di waktu itulah tanpa menjerit lagi tubuh-tubuh tentara kerajaan itu terbungkus oleh lapisan es dan jiwanya melayang.

Lengky Lumi dan Gochin Talu yang menyaksikan hal itu, jadi terkejut bercampur gusar.

Ke duanya segera menjejakkan kaki.

Mereka melompat ke dekat Swat Tocu, di mana mereka berdua telah menggerakkan sepasang tangan mereka, berusaha untuk menyerang Swat Tocu, dengan maksud hendak membendung sepak terjang Tocu pulau es itu.

Karena biarpun bagaimana mereka harus dapat mencegahnya, jika terlambat, maka korbanlah yang berjatuhan di pihaknya akan bertambah dengan cepat.

Tetapi Swat Tocu yang tengah mendongkol dan penasaran, telah menggerakkan ke dua tangannya ingin menghalau Lengky Lumi dan Gochin Talu.

Ke dua telapak tangannya telah bergerak menyampok hebat sekali, dari ke dua telapak tangannya itu telah meluncur hawa yang dingin bukan main menggigilkan tubuh.

Lengky Lumi dan Gochin Talu terkejut.

Jika biasanya, kalau mereka menerimanya serangan lawan yang tangguh, berarti mereka harus mempergunakan tenaga yang sangat kuat untuk membendungnya.

Namun kali ini justru berbeda sekali, di mana tubuh mereka menggigil, menggigil keras karena hawa dingin menyelubungi diri mereka.

Sehingga ke duanya disamping kaget, juga cepat-cepat mengempos semangat dan hawa murni mereka, untuk menahan dan membendung hawa dingin yang menyelubungi mereka.

Dengan demikian, telah membuat Gochin Talu dan Lengky Lumi tidak bisa berbuat lain, hanya melompat mundur.

Jika mereka berayal dan Swat Tocu menyerang mereka lagi, niscaya akan mereka terluka di dalam oleh dinginnya hawa serangan Swat Tocu.

Tiat To Hoat-ong juga telah melihat semua itu, dia telah menyadarinya jika memang keadaan seperti itu dibiarkan begitu saja, anak buahnya akan mengalami celaka.

Sedangkan dia sendiri pernah terluka hebat di tangan Swat Tocu, dia juga telah mengakui akan ketangguhan lawan yang seorang ini.

Terlebih lagi memang Swat Tocu memiliki ilmu yang aneh, yang selalu memancarkan hawa dingin kepada lawannya, sehingga membuat lawan menggigil kedinginan, yang lebih hebat lagi adalah setiap tubuh lawannya akan dibungkus, diselubungi oleh es!

Sedangkan dulu saja, walaupun Tiat To Hoat-ong mempergunakan ilmu Sobocnya, dia masih gagal menghadapi Swat Tocu.

Namun sekarang ini dia melihat ada Gochin Talu dan Lengky Lumi yang akan membantunya menghadapi Swat Tocu.

Dengan demikian, Tiat To Hoat-ong melompat ke dekat Swat Tocu, dia juga telah berkata.

"Aku ingin meminta pelajaran darimu.....!"

Dan berkata begitu, dia juga telah menggerakkan tangannya menghantam kuat sekali mempergunakan tenaga dari ilmu Soboc nya.

Waktu itu Swat Tocu telah memperdengarkan suara tertawanya yang bergelak-gelak melihat Tiat To Hoat-ong, diapun telah berseru dengan suara yang nyaring.

"Bagus! Bagus! Dengan demikian, aku pun tidak perlu sulit-sulit mencarimu, aku memang ingin menghajarmu, kepala gundul.....!"

Dan berbareng dengan perkataan itu, Swat Tocu memukul beberapa kali.

Dia merasakan tubuhnya menggigil karena kedinginan, dan beberapa kali pula Tiat To Hoat-ong harus mengerahkan tenaga Sobocnya untuk menolak hawa dingin itu, agar tubuhnya tidak diselubungi oleh lapisan es.

Lengky Lumi maupun Gochin Talu juga tidak tinggal diam, karena mereka masing-masing telah memusatkan seluruh tenaga lweekang mereka untuk menyerang.

Lengky Lumi maupun Gochin Talu bukan merupakan jago-jago biasa, mereka memiliki kepandaian yang tinggi sekali, walaupun belum berhasil mencapai tingkat seperti Tiat To Hoat-ong.

Dengan adanya mereka bertiga yang mengepung Swat Tocu, biarpun Swat Tocu liehay sekali, tokh kenyataan Swat Tocu agak sibuk juga.

Dia telah memutar sepasang tangannya, memusatkan serangan tenaga Inti es nya dengan cepat sekali.

Bagaikan lima langkah dari sekeliling tubuhnya, dilapis oleh tenaga yang berbentuk lapisan es, dingin luar biasa, membuat lawannya itu sama sekali tidak bisa mendesak maju mendekatinya.

Biarpun Tiat To Hoat-ong mempergunakan ilmu Sobocnya berulang kali, tokh dia selalu gagal.

Dan tidak pernah Tiat To Hoat-ong berhasil mendekati Swat Tocu.

Dengan demikian segera juga terlihat bahwa Swat Tocu telah mulai mendesak lagi.

Dia bergantian melakukan penyerangan, sesekali menghantam pada Tiat To Hoat-ong, dan di kala Koksu negara itu tengah mengelakkan diri, Swat Tocu telah menyerang Gochin Talu, maka waktu lawan yang seorang ini terdesak, dia telah mengalihkan gempurannya kepada Lengky Lumi.

Dengan demikian, Swat Tocu menyerang bergantian.

Di antara menderu-derunya angin serangan yang hebat itu, karena yang tengah bertempur itu adalah jago-jago yang sangat tinggi kepandaiannya.

Para tentara yang mengepung sekitar tempat itu tidak ada yang maju, karena mereka tidak berani lancang bertindak sebelum menerima perintah dari Tiat To Hoat-ong.

Sedangkan jago-jago istana yang ikut serta, hanya bersiap-siap dengan senjata mereka.

Kepungan terhadap rumah di mana rombongan pangeran Ghalik berada telah dikepung dengan rapat sekali.

Pemilik rumah itu bersama keluarganya, telah ketakutan, bukan main dan telah tersembunyi di dalam sebuah kamar.

Yo Ko yang melihat keadaan seperti itu, di mana Swat Tocu dikepung bertiga dengan Tiat To Hoat-ong dibantu Gochin Talu dan Lengky Lumi, telah melirik kepada Yo Him.

Puteranya itu mengerti, dan dia segera mencelat keluar, disusul oleh Yo Ko.

Gerakan mereka sangat ringan sekali, belum lagi tubuh mereka menginjak tanah, ke duanya telah menyerang.

Gochin Talu dihantam punggungnya oleh telapak tangan kanan Yo Him, sedangkan Yo Ko telah mengibaskan lengan tunggalnya itu ke arah Lengky Lumi.

Ke dua jago itu jadi kaget bukan main, mereka mengeluarkan seruan kaget dan cepat-cepat menyingkir.

Namun Yo Him yang mengetahui bahwa waktu itu tidak bisa dia membuang-buang waktu.

Dalam turun tangan kali ini telah mempergunakan seluruh kepandaian yang ada padanya, di mana dia telah menyerang berulang kali.

Ke mana saja Gochin Talu jadi sibuk bukan main.

Sedangkan Yo Ko juga dalam turun tangan kali ini sama sekali tidak berlaku sungkan-sungkan lagi.

Dia telah menggerakkan tangan tunggalnya itu mempergunakan Am-jian-sio-hun-kan.

Dia menyerang Lengky Lumi pun hebat sekali, di mana lawannya ini berhasil untuk menghindarkan diri selama empat jurus.

Lalu pada jurus ke lima tubuh Lengky Lumi telah terpental keras sekali.

Tubuhnya melayang di tengah udara, dan waktu itu terbanting kuat sekali, menggelinding di tanah dengan luka parah di dalam tubuhnya, sebab begitu dia merangkak, segera dia memuntahkan darah segar.

Sedangkan jago-jago istana telah berseru kaget melihat apa yang terjadi itu, mereka telah meluruk menyerbu untuk mengeroyok Yo Ko.

Namun Yo Ko telah bergerak lincah sekali, menerjang ke sana ke mari dengan tangan tunggalnya, diselingi dengan suara deruan angin lweekang pukulannya.

Waktu itu juga terdengar beberapa kali suara jerit kesakitan dari jago-jago istana, di mana mereka telah terpelanting karena hantaman tangan tunggal Yo Ko.

Dengan demikian, segera terlihat beberapa orang jago-jago itu memuntahkan darah dengan muka yang pucat pias dan tidak bisa segera melompat bangun.

Tetapi pihak kerajaan telah mengerahkan jago-jagonya yang banyak sekali, rubuh tiga orang, maju enam orang lainnya.

Sehingga segera terlihat Yo Ko telah dikepung oleh belasan orang jago lainnya.

Sedangkan Yo Him juga telah dikepung hebat sekali oleh jago-jago istana, dan waktu itu, Swat Tocu sendiri telah dikepung puluhan orang jago istana dibantu oleh Tiat To Hoat-ong yang sekali-kali menghantam hebat sekali kepada Swat Tocu.

Menyaksikan jalan pertempuran seperti itu, pangeran Ghalik telah berkata.

"Mari kita menyerbu keluar saja, biarpun kita harus menghadapi ancaman bahaya, kita harus menghadapinya......!"

Dan berkata begitu, pangeran Ghalik telah melompat keluar, untuk membantui Swat Tocu dan kawan-kawannya yang lain, goloknya telah diputar dengan kuat sekali untuk menyerang beberapa orang jago-jago istana yang berada di dekatnya.

Ciu Pek Thong, Sasana dan juga Yeh-lu Chi berama Kwee Hu telah menerjang keluar.

Sebelum menerjang keluar, Kwee Hu sempat berpesan kepada Ko Tie dan Yeh-lu Kie, agar ke dua anak itu berdiam saja di dalam rumah.

Begitulah, pertempuran yang kalut telah terjadi, tetapi karena Yo Ko dan kawan-kawannya memiliki kepandaian yang tinggi, mereka telah bertempur menghantami lawan-lawannya itu tidak kepalang tanggung, korban-korban berjatuhan.

Dalam keadaan seperti ini, rupanya Yo Ko telah memutuskan untuk membuka jalan dengan mengambil jalan berdarah.

Yeh-lu Chi sendiri telah menggerakkan sepasang tangannya memukul ke kiri dan ke kanan kepada jago-jago istana itu dengan pukulan yang kuat.

Dia bersama lima orang Kay-pang lainnya, telah menerjang ke dekat sebelah barat, untuk menghajar kocar kacir barisan tentara kerajaan.

Ciu Pek Thong sambil melompat ke sana ke mari telah mencabuti kopiah dari para tentara kerajaan.

Setiap kali tangannya bergerak, dia telah mencopoti kopiah dari tentara itu, kemudian tangan yang satunya telah bergerak lagi menghantam dengan hebat membuat tentara itu terpelanting dengan mengeluarkan jerit kesakitan, rubuh pingsan kemudian tidak sadarkan diri.

Ciu Pek Thong mempergunakan ilmu Kong-beng-kun nya.

Dia menyerang silih berganti dengan ke dua tangannya, membuat para tentara kerajaan itu kucar kacir karenanya.

Demikianlah, para jago itu telah mengamuk dengan hebat.

Namun karena jumlah lawan memang sangat banyak, dengan sendirinya tetap saja mereka terkepung.

Malah pasukan panah dari tentara kerajaan mulai melepaskan anak-anak panah, yang seperti hujan menyerang Yo Ko dan yang lainnya.

Dengan menyambarnya anak-anak panah itu, membuat Ciu Pek Thong tertawa bergelak-gelak gembira, dia mengibaskan tangannya ke kiri dan ke kanan menyambuti anak-anak panah itu, kemudian dia melontarkan lagi ke arah para tentara kerajaan itu.

Dengan demikian, anak-anak panah itu telah menancap di tubuh para tentara tersebut.

Dan dengan begitu pula korban telah berjatuhan seorang demi seorang terkena panah itu sendiri, yang berarti senjata makan majikan.

Tetapi Tiat To Hoat-ong sendiri tetap dengan perintahnya agar kepungan diperketat.

Dan waktu itu, memang terlihat para tentara kerajaan yang mengepung semuanya merupakan jago-jago pilihan, dan juga pengawal istimewa dari istana, maka mereka melakukan pengepungan yang ketat sekali tanpa memperdulikan keselamatan dirinya.

Yo Ko juga melihat bahwa mereka tidak bisa menghadapi lawanlawannya dengan cara seperti itu terus menerus, dan dia telah berseru kepada Yo Him agar yang terpenting menyelamatkan ke dua anak kecil yang bersama mereka, yaitu Ko Tie dan Yeh-lu Kie.

Yo Him juga mengerti maksud ayahnya.

Dia telah mengiyakan, dan telah melompat kembali ke dalam rumah.

Sambil menggendong Ko Tie di tangan kanan dan mengempit Yehlu Kie di tangan kiri, Yo Him melompat keluar lagi untuk menerjang kepungan.

Yo Ko dan yang lainnya telah mengelilinginya untuk melindunginya sambil membuka jalan.

Di waktu itu, terlihat Yo Him telah berhasil berlari-lari satu lie lebih, dengan dikepung terus menerus oleh pasukan tentara kerajaan.

Malah hujan anak panah juga telah berhamburan menyambar ke arahnya.

Untung Yo Him memang memiliki kepandaian yang telah tinggi, dengan gerakan yang lincah dan gesit, dia berhasil menghindarkan diri dari sambaran anak-anak panah itu, juga dia bisa melindungi ke dua anak kecil dikempitnya itu dengan baik.

Yo Ko dan Kwee Hu berada di sebelah kanan dibantu oleh Ciu Pek Thong, sedangkan pangeran Ghalik bersama-sama dengan para pahlawannya dan Hek Pek Siang-sat telah berusaha untuk membuka jalan di sebelah samping lainnya.

Dan Ciu Pek Thong bersama-sama dengan Yeh-lu Chi dan para pengemis lainnya juga berusaha untuk membendung terjangan musuh.

Merekalah yang telah berusaha membendung terjangan lawan.

Jika ada juga tentara kerajaan yang berhasil menerobos hadangan mereka, maka Yo Ko dan yang lainnya akan menghajarnya.

Bukan main gusarnya Tiat To Hoat-ong.

Koksu ini telah membentak bengis.

"Kejar. terus, jangan biarkan mereka lolos.....!"

Bahkan kepada dua orang pengawal yang berada dekat dengannya, dia telah perintahkan untuk memanggil bala bantuan.

Lalu Tiat To Hoat-ong berusaha menerjang kepada Ciu Pek Thong, pertempuran itu berlangsung beberapa jurus, sampai Swat Tocu telah melompat menghantamkan telapak tangan kanannya pada punggung Tiat To Hoat-ong.

Koksu segera menyadarinya, jika sampai tepukan telapak tangan itu mengenai pundaknya, dia bakal celaka, karena lawannya yang seorang ini memiliki ilmu Inti Es yang dingin luar biasa.

Jangankan sampai telapak tangannya itu mengenai lawan, sedangkan angin dari serangannya saja bisa dibungkus lawannya dengan selapis es.....

Cepat-cepat Tiat To Hoat-ong telah menyingkir ke samping kanan.

Swat Tocu tidak berhenti di situ saja, cepat luar biasa dia telah menyerang lagi, kali ini ke dua tangannya yang bergerak dengan beruntun.

Pertempuran seperti itu benar-benar membuat Tiat To Hoat-ong jadi sangat mendongkol.

Dia juga jadi sibuk sekali.

Lawannya terdiri dari orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi, sulit buat menangkap mereka.

Dilihatnya diantara orang-orang yang menjadi lawannya, hanya pangeran Ghalik dan beberapa orang pengemis rombongan Kou Sie-ko itu yang paling lemah kepandaian ilmu silatnya.

Tiat To Hoat-ong setelah menyingkirkan diri dari Swat Tocu, memberikan perintahnya agar pasukannya lebih memperketat kepungannya kepada pangeran Ghalik dan beberapa orang pengemis itu.

Memang waktu itu dua orang pengemis bawahan Kou Sie-ko telah terluka oleh anak panah pada pundak lengannya, mereka bergerak tidak leluasa.

Demikian juga pangeran Ghalik, dia memang mempunyai kepandaian yang cukup tinggi, namun disebabkan setiap hari hidup dalam kemewahan dan juga latihannya kurang sekali, membuat dia agak lemah.

Dengan diperketat kepungan terhadap dirinya, pangeran Ghalik jadi sibuk sekali.

Dia berhasil merubuhkan dua orang lawannya dengan bacokan goloknya, namun dia juga telah terluka di beberapa bagian anggota tubuhnya.

Keadaan pangeran Ghalik semakin lemas, darah mengucur banyak sekali.

Sasana yang melihat keadaan ayahnya seperti itu telah memutar pedangnya dengan cepat sekali sehingga pedang itu seperti titiran, dan waktu itu, telah terlihat betapa pedang itu berhasil merubuhkan tiga orang lawannya.

Kemudian mempergunakan waktu kepungannya itu lowong, Sasana melompat ke dekat ayahnya, dia memutar pedangnya menghalau beberapa serangan lawan kepada pangeran Ghalik.

Cepat luar biasa segera terlihat betapa serangan itu berulang kali merubuhkan lawannya.

Dan memang terlihat jelas sekali, betapapun juga orang-orang yang mengepung pangeran Ghalik itu berlaku nekad, membuat Sasana harus memusatkan seluruh kekuatan dan kepandaian yang dimilikinya.

Pangeran Ghalik dalam keadaan terluka harus memutar goloknya dengan mempergunakan seluruh kekuatan yang ada padanya.

Maka jelas ke duanya tengah berada dalam ancaman bahaya, sebab dua kali Sasana terluka oleh tikaman pedang lawan-lawannya, dan pangeran Ghalik sendiri telah memperoleh tambahan luka juga Melihat itu Yo Him mengeluarkan suara bentakan gusar, dia hendak memutar tubuhnya untuk membantui.

Namun Yo Ko yang berada disampingnya telah berseru.

"Kau selamatkan ke dua anak itu, biar aku yang menolong mereka.....!"

Yo Him baru tersadar bahwa di ke dua tangannya terkempit dua orang anak kecil yang harus diselamatkan, yaitu Ko Tie dan Yehlu Kie.

Dengan demikian, membuat dia jadi tersadar tugasnya, dan melanjutkan pula larinya.

Sedangkan Yo Ko telah menjejakkan ke dua kakinya, tubuhnya telah ringan sekali melompat ke dekat pangeran Ghalik dan Sasana.

Dalam waktu-waktu seperti itulah, tangan tunggal Yo Ko telah bergerak, bahkan lengan bajunya yang kosong itu telah dipergunakan juga untuk melibat senjata lawan lalu menghentak merampasnya kemudian melontarkan lawannya dengan satu kali sampoknya.

Dengan demikian kepungan terhadap pangeran Ghalik dan Sasana dapat dihancurkam oleh Yo Ko, karena dalam beberapa kali gebrakan saja telah belasan orang yang berhasil digulingkan dan dirubuhkannya.

Waktu itu, tampak Sasana yang dalam keadaan marah karena telah terluka seperti itu, menggerakan pedangnya menikam beberapa kali sehingga beruntun lawannya itu tertikam binasa.

Waktu kepungan itu melonggar, karena beberapa orang pengepung telah melompat mundur menjauhi diri, bersama-sama dengan Yo Ko dan pangeran Ghalik, Sasana telah menyusul Yo Him.

Ciu Pek Thong juga tengah gembira bukan main mempermainkan para tentara kerajaan itu, dia berulang kali telah menyerangnya, menghantam memukul atau juga timbul jailannya, setelah mencopoti topi dari salah seorang tentara kerajaan, diapun mempergunakan kesempatan itu menarik rambut tentara kerajaan, yang rambutnya di tou-cang (dikepang).

Kemudian dia menggerahkan tenaganya, memutar-mutar tawanannya itu yang dibolang-balingkan menghantam belasan orang tentara kerajaan.

Dengan demikian Ciu Pek Thong berhasil membuka jalan.

Sedangkan Yo Ko melihat keadaan seperti itu, mengikuti caranya Ciu Pek Thong.

Tangan tunggalnya telah menjambak punggung salah seorang tentara kerajaan, kemudian sambil melindungi Yo Him yang mengempit Ko Tie dan Yeh-lu Kie, dia telah membolang balingkan tawanannya itu.

Maka diapun berhasil membuka jalan dengan cepat.

Para pengemis Kay-pang yang telah menerjang dengan hebat, untuk ikut meloloskan diri dengan rombongan Yo Ko.

Swat Tocu yang tengah gusar, berhasil membinasakan lima atau enam orang lawannya dengan mempergunakan pukulan Inti Es nya, lalu diapun menyusul rombongan Yo Him.

Hek Pek Siang-sat dan juga enam orang pahlawannya pangeran Ghalik telah menggerakkan senjata mereka dengan hebat.

Entah berapa puluh tentara kerajaan yang rubuh di tangan mereka, sesampai diakhirnya tentulah merekapun bisa bergabung dengan rombongan Yo Him, yang telah menyingkir jauh.

Tiat To Hoat-ong yang semula ingin mengejar terus dengan pasukan tentaranya, akhirnya berpikir dua kali menyaksikan korban-korban yang berjatuhan seperti itu.

Jika dia mengejar terus, jelas korban-korban yang berjatuhan lebih banyak lagi, sedangkan waktu itu Lengky Lumi dan Gochin Talu memang tengah dalam keadaan terluka dan perlu ditolong keselamatannya.

Maka Koksu negara ini akhirnya memanggil para tentara kerajaan, menariknya pulang dengan tangan yang nihil.

Yo Ko telah mengajak rombongannya menyingkir jauh sekali, sampai puluhan lie.

Barulah mereka mengasoh untuk mengurangi perasaan lelah.

Juga dalam kesempatan itu, Yo Him telah mengobati luka Sasana dan pada pengemis-pengemis Kay-pang itu.

Diapun telah memberikan obat bubuk untuk luka kepada Sasana, agar gadis itu mengobati luka ayahnya, pangeran Ghalik.

Setelah beristirahat beberapa saat lamanya mereka telah melanjutkan perjalanan lagi.

Yang terpenting buat mereka adalah menjauhi diri dari kotaraja.

Begitulah rombongan pangeran Ghalik tersebut mengambil arah ke barat, mereka bermaksud turut pergi ke Ban-san-kwan.

Di kota itu pangeran Ghalik ingin menemui seseorang, yaitu seorang panglima perang yang sebelumnya menjadi bawahan dan sahabatnya.

Dia ingin mencari jalan keluar dari kesulitannya ini dengan berunding bersama sahabat merangkap juga sebagai bawahannya itu......

Tetapi ketika mereka tiba di kota Bun-san-kwan, dan Yo Ko bersama Yo Him telah menyelidikinya, ternyata panglima yang menjadi sahabat dan merangkap bawahan pangeran Ghalik itu, yaitu panglima Thio Su Kwang, telah ditangkap oleh kerajaan, semua itu atas perintah Kaisar.....

Dengan demikian pangeran Ghalik menyadari, bahwa semua orang-orang bekas bawahannya pun telah mengalami bencana karena fitnah Tiat To Hoat-ong kepadanya, di mana persoalan telah jadi meluas seperti itu, dan dia harus mengambil tindakan yang tepat guna mengatasinya.

"Jika demikian, aku harus mengambil tindakan!"

Kata pangeran Ghalik dengan wajah berduka kepada Yo Ko dan yang lainnya, ketika malam itu mereka berkumpul di sebuah kuil tua yang telah rusak dan tidak berpenghuni.

"Dan walaupun aku sangat mencintai rakyat, mencintai negara dan merupakan pangeran yang setia kepada Kaisarnya di mana semula aku tidak memiliki maksud-maksud yang kotor untuk menodai kepercayaan Kaisar kepadaku. Namun sekarang menyaksikan semua itu, aku harus bertindak dengan mengadakan suatu gerakan..... Bukan tujuan utamaku untuk menggulingkan Kaisar, tetapi..... tetapi aku memang ingin membuktikan, bahwa Kaisar keliru dengan tindakannya ini! Terutama sekali pada Tiat To Hoat-ong, Kok-su yang biadab dan busuk itu. Dia perlu memperoleh pengajaran yang setimpal dengan perbuatannya.....!"

Yo Ko tersenyum mendengar pangeran Ghalik hendak mengadakan pergerakan.

Sebagai seorang pangeran yang sebelumnya memegang kekuasaan terbesar dalam angkatan perang Mongolia.

Jika dia bergerak dan mengadakan suatu pergerakan, jelas masih banyak pengikut-pengikut setianya yang akan membantu dan mendukungnya.

"Jika memang Tay-jin ingin mengadakan suatu pergerakan, itulah hal yang harus dipikirkan dua kali......!"

Kata Yo Ko.

"Pertama-tama yang perlu dipikirkan adalah keselamatan rakyat jika sampai terjadi peperangan pula, bukankah rakyat yang akan terjadi korban dan bersengsara?!"

Yo Ko mengemukakan pikiran seperti itu, karena dia berpikir cepat sekali di waktu itu.

Jika memang pergerakan pangeran Ghalik berhasil, sehingga dia bisa meruntuhkan Kaisar Kublai Khan, dan dia naik takhta, bukankah sama saja keadaannya seperti sekarang, di mana Tionggoan tetap dijajah oleh orang Monggolia, oleh kerajaan Boan?

Bukankah pangeran Ghalik pun belum tentu lebih baik dari Kaisar Mongolia!

Malah ancaman yang lebih hebat lagi mungkin terjadi, karena pangeran Ghalik ini memiliki otak yang jauh lebih cerdik dari Kaisar, di mana dialah merupakan tulang punggung utama waktu merubuhkan kerajaan Song, mengadakan siasat-siasat keji mengadu domba antara para jago-jago Tiong-goan.

Karena dari itu, walaupun terkejut mendengar maksud pangeran Ghalik yang ingin mengadakan pergerakan dan menghimpun sisa-sisa pengikutnya yang setia, Yo Ko tidak memperlihatkan perasaan terkejutnya itu, dia hanya berusaha mencegah maksud dari pangeran ini dengan cara yang halus.

Tetapi pangeran Ghalik waktu itu telah menghela napas dalamdalam.

"Yo Tayhiap. memang telah lama sekali aku mendengar akan kehebatanmu, dan beberapa waktu yang lalu kitapun telah terlibat dalam permusuhan akibat peperangan itu, tetapi kukira sekarang ini tentunya engkaupun mau menghabisi semua itu dan bersedia untuk membantuku bukan?!"

Yo Ko berdiri, dia mengangkat tangan tunggalnya, dia telah memberi hormat, sambil katanya.

"Ya, untuk kebaikan dan perikemanusiaan aku bersedia membantu, tetapi jika memang Tayjin bermaksud mengadakan pergerakan yang bisa mengancam keselamatan rakyat dan mengganggu kesejahteraannya, maafkanlah, aku si orang she Yo tidak bisa menerimanya......!"

Pangeran Ghalik menghela napas. Dia menunduk dalam-dalam, lalu dia mengangkat kepalanya menoleh kepada Hek Pek Siangsat, katanya.

"Kalian merupakan orang-orangku yang setia, kalian telah mati-matian berusaha melindungi aku..... dan kalian berenam......!"

Pangeran Ghalik mengawasi keenam orang pahlawannya yang setia.

"Kalian juga merupakan pengikutku yang setia dan tenaga serta perjuangan kalian untuk melindungi aku benar-benar merupakan budi yang besar. Tetapi mendengar perkataan Yo Tayhiap, akupun telah memikirkan kemungkinan-kemungkinan mengadakan pergerakan itu sangat tipis. Jika aku memaksakan diri, jelas hanya akan mendatangkan gelombang belaka. Maka biarlah dalam beberapa hari ini kita beristirahat dulu, mempertimbangkan hal itu masak-masak.....!"

Dan aku akan Yo Ko tidak memberikan komentar apa-apa atas sikap pangeran itu, hanya saja di hati kecilnya dia kurang begitu menyukai pangeran ini.

Jika tokh memang sekarang dia telah membantu secara tidak langsuag pada pangeran Ghalik, itulah disebabkan dia memandang puteranya, Yo Him, yang tampaknya memiliki hubungan yang intim dan mesra dengan puteri pangeran Ghalik, yaitu Sasana....."

Rombongan pangeran Ghalik telah mengasoh beberapa hari di kuil rusak itu.

Sedangkan Swat Tocu terus menerus mendesak Kwee Hu agar mereka melanjutkan perjalanan memisahkan diri dari pangeran Ghalik, untuk mencari Kwee Ceng dan Oey Yong, untuk mengukur ilmu siapa yang lebih tinggi.

Namun sekarang ini, Kwee Hu tidak berani berlaku kurang ajar, dia telah berkata dengan sungguh-sungguh, bahwa kepandaian Swat Tocu sangat sempurna sekali.

Diakui oleh dia, bahwa dulu dia hanya memancing Swat Tocu agar Tocu itu bergusar dan mengajak dia bersama suami dan puteri meninggalkan pulau salju itu, sebab jika memang mereka meninggalkan pulau salju tanpa Swat Tocu ikut serta dengan mereka, Kwee Hu mengakui dia bersama suami dan puterinya akan mengalami ancaman bencana yang tidak kecil di lautan, tentunya mereka memang tidak memiliki kapal yang baik, untuk dipergunakan dalam mengarungi lautan itu, hanya sebuah perahu kecil belaka.....

Swat Tocu mendongkol bukan main mendengar pengakuan Kwee Hu, tapi dia tetap bersikeras hendak bertemu dengan Kwee Ceng dan Oey Yong untuk mengadu ilmu.

Ciu Pek Thong yang mendengar hal itu, telah tertawa.

Memang sejak masih muda Ciu Pek Thong gemar dan keranjingan mempelajari ilmu silat, dengan sendirinya sekarang mendengar Swat Tocu, seorang tokoh persilatan yang kepandaiannya mungkin tidak berada di sebelah bawah kepandaian Oey Yok Su dan Yo Ko, dia jadi terbangun semangatnya.

Dia telah menantangnya untuk Swat Tocu main-main seribu jurus dengannya.

Swat Tocu tentu saja tidak menampik tantangan itu dan merekapun telah bertempur untuk mengadu ilmu.

Tampak ke duanya telah mengerahkan tenaga dan kepandaian mereka.

Jika Swat Tocu mempergunakan ilmu Inti Es nya, maka Ciu Pek Thong telah mempergunakan ilmu Kong-beng-kun dan lain-lainnya.

Ternyata mereka berimbang.

Tidak ada seorangpun di antara mereka yang kalah atau menang, tidak ada juga di antara mereka yang terdesak.

Akhirnya, setelah bertanding seratus jurus, Ciu Pek Thong melompat mundur, dia telah berseru.

"Sudah! Kita beristirahat dulu! Nanti kita Lanjutkan lagi!"

Jago yang menjadi Tocu dari pulau salju itu, ternyata merupakan jago yang gemar juga akan ilmu silat yang aneh-aneh, dan sekarang ini melihat Ciu Pek Thong memang benar-benar memiliki kepandaian yang luar biasa, dia telah tertarik bukan main.

Maka dia telah menyanggupinya untuk sebentar lagi, setelah beristirahat, segera melanjutkan pertandingan mereka.

Begitulah telah beberapa kali mereka bertanding dan beristirahat, namun sejauh itu masih juga belum dapat ditentukan siapa yang lebih rendah atau siapa yang lebih tinggi kepandaiannya.

Dengan demikian mereka semakin bersemangat saja, untuk bertanding terus.

Selama berdiam di tempat itu Ciu Pek Thong jadi gembira sekali, sepanjang hari dia hanya mengadu ilmu dengan Swat Tocu.

Ilmuilmu yang luar biasa dan aneh telah mereka pergunakan, namun sejauh itu mereka tetap berimbang tanpa melihat tanda-tanda salah seorangpun diantara mereka yang akan jadi pecundang......

Yo Ko sendiri akhirnya tertarik menyaksikan permainan menarik dari Ciu Pek Thong dan Swat Tocu, dia ikut mengambil bagian untuk ikut bertanding mengadu ilmu, guna melewati waktu-waktu senggang.......

Selama itu pula pangeran Ghalik telah merundingkan dengan orang-orangnya, tempat yang baik buat mereka menyembunyikan diri menyingkir dari kejaran tentara kerajaan yaitu di salah sebuah gunung di Selatan.

Karena mereka bisa memilih tempat yang baik untuk hidup menyepi menghindar dari gangguan Tiat To Hoat-ong dan orang-orangnya.

Yo Ko sendiri telah memberikan usul, dia bersedia mengajak pangeran Ghalik ke pulau Tho-hoa-to.

Semula memang Yo Ko masih menyangsikan pangeran ini karena dia kuatir pangeran ini bersandiwara dengan Tiat To Hoat-ong untuk memancing jago734 jago Tiong-goan.

Namun sekarang dia telah melihat bahwa pangeran Ghalik benar-benar telah difitnah dan mengalami bencana untuk keluarganya dan juga kedudukan maupun pangkatnya telah hancur porak poranda.

Karena dari itu, Yo Ko bermaksud mengajak pangeran Ghalik ke pulau Tho-hoa-to, di sana dia kelak menganjurkan pangeran itu menuntut penghidupan yang tenang, tidak mencampuri lagi keruwetan dunia.......

Pangeran Ghalik girang bukan main.

Dia memang telah sering mendengar perihal pulau Tho-hoa-to, pulaunya Oey Yok Su itu, maka sekarang orang ingin mengajaknya ke sana, dengan sendirinya dia jadi menyetujuinya.

Begitulah rombongan.

pangeran Ghalik telah berangkat pada keesokan harinya, untuk menuju ke pulau Tho-hoa-to.

◄Y► Oey Yok Su sejak mudanya memang memiliki personal yang aneh dan ku-koay, dia benci sekali jika orang berani lancang datang ke pulaunya, dan tentu akan menghukumnya dengan bengis.

Tetapi belakangan ini, sejak jatuhnya dan runtuhnya kerajaan Song, di mana para jago-jago dan orang-orang gagah Tiong-goan yang membantu mempertahankan Siang-yang, akhirnya gagal, mereka ditampung di pulaunya.

Dan sejak waktu itulah, banyak para jago luar biasa yang gagal menyelamatkan Siang-yang itu datang ke Tho-hoa-to untuk berunding dengan Oey Yok Su.

Namun Oey Yok Su selalu mengatakan dia telah lanjut usia dan tidak ingin dipusingi oleh urusan duniawi, apalagi soal politik yang merencanakan untuk mengadakan pergerakan membangun kerajaan Song kembali.

Dia hanya mengijinkan orang-orang itu berkumpul di pulaunya untuk mengadakan perundingan guna mengadakan suatu pergerakan, namun dia sendiri tidak mencampuri.

Itulah sebabnya Yo Ko telah mengajak pangeran Ghalik ke Oey Yok Su, untuk merundingkan apakah pangeran Ghalik dimanfaatkan untuk pergerakan mereka atau memang hanya akan menganjurkan pangeran Mongolia itu, yang tengah apes nasibnya, agar hidup menyepi saja......

Oey Yok Su menyambut kedatangan mereka dengan gembira, dan semua pelayannya yang gagu dan tuli itu, telah melayani tamutamu ini dengan baik.

Yo Ko setelah menceritakan segalanya, berkata kepada tuan rumah ini.

"Oey Pehpeh jika pangeran Ghalik berdiam untuk satu atau dua tahun di pulau Oey Pehpeh, apakah hal ini tidak akan memberatkanmu?!"

Oey Yok Su tidak segera menyahuti, dia mengawasi pangeran Ghalik. Pangeran Ghalik sendiri di dalam hatinya telah berpikir.

"Memang tidak percuma Oey Yok Su memiliki nama besar, dia memang seorang yang gagah sekali..... baru kali ini aku melihatnya. Sikapnya demikian angker dan menurut cerita orang-orangku dulu, kepandsian Oey Yok Su sudah sulit diukur.....!" Setelah mengawasi pangeran Ghalik beberapa saat, Oey Yok tertawa, dia bilang.

"Dengan berdiamnya Tayjin di pulauku ini sesungguhnya tidak akan merugikan aku, karena Tong Shia tidak pernah sayang pada berasnya untuk menyediakan santapan tiga kali seharinya kepadamu dan orang-orangmu. Hanya yang membuat aku harus berpikir dua kali ialah mengenai pulauku ini..... Apakah dengan berdiam satu atau dua tahun di pulau ini Tayjin dapat mempelajari dengan seksama dan nanti datang kembali ke mari dengan membawa sepuluh atau sekian laksa tentara untuk menangkap dan merebut pulauku ini?!"

Muka pangeran Ghalik berobah merah, tapi dia tidak mendongkol oleh perkataan tuan rumah, dia anggap wajar tuan rumah, mencurigainya.

Bukankah sebelumnya dialah panglima yang berkuasa penuh atas seluruh angkatan perang Mongolia?

Bukanlah dia pula yang telah mengatur untuk siasat mengadu domba antara para jago-jago Tiong-goan?"

Oey Loocianpwe, sesungguhnya memang pernah aku berpikir untuk mengadakan pergerakan melawan rajaku sendiri, walaupun bukan maksudku sekali-kali hendak berkhianat, namun aku telah didesak demikian rupa.

Namun Yo Tayhiap telah mengingatkan kepadaku bahwa pergerakan itu akan membawa penderitaan buat rakyat, yang akan jadi bersengsara karenanya.....

"Itulah sebabnya sementara ini aku hanya ingin berdiam diri hidup menyepi. Jika memang kemungkinan-kemungkinan ke arah itu tidak mungkin, maka biarlah aku melewati hari tuaku di tempat yang tenang saja tanpa perlu melihat dan mendengar lagi urusan negara!"

Oey Yok Su mengangguk.

"Itulah pikiran yang bijaksana sekali. Nama dan pangkat, semuanya itu merupakan hal kosong..... Selama Tayjin tidak bisa membuang dua hal itu, selama itu pula seumur hidup Tayjin tidak mungkin bisa mencicipi hidup yang tenang dan tentram....."

Tetapi jika memang sekarang aku Tong Shia mengatakan, jika saja Tayjin mau membantu memberikan keterangan-keterangan yang Tayjin ketahui mengenai urusan kerajaanmu itu kepada para enghiong yang akan mengadakan pergerakan membangun kerajaan Song, itupun sudah merupakan hal yang sangat baik sekali, dan merupakan pahala yang tidak kecil.

Muka pangeran Ghalik berobah dia menggeleng perlahan.

"Maafkanlah, hal itu tidak bisa kulakukan,"

Katanya dengan nada suara mengandung penyesalan.

"Walaupun leherku digorok tidak mungkin aku mencelakai kerajaanku sendiri......!"

Oey Yok Su tertawa bergelak-gelak.

"Tetapi kau telah diperlakukan tidak baik oleh Kaisarmu, bahkan hampir saja kau dan keluargamu hancur di tangan Kaisarmu. Jika saja tidak ada enghiong-enghiong di daratan Tiong-goan ini mengulurkan tangan membantumu, tayjin, apakah dengan adanya peristiwa ini engkau tidak bersakit hati karenanya? "

Bukankah Tayjin juga telah mengatakan batwa engkau sendiri sesungguhnya hendak mengadakan sebuah pergerakan untuk menentang rajamu itu.....

Apa bedanya jika sekarang engkau membantu pergerakan dari para eng-hiong dengan keteranganketerangan berhargamu?!"

Pangeran Ghalik kembali menghela napas dalam, dia bilang.

"Untuk urusan ini, biar apapun yang terjadi, aku tidak akan mengkhianati bangsaku! Karena, di dalam hati ini yang bersalah adalah Tiat To Hoat-ong yang telah memfitnah diriku, sehingga aku mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan ini, karena dari aku akan berurusan langsung dengan Tiat To Hoat-ong. Jika maksudku mengadakan pergerakan, itupun bukan hendak menumbangkan kekuasaan Kaisar Kublai Khan, aku hanya ingin menumpas Tiat To Hoat-ong......!"

Oey Yok Su tersenyum.

"Sekarang memang terlalu tergesa-gesa jika Tayjin mengatakan ya atau tidak mengenai usulku si tua she Oey ini, tetapi silahkan Tayjin pikirkan dulu beberapa hari lagi! Perlu Tayjin ingat, biarpun sekarang kami bersedia untuk bersahabat dengan Tayjin, belum tentu para enghiong-enghiong lainnya bersedia menerima kehadiran Tayjin di antara mereka. Terlebih lagi buat mereka itu yang pernah sanak keluarganya, saudaranya atau juga sahabat mereka, yang semuanya ditumpas oleh Tayjin di waktu-waktu yang lalu. Tidak mudah begitu saja Tayjin akan dapat hadir di antara mereka!" "Hal itu memang telah kupikirkan maka sekarang jika Oey Locianpwee bersedia menerima dan mengijinkan aku berdiam beberapa saat di pulau ini, tentu budi yang besar itu tidak akan kulupakan seumur hidupku......"

Oey Yok Su tertawa lebar, dia bilang.

"Janganlah kita bicarakan soal budi dan kebaikan, karena manusia hidup di dunia ini belum tentu selamanya, baik dan belum tentu selamanya jahat..... Siapa tahu? Hati manusia, siapa yang dapat menerkanya terlebih dulu?"

Mendengar perkataan Oey Yok Su yang merupakan sindiran buat dia, muka pangeran Ghalik jadi merah.

Dia tahu, Oey Yok Su ingin artikan, boleh jadi dikemudian hari pangeran Ghalik malah akan memusuhi jago-jago Tiong-goan.

Malah setelah mengetahui keadaan di pulau Tho-hoa-to kemungkinan bisa saja terjadi kelak dia akan datang ke pulau itu bukan hanya seorang diri, namun membawa serta pasukannya.....!

Tetapi pangeran Ghalik tidak mengatakan suatu apapun juga, dia tersenyum saja untuk kecurigaan tuan rumah ini.

Waktu malamnya, Yo Him telah menceritakan urusan yang menyangkut dengan diri Wang Put Liong, yang di dirinya terdapat sebuah peta harta karun, yang tersimpan di dalam lapisan kulit dadanya.

Kini Wang Put Liong juga tengah berada di markas Kayparg, karena telah ikut bersama-sama dengan Liu Ong Kiang.

Harta karun itu, jika dipergunakan untuk biaya pergerakan para enghiong yang ingin menegakkan kembali dan membangun kerajaan Song tentu besar sekali artinya....!"

Yo Him telah mengakhiri keterangannya.

Semua orang jadi mengangguk girang, dan mereka telah merencanakan bagaimana nanti menjemput Wang Put Liong, untuk menerima peta harta karun itu dan yang kemudian diserahkan kepada para enghiong yang tengah berjuang dalam pergerakan membangun kerajaan Song kembali.

Yeh-lu Chi sendiri menyatakan juga kepada Oey Yok Su, sebetulnya pangeran Ghalik merupakan musuh besar Kay-pang.

Seperti diketahui Yeh-lu sendiri telah memerintahkan beberapa orang Tianglo, termasuk Wie Liang Tocu dan Tianglo lainnya, untuk pergi mencari pangeran Ghalik, membalas sakit hati mereka, karena Kay-pang memiliki urusan yang cukup luar biasa dengan pangeran itu.

Yeh-lu Chi menceritakan segalanya kepada kakek mertua tersebut dengan memberikan juga keterangan-keterangan mengenai urusan Kay-pang dengan pangeran Ghalik.

Ternyata akhir-akhir ini pihak Kay-pang telah berhasil menyelidiki, bahwa Louw Pangcu, Louw Yoe Kiak, yang telah terbinasa dengan tongkat kuasa tertinggi Kay-pang lenyap di tangannya, rupanya dicelakai oleh pangeran Ghalik.

Memang semula jago-jago Kaypang menduga yang mencelakai bekas pangcu mereka itu adalah, jago-jago Mongolia.

Namun setelah diselidiki dengan seksama, setelah lewat puluhan tahun, barulah terungkap bahwa sumber kecelakaan yang dialami oleh Louw Yoe Kiak disebabkan pangeran Ghalik, yang telah mengatur jagonya pada waktu itu mengepung Louw Yoe Kiak.

Itulah sebabnya Yeh-lu Chi telah perintahkan para Tianglo Kaypang untuk mengadakan pembalasan sakit hati kepada pangeran Ghalik.

Dan Yo Him baru mengerti, mengapa Wie Liang Tocu telah datang menyatroni istananya pangeran Ghalik pada malam itu.

Banyak yang dibicarakan pada orang-orang gagah itu, merundingkan bermacam-macam urusan yang telah mereka alami dan akan kerjakan di hari mendatang nanti.

Oey Yok Su juga terkejut mendengar cerita perihal Hosing Polong yang tangguh dengan ilmu sihirnya, yang telah berhasil menguasai Yo Ko dan yang lain-lainnya dengan mempergunakan ilmu sihirnya itu.

"Dialah seorang pendeta India, yang memang namanya belakanngan ini banyak disebut-sebut!"

Kata Oey Yok Su.

"Waktu aku dua tahun yang lalu berkelana keluar dari pulau ini, untuk mengumpulkan beberapa macam obat-obatan yang hendak kuramu, aku telah banyak mendengar cerita perihal diri pendeta India yang pandai ilmu sihirnya memang benar-benar hebat, sampai kau Ko-jie dan yang lainnya terkena pengaruhnya......!"

Dan setelah berkata begitu, Oey Yok Su menghela napas.

Diapun sekarang baru mengakui, bahwa di atas yang tinggi ada yang lebih tinggi, di atas yang pandai ada yang lebih pandai.

Walaupun ilmu silatnya tidak tinggi, namun ilmu sihirnya Hosing Polong itu memang luar biasa sekali.

Bukankah jika tidak ada Yo Him semuanya akan celaka?

Begitulah mereka bercakap-cakap dan berkumpul sampai jauh malam, barulah mereka masuk tidur.

Cuma Oey Yok Su bersama Swat Tocu yang masih bercakap-cakap Mereka merupakan tokoh tua yang memiliki kepandaian telah sempurna sekali.

Dengan demikian, jelas di antara mereka terdapat kecocokan satu dengan lainnya untuk membicarakan dan merundingkan ilmu silat.

Sedangkan Ciu Pek Thong lebih senang bermain dengan Ko Tie, anak itu dilarangnya untuk pergi tidur, harus menemaninya bermain, disamping menemani gurunya!

Sebetulnya, Ko Tie sudah mengantuk, tetapi dasar Swat Tocu juga seorang yang ku-koay, bukannya dia perintahkan muridnya tidur, tokh dia malah menganjurkan muridnya itu bermain dengan Ciu Pek Thong di tengah malam buta rata itu......

Dan Yo Him bersama Sasana juga asyik tengah memadu janji......

Keesokan harinya, Yo Ko telah membicarakan urusan puteranya dengan Oey Yok Su.

Dan meminta pendapat Oey Yok Su.

Oey Yok Su tidak keberatan jika memang Yo Him mencintai Sasana, tetapi pangeran Ghalik harus meninggalkan kerajaan Boan sebagai negaranya.

Selama pangeran Ghalik masih bersetia kepada Kaisarnya, niscaya perkawinan Yo Him dengan Sasana akan membawa bencana tidak ringan untuk pemuda itu sendiri.

Walaupun Oey Yok Su yang memang agak ku-koay dan juga selalu melakukan apapun tidak memperdulikan peradatan yang ada, dia bersedia untuk menikahkan Yo Him dengan Sasana di pulaunya ini.

Namun Yo Ko telah menyatakan dia ingin merundingkan dulu hal itu dengan Siauw Liong Lie, isterinya yang waktu itu tengah berada di Giok-lie-hong, di puncak Bidadari, tempat mereka berdiam.

Nanti jika kami telah membicarakan dan Liong-ji setuju, waktu itu barulah kita mengambil keputusan, untuk menilai keadaan pangeran Ghalik itu yang sesungguhnya dapat diterima dalam kalangan kita atau tidak.....

Janganlah perkawinan antara Yo Him dengan puteri pangeran itu akan membawa bencana besar untuk anakku itu!"

Oey Yok Su mengangguk mengiyakan.

Diapun menasehati Yo Ko agar lebih hati-hati terhadap pangeran Ghalik, karena tampaknya pangeran itu licik, diingatkan oleh Oey Yok Su.

Bukankah dulu merekapun telah dipermainkan oleh pangeran Ghalik yang mengatur tipu muslihatnya yang keji, yang mengadu dombakan antara jago-jago Tiong-goan satu dengan yang lainnya.

Yo Ko juga menyatakan terima kasih atas nasehat yang diberikan Oey Yok Su.

Mendekati fajar, barulah mereka berpisah untuk tidur.

◄Y► Pangeran Ghalik di dalam kamarnya sepanjang malam itu sesungguhnya tidak tidur.

Dia termenung memikirkan bencana yang telah menimpah dirinya.

Yang mendukakan hatinya adalah tindakan Kaisar yang telah tidak mempercayainya dan menerima begitu saja fitnah Tiat To Hoat-ong, sehingga dirinya ini dicap sebagai pemberontak dan penghianat.

Sejak muda, dia telah berjuang sepenuh tenaga untuk membantu Kublai Khan menaklukkan dan merebut daratan Tiong-goan menghancurkan kerajaan Song.

Dan jasa yang telah dibangun oleh pangeran Ghalik memang tidak sedikit, bahkan dia telah menerima kepercayaan Kaisar Kublai Khan untuk memegang kekuasaan tertinggi atas semua angkatan perang Mongolia.

Tetapi sekarang, cuma hanya disebabkan pengaruh Tiat To Hoat-ong yang memfitnahnya, Kaisar telah mengambil tindakan seperti itu yang benar-benar menyakitkan hatinya.

Sekarang, diapun tengah berada di Tho-hoa-to, di mana berkumpul jago-jago daratan Tiong-goan, yang dulu merupakan lawannya.

Bahkan di antara para jago-jago itu ada yang telah menolonginya dan menyelamatkan dia dan puterinya dari tangan Tiat To Hoat-ong.

Untuk mengadakan suatu pergerakan.

Jelas itupun, memakan waktu yang sangat lama sekali disamping itu pula, diapun memerlukan dukungan dari para jago-jago daratan Tiong-goan.

Sekarang dia berada di antara para jago-jago Tiong-goan, yang sebagian dari mereka itu telah bersakit hati karena perbuatannya dulu yang membasmi dan menumpas jago-jago daratan Tionggoan lainnya, maka jika sekarang dia diterima untuk berada di antara mereka, itupun merupakan hal yang tidak sepenuhnya, di mana dirinya masih dicurigai.

Memang pangeran Ghalik merupakan seorang panglima yang setia kepada raja dan negaranya.

Tidak mungkin dia memberikan keterangan-keterangan perihal kelemahan dari kerajaan Boan, agar pergerakan dari para jago-jago daratan Tiong-goan yang hendak membangun kembali kerajaan Song itu berhasil.

Pangeran Ghalik menyadarinya, dalam beberapa hari mendatang tentu Oey Yok Su akan mendesak dia untuk memberikan keterangan serta gambaran-gambaran mengenai kelemahan kerajaan Boan.

Dan inilah yang tidak diinginkannya.

Keruntuhannya sebagai seorang panglima yang semula memiliki kekuasaan yang tertinggi dan menguasai semua angkatan perang Boan, sekarang malah menjadi buronan dan dikejar-kejar oleh pasukan Kaisarnya, mendatangkan kedukaan yang sangat bagi diri pangeran Ghalik.

Kedukaan itu semakin memuncak jika dia teringat akan permintaaa Oey Yok Su, agar dia memberikan data-data dan keteranganketerangan mengenai kekuatan kerajaan Boan.

Jika saja dia bersedia memberikan, bukankah sama saja dia menghianat dan meruntuhkan Kaisarnya sendiri?

Bukankah semula dia sebagai panglima yang berkuasa penuh atas semua angkatan perang Mongolia?

Dan dengan demikian sekali saja dia membuka mulut memberikan keterangan kelemahankelemahan dari pasukan kerajaan Boan, maka pergerakan dari para orang-orang gagah yang ingin membangun kerajaan Song itu akan berhasil.

Namun jika sampai hal itu terjadi bukankah fitnah Tiat To Hoat-ong telah terbukti bahwa ia memang telah mengkhianati bangsa dan negaranya?

Bukankah Kaisar pun akan melihat bahwa dia benarbenar seorang pengkhianat dan dosanya tidak berampun lagi?

Di mata Kaisar, dia akan menjadi duri yang perlu dibasmi.

Karena kedukaan yang kian memuncak, akhirnya pangeran Ghalik mengambil keputusan nekad.

Dia berdiri sambil menghampiri meja tulis yang berada di kamarnya itu, dia menulis sepucuk surat yang panjang lebar.

Setelah selesai, dia membuka ikat pinggangnya dan kemudian melibatkan di langkan.

Akhirnya dia memasukkan kepalanya dilibatan tali itu.

Tidak lama kemudian tubuhnya telah bergelantung tidak bernapas lagi.

◄Y► Keesokan paginya jago-jago yang tengah berkumpul di Tho-hoato jadi panik dan kaget, mengetahui kematian yang dialami pangeran Ghalik.

Sasana yang pertama-tama menemui ayahnya mati tergantung seperti itu.

Dia menangis sampai matanya bengul dan merah.

Yo Him berusaha membujuknya namun gadis itu tetap dengan kedukaannya.

Hek Pek Siang-sat pun telah membaca surat peninggalan pangeran Ghalik itu, yang bunyinya antara lain.

"Puteriku Sasana dan sahabat-sahabat lainnya. Kukira memang telah tiba waktunya aku memutuskan menentukan langkah-langkah apa yang paling bijaksana untuk diriku. Dengan demikian, jelas tidak akan mempersulitkan diri kalian."

Apa yang telah kulakukan di masa lalu adalah untuk kejayaan dan ke-cemerlangan negaraku, namun tidak kusangka, di saat Mongolia telah berhasil menancapkan kekuasaannya di daratan Tiong-goan, telah berhasil meruntuhkan kerajaan Song dan membangun kerajaan Boan-ciu, di mana kukira perjuanganku tidak sedikit di dalamnya, akhirnya harus pula aku mengalami perlakuan yang menyedihkan sekali dari Kaisar.

"Inilah yang benar-benar tidak dapat kuterima. Namun jika aku mengambil langkah-langkah kekerasan, berarti untuk seumur hidupku Kaisar akan mempercayai fitnah Tiat To Hoat-ong, bahwa akulah seorang pengkhianat yang tidak berampun lagi. Dosa-dosanya sangat besar, dan hal itu akan dicatat oleh sejarah bahwa akulah si pengkhianat bangsa dari negaraku, yang telah dipupuk demikian megah oleh Kha Khan yang agung! "

Untuk mencegah tanggapan seperti itu, aku telah memutuskan, bahwa akulah yang harus mundur dalam urusan ini.

Puteriku, aku hanya berpesan kepadamu, usahakanlah, balaskanlah sakit hati ayahmu pada Tiat To Hoat-ong.

Selama Tiat To Hoat-ong, sumber dari malapetaka yang kualami ini belum terbinasa di ujung pedangmu dan mempergunakan jantung dan hatinya menyembahyangi arwahku, selama itu pula aku tidak akan tenang dan bermata meram di akherat......!"

Mengenai pergerakan yang dilakukan oleh jago-jago Tionggoan yang ingin membangun kerajaan Song, disini ingin sekali memberikan sedikit tanggapan.

Mereka tak akan berhasil!

Selama sepuluh tahun ini, aku telah berhasil menghimpun pasukan perang Mongolia yang terdiri dari sepuluh lapis.

Sepuluh lapis itu ialah sepuluh macam kekuatan yang tidak mungkin akan dapat dihancurkan oleh taktik peperangan yang bergerilya seperti dilakukan oleh para orang-orang Han yang ingin membangun kerajaan Songnya kembali.

Dari sia-sia dan nanti menjatuhkan korban-korban manusia yang tidak berdosa, lebih bijaksana mereka menghentikan usaha mereka."

Walaupun kekuasaan angkatan perang Mongolia itu tidak berada di bawah pengawasanku lagi, namun semua panglima yang memimpin angkatan perang Mongolia telah terlatih dengan baik, dan mereka menguasai medan perang dengan baik!

Sepuluh lapis angkatan perang Mongolia itupun telah tersebar dalam lima propinsi di daratan Tiong-goan, ke arah mana saja pergerakan yang diadakan oleh bangsa Han itu, akan sia-sia dan akan menghancurkan mereka.

Karena begitu mereka menerima instruksi dari atasan, sepuluh lapis dari angkatan perang Mongolia di propinsi itu akan dapat mengepung dengan cepat pasukan lawan.

"Inilah sedikit nasehatku, karena perjuangan untuk membangun kerajaan Song itu akan sia-sia belaka. Nasehat ini kuberikan mengingat akan budi kebaikan kalian yang telah menyelamatkan jiwaku dan puteriku beberapa saat yang lalu dan kuberikan dengan hati yang tulus.

"Pesan terakhirku, semoga saja Yo kong-cu, Yo Him, dapat memperlakukan puteriku dengan baik. Nah, selamat tinggal sahabat, dan puteriku..... "

Surat ini bisa kalian berikan kepada Kaisar Kublai Khan, jika memang kalian ingin membantuku untuk membersihkan nama baikku.....!"

Di bawah surat itu ditanda tangani oleh pangeran Ghalik.

Rupanya menjadi harapannya, agar surat peninggalannya ini dapat disampaikan kepada kaisar Kublai Khan.

Untuk memperlihatkan, jika memang dia tidak bermaksud untuk berkhianat dan juga tidak bermaksud untuk menggulingkan kaisarnya.

Sebagai seorang yang pernah memegang pimpinan tertinggi dan berkuasa penuh atas tentara dan angkatan perang Mongolia, tentu dia dapat saja menghimpun kekuatan.

Bukankah bagian-bagian pertahanan yang lemah dari angkatan perang Mongolia itu diketahui dengan jelas olehnya?

Dan sekarang di dalam suratnya itupun dia masih berpesan, agar pergerakan yang akan diadakan oleh orang-orang gagah yang ingin membangun kerajaan Song, agar dihentikan.

Hal itu menunjukan bahwa dia tetap bersetia kepada Kaisar dan negaranya.

Sasana telah menangis terisak-isak, tetapi Yo Him telah membujuknya terus dengan sabar.

Sampai akhirnya, si gadis telah dibawa ke luar dari ruangan itu, membiarkan orang-orang lainnya yang mengurusi jenazahnya pangeran Ghalik.

Hek Pek Siang-sat yang telah kehilangan majikan mereka, jadi berduka bukan main.

Mereka merupakan pengawal-pengawal setia dari pangeran Ghalik, dengan demikian, diapun selain berusaha untuk melindungi junjungan mereka tersebut, namun siapa tahu, justru majikan mereka itu telah mengambil tindakan nekad dan pendek seperti itu......

Pemakaman dari jenazah pangeran Ghalik telah dilangsungkan keesokan harinya, dengan upacara sederhana dan selayaknya.

Dia dikuburkan di pulau Tho-hoa-to.

Tidak mudah sesungguhnya, seseorang mengharapkan untuk dapat dikubur di pulau Tho-hoato, karena tidak sembarangan orang akan dapat beristirahat diakhir hidupnya di pulau itu.....

◄Y► Lewat setengah bulan, setelah kedukaan Sasana berkurang, Oey Yok Su telah menganjurkan kepada Yo Him, agar menikahi puteri pangeran itu.

Tetapi Yo Him menolaknya dengan halus karena pernikahannya itu diharapkan agar ibunya ikut hadir juga.

"Urusan itu dapat ditunda dulu, Suhu! Memang selama ini, tentu aku akan memperlakukannya dengan baik! Dan, sekarang tentu sudah tidak ada keraguan pula, karena dengan kematian pangeran Ghalik, berarti Sasana tidak perlu memperoleh hambatan karena kecurigaan terhadap ayahnya itu.....!"

Oey Yok Su mengangguk.

"Hanya saja, ada satu tugas yang harus kita laksanakan. Siapa yang akan menyampaikan surat peninggalan pangeran Ghalik kepada Kaisar Kublai Khan. Permintaannya yang terakhir itu harus kita penuhi......!" Yo Him menyanggupi untuk menerima tugas itu. Maka dua hari kemudian dia bersama Sasana telah meninggalkan pulau Thohoa-to, dengan janji setahun lagi mereka akan datang ke Giok-liehong, puncak Bidadari, untuk menemui ayah dan ibunya, dan sekalian untuk melangsungkan pernikahannya dengan si gadis Mongolia. Begitulah, setelah berunding beberapa hari lagi dengan Oey Yok Su, Yo Ko dan lainnya juga, telah pamitan. Hanya Ciu Pek Thong bersama Swat Tocu yang masih senang berdiam di pulau Tho-hoato, dan Oey Yok Su juga senang sekali bisa memperoleh sahabat baru seperti Swat Tocu. Dalam waktu senggang dan kesempatan yang ada, mereka telah merundingkan ilmu silat...... Disamping itu Lie Ko Tie juga telah menerima didikan yang tetap dari Swat Tocu, disamping banyak menerima petunjuk dari Oey Yok Su. Dengan demikian Ko Tie memperoleh kemajuan yang pesat. Banyak yang diceritakan oleh Swat Tocu mengenai pulaunya, yaitu pulau salju. Dia mengatakan.

"Jika memang Tho-hoa-to memiliki keindahan tersendiri dengan segala pohon bunganya, justru pulau saljunya itu terdiri dari sebuah pulau yang diselubungi sepanjang tahun dengan lapisan salju, bahkan di tengah-tengah pulau itu terdapat bagian yang tumbuh subur, rumput maupun pohon bunga."

"Jika ingin diperbandingkan, sesungguhnya pulauku itu tidak kalah keindahannya dengan pulaumu ini, Oey Loo-shia! Hemmm, jika memang nanti engkau memiliki waktu, aku akan mengundangmu untuk singgah di pulauku itu. Jangan kuatir, di sana aku akan memperlakukan dan melayani kau sebagai seorang Kaisar.....!"

Oey Yok Su telah tertawa, demikian juga dengan Swat Tocu, tampaknya mereka gembira sekali.

Oey Yok Su juga telah menyatakan menerima undangan Swat Tocu, hanya nanti dia ingin merundingkan ilmu silat di pulau salju itu dengan pemilik pulau tersebut sampai sepuluh hari sepuluh malam.

"Itulah hal yang menarik sekali!"

Kata Swat Tocu.

"Aku sudah janjikan kepadamu, aku akan melayani kau sebagai seorang Kaisar, maka apa yang kau inginkan, dan jika memang dapat kulakukan, tentu akan kulakukannya untukmu.....!"

Oey Yok Su setelah tertawa menghela napas dalam-dalam, dia bilang.

"Hanya saja, dalam waktu-waktu dekat ini aku memiliki sebuah tugas yang cukup penting, yaitu tugas untuk menemui Wang Put Liong di markas Kay-pang, guna menjemput dan melindunginya. Karena peta harta karun yang dimilikinya itu berguna sekali untuk para sahabat yang tengah melakukan pergerakan dan perjuangan untuk membangun kembali kerajaan Song."

Swat Tocu tertawa.

"Kau sudah lanjut usia, tetapi kau masih mau dipusingi oleh segala urusan anak muda....."

Kata Swat Tocu.

"Inilah tugas untuk seorang rakyat negeri yang negaranya tengah terjajah.....!"

Menyahuti Oey Yok Su bergurau.

Begitulah mereka telah bercakap-cakap lagi beberapa saat, sampai akhirnya mereka bertanding dengan ilmu silat mereka, piebu untuk melihat, berapa jauh kepandaian yang telah berhasil mereka sempurnakan.

Yang menggembirakan, Oev Yok Su, sejak matinya Ong Tiong Yang, Auwyang Hong, Ang Cit Kong, maka selain It Teng Taysu, dia tidak pernah bertemu tandingan yang benar-benar berarti.

Sekarang dia bisa pie-bu dengan Swat Tocu, yang memiliki kepandaian tidak berada di sebelah bawah kepandaiannya, dengan sendirinya mengasyikkan sekali.

Kwee Hu bersama suaminya dan juga puterinya, yaitu Yeh-lu Kie, setelah berdiam lagi beberapa hari di pulau Tho-hoa-to, akhirnya telah pamitan pada kakeknya.

Mereka akan kembali ke markas Kay-pang untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk nanti kakeknya ini mengadakan penyambutan pada Wang Put Liong.

Yang terutama sekali ialah Yeh-lu Chi telah menerima tugas dari Oey Yok Su untuk melindungi Wang Put Liong selama Oey Yok Su belum datang untuk menjemputnya.

Karena jika sampai berita mengenai peta harta karun itu tersiar dan terdengar oleh pihak Boan, tentu urusan akan menjadi lain lagi.

Niscaya pihak kerajaan Boan akan mengirim orang-orangnya yang memiliki kepandaian tinggi untuk merebut Wang Put Liong.

Inilah yang harus dicegah, karena walaupun bagaimana Wang Put Liong harus dilindungi dan diselamatkan, agar peta harta karun yang terdapat di dalam lapisan kulit di dadanya itu bisa diselamatkan, tidak terjatuh ke dalam tangannya orang-orang Boan.......

◄Y► Waktu itu adalah Jie-gwe (Bulan Kedua).

Musim semi, tahun Kaykong keenam dari Kaisar Lie-cong kerajaan Song, atau juga kini mempergunakan tahun Boan-sek ketiga dari berkuasanya Kaisar Kublai Khan sejak berhasil dia merebut daratan Tiong-goan dan berkuasa penuh di seluruh daratan Tiong-goan ini.

Walaupun mempergunakan hitungan tahun Kay-kong dan tidak mau menghitung menurut penanggalan Boan-sek, namun waktu itu kekuasaan Kublai Khan semakin meluas dan semakin melebar di kalangan rakyat.

Bahkan peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh Kaisar itu harus dipatuhi seperti halnya mentao-cang rambut dan lainlainnya.

Memang sebagai kerajaan yang telah dijajah dengan sendirinya martabat orang-orang Boan di daratan Tiong-goan lebih tinggi dari derajatnya orang-orang Han, yang telah runtuh kerajaan Songnya.....

Waktu itu, di tempat penyeberangan Hong-leng-touw, di tepi utara sungai Huang-ho (kuning) terdengar ramainya suara manusia, berderit-deritnya roda-roda kereta dan juga meringkiknya kudakuda terdengar ramai sekali.

Dan memang selama beberapa hari terakhir ini hawa udara berobah hangat dan salju yang telah membeku di sungai itu mulai mencair, sehingga semua pelancong yang tertahan di tempat penyeberangan itu, segera bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan mereka menyeberangi sungai.

Namun mendadak sekali sebelum mereka berangkat, angin utara telah kembali menyambar-nyambar berhembus hebat dan salju kembali turun.

Dengan terjadinya perobahan cuaca itu, es yang sudah mencair, kembali membeku menjadi es pula, sehingga perahu tidak bisa meluncur di permukaan sungai, yang airnya bercampur es itu.

Dengan demikian para pelancong itu, terutama saudagar-saudagar yang semula ingin pergi ke selatan melanjutkan perjalanan mereka, terhambat pula di Hong-lengtouw.

Di tempat penyeberangan Hong-leng-touw terdapat beberapa rumah penginapan.

Tapi karena mengalirnya manusia dari segala jurusan, terutama dari jurusan utara yang datang tidak hentihentinya, maka siang-siang beberapa rumah penginapan sudah terisi penuh.

Banyak sekali yang tidak ke bagian kamar dan beberapa orang yang beradat berangasan segera saja mencaci maki, menggumam rewel pada pengurus rumah penginapan......

Rumah penginapan yang paling terkenal di tempat penyeberangan itu adalah An-touw Loo-tiam, yang bukan saja besar dan megah gedungnya, tapi juga luas pekarangannya.

Maka dari itu, orangorang yang tidak ke bagian kamar di penginapan lain telah datang ke An-touw Loo-tiam untuk minta pertolongan.

Dengan susah payah dan setelah membujuk-bujuk serta tawar menawar dengan para tamu, si pengurus penginapan berhasil menjajal empat atau lima orang di setiap kamarnya.

Walaupun demikian, masih juga terdapat belasan orang para tamu-tamu itu yang tidak ke bagian tempat dan mereka semuanya terpaksa berdiam di ruang tengah.

Sebagai tindakan darurat, pelayanpelayan menyingkirkan meja dan kursi membuat sebuah perapian di ruangan itu!

Sambil menarik napas panjang pendek, mereka mengawasi kembang salju yang masih turun terus menerus tidak hentinya.

Tampaknya mereka masgul dan jengkel sekali, sebab belum tentu besok mereka bisa melanjutkan perjalanan mereka, berangkat meninggalkan tempat penyeberangan ini.

Dengan demikian, berarti mereka akan bersengsara selama beberapa hari tanpa memperoleh kamar di rumah penginapan.

Perlahan-lahan siang mulai berganti dengan malam, dan semakin lama turunnya salju jadi semakin besar.

Dan hal ini membuat masgul tamu-tamu yang tidak ke bagian kamar dan para saudagar yang sesungguhnya perlu mengejar waktu dalam perjalanan mereka, yang jadi terlambat dan terhalang oleh turunnya salju yang bukannya meredah, malah telah semakin deras itu.

Waktu malam itu, di depan rumah penginapan telah berhenti dua orang penunggang kuda.

"Ada lagi tamu .yang datang!"

Kata seorang tamu di ruang tengah yang melihat kedatangan ke dua orang penunggang kuda itu. Beberapa saat terdengar suara seorang wanita.

"Ciang-kui, (pengurus rumah penginapan), sediakan dua kamar kelas satu!"

"Maaf, maaf!"

Kata si pengurus rumah penginapan yang menyambut kedatangan ke dua tamu itu sambil tertawa.

"Penginapan kami sudah penuh, tidak ada tempat lagi.....!"

"Baiklah jika begitu, aku hanya minta satu kamar saja!"

Kata tamu wanita itu. "Benar-benar aku memohon maaf....., maaf.....!"

Kata Ciang-kui itu.

"Kedatangan kalian merupakan hal yang selalu diharap-harap oleh kami. Namun hari ini, sungguh tidak kebetulan sekali. Penginapan kami sudah penuh benar.....!"

Wanita itu telah mengawasi Ciang-kui tersebut.

Dialah seorang gadis yang mengenakan baju warna merah, celana warna kuning dan memiliki paras yang cantik.

Namun dilihat dari matanya yang kebiru-biruan dan hidungnya yang mancung, tampaknya dia bukan seorang wanita Han.

Walaupun dia berpakaian sebagai seorang gadis pada umumnya.

Disampingnya, kawan seperjalanan itu, ternyata seorang pemuda yang berusia duapuluh tahun lebih, parasnya juga cakap dan kulitnya putih.

Dia mengenakan baju yang berwarna hijau, dengan pakaian luarnya yang terbuat dari kulit.

Dilihat dari keadaan ke dua tamu ini, tampaknya mereka tidak jeri dengan serangan hawa dingin, sebab pakaian mereka itu bukan terbuat dari bahan yang tebal.

Waktu itu si gadis telah berkata lagi kepada Ciang-kui rumah penginapan.

"Tolong kau usahakan buat kami sebuah kamar yang tidak terlalu besarpun tidak apa-apa..... kami telah melakukan perjalanan yang cukup jauh, meletihkan sekali dan kami perlu beristirahat.....! Ciang-kui rumah penginapan itu telah angkat tangannya, memberi hormat, sambil katanya.

"Maaf..... maaf memang sesungguhnya di rumah penginapan kami telah penuh. Jika memang nyonya ingin mencobanya untuk menanyakan di rumah penginapan lainnya, mungkin masih terdapat kamar kosong di sana.....!"

"Kami telah mutar-mutar menanyakan beberapa ruman penginapan. Semua telah penuh. Mereka juga menganjurkan kami ke mari karena menurut pengurus rumah penginapan itu, inilah rumah penginapan yang terbesar, dan mungkin An-touw Loo-tiam bisa menerima kedatangan kami dan mengusahakan sebuah kamar untuk istirahat.....!"

"Memang jika kami membiarkan kalian berdua terlantar di luar dalam cuaca yang seburuk ini, tentu kami keterlaluan!"

Kata Ciangkui itu sambil tersenyum.

"Namun jika memang kalian hanya sekedar ingin istirahat, silahkan masuk untuk sambil menghangatkan tubuh juga bisa minum satu dua cawan teh hangat..... tetapi jelas kami tidak bisa menyediakan kamar untuk kalian.....!"

Gadis itu mengkerutkan alisnya, dia menoleh kepada si pemuda di sampingnya, tanyanya.

"Bagaimana Toako? Daripada kita kedinginan dan terlantar di perjalanan, lebih baik kita berteduh dulu di sini.....!"

Pemuda itu mengangguk, dia hanya menjawab singkat.

"Terserah padamu saja adikku."

Maka gadis itu telah menoleh lagi kepada Ciang-kui itu, katanya.

"Baiklah, kami akan menumpang untuk beristirahat di sini beberapa waktu, menanti sampai salju meredah......!" Ciang-kui itu telah mempersilahkan ke dua tamunya ini untuk masuk, dan memberikan tempat di sudut ruangan kantor rumah penginapan itu, di mana di tengahnya tampak ada perapian yang baranya tengah menyala marong. Dan juga di sisi kiri kanan dari perapian itu duduk berdesakan puluhan orang tamu lainnya yang tidak ke bagian kamar. Si gadis dan si pemuda telah menurunkan buntalan mereka, dan telah duduk dengan perasaan lega, karena sekarang mereka bisa menghangat tubuh, tidak perlu ditimpah terus menerus oleh hujan salju yang dingin menusuk tulang. Malah gadis itu telah sibuk membersihkan sisa-sisa bunga salju yang melekat di pakaian si pemuda.

"Perjalanan ke kota raja tentu masih memakan waktu belasan hari lagi. Jika memang sslju ini tidak juga meredah dan tempat penyeberangan ini tidak bisa dipergunakan dalam beberapa hari, niscaya kita akan tiba lebih lama lagi..... Kemungkinan besar, sebulan kemudian kita baru mencapai tempat tujuan kita....."

Kata si pemuda dengan suara yang tidak begitu keras. Si gadis mengangguk mengiyakan, dan dia pun menyambungi.

"Benar Toako, kita sambil pesiar juga, bukankah untuk mengantarkan surat itu kita tidak perlu terlalu tergesa?!"

Tapi baru saja berkata begitu, wajah si gadis telah berobah murung.

Semua tamu-tamu yang berkumpul di ruangan itu mengawasi si gadis, yang cantik luar biasa.

Mereka memperoleh kenyataan gadis itu seperti juga seorang dewi yang baru turun dari kerajaan Langit.

Dan yang membuat para tamu-tamu itu tertarik, adalah bola mata si gadis agak kebiru-biruan dan hidungnya yang mancung.

Dalam berpakaian sebagai seorang gadis Han, dengan rambut yang disanggul tinggi, betapa cantik dan jelitanya.

Maka tidak ada seorang tamu lelaki di ruang itu yang tidak memuji di dalam hati mereka akan kecantikan gadis tersebut.

Demikian juga halnya dengan si pemuda, yang tampaknya lebih tua beberapa tahun usianya dari gadis itu, memiliki kulit yang putih bersih, raut wajah yang tampan dan rambutnya walaupun telah melakukan perjalanan jauh seperti apa yang dikatakan, masih rapih, hanya terdapat beberapa bunga salju yang melekat dan mencair.

Sepasang muda-mudi itu seperti juga Giok Hong dan Cin Touw, pasangan dewa dewi yang memang serasi dan cocok satu dengan yang lainnya.

Jika yang gadis cantik jelita, yang pemudanya tampan dan ganteng.

Hanya yang membuat para tamu itu tak berani memandang terlalu lama dan juga hanya melirik secara mencuri, itulah disebabkan di pinggang si gadis maupun si pemuda, masing-masing tergantung sebatang pedang panjang.

Tampaknya mereka berdua orangorang Kang-ouw yang memiliki kepandaian silat yang tinggi.

Dengan demikian, orang yang berkumpul di ruang itu telah melengos membuang pandang ke arah lain ketika si pemuda telah angkat kepalanya dan menyapu sekeliling ruangan dengan sinar mata yang tajam, bibir tersenyum.

Tampaknya pemuda itu gagah sekali.....

Si gadis tertawa kecil.

Dia bilang kepada si pemuda.

"Toako, kita telah hampir satu bulan melakukan perjalanan, selama itu, kau selalu memperlihatkan sikap seperti juga kita ini tengah mengejar waktu untuk menyelesaikan sebuah tugas yang penting..... Bukankah kita hanya perlu menyampaikan surat itu, dan tugas kita selesai? Berarti waktu kita tidak terlalu terdesak dan dalam melakukan perjalanan ini kita juga bisa sekalian untuk berpelesiran, menikmati keindahan alam dari daerah yang kita lalui.....?!"

Pemuda itu menghela napas, tapi kemudian dia tersenyum sambil katanya.

"Adikku, dalam menyelesaikan urusan ini, sebetulnya memang merupakan urusan yang tidak terlalu penting, walaupun surat itu besar artinya untuk ketenangan arwah ayahmu! Namun yang terpenting ialah bagaimana kita bisa menyelesaikan tugas ini secepat mungkin agar kita bisa segera kembali untuk berkumpul di markas Kay-pang. Di sana kita akan menerima tugas yang jauh lebih berat lagi, untuk menyelamatkan Wang Toako......!"

Begitulah, si gadis mengangguk, dan selanjutnya mereka bicara bisik-bisik.

Mendengar selintasan dari percakapan muda mudi ini, seketika para tamu di ruang tengah itu mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang Kang-ouw.

Dengan sendirinya, para tamu-tamu itu tidak berani memperlihatkan sikap yang lancang atau kurang ajar, bisa-bisa mereka celaka kalau si pemuda atau si gadis naik darah oleh sikap mereka.

Tetapi di antara para tamu itu, rupanya terdapat seorang lelaki berusia lanjut, mungkin usianya telah enampuluh tahun, dia tengah duduk setengah rebah dengan tubuhnya agak menyender pada dinding.

Dan dia juga terus menerus mengawasi muda mudi itu.

Malah ketika melihat muda-mudi itu bicara bisik-bisik dia menguap dengan suara cukup nyaring, susuli dengan perkataannya.

"Salju turun terus menerus, hawa udara demikian dingin dan buruk. Sungguh menjengkelkan sekali, sehingga si tua bangka yang ingin cepat tiba di kotaraja jadi terhambat dan akan terlambat karenanya.....!"

Orang tua itu berkata-kata dengan suara yang nyaring, rupanya pada dirinya dia itu sengaja agar si gadis dan si pemuda mendengarkannya.

Dan memang gadis dan pemuda itu telah melirik ke arahnya.

Ketika itu si pemuda memperoleh kenyataan, orang tua dengan kumis yang tumbuh tidak teratur itu, dan usianya telah lanjut, dengan tubuh yang kurus tertutup oleh pakaian luarnya yang tebal terbuat dari bulu tiauw yang telah botak di beberapa bagiannya.

Yo Him mengetahui, bahwa orang itu bukanlah seorang pelancong atau saudagar umumnya, dari sinar matanya terlihat bahwa orang tua ini memiliki lweekang yang tinggi.

Si gadis juga telah berbisik.

"Orang itu mencurigakan sekali, Toako!"

Pemuda itu mengangguk. Dia telah bangun dari duduknya menghampiri orang tersebut, dia mengangkat tangannya memberi hormat. "Lopeh, maukah Lopeh menghilangkan iseng bercakap-cakap dengan kami?!"

Tanya pemuda itu. Orang tua itu telah mengangkat kepalanya mengawasi Yo Him dengan mulut tersenyum lebar, dia kemudian mengangguk.

"Tentu saja mau, jika memang kalian tidak memandang rendah kepadaku untuk mengikat tali persahabatan! Memang sungguh menjemukan sekali berdiam di tempat seperti ini terhambat perjalanan karena turun salju celaka itu! Jika memang memperoleh sahabat yang bisa melenyapkan kelanggengan dan kesunyian ini, bukankah itu menggembirakan sekali?!"

Dan sambil berkata begitu, lelaki tua tersebut telah bangun. Dia telah menggeser barang-barangnya untuk pindah duduk ke tempat si pemuda dan si pemudi.

"Siapakah nama kalian?!"

Tanya orang tua itu setelah duduk dengan benar di hadapan si pemuda dan si pemudi.

"Siauwte she Yo, dan bernama Him. Ini adalah adikku, namanya Sasana.....!"

Menjelaskan pemuda itu, yang tidak lain dari Yo Him dan si gadis adalah Sasana.

"Ohh, aku si orang tua sudah lama tidak mempergunakan namaku, sehingga selama itu tidak pula aku ingat namaku sendiri. Hanya saja sahabat-sahabatku biasanya memanggil aku si Kwie Losam (Setan Tua). Kukira, kalian juga bisa memanggil aku dengan sebutan Kwie Losam itu pula." Yo Him dan Sasana tersenyum mendengar nama orang ini yang cukup aneh. Tapi mereka tidak memperlihatkan sikap memandang enteng. Karena umumnya orang dengan keadaan seperti ini, yang dari matanya menunjukkan memiliki lweekang yang tidak rendah, dan juga namanya yang begitu aneh tidak seperti nama umumnya, maka mereka menduga tentunya orang tua ini adalah orang Kangouw yang, memiliki kepandaian tinggi dan sepak terjangnya cukup aneh, sehingga dia diberi julukan sebagai Kwie Losam. Dan tentunya Kwie Losam ini pun merasa keberatan untuk memberitahukan siapa dirinya sebenarnya, di mana namanya tidak mau diberitahukannya. Tentunya dia memiliki kesulitan tertentu, sehingga Yo Him dan Sasana tidak mendesak lebih jauh.

"Tadi kudengar kalian ingin menuju ke kota raja, benarkah itu?!"

Tanya Kwie Losam lagi. Yo Him mengengguk.

"Benar, Lopeh......!"

Menyahuti Yo Him.

"Jika begitu, kita memiliki tujuan yang sama, karena akupun memang ingin pergi ke kota raja. Jika boleh kuketahui, ada keperluan apakah kalian melakukan perjalanan dalam cuaca demikian buruk ke kota raja? Tentunya kalian memiliki urusan yang penting sekali di sana!"

Yo Him tersenyum.

"Hanya ingin menjenguk seorang sanak famili kami yang tengah menderita sakit berat..... Sebulan yang lalu kami telah menerima berita mengenai keadaannya. Itulah sebabnya kami cepat-cepat melakukan perjalanan untuk menjenguknya, walaupun keadaan cuaca demikian buruk,"

Berdusta Yo Him. Orang tua itu mengangguk. Walaupun dia meragukan alasan yang diberikan oleh Yo Him, dia tidak melanjutkan lebih jauh mendesak pemuda itu.

"Ada yang ingin kukatakan kepada kalian!"

Kata Kwie Losam kemudian sambil menguap.

"Seperti kalian ketahui, bahwa melakukan perjalanan darat untuk mencapai kota raja, kita harus melewati penyeberangan itu. Begitu juga orang-orang dari utara yang herdak pergi ke selatan juga harus mempergunakan penyeberangan ini.

"Dengan demikian daerah penyeberangan di tepi sungai Huang-ho ini selalu ramai hiruk pikuk oleh orang-orang yang menuju ke selatan atau juga sebaliknya. Tetapi, apakah kalian pernah mendengarnya, bahwa menuju ke selatan, terpisah tigapuluh lie dari daerah penyeberangan ini, tempat itu tidak aman dan banyak perampok yang kejam dan telengas?!"

Yo Him mengawasi orang tua itu.

"Perampok yang kejam dan bertangan telengas?!"

Tanya Yo Him menegasi.

"Siapakah mereka itu, Lopeh?!"

"Aku sendiri baru mendengarnya belakangan ini, karena menurut orang-orang yang pernah mengalami perampokan di tempat itu, para perampok tersebut baru tiga tahun menguasai daerah itu. Yaitu sejak berhasilnya orang-orang Mongolia menguasai negeri kita, di mana orang-orang Boan itu berkuasa. Daerah itu merupakan daerah runtuhan peperangan, korban dari lintasan pasukan tentara Mongolia.

"Dengan demikian di tempat yang seperti itu, para perampok itu menghimpun kekuatan. Dan walaupun sekarang negeri bukan dalam keadaan perang, tokh dalam keadaan aman ini orang yang berlalu di daerah itu jadi diliputi perasaan takut dan gelisah, karena mungkin saja terjadi, mereka akan dibegal di tengah jalan dan akhirnya membuang jiwa dengan percuma......!"

Yo Him tersenyum.

"Terima kasih atas peringatan Lopeh....!"

Kata Yo Him.

"Kami berdua akan berlaku lebih hati-hati dan waspada.....!"

Kwie Losam telah tersenyum.

"Aku sendiri tengah bingung juga, jika nanti salju telah meredah dan bisa mempergunakan tempat penyeberangan itu, di mana aku dapat meneruskan perjalananku ke Selatan, aku kuatir justru mereka akan mengganggu diriku!"

"Jika memang demikian, apakah Lopeh tidak keberatan untuk melakukan perjalanan bersama kami? Sedikitnya kami pernah mempelajari ilmu silat, dan jika memang mereka akan mengganggumu, kami bisa melindungimu......!"

Orang tua itu mengangguk. "

Aku telah melihat pedang di pinggang kalian masing-masing, aku mengetahui, kalian pendekar-pendekar muda yang budiman tentunya.

Dan dengan membawa pedang di pinggang kalian masing-masing, tentunya ilmu silat kalian juga tidak rendah.....

Memang menggembirakan sekali jika saja aku bisa melakukan perjalanan bersama-sama kalian, karena dengan adanya kalian bersamaku, tentunya sepotong jiwa tuaku ini bisa dilindungi dari tangan telengas para pembegal kejam itu.....!!"

Yo Him tersenyum, diapun bilang untuk menghibur orang ltua itu.

"Lopeh tidak perlu kuatir, karena kami akan melindungimu! Inilah benar-benar tidak kami sangka sebelumnya, di saat negeri mulai berangsur aman, di daerah itu timbul perkumpulam pembegal yang ganas seperti itu. Berarti rakyat di daerah itu mengalami kesengsaraan dua kali! "

Pertama kali kami bersengsara karena peperangan, dan kesengsaraan ke dua kalinya karena perbuatannya sebagai para pembegal itu.

Demikian, tentunya para pembegal itu tidak boleh dibiarkan saja dengan perbuatan jahat mereka, dengan adanya mereka di daerah itu, tentunya para saudagar akan jeri melakukan perjalanan....."

Ini bisa mengganggu perdagangan di sekitar tempat itu pula.

Berarti akan membuat rakyat di daerah tersebut lebih menderita lagi, karena dengan sedikitnya jumlah barang yang tersedia, harga yang diminta oleh para pedagang di sana jauh lebih mahal lagi.

Orang tua itu, Kwie Losam, tertawa sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali, dia bilang.

"Tepat! Tepat! Jika saja aku memiliki kepandaian silat tentu aku akan pergi menumpas para begal itu!"

Bersemangat sekali waktu Kwie Losam berkata begitu. Yo Him menghela napas.

"Kerajaan Boan telah berhasil meruntuhkan negara Song kita, merekapun kini telah berkuasa penuh, tetapi mengapa pembesar setempat tidak cepat-cepat berusaha memulihkan keamanan di tempat tersebut?!"

"Inilah yang ingin kukatakan! Para tentara Boan yang telah menang perang, sekarang hanya menjadi babi-babi yang gembul perutnya. Mereka itu hanya kepandaiannya makan dan menilai barangbarang berharga, merampas milik rakyat yang mereka inginkan. Itupun disebut sebagai perampokan secara terselubung! "

Hemmm, mereka mana mau mengurusi keamanan di daerah itu, bukankah yang bersengsara bukan rakyat Boan?

Bukankah yang menderita hanyalah rakyat jajahan itu?

Untuk apa mereka bersusah payah, untuk menindas perampokan-perampokan di daerah menumpas bersih para pembegal tersebut?!"

Yo Him mengangguk, dia anggap beralasan juga perkataan orang tua itu.

"Siapakah pemimpin dari pembegal-pembegal di daerah itu, Lopeh?!"

Tanya Yo Him kemudian.

"Menurut apa yang kudengar, pembegal-pembegal di sana telah dihimpun dan diketuai oleh seorang jago Gwa-khe, yaitu seorang ahli ilmu luar, yang memiliki tenaga seribu kati. Dengan mengandalkan kepandaiannya yang tinggi, pemimpin pembegal itu telah bertindak sebagai seorang raja kecil di tempat itu......

"Dia bergelar To-eng-sian (Golok Rajawali Dewa). Mengenai namanya masih belum diketahui, karena semua orang hanya mengetahui gelarannya itu dan jarang yang mengetahui nama pimpinan begal tersebut....."

Yo Him baru sekali ini mendengar To-eng-sian, dia mengerutkan alisnya.

Di saat rakyat baru saja terlepas dari kesengsaraan karena peperangan, justru di daerah itu muncul pembegal-pembegal yang telengas dan kejam itu, menambah penderitaan rakyat di daerah tersebut yang belum lagi sembuh dan pulih.

Sasana juga telah berkata kepada Yo Him.

"Jika demikian, nanti kalau kita lewat di daerah itu baiklah kita sekalian menumpas mereka!"

Yo Him mengangguk, diapun telah menoleh kepada Kwie Losam, sambil katanya.

"Lopeh aku tidak berjanji kepadamu untuk membasmi perampok itu, tetapi kami akan berusaha untuk menumpasnya. Syukur jika memang usaha kami nanti berhasil dengan baik! Itu memang sudah menjadi tugas kami....!"

Orang tua itu, Kwie Losam telah tertawa.

"Tetapi Yo Siauwhiap, engkau harus hati-hati, jumlah pembegal itu besar sekali, mungkin ribuan orang. Jika memang engkau hanya mau menjaga diri dan berusaha menghindar dari mereka, dengan mengandalkan kepandaianmu mungkin masih bisa. Tetapi jika engkau berkeinginan untuk menumpas mereka, dengan hanya kalian berdua saja, kukira..... kukira ini sama saja dengan kalian mengantarkan jiwa kalian ke liang maut......!"

Yo Him tersenyum, dia tidak tersinggung.

Orang tua ini tidak yakin bahwa dia akan dapat menghadapi para pembegal itu.

Tak lama kemudian, pelayan telah mengantarkan makanan dan arak.

Makanan di rumah penginapan ini ternyata cukup baik, araknya pun sedap dan wangi.

Untuk mengurangi serangan hawa dingin, Sasana telah ikut meminum dua cawan arak, sedangkan Yo Him perlahan-lahan menghabiskan tiga cawan arak.

Orang itu, Kwie Losam, juga telah ikut minum bersama mereka.

Mereka bertiga telah bercakap-cakap membicarakan banyak hal.

Terutama tentang keramaian di tempat penyeberangan Hong-lengtouw di tepi sungai Huang-ho ini.

Selama bercakap-cakap seperti itu, Yo Him juga memperhatikan keadaan orang tua tersebut.

Dia memperoleh kesan, bahwa orang tua ini seperti juga hendak menyembunyikan dirinya, untuk menutupi keadaannya yang sebenarnya.

Karena waktu orang tua itu, Kwie Losam mengangkat cawannya, cara dia mengulurkan tangannya dan mengangkat cawan itu, tampak jelas merupakan seorang ahli silat yang memiliki kepandaian tinggi sekali, karena arak di dalam cawan itu sama sekali tidak bergerak, walaupun cawan itu diambil seenaknya dengan gerakan yang cepat.

Karena dari itu, Yo Him diam-diam juga berwaspada, karena dia kuatir kalau-kalau orang tua ini hanya pura-pura memberikan cerita mengenai pembegal-pembegal di seberang penyeberangan itu, padahal dia sendiri yang mengandung maksud buruk.

Tentunya dia merupakan seorang jago yang liehay ilmunya dan tidak mau berterus terang dengan keadaannya.

Waktu itu Yo Him telah mengundang Kwie Losam untuk ikut dahar beberapa makanan, dan Kwie Losam memang tidak menampiknya.

Sekarang giliran Yo Him menanyakan perihal orang tua itu.

Kwie Losam bercerita, bahwa dia sesungguhnya seorang tabib, tetapi dia menegaskan bahwa dialah seorang tabib rudin yang tidak memiliki harta dan rumah, hanya berkeliling dari daerah yang satu ke daerah lainnya mencari sesuap nasi.

Sungguh tidak beruntung juga buat Kwie Losam ini.

Menurut dia kepandaian ilmu ketabibannya itu juga dipelajarinya tidak sempurna, sehingga banyak orang-orang yang menderita penyakit aneh-aneh tidak bisa disembuhkannya.

Karena dari itu, selamanya juga aku jadi si tabib rudin yang pernah memperoleh keberuntungan, dan tidak pernah berhasil untuk memiliki sejumlah uang yang berarti, karena jarang orang berani mempercayai aku untuk mengobati seorang sahabat atau sanak famili mereka untuk berobat padaku......"

Akhirnya aku jadi masgul dan sebal sendirinya, akupun meninggalkan pekerjaanku sebagai tabib dan kerjaku sekarang ini hanya berkelana ke sana ke mari tanpa tujuan dan pekerjaan.....

"Karena dari itu aku bermaksud untuk pergi ke kota raja untuk mengadu untung di sana. Siapa tahu, peruntunganku di sana jauh lebih baik, sehingga aku bisa membuka kembali praktek sebagai tabib. Dan juga mudah-mudahan saja, penyakit yang diderita oleh orang-orang di kota raja itu tidak terlalu aneh-aneh, dan aku dapat menyembuhkannya, sehingga pekerjaanku ini dapat berjalan lancar......!"

Yo Him tersenyum mendengar cerita Kwie Losam.

Hati kecilnya sulit menerima cerita itu karena dia melihat tidak ada tandatandanya sedikitpun juga, Kwie Losam memiliki potongan sebagai seorang tabib.

Tetapi Yo Him tidak mau menanya rewel dan melitmelit, dia hanya mengiyakan saja.

Begitulah, mereka telah meneruskan makan dan minum, dan arak memang bisa membantu mereka untuk menghangati tubuh dari serangan hawa dingin.

Perapian di tengah-tengah ruangan juga masih menyala dengan baranya yang marong......

Di antara para tamu-tamu yang berkumpul di tempat itu ada yang telah melenggut-lenggut hendak tertidur oleh kantuknya yang tidak tertahankan lagi.

Sedangkan salju yang turun masih saja deras, tampaknya sampai besok pagi juga salju tidak akan berhenti turun atau meredah.....

Waktu itulah, di luar rumah penginapan telah datang lima orang penungggang kuda.

Mereka adalah lima orang lelaki yang bertubuh tinggi besar.

Bersama mereka juga terdapat sebuah joli yang dihias indah yang digotong oleh dua orang lelaki bertubuh tinggi tegap.

Di dalam joli itu duduk seorang nyonya setengah baya yang wajahnya masih cantik dan pakaiannya serta perhiasannya reboh bukan main.

Pengurus rumah penginapan telah menyambut mereka untuk menyampaikan penyesalan pada tamu-tamunya ini yang tidak bisa diluluskan permintaannya untuk kamar-kamar yang mereka pesan, karena telah penuh.

Tetapi salah seorang di antara ke lima penunggang kuda itu, yang berewokan, telah menepuk meja dengan keras dan galak, sehingga semua tamu telah mengawasi kepadanya, memandang jemu padanya.

Begitu juga tamu-tamu yang sebelumnya telah melengut-lengut tertidur, akibat tepukan keras pada meja, telah terbangun.

Mereka jadi memandang tidak senang kepada lelaki kasar itu.

"Ada atau tidak kamar buat kami, kau harus menyediakan dan mempersiapkannya, Ciang-kui! Hemmm, jika kau gagal menyediakan empat buah kamar kelas satu buat kami, hemmm hemmm, ini!"

Dan sambil berkata.

"Ini!"

Tangannya telah ditempelkan pada lehernya, dia memperlihatkan gerakan seperti menggorok leher.

Berarti lelaki berewok itu telah mengancam Ciang-kui tersebut akan digorok lehernya atau dibunuh kalau saja pengurus rumah penginapan itu gagal mempersiapkan kamar untuk mereka.

Ciang-kui itu melihat orang demikian galak dan mukanya bengis.

Jumlahnya mereka juga tampaknya banyak, dan wanita di dalam joli itu juga rupanya bukan wanita sembarangan, seperti isteri seorang pembesar, maka dia jadi ketakutan.

Dia telah membungkukkan memberi hormat dalam-dalam sambiI katanya.

"Sungguh menyesal sekali..... benar-benar menyesal sekali...... Memang semua kamar telah penuh. Jika memang masih ada, tokh tidak mungkin kami menampik kunjungan tuan-tuan tamu yang memang setiap hari kami harapkan!!"

"Hemm, kami tidak mau perduli apakah kamar telah terisi penuh atau tidak! Yang penting, kau harus mempersiapkan empat buah kamar kelas satu buat kami! Jika memang perlu, kau usir keluar penghuni ke empat kamar itu. Jika mereka marah biar nanti kami yang menghajar mereka. Cepat laksanakan!"

Ciang-kui itu jadi serba salah. Dia telah membungkuk berulang kali sambil katanya.

"Mana boleh begitu..... mereka telah datang terlebih dulu, mereka juga membayar.....!"

Tetapi baru saja Ciang-kui itu berkata demikian, orang berewokan dan mukanya kasar itu menepuk meja lagi dengan sikapnya yang bengis, dia membentak.

"Mereka membayar, akupun membayar dengan uang. Bahkan kami akan membayar berlipat besar dari pembayaran mereka! Cepat kau siapkan kamar untuk kami!"

Benar-benar pengurus rumah penginapan itu jadi bingung dan sibuk sendirinya.

Dia berusaha memberikan pengertian kepada tamu-tamunya ini.

Tetapi rupanya orang tertubuh tinggi tegap berewokan itu tidak mau mendengar ocehan si pengurus rumah penginapan.

Tahutahu tangannya telah menjambret baju si pengurus rumah penginapan, diiringi bentakannya.

"Kau mau melaksanakan perintah kami atau tidak?"

Pengurus rumah penginapan itu tambah ketakutan.

Dia meringis dengan muka yang pucat pias, dia juga merasakan dadanya sakit sekali, karena cengkeraman lelaki berewok itu bagaikan jari-jari tangannya itu jepit besi saja.

"Oh tuan tamu, jangan marah. Aku mau saja untuk berusaha membujuk para tamu-tamu itu agar mereka mengalah...... Tetapi aku tidak berani berjanji akan memenuhi keinginan tuan-tuan tamu...... Lepaskanlah dulu cengkeramanmu ini..... aku...... aku akan pergi membujuk mereka!!"

"Cepat pergi usir keluar semua tamu-tamu itu!"

Bentak lelaki berewok itu sambil mendorong tubuh si pengurus rumah pinginapan itu.

Dorongan yang dilakukannya itu bukanlah dorongan yang ringan, karena begitu didorong begitu tubuh si pengurus rumah penginapan tersebut terjungkal bergulingan di lantai.

Waktu dia bangun merangkak berdiri, maka di keningnya telah tambah sebuah "telur"

Dan hidungnya mengucurkan "kecap merah"

Yang cukup banyak.

Bukan main mendongkol dan gusarnya si pengurus rumah penginapan atas sikap kasar tamu-tamunya itu.

Dia menahan kemendongkolannya itu, karena dia juga merasa takut dan jeri untuk wajah orang yang bengis, tubuhnya yang tinggi besar dan tenaganya yang begitu kuat.....

Dia telah mengeloyor untuk masuk ke dalam.

Sedangkan lelaki berewok itu telah memperdengarkan suara tertawa dingin, tangannya mengebut bunga-bunga salju yang melekat di pakaiannya.

Ke empat kawannya juga telah melompat turun dari kuda masing-masing.

Salah seorang di antara mereka menggapai tangannya memanggil pelayan.

Seorang pelayan dengan sikap ketakutan, setengah berlari menghampiri.

Dia telah melihat Ciang-kui nya tadi "dihajar"

Oleh salah seorang dari tamunya, maka dia jadi jeri, kalau-kalau diapun akan menerima "hajaran"

Dari tamunya itu. Dia tidak berani berayal sedikitpun juga dan telah menyambuti ke lima ekor kuda itu untuk diurus.

"Setelah itu, cepat kau siapkan makanan dan arak untuk kami!"

Kata lelaki berewok itu. Diapun telah merogoh sakunya, dia mengeluarkan sebuah pecahan uang emas, dan lemparkan ke lantai, itulah kepingan uang emas bernilai limabelas tail! "Ambil untukmu!"

Pelayan itu jadi memandang dengan mulut terbuka lebar. Dia berdiri seperti patung, karena tidak percaya apa yang didengarnya. Namun setelah tersadar, dia bertanya gaga-gugu.

"Apakah..... apakah uang itu untuk perhitungan nanti, toaya?'"

Tanyanya.

"Bukan, untuk kau! Ambil, aku menghadiahkannya untukmu! Tetapi kau harus merawat kuda kami baik-baik!"

Pelayan itu merasakan kakinya lemas karena terlalu girang bukan main.

Betapa tidak.

Limabelas tail emas!

Itulah jumlah uang yang tidak sedikit!

Limabelas tail mungkin cukup untuk tinggal selama seminggu di rumah penginapan ini mengambil kamar kelas satu dan makan minum yang lezat.

Namun sekarang, tamu ini justru telah menghadiahkannya uang sebesar itu.

Bukan kepalang kaget, girang, takjub dan heran, sampai pelayan itu menganggap kupingnya yang salah dengar.

"Mengapa kau tidak cepat-cepat menerimanya?"

Bentak lelaki berewok itu ketika melihat lagak si pelayan yang seperti orang yang kehilangan semangat dan bloon.

"Atau memang hadiah yang kuberikan itu masih kurang?!"

Pelayan itu segera juga menyambar uang itu, dia telah mencekal kuat-kuat, dia menekuk ke dua kakinya mengucapkan terima kasihnya.

Karena terlalu girang, dia bukan hanya sekedar memberi hormat mengucapkan terima kasih, tanpa segan-segan dia berlutut di depan tamunya, benar-benar terbuka tangannya.....

Lalu dia cepat-cepat membawa ke lima ekor kuda tunggangan tamunya, untuk dirawat dengan baik, lebih istimewa dari kuda-kuda tamu lainnya.

Sedangkan ke lima lelaki itu telah berdiri berbaris di depan pintu masuk rumah penginapan.

Sikap mereka jadi menghormat sekali ketika membungkuk ke arah joli indah itu, yang telah diturunkan oleh ke dua penggotongnya.

Yang masing-masing berdiri di sisi joli tersebut.

"Silahkan Hujin turun untuk beristirahat.....!"

Kata lelaki berewok itu, suaranya menghormat sekali.

Tirai joli itu telah disingkap dan keluarlah wanita setengah baya, pakaiannya reboh dengan segala macam perhiasan itu.

Dia melangkah perlahan-lahan masuk ke dalam rumah penginapan.

Langkah kakinya ringan.

Yo Him dan Sasana jadi terkejut.

Yo Him yang telah melihatnya lebih dulu.

Setiap kali melangkah, kaki wanita itu telah melesak ke dalam lantai sedalam beberapa dim.

Setiap kali dia mengangkat kakinya, maka di lantai itu telah ditinggalkannya bekas tapak kakinya, yang legok beberapa dim dalamnya!

Itulah lweekang kelas tinggi yang sulit dicari duanya.

Dan keluar biasaan yang menakjubkan itu belum lagi berakhir.

Justru ke dua penggotong joli itu, yang berjalan di belakang si wanita yang rupanya adalah junjungannya, telah berjalan dengan sepasang kaki diseret-seret.

Lantai yang semula telah legok dalam oleh tindakan kaki si wanita, telah tersapu rata kembali, seperti semula dan tidak terlihat tanda-tanda rusak!

Itulah pertunjukan yang luar biasa sekali!

Bagi orang-orang yang tidak mengerti ilmu silat, mungkin mereka beranggapan wanita itu tengah memperlihatkan suatu permainan ilmu sihir saja.

Namun buat Yo Him dan Sasana, itulah pertunjukan yang mengejutkan hati.

Bukan hanya wanita setengah baya itu saja yang memiliki lweekang yang tinggi dan kesempurnaan seperti itu.

Karena ke dua penggotong joli itu, yang bisa memulihkan lantai jadi tidak legok dan rata kembali dengan mempergunakan sepasang telapak kaki mereka yang digeser, merupakan pertunjukan yang juga cukup hebat, lweekangnya pun telah cukup tinggi!

Diam-diam Yo Him jadi menaruh perhatian penuh kepada tamutamu istimewa yang baru datang ini, karena tampaknya mereka bukan orang sembarangan dalam Rimba Persilatan.

Sedangkan Kwie Losam sendiri sejak kedatangan tamu-tamu istimewa, yang galak itu, bola matanya tidak hentinya telah mencilak-cilak mengawasi tajam.

Namun setelah si wanita di dalam joli turun dan masuk ke dalam rumah penginapan, di ruang tengah itu, dia menundukkan kepalanya dan pura-pura sibuk dengan makanannya......

Hanya Yo Him melihatnya.

Sekali-kali Kwie Losam telah melirik kepada si wanita yang telah duduk di sebuah kursi yang dibawakan seorang pelayan.

Ke lima lelaki bertubuh tinggi besar, bersama ke dua orang penggotong joli itu, telah berdiri berbaris di belakang si wanita setengah baya tersebut.

Mereka mengawasi semua orang di dalam ruangan dengan sorot mata yang tajam dan wajah yang bengis.

Sedangkan wanita setengah baya itu juga telah menyapu seluruh ruangan dengan sorot mata berkilat.

Bibirnya tersenyum sedikit, tetapi senyumnya itu lenyap ketika sorot matanya jatuh pada diri Sasana dan Yo Him.

Mukanya berobah sedikit, lalu dia mendehem.

Seorang penggotong joli yang berdiri di sebelah kanan telah menunduk mendekatkan telinganya.

Wanita setengah umur itu membisikkan sesuatu, dan penggotong joli itu menganggukangguk beberapa kali dengan matanya melirik kepada Sasana dan Yo Him.

Yo Him dan Sasana yang melihat hal itu telah tidak mengawasi lebih jauh.

Mereka kuatir jika memang mereka mengawasi terus, walaupun mereka memang tidak mengandung maksud tertentu, dikuatirkan akan terjadi bentrokan.

Waktu itu penggotong joli yang dibisiki wanita setengah baya tersebut telah melangkah menghampiri Yo Him dan Sasana.

Mereka mengawasi si penggotong joli itu, yang ketika tiba di hadapan mereka, si penggotong joli itu berkata dengan sikap yang kasar.

"Kalian dipanggil oleh majikan kami!"

Yo Him mengerutkan alisnya.

Walaupun wanita setengah baya itu seandainya seorang isteri pembesar, tidak dapat dia mengundang secara kasar begitu.

Maka Yo Him setelah melirik sejenak pada Sasana, lalu pura-pura tuli, membuang pandang ke arah lain.

Seperti juga tidak mengetahui bahwa penggotong joli itu tengah bicara kepada mereka.

Sedangkan Sasana juga telengos dan pura-pura membetulkan anak rambutnya yang turun ke mukanya.

Penggotong joli itu rupanya jadi gusar melihat lagak muda mudi itu, maka dia telah membentak lagi dengan suara yang bengis.

"Apakah kalian tuli, heh? Tidakkah kalian dengar Loyamu mengatakan bahwa kalian dipanggil menghadap oleh Hujin kami?!"

Yo Him dan Sasana tetap duduk di tempat mereka tanpa bergeming sedikitpun juga. Hanya Yo Him yang telah mengangkat kepalanya. Dia telah menunjuk kepada dirinya sendiri sambil tanyanya.

"Apakah kau maksudkan kami berdua?!"

Orang itu, si penggotong joli yang seorang ini, jadi gusar bukan main.

"Pemuda kurang ajar, kau rupanya minta dihajar, heh?!"

Dan sambil berkata begitu, dia telah melangkah dua tindak ke depan, sambil mengulurkan tangannya untuk mencengkeram pundak Yo Him.

Namun waktu itu Kwie Losam yang tengah sibuk dengan makanannya, tiba-tiba telah menjatuhkan sepotong daging, diapun berseru.

"Dagingku jatuh...... ai bisa kotor.....!"

Dan tangannya telah diulurkan untuk mengambil daging itu.

Dia duduk di samping Yo Him, maka orang itu, yaitu si penggotong joli, jika ingin menghampiri Yo Him harus berada di dekatnya.

Dan waktu tangan Kwie Losam diulurkan untuk mengambil dagingnya, justru kaki si penggotong joli itu tengah menindak dan waktu itulah Kwie Losam telah memutar tangannya.

Telapak tangannya jadi menghadap ke atas dan telapak kaki orang itu menginjak telapak tangannya.

Kwie Losam menjerit kesakitan sambil berseru.

"Aduhhh, aduhhh...... tanganku terinjak!"

Dan dia telah menghentak tangannya itu.

Tidak ampun lagi si penggotong joli itu merasakan dirinya seperti dihentak oleh satu kekuatan yang hebat, namun tidak terlihat.

Tubuhnya terlontar dan terguling di lantai!

Mukanya jadi merah ketika dia melompat berdiri dengan cepat.

Kwie Losam telah memegangi tangan kanannya itu, yang diuruturut dengan tangan kirinya, dia masih mengaduh-aduh dengan muka yang meringis, diapun menggumam.

"Aduh, tanganku diinjak-injak..... manusia kurang ajar, mengapa kau menginjak tanganku, heh?!"

Dan sambil berkata begitu, Kwie Losam juga telah mendeliki si penggotong joli yang baru saja melompat berdiri dengan muka merah padam, tampaknya penggotong joli itu tengah gusar sekali.

Dan sekarang, setelah dia yang dibikin terguling begitu oleh Kwie Losam, justru sekarang dia yang ditegur dan juga dideliki seperti itu, dengan sendirinya membuat si penggotong joli marah bukan main.

Dia melangkah menghampiri, dia telah menggerakan tangan kanannya sambil bentaknya.

"Kau main-main dengan tuan besarmu, heh?!"

Kepalan tangannya itu mengandung kekuatan yang bisa memukul hancur batu, karena belum lagi tinjunya tiba pada sasaran, Kwie Losam telah merasakan sambaran angin yang kuat sekali.

"Hei, hei, tidak karuan-karuan. Setelah menginjak tanganku, sekarang kau mau main pukul? Atau memang kau tidak takut pada hukum yang ada?!"

Teriak Kwie Losam dengan suara yang seperti gusar dan gugup. Tubuhnya telah bergoyang goyang dengan tangan kirinya masih mengusap-usap tangan kanannya yang tadi "terinjak"

Oleh kaki si penggotong joli itu.

Kepalan tangan si penggotong joli telah menyambar cepat.

Namun ketika kepalan tangan itu hampir mengenai dada, mendadak Kwie Losam memiringkan tubuhnya, seperti bergoyang tanpa diseagaja, sehingga kepalan tangan itu menyambar lewat di pinggir dadanya.

Dan Kwie Losam seperti orang yang kaget telah mengulurkan tangan kirinya mencekal tangan si penggotong joli, sambil teriaknya.

"Hei, hei, mengapa kau memukul aku?!"

Rupanya Kwie Losam ini mencekal tangan si penggotong joli itu bukan untuk menahan tinju lawannya, melainkan dia malah telah mendorong.

Dengan sendirinya tangan si penggotong joli itu jadi meluncur lebih cepat lagi ke depan, tubuh si penggotong joli itu jadi terjerunuk ke depan.

Dan waktu itu tenaga pukulan di tambah dengan tenaga dorongan tangan Kwie Losam, membuat pukulan itu keras bukan main, menghantam telak sekali tembok ruangan.

"Duukkk!"

Terdengar suara benturan yang sangat kuat sekali, disusul juga oleh jerit ke sakitan si penggotong joli itu, yang telah berjingkrakan sambil menjerit-jerit tidak hentinya dan mengipasngipas tangannya yang kanan, yang waktu itu telah merah bengkak, karena pukulannya pada tembok itu luar biasa kuatnya, sampai tembok itu saja gempur sebagian!

Menyaksikan semua, wanita setengah baya menggerakkan alisnya, tahu-tahu dia menjentik jari tangannya.

Sulit dilihat gerakannya, tapi tahu-tahu Kwie Losam merasakan sambaran angin yang tajam di arah punggungnya.

Kwie Losam seperti orang yang kebakaran jenggot telah melompat berdiri, dia telah mengebut-ngebut baju bulu Tiauwnya, seperti orang yang mendongkol.

"Hanya membikin baju kotor, dasar manusia kasar!"

Tapi kebutannya pada baju Tiauwnya itu sesungguhnya merupakan tangkisan terhadap serangan senjata rahasia si wanita setengah baya itu.

Rupanya wanita itu telah menyerang dengan mempergunakan jarum rahasia yang halus, dan semua jarumjarum itu telah menancap di baju bulu Tiauwnya Kwie Losam.

"Hu, hu, rupanya ada semut atau binatang lainnya yang kurang ajar! Bajuku ini mengapa jadi gatal dipakainya?!"

Teriak Kwie Losam sambil membuka baju bulu Tiauwnya itu. Dia memeriksanya, kemudian dia mencabut tiga batang jarum yang halus-halus.

"Hi, rupanya bajuku ini tertusuk jarum-jarum celaka ini, untung saja tidak sampai melukai tubuhku! Entah di mana bajuku ini dihinggapi jarum-jarum celaka ini.....!"

Dia telah melemparkannya dengan sembarangan tanpa menoleh lagi, tetapi sesungguhnya ke tiga batang jarum itu telah menyambar balik ke arah ke tiga orang lelaki yang berdiri paling depan di dekat wanita setengah baya itu!

Jarum itu meluncur dengan cepat sekali, dengan kekuatan yang sangat deras sekali, sehingga ke tiga lelaki itu terkejut dan telah melompat dengan gesit ke atas dua tombak lebih.

Dengan demikian mereka bisa menyelamatkan diri dari sambaran jarum-jarum itu.

Ketiga batang jarum itu telah menancap di tiang, dan amblas tidak meninggalkan bekas!

Itulah cara menimpuk yang mempergunakan lweekang tingkat tinggi!

Kwie Losam waktu itu telah berseru lagi seperti orang yang tengah mendongkol.

"Sialan benar, bajuku jadi berlobang..... malah sampai tiga lobang. Jika kujual, tentunya baju ini akan turun harganya..... Hu! Hu!!"

Yo Him dan Sasana yang melihat tingkah laku Kwie Losam jadi tersenyum saja.

Memang buat tamu-tamu lainnya, mereka mengira bahwa Kwie Losam benar-benar tengah mendongkol karena baju bulu Tiauwnya itu rusak.

Mereka tidak mengetahui bahwa tadi telah terjadi urusan yang bisa minta korban jiwa.

Dan soal tergulingnya si penggotong joli itu dianggap mereka sebagai peristiwa kebetulan, di mana memang tanpa disengaja si penggotong joli itu menginjak tangan Kwie Losam, sehingga dia tergelincir dan jatuh.

Mereka tidak menyangka bahwa semua itu adalah perbuatan dan permainan Kwie Losam.

Di saat itu, si penggotong joli yang tadi telah dirubuhkan, menghampiri Kwie Losam lagi.

Kali ini dia tidak membentak, tanpa mengeluarkan sepatah perkataan, dia melompat sambil mengayunkan kepalan tangannya.

Kwie Losam yang tengah mengibas-ngibaskan bajunya itu, seperti tidak melihat pukulan lawan, dia telah membungkukkan tubuhnya untuk mengangkat ujung baju Tiauwnya itu.

Dengan membungkuk seperti itu, tinju penggotong joli tersebut telah menyambar lewat di atasnya.

Dengan demikian, tubuh si penggotong joli itu jadi terjerunuk lagi, dan waktu itulah Kwie Losam telah mengangkat kaki kanannya menendang ke belakang dan "Dukkk!"

Tubuh si penggotong joli itu telah terlempar pula.

Namun sekarang dia telah bersiap sedia dan berwaspada.

Walaupun dia ditendang hebat oleh Kwie Losam toh dia hanya terlempar tanpa perlu terguling lagi, karena dia telah hinggap di atas lantai dengan ke dua kaki terlebih dulu!

Hanya mukanya saja yang merah padam karena gusar.

Begitu ke dua kakinya mengenai lantai, segera tubuhnya telah melambung lagi, dia menerjang kepada Kwie Losam.

Malah sepasang tangannya telah bekerja dengan cepat sekali, di mana tampak ke dua tangan itu menghantam saling susul.

Itulah cara menyerang yang sangat dahsyat.

Yo Him sendiri yang melihat cara menyerang orang itu, yang mempergunakan ilmu Kuku Garuda atau Eng-jiauw-kang tersebut, yang ingin mencengkeram dan menampar dengan telapak tangannya, merupakan ilmu yang telah dilatihnya cukup baik.

Diantara berkesiuran angin serangan itu, tampak Kwie Losam tidak menjadi gugup.

Dengan gerakan tubuh yang sangat ringan sekali dia telah menyingkir ke samping kanan.

Namun waktu dia menyingkir begitu, dia bukan tinggal berdiam diri, tangan kanannya diulurkan, ingin menotok jalan darah yang ada di punggung si penggotong joli tersebut.

Gerakannya itu sangat gesit sekali, terutama jari tangannya yang menyambar, tahu-tahu telah menempel pada baju si penggotong joli tersebut.

Penggotong joli itu rupanya jadi kaget, mengetahui lawannya ini memang tangguh sekali, disamping memiliki ginkang yang sempurna.

Karenanya, dia telah mengeluarkan suara seruan yang bengis sambil merobah gerakan tubuhnya, yang waktu itu masih terapung di tengah udara, hanya saja tangannya dengan kuat menyampok ke belakang.

Benturan tangan yang terjadi telah membuat si penggotong joli itu meminjam tenaga tersebut untuk meluncur terpisah dua tombak dari Kwie Losam.

Waktu itulah, ke lima orang bertubuh tinggi besar dan bengis, telah melompat mengepung Kwie Losam.

Dan juga penggotong joli yang seorangnya lagi, telah ikut melompat untuk menyerang Kwie Losam tanpa membuang-buang waktu lagi.

Gerakan yang dilakukannya itu bukan main cepatnya, di mana dia menyerang dengan dahsyat sekali, karena melihat kawannya seperti juga dipermainkan oleh Kwie Losam dan serangan jarum dari si nyonya setengah baya itu gagal mengenainya, malah ke tiga batang jarum yang halus itu telah dikembalikan lagi oleh Kwie Losam menyerang mereka bertiga, maka kali ini dia telah menyerang dengan pukulan tanpa sungkan-sungkan lagi.

Kwie Losam sendiri rupanya mengetahui bahwa orang-orang ini memang memiliki kepandaian yang sangat tinggi, dan tidak boleh dipandang remeh karenanya, diapun telah berwaspada.

Di kala dia menerima serangan yang saling susul dari penggotong joli yang ke dua itu, dia telah berhasil menemukannya, dan gerakan demi gerakan telah menyebabkan pukulan yang dilancarkan oleh si penggotong joli yang ke dua tersebut mengenai tempat kosong.

Waktu itu, cepat luar biasa Kwie Losam bukan hanya sekedar berkelit, kaki kanannya telah menyambar lagi untuk menghantam.

Gerakannya bukan hanya merupakan tendangan biasa, karena selain menendang, juga Kwie Losam telah mempergunakan lweekangnya.

Sehingga si penggotong joli yang ke dua itu harus cepat-cepat menyelamatkan menghindarkan tendangan lawan pada kepungannya.

Kwie Losam rupanya tidak diberi kesempatan bernapas oleh lawan-lawannya, karena waktu itu ke lima orang lelaki bertubuh tinggi besar itu telah menerjang maju.

Mereka telah menyerang bergantian, seperti juga mereka mempergunakan pengepungan dari sebuah barisan tin pengepung, yang disebut Ngo-heng-tin, barisan lima bintang.

Dengan demikian, jika seorang dari mereka berlima gagal menyerang Kwie Losam, dia segera mundur, dan kedudukannya dirobah, dia menggantikan kedudukan kawannya, sedangkan kawannya itu menyerang Kwie Losam.

Dengan demikian, jurus demi jurus telah lewat, dan secara bergantian mereka telah menyerang tidak hentinya.

Dengan diiringi suara tertawa yang nyaring tahu-tahu Kwie Losam telah mengeluarkan ilmu pukulan yang kuatnya seperti angin topan, menderu-deru menyerang ke delapan penjuru, karena sepasang tangannya telah bergerak dengan cepat sekali, menyambar, menghantam dan juga menotok, sehingga dia bertempur seperti serabutan.

Dia ingin memukul pecah barisan tin lawannya.

Tetapi ke lima orang bertubuh tinggi besar tersebut benar-benar memiliki barisan tin yang terlatih baik.

Mereka dapat bekerja sama dengan kompak, membela diri dan menyerang secara bergantian dengan teratur sekali, sehingga selama itu pula Kwie Losam jadi terkepung terus dalam barisan yang mirip-mirip dengan barisan yang disebut Ngo-heng-tin.

Wanita setengah baya i,tu masih duduk tenang-tenang di tempatnya.

Dia mengawasi jalan pertandingan antara Kwie Losam dengan ke lima orangnya itu dengan sikap acuh tak acuh, matanya saja yang memancarkan sinar tajam luar biasa.

Dan waktu itu, Yo Him telah berdiri menantikan kesempatan untuk membantui Kwie Losam, kalau saja Kwie Losam terdesak dan berada dalam ancaman maut.

Demikian juga halnya dengan Sasana, gadis itu berdiri dengan tangannya mencekal gagang pedang.

Setiap saat jika memang diperlukan, dia akan segera mencabutnya, untuk dipergunakan menyerang ke lima lelaki itu.

Ke dua penggotong joli telah kembali ke samping si wanita setengah baya, salah seorang di antara mereka berdua telah membungkukkan tubuh, membisikkan sesuatu kepada wanita setengah baya itu, yang mengangguk beberapa kali.

Pertempuran antara Kwie Losam dengan ke lima orang bertubuh tinggi besar yang mempergunakan barisan Ngo-heng-tin itu berlangsung terus.

Ciang-kui, pengurus rumah penginapan itu, telah keluar pula.

Dia telah gagal untuk membujuk tamu-tamunya.

Jangankan untuk mengosongkan empat buah kamar, sedangkan mengosongkan sebuah kamar saja sulit.

Tidak ada tamunya yang mau mengalah.

Dengan demikian, dia tengah memikirkan kata-kata yang diucapkannya nanti kepada tamu-tamunya yang galak itu, namun ketika dia melangkah keluar.

Ciang-kui rumah penginapan itu jadi berdiri menjublek dengan muka yang pucat.

Karena dia menyaksikan jalannya pertempuran tersebut, dia jadi tambah ketakutan.

Sedangkan para pelayan juga telah menyingkir jauh-jauh, mereka kuatir kalau-kalau mereka akan jadi sasaran dari pukulan orangorang yang tengah bertanding itu.

Pelayan yang tadi menerima hadiah sebesar limabelas tail, telah berdiri ragu-ragu, antara mendoakan tamunya yang istimewa dan terbuka tangannya memperoleh kemenangan atau memang diapun jeri untuk tamu-tamu itu yang mungkin bisa saja menghantam dia dengan tiba-tiba.

Bukankah Ciang-kuinya tadipun telah dihajar begitu rupa?

Para tamu lainnya hanya mengawasi jalannya pertempuran itu dengan perasaan yang sama, yaitu mengharapkan tamu istimewa yang galak itu dapat dikalahkan oleh Kwie Losam, karena mereka umumnya tidak menyukai tamu-tamu itu yang galak dan jual lagak dengan tepuk-tepuk meja dan menyiksa Ciang-kui rumah penginapan tersebut.

Dengan demikian, mereka mulai girang jika saja ke lima lelaki bertubuh tinggi besar itu bisa dihajar oleh Kwie Losam.

Bukankah para tamu-tamu galak itu mempergunakan aturan, yaitu ingin memaksa tamu-tamu yang lebih dulu datang ke rumah penginapan ini untuk mengosongkan kamar mereka dan mengalah kepadanya?

Bukankah itu keterlaluan?

Karena dari itu, beberapa kali tampak di antara tamu-tamu tersebut bersorak girang, jika Kwie Losam tengah mendesak salah seorang lawannya.

Namun setiap kali habis bersorak girang, tamu itu yang jadi mengkeret ketakutan sendiri.

Dia jeri kalau Kwie Losam nanti yang dirobohkan, dan tamu-tamu istimewa yang galak itu, terutama lelaki yang berewokan tersebut, akan menghajar mereka.....

Setelah menyaksikan sekian lama masih tidak ada yang dirubuhkan, nyonya setengah baya itu rupanya sudah tidak sabar lagi.

Dia membentak dengan suara yang perlahan, suaranya itu juga suara antara mau dan tidak untuk bicara.

Dia seperti berkata seenaknya saja.

"Manusia-manusia tidak punya guna, menyingkirlah kalian.....!"

Ke lima orang itu, yang mempergunakan barisan Ngo-heng-tin, rupanya mengerti bahwa junjungan perintahkan mereka agar mundur, maka setelah mendesak Kwie Losam satu kali lagi, segera ke lima lelaki bertubuh tinggi besar itu telah melompat mundur, meninggalkan Kwie Losam.

Kwie Losam melihat ke lima lawannya melompat mundur, segera dia mengebut-ngebut bajunya sambil memaki panjang pendek.

"Celaka! Sungguh celaka! Kukira di tempat penyeberangan di tepi sungai Huang-ho ini merupakan tempat yang ramai dan menarik untuk dijadikan tempat pelesiran, tidak tahunya banyak begal dan copet yang hendak menggerayangi barang-barangku! Hemmm! Hemmm! Bajuku juga jadi kotor.....!"

Maka ke lima lelaki bertubuh tinggi besar itu jadi berobah merah mendengar perkataan Kwie Losam, mereka mengerti telah diejek oleh Kwie Losam.

Mereka berjumlah lima orang, tetapi mereka tidak berdaya melakukan satu apapun juga untuk merubuhkan lawannya yang hanya seorang diri itu.

Sehingga telah membuat ke lima lelaki bertubuh tinggi besar itu jadi malu sendirinya!

Dan kini, tampaknya nyonya junjungan mereka itu telah menggusari mereka, yang disebut sebagai manusia-manusia tidak punya guna.

Dengan demikian pula, ke lima lelaki bertubuh tinggi besar itu, walaupun telah berdiri di pinggir si nyonya setengah baya itu, tokh mata mereka masih mendelik mengawasi Kwie Losam, dan jika saja memang mereka memiliki kesempatan lagi, tentu mereka akan segera menerjang maju untuk mengepung lagi.

Sedangkan si nyonya setengah baya itu telah berkata dengan suara yang tawar, ditujukan kepada Kwie Losam.

"Manusia celaka, apa maksudmu menimbulkan onar di sini?!"

Kwie Losam telah menoleh kepada nyonya setengah baya itu. Kemudian dia memperlihatkan sikap seperti terkejut, lalu mengangkat ke dua tangannya, dia telah menjura memberi hormat, sambil katanya.

"Maaf, maaf, tidak tahunya tengah berhadapan dengan Sun Kauw-cu yang mulia!"

Wanita setengah baya telah mengerutkan sepasang alisnya, dia berkata tawar.

"Jika kau telah mengenali aku, mengapa engkau masih ingin menimbulkan kesulitan buat dirimu dan tidak cepatcepat menggelinding enyah dari depan biji mataku, agar engkau bisa melindungi selembar jiwa bututmu itu?!"

Kwie Losam telah tertawa lagi, dia menjura sambil katanya.

"Aku sama sekali tidak pernah bermaksud menganggu orang-orangmu, Sun Kauw-cu. Tetapi seperti yang kau saksikan, merekalah yang telah mengganggu ketenangan dan selera makanku...... dan juga, memang kau sendiri Sun Kauw-cu, telah mempergunakan jarumjarum pusakamu untuk menggaruki tubuhku yang kebetulan sedang gatal! Terima kasih! Terima kasih! Apakah sekarang aku boleh melanjutkan makan?!"

Muka Sun Kauw-cu itu telah berobah merah, tampaknya dia gusar sekali.

"Kwie Losam, kau jangan terkebur, walaupun engkau memiliki kepandaian yang tinggi, belum tentu engkau bisa malang melintang sekehendak hatimu tanpa perlu kuatir akan dirubuhkan orang!"

Dan setelah berkata begitu Sun Kauw-cu mendengus beberapa kali dia lalu bilang.

"Baiklah, aku yang akan memperlihatkan kepadamu, bahwa kepandaianmu itu sebenarnya tidak ada artinya apa-apa di mataku.....!"

Belum lagi habis perkataan Sun Kauw-cu itu, tahu-tahu dia telah berdiri.

Cara dia berdiri tidak bisa diikuti oleh mata manusia biasa, karena dia berdiri dengan cepat sekali, tahu-tahu tubuhnya telah tegak.

Tangan kanannya telah merogoh saku bajunya, tahu-tahu dia telah mengeluarkan sebuah Khim (alat musik seperti kecapi) berukuran kecil sekali seperti barang mainan saja.

Dan kecapi kecil itu diperlengkapi dengan tali-talinya, di saat ketika tali-tali itu dipetik oleh Sun Kauw-cu, ternyata bisa menimbulkan suara yang melengking nyaring!

Inilah senjata yang luar biasa sekali, karena biarpun bentuknya kecil.

Khim itu, yang ukurannya tidak lebih dari sejengkal tangan, telah menimbulkan suara yang nyaring menusuk telinga.

Yo Him sebagai seorang yang memiliki kepandaian tinggi, segera mengetahui bahwa Sun Kauw-cu memetik kecapinya itu bukan asal memetiknya saja, karena dia telah menyalurkan tenaga lweekangnya pada ujung jari telunjuknya.

Dengan demikian suara Khim itu juga merupakan suara yang hebat sekali.

Ciang-kui rumah penginapan itu sendiri sampai memekik kaget dan ke dua tangannya segera menutupi ke dua telinganya, rupanya suara Khim telah menyakiti telinganya.

Demikian juga dengan para pelayan dan para tamu yang berada di ruangan tersebut.

Semuanya merasakan telinga mereka sakit sekali.

"Celaka! Wanita ini memang memiliki lweekang yang sempurna sekali. Jika dia mementil terus Khim nya itu, niscaya tamu-tamu di rumah penginapan ini akan menjadi korbannya...... Aku harus cepat-cepat mencegahnya!"

Pikir Yo Him terkejut. Tetapi belum lagi dia sempat bergerak, Kwie Losam telah tertawa, dia bilang.

"Sun Kauw-cu, jika memang engkau ingin mengadu kepandaian denganku si tua Kwie Losam, maka engkau jangan menantangku di sini karena orang-orang yang tidak berdosa dan tidak bersalah itu semuanya akan menjadi korban tangan jahatmu! Hemmm, akupun mengetahui, kau bersama beberapa orang kaki tanganmu ini melakukan perjalanan tentunya ingin melakukan suatu perbuatan busuk lagi, bukan?!"

"Perbuatan busuk? Apa maksudmu?!"

Bentak Sun Kauw-cu dengan suara yang mengandung kemarahan, dia telah mementil satu kali lagi Khim nya, suara yang mendengung halus namun tajam telah menerjang pendengaran semua orang di ruangan itu.

Ciang-kui rumah penginapan dan juga para tamu-tamu lainnya jadi berteriak-teriak kesakitan.

Telinga mereka seperti tertusuk sesuatu yang tidak tampak, jantung mereka tergoncang hebat.

Tanpa berjanji terlebih dulu, tanpa memperdulikan waktu itu bunga-bunga salju tengah turun deras, mereka serabutan berlari keluar ruangan.

Kwie Losam telah berkata lagi dengan suara yang dingin.

"Aku tahu engkau tentu ingin pergi ke kota raja, bukankah benar dugaanku itu?!"

Tanyanya. Diapun telah menyambungi lagi tanpa memperdulikan muka Sun Kauw-cu itu berobah merah.

"Kau ingin menekuk lutut bekerja pada Kaisar Mongolia itu, engkau ingin memperhamba diri, mengajak semua perkumpulan Lang-kauw (Perkumpulan Serigala) menekuk lutut pada Kublai Khan. Kau akan bekerja untuknya, menerima pangkat, lalu mengerahkan seluruh Lang-kauw untuk mengobrakabrik orang-orang Han yang tidak mau tunduk di bawah pemerintah raja Mongolia itu! Bukankah begitu, Sun Kauw-cu yang mulia.....?!"

Muka Sun Kauw-cu jadi berobah merah padam, dia berseru.

"Sungguh tajam kupingmu! Hemmm, jika benar, apa yang ingin kau lakukan? Jika tidak, apa yang kau ingin kau bilang. Aku berhak untuk mengurusi diriku sendiri, mengapa engkau ingin mencampuri urusanku?"

Kwie Losam tertawa.

"Jika memang hanya engkau seorang diri yang ingin memperhamba diri kepada Kaisar Mongolia itu, memang hal itu tidak menjadi persoalan buatku..... Tetapi justru engkau bermaksud mengajak semua anggota Lang-kauw, agar menekuk lutut bekerja menjadi anjingnya orang-orang Boan itu! Tidakkah itu merupakan hal yang memalukan! Belum lagi ancaman yang bisa kalian telah timbulkan, yaitu kau sekalian bermaksud akan mengobrak-abrik orang-orang Han yang tak mau tunduk pada Kublai Khan. Sungguh cita-cita yang luar biasa hebatnya! Haha haha, membuat aku bisa tertawa sampai mati.....!!"

Muka Sun Kauw-cu berobah jadi merah keungu-unguan.

Dia mengeluarkan suara bentakan lagi, jari tangannya mementil beberapa kali Khim nya itu dan suara menggelegar-gelegar.

Untung saja Yo Him telah memiliki lweekang yang sempurna, dia bisa mengerahkan lweekangnya untuk mengendalikan diri menerima suara Khim itu.

Sedangkan Sasana yang lweekangnya tidak setinggi Yo Him, telah diminta untuk mengenakan potongan bajunya disumpal ke dalam telinganya.

Yo Him telah merobek ujung baju tangannya dan menyumbat telinga si gadis.

Tetapi biarpun telah disumbat telinganya, tidak urung Sasana merasakan jantungnya selalu memukul keras setiap kali mendengar suara Khim itu, yang seperti memiliki pengaruh yang hebat.

Itulah disebabkan suara Khim itu disertai tenaga lweekang yang terlatih sempurna.

Yo Him sendiri telah menduga-duga, entah siapa Sun Kauw-cu dan Kwie Losam ini, dua orang yang ilmunya tampaknya tidak ringan.

Sun Kauw-cu, wanita setengah baya itu, yang katanya adalah ketua perkumpulan Lang-kauw, perkumpulan serigala.

Yo Him baru sekali ini mendengarnya, tetapi ilmu silat itu benar-benar sangat hebat sekali, lweekangnya juga sempurna, dan senjata begitu aneh, yaitu Khim kecil sekali seperti barang mainan itu, namun memiliki suara yang mengandung maut.

Waktu itu Sun Kauw-cu rupanya sudah tidak bisa mempertahankan diri, sambil memetik khim kecilnya itu terus menerus, membawakan sebuah lagu.

Dia telah melangkah mengelilingi Kwie Losam.

Kwie Losam juga telah berputaran mengikuti ke arah mana Sun Kauw-cu itu memutari dan mengelilingi dirinya.

Setiap pula Kwie Losam telah mengejeknya.

"Ayo kau seranglah aku, mengapa harus berputar-putar seperti ini, seperti juga orang yang tengah bermain petak? Mengapa kau seperti seorang bocah cilik yang tengah mencari kelerengmu yang lenyap.....?!"

Sun Kauw-cu tidak memperdulikan ejekan yang dilontarkan Kwie Losam, dia telah mengelilingi Kwie Losam terus, dan di waktu itu suara Khimnya semakin meninggi.

Dengan demikian, Kwie Losam juga menyadarinya, dia harus memusatkan lweekangnya.

agar dapat menghadapi suara Khim yang luar biasa itu.

Sekali saja dia kena dipengaruhi oleh suara Khim tersebut, berarti dirinya akan berada dalam pengaruhnya Sun Kauw-cu Cepat Kwie Losam telah mengempos semangatnya, dia mengerahkan tenaga untuk menghadapi suara Khim itu, yang kadang kala berhasil menerobos menggoncangkan perasaannya.

Lagu yang dimainkan oleh Sun Kauw-cu itu dengan mempergunakan Khim kecilnya, adalah sebuah lagu percintaan yang mendukakan hati karena suara Khim itu sebentar meninggi, sebentar merendah dan sebentar lagi melengking seperti juga suara jeritan yang menyayatkan hati, seperti suara pekik seorang gadis yang tengah terluka hatinya karena patah hati ditinggal oleh sang kekasih.....

Memang Kwie Losam sendiri semakin lama merasakan perasaan dan hatinya tidak tenang, jantungnya bergoncang keras sekali, sehingga kalau terus menerus keadaan seperti ini, niscaya dia akan tak sanggup mempertahankan diri lagi.

Karena seringkali Kwie Losam terombang ambing oleh perasaannya akibat goncangan suara Khim yang dipetik oleh Sun Kauw-cu.

Karena sadar dirinya bisa terancam bahaya yang tidak kecil jika memang dia bertempur dengan cara seperti itu, Kwie Losam telah merobah lagi caranya untuk menghadapi Sun Kauw-cu.

Dengan disertai oleh suara bentakan yang berulang kali, yang menggelegar, berusaha untuk menindih tenaga lweekang yang terkandung di dalam suara Khim itu, Kwie Losam berusaha untuk menindihnya dengan ke dua tangan tidak tinggal diam juga, berulang kali dia telah menyerang dengan pukulan-pukulan yang bisa mematikan.

Dengan demikian, akhirnya Sun Kauw-cu juga tidak bisa terus menerus memetik Khimnya karena berulang kali dia harus berusaha mengelakkan diri dari terjangan yang dilakukan Kwie Losam.

Sebab jika memang dia terlambat, niscaya akan menyebabkan dirinya terkena serangan itu.

Baca Juga: Perawan Lembah Wilis 11

Baca Juga: Pedang Wucisan 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert